Habis membaca, Kwee Ceng berpikir; "Dulu Coan Cin Cit Cu bertempur sama OeyYok Su di Gu¬kee-cun, lantas Auwyang Hong diam-diam menggunakan akal jahatnya dan membinasakan Tiang Cun Cu Tam Cie Toan, kesalahan digeser kepada Oey Yok Su. Oey Yok Su berkepala besar, dia tidak menghiraukan urusan itu tidak mau membersihkan diri, maka kejadian Coan Cin Cit Cu jadi sangat membenci padanya. Rupanya sekarang guruku mendengar Coan Cin Cit Cu datang untuk melakukan pembalasan, karena khawatir kedua pihak rusak bersama, guruku menulis surat ini nenganjurkan Oey Yok Su menyingkirkan diri untuk sementara waktu, supaya kemudian dapat jalan guna membeber duduknya hal. Dengan begitu, guruku ini bermaksud baik, maka Oey Yok Su si tua, kenapa dia telah menurunkan tangan jahatnya kepada guruku semua?"
Baru ia berpikir begitu, lantas berpikir pula: "Jiesuhu sudah menulis surat ini, kenapa dia tidak menyampaikannya hanya dibiarkan berada di dalam sakunya? Ah, mungkin waktu terlalu mendesak, Coan Cin Cit Cu telah keburu datang, dia jadi tidak mendapat waktu lagi untuk menyerahkannya, maka mereka lantas datang sendiri, guna menengahi kedua pihak yang bertempur. Oey Lao Shia, mungkin menyangka guruku kawan-kawan undangan dari Coan Cit Cin Cu, yang bakal membantu pihak sana, maka dengan sembrono kau telah menurunkan tangan jahatmu……"
Kembali pemuda ini berdiam. Surat itu ia lipat, hendak dimasukkan ke dalam sakunya. Selagi ia melipat tiba-tiba di belakang ia melihat coretan beberap huruf, yang membikin kaget membuat hatinya berdebaran. Tulisan itu, tidak karuan, berbunyi; "Segera bakal terjadi hal yang tidak diduga-¬duga, maka semua bersiaplah berjaga-jaga……" Masih ada tulisan lainnya, yang belum tertulis lengkap, mungkin disebabkan bencana sudah lantas tiba.
"Inilah terang huruf 'Tong' yang hendak ditulisnya. Jiesuhu memperingatkan untuk bersiaga untuk 'Tong Shia' sayang sudah terlambat……"
Maka ia kepal-kepal surat itu menjadi gulungan kecil dengan mengertak gigi, ia berkata dengan sengit; "Jiesuhu, jiesuhu, maksudmu yang baik telah dipandang sebagai maksud jahat oleh Oey Lao Shia……"
Setelah itu, surat itu jatuh ke tanah, ia sendiri lantas mengangkat tubuh Cu Cong. Oey Yong mengawasi terus pemuda itu, ia melihat air muka orang yang seperti berubah-ubah. Ia menduga surat itu mesti penting sekali, maka perlahan-lahan ia bertindak. Ia pungut surat itu untuk segera dibaca dua-duanya, yang di depan dan yang di belakang. Ia berpikir "Keenam gurunya datang ke Tho Hoa To dengan maksud baik, maka sayang Biauw Ciu Sie-seng hatinya tidak lurus, sudah biasa dia menjadi pencopet melihat harta ibuku hatinya terpincuk, hingga dia melanggar pantangan besar dari ayahku……"
Ketika itu Kwee Ceng telah meletakkan tubuh Cu Cong, lalu dia membuka tangan kiri orang yang terkepal, mengambil dari situ serupa barang.
Oey Yong melihat itulah sebuah sepatu wanita, yang panjangnya satu dim lebih. Terang itu adalah sepatu mainan sebab terbuat dari batu hijau tetapi buatannya indah sekali. Itu adalah benda yang berharga mahal. Belum pernar ia ingat ibunya mempunyai barang mainan semacam itu maka entahlah dari mana Cu Cong mendapatkannya.
Kwee Ceng membulak-balik sepatu-sepatuan itu bagian bawahnya ia melihat ukiran huruf "ciauw" sedang di dasar sebelah dalam, ada ukiran huruf "pie". Ia sengit ia banting sepatu batu itu, syukur tidak pecah. Kemudian ia bergantian mengangkat tubuh Han Po Kie dan Coan Kim Hoat, dikasih masuk ke dalam lubang yang besar itu diletakkan dengan rapi. Ketika ia hendak mulai menguruk ia melihat muka ketiga gurunya hatinya tak tega. Maka ia mengawasi ke batu permata. Tiba-tiba timbul pula hawa amarahnya. Ia pungut semua itu dengan kedua tangannva, ia lari ke kuburan ibunya Oey Yong.
Si nona khawatir orang merusak peti mati ibunya, ia pun lari. Ia lari, untuk mendahului. Ia bisa memotong jalan, maka ia tiba lebih dulu. Lantas ia menghadang di depan pintu kuburan, kedua tangannya dipentang.
"Kau mau apa?" ia tanya si pemuda.
Kwee Ceng tidak menjawab, dengan tangan kirinya ia menolak tubuh si nona, lalu kedua tangannya disempar ke depan, maka terdengarlah suara nyaring, dari meluruk jatuhnya barang-barang permata, di antaranya sepatu mainan dari batu hijau yang jatuh ke kaki si nona.
Oey Yong membungkuk, memungutnya. "Ini bukan barang ibuku," ia kata, dan ia mengembalikannya.
Kwee Ceng menyambut, ia awasi itu, terus ia masukkan ke dalam sakunya. Setelah itu ia memutar tubuh. Kali ini ia mulai menguruk tanah, hingga menutup rapat mayat keempat gurunya.
Lama sang waktu lewat, hari mulai magrib. Oey Yong menyaksikan, Kwee Ceng terus tidak menangis, ia merasa sangat berduka. Maka ia pikir, kalau dibiarkan sendiri, mungkin hati pemuda itu lega. Dari itu ia pergi pulang, untuk memasak nasi serta lauk-pauk. Apabila semua itu sudah matang, ia pernahkan di dalam naya, ia membawanya keluar.
Kwee Ceng terlihat berdiri menjublak di depan kuburan gurunya. Dia berdiri tetap di tempat dia berdiri semula, tubuhnya juga tidak berkisar atau berubah. Ia berdiam setengah jam lebih selama si nona masak, hinggga dia mirip patung. Maka si nona kaget sekali.
"Engko Ceng, kau kenapa?" ia tanya.
Kwee Ceng tidak menyahut, tubuhnya tetap tidak bergerak. "Engko Ceng, mari dahar," kata pula si nona. "Sudah satu harian kau belum dahar……"
"Mesti aku mati kelaparan tidak mungkin aku maka barang dari Tho Hoa To!" berkata si anak muda.
Mendengar itu, meskipun tidak sedap, hati Oey Yong sedikit lega. Ia mengerti adat orang, tentu Kwee Ceng pegang perkataannya itu. Dari itu ia meletakannya, duduk di tanah.
Demikian, yang satu berdiri tegak, yang lain berduduk, keduanya berdiam menghabiskan waktu, hingga rembulan mulai muncul di permukaan laut. Si Putri Malam naik terus, sampai dia berada di atasan kepalanya dua orang itu, sedang sayur di dalam naya telah menjadi dingin. Hati mereka seperti sama dinginnya. Dengan kesunyian itu, suara gelombang terdengar semakin nyata. Dari kejauhan pun terdengar beberapa kali suara seperti suara srigala dan harimau, suaranya mirip dengan jeritan. Sang angin juga yang membikin suara itu lenyap.
Oey Yong memasang kuping, ia menyangsikan itu suara manusia atau suara binatang yang sedang menderita, karena perhatiannya tertarik, ia berbangkit, lari menuju ke sana. Sebenarnya ia berniat mengajak si anak muda tetapi membatalkan pikirannya itu setelah ia berpikir pula: "Kebanyakan inilah urusan tidak bagus, aku akan cuma-cuma menambah keruwetan pikirannya……" Ia sebenarnya sedikit jeri untuk suasana seperti itu, tetapi karena ia kenal baik pulaunya itu, ia maju terus.
Selagi si nona berlari-lari, dia merasakan angin menyambar di sampingnya. Segera ia mendapat kenyataan, Kwee Ceng lagi mencoba mendahului. Pemuda ini tidak kenal jalanan, maka ia maju dengan tangan dan kakinya menghajar pohon-pohon yang menghadang di hadapannya. Dilihat dari romannya, pemuda itu seperti telah kehilangan pikiran sehat.
"Kau ikut aku!" kata si nona.
Kwee Ceng tidak menyahut, hanya ia berteriak-¬teriak: "Soe-suhu! Soe-suhu!" Ia telah mengenali suara gurunya yang keempat, Lam Hie Jin. Hati Oey Yong terkesiap. Ia tahu, kalau Kwee Ceng bertemu sama gurunya itu, entah bakal terjadi apa lagi atas dirinya. Tapi ia tidak takut, maka ia lari terus, menunjukkan jalan. Ia lari ke timur, di mana ada banyak pepohonan. Tiba di situ, ia melihat seorang berada di bawah sebuah pohon, tubuhnya bergulingan, tubuh itu melingkar. Itulah Lam Hie Jin.
Kwee Ceng menjerit, ia lompat menubruk gurunya, untuk dipondong. Ia melihat mulut gurunya terbuka, tertawa, tetapi suaranya bukan tertawa wajar. Ia kaget dan girang, hingga ia menangis.
"Soe-suhu! Soe-suhu!" ia memanggil-manggil.
Lam Hie Jin tidak menyahut, hanya sebelah tangannya melayang. Kwee Ceng tidak menyangka tetapi ia sempat berkelit. Habis menggaplok dan gagal, Hie Jin terus meninju dengan tangan kirinya. Kali ini si anak muda tidak berkelit, ia tidak menangkis. Ia menyangka gurunya menyesal atau mempersalahkan padanya. Hebat serangan guru nomor empat ini, Kwee Ceng terpental jumpalitan. Ia tidak menduga gurunya bertenaga demkian besar. Dulu, di waktu berlatih dengannya, tenaga gurunya tidak sedemikian besar. Ia baru bangun, Hie Jin sudah maju, menyerang lagi denga kepalannya. Masih si murid tidak berkelit, ia mandah. Hajaran ini lebih hebat lagi, Kwee Ceng merasa matanya berkunang-kunang, hampir ia roboh pingsan.
Setelah itu, Hie Jin memungut batu besar, lagi-lagi dia menyerang. Kalau Kwee Ceng terhajar batu ini, mesti ia pecah batok kepalanya. Ia memang masih pusing kepalanya. Melihat demikian, Oey Yong melompat maju, dengan tangan kirinya menolak lengan Kanglam Cit Koay yang nomor empat itu, atas mana, bersama¬-sama batunya Hie Jin roboh ke tanah, mulutnya mengasih dengar suara tertawa seperti tadi, habis itu dia tidak merayap bangun lagi……
Adalah maksud si nona untuk menolong Kwee Ceng, maka diluar sangkaannya, Hie Jin demikia tidak bertenaga, dia roboh hanya karena tolakan tangan yang enteng. Dengan lantas si nona mengulur tangannya untuk mengasih bangun. Tetapi ia melihat muka orang yang tertawa, tertawa yang dipaksakan, hingga menjadi menyeringai, nampaknya sangat menakutkan. Ia menjerit, menarik pulang tangannya, untuk membikin tangan itu tidak mengenai tubuh orang. Sebaliknya tangan kiri Hie Jin menyambar pundak si nona. Atas itu dua-duanya, si nona dan si penyerang, mengasih dengar seruan sakit dan kaget.
Oey Yong mengenakan baju lapisnya, meski begitu ia merasakan sakit sampai ia terhuyung beberapa tindak. Hie Jin merasa sakit karena ia menghajar baju yang ada durinya, karena itu tangannya mengucurkan darah.
"Soe-suhu!" Kwee Ceng berteriak saking kagetnya.
Hie Jin menoleh mengawasi si anak muda, ia mengenalinya, hanya ketika hendak membuka mulut cuma bibirnya bergerak sedikit, suaranya tidak terdengar. Ia masih mengasih lihat senyuman hanya itulah senyum dari putus asa. Sinar matanya pun guram.
"Soe-suhu, sebaiknya kau beristirahat," kata Kwee Ceng: "Sebentar kemudian kita bicara."
Hie Jin mencoba mengangkat kepala, ia seperti memaksa mau bicara, tapi gagal, mulutnya tidak dapat dibuka. Ia cuma dapat bertahan sebentar segera kepalanya teklok, terus tubuhnya roboh terjengkang, lalu berbalik.
"Soe-suhu!" Kwee Ceng berseru, ia berlompat maju, guna mengasih bangun.
"Jangan!" berkata si nona, "Gurumu lagi menulis surat……" Tajam matanya si nona.
Kwee Ceng mengawasi. Benar, dengan tangan kanannya, 'Hie Jin lagi mencoret ke tanah. Di antara sinar rembulan, segera terlihat ia menulis: "Yang …… membunuh…… aku…… ialah ……"
Oey Yong mengawasi, ia mendapatkan Hie Jin menulis dengan susah payah, ia lantas goncang hatinya. Ia lantas ingat; "Dia berada di Tho Hoa To, sekalipun orang yang paling tolol tentulah tahu ayahku yang membunuhnya, maka kenapa dia begini susah menulis nama ayahku? Apakah si pembunuh orang lain sebenarnya ……?"
Semakin lama dia menulis, tenaganya Hie Jin makin habis. Hati si nona tegang, hingga ia memuji;
"Kalau kau mau menulis nama lain orang, lekaslah!"
Ketika Hie Jin menulis huruf yang kelima, yang mesti menjadi she atau nama orang yang membunuh dia, baru dia menulis dua coret, yang menjadi huruf "sip" - "sepuluh", mendadak tangannya berhenti bergerak.
Kwee Ceng melihat tubuh orang bergerak, tanda dari pengerahan tenaga yang terakhir, habis itu berhentilah napasnya sang guru. Ia sendiri menahan napas, ketika ia melihat huruf "sip" itu, ia berteriak:
"Soe-suhu, aku tahu kau hendak menulis huruf oey!" Terus ia menubruk tubuh gurunya, ia menangis, kedua tangannya menumbuki dada. Dengan demikian meledaklah amarah dan kedukaannya yang sangat, yang sekian lama terbenam di dalam dadanya. Ia menangis menggerung-gerung kemudian pingsan di atas tubuh gurunya.
Berapa lama anak muda ini tak sadarkan diri, ia tidak tahu, ketika kemudian ia sadar, ia melihat sinar matahari, langit telah menjadi terang. Ia bangun, untuk melihat ke sekitarnya. Ia tidak melihat Oey Yong, entah ke mana perginya si nona. Ia mendapatkan tubuh Hie Jin yang kedua matanya terbuka besar. Ia lantas ingat pembilangan, "mati tidak meram", maka ia menangis lagi, air matanya turun deras. Ia mengulurkan kedua tangannya, guna merapatkan mata gurunya.
Mengingat gurunya begitu sengsara hendak melepaskan napasnya yang terakhir, Kwee Ceng menjadi heran maka ia membuka baju gurunya, memeriksa tubuhnya. Aneh, seluruh tubuh itu tidak kurang suatu apapun, dari kepala sampai di kaki, tidak ada yang luka, kecuali luka di tangan bekas terkena duri baju lapisnya Oey Yong. Pula tidak ada luka dalam, kulitnya tidak hitam atau hangus.
Sesudah memeriksa dengan sia-sia, Kwee Ceng memondong mayat gurunya, niatnya untuk dikubur bersama dengan ketiga gurunya yang lain. Ketika ia sudah jalan beberapa puluh tindak ke tempat darimana tadi dia datang, ia kehilangan jalan. Terpaksa ia menggali sebuah lubang lain di bawah pohon, guna mengubur di situ.
Habis itu, ia menjadi bingung. Ia pun merasa sangat lapar. Sia-sia ia berjalan, untuk mencari jalan keluar. Ia duduk di bawah sebuah pohon, guna beristirahat, menentramkan pikirannya. Ketika ia berjalan lagi, ia mengambil putusan tidak perduli apapun, ia mengambil satu tujuan, ialah ke arah timur, terus menghadapi matahari. Dengan begini, ia masih mengalami kesukaran, dan pepohonan yang sangat lebat. Sekarang di setiap pohon ia melihat adanya rotan panjang dan duri tajam. Umpama kata ia jalan di atas pohon, di situ tidak ada tempat untuk menaruh kaki……
"Tapi hari ini, cuma ada maju, tidak ada mundur!" ia pikir. Ia paksa berlompat naik ke atas pohon. Ia baru menindak ketika "Bret!" celananya robek kesangkut duri, kulitnya lecet dan darahnya mengalir. Rotan pun ada yang melilit kakinya. Maka dengan pisau belatinya, ia memotong putus pohon oyot itu. Memandang jauh ke depan, Kwee Ceng melihat hanya oyot belaka.
"Biar habis daging betisku, aku mesti keluar dari pulau iblis ini!" katanya dalam hati. Degan itu ia mengambil keputusan. Ia mau bertindak lagi, lalu mendadak mendengar suara OeyYong: "Kau turun! Nanti aku mengantarkanmu!" Ia lantas tunduk, maka ia melihat si nona, dengan pakaian putih seluruhnya, lagi berdiri di bawah pohon. Tanpa bilang apa-apa, ia lompat turun. Ia melihat muka Oey Yong pucat sekali, seperti tidak ada darahnya. Ia terkejut. Hendak ia menanya, tetapi segera ia dapat menguatkan hati.
Oey Yong melihat orang hendak bicara tetapi gagal. Ia menanti sekian lama, tetap ia tidak mendengar suara orang. Ia menghela napas.
"Jalanlah!" katanya.
Dengan berliku-liku, mereka menuju ke timur. Oey Yong lesu dan berduka. Ia baru sembuh, ia perlu beristirahat dan ketenangan hati, siapa tahu ia telah mesti membuat perjalanan jauh dan menghadap peristiwa berat dan gelap ini. Ia pikir tidak dapat ia menyesalkan Kwee Ceng atau mempersalahkan ayahnya, ia juga tidak bisa menyesalkan Kanglam Liok Koay, Ia hanya menyesalkan diri sendiri. Kenapa Thian berbuat begini macam terhadapnya? Apa Thian membenci kepada orang yang hidup terlalu senang?
Tanpa berkata-kata nona ini menunjukkan jalan kepada Kwee Ceng menuju ke tepi laut. Ia percaya, dengan kepergiannya ini, anak muda itu bakal tidak kembali. Maka setiap satu tindaknya, ia merasa hatinya pecah satu potong. Ketika akhirnya mereka keluar dari rimba lebat dengan rotan dan duri itu, pesisir terlihat di depan mata.
Oey Yong merasa dirinya sangat letih, ia mencoba menguatkan hati tetapi tubuhnya terhuyung juga, lekas ia menggunakan tongkatnya, untuk menekan tanah, guna menunjang, hanya sekarang ia merasakan tangannya juga tidak bertenaga, tongkatnya miring, tubuhnya terguling.
Kwee Ceng melihat itu, segera ia mengulur tangan kanannya, guna memegangi si nona, tetapi mendadak ia ingat sakit hati hebat dari guru-gurunya, segera dengan tangan kirinya ia menghajar tangan kanannya. Itulah pukulan ajaran Ciu Pek Thong, yang dapat memecah pikiran, hingga kedua tangannya dapat bergerak sendiri-sendiri. Karena dihajar, tangan kanannya segera membalas. Habis itu, ia berlompat mundur. Dengan sendirinya robohlah Oey Yong.
Oleh karena jatuhnya ini tanpa pertolongan, hati si nona pepat sekali. Ia menyesal, ia penasaran, ia berduka. Juga Kwee Ceng kaget, juga menyesal, penasaran dan berduka. Ia lompat maju, untuk mengangkat tubuh si nona. Ia melihat kelilingan, untuk membawa nona itu ke tempat di mana dia bisa beristirahat. Juga Oey Yong turut melihat ke sekitar mereka.
Di arah timur laut, di mana ada sebuah batu besar, terlihat sepotong kain hijau tertiup angin. Ketika melihat itu Oey Yong lantas berteriak;
"Ayah!" Ia lantas saja mendapat tenaga, ia lari.
Kwee Ceng juga lari bersama, maka itu mereka saling berpegang tangan. Tiba di batu itu, di situ pun kedapatan sepotong kulit muka orang. Oey Yong kenal baik topeng kulit kepunyaan ayahnya, dengan kebingungan ia membungkuk akan memungutnya begitu pun baju hijau itu di mana ada tapak tangan dari darah, tegas nampak bekas telunjuk.
Melihat itu Kwee Ceng berpikir; "Pasti ini tapak Kiu Im Pek-kut Jiauw dari Oey Yok Su, habis dia mencelakai samsuhu, dia menyusut tangannya di sini……" Ia tengah memegang tangan si nona ketika mendadak melepaskannya sambil menyempar terus ia merampas baju hijau itu dan merobeknya. Ketika ia melihat ujung baju itu pecah sedikit, maka ia ingat, juiran itu pastilah yang telah dibawa burung rajawali waktu si nona minta ikan emas istimewa.
Kwee Ceng berdiri diam kapan ia telah mengawasi tapak jari tangan itu, kemudian ia lekas menggulung itu dan mengasih masuk ke dalam sakunya, habis itu tanpa membilang apa-apa, ia lari ke pinggir laut di mana ada sebuah perahu layar, yang tidak ada anak buahnya. Entah ke mana perginya semua budak gagu. Ia tidak berpaling pula pada Oey Yong ketika ia memotong putus dadungnya perahu, ia mengangkat jangkarnya, memasang layar, terus ia berlayar…
Oey Yong dengan bengong mengawasi perahu menuju ke barat. Mulanya ia masih mengharap si anak muda berbalik pikir dan akan kembali, untuk mengajak ia pergi, maka ternyata, habislah pengharapannya. Dengan lekas perahu layar itu seperti terbenam di dalam lautan. Sekarang merasalah ia berada sebatang kara di pulaunya. Engko Cengnya pergi, ayahnya entah bagaimana, entah masih hidup atau telah terbinasa……!
"Yong-jie, Yong-jie!" akhirnya ia berkata pada diri sendiri. "Siang hari masih panjang! Kau tidak dapat berdiri diam saja di pesisir ini! Ingat Yong-jie, jangan kau berpikiran pendek!"
Kwee Ceng berlayar terus menuju ke barat sesudah melalui beberapa puluh lie, mendadak ia mendengar suara burung di atas. Ia mengenali sepasang burungnya, yang terbang menyusul padanya. Dengan cepat kedua burung menclok di atas layar.
"Burung ini mengikuti aku, Yong-jie berada sendirian di pulau, ia bakal jadi bertambah kesepian," pikirnya. Maka timbullah rasa kasihannya.
Dihari ketiga, pemuda ini mendarat. Ia membenci segala benda dari Tho Hoa To, dari itu ia mengangkat jangkar, menghajar perahunya, maka tenggelamlah kendaraan air itu. Ia sendiri lompat ke darat sebelum air memenuhi perahu, ia lihat perahu Perlahan-lahan masuk ke dalam air dan lenyap. Ia berjalan tanpa tujuan. Ia mampir di rumah seorang petani di mana ia membeli beras untuk masak nasi, guna menangsal perut. Habis dahar, setelah menanya jalanan untuk Kee-hin, iapun berangkat.
Malam itu pemuda ini bermalam di tepi sungai Cian Tong Kang, ketika tengah mengawasi permukaan air, tiba-tiba melihat bayangan rembulan. Ia terkejut, la telah lupa tanggal. Tentu sekali ia khawatir nanti melewati janji pertemuan di Yan Ie Lauw. Lantas ia menanya tuan rumah. Lega sedikit hatinya ketika ia diberitahukan hari itu tanggal tigabelas. Karenanya malam ini juga, ia menyeberangi sungai, terus menyewa keledai guna melanjutkan perjalanan, untuk lega hatinya, ia tiba di kota Kee-hin selebatnya tengah hari. Di sini segera ia menanya orang di mana pernahnya Cui Sian Lauw, rumah makan Dewa Mabuk.
Rumah makan itu Paling berkesan untuknya. Semenjak masih kecil, guru-gurunya telah menuturkan kepadanya tentang pertempuran mereka dengan Khu Cie Kie di rumah makan itu. Ia tidak diberitahukan sebab musababnya tetapi ia ketarik sama caranya Pertempuran, mengadu minum arak memakai jambangan perunggu. Kemudian lagi ia ketahui tentang asal usul dirinya, maka tahulah ia, rumah makan itu ada hubungan sama kehidupannya.
Ketika orang menunjukkan bahwa rumah makan itu berada di tepi telaga Lam Ouw, segera ia pergi ke sana. Setibanya, ia mengangkat kepala, mengawasi rumah makan itu. Ia mendapatkan cocok apa yang dijelaskan Han Siauw Eng. Setelah sepuluh tahun lebih mengingat-ingat rumah makan itu, baru sekarang ia melihat dengan mata sendiri.
Memang rumah makan itu indah dengan lauwtengnya yang berukiran, sedang di tengah-tengah ada berdiri sepotong bokpay, atau papan, yang bertuliskan empat huruf besar: "Tay Pek Ie Hong", artinya, peninggalan kebiasaan dari Lie Thay pek si sastrawan yang dijuluki Dewa Mabuk, sedang nama "Cui Sian Lauw", yang memakai leter emas, ada tulisannya Souw Tong Po. Bersih dan berkilap tiga huruf emas itu.
Dengan hati berdebar, Kwee Ceng naik dengan tindakan cepat ke atas lauwteng. Segera ia dipapaki seorang palayan, yang memberitahukan bahwa hari itu sudah ada yang memborong rumah makannya. Ia heran, ia hendak minta keterangan, ketika mendengar panggilan:
"Anak Ceng Kau sudah datang?"
Ia lantas mengangkat kepalanya. Ia terkejut mengenali orang yang memanggilnya, Khu Cie Kie, yang lagi duduk bersila - Ia lari rnenghampiri, lantas berlutut dengan cuma dapat memanggil:
"Khu Totiang!"
Khu Cie Kie mengasih orang bangun. "Apakah keenam gurumu juga sudah sampai?" ia tanya. "Aku telah memesan barang santapan untuk kita" ia menunjuk ke kanan, di mana Kwee Ceng melihat telah disiapkan sembilan buah meja yang dilengkapi sama sumpit dan cangkir. Ia berkata pula. "Ketika delapanbelas tahun yang lalu untuk pertama kali aku bertemu di sini dengan ketujuh gurumu, mereka mengatur meja begini rupa. Ini satu meja kepunyaan Ciauw Bok Taysu, maka sayang ia dan gurumu yang nomor lima sudah tidak dapat berkumpul pula di sini" Kelihatannya imam itu sangat berduka.
Kwee Ceng berpaling ke lain arah, tidak berani ia mengawasi langsung imam itu. Khu Cie Kie tidak melihat sikap orang, ia berkata lagi:
"Jambangan perunggu yang dulu itu kita pakai untuk minum arak, hari ini aku telah mengambilnya dari kuil, maka kalau semua gurumu datang, kita boleh minum arak lagi."
Kwee Ceng melihat jambangan itu di samping sekosol. Karena usianya sudah tua, warnanya sudah hijau gelap, pula jambangan itu sudah dimuati arak hingga dari sana tersiar bau minuman. Ia terus mengawasi dengan mata mendelong. Kemudian ia mengawasi delapan meja yang masih kosong itu. Ia pikir, kecuali gurunya yang nomor satu, tidak ada orang lain yang dapat duduk di situ minum arak. Ia ngelamun: "Asal aku bisa memandang satu kali saja tujuh guruku duduk di sini dan minum arak dengan gembira, mati pun aku puas"
Kembali terdengar suara Khu Cie Kie; "Tadinya telah dijanjikan tahun ini bulan tiga tanggal duapuluh empat kau berdua Yo Kang mengadu kepandaian di sini. Aku mengagumi semua gurumu yang berhati mulia, mengharap-harap kaulah yang nanti menang, supaya dengan begitu nama Kanglam Cit Koay menjadi bertambah kesohor. Aku sendiri senantiasa merantau, tidak dapat aku mencurahkan perhatianku sepenuhnya kepada Yo Kang, tidak dapat aku mengajari ia ilmu silat dengan baik. Sudah begitu, aku juga tidak berhasil mendidik sifatnya agar dia menjadi seorang gagah. Berhubung dengan ini aku menyesal terhadap pamanmu, Yo Tiat Sim. Benar Yo Kang membilang dia sudah menyesal akan tetapi untuknya sangat sukar untuk merubah sipatnya "
Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan halnya Yo Kang telah mati tetapi ia tidak tahu bagaimana harus mulai bicara, dari itu si imam kembali melanjutkan kata-katanya:
"Dalam hidupnya manusia, kepandaian ilmu surat dan ilmu silat untuknya ialah soal terakhir yang paling utama ialah Tiong Gie - kesetiaan dan kejujuran. Boleh dianggap Yo Kang lebih kosen seratus kali daripada kau akan tetapi dalam perilaku, gurumulah yang menang. Kau tahu aku kalah dengan puas."
Habis berkata, saking puasnya, Khu Cie Kie tertawa lebar. Sebaliknya Kwee Ceng mengucurkan air mata .
"Eh, kenapa kau berduka?" tanya si imam heran.
Anak muda itu maju lebih dekat, lantas menjatuhkan diri, berlutut sambil menangis. "Kelima guruku sudah meninggal dunia" katanya sukar.
Khu Cie Kie terkejut- "Apa?" dia bertanya dengan keras.
"Kecuali guruku yang nomor satu, yang lainnya, semua sudah meninggal dunia," kata pula Kwee Ceng.
Khu Cie Kie melengak, ia bagaikan disambar guntur, inilah tidak sangka, sedang ia mengharap sangat pertemuan ini. Sebagai seorang jujur; ia sangat menghargai Kanglam Cit Koay, yang ia anggap sebagai sahabat-sahabat sejati, ia telah tak melupakan mereka itu selama deiapanbelas tahun, meskipun benar mereka sangat jarang bertemu. Maka ia pergi ke loneng matanya mengawasi ke telaga, kemudian ia mendongak dan mengeluarkan napas panjang. Segera berbayang romannya Cit Koay. Kemudian ia menoleh, Pergi mengangkat jambangan perunggu untuk berkata;
“Sahabat-sahabatku telah menutup mata, kau ini untuk apa?" dengan mengerahkan tenaga, ia melemparkannya.
Hebat ketika jambangan itu tercebur ke telaga, suaranya nyaring, airnya muncrat tinggi. Kemudian ia dekati Kwee Ceng, untuk mencekal keras sekali tangan anak muda itu¬.
"Bagaimana meninggalnya mereka itu?" ia bertanya. "Lekas tuturkan!"
Kwee Ceng mau memberikan keterangan, hanya belum lagi ia membuka mulut, mendadak ia melihat tubuh seseorang berkelebat, di antara mereka lantas tertampak seorang lain, yang bajunya hijau, sikapnya tenang. Ia menjadi kaget ketika mengenalinya, ia mengawasi, tidak salah mata. Orang itu Oey Yok Su, tocu, atau pemilik Tho Hoa To. Juga Oey Yok Su melengak melihat anak muda ini. Selagi ia berdiam mengawasi, mendadak datang serangan untuknya. Sebab Kwee Ceng, dengan melompati meja menerjang dengan jurus Hang liong yoe hui", itulah serangan sangat hebat. Tapi ia tabah dan awas, dengan cepat ia berkelit, tangan kirinya dipakai menolak.
Hebat serangannya si anak muda, hebat perlawanan majikan dari Tho Hoa To, hebat juga kesudahannya. Anak muda itu terjerunuk ke depan, dia menerjang papan lauwteng pemisah ruangan, tubuhnya jatuh ke bawah lauwteng, menimpa para-para cangkir, maka dengan suara sangat berisik hancurlah perabotan itu - cangkir, piring, mangkok dan lainnya.
Pemilik rumah makan mengeluh. Ingatlah ia akan kejadian delapanbelas tahun yang lampau. Tadipun, melihat Khu Cie Kie mengambil jambangan, hatinya sudah berkhawatir, sekarang kekhawatirannya berbukti.
Kwee Ceng takut terluka oleh pecahan cangkir, lantas lompat naik lagi ke lauwteng. Di lain pihak, Oey Yok Su dan Khu Cie Kie berbareng berlompat turun, hanya mereka itu mengambil jalan dari jendela. Dengan terpaksa anak muda ini lompat dari jendela, untuk menyusul, hanya kali ini ia menyiapkan senjatanya, karena ia pikir; "Si tua itu lihay, tidak dapat aku melawan dengan tangan kosong."
Maka ia mengeluarkan tiga rupa senjata: Dengan mulutnya ia menggigit pedang pendek dari Khu Cie Kie, tangan kanannya mencekal kim-too, golok emas, pemberian jenghiz Khan, dan tangan kirinya memegang tombak pendek warisan ayahnya - Ia pikir juga; "Biar bagaimana, mesti aku dapat menikam dia dua lubang"
Ketika itu lagi banyak orang, maka kagetlah mereka menampak si anak muda lompat turun dari jendela dengan menghunus senjata, sedang tadinya mereka berkumpul untuk menonton karena mendengar suara ribut disusul dengan lompat turunnya dua orang.
Kwee Ceng, tidak melihat Oey Yok Su dan Khu Cie Kie. Ia melepaskan pedang pendek, ia menanya seorang tua di dekatnya. Orang tua itu kaget dan ketakutan. Ia salah menduga.
"Ampun, hoohan," katanya- "Aku tidak tahu urusan mereka itu"
"Sebenarnya mereka Pergi ke mana?" Kwee Ceng tanya lagi.
Orang tua itu makin ketakutan, ia minta-minta ampun, sudah lama si anak muda tinggal di gurun pasir, sekarang pun hatinya lagi tegang, maka suaranya menjadi keras luar biasa. Saking sebal, si anak muda menolak si empeh, ia pergi mencari, tapi tanpa hasil, maka ia naik lagi ke lauwteng rumah makan. Dari sini ia memandang ke telaga, maka terlihatlah sebuah perahu kecil, yang memuat Cie Kie dan Yok Su, yang tengah menuju ke Yan Ie Lauw. Khu Cie Kie duduk di buntut perahu di mana dia mengayuh.
“Tentu mereka berdua pergi ke Yan Ie untuk bertempur mati dan hidup," pikir Kwee Ceng." Meskipun Khu Totiang lihay, mana dia sanggup melawan itu bangsat tua?" Maka ia lantas mengambil keputusan, ia lari turun dari lauwteng, lari ke tepi telaga, untuk menyambar sebuah perahu kecil, terus ia kayuh ke arah Yan Ie Lauw juga, menyusul dua orang itu.
Adalah maksudnya si anak muda untuk dapat menyandak, di luar tahunya lantaran ia menggunakan tenaga terlalu besar, pengayuhnya patah. Terpaksa ia memakai selembar papan sebagai pengganti Pengayuh, maka sekarang Perahunya laju ayal sekali. Ia ketinggalan jauh, kehilangan mereka. Ia mengayuh terus. Akhirnya tiba di darat, ia menyesal. Di saat seperti itu, ia dapat mengendalikan diri¬
"Aku mesti sabar," demikian pikirnya- Ia bertindak ke arah iauwteng - Ketika ia sudah datang dekat, ia mendengar di belakang situ suara senjata beradu, suara sambar menyambarnya angin serta bentakan berulang-ulang. Kalau orang bertempur, itu mestinya bukan cuma Khu Cie Kie dan Oey Yok Su.
Sesudah melihat ke sekitarnya, dengan berindap-¬indap si anak muda bertindak masuk ke lauwteng. Di bagian bawah tidak melihat siapapun, maka ia naik di tangga-Segera ia melihat seseorang lagi menyender di jendela, mulutnya menggayam hingga terdengar suara menggayamnya itu. Ia menjadi heran.
"Suhu!" ia memanggil seraya menghampiri.
Orang itu benar Ang Cit Kong. Dia mengasih lihat roman sungguh-sungguh, tangannya menunjuk ke bawah jendela- Dengan lain tangannya ia mengangkat sepaha kambing untuk digerogoti.
Kwee Ceng lari ke tepi jendela, untuk melongok. Ia lantas melihat satu permandangan yang mengherankan. Oey Yok Su lagi bertempur, dia dikurung oleh enam anggota dari Coan Gin Pay. Menyaksikan pemilik Tho Hoa To itu dikepung, pemuda ini merasa lega juga. Ia hanya kaget ketika melihat di situ pun ada gurunya yang nomor satu, gurunya lagi menyerang dengan tongkatnya, di belakangnya ada In Cie Peng. Dia ini berdiri membelakangi, tangannya memegang pedang, dia tidak turut berkelahi.
"Heran, kenapa toasuhu ada di sini?"
Kwee Ceng tidak usah menanti lama, lantas ia mengetahui Coan Cin Liok Cu lagi berkelahi dengan mengatur barisannya yang istimewa, Thian Kong Pak Tauw Tin- Hanya karena Tam Cie Toan telah meninggal dunia, dia digantikan Kwa Tin Ok, yang mengambil kedudukan thain-soan- Sebab ketua Kanglam Cit Koay ini cacat matanya, ia ditunjang oleh In Cie Peng supaya ia tidak usah mengkhawatirkan serangan dari belakang.
Demikian Oey Yok Su dikurung. Ketika pertempuran di Gu-kee-cun, cuma dua orang Goan Gin Pay yang menggunakan pedang, yang lainnya bertangan kosong, tetapi sekarang mereka bertujuh sama Kwa Tin Ok atau berdelapan sama In Cie Peng, semuanya bersenjatakan pedang. Yok Su tetap bertangan kosong, hebat ia diserang hingga nampaknya ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas, bahkan membela diri pun kewalahan - Melihat demikian, Kwee Ceng kata dalam hatinya; "Biar kau sangat lihay, hari ini kau tidak bakal dapat lolos lagi!"
Disaat terdesak, mendadak terlihat Oey Yok Su menekuk kaki kiri dan kaki kanan menyambar, menyapu kaki lawannya semua. Rengkasan itu sangat berbahaya. Serentak, delapan lawan berlompat mundur tiga tindak¬.
"Bagusi" Kwee Ceng berseru - Rengkasan itu dilakukan sambil berputar, maka semua musuh mesti menyingkir dengan hampir berbareng.
Habis menyerang, Oey Yok Su mengangkat kepala sambil mengulapkan tangan ke atas lauwteng kepada Ang Cit Kong berdua Kwee Ceng, tandanya ia senang dengan pujian si anak muda.
Menyaksikan sikap orang itu, Kwee Ceng kagum. Walaupun terdesak, tocu dari Tho Hoa To itu tetap tenang dan napasnya juga tidak memburu. Ia pun heran. Dari heran, ia menjadi bercuriga. Bukankah Oey Yok Su tengah berakal muslihat?
Selang sekian lama, datanglah yang mendebarkan hati- Mendadak tangan ketua Tho Hoa To menyambar embun-embunan Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian. Kalau serangan itu mengenai sasaran, pecahlah batok kepalanya si imam yang nomor tiga itu. Dengan itu pun teranglah Oey Yok Su sudah memulai dengan serangan membalasnya. Oey Yok su menyerang dengan dua tangan berbareng - Seharusnya LaUui Cie Hian tidak boleh menangkis, ia mestinya ditolong oleh Khu Cie Kie di kedudukan Thian-koan dan Kuia Tin ok di kedudukan thian-soan di pinggir. Apa mau dikata, Hui Thian Pian-hok tidak dapat melihat, dia cuma mengandalkan kupingnya, maka ketika ia menyerang dari kiri ia terlambat, ia kena didului Khu Cie Kie. Dengan begitu, Oey Yok Su jadi tidak terancam bahaya.
Cie Hian melihat ancaman datang, terpaksa ia menjatuhkan diri dengan bergulingan. Ma Giok dan Ong Cie It melihat saudaranya terancam, mereka maju bersama, menyerang lawannya. Semua gerakan berlaku sangat cepat- Lauw Cie Hian lolos dari bahaya, tetapi dengan begitu, Pak Tauw menjadi kacau.
Oey Yok su tertawa terbahak, lantas ia menyerang Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, imam yang termuda, hanya begitu ia maju begitu lekas juga ia berlompat mundur, guna berbalik menyerang Kong Leng Cu Cek Tay Thong. Serangan itu luar biasa, Sun Put Jie heran, Cek Tay Thong melengak. Ketika Ceng Ceng Sanjin menangkis, untuk terus menyerang, Oey Yok Su sudah keluar dari kepungan dan berdiri diam di tempat dua tombak jaraknya¬.
"Hebat Oey Yok Su!" Ang Cit Kong memuji¬.
"Biar aku Pergi!" berkata Kwee Ceng, yang terus memutar tubuh, untuk lari turun di tangga.
"Sabar, sabar!" mencegah Cit Kong. "Semenjak tadi mertuamu itu tidak melakukan Perlawanan, aku sebenarnya berkhawatir untuk gurumu yang nomor satu, tetapi sekarang aku melihat dia tidak ada niat mencelakai orang."
Kwee Ceng kembali ke jendela¬ "Kenapa begitu, suhu?" ia tanya.
"Kalau dia hendak mencelakai orang, barusan si imam kurus seperti kera tidak bakal ketolong jiwanya,” menyahut sang guru. "Semua imam itu bukan tandingan Oey Lao Shia, bukan tandingannya!" Ia menggigit daging kambingnya dan mengganyam, lalu menambahkan. "Ketika mertuamu dan Kim Coa Long-kun belum datang, aku melihat beberapa imam itu serta gurumu mengatur barisan, agaknya mereka masih menantikan satu orang guna membantu gurumu itu, agar tiga orang bersama menjaga garis thian-soan. Entah kenapa, sampai sekarang orang itu tetap tidak muncul - Sekarang garis tnian-soan dijaga hanya dua orang, tak cukup guna bertahan dari mertuamu"
“Dia bukan mertuaku I" kata Kwee Ceng sengit.
“Eh!" Cit Kong heran- "Kenapa bukan mertuamu?!"
“Dia! Dia! Hm!"
“Bagaimana dengan Yong-jie? Apakah kamu berdua bercedera?"
“Ini tidak ada hubungannya, dia telah membikin mati kelima guruku! Aku bermusuh dengannya, dalamnya bagaikan lautan!"
Cit Kong heran hingga ia berjingrak. "Benarkah?" dia menegasi.
Kwee Ceng tidak mendengar pertanyaan itu, ia lagi menumpleki perhatiannya ke pertempuran di bawah.
Oey Yok Su menggunakan Pek Khong Ciang, ilmu silat Menyerang Udara Kosong, anginnya menderu-deru, membuatnya semua musuhnya tidak bisa mendekat. Tapi Pak Tauui Tin telah diatur rapi pula. ia tidak bisa lantas membebaskan diri seutuhnya. Hanya terpisah sedikit jauh. Dengan begitu, selagi pedang C0an Cin Cit Cu tidak sampai kepada lawan, sebaliknya pihak lawan, kalau dia menghendaki, dia dapat berlompat mendekati.
"Ah, kiranya begitu?" kata Cit Kong tiba-tiba.
"Apa suhu?"
“Oey Yok Su sengaja memancing Cit Cu menggunakan barisannya, untuk memahami sifatnya," menyahut sang guru. "Itu sebabnya kenapa ia berayal menurunkan tangan. Ia hendak memperkecil garis."
Cit Kong telah kehilangan ilmu silatnya tetapi tidak pikiran atau Pandangannya yang tajam. Benarlah, makin lama kalangan Coan Cin Cit Cu makin rapat, makin rapat, hingga membahayakan mereka sendiri kalau mereka menggerakkan pedangnya masing-masing.
Pernah Lauw Cie Hian, Khu Cie Kie, Ong Cie It dan Cek Tay Th0ng menyerang berbareng, waktu Oey Yok Su berkelit, hampir mereka saling menikam sendiri.
Hati Kwee Ceng menjadi tegang pula, ia cemas. Ia mengerti, begitu lekas Oey Yok Su turun tangan, gurunya yang nomor satu itu bisa menjadi korban yang pertama. Ia berada jauh, mana bisa ia menolong?
"Biarlah teecu turun!" katanya seraya terus lari - Hanya ketika ia mulai mendekati kalangan pertempuran, di antara mereka terlihat pula perubahan.
Oey Yok Su maju dengan tetap ke arah kiri dari Ma Giok, ia seperti memisahkan diri nampaknya hendak ia mengangkat kaki. Menampak demikian, Kwee Ceng lantas bersiap sedia, asal tocu dari Tho Hoa To itu berlompat menyingkir, ia hendak menyerang dengan Pedang pendeknya¬
Tiba-tiba terdengar suitan Ong Cie It, lalu bersama Cek Tay Thong dan SUn Put Jie, dia bergerak dari kiri dengan begitu mereka tetap mengurung lawannya yang tangguh dan lihay itu.
Oey Yok Su mencoba hingga tiga kali, tidak bisa mendekati Ma Giok - Ada saja, Khu Cie Kie atau Ong Cie It atau Cek Tay Thong berempat, yang mengganggu, yang melindungi Ma Giok ketua dari Coan Cin Pay itu.
Setelah percobaan Oey Yok Su yang keempat kali, Kwee Ceng pun sadar, hingga ia berseru di dalam hatinya: "Ah, benar! Dia hendak merampas kedudukan bintang utara Pak-kek-chee!"
Bintang Pak-kek-chee berada di utara di tengah sekali, sedang barisan Pak Tauw Tin itu berpokok pada bintang utara itu (Pak Tayui). Setelah Oey Yok Su menginsyafi sifatnya tin atau barisan lawan itu, ia memusatkan perhatiannya kepada garis tengah itu. Ia mengerti, asal bisa merangsak ke tengah, tin akan pecah, atau kalau tidak, ia akan bertahan di situ, hingga tidak dapat dikalahkan.
Juga Ma Giok semua dapat menerka maksud lawan, mereka menjadi cemas. Coba Tam Cie Toan masih hidup, mereka tidak usah terlalu berkhawatir, mereka tidak nanti membiarkan lawan merangsak ke utara, sekarang tidaklah demikian, di sebabkan lemahnya Kwa Tin Ok meskipun Tin Ok dibantu in Cie Peng. Tin Ok bercacad dan Cie Peng lemah, sudah begitu, keduanya masih asing dengan tin itu. juga kawanan Coan Cin Pay ini telah melihat Kwee Ceng. Mereka menduga sewaktu-waktu Kwee Ceng bakal membantu mertuanya. Maka mereka bingung. Mereka menantikan seseorang, guna mengambil tempatnya Tin Ok di garis thian-soan itu akan tetapi orang yang dinanti-nanti belum juga kunjung tiba. Mereka percaya, asal orang itu datang, garis thian-soan bakal jadi kuat sekali.
Sembari berkelahi oey Yok Su berkata sambil tertawa: "Sungguh aku tidak menyangka, murid-murid Ong Tiong Yang begini tidak tahu selatan!"
Kata-kata ini dibarengi rangsakan kepada Sun put Jie, yang diserang saling susul hingga tiga kali, hingga imam itu repot. Ma Giok bersama Cek Tay Thong segera maju membantu, guna menolong.
Oey Yok Su berkelit, setelah pedang kedua orang itu lolos, ia maju lagi. Tiga kali beruntun menyerang Sun put Jie. Hebat serangannya itu, sekalipun Ong Ti0ng Yang atau Cit Kong sembuh, sulit untuk melayani itu - Karena itu, Sun Put Jie terpaksa hanya membela diri. Atas itu, Oey Yok Su mengubah siasatnya, lantas menyerang di bawah, kedua kakinva bekerja bergantian enam kali menyapu kaki lawannya. Jadi beruntun tocu Tho Hoa To itu sudah menggunakan ilmu silatnya tangan kosong "Lok Eng Ciang" dan tendangan "Sauw Yap Twie".
Ma Giok beramai menjadi bingung. Serangan itu membahayakan Sun Put Jie - Pula, dengan Kwa Tin Ok tidak dapat melihat, mereka jadi bergerak lambat. Hebat akibatnya kalau Pak Tauw Tin kacau. Sebaliknya Oey Yok Su tidak mengambil mumat apa yang dipikir lawan, ia merangsak terus. Mendadak ia tertawa panjang dan tubuhnya melesat, terus terdengar jeritan yang keras dari satu orang yang tubuhnya terlempar ke ujung Yan Ie Lauw.
Itulah in Cie Peng, yang punggungnya kena disambar, hingga tanpa berdaya, tubuhnya kena dilemparkan Oey Yok Su. Setelah itu, tanpa menanti ketika, jago Tho Hoa To ini maju ke arah Ma Giok. Ia Percaya bakal berhasil. Tidak tahunya, imam itu tidak berkisar dari kedudukannya, malah dengan pedangnya membalas menikam ke alis.
"Bagus!" berseru Yok Su dengan pujiannya sambil ia berkelit. "Tidak kecewa kau menjadi murid kepala dari coan Cin Pay!"
Meski memuji, Oey Yok Su tidak menghentikan gerakannya. Mendadak ia menendang Cek Tay Thong hingga imam itu terguling, pedangnya terlepas, maka ia menubruk pedang itu, untuk dipakai menikam lawannya yang roboh. Layui Cie Hian kaget, ia menangkis guna menolong saudaranya.
Oey Yok Su melihat datangnya bantuan, ia tertawa, sembari tertawa, pedangnya dipakai menangkis Cie Hian - Dengan begitu bentroklah kedua senjata itu - Yang hebat ialah kedua pedang patah dengan suara keras. Bagaikan bayangan berkelebat gesit sekali tocu dari Tho Hoa To merangsak ke arah Pak-kek-chee.
Sejenak itu, kacaulah pak Tauw Tin. Coan Cin Cit Cu mengeluh saking berdukanya. Ma Giok menghela napas panjang, hendak ia melemparkan pedangnya, guna menyerah kalah. Saat itu satu bayangan berkelebat di antara mereka, lantas digaris utara itu tambah satu orang - itulah Kwee Ceng!
Khu Cie Kie menjadi girang sekali. Ia telah menyaksikan di Cui Sian Lauw di mana mertua dan menantunya itu bertempur mati-matian. Ma Giok dan Ong Cie It juga lantas mengenal si anak muda, seorang jujur, maka mereka percaya, anak muda itu tentunya bakal membantu mertuanya - Habislah Cian Cin Cit Cu - atau Coan Cit Liok Cu - kalau mertua dan mantu bekerja sama. Tentang Kuia Tin Ok tidak dikhawatirkan, sebab tidak mungkin Kwee Ceng mencelakai gurunya. Tapi selagi mereka itu berkhawatir dan berputus asa, lantas mereka menampak kenyataan yang luar biasa. Kwee Ceng bukan membantui mertuanya, justru menempur mertuanya itu!
Oey Yok Su percaya bakal dapat mengacau Pak Tauw Tin dan memecahnya, supaya dengan begitu Coan Cin Pay menyerah dan minta-minta ampun, maka heran ia atas datangnya bala bantuan kepada musuhnya itu, tidak menanti sampai memutar tubuh, ia segera menyerang ke belakang, ke arah dada, dengan pukulan Pek Khong Ciang. Serangan ini dihalau orang tanpa berkelit, cuma tangan kirinya dipakai menangkis. Ia terkejut¬
"Cuma beberapa orang saja yang dapat menangkis seranganku semacam ini," pikirnya. "Siapakah dia?" Maka ia segera menoleh, ketika mengenal Kwee Ceng, ia menjadi mendongkol berbareng menyesal. Dengan penasaran, ia menyerang lagi, beruntun tiga kali. Ia tahu tanpa dapat mengundurkan si anak muda, ia terancam bahaya terkepung, ia menyerang dengan tiap pukulannya bertambah hebat, tetapi tiga kali serangannya itu dapat dihindarkan. Untuk keempat kalinya, ia menyerang pula, dengan siasat berPura¬pura dan benar-benar. Siasat ini dapat membingungkan lawan.
Kwee Ceng tidak kena diakali, ia menjaga diri, ia tidak menyerang - Pedangnya menjaga dada, tangan kirinya melindungi perut.
Oey Yok Su menjadi heran. "Terang bocah ini mengenal baik sifat Pak Tamu Tin," pikirnya. "Dia tahu bagaimana harus membelai atau memukul pecah Lihatlah, dan tidak berkisar dari Pak-kek-chee! Rupanya dia telah diminta bantuannya untuk menentang aku"
Dugaan pemilik Tho Hoa To ini benar separuh, salah separuh. Benarnya ialah karena Kwee Ceng memang mengerti baik barisan pak Tauui Tin itu, hanya itu didapat bukan dari pengajarannya Coan Cin Cit Cu tetapi dari kitab Kiu Im Cin-keng. Dia salah menduga, sebab Kwee Ceng bukan diminta bantuannya oleh Coan Cin Pay hanya dia bertindak atas kehendaknya sendiri. Tidak saja di situ ada Tin Ok, dia pun telah dianggap si anak muda sebagai musunnya, karena dipercaya dialah yang membinasakan Cu Cong berlima. Hanya karena mengetahui lawannya lihay, Kwee Ceng mengambil sikap membela diri, sama sekali anak muda ini tidak mengambil mumat orang menyerang benar-benar atau menggertak saja.
Akhirnya Oey Yok Su mengeluh sendiri: "Anak ini tidak tahu maju atau mundur," pikirnya. "Hm! Biarlah, biar aku disesalkan Yong-jie, mesti aku hajar dia, sebab kalau tidak, tidak akan aku daPat lolos dari tin ini!" Ia pun lantas bergerak, tenaganya dikerahkan di kedua tangannya. Tepat di saat ia hendak menyerang, ia berpikir; "Kalau dia tetap berdiri diam dan tidak menyingkir, dia bakal terluka parah, kalau dia sampai kenapa-napa, mana Yong-jie mau mengerti?"
Kwee Ceng melihat gerakan lawannya yang tangguh itu, akan tetapi ia tidak mau berkisar dari tempat jagaannya itu - Ia menggertak gigi. ia menangkis dengan jurus "Kian Liong Cay Thian", atau "Melihat naga di sawah". Dengan Hang Liong Sip¬pat Ciang hendak ia bertahan, agar Pak Tauw Tin dapat dilindungi.
Dengan mendadak, Oey Yok Su menunda serangannya itu. "Bocah tolol, lekas menyingkir?" ia membentak. "Mengapa kau menentangku?"
Kwee Ceng bersiap dengan pedangnya, ia mengawasi dengan tajam. Ia takut jago itu menggunakan akal. Ia tidak menyahuti. Pihak Khu Cie Kie sudah lantas memperkokoh lagi barisannya.
"Di mana Yong-jie?" Oey Yok Su bertanya.
Kwee Ceng berdiam, matanya merah bagaikan api, romannya bengis. Yok Su heran. Ia lantas menduga telah terjadi sesuatu dengan putrinya¬.
"Kau perbuat apa atas Yong-jie?" ia membentak, ia mulai berkhawatir. "Lekas bilang!"
Masih si anak muda berdiam, hanya tangannya yang mencekal pedang bergemetar. Oey Yok Su terus mengawasi dengan tajam, maka heranlah ia. Ia menjadi curiga.
“Kenapa tanganmu gemetar?" ia tanya.
"Kenapa kau tidak mau bicara?"
Kwee Ceng tengah mengingat kebinasaan hebat dari kelima gurunya di pulau Tho Hoa To, ia lagi menahan hawa amarahnya, getaran hatinya, maka ia gemetar. Oey Yok Su curiga berbareng berkhawatir sekali. Hanya ia berkhawatir, mungkin sebab perebutan di antara putrinya itu dan putri Mongolia, si anak muda telah membunuh Yong-jie, anaknya. Dengan menjejak kedua kaki, ia lompat maju.
Khu Cie Kie melihat gerakan pemilik Tho Hoa To itu, ia segera menggerakkan barisannya. Ong Cie It bersama Cek Tay Thong menyerang dari kiri dan kanan. Kwee Ceng tidak menyingkir, ia cuma berkelit, pedangnya terus ditikamkan. Oey Yok Su pun tidak menyingkir, bahkan dengan satu tekukan tangan, ia menangkap tangan si anak muda, guna merampas pedangnya. Tapi ia gagal - Kecuali pedangnya Ong Cie It mengancam punggungnya, pedang Kwee Ceng pun bisa diegos, dipakai menikam pula.
Setelah segebrakkan, pertempuran terulang lagi, jauh lebih hebat daripada yang semula. Selagi Kwee Ceng panas hatinya, Khu Cie Kie semua tidak kurang gusarnya. Mereka ini hendak menuntut balas untuk Ciu Pek Thong dan Tam Cie Toan.
Oey Yok Su merasa bahwa di sini telah terbit salah mengerti tetapi ia beradat keras dan jumawa, tidak suka mengalah, sedangkan ia juga berderajat lebih tua, lebih tinggi. Ia ingin menghajar mereka, supaya mereka menyerah kalah, sampai waktu itu barulah ia mau memberi keterangan, untuk sekalian memberikan tegurannya. Begitulah, kedua pihak sama kerasnya.
Oey Yok Su ingin mendesak Kwee Ceng, yang ia berniat membekuknya, guna didengar keterangannya. Kalau benar dugaannya, Oey Yong terbinasa di tangan pemuda ini, ia hendak menghukum picis. Tapi Kwee Ceng berjaga diri di garis utara, teguh kedudukannya.
Ketika itu In Cie Peng, yang dilemparkan ke atas lauwteng Yan Ie Lauw, masih belum dapat merayap bangun, tetapi tanpa dia, Kwee Ceng tidak menjadi lemah. Oey Yok Su menghadapi kesulitan. Kalau ia mendesak Kwee Ceng, Khu Cie Kie beramai mendesak padanya - Ingin ia menggempur Khu Cie Kie semua, tetapi malang dengan si anak muda.
Ketika pertempuran telah berlangsung lima puluh jurus, terlihatlah Oey Yok su terdesak - Kepungan nampak menjadi ciut¬
"Tahan!" berseru Ma Giok disaat sangat tegang itu - Seruan itu ditaati, lima saudaranya lantas berhenti menyerang.
"Oey Tocu!" berkata tertua dari Coan Cit Liok Cu. "Kau seorang kenamaan dan juga dari golongan tua, maka kami orang-orang dari golongan lebih muda tidak berani berlaku kurang ajar terhadapmu, kalau toh sekarang kami mengurung, itu saking terpaksa. Sekarang aku hendak menanya, apakah kamu berhubungan dengan hutang darah dari paman kami Ciu Pek Thong dan sutee kami Tam Cie Than?"
Orang yang ditanya tertawa dingin. "Apa lagi yang hendak dipertanyakan?" katanya. "Lekas kau bunuh Oey Yok Su, untuk melindungi namanya Coan Cin Pay! Tidakkah itu bagus? Lihatlah!"
Tahu-tahu tangan kanan majikan Tho Hoa To ini melayang ke muka Ma Giok! inilah satu jursu dari Lok Eng Ciang, yang Oey Yok Su sudah melatihnya belasan tahun, gerak-geriknya sangat gesit, seperti juga tidak dapat terlihat. Dalam kagetnya, Ma Giok berkelit ke kanan. Justru berkelit, itulah kehendaknya Oey Yok Su, yang serangannya mempunyai dua maksud berbareng benar-benar dan berpura-pura. Maka itu ia bukannya kena ditinju hanya terjambak dadanya. Asal Oey Yok Su mengerahkan tenaganya gempurlah dadanya itu.
Semua orang terkejut, semua maju untuk menolong, tetapi terlambat. Hanya disaat Ma Giok itu bakal menerima nasibnya, Oey Yok Su tertawa dan jambakannya dilepaskan. Ia pun berkata:
"Jikalau dengan caraku ini aku memukul pecah barisan kamu, tentulah kamu tidak puas! Oey Lao Shia boleh mati tetapi tidak nanti dia mau menyebabkan tertawanya semua orang gagah di kolong langit ini! Kawanan imam yang baik, kamu majulah semua!"
Lauw Cie Hian mendongkol, tinjunya melayang, disusul pedang Ong Cie It. Maka itu, bergerak pula Thian Kong Pak Tauw Tin. Kali ini yang digerakkan ialah rintasan yang ketujuhbelas. Setelah Ong Cie It, serangan mesti disusul Ma Giok. Hanya setelah Ong Cie It menikam dia melompat mundur, Ma Giok bukannya menggantikan menyerang, dia malah lompat mundur juga.
"Tahan! ' serunya. Sekali lagi semua orang berhenti bergerak.
"Oey Tocu, aku menghaturkan terima kasih untuk kebaikanmu," berkata Ma Giok.
"itulah kata-kata bagus dariku," jawab yok su.
"Sebenarnya disaat ini jiwaku yang rendah sudah tidak ada," kata Ma Giok, "Sedang barisan warisan guru kami ini telah terpecahkan olehmu, dengan begitu sudah seharusnya saja kami menyerah kalah, kami mesti menyerah terhadap keputusan tocu. Tapi, sakit hati kami tidak dapat tidak dibalaskan! Oey Tocu, aku yang rendah, aku bersedia akan menggorok leherku sendiri untuk menghaturkan terima kasih padamu"
"Sudahlah!" berseru Oey Yok Su, wajahnya guram¬ "Tidak usah kita banyak omong lagi! Kamu boleh turun tangan! Memang juga, perkara sakit hati sukar sekali dijelaskannya"
Kwee Ceng telah mendengar semua itu, ia menjadi berpikir; Ma Totiang bilang dia bertempur guna membalas sakit hati paman guru dan saudara seperguruannya. Apakah artinya itu? Bukankah Toako Ci Pek Thong masih hidup? Pula kematian Tam Cie Toan, bukankah itu tidak ada hubungannya dengan Oey Tocu? Hanya kalau aku menjelaskan semua ini, apabila Coan Cin Liok Cu mengundurkan diri, hingga tinggal aku berdua guruku, mana sanggup aku melawan dia? Jangan kata soal sakit hati, buat melindungi jiwa sendiri pun sukar" Baru ia berpikir demikian tapi segera ia berpikir lain: "jikalau aku menutup mulut, apakah aku bukannya menjadi si hina dina? Bukankah semua guruku sering mengajari, kepala boleh kutung tetapi kejujuran tidak?" Karena ini segera ia mengasih dengar suaranya yang nyaring;
"Ma totiang, paman guru kamu tidak mati! Tam Totiang pun dibinasakan oleh AuWyang Hong!"
Belum lagi Oey Yok Su bilang apa-apa, Khu Cie Kee telah mendahulwnya. "Apa kau bilang?" imam itu tanya.
"Toako Ciu Pek Thong tidak mati dan Tam Totiang dibinasakan Auwyang Hong," Kwee Ceng menjawab seraya terus ia menjelaskan apa yang ia dengar selama sembunyi sembari merawat diri di kamar rahasia, bagaimana Khiu Cian Jin melepas cerita burung dan fitnahnya Auwyang Hong. Cerita itu luar biasa.
"Apakah kau omong sebenar-benarnya?" Khu Cie Kee menegaskan.
“Teecu sangat membenci dia, ingin teecu menelannya, maka itu apa perlunya teecu membantu dia?" kata Kwee Ceng dengan sengit sambil ia menuding Oey Yok Su. "Kenyataan adalah demikian rupa maka itu teecu tidak dapat tidak bicara dari hal yang benar."
Oey Yok Su menjadi heran - Sungguh ia tidak menyangka Kwee Ceng mau membelanya
"Kenapa kau membenci aku sampai begini?" ia tanya pemuda itu. "Mana Yong-jie?"
Tapi Kwa Tin Ok panas hatinya. "Apakah kau tidak tahu perbuatanmu sendiri?" dia membentak. "Anak Ceng, biarnya kita kalah mari kita mengadu jiwa!" Ia terus menyerang.
Kwee Ceng mengucurkan air mata. ia mengerti, sikap Oey Yok Su berubah sedikit. Tapi di situ ada gurunya, yang marah tak kepalang itu¬
"Toasuhu, jiesuhu semua mati secara sangat menyedihkan" katanya.
Oey Yok Su menyambar tongkatnya Kwa Tin Ok yang dihajarkan kepadanya. "Apa kau bilang?" ia tanya Kwee Ceng, suaranya keras. "Cu Cong berlima baik-baik saja berada di Pulauku menjadi tamu, kenapa mereka pada mati?"
Kwa Tin Ok tidak menanti jawaban muridnya, ia membetot tongkatnya. Tetapi tongkat itu tidak bergeming.
"Kau kurang ajar sekali, di depanmu seperti tidak ada orang yang lebih tua, kau juga ngoceh tidak karuan, bahkan kau menggepaki tangan dan kakimu, adakah itu untuk Cu Cong semua?" Oey Yok Su tanya pula Kwee Ceng.
Matanya si anak muda seperti mau mencelos, mata itu merah. "Dengan tanganmu sendiri kau membinasakan kelima guruku, kau masih hendak berpura-pura tidak tahu?" membentak dia.
Dia mengangkat pedang pendeknya dan menikam Oey Yok Su menangkis dengan tongkatnya Kwa Tin Ok, maka Pedang dan tongkat beradu nyaring, ujung tongkat somplak.
"Siapakah yang menyaksikan itu?" ia tanya.
"Kelima guruku aku yang menguburnya dengan tanganku sendiri, apakah dengan begini aku masih memfitnahmu?" Kwee Ceng balik menanya.
Yok Su tertawa dingin. Kelakuan anak muda itu membangkitkan hawa amarahnya. Ia memang besar kepala, tidak Pernah ia suka mengalah.
"Fitnah atau bukan, masa bodoh!" kata pemilik Tho Hoa To. "Seumur hidup Oey Lao Shia suka dipandang keliru maka itu dengan hanya membunuh beberapa jiwa, mungkinkah aku menyangkal? Tidak salah, semua gurumu akulah yang membunuhnya!"
Tepat disaat habisnya ucapan Tong Shia, di situ terdengar suara seorang perempuan: “Bukan, ayah, bukan kau yang membunuh mereka! Jangan kau sembarang bertanggung jawab!"
Semua orang terkejut, semua lantas berpaling. Di sana muncul Oey Yong, yang orang tak ketahw datangnya sebab mereka terlalu repot bertarung dan mengadu mulut - Kwee Ceng melongo. Ia tidak tahu mesti bergirang atau berduka - Oey Yok Su kaget sebentaran, lantas dia sadar - Bukan main girangnya menyaksikan putri tunggalnya tidak kurang suatu apapun. Dengan begitu juga lenyap semua kemendongkolannya kepada Kwee Ceng. Ia tertawa berkakakkan.
"Anak yang baik, ke mari!" ia kata. "Ayah sangat menyayangi kau!"
Sudah banyak hari Oey Yong berduka, sekarang ia mendengar suara demikian manis, lantas ia lari kepada ayahnya, untuk menubruk, melepaskan diri dalam rangkulan orang tua itu. Ia menangis.
"Ayah" katanya, "Anak tolol itu membikin kau penasaran, dia pun menghinaku"
Oey Yok Su merangkul putrinya, ia tidak gusar, malah ia tertawa¬ "Oey Lao Shia pergi, dia Pergi ke mana dia suka, dia bikin apa dia mau!" katanya. "Untukku, selama beberapa puluh tahun, pengalamanku luar biasa! Mereka yang tidak tahu apa-apa, semua menimpahkan kesalahan di atas kepala ayahmu, maka kalau itu ditambah lagi beberapa fitnah, apakah artinya? Lima anggota dari Kanglam Cit Koay itu musuh besar dari kakakmu seperguruan, memang aku yang telah membinasakan mereka!"
"Bukan, bukan!" berteriak Oey Yong cepat. "Aku tahu betul, bukan ayah yang membunuh mereka!"
Oey Yok Su bersenyum. "Si tolol itu sangat besar nyalinya, dia berani menghina anakku yang baik!" ia berkata. "Kau lihat ayahmu membereskan dia!"
Benar seperti perkataannya, pemilik Tho Hoa To itu lantas bekerja, cepat seperti tadi ia mencekuk Ma Giok. Kwee Ceng tengah memikirkan pembicaraan ayah dan anak itu tahu~tahu pipinya yang kiri kena ditampar, nyaring hingga ia merasakan pipinya panas. Ia mau mengangkat tangan, guna menangkis, tetapi orang telah menarik kembali tangannya, untuk dipakai mengusap-usap rambut indah putrinya. Ia menjadi bingung, tidak tahu ia mesti menyerang terus atau bagaimana. Tamparan itu keras suaranya tetapi tidak terlalu sakit. Kwa Tin Ok kaget - Ia tahu muridnya dihajar tetapi ia tidak melihat itu.
"Anak Ceng bagaimana?" ia lantas menanya.
"Tidak apa-apa," menyahut sang murid.
"Kau jangan dengar ocehan siluman serta anak silumannya!" kata pula Tin Ok. "Aku telah mendengar sendiri keterangan soe-suhu kau bahwa dia melihat sendiri bangsat tua itu membunuh jiesuhumu dan memaksakan kematiannya Cit"
Kwee Ceng tidak menanti habisnya perkataan gurunya itu, ia menerjang Oey Y0k su, sedang Tin Ok turut menyerang dengan tongkatnya. Oey Yok Su melihat datangnya serangan, ia melepaskan anaknya, sambil berkelit dari sepangan Kwee Ceng, ia maju untuk menanggapi tongkat si jago buta.
Kali ini Kwa Tin Ok sudah siap, tongkatnya tidak kena dirampas, maka itu berdua muridnya, ia menyerang terus, hingga mereka jadi berkelahi bertiga. Kwee Ceng telah menemw banyak orang lihay, yang memberikan ia pelajaran, akan tetapi untuk melayani Oey Yok Su, ia masih kalah jauh, meski ia dibantu Kwa Tin Ok, ia masih tidak bisa berbuat banyak. Baru tigapuluh jurus ia dan gurunya sudah terdesak.
Khu Cie Kie semua berdiam sejak tadi. Mereka dibikin bingung dengan keterangan Kwee Ceng - Belum mereka bisa berpikir, mereka melihat orang bertempur, maka yang pertama dipikir mereka ialah; "Tadi Coan Cin pay terancam bahaya, mereka guru dan murid membantu, maka sekarang mereka terdesak apa kami mesti berdiam saja? Biarlah urusan Ciu Susiok, dia benar masih hidup atau sudah mati, baiklah Oey Yok Su ini dibikin tunduk dulu!" Maka ia mengangkat pedangnya dan berseru: "Kwa Tayhiap, kembalilah ke kedudukanmu!"
Baru waktu itu, In Cie peng merayap bangun untuk turun dari lauwteng. ia kaget dan terbanting keras tetapi tidak teriuka Parah, cuma mukanya bengap dan matang biru - Ia lantas kembali ke belakang Tin Ok dengan pedang terhunus.
Sekali lagi Oey Yok Su terkurung, hingga ia menjadi sangat gusar. "Tadinya cuma salah mengerti, masih ada alasan kenapa orang menyerangku," pikirnya, "Sekarang setelah si bocah bicara, kawanan bulu campur aduk ini masih mengepung aku! Apakah mereka kira Oey Lao Shia takut membunuh orang?"
Maka ia lantas merangsak ke arah Kwa Tin Ok - Oey Yong berkhawatir melihat air muka ayahnya. Ia tahu kalau ayahnya sudah gusar, dia benar-benar tidak mengenal kasihan - Ong Cie It bersama Ma Giok lantas menghadang di depan tertua Cit Koay itu. Kwa Tin Ok mendongkol sekali, ia menyerang si nona sambil mendamprat:
"Manusia hina jahat yang tidak berampun, siluman perempuan!"
Oey Yong menjadi sangat gusar. "He, tua bangka, berani kau mencaci diriku?" ia berseru.
Untuk Kanglam Cit Koay, memaki bukan pekerjaan sukar, maka itu Tin Ok mengulangi dampratannya - Untuk Oey Yong, itulah hal langka - Ia tidak bisa mencaci orang, maka sambil berludah, ia kata;
"Cis! Tak malu kau menjadi guru orang sedang mulutmu begini kotor?"
Tapi Kwa Tin Ok berkata; "Aku bicara baik-baik sama orang baik, aku bicara kotor sama manusia hina dinai"
Oey Yong habis sabar, ia segera menyerang. Tin Ok mengetahw datangnya serangan, ia menangkis, tetapi ia belum kenal lek-tiok-thung yang luar biasa itu, begitu kedua tongkat beradu, tongkatnya seperti ditempel, tongkat itu kena diputar sekehendak si nona, ia seperti kehilangan kendali - Ia berdiam di garis thian-soan, dengan ia kena dipengaruhi si nona, Pak Tauw Tin menjadi macet.
Khu Cie Kie lantas menyerang si nona, punggung siapa ia arah, dengan begitu ia hendak membebaskan Tin Ok. Si nona tidak menghiraukan serangan. Ia mengandal pada baju lapisnya. Ketika ujung Pedangnya hampir mengenai sasaran, imam dari Coan Cin Pay itu berpikir. Ia ingat kepada derajatnya yang tinggi, maka mana dapat ia melayani seorang bocah. Karena ini, Pedangnya tidak diteruskan menikam. Karena itu, kesempatan yang baik digunakan Oey Yong, maka dengan satu sontekan, ia membuat tongkat Tin Ok terlepas dari cekalan, mental tinggi, nyemplung ke Lam Ouw, Telaga Selatan!
Khu Cie Kie khawatir si nona menyerang terus kepada tertua Kanglam cit Koay it, ia lompat untuk menghalang. Sementara itu ia heran atas lihaynya si nona, ilmu tongkat siapa ia tidak kenal. Kwee Ceng juga melihat gurunya terancam, ia berseru:
"Suhu, silahkan mengaso, aku nanti menggantikan kaul" Dan ia lompat ke garis thian-soan itu. Begitu ia bertindak, begitu tin menjadi hidup lagi, bahkan ke dudukan thian-soan ini lantas menggantikan kedudukan thian-kie.
Oey Y0k Su kembali terdesak. Biar ia dibantu gadisnya, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia belum bisa menyelami arti atau sipatnya Thian Kong Pak Tauw Tin ini. Syukur untuknya, di antara lawannya itu cuma Kwee Ceng yang paling hebat, hingga ia seperti harus melayani satu orang saja. Hanya sulit untuknya, ia tidak berniat mencelakai anak muda itu.
Oey Yong mendapat lihat Kwee Ceng berkelahi hebat sekali dan air muka orang juga guram, Pemuda itu seperti dikurung sinar pembunuhan, ia terkejut. Belum pernah ia menyaksikan perubahan air muka semacam itu. Karena ini, ia maju ke depan ayahnya, ia kata pada itu anak muda;
"Kau bunuhlah aku lebih dulu"
"Minggir!" membentak si anak muda, bentakannya keras, romannya bengis.
Oey Yong heran hingga ia tercengang. Pikirnya; "Kenapa kau bicara begini rupa terhadapku?"
Kwee Ceng maju terus, ia menolak tubuh si nona untuk dikepinggirkan, habis itu, ia terus merangsak Oey Yok Su. Disaat tegang itu, di belakang mereka yang lagi bertarung terdengar suara tertawa terbahak disusul kata-kata nyaring;
"Saudara Yok, jangan berduka, mari saudaramu membantumu'"
Suara itu tajam, untuk kuping tak sedap terdengarnya. Semua orang heran, tetapi mereka tidak lantas menoleh, sesudah Oey Yok su terdorong. Cie Kie semua baru berpaling. Maka mereka melihat di tepian telaga ada lima atau enam orang dengan satu diantaranya Panjang kaki dan tangannya, sebab dialah See Tok Auwyang Hong, si Bisa dari Barat.
Coan cin Cit Cu lantas bertindak, sedang Khu Cie Kie berkata kepada Kwee Ceng; “Anak Ceng, mari kita membikin perhitungan pada See Tok dulu!” Ia mengulapkan pedangnya, terus ia lompat, guna mencoba mengurung Auwyang Hong.
Ketika itu Kwee Ceng tengah memperhatikan Oey Yok su, ia sampai mendengar suaranya Khu Cie Kie, ia terus menerjang ayahnya Oey yong itu, bahkan sebentar saja, mereka sudah bertempur lima enam jurus, hebat pertempuran mereka. Beberapa kali mereka sama-sama maju lagi, kembali mereka mundur lagi.
Khu Cie Kie berenam sudah mengatur barisannya, ketika ia melihat ke arah Kwa Tin Ok, orang buta itu lagi memasang kuping, guna mendengar suara pertempuran Kwee Ceng. Tin Ok bersedia akan berlompat menubruk Oey Yok Su, guna memeluk keras-keras, agar muridnya bisa membinasakan musuh ini, untuk itu ia bersedia mengorbankan dirinya.
Menampak demikian, Khu Cie Kie memerintahkan In Cie Peng menggantikan Tin ok mengambil kedudukan thian-soan. Auwyang Hong juga telah bersiap - Ia berjongkok dengan sikap ilmu kodoknya, tangan kanannya memegang tongkat. Sebagaimana biasanya, ia berlaku tenang, tidak mau lancang bergerak. Lagi pula ia memang rada jeri untuk barisan Pak Tauw Tin dari Coan Cin Pay itu. Adalah setelah Khu Cie Kie bergerak, terpaksa ia melayani. Ia bermata jeli, segera ia merasa kelemahan tin itu ada di pihak In Cie Peng, maka ia memasang mata ke garis thian-soan itu.
Oey Yong menaruh diri di antara Kwa Tin ok dan ayahnya serta Kwee Ceng yang lagi bertempur itu, ia masgul.
"Tahan dulu!" ia berseru. "Dengar perkataanku!"
Kwee Ceng tidak memperdulikan itu, ia menyerang terus, tetap hebat. Sikapnya ini membikin hilang kesabaran Oey Yok Su, dari bergerak setengah hati, ia mulai menggunakan tenaganya.
Di pihak Auwyang Hong, si Bisa dari Barat itu lagi mencoba mendesak Coan Cin Cit Cu, saban-saban ia mengasih dengar suaranya berkerak kerok mirip kodok - Itu artinya, bahaya tengah mengancam.
Si nona menjadi bingung - Kalau ayahnya dan Auwyang Hong sudah turun tangan benar-benar, akan hebat akibatnya. Ketika ia berpaling ke Van Ie Lauw, di sana Ang Cit Kong masih duduk bengong, menonton pertempuran itu.
"Suhu, suhu!" ia lantas memanggil "Suhu, tolong kau bicara!"
Sebenarnya, Cit Kong pun berkhawatir. Kalau ia masih gagah, ia tentu sudah maju menengahi. Maka ia menonton saja, sampai ia mendengar suara si nona. Ia lantas berpikir; "Asal Oey Lao Shia masih suka memandang aku, ini gampang."
Dengan menekan loteng, Pak Kay lantas menurunkan diri. ia terus berseru; "Tuan-tuan, tahan! Aku si pengemis tua hendak bicara!"
Kiu Cie Sin Kay kesohor sekali, melihat datangnya orang lantas berhenti berkelahi. Tapi yang berkhawatir sekali ialah Auwyang Hong, hingga dia berkata di dalam hatinya: "Kenapa kepandaian si pengemis tua dapat pulih kembali?"
See Tok tidak tahu, dengan bantuan Kiu Im Cin-keng menurut keterangan Kwee Ceng, Ang Cit Kong memperoleh sedikit kefaedahan, jalan darahnya mulai lurus sendiri, dalam ilmu ringan tubuh, kepandaiannya sudah pulih lima atau enam bagian. Cuma dalam ilmu silat, semua kepandaiannya masih hilang, ia mirip orang yang tidak mengerti silat sama sekali.
Melihat orang bersikap memandang mata kepadanya, cit Kong pikir bahwa ia harus sedikit beraksi, hanya ia belum dapat berpikir, apa yang ia mesti katakan agar Auwyang Hong suka mengundurkan diri. Karena lagi memikir, ia mendongak, terus tertawa terbahak. Ia melihat rembulan mulai muncul, lantas ia mendapat pikiran, maka ia berkata dengan nyaring,
"Yang ada di depan mata ini, semuanya orang-orang pandai dari Rimba Persilatan, tidak disangka lagaknya mirip buaya darat, kata-katanya seperti angin busuk"
Mendengar itu semua orang melengak. Memang orang tahu, cit Kong suka bilang apa yang ia pikir. Ma Giok lantas memberi hormat.
"Tolong Cianpwee memberi pengajaran," katanya.
Ang cit Kong berpura-pura gusar, ia berkata dengan nyaring: "Aku si pengemis tua telah mendengar dari siang-siang bahwa pada Pee-gwee Tiong ciu bakal ada orang bertarung di pinggir lauteng Yan Ie Lauw ini, maka itu hendak aku menyaksikan. Tapi aku adalah seorang yang kupingnya paling tidak suka mendengar suara berisik, maka itu justru waktunya masih siang, hendak aku tidur pulas dan nyenyak di sini, siapa tahu pagi ini lantas saja aku mendengar suara berisik dari anjing mau mampus, orang rebut mengatur barisan rombongan kuda atau tahang air kencing, juga ada suami memukul istri, ada menantu menyerang mertua, ada yang memotong ayam dan menyembelih anjing, ributnya bukan buatan, sampai aku si pengemis tua tidak dapat tidur tenang. Coba kalian angkat kepala dan lihat, hari ini tanggal berapa?"
Mendengar itu, orang lantas ingat bahwa hari itu adalah Pee-gwee Capsie, ialah bulan delapan tanggal empat belas, jadi hari pibu, harian mengadu kepandaian, adalah besok. Jadi tidaklah tepat bertempur mendahului hari yang dijanjikan.
"Locianpwee benar," kata Khu Cie Kie kemudian, "Memang tidak selayaknya hari ini kami membuat berisik di sini." Ia menoleh pada Auwyang Hong, untuk berkata " orang she Auwyang, mari kita mencari tempat lain di mana kita bisa bertempur terus mati-matian"
"Bagus, bagus" Auwyang Hong tertawa. "Memang harus aku menemani kamu"
Mendengar itu Ang Cit Kong mengasih lihat roman bengis, ia berkata keras "Satu kali Ong Tiong Yang menutup mata, kawanan bulu campur aduk dari Coan Cin Kauw lantas main gila tidak karuan. Aku bilang terus-terang kepada kalian, enam imam pria ditambah sama satu imam wanita, kamu semua masih bukan tandingan si bisa bangkotan Ong Tiong Yang tidak mewariskan apa-apa kepadaku, aku pun perlu memikirkan kalain, hanya sekarang aku hendak tanya, kalian telah membuat janji, habis bagaimana akan memenuhi janji kalian itu? Apakah yang bakal memenuhi janji ada imam-imam yang mati?"
Kata-kata itu berupa teguran atau dampratan tetapi di balik itu adalah pemberian ingat untuk menyadarkan kawanan imam itu bahwa dengan melawan Auwyang Hong, mereka adalah bagian mati, bukannya bagian hidup, Liok Cu menginsyafi itu tetapi mereka lagi menghadapi musuh besar, tidak dapat mereka memikir jauh.
Selagi orang berdiam, cit Kong melirik kepada Kwee Ceng dan Oey Yok Su. Si anak muda tetap mengawasi dengan kemurkaannya yang hebat. Oey Yong mau menangis, air matanya mengembang, tandanya dia sangat berduka. Ia lantas berpikir, setelah itu ia berkata pula dengan keras
"Sekarang aku si pengemis tua hendak pergi tidur siapa yang bertempur pula, itu artinya dia tidak memandang lagi padaku, maka kalau besok malam kalian mengamuk hingga langit ambruk dan bumi gempa, aku tidak akan membantu siapapun. Ma Giok. hayo kau ajak kawanan bulu campur aduk dari kamu naik ke lauwteng, di sana tinggallah kalian dengan tenang Anak Ceng, anak Yong, mari turut aku, kau tumbuki pahaku"
Auwyang Hong jeri. Ia tahu kalau Cit Kong membantu Coan Cin Pay, sulit ia melawannya, maka ia pun berkata
"Eh, pengemis tua, saudara Yok bersama aku bentrok sama Coan cin Kauw, kalau kata-katamu bukan angin busuk belaka, baiklah hari ini aku memberi muka padamu, tetapi ingat, besok tidak dapat kau membantu siapapun"
Di dalam hatinya, Ang Cit Kong tertawa. Ternyata orang telah kena digertak. Pikirnya: "Kalau sekarang kau menolak aku dengan jari kelingkingmu, tentu aku roboh, siapa nyana kau takut"
Maka ia berkata pula dengan nyaring "Kalau aku sipengemis tua melepaskan angin busuk, bila itu dibandingkan sama kata-katamu, masih terlebih harum. Aku telah bilang, aku tidak akan membantu, pasti aku tidak akan membantu. Apakah kau merasa pasti bahwa kau bakal menang" ia tertawa dan melengak, kepalanya sampai mengenai tanah, tempat araknya dijadikan bantal. Ia berkata pula: "Anak-anak, mari kau memukuli pahaku"
Paha kambing Cit Kong tinggal tulangnya saja tetapi ia sayang untuk membuangnya, ia masih menggerogoti, baru kemudian, ia masukkan tulang itu ke dalam sakunya. Ia mengawasi langit di mana awan putih melayang-layang. Katanya perlahan:
"Jangan-¬jangan bakal terjadi perubahan udara " Ia terus menoleh pada Oey Yok su, untuk berkata "Saudara Yok, dapatkah kau meminjamkan putrimu supaya dia menumbuki pahaku?"
Ditanya begitu, Tong shia bersenyum. Oey Yong lantas menghampiri, ia duduk di sisi orang, terus ia menggebuki perlahan paha pengemis tua itu.
"Ah," kata Cit Kong sambil menghela napas. "Beberapa tulang tuaku ini belum pernah mendapat rejeki seperti ini" ia terus memandang Kwee Ceng, untuk mengatakan."Eh, anak tolol, apakah tanganmu tidak kena dibikin patah oleh oey Loshia?"
"Ya," menyahut si anak muda itu. Ia juga duduk di sisi si pengemis, untuk menumbuki pahanya.
Kwa Tin ok pergi menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon yang liu di tepi telaga, sepasang matanya yang tidak ada bijinya diarahkan kepada Oey Yok su. Ia menggunakan kupingnya sebagai mata.
Oey Yok su berjalan mondar-mandir di tepi telaga itu, ia pergi ke timur atau ke barat, matanya Tin ok terus mengikuti. Ia tahu itu, ia tidak mengambil mumat, ia cuma bersenyum.
Khu Cie Kie berenam, bertujuh sama In cie Peng, duduk numprah di tanah dengan kedudukannya tetap seperti barisan rahasia itu. Kepala mereka tunduk. alis mereka turun. Mereka bersemedhi sambil berlatih secara diam-diam.
Budak-budak Auwyang Hong telah lantas bekerja. Dari perahu, mereka mengeluarkan meja dan kursi, mengatur di bawah Yan ie Lauw, mereka terus menyajikan hidangan serta arak. seorang diri see Tok bersantap dan minum, matanya memandang ke telaga. Ia duduk dengan membelakangi orang banyak.
Ang Cit Kong diam-diam memperhatikan Kwee Ceng dan Oey Yong. Keduanya saling menghindari pandangan mata. selama hampir satu jam, Pak Kay belum pernah melihat mereka memandang ataupun melirik satu sama lain. ia heran. ia telah menanyakan sebabnya, senantiasa dua orang itu menjawab dengan mengalihkan pertanyaan.
"Eh, saudara Yok," akhirnya Cit Kong tanya Tong shia, "Apa nama lainnya dari telaga Lam ouw ini?"
"Wan Yo ouw," Oey Yok su menjawab. Itu berarti "Telaga burung wanyoh".
"Kalau begitu, kau lihatlah" kata si Pengemis dari Utara. "Di telaga burung wanyoh ini anakmu dengan menantumu sudah main berdiam-diam, kenapa kau yang menjadi orang tua atau mertua, tidak hendak mengasih atau membujuk mereka?"
Mendengar itu, belum lagi Oey Yok su menjawab, Kwee Ceng sudah mendahului. Ia berlompat bangun, ia menuding Tong shia seraya berkata dengan keras:
"Dia dia telah membinasakan kelima guruku, bagaimana aku dapat masih memanggil dia mertua?"
"Toh tidak aneh, bukan?" kata Tong shia tertawa dingin. "Kang Lam Cit Koay belum mati habis, masih ketinggalan satu si buta Dan dia ini, aku akan membikin dia hidup tidak sampai besok"
Kwa Tin ok bertabiat keras, ia menjadi gusar sekali, maka ia berlompat akan menyerang si Bisa dari Timur. Tetapi Kwee Ceng telah mendahului, sebab biar dia bergerak belakangan, murid ini gesit sekali, serangannya sampai lebih dulu. Oey Yok su menangkis serangan itu, hingga si anak muda mundur setindak.
"Telah aku bilang jangan menggerakkan tangan" Ang cit Kong berseru. "Apakah kamu kira perkataanku si pengemis tua angin busuk belaka?"
Kwee Ceng tidak berani maju lebih jauh, cuma dengan sorot bengis ia mengawasi oey Yok su.
"Oey Lao shia," berkata Cit Kong. "Kang Lam Cit Koay itu laki-laki semua, mengapa kau membinasakan mereka? Aku si pengemis tua melihatmu, aku merasa tidak puas"
"Siapa aku suka, dapat aku membunuhnya" Yok su menyahut. "Dapatkah kau menguasai aku?"
"Ayah" Oey Yong menyelak. "Lima guru, dari dia ini bukan kau yang membinasakannya Ini aku tahu betul. Ayah, bilanglah bahwa bukan kau yang membunuh mereka"
Oey Yok su mengawasi anaknya, yang mukanya kucal, ia merasa kasihan sekali. Ia pun lantas mengawasi Kwee Ceng, atas mana hatinya yang barusan lunak lantas menjadi keras lagi.
"Memang aku yang membunuh mereka" katanya keras. Oey Yong lantas menangis. "Ayah " katanya, "Ayah mengapa kau membunuh orang?"
"Di dunia ini orang mengatakan ayahmu sesat, kau tahu tidak?" si ayah tanya. "Kalau seorang jahat, dapatkah dia berbuat baik? semua perbuatan jahat di kolong langit ini, semua perbuatan ayahmu. Kang Lam Cit Koay menganggap diri mereka orang-orang gagah yang mulia tetapi aku, melihat lagak gagah perkasa dari mereka, tak senang hatiku"
Auwyang Hong mendengar pembicaraan itu, dia tertawa terbahak. "Saudara Yok. mari aku menghadiahkan suatu tanda padamu" katanya. Ia lantas melemparkan satu bungkusan.
Jarak di antara Auwyang Hong dan oey Yok su ada dua puluh tombak lebih akan tetapi hebat gerakan tangan siBisa dari Barat, cepat melesatnya bungkusan itu, segera sampai kepada si sesat dari Timur, yang menyambutnya dengan gampang.
Tong shia merasa memegang barang yang keras, ia menduga kepala manusia. Ia lantas membuka, maka tepatlah dugaannya. Itu adalah kepala orang, yang baru dikutungi dari lehernya. Kepala itu memakai kopiah persegi, ada kumisnya, hanya mukanya tidak dikenali.
Selagi Tong shia memandang kepala orang, See Tok tertawa dan berkata "Pagi ini aku datang dari Barat, aku singgah di sebuah kamar buku, di sana aku mendengar dia ini lagi berceramah di hadapan sekumpulan pelajar, dia mengajar orang untuk menjadi menteri yang setia atau anak yang berbakti. Aku sebal mendengarnya, aku menghunus senjataku dan mengutungi kepalanya. Maka kamu Tong shia dan Aku see Tok. kita berdua cocok satu sama lain" Lantas ia tertawa bergelak¬-gelak.
Mendengar itu, air muka si sesat dari Timur berubah. Ia berkata "Aku justru paling menghormati menteri setia dan anak berbakti"
Maka ia membungkuk, menggali tanah, di situ ia kubur kepala orang itu, lantas ia menjura dengan dalam tiga kali. See Tok kecele, hilang kegembiraannya barusan, tetapi ia tertawa lebar.
"Nama besar dari Oey Lao shia kosong belaka^ katanya. "Kiranya kaupun orang yang dikekang adat sopan santun"
"Kesetiaan dan kebaktian itu adalah kesucian hati, kehormatan besar, itu bukan adat istiadat" berkata oey Yok su, suaranya berpengaruh.
Baru Tong shia menutup mulutnya, di udara terdengar guntur hebat, ketika semua berdongak. mereka melihat mega tebal seperti menutupi langit, tandanya hujan besar bakal segera turun. Lalu itu disusul sama suara tetabuhan yang nyaring dan ramai, yang datangnya dari tujuh atau delapan buah perahu besar, yang mendatang ke tepian. Di atas semua perahu itu ada lentera merahnya. Itulah tanda dari perahunya orang berpangkat.
Begitu lekas perahu-perahu telah di kepinggirkan, dari sana lompat ke darat kira-kira tigapuluh orang, di antara siapa nampak Pheng Lian Houw dan kawan-¬kawannya. Yang paling belakang mendarat ialah dua orang, satu jangkung dan yang lain kate. Yang jangkung itu Chao Wang Wanyen Lieh, pangeran dari negeri Kim, dan yang kate Pangcu Khiu Cian Jin dari Tiat Ciang Pang, partai Tangan Besi.
Terang sudah, karena mengandalkan Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin, pangeran Kim ini berani datang sendiri ke selatan. Rupanya ia percaya betul, dalam pibu di Hoa san itu, pasti pihaknya yang bakal menang.
Begitu melihat Khiu Cian Jin, Oey Yong menuding seraya berkata kepada ayahnya "Anak telah terkena tangan jahat dia, hingga hampir hilang jiwa anak"
Oey Yok su heran. Di Kwie-in-chung ia melihat sendiri orang she Khiu itu mempertontonkan keburukannya, maka itu kenapa anaknya dapat dilukakan dia? Ketika itu Wanyen Lieh berkumpul bersama Auwyang Hong, kelihatan mereka memasang omong dengan asyik, mereka kasak kusuk sambil tunduk. setelah itu Auwyang Hong menghampiri Ang cit Kong, untuk berkata
"Saudara Cit kalau sebentar kita mulai pibu, kau tidak bakal membantu pihak yang manapun, bukankah itu kata-katamu sendiri?"
Cit Kong berkata dalam hatinya: "Aku cuma mempunyai niat tetapi tidak punya tenaga, ada niatku membantu" Maka ia menjawab:
"Aku tidak tahu sebentar atau bukan sebentar, aku hanya membilang Pee-gwee Cap-gouw"
"Benar begitu" berkata see Tok, yang terus berkata kepada Oey Yok su "Saudara Yok, orang-orang Coan cin Pay dan Kang Lam Cit Koay menghina padamu tetapi kaulah seorang tertua, jikalau kau melayani mereka, kau merendahkan kehormatanmu, maka itu sebentar biarlah aku yang memberi hajaran kepada mereka, kau sendiri boleh menonton saja, bagaimana?"
Oey Yok su sudah lantas berpikir. Ia telah melihat keadaan kedua pihak. Kalau Ang Cit Kong tidak turun tangan, coan cin Pay pasti bakal kena dibikin mampus hingga sulit mencari tempat untuk mengubur mayat mereka. Dengan begitu maka akan musnahlah partai yang dulu dibangun Ong Tiong Yang. Sebaliknya kalau Kwee Ceng tetap membantu dengan terus mengambil kedudukan di garis utara, di kedudukan thian-soan itu, mungkin Auwyang Hong tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ia mendapatkan bocah itu memusuhi dirinya. Maka itu, dapatkah ia berpeluk tangan saja? Maka ia pikir dan akhirnya "Hidup atau mati, senang atau susah inilah saat keputusannya "
Auwyang Hong mengawasi, ia tidak memperoleh jawaban, ia cuma menampak air muka orang muram. Ia pikir, sang waktu pendek sekali, sekaranglah saatnya untuk turun tangan. Kalau sampai Ciu Pek Thong keburu datang, sulit untuk melayaninya. Maka itu, ia lantas bersiul panjang dan berkata nyaring
"Turun tanganlah sekarang Hendak menanti apa lagi?" Mendengar suara itu, Ang Cit Kong gusar.
"Eh, apa yang kau keluarkan dari mulutmu itu kata-¬kata manusia atau angin busuk seekor anjing?" dia menegur.
Auwyang Hong menunjuk ke langit, ia tertawa. "Bukankah jam Cu-sie telah lewat?" katanya. "Bukankah ini sudah termasuk saat dari fajar Pee¬gwee Capgouw?"
Pak Kay dongak. Ia melihat si Putri Malam mulai doyong ke barat, ada mega yang menutupinya sedikit. Jadi benarlah waktu ada detik perlintasan dari jam Cu-sie ke jam Tiu-sie.
Auwyang Hong tidak menanti orang membilang apapun, dengan menekankan tongkat kepala ularnya ke tanah, ia berlompat ke depan Khu Cie Kie, menyerang imam dari Coan cin Pay itu.
Coan cin Liok Cu menginsyafi suasana itu atau kedudukan mereka. Di pihak sana pun berkumpul rombongan dari Pheng Lian Houw, yang menanti kesempatan untuk turun tangan, maka kalau mereka sembrono, pasti akan musnahlah. Tapi sembrono atau tidak. setelah beberapa gebrak. mereka merasai kesulitan.Ini disebabkan lihaynya si Bisa dari Barat dengan tongkat ularnya - di ujung tongkat ada dua ekor ular berbisa yang jahat, yang saban-saban memainkan lidahnya. Beberapa kali ular itu ditikam Cie Kie beramai, keduanya terus dapat berkelit.
Oey Yong menyaksikan pertempuran itu tetapi ia tidak pernah lepas mata dari Kwee Ceng. Ia mendapatkan si anak muda mengawasi terus dengan bengis pada ayahnya. Mungkin malang kepada Cit Kong, Kwee Ceng dapat mengendalikan diri. Tiba-¬tiba ia mendapat pikiran, maka ia berkata.
"Setiap hari membilang hendak menuntut balas, hmm…. sekarang musuh benar-benar datang tetapi berbalik menjadi jeri"
Kwee Ceng tahu ia yang diejek. Ia sadar. Ia melirik kepada nona itu, hatinya berkata. "Baiklah aku bunuh dulu si anjing Kim, kemudian masih ada waktu untukku berurusan sama Oey Yoksu" Maka ia menghunus tombak pendek warisan ayahnya, ia lari kepada Wanyen Lieh untuk menyerang.
See Thong Thian dan Pheng Lian Houw melihat majunya si anak muda, keduanya lantas merintangi dengan maju ke depan pangeran Kim.
Kwee Ceng menyerang terus dengan tombaknya. Pheng Lian Houwcun lantas menangkis dengan paon¬koan-pit, semacam senjata mirip alat tulis. Ketika senjata mereka bentrok, dia merasakan tangannya gemetar dan kesemutan justru begitu, Kwee Ceng dapat melewati dia, lalu juga see Thong Thian, yang kalah sebat.
Mereka menjadi kaget, mendongkol dan berkhawatir untuk pangeran Kim. Segera mereka menyusul. Tapi di sana, sudah ada Leng Tie siangjin dan Tio Cu ong, yang menggantikan mereka memegat pemuda itu, bahkan Nio cu ong dengan bengis sudah lantas menimpuk dengan dua batang paku rahasianya.
Kwee Ceng berkelit sambil terus menyerang dengan tangan kirinya, dengan jurus "in liong sam hian" atau "Naga muncul tiga kali". serangan itu adalah serangan berantai tiga kali.
Nio Cu ong berkelit dengan menjatuhkan diri burgulingan di tanah. Leng Tie siangjin bertubuh besar, ia kurang gesit, ia pun bersangsi menangkis, maka itu, selama ia ayal-ayal, Kwee Ceng sudah sampai di depan si pangeran. sampai waktu itu, terpaksa pendeta ini mengangkat kedua cecernya untuk menangkis.
Benar hebat serangannya si anak muda, dengan suara nyaring ia membikin kedua cecer penghadangnya mental tinggi, menyusul kemudian serangan yang ketiga telah menyusul yang pertama dan yang kedua.
Dalam keadaan seperti itu Leng Tie membela terus. Ia sekarang mengandalkan tangannya yang lihay, yang juga ada racunnya. Demikian ia menyampok serangan berantai dari lawannya. Tapi kesudahannya juga hebat untuknya. Ketika kedua tangan bentrok, ia merasakan lengannya seperti mati, lengannya itu lantas turun sendiri, tidak bisa digunakan lagi
Wanyen Lieh terkejut menyaksikan pemuda yang gagah itu, yang dalam sekejap saja telah membikin empat jagoan menjadinya tidak berdaya, maka ia lantas memutar tubuhnya untuk melarikan diri
Kwee Ceng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia lompat untuk mengejar. Belum ia menyusul, menampak berkelebatnya satu bayangan kuning, disusul sama sambaran dua tangan dari samping. Ia berkelit, menyerang dengan tombak tapi serangannya itu gagal, bahkan senjatanya seperti kena tertarik. Maka lekas-lekas ia menahan diri. segera ia mengenali lawannya yang baru, yang lihay sekali dialah Khiu Cian Jin. Dari itu, ia melawan dengan sungguh-sungguh, dengan tangan kanan ia menombak, tangan kiri meninju atau menyambar.
Pheng Lian Houw melihat Kwee ceng telah dilibat Khiu Cian Jin dan Wanyen Lieh sudah dilindungi see Thong Thian dan Io cu ong, ia maju pada Kwa Tin ok, yang ia tegur sambil ia tertawa:
"Kwa Tayhiap. kenapa Kang Lam cit Koay cuma datang satu orang saja?"
Tin ok telah kehilangan tongkatnya yang oleh Oey Yong kena dibikin mental ke telaga, maka itu, tanpa menyahut ejekan itu, ia menyerang dengan tiat-leng, leng kak rahasianya, hanya sambil menimpuk. la lompat mundur tiga tindak.
Lian Houw tahu lihaynya leng kak besi itu, ia berkelit sambil berlompat. Maka senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Pernah ia terkena lengkak itu, benar ia tahu cara mengobatinya dan ia tidak terbinasa, tetapi mesti menderita sakit dan berobat selama beberapa bulan. Karena itu juga, ia menjadi bersakit hati dan segera menyerang si jago buta, untuk melampiaskan kemendongkolannya. Habis berkelit, ia merangsak lagi.
Kwa Tin ok bercacad di kaki, ia biasa jalan dengan mengandalkan tongkatnya, sekarang tongkatnya lenyap. Ia menghadapi musuh tangguh, terpaksa ia berlompat Pula. Hanya ketika kaki kirinya menginjak tanah, hampir ia terguling roboh.
Lian Houw melihat tubuh lawannya limbung, dalam girangnya ia maju pula. Ia maju sambil menjaga diri dengan tangan kirinya yang mencekal pitnya, ia menyerang dengan tangan kanan ke arah punggung.
Kuping Tin ok jeli sekali, terancam bahaya, ia juga bisa menggulingkan diri. Maka pitnya Lian Houw mengenai batu, Tapi Lian Houw gusar dan penasaran, ia menyerang lagi sambil mendamprat,
"Bangsat buta, kenapa kau begini licin?" Kali ini ia menotok dengan tangan kirinya.
Kwa Tin ok berguling lagi, sambil membuang diri, ia membarengi mengayun tangannya, menerbangkan sebatang leng kak besi. Ketika itu Leng Tie siangjin lagi berjaga-jaga seraya ia memegangi lengan kanannya, justru Kwa Tin ok berguling ke dekatnya, tidak ayal lagi, ia menjejak.
Tin ok terkejut. Ia mendengar nyata angin jejakan itu. Kebetulan tangan kirinya tertindih tubuhnya, ia mengerahkan itu, untuk membikin tubuhnya melesat menyingkir dari bahaya. Hanya, selagi ia berhasil lolos dari jejakan si pendeta, pitnya Lian Houw sudah tiba pula, hingga ia merasakan punggungnya sedikit kaku. Ia mengeluh, "celaka" di dalam hatinya, kulit matanya terus dirapatkan, untuk menerima binasa.
"Pergilah" mendadak kupingnya dengar bentakan halus tapi nyaring, bentakan mana disusul sama jeritan, "aduh" yang disusul pula sama suara robohnya tubuh yang berat.
Itulah oey Yong, yang turun tangan dengan tiba-¬tiba. Mulanya dengan tongkatnya ia menangkis poan koan-pit, menyusul itu, tongkat itu bergerak pula ke kaki, maka robohlah Lian Houw, yang terguling cuma kedua senjatanya tidak sampai terlepas dari cekalannya.
Lian Houw kaget dan gusar. ia lantas merayap bangun. Hanya sekarang ia melihat Oey Yong menghalang di depan Kang Lam cit Koay yang nomor satu itu. Untuk herannya, ia mendengar Tin ok membentak:
"Siluman perempuan cilik siapa yang kesudian ditolongmu?"
Oey Yong tidak menggubris teguran itu, ia berseru kepada ayahnya "Ayah, kau jagai si buta yang tolol ini, supaya orang tidak mencelakainya" segera setelah itu, ia lari kepada Kwee Ceng, untuk membantu anak muda itu melawan Khiu Cian jin. Tin ok berdiri menjublak, ia bingung.
Pheng Lian Houw melihat gerak-gerik Oey Yok su. Waktu itu Tong shia berdiri jauh dan membelakanginya, si sesat dari Timur itu seperti tidak mendengar suara putrinya tadi. Ia menjadi berani, diam-diam ia bertindak ke arah Hui Thian Pian-hok. Lalu dengan diam-diam ia menyerang dengan pitnya. ia telah mengerahkan tenaganya dan bersungguh-sungguh .
Jangankan Tin ok dibokong, biarpun tidak dan umpama kata dia memegang tongkatnya, diserang begitu dekat, belum tentu dia sanggup menolong dirinya, akan tetapi disaat Lian Houw menyerang, mendadak terdengar suara menggaung serupa barang, yang terus membentur poankoan-pit. Begitu membentur, barang kecil itu hancur. Meski begitu, orang she Pheng itu kaget dan kesakitan tangannya, tanpa ia merasa, pitnya terlepas jatuh. Herannya, ia tidak tahu dari mana datangnya serangan. Ketika ia berpaling kepada Oey Yok su, ia mendapatkan Tong shia lagi menggendong kedua tangannya dan mata¬nya memandangi awan hitam di langit. Pemilik dari Tho Hoa To itu tidak pernah menoleh ke arahnya
Tin ok si buta, yang kupingnya mendengar segalanya, menjadi mendelu sekali. Ia tahu siapa yang menolong dirinya, karena semasa di Kwie-in-chung, ia mengenal kepandaian Tan cie sin-thong dari oey Yok su. Maka ia bertindak cepat ke belakang Tong shia, ia berkata dengan nyaring, dengan nada mendongkol:
"Dari antara tujuh saudaraku tinggal aku satu orang, buat apa aku hidup lama lagi?"
Oey Yok su mendengar suara itu, ia tetap tidak memutar tubuhnya, hanya ketika ia merasa orang telah berada kira-kira tiga kaki darinya, mendadak ia menoleh ke belakang dengan tangan kirinya atas mana Tin ok lantas roboh terjengkang, karena Tiat sim sanggup dia mempertahankan diri. Bahkan dia roboh untuk tidak segera dapat bangun lagi.
Ketika itu Kwee Ceng, dengan bantuan Oey Yong, dapat melayani seimbang kepada Khiu Cian Jin. Tentu saja sekarang mereka tidak berani memandang enteng ketua dari Tiat Ciang Pang itu, sebab dia bukan lagi Khiu Cian Lie si pembual.
Perlawanan coan cin cit Cu juga menemui satunya yang hebat sekali. Paha Cek Tay Thong telah kena kesabet tongkat kepala ular dan jubahnya Sun put Jie telah tersontek robek. Ong cie It gentar hatinya, sebab ia mengerti, apabila pertempuran berlangsung terus, dalam waktu tiga puluh jurus, mesti ada saudaranya yang terbinasa. Ia menjadi sangat berkhawatir, karena orang yang mereka buat andalan tetap belum juga muncul. Terpaksa, selagi Ma Giok dan Lauw Cie Hian menyerang dengan berbareng, ia mengeluarkan dan menyulut hu-sen pertandaannya, yang ia meluncurkannya ke udara bagaikan kembang api.
Ketika itu udara gelap dan kabut pun tebal, kaki mereka seperti tertutup kabut. Makin lama, kabut makin tebal dan hidung orang mencium bau demak yang keras. Udara gelap itu membikin rembulan hampir tidak dapat memancarkan sinarnya. Maka lagi sekian saat, benar-benar lenyap binarnya si putri malam itu. Dengan cuaca gelap itu, sukar orang melihat tegas satu sama lain. Karena ini, semua pihak menggunakan siasat membela diri
Kwee Ceng dan Oey Yong terus mengurung Khiu Cian Cian. Si anak muda melihat si nona dan musuhnya itu, yang seperti terliput kabut. Ia menjadi girang sekali. Diam-diam ia mengambil kesempatan akan meninggalkan mereka, untuk pergi mencari Wanyen Lieh. Di dalam tempat yang gelap itu, ia mementang matanya lebar-lebat. Di luar jarak tiga kaki tidak bisa ia melihat orang, maka ia berlaku teliti. Ia mencari kelilingan. Tiba-tiba, di dalam gelap itu, terdengar suara nyaring:
"Di sini Ciu Pek Thong siapa yang mencari aku untuk mengajak berkelahi?"
Mendengar suara itu, Kwee Ceng girang sekali, hanya ketika ia hendak menyahut, lain orang sudah mendahuluinya. Di sana terdengar suara Khu Cie Kie:
"Ciu susiok baik?"
Kebetulan waktu itu, awan gelap terbuka sedikit, maka kedua pihak dapat melihat satu sama lain. Nyata mereka terpisah dekat sekali, asal mereka menyerang, dapat mereka mengenai sasaran. Tentu sekali mereka sama-sama terkejut, dengan sendirinya mereka pada lompat mundur. Awan gelap membikin pertempuran berhenti sendiri dan mereka pada berdiam diri
Ciu Pek Thong terlihat berdiri di antara kedua pihak, ia tertawa dan berkata dengan gembira:
"sungguh ramai Bagus, bagus" Terus tangan kanannya digerakkan, mulanya ke tangan kiri, lalu sambil berkata. "Nah, ini kau makan obat beracun" ia menyuapi ke arah see Thong Thian
Orang she see itu lihay, dia mengerti ilmu kegesitan "le heng hoan wie" atau Memindah diri menukar kedudukan, tidak urung dia masih kalah sebat, lengannya yang dipakai menangkis kena ditangkap Pek Thong, maka lain tangannya orang she ciu itu berhasil menjejalkan "obat beracun" yang ia sebutkan itu, ialah lumpur. Dia pernah merasai kesengsaraan dari Pek Thong kalau dia melepehkan lumpur itu, dia bakal dihajar, dengan terpaksa dia mengemut itu di dalam mulutnya.
Ong cie It mendapatkan, pertandaannya itu bukan mengasih datang orang yang mereka harap-harap hanya Ciu Pek Thong, sang paman guru, kalau itu membuatnva girang luar biasa. Maka ia berseru
"Susiok, kiranya kau tidak dibinasakan Oey Tocu"
Mendengar suara keponakan muridnya itu, Ciu Pek Thong gusar. "Siapa bilang aku sudah mati?" ia berteriak. "Memang Oey Lao shia berniat membinasakanku tetapi sudah berselang sepuluh tahun lebih, tidak pernah dia berhasil Ha, Oey Lao shia, kau lihatlah"
Lantas ia menyerang ke pundak Oey Yok su. Ia menggunakan ilmu silat Khong Beng un terdiri dari tujUh puluh dua jurus, yang ia ciptakan selama terkurung di pulau Tho Hoa To. Itulah ilmu yang berdasarkan kelunakan, lemas luar biasa.
Oey Yok su tidak berani memandang enteng, ia menangkis dengan Lok Eng ciang, terus ia membalas menyerang. Tapi ia pun menyahuti. Katanya:
"Kawanan imam-imam tua bulu campur aduk dari Coan Cin Pay mengatakan aku membunuh kau, mereka hendak balas dendam untukmu"
Pek Thong masih gusar. "Apakah kau dapat membunuh aku?" dia berteriak. "Jangan meniup kerbau" sembari mengoceh, Pek Thong menyerang terus, makin lama makin hebat, karenanya terpaksa Oey Yok su melayani, untuk membela diri.
Coan cin Liok Cu menjadi kecele. Mereka mengharap datangnya sang paman guru, dia bersama Oey Yok su nanti membantu melawan rombongan Auwyang Hong, siapa tahu, paman gurunya tidak dapat diajak bicara, dia berlaku sangat sembrono.
"Susiok. jangan menempur Oey Tocu" Ma Giok berteriak.
"Benar, Loo Boan Tong" Auwyang Hong turut berkata. "Kau bukan tandingan saudara Yok, lekas kau lari sipat kuping"
Inilah kata-kata yang berbisa yang membikin Pek Thong menyerang makin kalap. oey Yong masgul melihat itu, maka ia lantas kata pada si tua bangka berandalan itu.
"Ciu Toako, kau menggunakan kepandaian dari Kiu Im cin-keng melayani ayahku, maka bagaimana nanti kau membilangnya kepada Ong Cinjin di dunia baka?"
Pek Thong tertawa berkakak. "Apakah kau melihat aku menggunakan ilmu silat dari kitab itu?" ia kata. "Aku telah berikhtiar mati-matian untuk melupakan bunyinya kitab itu Hm, mempelajariya gampang, melupakannya sukar sekali"
Oey Yok su heran dan masgul mendengar perkataan si orang tua kebocah-bocahan itu. Ketika ia menempur di pulaunya, ia mendapat kenyataan Pek Thong hebat sekali. sekarang ia merasakan orang jauh terlebih lemah tetapi aneh, ia melayani dia seimbang kosennya. Kenapa begini, lebih lunak tetapi tebih lihay? Ia juga tidak mengerti, kenapa Pek Thong membuang ilmu silatnya yang lama.
Auwyang Hong, yang menyembunyikan diri di dalam kabut, senang menyaksikan pertempuran di antara dua jago itu, hanya ia berkhawatir juga, umpama Pek Thong menang, dia nanti membantu rombongan Khu Cie Kie. Karena ini ia memikir, baiklah ia lekas-lekas memukul pecah.Thian Kong Pak Tauw Tin. Ia berpikir dan bekerja, ia lantas mulai dengan penyerangan lebih jauh.
Ong Cie It dan Lauw Cie Hian menjadi bergelisah. "Ciu susiok, mari membinasakan Auwyang Hong dulu" mereka berteriak.
Ciu Pek Thong juga melihat kawanan keponakan muridnya itu terancam bahaya, ia segera merangsak Oey Yok su, tangan kirinya terbuka, tangan kanannya terkepal, lalu satu kali, ketika kepalanya hampir mengenai muka lawannya, mendadak ia mengubah, kepalan menjadi tangan terbuka, tangan terbuka menjadi kepalan, sambil tertawa, ia menyambar dan langsung.
Oey Yok su terperanjat. Inilah ia tidak sangka. Ia lantas mengeluarkan tangannya, untuk menangkis, tapi ia terlambat sedikit, ujung alisnya telah kena kebentur ujung tangan lawan, meski benar ia tidak terluka, ia merasakan panas sekali.
Habis berhasil dengan serangannya itu, Ciu Pek Thong sadar, segera dengan tangan kirinya ia menghajar lengan kanannya sambil mendamprat,
"Harus mampus Harus mampus Inilah jurus dari Kiu Im Cin-keng"
Oey Yok su tengah membalas menyerang ketika ia mendengar perkataannya Pek Thong itu, ia terkejut, ia hendak membatalkan penyerangan itu tapi sudah kasep. tangannya sudah mampir di pundak orang, kemudian si berandalan itu berseru.
"Ah, hebat, pembalasan datang cepat sekali"
Dalam keadaan kacau itu, karena keberandalannya Ciu Pek Thong, Kwee Ceng mengingat kedua gurunya, ia khawatir mereka nanti mendapat celaka, maka ia menghampiri Kwa Tin ok. Ia memimpinnya ke dekat Ang cit Kong, supaya keduanya berdiam bersama. Dengan perlahan sekali, ia berkata kepada mereka:
"Jiewi suhu, mari pergi beristirahat di Yan ie Lauw, sebentar sebuyarnya kabut baru kita lihat bagaimana baiknya:"
Ketika itu, kembali terdengar suara Oey Yong: "Eh, Loo Boan Tong, kau dengar perkataanku atau tidak?"
"Aku tidak bakal mengalahkan ayahmu, kau jangan khawatir" menyahut si jenaka.
"Aku menghendaki kau lekas menghajar si bisa bangkotan" berkata si nona. "Hanya aku melarang kau membinasakannya"
" Kenapa begitu?" tanya Pek Thong, yang kaki tangannya bekerja terus.
"Jikalau kau tidak mau dengar .perkataanku, nanti aku beber riwayatmu yang busuk" berkata si nona.
"Riwayat busuk apa itu?" tanya si tua. "Kau ngaco belo"
"Baik" menyahut si nona, yang membikin suaranya keras dan panjang "Empat buah perkakas tenun maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan"
Pek Thong kaget mendengar itu. "Baik, baik" ia lekas berkata, "Aku suka dengar perkataanmu. Eh, bisa bangkotan, kau ada di mana?"
Auwyang Hong tidak penyahut. Adalah Ma Giok yang berkata: "ciu susiok, kau ambil kedudukan di Pak Kek chee untuk mengurung dia"
Oey Yong tidak bicara lagi sama Pek Thong, hanya ia membilang pada ayahnya. "Ayah, Khiu Cian Jin bersekongkol sama bangsa asing, dialah satu pengkhianat besar, lekas kau bunuh padanya"
"Anak. mari kau ke sampingku" ada jawaban si orang tua.
Dalam kabut itu, Khiu Cian Jin tidak nampak di mana adanya. Hanya segera terdengar tertawa nyaring dari Ciu Pek Thong yang berseru:
"Bisa bangkotan, lekas kau bertekuk lutut di depan kakekmu, nanti aku beri ampun" Dari suara itu dapat diduga pihak Coan Cin Pay telah menang unggul.
Kwee Ceng sementara itu sudah mengantarkan kedua gurunya ke pinggiran lauwteng Ya Ie Lauw, setelah itu ia pergi lagi, guna melanjutkan mencari Wanyen Lieh. Ia telah pergi ke segala penjuru, masih tidak memperoleh hasil. Entah ke mana perginya pangeran bangsa Kim itu. Bahkan see Thong Thian semua, berikut Khiu Cian Jin, entah telah menyingkir ke mana.
"Hai, bisa bangkotan, kau hendak lari ke mana?" kembali terdengar suara Ciu Pek Thong.
Ketika itu kabut nampak makin tebal, tidak ada lowongan seperti tadi. suara orang juga terdengar semakin berat, menjadi kurang nyata. Karena ini orang menjadi jeri sendiri.
Oey Yong menempelkan rapat tubuhnya kepada tubuh ayahnya. Ma Giok telah memberikan titahnya perlahan sekali, untuk kawan-kawannya memperciut lingkaran, supaya mereka memasang kuping mendengar gerak-gerik lawan. Maka itu, sejenak, segalanya menjadi sunyi senyap.
Tidak berapa lama, terdengarlah suara Khu Cie Kie: "Dengar suara apakah itu?"
Di sekitar mereka, mendengar suara sar¬ser, atau sas-sus, suara itu dari jauh mendatangi semakin dekat, semakin dekat.
Oey Yong berteriak "si bisa bangkotan melepaskan ularnya. Tidak tahu malu"
Oey Yok su pun mendengar suara itu dan mengenalinya, ia sebenarnya ketahui ilmu mengusir ular tetapi sekarang ia tidak dapat menggunakan itu. Asal ia meniup serulingnya, ular bakal menari-nari secara kalap. Hanya sekarang ia tidak mempunyai serulingnya. Ia telah membikin patah alat tetabuhannya itu ketika ia mendengar warta palsu tentang putrinya sudah mati kelelep. Maka sekarang ia turut menjadi bingung.
Ang cit Kong telah naik ke atas lauwteng Yan ie lauw, ia mendengar segalanya, ia berteriak
"Si bisa bangkotan mengatur barisan ularnya, semua naik ke lauwteng"
Ciu Pek Thong lihay ilmu silatnya tetapi la paling takut sama ular, maka begitu mendengar suara oey Yong, ia paling dulu ngiprit ke lauwteng, bahkan karena khawatir ular nanti menyantol kakinya, di tangga lauwteng ia tidak bertindak lagi hanya berlompat, maka di lain saat tibalah ia di wuwungan paling tinggi dari lauwteng itu di mana hatinya berdebaran sekian lama. suara ular terdengar makin keras.
"Sayang hiat-niauw tidak ada di sini," kata oey Yong seraya ia menarik tangan ayahnya diajak naik ke lauwteng.
Kawanan Coan Cin Pay juga naik ke lauwteng, mereka jalan sambil berpegangan tangan satu dengan lain dan naiknya merayap. In cie Peng kejeblos, ia jatuh terguling hingga kepalanya benjut, ia merayap bangun untuk naik kembali. Oey Yong tidak mendengar suara Kwee Ceng, ia bingung.
"Engko Ceng, kau di mana?" ia tanya. Tetapi beberapa kali ia memanggil, tidak memperoleh jawaban. ia jadi semakin berkhawatir.
"Ayah, aku hendak cari dia," ia kata pada ayahnya.
"Perlu apa kau mencari aku?" terdengar suara Kwee Ceng dingin "Lain kali tidak usah mencariku, aku pun tidak akan menyahut" Kiranya pemuda ini berada di samping si pemudi.
"Anak busuk" membentak Oey Yoksu sengit seraya tangannya menyampok.
Kwee Ceng berkelit sambil menunduk. Ketika hendak membalas, terdengar desingan panah, yang menyambar ke kayu jendela, hingga semua orang menjadi kaget. suara panah itu diikuti teriakan-teriakan banyak orang, disusul, pula hujan anak panah. Teranglah itu suara satu pasukan tentara, entah berapa besarnya. Kemudian terdengar lagi teriakan-teriakan
"Jangan kasih lolos semua pemberontak"
Khu cie Kie menjadi gusar sekali. "Pastilah kawanan anjing Kim itu sudah bersekongkol sama pembesar negeri" katanya sengit.
"Pastilah pembesar di Kee-hin ini yang datang untuk menawan kita"
"Mari kita menerjang turun" kata Ong cie It panas hatinya.
"Kita labrak mereka"
Cek Tay Thong justru berteriak-teriak "celaka Ular Ular"
Semua orang kaget, berkhawatir dan gusar sekali. sekarang mereka mengerti, untuk pertempuran ini, Wanyen Lleh dan Auwyang Hong sudah melakukan persiapan, bahkan mereka berlaku curang dan hina.
Melihat semua itu, Ang cit Kong segera mengasih dengar suaranya. "Kita dapat melawan panah, tidak dapat kita melawan ular Dapat kita menyingkir dari ular, tidak dapat kita menyingkir dari panah. Maka itu, semua lekaslah mengangkat kaki"
Di atas wuwungan, ciu Pek Thong mencaci kalang kabutan. Dia telah menyambut dua batang anak panah dengan apa ia menangkis setiap anak panah lainnya yang menyambar-nyambar ke arahnya.
Lauwteng Yan ie Lauw terkurung air di tiga penjuru dan tentara negeri dengan menggunakan perahu-perahu kecil telah datang dari tiga penjuru itu sambil mereka menyerang dengan panah: disebabkan kabut tebal, mereka tidak berani datang terlalu dekat.
"Kita menuju ke barat, kita ambil jalan darat" terdengar pula suara Cit Kong.
Dalam kekacauan itu, dengan sendirinya Pak Kay menjadi komandan di antara rombongan orang gagah itu, semua orang telah mendengar perkataannya, semua lantas turun dari lauwteng. Kembali mereka rapah-repeh, sebab kabut masih tetap tebal dan dijarak satu kaki, sukar mereka melihat satu sama lain. Disaat seperti itu, mereka melupakan permusuhan, bahkan mereka berjalan sambil saling tuntun.
Khu Cie Kie bersama Ong cie It, dengan pedang di tangan masing-msing berjalan paling depan. Mereka memutar rapat pedang mereka dalam jurus siang-kiam Hap-pek, sepasang pedang bersatu padu.
Kwee Ceng menuntun Ang cit Kong dengan tangan kanannya, tangan kiri bergedangan dengan orang lain. Ia justru kena memegang tangan yang halus dan lunak. Itulah tangannya oey Yong, maka ia terkejut. Lantas ia melepaskan cekalannya.
Oey Yong terdengar berkata: "Siapa menghendaki kau memperhatikanku?" Dingin suaranya itu.
Ketika itu terdengar seruan Khu Cie Kie: "Lekas kembali. Di depan kita, semuanya ular"
Ang cit Kong bersama Oey Yoksu berada paling belakang, terdengarlah suara ular yang berisik sekali, sedang baunya yang memuakkan menyambar hidung. Oey Yong tidak tahan, lantas muntah. Oey Yoksu menyambar putrinya, untuk dipeluk. Semua orang bingung. Panah hebat masih dapat ditangkis tetapi barisan ular berbisa itu?
Disaat berbahaya, tiba-tiba terdengar suara keras dan dingin dari seseorang: "Siluman perempuan cilik mari serahkan tongkat bambumu pada si buta" orang mengenali, itulah suaranya Kwa Tin ok.
Mendengar suara itu, Oey Yok su dan oey Yong lega hatinya. Si nona tidak menghiraukan dicaci sebagai "siluman perempuan cilik", ia lantas menyerahkan tongkatnya.
Kwa Tin ok menyambut tongkat sambil berkata "semua orang mari mengikuti si buta menyingkir dari sini"
Hui Thian pian-hok adalah orang Kee-hin asli, ia mengenal baik kampung halamannya, meski benar matanya buta, kabut tidak menjadi rintangan untuknya. Ia sekarang cuma mengandalkan kupingnya, akan mendengar suara ular. Maka itu, ia memasang kuping mencari tahu di mana tidak ada suara panah atau ular. Ia memang ketahui di sebelah barat ada sebuah jalan kecil, justru dari sana tidak terdengar suara apa-¬apa. Demikian dengan dingkluk-dingkluk ia menuju ke barat.
Jalanan kecil itu adalah jalanan yang tak terpakai umum, sudah beberapa tahun ini di sana juga tumbuh pohon bambu, maka itulah sebuah jalan mati. Maka juga dengan lantas mereka terintang phon-pohon bambu.
Khu Cie Kie bersama ong cie It menggunakan pedang mereka merobohkan setiap pohon yang menghadang, di belakangnya, semua orang mengikuti.
"Ciu susiok. kau di mana?" tanya Ma Giok. "Lekas ke mari"
Pek Thong duduk berdiam di alas wuwungan, ia mendengar panggilan itu, tetapi ia jeri sama ular, ia berdiam saja.
Sesudah berjalan belasan tombak, orang telah berhasil melewati rujuk bambu itu. Di situ terlihat nyata sebuah jalan kecil. Di sana suara ular tidak terdengar nyata, sebaliknya seruan-seruan tentara agak semakin nyaring. Rupanya ada rombongan tentara yang mencoba jalan memutar untuk memegat.
Semua orang tidak takut sama tentara negeri. Bahkan Lauw Cie Hian lantas berkata: “Cek sutee, mari kita maju bersama, kita mampusi beberapa pembesar anjing itu"
"Baik" menyambut Tay Thong. Maka keduanya lantas maju di depan, mereka menangkis setiap anak panah.
Orang maju terus, maka tidak lama kemudian, tibalah mereka dijalan besar. Di sini mereka disambut hujan yang lebat dan guntur yang menulikan kuping. Turunnya hujan menyebabkan kabut tersapu habis. Benar cuaca tetap gelap. tetapi sekarang mereka dapat melihat samar-samar satu sama lain.
"Mara bahaya telah lewat, tuan-tuan, persilahkan" berkata Kwa Tin ok.
Artinya ia mempersilahkan orang mengambil jalan sendiri-sendiri Ia pun mengembalikan tongkatnya oey Yong, seorang diri ia bertindak ke timur tanpa berpaling lagi.
"Suhu" Kwee Ceng memanggil.
"Kau bawa Ang Loohiap ke tempat yang sunyi, untuk berobat," berkata guru itu, "Setelah beres kau pergi ke dusun Kwa-kee-cun mencariku"
"Baik, suhu" menyahut sang murid.
Oey Yok su menyambut sebatang panah yang melayang ke arahnya, ia bertindak ke depan Tin ok seraya berkata:
"Jikalau bukan hari ini kau telah menolong jiwaku, sebenarnya tidak sudi aku menjelaskan kepadamu "
Belum habis kata-kata itu, Tin ok sudah berludah hingga ludahnya mengenai hidung orang. Dia berkata dengan sengit,
"Berhubung dengan kejadian hari ini maka kalau nanti aku menutup mata, aku tidak mempunyai muka untuk menemui keenam saudara angkatku"
Oey Yok su gusar sekali, ia lantas mengayun tangannya. Kalau Tin ok kena dihajar, pasti terbanglah jiwanya. Tapi Kwee Ceng berlompat maju, ia mewakili gurunya menangkis.
Oey Yok Su dan Kwee Ceng terpisah belasan tindak. tidak keburu si anak muda menolong gurunya, akan tetapi Oey Yoksu batal menyerang, dengan perlahan-lahan dia mengasih turun tangannya, untuk ditarik pulang, lalu sambil tertawa lebar dia berkata.
"Kamu kira aku Oey Yok su orang macam apa? Maka dapat berpandangan serupa sebagai kamu?" Ia lantas memutar tubuhnya kepada putrinya seraya berkata. "Yong-jie, mari kita pergi" Ia juga berpaling kepada Ang cit Kong, untuk menjura, habisitu dengan hanya satu kali berkelebat, ia sudah lantas memisahkan diri beberapa tombak jauhnya
Mendengar suara Oey Yok su itu, Kwee Ceng melengak. Ia menjadi ragu-ragu. Tapi ia tidak dapat memikir lagi. Saat itu, dengan suara berisik, terlihat tibanya satu pasukan serdadu menerjang mereka.
Coan cin Liok Cu lantas maju, menyambut terjangan, untuk membalas menghajar.
Oey Yok su sebaliknya tidak sudi berkelahi, ia menghampiri Ang cit Kong tangan siapa ia pegang untuk ditarik, sambil berkata:
"Saudara Cit, mari kita pergi ke depan untuk minum beberapa cangkir arak. Nanti kita bicara di sana" cit Kong setuju sekali dengan ajakan itu.
"Bagus Bagus" sahutnya, terus ia mengikuti, maka sebentar kemudian, mereka berdua sudah menghilang di tempat yang gelap.
Kwee Ceng membiarkan gurunya pergi, sekarang ia hendak membantu gurunya yang tertua. Justru itu, serangan tentara kembali datang. ia tidak berniat mencelakai banyak orang, maka ia menggunakan tangan kosong merobohkan siapapun yang berada paling dekat dengannya.
Dalam kekalutan itu terdengar suara nyaring dari Khu Cie Kie berarnai. Itu disebabkan di antara tentara negeri ada orang-orangnya Wanyen Lieh, ialah kawanan Tiat elang Pang dari Khiu Cian jin, maka mereka tidak selemah serdadu negeri, hingga mereka tidak gampang dapat dipukul mundur.
Kwee Ceng berkhawatir untuk gurunya yang paling tua, ia lantas memanggil-manggil: “Toasuhu Toasuhu Toasuhu di mana?" tapi suaranya tidak mendapatkan jawaban.
Ketika itu Oey Yong berdiri menyender di sebuah pohon. ia tidak mengikuti ayahnya. Habis menyambut, tongkatnya dari Tin ok, pikirannya kusut. Ia telah melihat ayahnya diludahi tertua dari Kang Lam cit Koay, ia masgul bukan main. Impiannya yang manis telah buyar. Maka juga ia berdiam saja menyaksikan tentara negeri lewat di dekatnya. Tapi selagi ia berdiam, ia mendengar teriakan Tin ok. Ia terkejut. Tanpa merasa, ia berlompat, lari ke tempat dari mana teriakan itu datang. Ketika ia sampai, tepat ia melihat Tin ok rebah di tanah dan seorang punggawa mengayun golok panjangnya ke punggung si buta itu. Tapi opsir itu tidak berhasil membinasakan jago Kanglam itu. Tin ok dapat berkelit dengan menggulingkan tubuh, terus ia bangun berduduk seraya membalas menyerang.
Opsir itu menjerit dan roboh pingsan. Tin ok mencoba bangun lagi, tapi gagal, rupanya ia terluka, baru ia melempangkan tubuh, kembali roboh. Oey Yong lari menghampiri, ia melihat kaki orang terkena panah. Ia mengulur tangannya, untuk memberikan bantuan.
Kwa Tin ok rupanya mendapat tahu siapa yang menolongnya, ia menarik tangannya hingga terlepas, tetapi ia kembali jatuh, sebab sebatang panah menyambar kaki yang lain.
"Untuk apa berlagak menjadi enghiong atau hoohan?" kata Oey Yong dengan mengejek. Ia lantas menotok dengan ilmu totoknya "Lan-hoa Hut-hiat ciu", ia menotok jalan darah di pundak si buta, dimana jago Kanglam itu tidak berdaya lagi, dia lantas bisa dipegang untuk tidak jatuh pula.
Dia masih mau berontak tetapi gagal, separuh tubuhnya tidak dapat digerakkan. Hanya sambil terpaksa dia membiarkan dipepayang pergi, mulutnya mencaci kalang kabutan.
Belasan tombak jauhnya Oey Yong membawa pergi guru Kwee Ceng itu, lalu ia singgah di sebuah pohon, untuk beristirahat. Di sini ia terlihat sejumlah serdadu, mereka lantas menyerang dengan belasan batang anak panah. Terpaksa ia maju, untuk menangkis mundur serangan itu. Tin ok ia biarkan sembunyi di belakang pohon.
Jago Kanglam itu mendengar suara datangnya anak-anak panah, ia tahu Oey Yong lagi berkelahi untuk menolong dirinya, pikirannya menjadi berubah, maka ia berhenti mencaci, ia berkata.
"Jangan kau perdulikan aku. Pergilah kau lari sendiri" sekarang ia bicara dengan perlahan.
"Hm" bersuara si nona. "Aku justru hendak menolong kau. Aku mau lihat, apa dayamu menolaknya"
Keduanya menyingkir ke belakang tembok kate di dekat situ. Penyerangan telah terhentikan, tetapi oey Yong dibikin capai sekali oleh tubuh yang berat dari Kwa Tin ok, maka itu dengan napas sengal-sengal ia menyender di tembok.
"Habislah sudah" kata Tin ok sambil menghela napas. Ia seperti putus asa. "Di antara kita, budi telah habis semuanya, maka kau pergilah semenjak ini anggap saja aku si buta she Kwa sudah mati"
Oey Yong berkata dengan dingin. "Terang-terang kau belum mati, mengapa kau menganggap dirimu sudah tidak ada di dunia ini? Jikalau kau tidak mencari aku untuk membalas sakit hati, nanti aku yang mencari dirimu"
Dengan mendadak si nona menotok dua kali dengan tongkatnya, jalan darah wietiong di tekukan dengkul. Tin ok tidak menyangka sama sekali, segera ia roboh mendelepok di tanah. Dalam hatinya, ia lantas mencaci si nona. Ia tidak tahu nona itu hendak menyiksa bagaimana atas dirinya. Ia memasang kuping, ia mendengar orang telah berjalan pergi.
Ketika itu suara pertempuran terdengar semakin jauh, rupanya Coan Cin Liok Cu telah berhasil menghajar tentara negeri. Hanya sekarang Tin ok mendengar suara Kwee Ceng memanggil¬-manggil.
"Toasuhu" suara itu makin lama makin perlahan. Itu tanda Kwee Ceng telah pergi mencari ke lain jurusan.
Sekian lama lagi, sunyilah di sekitarnya. Cuma di kejauhan terdengar keruyuknya ayam-ayam jago.
"Ini yang terakhir aku mendengar keruyuk ayam," pikir ketua Kanglam Cit Koay ini. "Kalau besok pagi ayam berbunyi di sekitar kola Kee-hin, aku Kwa Tin ok. bakal tidak mempunyai kuping untuk mendengarnya lagi"
Tengah ia berpikir itu, ia mendengar tindakan kaki dari tiga orang. Tindakan kaki yang satu enteng sekali yang dua sangat berat. Ia lantas menduga kepada Oey Yong. Dugaan ini nyata tidak meleset.
"Ini toaya" kata si nona, "Lekas gotong"
Kata-kata itu dibarengi sama totokan, membebaskan jago Kang Lam itu, yang merasa tubuhnya lantas diangkat dinaikkan di alas bale-bale, untuk digotong pergi. la berdiam saja. Ia merasa heran, hendak menanya, tetapi bila ia berkata nanti disenggapi si nona.
Mendadak seorang yang jalan di sebelah depan, menjerit kesakitan. Rupanya orang itu dihajar si nona, yang terdengar berkata bengis.
"Lekas jalan kalian semua tukang mengganggu rakyat, tidak ada satu dari kalian yang baik" Lalu yang di belakang pun menjerit.
"Terang sudah, dia telah menawan dua serdadu untuk menggotongku," Tin ok berpikir. "Benar dia pintar dia mendapat pikiran semacam ini" Tin ok menggigit rapat giginya atas dan bawah.
Ia menahan sakit hebat sekali disebabkan rasa nyeri yang dahsyat di kedua kakinya yang terpanah tadi. Ia malu kalau merintih dan si nona nanti mengejeknya. Ia merasa dibawa di jalanan yang sukar, yang turun dan naik. Kemudian ada cabang-¬cabang pohon yang melanggar mukanya. Jadi mereka berada di tempat yang pepohonannya lebat. Dua tukang gotong itu tetap berjalan tidak tetap. saban¬saban mereka terhuyung, tandanya mereka letih sekali. Mereka jalan terus karena tongkat si nona seperti tidak mengenal kasihan
Tin ok menduga telah dibawa pergi sekitar tiga puluh lie. Ia percaya sudah tengah hari. Pakaiannya kuyup bekas ditimpa hujan tetapi sekarang pakaiannya sudah hampir kering tersorot matahari dan terkena angin. Lalu ia mendengar suara tonggeret dan anjing, juga nyanyian sipetani pria dan wanita. Suasana tenang sekali, beda dengan tadi di waktu terjadi pertempuran kacau.
Oey Yong membeli buah labu dan masak itu dengan nasi. Ia makan satu mangkuk, yang semangkuk lagi ia letakkan di depan Kwa Tin ok.
"Aku tidak lapar" kata jago Kanglam itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Baru ia berpikir begitu, lantas berpikir pula: "Jiesuhu sudah menulis surat ini, kenapa dia tidak menyampaikannya hanya dibiarkan berada di dalam sakunya? Ah, mungkin waktu terlalu mendesak, Coan Cin Cit Cu telah keburu datang, dia jadi tidak mendapat waktu lagi untuk menyerahkannya, maka mereka lantas datang sendiri, guna menengahi kedua pihak yang bertempur. Oey Lao Shia, mungkin menyangka guruku kawan-kawan undangan dari Coan Cit Cin Cu, yang bakal membantu pihak sana, maka dengan sembrono kau telah menurunkan tangan jahatmu……"
Kembali pemuda ini berdiam. Surat itu ia lipat, hendak dimasukkan ke dalam sakunya. Selagi ia melipat tiba-tiba di belakang ia melihat coretan beberap huruf, yang membikin kaget membuat hatinya berdebaran. Tulisan itu, tidak karuan, berbunyi; "Segera bakal terjadi hal yang tidak diduga-¬duga, maka semua bersiaplah berjaga-jaga……" Masih ada tulisan lainnya, yang belum tertulis lengkap, mungkin disebabkan bencana sudah lantas tiba.
"Inilah terang huruf 'Tong' yang hendak ditulisnya. Jiesuhu memperingatkan untuk bersiaga untuk 'Tong Shia' sayang sudah terlambat……"
Maka ia kepal-kepal surat itu menjadi gulungan kecil dengan mengertak gigi, ia berkata dengan sengit; "Jiesuhu, jiesuhu, maksudmu yang baik telah dipandang sebagai maksud jahat oleh Oey Lao Shia……"
Setelah itu, surat itu jatuh ke tanah, ia sendiri lantas mengangkat tubuh Cu Cong. Oey Yong mengawasi terus pemuda itu, ia melihat air muka orang yang seperti berubah-ubah. Ia menduga surat itu mesti penting sekali, maka perlahan-lahan ia bertindak. Ia pungut surat itu untuk segera dibaca dua-duanya, yang di depan dan yang di belakang. Ia berpikir "Keenam gurunya datang ke Tho Hoa To dengan maksud baik, maka sayang Biauw Ciu Sie-seng hatinya tidak lurus, sudah biasa dia menjadi pencopet melihat harta ibuku hatinya terpincuk, hingga dia melanggar pantangan besar dari ayahku……"
Ketika itu Kwee Ceng telah meletakkan tubuh Cu Cong, lalu dia membuka tangan kiri orang yang terkepal, mengambil dari situ serupa barang.
Oey Yong melihat itulah sebuah sepatu wanita, yang panjangnya satu dim lebih. Terang itu adalah sepatu mainan sebab terbuat dari batu hijau tetapi buatannya indah sekali. Itu adalah benda yang berharga mahal. Belum pernar ia ingat ibunya mempunyai barang mainan semacam itu maka entahlah dari mana Cu Cong mendapatkannya.
Kwee Ceng membulak-balik sepatu-sepatuan itu bagian bawahnya ia melihat ukiran huruf "ciauw" sedang di dasar sebelah dalam, ada ukiran huruf "pie". Ia sengit ia banting sepatu batu itu, syukur tidak pecah. Kemudian ia bergantian mengangkat tubuh Han Po Kie dan Coan Kim Hoat, dikasih masuk ke dalam lubang yang besar itu diletakkan dengan rapi. Ketika ia hendak mulai menguruk ia melihat muka ketiga gurunya hatinya tak tega. Maka ia mengawasi ke batu permata. Tiba-tiba timbul pula hawa amarahnya. Ia pungut semua itu dengan kedua tangannva, ia lari ke kuburan ibunya Oey Yong.
Si nona khawatir orang merusak peti mati ibunya, ia pun lari. Ia lari, untuk mendahului. Ia bisa memotong jalan, maka ia tiba lebih dulu. Lantas ia menghadang di depan pintu kuburan, kedua tangannya dipentang.
"Kau mau apa?" ia tanya si pemuda.
Kwee Ceng tidak menjawab, dengan tangan kirinya ia menolak tubuh si nona, lalu kedua tangannya disempar ke depan, maka terdengarlah suara nyaring, dari meluruk jatuhnya barang-barang permata, di antaranya sepatu mainan dari batu hijau yang jatuh ke kaki si nona.
Oey Yong membungkuk, memungutnya. "Ini bukan barang ibuku," ia kata, dan ia mengembalikannya.
Kwee Ceng menyambut, ia awasi itu, terus ia masukkan ke dalam sakunya. Setelah itu ia memutar tubuh. Kali ini ia mulai menguruk tanah, hingga menutup rapat mayat keempat gurunya.
Lama sang waktu lewat, hari mulai magrib. Oey Yong menyaksikan, Kwee Ceng terus tidak menangis, ia merasa sangat berduka. Maka ia pikir, kalau dibiarkan sendiri, mungkin hati pemuda itu lega. Dari itu ia pergi pulang, untuk memasak nasi serta lauk-pauk. Apabila semua itu sudah matang, ia pernahkan di dalam naya, ia membawanya keluar.
Kwee Ceng terlihat berdiri menjublak di depan kuburan gurunya. Dia berdiri tetap di tempat dia berdiri semula, tubuhnya juga tidak berkisar atau berubah. Ia berdiam setengah jam lebih selama si nona masak, hinggga dia mirip patung. Maka si nona kaget sekali.
"Engko Ceng, kau kenapa?" ia tanya.
Kwee Ceng tidak menyahut, tubuhnya tetap tidak bergerak. "Engko Ceng, mari dahar," kata pula si nona. "Sudah satu harian kau belum dahar……"
"Mesti aku mati kelaparan tidak mungkin aku maka barang dari Tho Hoa To!" berkata si anak muda.
Mendengar itu, meskipun tidak sedap, hati Oey Yong sedikit lega. Ia mengerti adat orang, tentu Kwee Ceng pegang perkataannya itu. Dari itu ia meletakannya, duduk di tanah.
Demikian, yang satu berdiri tegak, yang lain berduduk, keduanya berdiam menghabiskan waktu, hingga rembulan mulai muncul di permukaan laut. Si Putri Malam naik terus, sampai dia berada di atasan kepalanya dua orang itu, sedang sayur di dalam naya telah menjadi dingin. Hati mereka seperti sama dinginnya. Dengan kesunyian itu, suara gelombang terdengar semakin nyata. Dari kejauhan pun terdengar beberapa kali suara seperti suara srigala dan harimau, suaranya mirip dengan jeritan. Sang angin juga yang membikin suara itu lenyap.
Oey Yong memasang kuping, ia menyangsikan itu suara manusia atau suara binatang yang sedang menderita, karena perhatiannya tertarik, ia berbangkit, lari menuju ke sana. Sebenarnya ia berniat mengajak si anak muda tetapi membatalkan pikirannya itu setelah ia berpikir pula: "Kebanyakan inilah urusan tidak bagus, aku akan cuma-cuma menambah keruwetan pikirannya……" Ia sebenarnya sedikit jeri untuk suasana seperti itu, tetapi karena ia kenal baik pulaunya itu, ia maju terus.
Selagi si nona berlari-lari, dia merasakan angin menyambar di sampingnya. Segera ia mendapat kenyataan, Kwee Ceng lagi mencoba mendahului. Pemuda ini tidak kenal jalanan, maka ia maju dengan tangan dan kakinya menghajar pohon-pohon yang menghadang di hadapannya. Dilihat dari romannya, pemuda itu seperti telah kehilangan pikiran sehat.
"Kau ikut aku!" kata si nona.
Kwee Ceng tidak menyahut, hanya ia berteriak-¬teriak: "Soe-suhu! Soe-suhu!" Ia telah mengenali suara gurunya yang keempat, Lam Hie Jin. Hati Oey Yong terkesiap. Ia tahu, kalau Kwee Ceng bertemu sama gurunya itu, entah bakal terjadi apa lagi atas dirinya. Tapi ia tidak takut, maka ia lari terus, menunjukkan jalan. Ia lari ke timur, di mana ada banyak pepohonan. Tiba di situ, ia melihat seorang berada di bawah sebuah pohon, tubuhnya bergulingan, tubuh itu melingkar. Itulah Lam Hie Jin.
Kwee Ceng menjerit, ia lompat menubruk gurunya, untuk dipondong. Ia melihat mulut gurunya terbuka, tertawa, tetapi suaranya bukan tertawa wajar. Ia kaget dan girang, hingga ia menangis.
"Soe-suhu! Soe-suhu!" ia memanggil-manggil.
Lam Hie Jin tidak menyahut, hanya sebelah tangannya melayang. Kwee Ceng tidak menyangka tetapi ia sempat berkelit. Habis menggaplok dan gagal, Hie Jin terus meninju dengan tangan kirinya. Kali ini si anak muda tidak berkelit, ia tidak menangkis. Ia menyangka gurunya menyesal atau mempersalahkan padanya. Hebat serangan guru nomor empat ini, Kwee Ceng terpental jumpalitan. Ia tidak menduga gurunya bertenaga demkian besar. Dulu, di waktu berlatih dengannya, tenaga gurunya tidak sedemikian besar. Ia baru bangun, Hie Jin sudah maju, menyerang lagi denga kepalannya. Masih si murid tidak berkelit, ia mandah. Hajaran ini lebih hebat lagi, Kwee Ceng merasa matanya berkunang-kunang, hampir ia roboh pingsan.
Setelah itu, Hie Jin memungut batu besar, lagi-lagi dia menyerang. Kalau Kwee Ceng terhajar batu ini, mesti ia pecah batok kepalanya. Ia memang masih pusing kepalanya. Melihat demikian, Oey Yong melompat maju, dengan tangan kirinya menolak lengan Kanglam Cit Koay yang nomor empat itu, atas mana, bersama¬-sama batunya Hie Jin roboh ke tanah, mulutnya mengasih dengar suara tertawa seperti tadi, habis itu dia tidak merayap bangun lagi……
Adalah maksud si nona untuk menolong Kwee Ceng, maka diluar sangkaannya, Hie Jin demikia tidak bertenaga, dia roboh hanya karena tolakan tangan yang enteng. Dengan lantas si nona mengulur tangannya untuk mengasih bangun. Tetapi ia melihat muka orang yang tertawa, tertawa yang dipaksakan, hingga menjadi menyeringai, nampaknya sangat menakutkan. Ia menjerit, menarik pulang tangannya, untuk membikin tangan itu tidak mengenai tubuh orang. Sebaliknya tangan kiri Hie Jin menyambar pundak si nona. Atas itu dua-duanya, si nona dan si penyerang, mengasih dengar seruan sakit dan kaget.
Oey Yong mengenakan baju lapisnya, meski begitu ia merasakan sakit sampai ia terhuyung beberapa tindak. Hie Jin merasa sakit karena ia menghajar baju yang ada durinya, karena itu tangannya mengucurkan darah.
"Soe-suhu!" Kwee Ceng berteriak saking kagetnya.
Hie Jin menoleh mengawasi si anak muda, ia mengenalinya, hanya ketika hendak membuka mulut cuma bibirnya bergerak sedikit, suaranya tidak terdengar. Ia masih mengasih lihat senyuman hanya itulah senyum dari putus asa. Sinar matanya pun guram.
"Soe-suhu, sebaiknya kau beristirahat," kata Kwee Ceng: "Sebentar kemudian kita bicara."
Hie Jin mencoba mengangkat kepala, ia seperti memaksa mau bicara, tapi gagal, mulutnya tidak dapat dibuka. Ia cuma dapat bertahan sebentar segera kepalanya teklok, terus tubuhnya roboh terjengkang, lalu berbalik.
"Soe-suhu!" Kwee Ceng berseru, ia berlompat maju, guna mengasih bangun.
"Jangan!" berkata si nona, "Gurumu lagi menulis surat……" Tajam matanya si nona.
Kwee Ceng mengawasi. Benar, dengan tangan kanannya, 'Hie Jin lagi mencoret ke tanah. Di antara sinar rembulan, segera terlihat ia menulis: "Yang …… membunuh…… aku…… ialah ……"
Oey Yong mengawasi, ia mendapatkan Hie Jin menulis dengan susah payah, ia lantas goncang hatinya. Ia lantas ingat; "Dia berada di Tho Hoa To, sekalipun orang yang paling tolol tentulah tahu ayahku yang membunuhnya, maka kenapa dia begini susah menulis nama ayahku? Apakah si pembunuh orang lain sebenarnya ……?"
Semakin lama dia menulis, tenaganya Hie Jin makin habis. Hati si nona tegang, hingga ia memuji;
"Kalau kau mau menulis nama lain orang, lekaslah!"
Ketika Hie Jin menulis huruf yang kelima, yang mesti menjadi she atau nama orang yang membunuh dia, baru dia menulis dua coret, yang menjadi huruf "sip" - "sepuluh", mendadak tangannya berhenti bergerak.
Kwee Ceng melihat tubuh orang bergerak, tanda dari pengerahan tenaga yang terakhir, habis itu berhentilah napasnya sang guru. Ia sendiri menahan napas, ketika ia melihat huruf "sip" itu, ia berteriak:
"Soe-suhu, aku tahu kau hendak menulis huruf oey!" Terus ia menubruk tubuh gurunya, ia menangis, kedua tangannya menumbuki dada. Dengan demikian meledaklah amarah dan kedukaannya yang sangat, yang sekian lama terbenam di dalam dadanya. Ia menangis menggerung-gerung kemudian pingsan di atas tubuh gurunya.
Berapa lama anak muda ini tak sadarkan diri, ia tidak tahu, ketika kemudian ia sadar, ia melihat sinar matahari, langit telah menjadi terang. Ia bangun, untuk melihat ke sekitarnya. Ia tidak melihat Oey Yong, entah ke mana perginya si nona. Ia mendapatkan tubuh Hie Jin yang kedua matanya terbuka besar. Ia lantas ingat pembilangan, "mati tidak meram", maka ia menangis lagi, air matanya turun deras. Ia mengulurkan kedua tangannya, guna merapatkan mata gurunya.
Mengingat gurunya begitu sengsara hendak melepaskan napasnya yang terakhir, Kwee Ceng menjadi heran maka ia membuka baju gurunya, memeriksa tubuhnya. Aneh, seluruh tubuh itu tidak kurang suatu apapun, dari kepala sampai di kaki, tidak ada yang luka, kecuali luka di tangan bekas terkena duri baju lapisnya Oey Yong. Pula tidak ada luka dalam, kulitnya tidak hitam atau hangus.
Sesudah memeriksa dengan sia-sia, Kwee Ceng memondong mayat gurunya, niatnya untuk dikubur bersama dengan ketiga gurunya yang lain. Ketika ia sudah jalan beberapa puluh tindak ke tempat darimana tadi dia datang, ia kehilangan jalan. Terpaksa ia menggali sebuah lubang lain di bawah pohon, guna mengubur di situ.
Habis itu, ia menjadi bingung. Ia pun merasa sangat lapar. Sia-sia ia berjalan, untuk mencari jalan keluar. Ia duduk di bawah sebuah pohon, guna beristirahat, menentramkan pikirannya. Ketika ia berjalan lagi, ia mengambil putusan tidak perduli apapun, ia mengambil satu tujuan, ialah ke arah timur, terus menghadapi matahari. Dengan begini, ia masih mengalami kesukaran, dan pepohonan yang sangat lebat. Sekarang di setiap pohon ia melihat adanya rotan panjang dan duri tajam. Umpama kata ia jalan di atas pohon, di situ tidak ada tempat untuk menaruh kaki……
"Tapi hari ini, cuma ada maju, tidak ada mundur!" ia pikir. Ia paksa berlompat naik ke atas pohon. Ia baru menindak ketika "Bret!" celananya robek kesangkut duri, kulitnya lecet dan darahnya mengalir. Rotan pun ada yang melilit kakinya. Maka dengan pisau belatinya, ia memotong putus pohon oyot itu. Memandang jauh ke depan, Kwee Ceng melihat hanya oyot belaka.
"Biar habis daging betisku, aku mesti keluar dari pulau iblis ini!" katanya dalam hati. Degan itu ia mengambil keputusan. Ia mau bertindak lagi, lalu mendadak mendengar suara OeyYong: "Kau turun! Nanti aku mengantarkanmu!" Ia lantas tunduk, maka ia melihat si nona, dengan pakaian putih seluruhnya, lagi berdiri di bawah pohon. Tanpa bilang apa-apa, ia lompat turun. Ia melihat muka Oey Yong pucat sekali, seperti tidak ada darahnya. Ia terkejut. Hendak ia menanya, tetapi segera ia dapat menguatkan hati.
Oey Yong melihat orang hendak bicara tetapi gagal. Ia menanti sekian lama, tetap ia tidak mendengar suara orang. Ia menghela napas.
"Jalanlah!" katanya.
Dengan berliku-liku, mereka menuju ke timur. Oey Yong lesu dan berduka. Ia baru sembuh, ia perlu beristirahat dan ketenangan hati, siapa tahu ia telah mesti membuat perjalanan jauh dan menghadap peristiwa berat dan gelap ini. Ia pikir tidak dapat ia menyesalkan Kwee Ceng atau mempersalahkan ayahnya, ia juga tidak bisa menyesalkan Kanglam Liok Koay, Ia hanya menyesalkan diri sendiri. Kenapa Thian berbuat begini macam terhadapnya? Apa Thian membenci kepada orang yang hidup terlalu senang?
Tanpa berkata-kata nona ini menunjukkan jalan kepada Kwee Ceng menuju ke tepi laut. Ia percaya, dengan kepergiannya ini, anak muda itu bakal tidak kembali. Maka setiap satu tindaknya, ia merasa hatinya pecah satu potong. Ketika akhirnya mereka keluar dari rimba lebat dengan rotan dan duri itu, pesisir terlihat di depan mata.
Oey Yong merasa dirinya sangat letih, ia mencoba menguatkan hati tetapi tubuhnya terhuyung juga, lekas ia menggunakan tongkatnya, untuk menekan tanah, guna menunjang, hanya sekarang ia merasakan tangannya juga tidak bertenaga, tongkatnya miring, tubuhnya terguling.
Kwee Ceng melihat itu, segera ia mengulur tangan kanannya, guna memegangi si nona, tetapi mendadak ia ingat sakit hati hebat dari guru-gurunya, segera dengan tangan kirinya ia menghajar tangan kanannya. Itulah pukulan ajaran Ciu Pek Thong, yang dapat memecah pikiran, hingga kedua tangannya dapat bergerak sendiri-sendiri. Karena dihajar, tangan kanannya segera membalas. Habis itu, ia berlompat mundur. Dengan sendirinya robohlah Oey Yong.
Oleh karena jatuhnya ini tanpa pertolongan, hati si nona pepat sekali. Ia menyesal, ia penasaran, ia berduka. Juga Kwee Ceng kaget, juga menyesal, penasaran dan berduka. Ia lompat maju, untuk mengangkat tubuh si nona. Ia melihat kelilingan, untuk membawa nona itu ke tempat di mana dia bisa beristirahat. Juga Oey Yong turut melihat ke sekitar mereka.
Di arah timur laut, di mana ada sebuah batu besar, terlihat sepotong kain hijau tertiup angin. Ketika melihat itu Oey Yong lantas berteriak;
"Ayah!" Ia lantas saja mendapat tenaga, ia lari.
Kwee Ceng juga lari bersama, maka itu mereka saling berpegang tangan. Tiba di batu itu, di situ pun kedapatan sepotong kulit muka orang. Oey Yong kenal baik topeng kulit kepunyaan ayahnya, dengan kebingungan ia membungkuk akan memungutnya begitu pun baju hijau itu di mana ada tapak tangan dari darah, tegas nampak bekas telunjuk.
Melihat itu Kwee Ceng berpikir; "Pasti ini tapak Kiu Im Pek-kut Jiauw dari Oey Yok Su, habis dia mencelakai samsuhu, dia menyusut tangannya di sini……" Ia tengah memegang tangan si nona ketika mendadak melepaskannya sambil menyempar terus ia merampas baju hijau itu dan merobeknya. Ketika ia melihat ujung baju itu pecah sedikit, maka ia ingat, juiran itu pastilah yang telah dibawa burung rajawali waktu si nona minta ikan emas istimewa.
Kwee Ceng berdiri diam kapan ia telah mengawasi tapak jari tangan itu, kemudian ia lekas menggulung itu dan mengasih masuk ke dalam sakunya, habis itu tanpa membilang apa-apa, ia lari ke pinggir laut di mana ada sebuah perahu layar, yang tidak ada anak buahnya. Entah ke mana perginya semua budak gagu. Ia tidak berpaling pula pada Oey Yong ketika ia memotong putus dadungnya perahu, ia mengangkat jangkarnya, memasang layar, terus ia berlayar…
Oey Yong dengan bengong mengawasi perahu menuju ke barat. Mulanya ia masih mengharap si anak muda berbalik pikir dan akan kembali, untuk mengajak ia pergi, maka ternyata, habislah pengharapannya. Dengan lekas perahu layar itu seperti terbenam di dalam lautan. Sekarang merasalah ia berada sebatang kara di pulaunya. Engko Cengnya pergi, ayahnya entah bagaimana, entah masih hidup atau telah terbinasa……!
"Yong-jie, Yong-jie!" akhirnya ia berkata pada diri sendiri. "Siang hari masih panjang! Kau tidak dapat berdiri diam saja di pesisir ini! Ingat Yong-jie, jangan kau berpikiran pendek!"
Kwee Ceng berlayar terus menuju ke barat sesudah melalui beberapa puluh lie, mendadak ia mendengar suara burung di atas. Ia mengenali sepasang burungnya, yang terbang menyusul padanya. Dengan cepat kedua burung menclok di atas layar.
"Burung ini mengikuti aku, Yong-jie berada sendirian di pulau, ia bakal jadi bertambah kesepian," pikirnya. Maka timbullah rasa kasihannya.
Dihari ketiga, pemuda ini mendarat. Ia membenci segala benda dari Tho Hoa To, dari itu ia mengangkat jangkar, menghajar perahunya, maka tenggelamlah kendaraan air itu. Ia sendiri lompat ke darat sebelum air memenuhi perahu, ia lihat perahu Perlahan-lahan masuk ke dalam air dan lenyap. Ia berjalan tanpa tujuan. Ia mampir di rumah seorang petani di mana ia membeli beras untuk masak nasi, guna menangsal perut. Habis dahar, setelah menanya jalanan untuk Kee-hin, iapun berangkat.
Malam itu pemuda ini bermalam di tepi sungai Cian Tong Kang, ketika tengah mengawasi permukaan air, tiba-tiba melihat bayangan rembulan. Ia terkejut, la telah lupa tanggal. Tentu sekali ia khawatir nanti melewati janji pertemuan di Yan Ie Lauw. Lantas ia menanya tuan rumah. Lega sedikit hatinya ketika ia diberitahukan hari itu tanggal tigabelas. Karenanya malam ini juga, ia menyeberangi sungai, terus menyewa keledai guna melanjutkan perjalanan, untuk lega hatinya, ia tiba di kota Kee-hin selebatnya tengah hari. Di sini segera ia menanya orang di mana pernahnya Cui Sian Lauw, rumah makan Dewa Mabuk.
Rumah makan itu Paling berkesan untuknya. Semenjak masih kecil, guru-gurunya telah menuturkan kepadanya tentang pertempuran mereka dengan Khu Cie Kie di rumah makan itu. Ia tidak diberitahukan sebab musababnya tetapi ia ketarik sama caranya Pertempuran, mengadu minum arak memakai jambangan perunggu. Kemudian lagi ia ketahui tentang asal usul dirinya, maka tahulah ia, rumah makan itu ada hubungan sama kehidupannya.
Ketika orang menunjukkan bahwa rumah makan itu berada di tepi telaga Lam Ouw, segera ia pergi ke sana. Setibanya, ia mengangkat kepala, mengawasi rumah makan itu. Ia mendapatkan cocok apa yang dijelaskan Han Siauw Eng. Setelah sepuluh tahun lebih mengingat-ingat rumah makan itu, baru sekarang ia melihat dengan mata sendiri.
Memang rumah makan itu indah dengan lauwtengnya yang berukiran, sedang di tengah-tengah ada berdiri sepotong bokpay, atau papan, yang bertuliskan empat huruf besar: "Tay Pek Ie Hong", artinya, peninggalan kebiasaan dari Lie Thay pek si sastrawan yang dijuluki Dewa Mabuk, sedang nama "Cui Sian Lauw", yang memakai leter emas, ada tulisannya Souw Tong Po. Bersih dan berkilap tiga huruf emas itu.
Dengan hati berdebar, Kwee Ceng naik dengan tindakan cepat ke atas lauwteng. Segera ia dipapaki seorang palayan, yang memberitahukan bahwa hari itu sudah ada yang memborong rumah makannya. Ia heran, ia hendak minta keterangan, ketika mendengar panggilan:
"Anak Ceng Kau sudah datang?"
Ia lantas mengangkat kepalanya. Ia terkejut mengenali orang yang memanggilnya, Khu Cie Kie, yang lagi duduk bersila - Ia lari rnenghampiri, lantas berlutut dengan cuma dapat memanggil:
"Khu Totiang!"
Khu Cie Kie mengasih orang bangun. "Apakah keenam gurumu juga sudah sampai?" ia tanya. "Aku telah memesan barang santapan untuk kita" ia menunjuk ke kanan, di mana Kwee Ceng melihat telah disiapkan sembilan buah meja yang dilengkapi sama sumpit dan cangkir. Ia berkata pula. "Ketika delapanbelas tahun yang lalu untuk pertama kali aku bertemu di sini dengan ketujuh gurumu, mereka mengatur meja begini rupa. Ini satu meja kepunyaan Ciauw Bok Taysu, maka sayang ia dan gurumu yang nomor lima sudah tidak dapat berkumpul pula di sini" Kelihatannya imam itu sangat berduka.
Kwee Ceng berpaling ke lain arah, tidak berani ia mengawasi langsung imam itu. Khu Cie Kie tidak melihat sikap orang, ia berkata lagi:
"Jambangan perunggu yang dulu itu kita pakai untuk minum arak, hari ini aku telah mengambilnya dari kuil, maka kalau semua gurumu datang, kita boleh minum arak lagi."
Kwee Ceng melihat jambangan itu di samping sekosol. Karena usianya sudah tua, warnanya sudah hijau gelap, pula jambangan itu sudah dimuati arak hingga dari sana tersiar bau minuman. Ia terus mengawasi dengan mata mendelong. Kemudian ia mengawasi delapan meja yang masih kosong itu. Ia pikir, kecuali gurunya yang nomor satu, tidak ada orang lain yang dapat duduk di situ minum arak. Ia ngelamun: "Asal aku bisa memandang satu kali saja tujuh guruku duduk di sini dan minum arak dengan gembira, mati pun aku puas"
Kembali terdengar suara Khu Cie Kie; "Tadinya telah dijanjikan tahun ini bulan tiga tanggal duapuluh empat kau berdua Yo Kang mengadu kepandaian di sini. Aku mengagumi semua gurumu yang berhati mulia, mengharap-harap kaulah yang nanti menang, supaya dengan begitu nama Kanglam Cit Koay menjadi bertambah kesohor. Aku sendiri senantiasa merantau, tidak dapat aku mencurahkan perhatianku sepenuhnya kepada Yo Kang, tidak dapat aku mengajari ia ilmu silat dengan baik. Sudah begitu, aku juga tidak berhasil mendidik sifatnya agar dia menjadi seorang gagah. Berhubung dengan ini aku menyesal terhadap pamanmu, Yo Tiat Sim. Benar Yo Kang membilang dia sudah menyesal akan tetapi untuknya sangat sukar untuk merubah sipatnya "
Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan halnya Yo Kang telah mati tetapi ia tidak tahu bagaimana harus mulai bicara, dari itu si imam kembali melanjutkan kata-katanya:
"Dalam hidupnya manusia, kepandaian ilmu surat dan ilmu silat untuknya ialah soal terakhir yang paling utama ialah Tiong Gie - kesetiaan dan kejujuran. Boleh dianggap Yo Kang lebih kosen seratus kali daripada kau akan tetapi dalam perilaku, gurumulah yang menang. Kau tahu aku kalah dengan puas."
Habis berkata, saking puasnya, Khu Cie Kie tertawa lebar. Sebaliknya Kwee Ceng mengucurkan air mata .
"Eh, kenapa kau berduka?" tanya si imam heran.
Anak muda itu maju lebih dekat, lantas menjatuhkan diri, berlutut sambil menangis. "Kelima guruku sudah meninggal dunia" katanya sukar.
Khu Cie Kie terkejut- "Apa?" dia bertanya dengan keras.
"Kecuali guruku yang nomor satu, yang lainnya, semua sudah meninggal dunia," kata pula Kwee Ceng.
Khu Cie Kie melengak, ia bagaikan disambar guntur, inilah tidak sangka, sedang ia mengharap sangat pertemuan ini. Sebagai seorang jujur; ia sangat menghargai Kanglam Cit Koay, yang ia anggap sebagai sahabat-sahabat sejati, ia telah tak melupakan mereka itu selama deiapanbelas tahun, meskipun benar mereka sangat jarang bertemu. Maka ia pergi ke loneng matanya mengawasi ke telaga, kemudian ia mendongak dan mengeluarkan napas panjang. Segera berbayang romannya Cit Koay. Kemudian ia menoleh, Pergi mengangkat jambangan perunggu untuk berkata;
“Sahabat-sahabatku telah menutup mata, kau ini untuk apa?" dengan mengerahkan tenaga, ia melemparkannya.
Hebat ketika jambangan itu tercebur ke telaga, suaranya nyaring, airnya muncrat tinggi. Kemudian ia dekati Kwee Ceng, untuk mencekal keras sekali tangan anak muda itu¬.
"Bagaimana meninggalnya mereka itu?" ia bertanya. "Lekas tuturkan!"
Kwee Ceng mau memberikan keterangan, hanya belum lagi ia membuka mulut, mendadak ia melihat tubuh seseorang berkelebat, di antara mereka lantas tertampak seorang lain, yang bajunya hijau, sikapnya tenang. Ia menjadi kaget ketika mengenalinya, ia mengawasi, tidak salah mata. Orang itu Oey Yok Su, tocu, atau pemilik Tho Hoa To. Juga Oey Yok Su melengak melihat anak muda ini. Selagi ia berdiam mengawasi, mendadak datang serangan untuknya. Sebab Kwee Ceng, dengan melompati meja menerjang dengan jurus Hang liong yoe hui", itulah serangan sangat hebat. Tapi ia tabah dan awas, dengan cepat ia berkelit, tangan kirinya dipakai menolak.
Hebat serangannya si anak muda, hebat perlawanan majikan dari Tho Hoa To, hebat juga kesudahannya. Anak muda itu terjerunuk ke depan, dia menerjang papan lauwteng pemisah ruangan, tubuhnya jatuh ke bawah lauwteng, menimpa para-para cangkir, maka dengan suara sangat berisik hancurlah perabotan itu - cangkir, piring, mangkok dan lainnya.
Pemilik rumah makan mengeluh. Ingatlah ia akan kejadian delapanbelas tahun yang lampau. Tadipun, melihat Khu Cie Kie mengambil jambangan, hatinya sudah berkhawatir, sekarang kekhawatirannya berbukti.
Kwee Ceng takut terluka oleh pecahan cangkir, lantas lompat naik lagi ke lauwteng. Di lain pihak, Oey Yok Su dan Khu Cie Kie berbareng berlompat turun, hanya mereka itu mengambil jalan dari jendela. Dengan terpaksa anak muda ini lompat dari jendela, untuk menyusul, hanya kali ini ia menyiapkan senjatanya, karena ia pikir; "Si tua itu lihay, tidak dapat aku melawan dengan tangan kosong."
Maka ia mengeluarkan tiga rupa senjata: Dengan mulutnya ia menggigit pedang pendek dari Khu Cie Kie, tangan kanannya mencekal kim-too, golok emas, pemberian jenghiz Khan, dan tangan kirinya memegang tombak pendek warisan ayahnya - Ia pikir juga; "Biar bagaimana, mesti aku dapat menikam dia dua lubang"
Ketika itu lagi banyak orang, maka kagetlah mereka menampak si anak muda lompat turun dari jendela dengan menghunus senjata, sedang tadinya mereka berkumpul untuk menonton karena mendengar suara ribut disusul dengan lompat turunnya dua orang.
Kwee Ceng, tidak melihat Oey Yok Su dan Khu Cie Kie. Ia melepaskan pedang pendek, ia menanya seorang tua di dekatnya. Orang tua itu kaget dan ketakutan. Ia salah menduga.
"Ampun, hoohan," katanya- "Aku tidak tahu urusan mereka itu"
"Sebenarnya mereka Pergi ke mana?" Kwee Ceng tanya lagi.
Orang tua itu makin ketakutan, ia minta-minta ampun, sudah lama si anak muda tinggal di gurun pasir, sekarang pun hatinya lagi tegang, maka suaranya menjadi keras luar biasa. Saking sebal, si anak muda menolak si empeh, ia pergi mencari, tapi tanpa hasil, maka ia naik lagi ke lauwteng rumah makan. Dari sini ia memandang ke telaga, maka terlihatlah sebuah perahu kecil, yang memuat Cie Kie dan Yok Su, yang tengah menuju ke Yan Ie Lauw. Khu Cie Kie duduk di buntut perahu di mana dia mengayuh.
“Tentu mereka berdua pergi ke Yan Ie untuk bertempur mati dan hidup," pikir Kwee Ceng." Meskipun Khu Totiang lihay, mana dia sanggup melawan itu bangsat tua?" Maka ia lantas mengambil keputusan, ia lari turun dari lauwteng, lari ke tepi telaga, untuk menyambar sebuah perahu kecil, terus ia kayuh ke arah Yan Ie Lauw juga, menyusul dua orang itu.
Adalah maksudnya si anak muda untuk dapat menyandak, di luar tahunya lantaran ia menggunakan tenaga terlalu besar, pengayuhnya patah. Terpaksa ia memakai selembar papan sebagai pengganti Pengayuh, maka sekarang Perahunya laju ayal sekali. Ia ketinggalan jauh, kehilangan mereka. Ia mengayuh terus. Akhirnya tiba di darat, ia menyesal. Di saat seperti itu, ia dapat mengendalikan diri¬
"Aku mesti sabar," demikian pikirnya- Ia bertindak ke arah iauwteng - Ketika ia sudah datang dekat, ia mendengar di belakang situ suara senjata beradu, suara sambar menyambarnya angin serta bentakan berulang-ulang. Kalau orang bertempur, itu mestinya bukan cuma Khu Cie Kie dan Oey Yok Su.
Sesudah melihat ke sekitarnya, dengan berindap-¬indap si anak muda bertindak masuk ke lauwteng. Di bagian bawah tidak melihat siapapun, maka ia naik di tangga-Segera ia melihat seseorang lagi menyender di jendela, mulutnya menggayam hingga terdengar suara menggayamnya itu. Ia menjadi heran.
"Suhu!" ia memanggil seraya menghampiri.
Orang itu benar Ang Cit Kong. Dia mengasih lihat roman sungguh-sungguh, tangannya menunjuk ke bawah jendela- Dengan lain tangannya ia mengangkat sepaha kambing untuk digerogoti.
Kwee Ceng lari ke tepi jendela, untuk melongok. Ia lantas melihat satu permandangan yang mengherankan. Oey Yok Su lagi bertempur, dia dikurung oleh enam anggota dari Coan Gin Pay. Menyaksikan pemilik Tho Hoa To itu dikepung, pemuda ini merasa lega juga. Ia hanya kaget ketika melihat di situ pun ada gurunya yang nomor satu, gurunya lagi menyerang dengan tongkatnya, di belakangnya ada In Cie Peng. Dia ini berdiri membelakangi, tangannya memegang pedang, dia tidak turut berkelahi.
"Heran, kenapa toasuhu ada di sini?"
Kwee Ceng tidak usah menanti lama, lantas ia mengetahui Coan Cin Liok Cu lagi berkelahi dengan mengatur barisannya yang istimewa, Thian Kong Pak Tauw Tin- Hanya karena Tam Cie Toan telah meninggal dunia, dia digantikan Kwa Tin Ok, yang mengambil kedudukan thain-soan- Sebab ketua Kanglam Cit Koay ini cacat matanya, ia ditunjang oleh In Cie Peng supaya ia tidak usah mengkhawatirkan serangan dari belakang.
Demikian Oey Yok Su dikurung. Ketika pertempuran di Gu-kee-cun, cuma dua orang Goan Gin Pay yang menggunakan pedang, yang lainnya bertangan kosong, tetapi sekarang mereka bertujuh sama Kwa Tin Ok atau berdelapan sama In Cie Peng, semuanya bersenjatakan pedang. Yok Su tetap bertangan kosong, hebat ia diserang hingga nampaknya ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas, bahkan membela diri pun kewalahan - Melihat demikian, Kwee Ceng kata dalam hatinya; "Biar kau sangat lihay, hari ini kau tidak bakal dapat lolos lagi!"
Disaat terdesak, mendadak terlihat Oey Yok Su menekuk kaki kiri dan kaki kanan menyambar, menyapu kaki lawannya semua. Rengkasan itu sangat berbahaya. Serentak, delapan lawan berlompat mundur tiga tindak¬.
"Bagusi" Kwee Ceng berseru - Rengkasan itu dilakukan sambil berputar, maka semua musuh mesti menyingkir dengan hampir berbareng.
Habis menyerang, Oey Yok Su mengangkat kepala sambil mengulapkan tangan ke atas lauwteng kepada Ang Cit Kong berdua Kwee Ceng, tandanya ia senang dengan pujian si anak muda.
Menyaksikan sikap orang itu, Kwee Ceng kagum. Walaupun terdesak, tocu dari Tho Hoa To itu tetap tenang dan napasnya juga tidak memburu. Ia pun heran. Dari heran, ia menjadi bercuriga. Bukankah Oey Yok Su tengah berakal muslihat?
Selang sekian lama, datanglah yang mendebarkan hati- Mendadak tangan ketua Tho Hoa To menyambar embun-embunan Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian. Kalau serangan itu mengenai sasaran, pecahlah batok kepalanya si imam yang nomor tiga itu. Dengan itu pun teranglah Oey Yok Su sudah memulai dengan serangan membalasnya. Oey Yok su menyerang dengan dua tangan berbareng - Seharusnya LaUui Cie Hian tidak boleh menangkis, ia mestinya ditolong oleh Khu Cie Kie di kedudukan Thian-koan dan Kuia Tin ok di kedudukan thian-soan di pinggir. Apa mau dikata, Hui Thian Pian-hok tidak dapat melihat, dia cuma mengandalkan kupingnya, maka ketika ia menyerang dari kiri ia terlambat, ia kena didului Khu Cie Kie. Dengan begitu, Oey Yok Su jadi tidak terancam bahaya.
Cie Hian melihat ancaman datang, terpaksa ia menjatuhkan diri dengan bergulingan. Ma Giok dan Ong Cie It melihat saudaranya terancam, mereka maju bersama, menyerang lawannya. Semua gerakan berlaku sangat cepat- Lauw Cie Hian lolos dari bahaya, tetapi dengan begitu, Pak Tauw menjadi kacau.
Oey Yok su tertawa terbahak, lantas ia menyerang Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, imam yang termuda, hanya begitu ia maju begitu lekas juga ia berlompat mundur, guna berbalik menyerang Kong Leng Cu Cek Tay Thong. Serangan itu luar biasa, Sun Put Jie heran, Cek Tay Thong melengak. Ketika Ceng Ceng Sanjin menangkis, untuk terus menyerang, Oey Yok Su sudah keluar dari kepungan dan berdiri diam di tempat dua tombak jaraknya¬.
"Hebat Oey Yok Su!" Ang Cit Kong memuji¬.
"Biar aku Pergi!" berkata Kwee Ceng, yang terus memutar tubuh, untuk lari turun di tangga.
"Sabar, sabar!" mencegah Cit Kong. "Semenjak tadi mertuamu itu tidak melakukan Perlawanan, aku sebenarnya berkhawatir untuk gurumu yang nomor satu, tetapi sekarang aku melihat dia tidak ada niat mencelakai orang."
Kwee Ceng kembali ke jendela¬ "Kenapa begitu, suhu?" ia tanya.
"Kalau dia hendak mencelakai orang, barusan si imam kurus seperti kera tidak bakal ketolong jiwanya,” menyahut sang guru. "Semua imam itu bukan tandingan Oey Lao Shia, bukan tandingannya!" Ia menggigit daging kambingnya dan mengganyam, lalu menambahkan. "Ketika mertuamu dan Kim Coa Long-kun belum datang, aku melihat beberapa imam itu serta gurumu mengatur barisan, agaknya mereka masih menantikan satu orang guna membantu gurumu itu, agar tiga orang bersama menjaga garis thian-soan. Entah kenapa, sampai sekarang orang itu tetap tidak muncul - Sekarang garis tnian-soan dijaga hanya dua orang, tak cukup guna bertahan dari mertuamu"
“Dia bukan mertuaku I" kata Kwee Ceng sengit.
“Eh!" Cit Kong heran- "Kenapa bukan mertuamu?!"
“Dia! Dia! Hm!"
“Bagaimana dengan Yong-jie? Apakah kamu berdua bercedera?"
“Ini tidak ada hubungannya, dia telah membikin mati kelima guruku! Aku bermusuh dengannya, dalamnya bagaikan lautan!"
Cit Kong heran hingga ia berjingrak. "Benarkah?" dia menegasi.
Kwee Ceng tidak mendengar pertanyaan itu, ia lagi menumpleki perhatiannya ke pertempuran di bawah.
Oey Yok Su menggunakan Pek Khong Ciang, ilmu silat Menyerang Udara Kosong, anginnya menderu-deru, membuatnya semua musuhnya tidak bisa mendekat. Tapi Pak Tauui Tin telah diatur rapi pula. ia tidak bisa lantas membebaskan diri seutuhnya. Hanya terpisah sedikit jauh. Dengan begitu, selagi pedang C0an Cin Cit Cu tidak sampai kepada lawan, sebaliknya pihak lawan, kalau dia menghendaki, dia dapat berlompat mendekati.
"Ah, kiranya begitu?" kata Cit Kong tiba-tiba.
"Apa suhu?"
“Oey Yok Su sengaja memancing Cit Cu menggunakan barisannya, untuk memahami sifatnya," menyahut sang guru. "Itu sebabnya kenapa ia berayal menurunkan tangan. Ia hendak memperkecil garis."
Cit Kong telah kehilangan ilmu silatnya tetapi tidak pikiran atau Pandangannya yang tajam. Benarlah, makin lama kalangan Coan Cin Cit Cu makin rapat, makin rapat, hingga membahayakan mereka sendiri kalau mereka menggerakkan pedangnya masing-masing.
Pernah Lauw Cie Hian, Khu Cie Kie, Ong Cie It dan Cek Tay Th0ng menyerang berbareng, waktu Oey Yok Su berkelit, hampir mereka saling menikam sendiri.
Hati Kwee Ceng menjadi tegang pula, ia cemas. Ia mengerti, begitu lekas Oey Yok Su turun tangan, gurunya yang nomor satu itu bisa menjadi korban yang pertama. Ia berada jauh, mana bisa ia menolong?
"Biarlah teecu turun!" katanya seraya terus lari - Hanya ketika ia mulai mendekati kalangan pertempuran, di antara mereka terlihat pula perubahan.
Oey Yok Su maju dengan tetap ke arah kiri dari Ma Giok, ia seperti memisahkan diri nampaknya hendak ia mengangkat kaki. Menampak demikian, Kwee Ceng lantas bersiap sedia, asal tocu dari Tho Hoa To itu berlompat menyingkir, ia hendak menyerang dengan Pedang pendeknya¬
Tiba-tiba terdengar suitan Ong Cie It, lalu bersama Cek Tay Thong dan SUn Put Jie, dia bergerak dari kiri dengan begitu mereka tetap mengurung lawannya yang tangguh dan lihay itu.
Oey Yok Su mencoba hingga tiga kali, tidak bisa mendekati Ma Giok - Ada saja, Khu Cie Kie atau Ong Cie It atau Cek Tay Thong berempat, yang mengganggu, yang melindungi Ma Giok ketua dari Coan Cin Pay itu.
Setelah percobaan Oey Yok Su yang keempat kali, Kwee Ceng pun sadar, hingga ia berseru di dalam hatinya: "Ah, benar! Dia hendak merampas kedudukan bintang utara Pak-kek-chee!"
Bintang Pak-kek-chee berada di utara di tengah sekali, sedang barisan Pak Tauw Tin itu berpokok pada bintang utara itu (Pak Tayui). Setelah Oey Yok Su menginsyafi sifatnya tin atau barisan lawan itu, ia memusatkan perhatiannya kepada garis tengah itu. Ia mengerti, asal bisa merangsak ke tengah, tin akan pecah, atau kalau tidak, ia akan bertahan di situ, hingga tidak dapat dikalahkan.
Juga Ma Giok semua dapat menerka maksud lawan, mereka menjadi cemas. Coba Tam Cie Toan masih hidup, mereka tidak usah terlalu berkhawatir, mereka tidak nanti membiarkan lawan merangsak ke utara, sekarang tidaklah demikian, di sebabkan lemahnya Kwa Tin Ok meskipun Tin Ok dibantu in Cie Peng. Tin Ok bercacad dan Cie Peng lemah, sudah begitu, keduanya masih asing dengan tin itu. juga kawanan Coan Cin Pay ini telah melihat Kwee Ceng. Mereka menduga sewaktu-waktu Kwee Ceng bakal membantu mertuanya. Maka mereka bingung. Mereka menantikan seseorang, guna mengambil tempatnya Tin Ok di garis thian-soan itu akan tetapi orang yang dinanti-nanti belum juga kunjung tiba. Mereka percaya, asal orang itu datang, garis thian-soan bakal jadi kuat sekali.
Sembari berkelahi oey Yok Su berkata sambil tertawa: "Sungguh aku tidak menyangka, murid-murid Ong Tiong Yang begini tidak tahu selatan!"
Kata-kata ini dibarengi rangsakan kepada Sun put Jie, yang diserang saling susul hingga tiga kali, hingga imam itu repot. Ma Giok bersama Cek Tay Thong segera maju membantu, guna menolong.
Oey Yok Su berkelit, setelah pedang kedua orang itu lolos, ia maju lagi. Tiga kali beruntun menyerang Sun put Jie. Hebat serangannya itu, sekalipun Ong Ti0ng Yang atau Cit Kong sembuh, sulit untuk melayani itu - Karena itu, Sun Put Jie terpaksa hanya membela diri. Atas itu, Oey Yok Su mengubah siasatnya, lantas menyerang di bawah, kedua kakinva bekerja bergantian enam kali menyapu kaki lawannya. Jadi beruntun tocu Tho Hoa To itu sudah menggunakan ilmu silatnya tangan kosong "Lok Eng Ciang" dan tendangan "Sauw Yap Twie".
Ma Giok beramai menjadi bingung. Serangan itu membahayakan Sun Put Jie - Pula, dengan Kwa Tin Ok tidak dapat melihat, mereka jadi bergerak lambat. Hebat akibatnya kalau Pak Tauw Tin kacau. Sebaliknya Oey Yok Su tidak mengambil mumat apa yang dipikir lawan, ia merangsak terus. Mendadak ia tertawa panjang dan tubuhnya melesat, terus terdengar jeritan yang keras dari satu orang yang tubuhnya terlempar ke ujung Yan Ie Lauw.
Itulah in Cie Peng, yang punggungnya kena disambar, hingga tanpa berdaya, tubuhnya kena dilemparkan Oey Yok Su. Setelah itu, tanpa menanti ketika, jago Tho Hoa To ini maju ke arah Ma Giok. Ia Percaya bakal berhasil. Tidak tahunya, imam itu tidak berkisar dari kedudukannya, malah dengan pedangnya membalas menikam ke alis.
"Bagus!" berseru Yok Su dengan pujiannya sambil ia berkelit. "Tidak kecewa kau menjadi murid kepala dari coan Cin Pay!"
Meski memuji, Oey Yok Su tidak menghentikan gerakannya. Mendadak ia menendang Cek Tay Thong hingga imam itu terguling, pedangnya terlepas, maka ia menubruk pedang itu, untuk dipakai menikam lawannya yang roboh. Layui Cie Hian kaget, ia menangkis guna menolong saudaranya.
Oey Yok Su melihat datangnya bantuan, ia tertawa, sembari tertawa, pedangnya dipakai menangkis Cie Hian - Dengan begitu bentroklah kedua senjata itu - Yang hebat ialah kedua pedang patah dengan suara keras. Bagaikan bayangan berkelebat gesit sekali tocu dari Tho Hoa To merangsak ke arah Pak-kek-chee.
Sejenak itu, kacaulah pak Tauw Tin. Coan Cin Cit Cu mengeluh saking berdukanya. Ma Giok menghela napas panjang, hendak ia melemparkan pedangnya, guna menyerah kalah. Saat itu satu bayangan berkelebat di antara mereka, lantas digaris utara itu tambah satu orang - itulah Kwee Ceng!
Khu Cie Kie menjadi girang sekali. Ia telah menyaksikan di Cui Sian Lauw di mana mertua dan menantunya itu bertempur mati-matian. Ma Giok dan Ong Cie It juga lantas mengenal si anak muda, seorang jujur, maka mereka percaya, anak muda itu tentunya bakal membantu mertuanya - Habislah Cian Cin Cit Cu - atau Coan Cit Liok Cu - kalau mertua dan mantu bekerja sama. Tentang Kuia Tin Ok tidak dikhawatirkan, sebab tidak mungkin Kwee Ceng mencelakai gurunya. Tapi selagi mereka itu berkhawatir dan berputus asa, lantas mereka menampak kenyataan yang luar biasa. Kwee Ceng bukan membantui mertuanya, justru menempur mertuanya itu!
Oey Yok Su percaya bakal dapat mengacau Pak Tauw Tin dan memecahnya, supaya dengan begitu Coan Cin Pay menyerah dan minta-minta ampun, maka heran ia atas datangnya bala bantuan kepada musuhnya itu, tidak menanti sampai memutar tubuh, ia segera menyerang ke belakang, ke arah dada, dengan pukulan Pek Khong Ciang. Serangan ini dihalau orang tanpa berkelit, cuma tangan kirinya dipakai menangkis. Ia terkejut¬
"Cuma beberapa orang saja yang dapat menangkis seranganku semacam ini," pikirnya. "Siapakah dia?" Maka ia segera menoleh, ketika mengenal Kwee Ceng, ia menjadi mendongkol berbareng menyesal. Dengan penasaran, ia menyerang lagi, beruntun tiga kali. Ia tahu tanpa dapat mengundurkan si anak muda, ia terancam bahaya terkepung, ia menyerang dengan tiap pukulannya bertambah hebat, tetapi tiga kali serangannya itu dapat dihindarkan. Untuk keempat kalinya, ia menyerang pula, dengan siasat berPura¬pura dan benar-benar. Siasat ini dapat membingungkan lawan.
Kwee Ceng tidak kena diakali, ia menjaga diri, ia tidak menyerang - Pedangnya menjaga dada, tangan kirinya melindungi perut.
Oey Yok Su menjadi heran. "Terang bocah ini mengenal baik sifat Pak Tamu Tin," pikirnya. "Dia tahu bagaimana harus membelai atau memukul pecah Lihatlah, dan tidak berkisar dari Pak-kek-chee! Rupanya dia telah diminta bantuannya untuk menentang aku"
Dugaan pemilik Tho Hoa To ini benar separuh, salah separuh. Benarnya ialah karena Kwee Ceng memang mengerti baik barisan pak Tauui Tin itu, hanya itu didapat bukan dari pengajarannya Coan Cin Cit Cu tetapi dari kitab Kiu Im Cin-keng. Dia salah menduga, sebab Kwee Ceng bukan diminta bantuannya oleh Coan Cin Pay hanya dia bertindak atas kehendaknya sendiri. Tidak saja di situ ada Tin Ok, dia pun telah dianggap si anak muda sebagai musunnya, karena dipercaya dialah yang membinasakan Cu Cong berlima. Hanya karena mengetahui lawannya lihay, Kwee Ceng mengambil sikap membela diri, sama sekali anak muda ini tidak mengambil mumat orang menyerang benar-benar atau menggertak saja.
Akhirnya Oey Yok Su mengeluh sendiri: "Anak ini tidak tahu maju atau mundur," pikirnya. "Hm! Biarlah, biar aku disesalkan Yong-jie, mesti aku hajar dia, sebab kalau tidak, tidak akan aku daPat lolos dari tin ini!" Ia pun lantas bergerak, tenaganya dikerahkan di kedua tangannya. Tepat di saat ia hendak menyerang, ia berpikir; "Kalau dia tetap berdiri diam dan tidak menyingkir, dia bakal terluka parah, kalau dia sampai kenapa-napa, mana Yong-jie mau mengerti?"
Kwee Ceng melihat gerakan lawannya yang tangguh itu, akan tetapi ia tidak mau berkisar dari tempat jagaannya itu - Ia menggertak gigi. ia menangkis dengan jurus "Kian Liong Cay Thian", atau "Melihat naga di sawah". Dengan Hang Liong Sip¬pat Ciang hendak ia bertahan, agar Pak Tauw Tin dapat dilindungi.
Dengan mendadak, Oey Yok Su menunda serangannya itu. "Bocah tolol, lekas menyingkir?" ia membentak. "Mengapa kau menentangku?"
Kwee Ceng bersiap dengan pedangnya, ia mengawasi dengan tajam. Ia takut jago itu menggunakan akal. Ia tidak menyahuti. Pihak Khu Cie Kie sudah lantas memperkokoh lagi barisannya.
"Di mana Yong-jie?" Oey Yok Su bertanya.
Kwee Ceng berdiam, matanya merah bagaikan api, romannya bengis. Yok Su heran. Ia lantas menduga telah terjadi sesuatu dengan putrinya¬.
"Kau perbuat apa atas Yong-jie?" ia membentak, ia mulai berkhawatir. "Lekas bilang!"
Masih si anak muda berdiam, hanya tangannya yang mencekal pedang bergemetar. Oey Yok Su terus mengawasi dengan tajam, maka heranlah ia. Ia menjadi curiga.
“Kenapa tanganmu gemetar?" ia tanya.
"Kenapa kau tidak mau bicara?"
Kwee Ceng tengah mengingat kebinasaan hebat dari kelima gurunya di pulau Tho Hoa To, ia lagi menahan hawa amarahnya, getaran hatinya, maka ia gemetar. Oey Yok Su curiga berbareng berkhawatir sekali. Hanya ia berkhawatir, mungkin sebab perebutan di antara putrinya itu dan putri Mongolia, si anak muda telah membunuh Yong-jie, anaknya. Dengan menjejak kedua kaki, ia lompat maju.
Khu Cie Kie melihat gerakan pemilik Tho Hoa To itu, ia segera menggerakkan barisannya. Ong Cie It bersama Cek Tay Thong menyerang dari kiri dan kanan. Kwee Ceng tidak menyingkir, ia cuma berkelit, pedangnya terus ditikamkan. Oey Yok Su pun tidak menyingkir, bahkan dengan satu tekukan tangan, ia menangkap tangan si anak muda, guna merampas pedangnya. Tapi ia gagal - Kecuali pedangnya Ong Cie It mengancam punggungnya, pedang Kwee Ceng pun bisa diegos, dipakai menikam pula.
Setelah segebrakkan, pertempuran terulang lagi, jauh lebih hebat daripada yang semula. Selagi Kwee Ceng panas hatinya, Khu Cie Kie semua tidak kurang gusarnya. Mereka ini hendak menuntut balas untuk Ciu Pek Thong dan Tam Cie Toan.
Oey Yok Su merasa bahwa di sini telah terbit salah mengerti tetapi ia beradat keras dan jumawa, tidak suka mengalah, sedangkan ia juga berderajat lebih tua, lebih tinggi. Ia ingin menghajar mereka, supaya mereka menyerah kalah, sampai waktu itu barulah ia mau memberi keterangan, untuk sekalian memberikan tegurannya. Begitulah, kedua pihak sama kerasnya.
Oey Yok Su ingin mendesak Kwee Ceng, yang ia berniat membekuknya, guna didengar keterangannya. Kalau benar dugaannya, Oey Yong terbinasa di tangan pemuda ini, ia hendak menghukum picis. Tapi Kwee Ceng berjaga diri di garis utara, teguh kedudukannya.
Ketika itu In Cie Peng, yang dilemparkan ke atas lauwteng Yan Ie Lauw, masih belum dapat merayap bangun, tetapi tanpa dia, Kwee Ceng tidak menjadi lemah. Oey Yok Su menghadapi kesulitan. Kalau ia mendesak Kwee Ceng, Khu Cie Kie beramai mendesak padanya - Ingin ia menggempur Khu Cie Kie semua, tetapi malang dengan si anak muda.
Ketika pertempuran telah berlangsung lima puluh jurus, terlihatlah Oey Yok su terdesak - Kepungan nampak menjadi ciut¬
"Tahan!" berseru Ma Giok disaat sangat tegang itu - Seruan itu ditaati, lima saudaranya lantas berhenti menyerang.
"Oey Tocu!" berkata tertua dari Coan Cit Liok Cu. "Kau seorang kenamaan dan juga dari golongan tua, maka kami orang-orang dari golongan lebih muda tidak berani berlaku kurang ajar terhadapmu, kalau toh sekarang kami mengurung, itu saking terpaksa. Sekarang aku hendak menanya, apakah kamu berhubungan dengan hutang darah dari paman kami Ciu Pek Thong dan sutee kami Tam Cie Than?"
Orang yang ditanya tertawa dingin. "Apa lagi yang hendak dipertanyakan?" katanya. "Lekas kau bunuh Oey Yok Su, untuk melindungi namanya Coan Cin Pay! Tidakkah itu bagus? Lihatlah!"
Tahu-tahu tangan kanan majikan Tho Hoa To ini melayang ke muka Ma Giok! inilah satu jursu dari Lok Eng Ciang, yang Oey Yok Su sudah melatihnya belasan tahun, gerak-geriknya sangat gesit, seperti juga tidak dapat terlihat. Dalam kagetnya, Ma Giok berkelit ke kanan. Justru berkelit, itulah kehendaknya Oey Yok Su, yang serangannya mempunyai dua maksud berbareng benar-benar dan berpura-pura. Maka itu ia bukannya kena ditinju hanya terjambak dadanya. Asal Oey Yok Su mengerahkan tenaganya gempurlah dadanya itu.
Semua orang terkejut, semua maju untuk menolong, tetapi terlambat. Hanya disaat Ma Giok itu bakal menerima nasibnya, Oey Yok Su tertawa dan jambakannya dilepaskan. Ia pun berkata:
"Jikalau dengan caraku ini aku memukul pecah barisan kamu, tentulah kamu tidak puas! Oey Lao Shia boleh mati tetapi tidak nanti dia mau menyebabkan tertawanya semua orang gagah di kolong langit ini! Kawanan imam yang baik, kamu majulah semua!"
Lauw Cie Hian mendongkol, tinjunya melayang, disusul pedang Ong Cie It. Maka itu, bergerak pula Thian Kong Pak Tauw Tin. Kali ini yang digerakkan ialah rintasan yang ketujuhbelas. Setelah Ong Cie It, serangan mesti disusul Ma Giok. Hanya setelah Ong Cie It menikam dia melompat mundur, Ma Giok bukannya menggantikan menyerang, dia malah lompat mundur juga.
"Tahan! ' serunya. Sekali lagi semua orang berhenti bergerak.
"Oey Tocu, aku menghaturkan terima kasih untuk kebaikanmu," berkata Ma Giok.
"itulah kata-kata bagus dariku," jawab yok su.
"Sebenarnya disaat ini jiwaku yang rendah sudah tidak ada," kata Ma Giok, "Sedang barisan warisan guru kami ini telah terpecahkan olehmu, dengan begitu sudah seharusnya saja kami menyerah kalah, kami mesti menyerah terhadap keputusan tocu. Tapi, sakit hati kami tidak dapat tidak dibalaskan! Oey Tocu, aku yang rendah, aku bersedia akan menggorok leherku sendiri untuk menghaturkan terima kasih padamu"
"Sudahlah!" berseru Oey Yok Su, wajahnya guram¬ "Tidak usah kita banyak omong lagi! Kamu boleh turun tangan! Memang juga, perkara sakit hati sukar sekali dijelaskannya"
Kwee Ceng telah mendengar semua itu, ia menjadi berpikir; Ma Totiang bilang dia bertempur guna membalas sakit hati paman guru dan saudara seperguruannya. Apakah artinya itu? Bukankah Toako Ci Pek Thong masih hidup? Pula kematian Tam Cie Toan, bukankah itu tidak ada hubungannya dengan Oey Tocu? Hanya kalau aku menjelaskan semua ini, apabila Coan Cin Liok Cu mengundurkan diri, hingga tinggal aku berdua guruku, mana sanggup aku melawan dia? Jangan kata soal sakit hati, buat melindungi jiwa sendiri pun sukar" Baru ia berpikir demikian tapi segera ia berpikir lain: "jikalau aku menutup mulut, apakah aku bukannya menjadi si hina dina? Bukankah semua guruku sering mengajari, kepala boleh kutung tetapi kejujuran tidak?" Karena ini segera ia mengasih dengar suaranya yang nyaring;
"Ma totiang, paman guru kamu tidak mati! Tam Totiang pun dibinasakan oleh AuWyang Hong!"
Belum lagi Oey Yok Su bilang apa-apa, Khu Cie Kee telah mendahulwnya. "Apa kau bilang?" imam itu tanya.
"Toako Ciu Pek Thong tidak mati dan Tam Totiang dibinasakan Auwyang Hong," Kwee Ceng menjawab seraya terus ia menjelaskan apa yang ia dengar selama sembunyi sembari merawat diri di kamar rahasia, bagaimana Khiu Cian Jin melepas cerita burung dan fitnahnya Auwyang Hong. Cerita itu luar biasa.
"Apakah kau omong sebenar-benarnya?" Khu Cie Kee menegaskan.
“Teecu sangat membenci dia, ingin teecu menelannya, maka itu apa perlunya teecu membantu dia?" kata Kwee Ceng dengan sengit sambil ia menuding Oey Yok Su. "Kenyataan adalah demikian rupa maka itu teecu tidak dapat tidak bicara dari hal yang benar."
Oey Yok Su menjadi heran - Sungguh ia tidak menyangka Kwee Ceng mau membelanya
"Kenapa kau membenci aku sampai begini?" ia tanya pemuda itu. "Mana Yong-jie?"
Tapi Kwa Tin Ok panas hatinya. "Apakah kau tidak tahu perbuatanmu sendiri?" dia membentak. "Anak Ceng, biarnya kita kalah mari kita mengadu jiwa!" Ia terus menyerang.
Kwee Ceng mengucurkan air mata. ia mengerti, sikap Oey Yok Su berubah sedikit. Tapi di situ ada gurunya, yang marah tak kepalang itu¬
"Toasuhu, jiesuhu semua mati secara sangat menyedihkan" katanya.
Oey Yok Su menyambar tongkatnya Kwa Tin Ok yang dihajarkan kepadanya. "Apa kau bilang?" ia tanya Kwee Ceng, suaranya keras. "Cu Cong berlima baik-baik saja berada di Pulauku menjadi tamu, kenapa mereka pada mati?"
Kwa Tin Ok tidak menanti jawaban muridnya, ia membetot tongkatnya. Tetapi tongkat itu tidak bergeming.
"Kau kurang ajar sekali, di depanmu seperti tidak ada orang yang lebih tua, kau juga ngoceh tidak karuan, bahkan kau menggepaki tangan dan kakimu, adakah itu untuk Cu Cong semua?" Oey Yok Su tanya pula Kwee Ceng.
Matanya si anak muda seperti mau mencelos, mata itu merah. "Dengan tanganmu sendiri kau membinasakan kelima guruku, kau masih hendak berpura-pura tidak tahu?" membentak dia.
Dia mengangkat pedang pendeknya dan menikam Oey Yok Su menangkis dengan tongkatnya Kwa Tin Ok, maka Pedang dan tongkat beradu nyaring, ujung tongkat somplak.
"Siapakah yang menyaksikan itu?" ia tanya.
"Kelima guruku aku yang menguburnya dengan tanganku sendiri, apakah dengan begini aku masih memfitnahmu?" Kwee Ceng balik menanya.
Yok Su tertawa dingin. Kelakuan anak muda itu membangkitkan hawa amarahnya. Ia memang besar kepala, tidak Pernah ia suka mengalah.
"Fitnah atau bukan, masa bodoh!" kata pemilik Tho Hoa To. "Seumur hidup Oey Lao Shia suka dipandang keliru maka itu dengan hanya membunuh beberapa jiwa, mungkinkah aku menyangkal? Tidak salah, semua gurumu akulah yang membunuhnya!"
Tepat disaat habisnya ucapan Tong Shia, di situ terdengar suara seorang perempuan: “Bukan, ayah, bukan kau yang membunuh mereka! Jangan kau sembarang bertanggung jawab!"
Semua orang terkejut, semua lantas berpaling. Di sana muncul Oey Yong, yang orang tak ketahw datangnya sebab mereka terlalu repot bertarung dan mengadu mulut - Kwee Ceng melongo. Ia tidak tahu mesti bergirang atau berduka - Oey Yok Su kaget sebentaran, lantas dia sadar - Bukan main girangnya menyaksikan putri tunggalnya tidak kurang suatu apapun. Dengan begitu juga lenyap semua kemendongkolannya kepada Kwee Ceng. Ia tertawa berkakakkan.
"Anak yang baik, ke mari!" ia kata. "Ayah sangat menyayangi kau!"
Sudah banyak hari Oey Yong berduka, sekarang ia mendengar suara demikian manis, lantas ia lari kepada ayahnya, untuk menubruk, melepaskan diri dalam rangkulan orang tua itu. Ia menangis.
"Ayah" katanya, "Anak tolol itu membikin kau penasaran, dia pun menghinaku"
Oey Yok Su merangkul putrinya, ia tidak gusar, malah ia tertawa¬ "Oey Lao Shia pergi, dia Pergi ke mana dia suka, dia bikin apa dia mau!" katanya. "Untukku, selama beberapa puluh tahun, pengalamanku luar biasa! Mereka yang tidak tahu apa-apa, semua menimpahkan kesalahan di atas kepala ayahmu, maka kalau itu ditambah lagi beberapa fitnah, apakah artinya? Lima anggota dari Kanglam Cit Koay itu musuh besar dari kakakmu seperguruan, memang aku yang telah membinasakan mereka!"
"Bukan, bukan!" berteriak Oey Yong cepat. "Aku tahu betul, bukan ayah yang membunuh mereka!"
Oey Yok Su bersenyum. "Si tolol itu sangat besar nyalinya, dia berani menghina anakku yang baik!" ia berkata. "Kau lihat ayahmu membereskan dia!"
Benar seperti perkataannya, pemilik Tho Hoa To itu lantas bekerja, cepat seperti tadi ia mencekuk Ma Giok. Kwee Ceng tengah memikirkan pembicaraan ayah dan anak itu tahu~tahu pipinya yang kiri kena ditampar, nyaring hingga ia merasakan pipinya panas. Ia mau mengangkat tangan, guna menangkis, tetapi orang telah menarik kembali tangannya, untuk dipakai mengusap-usap rambut indah putrinya. Ia menjadi bingung, tidak tahu ia mesti menyerang terus atau bagaimana. Tamparan itu keras suaranya tetapi tidak terlalu sakit. Kwa Tin Ok kaget - Ia tahu muridnya dihajar tetapi ia tidak melihat itu.
"Anak Ceng bagaimana?" ia lantas menanya.
"Tidak apa-apa," menyahut sang murid.
"Kau jangan dengar ocehan siluman serta anak silumannya!" kata pula Tin Ok. "Aku telah mendengar sendiri keterangan soe-suhu kau bahwa dia melihat sendiri bangsat tua itu membunuh jiesuhumu dan memaksakan kematiannya Cit"
Kwee Ceng tidak menanti habisnya perkataan gurunya itu, ia menerjang Oey Y0k su, sedang Tin Ok turut menyerang dengan tongkatnya. Oey Yok Su melihat datangnya serangan, ia melepaskan anaknya, sambil berkelit dari sepangan Kwee Ceng, ia maju untuk menanggapi tongkat si jago buta.
Kali ini Kwa Tin Ok sudah siap, tongkatnya tidak kena dirampas, maka itu berdua muridnya, ia menyerang terus, hingga mereka jadi berkelahi bertiga. Kwee Ceng telah menemw banyak orang lihay, yang memberikan ia pelajaran, akan tetapi untuk melayani Oey Yok Su, ia masih kalah jauh, meski ia dibantu Kwa Tin Ok, ia masih tidak bisa berbuat banyak. Baru tigapuluh jurus ia dan gurunya sudah terdesak.
Khu Cie Kie semua berdiam sejak tadi. Mereka dibikin bingung dengan keterangan Kwee Ceng - Belum mereka bisa berpikir, mereka melihat orang bertempur, maka yang pertama dipikir mereka ialah; "Tadi Coan Cin pay terancam bahaya, mereka guru dan murid membantu, maka sekarang mereka terdesak apa kami mesti berdiam saja? Biarlah urusan Ciu Susiok, dia benar masih hidup atau sudah mati, baiklah Oey Yok Su ini dibikin tunduk dulu!" Maka ia mengangkat pedangnya dan berseru: "Kwa Tayhiap, kembalilah ke kedudukanmu!"
Baru waktu itu, In Cie peng merayap bangun untuk turun dari lauwteng. ia kaget dan terbanting keras tetapi tidak teriuka Parah, cuma mukanya bengap dan matang biru - Ia lantas kembali ke belakang Tin Ok dengan pedang terhunus.
Sekali lagi Oey Yok Su terkurung, hingga ia menjadi sangat gusar. "Tadinya cuma salah mengerti, masih ada alasan kenapa orang menyerangku," pikirnya, "Sekarang setelah si bocah bicara, kawanan bulu campur aduk ini masih mengepung aku! Apakah mereka kira Oey Lao Shia takut membunuh orang?"
Maka ia lantas merangsak ke arah Kwa Tin Ok - Oey Yong berkhawatir melihat air muka ayahnya. Ia tahu kalau ayahnya sudah gusar, dia benar-benar tidak mengenal kasihan - Ong Cie It bersama Ma Giok lantas menghadang di depan tertua Cit Koay itu. Kwa Tin Ok mendongkol sekali, ia menyerang si nona sambil mendamprat:
"Manusia hina jahat yang tidak berampun, siluman perempuan!"
Oey Yong menjadi sangat gusar. "He, tua bangka, berani kau mencaci diriku?" ia berseru.
Untuk Kanglam Cit Koay, memaki bukan pekerjaan sukar, maka itu Tin Ok mengulangi dampratannya - Untuk Oey Yong, itulah hal langka - Ia tidak bisa mencaci orang, maka sambil berludah, ia kata;
"Cis! Tak malu kau menjadi guru orang sedang mulutmu begini kotor?"
Tapi Kwa Tin Ok berkata; "Aku bicara baik-baik sama orang baik, aku bicara kotor sama manusia hina dinai"
Oey Yong habis sabar, ia segera menyerang. Tin Ok mengetahw datangnya serangan, ia menangkis, tetapi ia belum kenal lek-tiok-thung yang luar biasa itu, begitu kedua tongkat beradu, tongkatnya seperti ditempel, tongkat itu kena diputar sekehendak si nona, ia seperti kehilangan kendali - Ia berdiam di garis thian-soan, dengan ia kena dipengaruhi si nona, Pak Tauw Tin menjadi macet.
Khu Cie Kie lantas menyerang si nona, punggung siapa ia arah, dengan begitu ia hendak membebaskan Tin Ok. Si nona tidak menghiraukan serangan. Ia mengandal pada baju lapisnya. Ketika ujung Pedangnya hampir mengenai sasaran, imam dari Coan Cin Pay itu berpikir. Ia ingat kepada derajatnya yang tinggi, maka mana dapat ia melayani seorang bocah. Karena ini, Pedangnya tidak diteruskan menikam. Karena itu, kesempatan yang baik digunakan Oey Yong, maka dengan satu sontekan, ia membuat tongkat Tin Ok terlepas dari cekalan, mental tinggi, nyemplung ke Lam Ouw, Telaga Selatan!
Khu Cie Kie khawatir si nona menyerang terus kepada tertua Kanglam cit Koay it, ia lompat untuk menghalang. Sementara itu ia heran atas lihaynya si nona, ilmu tongkat siapa ia tidak kenal. Kwee Ceng juga melihat gurunya terancam, ia berseru:
"Suhu, silahkan mengaso, aku nanti menggantikan kaul" Dan ia lompat ke garis thian-soan itu. Begitu ia bertindak, begitu tin menjadi hidup lagi, bahkan ke dudukan thian-soan ini lantas menggantikan kedudukan thian-kie.
Oey Y0k Su kembali terdesak. Biar ia dibantu gadisnya, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia belum bisa menyelami arti atau sipatnya Thian Kong Pak Tauw Tin ini. Syukur untuknya, di antara lawannya itu cuma Kwee Ceng yang paling hebat, hingga ia seperti harus melayani satu orang saja. Hanya sulit untuknya, ia tidak berniat mencelakai anak muda itu.
Oey Yong mendapat lihat Kwee Ceng berkelahi hebat sekali dan air muka orang juga guram, Pemuda itu seperti dikurung sinar pembunuhan, ia terkejut. Belum pernah ia menyaksikan perubahan air muka semacam itu. Karena ini, ia maju ke depan ayahnya, ia kata pada itu anak muda;
"Kau bunuhlah aku lebih dulu"
"Minggir!" membentak si anak muda, bentakannya keras, romannya bengis.
Oey Yong heran hingga ia tercengang. Pikirnya; "Kenapa kau bicara begini rupa terhadapku?"
Kwee Ceng maju terus, ia menolak tubuh si nona untuk dikepinggirkan, habis itu, ia terus merangsak Oey Yok Su. Disaat tegang itu, di belakang mereka yang lagi bertarung terdengar suara tertawa terbahak disusul kata-kata nyaring;
"Saudara Yok, jangan berduka, mari saudaramu membantumu'"
Suara itu tajam, untuk kuping tak sedap terdengarnya. Semua orang heran, tetapi mereka tidak lantas menoleh, sesudah Oey Yok su terdorong. Cie Kie semua baru berpaling. Maka mereka melihat di tepian telaga ada lima atau enam orang dengan satu diantaranya Panjang kaki dan tangannya, sebab dialah See Tok Auwyang Hong, si Bisa dari Barat.
Coan cin Cit Cu lantas bertindak, sedang Khu Cie Kie berkata kepada Kwee Ceng; “Anak Ceng, mari kita membikin perhitungan pada See Tok dulu!” Ia mengulapkan pedangnya, terus ia lompat, guna mencoba mengurung Auwyang Hong.
Ketika itu Kwee Ceng tengah memperhatikan Oey Yok su, ia sampai mendengar suaranya Khu Cie Kie, ia terus menerjang ayahnya Oey yong itu, bahkan sebentar saja, mereka sudah bertempur lima enam jurus, hebat pertempuran mereka. Beberapa kali mereka sama-sama maju lagi, kembali mereka mundur lagi.
Khu Cie Kie berenam sudah mengatur barisannya, ketika ia melihat ke arah Kwa Tin Ok, orang buta itu lagi memasang kuping, guna mendengar suara pertempuran Kwee Ceng. Tin Ok bersedia akan berlompat menubruk Oey Yok Su, guna memeluk keras-keras, agar muridnya bisa membinasakan musuh ini, untuk itu ia bersedia mengorbankan dirinya.
Menampak demikian, Khu Cie Kie memerintahkan In Cie Peng menggantikan Tin ok mengambil kedudukan thian-soan. Auwyang Hong juga telah bersiap - Ia berjongkok dengan sikap ilmu kodoknya, tangan kanannya memegang tongkat. Sebagaimana biasanya, ia berlaku tenang, tidak mau lancang bergerak. Lagi pula ia memang rada jeri untuk barisan Pak Tauw Tin dari Coan Cin Pay itu. Adalah setelah Khu Cie Kie bergerak, terpaksa ia melayani. Ia bermata jeli, segera ia merasa kelemahan tin itu ada di pihak In Cie Peng, maka ia memasang mata ke garis thian-soan itu.
Oey Yong menaruh diri di antara Kwa Tin ok dan ayahnya serta Kwee Ceng yang lagi bertempur itu, ia masgul.
"Tahan dulu!" ia berseru. "Dengar perkataanku!"
Kwee Ceng tidak memperdulikan itu, ia menyerang terus, tetap hebat. Sikapnya ini membikin hilang kesabaran Oey Yok Su, dari bergerak setengah hati, ia mulai menggunakan tenaganya.
Di pihak Auwyang Hong, si Bisa dari Barat itu lagi mencoba mendesak Coan Cin Cit Cu, saban-saban ia mengasih dengar suaranya berkerak kerok mirip kodok - Itu artinya, bahaya tengah mengancam.
Si nona menjadi bingung - Kalau ayahnya dan Auwyang Hong sudah turun tangan benar-benar, akan hebat akibatnya. Ketika ia berpaling ke Van Ie Lauw, di sana Ang Cit Kong masih duduk bengong, menonton pertempuran itu.
"Suhu, suhu!" ia lantas memanggil "Suhu, tolong kau bicara!"
Sebenarnya, Cit Kong pun berkhawatir. Kalau ia masih gagah, ia tentu sudah maju menengahi. Maka ia menonton saja, sampai ia mendengar suara si nona. Ia lantas berpikir; "Asal Oey Lao Shia masih suka memandang aku, ini gampang."
Dengan menekan loteng, Pak Kay lantas menurunkan diri. ia terus berseru; "Tuan-tuan, tahan! Aku si pengemis tua hendak bicara!"
Kiu Cie Sin Kay kesohor sekali, melihat datangnya orang lantas berhenti berkelahi. Tapi yang berkhawatir sekali ialah Auwyang Hong, hingga dia berkata di dalam hatinya: "Kenapa kepandaian si pengemis tua dapat pulih kembali?"
See Tok tidak tahu, dengan bantuan Kiu Im Cin-keng menurut keterangan Kwee Ceng, Ang Cit Kong memperoleh sedikit kefaedahan, jalan darahnya mulai lurus sendiri, dalam ilmu ringan tubuh, kepandaiannya sudah pulih lima atau enam bagian. Cuma dalam ilmu silat, semua kepandaiannya masih hilang, ia mirip orang yang tidak mengerti silat sama sekali.
Melihat orang bersikap memandang mata kepadanya, cit Kong pikir bahwa ia harus sedikit beraksi, hanya ia belum dapat berpikir, apa yang ia mesti katakan agar Auwyang Hong suka mengundurkan diri. Karena lagi memikir, ia mendongak, terus tertawa terbahak. Ia melihat rembulan mulai muncul, lantas ia mendapat pikiran, maka ia berkata dengan nyaring,
"Yang ada di depan mata ini, semuanya orang-orang pandai dari Rimba Persilatan, tidak disangka lagaknya mirip buaya darat, kata-katanya seperti angin busuk"
Mendengar itu semua orang melengak. Memang orang tahu, cit Kong suka bilang apa yang ia pikir. Ma Giok lantas memberi hormat.
"Tolong Cianpwee memberi pengajaran," katanya.
Ang cit Kong berpura-pura gusar, ia berkata dengan nyaring: "Aku si pengemis tua telah mendengar dari siang-siang bahwa pada Pee-gwee Tiong ciu bakal ada orang bertarung di pinggir lauteng Yan Ie Lauw ini, maka itu hendak aku menyaksikan. Tapi aku adalah seorang yang kupingnya paling tidak suka mendengar suara berisik, maka itu justru waktunya masih siang, hendak aku tidur pulas dan nyenyak di sini, siapa tahu pagi ini lantas saja aku mendengar suara berisik dari anjing mau mampus, orang rebut mengatur barisan rombongan kuda atau tahang air kencing, juga ada suami memukul istri, ada menantu menyerang mertua, ada yang memotong ayam dan menyembelih anjing, ributnya bukan buatan, sampai aku si pengemis tua tidak dapat tidur tenang. Coba kalian angkat kepala dan lihat, hari ini tanggal berapa?"
Mendengar itu, orang lantas ingat bahwa hari itu adalah Pee-gwee Capsie, ialah bulan delapan tanggal empat belas, jadi hari pibu, harian mengadu kepandaian, adalah besok. Jadi tidaklah tepat bertempur mendahului hari yang dijanjikan.
"Locianpwee benar," kata Khu Cie Kie kemudian, "Memang tidak selayaknya hari ini kami membuat berisik di sini." Ia menoleh pada Auwyang Hong, untuk berkata " orang she Auwyang, mari kita mencari tempat lain di mana kita bisa bertempur terus mati-matian"
"Bagus, bagus" Auwyang Hong tertawa. "Memang harus aku menemani kamu"
Mendengar itu Ang Cit Kong mengasih lihat roman bengis, ia berkata keras "Satu kali Ong Tiong Yang menutup mata, kawanan bulu campur aduk dari Coan Cin Kauw lantas main gila tidak karuan. Aku bilang terus-terang kepada kalian, enam imam pria ditambah sama satu imam wanita, kamu semua masih bukan tandingan si bisa bangkotan Ong Tiong Yang tidak mewariskan apa-apa kepadaku, aku pun perlu memikirkan kalain, hanya sekarang aku hendak tanya, kalian telah membuat janji, habis bagaimana akan memenuhi janji kalian itu? Apakah yang bakal memenuhi janji ada imam-imam yang mati?"
Kata-kata itu berupa teguran atau dampratan tetapi di balik itu adalah pemberian ingat untuk menyadarkan kawanan imam itu bahwa dengan melawan Auwyang Hong, mereka adalah bagian mati, bukannya bagian hidup, Liok Cu menginsyafi itu tetapi mereka lagi menghadapi musuh besar, tidak dapat mereka memikir jauh.
Selagi orang berdiam, cit Kong melirik kepada Kwee Ceng dan Oey Yok Su. Si anak muda tetap mengawasi dengan kemurkaannya yang hebat. Oey Yong mau menangis, air matanya mengembang, tandanya dia sangat berduka. Ia lantas berpikir, setelah itu ia berkata pula dengan keras
"Sekarang aku si pengemis tua hendak pergi tidur siapa yang bertempur pula, itu artinya dia tidak memandang lagi padaku, maka kalau besok malam kalian mengamuk hingga langit ambruk dan bumi gempa, aku tidak akan membantu siapapun. Ma Giok. hayo kau ajak kawanan bulu campur aduk dari kamu naik ke lauwteng, di sana tinggallah kalian dengan tenang Anak Ceng, anak Yong, mari turut aku, kau tumbuki pahaku"
Auwyang Hong jeri. Ia tahu kalau Cit Kong membantu Coan Cin Pay, sulit ia melawannya, maka ia pun berkata
"Eh, pengemis tua, saudara Yok bersama aku bentrok sama Coan cin Kauw, kalau kata-katamu bukan angin busuk belaka, baiklah hari ini aku memberi muka padamu, tetapi ingat, besok tidak dapat kau membantu siapapun"
Di dalam hatinya, Ang Cit Kong tertawa. Ternyata orang telah kena digertak. Pikirnya: "Kalau sekarang kau menolak aku dengan jari kelingkingmu, tentu aku roboh, siapa nyana kau takut"
Maka ia berkata pula dengan nyaring "Kalau aku sipengemis tua melepaskan angin busuk, bila itu dibandingkan sama kata-katamu, masih terlebih harum. Aku telah bilang, aku tidak akan membantu, pasti aku tidak akan membantu. Apakah kau merasa pasti bahwa kau bakal menang" ia tertawa dan melengak, kepalanya sampai mengenai tanah, tempat araknya dijadikan bantal. Ia berkata pula: "Anak-anak, mari kau memukuli pahaku"
Paha kambing Cit Kong tinggal tulangnya saja tetapi ia sayang untuk membuangnya, ia masih menggerogoti, baru kemudian, ia masukkan tulang itu ke dalam sakunya. Ia mengawasi langit di mana awan putih melayang-layang. Katanya perlahan:
"Jangan-¬jangan bakal terjadi perubahan udara " Ia terus menoleh pada Oey Yok su, untuk berkata "Saudara Yok, dapatkah kau meminjamkan putrimu supaya dia menumbuki pahaku?"
Ditanya begitu, Tong shia bersenyum. Oey Yong lantas menghampiri, ia duduk di sisi orang, terus ia menggebuki perlahan paha pengemis tua itu.
"Ah," kata Cit Kong sambil menghela napas. "Beberapa tulang tuaku ini belum pernah mendapat rejeki seperti ini" ia terus memandang Kwee Ceng, untuk mengatakan."Eh, anak tolol, apakah tanganmu tidak kena dibikin patah oleh oey Loshia?"
"Ya," menyahut si anak muda itu. Ia juga duduk di sisi si pengemis, untuk menumbuki pahanya.
Kwa Tin ok pergi menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon yang liu di tepi telaga, sepasang matanya yang tidak ada bijinya diarahkan kepada Oey Yok su. Ia menggunakan kupingnya sebagai mata.
Oey Yok su berjalan mondar-mandir di tepi telaga itu, ia pergi ke timur atau ke barat, matanya Tin ok terus mengikuti. Ia tahu itu, ia tidak mengambil mumat, ia cuma bersenyum.
Khu Cie Kie berenam, bertujuh sama In cie Peng, duduk numprah di tanah dengan kedudukannya tetap seperti barisan rahasia itu. Kepala mereka tunduk. alis mereka turun. Mereka bersemedhi sambil berlatih secara diam-diam.
Budak-budak Auwyang Hong telah lantas bekerja. Dari perahu, mereka mengeluarkan meja dan kursi, mengatur di bawah Yan ie Lauw, mereka terus menyajikan hidangan serta arak. seorang diri see Tok bersantap dan minum, matanya memandang ke telaga. Ia duduk dengan membelakangi orang banyak.
Ang Cit Kong diam-diam memperhatikan Kwee Ceng dan Oey Yong. Keduanya saling menghindari pandangan mata. selama hampir satu jam, Pak Kay belum pernah melihat mereka memandang ataupun melirik satu sama lain. ia heran. ia telah menanyakan sebabnya, senantiasa dua orang itu menjawab dengan mengalihkan pertanyaan.
"Eh, saudara Yok," akhirnya Cit Kong tanya Tong shia, "Apa nama lainnya dari telaga Lam ouw ini?"
"Wan Yo ouw," Oey Yok su menjawab. Itu berarti "Telaga burung wanyoh".
"Kalau begitu, kau lihatlah" kata si Pengemis dari Utara. "Di telaga burung wanyoh ini anakmu dengan menantumu sudah main berdiam-diam, kenapa kau yang menjadi orang tua atau mertua, tidak hendak mengasih atau membujuk mereka?"
Mendengar itu, belum lagi Oey Yok su menjawab, Kwee Ceng sudah mendahului. Ia berlompat bangun, ia menuding Tong shia seraya berkata dengan keras:
"Dia dia telah membinasakan kelima guruku, bagaimana aku dapat masih memanggil dia mertua?"
"Toh tidak aneh, bukan?" kata Tong shia tertawa dingin. "Kang Lam Cit Koay belum mati habis, masih ketinggalan satu si buta Dan dia ini, aku akan membikin dia hidup tidak sampai besok"
Kwa Tin ok bertabiat keras, ia menjadi gusar sekali, maka ia berlompat akan menyerang si Bisa dari Timur. Tetapi Kwee Ceng telah mendahului, sebab biar dia bergerak belakangan, murid ini gesit sekali, serangannya sampai lebih dulu. Oey Yok su menangkis serangan itu, hingga si anak muda mundur setindak.
"Telah aku bilang jangan menggerakkan tangan" Ang cit Kong berseru. "Apakah kamu kira perkataanku si pengemis tua angin busuk belaka?"
Kwee Ceng tidak berani maju lebih jauh, cuma dengan sorot bengis ia mengawasi oey Yok su.
"Oey Lao shia," berkata Cit Kong. "Kang Lam Cit Koay itu laki-laki semua, mengapa kau membinasakan mereka? Aku si pengemis tua melihatmu, aku merasa tidak puas"
"Siapa aku suka, dapat aku membunuhnya" Yok su menyahut. "Dapatkah kau menguasai aku?"
"Ayah" Oey Yong menyelak. "Lima guru, dari dia ini bukan kau yang membinasakannya Ini aku tahu betul. Ayah, bilanglah bahwa bukan kau yang membunuh mereka"
Oey Yok su mengawasi anaknya, yang mukanya kucal, ia merasa kasihan sekali. Ia pun lantas mengawasi Kwee Ceng, atas mana hatinya yang barusan lunak lantas menjadi keras lagi.
"Memang aku yang membunuh mereka" katanya keras. Oey Yong lantas menangis. "Ayah " katanya, "Ayah mengapa kau membunuh orang?"
"Di dunia ini orang mengatakan ayahmu sesat, kau tahu tidak?" si ayah tanya. "Kalau seorang jahat, dapatkah dia berbuat baik? semua perbuatan jahat di kolong langit ini, semua perbuatan ayahmu. Kang Lam Cit Koay menganggap diri mereka orang-orang gagah yang mulia tetapi aku, melihat lagak gagah perkasa dari mereka, tak senang hatiku"
Auwyang Hong mendengar pembicaraan itu, dia tertawa terbahak. "Saudara Yok. mari aku menghadiahkan suatu tanda padamu" katanya. Ia lantas melemparkan satu bungkusan.
Jarak di antara Auwyang Hong dan oey Yok su ada dua puluh tombak lebih akan tetapi hebat gerakan tangan siBisa dari Barat, cepat melesatnya bungkusan itu, segera sampai kepada si sesat dari Timur, yang menyambutnya dengan gampang.
Tong shia merasa memegang barang yang keras, ia menduga kepala manusia. Ia lantas membuka, maka tepatlah dugaannya. Itu adalah kepala orang, yang baru dikutungi dari lehernya. Kepala itu memakai kopiah persegi, ada kumisnya, hanya mukanya tidak dikenali.
Selagi Tong shia memandang kepala orang, See Tok tertawa dan berkata "Pagi ini aku datang dari Barat, aku singgah di sebuah kamar buku, di sana aku mendengar dia ini lagi berceramah di hadapan sekumpulan pelajar, dia mengajar orang untuk menjadi menteri yang setia atau anak yang berbakti. Aku sebal mendengarnya, aku menghunus senjataku dan mengutungi kepalanya. Maka kamu Tong shia dan Aku see Tok. kita berdua cocok satu sama lain" Lantas ia tertawa bergelak¬-gelak.
Mendengar itu, air muka si sesat dari Timur berubah. Ia berkata "Aku justru paling menghormati menteri setia dan anak berbakti"
Maka ia membungkuk, menggali tanah, di situ ia kubur kepala orang itu, lantas ia menjura dengan dalam tiga kali. See Tok kecele, hilang kegembiraannya barusan, tetapi ia tertawa lebar.
"Nama besar dari Oey Lao shia kosong belaka^ katanya. "Kiranya kaupun orang yang dikekang adat sopan santun"
"Kesetiaan dan kebaktian itu adalah kesucian hati, kehormatan besar, itu bukan adat istiadat" berkata oey Yok su, suaranya berpengaruh.
Baru Tong shia menutup mulutnya, di udara terdengar guntur hebat, ketika semua berdongak. mereka melihat mega tebal seperti menutupi langit, tandanya hujan besar bakal segera turun. Lalu itu disusul sama suara tetabuhan yang nyaring dan ramai, yang datangnya dari tujuh atau delapan buah perahu besar, yang mendatang ke tepian. Di atas semua perahu itu ada lentera merahnya. Itulah tanda dari perahunya orang berpangkat.
Begitu lekas perahu-perahu telah di kepinggirkan, dari sana lompat ke darat kira-kira tigapuluh orang, di antara siapa nampak Pheng Lian Houw dan kawan-¬kawannya. Yang paling belakang mendarat ialah dua orang, satu jangkung dan yang lain kate. Yang jangkung itu Chao Wang Wanyen Lieh, pangeran dari negeri Kim, dan yang kate Pangcu Khiu Cian Jin dari Tiat Ciang Pang, partai Tangan Besi.
Terang sudah, karena mengandalkan Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin, pangeran Kim ini berani datang sendiri ke selatan. Rupanya ia percaya betul, dalam pibu di Hoa san itu, pasti pihaknya yang bakal menang.
Begitu melihat Khiu Cian Jin, Oey Yong menuding seraya berkata kepada ayahnya "Anak telah terkena tangan jahat dia, hingga hampir hilang jiwa anak"
Oey Yok su heran. Di Kwie-in-chung ia melihat sendiri orang she Khiu itu mempertontonkan keburukannya, maka itu kenapa anaknya dapat dilukakan dia? Ketika itu Wanyen Lieh berkumpul bersama Auwyang Hong, kelihatan mereka memasang omong dengan asyik, mereka kasak kusuk sambil tunduk. setelah itu Auwyang Hong menghampiri Ang cit Kong, untuk berkata
"Saudara Cit kalau sebentar kita mulai pibu, kau tidak bakal membantu pihak yang manapun, bukankah itu kata-katamu sendiri?"
Cit Kong berkata dalam hatinya: "Aku cuma mempunyai niat tetapi tidak punya tenaga, ada niatku membantu" Maka ia menjawab:
"Aku tidak tahu sebentar atau bukan sebentar, aku hanya membilang Pee-gwee Cap-gouw"
"Benar begitu" berkata see Tok, yang terus berkata kepada Oey Yok su "Saudara Yok, orang-orang Coan cin Pay dan Kang Lam Cit Koay menghina padamu tetapi kaulah seorang tertua, jikalau kau melayani mereka, kau merendahkan kehormatanmu, maka itu sebentar biarlah aku yang memberi hajaran kepada mereka, kau sendiri boleh menonton saja, bagaimana?"
Oey Yok su sudah lantas berpikir. Ia telah melihat keadaan kedua pihak. Kalau Ang Cit Kong tidak turun tangan, coan cin Pay pasti bakal kena dibikin mampus hingga sulit mencari tempat untuk mengubur mayat mereka. Dengan begitu maka akan musnahlah partai yang dulu dibangun Ong Tiong Yang. Sebaliknya kalau Kwee Ceng tetap membantu dengan terus mengambil kedudukan di garis utara, di kedudukan thian-soan itu, mungkin Auwyang Hong tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ia mendapatkan bocah itu memusuhi dirinya. Maka itu, dapatkah ia berpeluk tangan saja? Maka ia pikir dan akhirnya "Hidup atau mati, senang atau susah inilah saat keputusannya "
Auwyang Hong mengawasi, ia tidak memperoleh jawaban, ia cuma menampak air muka orang muram. Ia pikir, sang waktu pendek sekali, sekaranglah saatnya untuk turun tangan. Kalau sampai Ciu Pek Thong keburu datang, sulit untuk melayaninya. Maka itu, ia lantas bersiul panjang dan berkata nyaring
"Turun tanganlah sekarang Hendak menanti apa lagi?" Mendengar suara itu, Ang Cit Kong gusar.
"Eh, apa yang kau keluarkan dari mulutmu itu kata-¬kata manusia atau angin busuk seekor anjing?" dia menegur.
Auwyang Hong menunjuk ke langit, ia tertawa. "Bukankah jam Cu-sie telah lewat?" katanya. "Bukankah ini sudah termasuk saat dari fajar Pee¬gwee Capgouw?"
Pak Kay dongak. Ia melihat si Putri Malam mulai doyong ke barat, ada mega yang menutupinya sedikit. Jadi benarlah waktu ada detik perlintasan dari jam Cu-sie ke jam Tiu-sie.
Auwyang Hong tidak menanti orang membilang apapun, dengan menekankan tongkat kepala ularnya ke tanah, ia berlompat ke depan Khu Cie Kie, menyerang imam dari Coan cin Pay itu.
Coan cin Liok Cu menginsyafi suasana itu atau kedudukan mereka. Di pihak sana pun berkumpul rombongan dari Pheng Lian Houw, yang menanti kesempatan untuk turun tangan, maka kalau mereka sembrono, pasti akan musnahlah. Tapi sembrono atau tidak. setelah beberapa gebrak. mereka merasai kesulitan.Ini disebabkan lihaynya si Bisa dari Barat dengan tongkat ularnya - di ujung tongkat ada dua ekor ular berbisa yang jahat, yang saban-saban memainkan lidahnya. Beberapa kali ular itu ditikam Cie Kie beramai, keduanya terus dapat berkelit.
Oey Yong menyaksikan pertempuran itu tetapi ia tidak pernah lepas mata dari Kwee Ceng. Ia mendapatkan si anak muda mengawasi terus dengan bengis pada ayahnya. Mungkin malang kepada Cit Kong, Kwee Ceng dapat mengendalikan diri. Tiba-¬tiba ia mendapat pikiran, maka ia berkata.
"Setiap hari membilang hendak menuntut balas, hmm…. sekarang musuh benar-benar datang tetapi berbalik menjadi jeri"
Kwee Ceng tahu ia yang diejek. Ia sadar. Ia melirik kepada nona itu, hatinya berkata. "Baiklah aku bunuh dulu si anjing Kim, kemudian masih ada waktu untukku berurusan sama Oey Yoksu" Maka ia menghunus tombak pendek warisan ayahnya, ia lari kepada Wanyen Lieh untuk menyerang.
See Thong Thian dan Pheng Lian Houw melihat majunya si anak muda, keduanya lantas merintangi dengan maju ke depan pangeran Kim.
Kwee Ceng menyerang terus dengan tombaknya. Pheng Lian Houwcun lantas menangkis dengan paon¬koan-pit, semacam senjata mirip alat tulis. Ketika senjata mereka bentrok, dia merasakan tangannya gemetar dan kesemutan justru begitu, Kwee Ceng dapat melewati dia, lalu juga see Thong Thian, yang kalah sebat.
Mereka menjadi kaget, mendongkol dan berkhawatir untuk pangeran Kim. Segera mereka menyusul. Tapi di sana, sudah ada Leng Tie siangjin dan Tio Cu ong, yang menggantikan mereka memegat pemuda itu, bahkan Nio cu ong dengan bengis sudah lantas menimpuk dengan dua batang paku rahasianya.
Kwee Ceng berkelit sambil terus menyerang dengan tangan kirinya, dengan jurus "in liong sam hian" atau "Naga muncul tiga kali". serangan itu adalah serangan berantai tiga kali.
Nio Cu ong berkelit dengan menjatuhkan diri burgulingan di tanah. Leng Tie siangjin bertubuh besar, ia kurang gesit, ia pun bersangsi menangkis, maka itu, selama ia ayal-ayal, Kwee Ceng sudah sampai di depan si pangeran. sampai waktu itu, terpaksa pendeta ini mengangkat kedua cecernya untuk menangkis.
Benar hebat serangannya si anak muda, dengan suara nyaring ia membikin kedua cecer penghadangnya mental tinggi, menyusul kemudian serangan yang ketiga telah menyusul yang pertama dan yang kedua.
Dalam keadaan seperti itu Leng Tie membela terus. Ia sekarang mengandalkan tangannya yang lihay, yang juga ada racunnya. Demikian ia menyampok serangan berantai dari lawannya. Tapi kesudahannya juga hebat untuknya. Ketika kedua tangan bentrok, ia merasakan lengannya seperti mati, lengannya itu lantas turun sendiri, tidak bisa digunakan lagi
Wanyen Lieh terkejut menyaksikan pemuda yang gagah itu, yang dalam sekejap saja telah membikin empat jagoan menjadinya tidak berdaya, maka ia lantas memutar tubuhnya untuk melarikan diri
Kwee Ceng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, ia lompat untuk mengejar. Belum ia menyusul, menampak berkelebatnya satu bayangan kuning, disusul sama sambaran dua tangan dari samping. Ia berkelit, menyerang dengan tombak tapi serangannya itu gagal, bahkan senjatanya seperti kena tertarik. Maka lekas-lekas ia menahan diri. segera ia mengenali lawannya yang baru, yang lihay sekali dialah Khiu Cian Jin. Dari itu, ia melawan dengan sungguh-sungguh, dengan tangan kanan ia menombak, tangan kiri meninju atau menyambar.
Pheng Lian Houw melihat Kwee ceng telah dilibat Khiu Cian Jin dan Wanyen Lieh sudah dilindungi see Thong Thian dan Io cu ong, ia maju pada Kwa Tin ok, yang ia tegur sambil ia tertawa:
"Kwa Tayhiap. kenapa Kang Lam cit Koay cuma datang satu orang saja?"
Tin ok telah kehilangan tongkatnya yang oleh Oey Yong kena dibikin mental ke telaga, maka itu, tanpa menyahut ejekan itu, ia menyerang dengan tiat-leng, leng kak rahasianya, hanya sambil menimpuk. la lompat mundur tiga tindak.
Lian Houw tahu lihaynya leng kak besi itu, ia berkelit sambil berlompat. Maka senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Pernah ia terkena lengkak itu, benar ia tahu cara mengobatinya dan ia tidak terbinasa, tetapi mesti menderita sakit dan berobat selama beberapa bulan. Karena itu juga, ia menjadi bersakit hati dan segera menyerang si jago buta, untuk melampiaskan kemendongkolannya. Habis berkelit, ia merangsak lagi.
Kwa Tin ok bercacad di kaki, ia biasa jalan dengan mengandalkan tongkatnya, sekarang tongkatnya lenyap. Ia menghadapi musuh tangguh, terpaksa ia berlompat Pula. Hanya ketika kaki kirinya menginjak tanah, hampir ia terguling roboh.
Lian Houw melihat tubuh lawannya limbung, dalam girangnya ia maju pula. Ia maju sambil menjaga diri dengan tangan kirinya yang mencekal pitnya, ia menyerang dengan tangan kanan ke arah punggung.
Kuping Tin ok jeli sekali, terancam bahaya, ia juga bisa menggulingkan diri. Maka pitnya Lian Houw mengenai batu, Tapi Lian Houw gusar dan penasaran, ia menyerang lagi sambil mendamprat,
"Bangsat buta, kenapa kau begini licin?" Kali ini ia menotok dengan tangan kirinya.
Kwa Tin ok berguling lagi, sambil membuang diri, ia membarengi mengayun tangannya, menerbangkan sebatang leng kak besi. Ketika itu Leng Tie siangjin lagi berjaga-jaga seraya ia memegangi lengan kanannya, justru Kwa Tin ok berguling ke dekatnya, tidak ayal lagi, ia menjejak.
Tin ok terkejut. Ia mendengar nyata angin jejakan itu. Kebetulan tangan kirinya tertindih tubuhnya, ia mengerahkan itu, untuk membikin tubuhnya melesat menyingkir dari bahaya. Hanya, selagi ia berhasil lolos dari jejakan si pendeta, pitnya Lian Houw sudah tiba pula, hingga ia merasakan punggungnya sedikit kaku. Ia mengeluh, "celaka" di dalam hatinya, kulit matanya terus dirapatkan, untuk menerima binasa.
"Pergilah" mendadak kupingnya dengar bentakan halus tapi nyaring, bentakan mana disusul sama jeritan, "aduh" yang disusul pula sama suara robohnya tubuh yang berat.
Itulah oey Yong, yang turun tangan dengan tiba-¬tiba. Mulanya dengan tongkatnya ia menangkis poan koan-pit, menyusul itu, tongkat itu bergerak pula ke kaki, maka robohlah Lian Houw, yang terguling cuma kedua senjatanya tidak sampai terlepas dari cekalannya.
Lian Houw kaget dan gusar. ia lantas merayap bangun. Hanya sekarang ia melihat Oey Yong menghalang di depan Kang Lam cit Koay yang nomor satu itu. Untuk herannya, ia mendengar Tin ok membentak:
"Siluman perempuan cilik siapa yang kesudian ditolongmu?"
Oey Yong tidak menggubris teguran itu, ia berseru kepada ayahnya "Ayah, kau jagai si buta yang tolol ini, supaya orang tidak mencelakainya" segera setelah itu, ia lari kepada Kwee Ceng, untuk membantu anak muda itu melawan Khiu Cian jin. Tin ok berdiri menjublak, ia bingung.
Pheng Lian Houw melihat gerak-gerik Oey Yok su. Waktu itu Tong shia berdiri jauh dan membelakanginya, si sesat dari Timur itu seperti tidak mendengar suara putrinya tadi. Ia menjadi berani, diam-diam ia bertindak ke arah Hui Thian Pian-hok. Lalu dengan diam-diam ia menyerang dengan pitnya. ia telah mengerahkan tenaganya dan bersungguh-sungguh .
Jangankan Tin ok dibokong, biarpun tidak dan umpama kata dia memegang tongkatnya, diserang begitu dekat, belum tentu dia sanggup menolong dirinya, akan tetapi disaat Lian Houw menyerang, mendadak terdengar suara menggaung serupa barang, yang terus membentur poankoan-pit. Begitu membentur, barang kecil itu hancur. Meski begitu, orang she Pheng itu kaget dan kesakitan tangannya, tanpa ia merasa, pitnya terlepas jatuh. Herannya, ia tidak tahu dari mana datangnya serangan. Ketika ia berpaling kepada Oey Yok su, ia mendapatkan Tong shia lagi menggendong kedua tangannya dan mata¬nya memandangi awan hitam di langit. Pemilik dari Tho Hoa To itu tidak pernah menoleh ke arahnya
Tin ok si buta, yang kupingnya mendengar segalanya, menjadi mendelu sekali. Ia tahu siapa yang menolong dirinya, karena semasa di Kwie-in-chung, ia mengenal kepandaian Tan cie sin-thong dari oey Yok su. Maka ia bertindak cepat ke belakang Tong shia, ia berkata dengan nyaring, dengan nada mendongkol:
"Dari antara tujuh saudaraku tinggal aku satu orang, buat apa aku hidup lama lagi?"
Oey Yok su mendengar suara itu, ia tetap tidak memutar tubuhnya, hanya ketika ia merasa orang telah berada kira-kira tiga kaki darinya, mendadak ia menoleh ke belakang dengan tangan kirinya atas mana Tin ok lantas roboh terjengkang, karena Tiat sim sanggup dia mempertahankan diri. Bahkan dia roboh untuk tidak segera dapat bangun lagi.
Ketika itu Kwee Ceng, dengan bantuan Oey Yong, dapat melayani seimbang kepada Khiu Cian Jin. Tentu saja sekarang mereka tidak berani memandang enteng ketua dari Tiat Ciang Pang itu, sebab dia bukan lagi Khiu Cian Lie si pembual.
Perlawanan coan cin cit Cu juga menemui satunya yang hebat sekali. Paha Cek Tay Thong telah kena kesabet tongkat kepala ular dan jubahnya Sun put Jie telah tersontek robek. Ong cie It gentar hatinya, sebab ia mengerti, apabila pertempuran berlangsung terus, dalam waktu tiga puluh jurus, mesti ada saudaranya yang terbinasa. Ia menjadi sangat berkhawatir, karena orang yang mereka buat andalan tetap belum juga muncul. Terpaksa, selagi Ma Giok dan Lauw Cie Hian menyerang dengan berbareng, ia mengeluarkan dan menyulut hu-sen pertandaannya, yang ia meluncurkannya ke udara bagaikan kembang api.
Ketika itu udara gelap dan kabut pun tebal, kaki mereka seperti tertutup kabut. Makin lama, kabut makin tebal dan hidung orang mencium bau demak yang keras. Udara gelap itu membikin rembulan hampir tidak dapat memancarkan sinarnya. Maka lagi sekian saat, benar-benar lenyap binarnya si putri malam itu. Dengan cuaca gelap itu, sukar orang melihat tegas satu sama lain. Karena ini, semua pihak menggunakan siasat membela diri
Kwee Ceng dan Oey Yong terus mengurung Khiu Cian Cian. Si anak muda melihat si nona dan musuhnya itu, yang seperti terliput kabut. Ia menjadi girang sekali. Diam-diam ia mengambil kesempatan akan meninggalkan mereka, untuk pergi mencari Wanyen Lieh. Di dalam tempat yang gelap itu, ia mementang matanya lebar-lebat. Di luar jarak tiga kaki tidak bisa ia melihat orang, maka ia berlaku teliti. Ia mencari kelilingan. Tiba-tiba, di dalam gelap itu, terdengar suara nyaring:
"Di sini Ciu Pek Thong siapa yang mencari aku untuk mengajak berkelahi?"
Mendengar suara itu, Kwee Ceng girang sekali, hanya ketika ia hendak menyahut, lain orang sudah mendahuluinya. Di sana terdengar suara Khu Cie Kie:
"Ciu susiok baik?"
Kebetulan waktu itu, awan gelap terbuka sedikit, maka kedua pihak dapat melihat satu sama lain. Nyata mereka terpisah dekat sekali, asal mereka menyerang, dapat mereka mengenai sasaran. Tentu sekali mereka sama-sama terkejut, dengan sendirinya mereka pada lompat mundur. Awan gelap membikin pertempuran berhenti sendiri dan mereka pada berdiam diri
Ciu Pek Thong terlihat berdiri di antara kedua pihak, ia tertawa dan berkata dengan gembira:
"sungguh ramai Bagus, bagus" Terus tangan kanannya digerakkan, mulanya ke tangan kiri, lalu sambil berkata. "Nah, ini kau makan obat beracun" ia menyuapi ke arah see Thong Thian
Orang she see itu lihay, dia mengerti ilmu kegesitan "le heng hoan wie" atau Memindah diri menukar kedudukan, tidak urung dia masih kalah sebat, lengannya yang dipakai menangkis kena ditangkap Pek Thong, maka lain tangannya orang she ciu itu berhasil menjejalkan "obat beracun" yang ia sebutkan itu, ialah lumpur. Dia pernah merasai kesengsaraan dari Pek Thong kalau dia melepehkan lumpur itu, dia bakal dihajar, dengan terpaksa dia mengemut itu di dalam mulutnya.
Ong cie It mendapatkan, pertandaannya itu bukan mengasih datang orang yang mereka harap-harap hanya Ciu Pek Thong, sang paman guru, kalau itu membuatnva girang luar biasa. Maka ia berseru
"Susiok, kiranya kau tidak dibinasakan Oey Tocu"
Mendengar suara keponakan muridnya itu, Ciu Pek Thong gusar. "Siapa bilang aku sudah mati?" ia berteriak. "Memang Oey Lao shia berniat membinasakanku tetapi sudah berselang sepuluh tahun lebih, tidak pernah dia berhasil Ha, Oey Lao shia, kau lihatlah"
Lantas ia menyerang ke pundak Oey Yok su. Ia menggunakan ilmu silat Khong Beng un terdiri dari tujUh puluh dua jurus, yang ia ciptakan selama terkurung di pulau Tho Hoa To. Itulah ilmu yang berdasarkan kelunakan, lemas luar biasa.
Oey Yok su tidak berani memandang enteng, ia menangkis dengan Lok Eng ciang, terus ia membalas menyerang. Tapi ia pun menyahuti. Katanya:
"Kawanan imam-imam tua bulu campur aduk dari Coan Cin Pay mengatakan aku membunuh kau, mereka hendak balas dendam untukmu"
Pek Thong masih gusar. "Apakah kau dapat membunuh aku?" dia berteriak. "Jangan meniup kerbau" sembari mengoceh, Pek Thong menyerang terus, makin lama makin hebat, karenanya terpaksa Oey Yok su melayani, untuk membela diri.
Coan cin Liok Cu menjadi kecele. Mereka mengharap datangnya sang paman guru, dia bersama Oey Yok su nanti membantu melawan rombongan Auwyang Hong, siapa tahu, paman gurunya tidak dapat diajak bicara, dia berlaku sangat sembrono.
"Susiok. jangan menempur Oey Tocu" Ma Giok berteriak.
"Benar, Loo Boan Tong" Auwyang Hong turut berkata. "Kau bukan tandingan saudara Yok, lekas kau lari sipat kuping"
Inilah kata-kata yang berbisa yang membikin Pek Thong menyerang makin kalap. oey Yong masgul melihat itu, maka ia lantas kata pada si tua bangka berandalan itu.
"Ciu Toako, kau menggunakan kepandaian dari Kiu Im cin-keng melayani ayahku, maka bagaimana nanti kau membilangnya kepada Ong Cinjin di dunia baka?"
Pek Thong tertawa berkakak. "Apakah kau melihat aku menggunakan ilmu silat dari kitab itu?" ia kata. "Aku telah berikhtiar mati-matian untuk melupakan bunyinya kitab itu Hm, mempelajariya gampang, melupakannya sukar sekali"
Oey Yok su heran dan masgul mendengar perkataan si orang tua kebocah-bocahan itu. Ketika ia menempur di pulaunya, ia mendapat kenyataan Pek Thong hebat sekali. sekarang ia merasakan orang jauh terlebih lemah tetapi aneh, ia melayani dia seimbang kosennya. Kenapa begini, lebih lunak tetapi tebih lihay? Ia juga tidak mengerti, kenapa Pek Thong membuang ilmu silatnya yang lama.
Auwyang Hong, yang menyembunyikan diri di dalam kabut, senang menyaksikan pertempuran di antara dua jago itu, hanya ia berkhawatir juga, umpama Pek Thong menang, dia nanti membantu rombongan Khu Cie Kie. Karena ini ia memikir, baiklah ia lekas-lekas memukul pecah.Thian Kong Pak Tauw Tin. Ia berpikir dan bekerja, ia lantas mulai dengan penyerangan lebih jauh.
Ong Cie It dan Lauw Cie Hian menjadi bergelisah. "Ciu susiok, mari membinasakan Auwyang Hong dulu" mereka berteriak.
Ciu Pek Thong juga melihat kawanan keponakan muridnya itu terancam bahaya, ia segera merangsak Oey Yok su, tangan kirinya terbuka, tangan kanannya terkepal, lalu satu kali, ketika kepalanya hampir mengenai muka lawannya, mendadak ia mengubah, kepalan menjadi tangan terbuka, tangan terbuka menjadi kepalan, sambil tertawa, ia menyambar dan langsung.
Oey Yok su terperanjat. Inilah ia tidak sangka. Ia lantas mengeluarkan tangannya, untuk menangkis, tapi ia terlambat sedikit, ujung alisnya telah kena kebentur ujung tangan lawan, meski benar ia tidak terluka, ia merasakan panas sekali.
Habis berhasil dengan serangannya itu, Ciu Pek Thong sadar, segera dengan tangan kirinya ia menghajar lengan kanannya sambil mendamprat,
"Harus mampus Harus mampus Inilah jurus dari Kiu Im Cin-keng"
Oey Yok su tengah membalas menyerang ketika ia mendengar perkataannya Pek Thong itu, ia terkejut, ia hendak membatalkan penyerangan itu tapi sudah kasep. tangannya sudah mampir di pundak orang, kemudian si berandalan itu berseru.
"Ah, hebat, pembalasan datang cepat sekali"
Dalam keadaan kacau itu, karena keberandalannya Ciu Pek Thong, Kwee Ceng mengingat kedua gurunya, ia khawatir mereka nanti mendapat celaka, maka ia menghampiri Kwa Tin ok. Ia memimpinnya ke dekat Ang cit Kong, supaya keduanya berdiam bersama. Dengan perlahan sekali, ia berkata kepada mereka:
"Jiewi suhu, mari pergi beristirahat di Yan ie Lauw, sebentar sebuyarnya kabut baru kita lihat bagaimana baiknya:"
Ketika itu, kembali terdengar suara Oey Yong: "Eh, Loo Boan Tong, kau dengar perkataanku atau tidak?"
"Aku tidak bakal mengalahkan ayahmu, kau jangan khawatir" menyahut si jenaka.
"Aku menghendaki kau lekas menghajar si bisa bangkotan" berkata si nona. "Hanya aku melarang kau membinasakannya"
" Kenapa begitu?" tanya Pek Thong, yang kaki tangannya bekerja terus.
"Jikalau kau tidak mau dengar .perkataanku, nanti aku beber riwayatmu yang busuk" berkata si nona.
"Riwayat busuk apa itu?" tanya si tua. "Kau ngaco belo"
"Baik" menyahut si nona, yang membikin suaranya keras dan panjang "Empat buah perkakas tenun maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan"
Pek Thong kaget mendengar itu. "Baik, baik" ia lekas berkata, "Aku suka dengar perkataanmu. Eh, bisa bangkotan, kau ada di mana?"
Auwyang Hong tidak penyahut. Adalah Ma Giok yang berkata: "ciu susiok, kau ambil kedudukan di Pak Kek chee untuk mengurung dia"
Oey Yong tidak bicara lagi sama Pek Thong, hanya ia membilang pada ayahnya. "Ayah, Khiu Cian Jin bersekongkol sama bangsa asing, dialah satu pengkhianat besar, lekas kau bunuh padanya"
"Anak. mari kau ke sampingku" ada jawaban si orang tua.
Dalam kabut itu, Khiu Cian Jin tidak nampak di mana adanya. Hanya segera terdengar tertawa nyaring dari Ciu Pek Thong yang berseru:
"Bisa bangkotan, lekas kau bertekuk lutut di depan kakekmu, nanti aku beri ampun" Dari suara itu dapat diduga pihak Coan Cin Pay telah menang unggul.
Kwee Ceng sementara itu sudah mengantarkan kedua gurunya ke pinggiran lauwteng Ya Ie Lauw, setelah itu ia pergi lagi, guna melanjutkan mencari Wanyen Lieh. Ia telah pergi ke segala penjuru, masih tidak memperoleh hasil. Entah ke mana perginya pangeran bangsa Kim itu. Bahkan see Thong Thian semua, berikut Khiu Cian Jin, entah telah menyingkir ke mana.
"Hai, bisa bangkotan, kau hendak lari ke mana?" kembali terdengar suara Ciu Pek Thong.
Ketika itu kabut nampak makin tebal, tidak ada lowongan seperti tadi. suara orang juga terdengar semakin berat, menjadi kurang nyata. Karena ini orang menjadi jeri sendiri.
Oey Yong menempelkan rapat tubuhnya kepada tubuh ayahnya. Ma Giok telah memberikan titahnya perlahan sekali, untuk kawan-kawannya memperciut lingkaran, supaya mereka memasang kuping mendengar gerak-gerik lawan. Maka itu, sejenak, segalanya menjadi sunyi senyap.
Tidak berapa lama, terdengarlah suara Khu Cie Kie: "Dengar suara apakah itu?"
Di sekitar mereka, mendengar suara sar¬ser, atau sas-sus, suara itu dari jauh mendatangi semakin dekat, semakin dekat.
Oey Yong berteriak "si bisa bangkotan melepaskan ularnya. Tidak tahu malu"
Oey Yok su pun mendengar suara itu dan mengenalinya, ia sebenarnya ketahui ilmu mengusir ular tetapi sekarang ia tidak dapat menggunakan itu. Asal ia meniup serulingnya, ular bakal menari-nari secara kalap. Hanya sekarang ia tidak mempunyai serulingnya. Ia telah membikin patah alat tetabuhannya itu ketika ia mendengar warta palsu tentang putrinya sudah mati kelelep. Maka sekarang ia turut menjadi bingung.
Ang cit Kong telah naik ke atas lauwteng Yan ie lauw, ia mendengar segalanya, ia berteriak
"Si bisa bangkotan mengatur barisan ularnya, semua naik ke lauwteng"
Ciu Pek Thong lihay ilmu silatnya tetapi la paling takut sama ular, maka begitu mendengar suara oey Yong, ia paling dulu ngiprit ke lauwteng, bahkan karena khawatir ular nanti menyantol kakinya, di tangga lauwteng ia tidak bertindak lagi hanya berlompat, maka di lain saat tibalah ia di wuwungan paling tinggi dari lauwteng itu di mana hatinya berdebaran sekian lama. suara ular terdengar makin keras.
"Sayang hiat-niauw tidak ada di sini," kata oey Yong seraya ia menarik tangan ayahnya diajak naik ke lauwteng.
Kawanan Coan Cin Pay juga naik ke lauwteng, mereka jalan sambil berpegangan tangan satu dengan lain dan naiknya merayap. In cie Peng kejeblos, ia jatuh terguling hingga kepalanya benjut, ia merayap bangun untuk naik kembali. Oey Yong tidak mendengar suara Kwee Ceng, ia bingung.
"Engko Ceng, kau di mana?" ia tanya. Tetapi beberapa kali ia memanggil, tidak memperoleh jawaban. ia jadi semakin berkhawatir.
"Ayah, aku hendak cari dia," ia kata pada ayahnya.
"Perlu apa kau mencari aku?" terdengar suara Kwee Ceng dingin "Lain kali tidak usah mencariku, aku pun tidak akan menyahut" Kiranya pemuda ini berada di samping si pemudi.
"Anak busuk" membentak Oey Yoksu sengit seraya tangannya menyampok.
Kwee Ceng berkelit sambil menunduk. Ketika hendak membalas, terdengar desingan panah, yang menyambar ke kayu jendela, hingga semua orang menjadi kaget. suara panah itu diikuti teriakan-teriakan banyak orang, disusul, pula hujan anak panah. Teranglah itu suara satu pasukan tentara, entah berapa besarnya. Kemudian terdengar lagi teriakan-teriakan
"Jangan kasih lolos semua pemberontak"
Khu cie Kie menjadi gusar sekali. "Pastilah kawanan anjing Kim itu sudah bersekongkol sama pembesar negeri" katanya sengit.
"Pastilah pembesar di Kee-hin ini yang datang untuk menawan kita"
"Mari kita menerjang turun" kata Ong cie It panas hatinya.
"Kita labrak mereka"
Cek Tay Thong justru berteriak-teriak "celaka Ular Ular"
Semua orang kaget, berkhawatir dan gusar sekali. sekarang mereka mengerti, untuk pertempuran ini, Wanyen Lleh dan Auwyang Hong sudah melakukan persiapan, bahkan mereka berlaku curang dan hina.
Melihat semua itu, Ang cit Kong segera mengasih dengar suaranya. "Kita dapat melawan panah, tidak dapat kita melawan ular Dapat kita menyingkir dari ular, tidak dapat kita menyingkir dari panah. Maka itu, semua lekaslah mengangkat kaki"
Di atas wuwungan, ciu Pek Thong mencaci kalang kabutan. Dia telah menyambut dua batang anak panah dengan apa ia menangkis setiap anak panah lainnya yang menyambar-nyambar ke arahnya.
Lauwteng Yan ie Lauw terkurung air di tiga penjuru dan tentara negeri dengan menggunakan perahu-perahu kecil telah datang dari tiga penjuru itu sambil mereka menyerang dengan panah: disebabkan kabut tebal, mereka tidak berani datang terlalu dekat.
"Kita menuju ke barat, kita ambil jalan darat" terdengar pula suara Cit Kong.
Dalam kekacauan itu, dengan sendirinya Pak Kay menjadi komandan di antara rombongan orang gagah itu, semua orang telah mendengar perkataannya, semua lantas turun dari lauwteng. Kembali mereka rapah-repeh, sebab kabut masih tetap tebal dan dijarak satu kaki, sukar mereka melihat satu sama lain. Disaat seperti itu, mereka melupakan permusuhan, bahkan mereka berjalan sambil saling tuntun.
Khu Cie Kie bersama Ong cie It, dengan pedang di tangan masing-msing berjalan paling depan. Mereka memutar rapat pedang mereka dalam jurus siang-kiam Hap-pek, sepasang pedang bersatu padu.
Kwee Ceng menuntun Ang cit Kong dengan tangan kanannya, tangan kiri bergedangan dengan orang lain. Ia justru kena memegang tangan yang halus dan lunak. Itulah tangannya oey Yong, maka ia terkejut. Lantas ia melepaskan cekalannya.
Oey Yong terdengar berkata: "Siapa menghendaki kau memperhatikanku?" Dingin suaranya itu.
Ketika itu terdengar seruan Khu Cie Kie: "Lekas kembali. Di depan kita, semuanya ular"
Ang cit Kong bersama Oey Yoksu berada paling belakang, terdengarlah suara ular yang berisik sekali, sedang baunya yang memuakkan menyambar hidung. Oey Yong tidak tahan, lantas muntah. Oey Yoksu menyambar putrinya, untuk dipeluk. Semua orang bingung. Panah hebat masih dapat ditangkis tetapi barisan ular berbisa itu?
Disaat berbahaya, tiba-tiba terdengar suara keras dan dingin dari seseorang: "Siluman perempuan cilik mari serahkan tongkat bambumu pada si buta" orang mengenali, itulah suaranya Kwa Tin ok.
Mendengar suara itu, Oey Yok su dan oey Yong lega hatinya. Si nona tidak menghiraukan dicaci sebagai "siluman perempuan cilik", ia lantas menyerahkan tongkatnya.
Kwa Tin ok menyambut tongkat sambil berkata "semua orang mari mengikuti si buta menyingkir dari sini"
Hui Thian pian-hok adalah orang Kee-hin asli, ia mengenal baik kampung halamannya, meski benar matanya buta, kabut tidak menjadi rintangan untuknya. Ia sekarang cuma mengandalkan kupingnya, akan mendengar suara ular. Maka itu, ia memasang kuping mencari tahu di mana tidak ada suara panah atau ular. Ia memang ketahui di sebelah barat ada sebuah jalan kecil, justru dari sana tidak terdengar suara apa-¬apa. Demikian dengan dingkluk-dingkluk ia menuju ke barat.
Jalanan kecil itu adalah jalanan yang tak terpakai umum, sudah beberapa tahun ini di sana juga tumbuh pohon bambu, maka itulah sebuah jalan mati. Maka juga dengan lantas mereka terintang phon-pohon bambu.
Khu Cie Kie bersama ong cie It menggunakan pedang mereka merobohkan setiap pohon yang menghadang, di belakangnya, semua orang mengikuti.
"Ciu susiok. kau di mana?" tanya Ma Giok. "Lekas ke mari"
Pek Thong duduk berdiam di alas wuwungan, ia mendengar panggilan itu, tetapi ia jeri sama ular, ia berdiam saja.
Sesudah berjalan belasan tombak, orang telah berhasil melewati rujuk bambu itu. Di situ terlihat nyata sebuah jalan kecil. Di sana suara ular tidak terdengar nyata, sebaliknya seruan-seruan tentara agak semakin nyaring. Rupanya ada rombongan tentara yang mencoba jalan memutar untuk memegat.
Semua orang tidak takut sama tentara negeri. Bahkan Lauw Cie Hian lantas berkata: “Cek sutee, mari kita maju bersama, kita mampusi beberapa pembesar anjing itu"
"Baik" menyambut Tay Thong. Maka keduanya lantas maju di depan, mereka menangkis setiap anak panah.
Orang maju terus, maka tidak lama kemudian, tibalah mereka dijalan besar. Di sini mereka disambut hujan yang lebat dan guntur yang menulikan kuping. Turunnya hujan menyebabkan kabut tersapu habis. Benar cuaca tetap gelap. tetapi sekarang mereka dapat melihat samar-samar satu sama lain.
"Mara bahaya telah lewat, tuan-tuan, persilahkan" berkata Kwa Tin ok.
Artinya ia mempersilahkan orang mengambil jalan sendiri-sendiri Ia pun mengembalikan tongkatnya oey Yong, seorang diri ia bertindak ke timur tanpa berpaling lagi.
"Suhu" Kwee Ceng memanggil.
"Kau bawa Ang Loohiap ke tempat yang sunyi, untuk berobat," berkata guru itu, "Setelah beres kau pergi ke dusun Kwa-kee-cun mencariku"
"Baik, suhu" menyahut sang murid.
Oey Yok su menyambut sebatang panah yang melayang ke arahnya, ia bertindak ke depan Tin ok seraya berkata:
"Jikalau bukan hari ini kau telah menolong jiwaku, sebenarnya tidak sudi aku menjelaskan kepadamu "
Belum habis kata-kata itu, Tin ok sudah berludah hingga ludahnya mengenai hidung orang. Dia berkata dengan sengit,
"Berhubung dengan kejadian hari ini maka kalau nanti aku menutup mata, aku tidak mempunyai muka untuk menemui keenam saudara angkatku"
Oey Yok su gusar sekali, ia lantas mengayun tangannya. Kalau Tin ok kena dihajar, pasti terbanglah jiwanya. Tapi Kwee Ceng berlompat maju, ia mewakili gurunya menangkis.
Oey Yok Su dan Kwee Ceng terpisah belasan tindak. tidak keburu si anak muda menolong gurunya, akan tetapi Oey Yoksu batal menyerang, dengan perlahan-lahan dia mengasih turun tangannya, untuk ditarik pulang, lalu sambil tertawa lebar dia berkata.
"Kamu kira aku Oey Yok su orang macam apa? Maka dapat berpandangan serupa sebagai kamu?" Ia lantas memutar tubuhnya kepada putrinya seraya berkata. "Yong-jie, mari kita pergi" Ia juga berpaling kepada Ang cit Kong, untuk menjura, habisitu dengan hanya satu kali berkelebat, ia sudah lantas memisahkan diri beberapa tombak jauhnya
Mendengar suara Oey Yok su itu, Kwee Ceng melengak. Ia menjadi ragu-ragu. Tapi ia tidak dapat memikir lagi. Saat itu, dengan suara berisik, terlihat tibanya satu pasukan serdadu menerjang mereka.
Coan cin Liok Cu lantas maju, menyambut terjangan, untuk membalas menghajar.
Oey Yok su sebaliknya tidak sudi berkelahi, ia menghampiri Ang cit Kong tangan siapa ia pegang untuk ditarik, sambil berkata:
"Saudara Cit, mari kita pergi ke depan untuk minum beberapa cangkir arak. Nanti kita bicara di sana" cit Kong setuju sekali dengan ajakan itu.
"Bagus Bagus" sahutnya, terus ia mengikuti, maka sebentar kemudian, mereka berdua sudah menghilang di tempat yang gelap.
Kwee Ceng membiarkan gurunya pergi, sekarang ia hendak membantu gurunya yang tertua. Justru itu, serangan tentara kembali datang. ia tidak berniat mencelakai banyak orang, maka ia menggunakan tangan kosong merobohkan siapapun yang berada paling dekat dengannya.
Dalam kekalutan itu terdengar suara nyaring dari Khu Cie Kie berarnai. Itu disebabkan di antara tentara negeri ada orang-orangnya Wanyen Lieh, ialah kawanan Tiat elang Pang dari Khiu Cian jin, maka mereka tidak selemah serdadu negeri, hingga mereka tidak gampang dapat dipukul mundur.
Kwee Ceng berkhawatir untuk gurunya yang paling tua, ia lantas memanggil-manggil: “Toasuhu Toasuhu Toasuhu di mana?" tapi suaranya tidak mendapatkan jawaban.
Ketika itu Oey Yong berdiri menyender di sebuah pohon. ia tidak mengikuti ayahnya. Habis menyambut, tongkatnya dari Tin ok, pikirannya kusut. Ia telah melihat ayahnya diludahi tertua dari Kang Lam cit Koay, ia masgul bukan main. Impiannya yang manis telah buyar. Maka juga ia berdiam saja menyaksikan tentara negeri lewat di dekatnya. Tapi selagi ia berdiam, ia mendengar teriakan Tin ok. Ia terkejut. Tanpa merasa, ia berlompat, lari ke tempat dari mana teriakan itu datang. Ketika ia sampai, tepat ia melihat Tin ok rebah di tanah dan seorang punggawa mengayun golok panjangnya ke punggung si buta itu. Tapi opsir itu tidak berhasil membinasakan jago Kanglam itu. Tin ok dapat berkelit dengan menggulingkan tubuh, terus ia bangun berduduk seraya membalas menyerang.
Opsir itu menjerit dan roboh pingsan. Tin ok mencoba bangun lagi, tapi gagal, rupanya ia terluka, baru ia melempangkan tubuh, kembali roboh. Oey Yong lari menghampiri, ia melihat kaki orang terkena panah. Ia mengulur tangannya, untuk memberikan bantuan.
Kwa Tin ok rupanya mendapat tahu siapa yang menolongnya, ia menarik tangannya hingga terlepas, tetapi ia kembali jatuh, sebab sebatang panah menyambar kaki yang lain.
"Untuk apa berlagak menjadi enghiong atau hoohan?" kata Oey Yong dengan mengejek. Ia lantas menotok dengan ilmu totoknya "Lan-hoa Hut-hiat ciu", ia menotok jalan darah di pundak si buta, dimana jago Kanglam itu tidak berdaya lagi, dia lantas bisa dipegang untuk tidak jatuh pula.
Dia masih mau berontak tetapi gagal, separuh tubuhnya tidak dapat digerakkan. Hanya sambil terpaksa dia membiarkan dipepayang pergi, mulutnya mencaci kalang kabutan.
Belasan tombak jauhnya Oey Yong membawa pergi guru Kwee Ceng itu, lalu ia singgah di sebuah pohon, untuk beristirahat. Di sini ia terlihat sejumlah serdadu, mereka lantas menyerang dengan belasan batang anak panah. Terpaksa ia maju, untuk menangkis mundur serangan itu. Tin ok ia biarkan sembunyi di belakang pohon.
Jago Kanglam itu mendengar suara datangnya anak-anak panah, ia tahu Oey Yong lagi berkelahi untuk menolong dirinya, pikirannya menjadi berubah, maka ia berhenti mencaci, ia berkata.
"Jangan kau perdulikan aku. Pergilah kau lari sendiri" sekarang ia bicara dengan perlahan.
"Hm" bersuara si nona. "Aku justru hendak menolong kau. Aku mau lihat, apa dayamu menolaknya"
Keduanya menyingkir ke belakang tembok kate di dekat situ. Penyerangan telah terhentikan, tetapi oey Yong dibikin capai sekali oleh tubuh yang berat dari Kwa Tin ok, maka itu dengan napas sengal-sengal ia menyender di tembok.
"Habislah sudah" kata Tin ok sambil menghela napas. Ia seperti putus asa. "Di antara kita, budi telah habis semuanya, maka kau pergilah semenjak ini anggap saja aku si buta she Kwa sudah mati"
Oey Yong berkata dengan dingin. "Terang-terang kau belum mati, mengapa kau menganggap dirimu sudah tidak ada di dunia ini? Jikalau kau tidak mencari aku untuk membalas sakit hati, nanti aku yang mencari dirimu"
Dengan mendadak si nona menotok dua kali dengan tongkatnya, jalan darah wietiong di tekukan dengkul. Tin ok tidak menyangka sama sekali, segera ia roboh mendelepok di tanah. Dalam hatinya, ia lantas mencaci si nona. Ia tidak tahu nona itu hendak menyiksa bagaimana atas dirinya. Ia memasang kuping, ia mendengar orang telah berjalan pergi.
Ketika itu suara pertempuran terdengar semakin jauh, rupanya Coan Cin Liok Cu telah berhasil menghajar tentara negeri. Hanya sekarang Tin ok mendengar suara Kwee Ceng memanggil¬-manggil.
"Toasuhu" suara itu makin lama makin perlahan. Itu tanda Kwee Ceng telah pergi mencari ke lain jurusan.
Sekian lama lagi, sunyilah di sekitarnya. Cuma di kejauhan terdengar keruyuknya ayam-ayam jago.
"Ini yang terakhir aku mendengar keruyuk ayam," pikir ketua Kanglam Cit Koay ini. "Kalau besok pagi ayam berbunyi di sekitar kola Kee-hin, aku Kwa Tin ok. bakal tidak mempunyai kuping untuk mendengarnya lagi"
Tengah ia berpikir itu, ia mendengar tindakan kaki dari tiga orang. Tindakan kaki yang satu enteng sekali yang dua sangat berat. Ia lantas menduga kepada Oey Yong. Dugaan ini nyata tidak meleset.
"Ini toaya" kata si nona, "Lekas gotong"
Kata-kata itu dibarengi sama totokan, membebaskan jago Kang Lam itu, yang merasa tubuhnya lantas diangkat dinaikkan di alas bale-bale, untuk digotong pergi. la berdiam saja. Ia merasa heran, hendak menanya, tetapi bila ia berkata nanti disenggapi si nona.
Mendadak seorang yang jalan di sebelah depan, menjerit kesakitan. Rupanya orang itu dihajar si nona, yang terdengar berkata bengis.
"Lekas jalan kalian semua tukang mengganggu rakyat, tidak ada satu dari kalian yang baik" Lalu yang di belakang pun menjerit.
"Terang sudah, dia telah menawan dua serdadu untuk menggotongku," Tin ok berpikir. "Benar dia pintar dia mendapat pikiran semacam ini" Tin ok menggigit rapat giginya atas dan bawah.
Ia menahan sakit hebat sekali disebabkan rasa nyeri yang dahsyat di kedua kakinya yang terpanah tadi. Ia malu kalau merintih dan si nona nanti mengejeknya. Ia merasa dibawa di jalanan yang sukar, yang turun dan naik. Kemudian ada cabang-¬cabang pohon yang melanggar mukanya. Jadi mereka berada di tempat yang pepohonannya lebat. Dua tukang gotong itu tetap berjalan tidak tetap. saban¬saban mereka terhuyung, tandanya mereka letih sekali. Mereka jalan terus karena tongkat si nona seperti tidak mengenal kasihan
Tin ok menduga telah dibawa pergi sekitar tiga puluh lie. Ia percaya sudah tengah hari. Pakaiannya kuyup bekas ditimpa hujan tetapi sekarang pakaiannya sudah hampir kering tersorot matahari dan terkena angin. Lalu ia mendengar suara tonggeret dan anjing, juga nyanyian sipetani pria dan wanita. Suasana tenang sekali, beda dengan tadi di waktu terjadi pertempuran kacau.
Oey Yong membeli buah labu dan masak itu dengan nasi. Ia makan satu mangkuk, yang semangkuk lagi ia letakkan di depan Kwa Tin ok.
"Aku tidak lapar" kata jago Kanglam itu.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar