ads

Senin, 19 Oktober 2026

To Liong To 30

RIWAYAT CIE-SAN LIONG-ONG

Sekarang mendengar cacian In Lee, ia ingat peristiwa di kaki Kong-beng-teng yang dilihatnya dengan mata sendiri serta kejadian-kejadian yang pernah didengarnya. Karena tidak tahan melihat hinaan terhadap ibu kandungnya In Lee membinasakan gundik ayahnya. Karena perbuatan sadis itu, ibu kandungnya bunuh diri.

In Ya Ong, ayah In Lee atau paman Bu Kie, marah bukan main. Beberapa kali ia mencoba membunuh puterinya. Karena peristiwa menyedihkan itu, karena gundik kesayangannya dibunuh puterinya sendiri, untuk menghibur hati In Ya Ong mengambil beberapa gundik lagi.

Itulah yang masih diingat Bu Kie. Sambil memegang tangan nona In, ia melirik kepada Tio Beng kemudian melirik Cie Jiak. Ia ingat impiannya dan ia merasa sangat jengah. Sesudah mengucapkan kata-kata yang sulit ditangkap, In Lee berkata dengan suara yang agak tegas.

“Bu Kie... kau ikutlah aku. Kau telah menggigit tanganku, tapi sedikit pun aku tidak membencimu. Seumur hidup aku akan melayani kau, aku menganggap kau majikanku. Janganlah kau mencela wajahku yang jelek. Jika kau sudi menerima aku maka aku rela melemparkan seluruh ilmu silatku, membuang racun Cian-cu yang berada dalam diriku supaya paras mukaku bisa pulih kembali seperti pada waktu kita baru bertemu...“ Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan suara lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Bu Kie sangat terharu. Dia tak nyana bahwa saudari sepupunya itu beradat aneh, mempunyai perasaan yang sangat halus.

“Bu Kie,” kata pula Nona In. “Aku sudah mencarimu ke segala pelosok dunia. Belakangan kudengar kau mati lantaran jatuh ke jurang. Waktu berada di See-Hek, aku bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Can A Gu. Dia mempunyai kepandaian tinggi, orangnya sangat baik dan dia pernah mengatakan bersedia mengambil aku sebagai isteri...“

Tio Beng dan lain-lain tahu bahwa Can A Gu adalah nama samaran Bu Kie. Dengan serentak mereka melirik pemuda itu yang paras mukanya lantas berubah menjadi merah. Dalam keadaan demam keras, In Lee tidak dapat menahan lidahnya sendiri. Bu Kie tidak berani menghentikannya dengan menotok jalan darah si nona, karena kalau ditotok nyawa nona In lebih terancam. Dia tidak berdaya waktu dilirik Tio Beng, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw. Dia merasa begitu jengah ingin sekali menceburkan diri ke laut. Sementara itu In Lee terus saja mengaco.

“A Gu-koko pernah mengatakan begini padaku. ‘Nona, dengan setulus hati aku bersedia menikah dengan kau. Aku hanya berharap agar kau tidak mengatakan bahwa aku tak setimpal denganmu’. Selanjutnya dia berkata, ‘Mulai detik ini aku akan mencintaimu, akan melindungimu dengan segenap jiwa dan raga. Tidak peduli berapa banyak orang yang mau mencelakai kau, tak peduli ada berapa banyak jago yang mau menghina kau, aku akan melindungimu. Aku bersedia mengorbankan jiwa demi kepentinganmu. Aku ingin kau bahagia dan melupakan segala penderitaanmu yang lalulu’.

Bu Kie, watak A Gu-koko baik, ilmunya lebih tinggi dari orang-orang sepantaran Biat-coat Suthay. Tetapi karena hatiku sudah aku serahkan kepadamu, Setan kecil yang pendek umurnya, maka aku tak meluluskan permintaan A Gu-koko. Kau sudah mati, biarlah aku tak menikah seumur hidup. Bu Kie, cobalah bilang, apa A-lee baik atau tidak baik terhadap dirimu? Hari itu kau tidak memperdulikan aku, menolak ajakanku. Coba kau katakan dengan setulus hati, apakah kau menyesal atau tidak?”

Mendengar kata-kata yang menyayat hati itu, tanpa terasa air mata Bu Kie mengalir turun di kedua pipinya.

“Bu Kie,” bisik nona In. “Apakah kau tidak merasa kesepian di alam baka? Aku sudah ikut Popo ke Peng-hwee-to untuk mencari ayah angkatmu. Sesudah itu aku ingin pergi ke Bu-tong-san menyembahyangi kuburan kedua orang tuamu, kemudian aku akan pergi ke See-hek untuk membuang diri di puncak es, di mana kau telah tergelincir jatuh supaya aku bisa menemanimu selama-lamanya di alam baka. Tapi aku baru bisa bertindak begitu sesudah Popo meninggal dunia.

Sekarang belum dapat aku mengawanimu. Aku tidak bisa meninggalkan Popo seorang diri di dunia yang luas ini. Popo amat baik terhadapku. Kalau dia tidak menolong, Sejak awal aku sudah mati dibunuh ayah kandungku. Tapi aku telah memberontak terhadap Popo. Sekarang dia amat membenciku, tapi selamanya aku tak akan dapat melupakan budinya dan akan mencoba membalas budi yang besar itu. Bu Kie, apakah sikapku sudah benar?”

Setelah itu suaranya tidak tegas dan tidak teratur lagi. Sebentar dia berbisik dan sebentar kemudian berteriak, sebentar tertawa dan sebentar menangis. Akhirnya suaranya semakin perlahan dan rupa-rupanya karena capai, akhirnya dia pun tertidur.

Bu Kie berlima saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Masing-masing bicara kepada dirinya sendiri. Ombak laut memukul-mukul badan perahu, silir angin bertiup perlahan, sang rembulan memancarkan sinarnya yang putih laksana perak.

Bu Kie menghela napas. Langit rembulan yang dilihatnya adalah abadi. Apa yang berubah-ubah adalah manusia yang selalu diliputi dengan kedukaan dan penderitaan. Tiba-tiba kesunyian dipecahkan dengan nyanyian yang sangat perlahan.

‘Pada akhirnya badan manusia,
tak bisa lari dari hal itu,
hari ini ada kesenangan,
nikmatilah kesenangan itu,
siang dan malam seratus tahun,
yang berusia tujuh puluh sudah jarang ada,
sang waktu mengalir bagaikan air,
gelombang demi gelombang.’

Nyanyian itu ternyata keluar dari mulut In Lee yang masih terus mengaco. Mendadak jantung Bu Kie bergetar keras. Dia ingat waktu terkurung di jalan rahasia Kong-beng-teng karena jalan ditutup oleh Seng Kun, Siauw Ciauw pun pernah menyanyikan lagu itu. Mau tidak mau dia melirik nona itu yang justru sedang memandang dirinya. Begitu dua pasang mata bertemu, si nona buru-buru memalingkan kepalanya. Sementara itu In Lee bernyanyi lagi. Sekali ini lagunya amat aneh, berbeda dengan lagu yang biasa di daerah Tiong-goan. Bu Kie dan yang lain-lain memasang kuping untuk menangkap kata-kata dalam nyanyian itu. Akhirnya mereka mendengar sajak yang maknanya menyerupai sajak yang pernah dinyanyikan Siauw Ciauw di Kong-beng-teng.

‘Datang bagaikan mengalirnya air,
pergi laksana siliran angin,
entah dari mana datangnya,
entah di mana tujuannya!’

Dia mengulangi sajak itu berulang-ulang. Makin lama semakin perlahan akhirnya menghilang di antara suara air dan suara angin. Semua orang mendengarkan dengan termenung. Mereka merasa bahwa memang benar, seorang manusia yang dilahirkan di dunia tidak diketahui dari mana datangnya. Biar pun dia gagah, meski pun dia kosen, akhirnya tidak dapat terluput dari kematian. Dengan mengikuti siliran angin tidak diketahui di mana tujuannya.

SEDIKIT TENTANG BENG-KAUW

Beng-kauw atau agama terang adalah Manichaesm atau Agama dari Mani. Mani (terlahir tahun 216) adalah putera seorang bangsawan. Penduduk Ecbatama. Ia dididik baik oleh ayahnya dan dipelihara di lingkungan sekte Mandaens. Ketika dia dilahirkan terdapat dua agama besar yang saling bertentangan, yaitu agama Mitraism dan Kristen. Mani mempelajari kedua-duanya, malah dia pun mempelajari agama Magism dari Persia sendiri (sekarang Iran). Agama Manichaeism memiliki bagian-bagian dari agama-agama tersebut.

Sepanjang cerita dia memproklamirkan agamanya pada hari penobatan Raja Persia, yaitu Shapur I, di istana raja. Dia berkelana ke berbagai negeri untuk menyebarkan agamanya. Antara lain ia mengunjungi Transoxiana, Tiongkok Barat dan India. Akhirnya ia kembali ke Persia dan mendapat banyak pengikut, bahkan di istana raja sendiri. Namun dia dimusuhi Kasta Magians.

Shapur I sedikit banyak dipengaruhi oleh ajaran Mani dan Hormizd, penggantinya adalah seorang raja yang toleran dan menaruh perhatian kepada Manichaeism. Tetapi pengganti Hormizd, Barham I condong kepada Kasta Magians. Mani ditangkap kemudian diserahkan kepada kasta itu (musuh Mani) yang lalu membinasakannya. Pemerintah Persia berusaha untuk membasmi agama Mani namun gagal.

Sistem Manichaeism adalah sistem dualisme (rangkap dua). Menurut Mani, terang adalah baik dan gelap jahat. Pengetahuan tentang agama berarti pengetahuan tentang alam dan unsur-unsurnya, ada pun penyelamatan ialah proses membebaskan unsur terang dari kegelapan. Menurut Mani, di alam semesta terdapat dua kerajaan. Terang dan gelap, yang berdiri berhadapan. Setan terlahir di kerajaan gelap.

Manusia pertama adalah ciptaan Setan, tapi dalam manusia juga terdapat unsur terang dari Tuhan. Setan berusaha mengikat manusia dengan kejahatan, sedangkan roh-roh terang berusaha memerdekakannya. Mani menamakan dirinya sebagai ‘Duta Terang’. Hanya dengan bantuannya dan bantuan murid-muridnya yang terpilih, barulah terang bisa dipisahkan dari gelap.

Di masyarakat Manichaeism terdapat perbedaan antara penganut-penganut pilihan dan penganut biasa. Penganut pilihan harus mentaati sepuluh larangan, antaranya adalah larangan membunuh makhluk berjiwa. Kenapa Manichaeism pernah mendapat kemajuan besar dan menjadi sebuah agama yang besar?

Kekuatannya ialah: Manichaeism mempersatukan mitologi kuno dan dualisme materialtis dengan cara bersembahyang yang sederhana serta larangan-larangan moral yang keras. Kekuatan lainnya adalah organisasi sosial yang sederhana. Yang pintar dan yang bodoh, yang sungguh-sungguh dan yang tidak, semua boleh masuk ke agama Mani. Sepanjang catatan sejarah, Manichaeism hanya hidup pada abad ketiga belas.

1. Pada tahun 1690 Hasan merampas Alamut di propinsi Rudbar, di daerah pegunungan sebelah selatan Laut Kaspia.

2. Di benua Eropa Hasan dan para pengikutnya disebut ‘Assassin’. Mungkin sekali kata ‘hashish’, semacam tumbuhan yang daunnya memabukkan, seperti madat yang dipakai oleh manusia-manusia itu sebelum mereka melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.

***********

Pada saat itu Bu Kie merasa bahwa tangan Tio Beng yang dicekal olehnya dingin laksana es dan agak gemetar.

Tiba-tiba kesunyian dipecahkan suara Cia Sun. “Ah! Lagu Persia itu diturunkan oleh Han-hujin kepadanya. Dua puluh tahun lebih, pada suatu hari ketika berada di Kong-beng-teng aku pernah mendengar lagu ini. Hai! Aku tidak nyana bahwa Han-hujin bisa berlaku begitu kejam terhadap anak ini.”

“Loyacu,” kata Tio Beng. “Bagaimana Han-hujin dapat menyanyikan lagu Persia itu? Apakah itu lagu Beng-kauw?”

“Memang Beng-kauw berasal dari Persia dan meski pun bukan lagu Beng-kauw, tapi lagu itu memiliki hubungan rapat dengan Beng-kauw,” jawabnya. “Lagu itu sudah digubah dua abad lebih yang lalu oleh seorang penyair Persia yang paling terkemuka, yaitu Omar Khayyam. Sepanjang cerita, lagu itu dapat dinyanyikan hampir seluruh orang Persia. Dahulu waktu aku mendengar nyanyian Han-hujin, aku pernah menanyakan asal-usulnya dan Han-hujin memberi keterangan jelas kepadaku. Ceritanya adalah begini:

Alkisah pada jaman itu di Persia terdapat seorang guru besar, yaitu Imam Mowfaak. Dia memiliki tiga orang murid terkemuka, yaitu Omar Khayyam, Nizam Mulk, dan Ben Sabah. Omar Khayyam mengutamakan ilmu sastra, Nizam Mulk mengutamakan ilmu politik, ada pun Hasan unggul dalam ilmu silat. Mereka bertiga bersahabat erat, bahkan belakangan mereka bersumpah untuk sama-sama senang dan sama-sama susah.

Sesudah mereka keluar dari perguruan, Nazam-lah yang paling beruntung dan dia menjadi Vezer atau menjadi seorang Menteri Pertama dari Shah Persia. Pada saat kedua sahabat karibnya datang, Nazam merasa girang dan mohon supaya Raja Persia memberi pangkat kepada mereka. Hasan diberi pangkat dan menerimanya, tapi Omar menolak. Dia hanya minta tunjangan uang supaya dia bisa mempelajari ilmu perbintangan, menyusun kalender dan menulis sajak-sajak, tanpa harus memikirkan soal penghidupannya. Dengan rasa menyesal Nazam meluluskan permintaan sahabatnya.

Hasan seorang yang berangan-angan besar dan tidak bisa terus-menerus berada di bawah kekuasaan orang lain. Dia memberontak dan sesudah pemberontakannya ditindas, dia mengumpulkan orang yang tidak keruan kemudian melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk seperti membunuh dan sebagainya. Dia menjadi kepala sebuah gerombolan yang namanya menggetarkan dunia dan di antara para pejuang salib, dia terkenal ‘orang tua dari pegunungan’. Di daerah barat banyak sekali manusia binasa di tangan Hasan dan pengikutnya.

Menurut keterangan Han-hujin, di ujung daerah Barat terdapat sebuah negeri yaitu Negeri Inggris. Raja Inggris, Edward, dimusuhi si ‘orang tua dari pegunungan’ yang belakangan mengirim orang untuk membunuh raja itu. Pengawal-pengawal raja tidak berhasil memukul mundur orang-orangnya Hasan dan raja bisa dilukai dengan golok beracun. Syukur tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri, permaisuri cepat memberi pertolongan dengan menghisap luka sang suami dan menyedot keluar racunnya. Dengan demikian raja luput dari kebinasaan.

Hasan benar-benar jahat, belakangan dia bahkan memerintahkan orang untuk membunuh Nizam Mulk, sahabat karib yang pernah memberi banyak bantuan kepadanya. Pada waktu hendak melepaskan napas terakhir, Nazam mengucapkan dua baris sajak yang tadi diucapkan In-kouwnio gubahan Omar Khayyam.

Akhirnya Han-hujin memberi-tahu bahwa banyak pengikut-pengikut Beng-kauw di Persia yang mempelajari ilmu silat ‘si orang tua dari pegunungan’. Ilmu silat Sam-su sangat aneh. Mungkin ilmu silat mereka didapat dari cabang tersebut.

“Loyacu,” kata Tio Beng. “Sifat Han-hujin menyerupai sifat ‘si orang tua dari pegunungan’. Kau mencintai dia tapi dia mencelakai kau.”

Cia Sun menghela napas. “Di dunia ini, membalas kebaikan dengan kejahatan adalah kejadian lumrah,” katanya dengan suara berduka. “Kau tidak usah merasa heran.”

“Loyacu,” kata Nona Tio. “Han-hujin berkedudukan sebagai kepala dari keempat Hoat-ong. Tapi mengapa ilmu silatnya tidak lebih tinggi dari ilmu silat Loyacu? Mengapa waktu dia diserang Sam-su, dia tidak mengeluarkan ilmu silat Cian-cu Ciat-hu-chiu?”

“Cian-cu Ciat-hu-chiu?” menegas Cia Sun. “Han-hujin tidak memiliki ilmu itu. Dia seorang wanita yang cantik luar biasa. Mana mau dia mengorbankan paras mukanya untuk ilmu seperti itu?”

Bu Kie, Tio Beng dan Cie Jiak terkejut. Muka Kim-hoa Popo sangat jelek. Dilihat mukanya sekarang, biar pun usianya lebih muda tiga puluh atau empat puluh tahun, tak bisa dikatakan sebagai wanita yang cantik luar biasa. Hidungnya pesek, bibirnya tebal, mukanya persegi, kupingnya lebar bagaikan kipas. Itu semua takkan dapat diubah.

Tio Beng tertawa. “Loyacu,” katanya. “Kim-hoa Popo tidak bisa dikatakan cantik.”

“Apa? Cie-san Liong-ong cantik bagaikan bidadari dari kahyangan. Dua puluh tahun lebih yang lampau dia adalah wanita paling cantik di seluruh rimba persilatan. Andai kata sekarang dia tidak secantik dulu karena usianya sudah lanjut, aku merasa pasti dia masih tetap mempertahankan kecantikannya. Hai...! Sayangnya aku tidak bisa melihat mukanya lagi.”

Mendengar jawaban yang sungguh-sungguh, nona Tio merasa bahwa di balik soal kecantikan Kim-hoa Popo pasti tersembunyi latar belakang yang masih belum diketahuinya. Nenek itu memang manusia luar biasa. Dia bisa menjadi Cie-san Liong-ong, kepala dari keempat Hu-kauw Hoat-ong sudah luar biasa. Bahwa dia dinamakan sebagai ‘wanita paling cantik di seluruh rimba persilatan’ lebih luar biasa lagi. Sesudah berpikir sejenak Tio Beng berkata lagi,

“Loyacu, namamu menggetarkan dunia Kangouw. Keangkeranmu di Ong-poan-san diketahui semua orang. Tingginya ilmu silatmu tak usah dibicarakan lagi. Peh-bie Eng-ong mendirikan agama sendiri dan selama kurang lebih dua puluh tahun ia bermusuhan dengan enam partai besar. Ceng-ek Hok-ong lihai seperti setan, hari itu di Ban-hoat-si dia menakuti aku. Juga dia telah mengeluarkan ancaman untuk menggores mukaku. Bila ingat ancamannya, sampai sekarang aku masih merasa jeri. Maka itu menurut pendapatku, biar pun Kim-hoa Popo berkepandaian tinggi dan banyak akalnya, belum tentu ia pantas untuk mengambil kedudukan di sebelah atas dari ketiga Hoat Kong. Tapi mengapa dia bisa menjadi Cie-san Liong-ong?”

“Karena In-heng, Wie-hiante dan aku bertiga rela mengalah terhadapnya,” jawab Kim-mo Say-ong.

“Apa?” menegas si nona. Ia tertawa geli kemudian berkata lagi. “Apakah karena ia wanita tercantik sehingga ketiga Enghiong rela berlutut di hadapannya?”

Bu Kie kaget. Tio Beng benar-benar ucal-ugalan. Terhadap Cia Sun, berani guyon. Tapi Cia Sun tidak marah. Ia menghela napas dan berkata.

“Yang menyerah kalah dengan suka rela bukan hanya kami bertiga. Pada waktu itu di kalangan agama kami paling sedikit ada seratus orang lain yang mengagumi Taykis.”

“Taykis? Apa itu nama Han-hujin? Kedengarannya aneh sekali.”

“Dia berasal dari Persia. Itu adalah nama Persia.”

Bu Kie, Tio Beng dan Cie Jiak terkesiap. “Orang Persia?” mereka menegas.

“Apa kalian tidak bisa melihat?” Cia Sun balas menanya. “Ia mempunyai darah campuran, puterinya seorang laki-laki Tionghoa yang menikah dengan wanita Persia. Rambut dan biji matanya hitam tapi hidungnya mancung dan matanya dalam. Kulitnya yang putih laksana salju juga berbeda dengan kulit wanita Tiong-goan.”

“Tidak, tidak!” bantah Nona Tio. “Hidungnya melesak. Kedua matanya kecil. Berbeda jauh dari penjelasan Loyacu. Thio-kongcu, bukankah begitu?”

“Benar,” jawabnya. “Apakah Kim-hoa Popo bertindak seperti Kouw Tauw-to yang merusak mukanya sendiri?”

“Siapakah Kouw Tauw-to itu?” tanya Cia Sun.

“Dia Kong-beng Yu-su Hoan Yauw,” jawab Bu Kie yang dengan ringkas lalu menceritakan sepak terjang orang gagah itu.

“Hoan-heng sangat berjasa kepada Beng-kauw,” kata Cia Sun sesudah menghela napas. “Tindakannya itu tak akan bisa dilakukan sembarang orang. Haei... Bahwa dia sudah bertindak begitu dapat dikatakan juga lantaran Han-hujin...“

Tio Beng menjadi semakin heran. “Loyacu,“ katanya. “Janganlah kau bercerita sepotong-sepotong. Cobalah ceritakan dari awal sampai akhir.”

“Hmm...“ Cia Sun menengadah seperti orang yang mau mengumpulkan ingatan, kemudian dia berkata dengan suara perlahan. “Dua puluh tahun lebih yang lampau Beng-kauw di bawah pimpinan Yo Po Thian, Yo-kauwcu. Waktu itu agama kami sedang makmur-makmurnya. Pada suatu hari tiga orang Persia mendadak datang ke Kong-beng-teng dan mempersembahkan surat pribadi Kauwcu dari Cong-kauw kepada Yo-kauwcu. Surat itu menerangkan bahwa di Cong-kauw terdapat seorang Cang-san Su-ci. Ia seorang Tionghoa yang merantau ke Persia kemudian menjadi penganut Beng-kauw. Dia banyak berjasa untuk agama dan dari pernikahannya dengan seorang Persia dia memiliki puteri. Tahun yang lalu, kata surat itu, Cang-san Su-ci meninggal dunia. Waktu mau menutup mata dia ingat akan negerinya dan berpesan supaya puterinya dikirim pulang ke Tiongkok. Untuk memenuhi pesan tersebut maka Kauwcu Cong-kauw mengirim nona itu ke Kong-beng-teng dengan harapan supaya Yo-kauwcu sudi memeliharanya.

Yo-kauwcu lantas mengiyakan dan meminta supaya nona itu dibawa masuk. Begitu masuk, ruangan Toa-thia (ruangan besar) seolah bersinar terang. Selagi ia memberi hormat kepada Yo-kauwcu sambil berlutut, kami semua Kong-beng Cu-su dan Yu-su, juga ketiga Hoat Ong, Ngo-sianjin dan kelima pemimipin Ngo-heng-kie mengawasinya dengan mata terbelalak dan hati berdebar-debar. Nona itu adalah Taykis. Ketiga utusan Cong-kauw hanya menginap semalaman, pada keesokan paginya mereka pulang. Mulai saat itu Taykis menetap di Kong-beng-teng.”

Tio Beng tertawa, “Loyacu, kau sendiri jatuh cinta padanya, bukan?” tanyanya. “Jangan malu-malu. Akuilah!”

Kim-mo Say-ong menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak!” jawabnya dengan suara parau. “Waktu itu aku baru saja menikah dan isteriku sedang hamil. Dalam hatiku tidak mungkin timbul niatan serong.”

“Ohh...!” kata Tio Beng.

Dia tahu sudah kelepasan bicara. Anak isteri Cia Sun dibinasakan Seng Kun dan tersentuhnya soal itu tentu saja mengingatkan kembali kejadian dahulu. Buru-buru dia berkata,

“Benar! Tak heran kalau si nenek mengatakan bahwa waktu ia menikah dengan Gin-yap Sian-seng, hanya Kauwcu dan Loyacu sendiri yang tidak menentang. Kurasa nyonya Kauwcu bukan saja cantik, tapi juga sangat lihai menaklukkan suaminya.”

Cia Sun mengangguk. “Dugaanmu tidak meleset,” katanya. “Yo-kauwcu adalah seorang gagah sejati yang adatnya amat terbuka. Taykis masih amat muda, pantas untuk menjadi anaknya. Apa lagi Kauwcu dari Cong-kauw minta agar dia memelihara nona itu seperti anak sendiri. Sejak Taykis datang ke Kong-beng-teng, Yo-kauwcu selalu memperlakukannya dengan kasih sayang seorang ayah. Aku tahu bahwa Yo-kauwcu sama sekali tidak punya niat yang tidak-tidak. Yo-hujin adik seperguruan Yo-kauwcu atau Susiok-ku (bibi seperguruan) sendiri. Yo-kauwcu, Seng Kun dan Yo-hujin adalah Su-heng-moay (saudara dan saudari seperguruan). Sebagai Toa-supek Yo-kauwcu sering memberi pelajaran ilmu silat kepadaku. Dia baik sekali terhadapku.”

Biar pun sakit hatinya terhadap Seng Kun tidak berkurang, tapi waktu menyebutkan nama manusia terkutuk itu Cia Sun tidak kalap lagi melainkan hanya menyebutkan dengan suara tawar. Mendadak Tio Beng ingat sesuatu dan lantas berkata.

“Menurut orang, di masa muda Kong-beng Yu-su Hoan Yauw sangat tampan parasnya. Apakah ia tidak jatuh cinta terhadap Taykis?”

“Memang dia jatuh cinta sedari pertama bertemu, malah dia tergila-gila,” jawabnya sambil mengangguk. “Tetapi yang jatuh cinta sebenarnya bukan hanya Hoan-heng seorang. Aku percaya masih banyak orang lain. Tapi karena Beng-kauw memiliki peraturan sangat keras, juga karena Yo-kauwcu sangat dihormati dan disegani semua anggota, maka orang-orang yang berani mengincar Taykis hanyalah para jejaka yang belum menikah. Di luar dugaan hati Taykis dingin bagaikan es. Ia menyemprot setiap orang yang berani mengungkapkan soal cinta kepadanya. Yo-hujin sudah berusaha menjodohkan dengan Hoan-heng, tapi menolak keras. Akhirnya di hadapan banyak orang, sambil mencekal pedang, dia bersumpah tidak akan menikah. Jika dipaksa dia lebih suka binasa dari pada tunduk. Karena tindakannya yang sangat tegas, akhirnya tak seorang pun yang berani mendekat.

Setengah tahun kemudian, suatu hari seseorang dari Leng-coa-to datang di Kong-beng-teng. Dia mengaku she Han bernama Cian Yap, putera musuh Yo-kauwcu, dan kunjungannya ke Kong-beng-teng untuk membalaskan sakit ayahnya. Pemuda itu sama sekali tidak luar biasa. Dia berani menantang Yo-kauwcu dianggap sebagai kejadian lucu. Banyak di antara kami yang tidak dapat menahan tawa. Tetapi Yo-kauwcu sendiri tidak memandang enteng. Dia menyambut pemuda itu dengan segala kehormatan dan menjamunya dalam perjamuan besar. Latar belakang tantangan itu adalah begini.

Karena salah paham, Yo-kauwcu bertempur dengan ayah pemuda itu dan melukainya dengan pukulan Tay-kiu Thian-chiu. Pecundang itu lantas mengatakan akan membalas sakit hatinya. Tapi karena tahu bahwa ia takkan bisa mendapat kemajuan lebih jauh dalam ilmu silatnya, maka ia menjanjikan di kemudian hari akan mengirimkan anak laki-laki atau anak perempuannya untuk membalas sakit hati. Yo-kauwcu menjawab bila anak itu datang dia akan mengalah dalam tiga pukulan. Ayah pemuda Cian Yap mengatakan bahwa dalam pertandingan Yo-kauwcu tak usah mengalah tetapi kalau disetujui, dia ingin sekali supaya anaknya boleh memilih cara bertanding. Yo-kauwcu menyatakan persetujuannya. Tak dinyana setelah berselang belasan tahun, orang itu benar-benar mengirim puteranya menantang Yo-kauwcu.

Waktu itu kepandaian Yo-kauwcu sudah sedemikian tinggi sehingga biar pun ahli-ahli silat paling jempolan belum tentu mampu melawannya. Han Cian Yap masih amat muda. Dalam usia yang belum seberapa itu tidak mungkin dia mempunyai kepandaian yang bisa mengimbangi Yo-kauwcu. Melihat itu kami semua merasa lega. Yang dikuatirkan hanyalah satu pertanyaan. Cara bertanding bagaimana yang akan dipilihnya?

Pada keesokan harinya di hadapan kami Han Cian Yap menceritakan peristiwa itu sehingga Yo-kauwcu tidak bisa mundur lagi. Cara bertanding yang dipilihnya dia mau bertanding dalam Pek-sui Han-tam (kolam dingin yang airnya biru) yang terdapat di Kong-beng-teng. Siapa kalah harus membunuh diri di hadapan orang banyak. Tantangan itu bagai halilintar di tengah hari yang bolong. Semua orang mencelos hatinya. Air kolam itu dingin bagaikan es. Jangankan waktu itu musim dingin, musim panas pun tak ada orang yang berani menceburkan diri di kobakan tersebut. Celakanya Yo-kauwcu tidak bisa berenang. Menerima tantangan itu berarti mengantarkan jiwa. Kami semua marah dan segera mencaci pemuda itu.”

“Gie-hu,” kata Bu Kie. “Urusan ini sangat sulit. Perkataan laki-laki sejati tidak bisa dikejar oleh kuda yang larinya paling cepat. Sesudah Yo-kauwcu mengiyakan permintaan Han Cian Yap, maka tidak boleh menolak tantangan itu.”

Tio Beng tersenyum sambil memijit tangan Bu Kie. “Benar,“ katanya. “Perkataan laki-laki sejati tidak bisa dikejar oleh kuda yang larinya paling cepat. Seorang kauwcu Beng-kauw tidak bisa menjilat ludah sendiri. Setiap janji harus dipastikan.”

Kata-kata itu sebenarnya menyindir Bu Kie, tetapi tentu saja Cia Sun tidak tahu.

SENG-LIE (WANITA SUCI)

“Tidak salah,” katanya. “Mendengar cacian kami, Han Cian Yap langsung berkata dengan suara nyaring. ‘Seorang diri aku datang ke sini. Aku memang tidak berharap hidup. Para Enghiong boleh membunuh aku. Di sini hanya terdapat orang-orang Beng-kauw sehingga pembunuhan terhadap diriku tak akan diketahui oleh orang luar. Kalian boleh segera turun tangan!’. Mendengar omongan itu, kami tertegun. Sesudah berpikir beberapa saat, Yo-kauwcu berkata, ‘Han-heng, memang benar dahulu aku pernah membuat perjanjian dengan ayahmu. Seorang laki-laki tidak dapat menyalahi janji. Aku mengaku kalah. Aku bersedia menuruti segala keputusanmu’.

Tiba-tiba saja tangan Han Cian Yap bergerak dan sudah memegang sebatang pisau yang ditudingkan ke arah jantungnya sendiri. ‘Pisau ini adalah warisan ayahku’, katanya. ‘Aku hanya minta supaya Yo-kauwcu berlutut tiga kali kepada pisau ini’. Mana boleh kauwcu kami menerima hinaan yang sehebat itu? Tetapi sesudah Yo-kauwcu menyerah kalah, menurut peraturan dunia Kangouw dia tak boleh menampik tuntutan itu. Suasana berubah panas dan kegentingan memuncak. Memang Han Cian Yap tak memikirkan hidup. Sesudah Yo-kauwcu berlutut, dia akan menancapkan pisau itu di jantungnya sendiri supaya tidak binasa di tangan jago-jago agama kami.

Untuk beberapa saat ruangan besar itu sunyi seperti kuburan. Siauw Yauw Jie-sian (Yo Siauw dan Hoan Yauw), Peh-bie Eng-ong In Heng, Pheng Eng Giok Hwesio dan yang lain-lain yang biasanya pintar sekarang menghadapi jalan buntu. Pada saat genting sekonyong-konyong Taykis melompat keluar lalu berkata kepada Yo-kauwcu. ‘Thia-thia, orang lain mempunyai putera yang berbakti, apakah Thia-thia tidak punya anak perempuan yang berbakti juga? Dia hanya datang untuk membalas sakit hati ayahnya. Biarkan anak yang melayaninya. Yang lebih tua melayani yang tua. Yang lebih muda berhadapan dengan yang lebih muda’.

Semua orang kaget. Mengapa Taykis memanggil Thia-thia (ayah)? Akan tetapi kami lantas mengerti bahwa untuk menyingkirkan mara bahaya, Taykis sengaja mengakui Yo-kauwcu sebagai ayahnya. Kami sangat kuatir. Kepandaian apa yang dimiliki si nona? Apa dia mampu berkelahi dalam air yang sangat dingin seperti es? Sebelum Yo-kauwcu menjawab Han Cian Yap telah berkata sambil tertawa dingin. ‘Mewakili ayah menyambut lawan memang satu kepantasan, tetapi kalau nona kalah aku tetap menuntut bahwa Yo-kauwcu harus berlutut di hadapan pisau ini’. Dengan berkata begitu nampaknya dia tidak memandang mata kepada Taykis.

‘Tapi bagaimana kalau tuan yang kalah?’ tanya Taykis. ‘Nona boleh berbuat sesuka hati. Boleh bunuh, boleh apa pun juga’, jawabnya. ‘Baiklah. Mari kita pergi ke Pek-sui Han-tam’, kata Taykis yang segera berjalan lebih dulu. Yo-kauwcu menggoyangkan tangannya dan berkata. ‘Tidak! Kau tak usah mencampuri urusan ini’. Taykis tersenyum, sikapnya tenang luar biasa. ‘Thia-thia, kau tidak usah kuatir’, katanya sambil berlutut. Berlututnya seolah-olah sebuah upacara mengangkat ayah.

Ketenangan Taykis menunjukkan bahwa dia mempunyai pegangan dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Yo-kauwcu tidak membantah lagi. Hakekatnya memang tak ada jalan lain yang baik. Semua orang lantas menuju Pek-sui Han-tam yang terletak di sebelah utara gunung. Ketika itu angin utara meniup dengan kencangnya. Beberapa orang yang tenaga dalamnya tidak begitu kuat sudah menggigil. Mereka menggigil dengan hanya berdiri di pinggir kolam. Apa lagi jika terjun ke kolam! Sebagian air telah mengeras menjadi es dan air yang berwarna biru itu seperti tiada dasarnya.

Mendadak Yo-kauwcu merasa bahwa dia tidak pantas membiarkan Taykis mengantarkan jiwa. ‘Anak’, serunya dengan suara nyaring. ‘Aku tahu hatimu sangat mulia. Tetapi biarlah aku saja yang melayani Han-heng’. Seraya berkata demikian dia membuka jubah luarnya untuk segera terjun ke air. Taykis tersenyum. ‘Thia-thia’, katanya. ‘Sejak kecil anak pandai berenang, anak selalu bermain-main di laut’. Ia menghunus pedang kemudian bagaikan seekor walet badannya melesat dan kedua kakinya hinggap di atas es. Sesudah membuat lingkaran dengan pedangnya, dia melompat lagi dan terjun ke air!

Di depan mataku terbayang lagi kejadian itu. Hari itu Taykis mengenakan baju warna ungu dan ketika dia berdiri di atas es, kecantikannya tidak kalah dari kecantikan Dewi Leng Po. Tanpa mengeluarkan suara dia terjun ke air. Kami semua kaget, Han Cian Yap pun kaget. Paras mukanya yang semula angkuh lantas berubah. Sambil mencekal pisau dia turut melompat ke kolam.

Air kolam berwarna biru tua. Kami tidak dapat melihat perkelahian, kami hanya melihat air bergoyang-goyang. Kami semua sangat kuatir. Beberapa lama kemudian di satu sudut air kolam tercampur sedikit darah. Kami makin kuatir. Siapa yang terluka? Apa Taykis? Tak lama kemudian air bergolak lagi dan Han Cian Yap melompat keluar dengan napas tersengal-sengal. Hati kami mencelos. ‘Mana Taykis?’ tanyaku.

Pemuda itu ternyata bertangan kosong, pisaunya tertancap di dadanya sendiri. Sedang kedua pipinya terdapat goresan luka. Selagi jantung kami berdetak keras, air bergolak lagi dan laksana seekor ikan Taykis muncul di permukaan air. Kemudian sambil memutar pedang untuk melindungi diri, melompat ke daratan. Kami bersorak sorai.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata saking terharu, Yo-kauwcu memegang tangan Taykis. Mimpi pun kami belum pernah bahwa Taykis memiliki kepandaian setinggi itu. Sementara itu sambil melirik Han Cian Yap, Taykis pun berkata, ‘Ilmu berenang orang itu cukup baik. Mengingat kebaktiannya ini, anak harap Thia-thia suka mengampuni jiwanya’. Yo-kauwcu meluluskan permintaan itu dan memerintahkan Ouw Ceng Gu mengobati lukanya.

Malam itu di atas Kong-beng-teng diadakan perjamuan besar. Taykis berjasa sangat besar. Tanpa pertolongannya habislah nama besar Yo-kauwcu. Yo-hujin lalu menghadiahkan gelar ‘Cie-san Liong-ong’ yang setingkat dengan Eng-ong, Say-ong dan Hok-ong. Kami bertiga menyetujui pengangkatan itu. Kami rela menyerahkan kedudukan pemimpin keempat Hoat-ong kepada gadis muda belia itu. Tapi peristiwa itu mempunyai ekor yang tidak diduga-duga. Han Cian Yap kalah berkelahi tapi menang total. Entah bagaimana ia berhasil merebut hati Taykis. Rasa cinta Taykis muncul waktu setiap hari dia menengok si pemuda she Han yang dirawat Ouw Ceng Gu. Sangat boleh jadi rasa cintanya bersemi dari rasa kasihan dan menyesal bahwa dia sudah melukai si pemuda.

Meski bagaimana pun juga, sesudah Han Cian Yap sembuh, sekonyong-konyong Taykis memberi-tahu Yo-kauwcu, bahwa dia mau menikah sama pemuda itu. Pemberi-tahuan itu mengejutkan kami. Ada yang berduka, ada yang merasa putus harapan, ada pula yang marah. Han Cian Yap musuh besar agama kita, hinaannya terhadap Yo-kauwcu tidak bisa dilupakan. Sekarang mendadak Taykis mau menikah dengan dia. Beberapa saudara yang berangasan lantas mencaci. Tapi Taykis beradat keras. Ia menghunus pedang dan sambil berdiri di ambang pintu, dia berteriak, ‘Mulai hari ini Han Cian Yap menjadi suamiku. Siapa yang menghina dia boleh menjajal pedang Cie-san Liong-ong’. Melihat tekadnya dan nekatnya, kami semua tidak berdaya.

Upacara pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana. Sebagian besar saudara-saudara kami tidak menghadiri pesta. Karena mengingat jasanya, Yo-kauwcu dan aku berusaha keras memenuhi keinginannya sehingga pernikahan bisa berlangsung tanpa gelombang yang lebih hebat. Akan tetapi masuknya Han Cian Yap ke Beng-kauw mendapat tentangan yang terlalu hebat sehingga Yo-kauwcu sendiri tidak dapat menindih tentangan itu. Tidak lama kemudian Yo-kauwcu hilang tanpa bekas. Kami bingung dan mencoba mencari ke segala pelosok. Secara kebetulan, waktu sedang mencari Yo-kauwcu, Kong-beng Yu-su Hoan Yauw melihat Han-hujin keluar dari jalan rahasia.”

Bu Kie terkejut. “Keluar dari jalan rahasia?” Dia menegas.

“Ya,” jawabnya. “Peraturan Beng-kauw sangat keras. Hanya kauwcu seorang yang boleh masuk. Dalam kaget dan marahnya Hoan Yauw segera menegur. Jawab Han-hujin. ‘Aku sudah melanggar peraturan. Mau bunuh, silakan bunuh! Sesukamu!’ Malam itu juga kami berkumpul membicarakan kesalahan Han-hujin. Tapi Han-hujin tetap berkeras kepala. Pertanyaan mengapa ia masuk di jalan rahasia itu tidak dijawab. Ia mengatakan tidak tahu di mana adanya Yo-kauwcu. Ia mengatakan bahwa ia bertanggung jawab sendiri untuk kesalahannya. Menurut peraturan, seorang anggota Beng-kauw yang berani masuk ke jalan rahasia harus membunuh diri, atau dikutungkan sebelah tangan atau kakinya. Mengingat kecintaannya pada masa lalu, Hoan Yauw berusaha keras untuk melindunginya. Aku pun membantu agar hukuman berat itu tak usah dijalankan. Akhirnya semua orang menyetujui untuk memenjarakannya selama sepuluh tahun supaya dia dapat merenungkan dosanya. Di luar dugaan, Han-hujin melawan. ‘Tanpa Yo-kauwcu, siapa yang berani menghukum aku?’ bentaknya.”

“Gie-hu,” Bu Kie memotong pembicaraan ayah angkatnya. “Sebenarnya apakah maksud Han-hujin dengan masuk di jalan rahasia itu?”

“Kalau mau diceritakan akan panjang sekali,“ jawabnya. “Di Beng-kauw hanya aku seorang yang tahu sebab musababnya. Waktu itu banyak yang mengira bahwa masuknya Han-hujin di jalan rahasia itu ada sangkut pautnya dengan masalah mengenai hilangnya suami isteri Yo-kauwcu. Aku menentang dugaan itu. Kami lalu bertengkar hebat sehingga akhirnya Han-hujin memutuskan hubungan dengan Beng-kauw. Dia orang pertama yang keluar dari agama kami. Hari itu juga dia turun gunung bersama Han Cian Yap dan tidak bisa ditemukan lagi. Kami berusaha keras untuk mencari Yo-kauwcu, tetapi usaha itu sia-sia belaka.

Berselang beberapa tahun, karena perebutan kedudukan Kauwcu keadaan bertambah hebat. In-heng meninggalkan Beng-kauw kemudian mendirikan Peh-bie-kauw. Aku mencoba membujuknya tetapi dia tidak meladeni. Lantaran itu aku dan dia bermusuhan. Maka itulah dua puluh tahun lebih yang silam, waktu Peh-bie-kauw memamerkan To-liong-to untuk memperlihatkan keangkerannya, Kim-mo Say-ong turun tangan.

Pertama, aku memang ingin merampas golok itu. Dan kedua, aku hendak melampiaskan dongkolku. Aku ingin memperlihatkan kepada In-heng bahwa sesudah dia keluar dari kekuasaan Beng-kauw maka dia tidak akan dapat melakukan sesuatu yang besar. Hai...! Sekarang aku merasa bahwa perbuatanku amat keterlaluan.“ Dia menghela napas dan paras mukanya kelihatan sangat berduka.

Untuk beberapa saat semua orang tidak berkata-kata.

“Loyacu,” kata Tio Beng. “Sesudah peristiwa itu terjadi maka nama Gin-yap dan Kim-hoa Popo menggetarkan dunia Kangouw. Mengapa orang-orang Beng-kauw tidak bisa meraba bahwa Gin-yap dan Kim-hoa Popo sesungguhnya suami isteri Han Cian Yap? Dan sebab apa Gin-yap Sian-seng mati kena racun?”

“Entahlah,” jawabnya. “Mungkin dalam sepak terjang mereka di kalangan Kangouw, mereka selalu menyingkirkan diri dari orang-orang agama kami.”

Mendadak Bu Kie menepuk lutut. “Benar!” katanya. “Kim-hoa Popo memang mengelakkan diri dari pertemuan dengan orang-orang Beng-kauw ketika enam partai mengepung Beng-kauw. Walau pun sudah tiba di Kong-beng-teng tapi dia tidak segera naik ke puncak memberi bantuan.”

Alis Tio Beng berkerut. “Ada sesuatu yang tidak bisa dimengerti olehku,” katanya. “Cie-san Liong-ong terkenal wanita sangat cantik. Mengapa sekarang mukanya jelek? Mengapa mukanya rusak?”

“Menurut taksiranku dia sudah menggunakan suatu atau lain cara untuk mengubah paras mukanya,“ kata Cia Sun. “Kau harus tahu bahwa Han-hujin beradat aneh. Kau pun harus tahu bahwa hatinya amat menderita. Selama hidup ia harus selalu menyingkirkan diri dari orang-orang Cong-kauw yang mencoba mengejar dan mencarinya. Hai...! Sungguh tak dinyana dalam usianya yang lanjut ia masih belum bisa meluputkan diri. Akhirnya orang-orang Cong-kauw dari Persia berhasil mencari dia.”

Mata Tio Beng terbuka lebar. “Mengapa orang Cong-kauw mencari dia?” tanyanya dengan rasa heran.

“Inilah rahasia paling besar dari Han-hujin,” jawabnya. “Sebenarnya aku tidak boleh membuka rahasia. Tetapi karena aku ingin kembali ke Leng-coa-to untuk menolong dia maka aku bicara seterang-terangnya.”

“Kembali ke Leng-coa-to?” si nona menegas. “Apa Loyacu pikir kita dapat melawan Sam-su?”

Cia Sun tidak menjawab. Setelah menghela napas panjang ia pun bercerita dengan suara pelan.

“Selama ratusan tahun kursi kauwcu dari Beng-kauw di Tiong-goan selalu diduduki seorang pria, tetapi Kauwcu Cong-kauw di Persia selalu seorang wanita. Bukan saja seorang wanita, tetapi juga seorang gadis yang tidak pernah menikah. Menurut peraturan Cong-kauw hanya seorang gadis yang masih suci boleh menjadi Kauwcu supaya dia bisa mempertahankan kesucian Beng-kauw. Setiap Kauwcu yang baru memegang jabatan harus memilih tiga gadis yang berkedudukan paling tinggi di Cong-kauw untuk meneliti sekeliling dan dijadikan Seng-lie (wanita suci).

Sesudah diangkat menjadi Seng-lie dengan sumpah yang sangat berat, mereka harus berkelana ke berbagai tempat untuk melakukan perbuatan baik demi kemakmuran dan kebesaran Beng-kauw. Ketika kauwcu meninggal dunia maka semua tetua agama akan mengadakan pertemuan untuk memperbincangkan jasa ketiga Seng-lie. Yang jasanya dianggap paling baik akan diangkat menjadi Kauwcu baru. Jika Seng-lie hilang kesuciannya, kalau dia menikah, maka dia akan dihukum bakar hidup-hidup. Tak peduli dia lari ke mana pun, Cong-kauw akan memerintahkan orang-orang yang berkepandaian tinggi mencarinya...“

“Oh...!“ potong Tio Beng. “Apakah Han-hujin salah seorang dari ketiga Seng-lie itu?”

Cia Sun mengangguk. “Benar!” jawabnya. “Hal ini sudah aku ketahui sebelum Hoan Yauw memergokinya di mulut jalanan rahasia. Han-hujin sendiri membuka rahasia kepadaku, yang dianggapnya sebagai teman atau sahabat paling karib. Ia mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada waktu bertempur dengan Han Cian Yap di kolam Pek-sui Han-tam. Belakangan karena sering menengok pemuda yang dirawat Ouw Ceng Gu itu, rasa cintanya semakin besar dan tidak dapat diubah lagi. Ia tahu bahwa sesudah menikah ia pasti akan dikejar orang-orang Cong-kauw.

Harapan satu-satunya untuk menebus dosa adalah membuat suatu pahala besar. Maka itu dengan menempuh bahaya ia pun masuk ke jalan rahasia dengan maksud mencari kitab Kian-kun Tay-lo-ie. Di Cong-kauw kitab ilmu silat itu telah lama hilang dan yang masih memiliknya adalah Beng-kauw Tiong-goan. Mengapa Cong-kauw mengirim Taykis ke Kong-beng-teng? Sebab yang paling utama adalah untuk mencari dan mendapatkan kitab tersebut.”

“Ahh!” Bu Kie mengeluarkan suara tertahan. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres tapi dia tidak tahu apa itu yang tidak beres.

Cia Sun meneruskan ceritanya. “Beberapa kali Han-hujin masuk ke jalanan rahasia tanpa berhasil. Aku menasihati supaya dia menghentikan usahanya karena masuknya ke jalanan rahasia merupakan pelanggaran besar yang sukar bisa diampuni...”

“Sekarang aku tahu,” potong Tio Beng. “Han-hujin memutuskan hubungan dengan Beng-kauw agar dia bebas masuk ke jalan rahasia itu. Sesudah tidak menjadi anggota Beng-kauw, dia tidak terikat lagi dengan peraturan agama. Loyacu, bukankah begitu?”

“Tio-kouwnio sangat pintar,“ jawabnya sambil mengangguk. “Kong-beng-teng adalah pusat agama kita dan aku tidak bisa memperkenankan orang keluar masuk sesuka hati. Aku sudah menebak maksud Han-hujin. Setelah dia turun gunung aku sendiri menjaga di mulut jalan rahasia. Tiga kali dia menyatroni, tiga kali pula dia bertemu dengan aku. Akhirnya dia pergi dengan putus harapan.“ Sehabis berkata begitu Cia Sun menengadah seperti orang sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimanakah pakaian Sam-su? Apa berbeda dengan pakaian anggota Beng-kauw di Tiong-goan?”

“Mereka mengenakan jubah putih dan pada ujung jubah tersulam obor merah,” jawab Bu Kie. “Tapi... tapi... pada pinggiran terdapat lapisan kain hitam. Hanya itu perbedaannya.”

“Tidak salah lagi!” Cia Sun berseru. “Kauwcu Cong-kauw baru saja meninggal dunia! Bagi orang-orang See-hek, hitam adalah warna berkabung. Jubah putih dengan pinggiran hitam berarti pakaian berkabung. Mereka mau memilih kauwcu baru maka mencari Han-hujin.”

“Ada satu hal yang aku kurang mengerti,” kata Bu Kie. “Han-hujin berasal dari Beng-kauw di Persia, maka ia tentu mahir ilmu silat yang dipelajari di kalangan Cong-kauw. Tapi mengapa dalam satu jurus saja ia roboh oleh Sam-su?”

“Bodoh!” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Han-hujin hanya berpura-pura untuk menutupi asal-usul yang sebenarnya. Dia tidak boleh memperlihatkan ilmu silat ketiga utusan itu. Menurut dugaanku, kalau Loyacu mengiring kehendak Sam-su dan coba membunuh dia, pasti dia tidak mempunyai daya untuk menyelamatkan diri.”

Cia Sun menggelengkan kepala. “Memang betul ia menutupi asal-usulnya,” katanya. “Tapi aku merasa kurang setuju jika Tio-kouwnio berpendapat bahwa dia masih bisa meloloskan diri sesudah ditotok Sam-su,. Belum tentu dia bisa meloloskan diri. Menurutku, Han-hujin lebih suka dibunuh olehku dari pada dibakar hidup-hidup.”

Tiba-tiba terdengar suara beradunya gigi. Semua orang terkejut. Ternyata In Lee kembali menggigil keras hingga giginya bercatrukan. Bu Kie meraba dahi si nona yang panas luar biasa. Dia menghela napas. Penyakit nona Ini sangat berat.

“Gie-hu,” kata Bu Kie setelah berpikir sejenak, “Anak mengambil keputusan untuk kembali ke Leng-coa-to. Sedapat mungkin In-kouwnio harus bisa beristirahat. Andai kata kita tidak bisa berhasil menolong Han-hujin, sedikitnya kita harus menolong In-kouwnio.”

“Benar,” kata Cia Sun. “In-kouwnio begitu mencintai kau. Dia tidak bisa tidak ditolong, Tio-kouwnio, bagaimana pikiranmu?”

“Luka In-kouwnio sangat berat, aku setuju untuk kembali,“ jawab Tio Beng.

Cie Jiak menjawab dengan suara dingin. “Terserah pada Loyacu.”

“Kita harus menunggu sampai halimun buyar lalu berlayar dengan melihat bintang sebagai pedoman,“ kata Bu Kie. “Gie-hu, pada waktu Liu-in-su berjungkir balik di tengah udara dia berhasil melukai aku dengan Seng-hwee-leng. Mengapa bisa begitu? Ilmu silat apa itu?”

Mereka lantas membicarakan ilmu silat ketiga utusan Cong-kauw itu. Tio Beng yang mengenal banyak ilmu silat kadang-kadang turut memberikan pikirannya. Tapi sesudah berunding berjam-jam mereka belum bisa menangkap inti sari ilmu silat Sam-su yang berdasarkan kerja sama antara mereka bertiga. Sesudah matahari keluar barulah halimun membuyar.

“Semula kita menuju ke selatan dari utara,” kata Bu Kie. “Maka, kalau mau kembali ke Leng-coa-to sekarang kita harus mengambil jalan ke arah barat laut.”

Dengan bergiliran Cia Sun, Bu Kie, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw mulai mendayung perahu. Kalau tadi perahu melaju dengan bantuan angin, sekarang harus melawan angin. Untung Cia Sun dan Bu Kie memiliki tenaga dalam yang sangat kuat, sedangkan kedua nona itu pun mempunyai lweekang yang lumayan sehingga pekerjaan mendayung tak dirasakan terlalu berat. Perlahan tapi pasti perahu itu bergerak ke jurusan utara.

Selama beberapa hari Cia Sun tidak banyak bicara. Dia hanya duduk termenung dengan alis berkerut memikirkan jalan untuk melawan ilmu Sam-su yang sangat aneh. Pada magrib hari ke enam tiba-tiba dia bertanya kepada Cie Jiak tentang ilmu silat Go-bi-pay. Nona Cie segera memberi-tahu tanpa tedeng aling-aling. Tanya jawab itu berlangsung sampai jauh malam. Akhirnya dengan suara kecewa Cia Sun berkata:

”ilmu silat Siauw-lim, Bu-tong dan Go-bi semuanya bersumber dari Kiu-yang Cin-keng dan tidak berbeda dengan ilmu silat Bu Kie, semua berdasarkan Yang-kong (keras). Kalau Thio Sam Hong Cinjin yang memiliki Im-jiu dan Yang-kong (lembek keras) berada di sini, kita akan dapat merobohkan Sam-su. Dengan Im-jiu dari Thio Cinjin dan Yang-kong dari Bu Kie, aku yakin bahwa Sam-su dapat dikalahkan. Tapi Thio Cinjin berada di tempat jauh dan waktu sangat mendesak. Apa daya kalau Han-hujin sudah ditangkap Sam-su?”

“Loyacu,” kata Cie Jiak. “Kudengar ratusan tahun yang lampau sejumlah tokoh rimba persilatan mengenal ilmu silat yang bersumber pada Kiu-im Cin-keng. Apakah benar?”

Waktu berada di Bu-tong-san, Bu Kie juga pernah mendengar nama Kiu-im Cin-keng dari Thay-suhunya. Ia tahu bahwa Kwee Ceng Kwee-tayhiap (ayah Kwee Siang Lihiap, pendiri Go-bi-pay) dan Sin-tiauw Tayhiap Yo Ko adalah orang-orang yang sudah mempelajari ilmu silat Kiu-im Cin-keng. Namun ilmu-ilmu di dalam kitab itu sangat sukar dipelajari sehingga Kwee Siang sendiri tidak dapat mempelajarinya. Ia terkejut waktu mendengar pertanyaan Cie Jiak.

“Memang ada cerita begitu, tapi benar tidaknya, aku tidak tahu,” jawab Cia Sun. “Menurut orang-orang tua, ilmu silat Kiu-im Cin-keng lihai luar biasa. Kalau sekarang ada orang yang memiliki ilmu silat itu dan dia bekerja sama dengan Bu Kie, Sam-su pasti bisa dirobohkan dengan gampang.”

“Ya,” kata nona Ciu. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Ciu-kouwnio, apakah di Go-bi-pay tidak ada orang yang mengenal ilmu silat Kiu-im Cin-keng?” tanya Tio Beng.

Alis Cie Jiak berkerut dan ia menjawab dengan suara tawar. “Apa bila Go-bi-pay mengenal ilmu silat itu, Sian-su (mendiang guru) pasti tidak sampai mengorbankan diri di Ban-hoat-si.“

Bagi Cie Jiak yang perasaannya sangat halus, kata-kata itu sudah sangat tajam. Dia tidak dapat menghilangkan rasa sakit hatinya terhadap Tio Beng karena kebinasaaan gurunya yang tercinta adalah gara-gara nona Tio. Tapi Tio Beng tidak marah. Dia hanya tersenyum. Tak lama kemudian selagi enak mendayung, tiba-tiba Bu Kie berseru sambil menuding ke jurusan barat laut.

“Lihatlah! Di sana ada sinar api.“

Semua orang menengok ke arah itu. Benar saja, di garis antara langit dan laut lapat-lapat tampak berkelebatnya sinar api. Meski pun tidak bisa melihat, Cia Sun turut bergirang. Sinar itu kelihatan dekat, tapi sebenarnya jauh. Sesudah mendayung lagi setengah harian barulah mereka bisa melihat tegas ke tempat terjadinya kebakaran itu. Tempat itu sebuah pulau yang penuh gunung dan pulau itu ternyata Leng-coa-to.

“Kita sudah tiba di Leng-coa-to!” kata Bu Kie dengan girang.

Dengan penuh harapan semua orang mengawasi pulau yang menghijau itu. Mendadak Cia Sun mengeluarkan teriakan tertahan.

“Celaka! Mengapa terjadi kebakaran di Leng-coa-to? Apa mereka sudah membakar Han-hujin?”

Teriakan itu disusul dengan robohnya Siauw Ciauw. Buru-buru Bu Kie membangunkan si nona. Ternyata nona itu pingsan. Bu Kie menyadarkannya dengan totokan lalu bertanya,

“Siauw Ciauw, mengapa kau?”

“Aku takut,” jawabnya sambil menangis. “Aku takut... mendengar hukuman bakar hidup terhadap sesama manusia.”

“Itu masih belum tentu,” bujuk Bu Kie. “Itu hanya dugaan Cia-locianpwe. Andai kata Han-hujin sudah ditangkap, kurasa kita masih bisa menolongnya.”

Siauw Ciauw memegang tangan Bu Kie erat-erat, kemudian berkata dengan suara parau.

“Thio-kongcu, aku mohon... mohon supaya kau menolong Han-hujin...“

“Tentu kita akan berusaha beramai-ramai,” jawabnya. Sehabis berkata begitu dia kembali ke buritan perahu, kemudian mendayung sekuat tenaga sehingga kendaraan air itu melaju bagaikan terbang.

Tiba-tiba Tio Beng berkata dengan suara perlahan. “Thio-kongcu, sudah lama aku memikirkan dua soal yang sampai sekarang belum dapat kupecahkan. Aku ingin minta petunjukmu.”

Mendengar kata-kata yang sungkan itu, Bu Kie merasa heran.“Soal apa?” tanyanya.

“Hari itu, waktu berada di Lek-liu-chung aku sudah memerintahkan orang-orangku mengepung rombongan kakekmu,” si nona menerangkan. “Selagi rombongan terkepung, tiba-tiba saja Siauw Ciauw Kouwnio maju dan memimpin pahlawan rombongan kakekmu. Memang benar bahwa di bawah pimpinan seorang panglima yang pandai tak ada serdadu yang lemah. Tapi masih tetap mengherankan bagiku bahwa di bawah Kauwcu Beng-kauw ada seorang pelayan yang mempunyai kepandaian begitu tinggi...“

“Kauwcu Beng-kauw?” memutus Cia Sun.

Tio Beng tertawa, “Loyacu,” katanya. “Sekarang biarlah aku berterus terang kepadamu. Anak angkatmu bukan lain Kauwcu yang tersohor dari agama Beng-kauw. Kau sendiri adalah bawahannya.”

Cia Sun terkesiap. Mulutnya ternganga dan dia tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Tapi di dalam hati dia masih sangsi. Tio Beng menetapkan keterangannya, tetapi dia tidak bisa memberi penjelasan mengenai jalannya peristiwa yang berakhir dengan pengangkatan Bu Kie sebagai Kauwcu. Maka Bu Kie tidak bisa menyangkal lagi karena didesak keras oleh ayah angkatnya. Secara ringkas dia segera menceritakan segala kejadian. Tak kepalang girangnya orang tua itu. Ia cepat berlutut dan berkata dengan suara terharu.

“Orang bawahan, Kim-mo Say-ong Cia Sun, memberi hormat kepada Kauwcu.”

Tersipu-sipu Bu Kie balas berlutut. “Gie-hu, janganlah menjalankan peradatan ini,” katanya dengan air mata berlinang-linang. “Menurut surat wasiat mendiang Yo-kauwcu, Gie-hu-lah yang harus menjadi Kauwcu untuk sementara waktu. Dalam menerima pengangkatan ini, anak selalu kuatir kalau-kalau anak tidak kuat memikul beban yang sangat berat. Atas berkah Thian sekarang Gie-hu pulang dengan tak kurang suatu apapun. Ini adalah keberuntungan dari agama kita. Sepulangnya ke Tiong-goan, kursi Kauwcu harus diduduki Gie-hu.”

“Biar pun ayah angkatmu sudah bisa pulang, tapi dengan kedua mata yang telah buta, kau tidak bisa mengatakan pulang dengan tak kurang suatu apapun,” kata Cia Sun dengan suara sedih. “Mana bisa Beng-kauw memiliki pemimpin yang matanya tidak dapat melihat? Tio-kouwnio, soal-soal apa yang tidak kau mengerti?”

“Aku merasa heran sekali karena Siauw Ciauw Kouwnio memiliki kepandaian yang sangat luar biasa,” jawabnya. “Aku ingin bertanya, siapa yang mengajarinya dalam ilmu Kie-bun Pat-Kwa dan Im-yang Ngo-heng? Cara bagaimana dalam usia yang begitu muda dia telah mempunyai ilmu tersebut?”

“Itulah ilmu turunan dari keluargaku,” jawab Siauw Ciauw. “Ilmu itu tidak cukup berharga untuk mendapat perhatian Kuncu Nio-nio.”

“Siapakah ayahmu?” tanya pula Tio Beng. “Anaknya begitu lihai, ayah ibunya pasti tokoh-tokoh yang namanya cemerlang.”

“Ayahku hidup dengan mengubur she dan namanya sendiri,” jawabnya. “Tak perlu Kuncu menanyakan. Apakah Kuncu mau memaksaku dengan ancaman potong jari tangan?” Si gadis cilik ternyata tidak sungkan-sungkan lagi. Dengan menyebutkan ancaman potong jari-jari tangan, rupanya dia ingin menarik tangan Cie Jiak untuk berdiri di pihaknya.

Tio Beng hanya tersenyum saja. “Thio-kongcu,” katanya dengan suara tenang. “Malam itu di kota raja, waktu kita bertemu di rumah makan untuk kedua kalinya, Kouw Tauw-to Hoan Yauw telah memberi selamat berpisah kepadaku. Waktu itu kebetulan dia bertemu dengan Siauw Ciauw Kouwnio kemudian dia mengatakan sesuatu. Apakah kau masih ingat kata-katanya?”

Sebenarnya Bu Kie sudah melupakan kejadian tersebut. Sesudah berpikir beberapa saat, dia pun menjawab.

“Hmm... kalau aku tidak salah ingat, Kouw Taysu mengatakan bahwa paras muka Siauw Ciauw mirip dengan salah seorang musuhnya.”

“Benar,” kata Tio Beng sambil mengangguk. “Apakah kau dapat menebak siapakah yang dimaksud Kouw Taysu? Siauw Ciauw Kouwnio mirip siapa?”

“Bagaimana aku bisa menebak?” Bu Kie balas bertanya.

Selagi mereka bicara, perahu makin mendekati Leng-coa-to. Mereka melihat bahwa di sebelah barat pulau berderet kapal-kapal Cong-kauw yang di layarnya terlukis gambar obor merah dan pada setiap layar tergantung sehelai kain hitam.

Alis Bu Kie lantas berkerut. “Cong-kauw telah mengerahkan angkatan laut dan orang yang datang ke sini tidak berjumlah kecil,” katanya.

“Kita coba mendarat di bagian pulau yang sepi dan aman,” kata Tio Beng.

Bu Kie mengangguk dan segera mendayung. Sekonyong-konyong dari sebuah kapal terdengar bunyi terompet.

“Dungg...! Dungg...!“

Dua peluru menyambar, yang satu jatuh di sebelah kiri perahu dan yang lainnya di sebelah kanan perahu sehingga karena goncangan ombak, perahu kecil itu hampir saja tenggelam.

“O hoooi! Dengarlah...!” demikian terdengar teriakan dari arah kapal itu. “Perahu kecil harus datang kesini. Kalau tidak menurut akan ditenggelamkan!”

Bu Kie mengeluh. Dua tembakan yang barusan merupakan tembakan ancaman. Dia yakin bahwa kalau membantah maka perahu yang ditumpanginya akan segera ditenggelamkan tanpa bisa melawan. Karena tidak ada jalan lain maka perlahan-lahan dia mendayung ke arah kapal itu.

RAHASIA SENG-HWEE-LENG (TANDA KUASA API SUCI)

Meriam2 di tiga kapal Cong-kauw bergerak dan menuding perahu Bu Kie. Waktu perahu menempel dengan sisi kapal, dari atas kapal segera diturunkan sebuah tangga tambang.

“Mari kita naik dan berusaha merampas kapal itu,” bisik Bu Kie.

Cia Sun naik paling dulu, disusul Cie Jiak yang mendukung Tio Beng. Setelah itu Siauw Ciauw dan yang paling akhir Bu Kie yang mendukung In Lee. Yang berada di kapal itu orang2 Persia yang bertubuh tinggi besar berambut kuning dan bermata biru. Bu Kie menyapu dengan matanya. Dia tidak melihat Sam-su. Salah seorang maju dan sesudah mengawasi rombongan Bu Kie dengan pandang mata penuh selidik, lantas dia bertanya.

“Siapa kalian? Ada urusan apa kalian datang kemari?”

“Kami mengalami bencana, kapal tenggelam,” jawab Tio Beng. “Kami menghaturkan terima kasih untuk pertolongan kalian.”

Orang itu setengah percaya setengah tidak. Ia berpaling kepada pemimpinnya yang duduk di kursi geladak kapal lalu bicara dalam bahasa Persia. Selagi pemimpin itu bicara, tiba-tiba Siauw Ciauw melompat dan menghantam dengan telapak tangannya. Dia terkejut, berkelit dan menjambret kursi yang lalu digunakan untuk memukul si nona.

Bu Kie terkesiap. Dia tidak pernah menduga bahwa Siauw Ciauw akan segera menyerang. Sambil melompat dia menotok dan pemimpin itu lantas roboh. Puluhan orang Persia menjadi kalut. Mereka menghunus senjata dan segera mengepung. Bagaimana pun juga, walau pun mengenal ilmu silat tapi kepandaian mereka masih kalah. Sambil mendukung In Lee erat-erat dengan tangan kanannya, Bu Kie menyerang dengan tangan kiri. Cia Sun memutar To-liong-to, sedangkan Cie Jiak mengamuk dengan pedang di tangannya.

Ditambah dengan Siauw Ciauw yang bergerak lincah, dalam sekejap puluhan orang Persia itu dapat dibereskan. Belasan orang luka dan rebah di geladak kapal, tujuh delapan orang jatuh di air dan sisanya tak berdaya lagi karena hiat-nya telah ditotok. Kapal Cong-kauw lainnya lantas membunyikan terompet dan mulai mengurung. Buru-buru Bu Kie merebahkan In Lee di geladak, kemudian dia menenteng pemimpin yang tadi dirobohkannya dan memanjat tiang layar.

“Hai! Kalau ada yang berani datang kemari, lebih dahulu akan kubinasakan orang ini!” teriaknya.

Pemimpin itu ternyata memiliki kedudukan tinggi karena meski pun mereka berteriak-teriak tetapi tidak ada seorang pun yang berani bergerak untuk coba membebaskannya.

Bu Kie melompat turun. Tetapi baru saja melepaskan tawanannya di geladak, tiba-tiba dia merasakan kesiur angin yang sangat tajam. Secepat kilat dia berkelit dan menendang. Sebelum sempat memutar badan, semacam senjata yang bukan lain dari pada Seng-hwee-leng menyambar dari samping kiri. Bu Kie mengeluh. Dia tahu bahwa Sam-su sudah mulai menyerang.

“Semua mundur ke tenda (gubug) kapal!” teriaknya seraya menjemput si pemimpin yang lalu digunakan untuk menyambut Seng-hwee-leng yang menyambar.

Orang yang memukul adalah Hwie-goat-su. Dia terkejut dan mati-matian menarik kembali senjatanya. Dia memang berhasil, tapi karena senjata itu ditarik mendadak maka bagian bawah tubuhnya terbuka. Melihat lowongan itu Bu Kie menendang. Liu-in-su dan Biauw-hong-su menolong dengan serangan dahsyat sehingga tendangan Bu Kie meleset dan Hwie-goat-su luput dari bahaya. Sesudah lewat beberapa jurus tiba-tiba Biauw-hong-su menyabet dengan Seng-hwee-leng dalam pukulan yang sangat aneh. Bu Kie memapaki senjata itu dengan tubuh si pemimpin dalam gerakan yang tak kurang anehnya.

“Plakk!”

Seng-hwee-leng mampir tepat di pipi kiri orang itu. Sam-su kaget tak kepalang. Muka mereka segera berubah pucat. Mereka mengeluarkan beberapa perkataan dalam bahasa Persia, kemudian membungkuk dengan sikap hormat kepada pemimpin yang dicekal Bu Kie. Siapakah pemimpin itu?

Ia adalah salah seorang dari dua belas Po-su-ong (Raja Pohon Mustika) di Cong-kauw dan ia bergelar Peng-teng-ong. Menurut runtunannya, kedua belas raja itu ialah Tay-seng, Tie-hwie, Siang-seng, Sin-sim, Peng-teng, Kin-siu, Jin-jiok, Ceng-tit, Hoa-hie, Kong-tek, Cie-sim dan Kie-beng. Mereka adalah Keng-su (guru dalam kitab suci) di bawah Kauwcu dari Cong-kauw dan kedudukan mereka menyerupai empat Su-kauw di wilayah Tiong-goan.

Perbedaannya dengan Su-kauw Hoat-ong ialah, sebaliknya dari mementingkan ilmu silat, mereka mengutamakan pelajaran keagamaan. Kecuali Tay-seng Po-su-ong, hanya Siang-seng Po-su-ong dan Kong-tek Po-su-ong yang memiliki ilmu silat amat tinggi, sedangkan kepandaian yang lainnya biasa saja dan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Sam-su.

Kali ini dalam usaha mencari Seng-lie untuk pengangkatan Kauwcu baru, kedua belas Po-su-ong turut datang ke Tiong-goan. Karena kedudukan yang sangat tinggi dari ‘raja raja’ itu maka biar pun tidak disengaja, terpukulnya Peng-teng-ong dengan Seng-hwee-leng sudah mengejutkan Sam-su sehingga sekarang mereka tidak berani menyerang lagi dan segera mengundurkan diri.

Bu Kie segera duduk dan memangku Peng-teng-ong. Ia mengerti orang ini memiliki kedudukan penting di Cong-kauw dan merupakan satu-satunya orang tanggungan yang bisa menolong rombongannya. Ia membungkuk dan memeriksa luka tawanannya. Untung tidak membahayakan jiwa hanya bengkak pada bagian pipi. Rupa-rupanya pada detik terakhir Biauw-hong-su berusaha untuk menarik kembali senjatanya sehingga tenaga pukulannya banyak berkurang.

Sementara itu Cie Jiak dan Siauw Ciauw bekerja keras untuk memindahkan korban-korban yang menggeletak di geladak kapal. Mereka mengangkat mayat-mayat ke gubuk belakang dan mengumpulkan orang-orang yang terluka. Dengan cepat kapal yang dikuasai rombongan Bu Kie terkurung rapat oleh belasan kapal Cong-kauw. Semua meriam ditudingkan ke arah Bu Kie dan kawannya dan di atas semua kapal itu penuh dengan orang Cong-kauw yang memegang obor dan menghunus senjata.

Bu Kie jadi bingung. Tanpa meriam lawan yang berjumlah begitu besar sudah tak mungkin dilawan. Dengan ilmu silatnya yang sangat tinggi dia sendiri mungkin dapat selamat. Akan tetapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan In Lee dan Tio Beng yang terluka berat? Sekonyong-konyong salah seorang berteriak dalam bahasa Tionghoa.

“Kim-mo Say-ong, dengarlah! Dua belas Po-su-ong dari Cong-kauw kini berada di sini. Dosamu terhadap Cong-kauw diampuni para Po-su-ong. Lekas kembalikan anggota Cong-kauw yang berada di kapal itu! Sesudah mengembalikan semua orang, kau boleh pergi tanpa diganggu.”

Cia Sun tersenyum. “Cia Sun bukan anak kemarin!” Dia berteriak. “Begitu kami lepaskan semua tawanan, apakah meriam-meriammu tidak lantas memuntahkan peluru?”

“Kurang ajar!” bentak orang itu dengan marah. “Kalau kau tidak mau melepaskan mereka, apakah meriam kami tidak bisa melepaskan tembakan?”

“Mana Seng-lie Taykis?” tanya Cia Sun. “Kalian lepaskan dia lebih dahulu! Sesudah kalian melepaskan dia barulah kita boleh bicara lagi.”

Orang itu segera berunding dengan orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Beberapa saat kemudian dia berteriak.

“Taykis membuat pelanggaran hebat dan dia akan mendapat hukuman dibakar hidup-hidup. Urusan ini adalah urusan Cong-kauw dan tidak bersangkut paut dengan Beng-kauw di daerah Tiong-goan.”

Sesudah berpikir sejenak Cia Sun berkata, “Aku ingin mengajukan tiga syarat. Begitu kalian meluluskan, kami akan segera mengembalikan semua orang.”

“Syarat apa?”

“Yang pertama, kedua belas Po-su-ong harus berjanji bahwa mulai sekarang Cong-kauw dan Tiong-goan harus saling mengindahkan dan tidak boleh mencampuri urusan masing-masing.”

“Hmm...! Yang ke dua?”

“Lepaskan Taykis dan antarkan kemari. Bebaskan dosanya dan kalian harus berjanji bahwa persoalan ini takkan ditimbulkan lagi.”

“Tidak bisa! Ini tidak bisa! Yang ke tiga?”

“Sebelum kalian mengiyakan syarat kedua, perlu apa aku memberi-tahu yang ke tiga?. Syarat ke tiga sangat mudah. Kalian kirimkan perahu kecil yang harus mengikuti di belakang kapal ini. Sesudah kami berada dalam jarak sedikitnya lima puluh li dan kami mendapat kenyataan bahwa kalian tidak mengejar, kami akan segera menurunkan semua tawanan ke perahu itu yang boleh segera kembali kepada kalian.”

Orang yang bicara dengan Cia Sun adalah Kie-beng Po-su-ong, ‘raja’ ke dua belas. Mendengar syarat ke tiga dia marah tak kepalang. Sambil membentak keras dia melompat ke kapal Bu Kie bersama Cie-sim Po-su-ong.

Bu Kie segera menyambut. Dengan telapak tangannya dia mendorong dada Cie-sim-ong. Sebaliknya dari menangkis, ‘raja’ itu malah balas menyerang. Tangan kirinya menyambar dan mencengkeram kepala Bu Kie. Hampir berbareng Kie-beng-ong menerjang dan menyambut telapak tangan Bu Kie yang sudah hampir menyentuh dada Cie-sim-ong. Bu Kie sendiri lantas melompat ke samping menghindarkan cengkeraman Cie-sim-ong.

Bu Kie kaget. Ilmu silat kedua lawan itu merupakan kerja sama yang sangat erat sehingga dia bagaikan menghadapi seorang lawan yang mempunyai empat tangan dan empat kaki. Kepandaian mereka berdua agaknya masih kalah dengan Sam-su, namun gerak-geriknya sangat aneh. Terang ilmu silat mereka bersamaan dengan Kian-kun Tay-lo-ie, tapi dalam menggunakannya mereka mengeluarkan perubahan luar biasa yang tidak mudah diraba. Sesudah bertempur puluhan jurus barulah Bu Kie bisa berada di atas angin.

Selagi Bu Kie mengasah otak untuk mengalahkan kedua lawannya, tiba-tiba saja Sam-su membentak keras dan melompat ke kapal Bu Kie. Sesudah mereka melukai Peng-teng-ong tanpa sengaja, mereka merasa sangat malu dan sekarang mereka mengambil keputusan untuk merampas kembali ‘raja’ keenam itu. Cepat-cepat Cia Sun mengangkat tubuh Peng-teng-ong lantas memutarnya dalam bentuk lingkaran. Tentu saja Sam-su tidak berani sembarangan menyerang. Mereka hanya dapat berlari-lari mengikuti lingkaran itu untuk mencari lowongan guna menyerang.

Beberapa saat kemudian mendadak terdengar teriakan kesakitan dari Kie-beng-ong yang roboh ditendang Bu Kie. Baru saja Bu Kie membungkuk untuk menawannya, Liu-in-su dan Hwie-goat-su telah menyerang dengan berbareng, sedangkan Biauw-hong-su mendukung raja itu yang lalu dibawa kembali ke kapal sendiri. Sekarang Bu Kie dikepung Cie-sim-ong bersama Liu-in-su dan Hwie-goat-su. Kerja sama mereka tidak seerat kerja sama Sam-su. Ditambah kekuatiran mereka akan keselamatan Kie-beng-ong, maka setelah bertempur beberapa jurus lagi mereka segera mengundurkan diri. Sesudah menenteramkan semangatnya, Bu Kie lalu berkata.

“Orang-orang itu seperti pernah mempelajari Kian-kun Tay-lo-ie. Tapi sungguh heran, pukulan-pukulannya berbeda dengan ilmu itu. Mereka benar-benar sukar dilawan.”

“Sesungguhnya pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie bersumber dari Persia,” kata Cia Sun. “Tapi semenjak beberapa ratus tahun yang lampau, setelah Beng-kauw tersebar ke Tiong-goan, di Persia sendiri ilmu itu bahkan tidak dikenal lagi. Menurut pendapatku, apa yang sudah mereka pelajari hanyalah kulit dari Kian-kun Tay-lo-ie. Maka itulah mereka telah mengirim Taykis ke Kong-beng-teng untuk mencuri kitab ilmu silat tersebut.”

Bu Kie menggelengkan kepala. “Anak mempunyai pendapat lain,” katanya. “Memang betul dasar ilmu silat mereka masih amat cetek dan benar mereka hanya memiliki kulit dari ilmu Kian-kun Tay-lo-ie. Tapi dalam menggunakannya mereka dapat menggunakan secara luar biasa sekali. Dalam hal ini pasti terselip satu sebab yang masih belum kita ketahui. Hm...! Dalam Kian-kun Tay-lo-ie tingkat ke tujuh ada beberapa bagian yang belum bisa dipelajari oleh... Ah, apakah... apakah ini sebab musababnya...?” Sehabis berkata begitu dia bersila dan memejamkan matanya.

Cia Sun dan yang lain-lain menanti tanpa membuka suara. Mereka tidak berani mengganggu jalan pikiran si pemuda. Sekonyong-konyong di kejauhan terdengar suara terompet yang berulang-ulang. Sebuah kapal besar datang perlahan. Di atas kapal-kapal itu terpancang dua belas bendera dengan sulaman benang emas, sedang di atas geladak teratur dua belas kursi beralaskan kulit harimau. Di antara kedua belas kursi itu, sembilan terisi dan tiga lainnya kosong. Begitu kapal berhenti Cie-sim-ong dan Kie-beng-ong lantas melompat naik lalu menduduki dua kursi terakhir. Dengan demikian hanya sebuah kursi ke enam yang masih kosong.

Melihat itu Tio Beng tersadar. “Pakaian tawanan kita sama dengan pakaian sebelas orang itu,” katanya. “Apakah dia salah seorang dari kedua belas Po-su-ong?”

“Kurasa memang demikian,” kata Bu Kie. “Tawanan kita berkedudukan sangat tinggi dan aku percaya sedikitnya untuk sementara waktu mereka tak akan berani menyerang...“ Pembicaraan terputus mendadak karena tiba-tiba dia melihat Sam-su menghampiri sebelas ‘raja’ itu dengan membawa seorang tangkapan.

Bu Kie dan yang lainnya terkejut. Mereka mengenali bahwa tangkapan itu, seorang nenek bongkok yang memegang tongkat, adalah Kim-hoa Popo. Di lain saat Tie-hwie Po-su-ong yang duduk di kursi ke dua sudah mengajukan beberapa pertanyaan dalam bahasa Persia dengan suara keras. Si nenek miringkan kepalanya.

“Apa yang kau katakan?” tanyanya. “Aku tidak mengerti.”

Tie-hwie-ong tertawa dingin. Ia bangun berdiri dan tangannya menyambar ke arah kepala si nenek. Di lain saat dia sudah memegang segumpal rambut palsu, sedang di atas kepala si nenek terlihat rambut yang berwarna hitam dan mengkilat. Kim-hoa Popo miringkan kepalanya. Namun tangan kanan Tie-hwie-ong sudah mampir di mukanya dan membeset selapis topeng.

Bu Kie yang bermata tajam melihat tegas bahwa topeng yang terbeset itu adalah topeng muka Kim-hoa Popo. Hampir berbareng Kim-hoa Popo bersalin rupa. Kini dia berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Jantung Bu Kie bergetar keras.

“Ahh...! Mukanya sungguh mirip sekali dengan muka Siauw Ciauw,” katanya di dalam hati.

Tiba-tiba dia mendengar suara Tio Beng yang berkata, “Sama betul dengan Siauw Ciauw!”

Sesudah topengnya dilucuti, seraya tertawa dingin si nenek melemparkan tongkatnya. Tie-hwie-ong lantas mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam bahasanya. Selama tanya jawab itu berlangsung, paras muka kesebelas ‘Ong’ tampak sangat menyeramkan. Bu Kie dan yang lainnya tentu saja tidak mengerti pembicaraan itu.

“Siauw Ciauw Kouwnio, apa yang mereka bicarakan?” tanya Tio Beng.

Air mata Siauw Ciauw lantas mengucur. “Kau benar-benar pintar,” katanya. “Kau tahu segalanya, tapi mengapa kau tidak mencegah Loyacu berkata begitu?”

“Mencegah Loyacu berkata apa?” tanya Tio Beng dengan rasa heran.

“Semula mereka tidak tahu siapa adanya Kim-hoa Popo,” Siauw Ciauw menerangkan. “Biar pun akhirnya mereka tahu, tetapi mereka tidak pernah menduga bahwa Cie-san Liong-ong adalah Taykis. Popo menyamar dalam waktu yang lama dengan harapan bisa mengelabui mereka. Di luar dugaan tanpa sengaja Loyacu membuka rahasia dengan mengajukan syarat supaya mereka melepaskan Seng-lie Taykis. Maksud Loyacu sangat mulia. Tapi dengan begitu Tie-hwie Po-su-ong jadi sadar. Loyacu yang tidak bisa melihat, tentu saja tidak tahu lihaynya penyamaran Popo yang dapat mengelabui siapa pun juga. Tio-kouwnio, kau telah melihat terang dengan matamu. Apa kau tidak bisa berpikir sampai di situ?”

Inilah tuduhan yang paling tidak enak bagi Tio Beng, karena nona itu memang tidak punya niatan kurang baik. Setelah mendengar cerita Cia Sun tentu saja dia tahu bahwa Kim-hoa Popo adalah Seng-lie Taykis. Tapi dia sungguh tidak pernah berpikir bahwa penyamaran Taykis sebenarnya belum diketahui orang Persia. Orang-orang Cong-kauw itu tidak tahu bahwa si nenek muka jelek itu sebenarnya adalah Taykis. Bibir Tio Beng sudah bergerak untuk membalas dengan kata yang pedas, namun melihat kedukaan Siauw Ciauw dia mengurungkan niatnya. Dia menduga pasti bahwa di antara si nenek dengan gadis cilik ini terdapat hubungan yang amat erat dan dia merasa tidak tega untuk menyerang.

“Siauw Ciauw moay-moay,” katanya, “Jika aku mempunyai niat untuk mencelakai Kim-hoa Popo biarlah aku mati di jalan yang tidak benar.”

Cia Sun sendiri sangat menyesal. Dia tidak mengatakan sesuatu tetapi dalam hatinya dia sudah mengambil keputusan untuk menolong Taykis, jika perlu dengan mengorbankan jiwa sendiri. Sementara itu sambil menangis Siauw Ciauw berkata,

“Mereka mengutuk Popo menikah dan mengkhianati agama. Popo harus dihukum bakar hidup-hidup.”

“Siauw Ciauw, jangan bingung,” bujuk Bu Kie. “Begitu ada kesempatan, aku akan segera menerjang untuk menolong Popo.”

Karena sudah terbiasa menggunakan panggilan Popo, maka meski pun sekarang Cie-san Liong-ong sudah tidak memakai topeng dia masih tetap menggunakan istilah itu. Biar pun sudah berusia setengah tua, dengan mukanya yang asli kecantikan nyonya itu tidak kalah dari Tio Beng dan Cie Jiak. Awet muda dan kelihatannya seperti kakak Siauw Ciauw.

“Tak mungkin!” kata Siauw Ciauw dengan suara parau. “Kau takkan bisa melawan sebelas Po-su-ong dan Sam-su. Kalau kau nekat menerjang, sama saja mengantarkan jiwa. Sekarang mereka sedang berunding untuk merebut kembali Peng-teng-ong.”

“Hmm...! Andai kata Peng-teng-ong bisa kembali dengan selamat, mukanya yang tercetak beberapa huruf sudah tak keruan macam,” kata Tio Beng dengan suara mendongkol.

“Huruf apa?” tanya Bu Kie.

Jawab nona Tio, “Huruf dari Seng-hwee-leng yang memukul pipinya... Aghh...!“ Tiba-tiba dia ingat sesuatu. “Siauw Ciauw! Apa kau mengenal bahasa Persia?”

“Kenal!”

“Coba lihat! Huruf apa yang tercetak di pipi Peng-teng-ong?”

Siauw Ciauw segera memeriksa pipi ‘raja’ yang bengkak itu. Dia melihat tiga baris huruf Persia yang tercetak pada daging Peng-teng-ong. Ternyata pada setiap Seng-hwee-leng terdapat ukiran huruf Persia dan pukulan itu telah mencetaknya. Tapi karena hanya sebagian senjata yang mampir di pipi, maka tidak semua huruf tercetak pada pipi Peng-teng-ong.

Sebagaimana diketahui, Siauw Ciauw pernah mengikuti Bu Kie masuk ke jalan rahasia di Kong-beng-teng dan dia pernah menghafal Kian-kun Tay-lo-ie. Karena itu meskipun tidak mengerti dan tidak pernah melatih diri, tapi dia tidak melupakan pelajaran di kulit kambing itu. Begitu membaca dia berseru,

”Ahh! Inilah pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie.”

“Pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie?” Tio Beng menegas

Si nona tidak lantas menyahut. Sejenak kemudian barulah dia berkata. “Ah, bukan! Bukan pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie. Sekelebatan aku menduga begitu, tapi ternyata bukan. Apa bila diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, bunyinya seperti berikut, ‘Menyambut kiri berarti depan menyambut kanan berarti belakang, tiga kosong tujuh berisi, ada di dalam tidak ada... langit persegi bumi bulat...’ Yang di sebelah bawah tidak bisa dibaca lagi.”

Mendengar itu Bu Kie seperti merasa di antara gumpalan awan-awan hitam mendadak berkelebat sinar kilat, tetapi sesudah berkelebatnya sinar itu, keadaan kembali menjadi gelap. Akan tetapi biar bagaimana pun juga sinar itu memberi harapan baginya. Bagaikan orang linglung dia menghafal.

“Menyambut kiri berarti depan, menyambut kanan berarti belakang.“

Dengan menggunakan seluruh kekuatan otak dan kecerdasannya, ia berusaha untuk mempersatukan beberapa baris kauw-koat (teori ilmu silat) itu dengan pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie yang sudah dimilikinya. Selang beberapa saat ia merasa seperti sudah berhasil, tapi belum berhasil. Ia merasa seperti sudah menembus halimun tetapi kembali menemui rintangan. Tiba-tiba Siauw Ciauw berteriak,

“Thio-kongcu, hati-hatilah! Mereka sudah mengeluarkan perintah untuk menyerang. Sam-su akan menyerang kau, sedangkan Kin-siu, Jin-jiok dan Kong-tek-ong akan coba merebut Peng-teng-ong.”

Mendengar isyarat si nona, Cia Sun segera memeluk Peng-teng-ong dan melontarkan To-liong-to ke arah Bu Kie.

“Babat saja dengan To-liong-to!” katanya.

Tio Beng pun cepat menyerahkan Ie-thian-kiam kepada Cie Jiak. Sekarang mereka berada dalam satu perahu, nasib setiap orang berarti nasib semua orang. Bu Kie menyambut golok mustika itu lalu menyisipkan di pinggangnya. Tetapi mulutnya terus berkata,

“...tiga kosong tujuh berisi, ada di dalam tidak ada...”

“Anak tolol!” bentak Tio Beng. “Sekarang bukan waktu belajar silat. Kau harus bersiap!”

Hampir berbareng Kin-siu, Jin-jiok dan Kong-tek-ong melompat lalu menyerang Cia Sun. Karena kuatir akan melukai Peng-teng-ong, maka dalam usaha merebut ‘raja’ itu mereka terpaksa merubah serangannya dengan tangan kosong.

Dengan mencekal Ie-thian-kiam Cie Jiak mendampingi Cia Sun. Pada detik berbahaya itu si nona menikam Peng-teng-ong sehingga ketiga ‘raja’ itu terpaksa merubah serangannya untuk meluputkan Peng-teng-ong dari tikaman.

Di lain pihak Bu Kie sudah bertempur melawan Sam-su. Sesudah mendapat pengalaman beberapa pertempuran mereka berempat tidak berani berlaku sembrono sehingga berkelahi dengan hati-hati. Sesudah lewat beberapa jurus tiba-tiba Hwie-goat-su memukul dengan sebuah ‘Leng’.

Menurut peraturan ilmu silat, senjata itu akan mampir di pundak kiri Bu Kie. Namun di luar dugaan, waktu menyambar di tengah udara Seng-hwee-leng tersebut mendadak merubah haluan secara luar biasa dan menghantam belakang leher Bu Kie. Bu Kie merasa kesakitan hebat hingga matanya berkunang kunang. Tapi karena pukulan itu otaknya tiba-tiba menjadi terang.

“Menyambut kiri berarti belakang...“ pikirnya. Sesaat kemudian tanpa terasa dia berteriak. “Sekarang aku mengerti! Benar...! Begitu...”

Ternyata ilmu silat yang dimiliki Sam-su hanya berdasarkan Kian-kun Tay-lo-ie tingkat pertama. Tetapi pada Seng-hwee-leng terdapat pelajaran yang luar biasa mengenai cara penggunaannya. Sekarang dia bisa memecahkan teka teki empat baris kauw-koat itu dan hanya sebaris langit persegi bumi bulat yang belum dapat dimengertinya. Sekarang dia yakin bahwa agar bisa menyelami seluruh ilmu silat Cong-kauw dia harus mempelajari seluruh Kouw-koat yang ada di Seng-hwee-leng.

Tanpa membuang waktu lagi, sambil membentak keras ia menyerang, kedua tangannya menyambar bagaikan kilat. Dengan satu jurus menggunakan kouw-koat ‘tiga kosong tujuh berisi’ ia berhasil merampas dua ‘leng’ dari tangan Hwie-goat-su. Di lain saat dengan ‘ada di dalam tidak ada’ ia merebut dua ‘leng’ lagi dari tangan Liu-in-su.

Semangat kedua utusan itu segera terbang. Mereka berdiri terpaku. Setelah memasukkan keempat ‘leng’ ke dalam saku, Bu Kie menyerang lagi. Dengan sepasang tangannya dia mencengkeram belakang leher kedua pecundang itu yang lantas dilempar kembali ke kapal mereka. Orang-orang Persia kaget tak kepalang. Mereka jadi takut dan berteriak-teriak.

Biauw-hong-su ketakutan. Cepat dia memutar dan mencoba melarikan diri. Tetapi gerakan Bu Kie cepat luar biasa. Sekali sambar dia menangkap kaki kiri Biauw-hong-su yang lalu ditarik ke belakang. Sesudah merampas kedua ‘leng’ dia mengangkat tubuh utusan itu dan menghantamnya ke kepala Jin-jiok-ong. Ketiga ‘raja’ terkesiap. Mereka buru-buru lari kembali ke kapal sendiri. Bu Kie cepat menotok jalan darah Biauw-hong-su lalu melemparkannya ke geladak kapal.

Kemenangan itu bukan saja menggirangkan Bu Kie, tetapi juga kawan-kawannya. Mereka bertanya bagaimana caranya pemuda itu dapat merampas enam Seng-hwee-leng begitu mudahnya. Bu Kie tertawa,

“Kalau bukan secara kebetulan pipi orang itu terpukul Seng-hwee-leng, tak akan aku bisa menangkap rahasia ilmu silat mereka,” katanya. Ia mengeluarkan enam biji ‘leng’ kemudian menyerahkannya kepada Siauw Ciauw. “Siauw Ciauw,” katanyal “Lekas terjemahkan huruf-huruf di enam Seng-hwee-leng ini!”

Semua orang mengawasi keenam ‘leng’ yang terbuat dari semacam bahan yang sangat aneh itu, bukan emas dan bukan giok tapi keras luar biasa. ‘Leng’ itu panjangnya berbeda satu sama lain, kelihatannya terang, di dalamnya terdapat sinar api yang bergerak-gerak dan warnanya berubah-ubah, sedangkan pada setiap ‘leng’ terdapat ukiran huruf Persia. Bu Kie tahu bahwa jika ia ingin meloloskan diri dari bahaya maka ia harus memahami ilmu silat Cong-kauw. Maka itu ia lantas berkata,

“Ciu-kouwnio, todongkan Ie-thian-kiam di leher Peng-teng-ong. Gie-hu, todongkan To-liong-to pada leher Biauw-hong-su. Kita harus memperpanjang waktu sedapat mungkin.“

Cia Sun dan Cie Jiak mengangguk. Siauw Ciauw segera memilih ‘leng’ paling pendek yang hurufnya paling sedikit, kemudian menterjemahkannya. Walau pun sudah mendengar beberapa kali tetapi Bu Kie belum juga dapat menangkap artinya sehingga dia mulai merasa bingung.

“Siauw Ciauw, coba kau terjemahkan huruf-huruf dari Seng-hwee-leng yang telah memukul Peng-teng-ong,” kata Tio Beng.

Siauw Ciauw manggutkan kepalanya. Buru-buru dia mencari ‘leng’ yang dimaksudkan. Dia mendapat kenyataan bahwa yang memukul Peng-teng-ong adalah Seng-hwee-leng yang panjangnya nomor dua. Dia segera membaca dan Bu Kie dapat menangkap tujuh delapan bagian dari artinya. Setelah itu dia membaca huruf-huruf dari Seng-hwee-leng nomor satu, yaitu yang paling panjang. Baru saja mendengar beberapa kata Bu Kie sudah berteriak dengan suara girang.

“Bagus! Siauw Ciauw, di antara enam Seng-hwee-leng itu makin panjang makin mudah dimengerti. Yang sedang kau baca adalah kouw-koat dari pelajaran pertama.”

Dahulu Seng-hwee-leng dibuat atas permintaan ‘si orang tua dari pegunungan’ dan berisi inti sari dari ilmu silat Hasan Bin Sabbah. Keenam ‘leng’ itu masuk ke Tiongkok mengikuti agama Beng-kauw dan dimaksudkan untuk menjadi tanda kekuasaan dari Kauwcu daerah Tiong-goan. Tapi lama kelamaan di antara penganut Beng-kauw wilayah Tiong-goan tidak ada lagi orang yang paham bahasa Persia.

Beberapa puluh tahun kemudian keenam Seng-hwee-leng dicuri orang Kay-pang dan belakangan jatuh ke tangan saudagar Persia sehingga akhirnya diambil kembali oleh Cong-kauw di Persia. Selama puluhan tahun ilmu silat para pemimpin Cong-kauw memperoleh kemajuan pesat. Akan tetapi karena ilmu yang tertera pada Seng-hwee-leng terlalu sukar dipelajari, bahkan Tay-seng Po-su-ong yang berkepandaian paling tinggi hanya bisa menangkap tiga atau empat dari seluruh isinya.

Pada hakekatnya pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie merupakan ilmu silat pelindung agama dari Beng-kauw di Persia. Namun ilmu silat itu tidak bisa dimengerti oleh sembarang orang. Di samping itu menurut ketetapan jabatan Kauwcu dari Beng-kauw pusat (Cong-kauw) harus dipegang oleh seorang gadis dan selama ratusan tahun kursi Kauwcu selalu diduduki wanita-wanita yang berkepandaian cetek. Itulah sebabnya mengapa di Persia sendiri Kian-kun Tay-lo-ie makin lama makin jarang dikenal orang. Di lain pihak, Beng-kauw di daerah Tiong-goan masih menyimpan pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie yang lengkap.

Ilmu silat Cong-kauw yang sangat aneh itu adalah campuran dari sebagian Kian-kun Tay-lo-ie dan sebagian pelajaran Seng-hwee-leng. Para pemimpin Cong-kauw insyaf bahwa kalau kitab Kian-kun Tay-lo-ie bisa diambil kembali dan ditambah dengan kouw-koat Seng-hwee-leng, maka ilmu silat Beng-kauw bisa menggetarkan dunia. Inilah maksud utama dari pengiriman Taykis ke Kong-beng-teng.

Di luar dugaan, apa yang diidam-idamkan dan diusahakan oleh Cong-kauw didapat dengan mudah oleh Bu Kie. Bu Kie sudah mendapatkan ilmu itu secara kebetulan saja. Tapi andai kata Cong-kauw berhasil mendapatkan kembali kitab Kian-kun Tay-lo-ie, tanpa mempunyai Kiu-yang Sin-kang sebagai dasar, belum tentu ada orang yang mampu menarik faedahnya. Dengan demikian dapatlah dilihat bahwa di dunia ini segalanya tergantung pada nasib dan manusia tidak akan bisa mencapai tujuan secara paksa.

MENGALAHKAN CONG-KAUW

Tanpa memperdulikan apapun Bu Kie lalu bersilat di kepala kapal dan Siauw Ciauw membisikkan huruf yang terukir di Seng-hwee-leng. Ilmu silat yang tertera di enam ‘leng’ itu sebetulnya amat sulit. Tapi kata orang, bila mengerti satu ilmu maka mengerti berlaksa ilmu. Mana kala seseorang sudah mempelajari ilmu sampai di puncak kesempurnaan, maka dengan mudah dia dapat belajar ilmu-ilmu lain karena pada hakekatnya semua ilmu menuju ke satu jurusan yang sama.

Bu Kie sudah menyelami Kiu-yang Sin-kang, Kian-kun Tay-lo-ie dan Thay-kek-kun. Ketiga ilmu itu adalah ilmu-ilmu silat paling tinggi yang masing masing berasal dari India, Persia dan Tiongkok. Biar pun sulit tapi ilmu di Seng-hwee-leng belum dapat menyamai tingginya ketiga ilmu tersebut. Maka itulah setelah Siauw Ciauw selesai menterjemahkannya, Bu Kie lantas dapat menghafal tujuh delapan bagian dan mengerti lima enam bagian. Dalam sekejap dia sudah berhasil memahami pukulan-pukulan aneh yang dikeluarkan beberapa Po-su-ong dan ketiga utusan Cong-kauw.

Bu Kie terus mengasah otak tanpa memperdulikan segala perkembangan. Tetapi Tio Beng dan Ciu Cie Jiak yang terus memperhatikan persiapan pihak lawan, makin lama makin bingung. Mereka melihat kaki tangan Taykis diborgol, juga melihat kesebelas Po-su-ong berunding dengan bisik-bisik lalu menukar jubah mereka dengan pakaian perang yang lemas dan melihat sebelas orang menyerahkan sebelas senjata aneh kepada ‘raja-raja’ itu. Mereka melihat gendewa-gendewa dan anak panahnya ditujukan kepada Bu Kie dan melihat pula puluhan orang Persia yang bersenjata kapak dan pahat terjun ke air, agaknya siap sedia untuk melubangi kapal yang ditumpangi mereka.

Ketika itu fajar sudah mulai menyingsing. Matahari mengintip di sebelah timur dan memancarkan sinar yang gilang gemilang. Mendadak Tay-seng Po-su-ong membentak dan bentakan itu diiringi dengan suara tambur dan terompet riuh rendah.

Bu Kie kaget. Dia mendongak dan melihat sebelas Po-su-ong yang mengenakan pakaian berwarna keemas-emasan sambil memegang senjata sudah melompat ke kapalnya. Tapi setelah berada di kepala kapal, ‘raja-raja’ itu tidak berani lantas menyerang sebab Cia Sun dan Cie Jiak sudah menempelkan senjatanya di leher Peng-teng-ong dan Biauw-hong-su. Mereka hanya dapat mengawasi dengan mata melotot dan paras muka marah. Selang beberapa saat kemudian barulah Tie-hwie-ong berkata dengan bahasa Tionghoa,

“Lekas kembalikan orang-orang kami! Kami akan mengampuni jiwa kalian. Di mata kami, beberapa orang itu bagaikan babi dan anjing. Mereka tidak berharga sedikit pun juga. Buat apa kalian mengandalkan senjata di leher mereka? Jika kalian mempunyai nyali, bunuhlah mereka! Di kalangan Cong-kauw terdapat berlaksa orang yang sederajat dengan mereka. Kebinasaan mereka tiada artinya.”

“Jangan kau coba-coba menipu kami,” kata Tio Beng dengan suara menyindir. “Kami tahu bahwa mereka adalah Peng-teng Po-su-ong dan Biauw-hong-su yang memiliki kedudukan tinggi di kalanganmu. Kau mengatakan mereka sederajat dengan babi dan anjing? Hi-hi-hik...! Bagus!”

Kening Tie-hwie-ong berkerut. “Di Seng-kauw (agama kami yang suci) terdapat tiga ratus enam puluh Po-su-ong,” katanya. “Peng-teng-ong menduduki kursi ketiga ratus lima puluh sembilan. Kami punya seribu dua ratus Su-cia (utusan). Biauw-hong-su bukan orang penting. Bunuhlah mereka kalau kalian mau!”

“Baiklah,” kata Tio Beng. “Kawan-kawan, bunuhlah kedua manusia tak berguna itu!”

“Baiklah!” jawab Cia Sun seraya mengangkat To-liong-to. Dengan kecepatan kilat golok itu menyambar kepala Peng-teng-ong.

Orang-orang Cong-kauw mengeluarkan teriakan tertahan. Tapi... To-liong-to lewat dalam jarak setengah dim saja dari batok kepala dan hanya memapas rambut yang lantas terbang ditiup angin. Kim-mo Say-ong kembali mengangkat golok dan menyabet dua kali beruntun ke lengan kanan dan lengan kiri Peng-teng-ong. Kedua sabetan itu kelihatannya amat hebat, tapi pada detik mata golok hampir menyentuh kulit, Cia Sun memutar sedikit pergelangan tangannya sehingga senjata itu hanya merobek lengan baju. Jangankan seorang buta, sekali pun orang yang tidak buta juga sulit mencontoh apa yang diperbuat Kim-mo Say-ong. Peng-teng-ong pingsan karena ketakutan dan sebelas Po-su-ong yang hendak menyerang hanya berdiri terpaku.

“Apa kalian sudah melihat ilmu silat Beng-kauw dari wilayah Tiong-goan?” tanya Tio Beng. “Di kalangan agama kami Kim-mo Say-ong menduduki kursi ke tiga ribu lima ratus sembilan. Apa bila sekarang kalian menyerang kami dengan mengandalkan jumlah besar, Beng-kauw di Tiong-goan akan membalas sakit hati dan menyapu Cong-kauw sampai bersih. Kalian takkan mampu melawan kami. Jalan satu-satunya bagi kalian semua adalah berdamai dengan kami.”

Tie-hwie-ong merasa yakin bahwa nona Tio hanya menakut-nakuti, akan tetapi dia sendiri tidak tahu apakah yang harus diperbuatnya. Mendadak Tay-seng Po-su-ong berkata dalam bahasa Persia.

“Thio-kongcu, awas!” teriak Siauw Ciauw. “Mereka mau melubangi dasar kapal!”

Bu Kie terkejut. Kalau kapal mereka ditenggelamkan maka mereka yang tidak bisa berenang akan segera menjadi tawanan. Dengan sekali melompat dia sudah berhadapan dengan Tay-seng-ong.

“Mau apa kau?!” bentak Tie-hwie.

Hampir berbareng Kong-tek dan Hoa-hie-ong yang masing masing bersenjata cambuk dan martil menyerang dari kiri kanan. Bu Kie yang kini telah memahami ilmu silat Cong-kauw tidak mempedulikan serangan itu. Bagaikan kilat dua tangannya menyambar dan mencengkeram jalan darah di tenggorokan kedua ‘raja’ itu sehingga senjata mereka menyimpang dan beradu satu sama lain. Sesudah melempar tubuh mereka ke gubuk kapal, Bu Kie segera mengamuk. Dengan dua tendangan dia melontarkan golok Cie-sim dan Jin-Jiok-ong lalu dengan dua tendangan lagi melemparkan Kin-siu dan Kie-beng-ong ke dalam air.

Seorang Po-su-ong yang bersenjata sepasang pedang pendek tiba-tiba menikam. Bu Kie mengegos dan menendang pergelangan tangannya. Secepat kilat orang itu menyilangkan kedua tangannya dan menikam perut Bu Kie. Tikaman itu cepat dan di luar dugaan Bu Kie terpaksa melompat tinggi untuk menyelamatkan jiwa. Orang itu adalah Siang-seng, jago nomor tiga di antara kedua belas Po-su-ong. Sesudah tikamannya gagal, dia terus merangsek dan mengirim serangan berantai. Bu Kie melayani dengan tenang. Setelah bertempur sembilan jurus diam-diam dia memuji kepandaian ‘raja’ ini.

Walau pun sudah memahami ilmu Seng-hwee-leng, tetapi karena belum berlatih maka Bu Kie belum bisa mempergunakannya secara lancar. Dalam belasan jurus pertama dia hanya mempertahankan diri dengan kepandaiannya sendiri. Setelah lewat dua puluh jurus barulah dia bisa menggunakan ilmu Seng-hwee-leng dengan agak lancar. Selama ini Siang-seng tidak pernah kalah dalam pertarungan karena di negerinya sendiri dia jarang mendapat tandingan. Ketika menghadapi Bu Kie dia kaget bercampur heran dan pengalaman itu adalah pengalaman pertama yang didapat olehnya.

Setelah bertanding tiga puluh jurus lebih tiba-tiba Bu Kie duduk di atas geladak dan kedua tangannya memeluk betis Siang-seng. Itulah salah satu pukulan yang terhebat dalam ilmu Seng-hwee-leng, yang dikenal tapi belum pernah digunakan oleh Siang-seng-ong sendiri. Begitu kedua tangannya memeluk, dengan sepuluh jari tangannya Bu Kie mencengkeram Tiong-tauw-hiat dan Cu-peng-hiat di betis lawan. Tubuh Siang-seng Po-su-eng lantas saja lemas. Dia menghela napas dan menyerah kalah. Tetapi mendadak di dalam hati pemuda itu muncul rasa sayang terhadap kepandaian Siang-seng. Karena itu sambil melepaskan cengkeraman dan pelukannya dia pun berkata,

“Kepandaianmu sangat tinggi dan biarlah kau mempertahankan nama besarmu. Pergilah!”

Siang-seng Po-su-ong berterima kasih bercampur malu. Cepat dia melompat balik ke kapalnya sendiri. Pada saat itu pula Cia Sun dan Cie Jiak sudah menyeret keluar Kong-tek dan Hoa-hie-ong dari dalam gubuk kapal kemudian menjaga kedua tawanan penting itu dengan To-liong-to dan Ie-thian-kiam terhunus.

Melihat kekalahan Siang-seng-ong dan tertawannya Kong-tek dan Hoa-hie-ong, nyali Tay-seng Po-su-ong jadi ciut. Dia tahu bahwa meski pun kapal yang ditumpangi rombongan Bu Kie ditenggelamkan, pihaknya tetap akan menderita kerugian besar, yaitu binasanya empat pemimpin penting dari Cong-kauw. Maka, setelah berpikir beberapa saat dia pun segera memberi tanda dan menarik kembali semua kawan-kawannya ke kapal sendiri, juga termasuk yang telah selulup ke dalam air untuk melubangi kapal rombongan Bu Kie.

“Lekas kalian antarkan Taykis kemari dan luluskan tiga syarat Kim-mo Say-ong!” teriak Tio Beng.

Sesudah selesai berunding Tie-hwie-ong lantas berseru, “Kami bersedia meluluskan permintaanmu, tapi kalian harus menjawab pertanyaan. Ilmu silat pemuda itu terus terang adalah ilmu silat kami. Dari mana dia mendapatkannya? Kalian harus memberi keterangan sejelas-jelasnya.”

Sambil menahan tawa nona Tio menjawab. “Kalian semua adalah manusia-manusia tolol. Dengarlah! Pemuda ini adalah murid ke delapan dari Kong-beng Sucia kami. Tujuh kakak dan tujuh adik seperguruannya tidak lama lagi akan tiba di sini. Jika mereka datang maka kalian semua akan dibasmi bersih.”

Tie-hwie-ong sangat pintar, tapi dia tidak begitu paham bahasa Tionghoa dan hanya bisa menangkap enam tujuh bagian dari perkataan Tio Beng. Dia tahu bahwa nona itu sedang omong kosong. Sesudah berpikir sejenak dia berkata,

“Baik! Saudara-saudara, pulangkan Taykis.”

Dua orang anggota Cong-kauw lantas mengantarkan Taykis ke kapal Bu Kie. Dengan dua kali menyabet dengan Ie-thian-kiam, Cie Jiak memutuskan rantai yang mengikat kaki tangan Cie-san Liong-ong. Melihat ketajaman pedang itu, kedua pengantar jadi ketakutan setengah mati sehingga mereka buru-buru kembali ke kapalnya.

“Kalian boleh segera berangkat pulang,” kata Tie-hwie-ong. “Kami akan mengirim sebuah perahu kecil untuk mengikuti dari belakang.”

Sambil merangkap dua tangannya Bu Kie berkata, ”Beng-kauw di Tiong-goan bersumber dari Persia, kalian dan kami sebenarnya adalah saudara. Kami harap kalian tidak menjadi kecil hati karena adanya salah mengerti pada hari ini. Kami mengundang kalian datang di Kong-beng-teng agar kita bisa minum arak bersama-sama. Untuk segala kesalahan kami dengan ini aku menghaturkan maaf.”

Tie-hwie-ong tertawa terbahak-bahak. “Kami semua kagum dengan ilmu silatmu yang amat tinggi,” katanya. “Apakah tidak girang kalau kita belajar dan terus mempelajari pelajaran itu? Apakah tidak girang kalau mendapat kunjungan sahabat dari jauh?”

Mendengar kutipan dari kata Khong-cu, Bu Kie membungkuk sambil berkata, “Tepat sekali perkataanmu.“

Bu Kie tidak mau berayal lagi. Seorang diri dia mengangkat jangkar, lalu memutar kemudi dan memasang layar sehingga dalam beberapa saat kapal itu mulai bergerak. Melihat tenaga Bu Kie yang dapat mengangkat jangkar seorang diri, sedangkan pekerjaan itu sebenarnya harus dilakukan belasan orang, anak buah kapal Cong-kauw segera bersorak sorak.

Sebuah perahu kecil lantas mendekati kapal Bu Kie kemudian melemparkan seutas tambang. Bu Kie lalu mengikat tambang itu di buritan kapal. Di dalam perahu itu terdapat dua orang penumpang, Liu-in-su dan Hwie-goat-su.

Kapal mulai berlayar ke jurusan barat. Sambil memegang kemudi Bu Kie mengawasi kapal-kapal Cong-kauw. Sesudah melewati Leng-coa-to dan kapal-kapal itu tetap tidak bergerak, barulah hatinya menjadi lega. Dia segera menyerahkan kemudi kepada Siauw Ciauw, lalu pergi ke gubuk kapal untuk menengok In Lee. Nona itu berada dalam keadaan setengah tertidur setengah sadar. Lukanya belum mendingan tetapi juga tidak jadi lebih hebat.

Taykis sedang termenung seorang diri ketika dia mendengar tindakan Bu Kie. Dengan hati kagum Bu Kie memandangi potongan tubuh nyonya itu yang langsing gemulai. Sebagian rambutnya yang hitam bergoyang tertiup angin, sedangkan kulitnya yang putih seakan batu pualam. Ayah angkatnya mengatakan bahwa dahulu Taykis terkenal wanita tercantik di rimba persilatan. Pujian itu bukan pujian kosong belaka.

Pada waktu maghrib kapal Bu Kie sudah terpisah kurang lebih seratus li dari Leng-coa-to. Lautan tenang dan di atas permukaan air tidak terlihat apa pun. Ternyata Cong-kauw menepati janji.

“Gie-hu, apakah tawanan sudah boleh dilepaskan?” tanya Bu Kie.

“Boleh!” jawabnya. “Sekarang mereka tidak akan bisa mengejar kita lagi.”

Sambil menghaturkan maaf berulang-ulang, Bu Kie segera membuka ‘hiat’ ketiga raja dan Biauw-hong-su.

“Keenam Seng-hwee-leng ditaruh di bawah penjagaan kami bertiga,” kata Biauw-hong-su. “Kalau hilang kami berdosa besar. Maka itu aku mohon agar kau suka mengembalikan.”

“Seng-hwee-leng merupakan tanda kekuasaan dari Kauwcu Beng-kauw di wilayah Tiong-goan,” kata Cia Sun. “Hari ini barang itu kembali kepada majikannya. Bagaimana kita bisa menyerahkannya kepadamu?”

Tapi Biauw-hong-su tak mau mengerti. Dia terus memohon-mohon. Bu Kie merasa bahwa jika dia tidak menaklukkan hati orang itu maka di kemudian hari soal ini bisa menjadi bibit penyakit. Maka itu dia lantas berkata,

“Sebenarnya kami bersedia mengembalikan kepadamu. Tetapi kami kuatir kepandaianmu masih terlampau rendah sehingga tidak bisa menjaga mustika ini. Dari pada dirampas orang luar lebih baik dipegang oleh kami.”

“Bagaimana orang luar bisa merampasnya?” tanya Biauw-hong-su.

“Jika kau tidak percaya mari kita coba-coba,” kata Bu Kie yang segera menyerahkan keenam Seng-hwee-leng kepadanya.

Biauw-hong-su girang sekali. Tapi baru saja mengatakan ‘terima kasih’, kedua tangan Bu Kie sudah menyambar dan merebut kembali.

“Curang!” teriak Biauw-hong-su dengan suara marah. “Kau mendahului sebelum aku memegangnya erat-erat.”

Bu Kie tertawa. “Tak apa-apa, boleh kau coba lagi,” katanya seraya menyerahkan pula enam ‘leng’ itu.

Biauw-hong-su segera menyambutnya. Setelah memasukkan empat buah ‘leng’ ke dalam sakunya, sambil mencekal yang dua lagi Biauw-hong-su memasang kuda-kuda. Bu Kie tidak sungkan-sungkan lagi dan dia segera berseru,

“Awas serangan!” Tangannya sudah dijulurkan ke depan hendak merampas Seng-hwee-leng di tangan kiri Biauw-hong-su.

Serangan Bu Kie itu dipapaki Biauw-hong-su dengan pukulan pada pergelangan tangan. Dengan sekali membalik tangan Bu Kie sudah menangkap lengan tangan kanannya yang lalu ditarik sehingga kedua ‘leng’ terpukul satu sama lain.

“Cringg...!”

Beradunya kedua ‘leng’ mengeluarkan suara yang menggetarkan hati. Diam-diam Bu Kie mengirim tenaga dalam yang amat kuat ke lengan lawan. Biauw-hong-su lantas merasa lengannya kesemutan dan semua tenaganya musnah. Dia tak bisa bergerak lagi sehingga dua ‘leng’ yang dicekalnya jatuh. Dengan tenang Bu Kie merogoh saku lawan dan mengambil empat ‘leng’, lalu menjemput dua ‘leng’ lainnya yang tergeletak di geladak kapal.

“Bagaimana? Apa kau mau mencoba lagi?” tanya Bu Kie.

Paras muka Biauw-hong-su lantas berubah pucat. “Kau bukan manusia! Kau adalah setan!” katanya dengan suara parau.

Dia bertindak untuk melompat ke perahu, tapi mendadak badannya terhuyung dan dia pun roboh. Liu-in-su melompat naik, lalu mendukungnya dan cepat-cepat kembali ke perahu. Sementara itu perahu telah memasang layar dan Kong-tek-ong lalu memutuskan tambang sehingga kedua kendaraan air itu lantas berpisah.

“Kami sudah membuat banyak kesalahan, maka harap kalian suka memaafkan!” teriak Bu Kie seraya merangkap kedua tangannya.

Kong-tek-ong dan kawan-kawannya tidak menjawab. Semuanya mengawasi dengan sorot mata marah.

Kapal terus berlayar ke arah barat. Sekonyong-konyong Taykis membentak, “Bangsat! Jangan main gila!” Dia menggenjot tubuh lalu terjun ke air!

Bu Kie terkesiap, buru-buru dia memutar kemudi. Mendadak dia melihat timbulnya darah yang tercampur rambut di pinggir kapal. Dengan saling susul timbul pula darah pada lima tempat. Tak lama kemudian Taykis muncul di permukaan air dengan gigi menggigit pisau dan tangan mencekal rambut seorang Persia.

Dengan memutar kemudi Bu Kie berusaha untuk menyambut nyonya itu. Tapi karena dia tidak segera menurunkan layar, maka sebaliknya dari pada maju kapal itu terputar dengan perlahan. Ilmu berenang Cie-san Liong-ong benar-benar lihay, dia sudah menghampiri secepat ikan. Dalam sekejap dia sudah sampai di pinggir kapal. Dengan tangan kiri dia menekan jangkar untuk meminjam tenaga dan sekali menggenjot tubuh, dia pun ‘terbang’ ke atas kemudian hinggap di atas geladak bersama tawanannya.

Ternyata sesudah Kong-tek-ong dan kawan-kawannya turun ke perahu, dengan memakai layar sebagai aling-aling tujuh penyelam meloncat ke air untuk melubangi kapal Bu Kie. Untung sekali Taykis yang berpengalaman luas dan bermata jeli dapat melihat gelembung-gelembung air yang muncul di permukaan laut dari pernapasan orang-orang itu. Dengan demikian dia berhasil membinasakan enam orang dan membekuk satu orang.

Baru saja Bu Kie hendak memeriksa tangkapan itu, tiba-tiba dari buritan kapal terdengar ledakan dahsyat diikuti dengan mengepulnya asap hitam. Kapal bergoncang keras, potongan-potongan kayu berterbangan ke angkasa. Dengan hati mencelos Bu Kie beserta kawan-kawannya merebahkan diri di geladak kapal.

“Jahat sungguh manusia-manusia itu!” kata Taykis sambil berlari ke buritan kapal.

Ternyata ledakan itu telah membocorkan buritan dan kini air mulai mengalir masuk, sedangkan kemudi kapal pun sudah terbang tanpa bekas.

Dengan sorot mata penuh duka Tio Beng mengawasi Bu Kie. “Kapal musuh akan segera mengejar dan kita semua bakal mati tanpa kuburan,” katanya di dalam hati.

Sementara itu dengan memakai bahasa Persia, Taykis mengajukan beberapa pertanyaan kepada tawanannya yang menjawab dengan bahasa itu juga. Tiba-tiba Cie-san Liong-ong mengangkat tangannya kemudian menghantam batok kepala orang itu yang segera roboh binasa. Sambil menendang mayat itu ke lautan dia berkata dengan suara menyesal,

“Aku hanya mengetahui bahwa mereka berusaha membocorkan kapal, tapi tidak pernah menduga bahwa mereka mengikat obat pasang di buritan.”

Ketika itu perahu yang ditumpangi Kong-tek-ong dan kawan-kawannya sudah pergi jauh sehingga biar pun pandai berenang, Taykis tak akan bisa mengejarnya. Semua orang saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka tidak berdaya. Karena sangat besar, kapal itu tidak lantas tenggelam.

Sekonyong-konyong Taykis dan Siauw Ciauw berbicara dalam bahasa Persia. Selagi berbicara paras muka mereka berubah-ubah. Tampaknya mereka sedang bertengkar. Dengan kedua pipi bersemu dadu Siauw Ciauw mengawasi Bu Kie, sedang Taykis mendesaknya dengan perkataan-perkataan keras.

Rupanya nyonya itu tengah membujuk Siauw Ciauw untuk meluluskan permintaan namun si nona menolak keras. Belakangan sesudah melirik Bu Kie dan menghela napas, Siauw Ciauw mengatakan sesuatu. Tiba-tiba Taykis memeluk dan menciumnya dan mereka berdua serentak mengucurkan air mata. Siauw Ciauw menangis sedu sedan, sementara Taykis membujuknya dengan kata- kata lemah lembut.

Dengan rasa heran Bu Kie, Tio Beng dan Cie Jiak saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang dibicarakan kedua wanita itu.

“Lihatlah, paras muka mereka benar-benar mirip satu sama lain,” bisik Tio Beng di kuping Bu Kie.

Bu Kie terkejut dan dia mengawasi. “Benar! Keduanya cantik, muka mereka potongan kwaci, hidung mancung, kulit putih dan paras mereka memang hampir sama.“

Dengan jantung berdetak keras dia ingat perkataan Kouw Tauw-to Hoan Yauw di rumah makan. Apakah ‘sungguh sama’ berarti sungguh sama dengan Cie-san Liong-ong? Berpikir demikian Bu Kie lantas ingat akan sikap Yo Siauw dan puterinya yang sangat waspada terhadap Siauw Ciauw. Setiap kali dia bertanya mengapa mereka begitu berhati-hati terhadap seorang gadis cilik, jawabannya selalu tidak memuaskan. Sekarang barulah dia mengerti bahwa Yo Siauw curiga karena paras muka nona itu sangat mirip dengan Cie-san Liong-ong. Dia pun baru mengerti mengapa Siauw Ciauw berusaha untuk mengubah mukanya supaya kelihatan jelek.

Tiba-tiba dia ingat sesuatu. “Perlu apa Siauw Ciauw datang di Kong-beng-teng?” tanyanya di dalam hati. “Bagaimana dia bisa tahu pintu masuk dari jalan rahasia? Ahh... tentulah dia disuruh Cie-san Liong-ong untuk mencuri pelajaran Kian-kun Tay-lo-ie. Hampir dua tahun dia menjadi pelayanku dan aku belum pernah berjaga-jaga. Jika dia mau menyalin pelajaran itu, mudahnya seperti orang merogoh saku. Sungguh celaka! Aku belum pernah bermimpi bahwa dia mengandung maksud tertentu. Bu Kie, Bu Kie...! Kau tolol! Kau terlalu percaya kepada manusia...”

Sambil mengutuk diri sendiri, dia pun melirik Siauw Ciauw. Apa mau dikata, si nona pun sedang memandangnya dengan sorot mata penuh cinta murni. Sorot mata itu bukan sorot mata berpura-pura. Sekali lagi jantungnya bergetar keras. Bu Kie lantas teringat bahwa pada waktu dia menghadapi enam partai besar di Kong-beng-teng, Siauw Ciauw pernah melindungi dirinya tanpa mempedulikan keselamatan sendiri. Selama hampir dua tahun nona itu telah merawat dan melayani dia dengan penuh pengabdian. Apakah dia salah menerka? Sekonyong-konyong kapal bergoncang dan tenggelam separuh.

“Thio-kauwcu dan kawan-kawan tak usah kuatir!” kata Taykis. “Kalau sebentar kapal Cong-kauw datang di sini, aku dan Siauw Ciauw punya daya upaya untuk menghadapinya. Biar pun hanya seorang wanita, Cie-san Liong-ong bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukannya. Aku pasti tidak akan merembet-rembet kalian, Thio-kauwcu dan Say-ong Cia-heng telah membuang budi yang seberat gunung kepadaku. Untuk semuanya itu, dengan jalan ini Taykis menghaturkan banyak terima kasih.“ Sehabis berkata demikian dia pun menekuk lututnya.

Cia Sun dan Bu Kie cepat membalas hormat. Mereka tahu bahwa si nyonya bersungguh-sungguh, tapi mereka sangsi apakah Cong-kauw bersedia melepaskan mereka. Perlahan tapi pasti kapal terus tenggelam. Tak lama kemudian air masuk ke dalam gubuk. Semua orang lalu memanjat tiang layar dengan Bu Kie mendukung In Lee dan Cie Jiak mendukung Tio Beng.

Sambil menangis tiba-tiba Siauw Ciauw menuding ke jurusan timur. Semua orang menengok ke arah itu. Di tempat jauh mereka melihat beberapa titik yang makin lama makin besar, yang kemudian ternyata adalah belasan kapal Persia yang menghampiri dengan kecepatan luar biasa.

“Kalau aku jadi Taykis, aku lebih suka mati di air dari pada dibakar hidup-hidup,” kata Bu Kie dalam hati.

Akan tetapi Taykis kelihatan tenang-tenang saja, sedikit pun tidak menunjukkan rasa jeri sehingga Bu Kie merasa kagum sekali.

“Sebagai kepala dari empat Hoat-ong dia benar-benar bukan sembarang orang,” pikirnya. “Pada waktu Eng-ong, Say-ong dan Hok ong sudah terkenal sebagai orang gagah yang usianya tidak muda lagi, dia masih gadis remaja. Tapi akhirnya kedudukannya bisa berada di atas ketiga Hoat ong itu. Kalau dilihat dari sikapnya yang sekarang dia memang patut mendapat kedudukan itu.“ Sambil berpikir begitu dia mengawasi kapal-kapal Cong-kauw yang makin dekat. “Aku sudah merobohkan beberapa Po-su-ong, maka aku tidak usah berharap hidup kalau jatuh ke tangan mereka,” katanya pula dalam hati. “Tapi biar bagaimana pun juga aku harus berusaha supaya Gie-hu, Tio-kouwnio, Ciu-kouwnio dan Piauw-moay bisa selamat. Dan juga... Siauw Ciauw. Aihh...! Boleh saja dia berkhianat terhadapku, tapi aku tidak bisa berkhianat terhadapnya.”

Tiba-tiba In Lee bergerak dan membuka kedua matanya. Dia kaget ketika tahu bahwa dia sedang didukung Bu Kie.

“A Gu-koko... di mana kita berada?” tanyanya. “Mengapa kau mendukung aku?”

“Jangan takut,” kata Bu Kie. “Bagaimana keadaanmu?”

In Lee menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak punya tenaga, rasanya lemas sekali,” jawabnya dengan suara parau.

Begitu datang mendekat, semua mulut meriam dari belasan kapal Cong-kauw ditujukan ke tiang layar yang dipeluk oleh rombongan Bu Kie. Biar pun andai kata pemuda itu memiliki kepandaian seratus kali lipat lebih tinggi, dia pun tidak usah berharap dapat melawan peluru meriam-meriam itu. Kapal-kapal Cong-kauw membuang sauh dan menurunkan layar dalam jarak sekitar seratus tombak. Rupa-rupanya mereka kuatir bahwa kalau datang terlalu dekat maka Bu Kie akan melompat dan menawan pula beberapa Po-su-ong. Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tawanya Tie-hwie-ong.

“Heei!” teriaknya. “Kalian mau takluk atau tidak?”

“Orang-orang gagah dari Tiong-goan boleh mati, tapi tidak boleh menekuk lutut,” jawab Bu Kie dengan suara lantang. “Kalau kalian bukan kawanan pengecut, marilah kita mengadu ilmu silat!”

Tie-hwie-ong tertawa nyaring. “Orang gagah sejati mengadu kepintaran, bukan mengadu kekuatan,” teriaknya. “Sudahlah! Kalian tidak dapat berbuat lain kecuali menyerah!”

Tiba-tiba Taykis berbicara dalam bahasa Persia. Ia bicara dengan sikap angker. Tie-hwie-ong terlihat kaget kemudian menjawab. Tay-seng Po-su-ong turut bicara. Sehabis mereka bicara, dari atas kapal diturunkan sebuah perahu dengan delapan pendayung dan perahu itu segera menuju ke kapal Bu Kie yang sudah hampir karam.

“Thio-kauwcu, aku dan Siauw Ciauw hendak menuju ke sana,” kata Taykis. “Kalian tunggu saja di sini sebentar.”

“Han-hujin!” bentak Cia Sun. “Beng-kauw di Tiong-goan telah memperlakukan kau secara baik. Bangun atau robohnya agama kita tergantung atas Bu Kie seorang. Jika kau menjual kami, kebinasaan Cia Sun tidak menjadi soal. Tapi kalau selembar rambut Bu Kie sampai terganggu, biar pun sudah menjadi setan Cia Sun tak akan mengampuni kau.”

Taykis tertawa dingin, “Bila anak angkatmu seperti mustika, apakah anakku tak lebih dari pada lumpur yang kotor?” tanyanya dengan suara getir. Sehabis berkata demikian, seraya menuntun tangan Siauw Ciauw, dia pun melompat ke perahu yang langsung didayung ke arah kapal besar.

Mendengar perkataan nyonya itu, Cia Sun dan yang lain-lain terkejut.

“Kalau begitu benar Siauw Ciauw adalah puterinya,” kata Tio Beng.

Tidak lama kemudian Taykis dan Siauw Ciauw sudah berada di kapal besar dan mereka terus bicara dengan para Po-su-ong. Sementara itu dengan perlahan-lahan kapal Bu Kie terus tenggelam. Satu dim demi satu dim tiang layar masuk ke dalam air.

Cia Sun menghela napas. “Bu Kie,” katanya. “Aku salah menilai Han-hujin dan kau salah menilai Siauw Ciauw. Bu Kie, seorang laki-laki sejati harus dapat mundur dan bisa maju. Biarlah untuk sementara waktu ini kita menelan hinaan sambil mencari kesempatan guna meloloskan diri. Di atas pundakmu terdapat beban yang amat berat. Berlaksa-laksa rakyat di Tiong-goan menunggu tindakan Beng-kauw untuk mengusir Tat-cu dari negara kita. Bu Kie, begitu ada kesempatan kau mesti segera menggunakannya untuk melarikan diri. Jangan pedulikan yang lain. Kau adalah pemimpin suatu agama. Kau harus mengerti apa artinya itu.”

Sebelum pemuda itu menyahut, Tio Beng mendahului. “Fuh! Sedangkan jiwa sendiri tidak bisa ditolong lagi, kau masih bicarakan soal Tat-cu.”

Cie Jiak yang semenjak tadi bungkam, tiba-tiba berkata. “Rasa cinta Siauw Ciauw terhadap Thio-kongcu sangat besar. Menurut pendapatku dia tidak akan berkhianat.”

“Apakah kau tidak melihat bagaimana Cie-san Liong-ong mendesak dia?” tanya Thio Beng. “Semula Siauw Ciauw menolak, kemudian lantaran didesak, kelihatannya dia meluluskan permintaan ibunya. Hm... dan dia berlagak sedih.“

Sesaat itu tiang layar hanya menonjol satu tombak lebih dari permukaan air. Gelombang yang turun naik membawa semua orang.

“Thio-kongcu,” kata Tio Beng sambil tertawa, “Kami akan mati bersama kau dan segalanya tamat ceritanya. Tapi Siauw Ciauw yang licik dan licin malah tidak bisa mati bersama kau.“

Biar pun kata-kata itu semacam guyon tapi artinya sangat mendalam. Dengan berkata begitu terang nona Tio menyatakan rasa cintanya yang sangat besar terhadap si pemuda.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar