ads

Senin, 19 Oktober 2026

To Liong To 31

PENGKHIANATAN SI NONA

Bu Kie sendiri merasa sangat terharu. “Benar,” pikirnya. “Aku tidak bisa menikah dengan mereka sekaligus. Tapi aku bisa mati bersama mereka, tidak sia-sialah aku hidup di dunia ini.“ Sambil berpikir begitu dia melirik Tio Beng, melirik Cie Jiak dan melirik pula In Lee yang berada dalam dukungannya.

Dia menghela napas. In Lee masih berada dalam keadaan setengah sadar dan setengah lupa sedang Tio Beng dan Cie Jiak seperti berlomba dalam kecantikan. Muka mereka yang bersermu dadu terdapat titik-titik air sehingga kalau Tio Beng seperti sekuntun bunga mawar maka Cie Jiak laksana bunga anggrek. Ia menghela napas pula dan berkata dalam hati, “Hai! Bagaimana aku bisa membalas budi mereka?”

Sekonyong-konyong dari kapal Cong-kauw terdengar sorak sorai bergemuruh. Bu Kie kaget. Dia mendapat kenyataan bahwa semua orang di setiap kapal berlutut di atas geladak menghadap ke arah kapal besar. Dia melihat dengan matanya bahwa semua Po-su-ong berlutut di hadapan seseorang yang duduk di sebuah kursi. Orang itu kelihatan seperti Siauw Ciauw. Karena jarak yang terlampau jauh dia tidak bisa melihat tegas. Dia merasa sangat heran, apa yang dilakukan orang-orang Persia itu? Beberapa saat kemudian orang-orang itu bangun berdiri tetapi sorak sorai yang sangat gembira masih terdengar. Sekonyong-konyong sebuah perahu datang. Penumpangnya ternyata Siauw Ciauw sendiri. Si nona menyapa dan berteriak,

“Thio-kongcu! Marilah kita naik ke kapal besar. Mereka tidak akan mengganggu kalian.”

“Mengapa begitu?” tanya Tio Beng.

“Kalian akan segera tahu,” jawabnya. “Aku tak akan mencelakai Tio-kuncu.”

Tiba-tiba Cia Sun bertanya, “Siauw Ciauw, apakah kau sudah menjadi Kauwcu dari Beng-kauw di Persia?”

Siauw Ciauw tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepala. Selang beberapa saat air matanya mengalir turun di kedua pipinya. Mata Bu Kie berkunang-kunang. Sekarang dia bisa menebak segala kejadian yang sebenarnya. Dia berduka dan berterima kasih.

“Kau sudah berkorban untukku!” katanya dengan suara parau.

Si nona memalingkan kepalanya. Dia tidak berani beradu pandang dengan si pemuda.

Cia Sun menarik napas, “Taykis mempunyai puteri seperti kau tidaklah memalukan nama besar Cie-san Liong-ong,” katanya. “Bu Kie, mari kita ikut Siauw Ciauw Kauwcu.“ Dia melompat ke perahu disusul yang lain-lain. Delapan pedayung lantas memutar perahu dan mendayung ke arah kapal yang besar.

Dalam jarak dua puluh tombak lebih para Po-su-ong membungkuk untuk menyambut Kauwcu mereka. Biar pun Taykis adalah ibunya si nona tapi dia pun menjalani peradatan seperti yang lainnya. Begitu rombongan Bu Kie naik, dengan sikap amat hormat beberapa pelayan mengantar mereka ke gubuk kapal untuk menukar pakaian yang basah. Bu Kie sendiri diantar ke sebuah kamar yang berisi perabot mewah dan indah. Selagi dia mengeringkan air di badannya, pintu diketuk dan ditolak. Seorang wanita yang kedua tangannya menyangga seperangkat pakaian masuk dan wanita itu adalah Siauw Ciauw.

“Kongcu, biarlah aku melayani kau,” kata si nona.

Bu Kie merasa sangat terharu, “Siauw Ciauw,” katanya, “Kini kau sudah menjadi Kauwcu dari Cong-kauw dan pada hakekatnya aku sendiri adalah sahabatmu. Mana boleh kau melakukan lagi pekerjaan pelayanan?”

“Kongcu, ini pelayanan untuk yang terakhir kali,” kata si nona. “Kita akan segera berpisah jauh sekali, dan kita tak akan bertemu lagi. Sesudah aku berada di negeri orang, biar pun mau tetapi aku tidak akan bisa melayani kau lagi.”

Bu Kie merasa hatinya hancur. Sambil menahan turunnya air mata, dia membiarkan saja si nona mempayangnya, membantunya memakai baju, mengancingkan baju, mengangkat tali pinggang dan menyisir rambutnya. Sambil melakukan itu semua air mata Siauw Ciauw terus mengalir di kedua pipinya. Bu Kie tak dapat menahan diri lagi. Cepat dia memeluk erat-erat. Bagaikan bendungan pecah si nona menangis tersedu sedan. Dengan tubuh gemetar dia balas memeluk.

“Siauw Ciauw,” bisik Bu Kie, “Semula aku bahkan menyangka kau berkhianat terhadapku. Tak dinyana rasa cintamu begitu besar.”

Sambil menyandarkan kepalanya pada dada yang lebar itu si nona berkata dengan suara perlahan,

“Kongcu, aku pernah menipu kau. Ibuku seorang di antara tiga Seng-lie Cong-kauw. Dia mendapat perintah untuk datang ke Tiong-goan guna melakukan pekerjaan penting dengan pengertian bahwa kalau nanti kembali ke Persia dia akan menduduki kursi Kauwcu. Tak disangka begitu bertemu dengan ayah, ibu jatuh cinta dan tidak bisa menahan dirinya lagi. Ketika ayah meninggal dunia aku masih berada dalam kandungan ibu sehingga aku belum pernah melihat wajah ayahku. Ibu tahu bahwa dia sudah berdosa besar.

Dia menyerahkan cincin besi Seng-lie kepadaku lalu memerintahkan aku supaya pergi ke Kong-beng-teng untuk mencuri Sim-hoat (pelajaran) Kian-kun Tay-lo-ie. Dalam hal ini aku sudah menipu kau, Kongcu. Aku tidak memberi-tahu hal yang sebenarnya kepadamu. Akan tetapi hatiku bersih. Sedikit pun aku tidak punya niat menjadi Kauwcu dari Beng-kauw di Persia. Aku berharap untuk menjadi pelayanmu, untuk dapat melayani kau seumur hidup, untuk tidak berpisah denganmu selama-lamanya. Aku pernah memberi-tahu harapanku ini kepadamu bukan? Dan kau sendiri sudah meluluskan. Bukankah benar begitu?”

Bu Kie manggut-manggut. Sesudah berdiam sejenak si nona berkata lagi,

“Aku sudah menghapal Sim-hoat Kian-kun Tay-lo-ie, tetapi aku menghapalnya bukan lantaran didorong oleh niatan untuk berkhianat terhadapmu. Jika bukan karena terpaksa aku tidak akan memberi-tahu mereka.”

“Sudahlah, kau tidak usah bersedih lagi,” bisik Bu Kie. “Sekarang aku sudah mengerti semuanya.”

“Sedari kecil aku melihat kekuatiran ibu,” kata pula Siauw Ciauw. “Siang malam dia tidak pernah tenteram. Belakangan dia menyamar sebagai nenek bermuka jelek lalu mengirim aku kepada keluarga lain. Dia hanya menengok aku satu tahun sekali atau dua tahun sekali. Kongcu, kalau kau dan yang lain tidak menghadapi kebinasaan, jangankan menjadi Kauwcu, sekali pun menjadi ratu Persia aku pasti akan menolak.” dia menangis lagi dengan badan gemetar. “Siauw Ciauw!” mendadak terdengar bentakan Taykis di luar kamar. “Jika kau melakukan hal yang sama dengan perbuatan ibumu, berarti kau mengantarkan jiwanya Kongcu.”

Bagaikan dipagut ular si nona memberontak dari pelukan Bu Kie lantas melompat mundur.

“Kongcu, janganlah mengingat aku lagi,” katanya dengan suara parau. “In-kouwnio telah mengikuti ibu beberapa tahun dan dia amat mencintai kau. Dia akan menjadi isteri yang budiman.”

“Siauw Ciauw,” bisik Bu Kie. “Mari kita menerjang keluar dan membekuk satu dua Po-su-ong. Kita bisa memaksa mereka untuk mengantarkan kita ke Leng-coa-to.”

Si nona menggelengkan kepala. “Sekarang mereka sudah berjaga-jaga,” katanya. “Tubuh Cia-tayhiap dan Tio-kouwnio ditodong senjata. Apa bila kita bergerak pastilah mereka binasa.“ Seraya berkata begitu dia membuka pintu.

Di luar kamar berdiri Taykis yang punggungnya ditodong dengan dua batang pedang oleh dua orang Persia. Kedua orang itu membungkuk, tetapi pedang mereka tidak berkisar dari punggung Cie-san Liong-ong. Dengan diikuti Bu Kie, si nona berjalan keluar. Benar saja mereka melihat Cia Sun dan yang lain-lain berada di bawah ancaman senjata.

“Kongcu,” kata Siauw Ciauw. “Aku akan memberikan obat untuk mengobati luka In-kouwnio.“ Dia lalu berbicara dalam bahasa Persia dan Kong-tek-ong segera mengeluarkan sebotol obat luar yang kemudian diserahkan kepada Bu Kie. “Aku akan memerintahkan orang untuk mengantar kalian pulang ke Tiong-goan,” kata pula si nona. “Sekarang saja kata berpisahan. Kongcu, walau pun badan Siauw Ciauw berada di Persia tapi hatinya tetap bersama kau. Siang malam aku berdoa agar kau selalu sehat dan segala pekerjaan bisa berjalan lancar...“ Dia tidak dapat meneruskan kata-katanya.

“Kau berada di sarang harimau, jagalah dirimu baik-baik,” kata Bu Kie.

Si nona mengangguk lalu memerintahkan orang menyediakan perahu. Sesudah Cia Sun, In Lee, Tio Beng dan Cie Jiak turun ke perahu, Siauw Ciauw segera mengembalikan To-liong-to, Ie-thian-kiam dan enam Seng-hwee-leng kepada Bu Kie. Sambil tertawa sedih dia mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan.

Bu Kie berdiri terpaku. Dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Selang beberapa saat dengan hati seperti tersayat pisau dia melompat turun ke perahu. Kapal besar segera membunyikan terompet. Dua kendaraan air mulai bergerak memasang layar dan mulai berpisahan dengan perlahan. Sambil berdiri di kepala kapal Siauw Ciauw mengawasi perahu Bu Kie. Makin lama mereka makin jauh sampai akhirnya lenyap dari pandangan.

*********

Obat luar yang diberikan kepada In Lee ternyata tidak menolong banyak. Lukanya banyak mendingan tapi panasnya tak mau turun dan mulutnya terus mengaco karena di samping luka si nona juga menderita demam parah sebagai akibat serangan hujan dan angin. Bu Kie mulai bingung. Pada hari ketiga dia melihat pulau kecil di sebelah timur. Buru-buru dia minta pengemudi memutar haluan ke arah pulau itu. Tapi si pengemudi menolak dengan menggelengkan kepala sambil berbicara dalam bahasa Persia yang tidak dimengerti Bu Kie. Rupanya dia menolak karena diperintah untuk mengantar rombongan itu ke Tiong-goan.

Dengan gerakan tangan Bu Kie mencoba menerangkan bahwa maksudnya adalah untuk mencari daun obat guna menolong In Lee. Tapi pengemudi tetap tidak mau mengerti. Akhirnya karena jengkel Bu Kie lalu merampas kemudi dan haluan perahu segera diputar ke jurusan timur. Mereka tiba di waktu magrib. Sesudah terombang ambing di lautan selama beberapa hari, semangat mereka segera terbangun lagi setelah menginjak bumi. Luas pulau itu hanyalah beberapa li persegi, tapi karena hawanya hangat maka pohon dan rumput tumbuh dengan subur. Sesudah meminta Cie Jiak menjaga In Lee dan Tio Beng, Bu Kie segera mencari daun-daun obat. Tak mudah mencari daun obat di pulau itu. Sampai malam Bu Kie baru menemukan satu macam. Ketika dia kembali Cie Jiak sudah menyalakan api unggun. In Lee kelihatan lebih segar.

“A Gu-koko,” katanya. “Sebaiknya malam ini kita menginap di sini saja.”

Semua orang langsung menyetujui. Di pulau itu tidak terdapat binatang buas dan di antara hangatnya bara api mereka tidur dengan hati lega. Waktu fajar menyingsing Bu Kie tersadar. Tiba-tiba dia terkejut karena perahu tidak ada di tempatnya. Dia berlari di seputar pulau, perahu itu tetap tidak kelihatan. Dengan rasa bingung dia mendaki bukit kecil, namun baru beberapa langkah dia terhuyung hampir jatuh. Dia merasa kedua lututnya tidak bertenaga. Hatinya mencelos.

“Gie-hu!” teriaknya. “Apa kau baik-baik saja?”

Cia Sun tidak menjawab. Dia makin bingung. Bagaikan terbang dia menghampiri. Hatinya agak lega karena Kim-mo Say-ong sedang tidur dengan tenang. Karena ada batas-batas antara lelaki dan perempuan, Tio Beng, In Lee dan Cie Jiak tidur terpisah di balik sebuah batu besar. Waktu Bu Kie pergi ke situ, ia melihat In Lee dan Cie Jiak tidur berhadapan, tapi Tio Beng tidak kelihatan. Begitu dia mendekat matanya lantas berkunang-kunang! Muka In Lee belepotan darah dengan belasan goresan senjata tajam!

Dengan tangan gemetar ia memegang nadi si nona yang masih berdetak dengan sangat perlahan. Cie Jiak pun tidak terbebas dari serangan. Sebagian rambutnya terpapas dan sebagian kuping kirinya teriris putus. Tetapi nona Ciu sendiri masih pulas dengan bibir tersungging senyuman. Ketika itu perasaan Bu Kie sukar dilukiskan.

“Ciu-kouwnio! Ciu-kouwnio!” Dia memanggil-manggil tetapi si nona Ciu tetap mendengkur. Karena terpaksa Bu Kie lalu menggoyang pundaknya.

Cie Jiak berbangkis beberapa kali kemudian pulas lagi. Bu Kie tahu bahwa si nona kena racun, demikian pula dia sendiri karena dia merasa seluruh badannya tidak bertenaga. Cepat dia kembali ke ayah angkatnya.

“Gie-hu! Gie-hu!” teriaknya.

Kim-mo Say-ong tersadar. Perlahan dia bangkit duduk. “Ada apa?” tanyanya.

“Celaka besar, Gie-hu!” jawabnya. “Kita ditipu manusia rendah.“

Bu Kie segera memberi-tahu tentang hilangnya perahu dan terlukanya In Lee serta Cie Jiak.

Cia Sun terkejut. “Tio-kouwnio?” tanyanya.

“Entahlah, dia menghilang,” sahutnya. Dia menarik napas dalam dan coba mengerahkan tenaga. Dia merasa kaki tangannya mengambang dan Iweekang-nya tidak dapat keluar. “Gie-hu,” katanya, “Kita kena racun Sip-hiang Joan-kin-san.”

“Sungguh celaka!” Cia Sun berseru. “Cepat periksa To-liong-to dan Ie-thian-kiam.”

Bu Kie baru tersadar dan cepat dia memeriksa tempat di mana dia meletakkan To-liong-to dan Ie-thian-kiam. Benar saja, kedua senjata mustika itu tidak bisa ditemukan. Rasa marah, jengkel dan menyesal memenuhi dada Bu Kie. Dia bukan menyesal karena tercurinya golok dan pedang mustika itu. Dia amat menyesal karena tak pernah menduga bahwa pada waktu dia berada dalam kesukaran besar Tio Beng bisa mengkhianatinya. Untuk beberapa saat dia berdiri bagaikan patung. Dia amat kuatir dengan luka In Lee, maka dia lalu pergi ke belakang batu. In Lee masih pingsan, sedang Cie Jiak masih tidur.

“Iweekangku paling kuat sehingga aku tesadar paling dulu,” pikirnya. “Setelah aku barulah Gie-hu. Tenaga dalam Ciu-kouwnio masih terlampau cetek. Rasanya tidaklah mudah dia tersadar.”

Ia segera merobek tangan bajunya dan menggunakan untuk membersihkan darah dari muka nona In yang penuh dengan goresan garis malang melintang. Bu Kie tahu bahwa goresan itu dibuat dengan Ie-thian-kiam. Semenjak terluka karena timpukan Cie-san Liong-ong, In Lee telah mengeluarkan banyak darah. Sebagian besar racun laba-laba yang mengeram di tubuh si nona juga turut keluar. Karena itu sebagian besar bengkak-bengkak pada mukanya menghilang dan sebagian kecantikannya yang dahulu pulih kembali. Tetapi sekarang muka cantik itu lebih menakutkan lagi karena adanya goresan pedang. Bu Kie merasa hatinya laksana disayat pisau. Darahnya bergolak dan dia berkata sambil menggertak gigi,

“Tio Beng...! Tio Beng...! Kalau kau jatuh ke tanganku, Thio Bu Kie bukan manusia kalau tidak menggores seluruh mukamu!”

Sesudah hatinya agak tenteram dia berlari mencari daun obat, yang sesudah dikunyah lalu ditempelkan pada muka In Lee, juga pada kulit dan kuping Cie Jiak. Tiba-tiba Cie Jiak tersadar. Ketika dia membuka mata dan mengetahui bahwa Bu Kie sedang meraba-raba kepalanya, mukanya lantas berubah merah. Dia segera mendorong dengan tangannya dan bertanya,

“Kau... mengapa kau...?“ Sebelum selesai bicara mendadak dia merasa kupingnya sakit, maka dia cepat merabanya. “Ahh...!“ teriaknya sambil melompat bangun. “Mengapa begini?” Sekonyong-konyong kedua lututnya terasa lemas dan...

“Brukk!”

Dia pun jatuh dalam pelukan Bu Kie.

“Ciu-kouwnio, jangan takut,” bujuk Bu Kie.

Dengan mata terbelalak Cie Jiak mengawasi muka In Lee. Ia mengusap mukanya sendiri dan bertanya,

“Apakah aku juga?”

“Tidak,” jawab Bu Kie. “Nona hanya mendapat luka enteng.”

“Perbuatan orang Persia?” tanya pula si nona. “Mengapa aku sama sekali tidak merasa?”

Bu Kie menghela napas, “Mungkin sekali ini semua dilakukan oleh Tio-kouwnio,” katanya. “Rupanya tadi malam dia menaruh racun dalam makanan kita.”

Sesudah berdiri bengong beberapa saat, Cie Jiak meraba kupingnya yang sudah hilang sebagian dan tiba-tiba dia menangis.

“Ciu-kouwnio, beruntung sekali kau hanya terluka enteng,” bujuk Bu Kie. “Kerusakan pada kuping itu dapat ditutup dengan rambut sehingga tidak akan bisa dilihat orang.”

“Rambut? Rambutku pun hilang,” kata Cie Jiak dengan suara mendongkol.

“Yang terpapas hanya kulit ubun-ubun dan bagian itu bisa ditutup dengan rambut dari kedua pinggiran kepala,” kata pula Bu Kie. “Bahkan kalau mau nona bisa juga menggunakan rambut palsu...”

“Hm...!“ Ciu-kouwnio mengeluarkan suara di hidung. “Perlu apa aku menggunakan rambut palsu? Ahh... sampai detik ini kau masih mencoba melindungi Tio-kouwniomu.”

Disemprot begitu Bu Kie tertegun. “Aku melindungi dia...?“ katanya seperti orang linglung. “Dia sungguh jahat... Aku tak akan mengampuni dia...“ Bu Kie melihat muka In Lee yang tak keruan macam dan air matanya lantas saja mengucur.

Cia Sun dan Bu Kie benar-benar bingung. Walau pun mereka orang-orang gagah yang jarang ada tandingannya, sekarang mereka tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat.

Sesudah mengasah otak beberapa lama, Bu Kie bersila sambil mencoba menjalankan pernapasannya. Dia merasa bahwa dia sudah keracunan berat. Dia tahu bahwa Sip-hiang Joan-kin-san hanya dapat dipunahkan dengan obat pemunah dari Tio Beng. Namun demikian, pikirnya, dari pada menanti kebinasaan tanpa berusaha, ingin dia mencoba untuk melawan racun itu dengan Iweekang-nya yang sangat tinggi.

Bu Kie segera menjalankan pernapasan guna membawa dan mengumpulkan semua racun di kaki tangannya ke bagian tantian (bawah pusar). Inilah ilmu tertinggi dari Kiu-yang Sin-kang yang dinamakan Pu-tok Siauw-kouw-hoat (Ilmu pemunah segala racun). Setelah mengerahkan tenaga dalam sekitar satu jam lamanya, dia merasa bahwa sebagian Iweekang-nya pulih kembali pada kaki tangannya. Hatinya menjadi lebih lega karena dia percaya akan dapat mengusir racun itu dari tubuhnya. Tetapi karena harus menjalankan dengan Kiu-yang Sin-kang, dia tidak dapat mengajarkan ilmu itu kepada Cia Sun dan Cie Jiak. Jalan satu-satunya adalah setelah dia berhasil mengusir semua racun dari tubuhnya, dia harus membantu Cia Sun dan Cie Jiak dengan Kiu-yang Sin-kang.

Ilmu itu sederhana tapi sukar dijalankan. Sesudah berusaha tujuh hari barulah Bu Kie bisa mengusir tiga bagian racun. Harus diingat bahwa Sip-hiang Joan-kin-san adalah salah satu macam racun yang jarang terlihat di dunia. Tokoh-tokoh seperti Kong-bun Kong-tie, Wan Ciu, Biat-coat Suthay yang memiliki lweekang amat tinggi masih tidak berdaya. Bahwa dalam tujuh hari Bu Kie berhasil mengusir tiga bagian racun dan mengembalikan satu dua bagian tenaga dalamnya, di dunia tidak ada orang lain yang dapat melakukannya.

Untung sekali racun itu hanya meniadakan Iweekang namun tidak membahayakan jiwa. Semula Cie Jiak merasa sangat jengkel, tetapi setelah lewat beberapa hari dia sudah terbiasa. Ia selalu menemani Cia Sun menangkap ikan, memanah burung dan menyediakan makanan. Di waktu malam dia tidur di sebuah goa di sebelah timur pulau, terpisah jauh dari Bu Kie.

Walau pun buta Cia Sun tahu bahwa Cie Jiak mencintai anak angkatnya. Tetapi nona itu sangat menjaga tata kesopanan. Dia tak pernah mengeluarkan sepatah katapun yang bersifat guyon. Hal ini sudah mendatangkan rasa hormat di hati orang tua ini.

Bu Kie sendiri terus dirundung rasa kemalu-maluan. Ia merasa bahwa kemalangan ini gara-gara dia. Tio Beng adalah seorang puteri Mongol dan musuh Beng-kauw. Banyak tokoh rimba persilatan roboh di tangan nona ini. Tapi dia sendiri secara amat tolol sama sekali tidak berjaga-jaga. Sepatah kata pun Cia Sun dan Cie Jiak tidak pernah menyalahkannya. Tapi makin mereka bungkam semakin dia merasa jengah. Kadang-kadang matanya beradu dengan mata nona Ciu. Sorot mata si nona seolah mengatakan begini, ‘Kejadian ini terjadi akibat kau dibutakan dengan kecantikan Tio Beng’.

Racun di tubuh Bu Kie makin hari makin enteng, tapi luka In Lee kian hari kian berat. Di pulau itu ternyata tidak terdapat daun obat. Walau pun Bu Kie mempunyai banyak ilmu pengobatan yang tinggi namun dia tidak berdaya. Dia tahu pasti bahwa luka nona In bisa disembuhkan, tapi tanpa obat dia tidak bisa berbuat banyak. Kalau di pulau itu terdapat pohon besar, tentu dia sudah membuat getek untuk berlayar guna mencari pulau lain. Tapi di pulau itu hanya tumbuh pohon-pohon kecil. Jika dia tidak mengerti ilmu pengobatan masih tidak apa-apa. Tetapi sebagai ahli, siang malam hatinya seperti diiris-iris. Dia tahu bagaimana harus menolong, tetapi tidak dapat menolong.

Pada suatu malam Bu Kie mengunyah semacam daun obat yang bisa menolak panas lalu memasukkannya ke mulut In Lee. Namun sekarang si nona tidak bisa menelan lagi. Bukan main rasa dukanya sehingga air matanya bercucuran jatuh di muka In Lee. Tiba-tiba si nona membuka mata. Dia tersenyum dan berkata,

“A Gu-koko, jangan kau susah hati. Aku akan pergi ke dunia baka untuk menemui setan kecil Thio Bu Kie yang kejam dan pendek umur. Aku ingin memberi-tahu dia bahwa di dunia terdapat seorang A Gu-koko yang memperlakukan aku secara luar biasa baik, seribu kali bahkan selaksa kali lebih baik dari pada perlakuan Thio Bu Kie.”

Bu Kie menggigit bibir untuk menahan mengucurnya air mata. Sementara itu sambil memegang tangan pemuda itu erat-erat In Lee berkata lagi,

“A Gu-koko, aku selalu menolak permintaanmu untuk menikah. Apakah engkau marah? Aku rasa permintaanmu itu bukan keluar dari hati yang sejujurnya. Kurasa kau menipuku... kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Mukaku amat jelek, adatku pun aneh. Bagaimana kau bisa mencintai aku?”

“Tidak! Aku tidak menipu kau!” kata Bu Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Kau seorang gadis yang amat baik, yang berhati mulia dan penuh kasih. Aku akan merasa sangat beruntung apa bila bisa menikah dengan kau. Sesudah kau sembuh dan semua urusan kita beres, kita akan segera menikah. Apakah kau setuju?”

Dengan sorot mata berterima kasih In Lee mengusap-usap muka Bu Kie. Gadis ini menggelengkan kepalanya sambil berkata dengan suara menyesal.

“A Gu-koko, aku tidak bisa menikah dengan kau. Aku... hatiku sudah kuberikan kepada Thio Bu Kie yang kejam dan jahat... A Gu-koko, aku merasa sangat takut... Apa yang bakal kutemukan di dunia baka? Apakah dia masih akan menunjukkan kegalakannya terhadapku?”

Mendengar perkataan si nona yang tidak melantur lagi dan melihat sepasang pipinya yang bersemu dadu, hati Bu Kie langsung mencelos. “Inilah tanda-tanda sinar terakhir dari api pelita yang hampir padam,” katanya dalam hati. “Apakah piauw-moay bakal meninggal dunia hari ini juga?” Bagaikan orang linglung dia mengawasi muka saudari sepupunya. In Lee mengulangi pertanyaannya.

“Selamanya dia pasti akan memperlakukan kau dengan penuh kecintaan,” jawab Bu Kie dengan suara lemah lembut. “Dia akan menganggap kau sebagai jantung hatinya.”

“Apakah dia akan memperlakukan aku sama baiknya seperti kau?” tanya pula si nona In.

“Langit menjadi saksi,” kata Bu Kie dengan suara tetap. “Thio Bu Kie selalu mencintai kau dengan setulus hati. Dia merasa menyesal bahwa ketika kecil dia pernah memperlakukan kau secara tidak pantas. Dia... dia tiada bedanya... tidak beda dari aku sendiri.”

Si nona menghela napas dan pada bibirnya tersungging senyuman. “Kalau begitu... kalau begitu...“ katanya dengan suara berbisik, “sekarang aku.. aku tidak kuatir lagi...“

Perlahan kedua matanya tertutup dan rohnya kembali ke alam baka. Sambil menggerung Bu Kie memeluk jenazah In Lee. Dia mengutuki dirinya. Dia merasa menyesal tiada habisnya bahwa sampai menutup mata In Lee masih tidak tahu bahwa dia adalah Thio Bu Kie. Selama beberapa hari si nona berada dalam keadaan setengah sadar dan pada detik terakhir sudah tidak keburu menerangkan padanya lagi. Kesedihan Bu Kie waktu itu tidak dapat dilukiskan lagi dengan kalam (kata). Berulang kali dia mengutuk Tio Beng. Apa bila mukanya tidak digores pedang, belum tentu In Lee tidak tertolong. Kalau saja tidak ditinggalkan di pulau terpencil, begitu tiba di Tiong-goan dia akan bisa menolong saudari sepupunya ini.

“Tio Beng...! Tio Beng...!” Dia mengeluh dengan darah bergolak. “Alangkah jahatnya kau...! Kalau kau jatuh di tanganku, aku tidak akan mengampuni.”

“Hmm...!“ mendadak terdengar suara dingin di belakangnya. “Bila sudah bertemu dengan si cantik, belum tentu kau turun tangan.”

Bu Kie berpaling dan melihat Cie Jiak di belakangnya. Dia berduka tercampur malu. “Aku sudah bersumpah di hadapan jenazah piauw-moay bahwa jika aku tidak membunuh perempuan siluman itu maka Thio Bu Kie tidak ada muka untuk hidup di antara langit dan bumi,” katanya dengan suara parau.

“Kalau benar begitu barulah kau seorang lelaki yang mempunyai napas,” kata Cie Jiak seraya mendekat lalu menangis sambil memegang jenazah nona In.

Mendengar suara tangisan, Cia Sun segera datang dan dia pun amat berduka ketika tahu meninggalnya In Lee. Sesudah kenyang memeras air mata, Bu Kie lantas menggali lubang dan menguburkan In Lee. Dia mengambil sebatang pohon lalu mengulitinya dan dengan pisau milik nona In, dia mengukir perkataan seperti berikut, ‘Kuburan isteriku yang tercinta, In Lee alias Cu-jie’. Di bawahnya ia mengukir namanya sendiri. Sesudah itu ia berlutut di tanah dan menangis tersedu-sedu. Melihat kesedihan si pemuda, Cie Jiak merasa amat kasihan.

“Sudahlah,” dia membujuk. “Dia mencintai kau dan kau pun sudah memperlakukannya dengan penuh kasih. Asal kau tidak melanggar janjimu dan kau benar-benar dapat membinasakan Tio Beng untuk membalas sakit hatinya, pasti di alam baka roh adik In akan merasa terhibur.”

Pulau di mana mereka kandas berbeda dengan Peng-hwee-to atau Leng-coa-to. Di situ bukan saja tidak ada pohon buah, tetapi juga tidak terdapat binatang yang bisa dijadikan santapan. Karena itu hidup mereka sangat menderita. Untung karena merasa kasihan akan kemalangan Bu Kie, Cie Jiak sudah memperlakukannya dengan penuh kasih dan memberi bujukan yang dapat diberikan sehingga dengan begitu penderitaan si pemuda banyak berkurang.

Bu Kie mencoba untuk memulihkan tubuhnya, akan tetapi hal ini bukan pekerjaan mudah yang bisa dibereskan dalam tempo singkat. Pertama, karena di pulau itu sama sekali tidak terdapat tanaman yang dapat dijadikan bahan obat. Penyebab kedua, racun yang tadinya sudah berkumpul di tantian Bu Kie membuyar lagi. Dengan bekerja keras tujuh delapan hari barulah dia bisa mengumpulkan lagi racun yang buyar itu. Sesudah kira-kira satu bulan akhirnya semua racun baru dapat diusir pergi.

Sesudah berhasil dengan dirinya, Bu Kie lalu membantu ayah angkatnya dalam usahanya mengusir racun Sip-hiang Joan-kin-san. Setelah beres dengan Cia Sun, sesungguhnya dia harus menolong Cie Jiak. Tetapi dia tidak dapat memberikan pertolongan karena terbentur dengan tata kesopanan pada jaman itu. Dalam memberi bantuan, salah satu tangan Bu Kie harus menempel pada pinggang dan satu tangan lainnya harus menempel di perut. Mana boleh dia membantu seorang gadis remaja dengan cara begitu? Tapi itu merupakan jalan satu-satunya untuk memasukkan Kiu-yang Sin-kang ke dalam tubuh si nona. Selama beberapa hari dia tidak dapat mengambil keputusan. Pada suatu malam tiba-tiba Cia Sun bertanya,

“Bu Kie, berapa lamakah kita harus berdiam di pulau ini?”

Bu Kie terkejut, “Sukar dikatakan, Gie-hu,” jawabnya. “Kita hanya dapat berharap bahwa akan ada sebuah perahu yang lewat di pulau ini.”

“Dalam waktu satu bulan, apakah kau pernah melihat bayangan perahu?” tanya pula sang Gie-hu.

“Tidak pernah.”

“Ya...! Mungkin besok ada sebuah perahu yang lewat di sini. Tetapi mungkin juga seratus tahun lagi tak muncul bayangannya.”

“Pulau ini memang pulau terpencil dan tidak berada dalam garis perhubungan air. Harapan kita memang tidak besar.”

“Hm... obat pemunah tak akan bisa didapatkan, Bu Kie. Di samping rasa lemas pada kaki tangan, bahaya apa lagi yang dapat ditimbulkan racun ini?”

“Bila mengeramnya di tubuh hanya untuk sementara waktu, boleh dikata tidak ada bahaya lain. Tetapi kalau lama maka racun itu akan meresap ke otot dan tulang sehingga sangat membahayakan anggota di dalam badan.”

“Nah, kalau begitu mengapa kau tidak buru-buru menolong Ciu-kouwnio? Kalau orang tua Ciu-kouwnio adalah anggota agama kita, sedangkan dia sendiri seorang Ciang-bun-jin dari Go-bi-pay, di mana lagi hendak kau cari gadis yang begitu lemah lembut dan mulia hatinya? Apa kau anggap dia kurang cantik?”

Bu Kie tertegun. “Kalau Ciu-kouwnio tidak cantik, di dalam dunia tidak ada wanita cantik,” jawabnya.

Cia Sun tersenyum, “Kalau begitu aku perintahkan supaya kalian berdua segera menikah,” katanya. “Sesudah menikah kalian tidak terikat lagi segala peraturan bulukan.”

Cie Jiak yang juga berada di situ cepat berlalu dengan paras muka kemerahan. Cia Sun melompat dan menghadang di depannya. Ia tertawa dan berkata,

“Jangan kau pergi! Hari ini aku bertekad untuk menjalankan peranan comblang.”

“Cia-loyacu, mengapa kau ngawur?” kata si nona dengan sikap kemalu-maluan.

Kim-mo Say-ong tertawa terbahak. “Perangkap jodoh antara lelaki dan perempuan adalah urusan penting dalam kehidupan manusia,” katanya. “Kenapa kau justru mengatakan aku ngawur? Bu Kie, kedua orang tuamu juga menikah di pulau kecil. Kalau dulu mereka tidak menyampingkan segala tata adat istiadat bulukan, di dunia mana bisa menjelma seorang bocah seperti kau? Berbeda dengan kedua orang tuamu, hari ini aku yang menjadi ayah angkatmu akan menjalankan peran sebagai Coa-bun (orang yang menikahkan). Apa kau tidak suka Ciu-kouwnio? Apa kau tidak sudi menolong dia?”

Cie Jiak semakin jengah. Dia mencoba lari.

PERTUNANGAN DI PULAU TERPENCIL

Sambil menarik tangan si nona, Cia Sun berkata, “Ke mana engkau hendak lari? Apakah besok kita tidak bakal bertemu lagi? Aha! Aku tahu, kau tak sudi memanggil ‘Kong-kong’ kepadaku, si buta ini. Bukankan begitu?”

“Bukan! Bukan begitu!”

“Dengan lain perkataan, kau menyetujui usulku?”

“Tidak...! Tidak...!”

“Mengapa tidak? Apa kau anggap anak angkatku tidak pantas menjadi pasanganmu?”

Cie Jiak tak langsung menjawab. Sejenak kemudian sambil menatap muka Kim-mo Say-ong dia berkata dengan suara perlahan.

“Thio-kongcu memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan namanya terkenal di seluruh kalangan Kangouw. Kalau seorang wanita bisa mendapatkan dia sebagai suami, apa lagi yang masih kurang? Tapi... tapi...”

“Tapi apa?”

“Tapi... di dalam hatinya dia mencintai Tio-kouwnio. Aku tahu kenyataan ini.”

Cia Sun menggertak gigi. “Tidak bisa!” katanya. “Tak mungkin Bu Kie kelelap perempuan yang begitu jahat, yang sudah mencelakakan kita begini hebat. Bu Kie, aku ingin mendengar pernyataan dari mulutmu sendiri.”

Di depan mata Bu Kie terbayang senyuman dan cara Tio Beng yang menarik hati. Dia merasa sangat beruntung kalau bisa menikah dengan gadis yang sangat menarik hati itu. Tiba-tiba dia seolah melihat pula jenazah In Lee yang wajahnya penuh dengan goresan pedang. Darahnya meluap dan dia segera berkata,

“Tio-kouwnio adalah musuh besarku. Aku akan membunuh dia guna membalas sakit hatinya piauw-moay.”

“Ciu-kouwnio, kau dengarlah!” kata Cia Sun. “Apa kau masih tidak percaya?”

“Aku masih sangsi...“ jawabnya dengan suara pelan. “Aku masih sangsi kecuali... kecuali dia bersumpah. Kalau tidak, aku lebih suka mati dari pada ditolong olehnya.”

“Bu Kie, lekas bersumpah!” kata sang Gie-hu.

Bu Kie cepat berlutut dan berkata. “Jika aku, Thio Bu Kie, melupakan sakit hatinya piauw-moay, biarlah langit dan bumi mengutuk aku.”

“Kau harus bicara secara tegas,” kata Cie Jiak. “Apa yang akan kau perbuat terhadap Tio-kouwnio?”

Dalam hatinya Cia Sun merasa geli. Galak benar nona Ciu! Belum jadi isteri, tuntutannya sudah begitu hebat. Tetapi sebagai seorang tua, dia lantas berkata.

“Bu Kie, hayolah bicara biar tegas!”

Bu Kie mengangguk lantas berkata dengan suara nyaring. “Perempuan siluman Tio Beng bekerja untuk kaisar Tat-cu. Dia mencelakai rakyat, membunuh pendekar-pendekar rimba persilatan, mencari golok mustika Gie-hu dan membinasakan In Lee piauw-moay. Selama dia masih bernapas, Thio Bu Kie tidak akan melupakan sakit hati ini. Jika aku melanggar sumpah ini, biarlah langit mengutuk aku, bumi mengutuk aku.”

Cie Jiak tertawa. “Aku hanya kuatir, kalau tiba waktunya kau akan menaruh belas kasihan terhadapnya,” katanya.

“Sekarang sudah beres,” kata Cia Sun. “Kita orang kalangan kangouw selamanya tidak banyak rewel. Menurut pendapatku sebaiknya hari ini kalian berdua segera menikah supaya racun Sip-hiang Joan-kin-san bisa terusir secepat mungkin.”

“Tidak!” bantah Bu Kie. “Gie-hu, Cie Jiak, dengarlah dulu perkataanku. In-kouwnio sangat mencintai aku. Semenjak masih kecil dia menganggap aku suaminya dan aku pun menganggap dia sebagai isteri. Sekarang jenazahnya saja masih belum dingin, mana aku tega untuk segera menikah?”

Sesudah berpikir sejenak Cia Sun berkata, “Benar juga. Tapi bagaimana keinginanmu?”

“Menurut pikiran anak, hari ini anak akan mengikat tali pertunangan dengan Ciu-kouwnio sehingga anak bisa segera membantunya dalam mengusir racun Sip-hiang Joan-kin-san,” jawabnya. “Jika dengan berkah langit kita bisa pulang ke Tiong-goan, sesudah membunuh Tio Beng dan memulangkan To-liong-to kepada Gie-hu barulah anak akan melangsungkan upacara pernikahan. Dengan begini segalanya akan dapat diselesaikan secara baik.”

“Baik, memang baik sekali,” kata Cia Sun. “Tetapi bagaimana kalau sampai sepuluh atau dua puluh tahun kita masih belum bisa pulang ke Tiong-goan?”

“Dalam batas waktu tiga tahun, tidak peduli kita bisa pulang ke Tiong-goan atau tidak, Gie-hu boleh menikahkan kami,” jawabnya.

Kim-mo Say-ong mengangguk. “Ciu-kouwnio, bagaimana pendapatmu?” tanyanya.

Cie Jiak menundukkan kepala. Selang beberapa saat barulah dia menyahut. “Aku hanya seorang perempuan sebatang kara. Aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan aku menyerahkan segalanya kepada Loyacu.”

Cia Sun tertawa terbahak. “Bagus! Bagus!” katanya. “Kita bertiga menetapkan janji itu. Sekarang kalian sudah menjadi tunangan dan tidak usah malu-malu lagi. Bu Kie, lekas bantu tunanganmu!” Sehabis berkata begitu dia berlalu dengan tindakan lebar.

Sesudah ayah angkatnya pergi, Bu Kie berkata dengan suara perlahan. “Cie Jiak, apakah kau bisa mengerti perasaan hatiku yang penuh kesengsaraan?”

Si nona tersenyum, “Karena mukaku tidak cantik maka kau telah mengajukan bermacam-macam alasan,” katanya. “Andai kata aku adalah Tio-kouwnio, mungkin sekarang juga...“ Dia tidak meneruskan perkataannya dan berpaling ke jurusan lain.

Dengan jantung berdetak keras Bu Kie berkata dalam hati, “Waktu terombang-ambing di tengah lautan aku pernah melamun mengambil empat isteri sekaligus. Akan tetapi di dalam hati kecilku, orang yang benar-benar kucinta adalah si perempuan siluman yang jahat itu. Hai...! Sia-sia saja aku dinamakan orang gagah... Aku masih belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.”

Pada waktu Cie Jiak menengok lagi, dia melihat tunangannya sedang termenung. Tanpa mengatakan apapun, ia segera berjalan pergi. Bu Kie cepat menarik tangan si nona. Di luar dugaan, karena Iweekang-nya musnah, begitu ditarik nona Ciu lantas terhuyung dan jatuh dalam pelukan Bu Kie.

“Apakah seumur hidup aku harus selalu kau hina?” tanya Cie Jiak dengan suara dongkol.

Cie Jiak cantik. Dia cantik selagi tertawa dan cantik pula selagi marah. Sambil terus memeluk Bu Kie berkata dengan suara lemah lembut.

“Cie Jiak, kita pertama bertemu di sungai Han-su. Waktu itu aku sudah mencintai kau. Sungguh di luar dugaan bahwa hari ini apa yang kubayangkan terwujud. Waktu aku sedang bertempur melawan empat tetua Kun-lun dan Hoa-san-pay di Kong-beng-teng, engkau telah memberi petunjuk padaku dan menolong jiwaku. Untuk pertolongan itu, sekarang aku menghaturkan banyak terima kasih.”

Si nona membiarkan dirinya dipeluk. “Hari itu aku menikam kau, apa kau tidak membenci aku?” bisiknya.

“Tidak,” jawabnya “Kau tidak menikam terus. Detik itu juga aku tahu bahwa sesungguhnya kau mencintai aku.”

Muka Cie Jiak langsung berubah merah. “Fui! Kalau aku tahu bakal terjadi peristiwa yang sudah terjadi, hari itu aku menikam jantungmu supaya aku tidak kau hina terus menerus,” katanya.

Bu Kie tertawa, “Aku sangat mencintaimu, mana boleh aku menghina kau?” katanya.

Untuk beberapa saat kedua orang muda yang sedang menikmati kebahagian itu tidak berkata-kata. Sambil bersandar di dada Bu Kie yang bidang akhirnya nona Ciu memecahkan kesunyian.

“Bu Kie koko,” katanya. “Jika aku berbuat kesalahan padamu, jika aku berdosa padamu, apakah kau akan mencaciku, memukulku, membunuhku?”

Bu Kie mencium leher si nona. “Wanita yang semulia kau tidak mungkin berdosa,” jawab si pemuda.

“Sekali pun nabi bisa saja membuat kesalahan. Sebagai manusia biasa aku pasti tak akan terbebas dari segala kekhilafan.”

“Kalau benar begitu, aku tidak akan marah. Aku hanya akan membujuk kau supaya insyaf akan kekeliruan.”

“Apakah kau takkan berubah pikiran terhadapku? Apakah kau takkan membunuh aku?”

“Cie Jiak, sudahlah! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Mana bisa terjadi kejadian itu?”

“Tapi bagaimana kalau benar-benar terjadi?”

“Baiklah!” kata Bu Kie sambil tertawa. “Aku berjanji tidak akan berubah pikiran, tidak akan membunuh kau.”

Cie Jiak mengawasi wajah Bu Kie. “Aku tak mau kau memberi janji sambil tertawa-tawa,” katanya. “Aku menuntut kau bersungguh-sungguh.”

“Eh-eh...! Ada apa yang masuk ke dalam otakmu?” tanya Bu Kie sambil tertawa geli. Tapi di dalam hati dia berkata, “Dasar aku yang salah. Rupanya dia masih kuatir karena sikapku yang penuh kecintaan terhadap Tio Beng, Siauw Ciauw dan Piauw-moay.“ Berpikir demikian dia lantas berkata dengan sungguh-sungguh. “Cie Jiak, kau adalah isteriku. Kalau dulu hatiku banyak bercabang, sekarang lain keadaannya. Aku berjanji bahwa mulai detik ini aku takkan berubah pikiran terhadapmu. Andai kata kau bersalah, andai kata kau berdosa, aku bahkan takkan mencaci kau.”

Si nona menghela napas. “Bu Kie koko,” katanya. “Kau lelaki sejati. Kuharap di hari kemudian tak akan melupakan kata-katamu yang dikeluarkan malam ini.“ Ia menuding bulan sisir yang baru muncul. “Bu Kie koko, sang rembulan menjadi saksi kita berdua.”

“Benar,” kata Bu Kie, “Kau benar. Sang rembulan menjadi saksi.“ Sambil mengawasi dewi malam dia berkata lagi. “Cie Jiak, selama hidup sering sekali aku dihina orang. Karena terlampau percaya manusia, sering sekali aku menderita. Entah berapa kali aku tak ingat lagi. Hanya ketika berada di Peng-hwee-to bersama ayah, ibu dan Gie-hu, aku bebas dari segala kelicikan manusia rendah. Waktu aku baru tiba di Tiong-goan, seorang pengemis yang sedang bermain-main dengan seekor ular menipu aku. Dia membujuk supaya aku melongok ke dalam karungnya untuk melihat ular, lalu tiba-tiba dia menangkapku dengan karung itu. Tapi lihatlah sekarang. Kita datang di pulau ini sama-sama menderita. Siapa nyana pada malam pertama Tio-kouwnio telah menaruh racun dalam makanan lalu kabur dengan perahu yang hanya satu-satunya.”

Si nona tersenyum. “Sudahlah,” katanya, “Menyesal pun tiada gunanya.”

Tiba-tiba gelombang bahagia bergemuruh di dada Bu Kie. “Cie Jiak,” bisiknya. “Kau manusia yang berada paling dekat denganku. Kau selalu memperlakukan aku dengan penuh kecintaan. Di hari kemudian, sesudah kita pulang ke Tiong-goan, kau dapat membantu aku berjaga-jaga terhadap manusia rendah. Dengan bantuanmu maka aku boleh tak usah mengalami lebih banyak penderitaan lagi.”

Si nona menggelengkan kepala. “Aku seorang yang tak punya guna,” katanya. “Aku kalah jauh dari Tio-kouwnio, bahkan masih kalah dari Siauw Ciauw Kouwnio. Apa kau tahu bahwa isterimu ini seorang bodoh?”

Demikianlah, sambil duduk di pinggir pantai kedua tunangan ini beromong kosong sampai larut malam.

Keesokan harinya Bu Kie mulai membantu Cie Jiak dengan Kiu-yang Sin-kang. Dia merasa gembira bahwa tunangannya segera mendapat kemajuan. Mungkin sekali, karena tidak banyak makan Cie Jiak hanya menelan sedikit racun.

Namun di luar dugaan pada hari ke tujuh di dalam tubuh si nona muncul semacam hawa yang sangat dingin, yang melawan hawa Kiu-yang Sin-kang. Dengan seluruh tenaganya Cie Jiak mencoba menekan hawa dingin itu, tetapi Bu Kie tetap tidak dapat memasukkan Kiu-yang Sin-kang ke dalam badannya. Bu Kie kaget dan segera menanyakan pendapat ayah angkatnya. Sesudah berpikir beberapa saat Cia Sun berkata,

“Aku pun tidak mengerti. Mungkin karena pemimpin Go-bi-pay adalah seorang wanita maka tenaga dalamnya bersifat Im-jiu (dingin lembek).”

Bu Kie manggut-manggut. Untung lweekang Cie Jiak berada di bawah Bu Kie. Maka dalam memasukkan sinkang ke tubuh si nona, pemuda itu bisa menindih hawa yang amat dingin itu. Tetapi dengan demikian dia harus mengeluarkan lebih banyak tenaga dari pada waktu membantu ayah angkatnya. Dia merasa bahwa Im-kim (tenaga dingin) dari tunangannya memang belum kuat. Tetapi sebagai ahli dia tahu bahwa di hari kemudian, kalau Cie Jiak sudah mencapai tingkat yang tinggi, dia akan memperoleh Iweekang yang dahsyat luar biasa. Tanpa terasa dia memuji,

“Cie Jiak, gurumu, Biat-coat Suthay, seorang tokoh jarang tandingan. Dia sudah mewariskan lweekang yang sangat tinggi kepadamu. Apa bila kau terus berlatih menurut ajarannya, di kemudian hari tenaga dalammu akan setingkat dengan Kiu-yang Sin-kang yang kumiliki.”

“Mana mungkin!” kata si nona sambil tertawa. “Mana bisa ilmu Go-bi-pay menyamai Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie milik Toa-kauwcu (Kauwcu besar)?”

“Cie Jiak, aku tidak bicara main-main,” kata Bu Kie dengan paras sungguh-sungguh. “Bakat yang kau miliki sangat baik. Mungkin sekali dalam jurus-jurus ilmu silat kau tidak bisa memahami telalu banyak, akan tetapi dalam lweekang kau sudah mempunya dasar yang sangat baik. Thay-suhu sering mengatakan bahwa pada tingkat tertinggi ilmu silat yang berhubungan erat dengan sifat-sifat seorang manusia yang mempelajarinya, orang yang berotak cerdas belum tentu dapat naik sampai pada puncak tertinggi.

Sepanjang cerita, ayah Kwee-lihiap pendiri Go-bi-pay, yaitu Kwee-tayhiap adalah orang yang berotak tumpul. Tapi sejak dulu sampai sekarang ilmu silat yang dimiliki Kwee-tayhiap mungkin belum ada tandingannya. Thay-suhu mengatakan bahwa ia sendiri belum bisa menyamai Iweekang Kwee-tayhiap. Cie Jiak, aku tidak main-main. Pelajaran Iweekang Go-bi-pay agaknya masih lebih tinggi dari pada Bu-tong-pay. Menurut penglihatanku, di hari kemudian kalau kau sudah berhasil, kau bisa berada di sebelah atas gurumu sendiri.”

Cie Jiak mengawasi tunangannya. “Ahh! Kau hanya ingin mengambil hatiku,” kata si nona seraya tersenyum. “Aku sudah merasa puas bila aku bisa memperoleh sepersepuluh dari kepandaian Siansu. Aku akan segera berterima kasih bila mana kau telah mengajarku ilmu Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie.”

Bu Kie tidak menjawab. Dia megerutkan alisnya. Si nona tertawa, “Apakah aku belum cukup berderajat untuk menjadi murid Toa-kauwcu?” tanyanya.

“Bukan begitu! Aku merasa bahwa lweekang-mu berbeda dengan lweekang-ku. Bukan saja berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Kalau aku mengajar kau akan menghadapi keadaan yang amat sukar dan sangat berbahaya. Jadi bukan aku tidak sudi.”

“Sudahlah jika kau tidak sudi mengajar! Perlu apa rewel? Dalam belajar ilmu silat, paling banyak tidak berhasil. Mana bisa jadi berbahaya?”

“Kau salah! Kau salah mengerti. Kiu-yang Sin-kang adalah lweekang bersifat Yang-kang (panas keras), sedangkan lweekang Go-bi-pay bersifat Im-jiu (dingin lembek). Kalau kau melatih diri dalam ilmu Kiu-yang Sin-kang, maka Im dan Yang akan bercampur jadi satu. Hanya orang yang mempunyai kepandaian amat tinggi, misalnya Thay-suhu, yang bisa menyatukan ‘air’ dengan ‘api’, mencampur ‘keras’ dengan ‘lembek’. Salah sedikit saja ilmu itu akan membakar orang yang berlatih, seperti golok makan tuan. Hmm... Cie Jiak, nanti mana kala Iweekang-mu sudah mencapai tingkat yang tinggi, kau boleh mempelajari Sim-hoat dari Kian-kun Tay-lo-ie.”

Si nona tertawa geli, “Tadi aku hanya bercanda,” katanya. “Mulai sekarang aku tidak akan berpisah lagi dengan kau sehingga tidak ada perbedaan apakah itu ilmu silatku atau ilmu silatmu. Aku manusia malas. Kiu-yang Sin-kang bukan ilmu yang gampang. Maka itu biar pun dipaksa belum tentu aku mau mempelajarinya.“

Mendengar kata yang manis itu, Bu Kie merasa girang sekali. Dalam suasana bahagia, tanpa terasa mereka telah berdiam di pulau itu selama beberapa bulan. Cie Jiak merasa seluruh tenaganya sudah pulih kembali. Mungkin sekali segenap racun sudah terusir dari dalam tubuhnya.

Sesudah musim dingin lewat, datanglah musim semi yang indah. Pada suatu hari Bu Kie memetik beberapa ranting tho yang penuh bunga dari sebelah timur pulau. Dengan rasa terharu dia menancapkan ranting di depan kuburan In Lee. Dia ingat bahwa saudari sepupunya bernasib malang. Mungkin sekali sehari pun nona ini belum pernah mencicipi rasa beruntung. Dia berdiri terpaku, kemudian di depan matanya terbayang kejadian masa lampau.

Mendadak ia disadarkan oleh suara burung laut. Ia menengadah dan tiba-tiba ia melihat layar di tempat kejauhan dan kendaraan air itu sedang menghampiri ke arah pulau. Itu kejadian yang tak pernah diduga-duga. Hatinya meluap dengan kegirangan. Ia melompat dan berteriak sambil berlari-lari.

“Gie-hu! Cie Jiak! Kapal! Ada kapal!”

Cia Sun dan Cie Jiak lantas menghampiri.

“Bu Kie koko,” kata si nona dengan suara gemetar, “Bagaimana bisa ada kapal datang ke sini?”

“Aku pun tidak mengerti,” jawabnya. “Apakah itu kapal bajak?”

Setengah jam kemudian kapal layar itu melemparkan jangkar di pinggir pulau. Sebuah perahu kecil menghampiri pulau. Cia Sun bertiga berdiri di pesisir untuk menyambut. Segera mereka mendapat kenyataan bahwa orang-orang di perahu itu semuanya mengenakan seragam angkatan laut Mongol.

Jantung Bu Kie bergetar keras. “Apakah Tio-kouwnio berubah pikiran lalu datang lagi ke sini?” tanyanya di dalam hati. Dia melirik Cie Jiak yang ternyata sedang mengerutkan alis. Rupanya tunangan itu pun mempunyai dugaan yang sama. Tidak lama kemudian perahu itu menepi. Lima orang anak buah mendarat. Pemimpinnya, seorang perwira, segera menghampiri Bu Kie dan bertanya sambil membungkuk,

“Apakah tuan adalah Thio Bu Kie, Thio-kongcu?”

“Benar,” jawab Bu Kie. “Siapakah tuan?”

Mendengar jawaban itu dia terlihat girang sekali, “Nama Siauw-jin yang rendah, Pas Tai,” sahutnya. “Siauw-jin merasa sangat beruntung bahwa hari ini kami bisa menemukan Thio-kongcu. Siauw-jin menerima perintah untuk menyambut Thio-kongcu bersama Cia-tayhiap pulang ke Tiong-goan.” Dia tidak menyebut nama Cie Jiak.

Bu Kie menyoja, “Dari tempat jauh tuan datang ke sini dan kami merasa sangat berterima kasih,” katanya. “Tapi apa aku boleh tahu, siapa yang memerintahkan tuan?”

“Siauw-jin bawahan Tee-tok angkatan laut, Taiwa Che-lu yang menjaga di propinsi Hiok-kian,” jawabnya. “Atas perintah Pol-tua Ciangkun (jendral), Siauw-jin datang ke sini untuk menyambut Kongcu dan Cia-tayhiap. Pol-tua Ciangkun mengirimkan delapan buah kapal yang mencoba mencari kalian sepanjang perairan propinsi Hok-kian, Ciat-kang dan Kwi-tang. Atas berkat Thian, Siauw-jinlah yang mendapat pahala ini.“

Dari keterangan itu dapatlah ditarik kesimpulan bahwa orang yang berhasil mencari Bu Kie akan mendapat hadiah besar. Bu Kie belum pernah mendengar nama pembesar Mongol itu dan dia tahu bahwa semua perintah dikeluarkan atas titah Beng Beng Kuncu.

“Apa kau tahu, mengapa kau diperintah untuk menyambut kami?” tanyanya.

“Pol-tua Ciangkun berpesan bahwa Thio-kongcu adalah seorang bangsawan berkedudukan tinggi, juga seorang gagah kenamaan,” jawabnya. “Beliau berpesan bahwa andai kata Siauw-jin berhasil menemukan Kongcu maka Siauw-jin harus melayani sebaik mungkin. Tentang kenapa Siauw-jin diperintah menyambut kongcu, sebagai seorang yang berpangkat rendah Siauw-jin sendiri tidak mengetahui.”

“Apa ini maunya Beng Beng Kuncu?” sela Cie Jiak.

Pas Tai kelihatan terkejut, “Beng Beng Kuncu?” Dia menegas. “Siauw-jin tak punya peruntungan begitu besar untuk menemui beliau.”

“Apa artinya perkataan ‘peruntungan’ itu?” tanya pula si nona.

“Beng Beng Kuncu adalah wanita Mongol yang paling cantik,” sahutnya. “Tidak...! Bukan itu saja. Beliau adalah wanita tercantik di seluruh dunia, seorang yang bun-bu-coan-cay (paham ilmu surat dan ilmu perang). Beliau puteri tercinta Jie Lam Ong Ong-ya. Siauw-jin belum punya peruntungan untuk melihat muka emasnya.”

Cie Jiak mengeluarkan suara di hidung, tetapi dia tidak bertanya lagi.

“Gie-hu, apakah kita boleh ikut mereka?” tanya Bu Kie.

“Sesudah mengambil barang kita di sana, kita segera naik kapal,” jawabnya. “Tuan tunggu saja di sini.”

“Biar Siauw-jin dan anak buah kami yang mengangkut perbekalan kalian,” kata Pas Tai.

Cia Sun tertawa, “Perbekalan apa? Beberapa potong barang kita tidak dapat dinamakan perbekalan. Kami tidak berani menerima tawaran tuan,” katanya.

Seraya berkata begitu ia berlalu sambil menuntun tangan Bu Kie dan Cie Jiak. Setibanya di belakang gunung, ia berhenti dan berkata,

“Secara mendadak Tio Beng mengirim kapal. Di balik tindakan ini pasti bersembunyi tipu keji. Bagaimana kita harus menghadapinya?”

“Gie-hu, apa kau rasa... Tio Beng... berada di kapal itu?” tanya Bu Kie.

“Entahlah,” jawabnya. “Sungguh bagus jika perempuan siluman itu berada di kapal. Kita hanya harus berhati-hati dalam makanan.”

Cia Sun manggutkan kepalanya. “Menurut taksiranku, Tio Beng tidak ikut serta,” katanya. “Menurutku dia ingin mencontoh tindakan orang Persia. Memancing kita ke kapal dan sesudah di tengah lautan, pasukan laut Mongol akan mengurung lantas menenggelamkan kapal yang ditumpangi kita.”

Bu Kie mengeluarkan keringat dingin. “Tapi... apakah benar dia begitu busuk?” tanyanya dengan suara agak gemetar. “Dia telah meninggalkan kita di pulau ini yang akan menjadi kuburan kita. Apakah itu masih belum cukup baginya? Pada hakekatnya kita bertiga belum pernah berdosa besar terhadapnya.”

Cia Sun tertawa dingin, “Kau sudah melepaskan anggota enam partai dari Ban-hoat-si,” katanya. “Apa kau kira ia tidak sakit hati? Bagi perempuan siluman itu, meninggalkan kita di pulau ini memang tidak cukup karena kita masih bisa pulang ke Tiong-goan. Hilangnya engkau sudah pasti akan menggemparkan semua anggota Beng-kauw. Mereka akan berusaha mencarimu. Dalam usaha ini mungkin sekali mereka akan mencari hingga di sini. Maka itu, jalan yang paling baik bagi si perempuan siluman adalah membinasakan kita dengan mengirim ke dasar laut.”

“Tetapi Gie-hu,” kata si anak dengan suara sangsi, “Kalau mereka menenggelamkan kapal yang kita tumpangi dengan tembakan meriam, bukankah Pas Tai serta anak buah kapal lainnya bakal turut binasa juga?”

Cia Sun tertawa terbahak. Sesudah itu dia pun menghela napas berulang. “Anak Bu Kie! Pikiranmu terlampau sederhana,” katanya. “Apa kau rasa orang-orang semacam dia mau menghiraukan matinya beberapa manusia? Kalau kaisar Mongol lembek seperti kau, mana bisa dia menyapu musuhnya?”

Bu Kie tertegun. Selang beberapa saat barulah dia berkata dengan suara perlahan. “Gie-hu, kau benar.”

“Gie-hu, apakah yang harus kita perbuat?” tanya Cie Jiak.

“Bagaimana pikiranmu. Apa kau mempunyai daya yang baik?” Cia Sun balas bertanya.

“Kalau begitu kita jangan mengikuti mereka. Katakan saja bahwa kita berubah pikiran dan sekarang tidak mau pulang ke Tiong-goan.”

“Ha-ha-ha-ha! Pikiran itu adalah pikiran tolol dari seorang gadis yang tolol. Kalau kita menolak, apa mereka mau mengerti? Andai kata kita membinasakan semua anak buah kapal itu, si perempuan siluman masih bisa mengirim kapal lain. Di samping itu, di Tiong-goan masih banyak urusan yang harus diurus oleh Bu Kie. Dia tidak boleh mati konyol di sini.”

Paras si nona lantas saja berubah merah. “Benar,” katanya dengan perlahan. “Sebaiknya kita menyerahkan saja segalanya kepada Gie-hu.”

Cia Sun manggutkan kepalanya. Sesudah mengasah otak beberapa lama dia lalu bicara bisik-bisik di kuping kedua orang muda itu yang lantas mengangguk dengan paras muka girang. Mereka lalu mengangkut semua bahan makanan ke perahu kecil dan sesudah itu Bu Kie menengok kuburan In Lee untuk terakhir kali dan berpamitan sambil mengucurkan air mata.

Setibanya di kapal Bu Kie lalu memeriksa seluruh kapal. Benar saja Tio Beng tidak berada di situ. Ia pun mendapat kenyataan bahwa di antara anak buah tidak terdapat orang yang berkepandaian tinggi. Mereka semuanya pelaut-pelaut biasa dari angkatan perang Mongol.

Sesudah mengangkat jangkar dan menaikkan layar, kapal itu mulai berlayar. Baru berlayar beberapa puluh tombak Bu Kie langsung bertindak dengan cepat sesuai dengan siasat yang ditetapkan Cia Sun. Dengan kecepatan kilat tangan kirinya mencekal tangan perwira itu sementara tangan kanannya mencabut golok perwira itu yang lalu ditodong lehernya.

“Dengarkan perintahku!” bentaknya. “Suruh juru mudi menjalankan kapal ke arah timur!”

Pas Tai terkejut bercampur takut. “Thio... Thio-kongcu...“ katanya dengan suara gemetar, “Siauw-jin...Siauw-jin...”

“Turuti perintahku!” bentak pula Bu Kie. “Bila kau tidak menurut, akan kubacok batok kepalamu!”

“Baik... baik...“ jawabnya.

Haluan kapal segera diputar ke timur. Sesudah itu Bu Kie berteriak dengan suara nyaring.

“Kalian semua dengarlah! Aku sudah tahu bahwa kalian ingin mencelakai kami. Jadi lebih baik kalian mengaku saja. Jika kalian berdusta, akan kucabut jiwa kalian semua!” Seraya berkata begitu dia menepuk pinggiran kapal dengan telapak tangan.

Potongan-potongan kayu langsung beterbangan dan bagian-bagian yang ditepuk menjadi somplak. Melihat itu, semua anak buah menjadi ketakutan setengah mati.

“Thio-kongcu, kau bersabarlah dahulu,“ kata Pas Tai meringis. “Dengan sebenar-benarnya, Siauw-jin hanya menerima perintah dari atasan untuk mencari Kongcu dan Cia-tayhiap kemudian mengajak kalian pulang ke Tiong-goan. Siauw-jin hanya berharap bahwa sesudah menunaikan tugas, Siauw-jin akan mendapat sedikit hadiah. Ini pengakuan yang setulus-tulusnya. Kami semua tidak mempunyai niat jahat.”

Mendengar nada suara yang bersungguh-sungguh, Bu Kie yakin sekali bahwa dia tidak berdusta. Dia segera melepaskan cekalannya kemudian berjalan ke kepala kapal. Kedua tangannya menjumput dua buah sauh yang terbuat dari besi.

“Hei! Lihatlah!” serunya. Dengan sekali menggerakkan tangan, kedua sauh yang beratnya beberapa ratus kati lantas terbang ke atas.

“Aduh...!” semua anak buah kapal mengeluarkan suara tertahan.

Waktu kedua sauh itu jatuh, Bu Kie mendorongnya menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie sehingga terbang lagi ke atas. Sesudah mengulangi pertunjukkan itu tiga kali beruntun, barulah dia menyambutnya kemudian menaruhnya di kepala kapal. Sebagai bangsa yang sudah menaklukkan banyak negeri dengan mengandalkan kegagahan, bangsa Mongol sangat mengagumi kegagahan. Melihat kepandaian Bu Kie, tanpa terasa mereka menjadi kagum sekali.

“Kegagahan Thio-kongcu bagaikan malaikat,” kata Pas Tai. “Hari ini mata Siauw-jin mendapat kehormatan melihat sesuatu yang luar biasa.”

Demikianlah, dengan memperlihatkan kepandaiannya akhirnya Bu Kie dapat menaklukkan anak buah kapal.

PERTEMUAN KAY-PANG

Kapal terus menuju ke arah timur dan masuk ke samudera. Selama tiga hari Bu Kie tidak melihat apa pun selain air yang menyambung dengan langit. Menurut perhitungan Cia Sun kapal-kapal meriam yang dikirim Tio Beng hanya berkeliaran di sepanjang pantai Hok-kian dan Kwi-tang. Sekarang kapal yang ditumpanginya sudah berada di samudera dan takkan bertemu dengan kapal-kapal itu. Maka pada hari kelima dia lalu memerintahkan supaya kapal memutar haluan lagi dan berlayar menuju ke utara.

Berselang dua puluh hari lebih mereka masuk di wilayah Pak-hay (Lautan Utara). Cia Sun tersenyum sendirian. Walau pun pintar namun Tio Beng tidak akan bisa menebak di mana adanya kapal ini. Dari Pak-hay juru mudi diperintah lagi memutar haluan ke arah barat dengan tujuan Tiong-goan. Selama kurang lebih satu bulan, Cia Sun bertiga hanya menyantap makanan yang dibawa mereka atau ikan yang ditangkap dari lautan. Mereka tidak berani menelan makanan dari kapal.

Pada suatu lohor mereka melihat bayangan daratan. Sesudah begitu lama berada di lautan, tentara Mongol menjadi girang dan mereka pun bersorak sorai. Di waktu magrib kapal sudah berlabuh di pinggir pantai. Daerah pantai memang satu-satunya daerah yang berupa gunung dan airnya dalam sehingga kapal dapat menepi sampai menempel dengan daratan.

“Bu Kie,” kata Cia Sun, “Coba kau selidiki di mana kita sekarang berada.“

Bu Kie mengiyakan dan lantas melompat ke daratan. Apa yang ditemui Bu Kie hanyalah hutan. Salju baru saja mencair dan jalanan amat licin. Makin jauh dia maju, semakin besar pohon-pohon yang ditemuinya. Dia memanjat sebuah pohon yang tinggi lantas memandang ke sekitarnya. Ternyata dia berada di tengah hutan yang sangat luas. Sedikit pun tidak terdapat tanda-tanda bahwa di hutan itu ada musuhnya.

Bu Kie segera turun dari pohon dan kembali ke kapal guna berunding dengan ayah angkatnya. Sebelum tiba di kapal, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang menyayat hati. Dia terkesiap dan segera berlari menggunakan ilmu meringankan badan. Setibanya di kapal Bu Kie melihat mayat-mayat menggeletak di kapal, di antaranya mayat Pas Tai sendiri. Dia merasa girang melihat ayah angkatnya dan tunangannya tidak kurang suatu apapun. Mereka sedang berdiri dengan tenang di kepala kapal dan di situ tidak terdapat manusia lain.

“Gie-hu! Cie Jiak!” serunya. “Ke mana perginya musuh?”

“Musuh apa?” Cia Sun balas bertanya.

“Apa kau bertemu dengan musuh?”

“Tidak. Tapi tentara Mongol ini...”

“Dibunuh olehku dan Cie Jiak!”

Bu Kie terkesiap, “Tidak disangka begitu tiba di Tiong-goan, mereka mencoba mencelakai kita,” katanya.

“Tidak, mereka tidak mencoba mencelakai kita. Memang aku sengaja membunuh mereka untuk menutup mulut. Sesudah mereka mati, Tio Beng tak akan tahu bahwa kita sudah kembali ke Tiong-goan. Mulai sekarang dia berada di tempat terang sedangkan kita di tempat gelap sehingga usaha membalas sakit hati akan lebih gampang tercapai.”

Bu Kie tertegun. Dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun melainkan hanya menatap wajah ayah angkatnya dengan mata terbelalak.

“Apa? Kau anggap aku terlampau kejam?” tanya Cia Sun. “Tentara Tat-cu adalah musuh-musuh kita. Apakah kau ingin memperlakukan mereka dengan menggunakan hati Po-sat (balas kasih)?”

Bu Kie membungkam terus. Di dalam hati dia berduka. Orang-orang itu tidak berdosa dan sikap mereka sangat baik. Biar pun musuh tetapi dia merasa tidak tega untuk membunuh mereka. Meski pun buta tapi Cia Sun bisa menduga apa yang dirasakan anak angkatnya.

“Bu Kie, kau harus bisa mengeraskan hati. Jika kita tidak turun tangan lebih dulu terhadap musuh, maka kitalah yang akan menjadi korban. Tio Beng sangat jahat. Terhadap manusia begitu, kita harus menghadapinya dengan tindakan yang tegas, tanpa sungkan-sungkan lagi.”

Bu Kie tidak berani membantah perkataan ayah angkatnya. Dia mengangguk dan berkata dengan suara parau,

“Gie-hu benar.”

“Bu Kie, bakarlah kapal ini,” perintah Cia Sun. “Cie Jiak, geledah saku-saku semua mayat. Ambil semua barang yang berharga, juga ambil tiga senjata yang paling baik untuk kita.”

Perintah itu segera saja dijalankan. Semua mayat terbakar bersama kapal yang kemudian tenggelam di laut. Dengan demikian kembalinya Cia Sun bertiga tidak meninggalkan tanda apa pun. Diam-diam Bu Kie merasa kagum terhadap ayah angkatnya. Biar pun kejam tetapi ayah angkatnya adalah seorang Kangouw yang amat berpengalaman.

Malam itu mereka tidur di pinggir laut dan pada keesokan paginya meneruskan perjalanan ke selatan. Pada hari kedua, setelah melintasi hutan mereka bertemu dengan tujuh orang yang mencari obat-obatan sejenis ‘som’. Kiranya sekarang mereka berada di daerah yang berdekatan dengan gunung Tiang-pek-san. Sesudah berpisah dengan ketujuh orang itu, Cie Jiak bertanya,

“Gie-hu, apa kita tak perlu membunuh orang-orang itu?”

“Cie Jiak, tutup mulutmu!” bentak Bu Kie, “Mereka tidak tahu siapa kita. Apa kau hendak membunuh semua manusia yang kita temui?”

Paras muka si nona berubah merah. Sejak bertemu belum pernah Bu Kie mengeluarkan kata-kata begitu keras terhadapnya.

“Kalau mengikuti kata hatiku, aku memang ingin membunuh mereka,” kata Cia Sun, “Tapi Kauwcu kita tidak mau membunuh lebih banyak manusia. Sekarang kita harus menukar pakaian dan menyamar.”

Sesudah berjalan dua hari, bertemu rumah petani. Bu Kie mengeluarkan perak dan minta beli pakaian. Tapi petani itu sangat miskin sehingga hanya mempunyai selembar baju kulit kambing yang dapat dijual. Sesudah mereka mengunjungi kira-kira tujuh delapan rumah, barulah Bu Kie berhasil membeli tiga perangkat pakaian tua yang kusam.

Cie Jiak yang biasa dengan kebersihan hampir muntah waktu mencium bau tak enak dari pakaian itu. Tapi Cia Sun merasa girang. Setelah mengenakan pakaian-pakaian itu dan memoles muka mereka dengan lumpur, mereka nampak seperti pengemis Liong-tong. Bu Kie yakin biar pun berhadapan, Tio Beng tak akan bisa mengenalinya.

Mereka terus berjalan ke arah selatan. Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota yang harus dilewati jika orang hendak masuk ke Kwan-lwee. Cia Sun bertiga memasuki rumah makan yang paling besar. Bu Kie mengeluarkan sepotong perak yang beratnya sepuluh tahil lantas berkata kepada pengurus restoran,

“Kau pegang ini. Sesudah kami selesai makan, hitunglah.“ Ia memberi uang terlebih dulu sebab kuatir ditolak karena pakaian mereka compang-camping.

Tapi sambutannya sangat luar biasa. Pengurus itu cepat bangun berdiri dan dengan sikap hormat memulangkan uang.

“Kami sudah merasa beruntung bahwa kalian sudi mampir di rumah makan kami yang kecil ini. Apalah artinya semangkok dua mangkok sayur. Kali ini biarlah kami yang menjamu kalian.”

Bu Kie merasa sangat heran. Sesudah mengambil tempat duduk dia berbisik kepada Cie Jiak,

“Aku heran. Mengapa dia tidak mau menerima uang? Apakah penyamaran kita tidak sempurna?”

Cie Jiak mengawasi Cia Sun dan Bu Kie. Tidak, penyamaran mereka dapat dikatakan tidak ada cacatnya.

“Suara pengurus itu bernada ketakutan,” kata Cia Sun, “Kita harus berhati-hati.”

Mendadak di bawah tangga loteng terdengar suara langkah kaki beramai-ramai dan tujuh orang naik ke atas, mereka semua adalah pengemis! Lagak pengemis-pengemis itu amat keren dan mereka duduk seperti tuan-tuan besar. Para pelayan menyambut dengan sikap sangat hormat dan memanggil mereka dengan istilah ‘ya’ (paduka tuan), seolah mereka adalah orang-orang yang berpangkat tinggi.

Bu Kie segera mengetahui bahwa mereka adalah murid Kay-pang yang mempunyai kedudukan agak tinggi sebab mereka membawa lima atau enam lembar karung. Beberapa saat kemudian datang lagi lima enam pengemis, disusul dengan rombongan lain hingga jumlah mereka seluruhnya melebihi tiga puluh orang. Di antara mereka terdapat tiga orang yang membawa tujuh lembar karung. Bu Kie sadar. Kay-pang mau mengadakan pertemuan dan si pengurus rumah makan menganggap mereka sebagai anggota-anggota partai tersebut.

“Gie-hu,” bisik Bu Kie, “Sebaiknya kita berlalu saja supaya tidak terjadi kejadian yang tidak enak. Jika dilihat seluruhnya, orang-orang Kay-pang yang datang ke sini jumlahnya sangat besar.”

Selagi Bu Kie berbicara, seorang pelayan datang dengan membawa sepiring daging sapi, ayam rebus dan lima kati arak putih. Sudah lebih dari dua bulan Cia Sun tak pernah makan kenyang dan sekarang dia sedang lapar. Begitu hidungnya mengendus wanginya daging, tangannya lantas bergerak.

“Makan dulu,” katanya. “Ada halangan apa kalau kita makan tanpa mempedulikan urusan orang?” Seraya berkata begitu dia menuang arak di mangkok lalu meneguknya dengan bernapsu.

Dua puluh tahun lebih dia tak pernah mencicipi arak, maka baginya arak putih yang keras dan pedas itu seolah arak yang paling baik. Dengan dua kali teguk, semangkok besar sudah menjadi kering. Tiba-tiba dia menaruh mangkok di meja dan berbisik,

“Hati-hati! Dua orang yang memiliki kepandaian tinggi sedang naik ke sini.”

Bu Kie pun telah mendengar suara langkah di tangga loteng. Langkah kaki kiri orang yang berjalan di depan sangat berat tapi langkah kaki kanannya sangat ringan, sedangkan yang berjalan di belakang pun begitu juga, langkah sebelah ringan, sebelah yang lain berat. Tak salah lagi, mereka mempunyai kepandaian luar biasa. Begitu mereka muncul, semua pengemis serentak bangun berdiri. Cia Sun bertiga juga turut bangkit. Untung saja mereka duduk di sudut yang jauh sehingga tidak menyolok mata.

Orang pertama bertubuh sedang, tampan dan berjenggot. Kecuali pakaiannya, keseluruhannya dia seperti siucay yang tidak lulus ujian. Yang jalan belakangan keren sekali. Mukanya menonjol otot-otot, brewoknya seperti kawat, parasnya galak dan kulitnya hitam sehingga melihat dia, orang segera ingat Ciu Cong (panglima di jaman Sam kok yang selalu berdiri di samping Kwan Kong). Keduanya berusia lima puluh tahun lebih dan masing-masing menggendong selembar karung kecil yang tidak dapat memuat apapun tapi hanya dipergunakan untuk menunjukkan kedudukan mereka di dalam partai pengemis.

Bu Kie menghela napas. Ia ingat bahwa seratus tahun yang lalu Kay-pang memiliki nama yang sangat harum. Dari Thay-suhunya dia tahu bahwa dahulu sebagai seorang pangcu, Ang Cit Kong yang berkepandaian sangat tinggi sudah mengabdi kepada rakyat dan selalu bersedia menolong sesama manusia sehingga dia dihormati semua kalangan di rimba persilatan. Sesudah Ang-pangcu, Oey-pangcu (Oey Yong) dan Yehlu-pangcu juga menjadi pemimpin-pemimpin yang sangat baik.

Tapi di luar dugaan selama beberapa puluh tahun belakangan Kay-pang banyak berubah. Su Hwee Liong, Pangcu yang sekarang, belum pernah muncul di kalangan Kangouw. Dengan membawa sembilan karung berarti kedua orang itu mempunyai kedudukan sangat tinggi hanya di bawah Pangcu sendiri.

“Apakah mereka yang menyuruh orang datang ke Leng-coa-to untuk merampas To-liong-to?” tanya Bu Kie di dalam hati.

Sejak beberapa puluh tahun yang lampau, yaitu dari Seng-hwee-leng dirampas oleh Kay-pang, hubungan Beng-kauw dan Partai Pengemis seperti air dengan api. Dalam usahanya merebut kembali tanda kekuasaan agama itu, beberapa kali orang Beng-kauw harus bertempur hebat dengan orang-orang Kay-pang. Karena Beng-kauw dipandang sebagai agama sesat, maka dalam setiap pertempuran banyak orang rimba persilatan membantu Kay-pang sehingga Beng-kauw selalu menderita kekalahan.

Sekarang meski pun Tio-liong-to dan Ie-thian-kiam dicuri Tio Beng, untung sekali keenam Seng-hwee-leng tidak turut dicuri. Mungkin sekali karena takut dengan kepandaian Bu Kie yang sangat tinggi maka Tio Beng tidak berani merogoh saku si pemuda. Melihat jumlah orang Kay-pang yang sangat besar, Bu Kie tidak berani memandang rendah. Dia segera merogoh saku untuk memastikan bahwa Seng-hwee-leng masih berada di dalamnya.

Kedua Tianglo sembilan karung itu segera duduk pada sebuah meja besar yang terletak di tengah-tengah. Tianglo yang bermuka seperti Ciu Cong kemudian mengeluarkan sebatang tongkat bambu yang panjangnya kira-kira empat kaki dari dalam karung lalu menaruhnya di atas meja. Sebagian murid-murid Kay-pang segera berlutut.

“Murid-murid Ouw-ie-pay menghadap Ciang-pang Liong-tauw (Pemimpin yang memegang tongkat kekuasaan)!” seru dia.

Karena Kay-pang adalah musuh Beng-kauw, sesudah menjadi Kauwcu maka Bu Kie lalu mencari tahu seluk-beluk partai pengemis. Dia tahu bahwa sejak dahulu Kay-pang terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan Ouw-ie-pay (Golongan baju kotor) dan Ceng-ie-pay (Golongan baju bersih). Kini melihat semua pengemis yang berlutut berpakaian kusam, dia segera mengerti bahwa Ciang-pang Liong-tauw adalah pemimpin Ouw-ie-pay.

Sesaat kemudian dari dalam karung Tianglo yang tampaknya seperti siucay mengeluarkan sebuah mangkok yang mulutnya somplak lalu menaruhnya di atas meja. Sisa pengemis yang mengenakan pakaian bersih segera menekuk lutut.

“Murid-murid Ceng-ie-pay menghadap Ciang-pun Liong-tauw (Pemimpin yang memegang mangkok kekuasaan)!” teriak mereka.

Kedua pemimpin itu mengangkat tangan sambil berkata, “Duduklah!”

Semua pengemis segera bangkit kemudian duduk di kursi masing-masing. Bu Kie baru menarik napas lega. Menyambut kedua Tianglo itu dengan berdiri masih tidak apa-apa. Tapi sebagai Kauwcu dari Beng-kauw, biar bagaimana pun juga dia tidak boleh berlutut di hadapan pemimpin Kay-pang. Untung mereka duduk di sudut paling jauh dan mata kedua Tianglo itu terus mengawasi langit-langit tanpa memperhatikan orang-orang yang berlutut, maka tak ada orang yang melihat bahwa Cia Sun bertiga tidak ikut berlutut.

Pengemis-pengemis itu segera makan minum seperti orang-orang yang kelaparan. Mereka main rebut, berteriak-teriak dan tertawa-tawa. Cia Sun berwaspada, memasang kuping dan mata. Tapi Di luar dugaan dalam perjamuan itu tak terjadi kejadian luar biasa dan tak terdengar sesuatu yang penting. Sesudah kedua Liong-tauw selesai bersantap dan turun ke bawah, pengemis-pengemis yang lain pun turut bubar. Setelah semua pengemis meninggalkan loteng, Cia Sun lalu berbisik,

“Bu Kie, bagaimana pendapatmu?”

“Tak mungkin mereka berkumpul di sini hanya untuk makan minum,” jawabnya. “Anak kira mereka akan berkumpul lagi di tempat lain, di tempat yang sepi untuk membicarakan soal penting yang menjadi tujuan mereka.”

Cia Sun mengangguk. “Aku juga berpendapat begitu,” katanya. “Kay-pang adalah musuh kita, setelah bertemu kita harus menyelidiki dengan jelas maksud pertemuan mereka. Aku kuatir kalau mereka hendak mengatur siasat untuk mencelakakan Beng-kauw.”

Mereka turun dan mencoba membayar uang makanan, tetapi ditolak keras oleh pengurus rumah makan.

“Gie-hu, kau lihatlah,” kata Bu Kie. “Rumah makan pun takut menerima uang kita, dari sini dapatlah diketahui bahwa Kay-pang sering melakukan perbuatan sewenang-wenang.”

Mereka lalu mencari sebuah rumah penginapan kecil di tempat yang agak sepi. Menurut kebiasaan, murid-murid partai pengemis tidak pernah menginap di hotel sehingga Cia Sun tidak kuatir akan bertemu dengan rombongan musuh.

“Bu Kie, mataku buta sehingga tidak bisa ikut menyelidiki,” kata Cia Sun. “Kepandaian Cie Jiak belum cukup, biar pun ikut ia takkan bisa membantu kau. Sebaiknya kau pergi sendiri saja.”

Bu Kie mengangguk. Sesudah mengaso sebentar dia lalu keluar seorang diri. Dari selatan dia berjalan ke utara, tetapi sesudah berjalan beberapa lama, seorang pengemis pun tidak ditemuinya.

“Ke mana perginya mereka?” tanya Bu Kie di dalam hati. Karena baru berpisah kira-kira setengah jam, dia percaya bahwa rombongan pengemis itu belum pergi jauh dan dia akan bisa mencarinya.

Dia lantas pergi ke sebuah warung kelontong. Sambil menepuk meja dengan mata melotot dia membentak,

“Hei! Ke mana perginya saudara-saudaraku?”

Melihat sikap yang galak ini, orang-orang di warung itu jadi ketakutan. Salah seorang yang bernyali lebih besar cepat-cepat menghampiri dan sambil menuding ke utara dia berkata,

“Kawan-kawan Toaya (tuan) menuju ke sana. Apa Toaya mau minum teh?”

“Tidak. Aku tidak sudi minum segala teh bau,” bentak Bu Kie yang lantas berjalan keluar dengan langkah lebar. Dalam hati dia tertawa geli.

Baru saja dia melewati perbatasan kota, dari gerombolan rumput tinggi tiba-tiba melompat keluar seorang pengemis yang dilihat dari gerakannya mau mencegahnya. Dengan cepat dia melompat sambil mengempos semangat. Bagaikan anak panah badannya berkelebat melewati si pencegat. Pengemis itu mengucek matanya. Ia merasa heran. Apa ia salah lihat? Ke mana perginya manusia yang tadi kelihatan mendatangi?

Mulai dari situ sepanjang jalan dijaga dengan sangat ketat. Bu Kie segera mengeluarkan ilmu ringankan badan. Dengan matanya yang sangat jeli dia bisa melihat penjaga-penjaga yang ditempatkan di antara rumput-rumput tinggi, di belakang pohon atau di belakang batu besar. Sebaliknya dari pada menjadi halangan, orang-orang itu justru merupakan petunjuk jalan.

Sesudah berlari empat lima li penjagaan semakin rapat. Kepandaian orang-orang itu kalah jauh dari Bu Kie, tetapi meloloskan diri dari mata mereka di tengah hari benar-benar bukan pekerjaan kecil. Penjagaan itu membawanya ke arah satu kelenteng di lereng gunung. Dia menduga bahwa pertemuan anggota Kay-pang akan dilangsungkan di rumah berhala itu. Setibanya di situ dia melihat papan nama yang tertulis ‘Bie-lek Sin-bio’ (Kelenteng Bie-lek-hoat). Kelenteng itu besar, indah dan angker.

“Dengan memilih tempat di sini, pertemuan mungkin akan dihadiri banyak tokoh-tokoh penting,” pikirnya. “Kalau aku membaurkan diri di antara mereka, mungkin mereka akan sadar.“

Ia lalu mengamat-amati keadaan di sekitarnya. Di pekarangan sebelah kiri di depan toa-thia (ruangan besar) terdapat sebuah pohon siong tua, ada pun di sebelah kanannya berdiri pohon pak. Dua pohon itu rindang daunnya, besar dan tinggi, jauh lebih tinggi dari pada atap toa-thia. Ia segera pergi ke belakang kelenteng dan melompat ke atas genteng. Dengan merunduk ia mengayun, kemudian sekali melompat ia telah berada di pohon siong. Sambil memeluk sebatang cabang besar ia melongok ke bawah dan ia bersorak di dalam hati karena dari situ ia bisa memandang ke seluruh toa-thia.

Lantai Tay-hiong Po-thian ternyata sudah penuh dengan pengemis yang berjumlah kira-kira tiga ratus orang. Mereka semua menghadap ke dalam sehingga melompatnya Bu Kie ke pohon tidak terlihat oleh mereka. Dalam ruangan itu terdapat lima lembar tikar yang masih kosong. Rupa-rupanya kelima pemimpin masih ditunggu kedatangannya. Apa yang sangat menyolok adalah kesunyian di ruangan itu. Ratusan pengemis duduk dengan tegak tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Dalam hati Bu Kie memuji. Walau pun derajat Kay-pang sudah banyak merosot dan meski pun di waktu biasa kawanan pengemis itu sering menunjukkan sikap tak pantas pada tata tertib partai, tapi mereka sangat menghormati pemimpinnya. Di tengah-tengah Tay-hiong Po-thian duduk patung Bie-lek-hud dengan perut yang gendut, mulut tertawa lebar dan paras muka yang sangat ramah. Selagi Bu Kie memperhatikan semua itu, mendadak terdengar teriakan seseorang.

“Ciang-pun Liong-tauw tiba!”

Semua pengemis serentak berdiri tegak sambil menundukkan kepalanya. Dengan tangan memegang mangkok somplak, Ciang-pun Liong-tauw melangkah keluar kemudian berdiri di sebelah kanan.

“Ciang-pang Liong-tauw!” orang itu berteriak pula.

Tianglo yang mukanya seperti Ciu Cong muncul dengan dua tangan menyangga tongkat bambunya yang berkilauan. Dia berjalan dengan langkah lebar lalu berdiri di sebelah kiri. Sesudah itu terdengar teriakan ketiga,

“Cie-hoat Tianglo (Tetua yang memegang undang-undang)!”

Seorang pengemis tua yang bertubuh kurus dan tangannya memegang sebatang belahan bambu pecah, masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat enteng.

“Ilmu ringan badan orang itu cukup hebat,” pikir Bu Kie. “Kira-kira setanding dengan Put-thay Hwesio dan hanya beda setingkat dari Wie Hok-ong.”

Teriakan keempat segera menyusul, “Coan-kang Tianglo (Tetua yang menurunkan ilmu)!”

Sekarang yang keluar adalah seorang kakek berambut dan berjenggot putih. Paras mukanya aneh seperti tertawa tapi bukan tertawa. Seperti menangis bukan menangis. Dia bertangan kosong dan langkahnya tidak memperlihatkan tinggi rendah kepandaiannya. Keempat orang itu lalu memindahkan empat lembar tikar ke sebelah bawah dari tikar yang di tengah kemudian sambil membungkuk mereka berseru,

“Kami mengundang Pangcu!”

Bu Kie terkejut, Pangcu dari Partai Pengemis yang bernama Su Hwee Liong dan bergelar Kim-gin-ciang (Tangan emas dan perak) itu jarang sekali muncul di rimba persilatan. Kehadiran pemimpin membuktikan betapa pentingnya pertemuan yang sedang berlangsung.

Semua pengemis ikut membungkuk dengan sikap hormat. Tak lama kemudian di belakang terdengar suara langkah dan keluarlah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar. Gerak gerik orang yang mukanya bersinar merah itu seolah-olah dia berpangkat atau hartawan besar dan meski pakaiannya tidak mewah sedikitnya bukan pakaian pengemis. Dengan tangan kanan memegang tiat-tan (peluru besi yang dipergunakan sebagai senjata) dia melangkah masuk dengan langkah lebar.

“Murid-murid Kay-pang memberi hormat kepada Pangcu!” teriak para pengemis.

Su Hwee Liong mengibaskan tangannya, “Cukuplah!” katanya. Sehabis berkata begitu dia segera duduk di tikar yang terletak di tengah-tengah dan semua pengemis pun segera ikut duduk.

“Lim Heng-to,” kata Su Hwee Liong kepada Ciang-pun Liong-tauw, “Coba ceritakan soal Kim-mo Say-ong dan To-liong-to.”

Jantung Bu Kie berdetak keras dan dia cepat memasang kuping dengan penuh perhatian. Ciang-pun Liong-tauw bangun berdiri dan sesudah membungkuk ke arah Pangcu, dia pun berkata dengan suara nyaring.

“Saudara-saudara, sebagaimana kalian tahu partai kita dan Mo-kauw bermusuhan selama kira-kira enam puluh tahun. Sejak Seng-hwee-leng jatuh ke tangan kita, mereka terus berada di bawah angin. Belum lama berselang Mo-kauw sudah mengangkat seorang Kauwcu baru bernama Thio Bu Kie. Anggota-anggota kita yang ikut serta dalam pengepungan Kong-beng-teng pernah bertemu dengan Kauwcu itu. Dia seorang bocah yang masih bau susu, karena itu mana bisa dia melawan Su-pangcu kita yang berkepandaian sangat tinggi?”

Kata-kata itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai, sedangkan Su Hwee Liong sendiri tersenyum-senyum dengan muka bersinar terang. Sesudah sorak-sorai mereda, Ciang-pun Liong-tauw melanjutkan,

“Tapi ada sesuatu yang harus kalian ketahui. Selama puluhan tahun Mo-kauw terpecah belah. Akan tetapi setelah pengangkatan Kauwcu baru itu, keadaan ini berubah dan perubahan itu merupakan penyakit di dalam perut bagi golongan kita. Selama setahun ini kawanan siluman memberontak di berbagai tempat. Han San Tong dan Cu Goan Ciang bergerak di daerah Hway-see, sedang di wilayah Ouw-lam dan Ouw-pak, Cie Siu Hwee sudah mendapat kemenangan dalam beberapa pertempuran dan telah menduduki banyak tempat penting. Apa bila mereka berhasil mengusir Tat-cu hingga mereka pulang ke negaranya, maka beberapa puluh laksa saudara-saudara kita akan mati tanpa kuburan.”

Kawanan pengemis itu segera berteriak-teriak, “Mereka tak boleh berhasil! Mereka harus ditumpas!”

“Kita bersumpah untuk menghajar Mo-kauw habis-habisan!”

“Kalau Mo-kauw berhasil, kita musnahkan!”

Di lain pihak Bu Kie yang bersembunyi di pohon berkata di dalam hatinya, “Tidak disangka selama beberapa bulan aku berada di luar lautan, saudara-saudara sudah mendapat hasil begitu besar. Kekuatiran Kay-pang dapat dimengerti. Jumlah mereka amat besar sehingga jika dapat diajak bekerja sama maka usaha mengusir Tat-cu akan berjalan lancar. Akan tetapi bagaimana caranya? Apa yang harus kuperbuat untuk mengubah permusuhan menjadi persahabatan?”

Sementara itu Ciang-pun Liong-tauw sudah melanjutkan kata-katanya. “Kalian tahu bahwa Su-pangcu biasanya hidup menyendiri di Cwee-siauw San-chung (Perkampungan meniup seruling) dan sudah lama tidak pernah menginjak dunia Kangouw. Tapi dalam menghadapi urusan besar ini tangan sendiri. Syukur beribu syukur bahwa Thian memayungi kita, Pat-tay Tianglo (Tetua delapan karung) Tan Yu Liang sudah bersahabat dengan seorang murid Bu-tong dan telah mendapatkan sebuah berita yang amat penting.“ Dia pun menengadah kemudian berteriak, “Tan-tianglo! Ajaklah Song Siauw-hiap masuk ke sini untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita!”

“Baiklah!” kata seorang di belakang tembok.

Sesaat kemudian dua orang masuk sambil berpegangan tangan. Yang satu adalah Tan Yu Liang dan yang lain adalah seorang pemuda tampan yang baru berusia dua puluh tahun lebih dan pada pinggangnya tergantung sebatang pedang. Bu Kie terkesiap karena pemuda itu adalah Song Ceng Su, putera Song Wan Kiauw. Sesampainya di tengah ruangan mereka menjalankan adat terhadap Su Hwee Liong, lalu menyoja keempat ketua dan akhirnya memberi hormat kepada pengemis yang lain dengan merangkap kedua tangan.

“Tan-tianglo,” kata Ciang-pun Liong-tauw, “Cobalah tuturkan apa yang kau ketahui.”

“Saudara sekalian,” kata Tan Yu Liang seraya memegang tangan Song Ceng Su, “Kita sangat mujur telah mendapat bantuan dari Song Siauw-hiap, putera Song Wan Kiauw, Song-tayhiap dari Bu-tong-pay. Di kemudian hari kedudukan Ciangbun Bu-tong-pay pasti akan jatuh ke tangannya. Thio Bu Kie, Kauwcu dari Mo-kauw itu pada hakekatnya adalah adik seperguruan Song Siauw-hiap, maka dia tahu jelas seluk beluk keadaan di kalangan Mo-kauw. Beberapa bulan yang lalu Song Siauw-hiap memberi-tahu bahwa siluman besar Kim-mo Say-ong sudah datang ke Leng-coa-to di wilayah Tang-hay (Lautan Timur).”

“Tetapi bagaimana Song Siauw-hiap bisa tahu hal itu?” tanya Cie-hoat Tianglo. “Selama beberapa puluh tahun orang-orang rimba persilatan berusaha mencari Kim-mo Say-ong, tapi usaha ini sia-sia.”

Sejak pertemuan di Leng-coa-to, di dalam hati Bu Kie juga muncul pertanyaan yang belum terjawab. Kedatangan Cia Sun di Leng-coa-to ditutup rapat-rapat. Bagaimana Kay-pang dapat mengetahuinya? Maka itu pertanyaan tiba-tiba Cie-hoat Tianglo lebih menarik perhatian Bu Kie.

“Berkat rejeki Pangcu maka hal itu terjadi amat kebetulan,” jawab Tan Yu Liang. “Di Tang-hay hidup seorang nenek yang dikenal sebagai Kim-hoa Popo dan entah bagaimana dia mengetahui tempat sembunyinya Cia Sun. Nenek yang hidup di pantai laut itu memiliki pengetahuan mendalam tentang ilmu pelayaran dan akhirnya berhasil mencari Cia Sun di sebuah pulau di Kutub Utara. Dia pun berhasil membawa Kim-mo Say-ong ke pulau Leng-coa-to, memenjarakan sepasang suami-isteri Wie Pek dan Bu Ceng Eng, ahli waris partai persilatan di negeri Toa-lie. Pada waktu Kim-hoa Popo pergi ke Tiong-goan, mereka mendapat kesempatan untuk membunuh para penjaga lantas melarikan diri. Di Shoa-tang mereka menemui bahaya, akan tetapi pada saat yang tepat secara kebetulan dia ditolong Song Siauw-hiap. Dalam pembicaraan mereka membuka rahasia dan inilah sebabnya mengapa Song Siauw-hiap tahu kedatangan Cia Sun di Leng-coa-to.”

Cie-hoat Tianglo manggut-manggutkan kepala. Bu Kie menghela napas, “Manusia tidak bisa melawan Thian,” pikirnya. “Wie Pek dan Bu Ceng Eng bukanlah manusia baik. Dengan siasat busuk mereka mengorek rahasia dari mulutku. Lantaran itu barulah Cie-san Liong-ong tahu tempat kediaman Gie-hu. Pada jaman ini kepandaian Kim-hoa Popo dalam ilmu pelayaran jarang ada tandingannya. Kalau bukan dia yang turun tangan, siapa lagi yang bisa mencari Gie-hu di Peng-hwee-to. Andai kata kedua orang tuaku masih hidup, belum tentu mereka bisa mengarungi samudera dan tiba di Peng-hwee-to dengan selamat. Dari sini dapatlah dilihat bahwa manusia tidak bisa menentang kemauan Thian.”

Sesudah berdiam sejenak Tan Yu Liang berkata lagi, “Aku dan Song Siauw-hiap memiliki ikatan mati hidup bersama-sama (persaudaraan). Setelah mendapat berita itu aku pergi ke Leng-coa-to bersama Kie-tianglo, The-tianglo dan lima murid tujuh karung, dengan tujuan membekuk Cia Sun serta merampas To-liong-to untuk dipersembahkan kepada Pangcu. Apa mau dikata, rombongan Mo-kauw yang berjumlah besar mendadak tiba di situ. Kami bertempur mati-matian, tapi jumlah kami yang kecil tidak mampu melawan jumlah mereka yang besar. Akhirnya Kie-tianglo bersama empat murid tujuh karung gugur dalam pertempuran. Tentang jalannya pertempuran, aku minta The-tianglo yang melaporkan kepada Pangcu.”

The-tianglo yang lengan kanannya buntung segera bangun berdiri kemudian menceritakan pertempuran di Leng-coa-to. Tapi cerita-ceritanya dusta belaka. Ia mengatakan bahwa rombongan Beng-kauw yang berjumlah besar mengepung Kay-pang yang berjumlah kecil tetapi terus melawan dengan nekat sehingga lima di antaranya mengorbankan jiwa. Akhirnya dengan bernapsu ia menceritakan tentang kesaktian Tan Yu Liang dalam usaha menolong jiwanya sehingga Cia Sun terpengaruh oleh kegagalan itu dan tidak berani turun tangan lagi.

PENGKHIANATAN MURID BU-TONG

Para pengemis bersorak-sorai memuji manusia-manusia licik itu.

“Tan Heng-te bukan hanya pintar dan gagah saja, tetapi juga memiliki gie-khie (rasa setia kawan) yang sangat tebal,” kata Coan-kang Tianglo.

Tan Yu Liang segera membungkuk. “Berkat ajaran Pangcu dan Tianglo Koko, aku dapat memahami kewajiban-kewajiban partai,” katanya. “Demi kepentingan partai kita, aku tidak akan menolak biar pun harus mati masuk ke dalam lautan api. Apa yang aku perbuat tidak berarti dan tidak cukup berharga untuk mendapat pujian sebegitu tingginya dari The-tianglo. Pujian itu sungguh membuat aku sangat malu.”

Mendengar kata-kata merendah itu, rasa kagum para pengemis menjadi lebih besar. Makin lama Bu Kie semakin dongkol. Manusia tak mengenal malu yang terang-terangan hendak menjual sahabat guna menolong jiwanya itu sekarang dianggap sebagai ksatria yang tebal rasa persahabatannya. Namun dia memang sudah menjalankan siasat secara pandai. Bahkan The-tianglo sendiri sudah dikelabui olehnya.

Mengingat begitu Bu Kie lantas berkata di dalam hati, “Tan Yu Liang benar-benar seorang kan-hiong (orang gagah yang jahat). Bukan saja Gie-hu, malah aku pun sudah kena tipu. Hanya Tio-kouwnio yang tidak dapat diakali. Haiii...! Tio-kouwnio sungguh pintar... sayang hatinya kejam...”

Sementara itu Cie-hoat Tianglo bangun berdiri, “Banyak sekali saudara kita yang dibinasakan kawanan iblis,” katanya dengan suara dingin. “Apa kita boleh menyudahi saja sakit hati ini?”

Para pengemis segera berteriak-teriak. “Sakit hatinya Kie-tianglo harus dibalas.”

“Ratakan Kong-beng-teng!”

“Bunuh Thio Bu Kie! Mampuskan Cia Sun!” dan sebagainya.

Sesudah teriakan-teriakan mereda, Cie-hoat Tianglo berpaling kepada Su Hwee Liong dan berkata,

“Lapor kepada Pangcu bahwa murid-murid partai kita sangat penasaran dan kami mohon petunjuk Pangcu dalam usaha membalas sakit hati.”

Alis Su Hwee Liong berkerut. “Hmm... memang ini adalah soal besar dari partai kita,” katanya. “Akan tetapi kita harus berdamai dengan otak dingin. Coba kau perintahkan semua murid tujuh karung ke bawah supaya meninggalkan ruangan ini untuk sementara waktu agar kita bisa berunding dengan tenang.”

Cie-hoat Tianglo mengangguk dan sambil berpaling kepada para pengemis, ia membentak.

“Dengarlah! Semua orang dari murid tujuh karung ke bawah diminta meninggalkan ruangan ini untuk sementara waktu dan menunggu di luar kelenteng.”

Para pengemis langsung mengiyakan dan sesudah membungkuk ke arah Su Hwee Liong, mereka segera berjalan keluar sehingga dalam sekejap di ruang toa-thia hanya tinggal pemimpin-pemimpin Kay-pang yang penting. Tan Yu Liang maju satu langkah dan berkata seraya membungkuk,

“Lapor kepada Pangcu bahwa saudara ini Song Ceng Su, Song Heng-te berjasa besar terhadap partai kita. Maka aku mohon restu Pangcu agar dia diperbolehkan masuk ke dalam partai kita. Seorang yang mempunyai kepribadian dan kedudukan seperti Song Heng-te di belakang hari akan dapat melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi partai kita.”

“Tapi... tapi...,” kata Song Ceng Su dengan suara tergagap. “Hal ini tidak...“ Baru saja dia mengucapkan perkataan ‘tidak’, Tan Yu Liang sudah memandangnya dengan sorot mata tajam. Melihat sinar mata yang berabu dan kejam itu, dia menundukkan kepalanya tanpa membuka suara lagi.

“Bagus,” kata Su Hwee Liong, “Kami menyambut dengan girang masuknya Song Ceng Su ke dalam partai kita. Untuk sementara waktu dia diberi kedudukan murid enam karung dan berada di bawah pimpinan Tianglo delapan karung Tan Yu Liang. Kuharap Song Heng-te suka menaati segala peraturan kita dan bekerja keras demi kepentingan partai. Peraturan kita selalu dijalankan dengan keras, siapa yang berjasa akan dihargai, siapa yang berdosa akan dihukum.”

Kedua mata Song Ceng Su mengeluarkan sinar sengsara dan dongkol, tapi sebisanya dia menekan perasaannya itu. Dia maju beberapa langkah dan berlutut di hadapan Su Hwee Liong.

“Teecu (murid) Song Ceng Su memberi hormat kepada Pangcu,” katanya. “Terima kasih atas kemurahan Pangcu yang telah memberi kedudukan murid enam karung kepada Teecu.“ Sesudah itu dia pun memberi hormat dengan berlutut kepada semua Tianglo dan Liong-tauw.

“Song Heng-te!” kata Cie-hoat Tianglo dengan suara angker. “Sesudah menjadi anggota partai, kau terikat dengan semua peraturan. Di hari nanti, andai kata kau menjadi Ciang-bun dari Bu-tong-pay, kau tetap harus menaati segenap perintah dari pimpinan Kay-pang. Apakah kau sudah tahu adanya peraturan ini?”

“Ya,” jawabnya.

“Song Heng-te!” kata Cie-hoat. “Biar pun tujuannya sama, yaitu sama-sama bertujuan melakukan perbuatan-perbuatan ksatria, tapi jalan yang diambil Kay-pang dan Bu-tong-pay berbeda. Kenapa kau rela masuk ke dalam partai kita? Jawablah! Kau harus menjawab dengan sejujur-jujurnya dan sejelas-jelasnya.”

Sebelum menjawab pemuda itu melirik kepada Tan Yu Liang, “Tan-tianglo sudah melepas budi sangat besar terhadap Teecu,” sahutnya. “Teecu sangat mengakuinya dan rela untuk mengabdi di bawah perintahnya.”

Tan Yu Liang tertawa. “Di sini tidak ada orang luar,” katanya. “Song Heng-te, kau boleh bicara bebas. Kalau kau merasa tak enak biarlah aku yang menjelaskan. Sesudah Biat-coat Suthay meninggal dunia, Ciang-bun-jin yang baru dari Go-bi-pay adalah seorang gadis yang amat cantik. Ciu Cie Jiak namanya. Nona itu dan Song Heng-te adalah kawan sedari kecil dan sudah berjanji untuk menjadi suami isteri. Tapi di luar dugaan Ciu-kouwnio dirampas kepala siluman Thio Bu Kie yang membawanya kabur ke seberang lautan. Dalam marahnya Song Heng-te meminta bantuanku. Aku segera menyanggupi dan aku bersumpah untuk merebut kembali nona itu.”

Bu Kie merasa dadanya seperti mau meledak, akan tetapi sebisanya dia menahan hawa amarah. Su Hwee Liong tertawa terbahak-bahak.

“Dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan Song Heng-te. Sejak dulu orang gagah memang sukar menolak wanita cantik,” katanya. “Yang satu Ciang-bun dari Bu-tong-pay dan yang lain Ciang-bun Go-bi-pay. Sungguh kedudukan yang sederajat, muda sama muda!”

“Tapi Song Heng-te, mengapa dalam menghadapi kejadian itu kau tidak meminta bantuan Thio Sam Hong Cinjin atau Song-tayhiap?” tanya Cie-hoat Tianglo lagi.

“Menurut keterangan Song Heng-te, sekarang Bu-tong-pay bergandengan tangan dengan Mo-kauw,” kata Tan Yu Liang. “Thio Sam Hong dan ayah Song Heng-te sungkan bentrok dengan agama iblis itu. Pada waktu ini di seluruh rimba persilatan hanya partai kita yang bermusuhan dengan Mo-kauw dan memiliki cukup tenaga untuk menghadapi agama siluman itu.”

Cie-hoat Tianglo manggut-manggut. “Dia benar,” katanya. “Setelah kita memusnahkan Mo-kauw dan membinasakan si bocah Bu Kie maka keinginan Song Heng-te pasti segera terkabul.”

Mendengar tanya jawab itu Bu Kie segera ingat kejadian di Kong-beng-teng. Ia ingat sikap Song Ceng Su yang luar biasa terhadap Cie Jiak dan kini ia tahu bahwa putera pamannya telah jatuh cinta kepada tunangannya. “Tetapi dia betul-betul gila!” katanya di dalam hati. “Hanya karena seorang wanita dia rela mengkhianati perguruan, bahkan ayah kandungnya sendiri. Cinta Cie Jiak terhadapku adalah cinta suci. Meski pun dibantu Kay-pang, dia tidak akan bisa memaksa Cie Jiak menuruti kemauannya. Hai...! Song Toako telah mendapat nama hingga dipandang sebagai tunas harapan dari Bu-tong-pay. Bagaimana dia bisa tersesat sampai begitu jauh?” Ia merasa sangat menyesal dan menghela napas berulang-ulang.

Sementara itu Tan Yu Liang berkata kembali. “Lapor kepada Pangcu bahwa di dekat kota raja teecu sudah membekuk salah satu orang penting di kalangan Mo-kauw. Orang ini memiliki sangkut paut dengan usaha partai kita. Teecu minta keputusan Pangcu mengenai orang itu.” Tan Yu Liang segera bertepuk tangan tiga kali. “Bawa masuk kepala iblis yang ditawan itu,” teriaknya.

Jantung Bu Kie berdetak keras. Siapa yang tertangkap? Hampir bersamaan dari belakang toa-thia keluar empat pengemis bersenjata dan seorang tangkapan yang kedua tangannya terbelenggu. Bu Kie merasa bahwa dia pernah bertemu dengan orang yang berusia kira-kira dua puluh tahun itu di Ouw-tiap-kok, namun dia lupa namanya. Pemuda itu berjalan masuk dengan paras muka marah dan ketika melewati Tan Yu Liang tiba-tiba dia membuka mulut lalu menyembur dengan ludahnya. Tan Yu Liang berkelit lantas menggampar pipi kiri orang itu yang menjadi bengkak. Salah seorang pengemis yang mengawalnya mendorong dan membentak,

“Jangan kurang ajar! Ayo berlutut di hadapan Pangcu!”

Tapi sebaliknya pemuda itu kembali menyemburkan riak ke muka Su Hwee Liong. Karena jarak mereka sangat dekat dan semburan itu dilakukan dengan tenaga dalam yang cukup hebat, maka walau pun Su Hwee Liong mengelak tetapi riak itu tetap mampir tepat di dahinya. Tan Yu Liang melompat dan menyapu dengan kakinya hingga pemuda itu roboh di lantai.

“Bangsat! Apa kau sudah bosan hidup?!” bentaknya sambil berdiri menghadang di depan Su Hwee Liong.

“Sesudah jatuh ke tanganmu, tuanmu memang sudah tidak berpikir soal hidup lagi,” jawabnya.

Setelah Su Hwee Liong menyusut riak (dahak) dari dahinya, Tan Yu Liang segera mundur beberapa langkah dan berkata,

“Lapor kepada Pangcu bahwa bocah ini adalah salah satu jago yang paling hebat di kalangan Mo-kauw. Ilmu silatnya berada di tempat ke empat Hoat-ong. Kita tak boleh memandang rendah kepadanya.”

Semula Bu Kie merasa heran, namun dia segera mengerti bahwa Tan Yu Liang memang sengaja membesarkan kepandaian pemuda itu untuk menolong muka sang Pangcu. Biar bagaimana pun Su Hwee Liong adalah seorang pemimpin tertinggi dari Kay-pang, maka tidak dapat mengelak dari semburan seorang tangkapan merupakan kejadian yang benar-benar aneh, benar-benar tidak masuk akal. Apa lagi setelah mendapat hinaan yang hebat itu dia sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan. Pada paras mukanya bahkan terlihat sinar kebingungan seolah-olah dia merasa takut akan terbukanya suatu rahasia besar. Bu Kie semakin heran. Dia merasa bahwa dalam peristiwa ini pasti terselip latar belakang yang belum diketahuinya.

“Tan Heng-te, siapakah tangkapan ini?” tanya Cie-hoat Tianglo.

“Han Lim Jie, anak Han San Tong,” jawabnya.

Sekarang Bu Kie ingat. Dia ingat bahwa dalam pertempuran di Ouw-tiap-kok, pemuda itu selalu mengikuti di belakang ayahnya dan jarang berbicara dengan orang lain. Tak heran bila dia tidak ingat lagi namanya.

“Aha! Anak Han San Tong?” tegas Cie-hoat dengan suara girang. “Tan Heng-te, jasamu sangat besar. Lapor kepada Pangcu bahwa belakangan ini Han San Tong berturut-turut mengalahkan tentara Goan hingga namanya disegani orang. Panglima-panglimanya seperti Cu Goan Ciang, Cie Tat dan Siang Gie Cun adalah jago-jago Mo-kauw yang paling hebat. Sekarang kita dapat membekuk bocah ini yang bisa dijadikan semacam sandera. Han San Tong pasti akan jinak dan menuruti segala perintah kita.”

“Binatang! Jangan mimpi kau!” caci Han Lim Jie. “Ayahku seorang gagah sejati. Thia-thia tidak akan mau ditekan manusia-manusia tak mengenal malu sepertimu. Thia-thiaku hanya mendengar perintah satu orang, yaitu Thio-kauwcu kami. Kay-pang ingin bertanding melawan Beng-kauw? Huh! Kalian jangan mimpi di siang bolong. Kalian semua tidak tahu diri. Pangcu-mu semacam itu belum cukup sederajat untuk berendeng dengan sepatu Thio-kauwcu kami.”

Tan Yu Liang tidak menjadi marah. “Han Heng-te,” katanya. “Kau memuji Thio-kauwcu-mu tinggi sekali. Kami semua merasa sangat kagum dan ingin sekali bertemu dengan beliau. Bolehkah kau mengajak kami untuk menemui beliau?”

Han Lim Jie adalah seorang yang jujur dan polos. Dia belum tahu kelicikan Tan Yu Liang.

“Thio-kauwcu memikul beban yang sangat berat,” jawabnya. “Bahkan saudara-saudara di Beng-kauw pun tidak bisa sembarangan bertemu muka dengan beliau karena tidak punya waktu untuk meladeni manusia-manusia seperti kalian.”

Tan Yu Liang tertawa dingin. “Omong kosong!” bentaknya dengan nada mengejek. “Semua orang Kangouw mengatakan bahwa Thio Bu Kie sudah dibinasakan oleh tentara Goan di kota raja. Hanya kau seorang yang masih bicara besar.”

“Bangsat! Tutup bacotmu!” Han Lim Jie mencaci. “Tat-cu menangkap Kauwcu kami? Huh huh...! Andai kata dikurung beribu laksa tentara, Thio-kauwcu kami masih bisa datang dan pergi sesuka hati. Memang benar Thio-kauwcu pergi ke kota raja. Maksud tujuannya ialah menolong tokoh-tokoh enam partai yang tertangkap musuh. Tapi dibinasakan Tat-cu? Huh huh...! Tutuplah bacotmu!”

Tan Yu Liang tetap tidak marah. Ia terus ha-ha he-he. “Mungkin kau benar,” katanya. “Tapi semua orang Kangouw mengatakan begitu, aku tak bisa tidak percaya. Selama setengah tahun belakangan kita hanya mendengar nama Han San Tong, Cie Ceng Hwe, Cu Goan Ciang, Lauw Hok Thong, Pheng Eng Giok dan sebagainya, tapi nama Thio Bu Kie belum pernah di-sebut. Bukankah itu bukti bahwa bocah she Thio itu benar-benar sudah mampus?”

Paras muka Han Lim Jie langsung berubah merah padam, urat-uratnya menonjol keluar.

“Binatang!“ teriaknya dengan suara gemetar. “Jangan kau menghina Kauwcu kami! Suatu hari Kauwcu akan kembali dari luar lautan dan kalian semua akan tahu kehebatannya.”

“Oh oh... ! Oh begitu?” kata Tan Yu Liang sambil menyeringai. “Kalau begitu Thio-kauwcu-mu menjelajahi lautan. Sekarang tahulah aku, dia tentu bermaksud menjemput ayah angkatnya, Kim-mo Say-ong Cia Sun. Bukankah begitu?”

Han Lim Jie terkesiap. Dia tahu bahwa dia sudah dijebak oleh musuh pintar ini. Sesudah diam sejenak, Tan Yu Liang berkata pula dengan suara tawar.

“Ilmu silat Thio Bu Kie memang boleh juga, tapi mukanya adalah muka pendek umur. Ada orang menghitung peruntungannya dan dia mengatakan bahwa bocah she Thio ini tak akan hidup lebih lama dari tahun ini, permulaan...”

Tiba-tiba sebatang cabang pohon pek di pekarangan itu bergoyang. Bu Kie yang kupingnya sangat tajam segera mendengar suara napas manusia pada cabang itu. Sesaat kemudian suara napas itu hilang. Bu Kie tahu bahwa orang itu telah mengatur jalan pernapasannya.

“Dia sudah sembunyi lebih lama dari aku,” pikirnya. “Sudah lama dia berada di situ tetapi aku tidak mengetahuinya. Dia pasti memiliki kepandaian amat tinggi.“

Sambil berpikir begitu ia mengawasi pohon pek itu. Di antara cabang dan daun yang rindang ia melihat ujung baju yang berwarna hijau. Orang itu bersembunyi di tempat yang sangat bagus dan warna pakaiannya sama dengan warna daun sehingga kalau Bu Kie tidak mempunyai mata yang luar biasa maka ia tak akan bisa melihatnya.

Sementara itu Han Lim Jie sudah membentak dengan suara penuh kemarahan. “Bohong! Thio-kauwcu seorang yang berhati murah dan orang baik pasti akan dilindungi langit. Dia masih berusia muda ia pasti bisa hidup seratus tahun.”

Tan Yu Liang menghela napas. “Tetapi kau tahu bahwa di dunia ini sering terjadi kejadian luar biasa dan hati manusia sulit dijajaki,” katanya. “Kudengar di seberang lautan dia kena tipu orang jahat sehingga akhirnya dia dibinasakan oleh kerajaan Goan. Tapi kau tidak usah merasa heran. Orang-orang yang pernah melihat wajah Thio Bu Kie sependapat bahwa bocah itu takkan hidup lebih lama dari tiga kali delapan atau dua puluh empat tahun...”

Tiba-tiba perkataan Tan Yu Liang terputus karena hampir bersamaan dengan bergoyangnya cabang pohon pek, sesosok tubuh manusia melayang turun ke bawah.

“Thio Bu Kie di sini!” bentak orang itu. “Siapa kata aku sudah mati?” Seraya membentak begitu dia melompat masuk dan berdiri di tengah-tengah toa-thia.

Ciang-pang Tianglo memapakinya dengan jambretan ke arah leher. Dengan gerakan yang sangat indah, orang itu berkelit. Ternyata dia seorang pemuda yang amat tampan dengan mengenakan ikatan kepala empat segi dan baju warna hijau.

Bu Kie terkesiap karena segera mengenal orang itu yang tidak lain adalah Tio Beng yang menyamar sebagai pria. Bermacam perasaan memenuhi dadanya, kaget, marah, cinta dan girang bercampur aduk menjadi satu. Tanpa terasa Bu Kie mengeluarkan seruan tertahan yang untung saja tak didengar para pengemis yang sedang menumpahkan perhatian mereka kepada Tio Beng.

Dulu di luar kuil Siauw-lim-si, Tan Yu Liang pernah bertemu muka dengan Bu Kie. Hal ini terjadi ketika Bu Kie masih kecil. Dalam jangka waktu belasan tahun Bu Kie telah berubah banyak, baik muka mau pun badannya sehingga dia tak bisa mengenali lagi. Belakangan di pulau Leng-coa-to dia bertemu lagi tapi waktu itu Bu Kie dan Tio Beng memakai kumis palsu dan menyamar sebagai orang-orang Kie-keng-pang. Maka itu pada hakekatnya Tan Yu Liang tidak tahu bagaimana rupa Thio Bu Kie sekarang.

Su Hwee Liong dan yang lain apalagi tak mengenalnya. Mereka hanya pernah mengetahui bahwa Kauwcu baru dari Beng-kauw adalah seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tahun dan yang berkepandaian sangat tinggi. Melihat cara berkelitnya Tio Beng yang lincah dan indah mereka tidak merasa ragu lagi.

Tapi Tan Yu Liang merasa sangsi karena Tio Beng terlampau cantik untuk menjadi seorang pria, usianya terlalu muda dan suaranya bukan suara lelaki. Oleh karena itu dia langsung membentak,

“Thio Bu Kie sudah mampus! Siapa kau? Sungguh berani kau main gila terhadap kami!”

“Binatang!” bentak Tio Beng dengan marah. “Perlu apa kau mencaci Thio Bu Kie? Thio Bu Kie mempunyai rejeki sebesar langit dan akan berusia seratus tahun. Sesudah manusia-manusia seperti kalian dikubur, dia masih bisa hidup delapan puluh tahun lagi.”

Mendengar suara si nona yang bernada duka, jantung Bu Kie bergetar kencang. Apakah nada duka itu menunjukkan rasa menyesal? Tapi dia segera menekan segala pikiran lain. “Perempuan kejam itu mana punya rasa menyesal?” katanya dalam hati. “Bu Kie! Oh, Bu Kie! Mengapa kau begitu lemah? Mengapa hatimu masih harus diikat oleh manusia kejam itu?”

Sementara itu Tan Yu Liang bertanya pula dengan suara lebih sabar. “Siapa sebenarnya kau? Kau takkan bisa mendustai aku. Kau pasti bukan Thio Bu Kie.”

“Aku Thio Bu Kie dari Beng-kauw,” jawabnya. “Kenapa kau menangkap saudaraku? Hayo lekas lepaskan. Dalam segala hal akulah yang bertanggung jawab.”

Mendadak terdengar suara tawa dingin. “Tio Beng Kouwnio,” kata seseorang. “Orang lain bisa tak mengenal kau, tapi aku mengenal kau. Orang lain bisa tak mengenal Thio Bu Kie, tetapi aku mengenalnya dengan baik. Lapor kepada Pangcu bahwa perempuan itu adalah puteri Jie Lam Ong. Dia bergelar Beng Beng Kuncu dan memiliki banyak orang pandai. Kita harus bersiap siaga.“ Orang yang melucuti topeng Tio Beng adalah Song Ceng Su.

Cie-hoat Tianglo segera bersiul nyaring. “Ciang-pang Tianglo!” teriaknya. “Bawalah sejumlah saudara kita untuk berjaga-jaga di luar kelenteng. Hajar setiap musuh yang hendak mencoba menerobos masuk.”

Ciang-pang Tianglo segera mengiyakan. Dalam sekejap di empat penjuru terdengar teriakan-teriakan para pengemis yang bersiap untuk menyambut musuh. Paras muka Tio Beng agak berubah. Dia bertepuk tangan dan dari atas tembok melayang turun dua orang. Mereka adalah Hian-beng Jie-lo Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong.

“Bekuk mereka!” bentak Cie-hoat Tianglo.

Empat murid tujuh karung segera menerjang. Namun mereka bukan tandingan Hian-beng Jie-lo. Dalam tiga jurus mereka sudah luka semua. Melihat itu Coan-kang Tianglo segera turun ke arena dan menghantam Ho Pit Ong dengan pukulan yang mengeluarkan deru angin dahsyat.

Bu Kie tahu bahwa pukulan itu adalah Kian-liong Cay-tian (Melihat naga di sawah) dari Hang-liong-sip-pat-ciang (Delapan belas pukulan menaklukkan naga). Dulu di Peng-hwee-to dia pernah mendengar keterangan dan melihat contoh dari pukulan itu yang diberikan ayah angkatnya. Tapi ketika itu dia masih belum bisa menangkap inti sari pukulan itu. Sekarang dia merasa kagum sekali. Dia tidak menyangka bahwa Hang-liong-sip-pat-ciang sedemikian hebat dan si pengemis tua ternyata sudah mendalami dasar ilmu silat Kiu-cie Sin-kay Ang Cit Kong yang sangat tinggi itu. Ho Pit Ong tidak berani main-main lagi. Cepat-cepat ia menggunakan Hian-beng Sin-ciang dan memapaki telapak tangan si pengemis.

“Plaak!”

Kedua tangan beradu. Hian-liong-sip-pat-ciang mengandung tenaga Im-kang (keras yang murni) sedang tenaga Hian-beng Sin-ciang bersifat Im-jiu (dingin dan lemas). Kedua lawan itu sama-sama sudah berlatih puluhan tahun dan tenaga dalam mereka sama-sama sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Dalam bentrokan tangan yang pertama, kedua pihak setanding. Coan-kang Tianglo merasa ada semacam hawa yang sangat dingin menerobos masuk ke lengan dari telapak tangan dan terus naik ke atas. Di lain pihak Ho Pit Ong merasa hawa dan darah bergolak-golak di dadanya.

Ho Pit Ong terkejut kemudian mengawasi lawannya dengan sepasang mata mendelik. Dia mendapat kenyataan bahwa dengan paras muka pucat dan biji mata merah, pengemis itu sedang mengerahkan seluruh tenaganya dan berusaha untuk melawan hawa dingin yang dikirimnya. Dia merasa sangat girang.

“Kukira hari ini aku bertemu dengan lawan yang berat,” katanya dalam hati. “Untung saja dia masih kalah satu tingkat.“

Dia segera mengambil keputusan untuk menyerang lagi. Dia maju satu langkah kemudian menghantam kembali dengan Hian-beng Sin-ciang yang tenaganya menyambar dari empat penjuru sehingga tidak dapat ditambah lagi. Coan-kang Tianglo tidak bisa berbuat lain dari pada menyambut lagi dengan pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang. Meski tenaga kedua lawan kira-kira setara tapi sifat tenaga mereka agak berbeda. Ciang-hoat Coan-kang Tianglo adalah warisan dari Ang Cit Kong dan merupakan ilmu yang murni bersih, sedang Hian-beng Sin-ciang Ho Pit Ong mengandung hawa dingin yang beracun.

Dalam hal Iweekang kedua belah pihak sama-sama kuat. Tapi setiap kali tangan mereka beradu, Coan-kang Tianglo harus menggunakan sebagian tenaganya untuk mengusir hawa dingin yang beracun itu sehingga dengan demikian dia harus menggunakan lebih banyak tenaga dari pada lawannya. Oleh karena itu, sesudah beradu tangan tiga kali si pengemis tua segera jatuh di bawah angin.

Di sudut lain toa-thia, dengan mempergunakan tongkat tanduk menjangan, Lok Thung Kek melawan Cie-hoat Tianglo dan Ciang-pun Liong-tauw. Meski pun dikeroyok tetapi jagonya Tio Beng tidak keteter dan terus berkelahi dengan hati mantap.

Dengan rasa kuatir Ciang-pang Liong-tauw memperhatikan keadaan Coan-kang Tianglo. Kawan itu telah menyelami dua belas di antara delapan belas pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang dan dalam kalangan Kay-pang, dia memiliki lweekang yang paling kuat. Kenapa dia keteter? Setelah tujuh kali beradu tangan, napasnya tersengal-sengal dan dia kelihatannya payah sekali.

Ciang-pang Liong-tauw tahu bahwa biasanya Coan-kang Tianglo tidak suka dibantu orang. Tapi kini dia menghadapi kekalahan. Dari pada kalah atau binasa, lebih baik dicela orang sebagai tukang keroyok, pikir Ciang-pang Liong-tauw. Berpikir begitu ia lantas menyabet Ho Pit Ong dengan tongkat bambunya. Walau pun pukulan itu belum bisa direndengkan dengan Tah-kauw Pang-hoat (Ilmu Tongkat memukul anjing yang hanya boleh dimililiki Pangcu dari Kay-pang), namun di kalangan Partai Pengemis terdapat serupa kebiasaan, bahwa orang-orang yang bersenjata tongkat selalu berkepandaian tinggi.

Ciang-pang Liong-tauw memang salah seorang jago utama di kalangan Kay-pang. Begitu dia turun tangan, Coan-kang Tianglo dapat bernapas lega dan mereka lalu mendesak Ho Pit Ong sehebat-hebatnya.

Sesudah Hian-beng Jie-lo turun, Tio Beng sendiri sebenarnya ingin melarikan diri. Tapi dia keburu dicegat Tan Yu Liang yang telah menyerang dengan pedangnya. Dalam waktu singkat si nona segera mengeluarkan pukulan-pukulan terhebat dari beberapa partai yang didapatinya di Ban-hoat-si. Bagaikan kilat dia mengirim serangan berantai, yang pertama pukulan dari Hoa-san Kiam-hoat, yang kedua adalah dari Kun-lun Kiam-hoat, yang ketiga dari Khong-tong Kiam-hoat. Tikaman keempat yang menyusul adalah Hang-mo Toa-ku-sit dari Go-bi-pay.

Tan Yu Liang kaget tak kepalang dan dalam kagetnya ia tak keburu menyambut sambaran pedang. Bagaikan anak panah pedang Tio Beng meluncur ke ulu hati. Namun pada detik ujung pedang menyentuh dada, terdengar suara nyaring dan pedang nona Tio terpukul ke samping. Orang yang menolong adalah Song Ceng Su dan di lain saat Tio Beng sudah dikeroyok. Semua kejadian itu tidak lepas dari mata Bu Kie. Dia memperhatikan serangan Song Ceng Su yang mempergunakan Bu-tong Kiam-hoat dan ternyata pemuda itu dapat menyelami pelajaran yang diturunkan ayahnya.

Sementara itu, setiap kali ada lowongan Tan Yu Liang langsung menyerang dari samping dengan pukulan-pukulan Siauw-lim. Dengan demikian, meski pun mengenal macam-macam ilmu silat, dalam pertempuran jangka panjang secara perlahan tapi pasti Tio Beng jadi keteter. Bu Kie menjadi bingung tercampur heran.

“Mengapa dia menggunakan pedang biasa?” tanyanya dalam hati. “Kalau menggunakan Ie-thian-kiam maka dia bisa segera meloloskan diri.“

Waktu itu nona Tio mengenakan pakaian tipis yang berukuran pas benar pada tubuhnya sehingga dapat dilihat bahwa dia menyoren pedang mustika itu di pinggangnya.

Setelah kebingungan beberapa saat, Bu Kie menegur dirinya sendiri: “Bu Kie! Ah, Bu Kie! Kau benar-benar gila! Perempuan siluman itu sudah membinasakan Piauw-moay. Seharusnya aku girang bila Song Ceng Su berhasil membunuhnya. Mengapa aku menjadi bingung? Ini membuktikan bahwa aku masih belum bisa melepaskan dia. Ah... aku bukan saja harus merasa bersalah terhadap Piauw-moay, tetapi juga terhadap Gie-hu dan Cie Jiak.”

Tidak lama kemudian beberapa jago Kay-pang lainnya turun ke gelanggang, sementara di pihak Tio Beng tidak mendapat bantuan. Melihat keadaan tidak bagus, Lok Thung Kek lantas berseru,

“Kuncu Nio-nio! Ho Heng-te! Mundur ke pekarangan luar dan menyingkir!”

“Baiklah,” kata Tio Beng. “Manusia she Tan itu sudah mencaci Thio-kongcu. Aku sangat tidak senang. Sebelum mundur kalian harus menghajar dia.”

“Nio-nio mundur saja lebih dulu,” kata Lok Thung Kek. “Serahkan bocah itu kepada kami.”

“Han Lim Jie setia terhadap Thio-kongcu,” kata pula nona Tio. “Kalian harus menolong dia juga.”

“Baik! Sesudah Nio-nio mundur, kami akan menolongnya,” jawab si kakek.

Pertempuran terus berlangsung dengan hebatnya.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar