BU-LIM BENG-CU (PEMIMPIN RIMBA PERSILATAN)
Sambil membentak keras dia lari berputar-putar. Kedua belah tangannya bekerja bagaikan kilat. Dalam sekejap saja Sin-cian Pat-hiong sudah roboh dan gendewa mereka dirampas atau dipatahkan. Para Busu lainnya yang bersenjata gendewa dan anak panah juga diserang. Ada yang senjatanya dipatahkan, ada yang dipukul roboh dan ada pula yang ditotok jalan darahnya. Sesudah pasukan anak panah tidak berdaya, Bu Kie mendongak pula dan berteriak,
“Para Cianpwe yang berada di atas! Lompatlah! Aku akan menyambut kalian.
Mendengar teriakan itu, orang-orang yang berada di atas sangat terkejut. Anjuran si pemuda tidak mungkin dilaksanakan. Dengan melompat dari lantai atas menara yang sangat tinggi, tenaga jatuhnya pasti hebat bukan main. Sedikitnya ribuan kati. Bagaimana dia dapat menyambutnya? Beberapa orang Khong-tong dan Kun-lun lantas berteriak-teriak menolak anjurannya.
“Tidak bisa! Terlalu tinggi!”
“Jangan kena diakali bocah itu!”
“Kalau kita menurut, badan kita akan hancur luluh!”
Dengan hati berdebar-debar Bu Kie mengawasi ke atas. Api sudah mulai menjilat lantai ke tujuh. Waktu sudah mendesak. Dia menjadi semakin bingung.
“Boh Cit-siok!” Teriaknya dengan suara memohon. “Budimu amat besar bagaikan gunung. Apa mungkin Siauw-tit mencelakai Cit-siok? Cit-siok, kau lompatlah lebih dulu!”
Boh Seng Kok adalah seorang yang bernyali sangat besar. Dengan segera dia mengambil keputusan. Dari pada mati terbakar, memang lebih baik mati terjatuh.
“Baiklah!” teriaknya seraya melompat ke bawah.
Bu Kie mengawasi dengan pandang mata tajam. Pada detik tubuh Boh Cit-hiap terpisah kira-kira empat kaki dari bumi, dia menepuk pinggang sang paman dengan menggunakan tenaga serta gerakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang yang paling tinggi. Begitu dimuntahkan, sinkang yang keluar dari tangan Bu Kie lantas memunahkan tenaga jatuhnya Cit-hiap kemudian mendorongnya ke atas hingga tubuh pendekar itu melayang ke atas kira-kira satu tombak tingginya.
Tenaga dalam Boh Seng Kok sudah pulih sebagian. Berbareng dengan melayangnya, ia mengerahkan lweekang dan mengeluarkan ilmu meringankan badan sehingga di lain saat ia sudah melayang ke bawah lalu kedua kakinya hinggap di tanah dengan selamat. Tiba-tiba seorang busu menyerang. Dengan sekali menghantam saja Boh Seng Kok telah merobohkan pembokong itu.
“Toa-suko, Jie-suko, Sie-suko!” teriaknya dengan girang. “Lekas lompat!”
Keberhasilan Boh Seng Kok langsung disambut dengan sorak sorai semua jago yang sedang dikepung api. Sebagai seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, Song Wan Kiauw berkata,
“Ceng Su, kau lompatlah lebih dahulu!”
Sedari keluar dari kamar tahanan, Song Ceng Su terus mendampingi Ciu Cie Jiak. Begitu mendengar anjuran ayahnya, dia segera berkata kepada si nona,
“Ciu-kouwnio, kau lebih dahulu.”
Cie Jiak menggelengkan kepala. “Aku menunggu Suhu,” katanya.
Sementara itu satu demi satu tokoh-tokoh keenam partai melompat turun lalu disambut Bu Kie. Biar pun tenaga dalam mereka baru pulih sebagian, tetapi sebagai ahli-ahli silat kelas utama mereka sudah bukan tandingan busu biasa.
Boh Seng Kok dan yang lain-lain segera merampas senjata lalu mereka berdiri di seputar Bu Kie untuk melindungi pemuda itu dalam menyambut orang-orang yang melompat turun. Kaki tangan Ong Po Po yang coba menyerang Bu Kie dengan mudah dipukul mundur. Setiap orang melompat turun berarti penambahan tenaga bagi pihak Bu Kie.
Sedari ditangkap, dikurung, dan dihina bahkan ada beberapa orang yang diputuskan jari-jari tangannya, sakit hati mereka bertumpuk-tumpuk. Sekarang mereka mendapat kesempatan melampiaskan sakit hati. Mereka berkelahi bagaikan harimau edan dan dalam sekejap saja berpuluh-puluh busu menggeletak tanpa nyawa. Melihat munculnya bahaya, Ong Po Po cepat berseru,
“Panggil pasukan anak panah yang menjadi pengawal pribadiku!” Namun sebelum Ali Chewa berlalu menjalankan perintah, sekonyong-konyong di sebelah tenggara terlihat api berkobar-kobar. Ali Chewa terkejut bukan main.
“Siauw Ong-ya!” katanya, “Ong-hu kebakaran! Kita harus melindungi Ong-ya.”
Ong Po Po mengangguk. “Adikku,” katanya kepada Tio Beng. “Aku pulang lebih dulu. Kau harus berhati-hati.” Tanpa menunggu jawaban dia sudah mengedut les kuda dan segera berangkat dilindungi sejumlah pengiring.
Berlalunya Ong Po Po berarti berlalunya pula Thian-liong Sip-pat-po serta sejumlah busu. Melihat kebakaran di gedung Ong-hu, busu lainnya yang masih bertempur juga tidak dapat berkelahi dengan hati tenang. Dengan cepat keadaan jadi berubah, terutama setelah turunnya tokoh-tokoh Siauw-lim-si. Kini pihak Bu Kie menjadi lebih kuat. Tio Beng tahu jika dia bertahan lebih lama lagi maka dia sendiri bisa menjadi orang tawanan. Maka dia lantas berseru,
“Semua orang keluar dari Ban-hoat-si!”
Dia lalu menengok kepada Bu Kie dan berkata sambil tersenyum, “Besok magrib aku mengundang kau minum arak lagi.”
Bu Kie terkejut. Tapi sebelum dia sempat menjawab, si nona sudah berlalu dan mundur ke bagian belakang Ban-hoat-si. Sekonyong-konyong dari atas menara terdengar teriakan Hoan Yauw,
“Ciu-kouwnio, lekas lompat! Api akan segera membakar alismu, apa kau mau menjadi gadis tanpa alis?”
“Aku ingin menemani Suhu,” jawabnya.
Ketika itu Biat-coat dan Ho Pit Ong sedang melakukan pertempuran mati-matian. Tenaga dalam si nenek belum pulih semuanya, namun dia sudah tidak memikirkan hidup. Dengan kalap dia menyerang tanpa mempedulikan pembelaan diri. Di lain pihak Ho Pit Ong tidak dapat berkelahi dengan hati mantap karena dia memikirkan keselamatan Suheng-nya. Selain itu, sesudah kena racun Bu Kie maka tenaga dan gerak-geriknya pun tidak seperti biasa lagi. Karena itulah setelah bertempur beberapa lama keadaan kedua belah pihak masih berimbang. Mendengar kata-kata muridnya, Biat-coat berkata,
“Cie Jiak, lekas turun, jangan pedulikan aku! Penjahat ini terlalu mengejekku. Aku tidak bisa mengampuni jiwanya.”
Ho Pit Ong mengeluh. Ia ingin menolong Suheng-nya, akan tetapi di luar dugaan si nenek menyerang dengan nekat.
“Biat-coat Suthay!” teriaknya. “Omongan itu berasal dari Kouw Tauw-to, sama sekali bukan karanganku.”
Sambil menghantam Ho Pit Ong dengan telapak tangan, Biat-coat menoleh dan bertanya,
“Tauw-to bangsat, apa benar kau yang mengeluarkan omongan gila-gilaan itu?”
“Omongan apa?” Hoan Yauw balas bertanya.
Dengan bertanya begitu dia ingin si nenek mengulangi ejekannya bahwa dia dan Biat-coat adalah sepasang kekasih dan bahwa Cie Jiak adalah anak mereka. Akan tetapi tentu saja si nenek tidak mau mengulangi kata-kata itu. Mendengar nada suara Ho Pit Ong, dia tahu bahwa musuh tidak berdusta. Tubuhnya gemetar dan darahnya bergolak. Saat itu, selagi Biat-coat menengok kepada Hoan Yauw, mendadak ada segulung asap yang datang menyambar. Ho Pit Ong sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Sambil melompat menerjang dia menghantam punggung si nenek.
“Suhu, hati-hati!” teriak Cie Jiak.
“Nikouw tua, hati-hati!” seru Hoan Yauw.
Bagaikan kilat Biat-coat berbalik lantas menangkis. Tangan kirinya menyambut tangan kiri Ho Pit Ong, tapi dia tidak keburu menangkis tangan kanan musuh yang memukul dengan Hian-beng Sin-ciang. Begitu punggungnya terpukul, badan si nenek bergoyang-goyang, hampir dia jatuh terguling. Cie Jiak terkesiap. Dia cepat melompat dan memeluk gurunya.
“Manusia licik!” bentak Hoan Yauw dengan marah. “Tak bisa kau dan kakakmu diberi hidup lebih lama lagi!” seraya berkata begitu dia melemparkan ke bawah kasur yang menggulung tubuh Lok Thung Kek dan Han-kie.
Hati Ho Pit Ong mencelos. Tanpa berpikir lagi dia turut melompat, namun kasur itu sudah melayang agak jauh sehingga dia hanya dapat menjambret ujungnya. Dengan kecepatan luar biasa dia pun turut melayang ke bawah.
Karena teraling asap dan api, Bu Kie tidak tahu apa yang terjadi di puncak menara. Tiba-tiba dia melihat jatuhnya benda dan seorang manusia. Dia tidak tahu apa adanya benda itu, tetapi dia segera mengenali bahwa manusia itu adalah Ho Pit Ong. Kakek itu adalah musuh besar yang menyebabkan banyak penderitaannya. Bahkan kebinasaan kedua orang tuanya pun adalah gara-gara Hian-beng Jie-lo. Namun dia adalah seorang berhati mulia yang tidak bisa melihat kebinasaan dengan berpeluk tangan.
Pada detik itu, dengan melupakan sakit hatinya dia cepat melompat ke atas lalu menepuk dengan kedua tangannya sehingga kasur dan Ho Pit Ong terpental ke kiri dan kanan lebih kurang tiga tombak jauhnya. Sesudah berjungkir balik, kedua kaki Ho Pit Ong hinggap di tanah.
“Wah! Sungguh berbahaya,” katanya.
Ia tidak pernah mimpi bahwa Bu Kie akan membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi ia tidak sempat berpikir lain dan segera menengok ke sana sini mencari Suheng-nya. Tiba-tiba ia terkejut karena kakaknya menggeletak di tumpukan api.
Dalam usaha menolong, sekali ini Bu Kie harus mempergunakan kedua tangannya. Menggunakan kedua tangan tentu saja jauh lebih berat dari pada menggunakan sebelah tangan. Apa lagi karena di dalam kasur itu ada dua manusia, maka tenaga jatuh kasur itu pun lebih hebat. Oleh karena itu waktu menepuk kasur dia tidak dapat mempedulikan lagi arahnya. Begitu tertepuk kasur itu lantas terbuka dan dua sosok tubuh ambruk di tumpukan api. Karena jalan darahnya tertotok, Lok Thung Kek tidak bisa bergerak dan rambutnya lantas terbakar.
“Suko!” teriak Ho Pit Ong seraya menubruk dan memeluk tubuh kakaknya.
Selagi ia meloncat keluar dari api yang berkobar-kobar, kedua kakinya belum keluar dan menginjak bumi, Jie Lian Ciu sudah memapaki dengan pukulan pada pundaknya.
“Sambutlah!” bentak pendekar Bu-tong itu.
Ho Pit Ong tidak dapat menangkis dan mencoba berkelit dengan miringkan pundaknya, namun telapak tangan Jie Lian Ciu segera menyusul ke bawah.
“Plakk!”
Badan si kakek she Ho gemetaran sementara keringat dingin keluar dari dahinya. Sambil menggigit gigi dia melompat ke atas tembok. Saat itu sebatang balok yang berkobar jatuh dan menimpa tubuh Han-kie yang lantas terbakar. Sementara itu semua orang yang sudah berada di bawah mendongak mengawasi ke atas sambil berteriak-teriak.
“Turun! Hayo, lekas!”
“Lompat! Lompat!”
Di antara api dan asap nampak Hoan Yauw melompat ke sana sini untuk meloloskan diri dari kobaran api. Satu demi satu balok balok jatuh ke bawah diiringi meluruknya genteng dan bata. Puncak menara mulai bergoyang-goyang.
“Cie Jiak lompatlah!” bentak Biat-coat.
“Suhu, sesudah kau barulah aku,” jawabnya.
Sekonyong-konyong si nenek melompat dan menghantam pundak Hoan Yauw. “Bangsat Mo-kauw, mampuslah kau!” teriaknya.
Sambil tertawa nyaring Hoan Yauw cepat berkelit lantas terjun ke bawah. Bu Kie segera menyambutnya dengan tepukan Kian-kun Tay-lo-ie Sin kang.
“Hoan-yusu, kau telah berhasil dan kami menghaturkan terima kasih,” kata Thio-kauwcu.
“Semuanya ini bukanlah jasaku,” jawabnya dengan merendahkan diri. “Jika Kauwcu tidak menolong dengan sinkang, semua orang akan menjadi babi panggang di puncak menara.”
Melihat Hoan Yauw telah melompat ke bawah, sambil menghela napas Biat-coat memeluk pinggang muridnya dan segera meninggalkan puncak menara yang hampir roboh. Waktu terpisah kira-kira setombak dari bumi, mendadak ia mendorong dengan kedua tangannya sehingga tubuh nona Ciu melayang ke atas kurang lebih setombak, sedangkan tenaga jatuh si nenek sendiri bertambah hebat.
Sambil mengawasi dengan mata tajam, Bu Kie menepuk pinggang Biat-coat dengan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Di luar dugaan, Biat-coat yang sudah mengambil keputusan untuk mati dan sungkan menerima budi dari Beng-kauw, tiba-tiba menghantam dengan seluruh sisa tenaganya. Dengan bentroknya kedua tangan maka Sinkang jadi terdorong ke arah lain dan...
“Brukk!”
Si nenek ambruk di tanah dengan beberapa tulang patah. Bu Kie sendiri merasa dadanya menyesak dan dia terhuyung beberapa tindak. Dia sungguh tidak mengerti sikap si nenek, karena pukulannya itu berarti membunuh dirinya sendiri.
Cie Jiak cepat menubruk dan memeluk tubuh gurunya. “Suhu...! Suhu...!” jeritnya dengan suara menyayat hati. Para murid Go-bi segera mengerumuni sang guru.
Perlahan-lahan Biat-coat Suthay membuka kedua mata. “Cie Jiak,” katanya dengan suara lemah, “Mulai hari ini engkau adalah Ciang-bun-jin dari partai kita. Apakah kau masih mau berjanji untuk menaati perintahku?”
“Ya... Suhu...”
Si nenek tersenyum. “Kalau begitu...” bisiknya, “Aku bisa mati dengan mata meram...”
Saat itu Bu Kie menghampiri dan memegang nadi si nenek untuk melihat apakah orang tua itu masih dapat ditolong. Tiba-tiba Biat-coat membalik tangannya dan mencengkeram pergelangan Bu Kie.
“Murid cabul Mo-kauw!” bentaknya. “Kalau kau menodai kesucian muridku, biar pun sudah menjadi setan aku tidak akan mengampuni...” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya dan segera menghembuskan napas terakhir, namun jari-jari tangannya masih mencekal pergelangan tangan Bu Kie.
Mendadak terdengar teriakan Hoan Yauw, “Semua orang, ikuti aku! Kita keluar dari pintu kota sebelah barat. Kalau terlambat tentara musuh bangsat itu akan mengepung kita.”
Sambil mendukung jenazah Biat-coat, Bu Kie berkata, “Baiklah kita berangkat sekarang.”
Cie Jiak menyodorkan kedua tangannya dan menyambut jenazah gurunya dari tangan Bu Kie. Sesudah itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia bertindak keluar dari Ban-hoat-si. Sementara itu orang Kun-lun, Khong-tong dan Hoa-san-pay sudah keluar terlebih dahulu. Yang terus tinggal menemani Bu Kie adalah Kong-bun dan Kong-tie. Setelah rombongan partai lain berangkat semua, sambil merangkap kedua tangannya mereka menghaturkan terima kasih kepada Bu Kie yang menjawabnya dengan merendah. Akhirnya bersama pendekar Bu-tong dan Bu Kie, Kong-bun dan Kong-tie juga turut meninggalkan Ban-hoat-si.
Belum seberapa jauh berjalan, ternyata Bu Kie sudah terlalu lelah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam menolong rombongan keenam partai, dan bentrokan dengan Biat-coat juga sudah melukai bagian dalam dari tubuhnya. Boh Seng Kok segera menggendong keponakannya yang sambil digendong, perlahan-lahan mengerahkan Kiu-yang Sin-kang untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Waktu fajar menyingsing rombongan sampai di pintu kota sebelah barat. Tanpa banyak kesulitan mereka mengusir tentara yang menjaga pintu. Di tempat yang jauhnya beberapa li dari pintu kota, Yo Siauw telah menunggu dengan kuda-kuda dan kereta. Sambil tertawa dia memberi selamat kepada yang baru saja lolos dari lubang jarum.
“Tanpa pertolongan Thio-kauwcu dan anggota-anggota Beng-kauw, rombongan keenam partai pasti telah menemui kebinasaan,” kata Kong-bun Taysu. “Untuk budi yang besar itu, kami hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih. Sekarang kita harus memikirkan tindakan selanjutnya dan kuharap Thio-kauwcu suka memutuskannya.”
“Aku yang rendah berpengetahuan cetek sekali,” kata Bu Kie. “Dalam hal ini aku mohon perintah Hong-thio.”
Biar pun dipaksa tetapi Kong-bun Taysu menolak memegang pimpinan.
“Tempat ini tidak jauh dari kota raja,” kata Thio Siong Kee. Sesudah kita mengacau hebat, Raja Muda pasti tidak akan menyudahi. Dia pasti akan segera mengirim tentara yang kuat untuk mengejar kita. Biar bagaimana pun juga kita tidak boleh berdiam lama-lama di sini dan harus pergi ke tempat lain.”
“Paling baik kalau Raja Muda bangsat itu mengirim tentaranya,” kata Ho Thay Ciong. “Kita bisa menghajar mereka sepuas hati.”
Thio Siong Kee menggelengkan kepala. “Aku tidak setuju,” katanya. “Iweekang kita belum pulih total dan pada hakekatnya kita masih punya banyak waktu untuk menghajar Tat-cu. Pada saat ini, jalan yang paling baik adalah menyingkirkan diri.”
“Thio Sie-hiap benar,” kata Kong-bun. “Kalau bertempur, biar pun kita bisa membinasakan banyak Tat-cu, pihak kita pun pasti akan menderita kerusakan besar. Memang sebaiknya kita menyingkir untuk sementara waktu.”
Sesudah Kong-bun menyatakan pendapatnya, yang lain tidak berani membantah lagi.
“Thio Sie-hiap, menurut pendapatmu, ke mana kita harus pergi?” tanya Kong-bun.
“Tat-cu tentu menduga bahwa kita pergi ke selatan atau ke tenggara,” jawabnya. “Untuk mengelabuinya, kita menyingkir ke tempat yang tak diduga oleh mereka. Sebaiknya kita pergi ke Mongolia. Bagaimana pendapat kalian?”
Semua orang kaget. Mongolia adalah negeri Tat-cu. Bagaimana mereka mau diajak masuk ke sarang musuh? Tapi Yo Siauw bertepuk tangan dan berkata sambil tertawa.
“Tepat benar pendapat Thio Sie-hiap. Penduduk Mongolia amat sedikit dan negeri ini terletak di gurun pasir yang luas, maka dengan mudah kita bisa mencari tempat sembunyi di situ. Tat-cu tentu menganggap kita bakal kembali ke Tiong-goan. Mereka tak akan mimpi bahwa kita berbalik menyatroni sarang mereka.”
Sekarang semua orang tersadar. Diam-diam mereka memuji kecerdasan Thio Siong Kee. Semua orang lalu menunggang kuda atau naik kereta dan segera berangkat ke arah utara. Sesudah melalui kira-kira lima puluh li, rombongan berhenti di sebuah selat gunung. Yo Siauw segera mengeluarkan makanan kering dan arak yang memang telah disediakannya. Sambil bercakap-cakap tokoh keenam partai menyatakan rasa terima kasihnya terhadap Bu Kie dan Hoan Yauw yang sudah menolong jiwa mereka.
Sementara itu Ciu Cie Jiak bersama murid-murid Go-bi-pay lainnya menggali lubang dan menguburkan jenazah gurunya. Kong-bun, Kong-tie, Song Wan Kiauw, Bu Kie serta yang lainnya bersembahyang dan memberi hormat terakhir kepada si nenek. Biat-coat Suthay adalah salah satu pendekar kenamaan pada jaman itu. Sungguh pun adatnya aneh tapi dia adalah orang jujur dan selama hidupnya banyak menolong sesama manusia sehingga seluruh rimba persilatan menghormatinya. Waktu bersembahyang para murid Go-bi menangis sedu sedan, sementara jago keenam partai turut merasa sedih.
“Orang yang mati tidak dapat hidup kembali,” kata Kong-bun Taysu dengan suara nyaring. “Para pendekar Go-bi janganlah terlalu berduka. Asal kalian dapat memenuhi pesan mendiang gurumu, maka biar pun Suthay sudah meninggal dunia, dia seperti juga masih hidup di dunia. Kali ini musuh menggunakan racun hingga kita semua sama-sama menderita. Kong-seng Sute dari partai kami juga binasa di tangan Tat-cu. Sakit hati ini tentu harus dibalas. Kini kita harus berunding masak-masak untuk menentukan cara bagaimana kita harus membalasnya.”
“Benar,” sambung Kong-tie. “Pada waktu yang lalu enam partai bermusuhan keras dengan Beng-kauw. Tidak dinyana Thio-kauwcu membalas kejahatan dengan kebaikan dan sudah menolong kita semua. Mulai sekarang kedua belah pihak meniadakan permusuhan dan melupakan segala yang telah terjadi. Hari ini, dengan meminjam kesempatan dari berkumpulnya semua partai, lolap ingin mengajukan sebuah usul, yaitu kita beramai-ramai mengangkat Thio-kauwcu sebagai Bengcu (kepala perserikatan) dari perserikatan partai rimba persilatan di wilayah Tiong-goan. Dengan berserikat dan bekerja sama dan bersatu padu, kita berusaha mengusir Tat-cu dari tanah air kita.”
Usul itu disambut sorak sorai gegap gempita para hadirin. Hanya Ciu Cie Jiak seorang yang tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia menunduk dan memikirkan janji yang telah diberikannya kepada sang guru.
Bu Kie kaget. Dia menggoyang-goyangkan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak bisa! Tidak bisa!” katanya dengan suara gugup. “Di rimba persilatan, semenjak dulu Siauw-lim-pay selalu dianggap sebagai tetua. Jika mengenai perseorangan yang paling tua dan paling dihormati dapat dikatakan adalah Thay-suhuku, Thio Cinjin. Di samping itu Bu-tong Cu-hiap (para pendekar Bu-tong) adalah paman-pamanku. Biar bagaimana pun juga tidak bisa aku si bocah menduduki kursi Bengcu melampaui orang-orang tua yang berkedudukan jauh lebih tinggi dari pada aku.”
“Bu Kie,” kata Song Wan Kiauw. “Hari ini kita beramai-ramai mengangkat engkau sebagai Bengcu, memang sebagian disebabkan oleh pertolonganmu. Tapi selain itu, pengangkatan ini adalah demi kepentingan umat manusia di kolong langit. Dengan adanya pengangkatan ini kita semua berharap supaya berbagai partai dapat bekerja sama tanpa saling bermusuhan dan juga bersatu padu dalam menghadapi kaum penjajah. Kalau rimba persilatan Tiong-goan tidak mempunyai pemimpin umum, mungkin sekali usaha mengusir Tat-cu tidak akan gampang diwujudkan.”
“Bu Kie, usul kedua Seng-ceng Siauw-lim-pay keluar dari hati yang sejujurnya,” Siong Kee turut membujuk. “Kini Thay-suhu-mu sudah berusia begitu lanjut. Apakah kau ingin beliau memikul beban yang berat ini?”
Berganti-ganti lain-lain tokoh partai mencoba membujuk. Tapi Bu Kie tetap menolak. “Aku masih terlampau muda dan berpengetahuan terlalu cetek,” katanya. “Apa yang aku miliki hanyalah ilmu silat. Tanggung jawab seorang Bengcu yang amat berat hanya dapat dipikul orang seperti Hong-thio Seng-ceng dari Siauw-lim-pay atau Song-supek.”
“Kauwcu,” kata Yo Siauw, “Kalau kesempatan ini lewat dengan Cuma-cuma, kita tak akan mendapatkannya lagi. Adalah kehendak Tuhan bahwa hari ini tokoh-tokoh rimba persilatan berkumpul di sini dan semua berpendapat sama. Kalau Kauwcu tetap menolak kedudukan Bengcu, maka tidak ada orang lain yang dapat disetujui dengan suara bulat oleh segenap orang-orang gagah. Jika mereka sudah berpencaran, adalah pekerjaan yang sangat sukar untuk mengumpulkannya kembali. Hari itu, di atas Kong-beng-teng, Kauwcu menghendaki agar kita mengakhiri permusuhan dengan keenam partai dan bekerja sama dengan satu hati. Apakah Kauwcu sudah melupakan itu?”
“Kauwcu!” teriak Hoan Yauw dengan suara tidak sabaran. “Menjadi Bengcu bukan menjadi kaisar. Kami bukan ingin menjual lagak dan mengunjuk keangkeranmu. Kami mengangkat kau demi kepentingan nusa dan bangsa. Kami ingin kau mau memikul beban penderitaan rakyat. Apa kau bukan seorang lelaki? Mengapa kau terus menolak untuk memikul beban yang berat ini? Dengan menganggap kau sebagai seorang lelaki gagah, Hoan Yauw rela mengabdi di bawah perintahmu. Sungguh tak nyana, dalam menghadapi tugas kau malah menyembunyikan kepala dan buntut!”
Mendengar teguran pedas itu muka Bu Kie berubah merah. Sambil merangkap kedua tangannya dan membungkuk ia pun berkata.
“Hoan-yusu benar. Aku menghaturkan terima kasih untuk teguran itu. Memang seorang lelaki yang hidup di antara langit dan bumi tidak boleh melarikan diri dari kesukaran dan penderitaan.” Seraya menyoja kepada semua orang dia berkata. “Kini aku tidak dapat menolak lagi kecintaan Cu-wi (tuan-tuan). Semoga usaha kita akan berhasil dan cita-cita kita dapat tercapai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”
Sorak sorai dan tepuk tangan menyambut pernyataan Bu Kie itu. Suaranya menggetarkan seluruh selat. Yo Siauw segera mengambil sebuah kantong kulit yang berisikan arak, lalu menggores jari tangannya dan meneteskan darahnya ke dalam arak. Satu per satu para tokoh persilatan menuruti contoh itu, kemudian menceguk arak yang tercampur darah. Upacara tersebut merupakan suatu sumpah bahwa mulai hari itu mereka bersepakat untuk bersatu padu dan bekerja sama dalam mengusir penjajah dari bumi Tiongkok.
Bu Kie girang bercampur kuatir. Dia kuatir karena bebannya sungguh-sungguh berat. Tapi mengingat perkataan Hoan Yauw, hatinya segera menjadi tenang. Seorang laki-laki tidak boleh melarikan diri dari tugasnya. Seorang manusia hanya bisa berusaha sekuat kuatnya dengan seluruh tenaga. Apa usaha itu akan berhasil atau tidak, terserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selama beberapa bulan Bu Kie menghadapi bermacam gelombang. Hari ini, waktu menerima kedudukan Bengcu, di dalam hatinya ia merasa lebih tenang dari pada waktu menerima kedudukan Kauwcu dari Beng-kauw. Hari ini dia menjadi Bengcu dengan tujuan yang nyata dan tekad yang bulat. Hari itu dia merasa bimbang karena dia mengenal Beng-kauw sebagai agama yang lurus tercampur jahat. Sesudah selesai upacara membentuk perserikatan, Bu Kie lalu berkata.
“Sekarang dunia berada dalam ketakutan. Para anggota Beng-kauw sudah disebar ke empat penjuru untuk menunggu waktu yang baik guna memulai usaha kita. Aku mengharap para tetua berbagai partai mengikuti tindakan murid-murid Beng-kauw dalam membentuk pasukan suka rela. Aku berharap agar semua bisa mengesampingkan kepentingan pribadi dan menyingkirkan setiap kemungkinan yang dapat mengakibatkan permusuhan di antara kawan sendiri. Jika terjadi suatu perselisihan, orang yang tersangkut harus melaporkan kepada Ciang-bun-jin dari partainya. Jika soal itu tidak dapat dibereskan oleh Ciang-bun tersebut, maka dengan bantuan para tetua partai, aku sendiri yang akan coba membereskannya.”
Semua orang mengiyakan permintaan Bengcu.
“Jika urusan ini sudah dianggap beres, aku perlu kembali ke kota raja guna sebuah urusan pribadi,” kata pula Bu Kie. “Di sini saja aku meminta diri. Beberapa tahun yang akan datang, dengan bahu membahu kita akan mengadakan pertempuran mati hidup melawan Tat-cu.”
Dengan sorak sorai seluruh rombongan mengantarkan Bengcu sampai di luar selat. Pada waktu mau berpisah Yo Siauw berkata,
“Kauwcu! Kau adalah harapan orang-orang gagah di seluruh negeri. Kuharap kau bisa menjaga diri.”
“Aku akan memperhatikan pesan saudara,” kata Bu Kie sambil mencambuk kudanya yang segera berlari ke arah selatan.
Ketika sudah dekat dengan kota raja, Bu Kie ingat bahwa sesudah terjadinya pertempuran di Ban-hoat-si, tentu dia telah dikenal banyak kaki tangan Jie Lam Ong. Jika bertemu dengan mereka akan menghadapi banyak kesulitan. Mengingat itu dia segera mampir di rumah seorang petani untuk membeli seperangkat pakaian petani, lalu memakai tudung dan memoles mukanya dengan tanah liat. Setelah itu barulah dia masuk ke dalam kota.
Setibanya di depan rumah penginapan di See-shia dan setelah mengamat-amati keadaan, barulah dia masuk ke kamarnya. Siauw Ciauw kelihatan duduk di samping jendela. Dia sedang menjahit. Melihat masuknya seorang bermuka coklat, si nona terkejut dan sesaat kemudian barulah dia mengenali Bu Kie. Dengan paras berseri-seri dia berkata,
”Kauwcu, kau membuat aku kaget sekali. Kukira ada seorang petani tolol salah masuk ke kamar ini.”
“Kau sedang menjahit apa?” tanya Bu Kie.
Paras muka si nona berubah merah, buru-buru ia menyembunyikan pakaian yang sedang dijahit di belakang tubuhnya.
“Bukan apa-apa,” jawabnya sambil menyelipkan pakaian itu di bawah bantal. Dia lalu menuang teh untuk Bu Kie dan berkata sambil tertawa,
“Apa Kongcu mau cuci muka?”
“Tidak,” sahut Bu Kie sambil mengangkat cangkir teh. Sambil meneguk teh ia pun berpikir, “Tio-kouwnio ingin aku menemaninya untuk meminjam To-liong-to. Aku tak bisa menolak. Pertama, sebagai laki-laki aku tidak dapat menarik kembali janjiku dan kedua, aku memang ingin menyambut Gie-hu pulang ke Tiong-goan. Gie-hu memiliki banyak musuh. Sesudah kedua matanya buta, dia pasti tidak akan dapat membela dirinya sendiri. Tetapi sekarang, sesudah berserikatnya berbagai partai, semua permusuhan lama disingkirkan. Asal aku berada bersamanya orang pasti tak akan mengganggu Gie-hu. Tapi pelayaran sangat berbahaya. Siauw Ciauw tidak boleh ikut. Bagaimana baiknya? Hm.. baiklah, begini saja. Aku akan minta bantuan Tio-kouwnio supaya Siauw Ciauw bisa dititipkan di Ong-hu untuk sementara waktu. Dengan tinggal di gedung Raja Muda maka keselamatannya bisa lebih terjamin dari pada di tempat lain.” Sesudah berpikir demikian, dia tersenyum.
“Kongcu, mengapa kau tersenyum? Kau sedang memikirkan apa?” tanya si nona.
“Aku hendak pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh,” jawabnya. “Tetapi aku tidak bisa membawa kau. Aku telah memikirkan tempat di mana kau bisa tinggal sementara waktu.”
Paras muka Siauw Ciauw lantas berubah. “Kongcu, ke mana pun kau pergi aku mau ikut denganmu,” katanya. “Siauw Ciauw sudah biasa melayani kau setiap hari dan aku tak mau tinggal di tempat orang yang belum dikenal.”
“Aku mengambil keputusan itu untuk kebaikanmu sendiri,” Bu Kie membujuk. “Tempat itu amat jauh dan perjalanan penuh dengan bahaya. Aku sendiri tidak tahu, sampai kapankah aku baru dapat kembali.”
“Kongcu, waktu berada di goa di Kong-beng-teng, Siauw Ciauw sudah mengambil keputusan untuk terus mengikuti kau, ke manapun kau pergi. Kau hanya dapat menolak tekadku dengan membunuh aku. Kongcu, apakah kau merasa sebal terhadapku dan tidak mau kalau aku terus mengikuti?”
“Tidak! Kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu. Aku hanya tidak mau kau menempuh bahaya yang sebenarnya tidak perlu ditempuh. Begitu kembali maka secepatnya aku akan mencarimu.”
Si nona menggeleng-gelengkan kepala. “Aku bersedia untuk menghadapi bahaya apa pun juga,” katanya dengan suara mantap.
Bu Kie terharu. Sambil memegang tangan si nona, ia berkata dengan suara lemah lembut.
“Siauw Ciauw, aku tak mau dusta. Aku telah meluluskan permintaan Tio-kouwnio untuk mengawani dia dalam menyeberangi lautan. Kau tahu, pelayaran ini penuh dengan bahaya. Tapi aku mesti pergi juga. Aku sungguh tak mau kau ikut menghadapi bahaya.”
Paras muka Siauw Ciauw bersemu merah. “Kalau kau pergi bersama Tio Beng, malah lebih-lebih aku mesti ikut,” katanya. Setelah berkata begitu dia kelihatan kemalu-maluan, sementara air mata berlinang-linang di kedua matanya.
“Mengapa kau lebih-lebih mau mengikut?”
“Karena Tio-kouwnio adalah orang yang hatinya beracun. Kita tidak dapat menaksir apa yang akan diperbuatnya terhadapmu. Dengan berada bersama, aku bisa ikut mengamat-amati keselamatanmu.”
Tiba-tiba jantung Bu Kie melonjak. “Ah! Apa Siauw Ciauw jatuh cinta kepadaku?” tanyanya dalam hati. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata sambil tertawa.
“Baiklah, kau boleh ikut. Tetapi kau tidak boleh menyesal.”
Tak kepalang girangnya si nona. “Kalau aku menyusahkan kau dengan penyesalan, kau boleh melemparkan diriku ke lautan supaya aku dimakan ikan besar,” katanya sambil tersenyum.
Bu Kie tertawa nyaring. “Bagaimana aku tega berpisah dengan kau?” katanya.
Persahabatan antara Bu Kie dan Siauw Ciauw sudah berjalan lama. Di dalam perjalanan kadang kala mereka terpaksa tidur dalam satu kamar bila rumah penginapan kekurangan kamar. Tetapi belum pernah mereka berbicara atau melakukan sesuatu yang melampaui batas kepatutan. Siauw Ciauw selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan, sedangkan Bu Kie yang bersikap sebagai seorang kakak, belum pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.
Dan sekarang, begitu perkataan ‘bagaimana aku tega berpisah dengan kau’ keluar dari mulutnya, begitu dia merasa bahwa dia telah kesalahan omong, mukanya segera berubah merah dan buru-buru dia memalingkan muka ke jurusan lain. Siauw Ciauw menghela napas.
“Mengapa kau menghela napas?” tanya Bu Kie.
“Kau tidak tega berpisah dengan banyak orang. Ada Ciu-kouwnio dari Go-bi-pay, Tio-kouwnio dari gedung Jie Lam Ong dan di hari kemudian, entah masih ada berapa banyak orang lagi. Di hatimu, mana bisa jadi kau memikirkan seorang pelayan kecil seperti aku?”
“Siauw Ciauw, kau selalu berlaku amat baik terhadapku. Apakah kau kira aku tidak tahu? Apakah aku seorang manusia yang tidak ingat budinya orang?” Waktu bicara begitu suara Bu Kie menunjukkan bahwa dia berbicara dari lubuk hatinya yang putih bersih.
Si nona malu bercampur girang. Sambil menundukkan kepala dia berkata dengan suara perlahan.
“Aku belum pernah melakukan sesuatu yang berharga untukmu. Asal saja kau mengijinkan aku melayani selama-lamanya, asal aku bisa menjadi pelayanmu untuk seterusnya, hatiku sudah puas. Kongcu, semalam suntuk kau tak tidur. Kau tentu capai. Pergilah tidur.” Sehabis berkata begitu, dia membuka kasur.
Bu Kie lantas merebahkan diri, sedangkan dia sendiri menjahit di bawah jendela. Tak lama kemudian Bu Kie tertidur.
Ketika magrib tiba barulah Bu Kie tersadar dari tidurnya. Setelah makan semangkok mie, dia pun berkata,
“Siauw Ciauw, aku mau mengajakmu pergi menemui Tio-kouwnio untuk meminjam Ie-thian-kiam guna memutuskan rantai yang mengikat kaki tanganmu.”
Di tengah jalan mereka bertemu dengan banyak tentara Mongol. Melihat penjagaan sangat ketat, Bu Kie tahu bahwa diperketatnya penjagaan adalah akibat kekacauan tadi malam. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah makan kecil yang semalam. Setelah masuk, ternyata Tio Beng sudah berada di situ. Ia sedang minum arak sendirian. Ia cepat bangkit dan berkata sambil tertawa,
“Thio-kongcu, kau orang yang boleh dipercaya.”
Bu Kie mengawasi nona Tio. Ternyata paras si nona tenang-tenang saja, sedikit pun tidak menunjukkan rasa marah. Di atas meja telah tersusun dua pasang sumpit. Setelah membungkuk Bu Kie lalu duduk di sebuah kursi, sementara Siauw Ciauw sendiri berdiri menunggu di tempat yang agak jauh. Sambil menyoja Bu Kie berkata,
“Tio-kouwnio, kejadian semalam aku telah berdosa terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.”
“Aku merasa amat sebal melihat Han-kie yang seperti siluman,” kata si nona. “Bahwa kau sudah menyuruh orang untuk membunuhnya, sebenarnya aku harus menghaturkan terima kasih kepadamu. Ibu memuji kau sebagai pemuda pintar.”
Bu Kie terkejut. Nona Tio tersenyum dan berkata, “Bahwa kau sudah menolong orang-orang itu, pada hakekatnya aku tidak keberatan. Mereka tidak suka takluk. Jadi apa perlunya aku menahan mereka lama-lama? Setelah kau menolong mereka, tentu mereka amat berterima kasih kepadamu. Sekarang di rimba persilatan kau menjadi orang gagah yang utama. Semua orang berhutang budi terhadapmu. Thio-kongcu, untuk itu aku memberi selamat dengan secawan arak.” Dia tertawa dan mengangkat cawannya.
Sesaat itu tiba-tiba berkelebat bayangan dan Hoan Yauw bertindak masuk. Lebih dulu dia memberi hormat kepada Bu Kie kemudian berlutut di hadapan Tio Beng.
“Kuncu,” katanya, “Kouw Tauw-to mohon untuk minta diri.”
Tio Beng tidak membalas pemberian hormat Tauw-to itu. “Kouw Taysu,” katanya dengan suara dingin. “Sungguh hebat kau mendustai aku.”
Hoan Yauw bangun berdiri lantas berkata sambil membungkuk. “Kouw Tauw-to she Hoan bernama Yauw, Kong-beng Yu-su dari Beng-kauw. Karena kerajaan memusuhi Beng-kauw maka waktu masuk ke gedung Jie Lam Ong terpaksa aku harus menyamar. Kuncu sudah memperlakukan aku dengan baik sekali sehingga sekarang aku menghadap Kuncu untuk berpamitan”.
“Kau mau pergi boleh pergi,” kata Tio Beng. “Tak usah kau banyak peradatan.”
“Seorang laki-laki harus berlaku terus terang,” kata Hoan Yauw. “Mulai sekarang aku yang rendah musuh dari Kuncu. Kalau aku belum memberi-tahu terang-terangan, hatiku merasa tidak enak dan aku berbuat tidak pantas terhadap Kuncu yang sudah memperlakukan aku dengan pantas.”
Tio Beng menengok pada Bu Kie dan berkata, “Ilmu apa yang kau miliki sehingga orang-orangmu semua rela membela kau dengan nyawa?”
“Kami bekerja untuk negara, untuk rakyat, untuk membantu sesama manusia, dan untuk mempertahankan gie-khie (semangat persahabatan yang paling tinggi). Hoan-yusu dengan aku belum kenal satu sama lain. Tetapi begitu bertemu lantas menjadi sahabat karib. Kita mempunyai pendapat dan tujuan yang sama. Dengan begitu maka usaha kita untuk mempertahankan gie-kie dan kawan-kawan sendiri tidaklah tersia-sia.”
Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Kauwcu,” katanya, “Perkataanmu sungguh cocok dengan apa yang kupikirkan. Kauwcu, kuharap kau menjaga diri baik-baik. Nona ini sangat lihay. Dia bukan wanita biasa. Kuharap Kauwcu selalu waspada.”
Tio Beng tertawa. “Terima kasih untuk pujian Kouw Taysu,” katanya.
Sesudah mengangguk Hoan Yauw segera berlalu. Ketika lewat di depan Siauw Ciauw, ia kelihatan terkejut, paras mukanya berubah pucat dan seolah-olah ia melihat sesuatu yang sangat menakutkan.
“Kau... kau...!” katanya.
“Mengapa aku?” tanya Siauw Ciauw.
Hoan Yauw mengawasi dengan mata membelalak. Selanjutnya ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata,
“Bukan... bukan... aku... aku salah lihat.” Ia menolak pintu kemudian berjalan keluar, sementara mulutnya berkata, “Sungguh sama... sungguh sama...”
Tio Beng dan Bu Kie saling pandang. Mereka merasa heran dan tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Hoan Yauw. Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar suara dan teriakan, tiga kali panjang dan dua kali pendek. Suara itu nyaring dan tajam, seperti seseorang sedang memanggil kawan.
Tiba-tiba Bu Kie terkejut. Dia ingat bahwa teriakan itu tanda rahasia Go-bi-pay dalam mengumpulkan kawan. Pada waktu bertemu dengan rombongan Biat-coat Suthay di See-hek, beberapa kali pernah mendengar tanda rahasia itu untuk menghadapi Beng-kauw.
“Mengapa Go-bi-pay kembali lagi ke kota raja?” tanyanya di dalam hati. “Apakah mereka bertemu dengan musuh?”
Sebelum ia mengambil keputusan apa yang harus diperbuat, Tio Beng sudah berkata,
“Ah, itu tanda Go-bi-pay. Rupanya mereka sedang menghadapi persoalan yang sangat mendesak. Mari kita menyelidiki. Apa kau setuju?”
“Bagaimana kau tahu teriakan itu tanda rahasia Go-bi-pay?” tanya Bu Kie.
“Kenapa aku tidak tahu?” kata si nona sambil tersenyum. “Di See-hek, sebelum mendapat kesempatan turun tangan, dengan orang-orangku aku menguntit mereka empat hari empat malam.”
“Baiklah, aku setuju untuk menyelidiki,” kata Bu Kie. “Tetapi Tio-kouwnio, lebih dahulu aku ingin meminta pinjam Ie-thian-kiam.”
Si nona tertawa. “Sungguh jempol ilmu hitungmu. Sebelum aku meminjam To-liong-to, kau sudah mendahului meminjam Ie-thian-kiam,” katanya seraya membuka tali ikatan pedang lalu menyodorkannya kepada Bu Kie.
Sambil menghunus senjata mustika itu Bu Kie berkata, “Siauw Ciauw, kemarilah!”
Siauw Ciauw cepat-cepat menghampiri. Dengan beberapa kali babatan semua rantai yang mengikat kaki tangannya terputus. Ia segera berlutut sambil berkata,
“Terima kasih, Kongcu. Terima kasih, Kuncu.”
Bu Kie segera memasukkan Ie-thian-kiam ke dalam sarungnya lalu mengembalikan kepada Tio Beng. Ketika itu teriakan-teriakan Go-bi-pay makin menghebat.
“Mari kita pergi!” kata Bu Kie.
Tio Beng mengeluarkan sepotong emas lalu melemparkannya di atas meja. Bersama Bu Kie dan Siauw Ciauw segera berjalan keluar dengan langkah lebar. Karena kuatir ilmu mengentengkan tubuh Siauw Ciauw masih terlalu cetek, dengan tangan kanannya Bu Kie menarik tangan si nona sedangkan tangan kirinya mendorong pinggang. Sambil memberi bantuan dia mengikuti di belakang Tio Beng. Setelah berlari beberapa puluh tombak, dia merasa bahwa badan Siauw Ciauw sangat enteng dan tindakannya pun sangat cepat. Ia heran dan menarik kembali bantuannya.
Biar pun sudah tidak dibantu, si nona masih dapat merendenginya walau pun saat itu Bu Kie sudah menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi dan langkahnya cukup cepat. Bahwa Siauw Ciauw mampu mengikutinya merupakan bukti bahwa si nona memiliki kepandaian yang tidak dapat dipandang rendah. Tak lama kemudian, sesudah melewati beberapa jalan kecil tibalah mereka di luar sebuah tembok tua yang telah runtuh di sana sini. Tiba-tiba Bu Kie mendengar pertengkaran beberapa wanita dan dia pun tahu bahwa murid-murid Go-bi berada di dalam tembok itu.
Sambil menarik tangan Siauw Ciauw dia melompati tembok lalu hinggap di antara rumput alang-alang. Ternyata mereka berada di sebuah taman yang sudah lama tak terurus. Di lain saat Tio Beng sudah menyusul dan mereka bertiga bersembunyi di antara rumput tinggi. Di sebelah utara taman ada sebuah pendopo rusak di mana terlihat bayangan beberapa belas orang. Sekonyong-konyong terdengar suara seorang wanita.
“Kau adalah murid termuda di partai kita. Baik dalam nama mau pun kepandaian, kau tidak pantas menjadi Ciang-bun-jin...”
Bu Kie segera mengenali yang berbicara adalah Teng Bin Kun. Dengan merangkak dia maju mendekati pendopo lalu menyembunyikan diri pada jarak beberapa tombak. Malam itu tak berbulan dan di langit hanya terdapat bintang-bintang berkelap kelip. Tetapi mata Bu Kie sangat awas. Sayup-sayup dia melihat di antara murid Go-bi-pay ada Teng Bin Kun, murid kepala Biat-coat Suthay. Di samping murid kepala itu berdiri seorang wanita yang bertubuh agak jangkung dan mengenakan baju warna hijau. Orang itu adalah Ciu Cie Jiak. Teng Bing kun terus mendesak dengan suara menyeramkan.
“Coba kau bilang...! Bilang! Lekas bilang...!”
“Apa yang dikatakan Teng-suci memang tidak salah,” kata nona Ciu. “Siauw-moay adalah murid termuda. Baik dalam nama mau pun dalam ilmu silat, kepandaian, kecerdasan dan kemuliaan Siauw-moay tidak pantas menjadi Ciang-bun-jin. Waktu Siansu (mendiang guru) menyerahkan beban berat ini, Siauw-moay sudah menolak sekeras-kerasnya. Tapi Siansu malah marah besar. Beliau memaksa supaya Siauw-moay bersumpah berat untuk tidak melanggar kemauannya.”
“Memang tidak salah,” kata seorang wanita yang mengenakan pakaian pendeta. “Memang benar, ketika Siansu mau berangkat pulang ke alam baka beliau telah mengatakan bahwa Ciu-sumoay harus menjadi Ciang-bun-jin dari partai kita. Pesan itu telah didengar oleh kita semua. Bahkan para orang gagah dari Siauw-lim, Bu-tong, Kun-lun, dan Khong-tong pun bisa menjadi saksi.”
“Siansu adalah seorang yang amat cerdas dan berpemandangan jauh,” sambung seorang murid pria yang berusia setengah tua. “Beliau tentu mempunyai maksud yang mendalam dengan menunjuk Ciu-sumoay menjadi pemimpin kita. Kita semua sudah menerima budi Siansu yang sangat besar, maka selayaknya kalau kita mentaati pesan Siansu. Kita harus menunjang Ciu-sumoay dalam usaha menaikkan derajat partai kita.”
Bin Kun tertawa dingin. “Pang-suko mengatakan bahwa Siansu mempunyai maksud yang mendalam,” katanya dengan nada mengejek. “Kata-kata itu, ‘Siansu pasti mempunyai maksud yang mendalam’, adalah sangat tepat. Bukankah semua orang, baik yang di atas mau pun di bawah menara sudah mendengar perkataan Kouw Tauw-to dan Ho Pit Ong? Siapa ayah dan ibunya Ciu-sumoay? Kenapa Siansu pilih kasih? Apakah kita semua masih belum mengerti?”
Sebagaimana diketahui, sebagai guyon-guyon Hoan Yauw telah mengatakan bahwa Biat-coat Suthay adalah kekasihnya dan bahwa Ciu Cie Jiak adalah anak mereka. Hoan Yauw memang gila-gilaan dan masih memiliki sie-khie (sifat sesat). Tapi perkataan Ho Pit Ong terdengar banyak orang. Biar bagaimana pun juga banyak yang meragukan mendengar itu, karena percintaan laki-laki dan perempuan, tak peduli siapa adanya mereka, adalah kejadian lumrah di dunia. Dengan demikian tuduhan Teng Bin Kun bahwa Biat-coat pilih kasih karena Ciu Cie Jiak adalah anaknya sendiri, memang kedengarannya beralasan juga. Maka murid-murid Go-bi-pay bungkam setelah perempuan itu melepaskan racunnya.
Tak kepalang marahnya nona Ciu. Dengan suara gemetar ia berkata. “Teng-suci! Jika kau tidak setuju Siauw-moay menjadi Ciang-bun-jin, kau boleh mengatakan terang-terangan. Tetapi dengan menjatuhkan fitnah membabi buta kepada Siansu dan merusak nama Siansu yang putih bersih, kau sudah berdosa besar. Mendiang ayahku she Ciu bernama Cu Ong, ada pun mendiang ibuku adalah she Sie. Atas pertolongan Thio Cinjin dari Bu-tong-pay, Siauw-moay berguru kepada Siansu. Sebelum itu Siauw-moay tak pernah mengenal Siansu. Teng-suci! Kau telah menerima budi Siansu, tapi hari ini ketika tulang belulangnya Siansu belum lagi menjadi dingin, kau sudah berani melontarkan tuduhan yang sangat keji itu...” Ia tidak meneruskan perkatatannya dan air matanya mulai mengucur.
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Siapa pun sudah tahu bahwa kau amat mengiler menjadi Ciang-bun-jin,” katanya. “Tetapi sebelum disetujui saudara-saudara kita, kau telah mencoba menunjuk keangkeranmu dan menjual lagak galak. Huh! Merusak nama Siansu! Berdosa sangat besar! Kau ingin menghukum aku bukan? Sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Setelah menerima pesan Siansu untuk menjadi Ciang-bun-jin, sebetulnya kau harus segera pulang ke Go-bi guna mengurus urusan partai. Tapi mengapa kau kembali ke kota raja? Sesudah Siansu meninggal dunia di partai ada banyak sekali urusan yang harus segera diurus. Aku tanya, mengapa kau balik ke kota raja?”
“Siauw-moay kembali ke kota raja untuk menunaikan tugas berat yang diberikan Siansu,” jawabnya.
“Tugas apa?” tiba-tiba si perempuan she Teng bertanya. “Kita berada di antara saudara-saudara sendiri, kau boleh memberi-tahu terang-terangan.”
“Tugas ini rahasia besar bagi partai kita,” sahut nona Ciu. “Rahasia itu hanya boleh diketahui seorang Ciang-bun-jin. Sungguh menyesal aku tidak dapat memberi-tahu kepada siapa pun juga.”
Teng Bin Kun mengeluarkan suara di hidung. “Huh! Huh!” katanya. “Kau mau coba-coba berlindung di balik pangkat Ciang-bun-jin. Huh! Kau tak bisa memperdayai aku. Partai kita bermusuhan hebat dengan Mo-kauw. Banyak sekali saudara-saudara kita yang binasa di tangan Mo-kauw. Orang-orang Mo-kauw yang mampus di bawah pedang Ie-thian-kiam juga tidak bisa dihitung berapa banyaknya. Meninggalnya Siansu juga karena beliau tak sudi menerima pertolongan pemimpin Mo-kauw. Tapi mengapa jenazah Siansu masih belum dingin, kau sudah kembali ke kota raja mencari penjahat cabul she Thio itu, si kepala siluman?”
Bu Kie menggigil. Mendadak pipinya dicolek orang. Dia menengok. Orang yang mencoleknya adalah Tio Beng. Muka Bu Kie lantas berubah merah.
“Apa benar Ciu-kouwnio mencari aku?” tanyanya di dalam hati.
Cie Jiak merasa dadanya seperti mau meledak. Sambil menuding dia membentak dengan suara terputus-putus.
“Kau...! Kau...! Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata itu?”
Teng Bin Kun menyeringai. “Kau masih hendak menyangkal?” tanyanya. “Kau menyuruh kami pulang ke Go-bi lebih dahulu. Waktu ditanya mengapa kau kembali ke kota raja, kau menjawab tidak jelas. Itu sebabnya mengapa kami menguntit kau. Kau bertanya kepada ayahmu, Kouw Tauw-to, tempat kediaman si penjahat cabul. Apa kau kira kami tak tahu? Kau telah pergi ke rumah penginapan mencari penjahat cabul itu. Apa kau rasa kami tidak tahu?”
Mendengar cacian ‘penjahat cabul’ yang dikeluarkan berulang-ulang, biar pun sabar darah Bu Kie meluap juga. Tiba-tiba dia merasa lehernya ditiup orang. Dia tahu bahwa nona Tio mengejeknya kembali.
Sementara itu si perempuan she Teng sudah menyemburkan racunnya lagi. “Siapa yang ingin kau cari dan dengan siapa kau hendak bersahabat, orang luar memang tidak dapat mencampuri. Tapi penjahat cabul she Thio adalah musuh besar partai kita. Pada waktu orang mengangkat dia menjadi Bengcu, kenapa sebagai Ciang-bun-jin Go-bi-pay kau tidak menentang? Biar pun kita kalah suara, tapi sedikitnya kita sudah menyatakan di hadapan umum bahwa partai kita tidak menyetujui pengangkatan itu. Waktu itu aku memperhatikan kau. Ahh! Kau kelihatan sangat girang. Paras mukamu tampak berseri-seri. Waktu Siansu memerintahkan kau membunuh penjahat cabul itu di Kong-beng-teng, ia sama sekali tidak mencoba membela diri, sebaliknya dari itu dia malah bermain mata dengan kau. Kau sengaja memberi tikaman yang sangat enteng. Siapa dapat percaya bahwa kau tidak mempunyai hubungan rahasia dengan penjahat itu?”
Kepala nona Ciu menjadi puyeng. Dia mendekap muka dan menangis. “Siapa... bermain mata...?” katanya dengan suara parau. “Mengapa kau memfitnah orang dengan kata-kata yang tidak enak didengar itu?”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Kata-kataku tak enak didengar?” ejeknya. “Tapi bagaimana perbuatanmu? Perkataanmu memang sedap sekali didengar, tapi perbuatanmu tidak enak dilihat. Huh...! Misalnya tadi siang kau berkata begini kepada pengurus rumah penginapan. ‘Mohon tanya, apa di sini ada seorang tamu she Thio?’ Kata kau lagi, ‘Ia berusia kira-kira dua puluh tahun, tubuhnya jangkung. Mungkin sekali ia menggunakan she yang berbeda’. Kau mengatakan itu semua dengan suara yang sangat merdu.”
Dalam ejekannya itu Teng Bin Kun menirukan suara Ciu Cie Jiak dengan lagak yang genit sekali. Di tengah malam yang amat sunyi suaranya membangunkan bulu roma. Tak kepalang marahnya Bu Kie. Hampir dia melompat keluar. Syukur dia masih bisa menahan diri karena dia ingat bahwa dia tidak boleh mencampuri urusan dalam Go-bi-pay dan tindakannya akan lebih merugikan nona Ciu kalau dia turun tangan. Dengan demikian biar pun darahnya meluap dia tidak bisa bergerak.
Di kalangan Go-bi-pay semula terdapat sejumlah murid yang ingin mentaati kemauan guru mereka dan mendukung Cie Jiak sebagai Ciang-bun-jin. Tapi hati mereka menjadi goncang sesudah mendengar kata-kata Teng Bin Kun. Memang Go-bi-pay bermusuhan keras dengan Beng-kauw, sedang mereka harus mengakui bahwa memang ada suatu hubungan antara Cie Jiak dan Bu Kie. Bagaimana kalau Cie Jiak menyerahkan Go-bi-pay ke tangan Beng-kauw? Itulah jalan pikiran mereka.
Sementara itu Teng Bin Kun berkata lagi, “Ciu-sumoay, kau masuk di partai kita atas pujian Thio Cinjin dari Bu-tong-pay. Penjahat cabul she Thio itu adalah anaknya Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay. Tak ada seorang pun yang dapat menanggung bahwa di dalam hal ini tidak terselip suatu siasat yang aneh.”
Sehabis berkata begitu, seraya berpaling kepada saudara-saudari seperguruannya, ia berteriak.
“Saudara-saudari sekalian! Memang Siansu sudah berpesan untuk mengangkat Ciu-sumoay sebagai Ciang-bun-jin partai kita. Tetapi beliau tak menduga bahwa begitu beliau menutup mata Ciang-bun-jin kita lantas pergi mencari Kauwcu dari Mo-kauw. Kejadian ini bersangkut paut dengan mati hidupnya partai kita. Kejadian ini bukanlah kejadian kecil yang dapat dikesampingkan dengan begitu saja. Kalau malam ini Siansu masih hidup pasti beliau akan mengangkat orang lain. Cita-cita Siansu adalah kegemilangan partai kita. Siansu pasti tidak menghendaki bahwa partai kita musnah di tangan Mo-kauw. Maka itu menurut pendapat Siauw-moay, kita semua harus berusaha mewujudkan cita-cita Siansu yang sangat luhur itu. Sekarang kita harus menuntut supaya Ciu-sumoay menyerahkan cincin Ciang-bun-jin, supaya kita bisa segera mengangkat yang cocok untuk menjadi pemimpin kita, untuk menjadi Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay. Ini usul Siauw-moay.”
Usul itu disetujui lima enam orang.
“Aku telah menerima perintah Siansu menjadi Ciang-bun-jin, sebab itu aku tak dapat menyerahkan cincin ini,” kata Cie Jiak. “Sebenarnya aku pun tidak kepingin menjadi Ciang-bun-jin, tetapi aku sudah bersumpah berat dan aku pasti tidak bisa menyia-nyiakan harapan Siansu.”
“Kau mau serahkan atau tidak?” bentak Teng Bin Kun. “Menurut peraturan partai, larangan pertama tidak boleh menghina guru dan larangan kedua tak boleh berjinah. Dan kau masih mau mengurus partai kita?”
“Nonamu bakal celaka!” bisik Tio Beng di kuping Bu Kie. “Kalau kau suka memanggil aku dengan kata-kata ‘Cici yang baik’, aku bersedia untuk menolong dia.”
Bu Kie tahu bahwa nona Tio yang sangat pintar tentu sudah memiliki akal untuk menolong Cie Jiak. Tapi karena ia berusia lebih tua, maka ia merasa agak jengah untuk memanggil ‘Cici’ kepadanya. Selagi masih bersangsi, Tio Beng telah berkata lagi.
“Kalau kau tidak suka terserahlah kepadamu. Sekarang aku ingin pergi.”
Apa boleh buat Bu Kie segera berkata dengan suara perlahan. “Cici yang baik...”
Si nona tertawa, tapi baru saja ia mau melompat keluar, orang-orang Go-bi rupa-rupanya sudah merasakan bahwa mereka sedang diintip orang.
“Siapa di situ?!” bentak Teng Bin Kun.
Sekonyong-konyong di luar tembok terdengar batuk-batuk, diiringi dengan suara seorang nenek-nenek.
“Apa yang kalian lakukan di tengah malam buta?” Di lain saat dua manusia lain sudah berada di pendopo itu.
Bu Kie lantas mengenali bahwa nenek yang bertongkat itu adalah Kim-hoa Popo, ada pun kawannya, wanita yang bermuka jelek, bukan lain Cu-jie atau A-lee, saudara sepupu Bu Kie sendiri. Sebagaimana diketahui, ketika enam partai persilatan menyerang Kong-beng-teng, Cu-jie dibawa lari oleh Wie It Siauw. Waktu mendekati Kong-beng-teng dengan dikejar oleh In Ya Ong (ayah Cu-jie) dan Bu Kie, Wie Hok-ong melepaskan si nona di lereng gunung, dan ketika dia mencarinya, kembali Cu-jie menghilang. Semenjak perpisahan, Bu Kie sering kali memikirkan nasib si nona. Sekarang tak diduga-duga dia muncul bersama Kim-hoa Popo. Bukan main girangnya Bu Kie, hampir dia berteriak memanggil.
“Kim-hoa Popo, perlu apa kau datang ke sini?” tanya Teng Bin Kun.
“Mana gurumu?”
“Kemarin Siansu meninggal dunia. Huh! Kau sudah mencuri dengar di luar tembok, tetapi kau masih bertanya juga.”
“Ahh...! Biat-coat mati? Bagaimana matinya? Mengapa dia tidak menunggu bertemu denganku? Hai! Sayang... sungguh sayang...” Selagi berkata begitu si nenek batuk tiada hentinya.
Sambil menepuk-nepuk punggung orang tua itu, Cu-jie menengok kepada Teng Bin Kun lantas berkata dengan suara tawar.
“Siapa sudi mencuri dengar pembicaraan kalian? Popo dan aku sedang lewat di sini, lalu secara kebetulan aku mendengar suara manusia bicara dan setelah aku mengenali suaramu barulah kami masuk ke sini. Popo bertanya kepadamu, kau dengar tidak? Bagaimana cara matinya gurumu?”
“Bukan urusan kamu!” bentak Teng Bin Kun dengan marah.
Setelah batuknya agak mereda barulah Kim-hoa Popo berkata dengan suara lebih sabar.
“Selama hidupku hanya satu kali aku kalah dalam pertempuran, yaitu kalah dari gurumu. Kekalahan itu bukan lantaran ilmu silat gurumu lebih unggul, akan tetapi karena tajamnya Ie-thian-kiam. Selama beberapa tahun aku mencari-cari senjata mustika untuk bertempur lagi melawan Biat-coat. Aku menjelajah empat penjuru dunia hingga pada akhirnya dapat dikatakan capek lelahku tak sia-sia. Seorang sahabat lama bersedia meminjamkan sebatang golok mustika kepadaku.
Terakhir aku mendengar bahwa orang-orang Go-bi ditawan kerajaan dan dikurung di kelenteng Ban-hoat-si. Aku segera mengambil keputusan untuk menolong gurumu supaya kita berdua bisa menjajal lagi kepandaian yang sesungguhnya. Tapi siapa nyana menara di Ban-hoat-si yang digunakan sebagai penjara gurumu sudah berubah menjadi tumpukan puing. Hai! Itulah maunya nasib. Seumur hidup Kim-hoa Popo takkan dapat mencuci lagi hinaan atas dirinya itu. Biat-coat! Mengapa tidak bisa menunggu sehari dua?”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Jika Suhu masih hidup, apa yang akan kau dapat hanyalah kekalahan yang kedua kalinya,” katanya. “Setelah keok untuk kedua kalinya, kau pasti tak akan merasa penasaran lagi...”
“Plak! Plak! Plak! Plak!”
Tiba-tiba terdengar suara gaplokan, pipi Teng Bin Kun digaplok empat kali beruntun sehingga matanya berkunang-kunang dan hampir dia jatuh terguling. Empat gaplokan itu dikirim secara cepat luar biasa dan dengan gerakan yang sangat aneh sehingga Teng Bin Kun sama sekali tidak dapat membela diri. Dia kaget bercampur marah, menghunus pedang dan menuding si nenek.
“Pengemis tua!” bentaknya, “Apa kau sudah bosan hidup?”
Tapi Kim-hoa Popo seolah tidak mendengar cacian itu dan tidak mempedulikan pedang yang ditudingkan kepadanya. Dengan suara menyesal dan putus harapan, dia bertanya lagi.
“Bagaimana matinya gurumu?”
“Tak perlu aku memberi-tahu kepadamu,” jawab Teng Bin Kun.
Si nenek menghela napas dan berkata, “Biat-coat Suthay, selama hidup kau adalah seorang gagah pada jaman ini dan juga merupakan seorang tokoh paling terkemuka di rimba persilatan. Sungguh sayang, sesudah kau mati murid-muridmu tolol semua. Apakah kau tidak memiliki murid yang mendingan untuk mewarisi kedudukan Ciang-bun-jin?”
Mendadak seorang pendeta wanita setengah tua yang bertubuh jangkung maju selangkah. Sambil merangkapkan kedua tangannya, dia berkata,
“Pie-pie Congsu menghadap kepada Popo. Pada waktu Siansu mau menutup mata, beliau sudah mengangkat Ciu Cie Jiak Ciu-sumoay sebagai Ciang-bun-jin dari partai kami. Kami berada di sini karena masih ada sejumlah saudara seperguruan yang merasa tidak setuju atas pengangkatan itu. Bahwa Siansu sudah keburu meninggal dunia dan Popo tidak bisa mencapai keinginan yang sudah dikandung lama, memang semua adalah nasib. Manusia tidak bisa melawan takdir. Karena urusan Ciang-bun-jin partai kami masih belum beres, maka kami masih belum bisa membuat perjanjian apa pun juga dengan Po po.
Tapi sebagai salah satu partai besar di rimba persilatan, Go-bi-pay tidak bisa menjatuhkan nama besarnya Siansu. Jika Popo mau memberi sesuatu pesan, berikanlah sekarang. Di hari kemudian, sesuai dengan peraturan-peraturan di rimba persilatan, Ciang-bun-jin kami akan pergi menemui Popo. Akan tetapi jika Popo mau menghina kami dengan mengandalkan kekuatan sendiri, maka biar pun saat ini Go-bi-pay masih berkabung, kami akan melayani Popo sampai titik darah yang penghabisan.”
Bu Kie dan Tio Beng merasa kagum dengan perkataan Nikouw itu yang diucapkan secara tetap dan sopan santun. Sambil menyapu murid-murid Go-bi dengan pandangan kedua matanya, si nenek berkata,
“Waktu gurumu hendak menutup mata, dia telah mengangkat seorang Ciang-bun-jin. Itu bagus. Siapakah Ciang-bun-jin itu? Aku ingin bertemu dengan dia.” Ketika berkata demikian nada suara Kim-hoa Popo sudah banyak lebih lunak dari pada waktu dia bicara dengan Teng Bin Kun.
Ciu Cie Jiak lantas maju sambil memberi hormat. “Popo, selamat bertemu,” katanya. “Ciang-bun-jin turunan keempat dari Go-bi-pay memberi hormat kepada Popo.”
“Tidak tahu malu kau!” bentak Teng Bin Kun. “Kau berani menamakan diri sendiri sebagai Ciang-bun-jin turunan keempat?!”
Cu-jie tertawa dingin. “Ciu-cici adalah seorang yang sangat baik,” katanya. “Waktu berada di See-hek ia telah memperlihatkan kasih sayangnya padaku. Jika ia tidak pantas menjadi Ciang-bun-jin, apa kau kira dirimu cocok untuk menjadi Ciang-bun-jin? Kau jangan banyak tingkah di hadapan Popo. Apakah kau mau digaplok lagi?”
Darah Teng Bin Kun meluap. Dia menghunus pedang dan menikam si nona yang lidahnya tajam. Cu-jie berkelit seraya menggaplok. Gerakannya menyerupai gerakan si nenek, tapi jauh lebih lambat. Teng Bin Kun cepat menundukkan kepalanya sehingga telapak tangan Cu-jie menyampok angin, tetapi tikamannya pun jatuh di tempat kosong.
Si nenek tertawa. “Bocah!” katanya. “Aku telah mengajarkan berulang kali, tapi kau masih belum mampu juga dalam menggunakan pukulan yang begitu gampang. Lihatlah!” Seraya berkata begitu tangan kanannya menyambar dan mampir tepat pada pipi kanan Teng Bin Kun. Hampir berbareng dia membalik tangan lalu menggaplok pipi kiri, setelah pipi kiri, pipi kanan pula dan sesudah pipi kanan pipi kiri lagi, semuanya empat gaplokan.
Gerakan tangan si nenek tidak begitu cepat dan bisa dilihat nyata oleh semua orang. Tapi Teng Bin Kun sendiri merasakan bahwa dirinya ditindih semacam tenaga yang tak kelihatan sehingga kaki tangan tak bisa bergerak.
“Popo, aku sudah mahir dalam pukulan itu,” kata Cu-jie sambil tertawa. “Aku hanya tidak mempunyai tenaga dalam yang besar. Coba kujajal lagi!”
Saat itu Teng Bin Kun masih berada di bawah kekuasaan si nenek sehingga dia masih belum bisa bergerak. Melihat sambaran telapak tangan Cu-jie, saking marahnya ia merasa seolah-olah dadanya hendak meledak.
Pada detik terakhir tiba-tiba Cie Jiak melompat dan menangkis tangan Cu-jie. “Cici, harap tahan!” katanya. Ia berpaling dan berkata lagi. “Popo, barusan Ceng Cu Suci menyatakan bahwa biar pun ilmu silat kami tidak bisa menandingi Popo tetapi kami tidak bisa membiarkan Popo menghina kami.”
Si nenek tertawa kemudian berkata, “Lidah perempuan she Teng itu sangat beracun. Dia menentang kau sebagai Ciang-bun-jin, tapi kau masih mau melindungi dia.”
“Orang luar tidak dapat mencampuri urusan dalam dari partai kami,” kata nona Ciu. “Aku yang rendah telah menerima warisan Siansu dan biar pun berkepandaian cetek, aku tidak bisa mempermisikan orang luar menghina saudari seperguruanku.”
Si nenek tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Bagus!” katanya. Baru saja berkata begitu, dia sudah batuk-batuk lagi dengan hebatnya. Buru-buru Cu-jie menyodorkan sebutir pil yang lalu ditelannya dengan napas tersengal.
Beberapa saat kemudian, sesudah batuknya mereda, kedua tangan si nenek tiba-tiba menyambar, tangan kanannya menekan punggung dan tangan kirinya menindih dada Cie Jiak. Gerakan itu dilakukan dalam kecepatan kilat dan nona Ciu tidak berdaya lagi karena jari tangan Kim-hoa Popo telah menempel pada jalan darah mematikan. Dengan mata terbelalak Cie Jiak mengawasi lawannya.
“Ciu-kouwnio, kepandaianmu masih amat rendah,” kata si nenek. “Bagaimana bisa gurumu menyerahkan kedudukan Ciang-bun-jin kepadamu?”
Cie Jiak tahu bahwa begitu si nenek menekan dengan tenaga dalam maka nyawanya akan melayang. Namun begitu ingat gurunya, semangatnya berkobar. Sambil mengacungkan tangannya dia berkata dengan suara nyaring,
“Popo, inilah cincin besi tanda Ciang-bun-jin yang dimasukkan ke jari tanganku oleh Siansu sendiri. Apa kau masih sangsi?”
Si nenek tersenyum, “Tugas seorang Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay sangat berat,” katanya. “Setiap Ciang-bun-jin harus memikul beban yang tidak ringan. Apakah gurumu tak pernah memberi-tahu soal itu kepadamu? Kurasa belum tentu!”
“Tentu saja Siansu memberi-tahu soal itu kepadaku,” kata Cie Jiak. Berbareng dengan jawabannya, jantung nona Ciu melonjak. “Kenapa dia tahu rahasia partaiku?” tanyanya di dalam hati.
Sementara itu dengan hati berdebar-debar Bu Kie memperhatikan semua perkembangan. Melihat sikap Cie Jiak yang sangat keras, dia kuatir bahwa dalam marahnya Kim-hoa Popo akan menurunkan tangan jahat. Dalam bingungnya dia hendak bergerak melompat keluar, tapi tangannya dicekal Tio Beng yang melarangnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Se-konyong-konyong si nenek tertawa terbahak.
“Biat-coat Suthay tidak salah mata,” katanya. “Biar pun ilmu silatnya cetek, Ciang-bun-jin yang dipilihnya adalah seorang yang berwatak keras. Memang benar bahwa ilmu silat dapat dipertinggi dengan pelajaran dan latihan. Sungai dan gunung mudah diubah, tetapi watak manusia susah diubah.”
Sebenarnya Cie Jiak sendiri sudah ketakutan setengah mati. Tadi keberaniannya muncul karena teringat pesan sang guru. Sementara itu di mata saudara saudari seperguruannya derajat nona Ciu naik tinggi. Dia sudah memperlihatkan kemuliaan hatinya bahwa dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dia menolong Teng Bin Kun. Dia pun sudah membuktikan wataknya yang kuat dalam menghadapi kebinasaan. Mendadak Ceng Cu mengibaskan pedangnya sambil memberi komando dengan teriakan. Para murid Go-bi lantas berpencaran, menghunus senjata dan mengurung pendopo.
“Apa yang kau mau?” tanya si nenek sambil tertawa.
“Apa maksud Popo dengan menculik ciang-bun-jin partai kami?” Ceng Cu balas bertanya.
Si nenek batuk-batuk. “Apa kalian hendak menekan aku dengan jumlah yang lebih besar?” tanyanya dengan suara memandang rendah. “Huh, huh...! Di mata Kim-hoa Popo, sepuluh kali lipat lebih besar dari jumlah ini masih belum masuk hitungan.“
Mendadak dia melepaskan Cie Jiak, badannya berkelebat dan tahu-tahu jarinya menyambar mata Ceng Cu. Nikouw itu menangkis dengan pedangnya. Akan tetapi hampir berbareng dengan teriakan kesakitan, seorang sumoi-nya sudah terguling di sampingnya.
Gerakan Kim-hoa Popo sangat cepat dan aneh. Berbareng dengan serangannya terhadap Ceng Cu, kaki kirinya menendang pinggang seorang murid Go-bi yang lain. Pada lain saat tubuh nenek itu berkelebatan di sekeliling pendopo, dan di antara suara batuk-batuk kaki tangannya menyambar-nyambar.
Dengan nekat para murid Go-bi melawan dengan senjatanya. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam sekejap saja tujuh delapan orang roboh dengan jalan darah tertotok. Totokan si nenek hebat luar biasa. Mereka menjerit dan bergulingan di tanah. Beberapa saat kemudian, sambil menepuk-nepuk kedua tangannya Kim-hoa Popo sudah kembali ke pendopo.
“Ciu-kouwnio bagaimana pendapatmu?” tanyanya. “Mana yang lebih unggul, ilmu silat Go-bi atau ilmu silat Kim-hoa Popo?”
“Tentu saja ilmu silat kami yang lebih unggul,” jawabnya. “Apa Popo sudah lupa kekalahan di tangan Siansu?”
Mata si nenek melotot. “Biat-coat Lo-ni menang berkat Ie-thian-kiam,” bentaknya dengan marah. “Dia bukan menang sewajarnya.”
“Popo,” kata Cie Jiak, “Cobalah kau bicara menurut perasaan hatimu, sejujurnya. Siapa yang lebih unggul andai kata Siansu dan Popo bertanding dengan tangan kosong?”
Si nenek tidak lantas menjawab. Untuk sejenak ia mengawasi muka si nona. Akhirnya ia menggelengkan kepala dan berkata.
“Entahlah. Aku datang ke kota raja justru untuk mendapat keputusan siapa di antara kita yang lebih unggul. Hai! Sesudah Biat-coat Suthay meninggal, rimba persilatan kehilangan seorang tokoh yang mempunyai kepandaian tinggi. Hai! Mulai sekarang Go-bi-pay menjadi partai yang lemah.”
Selagi mereka berbicara, murid Go-bi-pay yang tertotok jalan darahnya berteriak-teriak. Ceng Cu coba menolong tetapi tidak berhasil. Ternyata ilmu totok Kim-hoa Popo sangat bebeda dengan ilmu totok yang dikenal di rimba persilatan. Totokan ini hanya bisa dibuka orang yang sudah pernah mempelajarinya. Sebagai seorang yang pernah menolong sejumlah jago yang dilukai si nenek, tentu saja Bu Kie sudah mengenal kelihaian orang tua itu.
“Ciu-kouwnio, bagaimana? Apa kau takluk kepadaku?” tanya si nenek.
“Ilmu silat partai kami sangat dalam bagaikan lautan dan seseorang yang mempelajarinya tidak akan dapat berhasil dalam waktu singkat,” jawab si nona. “Kami masih berusia muda, tentu saja kami belum bisa menandingi Popo. Tapi di kemudian hari kemajuan kami tiada batasnya.”
Si nenek tertawa, “Bagus!” katanya. “Kalau begitu sekarang Kim-hoa Popo hendak minta diri. Di hari kelak bila mana ilmu silatmu sudah tidak terbatas, barulah kau membuka jalan darah dia.” Sehabis berkata begitu dia menuntun tangan Cu-jie, kemudian memutar badan dan berjalan pergi.
Cie Jiak terkejut. Kalau si nenek pergi, maka saudara-saudari seperguruannya akan binasa.
“Popo, tahan dulu!” katanya. “Aku mohon agar Popo suka menolong Suci dan Suheng-ku.”
“Aku bersedia untuk menolong, asal kau mau berjanji bahwa mulai kini orang Go-bi-pay harus menyingkir dari tempat di mana aku dan Cu-jie berada,” jawabnya.
Nona Ciu mengawasi si nenek dengan rasa mendongkol. Sebagai Ciang-bun-jin, dia pasti tidak bisa memberi janji itu yang berarti runtuhnya Go-bi-pay.
Kim-hoa Popo tertawa. “Kalau kau tidak mau menurunkan keangkeran Go-bi-pay, aku pun tidak mau memaksa, asal saja kau suka meminjamkan Ie-thian-kiam kepadaku,” katanya. “Begitu kau menyerahkan pedang itu kepadaku maka aku akan segera menolong suci dan suheng-mu.”
“Sebagaimana Popo ketahui, karena ditipu kerajaan maka kami guru dan murid telah tertawan dan terkurung di menara kelenteng Ban-hoat-si,” kata si nona. “Bagaimana Ie-thian-kiam masih bisa berada di tangan kami?”
Sebenarnya si nenek memang telah menduga hal itu. Dalam mengajukan permintaan, dia tahu harapannya sangat tipis. Tapi mendengar jawaban Cie Jiak, paras mukanya lantas terlihat sinar putus harapan. Tiba-tiba ia membentak,
“Ciu-kouwnio! Jika kau mau melindungi nama Go-bi-pay, kau tidak bisa melindungi jiwamu sendiri...” Ia mengeluarkan sebutir pil dan berkata lagi, “Ini racun yang bisa memutuskan usus manusia. Sesudah kau menelannya barulah aku akan menolong mereka.”
Sambil menyambut pil itu Cie Jiak berkata di dalam hatinya, “Suhu telah memerintahkan aku untuk menipu Thio-kongcu, tetapi sebenarnya aku tidak bisa berbuat begitu. Dari pada hidup menderita, memang lebih baik aku mati saja.”
“Ciu-sumoi, jangan telan racun itu!” teriak Ceng Cu.
Melihat keadaan mendesak, Bu Kie segera bergerak untuk melompat keluar, namun lagi-lagi tangannya dicekal Tio Beng.
“Anak tolol!” bisik si nona. “Pil itu bukan racun.”
Bu Kie terkejut dan Cie Jiak telah menelan pil tersebut. Semua murid Go-bi mencelos hatinya. Mereka segera bergerak untuk menyerang.
“Jangan banyak tingkah!” bentak si nenek.
“Racun ini tidak lantas bekerja, Ciu-kouwnio. Ikutlah aku, jika kau mendengar kata-kataku, mungkin sekali aku akan memberikan obat pemunah.” Sehabis berkata begitu ia menepuk badan murid-murid Go-bi yang tertotok.
Rasa sakit mereka lantas hilang, tetapi untuk sementara waktu belum dapat bergerak karena kaki tangan mereka masih merasa kesemutan. Melihat kegagahan dan kemuliaan nona Ciu yang sudah menolong mereka dengan menelan racun, bukan main rasa terima kasih mereka.
“Terima kasih, Ciu-sumoay!” teriak seorang.
Sementara itu seraya menarik tangan Cie Jiak, Kim-hoa Popo berkata dengan nada suara lemah lembut.
“Anak baik, ikutlah aku. Popo tak akan mencelakaimu.”
Sebelum ia sempat menyahut, nona Ciu merasa dirinya dibetot dengan tenaga yang amat besar dan tanpa terasa ia melompat. Ceng Cu berteriak.
“Ciu-sumoay...!”
Dia melompat untuk mencegat, namun tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin tajam. Itulah serangan Cu-jie. Dengan cepat dia menangkis dengan tangan kirinya. Tetapi pukulan Cu-jie hanya pukulan gertakan.
“Plakk!”
Yang benar-benar digaplok adalah pipi Teng Bin Kun. Pukulan yang diberi nama Cie-tang Tah-say (Menunjuk ke Timur, memukul ke Barat) itu adalah salah satu pukulan lihai dari Kim-hoa Popo. Sesudah menggaplok, sambil tertawa nyaring Cu-jie melompati tembok.
“Kejar!” kata Bu Kie sambil mencekal tangan Siauw Ciauw.
Mereka lantas melompati tembok. Melihat kemunculan tiga orang lain, murid Go-bi-pay tentu saja merasa kaget dan di lain saat mereka pun melompat untuk mengejar. Tapi ilmu ringan badan Kim-hoa Popo dan Bu Kie bukan ilmu ringan badan sembarangan. Waktu murid Go-bi melompati tembok, bayang-bayang mereka sudah tidak kelihatan lagi. Sesudah kejar-kejaran beberapa puluh tombak, Kim-hoa Popo membentak,
“Siapa itu?!”
“Serahkan Ciang-bun kami! Sesudah kau serahkan maka aku akan mengampuni jiwamu,” teriak Tio Beng yang kemudian berbisik di kuping Bu Kie, “Kau amati dari kejauhan, tapi jangan munculkan diri.” Sehabis berkata begitu dia mengempos semangat dan tubuhnya melesat beberapa tombak. Dia segera menikam punggung si nenek dengan pukulan Kim-teng Hud-kong (Sinar Buddha di Kim-teng), yaitu salah satu pukulan dari Kiam-hoat Go-bi-pay.
Karena memiliki kecerdasan yang luar biasa, dari latihan di kelenteng Ban-hoat-si ia sudah bisa menggunakan ilmu pedang Go-bi-pay. Biar pun tenaga dalamnya masih belum cukup namun serangannya yang dikirim dengan Ie-thian-kiam itu cukup hebat.
Mendengar sambaran angin yang luar biasa, si nenek buru-buru melepaskan Cie Jiak lalu berkelit sambil memutar tubuh. Dengan beruntun Tio Beng mengirim beberapa serangan, tetapi semuanya dapat dipunahkan secara mudah.
Melihat senjata yang digunakan si nona, Kim-hoa Popo sangat kaget bercampur girang. Ia pun merangsek dan terus menyerang. Sesudah bergebrak memakai beberapa jurus Go-bi, tiba-tiba saja Tio Beng memutar pedangnya lalu menyerang dengan pukulan Soan-hong-chiu (angin puyuh) dari Kun-lun-pay.
Dalam pertempuran itu si nenek mengira bahwa Tio Beng murid Go-bi-pay karena yang diperlihatkan adalah Kiam-hoat Go-bi-pay. Pada detik itu dia justru sedang melompat untuk menangkap pergelangan tangan si nona sambil merampas Ie-thian-kiam. Serangan mendadak dengan pukulan Kun-lun-pay itu benar2 di luar dugaannya. Dia terkesiap. Tapi sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, dalam keadaan bahaya dia tidak bingung dan secepat kilat menggulingkan badannya di tanah. Walau pun dia dapat menyelamatkan jiwa, tapi tangan bajunya tak urung kena disambar hingga robek.
Bukan main marahnya Kim-hoa Popo. Begitu melompat bangun, dia langsung menyerang dengan hebatnya. Tio Beng mengerti ilmu silatnya masih kalah jauh. Dalam pertempuran yang panjang dia pasti bakal dirobohkan. Dengan segera dia mengubah siasat. Kini dia menyerang dengan berbagai ilmu pedang, sebentar dengan Kiam-hoat Khong-tong-pay, sebentar kemudian dengan Kiam-hoat Hoa-san-pay, Kun-lun-pay, atau Siauw-lim-pay dan yang digunakannya selalu pukulan-pukulan yang paling hebat. Berkat pedang Ie-thian-kiam serangan itu menjadi dahsyat luar biasa sehingga Kim-hoa Popo tidak berani berlaku sembrono.
Cu-jie jengkel. Ia menghunus pedangnya lalu melontarkannya kepada sang Popo. Segera nenek itu menyambutnya, tetapi baru bertanding sembilan jurus, pedangnya putus dua dengan mengeluarkan suara,
“Kress...!”
Paras muka si nenek segera berubah. Dia cepat melompat keluar dari gelanggang sambil membentak.
“Bocah! Siapakah kau sebenarnya?”
Tio Beng tertawa. “Mengapa kau tidak mencabut To-liong-to?” tanyanya.
“Kurang ajar! Kalau aku memegang To-liong-to, kau sama sekali bukan tandinganku. Apa kau berani mengikuti kami untuk menjajal ilmu?”
Mendengar disebutnya To-liong-to, Bu Kie merasa heran.
“Nenek, pergilah kau ambil To-liong-to,” kata si nona sambil tertawa. “Aku menanti di kota raja. Sesudah kau bersenjatakan golok itu kita bertempur lagi.”
“Balik kepalamu kemari! Aku mau lihat mukamu lebih tegas,” kata si nenek dengan marah.
Tio-kouwnio memutar badan, mengeluarkan lidahnya dan memejamkan sebelah matanya sehingga mukanya tidak keruan macam. Si nenek mengutuk dan meludahi muka si nona. Sesudah itu dia pun berlalu menuntun Cu-jie dan Cie Jiak.
“Kejar lagi!” kata Bu Kie.
“Tak perlu tergesa-gesa. Aku tanggung keselamatan Ciu-kouwniomu tak akan terganggu.”
“Mengapa tadi kau menyebut To-liong-to?”
“Waktu berhadapan dengan murid-murid Go-bi-pay, nenek itu mengatakan bahwa seorang sahabat lama bersedia meminjamkan sebatang golok mustika padanya dan dengan golok itu dia ingin bertempur lagi dengan Biat-coat Suthay. Ie thian put cut, swee ie ceng hong (kalau Ie-thian tidak keluar, siapa lagi yang bisa melawan ketajamannya?). Untuk melawan Ie-thian-kiam, orang harus menggunakan To-liong-to. Aku bertanya dalam hatiku, apakah dia sudah berhasil meminjam To-liong-to dari ayah angkatmu, Cia-locianpwe? Maka itulah tadi aku menyerang dengan Ie-thian-kiam, dan maksudku adalah untuk memaksa ia mengeluarkan To-liong-to. Tapi ternyata ia tidak membawa golok mustika itu dan hanya menantang agar aku mengikuti dia untuk menjajal Ie-thian-kiam dengan To-liong-to. Dari perkataannya itu mungkin sekali dia sudah tahu di mana adanya To-liong-to, tetapi belum bisa mendapatkan golok itu,” katanya.
Mendengar keterangan itu Bu Kie manggut-manggut. “Ya, memang benar sekali bahwa golok itu berada di tangan Gie-hu,” katanya.
“Menurut dugaanku ia akan segera pergi ke pantai lalu menyeberangi lautan guna mencari golok itu,” kata Tio Beng. “Kita harus mendahuluinya supaya Cia-locianpwe yang buta dan berbaik hati tidak sampai kena diperdayai perempuan tua itu.”
Darah Bu Kie bergolak. “Benar! Benar katamu!” katanya dengan tergesa gesa.
Pada waktu meluluskan permintaan Tio Beng yang ingin meminjam To-liong-to, dia hanya mempertahankan sifat lelaki yang takkan menjilat ludah sendiri. Tapi sekarang, mengingat keselamatan ayah angkatnya, dia ingin sekali mempunyai sayap supaya dia dapat segera terbang melindungi ayah angkatnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi Tio Beng segera mengajak Bu Kie dan Siauw Ciauw ke gunung Ong-hu. Dia tidak masuk ke dalam melainkan hanya berbicara dengan penjaga pintu yang sesudah mendengar pesanan sang majikan cepat masuk ke dalam, lalu keluar lagi dengan menuntun sembilan ekor kuda yang jarang kelihatan dan menenteng buntalan yang berisi emas dan perak.
Tio Beng bertiga lantas melompat ke punggung tunggangannya yang terus dikaburkan ke arah timur. Enam ekor kuda lainnya mengikuti dari belakang untuk ditunggangi secara bergantian supaya mereka tidak terlalu lelah. Pada keesokan paginya kesembilan kuda itu dapat dikatakan sudah tidak bisa berlari lagi. Dengan memperlihatkan kim-pay (tanda perintah) Jie Lam Ong, Tio Beng lantas menemui pembesar setempat kemudian menukar kuda-kudanya dengan tunggangan yang masih segar.
Malam itu mereka tiba di kota pesisir. Nona Tio menemui pembesar kota dan memerintahkan agar ia segera menyediakan sebuah perahu besar yang kuat dan lengkap segalanya. Ia pun memerintahkan agar semua perahu yang berada di pelabuhan segera berlayar ke arah selatan dan di sepanjang pantai kota itu dalam jarak seratus li, tak boleh ada perahu apa pun yang berlabuh. Belum cukup satu hari, segalanya sudah siap sedia. Tio Beng, Bu Kie dan Siauw Ciauw segera bertukar pakaian pelaut, memasang kumis palsu, memoles muka dengan semacam cat air sehingga warna kulit menjadi berubah, kemudian turun ke perahu untuk menunggu Kim-hoa Popo.
Tebakan Beng Beng Kuncu betul-betul lihay. Kira-kira magrib sebuah kereta tiba di pantai dengan diiringi Kim-hoa Popo yang menuntun Cie Jiak dan Cu-jie. Si nenek segera pergi ke sebuah perahu, yaitu satu-satunya kendaraan air yang berlabuh di pesisir itu dan menyewanya. Anak buah kapal yang sudah menerima pesan Tio Beng, semula menolak. Setelah Kim-hoa Popo menyerahkan sepotong emas, dengan sikap apa boleh buat pemimpin kapal meluluskan permintaannya. Begitu sang nenek turun, kapal segera memasang layar lalu berangkat ke arah timur.
Di atas samudera yang seolah tidak berbatas, segera perahu berlayar ke arah tenggara. Perahu itu amat besar dan bertingkat dua. Di atas geladak, di kepala perahu dan di kanan kirinya terdapat meriam. Perahu itu adalah perahu meriam Mongol. Dulu bangsa Mongol pernah berniat menyerang negeri Jepang lalu mempersiapkan perahu perang. Di luar dugaan angkatan laut itu diserang topan sehingga berantakan dan niatan itu menjadi gagal. Ketika berlabuh di pantai perahu itu terlihat seperti batu karang. Tapi di atas samudera dia menyerupai selembar daun yang terombang-ambing menjadi permainan tiupan angin.
Dengan menyamar sebagai anak buah perahu, Thio Bu Kie, Tio Beng serta Siauw Ciauw bersembunyi di bagian bawah perahu. Hari itu Tio Beng merasa terkejut dan kuatir sekali ketika hendak turun ke perahu. Dia sama sekali tak menduga bahwa pembesar setempat menyediakan sebuah perahu meriam dari angkatan laut Mongol. Hal ini dapat membuka rahasia. Tetapi sebagai seorang yang amat pintar si nona dapat memikirkan satu jalan untuk memperdayai Kim-hoa Popo. Dia segera memerintahkan agar perahu itu membawa sejumlah jala dan beberapa ton ikan basah. Dengan begitu nenek Kim-hoa akan percaya bahwa lantaran sudah tua maka perahu perang itu telah diubah menjadi semacam perahu penangkap ikan.
Ketika tiba di pantai, karena tidak mendapatkan kendaraan air lainnya maka tanpa curiga Kim-hoa Popo segera menyewa perahu tersebut. Dari lubang jendela Bu Kie dan Tio Beng memperhatikan jalannya matahari dan rembulan yang selalu naik dari sebelah kiri perahu. Mereka pun tahu bahwa perahu sedang berlayar ke arah selatan. Pada saat itu sudah masuk musim dingin dan angin utara bertiup dengan hebatnya sehingga perahu berlayar dengan kecepatan luar biasa.
“Gie-hu berada di pulau Peng-hwee-to yang terletak di daerah Kutub Utara,” kata Bu Kie. “Tapi mengapa Kim-hoa Popo justru memerintahkan perahu ini menuju ke selatan?”
“Tentu si nenek mempunyai niat yang belum kita ketahui,” jawab Tio Beng. “Sekarang ini angin selatan belum waktunya turun sehingga biar bagaimana pun juga kita tak akan bisa berlayar ke utara.”
Pada waktu lohor di hari ketiga, salah satu anak buah memberi laporan kepada Tio Beng bahwa Kim-hoa Popo amat paham dengan jalan air yang mereka gunakan. Si nenek tahu di mana ada pulau dan di tempat mana bakal ada batu karang yang menonjol ke atas. Dia bahkan lebih paham dari pada anak buah perahu itu. Tiba-tiba Bu Kie teringat sesuatu.
“Ahh!” serunya dengan suara tertahan. “Apa dia bukan hendak pulang ke pulau Leng-coa-to?”
“Leng-coa-to apa?” menegas si nona.
“Kim-hoa Popo bersarang di pulau Leng-coa-to,” jawabnya. “Mendiang suaminya dikenal sebagai Gin-yap Sian-seng. Beberapa tahun yang lalu nama Kim-hoa dan Gin-yap dari Leng-coa-to pernah menggetarkan dunia Kangouw. Apa kau tidak tahu?”
Si nona tertawa. “Kau hanya lebih tua beberapa tahun dariku, tapi dalam pengalaman kau seperti seorang kakek,” katanya.
Bu Kie turut tertawa, “Beng-kauw dikenal agama siluman, tapi agaknya anggota Beng-kauw memang sedikit lebih berpengalaman dari pada seorang kuncu yang dikeram di dalam gedung Raja Muda,” katanya.
Mereka berdua adalah musuh besar. Mereka telah beberapa kali saling mengukur tenaga dengan memimpin sejumlah jago. Tapi sekarang sesudah bergaul beberapa hari di dalam sebuah perahu dengan Kim-hoa Popo sebagai musuh umum mereka, dari musuh mereka telah berubah menjadi sahabat. Sesudah memberi laporan anak buat itu cepat kembali ke tempat kemudi.
“Thio-kauwcu,” kata Tio Beng. “Apakah kau pernah menceritakan sepak terjang Kim-hoa dan Gin-yap kepada seorang budak kecil yang dikeram di dalam gedung Raja Muda?”
Bu Kie menyeringai, “Mengenai Gin-yap Sian-seng, aku tidak punya pengetahuan apa pun,” jawabnya. “Tetapi dengan si nenek aku pernah berjumpa dan pernah menyaksikan sendiri sepak terjangnya.”
Dia segera menuturkan pengalamannya di Ouw-tiap-kok, bagaimana dia mencari Ie-sian Ouw Ceng Gu untuk minta diobati, lalu bagaimana si nenek dikalahkan Biat-coat Suthay dan akhirnya bagaimana Ouw Ceng Cu dan Ong Lan Kouw binasa di tangan si nenek. Sehabis bercerita kedua matanya mengembang air mata. Biar pun Ouw Ceng Cu beradat aneh tetapi orang itu telah memperlakukannya dengan baik sekali dan telah banyak memberi pertolongan kepadanya. Ia merasa sangat berduka bahwa orang tua itu dan isterinya telah dibinasakan secara mengenaskan, bahkan jenazah mereka digantung di pohon oleh si nenek Kim Hoa.
Dia hanya tidak menceritakan ajakan Cu-jie agar dia ikut pergi ke Leng-coa-to dan karena tampikannya itu, sebelah tangannya digigit oleh nona itu. Mungkin sekali dia merasa jengah untuk menuturkan peristiwa kecil itu. Sesudah mendengarkan cerita Bu Kie, dengan paras sungguh-sungguh Tio Beng berkata,
“Thio-kongcu, semula aku hanya menganggap nenek itu seorang tua yang ilmu silatnya sangat tinggi. Tapi dari penuturannya aku menarik kesimpulan bahwa dia orang yang amat cerdik dan bukan lawan yang enteng. Kita tidak boleh memandang rendah kepadanya.”
Bu Kie tertawa, “Kuncu Nio-nio adalah seorang Bun-bu-song-coan. Bukan saja begitu, bahkan memimpin sejumlah orang gagah yang memiliki kepandaian amat tinggi,” katanya. “Maka itu menurut pendapatku menghadapi seorang nenek sama sekali tidak menjadi soal.”
“Hanya saja di lautan ini aku tidak bisa memanggil para Busu dan Hoan-ceng.”
Bu Kie tersenyum, “Tukang masak dan anak buah yang menarik layar bukan sembarang orang,” katanya. “Biar pun mereka bukan jago kelas satu tapi pasti termasuk dalam kalangan jago-jago kelas dua.”
Si nona berkesiap. Sesudah berdiam sejenak dia lalu tertawa geli. “Aku menyerah kalah! Menyerah kalah!” katanya. “Dengan sesungguhnya harus kukatakan bahwa Thio-kauwcu memiliki mata yang sangat awas.”
Ternyata saat pulang ke Ong-hu untuk mengambil kuda dan emas perak, Tio Beng telah berpesan kepada Busu penjaga pintu agar sejumlah orang bawahannya menyusul ke pesisir untuk ikut berlayar. Orang-orang itu menggunakan kuda, tetapi mereka ketinggalan sekitar setengah hari dari majikan mereka. Mereka menyamar sebagai tukang masak dan anak buah perahu dan terdiri dari orang yang tidak turut dalam pertempuran di Ban-hoat-si. Tapi sebagai ahli silat, sinar mata, sikap dan gerak gerik mereka berbeda dengan orang biasa. Dan Bu Kie yang bermata tajam tidak kena dikelabui.
Kenyataan itu menguatirkan hati si nona. Kalau Bu Kie masih belum bisa diakali, apa lagi Kim-hoa Popo yang berpengalaman luas. Tapi untung sekali pihaknya berjumlah jauh lebih besar sehingga kalau sampai bergebrak, dengan bantuan Bu Kie dia pasti tak akan kalah.
Selama beberapa hari yang paling mengganggu pikiran Bu Kie ialah keselamatan Ciu Cie Jiak yang telah menelan pil ‘racun’. Di dalam hati ia selalu bertanya-tanya, kapan racun itu mengamuk?
Tio Beng yang pintar dapat menebak rahasia hatinya. Setiap kali alis pemuda itu berkerut segera dia memerintahkan orangnya pergi ke atas untuk menyelidiki dengan pura-pura membawa air atau teh. Orang itu lalu kembali dengan laporan yang menyenangkan bahwa nona Ciu sehat-sehat saja. Sesudah kejadian ini berulang beberapa kali, Bu Kie merasa jengah sendiri.
Sementara itu suatu ingatan lain sering mengganggu pikiran Bu Kie. Setiap ia termenung seorang diri, ia teringat peristiwa di atas salju di daerah See-hek. Ia ingat pengalamannya dengan Cu-jie. Ia ingat bagaimana kepada Ho Thay Ciong, Bu Liat dan yang lain-lain, ia pernah berkata begini, “Nona, dengan setulus hati aku bersedia menikah denganmu. Aku hanya mengharap kau jangan mengatakan bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu.” Di lain saat sambil mencekal tangan si nona, ia berkata pula, “Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung agar kau bisa melupakan penderitaanmu di masa lalu. Tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghinamu, aku bersedia mengorbankan jiwa demi keselamatanmu.”
Ia ingat semua itu. Dengan mulut berkemak-kemik dia mengulangi kata-kata itu. Mukanya lantas berubah merah.
Tiba-tiba terdengar suara tertawanya Tio Beng.“Hai!” kata si nona “Lagi-lagi kau memikirkan Ciu-kouwnio-mu!”
“Tidak!”
“Kau memikirkan apa tidak dia pikirkan. Sedikit pun dia tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Aku hanya merasa menyesal bahwa ada seorang laki-laki gagah sudah berdusta di hadapan seorang wanita.”
“Perlu apa aku berdusta? Sesungguhnya aku tidak memikirkan Ciu-kouwnio.”
“Dusta! Kalau ingat Kouw Tauw-to, Wie It Siauw atau manusia-manusia muka jelek lainnya, paras mukamu tidak akan menunjuk sinar yang begitu lemah lembut dan penuh kasih sayang, yang kemerahan. Omong kosong kau!”
Bu Kie tertawa. “Kau sungguh lihai,” katanya. “Kau dapat membaca hati orang apakah dia tengah memikirkan orang yang cantik atau yang jelek. Tapi aku mau menerangkan dengan sesungguhnya bahwa orang yang kuingat pada detik ini sedikit pun tak ada yang berparas cantik.”
Mendengar nada suara yang sungguh-sungguh, si nona tersenyum dan tidak menggoda lagi. Biar pun pintar, dia sama sekali tidak menduga bahwa yang diingat Bu Kie adalah Cu-jie yang mukanya tak keruan macam.
Mengingat bahwa jeleknya muka Cu-jie adalah akibat latihan Cian-cu Ciat-hu-ciu, Bu Kie menghela napas. Sewaktu si nona muncul malam itu di antara murid-murid Go-bi, ia mendapat kenyataan bahwa muka Cu-jie lebih hebat dari pada dulu. Ia merasa menyesal, karena ia merasa bahwa makin mendalam Cu-jie melatih diri dalam ilmu silat itu, semakin besar pula bahaya bagi dirinya. Ia kuatir akan keselamatan si nona, baik jasmani mau pun rohani. Dengan rasa terima kasih dia ingat budi nona itu. Sesudah berada di Kong-beng-teng dan menjadi Kauwcu, karena repot dia tak sempat memikirkan segala urusan pribadi. Tapi biar pun begitu dia pernah minta bantuan Leng Kiam untuk mencarinya di seluruh Kong-beng-teng. Dia pernah minta pertolongan Wie It Siauw untuk bantu menyelidiki, tetapi usahanya sia-sia belaka. Cu-jie menghilang bagaikan batu yang tenggelam di lautan.
Kini tiba-tiba si nona muncul. Tidak usah dikatakan lagi, dia merasa sangat girang. Diam-diam dia mengutuk dirinya sendiri. Cu-jie begitu baik, lalu kenapa dia sendiri bersikap begitu tawar? Tapi pada hakekatnya pemuda itu bukan manusia yang tidak kenal budi. Sikap tawarnya itu adalah karena dia selalu memikirkan bebannya yang amat berat, baik sebagai Kauwcu dari Beng-kauw dan Bengcu dari perserikatan segenap rimba persilatan. Dia tidak sempat mengurus kepentingan pribadi. Mendadak Tio Beng tertawa nyaring,
“Ehh! Mengapa kau menghela napas?” tanyanya.
Sebelum Bu Kie menjawab, di atas perahu mendadak terdengar teriakan-teriakan. Sesaat kemudian seorang anak buah datang melapor,
“Di sebelah depan terlihat ada daratan dan nenek itu memerintahkan supaya perahu dijalankan lebih cepat.”
Bu Kie dan Tio Beng segera mengintip dari lubang jendela. Pada jarak beberapa li, mereka melihat sebuah pulau besar dengan pohon-pohon yang hijau di sebelah timur, juga terlihat beberapa gunung yang menjulang tinggi ke angkasa. Dengan angin yang bagus perahu itu berlayar dengan pesat dan dalam waktu sekitar sepemakanan nasi, dia sudah tiba di depan pulau. Di bagian timur pulau tidak terdapat pesisir yang lazimnya pasir cetek. Batu gunung di bagian itu masuk ke dalam air yang tidak diketahui berapa dalamnya. Perahu ditujukan ke jurusan timur dan segera merapat pada batu gunung yang menjulang ke atas dari pinggir air.
Baru saja perahu melepas jangkar di atas gunung, mendadak terdengar teriakan atau jeritan dahsyat menyerupai auman harimau sekaligus jeritan Naga. Suara teriakan yang berulang itu seolah menggetarkan seluruh gunung. Mendengar teriakan itu Bu Kie kaget bercampur girang karena dia mengenal teriakan ayah angkatnya, Kim-mo Say-ong Cia Sun. Sesudah berpisah selama belasan tahun keangkeran Gie-hu ternyata masih seperti dahulu. Tanpa pikir panjang lagi, cepat dia mendaki tangga dan naik di atas geledak di belakang perahu.
Dia menengadah sambil mengawasi puncak bukit atau gunung kecil itu. Dia melihat empat lelaki bersenjata sedang mengepung seorang yang bertubuh tinggi besar dan orang yang bertangan kosong itu memang bukan lain dari ayah angkatnya. Biar pun buta dan biar pun dikerubuti berempat Cia Sun tidak jatuh di bawah angin. Bu Kie belum pernah melihat ayah angkatnya yang sedang ramai bertempur, dan dia pun merasa kagum sekali. Tak heran nama Kim-mo Say-ong Cia Sun menggetarkan rimba persilatan. Ilmu silatnya lebih tinggi dari pada Ceng-ek Hok-ong, Wie It Siauw dan kira-kira setanding dengan kakeknya.
Tapi keempat musuh itu pun bukan lawan enteng. Dari kejauhan Bu Kie tidak bisa melihat dengan jelas muka mereka. Tapi dilihat dari pakaian mereka yang compang camping dan karung yang menggemblok pada punggung mereka, bisa dipastikan mereka adalah anggota Kaypang. Tiga orang lain berdiri menonton, kalau empat kawannya kalah, mereka tentu akan segera turut turun tangan. Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang,
“Serahkan To-liong-to! Golok tukar dengan jiwa!”
Meski pun kupingnya amat tajam, Bu Kie tidak bisa menangkap semua perkataan itu. Tapi dia sudah tahu bahwa musuh itu datang menyateroni untuk merebut To-liong-to! Cia Sun tertawa terbahak,
“To-liong-to ada di sini! Ambillah sendiri kalau kau mampu!” teriaknya. Selagi mulutnya berbicara, perlawanannya sedikit pun tak menjadi kendor.
Dengan sekali berkelebat, Kim-hoa Popo mendarat. Sambil batuk-batuk dia berteriak,
“Para pendekar Kaypang! Apa maksud kalian? Tanpa bicara dulu dengan si nenek, kalian mengganggu tamu terhormat dari Leng-coa-to.”
Sekarang Bu Kie mendapat kepastian bahwa pulau itu benar Leng-coa-to. Ia merasa amat heran. Dulu ayah angkatnya menolak untuk kembali ke Tiong-goan. Mengapa kini ia suka mengikuti Kim-hoa Popo? Cara bagaimana si nenek tahu bahwa ayah angkatnya berada di Peng-hwee-to? Mendengar teriakan nyonya rumah, keempat orang itu rupanya menjadi bingung. Mereka lalu memperhebat serangan dalam usaha untuk menjatuhkan Cia Sun secepat mungkin. Tetapi dengan berbuat begitu mereka justru melakukan kesalahan besar.
Karena kedua matanya sudah buta, Cia Sun melawan dengan mengandalkan kupingnya. Dia menangkis setiap serangan dengan mendengar sambaran angin dari pukulan musuh. Dengan memperhebat serangan, sambaran makin keras dan hal ini malah memudahkan perlawanan Cia Sun. Di lain saat, sambil membentak keras Cia Sun meninju dan tinju itu mampir di dada salah seorang musuh. Orang itu berteriak nyaring dan roboh tergelincir ke bawah, kemudian jatuh di atas batu hingga kepalanya hancur. Melihat itu, salah seorang yang menonton lantas saja membentak,
“Mundur!”
Dia melompat dan meninju dengan tenaga yang ‘seperti ada dan seperti tidak ada’ sehingga Cia Sun tak bisa membedakan arah sambarannya. Pada waktu tinju hanya terpisah beberapa dim dari tubuhnya, barulah dia bisa merasakan sambarannya kemudian menangkis dengan terburu-buru. Sementara itu ketiga orang yang tadi mengeroyok telah melompat keluar dari gelanggang. Di lain saat seorang kakek lain yang tadi menonton kini turut membantu kawannya. Ia pun menyerang dengan pukulan ‘lembek’ sehingga baru bertempur beberapa jurus saja Cia Sun menjadi repot sekali.
“Kie-tianglo! The-tianglo!” teriak Kim-hoa Popo. “Kim-mo Say-ong buta matanya. Dengan menyerang secara licik percuma saja kalian memiliki nama besar di dunia Kangouw.“ Seraya berkata begitu, bagaikan terbang ia terus mendaki gunung. Dengan menggunakan seluruh tenaganya Cu-jie mengikuti dari belakang.
Karena kuatir akan keselamatan ayah angkatnya, Bu Kie juga segera menyusul. Tio Beng memburu dan menyandaknya.
“Dengan adanya nenek itu, kau tidak usah kuatir,” bisiknya. “Yang paling penting kau tidak boleh memperkenalkan dirimu.”
Bu Kie mengangguk dan sambil memegangi tangan si nona, dia terus berlari di belakang Cu-jie. Sambil mengikuti dengan rasa kagum dia mengawasi potongan badan Cu-jie yang langsing dan gemulai. Kalau mukanya tidak jelek karena latihan ilmu sesat, si nona pasti tak akan kalah dengan Tio Beng, Cie Jiak mau pun Siauw Ciauw. Mengingat ini, jantungnya berdebar keras. Tapi di lain detik dia mengutuk dirinya sendiri.
“Bu Kie! Bu Kie! Kau benar-benar edan!” katanya di dalam hati. “Ayah angkatmu sedang menghadapi bencana, kau masih bisa memikirkan yang gila-gila!”
Tak lama kemudian ia tiba di pinggang gunung. Ia mendapat kenyataan bahwa ayah angkatnya melawan dengan pukulan-pukulan pendek. Itulah siasat untuk membela diri. Ia memunahkan serangan-serangan musuh dengan Siauw-kim-na-chiu (ilmu mencengkeram dan membanting dengan jarak pendek). Dengan siasat itu untuk sementara waktu Cia Sun memang bisa menyelamatkan diri, tetapi sangat sukar baginya untuk bisa memperoleh kemenangan.
Sambil menyembunyikan diri di balik batang pohon siong, Bu Kie mengawasi ayah angkatnya. Muka orang tua itu terlihat lebih banyak kerutan, sedangkan rambutnya sudah hampir putih semua. Rupanya selama belasan tahun berada di pulau Peng-hwee-to, dia banyak menderita hingga cepat tua. Bu Kie ikut menderita. Dia ingin sekali turut menyerbu menghajar musuh. Dia ingin sekali memeluk orang tua itu lantas memperkenalkan dirinya. Tio Beng mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu. Dia memegang tangan Bu Kie erat-erat dan menggelengkan kepala. Tiba-tiba Kim-hoa Popo berkata dengan suara nyaring.
“Kie-tianglo, Im-san-ciang Liok-kiu tersohor di dunia Kangouw. Mengapa kau malu-malu kucing dan menyembunyikan dalam pukulan Sin-ciang? Ahh! The-tianglo lebih tolol lagi. Menyembunyikan Hui-hong Hud-liu-kun di dalam Pat-kwa-kun. Apa kau kira Cia-tayhiap tidak tahu? Oh oh... uh uh... uh... uh...“ Ia batuk-batuk. “Dahulu kaypang adalah sebuah partai besar yang dihormati sebagai partai yang selalu menolong sesama manusia... uh huk huk... sayang, sungguh sayang...! Makin lama makin busuk...”
Karena tidak dapat melihat pukulan musuh yang sangat licik itu, Cia Sun memang sedang bingung. Dia girang mendengar petunjuk si nenek. Pada detik The-tianglo mau mengubah pukulannya, dia segera membarengi dengan tinjunya. Hampir berbareng beradunya kedua tinju kanan, The-tianglo terhuyung satu dua langkah. Untung dia pun memiliki kepandaian tinggi sehingga tidak sampai roboh. Sebelum Cia Sun dapat mengirim serangan susulan, Kie-tianglo sudah merangsek untuk menolong kawannya.
Bu Kie melihat kenyataan bahwa Kie-tianglo bertubuh kate gemuk dan dengan mukanya yang bersinar merah, dia menyerupai tukang potong babi. Di lain pihak The-tianglo berbadan kurus kering. Di kejauhan berdiri seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Ia pun mengenakan pakaian kaypang dengan perbedaan bahwa pakaiannya yang rombeng kelihatan bersih. Di punggungnya menggemblok delapan lembar karung. Bahwa seorang muda seperti dia bisa menjadi Tianglo (tetua) dengan tanda delapan karung, adalah kejadian yang luar biasa. Beberapa kali Bu Kie mengawasi dia. Ia merasa pernah bertemu, tapi lupa di mana dan lagi kapan pertemuan itu terjadi. Tiba-tiba pemuda itu berkata,
“Kim-hoa Popo, terang-terangan kau tidak membantu Cia Sun, tetapi gelap-gelapan kau membantu juga. Apa kau tidak curang?”
“Apakah tuan adalah Tianglo dari Kay-pang?” tanya si nenek dengan suara tawar. “Maaf, nenekmu belum pernah bertemu muka denganmu.”
“Tentu saja Popo tidak mengenal aku, karena belum lama aku menduduki kursi Tianglo,” jawabnya. “Aku she Tan, namaku Yu Liang.”
Tan Yu Liang! Bu Kie lantas saja ingat. Waktu Thay-suhu mengajaknya ke Siauw-lim-si untuk berobat, salah seorang murid Siauw-lim telah menghafal Bu-tong Kiu-yang-kang dengan hanya sekali membaca. Murid Siauw-lim itu bukan lain dari pada Tan Yu Liang. Bagaimana sekarang dia menjadi Tianglo dari partai pengemis? Tetapi hal itu tidaklah terlalu mengherankan. Memang banyak anggota partai lain yang masuk ke dalam kaypang. Bahwa ia bisa menjadi Tianglo bukan kejadian luar biasa. Ia berotak cerdas. Dengan memiliki ilmu silat Siauw-lim-si dan Bu-tong Kiu-yang-kang, tak heran kalau dia menduduki kedudukan penting di partai itu.
“Apa murid Bu-tong pun masuk ke dalam kaypang?!” bentak Kim-hoa Popo.
Dari suara Tan Yu Liang, Bu Kie tahu bahwa orang itu mempunyai lweekang Bu-tong-pay. Ternyata dia sudah melatih diri dengan Bu-tong Kiu-yang-kang yang dicurinya. Mendengar bentakan si nenek, Bu Kie mendongkol bukan main.
“Tak tahu malu!” katanya di dalam hati. Berbareng dengan itu, dia pun merasa kagum atas ketajaman mata Kim-hoa Popo.
Tan Yu Liang tertawa. “Benar-benar lucu,” katanya. “Aku adalah murid Siauw-lim-si, tetapi si nenek berkukuh bahwa aku anggota dari partai lain.“ Suaranya terdengar keras disertai Siauw-lim Kiu-yang-kang.
Bu Kie terkejut sekali. Orang itu sudah mempelajari Kiu-yang-kang dari Siauw-lim dan Bu-tong dan benar-benar lihai. Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lengan kiri The-tianglo kembali diayunkan dengan tinjunya ke arah kepala Cia Sun. Tiga murid Kay-pang yang tadi mundur dari gelanggang, dengan serentak menerjang lagi dengan senjata mereka. Ilmu silat ketiga orang itu kalah jauh dari kedua Tianglo, tetapi penyerbuan mereka menambah kerepotan Cia Sun.
Orang tua itu bukan saja tidak dapat melihat, tapi semenjak kedua matanya buta dia pun belum pernah bertempur sehingga dia tidak memiliki pengalaman. Hari ini pertama kali dia berhadapan dengan lawan berat dan berkelahi dengan hanya mengandalkan ketajaman kupingnya. Dengan bertambahnya musuh bersenjata ia lantas jatuh di bawah angin sebab ia sulit membedakan yang mana sambaran tinju dan yang mana sambaran senjata tajam. Dalam sekejap bahunya terbacok. Melihat bahaya, Bu Kie bersiap untuk menolong.
“Kim-hoa Popo tak mungkin tidak menolong,” bisik Tio Beng sambil memegang erat tangan pemuda itu.
Tetapi si nenek masih tenang-tenang saja. Sambil bersandar dengan tongkatnya ia hanya tersenyum dingin. Di lain detik betis Cia Sun kena tendangan Tianglo. Tendangan itu sangat hebat sehingga Cia Sun terhuyung dan hampir roboh. Lima anggota kaipang menjadi girang. Sambil berteriak mereka memperhebat serangan.
Bu Kie sudah siap sedia. Sebelah tangannya memegang tujuh butir batu kecil. Pada detik yang sangat berbahaya ia menimpuk dan tujuh butir batu itu segera menyambar ke arah lima musuh. Tetapi sebelum batu itu mampir pada sasarannya, mendadak terlihat berkelebatnya sehelai sinar hitam.
“Trangg!”
Tiga senjata putus dan empat sosok tubuh manusia juga putus kemudian jatuh ke lereng gunung! Di antara kelima musuh itu hanya The-tianglo yang masih hidup dan cuma putus lengan kanannya. Ia menggeletak di tanah dengan punggung tertancap sebutir batu yang ditimpukkan oleh Bu Kie. Keempat musuh yang sudah binasa juga tak luput dari sasaran batu. Tetapi batu-batu itu sudah didahului babatan golok sehingga bantuan Bu Kie sebenarnya tidak perlu lagi.
Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata saja. Di lain detik Cia Sun kelihatan berdiri sambil memegang sebatang golok berwarna hitam. Golok itu bukan lain ‘Bu-lim Cie-cun’ To-liong-to! Sembari melintangkan senjatanya Kim-mo Say-ong berdiri tegak dengan semangat bergelora dan keangkeran yang tiada taranya sehingga dia seolah-olah malaikat yang baru turun dari atas langit. Sedari kecil Bu Kie sudah sering melihat golok mustika itu, tetapi dia tak pernah menduga bahwa To-liong-to sedemikian hebat.
“Bu lim cie cun... po to to liong...! Bu lim cie cun... po to to liong (yang termulia dari rimba persilatan adalah golok mustika To-liong)!” The-tianglo yang lengannya sudah putus terus berteriak-teriak.
Dengan paras muka pucat Tan Yu Liang berkata, “Cia-tayhiap, aku takluk dengan ilmu silatmu. Aku mohon kau suka mengampuni jiwa The-tianglo dan membiarkan dia turun gunung. Aku bersedia menggantikan jiwanya dengan jiwaku sendiri. Cia-tayhiap kau turun tanganlah!”
Semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda itu mempunyai ‘gie-khie’ (perasaan persahabatan) demikian besar. ‘Gie’ adalah sesuatu ilmu silat yang amat hebat di rimba persilatan dan tiada bandingannya di kolong langit ini. Sejenak kemudian Cia Sun berkata,
“Benarkah kau bersedia menyerahkan jiwamu untuk ditukar dengan jiwanya?” tanyanya sambil menunjuk The-tianglo yang masih menggeletak di atas tanah.
“Benar, Cia-tayhiap.”
“Baiklah. Kau boleh pilih dengan cara bagaimana kau ingin mampus.”
“Ilmu silat Cia-tayhiap begitu tinggi, percuma juga kalau aku melawan,” kata Tan Yu Liang dengan paras duka. “Sebab itu locianpwe boleh turun tangan, aku takkan melawan sama sekali.”
Mendengar perkataan pemuda itu, Cia Sun segera teringat peristiwa puluhan tahun silam ketika dia membinasakan Kong-kian Taysu. Pada waktu itu pendeta suci dari Siauw-lim-si dipukulnya tanpa melakukan perlawanan sehingga akhirnya jiwa Kong-kian Taysu melayang. Semenjak itu dia menyesal bukan main dan perasaan itu masih menghantuinya sampai sekarang.
“Takkan melawan? Huh huh...!” Cia Sun mendengus. “Andai kata melawan juga, apa kau kira akan mampu mempertahankan jiwamu?”
“Aku akan mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi dan sepuluh tahun kemudian aku akan menemui Cia-tayhiap lagi.”
Kalau mau, dengan sekali membabat saja Cia Sun bisa membinasakan Tan Yu Liang dan menyingkirkan ancaman di hari kemudian. Tapi ia seorang yang bernyali sangat besar dan sedikit pun ia tak merasa jeri terhadap ancaman itu.
“Baiklah,” katanya. “Kalau lohu masih hidup, sepuluh tahun mendatang lohu akan meminta pelajaran mengenai sinkang dari Siauw-lim dan Bu-tong.”
Tan Yu Liang merangkap kedua tangannya dan sambil membungkuk dia berkata kepada Kim-hoa Popo.
“Kay-pang sudah mengacau di pulau ini dan untuk itu aku minta maaf.“ Sesudah itu dia mendukung The-tianglo kemudian berlalu.
Seperginya Tan Yu Liang, dengan mata melotot lebar Kim-hoa Popo mengawasi Bu Kie.
”Bocah, ilmu menimpukmu lihai juga!” katanya. “Tapi mengapa di dalam kedua tanganmu kau memegang tujuh butir batu? Apakah sebutir untuk Tan Yu Liang dan sebutir lagi untuk aku sendiri?”
Bu Kie terkejut karena ternyata si nenek dapat menebak niatnya. Ia tak bisa segera menjawab dan hanya tersenyum.
“Bocah!” Kim-hoa Popo membentak dengan marah. “Siapa kau? Mengapa kau menyamar sebagai anak buah kapal? Kenapa kau menguntit nenekmu? Bocah! Kau tidak boleh main gila di hadapan Kim-hoa Popo,.”
Dibentak begitu, Bu Kie yang tidak bisa berdusta jadi gugup. Untung Tio Beng lantas menolong. Dengan mengubah suaranya si nona berkata.
“Kini orang-orang Kie-keng-pang sudah biasa berdagang tanpa modal di lautan terbuka. Popo telah mengeluarkan banyak uang untuk menyewa kapal ini, halangan apa kalau kami mengantar Popo? Melihat Kay-pang menghina orang mengandalkan jumlah besar, saudaraku telah membantu. Maksudnya baik sekali. Di luar dugaan Cia-tayhiap memiliki kepandaian begitu tinggi sehingga bantuan itu sebenarnya tidak perlu.“ Ia bicara dengan nada seorang pria yang agak terlalu nyaring. Untungnya si nenek tidak memperhatikan keganjilan itu.
Cia Sun mengibaskan tangan kirinya sambil berkata, “Terima kasih. Kalian pergilah. Hai...! Kim-mo Say-ong telah jatuh di tanah datar dan dalam hal ini dia mesti menerima bantuan Kim-keng-pang. Selama berpisah dengan dunia kangouw kira-kira dua puluh tahun, di rimba persilatan banyak bermunculan orang pandai. Hai...! Sebenarnya perlu apa aku kembali di Tiong-goan?” dia mengeluarkan kata-kata itu dengan suara berduka.
Timpukan Bu Kie sudah mengejutkan hatinya karena dari sambaran angin dia tahu bahwa orang yang menimpuk adalah seorang berkepandaian sangat tinggi yang jarang terdapat di dunia. Di samping itu dia telah berhasil membinasakan musuhnya hanya karena bantuan To-liong-to. Tanpa terasa dia teringat kegagahannya dua puluh tahun yang lalu saat dia mengamuk di pulau Ong-poan-san. Mengingat perbedaan antara dahulu dan sekarang, dia menjadi berduka.
“Cia-hiante,” kata Kim-hoa Popo, “Aku tidak membantumu sebab aku tahu bahwa kau dan aku selamanya tidak suka dibantu orang. Cia-hiante, apa kau tidak marah?”
Mendengar si nenek menyebut ayah angkatnya dengan istilah ‘hiante’ (adik), Bu Kie kaget tercampur heran.
“Tidak usah menyebut marah atau tidak marah,” kata Cia Sun. “Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? Apakah kau sudah mendapat kabar tentang anakku Bu Kie?”
Bu Kie terkesiap. Hampir berbareng dia merasa tangannya dipijit Tio Beng. Ia tahu bahwa si nona melarangnya bergerak. Tadi karena tidak menghiraukan nasihat Tio Beng, hampir saja dia berurusan dengan si nenek karena urusan batu. Maka itu sekarang dia tak berani berlaku sembrono lagi dan sebisanya menahan hati.
“Belum! Aku tidak berhasil,” jawab si nenek.
Cia Sun menghela napas. Setelah berdiam beberapa saat dia pun berkata, “Han-hujin, kita berdua adalah saudara. Kau tak boleh menipu aku karena mataku buta. Bilanglah! Apakah anakku Bu Kie masih hidup?”
Sebelum si nenek menjawab, mendadak Cu-jie mendahului. “Cia-tayhiap...“ Tetapi dia tidak bisa meneruskan perkataannya karena tangannya dipijit oleh nenek Kim-hoa yang menatap wajahnya dengan melotot.
“In-kouwnio,” kata Cia Sun tergesa-gesa. “Bicaralah terus! Hayo... Apa Popo menipu aku? Dia berdusta, bukan?”
Air mata si nona mengalir turun di kedua pipinya. Dengan wajah menyeramkan si nenek menempelkan telapak tangannya pada batok kepala Cu-jie. Si nona tahu bahwa dia bakal binasa seketika kalau dia berani bicara secara bertentangan dengan kemauan popo-nya.
“Cia-tayhiap,” katanya. “Popo tidak menipu kau. Kami tidak mendapat kabar apa pun juga tentang Thio Bu Kie.”
Paras muka si nenek berubah terang, dia mengangkat tangannya dari batok kepala Cu-jie tapi tangan kirinya masih tetap mencekal pergelangan tangan si nona.
“Apa saja yang didengar olehmu?” tanya pula Cia Sun. “Bagaimana dengan Beng-kauw? Bagaimana dengan sahabat-sahabat lama?”
“Aku tidak tahu,” jawab si nenek. “Aku tidak peduli dengan urusan Kangouw. Yang penting bagiku adalah mencari Biat-coat Suthay untuk membalas sakit hati. Urusan lain tidak ada yang menarik hatiku.”
“Bagus!” teriak Cia Sun dengan marah. “Han-hujin, apa yang kau katakan hari itu di pulau Peng-hwee-to? Kau mengatakan bahwa Thio Ngote suami isteri sudah bunuh diri di Bu-tong-san. Kau mengatakan bahwa anakku Bu Kie sudah menjadi yatim piatu yang terlunta-lunta di dunia Kangouw dan di mana-mana dihina orang. Kau mengatakan, sungguh kasihan anak itu! Bukankah kau mengatakan semua itu?”
“Benar!”
“Kau mengatakan bahwa anakku terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang sehingga siang malam dia menderita kedinginan. Kau mengatakan juga bahwa kau telah bertemu dengan dia di Ouw-tiap-kok. Kau coba membawa dia ke Leng-coa-to tetapi dia menolak. Begitu yang dikatakan olehmu, bukan?”
“Benar! Apa bila aku menipu kau, biarlah aku dikutuk langit dan bumi. Kalau aku berdusta biarlah Kim-hoa Popo menjadi manusia hina dina di rimba persilatan.”
“In-kouwmo, aku ingin mendapat keteranganmu,” kata Cia Sun.
“Memang benar apa yang dikatakan Popo,” kata Cu-jie. “Aku sudah membujuk dia untuk ikut kami ke Leng-coa-to. Tetapi dia bukan saja menolak, bahkan dia menggigit belakang tanganku. Sampai sekarang masih ada tandanya. Aku tidak berdusta.”
Mendengar keterangan itu tiba-tiba Tio Beng memijit tangan Bu Kie, sedangkan kedua matanya terlihat sinar mengejek dan mendongkol. Muka Bu Kie berubah merah. Sekonyong-konyong si nona mengangkat tangan Bu Kie ke mulutnya kemudian menggigit belakang tangan si pemuda itu. Darah lantas mengalir keluar. Karena gigitan itu, Kiu-yang Sin-kang yang berada di tubuh Bu Kie langsung bergerak secara wajar untuk melawan serangan itu akibatnya, bibir si nona pecah dan berdarah. Tapi sambil menahan sakit mereka tidak mengeluarkan suara.
Dengan rasa heran Bu Kie mengawasi nona Tio. Ia tidak tahu kenapa nona itu menggigit tangannya. Di lain pihak nona Tio balas mengawasi dengan sinar mata tertawa dan paras muka kemerah-merahan. Dalam keadaan begitu, biar pun mulutnya berlepotan darah dan biar pun di atas bibirnya terdapat kumis palsu, ia kelihatan cantik luar biasa.
Mendadak terdengar teriakan Cia Sun. “Bagus! Han-hujin, hanya karena memikirkan nasib anakku Bu Kie, maka aku rela berlalu dari Peng-hwee-to dan pulang ke Tiong-goan. Kau berjanji akan mencari anakku. Mengapa sekarang kau tidak menepati janjimu?”
Bu Kie tak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Air matanya lantas mengucur. Sekarang dia tahu bahwa ayah angkatnya rela menempuh segala bahaya, rela menghadapi musuh yang berjumlah besar dengan kedua mata tidak bisa melihat, karena memikirkan dirinya.
“Apa kau lupa perjanjian kita?” tanya Kim-hoa Popo. “Aku akan mencari Thio Bu Kie dan kau akan meminjamkan To-liong-to padaku. Cia-hiante, begitu kau menepati janjimu maka aku pun akan segera menyelidiki anak itu sungguh-sungguh. Perkataan Kim-hoa Popo berat bagaikan gunung. Tak akan aku mungkir janji.”
Cia Sun menggelengkan kepala. “Bawalah Bu Kie ke hadapanku dulu, barulah aku akan menyerahkan To-liong-to,” katanya.
“Apa kau tidak percaya kepadaku?”
“Di dunia ini banyak terjadi kejadian yang tidak dapat diramalkan lebih dulu. Bahkan di antara orang-orang yang memiliki hubungan seperti bapak dan anak, atau seperti saudara kandung juga sering terjadi kejadian melanggar kepercayaan.”
Bu Kie tahu bahwa dengan berkata begitu ayah angkatnya ingat kebusukan Seng Kun.
“Apa benar kau tidak suka meminjamkan To-liong-to kepadaku?” Tanya si nenek dengan suara mendongkol.
“Sesudah melepaskan Tan Yu Liang maka aku bakal terus disateroni musuh,” jawabnya. “Entah berapa banyak musuhku yang akan datang ke sini untuk mencari aku. Keadaan Kim-mo Say-ong tidak seperti dahulu. Kecuali To-liong-to aku tidak punya pembantu lain. Huh huh...!“ Tiba-tiba dia tertawa nyaring. “Han-hujin, waktu lima musuh mengepung aku, orang gagah dari Kie-keng-pang telah menyediakan tujuh butir batu. Apakah aku tak boleh merasa curiga juga? Huh huh! Rupanya kau berharap agar aku binasa di tangan orang-orang Kaypang. Setelah aku mampus dengan mudah kau bisa merampas golokku. Mata Cia Sun buta tetapi hatinya tidak buta. Han-hujin, aku mau tanya. Kedatangan Cia Sun ke Leng-coa-to dan senjata yang dipakai dirahasiakan. Tetapi mengapa rahasia itu bocor? Mengapa orang-orang kaypang sampai menyateroni aku di sini?”
“Hal itu justru harus kuselidiki.”
Cia Sun tersenyum getir lalu memasukkan To-liong-to ke dalam jubahnya. “Jika kau tidak mau menyelidiki anakku Bu Kie, aku pun tidak dapat memaksa,” katanya. “Jalan satu-satunya bagi Cia Sun adalah ikut masuk ke dunia Kangouw dan melakukan lagi perbuatan yang menggemparkan.“ Ia menengadah sambil bersiul nyaring, kemudian berlari turun dari tanjakan di sebelah barat.
Biar pun buta dia dapat berlari dengan cepat menuju sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah utara pulau. Di puncak gunung terdapat sebuah gubuk kecil. Gubuk itu rupanya milik Cia Sun. Sesudah Kim-mo Say-ong berlalu, sambil mengawasi Bu Kie dan Tio Beng dengan mata melotot Kim-hoa Popo membentak,
“Pergi!”
Nona Tio segera menarik tangan Bu Kie dan mereka segera kembali ke kapal. Baru saja tiba di kapal, Bu Kie berkata,
“Aku mau menengok Gie-hu.”
“Apa kau tidak melihat sinar mata si nenek yang sangat ganas?” kata Tio Beng.
“Aku tidak takut padanya.”
“Aku merasa bahwa pulau ini diliputi bermacam rahasia. Mengapa orang-orang kaypang bisa datang ke sini? Bagaimana Kim-hoa Popo tahu tempat sembunyi ayah angkatmu? Bagaimana dia dapat mencari ayah angkatmu di Peng-hwee-to? Banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Memang sukar untuk membinasakan nenek itu. Tetapi begitu lekas dia binasa maka semua teka-teki tidak bisa dipecahkan lagi.”
“Aku bukan mau membinasakan Kim-hoa Popo. Aku hanya ingin menemui Gie-hu karena aku merasa sangat tidak tega melihat penderitaannya.”
Nona Tio menggelengkan kepala. “Dengan ayah angkatmu, kau sudah berpisah belasan tahun,” katanya. “Kau harus dapat menahan sabar sehari dua hari. Thio-kongcu, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah kita harus waspada terhadap Kim-hoa Popo atau harus lebih berjaga-jaga terhadap Tan Yu Liang?”
“Menurut pendapatku Tan Yu Liang adalah seorang laki-laki tulen yang amat mengutamakan persahabatan.”
“Thio-kongcu, apa kau tidak mencoba menipu aku? Apa jawabanmu adalah jawaban setulus hati?”
“Menipu kau? Tan Yu Liang rela menerima kebinasaan untuk menggantikan The-tianglo. Apa itu bukan perbuatan yang sukar dilakukan? Apakah kita tidak harus menghormatinya sebagai seorang laki-laki sejati?”
Tio Beng menatap wajah Bu Kie. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal.
“Thio-kongcu! Kau seorang kauwcu dari Beng-kauw yang harus memimpin begitu banyak orang gagah, sungguh tak kunyana kau bisa ditipu orang begitu mudah!”
“Ditipu orang?”
“Jelas-jelas Tan Yu Liang menipu Cia-tayhiap. Kau sendiri melihat dengan matamu. Apa kau tidak sadar akan adanya tipu itu?”
Bu Kie berjingkrak. “Dia menipu Gie-hu?” dia menegas.
“Dengan sekali babat Cia-tayhiap membinasakan orang dan melukai seorang jago kaypang. Walau pun andai kata saja Tan Yu Liang memiliki ilmu silat yang lebih tinggi lagi, dia pasti tidak akan bisa meloloskan diri dari To-liong-to. Dalam keadaan begitu, seorang manusia biasa hanya melihat dua jalan. Melawan dengan nekat untuk membinasakan atau menekuk lutut dan minta ampun. Cia-tayhiap tidak ingin ada orang lain mengetahui tempat sembunyinya. Meski Tan Yu Liang berlutut tiga ratus kali, belum tentu ayah angkatmu bersedia mengampuni jiwanya. Tetapi Tan Yu Liang seorang manusia luar biasa. Dengan otaknya yang sangat cerdas segera bisa menempuh jalan hidup satu-satunya, yaitu berlagak seperti seorang ksatria, berlagak menjadi seorang laki-laki tulen yang mengutamakan Gie-khie. Thio-kongcu, sebagai manusia yang amat pintar mustahil kau tidak bisa melihat tipu daya yang sangat licik itu.” Sambil memberi keterangan, si nona menempelkan koyo pada luka di tangan Bu Kie karena gigitannya, kemudian membalutnya menggunakan sapu tangannya sendiri.
Keterangan Tio Beng sangat beralasan. Namun mengingat sikap dan suara Tan Yu Liang yang waktu itu sangat bersungguh-sungguh, Bu Kie menyangsikan kebenaran penafsiran si nona.
“Baiklah,” kata pula nona Tio. “Sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan lain. Pada saat Tan Yu Liang bicara dengan Cia-tayhiap, bagaimana sikap kedua tangan dan kedua kakinya?”
Bu Kie tertegun. Ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. Waktu Tan Yu Liang berbicara, ia hanya memperhatikan paras muka pemuda itu dan paras muka ayah angkatnya. Ia tidak mempedulikan tangan dan kaki Tan Yu Liang. Ia melihat, tapi seperti juga tidak melihat.
“Para Cianpwe yang berada di atas! Lompatlah! Aku akan menyambut kalian.
Mendengar teriakan itu, orang-orang yang berada di atas sangat terkejut. Anjuran si pemuda tidak mungkin dilaksanakan. Dengan melompat dari lantai atas menara yang sangat tinggi, tenaga jatuhnya pasti hebat bukan main. Sedikitnya ribuan kati. Bagaimana dia dapat menyambutnya? Beberapa orang Khong-tong dan Kun-lun lantas berteriak-teriak menolak anjurannya.
“Tidak bisa! Terlalu tinggi!”
“Jangan kena diakali bocah itu!”
“Kalau kita menurut, badan kita akan hancur luluh!”
Dengan hati berdebar-debar Bu Kie mengawasi ke atas. Api sudah mulai menjilat lantai ke tujuh. Waktu sudah mendesak. Dia menjadi semakin bingung.
“Boh Cit-siok!” Teriaknya dengan suara memohon. “Budimu amat besar bagaikan gunung. Apa mungkin Siauw-tit mencelakai Cit-siok? Cit-siok, kau lompatlah lebih dulu!”
Boh Seng Kok adalah seorang yang bernyali sangat besar. Dengan segera dia mengambil keputusan. Dari pada mati terbakar, memang lebih baik mati terjatuh.
“Baiklah!” teriaknya seraya melompat ke bawah.
Bu Kie mengawasi dengan pandang mata tajam. Pada detik tubuh Boh Cit-hiap terpisah kira-kira empat kaki dari bumi, dia menepuk pinggang sang paman dengan menggunakan tenaga serta gerakan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang yang paling tinggi. Begitu dimuntahkan, sinkang yang keluar dari tangan Bu Kie lantas memunahkan tenaga jatuhnya Cit-hiap kemudian mendorongnya ke atas hingga tubuh pendekar itu melayang ke atas kira-kira satu tombak tingginya.
Tenaga dalam Boh Seng Kok sudah pulih sebagian. Berbareng dengan melayangnya, ia mengerahkan lweekang dan mengeluarkan ilmu meringankan badan sehingga di lain saat ia sudah melayang ke bawah lalu kedua kakinya hinggap di tanah dengan selamat. Tiba-tiba seorang busu menyerang. Dengan sekali menghantam saja Boh Seng Kok telah merobohkan pembokong itu.
“Toa-suko, Jie-suko, Sie-suko!” teriaknya dengan girang. “Lekas lompat!”
Keberhasilan Boh Seng Kok langsung disambut dengan sorak sorai semua jago yang sedang dikepung api. Sebagai seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, Song Wan Kiauw berkata,
“Ceng Su, kau lompatlah lebih dahulu!”
Sedari keluar dari kamar tahanan, Song Ceng Su terus mendampingi Ciu Cie Jiak. Begitu mendengar anjuran ayahnya, dia segera berkata kepada si nona,
“Ciu-kouwnio, kau lebih dahulu.”
Cie Jiak menggelengkan kepala. “Aku menunggu Suhu,” katanya.
Sementara itu satu demi satu tokoh-tokoh keenam partai melompat turun lalu disambut Bu Kie. Biar pun tenaga dalam mereka baru pulih sebagian, tetapi sebagai ahli-ahli silat kelas utama mereka sudah bukan tandingan busu biasa.
Boh Seng Kok dan yang lain-lain segera merampas senjata lalu mereka berdiri di seputar Bu Kie untuk melindungi pemuda itu dalam menyambut orang-orang yang melompat turun. Kaki tangan Ong Po Po yang coba menyerang Bu Kie dengan mudah dipukul mundur. Setiap orang melompat turun berarti penambahan tenaga bagi pihak Bu Kie.
Sedari ditangkap, dikurung, dan dihina bahkan ada beberapa orang yang diputuskan jari-jari tangannya, sakit hati mereka bertumpuk-tumpuk. Sekarang mereka mendapat kesempatan melampiaskan sakit hati. Mereka berkelahi bagaikan harimau edan dan dalam sekejap saja berpuluh-puluh busu menggeletak tanpa nyawa. Melihat munculnya bahaya, Ong Po Po cepat berseru,
“Panggil pasukan anak panah yang menjadi pengawal pribadiku!” Namun sebelum Ali Chewa berlalu menjalankan perintah, sekonyong-konyong di sebelah tenggara terlihat api berkobar-kobar. Ali Chewa terkejut bukan main.
“Siauw Ong-ya!” katanya, “Ong-hu kebakaran! Kita harus melindungi Ong-ya.”
Ong Po Po mengangguk. “Adikku,” katanya kepada Tio Beng. “Aku pulang lebih dulu. Kau harus berhati-hati.” Tanpa menunggu jawaban dia sudah mengedut les kuda dan segera berangkat dilindungi sejumlah pengiring.
Berlalunya Ong Po Po berarti berlalunya pula Thian-liong Sip-pat-po serta sejumlah busu. Melihat kebakaran di gedung Ong-hu, busu lainnya yang masih bertempur juga tidak dapat berkelahi dengan hati tenang. Dengan cepat keadaan jadi berubah, terutama setelah turunnya tokoh-tokoh Siauw-lim-si. Kini pihak Bu Kie menjadi lebih kuat. Tio Beng tahu jika dia bertahan lebih lama lagi maka dia sendiri bisa menjadi orang tawanan. Maka dia lantas berseru,
“Semua orang keluar dari Ban-hoat-si!”
Dia lalu menengok kepada Bu Kie dan berkata sambil tersenyum, “Besok magrib aku mengundang kau minum arak lagi.”
Bu Kie terkejut. Tapi sebelum dia sempat menjawab, si nona sudah berlalu dan mundur ke bagian belakang Ban-hoat-si. Sekonyong-konyong dari atas menara terdengar teriakan Hoan Yauw,
“Ciu-kouwnio, lekas lompat! Api akan segera membakar alismu, apa kau mau menjadi gadis tanpa alis?”
“Aku ingin menemani Suhu,” jawabnya.
Ketika itu Biat-coat dan Ho Pit Ong sedang melakukan pertempuran mati-matian. Tenaga dalam si nenek belum pulih semuanya, namun dia sudah tidak memikirkan hidup. Dengan kalap dia menyerang tanpa mempedulikan pembelaan diri. Di lain pihak Ho Pit Ong tidak dapat berkelahi dengan hati mantap karena dia memikirkan keselamatan Suheng-nya. Selain itu, sesudah kena racun Bu Kie maka tenaga dan gerak-geriknya pun tidak seperti biasa lagi. Karena itulah setelah bertempur beberapa lama keadaan kedua belah pihak masih berimbang. Mendengar kata-kata muridnya, Biat-coat berkata,
“Cie Jiak, lekas turun, jangan pedulikan aku! Penjahat ini terlalu mengejekku. Aku tidak bisa mengampuni jiwanya.”
Ho Pit Ong mengeluh. Ia ingin menolong Suheng-nya, akan tetapi di luar dugaan si nenek menyerang dengan nekat.
“Biat-coat Suthay!” teriaknya. “Omongan itu berasal dari Kouw Tauw-to, sama sekali bukan karanganku.”
Sambil menghantam Ho Pit Ong dengan telapak tangan, Biat-coat menoleh dan bertanya,
“Tauw-to bangsat, apa benar kau yang mengeluarkan omongan gila-gilaan itu?”
“Omongan apa?” Hoan Yauw balas bertanya.
Dengan bertanya begitu dia ingin si nenek mengulangi ejekannya bahwa dia dan Biat-coat adalah sepasang kekasih dan bahwa Cie Jiak adalah anak mereka. Akan tetapi tentu saja si nenek tidak mau mengulangi kata-kata itu. Mendengar nada suara Ho Pit Ong, dia tahu bahwa musuh tidak berdusta. Tubuhnya gemetar dan darahnya bergolak. Saat itu, selagi Biat-coat menengok kepada Hoan Yauw, mendadak ada segulung asap yang datang menyambar. Ho Pit Ong sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Sambil melompat menerjang dia menghantam punggung si nenek.
“Suhu, hati-hati!” teriak Cie Jiak.
“Nikouw tua, hati-hati!” seru Hoan Yauw.
Bagaikan kilat Biat-coat berbalik lantas menangkis. Tangan kirinya menyambut tangan kiri Ho Pit Ong, tapi dia tidak keburu menangkis tangan kanan musuh yang memukul dengan Hian-beng Sin-ciang. Begitu punggungnya terpukul, badan si nenek bergoyang-goyang, hampir dia jatuh terguling. Cie Jiak terkesiap. Dia cepat melompat dan memeluk gurunya.
“Manusia licik!” bentak Hoan Yauw dengan marah. “Tak bisa kau dan kakakmu diberi hidup lebih lama lagi!” seraya berkata begitu dia melemparkan ke bawah kasur yang menggulung tubuh Lok Thung Kek dan Han-kie.
Hati Ho Pit Ong mencelos. Tanpa berpikir lagi dia turut melompat, namun kasur itu sudah melayang agak jauh sehingga dia hanya dapat menjambret ujungnya. Dengan kecepatan luar biasa dia pun turut melayang ke bawah.
Karena teraling asap dan api, Bu Kie tidak tahu apa yang terjadi di puncak menara. Tiba-tiba dia melihat jatuhnya benda dan seorang manusia. Dia tidak tahu apa adanya benda itu, tetapi dia segera mengenali bahwa manusia itu adalah Ho Pit Ong. Kakek itu adalah musuh besar yang menyebabkan banyak penderitaannya. Bahkan kebinasaan kedua orang tuanya pun adalah gara-gara Hian-beng Jie-lo. Namun dia adalah seorang berhati mulia yang tidak bisa melihat kebinasaan dengan berpeluk tangan.
Pada detik itu, dengan melupakan sakit hatinya dia cepat melompat ke atas lalu menepuk dengan kedua tangannya sehingga kasur dan Ho Pit Ong terpental ke kiri dan kanan lebih kurang tiga tombak jauhnya. Sesudah berjungkir balik, kedua kaki Ho Pit Ong hinggap di tanah.
“Wah! Sungguh berbahaya,” katanya.
Ia tidak pernah mimpi bahwa Bu Kie akan membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi ia tidak sempat berpikir lain dan segera menengok ke sana sini mencari Suheng-nya. Tiba-tiba ia terkejut karena kakaknya menggeletak di tumpukan api.
Dalam usaha menolong, sekali ini Bu Kie harus mempergunakan kedua tangannya. Menggunakan kedua tangan tentu saja jauh lebih berat dari pada menggunakan sebelah tangan. Apa lagi karena di dalam kasur itu ada dua manusia, maka tenaga jatuh kasur itu pun lebih hebat. Oleh karena itu waktu menepuk kasur dia tidak dapat mempedulikan lagi arahnya. Begitu tertepuk kasur itu lantas terbuka dan dua sosok tubuh ambruk di tumpukan api. Karena jalan darahnya tertotok, Lok Thung Kek tidak bisa bergerak dan rambutnya lantas terbakar.
“Suko!” teriak Ho Pit Ong seraya menubruk dan memeluk tubuh kakaknya.
Selagi ia meloncat keluar dari api yang berkobar-kobar, kedua kakinya belum keluar dan menginjak bumi, Jie Lian Ciu sudah memapaki dengan pukulan pada pundaknya.
“Sambutlah!” bentak pendekar Bu-tong itu.
Ho Pit Ong tidak dapat menangkis dan mencoba berkelit dengan miringkan pundaknya, namun telapak tangan Jie Lian Ciu segera menyusul ke bawah.
“Plakk!”
Badan si kakek she Ho gemetaran sementara keringat dingin keluar dari dahinya. Sambil menggigit gigi dia melompat ke atas tembok. Saat itu sebatang balok yang berkobar jatuh dan menimpa tubuh Han-kie yang lantas terbakar. Sementara itu semua orang yang sudah berada di bawah mendongak mengawasi ke atas sambil berteriak-teriak.
“Turun! Hayo, lekas!”
“Lompat! Lompat!”
Di antara api dan asap nampak Hoan Yauw melompat ke sana sini untuk meloloskan diri dari kobaran api. Satu demi satu balok balok jatuh ke bawah diiringi meluruknya genteng dan bata. Puncak menara mulai bergoyang-goyang.
“Cie Jiak lompatlah!” bentak Biat-coat.
“Suhu, sesudah kau barulah aku,” jawabnya.
Sekonyong-konyong si nenek melompat dan menghantam pundak Hoan Yauw. “Bangsat Mo-kauw, mampuslah kau!” teriaknya.
Sambil tertawa nyaring Hoan Yauw cepat berkelit lantas terjun ke bawah. Bu Kie segera menyambutnya dengan tepukan Kian-kun Tay-lo-ie Sin kang.
“Hoan-yusu, kau telah berhasil dan kami menghaturkan terima kasih,” kata Thio-kauwcu.
“Semuanya ini bukanlah jasaku,” jawabnya dengan merendahkan diri. “Jika Kauwcu tidak menolong dengan sinkang, semua orang akan menjadi babi panggang di puncak menara.”
Melihat Hoan Yauw telah melompat ke bawah, sambil menghela napas Biat-coat memeluk pinggang muridnya dan segera meninggalkan puncak menara yang hampir roboh. Waktu terpisah kira-kira setombak dari bumi, mendadak ia mendorong dengan kedua tangannya sehingga tubuh nona Ciu melayang ke atas kurang lebih setombak, sedangkan tenaga jatuh si nenek sendiri bertambah hebat.
Sambil mengawasi dengan mata tajam, Bu Kie menepuk pinggang Biat-coat dengan Kian-kun Tay-lo-ie Sin-kang. Di luar dugaan, Biat-coat yang sudah mengambil keputusan untuk mati dan sungkan menerima budi dari Beng-kauw, tiba-tiba menghantam dengan seluruh sisa tenaganya. Dengan bentroknya kedua tangan maka Sinkang jadi terdorong ke arah lain dan...
“Brukk!”
Si nenek ambruk di tanah dengan beberapa tulang patah. Bu Kie sendiri merasa dadanya menyesak dan dia terhuyung beberapa tindak. Dia sungguh tidak mengerti sikap si nenek, karena pukulannya itu berarti membunuh dirinya sendiri.
Cie Jiak cepat menubruk dan memeluk tubuh gurunya. “Suhu...! Suhu...!” jeritnya dengan suara menyayat hati. Para murid Go-bi segera mengerumuni sang guru.
Perlahan-lahan Biat-coat Suthay membuka kedua mata. “Cie Jiak,” katanya dengan suara lemah, “Mulai hari ini engkau adalah Ciang-bun-jin dari partai kita. Apakah kau masih mau berjanji untuk menaati perintahku?”
“Ya... Suhu...”
Si nenek tersenyum. “Kalau begitu...” bisiknya, “Aku bisa mati dengan mata meram...”
Saat itu Bu Kie menghampiri dan memegang nadi si nenek untuk melihat apakah orang tua itu masih dapat ditolong. Tiba-tiba Biat-coat membalik tangannya dan mencengkeram pergelangan Bu Kie.
“Murid cabul Mo-kauw!” bentaknya. “Kalau kau menodai kesucian muridku, biar pun sudah menjadi setan aku tidak akan mengampuni...” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya dan segera menghembuskan napas terakhir, namun jari-jari tangannya masih mencekal pergelangan tangan Bu Kie.
Mendadak terdengar teriakan Hoan Yauw, “Semua orang, ikuti aku! Kita keluar dari pintu kota sebelah barat. Kalau terlambat tentara musuh bangsat itu akan mengepung kita.”
Sambil mendukung jenazah Biat-coat, Bu Kie berkata, “Baiklah kita berangkat sekarang.”
Cie Jiak menyodorkan kedua tangannya dan menyambut jenazah gurunya dari tangan Bu Kie. Sesudah itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia bertindak keluar dari Ban-hoat-si. Sementara itu orang Kun-lun, Khong-tong dan Hoa-san-pay sudah keluar terlebih dahulu. Yang terus tinggal menemani Bu Kie adalah Kong-bun dan Kong-tie. Setelah rombongan partai lain berangkat semua, sambil merangkap kedua tangannya mereka menghaturkan terima kasih kepada Bu Kie yang menjawabnya dengan merendah. Akhirnya bersama pendekar Bu-tong dan Bu Kie, Kong-bun dan Kong-tie juga turut meninggalkan Ban-hoat-si.
Belum seberapa jauh berjalan, ternyata Bu Kie sudah terlalu lelah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam menolong rombongan keenam partai, dan bentrokan dengan Biat-coat juga sudah melukai bagian dalam dari tubuhnya. Boh Seng Kok segera menggendong keponakannya yang sambil digendong, perlahan-lahan mengerahkan Kiu-yang Sin-kang untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Waktu fajar menyingsing rombongan sampai di pintu kota sebelah barat. Tanpa banyak kesulitan mereka mengusir tentara yang menjaga pintu. Di tempat yang jauhnya beberapa li dari pintu kota, Yo Siauw telah menunggu dengan kuda-kuda dan kereta. Sambil tertawa dia memberi selamat kepada yang baru saja lolos dari lubang jarum.
“Tanpa pertolongan Thio-kauwcu dan anggota-anggota Beng-kauw, rombongan keenam partai pasti telah menemui kebinasaan,” kata Kong-bun Taysu. “Untuk budi yang besar itu, kami hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih. Sekarang kita harus memikirkan tindakan selanjutnya dan kuharap Thio-kauwcu suka memutuskannya.”
“Aku yang rendah berpengetahuan cetek sekali,” kata Bu Kie. “Dalam hal ini aku mohon perintah Hong-thio.”
Biar pun dipaksa tetapi Kong-bun Taysu menolak memegang pimpinan.
“Tempat ini tidak jauh dari kota raja,” kata Thio Siong Kee. Sesudah kita mengacau hebat, Raja Muda pasti tidak akan menyudahi. Dia pasti akan segera mengirim tentara yang kuat untuk mengejar kita. Biar bagaimana pun juga kita tidak boleh berdiam lama-lama di sini dan harus pergi ke tempat lain.”
“Paling baik kalau Raja Muda bangsat itu mengirim tentaranya,” kata Ho Thay Ciong. “Kita bisa menghajar mereka sepuas hati.”
Thio Siong Kee menggelengkan kepala. “Aku tidak setuju,” katanya. “Iweekang kita belum pulih total dan pada hakekatnya kita masih punya banyak waktu untuk menghajar Tat-cu. Pada saat ini, jalan yang paling baik adalah menyingkirkan diri.”
“Thio Sie-hiap benar,” kata Kong-bun. “Kalau bertempur, biar pun kita bisa membinasakan banyak Tat-cu, pihak kita pun pasti akan menderita kerusakan besar. Memang sebaiknya kita menyingkir untuk sementara waktu.”
Sesudah Kong-bun menyatakan pendapatnya, yang lain tidak berani membantah lagi.
“Thio Sie-hiap, menurut pendapatmu, ke mana kita harus pergi?” tanya Kong-bun.
“Tat-cu tentu menduga bahwa kita pergi ke selatan atau ke tenggara,” jawabnya. “Untuk mengelabuinya, kita menyingkir ke tempat yang tak diduga oleh mereka. Sebaiknya kita pergi ke Mongolia. Bagaimana pendapat kalian?”
Semua orang kaget. Mongolia adalah negeri Tat-cu. Bagaimana mereka mau diajak masuk ke sarang musuh? Tapi Yo Siauw bertepuk tangan dan berkata sambil tertawa.
“Tepat benar pendapat Thio Sie-hiap. Penduduk Mongolia amat sedikit dan negeri ini terletak di gurun pasir yang luas, maka dengan mudah kita bisa mencari tempat sembunyi di situ. Tat-cu tentu menganggap kita bakal kembali ke Tiong-goan. Mereka tak akan mimpi bahwa kita berbalik menyatroni sarang mereka.”
Sekarang semua orang tersadar. Diam-diam mereka memuji kecerdasan Thio Siong Kee. Semua orang lalu menunggang kuda atau naik kereta dan segera berangkat ke arah utara. Sesudah melalui kira-kira lima puluh li, rombongan berhenti di sebuah selat gunung. Yo Siauw segera mengeluarkan makanan kering dan arak yang memang telah disediakannya. Sambil bercakap-cakap tokoh keenam partai menyatakan rasa terima kasihnya terhadap Bu Kie dan Hoan Yauw yang sudah menolong jiwa mereka.
Sementara itu Ciu Cie Jiak bersama murid-murid Go-bi-pay lainnya menggali lubang dan menguburkan jenazah gurunya. Kong-bun, Kong-tie, Song Wan Kiauw, Bu Kie serta yang lainnya bersembahyang dan memberi hormat terakhir kepada si nenek. Biat-coat Suthay adalah salah satu pendekar kenamaan pada jaman itu. Sungguh pun adatnya aneh tapi dia adalah orang jujur dan selama hidupnya banyak menolong sesama manusia sehingga seluruh rimba persilatan menghormatinya. Waktu bersembahyang para murid Go-bi menangis sedu sedan, sementara jago keenam partai turut merasa sedih.
“Orang yang mati tidak dapat hidup kembali,” kata Kong-bun Taysu dengan suara nyaring. “Para pendekar Go-bi janganlah terlalu berduka. Asal kalian dapat memenuhi pesan mendiang gurumu, maka biar pun Suthay sudah meninggal dunia, dia seperti juga masih hidup di dunia. Kali ini musuh menggunakan racun hingga kita semua sama-sama menderita. Kong-seng Sute dari partai kami juga binasa di tangan Tat-cu. Sakit hati ini tentu harus dibalas. Kini kita harus berunding masak-masak untuk menentukan cara bagaimana kita harus membalasnya.”
“Benar,” sambung Kong-tie. “Pada waktu yang lalu enam partai bermusuhan keras dengan Beng-kauw. Tidak dinyana Thio-kauwcu membalas kejahatan dengan kebaikan dan sudah menolong kita semua. Mulai sekarang kedua belah pihak meniadakan permusuhan dan melupakan segala yang telah terjadi. Hari ini, dengan meminjam kesempatan dari berkumpulnya semua partai, lolap ingin mengajukan sebuah usul, yaitu kita beramai-ramai mengangkat Thio-kauwcu sebagai Bengcu (kepala perserikatan) dari perserikatan partai rimba persilatan di wilayah Tiong-goan. Dengan berserikat dan bekerja sama dan bersatu padu, kita berusaha mengusir Tat-cu dari tanah air kita.”
Usul itu disambut sorak sorai gegap gempita para hadirin. Hanya Ciu Cie Jiak seorang yang tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia menunduk dan memikirkan janji yang telah diberikannya kepada sang guru.
Bu Kie kaget. Dia menggoyang-goyangkan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak bisa! Tidak bisa!” katanya dengan suara gugup. “Di rimba persilatan, semenjak dulu Siauw-lim-pay selalu dianggap sebagai tetua. Jika mengenai perseorangan yang paling tua dan paling dihormati dapat dikatakan adalah Thay-suhuku, Thio Cinjin. Di samping itu Bu-tong Cu-hiap (para pendekar Bu-tong) adalah paman-pamanku. Biar bagaimana pun juga tidak bisa aku si bocah menduduki kursi Bengcu melampaui orang-orang tua yang berkedudukan jauh lebih tinggi dari pada aku.”
“Bu Kie,” kata Song Wan Kiauw. “Hari ini kita beramai-ramai mengangkat engkau sebagai Bengcu, memang sebagian disebabkan oleh pertolonganmu. Tapi selain itu, pengangkatan ini adalah demi kepentingan umat manusia di kolong langit. Dengan adanya pengangkatan ini kita semua berharap supaya berbagai partai dapat bekerja sama tanpa saling bermusuhan dan juga bersatu padu dalam menghadapi kaum penjajah. Kalau rimba persilatan Tiong-goan tidak mempunyai pemimpin umum, mungkin sekali usaha mengusir Tat-cu tidak akan gampang diwujudkan.”
“Bu Kie, usul kedua Seng-ceng Siauw-lim-pay keluar dari hati yang sejujurnya,” Siong Kee turut membujuk. “Kini Thay-suhu-mu sudah berusia begitu lanjut. Apakah kau ingin beliau memikul beban yang berat ini?”
Berganti-ganti lain-lain tokoh partai mencoba membujuk. Tapi Bu Kie tetap menolak. “Aku masih terlampau muda dan berpengetahuan terlalu cetek,” katanya. “Apa yang aku miliki hanyalah ilmu silat. Tanggung jawab seorang Bengcu yang amat berat hanya dapat dipikul orang seperti Hong-thio Seng-ceng dari Siauw-lim-pay atau Song-supek.”
“Kauwcu,” kata Yo Siauw, “Kalau kesempatan ini lewat dengan Cuma-cuma, kita tak akan mendapatkannya lagi. Adalah kehendak Tuhan bahwa hari ini tokoh-tokoh rimba persilatan berkumpul di sini dan semua berpendapat sama. Kalau Kauwcu tetap menolak kedudukan Bengcu, maka tidak ada orang lain yang dapat disetujui dengan suara bulat oleh segenap orang-orang gagah. Jika mereka sudah berpencaran, adalah pekerjaan yang sangat sukar untuk mengumpulkannya kembali. Hari itu, di atas Kong-beng-teng, Kauwcu menghendaki agar kita mengakhiri permusuhan dengan keenam partai dan bekerja sama dengan satu hati. Apakah Kauwcu sudah melupakan itu?”
“Kauwcu!” teriak Hoan Yauw dengan suara tidak sabaran. “Menjadi Bengcu bukan menjadi kaisar. Kami bukan ingin menjual lagak dan mengunjuk keangkeranmu. Kami mengangkat kau demi kepentingan nusa dan bangsa. Kami ingin kau mau memikul beban penderitaan rakyat. Apa kau bukan seorang lelaki? Mengapa kau terus menolak untuk memikul beban yang berat ini? Dengan menganggap kau sebagai seorang lelaki gagah, Hoan Yauw rela mengabdi di bawah perintahmu. Sungguh tak nyana, dalam menghadapi tugas kau malah menyembunyikan kepala dan buntut!”
Mendengar teguran pedas itu muka Bu Kie berubah merah. Sambil merangkap kedua tangannya dan membungkuk ia pun berkata.
“Hoan-yusu benar. Aku menghaturkan terima kasih untuk teguran itu. Memang seorang lelaki yang hidup di antara langit dan bumi tidak boleh melarikan diri dari kesukaran dan penderitaan.” Seraya menyoja kepada semua orang dia berkata. “Kini aku tidak dapat menolak lagi kecintaan Cu-wi (tuan-tuan). Semoga usaha kita akan berhasil dan cita-cita kita dapat tercapai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.”
Sorak sorai dan tepuk tangan menyambut pernyataan Bu Kie itu. Suaranya menggetarkan seluruh selat. Yo Siauw segera mengambil sebuah kantong kulit yang berisikan arak, lalu menggores jari tangannya dan meneteskan darahnya ke dalam arak. Satu per satu para tokoh persilatan menuruti contoh itu, kemudian menceguk arak yang tercampur darah. Upacara tersebut merupakan suatu sumpah bahwa mulai hari itu mereka bersepakat untuk bersatu padu dan bekerja sama dalam mengusir penjajah dari bumi Tiongkok.
Bu Kie girang bercampur kuatir. Dia kuatir karena bebannya sungguh-sungguh berat. Tapi mengingat perkataan Hoan Yauw, hatinya segera menjadi tenang. Seorang laki-laki tidak boleh melarikan diri dari tugasnya. Seorang manusia hanya bisa berusaha sekuat kuatnya dengan seluruh tenaga. Apa usaha itu akan berhasil atau tidak, terserah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selama beberapa bulan Bu Kie menghadapi bermacam gelombang. Hari ini, waktu menerima kedudukan Bengcu, di dalam hatinya ia merasa lebih tenang dari pada waktu menerima kedudukan Kauwcu dari Beng-kauw. Hari ini dia menjadi Bengcu dengan tujuan yang nyata dan tekad yang bulat. Hari itu dia merasa bimbang karena dia mengenal Beng-kauw sebagai agama yang lurus tercampur jahat. Sesudah selesai upacara membentuk perserikatan, Bu Kie lalu berkata.
“Sekarang dunia berada dalam ketakutan. Para anggota Beng-kauw sudah disebar ke empat penjuru untuk menunggu waktu yang baik guna memulai usaha kita. Aku mengharap para tetua berbagai partai mengikuti tindakan murid-murid Beng-kauw dalam membentuk pasukan suka rela. Aku berharap agar semua bisa mengesampingkan kepentingan pribadi dan menyingkirkan setiap kemungkinan yang dapat mengakibatkan permusuhan di antara kawan sendiri. Jika terjadi suatu perselisihan, orang yang tersangkut harus melaporkan kepada Ciang-bun-jin dari partainya. Jika soal itu tidak dapat dibereskan oleh Ciang-bun tersebut, maka dengan bantuan para tetua partai, aku sendiri yang akan coba membereskannya.”
Semua orang mengiyakan permintaan Bengcu.
“Jika urusan ini sudah dianggap beres, aku perlu kembali ke kota raja guna sebuah urusan pribadi,” kata pula Bu Kie. “Di sini saja aku meminta diri. Beberapa tahun yang akan datang, dengan bahu membahu kita akan mengadakan pertempuran mati hidup melawan Tat-cu.”
Dengan sorak sorai seluruh rombongan mengantarkan Bengcu sampai di luar selat. Pada waktu mau berpisah Yo Siauw berkata,
“Kauwcu! Kau adalah harapan orang-orang gagah di seluruh negeri. Kuharap kau bisa menjaga diri.”
“Aku akan memperhatikan pesan saudara,” kata Bu Kie sambil mencambuk kudanya yang segera berlari ke arah selatan.
Ketika sudah dekat dengan kota raja, Bu Kie ingat bahwa sesudah terjadinya pertempuran di Ban-hoat-si, tentu dia telah dikenal banyak kaki tangan Jie Lam Ong. Jika bertemu dengan mereka akan menghadapi banyak kesulitan. Mengingat itu dia segera mampir di rumah seorang petani untuk membeli seperangkat pakaian petani, lalu memakai tudung dan memoles mukanya dengan tanah liat. Setelah itu barulah dia masuk ke dalam kota.
Setibanya di depan rumah penginapan di See-shia dan setelah mengamat-amati keadaan, barulah dia masuk ke kamarnya. Siauw Ciauw kelihatan duduk di samping jendela. Dia sedang menjahit. Melihat masuknya seorang bermuka coklat, si nona terkejut dan sesaat kemudian barulah dia mengenali Bu Kie. Dengan paras berseri-seri dia berkata,
”Kauwcu, kau membuat aku kaget sekali. Kukira ada seorang petani tolol salah masuk ke kamar ini.”
“Kau sedang menjahit apa?” tanya Bu Kie.
Paras muka si nona berubah merah, buru-buru ia menyembunyikan pakaian yang sedang dijahit di belakang tubuhnya.
“Bukan apa-apa,” jawabnya sambil menyelipkan pakaian itu di bawah bantal. Dia lalu menuang teh untuk Bu Kie dan berkata sambil tertawa,
“Apa Kongcu mau cuci muka?”
“Tidak,” sahut Bu Kie sambil mengangkat cangkir teh. Sambil meneguk teh ia pun berpikir, “Tio-kouwnio ingin aku menemaninya untuk meminjam To-liong-to. Aku tak bisa menolak. Pertama, sebagai laki-laki aku tidak dapat menarik kembali janjiku dan kedua, aku memang ingin menyambut Gie-hu pulang ke Tiong-goan. Gie-hu memiliki banyak musuh. Sesudah kedua matanya buta, dia pasti tidak akan dapat membela dirinya sendiri. Tetapi sekarang, sesudah berserikatnya berbagai partai, semua permusuhan lama disingkirkan. Asal aku berada bersamanya orang pasti tak akan mengganggu Gie-hu. Tapi pelayaran sangat berbahaya. Siauw Ciauw tidak boleh ikut. Bagaimana baiknya? Hm.. baiklah, begini saja. Aku akan minta bantuan Tio-kouwnio supaya Siauw Ciauw bisa dititipkan di Ong-hu untuk sementara waktu. Dengan tinggal di gedung Raja Muda maka keselamatannya bisa lebih terjamin dari pada di tempat lain.” Sesudah berpikir demikian, dia tersenyum.
“Kongcu, mengapa kau tersenyum? Kau sedang memikirkan apa?” tanya si nona.
“Aku hendak pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh,” jawabnya. “Tetapi aku tidak bisa membawa kau. Aku telah memikirkan tempat di mana kau bisa tinggal sementara waktu.”
Paras muka Siauw Ciauw lantas berubah. “Kongcu, ke mana pun kau pergi aku mau ikut denganmu,” katanya. “Siauw Ciauw sudah biasa melayani kau setiap hari dan aku tak mau tinggal di tempat orang yang belum dikenal.”
“Aku mengambil keputusan itu untuk kebaikanmu sendiri,” Bu Kie membujuk. “Tempat itu amat jauh dan perjalanan penuh dengan bahaya. Aku sendiri tidak tahu, sampai kapankah aku baru dapat kembali.”
“Kongcu, waktu berada di goa di Kong-beng-teng, Siauw Ciauw sudah mengambil keputusan untuk terus mengikuti kau, ke manapun kau pergi. Kau hanya dapat menolak tekadku dengan membunuh aku. Kongcu, apakah kau merasa sebal terhadapku dan tidak mau kalau aku terus mengikuti?”
“Tidak! Kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu. Aku hanya tidak mau kau menempuh bahaya yang sebenarnya tidak perlu ditempuh. Begitu kembali maka secepatnya aku akan mencarimu.”
Si nona menggeleng-gelengkan kepala. “Aku bersedia untuk menghadapi bahaya apa pun juga,” katanya dengan suara mantap.
Bu Kie terharu. Sambil memegang tangan si nona, ia berkata dengan suara lemah lembut.
“Siauw Ciauw, aku tak mau dusta. Aku telah meluluskan permintaan Tio-kouwnio untuk mengawani dia dalam menyeberangi lautan. Kau tahu, pelayaran ini penuh dengan bahaya. Tapi aku mesti pergi juga. Aku sungguh tak mau kau ikut menghadapi bahaya.”
Paras muka Siauw Ciauw bersemu merah. “Kalau kau pergi bersama Tio Beng, malah lebih-lebih aku mesti ikut,” katanya. Setelah berkata begitu dia kelihatan kemalu-maluan, sementara air mata berlinang-linang di kedua matanya.
“Mengapa kau lebih-lebih mau mengikut?”
“Karena Tio-kouwnio adalah orang yang hatinya beracun. Kita tidak dapat menaksir apa yang akan diperbuatnya terhadapmu. Dengan berada bersama, aku bisa ikut mengamat-amati keselamatanmu.”
Tiba-tiba jantung Bu Kie melonjak. “Ah! Apa Siauw Ciauw jatuh cinta kepadaku?” tanyanya dalam hati. Setelah berpikir beberapa saat, dia berkata sambil tertawa.
“Baiklah, kau boleh ikut. Tetapi kau tidak boleh menyesal.”
Tak kepalang girangnya si nona. “Kalau aku menyusahkan kau dengan penyesalan, kau boleh melemparkan diriku ke lautan supaya aku dimakan ikan besar,” katanya sambil tersenyum.
Bu Kie tertawa nyaring. “Bagaimana aku tega berpisah dengan kau?” katanya.
Persahabatan antara Bu Kie dan Siauw Ciauw sudah berjalan lama. Di dalam perjalanan kadang kala mereka terpaksa tidur dalam satu kamar bila rumah penginapan kekurangan kamar. Tetapi belum pernah mereka berbicara atau melakukan sesuatu yang melampaui batas kepatutan. Siauw Ciauw selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan, sedangkan Bu Kie yang bersikap sebagai seorang kakak, belum pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas.
Dan sekarang, begitu perkataan ‘bagaimana aku tega berpisah dengan kau’ keluar dari mulutnya, begitu dia merasa bahwa dia telah kesalahan omong, mukanya segera berubah merah dan buru-buru dia memalingkan muka ke jurusan lain. Siauw Ciauw menghela napas.
“Mengapa kau menghela napas?” tanya Bu Kie.
“Kau tidak tega berpisah dengan banyak orang. Ada Ciu-kouwnio dari Go-bi-pay, Tio-kouwnio dari gedung Jie Lam Ong dan di hari kemudian, entah masih ada berapa banyak orang lagi. Di hatimu, mana bisa jadi kau memikirkan seorang pelayan kecil seperti aku?”
“Siauw Ciauw, kau selalu berlaku amat baik terhadapku. Apakah kau kira aku tidak tahu? Apakah aku seorang manusia yang tidak ingat budinya orang?” Waktu bicara begitu suara Bu Kie menunjukkan bahwa dia berbicara dari lubuk hatinya yang putih bersih.
Si nona malu bercampur girang. Sambil menundukkan kepala dia berkata dengan suara perlahan.
“Aku belum pernah melakukan sesuatu yang berharga untukmu. Asal saja kau mengijinkan aku melayani selama-lamanya, asal aku bisa menjadi pelayanmu untuk seterusnya, hatiku sudah puas. Kongcu, semalam suntuk kau tak tidur. Kau tentu capai. Pergilah tidur.” Sehabis berkata begitu, dia membuka kasur.
Bu Kie lantas merebahkan diri, sedangkan dia sendiri menjahit di bawah jendela. Tak lama kemudian Bu Kie tertidur.
CIANG-BUN-JIN GO-BI-PAY (KETUA GO-BI-PAY)
Ketika magrib tiba barulah Bu Kie tersadar dari tidurnya. Setelah makan semangkok mie, dia pun berkata,
“Siauw Ciauw, aku mau mengajakmu pergi menemui Tio-kouwnio untuk meminjam Ie-thian-kiam guna memutuskan rantai yang mengikat kaki tanganmu.”
Di tengah jalan mereka bertemu dengan banyak tentara Mongol. Melihat penjagaan sangat ketat, Bu Kie tahu bahwa diperketatnya penjagaan adalah akibat kekacauan tadi malam. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah makan kecil yang semalam. Setelah masuk, ternyata Tio Beng sudah berada di situ. Ia sedang minum arak sendirian. Ia cepat bangkit dan berkata sambil tertawa,
“Thio-kongcu, kau orang yang boleh dipercaya.”
Bu Kie mengawasi nona Tio. Ternyata paras si nona tenang-tenang saja, sedikit pun tidak menunjukkan rasa marah. Di atas meja telah tersusun dua pasang sumpit. Setelah membungkuk Bu Kie lalu duduk di sebuah kursi, sementara Siauw Ciauw sendiri berdiri menunggu di tempat yang agak jauh. Sambil menyoja Bu Kie berkata,
“Tio-kouwnio, kejadian semalam aku telah berdosa terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.”
“Aku merasa amat sebal melihat Han-kie yang seperti siluman,” kata si nona. “Bahwa kau sudah menyuruh orang untuk membunuhnya, sebenarnya aku harus menghaturkan terima kasih kepadamu. Ibu memuji kau sebagai pemuda pintar.”
Bu Kie terkejut. Nona Tio tersenyum dan berkata, “Bahwa kau sudah menolong orang-orang itu, pada hakekatnya aku tidak keberatan. Mereka tidak suka takluk. Jadi apa perlunya aku menahan mereka lama-lama? Setelah kau menolong mereka, tentu mereka amat berterima kasih kepadamu. Sekarang di rimba persilatan kau menjadi orang gagah yang utama. Semua orang berhutang budi terhadapmu. Thio-kongcu, untuk itu aku memberi selamat dengan secawan arak.” Dia tertawa dan mengangkat cawannya.
Sesaat itu tiba-tiba berkelebat bayangan dan Hoan Yauw bertindak masuk. Lebih dulu dia memberi hormat kepada Bu Kie kemudian berlutut di hadapan Tio Beng.
“Kuncu,” katanya, “Kouw Tauw-to mohon untuk minta diri.”
Tio Beng tidak membalas pemberian hormat Tauw-to itu. “Kouw Taysu,” katanya dengan suara dingin. “Sungguh hebat kau mendustai aku.”
Hoan Yauw bangun berdiri lantas berkata sambil membungkuk. “Kouw Tauw-to she Hoan bernama Yauw, Kong-beng Yu-su dari Beng-kauw. Karena kerajaan memusuhi Beng-kauw maka waktu masuk ke gedung Jie Lam Ong terpaksa aku harus menyamar. Kuncu sudah memperlakukan aku dengan baik sekali sehingga sekarang aku menghadap Kuncu untuk berpamitan”.
“Kau mau pergi boleh pergi,” kata Tio Beng. “Tak usah kau banyak peradatan.”
“Seorang laki-laki harus berlaku terus terang,” kata Hoan Yauw. “Mulai sekarang aku yang rendah musuh dari Kuncu. Kalau aku belum memberi-tahu terang-terangan, hatiku merasa tidak enak dan aku berbuat tidak pantas terhadap Kuncu yang sudah memperlakukan aku dengan pantas.”
Tio Beng menengok pada Bu Kie dan berkata, “Ilmu apa yang kau miliki sehingga orang-orangmu semua rela membela kau dengan nyawa?”
“Kami bekerja untuk negara, untuk rakyat, untuk membantu sesama manusia, dan untuk mempertahankan gie-khie (semangat persahabatan yang paling tinggi). Hoan-yusu dengan aku belum kenal satu sama lain. Tetapi begitu bertemu lantas menjadi sahabat karib. Kita mempunyai pendapat dan tujuan yang sama. Dengan begitu maka usaha kita untuk mempertahankan gie-kie dan kawan-kawan sendiri tidaklah tersia-sia.”
Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Kauwcu,” katanya, “Perkataanmu sungguh cocok dengan apa yang kupikirkan. Kauwcu, kuharap kau menjaga diri baik-baik. Nona ini sangat lihay. Dia bukan wanita biasa. Kuharap Kauwcu selalu waspada.”
Tio Beng tertawa. “Terima kasih untuk pujian Kouw Taysu,” katanya.
Sesudah mengangguk Hoan Yauw segera berlalu. Ketika lewat di depan Siauw Ciauw, ia kelihatan terkejut, paras mukanya berubah pucat dan seolah-olah ia melihat sesuatu yang sangat menakutkan.
“Kau... kau...!” katanya.
“Mengapa aku?” tanya Siauw Ciauw.
Hoan Yauw mengawasi dengan mata membelalak. Selanjutnya ia menggeleng-gelengkan kepala dan berkata,
“Bukan... bukan... aku... aku salah lihat.” Ia menolak pintu kemudian berjalan keluar, sementara mulutnya berkata, “Sungguh sama... sungguh sama...”
Tio Beng dan Bu Kie saling pandang. Mereka merasa heran dan tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Hoan Yauw. Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar suara dan teriakan, tiga kali panjang dan dua kali pendek. Suara itu nyaring dan tajam, seperti seseorang sedang memanggil kawan.
Tiba-tiba Bu Kie terkejut. Dia ingat bahwa teriakan itu tanda rahasia Go-bi-pay dalam mengumpulkan kawan. Pada waktu bertemu dengan rombongan Biat-coat Suthay di See-hek, beberapa kali pernah mendengar tanda rahasia itu untuk menghadapi Beng-kauw.
“Mengapa Go-bi-pay kembali lagi ke kota raja?” tanyanya di dalam hati. “Apakah mereka bertemu dengan musuh?”
Sebelum ia mengambil keputusan apa yang harus diperbuat, Tio Beng sudah berkata,
“Ah, itu tanda Go-bi-pay. Rupanya mereka sedang menghadapi persoalan yang sangat mendesak. Mari kita menyelidiki. Apa kau setuju?”
“Bagaimana kau tahu teriakan itu tanda rahasia Go-bi-pay?” tanya Bu Kie.
“Kenapa aku tidak tahu?” kata si nona sambil tersenyum. “Di See-hek, sebelum mendapat kesempatan turun tangan, dengan orang-orangku aku menguntit mereka empat hari empat malam.”
“Baiklah, aku setuju untuk menyelidiki,” kata Bu Kie. “Tetapi Tio-kouwnio, lebih dahulu aku ingin meminta pinjam Ie-thian-kiam.”
Si nona tertawa. “Sungguh jempol ilmu hitungmu. Sebelum aku meminjam To-liong-to, kau sudah mendahului meminjam Ie-thian-kiam,” katanya seraya membuka tali ikatan pedang lalu menyodorkannya kepada Bu Kie.
Sambil menghunus senjata mustika itu Bu Kie berkata, “Siauw Ciauw, kemarilah!”
Siauw Ciauw cepat-cepat menghampiri. Dengan beberapa kali babatan semua rantai yang mengikat kaki tangannya terputus. Ia segera berlutut sambil berkata,
“Terima kasih, Kongcu. Terima kasih, Kuncu.”
Bu Kie segera memasukkan Ie-thian-kiam ke dalam sarungnya lalu mengembalikan kepada Tio Beng. Ketika itu teriakan-teriakan Go-bi-pay makin menghebat.
“Mari kita pergi!” kata Bu Kie.
Tio Beng mengeluarkan sepotong emas lalu melemparkannya di atas meja. Bersama Bu Kie dan Siauw Ciauw segera berjalan keluar dengan langkah lebar. Karena kuatir ilmu mengentengkan tubuh Siauw Ciauw masih terlalu cetek, dengan tangan kanannya Bu Kie menarik tangan si nona sedangkan tangan kirinya mendorong pinggang. Sambil memberi bantuan dia mengikuti di belakang Tio Beng. Setelah berlari beberapa puluh tombak, dia merasa bahwa badan Siauw Ciauw sangat enteng dan tindakannya pun sangat cepat. Ia heran dan menarik kembali bantuannya.
Biar pun sudah tidak dibantu, si nona masih dapat merendenginya walau pun saat itu Bu Kie sudah menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi dan langkahnya cukup cepat. Bahwa Siauw Ciauw mampu mengikutinya merupakan bukti bahwa si nona memiliki kepandaian yang tidak dapat dipandang rendah. Tak lama kemudian, sesudah melewati beberapa jalan kecil tibalah mereka di luar sebuah tembok tua yang telah runtuh di sana sini. Tiba-tiba Bu Kie mendengar pertengkaran beberapa wanita dan dia pun tahu bahwa murid-murid Go-bi berada di dalam tembok itu.
Sambil menarik tangan Siauw Ciauw dia melompati tembok lalu hinggap di antara rumput alang-alang. Ternyata mereka berada di sebuah taman yang sudah lama tak terurus. Di lain saat Tio Beng sudah menyusul dan mereka bertiga bersembunyi di antara rumput tinggi. Di sebelah utara taman ada sebuah pendopo rusak di mana terlihat bayangan beberapa belas orang. Sekonyong-konyong terdengar suara seorang wanita.
“Kau adalah murid termuda di partai kita. Baik dalam nama mau pun kepandaian, kau tidak pantas menjadi Ciang-bun-jin...”
Bu Kie segera mengenali yang berbicara adalah Teng Bin Kun. Dengan merangkak dia maju mendekati pendopo lalu menyembunyikan diri pada jarak beberapa tombak. Malam itu tak berbulan dan di langit hanya terdapat bintang-bintang berkelap kelip. Tetapi mata Bu Kie sangat awas. Sayup-sayup dia melihat di antara murid Go-bi-pay ada Teng Bin Kun, murid kepala Biat-coat Suthay. Di samping murid kepala itu berdiri seorang wanita yang bertubuh agak jangkung dan mengenakan baju warna hijau. Orang itu adalah Ciu Cie Jiak. Teng Bing kun terus mendesak dengan suara menyeramkan.
“Coba kau bilang...! Bilang! Lekas bilang...!”
“Apa yang dikatakan Teng-suci memang tidak salah,” kata nona Ciu. “Siauw-moay adalah murid termuda. Baik dalam nama mau pun dalam ilmu silat, kepandaian, kecerdasan dan kemuliaan Siauw-moay tidak pantas menjadi Ciang-bun-jin. Waktu Siansu (mendiang guru) menyerahkan beban berat ini, Siauw-moay sudah menolak sekeras-kerasnya. Tapi Siansu malah marah besar. Beliau memaksa supaya Siauw-moay bersumpah berat untuk tidak melanggar kemauannya.”
“Memang tidak salah,” kata seorang wanita yang mengenakan pakaian pendeta. “Memang benar, ketika Siansu mau berangkat pulang ke alam baka beliau telah mengatakan bahwa Ciu-sumoay harus menjadi Ciang-bun-jin dari partai kita. Pesan itu telah didengar oleh kita semua. Bahkan para orang gagah dari Siauw-lim, Bu-tong, Kun-lun, dan Khong-tong pun bisa menjadi saksi.”
“Siansu adalah seorang yang amat cerdas dan berpemandangan jauh,” sambung seorang murid pria yang berusia setengah tua. “Beliau tentu mempunyai maksud yang mendalam dengan menunjuk Ciu-sumoay menjadi pemimpin kita. Kita semua sudah menerima budi Siansu yang sangat besar, maka selayaknya kalau kita mentaati pesan Siansu. Kita harus menunjang Ciu-sumoay dalam usaha menaikkan derajat partai kita.”
Bin Kun tertawa dingin. “Pang-suko mengatakan bahwa Siansu mempunyai maksud yang mendalam,” katanya dengan nada mengejek. “Kata-kata itu, ‘Siansu pasti mempunyai maksud yang mendalam’, adalah sangat tepat. Bukankah semua orang, baik yang di atas mau pun di bawah menara sudah mendengar perkataan Kouw Tauw-to dan Ho Pit Ong? Siapa ayah dan ibunya Ciu-sumoay? Kenapa Siansu pilih kasih? Apakah kita semua masih belum mengerti?”
Sebagaimana diketahui, sebagai guyon-guyon Hoan Yauw telah mengatakan bahwa Biat-coat Suthay adalah kekasihnya dan bahwa Ciu Cie Jiak adalah anak mereka. Hoan Yauw memang gila-gilaan dan masih memiliki sie-khie (sifat sesat). Tapi perkataan Ho Pit Ong terdengar banyak orang. Biar bagaimana pun juga banyak yang meragukan mendengar itu, karena percintaan laki-laki dan perempuan, tak peduli siapa adanya mereka, adalah kejadian lumrah di dunia. Dengan demikian tuduhan Teng Bin Kun bahwa Biat-coat pilih kasih karena Ciu Cie Jiak adalah anaknya sendiri, memang kedengarannya beralasan juga. Maka murid-murid Go-bi-pay bungkam setelah perempuan itu melepaskan racunnya.
Tak kepalang marahnya nona Ciu. Dengan suara gemetar ia berkata. “Teng-suci! Jika kau tidak setuju Siauw-moay menjadi Ciang-bun-jin, kau boleh mengatakan terang-terangan. Tetapi dengan menjatuhkan fitnah membabi buta kepada Siansu dan merusak nama Siansu yang putih bersih, kau sudah berdosa besar. Mendiang ayahku she Ciu bernama Cu Ong, ada pun mendiang ibuku adalah she Sie. Atas pertolongan Thio Cinjin dari Bu-tong-pay, Siauw-moay berguru kepada Siansu. Sebelum itu Siauw-moay tak pernah mengenal Siansu. Teng-suci! Kau telah menerima budi Siansu, tapi hari ini ketika tulang belulangnya Siansu belum lagi menjadi dingin, kau sudah berani melontarkan tuduhan yang sangat keji itu...” Ia tidak meneruskan perkatatannya dan air matanya mulai mengucur.
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Siapa pun sudah tahu bahwa kau amat mengiler menjadi Ciang-bun-jin,” katanya. “Tetapi sebelum disetujui saudara-saudara kita, kau telah mencoba menunjuk keangkeranmu dan menjual lagak galak. Huh! Merusak nama Siansu! Berdosa sangat besar! Kau ingin menghukum aku bukan? Sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Setelah menerima pesan Siansu untuk menjadi Ciang-bun-jin, sebetulnya kau harus segera pulang ke Go-bi guna mengurus urusan partai. Tapi mengapa kau kembali ke kota raja? Sesudah Siansu meninggal dunia di partai ada banyak sekali urusan yang harus segera diurus. Aku tanya, mengapa kau balik ke kota raja?”
“Siauw-moay kembali ke kota raja untuk menunaikan tugas berat yang diberikan Siansu,” jawabnya.
“Tugas apa?” tiba-tiba si perempuan she Teng bertanya. “Kita berada di antara saudara-saudara sendiri, kau boleh memberi-tahu terang-terangan.”
“Tugas ini rahasia besar bagi partai kita,” sahut nona Ciu. “Rahasia itu hanya boleh diketahui seorang Ciang-bun-jin. Sungguh menyesal aku tidak dapat memberi-tahu kepada siapa pun juga.”
Teng Bin Kun mengeluarkan suara di hidung. “Huh! Huh!” katanya. “Kau mau coba-coba berlindung di balik pangkat Ciang-bun-jin. Huh! Kau tak bisa memperdayai aku. Partai kita bermusuhan hebat dengan Mo-kauw. Banyak sekali saudara-saudara kita yang binasa di tangan Mo-kauw. Orang-orang Mo-kauw yang mampus di bawah pedang Ie-thian-kiam juga tidak bisa dihitung berapa banyaknya. Meninggalnya Siansu juga karena beliau tak sudi menerima pertolongan pemimpin Mo-kauw. Tapi mengapa jenazah Siansu masih belum dingin, kau sudah kembali ke kota raja mencari penjahat cabul she Thio itu, si kepala siluman?”
Bu Kie menggigil. Mendadak pipinya dicolek orang. Dia menengok. Orang yang mencoleknya adalah Tio Beng. Muka Bu Kie lantas berubah merah.
“Apa benar Ciu-kouwnio mencari aku?” tanyanya di dalam hati.
Cie Jiak merasa dadanya seperti mau meledak. Sambil menuding dia membentak dengan suara terputus-putus.
“Kau...! Kau...! Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata itu?”
Teng Bin Kun menyeringai. “Kau masih hendak menyangkal?” tanyanya. “Kau menyuruh kami pulang ke Go-bi lebih dahulu. Waktu ditanya mengapa kau kembali ke kota raja, kau menjawab tidak jelas. Itu sebabnya mengapa kami menguntit kau. Kau bertanya kepada ayahmu, Kouw Tauw-to, tempat kediaman si penjahat cabul. Apa kau kira kami tak tahu? Kau telah pergi ke rumah penginapan mencari penjahat cabul itu. Apa kau rasa kami tidak tahu?”
Mendengar cacian ‘penjahat cabul’ yang dikeluarkan berulang-ulang, biar pun sabar darah Bu Kie meluap juga. Tiba-tiba dia merasa lehernya ditiup orang. Dia tahu bahwa nona Tio mengejeknya kembali.
Sementara itu si perempuan she Teng sudah menyemburkan racunnya lagi. “Siapa yang ingin kau cari dan dengan siapa kau hendak bersahabat, orang luar memang tidak dapat mencampuri. Tapi penjahat cabul she Thio adalah musuh besar partai kita. Pada waktu orang mengangkat dia menjadi Bengcu, kenapa sebagai Ciang-bun-jin Go-bi-pay kau tidak menentang? Biar pun kita kalah suara, tapi sedikitnya kita sudah menyatakan di hadapan umum bahwa partai kita tidak menyetujui pengangkatan itu. Waktu itu aku memperhatikan kau. Ahh! Kau kelihatan sangat girang. Paras mukamu tampak berseri-seri. Waktu Siansu memerintahkan kau membunuh penjahat cabul itu di Kong-beng-teng, ia sama sekali tidak mencoba membela diri, sebaliknya dari itu dia malah bermain mata dengan kau. Kau sengaja memberi tikaman yang sangat enteng. Siapa dapat percaya bahwa kau tidak mempunyai hubungan rahasia dengan penjahat itu?”
Kepala nona Ciu menjadi puyeng. Dia mendekap muka dan menangis. “Siapa... bermain mata...?” katanya dengan suara parau. “Mengapa kau memfitnah orang dengan kata-kata yang tidak enak didengar itu?”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Kata-kataku tak enak didengar?” ejeknya. “Tapi bagaimana perbuatanmu? Perkataanmu memang sedap sekali didengar, tapi perbuatanmu tidak enak dilihat. Huh...! Misalnya tadi siang kau berkata begini kepada pengurus rumah penginapan. ‘Mohon tanya, apa di sini ada seorang tamu she Thio?’ Kata kau lagi, ‘Ia berusia kira-kira dua puluh tahun, tubuhnya jangkung. Mungkin sekali ia menggunakan she yang berbeda’. Kau mengatakan itu semua dengan suara yang sangat merdu.”
Dalam ejekannya itu Teng Bin Kun menirukan suara Ciu Cie Jiak dengan lagak yang genit sekali. Di tengah malam yang amat sunyi suaranya membangunkan bulu roma. Tak kepalang marahnya Bu Kie. Hampir dia melompat keluar. Syukur dia masih bisa menahan diri karena dia ingat bahwa dia tidak boleh mencampuri urusan dalam Go-bi-pay dan tindakannya akan lebih merugikan nona Ciu kalau dia turun tangan. Dengan demikian biar pun darahnya meluap dia tidak bisa bergerak.
Di kalangan Go-bi-pay semula terdapat sejumlah murid yang ingin mentaati kemauan guru mereka dan mendukung Cie Jiak sebagai Ciang-bun-jin. Tapi hati mereka menjadi goncang sesudah mendengar kata-kata Teng Bin Kun. Memang Go-bi-pay bermusuhan keras dengan Beng-kauw, sedang mereka harus mengakui bahwa memang ada suatu hubungan antara Cie Jiak dan Bu Kie. Bagaimana kalau Cie Jiak menyerahkan Go-bi-pay ke tangan Beng-kauw? Itulah jalan pikiran mereka.
Sementara itu Teng Bin Kun berkata lagi, “Ciu-sumoay, kau masuk di partai kita atas pujian Thio Cinjin dari Bu-tong-pay. Penjahat cabul she Thio itu adalah anaknya Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay. Tak ada seorang pun yang dapat menanggung bahwa di dalam hal ini tidak terselip suatu siasat yang aneh.”
Sehabis berkata begitu, seraya berpaling kepada saudara-saudari seperguruannya, ia berteriak.
“Saudara-saudari sekalian! Memang Siansu sudah berpesan untuk mengangkat Ciu-sumoay sebagai Ciang-bun-jin partai kita. Tetapi beliau tak menduga bahwa begitu beliau menutup mata Ciang-bun-jin kita lantas pergi mencari Kauwcu dari Mo-kauw. Kejadian ini bersangkut paut dengan mati hidupnya partai kita. Kejadian ini bukanlah kejadian kecil yang dapat dikesampingkan dengan begitu saja. Kalau malam ini Siansu masih hidup pasti beliau akan mengangkat orang lain. Cita-cita Siansu adalah kegemilangan partai kita. Siansu pasti tidak menghendaki bahwa partai kita musnah di tangan Mo-kauw. Maka itu menurut pendapat Siauw-moay, kita semua harus berusaha mewujudkan cita-cita Siansu yang sangat luhur itu. Sekarang kita harus menuntut supaya Ciu-sumoay menyerahkan cincin Ciang-bun-jin, supaya kita bisa segera mengangkat yang cocok untuk menjadi pemimpin kita, untuk menjadi Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay. Ini usul Siauw-moay.”
Usul itu disetujui lima enam orang.
“Aku telah menerima perintah Siansu menjadi Ciang-bun-jin, sebab itu aku tak dapat menyerahkan cincin ini,” kata Cie Jiak. “Sebenarnya aku pun tidak kepingin menjadi Ciang-bun-jin, tetapi aku sudah bersumpah berat dan aku pasti tidak bisa menyia-nyiakan harapan Siansu.”
“Kau mau serahkan atau tidak?” bentak Teng Bin Kun. “Menurut peraturan partai, larangan pertama tidak boleh menghina guru dan larangan kedua tak boleh berjinah. Dan kau masih mau mengurus partai kita?”
“Nonamu bakal celaka!” bisik Tio Beng di kuping Bu Kie. “Kalau kau suka memanggil aku dengan kata-kata ‘Cici yang baik’, aku bersedia untuk menolong dia.”
Bu Kie tahu bahwa nona Tio yang sangat pintar tentu sudah memiliki akal untuk menolong Cie Jiak. Tapi karena ia berusia lebih tua, maka ia merasa agak jengah untuk memanggil ‘Cici’ kepadanya. Selagi masih bersangsi, Tio Beng telah berkata lagi.
“Kalau kau tidak suka terserahlah kepadamu. Sekarang aku ingin pergi.”
Apa boleh buat Bu Kie segera berkata dengan suara perlahan. “Cici yang baik...”
Si nona tertawa, tapi baru saja ia mau melompat keluar, orang-orang Go-bi rupa-rupanya sudah merasakan bahwa mereka sedang diintip orang.
“Siapa di situ?!” bentak Teng Bin Kun.
Sekonyong-konyong di luar tembok terdengar batuk-batuk, diiringi dengan suara seorang nenek-nenek.
“Apa yang kalian lakukan di tengah malam buta?” Di lain saat dua manusia lain sudah berada di pendopo itu.
Bu Kie lantas mengenali bahwa nenek yang bertongkat itu adalah Kim-hoa Popo, ada pun kawannya, wanita yang bermuka jelek, bukan lain Cu-jie atau A-lee, saudara sepupu Bu Kie sendiri. Sebagaimana diketahui, ketika enam partai persilatan menyerang Kong-beng-teng, Cu-jie dibawa lari oleh Wie It Siauw. Waktu mendekati Kong-beng-teng dengan dikejar oleh In Ya Ong (ayah Cu-jie) dan Bu Kie, Wie Hok-ong melepaskan si nona di lereng gunung, dan ketika dia mencarinya, kembali Cu-jie menghilang. Semenjak perpisahan, Bu Kie sering kali memikirkan nasib si nona. Sekarang tak diduga-duga dia muncul bersama Kim-hoa Popo. Bukan main girangnya Bu Kie, hampir dia berteriak memanggil.
“Kim-hoa Popo, perlu apa kau datang ke sini?” tanya Teng Bin Kun.
“Mana gurumu?”
“Kemarin Siansu meninggal dunia. Huh! Kau sudah mencuri dengar di luar tembok, tetapi kau masih bertanya juga.”
“Ahh...! Biat-coat mati? Bagaimana matinya? Mengapa dia tidak menunggu bertemu denganku? Hai! Sayang... sungguh sayang...” Selagi berkata begitu si nenek batuk tiada hentinya.
Sambil menepuk-nepuk punggung orang tua itu, Cu-jie menengok kepada Teng Bin Kun lantas berkata dengan suara tawar.
“Siapa sudi mencuri dengar pembicaraan kalian? Popo dan aku sedang lewat di sini, lalu secara kebetulan aku mendengar suara manusia bicara dan setelah aku mengenali suaramu barulah kami masuk ke sini. Popo bertanya kepadamu, kau dengar tidak? Bagaimana cara matinya gurumu?”
“Bukan urusan kamu!” bentak Teng Bin Kun dengan marah.
Setelah batuknya agak mereda barulah Kim-hoa Popo berkata dengan suara lebih sabar.
“Selama hidupku hanya satu kali aku kalah dalam pertempuran, yaitu kalah dari gurumu. Kekalahan itu bukan lantaran ilmu silat gurumu lebih unggul, akan tetapi karena tajamnya Ie-thian-kiam. Selama beberapa tahun aku mencari-cari senjata mustika untuk bertempur lagi melawan Biat-coat. Aku menjelajah empat penjuru dunia hingga pada akhirnya dapat dikatakan capek lelahku tak sia-sia. Seorang sahabat lama bersedia meminjamkan sebatang golok mustika kepadaku.
Terakhir aku mendengar bahwa orang-orang Go-bi ditawan kerajaan dan dikurung di kelenteng Ban-hoat-si. Aku segera mengambil keputusan untuk menolong gurumu supaya kita berdua bisa menjajal lagi kepandaian yang sesungguhnya. Tapi siapa nyana menara di Ban-hoat-si yang digunakan sebagai penjara gurumu sudah berubah menjadi tumpukan puing. Hai! Itulah maunya nasib. Seumur hidup Kim-hoa Popo takkan dapat mencuci lagi hinaan atas dirinya itu. Biat-coat! Mengapa tidak bisa menunggu sehari dua?”
Teng Bin Kun tertawa dingin. “Jika Suhu masih hidup, apa yang akan kau dapat hanyalah kekalahan yang kedua kalinya,” katanya. “Setelah keok untuk kedua kalinya, kau pasti tak akan merasa penasaran lagi...”
“Plak! Plak! Plak! Plak!”
Tiba-tiba terdengar suara gaplokan, pipi Teng Bin Kun digaplok empat kali beruntun sehingga matanya berkunang-kunang dan hampir dia jatuh terguling. Empat gaplokan itu dikirim secara cepat luar biasa dan dengan gerakan yang sangat aneh sehingga Teng Bin Kun sama sekali tidak dapat membela diri. Dia kaget bercampur marah, menghunus pedang dan menuding si nenek.
“Pengemis tua!” bentaknya, “Apa kau sudah bosan hidup?”
Tapi Kim-hoa Popo seolah tidak mendengar cacian itu dan tidak mempedulikan pedang yang ditudingkan kepadanya. Dengan suara menyesal dan putus harapan, dia bertanya lagi.
“Bagaimana matinya gurumu?”
“Tak perlu aku memberi-tahu kepadamu,” jawab Teng Bin Kun.
Si nenek menghela napas dan berkata, “Biat-coat Suthay, selama hidup kau adalah seorang gagah pada jaman ini dan juga merupakan seorang tokoh paling terkemuka di rimba persilatan. Sungguh sayang, sesudah kau mati murid-muridmu tolol semua. Apakah kau tidak memiliki murid yang mendingan untuk mewarisi kedudukan Ciang-bun-jin?”
Mendadak seorang pendeta wanita setengah tua yang bertubuh jangkung maju selangkah. Sambil merangkapkan kedua tangannya, dia berkata,
“Pie-pie Congsu menghadap kepada Popo. Pada waktu Siansu mau menutup mata, beliau sudah mengangkat Ciu Cie Jiak Ciu-sumoay sebagai Ciang-bun-jin dari partai kami. Kami berada di sini karena masih ada sejumlah saudara seperguruan yang merasa tidak setuju atas pengangkatan itu. Bahwa Siansu sudah keburu meninggal dunia dan Popo tidak bisa mencapai keinginan yang sudah dikandung lama, memang semua adalah nasib. Manusia tidak bisa melawan takdir. Karena urusan Ciang-bun-jin partai kami masih belum beres, maka kami masih belum bisa membuat perjanjian apa pun juga dengan Po po.
Tapi sebagai salah satu partai besar di rimba persilatan, Go-bi-pay tidak bisa menjatuhkan nama besarnya Siansu. Jika Popo mau memberi sesuatu pesan, berikanlah sekarang. Di hari kemudian, sesuai dengan peraturan-peraturan di rimba persilatan, Ciang-bun-jin kami akan pergi menemui Popo. Akan tetapi jika Popo mau menghina kami dengan mengandalkan kekuatan sendiri, maka biar pun saat ini Go-bi-pay masih berkabung, kami akan melayani Popo sampai titik darah yang penghabisan.”
Bu Kie dan Tio Beng merasa kagum dengan perkataan Nikouw itu yang diucapkan secara tetap dan sopan santun. Sambil menyapu murid-murid Go-bi dengan pandangan kedua matanya, si nenek berkata,
“Waktu gurumu hendak menutup mata, dia telah mengangkat seorang Ciang-bun-jin. Itu bagus. Siapakah Ciang-bun-jin itu? Aku ingin bertemu dengan dia.” Ketika berkata demikian nada suara Kim-hoa Popo sudah banyak lebih lunak dari pada waktu dia bicara dengan Teng Bin Kun.
Ciu Cie Jiak lantas maju sambil memberi hormat. “Popo, selamat bertemu,” katanya. “Ciang-bun-jin turunan keempat dari Go-bi-pay memberi hormat kepada Popo.”
“Tidak tahu malu kau!” bentak Teng Bin Kun. “Kau berani menamakan diri sendiri sebagai Ciang-bun-jin turunan keempat?!”
Cu-jie tertawa dingin. “Ciu-cici adalah seorang yang sangat baik,” katanya. “Waktu berada di See-hek ia telah memperlihatkan kasih sayangnya padaku. Jika ia tidak pantas menjadi Ciang-bun-jin, apa kau kira dirimu cocok untuk menjadi Ciang-bun-jin? Kau jangan banyak tingkah di hadapan Popo. Apakah kau mau digaplok lagi?”
Darah Teng Bin Kun meluap. Dia menghunus pedang dan menikam si nona yang lidahnya tajam. Cu-jie berkelit seraya menggaplok. Gerakannya menyerupai gerakan si nenek, tapi jauh lebih lambat. Teng Bin Kun cepat menundukkan kepalanya sehingga telapak tangan Cu-jie menyampok angin, tetapi tikamannya pun jatuh di tempat kosong.
Si nenek tertawa. “Bocah!” katanya. “Aku telah mengajarkan berulang kali, tapi kau masih belum mampu juga dalam menggunakan pukulan yang begitu gampang. Lihatlah!” Seraya berkata begitu tangan kanannya menyambar dan mampir tepat pada pipi kanan Teng Bin Kun. Hampir berbareng dia membalik tangan lalu menggaplok pipi kiri, setelah pipi kiri, pipi kanan pula dan sesudah pipi kanan pipi kiri lagi, semuanya empat gaplokan.
Gerakan tangan si nenek tidak begitu cepat dan bisa dilihat nyata oleh semua orang. Tapi Teng Bin Kun sendiri merasakan bahwa dirinya ditindih semacam tenaga yang tak kelihatan sehingga kaki tangan tak bisa bergerak.
“Popo, aku sudah mahir dalam pukulan itu,” kata Cu-jie sambil tertawa. “Aku hanya tidak mempunyai tenaga dalam yang besar. Coba kujajal lagi!”
Saat itu Teng Bin Kun masih berada di bawah kekuasaan si nenek sehingga dia masih belum bisa bergerak. Melihat sambaran telapak tangan Cu-jie, saking marahnya ia merasa seolah-olah dadanya hendak meledak.
BERLAYAR
Pada detik terakhir tiba-tiba Cie Jiak melompat dan menangkis tangan Cu-jie. “Cici, harap tahan!” katanya. Ia berpaling dan berkata lagi. “Popo, barusan Ceng Cu Suci menyatakan bahwa biar pun ilmu silat kami tidak bisa menandingi Popo tetapi kami tidak bisa membiarkan Popo menghina kami.”
Si nenek tertawa kemudian berkata, “Lidah perempuan she Teng itu sangat beracun. Dia menentang kau sebagai Ciang-bun-jin, tapi kau masih mau melindungi dia.”
“Orang luar tidak dapat mencampuri urusan dalam dari partai kami,” kata nona Ciu. “Aku yang rendah telah menerima warisan Siansu dan biar pun berkepandaian cetek, aku tidak bisa mempermisikan orang luar menghina saudari seperguruanku.”
Si nenek tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Bagus!” katanya. Baru saja berkata begitu, dia sudah batuk-batuk lagi dengan hebatnya. Buru-buru Cu-jie menyodorkan sebutir pil yang lalu ditelannya dengan napas tersengal.
Beberapa saat kemudian, sesudah batuknya mereda, kedua tangan si nenek tiba-tiba menyambar, tangan kanannya menekan punggung dan tangan kirinya menindih dada Cie Jiak. Gerakan itu dilakukan dalam kecepatan kilat dan nona Ciu tidak berdaya lagi karena jari tangan Kim-hoa Popo telah menempel pada jalan darah mematikan. Dengan mata terbelalak Cie Jiak mengawasi lawannya.
“Ciu-kouwnio, kepandaianmu masih amat rendah,” kata si nenek. “Bagaimana bisa gurumu menyerahkan kedudukan Ciang-bun-jin kepadamu?”
Cie Jiak tahu bahwa begitu si nenek menekan dengan tenaga dalam maka nyawanya akan melayang. Namun begitu ingat gurunya, semangatnya berkobar. Sambil mengacungkan tangannya dia berkata dengan suara nyaring,
“Popo, inilah cincin besi tanda Ciang-bun-jin yang dimasukkan ke jari tanganku oleh Siansu sendiri. Apa kau masih sangsi?”
Si nenek tersenyum, “Tugas seorang Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay sangat berat,” katanya. “Setiap Ciang-bun-jin harus memikul beban yang tidak ringan. Apakah gurumu tak pernah memberi-tahu soal itu kepadamu? Kurasa belum tentu!”
“Tentu saja Siansu memberi-tahu soal itu kepadaku,” kata Cie Jiak. Berbareng dengan jawabannya, jantung nona Ciu melonjak. “Kenapa dia tahu rahasia partaiku?” tanyanya di dalam hati.
Sementara itu dengan hati berdebar-debar Bu Kie memperhatikan semua perkembangan. Melihat sikap Cie Jiak yang sangat keras, dia kuatir bahwa dalam marahnya Kim-hoa Popo akan menurunkan tangan jahat. Dalam bingungnya dia hendak bergerak melompat keluar, tapi tangannya dicekal Tio Beng yang melarangnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Se-konyong-konyong si nenek tertawa terbahak.
“Biat-coat Suthay tidak salah mata,” katanya. “Biar pun ilmu silatnya cetek, Ciang-bun-jin yang dipilihnya adalah seorang yang berwatak keras. Memang benar bahwa ilmu silat dapat dipertinggi dengan pelajaran dan latihan. Sungai dan gunung mudah diubah, tetapi watak manusia susah diubah.”
Sebenarnya Cie Jiak sendiri sudah ketakutan setengah mati. Tadi keberaniannya muncul karena teringat pesan sang guru. Sementara itu di mata saudara saudari seperguruannya derajat nona Ciu naik tinggi. Dia sudah memperlihatkan kemuliaan hatinya bahwa dengan mengesampingkan kepentingan pribadi dia menolong Teng Bin Kun. Dia pun sudah membuktikan wataknya yang kuat dalam menghadapi kebinasaan. Mendadak Ceng Cu mengibaskan pedangnya sambil memberi komando dengan teriakan. Para murid Go-bi lantas berpencaran, menghunus senjata dan mengurung pendopo.
“Apa yang kau mau?” tanya si nenek sambil tertawa.
“Apa maksud Popo dengan menculik ciang-bun-jin partai kami?” Ceng Cu balas bertanya.
Si nenek batuk-batuk. “Apa kalian hendak menekan aku dengan jumlah yang lebih besar?” tanyanya dengan suara memandang rendah. “Huh, huh...! Di mata Kim-hoa Popo, sepuluh kali lipat lebih besar dari jumlah ini masih belum masuk hitungan.“
Mendadak dia melepaskan Cie Jiak, badannya berkelebat dan tahu-tahu jarinya menyambar mata Ceng Cu. Nikouw itu menangkis dengan pedangnya. Akan tetapi hampir berbareng dengan teriakan kesakitan, seorang sumoi-nya sudah terguling di sampingnya.
Gerakan Kim-hoa Popo sangat cepat dan aneh. Berbareng dengan serangannya terhadap Ceng Cu, kaki kirinya menendang pinggang seorang murid Go-bi yang lain. Pada lain saat tubuh nenek itu berkelebatan di sekeliling pendopo, dan di antara suara batuk-batuk kaki tangannya menyambar-nyambar.
Dengan nekat para murid Go-bi melawan dengan senjatanya. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam sekejap saja tujuh delapan orang roboh dengan jalan darah tertotok. Totokan si nenek hebat luar biasa. Mereka menjerit dan bergulingan di tanah. Beberapa saat kemudian, sambil menepuk-nepuk kedua tangannya Kim-hoa Popo sudah kembali ke pendopo.
“Ciu-kouwnio bagaimana pendapatmu?” tanyanya. “Mana yang lebih unggul, ilmu silat Go-bi atau ilmu silat Kim-hoa Popo?”
“Tentu saja ilmu silat kami yang lebih unggul,” jawabnya. “Apa Popo sudah lupa kekalahan di tangan Siansu?”
Mata si nenek melotot. “Biat-coat Lo-ni menang berkat Ie-thian-kiam,” bentaknya dengan marah. “Dia bukan menang sewajarnya.”
“Popo,” kata Cie Jiak, “Cobalah kau bicara menurut perasaan hatimu, sejujurnya. Siapa yang lebih unggul andai kata Siansu dan Popo bertanding dengan tangan kosong?”
Si nenek tidak lantas menjawab. Untuk sejenak ia mengawasi muka si nona. Akhirnya ia menggelengkan kepala dan berkata.
“Entahlah. Aku datang ke kota raja justru untuk mendapat keputusan siapa di antara kita yang lebih unggul. Hai! Sesudah Biat-coat Suthay meninggal, rimba persilatan kehilangan seorang tokoh yang mempunyai kepandaian tinggi. Hai! Mulai sekarang Go-bi-pay menjadi partai yang lemah.”
Selagi mereka berbicara, murid Go-bi-pay yang tertotok jalan darahnya berteriak-teriak. Ceng Cu coba menolong tetapi tidak berhasil. Ternyata ilmu totok Kim-hoa Popo sangat bebeda dengan ilmu totok yang dikenal di rimba persilatan. Totokan ini hanya bisa dibuka orang yang sudah pernah mempelajarinya. Sebagai seorang yang pernah menolong sejumlah jago yang dilukai si nenek, tentu saja Bu Kie sudah mengenal kelihaian orang tua itu.
“Ciu-kouwnio, bagaimana? Apa kau takluk kepadaku?” tanya si nenek.
“Ilmu silat partai kami sangat dalam bagaikan lautan dan seseorang yang mempelajarinya tidak akan dapat berhasil dalam waktu singkat,” jawab si nona. “Kami masih berusia muda, tentu saja kami belum bisa menandingi Popo. Tapi di kemudian hari kemajuan kami tiada batasnya.”
Si nenek tertawa, “Bagus!” katanya. “Kalau begitu sekarang Kim-hoa Popo hendak minta diri. Di hari kelak bila mana ilmu silatmu sudah tidak terbatas, barulah kau membuka jalan darah dia.” Sehabis berkata begitu dia menuntun tangan Cu-jie, kemudian memutar badan dan berjalan pergi.
Cie Jiak terkejut. Kalau si nenek pergi, maka saudara-saudari seperguruannya akan binasa.
“Popo, tahan dulu!” katanya. “Aku mohon agar Popo suka menolong Suci dan Suheng-ku.”
“Aku bersedia untuk menolong, asal kau mau berjanji bahwa mulai kini orang Go-bi-pay harus menyingkir dari tempat di mana aku dan Cu-jie berada,” jawabnya.
Nona Ciu mengawasi si nenek dengan rasa mendongkol. Sebagai Ciang-bun-jin, dia pasti tidak bisa memberi janji itu yang berarti runtuhnya Go-bi-pay.
Kim-hoa Popo tertawa. “Kalau kau tidak mau menurunkan keangkeran Go-bi-pay, aku pun tidak mau memaksa, asal saja kau suka meminjamkan Ie-thian-kiam kepadaku,” katanya. “Begitu kau menyerahkan pedang itu kepadaku maka aku akan segera menolong suci dan suheng-mu.”
“Sebagaimana Popo ketahui, karena ditipu kerajaan maka kami guru dan murid telah tertawan dan terkurung di menara kelenteng Ban-hoat-si,” kata si nona. “Bagaimana Ie-thian-kiam masih bisa berada di tangan kami?”
Sebenarnya si nenek memang telah menduga hal itu. Dalam mengajukan permintaan, dia tahu harapannya sangat tipis. Tapi mendengar jawaban Cie Jiak, paras mukanya lantas terlihat sinar putus harapan. Tiba-tiba ia membentak,
“Ciu-kouwnio! Jika kau mau melindungi nama Go-bi-pay, kau tidak bisa melindungi jiwamu sendiri...” Ia mengeluarkan sebutir pil dan berkata lagi, “Ini racun yang bisa memutuskan usus manusia. Sesudah kau menelannya barulah aku akan menolong mereka.”
Sambil menyambut pil itu Cie Jiak berkata di dalam hatinya, “Suhu telah memerintahkan aku untuk menipu Thio-kongcu, tetapi sebenarnya aku tidak bisa berbuat begitu. Dari pada hidup menderita, memang lebih baik aku mati saja.”
“Ciu-sumoi, jangan telan racun itu!” teriak Ceng Cu.
Melihat keadaan mendesak, Bu Kie segera bergerak untuk melompat keluar, namun lagi-lagi tangannya dicekal Tio Beng.
“Anak tolol!” bisik si nona. “Pil itu bukan racun.”
Bu Kie terkejut dan Cie Jiak telah menelan pil tersebut. Semua murid Go-bi mencelos hatinya. Mereka segera bergerak untuk menyerang.
“Jangan banyak tingkah!” bentak si nenek.
“Racun ini tidak lantas bekerja, Ciu-kouwnio. Ikutlah aku, jika kau mendengar kata-kataku, mungkin sekali aku akan memberikan obat pemunah.” Sehabis berkata begitu ia menepuk badan murid-murid Go-bi yang tertotok.
Rasa sakit mereka lantas hilang, tetapi untuk sementara waktu belum dapat bergerak karena kaki tangan mereka masih merasa kesemutan. Melihat kegagahan dan kemuliaan nona Ciu yang sudah menolong mereka dengan menelan racun, bukan main rasa terima kasih mereka.
“Terima kasih, Ciu-sumoay!” teriak seorang.
Sementara itu seraya menarik tangan Cie Jiak, Kim-hoa Popo berkata dengan nada suara lemah lembut.
“Anak baik, ikutlah aku. Popo tak akan mencelakaimu.”
Sebelum ia sempat menyahut, nona Ciu merasa dirinya dibetot dengan tenaga yang amat besar dan tanpa terasa ia melompat. Ceng Cu berteriak.
“Ciu-sumoay...!”
Dia melompat untuk mencegat, namun tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin tajam. Itulah serangan Cu-jie. Dengan cepat dia menangkis dengan tangan kirinya. Tetapi pukulan Cu-jie hanya pukulan gertakan.
“Plakk!”
Yang benar-benar digaplok adalah pipi Teng Bin Kun. Pukulan yang diberi nama Cie-tang Tah-say (Menunjuk ke Timur, memukul ke Barat) itu adalah salah satu pukulan lihai dari Kim-hoa Popo. Sesudah menggaplok, sambil tertawa nyaring Cu-jie melompati tembok.
“Kejar!” kata Bu Kie sambil mencekal tangan Siauw Ciauw.
Mereka lantas melompati tembok. Melihat kemunculan tiga orang lain, murid Go-bi-pay tentu saja merasa kaget dan di lain saat mereka pun melompat untuk mengejar. Tapi ilmu ringan badan Kim-hoa Popo dan Bu Kie bukan ilmu ringan badan sembarangan. Waktu murid Go-bi melompati tembok, bayang-bayang mereka sudah tidak kelihatan lagi. Sesudah kejar-kejaran beberapa puluh tombak, Kim-hoa Popo membentak,
“Siapa itu?!”
“Serahkan Ciang-bun kami! Sesudah kau serahkan maka aku akan mengampuni jiwamu,” teriak Tio Beng yang kemudian berbisik di kuping Bu Kie, “Kau amati dari kejauhan, tapi jangan munculkan diri.” Sehabis berkata begitu dia mengempos semangat dan tubuhnya melesat beberapa tombak. Dia segera menikam punggung si nenek dengan pukulan Kim-teng Hud-kong (Sinar Buddha di Kim-teng), yaitu salah satu pukulan dari Kiam-hoat Go-bi-pay.
Karena memiliki kecerdasan yang luar biasa, dari latihan di kelenteng Ban-hoat-si ia sudah bisa menggunakan ilmu pedang Go-bi-pay. Biar pun tenaga dalamnya masih belum cukup namun serangannya yang dikirim dengan Ie-thian-kiam itu cukup hebat.
Mendengar sambaran angin yang luar biasa, si nenek buru-buru melepaskan Cie Jiak lalu berkelit sambil memutar tubuh. Dengan beruntun Tio Beng mengirim beberapa serangan, tetapi semuanya dapat dipunahkan secara mudah.
Melihat senjata yang digunakan si nona, Kim-hoa Popo sangat kaget bercampur girang. Ia pun merangsek dan terus menyerang. Sesudah bergebrak memakai beberapa jurus Go-bi, tiba-tiba saja Tio Beng memutar pedangnya lalu menyerang dengan pukulan Soan-hong-chiu (angin puyuh) dari Kun-lun-pay.
Dalam pertempuran itu si nenek mengira bahwa Tio Beng murid Go-bi-pay karena yang diperlihatkan adalah Kiam-hoat Go-bi-pay. Pada detik itu dia justru sedang melompat untuk menangkap pergelangan tangan si nona sambil merampas Ie-thian-kiam. Serangan mendadak dengan pukulan Kun-lun-pay itu benar2 di luar dugaannya. Dia terkesiap. Tapi sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, dalam keadaan bahaya dia tidak bingung dan secepat kilat menggulingkan badannya di tanah. Walau pun dia dapat menyelamatkan jiwa, tapi tangan bajunya tak urung kena disambar hingga robek.
Bukan main marahnya Kim-hoa Popo. Begitu melompat bangun, dia langsung menyerang dengan hebatnya. Tio Beng mengerti ilmu silatnya masih kalah jauh. Dalam pertempuran yang panjang dia pasti bakal dirobohkan. Dengan segera dia mengubah siasat. Kini dia menyerang dengan berbagai ilmu pedang, sebentar dengan Kiam-hoat Khong-tong-pay, sebentar kemudian dengan Kiam-hoat Hoa-san-pay, Kun-lun-pay, atau Siauw-lim-pay dan yang digunakannya selalu pukulan-pukulan yang paling hebat. Berkat pedang Ie-thian-kiam serangan itu menjadi dahsyat luar biasa sehingga Kim-hoa Popo tidak berani berlaku sembrono.
Cu-jie jengkel. Ia menghunus pedangnya lalu melontarkannya kepada sang Popo. Segera nenek itu menyambutnya, tetapi baru bertanding sembilan jurus, pedangnya putus dua dengan mengeluarkan suara,
“Kress...!”
Paras muka si nenek segera berubah. Dia cepat melompat keluar dari gelanggang sambil membentak.
“Bocah! Siapakah kau sebenarnya?”
Tio Beng tertawa. “Mengapa kau tidak mencabut To-liong-to?” tanyanya.
“Kurang ajar! Kalau aku memegang To-liong-to, kau sama sekali bukan tandinganku. Apa kau berani mengikuti kami untuk menjajal ilmu?”
Mendengar disebutnya To-liong-to, Bu Kie merasa heran.
“Nenek, pergilah kau ambil To-liong-to,” kata si nona sambil tertawa. “Aku menanti di kota raja. Sesudah kau bersenjatakan golok itu kita bertempur lagi.”
“Balik kepalamu kemari! Aku mau lihat mukamu lebih tegas,” kata si nenek dengan marah.
Tio-kouwnio memutar badan, mengeluarkan lidahnya dan memejamkan sebelah matanya sehingga mukanya tidak keruan macam. Si nenek mengutuk dan meludahi muka si nona. Sesudah itu dia pun berlalu menuntun Cu-jie dan Cie Jiak.
“Kejar lagi!” kata Bu Kie.
“Tak perlu tergesa-gesa. Aku tanggung keselamatan Ciu-kouwniomu tak akan terganggu.”
“Mengapa tadi kau menyebut To-liong-to?”
“Waktu berhadapan dengan murid-murid Go-bi-pay, nenek itu mengatakan bahwa seorang sahabat lama bersedia meminjamkan sebatang golok mustika padanya dan dengan golok itu dia ingin bertempur lagi dengan Biat-coat Suthay. Ie thian put cut, swee ie ceng hong (kalau Ie-thian tidak keluar, siapa lagi yang bisa melawan ketajamannya?). Untuk melawan Ie-thian-kiam, orang harus menggunakan To-liong-to. Aku bertanya dalam hatiku, apakah dia sudah berhasil meminjam To-liong-to dari ayah angkatmu, Cia-locianpwe? Maka itulah tadi aku menyerang dengan Ie-thian-kiam, dan maksudku adalah untuk memaksa ia mengeluarkan To-liong-to. Tapi ternyata ia tidak membawa golok mustika itu dan hanya menantang agar aku mengikuti dia untuk menjajal Ie-thian-kiam dengan To-liong-to. Dari perkataannya itu mungkin sekali dia sudah tahu di mana adanya To-liong-to, tetapi belum bisa mendapatkan golok itu,” katanya.
Mendengar keterangan itu Bu Kie manggut-manggut. “Ya, memang benar sekali bahwa golok itu berada di tangan Gie-hu,” katanya.
“Menurut dugaanku ia akan segera pergi ke pantai lalu menyeberangi lautan guna mencari golok itu,” kata Tio Beng. “Kita harus mendahuluinya supaya Cia-locianpwe yang buta dan berbaik hati tidak sampai kena diperdayai perempuan tua itu.”
Darah Bu Kie bergolak. “Benar! Benar katamu!” katanya dengan tergesa gesa.
Pada waktu meluluskan permintaan Tio Beng yang ingin meminjam To-liong-to, dia hanya mempertahankan sifat lelaki yang takkan menjilat ludah sendiri. Tapi sekarang, mengingat keselamatan ayah angkatnya, dia ingin sekali mempunyai sayap supaya dia dapat segera terbang melindungi ayah angkatnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi Tio Beng segera mengajak Bu Kie dan Siauw Ciauw ke gunung Ong-hu. Dia tidak masuk ke dalam melainkan hanya berbicara dengan penjaga pintu yang sesudah mendengar pesanan sang majikan cepat masuk ke dalam, lalu keluar lagi dengan menuntun sembilan ekor kuda yang jarang kelihatan dan menenteng buntalan yang berisi emas dan perak.
Tio Beng bertiga lantas melompat ke punggung tunggangannya yang terus dikaburkan ke arah timur. Enam ekor kuda lainnya mengikuti dari belakang untuk ditunggangi secara bergantian supaya mereka tidak terlalu lelah. Pada keesokan paginya kesembilan kuda itu dapat dikatakan sudah tidak bisa berlari lagi. Dengan memperlihatkan kim-pay (tanda perintah) Jie Lam Ong, Tio Beng lantas menemui pembesar setempat kemudian menukar kuda-kudanya dengan tunggangan yang masih segar.
Malam itu mereka tiba di kota pesisir. Nona Tio menemui pembesar kota dan memerintahkan agar ia segera menyediakan sebuah perahu besar yang kuat dan lengkap segalanya. Ia pun memerintahkan agar semua perahu yang berada di pelabuhan segera berlayar ke arah selatan dan di sepanjang pantai kota itu dalam jarak seratus li, tak boleh ada perahu apa pun yang berlabuh. Belum cukup satu hari, segalanya sudah siap sedia. Tio Beng, Bu Kie dan Siauw Ciauw segera bertukar pakaian pelaut, memasang kumis palsu, memoles muka dengan semacam cat air sehingga warna kulit menjadi berubah, kemudian turun ke perahu untuk menunggu Kim-hoa Popo.
Tebakan Beng Beng Kuncu betul-betul lihay. Kira-kira magrib sebuah kereta tiba di pantai dengan diiringi Kim-hoa Popo yang menuntun Cie Jiak dan Cu-jie. Si nenek segera pergi ke sebuah perahu, yaitu satu-satunya kendaraan air yang berlabuh di pesisir itu dan menyewanya. Anak buah kapal yang sudah menerima pesan Tio Beng, semula menolak. Setelah Kim-hoa Popo menyerahkan sepotong emas, dengan sikap apa boleh buat pemimpin kapal meluluskan permintaannya. Begitu sang nenek turun, kapal segera memasang layar lalu berangkat ke arah timur.
Di atas samudera yang seolah tidak berbatas, segera perahu berlayar ke arah tenggara. Perahu itu amat besar dan bertingkat dua. Di atas geladak, di kepala perahu dan di kanan kirinya terdapat meriam. Perahu itu adalah perahu meriam Mongol. Dulu bangsa Mongol pernah berniat menyerang negeri Jepang lalu mempersiapkan perahu perang. Di luar dugaan angkatan laut itu diserang topan sehingga berantakan dan niatan itu menjadi gagal. Ketika berlabuh di pantai perahu itu terlihat seperti batu karang. Tapi di atas samudera dia menyerupai selembar daun yang terombang-ambing menjadi permainan tiupan angin.
Dengan menyamar sebagai anak buah perahu, Thio Bu Kie, Tio Beng serta Siauw Ciauw bersembunyi di bagian bawah perahu. Hari itu Tio Beng merasa terkejut dan kuatir sekali ketika hendak turun ke perahu. Dia sama sekali tak menduga bahwa pembesar setempat menyediakan sebuah perahu meriam dari angkatan laut Mongol. Hal ini dapat membuka rahasia. Tetapi sebagai seorang yang amat pintar si nona dapat memikirkan satu jalan untuk memperdayai Kim-hoa Popo. Dia segera memerintahkan agar perahu itu membawa sejumlah jala dan beberapa ton ikan basah. Dengan begitu nenek Kim-hoa akan percaya bahwa lantaran sudah tua maka perahu perang itu telah diubah menjadi semacam perahu penangkap ikan.
Ketika tiba di pantai, karena tidak mendapatkan kendaraan air lainnya maka tanpa curiga Kim-hoa Popo segera menyewa perahu tersebut. Dari lubang jendela Bu Kie dan Tio Beng memperhatikan jalannya matahari dan rembulan yang selalu naik dari sebelah kiri perahu. Mereka pun tahu bahwa perahu sedang berlayar ke arah selatan. Pada saat itu sudah masuk musim dingin dan angin utara bertiup dengan hebatnya sehingga perahu berlayar dengan kecepatan luar biasa.
“Gie-hu berada di pulau Peng-hwee-to yang terletak di daerah Kutub Utara,” kata Bu Kie. “Tapi mengapa Kim-hoa Popo justru memerintahkan perahu ini menuju ke selatan?”
“Tentu si nenek mempunyai niat yang belum kita ketahui,” jawab Tio Beng. “Sekarang ini angin selatan belum waktunya turun sehingga biar bagaimana pun juga kita tak akan bisa berlayar ke utara.”
Pada waktu lohor di hari ketiga, salah satu anak buah memberi laporan kepada Tio Beng bahwa Kim-hoa Popo amat paham dengan jalan air yang mereka gunakan. Si nenek tahu di mana ada pulau dan di tempat mana bakal ada batu karang yang menonjol ke atas. Dia bahkan lebih paham dari pada anak buah perahu itu. Tiba-tiba Bu Kie teringat sesuatu.
“Ahh!” serunya dengan suara tertahan. “Apa dia bukan hendak pulang ke pulau Leng-coa-to?”
“Leng-coa-to apa?” menegas si nona.
“Kim-hoa Popo bersarang di pulau Leng-coa-to,” jawabnya. “Mendiang suaminya dikenal sebagai Gin-yap Sian-seng. Beberapa tahun yang lalu nama Kim-hoa dan Gin-yap dari Leng-coa-to pernah menggetarkan dunia Kangouw. Apa kau tidak tahu?”
Si nona tertawa. “Kau hanya lebih tua beberapa tahun dariku, tapi dalam pengalaman kau seperti seorang kakek,” katanya.
Bu Kie turut tertawa, “Beng-kauw dikenal agama siluman, tapi agaknya anggota Beng-kauw memang sedikit lebih berpengalaman dari pada seorang kuncu yang dikeram di dalam gedung Raja Muda,” katanya.
Mereka berdua adalah musuh besar. Mereka telah beberapa kali saling mengukur tenaga dengan memimpin sejumlah jago. Tapi sekarang sesudah bergaul beberapa hari di dalam sebuah perahu dengan Kim-hoa Popo sebagai musuh umum mereka, dari musuh mereka telah berubah menjadi sahabat. Sesudah memberi laporan anak buat itu cepat kembali ke tempat kemudi.
“Thio-kauwcu,” kata Tio Beng. “Apakah kau pernah menceritakan sepak terjang Kim-hoa dan Gin-yap kepada seorang budak kecil yang dikeram di dalam gedung Raja Muda?”
Bu Kie menyeringai, “Mengenai Gin-yap Sian-seng, aku tidak punya pengetahuan apa pun,” jawabnya. “Tetapi dengan si nenek aku pernah berjumpa dan pernah menyaksikan sendiri sepak terjangnya.”
Dia segera menuturkan pengalamannya di Ouw-tiap-kok, bagaimana dia mencari Ie-sian Ouw Ceng Gu untuk minta diobati, lalu bagaimana si nenek dikalahkan Biat-coat Suthay dan akhirnya bagaimana Ouw Ceng Cu dan Ong Lan Kouw binasa di tangan si nenek. Sehabis bercerita kedua matanya mengembang air mata. Biar pun Ouw Ceng Cu beradat aneh tetapi orang itu telah memperlakukannya dengan baik sekali dan telah banyak memberi pertolongan kepadanya. Ia merasa sangat berduka bahwa orang tua itu dan isterinya telah dibinasakan secara mengenaskan, bahkan jenazah mereka digantung di pohon oleh si nenek Kim Hoa.
Dia hanya tidak menceritakan ajakan Cu-jie agar dia ikut pergi ke Leng-coa-to dan karena tampikannya itu, sebelah tangannya digigit oleh nona itu. Mungkin sekali dia merasa jengah untuk menuturkan peristiwa kecil itu. Sesudah mendengarkan cerita Bu Kie, dengan paras sungguh-sungguh Tio Beng berkata,
“Thio-kongcu, semula aku hanya menganggap nenek itu seorang tua yang ilmu silatnya sangat tinggi. Tapi dari penuturannya aku menarik kesimpulan bahwa dia orang yang amat cerdik dan bukan lawan yang enteng. Kita tidak boleh memandang rendah kepadanya.”
Bu Kie tertawa, “Kuncu Nio-nio adalah seorang Bun-bu-song-coan. Bukan saja begitu, bahkan memimpin sejumlah orang gagah yang memiliki kepandaian amat tinggi,” katanya. “Maka itu menurut pendapatku menghadapi seorang nenek sama sekali tidak menjadi soal.”
“Hanya saja di lautan ini aku tidak bisa memanggil para Busu dan Hoan-ceng.”
Bu Kie tersenyum, “Tukang masak dan anak buah yang menarik layar bukan sembarang orang,” katanya. “Biar pun mereka bukan jago kelas satu tapi pasti termasuk dalam kalangan jago-jago kelas dua.”
Si nona berkesiap. Sesudah berdiam sejenak dia lalu tertawa geli. “Aku menyerah kalah! Menyerah kalah!” katanya. “Dengan sesungguhnya harus kukatakan bahwa Thio-kauwcu memiliki mata yang sangat awas.”
Ternyata saat pulang ke Ong-hu untuk mengambil kuda dan emas perak, Tio Beng telah berpesan kepada Busu penjaga pintu agar sejumlah orang bawahannya menyusul ke pesisir untuk ikut berlayar. Orang-orang itu menggunakan kuda, tetapi mereka ketinggalan sekitar setengah hari dari majikan mereka. Mereka menyamar sebagai tukang masak dan anak buah perahu dan terdiri dari orang yang tidak turut dalam pertempuran di Ban-hoat-si. Tapi sebagai ahli silat, sinar mata, sikap dan gerak gerik mereka berbeda dengan orang biasa. Dan Bu Kie yang bermata tajam tidak kena dikelabui.
Kenyataan itu menguatirkan hati si nona. Kalau Bu Kie masih belum bisa diakali, apa lagi Kim-hoa Popo yang berpengalaman luas. Tapi untung sekali pihaknya berjumlah jauh lebih besar sehingga kalau sampai bergebrak, dengan bantuan Bu Kie dia pasti tak akan kalah.
Selama beberapa hari yang paling mengganggu pikiran Bu Kie ialah keselamatan Ciu Cie Jiak yang telah menelan pil ‘racun’. Di dalam hati ia selalu bertanya-tanya, kapan racun itu mengamuk?
Tio Beng yang pintar dapat menebak rahasia hatinya. Setiap kali alis pemuda itu berkerut segera dia memerintahkan orangnya pergi ke atas untuk menyelidiki dengan pura-pura membawa air atau teh. Orang itu lalu kembali dengan laporan yang menyenangkan bahwa nona Ciu sehat-sehat saja. Sesudah kejadian ini berulang beberapa kali, Bu Kie merasa jengah sendiri.
Sementara itu suatu ingatan lain sering mengganggu pikiran Bu Kie. Setiap ia termenung seorang diri, ia teringat peristiwa di atas salju di daerah See-hek. Ia ingat pengalamannya dengan Cu-jie. Ia ingat bagaimana kepada Ho Thay Ciong, Bu Liat dan yang lain-lain, ia pernah berkata begini, “Nona, dengan setulus hati aku bersedia menikah denganmu. Aku hanya mengharap kau jangan mengatakan bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu.” Di lain saat sambil mencekal tangan si nona, ia berkata pula, “Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung agar kau bisa melupakan penderitaanmu di masa lalu. Tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghinamu, aku bersedia mengorbankan jiwa demi keselamatanmu.”
Ia ingat semua itu. Dengan mulut berkemak-kemik dia mengulangi kata-kata itu. Mukanya lantas berubah merah.
MENEMUKAN AYAH ANGKAT
Tiba-tiba terdengar suara tertawanya Tio Beng.“Hai!” kata si nona “Lagi-lagi kau memikirkan Ciu-kouwnio-mu!”
“Tidak!”
“Kau memikirkan apa tidak dia pikirkan. Sedikit pun dia tidak ada sangkut pautnya dengan diriku. Aku hanya merasa menyesal bahwa ada seorang laki-laki gagah sudah berdusta di hadapan seorang wanita.”
“Perlu apa aku berdusta? Sesungguhnya aku tidak memikirkan Ciu-kouwnio.”
“Dusta! Kalau ingat Kouw Tauw-to, Wie It Siauw atau manusia-manusia muka jelek lainnya, paras mukamu tidak akan menunjuk sinar yang begitu lemah lembut dan penuh kasih sayang, yang kemerahan. Omong kosong kau!”
Bu Kie tertawa. “Kau sungguh lihai,” katanya. “Kau dapat membaca hati orang apakah dia tengah memikirkan orang yang cantik atau yang jelek. Tapi aku mau menerangkan dengan sesungguhnya bahwa orang yang kuingat pada detik ini sedikit pun tak ada yang berparas cantik.”
Mendengar nada suara yang sungguh-sungguh, si nona tersenyum dan tidak menggoda lagi. Biar pun pintar, dia sama sekali tidak menduga bahwa yang diingat Bu Kie adalah Cu-jie yang mukanya tak keruan macam.
Mengingat bahwa jeleknya muka Cu-jie adalah akibat latihan Cian-cu Ciat-hu-ciu, Bu Kie menghela napas. Sewaktu si nona muncul malam itu di antara murid-murid Go-bi, ia mendapat kenyataan bahwa muka Cu-jie lebih hebat dari pada dulu. Ia merasa menyesal, karena ia merasa bahwa makin mendalam Cu-jie melatih diri dalam ilmu silat itu, semakin besar pula bahaya bagi dirinya. Ia kuatir akan keselamatan si nona, baik jasmani mau pun rohani. Dengan rasa terima kasih dia ingat budi nona itu. Sesudah berada di Kong-beng-teng dan menjadi Kauwcu, karena repot dia tak sempat memikirkan segala urusan pribadi. Tapi biar pun begitu dia pernah minta bantuan Leng Kiam untuk mencarinya di seluruh Kong-beng-teng. Dia pernah minta pertolongan Wie It Siauw untuk bantu menyelidiki, tetapi usahanya sia-sia belaka. Cu-jie menghilang bagaikan batu yang tenggelam di lautan.
Kini tiba-tiba si nona muncul. Tidak usah dikatakan lagi, dia merasa sangat girang. Diam-diam dia mengutuk dirinya sendiri. Cu-jie begitu baik, lalu kenapa dia sendiri bersikap begitu tawar? Tapi pada hakekatnya pemuda itu bukan manusia yang tidak kenal budi. Sikap tawarnya itu adalah karena dia selalu memikirkan bebannya yang amat berat, baik sebagai Kauwcu dari Beng-kauw dan Bengcu dari perserikatan segenap rimba persilatan. Dia tidak sempat mengurus kepentingan pribadi. Mendadak Tio Beng tertawa nyaring,
“Ehh! Mengapa kau menghela napas?” tanyanya.
Sebelum Bu Kie menjawab, di atas perahu mendadak terdengar teriakan-teriakan. Sesaat kemudian seorang anak buah datang melapor,
“Di sebelah depan terlihat ada daratan dan nenek itu memerintahkan supaya perahu dijalankan lebih cepat.”
Bu Kie dan Tio Beng segera mengintip dari lubang jendela. Pada jarak beberapa li, mereka melihat sebuah pulau besar dengan pohon-pohon yang hijau di sebelah timur, juga terlihat beberapa gunung yang menjulang tinggi ke angkasa. Dengan angin yang bagus perahu itu berlayar dengan pesat dan dalam waktu sekitar sepemakanan nasi, dia sudah tiba di depan pulau. Di bagian timur pulau tidak terdapat pesisir yang lazimnya pasir cetek. Batu gunung di bagian itu masuk ke dalam air yang tidak diketahui berapa dalamnya. Perahu ditujukan ke jurusan timur dan segera merapat pada batu gunung yang menjulang ke atas dari pinggir air.
Baru saja perahu melepas jangkar di atas gunung, mendadak terdengar teriakan atau jeritan dahsyat menyerupai auman harimau sekaligus jeritan Naga. Suara teriakan yang berulang itu seolah menggetarkan seluruh gunung. Mendengar teriakan itu Bu Kie kaget bercampur girang karena dia mengenal teriakan ayah angkatnya, Kim-mo Say-ong Cia Sun. Sesudah berpisah selama belasan tahun keangkeran Gie-hu ternyata masih seperti dahulu. Tanpa pikir panjang lagi, cepat dia mendaki tangga dan naik di atas geledak di belakang perahu.
Dia menengadah sambil mengawasi puncak bukit atau gunung kecil itu. Dia melihat empat lelaki bersenjata sedang mengepung seorang yang bertubuh tinggi besar dan orang yang bertangan kosong itu memang bukan lain dari ayah angkatnya. Biar pun buta dan biar pun dikerubuti berempat Cia Sun tidak jatuh di bawah angin. Bu Kie belum pernah melihat ayah angkatnya yang sedang ramai bertempur, dan dia pun merasa kagum sekali. Tak heran nama Kim-mo Say-ong Cia Sun menggetarkan rimba persilatan. Ilmu silatnya lebih tinggi dari pada Ceng-ek Hok-ong, Wie It Siauw dan kira-kira setanding dengan kakeknya.
Tapi keempat musuh itu pun bukan lawan enteng. Dari kejauhan Bu Kie tidak bisa melihat dengan jelas muka mereka. Tapi dilihat dari pakaian mereka yang compang camping dan karung yang menggemblok pada punggung mereka, bisa dipastikan mereka adalah anggota Kaypang. Tiga orang lain berdiri menonton, kalau empat kawannya kalah, mereka tentu akan segera turut turun tangan. Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang,
“Serahkan To-liong-to! Golok tukar dengan jiwa!”
Meski pun kupingnya amat tajam, Bu Kie tidak bisa menangkap semua perkataan itu. Tapi dia sudah tahu bahwa musuh itu datang menyateroni untuk merebut To-liong-to! Cia Sun tertawa terbahak,
“To-liong-to ada di sini! Ambillah sendiri kalau kau mampu!” teriaknya. Selagi mulutnya berbicara, perlawanannya sedikit pun tak menjadi kendor.
Dengan sekali berkelebat, Kim-hoa Popo mendarat. Sambil batuk-batuk dia berteriak,
“Para pendekar Kaypang! Apa maksud kalian? Tanpa bicara dulu dengan si nenek, kalian mengganggu tamu terhormat dari Leng-coa-to.”
Sekarang Bu Kie mendapat kepastian bahwa pulau itu benar Leng-coa-to. Ia merasa amat heran. Dulu ayah angkatnya menolak untuk kembali ke Tiong-goan. Mengapa kini ia suka mengikuti Kim-hoa Popo? Cara bagaimana si nenek tahu bahwa ayah angkatnya berada di Peng-hwee-to? Mendengar teriakan nyonya rumah, keempat orang itu rupanya menjadi bingung. Mereka lalu memperhebat serangan dalam usaha untuk menjatuhkan Cia Sun secepat mungkin. Tetapi dengan berbuat begitu mereka justru melakukan kesalahan besar.
Karena kedua matanya sudah buta, Cia Sun melawan dengan mengandalkan kupingnya. Dia menangkis setiap serangan dengan mendengar sambaran angin dari pukulan musuh. Dengan memperhebat serangan, sambaran makin keras dan hal ini malah memudahkan perlawanan Cia Sun. Di lain saat, sambil membentak keras Cia Sun meninju dan tinju itu mampir di dada salah seorang musuh. Orang itu berteriak nyaring dan roboh tergelincir ke bawah, kemudian jatuh di atas batu hingga kepalanya hancur. Melihat itu, salah seorang yang menonton lantas saja membentak,
“Mundur!”
Dia melompat dan meninju dengan tenaga yang ‘seperti ada dan seperti tidak ada’ sehingga Cia Sun tak bisa membedakan arah sambarannya. Pada waktu tinju hanya terpisah beberapa dim dari tubuhnya, barulah dia bisa merasakan sambarannya kemudian menangkis dengan terburu-buru. Sementara itu ketiga orang yang tadi mengeroyok telah melompat keluar dari gelanggang. Di lain saat seorang kakek lain yang tadi menonton kini turut membantu kawannya. Ia pun menyerang dengan pukulan ‘lembek’ sehingga baru bertempur beberapa jurus saja Cia Sun menjadi repot sekali.
“Kie-tianglo! The-tianglo!” teriak Kim-hoa Popo. “Kim-mo Say-ong buta matanya. Dengan menyerang secara licik percuma saja kalian memiliki nama besar di dunia Kangouw.“ Seraya berkata begitu, bagaikan terbang ia terus mendaki gunung. Dengan menggunakan seluruh tenaganya Cu-jie mengikuti dari belakang.
Karena kuatir akan keselamatan ayah angkatnya, Bu Kie juga segera menyusul. Tio Beng memburu dan menyandaknya.
“Dengan adanya nenek itu, kau tidak usah kuatir,” bisiknya. “Yang paling penting kau tidak boleh memperkenalkan dirimu.”
Bu Kie mengangguk dan sambil memegangi tangan si nona, dia terus berlari di belakang Cu-jie. Sambil mengikuti dengan rasa kagum dia mengawasi potongan badan Cu-jie yang langsing dan gemulai. Kalau mukanya tidak jelek karena latihan ilmu sesat, si nona pasti tak akan kalah dengan Tio Beng, Cie Jiak mau pun Siauw Ciauw. Mengingat ini, jantungnya berdebar keras. Tapi di lain detik dia mengutuk dirinya sendiri.
“Bu Kie! Bu Kie! Kau benar-benar edan!” katanya di dalam hati. “Ayah angkatmu sedang menghadapi bencana, kau masih bisa memikirkan yang gila-gila!”
Tak lama kemudian ia tiba di pinggang gunung. Ia mendapat kenyataan bahwa ayah angkatnya melawan dengan pukulan-pukulan pendek. Itulah siasat untuk membela diri. Ia memunahkan serangan-serangan musuh dengan Siauw-kim-na-chiu (ilmu mencengkeram dan membanting dengan jarak pendek). Dengan siasat itu untuk sementara waktu Cia Sun memang bisa menyelamatkan diri, tetapi sangat sukar baginya untuk bisa memperoleh kemenangan.
Sambil menyembunyikan diri di balik batang pohon siong, Bu Kie mengawasi ayah angkatnya. Muka orang tua itu terlihat lebih banyak kerutan, sedangkan rambutnya sudah hampir putih semua. Rupanya selama belasan tahun berada di pulau Peng-hwee-to, dia banyak menderita hingga cepat tua. Bu Kie ikut menderita. Dia ingin sekali turut menyerbu menghajar musuh. Dia ingin sekali memeluk orang tua itu lantas memperkenalkan dirinya. Tio Beng mengerti apa yang dipikirkan pemuda itu. Dia memegang tangan Bu Kie erat-erat dan menggelengkan kepala. Tiba-tiba Kim-hoa Popo berkata dengan suara nyaring.
“Kie-tianglo, Im-san-ciang Liok-kiu tersohor di dunia Kangouw. Mengapa kau malu-malu kucing dan menyembunyikan dalam pukulan Sin-ciang? Ahh! The-tianglo lebih tolol lagi. Menyembunyikan Hui-hong Hud-liu-kun di dalam Pat-kwa-kun. Apa kau kira Cia-tayhiap tidak tahu? Oh oh... uh uh... uh... uh...“ Ia batuk-batuk. “Dahulu kaypang adalah sebuah partai besar yang dihormati sebagai partai yang selalu menolong sesama manusia... uh huk huk... sayang, sungguh sayang...! Makin lama makin busuk...”
Karena tidak dapat melihat pukulan musuh yang sangat licik itu, Cia Sun memang sedang bingung. Dia girang mendengar petunjuk si nenek. Pada detik The-tianglo mau mengubah pukulannya, dia segera membarengi dengan tinjunya. Hampir berbareng beradunya kedua tinju kanan, The-tianglo terhuyung satu dua langkah. Untung dia pun memiliki kepandaian tinggi sehingga tidak sampai roboh. Sebelum Cia Sun dapat mengirim serangan susulan, Kie-tianglo sudah merangsek untuk menolong kawannya.
Bu Kie melihat kenyataan bahwa Kie-tianglo bertubuh kate gemuk dan dengan mukanya yang bersinar merah, dia menyerupai tukang potong babi. Di lain pihak The-tianglo berbadan kurus kering. Di kejauhan berdiri seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Ia pun mengenakan pakaian kaypang dengan perbedaan bahwa pakaiannya yang rombeng kelihatan bersih. Di punggungnya menggemblok delapan lembar karung. Bahwa seorang muda seperti dia bisa menjadi Tianglo (tetua) dengan tanda delapan karung, adalah kejadian yang luar biasa. Beberapa kali Bu Kie mengawasi dia. Ia merasa pernah bertemu, tapi lupa di mana dan lagi kapan pertemuan itu terjadi. Tiba-tiba pemuda itu berkata,
“Kim-hoa Popo, terang-terangan kau tidak membantu Cia Sun, tetapi gelap-gelapan kau membantu juga. Apa kau tidak curang?”
“Apakah tuan adalah Tianglo dari Kay-pang?” tanya si nenek dengan suara tawar. “Maaf, nenekmu belum pernah bertemu muka denganmu.”
“Tentu saja Popo tidak mengenal aku, karena belum lama aku menduduki kursi Tianglo,” jawabnya. “Aku she Tan, namaku Yu Liang.”
Tan Yu Liang! Bu Kie lantas saja ingat. Waktu Thay-suhu mengajaknya ke Siauw-lim-si untuk berobat, salah seorang murid Siauw-lim telah menghafal Bu-tong Kiu-yang-kang dengan hanya sekali membaca. Murid Siauw-lim itu bukan lain dari pada Tan Yu Liang. Bagaimana sekarang dia menjadi Tianglo dari partai pengemis? Tetapi hal itu tidaklah terlalu mengherankan. Memang banyak anggota partai lain yang masuk ke dalam kaypang. Bahwa ia bisa menjadi Tianglo bukan kejadian luar biasa. Ia berotak cerdas. Dengan memiliki ilmu silat Siauw-lim-si dan Bu-tong Kiu-yang-kang, tak heran kalau dia menduduki kedudukan penting di partai itu.
“Apa murid Bu-tong pun masuk ke dalam kaypang?!” bentak Kim-hoa Popo.
Dari suara Tan Yu Liang, Bu Kie tahu bahwa orang itu mempunyai lweekang Bu-tong-pay. Ternyata dia sudah melatih diri dengan Bu-tong Kiu-yang-kang yang dicurinya. Mendengar bentakan si nenek, Bu Kie mendongkol bukan main.
“Tak tahu malu!” katanya di dalam hati. Berbareng dengan itu, dia pun merasa kagum atas ketajaman mata Kim-hoa Popo.
Tan Yu Liang tertawa. “Benar-benar lucu,” katanya. “Aku adalah murid Siauw-lim-si, tetapi si nenek berkukuh bahwa aku anggota dari partai lain.“ Suaranya terdengar keras disertai Siauw-lim Kiu-yang-kang.
Bu Kie terkejut sekali. Orang itu sudah mempelajari Kiu-yang-kang dari Siauw-lim dan Bu-tong dan benar-benar lihai. Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lengan kiri The-tianglo kembali diayunkan dengan tinjunya ke arah kepala Cia Sun. Tiga murid Kay-pang yang tadi mundur dari gelanggang, dengan serentak menerjang lagi dengan senjata mereka. Ilmu silat ketiga orang itu kalah jauh dari kedua Tianglo, tetapi penyerbuan mereka menambah kerepotan Cia Sun.
Orang tua itu bukan saja tidak dapat melihat, tapi semenjak kedua matanya buta dia pun belum pernah bertempur sehingga dia tidak memiliki pengalaman. Hari ini pertama kali dia berhadapan dengan lawan berat dan berkelahi dengan hanya mengandalkan ketajaman kupingnya. Dengan bertambahnya musuh bersenjata ia lantas jatuh di bawah angin sebab ia sulit membedakan yang mana sambaran tinju dan yang mana sambaran senjata tajam. Dalam sekejap bahunya terbacok. Melihat bahaya, Bu Kie bersiap untuk menolong.
“Kim-hoa Popo tak mungkin tidak menolong,” bisik Tio Beng sambil memegang erat tangan pemuda itu.
Tetapi si nenek masih tenang-tenang saja. Sambil bersandar dengan tongkatnya ia hanya tersenyum dingin. Di lain detik betis Cia Sun kena tendangan Tianglo. Tendangan itu sangat hebat sehingga Cia Sun terhuyung dan hampir roboh. Lima anggota kaipang menjadi girang. Sambil berteriak mereka memperhebat serangan.
Bu Kie sudah siap sedia. Sebelah tangannya memegang tujuh butir batu kecil. Pada detik yang sangat berbahaya ia menimpuk dan tujuh butir batu itu segera menyambar ke arah lima musuh. Tetapi sebelum batu itu mampir pada sasarannya, mendadak terlihat berkelebatnya sehelai sinar hitam.
“Trangg!”
Tiga senjata putus dan empat sosok tubuh manusia juga putus kemudian jatuh ke lereng gunung! Di antara kelima musuh itu hanya The-tianglo yang masih hidup dan cuma putus lengan kanannya. Ia menggeletak di tanah dengan punggung tertancap sebutir batu yang ditimpukkan oleh Bu Kie. Keempat musuh yang sudah binasa juga tak luput dari sasaran batu. Tetapi batu-batu itu sudah didahului babatan golok sehingga bantuan Bu Kie sebenarnya tidak perlu lagi.
Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata saja. Di lain detik Cia Sun kelihatan berdiri sambil memegang sebatang golok berwarna hitam. Golok itu bukan lain ‘Bu-lim Cie-cun’ To-liong-to! Sembari melintangkan senjatanya Kim-mo Say-ong berdiri tegak dengan semangat bergelora dan keangkeran yang tiada taranya sehingga dia seolah-olah malaikat yang baru turun dari atas langit. Sedari kecil Bu Kie sudah sering melihat golok mustika itu, tetapi dia tak pernah menduga bahwa To-liong-to sedemikian hebat.
“Bu lim cie cun... po to to liong...! Bu lim cie cun... po to to liong (yang termulia dari rimba persilatan adalah golok mustika To-liong)!” The-tianglo yang lengannya sudah putus terus berteriak-teriak.
Dengan paras muka pucat Tan Yu Liang berkata, “Cia-tayhiap, aku takluk dengan ilmu silatmu. Aku mohon kau suka mengampuni jiwa The-tianglo dan membiarkan dia turun gunung. Aku bersedia menggantikan jiwanya dengan jiwaku sendiri. Cia-tayhiap kau turun tanganlah!”
Semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda itu mempunyai ‘gie-khie’ (perasaan persahabatan) demikian besar. ‘Gie’ adalah sesuatu ilmu silat yang amat hebat di rimba persilatan dan tiada bandingannya di kolong langit ini. Sejenak kemudian Cia Sun berkata,
“Benarkah kau bersedia menyerahkan jiwamu untuk ditukar dengan jiwanya?” tanyanya sambil menunjuk The-tianglo yang masih menggeletak di atas tanah.
“Benar, Cia-tayhiap.”
“Baiklah. Kau boleh pilih dengan cara bagaimana kau ingin mampus.”
“Ilmu silat Cia-tayhiap begitu tinggi, percuma juga kalau aku melawan,” kata Tan Yu Liang dengan paras duka. “Sebab itu locianpwe boleh turun tangan, aku takkan melawan sama sekali.”
Mendengar perkataan pemuda itu, Cia Sun segera teringat peristiwa puluhan tahun silam ketika dia membinasakan Kong-kian Taysu. Pada waktu itu pendeta suci dari Siauw-lim-si dipukulnya tanpa melakukan perlawanan sehingga akhirnya jiwa Kong-kian Taysu melayang. Semenjak itu dia menyesal bukan main dan perasaan itu masih menghantuinya sampai sekarang.
“Takkan melawan? Huh huh...!” Cia Sun mendengus. “Andai kata melawan juga, apa kau kira akan mampu mempertahankan jiwamu?”
“Aku akan mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi dan sepuluh tahun kemudian aku akan menemui Cia-tayhiap lagi.”
Kalau mau, dengan sekali membabat saja Cia Sun bisa membinasakan Tan Yu Liang dan menyingkirkan ancaman di hari kemudian. Tapi ia seorang yang bernyali sangat besar dan sedikit pun ia tak merasa jeri terhadap ancaman itu.
“Baiklah,” katanya. “Kalau lohu masih hidup, sepuluh tahun mendatang lohu akan meminta pelajaran mengenai sinkang dari Siauw-lim dan Bu-tong.”
Tan Yu Liang merangkap kedua tangannya dan sambil membungkuk dia berkata kepada Kim-hoa Popo.
“Kay-pang sudah mengacau di pulau ini dan untuk itu aku minta maaf.“ Sesudah itu dia mendukung The-tianglo kemudian berlalu.
Seperginya Tan Yu Liang, dengan mata melotot lebar Kim-hoa Popo mengawasi Bu Kie.
”Bocah, ilmu menimpukmu lihai juga!” katanya. “Tapi mengapa di dalam kedua tanganmu kau memegang tujuh butir batu? Apakah sebutir untuk Tan Yu Liang dan sebutir lagi untuk aku sendiri?”
Bu Kie terkejut karena ternyata si nenek dapat menebak niatnya. Ia tak bisa segera menjawab dan hanya tersenyum.
“Bocah!” Kim-hoa Popo membentak dengan marah. “Siapa kau? Mengapa kau menyamar sebagai anak buah kapal? Kenapa kau menguntit nenekmu? Bocah! Kau tidak boleh main gila di hadapan Kim-hoa Popo,.”
Dibentak begitu, Bu Kie yang tidak bisa berdusta jadi gugup. Untung Tio Beng lantas menolong. Dengan mengubah suaranya si nona berkata.
“Kini orang-orang Kie-keng-pang sudah biasa berdagang tanpa modal di lautan terbuka. Popo telah mengeluarkan banyak uang untuk menyewa kapal ini, halangan apa kalau kami mengantar Popo? Melihat Kay-pang menghina orang mengandalkan jumlah besar, saudaraku telah membantu. Maksudnya baik sekali. Di luar dugaan Cia-tayhiap memiliki kepandaian begitu tinggi sehingga bantuan itu sebenarnya tidak perlu.“ Ia bicara dengan nada seorang pria yang agak terlalu nyaring. Untungnya si nenek tidak memperhatikan keganjilan itu.
Cia Sun mengibaskan tangan kirinya sambil berkata, “Terima kasih. Kalian pergilah. Hai...! Kim-mo Say-ong telah jatuh di tanah datar dan dalam hal ini dia mesti menerima bantuan Kim-keng-pang. Selama berpisah dengan dunia kangouw kira-kira dua puluh tahun, di rimba persilatan banyak bermunculan orang pandai. Hai...! Sebenarnya perlu apa aku kembali di Tiong-goan?” dia mengeluarkan kata-kata itu dengan suara berduka.
Timpukan Bu Kie sudah mengejutkan hatinya karena dari sambaran angin dia tahu bahwa orang yang menimpuk adalah seorang berkepandaian sangat tinggi yang jarang terdapat di dunia. Di samping itu dia telah berhasil membinasakan musuhnya hanya karena bantuan To-liong-to. Tanpa terasa dia teringat kegagahannya dua puluh tahun yang lalu saat dia mengamuk di pulau Ong-poan-san. Mengingat perbedaan antara dahulu dan sekarang, dia menjadi berduka.
“Cia-hiante,” kata Kim-hoa Popo, “Aku tidak membantumu sebab aku tahu bahwa kau dan aku selamanya tidak suka dibantu orang. Cia-hiante, apa kau tidak marah?”
Mendengar si nenek menyebut ayah angkatnya dengan istilah ‘hiante’ (adik), Bu Kie kaget tercampur heran.
“Tidak usah menyebut marah atau tidak marah,” kata Cia Sun. “Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? Apakah kau sudah mendapat kabar tentang anakku Bu Kie?”
Bu Kie terkesiap. Hampir berbareng dia merasa tangannya dipijit Tio Beng. Ia tahu bahwa si nona melarangnya bergerak. Tadi karena tidak menghiraukan nasihat Tio Beng, hampir saja dia berurusan dengan si nenek karena urusan batu. Maka itu sekarang dia tak berani berlaku sembrono lagi dan sebisanya menahan hati.
“Belum! Aku tidak berhasil,” jawab si nenek.
Cia Sun menghela napas. Setelah berdiam beberapa saat dia pun berkata, “Han-hujin, kita berdua adalah saudara. Kau tak boleh menipu aku karena mataku buta. Bilanglah! Apakah anakku Bu Kie masih hidup?”
Sebelum si nenek menjawab, mendadak Cu-jie mendahului. “Cia-tayhiap...“ Tetapi dia tidak bisa meneruskan perkataannya karena tangannya dipijit oleh nenek Kim-hoa yang menatap wajahnya dengan melotot.
“In-kouwnio,” kata Cia Sun tergesa-gesa. “Bicaralah terus! Hayo... Apa Popo menipu aku? Dia berdusta, bukan?”
Air mata si nona mengalir turun di kedua pipinya. Dengan wajah menyeramkan si nenek menempelkan telapak tangannya pada batok kepala Cu-jie. Si nona tahu bahwa dia bakal binasa seketika kalau dia berani bicara secara bertentangan dengan kemauan popo-nya.
“Cia-tayhiap,” katanya. “Popo tidak menipu kau. Kami tidak mendapat kabar apa pun juga tentang Thio Bu Kie.”
Paras muka si nenek berubah terang, dia mengangkat tangannya dari batok kepala Cu-jie tapi tangan kirinya masih tetap mencekal pergelangan tangan si nona.
“Apa saja yang didengar olehmu?” tanya pula Cia Sun. “Bagaimana dengan Beng-kauw? Bagaimana dengan sahabat-sahabat lama?”
“Aku tidak tahu,” jawab si nenek. “Aku tidak peduli dengan urusan Kangouw. Yang penting bagiku adalah mencari Biat-coat Suthay untuk membalas sakit hati. Urusan lain tidak ada yang menarik hatiku.”
“Bagus!” teriak Cia Sun dengan marah. “Han-hujin, apa yang kau katakan hari itu di pulau Peng-hwee-to? Kau mengatakan bahwa Thio Ngote suami isteri sudah bunuh diri di Bu-tong-san. Kau mengatakan bahwa anakku Bu Kie sudah menjadi yatim piatu yang terlunta-lunta di dunia Kangouw dan di mana-mana dihina orang. Kau mengatakan, sungguh kasihan anak itu! Bukankah kau mengatakan semua itu?”
“Benar!”
“Kau mengatakan bahwa anakku terkena pukulan Hian-beng Sin-ciang sehingga siang malam dia menderita kedinginan. Kau mengatakan juga bahwa kau telah bertemu dengan dia di Ouw-tiap-kok. Kau coba membawa dia ke Leng-coa-to tetapi dia menolak. Begitu yang dikatakan olehmu, bukan?”
“Benar! Apa bila aku menipu kau, biarlah aku dikutuk langit dan bumi. Kalau aku berdusta biarlah Kim-hoa Popo menjadi manusia hina dina di rimba persilatan.”
“In-kouwmo, aku ingin mendapat keteranganmu,” kata Cia Sun.
“Memang benar apa yang dikatakan Popo,” kata Cu-jie. “Aku sudah membujuk dia untuk ikut kami ke Leng-coa-to. Tetapi dia bukan saja menolak, bahkan dia menggigit belakang tanganku. Sampai sekarang masih ada tandanya. Aku tidak berdusta.”
Mendengar keterangan itu tiba-tiba Tio Beng memijit tangan Bu Kie, sedangkan kedua matanya terlihat sinar mengejek dan mendongkol. Muka Bu Kie berubah merah. Sekonyong-konyong si nona mengangkat tangan Bu Kie ke mulutnya kemudian menggigit belakang tangan si pemuda itu. Darah lantas mengalir keluar. Karena gigitan itu, Kiu-yang Sin-kang yang berada di tubuh Bu Kie langsung bergerak secara wajar untuk melawan serangan itu akibatnya, bibir si nona pecah dan berdarah. Tapi sambil menahan sakit mereka tidak mengeluarkan suara.
Dengan rasa heran Bu Kie mengawasi nona Tio. Ia tidak tahu kenapa nona itu menggigit tangannya. Di lain pihak nona Tio balas mengawasi dengan sinar mata tertawa dan paras muka kemerah-merahan. Dalam keadaan begitu, biar pun mulutnya berlepotan darah dan biar pun di atas bibirnya terdapat kumis palsu, ia kelihatan cantik luar biasa.
Mendadak terdengar teriakan Cia Sun. “Bagus! Han-hujin, hanya karena memikirkan nasib anakku Bu Kie, maka aku rela berlalu dari Peng-hwee-to dan pulang ke Tiong-goan. Kau berjanji akan mencari anakku. Mengapa sekarang kau tidak menepati janjimu?”
Bu Kie tak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Air matanya lantas mengucur. Sekarang dia tahu bahwa ayah angkatnya rela menempuh segala bahaya, rela menghadapi musuh yang berjumlah besar dengan kedua mata tidak bisa melihat, karena memikirkan dirinya.
“Apa kau lupa perjanjian kita?” tanya Kim-hoa Popo. “Aku akan mencari Thio Bu Kie dan kau akan meminjamkan To-liong-to padaku. Cia-hiante, begitu kau menepati janjimu maka aku pun akan segera menyelidiki anak itu sungguh-sungguh. Perkataan Kim-hoa Popo berat bagaikan gunung. Tak akan aku mungkir janji.”
Cia Sun menggelengkan kepala. “Bawalah Bu Kie ke hadapanku dulu, barulah aku akan menyerahkan To-liong-to,” katanya.
“Apa kau tidak percaya kepadaku?”
“Di dunia ini banyak terjadi kejadian yang tidak dapat diramalkan lebih dulu. Bahkan di antara orang-orang yang memiliki hubungan seperti bapak dan anak, atau seperti saudara kandung juga sering terjadi kejadian melanggar kepercayaan.”
Bu Kie tahu bahwa dengan berkata begitu ayah angkatnya ingat kebusukan Seng Kun.
“Apa benar kau tidak suka meminjamkan To-liong-to kepadaku?” Tanya si nenek dengan suara mendongkol.
“Sesudah melepaskan Tan Yu Liang maka aku bakal terus disateroni musuh,” jawabnya. “Entah berapa banyak musuhku yang akan datang ke sini untuk mencari aku. Keadaan Kim-mo Say-ong tidak seperti dahulu. Kecuali To-liong-to aku tidak punya pembantu lain. Huh huh...!“ Tiba-tiba dia tertawa nyaring. “Han-hujin, waktu lima musuh mengepung aku, orang gagah dari Kie-keng-pang telah menyediakan tujuh butir batu. Apakah aku tak boleh merasa curiga juga? Huh huh! Rupanya kau berharap agar aku binasa di tangan orang-orang Kaypang. Setelah aku mampus dengan mudah kau bisa merampas golokku. Mata Cia Sun buta tetapi hatinya tidak buta. Han-hujin, aku mau tanya. Kedatangan Cia Sun ke Leng-coa-to dan senjata yang dipakai dirahasiakan. Tetapi mengapa rahasia itu bocor? Mengapa orang-orang kaypang sampai menyateroni aku di sini?”
“Hal itu justru harus kuselidiki.”
Cia Sun tersenyum getir lalu memasukkan To-liong-to ke dalam jubahnya. “Jika kau tidak mau menyelidiki anakku Bu Kie, aku pun tidak dapat memaksa,” katanya. “Jalan satu-satunya bagi Cia Sun adalah ikut masuk ke dunia Kangouw dan melakukan lagi perbuatan yang menggemparkan.“ Ia menengadah sambil bersiul nyaring, kemudian berlari turun dari tanjakan di sebelah barat.
Biar pun buta dia dapat berlari dengan cepat menuju sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah utara pulau. Di puncak gunung terdapat sebuah gubuk kecil. Gubuk itu rupanya milik Cia Sun. Sesudah Kim-mo Say-ong berlalu, sambil mengawasi Bu Kie dan Tio Beng dengan mata melotot Kim-hoa Popo membentak,
“Pergi!”
Nona Tio segera menarik tangan Bu Kie dan mereka segera kembali ke kapal. Baru saja tiba di kapal, Bu Kie berkata,
“Aku mau menengok Gie-hu.”
“Apa kau tidak melihat sinar mata si nenek yang sangat ganas?” kata Tio Beng.
“Aku tidak takut padanya.”
“Aku merasa bahwa pulau ini diliputi bermacam rahasia. Mengapa orang-orang kaypang bisa datang ke sini? Bagaimana Kim-hoa Popo tahu tempat sembunyi ayah angkatmu? Bagaimana dia dapat mencari ayah angkatmu di Peng-hwee-to? Banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Memang sukar untuk membinasakan nenek itu. Tetapi begitu lekas dia binasa maka semua teka-teki tidak bisa dipecahkan lagi.”
“Aku bukan mau membinasakan Kim-hoa Popo. Aku hanya ingin menemui Gie-hu karena aku merasa sangat tidak tega melihat penderitaannya.”
Nona Tio menggelengkan kepala. “Dengan ayah angkatmu, kau sudah berpisah belasan tahun,” katanya. “Kau harus dapat menahan sabar sehari dua hari. Thio-kongcu, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah kita harus waspada terhadap Kim-hoa Popo atau harus lebih berjaga-jaga terhadap Tan Yu Liang?”
“Menurut pendapatku Tan Yu Liang adalah seorang laki-laki tulen yang amat mengutamakan persahabatan.”
“Thio-kongcu, apa kau tidak mencoba menipu aku? Apa jawabanmu adalah jawaban setulus hati?”
“Menipu kau? Tan Yu Liang rela menerima kebinasaan untuk menggantikan The-tianglo. Apa itu bukan perbuatan yang sukar dilakukan? Apakah kita tidak harus menghormatinya sebagai seorang laki-laki sejati?”
Tio Beng menatap wajah Bu Kie. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal.
“Thio-kongcu! Kau seorang kauwcu dari Beng-kauw yang harus memimpin begitu banyak orang gagah, sungguh tak kunyana kau bisa ditipu orang begitu mudah!”
“Ditipu orang?”
“Jelas-jelas Tan Yu Liang menipu Cia-tayhiap. Kau sendiri melihat dengan matamu. Apa kau tidak sadar akan adanya tipu itu?”
Bu Kie berjingkrak. “Dia menipu Gie-hu?” dia menegas.
“Dengan sekali babat Cia-tayhiap membinasakan orang dan melukai seorang jago kaypang. Walau pun andai kata saja Tan Yu Liang memiliki ilmu silat yang lebih tinggi lagi, dia pasti tidak akan bisa meloloskan diri dari To-liong-to. Dalam keadaan begitu, seorang manusia biasa hanya melihat dua jalan. Melawan dengan nekat untuk membinasakan atau menekuk lutut dan minta ampun. Cia-tayhiap tidak ingin ada orang lain mengetahui tempat sembunyinya. Meski Tan Yu Liang berlutut tiga ratus kali, belum tentu ayah angkatmu bersedia mengampuni jiwanya. Tetapi Tan Yu Liang seorang manusia luar biasa. Dengan otaknya yang sangat cerdas segera bisa menempuh jalan hidup satu-satunya, yaitu berlagak seperti seorang ksatria, berlagak menjadi seorang laki-laki tulen yang mengutamakan Gie-khie. Thio-kongcu, sebagai manusia yang amat pintar mustahil kau tidak bisa melihat tipu daya yang sangat licik itu.” Sambil memberi keterangan, si nona menempelkan koyo pada luka di tangan Bu Kie karena gigitannya, kemudian membalutnya menggunakan sapu tangannya sendiri.
Keterangan Tio Beng sangat beralasan. Namun mengingat sikap dan suara Tan Yu Liang yang waktu itu sangat bersungguh-sungguh, Bu Kie menyangsikan kebenaran penafsiran si nona.
“Baiklah,” kata pula nona Tio. “Sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan lain. Pada saat Tan Yu Liang bicara dengan Cia-tayhiap, bagaimana sikap kedua tangan dan kedua kakinya?”
Bu Kie tertegun. Ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. Waktu Tan Yu Liang berbicara, ia hanya memperhatikan paras muka pemuda itu dan paras muka ayah angkatnya. Ia tidak mempedulikan tangan dan kaki Tan Yu Liang. Ia melihat, tapi seperti juga tidak melihat.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































