Kamis, 08 Oktober 2026

To Liong To 03

BU-LIM-CIE-CUN (YANG TERMULIA DALAM RIMBA PERSILATAN

Dengan adanya kejadian itu, Thay Giam berubah pikiran. “Jika menolong orang, harus menolong sampai di akhirnya,” pikirnya. “Jika aku berlalu, mungkin sekali dia akan mati di laut.“ Dia lantas saja menjambak punggung si kakek dan sambil menentengnya, dia berjalan ke arah sebuah bukit. Dia mengawasi keadaan seputarnya dan melihat sebuah rumah kecil yang bentuknya menyerupai kelenteng. Dia lalu pergi ke sana dan benar saja rumah itu rumah berhala yang di depannya terdapat huruf ‘Hay-sin-bio’ Kelenteng Malaikat Laut. Dia menolak pintu dan mendapat kenyataan bahwa kelenteng yang sangat kecil itu hanya mempunyai sebuah ruangan.

Setelah meletakkan si kakek di atas meja sembahyang, ia mengeluarkan bahan api tetapi tidak dapat digunakan karena basah. Dalam gelap ia meraba-raba meja sembahyang dan sungguh untung di atas meja terdapat bahan api yang diperlukannya. Ia lalu menyalakannya dan menyulut lilin yang tinggal sepotong. Di bawah cahaya lilin dia melihat muka si kakek berwarna hijau ungu tanda keracunan hebat. Dengan kaget dia merogoh saku mengeluarkan sebutir Thian-sin Kay-tok-tan atau pil pemunah racun.

“Telanlah pil ini,” katanya.

Si kakek membuka mata. “Tidak,” katanya dengan suara gusar. “Aku lebih suka mati dari pada makan pil racun.”

Meski sabar, Jie Thay Giam naik darah juga. Sambil mengerutkan alis dia berkata dengan suara keras,

“Kau anggap aku siapa? Walau pun Bu-tong Cit-hiap bukan orang mulia, tapi sedikitnya bukan manusia yang gemar mencelakakan sesama manusia. Pil ini untuk memunahkan racun. Karena kau sudah terkena racun hebat, biar pun belum tentu bisa menolong jiwamu, sedikitnya pil ini bisa memperpanjang usia selama tiga hari. Paling benar kau serahkan To-liong-to kepada Hay-see-pay dan menukar golok itu dengan obat pemunah.”

Mendadak kakek itu melompat bangun dan berteriak, “Tidak...! Tidak bisa!”

“Untuk apa golok mustika itu kalau jiwamu sendiri melayang?” tanya Thay Giam.

“Jiwaku boleh melayang, tapi To-liong-to mesti tetap jadi milikku,” jawabnya dengan suara pasti seraya memegang golok itu erat-erat dan menempelkannya di pipi dengan sikap sangat menyayang.

Jie Thay Giam heran bukan main. Sebetulnya dia ingin bertanya, “Apa faedahnya golok tersebut sehingga dicinta sampai begitu.” Namun melihat sorot mata si kakek yang tampak serakah dan ganas, dia jadi muak dan setelah memutar badan, dia lantas berjalan pergi.

“Tahan! Mau ke mana kau?!” bentak orang tua itu.

Thay Giam tertawa. “Kalau aku mau pergi, itu bukan urusanmu,” jawabnya sambil berjalan terus.

Baru dia berjalan beberapa tindak, mendadak kakek itu menangis keras seperti jeritan binatang yang terluka hebat yang penuh kesakitan dan putus harapan. Tangisan itu membangkitkan rasa ksatria Jie Thay Giam. Ia balik kembali kemudian bertanya:

“Mengapa kau menangis?”

“Sesudah mengalami banyak sekali penderitaan, barulah aku memiliki golok mustika ini,“ jawabnya. “Tetapi sekarang aku tahu, dalam sekejap mata jiwaku akan berpulang ke alam baka. Sesudah aku mati, perlu apa golok mustika ini?”

“Hm... untuk menyelamatkan jiwamu tidak ada jalan lain dari pada menyerahkan golok itu kepada Hay-see-pay untuk ditukar dengan obat pemunah,” kata Jie Thay Giam.

Si kakek segera menangis meng-gerung. “Aku tidak rela menyerahkannya! Tidak rela menyerahkan!” teriaknya dengan nada penuh keserakahan.

Thay Giam merasa geli melihat keserakahannya, tetapi dia tidak bisa tertawa ketika menyaksikan penderitaannya yang amat hebat. Seorang ahli silat yang sejati hanya mengandalkan kepandaian untuk mengalahkan musuh dan dalam sepak terjangnya dia selalu berjalan lurus dan bersedia menolong sesama manusia supaya namanya tetap harum turun temurun.

“Golok atau pedang mustika hanyalah benda-benda yang berada di luar badan. Kalau mendapatkannya kita tak usah girang, sedangkan kalau kehilangan tak usah sedih. Maka itu, perlu apa Lotiang mesti bersedih begitu rupa?”

“Enak saja kau bicara!” bentak si kakek. “Apa kau pernah dengar kata-kata berikut. ‘Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put ciong’ (Yang termulia dalam rimba persilatan, golok mustika membunuh naga, perintahnya di kolong langit, tiada manusia yang berani tidak menurut)?”

Jie Thay Giam tertawa. “Tentu saja aku pernah mendengarnya,” jawabnya. “Di sebelah bawah perkataan itu masih ada dua baris perkataan lain yang berbunyi: ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong’. Sepanjang tahuku, apa yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah sebuah peristiwa yang menggemparkan rimba persilatan beberapa puluh tahun yang lalu dan sama sekali bukan membicarakan tentang golok mustika To-liong. Ie thian berarti mengandalkan Langit atau Tuhan. Tapi dalam hal ini Ie thian adalah nama sebatang pedang mustika. Karena itu ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong’ berarti: ‘Ie thian tidak keluar, siapa lagi yang melawan ketajamannya’?”

“Kejadian apa yang menggemparkan?” tanya si kakek. “Coba kau ceritakan.”

“Peristiwa itu diketahui oleh hampir setiap orang di rimba persilatan,” menerangkan Jie Thay Giam. “Yang dimaksudkan ialah peristiwa dibunuhnya kaisar Mongol Hian Cong oleh Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko. Mulai saat itulah setiap perintah yang dikeluarkan oleh Sin-tiauw Tayhiap tidak pernah tidak diturut oleh segenap orang-orang gagah di kolong langit. Dengan Liong (naga) dimaksudkan kaisar Mongol, dan To-liong berarti membunuh kaisar Mongol. Apa kau kira di dunia ini benar-benar ada naga?”

Si kakek tertawa dingin. “Aku mohon tanya. Senjata apakah yang biasa dipergunakan oleh Yo-tayhiap?” tanyanya. Thay Giam agak kaget. “Menurut cerita guruku, Yo-tayhiap berlengan satu dan biasanya dia tidak menggunakan senjata apa pun juga,” jawabnya. “Tapi pada hari ketika bertempur melawan Kim-lun Hoat-ong di luar kota Siang-yang, ia menggunakan pedang.”

“Senjata apa yang digunakan Yo Tayhiap untuk membinasakan kaisar Mongol?” tanya pula si kakek.

“Dia menimpuk Hian Cong dengan sebutir batu dan kejadian ini dilihat oleh semua orang,“ jawabnya.

Orang tua itu kelihatan girang. “Baiklah,” katanya. “Menurut ucapanmu sendiri, Yo-tayhiap biasa menggunakan tangannya saja atau kadang menggunakan pedang. Senjata yang digunakannya sebutir batu. Dengan begitu, dari mana datangnya perkataan ‘po to to liong’ atau golok mustika membunuh naga?”

Jie Thay Giam terperanjat dan untuk beberapa saat dia tidak dapat menjawab. “Ah! Kurasa itu hanya kata-kata yang ditemukan se-enaknya saja oleh orang-orang rimba persilatan,” jawabnya sesudah selang beberapa saat. “Orang tentu tidak bisa mengatakan ‘batu membunuh naga’. Kata-kata itu tidak enak didengarnya.”

Sekali lagi si kakek tertawa dingin. “Justru alasanmulah alasan yang dibuat-buat yang tidak ada dasarnya sama sekali,” katanya dengan suara mengejek. “Aku mau tanya lagi, apa artinya perkataan ‘Ie thian put cut, swee ie ceng hong’?”

Jie Thay Giam bungkam. Sesudah mengasah otak beberapa lama, baru dia menjawab,

“Mungkin sekali Ie thian adalah namanya orang. Sepanjang cerita, Yo-tayhiap belajar ilmu silat dari isterinya. Maka bisa jadi Yo-hujin bernama Ie Thian dan mungkin juga perkataan itu dimaksudkan Kwee-tayhiap yang telah mati-matian membela kota Siang-yang.”

“Hmm!” si orang tua mengeluarkan suara hidung. “Aku memang sudah menduga kau tidak paham apa artinya perkataan itu. Sekarang kau dengarlah. To-liong adalah sebilah golok, yaitu golok To-liong-to yang sedang dipegang olehku. Ie thian adalah nama sebatang pedang. Pedang itu dikenal sebagai Ie-thian-kiam. Makanya perkataan itu berarti begini: Dalam rimba persilatan, benda yang termulia adalah golok To-liong-to, segala perintah dari orang yang bisa memiliki golok itu akan diturut oleh segenap orang gagah di kolong langit. Asal saja Ie-thian-kiam tidak muncul, maka senjata yang terlihay di dunia adalah To-liong-to sendiri.”

Thay Giam separuh percaya separuh tidak. “Boleh aku melihat golok itu?” tanyanya.

Si kakek memeluk To-liong-to erat-erat. “Kau kira aku bocah berusia tiga tahun?” katanya dengan marah. “Jangan harap kau bisa mengakali aku!”

Sesudah kena racun sebenarnya dia tidak bertenaga lagi, tetapi setelah menelan pil yang diberikan oleh Jie Thay Giam, sebagian tenaganya pulih dan dapat mengerahkan Iweekang untuk memeluk golok mustika. Di lain saat sebagai akibat dari pengerahan tenaga dalam itu napasnya jadi ter-sengal.

“Kalau kau tidak mengijinkan maka aku pun tak ingin memaksa,” kata Thay Giam seraya tertawa. “Sekarang sesudah kau memiliki golok mustika To-liong, siapakah yang bersedia menurut perintahmu? Apakah karena melihat engkau memeluk golok itu aku segera menuruti segala kemauanmu? Benar-benar menggelikan. Menurut pendapatku kau adalah seorang yang baik, tapi karena percaya dengan segala omongan gila pada akhirnya akan mengorbankan jiwamu sendiri. Hai! Bahkan sampai detik ini kau masih belum sadar juga. Bahwa kau tidak bisa memerintah aku adalah suatu bukti bahwa golok itu sesungguhnya tidak luar biasa sama sekali.”

Si kakek bengong dan tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. “Laute,” katanya sesudah berpikir beberapa lama. “Sekarang kita mengadakan semacam perjanjian. Kau menolong nyawaku dan aku akan membuka sebagian rahasia dari kehebatan golok mustika ini. Apakah kau sepakat?”

Jie Thay Giam tertawa terbahak-bahak. “Lotiang, kau benar-benar memandang rendah murid Bu-tong,” katanya. “Menolong manusia yang harus ditolong adalah tugas dari kami semua. Apa kau kira dalam menolong orang kami mengharapkan pembalasan budi? Kau kena garam beracun, tapi aku sendiri tidak tahu racun apa. Makanya sebagaimana kukatakan, jalan satu-satunya adalah minta obat pemunah dari Hay-see-pay sendiri.”

“Tidak mungkin!” kata Si tua sambil menggelengkan kepala. “Golok mustika telah dicuri dari tangan Hay-see-pay. Mereka sangat membenci aku dan pasti tak akan sudi menolong.”

“Dengan menyerahkan golok itu kepada mereka maka segala sakit hati akan hilang,“ kata Thay Giam. “Perlu apa mereka mengambil jiwamu?”

Tapi si kakek tetap meng-gelengkan kepala. “Kulihat kau memiliki kepandaian amat tinggi dan kau pasti bisa mencuri obat pemunah dari Hay-see-pay,“ katanya. “Pergilah curi obat itu dan tolonglah selembar jiwaku.”

“Aku merasa menyesal sekali tidak dapat meluluskan permintaanmu,” kata Thay Giam. “Pertama, aku sendiri mempunyai urusan penting dan tidak boleh berdiam terlalu lama di tempat ini. Kedua, kau telah mencuri golok orang dan dalam hal ini kaulah yang bersalah. Mana bisa aku berpihak pada yang tidak benar? Lotiang, lekaslah kau minta pertolongan pihak Haysee-pay, jika terlambat aku khawatir tidak keburu lagi.”

Melihat Thay Giam memutar badan untuk segera berlalu, si tua buru-buru berkata, “Sudahlah, tak apa-apa jika kau tidak mau menolong. Tapi aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan lagi. Pada waktu kau mengangkat tubuhku, apakah kau ada merasakan yang luar biasa?”

“Benar, aku sendiri sangat heran,” jawabnya. “Kau bertubuh kurus dan kecil, tetapi pada waktu aku mengangkat badanmu merasa berat sekali, kira-kira ada dua ratus kati. Kau tidak membawa barang berat, tapi mengapa berat badanmu begitu hebat?”

Orang tua itu segera menaruh To-liong-to di atas tanah dan berkata, “Nah, coba sekarang kau angkat lagi badanku.”

Thay Giam segera mencekal baju si kakek kemudian mengangkatnya. Benar saja, dengan heran dia mendapat kenyataan bahwa berat badan orang tua itu hanya kira-kira delapan puluh kati.

“Benar-benar luar biasa,” katanya. “Aku tak nyana berat golok itu ada seratus kati lebih.“ Sambil berkata begitu, per-lahan dia melepaskan tubuh si kakek di atas tanah.

“Keanehan golok ini bukan hanya terletak pada beratnya saja,“ kata pula si kakek. “Laute, kau she apa, she Jie atau she Thio?”

“Aku she Jie, namaku Thay Giam. Lotiang, bagaimana kau bisa menebak?”

Si kakek tertawa: “Di antara Bu-tong Cit-hiap, Song-tayhiap berusia lebih tua dari padamu. In-hiap dan Boh-hiap baru berusia sekitar dua puluh tahun. Jie-hiap dan Sam-hiap ke-duanya she Jie. Sie-hiap dan Ngo-hiap masing-masing she Thio. Di alam rimba persilatan, siapakah yang tidak tahu itu? Laute, jika begitu kau adalah Jie Sam-hiap. Tak mengherankan bila kau mempunyai kepandaian yang begitu lihay. Nama Bu-tong Cit-hiap menggemparkan seluruh dunia persilatan, dan hari ini aku mendapat bukti bahwa nama besar itu bukan kosong.”

Walau pun masih berusia muda, Jie Thay Giam sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw. Ia mengerti bahwa pujian itu memiliki maksud untuk mendapat pertolongan, karenanya dia menjadi kheki terhadap si kakek yang coba mengumpak dirinya.

“Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Lotiang yang mulia?” tanyanya.

“Aku she Tek, namaku Seng,” sahutnya. “Sahabat-sahabat di wilayah Liao-tong memberi julukan Hay-tong-ceng kepadaku. Hay-tong-ceng adalah semacam burung elang yang terdapat di daerah Liao-tong. Burung itu ganas dan buas dan biasa makan binatang kecil.”

Thay Giam segera merangkap kedua tangannya, “Sudah lama sekali aku mendengar nama besar Lotiang. Aku merasa sangat beruntung pada hari ini bisa berkenalan dengan Lotiang.“ Sehabis berkata begitu dia mendongak mengawasi langit.

Tek Seng mengerti bahwa pemuda itu akan segera berangkat pergi. Dia menganggap jika ingin menahannya dia harus memancing Thay Giam dengan keuntungan besar.

“Dalam hal ini ada sesuatu yang belum dimengerti olehmu. Kata-kata ‘hauw leng thian hee, boh kam put ciong’, pada hakekatnya bukan berarti bahwa perintah orang yang memiliki To-liong-to akan dituruti dengan begitu saja oleh orang-orang gagah di rimba persilatan. Bukan, arti yang sebenarnya bukan begitu.”

Dia diam sejenak, kemudian berbisik: “Jie-laute, dalam golok mustika tersimpan kitab rahasia ilmu silat. Ada yang bilang Kiu-yang Cin-keng, ada pula yang berkata Kiu-im Cin-keng. Asal orang mampu mengeluarkan kitab tersebut kemudian berlatih menurut petunjuknya, maka orang itu akan memiliki kepandaian sedemikian tinggi sehingga semua orang tak akan berani membantah segala perintahnya.”

Cerita tentang kedua kitab itu memang pernah didengar oleh Jie Thay Giam dari gurunya. Dahulu, pada waktu Kak Wan Taysu belum meninggal dunia, guru-guru dari Siauw-lim sudah memetik beberapa bagian dari Kiu-yang Cin-keng, tapi kitab itu sendiri tak diketahui lagi di mana adanya. Mengenai Kiu-im Cin-keng, sudah beberapa tahun orang tidak pernah menyebut-nyebut kitab itu sehingga di rimba persilatan orang sangat menyangsikan kebenarannya. Melihat paras Jie Thay Giam yang penuh rasa tidak percaya, Tek Seng lantas berkata lagi,

“Sesudah mendapat golok mustika ini, kami bertiga mencoba mencairkannya dengan menggunakan api guna mengambil kitab yang tersimpan di dalamnya. Namun rahasia itu bocor dan sebelum berhasil, orang sudah datang mengganggu. Jie-laute, sekarang aku ingin minta pertolonganmu untuk mencuri pemunah racun. Sesudah aku sembuh, kita bisa pergi ke tempat sepi yang jauh dari manusia untuk mencairkan To-long-to dan mengambil kitab itu. Dalam beberapa tahun saja kita berdua bisa menjagoi kolong langit. Jie-laute, bagaimana pendapatmu?”

Thay Giam menggelengkan kepalanya. “Halal itu tidak boleh terlampau dipercaya,” katanya. “Jangankan dalam golok itu memang tidak tersimpan kitab, sedangkan sekali pun benar ada kitabnya, sebelum golok itu menjadi cair kitab tersebut tentu sudah menjadi abu.”

“Golok itu keras luar biasa dan tidak dapat dibuka dengan pahat yang bagaimana tajam pun,“ kata Tek Seng. “Jalan satu-satunya adalah mencairkan.” Bicara sampai di situ paras Jie Thay Giam mendadak berubah dan dengan tangannya dia mengebut lilin yang lantas padam.

“Ada orang,” bisiknya.

Tek Seng yang Iweekang-nya masih kalah jauh dari pemuda itu, tidak dapat mendengar apa pun. Baru saja ia mau bertanya, di sebelah kejauhan mendadak terdengar suara seruan yang saling sambut.

“Musuh mendatangi!” katanya dengan suara terkejut. “Mari kita cepat kabur dari belakang kelenteng.”

“Di belakang kelenteng juga sudah ada musuh,” kata Thay Giam.

“Celaka!” Hay-tong-ceng mengeluh.

“Tek-lotiang,” kata Thay Giam. “Yang datang adalah orang-orang Hay-see-pay. Dengan menggunakan kesempatan ini, paling baik kau minta obat pemunah. Aku sendiri tak dapat mencampuri urusanmu dan segalanya terserah atas putusan Lotiang sendiri.”

Si kakek ketakutan setengah mati dan ia mencekal tangan Jie Sam-hiap erat-erat. “Tidak, tidak... kau tak boleh meninggalkan aku... tak boleh meninggalkan aku...“ katanya dengan suara gemetar dan putus-putus.

Thay Giam merasa jari tangan si kakek bagaikan jepitan besi, dingin seperti es. Dengan sekali membalik tangan, dia melepaskan cekalan itu dan berbalik mencengkeram lima jerijinya. Tek Seng merasa tulang jerijinya seperti mau patah, tetapi pada saat itu dia yakin bahwa satu-satunya orang yang dapat menolong adalah pemuda ini. Untuk menyerahkan To-liong-to yang sudah direbutnya dengan mempertaruhkan jiwa, dia sungguh tidak rela, lebih tidak rela dari pada memotong dan memberikan sepotong dagingnya sendiri. Maka se-konyong-konyong dia memeluk Thay Giam dengan nekat. Dengan kaget pemuda ini menggoyangkan pundak untuk melepaskan pelukan. Tapi si kakek mati-matian memeluk terus seperti orang kelelap di air.

“Krek...! Krek...!“

Terdengar suara berderaknya tulang. Thay Giam mengerti bahwa kalau dia mengerahkan Iwekang maka tulang kedua lengan Tek Seng akan patah. Hatinya tak tega, maka dia tidak mengeluarkan lagi tenaga dalamnya.

“Lepas!” bentaknya.

Pada saat itu pula suara tindakan kaki sudah tiba di luar kelenteng, disusul dengan suara gedebrukan dan pintu terpental karena ditendang orang. Thay Giam terkesiap.

“Orang ini bukan lawan enteng,“ pikirnya. Hampir berbareng dia mengendus bau amis dan dalam kegelapan benda dilontarkan ke dalam. Dengan sekali menggoyang badan, seperti seekor cacing dia meloloskan diri dari pelukan Tek Seng, kemudian dengan kecepatan luar biasa, sebelum benda atau senjata rahasia itu menghantam, dia telah melompat ke belakang patung Malaikat laut. Hampir berbareng dia mendengar teriakan si kakek yang lantas roboh bergulingan di lantai, sedangkan senjata rahasia itu masih terus dilepaskan tak hentinya.

Semakin lama bau amis semakin hebat se-olah ratusan ikan busuk dilemparkan ke dalam. Tek Seng yang sudah bisa bangun kembali, melompat ke sana sini dengan tindakan limbung seperti orang mabuk, tapi karena ruangan itu sangat sempit dan juga disebabkan keadaannya memang sudah payah, maka beruntun senjata rahasia itu mengenai badannya dengan jitu. Sesudah mendengar suara menyambarnya senjata rahasia, Thay Giam berkata dalam hatinya,

“Senjata apa itu? Pasir beracun? Kalau pasir beracun, bagaimana Tek Seng bisa mempertahankan diri begitu lama?” Tapi di lain saat dia segera menduga. “Ah! Tak salah! Garam beracun dari Hay-see-pay,” pikirnya.

Biar pun memiliki kepandaian tinggi, karena garam menyambar terus menerus, mana dia berani menerjang keluar? Sementara itu dari atap kelenteng terdengar suara keras disusul turunnya garam dari atap yang sudah berlubang lubang. Sampai di situ Jie Thay Giam yang bernyali besar menjadi keder juga hatinya.

“Celaka! Tak dinyana aku harus membuang jiwa di tempat ini,” dia mengeluh.

Dia pun ingat kejadian waktu si jubah sulam dan Tiang-pek Sam-khim kena garam beracun. Ketiga kakek itu tidak usah dikatakan lagi, tetapi malahan si Jubah sulam yang berkepandaian tinggi masih tidak tahan menghadapi garam. Ia merasa dadanya menyesak hingga hampir-hampir muntah karena bau amis dan dia yakin bahwa dalam tempo cepat dia takkan bisa lolos dari racun yang menyambar dari depan dan turun dari atas seperti hujan gerimis. Dalam bingungnya dia menghantam punggung patung yang lantas saja berlubang besar.

Melihat itu hatinya menjadi girang dan dia masuk ke dalam perut patung. Dengan begiitu garam itu tak bisa mencelakai dirinya lagi. Karena bekerjanya racun garam agak lambat, maka meski pun Tek Seng berteriak-teriak kesakitan tapi dia masih bergulingan. Sementara itu karena merasa jeri akan kepandaian Jie Thay Giam maka orang Hay-see-pay belum berani menerjang masuk dan masih terus menimpuk dengan senjata rahasia mereka untuk menunggu sampai tak berdayanya kedua musuh.

Menurut kebiasaan, senjata rahasia beracun yang dikenal di dunia Kangouw seperti jarum emas, pasir besi dan sebagainya, baru mencelakakan manusia sesudah senjata itu menancap di tubuh dan racunnya masuk ke jalan darah. Tapi bekerjanya racun Hay-see-pay sedikit berbeda. Setelah garam itu menempel di kulit, racunnya akan masuk ke dalam badan manusia dengan per-lahan sampai si korban binasa.

Jie Thay Giam mengerti bahwa dengan bersembunyi di perut patung maka dia tidak akan bisa menghentikan serangan Hay-see-pay. Tetapi karena tidak ada jalan yang lebih baik maka dia harus menanti sampai tumpukan garam itu mereda kemudian barulah coba menerjang keluar dari lubang asap. Dia segera mengeluarkan pil pemunah racun yang lalu ditelannya, kemudian memusatkan semangat seraya menjalankan pernapasannya. Beberapa saat kemudian dadanya yang terasa sesak menjadi lega kembali. Sementara itu orang Hay-see-pay yang berada di luar kelenteng berunding dengan suara perlahan.

“Tidak ada suaranya lagi, mungkin mereka sudah pingsan,” kata yang satu.

“Tunggulah sebentar. Pemuda itu lihay sekali, kita tidak boleh ter-gesa-gesa,″ kata yang lain.

“Sekali ini kita mendapat hasil besar. Pasti Toako akan memberi hadiah yang besar juga,” kata orang ketiga.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras, “Hei! Lebih baik kamu menakluk supaya jangan membuang jiwa Cuma-cuma!“

Bentakan itu disusul dengan teriakan komando, kemudian beberapa belas orang langsung menerjang masuk. Mereka semua telah memakai obat pemunah sehingga tidak takut dengan garam beracun.

“Dengan Hay-see-pay aku tidak punya ganjalan apa pun, sedangkan kedatanganku di sini bukan untuk merebut To-liong-to. Sekarang paling benar aku munculkan diri dan coba mendamaikan mereka,“ pikir Jie Thay Giam, tetapi di lain saat dia mendapat pikiran lain. “Tidak bisa! Tidak bisa aku berbuat begitu,“ pikirnya “Bu-tong-pay adalah satu partai besar yang namanya menggetarkan rimba persilatan. Apa bila aku ke luar dan bicara baik-baik dengan mereka, artinya seperti aku menekuk lutut dan sikapku ini akan sangat memalukan guruku.”

Selagi dia bersangsi, di tempat yang jauh mendadak terdengar seruan. Seruan itu halus bagaikan benang sutera, tapi amat tajam dan menusuk kuping sehingga orang yang mendengar ber-debar hatinya. Di lain saat seruan itu sudah terdengar di depan kelenteng sehingga bukan main kagetnya Thay Giam karena kecepatan yang sungguh luar biasa. Pertama kali seruan itu terdengar di tempat yang jaraknya beberapa li dan di lain detik sudah tiba di depan pintu!

Di dunia ini kecuali beberapa macam burung yang terbangnya luar biasa cepat, baik manusia mau pun binatang tak akan mempunyai kecepatan yang begitu hebat. Lebih aneh lagi, jika didengar dari suaranya jelas seruan manusia. Hampir berbareng dengan berhentinya seruan itu, Tek Seng mengeluarkan teriakan ketakutan.

“Kau... kau juga inginkan To liong... Peh-bie.” Peh-bie berarti Alis putih.

Mendadak di luar kelenteng terjadi perubahan luar biasa. Puluhan orang Hay-see-pay tiba-tiba bungkam mulutnya. Keadaan sunyi senyap se-olah puluhan manusia itu berubah menjadi batu. Mereka seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan sehingga saking takutnya, mereka tak dapat mengeluarkan suara. Beberapa saat kemudian kesunyian itu dipecahkan dengan satu suara.

“Brukk!”

Kemudian salah seorang roboh terguling. Robohnya orang itu disusul pula dengan teriakan yang gemetar,

”Peh-bie...! Lari! Ayo lari...!“

Teriakan itu putus di tengah jalan. Mungkin sekali orang yang berteriak tidak dapat meneruskan teriakannya dan kawannya tak kuat berlari lagi, sebab sesuatu yang ditakuti sudah masuk ke dalam kelenteng.

Jie Thay Giam heran tak kepalang. “Apa itu Peh-bie?” tanyanya dalam hati. “Apa binatang buas atau manusia yang lihay luar biasa sehingga semua orang ketakutan begitu rupa?”

Se-konyong-konyong terdengar suara seseorang:

“Kauwcu (Pemimpin Agama) tanya kamu, di mana adanya To-liong-to. Lekas keluarkan. Kauwcu berhak memilikinya dan akan mengampuni kalian semua.” Suara itu manis dan lemah lembut, tapi mengandung keangkeran.

“Dia... dialah yang curi,” demikian terdengar jawaban seorang Hay-see-pay. “Kami datang kemari untuk merebut pulang Kauwcu... Kauwcu...”

“Ehh, mana golok mustika itu?” tanya suara yang manis itu.

Thay Giam tahu orang itu bertanya kepada Tek Seng, tetapi kakek itu tidak menjawab. Di lain saat terdengar robohnya sesosok tubuh.

“Celaka...! Tek Seng dibinasakan,” pikir Thay Giam. Dia yakin bahwa dengan seorang diri dia bukan tandingan musuh. Tapi sesudah mencampuri urusan ini, dia merasa malu untuk bersembunyi terus. “Mundur pada waktu keadaan berbahaya bukanlah perbuatan seorang lelaki,” katanya dalam hati. Baru saja dia hendak melompat keluar, mendadak terdengar suara dingin:

“Dia telah mati karena ketakutan. Geledah badannya,”

Jie Thay Giam terkesiap. “Mati ketakutan?” tanyanya dalam hati.

Sementara itu terdengar suara dirobeknya pakaian dan dibolak-baliknya tubuh manusia.

“Melaporkan kepada Kauwcu bahwa di badan orang ini tidak terdapat apa pun juga,” kata orang yang suaranya lemah lembut.

Perkataan orang itu disusul dengan ucapan pemimpin Hay-see-pay yang berkata dengan suara gemetar,

“Kauwcu... terang dia yang mencuri. Kami tak berani berdusta...“ Ia bicara dengan ketakutan hebat seperti juga nyalinya hancur sehingga bulu roma Jie Thay Giam bangun semua.

“Benar-benar heran,“ katanya dalam hati. “Golok mustika itu dipegang Tek Seng. Ke mana perginya.”

“Kau mengatakan bahwa golok mustika dicuri olehnya, mengapa tidak ditemukan?” tanya pula orang yang suaranya manis. “Tidak salah lagi, kaulah yang menyembunyikan mustika. Begini saja! Siapa yang bicara terus terang, dialah yang diampuni jiwanya. Di antara kalian hanya seorang yang boleh hidup terus. Siapa yang bicara lebih dulu, dialah yang dapat pengampunan.”

Keadaan sunyi senyap. Beberapa saat kemudian barulah pemimpin Hay-see-pay berkata,

“Dengan sejujurnya kami melaporkan kepada Kauwcu bahwa kami benar-benar tidak tahu menahu tentang hilangnya golok mustika itu. Tapi kami berjanji akan berusaha sekuatnya untuk menyelidiki.”

Kauwcu itu tidak menjawab, dia hanya mengeluarkan suara di hidung. Orang yang suaranya manja segera berkata lagi.

“Siapa yang bicara terus terang, dialah yang boleh hidup terus.”

Keadaan kembali sunyi senyap.

RACUN CIT-SENG-TENG

Tiba-tiba kesunyian yang menakutkan itu dipecahkan teriakan seorang. “Se-betulnya kami sedang mencari golok mustika itu yang mendadak menghilang secara luar biasa. Apa bila kau tetap tidak percaya, dari pada mati konyol, lebih baik kami melawan mati-mati-an sampai di mana kepandaian Peh-bie-kauw...“

Suara itu berhenti di tengah jalan dan keadaan kembali sunyi senyap. Rupanya dia sudah binasa begitu saja.

“Tadi seorang lelaki berusia sekitar 30 tahun menolong kakek itu,” menerangkan orang Hay-see-pay. “Dia memiliki ilmu mengentengkan badan yang amat tinggi. Entah ke mana perginya sekarang. Golok mustika itu pasti dibawa lari olehnya.”

Kauwcu itu kembali mengeluarkan suara di hidung kemudian berkata dengan suara dingin,

“Ampuni jiwa orang ini...“

Hampir berbareng terdengar kesiuran angin dan dia telah keluar dari pintu kelenteng. Tiba-tiba terdengar suara nyaring di tempat yang jauhnya belasan tombak. Jie Thay Giam tidak dapat menahan sabar lagi. Seraya melompat keluar dari perut patung dia berteriak,

“Aku berada di sini! Jangan mencelakai orang!”

Tetapi keadaan lagi-lagi sunyi senyap. Thay Giam mengawasi sekitarnya dan dia melihat semua orang berdiri seperti patung. Dia heran bukan main dan menyulut lilin di atas meja sembahyang. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan seruan tertahan karena dua puluh lebih anggota Hay-see-pay berdiri tegak tanpa bergerak seperti jalan darahnya tertotok, sedangkan muka mereka mengunjukkan rasa takut yang hebat luar biasa. Dengan nyalinya yang besar dan pengalamannya yang luas, tak urung jantung Thay Giam memukul keras.

“Bagaimana lihaynya Kauwcu Peh-bie-kauw itu?” tanyanya di dalam hati. “Orang-orang Hay-see-pay bukanlah sembarang orang tetapi mengapa begitu bertemu dengan Kauwcu, lantas ketakutan sampai begini rupa?”

Dia mengangsurkan tangannya dengan niat menotok jalan darah Hoa-kay-hiat dari salah seorang itu untuk membuka jalan darahnya yang tertutup. Tapi lagi-lagi dia kaget. Jerijinya menotok jalan darah yang sudah membeku dan orang itu tetap tidak bergerak. Setelah memeriksa pernapasannya barulah dia tahu bahwa orang itu sudah binasa! Kecuali satu orang, semua anggota Hay-see-pay sudah binasa akibat totokan pada jalan darah yang membinasakan. Orang yang masih hidup itu adalah orang yang bicara paling belakang, sebab dia lantas menoleh dengan napas ter-sengal.

Rasa heran dan kagetnya Thay Giam sukar dilukiskan. Benar dia tak mengerti bagaimana dalam sekejap mata, Kauwcu itu bisa membinasakan dua puluh orang lebih yang memiliki kepandaian tinggi. Sambil mengangkat tubuh orang itu dia bertanya,

“Agama apakah Peh-bie-kauw itu? Siapa Kauwcu itu?”

Orang itu tak menjawab pertanyaannya yang diulangi beberapa kali, dia hanya mengawasi dengan mata membelalak. Thay Giam segera memegang nadinya dan ternyata aliran darah orang itu sudah kalang kabut sebagai tanda bahwa beberapa uratnya telah diputuskan sehingga dia menjadi gagu dan otaknya terganggu. Darah Jie Thay Giam meluap-luap. “Apa itu Peh-bie-kauw? Kenapa dia begitu kejam?” tanyanya dalam hati dengan penuh kemarahan. Tapi dia tahu bahwa dia bukan tandingan orang itu.

Di saat itu juga dia sudah meng-hitung tindakan yang akan diambilnya. Dia ingin segera berangkat ke Bu-tong-san untuk melaporkan kejadian itu dan menanyakan asal usul Peh-bie-kauw kepada gurunya. Dia berniat hendak mengajak semua saudara seperguruannya menyatroni manusia yang dinamakan Peh-bie Kauwcu. Ia menganggap biar pun Kauwcu itu lihay luar biasa tetapi Bu-tong Cit-hiap masih dapat menandinginya. Melihat garam beracun yang tersebar di seputar kelenteng itu, ia menarik napas panjang.

“Orang Hay-see-pay juga bukan manusia baik-baik sehingga kebinasaannya yang begitu rupa mungkin ada pantasnya juga,” katanya. “Memasang racun di dalam kelenteng sangat tidak pantas dan orang bisa celaka jika kebetulan datang di sini.”

Berpikir begitu ia segera mengambil golok lalu menggali satu lubang besar di kebun sayur. Setelah itu dengan hati-hati mengangkat mayat-mayat itu yang lalu dimasukkan ke dalam lubang. Sesudah memindahkan belasan mayat, ia terkejut karena mayat itu berat luar biasa, sedangkan badannya hanya berukuran sedang. Dia segera memeriksa dan ternyata, dari pundak hingga ke punggung mayat itu terdapat luka besar yang sangat panjang. Begitu ia meraba, tangannya menyentuh benda yang keras dingin dan setelah ditarik keluar, benda itu bukan lain dari pada To-liong-to yang diperebutkan!

Secara kasar ia segera menebak apa yang sudah terjadi. Rupanya, begitu melihat Peh-bie Kauwcu, nyali Hay-tong-ceng Tek Seng hancur dan ia mati ketakutan. Pada waktu menghembuskan napasnya yang penghabisan golok itu terlepas dari cekalannya lalu jatuh di punggung orang. Karena berat dan tajam, To-liong-to amblas di badan orang itu. Maka tidaklah heran jika pada waktu menggeledah semua orang, kaki tangan Kauwcu tidak bisa mendapatkan apa pun juga. Kalau dalam hati Jie Thay Giam tidak muncul rasa kasihan, mungkin sekali golok mustika yang menggemparkan itu akan hilang dari dunia persilatan.

“Golok ini adalah mustika di rimba persilatan,” kata Thay Giam dalam hati. “Akan tetapi menurut pendapatku senjata ini bukan senjata yang mujur. Hay-tong-ceng Tek Seng dan puluhan orang Hay-see-pay binasa gara-gara To-liong-to. Sekarang paling benar aku mempersembahkan senjata ini kepada Suhu untuk meminta keputusan.”

Sesudah selesai menguburkan semua mayat, karena kuatir kalau-kalau garam beracun akan mencelakakan rakyat, dia segera mencari cabang-cabag kering yang lalu disulut membakar kelenteng tersebut. Di bawah cahaya api ia meneliti golok mustika itu yang ternyata berwarna hitam, bukan besi dan juga bukan emas, entah dibuat dari logam apa. Dari gagang sampai badannya samar-samar terlihat garisan yang berwarna biru. Dengan mata kepala sendiri dia sudah menyaksikan dibakarnya golok itu, namun sungguh aneh, golok tersebut tidak rusak sedikit pun.

“Bagaimana orang dapat menggunakan golok yang begini berat?” tanyanya dalam hati. “Dulu Ceng-liong Yan-goat-to milik Kwan Ong-ya yang mempunyai tenaga malaikat, hanya delapan puluh satu kati beratnya.” (Kwan Ong-ya ialah Kwan Kong dari jaman Sam-kok). Dia segera memasukkan golok itu ke dalam buntalannya, kemudian berkata dengan suara perlahan di depan kuburan Tek Seng. “Tek-lotiang, bukannya aku mau serakahi golok ini. Tapi karena To-liong-to senjata luar biasa, jika jatuh ke tangan manusia jahat, bencananya bukanlah kecil. Aku hendak menyerahkannya kepada Suhu, seorang adil yang berhati mulia, tentu akan bisa membereskan persoalan golok ini sebaiknya.”

Setelah berkata begitu dia lalu menggendong buntalannya dan meneruskan perjalanan ke jurusan utara. Sesudah berjalan kurang lebih setengah jam sampailah di tepi sungai. Ketika itu ribuan bintang yang sinarnya sudah suram masih berkelap-kelip di atas sungai. Dia mengawasi ke berbagai jurusan tapi tak terlihat sebuah perahu pun. Dia lalu berjalan di sepanjang gili-gili dan sekitar semakanan nasi, dia melihat sinar lampu dari sebuah perahu penangkap ikan yang terpisah belasan tombak dari tepi sungai.

“Toako penangkap ikan!” teriaknya. “Tolong seberangkan aku!”

Karena perahu ikan itu terpisah terlalu jauh, si penangkap ikan tidak mendengar teriakannya. Thay Giam segera mengempos semangat kemudian berteriak lagi. Teriakan yang disertai Iweekang yang sudah dilatih dua puluh tahun itu amat nyaring dan tajam. Beberapa saat kemudian dari aliran sebelah atas muncul sebuah perahu kecil yang menggunakan layar dan yang per-lahan menempel di tepi sungai.

“Apakah tuan mau menyeberang?” tanya si juru mudi.

“Betul, aku ingin minta pertolongan Toako untuk menyeberangkan aku,” jawabnya dengan girang.

“Sekali menyeberang ongkosnya satu tahil perak,“ kata pula juru mudi itu.

Permintaan itu sebenarnya terlalu mahal, tetapi karena ingin cepat maka Thay Giam tidak rewel lagi.

“Baiklah,” katanya seraya melompat turun ke dalam perahu yang melesak ke dalam air.

“Tuan, bawa apa kau? Kenapa begitu berat?” tanya juru mudi itu dengan perasaan heran. Lie Thay Giam cepat mengangsurkan sepotong perak dan menjawab sambil tertawa, “Tak apa, badanku memang berat. Ayolah jalankan perahu.”

Si juru mudi kelihatannya curiga dan berulang kali melirik buntalan Thay Giam. Sesaat kemudian, dengan menuruti aliran air perahu itu belayar dengan mengambil arah ke timur laut. Sesudah melalui satu li lebih tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

“Juru mudi, apa mau turun hujan?” tanya Thay Giam.

“Bukan,“ jawabnya seraya tertawa, “Gemuruh itu suara air pasang sungai Cian-tong-kang. Dengan mengikuti aliran air pasang maka dalam sekejap kita bisa sampai di lain tepi.”

Thay Giam mengawasi ke arah suara itu. Di kejauhan terlihat sehelai garis putih yang datang ber-gulung-gulung. Suara itu kian lama kian menghebat dan gelombang juga menjadi makin besar.

“Baru sekarang ini aku tahu bahwa di antara langit dan bumi terdapat pemandangan yang seangker ini,” katanya dalam hati. “Tidak percuma aku melakukan perjalanan.“

Di lain saat ombak sungai sudah tiba dan mendorong perahu dengan kekuatan luar biasa. Selagi memandang dengan penuh perhatian, se-konyong-konyong Jie Thay Giam mengeluarkan seruan tertahan sebab di puncak ombak terlihat sebuah perahu yang menerjang ke depan menurut gerakan ombak itu. Yang tampak luar biasa ialah pada layar putih dari perahu itu terdapat lukisan yang merupakan sebuah tangan berwarna merah dengan lima jeriji yang terpentang lebar. Karena memiliki mata yang sangat tajam, biar pun dalam kegelapan, dalam jarak puluhan tombak dia bisa melihat gambar tangan berdarah itu.

Si juru mudi sendiri baru bisa melihatnya setelah perahu itu meluncur lebih dekat. Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan ketakutan. ”Hiat-chiu-hoan (Perahu layar Tangan berdarah)!”

“Apa itu Hiat-chiu-hoan?” tanya Thay Giam.

Sebaliknya dari menjawab, si juru mudi malah terjun ke dalam air! Thay Giam terperanjat. Dengan gelombang yang sebesar itu, meski pun pandai berenang, orang tak akan bisa bertahan lama dalam air. Buru-buru ia mengambil sebatang galah yang kemudian disodorkan ke air, tapi juru mudi itu menggoyangkan tangan dengan paras muka ketakutan dan di lain saat dia masuk ke dalam gelombang untuk tidak keluar lagi. Tanpa juru mudi, begitu terpukul ombak perahu itu terputar. Cepat Thay Giam pergi ke belakang perahu untuk memegang kemudi. Pada saat itulah mendadak terdengar suara.

“Dukk!” dan perahu Hiat-chiu-hoan membentur perahunya.

Karena kepala Hiat-chiu-hoan dilapisi besi, begitu terbentur perahu Thay Giam lantas bocor dan air pun menerobos masuk. Bukan main marahnya Thay Giam.

“Perahu siapa yang begitu kurang ajar?!” bentaknya dengan suara keras.

Melihat perahunya hampir tenggelam, dengan sekali menotol ujung kaki dia melompat ke atas kepala perahu Hiat-chiu-hoan. Pada saat bersamaan ombak besar menerjang sehingga Hiat-chiu-hoan ‘terbang’ ke atas setinggi satu tombak lebih. Kejadian itu terjadi pada waktu badan Thay Giam berada di tengah udara sehingga perhitungannya meleset semua dan dia pun melayang jatuh ke dalam air. Pada detik yang amat genting, sambil mengempos semangatnya dia menggoyang kedua pundaknya dan dengan menggunakan gerakan Tee-in-ciang, tubuhnya melesat ke atas lagi setombak lebih lalu kedua kakinya hinggap di atas kepala perahu Hiat-chiu-hoan.

“Ada orang tercebur di air! Lekas ditolong!” teriak Thay Giam. Dia mengulangi teriakannya beberapa kali, tetapi tidak mendapat jawaban.

Dengan mendongkol dia menolak pintu gubuk perahu, tapi pintu itu terbuat dari besi sehingga tidak bergeming. Seraya menggerakkan Iweekang di kedua lengannya ia segera mendorong sambil membentak keras. Pintu belum terbuka tetapi sudah berlubang karena menghubungkan gubuk dan potongan pintu putus lalu jatuh dengan mengeluarkan suara berkerincingan. Tiba-tiba dari dalam gubuk terdengar suara orang.

“Tee-in-ciong dan Tin-san-ciang (Pukulan menggetarkan gunung) yang tersohor dari Bu-tong-pay sungguh bukan pujian kosong. Jie Sam-hiap, serahkan To-liong-to yang ada dalam buntalanmu dan kami akan mengantarkan kau menyeberang sungai.”

Suara yang lemah lembut itu bukan lain dari pada suara kaki tangan Peh-bie Kauwcu yang pernah didengarnya di kelenteng Hay-sin-bio. Sekarang baru dia tahu bahwa perahu Hiat-chiu-hoan adalah milik Peh-bie Kauwcu sehingga tak heran si juru mudi ketakutan setengah mati. Tetapi dia tidak mengerti bagaimana orang itu tahu namanya dan beradanya To-liong-to. Sebelum dia bertanya, orang itu sudah berkata lagi,

”Jie Sam-hiap, mungkin kau merasa heran mengapa kami tahu she dan namamu, bukankah begitu? Tetapi sebenarnya kau tak usah heran. Kecuali ahli silat Bu-tong-pay, di dunia ini siapa lagi yang mempunyai lompatan Tee-in-ciong sekaligus pukulan Tin-san-ciang? Tiga hari sebelum Jie Sam-hiap menginjak wilayah Ciat-kang, kami telah mendapat warta. Hanya sayang kami tak keburu menyambut dari tempat jauh.”

Thay Giam tidak tahu bagaimana harus menjawab. Tapi mengingat si juru mudi yang tercebur di dalam air, ia lantas berkata, “Hal lain dapat ditunda, kita harus menolong jiwa juri mudi itu.”

Orang itu tertawa ter-bahak. “Jie Sam-hiap, hatimu terlalu mulia” katanya. “Juragan perahu itu mempunyai satu gelaran yang sangat bagus, yaitu Sauw-cay See-kwie (Setan air yang menagih hutang). Di sungai Cian-tong-kang entah berapa banyak jiwa melayang di tangannya. Jie Sam-hiap adalah seorang yang berhati sangat mulia. Akan tetapi setan air itu sesungguhnya sudah mengincar buntalanmu dan ingin menagih hutang dari penitisan yang lain. Ha-ha-ha!”

Thay Giam sendiri sebelumnya sudah menaruh curiga karena melihat lagak juru mudi itu yang seperti lagak bangsat. Sekarang ia mendapat kenyataan bahwa kecurigaannya amat beralasan.

“Bolehkah aku tahu she dan nama tuan yang besar dan apa boleh aku bertemu muka denganmu?” tanya Thay Giam.

“Antara Peh-bie-kauw dan partai tuan sama sekali tidak terdapat tali persahahatan atau permusuhan,” jawabnya. “Maka itu menurut pendapatku, lebih baik kita tak usah bertemu muka. Taruh saja To-liong-to di kepala perahu dan kami akan menyeberangkan Jie Sam-hiap ke tepi.”

Mendengar perkataan itu, darah Thay Giam lantas saja naik. “Apakah To-liong milik Peh-bie-kauw?” tanyanya dengan suara kaku.

“Bukan,” jawabnya. “Tetapi golok itu adalah senjata termulia di rimba persilatan, maka dapatlah dimengerti jika setiap ahli silat sangat ingin memilikinya.”

“Kalau begitu dengan sangat menyesal aku tidak dapat meluluskan permintaanmu,” kata Thay Giam. “Golok ini sudah jatuh ke tanganku dan aku merasa berkewajiban untuk menyerahkannya kepada guruku supaya dia bisa memberi keputusan. Aku masih muda tidak dapat mengambil keputusan apa-apa.”

Orang itu kembali bicara, tapi suaranya sehalus bunyi nyamuk sehingga Thay Giam tidak dapat menangkapnya.

“Apa kau kata?” tanyanya sambil maju beberapa tindak.

Pada saat itu gelombang besar kembali menghantam sehingga perahu layar ‘terbang’ ke atas dan terombang-ambing di tengah ombak. Mendadak Jie Thay Giam merasa gatal di dada dan pahanya, seperti digigit nyamuk. Waktu itu adalah permulaan musim semi dan biasanya tidak ada nyamuk. Tapi dia tidak menghiraukan, segera menepuk beberapa kali di tempat yang gatal.

“Untuk merebut sebilah golok, Peh-bie-kauw membinasakan tidak sedikit manusia,” katanya dengan suara nyaring. “Di kelenteng Hay-sin-bio saja, beberapa puluh orang melayang jiwanya. Menurut pendapatku, tanganmu terlalu kejam.”

“Kau salah,” bantah orang itu. “Dalam menurunkan tangan, Peh-bie-kauw selalu membuat perbedaan. Terhadap orang jahat, kami turunkan tangan yang berat, sedangkan terhadap orang baik, kami hanya turunkan tangan enteng. Jie Sam-hiap, namamu yang mulia telah menggetarkan dunia Kangouw dan kami tentu tidak akan mengambil jiwamu. Apa bila kau menyerahkan To-liong-to, maka kami akan segera memberikan obat pemunah jarum Bun-sie-ciam (Jarum kumis nyamuk) kepadamu.”

Mendengar ‘Bun-sie-ciam’, Thay Giam terperanjat. Ia meraba dada, di bagian yang tadi digigit nyamuk. Dia merasa gatal, tiada bedanya seperti akibat gigitan nyamuk. Tapi setelah berpikir sejenak, dia mengerti bahwa rasa gatal itu tak mungkin akibat gigitan nyamuk karena waktu itu adalah musim semi, apa lagi jika diingat bahwa dia sedang berada di atas sungai. Dari mana datangnya nyamuk? Mendadak dia menduga. “Aha! Jika begitu dia sengaja bicara perlahan untuk memancing supaya aku datang lebih dekat, agar dia dapat menimpuk dengan senjata rahasianya yang sangat halus,” katanya dalam hati.

Mengingat ketakutannya Tek Seng, orang-orang Hay-see-pay dan si juragan perahu, maka bisa dipastikan, racun itu hebat luar biasa. Maka itu, jalan yang terbaik adalah menangkap dan memaksanya mengeluarkan obat pemunah. Berpikir begitu, sambil membentak keras dia pun melompat ke dalam gubuk perahu. Sebelum kedua kakinya hinggap di papan perahu, angin yang sangat tajam menyambar mukanya dan dalam marahnya, ia pun segera menghantam dengan sekuat tenaga. Begitu kedua tangan bentrok, kedua lawan itu terpental ke belakang dengan berbareng.

Jie Thay Giam sendiri terdorong keluar, tapi syukur dia tak sampai roboh terguling, hanya telapak tangannya terasa sakit sekali. Dia mengerti bahwa musuh telah menyembunyikan senjata dalam tangannya, sebab pada saat kedua telapak tangan beradu dia merasa tujuh batang jarum atau paku menancap di telapak tangannya. Dalam segebrakan dia sudah tahu bahwa tenaga lawan setanding dengan tenaganya sendiri.

“Racun Ciang-sim Cit-sang (Paku tujuh bintang yang ditaruh di telapak tangan) betul-betul hebat luar biasa,” demikian terdengar suara orang itu. “Tapi Iweekang Jie Sam-hiap juga sungguh lihay dan aku merasa takluk.”

Jie Thay Giam yang sabar kini menjadi kalap. Ia meraba buntalannya kemudian mencabut To-liong-to. Sambil mencekal gagang golok dengan kedua lengan ia membacok.

“Trangg...!”

Pintu besi itu terbelah dua. Melihat tajamnya golok itu semangatnya terbangun lalu dia pun membacok kalang kabut sehingga gubuk itu yang terbuat dari pada besi menjadi hancur dan lembaran besi jatuh ke dalam air. Kini orang yang berada di dalam gubuk tidak dapat menyembunyikan dirinya lagi. Dia lalu melompat ke belakang perahu seraya menbentak,

“Kau sudah terkena dua macam racun, mau apa kau banyak lagak?“

Jie Thay Giam yang telah mata gelap tidak menghiraukannya dan terus menerjang sambil memutar golok. Melihat serangan kalap itu, buru-buru orang itu menangkis dengan sebuah jangkar.

“Trangg...!”

Jangkar itu juga terbelah dua. Dengan hati mencelos dia melompat ke samping kemudian berteriak.

“Hei! Kau lebih sayang jiwa atau lebih sayang golok?”

Mendadak Thay Giam berhenti menyerang. “Baiklah,” katanya. “Serahkan obat pemunah dan aku akan menyerahkan golok ini kepadamu.”

Dia merasa pahanya semakin gatal dan sakit sebagai tanda bahwa racun sudah mulai bekerja. Mengingat bahwa To-liong-to telah didapatnya secara kebetulan dan karena dia memang tak ingin memiliki harta benda orang lain, maka hilangnya golok itu juga tidak dirasakan berat olehnya. Pada lain saat dia sudah melemparkan To-liong-to di atas papan perahu.

Orang itu kegirangan dan menjemputnya, kemudian meng-usap-usap badan golok itu dengan sikap yang amat menyayang. Ia berdiri membelakangi rembulan sehingga Thay Giam tidak dapat melihat nyata mukanya. Tapi dalam perhatiannya kepada golok itu, rupanya dia lupa akan janjinya untuk memberikan obat pemunah. Lewat beberapa saat rasa sakit dan gatal di dada dan paha Thay Giam makin menghebat.

“Eh, mana obatnya?” tanyanya.

Orang itu tertawa berkakakan seperti juga mendengar cerita lucu. Tentu saja Thay Giam menjadi marah sekali.

“Hei! Aku minta obat yang dijanjikan olehmu!” bentaknya. “Apakah ada yang lucu?”

Orang itu menuding muka Thay Giam dan berkata seraya tertawa: “Hi-hi-hi! Kau sungguh tolol! Sebelum aku mengeluarkan obat, kau sudah lebih menyerahkan golok.”

“Perkataan seorang lelaki sejati seperti juga larinya seekor kuda,” kata Thay Giam dengan amarah me-luap. “Kita sudah berjanji untuk menukar golok dengan obat, apa kau lupa?”

Orang itu tertawa lagi. “Dengan golok di tanganmu, tadi aku masih jeri,” katanya dengan suara mengejek, “Andai kata kau tidak bisa menangkan aku, tapi sebenarnya kau masih bisa melemparkan golok itu ke sungai dan belum tentu aku bisa mencarinya. Tapi sekarang, sesudah golok ini berada dalam tanganku, apa kau masih mengharapkan obat pemunah?”

Perkataan itu se-olah air dingin yang mengguyur kepala Thay Giam. Mimpi pun dia tidak pernah bahwa orang itu bisa berlaku begitu licik. Dia ingat bahwa Bu-tong-pay tidak punya permusuhan apa pun dengan Peh-bie-kauw, sedangkan orang itu pun berkepandaian tinggi sehingga kedudukannya pasti bukan kedudukan rendah. Tapi mengapa dia menjilat lagi ludah yang sudah dibuang?

“Jie Sam-hiap,” orang itu berkata. “Ada satu hal yang harus kuterangkan kepadamu. Racun dari Bun-sie-ciam tidak begitu hebat, tetapi racun Cit-seng benar-benar luar biasa. Dalam tempo dua puluh empat jam semua dagingmu akan copot lalu berjatuhan di tanah. Di dunia kecuali obat pemunah dari Peh-bie-kauw, jangankan manusia, dewa pun takkan bisa menolongnya. Di samping itu andai kata sekarang aku memberikan obat pemunah, obat itu hanya bisa menolong selembar jiwamu, tetapi ilmu silat Jie Sam-hiap yang tersohor di dunia Kangouw tak akan bisa pulih kembali untuk se-lamanya.” Perkataan itu dikeluarkan dengan suara manis dan lemah lembut, seolah-olah manusia itu sedang berbicara dengan sahabat karibnya.

“Hidup atau mati adalah takdir,” kata Thay Giam sambil menahan amarah. “Selama hidup Jie Thay Giam belum pernah melakukan apa-apa yang tidak baik sehingga dia boleh tak usah merasa malu terhadap Langit dan Bumi. Andai kata sekarang aku binasa di tangan seorang rendah, sedikit pun aku tidak merasa jeri.”

Orang itu mengacungkan jempolnya. “Bagus!,” dia memuji. “Nama besar Bu-tong Cit-hiap bukan nama kosong. Orang gagah yang kenal Cit-seng-teng dan Bun-sie-ciam tak bisa dihitung berapa banyaknya. Kalau bukan meminta ampun, mereka yang mempunyai ‘tulang punggung’ tentu mencaci aku. Tetapi orang seperti Jie Sam-hiap, yang tidak menghiraukan mati atau hidup, aku sungguh jarang menemui.”

Thay Giam mengeluarkan suara di hidung. “Tetapi apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?” tanyanya.

“Aku hanyalah seorang kecil di Peh-bie-kauw dan kalau Bu-tong-pay ingin membalas sakit hati adalah Kauwcu yang akan melayaninya.“ jawabnya. “Tapi sayang malam ini Jie Sam-hiap akan mati secara diam-diam.”

“Hmm,” kembali Thay Giam mengeluarkan suara di hidung. “Mati hidupku bukan kau yang menentukan.”

Orang itu tertawa, lalu berkata, “Memang bukan aku yang menentukan, tapi Cit-seng-teng yang memastikan bahwa malam ini Jie Sam-hiap akan mati.”

“Anggap saja ucapanmu tadi benar,” kata Thay Giam. “Tapi apa kau kira aku tidak dapat membunuhmu?”

Orang itu tertawa bergelak, sekali ini agak lama seolah-olah perkataan Thay Giam sangat lucu, lalu dia berkata dengan sungguh-sungguh,

“Sekarang Cit-seng-teng sudah masuk ke seluruh darahmu. Jangankan untuk membunuhku, jika kau mampu melangkah lima tindak biarlah aku akan memberimu obat pemunahnya kemudian aku akan membunuh diri. Kalau tidak percaya boleh kau coba, aku tidak akan bergerak sama sekali, baik untuk mengelak atau menangkis, bahkan aku akan berdiri menghadap sana.”

Selesai berkata, orang itu benar-benar memutar tubuh sehingga sekarang membelakangi Thay Giam yang menjadi marah sekali karena merasa dipandang rendah. Jie Thay Giam adalah seorang gagah, maka tidak mungkin dia mau menyerang orang dengan cara demikian, tetapi dia pun tidak mau begitu saja percaya dengan ucapan orang yang menipunya. Oleh karena itu dia tidak langsung menyerang, melainkan melangkah maju seraya berkata,

“Baik! Serahkan obat pemunah racun!”

Sebelum mulai bertindak, jarak antara Jie Thay Giam dan orang itu sekitar enam atau tujuh langkah. Dia melangkah maju sambil terus mengawasi punggung orang dan sampai empat langkah, benar saja orang itu tidak bergerak sedikit pun.

“Hmm,” Thay Giam menjengek. “Inilah langkah yang ke lima.”

Tapi baru saja dia mengangkat kaki, mendadak pandang matanya menjadi kabur. Sayup-sayup dia masih sempat mendengar suara tawa yang merdu nyaring sebelum pandang matanya sama sekali menjadi gelap dan akhirnya dia pun roboh pingsan.

KIRIMAN UNTUK BU-TONG-PAY

Ketika siuman Jie Thay Giam mendapatkan dirinya dalam keadaan terbaring dan tubuhnya ter-guncang-guncang. Sambil tetap memejamkan mata dia meng-ingat-ingat.

“Perahu...!” itulah yang pertama teringat olehnya. “Orang itu... penipu itu…! Ahh, apakah aku sudah mati? Mengapa ada guncangan ini?” pikirnya.

Thay Giam coba menggerakkan jarinya, lalu tangan, kaki dan leher, tetapi semua anggota badannya tidak dapat digerakkan. Per-lahan membuka mata, dan tahulah bahwa dia terbaring di lantai sebuah kereta yang sedang melaju kencang, karena itulah tubuhnya terguncang-guncang.

“Ah, kiranya aku belum mati,” katanya dalam hati. “Tapi apa bedanya? Aku bagaikan mayat yang dapat melihat dan mendengar.” Tanpa terasa dia menghela napas.

“Hei!” mendadak terdengar suara merdu dari bilik belakang kereta. “Kau sudah sadar?”

Dengan sudut matanya Thay Giam melirik ke arah suara itu. Dia tidak dapat melihat jelas, hanya nampak kain tirai yang memisahkan bilik depan dengan bilik belakang, tetapi suara merdu tadi agaknya adalah suara seorang perempuan.

“Di mana aku sekarang dan hendak dibawa ke mana?” tanyanya.

“Kami menemukan tubuhmu tergeletak pingsan di tepi sungai Cian-tong-kang, maka kami membawamu naik kereta ini. Tidak jauh di depan ada kota Lim-an. Dari pada membiarkan tubuhmu tergeletak di tempat liar itu, lebih baik aku membawamu dan meninggalkanmu di Lim-an,” suara itu menyahut.

Thay Giam menghela napas panjang. “Ahh, ternyata dia telah menolongku,” pikirnya. Baru saja dia hendak mengucapkan terima kasih, suara merdu itu sudah mendahului.

“Agaknya kau terkena racun yang amat lihay. Jika aku boleh tahu, kau hendak ke mana? Mungkin aku dapat membantumu.”

Thay Giam tahu jiwanya terancam maut. Memang Cit-seng-teng lihay bukan main, bahkan seluruh tubuhnya kini tidak dapat digerakkan. Teringat dia akan Suhu-nya yang beberapa hari lagi akan berulang tahun.

“Aku harus pulang ke Bu-tong-san,” pikirnya. “Sekali pun harus mati tetapi lebih dahulu aku harus menceritakan persoalan ini kepada Suhu dan saudara-saudara Bu-tong Cit-hiap. Biarlah mereka yang menentukan membalaskan penasaran ini. Lagi pula aku harus menghadap Suhu untuk mengucapkan selamat ulang tahun.” Berpikir demikian, tanpa terasa mulutnya berbisik lirih.

“Bu-tong-pay...”

“Apa kau kata?” tanya suara di bilik belakang.

“Bu-tong-pay...” sahut Thay Giam. “Aku hendak pulang ke Bu-tong-san.”

“Baiklah. Kami sedang terburu-buru, tidak bisa mengantarmu ke Bu-tong-san, tetapi kami dapat membawamu ke Lim-an.”

“Terima kasih atas bantuan...” Thay Giam bingung cara menyebut orang di bilik belakang karena tidak pernah dilihatnya, maka dia berkata pula, “Bolehkah aku tahu she dan nama Anda yang mulia?”

“Aku she In,” jawab orang itu. “Tidak perlu kukatakan namaku, sebut saja aku ‘sahabat In’. Perlu kau ketahui bahwa racun di tubuhmu lihay sekali, maka jangan mengeluarkan banyak tenaga, bahkan untuk bicara sekali pun. Sebaiknya mulai sekarang engkau tidur saja.“

Thay Giam percaya akan hal ini karena dia sudah merasakan sendiri, maka dia menurut kata-kata orang she In itu. Dia bertekad bertahan hidup sampai tiba di Bu-tong-san, sampai dia dapat menceritakan semua ini kepada Suhu-nya. Sekitar satu jam kemudian laju kereta mulai melambat, guncangan kereta semakin lemah, sementara di luar beberapa kali terdengar suara riuh. Walau pun tubuhnya terbaring tetapi Thay Giam dapat menduga bahwa kereta itu agaknya sudah memasuki kota Lim-an. Setelah dua kali membelok akhirnya kereta itu berhenti di pinggir jalan. Tidak lama kemudian pintu kereta terbuka, lalu muncul dua orang lelaki yang wajah serta pakaiannya penuh dengan debu. Agaknya tadi keduanya duduk di bagian depan sebagai kusir dan pengawal.

“Bawa dia masuk ke dalam!” suara merdu itu kembali terdengar dari bilik belakang.

Mendadak Thay Giam merasa tubuhnya terangkat dan barulah dia tahu bahwa sejak tadi dia terbaring di atas sebuah balai2 yang terbuat dari bambu. Walau pun seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan, tapi karena matanya memandang ke atas maka dia dapat melihat papan nama dari gedung yang mereka masuki. Pada papan itu tertulis ‘Liong-bun Piauw-kiok’.

Thay Giam terbaring tanpa dapat bergerak sama sekali. Matanya hanya bisa memandang lurus ke depan, ke arah langit-langit ruangan, tapi telinganya dapat mendengar segalanya. Balai-balai itu tetap dipegang dua penggotongnya.

“Selamat siang, Kongcu,” seorang pegawai menyambut ramah. “Apakah Kongcu hendak mengirimkan barang? Ataukah perlu jasa pengawalan orang?”

“Kongcu...?” pikir Thay Giam terkesiap. “Bukankah dia seorang perempuan? Apakah ada orang lain lagi?”

Namun rasa kaget itu segera berubah menjadi rasa heran karena terdengar suara merdu yang menjawab.

“Benar, memang aku hendak mengirimkan sesuatu, tetapi aku hanya akan bicara dengan pemilik piauw-kiok ini.”

“Ah, kebetulan sekali Cong-piauw-tiauw (pemilik perusahaan piauw-kiok) sedang berada di dalam. Harap Kongcu suka duduk menunggu sebentar.”

Selesai bicara pegawai itu bergegas masuk, sementara sang Kongcu berjalan menghampiri meja lalu meletakkan sebuah kotak kayu yang dibawanya dari kereta. Tak lama kemudian pegawai itu muncul kembali mengiringi seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang tubuhnya masih nampak tegap penuh berotot. Lelaki ini melangkah gagah dan ketika melihat seorang pemuda berpakaian sutera, dia lalu berkata sambil tersenyum,

“Apakah Toaya ini yang hendak mengirim barang antaran?”

“Benar, apakah aku sedang berhadapan dengan pemilik piauw-kiok ini?” jawab pemuda itu sekaligus balas bertanya.

“Benar sekali, Toaya. Aku Touw Tay Kim pemilik piauw-kiok ini,” kata laki-laki yang baru muncul itu. “Dan toaya adalah...”

“Cukup kau tahu bahwa aku adalah orang she In. Cong-piauw-tauw, aku hendak bertanya kepadamu. Berapakah biaya yang harus dibayar untuk mengantar barang?” tanya pemuda itu.

Touw Tay Kim tersenyum. “tergantung berapa banyak dan ke mana barang itu akan dikirim.”

Pemuda itu turut tersenyum, lalu berkata dengan suara merdunya, “Barang ini hanya perlu satu kereta dan tujuannya berjarak tidak lebih tiga ribu li dari sini.”

“Hanya satu kereta dan dikirim tidak lebih tiga ribu li dari sini?” Touw Tay Kim menegas.

“Benar sekali!” pemuda she In menjawab dengan suara tegas.

Touw Tay Kim memperhitungkan segala kemungkinan yang terberat. Sejenak kemudian barulah dia berkata,

“Untuk mengawal satu kereta sejauh tiga ribu li biayanya adalah dua ratus tahil emas.”

Sebenarnya dia menyebutkan biaya yang terlalu besar. Namun karena pemuda ini penuh teka-teki, lagi pula tujuan pengiriman belum diketahui, maka dia sudah mengajukan biaya yang sangat besar. Akan tetapi segera dia terperanjat.

“Baik, aku setuju!” jawaban inilah yang membuat Touw Tay Kim amat terperanjat, bahkan dia semakin terperanjat ketika pemuda itu berkata lagi. “Aku akan membayar sepuluh kali lipat, yaitu dua ribu tahil emas, boleh kau hitung sendiri.”

Pemuda she In itu membuka tutup kotak yang tadi diletakkannya di atas meja, kemudian membalik kotak itu sehingga seluruh isinya tumpah berkerincing di atas meja. Sementara, karena leher dan badannya tidak bisa bergerak, Jie Thay Giam hanya bisa melihat bendera piauw yang tertancap di pot bunga. Untuk sejenak seluruh ruangan sunyi senyap dan yang terdengar hanyalah bunyi lalat yang beterbangan kian kemari. Suara lain yang didengarnya adalah suara napas Touw Tay Kim yang ter-sengal. Walau pun tidak melihat mukanya, dia bisa menebak bahwa Cong-piauw-tauw itu tengah mengawasi emas yang berkeredepan dengan mata membelalak. Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara Touw Tay Kim.

“In-toaya, piauw apakah yang mau diantar?”

“Lebih dahulu jawablah pertanyaanku,” sahutnya. “Apakah kau bisa memenuhi tiga syarat yang diajukan olehku?”

Touw Tay Kim menepuk lututnya seraya berkata, “In-toaya, sesudah kau memberi hadiah yang begitu besar, biarlah aku mempertaruhkan jiwa untuk memenuhi segala permintaan dan keinginanmu. Kapan aku bisa menerima piauw itu?”

“Piauw yang harus dilindungi dan diantar olehmu adalah orang yang rebah di balai-balai itu,” jawabnya dengan suara dingin.

Tanpa terasa Touw Tay Kim mengeluarkan seruan tertahan saking herannya. Jie Thay Giam terkesiap. Dia membuka mulut, tapi suara yang mau dikeluarkan tidak bisa keluar. Dengan menggunakan seantero tenaganya dia coba melompat turun, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sedikit pun. Sekarang barulah dia tahu bahwa racun Cit-seng-teng ternyata benar-benar lihay.

“Apa... apa... benar tuan ini?” menegas Touw Tay Kim dengan suara ter-putus.

“Tidak salah,” jawabnya. “Kau sendiri yang harus mengantarkannya, dan kau tidak boleh menukar anak buah. Dalam sepuluh hari kau sudah mesti sampai di Bu-tong-san, Siang-yang-hu di propinsi Ouwpak, dan menyerahkan orang itu kepada Thio Sam Hong, Ciang-bun Couwsu Bu-tong-pay.”

“Bu-tong-pay?” menegas Touw Tay Kim. “Walau pun tidak mempunyai ganjalan apa-apa dengan Bu-tong-pay, tetapi kami murid Siauw-lim-si jarang... jarang sekali berhubungan dengan mereka... Dia...”

“Bila gagal kau tidak akan dapat mengganti kerugian dengan laksaan tahil emas,” kata si orang she In dengan suara tawar. “Katakan saja, kau terima atau tidak? Mengapa sebagai seorang lelaki begitu sukar mengambil keputusan?”

“Baiklah, dengan memandang muka In-toaya, Liong-bun Piauw-kiok menerima baik piauw ini,” jawabnya.

Orang ini tersenyum. “Hari ini Sha-gwe Jie-kauw (Bulan tiga tanggal 2),” katanya. “Kalau pada Sie-gwee Cee-kauw Ngosie (Bulan empat tanggai 9) tengah hari, kau belum juga menyerahkan tuan ini kepada Ciang-bun Couwsu Bu-tong-pay, aku akan membasmi besar kecil tujuh puluh satu orang di Liong-bun Piauw-kiok. Malah ayam dan anjing pun tak akan diampuni olehku!” Menyusul ancaman ini, tangannya bergerak.

“Trik! Trik!”

Belasan jarum perak yang halus menancap di pot bunga yang lantas hancur menjadi puluhan keping kemudian jatuh berhamburan di lantai. Timpukan senjata rahasia yang disertai dengan Iwekang dahsyat itu benar-benar mengejutkan. Touw Tay Kim mengeluarkan seruan kaget sedangkan Jie Thay Giam pun terkesiap.

“Ayo pulang!” bentak si orang she In.

Dua tukang gotong lantas menaruh balai-balai di atas lantai dan segera meninggalkan ruangan itu dengan ter-buru-buru. Selang beberapa saat, sesudah dapat menentramkan hati Touw Tay Kim menghampiri Jie Thay Giam seraya bertanya:

“Bolehkah kutahu she dan nama tuan yang mulia? Apa benar tuan dari Bu-tong-pay?”

Thay Giam tak dapat berbicara, ia hanya mengawasi Cong-piauw-tauw yang berusia sekitar lima puluh tahun itu, badannya tinggi besar dengan otot lengan yang menonjol keluar dan parasnya angker sekali. Melihat potongan badan dan gerakan orang itu, Thay Giam tahu bahwa dia adalah seorang ahli ilmu silat Gwakang (ilmu silat dengan tenaga luar).

“In-toaya adalah seorang tampan yang gerakannya lemah lembut,” kata Touw Tay Kim. “Tak dinyana mereka memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Orang dari partai manakah dia?” Ia mengulangi pertanyaannya beberapa kali, tetapi Thay Giam tetap tidak menjawab dan terus memeramkan kedua matanya.

Hati Cong-piauw-tauw merasa sangat tidak enak. Ia sendiri adalah seorang ahli dalam melepaskan senjata rahasia sehingga di dunia Kangouw dia mendapat julukan Ie-pie-him, tapi kepandaian si orang she In betul-betul luar biasa. Dengan sekali mengibas tangan bajunya belasan batang jarum yang halus bagaikan bulu kerbau telah menghancurkan sebuah pot kristal. Jika tak melihatnya dengan mata kepala sendiri tentu ia tidak akan percaya. Ia membungkuk dan menjemput kepingan kristal yang jatuh di lantai, ternyata setiap jarum seperti terpantek masuk dengan martil ke dalam kristal. Iweekang yang sedemikian hebat, sungguh ia belum pernah mendengarnya.

Sudah dua puluh tahun lebih Touw Tay Kim mengepalai Liong-bun Piauw-kiok dan selama itu dia sudah mengalami tidak sedikit gelombang di dunia Kangouw. Tapi piauw manusia hidup dengan ongkos dua ribu tahil emas bukan saja belum pernah dialami, tetapi juga belum pernah terdengar dalam sejarah perusahaan piauw. Sesudah menyimpan emas ia segera memerintahkan orang untuk membawa Jie Thay Giam ke kamar yang sepi supaya si sakit bisa mengaso, kemudian dengan cepat ia mengumpulkan para piauw-tauw, menyiapkan kuda kereta untuk berangkat pada hari itu juga.

Sebelum berangkat, karena merasa tak enak mendengar ancaman si orang she In, Touw Tay Kiam lebih dulu berdamai dengan dua orang piauw-tauw yang berusia tinggi. Sesudah meng-hitung, mereka mendapat kenyataan bahwa mulai dari ibu Touw Tay Kiam sampai bayi Ciok Piauw-tauw yang berusia belum cukup sebulan, keluarga Liong-bun Piauw-kiok tepat berjumlah tujuh puluh satu orang, sesuai dengan jumlah yang disebutkan si orang she In. Mereka bertiga saling pandang dengan hati berdebar.

“Cong-piauw-tauw,” kata Piauw-tauw she Ciok. “Menurut pendapatku, meski hadiahnya besar tetapi tugas ini terlalu berbahaya sehingga lebih baik kita menolak saja.”

Piauw-tauw yang satunya lagi, yaitu seorang she Su, segera berkata: “Ciok Sam-ko, sayang sekali pendapatmu ini diutarakan sesudah terlanjur. Piauw ini telah diterima. Apakah Liong-bun Piauw-kiok yang telah mendapat nama besar selama dua puluh tahun lebih kini harus mengembalikan lagi piauw yang sudah diterima?”

“Su Ngo-te,” kata Ciok Piauw-tauw dengan suara dongkol. “Kau sangat menyayang nama besar Liong-bun Piauw-kiok, tapi apa kau tidak menyayangi jiwa begitu banyak orang? Menurut penglihatanku urusan ini sangat mencurigakan dan mungkin sekali orang sedang memasang jebakan untuk menjebak kita.”

Su Piauw-tauw tertawa dingin kemudian berkata, “Sesudah makan dari perusahaan piauw, memang siang malam kita hidup di ujung senjata. Jika Ciok Sam-ko mau hidup tenteram, sebaiknya kau berdiam saja di rumah sambil mendukung bayimu dan jangan berkelana di luaran.”

Kedua Piauw-tauw itu lantas mulai bertengkar keras sehingga Touw Tay Kim harus datang menengahi.

“Jie-wie jangan tarik urat,” katanya sambil tersenyum. “Piauw sudah diterima sehingga kita memang kita tidak boleh mundur lagi. Orang kata, musuh datang jenderal menyambut, air datang tanah menguruk. Bahwa Ciok Sam-ko memikirkan So-so (isterinya kakak laki-laki) dan anaknya, sangat bisa dimengerti. Sekarang begini saja, kita kirim semua orang tua, perempuan serta anak-anak dari keluarga piauw-hang ke kampung di luar kota Lim-an. Tindakan ini bukan karena kita bernyali kecil, tetapi hanya untuk berjaga-jaga terjadinya segala kemungkinan.”

Sesudah berkata demikian, dia segera memerintahkan sejumlah pegawai piauw-hang agar segera mengantarkan keluarga para piauw-tauw ke sebuah dusun guna menyingkirkan diri sementara waktu. Semua orang yang bakal mengiringi piauw istimewa itu, lantas makan kenyang dan mempersiapkan bekal untuk di sepanjang jalan. Sesudah beres, seorang pegawai segera membawa bendera piauw dengan kedua tangannya dan berjalan ke pintu tengah gedung Liong-bun Piauw-kiok. Sambil membuka bendera dia pun membentak,

“Liong-bun-sam-yauw-lee, Hie-jie-hoa-wie-long (Tiga ekor gabus yang sedang melompat dari Liong-bun, akan berubah menjadi naga)!”

Sementara itu bermacam pikiran masuk ke otak Jie Thay Giam yang rebah di dalam kereta. “Selama berkelana di dunia Kangouw aku selalu memandang rendah orang Piauw-hang,” katanya dalam hati. “Tak dinyana, selagi menghadapi bencana besar aku harus diangkut ke Bu-tong-san oleh mereka.“ Di lain saat dia bertanya kepada dirinya sendiri “Siapakah sahabat she In yang sudah menolong jiwaku? Apa bila didengar dari suaranya, dia adalah seorang wanita. Tetapi menurut Cong-piauw-tauw, parasnya tampan dan ilmu silatmya tinggi. Dan cara-caranya sungguh luar biasa. Hanya sayang, aku tidak dapat melihat wajahnya dan juga tidak bisa menghaturkan terima kasih. Kalau bisa lolos dari kebinasaan, aku pasti akan membalas budinya yang sangat besar.”

Kereta berjalan terus dan ketika hampir tiba di pintu kota, se-konyong-konyong terdengar teriakan Touw Tay Kim,

“Mengapa kamu kembali?! Aku sudah berpesan, kamu tidak boleh balik ke Lim-an!”

“Cong... cong-piauw-tauw,” demikian terdengar jawaban ter-putus-putus. “Kami... kuping kami!”

“Siapa yang potong kupingmu?!” teriak pula Touw Tay Kim dengan suara marah bercampur kaget.

“Selagi mengantar... Lo-taytay (nyonya tua atau ibu Touw Tay Kim) keluar kota, baru sekitar dua li, kami... dicegat orang,” menerangkan orang itu dengan suara gemetar: “Pencegat itu bengis dan ganas sekali. ‘Keluarga Liong-bun Piauw-kiok tak boleh meninggalkan kota Lim-an’, kata satu di antaranya. Aku coba melawan dengan mulut, tetapi orang itu menghunus golok dan memotong kupingku! Kuping mereka berdua juga telah... telah dipotong olehnya. Orang itu menyuruhku memberi-tahukan Cong-piauw-tauw bahwa kalau piauw yang harus diantar tidak tiba pada waktunya, maka... maka... ayam dan anjing akan di basmi semua.”

Touw Tay Kim menghela napas. Dia mengerti bahwa setiap gerak gerik Liong-bun Piauw-tauw sekarang diawasi orang. Sambil mengibas tangan kanannya dia berkata,

“Baiklah, kamu pulang saja. Jaga seluruh keluarga dan gedung Piauw-kiok. Jangan keluar kalau tidak terlalu perlu.“ Sehabis berkata begitu dia segera mencambuk kuda dan rombongan berangkat.

Dengan se-cepatnya mereka menuju ke jurusan barat. Yang mengantar Jie Thay Giam, selain Touw Cong-piauw-tauw, Ciok dan Su Piauw-tauw, masih ada empat orang piauwsu muda yang bertubuh kuat dan kekar. Mereka semua menunggang kuda pilihan dan seperti yang dikatakan si orang she In, mereka menukar kereta, menukar kuda-kuda, tetapi tidak diperbolehkan menukar orang. Dengan hati ber-debar mereka meneruskan perjalanan siang dan malam karena mereka tahu bahwa jika terlambat bukan saja jiwa mereka sendiri, tapi jiwa semua keluarga Liong-bun Piauw-kiok tak akan bisa ditolong lagi.

Waktu baru keluar dari kota Lim-an, Touw Tay Kim menduga bahwa di sepanjang jalan dia harus siap mengadu jiwa. Dia harus mengadu jiwa dalam pertempuran mati-matian. Namun di luar dugaan, sesudah meninggalkan Ciat-kang, melewati An-hui kemudian masuk di propinsi Ouwpak, dalam beberapa hari mereka tidak pernah menemui rintangan apa pun.

Hari itu mereka telah melewati kota Hoan-shia, Thay-pang-tiam, Sian-jin-touw, Kong-hwa-koan. Kemudian, sesudah menyeberangi sungai Han-sui, tibalah mereka di Lao-ho-kouw dari mana mereka bisa mencapai Bu-tong-san dalam tempo satu hari. Sebelum Ngo-sie mereka tiba di Song-keng-cu dan tak lama lagi akan tiba di gunung Bu-tong-san. Biar pun di sepanjang jalan sangat lelah tetapi mereka tiba pada waktu yang tepat sehingga para piauw-tauw menjadi sangat girang. Waktu itu adalah akhir musim semi dan awal musim panas. Langit cerah hawa pun hangat, pohon hijau dan bunga beraneka warna. Sambil memandang puncak Thian-cu-hong yang menjulang ke langit dengan angkuhnya, Touw Tay Kim berkata,

“Ciok Sam-te, selama beberapa tahun ini nama Bu-tong-pay semakin tersohor dan meski pun masih belum bisa menandingi Siauw-lim-pay, sepak terjang Bu-tong Cit-hiap telah menggetarkan seantero dunia Kangouw. Dengan melihat Thian-cu-hong yang demikian angker, aku jadi ingat perkataan orang bahwa jika manusianya jempol tanahnya pun keramat.”

“Walau pun Bu-tong-pay sudah mendapat nama besar tapi dasarnya masih sangat cetek sehingga tidak dapat dibandingkan dengan Siauw-lim-pay yang mempunyai sejarah seribu tahun lebih,” kata Ciok Piauw-tauw.

“Ambil saja contoh, Cong-piauw-tauw sendiri yang mempunyai Jie-sie-chiu Hang-mo-ciang (pukulan menaklukkan iblis) yang memiliki dua puluh empat jurus dan Liam-cu Kong-piauw yang bisa dilepaskan beruntun. Siapakah di antara orang Bu-tong yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi itu?”

“Benar!” seru Su Piauw-tauw. “Omongan di kalangan Kangouw kebanyakan tidak boleh dipercaya. Nama Bu-tong Cit-hiap memang cukup tersohor, tetapi bagaimana tinggi kepandaian mereka, kami belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Boleh jadi pujian itu diberikan oleh orang kampung yang belum pernah melihat luasnya dunia.”

Touw Tay Kim hanya tersenyum. Sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan banyak lebih tinggi dari pada kedua Piauw-tauw itu, dia yakin bahwa nama besar Bu-tong-pay bukan nama kosong saja dan Bu-tong Cit-hiap pasti memiliki kepandaian luar biasa. Akan tetapi karena selama dua puluh tahun lebih ia memang jarang bertemu tanding, maka ia sangat percaya akan kepandaian sendiri. Sudah berulang-ulang ia mendengar umpakan kedua piauw-tauw itu dan sebagai manusia biasa, ia tetap merasa girang setiap kali mendengar pujian yang muluk.

Sembari ber-omong ketiga piauw-tauw itu berjalan dengan merendengkan kuda mereka. Semakin lama jalanan gunung semakin sempit sehingga orang tidak bisa jalan berendeng, maka Su Piauw-tauw menahan les kuda untuk berjalan di sebelah belakang.

“Cong-piauw-tauw, kalau sebentar nanti kita bertemu dengan Thio Sam Hong, peradatan apa yang harus kita lakukan?” tanya Ciok Piauw-tauw.

“Kita bukan dari partai dan tidak punya ikatan apa pun juga,” jawabnya. “Akan tetapi Thio Sam Hong telah berusia sembilan puluh tahun dan di rimba persilatan bisa dikatakan dialah yang berusia paling tua. Untuk menghormati seorang Cianpwe dari rimba persilatan tidak ada halangannya jika kira berlutut di hadapannya.”

“Menurut pendapatku, begitu bertemu kita lantas berteriak, ‘Thio Cinjin, Boanpwe memberi hormat dengan berlutut!’ Dia tentu akan sungkan dan mencegah,” kata Ciok Piauw-tauw, “Dengan demikian kita boleh tidak usah menjalankan peradatan yang besar itu...”

Touw Tay Kim tidak memberi jawaban. Dia hanya tersenyum karena dia sedang mencoba menebak asal usul Jie Thay Giam. Selama sepuluh hari Thay Giam tidak pernah bergerak dan juga tak pernah mengeluarkan sepatah kata. Makan minum dan segala keperluannya harus ditolong oleh pegawai Piauw-kiok. Sudah beberapa hari Touw Tay Kim dan piauw-tauw lain mencoba men-duga-duga, tetapi tetap tidak bisa menebak siapa adanya pemuda ini. Apa dia murid Bu-tong-pay? Sahabat atau musuh Bu-tong? Makin mendekat Bu-tong-san makin besar rasa heran mereka. Namun mereka ingat bahwa begitu bertemu dengan Thio Sam Hong maka teka-teki itu akan terpecah sendirinya. Hanya mereka tidak tahu apa pertemuan itu akan berbuntut dengan kecelakaan atau keberuntungan.

Selagi Touw Tay Kim mengasah otak, dari sebelah barat terdengar suara kaki kuda. Untuk menyelidiki Ciok Piauw-tauw menggeprak tunggangannya yang segera kabur lebih dahulu. Beberapa saat kemudian dia melihat enam penunggang kuda yang sesudah berada dalam jarak belasan tombak dari rombongan piauw tiba-tiba menahan les dan menghadang di tengah jalan. Tiga orang berbaris di depan dan tiga orang di sebelah belakang.

“Apakah bakal muncul rintangan di kaki Bu-tong-san?” Touw Tay Kim bertanya dalam hati. Ia mendekati Su Piauw-tauw dan berbisik,

“Hati-hati, jaga kereta.”

Sementara itu seorang pegawai Piauw-kiok meng-goyangkan bendera ikan gabus sebagai satu pemberian hormat, sedang Touw Tay Kim sendiri segera majukan kudanya untuk menyambut keenam orang itu.

“Liong-bun Piauw-kiok numpang lewat di tempat sahabat dan mohon sahabat sudi untuk memaafkan jika kami berlaku kurang hormat,” katanya seraya membungkuk.

Di antara keenam pemegat itu terdapat dua orang tosu (imam) yang memakai topi kuning sedangkan yang lainnya adalah orang-orang biasa. Mereka semua menyoren golok atau pedang dan sikapnya angker sekali. Mendadak Touw Tay Kim mendapat satu ingatan: “Apakah mereka bukan enam pendekar dari Bu-tong Cit-hiap?” tanyanya dalam hati. Ia segera menggeprak tunggangannya dan berkata sambil merangkapkan dua tangan.

“Aku Touw Tay Kim dari Liong-bun Piauw-kiok, bolehkah aku tahu she dan nama saudara yang mulia?”

“Perlu apa Touw-heng datang di Bu-tong-san,” tanya salah seorang yang berdiri di sebelah kanan. Orang itu bertubuh jangkung dan pipi kirinya terdapat sebuah tahi lalat yang ditumbuhi tiga lembar rambut panjang.

“Piauw-kiok kami diminta untuk membawa orang yang terluka berat ke Bu-tong-san untuk diserahkan kepada Ciang-bun dari partai saudara-saudara. Thio Cinjin,” jawabnya.

“Siapakah orang itu?” tanya orang yang berdiri di samping orang pertama tadi.

“Kami telah diminta oleh seorang she In agar membawa tuan itu ke gunung ini,” sahutnya. “Siapa adanya tuan itu, bagaimana ia mendapat luka dan duduknya persoalan, tidak kami ketahui. Liong-bun Piauw-kiok hanya menerima permintaan orang kemudian menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Mengenai urusan pribadi, selamanya kami belum pernah mengenal tuan.”

Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan piauw, Touw Tay Kim mempunyai pengalaman luas. Dengan berkata begitu maka ia mencuci bersih segala kemungkinan yang bisa merembet kepada Liong-bun Piauw-kiok. Baik Jie Thay Giam itu seorang sahabat, atau pun musuh Bu-tong-pay, keenam orang itu tak bisa marah terhadapnya. Orang yang bertahi lalat menengok kepada dua kawannya seraya berkata.

“Orang she In? Siapakah orang itu?”

“Dia adalah seorang pemuda yang berparas tampan dan memiliki kepandaian tinggi dalam ilmu melepaskan senjata rahasia,” menerangkan Touw Tay Kim.

“Apa kau pernah bertempur dengannya?” tanya pula si penyegat.

Touw Tay Kim jadi bingung dan menjawab dengan gugup, “Tidak... tidak... dia yang...”

Belum habis perkataannya, salah seorang lainnya sudah membentak, “Mana To-liong-to? Di tangan siapa golok itu berada?”

“Apa itu To-liong-to?” menegas Touw Tay Kim dengan kaget. “Apakah ‘Bu lim cie cun, Po to to liong’ yang tersohor?”

Orang yang membentak ternyata beradat berangasan. Tanpa banyak bicara dia melompat turun dari tunggangannya menghampiri kereta, membuka tirai lalu melongok ke dalamnya. Melihat gerakan orang itu yang gesit luar biasa, Touw Tay Kim semakin curiga.

“Apakah kalian bukan Bu-tong Cit-hiap yang namanya sangat tersohor di dunia Kangouw?” tanyanya. “Yang mana Song-tayhiap? Sudah lama aku mendengar nama besarnya dan aku ingin sekali bertemu muka.”

“Nama hanyalah nama kosong belaka dan tidak cukup berharga untuk di-sebut,” kata orang yang bertahi lalat. “Touw heng terlalu merendahkan diri.” Sesaat itu si berangasan sudah melompat lagi ke atas punggung kudanya. “Lukanya amat berat dan harus segera ditolong,” katanya. “Biarlah kita saja yang membawanya.”

Orang yang bertahi lalat lantas merangkap kedua tangannya seraya berkata dengan suara manis:

“Siauwte menghaturkan banyak terima kasih atas capai lelah Touw-heng yang dari jauh mengantar sampai di sini,.”

Touw Tay Kim segera membalas hormat dan mengucapkan perkataan merendahkan diri.

“Saudara itu mendapat luka yang amat berat, maka biarlah kami saja yang membawanya ke atas gunung untuk segera ditolong,“ kata pula orang itu.

Toaw Tay Kim yang memang ingin selekas mungkin melepaskan diri dari tanggung jawab lantas berkata:

“Baiklah. Kalau begitu di sini saja kami menyerahkan tuan ini kepada Bu-tong-pay.”

“Touw-heng tak perlu kuatir,” kata orang itu. “Sekarang Siauwte yang bertanggung jawab. Apakah ongkos piauw sudah dibayar?”

“Sudah dibayar cukup,” jawabnya.

Orang itu lalu mengeluarkan sepotong emas yang beratnya sekitar seratus tahil dan berkata sambil mengangsurkan kepada Touw Tay Kim:

“Ini untuk beli teh, harap Touw-heng suka mem-bagikan kepada saudara yang lain.”

Cong-piauw-tauw menolak dengan keras. “Dua ribu tahil emas sudah lebih dari pada cukup,“ katanya. “Aku bukan seorang temaha.”

“Hm, dua ribu tahil emas...“ kata orang yang bertahi lalat itu.

Dua kawannya memajukan tunggangan mereka, yang satu melompat ke atas kereta, mengambil Ies dari tangan kusir lalu menjalankan kereta itu, sedang yang satunya lagi mengikuti dari belakang. Orang yang bertahi lalat mengayunkan tangannya dan melemparkan potongan emas itu ke arah Touw Tay Kim.

“Harap Touw-heng jangan berlaku sungkan,” katanya seraya tertawa. “Kalian kembali saja ke kota Lim-an.”

Melihat potongan emas itu melayang ke hadapannya, terpaksa Touw Tay Kim cepat-cepat menyambutnya. Sebenarnya dia masih ingin memulangkannya, tapi orang itu telah berlalu dengan mengaburkan tunggangannya. Di sebelah kejauhan dia melihat lima orang mengiring kereta yang memuat Jie Thay Giam dan sesudah membelok di tikungan, mereka menghilang dari pandangan. Di lain saat ketika melihat potongan emas di tangannya, dia terkesiap karena terdapatnya sepuluh tapak jari yang dalamnya sekitar setengah dim. Yang lebih luar biasa ialah, tapak jari itu sampai uratnya terpeta nyata di atas potongan emas. Walau pun emas lebih lembek dari pada besi atau tembaga, tetapi tenaga jari tangan itu, yang disertai dengan Iweekang yang sangat dahsyat benar-benar mengejutkan. Sambil mengawasi emas itu dengan mulut ternganga, dia berkata dalam hati,

“Bu-tong Cit-hiap benar-benar lihay. Di Siauw-lim-pay mungkin hanya satu dua Susiok yang mempelajari Kim-kong-cie, yang mempunyai kepandaian seperti ini.”

Melihat sang pemimpin mengawasi potongan emas itu dengan bengong, Ciok Piauw-tauw berkata:

“Cong-piauw-tauw, murid Bu-tong tak tahu adat. Sesudah bertemu muka, mereka sama sekali tidak memperkenalkan diri dan juga tidak menanyakan she dan nama kita. Dari tempat yang jauhnya ribuan li kita datang ke sini. Tapi mereka merasa tak perlu untuk mengundang kita bersantap atau menginap semalaman dalam kuil mereka. Sebagai sesama orang rimba persilatan, sikap mereka sangat tidak manis.”

Dalam hatinya memang Touw Tay Kim merasa sangat tak puas akan sikap orang-orang itu, hanya ia tidak mengatakan terang-terangan. Maka itu mendengar perkataan rekannya, ia berkata dengan suara tawar:

“Dengan adanya mereka, kita bisa menghemat tenaga. Jadi ada baiknya juga. Di samping itu, sebenarnya aku merasa agak tidak enak jika orang-orang Siauw-lim-pay masuk ke kuil Bu-tong-pay. Jie-wie Hiante, marilah kita pulang!”

Dalam perjalanan itu meski pun tidak menemui halangan tetapi Liong-bun Piauw-kiok telah dihina orang. Bahwa Bu-tong Liok-hiap tidak mau memperkenalkan diri, sudah merupakan tanda bahwa mereka tak memandang sebelah mata pada Piauw-kiok itu. Semakin dipikir Touw Tay Kim semakin mendongkol dan ia menghitung bagaimana sakit hati ini bisa dibalas. Dalam perjalanan pulang selagi si pemimpin diliputi kemasgulan, para Piauw-tauw dan pegawai ber-girang. Setelah ber-lelah sepuluh hari sepuluh malam, Liong-bun Piauw-kiok bisa mengantongi dua ribu tahil emas dan Cong-piauw-tauw mereka yang terbuka tangannya, sudah pasti akan memberi hadiah besar. Pada waktu magrib mereka sudah melewati Song-keng-cu. Melihat Touw Tay Kim masih berduka, Ciok Piauw-tauw berkata:

“Cong-piauw-tauw, jangan terlalu jengkel. Gunung tinggi dan air panjang, di lain hari di dunia Kangouw kita pasti akan dapat berpapasan lagi dengan mereka. Hm! Berapa lama Bu-tong Cit-hiap bisa mempertahankannya?”

Touw Tay Kim menghela napas. “Ciok Hiante,” katanya. “Ada satu hal yang sangat dibuat menyesal olehku.”

“Hal apa?” tanyanya.

Baru saja dia berkata begitu, dari sebelah belakang mendadak terdengar suara kaki kuda. Tindakan kuda itu tak begitu gencar, malah boleh dikatakan perlahan, tapi sungguh heran, semakin lama kedengarannya semakin dekat. Maka semua orang menengok ke belakang. Ternyata kuda itu mempunyai kaki yang sangat panjang, sedang badannya pun dua kaki lebih tinggi dari pada kuda biasa. Dengan kaki yang panjang langkahnya sangat lebar sehingga biar pun larinya tidak terlalu cepat, jarak yang dicapai lebih jauh dari pada kuda biasa. Bukan saja tubuh dan kakinya sangat istimewa, tapi gerakannya juga angker sekali sedangkan bulunya mengkilap seperti dipoles minyak.

“Bagus benar kuda itu!” Ciok Piauw-tauw memuji. Dia diam sejenak kemudian berkata, “Cong-piauw-tauw, apakah kami berbuat kesalahan?”

“Bukan, bukan kalian yang berbuat kesalahan,” jawabnya dengan suara duka. “Apa yang sedang kuingat adalah kejadian dua puluh lima tahun berselang. Waktu itu dua belas tahun aku belajar di Siauw-lim-si dan sudah memenuhi syarat sebagai murid yang lulus. Guruku Goan-hiap Siansu membujuk supaya aku berdiam lagi lima tahun guna belajar ilmu Tay-kim-kong-ciang. Tapi sebagai seorang pemuda yang pendek pikiran, aku menganggap bahwa kepandaian yang kumiliki sudah cukup untuk malang melintang di dunia Kangouw. Oleh karena itu, ditambah lagi dengan rasa tidak tahan untuk hidup menderita lebih lama di dalam kuil, aku menolak bujukan Insu. Hai! Apa bila pada waktu itu aku belajar lagi lima tahun, tentu hari ini aku tidak akan dihina murid Bu-tong...“

Baru saja bicara sampai di situ, orang yang menunggang kuda jempolan itu, yang bulunya berwarna hijau putih, sudah menyandak lantas melewati rombongan piauw-hang. Selagi lewat, penunggang kuda melirik Touw Tay Kim dan Ciok Piauw-tauw dengan paras muka heran. Touw Tay Kim juga mengawasi orang itu yang ternyata adalah seorang pemuda tampan yang berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan paras muka yang angker. Dilihat sekelebatan ia seorang yang bertubuh kecil lemah. Tapi sesudah diawasi, di tubuh yang kecil itu terdapat gerakan yang gesit, lincah dan mantap. Sambil merangkap kedua tangan, pemuda itu berseru,

“Numpang lewat! Numpang lewat!”

Dalam sekejap kuda itu sudah kabur di depan rombongan piauw-hang. Sembari mengawasi bayangan pemuda itu, Touw Tay Kim segera bertanya,

“Ciok-hiante, bagaimana pendapatmu mengenai orang muda itu?”

“Dia turun dari atas gunung, mungkin sekali salah seorang murid Bu-tong,“ jawabnya. “Tapi dia tidak membekal senjata dan badannya pun kelihatan lemah. Bisa jadi dia seorang biasa saja dan bukan murid Bu-tong.”

Mendadak pemuda itu memutar tunggangannya dan balik kembali. Dari kejauhan dia memberi hormat seraya berkata:

“Maaf! Siauwte hendak mengajukan sebuah pertanyaan, harap kalian tidak marah.”

Mendengar kata-kata yang manis, Touw Tay Kim menahan les dan balas bertanya, “Pertanyaan apa?”

Seraya melirik pada bendera ikan gabus yang dicekal seorang pegawai piauw-hang, pemuda itu berkata.

“Apakah kalian dari Liong-bun Piauw-kiok di kota Lim-an?”

“Benar,” jawab Ciok Piauw-tauw.

°Boleh aku tahu she dan nama sahabat yang mulia?” tanya lagi pemuda itu. “Apakah Touw Cong-piauw-tauw baik?”

Ciok Piauw-tauw merasa senang sekali melihat cara pemuda itu yang ramah tamah, tapi karena isi hati orang Kangouw sangat sukar ditebak, maka dia belum berani bicara terus terang.

“Aku she Cok, siapakah sahabat?” katanya. “Apakah sahabat mengenal Cong-piauw-tauw dari piauw-kiok kami?”

Pemuda itu segera melompat turun dari tunggangannya lalu maju beberapa langkah dengan satu tangan menuntun kuda.

“Aku she Thio, namaku Cui San,” dia memperkenalkan diri. “Sudah lama kudengar nama besar dari Cong-piauw-tauw, hanya sayang aku belum bisa berkenalan dengannya.”

Begitu mendengar nama ‘Thio Cui San’, Touw Tay Kim dan yang lainnya terkejut bukan main. Beberapa tahun terakhir nama Thio Cui San ‘Tauw-tong Cit-hiap’ amat terkenal di rimba persilatan. Menurut orang dia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali dan tidak dinyana, dia bukan saja masih berusia begitu muda, tetapi gerak geriknya menyerupai anak sekolahan yang lembut. Dengan rasa sangsi Touw Tay Kim majukan kudanya seraya berkata,

“Aku yang rendah adalah Touw Tay Kim. Apakah tuan bukan Gin-kauw Tiat-hoa Thio Ngo-hiap?”

Muka pemuda itu bersemu dadu “Pendekar apa?” tanyanya dengan suara jengah. “Pujian Touw Cong-piauw-tauw terlalu tinggi untuk diterima olehku. Sesudah datang di Bu-tong-san, kenapa kalian tidak mampir di tempat kami? Hari ini adalah hari ulang tahun ke sembilan puluh dari guru kami dan jika sekiranya tidak menjadi halangan aku mengundang saudara naik ke gunung untuk minum arak panjang umur.”

Senang sekali hati Touw Tay Kim dan yang lainnya. “Mengapa di antara Bu-tong Cit-hiap terdapat perbedaan watak yang begitu besar?” kata Ciong piauw-tauw dalam hati. “Enam orang yang tadi begitu tak mengenal adat, tetapi Thio Ngo-hiap sedemikian ramah tamah.” Ia lantas melompat turun dari tunggangannya dan berkata:

“Dari Lim-an kami datang ke Siang-yang-hu dan tujuan kami sebetulnya adalah untuk menemui Thio Cinjin. Hanya... hanya karena tidak membawa barang antaran, kami merasa malu untuk mendaki gunung.”

Thio Cui San tersenyum. “Kita semua sama dari kalangan rimba persilatan,” katanya dengan suara halus, ”Toaw Cong-piauw-tauw janganlah menganggap kami sebagai orang luar. Guruku sering mengatakan bahwa ilmu silat Bu-tong-pay bersumber dari Siauw-lim dan dia berpesan bahwa kalau bertemu dengan Cianpwe Siauw-lim-pay maka kami harus menghormati sebagaimana mestinya. Jika guruku tahu rombongan Touw Cong-piauw-tauw lewat di kaki gunung, tentu dia sudah memerintahkan kami menyambut dari tempat yang jauh.”

Mendengar perkataan itu Touw Tay Kim jadi salah mengerti, dia menyangka Thio Cui San hanya ber-pura-pura dan bicara dalam perkataan yang tajam. Ia tertawa dan berkata dengan suara tawar.

“Sungguh pun ilmu silat Bu-tong dikatakan bersumber dari Siauw-lim-si akan tetapi bagaikan warna, hijau sebenarnya berasal dari warna biru tapi pada akhirnya hijau mengalahkan biru. Thio Ngo-hiap yang masih berusia muda ini memang sangat dikagumi orang. Tapi manusia seperti aku ini, dalam usia yang sudah lanjut kepalaku seperti menempel di badan anjing.”

“Ah, mengapa Cong-piauw-tauw berkata seperti itu?” kata Thio Cui San. “Di kalangan Kangouw, siapakah yang tidak mengenal nama besar Liong-bun Piauw-kiok? Di rimba persilatan semua orang tahu lihaynya Jie-cap-sie-chiu Hong-mo-ciang dan Lian-cu Kong-piauw. Touw Cong-piauw-tauw, apakah kau boleh memperkenalkan beberapa Toako ini kepadaku?”

Mendengar permintaan orang yang diajukan secara pantas ini, Touw Tay Kim lantas saja memperkenalkan Ciok dan Su Piauw-tauw.

BU-TONG COUWSU DAN BU-TONG CIT-HIAP

“Aku sungguh merasa beruntung bahwa ini hari dapat berkenalan dengan saudara yang mempunyai nama besar di rimba persilatan,” kata pula pemuda itu. “Dahulu Kim-to (golok emas) dari Ciok Piauw-tauw sudah merobohkan Ie-yang Ngo-hiang (Lima Jago Ie-yang) di jalanan Sin-an, sedang ilmu silat toya Sam-gie-kun dari Su Piauw-tauw juga tidak kurang tersohornya.”

Sebagai seorang murid yang sangat disayang oleh Thio Sam Hong, pemuda itu memiliki pengetahuan yang amat luas dunia Kangouw karena dia sering mendengarkan cerita gurunya. Dengan otaknya yang cerdas serta daya ingat yang kuat, apa yang didengarnya tidak terlupa lagi. Sebagai Couwsu perguruan Bu-tong-pay yang sudah mencapai usia sembilan puluh tahun dan mempunyai pergaulan luas, Thio Sam Hong dapat dikatakan mengenal semua partai, semua cabang persilatan dan semua tokoh. Segala pengalamannya dan pengetahuannya sering diceritakan kepada murid-muridnya. Karena itu, begitu mendengar nama Ciok dan Su Piauw-tauw, Thio Cui San bisa menyebutkan kepandaian yang menjadi andalan mereka.

Apa bila pemuda itu mengenal kepandaian Touw Tay Kim yang namanya terkenal selama puluhan tahun, itu bukanlah kejadian yang mengherankan. Tetapi pengetahuannya mengenai Ciok dan Su Piauw-tauw, ahli silat kelas empat atau kelas lima, adalah sedikit luar biasa. Tak usah dikatakan lagi, pujian yang diucapkan dengan nada sungguh-sungguh ini sangat menggirangkan hati ketiga pemimpin piauw-hang itu.

“Cong-piauw-tauw,” Ciok Piauw-tauw berkata. “Hari ini secara kebetulan hari ulang tahun orang tua itu. Menurut pendapatku, memang pantas kalau kita naik ke atas memberi selamat panjang umur.”

“Benar,” kata Thio Cui San. “Sesudah kalian tiba di sini maka kami harus memenuhi tugas sebagai tuan rumah. Beberapa saudara seperguruanku adalah orang yang sangat senang bergaul. Marilah, aku mengundang kalian menginap semalam dua malam.”

Sesudah mendengar pembicaraan itu, Touw Tay Kim mendapat pikiran lain. “Bagaimana dia bisa tahu begitu tegas mengenai Ciok dan Su Piauw-tauw?” tanyanya dalam hati. “Dalam hal ini mungkin terdapat latar belakang lain. Apakah karena perbuatannya yang tak mengenal adat keenam orang yang tadi sudah ditegur oleh gurunya yang memerintahkan pemuda ini menghaturkan maaf dan mengundang kita?” Berpikir demikian, hatinya menjadi lebih lega. Dia tertawa seraya berkata,

“Kalau saudara seperguruanmu sama ramah tamahnya seperti Thio Ngo-hiap, sedari tadi kami sudah naik ke atas gunung.”

“Apa?” menegasi Cui San dengan suara heran. “Apakah Cong-piauw-tauw sudah bertemu dengan saudara seperguruanku? Yang mana?”

Touw Tay Kim kembali menduga pemuda ini ber-pura-pura. “Hari ini rejeki kami amat besar,” jawabnya. “Dalam seharian saja kami bertemu dengan hampir semua anggota dari Bu-tong Cit-hiap.”

Pemuda itu menjadi makin heran dan mengawasi pemimpin piauw-hang itu dengan mata terbuka lebar.

“Apakah kau juga bertemu dengan Jie Sam-ko?” tanyanya.

“Apakah Jie Thay Giam adalah Jie Sam-hiap?” Touw Tay Kim menegas. “Mereka segan untuk memperkenalkan diri sehingga aku tak tahu yang mana Jie Sam-hiap. Aku hanya bertemu dengan enam orang, dan mungkin sekali Jie Sam-hiap di antara mereka.”

“Enam orang?” seru pemuda itu dengan suara kaget. “Sungguh mengherankan! Siapakah mereka?”

“Mana aku tahu? Saudara seperguruanmu sendiri yang sungkan memperkenalkan diri,” jawabnya. “Karena engkau adalah Thio Ngo-hiap maka keenam orang itu mestinya Song-tayhiap dan yang lain-lain″. Waktu berkata begitu dia menekankan setiap perkataan ‘Hiap’ dengan nada mengejek.

Tetapi pemuda yang sedang kebingungan itu tidak memperhatikan ejekan orang. “Apa Cong-piauw-tauw benar-benar betemu dengan mereka?” menegas pula Thio Cui San.

“Bukan hanya aku, tetapi semua orang yang ikut dalam rombongan ini telah melihat,” jawabnya.

Pemuda itu meng-gelengkan kepalanya. “Itu tidak mungkin,” katanya dengan suara pasti. “Hari ini Song-suko dan yang lain-lain seharian suntuk menemani Suhu di Giok-hie-kiong dan satu tindak pun mereka tak pernah berlalu dari samping Suhu. Melihat sampai tengah hari Jie-samko belum juga datang maka Suhu memerintahkan siauwte agar turun gunung menyambutnya. Cara bagaimana Cong-piauw-tauw bisa bertemu dengan Song-suko dan yang lain-lain?”

“Apakah orang yang pada pipinya terdapat sebuah tahi lalat dan pada tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut bukan Song-tayhiap?” tanya Touw Tay Kim dengan hati ber-debar.

Cui San terkesiap. “Di antara Suhengte-ku (kakak adik seperguruan) tak ada seorang pun yang bertahi lalat di pipi,” katanya.

Perkataan itu seperti air dingin yang mengguyur kepala Touw Tay Kim. “Keenam orang itu mengatakan mereka adalah Bu-tong Liok-hiap,” katanya dengan jantung memukul keras. “Di antara mereka terdapat dua tojin yang memakai topi kuning. Tentu saja kami...”

“Walau pun guruku seorang tojin, akan tetapi semua muridnya adalah orang biasa yang tidak memeluk agama,” kata pemuda itu. “Apakah mereka benar-benar memperkenalkan diri sebagai Bu-tong Liok-hiap?”

Touw Tay Kim mengeluarkan keringat dingin. Memang juga orang-orang itu tidak pernah memperkenalkan diri sebagai Bu-tong Liok-hiap, tapi ia sendiri yang menganggap mereka sebagai enam pendekar Bu-tong. Ia hanya melihat kenyataan bahwa enam orang itu tidak membantah waktu ia mengutarakan anggapan begitu. Untuk beberapa saat ia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun dan hanya mengawasi kedua kawannya dengan paras muka pucat.

“Kalau begitu keenam orang itu mengandung maksud jahat,” katanya dengan mendadak. “Mari kita kejar!” Ia melompat ke atas punggung kudanya yang segera dikaburkan ke atas gunung.

Thio Cui San pun lantas saja menyusul lalu merendengkan kudanya dengan tunggangan Touw Tay Kim.

“Touw-heng!” serunya. “Perlu apa kita menguber mereka? Tidak apa jika mereka menggunakan nama kami.”

“Dalam urusan ini terselip lain hal,” kata Touw Tay Kim. “Bagaimana dengan orang itu? Sesungguhnya kami ingin menyerahkan orang itu kepada Thio Cinjin, tapi enam orang ini sudah mengambilnya dari tangan kami. Orang itu mendapat luka berat. Sungguh celaka!” Sambil membedal kudanya, dengan suara terputus-putus ia menceritakan apa yang terjadi.

“Siapa nama orang itu? Bagaimana macamnya?” tanya Cui San dengan heran.

“Entahlah,” jawabnya. “Dia terluka berat, tak bisa bicara dan tak bisa bergerak, sedangkan napasnya tinggal sekali. Ia berusia kurang lebih tiga puluh tahun.“ Setelah berkata begitu ia segera melukiskan roman dan potongan badan Jie Thay Giam.

“Celaka!” teriak Cui San dengan hati mencelus, “Itu Jie-samko!”

Beberapa saat kemudian, sesudah dapat menentramkan hatinya, dengan tangan kirinya ia menyentak les kuda Touw Tay Kim. Binatang yang sedang lari kencang itu berhenti mendadak sambil meringkik keras dan berjingkrak sedangkan mulutnya mengeluarkan darah akibat hentakan itu. Seraya menghunus golok, dengan kaget Touw Tay Kim cepat-cepat melompat turun dari tunggangannya. Dia merasa heran, cara bagaimana pemuda yang badannya begitu kurus lemah bisa mempunyai tenaga yang begitu besar.

“Touw-toako jangan salah mengerti” kata pemuda itu, “dari tempat jauhnya ribuan li Toako telah mengantarkan Jie-samko sampai di sini dan untuk itu semua siauwte merasa sangat berterima kasih. Maka itu sedikit pun siauwte tidak mempunyai maksud yang kurang baik.”

Touw Tay Kim segera memasukkan goloknya ke dalam sarung, namun tangan kanannya masih tetap mencekal gagang senjata itu.

“Bagaimana Jie-samko mendapat luka? Siapa musuhnya? Siapa yang minta Touw-toako mengantarkan sampai di sini?” tanya Cui San.

Tapi di antara tiga pertanyaan itu, satu pun tak dapat dijawab oleh Touw Tay Kim.

“Bagaimana macamnya keenam orang yang mengambil Jie-samko?” tanya pemuda itu.

Sebelum Toauw Tay Kim keburu menjawab, Su Piauw-tauw mendahului dan segera melukiskan macamnya orang-orang itu.

“Kalau begitu biarlah Siauwte coba menguber mereka,” kata Thio Cui San seraya memberi hormat lalu kaburkan tunggangannya sekencang-kencangnya.

Sebagai saudara seperguruan yang selalu ber-sama melakukan pekerjaan mulia, Bu-tong Cit-hiap saling mencintai satu sama lain bagaikan saudara kandung. Mendengar kakaknya terluka berat dan jatuh ke tangan orang yang belum diketahui siapa adanya, bukan main bingungnya Cui San. Ia membedal sambil mencambuk kuda mustika itu, se-olah tidak menghiraukan jika kuda tunggangan yang disayangnya itu mati lantaran kecapaian. Dalam sekejap ia sudah tiba di Co-tiam, tempat di mana terdapat tiga cabang jalanan, yang satu naik ke atas gunung, sedangkan yang lain membelok ke jurusan timur laut sampai di kota In-yang.

“Kalau enam orang itu benar mengantar Jie-samko ke atas gunung, waktu turun gunung aku pasti bertemu dengan mereka,” katanya dalam hati. Berpikir begitu, ia lantas mengambil jalan yang menjurus ke timur laut.

Sesudah berlari kurang lebih satu jam, meski pun bertenaga kuat, perlahan-lahan kuda itu menjadi lelah dan semakin lambat. Kini siang sudah terganti malam dan di jalanan gunung yang memang sepi, sudah tidak terdapat lagi seorang manusia pun yang bisa diminta keterangan. Sambil menguber pemuda itu mengajukan bermacam pertanyaan pada dirinya sendiri. “Jie-samko memiliki kepandaian yang amat tinggi,“ pikirnya. “Bagaimana ia bisa dilukai orang dengan begitu mudah? Tapi dilihat dari sikap dan perkataan Touw Tay Kim, tidak mungkin ia berdusta.”

Selagi mengasah otak, kudanya berbanger lalu lari ke sebidang tanah lapang di mana terdapat beberapa kuburan. Thio Cui San tahu bahwa menyelewengnya binatang itu pasti disebabkan sesuatu yang luar biasa. Dengan waspada dia mengawasi tanah lapang itu. Sesaat kemudian dia mendapat kenyataan bahwa sebuah kereta roboh terguling di antara rumput yang tinggi. Setelah melihat seekor keledai rebah di depan kereta dengan kepala hancur, dia melompat turun dan menyingkap tirai kereta, tapi di dalamnya tidak terdapat manusia. Dia menengok seputarnya dan mendadak matanya yang sangat jeli melihat sesosok tubuh manusia rebah di gompolan rumput. Dengan jantung memukul keras dia menubruk dan mengangkat orang itu. Sekelebatan dia mengenal bahwa orang itu bukan lain dari pada Suko-nya (kakak seperguruan) yang sedang dicari.

Dalam kegelapan, samar-samar dia melihat kedua mata kakak seperguruannya tertutup rapat, sedangkan mukanya pucat bagaikan kertas. Bukan main kaget dan sakit hatinya. Dengan tangan gemetar dia mendukung sang Suko sambil menempelkan mukanya sendiri di muka yang pucat itu. Tiba-tiba dalam hatinya yang duka timbul harapan karena dia merasakan sedikit hawa hangat di pipi Jie Thay Giam. Dia meraba dada Suko-nya dan ternyata jantung sang kakak masih mengetuk dengan perlahan.

“Samko...!” teriaknya sambil mengucurkan air mata. “Samko... kenapa kau? Aku Ngote... Ngote-mu...“

Dengan perlahan dan hati-hati dia bangun berdiri. Sekali lagi jantungnya memukul keras, kedua tangan dan kedua kaki Jie Thay Giam kontal kantul ke bawah. Ternyata tulangnya sudah dipukul patah, sedangkan darah mengalir dari jeriji, pergelangan tangan, lengan dan betisnya. Melihat kekejaman musuh, Thio Cui San marasa dadanya mau meledak. Jika melihat luka itu ia tahu bahwa musuh belum pergi jauh dan kalau dikejar masih bisa menyandaknya. Dalam kalapnya ia melompat ke atas punggung kuda untuk mengejar, tetapi di lain saat ia mendapat lain pikiran yang lebih jernih.

“Luka Jie-samko berat luar biasa dan perlu segera ditolong,” pikirnya. “Jika seorang kuncu mau membalas sakit hati, sepuluh tahun lagi pun masih belum terlambat,”

Karena kuatir goncangan di atas kuda akan memperhebat luka sang Suko, maka setelah berpikir sejenak ia segera mendukung tubuh Jie Thay Giam dengan kedua tangannya lalu berjalan pulang menggunakan ilmu mengentengkan badan. Sementara kuda jempolan itu, yang mungkin merasa heran mengapa sang majikan tidak menunggangnya, mengikuti dari belakang.

Hari itu merupakan hari ulang tahun ke sembilan puluh dari Couwsu Bu-tong-pay Thio Sam Hong. Sedari pagi Giok-hie-kiong diliputi suasana bersuka ria. Dengan bergiliran, ke-6 muridnya memberi selamat panjang umur sambil berlutut. Hanya sayang di antara 7 murid itu masih kurang seorang. Menurut perhitungan, sesudah melaksanakan tugas membunuh seorang penjahat besar di Tiongkok Selatan, siang-siang Jie Thay Giam sudah harus kembali. Tapi ditunggu sampai tengah hari, dia belum juga kelihatan mata hidungnya. Karena itu Thio Sam Hong menugaskan Thio Cui San agar turun gunung memapak kakak seperguruannya.

Tapi begitu pergi, Thio Cui San pun tidak ada kabar ceritanya. Dengan menunggang kuda istimewa, andai kata ia pergi sampai di Lao-ho-kouw, mestinya ia pun sudah pulang lebih siang. Tetapi ditunggu hingga Yu-sie (dari jam 5 sore sampai jam tujuh malam), dia belum juga kelihatan bayang-bayangnya. Di ruangan tengah meja perjamuan telah diatur rapi, sementara itu lilin merah sudah habis separuhnya. Semua orang mulai bingung. Murid ke enam In Lie Heng dan murid ke tujuh Boh Seng Kok sudah keluar masuk puluhan kali, sedangkan saudaranya yang lain pun tak kurang bingungnya.

Sebagai seorang yang ilmu kebatinannya sudah amat tinggi, Thio Sam Hong tetap tenang. Tapi ia yakin bahwa belum pulangnya kedua murid itu pasti disebabkan kejadian yang sangat luar biasa. Ia kenal baik watak mereka. Jie Thay Giam sangat ber-hati-hati dan boleh diandalkan untuk memegang pekerjaan penting, sedangkan Thio Cui San seorang pemuda yang cerdas dan bisa bertindak dengan mengimbangi keadaan. Merasa lilin yang dipandangnya semakin pendek, Song Wan Kiauw lantas berkata sambil tertawa.

“Suhu, tentulah Jie-samte dan Thio-ngote telah bertemu dengan urusan ganjil lalu mereka menggulung tangan baju untuk mencampurinya. Selamanya Suhu menganjurkan kami untuk melakukan perbuatan mulia dan pada hari ini, di hari ulang tahun Suhu, kedua Sute menolong sesama manusia sebagai hadiah ulang tahun.”

Thio Sam Hong mengelus jenggotnya. ”Hmm, di hari ulang tahunku yang ke delapan puluh kau telah menolong seorang janda yang membuang diri ke dalam sumur,” katanya seraya tertawa. “Perbuatanmu memang harus dipuji, akan tetapi jika dalam sepuluh tahun baru sekali menolong orang maka mereka yang perlu ditolong sungguh harus menanti dengan sangat tidak sabaran.”

Mendengar perkataan guru mereka, lima murid itu tertawa geli. Meski pun Thio Sam Hong mempunyai watak yang agak keras, tetapi adatnya sangat terbuka dan sering sekali dia berguyon dengan muridnya.

“Paling sedikit Suhu akan bisa hidup dua ratus tahun,” kata Thio Siong Kee murid yang ke empat sambil tersenyum. “Jadi jika setiap sepuluh tahun kami melakukan satu perbuatan baik, kalau ditambah jumlahnya tidak sedikit.”

Boh Seng Kek murid ke tujuh tertawa nyaring. “Hanya mungkin sekali kita tak bisa berumur begitu panjang,” katanya.

Baru saja perkataan itu habis diucapkan, Song Wan Kiauw dan Jie Lian Ciu, murid ke dua se-konyong-konyong melompat keluar seraya berteriak,

”Apakah itu Samte?!”

“Benar!” jawab Thio Cui San dengan suara parau. Di lain saat, dengan kedua tangan dan pakaian berlepotan darah dan penuh keringat ia bertindak masuk dengan tindakan limbung lalu berlutut di hadapan Thio Sam Hong.

“Suhu...“ katanya. “Jie-samko... dibokong orang!”

Semua orang terkesiap. Sehabis berkata begitu badan Thio Cui San bergoyang, kemudian dia pun roboh terjengkang karena terlalu lelah dan duka. Song Wan Kiauw dan Jie Lian Ciu adalah orang yang mempunyai pengalaman luas dan mereka tahu sebab musabab dari pingsannya Thio Cui San. Mereka mengerti bahwa yang lebih penting adalah Jie Thay Giam, karena itu dengan berbareng mereka menubruk dan mengangkat tubuh Jie-samte. Begitu meraba dada si adik, hati mereka mencelos sebab napas Jie Thay Giam tinggal satu-satu.

Melihat muridnya yang disayang terluka demikian berat, tanpa mengeluarkan sepatah kata Thio Sam Hong buru-buru masuk ke kamarnya lantas keluar lagi dengan membawa peles Pek-houw Tok-bang-tan (peles memulihkan jiwa yang mulutnya ditutup dengan lilin putih). Tanpa membuang tempo, dengan dua jarinya ia memijit peles itu yang lantas saja menjadi hancur. Ia mengambil tiga butir pil yang cepat dimasukkan ke mulut Jie Thay Giam. Tapi gigi Jie Sam-hiap terkancing dan mulutnya tertutup rapat.

Thian Sam Hong segera mengangkat kedua tangannya, lalu dengan menggunakan jempol dan telunjuk, ia menotok Liong-yauw-kiauw di ujung kuping Jie Thay Giam dengan tenaga Ho-cwee-kin. Pada waktu itu kepandaian Thio Sam Hong sudah sedemikian tingginya sehingga dengan Ho-cwee-kin Tiam Liong-yauw-kiauw (tenaga Ho-cwee-kin menotok Liong-yauw-kiauw) dia malah dapat menyadarkan orang untuk sementara waktu. Tapi setelah menotok dua puluh kali, si murid masih juga tidak bergerak.

Sambil menghela napas dia segera menengkurupkan kedua telapak tangannya, kemudian menotok jalan darah Kian-kie-hiat pada dagu muridnya dengan menggunakan Im-ciu atau tenaga dingin. Setelah itu ia membalik kedua telapak tangannya dan menotok pula dengan Yang-ciu atau tenaga panas. Per-lahan mulut Jie Thay Giam terbuka lalu ia menelan tiga butir pil itu. Tapi otot-otot leher Jie Sam-hiap sudah kaku sehingga biar pun masuk ke dalam tenggorokan, namun pil itu tidak dapat turun terus sampai ke perut. Guru besar itu segera memerintahkan Thio Siong Kee mengurut leher Jie Thay Giam, sedangkan dia sendiri menotok jalan darah Kwat-pun dan Jie-hu di bagian pundak serta Yang-koan dan Beng-bun di ujung tulang punggung, supaya sesudah tersadar si murid jangan merasakan kesakitan yang terlalu hebat.

Semenjak Song Wan Kiauw dan Jie Lian Ciu berguru, biar pun menghadapi urusan yang bagaimana besar sang guru selalu bersikap tenang. Akan tetapi sekarang tangan guru itu gemetar sedangkan paras mukanya mengunjuk rasa bingung sehingga mereka mengerti bahwa luka adik mereka luar biasa berat. Selang beberapa saat, Jie Thay Giam mulai tersadar.

“Suhu,” Thio Cui San berkata dengan suara pilu. “Apakah Jie-samko masih bisa ditolong jiwanya?”

Thio Sam Hong tidak menjawab secara langsung. Dia hanya berkata: “Di dunia ini siapakah yang bisa hidup untuk se-lamanya?”

Mendadak terdengar suara tindakan orang. Seorang tojin kecil masuk ke ruangan itu dan memberi-tahu bahwa Touw Tay Kim dan lain-lain piauw-tauw Liong-bun Piauw-kiok datang berkunjung.

Paras muka Thio Cui San berubah marah. “Ini semua gara-gara kawanan manusia itu!” teriaknya seraya melompat keluar dan di lain saat dari luar kelenteng terdengar suara jatuhnya senjata di atas tanah.

Baru saja In Lie Heng dan Boh Seng Kok ingin melompat keluar untuk membantu Suheng-nya, Thio Cui San sudah tampak berjalan masuk dengan satu tangan menenteng seorang lelaki yang badannya tinggi besar. Sambil melontarkannya keras-keras di atas lantai ia berseru,

“Manusia inilah yang sudah merusak urusan besar!”

Di antara Bu-tong Cit-hiap, In Lie Heng yang beradat paling berangasan. Mendengar orang itu yang menyebabkan terlukanya sang Suko, ia segera melompat dan mengangkat kaki untuk menendang Touw Tay Kim.

“Liokte! Tahan!” bentak Song Wan Kiauw.

“Hei! Orang Bu-tong memakai aturan atau tidak?” demikian terdengar suara teriakan dari luar kelenteng. “Kami adalah tamu-tamu yang datang berkunjung. Kenapa kalian menghina kami?”

Song Wan Kiauw mengerutkan alisnya. Dia menghampiri Touw Tay Kim lantas menepuk belakang kepala dan punggung Cong-piauw-tauw itu untuk membuka jalan darahnya.

“Yang berada di luar harap jangan ribut!” teriaknya, “Tunggu sebentar!”

Suara itu angker dan nyaring luar biasa sehingga orang-orang Liong-bun Piauw-kiok yang menduga bahwa teriakan itu adalah teriakan Thio Sam Hong, tak berani banyak ribut lagi.

“Ngote,” kata Song Wan Kiauw. “Bagaimana Samte bisa mendapat luka demikian berat? Ceritakanlah dengan tenang.”

Sesudah sejenak mengawasi Touw Tay Kim dengan sorot mata marah, barulah Thio Cui San menerangkan, bagaimana Liong-bun Piauw-kiok diminta oleh seseorang untuk mengantarkan Jie Thay Giam ke Bu-tong-san dan bagaimana saudara itu akhirnya diambil enam penjahat yang menyamar sebagai murid Bu-tong. Sedari tadi, sesudah melihat kepandaian Tay Kim, Song Wan Kiauw sudah tahu bahwa Cong-piauw-tauw itu bukan orang yang dapat mencelakakan Sute-nya. Begitu mendengar keterangan Thio Cui San, paras mukanya berubah sabar, kemudian dengan kata-kata manis dia segera bertanya kepada Touw Tay Kim hal ihwal peristiwa itu. Touw Tay Kim menceritakan segala kejadian se-terang-terangnya. Pada akhirnya ia berkata dengan suara duka:

“Song-tayhiap, aku benar-benar tolol dan karena kebodohanku, Jie Sam-hiap mesti menderita begitu hebat. Aku tahu bahwa aku sudah berdosa besar sekali dan pantas mendapat hukuman mati. Nasib keluarga kami di Lim-an juga belum ketahuan bagaimana jadinya.”

Selagi muridnya berbicara dengan tamu itu, Thio Sam Hong tidak mencampuri dan sambil mengempos semangat terus menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Sin-cong dan Leng-tay untuk memberi hawa panas kepada Jie Thay Giam. Tapi begitu mendengar perkataan Touw Tay Kim yang terakhir dia segera berkata:

“Lian Ciu, bersama Seng Kok sekarang juga kau harus berangkat ke Lim-an untuk melindungi keluaga Liong-bun Piauw-kiok.”

“Suhu...“ kata Thio Cui San dengan suara penasaran. “Orang she Touw itu terlalu gila dan biar pun tidak disengaja, karena dia maka Sam-suko menderita begitu hebat. Bahwa kita tidak membuat perhitungan dengannya, dia telah untung besar. Perlu apa kita melindungi anak isteri dan keluarganya?”

Sang guru tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju dengan pendapat si murid.

“Ngote,” kata Song Wan Kiauw. “Kenapa pandanganmu begitu sempit? Untuk siapa Touw Cong-piauw-tauw datang kemari dengan melalui perjalanan ribuan li?”

“Untuk mengantongi dua ribu tahil emas,” jawabnya sambil tertawa dingin.

Mendengar perkataan itu, muka Touw Tay Kim berubah merah. Dalam hati kecilnya dia juga mengakui bahwa kesudiannya mengantar Jie Thay Giam memang disebabkan hadiah yang besar itu.

“Ngote!” bentak Song Wan Kiauw. “Jangan kau berlaku kurang ajar terhadap tamu kita! Kau sudah terlalu capai, pergilah mengaso.”

Dalam kalangan Bu-tong-pay kedudukan seorang Suheng amat diindahkan dan disegani. Baik dalam hal ilmu silat dan usia, mau pun dalam kepribadian dan kemuliaan, Song Wan Kiauw lebih menang satu tingkat dari pada semua saudara seperguruannya. Maka itu dari Jie Lian Ciu sampai Boh Seng Kok, tak ada seorang pun yang tidak menghormatinya. Begitu dibentak Thio Cui San tidak berani mengeluarkan suara lagi, tapi dia terus berdiri di situ sebab sangat memikirkan keadaan Jie Thay Giam.

“Jiete,” kata pula Song Wan Kiauw. “Menolong jiwa orang itu bagaikan menolong bahaya kebakaran. Setelah Suhu mengeluarkan perintah, kurasa lebih baik kau berangkat malam ini juga ber-sama Cit-te.”

Jie Lian Ciu dan Boh Seng Kok lantas saja meninggalkan ruangan itu untuk bebenah. Melihat kedua pendekar itu bersiap-siap untuk pergi ke Lim-an guna melindungi keluarga Liong-bun Piauw-kiok, bukan main rasa terima kasihnya Touw Tay Kim. Tapi rasa terima kasih itu bercampur dengan rasa malu yang besar.

“Thio Cinjin,” katanya sambil memberi hormat kepada Thio Sam Hong dengan merangkap kedua tangannya. “Dalam urusan kami ini Boanpwe tidak berani merepotkan Jie-hiap dan Boh-hiap. Sekarang saja kami berpamit.”

“Sebaiknya malam ini kalian menginap di tempat kami,” kata Song Wan Kiauw. “Kami masih ingin menanyakan beberapa hal.” Perkataan itu diucapkan dengan manis budi tetapi mengandung pengaruh besar yang sulit ditolak sehingga tanpa membantah lagi Touw Tay Kim segera duduk di pinggiran.

Beberapa saat kemudian Jie Lian Ciu dan Boh Seng Kok minta diri kepada gurunya dan sesudah mengawasi Jie Thay Giam beberapa kali, dengan perasaan tertindih mereka pun turun gunung menjalankan perintah sang guru. Bahwa mereka merasa berat untuk meninggalkan saudara seperguruannya yang terluka berat, sangat bisa dimengerti karena masih merupakan pertanyaan, apakah mereka akan bisa bertemu muka lagi. Seluruh ruangan sunyi senyap dan yang terdengar hanyalah suara napas Thio Sam Hong yang tersengal-sengal. Di atas kepala guru besar itu tampak keluar semacam uap panas sebagai tanda bahwa Thio Sam Hong tengah mengerahkan Iweekang yang amat dahsyat. Berselang kira-kira setengah jam, sekonyong-konyong Jie Thay Giam mengeluarkan teriakan menggeledek sehingga ruangan itu seolah-olah tergetar.

Touw Tay Kim terkesiap dan tanpa terasa dia melompat bangun dari kursinya. Dia melirik ke arah Thio Sam Hong dan mendapat kenyataan paras muka orang itu mengunjuk rasa jengkel atau rasa girang sehingga sukar sekali ditebak apa artinya teriakan Jie Thay Giam itu.

“Siong Kee, Lie Heng, bawalah Samko-mu ke dalam kamar supaya dia bisa mengaso.”

Sesudah menjalankan titah gurunya, mereka masuk lagi ke ruangan itu. “Suhu, apakah ilmu silat Samko bisa pulih lagi seperti biasa?” tanya In Lie Heng.

Thio Sam Hong menghela napas panjang. Berselang beberapa saat barulah dia menjawab dengan suara pelan,

“Apakah jiwanya bisa tertolong, hal ini masih harus menunggu tempo satu bulan. Uratnya yang sudah rusak dan tulang-nya yang patah tidak bisa disambung lagi. Selama hidupnya...“ Sang guru tidak sanggup meneruskan perkataannya tapi hanya meng-gelengkan kepala dengan paras berduka.

Mendengar jawaban itu, In Lie Heng tak bisa menahan lagi rasa sedihnya, dia lantas menangis tersedu-sedu. Di antara tujuh saudara seperguruan itu, biar pun sudah memiliki kepandaian sebagai ahli silat kelas utama, hatinya yang paling lembek dan mudah sekali menangis. Melihat saudaranya menangis, darah Thio Cui San segera meluap. Dengan sekali lompat tangannya melayang menggaplok muka Touw Tay Kim. Cong-piauw-tauw ini coba menangkis, tapi tangan Thio Cui San menyambar bagaikan kilat cepatnya dan pipinya kena digampar. Karena belum puas Cui San lantas mengirim tinju ke pinggang Touw Tay Kim. Namun sebelum mengenai sasarannya, untunglah Thio Siong Kee keburu mendorong pundak saudaranya hingga tinju itu jatuh di tempat kosong. Saat itu Touw Tay Kim pun coba menolong diri dengan melompat ke belakang dan selagi dia melompat tiba-tiba terdengar suara.

“Trangg...!” dari sakunya sepotong emas jatuh di lantai.

Thio Cui San menjemput emas itu lantas berkata dengan suara dingin. “Manusia serakah, begitu melihat berkeredepnya emas kau segera menyerahkan Jie-samko kepada orang...“ Tiba-tiba perkataannya putus di tengah jalan disusul dengan seruan, “Ihhh...!”

“Toako,” katanya sambil mengawasi potongan emas itu, “Lihatlah tapak jari-jari ini adalah akibat ilmu Kim-kong-cie dari Siauw-lim-pay.”

Song Wan Kiauw meneliti potongan emas itu beberapa lama dan kemudian menyerahkan kepada sang guru yang lalu mengawasi dengan penuh perhatian dan membolak-baliknya beberapa kali tetapi tidak berkata apa-apa.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia