ads

Kamis, 29 Oktober 2020

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 011

“Tentu mereka sudah berhasil,” pikir Kwee Ceng berdua.

Tidak berapa lama, beberapa perahu datang mendekati perahu besar, dari dalam situ terdengar laporan: “Semua musuh sudah musnah, kepala perangnya sudah tertawan!”

Koan Eng girang sekali, dia pergi ke kepala perahu. Dia berseru: “Saudara-saudara, bercapai lelahlah sedikit lagi! Silahkan kamu membekuk utusan negara Kim!”

Pembawa kabar itu bersorak, mereka lantas berlalu pula, untuk menyampaikan titah itu. Habis itu, terdengar suara terompet dari pelbagai perahu kecil, semua perahu memasang layar, menuju ke barat, bertiup keras angin timur.

Perahu besar Koan Eng, yang tadinya berada di belakang, sekarang maju mendahului yang lain-lain, pesat sekali lajunya.

Kwee Ceng dan Oey Yong berdiam terus, mata mereka mengawasi ke depan. Tidak peduli angin keras mendampar-dampar punggung mereka, mereka gembira sekali. Coba tidak lagi sembunyi, tentulah si nona sudah bernyanyi. Pula menarik akan melihat perahu-perahu kecil mencoba melombai perahu besar itu.

Berlayar kira-kira satu jam, di depan mulai tampak cahaya terang. Maka dua buah perahu kecil terlihat melesat mendatangi, lalu seorang dikepala salah satu perahu, dengan tangan memegang bendera merah berteriak nyaring: “Kita sudah menemui perahu-¬perahu utusan negara Kim! Hoo Cecu sudah mulai menyerang!”

“Bagus!” Koan Eng menyahut.

Lekas sekali ada datang sebuah perahu lain, seorang memberi laporan: “Kaki tangan negara Kim itu lihay, Hoo Cecu telah terluka! Kedua cecu Pheng dan Tang tengah mengepung mereka!”

Kapan perahu itu sudah datang dekat, dua orang memanggul Hoo Cecu ynag terluka naik di perahu besar. Selagi Koan Eng hendak mengobati cecu itu, sudah lantas datang beberapa perahu lagi, yang membawa kedua cecu Pheng dan Tang yang tadi disebutkan, telah terluka pula. Pula dilaporkan yang, “Kwee Tauwnia dari puncak Piauw Biauw Hong telah kena ditombak mati utusan negara Kim, mayatnya kecemplung ke telaga.”

Mendengar itu Liok Koan Eng jadi gusar sekali. “Anjing Kim itu demikian galak, nanti aku sendiri pergi membinasakan dia!” ia berseru.

Kwee Ceng dan Oey Yong sesalkan kegalakan Wanyen Kang itu, yang membunuh bangsanya, dilain pihak, mereka khawatir kebinasaan pangeran itu, yang tentu tidak snaggup melayani kawanan perampok yang besar jumlahnya itu, hingga kalau dia mati, bagaimana jadinya dengan Bok Liam Cu

“Kita tolong dia atau jangan?” Oey Yong berbisik.

“Kita tolong dia tetapi dia mesti dibikin insyaf dan menyesal,” sahut anak muda ini.

Oey Yong mengangguk.

Waktu itu Koan Eng sudah membawa sebuah golok yang tajam di dua sisinya, dia berlompat ke sebuah perahu kecil. “Lekas!” dia berseru.

“Mari kita rampas itu perahu kecil di sampingnya!” Oey Yong mengajak kawannya.

Disaat keduanya hendak lompat, tiba-tiba tempik sorak riuh kawanan perampok, kemudian tampak perahu-perahu rombongan utusan Kim itu pada karam. Rupanya perahu mereka telah dipahat bolong dasarnya. Kemudian, dengan bendera merahnya dikibar-kibarkan, dua perahu datang melapor: “Anjing Kim itu kecemplung air. Dia sudah dapat dibekuk!”

Koan Eng girang, dia lompat kembali ke perahu besar.

Tidak lama, di antara berisiknya terompet, sejumlah perahu kecil datang membawa orang-orang tawanan mereka ialah si utusan Kim, sekalian pahlawan dan pengiringnya, semua sudah lantas digusur naik ke perahu besar.

Kwee Ceng dan Oey Yong mendapatkan Wanyen Kang dibelebat kaki tangannya, matanya meram saja, rupanya ia telah kena tenggak banyak air telaga.

Kebetulan saat itu sang fajar telah tiba, seluruh telaga mulai terang tertojohkan matahari dari timur, air telaga bersinaran, memain seperti berlugat-legotnya ular-ular emas.

Liok Koan Eng telah memberikan pengumumannya; “Semua cecu berkumpul di Kwie-in-chung untuk berjamu! Semua tauwnia pulang ke markas, untuk menanti hadiah!”

Kaum perampok bersorak-sorai, lantas tampak mereka berpencaran, lenyap di kejauhan. Dimuka telaga terlihat burung-burung melayang-layang, pula terlihat layar-layar putih. Segala apa tenang sekali, hingga orang tidak nanti menyangka bahwa baru saja dilakukan pertempuran mati hidup….

Kwee Ceng berdua menanti orang sudah pada ke darat, baru dengan diam-diam mereka pun pulang, untuk berpura-pura tidur. Beberapa kali dua bujang pelayannya datang ke pintu kamar, mereka ini menyangka tetamunya sedang tidur nyenyak bekas letih pesiar kemarin, mereka tidak berani mengasih bangun.

Lewat lagi sesaat barulah Kwee Ceng berdua membuka pintu. Lantas mereka diberi selamat pagi oleh kedua pelayannya, kemudian cepat menyediakan sarapan pagi seraya memberitahukan bahwa chung-cu menanti di kamar tulis.

Keduanya menangsal perut sekedarnya, kemudian mereka pergi ke kamar tulis, di mana Liok Chung-cu duduk di pembaringan, menyambut sambil tertawa; “Angin besar di telaga, semalam gelombang mendampar-dampar gili-gili mengganggu orang tidur! Apakah semalam jiwi dapat tidur nyenyak?”

Kwee Ceng jujur, pertanyaan itu membuat ia bungkam, tetapi Oey Yong menyahut: “Tadi malam aku mendengar suara terompet kulit keong, rupanya paderi atau imam tengah membaca doa.”

Tuan rumah tertawa. Lantas ia mengatakan ingin memperlihatkan kumpulan gambar lukisan kepada kedua tetamunya.

“Tentu suka sekali kami melihat,” berkata Oey Yong. “Pasti lukisan-lukisan yang sangat indah.”

Liok Chung-cu menyuruh kacungnya mengambil gambar, maka sebentar kemudian Oey Yong sudah memandang menikmatinya.

Selagi hatinya sangat ketarik, mendadak Oey Yong mendengar bentakan-bentakan disusul berlariannya beberapa orang, seperti lari dikejar beberapa orang. Satu kali terdengar nyata bentakan: “Kalau sudah masuk ke dalam Kwie-in-chung, untuk kabur dari sini lebih sukar daripada mendaki langit!”

Diam-diam Oey Yong melirik tuan rumah, ia mendapat kenyataan orang ini tenang seperti biasa, bagaikan tidak mendengar apa-apa, bahkan ia menanya, dari empat sastrawan besar di jamannya itu, tulisan siapa yang tetamunya paling digemari.

Selagi Oey Yong hendak memberikan jawaban, tiba-tiba pintu kamar ada yang tabrak, seseorang nerobos masuk, pakaiannya basah kuyup. Ia lantas mengenali Wanyen Kang, maka ia tarik Kwee Ceng seraya membisiki: “Lihat gambar, jangan pedulikan dia…”

Keduanya segera tunduk, terus mengawasi gambar-gambar lukisan serta pelbagai tulisan. Tuan rumah mengawasi orang yang nerobos masuk itu.

Orang itu memang Wanyen Kang adanya. Dia tertawan karena ia kecemplung dan meminum banyak air. Tempo dia mendusin, dia mendapatkan kaki tangannya terbelenggu, dan Liok Koan Eng hendak memeriksa dia. Segera dia mengerahkan tenaga, sekali berontak, membuat belenggunya pada putus. Orang semua kaget, lantas mereka bergerak untuk menangkap. Dia membuka kedua tangannya, dua orang yang terdekat terpelanting roboh. Dia terus nerobos, untuk lari. Tapi Kwie-in-chung diatur menurut kedudukan patkwa, siapa tidak ketahui itu, jangan harap ia dapat lolos. Demikian dia lari tanpa tujuan sambil dikejar-kejar, sampai ia menabrak justru pintu kamar tulis.

Liok Koan Eng tidak khawatir orang akan lolos, tetapi melihat orang tawanan masuk ke kamar ayahnya, khawatir ayahnya nanti diserang, dia lompat untuk menghalang di depan ayahnya. Di muka pintu segera terlihat sejumlah cecu berdiri menghalang.

Dalam kesusu dan bingung seperti itu, Wanyen Kang tidak dapat memperhatikan Oey Yong berdua, dia menuding Liok Koan Eng dan menegor: “Perampok sangat jahat, kau sudah menggunakan akal busuk membocorkan perahu! Tidakkah kamu khawatir ditertawakan kaum kangouw?!”

Koan Eng tertawa lebar. “Kau putra raja Kim, perlu apa kau menyebut-nyebut dua huruf kangouw itu?” ia membaliki.

“Selama di Pakhia aku telah mendengar nama besar kaum kangouw di Selatan,” berkata Wanyen Kang berani, “Buktinya – hm – ternyata hari ini kamu hanya….”

“Hanya apa?!” Koan Eng memotong.

“Hanya kamu kaum hina dina yang pandai mengandalkan orang banyak!” sahut pangeran muda iru.

Koan Eng gusar sekali dihina demikian. Ia muda tetapi kepala untuk kaum Rimba Persilatan di Kanglam. Ia kata: “Kau ingin bertempur satu sama satu, baru kau mampus tidak menyesal?”

Inilah jawaban yang diharap Wanyen Kang. Memang ia sengaja memancing amarah orang. Maka ia kata; “Kalau orang Kwie-in-chung ada yang sanggup mengalahkan aku, aku akan mandah dibelenggu, tidak nanti aku membilang suatu apa. Siapa yang hendak memberikan pelajaran kepadaku?!” Ia pun bersikap temberang, matanya menyapu semua orang, kedua tangannya digendong di belakang.

Kata-kata tersebut itu membangkitkan amarah Cio Cecu dari puncak Bok Lie Hong, juga aseran tabiatnya, maka ia lantas majukan dirinya, malah segera dia menyerang dengan kedua tangannya.

Wanyen Kang berkelit, membikin serangan jatuh di tempat kosong, berbareng dengan itu, kedua tangannya bekerja. Tangan kanan menyambar ke baju di punggung, tangan kiri membantui, maka tubuh cecu itu lantas terangkat, terus dilemparkan ke arah kawan-¬kawannya di ambang pintu!

Koan Eng terkejut. Orang lihay, mungkin tidak ada cecu lawannya. “Tuan, kau benar lihay!” katanya. “Aku ingin meminta pengajaran beberapa jurus dari kau, mari kita pergi ke thia!”

Tuan rumah yang muda ini berkata demikian sebab ia duga pertandingan mesti hebat, di dalam kamar tulis itu ia khawatir nanti melukai ayahnya serta kedua tetamunya itu yang tidak mengenal ilmu silat…

“Untuk pibu, di manapun sama saja!” kata Wanyen Kang jumawa. “Apakah halangannya di sini? Silahkan cecu memberi pengajaran!”

Koan Eng terpaksa, tapi ia berlaku tenang. “Baik!” katanya. “Kau tetamu, kaulah yang mulai!”

Wanyen Kang benar lihay. Mendadak ia ulur tangan kirinya, mengancam, disusul tangan kanannya, menjambak baju orang. Ia sudah lantas menggunakan jurus dari Kiu Im Pek-kut Jiauw.

“Bocah kurang ajar, tahukah lihaynya chung-cu kamu!” kata Koan Eng di dalam hatinya. Ia tidak berkelit, ia cuma mengkeratkan tubuhnya sedikit, untuk meluncurkan tangan kanannya menghajar lengan orang, sedang dua jari dari tangan kirinya menyambar sepasang mata.

Wanyen Kang pun terperanjat mengetahui orang lihay. Ini ia tidak sangka. Ia lantas menarik pulang kedua tangannya, ia mundur setengah tindak, untuk memutar tangan menangkap lengan lawan. Tapi Koan Eng dapat membebaskan diri.

Melihat lihaynya tuan rumah, Wanyen Kang tidak berani memandang enteng. Maka ia berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Koan Eng itu sebenarnya murid kesayangan dari Kouw Bok Taysu dari kuil Kong Hauw Sie di Lim¬an, ia pandai Gwa-kang yaitu ilmu luar Hoat Hoa Cong. Ia pun mengetahui orang lihay, ia bersilat dengan hati-hati. Ia tidak kasih tubuhnya dijambak.

Untuk Gwa-kang, kaum Gwa-kee, ialah ahli luar, ada pribahasa, “Kepalan tiga bagian, kaki tujuh bagian”, atau, “Tangan ialah kedua daun pintu, mengandal kaki menendang orang,” Maka itu, Koan Eng bersilat mengandal pribahasa itu.

Hebat pertarungan ini, sampai seratus jurus lebih belum ada yang menang atau kalah, Kwee Ceng dan Oey Yong diam-diam memuji Koan Eng demikian lihay.

Setelah bertempur lama, hati Wanyen Kang gentar. Ia tahu, terkurung dan lama-lama ia bisa kehabisan tenaga, kalau mesti banyak menempur banyak musuh bergantian, celakalah dirinya. Ia pun sebenarnya masih lemah bekas menenggak terlalu banyak air. Karena itu, ingin ia lekas mengakhiri pertandingan, untuk menyingkirkan diri.

Lewat beberapa jurus lagi, Koan Eng merasa keteter. Musuh telah mendesak. Satu kali ia terlambat, pundaknya kena terhajar. Tidak ayal lagi ia terhuyung mundur. Wanyan Kang merangsak, untuk memberikan hajaran terakhir. Justru ia maju, kaki kiri tuan rumah meleset ke arah dadanya. Itulah dupakan “Kaki jahat” yang berbahaya sekali.

Wanyen Kang tidak menyangka selagi terhuyung musuh dapat mendupak, ia ketahui itu sesudah kasep, dadanya kena terhajar kaki musuh. Ia merasakan dadanya sakit. Tapi ia tidak menyerah dengan begitu saja. Ia membalas dengan membareng menotok betis dengan lima jeriji kiri dan tangan kanannya dipakai menolak dengan keras seraya ia berseru: “Pergilah!”

Koan Eng berdiri dengan sebelah kaki, tidak heran kalau ia kena tertolak hingga mental ke arah pembaringan ayahnya, disaat tubuhnya bakal membentur pembaringan, mendadak Liok Chung-cu mengulur tangan kiri menahan punggungnya, lalu dengan perlahan tubuhnya dikasih turun. tapi ayah itu terkejut melihat betis anaknya mengucurkan darah.

“Kurang ajar!” ia berseru. “Pernah apa kau dengan Hek Hong Siang Sat?!”

Tanggapan dan seruan itu membikin heran semua orang tidak terkecuali Koan Eng sendiri, anaknya. Sebab anak ini semenjak kecil tahu ayahnya sudah cacad kedua kakinya, setiap hari ayahnya berdiam di kamar tulis saja berteman dengan alat tetabuhan khim, gambar dan kitab. Ia juga heran merasakan tanggapan ayah itu kepada tubuhnya. Tapi masih ada juga orang yang tidak heran, mereka ini ialah Oey Yong dan Kwee Ceng. Si nona karena melihat besi patkwa di pintu dan si pemuda karena mendengar keterangan kekasihnya.

Wanyen Kang melengak ditanyakan halnya Hek Hong Siang Sat. “Makhluk apa Hek Hong Siang Sat itu?” ia balik menanya. Ia telah diajari silat oleh Bwee Tiauw Hong tetapi Tiauw Hong tidak pernah memberitahukan asal usul dan she serta namanya.

“Jangan berlagak pilon!” membentak pula Liok Chung-cu. “Siapa yang ajarkan kau ilmu Kiu Im Pek-ku Jiauw yang jahat?!”

Wanyen Kang bernyali besar. “Tuan kecilmu tak sempat ngobrol denganmu, maaf tak dapat aku menemani kau!” katanya seraya ia memutar tubuh, bertindak ke arah pintu.

Semua cecu gusar, mereka mengangkat golok merintangi.

“Bagaimana kata-katamu?!” Wanyen Kang menoleh kepada Koan Eng, romannya bengis.” Kata-katamu berharga atau tidak?!”

Muka Koan Eng pucat. Ia mengangkat tangannya. “Kami kaum Thay Ouw bangsa terhormat!” katanya. “Saudara-saudara, lepaskan ia pergi! Thio Toako, tolong antar ia keluar!”

Semua cecu itu tidak puas tetapi mereka tidak berani membantah pemimpinnya.

Thio cecu pun sudah lantas membentak: “Mari turut aku! Sendiri saja tidak nanti kau menemani jalanan bocah!”

“Mana sekalian siwi dan pengiringku?” Wanyen Kang tanya.

“Mereka semua pun dimerdekakan!” menyahut Koan Eng.

Pangeran itu menunjuki jempolnya. “Bagus, benar kau satu kuncu! Nah, sekalian cecu, sampai bertemu pula di belakang hari!” Ia memutar tubuh untuk memberi hormat, romannya sangat puas.

“Tunggu dulu!” chung-cu tua membentak selagi orang hendak mengangkat kaki.

Wanyen kang segera menoleh, “Bagaimana?!” tanyanya.

“Aku si orang tua bodoh, ingin aku belajar kenal dengan Kiu Im Pek-ku Jiauwmu!” menyahut tuan rumah yang tua ini.

“Bagus! Bagus!” tertawa Wanyen Kang, sedang orang lainnya terperanjat.

Koan Eng sangat berbakti, ia terkejut lantas mencegah. “Ayah, jangan layani binatang ini!” katanya.

“Jangan khawatir!” berkata si ayah. “Aku lihat belum sempurna kepandaiannya itu.” Ia mengawasi dengan tajam kepada pangeran itu, lalu berkata pula: “Kakiku sakit, aku tidak dapat berjalan. Kau maju ke mari!”

Wanyen kang tertawa, tetapi ia tidak menghampiri.

Koan Eng habis sabar, meskipun kakinya sakit, ia tidak mau membiarkan ayahnya bertempur, maka ia lompat maju sambil berkata; “Hendak aku mewakilkan ayahku meminta pengajaran beberapa jurus dari kau!”

“Bagus, mari kita berlatih pula!” tertawa Wanyen Kang.

“Anak Eng, mundur!” mendadak Liong Chungcu berseru, sambil berseru tangan kanannya menekan pinggiran pembaringan, tubuhnya mencelat maju, berbareng dengan mana tangan kiri menyerang ke arah embun-embun si pangeran.

Semua orang terkejut, mereka berseru.

Wanyen Kang tidak takut, ia menangkis. Tapi kesudahannya ia kaget bukan main. Ketika kedua tangan beradu, merasa tangan kanannya terpegang keras, menyusul mana, tangan kanan si orang tua menyambar bahunya. Ia lantas menangkis seraya berontak untuk melepaskan tangan kanannya dari cekalan lawan.

Tubuh Liok Chungcu tidak turun ke lantai, tubuh itu berdiam mengandalkan tenaga lengan si pangeran, ia terus mencekalnya dengan keras, tangan kanannya menyerang pula, beruntun hingga lima enam kali. Wanyen Kang repot menangkis, ia berontak tapi sia-¬sia saja. Ia mencoba menendang dengan kaki kirinya, juga tidak ada hasilnya.

Melihat itu, para cecu heran dan girang. Semua mengawasi pertempuran yang luar biasa itu, yang hebat sekali.

Lagi sekali tangan kanan Liok Chungcu menyerang.

Wanyen Kang menggunakan lima jarinya, membabat tangan lawan, mendadak lengan si orang tua ditekuk, sikutnya menggantikan menyerang, tepat mengenai jalan darah kinceng-hiat. Pangeran itu kaget, merasa tubuhnya seperti mati separuh hingga gerakannya menjadi lambat, karenanya, tangan kirinya lantas kena ditangkap lawan, bahkan dengan suara meretek, sambungan tangannya kena dibikin terlepas!

Liok Chungcu benar-benar sebat, ia mengandalkan kedua tangannya saja, ia dapat bergerak dengan lincah. Kembali tangan kirinya menyerang, menyambar ke pinggang orang, berbareng dengan itu, cekalan tangan kanannya dilepaskan, tangan itu dipakai menekan pundak si pangeran, maka pesat sekali ia mencelat balik ke pembaringan di mana ia bercokol pula dengan tetap dan tenang.

Koan Eng lompat ke depan pembaringan. “Ayah, kau tidak apa-apa?” ia menanya.

Ayahnya itu tertawa. “Binatang ini benar-benar lihay!” katanya.

Dua tauwnia sudah lantas maju, untuk membelenggu kaki dan tangan Wanyen Kang.

“Dalam kantongnya perwira she Toan yang ditawan itu ada beberapa borgolan tembaga, itu dapat dipakai untuk membelenggu binatang ini, coba kita lihat, dia dapat berontak lagi atau tidak!” berkata Thio Cecu.

“Bagus!” sahut beberapa orang, diantaranya ada yang lantas pergi lari, untuk mengambil borgol, maka dilain detik, pangeran itu sudah diborgol tangan dan kakinya.

“Mereka sediakan ini untuk menyusahkan rakyat jelata, sekarang biarlah ia yang mencicipi sendiri!” kata Liok Chungcu dengan tertawa.

Wanyen Kang bermandikan peluh pada dahinya, ia menahan sakit, tidak mengeluh atau merintih.

“Bawa dia kemari!” kata Liok Chungcu, yang tahu orang kesakitan.

Dua tauwnia menggotong pangeran itu dekat kepada tuan rumah.

Liok Chungcu menotok tulang punggung serta dada kiri di beberapa tempat, setelah itu hilang rasa sakitnya Wanyen Kang, hingga pangeran itu mendongkol berbareng heran. Katanya dalam hati: “Gerakan tangan orang ini sama dengan gerakan tangannya suhu, mungkinkah mereka ada hubungan satu sama lain?” Tapi belum sempat ia bicara, Koan Eng sudah suruh orang bawa ia ke tempat tahanan. Semua cecu pun pada lantas mengundurkan diri.

Baru setelah itu, Kwee Ceng dan Oey Yong memutar tubuhnya. Semenjak tadi mereka berdiam saja, melainkan secara diam-diam mereka melirik.

“Anak-anak gemar berkelahi, jiwi tentu menertawakan mereka,” kata Liok Chungcu kepada tetamunya.

“Siapa dia itu?” tanya Oey Yong. Dia membawa sikap wajar, “Apakah dia telah mencuri disini, maka chungcu menjadi gusar sekali?”

Di dalam hatinya, nona ini semakin curiga. Gerakan tangan dan totokan tuan rumah ini sama dengan pelajarannya sendiri.

Chungchu itu tertawa. “Benar, dia telah mencuri tidak sedikit barang kami!” sahutnya. “Mari, mari kita melihat gambar-gambar dan kitab, jangan kegembiraan kita diganggu pencuri itu.”

Koan Eng sudah mengundurkan diri, maka dikamar tulis itu mereka tetap berada bertiga, tapi yang berbicara adalah tuan rumah dan Oey Yong berdua, Kwee Ceng tidak mengerti hal kitab dan gambar, pemuda itu tertarik sama huruf-huruf yang coret-coretannya tajam mirip dengan gerakan pedang. Meski begitu ia berdiam saja. Bukankah mereka toh sudah berpura-pura tidak mengerti silat?

Habis bersantap tengah hari, Liok Chungcu perintahkan kedua bujangnya mengantarkan kedua tetamunya pesiar kedua gua Thio Kong dan Sian Kong seperti ia telah menjanjikan. Kedua gua itu kesohor untuk pemandangan alamnya yang indah. Sampai sore baru mereka kembali dengan senang.

“Bagaimana, Yong-jie, kita tolong dia atau jangan?” tanya Kwee Ceng disaat mereka hendak masuk tidur.

“Kita baik tinggal dulu di sini beberapa hari,” sahut si nona. “Kita masih belum tahu jelas tentang tuan rumah kita ini.”

“Ilmu silatnya sama dengan ilmu silatmu,” Kwee Ceng memberitahukan.

Oey Yong berpikir, “Inilah anehnya,” katanya. “Mungkinkah ia kenal Bwee Tiauw Hong?”

Keduanya tidak dapat menerka. Mereka pun khawatirkan tembok ada kupingnya, lantas mereka memadamkan api dan tidur. Pada tengah malam, keduanya mendusin karena kuping mereka mendengar suara perlahan di atas genting. Keduanya lantas lompat bangun, menghampiri jendela. Begitu mereka mementang daun jendela, menampak berkelebatnya satu bayangan orang, yang terus bersembunyi di antara pohon-pohon bunga mawar. Setelah celingukan, orang itu bertindak ke timur, hati¬-hati sekali sikapnya, menandakan ia bukan salah seorang penghuni rumah.

Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng, keduanya lompat keluar dari jendela, menguntit bayangan itu. Mereka bisa lantas bekerja karena tadi, diwaktu masuk tidur, mereka tidak membuka pakaian luar.

Belasan tindak kemudian, diantara cahya bintang-¬bintang, kelihatan nyata bayangan itu adalah seorang nona, yang ilmu silatnya lumayan juga. Karena ini Oey Yong bertindak mendekat,. Tepat orang itu menoleh, ia lantas mengenali Bok Liam Cu. Ia lantas saja tersenyum. Di dalam hatinya ia berkata: “Bagus, kau hendak menolong kekasihmu! Hendak aku melihat, bagaimana caramu bertindak!”

Bok Liam Cu jalan pergi datang di taman itu, lalu dilain saat ia tersesat jalan.

Oey Yong sebaliknya kenal taman itu, yang diatur menurut patkwa. Inilah keistimewaan Oey Yok Su, ayahnya. Tentang patkwa ini, ayahnya telah mengajari padanya. Jadi taman ini diatur menurut barisan rahasia Pat-kwa-tin.

“Dengan caramu ini berjalan, sampai seratus tahun pun tidak dapat cari kekasihmu itu,” kata Oey Yong dalam hati. Tapi ia hendak membantu. Maka ia memungut segumpal tanah, menimpuk, “Ambil jalan ke sana!” ia menunjuki, suaranya perlahan, ia sendiri bersembunyi di belakang pohon.

Nona Bom terperanjat. Ia menoleh, tidak melihat siapapun. Ia pun curiga dan sangsi. Lantas ia melompat ke arah darimana timpukan datang. Tentu sekali Oey Yong telah lenyap.

“Entah ia bermaksud baik atau jahat, tapi baiklah aku turuti pengunjukannya,” kemudian nona Bok berpikir. Ia terus pergi ke kiri. Lalu habis itu, setiap ia bersangsi, ada timpukan tanah yang memberi petunjuk padanya. Ia telah berjalan berliku-liku, sampai mendadak ada timpukan yang jauh, yang bersuara di jendelanya sebuah kamar yang di depannya. Berbareng dengan itu, dua bayangan berkelebat dan lenyap. Cerdas Liam Cu, segera ia lari menghampiri jendela itu, jendela dari sebuah rumah kecil. Setibanya di depan rumah itu, dua orang lelaki tergeletak di tanah, mata mereka mengawasi dia. Mereka itu masih mencekal senjata, tapi tak dapat bergerak. Terang sudah mereka itu adalah korban-korban totokan jalan darah.

“Pasti ada orang pandai yang membantuku,” berpikir Liam Cu. Ia masuk ke dalam rumah itu, kuping dan matanya dipasang. Segera ia dengar suara orang bernapas.

“Engko Kang!” ia memanggil perlahan. “Kau…!”

“Ya, aku!” ada jawaban untuk itu.

Itulah suara Wanyen Kang, yang sadar sebab barusan mendengar suara tubuh roboh di luar rumah. Dia memang lagi memasang kuping. Dia kenali suara si nona.

Dalam gelap gulita, Liam Cu segera menghampiri.

“Ada dua orang pandai yang membantuku, entah siapa mereka,” kata nona ini. “Mari kita pergi!”

“Apakah kau membawa golok pedang mustika?” tanya pangeran itu.

“Kenapa?” balik tanya si nona.

Wanyen Kang tidak menjawab, ia hanya perdengarkan suara borgolan.

Liam Cu mengerti, ia menjadi sangat masgul. “Menyesal pisau belati mustikaku itu telah aku berikan pada adik Oey,” ia menyesalkan diri.

Oey Yong dan Kwee Ceng yang tetap bersembunyi, mereka dapat dengar suara si nona. Di dalam hatinya, nona Oey berkata: “Sebentar akan aku serahkan pisau mustika itu.”

“Sebentar aku pergi curi kunci borgolnya!” kata Liam Cu akhirnya. Ia bingung dan khawatir.

“Jangan pergi, adik!” Wanyen Kang mencegah. “Orang disini lihay, percuma kau pergi.”

“Bagaimana kalau aku gendong kau?” tanya si nona.

“Tidak bisa, aku diikat pada tiang.” jawab sang pangeran.

“Habis bagaimana?” tanya si nona lagi.

Lalu terdengar suara menangis perlahan dari nona itu.

“Mari kau dekati aku….” kata Wanyen Kang tertawa.

Liam Cu membanting kaki. “Orang tengah gelisah, kau masih bisa bergurau!” tegurnya.

“Siapa bergurau?” Wanyen Kang masih tertawa. “Aku omong sebenarnya.”

Liam Cu tidak memperdulikannya, ia mengasah otaknya.

“Kenapa kau ketahui aku berada disini?” Wanyen Kang tanya kemudian.

“Aku mengikuti kau terus-menerus…” jawab si nona perlahan.

“Oh, adik, kau baik sekali.” Suara Wanyen Kang agak tergerak. “Mari kau dekati aku, kau menyender di tubuhku, hendak aku bicara.”

Liam Cu menjatuhkan diri dan duduk, ia menurut.

“Aku adalah utusan negeri Kim, mereka tidak akan berani lancang membunuh aku,” berkata Wanyen Kang. “Hanya dengan tertahan di sini, pastilah gagal urusan tentara dari ayahku. Aku bingung….Adik, baiklah kau tolongi aku?”

“Bagaimana?” tanya si nona.

“Di leherku ada cap emas, kau loloskan itu.”

Liam Cu menurut.

“Inilah cap utusan,” Wanyen Kang memberitahukan.“ Sekarang kau lekas pergi ke Lim¬an, di sana kau tenemui Soe Mie Wan, perdana menteri kerajaan Song….”

Nona Bok terkejut.

“Aku seorang wanita biasa, bagaimana perdana menteri itu dapat menemui aku?” tanyannya.

“Kalau ia melihat cap ini, pasti ia repot sekali menyambut kau!” kata Wanyen Kang tertawa. “Kau beritahu padanya bahwa aku ditawan perampok di Thay Ouw ini, hingga aku tidaik dapat datang padanya. Kau pesan apabila ada utusan Mongolia yang datang, suruh jangan menerimanya segera bunuh saja si utusan itu!“

“Eh, kenapa begitu?” si nona menanya heran.

“Ini urusan besar dari tentara dan negera, dijelaskan pun kau tidak bakal mengerti! Pergi kau sampaikan pesanku ini kepada perdana menteri itu, artinya kau sudah mewakili aku melakukan satu pekerjaan yang besar. Jikalau utusan Mongolia itu keburu sampai dan dapat bicara dengan raja Song, artinya kerugian besar bagi kami negara Kim.”

“Apa itu negara Kim?” Liam Cu tanya. “Aku adalah rakyatnya kerajaan Song! Sebelum kau omong jelas, tidak bisa aku bekerja”.

“Bukankah nanti kau bakal menjadi permaisuri di negara Kim?” Sembari berbicara, Wanyen Kang tersenyum.

“Ayah angkatku ialah ayahmu sejati, adalah orang Han. Apakah kau benar-benar sudi menjadi raja Kim?” tanya Liam Cu. “Aku cuma tahu, cuma….”

“Kenapa?” Wanyen Kang memotong.

“Sampai sebegitu jauh aku pandang kau sebagai orang pintar dan gagah,” kata Liam Cu, “Dan aku menyangka kau berpura-pura saja menjadi pangeran, bahwa kau lagi menanti saatnya yang baik untuk berbuat sesuatu guna kerajaan Song! Kau benar-benarkah hendak mengakui musuh sebagai ayahmu!”

Wanyen Kang diam. Ia dapat mendengar suara lagu orang berubah, kata-katanya seperti macet di tenggorokan. Itulah tandanya orang gusar dan menyesal. Maka ia diam.

“Negara yang indah dari kerajaan Song telah separuhnya dirampas orang asing!” berkata pula Liam Cu. “Dan rakyat kita bangsa Han telah ditangkap¬i, dibunuh dan dianiaya! Mustahilkah kau sendiri juga tidak memikirkan itu? Kau….kau…..”

Berhenti si nona bicara, ia lemparkan cap ke tanah, sambil menutup muka, ia bertindak pergi.

Wanyen Kang terkejut, segera ia memanggil

“Adik, aku salah!” katanya, memanggil, “Mari kembali!”

Liam Cu berhendti bertindak, ia berpaling, “Mau apa kau?!” ia tanya.

“Tunggulah sampai aku sudah lolos dari sini, aku tak akan lagi menjadi utusan negeri Kim,” berkata Wanyen Kang. “Aku juga tidak akan kembali ke negera Kim, hanya bersama kau, aku akan hidup menyepi sebagai petani, supaya kita bisa hidup bersama dengan tenang dan berbahagia….”

Nona Bok menghela napas, ia berdiri menjublak. Semenjak pibu, ia sudah pandang Wanyen Kang sebagai pemuda yang paling gagah. Bahwa Wanyen Kang tidak hendak mengakui ayahnya sendiri, ia masih menyangka ada sebabnya. Ia pun menduga orang menjadi utusan negara Kim karena ada suatu maksud tersembunyi, guna nanti melakukan suatu usaha besar untuk kerajaan Song. Tapi siapa tahu, sekarang sia-sia saja pengharapannya itu. Ia dapatkan kenyataan orang hanya satu manusia sekakar, yang kemaruk sama harta dan kemuliaan….

“Adikku, kau kenapa?” Wanyen Kang tanya.

Liam Cu berdiam.

“Memang ibuku bilang bahwa ayah angkatmu adalah ayahku yang sejati,” Wanyen Kang berkata pula. “Sayang sebelum aku menanya dengan jelas, keduanya sudah menutup mata, karenanya sampai sekarang aku jadi ragu-ragu…..”

Pikiran Liam Cu tergerak juga.

“Kalau ia belum mengetahui jelas, dapat diberi maaf…” pikirnya. Lalu ia berkata: “Sekarang kau jangan sebut lagi hal aku harus pergi kepada perdana menteri Song untuk membawa capmu ini. Hendak aku mencari adik Oey untuk minta pisau mustika guna menolong kau…”

Oey Yong mendengar itu semua, kalau tadinya ia hendak menyerahkan pisau, segera ia merubah maskdunya. Ia benci mendengar Wanyen Kang hendak berbuat sesuatu untuk tentara Kim. Ia pikir: “Baiklah aku membiarkan dia tertutup lagi beberapa hari di sini….” Ayahnya memang membenci sekali negera Kim.

“Taman ini aneh, kenapa kau tahui jalanannya?” kemudian Wanyen Kang menanya.

“Ada seorang pandai yang memberi petunjuk padaku,” sahut Liam Cu. “Dia menyembunyikan diri, aku belum tahu siapa dia.”

Wanyen Kang mengasih dengar suara tidak tegas.

“Adikku,” katanya pula, “Kalau lain kali kau datang pula, mungkin kau kepegrok penghuni rumah ini. Kalau benar kau hendak menolongi aku, pergi kau cari satu orang…”

“Aku tidak sudi mencari perdana menteri she Soe itu!” memotongi si nona.

“Bukan Soe Sinsiang, hanya guruku,” Wanyen Kang memberi tahu

“Oh…” si nona terhenti suaranya.

“Kau pergi membawa ikat pinggangku ini,” Wanyen Kang berkata pula. “Di gelang emasnya ikat pinggang itu kau ukir kata-kata: ‘Wanyen Kang dapat susah di kwie-in-chung di tepi telaga Thay Ouw’ Tigapuluh lie di utara kota Souwciu ada sebuah bukit belukar, di sana kau cari sembilan buah tengkorak yang bertumpuk menjadi satu: Satu di atas, tiga di tengah dan lima di bawah. Ikat pinggangku ini, kau letakkan di bawah tenggorak itu.

Liam Cu heran, “Untuk apakah itu?” ia menanya.

“Guruku itu telah buta kedua matanya,” Wanyen Kang memberi keterangan. “Kalau ia dapat memegang ikat pinggang itu serta gelang emasnya, lantas ia bakal dapat mencariku. Setelah meletakkan ikat pinggang itu, jangan kau berlambat, kau mesti lekas-lekas mengangkat kaki. Aneh tabiat guruku, apabila ia mendapatkan ada orang di dekat tumpukan tengkorak itu, mungkin ia akan membunuhmu. Guruku lihay, pasti dia bakal dapat menolong aku. Kau tunggu saja aku di kuil Hian Biauw Koan di kota Souwciu.”

“Kau bersumpah dulu, bahwa kau tidak akan akui pula bangsat menjadi ayah dan tidak menjual negara ini untuk mencelakai rakyat!” berkata si nona.

Mendengar itu, Wanyen Kang menjadi tidak senang. Ia kata: “Setelah urusanku beres, sudah tentu aku akan bertindak menurut kata hatiku yang benar. Sekarang kau memaksa aku mengangkat sumpah, apakah mau?!”

Liam Cu lemah hatinya. “Baik, aku akan pergi menyampaikan warta!” bilangnya. Ia meloloskan ikat pinggang si anak muda.

“Adikku, kau hendak pergi sekarang?” kata Wanyen Kang, “Mari, adik!”

“Tidak!” kata si nona yang bertindak ke pintu.

“Aku khawatir belum lagi guruku datang menolong, mereka sudah keburu membunuh aku,” kata pula Wanyen Kang, “Maka itu untuk selama-lamanya aku tidak bakal melihat pula padamu…”

Liam Cu menjadi lemah hatinya. Ia kembali, ia senderkan tubuhnya dalam rangkulan pangeran itu. Ia pasrah. Kemudian, mendadak ia berkata dengan keras: “Di belakang hari, jikalau kau tidak menjadi orang baik-baik, aku bakal mati di hadapanmu!”

Inilah Wanyen Kang tidak sangka, maka itu, ia menjadi melengak.

Liam Cu lompat bangun, untuk berlalu.

Oey Yong sudah lantas menunjukkan pula jalan secara diam-diam seperti tadi, maka setibanya di kaki tembok, Liam Cu bertekuk lutut, mengangguk tiga kali, katanya: “Oleh karena cianpwee tidak sudi memperlihatkan diri, biarlah aku memberi hormatku ke udara saja.”

“Oh, itulah aku tidak berani terima!” terdengar satu suara halus dibarengi sama tertawa geli.

Liam Cu segera mengangkat kepalanya tetapi tetap ia tidak melihat siapapun juga kecuali bintang-bintang di langit. Ia heran bukan main. Ia seperti mengenali suara Oey Yong, hanya ia heran, kenapa orang berada di sini dan tahu jalan rahasia. Ia jalan belasan lie, lantas ia berhenti di bawah sebuah pohon besar untuk tidur, lalu besoknya, dengan menaiki perahu, ia menyeberangi telaga Thay Ouw dan pergi ke kota Souwciu.

Souwciu adalah kota ramai di tenggara walaupun ia tidak dapat melawan Hangciu, di sini orang hidup secara mewah melupakan kekejaman bangsa Kim yang pernah menggilas-gilasnya. Tapi Liam tidak pikirkan pelesiran. Habis bersantap di sebuah rumah makan, melihat matahari sudah doyong ke barat, ia lantas pergi keluar kota utara. Dengan menuruti petunjuk Wanyen Kang, mencari gurunya pemuda itu. Makin lama jalanan makin sulit. Matahari pun segera lenyap di belakang bukit. Segera terdengar suara-suara aneh dari burung¬-burung hutan. Sampai langit sudah gelap ia mencari di lembah, belum juga ia menemui tumpukan tengkorak seperti katanya Wanyan Kang.

“Baiklah aku cari pondokan, besok pagi aku mencari pula,” pikirnya.

Syukur di sebelah barat situ ada sebuah rumah, dengan girang ia lari menghampiri, hingga ia mendapatkan sebuah kuil tua dan rusak, namanya Yoh Ong Bio. Ketika ia menolak pintu, pintu itu roboh menjeblak, debunya beterbangan. Terang sebuah kuil kosong. Di dalamnya penuh kabang¬-kabang, segala apa tidak teratur.

Senang juga Liam Cu mendapati meja masih utuh, ia lantas bersihkan itu, untuk menempatkan diri. Ia tutup pintu, yang ia pasang lagi, lantas ia mengeluarkan rangsum kering untuk menangsal perut. Ia pakai buntalannya sebagai bantal waktu ia merebahkan diri. Ketika ia ingat Wanyen Kang, ia menjadi berduka dan malu, tanpa terasa air matanya meleleh turun. Karena ini, sampai kentongan yang kedua barulah ia dapat tidur. Tiba-tiba saja ia sadar. Ada suara di luar kuil, bukan suara angin, bukan suara air. Ia duduk memasang kuping terlebih jauh. Ketika ia mendengar suara bertambah nyaring, ia lompat ke pintu untuk melihat keluar. Ia menjadi kaget sekali, hatinya memukul dengan keras.

Di bawah terangnya rembulan, terlihat ribuan, ya laksaan ular hijau, bergulat-legot menuju ke timur, bau amisnya masuk ke dalam kuil. Menggelesernya ular itu, itulah yang menerbitkan suara luar biasa itu. Di belakang pasukan ular itu nampak tiga orang pria dengan pakaian serba putih yang tangannya memegang galah panjang peranti menggiring ular itu.

Liam Cu tidak berani mengintai lebih lama, ia khawatir kepergok. Sesudah mendengar suara orang pergi jauh, baru ia mengintai pula. Sekitarnya jadi sepi lagi, ia merasa tengah bermimpi.

Ia membuka pintu, lantas pergi ke luar. Tidak lagi ia melihat ketiga orang dengan pakaian putih itu, hatinya lega. Ia jalan beberapa tindak ke jalan bekas diambil ular itu. Disaat ia hendak membalikkan tubuh, untuk kembali ke kuil, ia melihat barang putih tidak jauh dari dekatnya. Warna putih itu bertojoh sinar rembulan, adanya di atas batu. Ia heran, lalu menghampiri. Ia segera melihat tumpukan tengkorak, malah bertumpuknya tepat seperti ditunjuk Wanyen Kang. Ia kaget berbareng girang. Dengan hati kebat-kebit, ia menghampiri, untuk meletakkan ikat pinggang Wanyen Kang. Tangannya bergetar ketika ia meraba tengkorak itu. Luar biasa sekali, lima jarinya tepat masuk ke dalam lima lubang di tulang tengkorak itu hingga ia menjerit seraya memutar tubuh untuk kabur. Mendadak ia ingat tak perlu ia takut. Ia ketakutan sendiri tanpa perlunya. Maka sekarang ia dapat tersenyum. Maka ia lantas merapikan menaruh ikat pinggangnya itu.

“Pasti benar gurunya luar biasa sekali, entah bagaimana romannya yang menakuti…” pikirnya. Ia memang belum pernah melihat Bwee Tiauw Hong, dan tempo Tiauw Hong bertempur hebat di istana, dia dan ayahnya sudah kabur lebih dulu. Habis itu ia memuji, mengharap gurunya Wanyan Kang itu menemui ikat pinggang ini nanti segera menolongi muridnya balik ke jalan yang lurus.

Tengah si nona memuji, ia merasa pundaknya ada yang pegang. Ia kaget sekali. Tanpa menoleh, ia lompat ke depan, kemudian sambil meletakkan kedua tangannya di depan dadanya, baru ia memutar tubuhnya. Di luar dugaan, orang sudah berada di belakangnya, kembali pundaknya di pegang. Ia berlompat pula, kembali dia disusul, kembali pundaknya di pegang. Kejadian ini terulang empat lima kali. Ia bermandikan keringat dingin. Tak tahu, ia lagi menghadapi manusia lihay atau hantu.

“Kau siapa?!” akhirnya ia menanya, suaranya bergemetar.

Orang itu mencium ke lehernya. “Harum!” katanya.

Liam Cu berbalik dengan cepat sekali, maka sekarang ia dapatkan di depannya berdiri seorang pemuda dengan dandanan sebagai pelajar, tangannya menggoyang-goyangkan kipas, gerak-¬geriknya halus. Dalam kagetnya ia kenali Auwyang Kongcu, salah seorang yang memaksa kematian ayah dan ibu angkatnya. Ia gusar tetapi ia tidak berdaya, maka itu ia memutar tubuhnya untuk lari. Baru saja belasan tindak, Auwyang Kongcu sudah berada di hadapannya sembari tertawa haha-hihi, ia mementang kedua tangannya.

Asal ia maju lagi, ia tentu telah masuk ke dalam rangkulan pemuda itu! Maka ia menghentikan tindaknnya, untuk lari ke kiri. Tapi baru beberapa tindak, kembali orang berada di hadapannya. Ketika ia mengulangi lari beberapa kaki lagi, tetap pemuda itu menyaksikan orang kaget dan takut, saban-saban dia mengulur tangannya untuk umencekuk. Rupanya senang dia mempermainkan nona itu.

Liam Cu menjadi nekat, ia menghunus goloknya dan menyerang. Dua kali membacok, semuanya gagal.

“Ah, jangan galak!” seru pemuda itu tertawa, habis ia membebaskan diri. Ia mengegos ke kiri, tangan kanannya dikebaskan, tangan kirinya di ulur. Maka si nona sudah lantas kena dipegang pinggangnya yang ceking ramping itu.

Liam Cu berontak tetapi sia-sia, ia merasakan tubuhnya sakit. Goloknya pun sudah kena dirampas si pemuda. Ia berontak pula tetapi hanya menyebabkan tubuhnya kena dipeluk. Ia merasakan nadinya ditekan, habislah semua tenaganya, tubuhnya menjadi lemas, tidak bisa meronta lagi.

Auwyang Kongcu mengasih dengar tertawa ceriwisnya. “Kau angkat aku menjadi gurumu, segera aku merdekakan kau!” katanya.

Liam Cu merasakan mukanya diusap-usap, ia mengerti, orang bermaksud buruk terhadapnya, saking mendongkol dan takutnya, mendadak saja ia pingsan. Beberapa lama ia tak sadarkan diri, ia tidak tahu, kapan kemudian ia sadar perlahan-lahan, ia merasakan tubuhnya masih dipeluk orang. Mulanya ia menyangka berada dalam rangkulan Wanyan Kang, ia girang, tetapi ia membuka matanya, ia dapatkan Auwyang Kongcu. Ia kaget, malu, lantas berontak. Hendak ia berteriak, mulutnya sudah disumpal dengan sapu tangan. Sekarang ia mendapatkan dirinya diapit kiri dan kanan oleh masing-masing delapan wanita yang canti-cantik, yang semuanya pun serba putih pakaiannya, setiap wanita memegang senjata, hanya mata mereka mengawasi ke tengkorak-¬tengkorak di atas batu.

Heran nona Bok, tak tahu orang lagi berbuat apa. Ia menyesal tak dapat menggerakkan tubuhnya, ia hanya bisa menoleh. Ia kaget luar biasa waktu ia berpaling ke Auwyang Kongcu.

Di belakang pemuda itu berkumpul ular-ular hijaunya, tubuh semua ular itu tidak bergerak, mulutnya terbuka, di situ terlihat lidahnya semua, warnanya merah, merupakan sebagai lautan lidah. Di antara ribuan ular itu ada tiga pria dengan baju putih dan tangan mencekal galah.

Ketika ia menoleh ke arah sembilan tengkorak, yang ia awasi, di sana terlihat gelang emas pada ikat pinggang mengasih lihat warna gemerlapan, tiba-¬tiba ia ingat suatu.

“Mungkin mereka ini lagi menanti tibanya guru engko Kang,” ia berpikir. “Mestinya mereka lagi bersiap dengan sikap bermusuh….. Kalau gurunya Wanyen Kang datang seorang diri, mana ia sanggup melawan mereka ini? Di sini pun ada ribuan ular hijau….”

Cemas hatinya si nona. Ia lalu berharap-harap supaya gurunya Wanyen Kang jangan datang.

Selang tengah jam, rembulan tampak mulai naik, Auwyang Kongcu terlihat mendongak memandang si putri malam.

“Apakah mungkin guru Wanyen Kang baru akan datang sesudah rembulan naik?” nona Bok ini menduga-duga.

Rembulan terus naik perlahan-lahan, naik melintasi di atas pepohonan. Langit menjadi terang sekali dan bersih. Tidak ada suara lain, kecuali kutu-kutu dari empat penjuru atau suara burung malam. Malam sunyi sekali……….

Auwyang kongcu masih memandangi putri malam. Sekarang ia serahkan Liam Cu kepada satu nona, untuk nona itu yang memeluknya. Ia sendiri mengeluarkan kipasnya, dicekal di tangan kanan. Matanya mengawasi ke sebuah pengkolan.

Liam Cu menduga bahwa orang yang dinanti-nanti bakal segera datang, dengan sendirinya hatinya tegang. Apa yang bakal terjadi?

Tidak lama dalam kesunyian itu, dari jauh terdengar suara tajam, lalu suara itu datang mendekat. Maka sekarang terlihat seorang wanita dengan rambut riap-¬riapan muncul di pengkolan. Dia sudah lantas bertindak dengan perlahan. Mungkin ia sudah merasa ada orang di dekatnya.

Liam Cu menduga inilah guru Wanyen Kang. Ia menjadi heran. Ia telah menyangka kepada seorang luar biasa, tidak tahunya cuma wanita macam ini….

Bwee Tiauw Hong telah memperoleh kemajuan setelah di dalam istana mendapatkan beberapa petunjuk dari Kwee Ceng untuk melatih diri. Ia meyakinkannya dengan sungguh-sungguh. Hasilnya kedua kaki dapat dipakai berjalan dengan cepat. Ia tahu Kanglam Liok Koay sudah pulang ke Kanglam, ia hendak menyusul untuk membalas dendam. Demikian ia menyusul selagi si pangeran muda menjadi utusan negara Kim, mengikuti ke Selatan. Ia masih berlatih diri terus, karena itu ia tidak dapat naik perahu, ia ambil jalan darat, supaya nanti dapat bertemu di Souwciu.

Karena perpisahan ini, ia tidak tahu bahwa Wanyen Kang sudah terjatuh ke tangan perampok. Ia pun tidak tahu bahwa Auwyang Kongcu untuk membalas sakit hati gundiknya, telah menanti di tempat ini. Hanya saking lihaynya, ia segera mendengar suara orang bernapas. Sekarang ia mendengar satu suara lain yang ia anggap luar biasa.

“Sungguh lihay!” kata Auwyang Kongcu dalam hatinya. ia lihat berhenti bertindak. Ia lantas mengebaskan kipasnya, ia bangkit, berniat untuk segera menyerang. Syukur sebelum ia melompat, tiba-¬tiba ia melihat satu orang muncul dari sebuah tikungan. Ia mengawasi, orang itu tinggi dan kurus, pakaiannya sebagai seorang sastrawan, hanya mukanya belum tampak jelas. Yang aneh, tindakan orang itu tidak bersuara. Sekalipun Bwee Tiauw Hong, ia masih mengasih dengar tindakan perlahan.

Segera orang itu datang mendekat. Ia berdiri di belakang Bwee Tiauw Hong, matanya menyapu kepada pemuda she Auwyang.

Sekarang Auwyang Kongcu dapat melihat wajah orang, ia terkejut, tubuhnya menggigil. Itulah muka dengan sepasang mata seperti berputaran, dengan warna kulit dari mayat, romannya tidak jelek amat tetapi diam dan dingin. Karena ini, ia mesti mengatasi dirinya.

Ketika itu Bwee Tiauw Hong pun bertindak perlahan, setindak demi setindak.

Hati Auwyang Kongcu gentar. “Baiklah aku turun tangan lebih dulu!” pikirnya. Maka tangan kirinya dikibaskan sebagai tanda. Menyusul tiga penggembala ular lantas membunyikan suitan. Maka semua ular mulai bergerak.

Semua wanita berbaju putih itu duduk tidak bergeming. Mungkin mereka semua membekal obat pemunah racun, semua ular berlegot melewati mereka, tidak ada yang melanggarnya.

Bwee Tiauw Hong mendengar suara bergeraknya ular-ular itu. Ia berlompat mundur beberapa tombak.

Dengan petunjuk si penggembala, semua ular itu memisahkan diri memenuhi tegalan belukar. Siapa kena tergigit, celakalah dia. Semua binatang itu berbisa.

Liam Cu mengawasi dengan hati kebat-kebit. Ia lihat Bwee Tiauw Hong beroman jeri, maka ia cemas hatinya untuk gurunya Wanyen Kang ini. Hanya sedetik, Bwee Tiauw Hong lantas mengeluarkan cambuknya yang panjang, terus putar di sekitarnya. Dilain pihak, semua ular sudah datang mendekat, sikapnya mengurung. Beberapa ekor, menuruti titahnya siutan, berlompat menyerang, tetapi segera mereka terpental balik terkena angin cambuknya Tiauw Hong itu.

“Siluman wanita she Bwee!” berseru Auwyang Kongcu sesudah sekian lama ia membungkam saja. “Ketahui olehmu, aku tidak menghendaki nyawamu! Kau keluarkan kitab Kiu Im Cin-keng, kongcumu akan segera membebaskanmu!”

Tiauw Hong tinggal mengambil mumat, ia terus putar cambuknya.

“Jikalau kau sanggup, kau putarlah cambukmu selama satu jam!” Auwyang Kongcu berkata pula. “Aku nanti menunggu kau sampai besok pagi. Aku mau lihat kau serahkan kitabmu itu atau tidak!”

Tiauw Hong tidak menyahuti, ia gelisah, memikir daya untuk meloloskan diri. Ia pasang kupingnya. Ia ketahui, disekitarnya ular belaka. Ia tidak berani bertindak, khawatir nanti kena menginjak ular. Hebat kalau ia kena dipagut walaupun cuma satu kali saja…..

Dari berdiri, Auwyang Kongcu lantas duduk. Ia berdiam lagi sekian lama, lalu dengan suara puas, ia mengasih dengar suaranya: “Orang she Bwee, kitabmu itupun kau dapati dari mencuri, dan selama duapuluh tahun, kau pasti sudah meyakinkan dengan seksama, maka itu, perlu apa kau peluki saja kitab itu hingga mampusmu? Kau pinjamkan kepadaku, untuk aku lihat, dengan begitu dari musuh kita menjadi sahabat, aku akan melupakan segala apa yang sudah lewat! Tidakkah itu bagus sekali?”

“Kalau begitu, bubarkan barisan ularmu ini!” menyahut Bwee Tiauw Hong.

Auwyang Kongcu tertawa, “Kau serahkan dulu kitabmu!” katanya.

Kitab “Kiu Im Cin-keng” di tangan Bwee Tiauw Hong hanya separuh ia pandang itu bagaikan nyawanya, dari itu tidak sudi ia menyerahkannya. Ia sudah mengambil keputusan: “Kalau aku mati, aku akan merobek-robek ini!”

Liam Cu tegang hatinya, ia habis sabar.

“Lekas panjat pohon! Lekas panjat pohon!” ia berteriak menganjurkan. Tapi mulutnya disumbat, tak dapat ia mengasih dengar teriakannya itu.

Tiauw Hong buta, tidak tahu ia di dekatnya ada sebuah pohon kayu besar. Ia pun percaya betul kepandaiannya, tidak suka ia mengangkat kaki. Sebelah tangannya ia masuki ke dalam sakunya.

“Baiklah, hari ini nyonya besarmu menyerah!” katanya kemudian. “Kau ambillah ini!”

“Kau lemparkan!” kata Auwyang Kongcu yang licik.

“Kau sambutlah!” seru Bwee Tiauw Hong, yang tangannya terayun.

Menyusul itu Auwyang Kongcu roboh.

Liam Cu mendengar suara sar ser, lantas dua orang wanita disampingnya turut roboh juga. Hanya Auwyang Kongcu tetap bergulingan, di waktu mana ia dapat dengar robohnya lagi dua wanitanya. Ia berlompat bangun dengan hatinya gentar, tubuhnya mandi keringat dingin. Hebat senjata rahasia musuh, yang juga membikin ia menjadi sangat gusar.

“Perempuan siluman!” dia berteriak seraya mundur, “Hendak aku membikin kau hidup tidak, mati pun tidak!”

Bwee Tiauw Hong menyerang dengan “bue¬heng-teng”, yaitu paku rahasia yang seperti tidak tampak wujudnya. Ia kagum mendapatkan musuh dapat menolong diri. Tentu saja, hatinya pun cemas.

Auwyang Kongcu mengawasi tajam kedua tangan orang, ia mau menunggu asal cambuk wanita itu kendor, ia akan menitahkan ularnya menyerbu. Di sampingnya sudah ada bangkai beberpaa puluh ularnya itu. Tapi ia mempunyai ribuan, laksaan, mana orang bisa keluar dari kurungan? Cuma, karena jeri pada cambuk perak lawannya, si pemuda juga tidak berani datang dekat.

Satu jam orang seperti saling berdiam, rembulan mulai doyong ke barat.

Ini hebat untuk Tiauw Hong. Mana ia mesti putar cambuknya, mana ia mesti memasang kuping. Dengan terpaksa, kalangan cambuknya itu menjadi menciut.

Senang Auwyang Kongcu menyaksikan itu. Ia perintahkan ularnya merangsak maju. Ia hanya khawatir orang menjadi nekat dan merusak kitabnya. Ia lantas bersiap sedia, asal Tiauw Hong mulai merobek, ia hendak merampasnya.

Tiauw Hong meraba ke dalam sakunya, kepada kitabnya, wajahnya berubah pucat.

Auwyang Kongcu tidak tahu bahwa musuhnya ini telah berkata di dalam hatinya: “Sungguh aku tidak sangka, selagi sakit hatiku belum terbalas, aku mesti terbinasa di sini….”

Tepat tengah wanita ini berpikir keras, kupingnya mendengar suara seperti bunyi burung hong di tengah udara, atau suara seperti ditabuhnya batu kumala. Menyusul beberapa suara itu, terdengarlah seruling yang halus dan merdu.

Kedua pihak, yang “tengah” bertempur, menjadi terkejut. Auwyang Kongcu yang mengangkat kepalanya untuk melihat, mendapatkan orang yang tadi, mengenakan baju hijau, lagi bercokol di atas pohon. Dialah yang lagi meniup seruling itu.

Bukan main herannya pemuda ini. Ia tahu baik lihaynya matanya tetapi toh kali ini ia gagal. Tak tahu kapan si baju hijau itu berada di atas pohon. Pula aneh, orang itu duduk dengan tenang sekali selagi pohon itu bergoyang-goyang. Ia lihay ilmunya ringan tubuh tetapi tidak nanti ia dapat menyamai orang itu. Ia sampai mau menerka hantu…..

Seruling masih berbunyi terus. Hati Auwyang Kongcu goncang, tetapi wajahnya tersenyum. Ia lantas merasakan tubuhnya panas, dengan sendirinya ia seperti hendak menari-nari. Baru tangan dan kakinya bergerak, ia kaget sendiri, lekas-lekas ia menetapkan hatinya. Ia sekarang mendapatkan ular-¬ularnya pada mendekati bawah pohon itu, kepalanya diangkat tinggi-tinggi, bergerak-gerak mengikuti irama seruling.

Hampir di waktu itu, si penggembala ular, tiga pria itu, bersama-sama belasan wanita serba putih, sudah berada di bawah pohon, dimana mereka itu menari-nari. Hebat caranya mereka menari, sebab selanjutnya mereka bukan cuma menari, mereka merobek-robek pakaian mereka dan mencakari muka mereka, toh mereka pada tertawa. Mereka menari bagaikan kalap, tak lagi merasakan sakit.

Auwyang Kongcu kaget bukan main. Tahulah ia bahwa telah bertemu musuh yang tangguh. Ia lantas mengeluarkan enam biji senjata rahasianya, torak perak yang beracun, dengan sekuat tenaga menyerang orang itu di tiga juruan: kepala, dada dan perut. Dalam hal senjata rahasia, ia adalah satu ahli, belum pernah ia gagal. Tapi aneh kali ini, toraknya itu disampok ujung seruling dan jatuh, serulingnya tak pernah terpisah dari mulutnya orang itu.

Atau dilain pihak saat pemuda ini membeber kipasnya, ia pun menari-nari. Dia kaget bukan main, ia mencoba untuk menguasai dirinya. Dia menahan gerakan tangan dan kakinya. Katanya itu dalam hati: “Lekas robek baju, sumpal kupingmu, jangan dengar lagi serulingnya!”

Hanya luar biasa suara seruling itu, telinga telah disumbat tapi suaranya masih terdengar. Maka pemuda itu kaget dan khawatir sekali. Baru sekarang ia tahu takut. Ia bermandikan keringat dingin.

Bwee Tiauw Hong sendiri duduk bercokol di tanah, kepalanya dikasih tunduk. Terang ia tengah bersemadhi, untuk menguasi dirinya.

Beberapa perempuan dari Auwyang Kongcu itu telah roboh di tanah, tubuhnya bergulingan. Mereka telah merobek pakaian. Liam Cu tengah tertotok jalan darahnya, tidak bisa ia menggerakkan kaki tangannya, tetapi mendengar suara seruling itu, hatinya goncang. Ia sekarang rebah di tanah, hatinya tidak karuan rasa.

Auwyang Kongcu menderita hebat. Kedua belah pipinya menjadi merah, kepalanya dirasakan panas sekali, lidah dan tenggorokannya kering. Tapi ia masih ingat untuk membela diri. Maka ia gigit lidahnya, ia merasakan sakit, gangguan seruling itu menjadi berkurang sendirinya. Lekas-lekas ia bergerak, lompat ke Liam Cu, tubuh siapa ia pondong, untuk dibawa lari. Sebentar saja ia sudah berada jauh beberapa lie, di mana suara seruling tadi tidak terdengar pula. Di sini ia merasa hatinya lega tetapi tenaganya habis, tubuhnya basah kuyup dengan keringat, ia seperti sakit berat. Tapi ia menguatkan hati, mencoba lari terus. Supaya tak usah berhenti di tengah jalan, ia bebaskan totokan tubuh Liam Cu, menyuruh si nona turut lari masuk ke dalam kota Souwciu.

Oey Yong sendiri bersama Kwee Ceng, sehabisnya menunjukkan jalan pada Liam Cu, sudah lantas pulang ke kamarnya untuk terus tidur. Mereka tidak memikir untuk mencari tahu apa yang nona Bok itu perbuat. Besok siangnya, mereka jalan-jalan di tepi telaga Thay Ouw. Malamnya, mereka berkumpul dengan tuan rumah, melihat gambar-gambar dan berbicara tentang ilmu surat.

Biar bagaimana, hati Kwee Ceng tidak tenang. Dengan kepergian Liam Cu, berarti Bwee Tiauw Hong bakal datang. Ia tahu Tiauw Hong kejam, maka ada kemungkinan Kwie-in-chung nanti menampak bahaya. Siapa di rumah ini yang sanggup melawan si Mayat Besi? Karenanya, waktu ia berada berduaan dengan Oey Yong, ia utarakan kekhawatirannya itu.

“Apakah tidak lebih baik kita memberitahukan tuan rumah perihal Bwee Tiauw Hong, supaya Wanyen Kang dibebaskan, agar rumah ini lolos dari bahaya?” katanya kepada si nona.

“Jangan,” Oey Yong menggoyangi tangan. “Mulanya aku percaya Wanyen Kang itu baik hatinya, setelah mendengar suara enci Bok, biarlah ia mengalami lebih banyak penderitaan. Kalau tetap dia tidak mengubah kelakuannya, kita bunuh saja!”

“Bagaimana kalau Bwee Tiauw Hong sampai datang?” tanya si pemuda lagi.

“Kita justru boleh mencoba kepandaian ajaran Ang Cit Kong terhadap dirinya!” sahut si nona, yang tertawa.

Oey Yok Su terkenal sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka gadisnya ini, tak banyak tapi sedikit menerima warisan sifatnya yang kukuh dan keras luar biasa. Kwee Ceng ketahui baik sifat ini, ia tidak mau membantah, bahkan ia tertawa. Cuma di dalam hatinya ia sudah mengambil ketetapan, mengingat kebaikannya tuan rumah, layak saja apabila ia membantu melindungi tuan rumah.

Berselang dua hari, kedua tetamunya ini tidak mengutarakan bahwa mereka hendak pergi melanjutkan perjalanan. Tuan rumah tetap melayani mereka dengan manis, bahkan tuan rumah mengharap mereka berdiam lebih lama.

Dihari ketiga, pagi, selagi tuan rumah duduk pasang omong bersama Oey Yong dan Kwee Ceng di kamar tulis, Koan Eng muncul dengan air muka tak biasa, bersamanya ada satu chungteng yang membawa sebuah penampan, di atasnya ada serupa barang yang ditutupi kain hijau. Anak itu memberitahukan baru saja ada yang mengantar barang itu, setelah mana ia menyingkap kain hijaunya, maka di situ terlihatlah sebuah tengkorak dengan lubang lima jari tangan.

Terang sudah, itulah tanda mata dari Bwee Tiauw Hong.

Oey Yong dan Kwee Ceng telah menduga bakal terjadi hal begini, paras mereka tidak berubah, sebaliknya tuan rumah, mukanya pucat dan suaranya tak lancar ketika ia menanya: “Siapa… siapakah yang membawa ini kemari?” Ia pun memcoba bangkit dengan bantuan tangannya.

Koan Eng dapat menduga tengkorak itu aneh tetapi percaya ada ketangguhannya sendiri, ia tidak begitu khawatir, maka itu heran ia mendapatkan perubahan sikap dari ayahnya.

"Barusan orang mengantarkan ini termuat dalam sebuah kotak," ia menerangkan. "Chunteng kita mengira bingkisan biasa saja, ia menerima dan memberi upah, tanpa meminta keterangan lagi, setelah dibawa ke dalam, baru ketahuan barang itu inilah adanya. Pembawa barang itu dicari tetapi ia sudah pergi entah kemana. Ada apakah mengenai barang ini, ayah?"

Chungcu tidak menjawab, sebaliknya ia memasuki lima jari tangannya ke dalam lima lubang di tengkorak itu. Cocok lubang dan jari tangan itu.

Koan Eng mengawasi, ia heran bukan kepalang. "Adakah lubang ini dibikin dari tusukan jari tangan?" tanyanya.

Sang ayah mengangguk, ia mengasih dengar suara tak tegas. Sesaat kemudian barulah ia bilang: "Kau suruh orang menyiapkan semua barang berharga, lantas kau antarkan ibumu ke tempat sepi di dalam telaga, untuk menyembunyikan diri. Kau pun memerintahkan semua cecu supaya dalam tempo tiga hari janganlah mereka meninggalkan tempat mereka masing-masing walaupun satu tindak. Pesan mereka itu bahwa walaupun ada gerakan apapun di Kwie-in¬chung ini, ada api atau kitar berkurang, jangan mereka datang menolong….!"

"Ayah, apakah artinya ini?" Koan Eng tanya, kaget.

Liok Chungcu tertawa menyeringai. Bukan ia menjawab anaknya itu, hanya berpaling kepada kedua tetamunya untuk berkata: "Kita baru bertemu tetapi kita cocok sekali satu dengan lain, sebenarnya adalah maksudku akan meminta jiwi berdiam lagi beberapa hari di sini, sayang itu tak dapat dilakukan. Dengan sebenarnya aku ada mempunyai dua musuh besar yang lihay sekali, mereka itu sekarang hendak datang mencari balas, karena itu, bukan aku tidak ingin ketumpangan jiwi tetapi sesungguhnya Kwie-in-chung terancam bahaya hebat. Kalau nanti aku lolos dari bahaya maut, di belakang hari pastilah kita akan bertemu pula…."

Terus ia menoleh kepada kacungnya dan kata: "Pergi kau ambil uang emas empatpuluh tail."

Kacung itu sudah lantas mengundurkan diri, sedang Koan Eng tidak berani tanya-tanya lagi, ia pun mundur untuk melakukan titah ayahnya.

Sebentar kemudian kacung tadi muncul pula dengan uang emas di tangannya, Liok Chungcu menyambut itu, untuk terus dihaturkan kepada Kwee Ceng. Ia kata: "Nona ini cantik luar biasa, dengan saudara Kwee ia berjodoh sekali, maka itu haraplah saudara sudi menerima bingkisan ini yang tidak berarti untuk saudara nanti gunai di hari pernikahanmu. Harap saja saudara tidak menertawainya."

Mendengar itu muka Oey Yong merah sendirinya. "Tajam sekali mata orang ini," pikirnya. "Kiranya ia telah mengetahui penyamaranku. Anehnya kenapa ia pun ketahui aku belum menikah sama engko Ceng?"

Kwee Ceng tiadk bisa berpura-pura, ia menerima bingkisan itu seraya menghaturkan terima kasih.

Di meja sampingnya ada sebuah gendul, dari situ Liok Chungcu menuang beberapa butir obat pulung warna merah, terus ia bungkus, kemudian ia kata pula: "Aku tidak mempunyai kebisaan apa-apa, kecuali dulu pernah guruku mengajarkan ilmu obat-obatan. Inilah obat yang aku berhasil membuatnya. Khasiat obat ini ialah, setelah memakannya, orang akan dapat bertambah umur. Kita telah dapat berkenalan, inilah sedikit hormatku."

Obat itu menyiarkan bau harum, maka taulah Oey Yong bahwa itu ada yang dinamakan pil "Kiu-hoa Giok-louw-wan". Semasa kecil pernah ia mambantu ayahnya mengumpulkan sembilan rupa bunga yang tangkainya masih ada embunnya, untuk dibuat obat. Memang tidak gampang membikin obat itu. Maka itu ia kata: "Tidak gampang untuk membikin obat Kiu-hoa Giok-louw-wan ini," ia berkata, "Dari itu sudah cukup jikalau kami menerima dua butir saja."

Heran chungcu ini, hingga keheranan itu terkentara pada wajahnya. "Kenapa nona ketahui nama obat ini?" tanyanya.

"Dimasa kecil tubuhku lemah sekali," Oey Yong mendusta, "Kebetulan pandai kita bertemu dengan seorang pandai yang menghadiahkan tiga butir. Begitu makan obat itu, kesehatanku pulih."

Tuan rumah tertawa menyeringai pula. "Jangan menampik, jiwi," ia berkata. "Sebenarnya sia-sia belaka untuk aku menyimpannya."

Oey Yong tahu orang sudah bersedia untuk binasa, percuma ia menampik lebih jauh, maka ia terima pemberian obat itu. Kembali ia menghanturkan terima kasih.

"Perahu telah disiapkan, maka itu silakan jiwi lekas berangkat meninggalkan telaga ini," berkata lagi tuan rumah. "Di tengah jalan, jikalau ada terjadi sesuatu, harap jiwi jangan mengambil peduli. Aku minta jiwi perhatikan pesanku ini."

Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan bahwa mereka berdua hendak berdiam di telaga itu untuk memberikan bantuan tetapi Oey Yong mengedipi mata padanya, terpaksa ia mengangguk.

"Aku lancang, ingin aku menanyakan suatu hal," kata Oey Yong.

"Apakah itu, nona?" tanya si tuan rumah.

"Chungcu sudah ketahui musuh lihay dan tidak dapat dilawan, kenapa chungcu tidak hendak menyingkir daripadanya? Menyingkir untuk sementara waktu. Peribahasa bilang, seorang budiman tak akan menerima malu di depan mata…."

Chungcu itu menghela napas.

"Tapi dua orang itu telah membuat aku menderita," katanya, masgul. "Cacad tubuhku ini pun adalah pemberian mereka. Selama duapuluh tahun, karena aku tidak dapat berjalan, tidak dapat aku mencari mereka membuat perhitungan, sekarang mereka datang sendiri, inilah ketika yang baik yang dihadiahkan Thian!"

Oey heran mendengar orang menyebut dua orang. "Ah, ia tentunya masih menduga si Mayat Perunggu Tan Hian Hong masih hidup. Sebenarnya, apakah permusuhan mereka? Sayang aku tidak dapat menanyakannya…." Tapi ia tertawa. Ia lantas menanya: "Chungcu, kau mengenali penyamaranku, inilah tidak aneh. Kenapa kau pun ketahui kami belum menikah? Kita toh tinggal dalam sebuah kamar?"

Ditanya begitu tuan rumah melengak. "Kau toh satu gadis putih bersih, mana aku tidak dapat melihatnya? Cuma, sulit untuk aku menjelaskannya…" pikirnya. Selagi ia bersangsi, Koan Eng datang, berbisik di kupingnya, "Pesan ayah sudah disampaikan tetapi empat cecu Thio, Kouw, Ong dan Tam, tidak hendak pulang. Mereka kata biar mereka dipotong kepalanya disini, mereka tidak hendak meninggalkan Kwie-in-chung!"

Liok Chungcu menghela napas. "Sungguh mereka baik sekali," katanya. "Nah, kau antarlah kedua tetamuku kita yang terhormat ini keluar dari telaga ini."

Oey Yong bersama Kwee Ceng lantas memberi hormat. Di luar mereka dapatkan kuda dan keledai mereka.

"Naik perahu atau tidak?" Kwee Ceng berbisik.

"Kita pergi untuk kembali!" sahut Oey Yong, berbisik juga.

Koan Eng tengah bingung, ia cuma tahu harus lekas-lekas mengantar kedua tetamunya itu pergi, ia tidak memperhatikan sikap kedua tetamunya itu.

Disaat Oey Yong berdua hendak naik perahu yang sudah disediakan, mendadak saja menampak suatu pemandangan yang luar biasa, ialah dari satu orang yang berjalan cepat sekali di tepi telaga, di kepala dijunjung satu jambangan yang besar. Kwee Ceng dan Koan Eng pun lantas dapat melihatnya maka mereka turut mengawasi seperti si nona.

Sebentar kemudian orang telah datang dekat. Sekarang terlihat nyata, ia adalah seorang tua dengan kumis ubanan, bajunya kuning, tangan kanannya memegang sebuah kipas besar. Masih ia bertindak tetap dan cepat. Jambangannya pun rupanya terbuat dari besi, beratnya mungkin beberapa ratus kati. Ia lewat di samping Koan Eng semua tetapi ia seperti tidak melihatnya. Beberapa tindak kemudian, ia terhuyung, lalu dari jambangan itu air mengeplok. Air itu sendiri mungkin seratus kati atau lebih beratnya. Seorang tua dapat membawa jambangan seberat itu benar-benar hebat.

"Apakah bisa jadi dia musuh ayah?" Koan Eng menduga-duga. Ia lantas menyusul.

Oey Yong dan Kwee Ceng segera mengikuti.

Cepat jalannya si orang tua, sebentar saja sudah lewat beberapa lie.

Koan Eng dapat berjalan cepat, bisa ia menyusul. Hanya ia heran untuk si orang tua.

Juga Oey Yong dan Kwee Ceng turut heran. Kwee Ceng malah menyangsikan mungkin dia ini melebihi lihaynya Khu Cie Kee. Ia ingat cerita gurunya tentang pertandingan mereka dengan Tian Cun Cu, yang kuat mempermainkan jambangan besar tetapi jambangan ini jauh lebih besar.

Si orang tua berjalan ke tempat belukar, berliku-liku. Koan Eng tinggal di tempat yang sunyi tetapi ia toh tidak kenal tempat ini. Ia jadi sangsi. Ia pikir: "Ini orang tua saja aku tidak dapat melayaninya, bagaimana kalau di sana ia menyembunyikan kawan-kawannya? Baiklah aku balik…" Tapi di depannya ada kali, ia heran. Pikirnya pula: "Di depan tidak ada jembatan, hendak aku lihat bagaimana dia melewatinya…. Atau dia jalan di tepian timur atau di tepian barat…"

Selagi ia menduga-duga. Koan Eng lantas berdiri melengak.

Si orang tua itu jalan terus di kali itu, kakinya terpendam di air sebatas betisnya. Dia jalan terus hingga di seberang. Setibanya dia meletakkan jambangan di rumput, dia sendiri kembali ke kali ke mana ia terjun, setelah mana, dia berjalan setindak demi setindak kembali ke darat.

Kwee Ceng dan Oey Yong, yang dapat menyusul, mengawasi dengan kekaguman.

Tiba-tiba si orang tua mengusut-usut kumisnya sambil tertawa lebar. "Tuan, adakah kau chungcu muda yang menjadi pemimpin jago-jago dari Thay Ouw?" dia bertanya.

"Maaf," kata Koan Eng merendahkan diri, lalu ia balik menanyakan she dan nama orang.

"Ah, masih ada dua engko kecil di sana!" kata si orang tua itu menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong. "Marilah kamu sama-sama datang ke mari!"

Koan Eng menoleh. Baru sekarang ia ketahui bahwa Kwee Ceng berdua telah mengikuti dia. Dia menjadi heran. Tidak dia sangka, orang dapat berlari keras seperti dia tanpa tindakannya bersuara.

Kwee Ceng dan Oey Yong memberi hormat sambil berjura. Mereka menyebutkan dirinya orang-orang dari tingkat muda dan memanggil orang dengan sebutan ¬thay-kong - orang tua yang dihormati.

Orang tua itu tertawa pula; "Sudah, Sudah!" ia mencegah orang menghormat. Kemudian ia mengawasi Koan Eng dan berkata: "Di sini bukan tempat yang tepat untuk memasang omong, mari kita mencari tempat untuk berduduk-duduk."

Koan Eng tetap sangsi orang ini musuh ayahnya atau bukan. "Apakah thaykong kenal ayahku?" ia menanya.

"Kau maksudkan chungcu yang tua? Belum pernah aku bertemu dengannya." sahut si orang tua.

Agaknya orang tidak berdusta, maka Koan Eng berkata pula: "Hari ini ayah menerima serupa bingkisan luar biasa, adakah thaykong ketahui itu?"

"Bingkisan apakah itu yang aneh?" si orang tua balik menanya.

"Sebuah tengkorak dengan lima lubang bekas jari tangan…." sahut Koan Eng.

"Benar-benar aneh! Apakah ada orang yang bergurau dengan ayahmu itu?" tanya si orang tua lagi.

Mendengar itu, Koan Eng mendapat kesan lain. Maka ia pikir, baik ia undang orang ini ke rumahnya, dia tentu gagah, mungkin dia dapat membantu ayahnya. Karena ini, ia lantas menunjuk wajah gembira.

"Jikalau thaykong tidak menampik, aku minta thaykong datang ke rumahku untuk minum teh," ia mengundang.

"begitupun baik," sahut orang tua itu setelah berpikir sejenak.

Bukan main girangnya Koan Eng. Ia lantas minta si orang tua jalan di muka.

"Apakah kedua engko kecil itu pun dari rumahmu?" tanya si orang tua seraya ia menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong.

"Kedua tuan ini adalah sahabat-sahabatnya ayahku," menyahut Koan Eng.

Lantas orang tua itu tidak memperdulikan lagi, dia jalan cepat.

Kwee Ceng dan Oey Yong mengikuti di belakang Koan Yeng. Lekas juga mereka tiba di Kwie-in-chung. Tuan rumah yang muda minta tetamunya menanti di ruang tamu, ia sendiri lari ke dalam untuk mewartakan kepada ayahnya.

Tidak lama, tuan rumah muncul digotong dua orangnya. Ia numprah di atas pembaringan bambu, yang merupakan bale-bale. Ia memberi hormat sambil menjura kepada tetamunya yang tua itu. Ia kata: "Maaf, tak tahu aku akan kedatangan tuan hingga tidak bisa aku menyambut dengan selayaknya."

Orang tua itu membalas hormat hanya dengan membungkuk sedikit. Suaranya pun tawar ketika ia berkata: "Tak usah menggunakan banyak adat peradatan, Liok Chungcu."

Tuan rumah tidak memperdulikan sikap orang, ia menanyakan she dan nama tetamunya.

"Aku she Kiu, namaku Cian Jin," sahutnya.

Tuan rumah terkejut.

"Jadi locianpwee adalah Tiat-ciang Sui-siang¬piauw!" katanya. Ia ketahui baik nama orang berikut gelarannya itu, yang berarti si Tangan Besi Mengambang di Air.

"Bagus sekali ingatanmu, Liok Chungcu, kau masih ingat julukanku! Sudah duapuluh tahun semenjak aku tidak muncul di dunia kangouw, aku menyangka orang telah melupakan aku."

Memang pada duapuluh tahun yang lampau, nama Tiat-ciang Siu-siang-piauw kesohor sekali, kemudian ia tinggal menyendiri, hingga orang seperti melupakannya. Liok Chungcu ingat nama orang, tidak heran kalau ia jadi terperanjat.

"Untuk apakah locianpwee datang ke sini?" ia menanya. "Bila aku sanggup, suka sekali aku berbuat sesuatu untukmu."

"Tidak ada urusan yang penting," sahut si orang tua tertawa. "Atau mungkin aku bakal ditertawakan sahabat-sahabat kalangan Rimba Persilatan. Sebenarnya aku ingat meminjam suatu tempat yang sunyi untuk aku melatih diri. Tentang ini baiklah sebentar malam saja kita bicarakan dengan perlahan-¬lahan."

Liok Chungcu tidak melihat niat orang yang tidak baik pada wajah orang tua ini akan tetapi ia tetap kurang tenang hatinya.

"Apakah locinpwee pernah bertemu sama Hek Hong Siang Sat?" ia menanya.

"Hek Hong Siang Sat? Apakah kedua iblis itu belum mampus?" si orang tua balik menanya.

Lega juga hatinya Liok Chungcu mendapat jawaban itu.

"Anak Eng, pergi kau minta locinpwee beristirahat di kamar tulis," katanya kemudian.

Kiu Cian Jin mengangguk, terus ia mengikuti Koan Eng.

Liok Chungcu belum tahu kepandaian Kiu Cian Jin itu, hanya ia tahu ketika dulu hari Tong Shia bersama See Tok, Lam Kay, Pak Tee dan Tiong Sin Thong berlima mengadu kepandaian di atas gunung Hoa San, dia telah diundang ikut hadir, hanya karena ada urusan, ia tak dapat datang. Dia telah diundang, itu tandanya dia bukan sembarang orang. Sekarang ia berada di sini, kalau Hek Hong Siang Sat datang, bolehlah tak usah ia terlalu khawatir.

"Jiwi belum berangkat, ini bagus," katanya kemudian kepada Kwee Ceng dan Oey Yong. "Kiu locianpwee lihay sekali, sekarang kebetulan dia datang kemari, selanjutnya aku tidak mengkhawatirkan lagi kedua musuh besarku itu. Sebentar silahkan jiwi beristirahat di dalam kamarmu, jangan jiwi keluar, selewatnya malam ini bahaya sudah tak ada lagi!"

Oey Yong tertawa. "Aku ingin menonton keramaian, bolehkah?" ia bertanya lucu.

Tuan rumah berpikir. "Aku cuma khawatir musuh datang dalam jumlah banyak, aku jadi tidak bakal dapat melayani jiwi," berkata dia. "Tapi baiklah, asal jiwi berdiam saja disampingku, jangan kamu berkisar, dengan adanya Kiu locianpwee di sini, segala tikus tentulah tidak ada artinya!"

Oey Yong bertepuk tangan saking girangnya.

"Aku memang paling gemar menonton orang berkelahi!" katanya. "Ketika kemarin ini kau menghajar pangeran cilik, sungguh senang menyaksikannya!"

"Tapi yang bakal datang malam ini adalah gurunya pangeran cilik," Liok Chungcu memberitahu. "Dia lihay sekali, karenanya aku khawatir."

"Ah, chungcu, mengapa kau bisa ketahui itu?" Oey Yong tanya, ia heran.

"Nona tentang lihaynya ilmu silat kau belum mengerti," berkata tuan rumah. "Ketika si pangeran cilik melukai anakku dengan totokan jari tangannya, kepandaiannya itu sama dengan kepandaian totokan lima jari tangan pada tengkorak itu."

"Aku mengerti sekarang!" kata Oey Yong. "Memang juga tulisan Souw Tong Po beda dengan tulisannya Oey San Kok, sama seperti bedanya lukisan Too Koen Hong dari lukisannya Cie Hie! Hanya seorang ahli yang dapat menbedakannya!"

"Sungguh kau cerdas, nona!" tertawa tuan rumah.

Oey Yong tarik tangan Kwee Ceng. "Mari kita lihat orang tua yang kumisnya ubanan!" katanya. "Sebenarnya ia tengah menyakinkan ilmu apa?"

"Eh, jangan nona!" mencegah tuan rumah, terkejut. "Jangan kau membuatnya gusar!"

"Oh, tidak ada!" kata Oey Yong, tertawa. Ia bangkit, untuk berlalu.

Liok Chungcu bercokol saja, tak dapat ia bergerak dengan leluasa, ia menjadi gelisah sendiri.

"Nona ini sangat nakal!" katanya. "Mana orang dapat diintai?" Terpaksa ia suruh orang menggotongnya ke kamar tulis, untuk bisa mencegah Oey Yong itu. Dari jauh ia sudah lihat Oey Yong dan Kwee Ceng lagi mengintai di jendela.

Oey Yong mendengar orang datang, ia menoleh, tangannya digoyang-goyangi, mencegah orang menerbitkan suara berisik, dilain pihak ia menggapai kepada tuan rumah supaya datang padanya.

Liok Chungcu bersangsi, tetapi ia toh datang mendekati juga. Ia khawatir, kalau ia menampik, nona itu nanti rewel. Dibantu kedua chungtengnya, ia turut mengintai. Oey Yong membikinkan ia sebuah lubang kecil di kertas jendela. Ia lantas menjadi heran sekali.

Kiu Cian Jin duduk bersila dengan kedua matanya ditutup rapat. Dari mulutnya menghembus keluar tak habisnya hawa mirip asap atau kabut. Ia luas pengetahuannya tetapi ia tidak mengerti ilmu apa itu. Maka ia tarik ujung baju Kwee Ceng, menyuruh jangan mengintai terlalu lama.

Kwee Ceng seorang terhormat, ia mengindahkan tuan rumah, ia pun insyaf tak pantas mencuri lihat lain orang, ia tarik Oey Yong. Bersama¬-sama tuan rumah mereka masuk ke dalam.

"Bagus sekali permainannya tua bangka itu!" kata Oey Yong tertawa. "Di dalam perutnya bisa api menyala!"

"Kau tidak tahu, nona," kata tuan rumah. "Itulah semacam ilmu yang lihay sekali!"

"Mustahilkah mulutnya nanti dapat menyemburkan api membuat orang terbakar mampus?" tanya Oey Yong. Ia menanya dengan sesungguhnya, sebab sebenarnya ia heran atas asap yang keluar dari mulut tetamu tua itu.

"Kalau itu benar api, itulah tidak mungkin," berkata tuan rumah. "Aku percaya, itulah semacam latihan tenaga dalam. Bukankah bunga dan daun pun dapat digunakan sebagai senjata rahasia untuk melukai orang?"

"Ya, dengan hancuran bunga menghajar orang!" seru Oey Yong.

"Benar-benar nona cerdas!" tuan rumah memuji pula. Kemudian ia mengasih perintah kepada Koan Eng untuk meronda dengan hati-hati di sekitar rumahnya itu dengan pesan, kalau ada orang atau orang-orang yang sikapnya luar biasa, mereka itu mesti disambut dengan hormat dan diundang masuk untuk bertemu dengannya.

Setelah mulai sore, Liok Chungcu memerintahkan menyulut beberapa puluh lilin besar untuk membikin ruang besar menjadi terang sekali, di tengah itu disiapkan meja perjamuan. Kiu Cian Jin lantas diundang dan dipersilahkan duduk di kursi kepala. Kwee Ceng dan Oey Yong yang menemani. Tuan rumah dan putranya duduk di paling bawah.

Liok Chungcu memberi hormat pada tetamunya dengan secawan arak, ia tidak berani menanyakan maksud kedatangan orang, ia hanya membicarakan lain urusan, yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali.

"Liok Laotee," kata Kiu Cian Jin kemudian. "Kau menjadi pemimpin di Kwie-in-chung ini, ilmu silatpun bukan sembarang, apakah kau sudi memperlihatkan barang satu atau dua jurus kepadaku? Dengan begini mataku jadi dapat dibuka."

"Kepandaianku tidak berarti, tidak berani aku mempertunjuki itu dihadapan locianpwee," kata tuan rumah menghormat. "Laginya sudah lama aku cacad, sedikit pelajaran yang aku dapatkan dari guruku sudah lama aku mengalpakannya."

"Siapakah gurumu, laotee?" tanya tetamu itu. "Kalau kau menyebutkannya, mungkin aku si orang tua mengenalnya."

Liok Chungcu menghela napas panjang, lalu mukanya menjadi pias. "Kelakuanku tidak selayaknya, tak dapat aku diterima guruku, karena itu malu aku menyebutnya," katanya selang sejenak.

Mendengar itu, Koan Eng berduka. Baru sekarang ia ketahui ayahnya itu telah diusir gurunya. Dengan sebenarnya ia tidak tahu ayahnya lihay ilmu silat. Ia percaya ayahnya punya lelakon yang menyedihkan.

"Liok Chungcu," berkata si orang tua, "Kau menjadi pemimpin di sini, kenapa kau tidak hendak menggunakan ketika ini untuk membangun diri, untuk melampiaskan tak kepuasanmu itu? Dengan jalan ini kau nantinya membikin tetua dari partaimu menjadi insyaf dan menyesal karenanya."

"Aku cacad, bodoh, meskipun kata-kata cianpwee ada nasehat berharga sekali, menyesal aku tidak dapat menerimanya," sahut Liok Chungcu. Ia selamanya bicara dengan merendah.

"Chungcu terlalu merendah. Di depan mataku ada satu jalan, hanya entahlah, chungcu memang tidak melihatnya atau memang tidak memikirkannya…."

"Tolong locianpwee memberi petunjuk"

Kiu Cian Jin tersenyum, ia santap lauk pauknya, ia tidak menyahuti.

Tuan rumah menduga pasti ada sebabnya kenapa orang tua ini muncul setelah ia mengundurkan diri duapuluh tahun lamanya, ia hanya tidak dapat menerka maksud orang. Orang pun dari kalangan terlebih atas, tidak dapat ia menanyakannya, maka itu ia membiarkan saja sampai orang suka bicara sendiri.

"Tidak apalah Chunngcu tidak sudi memberitahukan guru atau rumah perguruanmu," kata Kiu Cian Jin kemudian. "Kwie-in-chung begini kesohor, yang mengurusnya mesti murid dari guru yang kenamaan…."

"Segala apa disini diurus oleh Koan Eng, anakku," menerangkan tuan rumah. "Ia adalah muridnya Kouw Bok Taysu dari kuil Kong Hauw Sie di kota Lim-an."

"Ah, Kouw Bok Taysu itu adalah ahli waris yang menjadi ketua dari cabang Selatan dari partai Hoat Hoa," berkata Kiu Cian Jin. "Dialah ahli luar. Maukah siauw-chungcu mempertunjukkan sesuatu untuk aku meluaskan pandangan mataku?"

"Locianpwee sudi memberi petunjuk, inilah untungnya anakku," kata Liok Chungcu.

Koan Eng memang ingin sekali diberi petunjuk, maka itu lantas pergi ke tengah ruang. "Tolong thay-kong mengajariku," katanya. Lalu ia mulai bersilat dengan tipu silatnya yang ia paling gemari, yaitu Loo-han Hok-houw-kun, kuntauw Arhat Menakluki Harimau. Setiap kepalannya memperdengarkan suara angin santar, tindakannya pun gesit dan tetap. Dekat penutupnya ia berseru keras, bagaikan harimau menderum, hingga api lilin pada bergoyang dan orang merasakan sambaran angin dingin. Itulah artinya arhat bertempur sama raja hantu. Diakhirnya ia menghajar batu sampai batu batanya hancur, lalu ia berdiri tegar, tangan kirinya diangkat tinggi menunjang langit, kaki kanannya ditendangkan ke depan. Dengan begitu ia memperlihatkan sikap dari arhat atau loohan.

"Bagus! Bagus!" Kwee Ceng dan Oey Yong berseru memuji.

Habis itu Koan Eng memberi hormat kepada Kiu Cian Jin. Ketika ia kembali ke kursinya, air mukanya tidak berubah, napasnya tidak memburu, ia duduk dengan tenang seperti bukan habis bersilat hebat sekali.

Kiu Cian Jin tidak membilang apapun, melainkan tersenyum.

"Apakah kebisaan anakku ini masih dapat dilihat?" Liok Chungcu tanya.

"Begitulah," sahut si orang tua.

"Tolong locianpwee beri petunjuk di mana yang perlu," tuan rumah minta.

"Ilmu silat putramu ini, kalau dipakai untuk memperkuat tubuh, sunggu tak ada yang melebihkannya," menyahut tetamu itu, "Hanya kalau ia hendak dipakai untuk merebut kemenangan, dapat dikatakan itu tidak ada gunanya."

Selagi tuan rumah belum membilang suatu apa, Kwee Ceng merasa heran. Ia pikir: "Memang tidak terlalu lihay ilmu silatnya tuan rumah yang muda ini, akan tetapi tidaklah tepat untuk mengatakan tidak ada gunanya…."

Tuan rumah lantas berkata: "Tolong locianpwee memberikan petunjuk untuk sekalian membuka pandangan kami yang cupat."

Kiu Cian Jin bangkit, ia bertindak keluar ruangan. Ketika ia kembali, di kedua tangannya masing-masing tercekal sepotong batu bata. Orang tidak lihat ia mengerahkan tenaga, tahu-tahu ada terdengar suara meretek, lalu tampak dua potong batu bata itu sudah remuk, kemudian hancur menjadi seperti tepung.

Semua orang terkejut.

Duduk pula di kursinya, semberi tertawa ia berkata: "Chungcu muda dapat menghajar batu hancur itu pun bukan sembarang pelajaran, tidak gampang untuk mendapatkan itu, tetapi haruslah diingat, musuh bukan sepotong batu, musuh tidak mungkin mandah saja diserang. Maka dalam ilmu silat, yang penting ialah menggunakan terlebih dulu untuk menaklukkan musuh. Ini dia yang orang dahulu kala menyebutnya, diam bagaikan anak dara, gesit bagaikan kelinci."

Koan Eng terdiam, menginsyafi kata-kata itu.

Kiu Cian Jin menghela napas. Ia berkata pula: "Sekarang ini banyak orang yang menyakinkan ilmu silat tetapi kepandaiannya berarti tidak ada seberapa…."

"Siapakah beberapa orang itu, lojinkee?" Oey Yong tanya.

"Kaum Rimba Persilatan menyebutnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong berlima," menyahut si orang tua. "Semua mereka itu pernah aku ketemukan sendiri, aku lihat diantaranya yang terlihay ialah Tiong Sin Thong, yang lainnya, ada keistimewaannya tetapi pun ada kekurangannya masing-masing. Harus diketahui, ada panjang mesti ada pendek, asal kita ketahui cacad orang, tak susah untuk merobohkannya."

Liok Chungchu bersama Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat. Koan Eng sendiri tidak, sebab ia tidak tahu siapa itu lima orang lihay yang disebutkan. Tapi Oey Yong terkejut berbareng mendongkol. Suara orang itu bernada menghina ayahnya. ia tidak memperdulikan lagi bahwa orang dapat berjalan di air sambil menjunjung jambangan, napasnya mengeluarkan asap dan remasan tangannya kuat sekali.

"Apakah tidak bagus jikalau locianpwee menghajar roboh kelima orang itu supaya namamu jadi sangat kesohor di kolong langit ini?" ia menanya seraya tertawa.

Kiu Cian Jin tidak menjawab, dia hanya melanjutkan kata-katanya: "Sekarang ini Ong Tiong Yang itu telah menutup mata. Ketika terjadi perundingan ilmu silat pedang di gunung Hoa San, lantaran kebetulan ada urusan, aku tidak dapat turut hadir, dengan begitu gelaran jago silat nomor satu di kolong langit ini telah didapatkan imam tua yang telah meninggal dunia itu. Tatkala itu mereka berlima memperebuti kitan Kiu Im Cin Keng, katanya siapa yang paling tangguh, dialah yang mendapatkan kitab itu. Tujuh hari dan tujuh malam sudah mereka bertempur, Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay menyerahlah mereka semua. Kemudian, sesudah Ong Tiong Yang meninggal, timbul lagi gelombang. Katanya ketika si imam tua hendak menutup mata, kitabnya itu dia wariskan kepada Ciu Pek Thong, adik seperguruannya. Tong Shia Oey Yok Su sudah lantas pergi mencari Ciu Pek Thong itu, Ciu Pek Thong bukan tandingannya, kitabnya terampas sebagian. entahlah kemudian bagaimana urusan kitab itu."

Oey Yong dan Kwee Ceng mengangguk dengan diam-diam. Baru sekarang mereka ketahui lelakonnya kitab Kiu Im Cin Keng itu, yang sebagian lagi kena dicuri Hek Hong Siang Sat.

"Oleh karena lojinkee ialah orang yang nomor satu ilmu silatnya, sudah selayaknya kitab itu menjadi kepunyaanmu," berkata Oey Yong.

"Aku malas untuk berebutan sama orang," sahut Kiu Cian Jin. "Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, mereka adalah setengah kati delapan tail. Selama beberapa puluh tahun ini mereka berlatih keras, ingin menjadi jago nomor satu. Maka itu kalau terjadi pertemuan yang kedua di Hoa San, pastilah ramainya bukan buatan."

"Oh, bakal terjadi pertempuran yang kedua di Hoa San?" si nona menegaskan.

"Duapuluh lima tahun ialah satu generasi!" berkata Kiu Cian Jin. "Mereka yang tua bakal mati, yang muda bakal muncul, maka itu, satu tahun lagi akan tibalah saat perundingan yang kedua di Hoa San itu. Aku lihat, yang bakal bertarung kembali kami si orang-orang tua. Sayang sekarang tidak ada lagi anak-anak muda yang berarti, ilmu silat menjadi lemah satu generasi demi satu generasi….!"

"Apakah lain tahun lojinkee hendak mendaki gunung Hoa San?" Oey Yong menanya terus-¬menerus. "Kalau benar lojinkee hendak pergi, maukah kau mangajak aku untuk turut menyaksikan keramain itu? Akulah orang yang paling gemar menonton orang berkelahi!"

"Ah, mana dapat itu dikatakan pertempuran? Sebenarnya aku tidak mengandung niat pergi. Bukankah kita si tua bakal masuk ke dalam tanah? untuk apa segala nama kosong? Hanya di hadapan kita sekarang ada satu urusan sangat besar, yang mengenai keselamatan seluruh umat manusia. Jikalau aku termahai hidup senang sendiri dan aku tidak manjat tinggi, celakalah semua umat dan makhluk!"

Inilah hebat, maka Liok Chungcu berempat lantas menanyakan bencana apa itu yang demikian hebat ancamannya.

"Inilah rahasia sangat besar. Kedua engko kecil Kwee dan Oey, kamu bukan orang kangouw, kamu lebih baik jangan ketahui urusan ini!"

Oey Yong tidak menjadi kurang senang, sebaliknya ia tertawa. "Liok Chungcu ini sahabatku yang baik sekali, asal kau menjelaskan kepadanya, tidak nanti ia menyembunyikan itu kepadaku!" katanya.

"Ah, anak nakal!" kata Liok Chungcu di dalam hatinya. Tapi ia berdiam.

"Kalau begitu, baiklah aku menjelaskan kepada kamu semua!" kata Kiu Cian Jin. "Cuma aku minta kemudian janganlah kau membocorkannya."

"Kamu bukan sanak bukan kandung, urusan rahasia ini baiklah kami tidak mendengarnya," pikir Kwee Ceng, yang terus bangkit dan berkata: "Maafkanlah aku serta saudara Oey ini, ingin aku mengundurkan diri."

"Jiwi adalah sahabat-sahabat kekal dari Liok Chungcu, kamu bukan orang luar, silahkan duduk!" Kiu Cian Jin minta. Sembari berkata ia menekan pundaknya si anak muda.

Kwee Ceng tidak merasakan tekanan keras, akan tetapi karena ia mengaku tidak mengerti ilmu silat, ia tidak melawan, ia duduk pula. Karena itu, Oey Yong pun batal mengundurkan diri.

Kiu Cian Jin bangkit, ia mengangkat araknya untuk mengajak orang minum bersama.

"Tidak sampai setengah tahun, kerajaan Song bakal menghadapi bencana besar," katanya kemudian. "Apakah tuan-tuan ketahui itu?"

Mendengar ini, semua orang terkejut. Bahkan Koan Eng lantas menitahkan orang-orangnya mundur sampai ke pintu dan semua pelayan dilarang datang dekat.

"Aku telah mendapat keterangan pasti," Kiu Cian Jin melanjutkan. "Dalam tempo enam bulan pastilah angkatan perang bangsa Kim bakal menyerbu ke Selatan. Kali ini angkatan perangnya besar dan kuat, maka kerajaan Song pastilah tidak dibelakan pula. Ya, inilah takdir, tidak dapat kita berbuat apa-apa…."

Kwee Ceng terkejut hingga lantas berkata: "Kalau begitu haruslah locianpwee lekas memberitahukan ancaman itu kepada pemerintah supaya pemerintah segera siap sedia untuk menyambut musuh!"

Orang tua itu mendelik kepada anak muda itu.

"Kau tau apa?!" tegurnya. "Satu kali angkatan perang Song bersiap sedia, bahayanya bakal terjadi lebih hebat lagi!"

Kwee Ceng terdiam. Tidak mengerti maksud orang. Oey Yong pun bungkam.

"Lama aku telah memikirkan itu," Kiu Cian Jin melanjutkan omongannya. "Aku lihat cuma ada satu jalan untuk membikin rakyat hidup damai dan senang, supaya negara yang indah ini tidak sampai menjadi habis terbakar. Inilah tujuanku kenapa aku telah melakoni perjalanan ribuan lie jauhnya datang ke Kanglam ini. Kabarnya chungcu telah menawan pangeran muda negara Kim serta komandan tentara Toan Tayjin, tolong undang mereka hadir di sini untuk kita memasang omong. Maukah kau meluluskan, chungcu?"

Liok Chungcu terpengaruh kata-kata orang. Ia pun heran kenapa orang ini mendapat tahu hal tertawannya dua orang itu. Ia lantas meluluskan, ia membawa menghadap orang tawanannya itu, bahkan mereka dibebaskan dari belenggu dan disuruh duduk disebelah bawah.

Kwee Ceng dan Oey Yong mendapatkan, baru ditahan beberapa hari, roman Wanyen Kang sudah kucel dan perok, sedang Toan Tayjin itu, yang berumur limapuluh lebih dan berewokan ketakuan.

"Siauw-ongya, kaget?!" kata kiu Cian Jin pada Wanyen Kang.

Pangeran itu mengangguk, tetapi hatinya berkata: "Si Kwee dan si Oey ini berada di sini, entah mau apa mereka… Dan adik Liam Cu itu, entah dia bawa ikat pinggangku kepada guruku atau tidak…."

"Chungcu," berkata Kiu Cian Jin pada tuan rumah. "Di hadapanmu ada terbayang harta besar dan kemuliaan, aku melihat itu tetapi tidak hendak mengambilnya, kenapakah?"

Tuan rumah heran. "Kemuliaan apakah itu, locianpwee?" tanyanya.

"Kalau nanti angkatan perang Kim itu menyerbu ke Selatan ini dan peperangan itu terjadi, mesti banyak sekali orang yang terluka," berkata Kiu Cian Jin, "Oleh karena itu bukankah bagus jikalau chungcu menggabungkan semua orang gagah untuk melenyapkan ancaman perang itu?"

"Memang itu urusan yang besar dan baik sekali," pikir Liok Chungcu. Maka ia menjawab: "Jikalau dapat aku mengeluarkan tenaga untuk negara dan juga dapat menolong rakyat dari marabahaya - yang mana adalah tugas kita sebagai rakyat jelata - tentu sekali sudi aku melakukannya. Sebenarnya aku setia kepada pemerintah, tetapi sayang pemerintah sendiri tidak mengerti itu, sekarang kawanan pengkhianatlah yang memegang tampuk pemimpin, maka itu sia-sialah belaka maksud hatiku. Locianpwee, tolong kau menunjuk satu jalan yang terang, untuk itu aku akan sangat bersyukur kepadamu."

Kiu Cian Jin mengusap kumisnya, ia tertawa lebar. ia baru hendak berkata pula terhalang oleh datangnya satu chungteng yang memberi kabar: "Thio Cecu yang kebetulan berada di tengah telaga sudah menyambutnya enam tetamu luar biasa, yang sekarang sudah berada di depan."

Kaget tuan rumah itu. "Lekas mengundang!" titahnya.

Koan Eng sudah lantas berlari keluar untuk menyambut.

Diantara terangnya api terlihat enam tetamu yang tubuhnya tinggi dan kate tidak rata, antaranya ada seorang wanita. Ketika mereka itu bertindak masuk, Kwee Ceng berbareng girang, segera ia lari memapaki untuk berlutut di hadapan mereka.

"Suhu!" katanya. "Apakah suhu semua baik?"

Keenam tetamu itu memang Kanglam Liok Koay adanya. Mereka itu datang dari Utara, setibanya mereka di telaga Thay Ouw, lantas ada beberapa orang yang menyambutnya dengan manis. Sudah lama mereka meninggalkan Kanglam, mereka masih rada asing. Maka itu Cu Cong yang melayani beberapa itu bicara. Kemudian ternyata, pihak penyambut adalah Thio Cecu dari Kwie-in-chung. Sebenarnya tidak tahu cecu itu siapa enam orang ini, ia doyong menduga kepada musuhnya chungcu tua, maka itu selama menyambut, ia terbenam dalam kesangsian. Ia ditugaskan Koan Eng berjaga-jaga, sekalian menyambut orang pandai, maka itu ia bertindak secara hati-hati.

Liok Koay pun heran melihat muridnya itu ada di sini.

"Eh, bocah, mana silumanmu?!" Han Po Kie menanya. Ia menegur.

Han Siauw Eng bermata tajam, segera ia melihat Oey Yong hadir bersama, maka itu ia tarik ujung baju kakaknya seraya berbisik: "Sabar, urusan ini kita boleh bicarakan perlahan-lahan kemudian."

Nona lihay ini dapat mengenali walaupun Oey Yong dandan sebagai seorang pemuda.

Tuan rumah tak kenal siapa enam orang itu tetapi karena Kwee Ceng memanggil guru kepada mereka, ia lantas memberi hormat. Ia minta dimaafkan tidak dapat berjalan. Ia pun segera memerintahkan menyiapkan sebuah meja untuk tetamu baru.

Kwee Ceng tidak berayal lagi menjelaskan perihal gurunya.

Liok Chungcu menjadi girang sekali.

"Sudah lama aku mendengar nama besar dari tuan-¬tuan, hari ini aku dapat menemuinya, sungguh aku beruntung!" katanya.

Berbeda dari tuan rumah, Kiu Cian Jin duduk tetap di kursinya. Ia cuma tersenyum, terus ia dahar dan minum seoarng diri.

"Siapa tuan ini?" menanya Han Po Kie. Ia sebal atas sikap orang acuh tak acuh itu, bahkan temberang.

"Baiklah Liok-hiap ketahui," tuan rumah berkata, "Tuan ini adalah gunung Tay San dan Bintang Pak Tauw dari Kaum Rimba Persilatan di jaman ini, yang kepandaian ilmu silatnya tidak ada orang di kolong langit ini yang dapat menandinginya…."

Mau tidak mau Liok Koay heran.

"Apakah dia Oey Yok Su dari Tho Hoa To?" tanya Han Siauw Eng.

"Apakah dia Kiu Cie Sin Kay?" tanya Han Po Kie.

"Meskipun tuan dari pulau Tho Hoa To serta Kiu Cie Sin Kay sangat lihay, tidak nanti mereka dapat menandingi Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Locianpwee!" Liok Koan Eng lantas memperkenalkan.

Kwa Tin Ok heran. "Oh, Locianpwee Kiu Cian Jin!" katanya.

Kiu Cian Jin tertawa keras, sampai rumahnya bagaikan tergetar.

Ketika itu beberapa chungteng telah selesai menyiapkan meja serta barang hidangan dan keenam tetamu itu sudah lantas mengambil tempat duduk mereka. Kwee Ceng pindah duduk di sebelah bawah gurunya itu. Ia telah menarik tangannya Oey Yong untuk diajak duduk bersama, si nona menggoyang kepala sambil tertawa, ia menampik untuk pindah duduk.

Liok Chungcu tertawa, ia kata: "Aku menyangka saudara Kwee tidak mengerti ilmu silat, kiranya kau adalah muridnya enam orang pandai. Benar-benar mataku lamur, tidak dapat aku melihat mustika yang disembunyikan…."

Kwee Ceng berbangkit, ia memberi hormat.

"Kepandaianku tidak seberapa," ia berkata, "Dengan menerima pengajaran guruku, tidak berani aku banyak bertingkah. Harap chungcu sudi memaafkan."

Senang Tin Ok mendengar pembicaraan itu. Terang sudah Kwee Ceng pandai membawa diri.

"Tuan-tuan adalah orang-orang kenamaan kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini," berkata Kiu Cian Jin. "Kebetulan sekali aku si orang tua ada punya urusan yang penting, jikalau di dalam hal itu aku bisa memperoleh bantuan kamu, sungguh bagus sekali!"

"Ketika tuan-tuan datang, baru saja Kiu Locianpwee hendak memberi penjelasan," berkata tuan rumah. "Sekarang silakan locianpwee memberi petunjuk kepadaku."

Kiu Cian Jin menurut, ia lantas berkata: "Kita yang memernahkan diri dalam dunia Rimba Persilatan, pokok penting dari tujuan kita adalah perbuatan-¬perbuatan mulia, menolong rakyat dari kesengsaraan. Sekarang ini tinggal ditunggu harinya saja angkatan perang negara Kim meluruk ke Selatan ini, jikalau kerajaan Song tidak dapat melihat selatan dan dia tidak sudi menyerah, asal saja peperangan terjadi, celakalah rakyat, entah berapa banyak jiwa yang bakal terbinasa! Bukankah ada kata-kata, siapa menurut Thian dia makmur, siapa menentang Thian dia musnah? Maka juga aku datang ke Selatan ini untuk menggabungkan semua orang gagah di Kanglam, untuk bersama menyambut angkatan perang Kim itu, supaya Kerajaan Song digencet dari luar dan dalam, hingga habislah tenaganya, tidak dapat ia melawan perang dan karenanya menyerah. Kalau usaha ini berhasil, disebelahnya pangkat mulia dan kedudukan yang senang buat kita, rakyat pasti sangat bersyukur. Dengan begitupun tidaklah sia-sia kita telah mempunyai kepandaian silat yang lihay."

Mendengar itu, air muka Kanglam Liok Koay berubah, bahkan dua saudara Han sudah lantas hendak membuka suaranya, syukur Coan Kim Hoat dapat lantas menarik ujung baju mereka seraya matanya melirik kepada tuan rumah, menunjuki untuk melihat atau mendengar sikapnya tuan rumah.

Sebegitu jauh Liok Chungcu menghormati tetamunya yang tua itu, tetapi sekarang, mendengar suara orang ia heran bukan main. Ia mencoba tertawa ketika ia berkata: "Meskipun aku bodoh tetapi dengan menempatkan diri di dalam kalangan kaum kangouw, masih mengerti juga aku tentang tiong dan gie, kesetian dan kebajikan dan tidak dapat aku melupakannya. Angkatan perang Kim itu hendak menyerbu ke Selatan ini, artinya mereka bakal mencelakai rakyat negeri, kalau itu sampai terjadi, aku akan turut semua tindakannya orang gagah di Kanglam ini untuk menentangnya hingga aku terbinasa! Untuk ini aku akan mengangkat sumpah! Locianpwee, kata-katamu ini rupanya hendak memancing aku, bukan?"

"Laotee, mengapa pandangan matamu begini pendek?" tanya tetamu itu. "Apakah kebaikannya membantu kerajaan Song melawan bangsa Kim? Paling banyak kau bakal mengalami nasib sebagai Gak Bu Bok yang terbinasa secara menyedihkan di paseban Hong Po Teng…"

Mendengar ini, tuan rumah kaget berbareng gusar. Ia mulanya mengharap mendapat bantuan melawan Hek Hong Siang Sat, siapa tahu ia justru dibujuk untuk mengkhianati negara sendiri! Maka sia-sia belaka orang tua ini pandai ilmu silatnya kalau jiwanya demikian rendah, dia demikian tidak tahu malu. Ia lantas mengebaskan tangan bajunya. Ia berkata: "Malam ini aku lagi menghadapi datangnya musuh, sebenarnya aku berniat memohon bantuan locianpwee, tetapi karena kita tidak sepaham, walaupun leherku bakal memuncratkan darah, tidak berani aku melayani locianpwee terlalu lama pula! Silahkan!" Ia memberi hormat pula, tandanya ia mengusir tetamunya itu.

Kanglam Liok Koay berikut Kwee ceng dan Oey Yong girang dalam hatinya.

Kiu Cian in tidak tertawa, ia pun tidak menyahuti, dengan tangan kiri mencekal cawan arak, tangan kanannya dibawa ke mulut cawan itu, terus diputar-¬putar, mendadak tangan kanannya itu dikebaskan, disambarkan terbalik. Maka untuk herannya semua orang, cawan arak itu terpapas separuhnya!

Liok Chungcu berdiam dengan hatinya bekerja keras memikirkan daya untuk melayani orang tua ini, yang sudah mengancam dengan kepandaiannya yang luar biasa.

Tapi Ma Ong Sin Han Po Kie tidak dapat bersabar lagi, dia lompat bangun dari kursinya menghadapi orang tua itu.

"Manusia tak tahu malu, mari kita mengadu kepandaian!" ia menantang.

Kiu Cian Jin tidak menjadi gentar.

"Sudah lama aku mendengar nama Kanglam Cit Koay, baiklah hari ini diuji tulen palsunya!" katanya, "Tuan-tuan, baiklah kau maju semua berbareng!"

Tuan rumah mau menduga Han Po Kie bukan tandingan orang, mendengar tantangan itu, ia girang sekali. Ia lantas berkata: "Memang biasanya Kanglam Liok Koay maju berbareng mundur berbareng, musuh seorang mereka berenam, musuh sepasukan tentara besar mereka berenam juga, tidak pernah ada salah satu di antaranya yang sudi ketinggalan!"

Inilah kata-kata yang disengaja. Mendengar ini Cu Cong ketahui maksud orang.

"Baiklah!" dia berkata, "Biak kita bersama-sama melayani ini jago Rimba Persilatan yang kenamaan!" Lalu dengan mengebaskan tangannya, lima saudaranya segera berbangkit bangun bersiap-sedia.

Kiu Cian Jin berdiri, ia angkat kursinya, lalu ia bertindak ke tengah ruangan, yang mau dijadikan gelanggang pertarungan. Di situ ia letakkan kursi itu, terus ia berduduk pula, kaki kanannya disusun diatas kaki kirinya. Dengan duduk tenang, ia berkata: "Sambil berduduk begini aku si orang tua akan menemani tuan-¬tuan bermain-main!"

Tin Ok terkesiap hatinya. Jikalau orang bukan lihay luar biasa, tidak nanti ia membawa sikap demikian rupa.

Selagi guru-gurunya belum bergerak, Kwee Ceng majukan diri ke depan. Ia pun mau percaya semua gurunya bukan lawannya jago tua ini, yang kepandaiannya telah ia saksikan sendiri. Tentu saja ia bersedia binasa untuk membantu gurunya itu, maka ia menjadi nekat.

"Locianpwee, aku yang muda mohon pengajaran dari kau," ia berkata seraya menjura.

Kiu Cian Jin melengak, akhirnya ia tertawa.

"Tidak mudah ayah dan ibumu memelihara kau, kenapa jiwa kecilmu hendak cuma-cuma diantarkan di sini?" katanya.

"Anak Ceng, mundur!" berseru Tin Ok, yang kagum dengan keberanian muridnya itu tetapi ia menyayanginya.

Tapi Kwee Ceng sudah bulat tekadnya. Ia khawatir nanti gurunya mencegah terus, maka tanpa berkata lagi, ia tekuk kakinya yang kiri, tangan kanannya digerakkan melingkar, lalu dengan keras tangannya itu ditolakkan maju!

Inilah jurus "Hang Liong Yu Hui" dari Hang Liong Sip-pat Ciang, yang anak muda she Kwee ini telah meyakinkan selama satu bulan, hingga bisalah dimengerti beda jauh dengan waktu permulaannya Ang Cit Kong mengajarinya.

Kiu Cian Jin memandang enteng kepada murid orang ini, sebab ia melihat dari gerak-gerik, mestinya Han Po Kie tidak seberapa lihay, maka kaget ia melihat serangan itu. Ia mencelatkan tubuhnya, melompat tinggi-tinggi, karenanya hancurlah kursi itu. Ia menjadi gusar sekali.

"Anak kurang ajar!" bentaknya setelah turun kembali di lantai.

"Locianpwee, tolong berikan pengajaran padaku!" kata Kwee Ceng dengan hormat. Ia berlaku hati-hati, tak mau ia segera menyerang pula.

Tetapi Oey Yong hendak mengacaukan pikiran orang tua itu. "Engko Ceng, menghadapi tua bangka ini jangan kau sungkan-sungkan!"

Orang tua itu murka bukan kepalang. Dia kenamaan sekali, siapa pernah mencaci padanya, apapula di hadapannya sendiri? Sekarang ada ini bocah! Hampir ia melompat dengan tangannya diayun, untuk menghajar bocah itu, mendadak ia ingat akan kehormatan dirinya sendiri. Dia tertawa dingin. Dia mengeluarkan tangannya yang kanan, tangan kirinya dibawa ke keningnya, kemudian ia menyerang, justru disaat itu Kwee Ceng lagi menyampingkan diri. Sebat sekali gerakannya ini.

Tapi Oey Yong sudah lantas berteriak.

"Itulah pukulan yang tidak ada keanehannya! Itulah jurus ke delapan yang dinamakan 'Burung belibis tunggal keluar dari rombongannya' dari tipu silat Thong-pek Liok-hap-ciang!"

Kiu Cian Jin heran orang mengenali pukulannya itu. Memang itu adalah tipu silat Thong-pek Ngo-heng¬ciang. Jurus itu tidak aneh, tetapi ia telah melatihnya selama beberapa puluh tahun, maka di tanganya, pukulan itu lihay sekali, kedua tangannya dapat bergerak dengan sebat dan hebat.

Kwee Ceng tidak berani menangkis serangan itu, kesatu ia gentar juga untuk nama orang, kedua ia melihat gerak-gerik orang yang luar biasa. Ia main mundur.

Kiu Cian Jin menduga-duga terhadap si anak muda, ia mengambil kesimpulan; "Dia dapat menghajar kursi, itulah sebab tenaganya yang besar. Ilmu silatnya hanya biasa saja…." Karena itu ia lantas mendesak.

Oey Yong bingung melihat kawannya terdesak demikian rupa, ia mengkhawatirkan kekalahannya. Maka ia lantas bersiap untuk membantu.

Kwee Ceng kebetulan menoleh kepada si nona, kapan ia melihat roman khawatir dari nona itu, tanpa merasa hatinya terkesiap. Justru itu, tinjunya Kiu Ciab Jin mampir di dadanya. Serangan itu membuat Oey Yong dan Kanglam Liok Koay kaget sekali, mereka mau menyangka akan habis sudah anak muda itu. Bukankah musuh itu sangat tangguh? Kalau tidak mati, Kwee Ceng akan terluka parah.

Kwee Ceng pun kaget bukan main, ia lantas mengerahkan tenaganya. Kedua tangannya dipentang dengan kaget. Habis itu, ia menjadi heran sendiri. Ia terhajar dadanya tetapi ia tidak merasakan terlalu sakit, hingga ia jadi tercengang.

Oey Yong dapat melihat orang berdiam, ia menyangka pemuda itu mau pingsan, ia lantas lompat untuk mempepayang.

"Bagaimanam, engko Ceng?" tanyanya. Tanpa merasa, air matanya meleleh.

Tapi jawaban si pemuda luar biasa sekali. "Tidak apa-apa, akan aku mencoba pula!" demikian jawaban itu. Ia terus mengangkat dadanya dan bertindak menghampiri lawannya yang berdiri mengawasi padanya.

"Kaulah si jago tua Tangan Besi, marilah kau pukul pula aku satu kali lagi!" ia menantang.

Jago tua itu menjadi sangat gusar, ia sudah lantas meninju. Sebagai akibat serangan itu terdengar suara "Duk!" keras sekali.

Bukannya ia jatuh atau kesakitan, Kwee Ceng justru tertawa berkakakan.

"Suhu, Liok Chungcu, Yong-jie!" dia berteriak. "Tua bangka ini berkepandaian biasa saja! Dia tidak menghajar aku tidak apa, setelah ia menghajar, terbukalah rahasianya!"

Kata-kata ini disusul dengan gerakan tangan kiri mengebas akan mendesak orang itu sambil si anak muda berseru: "Kau pun rasakan tanganku!"

Melihat gerakan orang itu, Kiu Cian Jin memandang enteng. Ia lantas menggerakkan kedua tangannya, guna membentur tangan kiri si pemuda. Ia tidak tahu Kwee Ceng justru menggunakan jurus "enam naga naik ke langit" dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ialah salah satu pukulan yang paling luar biasa. Maka tidak ampun lagi ia kena terhajar pundak kanannya yang menyambung sama dadanya, tubuhnya terlempar ke luar pintu bagaikan layangan putus!

Semua orang menjadi kaget hingga mereka memperdengarkan seruan. Jutsru itu, kejadian aneh lainnya menyusul. Dari luar terlihat masuknya seorang wanita yang mencekal Kiu Cian Jin pada leher bajunya, tindakan wanita itu lebar, sesampainya di dalam ruangan, ia meletakkan orang yang dibawanya itu separuh ditenteng. Dia berdiri tegar, pada wajahnya tak tampak senyuman, sebaliknya romannya sangat dingin. Dia panjang rambutnya riap-riapan ke pundaknya, kepalanya pun didongakkan. Sebab dialah tat Sie Bwee Tiauw Hong, salah satu dari Hek Hong Siang Sat.

Semua orang terperanjat.

Di belakang si Mayat Besi ini ada mengikuti seorang lain, tubuhnya jangkung kurus, bajunya hijau, wajahnya luar biasa sekali. Siapa mengawasi wajah itu, sendirinya ia akan menggigil. Siapa pernah melihat satu kali, lantas tak sudi dia melihatnya buat kedua kalinya….

Liok Chungcu heran bukan main, Kiu Cian Jin yang demikian kesohor itu, yang mulutnya terpentang sangat lebar, tidak sanggup mempertahankan diri untuk satu hajaran dari Kwee Ceng. Ia pun merasa lucu. Akan tetapi, menampak munculnya Bwee Tiauw Hong, ia melongo.

Wanyen Kang melihat gurunya, ia girang bukan main.

"Suhu!" ia memanggil seraya menghampiri memberi hormat. Berbareng dengan itu dia menjadi ingat Liam Cu, dia heran tidak datang bersama, entah di mana adanya si nona.

Liok Chungcu tidak berdiam lama, segera ia memberi hormat pada si Mayat Besi.

"Bwee Suci!" katanya, "Duapuluh tahun sudah kita berpisah, hari ini kita dapat bertemu pula, aku girang sekali. Tentunya Tan koko baik, bukan?"

Liok Koay saling mengawasi dengan Koan Eng. Kenapa tuan rumah memanggil Suci, kakak seperguruan kepada Bwee Tiauw Hong? Mereka heran berbareng gentar juga. Tin Ok pun berpikir, "Hari ini kita berada dalam kurungan. Sudah Bwee Tiauw Hong sendiri sukar dilawan, sekarang ada adik seperguruannya ini."

Oey Yong sebaliknya berpikir: "Liok Chungcu ini, ilmu silatnya, ilmu suratnya, kata-katanya, gerak-¬geriknya, semua mirip dengan ayah, aku sudah menyangka dia ada hubungan sama ayah, siapa sangka dia justru murid ayah…!"

Segera terdengar suara dingin dari Bwee Tiauw Hong. "Yang bicara ini apakah sutee Liok Seng Hong?"

"Benar suteemu, suci," sahut Liok Chungcu. "Sejak perpisahan kita, apakah suci banyak baik?"

Atas itu, Bwee Tiauw Hong menjawab, "Kedua mataku telah menjadi buta dan kau punya kakak Hiang Hong telah orang bunuh mati pada duapuluh tahun yang lalu! Tidakkah itu memuaskan hatimu?!"

Mendengar itu, tuan rumah girang berbareng kaget. Kaget sebab Hek Hong Siang Sat yang begitu lihay, yang malang melintang di dunia ini, ada yang binasakan. Girang sebab itu berarti ia kekurangan seorang lawan tangguh dan ini musuh sisanya sudah bercacad matanya. Hanya ia berduka kapan ia ingat persaudaraan mereka selama di pulau Tho Hoa To.

"Siapakah musuh dari Tan koko itu?" ia tanya. "Sudahkah suci menuntut balas?"

"Aku justru hendak mencari mereka!" sahut Tiauw Hong.

"Nanti aku akan membantu kau menuntut balas suci," berkata Liok Chungcu. "Selesai pembalasan, barulah membereskan perhitungan kita!"

"Hm!" Bwee Tiauw Hong mengasih dengar ejekannya.

Mendadak Han Po Kie menepuk meja sambil lompat bangun. "Bwee Tiauw Hong, musuhmu ada di sini!" dia berteriak.

Coan Kim Hoat terkejut, ia tarik saudaranya itu.

Tiauw Hong sebaliknya melengak.

Sampai disitu Kiu Cian Jin yang sejak tadi berdiam saja, sebab merasakan sakit bekas hajaran Kwee Ceng dan baru sekarang rasa sakitnya itu hilang sedikit, turut bicara.

"Apa itu yang disebut menuntut balas dan membereskan perhitungan!" katanya. "Sekalipun guru sendiri dibunuh orang tidak tahu, untuk apa menyebut diri sebagai orang gagah?!"

"Apa kau bilang?!" membentak Bwee Tiauw Hong seraya mencekal keras tangan orang.

"Lekas lepas!" berteriak Kiu Cian Jin kesakitan.

"Kau bilang apa?" tanya pula Tiauw Hong, tidak memperdulikannya.

"Oey Yok Su, pemilik dari pulau Tho Hoa To, telah orang bunuh mati!" sahut si orang tua.

Liok Seng Hong kaget sekali. "Benarkah kata-¬katamu ini?" ia menanya.

"Kenapa tidak benar?!" membaliki Kiu Cian Jin. "Oey Yok Su kena dikurung Coan Cin Cit Cu murid-¬muridnya Ong Tiong Yang dan terbinasa karenanya."

Mendengar itu, Bwee Tiauw Hong dan Liok Seng Hong menjerit menangis menggerung, sedang Oey Yong roboh pingsan berlutut di kursinya. Dan yang lainnya semua kaget sekali. Sebenarnya mereka tidak percaya Oey Yok Su yang begitu lihay terbinasakan orang, tetapi mengetahui musuh-musuhnya adalah Coan Cin Cit Cu, mau mereka mempercayainya. Mereka ketahui baik kelihayan Ma Giok bertujuh.

Kwee Ceng pun kaget tetapi ia segera tubruk Oey Yong, untuk dikasih bangun sambil dipeluki.

"Yong-jie, sadar!" ia memanggil-manggil. Ia melihat muka orang pias dan napasnya berjalan perlahan sekali, saking khawatir, ia berteriak: "Suhu! Suhu! tolongi dia!"

Cu Cong lompat menghampiri, ia meraba hidung orang.

"Jangan khawatir," ia berkata. "Ia pingsan karena kaget mendadak, dia tidak mati." Ia lantas mengurut¬-urut jalan darah lauw-kong-hiat di telapak tangan si nona.

Dengan perlahan-lahan Oey Yong sadar, lantas ia menjerit: "Mana ayahku? Ayah! Aku menghendaki ayahku!"

Mendengar itu Seng Hong terperanjat.

"Oh!" serunya, "Kalau dia bukannya putri guruku, mana mungkin ia ketahui tentang Kiu-ho Giok-louw¬wan?" Lalu ia menangis, air matanya meleleh. Ia kata: "Adik kecil, mari kita mengadu tenaga dengan itu imam-imam bangsat dari Coan Cin Kauw! Eh, Bwee Tiauw Hong, kau turut atau tidak? Kalau tidak, hendak aku mengadu jiwa lebih dulu denganmu!"

Koan Eng segera pepayang ayahnya, yang menjadi demikian berduka.

"Jangan terlalu berduka, ayah," ia membujuk, "Kita bertindak perlahan-lahan."

Sneg Hong tidak memperdulikan anaknya itu, ia menangis menggerung-gerung pula.

"Bwee Tiauw Hong, kau perempuan bangsat!" dia mendamprat. "Sungguh hebat kau telah menganiaya aku! Kau tidak tahu malu, kau mencuri laki, itulah masih tidak apa! Tapi kenapa kau curi juga kitab Kiu Im Cin Keng kepunyaan guru? Kau tahu, saking gusarnya suhu, dia sudah putuskan urat kaki dari kami empat saudara, dia usir kami semua dari pulau Tho Hoa To! Aku masih mengharapkan suhu nanti sadar liangsimnya, nanti ia mengasihani kami yang tidak berdosa, supaya kami diterima kembali sebagai muridnya, tetapi sekarang ia telah menutup mata! Dengan begini pastilah penyesalanku seumur hidup…!"

Bwee Tiauw Hong panas hatinya, dia membalas mencaci: "Dulu aku mencaci kau tidak punya semangat, sekarang tetap aku mencaci kau tidak mempunyai semangat! Berulangkali kau mengajak orang membikin susah kami suami-istri, kau membuatnya kami tidak punya tempat untuk menyembunyikan diri, karenanya kami menjadi sangat menderita di gurun Mongolia! Sekarang, bukannya kau berdaya untuk membalas sakit hati suhu, kau repot hendak membuat perhitungan denganku, kau menangis saja tidak karuan! Mari kita mencari Coan Cin Cit Cu, untuk mencari balas! Jikalau kau tidak kuat jalan, nanti aku gendong dirimu!"

Sampai di situ, Oey Yong campur bicara.

"Bwee Suci! Liok Suko! Pergi kau menuntut balas untuk ayah! Engko Ceng, mari kita menyusul ayahku!"

Habis berkata begitu, si nona menghunus senjatanya, Ngobie kongcie, untuk menikam tenggorakkannya.

Cu Cong awas matanya dan sebat gerakannya. Ia merampas senjata orang.

"Nona, tanyalah dulu biar terang!" ia memberi ingat. Ia terus menghampiri Kiu Cian Jin, debu di tubuh siapa ia kepikir beberapa kali. Ia berkata: "Muridku belum tahu apa-apa, dia lancang, harap locianpwee memaafkannya."

Tapi Kiu Cian Jin murka sekali. "Aku sudah tua, mataku lamur!" serunya. "Mari kita bertempur pula!"

Cu Cong menepuk pundak orang dengan perlahan, menggenggam tangan orang yang kiri, sembari tertawa berkata: "Locianpwee lihay sekali, tak usahlah main-main pula!" Ia menarik orang duduk lalu tangan kirinya mengambil cawan arak, mulutnya ia tutup dengan tangan kanannya, ia putarkan, atau mendadak tangan kanan itu dipapaskan ke arah keluar. Maka heran sekali, cawan itu lantas terpapas kutung separuhnya, tepat seperti caranya Kiu Cian Jin tadi. Selagi orang terperanjat dan heran, Cu Cong tertawa dan berkata kepada orang tua itu: "Hebat kepandaian locianpwee, barusan aku dapat mencurinya, maka itu harap locianpwee memaafkan aku! Terima kasih, locianpwee!"

Wajahnya Kiu Cian Jin berubah menjadi pucat. Orang heran tetapi orang tetap tidak mengerti.

"Anak Ceng, mari!" Cu Cong memanggil muridnya. "Kepandaian yang gurumu ajarkan padamu lain kali kau boleh gunakan untuk membikin orang kaget, untuk memperdayakan orang!"

Kwee Ceng menghampiri gurunya yang nomor dua, lalu dari tangan kiri si guru, dari jari tengah, ia meloloskan sebuah cincin. Ia kata: "Inilah kepunyaan locianpwee, tadi aku meminjamnya. Silahkan locianpwee memakai pula."

Kiu Cian Jin kaget dan heran. Ia sungguh tidak mengerti, cincin ditangannya dapat berpindah ke tangan orang lain.

Cu Cong berkata pula, "Cincin ini ditaburkan sepotong intan, yang sifatnya keras luar biasa, kau gunakan itu menempelkan di cawan, lalu kau putarkan…"

Kwee Ceng menurut, ia melakukan titah gurunya itu. Baru sekarang semua orang mengerti duduk halnya, Koan Eng semua tertawa.

Oey Yong pun tertawa, tetapi sesaat kemudian ia menangis pula. Sebab ia segera ingat lagi ayahnya.

"Jangan menangis, Nona!" Cu Cong menghibur. "Ini Kiu locianpwee paling suka memperdayakan orang, kata-katanya belum tentu harum wangi!"

Oey Yong heran, ia mengawasi guru kawannya itu.

"Cu Cong tertawa, dia berkata pula: "Ayahmu sangat lihay, cara bagaimana dia dapat dibinasakan orang? Laginya Coan Cin Cit Cu adalah orang-orang terhormat, mereka juga tidak bermusuh dengan ayahmu, kenapa mereka jadi bisa bertempur?"

"Mungkin ini disebabkan urusan Ciu Pek Thong, pamannya Khu Totiang beramai…." Oey Yong mengutarakan dugaannya.

"Bagaimana itu?" tanya Cu Cong.

"Kau tentunya belum tahu…." si nona menangis lagi.

"Biar bagaimana, aku percaya kata-kata orang tua bangka ini berbau busuk!" Cu Cong mengasih kepastian.

"Apakah kau maksudkan dia melepas…melepas…."

Cu Cong menyahuti dengan sikapnya wajar.

"Tidak salah, dia melepaskan angin busuk! Di dalam tangan bajunya masih ada rupa-rupa barang yang muzijat, kau terkalah apa perlunya itu…" Dan dia merogoh ke tangan baju orang, ia mengasih keluar barang-barang yang disebutkan itu, ialah dua potong batu bata, seikat rumput kering, sepotong wol peranti menyalakan api, sepotong baja peranti membangkitkan api, serta sepotong batu api.

Oey Yong jumput batu bata itu, ia pencet, lantas batu itu hancur luluh. Karena ini berkuranglah kesedihannya, dapat ia tersenyum. Ia kata: "Jie suhu, bata ini terbuat dari tepung! Tadi dia memencetnya dengan menggunakan ilmu tenaga dalam yang lihay sekali!"

Kiu Cian Jin malu bukan main, mukanya menjadi merah dan pucat bergantian, karena tak ada tempat untuk menaruh muka lagi, ia kebaskan tangan bajunya, ia bertindak keluar untuk berlalu.

Bwee Tiauw Hong menggerakkan tangannya, menyambar tubuh orang, terus dibantingkan.

"Kau bilang guruku meninggal dunia, bilang benar atau dusta?!" si Mayat Besi tanya dengan bengis.

Hebat bantingan itu, Kiu Cian Jin merintih kesakitan.

Oey Yong lihat seikat rumput itu ada bekas terbakar, maka sadarlah dia.

"Jie suhu," katanya pada Cu Cong. "Coba kau sulut rumput itu dan kau masukkan ke dalam tangan bajumu, lalu kau menyedot dan meniupnya keluar."

Cu Cong menurut, ia berbuat itu, malah sambil menutup kedua matanya dan menggoyang-goyangkan kepalanya!

Oey Yong bertepuk tangan, dia tertawa gembira.

"Engko ceng, lihat, bukankah begini caranya si tua bangka ini memainkan tenaga dalamnya?" katanya. Ia bertindak menghampiri orang tua itu, sembari tertawa geli ia memerintah, "Kau bangunlah!" Ia mencekal tubuh orang, untuk dikasih bangun, lalu memdadak dengan tangan kirinya ia menotok jalan darah sintong-hiat di punggung orang. Membarengi itu, ia membentak: "Kau bilang, sebenarnya ayahku mati atau tidak? Jikalau kau bilang benar mati, aku menghendaki jiwamu!" Dilain pihak Ngobie kongcie sudah mengancam dada orang.

Semua orang merasa lucu mendengar pertanyaan Oey Yong ini. Orang ditanya tetapi orang dilarang menyebutkan kematian dari ayahnya.

Kiu Cian Jin sendiri merasakan penderitaan hebat. Ia merasakan sakit dan gagal bergantian. "Aku khawatir mungkin juga ia belum mati…" sahutnya kemudian.

"Aneh pertanyaan sumoyku ini," pikir Liok Seng hong. Maka ia turut menanya kepada orang tua itu: "Kau bilang guruku dibinasakan Coan Cin Cit Cu, kau melihat dengan mata sendiri atau hanya mendapat dengar cerita orang?"

"Aku hanya mendenagr kata orang," menjawab Kiu Cian Jin.

"Siapa yang membilanginya?"

Kiu Cian Jin berdiam sebentar, ia seperti mendumal. "Ang Cit Kong," sahutnya kemudian.

"Kapan Ang Cit Kong membilangi itu?" Oey Yong tanya.

"Satu bulan yang lalu," sahut Kiu Cian Jin pula.

"Dimana Ang Cit Kong bicara denganmu?" Oey Yong menanya lagi.

"Di atas puncak gunung Tay San," sahut si orang tua. "Di sana kita mengadu kepandaian, dia kalah, dengan tidak disengaja dia mengatakannya."

Bukannya kaget, Oey Yong sebaliknya girang luar biasa mendengar jawaban itu. Ia berjingkrak, tangan kirinya menyambar dada orang, tangan kanannya mencabut kumis. Ia lantas tertawa cekikikan.

"Ang Cit Kong kalah olehmu, tua bangka busuk!" katanya. "Bwee Suci, Liok Suko, , jangan dengar, dia melepas…. melepas…" Sebagai wanita, tak dapat si nona meneruskan kata-katanya.

"Melepas… angin!" Cu Cong yang melanjutkan tertawa, tetapi ia membekap mulutnya.

Oey Yong berkata pula, "Pada sebulan yang lalu terang Ang Cit Kong ada bersama aku dan engko Ceng ini! Eh, engko Ceng, kau hajarlah dia dengan satu tanganmu lagi!"

"Baik!" jawab Kwee Ceng, lalu tubuhnya bergerak.

Kiu Cian Jin ketakutan, dia memutar tubuhnya untuk berlari, tetapi di muka pintu ada Bwee Tiauw Hong menghalang. Dia berputar pula, untuk lari ke dalam. Dia segera dirintangi Liok Koan Eng, tetapi ia mendorongnya hingga pemuda itu terhuyung. Biar bagaimana, dia pernah mendapat nama, meskipun benar nama itu didapat kebanyakan karena penipuan belaka, karena ilmu sulapnya. Dia hanya bernyali besar, dari itu berani dia menantang Liok Koay dan Kwee Ceng. Koan Eng pastilah bukan tandingannya.

Oey Yong lompat menghampiri, untuk memegat. "Kau menjunjung jambangan besi, kau jalan di air, ilmu apakah itu?" si nona tanya.

"Itulah kepandaianku yang istimewa," sahut si orang tua, yang tetap mengepul. "Itu dia yang dinamakan ilmu ringan tubuh menyeberangi air dengan menaiki kapu-kapu!"

"Ah, kau masih saja mengoceh!" kata si nona tertawa. "Sebenarnya kau mau bicara benar-benar atau tidak?"

"Usiaku sudah lanjut, ilmu silatku tidak seperti dulu lagi," Kui Cian Jin menjawab, "Meski begitu, ilmu ringan tubuhku masih belum mensia-siakannya."

"Baiklah!" kata Oey Yong. "Di luar sana ada sebuah jambangan besar ikan mas, coba kau jalan di atas jambangan itu kasih kami menyaksikannya! Kau lihat tidak jambangan itu. Sekeluarnya dari ruang ini, di sebelah kiri, di bawah pohon, itulah dia!"

"Di dalam jambangan, mana bisa orang melatih diri…?" kata Kiu Cian Jin. Tapi belum berhenti suaranya itu, mendadak ia lihat sesuatu berkelebat, depan matanya, dilain saat ia mendapatkan tubuhnya sudah berjumpalitan dan kakinya tergantung.

"Kematianmu sudah menantikan, kau masih omong jumawa!" membentak Bwee Tiauw Hong.

Si Mayat Besi telah mengangkat tubuh orang itu dengan Tok Liong Gin-pin, cambuk perak Naga Berbisa. Kapan cambuk itu dikebaskan, tubuhnya si orang tua terlempar ke arah jambangan, tepat jatuhnya ke dalam jambangan itu.

Oey Yong menyusul, ia mengancam dengan Ngo¬bie kongcie!

"Jikalau kau tidak memberi keterangan, aku tidak ijinkan kau keluar dari sini!" bentaknya.

Kiu Cian Jin mencoba menjejak dasar jambangan, baru tubuhnya mencelat atau pundaknya sudah ditekan si nona, maka ia terjatuh pula. Maka basah kuyuplah ia berikut kepalanya. Ia meringis.

"Sebenarnya jambangan itu terbuat berlapis besi," ia mengaku akhirnya. "Di dalamnya jambangan pun ditutup sebatas tiga dim, di atas itulah cuma ada isinya air. Dan itu kali kecil, di dasar itu aku telah menancapkan banyak pelatok, yang dibikin tenggelam lima enam dim dari permukaan air hingga jadi tidak kelihatan…"

Oey Yong tertawa, terus ia bertindak ke dalam, tak sudi ia memperdulikan lagi, Kiu Cian Jin dapat keluar dari jambangan ikan, sambil tunduk ia ngiprit pergi.

Bwee Tiauw Hong dan Liok Seng Hong merasa tidak enak sendiri. Tadi mereka menangis dengan cuma-cuma disebabkan lagak-lagunya si tua bangka itu. Setelah orang kabur, mereka masih likat. Tiauw Hong adalah yang dapat menenangkan diri lebih dulu. Maka berkatalah ia pada tuan rumah: "Seng Hong, kau merdekakan muridku! Dengan memandang kepada guru kita, urusan dahulu aku suka tidak menimbulkannya pula.”

Liok Seng Hong menghela napas. Di dalam hatinya ia kata: "Dia telah kematian suaminya, matanya sendiri buta, sekarang dia hidup sebatang kara. Aku sendiri, walaupun kakiku cacad, aku ada punya istri dan anak, aku ada punya rumah tangga, aku masih menang berlipat kali daripadanya… Kita pun sama-¬sama sudah berusia limapuluh lebih, untuk apa masih memikirkan sakit hati lama…?" Mala ia menjawab: "Pergi kau bawa muridmu, Bwee Suci. Besok pagi hendak aku pergi ke Tho Hoa To, untuk menjenguk suhu. Kau mau turut atau tidak?"

"Beranikah kau pergi ke sana?" Tiauw Hong tanya.

"Tanpa perkenan suhu kita lancang mendatangi Tho Hoa To, itulah memang satu pelanggaran besar," menyahut Sneg Hong. "Akan tetapi si tua bangka barusan sudah mengaco belo, hatiku tetap tidak tenang, ingin aku menjenguknya."

Belum lagi Bwee Tiauw Hong menyahut, Oey Yong sudah berkata: "Marilah kita pergi beramai menjenguk ayahku, di sana aku nanti memohonkan ampun bagi kamu."

Bwee Tiauw Hong berdiam diri, kedua matanya mengucurkan air mata.

"Mana aku punya muka menemui suhu lagi?" katanya. "Suhu mengasihi aku yang piatu, dia pelihara aku, dia mengajarkannya, tetapi hatiku buruk, aku durhaka…" Mendadak ia mengangkat kepalanya dan berseru, "Asal aku sudah berhasil membalas sakit hati suamiku, aku tahu bagaimana harus membereskan diriku sendiri! Kanglam Cit Koay, kalau kau benar laki-laki, marilah! Malam ini aku hendak mengadu nyawa denganmu. Liok Sutee, Oey Sumoy, kamu berdiam saja menonton, kamu jangan membantu siapapun juga! Siapa mampus siapa hidup, kamu tetap jangan campur tangan! Kamu dengar?!"

Mendengar itu, Kwa Tin Ok bertindak ke tengah ruang. Sepotong besi jatuh di lantai, suaranya nyaring dan panjang. Lalu ia mengasih dengar suaranya yang serak: "Bwee Tiauw Hong! Kau tidak melihat aku, aku juga tidak melihat kau! Ketika itu malam di tempat belukar kita bertempur, suamimu binasa wajar, tetapi juga saudaraku yang kelima telah kehilangan jiwanya. Tahukah kau?!"

"Oh," bersuara si nyonya. "Jadi sekarang kamu tinggal berenam?"

"Ya!" sahut Tin Ok. "Kami sudah menerima baik permintaan Totiang Ma Giok, kami tidak hendak memusuhi kau terlebih lama pula, tetapi hari ini kaulah yang mencari kami. Baiklah! Dunia ini luas, tetapi kita berjodoh, di mana saja kita dapat bertemu! Mungkinlah Thian tidak sudi membiarkan Kanglam Liok Koay dan kau hidup bersama di kolong langit ini! Nah, kau majulah!"

Bwee Tiauw Hong tertawa dingin. "Kau berenam, majulah semua!" dia menantang.

Belum Tin Ok menyahuti, Cu Cong sudah berdiri di sampingnya. Saudara ini hendak mencegah kalau-kalau musuh membokong. Bersama lain sudaranya, ia sudah menghunus senjata.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar