ads

Rabu, 21 Oktober 2026

To Liong To 36

TIGA TETUA SIAUW-LIM

Sementara itu sambil mengeluarkan senyuman mengejek Goan-tin menendang mayat Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham ke jurang yang sangat dalam. Bu Kie berduka.

“Biar pun Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham pernah membalas kebaikan dengan kejahatan terhadapku dan biar pun mereka ingin mencelakai Gie-hu, tapi mereka adalah pemimpin-pemimpin sebuah partai besar,“ pikirnya, “Mereka mati begitu adalah kejadian yang mendukakan.”

Di lain saat Goan-tin menghampiri Thay-susioknya, lalu sambil membungkuk dia berkata,

“Sam-wi Thay-susiok memiliki kepandaian yang tidak terbatas. Dalam sekejap Thay-susiok sudah membinasakan empat tokoh Kun-lun-pay. Rasa kagum Goan-tin tidak dapat dilukiskan lagi.”

Salah seorang mengeluarkan suara di hidung. Mereka tidak menjawab ucapan si penjilat.

“Sam-wi Thay-susiok, atas perintah Hong-thio Susiok, Goan-tin datang untuk menanyakan keadaan Sam-wi Thay-susiok,” katanya pula. “Di samping itu Goan-tin juga diperintahkan untuk berbicara dengan orang yang dipenjarakan.”

“Kong-kian Sute seorang mulia yang berkepandaian tinggi,” kata salah seorang pendeta tua. “Kami sangat mencintai dan amat berharap dia bisa mengembangkan ilmu silat kita. Tetapi tak dinyana dia binasa di tangan penjahat itu. Selama puluhan tahun kami menutup diri dan tak mau lagi mencampuri urusan dunia. Hanya karena memandang muka Kong-kian Sute maka kami rela menjaga tempat ini. Penjahat itu memang patut mendapat hukuman mati, maka perlu apa rewel-rewel lagi?”

“Perkataan Thay-susiok memang tidak salah,” kata Goan-tin seraya membungkuk. ”Tetapi Hong-thio Susiok mengatakan bahwa biar pun In-su benar dibunuh oleh penjahat itu, tapi mengingat kepandaian In-su yang sangat tinggi maka timbullah pertanyaan, apakah benar dengan seseorang diri penjahat itu bisa membunuh In-su? Sekarang kita penjarakan dia di sini dan minta bantuan Sam-wi Thay-susiok menjaganya. Maksud kita yang pertama adalah memancing kawan-kawan penjahat itu supaya kita dapat membasmi musuh-musuh yang mencelakai In-su dengan sekali pukul, dan kedua untuk memaksa dia menyerahkan To-liong-to agar golok mustika itu tidak jatuh ke partai lain. Apa bila To-liong-to direbut partai lain, maka partai itu juga akan merebut julukan ‘Bu-lim Cie-cun’ (yang termulia dalam Rimba Persiiatan) sehingga dengan demikian derajat Siauw-lim-pay yang sudah dipertahankan selama ribuan tahun akan merosot.“

Mendengar itu, Bu Kie marah bukan main. “Goan-tin benar-benar jahat!” katanya dalam hati. “Dengan lidahnya yang beracun dia bohongi ketiga pendeta itu yang selama puluhan tahun menutup diri. Hmm...! Dia mencoba menggunakan tangan mereka untuk membinasakan tokoh-tokoh rimba persilatan.”

Salah seorang pendeta tua itu mengeluarkan suara di hidung. “Baiklah, kau boleh bicara dengan dia,” katanya.

Ketika itu hujan belum berhenti dan guntur bergemuruh hingga keadaan lebih menyeramkan. Goan-tin pergi ke antara tiga pohon siong itu, berlutut lantas berkata,

“Cia Sun, apa kau sudah pikir masak-masak? Begitu kau beri-tahu di mana To-liong-to disembunyikan, aku akan segera melepaskan kau.”

Bu Kie heran, ”Apa Gie-hu dikurung dalam penjara di bawah tanah?” tanyanya dalam hati.

Mendadak salah seorang pendeta tua membentak dengan nada marah. “Goan-tin! Seorang beribadat tidak boleh berdusta! Mengapa kau dustai dia? Kalau dia beri-tahu di mana adanya To-liong-to, apakah kau akan benar-benar melepaskan dia?”

“Biarlah Thay-susiok mengetahui bahwa menurut pendapat teecu, biar pun sakit hati kita karena binasanya In-su (guru yang berbudi) amat mendalam, tapi jika di-timbang-timbang antara dua soal, soal nama dan derajat partai kita adalah jauh lebih penting,” jawabnya. “Asal dia memberitahu di mana adanya To-liong-to dan partai kita dapat memiliki golok mustika itu, kita boleh melepaskan dia. Dalam waktu tiga tahun teecu pasti akan bisa membalas sakit hatinya In-su.”

“Baiklah,” kata pendeta tua itu. “Di rimba persilatan kita harus mengutamakan sifat ksatriaan. Kata-kata yang telah diucapkan adalah seperti melesatnya anak panah yang tak dapat ditarik kembali. Biar pun terhadap orang jahat, murid Siauw-lim-si tidak boleh hilang kepercayaan.”

Mendengar itu Bu Kie mengakui bahwa ketiga pendeta tersebut bukan saja memiliki kepandaian tinggi, tetapi juga berwatak luhur. Hanya sayang, tanpa merasa mereka sudah kena ditipu Goan-tin.

“Cia Sun!” bentak Goan-tin. “Apa kau dengar perkataan Thay-susiokku? Ketiga tetua kami ini sudah bersedia melepaskan kau.”

Tiba-tiba dari bawah tanah keluar suara yang nyaring dan angker. “Seng Kun, apakah kau masih ada muka bicara dengan aku?”

Jantung Bu Kie melonjak. Itulah suara ayah angkatnya! Jika menuruti hatinya, seketika itu juga dia ingin menerjang, membinasakan Seng Kun dan menolong sang ayah. Akan tetapi sebisa-bisa dia menahan sabar. Dia yakin tidak akan sanggup melawan ketiga pendeta tua itu.

“Sesudah penjahat Goan-tin pergi biarlah aku akan menemui ketiga pendeta itu,” pikirnya. “Aku akan jelaskan latar belakang urusan ini. Mereka berilmu tinggi dan mereka tentu bisa membedakan siapa yang salah dan siapa yang benar.”

Sementara itu sesudah menghela napas Goan-tin berkata lagi. “Cia Sun, kita sama-sama sudah berusia lanjut. Perlu apa kau selalu ingat kejadian dulu-dulu? Paling lama dua puluh tahun lagi kita akan berpulang ke alam baka. Aku bersalah terhadap kau, tetapi kau pun bersalah terhadap aku. Biarlah kita sama-sama coret kejadian di masa lampau.”

Cia Sun tidak menghiraukan. Dia hanya berkata. “Seng Kun, apakah kau masih ada muka untuk bicara dengan aku?”

Goan-tin membujuk berulang, tetapi Cia Sun tetap tidak meladeni. Akhirnya dia menjadi marah dan berkata. “Dengan mengingat kecintaan dahulu, aku belum pernah menurunkan tangan jahat terhadapmu. Apa kau masih ingat dengan totokanku yang dinamakan Ban-gie Can-sim-cie (Totokan berlaksa semut berkumpul dijantung)?”

Begitu mendengar ‘Ban-gie Can-sim-cie’, darah Bu Kie bergolak. Dari ayah angkatnya dia tahu bahwa totokan itu adalah salah satu ilmu paling beracun di kalangan persilatan. Siapa yang tertotok, isi perutnya akan terasa bagai digigit berlaksa semut, sakit dan gatal bercampur menjadi satu. Ia lantas mengambil keputusan bahwa andai kata Goan-tin benar menurunkan tangan jahat itu, maka dia akan mengadu jiwa untuk menolong ayah angkatnya.

Tapi Cia Sun sendiri hanya menjawab, “Seng Kun, apa kau masih ada muka untuk bicara dengan aku?”

“Kuberi batas waktu tiga hari kepadamu,” kata Goan-tin dengan suara dingin. “Jika dalam tiga hari kau tetap bandel, rasakanlah Ban-gie Can-sim-cie!” Sehabis berkata begitu dia memberi hormat kepada ketiga pendeta tua kemudian turun dari bukit.

Sesudah pendeta jahat itu berlalu, selagi Bu Kie mau muncul untuk menemui tiga pendeta tua, mendadak dia merasakan ada ketidak beresan pada aliran hawanya. Dia tahu bahwa dia diserang orang, tapi sedikit pun dia tidak merasakan sambaran serangan itu. Laksana kilat dia menggulingkan diri dan dua utas tambang lewat di depan mukanya. Baru saja dia berguling setombak lebih, seutas tambang yang tegak bagaikan toya menyambar dadanya hampir berbareng, sedangkan dua tambang lainnya menyambar punggung.

Setelah menyaksikan kebinasaan keempat jago Kun-lun-pay, dia mengerti bahwa jiwanya tergantung pada selembar rambut. Pada detik berbahaya dia membalikkan tangan kirinya dan menangkap tambang yang menotok dada. Baru saja dia mau mendorong tambang itu, mendadak tambang tersebut dikedut lalu timbul semacam tenaga yang dahsyat luar biasa menindih dadanya. Kalau tindihan itu kena jitu, maka tulang-tulang dadanya akan remuk.

Pada saat yang genting, dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan tangan kanannya menyampok dua tambang yang menyambar punggungnya dan berbareng itu dengan Kian-kun Tay-lo-ie dan Kiu-yang Sin-kang tangan kirinya yang mencekal tambang mendorong kemudian melepaskan tambang hingga pada detik itu juga tubuhnya melesat ke udara.

Mendadak kilat berkeredepan. Karena kaget dan kagum melihat kepandaian Bu Kie, salah seorang pendeta mengeluarkan seruan tertahan. Ketiga pendeta tua itu menengadah dan dengan bantuan cahaya kilat mereka melihat wajah Bu Kie yang ternyata seorang pemuda dusun dengan muka kotor. Bukan main rasa heran mereka! Di lain saat bagaikan naga hitam tiga utas tambang menyambar ke atas dan coba menggulung tubuh Bu Kie dari tiga penjuru.

Dengan bantuan cahaya kilat Bu Kie dapat melihat wajah ketiga pendeta itu. Yang duduk di sudut timur laut bermuka hitam, yang di barat laut bermuka kuning dan yang di sebelah selatan bermuka putih seperti kertas. Ketiga-tiganya kurus kering seperti tidak mempunyai daging, sedangkan pendeta yang bermuka kuning hanya bermata satu. Di tengah malam yang gelap itu, kelima mata mereka mengeluarkan sinar berkilauan.

Melihat sambaran tiga tambang itu, selagi tubuhnya melayang di udara Bu Kie mengibas, menarik dan menggulung. Dengan meminjam tenaga lawan dia menggulung tiga tambang itu menjadi satu. Itulah ilmu Thay-kek dari Bu-tong-pay yang tenaganya merupakan suatu lingkaran. Dengan ilmu itu Bu Kie menggulung tenaga tambang itu menjadi satu.

Sesudah kilat yang tadi, mendadak guntur berbunyi berulang-ulang sehingga bumi seolah-olah bergetar. Di antara keangkeran Langit dan Bumi Bu Kie berjungkir balik di tengah udara kemudian kaki kirinya hinggap pada sebatang siong.

“Boanpwe Thio Bu Kie, Kauwcu dari Beng-kauw, menghadap Sam-wi Ko-ceng,” serunya sambil membungkuk.

Bu Kie berdiri di atas sebelah kaki. Ketika ia menyoja, ranting siong itu membal beberapa kali sehingga tubuhnya terayun dan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah. Walau pun dia menjalankan kehormatan seorang muda terhadap orang tua akan tetapi dia berdiri di sebelah atas sehingga dengan begitu dia tetap mempertahankan kedudukannya sebagai pemimpin Beng-kauw.

Dengan beberapa kali mengedut, ketiga pendeta itu melepaskan tambang yang tergulung. Tadi mereka menyerang Bu Kie dengan Sam-cauw Kiu-sit (Tiga jurus sembilan pukulan). Dalam setiap pukulan mengandung perubahan yang terdiri dari sepuluh jurus dan biar pun namanya ‘Sam-cauw Kiu-sit’ tapi serangan itu sebenarnya merupakan beberapa puluh serangan berantai yang membinasakan. Namun di luar dugaan semua serangan itu dapat dipatahkan olen Bu Kie.

Pada hakekatnya setiap serangan berarti kebinasaan dan salah sedikit saja maka tulang Bu Kie akan terpukul remuk. Tetapi sesudah lolos dari lubang jarum, pemuda itu kelihatan tenang-tenang saja dan paras mukanya sedikit pun tidak berubah. Inilah kejadian yang belum pernah dialami ketiga pendeta ini. Tapi mereka tidak tahu bahwa selagi badannya terayun-ayun pada ranting pohon, diam-diam Bu Kie mengerahkan pernapasannya untuk mengatur hawanya yang sudah kalang kabutan.

Jurus silat yang tadi digunakan Bu Kie terdiri dari Kiu-yang Sin-kang, Kian-kun Tay-lo-ie, Thay-kek-kun dan terakhir untuk berjungkir balik dia mempergunakan ilmu dari Seng-hwee-leng. Biar pun memiliki kepandaian sangat tinggi, tapi karena sudah rnenutup diri selama beberapa puluh tahun maka ketiga pendeta Siauw-lim itu tidak mengenal ilmu tersebut. Mereka hanya merasakan bahwa Iweekang Bu Kie agak menyerupai Siauw-lim Kiu-yang-kang biar pun tenaga dalam itu jauh lebih kuat dari pada Kiu-yang-kang mereka. Mula-mula mereka kagum campur kaget. Tetapi sesudah Bu Kie memperkenalkan diri sebagai Kauwcu dari Beng-kauw, rasa kagum itu berubah menjadi amarah. Pendeta yang mukanya putih berkata dengan suara menyeramkan.

“Lolap kira siapa, tidak tahunya iblis besar dari Mo-kauw! Semenjak beberapa puluh tahun yang lalu lolap bertiga sudah menutup diri dan tidak pernah mencampuri urusan luar. Bahkan kami tidak pemah menghiraukan urusan Siauw-lim-si sendiri. Tak dinyana hari ini kami akan bertemu dengan Kauwcu dari Mo-kauw dan oleh karenanya kami sangat bersyukur.”

Mendengar ‘Mo-kauw’ (Agama iblis), Bu Kie jadi bingung. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pendeta itu. Sebelum dia membuka suara, pendeta yang bermuka kuning bertanya.

“Di mana adanya Yo Po Thian?”

“Yo-kauwcu sudah meninggal dunia tiga puluh tahun yang lalu,” jawabnya.

“Ahh!” Pendeta itu mengeluarkan seruan ketika mendengar jawaban Bu Kie. Nada seruan itu mengandung rasa kaget, duka dan putus harapan.

“Mendengar meninggalnya Yo-kauwcu, dia terlihat sangat berduka,” kata Bu Kie dalam hati. “Tidak salah lagi, tentu dia memiliki hubungan erat dengan Yo-kauwcu. Gie-hu bawahan Yo-kauwcu, jadi biarlah kucoba menggerakkan hatinya dengan menyebutkan persahabatan dulu, kemudian baru menceriterakan bagaimana Yo-kauwcu meninggal dunia karena perbuatan Goan-tin.“

Setelah berpikir begitu dia lantas berkata, “Kalau begitu Taysu mengenal Yo-kauwcu, bukan?”

“Tentu saja,” jawab pendeta bermuka kuning. “Apa bila lolap tidak mengenal toa-enghiong Yo Po Thian, bagaimana lolap dapat menjadi manusia bermata satu? Dan perlu apa kami bertiga bersemedhi mempertinggi ilmu silat selama tiga puluh tahun lebih?” Kata-kata yang diucapkan secara tawar itu mengandung nada sakit hati dan kebencian yang sangat berat.

“Celaka,” Bu Kie mengeluh dalam hati. “Jika didengar dari perkataannya, sebelah mata pendeta itu dibutakan oleh Yo-kauwcu dan mereka menutup diri untuk mencari ilmu yang lebih tinggi guna membalas sakit hati. Maka mereka menjadi kecewa putus harapan waktu mendengar Yo-kauwcu sudah meninggal dunia.”

Tiba-tiba pendeta muka kuning itu mengeluarkan siulan nyaring dan berkata dengan suara keras,

“Setelah Yo Po Thian meninggal dunia, jalan satu-satunya hanyalah menumplekkan sakit hati kami di pundak Kauwcu sekarang. Thio-kauwcu, hoat-mia (nama sebagai orang beribadat) lolap Touw-ok (Menyeberangi penderitaan), Sute-ku yang mukanya putih bernama Touw-ciat (Menyeberangi kecelakaan), ada pun Sute yang bermuka hitam adalah Touw-lan (Menyeberangi Kesengsaraan). Kong-kian, Kong-bun, Kong-tie dan Kong-seng adalah keponakan murid kami. Kong-kian dan Kong-tie binasa di tangan Mo-kauw, tetapi kami tidak ingin tahu tipu busuk apa yang digunakan Mo-kauw. Kunjungan Kauwcu menunjukkan bahwa Kauwcu tidak merasa gentar terhadap kami. Maka itu hutang-piutang dahulu baiklah kita selesaikan sekarang dengan mengadu ilmu.”

“Kedatanganku hanyalah untuk menolong Gie-hu Kim-mo Say-ong Cia-tayhiap,” kata Bu Kie. “Boanpwe sendiri tidak punya ganjalan dengan Siauw-lim-pay dan dalam urusan Gie-hu terdapat latar belakang yang berbelit-belit. Meninggalnya Kong-seng Seng-ceng sedikit pun tidak ada sangkut-pautnya dengan agama kami. Sam-wi tak boleh hanya mendengar keterangan dari satu pihak, sebaiknya Sam-wi menyelidiki persoalan itu sampai seterang-terangnya.”

“Coba kau bilang, siapa yang membinasakan Kong-seng?” tanya Touw-ciat yang bermuka putih.

Alis Bu Kie lantas berkerut. “Menurut pengetahuan Boanpwe, Kong-seng Seng-ceng dibinasakan busu dari Jie Lam Ong!” jawabnya.

“Siapa yang memimpin busu Jie Lam Ong?” tanya pula Touw-ciat.

“Tio Beng, puteri Jie Lam Ong.”

“Goan-tin sudah memberi-tahu kepadaku bahwa perempuan itu kerja sama dengan agamamu. Dia mengkhianati Kaisarnya serta memberontak terhadap ayahnya, kemudian masuk ke Mo-kauw. Apa benar begitu?”

Desakan Touw-ciat sungguh hebat. Bu Kie yang tidak biasa berdusta terpaksa menyahut,

“Benar. Dia... dia telah meninggalkan tempat gelap dan pergi ke tempat terang.”

Touw-ciat mengeluarkan suara di hidung. “Yang membunuh Kong-seng adalah Tio Beng dari agamamu, yang membunuh Kong-kian adalah Kim-mo Say-ong dari Mo-kauw!”‘ kata Touw-ciat dengan suara kaku. “Tio Beng adalah orang yang telah memukul pecah Siauw-lim-si dan menangkap murid-murid partai kami. Yang paling tidak bisa diampuni adalah dia sudah menulis perkataan menghina di patung Couwsu Tat-mo Lo-couw. Semua sakit hati itu ditambah pula dengan sebuah biji mata dari Suheng-ku. Thio-kauwcu, kalau piutang tak diperhitungkan dengan kau, dengan siapa lagi kami bisa memperhitungkannya?”

Bu Kie menghela napas. Dia merasa perkataan Touw-ciat ada benarnya juga. Apa bila sebagai kauwcu dari Beng-kauw dia tidak mau bertanggung jawab atas semua itu, siapa lagi yang bisa bertanggung jawab? Karena itu dia segera mengerahkan Iweekang ke ujung kaki sehingga ranting siong ber-goyang, lalu berkata,

“Kalau Sam-wi Lo-siansu berpendapat begitu maka Boanpwe tidak bisa berkelit lagi,” katanya dengan suara nyaring. “Biarlah Boanpwe memikul dosa itu. Tapi dalam kebinasaan Kong-kian Seng-ceng terdapat hal-hal yang amat mendukakan. Biar bagaimana pun juga Boanpwe hendak mohon pengampunan Sam-wi Lo-siansu untuk peristiwa itu.”

“Apa yang kau andalkan sehingga kau berani minta pengampunan untuk Cia Sun?” tanya Touw-ciat. “Apa kau rasa kami bertiga tidak mampu mengambil jiwamu?”

Bu Kie yakin bahwa sekali ini dia harus bertempur mengadu jiwa. “Jika satu melawan tiga Boanpwe tidak akan dapat menandingi Sam-wi,” katanya. “Lo-siansu mana yang lebih dulu hendak memberi pelajaran kepada Boanpwe?”

“Kalau satu lawan satu belum tentu kita menang,” kata Touw-ciat. “Dalam sakit hati yang amat hebat ini kami tak bisa mempertahankan peraturan Kangouw. Kepala iblis, terimalah kebinasaanmu! Omitohud...!”

“Sang Buddha berbelas kasihan!” menyambung Touw-ok dan Touw-lan.

Hampir berbareng tiga tambang menyambar ke arah Bu Kie. Sambil mengegos tali Bu Kie melompat turun. Sebelum kakinya hinggap di tanah dia memutar badan lantas menubruk Touw-lan. Touw-lan mengibaskan tangan kiri dan Bu Kie merasa semacam tenaga dalam yang hebat menyambar ke punggungnya. Dia berkelebat dan memunahkan pukulan itu dengan Kian-kun Tay-lo-ie. Pada saat itulah dua tambang dari Touw-ok dan Touw-lan menyapu berbareng.

Baru saja Bu Kie mengegos, Touw-ciat telah meninju dengan satu pukulan yang tidak ada anginnya. Bu Kie menangkis dan balas menyerang. Demikianlah, dengan berdiri di tengah-tengah tiga pohon siong, Kauwcu Beng-kauw ini melakukan pertempuran mati hidup melawan tiga tetua Siauw-lim-pay. Sesudah lewat sekian jurus mendadak Bu Kie memukul dengan telapak tangannya sambil menggetarkan tubuh sehingga ratusan butir air yang menempel di badannya menyambar Touw-ok. Pendeta itu memiringkan kepalanya, tapi tak urung mukanya disambar juga beberapa puluh butir air sehingga kulitnya terasa pedas perih.

“Kurang ajar!” bentaknya seraya mengedut tambang yang lantas menghantam kepala Bu Kie. Bagaikan kilat Bu Kie melompat mundur, kemudian menyerang Touw-ciat dengan tenaga dalam yang tidak kurang hebatnya.

Makin lama Bu Kie semakin bingung. Semenjak mempunyai ilmu silat tinggi, belum pernah dia bertemu lawan yang demikian beratnya. Ketiga pendeta itu bukan saja lihay pukulan-pukulannya, tetapi juga mempunyai Iweekang yang sangat dahsyat. Semula dia masih bisa menggunakan tujuh bagian kepandaiannya untuk membela diri dan tiga bagian untuk menyerang. Tapi sesudah lewat seratus jurus, hawa tulennya mulai merosot dan dia hanya mampu membela diri.

Menurut pengalamannya, hawa yang berada di tubuhnya bukan saja tidak bisa habis, malah makin digunakan semakin kuat. Tapi dalam menghadapi ketiga pendeta ini setiap gerakan meminta Iweekang yang sedemikian kuat dengan gerakan-gerakan yang demikian cepat. Perlahan-lahan dia merasa datangnya tenaga susulan tidak begitu lancar lagi. Inilah kejadian yang belum pernah dialaminya.

Sesudah bertanding lagi beberapa puluh jurus, Bu Kie berkata di dalam hati. “Kalau terus begini jiwaku akan melayang. Sebegitu lama gunung masih berdiri, kayu bakar tidak akan habis. Sekarang aku mesti kabur. Biarlah di lain hari aku datang lagi bersama Gwa-kong, Yo-cosu, Hian-yusu dan Wie Hok-ong. Dengan berlima, ketiga pendeta itu akan bisa dikalahkan dan aku akan dapat menolong Gie-hu.“

Sesudah berpikir begitu dia lantas mengirim serangan-serangan hebat dan mencoba melompat keluar dari gelanggang. Tapi di luar dugaan tiga tambang itu membuat sebuah lingkaran yang teguh bagaikan tembok tembaga. Berulang kali dia menerjang, tetapi selalu terpukul mundur. Sebaliknya dari lolos, pinggangnya justru kena disapu tambang Touw-lan hingga terluka.

Bu Kie menjadi bingung. Dia tidak tahu bahwa dalam melatih ilmu selama tiga puluh tahun lebih dengan bersemedhi dalam kamar tertutup, ketiga pendeta itu telah mencapai sebuah ‘perpaduan pikiran’. Dengan begitu apa yang dipikirkan seorang pendeta lantas bisa dirasakan kedua pendeta lainnya. Adanya perpaduan pikiran itu memungkinkan sebuah kerja sama yang sangat sempurna.

Bu Kie mulai putus harapan. “Kalau dilihat begini, biar pun mendapat bantuan Gwa-kong dan yang lain-lainnya belum tentu aku bisa mengalahkan mereka,” pikirnya. “Apakah Gie-hu tidak akan bisa ditolong? Apakah hari ini aku harus mati di tempat ini?”

Karena bingung maka pemusatan semangatnya terpecah. Di lain detik pundaknya tertotok lima jari tangan Touw-ciat hingga rasa sakit masuk di sumsum. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. “Kalau mesti mati, aku rela mati. Tetapi sebelum mati aku harus menyampaikan rasa penasaran Gie-hu. Gie-hu seorang yang beradat tinggi. Sesudah dapat ditangkap dia menjadi lebih-lebih sungkannya untuk mengeluarkan sepatah katapun membela diri.” Sesudah berpikir begitu dia lantas berkata dengan suara nyaring.

“Sam-wi Lo-siansu! Boanpwe telah terkurung dan boanpwe akan binasa. Seorang lelaki sejati tidak takut mati. Tapi sebelum berpulang ke alam baka boanpwe ingin lebih dulu memberi-tahu...“ Dua tambang menyambar dan setelah memunahkan dua senjata itu, Bu Kie berkata pula, “Nama Goan-tin yang sesungguhnya, yaitu nama sebelum dia menjadi murid Siauw-lim-si, adalah Seng Kun dan dia bergelar Hun-goan Pek-lek-chiu. Dia adalah guru dari Gie-hu.”

Mendengar bicaranya Bu Kie, ketiga pendeta itu kaget bukan main. Mereka kaget karena menurut kebiasaan, seorang yang sedang bertempur dengan mengerahkan Iweekang tak boleh bicara. Sekali bicara tenaga dalamnya buyar. Bahwa Bu Kie bicara selagi bertempur merupakan bukti bahwa pemuda itu memiliki Iweekang lain dari yang lain. Karena dikelabui Goan-tin maka ketiga tetua itu beranggapan bahwa Bu Kie adalah orang jahat. Makin tinggi kepandaiannya makin besar pula bahayanya bagi masyarakat. Maka mereka berpendapat bahwa dengan membinasakan pemuda ini mereka berbuat kebaikan untuk umat manusia. Karena adanya anggapan itu mereka tidak menghiraukan dan terus menyerang sehebat-hebatnya.

Bu Kie berkata pula, “Sam-wi Lo-siansu harus tahu bahwa Seng Kun dan Yo-kauwcu dari Beng-kauw adalah saudara seperguruan. Mereka berdua sama-sama jatuh cinta kepada seorang Sumoay (saudari seperguruan) yang belakangan menjadi isteri Yo-kauwcu. Seng Kun sakit hati dan dia lantas memusuhi Beng-kauw.“

Di bawah sambaran tiga tambang dengan suara lantang Bu Kie terus menceritakan segala rahasia yang meliputi sepak terjang Seng Kun. Dia menceritakan bagaimana Yo-hujin mengadakan pertemuan rahasia dengan Seng Kun sehingga Yo Po Thian meninggal dunia lantaran marah, lalu bagaimana dengan berlagak mabuk Seng Kun mencoba merusak kehormatan isteri Cia Sun kemudian membasmi keluarga Kim-mo Say-ong, Seng Kun mengatur siasat sehingga Cia Sun menjadi kalap dan membunuh banyak orang di rimba persilatan, bagaimana ia mengangkat Kong-kian menjadi guru dan belakangan memancing guru itu agar menerima pukulan Cia Sun akan tetapi dia sendiri tidak muncul sehingga Kong-kian meninggal dunia dengan penasaran...

Makin mendengar ceritera itu, Touw-ok bertiga makin kaget. Walau pun hebat ceritera itu tapi kedengarannya amat beralasan dan sesuai dengan beberapa kenyataan. Gerakan tambang Touw-ok lantas berubah menjadi perlahan.

“Sebenarnya Boanpwe tidak tahu sebab musabab permusuhan antara Yo-kauwcu dengan Touw-ok Taysu,” kata pula Bu Kie. “Tetapi Boanpwe merasa pasti bahwa permusuhan itu pun terjadi karena siasat Seng Kun. Cobalah Touw-ok Taysu mengingat-ingat lagi kejadian yang lampau.”

Touw-ok menundukkan kepala. Beberapa saat kemudian dia berkata, “Mungkin, memang mungkin pekerjaan Seng-kun. Dalam permusuhan antara Yo-kauwcu dan lolap, Seng Kun telah mengeluarkan banyak tenaga untukku. Belakangan dia malah minta berguru kepada lolap, tapi karena belum pernah menerima murid maka lolap lantas memujikan dia kepada Sutit. Memang mungkin sekali peristiwa itu sudah terjadi karena siasat Seng kun.”

“Bukan saja begitu,” menyambung Bu Kie, “Sekarang dia sedang berusaha merebut kedudukan Hong-thio dari Siauw-lim-si. Diam-diam dia menerima murid sembarangan dan bersekutu dengan orang kangouw yang tidak baik. Dia berusaha mencelakai Kong-bun Seng-ceng...!”

Perkataan Bu Kie itu terputus karena dengan mendadak dia mendengar suara keras dan melihat sebuah batu raksasa yang menggelinding ke arah tiga pohon siong itu.

“Siapa?!” bentak Touw-ok sambil menghantam dengan tambangnya hingga batu itu somplak.

Sekonyong-konyong dari belakang sebuah batu berkelebat bayangan manusia yang lantas menubruk Bu Kie dan sebilah golok pendek menyambar ke arah tenggorokan pemuda ini. Itulah serangan yang tak diduga-duga! Pada detik itu seluruh tenaga di kedua tangan Bu Kie sedang menyambut tambang Touw-ciat dan Touw-lan. Dia tidak pernah mimpi bahwa dia bakal dibokong. Waktu dia sadar, ujung golok sudah hampir menyentuh kulit tenggorokan.

Tapi pada detik penghabisan secara mati-matian dia mengegos. Golok lewat dan merobek baju di bagian dadanya. Jika terlambat sedikit saja maka jiwanya melayang. Setelah serangannya gagal, dengan ditedengi batu besar yang tengah menggelinding, pembokong itu menggulingkan diri sampai di luar kalangan tambang.

“Sungguh berbahaya!” kata Bu Kie. “Binatang Seng Kun! Kalau kau punya nyali datanglah ke sini untuk dipadu kata denganku! Huh huh...! Kau coba membunuh aku untuk menutup mulutku.“

Biar pun tidak melihat tegas muka penyerang itu, dengan memperhatikan gerakannya dan Iweekang-nya, Bu Kie tahu bahwa penyerang itu bukan lain dari pada Seng Kun. Sementara itu dengan tambang-tambang mereka ketiga tetua Siauw-lim itu berhasil mengalihkan sambaran batu raksasa itu ke jurusan lain.

“Apa benar Goan-tin?” tanya Touw-ok.

“Benar dia,” jawab Touw-lan.

“Ya,” kata pula Touw-ok, “Kalau dia tidak berdosa, perlu apa...”

Perkataan itu mendadak putus karena tiba-tiba saja ada beberapa bayangan manusia berkelebat. Orang yang paling depan membentak,

“Pendeta Siauw-lim adalah murid Sang Buddha, tetapi sudah membunuh begitu banyak orang, apakah tidak takut dosa? Kawan-kawan, seranglah!”

Delapan orang langsung menerjang. Bu Kie yang cepat duduk di antara ketiga pendeta itu mendapat kenyataan bahwa tiga orang bersenjata pedang dan yang lainnya menggunakan macam-macam senjata. Mereka semuanya berkepandaian tinggi dan di lain detik, mereka sudah bertempur hebat dengan ketiga tetua Siauw-lim. Setelah memperhatikan sesaat, Bu Kie melihat bahwa tiga orang yang bersenjata pedang memiliki ilmu silat yang sama dengan ilmu Ceng-hay Sam-kiam yang sudah binasa di tangan pendeta Siauw-lim. Dia segera menarik kesimpulan bahwa ketiga orang itu adalah para tetua dari Ceng-hay-pay.

Mereka bertiga mengepung Touw-ok. Tiga orang lainnya mengeroyok Touw-ciat. Sisanya yang hanya dua orang menyerang Touw-lan. Meski pun hanya dkeroyok dua orang, tetapi sesudah bertempur sekitar dua puluh jurus Touw-lan mulai jatuh di bawah angin karena dua orang itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada kawan-kawannya yang lain. Dari tiga rombongan, pendeta yang berada di atas angin adalah Touw-ok. Setelah bertempur belasan jurus lagi, Touw-ok melihat kenyataan bahwa Touw-lan dalam keadaan terdesak. Ia kedutkan tambangnya yang lantas menyambar lawannya Touw-lan.

Mereka bertubuh jangkung, berjenggot hitam dan meski pun sudah berusia lanjut namun gerakannya masih sangat gesit. Yang satu memakai senjata poan-koan-pit (senjata yang berbentuk pena Tiong-hoa) dan yang lain memegang pah-hiat-koat (‘pacul’ untuk menotok jalan darah). Kedua senjata itu menotok ‘hiat’. Touw-ok dan Touw-lan tahu bahwa pihak musuh bukanlah lawan enteng. Pada waktu itu mereka masih berada dalam jarak beberapa tombak, tapi sambaran angin senjata mereka sudah dapat dirasakan. Kalau mereka bisa merangsek lebih dekat maka serangan kedua senjata pendek itu akan lebih berbahaya.

Sementara itu ketiga jago Ceng-hay-pay mulai menyerang lagi dengan hebatnya, sekarang Touw-ciat melawan tiga orang sedangkan Touw-ok beserta Touw-lan melayani lima lawan. Untuk sementara waktu keadaan berimbang dan kedua belah pihak bisa mempertahankan diri.

Bu Kie heran. “Ilmu silat kedelapan orang itu rata-rata dapat melayani Ceng-ek Hok-ong,” pikirnya. “Mereka kelihatannya lebih unggul dari pada Ho Thay Ciong dan hanya setingkat lebih rendah dari Biat-coat Suthay. Tapi kecuali tiga anggota Ceng-hay-pay, yang lain aku tidak kenal. Dari sini bisa dilihat bahwa di dunia yang lebar ini, bagaikan harimau yang mendekam di rumput-rumput tinggi, bersembunyi banyak orang gagah yang namanya tak dikenal.”

Sesudah bertanding seratus jurus, tambang ketiga pendeta itu menjadi lebih pendek. Dengan lebih pendeknya tambang itu mereka bisa menghemat tenaga. Tapi di lain pihak kelincahan tambang dalam serangan juga agak berkurang. Sesudah lewat beberapa puluh jurus lagi, tambang-tambang itu menjadi semakin pendek lagi.

TEKAD MENEBUS DOSA

Kedua kakek jenggot hitam menyerang sehehat-hebatnya dalam usaha mendekati ketiga pendeta itu. Tapi sesudah menjadi pendek, garis pembelaan tambang menjadi lebih rapat dan padat. Ketiga tambang itu membuat sebuah lingkaran yang terisi tenaga memukul yang sangat dahsyat. Kedua kakek berjenggot berulang-ulang menerjang, tetapi selalu terpukul mundur.

Sambil bertempur ketiga pendeta itu mengeluh dalam hati. Mereka bukannya takut dikalahkan. Asal mereka menarik tambang-tambang itu sampai panjangnya delapan kaki, maka akan bisa membuat garis Kim-kong Hok-mo-coan. Dengan garis pembelaan itu jangankan hanya delapan orang, sekali pun enam belas atau tiga puluh orang, mereka masih sanggup menahan. Apa yang mereka takuti adalah dalam lingkaran mereka bersembunyi seorang lawan yang hebat. Lawan itu adalah Bu Kie!

Jika pemuda itu turun tangan menggencet dari dalam, maka habislah jiwa mereka. Mereka melihat Bu Kie bersila. Mereka menduga pemuda itu sedang menunggu waktu yang baik untuk menyerang. Mungkin sekali dia sedang menunggu sampai kedua belah pihak payah, kemudian dengan sekali pukul dia bisa merobohkan semua orang.

Pada waktu itu ketiga pendeta tersebut sedang menggunakan seluruh tenaga dalamnya. Mereka ingin berteriak minta bantuan, tapi mereka tidak bisa berbuat begitu. Jika mereka membuka suara, andai kata tidak mati pasti mereka terluka berat dan akan menjadi orang cacad. Kini mereka menyesal karena mereka terlampau mengandalkan kepandaian sendiri. Kalau tadi mereka meminta pertolongan, tentu semua musuh dapat dikalahkan.

Kenyataan ini juga dilihat Bu Kie. Kalau dia mau mengambil jiwa ketiga pendeta itu maka dia bisa berbuat begitu dengan mudah sekali. Tapi dia merasa bahwa seorang laki-laki sejati tidak boleh menarik keuntungan pada waktu pihak lawan berada dalam bahaya. Lagi pula mereka hanya menjadi korban dari tipu busuknya Goan-tin sehingga mereka tak pantas menemui kebinasaan. Di samping itu andai kata dia membunuh ketiga pendeta itu, dia masih harus menghadapi delapan lawan yang berat, yang belum tentu bisa dikalahkan. Dia tahu bahwa kekuatan kedua belah pihak berimbang dan bagaimana kesudahannya masih butuh waktu.

Sekarang dia melihat ada sebuah batu menutup pintu penjara bawah tanah dan di pinggir batu hanya terbuka sebuah lubang kecil untuk bernapas dan memasukkan makanan. Batu itu yang beratnya ribuan kati, tidak akan bisa digerakkan seorang dua orang. Tetapi sebagaimana diketahui, waktu berada di jalan rahasia di Kong-beng-teng, sesudah mempelajari Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, Bu Kie bisa membuka pintu batu yang tebalnya satu tombak lebih. Jika dibandingkan dengan pintu itu, batu tersebut agaknya tidak terlalu berat. Hanya saja batu itu terletak pada tanah gundul sehingga untuk mendorongnya jauh lebih sukar dari pada mendorong pintu.

Tapi biar bagaimana pun juga dia harus berdaya. Dia yakin bahwa kalau salah satu pihak telah mendapat kemenangan atau dari kuil Siauw-lim-si datang bala bantuan, maka dia tidak akan bisa menolong ayah angkatnya lagi. Maka itu dia segera berlutut di samping batu dan mendorongnya mempergunakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Begitu tenaganya dikerahkan dan dikirim, batu itu lantas bergerak dengan perlahan.

Tapi baru saja batu itu terdorong satu kaki, punggungnya disambar dengan pukulan Touw-lan. Bagaikan kilat dia menggunakan ilmu ‘memindahkan tenaga meminjam tenaga’.

“Bukk!”

Punggung Bu Kie terpukul, bajunya hancur dan keping-keping kain berterbangan di antara hujan dan angin. Tapi tenaga pukulan itu sudah dialihkan ke batu raksasa yang lantas terdorong kira-kira satu kaki. Walau pun tidak mendapat luka dalam tapi pukulan tersebut mengakibatkan rasa sakit yang hebat, sebab waktu terpukul Bu Kie tengah menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk mendorong batu. Karena Touw-lan memukul Bu Kie, maka pada garis pembelaan tambang terbuka sebuah lowongan. Pihak lawan tidak menyiakan kesempatan itu dan seorang kakek jenggot hitam lantas menerjang ke dalam garis pertahanan.

Senjata tambang dari ketiga pendeta itu sangat lihay jika digunakan pada jarak jauh tetapi kelihayannya berkurang pada jarak yang dekat. Begitu berhasil menerobos ke dalam garis pembelaan, si jenggot hitam lantas menotok bawah dada Touw-lan dengan Pah-hiat-koat. Touw-lan cepat menangkis dengan tangan kirinya. Selagi senjata itu ditangkis, seperti kilat jari tangan kiri si jenggot menotok Tao-tiong hiat.

“Celaka!” seru Touw-lan.

Dia tidak menyangka bahwa totokan It-cie-sian si jenggot lebih lihay dari pada Pah-hiat-koatnya. Dalam keadaan berbahaya, mau tak mau dia melepaskan tambangnya lalu balas menyerang dengan jari-jari kedua tangannya. Walau pun si jenggot berhasil ditahan tetapi seutas tambang jatuh di tanah.

Kakek yang bersenjata Poan-koan-pit lantas menerjang masuk. Tiga pendeta Siauw-lim-si sekarang menghadapi bencana. Salah satu di antara tiga tambang sudah jatuh dan Kim-kong Hok-mo-coan sudah menjadi pecah! Bagaikan seekor ular yang mau hidup kembali, tambang hitam yang tergeletak di tanah itu mendadak mendongak ke atas lantas menyambar muka si kakek yang bersenjata Poan-koan-pit. Tambangnya belum sampai tapi anginnya sudah berkesiur seperti pisau.

Si kakek buru-buru menangkis. Begitu tambang bentrok dengan Poan-koan-pit, kedua lengannya terasa kesemutan hingga Poan-koan-kit yang dipegang tangan kirinya hampir-hampir terpental, sedang Poan-koan-pit yang dicekal tangan kanan terlepas lalu jatuh di batu gunung. Tambang itu kemudian menyambar ketiga jago Ceng-hay-pay yang segera terdesak mundur satu tombak lebih. Demikianlah, Kim-kong Hok-mo-coan pulih kembali, bukan saja pulih kembali, bahkan sekarang lebih kuat dari pada semula.

Ketiga pendeta Siauw-lim-si kaget tercampur girang. Mereka mendapat kenyataan bahwa ujung lain tali tambang itu dipegang oleh Thio Bu Kie. Selamanya pemuda ini belum pernah berlatih dalam ilmu Kim-kong Hok-mo-coan. Dalam kerja sama dia tentu tidak bisa menyamai Touw-lan. Tapi dia tak kalah dalam Iweekang. Tenaga dalam yang keluar dari tambang yang dicekalnya seolah tenaga robohnya gunung atau terbaliknya lautan yang menyambar ke delapan penjuru. Dengan bantuan tambang Touw-ok dan Touw-ciat, tujuh lawan yang berada di luar garis pembelaan terpaksa mundur jauh-jauh.

Sekarang dengan hati mantap Touw-lan melayani si jenggot hitam yang berada dalam garis pertahanan. Baik dalam ilmu silat mau pun dalam Iweekang dia masih lebih unggul setingkat. Sambil tetap duduk di lubang pohon sepuluh jari tangannya menyerang dengan berbagai pukulan yang dahsyat sehingga dalam sekejap si jenggot keteter. Melihat tujuh kawannya terpukul mundur, sambil membentak keras si jenggot cepat melompat keluar dari garis pembelaan tambang.

Setelah melihat si jenggot terpukul mundur, Bu Kie segera mengembalikan tambang yang dipegangnya kepada Touw-lan, kemudian mendorong kembali batu raksasa yang menutup lubang. Sekarang lubang itu sudah cukup besar untuk tubuh manusia.

“Gie-hu!” teriak Bu Kie. “Anak terlambat memberi pertolongan. Apakah Gie-hu bisa keluar sendiri?”

“Aku tidak mau keluar,” jawab Cia Sun. “Anak baik, kau pergilah!”

Bu Kie heran dan kaget. “Gie-hu, apa kau ditotok orang?” tanyanya. “Atau dirantai?”

Tanpa menunggu jawaban dia segera melompat ke dalam lubang.

“Prukk!”

Kakinya menginjak air. Ternyata lubang itu terisi air sampai sebatas pinggang. Dengan hati bagai tersayat pisau pemuda itu merangkul ayah angkatnya. Ia meraba-raba tangan kaki orang itu, tapi tidak mendapatkan rantai atau alat pengikat lain. Kemudian dia meraba-raba beberapa ‘hiat’, tapi jalan-jalan darah itu pun tidak ada yang tertotok. Tanpa bertanya lagi dia memeluk sang ayah erat-erat kemudian melompat ke atas. Cia Sun tidak mengucapkan sepatah katapun. Sesudah berada di atas, mereka duduk di atas sebuah batu besar.

“Sekarang mereka baru bertempur dan kesempatan ini tidak boleh disia-siakan,” kata Bu Kie. “Gie-hu, mari kita berangkatl” Seraya berkata begitu dia lantas menuntun tangan ayah angkatnya.

Tetapi Cia Sun tidak bergerak. Sambil menepuk lutut dia berkata. “Nak, dosaku yang paling besar adalah membunuh Kong-kian Taysu. Apa bila Gie-humu jatuh di tangan orang lain, tentu akan melawan dengan mati-matian. Tetapi aku rela binasa di Siauw-lim-si untuk membayar hutang kepada Kong-kian Taysu.”

“Karena kesalahan tangan Gie-hu telah mencelakai Kong-kian Taysu,” kata Bu Kie dengan suara bingung. “Tapi itu semua adalah akibat dari siasat Seng Kun. Sedangkan sakit hati Gie-hu belum terbalas, mana bisa Gie-hu mati di tangan Seng Kun?”

Cia Sun menghela napas panjang. “Selama sebulan setiap hari kudengar Sam-wi Ko-ceng menghafalkan kitab suci,” katanya, “Tiap pagi kudengar suara lonceng dan tiap sore suara tambur dari kuil Siauw-lim-si. Sesudah mengingat kejadian-kejadian dulu, aku harus mengakui bahwa kedua tanganku berlepotan terlalu banyak darah dan sebenar-benarnya, biar pun mati seratus kali, aku masih belum bisa membayar hutang. Di dunia ini, siapa yang berdosa harus bertanggung jawab akan segala akibatnya. Dosaku banyak lebih berat dari pada Seng Kun. Anakku, jangan kau pedulikan aku lagi. Pergilah!”

Bu Kie makin bingung. “Gie-hu!” teriaknya dengan suara duka. “Kalau kau tidak mau berangkat juga maka anak akan menggunakan kekerasan.“ Sesudah berkata demikian dia mencekal kedua tangan Cia Sun dan menggendongnya.

Sekonyong-konyong terdengar suara ribut-ribut dan beberapa orang berteriak-teriak, “Siapa yang berani menjual lagak di Siauw-lim-si?” Di lain saat belasan orang datang menggunakan ilmu ringan badan.

Bu Kie memegang kedua paha Cia Sun erat-erat. Tapi baru saja dia bertindak, mendadak Tio-hiatnya tertotok dan kedua tangannya menjadi lemas sehingga mau tak mau dia melepaskan orang tua itu. Tak kepalang dukanya Bu Kie, hampir-hampir dia menangis.

“Gie-hu...! Mengapa... mengapa... kau begini?” teriaknya dengan suara parau.

“Anak baik, hal ihwal sakit hatiku sudah kau beritahu kepada ketiga pendeta suci ini,” jawabnya. “Untuk segala dosaku, akulah yang harus menerima hukuman. Kalau sekarang kau tidak berlalu, siapakah yang akan membalas sakit hatiku?” Kata-kata yang terakhir diucapkan dengan suara keras sehingga Bu Kie jadi kaget.

Sementara itu belasan pendeta yang berbekal berbagai senjata telah menerjang delapan orang yang sedang mengeroyok tiga tetua Siauw-lim-si. Si jenggot yang bersenjata Poan-koan-pit maklum bahwa jika pertempuran dilangsungkan maka pihaknya bakal celaka. Dia merasa amat penasaran sebab kemenangannya yang telah berada di depan mata dirusak seorang pemuda yang macamnya seperti orang kampung. Maka itu ia lantas berteriak,

“Bolehkah kami tahu she dan nama besar dari pemuda yang berada di pohon siong? Homi dan Kathay dari Ho-kian ingin mengenal orang yang sudah mencampuri urusan kami.”

Sebelum Bu Kie menjawab, Touw-lan mengedut tambangnya dan berkata dengan suara nyaring.

“Apakah Ho-kian Siang-sat-sin belum pernah mengenal Beng-kauw Thio-kauwcu, ahli silat nomor satu di kolong langit?”

Homi mengeluarkan seruan kaget. Sambil mengibaskan kedua pitnya dia melompat keluar dari gelanggang, dikejar tujuh kawannya. Sesungguhnya belasan pendeta itu hendak mencoba menghalangi, akan tetapi kepandaian mereka kalah setingkat sehingga dengan demikian kedelapan orang itu turun gunung tanpa rintangan.

Selama bertempur Touw-ok bertiga mendengar pembicaraan antara Cia Sun dan Bu Kie. Selain itu Bu Kie bukan saja tidak menyerang ketika mereka menghadapi bencana, bahkan dia memberi pertolongan. Andai kata pemuda itu berpeluk tangan, mereka tentu sudah binasa di tangan Ho-kian Siang-sat. Sekarang sesudah musuh kabur, ketiga pendeta itu segera melepaskan tambang mereka, lalu bangun berdiri dan memberi hormat dengan merangkap tangan.

“Terima kasih banyak atas pertolongan Thio-kauwcu tadi,” kata mereka.

Bu Kie buru-buru memberi hormat. “Itu hanya kewajiban sebagai sesama manusia dan tiada harganya untuk disebut-sebut,” jawabnya.

“Sesungguhnya hari ini lolap harus membiarkan Cia Sun berlalu bersama Thio-kauwcu,” kata Touw-ok. “Kalau tadi Thio-kauwcu benar-benar menolongnya, kami pun tak bisa mencegah. Tetapi pada waktu menerima perintah Hong-thio untuk menjaga Cia Sun, lolap bertiga telah bersumpah di hadapan tangan Buddha bahwa selama masih bernyawa kami takkan membiarkan larinya Cia Sun. Hal ini mengenai nama baik partai kami, maka kami mohon Thio-kauwcu suka memaafkan.”

Bu Kie tidak menyahut, dia hanya mengeluarkan suara di hidung.

Sesudah berdiam sejenak, Touw-ok berkata lagi. “Sekarang lolap sudah tahu, siapa yang menjadi penyebab rusaknya sebelah mata lolap. Apa bila Thio-kauwcu mau menolong Cia Sun, harap Thio-kauwcu datang lagi lain waktu. Asalkan bisa mengalahkan kami, Thio-kauwcu dapat langsung membawa Say-ong pergi. Thio-kauwcu boleh membawa banyak kawan, boleh menyerang kami bergantian atau sekaligus mengeroyok. Hanya kami bertiga yang akan melawan. Kami takkan minta bala bantuan. Selama Thio-kauwcu belum tiba, kami berjanji melindungi Cia Sun. Kami tak akan membiarkan dia dihina atau digangggu selembar rambutnya oleh Goan-tin.”

Bu Kie milirik ayah angkatnya. Di antara gelapnya sang malam, Kim-mo Say-ong yang bertubuh tinggi besar dan rambutnya terurai, berdiri sambil menundukkan kepala. Di hadapan tiga pendeta suci itu dia bersikap sebagai seorang berdosa yang rela menerima hukuman. Bu Kie memandang ayah angkatnya dengan air mata berlinang-linang. Dia insyaf bahwa sekarang dia tidak bisa berbuat banyak. Bukan saja dengan seorang diri dia tidak mampu mengalahkan ketiga pendeta itu, tetapi ayah angkatnya sendiri menolak untuk diajak lari.

“Jalan satu-satunya mengajak Gwa-kong, Yo-cosu, Hoan-yusu dan yang lain-lainnya datang kemari,” pikirnya. “Tapi garis pembelaan itu teguh sekali laksana tembok tembaga. Jika tadi Touw-lan tidak memukul punggungku dan aku memindahkan tenaganya ke batu raksasa, pasti Kathay tidak akan bisa merangsek. Masih merupakan sebuah pertanyaan, apakah aku dan kawan-kawan akan dapat memecahkan garis pertahanan mereka? Hai...! Tapi jalan lain tidak ada lagi.” Setelah berpikir demikian dia lantas berkata,

“Baiklah, beberapa hari lagi aku akan datang berkunjung untuk minta pelajaran.”

Sesudah itu dengan paras penuh duka dia memeluk Cia Sun. “Gie-hu, anak mau pergi...“ bisiknya dengan suara parau.

Cia Sun manggut-manggutkan kepalanya. Dengan penuh kasih sayang ia mengusap-usap kepala Bu Kie.

“Kau tidak usah datang lagi. Aku sudah mengambil keputusan tidak berlalu dari tempat ini,” katanya, “Nak, aku berdoa agar kau selalu berada dalam keadaan selamat, agar kau tidak menyia-nyiakan harapan ayah ibumu dan harapanku sendiri. Kau harus meneladani ayahandamu. Janganlah turut ayah angkatmu.”

“Thia-thia dan Gie-hu sama-sama Eng-hiong,” kata Bu Kie. “Hanya nasib ayah lebih bagus dari Gie-hu.”

Di lain detik dia melompat keluar dari lingkaran pohon siong dan sesudah menyoja kepada ketiga pendeta itu, badannya berkelebat lalu mendadak hilang dari pandangan. Orang hanya mendengar teriakan nyaring di tempat kira-kira satu li jauhnya. Semua pendeta terkejut bercampur kagum. Sudah lama mereka mendengar kepandaian Kauwcu dari Beng-kauw, tetapi mereka tidak pernah menduga bahwa Bu Kie memiliki ilmu ringan badan yang begitu lihai.

Sesudah orang tahu kedatangannya, Bu Kie memang sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Di tengah hujan deras itu teriakannya saling susul seperti pekik naga yang terbang di tengah angkasa. Dia berlari dengan ilmu ringan badan yang tertinggi, makin lama makin cepat, sedangkan teriakannya kian lama kian nyaring.

Di kuil Siauw-lim-si seribu lebih pendeta tersadar dari tidurnya. Setelah teriakannya itu tak terdengar lagi barulah mereka saling mengutarakan pendapat tentang peristiwa itu. Kong-bun dan Kong-tie segera mendapat laporan mengenai kedatangan Bu Kie dan mereka jadi kuatir. Sesudah berlari beberapa lie, dari belakang sebuah pohon liu tiba-tiba Bu Kie mendengar bentakan.

“Hai!”

Satu bayangan melompat keluar. Orang itu bukan lain Tio Beng. Bu Kie menghentikan tindakannya dan mencekal tangan si nona yang pakaiannya basah kuyup.

“Kau sudah bertempur dengan pendeta Siauw-lim-si?” tanya Tio Beng.

“Benar.”

“Bagaimana Cia-tayhiap? Apa kau sudah bertemu dengannya?”

Sambil menuntun tangan si nona di bawah siraman hujan, Bu Kie segera menceriterakan segala pengalamannya yang tadi.

“Apakah kau tidak menanyakan bagaimana dia tertangkap?” tanya pula Tio Beng.

“Aku hanya ingat menolong Gie-hu. Masih ada waktu untuk menanyakan itu.”

Si nona menghela napas dan tidak berkata apa-apa lagi.

“Mengapa kau jengkel?”

“Bagimu soal itu adalah soal remeh, tapi bagiku soal besar. Sudahlah! Nanti saja, sesudah tertolong barulah kita tanyakan Cia-tayhiap. Hanya... aku kuatir...”

“Kuatir apa? Apa kau kuatir aku tidak bisa menolong Gie-hu?”

“Beng-kauw lebih kuat dari pada Siauw-lim-pay. Kalau mau tentu kita dapat menolong Cia-tayhiap. Aku hanya kuatir kalau Cia-tayhiap sudah mengambil keputusan untuk mati guna membayar hutang kepada Kong-kian Taysu.”

Bu Kie pun mempunyai dugaan itu. “Apa kau rasa kejadian itu akan terjadi?” tanyanya.

“Harap saja tidak,” jawabnya.

Ketika tiba di depan gubuk suami isteri Touw, Tio Beng tertawa dan berkata, “Rahasiamu sudah terbuka. Kau tidak bisa mendustai mereka lagi.“ Seraya berkata begitu dia menolak pintu dan melangkah masuk.

Mendadak mereka mencium bau darah. Bu Kie kaget dan secepat kilat mendorong Tio Beng keluar pintu. Hampir berbareng di tempat yang gelap itu tangan seseorang mencoba mencengkeramnya. Cengkeraman itu dikirim seperti kilat, sama sekali tak mengeluarkan suara dan tahu-tahu lima jari tangan sudah menyentuh kulit muka. Bu Kie tak keburu berkelit lagi.

Dia segera menendang dada si penyerang. Orang itu menyambut dengan menyikut Hoan-tiauw-hiat di betis Bu Kie. Di tempat gelap itu Bu Kie tak bisa melihat gerakan lawan, tapi perasaannya amat tajam. Dia merasa bahwa jika dia menarik pulang tendangannya maka orang itu akan merangsek dan akan mencoba mengorek biji matanya dengan tangan kiri. Maka dia meneruskan tendangannya dan tangannya menyambut gerakan mencengkeram.

Dugaannya sangat jitu. Tangannya menangkap tangan lawan. Tetapi pada detik itu Hoan-tiauw-hiatnya tersikut sehingga kaki kanannya lemas dan dia berlutut dengan sebuah kaki. Sebenarnya dia sudah mengerahkan tenaga untuk mematahkan tangan yang dicekalnya. Tapi dia merasa tidak tega karena tangan itu kecil lemas dan tak salah lagi adalah tangan seorang wanita. Dia hanya mengangkat dan melontarkan tubuh orang itu. Tetapi tiba-tiba pundak kanannya terasa sakit bagai tertusuk senjata tajam.

Sementara itu sesudah dilontarkan Bu Kie penyerang tersebut segera kabur. Tetapi selagi dia melompat keluar, tangannya menghantam muka Tio Beng yang berdiri di luar pintu. Bu Kie tahu si nona tidak akan kuat menangkis pukulan itu. Dengan menahan sakit dia turut melompat dan mengayunkan tangannya. Kedua tangan berbenturan tanpa mengeluarkan suara. Tenaga Yang-kong (tenaga keras) dari Bu Kie sudah dipunahkan seluruhnya oleh Im-jiu (tenaga lembek) dari orang itu. Dia tidak berani menyerang lagi. Dengan meminjam tenaga pukulan Bu Kie, tubuhnya melesat beberapa tombak kemudian menghilang di tempat gelap.

“Siapa dia?” tanya Tio Beng dengan suara kaget.

Bu Kie tidak menjawab. Dia merogoh saku lantas mengeluarkan bibit api, akan tetapi tidak bisa menyalakannya karena basah. Dia tahu bahwa pada pundaknya tertancap pisau dan karena kuatir pisau itu beracun, maka dia tidak berani cepat-cepat mencabutnya.

“Lekas nyalakan lampu,” katanya kepada Tio Beng.

Si nona pergi ke dapur. Ia mengambil bibit api kemudian menyulut sebuah lampu minyak. Begitu melihat pisau yang tertancap di pundak Bu Kie, si nona kaget tak kepalang. Bu Kie sendiri merasa lega sesudah mendapat kenyataan bahwa pisau itu, atau lebih tepat golok pendek itu tidak beracun.

“Tidak apa-apa, hanya luka luar,” katanya seraya mencabut pisau itu.

Tiba-tiba dia melihat Touw Pek Tong dan Ek Sam Nio yang duduk bersandar di satu sudut. Tanpa mempedulikan darah yang mengucur dari lukanya dia memburu ke situ. Dia sangat terkejut karena kakek dan nenek itu sudah menjadi mayat.

“Waktu aku keluar, mereka masih segar bugar,” kata Tio Beng.

Bu Kie manggutkan kepalanya. Setelah si nona membalut lukanya, dia memeriksa golok itu yang ternyata adalah senjata suami isteri Touw. Ia pun mendapat kenyataan bahwa di tiang, di meja dan di lantai tertancap golok-golok semacam itu. Rupanya musuh sudah bertempur dengan suami isteri Touw dan kedua suami isteri ini telah menggunakan semua senjatanya, barulah dia turun tangan.

“Orang itu berkepandaian sangat tinggi!” kata Tio Beng.

Bu Kie mengangguk. Dia bergidik mengingat pengalamannya tadi. Walau pun hanya bertempur satu dua gebrakan tetapi pertempuran itu hebat luar biasa dan dapat dikatakan dia baru saja lolos dari lubang jarum. Kalau tadi di dalam kegelapan dia tidak menduga bahwa musuh bakal mencoba mengorek matanya, maka sekarang dia dan Tio Beng tentu sudah menjadi mayat.

Dia lalu memeriksa jenazah Touw Hok Tong dan Ek Sam Nio. Beberapa batang tulang iga kakek dan nenek itu hancur remuk. Bahkan tulang di bagian punggung mereka juga turut patah. Itulah akibat dari pukulan yang sangat lihai.

Bu Kie sudah sering bertempur melawan musuh tangguh dan pernah mengalami macam-macam bahaya. Tapi semua pengalaman itu belum ada yang menyamai hebatnya bahaya seperti gebrakan di gubuk suami isteri Touw ini. Malam itu dua kali dia bertempur. Yang pertama pertempuran dahsyat melawan tiga tokoh persilatan kelas utama. Tapi bila dibandingkan dengan pertempuran kedua yang memakan waktu sangat singkat, pertempuran kedualah yang lebih berbahaya.

“Siapakah dia?” tanya Tio Beng.

Bu Kie tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala. Si nona coba menebak orang itu. Mendadak dia sadar. Mula-mula matanya mengeluarkan sinar ketakutan dan sesudah tertegun sejenak dia menubruk memeluk Bu Kie, kemudian menangis dengan badan gemetaran. Tanpa bicara keduanya mengerti. Apa bila Tio Beng tidak mendengar teriakan Bu Kie dan apa bila si nona tidak keluar menyambut kekasihnya tanpa mempedulikan hujan, maka mayat yang akan ditemukan Bu Kie berjumlah tiga. Dengan lemah lembut Bu Kie membujuk si nona.

“Tujuannya untuk membunuh aku, tetapi yang menjadi korban suami isteri Touw,” kata Tio Beng.

“Benar,” kata Bu Kie. “Selama beberapa hari ini kau tidak boleh berpisah dariku.“ Sesudah berdiam beberapa saat Bu Kie berkata lagi. “Belum cukup setahun, bagaimana ilmu silatnya bisa maju begitu pesat? Pada jaman ini, di dunia ini, kecuali aku mungkin tidak ada orang lain yang bisa melindungi jiwamu.”

Pada keesokan paginya Bu Kie menggali lubang kemudian mengubur jenazah suami isteri Touw. Bersama Tio Beng dia mengunjuk hormat yang terakhir bagi kakek dan nenek ini. Baru saja mereka bertindak untuk meninggalkan tempat, dari kuil Siauw-lim-si terdengar suara lonceng yang gencar bersambung. Beberapa saat kemudian di udara sebelah timur muncul sinar api yang berasap hijau, di sebelah selatan sinar berasap merah, di barat putih dan di utara hitam. Beberapa li dari empat sinar itu tampak sinar lain yang berasap kuning sehingga dengan begitu kelima sinar api itu mengurung kuil Siauw-lim-si.

“Ngo-heng-kie datang ke sini!” seru Bu Kie. “Mungkin mereka datang secara resmi dan terang-terangan. Lekas!”

Cepat dia dan Tio Beng bertukar pakaian, mencuci muka lalu berlari ke arah kuil mempergunakan ilmu ringan badan. Baru menempuh beberapa li mereka bertemu dengan sepasukan anggota Beng-kauw yang memakai baju putih dan membawa bendera kecil warna kuning.

“Apakah Gan Kie-cie (pemimpin bendera) berada dalam pasukanku?” Bu Kie bertanya dengan suara nyaring.

Mendengar teriakan Bu Kie, Gan Hoan Ciang-kiesu Houw-touw-kie menengok dan begitu melihat pemuda ini dia lantas bersorak kegirangan. Buru-buru dia menghampiri lalu berlulut sambil berkata

“Houw-touw-kie Gan Hoan menghadap Kauwcu!” Semua anggota pasukan turut berlutut kemudian bersorak-sorai.

Kiranya di bawah pimpinan Kong-beng Co-su Yo Siauw dan Kong-beng Yu-su Hoan Yauw, tokoh Beng-kauw dan lima pasukan Ngo-heng-kie datang menyateroni Siauw-lim-si untuk menuntut dibebaskannya Cia Sun. Para pemimpin Beng-kauw tahu bahwa kedatangan mereka di Siauw-lim-si mungkin akan mengakibatkan pertempuran besar-besaran. Menurut pantas, tindakan yang sepenting itu harus diputuskan dan dipimpin oleh kauwcu sendiri. Tapi karena waktu sudah sangat mendesak, mereka tidak bisa menunggu Bu Kie lagi.

Apa bila mereka datang pada hari Toan-ngo, maka usaha menolong Cia Sun akan lebih sukar karena pada waktu itu orang gagah dari berbagai golongan sudah berkumpul di kuil Siauw-lim-si. Maka itulah sesudah berunding masak-masak, mereka mengambil keputusan menyateroni Siauw-lim-si sepuluh hari sebelum Toan-ngo. Pertemuan itu tentu saja sangat menggirangkan Bu Kie.

Sementara itu beberapa anggota pasukan sudah meniup terompet sebagai tanda kedatangan Kauwcu. Tidak lama kemudian Yo Siauw, Hoan Yauw, In Thian Ceng, Wie It Siauw, In Ya Ong, Ciu Tian, Pheng Eng Giok, Swee Put Tek, Tiat-koan Tojin serta yang lain-lain datang beruntun. Mereka memberitahu bahwa oleh karena harus berada pada tempatnya masing-masing di sekitar kuil, maka empat bendera, yaitu Swie-kim, Kie-bhok, Ang-sui dan Liat-hwee, tidak bisa menghadap kepada kauwcu. Melihat tokoh Beng-kauw berkumpul semua, sungguh tak kepalang girangnya Bu Kie.

MENERJANG SARANG HARIMAU

Sesudah saling memberi hormat, Yo Siauw dan Hoan Yauw secara resmi memohon maaf atas kelancangan mereka yang sudah bertindak tanpa persetujuan atau perintah Kauwcu.

“Kalian jangan terlampau sungkan,” kata Bu Kie. “Kita semua bersatu padu dan bertekad menolong Cia Hoat-ong. Hal ini membuktikan gie-khie, rasa setia kawan yang amat kuat dalam agama kita, untuk itu aku merasa amat berterima kasih, mana bisa aku malah menyalahkan kalian?” Setelah berkata demikian Bu Kie lantas menceritakan segala pengalamannya, terutama hasil penyelidikannya di Siauw-lim-si dan pertempuran melawan tiga tetua Siauw-lim.

Mendengar bahwa semua kejadian itu adalah akibat dari siasat busuk Seng Kun, semua orang menjadi marah sekali dan Ciu Tian serta Tiat-koan Tojin yang berangasan lantas mencaci.

Setelah menuturkan pengalamannya, Bu Kie berkata, “Hari ini dengan pasukan besar kita datang ke Siauw-lim-si, sedapat mungkin kita mempertahankan keakuran. Apa bila kita terpaksa turun tangan, maka tujuan kita yang pertama adalah menolong Cia Hoat-ong dan tujuan kedua adalah membekuk Seng Kun. Sedapatnya usahakan jangan sampai jatuh korban terlalu banyak!”

Semua orang berjanji untuk memperlihatkan pesan pemimpin mereka. Sambil berpaling kepada Tio Beng, Bu Kie berkata kembali,

“Beng-moay, sebaiknya kau menyamar supaya tidak usah menimbulkan urusan lain.”

Si nona tersenyum, “Gan-toako,” katanya, “Biarlah aku menyamar sebagai anggota dalam pasukanmu.”

Biar pun belum tahu hubungan antara Kauwcu dan nona itu, tapi mendengar istilah ‘Beng-moay’, Gan Hoan lantas mengerti bahwa antara sang pemimpin dengan si nona terdapat hubungan yang sangat erat. Dia segera mengingatkan dan memerintahkan salah seorang anggota pasukannya membuka jubah luarnya lalu menyerahkannya kepada Tio Beng. Sambil membawa jubah itu si nona berlari ke hutan untuk bertukar pakaian dan memoles mukanya dengan tanah. Tak lama kemudian dia kembali sebagai seorang anggota Houw-touw-kie yang kurus dan bermuka kehitaman.

Dengan diiringi suara terompet para pemimpin Beng-kauw segera mendaki gunung ke arah kuil. Pemimpin Siauw-lim-si telah menerima surat resmi dari Beng-kauw dan dengan membawa sejumlah pendeta, Kong-tie Siansu menyambut di pendopo di luar kuil. Sesudah dibohongi Seng Kun bahwa Beng-kauw bersekutu dengan Jie Lam Ong, Kong-tie menyambut dengan penuh kamarahan. Dia hanya merangkapkan dua tangannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sedangkan paras mukanya kelihatan menyeramkan.

“Kami ingin bertemu dengan Hong-thio Seng-ceng untuk satu urusan penting,” kata Bu Kie sambil menyoja.

“Persilakan!” kata Kong-tie yang lalu mengantar rombongan itu.

Rombongan Bu Kie disambut Kong-bun Siansu di luar pintu kuil,. Mendengar kedatangan Bu Kie sebagai Kauwcu dari Beng-kauw, Kong-bun tak mau melanggar adat istiadat rimba persilatan. Dia keluar menyambut dengan mengajak Siu-co (pemimpin) Tat-mo-tong, Lo-han-tong dan Cong-keng-kok. Sesudah saling memberi hormat, dia mengajak para tamu masuk di Thay-hiong. Po thian dan beberapa pendeta kecil lantas menyuguhkan teh.

“Hong-thio Seng-ceng,” kata Bu Kie, “Tanpa urusan penting kami tidak berani datang ke sini. Maksud kunjungan kami adalah untuk memohon dibebaskannya Hu-kauw Hoat-ong Cia Hoat-ong kami. Untuk budi yang sangat besar itu, kami pasti tak akan melupakan dan akan berusaha untuk membalasnya.”

“Omitohud...!” kata Kong-bun. “Pada hakekatnya beribadat harus berpokok belas kasihan dan tidak boleh membunuh. Menurut kebiasaan memang kami tidak boleh menyulitkan Cia Sun. Tapi sebagaimana diketahui, suheng-ku Kong-kian telah binasa di tangan Cia-kiesu. Sebagai pemimpin satu agama, Thio-kauwcu tentu paham akan peraturan di rimba persilatan.”

“Di dalam peristiwa yang menyedihkan itu terselip latar belakang yang ber-belit. Sesudah mengetahui latar belakang itu sebetulnya kita tidak bisa menyalahkan Cia Hoat-ong,” kata Bu Kie yang lantas menjelaskan jalannya peristiwa, bagaimana untuk menghilangkan satu permusuhan besar. Kong-kian rela menerima pukulan Cia Sun.

Baru saja Bu Kie menutur separuh, Kong-bun sudah bangkit berdiri sambil membungkuk. Dengan sinar mata berlinang, dia berkata,

“Siancay! Siancay! Untuk menolong sesama manusia, Kong-kian Suheng rela membuat pengorbanan yang besar itu. Jasanya sungguh tak kecil.”

Beberapa pendeta lantas membaca doa. Para pemimpin Beng-kauw pun cepat-cepat bangun berdiri sebagai tanda menghormat kepada pendeta suci itu.

“Setelah mencelakai Kong-kian Seng-ceng akibat kesalahan tangan, Cia Hoat-ong merasa berduka dan menyesal,” kata pula Bu Kie. “Tapi umpamanya urusan ini diusut lebih jauh, maka orang yang berdosa adalah Goan-tin Taysu dari Siauw-lim-si.“ Melihat Seng Kun tak berada di situ, dia berkata pula, “Aku mohon supaya Goan-tin Taysu disuruh keluar guna dipadu di hadapan orang banyak, supaya Hong-thio Seng-ceng bisa membuktikan apakah aku berdusta atau tidak.”

“Benar,” Ciu Tian menyela. “Di Kong-beng-teng keledai gundul itu berlagak mampus, lekas panggil dia keluar!” Si sembrono rupanya masih sakit hati terhadap Seng Kun yang telah mempersakitinya dalam pertempuran di Kong-beng-teng.

Bu Kie melirik dan menegur, “Ciu Sian-seng, kau tak boleh berlaku kurang ajar di hadapan Hong-thio Taysu.”

“Aku bukan memaki dia, aku memaki penjahat Seng Kun,” jawabnya, tapi dia tidak berani bicara apa-apa lagi.

Mendengar perkataan Ciu Tian, Kong-tie yang sudah marah tidak bisa menahan sabar lagi.

“Tapi bagaimana dengan kebinasaan Kong-seng Sute?” tanyanya.

“Kong-seng Seng-ceng berdarah panas, beradat polos dan mempunyai sifat ksatria sejati,” jawab Bu Kie. “Di Kong-beng-teng aku pernah menerima pelajaran darinya dan aku amat kagum akan kepandaiannya. Aku turut berduka cita untuk kemalangannya. Dia mati akibat diserang manusia jahat dan hal itu tiada sangkut pautnya dengan agama kami.”

Kong-tie tertawa dingin. “Thio-kauwcu mencuci tangan bersih-bersih,” ejeknya.

“Apakah persekutuan antara Kuncu dari Jie Lam Ong dengan Beng-kauw bukan sebuah kenyataan?”

Muka Bu Kie berubah merah. “Memang betul, setelah bentrok dengan ayah dan kakaknya, Kuncu masuk ke dalam agama kami,” sahutnya. “Perbuatannya terhadap Siauw-lim-si memang satu kesalahan. Aku berjanji akan selalu bersedia mengajak dia datang kemari guna mengakui dosanya dan memohon maaf.”

“Thio-kauwcu, kau benar-benar pandai bergoyang lidah!” bentak Kong-tie. “Apa dengan berkata begitu kau tidak akan ditertawai para orang gagah di kolong langit?”

Bu Kie jadi serba salah. Sebagai orang jujur, di dalam hati dia mengaku bahwa perbuatan Tio Beng dalam menyerang dan menangkap pendeta-pendeta Siauw-lim-si memang suatu dosa terhadap Siauw-lim-si. Walau pun urusan itu bukan urusan Beng-kauw, tapi dia tidak bisa mencuci tangan begitu saja setelah si nona masuk ke dalam agamanya. Selagi Bu Kie bersangsi, Tiat-koan Tojin yang meluap darahnya sudah mulai membentak,

“Kong-tie Taysu! Dengan memandang engkau sebagai pendeta suci tertua, kauwcu kami sudah berlaku sangat mengalah terhadapmu. Sebaiknya kau juga tahu diri. Sebagai pemimpin Beng-kauw dan sebagai seorang ksatria, mana bisa kauwcu kami bicara sembarangan? Kau menghina kauwcu kami dan itu berarti kau menghina Beng-kauw yang memiliki anggota ratusan laksa. Meski pun kauwcu sangat baik hati dan tidak mempunyai rasa marah, tapi hinaan itu tidak bisa ditelan begitu saja oleh kami semua.”

Pada waktu itu Beng-kauw sudah menguasai banyak daerah dengan tentara rakyat yang berjumlah besar, maka istilah ‘ratusan laksa’ tidaklah terlalu berlebihan.

Kong-tie tertawa tawar, “Ratusan laksa?” Dia mengulang. “Apakah kalian mau menginjak Siauw-lim-si sampai jadi bumi rata? Bukan baru sekarang Mo-kauw menghina Siauw-lim. Bahkan kami tidak mempersalahkan siapa pun juga walau pun sampai kena ditawan dan dikurung di Ban-hoat-si, Kami hanya bisa merasa menyesal karena ceteknya kepandaian kami. Huh huh...! Lebih dahulu membasmi Siauw-lim, kemudian menumpas Bu-tong, yang merajai rimba persilatan hanyalah Beng-kauw. Sungguh gagah! Sungguh angker!”

Bu Kie lantas teringat bahwa kata-kata itu, ‘Lebih dahulu membasmi Siauw-lim’ dan sebagainya yang ‘diukir’ dengan coretan tangan dalam ilmu Tay-lek Kim-kong-cie, terdapat pada patung Tat-mo Couwsu. Huruf-huruf itu ditulis salah seorang jagoan Tio Beng, yaitu sesudah para pendeta Siauw-lim-si tertawan dan dibawa pergi. Waktu itu Kouw Tauw-to Hoan Yauw masih menghamba di bawah perintah Tio Beng, tapi di dalam hatinya dia telah memutuskan untuk menyingkirkan bencana yang diatur oleh Tio Beng. Setelah semua orang pergi, cepat dia kembali ke Tat-mo-tong lalu memutar patung tersebut sehingga pulih ke tempat asalnya, yaitu menghadap ke arah tembok.

Belakangan waktu rombongan Bu Kie berada di dalam kuil Siauw-lim-si, dengan bantuan In Ya Ong, Yo Siauw memutar patung itu kemudian membaca huruf tersebut. Sesudah membaca, mereka memulangkan kedudukan patung itu seperti tadinya, yaitu menghadap tembok supaya jangan sampai diketahui orang-orang Siauw-lim-si. Tapi sekarang ternyata pihak Siauw-lim-si toh mengetahuinya juga. Bu Kie yang jujur tidak pandai bicara. Dia mengakui bahwa penulisan huruf-huruf di muka patung yang dipapas rata itu adalah perbuatan Tio Beng yang paling tidak patut. Karena itu dia merasa malu dan tidak mampu menjawab sindiran Kong-tie.

Melihat sang Kauwcu hanya bungkam saja, Yo Siauw segera maju menolong. “Kami sungguh tak mengerti maksud perkataan Kong-tie Taysu,” katanya. “Mendiang ayahanda Thio-kauwcu adalah murid Bu-tong. Hal ini diketahui semua orang Kangouw. Andai kata kami orang Beng-kauw benar-benar gila, kami pasti masih takkan berani menghina ayahanda Kauwcu kami sendiri. Di samping itu, ukiran jari tangan itu dilakukan menggunakan ilmu Tay-lek Kim-kong-cie, yaitu ilmu rahasia Siauw-lim-si yang tak sembarangan diturunkan kepada orang. Di antara orang-orang agama kami tidak satu pun yang mengenal ilmu itu. Kong-tie Taysu adalah seorang ahli yang mengenal ilmu silat di rimba persilatan sehingga Taysu tentu tahu, apa dengan bicara begini aku berdusta atau tidak.”

Jawaban Yo Siauw itu membuat Kong-tie tidak bisa membuka suara lagi.

“Tidak ada gunanya kita bertengkar di sini,” kata Kong-bun dengan suara sabar. “Menurut pendapat lolap, sebaiknya sekarang kita pergi ke Tat-mo-tong untuk melihat dengan mata sendiri.“

Kong-bun adalah seorang yang sabar dan berhati mulia. Dia pun tahu bahwa Beng-kauw bertenaga besar dan kalau sampai terjadi bentrokan besar-besaran mungkin sekali Siauw-lim-si akan hancur.

“Begitu pun baik,” kata Bu Kie sambil menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Hatinya agak lega melihat Tio Beng tidak turut masuk di situ.

Dengan Tie-kek-ceng (pendeta penyambut tamu) sebagai pembuka jalan, segenap orang lantas menuju ke Tat-mo-tong. Tat-mo-tong adalah tempat istirahat dan semedhi dari pendeta Siauw-lim-si yang berkedudukan tinggi. Pendeta yang tingkatannya rendah tidak akan berani masuk ke ruangan itu! Bahkan Siu-co (kepala) Tat-mo-tong sendiri tak berani berlaku sembarangan terhadap pendeta-pendeta yang berada di situ. Begitu sampai di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Kong-tie lantas berkata,

“Hong-thio mengajak para sicu (tuan) dari Beng-kauw datang di Tat-mo-tong untuk melihat patung Cee-couw (leluhur yang pertama).”

Sesudah menanti beberapa saat dan di dalam tidak terdengar suara apa-apa, Siu-co dari Tat-mo-tong lantas mendorong pintu. Di dalam ruangan itu terdapat sembilan pendeta tua yang bersemedhi di atas tikar sambil memejamkan mata. Cara mereka bersemedhi berbeda-beda, ada yang berlutut, ada yang tidur, ada yang mengangkat sebelah kiri dan sebagainya,

Bu Kie maklum bahwa mereka sedang melatih diri dalam lweekang yang tertinggi dan cara bersemedi yang aneh-aneh itu dilakukan dengan mencontoh patung-patung lima ratus Lo-han. Sembilan pendeta itu tidak menghiraukan kedatangan Hong-thio. Dengan mulut bungkam dan badan tidak bergerak, mereka seolah sembilan buah patung.

“Waktu aku datang di Siauw-lim-si, di ruangan ini hanya ada sembilan tikar rombeng,” kata Bu Kie dalam hati. “Di antara pendeta yang ditawan Beng-moay juga tidak terdapat sembilan pendeta tua. Ke mana mereka pergi?”

Kong-beng, Kong-tie dan yang lain-lainnya juga tidak mempedulikan sembilan pendeta itu. Mereka segera berlulut di hadapan patung Tat Mo Couwsu.

“Hari ini terpaksa teecu mengganggu Cee-couw. Untuk kekurang ajaran ini teecu mohon diampuni,” kata Kong-bun yang lantas memerintahkan enam orang murid untuk memutar patung tersebut.

Enam murid itu segera maju, lalu merangkapkan kedua tangan mereka dan mulut tampak berkemak kemik membaca doa. Setelah itu dengan sikap hormat barulah mereka mengerahkan lweekang dan memutar patung tersebut yang beratnya dua ribu kati lebih. Baru saja patung itu terputar separuh, tiba-tiba semua orang mengeluarkan seruan kaget. Mengapa? Sebab muka patung itu dalam keadaan lengkap, sempurna dengan mulut, mata kuping dan hidung yang tidak ada cacatnya!

Itulah kejadian yang benar-benar mengejutkan. Sebagaimana diketahui, muka patung itu telah dipapas orang sehingga rata dan menyerupai papan batu, dan di atas papan batu itu tertulis: ‘Lebih dahulu membasmi Siauw-lim, kemudian menumpas Bu-tong, yang merajai rimba persilatan, hanyalah Beng-kauw’. Mengapa sekarang muka itu lengkap sempurna?

Dengan rasa penasaran Kong-tie maju memeriksa. Dia mendapat kenyataan bahwa muka patung itu dipahat sebuah batu besar. Muka patung bukan ditempelkan pada bagian muka yang dahulu sudah dipapas rata. Tegasnya, dari muka sampai ke badan patung itu terbuat dari sepotong batu raksasa. Semua orang saling pandang dengan mulut ternganga. Untuk beberapa lama mereka tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Kemungkinan satu-satunya adalah lebih dulu orang membuat sebuah patung baru kemudian mengeluarkan patung lama dari Tat-mo-tong dan akhirnya memasukkan patung baru itu ke dalam Tat-mo-tong.

Tapi cara ini tidak mungkin dilakukan tanpa diketahui orang. Selama beberapa bulan terakhir Siauw-lim-si dijaga keras sehingga jangankan sebuah patung raksasa, sebuah mangkok pun takkan bisa keluar masuk di Tat-mo-tong tanpa diketahui. Melihat kekagetan para pendeta, Yo Siauw tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini.

“Siauw-lim-si memiliki keberuntungan besar dan pahala terhadap sesama manusia yang tiada batasnya,” katanya dengan suara nyaring. “Tat-mo Lo-couw sudah memperlihatkan keangkerannya dan memperbaiki sendiri patungnya yang pernah dirusak orang. Kejadian ini benar-benar kejadian yang menggirangkan dan patut diberi selamat.“ Sehabis berkata begitu dia menekuk kedua kakinya dan berlutut di hadapan patung.

Bu Kie beserta tokoh Beng-kauw lainnya lantas mengikuti. Para pendeta Siauw-lim tidak dapat berbuat lain dari pada membalas hormat. Kong-bun mengerutkan alisnya. Ia menduga bahwa semuanya itu adalah pekerjaan Beng-kauw. Tapi biar bagaimana pun juga, andai kata benar kerjaan Beng-kauw, bisa dikatakan sudah mencoba memperbaiki kesalahannya dan sudah menghaturkan maaf. Dengan demikian kemarahan para pendeta berkurang.

“Patung sudah baik kembali, maka hal ini tidak usah disebut-sebut lagi,” kata Kong-bun yang lalu memerintahkan keenam murid Siauw-lim untuk memutar kembali patung itu. Sesudah itu dia berkata, “Tadi malam Thio-kauwcu datang berkunjung dan sudah berkenalan dengan ketiga susiok lolap. Touw-ok susiok dan Thio-kauwcu sudah saling berjanji bahwa asal Thio-kauwcu berhasil memecahkan Kim-kong Hok-mo-coan maka Thio-kauwcu boleh membawa Cia-sicu pergi. Apa benar ada perjanjian begitu?”

“Benar,” jawab Bu Kie. “Memang Touw-ok Taysu mengatakan begitu. Aku merasa sangat kagum terhadap ilmu Sam-wi Ko-ceng dan aku tahu bahwa aku bukan tandingan mereka. Tadi malam aku sudah dikalahkan dan sebagai pecundang mana berani aku menjual lagak lagi?”

“Omitohud... Thio-kauwcu mengeluarkan kata-kata yang terlampau berat,” kata Kong-bun. “Tadi malam menang atau kalah belum ada keputusan dan ketiga susiok lolap merasa sangat berterima kasih akan kemuliaan Thio-kauwcu.”

Sebagaimana biasanya ahli-ahli silat, begitu mendengar kelihaian ketiga tetua Siauw-lim itu tokoh Beng-kauw lantas saja kepingin menyaksikan kepandaian mereka.

“Kauwcu,” kata In Thian Ceng lantang, “Karena pihak Siauw-lim sendiri yang ingin menjajal kepandaian, maka kita terpaksa harus meminta pelajaran dari mereka. Tujuan kedatangan kita adalah hendak menolong Cia Heng-te. Kita terpaksa berbuat begitu dan sama sekali bukan mau menjajal lagak di Siauw-lim-si.”

Sebagai cucu Bu Kie amat mengindahkan perkataan kakeknya. Lagi pula untuk mencapai tujuan, Beng-kauw tidak mempunyai pilihan lain dari pada bertempur.

“Mendengar tiga tetua Siauw-lim memiliki ilmu yang sangat tinggi, saudara-saudaraku ingin sekali menemui mereka dan pertemuan ini sangat menggirangkan kita semua.”

“Kami persilakan!” kata Kong-tie yang lantas mengajak para tamunya ke puncak bukit yang terletak di belakang kuil.

Kaki bukit itu dijaga ketat pasukan Ang-sui-kie, tapi Kong-bun dan kawan-kawannya tidak menghiraukan. Dengan sikap tenang mereka mendaki bukit. Begitu tiba di puncak, Kong-bun dan Kong-tie menghampiri pohon siong kemudian melaporkan kedatangan rombongan Beng-kauw sambil membungkuk.

“Bagus! Sungguh bagus!” kata Touw-ok. “Soal sakit hati Yo Po Thian sudah beres dan soal patung Cee-couw juga telah beres. Bagus! Thio-kauwcu, berapa orang yang mau maju?”

Setelah berpikir sejenak Bu Kie baru menjawab. “Semalam aku sudah berkenalan dengan sinkang Sam-wi yang sangat tinggi dan menurut pantas aku tak boleh lagi memperlihatkan kebodohanku di depan Sam-wi. Akan tetapi karena antara Cia Hoat-ong dan aku terdapat hubungan ayah dan anak, juga memiliki hubungan persaudaraan dengan saudara-saudara lainnya, maka dengan melupakan kebodohan sendiri terpaksa kami harus tetap berusaha menolongnya. Menurut pendapatku jalan yang paling adil adalah aku minta bantuan dua saudara sehingga tiga melawan tiga.”

“Thio-kauwcu tak usah berlaku sungkan,” kata Touw-ok. “Apa bila di kalangan Beng-kauw terdapat orang lain yang memiliki kepandaian sama tingginya seperti Kauwcu maka dengan dua orang saja Kauwcu akan dapat membinasakan kami bertiga. Tetapi menurut pendapat lolap di dunia tak ada yang bisa menyamai kepandaian Kauwcu. Maka itu sebaiknya kauwcu menggunakan lebih banyak orang untuk mengeroyok kami.”

Ciu Tian, Tiat-koan Tojin dan lain-lainnya saling pandang. Mereka menganggap Touw-ok amat sombong. Tapi dalam kesombongan itu si pendeta mengakui bahwa di dunia tidak ada orang bisa menandingi Bu Kie, satu pujian tinggi bagi Kauwcu mereka.

Bu Kie membungkuk dan berkata, “Walau pun agama kami tidak bisa berendeng dengan Siauw-lim-pay, tapi dalam sejarah ratusan tahun kami masih memiliki beberapa orang pandai. Sebenarnya aku sendiri menduduki kursi kauwcu hanya untuk sementara waktu. Jika bicara mengenai kepandaian, di kalangan agama kami terdapat banyak orang yang berkepandaian lebih tinggi dari pada aku. Wie Hok-ong, serahkanlah karcis nama ini kepada Sam-wi Ko-ceng!” Setelah berkata demikian dia merogoh saku lalu mengeluarkan selembar karcis nama yang tercantum nama para tokoh Beng-kauw yang berkunjung.

Wie It Siauw mengerti bahwa Bu Kie ingin supaya dia menunjukkan ilmu ringan badannya yang tiada keduanya di dunia. Dia membungkuk dan menyambut karcis nama itu. Tanpa memutar tubuh tiba-tiba dia melesat atau lebih tepat terpental laksana menyambarnya sebutir peluru ke tengah-tengah tiga pohon siong dan dalam satu gerakan yang luar biasa indah, dia menyodorkan karcis nama itu kepada Touw-ok.

Ketiga tetua Siauw-lim itu sudah kenyang makan asam garam dunia dan memiliki banyak pengalaman. Tapi ilmu ringan badan yang lihai itu baru pernah dilihatnya. Tanpa terasa mereka berseru,

“Bagus!”

Dengan tubuh sedikit membungkuk Touw-ok menyambuti karcis nama itu. Begitu lima jari tangannya menyentuh kertas, saat itu pula Wie It Siauw merasa tubuhnya kesemutan. Dia terkejut dan segera mengerahkan lweekang untuk melawannya. Sedetik kemudian Touw-ok sudah mengambil karcis nama itu dan tenaga lweekang-nya yang dirasakan Ceng-ek Hok-ong terasa hilang. Paras muka Wie It Siauw berubah.

Dia tidak menduga bahwa pendeta itu memiliki lweekang sedemikian tinggi. Dia tidak berani berdiam lama di situ. Setelah memanggutkan kepala, dia melayang di atas rumput dan kembali kepada Bu Kie. Ilmu ringan badan yang digunakannya adalah Co-siang-hui (Terbang di atas rumput). Meski pun bukan ilmu luar biasa tapi dia melakukan secara lain dari yang lain.

Kong-bun dan Kong-tie tahu, dengan mendapat pelajaran dari latihan semata-mata orang tak akan dapat mencapai ilmu ringan badan pada tingkat yang begitu tinggi. Di samping guru dan latihan, Wie Hok-ong mempunyai bakat yang tidak dipunyai orang lain.

“Setelah Thio-kauwcu mengambil keputusan untuk tiga melawan tiga, bolehkan lolap tahu, selain Wie Hok-ong siapa lagi yang akan memberi pelajaran kepada kami?” tanya Touw-ok.

“Tadi Wie Hok-ong telah menerima pelajaran lweekang dari Taysu,” jawabnya. “Yang akan membantu aku adalah Co-yu Kong-beng Sucia.”

“Sungguh lihai mata pemuda ini,” Touw-ok memuji dalam hati. “Dia sudah dapat melihat pengiriman lweekang melalui karcis nama. Siapa itu Co-yu Kong-beng Sucia? Apa mereka lebih lihai dari pada Wie Hok-ong?” Sebagai orang yang sudah lama menutup diri, dia belum pernah mendengar Co-yu Kong-beng Sucia.

Sementara itu Yo Siauw dan Hoan Yaow lantas maju. Sambil membungkuk mereka berkata,

“Kami menunggu perintah Kauwcu.”

“Sam-wi Ko-ceng menggunakan senjata lemas,” kata Bu Kie. “Senjata apa yang harus kita gunakan?”

Di waktu biasa Bu Kie, Yo Siauw dan Hoan Yauw tak pernah menggunakan senjata. Tapi dalam menghadapi lawan berat, mereka tak bisa berlaku sombong dan bertempur dengan tangan kosong. Sebagai ahli silat kelas utama mereka dapat menggunakan senjata apa pun juga.

“Terserah kepada Kauwcu,” jawab Yo Siauw.

Bu Kie teringat apa yang dilihatnya semalam, bagaimana dengan senjata pendek Ho-kian Siang-sat menyerang tambang yang panjang sehingga telah menarik keuntungan dari senjata yang pendek itu. Dia lantas mengeluarkan enam batang Seng-hwee-leng dari sakunya lalu menyerahkan masing-masing dua batang kepada mereka.

“Yo Siauw dan Hoan Yauw,” dia berkata, “Dalam mengunjungi Siauw-lim, kita tidak berani membekal senjata. Aku hanya membawa mustika agama kita. Sekarang biarlah kita menggunakan mestika ini saja.“

Yo Siauw dan Hoan Yauw lantas menerima ‘leng’ itu dengan membungkuk. Baru saja mereka hendak berunding untuk menentukan siasat pertempuran, tiba-tiba Kong-tie membentak,

“Kouw Tauw-to! Engkau sudah menaruh ganjalan di Ban-hoat-si. Mana dapat disudahi begini saja? Mari, mari! Lolap ingin minta pelajaran. Hari ini lolap tak terpengaruh Sip-hiang Joan-kin-san. Biarlah hari ini kita mendapat keputusan siapa yang lebih unggul.”

“Meyesal sekali aku tidak dapat menerima tantangan,” jawab Hoan Yauw dengan suara tawar. “Hari ini aku sudah menerima perintah Kauwcu memecahkan Kim-kong Hok-mo-coan. Apa bila Taysu mau membalas sakit hati yang dulu, sesudah tugas selesai pasti akan aku layani.”

Kong-tie segera mengambil sebatang pedang yang dipegang seorang murid Siauw-lim-si,

“Secara tidak tahu diri kau berani melawan ketiga susiok-ku,” katanya. “Apa bila tidak mati nanti kau tentu terluka berat. Sakit hatiku akan tidak bisa dibalas lagi.”

Hoan Yauw tertawa dingin.

“Apakah selain tuan di Beng-kauw tidak ada lain jago?” tanya Kong-tie dengan nada mengejek.

Semua orang tahu bahwa dengan berkata begitu Kong-tie hendak membikin panas orang-orang Beng-kauw. Tapi kalau ejekan itu ditelan begitu saja maka derajat dan keangkeran Beng-kauw akan merosot. Dalam kedudukan, sesudah Hoan Yauw adalah Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng. Tetapi mengingat usia sang kakek yang sudah lanjut Bu Kie sangsi untuk meminta bantuannya. Selagi dia menimbang-nimbang untuk menarik In Ya Ong, pamannya, mendadak In Thian Ceng maju beberapa langkah lalu berkata,

“Kauwcu, In Thian Ceng memohon tugas.”

“Gwa-kong sudah lanjut usia, sebaiknya Kuku (paman) saja yang...”

“Benar aku sudah tua, tapi usiaku tak mungkin melampaui Sam-wi Ko-ceng. Kalau Siauw-lim punya jago tua, apa Beng-kauw tidak punya?”

Bu Kie tahu bahwa kakeknya memiliki kepandaian amat tinggi yang sedikitnya tidak kalah dari Yo Siauw dan Hoan Yauw. Maka itu setelah berpikir sejenak dia segera mengangguk lantas berkata,

“Baiklah. Hoan Yu-su, simpanlah tenagamu untuk melayani Kong-tie Seng-ceng. Sekarang aku mohon bantuan Gwa-kong.”

In Thian Ceng membungkuk lalu mengambil sepasang ‘leng’ dari tangan Hoan Yauw.

“Sam-wi Susiok!” kata Kong-bun dengan suara nyaring. “Yang ini adalah In Lo-enghiong bergelar Peh-bie Eng-ong. Dahulu dia mendirikan Peh-bie-kauw yang berseteru dengan enam partai besar. Dia seorang Enghiong yang berkepandaian tinggi. Yang itu adalah Yo Sian-seng. Baik lweekang mau pun gwakang-nya sudah mencapai tingkat tertinggi. Dia adalah seorang tokoh utama dalam Beng-kauw. Sudah banyak jago Kun-lun dan Go-bi yang roboh di tangannya.”

Touw-ciat tertawa, “Selamat bertemu! Selamat bertemu!” katanya. “Coba kita sama-sama lihat, apakah murid Siauw-lim bisa melayani atau tidak.”

Tiga tambang lantas bergerak dan membuat tiga buah lingkaran. Tadi malam di tempat gelap Bu Kie bertempur dengan hanya mengandalkan perasaannya terhadap sambaran angin dari tambang-tambang itu. Tetapi sekarang, di tengah hari, bukan saja gerakan tambang, bahkan kerut muka ketiga kakek itu juga dapat dilihatnya dengan tegas. Sesudah menundukkan Seng-hwee-leng ke muka bumi dan menyoja, dia berkata,

“Maaf!”

Hampir berbareng dia membabat tambang Touw-lan dengan leng yang dipegang di tangan kanannya. Begitu dua senjata aneh itu bentrok, Touw-lan dan Bu Kie merasa lengannya kesemutan.

Bu Kie tahu bahwa andai kata pihaknya bisa memperoleh kemenangan, kemenangan itu tidak akan bisa didapat secara mudah. Paling sedikit dia harus bertempur lima ratus jurus. Setelah berpikir begitu dia segera mengambil keputusan untuk melelahkan ketiga pendeta itu kemudian barulah mencari lowongan mengirim pukulan yang memutuskan.

Demikianlah, dia segera melawan dengan keras. Kiu-yang Sin-kang yang berada di tubuhnya makin digunakan semakin kuat dan pukulannya kian berat. Penonton yang Iweekang-nya kurang kuat terpaksa mundur setindak demi setindak karena tidak tahan disambar angin pukulan. Sesudah bertanding semakanan nasi ketiga tambang jadi lebih pendek tambangnya, tapi semakin kuat pembelaannya.

Semula pertempuran berlangsung dalam tiga pasang lawan. Tapi sesudah lewat setengah jam, Yo Siauw dan In Thian Ceng tidak bisa mempertahankan diri lagi sehingga keadaan berubah, mereka berdua mengeroyok Touw-lan sedangkan Bu Kie melayani Touw-ok dan Touw-ciat.

ENG-HIONG TAY-HWEE (PERTEMUAN AKBAR PARA ORANG GAGAH)

Dalam pertempuran itu In Thian Ceng menggunakan ilmu silat keras, sedangkan Yo Siauw mengubah-ubah caranya bertempur, sebentar lembek sebentar keras. Antara enam orang itu, yang silatnya paling resap ditonton adalah Yo Siauw. Dalam tangannya kedua leng itu berputar-putar, menyambar-nyambar dan menari-nari.

Sebentar kedua senjata itu digunakan sebagai pedang, sebentar sebagai golok, sebentar sebagai tombak yang menikam, membabat dan memapas. Di lain detik ia mengubah cara bersilat dan kedua leng itu dipergunakan sebagai Poan-koan-pit yang menyambar dalam usaha untuk menotok jalan darah lawan. Baru beberapan gebrakan sudah lantas berubah lagi, sekarang leng di tangan kiri sebagai pisau sedangkan leng di tangan kanan sebagai sucek (pusut). Sesaat kemudian kedua senjata itu memegang peranan sebagai cambuk dan toya. Demikianlah, belum cukup seratus jurus Yo Siauw sudah mengubah-ubah kedua leng itu menjadi dua puluh dua macam senjata.

Hoan Yauw biasanya sangat temberang sebab ia menganggap mengenal semua ilmu silat di kolong langit. Namun sekarang, begitu melihat kelihaian Yo Siauw, ia merasa takluk tercampur kagum. Sudah lama Ciu Tian bermusuhan dengan Yo Siauw dan mereka pernah bertempur beberapa kali. Makin lama ia menonton makin besar pula rasa malunya.

“Baru aku tahu si kura-kura Yo Siauw sengaja mengalah terhadapku,” pikirnya. “Tadinya kukira kepandaiannya hanya lebih tinggi satu tingkat dariku. Kuanggap ia menang karena mujur. Siapa nyana ilmunya ternyata jauh lebih tinggi dari pada aku.”

Meski pun Yo Siauw sudah mengubah-ubah silatnya tapi Touw-lan tetap bisa melayani kedua lawannya dengan tenang. Perlahan di atas kepala In Thiang Ceng mengepul uap putih, suatu tanda bahwa si kakek sedang mengerahkan lweekang yang terhebat. Karena penuh dengan hawa maka jubahnya yang berwarna putih juga mulai melembung setiap kali dia bertindak. Di atas tanah terlihat tapak kaki yang dalam sehingga sesudah bertempur hampir satu jam, tanah dalam gelanggang pertandingan penuh dengan tapak kaki.

Tiba-tiba si kakek mengoper leng di tangan kanan ke tangan kiri dan menggunakan kedua senjata itu untuk menekan tambang Touw-lan. Hampir berbareng tangan kanannya yang sudah tidak bersenjata menghantam Touw-lan dengan pukulan Pek-kong-ciang. Bagaikan kilat Touw-lan mengangkat tangan kirinya dan mementang lima jari tangan, mengepalnya kemudian menyambut Pek-kong-ciang In thian Ceng dengan tinju itu.

Saking kaget dan kagum Kong-bun dan Kong-tie mengeluarkan seruan tertahan. Pukulan Touw-lan itu adalah Siauw-sie Bie-ciang, salah satu dari tujuh puluh dua ilmu silat Siauw-lim-si yang tersohor. Siauw-sie Bie-ciang bukan saja sukar dipelajari dan memakan waktu lama dalam latihan, tapi menurut kebiasaan ketika hendak mengeluarkan pukulan tersebut seseorang harus lebih dulu memasang kuda-kuda dan mengerahkan lweekang untuk beberapa saat. Bahwa Touw-lan dapat menggunakan pukulan tersebut begitu saja adalah di luar dugaan. Sesudah memukul Touw-lan segera mengedut tambangnya yang lantas menyambar.

Karena satu tangannya harus beradu tenaga dengan In Thian Ceng, maka tenaga tangan Touw-lan yang memegang tambang yang melayani Yo Siauw berkurang. Akan tetapi dia segera menambal kelemahannya dengan pukulan yang luar biasa hingga tambang itu seperti seekor ular sakti berterbangan kian kemari.

Yo Siauw melawan dengan tidak kalah dahsyatnya dan ilmu yang dipergunakannya terus berubah-ubah. Karena lebih sedap bagi pandangan mata, maka perhatian penonton lebih banyak ditujukan kepada pertempuran ini dari pada pertandingan antara Bu Kie dan kedua tetua Siauw-lim.

Kalau dilihat sekelebatan, pukulan Touw-ok, Touw-ciat dan Bu Kie biasa saja. Kehebatan pertandingan itu bukan terletak pada pukulan-pukulannya, tapi pada Iweekang-nya. Pada hakekatnya pertandingan itu sepuluh kali lebih berbahaya dari pada pertempuran Touw-lan melawan Yo Siauw dan In Thia Ceng. Kalau salah sedikit saja, jika tidak mati tentu terluka berat.

Sudah satu jam lebih mereka bertempur dan matahari mulai condong ke barat. Ketika itu Kong-bun, Kong-tie dan Hoan Yauw, Wie it Siauw serta lain-lain ahli silat kelas satu sudah bisa melihat kemungkinan menang atau kalah dari kedua belah pihak.

Di pihak Bu Kie, uap putih yang mengepul dari kepala In Thian Ceng makin tebal, ada pun di pihak Siauw-lim daun dari pohon siong yang diduduki Touw-ciat bergoyang tak henti-hentinya. Ini berarti bahwa sambil bersandar Touw-ciat harus meminjam tenaga pohon itu untuk melawan sinkang Bu Kie.

Demikianlah, mana kala In Thian Ceng yang roboh lebih dahulu maka Beng-kauwlah yang kalah, tetapi apa bila Touw-ciat yang lebih dahulu tidak tahan, maka Siauw-lim-si lah yang kena dijatuhkan. Hal itu tentu saja diketahui pula oleh enam orang yang sedang bertempur itu.

Sesudah mengadu tangan tiga puluh kali lebih, In Thian Ceng maklum bahwa ia bukanlah tandingan Touw-lan. Ia merasa sangat menyesal dan berkata dalam hatinya, “Hari ini yang terpenting adalah menolong Cia Heng-te. Kalah menangku adalah urusan kecil. Lagi pula nama besar Peh-bie Eng-ong tidak akan merosot kalau aku mesti kalah di tangan seorang tetua Siauw-lim. Celakanya kekalahanku berarti Cia Heng-te tidak dapat ditolong. Ah...! Tiada jalan lain dari pada mati-matian dan kalau perlu mengorbankan jiwa yang tua ini.“

Setelah berpikir begitu ia mundur setindak dan dengan seluruh lweekang-nya ia mengirim belasan pukulan. Akan tetapi Siauw-sie Bie-ciang yang telah dilatih Touw-lan selama beberapa puluh tahun bukan main hebatnya. Setiap kali In Thian Ceng mundur setindak, tenaga Siauw-sie Bie-ciang lantas maju setindak. Dengan perkataan lain semakin jauhnya jarak sama sekali tidak mengurangi tenaga pukulan itu.

Melihat kawannya sudah jatuh di bawah angin, Yo Siauw segera mengambil keputusan untuk menukar siasat. Ia ingin merangkap kedua Seng-hwee-leng untuk menjepit tambang kemudian mengadu tenaga dengan Touw-lan agar tekanan terhadap In Thian Ceng dapat berkurang. Tapi baru saja ia mau menjepit, tambang itu tiba-tiba dikedut dan menyambar mukanya. Yo Siauw terkesiap. Bagaikan kilat ia menimpuk dada Touw-lan dengan kedua ‘leng’ dan kedua tangannya segera menangkap ujung tambang yang lantas dibetot.

Melihat timpukan yang sangat hebat itu, dengan sikut kiri Touw-lan mengentus ‘leng’ yang menyambar ke dada kiri dan berbareng ia miringkan badan untuk mengelakkan ‘leng’ yang satunya lagi. Di luar dugaan di tengah jalan senjata itu tiba-tiba terputar lantas menyambar Touw-ciat! Inilah kelihaian Yo Siauw. Timpukan yang ditujukan kepada Touw-lan hanyalah timpukan ‘kosong’, ada pun timpukan kepada Touw-ciat barulah serangan sungguh-sungguh yang disertai seluruh Iweekang-nya.

Pada saat itu Touw-ciat tengah melayani Bu Kie. Ia merasa girang karena Touw-lan sudah berada di atas angin meski pun dikeroyok dua orang. Ia tak pernah mimpi bahwa ia bakal diserang begitu aneh dan tahu-tahu sebatang Seng-hwee-leng tiba di depan mukanya. Tapi sebagai ahli silat kelas utama dalam kagetnya ia tidak menjadi bingung. Dengan dua jari tangan ia berhasil menjepit senjata itu. Tetapi terpecahnya perhatian sangat merugikan dirinya dalam pertandingan lweekang melawan Bu Kie.

Pohon siong lantas bergoyang keras dan daun yang seperti jarum jatuh ke tanah bagaikan hujan gerimis. Tentu saja Bu Kie tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia cepat mengempos semangat lantas menambah tenaga. Pohon siong bergoyang lebih keras dan ranting kecil turut jatuh ke bawah. Melihat bahaya, Touw-ok segera bangun berdiri kemudian melompat ke samping saudara seperguruannya, lalu menempelkan telapak tangan kirinya di pundak Touw-ciat. Sesudah mendapat bantuan barulah Touw-ciat bisa mempertahankan dirinya lagi.

Di bagian lain, pengaduan tenaga antara Touw-lan melawan Yo Siauw dan In Thian Ceng sudah mencapai detik memutuskan. Yo Siauw membetot tambang, sementara lweekang In Thian Ceng terus mengirim pukulan dahsyat. Ini berarti bahwa Touw-lan diserang dua tenaga yang bertentangan satu sama lain, yang satu membentot yang lain mendorong (memukul). Untuk melayani dua tenaga berlawanan itu ia harus mempergunakan semua tenaga dalamnya. Biar pun berat tapi kelihatannya ia masih bisa mempertahankan diri.

Orang-orang Siauw-lim dan Beng-kauw mengerti bahwa menang kalah akan segera mendapat keputusan. Mungkin sekali di antara enam tokoh itu ada beberapa yang akan binasa atau terluka berat. Puncak bukit itu menjadi sunyi senyap. Banyak orang basah bajunya karena keringat yang mengucur, sebagai akibat dari rasa tegang yang sangat hebat. Di antara kesunyian tiba-tiba terdengar suara manusia yang keluar dari bawah tanah.

“Yo-cosu, In-toako, anak Bu Kie, dengarlah. Tangan Cia Sun berlepotan darah, hukuman mati tidak cukup untuk menebus dosaku. Hari ini kalian berusaha menolong aku dan melakukan pertempuran mati hidup melawan tiga tetua Siauw-lim. Apa bila karena usaha menolong aku ini ada seorang saja yang binasa, maka dosaku akan lebih besar lagi. Anak Bu Kie! Ajaklah semua saudara meninggalkan Siauw-lim-si. Kalau kau bandel maka aku akan segera mengambil keputusan memutuskan urat-uratku, supaya aku tak usah menanggung dosa yang lebih besar lagi.”

Biar pun perlahan tetapi suara itu menusuk kuping setiap orang, sebab Cia Sun menggunakan Say-cu-hauw (geram singa) yang dahulu pernah digunakan di pulau Ong-poan-san. Bu Kie tahu bahwa ayah angkatnya tidak bicara main-main. Ia pun tahu jika pertempuran terus dilanjutkan maka kakeknya, Yo Siauw, Touw-ciat dan Touw-lan akan binasa atau terluka parah. Selagi ia sangsi, Cia Sun sudah membentak pula,

“Bu Kie! Apa kau belum mau mundur?”

“Baik, Gie-hu!” jawabnya sambil mundur setindak kemudian berkata dengan suara nyaring, “Hari ini kami tidak bisa memecahkan Kim-kong Hok-mo-coan. Lain hari kami akan datang lagi meminta pelajaran. Gwa-kong, Yo-cosu, berhentilah!” seraya berkata begitu ia mendorong tenaga Touw-ok dan Tauw-ciat di kedua tambang, kemudian menarik pulang tenaganya sendiri.

Tetapi Yo Siauw dan In Thian Ceng tidak berani langsung menarik tenaganya. Kalau berbuat begitu mereka akan dilukai tenaga lawan. Touw-lan pun demikian pula. Melihat begitu Bu Kie lantas berjalan ke depan kakeknya lalu mengibas kedua tangannya. Ia menyambut tenaga Touw-lan dan In Thian Ceng yang saling menyerang dari kiri kanan. Hampir berbareng ia menempelkan sebatang Seng-hwee-leng di tambang Touw-lan.

Tambang itu ditarik Yo Siauw dan Touw-lan sehingga tegang bagaikan tali gendewa. Tapi begitu tersentuh ‘leng’ lantas berubah lemas sebab kedua tenaga itu dipunahkan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Sesudah tenaganya dipunahkan, cekalan Yo Siauw terlepas dan tambang itu jatuh di tanah. Tapi begitu tambang jatuh, Yo Siauw segera membungkuk lalu menjemputnya lagi.

Touw-lan terkejut. Ia menduga Yo Siauw hendak menyerang. Tetapi maksud Yo-cosu bukan begitu. Ia maju beberapa tindak lalu berkata seraya mengangsurkan ujung tambang kepada Touw-lan.

“Taysu, terimalah senjatamu!”

Touw-lan dapat menebak kemauan Yo Siauw. Ia pun segera menjemput dua ‘leng’ yang menggeletak di tanah lalu memulangkannya kepada Yo Siauw. Setelah mendapat pengalaman itu maka hilanglah segala rasa sombong di hati ketiga pendeta itu. Mereka mengerti bahwa kalau pertempuran dilangsungkan terus maka kedua belah pihak akan celaka bersama.

“Sesudah menutup diri selama beberapa puluh tahun, lolap merasa girang hari ini kami bisa berkenalan dengan jago di jaman ini,” kata Touw-ok. “Thio-kauwcu, Beng-kauw mempunyai banyak orang pandai, kau sendiri luar biasa. Lolap mengharap bahwa dengan tenaga ini Beng-kauw bisa menolong sesama manusia dan tidak berbuat sesuatu yang mencelakai rakyat.”

Bu Kie membungkuk, “Terima Kasih atas nasihat Taysu,” jawabnya.

“Baiklah,” kata Touw-ciat. “Kami bertiga akan menanti kunjungan Kauwcu yang ketiga kalinya.”

“Ya,” kata Bu Kie. “Kami terpaksa berbuat begitu, terutama karena di antara Cia Hoat-ong dan aku terdapat hubungan ayah dan anak.”

Touw-ok menghela napas. Ia segera memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa lagi. Bu Kie dan kawannya lantas minta diri kepada Kong-bun dan yang lain-lain. Dengan dipimpin Pheng Eng giok, kelima pasukan Ngo-heng-kie ikut mundur sampai berjarak sepuluh li dari Kuil Siauw-lim-si. Anggota Houw-touw-kie segera membuat belasan tenda besar di lereng gunung untuk tempat berteduh seluruh barisan Beng-kauw.

Bu Kie berduka dan duduk termenung. Di Beng-kauw tidak ada orang yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari Yo Siauw dan In Thian Ceng. Andai kata ia menukar mereka dengan Hoan Yauw dan Wie It Siauw hasilnya tidak akan berbeda. Pheng Eng Giok dapat menebak apa yang dipikir sang Kauwcu.

“Kauwcu...“ katanya. “Mengapa kau melupakan Thio Cinjin?”

“Apa bila Thay-suhu suka turun gunung bersama aku, rasanya kami berdua akan dapat memecahkan Kim-kong Hok-mo-coan,” katanya dengan suara sangsi. “Akan tetapi hal itu berarti rusaknya keakuran antara Siauw-lim dan Bu-tong, sehingga belum tentu Thay-suhu sudi meluluskan. Dan kedua, biar pun dalam ilmu silat Thay-suhu sudah mencapai tingkat tinggi tetapi usianya sudah terlalu tua. Kalau sampai terjadi sesuatu... mungkin sekali Toa-supek dan yang lain-lain takkan dapat menyetujui...”

Tiba-tiba In Thian Ceng bangun berdiri lalu tertawa terbahak. “Bagus! Bagus!” serunya. “Jika Thio Cinjin suka membantu, aku tanggung kita pasti berhasil.“

Tiba-tiba dia bungkam, sedangkan mulutnya masih ternganga. Paras mukanya berseri tetapi dia berdiri seperti patung. Semua orang merasa heran.

“In-heng, apa kau rasa Thio Cinjin mau turun gunung?” tanya Yo Siauw. Tapi si kakek tak menyahut dan badannya tidak bergerak.

Bu Kie kaget dan buru-buru memegang nadinya. Astaga! Nadi sang kakek sudah berhenti! Karena tadi telah menggunakan banyak tenaga, orang tua ini meninggal dunia seperti lampu kehabisan minyak. Bu Kie memeluk jenazah kakeknya dan menangis, kemudian disusul In Ya Ong yang menubruk mendiang ayahandanya. Semua orang yang berkumpul turut mengucurkan air mata.

Warta mengenai meninggalnya Peh-bie Eng-ong lantas disampaikan kepada segenap barisan Beng-kauw. Di antara para anggota pasukan Ngo-heng-kie terdapat banyak orang yang dulu menggabungkan diri pada Peh-bie-kauw dan mereka itulah yang paling bersedih.

Selama beberapa hari berikutnya Beng-kauw sibuk mengurus kematian In Thian Ceng. Selama beberapa hari itu tokoh rimba persilatan yang mendapat undangan mulai tiba di Siauw-lim-si. Di antara mereka banyak yang datang ke tenda Beng-kauw untuk menyatakan duka cita lantas bersembahyang. Di samping bersembahyang mereka mengirim delapan belas pendeta untuk membaca doa bagi rohnya In Thian Ceng, namun pendeta-pendeta itu diusir oleh In Ya ong.

Selama beberapa hari Bu Kie kalut pikirannya. Perundingan dengan Yo Siauw, Pheng Eng Giok, Tio Beng dan yang lainnya tidak menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Nona Tio menyarankan menaruh Sip-hiang Joan-kin-san di makanan Touw-ok bertiga dan mengusulkan untuk meminta bantuan Hian-beng Jie-lo guna membantu Bu Kie. Tetapi Bu Kie dan Yo Siauw menolak saran itu.

Tanpa terasa tibalah hari Toan-ngo atau Toan-yang (tanggal lima bulan lima Imlek. Yaitu perayaan Peh-cun). Hari itu Bu Kie mengajak tokoh Beng-kauw datang di kuil Siauw-lim-si. Ketika mereka tiba, semua ruangan di kuil besar itu sudah penuh dengan tamu.

Semua orang tahu bahwa Eng-hiong Tay-hwee diadakan untuk menghukum Cia Sun. Di antara orang gagah itu ada yang ingin membalas sakit hati terhadap Cia Sun, ada yang ingin melihat atau merebut To-liong-to dan ada pula yang hanya ingin menonton kematian. Untuk melayani tamu, Siauw-lim-si mengerahkan seratus lebih tie-kek-ceng (pendeta penyambut tamu). Dari Bu-tong-pay datang dua orang, yaitu Jie Lian Ciu dan In Lie Hong, Bu Kie menemui paman gurunya dan menanyakan kesehatan sang kakek guru.

“Apakah kau pernah mendengar halnya Ceng Su dan Tan Yu Liang?” tanya Jie Lian Ciu dengan suara perlahan.

Secara ringkas Bu Kie menceritakan segala pengalamannya. Dari sang paman dia tahu bahwa sebegitu jauh Bu-tong-san belum pernah dikacaukan Tan Yu Liang dan Song Ceng Su. Bahwa Song Wan Kiauw berdua dengan Thio Siong Kee tidak turut datang di Siauw-lim-si adalah untuk melindungi sang guru dari bokongan manusia-manusia rendah. Selanjutnya Jie Lian Ciu memberi-tahu bahwa perbuatan Song Ceng Su telah memberi pukulan sangat hebat terhadap Song Wan Kiauw yang tidak enak makan dan tak nyenyak tidur sehingga badannya kini berubah sangat kurus. Ia pun menerangkan bahwa peristiwa itu ditutup rapat dari kuping sang guru.

“Kita harap saja Song-suko bisa cepat tersadar supaya Toa-supek ayah dan anak dapat berkumpul kembali,” kata Bu Kie.

“Ya, kita semua berharap begitu,” kata sang paman.

Selama satu jam jumlah tamu yang datang terus bertambah, Ho-kian Siang-sat serta jago pedang dari Ceng-hay-pay yang malam itu menyerang tiga tetua Siauw-lim juga turut datang. Hoa-san-pay, Khong-tong-pay, Kun-lun-pay dan partai lainnya juga mengirim wakil. Hanya Go-bi-pay yang tidak muncul.

Bu Kie mengharap Cie Jiak datang sendiri supaya dia bisa memberi keterangan tentang sikapnya yang luar biasa pada hari itu. Tapi dalam mengharap-harap, hati kecilnya merasa tak enak untuk bertemu muka dengan nona Cie.

Rombongan Beng-kauw menempati ruangan yang ada di sebelah barat dan mereka tidak campur dengan orang banyak. Bu Kie sengaja mengambil tindakan penjagaan karena Beng-kauw mempunyai banyak musuh dan bila musuh bertemu dengan musuh akibatnya bisa mengacaukan Eng-hiong Tay-hwee.

Menjelang Ngo-sie (yaitu jam sebelas siang sampai lohor) para tie-kek-ceng mengundang para tamu supaya berkumpul di sebuah lapangan luas yang terletak di sebelah kanan kuil. Semula lapangan itu sebuah kebun sayur yang luasnya beberapa ratus bauw, tapi sekarang didirikan belasan gubuk raksasa yang diatur meja dan kursi yang baru selesai dibuat. Atas undangan tie-kek-ceng, para tamu lantas mengambil tempat duduk.

Setelah para tamu duduk sebaris demi sebaris menurut tingkatannya, para pendeta keluar dari kuil untuk memulai pertemuan resmi dengan orang gagah di kolong langit. Barisan terakhir Kong-tie Seng-ceng yang diikuti sembilan pendeta tua dari Tat-mo-tong. Mereka menuju ke tengah lapangan dan sesudah memberi hormat, Kong-tie berkata:

“Hari ini para enghiong datang berkunjung dan membikin terang muka Siauw-lim-si. Hanya menyesal sekali Hong-thio Suheng tiba-tiba sakit sehingga tidak bisa menemui para tamu yang terhormat. Dia meminta lolap untuk menghaturkan maaf kepada kalian semua.”

Bu Kie heran. “Hari itu ketika Kong-bun Taysu datang bersembahyang kepada Gwa-kong, mukanya tidak memperlihatkan seperti orang sedang sakit,” pikirnya. “Apa bisa orang yang mempunyai Iweekang seperti dia bisa mendadak mendapat sakit berat? Apakah dia terluka?”

Sesudah berdiam sejenak Kong-tie berkata pula, “Dosa Kim-mo Say-ong Cia Sun sudah terlampau banyak dan sekarang kami berhasil menangkapnya. Karena Siauw-lim-pay tak berani mengambil keputusan sendiri, maka kami mengundang orang-orang gagah di rimba persilatan untuk merundingkan cara menghukumnya.“ Ketika mengucapkan pidato pembukaan itu Kong-tie seperti tengah berduka, tengah memikirkan sakitnya Kong-bun Taysu.

Eng-hiong Tay-hwee yang terakhir diadakan di Keng-cie-kwan, kemudian selama kira-kira seratus tahun belum pernah diadakan lagi pertemuan orang-orang gagah yang sedemikian besar. Oleh karena itu kejadian ini merupakan salah satu kejadian terpenting di dunia persilatan. Tapi apa mau dikata, tuan rumah mendapat sakit dan mendengar pengumuman itu, kegembiraan para hadirin berkurang banyak.

Dengan matanya yang tajam Bu Kie menyapu barisan Siauw-lim-si. Ia tidak melihat Goan-tin dan Tan Yu Liang. “Sesudah aku membuka topeng Goan-tin di hadapan Touw-ok bertiga, apakah dia sudah dihukum?” tanyanya dalam hati. “Apakah tidak munculnya Kong-bun Taysu ada sangkut pautnya dengan hal ini?”

Sesudah bicara sambil merangkap kedua tangannya, Kong-tie mundur beberapa langkah. Tiba-tiba di sudut tenggara bangkit seseorang yang tubuhnya tinggi besar dan janggutnya yang berwarna putih melambai-lambai tertiup angin. Dia berparas angker dan tangannya memegang tiga butir ‘tiat-tan’ (peluru besi). Banyak orang yang segera mengenali bahwa dia bernama Hee Ciu, seorang guru silat di Sucoan timur. Begitu bangun berdiri dia segera berkata dengan suara nyaring,

“Cia Sun telah melakukan banyak sekali kejahatan. Bahwa ia telah ditangkap oleh Siauw-lim-pay merupakan berkah bagi seluruh rimba persilatan. Kong-bun dan Kong-tie Seng-ceng bersikap terlalu sungkan. Manusia yang begitu jahat boleh langsung dibunuh saja. Untuk apa berdamai lagi? Tetapi setelah kita semua terlanjur berkumpul di sini, pertemuan ini boleh dinamakan To-say Tay-hwee (pertemuan untuk membunuh singa). Untuk membalaskan sakit hati orang-orang yang binasa tanpa dosa, sebaiknya kita menghukum mati dia dengan siksaan.”

Hee Ciu bicara dengan bernapsu karena salah seorang saudaranya dibunuh Cia Sun dan selama beberapa puluh tahun ia telah berusaha membalaskan sakit hati. Usul itu segera disetujui beberapa puluh orang. Di antara suara ramai tiba-tiba terdengar suara yang menyeramkan.

“Cia Sun adalah Hu-kauw Hoat-ong dari Beng-kauw. Jika Siauw-lim-pay tidak takut terhadap Beng-kauw, tentu sejak lama mereka sudah turun tangan. Dengan mengumpulkan kita, apakah mereka ingin membagi tanggung jawab di atas pundak kita semua? Hei, Lo-suhu! Menurut pendapatku pikiranmu sudah gila.“ Semua segera mengarah ke suara itu, tapi orang yang bicara tidak kelihatan batang hidungnya. Ternyata dia adalah seorang kate kecil dan waktu bicara dia tidak bangun berdiri.

“Apakah itu Ciu-put-sie (Mabuk tak mati) Suma Heng-te?” teriak Hee Ciu. “Cia Sun sudah membunuh adikku. Seorang laki-laki harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Kuharap para pendeta Siauw-lim-si suka mengeluarkan dia dan lohu akan bacok mati dia. Carilah orang she Hee di Coan tong.“

Ciu-put-sie Suma Cian Ciong tertawa dingin. “Hee-toako, semua orang kangouw tahu bahwa To-liong-to yang termulia di rimba persilatan sudah jatuh di tangan Cia Sun,” katanya. “Jika Siauw-lim-pay berhasil membekuk Cia Sun, bukankah hal itu berarti bahwa Siauw-lim-pay juga sudah berhasil merebut To-liong-to? Membunuh Cia Sun urusan kecil, mendapat To-liong-to barulah urusan besar. Kong-tie Taysu, kuharap kau jangan berlagak bodoh. Keluarkanlah To-liong-to supaya kita semua bisa melihatnya. Selama ribuan tahun Siauw-lim-pay menjadi partai utama di rimba persilatan. Dengan golok mustika itu Siauw-lim-pay tidak menjadi makin agung. Tanpa golok mustika kedudukan Siauw-lim-pay tidak akan menjadi lebih rendah. Dengan atau tanpa To-liong-to, Siauw-lim-pay sudah menduduki kedudukan termulia di rimba persilatan.”

Suma Cian Ciong adalah salah satu orang aneh di rimba persilatan. Dia tidak memiliki guru dan tidak punya murid. Dia bebas bagaikan burung ho liar, tidak masuk partai mana pun juga dan sangat jarang bertempur sehingga orang tidak tahu sampai seberapa tinggi kepandaiannya. Kalau berbicara dia bicara seenaknya saja, tak ragu-ragu untuk mengejek atau menyindir. Perkataan Suma Cian Ciong langsung mendapat sambutan hangat. Beberapa orang turut bicara dan minta supaya pihak Siauw-lim-pay segera mengeluarkan To-liong-to untuk diperlihatkan kepada semua tamu.

“To-liong-to tidak ada di tangan kami,” kata Kong-tie dengan suara pelan. “Selama hidup lolap pun belum pernah melihat golok mustika itu.”

Pernyataan itu di luar dugaan hingga mengejutkan semua orang. Keadaan segera berubah ramai, banyak orang berebut menyatakan pendapat. Semula semua tamu menduga bahwa To-liong-to ada sangkut pautnya dengan pertemuan ini.

Di belakang Kong-tie berdiri sembilan pendeta tua yang mengenakan jubah pertapa warna merah. Sesudah suara ramai mereda, salah seorang sembilan pendeta itu maju ke depan lantas berkata dengan suara nyaring.

“Bahwa To-liong-to berada di tangan Cia Sun diketahui semua orang. Hanya sayang, waktu kami menangkap Cia Sun, To-liong-to tidak berada di tangannya. Karena hal ini adalah hal penting di rimba persilatan, maka Hong-thio kami telah berusaha untuk mencari tahu. Akan tetapi Cia Sun orang yang keras kepala, biar pun segera dibunuh dia tidak mau buka mulut. Maka itu pertemuan hari ini mempunyai dua tujuan. Yang pertama untuk merundingkan cara menghukum Cia Sun, yang kedua untuk menyelidiki di mana adanya To-liong-to. Jika di antara kalian ada yang mendapat petunjuk, kami harap bisa memberitahu terang-terangan.”

Semua orang saling mengawasi. Semua orang bungkam. Suma Cian Ciong kembali berbicara,

“Selama ratusan tahun, di samping To-liong-to masih ada Ie-thian-kiam,” katanya. “Menurut cerita orang pedang itu berada di tangan Go-bi-pay. Tapi setelah pertempuran di Kong-beng teng, Ie-thian-kiam juga hilang tak berbekas. Apakah karena pertemuan hari ini dinamakan Eng-hiong Tay-hwee (pertemuan orang-orang gagah, pria), maka jago-jago betina dari Go-bi-pay lantas tidak mau datang?”

Perkataan itu disambut gelak tawa. Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang tie-kek-ceng,

“Kay-pang Su-pangcu dengan para Tianglo dan para murid Kay-pang datang berkunjung!”

Bu Kie heran. “Su Hwee Liong Pangcu sudah binasa di tangan Goan-tin,” katanya dalam hati, “Dari mana muncul Su-pangcu lagi?”

“Undang mereka masuk!” teriak Kong-tie.

Kay-pang adalah pang-hwee (perkumpulan) yang terbesar di dunia kangouw. Sebagai penghargaan terhadap tamu yang baru datang Kong-tie sendiri keluar menyambut.

Rombongan Kay-pang terdiri dari seratus lima puluh orang lebih yang semuanya memakai pakaian rombeng. Meski dalam tahun-tahun terakhir keadaan Kay-pang tidak seperti dulu, tapi hari ini dia masih merupakan organisasi yang sangat besar pengaruhnya. Mendengar kedatangannya banyak orang gagah segera bangun berdiri sebagai tanda penghormatan.

Rombongan itu didahului dua pengemis tua. Bu Kie mengenali bahwa mereka adalah Coan-kang dan Cie-hoat Tianglo. Di belakang mereka berjalan seorang anak perempuan yang berusia kira-kira dua belas atau tiga belas tahun. Anak itu berparas jelek, hidungnya dongak dan mulutnya terlihat dua gigi yang sangat besar. Dia bukan lain Su Hong Sek, puteri Su Hwe Liong.

Ia berjalan sambil memegang sebatang tongkat bambu yang berwarna hijau, yaitu tongkat Tah-kauw-pang (tongkat untuk memukul anjing tanda kekuasaan dari seorang Pangcu). Di belakang Su Hong Sek mengikuti Ciang-pang Liong-tauw, Ciang-pun Liong-tauw, murid delapan karung, tujuh karung serta enam karung. Untuk menghadiri Eng-hiong Tay-hwee ternyata murid Kay-pang yang paling rendah tingkatannya adalah murid enam karung.

Melihat yang membawa Tah-kauw-pang adalah seorang anak-anak, Kong-tie menjadi ragu. Apakah anak itu yang menjadi Pangcu? Karena rasa ragunya dia pun berkata,

“Siauw-lim-si menyambut orang gagah dari Kay-pang.”

“Karena Su Hwee Liong Pangcu sudah berpulang ke alam baka, maka atas persetujuan para Tianglo, kami mengangkat puteri Su-pangcu, Su Hong Sek Kouwnio sebagai Pangcu baru,” kata Coan-kang Tianglo seraya menunjuk Su Hong Sek.

Kong-tie terkejut sekali. Kauwcu dari Beng-kauw sudah sangat muda, tetapi Pangcu Kay-pang lebih muda lagi bahkan anak-anak. Tapi sesuai dengan tata kehormatan ia segera menangkup kedua tangannya dan berkata,

“Kong-tie murid Siauw-lim menghadap Su-pangcu.”

Nona Su balas menghormat.

“Karena Pangcu kami masih sangat muda maka segala urusan perkumpulan diurus olehku dan Cie-hoat Tianglo berdua,” kata Coan-kang. “Kong-tie Seng-ceng adalah Cianpwe berkedudukan tinggi, maka kami tidak berani menerima kehormatan yang begitu besar.”

Setelah kedua pemimpin itu saling merendahkan diri, para pengemis lalu diantar ke gubuk dan mengambil tempat duduk mereka.

Bu Kie melihat bahwa semua pengemis mengenakan pakaian berkabung dan pada paras mereka terlihat paras berduka dan marah. Dia melihat sejumlah karung yang mereka bawa bergerak-gerak sebagai tanda bahwa di dalamnya berisi sesuatu. Bu Kie segera menebak bahwa kedatangan mereka mempunyai maksud tertentu. Ia girang dan berbisik kepada Yo Siauw,

“Kita mendapat bantuan!”

Dengan diantar Coan-kang dan Cie-hoat Tianglo, Ciang-pang dan Ciang-pun Liong tauw, Su Hong Sek pergi ke tempat rombongan Beng-kauw. Sambil menyoja Coan-kang berkata,

“Thio-kauwcu, tertangkapnya Kim-mo Say-ong ada sangkut pautnya dengan rapat perkumpulan kami. Maka itu, biar pun hari ini harus melepaskan jiwa, kami bertekad untuk pertama, melindungi Cia Hoat-ong supaya kami bisa membalas budi Thio-kauwcu sekalian menebus dosa. Dan kedua, supaya dapat membalas sakit hatinya mendiang Su-pangcu. Seluruh barisan Kay-pang akan mendengar semua perintahmu.”

Cepat-cepat Bu Kie balas menghormat kemudian berkata, “Aku tidak berani memerintah kalian!”

Coan-kang Tianglo mengucapkan kata-kata itu dengan suara nyaring. Ia memang sengaja berbicara keras supaya didengar semua orang.

Pernyataan itu sungguh mengejutkan. Hampir semua orang tahu belaka bahwa Kay-pang bermusuhan dengan Beng-kauw dan sudah ikut menyerang Kong-beng-teng. Pernyataan Coan-kang Tianglo bahwa Kay-pang akan mengikuti perintah Bu Kie dan membalas sakit hati mendiang Su-pangcu tidak bisa dimengerti semua orang.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia