Sementara itu Kwe Siang yang ditinggalkan di atas jurang sedang berpikir: “Sungguh pun Toakoko tak mau naik, pasti Gwakong dan ibu akan menyeretnya dengan paksa. Kenapa ia ingin membunuh diri? Apakah Siao-liong-li benar-benar sudah mati? Selamanya takkan bertemu lagi dengan dia?”
Begitulah selagi ia termangu-mangu, mendadak didengarnya suara rintihan Kim-lun Hoat-ong. Waktu Kwe Siang berpaling, dia melihat urat daging di muka orang ber-kerut seperti kejang, terang sedang menderita sekali.
“Hm, ini namanya kualat, makanya jangan suka membunuh orang,” demikian jengek anak dara itu.
Tetapi Hoat-ong masih terus mengaduh semakin keras, sorot matanya mengunjuk rasa minta dikasihani. Betapa pun memang hati Kwe Siang bajik dan welas-asih, akhirnya ia menjadi tidak tega, maka tanyanya:
“Kenapa? Sangat sakitkah?”
“lbumu menotok ‘Leng-tay-hiat’ dan ‘Ki-koat-hiat’ pada punggung dan dadaku, maka seluruh badanku serasa digigit beratus ribu semut, sakit dan gatal luar biasa, kenapa dia tak mau sekalian totok aku punya ‘Tan-tiong-hiat’ dan ‘Giok-cim-hiat’?” sahut Hoat-ong.
Kwe Siang terkesiap. Ia sudah pernah belajar ilmu Tiam-hiat dari ibunya dan tahu tempat-tempat ‘Tan-tiong’ dan ‘Giok-cin’ adalah jalan darah penting di tubuh manusia, asal sedikit terluka saja bisa terbinasa, maka katanya:
“lbuku tidak menghabiskan jiwamu, kau tidak berterima kasih, masih cerewet?”
“Kalau ia totok kedua jalan darahku itu, rasa pegal kesemutanku akan banyak berkurang,” kata Hoat-ong sungguh-sungguh. “Begini tinggi ilmu kepandaianku, masa hanya sekali totok bisa bikin jiwaku melayang?”
Akan tetapi Kwe Siang tidak percaya. “Ahh, jangan kau berbohong,” jengeknya. “Kata ibu, tempat ‘Tan-tiong’ dan ‘Giok-cim’ sedikit tertotok lantas jiwa melayang. Kau hanya pegal kesemutan, bolehlah bersabar sebentar, segera ibu dan lain-lainnya akan kembaii.”
“Nona Kwe,” kata Hoat-ong pula, ”pada sepanjang jalan bagaimana aku memperlakukan dirimu?”
“Baik juga,” sahut Kwe Siang. “Cuma kau telah membunuh Tiangjiu-kui dan Toa-thau-kui, pula membunuh kedua rajawaliku, biar pun lebih baik lagi kau padaku juga aku tidak mau terima.”
“Baiklah, bunuh orang ganti jiwa, sebentar kau boleh membunuhku untuk membalas sakit hati kawanmu,” jelas Hot-ong, “Tetapi sepanjang jalan aku begitu baik padamu, apa balas budimu?”
“Coba katakan, bagaimana membalasnya?” tanya Kwe Siang.
“Harap kau totok Tan-tiong dan Giok-cim di punggung dan dadaku masing-masing sekali, biar mengurangi penderitaanku, itu pun sudah membalas budi padaku,” kata Hoat-ong.
Namun Kwe Siang geleng-geleng kepala, “Tidak, kau ingin aku membunuhmu, hm, mana mau aku melaksanakannya!” sahutnya.
“Hayolah, totoklah, tak akan mati,” pinta Hoat-ong. “Sebentar apa bila ibumu datang, malahan aku ingin minta ampun padanya, tidak akan mati secara begini mudah.”
Mendengar orang bicara dengan sungguh-sungguh, Kwe Siang menjadi ingin coba-coba, maka dengan perlahan dia totok dada orang satu kali.
“Ehm, segar rasanya, totoklah lebih keras,” kata Hoat-ong sambil menarik napas dalam-dalam.
Segera Kwe Siang menotok lebih kuat. Dia melihat Hoat-ong tersenyum, sedikit pun tidak menderita, mukanya dari merah berubah pucat, lalu merah lagi. Habis itu Hoat-ong berkata:
“Nah, lebih keras lagi sedikit...!”
Kwe Siang menurut. Dia pakai ilmu menotok yang dipelajari dari ayah-bundanya dan menotok satu kali pada ‘Tan-tiong-hiat” di dada orang.
“Ahh, baiklah, sekarang dadaku tidak pegal lagi! Nah, aku tidak mati, bukan?” kata Hoat-ong.
Kwe Siang amat heran oleh kekebalan orang, katanya kemudian: “Sekarang aku menotok lagi Giok-cim-hiat.” Mula-mula ia pun menotok perlahan seperti tadi, lalu ditambahi sedikit lebih keras. “Banyak terima kasih, banyak terima kasih!” ujar Hoat-ong. Kemudian dia pejamkan mata menghimpun tenaga, mendadak ia melompat bangun sambil membentak: “Marilah pergi!”
Keruan Kwe Siang terperanjat luar biasa, “Kau...! Kau...!”
Akan tetapi dia tak sempat berkata lebih banyak, sekali Hoat-ong mencekal, pergelangan tangannya dipegang terus diseret pergi.
Nyata ilmu melancarkan jalan dan membuka tempat totokan justru adalah Lwekang khas yang amat hebat bagi golongan pertapaan di Tibet. Ketika Kwe Siang menotok ‘Tan-tiong’ dan ‘Giok-cim’ kedua tempat jalan darah, diam-diam Hoat-ong sudah menghimpun tenaga melancarkan kembali aliran darahnya. Kwe Siang kuatir totokannya itu akan menewaskan orang, padahal justru malah membuka jalan darahnya.
BegituIah sambil menyeret Kwe Siang, segera Kim-lun Hoat-ong berlari pergi, tetapi baru beberapa tombak jauhnya, tiba-tiba timbul pikiran jahatnya. Dia lihat tambang yang terikat di dahan pohon itu, dia pikir asal tambang ini diputuskan, Ciu Pek-thong, It-teng, Oey Yok-su dan lain-lain pasti akan terbinasa di dalam jurang itu, maka cepat ia melompat ke sana terus hendak memutuskan tali tambang itu.
Tentu saja Kwe Siang menjadi terkejut, tanpa pikir sikutnya menyodok pinggang Hoat-ong di tempat ‘Nan-ik-hiat’. Salah Hoat-ong sendiri. Dia terlalu pandang sepele anak dara itu, maka sikutan itu dengan tepat mengenai jalan darah itu hingga sebagian tubuhnya sesaat lemas tak bertenaga.
Segera Kwe Siang meronta melepaskan cekalan orang, kedua tangannya lalu memegang punggung Hoat-ong dan berkata: “Aku dorong kau ke dalam jurang, biar kau terbanting mampus!”
Hoat-ong terkejut sekali. Diam-diam ia pusatkan tenaga dalam buat punahkan jalan darah sikutan anak dara tadi, sedangkan lahirnya tidak menjadi gugup, dia terbahak-bahak dan menggertak: “Ha-ha-ha, melulu sedikit kepandaianmu yang tak berarti ini masakah dapat mendorong diriku?”
Gertakan ini ternyata membuat Kwe Siang merasa ragu-ragu. Padahal saat itu jalan darah Hoat-ong belum terlepas, asal sedikit dia dorong, tentu akan terjerumus ke dalam jurang, atau dengan lain jalan, umpamanya menotok pula beberapa kali jalan darahnya yang lain, tentu Hoat-ong akan lumpuh.
Cuma totokannya tadi malah membikin Hoat-ong bangkit kembali, maka Kwe Siang pikir, tiada gunanya menotoknya lagi, sebab itulah ia melompat pergi dan berlari ke tepi jurang.
“Lebih baik aku mati bersama-sama dengan ibu saja!” katanya tiba2 terus hendak terjun ke dalam-jurang.
Terkejut Hoat-ong melihat anak dara itu sudah menjadi nekat. Ketika itulah totokan dapat dipunahkannya, tak sempat lagi dia putuskan tambang tadi, tapi cepat menubruk ke arah Kwe Siang.
Cepat Kwe Siang berlari pula. Dia melompat kian kemari di antara batu-batu cadas dan menyusuri pohon-pohon besar.
Jika di tempat datar, sekali lompat saja pasti Hoat-ong bisa menangkapnya kembali. Tapi di puncak karang Toan-jong-khe ini penuh batu-batu besar dan pohon-pohon, Kwe Siang sengaja menyusup ke sana dan mengumpet ke sini, makin lari makin jauh, seperti orang lagi main kucing2an dengan Hoat-ong.
Sesudah lama, akhirnya sekali menubruk dapatlah tangan Kwe Siang dipegang Hoat-ong.
Pada saat main umpet2an dengan Hoat-ong, Kwe Siang telah mulai melupakan apa yang terjadi tadi. Sekarang sesudah terpegang barulah dia sadar akan gelagat jelek, cepat dia berteriak. Tetapi secepat itu pula Hoat-ong sudah mendekap muIutnya.
Pada saat itulah terdengar berkumandang suara Liok Bu-siang sedang bertanya: “He, Kwe Siang cilik sudah lari ke mana?”
Diam-diam Hoat-ong gegetun. Karena telah kehilangan kesempatan baik, maka dia totok jalan darah yang membikin gagu, lalu Kwe Siang diseret pergi. Padahal saat itu baru Liok Bu-siang saja yang naik ke atas, kalau Hoat-ong mau mengulangi memutuskan tambang masih keburu, sebab melulu Liok Bu-siang seorang tak mungkin bisa menahannya. Tapi karena dia telah merasakan betapa lihaynya It-teng Tay-su, Ciu Pek-thong dan Oey Yok-su, nyalinya sudah ciut. Dia sudah bersyukur dapat menyelamatkan diri, mana berani lagi dia mencari penyakit?
Kiranya setelah memeriksa dan mencari di bawah jurang dan tidak mendapatkan sesuatu tanda, Oey Yong dan lain-lain menduga Yo Ko tidak menemukan sesuatu bahaya, maka setelah berunding, mereka memutuskan untuk naik kembali ke atas. Orang yang pertama naik itu adalah Liok Bu-siang, menyusul Thia Eng dan Eng-koh.
Ketika Oey Yong sudah naik, segera dia mendengar Thia Eng bertiga sedang ber-teriak2 memanggil: “Kwe Siang cilik, di mana kau?”
Begitu melihat puterinya dan Hoat-ong telah menghilang semua, sungguh tidak kepalang cemasnya Oey Yong. Ketika Oey Yok-su, Ciu Pek-thong dan It-teng berturut-turut sudah naik pu!a, mereka segera mencari ke segala pelosok lembah gunung itu, tetapi bayangan Hoat-ong dan Kwe Siang sama sekali tidak tertampak.
Sampai di mulut lembah, tiba-tiba diketemukan sebelah sepatu anak dara itu.
“Ahh, tak perlu kuatir, Suci.” ujar Thia Eng. “Tentu Hoat-ong yang menggondol Siang-ji ke selatan. Siang-ji sengaja meninggalkan sepatunya agar diketahui kita, sungguh bocah ini sangat cerdik, tidak kalah dari ibunya.”
Ketika Oey Yong ingat cerita Kwe Siang bahwa Hoat-ong berniat memaksa anak dara itu menjadi murid ahli warisnya, ia pikir untuk sementara ini mungkin tidak berbahaya, maka rasa kuatirnya banyak berkurang.
Segera rombongan mereka balik ke selatan, di sepanjang jalan mereka pun mencari tahu jejak Hoat-ong dan Kwe Siang.
Beberapa hari kemudian, mereka mendengar berita bahwa pasukan Mongol mengepung Siang-yang dan sudah terjadi pertempuran besar di luar kota itu, kedua pihak sama-sama ada kalah menangnya, kedudukan Siang-yang sangat genting.
“Musuh telah menggempur Siang-yang, kita harus lekas kembali ke sana, urusan Siang-ji untuk sementara terpaksa tak bisa dipikirkan lagi,” kata Oey Yong dengan kuatir.
Semua orang menyatakan benar dan bersedia ikut pergi.
Biar pun sebenarnya It-teng Taysu, Oey Yok-su dan Ciu Pek-thong tidak ingin mengurus soal2 keduniawian lagi, tetapi mati-hidup dari Song besar tergantung hancur atau utuhnya Siang-yang, maka pertempuran yang menentukan ini tidak memungkinkan mereka untuk berpeluk tangan saja.
Begitulah mereka lantas mempercepat perjalanan, maka tiada seberapa hari mereka telah sampai di luar kota Siang-yang. Dipandang dari jauh, panji ber-kibar2, senjata gemilapan, bunyi tiupan tanduk ber-huk2 sahut-menyahut, derap kuda kian kemari. Tertampak Siang-yang terkurung rapat2 oleh pasukan Mongol.
Walau pun sudah banyak memiliki pengalaman, melihat situasi demikian ini, mereka pun menjadi terperanjat.
“Kekuatan musuh terlalu besar, sungguh pun kita berilmu silat tinggi juga sukar mendekati benteng kota, terpaksa menanti hari gelap nanti baru mencari jalan lain,” demikian kata Oey Yong.
Mereka bersembunyi dalam hutan. Kecuali Ciu Pek-thong yang selalu periang, yang lain-lain berhati sedih semua. Sampai sudah dekat tengah malam, dengan Oey Yong sebagai pembuka jalan, mereka bertujuh lantas menerjang ke dalam perkemahan musuh.
Betapa pun tinggi ilmu silat ketujuh orang ini akan tetapi begitu besarnya tentara Mongol, perkemahan berderet2 tak terhitung panjangnya. Baru setengah jalan mereka menerjang sudah diketahui oleh patroli musuh dan sekali gembreng ditabuh bertalu-talu, seketika itu pula mereka sudah terkepung, walau pun begitu keruan yang lain ternyata tenang-tenang saja tidak kacau, suatu tanda betapa disiplin dan terlatihnya pasukan Mongol.
Baiknya di dalam pasukan tentara yang besar, karena kuatir terkena kawan sendiri maka prajurit Mongol tidak berani melepaskan panah. Kalau di tanah lapang dan dihujani panah, betapa pun tangkas Ciu Pek-thong, Oey Yok-su, Oey Yong dan lainnya juga tak mampu menahannya.
Sambil bertempur mereka maju terus, sedang pasukan musuh makin lama makin banyak, berpuluh2 tombak selalu menusuk ke arah mereka bergantian. Tapi di mana angin pukulan Ciu Pek-thong, Oey Yok-su dan It-teng Taysu sampai, di situ segera pula senjata2 musuh patah dan orangnya terluka atau mati, sungguh pun demikian tentara Mongol itu ternyata pantang mundur.
“Oey-Iosia, tampaknya kita bertiga tua bangka ini hari ini akan mampus di sini,” kata Lo-wan-tong tiba-tiba dengan tertawa, “Maka paling baik kan berdaya agar empat anak dara ini saja ditolong keluar.”
“Fui,” semprot Eng-koh. “Omong tidak-genah, masakah aku sudah nenek2 dianggap anak dara? Hendak mati biarlah kita mati bersama, tiga anak dara ayu inilah yang harus kita tolong.”
Diam-diam Oey Yong berkuatir, pikimya: “Selamanya Lo-wan-tong tak pernah kenal takut, kenapa sekarang tiba-tiba bilang jiwanya bakal melayang di sini, tampaknya alamat tidak baik!”
Tapi tentara musuh merubung bagai semut, kecuali melawan mati-matian, hakekatnya tak berdaya lain.
Sesudah beberapa deret perkemahan musuh ditembus lagi, tiba-tiba Oey Yong melihat di sebelah kiri sana terdapat dua kemah besar berwarna hitam. Dia pernah ikut Jengis Khan menggempur ke benua barat, dia pun tahu kemah demikian ini biasanya dipakai sebagai gudang rangsum.
Tiba-tiba pikirannya tergerak. Mendadak ia melompat ke samping dan berhasil merampas sebuah obor seorang prajurit musuh terus berlari ke kemah gudang rangsum itu.
Segera prajurit Mongol berteriak-teriak mengejarnya. Tapi Oey Yong sangat sebat, sekali menyelusup, segera ia masuk ke kemah itu, obornya diangkat, segala benda dibakarnya. Maka sekejap saja dua kemah besar itu sudah kebakaran beberapa tempat, habis itu Oey Yong menerobos keluar lagi bergabung dengan rombongan Ciu Pek-thong.
Benda yang tertumpuk di dalam kemah itu tidak sedikit terdiri dari barang2 yang mudah terbakar, maka cepat saja api sudah menjilat dengan hebatnya.
Lo-wan-tong menjadi tertarik, dia pun tidak mau ketinggalan. Dari prajurit musuh dia dapat merampas dua obor, dia pun pergi menyulut api ke mana-mana, malahan tanpa sengaja sebuah kandang kuda kena dibakarnya, keruan seketika kacau balau oleh lari kuda-kuda yang tunggang-langgang, maka pasukan Mongol menjadi kalang kabut.
Waktu itu Kwe Ceng berada di kota Siang-yang dan mendengar pasukan musuh di utara benteng kacau-balau. Dia memeriksa ke atas benteng dan melihat api menjulang tinggi di tengah perkemahan musuh, dia tahu ada orang mengaduk-aduk di perkemahan pasukan Mongol itu, maka cepat dia kirim 2000 prajurit dan memerintahkan Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua menggempur keluar benteng.
Pada waktu kedua saudara Bu itu sudah beberapa li di luar kota, terlihatlah Oey Yok-su memayang Liok Bu-siang, It-teng Taysu mendukung Ciu Pek-thong, tujuh orang dengan menunggang lima ekor kuda sedang mendatangi dengan cepat.
Kedua saudara Bu tidak berani menyongsong maju, tetapi pasukan yang dipimpinnya itu lantas tersebar ambil kedudukan untuk menahan kejaran tentara musuh, dengan begitu, barisan belakang dijadikan barisan depan untuk melindungi rombongan Oey Yong masuk ke kota.
Kwe Ceng sudah menunggu di atas benteng. Begitu melihat ayah mertua, isteri tercinta, It-teng Taysu, Lo-wan-tong datang semua, dia sangat gembira dan lekas-lekas membuka pintu benteng menyambut keluar.
Ia lihat pinggang Liok Bu-siang terluka tombak musuh, punggung Ciu Pek-thong kena tiga panah, jenggot dan alisnya kelimis terbakar, luka kedua orang ternyata tidak enteng. Oey Yong sendiri, Thia Eng dan Eng-koh juga terluka kena panah, cuma tidak berbahaya.
It-teng dan Oey Yok-su sama-sama mahir ilmu pertabiban. Sesudah memeriksa luka Liok Bu-siang dan Lo wan-tong, mereka mengkerut kening dan bermuka muram tanpa berkata.
“Toan hongya, Oey-losia, kalian tak perlu bersedih. Lo-wan-tong sudah dapat firasat dan yakin tidak akan mampus,” demikian tiba-tiba Ciu Pek-thong buka suara dengan tertawa. “Maka paling baik kalian curahkan perhatian untuk menyembuhkan si anak dara Bu-siang saja.”
Begitulah Lo-wan-tong masih terus berkelakar dengan Oey Yok-su, tetapi terhadap It-teng Taysu dia sangat menghormatinya, bahkan rada-rada takut. Meski pun It-teng sudah lama menjadi Hwesio, namun sebutan ‘Toan-hongya’ masih terus dipakainya.
Melihat Lo-wan-tong sanggup menahan sakit bahkan masih berkelakar, Oey Yok-su dan It-teng menjadi sedikit tega. Hanya keadaan Liok Bu-siang yang menguatirkan. Gadis ini masih tidak sadarkan diri. Thia Eng terus menunggui di pinggir ranjangnya dan diam-diam mengucurkan air mata.
Besok paginya baru saja terang tanah, di luar kota sudah terdengar tiupan tanduk disertai genderang yang ber-talu2. Pasukan Mongol sudah mulai menyerang besar-besaran.
Pembesar Siang-yang yang resmi, gubemur Lu Bun-hwan memimpin pasukan menjaga di empat penjuru pintu benteng, sedangkan Kwe Ceng dan Oey Yong mengawasi dari atas benteng. Terlihat pasukan musuh membanjir datang bagai semut.
Di antara beberapa kali serangan pasukan Mongol ke Siang-yang, persiapan sekali inilah yang paling lihay. Baiknya Kwe Ceng pernah lama tinggal dalam pasukan Mongol di masa mudanya sehingga dia paham siasat apa yang dipakai tentara Mongol untuk menggempur benteng dan segala serangan para musuh selalu digagalkan.
Pertarungan sengit itu berlangsung sampai hari sudah petang. Prajurit Mongol tewas lebih 2000 jiwa, tetapi dari belakang masih terus membanjir dan menggempur benteng dengan gagah berani.
Di dalam kota Siang-yang, kecuali beberapa puluh ribu prajurit terdapat pula ratusan ribu penduduk sipil. Semua orang tahu mati-hidup mereka bergantung pada pertahanan kota ini, maka setiap orang muda yang masih kuat, semuanya memanggul senjata memenuhi kewajiban pertahanan kota, sekali pun yang tua, para wanita dan anak-anak juga tak mau ketinggalan dan membantu di garis belakang. Maka seketika itu di dalam mau pun di luar kota menjadi gegap-gempita, panah berseliweran di atas udara bagai belalang terbang.
Kwe Ceng sendiri dengan tangan menghunus pedang memimpin pertahanan kota di atas benteng. Oey Yong berdiri di sampingnya sambil menyaksikan pertempuran yang makin sengit itu.
Tiba-tiba saja terdengar prajurit Mongol di bawah benteng berseru: “Banswee (Dirgahayu)! Banswe! Ban-banswe...!”
Suara itu dari jauh mendekat bagai gelombang ombak saja, sampai akhirnya beratus ribu prajurit berteriak berbareng sehingga seakan-akan langit ambruk dan menggempa bumi, Lalu nampaklah sebuah.panji besar berkibar tinggi, beberapa perwira mengiringi seorang dengan payung kencana, sesudah dekat, ternyata raja Monko sendiri yang maju ke garis depan.
Melihat raja mereka datang sendiri, prajurit Moogol menjadi tambah bersemangat. Ketika panji merah berkibar, satu pasukan yang berjumlah 20 ribu orang terus menggempur pintu benteng utara dengan mati-matian. Ini adalah pasukan cadangan raja Mongol yang terlatih dan paling tangkas, apa lagi semua prajurit ingin berjasa di hadapan rajanya, maka begitu tangga bersandar tembok benteng segera bagai semut berebut naik ke atas.
“MariIah saudara2, hari ini biar raja musuh melihat sendiri betapa gagah perwiranya rakyat Song kita yang jaya!” teriak Kwe Ceng sambil mengangkat tangannya.
Demikian keras suara Kwe Ceng hingga prajurit Song serentak terbangkit semangatnya, semuanya bertempur mati-matian mengenyahkan penjajah.
Mayat prajurit Mongol yang menggempur benteng itu tampak makin lama semakin banyak dan bertambah tinggi tertumpuk, akan tetapi bala bantuan masih terus membanjir tanpa putus2nya.
Kurir yang selalu berada di sisi raja Monko tampak mondar-mandir meneruskan perintah. Tatkala itu tiba-tiba terdengar petugas itu berteriak: “Dengarlah para prajurit dan bintara! Titah raja, barang siapa yang paling dulu berhasil menginjak ke atas benteng, maka dia itu lantas dianugerahi pangkat walikota Siang-yang.”
Mendengar itu, bersoraklah prajurit Mongol, segera ada beberapa orang yang tidak takut mati terus merangsek ke atas benteng.
Kurir itu membawa panji merah dan selalu wira-wiri meneruskan perintah sang raja. Kwe Ceng menjadi gusar, dia pentang busur terus memanah. Pesat amat panah itu dan tepat menembus dada petugas musuh itu hingga terjungkal dari kudanya.
Prajurit Mongol berteriak-teriak lagi. Sesaat semangat mereka sirap, tapi hanya sebentar, kembali sepasukan cadangan baru tiba pula di bawah benteng.
Dengan tombak panjang di tangan Yalu Ce berlari ke hadapan Kwe Ceng lantas berkata: “Gakhu, Gakbo (ayah dan ibu mertua), musuh sulit digempur mundur, biarlah anak keluar benteng menerjangnya.”
“Baik, bawalah 3000 prajurit, cuma harus hati-hati,” sahut Kwe Ceng.
Segera Yalu Ce turun dari benteng. Tidak lama kemudian, genderang dipukul riuh sekali, begitu pintu benteng terbuka, 1000 anggota Kay-pang dan 2000 tentara negeri di bawah pimpinan Yalu Ce dengan tombak dan tameng terus menerjang ke depan.
Di bagian pintu utara pasukan Mongol sedang menggempur benteng. Ketika mendadak melihat pasukan Song menerjang keluar, cepat mereka putar tubuh terus lari mundur.
Segera Yalu Ce memimpin pasukannya memburu, tetapi tiba-tiba terdengar tiga kali suara meriam, dua pasukan MongoI telah mengepung dari kanan kiri sehingga 3000 orang yang dipimpin Yalu Ce terkepung ditengah-tengah.
Pasukan Mongol itu berjumlah lebih dari 20 ribu orang, keruan tiga ribu orangnya Yalu Ce terkepung rapat. Tapi mereka tak gentar, terutama seribu anggota Kay-pang itu semuanya berilmu silat bagus dan sanggup satu lawan sepuluh, mereka bertempur dengan mati2an. Sedang sepasukan tentara Mongol yang lain kembali memasang tangga menggerapah ke atas benteng lagi.
Melihat sebagian pasukan Mongol sudah berhasil ditahan oleh Yalu Ce, segera Kwe Ceng memberi perintah kepada kedua saudara Bu agar membiarkan prajurit Mongol menyerbu masuk dari gugusan benteng.
Setelah kedua Bu menerima perintah itu dan undurkan pasukannya, sekejap saja beratus dan beribu prajurit Mongol berhasil merangkak sampai di atas benteng. Melihat ini Lu Bun-hwan menjadi ketakutan hingga mukanya pucat lesi, badannya gemetar, mulut ternganga.
Namun Kwe Ceng tenang-tenang saja, dia biarkan prajurit Mongol naik kira-kira lima ribu orang. Tiba-tiba saja panji kuning mengebas, sekonyong-konyong genderang berbunyi, Cu Cu-liu dan Bu Sam-thong masing-masing memimpin sepasukan tentara cadangan segera menyerbu keluar dari tempat sembunyi mereka. Seketika itu pula gugusan benteng yang bobol tadi segera tertutup rapat, prajurit Mongol yang lain tak dapat naik Iagi. sedang lima ribu orang musuh yang berada di dalam benteng itu terjeblos ke dalam kepungan.
Demikianlah, kalau di luar benteng pasukan Song terkepung, sebaliknya di atas benteng pasukan Mongol juga terkurung, sementara pertempuran di ketiga pintu benteng yang lain masih berlangsung dengan sengit luar biasa.
Betapa gagah beraninya perlawanan pasukan Song itu sungguh amat mengagumkan raja Mongol, diam-diam dia memuji dan insaf salah duga atas kekuatan lawan.
Sementara itu sudah tengah malam, sinar bulan purnama, langit bersih, angin silir2 sejuk, sebaliknya di permukaan bumi ketika itu beratus ribu manusia sedang bertempur dengan mati-matian.
Pertempuran ini berlangsung sejak pagi sampai tengah malam, kerugian masing-masing pihak sama besarnya. Pasukan Song menang pada tempat, sebaliknya pasukan Mongol menang jumlah lebih banyak.
Selang agak lama, tiba-tiba saja sepasukan tentara Song menyerang ke tanah bukit sana. Pasukan pengawal raja Mongol yang berada ditanah bukit itu lekas2 melepaskan panah.
Dari tempat tinggi raja MongoI dapat melihat jelas di dalam pasukan Song itu ada seorang panglima setengah umur, bersenjata sepasang tombak, menunggang seekor kuda besar sedang menerjang ke sana ke mari tanpa tertahankan. Meski panah berhamburan seperti hujan ke arahnya, tapi seluruhnya kena di tangkis dan disampuk oleh tombak2nya.
“Orang yang gagah ini, siapakah dia?” tanya Monko pada bawahannya.
“Lapor Sri Baginda, orang ini Kwe Ceng adanya,” kata seorang panglima tua di sisinya.
“Ai, kiranya dia! Benar-benar gagah perkasa, namanya bukan omong kosong belaka!” puji Monko tak tertahan.
Mendengar raja mereka memuji musuh, ada empat perwira merasa kurang senang, sekali berteriak, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju memapak Kwe Ceng.
Akan tetapi betapa tangkas dan besar tenaga sakti Kwe Ceng, mana keempat perwira itu sanggup melawannya, hanya sekali dua gebrakan saja, keempat perwira itu berturut-turut sudah dibinasakan. Maka perwira2 Mongol yang lain menjadi jeri, tiada yang berani pamer lagi di hadapan raja mereka, hanya dari jauh mereka menghujani panah.
Kwe Ceng mengeprak kudanya hendak menerjang ke atas bukit itu, tapi beratus senjata prajurit musuh rapat menghadangnya. Beberapa kali dia berusaha merangsek maju, tetapi selalu terdesak mundur.
Mendadak kudanya terkena panah hingga meringkik terus roboh. Prajurit-prajurit Mongol bersorak senang terus merubung maju. Tak terduga tiba2 Kwe Ceng melompat bangun, sekali tombaknya menusuk, dia binasakan seorang bintara musuh kemudian mencemplak ke atas kuda rampasan ini. Dengan memutar tombak sambil menghantam dengan tangan dari dekat, dalam sekejap saja belasan perwira dan prajurit musuh kena dimatikan pula.
Melihat di antara sekian banyak prajuritnya ternyata tidak ada seorang pun yang mampu mendekati Kwe Ceng, diam-diam Monko berkerut kening. Tiba-tiba dia memberi perintah: “Barang siapa dapat membunuh Kwe Ceng maka akan diberi hadiah selaksa tahil emas dan kenaikan pangkat tiga tingkat sekaligus.”
Karena janji yang menarik ini, serentak pasukan Mongol lantas membanjir maju.
Nampak keadaan rada gawat, pula dirinya tak mampu mendekati raja musuh, mendadak Kwe Ceng menghantam mundur beberapa pengeroyoknya, lantas mementang busur dan melepaskan panah ke arah Monko. Begitu pesat anak panah itu meluncur secepat kilat terus menyambar ke muka raja itu.
Para pengawal Monko terkejut bukan main. Dua bintara yang berdiri di sampingnya cepat menghadang di depan junjungan mereka, maka tanpa ampun panah itu lantas menembus bintara yang pertama, bahkan terus menembus dada bintara kedua yang berdiri tepat di belakangnya sehingga mirip sujen sate.
Melihat betapa hebat serangan panah itu, muka Monko menjadi pucat, di bawah iring2an pengawalnya cepat mundur ke bawah bukit. Pada saat itu pula kembali pasukan MongoI berteriak-teriak.
Sepasukan Song menerjang datang pula, seorang paling depan memutar sepasang gayuh besi sedang menghantam dan menpepruk dengan hebatnya. Ternyata dia adalah Su-sui Hi-un, si nelayan dari sungai Su yang menjadi muridnya It-teng Taysu itu.
Rupanya Oey Yong menjadi amat kuatir ketika melihat sang suami seorang diri terkepung musuh, maka Su-sui Hi-un diperintahkan memimpin dua ribu tentara untuk memapaknya.
Dalam pada itu, karena melihat raja mereka mengundurkan diri, semangat prajurit Mongol rada terguncang, barisan mereka pun kelihatan rada kacau. Keadaan itu dapat dilihat jelas oleh Oey Yong yang mengawasi di atas benteng, maka cepat dia memberi perintah:
“Beramai-ramai kita berteriak bahwa raja Mongol sudah mati!”
Maka gegap gempitalah suara teriakan para prajurit Song yang menyorakkan: “Hura! Raja Mongol sudah mati! Raja Mongol sudah mati!” Bahkan di antara prajurit yang fasih bicara dengan bahasa Mongol segera berteriak dalam bahasa itu.
Mendengar teriakan itu, para prajurit Mongol langsung menoleh ke belakang dan melihat panji kebesaran raja mereka benar-benar sedang mundur ke belakang, di sekitar panji itu kelihatan pula kacau-balau. Mereka menyangka raja benar-benar sudah tewas, seketika semangat tempur mereka patah dan beruntun mundur dengan cepat.
Cepat Oey Yong memberi perintah mengejar, pintu benteng segera terpentang lebar, tiga puluh ribu prajurit cadangan lantas menerjang keluar. Tiga ribu orang yang dipimpin Yalu Ce sudah gugur hampir separoh, sisanya kini sekalian ikut menguber musuh.
Tapi pasukan Mongol telah banyak pengalaman bertempur. Meski kalah, formasi mereka tidak buyar, mereka mundur teratur ke utara, maka pasukan Song juga tidak berani terlalu mendesak.
Hanya saja lima ribu orang Mongol yang menyerbu ke dalam benteng tadi tiada seorang pun yang tersisa hidup.
Setelah pasukan musuh mundur seluruhnya, sementara itu hari sudah mulai terang tanah. Pertempuran sengit ini berlangsung tidak kurang dari pada 12 jam, mayat bergelimpangan bertumpang tindih, darah menggenang bagai air sungai, tombak patah, golok putus, panji sobek, semuanya berserakan memenuhi jalan sepanjang berpuluh li.
Dalam pertempuran ini pihak Mongol kehilangan lebih 30 ribu prajurit pilihannya, ada pun pihak Siang-yang gugur belasan ribu jiwa. Semenjak bangsa Mongol menjajah ke selatan, pertempuran inilah yang terdahsyat dan paling banyak menelan korban.
Setelah mengundurkan pasukannya sejauh 40 li, Monko lantas memerintahkan berkemah. Teringat keadaan berbahaya tadi, dalam hatinya masih merasa tidak tenteram.
Tidak lama kemudian, adik raja, Kubilai, datang menghadap dan menyampaikan sembah bakti pada Sri Baginda.
“Adikku,” kata Monko kepada Kubilai, “Mendiang ayah kita suka memuji mengenai gagah perwiranya Kwe Ceng. Setelah tadi aku menyaksikan sendiri, kini barulah aku betul-betul kagum dan putus asa pula.”
“Kakak Baginda tidak perlu kuatir, hamba sudah mempunyai suatu akal yang pasti akan membikin Kwe Ceng menyerah tanpa berkutik dan Siang-yang dengan cepat akan bobol,” kata Kubilai.
Girang sekali Monko, cepat dia bertanya apa tipu akal itu.
Kubilai tidak langsung menjawab, dia menoleh kepada pengawalnya dan berkata: “Silakan Koksu (imam negara) masuk!”
Nyata datangnya Kubilai disertai Kim-lun Hoat-ong.
Dalam pada itu, setelah pasukan Siang-yang dapat menggempur mundur musuh, seluruh kota di mana-mana terdengar suara tangisan yang memilukan. Ada ibu menangis karena kehilangan anak, ada isteri menangisi suami, suasana tenggelam dalam keadaan berduka cita.
Tanpa mengaso segera Oey Yong pergi memeriksa dan menghibur para bawahannya, lalu pergi memeriksa keadaan lukanya Ciu Pek-thong dan Liok Bu-siang. Kiranya luka mereka sudah baikan. malah Lo-wan-tong sudah tidak sabar lagi rebah di pembaringan, dia sudah keluyuran ke taman.
Melihat muka orang yang kini kelimis, Kwe Ceng dan Oey Yong merasa geli.
Besok paginya, selagi Kwe Ceng hendak berunding situasi militer dengan Lu Bun-hwan. tiba-tiba ada laporan, katanya ada sepasukan tentara Mongol sekira 10 ribu orang sedang menuju ke arah pintu benteng utara. Lu Bun-hwan terkejut bahwa musuh berani datang lagi, Kwe Ceng juga segera naik ke atas benteng untuk memeriksa.
Maka tertampaklah pasukan musuh itu ambil kedudukan di tempat 3-4 li jauhnya dari kota namun tidak menyerang. Selang tidak lama, beribu tukang telah mendatangkan batu dan mendirikan cagak terus membangun sebuah panggung yang tingginya belasan tombak.
Tatkala itu Oey Yok-su, Oey Yong, It-teng Taysu dan Cu Cu-liu juga sudah naik ke atas benteng. Demi melihat tentara Mongol mendadak mendirikan panggung, mereka menjadi heran dan bingung.
“Jika panggung itu oleh musuh akan digunakan untuk mengintai keadaan dalam benteng, tempatnya tidak seharusnya begitu jauh, apa lagi kalau tentara kita memanahnya dengan api, segera bisa terbakar. Lalu apa gunanya?” demikian pendapat Cu-liu.
Oey Yong pun tidak mengerti akan maksud tujuan musuh itu meski pun sudah mencoba menyelami.
Dan sesudah panggung itu berdiri, beberapa ratus serdadu Mongol dengan kereta2 kuda tampak mengangkut datang kayu2 bakar terus ditumpuk di sekitar panggung, tampaknya panggung itu seperti hendak dibakar.
Cu-liu semakin heran, katanya: “Apakah musuh hendak memakai ilmu gaib? Atau hendak bersembahyang?”
“Sudah lama aku tinggal di tengah pasukan Mongol, tapi selamanya tidak pernah melihat cara aneh ini,” ujar Kwe Ceng.
Tengah bicara, kembali tertampak beribu serdadu Mongol sedang mengayun cangkul dan sekop, mereka sedang menggali sebuah parit yang lebar dan dalam di sekitar panggung, tanah yang digali itu menggunduk melingkari parit itu sehingga berwujud seperti pagar.
“Ha-ha-ha, kota Siang-yang adalah bekas kediaman Cukat Liang di jaman Samkok, tetapi bangsa asing ini berani main kayu di depan rumah nabi, sungguh terlalu menghina bangsa kita!” demikian jengek Oey Yok-su dengan gusar.
Dalam pada itu di tengah2 bunyi genderang ber-turut2 datang pula empat pasukan musuh terus melingkari keempat penjuru panggung tadi dengan bermacam-macam senjata siap di tangan. Panggung itu menjadi terkurung rapat.
Mendadak terdengar dentuman meriam sekali, suara genderang lantas berhenti, keadaan jadi sunyi senyap, dari jauh dua penunggang kuda berlari ke bawah panggung itu. Kedua penunggang itu turun dari kuda terus bergandengan tangan naik ke atas panggung.
Karena jaraknya jauh dari benteng, maka muka kedua orang itu tak jelas kelihatan, hanya lapat-lapat seperti seorang pria dan seorang perempuan.
Selagi semua orang ter-heran2, sekonyong-konyong Oey Yong menjerit kaget, terus roboh ke belakang dan pingsan.Lekas semua orang menolongnya siuman dan sama bertanya sebab apakah?
Dengan wajah pucat Oey Yong kemudian berkata dengan suara gemetar: “ltulah Siang-ji, itulah Siang-ji!”
Semua orang terkejut dan saling pandang. “Apakah kau melihat jelas, Kwe-hujin?” tanya Cu-liu.
“Meski tidak terang melihat mukanya, tapi menurut dugaan, pastilah dia,” kata Oey Yong. “Musuh tidak berhasil membobol benteng, sekarang ternyata memakai akal keji, sungguh rendah dan tidak tahu malu.”
Mendengar penuturan itu, segera Oey Yok-su dan Cu Cu-liu mengerti duduknya perkara. Mereka pun amat gusar, sebaliknya Kwe Ceng masih belum mengerti, tanyanya:
“Kenapa Siang-ji bisa berada di atas panggung itu? Tipu keji apa yang akan dipakai musuh?”
“Ceng-koko,” kata Oey Yong dengan bersemangat, “Sungguh tak beruntung Siang-ji jatuh dalam cengkeraman musuh, mereka sengaja bikin panggung dan taruh Siang-ji di atasnya sebagai umpan, tipuannya memaksa kau menyerah, jika kau tak menyerah mereka akan bakar panggung itu supaya kita berdua ngenas dan berduka, hilang semangat dan pikiran kacau, dengan begitu mereka bisa menggempur lebih leluasa tanpa perlawanan kita.”
“Sebab apa Siang-ji jatuh di tangan musuh?” tanya Kwe Ceng terkejut dan gusar.
“Ya, karena kesibukan militer beberapa hari ini, aku kuatir memecah perhatianmu, karena itu tidak kuceritakan padamu,” sahut Oey Yong.
Kemudian dia pun segera menceritakan pengalamannya di Coat-ceng-kok, di mana Kwe Siang kena digondol Kim-lun Hoat-ong.
Mendengar Yo Ko menghilang di dalam jurang, berulang-ulang Kwe Ceng bertanya lebih jelas, betapa perhatiannya pada Yo Ko kelihatan sekali pada wajahnya. Betapa tinggi budi luhur Kwe Ceng, dia tidak pikirkan puteri sendiri yang menghadapi bahaya dibakar, tetapi menanyakan dulu keselamatan Yo Ko, sungguh bikin semua orang amat mengaguminya.
Stelah selesai mendengarkan penuturan Oey Yong, dengan mengkerut kening Kwe Ceng berkata:
“Yong-ji, inilah kesalahanmu. Mati hidup Ko-ji belum diketahui, kenapa kau sudah meninggalkannya pergi?”
Selamanya Kwe Ceng sangat menghormat dan cinta isterinya, tidak pernah mencelanya di hadapan orang luar. Kini celaan itu diucapkannya dengan sungguh-sungguh, Oey Yong menjadi merah mukanya.
“Kwe hujin sudah menyelam ke dalam telaga hingga hampir beku kedinginan dan keadaan Yo Ko juga sudah kami selidiki memang benar-benar tidak berada di jurang itu, pula nona Kwe jatuh ke tangan musuh, maka beramai-ramai kami mengusulkan mengejar kembali, hal ini tidak bisa menyalahkan Kwe hujin,” demikian It-teng Taysu menjelaskan.
Karena itu terpaksa Kwe Ceng tidak berani bilang apa-apa lagi, hanya dengan gemas dia berkata pula: “Anak dara ini selalu bikin gara-gara saja, jika sampai Ko-ji terjadi apa-apa, hati kita apakah bisa tenteram? Hari ini biarlah dia dibakar mati musuh saja, beres!”
Dengan cemas diam-diam Oey Yong turun dari benteng. Mendadak pintu benteng dibuka, dengan menunggang kuda sendirian cepat ia kabur ke utara. Keruan semua orang sangat terkejut. Beruntun-runtun Kwe Ceng, Oey Yok-su, It-teng, Cu Cu-liu dan lainnya cemplak kuda menyusulnya.
Setiba di depan panggung tinggi tadi, mereka berhenti dalam jarak yang tak dapat dicapai panah musuh. Maka tampaklah di atas panggung berdiam dua orang, yang satu berjubah kuning, dialah Kim-lun Hoat-ong, sedangkan lainnya adalah seorang gadis remaja dengan kedua tangannya diikat pada sebuah cagak. Siapa lagi dia kalau bukan Kwe Siang. Meski gusar karena anak dara itu suka timbulkan onar, tapi kasih-sayang ayah maka mau tak mau Kwe Ceng menjadi kuatir, teriaknya keras-keras:
“Siang-ji, jangan kuatir, ayah-ibu datang buat menolong kau!”
Betapa kuat tenaga dalamnya, suara teriakannya itu dengan jelas terkirim sampai di atas panggung itu.
Waktu itu Kwe Siang sudah dalam keadaan sadar tak sadar terpanggang sinar matahari yang terik. Ketika mendadak mendengar suara ayahnya, segera dia pun berteriak-teriak.
“Ayah, ibu!” Cuma panggung itu terlampau tinggi, jaraknya juga jauh, maka suaranya tak terdengar oleh ayah-bundanya.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong sedang tertawa terbahak-bahak, katanya lantang: “Kwe-tayhiap, tidaklah sulit apa bila kau ingin aku membebaskan puterimu. Soalnya tergantung apakah kau punya keberanian atau tidak?”
Selamanya Kwe Ceng sangat tenang, makin berbahaya keadaan yang dihadapi, semakin tenanglah pikirannya. Kini mendengar kata-kata Hoat-ong itu, sama sekali dia tidak gusar, jawabnya:
“Ada persoalan apa, silakan Hoat-ong menunjukkan.”
“Jika memang kau mempunyai rasa cinta kasih seorang ayah terhadap puterinya, segera kau naik panggung sini dan menyerahkan diri, kita satu tukar satu, maka puterimu segera kubebaskan,” demikian kata Hoat-ong.
Nyata Hoat-ong sudah tahu bahwa Kwe Ceng amat tinggi budi, tidak nanti untuk seorang puterinya mau mengorbankan jiwa penduduk seluruh kota Siang-yang, oleh karena itu dia sengaja keluarkan kata-kata pancingan supaya Kwe Ceng masuk perangkap sendiri.
Tak terduga Kwe Ceng ternyata tidak bisa ditipu, jawabnya lantang: “Jika musuh asing itu tidak takut padaku, mengapa kalian menawan puteriku? Dan kalau musuh takut padaku, suatu tanda Kwe Ceng bukanlah manusia tak berguna, mengapa mesti mati tanpa arti?”
“Hm, orang bilang ilmu silat Kwe-tayhiap amat lihay, gagah perkasa, tapi nyatanya hanya seorang manusia yang takut mati dan tamak hidup,” demikian jengek Hoat-ong.
Kata-kata pancingan ini bila dipakai terhadap orang lain mungkin akan berhasii, tetapi Kwe Ceng memikul tanggung jawab atas keselamatan seluruh penduduk kota, dia anggap sepi saja kata-kata orang dan diganda tersenyum belaka tanpa menggubris. Namun Bu Sam-thong dan Su-sui Hi-un menjadi murka, segera mereka hendak menerjang maju, namun It-teng Taysu keburu mencegah mereka.
“Kwe-tayhiap,” terdengar Hoat-ong berseru pula, “puterimu pintar dan cerdik, sebenarnya aku sangat menyukainya dan berniat menjadikan dia murid ahli warisku. Tetapi Hongsiang memberi titah, kalau kau tidak takluk segera anak dara ini akan dibakar di atas panggung ini. Bukan cuma kau yang sakit hati atas puterimu yang malang ini, sekali pun aku sendiri juga merasa sayang, maka harap kau suka memikirkannya dalam-dalam.”
Kwe Ceng menjengek tanpa menjawab. Dia lihat berpuluh serdadu musuh sudah siapkan obor di samping tumpukan kayu bakar di bawah panggung itu, asal sekali saja Hoat-ong memberi perintah, segera api akan disulut.
Berpuluh ribu serdadu musuh mengepung panggung dengan rapat, hanya manusia biasa saja mana mampu menembusnya? Lagi pula biar pun sudah dekat, jika api sudah menjilat panggung itu, cara bagaimana bisa menolong puteri kecil itu?
Waktu Kwe Ceng mendongak, ia lihat muka puterinya pucat lesu, tak tahan hatinya bagai disayat. Cukup lama Kwe Ceng ikut dalam pasukan Mongol, dulu ia kenal serdadu Mongol yang kejam tak kenal ampun, sehari saja tidak segan membunuh beratus ribu wanita mau pun anak-anak, apa lagi kini hanya Kwe Siang, mirip seekor semut yang tak berarti saja.
Karena itu dengan mengertak gigi ia berteriak: “Wahai, Siang-ji, dengarlah, ayah bundamu berjuang untuk negara dan bangsa, mati-hidup tidak terpikir. Kau adalah puteri ibu pertiwi, kau harus berani berkorban dengan gagah perwira dan jangan takut. Hari ini bila ayah-ibu tak bisa menolongmu, kelak kami pasti akan membunuh paderi jahat ini untuk membalas sakit hatimu. Mengertikah kau?”
Dengan mengembeng air mata Kwe Siang mengangguk. Teriaknya dari jauh: “Ya, ayah dan ibu, anak tidak gentar!”
“ltulah puteriku sejati!” seru Kwe Ceng.
Sesudah itu dia tanggalkan gendewa dari pinggangnya, panah dipasang terus dijebretkan beruntun2 tiga kali, kontan tiga serdadu musuh yang memegang obor di bawah panggung itu terjungkal, tiga panah itu ternyata menembus dada mereka.
Harus diketahui bahwa ilmu memanah dan menunggang kuda Kwe Ceng didapat dari ahli panah Jebe yang tersohor di MongoI waktu Kwe Ceng tinggal di sana dulu, ditambah lagi tenaga dalamnya yang sekarang luar biasa, serdadu Mongol lantas berteriak-teriak sambil angkat perisai untuk melindungi tubuh.
“Marilah kita kembali,” kata Kwe Ceng kemudian kepada rombongannya terus putar kuda dan kembali ke kota.
Setiba di atas benteng lagi, Oey Yong termangu-mangu memandangi panggung di mana puterinya terikat, pikirannya kacau tak terlukiskan.
“Yong-ji, mari kita gunakan barisan 28 bintang untuk menempur musuh,” kata Oey Yok-su tiba-tiba.
Oey Yong terkesiap, sahutnya: “Tetapi meski pun menang kalau musuh lantas membakar panggung itu, lalu apa daya kita?”
“Asal kita bunuh musuh sekuat tenaga, mati-hidup Siang-ji kita serahkan kepada takdir,” sela Kwe Ceng tiba-tiba dengan bersemangat. “Gakhu, mohon tanya, barisan 28 bintang itu cara bagaimanakah mengaturnya?”
“Perubahan barisan bintang2 ini sungguh ruwet,” sahut Yok-su tertawa. “Aku menciptakan barisan 28 bintang-bintang ini, karena dahulu menyaksikan ‘Thian-keng-pak-tau-tin’ kaum Coan-cin-kau, tujuanku hendak menandingi imam-imam Coan-cin itu.”
“Bagus, dalam hal ilmu pasti dan segala ilmu mujijat lainnya, Oey-Iosia memang menjagoi seluruh kolong langit, sekali pun Ong Tiong-yang hidup kembali juga tak lebih unggul dari padamu, barisan bintang-bintang ciptaanmu ini pasti sangat hebat,” demikian It-teng ikut bersuara.
Oey Yok-su tidak lantas menjawab. Dia berpikir sejenak, kemudian berkata: “Barisanku ini tujuannya melulu untuk bertempur dengan sejumlah beberapa puluh orang jagoan Bu-lim saja, sebenarnya tidak pernah terpikir akan dipakai dalam pertempuran melawan beratus ribu tentara ini. Tapi kalau diubah sedikit rasanya masih dapat dilakukan juga. Sayangnya sekarang kekurangan satu orang dan sepasang rajawali kita.”
“Cobalah memberi penjelasan lebih lanjut,” pinta It-teng.
“Kalau kedua rajawali itu tidak dibinasakan paderi keparat itu, bila barisan kita dikerahkan segera kedua binatang itu bisa disuruh terbang ke atas panggung untuk menolong Siang-ji, tetapi sekarang hal itu tak mungkin lagi,” demikian kata Oey Yok-su.
“Barisan 28 bintang ini hanya menurut perubahan ‘panca-buta’ (lima macam unsur, yaitu api, air, bumi hawa dan eter) saja, tetapi harus dipimpin lima jagoan tinggi. Kini kita sudah punya empat orang untuk empat jurusan: timur, selatan, utara dan tengah, tapi barat, Se-tok Auyang Hong sudah mati dan tiada penggantinya, apa lagi Lo-wan-tong terluka. Kalau ada Yo Ko di sini, orang ini cerdik pandai, ilmu silatnya tidak di bawah mendiang Auyang Hong, tetapi kini ke mana harus mencarinya? Pemimpin untuk jurusan barat ini sungguh membikin aku rada ragu-ragu.”
Mendengar nama Yo Ko disebut, Kwe Ceng lantas memandang jauh ke utara melampaui panggung tinggi musuh itu dan bergumam:
“Ya, mati atau hidupkah Ko-ji sekarang benar-benar bikin orang sangat berkuatir.”
Memang aneh benar. Katanya Kwe Siang bertemu Yo Ko di dasar jurang, tetapi mengapa rombongan Oey Yong tidak menemukannya? Sebab apa dalam waktu tiada satu hari Yo Ko menghilang tanpa bekas?
Kiranya saking berduka dan putus asa takkan berjumpa dengan Siao-liong-li, Yo Ko terjun ke dalam jurang dengan anggapan tubuhnya hancur lebur.
Tak terduga sesudah lama melayang ke bawah, akhirnya terdengar suara yang keras.
“Plungg...!” tubuhnya tercemplung masuk kolam air.
Betapa tinggi ia terjun dari atas, dengan sendirinya daya tekanan itu amat kerasnya, maka ia tenggelam lurus ke bawah entah berapa dalamnya. Mendadak matanya terbeliak, lapat-lapat seperti dilihatnya ada sebuah goa air. Pada saat ia hendak menegasi, daya tolak air kolam yang keras luar biasa telah mengapungkan tubuhnya ke atas lagi, pada saat itulah Kwe Siang pun ikut kecemplung ke dalam kolam.
Karena kejadian aneh yang susul menyusul itu, maka tanpa pikir Yo Ko menunggu Kwe Siang mengambang ke atas air, lantas menyeretnya ke pinggir serta menanyai:
“Adik cilik, kenapa kau terjatuh ke bawah sini?”
“Melihat kau terjun, aku lantas ikut terjun ke sini,” sahut Kwe Siang.
“Tobat! Ampun!” kata Yo Ko geleng-geleng kepala, “Apakah kau tidak takut mati?”
“Kau tidak takut mati, aku pun tidak takut,” sahut Kwe Siang pula dengan tersenyum.
Hati Yo Ko jadi tergerak, pikirnya diam2: “Apakah mungkin pada usia semuda ini ternyata sudah mendalam cintanya kepadaku?” Berpikir demikian, tanpa merasa kedua tangannya rada gemetar.
Tiba-tiba Kwe Siang mengeluarkan sebuah jarum emas, dia angsurkan kepada Yo Ko dan bertanya:
“Toakoko, dahulu waktu kau memberikan tiga jarum padaku, kau bilang setiap jarum ini berlaku bagiku untuk mengajukan satu permintaan padamu dan engkau pasti tak akan menolak. Kini aku memohon padamu: Tidak peduli apakah Liong-cici dapat bertemu kembali denganmu atau tidak, janganlah sekali-sekali kau mencari pikiran pendek.”
“Apakah jauh-jauh kau datang dari Siang-yang, perlunya melulu untuk memohon hal ini padaku?” tanya Yo Ko dengan suara terputus-putus sambil memandangi jarum emas itu.
“Ya, benar,” sahut Kwe Siang dengan penuh girang, “lelaki sejati sekali berkata harus bisa dipercaya, apa yang kau pernah sanggupkan padaku, jangan kau mungkir janji.”
Yo Ko menghela napas panjang sekali. Seorang hidup ingin mati, tetapi dari mati kembali hidup melalui suatu proses tertentu, betapa pun tadinya dia berkeras ingin mati, tidaklah mungkin untuk sekali lagi mencari mati, hal ini adalah kelaziman manusia tanpa kecuali.
Kini demi dilihatnya sekujur badan Kwe Siang basah kuyup, kedinginan sehingga giginya gemertak saling beradu, tapi rasa girang pada wajahnya tak tertutup oleh semua itu, lekas Yo Ko mengumpulkan kayu kering hendak menyalakan api. Tapi ketikan api yang mereka bawa sudah ikut basah semua, tidak bisa digunakan lagi, terpaksa dia berkata:
“Adik cilik, kau latihan Lwekang dulu dua kali, supaya hawa dingin tidak menyerang badanmu hingga menimbulkan sakit.”
“Marilah kita berdua berlatih semua,” sahut Kwe Siang.
Lalu mereka pun duduk berendeng menjalankan darah dan mengatur napas. Sejak kecil Yo Ko sudah digembleng tidur di atas batu kemala dingin di dalam kuburan kuno di Cong-lam-san itu, maka sedikit hawa dingin ini bukan apa-apa baginya. Dia mengulurkan tangan lalu memegang punggung Kwe Siang, maka mengalir hawa hangat melalui ‘Sin-tong-hiat’ di punggung anak dara itu dan perlahan-lahan merata ke seluruh tubuhnya.
Tidak lama kemudian Kwe Siang merasa seluruh badannya hangat kembali bahkan lebih segar. Lalu Yo Ko tanya untuk apa anak dara itu datang pula ke Coat-ceng kok. Dengan terus terang Kwe Siang lantas menceritakan pengalamannya.
Yo Ko menjadi gusar, katanya: “Kim-lun Hoat-ong ini benar-benar jahat. Marilah kita cari jalan naik ke atas, biar kakak hajar dia hingga setengah mati.”
Pada saat mereka bicara itulah tiba-tiba dari atas jatuh seekor burung raksasa ke dalam kolam, itulah rajawali jantan. Keruan Kwe Siang terkejut, lekas-lekas mereka memeriksa rajawali itu yang ternyata terluka amat parah.
Tak lama kemudian menyusul rajawali betina turun ke bawah dan membawa yang jantan ke atas. Ketika untuk kedua kalinya turun kembali, Yo Ko mendukung Kwe Siang ke atas punggung binatang itu. Dia sangka tentu rajawali itu akan turun pula untuk menjemputnya, siapa tahu ditunggu hingga lama sekali masih tiada sesuatu suara.
Sudah tentu tak diketahuinya bahwa saat itu rajawali betina sudah mati menumbukkan diri pada batu cadas menyusul rajawali yang jantan.
Menunggu hingga lama dan rajawali betina itu tetap tidak datang, lalu Yo Ko memeriksa keadaan sekitar kolam itu. Tiba-tiba saja dilihatnya di atas pohon-pohon besar ber-jajar2 beberapa puluh sarang tawon, sarang tawon ini berlipat ganda besarnya dari pada sarang tawon biasa, pula tawon2 yang meng-aum2 berseliweran itu ternyata adalah jenis tawon putih yang dulu biasa dipiara Siao-liong-li di kuburan kuno itu.
Tanpa terasa Yo Ko berseru terkejut dan seketika itu pula terpaku di tempatnya. Selang agak lama barulah ia mendekati sarang tawon itu, ia lihat di pinggir sarang tawon terpoles tanah liat, terang buatan manusia, lapat-lapat dikenalinya sebagai karya Siao-liong-li.
Yo Ko tenangkan semangatnya, dia pikir: “Jangan-jangan dahulu ketika Liong-ji terjun ke bawah sini, lalu ia bertempat tinggal di sini?”
Tetapi ketika ia periksa sekitarnya, tempat ini melulu dinding tebing curam bagai di dasar sebuah sumur saja, di atas penuh kabut putih yang menutupi sinar matahari.
Yo Ko coba ketok2 dan mencari sesuatu tanda pada dinding bata itu, tetapi tiada sesuatu yang mencurigakan, hanya ada beberapa pohon yang kulitnya seperti pernah dikeletek orang, juga ada tetumbuhan seperti pernah dicangkok ke tempat lain.
Sesaat itu rasa suka duka berkecamuk memenuhi benaknya, hatinya berdebar-debar. Kini ia yakin bahwa Siao-liong-li pun pernah tinggal di sini, cuma telah lewat 16 tahun lamanya, sampai hari ini apakah orangnya masih sehat walafiat, siapa yang tahu?
Biasanya Yo Ko tidak percaya setan malaikat segala, tapi dalam cemasnya ia berlutut dan komat-kamit berdoa:
“Thian yang maha kasih, berkahilah aku untuk bertemu sekali lagi dengan Liong-ji.”
Sesudah berdoa, Yo Ko mencari lagi sebentar, namun tetap tidak ditemukan sesuatu. Dia duduk di atas pohon dan berpikir: “Apa bila Liong-ji sudah mati, seharusnya tertinggal juga kerangka tulangnya di sini, kecuali kalau tulangnya tenggelam di dalam kolam.”
Berpikir sampai di sini, mendadak dia melompat turun, dia menggumam: “Betapa pun juga pasti akan kuselidiki sehingga segalanya jadi jelas. Sebelum melihat tulang-belulangnya, hatiku belum lega.”
Segera dia terjun ke dalam kolam terus menyelinap ke dasarnya. Makin dalam makin dingin rasanya di bawah kolam itu. Biar pun Yo Ko tidak takut dingin, tapi daya tolak air di bagian bawah terlalu kuat, walau pun beberapa kali Yo Ko berusaha menerjang ke bawah, tapi tetap tak bisa mencapai dasarnya, sedangkan napasnya sudah semakin memburu. Terpaksa dia apungkan diri ke atas, setelah merangkul sepotong batu besar, kembali dia terjun pula ke dalam kolam.
Sekali ini orangnya berikut batunya terus tenggelam dengan cepat. Tiba2 pandangannya terbeliak, pikiran Yo Ko tergerak, lekas-lekas ia menyelidiki ke arah yang terang. Tiba-tiba terasa pusar air yang menggulung tubuhnya terus terhanyut dengan ketatnya, ternyata di tempat yang terang itu memang ada sebuah goa.
Yo Ko melepaskan batu besar yang dirangkulnya itu, segera ia menyelam menuju goa itu dan ternyata goa itu menembus miring ke atas. Yo Ko cepat mengapungkan diri mengikuti lorong goa itu dan selang sejenak, tahu-tahu kepalanya sudah muncul ke permukaan air. Cahaya matahari menyorot dengan terangnya, bunga semerbak mewangi, ternyata di situ terdapat suatu ‘dunia luar’.
Dia tidak lantas mendarat, dia melihat sekitarnya pemandangan menghijau permai, bunga mekar menarik, tempat itu seperti sebuah taman bunga yang besar, namun di sekitarnya tiada suatu bayangan orang pun.
Girang dan kejut Yo Ko. Ia cepat melompat keluar air, kemudian terlihat olehnya di tempat sejauh beberapa puluh tombak sana terdapat beberapa buah rumah petak.
Yo Ko berlari ke sana, tetapi mendadak ia berhenti pula, lalu selangkah demi selangkah ia mendekati rumah-rumah petak itu, dalam hati ia pikir: “Jika dalam rumah-rumah petak ini tetap tidak diperoleh beritanya Liong-ji, lalu bagaimana baiknya?”
Makin dekat dengan rumah-rumah itu, jalannya makin lambat, dalam hati dia kuatir kalau-kalau harapannya yang terakhir ini pun akan buyar. Akhirnya sampai juga di depan rumah petak, waktu ia dengarkan sekitarnya, sunyi senyap, tiada suara orang, tiada berkicaunya burung, hanya suara mendengungnya tawon yang perlahan.
Dengan menabahkan diri, Yo Ko lantas menegur beberapa kali, namun tiada jawaban dari rumah itu. Perlahan Yo Ko dorong daun pintu rumah, maka terpentanglah pintu itu dengan mengeluarkan suara kriat-kriut.
Ketika Yo Ko melangkah masuk, baru sekilas saja ia memandang ke dalam, tak tahan lagi sekujur badannya mendadak tergetar. Ia lihat keadaan di dalam rumah sangat sederhana, tetapi rajin dan resik luar biasa.
Di tengah ruangan hanya sebuah meja dua sebuah kursi, lain tidak. Tapi letak meja kursi itu ternyata sudah amat dikenalnya, serupa benar dengan keadaan meja kursi di ruangan batu dalam kuburan kuno.
Tanpa pikir Yo Ko berjalan membelok ke kanan. Betul saja, di sana adalah sebuah kamar. Lewat kamar ini ada lagi sebuah kamar yang berukuran lebih ‘besar’, sebagian meja-kursi dan pembaringan di dalam kamar ini sama saja seperti apa yang terdapat di kamar tidur Yo Ko di kuburan kuno dulu, cuma perabot rumah di kuburan kuno itu seluruhnya terbuat dari batu, sedangkan yang di sini terbikin dari kayu.
Setelah masuk ke dalam kamar itu, sambil me-raba2 alat-alat perabot kamar itu, air mata Yo Ko telah mengembeng, malah tak dapat ditahan lagi, air matanya meleleh membasahi pipinya.
Mendadak terasa sebuah tangan yang halus lemas per-lahan2 membelai rambutnya, lalu suatu suara lemah lembut telah bertanya padanya:
“Ko-ji, urusan apakah yang membuat kau sedih?”
Suara itu, lagunya, cara membelai rambutnya, seluruhnya mirip benar dengan cara Siao-liong-li dahulu bila mana sedang menghiburnya, Mendadak Yo Ko membalik tubuh, maka tertampaklah di depannya berdiri seorang perempuan berbaju putih, kulit badannya putih bagai salju, mukanya cantik bagai bunga sedang mekar, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li yang dirindukannya siang dan malam selama 16 tahun ini?
Kedua orang saling menjublek sekian saat, lalu sama-sama berseru perlahan terus saling rangkul. Sungguh-sungguh atau mimpikah ini? Benar-benar ataukah khayalan? Yang jelas rasa rindu selama 16 tahun ini seketika itu tak bisa diutarakan seluruhnya!
Lewat agak lama barulah Yo Ko berkata: “Liong-ji, wajahmu masih tetap cantik molek, tapi aku sudah tua.”
“Tidak, kau tidak tua,” sahut Siao-liong-li dengan pandangan penuh arti. “Tapi aku punya Ko-ji kini sudah dewasa.”
Sebenarnya umur Siao-liong-li banyak lebih tua dari pada Yo Ko, tetapi semenjak kecil ia sudah berdiam di Ko-bong atau kuburan kuno dan belajar Lwekang dari gurunya, segala cita rasa dan napsu sudah dihilangnya jauh-jauh. Sebaliknya semenjak kecil Yo Ko sudah kenyang menderita dan banyak berduka, maka pada saat keduanya kawin, wajah mereka tampaknya sepadan.
Dan sesudah menikah hingga berpisah selama 16 tahun, Yo Ko merana dan merantau ke mana-mana, siksaan batin itulah yang membikin rambut di kedua pelipisnya sudah mulai memutih. Sebaliknya Siao-liong-li yang tinggal di tengah jurang, sungguh pun tidak kurang derita rindunya, tapi latihan selama berpuluh tahun di masa kecilnya itu tidaklah percuma, malah ia kembali melatih Lwekang ajaran gurunya dulu, tidak banyak berpikir dan sedikit urusan, seorang diri tinggal di dalam jurang rasanya juga tidak begitu sunyi. Kini mereka bersua kembali, Yo Ko malahan tampaknya lebih tua.
Sudah 16 tahun Siao-liong-li tidak berbicara, sekarang meski hatinya sangat girang, tetapi rasanya menjadi tidak lancar hendak bercakap-cakap. Namun bicara pun tidak perlu buat mereka, hanya saling pandang saja sambil tersenyum penuh arti, sampai akhirnya Yo Ko menarik tangan Siao-liong-li dan diajaknya keluar.
“Liong-ji, alangkah girangku!” kata Yo Ko kemudian. Mendadak ia jumpalitan beberapa kali bagai anak kecil.
Memang pada waktu kecilnya Yo Ko suka berjumpalitan seperti ini dan Siao-liong-li suka menggunakan tangannya untuk mengusap keringat pada jidatnya. Kini tanpa terasa ia pun keluarkan sapu tangan mengusap beberapa kali di jidat Yo Ko, walau pun sebenarnya Yo Ko tidak berkeringat sama sekali.
Waktu Yo Ko periksa sapu tangan itu, dia lihat terbuat dari serat kulit pohon yang kasar, karena itu dapatlah ia membayangkan betapa menderitanya Siao-liong-li hidup selama 16 tahun di lembah terasing ini. Dia menjadi terharu, dia mem-belai2 rambut Siao-liong-li dan berkata:
“Liong-ji, sungguh menderita sekali kau selama 16 tahun ini.”
Siao-liong-li menghela napas, sahutnya. “Jika aku tidak dibesarkan di dalam kuburan kuno itu, selama 16 tahun ini pasti tidak sanggup bertahan.”
Apa yang dikatakan Siao-liong-li ini memang benar. Kalau umpamanya Yo Ko yang harus tinggal seorang diri di lembah sunyi ini, sekali pun ilmu silatnya tinggi tidak nanti sanggup hidup sendiri selama 2-3 tahun.
Harus diketahui sejak kecil Siao-liong-li dibesarkan di dalam istana kuburan kuno, meski pun mula-mula ada Suhu dan Sun-popo yang merawatnya, dan kemudian berkawankan Yo Ko, tetapi dia sudah biasa hidup bebas sendirian, sedikit sekali bersandar pada orang lain. Dan karena hidup sepi dalam waktu panjang itulah dia mampu bertahan melewatkan penghidupan yang tak mungkin ditahan oleh orang lain.
Begitulah mereka berdua duduk berendeng di atas batu besar sambil saling mengutarakan rasa rindu selama ini.
Dahulu waktu mengetahui Siao-liong-li terlampau mendalam terkena racun hingga sukar disembuhkan lagi, Yo Ko menjadi putus asa, ia pun tak ingin hidup lagi tanpa Siao-liong-li. Meski pun ia sendiri juga terkena racun Coat-hoa atau bunga cinta, ia sengaja membuang separoh obat pil ‘Coat-ceng-tan’ yang bisa menyembuhkan racun yang diidapnya.
Melihat itu, malamnya Siao-liong-li tidak bisa tidur. Dia pikir pergi datang, dia tahu kecuali dia sendiri mati dulu untuk melenyapkan harapan Yo Ko, maka barulah ada kemungkinan untuk menyembuhkan racun Ceng-hoa di dalam badannya.
Tapi kalau dia perlihatkan tanda membunuh diri, itu berarti mempercepat kematian Yo Ko juga. Dia berpikir terus hingga jauh malam, akhirnya dia mengukir beberapa baris huruf itu di tebing karang Toan-jong-khe, ia sengaja menetapkan janji pertemuan kembali sesudah 16 tahun lagi, habis itu barulah ia terjun ke dalam jurang untuk membunuh diri.
“Mengapa kau menjanjikan 16 tahun? Jika kau berjanji 8 tahun saja, bukankah kita akan bertemu kembali lebih cepat 8 tahun?” tanya Yo Ko gegetun.
“Aku tahu cintamu padaku terlalu mendalam, kalau melulu 8 tahun yang singkat itu, pasti takkan padamkan watakmu yang kesap seperti api,” sahut Siao-liong-li. “Aih, siapa nyana meski sudah 16 tahun, akhirnya kau tetap terjun kemari.”
“Ya, itulah tandanya lebih baik orang memiliki cinta murni,” ujar Yo Ko tertawa. “Umpama rasa rinduku kepadamu menjadi dingin, paling banyak aku menangis di atas karang, lalu pergi, dengan begitu kita menjadi takkan bertemu lagi untuk selama-lamanya.”
Siao-liong-li menghela napas panjang oleh nasib mereka yang di luar dugaan ini.
Mereka terdiam agak lama, kemudian Yo Ko bertanya pula: “Dan sesudah kau terjun ke dalam kolam ini, lantas bagaimana?”
“Dalam keadaan antara sadar tak sadar aku jatuh ke dalam kolam, ketika mengapung ke atas lantas terbawa oleh pusaran air masuk goa es itu dan terhanyut sampai di sini. Sejak itu aku lantas hidup sendirian,” tutur Siao-liong-li. “Di sini tiada burung mau pun binatang, tapi di dalam kolam itu tidak sedikit terdapat ikan, juga buah2an di sekitar sini tidak pernah habis, cuma tiada kain, maka terpaksa harus mengupas kulit pohon untuk ditenun menjadi baju.”
“Ketika itu bukankah kau terkena racun Peng-pek-gin-ciam’ dan racunnya telah meresap? Di dunia ini tiada obat yang bisa menyembuhkan lagi, tetapi mengapa bisa menjadi baik di dasar lembah ini?” tanya Yo Ko.
“Waktu aku sampai di sini, beberapa hari kemudian racun di dalam badan lantas bekerja hebat, seluruh tubuh se-olah2 dibakar, kepala sakit hendak pecah, rasanya tak tahan lagi. Akan tetapi aku lantas teringat waktu malam pernikahan kita di kuburan kuno itu kau telah mengajarkan cara duduk di ranjang kemala dingin untuk menjalankan aliran darah secara terbalik. Meski tidak dapat menolak keluar racun, tapi rasa menderita banyak berkurang,” demikian tutur Siao-liong-li.
“Tetapi di sini tiada ranjang kemala dingin, yang ada hanyalah es beku yang entah berapa tuanya di dasar kolam air itu. Aku lalu menyelam kembali ke dasar kolam dan masuk goa es itu, aku berdiam sebentar di sana.
Kadang2 aku pun datang ke tepi kolam ketika terjatuh mula-mula itu, aku menengadah ke atas dengan harapan bisa memperoleh sedikit kabarmu. Pada suatu hari, tiba-tiba kulihat beberapa ekor tawon terbang turun menembus kabut yang menutupi permukaan jurang itu, terang itulah tawon tinggalan Lo-wan-tong yang dibawanya main-main ke Coat-ceng-kok itu. Aku menjadi tertarik, segera aku buatkan sarang dan memeliharanya.
BeIakangan semakin banyak tawon yang datang dan setiap kali aku minum madu tawon yang aku unduh, rasa sakit badanku lantas banyak berkurang, sungguh tak nyana khasiat madu tawon ini ternyata sangat mujarab untuk memunahkan racun.
Begitulah aku minum madu tawon dalam jangka panjang, kumatnya racun di dalam badan juga berkurang. Mula-mula setiap hari kumat, lalu beberapa hari kumat sekali, kemudian hingga beberapa bulan sekali, paling akhir selama 5-6 tahun ini, satu kali saja tak pernah kumat lagi, agaknya sudah sembuh.”
“Ah, itulah tandanya orang berhati baik tentu dibalas baik pula,” ujar Yo Ko senang. “Coba kalau dahulu kau tidak hadiahkan tawon kepada Lo-wan-tong dan ia tak membawanya ke Coat-ceng-kok, tentu penyakitmu pun takkan bisa sembuh.”
“Dan sesudah penyakitku sembuh...” demikian Siao-liong-li melanjutkan, “aku jadi sangat rindu padamu, tetapi sekeliling jurang itu tingginya beratus tombak dan terdiri dari dinding2 tebing yang curam, cara bagaimana bisa naik ke atas? Maka dengan duri bunga aku lalu menisik enam huruf ‘Aku berada di dasar Coat-ceng-kok’ di atas sayap tawon putih itu dengan harapan sesudah tawon itu terbang ke atas akan diketemukan orang.
Selama beberapa tahun ini telah beribu ekor tawon yang kutisik tulisan di atas sayapnya, tapi tetap tiada kabar berita yang dibawanya kembali, makin lama aku semakin putus asa, aku merasa hidup ini takkan bisa melihat kau lagi.”
“Ahh, kalau begitu aku pun terlampau ceroboh,” seru Yo Ko mendadak sambil tepuk paha penuh menyesal. “Setiap kali kudatangi Coat-ceng-kok ini, selalu aku melihat tawon putih, tetapi selamanya tak pernah menangkap seekor pun untuk diperiksa.”
“Sesungguhnya hal itu pun timbul dari pikiranku yang sudah kehabisan akal,” sahut Siao-liong-li tersenyum. “Padahal siapa bisa menduga bahwa di atas badan binatang sekecil itu tertisik tulisan? Tulisan itu demikian lembut, sekali pun beratus tawon itu terbang lewat di depan matamu juga takkan kau perhatikan. Harapanku hanya kalau-kalau kebetulan ada seekor tawon itu masuk jaring lahan2 dan Thian menaruh belas kasihan sehingga dapat kau lihat lalu menolongnya, ketika itu tentu tulisan di atas sayapnya akan bisa kau baca.”
Ia tidak tahu bahwa tulisan di sayap tawon itu akhirnya dapat diketahui oleh Ciu Pek-teng yang suka main-main piara tawon itu dan arti tulisan itu kena diterka oleh Oey Yong yang kecerdasannya melebihi orang biasa.
Begitulah, setelah lama bercakap-cakap akhirnya menjadi lapar, Siao-liong-li mengajaknya masuk rumah dan menyuguhkan senampan ikan, ada pula buah2an dan madu tawon.
Sesudah kenyang makan barulah ganti Yo Ko yang menceritakan pengalamannya selama 16 tahun ini. Siao-liong-li sendiri biasanya tidak banyak menghiraukan soal2 keduniawian, yang diharap asalkan dia bisa bertemu kembali dengan Yo Ko maka rasanya sudah puas, maka sekali pun cerita Yo Ko itu kadang-kadang mengenai kejadian aneh dan hal-hal lain yang mendebarkan hati, paling-paling Siao-liong-li hanya tersenyum saja, cerita2 itu bagai angin lalu saja di samping telinganya. Sebaliknya Yo Ko terus menerus bertanya tentang segala sesuatu selama Siao-liong-li tinggal di dasar jurang ini.
Sepanjang malam mereka pasang omong hingga hari sudah hampir pagi barulah mereka tidur.
Waktu mendusin, hari sudah lewat lohor. Yo Ko berkata: “Liong-ji, kita akan hidup sempai tua di sini atau berdaya kembali ke dunia fana di atas sana!”
Menurut pendapat Siao-liong-li, ia lebih suka hidup aman tenteram dengan Yo Ko di jurang ini. Tapi Yo Ko suka keramaian, betapa pun cintanya kepada Siao-liong-li, tetap tak biasa hidup sunyi terpencil.
Maka Yo Ko berkata pula: “Lebih baik kita berusaha naik saja, kalau di atas sana ternyata tidak menyenangkan nanti kita bisa kembali ke sini lagi, cuma... cuma untuk naik ke atas kiranya sangatlah sulit.”
Dia menyelam lagi ke tepi kolam melalui goa es itu, maka tertampaklah dari atas menjulur seutas tambang yang amat panjang, juga di tepi kolam terdapat bekas-bekas kaki orang, malah ada segunduk api unggun yang apinya masih belum sirap sama sekali.
“Ah, ada orang datang mencari kita, malahan sudah menyelam ke dalam kolam,” kata Yo Ko.
Ia mengitari tepi kolam itu, tiba-tiba dilihatnya ada batang pohon besar terdapat ukiran dua baris tulisan yang berbunyi: ‘It-teng, Pek-thong, Eng-koh, Yong, Eng, Bu-siang, datang ke sini mencari Yo Ko, tetapi tidak ketemu dan pulang dengan masgul’.
Yo Ko sangat terharu, katanya: “Ternyata mereka tak pernah melupakan diriku!”
“Ya siapa pun tiada yang lupa padamu,” ujar Siao-liong-li
“Mereka telah melorot ke bawah sini dengan tambang panjang ini, meski telah menyelam, tapi karena tidak meloncat dari tempat setinggi ratusan tombak maka daya tenggelamnya tidak dalam sehingga goa es itu tak mereka lihat,” kata Yo Ko. “Coba kalau aku pun turun dengan memakai tambang, tentu takkan dapat menemukan kau.”
“Ya, makanya aku bilang segala apa memang sudah takdir,” sahut Siao-liong-li.
“Tidak, ini namanya di mana ada kemauan, batu pun akan luluh karenanya,” kata Yo Ko.
Lalu ia mencoba menarik tambang itu dan ternyata sangat kuat, maka katanya pula: “Biar aku naik dulu, entah Kim-lun Hoat-ong itu masih di atas tidak. Tetapi kalau It-teng Taysu dan Lo-wan-tong sudah ke situ, agaknya Hoat-ong sudah kabur pergi.”
Sesudah ini dia bertanya lagi: “Liong-ji, ilmu silatmu telantar tidak? Kalau kau tidak dapat memanjat, biar kupanggul kau.”
“Meski pun selama 16 tahun tiada kemajuan, tapi apa yang dulu kupelajari rasanya masih tetap,” sahut Siao-liong-li.
Yo Ko berpaling sambil tertawa, lalu dia pegang tambang panjang itu, sedikit dia gunakan tenaga, cepat dia melompat ke atas lebih satu tombak tingginya. Meski lengannya tinggal sebelah, tapi dibantu kedua kakinya, tidak lama kemudian dia telah memanjat sampai di atas jurang. Menyusul Siao-liong-li pun merambat naik dengan tali tambang itu.
Kedua orang berdiri sejajar di depan karang Toan-jong-khe sambil memandangi dua baris tuIisan yang dahulu diukir Siao-liong-li di dinding batu itu, sungguh mereka merasa seperti baru hidup kembali.
Mereka tertawa saling pandang, betapa suka ria hati mereka ketika itu, rasa penderitaan selama 16 tahun ini sudah buyar seluruhnya bagai asap tertiup angin.
Yo Ko memetik setangkai bunga merah ‘Liong-li-hoa’ lantas disuntingkan pada sanggul Siao-liong-li. Bunga merah di atas kulit badan yang putih, seketika sukar diketahui apakah bunga merah itu yang menambah kecantikan orangnya ataukah wajah orang yang cantik itu yang menambah keindahan bunganya.....?
Kembali berceritera tentang Kim-lun Hoat-ong yang membangun sebuah panggung tinggi di luar benteng Siang-yang dan hendak membakar Kwe Siang untuk memaksa Kwe Ceng takluk kepada pihak Mongol, sementara Oey Yok-su bilang akan mengatur suatu ‘barisan 28 bintang-bintang’ untuk menempur musuh.
Kwe Ceng sudah melaporkan hal itu kepada gubernur militer kota Lu Bun-hwan supaya memberi mandat, agar Oey Yok-su dapat mengatur siasat dan membagi tugas pada para perwira dan prajurit.
Tatkala itu para ksatria yang hadir sebagian besar sudah bubar, yang masih tinggal di situ seluruhnya adalah pahlawan-pahlawan yang berjiwa patriot, maka semuanya berkumpul di lapangan militer menunggu perintah.
“Mereka mengerahkan 40 ribu orang untuk mengepung panggung. Kalau kita pakai orang yang banyak, biar pun kita menang rasanya juga tidak mengherankan,” kata Oey Yok-su. “Maka kita pun hanya perlu 40 ribu orang, menurut Sun Cu, yang penting mahir mengatur, satu lawan satu, apa susahnya?”
Maka Oey Yok-su segera naik ke atas podium panglima, katanya pula: “Barisan bintang-bintang kita ini seluruhnya terbagi dalam lima kesatuan menurut hitungan panca-buta.”
Sesudah itu segera dia kumpulkan semua komandan pasukan, dia memberi petunjuk dan penjelasan seperlunya, katanya lagi: “Perubahan2 kita yang amat ruwet ini seketika sukar dipahami, tetapi pertempuran hari ini harus dipimpin oleh lima tokoh silat terkemuka yang paham tentang perubahan panca-buta, komandan pasukan harus menurut petunjuk kelima pemimpin dan menjalankan perintahnya.”
Maka pergilah para komandan pasukan itu dengan menerima perintah itu.
Kemudian Oey Yok-su mulai membagi tugas, katanya: “Kesatuan tengah tergolong bumi, dipimpin oleh Kwe Ceng dengan jumlah prajurit 8000 orang. Pasukan ini harus mengarah bagian tengah musuh, tujuannya menolong Kwe Siang, tidak perlu harus menghancurkan musuh. Setiap prajurit membawa kantong berisi pasir, begitu menyerbu sampai di bawah panggung, segera gunakan pasir untuk menyirapkan api yang berkobar untuk menolong anak dara di atas panggung itu.”
Kwe Ceng menerima tugas itu dan berdiri ke samping.
“Dan kesatuan jurusan selatan tergolong api,” demikian Oey Yok-su melanjutkan. “Harap It-teng Taysu yang memimpin 8000 orang. Pasukan ini yang 1000 orang akan melindungi pimpinan, 7000 orang lainnya terbagi menjadi tujuh regu, masing-masing dipimpin oleh Cu Cu-liu, Bu Sam-thong, Su-sui Hi-un, Bu Tun-si dan Bu Siu-bun serta kedua isteri mereka, Yalu Yen dan Wanyen Peng.”
It-teng Taysu beserta Cu Cu-liu dan lainnya juga menerima perintah itu lalu pergi mengatur tentaranya masing-masing.
Lalu Oey Yok-su berkata pula: “Barisan utara tergolong air, di bawah pimpinan Oey Yong dengan 8000 orang. 1000 orang di antaranya mengawal pimpinan, sedangkan 7000 orang lainnya terbagi di bawah Yalu Ce, Nio-tianglo, Kwe Hu dan para Tianglo lainnya dari Kay-pang.”
Oey Yong pun langsung menerima perintah itu dengan baik. Kesatuan ini terdiri dari anak murid Kay-pang sebagai kekuatan inti, rata2 orangnya memiliki kepandaian tinggi.
Sesudah membagi ketiga kesatuan tadi, kemudian Oey Yok-su meneruskan. “Dan jurusan timur tergolong hawa, kesatuan ini biar aku Tang-sia Oey Yok-su sendiri yang memimpin, jumlah orangnya juga 8000.”
Semua orang pikir, jurusan timur dipimpin Tang-sia, Lam-te mengepalai selatan, sedang anak murid Pak-kay menduduki utara. Kwe Ceng adalah panglima pusat, memangnya dia juga murid keturunan Ong Tiong-yang, cara mengatur Oey Yok-su itu memang tepat. Tapi masih ada jurusan barat, gerangan siapakah yang akan mengepalai jurusan ini?
Sementara terdengar Oey Yok-su sudah berkata pula: “Dan jurusan barat akan dipimpin oleh pejabat ketua Coan-cin-kau, Li Ci-siang.”
Mendengar ini, semua orang merasa baik mengenai kepandaian mau pun tenarnya nama, pimpinan jurusan ini jauh lebih lemah dari pada yang lain-lain.
Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berteriak: “Hai, Oey-Iosia, kenapa kau jadi lupa padaku?”
Waktu dipandang, kiranya yang bersuara itu adalah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong.
“Ciu-heng,” sahut Yok-su, lukamu belum sembuh, belum dapat bekerja berat, sebenarnya jurusan barat ini harus kau pimpin, tapi...”
“Ah, hanya luka kecil saja, kenapa harus dipikirkan?” sahut Pek-thong cepat. “Biarlah aku memimpin jurusan barat itu saja. He, Ci-siang, apa kau berani berebut dengan aku?”
“Tecu tidak berani,” sahut Li Ci-siang sambil memberi hormat.
“Memang aku sudah tahu kau takkan berani” ujar Pek-thong tertawa. Habis itu segera dia ambil panah tanda tugas dari tangan Li Ci-siang.
Terpaksa kata Oey Yok-su kemudian: “Jika begitu hendaklah Ciu-heng suka berhati-hati. Engkau pun memimpin 8000 orang, 1000 di antaranya harap Eng-koh suka memimpinnya untuk mengawal kau, tujuh regu lainnya biar dipimpin masing-masing oleh Li Ci-siang dan anak murid Coan-cin-kau yang lain.”
Setelah membagi tugas, kemudian Oey Yok-su memerintahkan semua prajurit menerima perlengkapan seperlunya di gudang. Kemudian, setelah bendera kebesarannya memberi tanda, 40 ribu orang lantas terbagi dalam 5 jurusan timur, barat, utara selatan dan tengah.
Dengan suara lantang dia memberi petuah agar prajurit-prajurit itu bertempur mati-matian menghancurkan musuh. Segera anjuran itu disambut dengan sorak-sorai yang gemuruh penuh semangat. Sesudah meriam berdentum tiga kali, empat pintu benteng terbuka, lima pasukan itu lantas keluar berbareng.
Perubahan barisan bintang-bintang ini ternyata aneh luar biasa. Pasukan timur itu setiap orangnya menggendong sepotong kayu cagak yang panjang, sesudah menyerbu hingga mendekati sebelah timur panggung, 1000 prajuritnya lantas mempergunakan perisai untuk menahan panah musuh, sedangkan 7000 orang lainnya segera menggunakan cagak kayu untuk dipasang di sana sesuai petunjuk Oey Yok-su yang sudah mengaturnya menurut perhitungan Pat-kwa dan panca-buta, maka sekejap saja bagian timur panggung itu sudah tertutup.
Pasukan jurusan barat berintikan anak murid Coan-cin-kau. Para Tosu itu memang sudah paham tentang barisan bintang-bintang, maka terlihatlah sinar pedang gemerlapan hingga terpaksa prajurit MongoI menghamburkan panah untuk mencegah lajunya.
Mendadak terdengar suara teriakan bergemuruh dari bagian utara. Itulah Oey Yong yang memimpin anak-anak murid Kay-pang dengan membawa banyak sekali pipa air dan terus menyemprotkan air berbisa ke tubuh prajurit musuh.
Racun air yang disemprotkan itu ternyata amat jahat, seketika tubuh yang terkena terasa sangat sakit, sebentar pun melepuh dan bernanah. Karena tidak tahan, prajurit Mongol lari tunggang langgang mundur ke selatan.
Tapi tiba-tiba terlihat bagian selatan asap mengepul tinggi. Kiranya It-teng Taysu bersama 8000 anak buahnya telah melakukan serangan dengan api, memakai sebangsa belerang dan bahan2 lainnya yang mudah terbakar. Api menyembur terus dari bumbung besi yang khusus mereka bawa.
Melihat gelagat jelek, segera prajurit Mongol mundur ke bagian tengah.
Namun Kwe Ceng sudah siap, ia pimpin delapan ribu orangnya dan maju perlahan. Ketika dilihatnya keadaan pasukan musuh kacau, segera ia kerahkan pasukannya menerjang ke tengah menuju ke panggung.
Pada saat itulah mendadak terdengar di samping panggung itu suara tiupan tanduk, sekali berteriak dari dalam parit yang sengaja digali itu menongol keluar berpuluh ribu topi baja.
Kiranya pimpinan pihak Mongol juga pandai mengatur siasat, kecuali di sekitar panggung jelas kelihatan 40 ribu orang, namun di dalam tanah galian itu bersembunyi lagi beberapa puluh ribu prajurit Iain.
Dari jauh Kwe Ceng menyangka itu hanya parit biasa yang digali musuh, siapa tahu justru di situlah tersembunyi kekuatan cadangan musuh.
Karena itulah terdesaknya pasukan Mongol tadi segera berubah. Meski barisan bintang-bintang itu dapat menerjang kacau pasukan musuh, tapi jika hendak membasminya jelas tak bisa lagi.
Maka terdengarlah genderang dipukul dengan kerasnya, pasukan Song dan Mongol telah saling tempur, sementara pasukan penjaga di samping panggung lantas menghamburkan panah hingga beberapa kali Kwe Ceng terpaksa harus mundur kembali.
Setelah hampir satu jam kedua pihak bertempur dengan sengitnya, tiba-tiba Oey Yok-su mengibarkan bendera hijau, sekonyong-konyong pasukan sebelah timur ganti menyerang ke selatan, sedangkan pasukan barat menggempur ke utara. Karena perubahan barisan ini, kembali pasukan musuh menjadi kacau lagi.
Meski prajurit Song hanya 40 ribu orang, tapi pertama karena barisan bintang-bintang ini sangat hebat, kedua dipimpin oleh jago-jago silat terkemuka pada jaman ini, ketiga, setiap prajurit Song merasa berterima kasih pada Kwe Ceng suami-isteri, mereka bertekad akan menolong puteri kesayangannya. Oleh sebab itulah meski jumlah orang Mongol berlipat ganda namun tidak sanggup menahannya.
Setelah berlangsung agak lama, tiba-tiba saja Oey Yok-su bersiul panjang dan keras, lalu bendera isyarat mengebas beberapa kali, maka pasukan berpanji hijau mundur ke tengah, pasukan panji merah menuju ke sebelah barat, pasukan panji kuning berganti ke utara, pasukan panji putih menggempur bagian timur, pasukan panji hitam mengarah ke selatan. Kembali barisan berubah lagi!
Dari atas panggung Kim-lun Hoat-ong dapat menyaksikan pertempuran hebat di bawah panggung itu, dalam hati diam-diam dia terperanjat sekali. Pikirnya: “Sungguh tidak nyana di daerah Tionggoan ternyata terdapat orang kosen seperti ini, sejak sekarang tak berani lagi aku memandang sepele orang Tionggoan.”
Sementara itu dilihatnya prajurit2 Mongol yang mati atau luka makin lama makin banyak, pasukan panji kuning terus mendesak ke panggung itu, walau pun dia gunakan Kwe Siang sebagai sandera, tetapi toh tidak tega benar2 membakarnya.
Ia menoleh dan memandang anak dara itu. Dia lihat meski kedua kaki dan tangan terikat, tapi kepala anak dara mendongak, sikapnya gagah tak gentar sedikit pun.
“Kwe Siang cilik,” seru Hoat-ong. “Lekas kau minta ayahmu supaya menyerah, aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, jika ayahmu tidak mau takluk, segera aku memberi perintah membakarmu.”
“Apa kehendakmu boleh sesukamu. Jangankan hanya satu sampai sepuluh, kau boleh menghitung satu sampai seribu atau sejuta juga aku tak peduli,” sahut Kwe Siang dingin.
“Hm, apa kau kira aku tak berani membakar kau?” Hoat-ong menjadi gusar.
“Ha-ha-ha, sungguh kasihan kau ini,” jengek Kwe Siang tiba-tiba.
“Kasihan apa kau bilang?!” bentak Hoat-ong.
“Ya, sungguh kasihan. Sebab kau tak sanggup melawan ayahku, tak sanggup menandingi Gwakong-ku Oey-losia, tidak lebih unggul dari pada It-teng Taysu, juga tidak berani pada Toakoko-ku Yo Ko, paling-paling kau hanya mampu meringkus aku di sini,” demikian Kwe Siang mengolok-olok. “Caramu ini, biar pun seorang prajurit Siang-yang kami juga takkan sudi melakukan ini, Hoat-ong. Aku justru ingin menasehatkan kau.”
“Apa?! Nasihat?” seru Hoat-ong sengit
“Ya,” sahut Kwe Siang. “Manusia hidup seperti kau ini apa artinya? Lebih baik kau terjun ke bawah panggung dan membunuh diri saja!”
Kwe Siang tak pikirkan mati-hidupnya lagi. Semenjak kecil memang tajam kata-katanya, selamanya tak pernah kalah adu muIut, keruan kini Hoat-ong kewalahan, saking gusarnya serasa dadanya akan meledak.
“Wahai, dengarlah Kwe Ceng!” segera dia berteriak keras-keras. “Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apa bila kau masih belum mau takluk, segera aku perintahkan membakar panggung ini.”
“Boleh kau lihat apakah aku Kwe Ceng manusia yang suka takluk atau bukan!” sahut Kwe Ceng.
“Wahai, Kim-lun Hoat-ong!” tiba-tiba saja Oey Yok-su menyambung. “Kau salah menaksir musuh, inilah kebodohanmu. Kau menghina seorang dara cilik, ini namanya tidak berbudi. Kau tak berani bergebrak terang-terangan dengan kami untuk menentukan menang atau kalah, ini namanya tidak berani. Manusia yang tidak pintar, tidak berbudi, tiada keberanian tetapi masih berani kau bicara tentang pahlawan dan ksatria segala? Kau tertangkap oleh kami di Coat-ceng-kok, dan untuk menyelamatkan jiwamu kau sudah menyembah 27 kali kepada Kwe Siang cilik, kemudian kau diampuninya. Ha-ha, manusia yang takut mati dan tamak hidup macam kau ini ternyata masih ada muka untuk menjadi Koksu (imam negara MongoI) segala?”
Sesungguhnya tentang menyembah minta ampun kepada Kwe Siang segala tiada pernah terjadi, tapi Oey Yok-su sengaja gembar-gembor di hadapan umum, di tengah2 pasukan MongoI, agar Hoat-ong serba salah, hendak mendebat sulit, tidak mendebat juga salah.
Bangsa Mongol justru paling menghormati orang gagah berani dan memandang hina pada manusia pengecut. Kini mendengar gemboran Oey Yok-su itu, tanpa terasa banyak yang menengadah ke atas panggung dengan pandangan hina.
Oey Yok-su sudah berpikir panjang. Sebelum berangkat menyerbu dia sudah minta Oey Yong menterjemahkan kata2 untuk mengolok-olok Hoat-ong ini ke dalam bahasa Mongol. Kini digemborkannya di hadapan berpuluh ribu prajurit yang sedang bertempur itu hingga terdengar jelas.
Dan karena mendengar pemimpin di pihak sendiri adalah manusia rendah dan hina, tanpa terasa pasukan Mongol menjadi kurang bersemangat, sebaliknya prajurit Song semakin gagah menyerbu musuh.
Melihat gelagat jelek, Kim-lun Hoat-ong yang berada di atas panggung itu segera berteriak lagi: “Wahai, Kwe Ceng, dengar kau. Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apa bila kata-kata ‘sepuluh’ terucapkan, puteri kesayanganmu segera akan terbakar menjadi arang. Nah, satu... dua... tiga... empat... lima...”
Begitulah setiap kata-kata diucapkan, dia sengaja berhenti sejenak dengan harapan Kwe Ceng yang tidak tahan oleh desakan itu akan menyerah atau sedikitnya juga akan patah semangat, lalu tidak berani bertempur lagi.
Di lain pihak, Kwe Ceng, Oey Yok-su, It-teng Taysu, Oey Yong, dan Ciu Pek-thong yang memimpin lima pasukan, sesudah mendengar Hoat-ong mulai menghitung, sedangkan di bawah panggung beratus-ratus serdadu Mongol sudah mengangkat obor mereka tinggal menunggu komando, bila tanda diberikan segera panggung itu akan dibakar. Oleh karena itu Kwe Ceng dan lain-lainnya menjadi kuatir dan gusar, mati-matian mereka menerjang ke depan panggung buat menolong Kwe Siang.
Tetapi barisan pemanah bangsa Mongol yang terkenal tangkas itu sudah siap. Di bawah hujan panah itu segera terlihat Su-sui Hi-un, Nio-tianglo, Bu Siu-bun dan lainnya terluka panah semua, malah ada beberapa anak murid Kay-pang dan Coan-cin-kau yang gugur.
Sebelumnya Oey Yong sudah menyuruh Kwe Hu supaya meminjamkan ‘Nui-wi-ka’ atau kutang berduri landak kepada kakeknya, Oey Yok-su, sebab pertempuran ini berbahaya luar biasa. Apa bila karena ingin menolong Kwe Siang, tapi jiwa ayahnya harus berkorban atau terluka, hal ini benar-benar akan membuat Oey Yong menyesal selama hidup.
Karena maksud baik sang puteri itu sukar ditolaknya, terpaksa Oey Yok-su menerimanya, tetapi diam-diam ia pinjamkan baju pusaka itu kepada Ciu Pek-thong. Sebab itulah meski luka Pek-thong belum sembuh, tapi ia sudah berani terobosan kian kemari di bawah hujan panah dan senjata musuh tanpa luka.
Malahan ketika melihat panah musuh yang mengenai tubuhnya jatuh semua, hati si tua nakal itu menjadi riang. Terus saja dia menyerbu maju, di mana tangannya tiba, di situlah segera musuh menggeletak.
Sementara itu terdengar Hoat-ong sudah menghitung sampai: “...delapan... sembilan... sepuluh! Baik, bakarlah!”
Dan sekejap saja asap lantas ber-guIung2, api berkobar dengan hebat.
Sungguh pun sebenarnya delapan ribu prajurit panji kuning semuanya membawa kantong pasir, tetapi karena tidak sanggup menyerbu sampai di dekat panggung, terpaksa mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Pikiran Oey Yong menjadi butek ketika dilihatnya api menjilat dengan hebatnya, mukanya pucat dan orangnya sempoyongan. Lekas Yalu Ce memayang ibu mertua itu dan berkata:
“Hendaklah Gakbo mengaso dulu ke garis belakang, sekali pun aku harus berkorban jiwa, Siang-moay pasti akan kutolong.”
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara teriakan gemuruh hebat memecah bumi, dari garis belakang pasukan MongoI tiba2 datang menyerbu dua pasukan berkuda yang langsung menggempur benteng kota Siang-yang.
Terdengarlah teriakan “Banswe! Banswe!” yang hiruk-pikuk, panji kebesaran raja Mongol, Monko, tertampak diangkat tinggi-tinggi dan cepat sekali sudah sampai di bawah benteng Siang-yang. Di bawah pimpinan raja mereka, pasukan Mongol itu semakin bersemangat menggempur benteng.
Di lain pihak, tatkala itu Kwe Ceng dengan satu tangan membawa perisai dan tangan lain memegang tombak, sebenarnya tinggal ratusan tindak dari panggung, betapa pun barisan pemanah menghujani panah tetap tak bisa melukainya. Tampaknya sebentar lagi dia pasti dapat melompat ke atas panggung.
Tiba-tiba didengarnya di bagian belakangnya keadaan menjadi kacau. Ia terkejut, pikirnya: “Celaka, kita terperangkap oleh tipu musuh ‘memancing harimau meninggalkan gunung’. Sedangkan gubernur kota lemah dan penakut, walau pun kekuatan tentara cukup, tapi jika tiada pimpinan, mungkin urusan bisa runyam.”
Sebetulnya ke-40 ribu tentara dari barisan bintang-bintang ini kuat menandingi beratus ribu pasukan Mongol dan melawan dengan gigihnya, sementara raja Monko tanpa memikirkan pertempuran besar yang sedang berlangsung itu terus memimpin sendiri pasukan lainnya untuk menggempur benteng Siang-yang.
Tiba-tiba Kwe Ceng berganti pikiran, dia membatin. “Urusan anak soal kecil, pertahanan kota lebih penting!” Karena itu segera dia berteriak:
“Gakhu, jangan pedulikan lagi gagal tidaknya mengurus anak Siang, lekas kembali menggempur bagian belakang musuh!”
Waktu Oey Yok-su memandang, ia lihat api berkobar-kobar semakin hebat, Hoat-ong lagi turun setindak demi setindak dari tangga panggung itu. Sekarang di atas panggung melulu tinggal Kwe Siang sendiri saja yang teringkus. Sudah tentu Oey Yok-su juga bisa berpikir, ia mengerti seorang Kwe Siang tidak dapat dibandingkan dengan hancur atau selamatnya kota Siang-yang. Karena itu, ia menghela napas panjang dari berkata:
“Sudahlah.” Lalu ia kibarkan panji hijau dan menarik pasukannya kembali ke selatan.
Kwe Siang menyaksikan ayah-bunda dan Gwakong-nya tak berdaya menolongnya, ada pun asap tebal dan api menganga membakar dengan hebatnya mengitari panggung, ia tahu sebentar lagi dirinya bakal terbakar mati.
Mula-mula ia pun takut sekali, tapi akhirnya ia malah menjadi tenang, ia memandangi jauh ke depan. Dia pikir: “Sebentar lagi aku akan mati, tetapi entah saat ini Toa-koko berada di mana? Apakah sudah naik kembali dari jurang itu?”
Begitulah, sambil memandangi lereng-lereng gunung yang jauh, dia menjadi terkenang waktu berkumpul dengan Yo Ko walau pun hanya beberapa hari saja. Meski selanjutnya tiada harapan buat bertemu lagi, tapi rasanya sudah puaslah hidup ini.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara nyaring sayup-sayup terbawa angin. Begitu tajam suara itu hingga suara gemuruh pertempuran beratus ribu prajurit seakan-akan tenggelam di bawah pengaruh suara itu.
Terkesiap hati Kwe Siang. Suara itu mirip benar dengan suara siulan Yo Ko tatkala dulu menggetarkan kawanan binatang-binatang buas. Sewaktu ia menoleh ke arah datangnya suara, ia lihat pasukan MongoI di arah barat-laut tunggang-langgang tersiak minggir ke dua samping sehingga terbelah menjadi satu jalan.
Dua orang tampak datang dengan cepat bagai bahtera laju didorong angin buritan, di depan kedua orang itu sebagai pembuka jalan adalah seekor burung raksasa, sepasang sayapnya terpentang lebar sambil menyabet ke kanan dan ke kiri sehingga anak-anak panah yang menghujani terpental pergi semua.
Burung raksasa itu tangkas dan ganas luar biasa, itulah Sin-tiau (rajawali sakti) kawan Yo-Ko, betapa kuat kedua sayapnya ternyata tiada satu pun panah yang dapat melukainya.
Kwe Siang girang luar biasa. Waktu ia mengawasi, satu orang berkopiah hijau berbaju kuning, siapa lagi kalau bukan Yo Ko, dan di sebelahnya wanita cantik berbaju putih mulus. Keduanya sama-sama mempergunakan pedang yang diputar kencang sambil menyusul di belakang Sin-tiau terus menerjang ke arah panggung.
“Toa-koko, apakah wanita itu Siao-liong-li?” saking ingin tahu Kwe Siang berteriak menanyakan.
Memang tidak salah, wanita di samping Yo Ko itu adalah Siao-liong-li, tapi jaraknya terlalu jauh, maka teriakan Kwe Siang tidak terdengar oleh Yo Ko.
Begitulah dengan amat tangkasnya si rajawali sakti menyampuk semua anak panah yang berhamburan, bila ada prajurit atau perwira Mongol yang berani merintangi, segera Yo Ko dan Siao-liong-li menggulingkan mereka dengan pedang. Dengan saling melindungi, tidak berapa lama mereka menerjang sampai di depan panggung.
“Jangan kuatir, adik cilik, aku datang menolong kau!” seru Yo Ko.
Sementara itu sebagian tangga panggung sudah terbakar. Namun sekali enjot, Yo Ko melompat ke undakan tangga bagian tengah terus memanjat ke atas.
Pada saat itulah mendadak angin pukulan yang maha dahsyat menghantamnya dari atas, itulah Kim-lun Hoat-ong yang melontarkan pukulan saktinya. Lekas Yo Ko membalikkan tangannya menyambut. “Plakk!”
Terdengarlah suara keras, kedua tenaga raksasa saling bentur, tubuh keduanya terguncang, tangga panggung ikut tergoyang-goyang hampir patah. Sekali jajal kedua orang sama-sama terkejut. Sungguh tidak terduga, 16 tahun tidak bertemu, kepandaian lawan ternyata sudah banyak lebih maju.
Melihat keadaan sangat genting, tidak mungkin mengadu tenaga di tengah tangga, mendadak Yo Ko angkat pedangnya menusuk ke atas, susul-menyusul dia membabat kaki terus menusuk perut lawan.
Karena berada di atas maka Kim-lun Hoat-ong dapat mengeluarkan senjata rodanya menempur Yo Ko. Tetapi roda bentuknya pendek, terpaksa dia harus membungkuk untuk bisa menghantam, hal ini sungguh tidak leluasa, maka terpaksa dia mundur ke atas panggung.
Karena itu bertubi-tubi Yo Ko mengirim beberapa kali tusukan ke arah punggung Hoat-ong. Namun Hoat-ong tidak menoleh, hanya gunakan kepandaian ‘thing-hong-piao-gi’ (mendengarkan angin membedakan senjata), dia ayun roda ke belakang buat menangkis, punggungnya seakan bermata, tiap tangkisannya sangat tepat.
“Bangsat gundul, hebat juga kau!” mau tak mau Yo Ko memuji ketangkasan orang.
Ketika Hoat-ong hinggap di atas panggung, sekali membalik segera roda emasnya mengepruk kepaia Yo Ko. Syukur Yo Ko sempat mengegos ke samping, berbareng pedangnya menegak ke atas, tubuhnya mencelat dan selagi melayang di udara, dia menubruk ke bawah dengan pedang menusuk ke wajah musuh.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Begitulah selagi ia termangu-mangu, mendadak didengarnya suara rintihan Kim-lun Hoat-ong. Waktu Kwe Siang berpaling, dia melihat urat daging di muka orang ber-kerut seperti kejang, terang sedang menderita sekali.
“Hm, ini namanya kualat, makanya jangan suka membunuh orang,” demikian jengek anak dara itu.
Tetapi Hoat-ong masih terus mengaduh semakin keras, sorot matanya mengunjuk rasa minta dikasihani. Betapa pun memang hati Kwe Siang bajik dan welas-asih, akhirnya ia menjadi tidak tega, maka tanyanya:
“Kenapa? Sangat sakitkah?”
“lbumu menotok ‘Leng-tay-hiat’ dan ‘Ki-koat-hiat’ pada punggung dan dadaku, maka seluruh badanku serasa digigit beratus ribu semut, sakit dan gatal luar biasa, kenapa dia tak mau sekalian totok aku punya ‘Tan-tiong-hiat’ dan ‘Giok-cim-hiat’?” sahut Hoat-ong.
Kwe Siang terkesiap. Ia sudah pernah belajar ilmu Tiam-hiat dari ibunya dan tahu tempat-tempat ‘Tan-tiong’ dan ‘Giok-cin’ adalah jalan darah penting di tubuh manusia, asal sedikit terluka saja bisa terbinasa, maka katanya:
“lbuku tidak menghabiskan jiwamu, kau tidak berterima kasih, masih cerewet?”
“Kalau ia totok kedua jalan darahku itu, rasa pegal kesemutanku akan banyak berkurang,” kata Hoat-ong sungguh-sungguh. “Begini tinggi ilmu kepandaianku, masa hanya sekali totok bisa bikin jiwaku melayang?”
Akan tetapi Kwe Siang tidak percaya. “Ahh, jangan kau berbohong,” jengeknya. “Kata ibu, tempat ‘Tan-tiong’ dan ‘Giok-cim’ sedikit tertotok lantas jiwa melayang. Kau hanya pegal kesemutan, bolehlah bersabar sebentar, segera ibu dan lain-lainnya akan kembaii.”
“Nona Kwe,” kata Hoat-ong pula, ”pada sepanjang jalan bagaimana aku memperlakukan dirimu?”
“Baik juga,” sahut Kwe Siang. “Cuma kau telah membunuh Tiangjiu-kui dan Toa-thau-kui, pula membunuh kedua rajawaliku, biar pun lebih baik lagi kau padaku juga aku tidak mau terima.”
“Baiklah, bunuh orang ganti jiwa, sebentar kau boleh membunuhku untuk membalas sakit hati kawanmu,” jelas Hot-ong, “Tetapi sepanjang jalan aku begitu baik padamu, apa balas budimu?”
“Coba katakan, bagaimana membalasnya?” tanya Kwe Siang.
“Harap kau totok Tan-tiong dan Giok-cim di punggung dan dadaku masing-masing sekali, biar mengurangi penderitaanku, itu pun sudah membalas budi padaku,” kata Hoat-ong.
Namun Kwe Siang geleng-geleng kepala, “Tidak, kau ingin aku membunuhmu, hm, mana mau aku melaksanakannya!” sahutnya.
“Hayolah, totoklah, tak akan mati,” pinta Hoat-ong. “Sebentar apa bila ibumu datang, malahan aku ingin minta ampun padanya, tidak akan mati secara begini mudah.”
Mendengar orang bicara dengan sungguh-sungguh, Kwe Siang menjadi ingin coba-coba, maka dengan perlahan dia totok dada orang satu kali.
“Ehm, segar rasanya, totoklah lebih keras,” kata Hoat-ong sambil menarik napas dalam-dalam.
Segera Kwe Siang menotok lebih kuat. Dia melihat Hoat-ong tersenyum, sedikit pun tidak menderita, mukanya dari merah berubah pucat, lalu merah lagi. Habis itu Hoat-ong berkata:
“Nah, lebih keras lagi sedikit...!”
Kwe Siang menurut. Dia pakai ilmu menotok yang dipelajari dari ayah-bundanya dan menotok satu kali pada ‘Tan-tiong-hiat” di dada orang.
“Ahh, baiklah, sekarang dadaku tidak pegal lagi! Nah, aku tidak mati, bukan?” kata Hoat-ong.
Kwe Siang amat heran oleh kekebalan orang, katanya kemudian: “Sekarang aku menotok lagi Giok-cim-hiat.” Mula-mula ia pun menotok perlahan seperti tadi, lalu ditambahi sedikit lebih keras. “Banyak terima kasih, banyak terima kasih!” ujar Hoat-ong. Kemudian dia pejamkan mata menghimpun tenaga, mendadak ia melompat bangun sambil membentak: “Marilah pergi!”
Keruan Kwe Siang terperanjat luar biasa, “Kau...! Kau...!”
Akan tetapi dia tak sempat berkata lebih banyak, sekali Hoat-ong mencekal, pergelangan tangannya dipegang terus diseret pergi.
BERTAHAN DARI GEMPURAN MUSUH
Nyata ilmu melancarkan jalan dan membuka tempat totokan justru adalah Lwekang khas yang amat hebat bagi golongan pertapaan di Tibet. Ketika Kwe Siang menotok ‘Tan-tiong’ dan ‘Giok-cim’ kedua tempat jalan darah, diam-diam Hoat-ong sudah menghimpun tenaga melancarkan kembali aliran darahnya. Kwe Siang kuatir totokannya itu akan menewaskan orang, padahal justru malah membuka jalan darahnya.
BegituIah sambil menyeret Kwe Siang, segera Kim-lun Hoat-ong berlari pergi, tetapi baru beberapa tombak jauhnya, tiba-tiba timbul pikiran jahatnya. Dia lihat tambang yang terikat di dahan pohon itu, dia pikir asal tambang ini diputuskan, Ciu Pek-thong, It-teng, Oey Yok-su dan lain-lain pasti akan terbinasa di dalam jurang itu, maka cepat ia melompat ke sana terus hendak memutuskan tali tambang itu.
Tentu saja Kwe Siang menjadi terkejut, tanpa pikir sikutnya menyodok pinggang Hoat-ong di tempat ‘Nan-ik-hiat’. Salah Hoat-ong sendiri. Dia terlalu pandang sepele anak dara itu, maka sikutan itu dengan tepat mengenai jalan darah itu hingga sebagian tubuhnya sesaat lemas tak bertenaga.
Segera Kwe Siang meronta melepaskan cekalan orang, kedua tangannya lalu memegang punggung Hoat-ong dan berkata: “Aku dorong kau ke dalam jurang, biar kau terbanting mampus!”
Hoat-ong terkejut sekali. Diam-diam ia pusatkan tenaga dalam buat punahkan jalan darah sikutan anak dara tadi, sedangkan lahirnya tidak menjadi gugup, dia terbahak-bahak dan menggertak: “Ha-ha-ha, melulu sedikit kepandaianmu yang tak berarti ini masakah dapat mendorong diriku?”
Gertakan ini ternyata membuat Kwe Siang merasa ragu-ragu. Padahal saat itu jalan darah Hoat-ong belum terlepas, asal sedikit dia dorong, tentu akan terjerumus ke dalam jurang, atau dengan lain jalan, umpamanya menotok pula beberapa kali jalan darahnya yang lain, tentu Hoat-ong akan lumpuh.
Cuma totokannya tadi malah membikin Hoat-ong bangkit kembali, maka Kwe Siang pikir, tiada gunanya menotoknya lagi, sebab itulah ia melompat pergi dan berlari ke tepi jurang.
“Lebih baik aku mati bersama-sama dengan ibu saja!” katanya tiba2 terus hendak terjun ke dalam-jurang.
Terkejut Hoat-ong melihat anak dara itu sudah menjadi nekat. Ketika itulah totokan dapat dipunahkannya, tak sempat lagi dia putuskan tambang tadi, tapi cepat menubruk ke arah Kwe Siang.
Cepat Kwe Siang berlari pula. Dia melompat kian kemari di antara batu-batu cadas dan menyusuri pohon-pohon besar.
Jika di tempat datar, sekali lompat saja pasti Hoat-ong bisa menangkapnya kembali. Tapi di puncak karang Toan-jong-khe ini penuh batu-batu besar dan pohon-pohon, Kwe Siang sengaja menyusup ke sana dan mengumpet ke sini, makin lari makin jauh, seperti orang lagi main kucing2an dengan Hoat-ong.
Sesudah lama, akhirnya sekali menubruk dapatlah tangan Kwe Siang dipegang Hoat-ong.
Pada saat main umpet2an dengan Hoat-ong, Kwe Siang telah mulai melupakan apa yang terjadi tadi. Sekarang sesudah terpegang barulah dia sadar akan gelagat jelek, cepat dia berteriak. Tetapi secepat itu pula Hoat-ong sudah mendekap muIutnya.
Pada saat itulah terdengar berkumandang suara Liok Bu-siang sedang bertanya: “He, Kwe Siang cilik sudah lari ke mana?”
Diam-diam Hoat-ong gegetun. Karena telah kehilangan kesempatan baik, maka dia totok jalan darah yang membikin gagu, lalu Kwe Siang diseret pergi. Padahal saat itu baru Liok Bu-siang saja yang naik ke atas, kalau Hoat-ong mau mengulangi memutuskan tambang masih keburu, sebab melulu Liok Bu-siang seorang tak mungkin bisa menahannya. Tapi karena dia telah merasakan betapa lihaynya It-teng Tay-su, Ciu Pek-thong dan Oey Yok-su, nyalinya sudah ciut. Dia sudah bersyukur dapat menyelamatkan diri, mana berani lagi dia mencari penyakit?
Kiranya setelah memeriksa dan mencari di bawah jurang dan tidak mendapatkan sesuatu tanda, Oey Yong dan lain-lain menduga Yo Ko tidak menemukan sesuatu bahaya, maka setelah berunding, mereka memutuskan untuk naik kembali ke atas. Orang yang pertama naik itu adalah Liok Bu-siang, menyusul Thia Eng dan Eng-koh.
Ketika Oey Yong sudah naik, segera dia mendengar Thia Eng bertiga sedang ber-teriak2 memanggil: “Kwe Siang cilik, di mana kau?”
Begitu melihat puterinya dan Hoat-ong telah menghilang semua, sungguh tidak kepalang cemasnya Oey Yong. Ketika Oey Yok-su, Ciu Pek-thong dan It-teng berturut-turut sudah naik pu!a, mereka segera mencari ke segala pelosok lembah gunung itu, tetapi bayangan Hoat-ong dan Kwe Siang sama sekali tidak tertampak.
Sampai di mulut lembah, tiba-tiba diketemukan sebelah sepatu anak dara itu.
“Ahh, tak perlu kuatir, Suci.” ujar Thia Eng. “Tentu Hoat-ong yang menggondol Siang-ji ke selatan. Siang-ji sengaja meninggalkan sepatunya agar diketahui kita, sungguh bocah ini sangat cerdik, tidak kalah dari ibunya.”
Ketika Oey Yong ingat cerita Kwe Siang bahwa Hoat-ong berniat memaksa anak dara itu menjadi murid ahli warisnya, ia pikir untuk sementara ini mungkin tidak berbahaya, maka rasa kuatirnya banyak berkurang.
Segera rombongan mereka balik ke selatan, di sepanjang jalan mereka pun mencari tahu jejak Hoat-ong dan Kwe Siang.
Beberapa hari kemudian, mereka mendengar berita bahwa pasukan Mongol mengepung Siang-yang dan sudah terjadi pertempuran besar di luar kota itu, kedua pihak sama-sama ada kalah menangnya, kedudukan Siang-yang sangat genting.
“Musuh telah menggempur Siang-yang, kita harus lekas kembali ke sana, urusan Siang-ji untuk sementara terpaksa tak bisa dipikirkan lagi,” kata Oey Yong dengan kuatir.
Semua orang menyatakan benar dan bersedia ikut pergi.
Biar pun sebenarnya It-teng Taysu, Oey Yok-su dan Ciu Pek-thong tidak ingin mengurus soal2 keduniawian lagi, tetapi mati-hidup dari Song besar tergantung hancur atau utuhnya Siang-yang, maka pertempuran yang menentukan ini tidak memungkinkan mereka untuk berpeluk tangan saja.
Begitulah mereka lantas mempercepat perjalanan, maka tiada seberapa hari mereka telah sampai di luar kota Siang-yang. Dipandang dari jauh, panji ber-kibar2, senjata gemilapan, bunyi tiupan tanduk ber-huk2 sahut-menyahut, derap kuda kian kemari. Tertampak Siang-yang terkurung rapat2 oleh pasukan Mongol.
Walau pun sudah banyak memiliki pengalaman, melihat situasi demikian ini, mereka pun menjadi terperanjat.
“Kekuatan musuh terlalu besar, sungguh pun kita berilmu silat tinggi juga sukar mendekati benteng kota, terpaksa menanti hari gelap nanti baru mencari jalan lain,” demikian kata Oey Yong.
Mereka bersembunyi dalam hutan. Kecuali Ciu Pek-thong yang selalu periang, yang lain-lain berhati sedih semua. Sampai sudah dekat tengah malam, dengan Oey Yong sebagai pembuka jalan, mereka bertujuh lantas menerjang ke dalam perkemahan musuh.
Betapa pun tinggi ilmu silat ketujuh orang ini akan tetapi begitu besarnya tentara Mongol, perkemahan berderet2 tak terhitung panjangnya. Baru setengah jalan mereka menerjang sudah diketahui oleh patroli musuh dan sekali gembreng ditabuh bertalu-talu, seketika itu pula mereka sudah terkepung, walau pun begitu keruan yang lain ternyata tenang-tenang saja tidak kacau, suatu tanda betapa disiplin dan terlatihnya pasukan Mongol.
Baiknya di dalam pasukan tentara yang besar, karena kuatir terkena kawan sendiri maka prajurit Mongol tidak berani melepaskan panah. Kalau di tanah lapang dan dihujani panah, betapa pun tangkas Ciu Pek-thong, Oey Yok-su, Oey Yong dan lainnya juga tak mampu menahannya.
Sambil bertempur mereka maju terus, sedang pasukan musuh makin lama makin banyak, berpuluh2 tombak selalu menusuk ke arah mereka bergantian. Tapi di mana angin pukulan Ciu Pek-thong, Oey Yok-su dan It-teng Taysu sampai, di situ segera pula senjata2 musuh patah dan orangnya terluka atau mati, sungguh pun demikian tentara Mongol itu ternyata pantang mundur.
“Oey-Iosia, tampaknya kita bertiga tua bangka ini hari ini akan mampus di sini,” kata Lo-wan-tong tiba-tiba dengan tertawa, “Maka paling baik kan berdaya agar empat anak dara ini saja ditolong keluar.”
“Fui,” semprot Eng-koh. “Omong tidak-genah, masakah aku sudah nenek2 dianggap anak dara? Hendak mati biarlah kita mati bersama, tiga anak dara ayu inilah yang harus kita tolong.”
Diam-diam Oey Yong berkuatir, pikimya: “Selamanya Lo-wan-tong tak pernah kenal takut, kenapa sekarang tiba-tiba bilang jiwanya bakal melayang di sini, tampaknya alamat tidak baik!”
Tapi tentara musuh merubung bagai semut, kecuali melawan mati-matian, hakekatnya tak berdaya lain.
Sesudah beberapa deret perkemahan musuh ditembus lagi, tiba-tiba Oey Yong melihat di sebelah kiri sana terdapat dua kemah besar berwarna hitam. Dia pernah ikut Jengis Khan menggempur ke benua barat, dia pun tahu kemah demikian ini biasanya dipakai sebagai gudang rangsum.
Tiba-tiba pikirannya tergerak. Mendadak ia melompat ke samping dan berhasil merampas sebuah obor seorang prajurit musuh terus berlari ke kemah gudang rangsum itu.
Segera prajurit Mongol berteriak-teriak mengejarnya. Tapi Oey Yong sangat sebat, sekali menyelusup, segera ia masuk ke kemah itu, obornya diangkat, segala benda dibakarnya. Maka sekejap saja dua kemah besar itu sudah kebakaran beberapa tempat, habis itu Oey Yong menerobos keluar lagi bergabung dengan rombongan Ciu Pek-thong.
Benda yang tertumpuk di dalam kemah itu tidak sedikit terdiri dari barang2 yang mudah terbakar, maka cepat saja api sudah menjilat dengan hebatnya.
Lo-wan-tong menjadi tertarik, dia pun tidak mau ketinggalan. Dari prajurit musuh dia dapat merampas dua obor, dia pun pergi menyulut api ke mana-mana, malahan tanpa sengaja sebuah kandang kuda kena dibakarnya, keruan seketika kacau balau oleh lari kuda-kuda yang tunggang-langgang, maka pasukan Mongol menjadi kalang kabut.
********
Waktu itu Kwe Ceng berada di kota Siang-yang dan mendengar pasukan musuh di utara benteng kacau-balau. Dia memeriksa ke atas benteng dan melihat api menjulang tinggi di tengah perkemahan musuh, dia tahu ada orang mengaduk-aduk di perkemahan pasukan Mongol itu, maka cepat dia kirim 2000 prajurit dan memerintahkan Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua menggempur keluar benteng.
Pada waktu kedua saudara Bu itu sudah beberapa li di luar kota, terlihatlah Oey Yok-su memayang Liok Bu-siang, It-teng Taysu mendukung Ciu Pek-thong, tujuh orang dengan menunggang lima ekor kuda sedang mendatangi dengan cepat.
Kedua saudara Bu tidak berani menyongsong maju, tetapi pasukan yang dipimpinnya itu lantas tersebar ambil kedudukan untuk menahan kejaran tentara musuh, dengan begitu, barisan belakang dijadikan barisan depan untuk melindungi rombongan Oey Yong masuk ke kota.
Kwe Ceng sudah menunggu di atas benteng. Begitu melihat ayah mertua, isteri tercinta, It-teng Taysu, Lo-wan-tong datang semua, dia sangat gembira dan lekas-lekas membuka pintu benteng menyambut keluar.
Ia lihat pinggang Liok Bu-siang terluka tombak musuh, punggung Ciu Pek-thong kena tiga panah, jenggot dan alisnya kelimis terbakar, luka kedua orang ternyata tidak enteng. Oey Yong sendiri, Thia Eng dan Eng-koh juga terluka kena panah, cuma tidak berbahaya.
It-teng dan Oey Yok-su sama-sama mahir ilmu pertabiban. Sesudah memeriksa luka Liok Bu-siang dan Lo wan-tong, mereka mengkerut kening dan bermuka muram tanpa berkata.
“Toan hongya, Oey-losia, kalian tak perlu bersedih. Lo-wan-tong sudah dapat firasat dan yakin tidak akan mampus,” demikian tiba-tiba Ciu Pek-thong buka suara dengan tertawa. “Maka paling baik kalian curahkan perhatian untuk menyembuhkan si anak dara Bu-siang saja.”
Begitulah Lo-wan-tong masih terus berkelakar dengan Oey Yok-su, tetapi terhadap It-teng Taysu dia sangat menghormatinya, bahkan rada-rada takut. Meski pun It-teng sudah lama menjadi Hwesio, namun sebutan ‘Toan-hongya’ masih terus dipakainya.
Melihat Lo-wan-tong sanggup menahan sakit bahkan masih berkelakar, Oey Yok-su dan It-teng menjadi sedikit tega. Hanya keadaan Liok Bu-siang yang menguatirkan. Gadis ini masih tidak sadarkan diri. Thia Eng terus menunggui di pinggir ranjangnya dan diam-diam mengucurkan air mata.
Besok paginya baru saja terang tanah, di luar kota sudah terdengar tiupan tanduk disertai genderang yang ber-talu2. Pasukan Mongol sudah mulai menyerang besar-besaran.
Pembesar Siang-yang yang resmi, gubemur Lu Bun-hwan memimpin pasukan menjaga di empat penjuru pintu benteng, sedangkan Kwe Ceng dan Oey Yong mengawasi dari atas benteng. Terlihat pasukan musuh membanjir datang bagai semut.
Di antara beberapa kali serangan pasukan Mongol ke Siang-yang, persiapan sekali inilah yang paling lihay. Baiknya Kwe Ceng pernah lama tinggal dalam pasukan Mongol di masa mudanya sehingga dia paham siasat apa yang dipakai tentara Mongol untuk menggempur benteng dan segala serangan para musuh selalu digagalkan.
Pertarungan sengit itu berlangsung sampai hari sudah petang. Prajurit Mongol tewas lebih 2000 jiwa, tetapi dari belakang masih terus membanjir dan menggempur benteng dengan gagah berani.
Di dalam kota Siang-yang, kecuali beberapa puluh ribu prajurit terdapat pula ratusan ribu penduduk sipil. Semua orang tahu mati-hidup mereka bergantung pada pertahanan kota ini, maka setiap orang muda yang masih kuat, semuanya memanggul senjata memenuhi kewajiban pertahanan kota, sekali pun yang tua, para wanita dan anak-anak juga tak mau ketinggalan dan membantu di garis belakang. Maka seketika itu di dalam mau pun di luar kota menjadi gegap-gempita, panah berseliweran di atas udara bagai belalang terbang.
Kwe Ceng sendiri dengan tangan menghunus pedang memimpin pertahanan kota di atas benteng. Oey Yong berdiri di sampingnya sambil menyaksikan pertempuran yang makin sengit itu.
Tiba-tiba saja terdengar prajurit Mongol di bawah benteng berseru: “Banswee (Dirgahayu)! Banswe! Ban-banswe...!”
Suara itu dari jauh mendekat bagai gelombang ombak saja, sampai akhirnya beratus ribu prajurit berteriak berbareng sehingga seakan-akan langit ambruk dan menggempa bumi, Lalu nampaklah sebuah.panji besar berkibar tinggi, beberapa perwira mengiringi seorang dengan payung kencana, sesudah dekat, ternyata raja Monko sendiri yang maju ke garis depan.
Melihat raja mereka datang sendiri, prajurit Moogol menjadi tambah bersemangat. Ketika panji merah berkibar, satu pasukan yang berjumlah 20 ribu orang terus menggempur pintu benteng utara dengan mati-matian. Ini adalah pasukan cadangan raja Mongol yang terlatih dan paling tangkas, apa lagi semua prajurit ingin berjasa di hadapan rajanya, maka begitu tangga bersandar tembok benteng segera bagai semut berebut naik ke atas.
“MariIah saudara2, hari ini biar raja musuh melihat sendiri betapa gagah perwiranya rakyat Song kita yang jaya!” teriak Kwe Ceng sambil mengangkat tangannya.
Demikian keras suara Kwe Ceng hingga prajurit Song serentak terbangkit semangatnya, semuanya bertempur mati-matian mengenyahkan penjajah.
Mayat prajurit Mongol yang menggempur benteng itu tampak makin lama semakin banyak dan bertambah tinggi tertumpuk, akan tetapi bala bantuan masih terus membanjir tanpa putus2nya.
Kurir yang selalu berada di sisi raja Monko tampak mondar-mandir meneruskan perintah. Tatkala itu tiba-tiba terdengar petugas itu berteriak: “Dengarlah para prajurit dan bintara! Titah raja, barang siapa yang paling dulu berhasil menginjak ke atas benteng, maka dia itu lantas dianugerahi pangkat walikota Siang-yang.”
Mendengar itu, bersoraklah prajurit Mongol, segera ada beberapa orang yang tidak takut mati terus merangsek ke atas benteng.
Kurir itu membawa panji merah dan selalu wira-wiri meneruskan perintah sang raja. Kwe Ceng menjadi gusar, dia pentang busur terus memanah. Pesat amat panah itu dan tepat menembus dada petugas musuh itu hingga terjungkal dari kudanya.
Prajurit Mongol berteriak-teriak lagi. Sesaat semangat mereka sirap, tapi hanya sebentar, kembali sepasukan cadangan baru tiba pula di bawah benteng.
Dengan tombak panjang di tangan Yalu Ce berlari ke hadapan Kwe Ceng lantas berkata: “Gakhu, Gakbo (ayah dan ibu mertua), musuh sulit digempur mundur, biarlah anak keluar benteng menerjangnya.”
“Baik, bawalah 3000 prajurit, cuma harus hati-hati,” sahut Kwe Ceng.
Segera Yalu Ce turun dari benteng. Tidak lama kemudian, genderang dipukul riuh sekali, begitu pintu benteng terbuka, 1000 anggota Kay-pang dan 2000 tentara negeri di bawah pimpinan Yalu Ce dengan tombak dan tameng terus menerjang ke depan.
Di bagian pintu utara pasukan Mongol sedang menggempur benteng. Ketika mendadak melihat pasukan Song menerjang keluar, cepat mereka putar tubuh terus lari mundur.
Segera Yalu Ce memimpin pasukannya memburu, tetapi tiba-tiba terdengar tiga kali suara meriam, dua pasukan MongoI telah mengepung dari kanan kiri sehingga 3000 orang yang dipimpin Yalu Ce terkepung ditengah-tengah.
Pasukan Mongol itu berjumlah lebih dari 20 ribu orang, keruan tiga ribu orangnya Yalu Ce terkepung rapat. Tapi mereka tak gentar, terutama seribu anggota Kay-pang itu semuanya berilmu silat bagus dan sanggup satu lawan sepuluh, mereka bertempur dengan mati2an. Sedang sepasukan tentara Mongol yang lain kembali memasang tangga menggerapah ke atas benteng lagi.
Melihat sebagian pasukan Mongol sudah berhasil ditahan oleh Yalu Ce, segera Kwe Ceng memberi perintah kepada kedua saudara Bu agar membiarkan prajurit Mongol menyerbu masuk dari gugusan benteng.
Setelah kedua Bu menerima perintah itu dan undurkan pasukannya, sekejap saja beratus dan beribu prajurit Mongol berhasil merangkak sampai di atas benteng. Melihat ini Lu Bun-hwan menjadi ketakutan hingga mukanya pucat lesi, badannya gemetar, mulut ternganga.
Namun Kwe Ceng tenang-tenang saja, dia biarkan prajurit Mongol naik kira-kira lima ribu orang. Tiba-tiba saja panji kuning mengebas, sekonyong-konyong genderang berbunyi, Cu Cu-liu dan Bu Sam-thong masing-masing memimpin sepasukan tentara cadangan segera menyerbu keluar dari tempat sembunyi mereka. Seketika itu pula gugusan benteng yang bobol tadi segera tertutup rapat, prajurit Mongol yang lain tak dapat naik Iagi. sedang lima ribu orang musuh yang berada di dalam benteng itu terjeblos ke dalam kepungan.
Demikianlah, kalau di luar benteng pasukan Song terkepung, sebaliknya di atas benteng pasukan Mongol juga terkurung, sementara pertempuran di ketiga pintu benteng yang lain masih berlangsung dengan sengit luar biasa.
Betapa gagah beraninya perlawanan pasukan Song itu sungguh amat mengagumkan raja Mongol, diam-diam dia memuji dan insaf salah duga atas kekuatan lawan.
Sementara itu sudah tengah malam, sinar bulan purnama, langit bersih, angin silir2 sejuk, sebaliknya di permukaan bumi ketika itu beratus ribu manusia sedang bertempur dengan mati-matian.
Pertempuran ini berlangsung sejak pagi sampai tengah malam, kerugian masing-masing pihak sama besarnya. Pasukan Song menang pada tempat, sebaliknya pasukan Mongol menang jumlah lebih banyak.
Selang agak lama, tiba-tiba saja sepasukan tentara Song menyerang ke tanah bukit sana. Pasukan pengawal raja Mongol yang berada ditanah bukit itu lekas2 melepaskan panah.
Dari tempat tinggi raja MongoI dapat melihat jelas di dalam pasukan Song itu ada seorang panglima setengah umur, bersenjata sepasang tombak, menunggang seekor kuda besar sedang menerjang ke sana ke mari tanpa tertahankan. Meski panah berhamburan seperti hujan ke arahnya, tapi seluruhnya kena di tangkis dan disampuk oleh tombak2nya.
“Orang yang gagah ini, siapakah dia?” tanya Monko pada bawahannya.
“Lapor Sri Baginda, orang ini Kwe Ceng adanya,” kata seorang panglima tua di sisinya.
“Ai, kiranya dia! Benar-benar gagah perkasa, namanya bukan omong kosong belaka!” puji Monko tak tertahan.
Mendengar raja mereka memuji musuh, ada empat perwira merasa kurang senang, sekali berteriak, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju memapak Kwe Ceng.
Akan tetapi betapa tangkas dan besar tenaga sakti Kwe Ceng, mana keempat perwira itu sanggup melawannya, hanya sekali dua gebrakan saja, keempat perwira itu berturut-turut sudah dibinasakan. Maka perwira2 Mongol yang lain menjadi jeri, tiada yang berani pamer lagi di hadapan raja mereka, hanya dari jauh mereka menghujani panah.
Kwe Ceng mengeprak kudanya hendak menerjang ke atas bukit itu, tapi beratus senjata prajurit musuh rapat menghadangnya. Beberapa kali dia berusaha merangsek maju, tetapi selalu terdesak mundur.
Mendadak kudanya terkena panah hingga meringkik terus roboh. Prajurit-prajurit Mongol bersorak senang terus merubung maju. Tak terduga tiba2 Kwe Ceng melompat bangun, sekali tombaknya menusuk, dia binasakan seorang bintara musuh kemudian mencemplak ke atas kuda rampasan ini. Dengan memutar tombak sambil menghantam dengan tangan dari dekat, dalam sekejap saja belasan perwira dan prajurit musuh kena dimatikan pula.
Melihat di antara sekian banyak prajuritnya ternyata tidak ada seorang pun yang mampu mendekati Kwe Ceng, diam-diam Monko berkerut kening. Tiba-tiba dia memberi perintah: “Barang siapa dapat membunuh Kwe Ceng maka akan diberi hadiah selaksa tahil emas dan kenaikan pangkat tiga tingkat sekaligus.”
Karena janji yang menarik ini, serentak pasukan Mongol lantas membanjir maju.
Nampak keadaan rada gawat, pula dirinya tak mampu mendekati raja musuh, mendadak Kwe Ceng menghantam mundur beberapa pengeroyoknya, lantas mementang busur dan melepaskan panah ke arah Monko. Begitu pesat anak panah itu meluncur secepat kilat terus menyambar ke muka raja itu.
Para pengawal Monko terkejut bukan main. Dua bintara yang berdiri di sampingnya cepat menghadang di depan junjungan mereka, maka tanpa ampun panah itu lantas menembus bintara yang pertama, bahkan terus menembus dada bintara kedua yang berdiri tepat di belakangnya sehingga mirip sujen sate.
Melihat betapa hebat serangan panah itu, muka Monko menjadi pucat, di bawah iring2an pengawalnya cepat mundur ke bawah bukit. Pada saat itu pula kembali pasukan MongoI berteriak-teriak.
Sepasukan Song menerjang datang pula, seorang paling depan memutar sepasang gayuh besi sedang menghantam dan menpepruk dengan hebatnya. Ternyata dia adalah Su-sui Hi-un, si nelayan dari sungai Su yang menjadi muridnya It-teng Taysu itu.
Rupanya Oey Yong menjadi amat kuatir ketika melihat sang suami seorang diri terkepung musuh, maka Su-sui Hi-un diperintahkan memimpin dua ribu tentara untuk memapaknya.
Dalam pada itu, karena melihat raja mereka mengundurkan diri, semangat prajurit Mongol rada terguncang, barisan mereka pun kelihatan rada kacau. Keadaan itu dapat dilihat jelas oleh Oey Yong yang mengawasi di atas benteng, maka cepat dia memberi perintah:
“Beramai-ramai kita berteriak bahwa raja Mongol sudah mati!”
Maka gegap gempitalah suara teriakan para prajurit Song yang menyorakkan: “Hura! Raja Mongol sudah mati! Raja Mongol sudah mati!” Bahkan di antara prajurit yang fasih bicara dengan bahasa Mongol segera berteriak dalam bahasa itu.
Mendengar teriakan itu, para prajurit Mongol langsung menoleh ke belakang dan melihat panji kebesaran raja mereka benar-benar sedang mundur ke belakang, di sekitar panji itu kelihatan pula kacau-balau. Mereka menyangka raja benar-benar sudah tewas, seketika semangat tempur mereka patah dan beruntun mundur dengan cepat.
Cepat Oey Yong memberi perintah mengejar, pintu benteng segera terpentang lebar, tiga puluh ribu prajurit cadangan lantas menerjang keluar. Tiga ribu orang yang dipimpin Yalu Ce sudah gugur hampir separoh, sisanya kini sekalian ikut menguber musuh.
Tapi pasukan Mongol telah banyak pengalaman bertempur. Meski kalah, formasi mereka tidak buyar, mereka mundur teratur ke utara, maka pasukan Song juga tidak berani terlalu mendesak.
Hanya saja lima ribu orang Mongol yang menyerbu ke dalam benteng tadi tiada seorang pun yang tersisa hidup.
Setelah pasukan musuh mundur seluruhnya, sementara itu hari sudah mulai terang tanah. Pertempuran sengit ini berlangsung tidak kurang dari pada 12 jam, mayat bergelimpangan bertumpang tindih, darah menggenang bagai air sungai, tombak patah, golok putus, panji sobek, semuanya berserakan memenuhi jalan sepanjang berpuluh li.
Dalam pertempuran ini pihak Mongol kehilangan lebih 30 ribu prajurit pilihannya, ada pun pihak Siang-yang gugur belasan ribu jiwa. Semenjak bangsa Mongol menjajah ke selatan, pertempuran inilah yang terdahsyat dan paling banyak menelan korban.
Setelah mengundurkan pasukannya sejauh 40 li, Monko lantas memerintahkan berkemah. Teringat keadaan berbahaya tadi, dalam hatinya masih merasa tidak tenteram.
Tidak lama kemudian, adik raja, Kubilai, datang menghadap dan menyampaikan sembah bakti pada Sri Baginda.
“Adikku,” kata Monko kepada Kubilai, “Mendiang ayah kita suka memuji mengenai gagah perwiranya Kwe Ceng. Setelah tadi aku menyaksikan sendiri, kini barulah aku betul-betul kagum dan putus asa pula.”
“Kakak Baginda tidak perlu kuatir, hamba sudah mempunyai suatu akal yang pasti akan membikin Kwe Ceng menyerah tanpa berkutik dan Siang-yang dengan cepat akan bobol,” kata Kubilai.
Girang sekali Monko, cepat dia bertanya apa tipu akal itu.
Kubilai tidak langsung menjawab, dia menoleh kepada pengawalnya dan berkata: “Silakan Koksu (imam negara) masuk!”
Nyata datangnya Kubilai disertai Kim-lun Hoat-ong.
********
Dalam pada itu, setelah pasukan Siang-yang dapat menggempur mundur musuh, seluruh kota di mana-mana terdengar suara tangisan yang memilukan. Ada ibu menangis karena kehilangan anak, ada isteri menangisi suami, suasana tenggelam dalam keadaan berduka cita.
Tanpa mengaso segera Oey Yong pergi memeriksa dan menghibur para bawahannya, lalu pergi memeriksa keadaan lukanya Ciu Pek-thong dan Liok Bu-siang. Kiranya luka mereka sudah baikan. malah Lo-wan-tong sudah tidak sabar lagi rebah di pembaringan, dia sudah keluyuran ke taman.
Melihat muka orang yang kini kelimis, Kwe Ceng dan Oey Yong merasa geli.
Besok paginya, selagi Kwe Ceng hendak berunding situasi militer dengan Lu Bun-hwan. tiba-tiba ada laporan, katanya ada sepasukan tentara Mongol sekira 10 ribu orang sedang menuju ke arah pintu benteng utara. Lu Bun-hwan terkejut bahwa musuh berani datang lagi, Kwe Ceng juga segera naik ke atas benteng untuk memeriksa.
Maka tertampaklah pasukan musuh itu ambil kedudukan di tempat 3-4 li jauhnya dari kota namun tidak menyerang. Selang tidak lama, beribu tukang telah mendatangkan batu dan mendirikan cagak terus membangun sebuah panggung yang tingginya belasan tombak.
Tatkala itu Oey Yok-su, Oey Yong, It-teng Taysu dan Cu Cu-liu juga sudah naik ke atas benteng. Demi melihat tentara Mongol mendadak mendirikan panggung, mereka menjadi heran dan bingung.
“Jika panggung itu oleh musuh akan digunakan untuk mengintai keadaan dalam benteng, tempatnya tidak seharusnya begitu jauh, apa lagi kalau tentara kita memanahnya dengan api, segera bisa terbakar. Lalu apa gunanya?” demikian pendapat Cu-liu.
Oey Yong pun tidak mengerti akan maksud tujuan musuh itu meski pun sudah mencoba menyelami.
Dan sesudah panggung itu berdiri, beberapa ratus serdadu Mongol dengan kereta2 kuda tampak mengangkut datang kayu2 bakar terus ditumpuk di sekitar panggung, tampaknya panggung itu seperti hendak dibakar.
Cu-liu semakin heran, katanya: “Apakah musuh hendak memakai ilmu gaib? Atau hendak bersembahyang?”
“Sudah lama aku tinggal di tengah pasukan Mongol, tapi selamanya tidak pernah melihat cara aneh ini,” ujar Kwe Ceng.
Tengah bicara, kembali tertampak beribu serdadu Mongol sedang mengayun cangkul dan sekop, mereka sedang menggali sebuah parit yang lebar dan dalam di sekitar panggung, tanah yang digali itu menggunduk melingkari parit itu sehingga berwujud seperti pagar.
“Ha-ha-ha, kota Siang-yang adalah bekas kediaman Cukat Liang di jaman Samkok, tetapi bangsa asing ini berani main kayu di depan rumah nabi, sungguh terlalu menghina bangsa kita!” demikian jengek Oey Yok-su dengan gusar.
Dalam pada itu di tengah2 bunyi genderang ber-turut2 datang pula empat pasukan musuh terus melingkari keempat penjuru panggung tadi dengan bermacam-macam senjata siap di tangan. Panggung itu menjadi terkurung rapat.
CINTA SEJATI JODOH ABADI
Mendadak terdengar dentuman meriam sekali, suara genderang lantas berhenti, keadaan jadi sunyi senyap, dari jauh dua penunggang kuda berlari ke bawah panggung itu. Kedua penunggang itu turun dari kuda terus bergandengan tangan naik ke atas panggung.
Karena jaraknya jauh dari benteng, maka muka kedua orang itu tak jelas kelihatan, hanya lapat-lapat seperti seorang pria dan seorang perempuan.
Selagi semua orang ter-heran2, sekonyong-konyong Oey Yong menjerit kaget, terus roboh ke belakang dan pingsan.Lekas semua orang menolongnya siuman dan sama bertanya sebab apakah?
Dengan wajah pucat Oey Yong kemudian berkata dengan suara gemetar: “ltulah Siang-ji, itulah Siang-ji!”
Semua orang terkejut dan saling pandang. “Apakah kau melihat jelas, Kwe-hujin?” tanya Cu-liu.
“Meski tidak terang melihat mukanya, tapi menurut dugaan, pastilah dia,” kata Oey Yong. “Musuh tidak berhasil membobol benteng, sekarang ternyata memakai akal keji, sungguh rendah dan tidak tahu malu.”
Mendengar penuturan itu, segera Oey Yok-su dan Cu Cu-liu mengerti duduknya perkara. Mereka pun amat gusar, sebaliknya Kwe Ceng masih belum mengerti, tanyanya:
“Kenapa Siang-ji bisa berada di atas panggung itu? Tipu keji apa yang akan dipakai musuh?”
“Ceng-koko,” kata Oey Yong dengan bersemangat, “Sungguh tak beruntung Siang-ji jatuh dalam cengkeraman musuh, mereka sengaja bikin panggung dan taruh Siang-ji di atasnya sebagai umpan, tipuannya memaksa kau menyerah, jika kau tak menyerah mereka akan bakar panggung itu supaya kita berdua ngenas dan berduka, hilang semangat dan pikiran kacau, dengan begitu mereka bisa menggempur lebih leluasa tanpa perlawanan kita.”
“Sebab apa Siang-ji jatuh di tangan musuh?” tanya Kwe Ceng terkejut dan gusar.
“Ya, karena kesibukan militer beberapa hari ini, aku kuatir memecah perhatianmu, karena itu tidak kuceritakan padamu,” sahut Oey Yong.
Kemudian dia pun segera menceritakan pengalamannya di Coat-ceng-kok, di mana Kwe Siang kena digondol Kim-lun Hoat-ong.
Mendengar Yo Ko menghilang di dalam jurang, berulang-ulang Kwe Ceng bertanya lebih jelas, betapa perhatiannya pada Yo Ko kelihatan sekali pada wajahnya. Betapa tinggi budi luhur Kwe Ceng, dia tidak pikirkan puteri sendiri yang menghadapi bahaya dibakar, tetapi menanyakan dulu keselamatan Yo Ko, sungguh bikin semua orang amat mengaguminya.
Stelah selesai mendengarkan penuturan Oey Yong, dengan mengkerut kening Kwe Ceng berkata:
“Yong-ji, inilah kesalahanmu. Mati hidup Ko-ji belum diketahui, kenapa kau sudah meninggalkannya pergi?”
Selamanya Kwe Ceng sangat menghormat dan cinta isterinya, tidak pernah mencelanya di hadapan orang luar. Kini celaan itu diucapkannya dengan sungguh-sungguh, Oey Yong menjadi merah mukanya.
“Kwe hujin sudah menyelam ke dalam telaga hingga hampir beku kedinginan dan keadaan Yo Ko juga sudah kami selidiki memang benar-benar tidak berada di jurang itu, pula nona Kwe jatuh ke tangan musuh, maka beramai-ramai kami mengusulkan mengejar kembali, hal ini tidak bisa menyalahkan Kwe hujin,” demikian It-teng Taysu menjelaskan.
Karena itu terpaksa Kwe Ceng tidak berani bilang apa-apa lagi, hanya dengan gemas dia berkata pula: “Anak dara ini selalu bikin gara-gara saja, jika sampai Ko-ji terjadi apa-apa, hati kita apakah bisa tenteram? Hari ini biarlah dia dibakar mati musuh saja, beres!”
Dengan cemas diam-diam Oey Yong turun dari benteng. Mendadak pintu benteng dibuka, dengan menunggang kuda sendirian cepat ia kabur ke utara. Keruan semua orang sangat terkejut. Beruntun-runtun Kwe Ceng, Oey Yok-su, It-teng, Cu Cu-liu dan lainnya cemplak kuda menyusulnya.
Setiba di depan panggung tinggi tadi, mereka berhenti dalam jarak yang tak dapat dicapai panah musuh. Maka tampaklah di atas panggung berdiam dua orang, yang satu berjubah kuning, dialah Kim-lun Hoat-ong, sedangkan lainnya adalah seorang gadis remaja dengan kedua tangannya diikat pada sebuah cagak. Siapa lagi dia kalau bukan Kwe Siang. Meski gusar karena anak dara itu suka timbulkan onar, tapi kasih-sayang ayah maka mau tak mau Kwe Ceng menjadi kuatir, teriaknya keras-keras:
“Siang-ji, jangan kuatir, ayah-ibu datang buat menolong kau!”
Betapa kuat tenaga dalamnya, suara teriakannya itu dengan jelas terkirim sampai di atas panggung itu.
Waktu itu Kwe Siang sudah dalam keadaan sadar tak sadar terpanggang sinar matahari yang terik. Ketika mendadak mendengar suara ayahnya, segera dia pun berteriak-teriak.
“Ayah, ibu!” Cuma panggung itu terlampau tinggi, jaraknya juga jauh, maka suaranya tak terdengar oleh ayah-bundanya.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong sedang tertawa terbahak-bahak, katanya lantang: “Kwe-tayhiap, tidaklah sulit apa bila kau ingin aku membebaskan puterimu. Soalnya tergantung apakah kau punya keberanian atau tidak?”
Selamanya Kwe Ceng sangat tenang, makin berbahaya keadaan yang dihadapi, semakin tenanglah pikirannya. Kini mendengar kata-kata Hoat-ong itu, sama sekali dia tidak gusar, jawabnya:
“Ada persoalan apa, silakan Hoat-ong menunjukkan.”
“Jika memang kau mempunyai rasa cinta kasih seorang ayah terhadap puterinya, segera kau naik panggung sini dan menyerahkan diri, kita satu tukar satu, maka puterimu segera kubebaskan,” demikian kata Hoat-ong.
Nyata Hoat-ong sudah tahu bahwa Kwe Ceng amat tinggi budi, tidak nanti untuk seorang puterinya mau mengorbankan jiwa penduduk seluruh kota Siang-yang, oleh karena itu dia sengaja keluarkan kata-kata pancingan supaya Kwe Ceng masuk perangkap sendiri.
Tak terduga Kwe Ceng ternyata tidak bisa ditipu, jawabnya lantang: “Jika musuh asing itu tidak takut padaku, mengapa kalian menawan puteriku? Dan kalau musuh takut padaku, suatu tanda Kwe Ceng bukanlah manusia tak berguna, mengapa mesti mati tanpa arti?”
“Hm, orang bilang ilmu silat Kwe-tayhiap amat lihay, gagah perkasa, tapi nyatanya hanya seorang manusia yang takut mati dan tamak hidup,” demikian jengek Hoat-ong.
Kata-kata pancingan ini bila dipakai terhadap orang lain mungkin akan berhasii, tetapi Kwe Ceng memikul tanggung jawab atas keselamatan seluruh penduduk kota, dia anggap sepi saja kata-kata orang dan diganda tersenyum belaka tanpa menggubris. Namun Bu Sam-thong dan Su-sui Hi-un menjadi murka, segera mereka hendak menerjang maju, namun It-teng Taysu keburu mencegah mereka.
“Kwe-tayhiap,” terdengar Hoat-ong berseru pula, “puterimu pintar dan cerdik, sebenarnya aku sangat menyukainya dan berniat menjadikan dia murid ahli warisku. Tetapi Hongsiang memberi titah, kalau kau tidak takluk segera anak dara ini akan dibakar di atas panggung ini. Bukan cuma kau yang sakit hati atas puterimu yang malang ini, sekali pun aku sendiri juga merasa sayang, maka harap kau suka memikirkannya dalam-dalam.”
Kwe Ceng menjengek tanpa menjawab. Dia lihat berpuluh serdadu musuh sudah siapkan obor di samping tumpukan kayu bakar di bawah panggung itu, asal sekali saja Hoat-ong memberi perintah, segera api akan disulut.
Berpuluh ribu serdadu musuh mengepung panggung dengan rapat, hanya manusia biasa saja mana mampu menembusnya? Lagi pula biar pun sudah dekat, jika api sudah menjilat panggung itu, cara bagaimana bisa menolong puteri kecil itu?
Waktu Kwe Ceng mendongak, ia lihat muka puterinya pucat lesu, tak tahan hatinya bagai disayat. Cukup lama Kwe Ceng ikut dalam pasukan Mongol, dulu ia kenal serdadu Mongol yang kejam tak kenal ampun, sehari saja tidak segan membunuh beratus ribu wanita mau pun anak-anak, apa lagi kini hanya Kwe Siang, mirip seekor semut yang tak berarti saja.
Karena itu dengan mengertak gigi ia berteriak: “Wahai, Siang-ji, dengarlah, ayah bundamu berjuang untuk negara dan bangsa, mati-hidup tidak terpikir. Kau adalah puteri ibu pertiwi, kau harus berani berkorban dengan gagah perwira dan jangan takut. Hari ini bila ayah-ibu tak bisa menolongmu, kelak kami pasti akan membunuh paderi jahat ini untuk membalas sakit hatimu. Mengertikah kau?”
Dengan mengembeng air mata Kwe Siang mengangguk. Teriaknya dari jauh: “Ya, ayah dan ibu, anak tidak gentar!”
“ltulah puteriku sejati!” seru Kwe Ceng.
Sesudah itu dia tanggalkan gendewa dari pinggangnya, panah dipasang terus dijebretkan beruntun2 tiga kali, kontan tiga serdadu musuh yang memegang obor di bawah panggung itu terjungkal, tiga panah itu ternyata menembus dada mereka.
Harus diketahui bahwa ilmu memanah dan menunggang kuda Kwe Ceng didapat dari ahli panah Jebe yang tersohor di MongoI waktu Kwe Ceng tinggal di sana dulu, ditambah lagi tenaga dalamnya yang sekarang luar biasa, serdadu Mongol lantas berteriak-teriak sambil angkat perisai untuk melindungi tubuh.
“Marilah kita kembali,” kata Kwe Ceng kemudian kepada rombongannya terus putar kuda dan kembali ke kota.
Setiba di atas benteng lagi, Oey Yong termangu-mangu memandangi panggung di mana puterinya terikat, pikirannya kacau tak terlukiskan.
“Yong-ji, mari kita gunakan barisan 28 bintang untuk menempur musuh,” kata Oey Yok-su tiba-tiba.
Oey Yong terkesiap, sahutnya: “Tetapi meski pun menang kalau musuh lantas membakar panggung itu, lalu apa daya kita?”
“Asal kita bunuh musuh sekuat tenaga, mati-hidup Siang-ji kita serahkan kepada takdir,” sela Kwe Ceng tiba-tiba dengan bersemangat. “Gakhu, mohon tanya, barisan 28 bintang itu cara bagaimanakah mengaturnya?”
“Perubahan barisan bintang2 ini sungguh ruwet,” sahut Yok-su tertawa. “Aku menciptakan barisan 28 bintang-bintang ini, karena dahulu menyaksikan ‘Thian-keng-pak-tau-tin’ kaum Coan-cin-kau, tujuanku hendak menandingi imam-imam Coan-cin itu.”
“Bagus, dalam hal ilmu pasti dan segala ilmu mujijat lainnya, Oey-Iosia memang menjagoi seluruh kolong langit, sekali pun Ong Tiong-yang hidup kembali juga tak lebih unggul dari padamu, barisan bintang-bintang ciptaanmu ini pasti sangat hebat,” demikian It-teng ikut bersuara.
Oey Yok-su tidak lantas menjawab. Dia berpikir sejenak, kemudian berkata: “Barisanku ini tujuannya melulu untuk bertempur dengan sejumlah beberapa puluh orang jagoan Bu-lim saja, sebenarnya tidak pernah terpikir akan dipakai dalam pertempuran melawan beratus ribu tentara ini. Tapi kalau diubah sedikit rasanya masih dapat dilakukan juga. Sayangnya sekarang kekurangan satu orang dan sepasang rajawali kita.”
“Cobalah memberi penjelasan lebih lanjut,” pinta It-teng.
“Kalau kedua rajawali itu tidak dibinasakan paderi keparat itu, bila barisan kita dikerahkan segera kedua binatang itu bisa disuruh terbang ke atas panggung untuk menolong Siang-ji, tetapi sekarang hal itu tak mungkin lagi,” demikian kata Oey Yok-su.
“Barisan 28 bintang ini hanya menurut perubahan ‘panca-buta’ (lima macam unsur, yaitu api, air, bumi hawa dan eter) saja, tetapi harus dipimpin lima jagoan tinggi. Kini kita sudah punya empat orang untuk empat jurusan: timur, selatan, utara dan tengah, tapi barat, Se-tok Auyang Hong sudah mati dan tiada penggantinya, apa lagi Lo-wan-tong terluka. Kalau ada Yo Ko di sini, orang ini cerdik pandai, ilmu silatnya tidak di bawah mendiang Auyang Hong, tetapi kini ke mana harus mencarinya? Pemimpin untuk jurusan barat ini sungguh membikin aku rada ragu-ragu.”
Mendengar nama Yo Ko disebut, Kwe Ceng lantas memandang jauh ke utara melampaui panggung tinggi musuh itu dan bergumam:
“Ya, mati atau hidupkah Ko-ji sekarang benar-benar bikin orang sangat berkuatir.”
********
Memang aneh benar. Katanya Kwe Siang bertemu Yo Ko di dasar jurang, tetapi mengapa rombongan Oey Yong tidak menemukannya? Sebab apa dalam waktu tiada satu hari Yo Ko menghilang tanpa bekas?
Kiranya saking berduka dan putus asa takkan berjumpa dengan Siao-liong-li, Yo Ko terjun ke dalam jurang dengan anggapan tubuhnya hancur lebur.
Tak terduga sesudah lama melayang ke bawah, akhirnya terdengar suara yang keras.
“Plungg...!” tubuhnya tercemplung masuk kolam air.
Betapa tinggi ia terjun dari atas, dengan sendirinya daya tekanan itu amat kerasnya, maka ia tenggelam lurus ke bawah entah berapa dalamnya. Mendadak matanya terbeliak, lapat-lapat seperti dilihatnya ada sebuah goa air. Pada saat ia hendak menegasi, daya tolak air kolam yang keras luar biasa telah mengapungkan tubuhnya ke atas lagi, pada saat itulah Kwe Siang pun ikut kecemplung ke dalam kolam.
Karena kejadian aneh yang susul menyusul itu, maka tanpa pikir Yo Ko menunggu Kwe Siang mengambang ke atas air, lantas menyeretnya ke pinggir serta menanyai:
“Adik cilik, kenapa kau terjatuh ke bawah sini?”
“Melihat kau terjun, aku lantas ikut terjun ke sini,” sahut Kwe Siang.
“Tobat! Ampun!” kata Yo Ko geleng-geleng kepala, “Apakah kau tidak takut mati?”
“Kau tidak takut mati, aku pun tidak takut,” sahut Kwe Siang pula dengan tersenyum.
Hati Yo Ko jadi tergerak, pikirnya diam2: “Apakah mungkin pada usia semuda ini ternyata sudah mendalam cintanya kepadaku?” Berpikir demikian, tanpa merasa kedua tangannya rada gemetar.
Tiba-tiba Kwe Siang mengeluarkan sebuah jarum emas, dia angsurkan kepada Yo Ko dan bertanya:
“Toakoko, dahulu waktu kau memberikan tiga jarum padaku, kau bilang setiap jarum ini berlaku bagiku untuk mengajukan satu permintaan padamu dan engkau pasti tak akan menolak. Kini aku memohon padamu: Tidak peduli apakah Liong-cici dapat bertemu kembali denganmu atau tidak, janganlah sekali-sekali kau mencari pikiran pendek.”
“Apakah jauh-jauh kau datang dari Siang-yang, perlunya melulu untuk memohon hal ini padaku?” tanya Yo Ko dengan suara terputus-putus sambil memandangi jarum emas itu.
“Ya, benar,” sahut Kwe Siang dengan penuh girang, “lelaki sejati sekali berkata harus bisa dipercaya, apa yang kau pernah sanggupkan padaku, jangan kau mungkir janji.”
Yo Ko menghela napas panjang sekali. Seorang hidup ingin mati, tetapi dari mati kembali hidup melalui suatu proses tertentu, betapa pun tadinya dia berkeras ingin mati, tidaklah mungkin untuk sekali lagi mencari mati, hal ini adalah kelaziman manusia tanpa kecuali.
Kini demi dilihatnya sekujur badan Kwe Siang basah kuyup, kedinginan sehingga giginya gemertak saling beradu, tapi rasa girang pada wajahnya tak tertutup oleh semua itu, lekas Yo Ko mengumpulkan kayu kering hendak menyalakan api. Tapi ketikan api yang mereka bawa sudah ikut basah semua, tidak bisa digunakan lagi, terpaksa dia berkata:
“Adik cilik, kau latihan Lwekang dulu dua kali, supaya hawa dingin tidak menyerang badanmu hingga menimbulkan sakit.”
“Marilah kita berdua berlatih semua,” sahut Kwe Siang.
Lalu mereka pun duduk berendeng menjalankan darah dan mengatur napas. Sejak kecil Yo Ko sudah digembleng tidur di atas batu kemala dingin di dalam kuburan kuno di Cong-lam-san itu, maka sedikit hawa dingin ini bukan apa-apa baginya. Dia mengulurkan tangan lalu memegang punggung Kwe Siang, maka mengalir hawa hangat melalui ‘Sin-tong-hiat’ di punggung anak dara itu dan perlahan-lahan merata ke seluruh tubuhnya.
Tidak lama kemudian Kwe Siang merasa seluruh badannya hangat kembali bahkan lebih segar. Lalu Yo Ko tanya untuk apa anak dara itu datang pula ke Coat-ceng kok. Dengan terus terang Kwe Siang lantas menceritakan pengalamannya.
Yo Ko menjadi gusar, katanya: “Kim-lun Hoat-ong ini benar-benar jahat. Marilah kita cari jalan naik ke atas, biar kakak hajar dia hingga setengah mati.”
Pada saat mereka bicara itulah tiba-tiba dari atas jatuh seekor burung raksasa ke dalam kolam, itulah rajawali jantan. Keruan Kwe Siang terkejut, lekas-lekas mereka memeriksa rajawali itu yang ternyata terluka amat parah.
Tak lama kemudian menyusul rajawali betina turun ke bawah dan membawa yang jantan ke atas. Ketika untuk kedua kalinya turun kembali, Yo Ko mendukung Kwe Siang ke atas punggung binatang itu. Dia sangka tentu rajawali itu akan turun pula untuk menjemputnya, siapa tahu ditunggu hingga lama sekali masih tiada sesuatu suara.
Sudah tentu tak diketahuinya bahwa saat itu rajawali betina sudah mati menumbukkan diri pada batu cadas menyusul rajawali yang jantan.
Menunggu hingga lama dan rajawali betina itu tetap tidak datang, lalu Yo Ko memeriksa keadaan sekitar kolam itu. Tiba-tiba saja dilihatnya di atas pohon-pohon besar ber-jajar2 beberapa puluh sarang tawon, sarang tawon ini berlipat ganda besarnya dari pada sarang tawon biasa, pula tawon2 yang meng-aum2 berseliweran itu ternyata adalah jenis tawon putih yang dulu biasa dipiara Siao-liong-li di kuburan kuno itu.
Tanpa terasa Yo Ko berseru terkejut dan seketika itu pula terpaku di tempatnya. Selang agak lama barulah ia mendekati sarang tawon itu, ia lihat di pinggir sarang tawon terpoles tanah liat, terang buatan manusia, lapat-lapat dikenalinya sebagai karya Siao-liong-li.
Yo Ko tenangkan semangatnya, dia pikir: “Jangan-jangan dahulu ketika Liong-ji terjun ke bawah sini, lalu ia bertempat tinggal di sini?”
Tetapi ketika ia periksa sekitarnya, tempat ini melulu dinding tebing curam bagai di dasar sebuah sumur saja, di atas penuh kabut putih yang menutupi sinar matahari.
Yo Ko coba ketok2 dan mencari sesuatu tanda pada dinding bata itu, tetapi tiada sesuatu yang mencurigakan, hanya ada beberapa pohon yang kulitnya seperti pernah dikeletek orang, juga ada tetumbuhan seperti pernah dicangkok ke tempat lain.
Sesaat itu rasa suka duka berkecamuk memenuhi benaknya, hatinya berdebar-debar. Kini ia yakin bahwa Siao-liong-li pun pernah tinggal di sini, cuma telah lewat 16 tahun lamanya, sampai hari ini apakah orangnya masih sehat walafiat, siapa yang tahu?
Biasanya Yo Ko tidak percaya setan malaikat segala, tapi dalam cemasnya ia berlutut dan komat-kamit berdoa:
“Thian yang maha kasih, berkahilah aku untuk bertemu sekali lagi dengan Liong-ji.”
Sesudah berdoa, Yo Ko mencari lagi sebentar, namun tetap tidak ditemukan sesuatu. Dia duduk di atas pohon dan berpikir: “Apa bila Liong-ji sudah mati, seharusnya tertinggal juga kerangka tulangnya di sini, kecuali kalau tulangnya tenggelam di dalam kolam.”
Berpikir sampai di sini, mendadak dia melompat turun, dia menggumam: “Betapa pun juga pasti akan kuselidiki sehingga segalanya jadi jelas. Sebelum melihat tulang-belulangnya, hatiku belum lega.”
Segera dia terjun ke dalam kolam terus menyelinap ke dasarnya. Makin dalam makin dingin rasanya di bawah kolam itu. Biar pun Yo Ko tidak takut dingin, tapi daya tolak air di bagian bawah terlalu kuat, walau pun beberapa kali Yo Ko berusaha menerjang ke bawah, tapi tetap tak bisa mencapai dasarnya, sedangkan napasnya sudah semakin memburu. Terpaksa dia apungkan diri ke atas, setelah merangkul sepotong batu besar, kembali dia terjun pula ke dalam kolam.
Sekali ini orangnya berikut batunya terus tenggelam dengan cepat. Tiba2 pandangannya terbeliak, pikiran Yo Ko tergerak, lekas-lekas ia menyelidiki ke arah yang terang. Tiba-tiba terasa pusar air yang menggulung tubuhnya terus terhanyut dengan ketatnya, ternyata di tempat yang terang itu memang ada sebuah goa.
Yo Ko melepaskan batu besar yang dirangkulnya itu, segera ia menyelam menuju goa itu dan ternyata goa itu menembus miring ke atas. Yo Ko cepat mengapungkan diri mengikuti lorong goa itu dan selang sejenak, tahu-tahu kepalanya sudah muncul ke permukaan air. Cahaya matahari menyorot dengan terangnya, bunga semerbak mewangi, ternyata di situ terdapat suatu ‘dunia luar’.
Dia tidak lantas mendarat, dia melihat sekitarnya pemandangan menghijau permai, bunga mekar menarik, tempat itu seperti sebuah taman bunga yang besar, namun di sekitarnya tiada suatu bayangan orang pun.
Girang dan kejut Yo Ko. Ia cepat melompat keluar air, kemudian terlihat olehnya di tempat sejauh beberapa puluh tombak sana terdapat beberapa buah rumah petak.
Yo Ko berlari ke sana, tetapi mendadak ia berhenti pula, lalu selangkah demi selangkah ia mendekati rumah-rumah petak itu, dalam hati ia pikir: “Jika dalam rumah-rumah petak ini tetap tidak diperoleh beritanya Liong-ji, lalu bagaimana baiknya?”
Makin dekat dengan rumah-rumah itu, jalannya makin lambat, dalam hati dia kuatir kalau-kalau harapannya yang terakhir ini pun akan buyar. Akhirnya sampai juga di depan rumah petak, waktu ia dengarkan sekitarnya, sunyi senyap, tiada suara orang, tiada berkicaunya burung, hanya suara mendengungnya tawon yang perlahan.
Dengan menabahkan diri, Yo Ko lantas menegur beberapa kali, namun tiada jawaban dari rumah itu. Perlahan Yo Ko dorong daun pintu rumah, maka terpentanglah pintu itu dengan mengeluarkan suara kriat-kriut.
Ketika Yo Ko melangkah masuk, baru sekilas saja ia memandang ke dalam, tak tahan lagi sekujur badannya mendadak tergetar. Ia lihat keadaan di dalam rumah sangat sederhana, tetapi rajin dan resik luar biasa.
Di tengah ruangan hanya sebuah meja dua sebuah kursi, lain tidak. Tapi letak meja kursi itu ternyata sudah amat dikenalnya, serupa benar dengan keadaan meja kursi di ruangan batu dalam kuburan kuno.
Tanpa pikir Yo Ko berjalan membelok ke kanan. Betul saja, di sana adalah sebuah kamar. Lewat kamar ini ada lagi sebuah kamar yang berukuran lebih ‘besar’, sebagian meja-kursi dan pembaringan di dalam kamar ini sama saja seperti apa yang terdapat di kamar tidur Yo Ko di kuburan kuno dulu, cuma perabot rumah di kuburan kuno itu seluruhnya terbuat dari batu, sedangkan yang di sini terbikin dari kayu.
Setelah masuk ke dalam kamar itu, sambil me-raba2 alat-alat perabot kamar itu, air mata Yo Ko telah mengembeng, malah tak dapat ditahan lagi, air matanya meleleh membasahi pipinya.
Mendadak terasa sebuah tangan yang halus lemas per-lahan2 membelai rambutnya, lalu suatu suara lemah lembut telah bertanya padanya:
“Ko-ji, urusan apakah yang membuat kau sedih?”
Suara itu, lagunya, cara membelai rambutnya, seluruhnya mirip benar dengan cara Siao-liong-li dahulu bila mana sedang menghiburnya, Mendadak Yo Ko membalik tubuh, maka tertampaklah di depannya berdiri seorang perempuan berbaju putih, kulit badannya putih bagai salju, mukanya cantik bagai bunga sedang mekar, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li yang dirindukannya siang dan malam selama 16 tahun ini?
Kedua orang saling menjublek sekian saat, lalu sama-sama berseru perlahan terus saling rangkul. Sungguh-sungguh atau mimpikah ini? Benar-benar ataukah khayalan? Yang jelas rasa rindu selama 16 tahun ini seketika itu tak bisa diutarakan seluruhnya!
Lewat agak lama barulah Yo Ko berkata: “Liong-ji, wajahmu masih tetap cantik molek, tapi aku sudah tua.”
“Tidak, kau tidak tua,” sahut Siao-liong-li dengan pandangan penuh arti. “Tapi aku punya Ko-ji kini sudah dewasa.”
Sebenarnya umur Siao-liong-li banyak lebih tua dari pada Yo Ko, tetapi semenjak kecil ia sudah berdiam di Ko-bong atau kuburan kuno dan belajar Lwekang dari gurunya, segala cita rasa dan napsu sudah dihilangnya jauh-jauh. Sebaliknya semenjak kecil Yo Ko sudah kenyang menderita dan banyak berduka, maka pada saat keduanya kawin, wajah mereka tampaknya sepadan.
Dan sesudah menikah hingga berpisah selama 16 tahun, Yo Ko merana dan merantau ke mana-mana, siksaan batin itulah yang membikin rambut di kedua pelipisnya sudah mulai memutih. Sebaliknya Siao-liong-li yang tinggal di tengah jurang, sungguh pun tidak kurang derita rindunya, tapi latihan selama berpuluh tahun di masa kecilnya itu tidaklah percuma, malah ia kembali melatih Lwekang ajaran gurunya dulu, tidak banyak berpikir dan sedikit urusan, seorang diri tinggal di dalam jurang rasanya juga tidak begitu sunyi. Kini mereka bersua kembali, Yo Ko malahan tampaknya lebih tua.
Sudah 16 tahun Siao-liong-li tidak berbicara, sekarang meski hatinya sangat girang, tetapi rasanya menjadi tidak lancar hendak bercakap-cakap. Namun bicara pun tidak perlu buat mereka, hanya saling pandang saja sambil tersenyum penuh arti, sampai akhirnya Yo Ko menarik tangan Siao-liong-li dan diajaknya keluar.
“Liong-ji, alangkah girangku!” kata Yo Ko kemudian. Mendadak ia jumpalitan beberapa kali bagai anak kecil.
Memang pada waktu kecilnya Yo Ko suka berjumpalitan seperti ini dan Siao-liong-li suka menggunakan tangannya untuk mengusap keringat pada jidatnya. Kini tanpa terasa ia pun keluarkan sapu tangan mengusap beberapa kali di jidat Yo Ko, walau pun sebenarnya Yo Ko tidak berkeringat sama sekali.
Waktu Yo Ko periksa sapu tangan itu, dia lihat terbuat dari serat kulit pohon yang kasar, karena itu dapatlah ia membayangkan betapa menderitanya Siao-liong-li hidup selama 16 tahun di lembah terasing ini. Dia menjadi terharu, dia mem-belai2 rambut Siao-liong-li dan berkata:
“Liong-ji, sungguh menderita sekali kau selama 16 tahun ini.”
Siao-liong-li menghela napas, sahutnya. “Jika aku tidak dibesarkan di dalam kuburan kuno itu, selama 16 tahun ini pasti tidak sanggup bertahan.”
Apa yang dikatakan Siao-liong-li ini memang benar. Kalau umpamanya Yo Ko yang harus tinggal seorang diri di lembah sunyi ini, sekali pun ilmu silatnya tinggi tidak nanti sanggup hidup sendiri selama 2-3 tahun.
Harus diketahui sejak kecil Siao-liong-li dibesarkan di dalam istana kuburan kuno, meski pun mula-mula ada Suhu dan Sun-popo yang merawatnya, dan kemudian berkawankan Yo Ko, tetapi dia sudah biasa hidup bebas sendirian, sedikit sekali bersandar pada orang lain. Dan karena hidup sepi dalam waktu panjang itulah dia mampu bertahan melewatkan penghidupan yang tak mungkin ditahan oleh orang lain.
Begitulah mereka berdua duduk berendeng di atas batu besar sambil saling mengutarakan rasa rindu selama ini.
********
Dahulu waktu mengetahui Siao-liong-li terlampau mendalam terkena racun hingga sukar disembuhkan lagi, Yo Ko menjadi putus asa, ia pun tak ingin hidup lagi tanpa Siao-liong-li. Meski pun ia sendiri juga terkena racun Coat-hoa atau bunga cinta, ia sengaja membuang separoh obat pil ‘Coat-ceng-tan’ yang bisa menyembuhkan racun yang diidapnya.
Melihat itu, malamnya Siao-liong-li tidak bisa tidur. Dia pikir pergi datang, dia tahu kecuali dia sendiri mati dulu untuk melenyapkan harapan Yo Ko, maka barulah ada kemungkinan untuk menyembuhkan racun Ceng-hoa di dalam badannya.
Tapi kalau dia perlihatkan tanda membunuh diri, itu berarti mempercepat kematian Yo Ko juga. Dia berpikir terus hingga jauh malam, akhirnya dia mengukir beberapa baris huruf itu di tebing karang Toan-jong-khe, ia sengaja menetapkan janji pertemuan kembali sesudah 16 tahun lagi, habis itu barulah ia terjun ke dalam jurang untuk membunuh diri.
“Mengapa kau menjanjikan 16 tahun? Jika kau berjanji 8 tahun saja, bukankah kita akan bertemu kembali lebih cepat 8 tahun?” tanya Yo Ko gegetun.
“Aku tahu cintamu padaku terlalu mendalam, kalau melulu 8 tahun yang singkat itu, pasti takkan padamkan watakmu yang kesap seperti api,” sahut Siao-liong-li. “Aih, siapa nyana meski sudah 16 tahun, akhirnya kau tetap terjun kemari.”
“Ya, itulah tandanya lebih baik orang memiliki cinta murni,” ujar Yo Ko tertawa. “Umpama rasa rinduku kepadamu menjadi dingin, paling banyak aku menangis di atas karang, lalu pergi, dengan begitu kita menjadi takkan bertemu lagi untuk selama-lamanya.”
Siao-liong-li menghela napas panjang oleh nasib mereka yang di luar dugaan ini.
Mereka terdiam agak lama, kemudian Yo Ko bertanya pula: “Dan sesudah kau terjun ke dalam kolam ini, lantas bagaimana?”
“Dalam keadaan antara sadar tak sadar aku jatuh ke dalam kolam, ketika mengapung ke atas lantas terbawa oleh pusaran air masuk goa es itu dan terhanyut sampai di sini. Sejak itu aku lantas hidup sendirian,” tutur Siao-liong-li. “Di sini tiada burung mau pun binatang, tapi di dalam kolam itu tidak sedikit terdapat ikan, juga buah2an di sekitar sini tidak pernah habis, cuma tiada kain, maka terpaksa harus mengupas kulit pohon untuk ditenun menjadi baju.”
“Ketika itu bukankah kau terkena racun Peng-pek-gin-ciam’ dan racunnya telah meresap? Di dunia ini tiada obat yang bisa menyembuhkan lagi, tetapi mengapa bisa menjadi baik di dasar lembah ini?” tanya Yo Ko.
“Waktu aku sampai di sini, beberapa hari kemudian racun di dalam badan lantas bekerja hebat, seluruh tubuh se-olah2 dibakar, kepala sakit hendak pecah, rasanya tak tahan lagi. Akan tetapi aku lantas teringat waktu malam pernikahan kita di kuburan kuno itu kau telah mengajarkan cara duduk di ranjang kemala dingin untuk menjalankan aliran darah secara terbalik. Meski tidak dapat menolak keluar racun, tapi rasa menderita banyak berkurang,” demikian tutur Siao-liong-li.
“Tetapi di sini tiada ranjang kemala dingin, yang ada hanyalah es beku yang entah berapa tuanya di dasar kolam air itu. Aku lalu menyelam kembali ke dasar kolam dan masuk goa es itu, aku berdiam sebentar di sana.
Kadang2 aku pun datang ke tepi kolam ketika terjatuh mula-mula itu, aku menengadah ke atas dengan harapan bisa memperoleh sedikit kabarmu. Pada suatu hari, tiba-tiba kulihat beberapa ekor tawon terbang turun menembus kabut yang menutupi permukaan jurang itu, terang itulah tawon tinggalan Lo-wan-tong yang dibawanya main-main ke Coat-ceng-kok itu. Aku menjadi tertarik, segera aku buatkan sarang dan memeliharanya.
BeIakangan semakin banyak tawon yang datang dan setiap kali aku minum madu tawon yang aku unduh, rasa sakit badanku lantas banyak berkurang, sungguh tak nyana khasiat madu tawon ini ternyata sangat mujarab untuk memunahkan racun.
Begitulah aku minum madu tawon dalam jangka panjang, kumatnya racun di dalam badan juga berkurang. Mula-mula setiap hari kumat, lalu beberapa hari kumat sekali, kemudian hingga beberapa bulan sekali, paling akhir selama 5-6 tahun ini, satu kali saja tak pernah kumat lagi, agaknya sudah sembuh.”
“Ah, itulah tandanya orang berhati baik tentu dibalas baik pula,” ujar Yo Ko senang. “Coba kalau dahulu kau tidak hadiahkan tawon kepada Lo-wan-tong dan ia tak membawanya ke Coat-ceng-kok, tentu penyakitmu pun takkan bisa sembuh.”
“Dan sesudah penyakitku sembuh...” demikian Siao-liong-li melanjutkan, “aku jadi sangat rindu padamu, tetapi sekeliling jurang itu tingginya beratus tombak dan terdiri dari dinding2 tebing yang curam, cara bagaimana bisa naik ke atas? Maka dengan duri bunga aku lalu menisik enam huruf ‘Aku berada di dasar Coat-ceng-kok’ di atas sayap tawon putih itu dengan harapan sesudah tawon itu terbang ke atas akan diketemukan orang.
Selama beberapa tahun ini telah beribu ekor tawon yang kutisik tulisan di atas sayapnya, tapi tetap tiada kabar berita yang dibawanya kembali, makin lama aku semakin putus asa, aku merasa hidup ini takkan bisa melihat kau lagi.”
“Ahh, kalau begitu aku pun terlampau ceroboh,” seru Yo Ko mendadak sambil tepuk paha penuh menyesal. “Setiap kali kudatangi Coat-ceng-kok ini, selalu aku melihat tawon putih, tetapi selamanya tak pernah menangkap seekor pun untuk diperiksa.”
“Sesungguhnya hal itu pun timbul dari pikiranku yang sudah kehabisan akal,” sahut Siao-liong-li tersenyum. “Padahal siapa bisa menduga bahwa di atas badan binatang sekecil itu tertisik tulisan? Tulisan itu demikian lembut, sekali pun beratus tawon itu terbang lewat di depan matamu juga takkan kau perhatikan. Harapanku hanya kalau-kalau kebetulan ada seekor tawon itu masuk jaring lahan2 dan Thian menaruh belas kasihan sehingga dapat kau lihat lalu menolongnya, ketika itu tentu tulisan di atas sayapnya akan bisa kau baca.”
Ia tidak tahu bahwa tulisan di sayap tawon itu akhirnya dapat diketahui oleh Ciu Pek-teng yang suka main-main piara tawon itu dan arti tulisan itu kena diterka oleh Oey Yong yang kecerdasannya melebihi orang biasa.
Begitulah, setelah lama bercakap-cakap akhirnya menjadi lapar, Siao-liong-li mengajaknya masuk rumah dan menyuguhkan senampan ikan, ada pula buah2an dan madu tawon.
Sesudah kenyang makan barulah ganti Yo Ko yang menceritakan pengalamannya selama 16 tahun ini. Siao-liong-li sendiri biasanya tidak banyak menghiraukan soal2 keduniawian, yang diharap asalkan dia bisa bertemu kembali dengan Yo Ko maka rasanya sudah puas, maka sekali pun cerita Yo Ko itu kadang-kadang mengenai kejadian aneh dan hal-hal lain yang mendebarkan hati, paling-paling Siao-liong-li hanya tersenyum saja, cerita2 itu bagai angin lalu saja di samping telinganya. Sebaliknya Yo Ko terus menerus bertanya tentang segala sesuatu selama Siao-liong-li tinggal di dasar jurang ini.
Sepanjang malam mereka pasang omong hingga hari sudah hampir pagi barulah mereka tidur.
BARISAN 28 BINTANG-BINTANG
Waktu mendusin, hari sudah lewat lohor. Yo Ko berkata: “Liong-ji, kita akan hidup sempai tua di sini atau berdaya kembali ke dunia fana di atas sana!”
Menurut pendapat Siao-liong-li, ia lebih suka hidup aman tenteram dengan Yo Ko di jurang ini. Tapi Yo Ko suka keramaian, betapa pun cintanya kepada Siao-liong-li, tetap tak biasa hidup sunyi terpencil.
Maka Yo Ko berkata pula: “Lebih baik kita berusaha naik saja, kalau di atas sana ternyata tidak menyenangkan nanti kita bisa kembali ke sini lagi, cuma... cuma untuk naik ke atas kiranya sangatlah sulit.”
Dia menyelam lagi ke tepi kolam melalui goa es itu, maka tertampaklah dari atas menjulur seutas tambang yang amat panjang, juga di tepi kolam terdapat bekas-bekas kaki orang, malah ada segunduk api unggun yang apinya masih belum sirap sama sekali.
“Ah, ada orang datang mencari kita, malahan sudah menyelam ke dalam kolam,” kata Yo Ko.
Ia mengitari tepi kolam itu, tiba-tiba dilihatnya ada batang pohon besar terdapat ukiran dua baris tulisan yang berbunyi: ‘It-teng, Pek-thong, Eng-koh, Yong, Eng, Bu-siang, datang ke sini mencari Yo Ko, tetapi tidak ketemu dan pulang dengan masgul’.
Yo Ko sangat terharu, katanya: “Ternyata mereka tak pernah melupakan diriku!”
“Ya siapa pun tiada yang lupa padamu,” ujar Siao-liong-li
“Mereka telah melorot ke bawah sini dengan tambang panjang ini, meski telah menyelam, tapi karena tidak meloncat dari tempat setinggi ratusan tombak maka daya tenggelamnya tidak dalam sehingga goa es itu tak mereka lihat,” kata Yo Ko. “Coba kalau aku pun turun dengan memakai tambang, tentu takkan dapat menemukan kau.”
“Ya, makanya aku bilang segala apa memang sudah takdir,” sahut Siao-liong-li.
“Tidak, ini namanya di mana ada kemauan, batu pun akan luluh karenanya,” kata Yo Ko.
Lalu ia mencoba menarik tambang itu dan ternyata sangat kuat, maka katanya pula: “Biar aku naik dulu, entah Kim-lun Hoat-ong itu masih di atas tidak. Tetapi kalau It-teng Taysu dan Lo-wan-tong sudah ke situ, agaknya Hoat-ong sudah kabur pergi.”
Sesudah ini dia bertanya lagi: “Liong-ji, ilmu silatmu telantar tidak? Kalau kau tidak dapat memanjat, biar kupanggul kau.”
“Meski pun selama 16 tahun tiada kemajuan, tapi apa yang dulu kupelajari rasanya masih tetap,” sahut Siao-liong-li.
Yo Ko berpaling sambil tertawa, lalu dia pegang tambang panjang itu, sedikit dia gunakan tenaga, cepat dia melompat ke atas lebih satu tombak tingginya. Meski lengannya tinggal sebelah, tapi dibantu kedua kakinya, tidak lama kemudian dia telah memanjat sampai di atas jurang. Menyusul Siao-liong-li pun merambat naik dengan tali tambang itu.
Kedua orang berdiri sejajar di depan karang Toan-jong-khe sambil memandangi dua baris tuIisan yang dahulu diukir Siao-liong-li di dinding batu itu, sungguh mereka merasa seperti baru hidup kembali.
Mereka tertawa saling pandang, betapa suka ria hati mereka ketika itu, rasa penderitaan selama 16 tahun ini sudah buyar seluruhnya bagai asap tertiup angin.
Yo Ko memetik setangkai bunga merah ‘Liong-li-hoa’ lantas disuntingkan pada sanggul Siao-liong-li. Bunga merah di atas kulit badan yang putih, seketika sukar diketahui apakah bunga merah itu yang menambah kecantikan orangnya ataukah wajah orang yang cantik itu yang menambah keindahan bunganya.....?
********
Kembali berceritera tentang Kim-lun Hoat-ong yang membangun sebuah panggung tinggi di luar benteng Siang-yang dan hendak membakar Kwe Siang untuk memaksa Kwe Ceng takluk kepada pihak Mongol, sementara Oey Yok-su bilang akan mengatur suatu ‘barisan 28 bintang-bintang’ untuk menempur musuh.
Kwe Ceng sudah melaporkan hal itu kepada gubernur militer kota Lu Bun-hwan supaya memberi mandat, agar Oey Yok-su dapat mengatur siasat dan membagi tugas pada para perwira dan prajurit.
Tatkala itu para ksatria yang hadir sebagian besar sudah bubar, yang masih tinggal di situ seluruhnya adalah pahlawan-pahlawan yang berjiwa patriot, maka semuanya berkumpul di lapangan militer menunggu perintah.
“Mereka mengerahkan 40 ribu orang untuk mengepung panggung. Kalau kita pakai orang yang banyak, biar pun kita menang rasanya juga tidak mengherankan,” kata Oey Yok-su. “Maka kita pun hanya perlu 40 ribu orang, menurut Sun Cu, yang penting mahir mengatur, satu lawan satu, apa susahnya?”
Maka Oey Yok-su segera naik ke atas podium panglima, katanya pula: “Barisan bintang-bintang kita ini seluruhnya terbagi dalam lima kesatuan menurut hitungan panca-buta.”
Sesudah itu segera dia kumpulkan semua komandan pasukan, dia memberi petunjuk dan penjelasan seperlunya, katanya lagi: “Perubahan2 kita yang amat ruwet ini seketika sukar dipahami, tetapi pertempuran hari ini harus dipimpin oleh lima tokoh silat terkemuka yang paham tentang perubahan panca-buta, komandan pasukan harus menurut petunjuk kelima pemimpin dan menjalankan perintahnya.”
Maka pergilah para komandan pasukan itu dengan menerima perintah itu.
Kemudian Oey Yok-su mulai membagi tugas, katanya: “Kesatuan tengah tergolong bumi, dipimpin oleh Kwe Ceng dengan jumlah prajurit 8000 orang. Pasukan ini harus mengarah bagian tengah musuh, tujuannya menolong Kwe Siang, tidak perlu harus menghancurkan musuh. Setiap prajurit membawa kantong berisi pasir, begitu menyerbu sampai di bawah panggung, segera gunakan pasir untuk menyirapkan api yang berkobar untuk menolong anak dara di atas panggung itu.”
Kwe Ceng menerima tugas itu dan berdiri ke samping.
“Dan kesatuan jurusan selatan tergolong api,” demikian Oey Yok-su melanjutkan. “Harap It-teng Taysu yang memimpin 8000 orang. Pasukan ini yang 1000 orang akan melindungi pimpinan, 7000 orang lainnya terbagi menjadi tujuh regu, masing-masing dipimpin oleh Cu Cu-liu, Bu Sam-thong, Su-sui Hi-un, Bu Tun-si dan Bu Siu-bun serta kedua isteri mereka, Yalu Yen dan Wanyen Peng.”
It-teng Taysu beserta Cu Cu-liu dan lainnya juga menerima perintah itu lalu pergi mengatur tentaranya masing-masing.
Lalu Oey Yok-su berkata pula: “Barisan utara tergolong air, di bawah pimpinan Oey Yong dengan 8000 orang. 1000 orang di antaranya mengawal pimpinan, sedangkan 7000 orang lainnya terbagi di bawah Yalu Ce, Nio-tianglo, Kwe Hu dan para Tianglo lainnya dari Kay-pang.”
Oey Yong pun langsung menerima perintah itu dengan baik. Kesatuan ini terdiri dari anak murid Kay-pang sebagai kekuatan inti, rata2 orangnya memiliki kepandaian tinggi.
Sesudah membagi ketiga kesatuan tadi, kemudian Oey Yok-su meneruskan. “Dan jurusan timur tergolong hawa, kesatuan ini biar aku Tang-sia Oey Yok-su sendiri yang memimpin, jumlah orangnya juga 8000.”
Semua orang pikir, jurusan timur dipimpin Tang-sia, Lam-te mengepalai selatan, sedang anak murid Pak-kay menduduki utara. Kwe Ceng adalah panglima pusat, memangnya dia juga murid keturunan Ong Tiong-yang, cara mengatur Oey Yok-su itu memang tepat. Tapi masih ada jurusan barat, gerangan siapakah yang akan mengepalai jurusan ini?
Sementara terdengar Oey Yok-su sudah berkata pula: “Dan jurusan barat akan dipimpin oleh pejabat ketua Coan-cin-kau, Li Ci-siang.”
Mendengar ini, semua orang merasa baik mengenai kepandaian mau pun tenarnya nama, pimpinan jurusan ini jauh lebih lemah dari pada yang lain-lain.
Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berteriak: “Hai, Oey-Iosia, kenapa kau jadi lupa padaku?”
Waktu dipandang, kiranya yang bersuara itu adalah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong.
“Ciu-heng,” sahut Yok-su, lukamu belum sembuh, belum dapat bekerja berat, sebenarnya jurusan barat ini harus kau pimpin, tapi...”
“Ah, hanya luka kecil saja, kenapa harus dipikirkan?” sahut Pek-thong cepat. “Biarlah aku memimpin jurusan barat itu saja. He, Ci-siang, apa kau berani berebut dengan aku?”
“Tecu tidak berani,” sahut Li Ci-siang sambil memberi hormat.
“Memang aku sudah tahu kau takkan berani” ujar Pek-thong tertawa. Habis itu segera dia ambil panah tanda tugas dari tangan Li Ci-siang.
Terpaksa kata Oey Yok-su kemudian: “Jika begitu hendaklah Ciu-heng suka berhati-hati. Engkau pun memimpin 8000 orang, 1000 di antaranya harap Eng-koh suka memimpinnya untuk mengawal kau, tujuh regu lainnya biar dipimpin masing-masing oleh Li Ci-siang dan anak murid Coan-cin-kau yang lain.”
Setelah membagi tugas, kemudian Oey Yok-su memerintahkan semua prajurit menerima perlengkapan seperlunya di gudang. Kemudian, setelah bendera kebesarannya memberi tanda, 40 ribu orang lantas terbagi dalam 5 jurusan timur, barat, utara selatan dan tengah.
Dengan suara lantang dia memberi petuah agar prajurit-prajurit itu bertempur mati-matian menghancurkan musuh. Segera anjuran itu disambut dengan sorak-sorai yang gemuruh penuh semangat. Sesudah meriam berdentum tiga kali, empat pintu benteng terbuka, lima pasukan itu lantas keluar berbareng.
Perubahan barisan bintang-bintang ini ternyata aneh luar biasa. Pasukan timur itu setiap orangnya menggendong sepotong kayu cagak yang panjang, sesudah menyerbu hingga mendekati sebelah timur panggung, 1000 prajuritnya lantas mempergunakan perisai untuk menahan panah musuh, sedangkan 7000 orang lainnya segera menggunakan cagak kayu untuk dipasang di sana sesuai petunjuk Oey Yok-su yang sudah mengaturnya menurut perhitungan Pat-kwa dan panca-buta, maka sekejap saja bagian timur panggung itu sudah tertutup.
Pasukan jurusan barat berintikan anak murid Coan-cin-kau. Para Tosu itu memang sudah paham tentang barisan bintang-bintang, maka terlihatlah sinar pedang gemerlapan hingga terpaksa prajurit MongoI menghamburkan panah untuk mencegah lajunya.
Mendadak terdengar suara teriakan bergemuruh dari bagian utara. Itulah Oey Yong yang memimpin anak-anak murid Kay-pang dengan membawa banyak sekali pipa air dan terus menyemprotkan air berbisa ke tubuh prajurit musuh.
Racun air yang disemprotkan itu ternyata amat jahat, seketika tubuh yang terkena terasa sangat sakit, sebentar pun melepuh dan bernanah. Karena tidak tahan, prajurit Mongol lari tunggang langgang mundur ke selatan.
Tapi tiba-tiba terlihat bagian selatan asap mengepul tinggi. Kiranya It-teng Taysu bersama 8000 anak buahnya telah melakukan serangan dengan api, memakai sebangsa belerang dan bahan2 lainnya yang mudah terbakar. Api menyembur terus dari bumbung besi yang khusus mereka bawa.
Melihat gelagat jelek, segera prajurit Mongol mundur ke bagian tengah.
Namun Kwe Ceng sudah siap, ia pimpin delapan ribu orangnya dan maju perlahan. Ketika dilihatnya keadaan pasukan musuh kacau, segera ia kerahkan pasukannya menerjang ke tengah menuju ke panggung.
Pada saat itulah mendadak terdengar di samping panggung itu suara tiupan tanduk, sekali berteriak dari dalam parit yang sengaja digali itu menongol keluar berpuluh ribu topi baja.
Kiranya pimpinan pihak Mongol juga pandai mengatur siasat, kecuali di sekitar panggung jelas kelihatan 40 ribu orang, namun di dalam tanah galian itu bersembunyi lagi beberapa puluh ribu prajurit Iain.
Dari jauh Kwe Ceng menyangka itu hanya parit biasa yang digali musuh, siapa tahu justru di situlah tersembunyi kekuatan cadangan musuh.
Karena itulah terdesaknya pasukan Mongol tadi segera berubah. Meski barisan bintang-bintang itu dapat menerjang kacau pasukan musuh, tapi jika hendak membasminya jelas tak bisa lagi.
Maka terdengarlah genderang dipukul dengan kerasnya, pasukan Song dan Mongol telah saling tempur, sementara pasukan penjaga di samping panggung lantas menghamburkan panah hingga beberapa kali Kwe Ceng terpaksa harus mundur kembali.
Setelah hampir satu jam kedua pihak bertempur dengan sengitnya, tiba-tiba Oey Yok-su mengibarkan bendera hijau, sekonyong-konyong pasukan sebelah timur ganti menyerang ke selatan, sedangkan pasukan barat menggempur ke utara. Karena perubahan barisan ini, kembali pasukan musuh menjadi kacau lagi.
Meski prajurit Song hanya 40 ribu orang, tapi pertama karena barisan bintang-bintang ini sangat hebat, kedua dipimpin oleh jago-jago silat terkemuka pada jaman ini, ketiga, setiap prajurit Song merasa berterima kasih pada Kwe Ceng suami-isteri, mereka bertekad akan menolong puteri kesayangannya. Oleh sebab itulah meski jumlah orang Mongol berlipat ganda namun tidak sanggup menahannya.
Setelah berlangsung agak lama, tiba-tiba saja Oey Yok-su bersiul panjang dan keras, lalu bendera isyarat mengebas beberapa kali, maka pasukan berpanji hijau mundur ke tengah, pasukan panji merah menuju ke sebelah barat, pasukan panji kuning berganti ke utara, pasukan panji putih menggempur bagian timur, pasukan panji hitam mengarah ke selatan. Kembali barisan berubah lagi!
Dari atas panggung Kim-lun Hoat-ong dapat menyaksikan pertempuran hebat di bawah panggung itu, dalam hati diam-diam dia terperanjat sekali. Pikirnya: “Sungguh tidak nyana di daerah Tionggoan ternyata terdapat orang kosen seperti ini, sejak sekarang tak berani lagi aku memandang sepele orang Tionggoan.”
Sementara itu dilihatnya prajurit2 Mongol yang mati atau luka makin lama makin banyak, pasukan panji kuning terus mendesak ke panggung itu, walau pun dia gunakan Kwe Siang sebagai sandera, tetapi toh tidak tega benar2 membakarnya.
Ia menoleh dan memandang anak dara itu. Dia lihat meski kedua kaki dan tangan terikat, tapi kepala anak dara mendongak, sikapnya gagah tak gentar sedikit pun.
“Kwe Siang cilik,” seru Hoat-ong. “Lekas kau minta ayahmu supaya menyerah, aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, jika ayahmu tidak mau takluk, segera aku memberi perintah membakarmu.”
“Apa kehendakmu boleh sesukamu. Jangankan hanya satu sampai sepuluh, kau boleh menghitung satu sampai seribu atau sejuta juga aku tak peduli,” sahut Kwe Siang dingin.
“Hm, apa kau kira aku tak berani membakar kau?” Hoat-ong menjadi gusar.
“Ha-ha-ha, sungguh kasihan kau ini,” jengek Kwe Siang tiba-tiba.
“Kasihan apa kau bilang?!” bentak Hoat-ong.
“Ya, sungguh kasihan. Sebab kau tak sanggup melawan ayahku, tak sanggup menandingi Gwakong-ku Oey-losia, tidak lebih unggul dari pada It-teng Taysu, juga tidak berani pada Toakoko-ku Yo Ko, paling-paling kau hanya mampu meringkus aku di sini,” demikian Kwe Siang mengolok-olok. “Caramu ini, biar pun seorang prajurit Siang-yang kami juga takkan sudi melakukan ini, Hoat-ong. Aku justru ingin menasehatkan kau.”
“Apa?! Nasihat?” seru Hoat-ong sengit
“Ya,” sahut Kwe Siang. “Manusia hidup seperti kau ini apa artinya? Lebih baik kau terjun ke bawah panggung dan membunuh diri saja!”
Kwe Siang tak pikirkan mati-hidupnya lagi. Semenjak kecil memang tajam kata-katanya, selamanya tak pernah kalah adu muIut, keruan kini Hoat-ong kewalahan, saking gusarnya serasa dadanya akan meledak.
“Wahai, dengarlah Kwe Ceng!” segera dia berteriak keras-keras. “Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apa bila kau masih belum mau takluk, segera aku perintahkan membakar panggung ini.”
“Boleh kau lihat apakah aku Kwe Ceng manusia yang suka takluk atau bukan!” sahut Kwe Ceng.
“Wahai, Kim-lun Hoat-ong!” tiba-tiba saja Oey Yok-su menyambung. “Kau salah menaksir musuh, inilah kebodohanmu. Kau menghina seorang dara cilik, ini namanya tidak berbudi. Kau tak berani bergebrak terang-terangan dengan kami untuk menentukan menang atau kalah, ini namanya tidak berani. Manusia yang tidak pintar, tidak berbudi, tiada keberanian tetapi masih berani kau bicara tentang pahlawan dan ksatria segala? Kau tertangkap oleh kami di Coat-ceng-kok, dan untuk menyelamatkan jiwamu kau sudah menyembah 27 kali kepada Kwe Siang cilik, kemudian kau diampuninya. Ha-ha, manusia yang takut mati dan tamak hidup macam kau ini ternyata masih ada muka untuk menjadi Koksu (imam negara MongoI) segala?”
Sesungguhnya tentang menyembah minta ampun kepada Kwe Siang segala tiada pernah terjadi, tapi Oey Yok-su sengaja gembar-gembor di hadapan umum, di tengah2 pasukan MongoI, agar Hoat-ong serba salah, hendak mendebat sulit, tidak mendebat juga salah.
Bangsa Mongol justru paling menghormati orang gagah berani dan memandang hina pada manusia pengecut. Kini mendengar gemboran Oey Yok-su itu, tanpa terasa banyak yang menengadah ke atas panggung dengan pandangan hina.
Oey Yok-su sudah berpikir panjang. Sebelum berangkat menyerbu dia sudah minta Oey Yong menterjemahkan kata2 untuk mengolok-olok Hoat-ong ini ke dalam bahasa Mongol. Kini digemborkannya di hadapan berpuluh ribu prajurit yang sedang bertempur itu hingga terdengar jelas.
Dan karena mendengar pemimpin di pihak sendiri adalah manusia rendah dan hina, tanpa terasa pasukan Mongol menjadi kurang bersemangat, sebaliknya prajurit Song semakin gagah menyerbu musuh.
Melihat gelagat jelek, Kim-lun Hoat-ong yang berada di atas panggung itu segera berteriak lagi: “Wahai, Kwe Ceng, dengar kau. Aku akan menghitung dari satu sampai sepuluh, apa bila kata-kata ‘sepuluh’ terucapkan, puteri kesayanganmu segera akan terbakar menjadi arang. Nah, satu... dua... tiga... empat... lima...”
Begitulah setiap kata-kata diucapkan, dia sengaja berhenti sejenak dengan harapan Kwe Ceng yang tidak tahan oleh desakan itu akan menyerah atau sedikitnya juga akan patah semangat, lalu tidak berani bertempur lagi.
Di lain pihak, Kwe Ceng, Oey Yok-su, It-teng Taysu, Oey Yong, dan Ciu Pek-thong yang memimpin lima pasukan, sesudah mendengar Hoat-ong mulai menghitung, sedangkan di bawah panggung beratus-ratus serdadu Mongol sudah mengangkat obor mereka tinggal menunggu komando, bila tanda diberikan segera panggung itu akan dibakar. Oleh karena itu Kwe Ceng dan lain-lainnya menjadi kuatir dan gusar, mati-matian mereka menerjang ke depan panggung buat menolong Kwe Siang.
Tetapi barisan pemanah bangsa Mongol yang terkenal tangkas itu sudah siap. Di bawah hujan panah itu segera terlihat Su-sui Hi-un, Nio-tianglo, Bu Siu-bun dan lainnya terluka panah semua, malah ada beberapa anak murid Kay-pang dan Coan-cin-kau yang gugur.
Sebelumnya Oey Yong sudah menyuruh Kwe Hu supaya meminjamkan ‘Nui-wi-ka’ atau kutang berduri landak kepada kakeknya, Oey Yok-su, sebab pertempuran ini berbahaya luar biasa. Apa bila karena ingin menolong Kwe Siang, tapi jiwa ayahnya harus berkorban atau terluka, hal ini benar-benar akan membuat Oey Yong menyesal selama hidup.
Karena maksud baik sang puteri itu sukar ditolaknya, terpaksa Oey Yok-su menerimanya, tetapi diam-diam ia pinjamkan baju pusaka itu kepada Ciu Pek-thong. Sebab itulah meski luka Pek-thong belum sembuh, tapi ia sudah berani terobosan kian kemari di bawah hujan panah dan senjata musuh tanpa luka.
Malahan ketika melihat panah musuh yang mengenai tubuhnya jatuh semua, hati si tua nakal itu menjadi riang. Terus saja dia menyerbu maju, di mana tangannya tiba, di situlah segera musuh menggeletak.
Sementara itu terdengar Hoat-ong sudah menghitung sampai: “...delapan... sembilan... sepuluh! Baik, bakarlah!”
Dan sekejap saja asap lantas ber-guIung2, api berkobar dengan hebat.
Sungguh pun sebenarnya delapan ribu prajurit panji kuning semuanya membawa kantong pasir, tetapi karena tidak sanggup menyerbu sampai di dekat panggung, terpaksa mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Pikiran Oey Yong menjadi butek ketika dilihatnya api menjilat dengan hebatnya, mukanya pucat dan orangnya sempoyongan. Lekas Yalu Ce memayang ibu mertua itu dan berkata:
“Hendaklah Gakbo mengaso dulu ke garis belakang, sekali pun aku harus berkorban jiwa, Siang-moay pasti akan kutolong.”
Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara teriakan gemuruh hebat memecah bumi, dari garis belakang pasukan MongoI tiba2 datang menyerbu dua pasukan berkuda yang langsung menggempur benteng kota Siang-yang.
Terdengarlah teriakan “Banswe! Banswe!” yang hiruk-pikuk, panji kebesaran raja Mongol, Monko, tertampak diangkat tinggi-tinggi dan cepat sekali sudah sampai di bawah benteng Siang-yang. Di bawah pimpinan raja mereka, pasukan Mongol itu semakin bersemangat menggempur benteng.
Di lain pihak, tatkala itu Kwe Ceng dengan satu tangan membawa perisai dan tangan lain memegang tombak, sebenarnya tinggal ratusan tindak dari panggung, betapa pun barisan pemanah menghujani panah tetap tak bisa melukainya. Tampaknya sebentar lagi dia pasti dapat melompat ke atas panggung.
Tiba-tiba didengarnya di bagian belakangnya keadaan menjadi kacau. Ia terkejut, pikirnya: “Celaka, kita terperangkap oleh tipu musuh ‘memancing harimau meninggalkan gunung’. Sedangkan gubernur kota lemah dan penakut, walau pun kekuatan tentara cukup, tapi jika tiada pimpinan, mungkin urusan bisa runyam.”
Sebetulnya ke-40 ribu tentara dari barisan bintang-bintang ini kuat menandingi beratus ribu pasukan Mongol dan melawan dengan gigihnya, sementara raja Monko tanpa memikirkan pertempuran besar yang sedang berlangsung itu terus memimpin sendiri pasukan lainnya untuk menggempur benteng Siang-yang.
Tiba-tiba Kwe Ceng berganti pikiran, dia membatin. “Urusan anak soal kecil, pertahanan kota lebih penting!” Karena itu segera dia berteriak:
“Gakhu, jangan pedulikan lagi gagal tidaknya mengurus anak Siang, lekas kembali menggempur bagian belakang musuh!”
Waktu Oey Yok-su memandang, ia lihat api berkobar-kobar semakin hebat, Hoat-ong lagi turun setindak demi setindak dari tangga panggung itu. Sekarang di atas panggung melulu tinggal Kwe Siang sendiri saja yang teringkus. Sudah tentu Oey Yok-su juga bisa berpikir, ia mengerti seorang Kwe Siang tidak dapat dibandingkan dengan hancur atau selamatnya kota Siang-yang. Karena itu, ia menghela napas panjang dari berkata:
“Sudahlah.” Lalu ia kibarkan panji hijau dan menarik pasukannya kembali ke selatan.
Kwe Siang menyaksikan ayah-bunda dan Gwakong-nya tak berdaya menolongnya, ada pun asap tebal dan api menganga membakar dengan hebatnya mengitari panggung, ia tahu sebentar lagi dirinya bakal terbakar mati.
Mula-mula ia pun takut sekali, tapi akhirnya ia malah menjadi tenang, ia memandangi jauh ke depan. Dia pikir: “Sebentar lagi aku akan mati, tetapi entah saat ini Toa-koko berada di mana? Apakah sudah naik kembali dari jurang itu?”
Begitulah, sambil memandangi lereng-lereng gunung yang jauh, dia menjadi terkenang waktu berkumpul dengan Yo Ko walau pun hanya beberapa hari saja. Meski selanjutnya tiada harapan buat bertemu lagi, tapi rasanya sudah puaslah hidup ini.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara nyaring sayup-sayup terbawa angin. Begitu tajam suara itu hingga suara gemuruh pertempuran beratus ribu prajurit seakan-akan tenggelam di bawah pengaruh suara itu.
Terkesiap hati Kwe Siang. Suara itu mirip benar dengan suara siulan Yo Ko tatkala dulu menggetarkan kawanan binatang-binatang buas. Sewaktu ia menoleh ke arah datangnya suara, ia lihat pasukan MongoI di arah barat-laut tunggang-langgang tersiak minggir ke dua samping sehingga terbelah menjadi satu jalan.
Dua orang tampak datang dengan cepat bagai bahtera laju didorong angin buritan, di depan kedua orang itu sebagai pembuka jalan adalah seekor burung raksasa, sepasang sayapnya terpentang lebar sambil menyabet ke kanan dan ke kiri sehingga anak-anak panah yang menghujani terpental pergi semua.
Menyelamatkan SIANG-YANG
Burung raksasa itu tangkas dan ganas luar biasa, itulah Sin-tiau (rajawali sakti) kawan Yo-Ko, betapa kuat kedua sayapnya ternyata tiada satu pun panah yang dapat melukainya.
Kwe Siang girang luar biasa. Waktu ia mengawasi, satu orang berkopiah hijau berbaju kuning, siapa lagi kalau bukan Yo Ko, dan di sebelahnya wanita cantik berbaju putih mulus. Keduanya sama-sama mempergunakan pedang yang diputar kencang sambil menyusul di belakang Sin-tiau terus menerjang ke arah panggung.
“Toa-koko, apakah wanita itu Siao-liong-li?” saking ingin tahu Kwe Siang berteriak menanyakan.
Memang tidak salah, wanita di samping Yo Ko itu adalah Siao-liong-li, tapi jaraknya terlalu jauh, maka teriakan Kwe Siang tidak terdengar oleh Yo Ko.
Begitulah dengan amat tangkasnya si rajawali sakti menyampuk semua anak panah yang berhamburan, bila ada prajurit atau perwira Mongol yang berani merintangi, segera Yo Ko dan Siao-liong-li menggulingkan mereka dengan pedang. Dengan saling melindungi, tidak berapa lama mereka menerjang sampai di depan panggung.
“Jangan kuatir, adik cilik, aku datang menolong kau!” seru Yo Ko.
Sementara itu sebagian tangga panggung sudah terbakar. Namun sekali enjot, Yo Ko melompat ke undakan tangga bagian tengah terus memanjat ke atas.
Pada saat itulah mendadak angin pukulan yang maha dahsyat menghantamnya dari atas, itulah Kim-lun Hoat-ong yang melontarkan pukulan saktinya. Lekas Yo Ko membalikkan tangannya menyambut. “Plakk!”
Terdengarlah suara keras, kedua tenaga raksasa saling bentur, tubuh keduanya terguncang, tangga panggung ikut tergoyang-goyang hampir patah. Sekali jajal kedua orang sama-sama terkejut. Sungguh tidak terduga, 16 tahun tidak bertemu, kepandaian lawan ternyata sudah banyak lebih maju.
Melihat keadaan sangat genting, tidak mungkin mengadu tenaga di tengah tangga, mendadak Yo Ko angkat pedangnya menusuk ke atas, susul-menyusul dia membabat kaki terus menusuk perut lawan.
Karena berada di atas maka Kim-lun Hoat-ong dapat mengeluarkan senjata rodanya menempur Yo Ko. Tetapi roda bentuknya pendek, terpaksa dia harus membungkuk untuk bisa menghantam, hal ini sungguh tidak leluasa, maka terpaksa dia mundur ke atas panggung.
Karena itu bertubi-tubi Yo Ko mengirim beberapa kali tusukan ke arah punggung Hoat-ong. Namun Hoat-ong tidak menoleh, hanya gunakan kepandaian ‘thing-hong-piao-gi’ (mendengarkan angin membedakan senjata), dia ayun roda ke belakang buat menangkis, punggungnya seakan bermata, tiap tangkisannya sangat tepat.
“Bangsat gundul, hebat juga kau!” mau tak mau Yo Ko memuji ketangkasan orang.
Ketika Hoat-ong hinggap di atas panggung, sekali membalik segera roda emasnya mengepruk kepaia Yo Ko. Syukur Yo Ko sempat mengegos ke samping, berbareng pedangnya menegak ke atas, tubuhnya mencelat dan selagi melayang di udara, dia menubruk ke bawah dengan pedang menusuk ke wajah musuh.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar