Senin, 12 Oktober 2026

To Liong To 14

IE-THIAN-KIAM (PEDANG LANGIT)

Kata-kata itu adalah petikan dari kitab Lam-hoa-keng yang digubah Cong-cu (Chuang-tse). Sebagaimana diketahui Thio Sam Hong menganut agama To-kauw, tapi ketujuh muridnya tidak ikut memeluk agama tersebut. Meski pun begitu mereka terus mempelajari Lam-hoa-keng semasak-masaknya.

Waktu berada di pulau Peng-hwee-to, karena tak ada buku dan perabot tulis, Thio Cui San mengajar ilmu surat kepada puteranya dengan menulis huruf di atas tanah. Antara lain menyuruh anaknya menghafal kitab Lam-hoa-keng. Kata-kata yang dikutip Bu Kie mengandung makna seperti berikut: Hidup belum tentu senang dan mati belum tentu menderita sehingga pada hakekatnya hidup atau mati tidak banyak bedanya. Seseorang yang hidup di dunia seperti sedang bermimpi dan kalau dia mati, dia seperti tersadar dari mimpinya. Mungkin sekali setelah mati rohnya menyesal mengapa dulu dia hidup di dalam dunia dan mengapa dia tidak mati terlebih siang. Demikianlah kira-kira arti perkataan itu.

Sebagai seorang bocah sebenarnya Bu Kie belum mengerti soal mati atau hidup. Tetapi karena selama kurang lebih empat tahun setiap hari dia berada di antara mati dan hidup, maka sedikit banyak dia dapat menyelami juga arti perkataan Cong-cu itu. Tanpa merasa dia mengharap supaya sesudah mati dia akan berada di tempat yang bahagia, supaya dia dapat berkumpul lagi dengan roh kedua orang tuanya sehingga kematiannya lebih menyenangkan dari pada hidup sebatang kara di dunia yang lebar ini.

Bagi Kim-hoa Popo, kata-kata itu mengingatkannya kepada sang suami yang sudah almarhum. Puluhan tahun dengan penuh kecintaan mereka menjadi suami isteri. Tiba-tiba suatu hari sang suami yang tercinta berpulang ke alam baka, seperti seorang pelancong yang pulang ke negeri sendiri. Mengingat itu, di dalam hatinya segera muncul satu pertanyaan: ‘Apakah kebinasaan suami itu bukan kejadian yang tidak terlalu jelek?’

Dengan perasaan heran si nona cilik yang berdiri di samping Kim-hoa Popo mengawasi muka si nenek, kemudian melirik ke arah Bu Kie. Dia tidak mengerti perkataan Bu Kie dan juga tidak mengerti mengapa neneknya bengong terlongong-longong.

Beberapa saat kemudian Kim-hoa Popo menghela napas dan berkata, “Aih, soal mati atau hidup tidak bisa diketahui manusia. Sungguh pun kematian belum tentu merupakan suatu kejadian yang menakutkan, tapi pada umumnya manusia takut mati. Benar! Manusia tidak dapat meminta secara paksa. Pada akhirnya, suatu hari semua manusia akan mati. Akan tetapi jika bisa hidup satu hari lebih lama, orang lebih suka hidup satu hari lebih lama!”

Melihat sikap dan mendengar kata-kata si nenek yang lemah-lembut, hati si bocah menjadi tenang tenteram. Sesudah menyaksikan luka kelima belas orang serta rasa takutnya Ouw Ceng Gu, Bu Kie menganggap nenek itu sebagai memedi kejam. Tetapi sekarang, melihat paras Kim-hoa Popo yang penuh kecintaan dan sikapnya yang ramah tamah, dia merasa bahwa si nenek menyayangnya dengan setulus hati sehingga dengan begitu rasa takutnya banyak berkurang.

“Nak,” kata pula nenek itu, “Siapakah ayahmu dan di mana dia sekarang?”

Tanpa tedeng aling-alling, secara ringkas Bu Kie memberi jawaban dan menuturkan sebab musababnya sehingga dia berada di Ouw-tiap-kok.

“Jika begitu kau adalah putera Bu-tong Thio Ngo-hiap,” kata Kim-hoa Popo dengan suara heran. “Menurut pendapatku, orang itu melukai kau dengan Hian-beng Sin-ciang sebab dia ingin memaksa kau memberi-tahu tempat sembunyi Cia Sun. Bukankah begitu?”

“Memang benar,” jawab Bu Kie. “Dia telah menyiksa aku dengan berbagai cara, tetapi aku tetap bungkam.”

“Tapi apa kau tahu di mana adanya Cia Sun?” tanya pula si nenek.

“Kim-mo Say-ong adalah ayah angkatku,“ jawabnya. “Tetapi biar bagaimana pun juga, aku tidak akan memberi-tahu kepada siapa pun juga.”

Mendadak si nenek membalik tangannya dan mencekal kedua tangan Bu Kie yang lantas dipijit keras-keras. Si bocah berteriak keras, matanya berkurang kunang. Pijitan itu bukan saja hebat, tetapi dari tangan si nenek keluar semacam hawa dingin yang menyerang dadanya. Hawa dingin itu berbeda dengan hawa Hian-beng Sin-ciang, tapi sama hebatnya.

“Anak baik,” kata Kim-hoa Popo, “Beri-tahukanlah di mana adanya Cia Sun. Sesudah kau memberi-tahu maka aku akan mengusir racun dari tubuhmu, juga akan mengajarkan ilmu silat yang tiada keduanya kepadamu.”

Sambil menahan rasa sakitnya Bu Kie menjawab dengan suara tetap, “Kedua orang tuaku sudah mengorbankan jiwa karena tidak mau menjual sahabat. Kim-hoa Popo, apakah kau memandang aku sebagai manusia yang bisa menjual ayah ibunya?”

Si nenek tersenyum, “Bagus! Bagus!” katanya. “Kau sungguh anak yang baik!”

“Popo, mengapa kau tidak menuang air perak ke dalam kupingku?” tanya si bocah dengan berani. “Mengapa kau tidak memaksa aku menelan jarum? Huh-huh! Dahulu waktu masih kecil aku sudah tidak takut segala siksaan. Apa lagi sekarang!”

Kim-hoa Popo tertawa ter-bahak. “Sekarang kau sudah besar, anak, memang kau sudah besar,” katanya. “Ha-ha-ha... ho-ho-ho...”

Sehabis tertawa dia terbatuk-batuk, jauh lebih hebat dari pada biasanya sehingga si nona cilik menumbuk-numbuk punggungnya dan memberikan sebutir yo-wan kepadanya. Sesudah berhenti batuk-batuk, perlahan-lahan si nenek melepaskan pegangannya. Pada pergelangan tangan Bu Kie yang bekas dicekal terpeta bekas jari tangan yang berwarna ungu-hitam.

Si nona cilik melirik Bu Kie seraya berkata, “Lekas menghatur terima kasih kepada Popo yang sudah mengampuni jiwamu.”

Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kalau segera dibunuh, mungkin sekali aku malah lebih senang,” katanya. “Perlu apa menghaturkan terima kasih?”

Alis si nona berkerut. “Kau terlalu kepala batu,“ katanya. “Sudahlah! Aku tidak akan mempedulikan kau lagi.“ Dia memutar badan, tetapi diam-diam melirik Bu Kie lagi.

Si nenek tersenyum. “A-lee,” katanya, “di pulau kita, kau seorang diri, tidak punya kawan. Apa lebih baik kita bawa dia agar bisa menemani kau? Hanya adatnya tidak begitu bagus.” Si nona yang dipanggil ‘A-lee’ bertepuk-tepuk tangan dan berkata dengan girang. “Bagus! Kita bawa dia ke sana. Bila dia bandel, bukankah Popo bisa mencari jalan untuk menaklukkannya?”

Mendengar pembicaraan itu, Bu Kie menjadi bingung.

Si nenek manggut-manggut seraya berkata. “Kau ikut aku. Lebih dalu kita mencari seseorang dan aku ingin melakukan suatu pekerjaan. Baru kita pulang ke pulau Leng-coa-to.”

“Tidak! Kau bukan orang baik-baik,“ kata Bu Kie dengan marah.

Si nenek tersenyum. “Kau sungguh tolol,” katanya, “Di pulau kami kau bisa mendapatkan apa pun juga. Makanan-makanan yang lezat, tempat bermain, pemandangan indah yang belum pernah dilihat olehmu. Anak baik, sudahlah, kau jangan rewel dan ikutlah Popo.”

Tiba-tiba Bu Kie memutar badan terus berlari. Tetapi baru dua tiga tindak, si nenek sudah menghadang di depannya.

“Nak, kau tak akan bisa melarikan diri,“ katanya dengan suara lemah lembut. “Ikutlah aku baik-baik, jangan sampai di paksa.”

Bu Kie melompat dan kabur ke jurusan lain. Tapi seperti juga tadi, baru setindak dua, Kim-hoa Popo telah mencegat. Dengan marah Bu Kie meninju. Si nenek mengegos sambil meniup tinju yang menyambar. Ditiup begitu, Bu Kie merasa tangannya bagaikan disayat pisau. Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring.

“Bu Kie Koko!”

Suara itu adalah suara Yo Put Hwie yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan sambil berlari-lari, diikuti oleh ibunya dari belakang. Begitu melihat Kim-hoa Popo, paras muka Siauw Hu berubah pucat. Akan tetapi dengan memberanikan hati dia berkata dengan suara gemetar,

“Popo, kau tak akan mencelakai anak-anak kecil, bukan?”

Si nenek mendelik. “Kau masih belum mati?” tanyanya dengan suara dingin. “Jangan turut campur urusanku. Mari... Mari... Aku mau lihat mengapa kau belum mati.”

Sesungguhnya Siauw Hu berhati tabah. Tetapi dalam menghadapi lawan berat dan karena memikirkan keselamatan puterinya, dia sungkan menerjang bahaya. Maka dia pun mundur setindak seraya menarik tangan puterinya.

“Bu Kie, kemari,” katanya dengan suara perlahan.

Baru saja Bu Kie mau bergerak, mendadak si nona cilik menjambret lengannya dan mencengkeram jalan darah Sam-yang-hiat sehingga separuh badannya tak dapat berkutik lagi.

“Diam!” bentak gadis kecil itu.

Bu Kie kaget, marah dan heran. ”Celaka,” dia mengeluh. “Ilmu apa yang digunakan perempuan kecil ini?”

Sekonyong-konyong terdengar suara nyaring dan tajam. “Siauw Hu, kenapa nyalimu begitu kecil? Kalau kau mau mendekat, dekatilah!”

Siauw Hu kaget bercampur girang. “Suhu!” teriaknya, tapi tidak mendapat jawaban.

Sesaat kemudian di kejauhan muncul seorang nikouw (pendeta perempuan) yang mengenakan jubah pertapaan warna abu-abu menghampiri dengan langkah perlahan. Pendeta itu Ciang-bun-jin Go-bi-pay, dan di belakangnya mengikuti dua orang murid. Bahwa dari tempat yang begitu jauh dia bisa melihat begitu tegas dan bisa mengirim suara yang begitu nyaring, bukti dari kelihayan pendeta tersebut. Biat-coat Suthay yang namanya dikenal semua jago rimba persilatan bukan saja jarang turun gunung, tetapi juga jarang menemui manusia. Apa bila dia masih menolak untuk menemui seorang berilmu seperti Thio Sam Hong, maka orang lain tidak usah dibicarakan lagi. Sesudah dekat, ternyata dia berusia setengah tua, kurang lebih empat puluh lima tahun. Ada pun paras mukanya dapat dikatakan elok, hanya sayang kedua alisnya terlalu turun ke bawah sehingga muka yang cantik itu agak menyerupai muka setan Tiauw-sie-kwi (setan penggantungan) di atas panggung wayang.

Siauw Hu menyambut dengan berlutut seraya berkata, “Suhu, apa kau baik?”

“Aku belum mampus dirongrong olehmu,” jawabnya.

Siauw Hu tak berani bangun. Mendengar suara tawa dingin dari Teng Bin Kun yang berdiri di belakang gurunya, dia tahu kakak seperguruannya itu telah bicara banyak tentang dirinya di hadapan sang guru. Jantungnya memukul kencang dan keringat dingin keluar dari dahinya.

“Nenek itu memanggil kau untuk melihat mengapa kau belum mati,” kata Biat-coat Suthay. “Pergilah, dekati dia!”

“Baik,” kata si murid yang lalu bangun berdiri dan menghampiri si nenek. “Kim-hoa Popo,” katanya. “Guruku sudah datang. Jangan kau berlaku galak lagi.”

Kim-hoa Popo batuk-batuk. Ia melirik Biat-coat Suthay dan manggut-manggu. “Hmm! Kau Ciang-bun-jin Go-bi-pay,” katanya. “Benar, aku sudah memukul muridmu. Lalu kau mau apa?”

“Bagus,” jawabnya. “Kalau mau pukul, boleh pukul lagi. Biar pun dia mati, tak ada sangkut pautnya denganku.”

Hati Siauw Hu seperti disayat pisau. “Suhu!” teriaknya dengan suara parau, air matanya mulai mengucur.

Biat-coat Suthay biasanya dikenal orang yang selalu mengeloni muridnya meski pun murid itu berbuat kesalahan. Sekarang, dengan mengeluarkan perkataan itu terang-terangan dia mengunjuk bahwa dia sudah tidak menganggap Siauw Hu sebagai muridnya lagi.

“Dengan Go-bi-pay aku tidak ada permusuhan,“ kata Kim-hoa Popo. “Sesudah memukul satu kali, cukuplah. A-lee, mari kita pergi!”

Sehabis betkata begitu, perlahan-lahan dia memutar badan. Melihat si nenek yang dianggapnya terlalu kurang ajar, Teng Bin Kun yang belum mengenal kelihayan Kim-hoa Popo lantas saja naik darah. Dengan sekali lompat dia telah menghadang di hadapannya.

“Tidak tahu adat!” bentaknya. “Apa kau mau pergi dengan begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah perkataan sopan?” Seraya berkata begitu dia telah mencekal gagang pedang dan sikapnya galak sekali.

Tangan si nenek bergerak dan dengan dua jeriji, dia memijit sarung pedang Teng Bin Kun.

“Kau mengancam orang dengan besi rongsokan!” katanya sambil tertawa.

Teng Bin Kaun menjadi lebih marah lalu menarik pedangnya. Tapi sungguh heran, pedang itu tiidak dapat dihunus.

A-lee tertawa geli. “Besi rosokan sudah berkarat,” katanya.

Teng Bin Kun coba mencabut lagi sambil menambah tenaga, pedang itu tetap melekat pada sarungnya. Dia tidak tahu bahwa karena dipijit, sarung pedang pecah dan melesak ke dalam sehingga badan pedang tergencet keras. Paras muka Teng Bin Kun berubah merah. Dia merasa jengah dan tidak tahu harus berbuat apa. Biat-coat Suthay maju setindak. Dengan tiga jari tangan dia menjepit gagang pedang dan sekali menyentak, sarung itu pecah lalu pedangnya terhunus keluar.

“Pedang ini memang bukan senjata mustika, tapi juga bukan besi rongsokan,” katanya dengan suara dongkol. “Kim-hoa Popo, mengapa kau tidak diam di pulau Leng-coa-to tapi malah menyateroni wilayah Tiong-goan?”

Si nenek terkejut melihat kepandaian nikouw. “Pendeta ini bernama besar dan ternyata ia memang mempunyai kepandaian tinggi,” katanya dalam hati. “Baiklah aku coba menjajal ilmunya.” Lantas dia berkata sambil tertawa.

“Suamiku sudah meninggal dunia dan aku merasa amat kesepian di pulau kami. Maka aku pergi pesiar, kalau-kalau ada seorang hwesio atau tosu yang cocok untuk dijadikan kawan.”

Dengan berkata begitu, menyebut hwesio dan tosu, hal ini sama saja dia mengejek Biat-coat. Dia seolah-olah mau mengatakan bahwa sebagai seorang pendeta perempuan, Biat-coat Suthay tidak pantas berkelana di luaran. Paras muka nikouw yang beradat keras dan tak pernah guyon itu lantas berubah. Kedua alisnya makin turun ke bawah. Sambil mengibas pedang ia membentak,

“Keluarkan senjatamu!”

Sejak berguru, murid-murid Go-bi belum pernah melihat guru mereka bertempur. Di antara ketiga muridnya, Kie Siauw Hu yang sangat kuatir akan keselamatan sang guru karena dia sudah menyaksikan kelihayan Kim-hoa Popo.

Sementara itu, Bu Kie yang lengannya dipegang A-lee mencoba meronta seraya membentak,

“Lepaskan! Perlu apa kau pegang aku?”

A-lee melirik Kie Siauw Hu yang kelihatannya ingin bergerak untuk memberi pertolongan. Dia melepas cekalannya dan berkata,

“Diam di sini. Aku mau lihat apa kau bisa lari.”

Mendengar ada tantangan, Kim-hoa Popo tertawa, “Dulu ilmu pedang Kwee Siang, Kwee-lihiap, leluhur Go-bi-pay, menggetarkan dunia persilatan,” katanya. “Tetapi sesudah turun kepada murid dan cucu muridnya, berapa bagian yang masih ketinggalan?”

“Walau pun hanya ketinggalan sebagian tetapi sudah cukup untuk menyapu bersih segala kawanan siluman,” jawab Biat-coat dengan mendongkol.

Sejenak si nenek mengawasi ujung pedang, kemudian mendadak ia menotol badan pedang lawan dengan tongkatnya. Tentu saja Biat-coat tidak mempermisikan pedangnya ditotol begitu rupa. Sekali bergerak ia sudah menikam pundak si nenek yang sambil batuk-batuk lantas menyapu dengan tongkatnya. Seraya menarik kembali senjatanya Biat-coat melompat dan bagaikan kilat sudah berada di belakang Kim-hoa Popo. Sebelum kakinya hinggap di tanah, pedangnya kembali menyambar. Tetapi si nenek sendiri berhasil menangkis dengan tongkatnya tanpa memutar badan. Kedua wanita ini jago kelas utama di rimba persilatan. Baru saja bergebrak tiga empat jurus, mereka tahu hari itu mendapat lawan yang setanding.

“Trangg...!”

Sekonyong-konyong terdengar suara dan pedang Biat-coat patah jadi dua. Kecuali A-lee, semua orang terkesiap. Mereka memandang rendah tongkat si nenek sehingga menduga bahwa patahnya pedang adalah akibat Iweekang Kim-hoa Popo yang sangat tinggi. Tetapi si nenek dan si pendeta sama-sama tahu bahwa patahnya pedang itu bukan lantaran keunggulan Iweekang, tapi karena luar biasanya tongkat yang terbuat dari pada San-ouw-kim, hasil laut di perairan pulau Leng-coa-to. San-ouw-kim adalah semacam logam istimewa yang merupakan campuran dari beberapa macam logam dan batu karang. Setelah berada dalam air berlaksa tahun lamanya, logam itu keras dan berat luar biasa sehingga bisa memutuskan baja dan menghancur leburkan batu.

Karena tahu patahnya pedang bukan sebab lawannya kalah, maka sebagai seorang yang berkedudukan tinggi, Kim-hoa Popo tidak mendesak. Sambil batuk-batuk ia menunggu. Di lain pihak, karena kuatir guru mereka terluka. Kie Siauw Hu beserta kedua saudari seperguruannya buru-buru mendekati Biat-coat Suthay.

Sementara itu, A-lee dan Bu Kie bertengkar lagi. Si nona cilik yang sangat nakal itu tiba-tiba mencekal lagi pergelangan tangan Bu Kie.

“Lihatlah, kau tidak akan bisa terlepas dari tanganku,“ katanya.

Begitu pergelangan tangannya tercekal, Bu Kie kembali merasa separuh badannya lemas. Ia bingung dan marah, kemudian mencoba menendang. A-lee mencekal lebih keras sambil mengerahkan Iweekang sehingga kaki Bu Kie tidak bisa diangkat tinggi.

“Lepas! Mau lepas tidak?!” teriaknya.

“Tidak! Mau apa kau?” jawab si nona.

Mendadak Bu Kie menunduk lalu menggigit tangan A-lee.

“Aduh!” teriak si nona yang terpaksa melepaskan cengkeramannya, namun tangan kirinya menyambar muka si bocah. Bu Kie melompat mundur, tapi tidak keburu lagi dan mukanya sudah tercakar. Di lain pihak tangan A-lee mengeluarkan darah akibat gigitan.

Kim-hoa Popo tidak menghiraukan dua anak yang sedang bertengkar itu. Dia tidak dapat memecah perhatiannya ketika sedang menghadapi lawan berat.

Di lain saat, sambil melemparkan potongan pedang, Biat-coat Suthay berkata, “Pedang itu milik muridku dan ternyata tidak cukup kuat untuk menahan seranganmu.“

Seraya berkata begitu dia membuka kantong yang tergantung pada pundaknya, kemudian mengeluarkan sebatang pedang tua yang panjangnya empat kaki. Sebelum dihunus, dari sarung pedang sudah terlihat sehelai sinar hijau sehingga dapat diduga bahwa senjata itu adalah senjata luar biasa. Kim-hoa Popo melirik dan melihat bahwa pada sarung pedang itu terdapat dua huruf emas, dua huruf kuno yang berbunyi: ‘Ie Thian’. Dia terkesiap dan tanpa terasa dia berseru, “Ie-thian-kiam!”

Biat-coat mengangguk. “Benar, inilah Ie-thian-kiam!” katanya.

Sesaat itu di dalam otak si nenek berkelebat kata-kata yang sudah lama tersiar di rimba persilatan: ‘Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put ciong, Ie thian put cut, swee ie ceng hong’ (Yang termulia dalam rimba persilatan, golok mustika membunuh naga, perintahnya di kolong langit, tiada manusia yang berani tidak menurut, Ie-thian tidak keluar, siapa lagi yang berani melawan ketajamannya). Ia mengawasi senjata mustika itu dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar,

“Kalau begitu Ie-thian-kiam jatuh ke tangan Go-bi-pay.”

“Sambutlah!” bentak Biat-coat seraya menotol dada si nenek dengan sarung pedang. Dia menyerang tanpa menghunus Ie-thian-kiam.

Kim-hoa Popo menangkis dengan tongkatnya. Begitu kedua senjata beradu, terdengarlah suara.

“Brettt!”

Dan tongkat San-ouw-kim putus menjadi dua potong! Si nenek kaget tidak kepalang. Belum lagi dihunus, Ie-thian-kiam sudah begitu hebat! Dia mengawasi senjata lawan, kemudian berkata dengan suara perlahan,

“Biat-coat Suthay, bolehkah aku melihat mata pedang itu?”

“Tidak bisa!” jawabnya dengan suara yang menyeramkan. “Begitu terhunus, pedang tidak boleh dimasukkan lagi ke sarungnya sebelum minum darah!”

Untuk beberapa saat, tanpa mengeluarkan sepatah kata dua jago betina itu hanya saling mengawasi. Dalam beberapa gebrakan tadi mereka sudah mengadu Iweekang yang telah dilatih puluhan tahun lamanya. Si nenek tahu bahwa tenaga dalam Biat-coat masih kalah setingkat dari Iweekang-nya, tetapi cetek dalamnya ilmu pedang pendeta itu masih belum bisa diukur olehnya. Tapi sebagai pemimpin Go-bi-pay, dia tentu memiliki kepandaian luar biasa dan ditambah dengan Ie-thian-kiam, dia sungguh bukan lawan yang enteng. Berpikir begitu, sambil batuk-batuk dia memutar badan lalu berjalan pergi seraya menuntun tangan si nona cilik. Ketiga murid Go-bi-pay tidak tahu bahwa pedang guru mereka adalah Ie-thian-kiam yang sudah lama hilang dari rimba persilatan. Mereka hanya merasa girang bahwa guru mereka memperoleh kemenangan.

“Suhu,” kata Teng Bin Kun, “Nenek itu tidak dapat melihat gunung Thay-san. Dia sudah berani bertempur melawan Suhu dan sekarang dia baru tahu kelihayan Suhu.”

Biat-coat mengawasi murid yang coba mengumpaknya. “Di kemudian hari, begitu mendengar batuk-batuknya, kalian lekas menyingkir,“ katanya dengan suara sungguh-sungguh.

Dia berkata begitu karena meski pun berhasil memutuskan senjata lawan, namun dia tahu bahwa Iweekang nenek itu masih lebih unggul dari pada tenaga dalamnya. Tadi waktu dia menotol dengan sarung pedang, dia menyertai juga dengan tenaga Go-bi Kiu-yang-kang yang sudah dilatihnya selama tiga puluh tahun. Tapi tenaga yang hebat itu seperti amblas ke dalam lautan dan tubuh si nenek sedikit pun tidak bergeming. Sesaat kemudian dengan paras muka yang amat menyeramkan Biat-coat berkata,

“Siauw Hu, kemari!” Dia berjalan ke gubuk Ouw Ceng Gu dengan diikuti oleh ketiga muridnya.

“Ibu!” teriak Yo Put Hwie mengejar ibunya.

Siauw Hu mengerti betul bahwa kedatangan gurunya adalah untuk ‘membersihkan’ rumah perguruan dan meski pun dia amat disayang, kali ini dia tidak bisa lolos dari hukuman. Maka itu, dengan suara membujuk dia segera berkata kepada puterinya,

“Tidak boleh, kau tidak boleh masuk. Kau pergilah bermain.”

Bu Kie mengawasi masuknya Biat-coat ke dalam rumah Ceng Gu sambil berkata di dalam hati, “Perempuan she Teng itu sangat jahat dan dia pasti akan mencelakakan Kie-kouwkouw. Peristiwa di malam itu telah disaksikan olehku dan pihak yang bersalah adalah si perempuan she Teng. Kalau dia berbicara yang tidak-tidak, biarlah aku akan maju untuk membela Kie-kouwkouw.“ Berpikir begitu dia lantas bersembunyi di belakang rumah. Untuk beberapa saat keadaan sunyi-sunyi saja. Akhirnya terdengar suara Biat-coat.

“Siauw Hu, kau ceritakanlah.”

“Suhu... aku... aku...“

“Bin Kun, coba kau ajukan pertanyaan,” perintah sang guru.

“Sumoay, dalam partai kita, apakah bunyinya larangan ketiga?” tanya Bin Kun.

“Dilarang berjinah,” jawabnya.

“Benar! Larangan keenam?”

“Dilarang berpihak kepada orang luar dan mengkhianati rumah perguruan sendiri.”

“Apa hukumannya jika orang melanggar larangan itu?”

Siauw Hu tidak menjawab. Dia menengok kepada gurunya dan berkata, “Suhu, dalam hal ini ada sesuatu yang sukar kukatakan.”

“Di sini tidak ada orang luar, kau bicaralah terus terang,” kata Biat-coat.

Siauw Hu mengerti bahwa dia sedang menghadapi kebinasaan dan sekarang dia tak dapat menyembunyikan apa pun juga. Maka dia lantas berkata,

“Suhu, enam tahun yang lalu Suhu telah memerintahkan kami delapan orang saudara seperguruan turun tangan menyelidiki tempat sembunyinya Cia Sun. Pada suatu hari teecu (murid) tiba di Tay-su-po. Di tengah jalan teecu bertemu dengan seorang pria setengah tua, usianya kira-kira empat puluh tahun. Dia mengenakan baju putih dan selalu menguntit teecu. Bila teecu menginap di rumah penginapan, dia turut menginap di situ, teecu makan dia makan, teecu jalan, dia pun turut jalan. Semula teecu tidak menghiraukannya, tetapi belakangan, karena merasa tidak tahan, teecu lalu menegurnya. Tapi dia menjawab seperti orang otak miring. Karena marah teecu menghunus pedang lalu menikamnya. Dia tidak memegang senjata, tetapi di luar dugaanku ilmu silatnya sangat tinggi dan dalam dua tiga jurus dia sudah merampas senjata teecu.

Dengan bingung, teecu kabur dan dia pun tidak mengejar. Keesokan paginya, waktu bangun tidur, dengan terkejut dan heran teecu mendapat kenyataan bahwa pedang teecu menggeletak di samping bantal kepala. Ketika teecu meninggalkan rumah penginapan, orang itu kembali mengikuti. Teecu tahu bahwa teecu tidak bisa menggunakan kekerasan, maka lalu menegurnya dengan kata-kata yang tajam. Teecu mengatakan bahwa dia harus mengenal kesopanan dan bahwa partai Go-bi-pay bukan partai yang boleh dibuat permainan.”

Biat-coat manggut-manggut, ia menyetujui perkataan murid. Setelah berdiam sejenak, Siauw Hu melanjutkan penuturannya.

“Orang-orang itu tertawa-tawa dan berkata: ‘Ilmu silat seorang yang sudah terpecah menjadi partai ini dan partai itu, dengan sendirinya sudah merosot. Kalau nona suka ikut aku, aku akan memperlihatkan bahwa dalam ilmu silat masih terdapat dunia lain yang berbeda dengan duniamu’.”

Biat-coat Suthay adalah orang yang berpandangan sempit. Seumur hidup dia mempelajari ilmu silat dengan mengasingkan diri sehingga pengetahuannya mengenai dunia luar amat terbatas. Mendengar keterangan Siauw Hu, dia lantas saja merasa tertarik dan berkata,

“Jika begitu kau boleh mengikuti dia dan menyelidiki ilmu apa yang dimilikinya.”

Paras muka si murid berubah merah. “Suhu, dia seorang yang belum dikenal, bagaimana teecu bisa mengikutinya?”

“Aha! Kau benar!” kata sang guru, “Kau segera mengusir dia, bukan?”

“Dengan rupa-rupa jalan teecu mencoba menyingkirkan diri, tapi selalu tak berhasil,” jawabnya “Akhirnya teecu tertawan... Teecu bernasib sial hingga bertemu dengan musuh penitisan yang lampau...” Berkata sampai di situ, suaranya makin perlahan.

“Habis bagaimana?” desak Biat-coat.

“Teecu tidak sanggup melawan dan kehormatan teecu dirusak olehnya,” jawabnya dengan suara yang hampir tidak kedengaran. “Dia mengawasi teecu dengan sangat keras sehingga percobaan teecu untuk bunuh diri selalu digagalkan. Beberapa bulan kemudian seorang musuhnya menyatroni dan dengan menggunakan kesempatan itu, barulah teecu bisa kabur. Teecu hamil, tetapi tidak berani memberi-tahu Suhu dan belakangan teecu melahirkan seorang anak perempuan dengan diam-diam.”

“Apa kau tidak berdusta?!” tanya sang guru dengan bengis.

“Biar pun mesti mati berlaksa kali, teecu tidak akan berani berdusta,” jawabnya.

Untuk beberapa lama Biat-coat menundukkan kepala. Akhirnya dia pun berkata, “Kasihan! Siauw Hu, kau sangat tidak beruntung. Dalam hal ini bukan kau yang bersalah.”

Mendengar perkataan sang guru, Teng Kun sangat mendongkol. Dia mendapat bukti lain bahwa sang guru sangat menyayang adik seperguruannya. Dengan sorot mata benci dia melirik Siauw Hu.

Sesudah menghela napas Biat-coat bertanya, “Sekarang bagaimana pikiranmu? Apa yang hendak kau lakukan?”

Air mata Siauw Hu mengucur deras. “Atas kemauan ayah, teecu telah ditunangkan dengan In Liok-ya dari Bu-tong-pay,” jawabnya dengan suara parau. “Setelah kejadian itu, pernikahan tak akan dapat dilangsungkan lagi. Teecu hanya ingin mohon permisi Suhu supaya teecu boleh mencukur rambut untuk menjadi pendeta.”

Sang guru menggelengkan kepala. “Itu pun bukan jalan yang sempurna,” jawabnya. “Siapa nama lelaki itu?”

Siauw Hu menunduk, kemudian menjawab dengan suara perlahan, “Dia she Yo, namanya Siauw.”

Mendadak, mendadak saja, Biat-coat mencelat dari kursinya dengan jubahnya dikibarkan sehingga meja terlempar.

PETUALANGAN SEPASANG BOCAH

Bu Kie terkesiap, sedangkan ketiga murid Go-bi-pay itu pun tak kurang kagetnya. “Yo Siauw!” Biat-coat Suthay berteriak, “Apakah dia Yo Siauw si raja siluman dari agama Beng-kauw yang menamakan diri sebagai Kong-beng Sucia (Utusan Terang benderang)?”

“Dia... dia memang orang Beng-kauw,” jawab Siauw Hu dengan suara gemetar. “Dia... dia kelihatannya... mempunyai... mempunyai kedudukan tinggi dalam agama itu.”

Muka Biat-coat merah padam. “Di mana dia?!” bentaknya pula, “Aku mau mencari dia!”

“Dia pernah memberi-tahu kepada teecu bahwa dia bertempat tinggai di puncak Co-bong-hong di pegunungan Kun-lun-san,” jawabnya, “Tempat tinggalnya itu hanya diberi-tahu kepada teecu seorang. Tiada orang lain yang mengetahuinya. Suhu, apa dia musuh partai kita?”

“Hm!” Biat-coat mengeluarkan suara di hidung, “Bukan hanya musuh besar dari partai kita, Toa-supekmu, Kouw-bong Cun-cia dan pentolan Kun-lun-pay, Yu-liong-cu, binasa karena setan Yo Siauw.”

Siauw Hu ketakutan, namun dalam rasa takut itu bercampur dengan rasa bangga. Kouw-bong Cun-cia dan Yu-liong-cu adalah jago-jago Bu-lim yang namanya amat tersohor, tapi mereka mati karena ‘dia’. Murid Go-bi tahu bahwa guru mereka dan Toa-supek Kouw-bong Cun-cia adalah dua murid utama dari sang Su-couw, namun mereka tidak tahu bahwa di waktu muda, kedua orang itu saling mencinta dan setelah Kouw-bong Cun-cia meninggal dunia, barulah Biat-coat mencukur rambut. Biat-coat mendongak memandang langit sambil mulutnya mencaci.

“Bangsat Yo Siauw...! Sekarang kau jatuh juga ke tanganku!” Tiba-tiba dia memutar tubuh seraya berkata. “Baiklah! Kau banyak dosa: menyerahkan diri kepadanya dan melindungi Pheng Hwesio, berdosa terhadap kakak seperguruan, mendustai guru, diam-diam memelihara anak. Tapi semua itu masih bisa diampuni. Sekarang kuperintahkan kau untuk melakukan tugas. Setelah berhasil barulah kau boleh kembali ke Go-bi-san dan aku akan mengangkatmu sebagai ahli waris, mewariskan Ie-thian-kiam kepadamu dan di kemudian hari kau akan menjadi Ciang-bun-jin dari partai kita!”

Semua orang kaget, lebih-lebih Teng Bin Kun Yang lantas timbul rasa iri hatinya dan menganggap bahwa sang guru pilih kasih.

“Biar pun mesti masuk ke dalam lautan api, teecu tak akan menolak perintah Suhu,” kata Siauw Hu. “Tapi karena sudah cacad, teecu tidak berani berpikir menjadi ahli waris.”

“Ikut aku!” kata sang guru seraya menarik tangan Siauw Hu dan bertindak keluar. Mereka mendaki sebuah tanjakan dan berhenti di atas sebidang tanah rumput.

Bu Kie tidak tahu apa maunya pendeta ini. Sambil berdiri di tempat tinggi Biat-coat Suthay mengawasi ke empat penjuru, setelah itu barulah dia menarik tangan Siauw Hu lalu bicara di kuping muridnya. Apa yang dikatakannya tentu saja sebuah rahasia besar sehingga kedua orang muridnya yang lain tidak diperbolehkan turut mendengar. Dengan mata tak berkedip Bu Kie terus mengawasi mereka. Setelah menundukkan kepala beberapa lama, Siauw Hu tampak menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan sikap yang pasti. Bu Kie mengerti bahwa sang bibi menolak perintah Biat-coat. Sesaat kemudian si pendeta mengangkat tangan kirinya, tapi tangan itu berhenti di udara lalu dia bicara lagi, rupanya sedang mencoba membujuk lagi. Jantung Bu Kie memukul keras. Siauw Hu tampak berlutut dan kepalanya tetap digeleng-gelengkan. Tiba-tiba saja tangan Biat-coat turun menghantam batok kepala muridnya yang lantas roboh terguling. Hati Bu Kie mencelos... bukan main rasa dukanya. Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa nyaring, suara Yo Put Hwie yang menubruk punggung Bu Kie.

“Aha! Sekarang aku berhasil menangkap kau!” teriak si cilik.

Dengan cepat Bu Kie mencekal tangan si nona dan menutup mulutnya. “Ssttt...! Jangan ribut,” bisiknya.

Melihat muka sang kakak yang pucat pasi, si nona jadi kaget dan ketakutan.

Dengan sangat cepatnya Biat-coat kembali ke rumah Ceng Gu. “Bin Kun, binasakan anak haram itu,” dia memerintah. “Jangan meninggalkan bibit penyakit.”

Sesudah adik seperguruannya dihukum, walau pun hatinya senang, Bin Kun merasa agak takut. Mendengar perintah itu dia segera pergi mencari Put Hwie.

Sambil memeluk si nona, Bu Kie menyembunyikan diri di antara rumput alang-alang yang tinggi. Dengan berbisik ia minta supaya Put Hwi jangan bersuara dan menyerahkan segalanya pada Tuhan. Untung juga, sesudah mencari-cari beberapa lama, Bin Kun tidak ingat kepada rumput tinggi yang dapat digunakan sebagai tempat bersembunyi. Baru saja dia mau menyelidiki lebih teliti, gurunya sudah mencaci,

“Manusia goblok! Mencari anak kecil saja tidak mampu!”

Murid Biat-coat yang satunya lagi bernama Pwee Kim Gie. Dia punya hubungan baik dengan Siauw Hu. Melihat kekejaman sang guru dia merasa sangat tidak tega. Karena itu lantas saja dia berkata,

“Suhu, tadi kulihat anak itu berlari keluar selat.“

Ia tahu bahwa kalau diberi-tahu begitu maka sang guru yang beradat tak sabaran tentu tidak mau berabe untuk mencari lebih jauh. Ia merasa bahwa sebagai anak yatim piatu yang baru berusia lima enam tahun, Put Hwie belum tentu dapat hidup terus. Tetapi biar bagaimanapun, mati kelaparan atau mati akibat diterkam binatang buas masih lebih baik dari pada mati ditikam Teng Bin Kun.

“Kenapa tidak kau beri-tahu dari tadi?” tanya Biat-coat dengan mendongkol. Dengan menggunakan ilmu meringankan badan dia segera berlari keluar selat diikuti kedua muridnya.

Put Hwie yang tidak tahu bahwa dia baru saja lolos dari lubang jarum, kini mengawasi Bu Kie dengan mata penuh pertanyaan. Sesudah tindakan ketiga orang itu tak terdengar lagi, Bu Kie berlari mendaki tanjakan sambil menuntun Put Hwie.

“Bu Kie Koko, orang jahat sudah pergi semua bukan?” tanyanya sambil tertawa. “Kau mau mengajak aku bermain-main di atas gunung, bukan?”

Bu Kie tidak menjawab. Melihat Put Hwie sudah lelah, tanpa mengeluarkan sepatah kata dia mendukungnya terus berlari secepat mungkin ke arah Kie Siauw Hu yang menggeletak di atas tanah. Setelah dekat barulah Put Hwie bisa melihat ibunya. Dia meronta turun dari dukungan Bu Kie kemudian menubruk ibunya.

“Ibu...! Ibu...!“ teriaknya.

Bu Kie buru-buru berlutut lantas memeriksa keadaan sang bibi. Napas Siauw Hu tinggal satu-satu dan batok kepalanya remuk sehingga biar pun ditolong dewa, dia tak akan bisa hidup lagi. Perlahan-lahan Siauw Hu membuka kedua matanya. Melihat puterinya dan Bu Kie, pada matanya berlinang air dan bibirnya bergerak. Dia mau bicara tetapi tak sepatah perkataan bisa keluar dari mulutnya. Bu Kie segera mengeluarkan jarum emas lalu menusuk jalan darah Sin-teng, Gin-tong dan Sin-wie. Semangat Siauw Hu segera terbangun dan ia berkata dengan suara lemah,

“Aku mohon... supaya... supaya kau mengantarkan Put Hwie kepada ayahnya...”. Lengan kirinya meraba dada seperti mau mengeluarkan sesuatu, tiba-tiba ia berkelejat dan menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Sambil menangis keras Put Hwie memeluk jenazah ibunya. “Ibu...! Ibu...! Mengapa kau...? Sakitkah...?“ dia sesambat.

Hati Bu Kie seperti disayat ratusan pisau. Ia ingat bahwa ia sendiri juga pernah menangis begitu sambil memeluk jenazah kedua orang tuanya. Tanpa terasa air mata mengalir turun di kedua pipinya. Setelah kenyang memeras air mata, Bu Kie ingat pesan sang bibi dan segera mengambil keputusan untuk menunaikan tugas itu. Dia hanya tahu bahwa orang itu tinggal di puncak Co-bong-hong di pegunungan Kun-lun-san. Ia tak tahu di mana adanya gunung itu yang sebenarnya berada dalam jarak berlaksa lie. Di lain saat dia juga ingat bahwa sebelum meninggal dunia, sang bibi meraba dada seperti hendak mengeluarkan sesuatu. Dia lantas meraba leher Siauw Hu dan mengeluarkan sepotong Kiat-pay (lembaran besi) yang di atasnya diukir gambar setan yang menyeringai sambil mengangkat cakarnya. Pay tersebut digantung di leher Siauw Hu dengan selembar tali.

Bu Kie tidak mengerti apa adanya benda itu, akan tetapi dia lalu membukanya kemudian menggantungnya di leher Put Hwie. Sesudah itu dia mengambil cangkul menggali sebuah lubang lalu menguburkan jenazah Siauw Hu. Ketika itu Put Hwie telah pulas akibat lelah. Waktu si nona cilik sadar, dengan berbagai akal Bu Kie membujuknya, antara lain dia mengatakan bahwa sang ibu telah terbang ke langit dan nanti, setelah sekian lama akan kembali ke dunia. Dasar anak kecil, akhirnya si nona dapat juga dikelabui. Malam itu, sesudah memasak nasi dan makan sembarangan, Bu Kie yang sudah terlalu capai lantas tertidur pulas dengan nyenyak sekali. Keesokan paginya, setelah membuntal pakalan dalam dua buntalan kecil, dia lalu mengajak Put Hwie memberi selamat tinggal dan memohon keberkahan. Sesudah itu kedua yatim piatu berjalan keluar dari Ouw-tiap-kok.

Bu Kie sama sekali tidak bersenjata. Semula dia ingin membawa potongan tongkat San-ouw-kim, tapi dicari-cari tidak ketemu dan dia menduga bahwa potongan senjata itu telah dibawa oleh Teng Bin Kun. Mengenai bekal ia hanya mempunyai tujuh delapan tahil perak yang diambilnya dari buntalan Kie Siauw Hu. Bu Kie tidak tahu di mana adanya Kun-lun-san. Ia hanya menduga bahwa gunung itu jauh sekali dan uang sebegitu tentulah sangat tidak mencukupi. Tapi apa yang dapat diperbuat olehnya? Setelah berjalan setengah hari barulah mereka keluar dari selat Ouw-tiap-kok. Karena Put Hwi masih sangat kecil, mereka maju dengan lambat sekali. Sebentar mengaso, sebentar jalan lagi. Pada malam itu mereka berada di hutan dan di antara kegelapan malam, mereka mendengar suara macam-macam binatang terutama burung hantu.

Put Hwie ketakutan dan mulai menangis keras. Bu Kie juga takut, namun dalam keadaan begitu mau tidak mau dia terpaksa harus membesarkan hati. Tiba-tiba dia melihat sebuah goa. Hatinya menjadi sangat girang dan sambil menuntun Put Hwie, dia masuk ke dalam goa. Dengan kedua tangan dia mendekap kuping si nona supaya tidak mendengar suara-suara yang menakutkan. Kedua anak ini melewati siang malam dengan menahan rasa lapar, haus dan takut. Keesokan paginya Bu Kie mencari buah-buahan hutan untuk menangsal perut, kemudian meneruskan perjalanan.

Pada waktu magrib, selagi enak-enak berjalan sekonyong-konyong Put Hwie berteriak dan tangannya menuding sebuah pohon. Bu Kie menengok. Dia terkesiap dan sambil menarik tangan Put Hwie, dia segera lari. Yang mereka lihat adalah dua mayat yang tergelantung di pohon. Baru saja belasan tombak berlari, kaki Bu Kie tersandung batu dan roboh terguling. Waktu merangkak bangun, dengan memberanikan hati dia menengok ke pohon dan tanpa terasa dia berteriak,

“Ouw-sinshe!”

Waktu dia menengok tadi, secara kebetulan angin meniup dan mayat itu terputar sehingga mukanya menghadap Bu Kie yang segera mengenali bahwa muka itu adalah muka Ouw Ceng Gu. Yang satunya lagi adalah mayat wanita dan dilihat dari pakainnya, Ong Lan Kouw. Dalam cuaca yang sudah hampir gelap, pemandangan itu sungguh menyeramkan hingga bulu roma Bu Kie bangun. Sesudah bangun berdiri, si bocah berkata di dalam hatinya, “Tidak boleh! Aku tidak boleh menjadi seorang pengecut!”. Setindak demi setindak ia maju mendekati. Dari kejauhan dilihatnya ada sinar keemas-emasan pada pipi kedua mayat itu. Setelah didekati ternyata sinar itu keluar dari bunga emas.

“Ah! Ouw-sinshe dan Subo tidak lolos dari tangan Kim-hoa Popo,” ia mengeluh. Kereta yang ditumpangi mereka berada di selokan dalam keadaan hancur, sedang bangkai keledai pun terdapat di dalam selokan itu.

Malam itu Bu Kie dan Put Hwie tidur di bawah pohon. Kira-kira tengah malam keduanya disadarkan bunyi binatang. Di bawah sinar rembulan mereka melihat lima enam ekor anjing hutan sedang menggerogoti bangkai keledai. Dengan hati berdebar-debar buru-buru Bu Kie mendukung Put Hwie lantas memanjat sebuah pohon. Anjing-anjing itu mengejar, kemudian berputar-putar di bawah pohon. Selang beberapa lama barulah mereka meninggalkan pohon itu dan kembali berpesta pora dengan daging keledai. Pada keesokan paginya barulah kawanan binatang itu berlalu. Sesudah anjing-anjing itu pergi jauh barulah Bu Kie berani turun. Ia segera membuka tambang dan menurunkan jenazah suami isteri Ouw Ceng Gu.

“Plak!”

Mendadak terdengar suara dan dari atas jatuh sejilid buku. Bu Kie segera menyambutnya dan di atas buku itu, tulisan tangan, tertulis seperti berikut: ‘Tok-sut Tay-coan’ (Kitab lengkap mengenai racun). Bu Kie membolik-balik lembaran yang penuh dengan huruf kecil. Kitab itu menjelaskan sifat dari ber-macam binatang beracun, burung beracun, kutu beracun, rumput beracun, mulai dari yang biasa sampai yang aneh-aneh, baik cara menggunakannya mau pun cara memunahkannya. Sesudah memasukkan kitab ke dalam saku, kemudian dia mengubur jenazah suami-isteri Ouw Ceng Gu dengan menumpuk batu-batu, tanah dan rumput di atasnya. Setelah selesai dan memberi hormat dengan berlutut beberapa kali, ia segera meneruskan perjalanan sambil menuntun tangan Put Hwie,.

Di waktu lohor mereka bertemu jalan raya dan tak lama kemudian sampai di sebuah kota kecil. Mereka mencari rumah makan atau warung untuk menangsal perut. Tetapi sungguh heran, semua rumah tidak ada penghuninya dan kota kecil itu sunyi senyap bagaikan kuburan. Apa boleh buat mereka pun berjalan terus. Waktu itu adalah musim rontok, yaitu musim panen, tetapi apa yang tampak di sawah-sawah yang tanahnya kering melulu hanyalah rumput alang alang. Bu Kie bingung karena dia tidak mengerti apa artinya semua ini. Kawan yang hanya satu-satunya tidak dapat diajak berdamai. Bahwa dengan menahan lapar si nona cilik masih bisa berjalan terus, hal ini sudah dapat dikatakan mujur.

Berjalan sampai sore, tiba di sebuah hutan. Tiba-tiba Bu Kie melihat mengepulnya asap. Ia girang sekali karena sedari keluar dari selat Ouw-tiap-kok baru sekarang ia melihat asap yang berarti adanya manusia. Buru-buru mereka menuju ke arah asap itu. Waktu sudah mendekat, mereka melihat lima orang laki-laki yang pakaiannya compang-camping, tubuhnya kurus kering dan mukanya pucat pasi, sedang duduk di sekitar perapian dan di atas api terdapat sebuah kuali yang apinya bergolak-golak seperti sedang memasak sesuatu. Begitu melihat Bu Kie dan Put Hwie, paras muka mereka berubah terang. Dengan serentak mereka bangkit berdiri.

“Bagus! Bocah, mari sini!” kata salah seorang sambil menggapai.

“Kami amat lapar sekali dan ingin meminta sedikit makanan,” kata Bu Kie, “Sebagai tanda terima kasih, kami akan memberi sedikit uang perak.”

“Kau punya uang? Coba keluarkan,” kata yang seorang.

Bu Kie merogoh saku dan mengeluarkan sepotong perak.

Sambil membetot potongan perak itu, dia bertanya. “Mana orang tuamu?”

“Kami hanya berdua, tidak mempunyai kawan lain,” Jawab Bu Kie.

Kelima lelaki itu tertawa terbahak-bahak dan saling mengawasi satu sama lain. Karena didorong rasa lapar, Bu Kie lalu melongok ke dalam kuali. Begitu melihat, hatinya mencelos karena apa yang dimasak mereka hanyalah daun-daun akar dan sedikit ubi-ubian. Sambil menyeringai, salah seorang mencekal tangan Put Hwie dan berkata,

“Kambing ini gemuk sekali. Malam ini kita bisa makan sampai kenyang!”

“Ya! Yang lelaki bisa ditunda sampai besok,“ sambung kawannya.

Tak kepalang terkejutnya Bu Kie. “Kau... kau... mau... makan daging manusia?” tanyanya terputus-putus.

Seorang yang bertubuh jangkung menyeringai dan berkata dengan suara dalam, “Sudah tiga bulan aku tak pernah makan nasi. Dari pada mampus masih lebih baik makan daging manusia.“ Seraya berkata begitu dia menjambret leher Bu Kie.

Bu Kie mengegos, tangan kirinya menangkis, tangan kanannya menepuk pinggang. Sedari kecil dia sudah belajar silat di bawah pimpinan Kim-mo Say-ong Cia Sun, lalu mempelajari ilmu silat dari Bu-tong-pay. Biar pun selama dua tahun lebih dia tidak berlatih silat karena repot mempelajari ilmu ketabiban, tetapi apa yang sudah dipelajarinya adalah ilmu-ilmu silat kelas satu di rimba persilatan. Maka tepukan yang cukup hebat untuk merobohkan ahli silat biasa tersebut, tentu saja tidak dapat ditahan. Tanpa mengeluarkan suara dia terpelanting tanpa berkutik lagi.

Seorang kawannya menubruk dan menancapkan pisaunya ke dada Bu Kie. Secepat kilat Bu Kie menendang dengan kaki kanannya, dan pisau itu terbang. Ia menendang dengan tendangan Wan-yo Lian-hoan-tui yang saling susul dan sesudah kaki kirinya mampir di janggutnya, orang itu jatuh terjengkang. Setelah merobohkan dua orang, buru-buru dia menghampiri Put Hwie yang sudah mulai menangis. Tiba-tiba ia merasakan ada angin di belakangnya dan dua orang menubruk punggungnya. Dengan sekali berkelit, dua penyerang itu menubruk tempat kosong. Cepat dia menjambret leher baju mereka lalu mengadukan kepala mereka. Waktu dilepaskan, mereka roboh dalam keadaan pingsan.

Sekarang hanya tinggal seorang. Biar pun empat kawannya sudah dijatuhkan, ia kelihatannya tak merasa jeri dan sambil menghunus golok, ia menerjang. Melihat senjata tajam sedangkan ia sendiri bertangan kosong, Bu Kie jadi keder. Tetapi dengan mengegos ke sana ke sini ia berhasil menyelamatkan diri dari tiga bacokan. Dalam bacokan ke empat, orang itu menggunakan seluruh tenaganya. Cepat Bu Kie berkelit sehingga ia hanya membacok angin. Sungguh celaka, karena terlalu bernapsu dan menyerang dengan seluruh tenaga, ia terhuyung dan jatuh terguling. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan bagus, Bu Kie menendang dengan mempergunakan ilmu meminjam tenaga sehingga tubuh orang itu terpental lalu jatuh ke dalam kuali yang airnya bergolak-golak.

Kalau Bu Kie diperintah untuk bertempur melawan lima orang itu, ia pasti tak akan berani. Walau pun sedari kecil sudah belajar silat, ia masih belum tahu kepandaiannya sendiri. Kalau bukan sedang menghadapi bahaya besar, tentu tak akan berlaku nekat. Sesudah merobohkan lima orang itu, ia tercengang dan setelah semangatnya terkumpul kembali, ia merasa sangat girang. Baru saja hatinya tenteram, mendadak terdengar langkah kaki dan beberapa orang masuk ke dalam hutan. Mendengar suara manusia, Put Hwie yang belum hilang takutnya menubruk kemudian memeluk Bu Kie erat-erat. Begitu melihat orang-orang yang datang, Bu Kie menjadi girang.

“Kan-toaya! Sie-toaya!” serunya.

Di antara mereka yang terdiri dari lima orang itu, ternyata yang satu adalah Kan Ciat dan yang satu lagi Sie Kong Wan bersama dua saudara seperguruannya. Mereka berempat telah disembuhkan Bu Kie pada waktu terluka akibat pukulan Kim-hoa Popo. Orang yang kelima adalah seorang pemuda yang kira-kira baru berusia dua puluh tahun dan berparas angker. Bu Kie belum pernah bertemu muka dengan pemuda ini. Kan Ciat mengawasi dan berkata,

“Saudara Thio, kau juga berada di sini? Mengapa orang itu?” Seraya bertanya dia menuding kelima orang yang rebah di tanah.

Dengan suara mendongkol Bu Kie menceriterakan apa yang terjadi. Sebagai penutup ia berkata,

“Celaka sungguh! Mereka mau makan kami berdua. Untung aku berhasil merobohkannya.”

Selagi Bu Kie bicara, Kan Ciat mengawasi Put Hwie dengan sorot mata luar biasa sambil berkata dengan suara perlahan,

“Lima hari lima malam tak pernah menelan sebutir nasi... hanya gegares kulit pohon dan rumput... Hmmm...! Dagingnya begitu montok...”

Melihat sinar mata kelaparan seolah-olah sinar mata anjing hutan yang amat menakutkan, Bu Kie terkejut dan buru-buru dia memeluk Put Hwie.

“Mana ibunya?” tanya Sie Kong Wan.

“Kie-lihiap pergi membeli beras,” jawab Bu Kie.

Apa mau dikata Put Hwie menyela, “Bukan! Ibu terbang ke langit!”

Kan Ciat dan Sie Kong Wan menyeringai. Mereka paham bahwa itu berarti Kie Siauw Hu sudah meninggal dunia. Sie Kong Wan tertawa dingin.

“Beli beras?” tanyanya dengan nada mengejek. “Kalau bisa mendapatkan sebutir beras dalam jarak lima ratus lie di sekitar tempat ini, kau betul-betul pintar!”

Dengan lirikan mata Kan Ciat memberi isyarat kepada Sie Kong Wan. Mendadak mereka melompat dengan berbareng, Kan Ciat mencekal kedua tangan Bu Kie, ada pun Sie Kong Wan memeluk Put Hwie. Bu Kie terkesiap.

“Eh-ehh! Mau apa kalian?” tanyanya.

“Di seluruh Hong-yang-hu seluruh manusia sedang kelaparan,” jawab Kan Ciat. “Dalam menghadapi kebinasaan kami harus menolong diri sendiri. Nona ini bukan sanak familimu. Dia dapat menyambung jiwa kami...”

“Manusia celaka!” Bu Kie mencaci dengan kemarahan yang meluap-luap. “Kalian manusia-manusia yang menamakan diri sendiri sebagai orang-orang rimba persilatan, tapi hendak melakukan perbuatan terkutuk? Sungguh memalukan! Apakah kalian tak merasa malu menjadi manusia hina?”

Dalam laparnya memang Kan Ciat sudah tidak mengenal malu. Mendengar cacian pedas ia menjadi marah lantas menggaplok muka Bu Kie dengan keras.

“Binatang! Kau pun akan mengalami nasib seperti dia!” bentaknya.

Bagaikan kalap Bu Kie meronta-ronta, tapi Seng-ciu Ka-lam adalah seorang ahli sitat dan cekalannya keras laksana jepitan besi. Kedua Sute-nya Sie Kong Wan segera mengambil tambang lalu digunakan untuk mengikat kedua anak ini. Sesudah dibelenggu Bu Kie menghela napas. Ia merasa bahwa hari ini ia akan menyusul kedua orang tuanya di alam baka. Dalam marahnya ia merasa menyesal sudah menolong jiwa keempat manusia ini.

“Binatang kecil!” Kan Ciat mencaci. “Kau sudah mengobati lukaku dan sekarang di dalam hatimu kau pasti sedang mengutuk aku.”

“Manusia hina-dina!” teriak Bu Kie, “Kalian membalas kebaikan dengan kejahatan. Kalau tidak kutolong pasti sekarang kalian sudah berada di lubang kubur.”

“Saudara Thio,“ kata Sie Kong Wan sambil tersenyum-senyum, “Engkau sudah menolong kami dan untuk itu kami merasa berhutang budi. Tapi sekarang kami sedang menghadapi kebinasaan karena lapar. Kalau mau menolong, kau harus menolong sampai tuntas. Dan sekarang kami memerlukan pertolonganmu satu kali lagi.”

Keganasan Kan Ciat sangat menyeramkan, namun kekejaman Sie Kong Wan yang mengunjuk ketelengasannya sambil tertawa-tawa bahkan lebih menyeramkan lagi. Bu Kie jadi nekat dan berteriak,

“Aku adalah murid Bu-tong, sedangkan adikku murid Go-bi-pay. Kematian kami berdua tidak menjadi soal. Tetapi apakah kalian kira lima pendekar Bu-tong dan Biat-coat Suthay akan menyudahi perbuatan kalian dengan begitu saja?”

Kan Ciat terkejut. Dia merasa bahwa ancaman bocah itu bukan ancaman kosong karena Bu-tong-pay dan Go-bi pay memang tidak boleh dibuat permainan. Tapi Sie Kong Wan tertawa terbahak-bahak.

“Kejadian hari ini diketahui oleh Langit, oleh Bumi, oleh kau dan oleh aku. Bocah! Sesudah kau berada di dalam perut kami, kau boleh mengadu kepada Thio Sam Hong.”

Kan Ciat turut tertawa dengan ter-gelak. “Kau betul, kau betul,” katanya. “Saudara Thio, untuk menolong jiwa sesungguhnya kami tidak dapat berbuat lain.“ Sehabis berkata begitu ia berpaling kepada kedua sute-nya Sie Kong Wan dan membentak: “Kenapa kalian berdiri seperti patung? Pergi ambil air dan cari kayu bakar!”

Kedua orang itu mengangguk lalu berjalan pergi.

“Sie-toaya,” kata Bu Kie dengan suara memohon. “Jika kalian mau makan daging manusia, makanlah dagingku saja. Aku mohon agar kalian suka membebaskan adik kecil ini. Kalau permintaanku dilulusi, biar pun mati aku tak akan menyesal.”

“Mengapa begitu?” tanya si manusia she Sie.

“Karena pada waktu mau menutup mata, ibunya telah meminta pertolonganku supaya aku mengantar dia kepada ayahnya,” jawab Bu Kie. “Kan-toaya, dengan makan aku seorang kurasa kalian sudah cukup kenyang dan besok kalian bisa membeli kerbau atau kambing untuk dijadikan barang santapan selanjutnya. Kan-toaya, Sie-toaya, ampunilah adikku ini.”

Melihat ksatriaan bocah ini, mau tak mau hati Kan Ciat tergerak juga. Dia mengawasi Sie Kong Wan dan bertanya,

“Bagaimana pikiranmu?”

“Itu soal kecil,” jawabnya. “Tapi kalau rahasia ini bocor, di kemudian hari kita bakal berabe sekali. Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu dan yang lain-lainnya tentu akan mencari kita. Kan-toako, jika kau mempunyai jalan untuk menghadapi mereka maka aku tidak keberatan.”

“Tak salah!” kata Kan Ciat sambil mengangguk. “Aku sungguh tolol. Aku tidak memikirkan apa yang mungkin terjadi di hari kemudian.”

Sesaat itu seorang Hoa-san-pay sudah kembali dengan membawa air di kuali. Bu Kie tahu bahwa bahaya sudah sangat dekat.

“Put Hwie moay-moay,” katanya. “Kau bersumpahlah bahwa kau tidak akan menceritakan kejadian hari ini kepada siapa pun juga.”

Namun anak yang belum mengerti apa pun lantas menangis keras. Dia sama sekali tidak tahu bahwa kakaknya sedang menawarkan jiwa sendiri untuk menolongnya. Pemuda yang tidak dikenal, yang parasnya angker, sejak tadi duduk di tanah tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sekarang Kan Ciat memandangnya dan berkata,

“Cie Siauw Sie, kalau mau turut makan daging kambing, kau juga harus bekerja.”

“Baik,” kata pemuda itu sambil mencabut sebilah golok pendek dari pinggangnya. Setelah menggigit goloknya, ia mengangkat Bu Kie dan Put Hwie lalu berjalan ke arah sungai kecil. Bu Kie meronta-ronta dan mencaci kalang kabut, tapi dia tidak meladeni.

Tapi baru saja dia berjalan belasan tindak, mendadak Sie Kong Wan berteriak, “Cie Siauw Sia! Di sini saja!”

Siauw Sia berjalan terus, “Di sungai lebih baik,” jawabnya dengan suara tidak jelas sebab giginya sedang menggigit golok.

“Di sini! Aku kata di sini, di sini!” teriak pula Sie Kong Wan.

Ternyata manusia she Sie itu lihay juga otaknya. Melihat sinar mata dan sikap pemuda itu yang agak luar biasa, ia menjadi curiga.

Sekonyong-konyong Siauw Sia berteriak, “Lekas lari” Ia lalu melepaskan kedua anak itu di tanah dan memotong tambang yang mengikat tangan mereka.

“Terima kasih untuk budimu yang sangat besar,” kata Bu Kie seraya menarik tangan Put Hwie lalu berlari sekeras-kerasnya.

Sambil berteriak-teriak Kan Ciat dan Sie Kong Wan mengejar.

“Tahan!” bentak Siauw Sia sambil menghadang di tengah jalan.

Melihat pemuda itu berdiri dengan sikap angker sambil melintangkan goloknya di depan dada, kedua manusia itu merasa agak jeri.

“Minggir kau!” bentak Kan Ciat.

“Kita adalah orang-orang Kangouw yang harus mempunyai rasa ksatria,” kata Siauw Sia. “Apa kalian tidak malu kalau kalian mencelakai anak kecil itu?”

“Jangan rewel!” teriak Kong Wan marah. “Dalam kelaparan ini aku akan makan siapa pun juga.“ Ia menggapai kedua Sute-nya dan berteriak lagi, “Kejar mereka!”

Sementara itu, melihat Put Hwie tidak dapat berlari cepat. Bu Kie lalu mendukungnya dan kabur sekuat tenaga. Namun apa mau dikata, sebagai anak tanggung, ditambah dengan beban yang berat, dia tidak dapat berlari secepat orang dewasa. Sebelum keluar dari hutan itu mereka sudah terkejar oleh kedua murid Hoa-san-pay. Buru-buru Bu Kie menurunkan si nona dari dukungan, kemudian dengan nekat menyerang kedua pengejarnya. Pukulan pertama ditangkis oleh salah seorang.

“Plakk!” badannya terhuyung beberapa tindak.

“Bangsat cilik! Lihay juga kau!” bentak orang itu merasakan beratnya pukulan si bocah.

Dengan berbareng mereka menghunus golok dan berlangsunglah pertempuran ganjil. Dua orang dewasa bersenjata mengeroyok seorang anak bertangan kosong. Ketika itu Bu Kie sudah tidak memikirkan jiwanya lagi, sambil mengegos dan melompat ke sana kemari dia berteriak-teriak menyuruh Put Hwie lekas-lekas melarikan diri.

TEGAR DI TENGAH SENGSARA

Di lain pihak Siauw Sia sudah dikepung oleh Kan Ciat dan Sie Kong Wan. Tapi baru bergebrak beberapa jurus dia telah keteter. Selang beberapa jurus lagi golok Kan Ciat mampir di lututnya yang lantas saja mengucurkan darah. Dia mengerti bahwa dilanjutkannya pertempuran akan berarti kebinasaannya. Karena itu, sesudah menimpuk Sie Kong Wan dengan goloknya, dia segera melompat dan terus kabur. Sie Kong Wan berkelit dan golok itu jatuh di tanah. Sambil berlari Siauw Sia masih sempat berteriak,

“Saudara Thio, jangan takut. Aku pergi mencari bala bantuan.”

Kan Ciat dan Sie Kong Wan menyusul kedua kawannya dan dengan mudah mereka menawan lagi kedua anak ini, lalu diikat kedua tangannya. Kan Ciat mengawasi Sie Kong Wan dengan mata membelalak.

“Orang she Cie itu bukan manusia baik-baik,” katanya dengan mendongkol. “Bagaimana dia bisa berjalan bersama-sama kalian?”

“Kami bertemu dia di tengah jalan,” jawab Sie Kong Wan. “Siapa tahu dia orang baik atau orang jahat? Dia mengaku she Cie bernama Tat. Kau jangan percaya omongannya tadi. Sekarang sudah hampir malam. Kemana dia mencari bala bantuan?”

“Kalau didengar dari suaranya, dia adalah penduduk Hong-yang,” menyelak seorang Sute Sie Kong Wan, “Biar pun dia membawa semua penduduk kampung, kita tidak usah takut.”

“Penduduk Hong-yang?” Kan Ciat menegas sambil menyeringai. “Ha-ha-ha….! Jangankan harus berkelahi, berjalan pun mereka sudah tak mampu. Hayolah, aku sudah tak kuat menahan rasa lapar.“

Mereka segera kembali ke perapian. Sesudah tertangkap lagi, Bu Kie dihajar hingga badannya babak belur, pakaiannya robek dan isi sakunya terserak di tanah. Mendadak matanya tertumbuk sejilid buku yang kertasnya kuning dan karena ditiup angin, lembaran buku itu terbuka. Buku itu adalah Tok-sut Tay-coan milik Ong Lan Kouw. Sekarang dia sudah tidak mikir untuk hidup dan mempedulikan apa pun juga. Setelah berusaha setengah mati tetap tiada jalan hidup, Bu Kie malah jadi tenang. Pada saat pikirannya bersih itulah secara tidak disengaja matanya melirik ke arah lembaran buku itu, dan secara kebetulan halaman yang terbuka adalah bagian tentang rumput beracun. Hatinya tertarik, dia lalu membacanya. Pada bagian itu secara jelas diterangkan bentuk, bau, warna, sifat serta cara memunahkan bermacam-macam rumput beracun.

Setelah membaca beberapa saat, ia menghela napas. Ia ingat bahwa beberapa detik lagi ia akan berkumpul dengan roh orang tuanya. Waktu melirik ke sebelah kiri, sekonyong-konyong matanya tertumbuk segundukan rumput yang warnanya sangat menyolok, indah, segar dan mengkilap. Mendadak dalam otaknya berkelebat serupa pikiran. “Apa mungkin itu rumput beracun? Menurut buku ini, rumput yang mengandung racun berwarna indah. Kalau benar rumput itu rumput beracun, jiwa Put Hwie moay-moay masih bisa ditolong.“

Pada waktu itu dia sudah tidak berpikir menyelamatkan jiwa sendiri. Dengan masih mengeramnya racun dingin di tubuhnya, andai kata hari ini dia selamat, paling banyak dia hanya bisa hidup beberapa bulan lagi. Apa yang dipikirnya ialah usaha menolong Put Hwie guna memenuhi permintaan mendiang Kie Siauw Hu. Dengan perlahan dia menggulingkan badan ke arah rumput itu. Karena kedua tangannya terikat ke belakang, maka dia pun membelakangi rumput itu barulah mencabutnya. Untung sekali gerak-geriknya tidak diperhatikan musuhnya yang sedang diserang rasa lapar dan tengah memusatkan perhatiannya kepada air yang hampir mendidih. Sekonyong-konyong dia melompat bangun dan sambil mengawasi ke jurusan larinya Cie Tat dia berseru,

“Cie-toako, banyak amat temanmu! Tolong...! Tolong...!”

Dengan terkejut sekali Kan Ciat serta tiga kawannya segera menghunus senjata. Mereka memandang ke arah yang diawasi Bu Kie. Dengan menggunakan kesempatan itu Bu Kie mundur dua tindak lalu melepaskan segabung rumput yang dicekalnya ke dalam kuali. Melihat tidak ada manusia, Kan Ciat lantas mencaci,

”Bangsat! Kau boleh berteriak sekali lagi, sekuatmu! Tidak ada manusia yang akan menolong kau.”

“Hayolah, perlu apa terlampau banyak bicara,” kata Sie Long Wan yang sudah merasa tak sabaran.

“Sie-toaya, aku haus,” kata Bu Kie dengan suara memohon. “Tolong berikan semangkok air panas untukku. Sesudah mati setanku tak akan mengganggu kau.”

“Baiklah,” jawabnya sambil menyeringai. Dia lalu menyendok semangkuk kuah dari dalam kuali dan mengangsurkannya ke mulut si bocah. Sebelum mangkok menempel pada bibirnya Bu Kie berseru,

“Aduh, wangi sungguh! Apa yang dimasak?”

Bu Kie tidak berdusta. Rumput yang tadi dia cemplungkan ke dalam kuali tanpa diketahui orang, memang mengeluarkan bebauan sangat harum yang dapat diendus juga oleh Kan Ciat dan kawan-kawannya. Setelah kelaparan beberapa hari, bau harum itu membangkitkan napsu makan dan memperhebat rasa lapar mereka. Karenanya dari pada memberikan kepada si bocah, Kong Wan lalu menceguk sendiri ‘kuah’ rumput itu.

“Astaga, betul-betul sedap!” katanya. Ia segera menyendok semangkok lagi lalu menghirupnya dengan napsu.

Kan Ciat mendongkol bukan main. Dia melompat dan merebut mangkok itu lalu digunakan untuk menyendok ‘kuah’ harum yang langsung diminumnya. Dengan beruntung dia dapat menghabiskan tiga mangkok penuh. Kedua Sute-nya Sie Kong Wan pun masing-masing minum dua mangkok. Setelah menderita kelaparan berhari-hari, ‘kuah’ yang hangat itu mendatangkan perasaan nyaman dan mereka pun mengusap-usap perut sambil menyeringai. Kan Ciat yang masih merasa tidak puas malah mengambil rumputnya dari dalam kuali dan sesudah mengunyah cepat menelannya. Di antara mereka tiada seorang pun yang bertanya dari mana datangnya rumput itu.

“Nah! Sekarang kita boleh bekerja dengan semangat,” kata Kan Ciat sambil tertawa lebar. Sinar matanya mengeluarkan sorot kepuasan dan dengan mencekal golok, dia menghampiri Put Hwie.

Melihat rumput itu tidak mengeluarkan akibat apa pun, Bu Kie menarik kesimpulan bahwa rumput tersebut bukan rumput beracun.

“Habislah jiwaku!” dia mengeluh.

Tapi baru saja Kan Ciat melangkah dua tindak, mendadak dia berteriak sambil memegang perut.

“Aduhh...!”

Di lain detik badannya bergoyang-goyang dan dia pun roboh terguling di tanah.

“Kan-heng, mengapa kau?” tanya Sie Kong Wan sambil menghampiri.

Dia mencoba membangunkannya, tapi sekali membungkuk dia tidak dapat melempangkan pinggangnya lagi! Dia lantas terjungkal ke samping si orang she Kan tanpa dapat berkutik lagi. Dua orang murid Hoa-san-pay yang lain bahkan roboh tanpa mengeluarkan suara.

“Oh Langit... Oh Bumi! Terima kasih atas pertolonganmu!” Bu Kie berteriak dengan suara parau sementara air mata mengalir turun di pipinya.

Dengan bergulingan dia mendekati lalu menjemput golok yang jatuh dari tangan Kan Ciat, kemudian menggunakannya untuk memutuskan tambang yang mengikat tangan Put Hwe. Sesudah tangannya bebas si nona lalu menolong kakaknya, dan barulah dia berhasil setelah melukai tangan Bu Kie di dua tempat. Tak usah diceritakan lagi kegirangan kedua anak itu. Setelah ber-pelukan beberapa lama barulah Bu Kie melihat mayat Kan Ciat dan kawan-kawannya. Ternyata muka mereka berwarna hitam dan otot-ototnya pada menonjol keluar sehingga tampak menakutkan sekali.

“Racun bisa mencelakakan manusia, tapi juga bisa menolong manusa baik-baik,” kata Bu Kie dalam hati. Dia lalu mengambil kembali Tok-sut Tay-coan dan memasukkannya ke dalam saku, dengan niatan untuk mempelajarinya di hari kemudian.

Dengan saling bergandeng tangan, kedua anak itu segera berjalan keluar dari hutan yang menyeramkan itu. Baru saja mereka hendak mencari jalan, di sebelah timur terlihat banyak obor dan tujuh delapan orang membawa rupa-rupa senjata kelihatan mendatangi. Mereka ketakutan dan buru-buru menyembunyikan diri di rumput-rumput tinggi. Tak lama kemudian barisan itu tiba di dekat tempat persembunyian kedua anak itu. Yang berjalan di depan adalah Cie Tat yang membawa tombak panjang. Sambil mengangkat obor dia berteriak,

“Hei manusia-manusia binatang! Lekas keluar untuk terima binasa!”

Mereka masuk ke dalam hutan dan begitu melihat mayat-mayat, mereka kaget bukan main.

“Saudara Thio! Saudara Thio!” teriak Cie Tat, “Di mana kau? Kami datang untuk menolong kalian!”

Sekarang tahulah Bu Kie bahwa kedatangan mereka adalah untuk memberi pertolongan. Hatinya terharu dan dengan air mata berlinang dia melompat keluar. Sambil menuntun tangan Put Hwie dia berlari menghampiri rombongan penolong itu.

“Cie-toako! Aku berada di sini!” serunya.

Cie Tat girang tak kepalang. Sambil memeluk si bocah, ia berkata, “Saudara Thio, jangan kata di antara anak-anak, sedangkan di antara orang dewasa pun jarang sekali terdapat manusia yang mempunyai jiwa ksatria seluhur seperti kau. Aku sungguh kuatir. Aku kuatir kau sudah menjadi korban dari manusia-manusia itu. Tapi orang baik selalu mendapat balasan baik.“

Dia lalu menanyakan cara bagaimana Kan Ciat dan kawan-kawannya binasa dan Bu Kie segera memberikan keterangan sejelas-jelasnya. Mendengar itu semua orang merasa kagum dan memuji kepintaran si bocah.

“Beberapa di antara saudara-saudara ini adalah sahabatku semenjak kecil,” kata Cie Tat. “Hari ini kami menyembelih seekor kerbau dan mereka sedang memasaknya di kelenteng Hong-kan-sie. Begitu aku meminta pertolongan, mereka segera ikut. Tapi kami datang terlambat dan syukur sekali kau sudah bisa menolong diri sendiri.“ Sehabis berkata begitu dia segara memperkenalkan sahabat-sahabatnya.

Seorang yang mukanya persegi dan kupingnya lebar she Thong bernama Ho, yang paras mukanya angker she Teng bernama Jie, yang bermuka hitam dan bertubuh jangkung she Hoa bernama In, dan orang kulitnya bersih adalah kakak beradik, sang kakak she Gouw bernama Liang, si adik Gouw Tin, dan akhirnya seorang pendeta yang mukanya jelek dan matanya dalam tetapi bersinar sangat tajam.

“Yang ini adalah Cu-toako,” katanya. “Dia bernama Goan Ciang menjadi pendeta di kelenteng Hong-kak-sie.”

“Dia jadi pendeta bebas,” sambung Hoa In seraya tertawa. “Dia tidak membaca kitab suci, pekerjaannya hanyalah minum arak dan makan daging.”

Melihat paras muka Cu Goan Ciang, Put Hwie ketakutan lalu bersembunyi di belakang Bu Kie.

“Adik kecil, jangan takut,” kata si pendeta. “Memang aku makan daging, tapi tidak makan manusia.”

“Hayolah, masakan kita rasanya sudah matang,” ajak Thong Ho.

“Siauw-moay-moay, mari aku gendong kau,” kata Hoa In seraya berjongkok dan menggendong Put Hwie, dia segera berjalan lebih dahulu dengan tindakan lebar. Melihat cara mereka yang polos dan bebas, Bu Kie merasa girang.

Setelah berjalan empat lima li, tibalah mereka di sebuah kelenteng. Begitu masuk di ruang sembahyang, segera tercium bau sedap dari masakan daging kerbau.

“Sudah matang!” seru Gouw Liang.

“Saudara Thio, kau tunggulah di sini,” kata Cie Tat. “Kami akan membawa masakan kemari.”

Bu Kie dan Put Hwie duduk di atas tikar, sedangkan Cu Goan Ciang dan kawan-kawannya masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian kembali membawa piring yang penuh daging berikut sepoci arak putih. Tanpa menunggu waktu mereka segera makan minum dengan gembira di depan patung Posat.

“Cie-toako,” kata Hoa In sambil mengunyah daging, “peraturan agama kita semuanya baik. Hanya sayang ada larangan makan daging dan ini aku tidak begitu setuju.”

Bu Kie terkejut. “Ahh! Kalau begitu mereka adalah orang Beng-kauw,” katanya di dalam hati.

“Tujuan dari agama kita adalah berbuat kebaikan dan membasmi kejahatan,” kata Cie Tat. “Larangan makan daging hanya merupakan larangan yang terakhir. Sekarang ini tidak ada beras dan tidak ada sayur, apakah lebih baik kalau kita mati kelaparan?”

“Cie-toako benar!” kata Teng Jie sambil menepuk lutut. “Hayo makanlah sepuas hatimu, jangan terlalu rewel.”

Selagi enak makan mendadak terdengar langkah kaki dan pintu depan digedor. Thong Ho cepat melompat bangun.

“Celaka! Orangnya Thio Wan-gwe datang mencari kerbau,” bisiknya.

Pintu didorong keras disusul dengan masuknya dua orang yang berbadan keras dan bermuka bengis.

“Aha! Benar saja kerbau Wan-gwe digegares oleh kalian!” Teriak seseorang yang langsung melompat dan mencekal tangan Cu Goan Ciang.

“Pendeta bangsat!” caci yang satunya lagi. “Kami akan menyerahkan kau kepada tiekoan supaya dihajar mampus!”

Cu Goan Ciang tertawa. “Kalian jangan menuduh sembarangan,” katanya. “Mana bisa aku mencuri kerbau? Sebagai seorang pertapa aku tidak boleh makan daging.”

“Apa itu bukan daging kerbau?” bentak seseorang sambil menuding sisa makanan.

Sambil memberi isyarat kepada kawannya dengan lirikan mata, Cu Goan Ciang tertawa pula seraya berkata,

“Siapa bilang ini daging kerbau?“

Selagi si pendeta memberi jawaban, Gouw Liang dan Gouw Tin berjalan ke belakang kedua tukang pukul itu, kemudian dengan sekali membentak mereka melompat mencekal tangan kedua orang itu yang lantas tidak dapat berkutik lagi. Sambil mencabut pisau panjang dari pinggangnya, si pendeta berkata,

“Kalau bicara yang benar, kami makan ini bukan daging kerbau, tapi daging manusia. Sekarang rahasia sudah kalian ketahui. Maka, untuk menutup mulut kalian jalan satu-satunya adalah harus makan dagingmu juga.”

Sesudah berkata begitu dia membuka baju salah seorang lalu menggoreskan pisau ke dadanya. Dua tukang pukul itu ketakutan setengah mati, lalu memohon minta ampun. Si pendeta tersenyum. Dia menjemput dua potong daging kemudian memasukkannya ke mulut mereka.

“Telan!” bentaknya.

Tanpa mengunyah lagi mereka segera menelannya. Sesudah itu Cu Goan Ciang pergi ke dapur dan mengambil segenggam bulu kerbau yang juga lalu dimasukkan ke mulut kedua tukang pukul itu.

“Telan!” bentaknya lagi.

Karena takut mati, sambil ber-jengit mereka terpaksa menuruti perintah. Goan Ciang tertawa ter-bahak.

“Nah, sekarang kalian boleh mengadu pada majikanmu,“ katanya. “Kalian boleh melaporkan bahwa yang makan kerbau adalah kalian sendiri. Huh-huh! Di hadapan pembesar negeri aku akan balas menuduh kau. Aku akan menuntut agar perutmu dibelek. Semua orang akan melihat bahwa kalian bukan saja makan dagingnya, tapi juga menelan bulu kerbau!” Seraya berkata begitu ia menggoreskan pula pisaunya di punggung orang itu yang menggigil karena ketakutan.

Kedua saudara Gouw tertawa berkakakan. Dengan berbareng mereka menendang pantat kedua tukang pukul itu yang lantas terpental keluar dari ruangan sembahyang. Setelah kaki tangan Thio Wan-gwe diusir, mereka lalu melanjutkan makan minum. Sambil mengisi perut, mereka membicarakan kekejamanan hartawan Thio itu yang sering kali berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk kampung. Sekali ini kedua tukang pukul itu membentur tembok dan mereka pasti takkan berani memberi laporan kepada majikannya.

Bu Kie merasa geli dan kagum. “Walau pun mukanya jelek tetapi pendeta she Cu itu lihay sekali,” pikirnya.

Dalam makan minum itu kawan-kawan Cie Tat memperlakukan Bue Kie bukan seperti anak-anak biasa. Sesudah mendengar ksatriaan si bocah yang rela mengorbankan jiwa sendiri untuk menolong sesama manusia, mereka sangat menghormati anak ini yang dianggap sebagai seorang sahabat yang berharga. Sesudah makan kenyang, tiba-tiba Teng Ji menghela napas.

“Hai! Sudah lama sekali bangsa Han ditindas penjajah asing,” katanya.

“Sampai kapan bencana kelaparan ini bisa lewat?”

“Hampir separuh penduduk Hong-yang mati kelaparan,” kata Hoa In. “Kurasa di lain tempat pun keadaan tidak lebih baik. Dari pada mati konyol, lebih baik kita mengadu jiwa dengan Tat-cu (Orang Mongol yang pada waktu itu berkuasa di Tiongkok).”

“Benar!” teriak Cie Tat. “Sungguh kecewa jika sebagai laki-laki sejati tidak bisa menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan.”

“Tidak salah!” sambung Tong Ho. “Kita pun sedang menghadapi kematian. Hari ini kita bisa makan kenyang karena berhasil mencuri kerbau. Apa besok kita bisa mencuri lagi?” Makin bicara mereka semakin sengit dan tambah hebat mencaci penjajah.

“Sudahlah!” kata Cu Goan Ciang. “Di sini kita mencaci Tat-cu, tetapi selembar rambut Tat-cu tidak bergeming. Jika kau benar-benar lelaki tulen, mari kita membunuh Tat-cu!” Dengan serentak Thong Ho dan yang lainnya melompat bangun.

“Bagus! Mari...! Mari...!” teriak mereka.

“Cu-toako,” Cie Tat. ”Kau berusia paling tua dan semua mendengar segala perintahmu.”

Cu Goan Ciang tidak menolak. “Mulai hari ini kita sehidup semati,” katanya. “Ada rejeki kita makan bersama, ada bahaya kita tanggung bersama.“

Mereka mengangkat cawan lalu meneguk kering isinya. Sesudah itu menghunus golok membacok ujung meja sebagai sumpah setia kawan. Pui Hwie yang tidak tahu apa artinya, menjadi ketakutan lalu memeluk Bu Kie.

“Thay-suhu berpesan supaya aku tidak bergaul dengan orang Beng-kauw,” kata Bu Kie di dalam hati. “Tapi perbuatan beberapa orang Beng-kauw seperti Siang Gie Gun Toako, Cie-toako dan kawannya, jauh lebih mulia dari pada sepak terjang Kan Ciat dan Sie Kong Wan yang menjadi anggota dari partai lurus bersih.”

Thio Sam Hong adalah orang yang paling dihormati. Tapi sekarang sesudah mendapat pengalaman pahit getir, di dalam hati kecilnya dia merasa bahwa pandangan orang tua itu tidak tepat seluruhnya.

“Tapi biar bagaimanapun aku tidak dapat melanggar pesan Thay-suhu,” pikirnya.

“Seorang gagah tak akan menjilat ludah sendiri,“ kata Cu Coan Ciang. “Sekarang sesudah makan kenyang kita boleh langsung bertindak. Hari ini Thio Wan-gwe sedang mengadakan pesta di gedungnya untuk menjamu Tat-cu. Mari kita binasakan mereka!”

“Bagus!” teriak kawan-kawannya.

“Tahan dulu!” kata Cie Tat yang cepat mengambil keranjang kecil lalu mengisinya dengan daging kerbau. Kemudian sambil mengangsurkan keranjang itu kepada Bu Kie, ia berkata, “Saudara Thio, kau masih terlalu kecil dan tidak bisa mengikuti kami. Kami tak punya apa-apa dan hanya bisa memberikan daging ini kepada kalian. Kalau masih hidup, di belakang hari kita masih bisa bertemu dan bisa makan minum lagi bersama-sama seperti hari ini.”

Bu Kie menyambut keranjang itu dan berkata dengan terharu. “Aku mengharapkan kalian dapat segera berhasil membinasakan dan mengusir semua Tat-cu supaya rakyat di kolong langit bisa hidup senang.”

Mendengar perkataan itu, Cu Goan Ciang dan kawan-kawannya terkejut. “Saudara Thio, apa yang kau katakan itu benar sekali,” kata pendeta itu. “Sampai bertemu lagi.”

Sehabis berkata begitu, dengan menenteng senjata ia segera meninggalkan Hong-kak-sie bersama kawan-kawannya.

“Kalau tidak membawa anak kecil, aku pun akan turut mereka,” kata Bu Kie di dalam hati.

“Mereka hanya bertujuh, mungkin tak akan bisa melawan kaki tangan Thio Wan-gwe dan Tat-cu yang berjumlah besar. Sesudah itu mungkin sekali orang Thio Wan-gwe akan menyerang ke sini. Kelenteng ini akan berbahaya. Karena berpikir demikian, dengan membawa keranjang daging dan menuntun tangan Put Hwie, dia segera meninggalkan kelenteng Hong-kak-sie.

Setelah jalan lima enam lie, di sebelah utara mereka melihat ada sinar api yang berkobar-kobar. Bu Kie mengerti bahwa kebakaran itu adalah akibat serangan Cu Goan Ciang dan kawan-kawannya, maka dia merasa girang. Penderitaan kedua anak itu sukar dituturkan satu persatu. Untung sekali, mungkin karena kedua orang tuanya adalah ahli silat, Put Hwie mempunyai badan yang kuat sehingga dia bisa bertahan dalam perjalanan yang penuh kesengsaraan itu. Kadang dia ‘masuk angin’, tapi begitu diberi obat, yaitu rumput yang dipetik Bu Kie, dia sudah sembuh kembali.

Dengan berjalan sambil sebentar-sebentar berhenti untuk mengaso, dalam satu hari paling banyak bisa menempuh dua puluh lie. Kira-kira setengah bulan barulah mereka tiba di wilayah propinsi Holam yang keadaannya tidak lebih baik dari propinsi Anhui. Di mana-mana mereka bertemu dengan rakyat yang kelaparan.

Untuk menyambung jiwa, Bu Kie membuat busur dan anak panah guna memanah burung dan binatang kecil. Dengan mengandalkan ilmu silatnya, dia berhasil dalam usahanya itu. Demikianlah, walau pun sengsara mereka masih bisa maju terus dengan sehari kenyang sehari lapar. Syukur di sepanjang jalan mereka tidak pernah bertemu dengan tentara Mongol atau penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi. Bangsat kecil yang mau coba mengganggu dengan mudah dapat dirobohkan oleh Bu Kie.

Pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang kakek dan dalam omong-omong Bu Kie menanyakan di mana letaknya puncak Co-bong-hong di pegunungan Kun-lun San. Kakek itu kelihatan terkejut bukan main. Dengan mata terbelalak dia mengawasi Bu Kie dan beberapa saat kemudian barulah dia berkata,

“Saudara kecil, dari sini ke Kun-lun-san orang harus melewati perjalanan lebih dari sepuluh laksa li. Orang bilang hanya Tong Ceng (Tong-taycie) yang pernah melewati gunung itu. Saudara kecil, jangan kau berpikir yang tidak-tidak. Di mana rumahmu? Lekas pulang!”

Bu Kie terkejut. “Jika begitu jauhnya maka aku terpaksa membatalkan perjalanan ke situ. Paling baik aku pergi ke Bu-tong-san untuk tinggal dengan Thay-suhu,” katanya di dalam hati. Tapi di lain saat dia mendapat pikiran lain. “Setelah menerima baik permintaan orang, biar pun sukar, tidak bisa aku mundur di tengah jalan. Apa lagi waktu hidupku sudah tidak seberapa lama lagi. Jika aku ragu dan keburu mati sehingga aku tidak dapat memenuhi janji, di alam baka aku tidak ada muka untuk menemui Kie-kouwkouw.“ Berpikir demikian, tanpa bicara lagi dengan si kakek, dia segera menarik tangan Put Hwie lalu meneruskan perjalanan.

Setelah berjalan kurang lebih dua puluh hari lagi, pakaian mereka sudah rombeng semua. Karena kurang makan maka muka mereka menjadi makin pucat dan badan makin kurus. Penderitaan Bu Kie bahkan ditambah dengan rewelnya si adik yang sering menangis dan memanggil ibunya. Dengan berbagai akal ia membujuk anak itu yang dicintainya seperti saudara kandung sendiri. Setelah menyeberang sungai Cu-ma-ho, udara semakin dingin karena waktu itu sudah masuk permulaan musim dingin. Dengan hanya mengenakan pakaian tipis, mereka sering menggigil kedinginan terutama di waktu malam. Suatu ketika, karena melihat tubuh Put Hwie gemetar hebat, Bu Kie membuka bajunya lalu memberikannya kepada si adik.

“Bu Kie Koko, apa kau sendiri tidak kedinginan?” tanya Put Hwie.

“Tidak, aku malah kepanasan,“ jawabnya sambil melompat-lompat supaya darah mengalir lebih cepat sehingga badannya menjadi lebih hangat.

“Kau sungguh baik!” kata si adik dengan suara perlahan. “Kau sendiri kedinginan, tapi kau menyerahkan bajumu kepadaku.” Mendengar perkataan itu, ucapan dari seorang dewasa, Bu Kie tercengang. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara bentrokan senjata disertai suara langkah kaki.

“Bangsat!” teriak seorang wanita. “Kau kena paku Seng-bun-teng yang beracun, semakin kau berlari semakin cepat pula racun itu bekerja!”

Buru-buru Bu Kie menarik tangan Put Hwie dan melompat ke dalam rumput ilalang yang tumbuh di pinggir jalan. Hampir berbareng, seorang laki-laki yang berusia tiga puluh tahun lewat bagaikan terbang, sementara seorang wanita yang tangannya mencekal sepasang golok tampak mengejar beberapa tombak di belakangnya. Walau pun larinya cepat namun tindakan lelaki itu limbung dan mendadak dia roboh terjengkang. Wanita itu menghampiri dan berkata sambil tertawa.

“Bangsat! Akhirnya kau jatuh juga di tanganku.”

Di luar dugaan, sekonyong-konyong lelaki itu melompat bangun dan menghantam dengan kedua tangannya.

“Plakk!”

Pukulannya tepat mengenai dada si wanita. Pukulan yang dikirim dengan nekat itu hebat luar biasa sehingga wanita itu terguling, sepasang goloknya terlempar. Dengan napas tersengal-sengal lelaki itu mencabut sebatang paku dari pundaknya.

“Keluarkan obat pemunah!” bentaknya.

“Kau bunuh saja aku!” kata si wanita. “Ku tak punya obat pemunah”

Sambil menempelkan ujung golok di leher wanita itu, lelaki itu lalu menggeledah saku orang dengan tangan kanannya. Benar saja, ia tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Wanita itu tertawa dingin.

“Pada waktu Suhu memerintahkan kami menangkap kau, dia memberi senjata rahasia beracun tapi tidak membekali obat pemunah,” katanya. “Sesudah jatuh ke tanganmu, aku tidak berpikir untuk hidup. Tetapi kau pun jangan harap bisa tertolong.”

Lelaki itu marah bukan main. Dengan geregetan ia menancapkan Seng-bun-teng beracun di pundak orang sambil membentak,

“Kau juga harus turut merasakan nikmatnya paku ini! Kalian, orang-orang Kun-lun-pay...“ Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan roboh di tanah.

Wanita itu mencoba merangkak bangun, tetapi lukanya terlalu hebat dan... “Uahh...!” dia memuntahkan darah.

Demikianlah kedua musuh yang terluka berat itu rebah dengan napas memburu. Sesudah mendapat pengalaman pahit dari manusia seperti Kan Ciat dan kawan-kawannya, Bu Kie sekarang sangat hati-hati. Dia terus menyembunyikan diri dan tidak berani keluar. Sesaat kemudian laki-laki itu menghela napas lantas berkata,

“Hari ini aku Souw Hie Cie binasa di Cu-ma-tiam tanpa tahu apa kesalahannya terhadap Kun-lun-pay. Sungguh celaka! Aku benar-benar mati penasaran. Ciam-kouwnio, bolehkah aku mohon keteranganmu?”

Wanita itu adalah seorang she Ciam bernama Cun. Dia tahu bahwa paku Seng-bun-teng dari gurunya mengandung racun yang sangat hebat sehingga mereka berdua akan binasa. Mengingat itu dia sangat berduka dan berkata dengan suara perlahan,

“Siapa suruh kau mengintip waktu guruku berlatih ilmu pedang. It-pit-kiam sangat dirahasiakan oleh Suhu. Jangankan orang luar, muridnya sendiri bisa dikorek kedua biji matanya kalau berani melihat latihannya tanpa permisi.”

“Ahh!” Souw Hie Cie mengeluarkan suara tertahan, kemudian dia mencaci. “Bangsat! Tua bangka sudah mau mampus!”

“Kurang ajar kau!” Ciam Cun membentak, “Ajalmu sudah hampir tiba dan kau masih berani mencaci guruku?”

“Kalau aku mau mencaci, mau apa kau?!” kata Hie Cie dengan marah. “Apakah aku tidak punya alasan untuk merasa penasaran? Waktu lewat di Pek-gu-san, secara tidak sengaja aku melihat gurumu tengah bersilat dengan menggunakan pedang. Karena merasa tertarik aku berhenti dan menonton. Apakah aku mempunyai kepintaran yang luar biasa sehingga sekali melihat aku sudah bisa memahami Leong-heng It-pit-kiam? Andai kata aku memiliki kecerdasan yang begitu tinggi, kalian semua beberapa murid Kun-lun-pay sudah pasti tak akan mampu mengalahkan aku. Ciam-kouwnio, aku hendak memberi-tahu kau bahwa menurut pendapatku, gurumu, Thie-kim Sian-seng adalah manusia yang pandangannya sempit dan jiwanya kecil. Andai kata... Ciam-kouwnio, andai kata benar aku sudah berhasil mencuri satu dua jurus dari Liong-heng It-pit-kiam, dosaku tidaklah begitu besar sehingga aku mesti menerima hukuman mati.”

Ciam Cun tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Di hati kecilnya, dia pun merasa bahwa sang guru terlalu kecil jiwanya. Begitu mengetahui bahwa pemuda itu mencuri lihat latihannya, dia segera memerintahkan enam muridnya mengejar dan membinasakan ‘pencuri’ itu sehingga sebagai akibatnya mereka berdua kini menghadapi kebinasaan bersama-sama. Cian Cun yakin bahwa pengakuan pemuda itu, yang diberikan ketika hampir menghembuskan napas terakhir, pasti bukan keterangan dusta belaka.

Suaw Hie Cie menghela napas dan berkata lagi. "Dia telah memberikan senjata rahasia beracun kepadamu, tapi tidak membekali obat pemunahnya. Dalam rimba persilatan, mana ada orang begitu gila? Bangsat"

"Souw Toako," Kata Ciam Coen dengan suara halus. "Siaow moay merasa menyesal, bahwa siauw moay telah mencelakakan kau. Bagus juga sebagai hukuman siaw moay akan mengantar kau pulang ke alam baqa. Inilah yang dinamakan nasib. Apakah yang siauw moay merasa lebih menyesal ialah dalam peristiwa ini, siauw moay menyeret toaso dan putra putrimu".

"Istriku sudah menutup mata pada dua tahun berselang dengan meninggalkan dua anak, satu laki dan satu perempuan," Kata Souw Hie Cie. "Besok mereka akan jadi anak yatim piatu"

"Apakah dirumahmu masih ada orang lain yang bisa merawat anak2 itu?" Tanya nona Ciam.

"Mereka dirawat oleh nsoku (nsoku istri kakak lelaki)." Jawabnya. "Nao hebat adanya dan licik sifatnya., Sebegitu lama aku masih hidup, ia masih takuti aku. Hai! Mulai besok kedua anakku itu akan sangat menderita."

Ciam Coen yang berhati lembek lantas saja mengucurkan airmata. "Ini semua adalah karea gara2ku" Katanya dengan suara parau.

"Tapi kau tidak boleh disalahkan," Kata Hie Cie. "Kau telah menerima perintah gurumu dan kau tidak dapat menolak perintah itu. Kaupun tidak mempunyai permusuhan apapun jg denganku. Sebenar-nya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melukakan kau dengan senjata beracun? Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu tidak nolong melihat kedua anakku yang bernasib buruk itu."

Nona Ciam tertawa getir. "Aku adalah penjahat yang membinasakan kau," Katanya. "Bagaimana kau bisa menamakan aku sebagai seorang yang berhati mulia?"

"Aku tidak menyalahkan kau, benar2 akut tidak menyalahkan kau," Kata Hie Cie.

Demikianlah kedua orang yang tadi bertempur mati-matian dan saling berusaha untuk mengambil jiwa pihak lawan, sekarang saling menghibur! Sesudah mendengar pembicaraan itu, Boe Kie merasa bahwa mereka bukan manusia jahat. Dalam hatiny lantas saja timbul rasa kasihan, lebih lagi terhadap Souw Hie Cie yang mempunyai dua anak yang masih mengeluarkan rawatan. Mengingat penderitaannya sendiri sebagai yatim piatu rasa kasihannya jadi lebih besar dan sambil menarik tangan Poet Hie ia segera bertidak keluar dari alang2.

"Cian Kouwhio, racun apa yang digunakan pada senjata rahasia itu?" Tanyanya.

Melihat munculnya kedua anak itu, Hie Cie dan Ciam Coen merasa heran. Dan mendengar pertanyaan Boe Kie, mereka jadi lebih heran lagi.

"Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan dan luka kalian mungkin sekali bukan tidak dapat diobati," Kata pula Boe Kie.

"Akupun tak tahu racun apa yang digunakan," Jawab nona Ciam. "Lukanya tidak sakit, tapi gatal bukan main. Menurut katanya Soehoe, orang yang kena Soeng-boen teng hanya bisa hidup dalam tempo empat jam."

"Bolehkah aku periksa luka kalian?" Tanya Boe Kie.

Tapi manakah mereka percaya bocah itu bisa mengobati luka beracun? Dengan pakaian robek, badan kurus kering dan muka pucat Boe Kie dan Poet Hwie kelihatannya seperti pengemis kecil.

"Sudahlah, kau jangan rewel. Pergilah! Jangan mengganggu kami."

Boe Kie tidak meladeni. Ia menjemput paku Soen-boen teng dari atas tanah dan mengendus bau harum dari serupa bunga anggrek. Dalam hari-hari yang belakangan setiap mempunyai tempo yang luang, Boe Kie selalu membaca dan mempelajari Tok-boet Tay coan peninggalan Ong Lan Kouw. Dalam kitab itu berisi keterangan lengkap mengenai ribuan macam racun itu yang aneh-aneh dan cara mengobatinya. Maka itulah begitu mengendus bau racun itu, ia segera mengetahui bahwa yang melekat pada paku Song-boen teng adalah racun bunga To-lo hijau. Bau bunga itu sebenarnya berbau amis sehingga orang dapat memakannya sebanyak mungkin tanpa bahaya apapun jua. Tapi begitu lekas bercampur darah, peti bunga itu lantas saja berubah menjadi racun yang sangat hebat, sedang baunya yang amis juga berubah menjadi harum.

"Inilah racun bunga To-lo hijau," Kata Boe Kie.

Ciam Coen memang tidak tahu racun apa yang digunakan pada paku itu, tapi ia tahu, bahwa dalam taman bunga gurunya ditanam banyak sekali pohon bunga To-lo hijau.

"Eh, bagaimana kau tahu?" Tanyanya dengan heran.

Bunga To-lo hijau adalah tumbuh-tuimbuhan yang langka dan hanya terdapat di wilayah Barat (See-hek). Di daerah Tionggoan sebegitu jauh belum pernah terdapat pohon bunga tersebut. Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.

"Aku tahu" Katanya sambil menarik tangan Poet Hwie dan berkata pula. "Hayolah, kita pergi."

"Saudara kecil," Kata nona Ciam cepat. "Jika kau bisa mengobati, tolonglah jiwa kami berdua."

Boe Kie memang ingin menolong, tapi mendadak ia ingat perbuatan Kan Ciat dan Sie Kong Wan, sehingga ia mengambil keputusan untuk membatalkan niatnya itu.

"Tuan kecil," Kata Souw Hie Cie. "Mataku tidak berbiji dan aku tidak bisa mengenali seorang pandai. Kuharap kau sudi memaafkan."

"Baiklah!" Kata Boe Kie. "Aku akan mencoba-coba."

Seraya berkata begitu ia menotok jalan darah Tan-tiong-hiat di iga kiri dan kanan untuk meringankan rasa sakitnya Ciam Coen dibagian dada akibat pukulan Souw Hie CIe.

"Bunga To-lo hijau baru menjadi racun kalau bercampur dengan darah," Menerangkan Boe Kie. "Sekarang aku minta kalian saling menghisap luka itu untuk membuang racun yang sudah bercampur dengan darah."

Hie Cie dan Ciam Coen merasa jengah. Tapi untuk menolong jiwa, mereka segera menyampingkan perasaan malu dan lalu melakukan apa yang dikatakan si bocah. Sementara itu, Boe Kie sendiri lalu mencari tiga macam daun obat yang lalu dihancurkan dan diborehi diluka itu.

"Tiga macam rumput ini dapat menahan bekerjanya racun," Ia menerangkan. "Sekarang mari kita pergi ke kota untuk mencari rumah obat. Aku akan menulis surat obat guna menyembuhkan luka kalian."

Souw Hie Cie dan Ciam Coen girang tak kepalang. Begitu diborehi daun obat, luka mereka yang semula gatal bukan main, lantas saja adem rasanya dan kaki tangan mereka pun tidak begitu kaku lagi dan dapat digerakkan. Tak henti-hentinya mereka menghaturkan terima kasih. Mereka segera mematahkan ranting pohon dan dengan menggunakannya sebagai tongkat, mereka berjalan kejurusan barat dengan mengajak Boe Kie dan Poet Hwie. Sambil berjalan Ciam Coen menanya siapa guru Boe Kie, tetapi si bocah sungkan memberitahukan dan mengatakan saja, bahwa sedari kecil ia memang sudah mengerti ilmu pengobatan. Sesudah berjalan satu jam lebih, mereka tiba di kota See-ho-tiam dan sesudah mendapat kamar di rumah penginapan, Boe Kie lalu menulis surat obat dan menyuruh seorang pelayan untuk membelinya.

Tahun itu daerah Holam barat tidak kena bencana kelaparan dan keadaan kota See-ho-tiam masih seperti biasa. Sesudah obat dibeli, Boe Kie lalu memasaknya dan memberikannya kepada Souw Hie Cie dan Ciam Coen. Tiga hari menginap dalam penginapan itu dan setiap hari si bocah menukar obat. Obat makan dan obat pakai. Pada hari keempat semua racun yang mengeram dalam tubuh Hie Cie dan Ciam Coen sudah dapat diusir. Tentu saja mereka merasa sangat berterima kasih. Mereka menanyakan ke mana kedua anak itu mau pergi dan Boe Kie lalu memberitahukann bahwa tujuan mereka adalah puncak Coe-bong heng di pegunungan Koen-loen-san.

"Souw Toako," Kata si nona. "Jiwa kita ditolong oleh saudara kecil ini. Ta[o urusanmu masih belum dapat diselesaikan. Kelima kakak seperguruanku masih terus mencari-cari kau dan kalau bertemu dengan mereka, kau bisa celaka. Apakah kau suka mengikut aku pergi ke Koen-loen-san?" Hie Cie kaget.

"Ke Koen-loen-san?" Ia menegas.

"Benar," Jawabnya.

"Kita berdua menemui guruku dan memberitahukan, bahwa kau tidak mencuri ilmu pedang Liung heng It-pit-kiam, sejuruspun kau tidak mampu. Dalam urusan ini sebegitu lama guruku belum menyudahi, jiwamu selalu masih berada dalam bahaya."

Hie Cie merasa sangat mendongkol. "Koen-loen-pay terlalu menghina orang," Katanya. "Secara kebetulan aku hanya melihat gurumu bersilat untuk sekejap mata, tapi untuk kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahan hampir-hampir jiwaku melayang. Ah! Benar-benar keterlaluan."

"Souw Toako," Kata nona Ciam dengan suara lemah lembut. "Cobalah kau piker kesukaran Siauw Moay dalam hal ini. Kalau kau saja yang memberitahukan Soehoe pasti tak percaya dan Siauw Moay akan mendapat hukuman. SIauw Moay dihukum tak menjadi soal. Tapi jika kelima saudara seperguruanku sampai salah tangan dan mencelakakanmu. Siauw Moay tentu akan merasa tidak enak sekali."

Sesudah menghadapi kematian bersama-sama dan setelah bergaul beberapa hari, dalam hati kedua orang muda itu sudah timbul perasaan yang wajar, yaitu perasaan cinta. Mendengar bujukan si nona yang sangat beralasan, kegusaran Hie Cie lantas saja mereda. Di dalam hati iapun mengakui kebenaran perkataan Ciam Coen. Sebegitu lama persoalan ini belum dapat diselesaikan langsung dengan Thie Khim Sianseng, sebegitu lama jiwanya terancam bahaya. Melihat Hie Cie masih membungkam, nona Ciam berkata pula.

"Begini saja. Sekarang kau ikut aku ke Kun lun san. Sesudah itu, jika kau mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, Siauw Moay akan menemani kau untuk membereskannya. Bagaimana pikiranmu?"

Hie Cie jadi girang. "Baiklah," Katanya. "Tapi apakah gurumu akan percaya keteranganku?"

"Soehoe sangat menyayang aku," Jawab si nona. "Kalau aku memohon, ia pasti takkan mencelakakan kau."

Mendengar perkataan-perkataan nona Ciam, Hie Cie segera mengetahui, bahwa gadis itu sudah jatuh cinta kepadanya. Diam-diam ia bergirang dan merasa sangat beruntung. Ia berpaling kepada Boe Kie seraya berkata.

"Saudara kecil, mari kita ke Koen loen san beramai-ramai. Di jalan kita takkan merasa kesepian."

"Koen loen san ribuan mil panjangnya dengan puncak- puncak yang tak terhitung berapa banyaknya," Kata Ciam Coen. "Aku sendiri tak tahu di mana letak Coe-bong-heng. Tapi kita bisa menyelidiki perlahan-lahan dan aku merasa pasti, kita akan dapat menemukannya."

Pada keesokan harinya, Hie Cie menyewa sebuah kereta untuk Boe Kie dan Poet Hwie sedang ia sendiri bersama nona Ciam mengikuti dengan menunggang kuda. Setibanya di sebuah kota besar, Ciam Coen membeli pakaian baru untuk kedua anak itu. Sesudah menukar pakaian yang pantas, Boe Kie berubah menjadi seorang anak tanggung yang berparas tampan dan angker, Poet Hwie seorang gadis cilik yang ayu dan jelita. Sesudah dapat makan dan ngaso cukup, perlahan-lahan badan mereka menjadi lebih gemuk. Makin hari hawa udara makin dingin. Dengan melindungi Hie Cie dan Ciam Coen, perjalanan berlangsung dengan licin, tanpa menemui halangan apapun jua.

Sesudah tiba di Seek hek Koen-loen yang besar dan angker itu berada di depan mata. Mereka berjalan terus dengan banyak derita, karena harus melalui gurun pasir dalam hawa udara yang sangat dingin. Pada suatu hari, mereka tiba di Sam seng youw (Lembah tiga malaikat) dari Koen loen san. Begitu masuk di dalam lembah, mereka melihat pohon-pohon luar biasa dan mengendus bau harum yang tak kurang anehnya. Souw Hie Cie, Boe Kie dan Poet Hwie merasa kagum bukan main. Mereka tak pernah menduga, bahwa di lembah itu terdapat pemandangan yang sedemikian indah seolah-olah di dalam surga. Di samping itu, hawanyapun tak begitu dingin, karena gunung-gunung yang mengitarinya menahan masuknya hawa dingin.

Dahulu, pendiri Koe-loen pay yaitu Ciok Too yang bergelar Koen-loen Sam-seng telah menggunakan tempo bertahun-tahun untuk memperindah lembah itu yang belakangan dikenal sebagai Sam-seng youw. Ia memerintahkan murid-muridnya pergi ke berbagai tempat di sebelah barat sampai di India untuk mencari pohon- pohon dan pohon-pohon bunga yang aneh-aneh untuk ditanam di lembah tersebut. Sesudah melewati lembah tersebut Ciam Coen lalu mengajak mereka ke Thia khimkie tempat tinggalnya Thiem khim Sianseng Ho Thay Ciong. Begitu masuk, ia bertemu dengan beberapa saudara seperguruan yang paras mukanya mengunjuk rasa bingung dan ketakutan. Mereka mengunjuk dan tak mengeluarkan sepatah kata Ciam Coen kaget.

"Ada apa?" Tanyanya dalam hati.

Sambil menarik tangannya seorang adik seperguruan ia bertanya. "Apa Soehoe ada?" Sebelum Soemoay itu menjawab, ia sudah mendengar cacian gurunya yang memaki sambil menepuk-nepuk meja.

"Semua tong nasi," Teriaknya. "Belum pernah ada pekerjaan yang diurus beres oleh kamu?"

"Soehoe lagi keluar adatnya," Bisik nona Ciam kepada Souw Hie Cie.

"Kita jangan nubruk paku. Besok saja kita menjumpai beliau". Tapi sebelum mereka keburu mengundurkan diri, tiba- tiba Ho Thay Ciong berseru.

"Apa Coen-jie? Mengapa kau tidak lantas menghadap kepadaku? Ada apa kau kasak kusuk? Apa kau sudah mengambil kepalanya bangsat Souw itu?"

Paras muka Ciam Coen lantas saja berubah pucat. Buru- buru ia masuk dan berlutut di hadapan gurunya.

"Coen Jie, apakah kau sudah menunaikan tugasmu?" Tanya sang guru.

"Orang she Souw itu sekarang berada di luar," Jawabnya dengan suara gemetar. "Dia sengaja datang kemari untuk meminta ampun. Dia mengatakan bahwa dia seorang tolol dan secara tidak sengaja dia sudah menonton waktu Soehoe berlatih. Tapi dia kata, kiamhoat kita sangat tinggi, sehingga meskipun sudah melihatnya, dia tidak mendapat keuntungan jua dan setengah juruspun tak dapat menirunya."

Sebagai seorang murid yang sudah lama berguru, Ciam Coen mengenal adat sang Soehoe yang merasa sangat bangga karena kepandaiannya sendiri. Oleh karena begitu, ia sengaja mengemukakan rasa kagum Souw Hie Cie terhadap kiamhoat Koen-loen-pay. Si nona mengharap supaya dalam girangnya dan sang guru akan mengampuni pemuda ini. Dalam keadaan biasa, mungkin sekali Hou Thay Ciong akan menerima "topi tinggi" Itu dengan segala senang hati. Tapi hari itu ia sedang murung tak dapat digembirakan dengan pujian belaka. Sambil mengeluarkan suara dihidung, ia berkata.

"Bagus! Kau telah bekerja baik sekali. Penjarakan orang she Souw itu dalam kamar batu di gunung belakang. Aku akan menjatuhkan hukuman belakangan." Melihat gurunya sedang marah-marah, nona Ciam tidak berani banyak bicara.

"Baiklah," Katanya sesudah berdiam sejenak, ia bertanya. "Apa para Soebo baik? Aku ingin pergi ke belakang untuk memberi hormat." (Soebo-istrinya guru) Ciam Coen sudah menggunakan istilah "para Soebo" Karena Ho Thay Ciang mempunyai tak kurang dari lima istri-gundik dan yang paling disayang olehnya adalah gundik yang kelima.

Untuk menolong jiwa Souw Hie Cie, si nona berniat pergi menemui Soebo kelima itu untuk meminta pertolongan. Di luar dugaan, begitu mendengar pertanyaan muridnya, paras Ho Thay Ciong lantas saja berubah sedih dan sesudah menghela napas panjang ia berkata.

"Memang ada baiknya jika kau pergi menemui Ngo-kouw. Dia sakit berat. Untung kau pulang siang-siang sehingga masih keburu bertemu muka dengannya."

Nona Ciam terkejut. "Ngo-kouw sakit? Sakit apa?" Tanyanya.

Sekali lagi sang guru menghela napas. "Sungguh bagus kalau kutahu sakit apa," Katanya. "Sudah tujuh tabib yang terkenal pandai di undang olehku, tapi tak satupun yang tahu dia sakit apa. Sekujur badannya bengkak hai!...." Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi dengan suara mendongkol. "Aku mempunyai begitu banyak murid, tapi tak satupun yang berguna. Aku memerintah mereka pergi ke gunung Tiang-pekpsan untuk mencari Loo-san Jie-som, tetapi sesudah pergi dua bulan, seorangpun belum pulang. Aku menyuruh mereka pergi mencari Soat-lian. Sie ouw dan lain-lain obat penolong jiwa semua kembali dengan tangan kosong."

Ciam Coen mengerti bahwa sang guru mengeluarkan kata-kata itu hanya untuk melampiaskan kedongkolannya. Untuk pergi ke Tiang pek san, orang harus melalui perjalanan berlaksa li. Mana bisa mereka pulang cepat-cepat? Andaikata mereka sudah tiba di gunung itu, belum tentu mereka berhasil mencari Loo san Jie som. Mengenai Soat-lian, Sie-ouw dan lain-lain obat mujijat, sekalipun dicari selama seratus tahun, belum tentu orang bisa berhasil. Memikir begitu, ia rasa bingung dan berkuatir akan keselamatan Souw Hie Cie, Ho Thay Ciong menyayangi gundiknya yang kelima seperti menyayangi jiwa sendiri. Kalau nyonya itu tidak dapat disembuhkan, dia tentu akan menumplek kedongkolannya di atas kepala orang lain. Tapi si nona tidak berani mengeluarkan sepatah kata. Untuk sekian kalinya, Ho Thay Ciong menghela napas.

"Dengan menggunakan Lweekang aku telah memeriksa pembuluh darahnya, tapi sedikitpun aku tidak menemui sesuatu yang luar biasa katanya. "Huh, huh! Kalau jiwa Ngo kouw tidak tertolong, aku akan memampuskan semua tabib goblok dalam dunia ini!"

"Coba kutengok padanya," Kata Ciam Coen.

"Baiklah mari sama-sama," Jawab sang guru.

Mereka lalu pergi ke kamar nyonya muda itu. Begitu masuk, si nona mengendus bau obat-obatan yang sangat keras. Ia menyingkap kelambu dan melihat Soebo rebah di ranjang dengan muka seperti Tie Pat Kay (Siluman babi), matanya kecil dalam seolah tidak bisa dibuka lagi. Napasnya tersengal-sengal bagaikan alat penutup api. Ngo kouw adalah seorang wanita yang sangat cantik. Kalau tak cantik manakah Ho Thay Ciong menyayanginya? Tapi sekarang mukanya seperti mukanya memedi yang menakuti. Melihat begitu Ciam Coen juga menghela napas.

"Panggil tabib-tabib goblok itu!" Bentak Ho Thay Ciong.

Seorang nenek yang menjadi pelayan dalam kamar si sakit, lantas saja keluar dan beberapa saat kemudian, ia kembali bersama tujuh orang tabib yang masuk dengan diiringi suara berkerincingnya rantai besi. Ternyata, mereka diikuti satu sama lain dengan rantai besi dan dilihat dari muka mereka yang pucat pasi, mereka pasti sudah banyak menderita. Mereka adalah tabib-tabib ternama di propinsi Soe-coan, In lam dan Kam siok, yang telah diundang, dengan baik atau dengan paksa, oleh murid-muridnya Ho Thay Ciong. Tapi tak satupun dapat menyembuhkan, gundik yang disayang itu. Bukan saja tak dapat menyembuhkan, bahkan pendapat mereka mengenai sebab musabab penyakit itu pun berbeda. Ho Thay Ciong telah mengancam bahwa jika Ngo kouw mati, ketujuh "tabib- tabib goblok" Itu akan dikubur hidup-hidup.

Mereka sudah memeras otak dan memberi macam-macam obat, tapi penyakit Ngo kouw tidak jadi mendingan. Setiap kali memeriksa penyakit nyonya itu, mereka tidak habis-habisnya dan saling menyalahkan. Yang satu menuduh yang lain sebagai manusia goblok. Kali ini tidak berbeda. Sesudah memeriksa nyonya itu, mereka segera tarik urat. Ho Thay Ciong jadi gusar dan ia mencaci sambil berteriak-teriak. Mendadak, serupa ingatan berkelabat dalam otak Ciam Coen.

"Soehoe," Katanya. "Dari Holam teecoe membawa seorang tabib, yang biarpun usianya masih muda, kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada tabib-tabib itu."

Sang guru girang. "Mengapa kau tidak memberitahukan terlebih siang," Katanya tergesa-gesa. "Lekas-lekas undang padanya."

Nona Ciam segera keluar dari kamar dan tak lama kemudian, ia kembali bersama Boe Kie. Begitu melihat wajah Ho Thay Ciong, Boe Kie segera ingat bahwa orang tua itu adalah salah seorang yang sudah turut merekan, sehingga kedua orang tuanya membunuh diri. Mengingat peristiwa hebat itu, darahnya lantas saja naik. Tapi Thie Kim Sianseng sendiri tentu saja tidak mengenalinya. Sesudah berselang beberapa tahun, muka si bocah sudah banyak berubah. Dengan perasaan ia mengawasi Boe Kie yang baru berusia kira-kira lima belas tahun. Rasa sangat itu bercampur juga dengan rasa mndongkol karena si bocah bukan saja tidak menjalankan peradatan dengan berlutut, bahkan sikapnya tawar dan agung-agungan. Tapi ia tidak menghiraukan semua itu.

"Apa dia tabib yang dipujikan olehmu?" Tanyanya sambil mengawasi muridnya.

"Benar," Jawab si nona. "Saudara kecil in mempunyai kepandaian yang sangat tinggi." Ho Thay Ciong mengeluarkan suara di hidung. Ia tak percaya. "Waktu teecoe kena racun bunga To-lo hijau saudara kecil inilah yang mengobati teecoe," Menerangkan Ciam Coen.

Sekali ini sang guru terkesiap. Racun bunga To lo hijau adalah racun yang sangat lihai menurut anggapannya, tanpa obat pemunah yang diberikan olehnya sendiri, siapa yang kena pasti akan mati. Kalu benar bocah itu bisa memunahkan racun tersebut ia benar-benar lihay. Maka dari itu, sambil menatap wajah Boe Kie, ia bertanya dengan suara manis.

"Anak muda, benarkah kau bisa mengobati penyakit?"

Mengingat nasib kedua orang tuanya, Boe Kie membenci si tua itu. Tapi pada hakekatnya ia memiliki sifat-sifat mulia dan ia seorang yang mudah melupakan segala sakit hati. Kalau tidak memiliki sifat yang baik itu, mana mau ia mengobati orang-orang seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan? Ia merasa, bahwa Koen loen pay mempunyai andil sebagai partai yang turut menjadi gara-gara dari kebinasaan orang tuanya. Tapi ia adalah seorang yang tidak bisa menonton kebinasaan tanpa mengulurkan tangan. Maka itulah, ia sudah menolong Ciam Coen, seorang murid Koen loen pay, dan Souw Hie Cie. Sekarang mendengar pertanyaan si tua, meskipun hatinya gusar, ia manggutkan kepalanya. Begitu masuk, ia mengendus bau luar biasa. Sesaat kemudian, ia merasa bau itu berubah-ubah sebentar keras, sebentar hilang. Ia mendekati mengawasi muka si sakit dan memegang nadinya. Mendadak ia mengeluarkan sebatang jarum emas yang lain ditusukkan di muka Ngo kouw yang bengkak seperti labu. Ho Thay Ciong terkejut.

"Bikin apa kau?" Bentaknya serta mengangsurkan tangan untuk menjambret Boe Kie, tapi bocah itu sudah mencabut jarumnya.

Ternyata bekas tusukan jarum sama sekali tidak mengeluarkan darah atau cair. Boe Kie lalu mencium-cium jarum itu dan manggut-manggutkan kepalanya. Sehingga dalam hati Thie Kim Sianseng timbul harapan baru.

"Saudara kecil," Katanya. Apakah ada harapan?" Bahwa sebagai seorang pemimpin sebuah partai persilatan, ia sudah menggunakan istilah "saudara kecil" Merupakan bukti, bahwa ia berlaku hormat terhadap si bocah.

Tapi Boe Kie tidak menyahut. Sekonyong-konyong ia merangkak ke kolong ranjang dan sesudah memeriksa kolong ranjang itu beberapa saat, barulah ia keluar lagi. Kemudian ia membuka jendela dan mengawasi pohon-pohon bunga yang ditanam di dalam taman. Mendadak ia melompat dan keluar dari jendela lalu berdiri tegak sambil memandang pohon-pohon di sekitarnya, seolah-olah ia sedang menikmati bunga-bunga yang beraneka warna dan harum baunya. Ho Thay Ciong mendongkol. Karena sangat mencintai gundiknya itu, maka ia sudah memerintahkan muridnya untuk menanam pohon-pohon bunga yang luar biasa dan mahal harganya di luar jendela kamar Ngo kouw. Sekarang, ia sedang mengharap-harap pertolongan selekas mungkin, sebaliknya dari menolong, si tabib cilik membuang-buang waktu dengan mengawasi pohon-pohon bunga itu. Bagaimana ia tak jadi mengeluh? Sesudah berdiri beberapa lama, Boe Kie kembali manggut-manggutkan kepalanya, ia balik ke kamar.

"Penyakit itu masih dapat diobati, tapi aku tak sudi mengobatinya," Katanya dengan suara kaku. "Ciam Kouwnio, aku mau pergi".

"Saudara Thio, kumohon pertolonganmu," Kata nona Ciam. "Kalau kau bisa menolong Ngo kouw, segenap anggota Koen loen pay, dari atas sampai di bawah, akan merasa sangat berterima kasih. Saudara Thio, tolonglah".

Boe Kie menggelengkan kepalanya sambil menuding Ho Thay Ciong, ia berkata. "Dia, Thie Kim Sianseng, turut mengambil pada bagian waktu sejumlah manusia kejam memaksa kedua orang tuaku membunuh diri. Perlu apa aku menolong jiwa gundiknya?"

Ho Thay Ciong terkesiap. "Saudara kecil, kau she apa?" Tanyanya. "Siapa ayah dan ibumu?"

"Aku she Thio," Jawabnya dengan suara tawar. "Mendiang ayahku adalah murid kelima dari Boe tong pay".

Si tua jadi lebih kaget lagi. Baru sekarang ia tahu, bahwa anak tanggung itu puteranya Thio Coei San. Buru-buru ia mencoba dan berkata.

"Saudara Thio, pada waktu ayahmu masih hidup, aku bersahabat baik dengannya. Bahwa ia telah membunuh diri sudah sangat mendukakan hatiku"

"Setelah kedua orang tuamu meninggal dunia, beberapa kali Soehoe menangis". Ciam Coen menambah dusta gurunya. “Beliau sering mengatakan bahwa mendiang ayahmu adalah sahabatnya yang paling akrab".

Boe Kie bersangsi, ia setengah percaya, setengah tidak. Tapi, sebagaimana telah dikatakan, ia adalah seorang yang mudah melupakan sakit hati lama. Maka itu, lantas saja berkata.

"Hoe jin (nyonya) bukan mendapat penyakit aneh. Ia kena racun dari Kim gin Hiat".

"Ular Kim gin Hiat?" Tegas guru dan murid itu hampir berbarengan. Mereka kaget dan heran, karena nama ular itu belum pernah didengar mereka.

"Benar," Jawabnya. "Akupun belum pernah melihat ular itu. Aku menarik kesimpulan itu karena muka Hoejin, lihatlah apa di situ terdapat luka gigitan yang sangat kecil".

Ho Thay Ciong buru-buru menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ngo kouw dan menarik jari kakinya. Benar saja di setiap ujung jari kaki terdapat luka besar yang berwarna hitam. Karena terlalu kecil, jika tidak diperhatikan, luka itu tidak kelihatan. Melihat begitu, si tua tidak menyangsikan lagi kepandaian Boe Kie.

"Benar, benar," Katanya. "Setiap ujung jari kakinya benar terluka. Saudara kecil kau sungguh pandai. Sesudah mengetahui sebab musabab penyakit itu, saudara kecil pasti dapat menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh aku akan memberi hadiah yang besar". Ia berpaling kepada tujuh tabib tolol itu dan membentak. "Kamu semua manusia tolol! Tabib goblok!"

"Penyakit Hoejin memang luar biasa dan kita tak dapat menyalahkan mereka," Kata Boe Kie. "Ho Sianseng biarkanlah mereka pulang saja!"

"Baik, baik," Kata si tua. "Sesudah saudara kecil berada di sini, memang perlu apa tabib-tabib goblok itu berdiam lebih lama lagi? Coen jin, berikan seratus tail perak kepada setiap orang dan suruh mereka pergi segera".

Ketujuh tabib itu girang bukan main dan sesudah menerima hadiah, cepat-cepat mereka berlalu.

"Coba suruh beberapa bujang menggeser ranjang Hoe jin," Kata Boe Kie. "Di bawah kaki ranjang terdapat dua lubang kecil dan lubang itu adalah tempat keluar masuknya ular Kim gin Hiat".

Tanpa meminta bantuan lagi, Ho Thay Ciong segera mencekal kaki ranjang yang lalu digesernya. Sesuai seperti yang dikatakan Boe Kie, di bawahnya terdapat lubang kecil. Si tua girang bercampur gusar.

"Lekas ambil belirang dan api!" Teriaknya. "Begitu dia keluar aku akan cincang!"

Boe Kie menggoyangkan tangannya. "Tak boleh, tak boleh begitu," Katanya. "Racun yang mengeram di dalam badan Hoejin harus dipunahkan oleh ular itu juga. Kalau kau bunuh Hoejin tak dapat disembuhkan lagi!"

"Oh begitu?" Kata si tua dengan rasa heran. "Mengapa begitu?"

"Ho Sianseng," Terang si bocah sambil menunjuk taman bunga yang berada di luar jendela. "Penyakit Hoejin karena gara-gara delapan pot bunga anggrek Leng cie lan itu".

"Leng cie lan?" Tegas Ho Thay Ciong. Baru sekarang ia tahu, anggrek itu Leng cie lan namanya. "Karna tahu aku suka menanam bunga, seorang sahabat yang datang dari wilayah Barat, See hek, dan yang membawa delapan pot bunga itu, sudah menghadiahkannya kepada aku. Bunga itu sangat indah dan harum. Hm!... Aku tak tahu dia bibit penyakit".

"Menurut katanya kitab ilmu ketabiban, Leng cie lan berubi, yang bentuknya bundar seperti bola, warnanya merah api dan di dalam ubi itu terdapat racun yang sangat hebat," Boe Kie melanjutkan keterangannya. "Cobalah gali".

Ketika itu, semua Koen loen pay sudah tahu bahwa Boe Kie sedang coba mengobati penyakit Ngo kouw yang luar biasa. Murid-murid lelaki tidak berani masuk, tapi keenam murid perempuan sudah berada dalam kamar itu. Begitu mendengar keterangan Boe Kie dua antaranya lantas saja mengambil cangkul dan menggali sebuah pot. Benar saja ubi pohon anggrek itu bundar dan warnanya merah. Karena tahu beracun, mereka tidak berani menyentuhnya.

"Sekarang aku minta kalian menggali semua pohon anggrek itu dan taruh ubinya dalam sebuah mangkok kayu," Kata si bocah pula. "Tambahkan delapan biji telur ayam dan semangkok darah ayam. Pukul campuran itu sampai menjadi hancur. Tapi yang mengerjakannya harus berhati-hati, harus menjaga sampai campuran itu tidak mengenai kulit."

Ciam Coen bersama dua orang saudara seperguruannya lantas saja bertindak keluar untuk melakukan apa yang diminta. Sesudah itu, Boe Kie minta juga dua buah bumbung bambu dan sebatang tongkat bambu.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia