Sabtu, 10 Oktober 2026

To Liong To 08

KEMBALI KE TIONG-GOAN

“Sesudah mencari di banyak tempat, akhirnya aku mendengar di mana adanya golok mustika itu,” kata pula Cia Sun. “Buru-buru aku pergi ke pulau Ong-poan-san untuk merebutnya. Kejadian selanjutnya sudah kalian ketahui. Sebelum mendapat golok itu, aku berusaha mati-matian mencari Seng Kun. Tapi sesudah memiliki, aku berbalik takut dicari olehnya. Maka aku memerlukan tempat yang jauh dan tak dikenal manusia untuk coba memecahkan rahasia yang tersembunyi dalam golok itu. Karena kuatir kalian membocorkan rahasiaku maka aku membawa kalian datang ke sini. Tak dinyana kita sudah berdiam di sini tidak kurang dari sepuluh tahun. Cia Sun... ahh... Cia Sun! Setiap usahamu selalu menemui kegagalan!”

“Tadi menurut Toako perkataan terakhir Kong-kian Taysu belum selesai diucapkan,” kata Cui San. “Ia mengatakan: ‘Kecuali bisa mencari To-liong-to punya pit...’ Mungkin sekali ia mempunyai maksud lain.”

Cia Sun menghela napas. “Selama sepuluh tahun siang malam aku mengasah otak,” katanya. “Tapi tetap gagal. Tidak mungkin salah lagi, dalam golok itu bersembunyi rahasia besar. Hanya otakku tidak cukup tajam untuk menembus kabut yang menyelimutinya. Bu Kie, kau jauh lebih pintar dariku. Di kemudian hari mungkin kau akan berhasil di mana aku mengalami kegagalan.“

“Gie-hu, berapa usia Seng Kun sekarang?” tanya si anak.

Paras muka Cia Sun berubah. “Kau benar sekali, nak,” katanya. “Sekarang dia telah berumur enam puluh lima tahun. Sakit hatiku kemungkinan besar tidak bisa terbalas. Hai! Langit! Langit! Kau telah membuat aku sangat menderita!”

Cui San dan So So mengerti apa yang dipikir oleh kakaknya. Andai di belakang hari Bu Kie berhasil memecahkan rahasia To-liong-to, andai ia memperoleh ilmu yang dapat merobohkan Seng Kun, andai ia bisa pulang ke Tiong-goan dan mencari Seng Kun, hal itu tentu bakal terjadi dalam dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Pada waktu itu, sembilan dari sepuluh harapan, Seng Kun sudah berpulang ke alam baka. Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, fajar mulai menyingsing.

“Bu Kie,” kata Cia Sun. “Kau jangan tidur lagi. Gie-hu akan mengajarkan semacam ilmu silat.“

Cui San dan So So saling melirik, akan tetapi mereka tak berani membantah. Mereka lalu kembali ke goa. Cia Sun tak pernah menyebut-nyebut lagi urusan itu, hanya caranya mendidik Bu Kie jadi berubah. Sekarang dia menurunkan pelajaran dengan lebih bengis dan keras. Bu Kie baru saja berusia sembilan tahun dan biar pun otaknya sangat cerdas, bagaimana dia dapat menyelami pelajaran Cia Sun yang begitu tinggi dalam tempo demikian pendek? Tetapi sang ayah angkat tidak menghiraukan pertimbangan itu. Setiap kali bocah itu tidak memenuhi pengharapannya, dia bukan saja mencaci tapi juga memukulnya. Sering kali So So melihat tanda-tanda biru bekas pukulan di tubuh puteranya. Dia merasa kasihan dan kadang-kadang berkata:

“Toako, tak mungkin Bu Kie dapat mempelajari semua ilmu silatmu dalam waktu pendek. Kita berdiam di pulau yang terpencil dan kita memiliki banyak sekali waktu. Kurasa Toako tak usah tergesa-gesa.“

“Aku bukan menyuruh dia melatih diri dalam pelajaran-pelajaran yang diturunkan olehku,” jawab sang kakak. “Aku hanya memerintahkan agar dia mengingat dan menghafal semua pelajaran dalam otaknya.“

So So tak mengerti maksud Cia Sun. Dia hanya tahu bahwa kakaknya orang aneh dengan cara-cara yang aneh pula. Dia tidak dapat berbuat lain dari pada membiarkan sang kakak bertindak semaunya. Apa yang mampu dilakukannya hanyalah membujuk Bu Kie jika dia mendapat hajaran keras. Tapi anak itu sedikit pun tidak menjadi jengkel.

“Ibu, maksud Gie-hu sangat baik,” katanya. “Makin keras ia memukul, semakin cepat pula aku menghafal.“

Demikianlah setengah tahun pertama telah lewat. Pada suatu pagi, tiba-tiba Cia Sun berkata,

“Ngote, So-moay, empat bulan lagi angin dan arus laut akan membelok ke selatan. Mulai hari ini kita membuat getek.“

Cui San kaget campur girang. “Toako, apakah kau maksudkan bahwa setelah membuat getek maka kita akan bisa kembali ke Tiong-goan?” tanyanya.

“Itu tergantung kepada kebijaksanaan Langit,” jawabnya dengan suara tawar. “‘manusia berusaha, Langit berkuasa’. Kalau rejeki baik bisa pulang ke tempat sendiri, kalau nasib malang akan tenggelam di dasar laut.“

Jika mereka menuruti keinginan So So, mereka tidak usah menempuh bahaya besar itu. Mereka hidup bahagia dan bebas merdeka, dan So So sudah merasa sangat puas. Akan tetapi di samping itu masih ada pertimbangan lain yang sangat berat. Mereka memikirkan nasib Bu Kie. Dengan siapa anak itu akan menikah? Apakah tidak kasihan jika dia harus hidup selamanya di pulau yang terpencil? Demi kepentingan Bu Kie, kalau masih ada jalan, biar bagaimanapun mereka harus berusaha untuk kembali ke dunia ramai. Demikianlah, dengan bersemangat mereka mulai bekerja. Untung di pulau itu terdapat banyak pohon besar sehingga soal bahan tidak menjadi soal lagi. Cia Sun dan Cui San menebang pohon, So So membuat layar dan tali tambang dari serat kulit kayu, sedang Bu Kie dan si kera putih pun turut membantu atau mengacau.

Biar pun Cia Sun dan kedua suami isteri itu orang-orang yang berkepandaian tinggi, tetapi karena kekurangan alat maka pekerjaan mereka lambat sekali dan mereka harus mempergunakan lebih banyak tenaga. Pada waktu menebang pohon atau mengikat balok-balok, Cia Sun selalu memerintahkan Bu Kie berdiri di sampingnya dan ia mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pelajarannya. Cui San dan So So tidak lagi diharuskan menyingkir dan mereka dapat mendengar tanya jawab antara ayah dan anak angkat itu. Mereka merasa sangat heran karena tanya jawab itu hanya mengenai Kouw-koat (teori) dari berbagai ilmu silat.

Ternyata Cia Sun hanya menyuruh anak itu menghapal teori ilmu silat tangan kosong, ilmu golok, ilmu pedang dan sebagainya, tanpa memberi pelajaran cara menggunakan teori itu. Dengan kata lain Bu Kie hanya menghapalkan teori secara membeo, seperti anak sekolah jaman dulu menghapal kitab Su-sie dan Ngo-keng tanpa mengerti maksudnya. So So yang mendengarkan sambil bekerja, merasa kasihan kepada puteranya. Jangankan seorang bocah cilik seperti Bu Kie, seorang dewasa pun tidak akan bisa ingat Kouw-koat yang sulit itu tanpa mempelajari pukulan-pukulannya.

Sebagai guru, Cia Sun bengis bukan main. Salah satu perkataan saja, Bu Kie dicaci atau digaplok. Biar pun dia menampar tanpa mengerahkan Iweekang, tetapi karena kerasnya, muka Bu Kie sering menjadi bengkak. Sesudah lebih dari dua bulan barulah getek itu selesai. Untuk memasang tiang layar mereka masih harus bekerja kira-kira setengah bulan lagi. Sesudah itu mereka memburu binatang, mengasini daging dan menjahit kantong-kantong kulit untuk dijadikan tempat air. Mereka harus mempersiapkan dengan se-baik-baiknya karena tak dapat diramalkan berapa lama harus berlayar di tengah samudara yang luas.

Waktu segala persiapan beres, siang hari sudah pendek dan malam sangat panjang, tapi arah angin masih belum berubah. Sambil menunggu perubahan angin, mereka membuat sebuah gubuk di pinggir laut untuk menempatkan getek itu. Sekarang Cia Sun tidak pernah berpisah lagi dengan Bu Kie dan di waktu malam tidur bersama-sama. Dengan bengis dan tanpa mengenal lelah ia terus mengisi pelajaran-pelajaran terakhir ke otak anak angkatnya. Pada suatu malam, waktu terbangun tiba-tiba Cui San mendengar suara angin yang agak aneh. Ia melompat bangun dan ternyata angin rnulai meniup dari sebelah utara. Buru-buru dia menggoyang-goyangkan tubuh isterinya seraya berkata dengan suara girang,

“So So, kau dengarlah!”

Sebelum isterinya tersadar di luar sudah terdengar teriakan Cia Sun, “Angin utara datang!” Di tengah malam buta teriakan seperti tangisan itu terdengar menyeramkan sekali.

Esok paginya Cui San dan So So ber-kemas dengan girang bercampur haru. Girang karena ada harapan besar kembali ke Tiong-goan dan terharu sebab mereka harus segera berpisah dengan pulau yang sangat indah itu di mana mereka berdiam kira-kira sepuluh tahun lamanya. Kira-kira tengah hari barulah semua bekal selesai dipindahkan ke atas getek. Sesudah itu mereka bertiga mendorong getek tersebut ke atas air. Orang yang paling dulu melompat adalah Bu Kie yang mendukung si kera putih, diikuti sang ibu. “Toako, mari kita melompat sama-sama,” kata Cui San sambil mencekal tangan sang kakak.

“Ngote,” tiba-tiba Cui San berkata dengan suara parau. “Mulai saat ini kita berpisah untuk selama-lamanya! Aku harap kau bisa menjaga diri.“

Kagetnya Cui San bagaikan disambar halilintar di tengah hari bolong. Dia menatap wajah kakaknya dengan mata terbelalak dan berkata dengan suara terputus-putus:

“Toako... kau... kau...“

“Ngote, kau berhati mulia, pasti akan hidup beruntung,“ kata Cia Sun. “Tetapi nasib manusia sukar ditebak dan kemauan Langit sukar diketahui. Karena itu kau harus ber-hati-hati dalam tindakanmu. Bu Kie sudah mendapat semua kepandaianku. Dia berotak sangat cerdas dan di hari kemudian dia pasti bisa berada di atas kita berdua. Mengenai So-moay, meski dia seorang wanita tapi dia gagah dan pintar sehingga dia pasti tak akan dihina orang. Ngote, orang yang aku kuatirkan adalah kau sendiri.“

“Toako, jangan kau ngaco!” kata Cui San dengan bingung. “Apakah kau... kau... tidak mau ikut kami?”

Sang kakak tersenyum sedih. “beberapa tahun yang lalu aku telah mengatakan begitu kepadamu,” katanya. “Apa kau lupa?”

Cui San terkejut. Memang benar Cia Sun pernah mengatakannya, akan tetapi karena soal itu tidak disebut-sebut lagi maka Cui San dan So So tidak mengangapnya sungguh-sungguh. Selama membuat getek dan mempersiapkan bekal, sang kakak juga tak pernah mengutarakan niatannya itu. Tak dinyana saat mau berangkat baru memberi-tahukan keputusannya.

“Toako, mana boleh kau berdiam di pulau ini,” kata pula Cui San dengan suara memohon, “Ayolah!” Seraya berkata begitu dia membetot tangan kakaknya, tapi kedua kaki Cia Sun seolah berakar di dalam tanah.

“So-moay! Bu Kie ke mari! Toako tidak mau ikut,” teriak Cui San.

So So dan Bu Kie tentu saja kaget dan buru-buru mereka melompat. “Gie-hu, mengapa kau tidak mau turut?” tanya si bocah, “Jika kau tidak turut, aku pun tak mau ikut.“

Tak usah dikatakan lagi, Cia Sun pun berat sekali untuk berpisah dengan mereka. Dia mengerti bahwa perpisahan itu adalah untuk se-lamanya. Tapi setelah merenungkan masak-masak dalam waktu lama, dia mengambil keputusan untuk tidak kembali ke Tiong-goan. Mengapa? Karena jika dia ikut keluar maka Cui San akan menghadapi bencana yang tidak habis-habisnya. Walau pun dia mempunyai riwayat yang berlumuran darah dan dia pernah melakukan perbuatan-perbuatan kejam, tetapi sejak mengangkat saudara dengan Cui San dan So So, dia mencintai ketiga orang itu seperti mencintai diri sendiri. Dan kecintaannya terhadap Bu Kie tidak kurang dari pada kecintaaannya kepada anak kandung sendiri.

Ia mengerti bahwa di atas pundaknya tertumpuk beban hutang darah. Baik di kalangan Kangouw mau pun dalam kalangan Liok-lim (Rimba hijau kalangan perampok), entah berapa banyak jumlah musuhnya yang ingin membalas sakit hati. Apa lagi sesudah memiliki To-liong-to, bakal semakin banyak orang yang menghendaki jiwa dan goloknya. Dulu sedikit pun dia tidak merasa gentar. Tapi sekarang sesudah kedua matanya buta, dia merasa tidak sanggup untuk melayani begitu banyak musuh. Kalau dia dikeroyok, sebagai orang gagah sejati Cui San dan So So pasti tak akan berdiri saja berpeluk tangan. Maka itu jika dia ikut bukan saja dia sendiri, tapi kedua saudara angkat dan anak pungutnya pun akan turut menjadi korban. Demikianlah, setelah berpikir baik-baik dia pun mengambil keputusan itu. Mendengar perkataan Bu Kie, dia terharu bukan main. Sambil memeluk anak angkatnya dia berkata dengan suara serak,

“Bu Kie, kau dengarlah perkataan Gie-hu! Gie-hu sudah tua, mata buta dan sudah enak hidup di sini. Kalau kembali ke Tiong-goan, Gie-hu malah akan menderita.“

“Sesudah kita kembali ke Tiong-goan anak akan melayani Gie-hu dan tidak akan berpisah lagi dengan Gie-hu,” kata Bu Kie. ”Gie-hu mau makan atau minum apa, anak akan segera menyediakannya. Bukankah kehidupan seperti itu sama senangnya seperti kehidupan di sini?”

Cia Sun menggelengkan kepala, “Tidak, aku lebih senang berdiam terus di sini,” katanya.

“Kalau begitu anak pun lebih senang hidup terus di sini,” kata pula bocah itu. “Thia, kita batalkan saja keberangkatan ini.“

“Toako, kalau kau mempunyai pendapat lain, lebih baik kau utarakan saja terang-terangan agar kita dapat mengatasinya bersama-sama,” kata So So. “Biar bagaimana pun, tak akan kita meninggalkan kau di sini seorang diri.”

“Toako,” Cui San menyambung, “apakah karena memiliki banyak musuh maka kau kuatir akan merembet-rembet kepada kami? Setibanya di Tiong-goan kita dapat mencari tempat sepi, kemudian kita hidup menyendiri tanpa bergaul dengan manusia lain. Menurut pendapatku paling benar kita berdiam di Bu-tong-san. Tak seorang pun yang akan menduga bahwa Kim-mo Say-ong berada di gunung itu.“

“Hmm...” Cia Sun mengeluarkan suara di hidung. “Meski pun kakakmu seorang bodoh tapi tak perlu menyembunyikan diri di bawah perlindungan Thio Cinjin!”

Cui San terkejut. Dia tahu kesalahan bicara dan buru-buru berkata, “Bukan, bukan begitu maksudku. Kepandaian Toako tidak berada di bawah Suhu dan tentu saja Toako tak perlu berlindung di bawah perlindungan Suhu. Di wilayah Tiong-goan ada banyak sekali tempat terpencil dan jauh dari dunia ramai, misalnya Hui-kiang, Tibet, daerah gurun pasir dan sebagainya. Kita berempat pergi ke sana dan hidup tenteram.“

“Kalau mau mencari tempat yang jauh dari keramaian, tempat inilah yang paling baik!” kata sang kakak. “Ehh, katakan saja, kalian mau pergi atau tidak?”

“Tanpa kau, kami tidak akan berangkat,” jawab So So dan Bu Kie berbareng.

Cia Sun menghela napas. “Baiklah,” katanya. “Kita semua jangan pergi. Setelah aku mati kalian masih punya banyak waktu untuk pulang ke Tiong-goan.“

“Benar, sudah sepuluh tahun kita berdiam di sini dan tak usah kita tergesa-gesa,“ kata Cui San.

“Bagus!” bentak Cia Sun. “Aku mau lihat, sesudah aku mampus apakah kalian masih mau di sini.“ Seraya berkata begitu tiba-tiba dia menghunus To-liong-to dan mengayun ke lehernya.

Semangat Cui San terbang. “Jangan celakakan Bu Kie!” teriaknya.

Dia mengerti tidak akan mampu mencegah niat kakaknya sehingga jalan satu-satunya adalah berteriak begitu.

Benar saja Cia Sun terkejut. Goloknya berhenti di tengah udara dan dia bertanya, “Apa?”

“Toako, kalau kau sudah mengambil keputusan pasti siauwte tidak dapat berbuat lain dari pada meminta diri,” katanya dengan suara parau lalu berlutut di hadapan sang kakak.

“Gie-hu!” teriak Bu Kie. “Jika kau tidak pergi aku pun tidak pergi. Kalau kau bunuh diri, aku pun akan bunuh diri.”

Cia Sun kaget. Dia tahu bocah yang luar biasa pintar itu sekarang balas menggertaknya. Buru2 dia masukkan To-liong-to ke dalam sarungnya lantas membentak,

“Setan kecil! Jangan ngaco kau!” Tiba-tiba ia mencengkeram punggung Bu Kie dan melemparkannya ke getek, kemudian melontarkan juga Cui San dan So So.

“Ngote! So-moay! Bu Kie!” teriaknya dengan suara duka. “Semoga perjalananmu diiringi angin baik dan cepat kembali di Tiong-goan.“

Melihat majikannya sudah berada di getek, si kera putih pun buru-buru melompat.

“Gie-hu! Gie-hu!” sesambat Bu Kie.

Cia Sun mencabut To-liong-to, lantas membentak dengan suara angker, “Jika kalian turun lagi, akan menemukan mayatku!”

Karena terpukul arus air, perlahan-lahan getek mulai meninggalkan pulau. Makin lama bayangan Cia Sun makin kecil. Cui San dan So So mengerti keputusan kakaknya tidak dapat diubah lagi. Mereka tidak bisa berbuat lain dari pada mengelus-elus tangan dengan rasa sedih dan berterima kasih tak habisnya. Sesudah berada di lautan terbuka, Cui San bertiga tidak mengenal arah dan membiarkan getek berlayar semaunya. Apa yang diketahui mereka adalah setiap pagi matahari naik dari sebelah kiri dan setiap sore turun di sebelah kanan. Tiap malam mereka bisa melihat bintang Pak-kek di belakang getek.

Siang malam per-lahan getek bergerak maju. Kurang lebih dua puluh hari Cui San tidak berani memasang layar sebab kuatir getek terbentur gunung es. Tanpa layar, walau pun terbentur akan tetapi benturan itu tidak keras takkan mencelakakan. Sesudah berpisah dengan gunung es barulah mereka menaikkan layar. Dengan bantuan angin utara yang meniup tak henti-hentinya, getek itu mulai maju ke arah selatan dengan pesat sekali. Dasar nasib baik, di tengah parjalanan mereka tidak pernah bertemu badai dan dilihat tanda-tandanya, mungkin mereka akan bisa pulang dengan selamat. Selama sebulan Cui San dan So So tak pernah menyebut-nyebut Cia Sun karena mereka kuatir membangkitkan kedukaan Bu Kie. Pada suatu hari, sambil mengawasi permukaan air tanpa terasa So So berkata,

“Toako benar-benar seorang luar biasa. Dia bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi paham ilmu-ilmu lainnya.“

“Ibu, menurut kata Gie-hu, selama setengah tahun angin bertiup ke selatan dan setengah tahun lagi bertiup ke utara,” kata Bu Kie. “Biarlah lain tahun kira kembali ke Peng-hwee-to menengok Gie-hu.“

“Benar,” kata Cui San. “Setelah kau besar, kita beramai-ramai mengunjungi lagi pulau itu.“

“Apa itu?” So So memutuskan perkataan suaminya seraya menuding ke selatan.

Di kejauhan, pada garis pertemuan antara langit dan laut, terlihat dua titik hitam. Cui San terkesiap.

“Apakah ikan paus?” katanya dengan suara di tenggorokan.

Sesudah mengawasi beberapa lama, So So berkata, “Bukan, bukan ikan paus. Aku tidak melihat semburan air.“

Dengan hati berdebar-debar mereka memperhatikan kedua titik hitam itu. Berselang kurang lebih satu jam, tiba-tiba Cui San berseru dengan suara girang,

“Perahu! Perahu!”

Saking girangnya dia melompat bangun lantas berjungkir balik. Bu Kie tertawa terbahak-bahak, lalu mengikuti ayahnya yang sedang kegirangan. So So sendiri mengambil kayu bakar, menuang minyak ikan di atasnya kemudian menyulut. Sesudah lewat kira-kira satu jam lagi, ketika matahari mulai doyong ke barat, mereka bisa melihat tegas dua buah perahu di atas permukaan air. Tiba-tiba So So kelihatan menggigil dan paras mukanya berubah pucat.

“Ibu, ada apa?” tanya Bu Kie dengan perasaan heran.

Sang ibu tidak menjawab, tapi bibirnya gemetar. Dengan paras muka kuatir Cui San cepat mencekal kedua tangan isterinya. So So menghela napas.

“Baru pulang, sudah bertemu,” katanya.

“Apa?” menegas sang suami.

“Lihat layar itu,” jawabnya sambil menuding ke sebuah perahu.

Cui San mengawasi perahu yang berada di sebelah kiri. Dia mendapat kenyataan bahwa pada layarnya terpeta sebuah tangan berdarah dengan lima jeriji yang terpentang lebar.

“Layar itu aneh sekali, apa kau tahu perahu siapa?” tanyanya.

“Perahu Peh-bie-kauw dari ayahku!” jawabnya dengan suara perlahan.

Cui San tertegun. Sesaat rupa-rupa pikiran berkelebatan di otaknya. “Ayah So So adalah seorang jahat dan kejam, bagaimana aku harus berbuat jika bertemu dengannya? Bagaimana pula pendapat Insu terhadap pernikahanku ini?” tanyanya di dalam hati.

Kedua tangan isterinya yang dicekel agak gemetar. Ia mengerti sang isteri pun sedang memikirkan berbagai soal yang tengah dihadapi mereka.

“So So,” katanya dengan suara membujuk. “Sekarang kita sudah menikah dan anak kita sudah begini besar. Langit di atas bumi di bawah, apa pun yang akan terjadi kita tak akan berpisah lagi. Kau tak usah kuatir.“

So So mengangguk dan tersenyum. “Aku hanya mengharap kau tidak menyesal,” katanya dengan suara perlahan.

Bu Kie yang belum pernah melihat perahu, tidak menghiraukan pembicaraan ayah ibunya. Sepasang matanya terus mengawasi dua perahu itu yang kelihatannya sangat berdekatan, seolah-olah menempel satu sama lain. Jika tidak ada perubahan arah, getek mereka akan perpapasan dengan kedua perahu itu dalam jarak puluhan tombak.

“Apakah kita perlu memberi isyarat?” tanya Cui San.

“Tidak perlu,” jawab So So. “Sesudah sampai di Tiong-goan aku akan mengajak kau dan Bu Kie pergi menemui ayah.“

“Baiklah,” kata sang suami.

Mendadak Bu Kie berteriak, “Hei! Lihat! Orang-orang itu sedang berkelahi!”

Cui San dan So So terkejut kemudian memandang kedua perahu itu. Benar saja mereka melihat berkelebatannya senjata dan empat lima orang sedang bertempur.

“Apakah ayah berada di situ?” kata So So dengan kuatir.

“Sesudah terlanjur bertemu, ada baiknya kita menengok sebentar,” kata Cui San.

Ia segera mengubah kedudukan layar dan membelokkan kemudi hingga getek membelok ke kiri, menuju arah kedua perahu itu. Berselang kira-kira setengah jam barulah getek mendekat.

“Pelancong yang tidak ada urusan jangan datang mendekat!” demikian terdengar teriakan dari perahu Peh-bie-kauw.

“Aku adalah Hio-cu dari Cong-to!” teriak So So. “Tocu dari bagian manakah yang sedang memasang hio?”

Mendengar teriakan yang menggunakan istilah rahasia dari Peh-bie-kauw itu, sikap orang yang barusan berteriak segera berubah.

“Maaf! Kami tidak tahu bahwa yang datang adalah Hio-cu dari Cong-to,” katanya dengan sikap hormat. “Kami adalah rombongan Lie Hio-cu dari Thian-sie-tong yang memimpin Hong Tan-cu dari Sin-coa-tan dan Thia Tan-cu dari Ceng-liong-tan. Bolehkah kami tahu, Hio-cu dari manakah yang datang ke sini?”

“Hio-cu dari Cie-wie-tong,” jawab So So.

Hampir berbareng dengan jawaban So So, keadaan di perahu Peh-bie-kauw menjadi kalut. Beberapa orang berlariian, untuk memberi-tahu pemimpin mereka, sedang belasan orang berteriak dengan suara terkejut dan girang,

“In-kouwnio pulang! In-kouwnio pulang!”

Meski pun sudah sepuluh tahun menjadi suami isteri, So So belum pernah membicarakan Peh-bie-kauw dengan suaminya, sedangkan Cui San sendiri belum pernah menanyakan. Sesudah mendengar tanya jawab itu barulah Cui San tahu bahwa kedudukan Hio-cu dari Cie-wie-tong lebih tinggi dari pada kedudukan Tan-cu. Sewaktu berada di pulau Ong-poan-san dia menyaksikan kepandaian Tan-cu dari Hian-bu-tan dan Cu-ciak-tan ternyata lebih unggul dari pada ilmu silat So So. Dia mengerti bahwa isterinya bisa menjadi Hio-cu adalah karena So So puteri pemimpin besar dari Peh-bie-kauw. Maka dapatlah diduga bahwa Lie Hio-cu dari Thian-sie-tong adalah seorang yang berkepandaian sangat tinggi. Tiba-tiba dari dalam perahu Peh-bie-kauw terdengar suara orang tua,

“Menurut laporan, In-kouwnio sudah kembali. Bagaimana kalau kita hentikan pertempuran untuk sementara waktu?“

“Baiklah!” jawab seseorang yang suaranya nyaring bagaikan genta. “Hentikan pertempuran!”

Dengan serentak suara beradunya senjata terhenti dan semua orang melompat keluar dari gelanggang pertempuran. Mendengar suara yang nyaring itu, jantung Cui San memukul keras.

“Apakah itu Jie Lian Ciu Suko?” teriaknya.

Jawab orang itu, “Aku Jie Lian Ciu. Ah... kau... kau... Siauwte Cui San...“ jawabnya dengan suara terputus-putus saking terharunya.

Pada saat itu jarak getek dan perahu Jie Lian Ciu sekitar belasan tombak. Dengan ter-gesa-gesa Cui San menyambar sepotong papan yang dilontarkan ke atas air, kemudian dia melompat ke papan itu dan sekali menotol dengan satu kakinya untuk meminjam tenaga, tubuhnya melesat ke kepala perahu Jie Lian Ciu. Jie Lian Ciu menubruk dan memeluk Sute-nya. Sepuluh tahun mereka berpisah, dapat dimengerti perasaan mereka pada saat itu. Si adik berseru dengan suara parau,

“Jieko...!”

Sang kakak berbisik, “Ngote...!”

Mata mereka basah. Di lain pihak, orang-orang Peh-bie-kauw menyambut In So So dengan segala upacara. Empat buah terompet keong laut raksasa ditiup serentak. Lie Hio-cu berdiri paling depan dengan Hong Tan-cu dan Thia Tan-cu di belakangnya, kemudian di belakang ketiga pemimpin berdiri kurang lebih seratus pengikut Peh-bie-kauw. Di antara perahu besar dan getek dipasang selembar papan, lalu getek digaet dengan galah gaetan oleh beberapa anak buah perahu agar getek tetap berada di tempatnya. Sambil menuntun Bu Kie, So So menyeberang perahu melewati papan itu.

Di kalangan Peh-bie-kauw, orang yang berkedudukan paling tinggi adalah Kauwcu (pemimpin agama), Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng. Di bawah Kauwcu ini terdapat Lwee-sam-tong (Tiga ‘Tong’ Dalam) dan Gwa-ngo-tan (Lima ‘Tan’ Luar) yang bantu memimpin para pengikut Peh-bie-kauw. Lwee-sam-tong terdiri dari Thian-wie-tong, Cie-wie-tong dan Thian-sie-tong, sedang Gwa-ngo-tan adalah Sin-coa-tan, Ceng-liong-tan, Hian-bu-tan dan Cu-ciak-tan.

Hio-cu (pemimpin) Thian-wie-tong ialah putera sulung In Thian Ceng yang bernama In Ya Ong, Hio-cu Thian-sie-tong ialah Lie Thian Hoan, Sute (adik seperguruan) In Thian Ceng, sedangkan So So adalah Hio-cu dari Cie-wie-tong, yaitu 'Tong' yang ke dua.

Biar pun berkepandaian sangat tinggi dan tingkatannya lebih tua dari pada So So, dengan memandang muka Kauwcu, Lie Thian Hoan berlaku amat hormat terhadap nyonya muda itu. Melihat So So menuntun seorang bocah, pakaiannya terbuat dari kulit binatang tampak mesum dan compang-camping, dia terkejut. Tapi dengan paras muka berseri dia tertawa seraya berkata,

“Terima kasih kepada Langit, terima kasih kepada Bumi, akhirnya kau pulang juga. Selama sepuluh tahun ini bukan main jengkelnya ayahmu.“

So So memberi hormat dengan berlutut. “Susiok, selamat bertemu lagi!” katanya. Dia lalu menengok kepada puteranya dan berkata pula: “Lekas berlutut di hadapan Susiok-couw-mu.“

Bu Kie buru-buru menekuk kedua lututnya dengan mata mengawasi Lie Thian Hoan dan ratusan orang yang berdiri di belakang kakek paman guru (Susiok-couw).

ANTARA SEKUTU DAN SETERU

So So bangkit berdiri, kemudian berkata, “Susiok, anak ini adalah anak tit-lie (keponakan perempuan) bernama Bu Kie.“

Lie Hio-cu terkesiap, tapi sejenak kemudian dia tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Bagus!” serunya. “Ayahmu pasti akan kegirangan. Bukan saja puterinya pulang dengan selamat, tapi juga mendapatkan sang cucu yang tampan dan pintar.“

Melihat noda-noda darah serta beberapa mayat yang menggeletak di geladak perahu, So So bertanya dengan suara perlahan,

“Perahu siapa itu? Mengapa kalian berkelahi?”

“Orang-orang Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay,” jawab Thian Hoan.

Melihat suaminya sedang berpelukan dengan salah seorang dari perahu itu, So So mengerutkan alis dan berkata lagi,

“Lebih baik kita hentikan dulu pertempuran ini dan tit-lie akan berusaha mendamaikan!”

“Baiklah,” jawab sang Susiok.

Biar pun secara pribadi tingkatan Lie Thian Hoan sebagai Susiok (paman guru) lebih tinggi dari pada So So, tetapi di kalangan Peh-bie-kauw secara resmi kedudukannya lebih rendah dari pada nyonya muda ini, karena dia memimpin ‘Tong’ ke tiga sedangkan So So menjadi Hio-cu ‘Tong’ ke dua.

“So So, Bu Kie kemari! Temui Suko-ku!” demikian terdengar teriakan Cui San.

Sambil rnenuntun Bu Kie, So So segera menuju ke perahu Bu-tong. Lie Thian Hoan, Hong dan Thia Tan-cu bingung, tetapi tanpa merasa mereka mengikuti nyonya muda itu. Di atas geladak perahu Bu-tong ada tujuh delapan orang, dan salah seorang yang berusia kurang lebih empat puluh tahun dan bertubuh jangkung kurus sedang berpegangan tangan dengan Cui San.

“So So, inilah Jie-suko yang namanya sering disebut-sebut olehku,” kata Cui San sambil tersenyum, “Jieko, ini tehu-mu (tehu isteri dari adik lelaki) dan keponakanmu Bu Kie.“

Semua orang kaget bukan main. Peh-bie-kauw dan Bu-tong-pay sedang bertempur mati-matian. Tak dinyana dua orang penting dari kedua belah pihak sudah menjadi suami isteri dan mempunyai seorang putera. Jie Lian Ciu mengerti bahwa kejadian itu pasti punya latar belakang yang amat rumit dan penjelasannya memerlukan waktu. Secara bijaksana ia lebih dahulu memperkenalkan kawan-kawannya kepada Cui San dan So So. Seorang Tosu tua yang berbadan kate gemuk See-hoa-cu dari Kun-lun-pay, sedang seorang wanita setengah tua yang masih berparas cantik diperkenalkan sebagai Sumoay (adik seperguruan) dari See-hoa-cu. Dia itu bukan lain dari pada San-tian-chiu (si Tangan kilat) Wie Su Nio yang di kalangan kangouw juga dikenal sebagai San-tian Nio-nio. Beberapa orang lainnya juga jago-jago kosen Kun-lun-pay, hanya saja nama mereka tidak begitu terkenal seperti See-hoa-cu dan Wie Su Nio. Meski pun sudah berusia lanjut, See-hoa-cu masih berangasan.

“Thio Ngo-hiap, di mana adanya bangsat jahat Cia Sun?” tanyanya. “Kau mesti tahu!”

Cui San bingung tak kepalang. Sebelum mendarat dia telah menghadapi dua urusan sulit. Pertama partainya sendiri bermusuhan dengan Peh-bie-kauw dan kedua, begitu membuka mulut, orang sudah menanyakan tempat bersembunyinya Cia Sun. Ia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan imam itu dan segera berkata sambil berpaling kepada Jie Lian Ciu,

“Jieko ada apakah sehingga kalian bertempur?”

See-hoa-cu mendongkol. “Hai! Apa kau tidak dengar pertanyaanku?” bentaknya. “Di mana adanya bangsat Cia Sun?”

Sebagai seorang yang gampang marah, di Kun-lun-pay See-hoa-cu berkedudukan tinggi dan lihay ilmu silatnya sehingga ia biasa main bentak-bentak terhadap orang-orang separtainya. Sementara itu Hong Tan-cu, pemimpin Sin-coa-tan, adalah seorang yang sangat ‘berbisa’. Dalam pertempuran tadi dua orang muridnya binasa di bawah pedang See-hoa-cu sehingga dia merasa sangat sakit hati. Sebab itu begitu mendengar bentakan si Tosu, dia lantas saja menggunakan kesempatan baik ini.

“Huh! Tidak usah banyak lagak kau!” katanya dengan suara dingin. “Thio Ngo-hiap adalah menantu Peh-bie-kauw. Tidak boleh kau bicara kasar terhadapnya.”

Darah See-hoa-cu meluap. “Tutup rnulutmu!” bentaknya. “Mana bisa orang baik-baik menikah dengan perempuan siluman dari agama yang menyeleweng? Dalam pernikahan itu pasti terdapat latar belakarg yang busuk.“

“Jangan ngaco kau!” Hong Tan-cu tertawa dingin. “Buktinya Kauwcu kami sudah memiliki cucu.“

Dengan kalap See-hoa-cu berteriak: “Perempuan siluman itu...“

“Suheng, jangan tarik urat dengan manusia itu,” memotong Wie Su Nio. “Dalam urusan ini kita serahkan saja kepada Jie-hiap.“ Ia telah melihat maksud Hong Tan-cu untuk mengadu domba Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay.

Mendengar Sumoay-nya, See-hoa-cu lantas tersadar dan dia tutup mulut sambil menahan amarah. Sambil mengawasi Cui San dan So So, Jie Lian Ciu merasa bingung dan di otaknya berkelebatan banyak pertanyaan.

“Paling baik kita bicara di gubuk perahu,” katanya setelah berpikir beberapa saat. “Saudara-saudara kedua pihak yang mendapat luka harus ditolong terlebih dahulu.“

Dalam perahu Jie Lian Ciu, Peh-bie-kauw merupakan tamu dan orang yang berkedudukan paling tinggi dalam ‘agama’ itu adalah In So So, Hio-cu Cie-wie-tong. Karena itu, sambil menuntun Bu Kie, So So masuk paling dulu ke dalam gubuk perahu, diikuti Lie Hio-cu dan kedua Tan-cu. Selagi Hong Tan-cu hendak ikut masuk, tiba-tiba dia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya. Sebagai seorang yang berpengalaman, dia tahu dirinya dibokong See-hoa-cu. Sebaliknya dari menangkis, ia menubruk ke depan seraya berteriak,

”Celaka! Aku dibokong!” Dengan gerakannya itu dia memunahkan pukulan Sam-in Coat-houw-chiu dari See-hoa-cu.

Mendengar teriakan itu semua orang menengok mengawasi Hong Tan-cu dan See-hoa-cu yang mukanya berubah merah laksana kepiting direbus. Dengan jengah Wie Su Nio memelototi Suheng-nya. Pada saat itu Hong Tan-cu adalah tamu terhormat dan bokongan terhadapnya bukan saja melanggar peraturan, tapi juga amat memalukan. Di dalam gubuk perahu, So So menduduki kursi tamu pertama dengan Bu Kie berdiri di sampingnya, sedang Jie Lian Ciu duduk di kursi pertama dari pihak tuan rumah. Sambil menunjuk sebuah kursi di sebelah belakang kursi Wie Su Nio, Jie Lian Ciu berkata,

“Kau duduklah di situ, Ngote.“

Cui San mengangguk kemudian duduk di kursi yang ditunjuk sehingga kedua suami isteri itu duduk sebagai tuan rumah dan tamu. Selama sepuluh tahun, setelah Thio Cui San menghilang dan Jie Thay Giam tidak pernah keluar karena lukanya, yang bergerak di rimba persilatan hanyalah lima pendekar Bu-tong-pay dan selama sepuluh tahun nama mereka semakin cemerlang. Meski pun kedudukan mereka murid turunan kedua dari Bu-tong-pay, tetapi di rimba persilatan sudah bisa berendeng dengan pendeta Siauw-lim-si yang mempunyai kedudukan tinggi. Selama tahun-tahun terakhir, orang-orang Kangouw makin menghargai dan menghormati Bu-tong Ngo-hiap. Sebab itu, biar pun tingkatannya tinggi. See-hoa-cu dan Wie Su Nio mempersilakan Jie Lian Ciu duduk di kursi utama.

Beberapa murid segera menyuguhkan teh. Sambil mempersilakan para tamu minum teh, Jie Lian Ciu menimbang-nimbang apa yang harus diucapkannya terlebih dahulu. Perjodohan antara Cui San dan puteri In-kauwcu adalah kejadian yang sangat di luar dugaan dan dia merasa jika menanyakan langsung persoalan itu di hadapan orang banyak. Cui San tentu merasa jengah dan tidak akan bicara seterang-terangnya. Sesudah berpikir begitu dia lantas berkata dengan suara nyaring,

“Sebagaimana kita tahu, Siauw-lim, Kun-lun. Go-bi, Khong thong dan Bu-tong, lima ‘pay’, Sin-kun, Ngo-hong-to dan lain-lain, berjumlah sembilan ‘bun’, Hay-see, Kie-keng dan sebagainya, tujuh ‘pang’, sehingga semuanya ada dua puluh satu partai atau golongan, telah salah paham dengan Peh-bie-kauw karena usaha kita untuk mencari Cia Sun, In-kouwnio dan Sute-ku, Cui San. Salah paham itu berbuntut bentrokan sehingga selama bertahun-tahun telah jatuh banyak korban yang binasa dan terluka...“

Ia berhenti sejenak kemudian berkata lagi, “Sungguh syukur secara tidak diduga In-kouwnio dan Thio-sute pulang dengan selamat. Peristiwa yang sudah berlangsung sepuluh tahun itu tidak dapat dibereskan dalam waktu pendek. Maka itu menurut pendapatku, sebaiknya kita menunda dulu permusuhan ini dan pulang ke tempat masing-masing. Biarlah In-kouwnio melaporkan kepada In-kauwcu, sedangkan Thio-sute memberi pertanggungan jawa di hadapan guru kami. Sesudah itu kita boleh mengadakan pertemuan untuk membereskan segala persoalan kita. Adalah kejadian yang sangat diharapkan jika dalam pertemuan itu kita dapat menyudahi permusuhan yang berlarut-larut ini...“

“Di mana adanya bangsat Cia Sun?” See-hoa-cu memutus perkataan Lian Ciu. ”Tujuan kita yang terulama adalah mencari bangsat Cia Sun.“

Cui San kelihatan berduka sekali. Ia merasa sangat tidak enak karena gara-gara mencari orang yang hilang di rimba persilatan muncul gelombang yang begitu besar dan yang meminta banyak korban. Mendengar pertanyaan See-hoa-cu, dia jadi serba salah. Kalau dia memberi-tahu terang-terangan, sejumlah besar pentolan rimba persilatan pasti akan meluruk ke Peng-hwee-to. Kalau dia bungkam... bagaimana dia dapat bungkam? Selagi dia bimbang, mendadak terdengar suara So So,

“Bangsat Cia Sun yang jahat dan suka membunuh manusia serampangan sudah mampus sembilan tahun yang lalu.”

Semua orang kaget. “Sudah mati?” mereka menegas serentak.

“Benar,” jawabnya. “Pada suatu malam, ketika aku melahirkan, bangsat Cia Sun mendadak kalap. Selagi mau membunuh Ngoko dan aku, tiba-tiba ia mendengar suara tangisan bayiku. Penyakitnya kambuh dan bangsat itu mati mendadak.“

Cui San mengerti maksud isterinya. Dengan mengatakan ‘Cia Sun yang jahat sudah mati’, sebenarnya So So tidak berdusta karena begitu mendengar tangisan Bu Kie, kekalapan dan kekejaman ‘Cia Sun yang jahat’ menghilang dan mulai detik itu dia berubah menjadi orang baik. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa sembilan tahun berselang ‘Cia Sun yang jahat’ sudah mati dan Cia Sun yang baik menjelma di dunia. See-hoa-cu mengeluarkan suara dari hidung. Ia tidak keterangan So So yang dianggapnya perempuan yang menyeleweng dari agama dan menyeleweng pula dari golongan putih.

“Thio Ngo-hiap, apakah benar bangsat Cia Sun sudah mampus?” tanyanya dengan suara keras.

“Benar, bangsat Cia Sun yang jahat sudah mati sembilan tahun yang lalu,” jawab Cui San dengan suara sungguh-sungguh.

Mendadak Bu Kie menangis keras. “Gie-hu bukan bangsat jahat!” teriaknya. “Gie-hu tidak mati! Gie-hu tidak mati!“

Biar pun berotak sangat cerdas, Bu Kie masih terlampau kecil dan belum berpengalaman. Rasa cintanya kepada Cia Sun tak kurang dari rasa cintanya kepada kedua orang tuanya sendiri. Karena itu dapat dimengerti jika dia tidak tahan mendengar tanya jawab itu dan cacian-cacian yang ditujukan terhadap ayah angkatnya. Semua terkesiap dan tertegun. Dalam gusarnya So So menggaplok muka puteranya.

“Diam!” bentaknya dengan bengis.

“Ibu, mengapa kau mengatakan Gie-hu sudah mati?” tanya bocah itu dengan suara serak “Bukankah dia masih hidup segar bugar?”

“Jangan ikut campur urusan orang tua!” bentak sang ibu “Yang sudah mati adalah Cia Sun, si penjahat kejam, bukan Gie-humu.“

Bu Kie bingung, tetapi dia tidak berani membuka rnulut lagi. See-hoa-cu tertawa dingin.

“Saudara kecil,” katanya kepada Bu Kie. “Cia Sun adalah ayah angkatmu bukan? Di mana dia sekarang?”

Si bocah mengawasi muka kedua orang tuanya. Sekarang dia mengerti bahwa perkataan yang tadi punya arti yang sangat penting. Dia menggelengkan kepala seraya menjawab:

“Tidak, aku tak akan beri-tahu kau.“ Dengan tidak sengaja, jawaban itu merupakan bukti yang lebih kuat bahwa Cia Sun belum mati.

Sambil mengawasi Cui San dengan mata mendelik, See-hoa-cu membentak, “Thio Ngo-hiap! Apakah benar In-kouwnio isterimu?”

“Benar, dia isteriku!” jawabnya dengan suara nyaring.

“Dua orang murid partai kami celaka di tangan isterimu,“ kata See-hoa-cu sambil menahan marah. “Keduanya mati tidak hidup pun tidak. Lalu bagaimana kita harus memperhitungkan perhitungan ini?”

Cui San dan So So terkejut. “Jangan ngaco!” bentak nyonya muda itu.

“Dalam hal ini mungkin terselip salah mengerti,” kata Cui San. “Sudah sepuluh tahun kami berdua meninggalkan wilayah Tiong-goan. Bagaimana kami dapat mencelakai murid partai kalian?”

“Huh! Huh!” See-hoa-cu menggeram. “Memang... memang Ko Cek Seng dan Chio Tauw menderita lebih dari sepuluh tahun lamanya.“

“Ko Cek Seng dan Chio Tauw?” menegas So So.

“Apakah Thio-hujin masih ingat dengan dua orang itu?” ejek See-hoa-cu. “Aku kuatir kalau kau tidak ingat lagi karena kau telah membunuh terlalu banyak manusia.“

“Mengapa mereka?” bentak So So. “Mengapa kau menuduh aku membuta tuli?”

“Menuduh membuta tuli! Membuta tuli...!” teriak See-hoa-cu. “Ha-ha-ha-ha...! Kini mereka sudah gila... sudah hilang ingatan.. Tapi mereka masih ingat nama satu manusia. Mereka masih ingat bahwa yang mencelakakan mereka adalah In So So!” Seraya berkata begitu dia menatap wajah nyonya Cui San dengan mata beringas.

“Tutup mulutmu!” Hong Tan-cu membentak. “Kau tidak berhak menyebut nama terhormat dari Hio-cu Cie-wie-tong kami. Apakah kau tidak tahu adat-istiadat rimba persilatan? Cianpwe macam apa kau? Thia-hiante, apakah di dunia ini ada hal yang lebih memalukan dari pada itu?”

“Tidak ada,” jawab Thia Tan-cu. “Aku sungguh tak mengerti mengapa sebuah partai yang begitu tersohor mempunyai murid ugal-ugalan seperti dia. Sungguh memalukan!”

Diejek demikian, See-hoa-cu menjadi kalap. “Binatang! Siapa yang memalukan?” teriaknya seraya mencekal gagang pedangnya.

Hong Tan-cu tetap tenang, bahkan melirik pun tidak. “Thia-hiante,” katanya pula. “Orang yang sudah mempunyai beberapa jurus ilmu pedang kucing kaki tiga sesungguhnya harus mengenal kesopanan manusia. Bagaimana pendapatmu?”

Thia Tan-cu mengangguk seraya menjawab “Betul! Semenjak Giok-hie Totiang meninggal dunia, makin lama mereka semakin tidak keruan.“

Giok-hie Totiang adalah Supek (paman guru) See-hoa-cu. Imam yang beribadat itu bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga sangat mulia hatinya sehingga dia amat dihormati di rimba persilatan. Paras muka See-hoa-cu berubah merah padam. Dia tak dapat menjawab sindiran itu. Apa bila dia membantah, bukankah sama saja dia menghina Supek-nya sendiri yang namanya telah menggetarkan seluruh negeri? Tiba-tiba dia bangun, badannya berkelebat dan dia telah berdiri di luar pintu gubuk perahu.

“Srett!” Dia menghunus pedang. “Bangsat!” teriaknya. “Kalau kau mempunyai nyali, keluarlah!”

Ejekan kedua pimpinan Peh-bie-kauw terhadap See-hoa-cu adalah untuk menolong In So So dari desakan. Mereka menganggap bahwa dengan pernikahan Cui San dan So So maka hubungan Bu-tong-pay dan Peh-bie-kauw sudah berubah. Meski pun Jie Lian Ciu dan Thio Cui San tidak sampai turun tangan untuk membantu pihaknya, dua orang itu juga pasti tak akan menyerang Peh-bie-kauw. Menurut perhitungan mereka, tanpa campur tangan pihak Bu-tong, mereka akan dapat mengalahkan orang-orang Kun-lun-pay yang hanya terdiri dari tujuh delapan orang. Perhitungan orang-orang Peh-bie-kauw dapat ditebak oleh Wie Su Nio yang bisa berpikir dengan otak dingin.

“Suko!” teriaknya. “Mereka yang berada di perahu ini adalah tamu-tamu kita. Kita harus menurut segala keputusan Jie Jie-hiap.”

Dengan berkata begitu San-tian Nio-nio berlaku amat bijaksana. Jie Lian Ciu adalah seorang pendekar yang tulus bersih sehingga dia pasti tidak akan berlaku curang. Tapi di luar dugaan, dalam gusarnya See-hoa-cu yang tolol tidak mengerti maksud Sumoay-nya.

“Omong kosong!” teriaknya. “Bu-tong-pay dan Peh-bie-kauw sudah terikat famili. Mana bisa dia berlaku adil!”

Jie Lian Ciu adalah seorang yang sabar dan berpikiran panjang. Ia jarang memperlihatkan rasa girang atau gusar pada paras mukanya. Perkataan See-hoa-cu yang amat menusuk tidak dijawab dan dia mengasah otak untuk mencari jalan keluar.

“Suko, jangan kau menggoyang lidah sembarangan,” kata Wie Su Nio cepat-cepat dengan mendongkol. “Semenjak dulu, Bu-tong dan Kun-lun punya hubungan yang amat erat. Dalam sepuluh tahun, bahu membahu kita bersama-sama melawan musuh. Jie Jie-hiap seorang jujur yang amat dihormati di kalangan Kangouw sehingga tidak mungkin dia mengeloni pihak yang salah.“

See-hoa-cu mengeluarkan suara dari hidung, “Belum tentu,” katanya.

Bukan main mendongkolnya Wie Su Nio yaag diam-diam mencaci kakak yang tolol ini.

“Suko!” bentaknya. “Kalau tanpa sebab kau men-cari urusan dengan Bu-tong Ngo-hiap lalu kau dimarahi Ciangbun-susiok, aku tak akan ikut campur urusanmu lagi.“ Mendengar ancaman itu barulah See-hoa-cu tutup mulut.

“Urusan ini telah menyeret berbagai partai dan golongan di rimba persilatan,” kata Jie Lian Ciu. “Aku orang bodoh, tidak berani mengambil keputusan sendiri. Lagi pula persoalan ini sukar dibereskan dalam tempo pendek karena sudah ber-larut selama sepuluh tahun. Aku sudah mengambil keputusan pulang ke Bu-tong bersama-sama Thio-sute guna memberi laporan kepada Insu dan Toa-suheng sambil meminta petunjuk Insu.“

See-hoa-cu tertawa dingin, “Sungguh lihay pukulan Jie-hong Su-pit Jie Jie-hiap,“ ejeknya.

‘Jie-hong Su-pit’ (seperti penutup pada kurungan) adalah nama satu pukulan Bu-tong-pay untuk membela diri yang amat terkenal di rimba persilatan. Dengan berkata demikian See-hoa-cu bukan saja mengejek Jie Lian Ciu pribadi tapi juga menghina pukulan Bu-tong-pay itu yang digubah oleh Thio Sam Hong sendiri. Walau pun sabar tapi darah Jie Lian Ciu meluap juga. Syukur sebelum mengumbar napsu, ia keburu ingat segala akibatnya sehingga sambil menarik napas ia cepat-cepat menindih hawa amarahnya dan hanya menyapu muka See-hoa-cu dengan sinar mata berkilat-kilat.

“Apa bila See-hoa Toheng mempunyai pendapat lain, aku bersedia mendengarkan,“ katanya dengan suara dingin.

Sesudah disapu dengan sorot mata marah, See-hoa-cu menjadi keder. “Sumoay,” katanya, “bagaimana pendapatmu? Apakah sakit hati Ko Cek Seng dan Chio Tauw boleh disudahi begini saja?”

Sebelum Wie Su Nio menjawab, dari sebelah selatan sekonyong-konyong terdengar suara terompet dan sesaat kemudian masuklah seorang murid Kun-lun seraya berkata,

“Kawan-kawan dari Khong-tong-pay dan Go-bi-pay sudah tiba untuk menyambut kita.“

Lie Thian Hoan dan dua kawannya saling melirik, paras muka mereka agak berubah. Pada lain pihak See-hoa-cu dan Wie Su Nio menjadi girang.

“Jie Jie-hiap,“ kata San-tian Nio-nio, “Kurasa sebaiknya kita minta pendapat pihak Khong-tong dan Go-bi.“

“Baiklah,” jawab Lian Ciu.

Kedatangan orang-orang Khong-tong dan Go-bi menambah kejengkelan Cui San. Partai Go-bi masih tidak apa, tapi Khong-tong-pay punya permusuhan yang sangat hebat dengan kakaknya yang sudah melukai Khong-tong Ngo-lo dan merampas kitab Cit-siang-kun. Orang-orang Khong-tong tidak akan mau mengerti jika ia tidak memberi-tahu di mana adanya Cia Sun. Sementara itu So So berpikir dari sudut yang lain. Di satu pihak dia mendongkol terhadap puteranya, di lain pihak dia ingat bahwa anak itu belum mengerti kedustaan dan rasa cintanya terhadap Cia Sun tak dapat diukur dalamnya. Maka, kalau dia menangis dan membantah pernyataan orang tentang kematian ayah angkatnya adalah hal yang sangat dapat dimengerti. Berpikir begitu dia merasa menyesal telah menggaploknya begitu keras, maka dia lalu memeluk Bu Kie sambil mengusap-usap pipi si bocah.

“Ibu, Gie-hu tidak mati, bukan?” bisik Bu Kie di kuping ibunya.

“Tidak, dia tidak mati, aku hanya memperdaya mereka,” jawab sang ibu. “Mereka adalah orang-orang jahat yang ingin mencelakai Gie-humu.“

Bu Kie sadar. Dengan mata marah dia menyapu Jie Lian Ciu berikut semua orang yang berada di situ. Mulai hari itu kedua kakinya menginjak dunia Kangouw dan mulai saat itu pula dia mengerti akan kekejaman manusia. Beberapa saat kemudian orang Khong-tong dan Go-bi masuk gubuk perahu, masing-masing pihak berjumlah enam atau tujuh orang. Pemimpin rombongan Khong-tong adalah Kat-ie Lojin, seorang tua yang bertubuh kurus kering, sedang pimpinan rombongan Go-bi adalah seorang Nikouw (pendeta wanita) setengah tua. Melihat Lie Thian Hoan dan kawan-kawannya, mereka kaget dan heran.

“Tong-samko! Ceng-hie Suthay!” teriak See-hoa-cu. “Bu-tong-pay dan Peh-bie-kauw telah bergandengan tangan. Kali ini kita rugi besar.“

Orang yang dipanggil ‘Tong-samko’ adalah Kat-ie Lojin Tong Bu Liang, salah seorang dari Khong-tong Ngo-lo, sedang Ceng-hie Suthay ialah murid turunan ke empat dari Go-bi-pay dan di rimba persilatan pendeta wanita itu mempunyai nama yang cukup besar. Mereka tercengang mendengar teriakan See-hoa-cu. Ceng-hie Suthay yang berpikiran panjang dan mengenal adat See-hoa-cu tidak mau percaya, tetapi Tong Bun Liang naik darahnya.

“Jie Jie-hiap, apakah benar begitu?” tanyanya dengan suara keras.

Sebelum Jie Lian Ciu keburu menjawab, See-hoa-cu sudah mendahului, “Bu-tong-pay dan Peh-bie-kauw menjadi cinkee (besan). Thio Cui San, Thio Ngo-hiap, menjadi menantu In Toa-kauwcu...“

“Thio Ngo-hiap yang sudah menghilang sepuluh tahun yang lalu?” tanya Tong Bun Liang dengan heran.

“Benar, itu adikku Cui San,” jawab Lian Ciu seraya menunjuk Ngo-hiap. “Ngote, ini Tong Bun Liang, Tong Sam-ya, Cianpwe dari Khong-tong-pay.“

Bu Liang dan Cui San saling membungkuk dan mengucapkan kata-kata merendah. See-hoa-cu yang sudah tidak mampu menahan sabar lagi, lantas berkata pula,

“Thio Ngo-hiap dan In-kouwnio tahu tempat persembunyiannya Kim-mo Say-ong Cia Sun, tetapi mereka menolak memberi-tahu kepada kami. Bahkan mereka berdusta dan mengatakan bahwa bangsat Cia Sun sudah mampus.“

Begitu mendengar nama Kim-mo Say-ong Cia Sun, darah Tong Bun Liang meluap. “Di mana dia sekarang?” tanyanya dengan suara keras.

“Dalam urusan ini lebih dulu aku harus melaporkan kepada Insu dan aku mohon maaf karena tidak dapat segera memberi-tahu kepada kalian,“ jawab Cui San.

Kedua mata Tong Bun Liang seolah-olah mengeluarkan api. “Di mana adanya bangsat Cia Sun?!” teriaknya. “Dia sudah membinasakan keponakanku. Aku tidak mau hidup bersama dia di dunia. Di mana dia? Lekas katakan! Kau mau memberi-tahu atau tidak?”

Perkataan yang dikeluarkan tanpa sungkan-sungkan dan tanpa mengenal kesopanan membuat So So marah yang lantas berkata dengan suara dingin,

“Mengapa kau tidak menceritakan juga bahwa dia sudah melukai Khong-tong Ngo-lo dan merampas kitab Cit-siang-kun?”

Ketika melukai Ngo-lo dan merampas kitab Cit-siang-kun, Cia Sun menggunakan nama Seng Kun. Hal yang sebenamya baru diketahui Khong-tong-pay kira-kira lima tahun berselang. Tetapi karena kejadian tersebut menodai nama partai maka orang-orang Khong-tong-pay selalu menutupkan rapat. Bagaimana nyonya muda itu bisa tahu rahasia tersebut? Paras muka Kat-ie Lojin berubah pucat. Sambil mementang sepuluh jarinya ia mengangkat kedua tangan untuk menyerang. Tapi di lain detik ia ingat bahwa sebagai orang tua, tak pantas ia turun tangan lebih dahulu terhadap seorang wanita muda yang kelihatannya begitu lemah lembut sehingga tangan yang sudah terangkat itu berhenti di udara. Sambil menahan amarah dia berpaling kepada Cui San dan bertanya,

“Siapa dia?”

“Isteriku,” jawabnya.

“Puterinya In Toa-kauwcu dari Peh-bie-kauw,” See-hoa-cu menyela.

Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng mempunyai ilmu silat yang tingkatannya tak dapat diukur sehingga di waktu itu seorang pun belum pernah dapat melayaninya dalam sepuluh jurus. Mendengar bahwa nyonya Cui San adalah puteri In Thian Ceng, Tong Bun Liang merasa keder dan berkata dengan suara terputus-putus,

“Oh... begitu...!”

Sesaat itu Ceng-hie Suthay yang semenjak masuk ke gubuk perahu belum pernah bicara, membuka mulut.

“Sebaiknya kita minta Jie Jie-hiap menerangkan seluk beluk kejadian ini,” katanya.

“Urusan ini berbelit-belit dan sudah menyeret banyak sekali orang,” kata Lian Ciu. “Selain itu permusuhan ini sudah berjalan lama sekali, kurang lebih sepuluh tahun sehingga dapat dimengerti jika kita tidak akan dapat mengupasnya dalam tempo pendek. Begini saja, tiga bulan kemudian partai kami akan mengadakan perjamuan di Hong-ho-lauw dan mengundang wakil-wakil berbagai partai serta golongan. Dalam pertemuan itu kita akan merundingkan persoalan ini sedalam-dalamnya. Bagaimana pendapat kalian?”

“Aku setuju,” jawab Ceng-hie seraya mengangguk.

“Siapa benar, siapa salah, boleh dibicarakan tiga bulan lagi,” kata Tong Bun Liang. “Tetapi tempat sembunyinya Cia Sun harus diberi-tahukan sekarang juga.“

Cui San menggelengkan kepala. “Sekarang tidak bisa,” katanya dengan suara tetap.

Tong Bun Liang marah tak kepalang, tetapi sebisa-bisanya dia menahan sabar karena dia mengerti bahwa apa bila Bu-tong-pay sampai bersatu dengan Peh-bie-kauw, maka akibatnya bakal hebat sekali. Sebab itu dengan muka merah padam ia bangun berdiri dan mengangkat kedua tangannya,

“Baiklah. Kita akan bertemu kembali tiga bulan kemudian.“

“Tong Sam-ya, bolehkah kami menumpang di perahumu?” tanya See-hoa-cu.

“Mengapa tidak?” jawabnya.

“Bagus! Sumoay, ayolah!” mengajak See-hoa-cu.

Tadinya orang Kun-lun datang ke tempat pertempuran menggunakan perahu Bu-tong dan dengan sikapnya itu, terang-terang See-hoa-cu sudah memandang Bu-tong-pay sebagai lawan.

PULANG KE BU-TONG-SAN

Jie Lian Ciu bersikap tenang. Dengan manis budi dia mengantar semua tamu sampai kepala perahu.

“Sepulangnya kami ke Bu-tong dan setelah kami memberi laporan kepada Insu, kami akan segara mengirim surat undangan,” katanya sambil membungkuk.

Baru saja See-hoa-cu mau menyeberang ke perahu Khong-tong, tiba-tiba So So berkata,

“See-hoa Totiang, tahan dulu! Aku ingin menanyakan satu hal.“

“Ada apa?” tanya si berangasan sambil memutar tubuh.

“Totiang,” kata si nyonya sambil tersenyum. “Tanpa henti-hentinya kau mengatakan bahwa agama kami adalah agama yang menyeleweng, agama sesat, aku sendiri perempuan siluman. Bolehkah aku tahu di mana sesatnya dan di mana sifat silumannya?”

Sejenak See-hoa-cu tertegun. Sesudah menenteramkan hati barulah dia menjawab, “Agamamu bukanlah agama tulen, tetapi menyeleweng dan tersesat dari jalan yang lurus. Kecantikanmu seperti kecantikan siluman rase yang jahat dan cabul. Itu jawabanku. Perlu apa kau rewel-rewel? Kalau kau bukan siluman, bagaimana seorang laki-laki sejati seperti Thio Ngo-hiap bisa terpincuk! Huh-huh!”

“Terima kasih untuk penjelasannya,” kata So So.

See-hoa-cu girang dan bangga, menganggap nyonya muda itu sudah dijatuhkan dengan kata-katanya yang tajam. Sambil tersenyum dia bertindak ke papan untuk menyeberang ke perahu Tong Bun Liang.

Perahu Bu-tong dan Khong-tong adalah perahu-perahu besar dengan tiga layar sehingga walau pun berdempetan, jarak antara kedua perahu itu yang dihubungkan dengan papan, masih kurang lebih dua tombak. Karena harus bicara dulu dengan So So, See-hoa-cu jadi ketinggalan dan sesudah semua orang berada di perahu Tong bun Liang, dia sendiri baru menyeberang.

Baru saja berjalan beberapa tindak, mendadak dia merasakan kesiuran angin luar biasa di belakangnya. Biar pun berangasan dan pendek pikiran, dia memiliki kepandaian tinggi dan berpengalaman luas. Ia tahu dirinya dibokong dan begitu memutar tubuh, tangannya memegang pedang.

Mendadak, ia merasa kedua kakinya tiba-tiba terjeblos ke bawah. Papan penyeberangan putus jadi dua! Sebisanya dia berusaha untuk menolong dirinya, namun karena jarak ke perahu Khong-tong masih agak jauh, tanpa ampun lagi dia tercebur ke dalam air.

Sungguh sial, dia tidak bisa berenang sehingga dalam sekejap dia minum beberapa ceguk air asin. Selagi dia kebingungan dan memukul serta menendang air dengan tangan dan kaki, tiba-tiba melayanglah seutas tambang. Cepat-cepat dia mencekalnya dan di lain saat dia merasa badannya terangkat naik ke atas permukaan air. Dia menengadah dan melihat bahwa yang mengangkatnya adalah Thia Tan-cu yang paras mukanya seperti tertawa tetapi bukan tertawa.

Tak usah dikatakan lagi, semua adalah pekerjaan So So. Karena dongkol, diam-diam dia memerintahkan Hong dan Thia Tan-cu ‘ngerjai’ si berangasan itu. Tiga puluh enam golok terbang dari Hong Tan-cu terkenal di kalangan Kangouw. Golok yang tipis dan tajam luar biasa jarang meleset dari sasarannya. Selagi So So berbicara dengan See-hoa-cu, sekali menimpuk Hong Tan-cu memotong papan itu dengan hui-to-nya dan meninggalkan sebagian kecil agar tidak lantas jatuh ke dalam air dan baru akan patah jika diinjak. Thia Tan-cu sendiri siap dengan seutas tambang, tapi pertolongannya baru diberikan sesudah See-hoa-cu minum banyak air.

Wie Su Nio, Tong Bun Liang dan yang lain-lain menyaksikan itu dengan mata terbelalak, namun mereka tidak dapat segera menolong karena berada dalam jarak yang terlalu jauh. See-hoa-cu merasa dadanya mau meledak, tapi dalam keadaan tidak berdaya sedapatnya dia menahan amarah. Dan sungguh celaka, baru mengangkat kira-kira satu kaki dari permukaan air, Thia Tan-cu berseru,

“Toheng,” katanya, “Kau jangan bergerak. Tenagaku tidak cukup. Jika kau bergerak tambang ini bisa terlepas!”

See-hoa-cu bingung bukan main. Jika dilepas bisa celaka, atau sedikitnya minum lebih banyak air asin. Tiba-tiba Thia Tan-cu berteriak:

“Hati-hati!” Dengan sekali menyentak, tubuh See-hoa-cu terayun ke belakang tujuh delapan kaki, kemudian dia melemparkan bandulan manusia itu ke perahu seberang.

Begitu dua kakinya hinggap di atas geladak perahu Khong-tong, See-hoa-cu kalap saking marahnya. Kemarahannya semakin meluap melihat orang Peh-bie-kauw dengan serentak bersorak-sorai. Karena pedangnya sendiri sudah hilang dalam air, bagaikan kilat ia menghunus pedang Wie Su Nio lalu melompat ke kepala perahu untuk menerjang musuh. Tetapi jarak kedua perahu terlampau jauh sehingga apa yang dapat diperbuatnya hanyalah mencaci habis-habisan. Semua perbuatan So So dapat dilihat Jie Lian Ciu yang diam-diam mengakui bahwa wanita ini benar-benar mempunyai sifat-sifat yang sesat dan kurang tepat untuk menjadi pasangan adiknya. Maka dia lantas berkata,

“In Hio-cu dan Lie Hio-cu, aku harap kalian menghadapi pertemuan di Hong-ho-lauw pada tiga bulan kemudian. Sekarang kita berpisah. Ngote, mari ikut aku pergi menemui Insu.“

“Baiklah,” kata Cui San dengan perasaan tidak enak.

So So mengerti dengan berkata begitu, Jie Lian Ciu berusaha memisahkan dirinya dari sang suami. Dengan paras muka duka dia mendongak memandang langit, lalu menunduk memandang geladak perahu. Cui San mengerti maksud isterinya yang ingin mengingatkan sumpahnya sendiri, yaitu ‘Langit di atas, Bumi di bawah, kita tak akan berpisah lagi’. Maka ia lantas berkata,

“Jieko, aku ingin sekali mengajak tehu-mu dan anakku pergi menemui Insu lebih dulu dan sesudah mendapat perkenan beliau, barulah aku mengunjungi Gak-hu (mertua). Bagaimana pendapatmu?”

“Begitu pun baik,” jawab sang kakak sambil mengangguk.

So So girang. “Susiok,” katanya kepada Lie Thian Hoan. “Aku mohon kau suka memberi-tahu Thia-thia (ayah) bahwa anaknya yang tidak berbakti sudah pulang kembali dan dalam beberapa hari lagi kami akan pulang ke Cong-to untuk menemui beliau.“

“Baiklah,“ kata Lie Hio-cu seraya manggutkan kepala. “Kami akan menanti kalian di Cong-to.“ Dia lalu bangun berdiri dan berpamitan.

“Bagaimana dengan kakakku?” tanya So So sebelum Lie Thian Hoan berlalu.

“Bagus, sangat bagus!” jawabnya. “Selama beberapa tahun ini ilmu silat kakakmu mendapat kemajuan luar biasa sehingga aku sendiri ketinggalan sangat jauh.“

“Ah! Susiok selamanya suka bercanda dengan anak-anak,“ kata So So sambil tertawa.

“Tidak, aku tidak bicara main-main,” kata sang paman dengan suara sungguh-sungguh. “Kemajuan kakakmu malah dipuji juga oleh ayahmu sendiri.“

“Ahh, Susiok!” kata nyonya Cui San. “Janganlah memuji orang sendiri di hadapan orang luar. Aku kuatir Jie Jie-hiap akan tertawa.“

“Setelah Thio Ngo-hiap menjadi Kouw-ya (menantu), apakah Jie Jie-hiap masih dipandang orang luar?” kata Lie Thian Hoan seraya tertawa.

Kemudian, setelah memberi hormat, bersama dengan kawannya dia meninggalkan perahu Bu-tong. Mendengar tanya jawab itu Lian Ciu merasa kurang senang, tetapi dia hanya mengerutkan alis dan tidak mengatakan apa-apa. Begitu orang-orang Peh hie kauw berlalu, Cui San segera bertanya dengan tergesa-gesa:

“Jieko, bagaimana dengan keadaan Samko? Apa... apa... lukanya sudah sembuh?”

Lian Ciu menghela napas, ia tidak lantas menjawab pertanyaan adiknya. Jantung Cui San berdebar keras. Dengan mata membelalak ia mengawasi muka sang kakak.

“Samte tidak mati,” kata Lian Cui akhimya. “Tapi hampir tiada beda dengan mati. Ia menjadi orang cacad, kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi. Jie Thay Giam Jie Sam-hiap... hmm... dunia Kangouw tidak akan melihatnya lagi.“

Air mata Cui San mengucur deras. ”Apakah sudah dapat diketahui siapa yang mencelakainya?” tanyanya dengan suara parau.

Lian Ciu tidak meniawab. Mendadak dia putar kepala dan sinar matanya yang seperti kilat menatap wajah So So dengan tajam.

“In-kouwnio, apa kau tahu siapa yang melukai Jie-samte?” tanyanya dengan suara tajam.

So So menggelengkan kepala. “Kudengar Jie Sam-hiap terkena pukulan Kim-kong-cie dari Siauw-lim-si,” jawabnya.

“Benar! Tapi apa kau tahu siapa yang melakukan serangan?” tanya pula Lian Ciu.

“Tidak, aku tidak tahu,” jawabnya.

Lian Ciu tidak mendesak lagi, tetapi menengok kepada Cui San seraya berkata, “Ngote, menurut orang Siauw-lim-pay kau membinasakan keluarga Liong-bun Piauw-kiok dan beberapa pendeta Siauw-lim-si. Apa benar?”

Cui San tergugu dan menjawab dengan suara terputus-putus, “Ini... ini...“

“Kejadian itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia,“ So So menyela. “Akulah yang membunuh mereka.“

Lian Ciu melirik nyonya muda itu dengan sorot mata gusar, tetapi sejenak kemudian paras mukanya berubah sabar kembali.

“Memang aku sudah tahu bahwa Ngote tak akan membunuh orang serampangan,“ katanya. “Sejak kau menghilang, di antara partai kita dengan Siauw-lim-pay terjadi sengketa. Kita mengatakan bahwa mereka melukai Samko, sebaliknya mereka menuduh kau membunuh puluhan orang Siauw-lim. Karena tidak ada saksi maka urusan itu hingga sekarang belum dapat dibereskan. Untung Kong-bun Taysu Ciang-bun-jin dari Siauw-lim-pay adalah orang yang berpandangan jauh dan menghormati Insu. Dengan sekuat tenaga ia melarang murid-muridnya menimbulkan gelombang. Itulah sebabnya kenapa selama sepuluh tahun ini Bu-tong dan Siauw-lim belum pernah terjadi bentrokan senjata.“

“Di waktu muda aku telah bertindak sembrono dan sekarang aku amat menyesal,” kata So So. “Tapi apa mau dikata, beras sudah menjadi nasi. Jalan satu-satunya adalah menyangkal tuduhan mereka.”

Paras muka Lian Ciu lantas berubah. Dia sungguh tak mengerti bagaimana adiknya yang begitu mulia bisa menikah dengan wanita sesat ini. Di lain pihak So So pun merasa kurang senang terhadap Lian Ciu, karena selain Jie-hiap ini bersikap dingin tapi juga terus memanggil dengan panggilan ‘In-kouwnio’ (nona In) dan tidak menggunakan ‘tehu’ (isteri dari adik lelaki). Maka itu dia lantas berkata dengan suara tawar,

“Siapa yang berbuat, dia yang harus bertanggung-jawab. Dalam urusan ini aku tidak akan menyeret-nyeret pihak Bu-tong-pay. Suruh saja Siauw-lim-pay mencari Peh-bie-kauw.“

Lian Ciu menjadi marah dan berkata dengan suara nyaring: “Di kalangan Kangouw, yang paling diutamakan adalah keadilan. Jangankan Siauw-lim-pay yang merupakan satu partai besar, bahkan anak kecil pun tidak boleh dihina dengan mengandalkan kekuatan.“

Apa bila teguran pedas ini disampaikan sepuluh tahun berselang, tentu So So sudah menghunus pedang. Tapi sekarang, biar pun darahnya meluap, sebisa-bisa dia menahan napsu.

“Ajaran Jieko sedikit pun tak salah,” kata Cui San seraya membungkuk.

“Aku tidak ingin mendengarkan ajaranmu,” kata So So dalam hati, lalu sambil menarik tangan Bu Kie, dia pun bertindak keluar. “Bu Kie, mari kita me-lihat perahu besar ini yang belum pernah kau lihat,” katanya.

Sesudah isteri dan puteranya berlalu, Cui San segera berkata dengan suara jengah. “Jieko, selama sepuluh tahun ini, aku...“

“Ngote,” sang kakak memotong perkataannya sambil mengibas tangan. “Kecintaan antara kau dan aku adalah kecintaan darah daging. Dalam bahaya apa pun, aku akan tetap berdiri di sampingmu untuk hidup dan mati bersama-sama. Kau tidak usah membicarakan urusan pernikahanmu denganku. Nanti setelah kembali di Bu-tong, kau boleh melaporkan kepada Suhu. Jika Suhu marah lalu menjatuhkan hukuman, kita beramai, Bu-tong Cit-hiap, akan berlutut di hadapan Suhu untuk mohon pengampunan. Puteramu sudah begitu besar dan aku tidak percaya bahwa Suhu akan tega memisahkan kau dengan anak isterimu.“

Bukan main rasa girang dan terima kasih Cui San. “Terima kasih atas kecintaan Jieko,” katanya suara terharu.

Jie Lian Ciu adalah orang yang di luarnya tampak menyeramkan dan keras, sedangkan dalamnya lembek dan mulia. Di antara tujuh Bu-tong Cit-hiap dialah yang paling jarang berguyon, sehingga adik-adik seperguruannya lebih takut terhadapnya dari pada terhadap Song Wan Kiauw. Tapi selain ditakuti, dia juga sangat dicintai karena dia sangat mencintai saudara-saudara seperguruannya. Hilangnya Cui San amat mendukakan hatinya sehingga hampir-hampir dia menjadi kalap. Karena itu pertemuan dengan si adik hari ini merupakan peristiwa yang luar biasa menggirangkan, namun dia tidak memperlihatkan kegirangan pada paras mukanya malah menegur So So dengan kata-kata keras. Sesudah berada berduaan, barulah ia mengutarakan isi hatinya di hadapan si adik.

Apa yang paling dikuatirkan olehnya adalah keselamatan So So yang sudah membunuh begitu banyak murid Siauw-lim-si, dan dia merasa bahwa peristiwa itu tidak mudah dibereskan dengan jalan damai. Tetapi diam-diam dia sudah mengambil keputusan bahwa jika perlu, dia rela mengorbankan nyawanya sendiri demi kepentingan dan keutuhan keluanga Sute-nya.

“Jieko, apakah bentrokan antara kita dan Peh-bie-kauw karena gara-gara siauwte?” tanya pula Cui San. “Siauwte sungguh merasa tidak enak.“

“Sebenarnya apa yang terjadi d pertemuan Ong-poan-san?” Lian Ciu balas bertanya, tanpa menjawab pertanyaan si adik.

Cui San lantas menuturkan segala pengalamannya, bagaimana malam-malam ia masuk ke gedung Liong-bun Piauw-kiok, bagaimana dia mengenal So So, bagaimana dia turut menghadiri pertemuan di Ong-poan-san, bagaimana Cia Sun membunuh orang dan merampas To-liong-to kemudian akhirnya menawan dia dan So So.

Sesudah mendengar penuturan itu, Lian Ciu lalu meminta penjelasan mengenai nasib Ko Cek Seng dan Chio Tauw. Sesudah segalanya jelas, dia menghela napas seraya berkata,

“Jika kau tidak pulang, entah sampai kapan rahasia ini bisa diketahui.“

“Benar,” kata Cui San, “Saudara angkatku... Hmm, pada hakekatnya Cia Sun sebenarnya bukan manusia jahat. Ia telah melakukan banyak kedosaan akibat mengalami pengalaman hebat dan dendam sakit hati yang hebat pula. Pada akhirnya aku mengangkat saudara dengannya.“

Lian Ciu hanya manggut-manggutkan kepala.

“Dengan teriakannya yang maha dahsyat, Gie-heng (saudara angkat) merusak urat syaraf semua orang yang berada di pulau itu,“ kata pula Cui San. “Dia mengatakan bahwa andai kata orang-orang itu tidak mati maka mereka akan kehilangan ingatan dan dengan begitu barulah rahasia To-liong-to tidak sampai bocor.“

“Didengar dari penuturanmu, biar pun sangat kejam, Cia Sun adalah manusia luar biasa,” kata Lian Ciu. “Memang sepak terjangnya sangat hati-hati, tetapi dia masih terpeleset dan melupakan satu orang.“

“Siapa?” tanya Cui San.

“Pek Kwie Siu,” jawabnya.

“Ahh! Tan-cu dari Hian-bu-tan,” kata Cui San dengan kaget.

Lian Ciu mengangguk. “Menurut keteranganmu tadi, di antara jago-jago yang berkumpul di pulau Ong-poan-san pada hari itu, Pek Kwie Siu inilah yang mempunyai Iweekang paling tinggi,” katanya. “Dia jatuh pingsan setelah diserang dengan semburan arak Cia Sun. Jika dia tidak pingsan, mungkin sekali tak dapat mempertahankan diri waktu Cia Sun mengeluarkan teriakannya yang dahsyat itu.“

“Benar sekali!” Cui San memotong perkataan Suheng-nya sambil menepuk lutut. “Waktu itu Pek Kwie Siu belum sadar, karenanya dia tidak mendengar teriakan Gie-heng dan secara kebetulan berhasil menyelamatkan diri. Benar! Gie-heng seorang yang berpikiran panjang, tapi dia tidak bisa berpikir sampai di situ.“

Lian Ciu menghela napas, “Yang masih hidup hanya Pek Kwie Siu dan kedua murid Kun-lun-pay itu,” katanya pula, “Seperti yang kau tahu, Iweekang Kun-lun-pay luar biasa dan walau pun tenaga dalamnya belum cukup tinggi, Ko Cek Seng dan Chio Tauw bisa lolos dari kebinasaan. Tetapi mereka hilang ingatan, seperti orang menderita penyakit urat syaraf. Setiap kali ditanya siapa yang mencelakakan mereka, hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ko Cek Seng hanya menyebutkan nama satu orang, yaitu nama ‘In So So’. Hmm...” Dia berhenti sejenak, kemudian berkata lagi. “Sekarang baru aku mengerti bahwa orang she Ko menyebut-nyebut nama Tehu karena dia tidak dapat melupakan kecantikan Tehu... Hmm, apa bila lain kali See-hoa-cu mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar, entah bagaimana aku harus menjawabnya. Pihaknya sendiri yang tidak benar, masih mau menyalahkan orang.“

“Jika Pek Kwie Siu tidak kurang apa pun, dia tahu seluk beluk dari kejadian di Ong-poan-san,” kata Cui San.

“Tapi dia tutup mulut,” kata Lian Ciu. “Apa kau bisa menebak sebab musababnya?”

Si adik berpikir sejenak. “Ya.“ jawabnya sesaat kemudian. “Mereka menutup mulut karena masih berharap bisa merampas To-liong-to.“

“Benar,” kata Lian Ciu. “Permusuhan di rimba persilatan berpangkal di situ. Kun-lun-pay menuduh In So So mencelakakan Ko Cek Seng dan Chio Tauw, sedang pihak kita menganggap kau dibunuh oleh orang-orang Peh-bie-kauw.”

“Apakah hadirnya Siauwte di pulau itu diberi-tahukan oleh Pek Kwie Siu?” tanya Cui San.

“Bukan,” jawabnya. “Pek Kwie Siu bungkam. Bersama Sie-te dan Cit-te aku telah menyelidiki pulau itu. Kami mengetahui kehadiranmu karena melihat dua puluh empat huruf yang kau tulis di tembok batu dengan menggunakan Tiat-pit. Kami segera mencari Pek Kwie Siu kemudian menanyakan tentang dirimu. Karena jawabannya kurang ajar, kami bertempur dan dia kena pukulanku. Tak lama kemudian orang Kun-lun-pay meminta keterangan dari Peh-bie-kauw dan berbuntut dengan pertempuran. Malam pertempuran itu Kun-lun-pay menderita kerugian dua orang binasa dan permusuhan makin menghebat. Selama sepuluh tahun dendam sakit hati ini semakin mendalam.“

Cui San sangat berduka. “Karena gara-gara siauwte suami isteri, berbagai partai menemui bencana ” katanya. “Siauwte sungguh merasa tak enak sekali. Sebab itu setelah memberi laporan kepada Insu, siauwte akan mengunjungi berbagai partai untuk mencoba mendamaikan dan siauwte rela menerima hukuman apa pun juga.“

Lian Ciu menghela napas. “Dalam urusan ini tidak bisa menyalahkan kau,” katanya. “Kalau hanya karena persoalan kau berdua suami isteri yang terseret dalam permusuhan, paling banyak hanya Kun-lun, Bu-tong dan Peh-bie-kauw. Tapi dalam keinginannya untuk merebut To-liong-to, Peh-bie-kauw tidak pernah menyebut nama Cia Sun sehingga dengan begitu, Kie-keng-pang, Hay-see-pay dan Sin-kun-bun telah menumplek kedosaan di atas kepala Peh-bie-kauw. Mereka menganggap bahwa orang-orang Peh-bie-kauwlah yang membinasakan pemimpin-pemimpin mereka. Itulah sebabnya mengapa Peh-bie-kauw dikeroyok begitu banyak partai dan golongan.”

Cui San menggoyang-goyangkan kepalanya. “Aku sungguh tak mengerti apakah kebaikan To-liong-to hingga Gak-hu (mertua lelaki) rela menerima segala tuduhan yang tidak-tidak,” katanya.

“Aku sendiri belum pernah bertemu muka dengan mertuamu,” kata Lian Ciu. “Akan tetapi kepandaiannya memimpin untuk melawan begitu banyak musuh, sangat dikagumi oleh semua orang.“

“Jieko, ada satu hal yang aku tidak mengerti,” kata pula Cui San. “Go-bi dan Khong-tong tidak turut hadir dalam pertemuan di Ong-poan-san, tapi kenapa mereka juga bermusuhan dengan Peh-bie-kauw?”

“Sebab musababnya berpangkal pada Gie-hengmu, Cia Sun,” jawabnya. “Dalam usaha untuk mendapatkan To-liong-to, Peh-bie-kauw mengirim perahu-perahu untuk mencari Cia Sun di berbagai pulau. Kau harus mengetahui bahwa rahasia tak mungkin ditutupi selama-lamanya. Meski pun Pek Kwie Siu tetap bungkam, lama-lama rahasia itu bocor juga. Dangan memakai nama Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun, Gie-hengmu melakukan lebih dari tiga puluh pembunuhan yang menggemparkan. Banyak jago dari berbagai partai yang binasa di tangannya. Apa kau tahu kejadian ini?”

Cui San manggutkan kepala. “Kalau begitu akhirnya orang tahu bahwa semua itu dilakukan olehnya,” katanya dengan suara perlahan.

“Setiap kali membunuh orang, di atas tembok dia menulis huruf-huruf besar yang berbunyi: Yang membunuh ialah Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun,” Lian Ciu melanjutkan penuturannya. “Kejadian-kejadian itu demikian hebatnya sehingga aku dan saudara lain pernah menerima perintah insu untuk turun gunung guna bantu menyelidiki. Semula tiada satu manusia pun yang dapat menebak siapa penjahatnya, sedangkan Seng Kun sendiri tak pernah muncul. Tapi setelah rahasia Peh-bie-kauw bocor, orang-orang pandai berbagai partai curiga dan mulai menebak-nebak. Cia Sun adalah murid tunggal dari Hun-goan Pek-lek-Chiu. Meski pun tidak tahu sebab musababnya, orang juga tahu bahwa belakangan Cia Sun bermusuhan hebat dengan gurunya. Karena itu orang menduga bahwa yang menggunakan nama Seng Kun adalah Cia Sun.“

“Jumlah manusia yang dibunuh Cia Sun terlalu besar dan jumlah partai yang punya dendam terlampau banyak. Malah seorang yang berkedudukan paling tinggi di Siauw-lim-pay, yaitu Kong-kian Taysu, juga binasa di tangannya. Coba kau menaksir-naksir berapa jumlah orang yang ingin membalas sakit hati terhadapnya.”

Paras muka Cui San berubah pucat, “Ya... Gie-heng sudah kembali ke jalan lurus, tapi kedua tangannya berlumuran terlampau banyak darah,“ katanya dengan suara parau. “Jieko... Pikiranku kusut sehingga aku tidak dapat berpikir lagi.“

“Dengan demikian semua orang mengeroyok Peh-bie-kauw,” kata pula Lian Ciu. “Karena kau, aku dan saudara-saudara mencari Peh-bie-kauw, karena Ko Cek Seng dan Chio Tauw, Kun-lun-pay mencari Peh-bie-kauw, karena kebinasaan pemimpinnya, Kie-keng-pang mencari Peh-bie-kauw. Siauw-lim-pay dan lain-lain golongan mencari Peh-bie-kauw karena hendak menanyakan di mana tempat sembunyinya Cia Sun. Selama beberapa tahun terjadi lima kali pertempuran besar dan jumlah pertempuran kecil tak dapat dihitung lagi. Dalam pertempuran-pertempuran besar, pihak Peh-bie-kauw selalu jatuh di bawah angin. Tapi dengan kecerdikan Gak-humu selalu dapat menolong rombongannya sehingga tidak sampai menjadi hancur. Mau tidak mau semua orang mengakui bahwa dia benar-benar manusia luar biasa. Selama persoalan belum jelas dan masih banyak hal yang meragukan, Siauw-lim, Kun-lun, Bu-tong dan pengurus lain tidak mau bertindak keterlaluan. Tapi golongan-golongan Kangouw yang lainnya takkan sungkan-sungkan lagi. Kali ini kami mendapat warta bahwa Hio-cu dari Thian-sie-tong berlayar dengan perahu besar. Kami lantas menguntit. Lie Hio-cu menjadi marah dan pertempuranpun terjadi. Kalau kau tidak keburu datang, jumlah korban pasti akan lebih besar lagi.”

Bukan main menyesalnya Cui San. Dengan sorot mata duka dia memandang kakak seperguruannya yang kelihatan lebih tua sepuluh tahun.

“Jieko, sepuluh tahun ini kau sungguh menderita,“ katanya dengan suara berbisik. “Sesudah bisa bertemu lagi dengan kau, mati pun aku rela... aku...“

“Ngote, kau tidak usah terlalu sedih,” potong sang kakak. “Berkumpulnya kembali Bu-tong Cit-hiap adalah kejadian yang sangat menggembirakan. Semenjak Samte terluka dan kau menghilang, orang-orang Kangouw mengubah panggilan menjadi Bu-tong Ngo-hiap. Huh! Huh! Hari ini Cit Hiap berkumpul kembali...“

Ia tak dapat meneruskan perkataannya sebab mendadak ingat bahwa meski pun Cit-hiap masih lengkap tujuh orang, tapi sebenarnya tidak begitu, karena Jie Thay Giam tidak dapat menunaikan lagi tugasnya sebagai seorang pendekar. Sesudah berlayar belasan hari, akhirnya mereka tiba di mulut Sungai Tiang-kang. Mereka segera menukar perahu yang lebih kecil dan meneruskan perjalanan di sungai.

Cui San dan So So sudah menukar pakaian yang pantas dan sungguh merupakan pasangan yang setimpal, yang satu tampan dan yang lain cantik. Bu Kie pun mengenakan baju baru dan sebagian rambutnya dibuat dua kuncir yang diikat dengan sutera merah. Dengan parasnya yang tampan, serta kegesitan dan kecerdasannya, dia sungguh seorang bocah yang menarik. Dalam kesibukannya mempelajari ilmu silat, Lian Ciu tidak menikah sehingga sekarang ia menumplekkan kasih sayangnya kepada putera Sute-nya. Bu Kie yang pintar tahu bahwa Supek yang parasnya menyeramkan itu sangat mencintainya. Karena itu, setiap Lian Ciu ada waktu luang, ia mendekati sang paman untuk menanyakan ini dan itu.

Sebagai anak yang biasa hidup di pulau terpencil, pengalaman bocah ini sangat terbatas sehingga hampir segala yang dilihatnya merupakan sesuatu yang baru. Lian Ciu tidak pernah merasa bosan menjawab dengan penjelasan seperlunya. Sering kali sambil menggendong Bu Kie dia berdiri di kepala perahu untuk menikmati pemandangan alam. Hari itu perahu tiba di kaki gunung Teng-koan-san di daerah Tong-leng propinsi An hui. Pada waktu magrib perahu berlabuh dekat sebuah kota kecil dan juragan perahu mendarat untuk membeli daging dan arak.

Cui San suami isteri dan Jie Lian Ciu bercakap-cakap di gubuk perahu sambil minum teh, sedangkan Bu Kie bermain sendirian di kepala perahu. Di darat, di dekat perahu itu, kelihatan duduk seorang pengemis tua yang lehemya dilibat seekor ular hijau, sedangkan kedua tangannya bermain dengan seekor ular besar yang badannya berwarna hitam dengan titik-titik putih. Karena belum pernah melihat ular, Bu Kie menonton permainan si pengemis dengan mata terbelalak. Melihat si bocah, pengemis itu mengangguk sambil ter-tawa. Tiba-tiba, sekali dia mengibas tangan, ular hitam itu melesat ke atas lalu beberapa kali jungkir balik di tengah udara kemudian jatuh di dadanya. Bu Kie heran bukan main dan terus mengawasi dengan mata tidak berkedip.

Si pengemis tertawa dan menggapai-gapai sebagai undangan. Tanpa berpikir panjang Bu Kie melompat ke darat mendekatinya. Pengemis itu mengambil sebuah kantong kain yang menggemblok di punggungnya dan sambil membuka mulut kantong dia berkata,

“Di dalam kantong ini terdapat benda yang lebih menarik. Coba kau lihat.“

“Benda apa?” tanya Bu Kie.

“Sangat menarik, kau lihat saja sendiri,” jawabnya.

Bu Kie membungkuk dan mengawasi ke dalam kantong itu, tapi dia tak dapat melihat apa pun. Ia maju setindak lagi untuk melihat dengan lebih jelas. Mendadak, bagaikan kilat kedua tangan si pengemis bergerak menungkup kepala Bu Kie. Bocah itu hanya bisa mengeluarkan teriakan di tenggorokan karena mulutnya dibekap dan badannya diangkat ke atas. Teriakan Bu Kie sangat lemah, namun Lian Ciu dan suami isteri Cui San adalah ahli kelas satu yang kupingnya tajam luar biasa. Seketika mereka tahu terjadi sesuatu yang tidak baik.

HANG-LIONG-SIP-PAT-CIANG

Serentak mereka berlari ke kepala perahu dan melihat Bu Kie menjadi tawanan si pengemis. Baru saja mereka hendak melompat ke darat, pengemis itu sudah membentak,

“Jangan bergerak! Kalau kau masih sayang jiwa anak ini, jangan bergerak!” Seraya mengancam, dia merobek baju Bu Kie bagian pinggang dan mengangsurkan mulut ular hitam itu ke dekat kulit punggung si bocah.

Melihat itu, bukan main bingung dan gusarnya So So. Tanpa pikir panjang tangannya bergerak untuk melepaskan jarum emas.

“Jangan!” bentak Lian Ciu dengan suara perlahan.

Dia mengenal ular hitam itu adalah salah satu dari delapan belas macam ular paling berbisa di dunia. Ular yang mengambil kedudukan ke sebelas tersebut diberi nama Cit-lie-seng. Semakin hitam warnanya dan semakin halus titik-titik putihnya, makin hebat pula bisanya. Ular si pengemis itu, yang hitamnya mengkilap dan titik putihnya bersinar terang, tampak membuka mulutnya yang besar, empat taring siap memagut punggung Bu Kie yang putih bersih. Sekali dipagut, bocah itu pasti binasa. Andai kata pengemis itu bisa lantas dibinasakan dan obat pemunah bisa didapatkan, masih belum tentu jiwa Bu Kie keburu ditolong dengan obat itu. Itu sebabnya kenapa Lian Ciu mencegah niat So So tadi. Dengan paras muka tidak berubah, dia bertanya,

“Sebab apa tuan menawan?”

“Sebelum aku menjawab, lebih dulu kau harus menolak perahumu sampai delapan tombak dari tepi sungai,” kata sipengemis.

Lian Ciu mengerti bahwa sesudah perahu terpisah jauh dari tepian, maka Bu Kie semakin sukar ditolong. Tapi karena anak itu menghadapi bencana, dia tidak bisa berbuat lain dari pada menurut. Dia lalu menjemput rantai sauh dan sekali menyentak, sauh yang beratnya kira-kira lima puluh kati itu melompat keluar dari permukaan air. Melihat Iweekang Jie Jie-hiap yang sangat tinggi, paras muka si pengemis tua berubah. Dengan jantung berdebar kencang Cui San mengambil galah dan menotol tanah sehingga perahu itu bergerak ke tengah sungai.

“Lebih jauh sedikit!” teriak pengemis itu.

“Apa belum delapan tombak?” tanya Cui San mendongkol.

“Waktu mengangkat sauh Jie Jie-hiap telah memperlihatkan Iweekang yang begitu tinggi,” kata si tua sambil tertawa. “Sebab itu, biar pun sudah terpisah delapan tombak, aku yang rendah masih sangat kuatir.”

Apa boleh buat, Cui San mendorong lagi sejauh beberapa tombak. “Apakah aku boleh tahu she dan nama tuan yang mulia?“ tanya Lian Ciu sambil menyoja.

“Aku yang rendah hanyalah seorang prajurit yang tidak masuk hitungan di Kay-pang (Partai pengemis) sehingga namaku hanya akan mengotori kuping Jie Jie-hiap,” jawabnya.

Melihat pengemis itu menggendong enam buah karung, Lian Ciu merasa heran. Seorang pengemis yang membawa karung sebanyak itu punya kedudukan yang cukup tinggi. Di samping itu, sepanjang pengetahuannya, Kay-pang adalah sebuah partai yang selama ini selalu melakukan perbuatan-perbuatan mulia, sedangkan Pangcu dari partai itu adalah sahabat karib dari Toa-sukonya, Song Wan Kiauw. Selagi ia berpikir, tiba-tiba So So berkata,

“Apakah Bu-san-pang dari Su-coan timur sudah dipersatukan dengan Kay-pang? Jika tidak salah, dalam partai pengemis tidak terdapat orang seperti tuan.“

Si tua mengeluarkan seruan tertahan saking kagetnya. Sebelum ia menjawab, So So berkata pula,

“Ho-losam, kau jangan main gila. Apa bila kau berani mengganggu selembar rambut anakku, aku akan mencincang tubuh Bwee Ciok Kian!”

Pengemis itu kaget tak kepalang, paras mukanya berubah pucat sekali. Sesaat kemudian, sesudah dapat menenteramkan hatinya, dia berkata:

“In-kouwnio mempunyai mata yang sangat tajam dan dapat mengenali Ho-losam, Atas perintah Bwee-pangcu aku datang ke mari untuk menyambut Kongcu.“

“Singkirkan ular itu!” bentak So So dengan marah. “Huh! Gerombolan Bu-san-pang yang tiada artinya berani menyentuh kepala Peh-bie-kauw!”

“In-kouwnio, kau salah,” bantah Ho-losam. “Sedikit pun kami tidak mempunyai niat melanggar keangkeran Peh-bie-kauw. Asal saja In-kouwnio sudi menjawab pertanyaanku, bukan saja aku akan segera mengembalikan Kongcu, tapi Bwee-pangcu sendiri pun akan datang berkunjung meminta maaf.“

“Pertanyaan apa?” tanya So So.

“In-kouwnio sendiri mungkin sudah mendengar bahwa putera satu-satunya Bwee-pangcu binasa di tangan Cia Sun,“ jawabnya. “Bwee-pangcu mohon agar Thio Ngo-hiap dan In-kouwnio... aku salah... agar Thio Ngo-hiap dan Thio-hujin sudi menaruh belas kasihan dengan memberi-tahu tempat sembunyinya Cia Sun. Untuk budi yang amat besar itu, seluruh partai akan merasa sangat berterima kasih.“

So So mengerutkan alis. “Kami tak tahu,” katanya.

“Kalau begitu kami mohon supaya kalian suka mendengar-dengarkan di mana adanya Cia Sun, sedang di pihak kami, akan merawat Kongcu baik-baik,” kata si pengamis. “Nanti sesudah kalian mendapat tahu tempat sembunyinya Cia Sun, Bwee-pangcu sendiri akan mengembalikan Kongcu.“

Melihat taring ular hanya terpisah beberapa dim saja dari punggung puteranya, hati So So menjadi berdebar-debar. Jika ia dapat mengambil keputusan sendiri, tentu ia akan segera membuka rahasia. Ia menengok dan menatap muka suaminya. Sesudah sepuluh tahun menjadi suami isteri, ia mengenal adat sang suami yang keras dan mulia. Ia tahu bahwa apa pun jua yang akan terjadi Cui San tak akan mengkhianati Cia Sun. Ia mengerti bahwa jika ia membuka rahasia dan Cia Sun binasa oleh karenanya, maka hubungan mereka sebagai suami isteri pasti tak bisa dipertahankan lagi. Karena itulah, melihat paras muka Cui San yang menyeramkan, ia terpaksa tutup mulut.

“Baiklah, kau boleh menawan anakku,” kata Cui San dengan suara nyaring. “Seorang laki-laki sejati tidak akan menjual sahabat. Ho-losam, kau terlalu memandang rendah Bu-tong Cit-hiap.“

Si pengemis terkejut, itu jawaban yang tidak diduga-duga. Semula dia menaksir bahwa begitu Bu Kie tertawan, maka Cui San dan So So pasti langsung memberi-tahu tempat sembunyinya Cia Sun. Sambil berpaling ke arah Lian Ciu, dengan rasa kagum dia berkata,

“Jie Jie-hiap, Cia Sun adalah manusia berdosa yang dosanya ber-tumpuk bagaikan gunung. Bu-tong-pay selalu mengutamakan keadilan dan pendirian yang sangat dihormati di rimba persilatan. Aku harap Jie-hiap suka membujuk Ngo-hiap.”

“Mengenai urusan ini, aku bersama Ngote justru ingin pulang ke Bu-tong untuk melaporkannya kepada Insu dan meminta keputusannya,” kata Lian Ciu, “Tiga bulan lagi kami hendak mengadakan pertemuan di Hong-ho-lauw. Aku harap Bwee-pangcu dan tuan juga suka menghadiri pertemuan itu agar kita beramai bisa berunding untuk mendapatkan satu penyelesaian yang memuaskan. Sekarang aku minta kau bersedia melepaskan anak itu.“

Lian Ciu berbicara dengan suara perlahan dari jarak belasan tombak. Akan tetapi setiap perkataannya dapat didengar jelas oleh Ho-Iosam yang menjadi kagum bukan main.

“Bu-tong Cit-hiap yang namanya menggetarkan seluruh negeri benar-benar bukan nama kosong,“ katanya dalam hati. “Kali ini aku sudah menanam bibit permusuhan bagi Bu-san-pang. Tapi biar bagaimana pun juga sakit hati Bwee-pangcu tidak bisa tak dibalas.“ Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata,

“Kalau begitu aku memohon beribu maaf dari kalian. Tidak ada jalan lain kecuali aku mengajak Thio-kongcu pulang ke Tong-coa.“

Karena Ho-losam merangkapkan kedua tangannya, maka mulut ular yang dicekal dengan salah satu tangannya terpisah agak jauh dari pungung Bu Kie. Biar pun kepalanya berada di dalam karung tapi bocah itu mendengar jelas semua pembicaraan. Begitu ia merasa tangan si pengemis terlepas dari dirinya, bagaikan kilat ia menepuk jalan darah Leng-tay-hiat di punggung Ho-losam, dan dengan berbareng ia menendang seraya melompat. Karena kuatir musuh akan melepaskan ular, tanpa membuka karung yang masih menutup kepalanya, Bu Kie meloncat beberapa kali dengan sekuat tenaga. Sesudah kabur belasan tombak barulah ia mencabut karung dari kepalanya. Ia heran sebab melihat pengemis tua itu rebah di tanah tanpa bergerak.

Sementara itu Cui San cepat-cepat menolak perahunya ke tepi sungai, kemudian bersama isteri dan kakaknya, ia melompat ke daratan. Bagaikan terbang So So berlari ke arah puteranya yang lalu dipeluk dengan rasa girang yang meluap-luap. Cui San sendiri segera menghunus pedang kemudian membunuh kedua ular berbisa itu. Sesudah itu barulah dia membungkuk dan memeriksa keadaan Ho-losam yang mulutnya mengeluarkan darah dan nampaknya sedang menderita kesakitan hebat.

“Ngote,” kata Lian Ciu dengan perasaan heran. “Apa mungkin tepukan Bu Kie yang begitu enteng bisa mengakibatkan luka yang begitu berat?”

Ia mengangsurkan tangan dan mengangkat lengan kiri si tua, akan tetapi lengan itu kaku seperti orang yang tertotok jalan darahnya. Melihat itu, ia segera mengurut jalan darah Tan-tiong-hiat di bagian dada dan Toa-twie-hiat di belakang leher Ho-losam. Begitu diurut, di luar dugaan si pengemis langsung mengeluarkan teriakan menyayat hati.

“Aduh! Kalau mau bunuh, lekas bunuh... Jangan kau... menyiksa!” Ia sesambat. Seluruh tubuhnya menggigil dan giginya bercetukan.

Lian Ciu kaget tak kepalang, sebab dengan urutan itu ia bermaksud menolong. Tan-tiong-hiat ialah pusat atau sumber dari hawa tubuh manusia, sedang Toa-twie-hiat adalah tempat berkumpulnya jalan darah besar di bagian kaki tangan manusia. Maka itu, jika dua jalan darah itu sudah mengalir baik, jalan darah lain yang tertutup akan terbuka kembali. Tapi di luar dugaan, akibatnya justru sebaliknya. Melihat Ho-losam menderita kesakitan yang begitu hebat, Lian Ciu segera menotok jalan darah di pundak untuk mengurangi penderitaannya, kemudian berpaling memandang Cui San. Tapi Cui San pun tidak mengerti sebab musababnya.

“So-moay,” katanya. “Apakah kau melukai dia dengan jarum emas?”

“Tidak,” jawabnya. “Mungkin dia kena dipagut ulamya sendiri.“

Sambil menahan sakit si tua berkata, “Tidak... anakmu yang menghantam punggungku...“ Ia melirik Bu Kie dengan sorot mata heran dan takut.

Hati So So senang sekali. “Bu Kie,” katanya dengan suara bangga, “benarkah kau sendiri yang menghajamya? Bagus! Bagus sekali!”

“Jalan darah apa yang harus dibuka untuk menolongnya?” Cui San bertanya dengan suara jengah. Ia merasa malu bahwa sebagai ayah dia tidak dapat menolong orang yang dihajar oleh puteranya sendiri sehingga pertanyaan itu tidak langsung ditujukan kepada Bu Kie.

So So tertawa geli. “Anak,” katanya. “Thia-thia menyuruh kau membuka jalan darahnya. Tolonglah dia! Sekarang dia mengenal lihaynya Cia Bu Kie.“

Mendengar perkataan Cia Bu Kie, Lian Ciu merasa heran. “Cia Bu Kie?” dia menegas.

“Ya,” jawab Cui San sambil mengangguk. “Siauwte sudah menyerahkan anak ini kepada Gie-heng dan sedari dilahirkan dia menggunakan she Cia.“

Bu Kie menggelengkan kepala. “Aku tidak bisa,” katanya.

“Mengapa tidak bisa?” tanya sang ayah.

“Gie-hu hanya mengajarkan aku menotok orang, tapi tak pernah memberi-tahu cara bagaimana harus membuka totokan,” jawabnya. Ia terdiam sejenak, kemudian berkata pula, “Waktu menurunkan pelajaran itu kepadaku, Gie-hu berkata bahwa apa bila pukulan itu mengenai Tai-yang, Tan-tiong, Toa-twie dan Leng-tay, empat jalan darah besar, maka orang yang terpukul dapat langsung binasa. Aku segera menanyakan bagaimana caranya menolong orang yang terpukul. Ia mengerutkan alis dan berselang beberapa saat barulah dia menjawab begini: ‘Di dunia, ilmu ini hanya dikenal oleh kita berdua. Untuk apa kau belajar cara menolongnya? Pukulan ini hanya boleh kau pergunakan untuk memukul musuh. Jika yang dipukul adalah musuh, untuk apa kita menolongnya? Apakah kau mau memberi kesempatan kepadanya supaya di belakang hari dia bisa membalas sakit hati?’ Itulah jawab Gie-hu terhadap pertanyaanku.“

Cui San dan isterinya mengakui bahwa kata-kata itu memang kata-kata Cia Sun yang tangannya kejam dan kalau membabat selalu sampai di akarnya. Biar bagaimana pun juga Ho-losam seorang laki-laki keras kepala.

“Jie Jie-hiap, Thio Ngo-hiap, dalam hal ini memang aku sendiri yang bersalah,” katanya. “Hatiku tidak baik, memang pantas kalau aku mendapat pembalasan yang tidak baik. Kini aku mohon supaya kalian cepat-cepat mengambil jiwaku agar aku tidak menderita terlalu lama.“

Lian Ciu menggelengkan kepala. “Tidak, dosamu tidak pantas mendapat hukuman mati,” katanya. “Aku minta maaf untuk keponakanku yang sudah turun tangan tanpa tahu berat entengnya tangan itu. Kami akan berusaha sebisa mungkin supaya dapat menolong jiwamu.”

Sehabis berkata begitu, ia mendukung Ho-losam lalu menaruhnya di gubuk perahu. Sesudah itu ia kembali ke daratan kemudian bertanya kepada Bu Kie,

“Apa nama pukulan yang telah kau gunakan tadi?”

Melihat paras sang paman yang menyeramkan, bocah itu jadi ketakutan dan menangis.

“Aku bukan sengaja hendak membinasakannya,” jawabnya. “Tadi dia... dia mengancam aku dengan ular... Aku takut, aku... sangat takut...“

Lian Ciu menghela napas panjang. Dengan rasa cinta dia mendukung keponakannya dan mengusap matanya.

“Jie-pek tidak menyalahkan kau,” katanya dengan suara halus. “Jika dia mengancam Jie-pek dengan ular, aku pun akan menghajar dia.“

Setelah dibujuk dan dielus-elus barulah Bu Kie berhenti menangis. “Menurut Gie-hu, pukulan itu sudah hilang dari rimba persilatan,” Ia menerangkan. “Namanya Hang-liong-sip-pat-ciang (Delapan belas pukulan untuk menaklukkan naga).”

Begitu mendengar Hang-liong-sip-pat-ciang, paras Lian Ciu berubah dan dia lalu menurunkan si bocah dari dukungannya. Hang-liong-sip-pat-ciang adalah ilmu silat yang amat tersohor dari Ang Cit Kong, Pangcu partai pengemis pada akhir jaman kerajaan Lam-song. Di samping ilmu itu Ang Cit Kong memiliki ilmu silat tongkat yang diberi nama Tah-kauw Pang-hoat (Ilmu silat tongkat untuk memukul anjing), yang juga telah menggetarkan rimba persilatan dan sangat disegani jago-jago pada masa itu. Tah-kauw Pang-hoat adalah ilmu yang hanya diturunkan kepada Pangcu dari Kaypang dan sampai pada saat itu masih dikenal orang.

Tapi Hang-liong-sip-pat-ciang sudah lama menghilang di dunia persilatan. Ilmu itu telah diturunkan oleh Ang Cit Kong kepada Kwee Ceng, sesudah itu tidak ada orang lain yang cukup berbakat untuk mempelajarinya. Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko adalah seorang yang mengenal macam-macam ilmu silat, di antaranya Hang-liong-sip-pat-ciang. Tetapi lantaran belakangan satu lengannya putus, ia tidak dapat menggunakan ilmu itu yang harus digunakan dengan kedua tangan. Maka itulah, selama kira-kira seratus tahun rimba persilatan hanya mendengar nama tapi belum pernah melihat ilmu silat tersebut. Sekarang di luar dugaan Bu Kie telah mendapatkannya dari Cia Sun.

“Apa benar kau memukul Ho-losam dengan Hang-liong-sip-pat-ciang?” mendesak Lian Ciu yang masih tidak percaya akan keterangan keponakannya.

Bu Kie mengangguk. “Menurut kata Gie-hu pukulan itu bernama Sin-liong Pa-bwee (Naga sakti menyabet dengan buntutnya),“ jawabnya.

Lian Ciu dan Cui San lantas teringat bahwa waktu menceritakan Hang-liong-sip-pat-ciang, guru mereka pemah menyebut nama ‘Sin-liong Pa-bwee’, namun Thio Sam Hong sendiri tak mengenal pukulan itu. Mengingat bahwa dalam usianya yang masih begitu muda Bu Kie sudah melukai Ho-losam begitu berat, keterangannya tentang Hang-liong-sip-pat-ciang mungkin tidak palsu.

“Setiap kali Bu Kie menerima pelajaran dari Gie-heng, Siauwte berdua isteri dilarang mendekat,” Cui San menerangkan. “Siauwte tak nyana Gie-heng menurunkan ilmu yang luar biasa ini.”

“Gie-hu mengatakan bahwa ia hanya mengenal tiga dari delapan belas pukulan itu dan ia mendapatkannya dari seorang tokoh yang sudah mengasingkan diri dari dunia Kangouw,“ kata Bu Kie, “Gie-hu juga mengatakan bahwa dia merasa dalam perubahan-perubahan ketiga pukulan itu ada sesuatu yang kurang tepat. Mungkin sekali tokoh itu sendiri belum dapat menyelami isi pukulan-pukulan itu sampai ke dasar-dasarnya.“

Jie Lian Ciu dan Thio Cui San menjadi bengong. Mereka kagum bukan main akan lihaynya jago-jago jaman dulu. Cia Sun yang hanya dapat mempelajari beberapa pukulan, sudah begitu hebat. Karena itu kelihayan Ang Cit Kong dan Kwee Ceng hanya dapat dibayang-bayangkan. Di antara ketiga orang itu, So So lah yang paling berbunga hatinya. Sebagai seorang ibu dia sangat bangga bahwa dalam pukulannya yang pertama, puteranya masih begitu kecil sudah memperlihatkan kepandaian yang sangat tinggi. Dalam girangnya dia tidak memperhatikan pembicaraan suami dan Jie-peknya.

“Kurasa selain Ho-losam, Bu-san-pang juga mengirim lain orang untuk membantu,” kata Cui San. “Sebaiknya kita lekas-lekas menyingkir dari tempat ini.”

“Benar,” kata Lian Ciu. “Aku sudah memberi obat Tok-bing-sin-tan kepada Ho-losam. Semoga saja obat itu dapat menolong jiwanya.“

Mereka berempat kembali ke perahu. Napas Ho-losam sangat lemah dan mulutnya masih mengeluarkan darah.

“Bu Kie,” kata Ciu San dengan suara kereng. “Kali ini aku tidak menyalahkan kau. Karena adanya ancaman hebat maka kau terpaksa turun tangan. Tapi lain kali, kecuali terlalu terdesak, kau tak boleh sembarangan bertempur. Aku melarang kau menggunakan tiga pukulan dari Hang-liong-sip-liong itu. Kau mengerti?”

“Baiklah. Anak tak akan melupakan pesan ayah,” jawab si bocah. Melihat paras muka ayahnya yang menyeramkan, air matanya lantas berlinang-linang dan sesaat kemudian dia menangis.

Tak lama kemudian juragan perahu telah kembali sambil membawa arak dan daging. Lian Ciu segera memerintahkannya untuk menjalankan perahu. Malam itu, sesudah bersantap Lian Ciu bersila dengan tangan menekan jalan darah Toa-twie-hiat di belakang leher Ho-losam, kemudian ia mengempos Iweekang-nya untuk membantu mengobati si pengemis.

So So sangat tidak puas akan cara-cara Jie-peknya yang dianggap seperti nenek-nenek. Menurut jalan pikirannya, manusia semacam Ho-losam bukan saja tidak pantas ditolong, bahkan harus dilemparkan ke dalam air.

Setelah mengalirkan Iweekang-nya beberapa jam, Lian Ciu merasa lelah dan Cui San menggantikannya. Di waktu fajar menyingsing pengemis tua itu tidak mengeluarkan darah lagi dan pada mukanya mulai terdapat sinar dadu.

“Jiwamu sudah tertolong,” kata Lian Ciu dengan girang. “Hanya saja ilmu silatmu mungkin tak bisa pulih kembali.“

“Budi Jie-wie tidak akan dilupakan olehku si orang she Ho,” kata Ho-losam. “Aku pun tak ada muka lagi untuk menemui Bwee-pangcu. Mulai sekarang aku akan menyingkirkan diri dari pergaulan dan tidak akan berkeliaran lagi di kalangan Kangouw.“

Waktu perahu tiba di An-keng, pengemis itu berpamitan kemudian berlalu. Sesudah berpisah sepuluh tahun dengan guru dan saudara-saudara seperguruannya, Cui San ingin sekali secepat mungkin sampai di Bu-tong. Ia merasa amat tidak sabar dengan jalannya perahu yang sangat perlahan. Maka, sesudah melewati An keng, dia mengajukan usul untuk mengambil jalan darat dengan menunggang kuda.

“Ngote, kurasa lebih baik kita terus menggunakan perahu,” kata sang kakak. “Walau pun lebih lambat beberapa hari tetapi jauh lebih aman. Waktu ini entah berapa banyak orang ingin menyelidiki tempat sembunyinya Cia Sun.“

“Dengan berjalan bersama-sama Jie-pek, apakah masih ada orang yang berani mencegat kita?” kata So So.

“Kalau kami tujuh saudara berkumpul semuanya, mungkin sekali orang akan sangsi untuk mengganggu,” kata Lian Ciu. “Tapi dengan hanya bertiga, tak bisa kita menghadapi begitu banyak orang pandai. Selain itu tujuan kita adalah untuk menyelesaikan urusan ini secara damai. Perlu apa kita menanam lebih banyak bibit permusuhan?”

Cui San mengangguk. “Tak salah apa yang di katakan Jieko,” katanya.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di Bu-hiat, wilayah Ouwpak. Malam itu, setibanya di Hok-tie-kouw, perahu melepas sauh dan bersiap untuk bermalam di situ. Tiba-tiba Lian Ciu mendengar suara kaki kuda digili-gili dan ia melongok keluar dari gubuk perahu. Secara kebetulan dua penunggang kuda sedang membelokkan tunggangannya yang dikaburkan ke arah kota. Dengan begitu dia tidak bisa melihat muka kedua orang itu. Tapi dilihat dari gerak-geraknya yang gesit dan lincah, mereka pasti bukan sembarang orang. Lian Ciu melirik adiknya dan berkata dengan suara perlahan,

“Kurasa tempat ini bakal terjadi sesuatu. Lebih baik kita berangkat sekarang juga.“

“Baiklah,” kata Cui San dengan rasa berterima kasih.

Semenjak Bu-tong Cit-hiap turun gunung, karena mempunyai kepandaian tinggi dan sepak terjangnya selalu menuruti jalan yang lurus, mereka tak pernah menyingkir dari orang lain. Selama beberapa tahun belakangan ini nama Jie Lian Ciu naik makin tinggi sehingga para Ciang-bun-jin dari partai-partai ternama seperti Kun-lun, Khong-tong dan lainnya bahkan menaruh hormat terhadapnya. Namun malam itu dia tidak mau berdiam lama-lama di Hok-tie-kouw karena melihat bayangan dua orang yang tidak ternama.

Cui San mengerti bahwa sikap sang kakak itu adalah demi keselamatan keluarganya. Sementara itu Lian Ciu telah memanggil juragan perahu. Sambil mengangsurkan sepotong perak yang beratnya lima tahil, ia minta agar perahu diberangkatkan sekarang juga. Meski pun lelah, tetapi melihat uang yang berjumlah besar itu, ia girang dan mengiyakan. Malam itu bulan memancarkan cahayanya yang gilang gemilang. Bu Kie telah mendekur, sedang ayah bundanya bersama sang Jie-pek masih minum arak di kepala perahu sambil menikmati pemandangan malam yang amat indah. Dengan hati lapang mereka minum sambil bercakap-cakap.

“Tak lama lagi Insu akan berulang tahun yang ke seratus,” kata Cui San. “Bahwa siauwte keburu pulang untuk turut serta dalam pertemuan yang langka itu merupakan bukti bahwa Langit menaruh belas kasihan atas diri siauwte.“

“Hanya sayang kita tidak bisa menyediakan antaran yang sepantasnya,” menyambung si isteri.

Lian Ciu tertawa seraya berkata: “Tehu, apakah kau tahu, siapa di antara tujuh muridnya yang paling dicintai Insu?”

“Tentu saja Jie-pek,” jawabnya sambil tersenyum.

Lian Ciu tertawa. “Tehu nakal sekali,” katanya. “Kau tahu, tetapi kau sengaja mengatakan begitu. Di antara kami bertujuh, yang paling dicintai oleh Insu adalah suamimu yang tampan.“

So So girang bukan main. “Aku tak percaya,” katanya dengan paras muka berseri-seri.

“Di antara kami bertujuh setiap orang memiliki keunggulan sendiri-sendiri,” Lian Ciu lantas menerangkan. “Toa-suko mempelajari kitab Ya-keng dan sebagai manusia, ia rendah hati, sederhana, berjiwa besar dan berpandangan luas. Sam-te seorang yang amat berhati-hati dan pandai bekerja. Dia belum pernah gagal melaksanakan pekerjaan yang diberikan Insu. Sie-te berotak cerdas luar biasa. Liok-te unggul dalam ilmu pedang dan Cit-tee belakangan ini sudah mempelajari juga Gwakang (ilmu silat luar) sehingga dia akan mahir dalam ilmu dalam dan ilmu luar serta akan dapat merangkap tenaga keras dan tenaga lembek.“

“Bagaimana dengan Jie-pek sendiri?” tanya So So.

“Aku berotak tumpul dan tidak mempunyai keunggulan apa pun,” jawabnya, ”jika Tehu ingin tahu, boleh dikatakan bahwa dalam pelajaran yang diturunkan oleh Suhu, akulah yang paling giat mempelajarinya.“

So So bertepuk tangan. “Aku memang sudah tahu bahwa di antara Bu-tong Cit-hiap, Jie-pek yang mempunyai ilmu silat paling tinggi,” katanya sambil tertawa. “Tapi Jie-pek sangat merendah dan tidak suka mengakui.“

“Memang, di antara kami bertujuh, Jie ko yang berkepandaian paling tinggi,” kata Cui San. “Hai...! Selama sepuluh tahun Siauwte tidak pernah menerima pelajaran Insu dan di waktu ini siauwte pasti menduduki kursi paling buncit.“ Waktu mengucapkan kata-kata ini suaranya bernada sedih.

“Akan tetapi di antara kita bertujuh, kaulah yang Bun-bu-coan-cay,” kata Lian Ciu, “Tehu, sekarang aku ingin membuka satu rahasia. Pada lima tahun yang lalu, ketika Suhu tengah merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan puluh lima, tiba-tiba saja paras muka beliau berubah sedih. Sesudah menghela napas, beliau berkata: ‘Di antara tujuh muridku, yang otaknya paling cerdas dan bun-bu-song-coan hanyalah Cui San seorang. Sesungguhnya aku mengharap bahwa di hari kemudian dia akan bisa menjadi ahli warisku. Ahh...! Hanya sayang, rejeki anak itu tipis sekali dan selama lima tahun ini belum diketahui bagaimana nasibnya. Mungkin... mungkin sekali dia sudah mendapat kecelakaan’. Kau dengar, Tehu. Apakah keliru jika aku mengatakan bahwa Ngote paling disayang oleh Suhu?”

Mendengar itu Cui San merasa berterima kasih dan terharu sehingga air matanya berlinang-linang.

“Sekarang Ngote sudah kembali dengan selamat, dan pulangnya ber-sama kalian sudah merupakan antaran yang paling berharga untuk Suhu,” kata pula Lian Ciu.

Bicara sampai di sini sekonyong-konyong terdengar suara kaki kuda yang dilarikan di gili-gili sungai. Kuda-kuda itu datang dari sebelah timur dan menuju ke barat. Pada tengah malam yang sunyi suaranya terdengar tegas sekali dan dari suara tindakan dapat diketahui bahwa jumlahnya empat ekor kuda. Lian Ciu bertiga saling mengawasi. Di dalam hati mereka tahu bahwa empat penunggang kuda yang datang di tengah malam buta itu kebanyakan mempunyai sangkut paut dengan mereka. Meski pun mereka sungkan mencari urusan, tapi mereka pun bukan orang-orang yang takut mendapat urusan. Karena itu biar pun curiga tetapi mereka tenang-tenang saja dan tidak membicarakan kejaran empat penunggang itu.

“Pada waktu aku turun gunung, Suhu sedang menutup diri dan bersemedhi,” kata Lian Ciu pula. “Setibanya kita di Bu-tong, menurut perhitunganku beliau sudah selesai.“

“Dulu ayah pernah memberi-tahu kepadaku, bahwa selama hidup ia hanya mengagumi Thio Cinjin dan Kian-bun-sie-seng, empat pendeta suci dari Siauw-lim-pay,” kata So So. “Tahun ini Thio Cinjin sudah mencapai usia seratus tahun dan dalam keagamaan mungkin dia tidak mempunyai tandingan lagi di dunia ini. Apakah beliau sedang mempelajari ilmu hidup abadi?”

“Bukan, Insu sedang merenungkan ilmu silat,” jawabnya.

So So agak kaget. “Dalamnya ilmu silat yang dimiliki beliau sudah tidak dapat diukur lagi,” katanya. “Apa lagi yang ingin dipelajari? Apakah pada jaman ini beliau masih mempunyai tandingan?”

“Semenjak usia sembilan puluh lima tahun, tiak tahun Insu menutup diri sembilan bulan lamanya,” menerangkan Lian Ciu. “Beliau sering mengatakan bahwa inti sari dari ilmu silat Bu-tong terletak di dalam kitab Kiu-yang Cin-keng. Hanya sayang, waktu Kak Wan Couwsu menghafal isi kitab itu, Insu masih terlalu muda dan sesudah lewat sekian tahun, dia tidak ingat lagi seluruh isinya. Maka itulah dalam ilmu silat kami masih terdapat kekurangan-kekurangan.“

“Kiu-yang-cin-keng adalah warisan Tat-mo Couwsu. Insu mengatakan bahwa makin lama beliau merenungkan, semakin merasa bahwa dalam ilmu silat kami masih terdapat terlalu banyak kekurangan, se-olah hanya merupakan separuh dari sebuah keseluruhan. Beliau mengatakan bahwa untuk mencapai keseluruhan itu orang harus mendapatkan dan mempelajari Kiu-im Cin-keng. Hanya sayang, Kiu-yang Cin-keng saja masih belum lengkap, di mana orang harus mencari kitab Kiu-im Cin-keng? Di samping itu, apakah di dunia ini benar-benar terdapat kitab Kiu-im Cin-keng, masih merupakan sebuah teka-teki.“

“Memang Tat-mo Couwsu seorang luar biasa dari negeri Thian-tiok (India), namun dalam kecerdasan dan bakat belum tentu Insu kalah dari Tat-mo Couwsu. Maka itu, kalau Cin-keng tidak mungkin didapatkan, apakah Insu sendiri tak mampu menggubah ilmu silat yang sempurna? Pertanyaan itu tidak bisa menghilang dari otak Insu. Karena itulah beliau lalu menutup diri mempelajari dan merenungkan ilmu silat kami agar bisa mencapai kesempurnaan.”

Mendengar keterangan itu, bukan main rasa kagumnya Cui San dan So So.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia