MELAWAN GABUNGAN DUA ILMU
Pengakuan yang tak diduga-duga itu keluar dari mulut Sian Ie Thong karena dalam penderitaannya dia teringat pada penderitaan Pek Goan. Meski Ouw Ceng Yo mati, nona itu bukan mati di tangannya, ia mati bunuh diri. Tapi Pek Goan binasa karena diracuni olehnya sendiri. Karena itu dia merasa tidak berdosa terhadap Nona Yo. Dalam penderitaannya yang maha hebat itu di dalam otaknya hanya teringat ‘Pek Goan’ dan roh Suheng itu seolah-olah berdiri di depannya untuk menagih utang.
Bu Kie tidak mengenal Pek Goan. Tapi dari pengakuan Sian Ie Thong, ia pun tahu bahwa segala dosanya ditimpakan pada pundak Beng-kauw. Mungkin sekali turut sertanya Hoa-san-pay dalam gerakan membasmi Beng-kauw adalah untuk balas sakit hatinya Pek Goan. Setelah berpikir begitu dia lantas berkata dengan suara nyaring.
“Para Cianpwe dari Hoa-san-pay, dengarlah! Pek Goan Suhu bukan dicelakai orang Beng-kauw. Kalian salah menerka orang.”
Bagaikan kilat orang tua yang bertubuh jangkung mendadak mengangkat goloknya lantas membacok leher Sian Ie Thong. Tapi Bu Kie mendahului, dengan gagang kipas ia menotol badan golok yang lantas terpental kemudian menancap di tanah.
“Buat apa kau campur tangan?” bentak si jangkung dengan marah. “Dia pengkhianat partai. Siapa pun juga boleh membinasakannya.”
“Aku sudah berjanji untuk mengobatinya,” kata Bu Kie. “Perkataan yang sudah diucapkan tidak dapat diabaikan begitu saja. Urusan dalam partai boleh dibereskan sesudah kalian pulang ke Hoa-san.”
“Sute, perkataan dia ada benarnya juga,” kata si kate sambil menendang punggung Sian Ie Thong. Tendangan yang sangat keras itu bukan saja mampir tepat di Toa-tui-hiat, tetapi juga telah melontarkan tubuh Sian Ie Thong yang kemudian ambruk di depan barisan Hoa-san-pay.
Pukulan pada Toa-tui-hiat sakit bukan main, tapi Sian Ie Thong sudah tidak bisa berteriak lagi. Dia hanya berguling-guling di tanah sambil menahan sakit, tetapi tak ada seorang pun yang berani menolong sebab mereka takut ketularan racun.
“Kami berdua adalah paman guru Sian Ie Thong,” kata si kate kepada Bu Ki. “Aku merasa sangat berterima kasih karena kau telah membikin terang perkara besar di partai kami sehingga sakit hatinya Pek Goan Sutit bisa terbalas.” Sesudah berkata demikian dia menyoja sambil membungkuk. Si jangkung buru-buru ikut menyoja. Mendadak si kate mengibas goloknya dan berkata,
“Tapi karena kau telah merusak nama harumnya Hoa-san-pay, maka tak ada jalan lain bagi kami berdua dari pada mengadu jiwa dengan kau.”
Bu Kie tertegun, tetapi tak lama kemudian dia menjawab, “Yang bersih tetap bersih, yang kotor tinggal kotor. Kalau dalam sebuah partai muncul seorang jahat, nama partai tersebut tidak rusak karena adanya orang jahat itu. Mengapa kalian berpandangan begitu sempit?”
“Bagaimana pendapatmu? Apakah kejadian itu tidak menodai nama Hoa-san-pay?” tanya si jangkung.
“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Bu Kie.
“Suko,” kata si jangkung. “Bocah itu mengatakan tidak menodai partai kita. Kurasa lebih baik kita bikin habis urusan ini.” Si jangkung adalah seorang jujur. Selain itu dia agak jeri terhadap Bu Kie.
“Tidak! Tidak!” bentak si kate. “Lebih dahulu singkirkan hinaan dari luar, kemudian barulah menyapu bersih pintu kita. Jika hari ini Hoa-san-pay tidak berhasil menjatuhkan bocah ini, kita tidak bisa lagi berdiri di rimba persilatan.”
“Baiklah,” kata si jangkung. “Ehh, bocah! Kami berdua hendak mengeroyok kau. Jika kau merasa tidak adil, lebih baik dari awal kau mengaku kalah.”
Si kate mengerutkan alisnya dan membentak, “Sute...!”
Si jangkung girang tak kepalang, “Kalau kami mengeroyok kau, kau pasti tidak bisa hidup lagi!” teriaknya. “Kami berdua mempunyai ilmu golok yang dinamakan Liang-gie To-hoat. Kau pasti kalah. Aku harap kau tidak menyesal.”
“Aku hanya mengharap agar kedua Cianpwe suka menaruh belas kasihan.”
“Golok tidak mengenal belas kasihan,” kata si jangkung. “Begitu bertempur golok kami tak mau main sungkan-sungkan lagi. Kulihat kau seorang yang baik. Aku tak sampai hati jika mesti membacok kau...”
“Sute, jangan rewel!” bentak si kate.
“Aku hanya minta agar dia berhati-hati,” kata si jangkung. “Liang-gie To-hoat kita lain dari yang lain...“
“Tutup mulutmu!” bentak si kate. Ia berpaling kepada Bu Kie dan berteriak. “Sambutlah!” Hampir berbareng, goloknya menyambar.
Bu Kie mengangkat kipas Sian Ie Thong dan mendorong punggung golok. “Tidak bisa begitu!” teriak si jangkung. “Kalau begini aku lebih suka tidak bertempur.”
“Mengapa?” tanya Bu Kie.
“Kipas itu ada racunnya, bisa-bisa kita celaka semua,” jawabnya.
“Benar,” kata Bu Kie. “Benda yang begini beracun tak boleh dibiarkan lama-lama di dunia.“ Dia menjepit kipas itu dengan telunjuk dan jari tengah lalu menimpuk ke bawah.
“Blass!”
Kipas amblas ke dalam tanah dan apa yang terlihat hanyalah lubang kecil. Sinkang yang sehebat itu tidak akan mampu dilakukan oleh siapa pun juga yang berada di lapangan itu. Tanpa terasa semua orang bersorak-sorai. Sambil menjepit golok di bawah ketiaknya, si jangkung lantas bertepuk tangan.
“Ambillah senjatamu,” katanya.
Bu Kie berwatak sederhana dan sebetulnya dia tidak ingin menonjolkan kepandaiannya di hadapan orang. Tapi keadaan sekarang sangat luar biasa. Jika dia tidak memperlihatkan Sinkang dan menaklukkan semua orang maka dia takkan bisa mencapai tujuannya untuk menghentikan permusuhan.
“Senjata apa yang Cianpwe anggap pantas digunakan olehku?” tanyanya.
Si jangkung menepuk pundak Bu Kie dua kali. “Bocah, kau mempunyai sifat yang sangat menarik,” katanya sambil tertawa, “Kau boleh mempergunakan senjata apa pun, buat apa kau tanya aku?”
Bu Kie tahu bahwa tepukan itu tidak bermaksud jahat, tetapi orang yang menonton kaget bukan main, sebab kalau si jangkung menggunakan tenaga dalam maka pemuda itu bisa terluka berat. Mereka tidak tahu bahwa Bu Kie sudah melindungi sekujur tubuhnya dengan Sinkang sehingga andai kata si jangkung berlaku curang, dia takkan berhasil. Karena pemuda itu tidak lantas menjawab, kakek itu berkata lagi.
“Apakah kau akan turut perkataanku jika aku menyebut senjata?”
“Ya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Bocah, kau memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan kau tentu mahir delapan belas senjata,” kata si jangkung. “Tapi sangat keterlaluan jika kau meladeni kami berdua dengan tangan kosong.”
“Tangan kosong juga boleh,” kata Bu Kie.
Si jangkung menyapu seluruh lapangan dengan pandang matanya. Ia ingin mencari senjata yang aneh. Tiba-tiba dia melihat beberapa buah batu besar di sudut sebelah kiri, berat setiap batu kira-kira dua ratus atau tiga ratus kati.
“Aku bersedia untuk mengalah padamu dan kau boleh menggunakan senjata yang sangat berat itu,” katanya seraya menuding beberapa batu itu.
Sehabis berkata begitu dia mendongak lalu tertawa terbahak-bahak. Dia hanya guyon. Batu-batu itu bukan saja sangat berat dan takkan dapat diangkat manusia biasa, tapi juga tak ada pegangannya, tidak bergagang seperti senjata biasa sehingga amat mustahil bisa digunakan sebagai senjata. Akan tetapi di luar dugaan sambil tersenyum Bu Kie berkata,
“Senjata itu agak luar biasa, tampaknya Locianpwe benar-benar ingin menjajal kepandaianku.“ Seraya berkata begitu ia menghampiri batu itu.
Si jangkung cepat menggoyang-goyangkan tangannya, “Aku hanya main-main!” teriaknya. “Ambillah pedang untuk melayani kami!”
Pemuda itu tak menjawab melainkan terus berjalan. Sekali menggerakkan tangan kirinya, dia menyangga sebuah batu yang paling besar dan sesudah memutar badan, dia berseru.
“Ji-wi, ayolah!” Ia melompat tinggi dan di lain saat sudah berhadapan dengan kedua kakek ini.
Semua orang mengawasi dengan mulut ternganga. Mereka begitu kaget sehingga mereka lupa untuk bertepuk tangan.
“Hebat! Sungguh hebat,” kata si jangkung seraya mengurut jenggotnya.
Si kate tahu bahwa hari ini mereka bertemu dengan lawan terberat. Apakah nama besar mereka berdua akan dapat dipertahankan masih merupakan sebuah pertanyaan. Sesudah menarik napas dalam-dalam dia pun segera maju.
“Sambutlah!” katanya seraya membacok dengan golok yang bersinar putih.
“Suko, apakah kita benar-benar akan berkelahi?” tanya si jangkung.
“Kau kira main-main?” si kate balas menanya. Bacokannya yang pertama dengan mudah dikelit Bu Kie. Mendengar jawaban Suko-nya, si jangkung segera menyabet dengan golok Ceng-kong-to yang bersinar hijau.
“Bagus!” seru Bu Kie sambil memapaki dengan batunya.
“Trangg!” Letupan api berhamburan. Hampir berbareng Bu Kie mendorong batu ke depan.
“Sun-sui Tui-couw (mendorong perahu dengan mengikuti aliran air)!” si jangkung berteriak. “Bocah, senjata batu juga ada jurus-jurusnya?”
“Sute, Hun-tun It-po!” bentak si kate seraya membuat setengah lingkaran dengan goloknya dan membabat Bu Kie.
“Tay-it Seng-beng. Liang-gie Hop-tek...“ sambung si jangkung sambil mengirim beberapa serangan.
“Jit-goat Hui-beng,” sambut si kate.
Mereka menyerang sambil saling sahut-menyahut menyebutkan nama-nama pukulan. Sambil mengerahkan Kiu-yang Sin-kang, Bu Kie memutar-mutar batu itu bagaikan sebutir peluru. Walau pun tenaga serangan Liang-gie To-hoat amat besar tapi tenaga pemuda itu lebih besar lagi. Dengan melompat kian kemari dia menyambut setiap serangan, dan tiap bacokan menghantam batu sehingga letupan api berhamburan tak henti-hentinya.
Sesudah bertempur beberapa lama, tiba-tiba saja Bu Kie melontarkan batu itu ke udara lantas kedua tangannya menyambar leher si kate dan si jangkung. Sesudah mencengkeram jalan darah kedua kakek itu sehingga mereka tidak bisa bergerak lagi, dia segera melompat ke belakang. Di lain saat batu yang beratnya kira-kira tiga ratus kati itu meluncur ke bawah, ke arah kepala kedua jago Hoa-san-pay. Semua orang terkesiap. Pada detik berbahaya itu, Bu Kie melompat maju dan menepuk batu itu yang lantas saja terpental dan jatuh amblas di dalam tanah. Ia tertawa dan sambil menepuk pundak kedua kakek itu, ia berkata,
“Ji-wi Locianpwe jangan bingung, Boanpwe hanya main-main.”
Paras muka si kate pucat bagaikan kertas. “Sudahlah!” katanya dengan suara parau.
Tapi si jangkung menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini tidak masuk hitungan,“ katanya.
“Mengapa tidak masuk hitungan?” tanya Bu Kie.
“Kau mengalahkan kami dengan mengandalkan tenagamu yang sangat besar,” jawabnya. “Kau bukan menjatuhkan kami dengan menggunakan ilmu silat.”
“Kalau begitu kita boleh bertanding lagi,“ kata Bu Kie.
“Boleh,” kata si jangkung, “tapi kita harus menggunakan satu cara baru. Jika kau menang karena tenagamu yang besar, walau pun kalah tetapi kami kalah dengan hati penasaran. Bukankah demikian?”
Pemuda itu mengangguk. “Benar,” katanya.
Tiba-tiba Siauw Ciauw berteriak, “Memalukan! Benar-benar memalukan! Kakek jenggotan yang main keroyok berbalik mengatakan orang lain curang.”
Si jangkung tertawa terbahak. “Bocah,” katanya. “Orang sering berkata: yang rugi ialah yang untung. Garam yang kutelan lebih banyak dari pada beras yang kau telan. Jembatan yang kulewati lebih panjang dari pada jalan yang pernah kau lalui. Bocah, tahu apa kau?!” Ia menengok kepada Bu Kie dan berkata lagi, “Kalau kau tidak setuju, kita tak usah bertanding lagi. Dalam pertandingan tadi kau tidak kalah dan kami pun tidak menang. Seri saja! Tiga puluh tahun kemudian bolehlah kita berjumpa kembali.”
Mendengar kata-kata Sute-nya yang makin lama menjadi semakin gila, si kate buru-buru membentak.
“Orang she Can! Kami mengaku kalah, sekarang kau boleh berbuat sesuka hati terhadap kami.”
“Boanpwe sama sekali tidak punya niat kurang baik,” kata Bu Kie. “Dengan memberanikan hati Boanpwe hanya ingin mendamaikan permusuhan antara partai Cianpwe dengan Beng-kauw.”
“Tidak bisa!” teriak si jangkung. “Aku belum mengajukan usulku. Mengapa kau lantas saja mundur?”
Si kate mengerutkan alisnya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu bahwa biar pun gila-gilaan, dengan mengandalkan ketebalan mukanya dan lidahnya si Sute sering membuat musuh menjadi pusing dan mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Hari ini, di depan tokoh rimba persilatan, cara itu memang tidak bagus. Tapi jika ia dapat menjatuhkan Bu Kie maka kemenangan itu sekiranya dapat juga digunakan untuk menebus dosa.
“Bagaimana usul Cianpwe?” tanya Bu Kie.
“Ilmu golok yang terlihai dari Hoa-san-pay dinamakan Hoan-liang-gie To-hoat,” jawabnya. “Lihainya To-hoat sudah kau rasakan. Tapi kau tidak tahu bahwa Kun-lun-pay memiliki ilmu pedang yang dinamakan Ceng-liang-gie Kiam-hoat. Kelihaian ilmu ini dapat dikatakan berendeng dengan To-hoat dari Hoa-san-pay. Masing-masing punya keunggulan sendiri. Mana kala dua golok dan dua pedang dipersatukan menjadi satu, maka Im (negatip) akan mendapat imbangan dari Yang (positip) dan air akan membantu api. Hai...!“ berkata hingga di sini dia menggoyangkan kepalanya, kemudian menambahkan dengan perlahan. “Hebat! Terlalu hebat...! Kau tak akan bisa melawannya.”
Mendengar itu Bu Kie lantas saja menengok ke barisan Kun-lun-pay dan berkata, “Apakah Cianpwe dari Kun-lun-pay sudi memberi pelajaran kepadaku?”
“Kecuali Thie Khim Sian-seng suami isteri, di kalangan Kun-lun-pay tak ada orang lain yang dapat bekerja sama dengan kami berdua,” kata si jangkung. “Aku tidak tahu apakah Ho Ciang-bun bernyali cukup besar atau tidak.”
Setiap orang yang ingin menonton keramaian jadi girang sekali. Dalam omongannya yang gila-gilaan itu ternyata si jangkung bukan manusia tolol. Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham menatap si jangkung. Mereka tak mengenal dua kakek itu. Sebagai paman guru Sian Ie Thong, kedua orang tua itu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan sudah tentu jarang berkelana di dunia Kangouw See-hek yang jauh, maka tidaklah heran jika mereka belum pernah bertemu dengan kedua kakek ini.
Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham sangat bersangsi. Mereka tahu bahwa kedua kakek itu ingin menyeret mereka ke gelanggang. Bila menang maka muka si jangkung dan si kate akan terang kembali. Tapi kalau kalah... Huh! Tidak mungkin! Mana bisa Ceng-liang-gie Kiam-hoat dari Kun-lun-pay kalah oleh pemuda yang tak dikenal ini? Melihat suami isteri Ho Thay Ciong belum juga bergerak, si jangkung lantas berteriak.
“Oh! Suami isteri Ho dari Kun-lun-pay tidak berani bertempur dengan kau. Kau tak usah heran. Biar pun boleh juga, Ceng-liang-gie Kiam-hoat masih banyak cacatnya. Jika dibandingkan dengan ilmu golok kami, Hoan-liang-gie To-hoat masih lebih unggul setingkat dua tingkat.”
Pan Siok Ham marah tidak kepalang. Dengan sekali melompat dia sudah berada di tengah gelanggang.
“Siapakah she dan nama tuan yang besar?” tanyanya seraya menuding si jangkung.
“Aku pun she Ho,” jawabnya. “Ho-hujin, silakan.”
Perkataan itu disambut dengan gelak tawa bernada mengejek dari sejumlah penonton. Pan Siok Ham dikenal sebagai ‘Tay-siang Ciang-bun-jin’ dari Kun-lun-pay. Selama puluhan tahun dia berkuasa bagaikan ratu di daerah yang luasnya beberapa ratus li persegi. Maka itu mana bisa dia menerima ejekan di hadapan orang banyak.
“Srett!”
Bagaikan kilat dia menikam si jangkung. Di detik ini masih bertangan kosong, di lain detik pedangnya telah menyambar dan ujung pedang hanya terpisah setengah kaki dari pundak lawan. Si jangkung terkesiap dan cepat menyampok dengan goloknya.
“Trangg!”
Pada saat terakhir dia berhasil memapaki bacokan jago betina itu. Pan Siok Ham menyerang dengan jurus Kim-ciam Touw-ciat (jarum emas melewati mara bahaya) ada pun si jangkung menyambut dengan Ban-ciat Put-hok (laksana mara bahaya tidak datang lagi). Kedua pukulan itu, yang satu ‘Ceng’ yang lain ‘Hoan’, merupakan ilmu silat Liang-gie yang indah luar biasa. Kalau tadi si kakek tidak berdaya dalam menghadapi Kiu-yang Sin-kang, sekarang dia memperlihatkan kepandaiannya yang amat tinggi sebab pada hakekatnya dia memang seorang ahli silat kelas utama.
Pada gebrakan pertama masing-masing mundur satu tindak. Mereka terkejut dan merasa kagum. Mereka berlainan partai, berlainan ilmu dan belum pernah bertemu muka. Namun sesudah gebrakan itu masing-masing yakin bahwa kalau Liang-gie To-hoat bekerja sama maka kerja sama itu akan menciptakan serupa ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia. Ketika itu Pan Siok Ham merasa seperti seorang yang selama hidupnya hidup kesepian lalu tiba-tiba bertemu dengan sahabat akrab. Ia menengok kepada suaminya dan berkata,
“Ehh, ke mana kau?”
Ho Thay Ciong adalah seorang suami yang selalu menurut perintah sang isteri. Namun di hadapan orang banyak ia merasa jengah juga dan berusaha untuk menolong muka dengan menunjukkan keangkerannya sebagai seorang Ciang-bun-jin. Sambil mengeluarkan suara di hidung, perlahan-lahan ia menghampiri sang isteri dengan didahului oleh empat kacung. Satu membawa pedang, satu menyangga khim besi dan dua orang lagi memegang hudtim (kebutan) Begitu tiba di tengah gelanggang, empat kacung itu membungkuk dan mundur, kemudian berdiri di belakang Ho Thay Ciong. Pan Siok Ham melirik suaminya dan berkata,
“Kita berempat coba bermain-main dengan bocah itu supaya dia mengenal lihainya ilmu silat Hoa-san dan Kun-lun.“ Ia menengok dan mendadak mengeluarkan seruan tertahan. Sambil mengawasi Bu Kie dengan kedua mata terbelalak, ia berkata, “Kau... kau...!“
Sebagaimana diketahui, empat tahun lalu dia pernah bertemu dengan Bu Kie. Walau pun sekarang dari kanak-kanak Bu Kie sudah menjadi seorang pemuda, badannya sudah berubah dan di atas bibirnya sudah tumbuh sedikit kumis, tapi dia masih mengenal pemuda ini.
“Apakah tidak lebih baik jika kita melupakan kejadian yang lalu?” kata Bu Kie. “Aku Can A Gu.”
Pan Siok Ham mengerti maksud pemuda yang tidak mau memperkenalkan namanya yang sejati. Ia tahu bahwa jika ia membuka rahasia maka Bu Kie pun akan melucuti kedoknya dan mengumumkan bagaimana ia dan suaminya membalas kebaikan dengan kejahatan. Maka itu seraya mengangkat pedang ia berkata,
“Can Siauw-hiap telah mendapat kemajuan pesat sekali. Pada kesempatan ini aku hendak memberi selamat sekaligus aku ingin minta pengajaranmu.”
Bu Kie tersenyum. “Telah lama kudengar bahwa Kiam-hoat kalian berdua yang amat lihai,” katanya. “Boanpwe hanya berharap agar Cianpwe suka menaruh belas kasihan.”
Sementara itu Ho Thay Ciong sudah mengambil pedang yang dipegang kacungnya. “Senjata apa yang ingin digunakan Can Siauw-hiap?” tanyanya.
Melihat Ho Thay Ciong, Bu Kie ingat kejadian-kejadian empat tahun lalu. Ia ingat Kim-koan dan Gin-koan yang bisa mengisap racun tapi kemudian mati karena tiada makanan. Hal ini sangat disayangkan olehnya. Dia pun ingat bahwa Ho Thay Ciong dan isterinya pernah naik ke Bu-tong untuk mendesak kedua orang tuanya hingga akhirnya ayah dan ibunya mati bunuh diri. Dia ingat pula bahwa dia pernah dipaksa minum arak beracun, dipukul sampai babak belur dan dilemparkan ke batu gunung. Apa bila tidak ditolong Yo Siauw maka jiwanya pasti sudah melayang. Mengingat itu darah Bu Kie meluap. “Ho Thay Ciong, Ho Thay Ciong!” katanya dalam hati. “Hari itu kau menghajar aku sepuas hati. Hari ini meski pun tidak mengambil jiwamu tetapi aku akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu.”
Ketika itu kedua pemimpin Kun-lun dan kedua ketua Hoa-san-pay sudah berdiri di empat sudut sembari mencekal senjata mereka yang berkeredepan. Sekonyong-konyong Bu Kie bersiul dan bagaikan sebatang pit badannya meluncur ke atas, kemudian dengan tiba-tiba mengubah arah ke jurusan sebuah pohon bwee. Dengan sekali menggerakkan tangan dia sudah mematahkan sebatang ranting yang penuh bunga dan setelah itu barulah badannya melayang kembali ke bumi.
Ilmu meringankan badan Bu Kie sudah dilihat orang. Namun gerakannya dalam memetik ranting bwee itu indah bukan main sehingga semua orang menggeleng-gelengkan kepala saking kagumnya. Sementara itu Bu Kie sudah melangkah ke tengah gelanggang. Sambil mengangkat ranting pohon ia berkata,
“Biarlah dengan menggunakan ini Boanpwe menerima pelajaran dari Hoa-san Kun-lun.”
Semua orang kaget sekali. Bagaimana pemuda ini melawan empat ahli silat dengan menggunakan ranting pohon yang dihias oleh kurang lebih sepuluh kuntum bunga? Walau pun memiliki lweekang yang sangat tinggi, cabang kayu itu tidak akan bisa melawan golok dan pedang. Pan Siok Ham tertawa dingin,
“Bagus,” katanya. “Bocah! Sedikit pun kau tak memandang sebelah mata ilmu silat Hoa-san dan Kun-lun.”
Bu Kie tersenyum dan menjawab, “Dahulu Boanpwe pernah mendengar cerita dari Sian-hu (mendiang ayah) bahwa seorang Cianpwe Kun-lun-pay, yakni Ho Ciok To Sian-seng, mempunyai kepandaian luar biasa dalam ilmu memetik khim, bersilat dengan pedang dan main catur sehingga beliau dikenal sebagai Kun-lun Sam-seng. Hanya sayang kita terlahir terlalu lambat sehingga tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang tua itu.”
Semua orang tahu maksud pemuda ini. Dengan memuji Ho Ciok To, Bu Kie menghargai Kun-lun-pay yang mempunyai leluhur jempolan, tapi dia memang tak memandang sebelah mata kepada Ciang-bun-jin yang sekarang bersama isterinya. Sekonyong-konyong dalam barisan Kun-lun-pay terdengar bentakan menggeledek.
“Anak haram! Berapa tingginya kepandaianmu hingga kau begitu kurang ajar terhadap guruku?”
Cacian itu disusul dengan melompatnya seorang pria brewokan yang mengenakan jubah imam warna kuning. Berbareng lompatan itu, pedangnya menikam punggung Bu Kie. Biar pun sebelum menyerang ia mencaci, tapi karena gerakannya cepat bukan kepalang maka serangan itu tiada bedanya seperti bokongan. Pada detik ujung pedang hampir menyentuh punggungnya, tanpa memutar badan kaki kiri Bu Kie menyambar ke belakang dan dengan gerakan yang tak dapat dilihat orang, kakinya menginjak pedang itu di atas tanah. Dengan menggunakan seluruh tenaganya si imam membetot pedang itu, tapi sedikit pun tidak bergeming.
Perlahan-lahan Bu Kie menengok dan dia segera mengenal bahwa penyerang itu bukan lain adalah See-hoa-cu yang dulu pernah ditemuinya di tengah lautan. Imam yang sangat berangasan itu pernah mengeluarkan perkataan kurang ajar terhadap mendiang ibunya In So So. Mengingat itu Bu Kie berduka. Ia lalu bertanya,
“Apakah kau See-hoa-cu Totiang?”
See-hoa-cu tak menyahut. Dengan muka kemerah-merahan ia terus membetot pedangnya dengan sekuat tenaga. Sesudah menotol badan pedang dengan tumit sepatu, tiba-tiba Bu Kie mengangkat kakinya. Karena tak menduga, si imam terhuyung setindak. Tapi berkat kepandaiannya yang tinggi, dengan mengerahkan lweekang dia segera dapat mempertahankan diri. Tapi baru saja dia menggunakan Cian-kin-tui (ilmu memberatkan badan agar dapat berdiri tetap), semacam tenaga yang datang dari badan pedang telah mendorongnya. Tenaga itu begitu hebat sehingga tanpa berdaya dia jatuh duduk.
“Trangg...!”
Hampir berbareng terdengar suara dan pedang patah. Kini ia hanya mencekal gagangnya saja. Bukan main malunya See-hoa-cu. Sang Su-nio (isteri guru) mengawasinya dengan sorot mata mencorong marah sehingga ia pun tahu bahwa ia akan mendapat hukuman. Dengan bingung dan ketakutan dia buru-buru bangkit.
“Anak haram...!“ bentaknya.
Sebenarnya Bu Kie sudah merasa cukup, namun begitu mendengar cacian ‘anak haram’ yang mencaci juga kedua orang tuanya, darahnya lantas meluap. Bagaikan kilat dia mengibaskan ranting bwee dan tiga ‘hiat’ di dada See-hoa-cu tertotok. Tapi dengan berlagak pilon Bu Kie segera berkata kepada empat lawannya,
“Para Cianpwe boleh mulai!”
“Minggir kau!” bentak Pan Siok Ham. “Apa belum cukup?”
“Baik,” jawab See-hoa-cu, tapi badannya tidak bergerak.
Pan Siok Ham jadi makin marah. “Aku suruh kau minggir, apa kau tidak dengar?!” teriaknya.
“Baik... baik... su-nio... baik,” jawabnya terputus-putus. Tapi dia tetap berdiri tegak.
Tak kepalang marahnya si jago betina. Dia sungguh tak mengerti mengapa murid itu amat kurang ajar. Dia belum tahu bahwa beberapa jalan darah See-hoa-cu telah ditotok Bu Kie. Dengan mata mendelik dia mendorong keras murid yang dianggapnya bandel itu. Badan si imam terdorong beberapa kaki, tapi kedudukan badan dan kaki tangannya tetap tidak berubah. Sekarang barulah Pan Siok Ham berdua suami paham sebab musababnya. Mereka heran bercampur kagum. Keduanya tidak mengerti bagaimana Bu Kie bisa menotok jalan darah tanpa diketahui mereka.
Buru-buru Ho Thay Ciong menotok beberapa hiat di pinggang muridnya untuk membuka jalan darah yang tertutup. Di luar dugaan, See-hoa-cu masih tetap tidak bisa bergerak.
Sambil menunjuk Put Hwie yang bersandar di tubuh Yo Siauw, Bu Kie berkata, “Beberapa tahun yang silam nona kecil itu juga pernah ditutup jalan darahnya dan dia dipaksa untuk minum arak beracun, sementara aku sendiri tak berdaya membuka hiat-tonya yang tertotok. Sekarang muridmu pun mendapat pengalaman yang sama. Kau tak usah heran, ilmu Tiam-hiat kita berdua memang berlainan.”
Melihat paras muka para hadirin berubah, Pan Siok Ham merasa jengah dan untuk menutupi rasa malunya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia segera menikam alis Bu Kie. Hampir berbareng pedang Ho Thay Ciong menyambar punggung pemuda itu, dan kedua kakek Hoa-san-pay pun lantas mulai menyerang. Dengan sekali lompat Bu Kie bisa menyelamatkan diri dari empat senjata. Ho Thay Ciong cepat mengirim tikaman kedua yang mengarah pinggang Bu Kie untuk memaksa pemuda itu menangkis dengan ranting bwee. Sambil mementil golok si kate dengan telunjuk kiri, Bu Kie menotol badan pedang.
Ho Thay Ciong memutar senjatanya dan memapas cabang yang kecil itu. Ia berpendapat bahwa meski pun lawan memiliki kepandaian tinggi, ranting itu takkan bisa melawan tajam dan kerasnya pedang. Tapi di luar dugaan Bu Kie pun memutar rantingnya dan memukul badan pedang. Mendadak Ho Thay Ciong merasa dorongan dari semacam tenaga lembek sehingga pedangnya terpental dan menghantam golok si jangkung.
“Aha, Ho Thay Ciong!” seru kakek itu. “Mengapa kau membantu lawan?”
Paras muka Ho Ciang-bun berubah merah, tapi tentu saja dia tidak mau mengaku bahwa pedangnya telah dipukul terpental oleh pemuda ini.
“Omong kosong!” bentaknya seraya menikam Bu Kie.
Pertempuran lantas berubah dengan hebatnya. Bagaikan hujan gerimis Ho Thay Ciong mengirim tikaman-tikaman berantai, sementara itu isterinya yang bergerak di belakang Bu Kie berusaha menutup jalan mundur pemuda itu. Dari kedua samping dua kakek Hoa-san-pay mencecar dengan pukulan-pukulan terhebat dari Liang-gie To-hoat. Kedua ilmu silat itu yang satu ‘ceng’ yang lainnya ‘hoan’ berasal dari pat-kwa dan pulang ke pat-kwa. Dengan kata lain, karena sumbernya sama maka sungguh pun jurus-jurusnya berlainan pada hakekatnya kedua ilmu silat itu bersatu padu. Makin lama keempat tokoh makin saling mengerti dan kerja sama juga jadi semakin erat.
Sebelum bergebrak Bu Kie pun tahu bahwa keempat lawannya tak boleh dibuat gegabah. Ia hanya tidak menduga bahwa kerja sama antara Hoan-liang-gie To-hoat dan Ceng-liang-gie Kiam-hoat bisa sedemikian hebat dan berkat saling bantu antara ‘Yang’ dan ‘Im’ kerja sama itu dikatakan tiada cacatnya. Tak ada bagian yang lemah, baik dalam serangan mau pun dalam pembelaannya. Kalau mempergunakan senjata biasa dia masih bisa mendapat bantuan dari senjata itu. Apa mau dikata, secara temberang dia memilih ranting bwee dan sekarang dia menghadapi bahaya besar.
Sesudah bertempur lagi beberapa lama, si kakek kate mendadak menyerang kaki Bu Kie dengan menggulingkan badan di tanah. Bu Kie berkelit ke samping, dia dipapaki Pan Siok Ham.
“Kena!” bentak jago betina itu dan paha Bu Kie tertikam!
Baru saja Bu Kie mementil senjata lawan, pedang Ho Thay Ciong menyambar dan golok kedua kakek itu membabat kakinya. Di lain detik Pan Siok Ham sudah lantas saja menikam pula dengan serentak. Keadaan Bu Kie terdesak. Dalam keadaan bahaya tiba-tiba Bu Kie mendapat serupa ingatan. Laksana kilat ia melompat kemudian bersembunyi di belakang See-hoa-cu.
Pan Siok Ham menikam dengan tujuan membinasakan dan bukan hanya sekedar menjajal kepandaian. Ujung pedang yang menyambar dengan disertai lweekang itu hampir amblas di badan muridnya. Untung dia keburu menarik kembali senjatanya, tetapi See-hoa-cu sudah berteriak dan mengeluarkan keringat dingin.
Bu Kie jengkel dan bingung. Sesudah bertempur beberapa lama, ia masih juga belum bisa menangkap inti sari dari pada kedua ilmu silat itu. Sebelum dapat menyelami isinya, ia tak akan bisa memecahkannya. Maka itu jalan satu-satunya ialah berkelit kian kemari menggunakan See-hoa-cu sebagai tameng.
Sambil menggunakan siasat main petak ini, pemuda itu mengeluh dalam hati, “Bu Kie! Bu Kie! Kau terlampau memandang enteng orang gagah di kolong langit. Sekarang kau menghadapi bencana. Kalau bisa keluar dengan selamat, kau harus ingat baik-baik pelajaran pahit ini. Benar juga kata orang, di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia.”
Pan Siok Ham merasa dadanya seperti mau meledak. Kalau tidak dihadang See-hoa-cu, beberapa kali ia bisa menikam pemuda itu. Kalau menuruti napsu, ia ingin membuat putus badan si imam, tetapi dengan adanya kecintaan antara guru dan murid, tentu saja ia tidak tega menurunkan tangan jahat.
“Ho-hujin!” teriak si jangkung. “Jika kau tidak mau turun tangan terhadap orangmu, biarlah aku yang turun tangan.”
“Sesukamulah!” bentaknya dengan marah.
Si jangkung lantas mengangkat goloknya dan menyabet pinggang See-hoa-cu. Bu Kie terkejut sekali. Jika kakek itu benar-benar membunuh si imam, maka bukan saja ia sendiri terancam kebinasaan, tapi di dalam persoalan ini juga akan timbul sengketa baru. Karena itu dengan menggunakan sinkang dia mengebut dengan tangan bajunya sehingga golok si jangkung terpental. Hampir berbareng si kate membacok. Bu Kie segera berkelit ke kanan, tetapi si kate tidak mengubah arah goloknya yang terus saja menyambar ke pundak See-hoa-cu. Ia membuat gerakannya sedemikian rupa sehingga seolah-olah tampaknya tak keburu mengubah arah atau menarik pulang senjatanya. Tetapi di mulut dia berteriak,
“See-hoa-cu To-heng, hati-hatilah!”
Dengan berbuat begitu si kate mencoba menyebar bibit penyakit kepada Bu Kie. Ia mengerti bahwa jika ia membinasakan See-hoa-cu maka ia akan bermusuhan dengan Kun-lun-pay. Tapi dengan pura-pura tidak keburu menarik kembali senjatanya, ia bisa memindahkan kesalahan ke atas pundak Bu Kie.
Bu Kie memutar badan sambil mendorong dada si kate dengan telapak tangannya. Napas kakek itu menyesak. Cepat dia menyambut dengan tangan kiri, tapi goloknya menyambar terus. Untung sekali, sebelum golok mampir pada pundak See-hoa-cu, kedua tangan itu bentrok dan si kate terhuyung ke belakang sehingga goloknya pun membacok angin. Sesudah jiwanya ditolong dua kali, si imam merasa sangat berterima kasih kepada Bu Kie dan berbalik membenci kedua kakek itu.
“Kalau bisa hidup terus, aku akan membuat perhitungan dengan bangsat kate dan jangkung itu,“ katanya di dalam hati.
Di lain pihak, melihat pemuda itu melindungi muridnya, Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham merasa girang. Mereka girang sebab dalam usahanya melindungi See-hoa-cu, Bu Kie jadi lebih sukar untuk membela diri. Mereka sedikit pun tidak merasa berterima kasih terhadap lawan yang sudah menolong muridnya dan mereka menyerang makin hebat.
Melihat itu, tokoh-tokoh Siauw-lim, Bu-tong, dan Go-bi menggeleng-gelengkan kepala dan di dalam hati kecil mereka merasa malu. Kalau pemuda itu binasa, sedikit banyak mereka turut berdosa.
Dua kakek Hoa-san-pay terus menyerang dengan hebatnya, sebentar membabat Bu Kie, sebentar membacok See-hoa-cu. Makin lama Bu Kie semakin terdesak.
“Tidak apa-apa jika aku sendiri yang binasa,” pikirnya. “Tapi sangat tidak pantas kalau aku menyeret juga imam ini.“ Berpikir demikian, sambil menghantam si jangkung dia mengibas ranting bwee dan dengan kibasan itu dia membuka jalan darah See-hoa-cu.
Pada saat yang berbarengan si kate membabat kaki See-hoa-cu dan Bu Kie menendang pergelangan tangannya. Dengan cepat kakek itu menarik kembali tangannya. Mendadak si imam yang sudah merdeka mengirim tinju yang tepat mampir pada batang hidung si kate, yang lantas mengucurkan darah. Sebenarnya kepandaian jago Hoa-san-pay itu lebih tinggi dari pada si imam. Tapi karena diserang secara tidak diduga-duga, dia tidak keburu berkelit lagi. Kejadian yang lucu itu disambut dengan gelak tawa.
“See-hoa-cu, mundur kau!” bentak Pan Siok Ham sambil menahan tawa.
“Baiklah,” jawabnya. “Tapi bangsat jangkung itu masih hutang satu tinju.”
Tiba-tiba si kate menyapu kaki See-hoa-cu, membacok dan menyikut.
“Dukk!”
Sikut kirinya mampir di dada si imam. Tiga gerakan berantai itu adalah salah satu jurus terlihai dari Hoa-san-pay. Tubuh See-hoa-cu bergoyang-goyang dan tanpa tercegah lagi ia langsung muntah darah. Secepat kilat Ho Thay Ciong menempelkan telapak tangan kirinya pada pinggang si murid, kemudian dengan sekali mendorong, tubuh yang tinggi besar itu terpental beberapa tombak jauhnya.
“Sungguh indah pukulan itu!” katanya untuk mengejek si kate dan...
“Srett...!”
Pedangnya menikam Bu Kie, merupakan bukti bahwa Ciang-bun-jin Kun-lun-pay memang bukan sembarang orang. Setelah penghalang menyingkir, keempat jago itu menyerang makin hebat. Dua golok dan pedang berkelebat-kelebat bagaikan kitiran dan Bu Kie seolah-olah dikurung dengan sinar senjata. Dengan tenaga dalam yang sangat kuat, dia tidak merasa lelah. Tetapi serangan-serangan dengan perubahan-perubahannya yang aneh-aneh itu sesungguhnya terlampau hebat. Bu Kie mengerti bahwa dalam dua ratus atau tiga jurus lagi dia akan binasa.
Kiu-yang Sin-kang yang dimiliki Bu Kie diperoleh dari Kiu-yang Cin-kang gubahan Tat Mo Couwsu dari India, sedangkan Kian-kun Tay-lo-ie berasal dari Iran. Kedua ilmu ini boleh dikatakan puncaknya kepandaian manusia.
Di lain pihak, kedua ilmu silat Liang-gie itu digubah dari bermacam-macam ilmu Tiongkok asli yang dicampur dengan kedudukan-kedudukan Pat-kwa dari Bu Ong. Kalau seseorang sudah melatih diri sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu tersebut, maka dia akan banyak lebih lihai dari pada orang yang memiliki Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Tetapi karena Kitab Ya-keng (kitab mengenai Pat-kwa) terlampau sukar dipelajari, maka keempat jago itu baru mengenal kulitnya saja. Kalau tidak begitu tentu siang-siang Bu Kie sudah binasa.
Sambil bertempur pemuda itu terus mengasah otak. Bila dia mau, dengan menggunakan ilmu pengenteng badan dengan mudah dia dapat meloloskan diri dari kepungan. Keempat tokoh itu takkan dapat mengejarnya. Tapi jika dia lari maka tujuannya untuk mendamaikan permusuhan antara enam partai dan Beng-kauw akan gagal sama sekali. Sesudah memikirkan bolak-balik, dia mengambil keputusan untuk bertahan terus dan baru menyerang sesudah keempat lawannya lelah. Tapi di luar dugaan, keempat orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat kuat dan entah sampai kapan baru menjadi letih.
Biar pun berada di atas angin, di dalam hati keempat jago itu merasa sangat tidak enak. Mereka merasa malu terhadap diri sendiri. Dengan mengingat kedudukan dan nama mereka, jangankan empat lawan satu, sedangkan satu lawan satu pun sudah amat hilang muka. Lebih dari pada itu, sesudah bertempur tiga empat ratus jurus, mereka belum juga bisa merobohkan Bu Kie. Untung pemuda itu sudah lebih dulu menjatuhkan pendeta suci Kong-seng sehingga kalau malu, malu beramai-ramai.
Makin lama Bu Kie makin terdesak, tapi tak begitu gampang ia bisa dilukai. Pada detik-detik yang berbahaya ia selalu dapat menyelamatkan diri dengan berkelit atau menangkis dengan ranting bwee yang disertai sinkang. Pada lain pihak keempat tokoh itu mempunyai pengalaman luas dan kenyang menghadapi lawan berat. Makin lama bertempur, mereka makin tidak berani berlaku sembrono. Seraya mengempos semangat, mereka mendesak setingkat demi setingkat. Para tetua keempat partai mengikuti jalannya pertandingan dengan penuh perhatian dan kadang-kadang memberi penjelasan serta petunjuk kepada murid-murid mereka yang berdiri di sekitar lapangan.
“Lihatlah kalian semua,” kata Biat-coat Suthay kepada murid-muridnya. “Ilmu silat pemuda itu sangat luar biasa. Tetapi keempat pemimpin dari Kun-lun-pay dan Hoa-san-pay sudah menjepitnya sehingga ia tidak dapat bergerak lagi. Ilmu silat dari Tiong-goan tak akan bisa ditandingi oleh segala ilmu siluman dari See-hek. Liang-gie berubah menjadi Su-siang dan Su-siang berubah menjadi Pat-kwa. Dalam ilmu silat itu terdapat delapan kali delapan atau enam puluh empat kie-pian (perubahan yang luar biasa) berikut delapan kali delapan atau enam puluh empat teng-pian (perubahan yang sudah tetap). Enam puluh empat kali enam puluh empat maka seluruhnya ada empat ribu sembilan puluh enam perubahan. Di antara macam-macam ilmu silat di kolong langit, ilmu silat Liang-gie lah yang mempunyai paling banyak perubahan.”
Semenjak Bu Kie turun ke gelanggang, Ciu Cie Jiak amat khawatir akan keselamatannya. Karena sangat disayang oleh sang guru, nona itu telah diberi pelajaran kitab Ya-keng. Kini dengan mengggunakan kesempatan baik, ia segera berkata dengan suara nyaring,
“Suhu, menurut pendapat teecu, biar pun jurus-jurusnya sangat beraneka warna tetapi inti sari dari Ceng-hoan Siang-gie ialah Thay-kek menjadi Im-yang Liang-gie. ‘Yang’ terdiri dari Thay-yang dan Siauw-im. ‘Im’ terdiri dari Siauw-yang dan Thay-im. Inilah yang dinamakan Su-sian. Kalau tidak salah, meski pukulan-pukulan keempat Cianpwe itu hebat luar biasa tapi yang paling lihai adalah po-hoatnya (tindakannya).“ Karena Ciu Cie Jiak bicara menggunakan tenaga dalam, tanpa terasa semua orang menengok kepadanya.
Meski pun sedang bertempur mati-matian, namun kuping dan mata Bu Kie tetap waspada terhadap keadaan di luar gelanggang sehingga setiap perkataan nona Ciu dapat didengar tegas olehnya.
“Mengapa ia bicara begitu keras?” tanyanya dalam hati. “Apakah ia sengaja ingin memberi petunjuk kepadaku?”
“Penglihatanmu sedikit pun tak salah,” kata Biat-Coat. “Aku merasa girang sebab kau bisa menangkap inti sari dari ilmu silat para Cianpwe.”
“Ya,” kata pula si nona pada diri sendiri. “Kian di selatan, kun di utara, lo di di timur, kan di barat, cin di timur laut, twie di tenggara, sun di barat daya, gin di barat laut. Mulai dari cin sampai Kian dinamakan sun (menurut), dari sun sampai kun dinamakan gek (melawan).“ Setelah berdiam sejenak ia berkata lagi dengan suara lebih keras. “Suhu, tidak salah lagi, tepat seperti yang kau ajarkan, Ceng-liang-gie Kiam-hoat dari Kun-lun-pay ialah Sun yang meliputi kedudukan dari Cin sampai pada Kian. Hoan-liang-gie To-hoat dari Hoa-san-pay ialah Gek yang meliputi kedudukan dari Sun sampai pada Kun. Suhu, bukankah begitu?”
Mendengar perkataan muridnya, Biat-coat jadi girang sekali. Ia mengangguk beberapa kali dan berkata.
“Anak, kau tidak menyia-nyiakan capai lelahku.“
Nenek itu adalah manusia yang paling jarang memuji orang. Kata-katanya tadi adalah pujian tertinggi yang bisa dia berikan. Dalam girangnya Biat-coat tidak memperhatikan suara Cie Jiak yang sebenarnya terlampau nyaring. Tapi banyak orang sudah melihat keluar-biasaan ini. Melihat banyak mata ditujukan kepadanya, Cie Jiak lantas pura-pura girang dan berkata sambil bertepuk-tepuk tangan.
“Suhu, benar sekali. Su-siang-ciang dari Go-bi-pay kita dalam bundarnya terdapat persegi, ‘Im’ dan ‘Yang’ saling bantu membantu. Yang bundar dan berada di luar adalah ‘Yang’. Yang persegi dan di tengah-tengah adalah ‘Im’. Yang bundar dan bergerak dinamakan ‘Thian’ (langit), sedangkan yang persegi dan diam (tenang) dinamakan ‘Tee’ (bumi). Dengan demikian dalam ilmu silat kita terdapat Langit, Bumi, Im, Yang, persegi, bundar, bergerak dan diam. Menurut pendapatku Su-siang-ciang lebih unggul satu tingkat dari pada Ceng-hoan Liang-gie.”
Biat-coat yang memang selalu merasa bangga akan kelihayan Su-siang-ciang jadi makin girang,
“Tidak salah apa yang dikatakan olehmu,” katanya sambil tersenyum. “Akan tetapi kelihayan ilmu silat sangat tergantung pada kepandaian dan tenaga dalam dari orang yang menggunakannya.”
Di waktu kecil Bu Kie sering mendengar ceramah-ceramah tentang pelajaran kedudukan Pat-kwa karena Ya-keng adalah kitab yang terutama harus dipelajari oleh murid Bu-tong dan lweekang Bu-tong-pay juga berdasarkan kitab itu. Bu Kie terkejut mendengar perkataan nona Ciu tentang Su-siang-ciang, Sun dan Gok. Ia segera memperhatikan po-hoat (tindakan) dan jurus keempat lawannya dan benar saja, semua itu berdasarkan perubahan dari Su siang Pat kwa. Sekarang ia mengerti kenapa Kian-kun Tay-lo-ie tidak bisa bergerak.
Apa bila sama-sama sudah mencapai puncak kesempurnaan, pada hakekatnya ilmu silat See-hek tidak akan bisa menandingi ilmu dari Tiong-goan. Bahwa Bu Kie masih bisa terus mempertahankan diri adalah karena dia sudah memiliki ilmu See-hek sampai pada tingkat yang tertinggi, sedangkan empat lawannya baru mengenal kulit-kulit dari ilmu silat Tiong-goan itu. Dalam sekejap dia sudah dapat memikirkan beberapa cara untuk merobohkan lawannya itu. Namun dia masih bersangsi.
“Kalau kini aku menjatuhkan mereka, Biat-coat akan sadar dan memarahi nona Ciu,” pikirnya. “Nenek itu sangat kejam. Dia dapat melakukan perbuatan apa pun juga.”
Maka dia tidak lantas mengubah cara bersilatnya. Tapi sekarang berbeda dengan tadi, dia bisa melayani dengan tenang sambil memperhatikan jurus-jurus lawan. Semakin lama dia semakin tahu seluk-beluk Ceng-hoan Liang-gie. Sementara itu Cie Jiak menjadi makin bingung melihat keadaan Bu Kie tidak berubah.
“Dalam repotnya melayani musuh, dia tentu tidak bisa segera menangkap ilmu silat yang sangat tinggi itu,” pikirnya. Melihat Bu Kie makin terdesak, dia menjadi nekat. Sambil menghunus pedang dia melompat masuk ke gelanggang.
“Su-wi Cianpwe!” serunya. “Jika kalian tidak bisa merobohkan bocah itu, biarlah aku yang mencoba-coba.”
Ho Thay Ciong menjadi marah. “Jangan rewel! Minggir kau!” bentaknya.
Alis Pan Siok Ham berdiri. “Ada hubungan apa kau dengan bocah ini?!” tanyanya dengan suara keras. “Kau mau melindungi dia? Kun-lun-pay tak boleh dibuat permainan.”
Karena topengnya dilucuti, paras muka Cie Jiak berubah merah.
“Cie Jiak, lekas balik!” bentak Biat-coat. “Kun-lun-pay tak boleh dibuat permainan. Apa kau tidak mendengar?”
Bu Kie merasa sangat berterima kasih. Dia merasa bahwa kalau terus berlagak terdesak maka si nona pasti akan mencari lain daya upaya untuk membantu dirinya. Kalau hal itu dilihat oleh Biat-coat maka Cie Jiak bisa celaka. Karena itu dia lantas tertawa ter-bahak-bahak.
“Aku adalah pecundang dari Go-bi-pay,” katanya. “Aku pernah ditawan Biat-coat Suthay. Memang benar Go-bi-pay lebih unggul dari pada Kun-lun-pay.” Seraya berkata begitu dia maju dan tidak ke kiri. Kini tangan kanannya yang memegang ranting bwee membabat ke bawah.
Kesiuran angin yang dahsyat itu lantas menghantam punggung si kate. Pukulan dan tindakan Bu Kie dilakukan dengan tenaga dan waktu yang tepat sehingga tanpa terasa golok si kate menyambar ke arah Pan Siok Ham. Ternyata pemuda itu memukul dengan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dan melangkah menurut kedudukan Pat-kwa. Dalam kagetnya si jago pedang betina menangkis dengan pedangnya.
“Trangg...!”
Tangkisannya memang berhasil, tapi golok si jangkung sudah menyusul. Untuk menolong isterinya, Ho Thay Ciong melompat dan menangkis golok si jangkung. Bu Kie menepuk dengan telapak tangannya hingga golok si kate membacok perut Ho Thay Ciong. Pan Siok Ham marah sekali. Dengan beruntun dia mengirim tiga serangan berantai sehingga si kate menjadi kerepotan.
“Hei! Jangan kena diakali bangsat kecil itu!” teriaknya.
Kini Ho Thay Ciong sadar, lantas ia menikam Bu Kie. Dengan Tay-lo-ie Sin-kang pemuda itu menyambut pedang Ho Thay Ciong yang lantas berubah arah dan menyambar pundak si jangkung. Si jangkung berteriak-teriak saking marahnya. Dengan sekuat tenaga ia membacok kepala Ho Thay Ciong. Si kate buru-buru berteriak,
“Sute, jangan kalap! Semuanya adalah perbuatan si bocah. Aihh... celaka!” Pada detik itu pedang Pan Siok Ham berkelebat di pundaknya.
Dalam sekejap saja kedua kakek Hoa-san-pay terluka ringan akibat tergores pedang kawan sendiri. Gerakan-gerakan kedua golok dan kedua pedang menjadi kalang kabut. Bacokan, babatan, papasan, tikaman yang ditujukan ke tubuh Bu Kie selalu berubah arah dan menghantam kawannya sendiri. Kini semua orang bisa melihat bahwa semua itu adalah perbuatan Bu Kie. Namun mereka tidak tahu ilmu apa yang digunakan pemuda itu. Yang tahu hanya Yo Siauw seorang. Tapi ia pun hampir tidak percaya bahwa seorang manusia bisa memiliki Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang sampai pada taraf yang begitu tinggi. Untuk melawan, Pan Siok Ham cepat memberi isyarat dengan teriakan.
“Berputar ke Bu-bong-wie...!“
Tapi itu semua tak menolong sebab Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang telah menguasai mereka dari delapan penjuru. Mati-matian dia coba memberontak, tapi semua sia-sia saja. Setiap gerakan atau bacokan pasti menikam kawannya sendiri.
“Suko, apa tidak baik kalau kau mengurangi sedikit tenagamu?” teriak si jangkung sambil menangkis golok kakak seperguruannya.
“Aku membacok bangsat kecil itu, bukan kau!” kata si kate.
“Suko, hati-hati!” teriak si jangkung. “Bacokan ini mungkin akan berbalik.“ Dan benar saja, goloknya menyambar sang kakak.
Dengan paras muka menyeramkan tiba-tiba Pan Siok Ham melemparkan pedangnya.
“Ah, benar sekali,” pikir si kate yang langsung saja turut membuang senjatanya kemudian menendang Bu Kie. Namun mendadak pedang Ho Thay Ciong menyambar mukanya dan karena sudah tidak bersenjata, cepat dia menundukkan kepala.
“Lepaskan senjata!” teriak Pan Siok Ham.
Mendengar perintah sang isteri, Ho Ciang-bun segera melontarkan pedangnya jauh-jauh. Sementara itu, begitu membuang goloknya si jangkung sudah menjambret leher Bu Kie. Ia merasa telapak tangannya menyentuh benda keras dan ia segera mencengkeram. Namun sedetik kemudian ia terkesiap karena yang dicengkeramnya bukan lain dari pada gagang goloknya sendiri yang dipulangkan oleh Bu Kie dengan menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang.
“Aku tidak mau memakai senjata!” teriak si jangkung seraya melemparkan lagi goloknya.
Bu Kie miringkan badan dan menangkap pula senjata itu yang sekali lagi dipulangkan ke tangan lawan. Kejadian itu terulang beberapa kali. Dalam kaget dan kagumnya si jangkung tertawa terbahak-bahak.
“Bangsat bau, kau benar-benar mempunyai ilmu siluman!” teriaknya.
Sementara itu si kate dan suami isteri Ho sudah menyerang dengan tangan kosong. Ilmu silat tangan kosong dari Hoa-san dan Kun-lun tidak kalah hebatnya dari ilmu silat memakai senjata. Tapi pemuda itu licin bagaikan ikan di air. Pada detik-detik berbahaya ia selalu bisa menyelamatkan diri, kemudian balas menyerang. Sampai di situ keempat jago mengerti bahwa mereka tak akan bisa mendapat kemenangan.
“Bangsat bau! Awas senjata rahasia!” teriak si jangkung.
Ia mendehem kemudian menyembur Bu Kie dengan riaknya. Bu Kie berkelit dan dengan menggunakan kesempatan itu, si jangkung melontarkan goloknya. Mendadak ia berteriak,
“Celaka! Maaf!”
Apa yang sudah terjadi? Ternyata dengan tangan kiri Bu Kie mengibas riak itu yang lantas berbalik kemudian mampir di dahi Pan Siok Ham. Si ratu Kun-lun menjadi kalap. Sekarang dia nekat. Dia mengambil keputusan untuk mati bersama Bu Kie. Sambil mementang sepuluh jarinya dia berdiri di belakang Bu Kie untuk mencegat jalan mundur pemuda itu. Melihat kesempatan baik, Ho Thay Ciong juga menubruk. Dia merasa pasti bahwa kali ini bocah bau itu tak akan bisa meloloskan diri.
Seraya bersiul nyaring badan Bu Kie tiba-tiba melesat ke atas dan begitu berada di tengah udara, sambil mengerahkan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dia mengibas kedua tangannya dengan gesit dan cekatan. Sesudah itu dia langsung memutar badan dan dengan gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang ke muka bumi lalu hinggap pada jarak kurang lebih setombak dari tempat semula. Hasil perbuatan Bu Kie sangat menakjubkan!
Ho Thay Ciong memeluk pinggang isterinya, Pan Siok Ham mencengkeram pundak sang suami, sedangkan si kate dan si jangkung juga saling peluk erat-erat. Sesudah berkutat sejenak, keempat jago itu sama-sama roboh. Di lain detik suami isteri Ho sadar dan dengan paras muka kemerah-merahan mereka melompat bangun.
“Mampus kau!” teriak si jangkung. “Celaka...! Sial...!”
“Lepaskan!” seru si kate.
Dengan malu bercampur marah, kedua kakek itu pun bangkit.
“Bangsat bau!” teriak si jangkung. “Ini bukan pibu. Kau mempergunakan ilmu siluman. Kau bukan enghiong.”
Si kate mengerti bahwa tiada guna pertempuran dilangsungkan lagi. Makin lama mereka akan menderita makin hebat. Sambil mengangkat kedua tangannya dia berkata,
“Sinkang tuan tinggi luar biasa, aku si tua ini belum pernah melihat kepandaian semacam ini. Hoa-san-pay menyerah kalah.”
“Maaf,” jawab Bu Kie sambil membalas hormat. “Boanpwe menang secara kebetulan saja. Kalau tadi para Cianpwe tidak menaruh belas kasihan, sejak tadi Boanpwe sudah binasa di bawah golok dan pedang Ceng-hoan Liang-gie.“ Dengan berkata demikian Bu Kie bicara sejujurnya. Kalau tidak dibantu Cie Jiak memang dia bakal celaka.
Si jangkung girang. “Bagus! Kau tahu bahwa kau menang secara kebetulan,” katanya.
“Apakah aku boleh tahu she dan nama Jie-wi Cianpwe yang mulia?” tanya Bu Kie. “Kalau di kemudian hari kita bertemu lagi, Boanpwe bisa memanggil dengan panggilan yang benar.”
Si jangkung tertawa lebar dan menjawab. “Suko-ku ialah Wie...”
“Tutup mulutmu!” bentak si kate. Ia menengok kepada Bu Kie dan berkata lagi. “Sebagai jenderal yang keok kami merasa sangat malu. Tuan tak perlu tahu nama kami yang hina dina.“ Sesudah berkata begitu dia masuk ke dalam barisan Hoa-san-pay.
Si jangkung tertawa nyaring. “Menang atau kalah dalam peperangan adalah kejadian lumrah. Bagiku tak menjadi soal,“ katanya. Ia memungut dua batang golok yang tergeletak di tanah kemudian balik ke barisannya sendiri.
Sementara itu Bu Kie sudah menghampiri Sian Ie Thong dan menotok jalan darahnya.
“Setelah pertempuran selesai, sekarang aku mau mengobati kau,” katanya. “Aku menotok jalan darahmu untuk mencegah naiknya racun ke jantung.“
Pada detik itu pula tiba-tiba dia merasakan kesiuran angin dingin di belakangnya dan rasa perih di punggungnya. Ia terkesiap, kakinya menotol bumi dan badannya melesat ke atas.
“Cres...! Cress...!“
Terdengar suara yang disusul dengan teriakan menyayat hati. Di tengah udara ia memutar badan dan ia mendapat kenyataan dua batang pedang suami isteri Ho Thay Ciong sudah amblas di dada Sian Ie Thong! Sebagai orang yang memiliki kedudukan dan kepandaian tinggi dan sebagai orang yang selalu bangga akan kepandaiannya, Ho Thay Ciong dan Pak Siok Ham merasa penasaran bahwa mereka roboh di tangan seorang pemuda yang tak dikenal di rimba persilatan. Karena itu, tanpa memperdulikan pantas atau tidak pantas, selagi Bu Kie membungkuk untuk menotok jalan darah Sian Ie Thong, dia membokong dengan pukulan yang dinamakan ‘Bu-seng Bu-sek’ (tidak ada suaranya, tidak ada warnanya).
Bu-seng Bu-sek merupakan salah satu pukulan terhebat dari Kun-lun-pay. Pukulan itu harus didalami oleh dua orang yang tenaga dalamnya kira-kira sama. Dua tenaga yang keluar dari pukulan itu saling bertentangan sehingga sebagai akibatnya, suara yang dapat terdengar dalam menyambarnya senjata menjadi hilang. Itulah sebabnya mengapa jurus ini dinamakan ‘Bu-seng Bu-sek’. Di luar dugaan, sesudah memiliki Kiu-yang Sin-kang, panca indera Bu Kie lebih tajam dan gerakannya cepat luar biasa. Meski pun begitu bajunya tetap robek dan kulitnya kena juga digores pedang. Karena suami isteri Ho tak keburu menarik kembali senjatanya, maka yang menjadi korban adalah Sian Ie Thong.
Semua orang menjadi gempar. Karena sudah telanjur, bagaikan kalap kedua pemimpin Kun-lun-pay itu segera menerjang Bu Kie. Setelah mendapat malu besar mereka mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Pedang mereka menyambar-nyambar dan setiap serangan adalah serangan untuk binasa bersama musuh.
Tiba-tiba Bu Kie mendapat serupa ingatan. Dia berjongkok dan menjemput sedikit tanah yang sesudah dicampur dengan keringat pada telapak tangannya, lalu dibuat menjadi dua butir pil. Di lain saat Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham menyerang dari kiri kanan. Bu Kie melompat ke samping mayat Sian Ie Thong dan berlagak mengambil sesuatu dari saku mayat. Kemudian ia memutar badan dan menghantam dua lawan itu dengan telapak tangan sambil mengerahkan tujuh bagian tenaga.
Dengan berbareng suami-isteri Ho merasakan tekanan hebat pada dada mereka sehingga napas mereka terasa sesak. Cepat mereka membuka mulut untuk menyedot hawa segar. Namun tiba-tiba Bu Kie mengayun kedua tangannya dan kedua pil tanah itu masuk ke dalam tenggorokan Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham. Mereka batuk-batuk, tetapi kedua ‘yo-wan’ sudah masuk ke dalam perut.
Paras muka kedua suami isteri itu berubah pucat. Tadi mereka melihat Bu Kie mengambil sesuatu dari saku Sian Ie Thong. Apa lagi kalau bukan racun? Mengingat penderitaan Sian Ie Thong, bulu roma mereka bangun semua. Pan Siok Ham lantas merasa pusing dan badannya bergoyang-goyang.
“Di dalam sakunya Sian Ie Thong selalu membawa-bawa ulat sutera emas yang dibungkus dengan lilin,” kata Bu Kie dengan suara tawar. “Kalian masing-masing sudah menelan satu butir lilin. Kalau Jie-wi Cianpwe bisa memuntahkannya sebelum lilin itu melumer di dalam perut, mungkin sekali jiwa kalian masih bisa ditolong.”
Sambil mengerahkan lweekang, Ho Thay Ciong bersama isterinya segera berusaha memuntahkan ‘yo-wan’ itu. Dengan tenaga dalamnya yang amat kuat, tak lama kemudian mereka berhasil mengeluarkan tanah itu yang sudah tercampur dengan cairan isi ‘kantong nasi’ (lambung). Si kakek jangkung dari Hoa-san-pay lantas mendekat dan setelah melihat apa yang keluar dari perut, ia tertawa kemudian berkata,
“Aduh! Itu tahi ulat sutera emas. Ulat itu mengeram dalam perutmu lalu berak di situ.”
Kaget dan marahnya ratu Kun-lun-pay sukar dilukiskan. Dengan sekuat tenaga dia segera menghantam si jangkung yang iseng mulut. Kakek nakal itu melompat balik ke barisannya dan seraya menuding Pan Siok Ham, ia berteriak,
“Perempuan galak! Kau sudah membunuh Ciang-bun-jin dari partai kami dan Hoa-san-pay pasti tak akan menyudahi perbuatanmu ini.”
Suami isteri Ho terperanjat. Meski pun berdosa besar tapi Sian Ie Thong adalah seorang Ciang-bun-jin. Mereka paham bahwa kesalahan tangan itu pasti akan berekor panjang dan hebat, tapi dalam menghadapi kebinasaan segera, mereka tak sempat menghiraukan lagi bahaya di belakang hari. Mereka tahu bahwa di dunia hanya Bu Kie seorang yang dapat menolong mereka. Tapi mengingat perbuatan mereka dahulu, apakah pemuda itu sudi mengangsurkan tangan?
Bu Kie tertawa tawar dan berkata dengan suara tawar pula. “Jie-wi tak usah takut. Meski pun Kim-can sudah berada dalam perut tapi enam jam kemudian barulah racunnya akan mengamuk. Sesudah membereskan urusan besar ini, Boanpwe pasti akan turun tangan menolong Jie-wi. Boanpwe hanya berharap agar Ho-hujin jangan memaksaku minum arak beracun.”
Walau pun disindir, kedua suami isteri itu menjadi bingung. Tapi mereka merasa malu hati untuk mengucapkan terima kasih. Maka sambil menundukkan kepala mereka lalu kembali ke barisan sendiri.
“Cobalah Jie-wi minta empat butir Giok-tong Hek-seng-tan dari Khong-tong-pay,” kata Bu Kie. “Obat itu bisa menahan naiknya racun ke jantung.”
Ho Thay Ciong mengangguk dan segera memerintahkan salah seorang muridnya minta pil itu dari pemimpin Khong-tong-pay.
Dalam hatinya Bu Kie tertawa geli. Giok-tong Hek-seng-tan memang obat pemunah racun, tapi obat itu mengakibatkan sakit perut selama dua jam.
Sesudah menelannya, perut suami isteri Ho sakit bukan main. Mereka semakin ketakutan dan menduga racun sudah mulai mengamuk. Mereka tak pernah bermimpi bahwa mereka dikelabui oleh pemuda ini.
Sementara itu Biat-coat Suthay berkata kepada Song Wan Kiauw. “Song-tayhiap, enam partai kini hanya tinggal dua partai saja, partaimu dan partai kami. Partai kami kebanyakan terdiri dari kaum wanita. Maka itu Song-tayhiap lah yang harus bertindak.”
“Siauw-to sudah dikalahkan In-kauwcu,” jawab Wan Kiauw. “Kiam-hoat Suthay tinggi luar biasa, jadi kurasa Suthay pasti bisa menaklukkan bocah ini.”
Biat-coat tersenyum tawar dan seraya menghunus Ie-thian-kiam, dia pun bertindak masuk ke gelanggang. Se-konyong-konyong Jie-hiap Jie Lian Ciu keluar dari barisan Bu-tong-pay. Semenjak tadi dengan rasa kagum dan heran dia memperhatikan ilmu silat Bu Kie.
“Walau pun lihay belum tentu Biat-coat Suthay bisa melawan empat jago dari Hoa-san dan Kun-lun,” pikirnya. “Kalau dia kalah Bu-tong-pay juga kalah, maka usaha enam partai akan gagal sama sekali. Biarlah aku yang maju lebih dulu.“ Setelah berpikir demikian dia segera menyusul Biat-coat dan berkata. “Suthay, biarlah kami berlima saudara yang lebih dahulu mengadu ilmu dengan pemuda itu. Paling akhir barulah Suthay yang maju dan aku merasa pasti bahwa Suthay akan memperoleh kemenangan.”
Maksud Jie Lian Ciu cukup jelas. Bu-tong-pay dikenal sebagai partai yang mengutamakan latihan lweekang. Apa bila ilmu pendekar Bu-tong dengan bergiliran melayani pemuda itu, maka andai kata mereka tidak mendapat kemenangan, pemuda itu pasti akan lelah sekali. Sesudah dia lelah barulah Biat-coat maju untuk merobohkannya. Si nenek mengerti maksud Jie Lian Ciu. Dia mendongkol dan berkata dalam hati. “Siapa sudi menerima budi Bu-tong-pay? Biar pun menang tapi dengan cara begitu kemenangan itu bukanlah kemenangan gemilang!”
Dia sangat sombong dan memandang rendah semua manusia. Meski pun sudah menyaksikan kelihayan Bu Kie tetapi di dalam hati dia merasa bahwa jago dari partai lain adalah manusia-manusia tolol. Dia tak percaya bahwa dia tidak bisa merobohkan pemuda itu. Maka seraya mengibaskan tangan jubah dia berkata,
“Harap Jie Jie-hiap kembali saja! Sesudah dihunus Ie-thian-kiam tidak dapat dimasukkan lagi ke dalam sarungnya sebelum dipakai bertempur.”
“Baiklah,” kata Jie Lian Ciu yang segera kembali ke barisannya.
Sambil melintangkan pedang mustika di dadanya, Biat-coat menghampiri Bu Kie. Pedang Ie-thian-kiam amat dibenci dan ditakuti oleh kalangan Beng-kauw. Anggota Beng-kauw yang binasa karena pedang itu sukar dihitung jumlahnya. Sekarang melihat si nenek maju dengan Ie-thian-kiam terhunus, mereka semua merasa kuatir bercampur gusar dan beramai-ramai mereka mencaci Biat-coat. Si nenek tertawa dingin,
“Jangan rewel kalian!” bentaknya. “Kalian tunggulah! Setelah aku membereskan bocah itu maka aku akan segera membereskan kalian semua.”
In Thian Ceng tahu Ie-thian-kiam sukar dilawan. “Can Siauw-hiap, senjata apa yang ingin kau gunakan?” tanyanya.
“Aku tidak punya senjata,” jawabnya. “Bagaimana pikiran Loya-cu?” Di dalam hatinya Bu Kie memang merasa jeri terhadap pedang mustika itu. Dengan perlahan-lahan sang kakek menghunus pedang yang tergantung di pinggangnya.
“Terimalah Pek-hong-kiam (Pedang bianglala putih) ini,” katanya. “Walau pun tidak dapat menandingi Ie-thian-kiam milik bangsat perempuan itu, tapi pedang ini adalah senjata yang jarang terdapat di dalam dunia Kangouw.“ Seraya berkata demikian dia menyentil badan pedang yang lantas saja membengkok karena menjadi lemas seperti ikat pinggang.
“Uungg...!” Sebuah suara yang nyaring bersih lantas saja terdengar dan badan pedang pulih kembali seperti sedia kala.
Dengan sikap menghormat Bu Kie menyambuti pedang itu. “Terima kasih,” katanya sambil membungkuk.
“Pedang ini sudah ikut bersama aku selama puluhan tahun dan sudah membunuh banyak sekali manusia rendah,” kata In Thian Ceng. “Apa bila hari ini dia bisa membunuh bangsat perempuan itu, biar pun mati lohu merasa puas.”
“Boanpwe akan perbuat apa yang Boanpwe bisa,” kata Bu Kie. Sambil menundukkan ujung pedang ke muka bumi dan memegang gagang pedang Pek-hong-kiam dengan sepasang tangannya, pemuda itu berkata kepada Biat-coat. “Kiam-hoat Boanpwe sudah pasti bukan tandingan Suthay dan sesungguhnya Boanpwe tidak berani melawan Cianpwe. Cianpwe pernah menaruh belas kasihan terhadap para anggota Swie-kim-kie, kenapa sekarang Cianpwe tidak bisa menaruh belas kasihan kepada Boanpwe?”
Alis si nenek lantas saja turun. “Karena kau telah menolong kawanan setan Swie-kim-kie,” katanya dengan suara menyeramkan. “Biat-coat Suthay belum pernah mengampuni orang. Sesudah menang baru kau boleh membuka bacot.”
Para anggota Lima Bendera Beng-kauw yang sangat membenci nenek itu lantas saja ber-teriak2.
“Bangsat tua! Kalau kau benar-benar jagoan, coba kau bertanding dengan tangan kosong melawan Can Siauw-hiap.”
“Kiam-hoatmu cetek sekali. Yang kau andalkan hanyalah pedang Ie-thian-kiam!”
“Apa kau rasa kau bisa menang?”
Dan sebagainya.
Biat-coat tak mempedulikan cacian dan ejekan itu. “Hayo mulai!” katanya dengan nyaring.
Sebenarnya Bu Kie belum pernah belajar ilmu pedang. Mendengar undangan si nenek, ia bersangsi. Tiba-tiba ia ingat Liang-gie Kiam-hoat dari Ho Thay Ciong yang lihay dan indah. Ia segera mengangkat pedang dan membabat.
“Siauw-pek Toan-in (Memapas tembok memotong awan) dari Hoa-san-pay!” seru Biat-coat dengan heran.
Cepat bagaikan kilat si nenek menikam dari samping. Dalam gebrakan pertama itu, tanpa menangkis serangan ia balas menyerang. Dengan disertai lweekang yang hebat ujung Ie-thian-kiam menyambar pusar pemuda itu.
Bu Kie berkelit ke samping, tapi sebelum ia berdiri tegak pedang Biat-coat telah meluncur ke tenggorokannya. Bu Kie terkesiap. Dengan bingung ia menggulingkan diri di tanah. Tapi sebelum ia melompat bangun, angin dingin sudah menyambar-nyambar di lehernya.
“Celaka!” Bu Kie mengeluh, ujung kakinya menotol tanah dan badannya melesat ke atas. Ia berhasil menyelamatkan jiwa dari satu kedudukan yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia.
Baru saja hadirin mau bersorak, si nenek sudah melompat dan pedangnya diangkat untuk memapaki tubuh pemuda itu. Detik itu tubuh Bu Kie sedang melayang turun ke bawah. Karena berada di tengah udara, ia tidak bisa berkelit lagi. Ie-thian-kiam menyambar! Hati Bu Kie mencelos. Satu di antara dua: kalau bukan kedua kakinya, tentu badannya akan terbabat kutung! Pada saat yang sangat berbahaya, Kian-kun Tay-lo-ie memberi reaksi yang wajar. Tanpa berpikir lagi ia menyentuh ujung Ie-thian-kiam dengan ujung Pek-hong-kiam.
“Trangg...!”
Pek-hong-kiam melengkung dan membal. Dengan menggunakan tenaga membal itu tubuh Bu Kie sekali lagi melesat ke atas!
Biat-coat benar-benar tidak mengenal kasihan. Ia melompat kemudian membabat tiga kali beruntun. Badan Bu Kie sudah melayang ke bawah. Ia tidak dapat berbuat lain dari pada menangkis.
“Trangg...!“ Pek-hong-kiam kutung dua!
Dengan hati mencelos Bu Kie menepuk ubun-ubun (embun-embunan) lawan yang segera membabat pergelangan tangannya. Karena babatan itu cepat luar biasa, dia tidak keburu menarik pulang tangannya. Dalam keadaan demikian dia hanya bisa menolong diri dengan satu jalan. Dengan kecepatan yang hampir tiada taranya ia menyentil badan Ie-thian-kiam dan berbareng dengan meminjam tenaga sentilan itu, tubuhnya segera terbang ke tempat yang lebih aman.
Lengan Biat-coat kesemutan, telapak tangannya seperti terbeset dan Ie-thian-kiam hampir terlepas dari tangannya! Biat-coat terkesiap. Ia cepat menoleh dan melihat Bu Kie dengan tangan mencekal pedang buntung sudah berdiri dalam jarak dua tombak lebih. Itulah gebrakan-gebrakan yang sungguh jarang terlihat dalam rimba persilatan!
Dalam sekejap mata itu Biat-coat menyerang delapan kali. Setiap jurus adalah jurus yang membinasakan. Delapan kali Bu Kie memunahkan serangan itu, delapan kali pula ia lolos dari lubang jarum. Baik serangan mau pun pembelaan diri, sama-sama mencapai puncak kehebatan, puncak keindahan.
Semua orang menahan napas. Mereka hampir tak percaya bahwa apa yang mereka lihat barusan adalah suatu kenyataan. Setelah lewat sekian lama barulah terdengar sorak sorai gegap gempita.
Laksana patung Bu Kie berdiri terus sambil memegang pedang buntung. Ia merasa sudah jatuh di bawah angin. Ia tidak tahu bahwa begitu Ie-thian-kiam disentilnya, lengan si nenek langsung kesemutan dan jika ia menyerang terus maka ia sudah mendapat kemenangan. Memang Bu Kie kurang pengalaman! Walau pun beradat tinggi, mau tak mau sekarang Biat-coat mengakui kelihayan pemuda itu.
“Tukar senjatamu dan mari kita bertempur lagi,” katanya.
Dengan rasa menyesal Bu Kie mengawasi pedang buntung itu. Dalam hatinya dia berkata, “Gwa-kong menghadiahkan pedang mustika ini kepadaku dan aku sudah merusakkannya. Sungguh tak enak... senjata apa lagi yang bisa melawan Ie-thian-kiam?” Selagi Bu Kie bersangsi, mendadak Ciu Tian berteriak.
“Aku punya sebuah golok mustika. Kau ambillah!”
“Ie-thian-kiam terlalu hebat,” sahut Bu Kie. “Boanpwe kuatir senjata Cianpwe akan menjadi rusak.”
“Biarlah rusak,” kata Ciu-Tian. “Kalau kau kalah maka kami semua mati. Perlu apa golok mustika itu?”
Bu Kie menganggap perkataan itu memang tidak salah, maka tanpa berkata apa-apa lagi dia menghampiri Ciu Tian untuk mengambil goloknya.
“Thio-kongcu, kau harus menyerang, tak boleh hanya membela diri,” bisik Yo Siauw ketika Bu Kie lewat di depannya.
Bu Kie kaget mendengar panggilan ‘Thio-kongcu’, tapi ia segera mengetahui mengapa Yo Siauw menggunakan istilah itu. Yo Put Hwie telah mengenali dirinya dan memberi-tahukan kepada ayahandanya.
“Terima kasih atas petunjuk Cianpwe,” jawabnya.
Waktu lewat di samping Wie It Siauw, Ceng-ek Hok-ong juga berbisik, “Gunakanlah ilmu peringan badan terus menerus.”
Bu Kie girang. “Terima kasih,” jawabnya.
Kong-beng Sucia Yo Siauw dan Ceng-ek Hok-ong Wie It Siauw adalah ahli-ahli silat kelas utama dan mereka belum tentu kalah dari Biat-coat Suthay. Akan tetapi sayang, sebelum bertempur mereka telah dibokong Goan-tin sehingga badan mereka menjadi lumpuh. Tapi kecerdasan otak dan ketajaman mata mereka sama sekali tak pernah berubah dan bisik-bisikan itu memang siasat yang paling tepat untuk menghadapi Biat-coat.
Berat golok mustika yang sudah dipegang Bu Kie itu kira-kira empat puluh kati. Warnanya hitam, bentuknya aneh dan tak usah dikatakan lagi, senjata itu barang pusaka yang sudah berusia tua sekali. Di dalam hati Bu Kie masih merasa menyesal bahwa pedang kakeknya telah rusak dalam tangannya. Tapi pedang itu sudah dihadiahkan kepadanya. Sedangkan golok ini masih menjadi milik Ciu Tian yang meminjamkannya.
“Golok mustika ini tidak boleh dirusak,” pikirnya. Ia maju mendekati lawan dan sesudah menarik napas dalam-dalam, ia berkata.
“Suthay, Boanpwe mulai!”
Bagaikan asap tubuhnya melayang ke belakang Biat-coat lalu mengirim bacokan pertama. Sebelum si nenek memutar badan, ia sudah melompat ke samping dan mengirim bacokan kedua. Badannya lantas ber-kelebat2, goloknya menyambar-nyambar tak henti-hentinya. Yang sekarang digunakan Bu Kie adalah ilmu ringan badan tercepat yang pernah dikenal dalam rimba persilatan. Ilmu ringan badan itu adalah hasil dari pengerahan Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Ilmu ringan badan Ceng-ek Hok-ong masih kalah jauh. Sesudah lari beberapa puluh putaran, Kiu-yang Sin-kang mengamuk makin hebat di dalam tubuhnya dan sekarang dia seolah-olah terbang di atas bumi. Melihat itu murid2 Go-bi-pay menjadi bingung. Mereka tahu guru mereka bakal kalah. Sekonyong-konyong Teng Bin Kun berteriak.
“Hari ini tujuan kita adalah untuk membasmi Mo-kauw. Kita datang bukan untuk pibu. Saudara-saudara, mari kita gempur bocah itu!” Ia menghunus senjata dan melompat ke dalam gelanggang.
Segenap murid Go-bi lantas saja mengikuti dan segera mengambil kedudukan di delapan penjuru. Ciu Cie Jiak berdiri di sudut barat daya.
“Ciu-sumoay, kau mau turut serta atau tidak terserah padamu,” ejek perempuan she Teng itu.
Cie Jiak gusar bercampur malu. “Perlu apa kau berkata begitu?” tanyanya.
Tiba-tiba saja Bu Kie melompat ke hadapan Teng Bin Kun yang segera menikam. Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya pemuda itu sudah merampas pedang lawan yang lalu ditimpukkan kepada Biat-coat. Si nenek membabat dan mematahkan pedang itu, namun tangannya kesemutan karena Bu Kie menimpuk dengan lweekang yang hebat. Pemuda itu bekerja cepat. Badannya berkelebat-kelebat, tangannya menyambar-nyambar merampas pedang2 para murid Go-bi yang kemudian dengan beruntun-runtun ditimpukkan kepada Biat-coat. Murid-murid Go-bi rata-rata memiliki kepandaian tinggi, tapi mereka tak berdaya ketika berhadapan dengan Bu Kie.
Bagaikan hujan gerimis puluhan pedang beterbangan menyambar Biat-coat. Dengan paras muka pucat pasi si nenek memutar Ie-thian-kiam dan mematahkan pedang2 itu. Tak lama kemudian lengan kanannya tidak bisa digunakan lagi karena pegal, maka ia pun memutar senjata dengan tangan kiri. Semua barisan mundur ke belakang karena potongan2 pedang menyambar kian kemari. Tidak lama kemudian seluruh murid Go-bi kecuali Ciu Cie Jiak seorang sudah bertangan kosong.
Bu Kie ingin membalas budi si nona, tapi dengan demikian perbedaan itu menjadi sangat menyolok. Cie Jiak tahu hal ini bakal berekor. Ia melompat untuk menyerang, tapi pemuda itu selalu menyingkirkan diri.
“Ciu-sumoay, benar saja dia memperlakukan kau secara istimewa sekali,” ejek Teng Bin Kun.
Paras muka nona Ciu lantas saja berubah merah. Dengan jengah dia berdiri terpaku.
“Ciu-sumoay, Suhu sedang diserang musuh, mengapa kau hanya berdiri seperti patung?” kata pula perempuan she Teng itu. “Mungkin sekali di dalam hati kau mengharap bocah itu mendapat kemenangan.”
Biar pun sedang kebingungan tapi setiap perbuatan Teng Bin Kun didengar tegas oleh si nenek. Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat satu ingatan,
“Cie Jiak!” bentaknya. “Apa benar kau mau menghina guru?” Seraya membentak dia menikam dada si nona!
Hati nona Ciu mencelos. Tentu saja dia tidak berani menangkis.
“Suhu...!“ teriaknya. Si nona tidak bisa meneruskan perkataannya sebab pedang gurunya hampir menyentuh dada!
Bu Kie tidak tahu bahwa dengan tikaman itu Biat-coat hanya hendak menjajal. Pada detik terakhir si nenek menarik pulang senjatanya. Karena tidak dapat menebak jalan pikiran orang, juga karena pernah menyaksikan kekejaman Biat-coat terhadap Kie Siauw Hu, tanpa pikir panjang lagi ia melompat, memeluk pinggang Cie Jiak dan melompat ke tempat yang lebih aman. Kedudukan Biat-coat segera berubah dari pihak yang diserang sekarang bisa menyerang. Ia segera menikam punggung Bu Kie. Karena sedang menolong orang maka gerakan Bu Kie agak terlambat dan terpaksa ia menangkis dengan goloknya.
“Trangg...!” Golok mustika itu patah.
Biat-coat mengudak dan menikam pula. Bu Kie menimpuk dengan golok buntung, kali ini dengan menggunakan seluruh lweekang-nya. Hampir berbareng dada si nenek menyesak karena tekanan angin timpukan. Ia tidak berani menyambut dengan pedangnya melainkan secepat kilat membanting diri di tanah. Namun biar pun begitu, ratusan lembar rambutnya lantas saja terpapas putus! Melihat kesempatan baik, tanpa melepaskan Cie Jiak, Bu Kie melompat dan menghantam dengan telapak tangannya. Karena darahnya meluap, dia menghantam dengan sepenuh tenaga. Sambil berlutut Biat-coat coba membabat pergelangan tangan Bu Kie. Pemuda itu segera mengubah gerakan tangannya, dari menepuk jadi mencengkeram dan... tahu-tahu tangannya sudah mencekal Ie-thian-kiam!
Cengkeraman yang dilakukan dengan Sin-kang Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh itu tidak dapat dilawan oleh Biat-coat. Meski sudah menang tetapi Bu Kie tidak berani berlaku sembrono. Seraya menudingkan ujung Ie-thian-kiam ke tenggorokan si nenek, per-lahan2 dia mundur dua tindak.
“Lepaskan aku!” teriak Cie Jiak sambil memberontak.
“Ah...! Ya...!” katanya.
Dengan paras muka merah ia melepaskan nona Ciu. Ia mengendus bebauan wangi yang sangat halus dan waktu melepaskan, beberapa lembar rambut si nona menyentuh pipinya. Tanpa terasa ia melirik. Muka Cie Jiak bersemu dadu. Meski pun parasnya mengunjukkan perasaan takut namun sinar matanya memperlihatkan rasa bahagia. Perlahan-lahan Biat-coat berbangkit. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mengawasi Bu Kie. Mukanya sangat menyeramkan. Seraya mengangsurkan gagang pedang, Bu Kie berkata,
“Ciu-kouwnio, tolong serahkan pedang ini kepada gurumu.”
Cie Jiak berdiri bengong. Macam2 pikiran berkelebat dalam otaknya. Sesudah terjadi apa yang sudah terjadi, dia merasa dirinya pasti akan dipandang sebagai pengkhianat partai, seorang yang menghina guru sendiri. Apakah dia benar-benar harus berkhianat terhadap gurunya sendiri? Bu Kie memperlakukannya secara baik sekali. Tapi biar bagaimana pun juga dia adalah seorang anggota Mo-kauw, anggota dari agama ‘siluman’. Sekonyong-konyong kupingnya mendengar bentakan gurunya,
“Cie Jiak, bunuh dia!”
Delapan tahun yang lampau, setelah mengajak Cie Jiak pulang ke Bu-tong-san, Thio Sam Hong lalu menyerahkan muridnya, yaitu Cie Jiak kepada Biat-coat Suthay karena di dalam Bu-tong-pay tidak pernah bernaung murid wanita. Nona Ciu memiliki bakat yang sangat baik. Karena mengingat dirinya seorang yatim piatu maka dia belajar giat dan kemajuannya pesat sekali. Biat-coat sangat menyayangnya dan selama delapan tahun belum pernah dia berpisahan dengan gurunya itu.
Di mata Cie Jiak, Biat-coat bagaikan seorang ratu. Kata2nya merupakan undang-undang yang tidak pernah dibantah. Kini mendengar bentakan sang guru yang sangat angker dan berpengaruh, dalam bingungnya tanpa terasa dia mengangkat Ie-thian-kiam lalu menikam dada Bu Kie.
Karena tidak menduga bakal diserang, pemuda itu tidak waspada. Tiba-tiba pedang sudah menyambar. Dia terkesiap tetapi sudah tidak keburu menangkis atau berkelit lagi. Untung juga waktu menikam tangan Cie Jiak agak gemetaran sehingga ujung pedang mencong ke samping dan amblas di dada sebelah kanan. Sambil berteriak si nona menarik pulang Ie-thian-kiam. Pedang berlepotan darah dan darah mengucur dari dada Bu Kie. Hal itu mengejutkan semua orang. Keadaan berubah kalut, di empat penjuru terdengar teriakan.
Bu Kie mendekap dada dengan tangannya. Tubuhnya bergoyang-goyang sedangkan paras mukanya mengunjuk perasaan gegetun, menyesal dan heran se-akan2 dia ingin bertanya. “Apa kau sungguh-sungguh mau mengambil jiwaku?”
Cie Jiak sendiri mengawasi hasil perbuatannya dengan kedua mata terbelalak dan mulut ternganga. Dengan suara parau dia berkata,
“Aku... aku...“
Di dalam hati dia ingin menubruk Bu Kie, namun dia tidak berani. Sesaat kemudian sambil menutup muka dengan kedua tangannya, dia memutar badan lalu lari balik ke barisannya. Peristiwa itu tak pernah diduga oleh siapa pun juga.
Dengan muka pucat pasi Siauw Ciauw memapah Bu Kie. “Thio-kongcu... kau...“ katanya terputus-putus. Luka pemuda itu sangat berat, tetapi masih untung karena moncong ujung pedang tidak melanggar jantung.
Dengan mengawasi Siauw Ciauw, Bu Kie berkata, “Mengapa kau menikam aku...“ Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, napasnya tersengal-sengal dan seraya membungkuk ia batuk-batuk. Matanya ber-kunang2, kepalanya pusing sehingga ia tidak bisa membedakan Siauw Ciauw dari Cie Jiak. Darah mengucur terus dan pakaian si nona turut basah.
Sejenak kemudian, sesudah teriakan mereda, lapangan yang penuh manusia itu berubah menjadi sunyi senyap. Baik anggota enam partai mau pun anggota Beng-kauw atau Peh-bie-kauw tak seorang pun yang mengeluarkan sepatah kata. Apa yang tadi dilakukan oleh pemuda itu, kelihayannya dalam menjatuhkan sejumlah tokoh ternama dan cara-caranya yang mengunjuk perasaan kemanusiaan sudah membangkitkan rasa kagum dan hormat dalam hatinya semua orang. Karena itu baik kawan mau pun lawan merasa berduka atas kejadian itu. Di dalam hati, mereka mengharapkan keselamatan Bu Kie. Dengan dipeluk Siauw Ciauw, perlahan-lahan Bu Kie duduk di tanah.
“Siapa yang punya obat luka yang paling manjur?!” seru si nona.
Kong-seng segera mendekati lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari sakunya.
“Giok-leng-san kami sangat mustajab,” katanya seraya membuka baju Bu Kie.
Luka itu beberapa dim dalamnya. Ia segera memborehkan bubuk obat di lubang luka, tapi karena darah mengucur, obat itu tidak bisa menempel dan turun ke bawah tersiram darah. Kong-seng menjadi bingung.
“Hai! Bagaimana baiknya...? Bagaimana baiknya...?” katanya.
Yang paling bingung adalah suami isteri Ho Thay Ciong. Mereka mengira bahwa mereka telah menelan ulat sutera emas. Jika pemuda itu mati maka jiwanya pun takkan tertolong. Dengan hati berdebar-debar Ho Ciang-bun berjongkok di samping Bu Kie lantas bertanya,
“Bagaimana caranya mengobati orang yang kena Kim-cam Kouw-tok. Bagaimana? Hayo, lekas terangkan!”
“Pergi!” bentak Siauw Ciauw sambil menangis. “Kalau Thio-kongcu mati, biar kita mampus bersama-sama!”
Pada waktu biasa, mana mau Ho Thay Ciong dibentak-bentak oleh seorang wanita macam Siauw Ciauw. Tapi keadaan kini bukan keadaan biasa. Tanpa mempedulikan si nona, dia bertanya lagi.
“Bagaimana mengobati Kim-cam Kouw-tok? Hayo! Bagaimana?”
Kong-seng meluap darahnya, “Thie-khim Sian-seng!” bentaknya, “Kalau kau tidak minggir, lolap takkan berlaku sungkan2 lagi terhadapmu.”
Tiba2 Bu Kie membuka matanya dan mengawasi semua orang yang berdiri di sekitarnya. Kemudian dia mengangkat tangan kirinya dan menotok tujuh delapan ‘hiat’ di seputar luka. Sesaat kemudian mengalirnya darah jadi terlebih perlahan.
Kong-seng jadi girang. Buru-buru pendeta suci itu memborehkan Giok-leng-san pada dada yang terluka. Siauw Ciauw segera merobek tangan bajunya yang lantas digunakan untuk membalut luka. Muka Bu Kie pucat seperti kertas. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah. Per-lahan2 otak Bu Kie menjadi terang lagi. Dia cepat-cepat mengerahkan tenaga dalam dan lantas saja merasa bahwa hawa tak bisa jalan di dada sebelah kanan. Dalam keadaan setengah mati tekadnya tetap tidak berubah. “Selama masih bernapas aku takkan mengijinkan enam partai membasmi semua anggota Beng-kauw,” katanya di dalam hati.
Sambil meramkan kedua matanya, dia mengerahkan Cin-khie yang lalu dialirkan beberapa kali di seputar dada bagian kiri. Setelah itu perlahan-lahan dia bangkit dan berdiri. Dengan matanya dia menyapu seluruh lapangan dan berkata dengan suara perlahan.
“Jika dalam Go-bi dan Bu-tong-pay masih ada orang yang tidak setuju dengan permintaanku, dia boleh segera keluar untuk bertanding denganku.”
Perkataan itu disambut dengan rasa heran dan juga kagum yang sukar dilukiskan. Semua orang melihat bahwa pemuda itu terluka berat. Tapi baru saja darahnya berhenti mengalir, dia sudah bisa berdiri dan menantang pula. Apakah dia manusia? Manusia biasa tak akan mampu berbuat begitu.
“Go-bi-pay sudah kalah,” kata Biat-coat dengan suara dingin. “Jika kau tidak mati maka di belakang hari kita dapat membuat perhitungan lagi. Kini hanya tinggal Bu-tong-pay. Kalah menang harus diputuskan oleh Bu-tong-pay.”
Maksud Biat-coat Suthay dimengerti oleh tokoh-tokoh semua partai. Dalam usaha untuk mengepung Kong-beng-teng, jago2 Siauw-lim, Khong-tong, Hoa-san, Kun-lun dan Go-bi sudah dirobohkan Bu Kie. Hanya Bu-tong-pay yang belum bergebrak dengan pemuda itu. Tapi sekarang Bu Kie terluka berat. Jangankan pendekar Bu-tong, sedang seorang biasa pun sudah cukup untuk menjatuhkannya. Bahkan mungkin sekali tanpa bertempur Bu Kie akan mati sendiri. Setiap pendekar Bu-tong bisa segera membinasakannya dan sesudah dia binasa, keenam partai bisa mewujudkan keputusan untuk membunuh semua anggota Beng-kauw.
Namun Bu-tong-pay amat mengutamakan ‘Hiap-sie’ (ksatriaan). Menyerang seorang yang terluka berat memang bukan perbuatan bagus sehingga mungkin sekali kelima pendekar Bu-tong merasa keberatan untuk turun tangan. Tetapi kalau Bu-tong-pay berpeluk tangan, apakah keenam partai harus pulang dengan tangan hampa? Dengan kegagalan? Membasmi Beng-kauw merupakan usaha besar yang sudah menggetarkan seluruh rimba persilatan. Kalau mereka gagal, apakah mereka masih ada muka untuk tampil lagi dalam kalangan Kangouw? Serba susah. Maju salah mundur pun salah.
Maksud perkataan Biat-coat ialah dipertahankan atau tidaknya kehormatan keenam partai terserah pada keputusan Bu-tong-pay. Jalan mana yang akan ditempuh partai itu? Untuk sejenak Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, Thio Siong Kie, In Lie Heng dan Boh Seng Kok saling pandang. Mereka tidak dapat segera mengambil keputusan. Mendadak Song Ceng Su, putera Song Wan Kiauw, berkata,
“Thia-thia, Su-wi Siok-siok, biarlah anak saja yang membereskan dia.”
“Tidak bisa,” kata Jie Lian Ciu. “Kau turun tangan tiada bedanya dengan kami yang turun tangan.”
“Menurut pendapat Siauwte kepentingan umum adalah lebih penting dari pada kepentingan pribadi dari pada soal nama kita,” kata Thio Siong Kee.
“Nama adalah sesuatu yang berada di luar badan manusia,” jawab Boh Seng Kok. “Meski bagaimana pun juga siauwte merasa berat untuk mencelakai seorang manusia yang telah terluka berat.”
Keempat pendekar mengawasi Song Wan Kiauw. Sebagai kakak seperguruan yang paling tua, dialah yang harus mengambil keputusan terakhir. Song-tayhiap melirik pada In Lie Heng. Adiknya itu tidak mengeluarkan sepatah kata, tapi mukanya mengunjuk sinar kegusaran. Ia mengerti bahwa si adik ingat nasib tunangannya, Kie Siauw Hu yang telah dinodai Yo Siauw dan akhirnya binasa karena gara2 perbuatan Kong-beng Sucia itu. Ia tahu bahwa si adik menaruh dendam yang sangat mendalam. Jika sakit hati itu tak terbalas, jika Beng-kauw tidak dimusnahkan, rasa penasaran In Lie Heng takkan hilang. Karena itu dia lantas saja berkata dengan suara perlahan.
“Kedosaan Mo-kauw terlampau besar. Memerangi yang jahat adalah kewajiban orang-orang sebangsa kita. Dalam dunia ini tiada yang sempurna. Orang tidak bisa mendapat semuanya. Kita harus memilih yang paling penting. Ceng Su, majulah dan berlakulah hati-hati.”
“Baiklah!” kata si anak seraya membungkuk lalu menghampiri Bu Kie. “Can Siauw-hiap,” katanya dengan suara nyaring, “Kalau kau bukan anggota Beng-kauw, kau boleh segera turun gunung dan mengobati lukamu. Usaha enam partai untuk menumpas kejahatan tak ada sangkut pautnya denganmu.”
Dengan satu tangan memegang dada, Bu Kie menjawab, “Dalam usaha menolong sesama manusia, selama masih bernyawa seorang lelaki harus berjuang terus. Terima kasih atas maksud Song-heng yang sangat baik. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk hidup atau mati bersama-sama Beng-kauw!”
Para anggota Beng-kauw dan Peh-bie-kauw merasa sangat terharu. Banyak di antaranya berteriak-teriak mencegah Bu Kie berkelahi terus. Dengan langkah limbung In Thian Ceng maju mendekati.
“Orang she Song,“ katanya, “biarlah lohu yang meladeni kau.“ Tapi baru ia mengerahkan lweekang, kedua lututnya lemas dan ia kembali roboh di tanah.
Ceng Su mengawasi Bu Kie. “Can-heng, kalau begitu demi kepentingan umum maka aku terpaksa berbuat kedosaan terhadapmu,” katanya.
Siauw Ciauw melompat kemudian menghadang di depan Bu Kie. “Lebih dahulu kau harus membunuh aku!” teriaknya.
“Siauw Ciauw, kau tidak usah kuatir,” kata Bu Kie dengan suara perlahan. “Kepandaian pemuda itu biasa saja. Untuk melayani dia tenagaku masih lebih dari pada cukup.”
“Thio-kongcu, tapi kau... kau terluka berat!” kata si nona.
Bu Kie tersenyum. “Tidak usah takut,” katanya.
Mendengar ucapan itu, Ceng Su naik darah. “Bagus!” bentaknya, “Kepandaianku memang biasa saja. Aku minta pelajaran darimu yang mempunyai tenaga lebih dari pada cukup!”
“Siauw Ciauw, mengapa kau begitu baik terhadapku?” tanya Bu Kie dengan suara terharu.
Si nona tahu bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mencegah pertempuran.
“Aku tidak bisa hidup sendirian,” katanya dengan suara duka dan putus harapan.
Dengan sorot mata mencinta Bu Kie mengawasi nona itu. Dalam menghadapi kebinasaan dia bisa terhibur karena dia tahu bahwa di dalam dunia sedikitnya ada seorang gadis yang mencintanya dengan setulus hati.
“Minggir kau!” bentak Ceng Su dengan mata melotot.
“Mengapa kau begitu kasar terhadap seorang wanita?” tanya Bu Kie.
Namun Ceng Su tidak meladeni teguran itu. Dia bahkan mendorong pundak Siauw Ciauw sehingga si nona terhuyung beberapa tindak.
“Di antara laki-laki dan perempuan siluman, mana ada manusia baik?” katanya dengan kaku. “Bangun kau! Sambutlah seranganku!”
Bu Kie menghela napas. “Ayahmu adalah seorang ksatria”, katanya, “Mengapa kau begitu kasar? Untuk melayani kau, tak perlu aku bangun berdiri.“ Di mulut dia berkata begitu, tapi sesungguhnya dia tidak kuat berdiri lagi.
Keadaan Bu Kie yang sudah payah dapat dilihat orang banyak, antaranya oleh Song Ceng Su sendiri.
“Ceng Su, kau totok saja jalan darahnya agar dia tidak bisa bergerak!” teriak Jie Lian Ciu. “Tidak usah membinasakan dia!”
“Baiklah,” jawabnya seraya menotok pundak Bu Kie dengan jari tangan kanannya.
Bu Kie tidak bergerak, tapi pada detik jari tangan lawan hampir menyentuh Kian-tin-hiat, ia cepat mengibas dengan tangannya sehingga Ceng Su menotok angin. Karena kejadian itu di luar dugaan, Ceng Su menjadi sempoyongan dan hampir-hampir menubruk Bu Kie. Sesudah kagetnya hilang, ia menendang dada Bu Kie dengan menggunakan tujuh bagian tenaga. Jie Lian Ciu telah berpesan agar ia tidak berlaku kejam, tapi mengapa ia mengirim tendangan yang berat itu? Apa lantaran Bu Kie mengatakan kepandaiannya biasa saja? Bukan! Sebab musababnya terletak pada urusan lain. Ceng Su membenci Bu Kie karena soal cinta.....
Begitu melihat wajah Ciu Cie Jiak, ia jatuh cinta. Tak henti-hentinya ia melirik atau mengawasi si nona. Sebagai putera pendekar Bu-tong, ia merasa tak pantas kalau mengincar si nona terus menerus, akan tetapi ia tidak bisa melawan hatinya. Setiap gerakan, setiap senyuman, setiap kerutan alis Cie Jiak, tidak lepas dari matanya. Tapi celaka, Cie Jiak memperlihatkan rasa cintanya kepada Bu Kie. Sorot matanya selalu diperhatikan Ceng Su. Atas perintah Biat-coat, Cie Jiak menikam Bu Kie. Tetapi sesudah menikam, si nona memperlihatkan rasa duka dan menyesal yang tiada terbatas.
Song Ceng Su mengerti bahwa sesudah terjadi penikaman itu, tak peduli Bu Kie mati atau hidup, si nona tak akan pernah melupakan perbuatannya. Ia pun tahu, apa bila ia membunuh pemuda itu maka Cie Jiak pasti sangat sakit hati, akan membencinya. Tetapi karena dibakar rasa cemburu dan rasa iri hati, ia sungkan melepas kesempatan untuk membinasakan saingannya. Sebenarnya Ceng Su adalah pemuda bun-bu-song-coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat), salah satu orang terpandai di antara murid-murid turunan ketiga dari Bu-tong-pay dan pada hakekatnya ia orang baik. Akan tetapi, begitu terbentur soal cinta, ia tidak bisa membedakan lagi apa yang benar dan apa yang salah.
Semua orang terkejut melihat tendangan itu. Untuk menyelamatkan jiwa, Bu Kie mesti melompat atau menangkis. Ketika ujung kaki mampir di dadanya, ia mengangkat tangan kiri lantas mengibas. Di luar dugaan kibasan itu telah menolak tenaga dari tendangan kaki Ceng Su sehingga tendangan itu hanya lewat dalam jarak tiga dim dari badannya. Karena ia menendang dengan bernafsu, Ceng Su tidak menarik kembali kakinya melainkan melompat sambil menendang ke belakang, berniat menendang punggung Bu Kie dengan tumit kaki kiri. Tendangan itu hebat dan tidak diduga-duga, tetapi untuk kedua kalinya Bu Kie berhasil menyelamatkan jiwanya dengan hanya mengibaskan lima jari tangannya. Melihat itu semua orang terheran-heran.
“Ceng Su, dia sudah tidak punya tenaga dalam lagi!” seru sang ayah. “Itu ilmu Sie-nio-po-cian-kin (Empat tahil menghantam seribu kati).”
Song Wan Kiauw memang lihay dan berpengalaman. Ia bisa melihat bahwa tenaga Bu Kie telah habis dan biar pun ilmu yang digunakannya dinamakan Kian-kun Tay-lo-ie, tapi pada hakekatnya tidak berbeda dengan Sie-nio-po-cian-kin, atau ilmu ‘Meminjam tenaga untuk memukul tenaga’ dari rimba persilatan Tiong-goan.
Mendengar petunjuk ayahnya, Ceng Su sadar dan ia langsung mengubah cara bersilatnya. Kedua tangan bergerak seperti orang menari-nari dan pukulan-pukulannya kelihatan aneh, seperti disertai dengan lweekang tapi seperti juga tidak disertai lweekang. Itulah Bian-ciang (ilmu pukul kipas), salah satu ilmu silat terlihay dari Bu-tong-pay.
Ilmu ‘Meminjam tenaga untuk memukul tenaga’ merupakan dasar dari ilmu silat Bu-tong-pay. Untuk mempergunakan Sie-nio-po-cian-kin pihak lawan harus memakai tenaga yang besar, tenaga ribuan kati supaya tenaga itu dapat dipinjam. Tapi sekarang Song Ceng Su menggunakan Bian-ciang, maka tenaganya yang keluar antara ada dan tidak ada. Dengan demikian Bu Kie tak akan bisa meminjam tenaga.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa Bu Kie sudah mencapai tingkat tertinggi dalam Kian-kun Tay-lo-ie, sampai pada tingkat ke tujuh. Jangankan pukulan Bian-ciang yang masih berbentuk, sedangkan benda yang tak ada bentuknya pun, seperti hawa racun atau suara aneh, masih dapat dipunahkan olehnya. Begitu diserang ia meramkan kedua matanya dan tersenyum, sedangkan lima jari tangan kirinya bergerak-gerak seperti sedang memetik khim. Dalam sekejap Bian-ciang yang terdiri dari tiga puluh enam jurus punah semuanya.
Song Ceng Su tercengang. Dalam bingungnya ia pun menyapu seluruh lapangan dengan matanya dan secara kebetulan bentrok dengan mata Ciu Cie Jiak. Tiba-tiba darahnya meluap. Ia menjadi marah dan berduka karena paras muka si nona menunjukkan rasa kuatir. Ia tahu bahwa Cie Jiak bukan memikirkan keselamatannya. Dalam marahnya ia lantas menarik napas dalam-dalam, tangan kirinya menghantam pipi kanan Bu Kie, telunjuk tangan kanannya menotok Pok-hu-hiat di bagian pundak. Jurus ini dinamakan Hoa-kay Peng-tee (Kembang mekar). Namanya bagus dan hebatnya bukan main.
Dua pukulan tadi masih disusul dengan dua pukulan lagi, yakni tangan kanan menggaplok pipi kiri, telunjuk tangan kiri menotok Hong-hu-hiat. Dengan demikian jurus Hoa-kay Peng-tee berisi empat pukulan yang turun bagaikan hujan angin dengan kecepatan kilat. Semua orang terkesiap, banyak di antaranya yang mengeluarkan seruan tertahan.
“Plakk! Plakk!”
Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring. Tangan kiri Song Ceng Su menggaplok pipi kirinya, tangan kanan menggaplok pipi kanan dan berbareng satu telunjuk menotok Pok-hu-hiat, lain telunjuk menotok Hong-hu-hiatnya sendiri. Ternyata dengan mempergunakan Kian-kun Tay-lo-ie yang paling tinggi, Bu Kie berhasil memindahkan empat pukulan itu ke tubuh si pemukul.
Jika Song Ceng Su tidak menyerang begitu cepat, maka setelah menotok Pok-hu-hiatnya sendiri ia takkan bisa mengirim dua pukulan berikutnya. Tapi karena empat pukulan itu dikirim berantai dengan kecepatan luar biasa, maka biar pun Pok-hu-hiatnya sudah tertotok, ia masih bisa mengirim dua serangan lagi sebab lengannya belum sempat kesemutan. Setelah keempat pukulan itu dikirim barulah kaki tangannya lemas dan ia pun roboh terjengkang. Beberapa kali ia mencoba bangun, tapi tidak berhasil.
Song Wan Kiauw cepat berlari menghampiri. Dengan beberapa kali mengurut ia membuka jalan darah puteranya yang tertotok. Kedua pipi Ceng Su bengkak dan berpeta lima tapak jari. Lukanya enteng, tetapi karena adatnya yang tinggi, maka bagi Ceng Su kekalahan itu merupakan penderitaan yang lebih hebat dari pada kebinasaan. Song Wan Kiauw sangat mengenal adat puteranya. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia menuntun anaknya dan kembali ke barisan Bu-tong.
Tepuk tangan dan sorak sorai langsung menggetarkan seluruh penjuru lapangan. Semua orang merasa kagum, kagum sekali. Tiba-tiba Bu Kie muntah darah. Sambil memegang dada ia batuk-batuk. Semua orang mengawasi kejadian itu dengan hati berdebar-debar. Mereka kuatir akan keselamatan jiwa pemuda gagah ini. Sebagian memperhatikan Bu Kie dan sebagian mengawasi orang-orang Bu-tong. Apa yang akan diperbuat mereka? Mengaku kalahkah? Mengajukan jago lainkah? Sesaat kemudian Song Wan Kiauw berkata nyaring.
“Hari ini Bu-tong-pay sudah menunaikan kewajiban. Mungkin bintang Mo-kauw masih terang, secara tidak diduga-duga muncul pemuda luar biasa ini. Kalau kita mendesak terus, apa bedanya partai lurus bersih dan Mo-kauw?”
“Aku setuju dengan pendapat Toako,” sambung Jie Lian Ciu. “Sekarang kita pulang minta petunjuk Suhu. Setelah pemuda ini sembuh, kita bertempur lagi.” Ia bicara dengan nyaring dan bersemangat. Dengan kata-kata itu ia menekankan bahwa hari ini Bu-tong-pay telah mengalah. Ia tak percaya bahwa partainya tidak bisa melawan pemuda ini.
Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok mengangguk sebagai tanda setuju dengan pendapat Lian Ciu. Sekonyong-konyong In Lie Heng menghunus pedang kemudian dengan mata menyala ia menghampiri Bu Kie.
“Orang she Can!” bentaknya. “Dengan kau, aku tak punya permusuhan apa pun. Jika sekarang aku mencelakai kau, In Lie Heng bukanlah orang baik-baik. Tetapi sakit hatiku terhadap Yo Siauw dalam bagaikan lautan. Aku mesti membunuh dia. Kau minggirlah!”
Bu Kie menggelengkan kepala. “Selama aku masih bernyawa maka aku akan mencegah pembunuhan terhadap anggota Beng-kauw yang mana pun juga,” katanya dengan suara tetap.
“Kalau begitu aku terpaksa membunuh kau!” kata In Lie Heng dengan mata beringas.
Bu Kie muntah darah lagi. Matanya berkunang-kunang dan sekarang ia berada dalam keadaan setengah sadar,
“In Liok-siok!” katanya dengan suara parau. “Kau turun tanganlah.”
In Lie Heng terkesiap. Suara itu, suara memanggil ‘In Liok-siok’, agaknya seperti tak asing terdengar di kupingnya. Mendadak ia teringat.
“Bu Kie!” katanya di dalam hati. “Waktu kecil Bu Kie sering memanggil ‘In Liok-siok’ dengan nada suara seperti ini. Apakah pemuda ini Bu Kie...?“
Ia mengawasi muka yang pucat pasi itu. Makin diawasi, muka itu makin menyerupai muka Bu Kie. Sudah delapan tahun mereka berpisah. Dari seorang bocah cilik kini Bu Kie telah berubah menjadi seorang dewasa. Tubuhnya sudah berubah, mukanya pun sudah banyak berubah. Namun di dalam semua perubahan itu masih banyak terbayang muka Bu Kie si bocah cilik yang menderita hebat karena pukulan Hian-beng Sin-ciang. Sesaat kemudian In Lie Heng membuka mulut, suaranya gemetar.
“Apa... apakah kau Bu Kie?”
Bu Kie merasa tenaganya habis semua. Matanya kabur, kepalanya pusing dan ia merasa sudah berada dekat dengan liang kubur. Tak perlu menyembunyikan dirinya lagi. Bibirnya bergerak dan ia berbisik,
“In Liok-siok... Tit-jie sering ingat kau...”
Mata In Liok-hiap berkunang-kunang. Perkataan Bu Kie bagai halilintar di tengah hari bolong. Kaget, heran, kagum, gegetun... semua tercampur menjadi satu. Ia seorang yang berperasaan amat halus. Air matanya mengucur deras. Ia segera melontarkan pedangnya, lantas menubruk, memeluk dan mendukung Bu Kie. Ia berkata dengan suara serak,
“Bu... Kie...! Putera tunggal dari Ngoko...”
Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok memburu dan berdiri di seputar In Lie Heng. Kekagetan dan kegirangan mereka sukar dilukiskan.
Orang-orang Beng-kauw tak kurang girangnya, mimpi pun mereka tidak pernah bahwa pemuda yang menolong mereka dengan mempertaruhkan nyawa sendiri bukan lain puteranya Bu-tong Ngo-hiap Thio Ciu San.
Melihat keponakannya pingsan buru-buru In Lie Heng mengeluarkan Thian-ong Hu-sim-tan lalu memasukkannya ke mulut Bu Kie. Sesudah menyerahkan pemuda itu kepada Jie Lian Ciu, ia segera memungut pedangnya dan menghampiri Yo Siauw. Seraya menuding musuh besarnya itu ia berteriak,
“Binatang Yo Siauw! Aku... aku...“ Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, lalu mengangkat pedang.
Kong-beng Sucia badannya masih belum mampu bergerak lantas saja meramkan kedua matanya dan menunggu kebinasaan sambil tersenyum. Pada detik amat berbahaya itu tiba-tiba seorang wanita muda melompat dan menghadang di depan Yo Siauw.
“Tahan! Jangan lukai ayahku!” bentaknya.
In Lie Heng mengawasi. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan tertahan dan sekujur badannya dingin. Gadis yang bertubuh jangkung kecil dan bermata besar itu tiada bedanya dari Kie Siauw Hu. Semenjak bertunangan wajah nona Kie yang manis selalu terbayang di hadapan matanya. Belakangan ia tahu bahwa tunangannya dibawa lari dan kehormatannya dinodai oleh Kong-beng Sucia Yo Siauw sehingga akhirnya ia membuang jiwa. Tak usah dikatakan lagi, kejadian itu sangat menyakiti hatinya. Tak dinyana Kie Siauw Hu muncul kembali. Badannya limbung dan ia berkata dengan suara gemetar.
“Siauw Hu Moay-cu... kau...”
Gadis yang bukan lain Yo Put Hwie itu berkata, “Aku bernama Yo Put Hwie. Kie Siauw Hu adalah ibuku. Ibu sudah lama meninggal dunia.”
In Lie Heng tertegun dan sadar, “Ahh...! Aku betul-betul gila!” katanya. “Kau minggirlah. Hari ini aku akan membalaskan sakit hati ibumu.”
“Bagus!” seru Put Hwie. “In Siok-siok, bunuhlah pendeta perempuan bangsat itu!” Seraya berkata ia menuding Biat-coat Suthay.
“Apa?! Mengapa?” menegas In Lie Heng.
“Ibu dipukul mati oleh pendeta bangsat itu,” jawabnya.
“Dusta! Kau jangan bicara sembarangan!” bentak Lie Heng.
“Aku tidak berdusta,” kata si nona dengan suara dingin. “Ibu dibunuh di Ouw-tiap-kok. Pendeta bangsat itu menyuruh ibu membunuh ayah. Ibu menolak dan dia turun tangan. Aku melihat dengan mataku sendiri. Kejadian itu disaksikan oleh Bu Kie koko. Jika Siok-siok tidak percaya, tanyalah pendeta bangsat itu sendiri.”
Waktu nona Kie binasa, Put Hwie masih sangat kecil. Belakangan, sesudah dewasa, barulah dia tahu apa yang terjadi. In Lie Heng menoleh dan mengawasi Biat-coat dengan sorot mata bertanya.
“Su... thay...“ katanya dengan suara tak lancar. “Kata dia... Kie Siauw Hu...”
Paras muka si nenek merah padam. “Benar,” katanya. “Perlu apa murid yang tidak kenal malu itu dibiarkan hidup lebih lama lagi di dunia? Dia dan Yo Siauw saling mencintai. Dia lebih suka berkhianat dari pada menurut perintah guru. In Liok-hiap, untuk menolong mukamu maka aku tak tega membuka rahasia ini. Hm! Tiada guna kau memikirkan perempuan yang mukanya begitu tebal!”
Paras muka Lie Heng pucat bagaikan kertas. “Tidak! Aku tak percaya!” teriaknya.
“Tanyakan anak itu, siapa namanya,” kata Biat-coat.
Dengan air mata berlinang Lie Heng menatap wajah si nona.
“Aku bernama Yo Put Hwie,” kata si nona. “Ibu pernah mengatakan bahwa dia tak merasa menyesal akan terjadinya peristiwa itu!”
Tiba-tiba In Liok-hiap mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia melemparkan pedangnya, menekap mukanya dengan kedua tangan, lalu lari turun gunung bagaikan terbang.
“Liokte! Liokte!” memanggil Song Wan Kiauw dan Jie Lian Diu.
Lie Heng terus berlari. Tiba-tiba ia terguling, bangun, lari lagi dan dalam sekejap tak kelihatan bayangannya lagi.
Semua orang menghela napas dan turut merasa duka akan nasib In Liok-hiap yang amat malang. Seorang pendekar Bu-tong jatuh di waktu lari mencerminkan penderitaannya yang maha hebat.
Sementara itu Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok duduk di sekeliling Bu Kie dengan masing-masing mengeluarkan sebelah tangan yang telapaknya segera ditempelkan pada dada, perut, punggung serta pinggang Bu Kie, kemudian mengerahkan Iweekang yang dimasukkan ke dalam tubuh si pemuda untuk mengobati lukanya.
Selang beberapa saat mereka merasakan munculnya tenaga hisap dari dalam tubuh Bu Kie yang terus menerus menyedot Iweekang mereka. Mereka kaget! Jika pengisapan itu tidak berhenti, dalam waktu sejam dua jam tenaga dalam mereka bakal habis. Namun karena jiwa Bu Kie masih dalam keadaan bahaya, mati hidupnya belum ketahuan, mereka tentu saja tidak bisa segera menarik kembali bantuannya. Bagaimana baiknya? Selagi keempat paman ini sangsi, Bu Kie membuka matanya dan mengeluarkan seruan perlahan.
“Ahh...!”
Pada lain saat Song Wan Kiauw merasakan masuknya semacam hawa hangat ke telapak tangan mereka. Ternyata pemuda itu telah mengerahkan Kiu-yang Sin-kang dan mengirim tenaga dalamnya kepada keempat pamannya.
“Tidak boleh! Kau harus istirahat,” kata Song Wan Kiauw.
Dengan serentak mereka menarik tangan lantas bangkit berdiri. Hampir berbareng mereka merasakan hawa hangat yang sangat nyaman mengalir di sekujur badan. Bukan saja Bu Kie sudah memulangkan tenaga bantuan mereka, bahkan telah membalas budi dengan menghadiahkan Kiu-yang Cin-khie kepada paman-pamannya ini.
Song Wan Kiauw berempat saling pandang dengan rasa kagum. Bahwa keponakan yang sudah terluka sedemikian berat masih mempunyai Iweekang yang begitu kuat, hal ini sungguh di luar dugaan mereka.
Meski pun Bu Kie masih menderita luka luar yang sangat hebat, tapi kesehatan di dalam tubuhnya sudah pulih kembali dan hawa sudah bisa mengalir leluasa. Perlahan-lahan dia bangun seraya berkata,
“Song Toa-pek, Jie Jie-pek, Thio Sie-pek, Boh Cit-siok, tit-jie mohon maaf untuk segala kekurang-ajaran. Apakah Thay-suhu dalam keadaan sehat?”
“Suhu baik-baik saja,” jawab Wan Kiauw. “Bu Kie... kau.. kau sudah besar...!“ Perkataannya terputus-putus karena terharu. Dia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.
Di lain pihak, sesudah mengetahui bahwa pemuda yang menolong jiwanya adalah cucunya sendiri, Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng girang bukan main. Ia masih belum bisa bangkit, ia tertawa terbahak-bahak.
Biat-coat Suthay mengawasi semua itu dengan paras muka menyeramkan. Tiba-tiba ia mengibaskan tangannya lalu bertindak untuk turun gunung, yang diikuti oleh murid-muridnya. Sambil menundukkan kepala Ciu Cie Jiak turut berjalan, namun baru beberapa langkah ia tidak tahan untuk menengok ke arah Bu Kie. Kebetulan si pemuda sedang mengawasinya sehingga kedua pasang mata bertemu. Muka si nona pucat pasi lantas timbul sinar dadu. Sinar matanya tampak sedemikan rupa sehingga dia kelihatan seperti hendak minta maaf atas perbuatannya dan mengharap supaya Bu Kie menjaga diri baik-baik.
Rupanya si pemuda maklum akan perasaan si nona. Sambil tersenyum dia manggut-manggut. Perasaan Cie Jiak lantas berubah terang. Dia balas tersenyum kemudian menyusul rombongannya dengan tindakan lebar. Semua itu tidak terlepas dari mata Song Ceng Su. Untuk beberapa detik mata pemuda ini mengeluarkan sinar kebencian.
Setelah Bu-tong-pay tahu siapa adanya Bu Kie dan setelah Go-bi-pay pergi meninggalkan Kong-beng-teng, maka usaha enam partai membasmi Beng-kauw gagal total. Orang-orang Khong-tong dan Kun-lun lantas berpamitan. Ho Thay Ciong mendekati dan berkata,
“Saudara kecil, aku memberi selamat bahwa hari ini kau bertemu dengan keluarga sendiri...“
Tanpa menanti sampai orang tua itu habis bicara, Bu Kie cepat-cepat mengeluarkan dua butir yo-wan dari sakunya. Yo-wan hanyalah obat biasa untuk menolak racun. Sambil mengangsurkan kepada Ho Thay Ciong, pemuda itu berkata,
“Cianpwe berdua boleh menelan sebutir. Sesudah makan obat ini, racun Kim-cam Kouw-tok akan punah.”
Ho Thay Ciong mengawasi kedua yo-wan itu dengan perasaan sangsi.
“Boanpwe pasti tidak berdusta,” kata pula Bu Kie.
Mendengar itu, dia tidak berani membuka mulut lagi. “Andai kata dia memberi obat palsu, di depan keempat pendekar Bu-tong aku tentu tidak bisa menggunakan kekerasan,” pikirnya. “Apa lagi Siauw-lim berdiri di pihak bangsat kecil ini. Sudahlah! Terserah pada nasib.” Setelah berpikir begitu, seraya tertawa getir dia berkata.
“Terima kasih.“
Sesudah menelan yo-wan itu bersama Pam Siok Ham, dia segera memerintah murid-muridnya merawat jenazah orang-orang partai Kun-lun. Kemudian, setelah berpamitan mereka pun turun gunung.
“Bu Kie,” kata Jie Lian Ciu. “Karena kau sedang terluka berat sebaiknya untuk sementara waktu kau tinggal saja di sini guna berobat. Kami tidak bisa menemani kau. Kami hanya berharap supaya setelah sembuh kau bisa datang ke Bu-tong-san agar Suhu turut merasa girang.”
Dengan mata mengembang air si pemuda manggutkan kepalanya. Keempat pamannya ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan, tetapi melihat kelemahan keponakannya, mereka tidak berani bicara banyak. Se-konyong-konyong di antara barisan Siauw-lim terdengar teriakan,
“Ke mana perginya jenazah Goan-tin Suheng?”
“Mengapa hilang?” sambung yang lain.
Boh Seng Kok heran dan segera mendekati tujuh delapan pendeta Siauw-lim yang sedang merawat jenazah anggota partainya. Benar saja, dia tidak melihat jenazah Goan-tin.
“Lekas kembalikan jenazah Goan-tin Suheng!” Goan-im berteriak sambil menuding orang-orang Beng-kauw.
Ciu Tian tertawa ter-bahak. “Benar-benar kau sudah gila!” katanya. “Perlu apa kami mencuri mayat pendeta?”
Orang-orang Siauw-lim tidak rewel lagi. Jawaban itu ada benarnya juga. Mereka menduga mungkin sekali waktu mengumpulkan jenazah orang Hoa-san-pay atau Khong-tong-pay sudah mengambil jenazah Goan-tin. Tak lama kemudian dengan beruntun barisan Siauw-lim dan Bu-tong turun gunung. Bu Kie menyoja dan membungkuk untuk memberi selamat jalan kepada para pamannya.
“Anakku Bu Kie,” kata Song Wan Siauw. “Hari ini namamu tersohor di kolong langit dan Beng-kauw menanggung budimu yang sangat berat. Kuharap supaya kau bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus.”
“Anak pasti akan memperhatikan pesan Toa-supek,” jawabnya.
“Dalam segala hal kau harus berhati-hati, kau harus menjaga jangan sampai diperdayai manusia-manusia rendah,” kata Thio siong Kee.
Bu Kie mengangguk. Baik pihak paman mau pun pihak keponakan merasa sangat berat untuk berpisah. Sesudah keenam partai pergi semua, Yo Siauw dan In Thian Ceng saling mengawasi. Tiba-tiba mereka berteriak dengan berbareng,
“Para anggota Beng-kauw dan Peh-bie-kauw! Berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Thio-tayhiap!”
Di lain saat semua orang mendekam di muka bumi. Bu Kie bingung tak kepalang, terlebih lagi di antara mereka terdapat kakek dan pamannya sendiri. Segera dia menjatuhkan diri dan ikut berlutut pula. Di luar dugaan, karena berlutut maka luka di dadanya terbuka lagi dan darah kembali mengucur dan dia lantas roboh pingsan. Dengan tersipu-sipu Siauw Ciauw memapahnya. Dua orang tauw-bak (pemimpin regu) segera mengambil tandu lalu merebahkan tuan penolong ini di dalamnya. Alis Yo Siauw berkerut,
“Lekas kalian antar Thio-tayhiap ke kamarnya,” katanya. “Selama beberapa hari dia tidak boleh diganggu siapa pun juga.”
Kedua tauw-bak itu mengiyakan sambil membungkuk, lalu mengusung Bu Kie ke kamar Kong-beng Sucia dengan diikuti oleh Siauw Ciauw. Ketika dia lewat di hadapan Put Hwie, nona Yo berkata dengan suara dingin,
“Siauw Ciauw! Kau sungguh pandai bersandiwara. Aku memang sudah menaksir bahwa kau main gila. Aku hanya tidak menduga bahwa di balik penyamaran setan perempuan bersembunyi seorang nona yang cantik manis.”
Siauw Ciauw tidak menjawab. Ia berjalan terus sambil menundukkan kepala dan menyeret rantai. Selama beberapa hari orang-orang Beng-kauw yang tidak terluka sangat repot. Mereka harus mengubur yang mati dan mengobati yang luka. Sekarang mereka insyaf bahwa adegan cakar-cakaran di kalangan sendiri akhirnya membawa bencana besar. Ditambah dengan kekuatiran akan keselamatan Bu Kie, maka di antara mereka tidak ada yang menyentuh-nyentuh lagi soal permusuhan lama.
Dengan memiliki Kiu-yang Sin-kang dan juga karena tusukan pedang itu tidak melanggar bagian berbahaya, kesembuhan Bu Kie cepat sekali. Dalam tujuh delapan hari saja lukanya sudah mulai rapat. In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw, Swee Put Tek dan yang lain-lainnya masih rebah di ranjang. Tapi dengan menggunakan tandu setiap hari mereka menengok tuan penolongnya. Melihat kesehatan Bu Kie pulih dengan cepat, mereka semua girang sekali. Pada malam hari ke delapan Bu Kie sudah dapat duduk. Malam itu Yo Siauw dan Wie It Siauw datang ke kamarnya.
“Sesudah kena It-im-cie, bagaimana keadaan Jie-wi selama beberapa hari ini?” tanya Bu Kie.
Sebenarnya serangan dingin kian hari kian meningkat, akan tetapi karena kuatir pemuda itu jengkel, mereka serentak menjawab,
“Banyak mendingan.”
Tapi Bu Kie tidak mudah dibohongi. Melihat muka mereka yang bersinar hitam dan suara yang tak bertenaga, dia segera tahu keadaan sebenarnya.
“Tenaga dalamku sudah pulih enam-tujuh bagian dan kini aku sudah bisa membantu Jie-wi,” katanya.
“Tidak! Tidak boleh!” kata Yo Siauw tergesa-gesa. “Perlu apa Thio-tayhiap begitu terburu-buru? Sesudah sembuh total, masih banyak waktu untuk menolong kami.”
“Memang juga tidak perlu terburu-buru,” menyambung Wie It Siauw sambil tertawa.
“Sekarang atau nanti tak banyak bedanya. Yang paling penting adalah Thio-tayhiap harus menjaga diri sendiri.”
“Giehu-ku (ayah angkatku) adalah pantaran Jie-wi, maka tingkatan Jie-wi lebih tinggi dari pada aku,” kata Bu Kie. “Maka itu kumohon Jie-wi jangan menggunakan panggilan tayhiap (Pendekar besar) lagi karena aku tidak bisa menerimanya.“
Yo Siauw tersenyum. “Di kemudian hari kami semua akan menjadi bawahanmu,” katanya. “Di hadapanmu kami takkan berani turun bersama-sama.”
Bu Kie terkejut. “Yo-pekpek, apa katamu?!” ia menegas.
“Thio-tayhiap” kata Wie It Siauw, “Kedudukan Kauwcu dari Beng-kauw tidak bisa diduduki lain orang kecuali kau sendiri!”
Dengan kaget si pemuda menggoyang-goyangkan kedua tangannya. “Tidak! Tidak! Biar bagaimana pun juga tit-jie (keponakan) takkan berani menerima,” katanya.
Pada saat itu pula mendadak dari kejauhan terdengar teriakan nyaring. Itulah tanda bahaya di kaki Kong-beng-teng! Yo Siauw dan Wie It Siauw agak kaget. Apakah keenam partai masih penasaran lantas datang menyerang lagi? Tapi sebagai jago kelas utama, paras muka mereka sedikit pun tidak berubah.
“Apakah jin-song yang kemarin sudah dimakan?” tanya Yo Siauw. “Ciauw, pergi kau ambil lagi dari kamar obat dan tolong godok supaya bisa lantas bisa dimakan Thio-tayhiap.“ Baru saja dia berkata demikian, dari sebelah barat dan selatan kembali terdengar teriakan nyaring.
“Apakah kita diserang musuh?” tanya Bu Kie.
“Beng-kauw dan Peh-bie-kauw tidak kekurangan orang pandai,” kata Wie It Siauw. “Thio-tayhiap, kau tidak usah kuatir. Beberapa bangsat kecil tidak cukup berharga untuk dibuat pikiran.”
Beberapa saat kemudian teriakan-teriakan itu terdengar di pinggir gunung! Sungguh cepat geraknya musuh. Ternyata mereka bukan bangsat kecil.
“Coba aku keluar untuk membereskan mereka,” kata Yo Siauw. “Wie-heng, kau tinggal saja di sini menemani Thio-tayhiap. Huh, huh! Apakah orang kira Beng-kauw boleh dihina terus menerus oleh segala manusia?” Biar pun badannya belum bisa bergerak tapi suaranya amat lantang dan gagah.
Bu Kie merasa sangat bingung. “Siauw-lim, Bu-tong dan yang lainnya adalah partai lurus bersih, maka tak mungkin mereka datang lagi untuk menyerang,” pikirnya. “Mungkin sekali yang datang adalah manusia-manusia jahat. Semua orang pandai di Kong-beng-teng terluka berat. Selama tujuh delapan hari mereka belum mendapat pengobatan yang tepat. Kita tak akan bisa melawan musuh. Kalau bertempur, kita semua akan mengantarkan jiwa.”
Sekonyong-konyonmg dari luar menerobos masuk seseorang yang mukanya berlepotan darah dan pada dadanya tertancap pisau. Begitu masuk dia berteriak dengan suara terputus-putus.
“Musuh... menyerang dari tiga jurusan... saudara-saudara kita... tidak tahan...”
“Musuh dari mana?” Wie It Siauw menegas.
Orang itu menuding keluar, tapi sebelum bisa menjawab dia sudah roboh dan melepaskan napasnya yang penghabisan.
Bu Kie tidak mengenal Pek Goan. Tapi dari pengakuan Sian Ie Thong, ia pun tahu bahwa segala dosanya ditimpakan pada pundak Beng-kauw. Mungkin sekali turut sertanya Hoa-san-pay dalam gerakan membasmi Beng-kauw adalah untuk balas sakit hatinya Pek Goan. Setelah berpikir begitu dia lantas berkata dengan suara nyaring.
“Para Cianpwe dari Hoa-san-pay, dengarlah! Pek Goan Suhu bukan dicelakai orang Beng-kauw. Kalian salah menerka orang.”
Bagaikan kilat orang tua yang bertubuh jangkung mendadak mengangkat goloknya lantas membacok leher Sian Ie Thong. Tapi Bu Kie mendahului, dengan gagang kipas ia menotol badan golok yang lantas terpental kemudian menancap di tanah.
“Buat apa kau campur tangan?” bentak si jangkung dengan marah. “Dia pengkhianat partai. Siapa pun juga boleh membinasakannya.”
“Aku sudah berjanji untuk mengobatinya,” kata Bu Kie. “Perkataan yang sudah diucapkan tidak dapat diabaikan begitu saja. Urusan dalam partai boleh dibereskan sesudah kalian pulang ke Hoa-san.”
“Sute, perkataan dia ada benarnya juga,” kata si kate sambil menendang punggung Sian Ie Thong. Tendangan yang sangat keras itu bukan saja mampir tepat di Toa-tui-hiat, tetapi juga telah melontarkan tubuh Sian Ie Thong yang kemudian ambruk di depan barisan Hoa-san-pay.
Pukulan pada Toa-tui-hiat sakit bukan main, tapi Sian Ie Thong sudah tidak bisa berteriak lagi. Dia hanya berguling-guling di tanah sambil menahan sakit, tetapi tak ada seorang pun yang berani menolong sebab mereka takut ketularan racun.
“Kami berdua adalah paman guru Sian Ie Thong,” kata si kate kepada Bu Ki. “Aku merasa sangat berterima kasih karena kau telah membikin terang perkara besar di partai kami sehingga sakit hatinya Pek Goan Sutit bisa terbalas.” Sesudah berkata demikian dia menyoja sambil membungkuk. Si jangkung buru-buru ikut menyoja. Mendadak si kate mengibas goloknya dan berkata,
“Tapi karena kau telah merusak nama harumnya Hoa-san-pay, maka tak ada jalan lain bagi kami berdua dari pada mengadu jiwa dengan kau.”
Bu Kie tertegun, tetapi tak lama kemudian dia menjawab, “Yang bersih tetap bersih, yang kotor tinggal kotor. Kalau dalam sebuah partai muncul seorang jahat, nama partai tersebut tidak rusak karena adanya orang jahat itu. Mengapa kalian berpandangan begitu sempit?”
“Bagaimana pendapatmu? Apakah kejadian itu tidak menodai nama Hoa-san-pay?” tanya si jangkung.
“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Bu Kie.
“Suko,” kata si jangkung. “Bocah itu mengatakan tidak menodai partai kita. Kurasa lebih baik kita bikin habis urusan ini.” Si jangkung adalah seorang jujur. Selain itu dia agak jeri terhadap Bu Kie.
“Tidak! Tidak!” bentak si kate. “Lebih dahulu singkirkan hinaan dari luar, kemudian barulah menyapu bersih pintu kita. Jika hari ini Hoa-san-pay tidak berhasil menjatuhkan bocah ini, kita tidak bisa lagi berdiri di rimba persilatan.”
“Baiklah,” kata si jangkung. “Ehh, bocah! Kami berdua hendak mengeroyok kau. Jika kau merasa tidak adil, lebih baik dari awal kau mengaku kalah.”
Si kate mengerutkan alisnya dan membentak, “Sute...!”
Si jangkung girang tak kepalang, “Kalau kami mengeroyok kau, kau pasti tidak bisa hidup lagi!” teriaknya. “Kami berdua mempunyai ilmu golok yang dinamakan Liang-gie To-hoat. Kau pasti kalah. Aku harap kau tidak menyesal.”
“Aku hanya mengharap agar kedua Cianpwe suka menaruh belas kasihan.”
“Golok tidak mengenal belas kasihan,” kata si jangkung. “Begitu bertempur golok kami tak mau main sungkan-sungkan lagi. Kulihat kau seorang yang baik. Aku tak sampai hati jika mesti membacok kau...”
“Sute, jangan rewel!” bentak si kate.
“Aku hanya minta agar dia berhati-hati,” kata si jangkung. “Liang-gie To-hoat kita lain dari yang lain...“
“Tutup mulutmu!” bentak si kate. Ia berpaling kepada Bu Kie dan berteriak. “Sambutlah!” Hampir berbareng, goloknya menyambar.
Bu Kie mengangkat kipas Sian Ie Thong dan mendorong punggung golok. “Tidak bisa begitu!” teriak si jangkung. “Kalau begini aku lebih suka tidak bertempur.”
“Mengapa?” tanya Bu Kie.
“Kipas itu ada racunnya, bisa-bisa kita celaka semua,” jawabnya.
“Benar,” kata Bu Kie. “Benda yang begini beracun tak boleh dibiarkan lama-lama di dunia.“ Dia menjepit kipas itu dengan telunjuk dan jari tengah lalu menimpuk ke bawah.
“Blass!”
Kipas amblas ke dalam tanah dan apa yang terlihat hanyalah lubang kecil. Sinkang yang sehebat itu tidak akan mampu dilakukan oleh siapa pun juga yang berada di lapangan itu. Tanpa terasa semua orang bersorak-sorai. Sambil menjepit golok di bawah ketiaknya, si jangkung lantas bertepuk tangan.
“Ambillah senjatamu,” katanya.
Bu Kie berwatak sederhana dan sebetulnya dia tidak ingin menonjolkan kepandaiannya di hadapan orang. Tapi keadaan sekarang sangat luar biasa. Jika dia tidak memperlihatkan Sinkang dan menaklukkan semua orang maka dia takkan bisa mencapai tujuannya untuk menghentikan permusuhan.
“Senjata apa yang Cianpwe anggap pantas digunakan olehku?” tanyanya.
Si jangkung menepuk pundak Bu Kie dua kali. “Bocah, kau mempunyai sifat yang sangat menarik,” katanya sambil tertawa, “Kau boleh mempergunakan senjata apa pun, buat apa kau tanya aku?”
Bu Kie tahu bahwa tepukan itu tidak bermaksud jahat, tetapi orang yang menonton kaget bukan main, sebab kalau si jangkung menggunakan tenaga dalam maka pemuda itu bisa terluka berat. Mereka tidak tahu bahwa Bu Kie sudah melindungi sekujur tubuhnya dengan Sinkang sehingga andai kata si jangkung berlaku curang, dia takkan berhasil. Karena pemuda itu tidak lantas menjawab, kakek itu berkata lagi.
“Apakah kau akan turut perkataanku jika aku menyebut senjata?”
“Ya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Bocah, kau memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan kau tentu mahir delapan belas senjata,” kata si jangkung. “Tapi sangat keterlaluan jika kau meladeni kami berdua dengan tangan kosong.”
“Tangan kosong juga boleh,” kata Bu Kie.
Si jangkung menyapu seluruh lapangan dengan pandang matanya. Ia ingin mencari senjata yang aneh. Tiba-tiba dia melihat beberapa buah batu besar di sudut sebelah kiri, berat setiap batu kira-kira dua ratus atau tiga ratus kati.
“Aku bersedia untuk mengalah padamu dan kau boleh menggunakan senjata yang sangat berat itu,” katanya seraya menuding beberapa batu itu.
Sehabis berkata begitu dia mendongak lalu tertawa terbahak-bahak. Dia hanya guyon. Batu-batu itu bukan saja sangat berat dan takkan dapat diangkat manusia biasa, tapi juga tak ada pegangannya, tidak bergagang seperti senjata biasa sehingga amat mustahil bisa digunakan sebagai senjata. Akan tetapi di luar dugaan sambil tersenyum Bu Kie berkata,
“Senjata itu agak luar biasa, tampaknya Locianpwe benar-benar ingin menjajal kepandaianku.“ Seraya berkata begitu ia menghampiri batu itu.
Si jangkung cepat menggoyang-goyangkan tangannya, “Aku hanya main-main!” teriaknya. “Ambillah pedang untuk melayani kami!”
Pemuda itu tak menjawab melainkan terus berjalan. Sekali menggerakkan tangan kirinya, dia menyangga sebuah batu yang paling besar dan sesudah memutar badan, dia berseru.
“Ji-wi, ayolah!” Ia melompat tinggi dan di lain saat sudah berhadapan dengan kedua kakek ini.
Semua orang mengawasi dengan mulut ternganga. Mereka begitu kaget sehingga mereka lupa untuk bertepuk tangan.
“Hebat! Sungguh hebat,” kata si jangkung seraya mengurut jenggotnya.
Si kate tahu bahwa hari ini mereka bertemu dengan lawan terberat. Apakah nama besar mereka berdua akan dapat dipertahankan masih merupakan sebuah pertanyaan. Sesudah menarik napas dalam-dalam dia pun segera maju.
“Sambutlah!” katanya seraya membacok dengan golok yang bersinar putih.
“Suko, apakah kita benar-benar akan berkelahi?” tanya si jangkung.
“Kau kira main-main?” si kate balas menanya. Bacokannya yang pertama dengan mudah dikelit Bu Kie. Mendengar jawaban Suko-nya, si jangkung segera menyabet dengan golok Ceng-kong-to yang bersinar hijau.
“Bagus!” seru Bu Kie sambil memapaki dengan batunya.
“Trangg!” Letupan api berhamburan. Hampir berbareng Bu Kie mendorong batu ke depan.
“Sun-sui Tui-couw (mendorong perahu dengan mengikuti aliran air)!” si jangkung berteriak. “Bocah, senjata batu juga ada jurus-jurusnya?”
“Sute, Hun-tun It-po!” bentak si kate seraya membuat setengah lingkaran dengan goloknya dan membabat Bu Kie.
“Tay-it Seng-beng. Liang-gie Hop-tek...“ sambung si jangkung sambil mengirim beberapa serangan.
“Jit-goat Hui-beng,” sambut si kate.
Mereka menyerang sambil saling sahut-menyahut menyebutkan nama-nama pukulan. Sambil mengerahkan Kiu-yang Sin-kang, Bu Kie memutar-mutar batu itu bagaikan sebutir peluru. Walau pun tenaga serangan Liang-gie To-hoat amat besar tapi tenaga pemuda itu lebih besar lagi. Dengan melompat kian kemari dia menyambut setiap serangan, dan tiap bacokan menghantam batu sehingga letupan api berhamburan tak henti-hentinya.
Sesudah bertempur beberapa lama, tiba-tiba saja Bu Kie melontarkan batu itu ke udara lantas kedua tangannya menyambar leher si kate dan si jangkung. Sesudah mencengkeram jalan darah kedua kakek itu sehingga mereka tidak bisa bergerak lagi, dia segera melompat ke belakang. Di lain saat batu yang beratnya kira-kira tiga ratus kati itu meluncur ke bawah, ke arah kepala kedua jago Hoa-san-pay. Semua orang terkesiap. Pada detik berbahaya itu, Bu Kie melompat maju dan menepuk batu itu yang lantas saja terpental dan jatuh amblas di dalam tanah. Ia tertawa dan sambil menepuk pundak kedua kakek itu, ia berkata,
“Ji-wi Locianpwe jangan bingung, Boanpwe hanya main-main.”
Paras muka si kate pucat bagaikan kertas. “Sudahlah!” katanya dengan suara parau.
Tapi si jangkung menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini tidak masuk hitungan,“ katanya.
“Mengapa tidak masuk hitungan?” tanya Bu Kie.
“Kau mengalahkan kami dengan mengandalkan tenagamu yang sangat besar,” jawabnya. “Kau bukan menjatuhkan kami dengan menggunakan ilmu silat.”
“Kalau begitu kita boleh bertanding lagi,“ kata Bu Kie.
“Boleh,” kata si jangkung, “tapi kita harus menggunakan satu cara baru. Jika kau menang karena tenagamu yang besar, walau pun kalah tetapi kami kalah dengan hati penasaran. Bukankah demikian?”
Pemuda itu mengangguk. “Benar,” katanya.
Tiba-tiba Siauw Ciauw berteriak, “Memalukan! Benar-benar memalukan! Kakek jenggotan yang main keroyok berbalik mengatakan orang lain curang.”
Si jangkung tertawa terbahak. “Bocah,” katanya. “Orang sering berkata: yang rugi ialah yang untung. Garam yang kutelan lebih banyak dari pada beras yang kau telan. Jembatan yang kulewati lebih panjang dari pada jalan yang pernah kau lalui. Bocah, tahu apa kau?!” Ia menengok kepada Bu Kie dan berkata lagi, “Kalau kau tidak setuju, kita tak usah bertanding lagi. Dalam pertandingan tadi kau tidak kalah dan kami pun tidak menang. Seri saja! Tiga puluh tahun kemudian bolehlah kita berjumpa kembali.”
Mendengar kata-kata Sute-nya yang makin lama menjadi semakin gila, si kate buru-buru membentak.
“Orang she Can! Kami mengaku kalah, sekarang kau boleh berbuat sesuka hati terhadap kami.”
“Boanpwe sama sekali tidak punya niat kurang baik,” kata Bu Kie. “Dengan memberanikan hati Boanpwe hanya ingin mendamaikan permusuhan antara partai Cianpwe dengan Beng-kauw.”
“Tidak bisa!” teriak si jangkung. “Aku belum mengajukan usulku. Mengapa kau lantas saja mundur?”
Si kate mengerutkan alisnya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu bahwa biar pun gila-gilaan, dengan mengandalkan ketebalan mukanya dan lidahnya si Sute sering membuat musuh menjadi pusing dan mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Hari ini, di depan tokoh rimba persilatan, cara itu memang tidak bagus. Tapi jika ia dapat menjatuhkan Bu Kie maka kemenangan itu sekiranya dapat juga digunakan untuk menebus dosa.
“Bagaimana usul Cianpwe?” tanya Bu Kie.
“Ilmu golok yang terlihai dari Hoa-san-pay dinamakan Hoan-liang-gie To-hoat,” jawabnya. “Lihainya To-hoat sudah kau rasakan. Tapi kau tidak tahu bahwa Kun-lun-pay memiliki ilmu pedang yang dinamakan Ceng-liang-gie Kiam-hoat. Kelihaian ilmu ini dapat dikatakan berendeng dengan To-hoat dari Hoa-san-pay. Masing-masing punya keunggulan sendiri. Mana kala dua golok dan dua pedang dipersatukan menjadi satu, maka Im (negatip) akan mendapat imbangan dari Yang (positip) dan air akan membantu api. Hai...!“ berkata hingga di sini dia menggoyangkan kepalanya, kemudian menambahkan dengan perlahan. “Hebat! Terlalu hebat...! Kau tak akan bisa melawannya.”
Mendengar itu Bu Kie lantas saja menengok ke barisan Kun-lun-pay dan berkata, “Apakah Cianpwe dari Kun-lun-pay sudi memberi pelajaran kepadaku?”
“Kecuali Thie Khim Sian-seng suami isteri, di kalangan Kun-lun-pay tak ada orang lain yang dapat bekerja sama dengan kami berdua,” kata si jangkung. “Aku tidak tahu apakah Ho Ciang-bun bernyali cukup besar atau tidak.”
Setiap orang yang ingin menonton keramaian jadi girang sekali. Dalam omongannya yang gila-gilaan itu ternyata si jangkung bukan manusia tolol. Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham menatap si jangkung. Mereka tak mengenal dua kakek itu. Sebagai paman guru Sian Ie Thong, kedua orang tua itu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan sudah tentu jarang berkelana di dunia Kangouw See-hek yang jauh, maka tidaklah heran jika mereka belum pernah bertemu dengan kedua kakek ini.
Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham sangat bersangsi. Mereka tahu bahwa kedua kakek itu ingin menyeret mereka ke gelanggang. Bila menang maka muka si jangkung dan si kate akan terang kembali. Tapi kalau kalah... Huh! Tidak mungkin! Mana bisa Ceng-liang-gie Kiam-hoat dari Kun-lun-pay kalah oleh pemuda yang tak dikenal ini? Melihat suami isteri Ho Thay Ciong belum juga bergerak, si jangkung lantas berteriak.
“Oh! Suami isteri Ho dari Kun-lun-pay tidak berani bertempur dengan kau. Kau tak usah heran. Biar pun boleh juga, Ceng-liang-gie Kiam-hoat masih banyak cacatnya. Jika dibandingkan dengan ilmu golok kami, Hoan-liang-gie To-hoat masih lebih unggul setingkat dua tingkat.”
Pan Siok Ham marah tidak kepalang. Dengan sekali melompat dia sudah berada di tengah gelanggang.
“Siapakah she dan nama tuan yang besar?” tanyanya seraya menuding si jangkung.
“Aku pun she Ho,” jawabnya. “Ho-hujin, silakan.”
Perkataan itu disambut dengan gelak tawa bernada mengejek dari sejumlah penonton. Pan Siok Ham dikenal sebagai ‘Tay-siang Ciang-bun-jin’ dari Kun-lun-pay. Selama puluhan tahun dia berkuasa bagaikan ratu di daerah yang luasnya beberapa ratus li persegi. Maka itu mana bisa dia menerima ejekan di hadapan orang banyak.
“Srett!”
Bagaikan kilat dia menikam si jangkung. Di detik ini masih bertangan kosong, di lain detik pedangnya telah menyambar dan ujung pedang hanya terpisah setengah kaki dari pundak lawan. Si jangkung terkesiap dan cepat menyampok dengan goloknya.
“Trangg!”
Pada saat terakhir dia berhasil memapaki bacokan jago betina itu. Pan Siok Ham menyerang dengan jurus Kim-ciam Touw-ciat (jarum emas melewati mara bahaya) ada pun si jangkung menyambut dengan Ban-ciat Put-hok (laksana mara bahaya tidak datang lagi). Kedua pukulan itu, yang satu ‘Ceng’ yang lain ‘Hoan’, merupakan ilmu silat Liang-gie yang indah luar biasa. Kalau tadi si kakek tidak berdaya dalam menghadapi Kiu-yang Sin-kang, sekarang dia memperlihatkan kepandaiannya yang amat tinggi sebab pada hakekatnya dia memang seorang ahli silat kelas utama.
Pada gebrakan pertama masing-masing mundur satu tindak. Mereka terkejut dan merasa kagum. Mereka berlainan partai, berlainan ilmu dan belum pernah bertemu muka. Namun sesudah gebrakan itu masing-masing yakin bahwa kalau Liang-gie To-hoat bekerja sama maka kerja sama itu akan menciptakan serupa ilmu silat yang tiada bandingannya di dunia. Ketika itu Pan Siok Ham merasa seperti seorang yang selama hidupnya hidup kesepian lalu tiba-tiba bertemu dengan sahabat akrab. Ia menengok kepada suaminya dan berkata,
“Ehh, ke mana kau?”
Ho Thay Ciong adalah seorang suami yang selalu menurut perintah sang isteri. Namun di hadapan orang banyak ia merasa jengah juga dan berusaha untuk menolong muka dengan menunjukkan keangkerannya sebagai seorang Ciang-bun-jin. Sambil mengeluarkan suara di hidung, perlahan-lahan ia menghampiri sang isteri dengan didahului oleh empat kacung. Satu membawa pedang, satu menyangga khim besi dan dua orang lagi memegang hudtim (kebutan) Begitu tiba di tengah gelanggang, empat kacung itu membungkuk dan mundur, kemudian berdiri di belakang Ho Thay Ciong. Pan Siok Ham melirik suaminya dan berkata,
“Kita berempat coba bermain-main dengan bocah itu supaya dia mengenal lihainya ilmu silat Hoa-san dan Kun-lun.“ Ia menengok dan mendadak mengeluarkan seruan tertahan. Sambil mengawasi Bu Kie dengan kedua mata terbelalak, ia berkata, “Kau... kau...!“
Sebagaimana diketahui, empat tahun lalu dia pernah bertemu dengan Bu Kie. Walau pun sekarang dari kanak-kanak Bu Kie sudah menjadi seorang pemuda, badannya sudah berubah dan di atas bibirnya sudah tumbuh sedikit kumis, tapi dia masih mengenal pemuda ini.
“Apakah tidak lebih baik jika kita melupakan kejadian yang lalu?” kata Bu Kie. “Aku Can A Gu.”
Pan Siok Ham mengerti maksud pemuda yang tidak mau memperkenalkan namanya yang sejati. Ia tahu bahwa jika ia membuka rahasia maka Bu Kie pun akan melucuti kedoknya dan mengumumkan bagaimana ia dan suaminya membalas kebaikan dengan kejahatan. Maka itu seraya mengangkat pedang ia berkata,
“Can Siauw-hiap telah mendapat kemajuan pesat sekali. Pada kesempatan ini aku hendak memberi selamat sekaligus aku ingin minta pengajaranmu.”
Bu Kie tersenyum. “Telah lama kudengar bahwa Kiam-hoat kalian berdua yang amat lihai,” katanya. “Boanpwe hanya berharap agar Cianpwe suka menaruh belas kasihan.”
Sementara itu Ho Thay Ciong sudah mengambil pedang yang dipegang kacungnya. “Senjata apa yang ingin digunakan Can Siauw-hiap?” tanyanya.
Melihat Ho Thay Ciong, Bu Kie ingat kejadian-kejadian empat tahun lalu. Ia ingat Kim-koan dan Gin-koan yang bisa mengisap racun tapi kemudian mati karena tiada makanan. Hal ini sangat disayangkan olehnya. Dia pun ingat bahwa Ho Thay Ciong dan isterinya pernah naik ke Bu-tong untuk mendesak kedua orang tuanya hingga akhirnya ayah dan ibunya mati bunuh diri. Dia ingat pula bahwa dia pernah dipaksa minum arak beracun, dipukul sampai babak belur dan dilemparkan ke batu gunung. Apa bila tidak ditolong Yo Siauw maka jiwanya pasti sudah melayang. Mengingat itu darah Bu Kie meluap. “Ho Thay Ciong, Ho Thay Ciong!” katanya dalam hati. “Hari itu kau menghajar aku sepuas hati. Hari ini meski pun tidak mengambil jiwamu tetapi aku akan memberi pelajaran yang setimpal kepadamu.”
Ketika itu kedua pemimpin Kun-lun dan kedua ketua Hoa-san-pay sudah berdiri di empat sudut sembari mencekal senjata mereka yang berkeredepan. Sekonyong-konyong Bu Kie bersiul dan bagaikan sebatang pit badannya meluncur ke atas, kemudian dengan tiba-tiba mengubah arah ke jurusan sebuah pohon bwee. Dengan sekali menggerakkan tangan dia sudah mematahkan sebatang ranting yang penuh bunga dan setelah itu barulah badannya melayang kembali ke bumi.
Ilmu meringankan badan Bu Kie sudah dilihat orang. Namun gerakannya dalam memetik ranting bwee itu indah bukan main sehingga semua orang menggeleng-gelengkan kepala saking kagumnya. Sementara itu Bu Kie sudah melangkah ke tengah gelanggang. Sambil mengangkat ranting pohon ia berkata,
“Biarlah dengan menggunakan ini Boanpwe menerima pelajaran dari Hoa-san Kun-lun.”
Semua orang kaget sekali. Bagaimana pemuda ini melawan empat ahli silat dengan menggunakan ranting pohon yang dihias oleh kurang lebih sepuluh kuntum bunga? Walau pun memiliki lweekang yang sangat tinggi, cabang kayu itu tidak akan bisa melawan golok dan pedang. Pan Siok Ham tertawa dingin,
“Bagus,” katanya. “Bocah! Sedikit pun kau tak memandang sebelah mata ilmu silat Hoa-san dan Kun-lun.”
Bu Kie tersenyum dan menjawab, “Dahulu Boanpwe pernah mendengar cerita dari Sian-hu (mendiang ayah) bahwa seorang Cianpwe Kun-lun-pay, yakni Ho Ciok To Sian-seng, mempunyai kepandaian luar biasa dalam ilmu memetik khim, bersilat dengan pedang dan main catur sehingga beliau dikenal sebagai Kun-lun Sam-seng. Hanya sayang kita terlahir terlalu lambat sehingga tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang tua itu.”
Semua orang tahu maksud pemuda ini. Dengan memuji Ho Ciok To, Bu Kie menghargai Kun-lun-pay yang mempunyai leluhur jempolan, tapi dia memang tak memandang sebelah mata kepada Ciang-bun-jin yang sekarang bersama isterinya. Sekonyong-konyong dalam barisan Kun-lun-pay terdengar bentakan menggeledek.
“Anak haram! Berapa tingginya kepandaianmu hingga kau begitu kurang ajar terhadap guruku?”
Cacian itu disusul dengan melompatnya seorang pria brewokan yang mengenakan jubah imam warna kuning. Berbareng lompatan itu, pedangnya menikam punggung Bu Kie. Biar pun sebelum menyerang ia mencaci, tapi karena gerakannya cepat bukan kepalang maka serangan itu tiada bedanya seperti bokongan. Pada detik ujung pedang hampir menyentuh punggungnya, tanpa memutar badan kaki kiri Bu Kie menyambar ke belakang dan dengan gerakan yang tak dapat dilihat orang, kakinya menginjak pedang itu di atas tanah. Dengan menggunakan seluruh tenaganya si imam membetot pedang itu, tapi sedikit pun tidak bergeming.
Perlahan-lahan Bu Kie menengok dan dia segera mengenal bahwa penyerang itu bukan lain adalah See-hoa-cu yang dulu pernah ditemuinya di tengah lautan. Imam yang sangat berangasan itu pernah mengeluarkan perkataan kurang ajar terhadap mendiang ibunya In So So. Mengingat itu Bu Kie berduka. Ia lalu bertanya,
“Apakah kau See-hoa-cu Totiang?”
See-hoa-cu tak menyahut. Dengan muka kemerah-merahan ia terus membetot pedangnya dengan sekuat tenaga. Sesudah menotol badan pedang dengan tumit sepatu, tiba-tiba Bu Kie mengangkat kakinya. Karena tak menduga, si imam terhuyung setindak. Tapi berkat kepandaiannya yang tinggi, dengan mengerahkan lweekang dia segera dapat mempertahankan diri. Tapi baru saja dia menggunakan Cian-kin-tui (ilmu memberatkan badan agar dapat berdiri tetap), semacam tenaga yang datang dari badan pedang telah mendorongnya. Tenaga itu begitu hebat sehingga tanpa berdaya dia jatuh duduk.
“Trangg...!”
Hampir berbareng terdengar suara dan pedang patah. Kini ia hanya mencekal gagangnya saja. Bukan main malunya See-hoa-cu. Sang Su-nio (isteri guru) mengawasinya dengan sorot mata mencorong marah sehingga ia pun tahu bahwa ia akan mendapat hukuman. Dengan bingung dan ketakutan dia buru-buru bangkit.
“Anak haram...!“ bentaknya.
Sebenarnya Bu Kie sudah merasa cukup, namun begitu mendengar cacian ‘anak haram’ yang mencaci juga kedua orang tuanya, darahnya lantas meluap. Bagaikan kilat dia mengibaskan ranting bwee dan tiga ‘hiat’ di dada See-hoa-cu tertotok. Tapi dengan berlagak pilon Bu Kie segera berkata kepada empat lawannya,
“Para Cianpwe boleh mulai!”
“Minggir kau!” bentak Pan Siok Ham. “Apa belum cukup?”
“Baik,” jawab See-hoa-cu, tapi badannya tidak bergerak.
Pan Siok Ham jadi makin marah. “Aku suruh kau minggir, apa kau tidak dengar?!” teriaknya.
“Baik... baik... su-nio... baik,” jawabnya terputus-putus. Tapi dia tetap berdiri tegak.
Tak kepalang marahnya si jago betina. Dia sungguh tak mengerti mengapa murid itu amat kurang ajar. Dia belum tahu bahwa beberapa jalan darah See-hoa-cu telah ditotok Bu Kie. Dengan mata mendelik dia mendorong keras murid yang dianggapnya bandel itu. Badan si imam terdorong beberapa kaki, tapi kedudukan badan dan kaki tangannya tetap tidak berubah. Sekarang barulah Pan Siok Ham berdua suami paham sebab musababnya. Mereka heran bercampur kagum. Keduanya tidak mengerti bagaimana Bu Kie bisa menotok jalan darah tanpa diketahui mereka.
Buru-buru Ho Thay Ciong menotok beberapa hiat di pinggang muridnya untuk membuka jalan darah yang tertutup. Di luar dugaan, See-hoa-cu masih tetap tidak bisa bergerak.
Sambil menunjuk Put Hwie yang bersandar di tubuh Yo Siauw, Bu Kie berkata, “Beberapa tahun yang silam nona kecil itu juga pernah ditutup jalan darahnya dan dia dipaksa untuk minum arak beracun, sementara aku sendiri tak berdaya membuka hiat-tonya yang tertotok. Sekarang muridmu pun mendapat pengalaman yang sama. Kau tak usah heran, ilmu Tiam-hiat kita berdua memang berlainan.”
Melihat paras muka para hadirin berubah, Pan Siok Ham merasa jengah dan untuk menutupi rasa malunya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia segera menikam alis Bu Kie. Hampir berbareng pedang Ho Thay Ciong menyambar punggung pemuda itu, dan kedua kakek Hoa-san-pay pun lantas mulai menyerang. Dengan sekali lompat Bu Kie bisa menyelamatkan diri dari empat senjata. Ho Thay Ciong cepat mengirim tikaman kedua yang mengarah pinggang Bu Kie untuk memaksa pemuda itu menangkis dengan ranting bwee. Sambil mementil golok si kate dengan telunjuk kiri, Bu Kie menotol badan pedang.
Ho Thay Ciong memutar senjatanya dan memapas cabang yang kecil itu. Ia berpendapat bahwa meski pun lawan memiliki kepandaian tinggi, ranting itu takkan bisa melawan tajam dan kerasnya pedang. Tapi di luar dugaan Bu Kie pun memutar rantingnya dan memukul badan pedang. Mendadak Ho Thay Ciong merasa dorongan dari semacam tenaga lembek sehingga pedangnya terpental dan menghantam golok si jangkung.
“Aha, Ho Thay Ciong!” seru kakek itu. “Mengapa kau membantu lawan?”
Paras muka Ho Ciang-bun berubah merah, tapi tentu saja dia tidak mau mengaku bahwa pedangnya telah dipukul terpental oleh pemuda ini.
“Omong kosong!” bentaknya seraya menikam Bu Kie.
Pertempuran lantas berubah dengan hebatnya. Bagaikan hujan gerimis Ho Thay Ciong mengirim tikaman-tikaman berantai, sementara itu isterinya yang bergerak di belakang Bu Kie berusaha menutup jalan mundur pemuda itu. Dari kedua samping dua kakek Hoa-san-pay mencecar dengan pukulan-pukulan terhebat dari Liang-gie To-hoat. Kedua ilmu silat itu yang satu ‘ceng’ yang lainnya ‘hoan’ berasal dari pat-kwa dan pulang ke pat-kwa. Dengan kata lain, karena sumbernya sama maka sungguh pun jurus-jurusnya berlainan pada hakekatnya kedua ilmu silat itu bersatu padu. Makin lama keempat tokoh makin saling mengerti dan kerja sama juga jadi semakin erat.
Sebelum bergebrak Bu Kie pun tahu bahwa keempat lawannya tak boleh dibuat gegabah. Ia hanya tidak menduga bahwa kerja sama antara Hoan-liang-gie To-hoat dan Ceng-liang-gie Kiam-hoat bisa sedemikian hebat dan berkat saling bantu antara ‘Yang’ dan ‘Im’ kerja sama itu dikatakan tiada cacatnya. Tak ada bagian yang lemah, baik dalam serangan mau pun dalam pembelaannya. Kalau mempergunakan senjata biasa dia masih bisa mendapat bantuan dari senjata itu. Apa mau dikata, secara temberang dia memilih ranting bwee dan sekarang dia menghadapi bahaya besar.
Sesudah bertempur lagi beberapa lama, si kakek kate mendadak menyerang kaki Bu Kie dengan menggulingkan badan di tanah. Bu Kie berkelit ke samping, dia dipapaki Pan Siok Ham.
“Kena!” bentak jago betina itu dan paha Bu Kie tertikam!
Baru saja Bu Kie mementil senjata lawan, pedang Ho Thay Ciong menyambar dan golok kedua kakek itu membabat kakinya. Di lain detik Pan Siok Ham sudah lantas saja menikam pula dengan serentak. Keadaan Bu Kie terdesak. Dalam keadaan bahaya tiba-tiba Bu Kie mendapat serupa ingatan. Laksana kilat ia melompat kemudian bersembunyi di belakang See-hoa-cu.
Pan Siok Ham menikam dengan tujuan membinasakan dan bukan hanya sekedar menjajal kepandaian. Ujung pedang yang menyambar dengan disertai lweekang itu hampir amblas di badan muridnya. Untung dia keburu menarik kembali senjatanya, tetapi See-hoa-cu sudah berteriak dan mengeluarkan keringat dingin.
Bu Kie jengkel dan bingung. Sesudah bertempur beberapa lama, ia masih juga belum bisa menangkap inti sari dari pada kedua ilmu silat itu. Sebelum dapat menyelami isinya, ia tak akan bisa memecahkannya. Maka itu jalan satu-satunya ialah berkelit kian kemari menggunakan See-hoa-cu sebagai tameng.
Sambil menggunakan siasat main petak ini, pemuda itu mengeluh dalam hati, “Bu Kie! Bu Kie! Kau terlampau memandang enteng orang gagah di kolong langit. Sekarang kau menghadapi bencana. Kalau bisa keluar dengan selamat, kau harus ingat baik-baik pelajaran pahit ini. Benar juga kata orang, di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia.”
Pan Siok Ham merasa dadanya seperti mau meledak. Kalau tidak dihadang See-hoa-cu, beberapa kali ia bisa menikam pemuda itu. Kalau menuruti napsu, ia ingin membuat putus badan si imam, tetapi dengan adanya kecintaan antara guru dan murid, tentu saja ia tidak tega menurunkan tangan jahat.
“Ho-hujin!” teriak si jangkung. “Jika kau tidak mau turun tangan terhadap orangmu, biarlah aku yang turun tangan.”
“Sesukamulah!” bentaknya dengan marah.
Si jangkung lantas mengangkat goloknya dan menyabet pinggang See-hoa-cu. Bu Kie terkejut sekali. Jika kakek itu benar-benar membunuh si imam, maka bukan saja ia sendiri terancam kebinasaan, tapi di dalam persoalan ini juga akan timbul sengketa baru. Karena itu dengan menggunakan sinkang dia mengebut dengan tangan bajunya sehingga golok si jangkung terpental. Hampir berbareng si kate membacok. Bu Kie segera berkelit ke kanan, tetapi si kate tidak mengubah arah goloknya yang terus saja menyambar ke pundak See-hoa-cu. Ia membuat gerakannya sedemikian rupa sehingga seolah-olah tampaknya tak keburu mengubah arah atau menarik pulang senjatanya. Tetapi di mulut dia berteriak,
“See-hoa-cu To-heng, hati-hatilah!”
Dengan berbuat begitu si kate mencoba menyebar bibit penyakit kepada Bu Kie. Ia mengerti bahwa jika ia membinasakan See-hoa-cu maka ia akan bermusuhan dengan Kun-lun-pay. Tapi dengan pura-pura tidak keburu menarik kembali senjatanya, ia bisa memindahkan kesalahan ke atas pundak Bu Kie.
Bu Kie memutar badan sambil mendorong dada si kate dengan telapak tangannya. Napas kakek itu menyesak. Cepat dia menyambut dengan tangan kiri, tapi goloknya menyambar terus. Untung sekali, sebelum golok mampir pada pundak See-hoa-cu, kedua tangan itu bentrok dan si kate terhuyung ke belakang sehingga goloknya pun membacok angin. Sesudah jiwanya ditolong dua kali, si imam merasa sangat berterima kasih kepada Bu Kie dan berbalik membenci kedua kakek itu.
“Kalau bisa hidup terus, aku akan membuat perhitungan dengan bangsat kate dan jangkung itu,“ katanya di dalam hati.
Di lain pihak, melihat pemuda itu melindungi muridnya, Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham merasa girang. Mereka girang sebab dalam usahanya melindungi See-hoa-cu, Bu Kie jadi lebih sukar untuk membela diri. Mereka sedikit pun tidak merasa berterima kasih terhadap lawan yang sudah menolong muridnya dan mereka menyerang makin hebat.
Melihat itu, tokoh-tokoh Siauw-lim, Bu-tong, dan Go-bi menggeleng-gelengkan kepala dan di dalam hati kecil mereka merasa malu. Kalau pemuda itu binasa, sedikit banyak mereka turut berdosa.
BANTUAN MURID GO-BI-PAY
Dua kakek Hoa-san-pay terus menyerang dengan hebatnya, sebentar membabat Bu Kie, sebentar membacok See-hoa-cu. Makin lama Bu Kie semakin terdesak.
“Tidak apa-apa jika aku sendiri yang binasa,” pikirnya. “Tapi sangat tidak pantas kalau aku menyeret juga imam ini.“ Berpikir demikian, sambil menghantam si jangkung dia mengibas ranting bwee dan dengan kibasan itu dia membuka jalan darah See-hoa-cu.
Pada saat yang berbarengan si kate membabat kaki See-hoa-cu dan Bu Kie menendang pergelangan tangannya. Dengan cepat kakek itu menarik kembali tangannya. Mendadak si imam yang sudah merdeka mengirim tinju yang tepat mampir pada batang hidung si kate, yang lantas mengucurkan darah. Sebenarnya kepandaian jago Hoa-san-pay itu lebih tinggi dari pada si imam. Tapi karena diserang secara tidak diduga-duga, dia tidak keburu berkelit lagi. Kejadian yang lucu itu disambut dengan gelak tawa.
“See-hoa-cu, mundur kau!” bentak Pan Siok Ham sambil menahan tawa.
“Baiklah,” jawabnya. “Tapi bangsat jangkung itu masih hutang satu tinju.”
Tiba-tiba si kate menyapu kaki See-hoa-cu, membacok dan menyikut.
“Dukk!”
Sikut kirinya mampir di dada si imam. Tiga gerakan berantai itu adalah salah satu jurus terlihai dari Hoa-san-pay. Tubuh See-hoa-cu bergoyang-goyang dan tanpa tercegah lagi ia langsung muntah darah. Secepat kilat Ho Thay Ciong menempelkan telapak tangan kirinya pada pinggang si murid, kemudian dengan sekali mendorong, tubuh yang tinggi besar itu terpental beberapa tombak jauhnya.
“Sungguh indah pukulan itu!” katanya untuk mengejek si kate dan...
“Srett...!”
Pedangnya menikam Bu Kie, merupakan bukti bahwa Ciang-bun-jin Kun-lun-pay memang bukan sembarang orang. Setelah penghalang menyingkir, keempat jago itu menyerang makin hebat. Dua golok dan pedang berkelebat-kelebat bagaikan kitiran dan Bu Kie seolah-olah dikurung dengan sinar senjata. Dengan tenaga dalam yang sangat kuat, dia tidak merasa lelah. Tetapi serangan-serangan dengan perubahan-perubahannya yang aneh-aneh itu sesungguhnya terlampau hebat. Bu Kie mengerti bahwa dalam dua ratus atau tiga jurus lagi dia akan binasa.
Kiu-yang Sin-kang yang dimiliki Bu Kie diperoleh dari Kiu-yang Cin-kang gubahan Tat Mo Couwsu dari India, sedangkan Kian-kun Tay-lo-ie berasal dari Iran. Kedua ilmu ini boleh dikatakan puncaknya kepandaian manusia.
Di lain pihak, kedua ilmu silat Liang-gie itu digubah dari bermacam-macam ilmu Tiongkok asli yang dicampur dengan kedudukan-kedudukan Pat-kwa dari Bu Ong. Kalau seseorang sudah melatih diri sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu tersebut, maka dia akan banyak lebih lihai dari pada orang yang memiliki Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Tetapi karena Kitab Ya-keng (kitab mengenai Pat-kwa) terlampau sukar dipelajari, maka keempat jago itu baru mengenal kulitnya saja. Kalau tidak begitu tentu siang-siang Bu Kie sudah binasa.
Sambil bertempur pemuda itu terus mengasah otak. Bila dia mau, dengan menggunakan ilmu pengenteng badan dengan mudah dia dapat meloloskan diri dari kepungan. Keempat tokoh itu takkan dapat mengejarnya. Tapi jika dia lari maka tujuannya untuk mendamaikan permusuhan antara enam partai dan Beng-kauw akan gagal sama sekali. Sesudah memikirkan bolak-balik, dia mengambil keputusan untuk bertahan terus dan baru menyerang sesudah keempat lawannya lelah. Tapi di luar dugaan, keempat orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat kuat dan entah sampai kapan baru menjadi letih.
Biar pun berada di atas angin, di dalam hati keempat jago itu merasa sangat tidak enak. Mereka merasa malu terhadap diri sendiri. Dengan mengingat kedudukan dan nama mereka, jangankan empat lawan satu, sedangkan satu lawan satu pun sudah amat hilang muka. Lebih dari pada itu, sesudah bertempur tiga empat ratus jurus, mereka belum juga bisa merobohkan Bu Kie. Untung pemuda itu sudah lebih dulu menjatuhkan pendeta suci Kong-seng sehingga kalau malu, malu beramai-ramai.
Makin lama Bu Kie makin terdesak, tapi tak begitu gampang ia bisa dilukai. Pada detik-detik yang berbahaya ia selalu dapat menyelamatkan diri dengan berkelit atau menangkis dengan ranting bwee yang disertai sinkang. Pada lain pihak keempat tokoh itu mempunyai pengalaman luas dan kenyang menghadapi lawan berat. Makin lama bertempur, mereka makin tidak berani berlaku sembrono. Seraya mengempos semangat, mereka mendesak setingkat demi setingkat. Para tetua keempat partai mengikuti jalannya pertandingan dengan penuh perhatian dan kadang-kadang memberi penjelasan serta petunjuk kepada murid-murid mereka yang berdiri di sekitar lapangan.
“Lihatlah kalian semua,” kata Biat-coat Suthay kepada murid-muridnya. “Ilmu silat pemuda itu sangat luar biasa. Tetapi keempat pemimpin dari Kun-lun-pay dan Hoa-san-pay sudah menjepitnya sehingga ia tidak dapat bergerak lagi. Ilmu silat dari Tiong-goan tak akan bisa ditandingi oleh segala ilmu siluman dari See-hek. Liang-gie berubah menjadi Su-siang dan Su-siang berubah menjadi Pat-kwa. Dalam ilmu silat itu terdapat delapan kali delapan atau enam puluh empat kie-pian (perubahan yang luar biasa) berikut delapan kali delapan atau enam puluh empat teng-pian (perubahan yang sudah tetap). Enam puluh empat kali enam puluh empat maka seluruhnya ada empat ribu sembilan puluh enam perubahan. Di antara macam-macam ilmu silat di kolong langit, ilmu silat Liang-gie lah yang mempunyai paling banyak perubahan.”
Semenjak Bu Kie turun ke gelanggang, Ciu Cie Jiak amat khawatir akan keselamatannya. Karena sangat disayang oleh sang guru, nona itu telah diberi pelajaran kitab Ya-keng. Kini dengan mengggunakan kesempatan baik, ia segera berkata dengan suara nyaring,
“Suhu, menurut pendapat teecu, biar pun jurus-jurusnya sangat beraneka warna tetapi inti sari dari Ceng-hoan Siang-gie ialah Thay-kek menjadi Im-yang Liang-gie. ‘Yang’ terdiri dari Thay-yang dan Siauw-im. ‘Im’ terdiri dari Siauw-yang dan Thay-im. Inilah yang dinamakan Su-sian. Kalau tidak salah, meski pukulan-pukulan keempat Cianpwe itu hebat luar biasa tapi yang paling lihai adalah po-hoatnya (tindakannya).“ Karena Ciu Cie Jiak bicara menggunakan tenaga dalam, tanpa terasa semua orang menengok kepadanya.
Meski pun sedang bertempur mati-matian, namun kuping dan mata Bu Kie tetap waspada terhadap keadaan di luar gelanggang sehingga setiap perkataan nona Ciu dapat didengar tegas olehnya.
“Mengapa ia bicara begitu keras?” tanyanya dalam hati. “Apakah ia sengaja ingin memberi petunjuk kepadaku?”
“Penglihatanmu sedikit pun tak salah,” kata Biat-Coat. “Aku merasa girang sebab kau bisa menangkap inti sari dari ilmu silat para Cianpwe.”
“Ya,” kata pula si nona pada diri sendiri. “Kian di selatan, kun di utara, lo di di timur, kan di barat, cin di timur laut, twie di tenggara, sun di barat daya, gin di barat laut. Mulai dari cin sampai Kian dinamakan sun (menurut), dari sun sampai kun dinamakan gek (melawan).“ Setelah berdiam sejenak ia berkata lagi dengan suara lebih keras. “Suhu, tidak salah lagi, tepat seperti yang kau ajarkan, Ceng-liang-gie Kiam-hoat dari Kun-lun-pay ialah Sun yang meliputi kedudukan dari Cin sampai pada Kian. Hoan-liang-gie To-hoat dari Hoa-san-pay ialah Gek yang meliputi kedudukan dari Sun sampai pada Kun. Suhu, bukankah begitu?”
Mendengar perkataan muridnya, Biat-coat jadi girang sekali. Ia mengangguk beberapa kali dan berkata.
“Anak, kau tidak menyia-nyiakan capai lelahku.“
Nenek itu adalah manusia yang paling jarang memuji orang. Kata-katanya tadi adalah pujian tertinggi yang bisa dia berikan. Dalam girangnya Biat-coat tidak memperhatikan suara Cie Jiak yang sebenarnya terlampau nyaring. Tapi banyak orang sudah melihat keluar-biasaan ini. Melihat banyak mata ditujukan kepadanya, Cie Jiak lantas pura-pura girang dan berkata sambil bertepuk-tepuk tangan.
“Suhu, benar sekali. Su-siang-ciang dari Go-bi-pay kita dalam bundarnya terdapat persegi, ‘Im’ dan ‘Yang’ saling bantu membantu. Yang bundar dan berada di luar adalah ‘Yang’. Yang persegi dan di tengah-tengah adalah ‘Im’. Yang bundar dan bergerak dinamakan ‘Thian’ (langit), sedangkan yang persegi dan diam (tenang) dinamakan ‘Tee’ (bumi). Dengan demikian dalam ilmu silat kita terdapat Langit, Bumi, Im, Yang, persegi, bundar, bergerak dan diam. Menurut pendapatku Su-siang-ciang lebih unggul satu tingkat dari pada Ceng-hoan Liang-gie.”
Biat-coat yang memang selalu merasa bangga akan kelihayan Su-siang-ciang jadi makin girang,
“Tidak salah apa yang dikatakan olehmu,” katanya sambil tersenyum. “Akan tetapi kelihayan ilmu silat sangat tergantung pada kepandaian dan tenaga dalam dari orang yang menggunakannya.”
Di waktu kecil Bu Kie sering mendengar ceramah-ceramah tentang pelajaran kedudukan Pat-kwa karena Ya-keng adalah kitab yang terutama harus dipelajari oleh murid Bu-tong dan lweekang Bu-tong-pay juga berdasarkan kitab itu. Bu Kie terkejut mendengar perkataan nona Ciu tentang Su-siang-ciang, Sun dan Gok. Ia segera memperhatikan po-hoat (tindakan) dan jurus keempat lawannya dan benar saja, semua itu berdasarkan perubahan dari Su siang Pat kwa. Sekarang ia mengerti kenapa Kian-kun Tay-lo-ie tidak bisa bergerak.
Apa bila sama-sama sudah mencapai puncak kesempurnaan, pada hakekatnya ilmu silat See-hek tidak akan bisa menandingi ilmu dari Tiong-goan. Bahwa Bu Kie masih bisa terus mempertahankan diri adalah karena dia sudah memiliki ilmu See-hek sampai pada tingkat yang tertinggi, sedangkan empat lawannya baru mengenal kulit-kulit dari ilmu silat Tiong-goan itu. Dalam sekejap dia sudah dapat memikirkan beberapa cara untuk merobohkan lawannya itu. Namun dia masih bersangsi.
“Kalau kini aku menjatuhkan mereka, Biat-coat akan sadar dan memarahi nona Ciu,” pikirnya. “Nenek itu sangat kejam. Dia dapat melakukan perbuatan apa pun juga.”
Maka dia tidak lantas mengubah cara bersilatnya. Tapi sekarang berbeda dengan tadi, dia bisa melayani dengan tenang sambil memperhatikan jurus-jurus lawan. Semakin lama dia semakin tahu seluk-beluk Ceng-hoan Liang-gie. Sementara itu Cie Jiak menjadi makin bingung melihat keadaan Bu Kie tidak berubah.
“Dalam repotnya melayani musuh, dia tentu tidak bisa segera menangkap ilmu silat yang sangat tinggi itu,” pikirnya. Melihat Bu Kie makin terdesak, dia menjadi nekat. Sambil menghunus pedang dia melompat masuk ke gelanggang.
“Su-wi Cianpwe!” serunya. “Jika kalian tidak bisa merobohkan bocah itu, biarlah aku yang mencoba-coba.”
Ho Thay Ciong menjadi marah. “Jangan rewel! Minggir kau!” bentaknya.
Alis Pan Siok Ham berdiri. “Ada hubungan apa kau dengan bocah ini?!” tanyanya dengan suara keras. “Kau mau melindungi dia? Kun-lun-pay tak boleh dibuat permainan.”
Karena topengnya dilucuti, paras muka Cie Jiak berubah merah.
“Cie Jiak, lekas balik!” bentak Biat-coat. “Kun-lun-pay tak boleh dibuat permainan. Apa kau tidak mendengar?”
Bu Kie merasa sangat berterima kasih. Dia merasa bahwa kalau terus berlagak terdesak maka si nona pasti akan mencari lain daya upaya untuk membantu dirinya. Kalau hal itu dilihat oleh Biat-coat maka Cie Jiak bisa celaka. Karena itu dia lantas tertawa ter-bahak-bahak.
“Aku adalah pecundang dari Go-bi-pay,” katanya. “Aku pernah ditawan Biat-coat Suthay. Memang benar Go-bi-pay lebih unggul dari pada Kun-lun-pay.” Seraya berkata begitu dia maju dan tidak ke kiri. Kini tangan kanannya yang memegang ranting bwee membabat ke bawah.
Kesiuran angin yang dahsyat itu lantas menghantam punggung si kate. Pukulan dan tindakan Bu Kie dilakukan dengan tenaga dan waktu yang tepat sehingga tanpa terasa golok si kate menyambar ke arah Pan Siok Ham. Ternyata pemuda itu memukul dengan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dan melangkah menurut kedudukan Pat-kwa. Dalam kagetnya si jago pedang betina menangkis dengan pedangnya.
“Trangg...!”
Tangkisannya memang berhasil, tapi golok si jangkung sudah menyusul. Untuk menolong isterinya, Ho Thay Ciong melompat dan menangkis golok si jangkung. Bu Kie menepuk dengan telapak tangannya hingga golok si kate membacok perut Ho Thay Ciong. Pan Siok Ham marah sekali. Dengan beruntun dia mengirim tiga serangan berantai sehingga si kate menjadi kerepotan.
“Hei! Jangan kena diakali bangsat kecil itu!” teriaknya.
Kini Ho Thay Ciong sadar, lantas ia menikam Bu Kie. Dengan Tay-lo-ie Sin-kang pemuda itu menyambut pedang Ho Thay Ciong yang lantas berubah arah dan menyambar pundak si jangkung. Si jangkung berteriak-teriak saking marahnya. Dengan sekuat tenaga ia membacok kepala Ho Thay Ciong. Si kate buru-buru berteriak,
“Sute, jangan kalap! Semuanya adalah perbuatan si bocah. Aihh... celaka!” Pada detik itu pedang Pan Siok Ham berkelebat di pundaknya.
Dalam sekejap saja kedua kakek Hoa-san-pay terluka ringan akibat tergores pedang kawan sendiri. Gerakan-gerakan kedua golok dan kedua pedang menjadi kalang kabut. Bacokan, babatan, papasan, tikaman yang ditujukan ke tubuh Bu Kie selalu berubah arah dan menghantam kawannya sendiri. Kini semua orang bisa melihat bahwa semua itu adalah perbuatan Bu Kie. Namun mereka tidak tahu ilmu apa yang digunakan pemuda itu. Yang tahu hanya Yo Siauw seorang. Tapi ia pun hampir tidak percaya bahwa seorang manusia bisa memiliki Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang sampai pada taraf yang begitu tinggi. Untuk melawan, Pan Siok Ham cepat memberi isyarat dengan teriakan.
“Berputar ke Bu-bong-wie...!“
Tapi itu semua tak menolong sebab Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang telah menguasai mereka dari delapan penjuru. Mati-matian dia coba memberontak, tapi semua sia-sia saja. Setiap gerakan atau bacokan pasti menikam kawannya sendiri.
“Suko, apa tidak baik kalau kau mengurangi sedikit tenagamu?” teriak si jangkung sambil menangkis golok kakak seperguruannya.
“Aku membacok bangsat kecil itu, bukan kau!” kata si kate.
“Suko, hati-hati!” teriak si jangkung. “Bacokan ini mungkin akan berbalik.“ Dan benar saja, goloknya menyambar sang kakak.
Dengan paras muka menyeramkan tiba-tiba Pan Siok Ham melemparkan pedangnya.
“Ah, benar sekali,” pikir si kate yang langsung saja turut membuang senjatanya kemudian menendang Bu Kie. Namun mendadak pedang Ho Thay Ciong menyambar mukanya dan karena sudah tidak bersenjata, cepat dia menundukkan kepala.
“Lepaskan senjata!” teriak Pan Siok Ham.
Mendengar perintah sang isteri, Ho Ciang-bun segera melontarkan pedangnya jauh-jauh. Sementara itu, begitu membuang goloknya si jangkung sudah menjambret leher Bu Kie. Ia merasa telapak tangannya menyentuh benda keras dan ia segera mencengkeram. Namun sedetik kemudian ia terkesiap karena yang dicengkeramnya bukan lain dari pada gagang goloknya sendiri yang dipulangkan oleh Bu Kie dengan menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang.
“Aku tidak mau memakai senjata!” teriak si jangkung seraya melemparkan lagi goloknya.
Bu Kie miringkan badan dan menangkap pula senjata itu yang sekali lagi dipulangkan ke tangan lawan. Kejadian itu terulang beberapa kali. Dalam kaget dan kagumnya si jangkung tertawa terbahak-bahak.
“Bangsat bau, kau benar-benar mempunyai ilmu siluman!” teriaknya.
Sementara itu si kate dan suami isteri Ho sudah menyerang dengan tangan kosong. Ilmu silat tangan kosong dari Hoa-san dan Kun-lun tidak kalah hebatnya dari ilmu silat memakai senjata. Tapi pemuda itu licin bagaikan ikan di air. Pada detik-detik berbahaya ia selalu bisa menyelamatkan diri, kemudian balas menyerang. Sampai di situ keempat jago mengerti bahwa mereka tak akan bisa mendapat kemenangan.
“Bangsat bau! Awas senjata rahasia!” teriak si jangkung.
Ia mendehem kemudian menyembur Bu Kie dengan riaknya. Bu Kie berkelit dan dengan menggunakan kesempatan itu, si jangkung melontarkan goloknya. Mendadak ia berteriak,
“Celaka! Maaf!”
Apa yang sudah terjadi? Ternyata dengan tangan kiri Bu Kie mengibas riak itu yang lantas berbalik kemudian mampir di dahi Pan Siok Ham. Si ratu Kun-lun menjadi kalap. Sekarang dia nekat. Dia mengambil keputusan untuk mati bersama Bu Kie. Sambil mementang sepuluh jarinya dia berdiri di belakang Bu Kie untuk mencegat jalan mundur pemuda itu. Melihat kesempatan baik, Ho Thay Ciong juga menubruk. Dia merasa pasti bahwa kali ini bocah bau itu tak akan bisa meloloskan diri.
Seraya bersiul nyaring badan Bu Kie tiba-tiba melesat ke atas dan begitu berada di tengah udara, sambil mengerahkan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dia mengibas kedua tangannya dengan gesit dan cekatan. Sesudah itu dia langsung memutar badan dan dengan gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang ke muka bumi lalu hinggap pada jarak kurang lebih setombak dari tempat semula. Hasil perbuatan Bu Kie sangat menakjubkan!
Ho Thay Ciong memeluk pinggang isterinya, Pan Siok Ham mencengkeram pundak sang suami, sedangkan si kate dan si jangkung juga saling peluk erat-erat. Sesudah berkutat sejenak, keempat jago itu sama-sama roboh. Di lain detik suami isteri Ho sadar dan dengan paras muka kemerah-merahan mereka melompat bangun.
“Mampus kau!” teriak si jangkung. “Celaka...! Sial...!”
“Lepaskan!” seru si kate.
Dengan malu bercampur marah, kedua kakek itu pun bangkit.
“Bangsat bau!” teriak si jangkung. “Ini bukan pibu. Kau mempergunakan ilmu siluman. Kau bukan enghiong.”
Si kate mengerti bahwa tiada guna pertempuran dilangsungkan lagi. Makin lama mereka akan menderita makin hebat. Sambil mengangkat kedua tangannya dia berkata,
“Sinkang tuan tinggi luar biasa, aku si tua ini belum pernah melihat kepandaian semacam ini. Hoa-san-pay menyerah kalah.”
“Maaf,” jawab Bu Kie sambil membalas hormat. “Boanpwe menang secara kebetulan saja. Kalau tadi para Cianpwe tidak menaruh belas kasihan, sejak tadi Boanpwe sudah binasa di bawah golok dan pedang Ceng-hoan Liang-gie.“ Dengan berkata demikian Bu Kie bicara sejujurnya. Kalau tidak dibantu Cie Jiak memang dia bakal celaka.
Si jangkung girang. “Bagus! Kau tahu bahwa kau menang secara kebetulan,” katanya.
“Apakah aku boleh tahu she dan nama Jie-wi Cianpwe yang mulia?” tanya Bu Kie. “Kalau di kemudian hari kita bertemu lagi, Boanpwe bisa memanggil dengan panggilan yang benar.”
Si jangkung tertawa lebar dan menjawab. “Suko-ku ialah Wie...”
“Tutup mulutmu!” bentak si kate. Ia menengok kepada Bu Kie dan berkata lagi. “Sebagai jenderal yang keok kami merasa sangat malu. Tuan tak perlu tahu nama kami yang hina dina.“ Sesudah berkata begitu dia masuk ke dalam barisan Hoa-san-pay.
Si jangkung tertawa nyaring. “Menang atau kalah dalam peperangan adalah kejadian lumrah. Bagiku tak menjadi soal,“ katanya. Ia memungut dua batang golok yang tergeletak di tanah kemudian balik ke barisannya sendiri.
Sementara itu Bu Kie sudah menghampiri Sian Ie Thong dan menotok jalan darahnya.
“Setelah pertempuran selesai, sekarang aku mau mengobati kau,” katanya. “Aku menotok jalan darahmu untuk mencegah naiknya racun ke jantung.“
Pada detik itu pula tiba-tiba dia merasakan kesiuran angin dingin di belakangnya dan rasa perih di punggungnya. Ia terkesiap, kakinya menotol bumi dan badannya melesat ke atas.
“Cres...! Cress...!“
Terdengar suara yang disusul dengan teriakan menyayat hati. Di tengah udara ia memutar badan dan ia mendapat kenyataan dua batang pedang suami isteri Ho Thay Ciong sudah amblas di dada Sian Ie Thong! Sebagai orang yang memiliki kedudukan dan kepandaian tinggi dan sebagai orang yang selalu bangga akan kepandaiannya, Ho Thay Ciong dan Pak Siok Ham merasa penasaran bahwa mereka roboh di tangan seorang pemuda yang tak dikenal di rimba persilatan. Karena itu, tanpa memperdulikan pantas atau tidak pantas, selagi Bu Kie membungkuk untuk menotok jalan darah Sian Ie Thong, dia membokong dengan pukulan yang dinamakan ‘Bu-seng Bu-sek’ (tidak ada suaranya, tidak ada warnanya).
Bu-seng Bu-sek merupakan salah satu pukulan terhebat dari Kun-lun-pay. Pukulan itu harus didalami oleh dua orang yang tenaga dalamnya kira-kira sama. Dua tenaga yang keluar dari pukulan itu saling bertentangan sehingga sebagai akibatnya, suara yang dapat terdengar dalam menyambarnya senjata menjadi hilang. Itulah sebabnya mengapa jurus ini dinamakan ‘Bu-seng Bu-sek’. Di luar dugaan, sesudah memiliki Kiu-yang Sin-kang, panca indera Bu Kie lebih tajam dan gerakannya cepat luar biasa. Meski pun begitu bajunya tetap robek dan kulitnya kena juga digores pedang. Karena suami isteri Ho tak keburu menarik kembali senjatanya, maka yang menjadi korban adalah Sian Ie Thong.
Semua orang menjadi gempar. Karena sudah telanjur, bagaikan kalap kedua pemimpin Kun-lun-pay itu segera menerjang Bu Kie. Setelah mendapat malu besar mereka mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Pedang mereka menyambar-nyambar dan setiap serangan adalah serangan untuk binasa bersama musuh.
Tiba-tiba Bu Kie mendapat serupa ingatan. Dia berjongkok dan menjemput sedikit tanah yang sesudah dicampur dengan keringat pada telapak tangannya, lalu dibuat menjadi dua butir pil. Di lain saat Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham menyerang dari kiri kanan. Bu Kie melompat ke samping mayat Sian Ie Thong dan berlagak mengambil sesuatu dari saku mayat. Kemudian ia memutar badan dan menghantam dua lawan itu dengan telapak tangan sambil mengerahkan tujuh bagian tenaga.
Dengan berbareng suami-isteri Ho merasakan tekanan hebat pada dada mereka sehingga napas mereka terasa sesak. Cepat mereka membuka mulut untuk menyedot hawa segar. Namun tiba-tiba Bu Kie mengayun kedua tangannya dan kedua pil tanah itu masuk ke dalam tenggorokan Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham. Mereka batuk-batuk, tetapi kedua ‘yo-wan’ sudah masuk ke dalam perut.
Paras muka kedua suami isteri itu berubah pucat. Tadi mereka melihat Bu Kie mengambil sesuatu dari saku Sian Ie Thong. Apa lagi kalau bukan racun? Mengingat penderitaan Sian Ie Thong, bulu roma mereka bangun semua. Pan Siok Ham lantas merasa pusing dan badannya bergoyang-goyang.
“Di dalam sakunya Sian Ie Thong selalu membawa-bawa ulat sutera emas yang dibungkus dengan lilin,” kata Bu Kie dengan suara tawar. “Kalian masing-masing sudah menelan satu butir lilin. Kalau Jie-wi Cianpwe bisa memuntahkannya sebelum lilin itu melumer di dalam perut, mungkin sekali jiwa kalian masih bisa ditolong.”
Sambil mengerahkan lweekang, Ho Thay Ciong bersama isterinya segera berusaha memuntahkan ‘yo-wan’ itu. Dengan tenaga dalamnya yang amat kuat, tak lama kemudian mereka berhasil mengeluarkan tanah itu yang sudah tercampur dengan cairan isi ‘kantong nasi’ (lambung). Si kakek jangkung dari Hoa-san-pay lantas mendekat dan setelah melihat apa yang keluar dari perut, ia tertawa kemudian berkata,
“Aduh! Itu tahi ulat sutera emas. Ulat itu mengeram dalam perutmu lalu berak di situ.”
Kaget dan marahnya ratu Kun-lun-pay sukar dilukiskan. Dengan sekuat tenaga dia segera menghantam si jangkung yang iseng mulut. Kakek nakal itu melompat balik ke barisannya dan seraya menuding Pan Siok Ham, ia berteriak,
“Perempuan galak! Kau sudah membunuh Ciang-bun-jin dari partai kami dan Hoa-san-pay pasti tak akan menyudahi perbuatanmu ini.”
Suami isteri Ho terperanjat. Meski pun berdosa besar tapi Sian Ie Thong adalah seorang Ciang-bun-jin. Mereka paham bahwa kesalahan tangan itu pasti akan berekor panjang dan hebat, tapi dalam menghadapi kebinasaan segera, mereka tak sempat menghiraukan lagi bahaya di belakang hari. Mereka tahu bahwa di dunia hanya Bu Kie seorang yang dapat menolong mereka. Tapi mengingat perbuatan mereka dahulu, apakah pemuda itu sudi mengangsurkan tangan?
Bu Kie tertawa tawar dan berkata dengan suara tawar pula. “Jie-wi tak usah takut. Meski pun Kim-can sudah berada dalam perut tapi enam jam kemudian barulah racunnya akan mengamuk. Sesudah membereskan urusan besar ini, Boanpwe pasti akan turun tangan menolong Jie-wi. Boanpwe hanya berharap agar Ho-hujin jangan memaksaku minum arak beracun.”
Walau pun disindir, kedua suami isteri itu menjadi bingung. Tapi mereka merasa malu hati untuk mengucapkan terima kasih. Maka sambil menundukkan kepala mereka lalu kembali ke barisan sendiri.
“Cobalah Jie-wi minta empat butir Giok-tong Hek-seng-tan dari Khong-tong-pay,” kata Bu Kie. “Obat itu bisa menahan naiknya racun ke jantung.”
Ho Thay Ciong mengangguk dan segera memerintahkan salah seorang muridnya minta pil itu dari pemimpin Khong-tong-pay.
Dalam hatinya Bu Kie tertawa geli. Giok-tong Hek-seng-tan memang obat pemunah racun, tapi obat itu mengakibatkan sakit perut selama dua jam.
Sesudah menelannya, perut suami isteri Ho sakit bukan main. Mereka semakin ketakutan dan menduga racun sudah mulai mengamuk. Mereka tak pernah bermimpi bahwa mereka dikelabui oleh pemuda ini.
CINTA DI MEDAN LAGA
Sementara itu Biat-coat Suthay berkata kepada Song Wan Kiauw. “Song-tayhiap, enam partai kini hanya tinggal dua partai saja, partaimu dan partai kami. Partai kami kebanyakan terdiri dari kaum wanita. Maka itu Song-tayhiap lah yang harus bertindak.”
“Siauw-to sudah dikalahkan In-kauwcu,” jawab Wan Kiauw. “Kiam-hoat Suthay tinggi luar biasa, jadi kurasa Suthay pasti bisa menaklukkan bocah ini.”
Biat-coat tersenyum tawar dan seraya menghunus Ie-thian-kiam, dia pun bertindak masuk ke gelanggang. Se-konyong-konyong Jie-hiap Jie Lian Ciu keluar dari barisan Bu-tong-pay. Semenjak tadi dengan rasa kagum dan heran dia memperhatikan ilmu silat Bu Kie.
“Walau pun lihay belum tentu Biat-coat Suthay bisa melawan empat jago dari Hoa-san dan Kun-lun,” pikirnya. “Kalau dia kalah Bu-tong-pay juga kalah, maka usaha enam partai akan gagal sama sekali. Biarlah aku yang maju lebih dulu.“ Setelah berpikir demikian dia segera menyusul Biat-coat dan berkata. “Suthay, biarlah kami berlima saudara yang lebih dahulu mengadu ilmu dengan pemuda itu. Paling akhir barulah Suthay yang maju dan aku merasa pasti bahwa Suthay akan memperoleh kemenangan.”
Maksud Jie Lian Ciu cukup jelas. Bu-tong-pay dikenal sebagai partai yang mengutamakan latihan lweekang. Apa bila ilmu pendekar Bu-tong dengan bergiliran melayani pemuda itu, maka andai kata mereka tidak mendapat kemenangan, pemuda itu pasti akan lelah sekali. Sesudah dia lelah barulah Biat-coat maju untuk merobohkannya. Si nenek mengerti maksud Jie Lian Ciu. Dia mendongkol dan berkata dalam hati. “Siapa sudi menerima budi Bu-tong-pay? Biar pun menang tapi dengan cara begitu kemenangan itu bukanlah kemenangan gemilang!”
Dia sangat sombong dan memandang rendah semua manusia. Meski pun sudah menyaksikan kelihayan Bu Kie tetapi di dalam hati dia merasa bahwa jago dari partai lain adalah manusia-manusia tolol. Dia tak percaya bahwa dia tidak bisa merobohkan pemuda itu. Maka seraya mengibaskan tangan jubah dia berkata,
“Harap Jie Jie-hiap kembali saja! Sesudah dihunus Ie-thian-kiam tidak dapat dimasukkan lagi ke dalam sarungnya sebelum dipakai bertempur.”
“Baiklah,” kata Jie Lian Ciu yang segera kembali ke barisannya.
Sambil melintangkan pedang mustika di dadanya, Biat-coat menghampiri Bu Kie. Pedang Ie-thian-kiam amat dibenci dan ditakuti oleh kalangan Beng-kauw. Anggota Beng-kauw yang binasa karena pedang itu sukar dihitung jumlahnya. Sekarang melihat si nenek maju dengan Ie-thian-kiam terhunus, mereka semua merasa kuatir bercampur gusar dan beramai-ramai mereka mencaci Biat-coat. Si nenek tertawa dingin,
“Jangan rewel kalian!” bentaknya. “Kalian tunggulah! Setelah aku membereskan bocah itu maka aku akan segera membereskan kalian semua.”
In Thian Ceng tahu Ie-thian-kiam sukar dilawan. “Can Siauw-hiap, senjata apa yang ingin kau gunakan?” tanyanya.
“Aku tidak punya senjata,” jawabnya. “Bagaimana pikiran Loya-cu?” Di dalam hatinya Bu Kie memang merasa jeri terhadap pedang mustika itu. Dengan perlahan-lahan sang kakek menghunus pedang yang tergantung di pinggangnya.
“Terimalah Pek-hong-kiam (Pedang bianglala putih) ini,” katanya. “Walau pun tidak dapat menandingi Ie-thian-kiam milik bangsat perempuan itu, tapi pedang ini adalah senjata yang jarang terdapat di dalam dunia Kangouw.“ Seraya berkata demikian dia menyentil badan pedang yang lantas saja membengkok karena menjadi lemas seperti ikat pinggang.
“Uungg...!” Sebuah suara yang nyaring bersih lantas saja terdengar dan badan pedang pulih kembali seperti sedia kala.
Dengan sikap menghormat Bu Kie menyambuti pedang itu. “Terima kasih,” katanya sambil membungkuk.
“Pedang ini sudah ikut bersama aku selama puluhan tahun dan sudah membunuh banyak sekali manusia rendah,” kata In Thian Ceng. “Apa bila hari ini dia bisa membunuh bangsat perempuan itu, biar pun mati lohu merasa puas.”
“Boanpwe akan perbuat apa yang Boanpwe bisa,” kata Bu Kie. Sambil menundukkan ujung pedang ke muka bumi dan memegang gagang pedang Pek-hong-kiam dengan sepasang tangannya, pemuda itu berkata kepada Biat-coat. “Kiam-hoat Boanpwe sudah pasti bukan tandingan Suthay dan sesungguhnya Boanpwe tidak berani melawan Cianpwe. Cianpwe pernah menaruh belas kasihan terhadap para anggota Swie-kim-kie, kenapa sekarang Cianpwe tidak bisa menaruh belas kasihan kepada Boanpwe?”
Alis si nenek lantas saja turun. “Karena kau telah menolong kawanan setan Swie-kim-kie,” katanya dengan suara menyeramkan. “Biat-coat Suthay belum pernah mengampuni orang. Sesudah menang baru kau boleh membuka bacot.”
Para anggota Lima Bendera Beng-kauw yang sangat membenci nenek itu lantas saja ber-teriak2.
“Bangsat tua! Kalau kau benar-benar jagoan, coba kau bertanding dengan tangan kosong melawan Can Siauw-hiap.”
“Kiam-hoatmu cetek sekali. Yang kau andalkan hanyalah pedang Ie-thian-kiam!”
“Apa kau rasa kau bisa menang?”
Dan sebagainya.
Biat-coat tak mempedulikan cacian dan ejekan itu. “Hayo mulai!” katanya dengan nyaring.
Sebenarnya Bu Kie belum pernah belajar ilmu pedang. Mendengar undangan si nenek, ia bersangsi. Tiba-tiba ia ingat Liang-gie Kiam-hoat dari Ho Thay Ciong yang lihay dan indah. Ia segera mengangkat pedang dan membabat.
“Siauw-pek Toan-in (Memapas tembok memotong awan) dari Hoa-san-pay!” seru Biat-coat dengan heran.
Cepat bagaikan kilat si nenek menikam dari samping. Dalam gebrakan pertama itu, tanpa menangkis serangan ia balas menyerang. Dengan disertai lweekang yang hebat ujung Ie-thian-kiam menyambar pusar pemuda itu.
Bu Kie berkelit ke samping, tapi sebelum ia berdiri tegak pedang Biat-coat telah meluncur ke tenggorokannya. Bu Kie terkesiap. Dengan bingung ia menggulingkan diri di tanah. Tapi sebelum ia melompat bangun, angin dingin sudah menyambar-nyambar di lehernya.
“Celaka!” Bu Kie mengeluh, ujung kakinya menotol tanah dan badannya melesat ke atas. Ia berhasil menyelamatkan jiwa dari satu kedudukan yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia.
Baru saja hadirin mau bersorak, si nenek sudah melompat dan pedangnya diangkat untuk memapaki tubuh pemuda itu. Detik itu tubuh Bu Kie sedang melayang turun ke bawah. Karena berada di tengah udara, ia tidak bisa berkelit lagi. Ie-thian-kiam menyambar! Hati Bu Kie mencelos. Satu di antara dua: kalau bukan kedua kakinya, tentu badannya akan terbabat kutung! Pada saat yang sangat berbahaya, Kian-kun Tay-lo-ie memberi reaksi yang wajar. Tanpa berpikir lagi ia menyentuh ujung Ie-thian-kiam dengan ujung Pek-hong-kiam.
“Trangg...!”
Pek-hong-kiam melengkung dan membal. Dengan menggunakan tenaga membal itu tubuh Bu Kie sekali lagi melesat ke atas!
Biat-coat benar-benar tidak mengenal kasihan. Ia melompat kemudian membabat tiga kali beruntun. Badan Bu Kie sudah melayang ke bawah. Ia tidak dapat berbuat lain dari pada menangkis.
“Trangg...!“ Pek-hong-kiam kutung dua!
Dengan hati mencelos Bu Kie menepuk ubun-ubun (embun-embunan) lawan yang segera membabat pergelangan tangannya. Karena babatan itu cepat luar biasa, dia tidak keburu menarik pulang tangannya. Dalam keadaan demikian dia hanya bisa menolong diri dengan satu jalan. Dengan kecepatan yang hampir tiada taranya ia menyentil badan Ie-thian-kiam dan berbareng dengan meminjam tenaga sentilan itu, tubuhnya segera terbang ke tempat yang lebih aman.
Lengan Biat-coat kesemutan, telapak tangannya seperti terbeset dan Ie-thian-kiam hampir terlepas dari tangannya! Biat-coat terkesiap. Ia cepat menoleh dan melihat Bu Kie dengan tangan mencekal pedang buntung sudah berdiri dalam jarak dua tombak lebih. Itulah gebrakan-gebrakan yang sungguh jarang terlihat dalam rimba persilatan!
Dalam sekejap mata itu Biat-coat menyerang delapan kali. Setiap jurus adalah jurus yang membinasakan. Delapan kali Bu Kie memunahkan serangan itu, delapan kali pula ia lolos dari lubang jarum. Baik serangan mau pun pembelaan diri, sama-sama mencapai puncak kehebatan, puncak keindahan.
Semua orang menahan napas. Mereka hampir tak percaya bahwa apa yang mereka lihat barusan adalah suatu kenyataan. Setelah lewat sekian lama barulah terdengar sorak sorai gegap gempita.
Laksana patung Bu Kie berdiri terus sambil memegang pedang buntung. Ia merasa sudah jatuh di bawah angin. Ia tidak tahu bahwa begitu Ie-thian-kiam disentilnya, lengan si nenek langsung kesemutan dan jika ia menyerang terus maka ia sudah mendapat kemenangan. Memang Bu Kie kurang pengalaman! Walau pun beradat tinggi, mau tak mau sekarang Biat-coat mengakui kelihayan pemuda itu.
“Tukar senjatamu dan mari kita bertempur lagi,” katanya.
Dengan rasa menyesal Bu Kie mengawasi pedang buntung itu. Dalam hatinya dia berkata, “Gwa-kong menghadiahkan pedang mustika ini kepadaku dan aku sudah merusakkannya. Sungguh tak enak... senjata apa lagi yang bisa melawan Ie-thian-kiam?” Selagi Bu Kie bersangsi, mendadak Ciu Tian berteriak.
“Aku punya sebuah golok mustika. Kau ambillah!”
“Ie-thian-kiam terlalu hebat,” sahut Bu Kie. “Boanpwe kuatir senjata Cianpwe akan menjadi rusak.”
“Biarlah rusak,” kata Ciu-Tian. “Kalau kau kalah maka kami semua mati. Perlu apa golok mustika itu?”
Bu Kie menganggap perkataan itu memang tidak salah, maka tanpa berkata apa-apa lagi dia menghampiri Ciu Tian untuk mengambil goloknya.
“Thio-kongcu, kau harus menyerang, tak boleh hanya membela diri,” bisik Yo Siauw ketika Bu Kie lewat di depannya.
Bu Kie kaget mendengar panggilan ‘Thio-kongcu’, tapi ia segera mengetahui mengapa Yo Siauw menggunakan istilah itu. Yo Put Hwie telah mengenali dirinya dan memberi-tahukan kepada ayahandanya.
“Terima kasih atas petunjuk Cianpwe,” jawabnya.
Waktu lewat di samping Wie It Siauw, Ceng-ek Hok-ong juga berbisik, “Gunakanlah ilmu peringan badan terus menerus.”
Bu Kie girang. “Terima kasih,” jawabnya.
Kong-beng Sucia Yo Siauw dan Ceng-ek Hok-ong Wie It Siauw adalah ahli-ahli silat kelas utama dan mereka belum tentu kalah dari Biat-coat Suthay. Akan tetapi sayang, sebelum bertempur mereka telah dibokong Goan-tin sehingga badan mereka menjadi lumpuh. Tapi kecerdasan otak dan ketajaman mata mereka sama sekali tak pernah berubah dan bisik-bisikan itu memang siasat yang paling tepat untuk menghadapi Biat-coat.
Berat golok mustika yang sudah dipegang Bu Kie itu kira-kira empat puluh kati. Warnanya hitam, bentuknya aneh dan tak usah dikatakan lagi, senjata itu barang pusaka yang sudah berusia tua sekali. Di dalam hati Bu Kie masih merasa menyesal bahwa pedang kakeknya telah rusak dalam tangannya. Tapi pedang itu sudah dihadiahkan kepadanya. Sedangkan golok ini masih menjadi milik Ciu Tian yang meminjamkannya.
“Golok mustika ini tidak boleh dirusak,” pikirnya. Ia maju mendekati lawan dan sesudah menarik napas dalam-dalam, ia berkata.
“Suthay, Boanpwe mulai!”
Bagaikan asap tubuhnya melayang ke belakang Biat-coat lalu mengirim bacokan pertama. Sebelum si nenek memutar badan, ia sudah melompat ke samping dan mengirim bacokan kedua. Badannya lantas ber-kelebat2, goloknya menyambar-nyambar tak henti-hentinya. Yang sekarang digunakan Bu Kie adalah ilmu ringan badan tercepat yang pernah dikenal dalam rimba persilatan. Ilmu ringan badan itu adalah hasil dari pengerahan Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Ilmu ringan badan Ceng-ek Hok-ong masih kalah jauh. Sesudah lari beberapa puluh putaran, Kiu-yang Sin-kang mengamuk makin hebat di dalam tubuhnya dan sekarang dia seolah-olah terbang di atas bumi. Melihat itu murid2 Go-bi-pay menjadi bingung. Mereka tahu guru mereka bakal kalah. Sekonyong-konyong Teng Bin Kun berteriak.
“Hari ini tujuan kita adalah untuk membasmi Mo-kauw. Kita datang bukan untuk pibu. Saudara-saudara, mari kita gempur bocah itu!” Ia menghunus senjata dan melompat ke dalam gelanggang.
Segenap murid Go-bi lantas saja mengikuti dan segera mengambil kedudukan di delapan penjuru. Ciu Cie Jiak berdiri di sudut barat daya.
“Ciu-sumoay, kau mau turut serta atau tidak terserah padamu,” ejek perempuan she Teng itu.
Cie Jiak gusar bercampur malu. “Perlu apa kau berkata begitu?” tanyanya.
Tiba-tiba saja Bu Kie melompat ke hadapan Teng Bin Kun yang segera menikam. Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya pemuda itu sudah merampas pedang lawan yang lalu ditimpukkan kepada Biat-coat. Si nenek membabat dan mematahkan pedang itu, namun tangannya kesemutan karena Bu Kie menimpuk dengan lweekang yang hebat. Pemuda itu bekerja cepat. Badannya berkelebat-kelebat, tangannya menyambar-nyambar merampas pedang2 para murid Go-bi yang kemudian dengan beruntun-runtun ditimpukkan kepada Biat-coat. Murid-murid Go-bi rata-rata memiliki kepandaian tinggi, tapi mereka tak berdaya ketika berhadapan dengan Bu Kie.
Bagaikan hujan gerimis puluhan pedang beterbangan menyambar Biat-coat. Dengan paras muka pucat pasi si nenek memutar Ie-thian-kiam dan mematahkan pedang2 itu. Tak lama kemudian lengan kanannya tidak bisa digunakan lagi karena pegal, maka ia pun memutar senjata dengan tangan kiri. Semua barisan mundur ke belakang karena potongan2 pedang menyambar kian kemari. Tidak lama kemudian seluruh murid Go-bi kecuali Ciu Cie Jiak seorang sudah bertangan kosong.
Bu Kie ingin membalas budi si nona, tapi dengan demikian perbedaan itu menjadi sangat menyolok. Cie Jiak tahu hal ini bakal berekor. Ia melompat untuk menyerang, tapi pemuda itu selalu menyingkirkan diri.
“Ciu-sumoay, benar saja dia memperlakukan kau secara istimewa sekali,” ejek Teng Bin Kun.
Paras muka nona Ciu lantas saja berubah merah. Dengan jengah dia berdiri terpaku.
“Ciu-sumoay, Suhu sedang diserang musuh, mengapa kau hanya berdiri seperti patung?” kata pula perempuan she Teng itu. “Mungkin sekali di dalam hati kau mengharap bocah itu mendapat kemenangan.”
Biar pun sedang kebingungan tapi setiap perbuatan Teng Bin Kun didengar tegas oleh si nenek. Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat satu ingatan,
“Cie Jiak!” bentaknya. “Apa benar kau mau menghina guru?” Seraya membentak dia menikam dada si nona!
Hati nona Ciu mencelos. Tentu saja dia tidak berani menangkis.
“Suhu...!“ teriaknya. Si nona tidak bisa meneruskan perkataannya sebab pedang gurunya hampir menyentuh dada!
Bu Kie tidak tahu bahwa dengan tikaman itu Biat-coat hanya hendak menjajal. Pada detik terakhir si nenek menarik pulang senjatanya. Karena tidak dapat menebak jalan pikiran orang, juga karena pernah menyaksikan kekejaman Biat-coat terhadap Kie Siauw Hu, tanpa pikir panjang lagi ia melompat, memeluk pinggang Cie Jiak dan melompat ke tempat yang lebih aman. Kedudukan Biat-coat segera berubah dari pihak yang diserang sekarang bisa menyerang. Ia segera menikam punggung Bu Kie. Karena sedang menolong orang maka gerakan Bu Kie agak terlambat dan terpaksa ia menangkis dengan goloknya.
“Trangg...!” Golok mustika itu patah.
Biat-coat mengudak dan menikam pula. Bu Kie menimpuk dengan golok buntung, kali ini dengan menggunakan seluruh lweekang-nya. Hampir berbareng dada si nenek menyesak karena tekanan angin timpukan. Ia tidak berani menyambut dengan pedangnya melainkan secepat kilat membanting diri di tanah. Namun biar pun begitu, ratusan lembar rambutnya lantas saja terpapas putus! Melihat kesempatan baik, tanpa melepaskan Cie Jiak, Bu Kie melompat dan menghantam dengan telapak tangannya. Karena darahnya meluap, dia menghantam dengan sepenuh tenaga. Sambil berlutut Biat-coat coba membabat pergelangan tangan Bu Kie. Pemuda itu segera mengubah gerakan tangannya, dari menepuk jadi mencengkeram dan... tahu-tahu tangannya sudah mencekal Ie-thian-kiam!
Cengkeraman yang dilakukan dengan Sin-kang Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ketujuh itu tidak dapat dilawan oleh Biat-coat. Meski sudah menang tetapi Bu Kie tidak berani berlaku sembrono. Seraya menudingkan ujung Ie-thian-kiam ke tenggorokan si nenek, per-lahan2 dia mundur dua tindak.
“Lepaskan aku!” teriak Cie Jiak sambil memberontak.
“Ah...! Ya...!” katanya.
Dengan paras muka merah ia melepaskan nona Ciu. Ia mengendus bebauan wangi yang sangat halus dan waktu melepaskan, beberapa lembar rambut si nona menyentuh pipinya. Tanpa terasa ia melirik. Muka Cie Jiak bersemu dadu. Meski pun parasnya mengunjukkan perasaan takut namun sinar matanya memperlihatkan rasa bahagia. Perlahan-lahan Biat-coat berbangkit. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mengawasi Bu Kie. Mukanya sangat menyeramkan. Seraya mengangsurkan gagang pedang, Bu Kie berkata,
“Ciu-kouwnio, tolong serahkan pedang ini kepada gurumu.”
Cie Jiak berdiri bengong. Macam2 pikiran berkelebat dalam otaknya. Sesudah terjadi apa yang sudah terjadi, dia merasa dirinya pasti akan dipandang sebagai pengkhianat partai, seorang yang menghina guru sendiri. Apakah dia benar-benar harus berkhianat terhadap gurunya sendiri? Bu Kie memperlakukannya secara baik sekali. Tapi biar bagaimana pun juga dia adalah seorang anggota Mo-kauw, anggota dari agama ‘siluman’. Sekonyong-konyong kupingnya mendengar bentakan gurunya,
“Cie Jiak, bunuh dia!”
Delapan tahun yang lampau, setelah mengajak Cie Jiak pulang ke Bu-tong-san, Thio Sam Hong lalu menyerahkan muridnya, yaitu Cie Jiak kepada Biat-coat Suthay karena di dalam Bu-tong-pay tidak pernah bernaung murid wanita. Nona Ciu memiliki bakat yang sangat baik. Karena mengingat dirinya seorang yatim piatu maka dia belajar giat dan kemajuannya pesat sekali. Biat-coat sangat menyayangnya dan selama delapan tahun belum pernah dia berpisahan dengan gurunya itu.
Di mata Cie Jiak, Biat-coat bagaikan seorang ratu. Kata2nya merupakan undang-undang yang tidak pernah dibantah. Kini mendengar bentakan sang guru yang sangat angker dan berpengaruh, dalam bingungnya tanpa terasa dia mengangkat Ie-thian-kiam lalu menikam dada Bu Kie.
Karena tidak menduga bakal diserang, pemuda itu tidak waspada. Tiba-tiba pedang sudah menyambar. Dia terkesiap tetapi sudah tidak keburu menangkis atau berkelit lagi. Untung juga waktu menikam tangan Cie Jiak agak gemetaran sehingga ujung pedang mencong ke samping dan amblas di dada sebelah kanan. Sambil berteriak si nona menarik pulang Ie-thian-kiam. Pedang berlepotan darah dan darah mengucur dari dada Bu Kie. Hal itu mengejutkan semua orang. Keadaan berubah kalut, di empat penjuru terdengar teriakan.
Bu Kie mendekap dada dengan tangannya. Tubuhnya bergoyang-goyang sedangkan paras mukanya mengunjuk perasaan gegetun, menyesal dan heran se-akan2 dia ingin bertanya. “Apa kau sungguh-sungguh mau mengambil jiwaku?”
Cie Jiak sendiri mengawasi hasil perbuatannya dengan kedua mata terbelalak dan mulut ternganga. Dengan suara parau dia berkata,
“Aku... aku...“
Di dalam hati dia ingin menubruk Bu Kie, namun dia tidak berani. Sesaat kemudian sambil menutup muka dengan kedua tangannya, dia memutar badan lalu lari balik ke barisannya. Peristiwa itu tak pernah diduga oleh siapa pun juga.
Dengan muka pucat pasi Siauw Ciauw memapah Bu Kie. “Thio-kongcu... kau...“ katanya terputus-putus. Luka pemuda itu sangat berat, tetapi masih untung karena moncong ujung pedang tidak melanggar jantung.
Dengan mengawasi Siauw Ciauw, Bu Kie berkata, “Mengapa kau menikam aku...“ Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, napasnya tersengal-sengal dan seraya membungkuk ia batuk-batuk. Matanya ber-kunang2, kepalanya pusing sehingga ia tidak bisa membedakan Siauw Ciauw dari Cie Jiak. Darah mengucur terus dan pakaian si nona turut basah.
Sejenak kemudian, sesudah teriakan mereda, lapangan yang penuh manusia itu berubah menjadi sunyi senyap. Baik anggota enam partai mau pun anggota Beng-kauw atau Peh-bie-kauw tak seorang pun yang mengeluarkan sepatah kata. Apa yang tadi dilakukan oleh pemuda itu, kelihayannya dalam menjatuhkan sejumlah tokoh ternama dan cara-caranya yang mengunjuk perasaan kemanusiaan sudah membangkitkan rasa kagum dan hormat dalam hatinya semua orang. Karena itu baik kawan mau pun lawan merasa berduka atas kejadian itu. Di dalam hati, mereka mengharapkan keselamatan Bu Kie. Dengan dipeluk Siauw Ciauw, perlahan-lahan Bu Kie duduk di tanah.
“Siapa yang punya obat luka yang paling manjur?!” seru si nona.
Kong-seng segera mendekati lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari sakunya.
“Giok-leng-san kami sangat mustajab,” katanya seraya membuka baju Bu Kie.
Luka itu beberapa dim dalamnya. Ia segera memborehkan bubuk obat di lubang luka, tapi karena darah mengucur, obat itu tidak bisa menempel dan turun ke bawah tersiram darah. Kong-seng menjadi bingung.
“Hai! Bagaimana baiknya...? Bagaimana baiknya...?” katanya.
Yang paling bingung adalah suami isteri Ho Thay Ciong. Mereka mengira bahwa mereka telah menelan ulat sutera emas. Jika pemuda itu mati maka jiwanya pun takkan tertolong. Dengan hati berdebar-debar Ho Ciang-bun berjongkok di samping Bu Kie lantas bertanya,
“Bagaimana caranya mengobati orang yang kena Kim-cam Kouw-tok. Bagaimana? Hayo, lekas terangkan!”
“Pergi!” bentak Siauw Ciauw sambil menangis. “Kalau Thio-kongcu mati, biar kita mampus bersama-sama!”
Pada waktu biasa, mana mau Ho Thay Ciong dibentak-bentak oleh seorang wanita macam Siauw Ciauw. Tapi keadaan kini bukan keadaan biasa. Tanpa mempedulikan si nona, dia bertanya lagi.
“Bagaimana mengobati Kim-cam Kouw-tok? Hayo! Bagaimana?”
Kong-seng meluap darahnya, “Thie-khim Sian-seng!” bentaknya, “Kalau kau tidak minggir, lolap takkan berlaku sungkan2 lagi terhadapmu.”
Tiba2 Bu Kie membuka matanya dan mengawasi semua orang yang berdiri di sekitarnya. Kemudian dia mengangkat tangan kirinya dan menotok tujuh delapan ‘hiat’ di seputar luka. Sesaat kemudian mengalirnya darah jadi terlebih perlahan.
Kong-seng jadi girang. Buru-buru pendeta suci itu memborehkan Giok-leng-san pada dada yang terluka. Siauw Ciauw segera merobek tangan bajunya yang lantas digunakan untuk membalut luka. Muka Bu Kie pucat seperti kertas. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah. Per-lahan2 otak Bu Kie menjadi terang lagi. Dia cepat-cepat mengerahkan tenaga dalam dan lantas saja merasa bahwa hawa tak bisa jalan di dada sebelah kanan. Dalam keadaan setengah mati tekadnya tetap tidak berubah. “Selama masih bernapas aku takkan mengijinkan enam partai membasmi semua anggota Beng-kauw,” katanya di dalam hati.
Sambil meramkan kedua matanya, dia mengerahkan Cin-khie yang lalu dialirkan beberapa kali di seputar dada bagian kiri. Setelah itu perlahan-lahan dia bangkit dan berdiri. Dengan matanya dia menyapu seluruh lapangan dan berkata dengan suara perlahan.
“Jika dalam Go-bi dan Bu-tong-pay masih ada orang yang tidak setuju dengan permintaanku, dia boleh segera keluar untuk bertanding denganku.”
Perkataan itu disambut dengan rasa heran dan juga kagum yang sukar dilukiskan. Semua orang melihat bahwa pemuda itu terluka berat. Tapi baru saja darahnya berhenti mengalir, dia sudah bisa berdiri dan menantang pula. Apakah dia manusia? Manusia biasa tak akan mampu berbuat begitu.
“Go-bi-pay sudah kalah,” kata Biat-coat dengan suara dingin. “Jika kau tidak mati maka di belakang hari kita dapat membuat perhitungan lagi. Kini hanya tinggal Bu-tong-pay. Kalah menang harus diputuskan oleh Bu-tong-pay.”
Maksud Biat-coat Suthay dimengerti oleh tokoh-tokoh semua partai. Dalam usaha untuk mengepung Kong-beng-teng, jago2 Siauw-lim, Khong-tong, Hoa-san, Kun-lun dan Go-bi sudah dirobohkan Bu Kie. Hanya Bu-tong-pay yang belum bergebrak dengan pemuda itu. Tapi sekarang Bu Kie terluka berat. Jangankan pendekar Bu-tong, sedang seorang biasa pun sudah cukup untuk menjatuhkannya. Bahkan mungkin sekali tanpa bertempur Bu Kie akan mati sendiri. Setiap pendekar Bu-tong bisa segera membinasakannya dan sesudah dia binasa, keenam partai bisa mewujudkan keputusan untuk membunuh semua anggota Beng-kauw.
Namun Bu-tong-pay amat mengutamakan ‘Hiap-sie’ (ksatriaan). Menyerang seorang yang terluka berat memang bukan perbuatan bagus sehingga mungkin sekali kelima pendekar Bu-tong merasa keberatan untuk turun tangan. Tetapi kalau Bu-tong-pay berpeluk tangan, apakah keenam partai harus pulang dengan tangan hampa? Dengan kegagalan? Membasmi Beng-kauw merupakan usaha besar yang sudah menggetarkan seluruh rimba persilatan. Kalau mereka gagal, apakah mereka masih ada muka untuk tampil lagi dalam kalangan Kangouw? Serba susah. Maju salah mundur pun salah.
Maksud perkataan Biat-coat ialah dipertahankan atau tidaknya kehormatan keenam partai terserah pada keputusan Bu-tong-pay. Jalan mana yang akan ditempuh partai itu? Untuk sejenak Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, Thio Siong Kie, In Lie Heng dan Boh Seng Kok saling pandang. Mereka tidak dapat segera mengambil keputusan. Mendadak Song Ceng Su, putera Song Wan Kiauw, berkata,
“Thia-thia, Su-wi Siok-siok, biarlah anak saja yang membereskan dia.”
“Tidak bisa,” kata Jie Lian Ciu. “Kau turun tangan tiada bedanya dengan kami yang turun tangan.”
“Menurut pendapat Siauwte kepentingan umum adalah lebih penting dari pada kepentingan pribadi dari pada soal nama kita,” kata Thio Siong Kee.
“Nama adalah sesuatu yang berada di luar badan manusia,” jawab Boh Seng Kok. “Meski bagaimana pun juga siauwte merasa berat untuk mencelakai seorang manusia yang telah terluka berat.”
Keempat pendekar mengawasi Song Wan Kiauw. Sebagai kakak seperguruan yang paling tua, dialah yang harus mengambil keputusan terakhir. Song-tayhiap melirik pada In Lie Heng. Adiknya itu tidak mengeluarkan sepatah kata, tapi mukanya mengunjuk sinar kegusaran. Ia mengerti bahwa si adik ingat nasib tunangannya, Kie Siauw Hu yang telah dinodai Yo Siauw dan akhirnya binasa karena gara2 perbuatan Kong-beng Sucia itu. Ia tahu bahwa si adik menaruh dendam yang sangat mendalam. Jika sakit hati itu tak terbalas, jika Beng-kauw tidak dimusnahkan, rasa penasaran In Lie Heng takkan hilang. Karena itu dia lantas saja berkata dengan suara perlahan.
“Kedosaan Mo-kauw terlampau besar. Memerangi yang jahat adalah kewajiban orang-orang sebangsa kita. Dalam dunia ini tiada yang sempurna. Orang tidak bisa mendapat semuanya. Kita harus memilih yang paling penting. Ceng Su, majulah dan berlakulah hati-hati.”
“Baiklah!” kata si anak seraya membungkuk lalu menghampiri Bu Kie. “Can Siauw-hiap,” katanya dengan suara nyaring, “Kalau kau bukan anggota Beng-kauw, kau boleh segera turun gunung dan mengobati lukamu. Usaha enam partai untuk menumpas kejahatan tak ada sangkut pautnya denganmu.”
Dengan satu tangan memegang dada, Bu Kie menjawab, “Dalam usaha menolong sesama manusia, selama masih bernyawa seorang lelaki harus berjuang terus. Terima kasih atas maksud Song-heng yang sangat baik. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk hidup atau mati bersama-sama Beng-kauw!”
Para anggota Beng-kauw dan Peh-bie-kauw merasa sangat terharu. Banyak di antaranya berteriak-teriak mencegah Bu Kie berkelahi terus. Dengan langkah limbung In Thian Ceng maju mendekati.
“Orang she Song,“ katanya, “biarlah lohu yang meladeni kau.“ Tapi baru ia mengerahkan lweekang, kedua lututnya lemas dan ia kembali roboh di tanah.
Ceng Su mengawasi Bu Kie. “Can-heng, kalau begitu demi kepentingan umum maka aku terpaksa berbuat kedosaan terhadapmu,” katanya.
Siauw Ciauw melompat kemudian menghadang di depan Bu Kie. “Lebih dahulu kau harus membunuh aku!” teriaknya.
“Siauw Ciauw, kau tidak usah kuatir,” kata Bu Kie dengan suara perlahan. “Kepandaian pemuda itu biasa saja. Untuk melayani dia tenagaku masih lebih dari pada cukup.”
“Thio-kongcu, tapi kau... kau terluka berat!” kata si nona.
Bu Kie tersenyum. “Tidak usah takut,” katanya.
Mendengar ucapan itu, Ceng Su naik darah. “Bagus!” bentaknya, “Kepandaianku memang biasa saja. Aku minta pelajaran darimu yang mempunyai tenaga lebih dari pada cukup!”
“Siauw Ciauw, mengapa kau begitu baik terhadapku?” tanya Bu Kie dengan suara terharu.
Si nona tahu bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mencegah pertempuran.
“Aku tidak bisa hidup sendirian,” katanya dengan suara duka dan putus harapan.
Dengan sorot mata mencinta Bu Kie mengawasi nona itu. Dalam menghadapi kebinasaan dia bisa terhibur karena dia tahu bahwa di dalam dunia sedikitnya ada seorang gadis yang mencintanya dengan setulus hati.
“Minggir kau!” bentak Ceng Su dengan mata melotot.
“Mengapa kau begitu kasar terhadap seorang wanita?” tanya Bu Kie.
Namun Ceng Su tidak meladeni teguran itu. Dia bahkan mendorong pundak Siauw Ciauw sehingga si nona terhuyung beberapa tindak.
“Di antara laki-laki dan perempuan siluman, mana ada manusia baik?” katanya dengan kaku. “Bangun kau! Sambutlah seranganku!”
Bu Kie menghela napas. “Ayahmu adalah seorang ksatria”, katanya, “Mengapa kau begitu kasar? Untuk melayani kau, tak perlu aku bangun berdiri.“ Di mulut dia berkata begitu, tapi sesungguhnya dia tidak kuat berdiri lagi.
Keadaan Bu Kie yang sudah payah dapat dilihat orang banyak, antaranya oleh Song Ceng Su sendiri.
“Ceng Su, kau totok saja jalan darahnya agar dia tidak bisa bergerak!” teriak Jie Lian Ciu. “Tidak usah membinasakan dia!”
“Baiklah,” jawabnya seraya menotok pundak Bu Kie dengan jari tangan kanannya.
Bu Kie tidak bergerak, tapi pada detik jari tangan lawan hampir menyentuh Kian-tin-hiat, ia cepat mengibas dengan tangannya sehingga Ceng Su menotok angin. Karena kejadian itu di luar dugaan, Ceng Su menjadi sempoyongan dan hampir-hampir menubruk Bu Kie. Sesudah kagetnya hilang, ia menendang dada Bu Kie dengan menggunakan tujuh bagian tenaga. Jie Lian Ciu telah berpesan agar ia tidak berlaku kejam, tapi mengapa ia mengirim tendangan yang berat itu? Apa lantaran Bu Kie mengatakan kepandaiannya biasa saja? Bukan! Sebab musababnya terletak pada urusan lain. Ceng Su membenci Bu Kie karena soal cinta.....
MEMBUKA JATI DIRI
Begitu melihat wajah Ciu Cie Jiak, ia jatuh cinta. Tak henti-hentinya ia melirik atau mengawasi si nona. Sebagai putera pendekar Bu-tong, ia merasa tak pantas kalau mengincar si nona terus menerus, akan tetapi ia tidak bisa melawan hatinya. Setiap gerakan, setiap senyuman, setiap kerutan alis Cie Jiak, tidak lepas dari matanya. Tapi celaka, Cie Jiak memperlihatkan rasa cintanya kepada Bu Kie. Sorot matanya selalu diperhatikan Ceng Su. Atas perintah Biat-coat, Cie Jiak menikam Bu Kie. Tetapi sesudah menikam, si nona memperlihatkan rasa duka dan menyesal yang tiada terbatas.
Song Ceng Su mengerti bahwa sesudah terjadi penikaman itu, tak peduli Bu Kie mati atau hidup, si nona tak akan pernah melupakan perbuatannya. Ia pun tahu, apa bila ia membunuh pemuda itu maka Cie Jiak pasti sangat sakit hati, akan membencinya. Tetapi karena dibakar rasa cemburu dan rasa iri hati, ia sungkan melepas kesempatan untuk membinasakan saingannya. Sebenarnya Ceng Su adalah pemuda bun-bu-song-coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat), salah satu orang terpandai di antara murid-murid turunan ketiga dari Bu-tong-pay dan pada hakekatnya ia orang baik. Akan tetapi, begitu terbentur soal cinta, ia tidak bisa membedakan lagi apa yang benar dan apa yang salah.
Semua orang terkejut melihat tendangan itu. Untuk menyelamatkan jiwa, Bu Kie mesti melompat atau menangkis. Ketika ujung kaki mampir di dadanya, ia mengangkat tangan kiri lantas mengibas. Di luar dugaan kibasan itu telah menolak tenaga dari tendangan kaki Ceng Su sehingga tendangan itu hanya lewat dalam jarak tiga dim dari badannya. Karena ia menendang dengan bernafsu, Ceng Su tidak menarik kembali kakinya melainkan melompat sambil menendang ke belakang, berniat menendang punggung Bu Kie dengan tumit kaki kiri. Tendangan itu hebat dan tidak diduga-duga, tetapi untuk kedua kalinya Bu Kie berhasil menyelamatkan jiwanya dengan hanya mengibaskan lima jari tangannya. Melihat itu semua orang terheran-heran.
“Ceng Su, dia sudah tidak punya tenaga dalam lagi!” seru sang ayah. “Itu ilmu Sie-nio-po-cian-kin (Empat tahil menghantam seribu kati).”
Song Wan Kiauw memang lihay dan berpengalaman. Ia bisa melihat bahwa tenaga Bu Kie telah habis dan biar pun ilmu yang digunakannya dinamakan Kian-kun Tay-lo-ie, tapi pada hakekatnya tidak berbeda dengan Sie-nio-po-cian-kin, atau ilmu ‘Meminjam tenaga untuk memukul tenaga’ dari rimba persilatan Tiong-goan.
Mendengar petunjuk ayahnya, Ceng Su sadar dan ia langsung mengubah cara bersilatnya. Kedua tangan bergerak seperti orang menari-nari dan pukulan-pukulannya kelihatan aneh, seperti disertai dengan lweekang tapi seperti juga tidak disertai lweekang. Itulah Bian-ciang (ilmu pukul kipas), salah satu ilmu silat terlihay dari Bu-tong-pay.
Ilmu ‘Meminjam tenaga untuk memukul tenaga’ merupakan dasar dari ilmu silat Bu-tong-pay. Untuk mempergunakan Sie-nio-po-cian-kin pihak lawan harus memakai tenaga yang besar, tenaga ribuan kati supaya tenaga itu dapat dipinjam. Tapi sekarang Song Ceng Su menggunakan Bian-ciang, maka tenaganya yang keluar antara ada dan tidak ada. Dengan demikian Bu Kie tak akan bisa meminjam tenaga.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa Bu Kie sudah mencapai tingkat tertinggi dalam Kian-kun Tay-lo-ie, sampai pada tingkat ke tujuh. Jangankan pukulan Bian-ciang yang masih berbentuk, sedangkan benda yang tak ada bentuknya pun, seperti hawa racun atau suara aneh, masih dapat dipunahkan olehnya. Begitu diserang ia meramkan kedua matanya dan tersenyum, sedangkan lima jari tangan kirinya bergerak-gerak seperti sedang memetik khim. Dalam sekejap Bian-ciang yang terdiri dari tiga puluh enam jurus punah semuanya.
Song Ceng Su tercengang. Dalam bingungnya ia pun menyapu seluruh lapangan dengan matanya dan secara kebetulan bentrok dengan mata Ciu Cie Jiak. Tiba-tiba darahnya meluap. Ia menjadi marah dan berduka karena paras muka si nona menunjukkan rasa kuatir. Ia tahu bahwa Cie Jiak bukan memikirkan keselamatannya. Dalam marahnya ia lantas menarik napas dalam-dalam, tangan kirinya menghantam pipi kanan Bu Kie, telunjuk tangan kanannya menotok Pok-hu-hiat di bagian pundak. Jurus ini dinamakan Hoa-kay Peng-tee (Kembang mekar). Namanya bagus dan hebatnya bukan main.
Dua pukulan tadi masih disusul dengan dua pukulan lagi, yakni tangan kanan menggaplok pipi kiri, telunjuk tangan kiri menotok Hong-hu-hiat. Dengan demikian jurus Hoa-kay Peng-tee berisi empat pukulan yang turun bagaikan hujan angin dengan kecepatan kilat. Semua orang terkesiap, banyak di antaranya yang mengeluarkan seruan tertahan.
“Plakk! Plakk!”
Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring. Tangan kiri Song Ceng Su menggaplok pipi kirinya, tangan kanan menggaplok pipi kanan dan berbareng satu telunjuk menotok Pok-hu-hiat, lain telunjuk menotok Hong-hu-hiatnya sendiri. Ternyata dengan mempergunakan Kian-kun Tay-lo-ie yang paling tinggi, Bu Kie berhasil memindahkan empat pukulan itu ke tubuh si pemukul.
Jika Song Ceng Su tidak menyerang begitu cepat, maka setelah menotok Pok-hu-hiatnya sendiri ia takkan bisa mengirim dua pukulan berikutnya. Tapi karena empat pukulan itu dikirim berantai dengan kecepatan luar biasa, maka biar pun Pok-hu-hiatnya sudah tertotok, ia masih bisa mengirim dua serangan lagi sebab lengannya belum sempat kesemutan. Setelah keempat pukulan itu dikirim barulah kaki tangannya lemas dan ia pun roboh terjengkang. Beberapa kali ia mencoba bangun, tapi tidak berhasil.
Song Wan Kiauw cepat berlari menghampiri. Dengan beberapa kali mengurut ia membuka jalan darah puteranya yang tertotok. Kedua pipi Ceng Su bengkak dan berpeta lima tapak jari. Lukanya enteng, tetapi karena adatnya yang tinggi, maka bagi Ceng Su kekalahan itu merupakan penderitaan yang lebih hebat dari pada kebinasaan. Song Wan Kiauw sangat mengenal adat puteranya. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun ia menuntun anaknya dan kembali ke barisan Bu-tong.
Tepuk tangan dan sorak sorai langsung menggetarkan seluruh penjuru lapangan. Semua orang merasa kagum, kagum sekali. Tiba-tiba Bu Kie muntah darah. Sambil memegang dada ia batuk-batuk. Semua orang mengawasi kejadian itu dengan hati berdebar-debar. Mereka kuatir akan keselamatan jiwa pemuda gagah ini. Sebagian memperhatikan Bu Kie dan sebagian mengawasi orang-orang Bu-tong. Apa yang akan diperbuat mereka? Mengaku kalahkah? Mengajukan jago lainkah? Sesaat kemudian Song Wan Kiauw berkata nyaring.
“Hari ini Bu-tong-pay sudah menunaikan kewajiban. Mungkin bintang Mo-kauw masih terang, secara tidak diduga-duga muncul pemuda luar biasa ini. Kalau kita mendesak terus, apa bedanya partai lurus bersih dan Mo-kauw?”
“Aku setuju dengan pendapat Toako,” sambung Jie Lian Ciu. “Sekarang kita pulang minta petunjuk Suhu. Setelah pemuda ini sembuh, kita bertempur lagi.” Ia bicara dengan nyaring dan bersemangat. Dengan kata-kata itu ia menekankan bahwa hari ini Bu-tong-pay telah mengalah. Ia tak percaya bahwa partainya tidak bisa melawan pemuda ini.
Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok mengangguk sebagai tanda setuju dengan pendapat Lian Ciu. Sekonyong-konyong In Lie Heng menghunus pedang kemudian dengan mata menyala ia menghampiri Bu Kie.
“Orang she Can!” bentaknya. “Dengan kau, aku tak punya permusuhan apa pun. Jika sekarang aku mencelakai kau, In Lie Heng bukanlah orang baik-baik. Tetapi sakit hatiku terhadap Yo Siauw dalam bagaikan lautan. Aku mesti membunuh dia. Kau minggirlah!”
Bu Kie menggelengkan kepala. “Selama aku masih bernyawa maka aku akan mencegah pembunuhan terhadap anggota Beng-kauw yang mana pun juga,” katanya dengan suara tetap.
“Kalau begitu aku terpaksa membunuh kau!” kata In Lie Heng dengan mata beringas.
Bu Kie muntah darah lagi. Matanya berkunang-kunang dan sekarang ia berada dalam keadaan setengah sadar,
“In Liok-siok!” katanya dengan suara parau. “Kau turun tanganlah.”
In Lie Heng terkesiap. Suara itu, suara memanggil ‘In Liok-siok’, agaknya seperti tak asing terdengar di kupingnya. Mendadak ia teringat.
“Bu Kie!” katanya di dalam hati. “Waktu kecil Bu Kie sering memanggil ‘In Liok-siok’ dengan nada suara seperti ini. Apakah pemuda ini Bu Kie...?“
Ia mengawasi muka yang pucat pasi itu. Makin diawasi, muka itu makin menyerupai muka Bu Kie. Sudah delapan tahun mereka berpisah. Dari seorang bocah cilik kini Bu Kie telah berubah menjadi seorang dewasa. Tubuhnya sudah berubah, mukanya pun sudah banyak berubah. Namun di dalam semua perubahan itu masih banyak terbayang muka Bu Kie si bocah cilik yang menderita hebat karena pukulan Hian-beng Sin-ciang. Sesaat kemudian In Lie Heng membuka mulut, suaranya gemetar.
“Apa... apakah kau Bu Kie?”
Bu Kie merasa tenaganya habis semua. Matanya kabur, kepalanya pusing dan ia merasa sudah berada dekat dengan liang kubur. Tak perlu menyembunyikan dirinya lagi. Bibirnya bergerak dan ia berbisik,
“In Liok-siok... Tit-jie sering ingat kau...”
Mata In Liok-hiap berkunang-kunang. Perkataan Bu Kie bagai halilintar di tengah hari bolong. Kaget, heran, kagum, gegetun... semua tercampur menjadi satu. Ia seorang yang berperasaan amat halus. Air matanya mengucur deras. Ia segera melontarkan pedangnya, lantas menubruk, memeluk dan mendukung Bu Kie. Ia berkata dengan suara serak,
“Bu... Kie...! Putera tunggal dari Ngoko...”
Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok memburu dan berdiri di seputar In Lie Heng. Kekagetan dan kegirangan mereka sukar dilukiskan.
Orang-orang Beng-kauw tak kurang girangnya, mimpi pun mereka tidak pernah bahwa pemuda yang menolong mereka dengan mempertaruhkan nyawa sendiri bukan lain puteranya Bu-tong Ngo-hiap Thio Ciu San.
Melihat keponakannya pingsan buru-buru In Lie Heng mengeluarkan Thian-ong Hu-sim-tan lalu memasukkannya ke mulut Bu Kie. Sesudah menyerahkan pemuda itu kepada Jie Lian Ciu, ia segera memungut pedangnya dan menghampiri Yo Siauw. Seraya menuding musuh besarnya itu ia berteriak,
“Binatang Yo Siauw! Aku... aku...“ Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, lalu mengangkat pedang.
Kong-beng Sucia badannya masih belum mampu bergerak lantas saja meramkan kedua matanya dan menunggu kebinasaan sambil tersenyum. Pada detik amat berbahaya itu tiba-tiba seorang wanita muda melompat dan menghadang di depan Yo Siauw.
“Tahan! Jangan lukai ayahku!” bentaknya.
In Lie Heng mengawasi. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan tertahan dan sekujur badannya dingin. Gadis yang bertubuh jangkung kecil dan bermata besar itu tiada bedanya dari Kie Siauw Hu. Semenjak bertunangan wajah nona Kie yang manis selalu terbayang di hadapan matanya. Belakangan ia tahu bahwa tunangannya dibawa lari dan kehormatannya dinodai oleh Kong-beng Sucia Yo Siauw sehingga akhirnya ia membuang jiwa. Tak usah dikatakan lagi, kejadian itu sangat menyakiti hatinya. Tak dinyana Kie Siauw Hu muncul kembali. Badannya limbung dan ia berkata dengan suara gemetar.
“Siauw Hu Moay-cu... kau...”
Gadis yang bukan lain Yo Put Hwie itu berkata, “Aku bernama Yo Put Hwie. Kie Siauw Hu adalah ibuku. Ibu sudah lama meninggal dunia.”
In Lie Heng tertegun dan sadar, “Ahh...! Aku betul-betul gila!” katanya. “Kau minggirlah. Hari ini aku akan membalaskan sakit hati ibumu.”
“Bagus!” seru Put Hwie. “In Siok-siok, bunuhlah pendeta perempuan bangsat itu!” Seraya berkata ia menuding Biat-coat Suthay.
“Apa?! Mengapa?” menegas In Lie Heng.
“Ibu dipukul mati oleh pendeta bangsat itu,” jawabnya.
“Dusta! Kau jangan bicara sembarangan!” bentak Lie Heng.
“Aku tidak berdusta,” kata si nona dengan suara dingin. “Ibu dibunuh di Ouw-tiap-kok. Pendeta bangsat itu menyuruh ibu membunuh ayah. Ibu menolak dan dia turun tangan. Aku melihat dengan mataku sendiri. Kejadian itu disaksikan oleh Bu Kie koko. Jika Siok-siok tidak percaya, tanyalah pendeta bangsat itu sendiri.”
Waktu nona Kie binasa, Put Hwie masih sangat kecil. Belakangan, sesudah dewasa, barulah dia tahu apa yang terjadi. In Lie Heng menoleh dan mengawasi Biat-coat dengan sorot mata bertanya.
“Su... thay...“ katanya dengan suara tak lancar. “Kata dia... Kie Siauw Hu...”
Paras muka si nenek merah padam. “Benar,” katanya. “Perlu apa murid yang tidak kenal malu itu dibiarkan hidup lebih lama lagi di dunia? Dia dan Yo Siauw saling mencintai. Dia lebih suka berkhianat dari pada menurut perintah guru. In Liok-hiap, untuk menolong mukamu maka aku tak tega membuka rahasia ini. Hm! Tiada guna kau memikirkan perempuan yang mukanya begitu tebal!”
Paras muka Lie Heng pucat bagaikan kertas. “Tidak! Aku tak percaya!” teriaknya.
“Tanyakan anak itu, siapa namanya,” kata Biat-coat.
Dengan air mata berlinang Lie Heng menatap wajah si nona.
“Aku bernama Yo Put Hwie,” kata si nona. “Ibu pernah mengatakan bahwa dia tak merasa menyesal akan terjadinya peristiwa itu!”
Tiba-tiba In Liok-hiap mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia melemparkan pedangnya, menekap mukanya dengan kedua tangan, lalu lari turun gunung bagaikan terbang.
“Liokte! Liokte!” memanggil Song Wan Kiauw dan Jie Lian Diu.
Lie Heng terus berlari. Tiba-tiba ia terguling, bangun, lari lagi dan dalam sekejap tak kelihatan bayangannya lagi.
Semua orang menghela napas dan turut merasa duka akan nasib In Liok-hiap yang amat malang. Seorang pendekar Bu-tong jatuh di waktu lari mencerminkan penderitaannya yang maha hebat.
Sementara itu Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok duduk di sekeliling Bu Kie dengan masing-masing mengeluarkan sebelah tangan yang telapaknya segera ditempelkan pada dada, perut, punggung serta pinggang Bu Kie, kemudian mengerahkan Iweekang yang dimasukkan ke dalam tubuh si pemuda untuk mengobati lukanya.
Selang beberapa saat mereka merasakan munculnya tenaga hisap dari dalam tubuh Bu Kie yang terus menerus menyedot Iweekang mereka. Mereka kaget! Jika pengisapan itu tidak berhenti, dalam waktu sejam dua jam tenaga dalam mereka bakal habis. Namun karena jiwa Bu Kie masih dalam keadaan bahaya, mati hidupnya belum ketahuan, mereka tentu saja tidak bisa segera menarik kembali bantuannya. Bagaimana baiknya? Selagi keempat paman ini sangsi, Bu Kie membuka matanya dan mengeluarkan seruan perlahan.
“Ahh...!”
Pada lain saat Song Wan Kiauw merasakan masuknya semacam hawa hangat ke telapak tangan mereka. Ternyata pemuda itu telah mengerahkan Kiu-yang Sin-kang dan mengirim tenaga dalamnya kepada keempat pamannya.
“Tidak boleh! Kau harus istirahat,” kata Song Wan Kiauw.
Dengan serentak mereka menarik tangan lantas bangkit berdiri. Hampir berbareng mereka merasakan hawa hangat yang sangat nyaman mengalir di sekujur badan. Bukan saja Bu Kie sudah memulangkan tenaga bantuan mereka, bahkan telah membalas budi dengan menghadiahkan Kiu-yang Cin-khie kepada paman-pamannya ini.
Song Wan Kiauw berempat saling pandang dengan rasa kagum. Bahwa keponakan yang sudah terluka sedemikian berat masih mempunyai Iweekang yang begitu kuat, hal ini sungguh di luar dugaan mereka.
Meski pun Bu Kie masih menderita luka luar yang sangat hebat, tapi kesehatan di dalam tubuhnya sudah pulih kembali dan hawa sudah bisa mengalir leluasa. Perlahan-lahan dia bangun seraya berkata,
“Song Toa-pek, Jie Jie-pek, Thio Sie-pek, Boh Cit-siok, tit-jie mohon maaf untuk segala kekurang-ajaran. Apakah Thay-suhu dalam keadaan sehat?”
“Suhu baik-baik saja,” jawab Wan Kiauw. “Bu Kie... kau.. kau sudah besar...!“ Perkataannya terputus-putus karena terharu. Dia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.
Di lain pihak, sesudah mengetahui bahwa pemuda yang menolong jiwanya adalah cucunya sendiri, Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng girang bukan main. Ia masih belum bisa bangkit, ia tertawa terbahak-bahak.
Biat-coat Suthay mengawasi semua itu dengan paras muka menyeramkan. Tiba-tiba ia mengibaskan tangannya lalu bertindak untuk turun gunung, yang diikuti oleh murid-muridnya. Sambil menundukkan kepala Ciu Cie Jiak turut berjalan, namun baru beberapa langkah ia tidak tahan untuk menengok ke arah Bu Kie. Kebetulan si pemuda sedang mengawasinya sehingga kedua pasang mata bertemu. Muka si nona pucat pasi lantas timbul sinar dadu. Sinar matanya tampak sedemikan rupa sehingga dia kelihatan seperti hendak minta maaf atas perbuatannya dan mengharap supaya Bu Kie menjaga diri baik-baik.
Rupanya si pemuda maklum akan perasaan si nona. Sambil tersenyum dia manggut-manggut. Perasaan Cie Jiak lantas berubah terang. Dia balas tersenyum kemudian menyusul rombongannya dengan tindakan lebar. Semua itu tidak terlepas dari mata Song Ceng Su. Untuk beberapa detik mata pemuda ini mengeluarkan sinar kebencian.
Setelah Bu-tong-pay tahu siapa adanya Bu Kie dan setelah Go-bi-pay pergi meninggalkan Kong-beng-teng, maka usaha enam partai membasmi Beng-kauw gagal total. Orang-orang Khong-tong dan Kun-lun lantas berpamitan. Ho Thay Ciong mendekati dan berkata,
“Saudara kecil, aku memberi selamat bahwa hari ini kau bertemu dengan keluarga sendiri...“
Tanpa menanti sampai orang tua itu habis bicara, Bu Kie cepat-cepat mengeluarkan dua butir yo-wan dari sakunya. Yo-wan hanyalah obat biasa untuk menolak racun. Sambil mengangsurkan kepada Ho Thay Ciong, pemuda itu berkata,
“Cianpwe berdua boleh menelan sebutir. Sesudah makan obat ini, racun Kim-cam Kouw-tok akan punah.”
Ho Thay Ciong mengawasi kedua yo-wan itu dengan perasaan sangsi.
“Boanpwe pasti tidak berdusta,” kata pula Bu Kie.
Mendengar itu, dia tidak berani membuka mulut lagi. “Andai kata dia memberi obat palsu, di depan keempat pendekar Bu-tong aku tentu tidak bisa menggunakan kekerasan,” pikirnya. “Apa lagi Siauw-lim berdiri di pihak bangsat kecil ini. Sudahlah! Terserah pada nasib.” Setelah berpikir begitu, seraya tertawa getir dia berkata.
“Terima kasih.“
Sesudah menelan yo-wan itu bersama Pam Siok Ham, dia segera memerintah murid-muridnya merawat jenazah orang-orang partai Kun-lun. Kemudian, setelah berpamitan mereka pun turun gunung.
“Bu Kie,” kata Jie Lian Ciu. “Karena kau sedang terluka berat sebaiknya untuk sementara waktu kau tinggal saja di sini guna berobat. Kami tidak bisa menemani kau. Kami hanya berharap supaya setelah sembuh kau bisa datang ke Bu-tong-san agar Suhu turut merasa girang.”
Dengan mata mengembang air si pemuda manggutkan kepalanya. Keempat pamannya ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan, tetapi melihat kelemahan keponakannya, mereka tidak berani bicara banyak. Se-konyong-konyong di antara barisan Siauw-lim terdengar teriakan,
“Ke mana perginya jenazah Goan-tin Suheng?”
“Mengapa hilang?” sambung yang lain.
Boh Seng Kok heran dan segera mendekati tujuh delapan pendeta Siauw-lim yang sedang merawat jenazah anggota partainya. Benar saja, dia tidak melihat jenazah Goan-tin.
“Lekas kembalikan jenazah Goan-tin Suheng!” Goan-im berteriak sambil menuding orang-orang Beng-kauw.
Ciu Tian tertawa ter-bahak. “Benar-benar kau sudah gila!” katanya. “Perlu apa kami mencuri mayat pendeta?”
Orang-orang Siauw-lim tidak rewel lagi. Jawaban itu ada benarnya juga. Mereka menduga mungkin sekali waktu mengumpulkan jenazah orang Hoa-san-pay atau Khong-tong-pay sudah mengambil jenazah Goan-tin. Tak lama kemudian dengan beruntun barisan Siauw-lim dan Bu-tong turun gunung. Bu Kie menyoja dan membungkuk untuk memberi selamat jalan kepada para pamannya.
“Anakku Bu Kie,” kata Song Wan Siauw. “Hari ini namamu tersohor di kolong langit dan Beng-kauw menanggung budimu yang sangat berat. Kuharap supaya kau bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus.”
“Anak pasti akan memperhatikan pesan Toa-supek,” jawabnya.
“Dalam segala hal kau harus berhati-hati, kau harus menjaga jangan sampai diperdayai manusia-manusia rendah,” kata Thio siong Kee.
Bu Kie mengangguk. Baik pihak paman mau pun pihak keponakan merasa sangat berat untuk berpisah. Sesudah keenam partai pergi semua, Yo Siauw dan In Thian Ceng saling mengawasi. Tiba-tiba mereka berteriak dengan berbareng,
“Para anggota Beng-kauw dan Peh-bie-kauw! Berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Thio-tayhiap!”
Di lain saat semua orang mendekam di muka bumi. Bu Kie bingung tak kepalang, terlebih lagi di antara mereka terdapat kakek dan pamannya sendiri. Segera dia menjatuhkan diri dan ikut berlutut pula. Di luar dugaan, karena berlutut maka luka di dadanya terbuka lagi dan darah kembali mengucur dan dia lantas roboh pingsan. Dengan tersipu-sipu Siauw Ciauw memapahnya. Dua orang tauw-bak (pemimpin regu) segera mengambil tandu lalu merebahkan tuan penolong ini di dalamnya. Alis Yo Siauw berkerut,
“Lekas kalian antar Thio-tayhiap ke kamarnya,” katanya. “Selama beberapa hari dia tidak boleh diganggu siapa pun juga.”
Kedua tauw-bak itu mengiyakan sambil membungkuk, lalu mengusung Bu Kie ke kamar Kong-beng Sucia dengan diikuti oleh Siauw Ciauw. Ketika dia lewat di hadapan Put Hwie, nona Yo berkata dengan suara dingin,
“Siauw Ciauw! Kau sungguh pandai bersandiwara. Aku memang sudah menaksir bahwa kau main gila. Aku hanya tidak menduga bahwa di balik penyamaran setan perempuan bersembunyi seorang nona yang cantik manis.”
Siauw Ciauw tidak menjawab. Ia berjalan terus sambil menundukkan kepala dan menyeret rantai. Selama beberapa hari orang-orang Beng-kauw yang tidak terluka sangat repot. Mereka harus mengubur yang mati dan mengobati yang luka. Sekarang mereka insyaf bahwa adegan cakar-cakaran di kalangan sendiri akhirnya membawa bencana besar. Ditambah dengan kekuatiran akan keselamatan Bu Kie, maka di antara mereka tidak ada yang menyentuh-nyentuh lagi soal permusuhan lama.
Dengan memiliki Kiu-yang Sin-kang dan juga karena tusukan pedang itu tidak melanggar bagian berbahaya, kesembuhan Bu Kie cepat sekali. Dalam tujuh delapan hari saja lukanya sudah mulai rapat. In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw, Swee Put Tek dan yang lain-lainnya masih rebah di ranjang. Tapi dengan menggunakan tandu setiap hari mereka menengok tuan penolongnya. Melihat kesehatan Bu Kie pulih dengan cepat, mereka semua girang sekali. Pada malam hari ke delapan Bu Kie sudah dapat duduk. Malam itu Yo Siauw dan Wie It Siauw datang ke kamarnya.
“Sesudah kena It-im-cie, bagaimana keadaan Jie-wi selama beberapa hari ini?” tanya Bu Kie.
Sebenarnya serangan dingin kian hari kian meningkat, akan tetapi karena kuatir pemuda itu jengkel, mereka serentak menjawab,
“Banyak mendingan.”
Tapi Bu Kie tidak mudah dibohongi. Melihat muka mereka yang bersinar hitam dan suara yang tak bertenaga, dia segera tahu keadaan sebenarnya.
“Tenaga dalamku sudah pulih enam-tujuh bagian dan kini aku sudah bisa membantu Jie-wi,” katanya.
“Tidak! Tidak boleh!” kata Yo Siauw tergesa-gesa. “Perlu apa Thio-tayhiap begitu terburu-buru? Sesudah sembuh total, masih banyak waktu untuk menolong kami.”
“Memang juga tidak perlu terburu-buru,” menyambung Wie It Siauw sambil tertawa.
“Sekarang atau nanti tak banyak bedanya. Yang paling penting adalah Thio-tayhiap harus menjaga diri sendiri.”
“Giehu-ku (ayah angkatku) adalah pantaran Jie-wi, maka tingkatan Jie-wi lebih tinggi dari pada aku,” kata Bu Kie. “Maka itu kumohon Jie-wi jangan menggunakan panggilan tayhiap (Pendekar besar) lagi karena aku tidak bisa menerimanya.“
Yo Siauw tersenyum. “Di kemudian hari kami semua akan menjadi bawahanmu,” katanya. “Di hadapanmu kami takkan berani turun bersama-sama.”
Bu Kie terkejut. “Yo-pekpek, apa katamu?!” ia menegas.
“Thio-tayhiap” kata Wie It Siauw, “Kedudukan Kauwcu dari Beng-kauw tidak bisa diduduki lain orang kecuali kau sendiri!”
Dengan kaget si pemuda menggoyang-goyangkan kedua tangannya. “Tidak! Tidak! Biar bagaimana pun juga tit-jie (keponakan) takkan berani menerima,” katanya.
Pada saat itu pula mendadak dari kejauhan terdengar teriakan nyaring. Itulah tanda bahaya di kaki Kong-beng-teng! Yo Siauw dan Wie It Siauw agak kaget. Apakah keenam partai masih penasaran lantas datang menyerang lagi? Tapi sebagai jago kelas utama, paras muka mereka sedikit pun tidak berubah.
“Apakah jin-song yang kemarin sudah dimakan?” tanya Yo Siauw. “Ciauw, pergi kau ambil lagi dari kamar obat dan tolong godok supaya bisa lantas bisa dimakan Thio-tayhiap.“ Baru saja dia berkata demikian, dari sebelah barat dan selatan kembali terdengar teriakan nyaring.
“Apakah kita diserang musuh?” tanya Bu Kie.
“Beng-kauw dan Peh-bie-kauw tidak kekurangan orang pandai,” kata Wie It Siauw. “Thio-tayhiap, kau tidak usah kuatir. Beberapa bangsat kecil tidak cukup berharga untuk dibuat pikiran.”
Beberapa saat kemudian teriakan-teriakan itu terdengar di pinggir gunung! Sungguh cepat geraknya musuh. Ternyata mereka bukan bangsat kecil.
“Coba aku keluar untuk membereskan mereka,” kata Yo Siauw. “Wie-heng, kau tinggal saja di sini menemani Thio-tayhiap. Huh, huh! Apakah orang kira Beng-kauw boleh dihina terus menerus oleh segala manusia?” Biar pun badannya belum bisa bergerak tapi suaranya amat lantang dan gagah.
Bu Kie merasa sangat bingung. “Siauw-lim, Bu-tong dan yang lainnya adalah partai lurus bersih, maka tak mungkin mereka datang lagi untuk menyerang,” pikirnya. “Mungkin sekali yang datang adalah manusia-manusia jahat. Semua orang pandai di Kong-beng-teng terluka berat. Selama tujuh delapan hari mereka belum mendapat pengobatan yang tepat. Kita tak akan bisa melawan musuh. Kalau bertempur, kita semua akan mengantarkan jiwa.”
Sekonyong-konyonmg dari luar menerobos masuk seseorang yang mukanya berlepotan darah dan pada dadanya tertancap pisau. Begitu masuk dia berteriak dengan suara terputus-putus.
“Musuh... menyerang dari tiga jurusan... saudara-saudara kita... tidak tahan...”
“Musuh dari mana?” Wie It Siauw menegas.
Orang itu menuding keluar, tapi sebelum bisa menjawab dia sudah roboh dan melepaskan napasnya yang penghabisan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































