Kamis, 15 Oktober 2026

To Liong To 20

CINTA TERLARANG DI TEMPAT TERLARANG

Beberapa saat kemudian, Pheng Eng Giok-lah yang membuka mulut. “Saudara kecil, kau seorang yang sangat mulia dan kami semua merasa sangat kagum. Sekarang begini saja, tolong kau totok Giok-tiong-hiat pada dada Goan-tin. Totokan ini tak akan membahayakan dirinya. Dia hanya tidak bisa mengerahkan Iweekang untuk beberapa jam. Nanti aku akan memerintahkan orang supaya mengantarnya turun dari Kong-beng-teng dan kami berjanji takkan mengganggu selembar rambutnya.”

Sebagai seorang ahli ilmu pengobatan, Bu Kie mengerti bahwa totokan pada Giok-tiong-hiat hanya mencegah naiknya hawa murni dari bagian tan-tian dan takkan mencelakai jiwa orang yang ditotok.

“Siauw-sicu, jangan sampai kena diakali mereka,” kata Goan-tin. “Totokan pada Giok-tiong-hiat memang takkan membahayakan jiwaku, tetapi begitu tenaga mereka pulih, pasti akan membinasakan aku. Bagaimana kau bisa mencegah mereka?”

“Tutup mulutmu!” teriak Ciu Tian. “Kami telah berjanji untuk tidak mencelakai kau. Apakah perkataan Ngo-sianjin dari Beng-kauw tidak dapat dipercaya?”

Bu Kie menganggap bahwa Yo Siauw dan Ngo-sianjin adalah orang-orang berkedudukan tinggi yang kejujurannya tak perlu diragukan lagi. Hanya Wie It Siauw seorang yang masih diragukannya. Maka itu ia lantas bertanya,

“Wie-cianpwe bagaimana dengan kau?”

“Kali ini aku pun tidak akan menyerang dia,” jawabnya dengan suara gemetar. “Tapi kalau bertemu di lain kali, kami pasti akan mengadu jiwa.”

“Baiklah,” kata Bu Kie. “Kong-beng Sucia, Ceng-ek Hok-ong dan Ngo-sianjin adalah orang-orang gagah jaman ini dan mereka tentu tak akan menjilat kembali ludah yang sudah dibuang. Goan-tin Taysu, maafkan Boanpwe terpaksa berbuat begini terhadapmu.”

Sesudah belasan langkah barulah dia berhadapan dengan pendeta Siauw-lim itu. Giok-ting-hiat terletak di dada manusia, yaitu satu cun enam hun di bawah Cie-kiong-hiat atau satu cun enam hun di atas Tian-tiang-hiat. Pada hakekatnya ‘hiat’ itu bukan ‘hiat’ yang bisa membinasakan jiwa manusia tapi karena kedudukannya berada di jalan darah yang harus dilewati hawa dalam tubuh, maka aliran hawa murni dalam tubuh segera terhenti kalau ‘hiat’ tersebut tertotok. Dengan mendengar suara napas, Bu Kie tahu bahwa ia sudah berada dalam jarak kurang lebih dua kaki dari pendeta itu.

“Goan-tin Taysu,” katanya, “Untuk kebaikan kedua belah pihak, Boanpwe terpaksa bertindak begini. Mohon Taysu tidak marah.“ Seraya berkata demikian, perlahan dia mengangkat tangannya.

Goan-tin tertawa getir, “Badanku tidak bisa bergerak, lakukanlah,” katanya.

Semenjak binasanya Tiap-kok Ie-sian Ouw-Ceng Gu, kepandaian Bu Kie mengenai jalan darah dapat dikatakan tak ada duanya di dunia. Walau pun ia berada dalam karung dan tidak dapat melihat sasarannya, jari tangannya menuju tepat kepada Giok-tiong-hiat.

“Celaka!” mendadak terdengar suara Yo Siauw, Leng Kiam dan Swee Put Tek.

Hampir bersamaan pemuda itu merasa ada semacam hawa yang amat dingin menerobos masuk ke dalam tubuhnya melalui telunjuk yang digunakan untuk menotok Giok-tiong-hiat. Sambil menggigil dia mendengar cacian Ciu Tian dan Tiat-koan Tojin kepada Goan-tin. Bu Kie mengerti bahwa biar pun tubuhnya tidak bisa bergerak tapi Goan-tin masih memiliki sedikit tenaga yang dipusatkan pada jari tangannya. Ketika dia menotok, pendeta itu menaruh jari tangannya pada Giok-tiong-hiat dan karena tidak dapat melihat, dia tetap saja menotok terus. Sebagai akibatnya, begitu kedua jari tangan terbentur maka tenaga It-im-cie menerjang masuk ke dalam badannya.

Bu Kie terluka, namun Goan-tin juga mendapat pukulan keras. Barusan dia memusatkan segenap sisa tenaganya pada jari tangannya. Dengan dipakainya tenaga itu maka sekujur tubuhnya segera bergetar keras, mukanya pucat pasi dan badannya kaku seperti mayat. Ciu Tian yang paling berangasan mencaci maki, namun Yo Siauw dan yang lainnya menganggap bahwa perbuatan Goan-tin itu sudah sepantasnya. Dia berhak penuh untuk membela diri.

Di lain pihak biar pun terpukul keras, diam-diam Goan-tin merasa girang. Dia menganggap bahwa sebagai orang yang masih muda tentu Iweekang Bu Kie tidak seberapa tinggi dan sesudah kena It-im-cie, pemuda itu pasti akan binasa dalam waktu cepat. Dia tahu bahwa dalam waktu satu jam, hawanya yang buyar akan berkumpul kembali kemudian dia dapat membinasakan musuh-musuhnya.

Dengan sembilan orang terluka semua, ruangan itu kembali sunyi. Berselang kira-kira setengah jam, api empat batang lilin padam hampir bersamaan. Dalam gelap gulita Yo Siauw mendengar jalan pernapasan Goan-tin yang tersengal-sengal sudah berubah tenang. Ia mengerti bahwa hawa murni di tubuh pendeta itu sudah berkumpul kembali. Berulang kali dia sendiri mengerahkan Iweekang. Tetapi dalam setiap usaha, hawa dingin dari It-im-cie selalu menerjang ke tan-tian-nya dan tanpa dapat dicegah dia menggigil. Dia menghela napas dan harapannya sirna.

Rasa putus asa itu juga dirasakan oleh kawannya yang lain. Sesudah menganggap bahwa mereka tak akan bisa lolos dari kebinasaan, sekarang mereka mengharap supaya tenaga Goan-tin lekas pulih. Mereka merasa lebih cepat mati lebih baik agar tidak tersiksa lebih lama. Di antara mereka hanya Swee Put Tek dan Pheng Hwesio yang masih merasa penasaran. Mereka adalah pendeta, tapi di dalam hati merekalah yang mempunyai cita-cita paling besar, yaitu melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia.

“Pheng Hwesio,” Swee Put Tek berkata. “Beberapa tahun kita capai dan lelah dalam usaha mengusir orang mongol dari negara kita. Tetapi tak dinyana semua usaha berakhir dengan kegagalan. Hai! Mungkin sekali beribu dan berlaksa rakyat memang harus menderita lebih lama.”

Pada waktu itu Bu Kie sedang mengerahkan hawa panas di tubuhnya untuk melawan hawa dingin dari It-im-cie, namun perkataan Swee Put Tek tidak ada yang lolos dari pendengarannya.

“Dia mau mengusir bangsa Mongol?” tanyanya di dalam hati dengan rasa heran. “Apakah Mo-kauw yang namanya begitu busuk bertujuan menolong rakyat?”

“Swee Put Tek,” demikian terdengar suara Pheng Hwesio, “Dari awal aku sudah mengatakan bahwa dengan sendirian saja Beng-kauw tak akan sanggup mengusir bangsa Mongol. Jika mau berhasil kita harus bisa bersatu dengan orang-orang gagah di kolong langit dan bergerak serempak. Suheng-mu dan Sute-ku, Ciu Cu Ong, mencoba memberontak, tapi akhirnya mereka terbasmi...”

Bu Kie terkejut. “Ciu Cu Ong?” tanyanya di dalam hati. “Apakah Ciu Cu Ong bukan ayah nona Ciu Cie Jiak?”

Dalam kagetnya, perkataan Pheng Hwesio yang selanjutnya tidak didengar lagi. “Jangan ribut!” tiba-tiba terdengar bentakan Ciu Tian. “Kebinasaan sudah di depan mata, perlu apa kalian rewel? Semuanya omong kosong! Siapa yang salah? Kita sendiri. Beng-kauw sendiri yang terpecah belah. Pheng Hwesio, kau sungguh-sungguh gila! Kau mengatakan ingin bersatu dengan orang-orang gagah di kolong langit, artinya dengan partai yang dinamakan lurus bersih. Huh...! Sekarang mereka itu justru hendak membasmi kita. Kau mau bersatu dengan mereka?”

“Kalau Yo-kauwcu masih hidup, dengan mudah kita dapat menaklukkan enam partai yang menyerang,” Tiat-koan menyela.

Ciu Tian tertawa terbahak. “Hidung kerbau! Kau malah lebih gila lagi,” bentaknya. “Kalau Yo-kauwcu masih hidup, segalanya tentu berjalan licin. Perlu apa disebut lagi? Aduhh...!” Dia tidak dapat meneruskan perkataannya karena hawa It-im-cie menerjang isi perutnya.

“Diam!” teriak Leng Kiam mendongkol. Bentakan itu sangat berpengaruh sehingga semua orang segera menutup mulut.

Sementara itu Bu Kie menjadi bingung dan merasa sangsi. Dalam hatinya timbul banyak pertanyaan. Kalau didengar, Beng-kauw bukan semata terdiri dari segundukan manusia yang biasa melakukan perbuatan tidak baik. Maka itu dia lantas bertanya,

“Swee Put Tek Taysu, apakah aku boleh tahu tujuan yang sebenarnya dari agama kalian?”

“Ahh! Kau belum tahu?” jawabnya. “Kalau kau mesti kehilangan jiwa gara-gara agama kami, sebenarnya kami merasa tidak enak hati. Sekarang kau hanya bisa hidup beberapa jam lagi. Sebelum mati biarlah kau dengarkan rahasia agama kami. Leng Kiam Sian-seng, apa boleh aku menceritakan?”

“Ceritakanlah!” jawabnya.

“Saudara kecil,” dia memulai, “Beng-kauw dilahirkan di negeri Tay Sit Kok dan pada jaman kerajaan Tong barulah masuk ke Tiong-goan. Pada masa itu kaisar Tong telah mendirikan kuil untuk agama kami. Beng-kauw menyama-ratakan semua pengikutnya. Jika berharta mereka diharuskan menolong rakyat miskin. Kami pun tidak dibolehkan makan makanan berjiwa atau minum arak. Karena selama beberapa turunan agama kami selalu digencet pembesar-pembesar rakus, maka saudara-saudara kami kerap kali memberontak. Misalnya saja sedari jaman Phui Lap, yaitu kauwcu pada masa Pak Song (Song utara), entah telah berapa kali Beng-kauw memberontak.”

Mendengar sampai di situ Bu Kie teringat kalau Phui merupakan salah seorang dari empat pemberontak besar pada jaman Pak Song dan namanya berendeng dengan orang-orang seperti Song Kang dan Tian Kouw.

“Kalau begitu Phui Lap adalah kauwcu agamamu?” tanyanya.

“Benar,” jawabnya. “Di tahun Kian-yam jaman Lam Song (Song selatan), Ong Cong Sek Kauwcu memberontak di Sin-ciu, sedang di tahun Siauw-hin, Ie Ngo Po Kauwcu memberontak di Kiu-ciu. Setelah itu di tahun Siauw-teng pada jaman kaisar Lee Cong, Thio Sam Ciang Kauwcu memberontak di daerah Kang-say dan Kwi-tang. Karena Beng-kauw sering sekali bermusuhan dengan pembesar negeri dan melakukan pemberontakan-pemberontakan, maka kalangan pembesar negeri menamakan agama kami Mo-kauw dan melarangnya.

Untuk mempertahankan kehidupan, maka kami terpaksa bekerja dengan cara sembunyi-sembunyi. Kami pun bermusuhan dengan partai lurus bersih dan permusuhan kian lama kian menghebat sehingga mereka dengan kami seakan api dengan air. Tentu saja di antara anggota Beng-kauw ada juga manusia yang bermartabat rendah. Mereka itu sering dipergunakan oleh partai lurus bersih sebagai bukti bahwa agama kami adalah agama sesat. Dengan demikian nama Beng-kauw makin merosot.”

“Swee Put Tek, apakah kau maksudkan aku?” potong Yo Siauw.

“Namaku Swee Put Tek, maka sesuatu yang tak boleh dikatakan tentu takkan kukatakan,” jawabnya. “Siapa kepotong dia merasa perih. Siapa berdosa dia tahu dalam hatinya.”

Yo Siauw mengeluarkan suara di hidung dan tidak bicara lagi. Tiba-tiba Bu Kie kaget sebab badannya sudah tidak dingin. Tadi sewaktu baru kena It-im-cie rasa dingin meresap ke tulang, tapi sekarang serangan itu sudah menghilang.

Seperti diketahui, ketika masih kecil sekali Bu Kie terkena racun dingin dari pukulan Hian-beng Sin-ciang dan ketika mencapai usia tujuh belas tahun, barulah semua racun itu terusir dari badannya. Selama kurang lebih tujuh tahun, siang malam tubuhnya bertempur melawan hawa dingin hingga perlawanan tubuhnya terhadap setiap serangan hawa dingin sudah terjadi secara wajar. Di samping itu dia pun sudah makan kodok merah dan sudah melatih diri dengan ilmu Kiu-yang Sin-kang. Karena adanya beberapa sebab itu maka hawa ‘yang’ (hawa panas) di dalam tubuh Bu Kie menjadi dahsyat bukan main sehingga racun It-im-cie terusir keluar tanpa dia mesti mengeluarkan banyak tenaga. Sementara itu Swee Put Tek melanjutkan penuturannya.

“Semenjak kerajaan Song direbut bangsa Mongol, permusuhan Beng-kauw dengan kerajaan makin menghebat. Selama beberapa keturunan, pemimpin agama kami telah menugaskan diri sendiri untuk mengusir kaum penjajah dengan mempersatukan segenap orang gagah di seluruh negeri. Sungguh sayang, tahun-tahun terakhir Beng-kauw tidak mempunyai pemimpin dan karena memperebutkan kedudukan sebagai Kauwcu, tokoh-tokoh Beng-kauw malah saling bunuh. Antara pentolan kami ada yang mengasingkan diri dan ada pula yang mendirikan agama lain kemudian mengangkat diri sebagai Kauwcu. Sesudah Beng-kauw berantakan, permusuhan dengan partai lurus bersih makin besar dan sebagai akibatnya kau bisa lihat sendiri. Sekarang kami menghadapi bencana. Goan-tin Hwesio, apa pendapatmu? Apakah aku berdusta?”

Goan-tin mengeluarkan suara di hidung. “Tidak kau tidak berdusta,” jawabnya. “Sesudah berada begini dekat dengan kebinasaan, perlu apa kau berdusta?” seraya berkata begitu, perlahan dia berdiri lalu melangkah satu tindak.

“Ahh...!” seru Yo Siauw dan yang lainnya. Meski pun sudah menduga bahwa tenaga Goan-tin akan pulih lebih dulu, mereka sama sekali tidak menaksir bahwa pendeta itu memiliki Iweekang yang begitu tinggi dan tenaganya dapat pulih begitu cepat.

Di lain saat, dengan tubuh kokoh Goan-tin telah melangkah satu tindak lagi. Yo Siauw tertawa dingin.

“Murid Kong-kian Taysu benar-benar hebat,” katanya. “Ehh! Aku telah mengajukan satu pertanyaan yang belum kau jawab. Apakah jawabannya memalukan kau sehingga kau tak berani buka mulut?”

Goan-tin tertawa terbahak-bahak sambil maju setindak lagi. “Aku tahu... aku tahu bahwa sebelum aku menjawab kau takkan bisa mati dengan mata meram,” katanya. “Kau tanya, mengapa aku tahu jalan-jalan rahasia dari Kong-beng-teng? Mengapa aku bisa sampai di sini tanpa diketahui siapa pun? Baiklah, aku akan menjawab se-jujurnya. Jawabanku ialah pemimpin agamamu sendiri, Yo Po Thian Kauwcu berdua isterinya yang pernah membawaku kemari.”

Yo Siauw terkesiap. Sebagai orang yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi, pendeta itu pasti tidak berdusta. Tapi mana bisa ada kejadian seperti itu?

“Keledai gundul! Jangan dusta kau!” caci Ciu Tian. “Jalan rahasia Kong-beng-teng adalah sebuah rahasia besar. Tempat itu adalah tempat suci dari agama kami. Biar pun Yo-cosu adalah seorang Kong-beng Sucia, walau pun Wie-toako berkedudukan sebagai Hu-kauw Hoat-ong, mereka belum pernah mempergunakan jalan itu. Hanya kauwcu seorang yang boleh menggunakannya. Mana bisa Yo-kauwcu mengajak kau orang luar berjalan di jalan itu?”

Goan-tin menghela napas dan untuk beberapa saat kedua matanya mengawasi ke tempat jauh,

“Kalau kau mendesak juga, aku harus menceritakan peristiwa yang terjadi dua puluh lima tahun lalu,” katanya dengan suara penuh duka. “Baiklah. Biar bagaimana pun juga kalian takkan bisa turun dari gunung ini dengan masih bernyawa. Kalian takkan bisa membocorkan rahasia. Hai! Ciu Tian, tak salah apa yang kau katakan. Jalan rahasia itu adalah tempat suci dari agamamu. Memang hanya kauwcu yang boleh masuk ke situ. Siapa yang melanggar berdosa besar. Tetapi isterinya Yo Po Thian sudah masuk ke situ. Yo Po Thian telah melanggar peraturan agama. Diam-diam dia membawa Yo-hujin masuk ke situ.”

“Dusta! Dusta besar!“ teriak Ciu Tian.

“Ciu Tian, diam kau!” bentak Pheng Hwesio.

Goan-tin melanjutkan kata-katanya. “Bukan saja begitu, Yo-hujin juga sudah membawaku masuk ke situ...”

“Bangsat! Bangsat besar! Dusta!” caci Ciu Tian.

“Aku bukan anggota Beng-kauw. Walau pun masuk jalan itu, aku tetap tidak melanggar peraturan agama,“ kata Goan-tin dengan sedih.

“Mengapa Yo-hujin mengajak kau masuk jalan itu?” tanya Tiat-koan Tojin.

“Hmm...! Itu kejadian yang sudah lama sekali terjadi,“ jawabnya. “Sekarang lolap sudah berusia tujuh puluh tahun lebih. Waktu masih muda... Baiklah, lolap akan menceritakan rahasianya. Apa kalian tahu siapa adanya lolap? Yo Po Thian adalah Suheng-ku, Yo-hujin adalah Sumoay-ku. Sebelum menjadi pendeta, lolap she Seng bernama Kun dan bergelar Hun-goan Pek-lek-chiu.”

Mendengar keterangan itu, bukan main kagetnya Yo Siauw dan yang lain-lain, sedangkan Bu Kie hampir berteriak. Pemuda itu lantas ingat penuturan ayah angkatnya pada suatu malam di pulau Peng-hwee-to. Pada waktu itu Cia Sun menceritakan bagaimana gurunya sudah membunuh semua anggota keluarganya, bagaimana untuk memaksa guru itu keluar, ia membunuh banyak orang gagah di rimba persilatan, kemudian bagaimana setelah ia melukai pendeta suci Kong-kian. Seng Kun tidak menepati janji untuk muncul.

Tiba-tiba Bu Kie sadar dan berkata di dalam hatinya. “Tidak bisa salah lagi, waktu itu bangsat tua Seng Kun telah mengangkat Kong-kian Seng-ceng (pendeta suci) sebagai gurunya. Untuk menghilangkan permusuhan itu, pendeta suci itu rela menerima tiga belas pukulan Cit-siang-kun dari Gie-hu. Siapa nyana Seng Kun malah mendustai gurunya sendiri sehingga Kong-kian Taysu meninggal dunia dengan penasaran.” Mengingat sampai di situ, Bu Kie lantas ingat perkataannya sendiri yang diucapkan pada malam itu. “Gie-hu, orang yang membinasakan seluruh keluargamu bernama Hun-goan Pek-lek-chiu, bukan? Baiklah, Bu Kie akan mengingat baik-baik nama itu. Di kemudian hari anak tentu akan mewakili ayah membalas sakit hati.”

Dengan marah dia kemudian berkata di dalam hati. “Kalapnya Gie-hu sehingga dia sering membunuh orang yang tak berdosa, kedatangan dan desakan berbagai partai di Bu-tong-san hingga kedua orang tuaku terpaksa membunuh diri, semua adalah gara-gara bangsat tua Seng Kun.” Makin diingat, darah pemuda itu makin meluap. Tiba-tiba dia merasa sekujur tubuhnya panas seperti dibakar.

Karung Kian-kun It-khie-tay milik Swee Put Tek tertutup rapat sehingga hawa udara tidak dapat keluar masuk. Menurut pantas, sesudah berdiam di dalam karung sedemikian lama, sesungguhnya Bu Kie sudah mesti mati. Tetapi karena dia memiliki lweekang yang amat tinggi dan hawa yang dikeluarkan dari pernapasan sangat sedikit, maka dia masih mampu mempertahankan diri. Akan tetapi dalam marahnya sekarang, Ciu-yang Cin-khie (hawa tulen Kiu-yang) tidak bisa dikuasainya lagi sehingga mengamuk dengan hebat. Beberapa saat kemudian dia merasa badannya seperti masuk dalam perapian sehingga dia mengeluarkan teriakan keras.

“Saudara kecil!” bentak Ciu Tian, “Kita semua tengah menghadapi kebinasaan dan sama-sama menanggung penderitaan hebat. Namun seorang yang gagah tidak boleh memperlihatkan kelemahannya dan berteriak seperti kau.”

“Benar!” kata Bu Kie yang segera menentramkan jalan pernapasannya dengan ilmu yang terdapat dalam Kiu-yang Cin-keng.

Biasanya ilmu itu bermanfaat sekali. Tapi kini usahanya gagal. Tulangnya sakit dan jalan darah di seluruh tubuhnya seperti ditusuk dengan ribuan jarum yang panas. Mengapa bisa begitu? Meski pun telah melatih diri selama beberapa tahun dan sungguh pun Kiu-yang Cin-keng merupakan salah satu kitab silat terlihay di kolong langit, namun dalam mempelajari kitab tersebut Bu Kie tidak mendapat bimbingan guru pandai. Ia belajar hanya dengan meraba-raba. Maka itu Kiu-yang Cin-khie yang makin lama makin bertambah di badannya tidak dapat disalurkan olehnya, karena dia berada di dalam karung.

Di samping itu totokan It-im-cie merupakan salah satu ilmu yang paling beracun di rimba persilatan. Bagi Bu Kie totokan itu seakan obat peledak yang sumbunya disulut. Celakanya, karena berada dalam karung, hawa cin-khie yang keluar dari pernapasannya tak bisa buyar dan balik menghantam dirinya sendiri. Dengan demikian kini Bu Kie tengah menghadapi saat yang sangat genting, jiwanya tergantung pada selembar rambut. Hal ini tentu tak diketahui oleh Ciu Tian dan yang lain-lain. Sementara itu, biar pun sedang melawan hawa panas mati-matian, Bu Kie tetap dapat menangkap setiap perkataan Goan-tin yang melanjutkan penuturannya.

“Keluarga sumoay-ku mempunyai hubungan rapat dengan keluargaku,” kata pendeta itu. “Sejak kecil kami sudah ditunangkan. Siapa tahu Yo Po Thian juga mencintai sumoay-ku. Belakangan dia menjadi kauwcu Beng-kauw dan pengaruhnya besar sekali. Ayah dan ibunya sumoay adalah manusia yang kemaruk akan pengaruh, ada pun sumoay sendiri tidak punya pendirian yang teguh. Akhirnya sumoay menikah dengan Yo Po Thian. Akan tetapi setelah menikah dia merasa tidak beruntung dan kadang kala membuat pertemuan denganku. Supaya pertemuan tidak terganggu, dia ingin sekali mencari tempat yang aman dan nyaman.

Yo Po Thian sangat mencintai sumoay-ku dan dia tak pernah membantah kehendak sang isteri. Waktu sumoay menyatakan keinginannya melihat jalan rahasia Kong-beng-teng, biar pun merasa sangat berat tetapi dia meluluskan juga. Demikianlah, jalan rahasia yang selama ratusan tahun dipandang sebagai tempat suci Beng-kauw itu menjadi tempat pertemuanku dengan nyonya Kauwcu. Ha-ha-ha! Puluhan kali aku mondar mandir di jalan itu. Mengapa heran jika hari ini aku bisa mendaki Kong-beng-teng tanpa kesukaran?”

Yo Siauw dan kawan-kawannya merasa dadanya seperti mau meledak, tetapi mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ciu Tian yang biasa mencaci maki juga tidak sanggup mengeluarkan caciannya. Kejadian itu merupakan hinaan besar bagi Beng-kauw dan bencana yang dihadapi Beng-kauw juga karena gara-gara terbukanya rahasia jalan itu. Mata Yo Siauw dan yang lain-lainnya laksana hendak menyemburkan api, tapi mereka pun tahu bahwa Goan-tin tidak berbicara dusta.

“Kalian marah?” tanya Goan-tin. “Pernikahanku sudah digagalkan Yo Po Thian. Jelas dia adalah isteriku. Sesudah menjadi pemimpin Mo-kauw, Yo Po Thian merampas isteriku tercinta. Permusuhanku dengan Mo-kauw adalah permusuhan yang tidak bisa berdiri bersama di kolong langit. Pada hari pernikahan Yo Po Thian dengan sumoay-ku, aku datang memberi selamat dan turut minum arak kegirangan. Tapi di dalam hati diam-diam aku bersumpah bahwa selama Seng Kun masih bernapas maka pasti akan membunuh Yo Po Thian. Pasti akan membasmi Mo-kauw. Sudah lima puluh tahun aku bersumpah. Baru kini aku berhasil. Ha-ha-haaa...! Aku puas! Seng Kun akan mati dengan mata meram.”

“Terima kasih atas keteranganmu,” kata Yo Siauw dengan suara dingin. “Kini baru kutahu sebab musabab dari kematian Yo-kauwcu. Kalau begitu dia mati di tanganmu.”

“Kepandaian Yo-suheng lebih tinggi dariku,” kata Goan-tin. “Kami adalah saudara seperguruan... masing-masing tahu kepandaiannya...”

“Lantaran begitu kau sudah membokong,” memutus Ciu Tian. “Kalau bukan menggunakan racun, kau tentu sudah menyerang secara gelap seperti perbuatanmu hari ini.”

Goan-tin menghela napas sambil menggelengkan kepala. “Tidak!” katanya. “Karena kuatir aku mencelakai dia secara menggelap, telah berulang kali sumoay-ku memperingatiku. Ia mengatakan bahwa jika aku membinasakan Yo Po Thian maka ia takkan mengampuniku. Ia mengatakan bahwa dengan mengadakan pertemuan gelap saja, ia telah berdosa besar terhadap suaminya. Apa bila Yo Po Thian dibinasakan, maka perbuatan itu dianggapnya sebagai perbuatan terkutuk yang pasti akan dihukum oleh langit. Hai...! Yo-suheng... dia... mati sendiri.”

Yo Siauw dan lain-lainnya terkesiap. Kata Goan-tin pula,

“Kalau benar Yo Po Thian binasa di tanganku, tentu aku sudah mengampuni Beng-kauw...“ Suaranya berubah perlahan. Seperti juga ia teringat peristiwa yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Sesudah berhenti sejenak, dia berkata lagi dengan suara pelan.

“Malam itu aku bertemu lagi dengan sumoay-ku di jalan rahasia. Se-konyong-konyong kami mendengar suara napas yang datang dari jurusan kiri. Kejadian yang belum pernah terjadi. Orang luar takkan bisa masuk ke jalan itu, sedangkan anggota Beng-kauw takkan berani masuk. Kami terkejut lalu menyelidiki. Ternyata suara napas itu suara Yo-suheng yang sedang duduk di sebuah kamar. Dia memegang selembar kulit kambing dan selebar mukanya berwarna merah. Dia telah mengetahui rahasia kami. ‘Bagus sungguh perbuatan kalian berdua!’ katanya. Sesudah berkata begitu paras mukanya berubah biru. Sesaat kemudian warna biru berubah merah lagi. Perubahan ini silih berganti sampai tiga kali. Yo-cosu, apa kau tahu sebabnya?”

“Kejadian itu karena Yo-kauwcu sedang melatih diri dalam ilmu Kian-kun Tay-lo-ie,” jawabnya.

“Yo Siauw, bukankah kau sudah mahir ilmu itu?” tanya Cu Tian.

“Kau tidak dapat menggunakan kata ‘mahir’,” jawabya. “Karena menghargai aku, sewaktu masih hidup Yo-kauwcu mengajarkan aku pokok dari Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Setelah berlatih selama belasan tahun aku hanya mencapai tingkat ke dua. Dalam latihan selanjutnya hawa tulen di badanku mengamuk dan coba menerjang keluar dengan memecahkan batok kepalaku. Biar bagaimana pun juga aku tidak dapat menguasai hawa itu. Perubahan tiga kali pada paras muka Yo-kauwcu merupakan tanda bahwa dia sudah mencapai tingkat ke lima dari ilmu tersebut. Dia pernah memberi-tahu aku bahwa di antara kauwcu agama kita, Ciong-kauwcu dari keturunan ke delapan yang memiliki kepandaian paling tinggi dan sudah mencapai tingkat ke enam dari Kian-kun Tay-lo-ie. Pada suatu hari ketika sedang melatih diri, ilmu itu telah membakar Ciong-kauwcu sehingga binasa. Mulai saat itu belum ada orang yang bisa mencapai tingkat ke lima.”

“Begitu sukarkah?” kata Ciu Tian.

“Kalau tidak sukar, ilmu itu tentu tidak dianggap sebagai ilmu pelindung agama kita,” kata Tiat-koan Tojin.

Jago-jago Beng-kauw itu sudah lama mendengar mengenai Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Maka begitu nama itu disebutkan, meski pun sedang menghadapi bahaya tapi mereka tidak tahan untuk membicarakannya.

“Yo-cosu,” kata Pheng Eng Giok, “Mengapa bisa terjadi perubahan pada paras muka Yo-kauwcu?”

Pheng Hwesio adalah seorang yang sangat pintar. Dengan mengajukan pertanyaan itu dia mempunyai maksud tertentu. Jika Goan-tin maju beberapa tindak lagi maka habislah jiwa mereka. Maka itu sedapat mungkin ia ingin memperpanjang pembicaraan untuk mendapat lebih banyak waktu. Asal saja ketujuh jago Beng-kauw bisa bergerak, dengan bersatu padu maka mereka akan mampu melawan serangan Goan-tin, biar pun hanya untuk sementara waktu. Andai kata pada akhirnya harus binasa semua, hal itu masih lebih baik dari pada tanpa melawan. Sebagai seorang yang sangat cerdas Yo Siauw pun mengerti maksud Pheng Eng Giok. Maka perlahan-lahan ia memberi keterangan.

“Tujuan dari Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang ialah menjungkir balikkan dua rupa hawa, yaitu hawa ‘keras’ dan hawa ‘lembek’, hawa Im dan hawa Yang. Perubahan pada paras muka terjadi pada waktu darah di dalam tubuh turun ke bawah, yaitu pada saat berubahnya Cin-khie. Sepanjang keterangan, waktu mencapai tingkat ke enam, warna kulit di sekujur badan bisa berubah-ubah, sebentar merah sebentar biru. Tapi kalau seseorang sudah mencapai tingkat ke tujuh, perubahan hawa Im (Negatif) dan Yang (Positif) akan terjadi tanpa memperlihatkan perubahan warna kulit.“

Karena kuatir Goan-tin tak sabaran, Pheng Eng Giok bertanya pada pendeta itu. “Goan-tin Taysu apakah kau boleh memberi-tahu kami, cara bagaimana Yo-kauwcu berpulang ke alam baka?”

Goan-tin tertawa dingin. “Sesudah kalian kena It-im-cie, di dunia ini hanya ada empat golongan manusia yang bisa menolong,” katanya. “Kalian hanya bisa ditolong dengan Kiu-yang Sin-kang dari Bu-tong, Siauw-lim, Go-bi dan It-yang-ci dari It Teng Taysu. Apa bila ditolong dengan salah satu ilmu itu, kalian akan dapat bergerak untuk sementara waktu. Janganlah mimpi bahwa kalian bisa menolong diri sendiri dengan mengerahkan lweekang dan dengan memperpanjang waktu. Aku bicara terang-terangan, itu semua tiada gunanya. Sebagai ahli kelas utama di rimba persilatan, kalian tentu tahu bahwa biar mendapat luka yang lebih berat lagi, setelah menjalankan pernapasan begini lama seharusnya sedikit banyak kalian telah mendapat kemajuan. Tapi sekarang? Bukankah sebaliknya dari pada mendingan, badan kalian malahan menjadi semakin kaku?”

Yo Siauw dan yang lain-lain merasakan kenyataan itu. Tapi sebagai manusia, selama masih bernapas mereka masih mempunyai harapan.

PELAYAN YANG DIRANTAI

Sementara itu Goan-tin melanjutkan penuturannya. “Melihat perubahan paras muka Yo-suheng, aku terkejut. Sumoay-ku tahu bahwa dia berkepandaian sangat tinggi dan dengan sekali menghantam dia bisa membinasakan aku. ‘Toa-suko’, katanya. ‘Dalam hal ini akulah yang salah. Lepaskan Seng-suko dan aku rela menerima segala hukuman’. Mendengar perkataannya, Yo-suheng lantas berkata dengan suara parau. ‘Aku hanya bisa menikah dengan badanmu, tidak bisa menikah dengan hatimu’. Sesudah berkata begitu, sepasang matanya terbuka lebar seperti sedang mengamati sesuatu di tempat jauh, dan sesaat kemudian dari kedua mata itu keluar darah yang mengalir turun dengan perlahan. Tubuhnya terlihat kaku dan dia tak bergerak lagi. Sumoay-ku terkejut dan berteriak. ‘Toa-suko...! Toa-suko...! Po Thian...! Po Thian...! Mengapa kau?’ Dia berteriak ber-ulang.” Goan-tin meniru teriakan Sumoay-nya dengan suara perlahan, tapi nadanya benar-benar menyeramkan sehingga semua orang bergidik. Setelah berdiam sejenak ia berkata lagi,

“Karena Yo-suheng tidak juga bergerak, dengan memberanikan hati sumoay-ku menarik tangannya dan ternyata tangan itu adalah tangan mayat. Sumoay meraba dadanya. Dia memang telah mati. Aku tahu hatinya tidak enak dan dia merasa menyesal. Karena itu aku segera membujuknya dengan berkata. ‘Sumoay, menurut penglihatanku Toa-suko melakukan kesalahan ketika melatih ilmu yang tinggi. Mengalirnya hawa tulen terbalik hingga dia tidak dapat ditolong lagi’. Sumoay-ku mengangguk, ‘Benar’, katanya. ‘Dia sedang melatih ilmu Kian-kun Tay-lo-ie yang sangat luar biasa. Pada detik latihan yang sangat genting dia mengetahui rahasia pertemuan kita. Biar pun bukan binasa di tanganku, tetapi dia binasa karena gara-garaku’. Baru saja aku ingin membujuk lagi, mendadak dia menuding ke arah belakangku sambil membentak. ‘Siapa itu?!’ Aku memutar badan, tetapi tidak melihat apa pun. Pada waktu aku memutar badan lagi, dadanya sudah tertancap sebilah pisau. Dia bunuh diri!

Huh...! Huh...! Yo Po Thian mengatakan bahwa dia menikah dengan orangnya tapi tidak menikah dengan hatinya. Aku sendiri? Aku berhasil merebut hati sumoay, tetapi tidak bisa mendapatkan orangnya. Seluruh hidupku, dia adalah orang yang paling kuhormati dan paling kucintai. Kalau bukan gara-gara Yo Po Thian, kami berdua tentu sudah menjadi suami isteri yang berbahagia. Kalau bukan Yo Po Thian menjadi kauwcu dari Mo-kauw, maka sumoay-ku tentu takkan menikah dengan manusia itu yang usianya lebih tua dua puluh tahun lebih. Tapi Yo Po Thian telah mati. Aku tidak dapat berbuat sesuatu lagi kepadanya. Sementara Mo-kauw masih malang melintang di dunia.

Waktu itu sambil menuding jenazah Suheng dan sumoay-ku, aku berkata. ‘Aku Seng Kun bersumpah untuk menggunakan segala rupa kepandaianku guna membasmi Beng-kauw. Sesudah berhasil aku akan datang kemari lagi dan di sini akan menggorok leher sendiri di hadapan kalian berdua sebagai penebus dosa’. Ha-ha-ha...! Yo Siauw...! Wie It Siauw...! Kalian semua akan segera binasa. Seng kun pun takkan hidup lebih lama lagi. Maksudku sudah tercapai, maka dengan segala senang hati aku akan menggorok leher sendiri untuk mengawani kalian semua ke alam baka.” Ia menghela napas lalu berkata lagi.

“Selama beberapa tahun setiap saat aku memikirkan daya upaya untuk menghancurkan Mo-kauw. Ahh... aku sungguh tidak beruntung! Isteriku direbut orang dan satu-satunya muridku menganggap aku musuh besarnya...”

Mendengar disebutnya Cia Sun, jantung Bu Kie berdetak keras. Dia memusatkan segala perhatiannya mendengarkan Seng Kun, namun akibat pemusatan perhatian itu, Kiu-yang Cin-khie (Hawa tulen Kiu-yang) yang berkumpul di tubuhnya menjadi bertambah. Tak lama kemudian dia merasa tulang-tulangnya seperti melar seakan-akan hendak meledak, sedangkan lubang-lubang rambutnya seakan menjadi beberapa kali lipat lebih besar. Goan-tin melanjutkan ceritanya.

“Sesudah turun dari Kong-beng-teng aku lantas pulang ke Tiong-goan dan mencari muridku Cia Sun yang sudah lama tak bertemu. Di luar dugaan, begitu bertemu aku diberi-tahu bahwa dia telah menjadi salah satu Hu-kauw Hoat-ong dari Mo-kauw... Dia malah mencoba membujukku supaya aku turut bergabung ke agama siluman itu. Dia mengatakan bahwa Mo-kauw bertujuan mengusir kaum penjajah. Aku marah tak kepalang. Tetapi aku segera menekan kemarahanku karena aku ingat bahwa Mo-kauw sudah berakar dalam dan memiliki banyak orang pandai sehingga dengan sendirian, aku tak bisa berbuat banyak. Jangankan aku seorang diri, persatuan orang-orang gagah seluruh rimba persilatan belum tentu bisa menghancurkannya. Aku menarik kesimpulan jalan satu-satunya ialah menjalankan tipu muslihat agar Mo-kauw terpecah belah dan anggotanya saling bunuh membunuh. Hanya dengan cara itu barulah Mo-kauw bisa dihancurkan.”

Yo Siauw dan lain-lainnya pasang kuping dengan hati ber-debar. Mereka merasa bahwa dalam beberapa tahun seperti tidur yang nyenyak, tanpa mengetahui bahwa ada musuh besar tengah menjalankan siasat untuk membinasakan Beng-kauw. Diam-diam mereka mengakui ketololan mereka, bahwa dalam beberapa tahun ini apa yang mereka perbuat hanyalah berkelahi dengan kawan sendiri untuk merebut kursi Kauwcu. Cerita Goan-tin itu bagaikan bunyi genta yang menyadarkan mereka.

“Waktu itu aku hanya mengatakan bahwa urusan itu adalah urusan besar yang harus dipikirkan masak-masak,” kata Goan-tin lagi. “Beberapa hari kemudian aku berlagak mabuk arak dan mencoba mencemarkan kehormatan isteri muridku. Dengan menggunakan kesempatan ini aku lalu membunuh ayah, ibu, isteri serta anaknya Cia Sun. Dengan demikian aku tahu bahwa dia akan marah besar lantas mencari aku untuk membalas sakit hatinya. Menurut dugaanku, jika dia tak berhasil mencari aku maka dia akan melakukan perbuatan gila. Ha-ha...! Kata orang, mengenal anak tidak seperti ayahnya, mengenal murid tidak seperti gurunya. Aku mengenal watak muridku itu. Dia anak yang sangat baik, tetapi juga seorang pemarah yang mudah gelap mata. Dia tidak dapat berpikir panjang, dia tidak dapat meneliti siasat orang.”

Mendengar sampai di situ Bu Kie merasa kepalanya puyeng sekali. Ia marah bukan main, dadanya seperti mau meledak. “Kalau begitu semua penderitaan Gie-hu adalah akibat dari akal busuk bangsat tua ini,“ katanya dalam hati.

Dengan suara bangga Goan-tin berkata lagi. “Dengan mempergunakan namaku Cia Sun telah membinasakan orang-orang gagah di kalangan Kangouw. Tujuannya untuk memaksa aku keluar agar menemuinya. Ha-ha-ha! Mana bisa aku menuruti kemauannya, rahasiaku tentu saja tidak bisa ditutupi. Meski pun dia menggunakan namaku tetapi orang tahu bahwa pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan olehnya. Ia menanam banyak sekali permusuhan. Hutang darah itu semuanya masuk ke buku hutang Beng-kauw...” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Beng-kauw mulai hancur lebur. Di luar banyak musuh, di dalam berantakan. Kalian semua tidak lepas dari akal dayaku. Aku merasa menyesal dia batal membunuh Song Wan Kiauw. Tetapi cukuplah, dia sudah membunuh Kong-kian Taysu, melukai lima tetua Khong-tong, membinasakan jago-jago lima partai di pulau Ong-poan-san, bahkan orang-orang Peh-bie-kauw tak luput dari tangannya. Ha-ha-ha! Murid baik, murid manis. Ha-ha-ha...!“ Dia tertawa bagaikan orang edan.

Tiba-tiba Bu Kie merasa kupingnya ‘menguing’ dan ia pingsan. Tapi beberapa saat kemudian sudah tersadar lagi. Semenjak kecil ia sendiri pernah menerima bermacam hinaan. Tetapi apa yang diderita ayah angkatnya, ratusan kali lipat lebih hebat. Akibat akal busuk Seng Kun, ayah angkatnya, seorang yang keras laksana besi, musnah rumah tangganya, rusak namanya, sepasang matanya buta dan kini hidup sebatang kara di pulau terpencil. Aduh! Itu sakit hati yang tidak bisa tak dibalas.

Saking marahnya dadanya menyesak. Dan karena marah, Kiu-yang Cin-khie di tubuhnya mengamuk hebat. Napasnya tersengal membuang ‘hawa tulen’ yang seperti hendak meledak keluar dari dalam tubuhnya. Namun dia berada di dalam karung. Hawa yang keluar dari hidung dan mulutnya tidak bisa buyar sehingga akibatnya, perlahan karung Kian-kun It-khie-tay melembung. Akan tetapi semua orang yang tengah mendengarkan cerita Goan-tin tidak memperhatikannya. Goan-tin berkata lagi.

“Yo Siauw, Ciu Tian, Wie It Siauw dan yang lain-lain, apa kalian mau bicara?”

Yo Siauw menghela napas. “Sesudah keadaan jadi begini, apa lagi yang mau dikatakan?” katanya, “Goan-tin Taysu, apakah kau bisa mengampuni jiwa anakku? Ibunya adalah Kie Siauw Hu dari Go-bi-pay. Dia belum masuk ke Beng-kauw.”

“Membabat rumput harus sampai akarnya, aku tak mau memelihara harimau kecil untuk jadi biang penyakit,” jawabnya. Dia berjalan pelan lalu mengangkat tangannya untuk menepuk batok kepala Yo Siauw.

Bu Kie terkesiap. Tanpa menghiraukan hawa panas yang membuat dirinya terasa seperti dibakar, ia melompat ke hadapan Goan-tin lalu mengangkat tangan kirinya dan menangkis pukulan pendeta itu. Begitu tertangkis, tangan Goan-tin terpental. Setelah terkena pukulan Han-beng Bian-ciang, pendeta itu sudah terluka berat dan sekarang tenaganya baru pulih sebagian sehingga tangkisan Bu Kie menggoncang tubuhnya dan mau tidak mau, dia mundur setindak dengan badan limbung.

“Bocah!” bentaknya. “Kau... kau...”

Bu Kie merasa mulut dan lidahnya kering serta panas. Hawa cin-khie mengamuk semakin hebat. Sesudah menetapkan semangat, Goan-tin memukul karung itu dengan telapak tangannya. Tetapi pukulan yang tidak mengenai badan Bu Kie itu terpukul balik dengan tenaga membal dari karung tersebut sehingga sekali lagi dia terhuyung. Dia terkejut bukan main dan tidak tahu sebab musababnya. Dia sama sekali tak pernah bermimpi bahwa manusia yang berada dalam karung itu punya tenaga Kiu-yang Sin-kang.

Sementara itu Kiu-yang Cin-khie yang mengamuk di tubuh Bu Kie mendekati titik peledakan. Jika Kian-kun It-khie-tay keburu meledak maka ia lolos dari kebinasaan, kalau tidak, Cin-khie itu akan segera meledak dan membakar seluruh tubuhnya. Di lain saat Goan-tin sudah maju lagi dua tindak dan kembali menghantam karung dengan telapak tangannya. Seperti tadi dia terhuyung lagi, tapi karung yang didorong keras itu pun menggelinding seperti bola raksasa. Dada Bu Kie semakin sesak. Ia sukar mengeluarkan lagi hawa dari badannya karena karung itu sudah terlalu penuh.

Dengan beruntun Goan-tin memukul tiga kali dan menendang dua kali dan setiap kali dia menyerang, setiap kali pula dia terhuyung akibat terpukul balik oleh tenaga membal karung tersebut. Masih untung pukulan serta tendangannya tidak menyentuh Bu Kie. Dia pasti terluka berat bila menyentuh tubuh yang penuh dengan Kiu-yang Sin-kang itu.

Yo Siauw, Pheng Eng Giok dan Swee Put Tek mengawasi kejadian aneh itu dengan mata terbelalak. Kian-kun It-khie-tay adalah milik Swee Put Tek, tapi dia pun tidak tahu kenapa karung bisa melembung seperti bola. Dia juga tidak tahu apakah Bu Kie masih hidup atau sudah mati.

Dengan geregetan Goan-tin mencabut pisau dari pinggangnya. Ia menikam dengan sekuat tenaga, tapi karung itu hanya melesak dan tidak pecah. Ia terkesiap. Ia tidak tahu bahwa karung itu tebuat dari semacam bahan yang sangat aneh. Dengan menggunakan pisau biasa, karung mustika itu tentu saja tidak bisa dirobek.

Sesudah gagal beberapa serangan, Goan-tin berkata dalam hati. “Perlu apa aku meladeni manusia dalam karung ini?” Dia menendang dan karung itu terbang keluar. Apa mau dikata karung itu membentur pintu lantas terpental balik dan menyambar Goan-tin. Melihat sambaran itu, dia mengangkat kedua tangannya dan menghantam sekuat tenaga.

“Darrr!”

Ledakan maha dahsyat menyerupai geledek menggetarkan seluruh ruangan dan ribuan keping kain terbang berhamburan. Kian-kun It-khie-tay hancur lebur! Goan-tin, Yo Siauw, Ciu Tian dan lain-lain merasa bagai disambar semacam hawa yang sangat panas, sementara itu Bu Kie sendiri berdiri terpaku bagaikan patung dengan paras muka seperti orang linglung sebab dia sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia sendiri tidak tahu bahwa pada detik itu ia sudah mencapai puncak kesempurnaan dalam memiliki Kiu-yang Sin-kang yang murni. Pada detik itu naga seolah-olah bertemu dengan harimau, langit bersatu padu dengan bumi.

Waktu ia masih berada di dalam karung yang penuh dengan Kiu-yang Cin-khie, ratusan jalan darahnya seperti diurut ratusan ahli-ahli silat kelas utama yang dengan berbareng mengeluarkan hawa tulen mereka. Jodoh yang amat luar biasa itu belum pernah dialami siapa pun juga. Dan pada saat meledaknya karung, Cin-khie di dalam dan di luar badannya mengalami suatu goncangan hebat. Di dalam semua pembuluh darahnya seperti mengalir semacam air perak dan sekujur badannya nyaman luar biasa.

Di seluruh rimba persilatan, kejadian seaneh itu baru satu kali terjadi. Goan-tin adalah manusia jahat yang sangat licik dan berotak cerdas. Melihat pemuda itu masih dalam keadaan bingung, ia tahu bahwa sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk menyerang. Bila kesempatan baik itu lewat dan Bu Kie keburu turun tangan lebih dahulu, maka dia bakal binasa. Sebab itu dia lantas maju dan menotok Tian-tiong-hiat di dada pemuda ini.

Dengan cepat Bu Kie menangkis. Dalam hal ilmu silat, kepintaran Bu Kie masih sangat cetek. Waktu berada di pulau Peng-hwee-to dia pernah belajar silat dari Cia Sun dan kedua orang tuanya. Tapi apa yang telah dipelajarinya adalah ilmu-ilmu biasa. Maka dia takkan dapat menandingi seorang lawan seperti Goan-tin. Karena itu, waktu menangkis pukulan si pendeta, Yang-tie-hiat di pergelangan tangannya kena ditotok It-im-cie sehingga ia menggigil dan mundur setindak dengan terhuyung. Tapi badan pemuda itu penuh dengan Kiu-yang Cin-khie dan hawa itu menerobos masuk ke tubuh Goan-tin melalui jari tangannya. Hampir berbareng dengan terhuyungnya Bu Kie, hawa ‘yang’ (panas) dari Kiu-yang Sin-kang bertempur dengan hawa ‘im’ (dingin) di tubuh Goan-tin.

Walau pun lihay tetapi si pendeta terluka. Mana bisa ia melawan Kiu-yang Cin-khie? Ia bergidik dan merasa seluruh tenaga dalamnya buyar. Hatinya mencelos. Ia tahu tengah menghadapi kebinasaan. Cepat ia memutar badan lalu kabur.

”Seng kun!” teriak Bu Kie dengan marah. “Tinggalkan jiwamu di sini!”

Pada saat itu Goan-tin telah lari masuk meninggalkan pintu. Bu Kie cepat melompat untuk mengejar, tapi...

“Brukk!”

Bu Kie menubruk pinggir pintu, pipinya yang terbentur terasa sakit sekali. Mengapa begitu? Sesudah berhasil dalam Kiu-yang Sin-kang, setiap gerakan Bu Kie mengandung tenaga berlipat kali lebih besar dari pada biasanya. Sebab itu, waktu melompat jarak lompatan jauh luar biasa sehingga dia kehilangan keseimbangan dan menubruk pintu. Dia tidak tahu mengapa dia bisa melompat begitu jauh. Namun dia tidak bisa berpikir panjang dan segera turut masuk ke dalam pintu samping. Sekarang dia berada di dalam suatu ruangan kecil. Tekadnya untuk membalas sakit hati ayah angkatnya, dia mengejar terus tanpa menghiraukan kemungkinan dibokong. Setelah melalui ruangan itu, dia tiba di halaman terbuka. Ia mencium bau wangi, wanginya bunga yang ditanam di halaman itu.

Tiba-tiba saja dia melihat sinar lampu yang keluar dari sebuah kamar di sebelah barat. Dia memburu ke kamar itu lantas mendorong pintu. Satu bayangan abu-abu berkelebat, Goan-tin menyingkap sebuah tirai sulam dan masuk ke dalamnya. Bu Kie mengejar. Ia pun menyingkap tirai itu dan ikut masuk, tapi orang yang dikejar tidak terlihat batang hidungnya. Ia mengawasi ke sekelilingnya dan ia heran karena ternyata berada dalam kamar seorang gadis dari keluarga hartawan. Di pinggir dinding terdapat tempat untuk berhias dan di atas meja berhias itu berdiri sebuah ciak-tay dengan lilinnya yang memancarkan sinar terang.

Dengan pandangan sekilas mata, Bu Kie merasa bahwa kamar itu lebih indah dari pada kamarnya Ciu Kiu Tin. Di seberang meja hias terdapat sebuah ranjang yang tertutup tirai, sedangkan di depan ranjang terlihat sepasang kasur sulam sebagai tanda bahwa ada seorang wanita sedang tidur di ranjang itu. Bu Kie berdiri dengan penuh rasa heran. Kamar itu hanya memiliki sebuah pintu dan semua jendela tertutup rapat. Barusan dengan jelas dia melihat Goan-tin masuk, tapi pendeta itu tidak terlihat bayangannya lagi! Apakah ia bersembunyi di ranjang? Apakah yang harus diperbuat olehnya? Apakah ia boleh menyingkap tirai ranjang itu?

Selagi sangsi tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang sangat ringan. Ia melompat lalu bersembunyi di belakang rak tempat menggantungkan selimut yang terletak di dinding sebelah barat. Sesaat kemudian terdengar batuk-batuk seorang wanita. Bu Kie melihat masuknya dua orang wanita muda, yang satu berusia sekitar enam belas tahun, terus batuk-batuk dan berjalan dengan dipayang oleh yang lain, yang usianya lebih muda. Dilihat dari dandanannya, nona cilik itu adalah pelayan dari nona yang dipayang itu.

“Siocia, kau mengasolah,” katanya dengan suara membujuk. “Jangan jengkel dan jangan bingung.”

Siocia itu batuk-batuk lagi. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya dan menggaplok pipi pelayannya. Tamparan itu hebat sehingga si pelayan terhuyung. Karena sebelah tangannya merangkul pundak pelayan itu, maka waktu si pelayan terhuyung, badannya turut sempoyongan dan berputar menghadap Bu Kie. Dengan bantuan sinar lilin pemuda itu melihat wajah yang tidak asing lagi. Mata besar, biji mata hitam, muka potongan telur, muka dari Yo Put Hwie! Tubuh si nona sudah jauh lebih jangkung dan lebih besar, tetapi sikapnya dan gerak geriknya masih seperti dulu. Dengan napas tersengal-sengal Put Hwie berkata.

“Kau suruh aku jangan bingung. Hm...! Kau sendiri tentu saja tidak bingung. Bagimu paling baik kalau ayahku dibinasakan orang supaya kau bisa mencelakai aku. Kalau aku telah mati, kau bisa berkuasa di sini.”

Pelayan itu memayang Put Hwie ke sebuah kursi.

“Ambilkan pedangku!” perintah si nona yang sudah duduk.

Si pelayan segera mengambil sebuah pedang yang tergantung di dinding. Bu Kie mengawasi dan mendapat kenyataan bahwa kedua kaki pelayan itu terikat rantai besi yang halus, sedangkan kedua pergelangan tangannya pun terikat rantai yang sama. Kaki kirinya pincang dan badannya bongkok seperti busur yang melengkung. Sesudah mengambil pedang, pelayan itu memutar badan. Bu Kie dapat melihat mukanya dan dia terkejut karena muka itu jelek luar biasa. Mata kanannya kecil, mata kirinya besar, hidung melesak, mulutnya mengok, sehingga keseluruhan muka itu sangat menakutkan.

“Mukanya lebih jelek dari pada Cu-jie,“ katanya dalam hati. “Kejelekan Cu-jie karena racun sehingga masih dapat diperbaiki. Tapi kejelekan nona cilik ini adalah pembawaannya sehingga tidak dapat diperbaiki lagi.”

Seraya menyambuti senjata itu dari tangan pelayanannya, Put Hwie batuk-batuk lagi beberapa kali. Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah peles dan menuang dua butir yowan yang lalu ditelannya.

“Kalau begitu Put Hwie berbekal obat sehingga ia masih bisa bergerak biar pun terkena It-im-cie,” kata Bu Kie dalam hati. “Tak bisa salah lagi, obat itu bersifat panas.”

Dan benar saja, beberapa saat kemudian paras nona Yo bersemu merah dan pada kedua pipinya terlihat sinar dari hawa panas. Perlahan ia bangkit kemudian berkata.

“Aku mau menengok ayah.”

“Mungkin sekali musuh masih belum pergi,” kata pelayan itu. “Sebaiknya aku yang pergi menyelidiki lebih dahulu. Kalau sudah tidak ada bahaya barulah siocia keluar.“ Ia bicara dengan suara yang amat tidak sedap didengar, seperti suara seorang lelaki setengah tua.

“Tak perlu berlagak baik hati!” bentak Put Hwie. “Lepaskan aku!”

Dengan terpaksa si pelayan lalu mengangsurkan tangan kanannya. Karena kedua pergelangan tangannya terantai maka pada waktu mengangsurkan tangan kanan, tangan kirinya juga turut diangsurkan. Tiba-tiba tangan kiri Put Hwie menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kanan pelayannya, jari tangannya mencengkeram Hwee-cong, Yang-tie dan Gwa-koan-hiat. Badan pelayan itu lantas saja kesemutan dan tidak bisa bergerak lagi.

“Siocia...“ katanya. “Kau... kau...”

Put Hwie tertawa dingin. “Kami ayah dan anak sudah dibokong musuh dan kami sedang menghadapi kebinasaan,” katanya dengan suara menyeramkan. “Apakah kau tidak akan menggunakan kesempatan ini untuk membalas sakit hati? Kami tak sudi disiksa olehmu! Jalan yang paling baik adalah membunuh kau terlebih dulu.“ Seraya berkata begitu, dia mengayunkan pedang yang lalu ditebas ke leher pelayannya.

Bu Kie terkesiap. Melihat keadaan si pelayan, dia merasa amat kasihan. Pada detik yang berbahaya itu dia melompat dan menyentil badan pedang yang segera saja terpental dan jatuh di lantai. Di lain pihak, walau pun terluka tapi gerakan nona Yo cepat luar biasa. Hampir berbareng dengan terlepasnya pedang, dua jari tangannya terpentang meyambar ke mata Bu Kie. Totokan itu hanyalah Siang-liong Chio-cu (dua naga berebut mutiara), serupa pukulan biasa. Tapi sesudah beberapa tahun dilatih oleh ayahnya, pukulan yang hanya sederhana itu mengandung tenaga yang sangat besar. Dengan kaget Bu Kie melompat ke belakang.

“Put Hwie Moay-moay, ini aku!” teriaknya.

Mendengar perkataan ‘Put Hwie Moay-moay’ yang tak asing lagi, nona Yo terkesiap dan berteriak.

“Apa Bu Kie koko?” Biar pun belum melihat muka tapi dia mengenal suara itu.

Bu Kie merasa menyesal bahwa dia terpaksa memperkenalkan dirinya. “Put Hwie Moay-moay, bagaimana keadaanmu selama beberapa tahun ini?”

Si nona mengawasi. Dia menjadi sangsi karena di hadapannya berdiri seorang pria yang berpakaian compang camping dan mukanya kotor.

“Kau... kau... apa benar kau Bu Kie koko?” tanyanya. “Bagaimana... kau bisa ada di sini?”

“Swee Put Tek yang membawa aku,” sahutnya. “Tadi Goan-tin Hwesio masuk ke sini, lalu menghilang. Apakah di dalam kamar ini ada jalan lain?”

“Goan-tin hwesio kabur?” si nona menegas.

“Ia terluka berat setelah kena pukulan Ceng-ek Hok-ong,” Bu Kie menerangkan. “Barusan dia kabur kemudian aku mengejarnya. Ia masuk ke kamar ini dan menghilang. Dia adalah musuh besarku, aku mesti cari dia.”

“Di kamar ini tiada jalan lain,” kata si nona. “Bagaimana dengan ayahku? Aku mau menengok dia.“ Seraya berkata begitu dia menepuk batok kepala pelayannya.

“Jangan...!“ teriak Bu Kie sambil mendorong pundak si nona sehingga tepukannya jatuh di tempat kosong.

Sesudah percobaan membunuh pelayannya dua kali dihalangi, Put Hwie jadi marah. “Bu Kie koko!” bentaknya. “Apakah kau kawannya budak kecil ini?”

“Baru hari ini aku bertemu dengannya,” jawab pemuda ini.

“Jika kau tidak tahu duduknya persoalan, janganlah ikut campur urusanku,” kata pula nona Yo. “Dia adalah musuh besar keluargaku. Karena kuatir dia mencelakaiku maka ayah merantai kaki tangannya. Kami berdua ayah dan anak sekarang kena It-im-cie. Dia pasti akan menggunakan kesempatan yang baik ini untuk membalas sakit hati. Jika kami jatuh ke tangannya, celakalah kami!”

Tapi Bu Kie masih tetap yakin bahwa nona kecil itu bukan manusia jahat. Maka itu dia lalu berkata.

“Nona, apakah kau akan berusaha membalas sakit hati dengan mempergunakan kesempatan baik ini?”

Si nona pelayan menggelengkan kepala. “Tidak!” jawabnya.

“Put Hwie moay-moay, dengarlah!” kata Bu Kie. “Dia sudah berjanji. Ampunilah dia!”

“Baiklah,” kata nona Yo. “Aku tidak bisa menolak permintaanmu. Aduh...!“ Tiba-tiba tubuhnya bergoyang seperti mau jatuh.

Bu Kie mengerti bahwa si nona sudah tidak sanggup mempertahankan dirinya lagi karena lukanya yang sangat berat. Buru-buru dia mendekat untuk memegangnya. Mendadak dia merasakan sakit yang hebat pada Hian-kie dan Tiong-kie-hiat di bagian pinggangnya dan dia pun roboh tak berdaya. Ternyata dia sudah dibokong nona ini.

Jari tangan Put Hwie menyambar ke arah Tay-yang-hiat pelayannya. Tetapi sebelum totokan itu mampir pada sasaran, dia menggigil. Sekujur badannya terasa kesemutan. Cekalannya pada pergelangan tangan si pelayan terlepas, kedua lututnya lemas dan dia pun jatuh duduk di kursi. Put Hwie sudah terluka berat. Dia tadi dapat mempertahankan diri karena khasiat obat yang ditelannya. Sesudah menotok Bu Kie tenaganya habis dan tidak kuat menyerang lagi. Sambil mengambil pedang di lantai, si pelayan berkata,

“Siocia, kau selalu curiga aku hendak membunuh kau. Kalau mau, dengan mudah sekarang aku bisa berbuat begitu. Tapi aku tidak punya maksud jahat.“

Ia segera memasukkan pedang itu ke sarungnya lalu menggantungnya ke dinding. Se-konyong-konyong Bu Kie bangkit berdiri.

“Put Hwie moay-moay, kau lihatlah sendiri!” katanya. “Dia memang tidak mengandung niat yang kurang baik.”

Dengan rasa kagum nona Yo mengawasi pemuda itu yang dengan mudah bisa membuka sendiri ‘hiat’ yang ditotoknya. Sambil menyoja Bu Kie berkata kepada nona cilik itu.

“Nona, aku ingin sekali mengejar pendeta itu. Apakah di sini tidak ada jalan lain lagi?”

“Apakah kau tidak bisa membatalkan niatmu?” si nona balas tanya.

“Manusia itu telah melakukan perbuatan terkutuk,” Bu Kie menerangkan. “Biar pun harus mengejar ke ujung langit, aku tidak bisa mengampuni dia.”

Si pelayan menggigit bibir. Setelah berpikir sejenak dia lalu manggut-manggut. Si nona meniup lilin, mengeluarkan sapu tangan yang ditaruh di atas muka Put Hwie, sesudah itu dia mencekal tangan Bu Kie dan menuntunnya dalam kegelapan. Karena yakin orang tidak berniat jahat, Bu Kie segera mengikutinya. Ia dituntun ke depan ranjang. Si nona membuka kelambu, lalu naik ke atas ranjang sambil menarik tangan Bu Kie. Pemuda itu terkejut bukan main. Meski pun nona itu masih kekanakan dan beroman jelek tapi dia tetap seorang wanita. Ia segera menarik tangannya.

“Jalan itu berada di pembaringan,” bisik si nona.

Bu Kie percaya dan semangatnya terbangun. Tanpa sangsi lagi dia turut naik ke pembaringan. Dengan cepat si nona merebahkan dirinya dan Bu Kie turut rebah di sampingnya. Entah alat apa yang ditarik si nona, papan ranjang tiba-tiba menjeblak dan mereka berdua jatuh ke bawah. Dari atas ke dasar lubang ada beberapa tombak jauhnya. Untung sekali dasar lubang itu ditutup dengan rumput kering yang tebal sehingga mereka tidak merasa sakit. Mendadak terdengar suara menjeblak dan papan ranjang sudah kembal ke tempat asalnya.

“Sungguh lihay alat rahasianya!” Bu Kie memuji di dalam hati. Kalau tidak diberi-tahu, tak akan ada manusia yang bisa menduga bahwa di dalam ranjang itu terdapat jalan rahasia. Sambil mencekal tangan si nona, dia segera berjalan ke jurusan depan. Mendengar suara berkerincingnya rantai, mendadak dia ingat sesuatu. “Nona ini pincang dan kakinya diikat dengan rantai, bagaimana dia bisa berlari begitu cepat?” tanyanya dalam hati.

Rupanya si nona bisa menebak apa yang dipikirkan Bu Kie. Se-konyong-konyong dia berkata sambil tertawa,

“Pincangku adalah pincang buatan, untuk mengelabui Loya dan Siocia.”

Dalam kegelapan Bu Kie tidak bisa melihat wajah si nona, dalam hati ia berkata, “Tak heran jika ibuku mengatakan bahwa wanita pandai sekali menipu orang. Bahkan tadi Put Hwie moay-moay merasa tak ada halangan membokongku.”

Sesudah berjalan beberapa puluh tombak mengikuti terowongan yang berliku-liku, mereka tiba di ujung jalan, namun Goan-tin tak kelihatan bayangannya.

“Sudah sering sekali aku datang ke sini,” kata si nona. “Aku percaya masih ada jalan lain, hanya saja aku tidak tahu di mana alat untuk membuka pintunya.”

Dengan kedua tangannya Bu Kie meraba-raba dinding, tetapi tidak bisa mendapatkan apa pun.

“Sudah puluhan kali aku mencoba tapi tidak pernah berhasil,” kata lagi si nona. “Sungguh mengherankan. Bahkan aku pernah membawa obor untuk menyelidikinya, tapi tetap tidak bisa menemukan alatnya.”

Tiba-tiba dalam otak Bu Kie berkelebat ingatan. “Mungkin sekali memang tidak ada alat rahasia untuk membuka pintu,” pikirnya. Ia segera mengerahkan Chin-kie di kedua lengannya dan mendorong dinding sebelah kiri sekuat tenaga. Dinding itu tidak bergerak. Sekali lagi dia mengerahkan tenaga dan mendorong dinding kanan. Tiba-tiba dinding itu bergoyang sedikit! Ia girang tak kepalang. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mendorong sekerasnya. Perlahan dinding itu bergeser ke belakang. Ternyata dinding itu terbuat dari sebuah batu yang sangat tebal dan besar.

Jalan rahasia Kong-beng-teng memang amat menakjubkan. Ada bagian-bagian yang dilengkapi dengan alat rahasia tersembunyi ada juga yang tidak, seperti pintu itu yang hanya dapat dibuka seseorang yang memiliki tenaga luar biasa. Hal ini adalah untuk menjaga kalau rahasia ini diketahui orang luar. Misalnya seperti nona kecil itu, andai kata tahu rahasianya masih tetap tidak bisa membuka pintu karena tenaganya tidak cukup.

Tapi Bu Kie yang memiliki Kiu-yang Sin-kang bukan manusia biasa sehingga dia berhasil. Setelah pintu terbuka sekitar tiga kaki, Bu Kie mengirim pukulan dengan telapak tangannya karena dia khawatir Goan-tin bersembunyi di belakang pintu dan membokongnya. Berbareng dengan pukulannya, dia melompat masuk. Mereka masuk dengan selamat dan sekarang berada di terowongan yang sangat panjang. Dengan sangat hati-hati mereka malangkah maju. Jalan menurun ke bawah, makin jauh makin rendah. Sesudah melalui seratus tombak lebih, mereka bertemu dengan jalan bercabang tujuh. Bu Kie sangsi, jalan mana yang harus diambil? Mendadak di sebelah kiri terdengar suara tegas sekali.

“Ambil jalan ini!” bisik Bu Kie sambil berlari di jalan yang paling kiri.

Jalan itu tidak rata dan sukar dilalui, dalam kegusarannya Bu Kie berjalan terus tanpa menghiraukan bahaya. Si nona mengikuti dari belakang diiringi suara rantai yang berkerincingan tidak hentinya. Bu Kie menengok ke belakang seraya berkata.

“Musuh berada di depan, keadaan sangat berbahaya. Sebaiknya kau mengikuti dari jauh.”

“Takut apa? Kesukaran harus dipikul bersama,” jawabnya dengan suara tetap.

Selang beberapa saat jalan bukan saja menurun, tapi juga terus membelok ke kiri seperti keong dan makin lama makin sempit sehingga akhirnya terowongan itu hanya bisa masuk satu orang.

TERKURUNG DI TEMPAT TERLARANG

Selagi enak berjalan, mendadak Bu Kie merasakan ada sambaran angin yang sangat dahsyat. Dia terkesiap dan tangannya menyambar pinggang si nona, kemudian melompat ke depan.

“Dukk!” batu halus dan pasir muncrat ke atas.

Setelah menenteramkan hatinya, si nona berseru. “Celaka! Kepala gundul itu bersembunyi dan mendorong batu untuk membinasakan kita.”

Sambil mengangkat dua tangannya di atas kepala, Bu Kie mendaki jalan itu. Baru berjalan beberapa langkah dua tangannya menyentuh batu yang permukaannya amat kasar. Mendadak dari balik batu terdengar suara Goan-tin.

“Bangsat kecil! Hari ini aku mengubur kau di dalam sana. Tapi keberuntunganmu masih bagus, kau mampus ditemani seorang wanita. Biar pun kau bertenaga besar, aku mau lihat apa kau mampu menyingkirkan batu ini. Kalau satu masih belum cukup, aku akan menambah dengan satu lagi.”

Hampir berbareng terdengar suara diangkatnya batu dengan semacam alat besi diikuti dengan bunyi yang sangat hebat. Ternyata Goan-tin sudah melepaskan sebuah batu lagi yang jatuh di atas batu pertama. Dengan marah dan bingung Bu Kie meraba batu itu. Meski pun jalan itu tidak tertutup rapat tetapi celah-celah di antara dinding dan batu raksasa paling lebar hanya bisa dimasuki lengan.

Sambil memompa semangat dia mendorong sekuatnya, batu ini sedikit pun tak bergeming. Kedua batu yang bertumpuk itu beratnya berlaksa kati, tidak dapat digeser manusia mana pun juga. Bahkan gajah pun takkan kuat mendorongnya. Bu Kie berdiri terpaku, dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Di belakang batu terdengar suara napas Goan-tin yang tersengal-sengal. Dalam keadaan terluka berat, tidak mengherankan jika tenaganya habis setelah menggerakkan kedua batu itu. Selang beberapa saat ia bertanya,

“Bocah... siapa... siapakah namamu...“ Ia tidak dapat meneruskan perkataannya.

“Andai kata dia berubah pikiran dan ingin menolong kami berdua, dia sudah tak dapat berbuat banyak,” kata Bu Kie dalam hatinya. “Sudahlah, untuk apa aku meladeni dia. Lebih baik aku mencari jalan lain.“ Sesudah berpikir begitu dia memutar badan dan turun ke bawah mendekati si nona.

“Aku punya bahan api, tetapi tidak punya lilin,” kata si pelayan kecil, “Apa bila dinyalakan, dalam waktu sebentar tentu padam kembali.”

“Tunggu dulu,” kata Bu Kie sambil berjalan maju perlahan-lahan. Sesudah berjalan beberapa puluh langkah akhirnya mereka tiba di ujung terowongan. Mereka meraba-raba dan mendadak tangan Bu Kie menyentuh tahang kayu. “Ada jalan,” katanya dengan girang, kemudian memukul hancur tahang itu dengan kedua tangannya. Isi tahang yang menyerupai tepung itu jatuh berhamburan. Ia mengambil sepotong papan dan berkata, “Coba nyalakan api.”

Nona kecil itu mengeluarkan baja pencetus api, batu api dan sumbu. Dengan cepat dia membuat api dan menyulut potongan kayu itu. Mendadak api menyala di potongan kayu yang terbakar, hidung mereka mengendus bau belerang. Mereka terkejut bukan main.

“Bahan peledak!” seru si nona seraya mengangkat tinggi-tinggi potongan kayu yang menyala itu. Mereka mendapat kenyataan bahwa isi tahang itu ternyata bahan peledak yang berwarna hitam. Si nona tertawa dan berkata dengan suara pelan. “Bila barusan letusan api menyambar ke tumpukan bahan peledak itu, hwesio jahat yang berada di luar akan turut binasa bersama kita.“ Seraya berkata begitu ia menoleh ke arah Bu Kie yang tengah mengawasinya dengan mata terbelalak. “Mengapa?” tanyanya tertawa.

“Ahh... Kalau begitu, kau... kau... sangat cantik,” kata Bu Kie.

Si nona tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Karena kaget aku melupakan samaranku,” katanya. Dia lantas meluruskan pinggangnya dan ternyata bahwa dia bukan saja tidak bongkok tetapi juga tidak pincang.

Dengan sinar mata yang terang, alis yang kecil bengkok, hidung mancung dan lekuk pada pipinya, ia adalah seorang wanita yang amat ayu. Hanya karena masih berusia muda dan tubuhnya belum cukup besar maka di dalam kecantikannya itu dia terlihat masih kekanak-kanakan.

“Mengapa kau menyamar?” kata Bu Kie.

“Siocia amat membenciku,” jawabnya. “Dengan melihat romanku jelek, ia merasa senang. Tanpa menyamar aku tentu sudah mati.”

“Mengapa dia menginginkan nyawamu?” tanya pemuda itu lagi.

“Dia selalu curiga,” sahutnya. “Dia kuatir aku akan membunuh dia dan Loya.”

“Gila!” kata Bu Kie, “Tadi waktu dia sudah tidak bisa bergerak, kau memegang pedang tapi kau tidak mencelakai dia. Mulai sekarang dia pasti tidak akan curiga lagi.”

Si nona tertawa kecil. “Dengan membawa kau kemari, Siocia tentu akan lebih curiga lagi,” katanya. “Tapi sudahlah! Peduli apa dia curiga atau tidak. Masih belum ada ketentuan apa kita bisa keluar dari tempat ini.”

Dengan bantuan cahaya obor, ternyata mereka berada di tempat yang menyerupai kamar batu di mana terdapat alat-alat senjata, busur dan anak panah yang sudah berkarat. Agaknya senjata-senjata itu sengaja disediakan untuk melawan musuh. Dinding di sekitar ruangan itu tertutup rapat. Sekarang tahulah mereka bahwa Goan-tin memang sengaja batuk-batuk untuk memancing mereka ke jalan buntu ini.

“Kongcu, namaku Siauw Ciauw,” kata si nona memperkenalkan diri. “Kudengar Siocia memanggil Bu Kie Koko padamu. Kalau tidak salah namamu Bu Kie. Benarkah begitu?”

“Benar,” jawabnya. “Aku she Thio...“ Mendadak dia teringat sesuatu. Dia mengambil sebatang tombak yang beratnya kira-kira empat puluh kati. “Bahan peledak ini mungkin dapat menolong kita,” katanya. “Bukan mustahil kita akan bisa menghancurkan batu besar itu.”

“Bagus, bagus!” seru Siauw Ciauw seraya bertepuk tangan. Tepukan tangan itu diiringi dengan suara kerincingan rantai.

“Rantai ini mengganggu gerakan tangan dan kakimu,” kata Bu Kie. “Sebaiknya diputuskan saja.”

“Jangan!” cegah si nona. “Loya bisa marah besar.”

“Aku tidak takut. Katakan saja akulah yang memutuskannya,” kata Bu Kie.

Sesudah berkata begitu, sambil mengerahkan Iweekang dia membetot rantai yang mengikat pergelangan tangan Siauw Ciauw. Rantai itu hanya sebesar batang sumpit dan tenaga betotan Bu Kie tak kurang dari tiga ratus kati. Tapi sungguh heran, rantai itu tidak bergeming melainkan hanya mengeluarkan suara mengaung. Bu Kie heran. Dia membetot lagi dengan menambah tenaga, namun tetap tidak berhasil.

“Rantai ini memang sangat aneh, tidak dapat diputuskan walau pun menggunakan senjata mustika,” kata Siauw Ciauw. “Anak kuncinya berada di tangan Siocia.”

Bu Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kalau kita bisa keluar, aku akan mintakan anak kunci itu,” katanya.

“Dia tidak akan memberikannya,” kata si nona.

“Tapi aku percaya dia akan meluluskan permintaanku,” kata Bu Kie. “Hubunganku dengannya bukan hubungan biasa.“

Sehabis berkata begitu, dengan membawa tombak dia pergi ke bawah batu besar. Untuk beberapa saat dia berdiri sambil memasang kuping. Ternyata suara napas Goan-tin sudah tidak terdengar lagi, rupanya dia sudah pergi jauh.

“Mungkin kita tidak bisa menghancurkan batu ini dengan satu ledakan,” kata Bu Kie yang dengan menggunakan ujung tombak mulai membuat lubang pada celah antara batu besar dan lantai terowongan. Kemudian ia mengisi lubang itu dengan bahan peledak dan memukul-mukulnya dengan kepala tombak supaya menjadi padat. Sesudah itu ia pun menabur segaris bahan peledak dari lubang terus ke ruangan bawah. Garis bahan peledak itu hendak dijadikan semacam sumbu.

Sesudah beres Bu Kie lalu mengambil obor dari tangan si nona yang buru-buru menekap kuping dengan kedua tangannya. Dengan berdiri menghadang di depan Siauw Ciauw, Bu Kie lalu menyulut ‘sumbu’ itu. Api menyala dan bagaikan kilat menyambar ke lubang yang berisi bahan peledak.

“Dunggg...!”

Hawa panas menyambar, ruangan itu bergoncang! Bu Kie terhuyung dua langkah sedang Siauw Ciauw jatuh terjengkang. Obor padam dan asap memenuhi ruangan. Sambil membangunkan si nona, Bu Kie bertanya,

“Siauw Ciauw, apa kau terluka?”

“Aku... aku... tak apa-apa,” jawabnya.

Mendengar suara yang terputus-putus seperti orang bersedih, Bu Kie merasa heran. Waktu obor dinyalakan lagi, dia melihat mata si nona mengembang air.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“Thio-kongcu,” sahutnya, “Kau belum pernah mengenal aku, tetapi... tetapi mengapa kau begitu baik terhadapku?”

“Apa?” tanya Bu Kie dengan rasa heran.

“Kenapa tadi kau menghalangi aku?” kata Siauw Ciauw. “Aku adalah seorang budak yang kedudukannya amat rendah, sedangkan kau... kau adalah seorang yang mulia. Mengapa kau melindungi aku dengan menghadang di depanku?”

Pemuda itu tersenyum. “Kau seorang wanita, sudah sepantasnya jika aku berusaha untuk melindungi keselamatanmu,” katanya.

Melihat asap sudah mulai menghilang, ia naik lagi ke atas untuk memeriksa hasil ledakan. Ternyata batu raksasa itu tak bergeming melainkan hanya somplak di satu sudut. Dengan perasaan gelisah dia berkata,

“Untuk membuat lubang yang cukup besar guna merangkak keluar, batu ini mungkin harus diledakkan tujuh atau delapan kali. Tapi sisa bahan peledak hanya cukup untuk kira-kira dua kali ledakan saja.“ Seraya berkata begitu dia mengangkat tombak dan mulai membuat sebuah lubang lain pada celah antara dinding terowongan dan batu raksasa.

Pada saat ujung tombak menyodok dinding, mendadak sepotong batu jatuh ke bawah dan terlihatlah lubang di dinding itu. Bu Kie kaget bercampur girang. Dia memasukkan sebelah tangan lantas menggoyang-goyangkannya. Dinding itu bergerak sedikit. Ia menggerakkan tenaga dalam dan membetot. Ia berhasil membuat sepotong batu copot. Sesudah ada tiga potong batu yang terlepas, lubang itu sudah besar untuk memuat badan manusia. Ternyata di situ terdapat sebuah terowongan lain. Walau pun tidak dapat menghancurkan batu raksasa, akan tetapi ledakan tadi sudah melepaskan batu dinding terowongan.

Sambil memegang obor Bu Kie masuk lebih dulu ke terowongan ke dua, kemudian menggapai Siauw Ciauw supaya si nona mengikuti masuk. Seperti yang pertama, jalan ini juga berputar-putar bagaikan keong dan menurun ke bawah. Kali ini Bu Kie bertindak lebih hati-hati. Dia mencekal tombak erat-erat, siap sedia untuk menangkis bokongan Goan-tin. Sesudah melalui kira-kira delapan puluh tombak, mereka tiba di depan sebuah pintu batu. Bu Kie segera menyerahkan obor berikut tombak kepada Siauw Ciauw, kemudian dengan mengerahkan Iweekang dia mendorong pintu yang segera saja terbuka.

Pintu itu adalah pintu sebuah kamar batu yang sangat besar. Bu Kie masuk dan mendadak dia melihat dua kerangka manusia. Pakaian kedua kerangka itu masih belum hancur sehingga dapat diketahui bahwa mereka adalah seorang pria dan seorang wanita. Siauw Ciauw agak takut dan dia cepat mendekati kawannya. Bu Kie mengangkat obor tinggi-tinggi dan meneliti keadaan di dalam kamar.

“Mungkin kita berada di bagian paling ujung dari jalan rahasia ini,” katanya. “Apakah masih ada jalan keluar?”

Dengan tombak ia mengetuk-ngetuk seluruh dinding, tapi suara semuanya padat, tak ada yang kosong. Dia mendekati kedua kerangka itu. Tangan kanan yang wanita memegang sebatang pisau berkilauan yang menancap di dadanya. Ia terkejut dan teringat pengakuan Goan-tin yang mengatakan bahwa pada waktu ia mengadakan pertemuan rahasia dengan Yo-hujin, pertemuan itu dipergoki Yo Po Thian yang binasa karena marah dan Yo-hujin sendiri kemudian bunuh diri.

“Apakah kedua kerangka ini suami isteri Yo Po Thian?” tanyanya dalam hati.

Bu Kie mendekati kerangka lelaki. Di samping kerangka tergeletak selembar kulit kambing yang lalu diambilnya dan diteliti. Di satu muka kulit itu berbulu tapi pada muka lainnya licin dan mengkilat. Siauw Ciauw turut mengawasi. Tiba-tiba dengan paras berseri-seri dia mengambil kulit itu dari tangan Bu Kie.

“Selamat, Kongcu!” katanya dengan suara girang. “Ini adalah ilmu silat tertinggi dari Beng-kauw.“

Sehabis berkata begitu dia menggoreskan jari tangannya di mata pisau yang menancap di dada Yo-hujin, kemudian mengoles darahnya di bagian kulit yang licin. Perlahan-lahan di atas kulit yang kena darah timbul huruf-huruf seperti berikut: ‘Beng-kauw Seng-hwee Sim-hoat Kian-kun Tay-lo-ie’ (Kian-kun Tay-lo-ie, ilmu api suci dari agama Beng-kauw).

Namun Bu Kie tidak terlalu girang. “Di jalan rahasia ini tiada air dan tiada beras,” pikirnya. “Kalau tidak dapat keluar, paling lama tujuh delapan hari aku dan Siauw Ciauw akan mati kelaparan. Ilmu yang bagaimana tinggi pun tiada gunanya.“ Dia melirik kedua kerangka itu dan bertanya pula dalam hatinya, “Mengapa Goan-tin tidak mengambil kulit kambing itu? Mungkin sekali sesudah melakukan perbuatan terkutuk dia tak berani datang lagi. Ah! Dia tentu tidak tahu bahwa Kian-kun Tay-lo-ie Sim-hoat tertulis pada kulit ini. Kalau dia tahu, jangan kata Yo Po Thian dan isterinya sudah meninggal dunia, sekali pun mereka masih hidup dia pasti akan datang mencurinya.”

“Siauw Ciauw, bagaimana kau tahu rahasia kulit kambing ini?”

“Aku mencuri dengar waktu Loya bicara dengan Siocia,” jawabnya. “Mereka berdua adalah murid-murid Beng-kauw, maka mereka tidak berani masuk ke sini untuk mengambilnya. Seperti Kongcu ketahui, hanya seorang Kauwcu yang boleh masuk ke jalan rahasia ini.”

Dengan rasa haru Bu Kie mengawasi kedua kerangka ini. “Sebaiknya kita menguburkan mereka,” katanya.

Bersama si nona, dia segera mengumpulkan batu-batu kecil dan pasir yang rontok karena ledakan tadi, kemudian mendampingkan kedua kerangka itu. Tiba-tiba saja Siauw Ciauw mengambil sesuatu dari kerangka Yo Po Thian.

“Thio-kongcu, ada sepucuk surat,” katanya.

Bu Kie membacanya. Di atas sampul tertulis: ‘Dipersembahkan kepada isteriku’.

Karena sudah usang, sampul itu agak rusak sedangkan huruf-hurufnya pun sukar dibaca, namun dari coretannya yang telah buram itu dapat dilihat bahwa huruf-huruf itu indah dan angker. Sampul masih utuh, belum tersobek.

“Sebelum membaca isi surat ini, Yo-hujin telah bunuh diri,” kata Bu Kie.

Dengan sikap hormat Bu Kie lalu menaruh surat itu di atas kerangka. Baru saja ia hendak mengubur dengan pasir dan batu, tiba-tiba Siauw Ciauw berkata,

“Apakah tidak lebih baik kalau kita membaca surat itu? Mungkin sekali Yo-kauwcu meninggalkan pesan.”

“Kurasa kurang pantas,” kata Bu Kie.

“Mungkin Kongcu keliru,” bantah si nona. “Seandainya ada sesuatu yang diinginkan Yo-kauwcu dan belum terpenuhi, alangkah baiknya jika kita mengetahuinya dan bisa menyampaikan langsung kepada Loya dan Siocia.”

Bu Kie mengangguk lalu menyobek sampul. Ia mencabut sehelai sutera putih yang tertulis sebagai berikut:

‘Hujin, bacalah ini. Semenjak menikah denganku siang malam Hujin berduka. Aku adalah orang yang tidak memiliki budi sehingga aku tidak bisa menyenangkan hatimu dan untuk kekurangan itu aku merasa menyesal tak habisnya. Namun sekarang kita akan berpisah untuk selama-lamanya, maka kuharap Hujin sudi memaafkanku. Ciu-kauwcu dari turunan ke tiga puluh dua sudah memerintahkan supaya setelah selesai dengan latihan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, aku segera pergi ke Cong-to milik Kay-pang (markas besar Partai Pengemis) untuk mengambil kembali barang-barang peninggalan Ciu-kauwcu dari turunan ke tiga puluh satu. Aku baru saja menyelesaikan latihan Sin-kang tingkat kelima. Apa daya, aku tahu urusan Seng-sute. Darah dan hawa bergolak-golak hingga aku tidak dapat menguasai diriku lagi. Tenagaku akan buyar dan aku menghadapi kematian. Ini takdir. Tiada manusia dapat melawan takdir.’

Membaca sampai di situ Bu Kie menghela napas, “Jika begitu, sebelum menulis surat Yo-kauwcu sudah tahu adanya pertemuan antara Seng Kun dan isterinya di jalan rahasia ini,” katanya.

Siauw Ciauw mengawasi pemuda itu dengan sorot matanya, tapi ia tidak berani membuka mulut. Maka itu secara singkat Bu Kie lalu menceritakan tentang Seng Kun dan Yo-hujin.

“Menurut pendapatku, Yo-hujin lah yang bersalah,” kata si nona. “Kalau ia tetap mencintai Seng Kun, seharusnya ia tak boleh menikah dengan Yo-kauwcu. Setelah menikah dengan Yo-kauwcu, ia tidak boleh membuat pertemuan rahasia lagi dengan Seng Kun.”

Bu Kie manggut-manggutkan kepalanya. Di dalam hati dia memuji nona cilik yang sudah mampu membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Sesudah berdiam sejenak, dia membaca lagi.

‘Ciu-kauwcu adalah seorang gagah dan berakal budi. Sungguh sayang dia mati di tangan Su-tianglo (empat tetua) dari Kay-pang. Sebegitu lama barang peninggalan Ciu-kauwcu belum bisa diambil kembali, sebegitu lama juga di mana adanya Seng-hwee-leng belum bisa diketahui. Sekarang aku menghadapi kematian dan aku telah menyia-nyiakan pesan Ciu-kauwcu. Aku adalah orang berdosa dalam agama kita. Dengan menggunakan suratku ini, kuharap Hujin sudi mengumpulkan kedua Kong-beng Sucia, keempat Hu-kauw Hoat-ong, kelima Ngo-beng Khie-see beserta Ngo-sianjin. Beri-tahukanlah kepada mereka bahwa aku memerintahkan sebagai berikut: ‘Siapa pun juga yang bisa mengambil barang peninggalan Ciu-kauwcu dan Seng-hwee-leng maka dialah yang akan menjadi Kauwcu turunan ke tiga puluh empat dari agama kita. Siapa pun yang membantah boleh segera dibinasakan!’ Aku pun memerintahkan supaya untuk sementara waktu Cia Sun bertindak sebagai Hu-kauwcu (wakil pemimpin agama) untuk mengurus berbagai urusan dari agama kita.’

Hati Bu Kie berdebar-debar. Kini tahulah dia bahwa ayah angkatnya telah ditunjuk oleh Yo Po Thian sebagai Hu-kauwcu. Hanya sayang, Yo-hujin sudah bunuh diri. Bila tidak, orang-orang Beng-kauw tentu tidak sampai saling bermusuhan dan saling bunuh. Di dalam hati kecilnya diam-diam Bu Kie merasa bangga karena Yo Po Thian sudah menghargai ayah angkatnya. Dia membaca lagi.

‘Untuk sementara waktu, ilmu Kian-kun Tay-lo-ie harus diserahkan kepada Cia Sun. Nanti setelah ada kauwcu baru barulah Sim-hoat itu diserahkan kepadanya. Kauwcu yang baru mempunyai tugas untuk memperbesar agama kita, mengusir kaum penjajah, melakukan perbuatan yang mulia, menumpas kejahatan, meluruskan yang bengkok dan membasmi segala kebusukan.’

Bu Kie berhenti lagi. Ia bingung dan berkata dalam hatinya, “Jika dilihat begini, Beng-kauw mempunyai tujuan yang amat mulia. Berbagai partai persilatan yang memusuhi agama itu adalah perbuatan yang tidak pantas.” Dia menghela napas dan melanjutkan.

‘Dengan menggunakan Sin-kang yang masih berada dalam tubuhku, aku akan menutup pintu batu supaya aku bisa berada bersama-sama Seng-sute. Untuk selama-lamanya aku tak akan berpisah lagi dengan dia. Hujin sendiri bisa meloloskan diri dengan melihat peta jalan rahasia. Pada jaman ini tiada orang lain yang bisa menggerakkan pintu batu Bu Ong-wie. Andai kata di kemudian hari ada seorang gagah yang dapat membuka pintu itu, aku dan Seng-sute sudah menjadi kerangka belaka.

Hormat dari suamimu, Po Thian.’


Di belakang surat itu terdapat sebuah peta yang melukiskan semua jalan dan pintu-pintu dari jalan rahasia itu. Bu Kie girang tak kepalang.

“Ternyata Yo-kauwcu memang ingin mengurung Seng Kun di jalan rahasia ini dan rela mati bersama-sama,” katanya. “Sayang sekali ia tak dapat mempertahankan diri dan sudah mati terlebih dahulu, sedangkan manusia busuk itu masih bisa malang melintang hingga sekarang. Bagus juga kita mendapat peta ini sehingga kita akan bisa keluar.”

Sehabis berkata begitu dia meneliti peta tersebut dan mencari tempat pada peta di mana mereka berada sekarang. Tiba-tiba dia seperti diguyur air dingin. Mengapa? Karena jalan keluar satu-satunya adalah jalan yang sudah ditutup dengan batu raksasa oleh Seng Kun. Peta berada di tangan, tetapi tidak berguna!

“Kongcu, jangan terlalu bingung,” hibur Siauw Ciauw. “Mungkin sekali kita dapat mencari jalan lain.“ Ia mengambil peta itu dari tangan Bu Kie kemudian memperhatikannya. Tetapi walau pun sudah melihat sampai matanya berkunang-kunang, dia tidak bisa mendapatkan jalan lain. Jalan yang tertutup batu itu adalah satu-satunya jalan.

Melihat paras si nona yang putus harapan, Bu Kie tertawa getir. “Menurut surat Yo-kauwcu, orang yang sudah berhasil dalam Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dapat mendorong pintu batu itu,” katanya. “Di saat ini hanya Yo Siauw Sian-seng yang pernah berlatih ilmu itu, tetapi kepandaiannya masih cetek sehingga andai kata dia berada di sini, belum tentu dia dapat berhasil. Di samping itu kita pun tidak tahu di mana tempat kedudukan Bu Ong-wie. Tempat itu tidak tertulis di atas peta, di mana kita harus mencarinya?”

“Bu Ong-wie?” tegas Siauw Ciauw.

Bu Ong-wie merupakan salah satu ‘wie’ (kedudukan) dari enam kedudukan yang terdapat dalam Lak-cap Sie-kwa (ilmu pentang-pentangan) dari Hok-hie. Bu Ong-wie terletak di antara Beng Ie-wie dan Swee-wie. Seraya berkata begitu dia berjalan sesuai dengan kedudukan dari ilmu pentang-pentangan itu. Sesudah berada di sudut barat laut dari ruangan itu, dia berkata,

“Kalau tidak salah di sini.”

Semangat Bu Kie terbangun, “Apa benar?” tanyanya.

Bu Kie cepat berlari ke tempat senjata kemudian mengambil sebuah kampak. Dengan alat itu dia membersihkan tanah dan pasir yang melekat pada dinding. Benar saja, dia segera mendapatkan garis-garis yang menunjukkan adanya sebuah pintu. Dia girang dan berkata dalam hati,

“Meski pun tak mengenal Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang tapi aku sudah memiliki Kiu-yang Sin-kang. Mungkin dapat digunakan.”

Dia segera mengumpulkan hawa tulen di bagian pusar, mengerahkan tenaga dalam pada kedua lengannya, kemudian memasang kuda-kuda dan mendorong pintu. Namun pintu itu tidak bergeming. Dia mencoba berulang-ulang dengan segenap tenaganya, tapi tetap tidak berhasil. Dia mendorong terus hingga tulang-tulangnya berkerotokan dan kedua lengannya lemas. Pintu tetap tidak bergerak!

“Thio-kongcu, sudahlah!” kata Siauw Ciauw. “Sebaiknya kita gunakan bahan peledak.”

“Baiklah, aku lupa kita masih punya bahan peledak,” kata pemuda itu.

Mereka segera mengambil sisa bahan peledak dan meledakkannya di bawah pintu. Batu memang somplak, tapi pintunya tetap tidak bergerak. Dengan rasa menyesal dan terharu Bu Kie menarik tangan si nona lantas berkata dengan suara halus,

“Siauw Ciauw... akulah yang bersalah, aku mengajak kau kemari sehingga kau tidak bisa keluar lagi.”

Si nona mengawasi muka Bu Kie dengan matanya yang bening. “Thio-kongcu, sebetulnya kaulah yang harus menyalahkan aku,” katanya. “Kalau aku tidak membawa kau kemari... kau... kau tidak...“ Dia tidak bisa meneruskan perkataannya melainkan menyeka air mata dengan lengan bajunya.

Untuk beberapa saat mereka hanya membungkam. Tiba-tiba si nona tertawa. “Sudahlah!” katanya. “Kita tidak dapat keluar, jengkel pun tak berguna. Sebaiknya aku menyanyi. Apa kau setuju?”

Sebenarnya Bu Kie tidak punya kegembiraan untuk mendengarkan nyanyian, tapi supaya tidak mengecewakan si nona, dia mengangguk.

“Bagus!” katanya sambil tertawa.

Siauw Ciauw segera duduk di samping pemuda itu. Setelah mendehem beberapa kali, dia mulai bernyanyi.

‘Bersandar di goa,
Membuat gubuk,
Biar pun melarat, tetap bahagia,
Di tepi sungai berbicara dengan si pencari kayu,
Di gunung mencari sahabat lama,
Di angkasa berkawan dengan burung Hong,
Dia berhasil,
Dia menertawai kita!
Dia gagal,
Kita menertawai dia!’

Waktu si nona bernyanyi, Bu Kie tak begitu memperhatikan. Tapi sesudah mendengar ‘dia berhasil, dia menertawai kita, dia gagal, kita menertawai dia’ hatinya tertarik dan ditambah dengan suara si nona yang sangat merdu, rasa jengkelnya segera menghilang. Sementara itu si nona sudah melanjutkan nyanyiannya.

‘Syair menghilangkan kedukaan,
Pedang penuh keangkeran,
Seorang Enghiong tak pedulikan kemiskinan atau kekayaan,
Di sungai membunuh Kauw,
Dikira memanah Tiauw,
Di daerah perbatasan memutar golok,
Dia berhasil,
Dia menertawai kita,
Dia gagal,
Kita menertawai dia.’

Waktu bernyanyi di bagian itu, suara si nona nyaring dan bernada gagah.

“Siauw Ciauw, suaramu sungguh merdu!” Bu Kie memuji. “Siapa yang menggubah lagu itu?”

Si nona tertawa. “Kau bohong! Suaraku tidak keruan,” katanya. “Aku hanya meniru nyanyian orang lain. Tidak tahu siapa yang menggubahnya.“ Sesudah berdiam sejenak dia berkata lagi. “Apa benar kau senang mendengarnya? Tidak bohong?”

Bu Kie tertawa nyaring, “Mana bisa aku berbohong di depanmu,” katanya. “Tidak! Memang benar suaramu merdu dan sajak lagu itu indah sekali. Sungguh!”

“Baiklah, kalau begitu aku mau bernyanyi lagi,” kata si nona. “Sayang sekali tidak ada pie-pee (semacam gitar).“ Sambil menepuk-nepuk batu dengan lima jarinya, dia segera bernyanyi lagi.

‘Perubahan di dunia silih berganti,
Manusia harus menyesuaikan diri,
Nasib memutuskan kemakmuran atau keruntuhan,
Dalam kebahagiaan tersembunyi mala petaka,
Dalam mala petaka tersembunyi kebahagiaan,
Mana ada kekayaan abadi?
Dari angkasa sang surya kelam ke barat,
Dari bundar sang rembulan somplak sebelah,
Di langit dan di bumi tak ada yang sempurna,
Hilangkan kerutan alis,
Hentikan permusuhan remeh,
Paras muka di hari ini,
Lebih tua dari pada kemarin,
Yang lama pergi yang baru datang,
Semua tak terluput,
Yang pintar, yang bodoh,
Yang miskin, yang kaya,
Pada akhirnya manusia,
Tidak bisa lari dari hari itu,
Hari ini ada kesenangan,
Nikmatilah kesenangan,
Siang dan malam seratus tahun,
Yang berusia tujuh puluh tahun jarang ada,
Sang waktu mengalir bagaikan air,
Gelombang demi gelombang.’

Sajak itu adalah pengutaraan isi hati dari seseorang yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia dan yang sudah bisa melihat tidak kekalnya segala keduniawian. Bahwa sajak itu diucapkan oleh orang muda belia seperti Siauw Ciauw, kelihatannya sangat tidak sesuai. Mungkin sekali dia tidak tahu artinya. Dia hanya mendengar nyanyian orang lain lalu menirunya.

ILMU API SUCI

Tapi Bu Kie lain lagi. Dia masih muda, namun selama sepuluh tahun dia telah merasakan bermacam-macam kegetiran dan mendapat berbagai pengalaman luar biasa. Sekarang dia terkurung di perut gunung dan di hadapannya tidak ada jalan hidup. Tetapi sesudah mendengar nyanyian Siauw Ciauw, dia merasa dadanya lega. Dia merasa kuat, terutama karena dua baris kalimat yang berbunyi:

‘pada akhirnya manusia,
tidak bisa lari dari hari itu.’


‘Hari itu’! ‘Hari’ yang mesti dialami setiap manusia, setiap makhluk berjiwa. ‘Hari’ pulang ke alam baka. Sebagai manusia, Bu Kie yang masih berusia muda telah beberapa kali mengalami detik-deyik mati atau hidup. Pada masa lampau, mati atau hidupnya tidak bersangkutan dengan siapa pun juga. Tapi sekarang keadaan agak berlainan. Kematiannya bukan saja menyeret Siauw Ciauw, tapi juga mempunyai hubungan dengan mati hidupnya Beng-kauw, selamat celakanya Yo Siauw dan yang lainnya, permusuhan antara Goan-tin dengan ayah angkatnya. Dia tidak takut mati, terlebih setelah mendengar nyanyian si nona. Tapi kalau boleh, dia tidak mau mati sekarang karena dia merasa masih memikul tugas-tugas yang belum diselesaikan.

Dia lalu bangkit dan mendorong lagi pintu batu itu. Dia merasakan mengalirnya Cin-khie di seluruh tubuhnya, sepertinya dia mempunyai tenaga yang besarnya tidak terbatas tetapi tidak dapat dikeluarkan. Tenaga itu seperti gelombang air bah yang tertahan oleh gili-gili. Tiga kali dia mencoba, tiga kali pula dia gagal. Sementara itu Siauw Ciauw sudah melukai lagi jari tangannya dan mengoleskan darahnya di kulit kambing,

“Thio-kongcu,” katanya. “Apakah tidak baik jika kau melatih Sin-kang dari Kian-kun Tay-lo-ie? Kau sangat cerdas, mungkin sekali segera berhasil.”

Bu Kie tertawa. “Para Kauwcu dari Beng-kauw sudah berlatih seumur hidup, tetapi hanya beberapa orang saja yang dapat dikatakan berhasil,” jawabnya. “Sebagai Kauwcu mereka pasti bukan orang sembarangan. Mereka semua mempunyai kecerdasan dan kepandaian yang sangat tinggi. Bagaimana caranya aku bisa mengharap bahwa dalam waktu singkat aku bisa berhasil dalam suatu latihan yang sangat sukar, yang tidak dapat dilakukan oleh para mendiang Kauwcu itu?”

Si nona tidak menyahut. Dia menunduk kemudian bernyanyi dengan perlahan.

‘Hari ini ada kesenangan,
Nikmatilah kesenangan itu,
Hari ini bisa berlatih,
Berlatihlah hari ini.’

Sambil tersenyum Bu Kie mengambil kulit kambing itu dari tangan Siauw Ciauw, kemudian membacanya. Ia mendapat kenyataan bahwa apa yang tertulis pada kulit itu adalah ilmu untuk menjalankan pernapasan dan mempergunakan tenaga dalam. Ia lalu mencoba-coba dan... dengan mudah ia berhasil. Pada kulit itu juga terdapat tulisan yang berbunyi seperti berikut:

‘Inilah Sin-kang tingkat pertama. Orang cerdas dan berbakat dapat berhasil dalam waktu tujuh tahun. Orang biasa harus menggunakan waktu empat belas tahun.’

Bu Kie heran tak kepalang. Ia berhasil dalam sekejap mata. Mengapa dalam kulit kambing tertulis harus menggunakan sedikitnya tujuh tahun? Ia segera membaca ilmu tingkat kedua dan terus berlatih. Kali ini pun dia berhasil dengan mudah. Ia merasa semacam hawa dingin yang halus seperti benang seolah menyambar keluar dari sepuluh jari tangannya. Di bawah ilmu itu terdapat penjelasan sebagai berikut:

‘Inilah Sin-kang tingkat ke dua. Orang cerdas dan berbakat dapat berhasil dalam waktu tujuh tahun. Orang biasa harus menggunakan waktu sedikitnya empat belas tahun. Mana kala sudah berlatih dua puluh satu tahun tapi masih belum mendapat kemajuan, orang itu dilarang maju pada tingkat ketiga, untuk mencegah kecelakaan yang tidak dapat ditolong lagi.’

Menurut kepercayaan, kalau seseorang melatih Iweekang tingkat tinggi secara salah atau memaksakan diri, maka ilmu itu dapat membinasakan orang yang berlatih seperti ‘golok makan tuan’. Bu Kie kaget bercampur girang. Dengan bernafsu ia segera membaca ilmu ke tiga. Ketika itu huruf-huruf di atas kulit kambing sudah mulai buram, tetapi baru saja ia mau mencabut pisau untuk menggores jari tangannya, Siauw Ciauw telah mendahului dan mengoles kulit kambing dengan darahnya.

Bu Kie berhasil dalam ilmu ke tiga dan keempat sama mudahnya seperti orang membelah bambu. Dengan hati ketakutan Siauw Ciauw mengawasi muka pemuda itu yang berwarna aneh, sebelah pucat sebelah hijau. Tapi hatinya segera tenteram kembali karena paras Bu Kie tetap tenang dan hanya kedua matanya berkilat-kilat. Waktu Bu Kie melatih Sin-kang tingkat ke lima, suatu perubahan terjadi pada dirinya. Mukanya sebentar biru sebentar merah. Pada waktu mukanya biru badannya agak gemetaran dan berhawa dingin laksana gundukan es, sedangkan ketika mukanya merah keringat menetes turun seperti hujan gerimis dari kedua pipinya.

Siauw Ciauw mengeluarkan sapu tangan lalu mengangsurkan tangannya untuk menyeka keringat di muka pemuda itu. Tapi baru saja sapu tangan itu menyentuh dagu, lengannya mendadak bergetar dan hampir-hampir ia jatuh terjengkang.

Bu Kie bangkit dan menyapu keringat dengan lengan bajunya. Ia tidak mengerti mengapa Siauw Ciauw terhuyung. Ia tidak mengerti bahwa ia sudah berhasil dalam latihan Sin-kang tingkat ke lima.

Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang adalah suatu ilmu yang menakjubkan untuk mengerahkan dan menggunakan tenaga. Pada hakekatnya ilmu tersebut adalah untuk mengeluarkan tenaga luar biasa yang tersembunyi di dalam tubuh setiap manusia. Dalam keadaan biasa tenaga yang bersembunyi itu tidak bisa dikeluarkan. Hanya pada detik-detik berbahaya, misalnya pada waktu kebakaran, barulah tenaga itu keluar. Sering kita mendengar cerita bahwa dalam menghadapi bencana, seseorang yang lemah sanggup melakukan perbuatan yang luar biasa seperti mengangkat barang yang beratnya ratusan atau ribuan kati yang tidak akan dapat dilakukannya dalam keadaan biasa.

Setelah berhasil dalam Kiu-yang Sin-kang, tenaga yang bersembunyi dalam tubuh Bu Kie tidak dapat tertandingi oleh siapa pun juga di dunia ini. Tapi karena belum mendapat petunjuk dari seorang guru yang pandai, ia masih belum bisa menggunakan tenaga yang bersembunyi itu. Sekarang, setelah mempelajari Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dan melatih diri dalam ilmu itu, maka tenaganya yang tersembunyi langsung membanjir keluar bagaikan air bah yang tak dapat ditahan lagi.

Bagi manusia biasa, Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang adalah ilmu yang sangat sukar dipelajari dan salah sedikit saja dalam latihannya, ilmu itu bisa ‘makan tuan’, bisa membinasakan si pelajar sendiri. Mengapa demikian? Karena ilmu untuk mengerahkan tenaga dalam sangat berbelit-belit, sementara si pelajar sendiri tidak mempunyai tenaga dalam yang cukup kuat untuk mengimbanginya.

Sebagai contoh, kalau seorang bocah yang baru berusia tujuh atau delapan tahun bersilat menggunakan martil yang beratnya ratusan kati, maka makin sulit ilmu silat yang dijalankannya, makin pula gampang kepalanya terpukul martil. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi jika yang bersilat dengan martil itu seorang dewasa yang bertenaga besar.

Pada waktu yang lalu, orang-orang yang melatih diri dalam Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang semuanya tidak memiliki cukup tenaga tapi memaksa diri belajar. Sebagaimana diketahui, seorang ahli silat yang sedang belajar serupa ilmu, biasanya tidak bisa merasa puas dan rela mengundurkan diri di tengah jalan. Sebab itu banyak yang sudah menjadi korban dari latihan yang dipaksakan.

Mengapa Bu Kie berhasil sedangkan tokoh-tokoh yang lebih hebat gagal? Jawabnya amat sederhana. Karena Bu Kie memiliki cukup tenaga yang didapat dari latihan Kiu-yang Sin-kang. Sesudah berhasil menyelesaikan latihan tingkat ke lima, pemuda itu merasa semangatnya bergelora dan tenaga dalamnya dapat dikeluarkan atau ditarik kembali sesuka hati. Selain itu ia pun merasakan kesegaran luar biasa pada sekujur badannya. Kini ia melupakan hal untuk mendorong pintu batu dan terus mempelajari ilmu tingkat keenam.

Berselang kurang lebih satu jam ia telah mulai dengan ilmu tingkat ke tujuh. Inilah tingkat yang paling sukar, berlipat ganda lebih sukar dari pada pelajaran tingkat ke enam. Untung juga ia mahir dalam ilmu pengobatan dan ‘hiat-to’. Dengan pengetahuan itu ia selalu dapat memecahkan bagian-bagian yang sulit dan kurang terang. Sesudah berhasil dengan sebagian besar dari ilmu tingkat ketujuh itu, tiba-tiba ia bertemu dengan satu bagian ilmu yang dilukiskan dengan beberapa baris huruf. Setelah membaca dengan teliti, ia lalu mulai berlatih menurut petunjuk itu. Mendadak ia merasa hawa yang rasanya bergejolak sedangkan jantungnya berdetak keras. Ia cepat menghentikan latihan dan menentramkan semangatnya. Beberapa saat kemudian ia berlatih lagi, tetapi hasilnya sama saja.

Ia melompati kalimat yang pertama dan berlatih dengan kalimat kedua. Latihan itu berjalan lancar, tapi waktu tiba pada kalimat ketiga, ia kembali mengalami kesukaran. Makin lama kesulitan semakin besar. Setelah ia mempelajari seluruh Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, ada tiga belas kalimat yang tidak berhasil dilatih olehnya. Sesudah berpikir beberapa saat, Bu Kie menaruh kulit kambing itu di atas batu kemudian berlutut dan menyembah beberapa kali. Dengan suara perlahan ia berkata,

“Secara tidak sengaja teecu Thio Bu Kie telah mendapatkan ilmu Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang dari Beng-kauw. Dalam mempelajari ilmu tersebut tujuan teecu hanyalah untuk menolong jiwa sendiri dan bukan semata-mata ingin mencuri ilmu Beng-kauw. Kalau teecu bisa lolos dari tempat berbahaya ini, dengan mempergunakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang teecu akan berusaha sekeras-kerasnya guna kepentingan Beng-kauw. Teecu pasti takkan melupakan budi para Kauwcu yang sudah menolong jiwa teecu.”

Siauw Ciauw turut berlutut dan sesudah manggutkan kepalanya beberapa kali, ia berdoa dengan suara perlahan,

“Teecu mohon supaya para leluhur melindungi Thio-kongcu dalam usaha menegakkan kembali agama kita dan memulihkan keangkeran para leluhur.”

Bu Kie bangkit seraya berkata, “Aku bukan murid Beng-kauw dan mengingat ajaran Thay-suhu, aku pun tidak akan masuk ke dalam kalangan Beng-kauw. Tapi sesudah membaca surat wasiat Yo-kauwcu, aku yakin sekali bahwa tujuan Beng-kauw adalah luhur dan lurus. Sebab itu aku bertekad untuk menggunakan segenap tenagaku guna menyingkirkan salah pengertian berbagai partai dan mendamaikan permusuhan kedua belah pihak.”

“Thio-kongcu, kau mengatakan bahwa kau gagal melatih tiga belas kalimat,” kata Siauw Ciauw. “Mengapa kau tak mau mengaso dan sesudah segar baru mencoba lagi?”

“Biar bagaimana pun juga hari ini aku sudah berhasil dalam Sin-kang tingkat ketujuh,” kata Bu Kie. “Memang benar ada tiga belas kalimat yang dilompati dan dalam keseluruhannya masih terdapat suatu kekurangan. Akan tetapi sebagaimana dikatakan dalam nyanyianmu sendiri, dalam dunia ini tak ada sesuatu yang sempurna. Mengapa aku ini tak bisa merasa puas? Apakah jasa dan kemuliaannya Thio Bu Kie sehingga ia mesti memiliki seluruh ilmu dari Beng-kauw? Aku menganggap pantas sekali kalau aku tidak berhasil dalam tiga belas kalimat itu.”

“Benar kata Kongcu,” jawab si nona yang lalu mengambil kulit kambing itu dari tangan Bu Kie dan minta diberi-tahu kalimat-kalimat mana saja yang dimaksudkan itu. Diam-diam ia membaca ketiga belas kalimat itu beberapa kali.

“Perlu apa kau menghafal?” tanya Bu Kie sambil tersenyum.

Paras si nona berubah merah. “Tak apa-apa,” jawabnya dengan jengah. “Aku hanya ingin tahu kalimat apa yang sedemikian sukar sehingga tak dapat dipecahkan olehmu sendiri.“

Tetapi di dalam hatinya Siauw Ciauw mempunyai maksud lain. Ia tahu bahwa pemuda itu seorang yang jujur dan jika mereka bisa keluar dari tempat itu, ia tentu akan menyerahkan kulit kambing itu kepada Yo Siauw. Ia menghafal tiga belas kalimat itu supaya kalau pada kemudian hari Bu Kie hendak mencoba lagi, ia bisa membantu biar pun kulit kambingnya sudah berada di tangan orang lain.

Dengan mengenal batas, tanpa diketahui olehnya sendiri, Bu Kie telah menyelamatkan diri dari suatu bahaya. Dulu tokoh yang menciptakan ilmu Kian-kun Tay-lo-ie adalah seorang yang mempunyai tenaga dalam sangat tinggi tetapi tenaga dalamnya belum mencapai tingkat Kiu-yang Sin-kang. Ia menggubah Sin-kang ke tujuh tetapi ia sendiri belum berhasil melatih seluruhnya. Ada beberapa bagian yang ditulis bukan berdasarkan kenyataan tapi khayalan yang keluar dari otaknya yang cerdas luar biasa. Tiga belas kalimat yang tidak dapat ditembus Bu Kie adalah bagian khayalan itu.

Mana kala Bu Kie tidak mengenal batas dan bertekad untuk memiliki seluruh ilmu, maka ia akan menyimpang ke jalan yang salah sehingga pada akhirnya ilmu itu akan ‘makan tuan’. Dia bisa menjadi gila atau binasa! Sesudah mengaso beberapa saat, Bu Kie dan Siauw Ciauw lantas mengubur kerangka Yo Po Thian dan isterinya dengan pasir dan batu-batu kecil. Setelah itu mereka menghampiri pintu batu. Bu Kie menempelkan tangan kanannya di pintu itu dan mendorong dengan menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Begitu didorong, pintu itu bergerak. Ia menambah tenaga dan pintu lantas terbuka dengan perlahan. Siauw Ciauw kegirangan. Ia melompat-lompat sambil menepuk-nepuk tangan. Mendengar suara kerincingan rantai, Bu Kie berkata,

“Coba aku berusaha memutuskan rantai itu.”

“Kali ini kau pasti berhasil,” kata si nona.

Bu Kie membetot seraya mengerahkan Iweekang, tetapi rantai itu tidak putus melainkan hanya mulur saja.

“Celaka! Makin panjang akan makin sukar,” kata Siauw Ciauw.

Bu Kie menggelengkan kepala. “Aneh benar.”

Mengapa rantai itu begitu alot? Sebetulnya rantai tersebut terbuat dari sebuah batu meteor yang jatuh dari langit. Batu itu mengandung semacam logam yang sifatnya sangat berbeda dengan logam apa pun juga yang ada di dunia. Secara kebetulan batu itu dipatahkan oleh salah seorang Kauwcu dari Beng-kauw dan secara kebetulan pula pada jaman itu hidup seorang pandai besi yang luar biasa. Dengan menggunakan api si pandai besi melebur batu itu kemudian membuat rantai yang sekarang terikat pada kaki tangan Siauw Ciauw. Bahwa Bu Kie bisa menariknya sehingga mulur sudah merupakan suatu perbuatan yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun juga. Siauw Ciauw menunduk dan menghela napas.

“Jangan risau, serahkan saja padaku,” hibur Bu Kie. “Aku akan berusaha untuk membuka rantai itu. Kita telah terkurung dalam perut gunung tetapi kita masih bisa keluar. Aku tidak percaya jika kita tidak berdaya terhadap rantai yang begitu kecil.”

Si nona mendongak dan berkata seraya tertawa. “Thio-kongcu, sesudah berjanji kuharap kau tidak mungkir lagi.”

“Aku akan minta supaya Put Hwie Moay-moay membuka rantai itu,” kata Bu Kie. “Ia pasti tak akan menolak permintaanku.”

Dalam tekadnya mencari Goan-tin, Bu Kie segera mendorong lagi dua batu raksasa yang beratnya berlaksa kati. Walau pun ia memiliki Sin-kang tetapi tenaga manusia selalu terbatas. Kedua batu itu hanya bergoyang-goyang sedikit namun tidak dapat digeser. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersama Siauw Ciauw lalu keluar dari pintu batu yang terbuka. Sesudah berada di luar, ia memutar badan untuk menutupnya pula. Namun yang merupakan daun pintu ternyata adalah batu raksasa, Bu Kie menghela napas. Untuk membuat terowongan di bawah tanah itu, entah berapa banyak tenaga serta pikiran yang sudah digunakan oleh orang-orang Beng-kauw.

Dengan tangan memegang peta jalan rahasia, Bu Kie mengajak Siauw Ciauw mencari jalan keluar. Terowongan itu banyak cabangnya, tetapi dengan pertolongan peta, tanpa banyak kesulitan mereka bisa keluar. Begitu berada di alam bebas, mereka memejamkan mata karena tidak tahan dengan sinar terang yang menyilaukan. Selang beberapa lama, perlahan-lahan mereka membuka mata lagi. Ternyata mereka berada di atas bumi yang tertutup salju. Mata mereka silau oleh sebuah gundukan salju yang bersinar terang disorot matahari. Sementara itu Siauw Ciauw meniup api obor, membuat sebuah lubang di salju kemudian menguburkan potongan kayu yang tadi dijadikan obor di dalam lubang itu.

“Kayu, oh kayu!” katanya dengan suara pelan. “Terima kasih banyak atas pertolonganmu. Kamu telah memberikan sinar terang sehingga Thio-kongcu dan aku bisa keluar dari goa. Tanpa pertolonganmu kami tentu akan binasa.”

Bu Kie tertawa terbahak-bahak, hatinya gembira sekali. “Di dunia ini banyak sekali manusia yang tidak mengenal budi,” pikirnya. “Dengan berbuat begini Siauw Ciauw sudah menunjukkan bahwa ia seorang yang luhur budinya.“ Ia merasa kagum, ia mengawasi kulit muka yang putih bagai batu pualam. Tanpa sadar ia memuji, “Siauw Ciauw, kau sungguh cantik.”

“Thio-kongcu, apa kau membohongi aku?” tanya si nona dengan girang.

“Sekarang kau ayu sekali,” jawabnya. “Tapi kau tak boleh berlagak bongkok dan pincang lagi.”

“Baiklah,” kata Siauw Ciauw. “Jika kau berkata begitu, biar pun Siocia membunuhku, aku takkan menyamar lagi.”

“Gila! Perlu apa dia membunuhmu?” bentak Bu Kie.

Mereka segera pergi ke pinggir tebing dan memperhatikan keadaan di sekitarnya. Kiranya mereka berada di lereng sebuah puncak. Waktu datang di Kong-beng-teng, Bu Kie berada dalam karung Swee Put Tek sehingga dia sama sekali tidak tahu keadaan bumi di gunung ini. Sekarang pun ia masih belum tahu di mana mereka berada. Sambil menudung mata dengan tangannya dia memandang ke tempat jauh. Mendadak dia melihat beberapa sosok tubuh manusia yang tergeletak di sebelah barat laut.

“Coba kita lihat,” katanya sambil memegang tangan Siauw Ciauw lalu menuju tanjakan itu dengan berlari cepat. Sesudah memiliki Kiu-yang dan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang, setiap gerakan Bu Kie hebat luar biasa. Maka itu biar pun membawa Siauw Ciauw tetapi larinya cepat bagaikan walet terbang, dalam sekejap mereka sudah tiba di tempat yang dituju.

Ada empat mayat rebah di situ, semua berlumuran darah. Tiga di antaranya mengenakan seragam Beng-kauw ada pun yang seorang pendeta, mungkin sekali murid Siauw-lim-si.

“Celaka!” seru Bu Kie di dalam tenggorakan. “Selagi kita berada di perut gunung, keenam partai sudah berada di sini.“ Ia meraba dada keempat mayat itu. Semuanya dingin.

Ia segera menarik tangan Siauw Ciauw dan mendaki puncak dengan mengikuti tapak kaki. Sesudah melewati beberapa puluh tombak, mereka kembali bertemu dengan tujuh mayat yang bentuknya sangat mengerikan. Bu Kie menjadi bingung.

“Bagaimana dengan Yo Siauw Sian-seng dan Put Hwie Moay-moay?” katanya.

Ia berlari makin cepat sehingga Siauw Ciauw merasa seolah-olah sedang terbang dengan ditenteng pemuda itu. Sesudah membelok di sebuah tikungan, mereka bertemu dengan lima mayat murid Beng-kauw yang semuanya tergantung di pohon dengan kepala di bawah kaki di atas dan muka seperti dicakar dengan cakar yang sangat tajam.

“Ah! Itulah cakar Houw-jiauw-chiu (Cakar Harimau) dari Hoa-san-pay,” kata Siauw Ciauw.

“Siauw Ciauw, bagaimana kau tahu?” tanya Bu Kie dengan heran. “Siapa yang memberi-tahu?”

Tapi, karena memikirkan keselamatan kedua belah pihak yang sedang bermusuhan, tanpa menunggu jawaban dia terus berlari. Di sepanjang jalan dia bertemu dengan mayat-mayat, sebagian besar adalah mayat murid Beng-kauw, tapi mayat murid keenam partai pun tak sedikit jumlahnya. Bu Kie menduga bahwa selama sehari semalam dia terkurung di perut gunung, keenam partai telah melakukan serangan besar-besaran. Karena Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain terluka berat maka murid-murid Beng-kauw tidak punya pemimpin sehingga dalam pertempuran itu mereka jatuh di bawah angin. Meski pun begitu mereka melawan dengan nekat dan akhirnya mendapat kerusakan besar. Ketika hampir sampai di puncak gunung, Bu Kie mendengar suara bentrokan senjata yang sangat hebat. Hatinya menjadi agak lega.

“Pertempuran belum berhenti, rupanya keenam partai belum masuk di toa-thia,” pikirnya. Dia segera mempercepat langkahnya.

Mendadak dua batang piauw menyambar. “Siapa kau?! Berhenti!” bentak seseorang.

Sambil menghentikan langkah Bu Kie mengibaskan tangan sehingga dua piauw itu lantas terbang kembali.

“Aduh!” seseorang berteriak dan terus roboh.

Bu Kie kaget, yang roboh seorang pendeta. Kedua piauw itu menembus pundaknya lalu menancap di salju. Ia tertegun. Ia mengibas dengan pelan hanya untuk memukul jatuh senjata rahasia itu. Tapi tak disangka kibasan itu bertenaga sedemikian besar. Buru-buru ia membangunkan si pendeta dan berkata,

“Aku bersalah telah melukai Taysu, mohon Taysu sudi memaafkan.”

Darah berlumuran dari lukanya, namun pendeta itu sangat tegap dan gagah. Tiba-tiba dia menendang dan kakinya mampir tepat pada lambung Bu Kie yang tidak menyangka akan diserang dengan cara begitu. Tetapi hampir bersamaan dengan tendangan kaki kanannya itu, tubuh si pendeta terpental kemudian menghantam sebuah pohon sehingga tulang kaki kanannya patah dan mulutnya mengeluarkan darah.

Bu Kie sendiri tidak tahu bahwa sesudah mempunyai dua macam Sin-kang, kini di dalam tubuhnya terdapat semacam tenaga dahsyat yang dapat melawan setiap pukulan secara wajar. Melihat pendeta itu terluka berat, hati Bu Kie semakin tidak enak. Dia membangunkannya dan berulang-ulang memohon maaf. Pendeta itu mengawasinya dengan mata melotot. Ia heran bercampur marah. Tiba-tiba dalam pekarangan yang terkurung tembok terdengar tiga kali teriakan kesakitan. Bu Kie tidak dapat memperhatikan pendeta itu lagi. Sambil menarik tangan Siauw Ciauw, dia masuk dengan berlari-lari.

Sesudah melewati dua ruangan, mereka sampai di sebuah lapangan terbuka yang penuh manusia. Rombongan yang berkumpul di sebelah barat berjumlah lebih kecil dan sebagian besar sudah terluka dengan pakaian berlumuran darah. Rombongan itu adalah rombongan Beng-kauw. Jumlah rombongan yang di sebelah timur beberapa kali lipat lebih banyak dan terbagi jadi enam barisan kecil. Mereka itu adalah rombongan keenam partai.

Bu Kie segera dapat melihat bahwa Yo Siauw, Yo Put Hwie, Wie It Siauw, Swee Put Tek dan yang lain-lainnya berada di tengah-tengah rombongan Beng-kauw. Mereka belum bisa bergerak. Di tengah gelanggang terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat. Karena semua mata menuju ke arah pertandingan itu, maka masuknya Bu Kie dan Siauw Ciauw tidak diperhatikan siapa pun.

Perlahan Bu Kie mendekat. Dua orang itu berkelahi dengan tangan kosong. Sambaran-sambaran angin dahsyat yang keluar dari pukulan-pukulan mereka menandakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat kelas utama. Mereka bertempur dengan kecepatan kilat dan setiap pukulan istimewa selalu disambut dengan sorak sorai. Bu Kie mengawasi dengan hati berdebar. Ia mengenali bahwa yang satu, yang bertubuh kecil adalah Bu-tong Sie-hiap Thio Siong Kee, sedang lawannya adalah seorang tua yang berbadan tinggi besar, beralis putih dan berhidung bengkok seperti patok burung.

“Siapakah kakek itu?” tanyanya dalam hati.

Mendadak dari rombongan Hoa-san-pay terdengar teriakan seseorang. “Tua bangka Peh-bie! Lebih baik kau menyerah kalah! Kau bukan tandingan Bu-tong Sie-hiap.”

Jantung Bu Kie berdetak keras. Kalau begitu orang tua itu adalah kakek luarnya. Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng. Ingin sekali menubruk dan memeluk orang tua itu tetapi dia tidak bisa berbuat begitu. Semua yang hadir memperhatikan jalannya pertandingan sambil menahan napas. Di atas kepala Thio Siong Kee dan In Thian Ceng terlihat uap putih, tanda mereka sedang mengeluarkan Iweekang yang paling tinggi dalam suatu pertempuran mati atau hidup. Kedua lawan sama-sama mempunyai nama besar, yang satu Peh-bie Kauwcu dan Hu-kauw Hoat-ong dari Beng-kauw, yang lain adalah murid Thio Sam Hong dan anggota Bu-tong Cit-hiap yang menggetarkan dunia persilatan. Pertempuran ini adalah pertempuran yang akan memutuskan keunggulan antara Bu-tong-pay dan Peh-bie-kauw.

Dengan mata berkilat In Thian Ceng menyerang bagaikan angin dan hujan, sedangkan Thio Siong Kee terus mempertahankan diri sesuai dengan dasar ilmu silat Bu-tong yang menguasai serangan dengan ketenangan. Siong Kee tahu bahwa lawannya yang lebih tua dua puluh tahun lebih mempunyai Iweekang yang lebih dalam. Tetapi sebagai imbangan dia yang berusia lebih muda mempunyai keuletan yang lebih besar sehingga dalam suatu pertempuran yang lama, dia pasti akan memperoleh kemenangan.

Tapi di luar dugaan, In Thian Ceng adalah seorang yang luar biasa yang jarang terdapat di dunia. Meski pun sudah berusia lanjut tapi tenaganya tidak kalah dari orang muda. Bagaikan ombak air pasang, gelombang demi gelombang Iweekang menghantam Siong Kee.

Melihat pertempuran yang hebat itu, Bu Kie yang semula girang karena bertemu dengan kakek serta pamannya, kini berbalik jadi bingung. In Thian Ceng adalah gwa-kong (kakek luar) yang mempunyai hubungan darah dengan dirinya, sedangkan Thio Siong Kee adalah paman yang mencintainya seperti anak sendiri. Dahulu waktu dia terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang, tanpa mempedulikan bahaya paman itu sudah turut berusaha mengobati dengan menggunakan Iweekang. Oleh karena itu kalau sampai salah satu pihak ada yang luka atau binasa, ia akan merasa menyesal tiada habisnya. Baru saja Bu Kie berpikir untuk coba mendamaikan, mendadak kedua lawan itu membentak keras dan melompat mundur dengan serentak.

“In-locianpwe memiliki Sin-kang yang amat tinggi,” kata Siong Kee. “Aku merasa takluk.”

“Thio-heng sendiri mempunyai Iweekang yang sangat kuat sehingga aku tidak akan dapat menandingi,” kata si kakek hidung bengkok. “Thio-heng adalah saudara seperguruan dari menantuku. Apakah hari ini kalian juga bertekad untuk menguji kepandaian?”

Mendengar mendiang ayahnya disebut, mata Bu Kie berubah merah. Dia merasa sangat berduka dan berdoa supaya pertempuran itu tidak dilangsungkan.

“Boanpwe terdorong mundur lebih jauh dari Locianpwe, maka sudah kalah setengah jurus,” kata Siong Kee seraya mengangkat kedua tangannya. Sesudah mengatur jalannya pernapasan, sambil membungkuk dia mengundurkan diri.

Tiba-tiba dari barisan Bu-tong-pay melompat keluar seorang pria yang membentak sambil menuding In Thian Ceng.

“In-Lojie! Jika kau tidak menyebut Thio-ngoko, tak menjadi soal. Sesudah disebutkan maka hatiku jadi sakit sekali. Jie-samko dan Thio-ngoko keduanya celaka di tangan Peh-bie-kauw. Jika sakit hati ini tak dibalas, percuma saja Boh Seng Kok menjadi anggota dari Bu-tong Cit-hiap.“

Seraya berkata begitu dia menghunus pedang dan memasang kuda-kuda dalam gerakan Ban-gak Tiauw-cong (Laksamana gunung memberi hormat), yaitu serupa pukulan yang biasa dikeluarkan bila seorang murid Bu-tong berhadapan dengan lawan yang tingkatannya lebih tinggi. Boh Cit-hiap sedang marah, namun setiap gerak geriknya sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang tokoh terkemuka di rimba persilatan. Si kakek kelihatan berduka.

“Semenjak anakku meninggal dunia sebenarnya lohu tak ingin menggunakan senjata lagi,” katanya dengan suara perlahan. “Akan tetapi kalau aku tetap melayani dengan tangan kosong; aku berlaku kurang hormat terhadap para pendekar Bu-tong.“ Ia menengok dan menggapai seorang murid Beng-kauw yang memegang sebatang toya besi.

“Coba kupinjam toyamu,” katanya.

Dengan kedua tangan, murid itu menyerahkan senjatanya kepada In Thian Ceng. Begitu menyambut, si kakek segera mengerahkan tenaganya.

“Takk!”

Toya besi itu patah menjadi dua potong! Semua orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka tak menduga bahwa In Thian Ceng yang sudah begitu tua masih mempunyai tenaga yang sedemikian hebat.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia