ANTARA BENCI DAN CINTA
Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Su Hwee Liong berdiri menonton di satu pojok. Mendengar pembicaraan antara Tio Beng dan Hian-beng Jie-lo, Coan-kang dan Cie-hoat segera berteriak-teriak untuk memberi perintah kepada kawanan pengemis agar mencegat di empat penjuru. Mendadak Hian-beng Jie-lo meninggalkan lawannya, kemudian dengan kecepatan kilat dia menyerang Su Hwee Liong. Perubahan itu tidak terduga, maka meski pun berkepandaian tinggi Su Hwee Liong tidak akan dapat menyambut serangan kedua kakek itu yang dikirim dengan sepenuh tenaga.
Namun karena belum takdirnya mati, seorang penolong sudah bersiap sedia. Mendengar pembicaraan Tio Beng dan kedua jagonya, Tan Yu Liang yang sangat pintar sudah dapat menduga bakal adanya serangan itu dan dia segera mendekati Su Hwee Liong. Pada detik yang sangat berbahaya itu dia mendorong pundak Su Hwee Liong ke belakang patung Bie-lek-hud sehingga pukulan Jie-lo jatuh pada patung itu yang lantas saja pecah, pecahannya muncrat berhamburan dan patung itu sendiri bergoyang-goyang.
Ho Pit Ong maju setindak, menghantam dan mendorong. Maka patung yang sangat besar itu lantas roboh terguling. Keadaan menjadi kalut, semua orang melompat minggir supaya tidak tertimpa patung itu. Dengan menggunakan kesempatan itu Tio Beng cepat-cepat kabur ke pekarangan depan sambil dikejar oleh Song Ceng Su dan Ciang-pang Liong-tauw. Selagi si nona mau melompati pintu, tiga batang tongkat menyambar kakinya. Tio Beng mencelos batinnya, ia digencet dari belakang dan dari depan. Dengan mati-matian ia berhasil mengalihkan dua tongkat yang menyambar lebih dulu, tapi tongkat ketiga mampir tepat pada kakinya sehingga tanpa ampun lagi ia ambruk di lantai.
Song Ceng Su cepat merangsek. Dia membalik pedangnya dan memukul kepala si nona dengan gagang pedang untuk menangkapnya hidup-hidup. Pada saat yang berbahaya itu tiba-tiba saja tongkat bambu Ciang-pang Liong-tauw berkelebat dan menangkis pedang Song Ceng Su, dan dengan berbareng satu bayangan manusia melompat keluar dari atas tembok dengan kecepatan yang sukar dilukiskan. Song Ceng Su menoleh kepada Ciang-pang Liong-tauw kemudian bertanya dengan suara mendongkol.
“Mengapa kau melepaskan dia?”
“Perlu apa kau pukul tongkatku?” si pengemis balas bertanya dengan mata melotot.
“Ehh! Bukankah kau yang memukul gagang pedangku? Mengapa...”
“Jangan rewel! Lekas kejar!”
Mereka segera melompati tembok. Setibanya di luar, pada kaki tembok mereka bertemu seorang murid tujuh karung yang kakinya patah dan tidak bisa bediri lagi. Mereka segera menghampiri tujuh delapan pengemis yang menjaga di luar kelenteng.
“Ke mana larinya perempuan siluman itu?” tanya Ciang-pang Liong-tauw.
“Perempuan yang mana? Kami tidak melihat manusia lain,” jawab seseorang.
Ciang-pang Liong-tauw marah tak kepalang. “Apakah kalian buta semua?” bentaknya. “Terang-terangan perempuan itu melompat keluar dari tembok sana.”
Sambil membangunkan pengemis yang kakinya patah, seorang murid enam karung lantas berkata.
“Barusan toako inilah yang melompat keluar. Kami tidak melihat orang lain.”
Ciang-pang Liong-tauw menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa kau melompati tembok?” tanyanya.
“Aku... aku... ditangkap lantas dilemparkan,” jawab si murid tujuh karung sambil menahan sakit. “Perempuan siluman itu mempunyai ilmu yang sangat aneh.”
Dengan paras muka marah Ciang-pang Liong-tauw mengawasi Song Ceng Su. “Mengapa kau pukul tongkatku? Apa maksudmu? Baru saja masuk ke dalam Kay-pang, kau sudah coba-coba main gila.”
Song Ceng Su meluap darahnya, tapi sebisa-bisanya ia menahan diri. “Selagi teecu memukul kepala perempuan siluman itu tiba-tiba saja Liong-tauw-toako menangkis senjataku sehingga siluman itu bisa melarikan diri,” jawabnya.
“Omong kosong!” bentak si pengemis tua. “Perlu apa aku menangkis gagang pedangmu? Sudah beberapa puluh tahun aku mengabdi di partai dan karena jasa-jasaku maka sekarang aku menduduki kursi Ciang-pang Liong-tauw. Apa kau mau mengatakan bahwa aku sengaja membantu orang luar? Sekarang aku bertanya kepadamu. Mengapa kau tidak menggunakan ujung pedang untuk menikam dia tetapi berlagak memukul dengan gagang pedang? Huh... huh...! Mataku belum lamur, kau tidak dapat memperdayai aku.”
Biar pun di Bu-tong-pay kedudukan Song Ceng Su hanyalah murid turunan ketiga, tapi karena orang-orang Bu-tong tahu bahwa dia adalah calon Ciang-bun-jin maka mereka sangat mengindahkannya. Bahkan Jie Lian Ciu, Thio Song Kee dan lainnya yang masih terhitung paman berlaku sungkan kepadanya. Sekarang atas tekanan Tan Yu Liang dia terpaksa masuk ke dalam Kay-pang. Tapi di luar dugaan pada hari pertama dia sudah dicaci orang. Dia adalah seorang yang beradat tinggi dan meski pun dia tahu bahwa Ciang-pang Liong-tauw mempunyai kedudukan tinggi, tapi dia tidak bisa menahan sabar lagi.
“Kata-kata main gila adalah tuduhan yang membuta tuli,” katanya dengan bernafsu. “Liong-tauw Toako mesti bisa membuktikan tuduhan ini. Terang-terangan kaulah yang menangkis gagang pedangku. Di siang hari bolong belum tentu tidak ada yang melihatnya.” Dengan berkata begitu Song Ceng Su balas menuduh bahwa si pengemislah yang sudah main gila dan sengaja melepaskan Tio Beng.
Ciang-pang Liong-tauw adalah seorang yang berangasan. Mana bisa dia menelan hinaan itu?
“Binatang!” bentaknya. “Kau tidak mengindahkan orang yang lebih tua. Apakah di tempat ini kau masih mau mengandalkan pengaruh Bu-tong-pay?” Seraya berkata begitu dia telah menghantam kepala Song Ceng Su dengan tongkatnya. Dalam kemarahannya dia sudah menggunakan tenaga dalam yang amat dahsyat.
Song Ceng Su segera menangkis tanpa sungkan lagi. Walau pun tongkat itu terbuat dari bambu tetapi amat ulet dan keras dan babatan pedang tidak dapat memutuskannya. Begitu kedua senjata beradu Song Ceng Su merasa telapak tangannya terbeset. Ia kaget, ternyata si pengemis mempunyai Iweekang yang sangat kuat dan lebih unggul dari pada tenaga dalamnya. Di lain pihak si pengemis merasa lengannya kesemutan. Dia juga terkejut karena dia tidak menduga bahwa pemuda ini memiliki Iweekang yang sedemikian kuat. “Bocah she Song!” bentaknya. “Berani sungguh kau melawan aku. Apakah kau suruhan musuh untuk menjadi mata-mata di sini?” Sambil mencaci dia menghantam lagi.
Tiba-tiba saja seseorang melompat keluar dan menangkis pukulan itu. “Liong-tauw Toako, sabar dulu,” katanya. Orang itu adalah Tan Yu Liang.
“Tan Heng-te, aku minta kau menimbang urusan ini,” kata Ciang-pang Liong-tauw.
“Mana si perempuan siluman?” tanya Tan Yu Liang.
“Dilepaskan oleh dia,” kata Ciang-pang Liong-tauw sambil menuding Song Ceng Su.
“Bukan aku, justru dialah yang melepaskan,” balas Song Ceng Su.
Selagi keduanya bertengkar Hian-beng Jie-lo sudah menerobos keluar. Melihat Tio Beng tidak berada di luar kelenteng, tahulah mereka bahwa sang majikan sudah meloloskan diri sehingga hati mereka menjadi lega dan lebih mantap. Sambil tertawa nyaring mereka menyerang lagi dengan sekuat tenaga. Dengan satu jurus saja empat murid Kay-pang roboh di tanah. Waktu Coan-kang, Cie-hoat dan Ciang-pun memburu keluar mereka sudah kabur jauh dan hanya terdengar suara tertawa mereka yang membangunkan bulu roma. Ciang-pang Liong-tauw berjingkrak saking marahnya..
“Kejar!” teriaknya.
“Jangan!” cegah Tan Yu Liang. “Liong-tauw Toako, mungkin saja musuh menyembunyikan pasukan kuat di sepanjang jalan.”
Si pengemis sadar. “Benar,” katanya. “Mengapa aku begitu tolol? Musuh pasti datang kemari dalam jumlah yang besar. Dua orang saja sudah sukar dilawan.“
Ia merasa berterima kasih terhadap Tan Yu Liang dan kemarahannya terhadap Song Ceng Su pun agak mereda. Sementara itu Cie-hoat Tianglo menghitung kerusakan pada pihaknya. Sebelas orang mati di tangan Hian-beng Jie-lo, tujuh orang terluka berat dan delapan sembilan orang luka akibat tertimpa patung Bie-lek-hud. Ia segera memerintahkan orang untuk menolong yang luka dan memerintahkan Ciang-pun Liong-tauw memeriksa di sekeliling kelenteng dengan membawa sejumlah murid.
Sekarang marilah kita menengok Tio Beng. Sebagaimana diketahui, dengan rasa kuatir Bu Kie memperhatikan segala gerak geriknya. Waktu Song Ceng Su membalik pedangnya dan memukul kepala si nona dengan gagang senjata, hati Bu Kie langsung mencelos. Pukulan itu bisa enteng bisa pula berat. Kalau enteng nona Tio akan pingsan, kalau berat jiwanya melayang. Pada detik yang sangat berbahaya, tanpa berpikir panjang lagi ia melompat turun sambil mendorong tongkat Ciang-pang Liong-tauw agar menangkis gagang pedang yang menyambar. Dalam dorongan itu ia menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie.
Selama berdiam beberapa bulan di pulau kecil, ia mempelajari dan melatih diri dalam ilmu yang tertera pada Seng-hwee-leng yang diterjemahkan Siauw Ciauw hingga dia mendapat kemajuan pesat dan sekarang kepandaiannya sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada yang dimiliki oleh Sam-su dari Persia. Sebab itulah dorongannya tadi bahkan tidak diketahui tokoh tokoh yang berilmu tinggi seperti Ciang-pang Liong-tauw dan Tan Yu Liang. Ciang-pang Liong-tauw mengira Song Ceng Su sengaja memukul tongkatnya, sedangkan Song Ceng Su menduga bahwa si pengemis yang sengaja menangkis senjatanya.
Ketika kedua musuhnya sedang kaget, Bu Kie cepat menjambret seorang pengemis tujuh karung kemudian melemparkan keluar tembok sehingga dengan demikian, karena melihat berkelebatnya bayangan manusia, Ciang-pang Liong-tauw dan Tan Yu Liang menyangka bahwa Tio Beng melarikan diri dengan melompati tembok.
Sementara itu sambil mendukung si nona bagaikan kilat Bu Kie melompat ke atas lantas hinggap di atap toa-thia. Pada waktu itu ilmu mengentengkan badan Bu Kie sudah mencapai puncak tertinggi. Dia melompat seperti terbangnya seekor burung. Ada beberapa hal yang menguntungkan Bu Kie sehingga lompatannya tidak terlihat orang.
Pertama, saat itu sudah lewat lohor dan segalanya yang berada di bawah matahari tidak terlihat bayangannya lagi. Ke dua, para pengemis sedang memburu keluar sehingga biar pun ada beberapa orang yang merasa ada sesuatu yang lewat di dalam, tapi mereka tidak menghiraukan. Ke tiga, sekitar toa-thia masih penuh dengan debu yang melayang di udara sebagai akibat dari robohnya patung Bie-lek-hud. Ke empat, keadaan tengah kalut dan ke lima, tokoh-tokoh berkepandaian tinggi telah memburu keluar untuk mengepung Hian-beng Jie-lo dan membekuk Tio Beng. Inilah beberapa hal yang membikin Bu Kie bisa menolong Tio Beng tanpa diketahui siapa pun juga.
Selagi badannya melayang di udara dengan didukung lengan yang kuat, Tio Beng membuka matanya. Dia terkesiap karena penolong yang alisnya tebal dan mukanya tampan itu bukan lain Bu Kie. Dia hampir tidak percaya dengan matanya sendiri.
“Kau...!” serunya dengan suara parau.
Buru-buru Bu Kie mendekap muka si nona. Ia mengawasi ke bawah. Di kiri kanan dan di depan belakang kelenteng penuh dengan murid Kay-pang. Walau pun begitu, kalau mau dia masih bisa meloloskan diri. Tetapi sesudah mengetahui adanya perundingan Kay-pang untuk menjatuhkan Beng-kauw dan masuknya Song Ceng Su ke dalam partai pengemis, ia bertekad untuk menyelidiki hal itu sampai seterang-terangnya! Ia tak boleh pergi begitu saja.
Di samping itu dalam pertengkaran antara Ciang-pang Liong-tauw dengan Song Ceng Su, kedua mata si pengemis mengeluarkan sinar yang ganas sehingga terdapat kemungkinan bahwa pengemis itu tak merasa segan untuk menurunkan tangan jahat. Pertimbangan lain yang menahan perginya Bu Kie adalah Han Lim Jie yang masih tertawan. Pembantu yang setia itu harus ditolong. Karena berpikir demikian dia mengambil keputusan untuk masuk lagi dan bersembunyi di ruangan toa-thia. Dia merangkak ke pinggir genteng, lalu menggaet payon dengan kedua kakinya dan dengan sekali melompat dia telah berada di belakang sebuah patung Buddha.
Tempat itu amat sempit, apa lagi untuk bersembunyi dua orang. Lagi pula masih ada kemungkinan bisa dilihat orang dari bawah. Karena itu Bu Kie segera mengawasi ruangan itu. Su Hwee Liong, Coan-kang, Cie-hoat, Thiang Boo dan lain-lain sudah memburu keluar sedang ruangan toa-thia hanya terdapat beberapa pengemis yang terluka karena tertimpa patung Bie-lek-hud. Han Lim Jie sendiri tidak kelihatan mata hidungnya.
Dia mengawasi ke seputarnya, tapi sampai beberapa saat dia masih belum mendapatkan tempat yang cocok untuk menyembunyikan diri. Tiba-tiba Tio Beng menyentuh tangannya dan menuding sebuah tambur besar. Tambur itu terletak di atas tempat menaruh tambur yang tingginya setombak lebih dan berhadap-hadapan dengan sebuah lonceng besar. Bu Kie lantas sadar. Dengan berjalan mepet pinggir tembok ia pun pergi ke belakang tambur. Sambil meloncat ke atas, jari tangannya menggores kulit.
“Prett!”
Kulit kerbau yang tebal terobek seperti digores pisau. Dengan berdiri di lang-kan kayu, dia menggores lagi dengan jerijinya dan membuat robekan garis silang. Sesudah itu dia masuk ke dalamnya sambil mendukung Tio Beng. Tambur itu sudah tua. Di antara debu dan bau apek, Bu Kie mencium wewangian yang keluar dari badan si nona. Tambur itu cukup besar, tapi kedua orang yang bersembunyi di dalamnya bergerak pun tidak bisa lagi. Dengan hati berdebar-debar si nona bersandar di dada Bu Kie.
Perasaan pemuda itu sendiri sulit dilukiskan. Rasa benci, sakit hati, marah, duka dan rasa cinta tercampur menjadi satu. Dia ingin mencaci, namun karena dikelilingi musuh dia tidak bisa membuka suara. Tiba-tiba dia sadar bahwa kepala si nona bersandar pada dadanya. Dia terkejut dan mendorong keras-keras. Tio Beng menjadi marah kemudian menyikut dadanya. Dengan ilmu memindahkan tenaga memukul tenaga, Bu Kie menghantam balik sehingga si nona kesakitan, hampir-hampir ia berteriak kalau mulutnya tidak keburu didekap Bu Kie. Beberapa saat kemudian terdengar suara Cie-hoat Tianglo,
“Melaporkan kepada Pangcu,” ia lalu mengatakan bahwa musuh telah meloloskan diri. “Karena ketololanku maka aku tak bisa menyerahkan musuh kepada Pangcu. Untuk kesalahan ini aku mohon Pangcu memaafkan.”
“Sudahlah!” kata Su Hwee Liong. “Musuh berkepandaian sangat tinggi. Hal itu disaksikan semua orang. Cie-hoat Tianglo tidak usah terlalu sungkan.”
“Terima kasih, Pangcu,” kata Cie-hoat.
Setelah itu Ciang-pang Liong-tauw segera mengadu bahwa Song Ceng Su sengaja melepaskan Tio Beng, tapi pemuda itu membela diri dan balas menuduh. Mereka lantas saja bertengkar sehingga suasana menjadi tegang.
“Tan Heng-te, bagaimana pendapatmu?” tanya Su Hwee Liong.
“Melaporkan kepada Pangcu bahwa Ciang-pang Liong-tauw adalah tetua partai kita, maka dia tentu tidak berdusta,” jawabnya. “Tetapi Song Heng-te pun masuk ke dalam partai kita dengan setulus hati, lebih lagi wanita siluman itu adalah musuhnya. Menurutku perempuan she Tio itu memang mempunyai kepandaian luar biasa dan dengan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga, dia tadi mendorong tongkat Liong-tauw untuk menangkis gagang pedang Song Heng-te. Dalam kekalutan kedua belah pihak menjadi salah paham.”
Dalam hatinya Bu Kie memuji Tan Yu Liang. Dia benar-benar pintar. Tanpa menyaksikan kejadian itu dia sudah bisa menebak tanpa meleset jauh.
“Benar,” kata Su Hwee Liong. “Saudara-saudara, kalian berdua memiliki tujuan yang sama, yaitu mengabdi kepada partai kita. Maka itu hendaknya kalian tidak menjadi bermusuhan karena hal yang remeh ini.”
Ciang-pang Liong-tauw manggut-manggutkan kepalanya, kemudian berkata dengan suara mendongkol,
“Biar pun dia...”
“Song Heng-te,” memutus Tan Yu Liang. “Liong-tauw Toako seorang yang berkedudukan tinggi. Biar pun dia menyalahkan kau tapi kau harus menerimanya dengan segala senang hati. Hayo, lekas minta maaf.”
Dengan terpaksa Song Ceng Su maju setindak lantas menjura. “Liong-tauw Toako,” katanya, “Siauwte bersalah dan mohon Toako suka memaafkan.”
Meski pun masih marah, si pengemis tak bisa lagi mengumbar amarahnya. Ia mengeluarkan suara di hidung dan berkata,
“Ya, sudahlah!”
Meskipun menggunakan kata-kata yang kedengarannya seperti menegur Song Ceng Su, pada hakekatnya Tan Yu Liang menyalahkan si pengemis tua. Dia mengatakan bahwa Tio Beng mendorong tongkat Liong-tauw Toako untuk menangkis gagang pedang Song Heng-te dan bahwa Liong-tauw Toako seorang yang berkedudukan tinggi. ‘Biar pun dia menyalahkan kau tapi kau harus menerimanya dengan segala senang hati’. Kata-kata itu sesungguhnya menyindir Ciang-pang Liong-tauw dan sindiran itu dimengerti para Tianglo. Tetapi karena Tan Yu Liang sangat disayangi oleh Pangcu, maka tak seorang pun berani membuka suara.
“Tan Heng-te,” kata Su Hwee Liong. “Perempuan itu adalah puteri Jie Lam Ong, ada pun Mo-kauw adalah musuh dari kerajaan Goan. Tapi mengapa Kuncu Nio-nio berbalik membela si iblis kecil Thio Bu Kie?”
Tan Yu Liang kelihatan berpikir, tapi sebelum ia menjawab, Ciang-pang Liong-tauw mendahului.
“Aku melihat Kuncu Nio-nio itu amat marah mendengar Tan Heng-te mencaci Kiauwcu dari Mo-kauw, seakan-akan dia mendengar cacian terhadap ayah atau saudara kandungnya sendiri. Hal ini sungguh membikin orang tidak mengerti.”
“Aku tahu sebabnya,” kata Song Ceng Su. “Walau pun Mo-kauw adalah musuh kerajaan tetapi Beng Beng Kuncu mencintai Thio Bu Kie. Maka bukanlah hal yang mengherankan kalau dia selalu melindungi bocah itu.”
Para pengemis terkejut bukan main. Bu Kie sendiri merasa sangat jengah dan jantungnya berdetak lebih keras. Tio Beng memutar kepalanya dan mengawasi si pemuda. Di dalam tambur sangat gelap, tetapi dengan kedua matanya yang luar biasa Bu Kie bisa melihat sinar mata si nona yang mengeluarkan sorot mencintai. Tanpa terasa ia memeluk lebih keras.
Tiba-tiba di depan matanya terbayang In Lee yang binasa mengenaskan. Mendadak pula, rasa cintanya yang baru muncul berubah menjadi rasa benci dan dia memijit lengan Tio Beng dengan penuh kemarahan. Meski pijitan itu tidak disertai tenaga dalam yang kuat tapi si nona merasakan kesakitan yang luar biasa. Dengan menggigit gigi dia menahan sakit dan air matanya mengalir turun di kedua pipinya. Bu Kie mengeraskan hati dan tidak mempedulikannya. Sementara itu Tan Yu Liang bertanya,
“Bagaimana kau bisa tahu? Apa benar ada hal yang sedemikian aneh?”
“Memang benar,” jawab Song Ceng Su dengan nada amat membenci. “Bocah Thio Bu Kie bukan pemuda tampan, mukanya biasa saja, tetapi dia mempunyai ilmu siluman sehingga banyak sekali wanita lupa daratan.”
Cie-hoat Tianglo manggut-manggutkan kepalanya. “Tak salah. Di dalam Mo-kauw memang terdapat ilmu untuk memelet wanita. Bukankah Kie Siauw Hu dari Go-bi-pay celaka karena dipelet siluman Yo Siauw? Thio Cui San, ayah Thio Bu Kie, juga kena dipelet siluman In So So sehingga akhirnya mati bunuh diri. Menurut pendapatku, dengan menggunakan ilmu iblisnya siluman kecil itu telah merusak kehormatan Beng Beng Kuncu sehingga ibarat beras telah menjadi nasi dan Beng Beng Kuncu tidak bisa menyelamatkan dirinya lagi.”
Semua pengemis langsung berteriak mencaci Bu Kie yang dimaki sebagai manusia keji dan kotor.
“Seluruh orang gagah harus berusaha untuk menyingkirkan manusia itu dari dunia,” kata Coan-kang Tianglo dengan suara yang sangat menyeramkan. “Kalau dia dibiarkan hidup terus, entah berapa banyak wanita suci akan celaka di tangan penjahat cabul itu.”
Bu Kie merasa dadanya menyesak. Karena menahan amarahnya, badannya jadi gemetar. Sampai pada detik itu ia masih jejaka yang suci tapi sungguh sering ia dimaki sebagai penjahat cabul. Ia benar-benar penasaran, tapi ia tak dapat mencuci segala tuduhan itu. Ia merasa marah terutama karena dikatakan sudah mencemarkan kesucian Tio Beng. Tiba-tiba ia terkesiap,
“Celaka!” ia mengeluh di dalam hati. “Jika orang tahu aku bersembunyi di sini berdua biar pun bersumpah berat orang takkan percaya kebersihanku.”
“Sesudah jatuh ke tangan penjahat cabul itu, mungkin sekali Ciu Cie Jiak Kouwnio juga tidak dapat mempertahankan kesuciannya,” kata pula Coan-kang Tianglo.
“Song Heng-te, kau tidak usah merasa jengkel. Kami pasti akan merebut kembali kekasihmu yang tercinta. Peristiwa Kie Siauw Hu tidak akan terulang lagi.”
“Benar,” sambut Cie-hoat Tianglo, “Perkataan Toako benar sekali. Dulu Bu-tong-pay tidak bisa membantu In Lie Heng dan sekarang partai itu juga tidak bisa membantu Song Ceng Su. Kini Song Heng-te telah masuk ke Kay-pang. Apa bila kita tidak bisa membela sakit hatinya dan tidak bisa mewujudkan angan-angannya, apa gunanya dia menjadi murid enam karung dari partai kita, sedangkan di Bu-tong-pay dia adalah seorang calon Ciang-bun-jin?”
Sekali lagi para pengemis berteriak-teriak. Mereka mencaci Bu Kie habis-habisan. Tio Beng menempelkan bibirnya di kuping Bu Kie kemudian berbisik.
“Ahh...! Ternyata kau penjahat cabul!” bisiknya bernada marah, duka dan cinta sehingga jantung Bu Kie kembali berdebar-debar.
“Kalau dia tidak begitu kejam, aku benar-benar beruntung jika bisa menikah dengannya,” katanya di dalam hati.
Sementara itu dengan suara perlahan Song Ceng Su menghaturkan terima kasih kepada pengemis yang mau membela dirinya. Cie-hoat Tianglo adalah seorang yang sangat berhati-hati, maka dia bertanya lagi,
“Song Heng-te, apakah kau tahu bagaimana caranya Beng Beng Kuncu dipincuk (dibuat terpikat) oleh si penjahat cabul?”
“Latar belakangnya aku tidak tahu,” jawabnya. “Aku hanya tahu bahwa Beng Beng Kuncu pernah menyateroni Bu-tong-san dengan memimpin sejumlah jago-jago untuk menangkap Thay-suhu. Tapi begitu bertemu dengan si penjahat, dia segera mengundurkan diri hingga bencana itu bisa dielakkan. Selama lebih dari dua puluh tahun Sam-susiok Jie Thay Giam menderita cacat, tetapi Beng Beng Kuncu bahkan menghadiahkan obat kepada si penjahat sehingga Sam-susiok sembuh.”
“Bu-tong-pay adalah paku di mata kerajaan Goan. Jika Beng Beng Kuncu tidak terpincuk, dia tentu tak akan menyerahkan obat kepada si penjahat. Dilihat begini, biar pun wataknya jahat tetapi penjahat itu telah membuang budi kepada Thay-suhu-mu dan para pamanmu,” kata Cie-hoat.
“Ah!” tiba-tiba Tan Yu Liang berseru. “Melaporkan kepada Pangcu bahwa setelah mendengar pembicaraan tadi, sekarang aku mempunyai siasat yang bisa menaklukkan penjahat cabul itu. Dengan siasat ini seluruh Mo-kauw dari atas sampai bawah akan menuruti perintah partai kita!”
Su Hwee Liong kegirangan. “Tan Heng-te, lekas beritahu siasatmu!” katanya.
“Di sini terlalu banyak orang,” kata Tan Yu Liang. “Biar pun kita berada di antara saudara-saudara sendiri, aku masih kuatir kalau kalau rahasia besar ini menjadi bocor.”
Keadaan di toa-thia berubah jadi sunyi. Beberapa saat kemudian terdengar tindakan kaki belasan orang yang keluar dari ruangan itu sehingga yang tinggal hanyalah beberapa tokoh penting dari Kay-pang.
“Rahasia ini harus dijaga baik-baik agar jangan sampai bocor,” kata Tan Yu Liang. “Song Heng-te dan kedua Liong-tauw Toako, mari kita periksa di atas, di depan dan di belakang kelenteng untuk memastikan bahwa tak ada orang luar yang mencuri dengar pembicaraan kita.”
Ciang-pang dan Ciang-pun Liong-tauw segera melompat ke atas genteng, sedang Tan Yu Liang dan Song Ceng Su memeriksa seluruh toa-thia, di depan dan di belakang kelenteng. Diam-diam Bu Kie memuji Tio Beng karena selain tambur itu segala pelosok diperiksa dengan teliti. Beberapa lama kemudian mereka berempat kembali ke toa-thia.
“Dalam siasat ini kita harus mengandalkan bantuan Song Heng-te,” bisik Tan Yu Liang.
“Aku?” menegas Song Ceng Su dengan suara heran.
“Benar,” jawabnya. “Ciang-pun Liong-tauw Toako, kuharap kau suka membagi racun Ngo-tok Swee-sim-san (bubuk racun yang dapat menghilangkan kesadaran manusia) kepada Song Heng-te. Song Heng-te, dengan membawa racun itu kau harus pulang ke Bu-tong-san, kemudian diam-diam menaruhnya dalam makanan Thio Cinjin dan para pendekar Bu-tong. Kami akan menunggu di kaki gunung. Sesudah berhasil kita akan menangkap Thio Cinjin dan semua pendekar Bu-tong. Kemudian kita menggunakan penangkapan tersebut untuk menekan Thio Bu Kie, memaksa dia untuk menuruti segala kemauan kita.”
“Bagus! Siasat itu benar-benar bagus!” puji Su Hwee Liong.
“Tipuan ini memang sangat bagus,” menyambut Cie-hoat. “Kita sukar untuk bisa meracuni Thio Bu Kie. Tapi Song Heng-te pasti berhasil. Sebagai anggota penting dari Bu-tong-pay, kau bisa turun tangan dengan mudah sekali.”
Song Ceng Su menjadi bingung. Dengan paras muka pucat dia berkata, “Tapi... tapi... aku tidak bisa meracuni ayah sendiri...”
“Song Heng-te tak usah kuatir,” bujuk Tan Yu Liang. “Ngo-tok Swee-sim-san adalah racun yang luar biasa dari partai kita. Racun ini hanya dapat menghilangkan kesadaran manusia untuk sementara waktu dan sama sekali takkan membahayakan jiwa. Kami semua sangat mengindahkan Song-tayhiap. Kami takkan mengganggu selembar rambut ayahmu.”
Tapi Song Ceng Su tetap menolak. “Jika masuknya aku ke dalam partai kita ini diketahui, aku akan ditegur oleh Thay-suhu dan ayah,” katanya. “Meracuni ayah sendiri adalah perbuatan yang tak akan berani aku lakukan.”
“Saudara,” kata Tan Yu Liang. “Jalan pikiranmu itu salah. Dalam sejarah terdapat contoh-contoh bahwa ada orang-orang yang rela menghukum keluarga sendiri demi kepentingan orang banyak atau negara. Lagi pula tujuan kita sekarang adalah hendak menumpas Mo-kauw. Kita menawan para pendekar Bu-tong hanya untuk menaklukkan si penjahat cabul.”
“Jika aku melakukan perbuatan itu maka aku akan dicaci berlaksa orang di dunia Kangouw dan aku tidak punya muka lagi untuk hidup di antara langit dan bumi,” kata Song Ceng Su.
“Song Heng-te, kau tidak usah begitu kuatir,” kata Tan Yu Liang. “Mengapa tadi aku minta agar semua Tianglo delapan karung meninggalkan ruangan ini? Mengapa kita memeriksa di seluruh kelenteng? Aku begitu berhati-hati karena takut rahasia ini bocor. Song Heng-te, sesudah menaruh racun, kau sendiri harus berlagak pingsan dan kau pun akan ditangkap. Kau akan dikumpulkan bersama Thay-suhu-mu, ayahmu dan paman-pamanmu. Kecuali kita tujuh orang ini, di dunia tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Kami semua kagum dan berterima kasih terhadap kau yang sudah menunaikan tugas yang amat berat. Siapa lagi yang akan mentertawakan kau?”
Ceng Su mengerutkan alisnya. Sesudah berpikir beberapa lama dia berkata dengan suara perlahan.
“Perintah Pangcu dan Tan-toako sebenarnya tidak boleh ditolak olehku. Apa lagi sebagai anggota baru dari partai kita, siauwte seharusnya menggunakan kesempatan ini untuk membuat pahala. Biar harus melalui barisan golok mau pun harus masuk ke dalam lautan api, siauwte mesti melakukannya. Tapi... tapi... setiap manusia yang hidup di dunia ini harus berpokok kepada ‘hauw-gie’ (berbakti dan mempunyai rasa persahabatan). Maka itu biar bagaimana pun juga siauwte tidak akan bisa turun tangan terhadap ayah kandung sendiri.”
Semenjak dahulu Kay-pang amat mengutamakan ‘kebaktian’. Mendengar perkataan Song Ceng Su, para tetua tidak berani mendesak lagi. Mendadak Tan Yu Liang tertawa dingin.
“Yang muda tidak boleh menyerang yang tua adalah salah satu keharusan di rimba persilatan,” katanya. “Hal itu sudah kuketahui sehingga Song Heng-te tak usah mengajari aku. Aku hanya ingin mengajukan pertanyaan. Pernah apakah Song Heng-te dengan Boh Seng Kok Cit-hiap? Siapa yang lebih tinggi tingkatannya? Boh Cit-hiap atau kau sendiri?”
Song Ceng Su tidak menjawab. Dia menundukkan kepala dan setelah berselang beberapa lama barulah dia berkata,
“Baik! Siauwte akan menurut perintah! Tapi kalian harus berjanji untuk tidak mengganggu selembar rambut ayahku, untuk tidak menghina ayahku dengan cara apa pun juga. Kalau kalian tidak berjanji begitu, Siauwte lebih suka celaka dari pada melakukan perbuatan yang tidak mengenal kebaktian ini.”
Su Hwee Liong dan yang lain-lain menjadi amat girang. Mereka segera mengiyakan tuntutan Song Ceng Su.
Bu Kie merasa sangat heran. “Song-toako tadinya menolak keras, tetapi mengapa begitu Tan Yu Liang menyebutkan Boh Cit-siok ia lantas menyerah?” tanyanya di dalam hati. “Dalam hal ini tentu terselip latar belakang yang luar biasa. Aku harus menanyakan Boh Cit-siok sendiri.”
Sementara itu Cie-hoat Tianglo dan Tan Yu Liang lantas berunding dengan bisik-bisik. Mereka membicarakan tindakan untuk menangkap tokoh-tokoh Bu-tong-pay sesudah mereka kena racun. Setiap Tan Yu Liang menyatakan buah pikirannya, sedangkan Su Hwee Liong selalu berkata,
“Bagus! Bagus!”
“Sekarang musim dingin dan Ngo-tok masih bersembunyi di bawah tanah,” kata Ciang-pun Liong-tauw. “Siauwte harus pergi ke kaki gunung Tian-pek-san untuk menggalinya. Dalam dua puluh hari atau paling lama sebulan, siauwte akan bisa membuat Ngo-tok Swee-sim-san (Lima macam binatang beracun).”
“Jika begitu sebaiknya Tan Heng-te dan Song Heng-te mengawani Ciang-pun Liong-tauw ke Tiang-pek-san sedangkan kami sendiri akan turun ke selatan lebih dulu,” kata Cie-hoat Tianglo. “Sebulan kemudian kita berkumpul lagi di Lao-ho. Hari ini Cap-jie-gwee Cee-peh (bulan 12 tanggal 8). Lain tahun Cia-gwee Cee-peh (bulan 1 tanggal 8) kita bertemu lagi.“ Setelah berdiam sejenak dia berkata lagi, “Han Lim Jie yang sudah menjadi tawanan kita banyak gunanya. Kuminta Ciang-pang Liong-tauw menjaganya baik-baik agar jangan sampai direbut orang-orang Mo-kauw. Dalam perjalanan ini kita harus sangat berhati-hati supaya tindakan kita tidak tercium musuh.”
Setelah itu semua orang lantas minta diri kepada Pangcu. Ciang-pun Liong-tauw, Tan Yu Liang dan Song Ceng Su berangkat paling dahulu, kemudian dengan beruntun semua pengemis meninggalkan kelenteng Bie-lek-hud.
Sesudah semua orang berlalu, barulah Bu Kie dan Tio Beng melompat keluar dari dalam tambur. Sambil membereskan pakaiannya nona Tio mengawasi Bu Kie dengan sorot mata girang bercampur marah.
“Hemm...“ Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kau masih punya muka untuk bertemu dengan aku...!”
Paras muka si nona lantas berubah. “Mengapa?” Dia menegas. “Dosa apa yang kuperbuat terhadap Toa-kauwcu?”
“Manusia kejam!” bentak Bu Kie dengan muka pucat. “Aku tidak menyalahkanmu bila kau hanya mencuri Ie-thian-kiam dan To-liong-to. Aku takkan menyalahkan kau jika hanya meninggalkan aku di pulau terpencil itu! Tetapi kau tahu bahwa In-kouwnio sedang terluka berat. Mengapa kau begitu kejam, begitu tega menurunkan tangan jahat kepadanya? Kau perempuan kejam! Di dunia yang selebar ini, kekejamanmu sukar dicari keduanya!” Selagi mencaci darahnya meluap. Dia maju setindak dan kedua tangannya menggaplok.
Tio Beng mencoba berkelit, tetapi mana bisa dia menyingkir dari serangan Bu Kie yang sudah kalap?
“Plak...! Plak...! Plak...! Plak...!”
Kedua pipinya merah bengkak terkena empat gamparan. Rasa sakit, malu dan marah bercampur aduk dalam dada si nona. Akhirnya dia menangis.
“Kau bilang aku mencuri Ie-thian-kiam dan To-liong-to...? Siapa yang lihat?” tanyanya. “Kau bilang... aku kejam terhadap In-kouwnio...? Panggil dia kemari untuk diadu denganku...”
Bu Kie makin marah. “Baiklah!” teriaknya. “Aku akan kirim kau ke akherat untuk diadu dengannya!” Tangannya menyambar dan mencekik leher si nona.
Tio Beng memberontak dan memukul dada Bu Kie, tapi pemuda yang tubuhnya dilindungi Kiu-yang Sin-kang itu tak menghiraukan semua pukulan. Selang beberapa saat kemudian, dengan muka merah si nona jatuh pingsan.
Sebenarnya dalam sakit hatinya Bu Kie ingin membinasakan nona Tio. Tapi melihat si nona dalam keadaan pingsan, tiba-tiba hatinya lemas dan dia melepaskan cekikannya sehingga si nona lantas roboh dengan kepala membentur batu lantai. Setelah berselang beberapa lama, perlahan-lahan Tio Beng tersadar. Ia membuka kedua matanya dan melihat paras muka Bu Kie yang menunjukkan rasa kuatir. Sesudah si nona tersadar barulah Bu Kie menahan napas lega.
“Apa benar In-kouwnio sudah meninggal dunia?” tanya Tio Beng.
Darah pemuda itu bergolak lagi. “Jika digores pedang tujuh belas delapan belas goresan, bagaimana dia bisa hidup?” jawabnya dengan suara gemetar.
“Siapa... siapa yang bilang aku berbuat begitu?” tanya Tio Beng. “Apa Ciu-kouwnio?”
“Ciu-kouwnio tidak pernah memfitnah orang. Dia sama sekali tidak menuduh kau.”
“Apa In-kouwnio sendiri yang berkata begitu?”
“In-kouwnio tidak dapat bicara. Binatang di pulau itu hanya terdapat lima orang. Apakah ini perbuatan Gie-hu? Apa aku? Apakah In-kouwnio yang membacok dirinya sendiri? Hmm..! Aku tahu jalan pikiranmu. Kau turunkan tangan jahat sebab kau takut aku menikah dengan Piauw-moay. Sekarang aku bicara terus terang. Tak peduli dia mati atau hidup, aku tetap menganggapnya sebagai isteriku.”
Tio Beng menundukkan kepalanya. Lama sekali dia berdiri terpaku. Akhirnya dia bertanya.
“Bagaimana kau bisa kembali ke Tiong-goan?”
Bu Kie tertawa dingin. “Kami bisa kembali berkat kemuliaan hatimu,” katanya dengan nada mengejek. “Kau mengirim angkatan laut mencari kami. Tapi untungnya Gie-hu tidak sebodoh aku. Karena kecerdasan Gie-hu maka kami tidak masuk ke dalam perangkapmu. Kami tahu bahwa kau telah mempersiapkan kapal meriam untuk menenggelamkan kapal yang kami tumpangi. Tapi lihatlah! Siasat busukmu tidak berhasil.”
Sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak si nona menatap wajah Bu Kie. Mendadak kedua matanya mengeluarkan sinar kasihan dan mencinta. Dia menghela napas panjang. Buru-buru Bu Kie memalingkan kepala ke jurusan lain karena dia kuatir jatuh di bawah pengaruh kecantikan. Ia menjejak bumi kemudian berkata,
“Aku pernah bersumpah untuk membalas sakit hati piauw-moay. Aku mengakui kelemahanku, dan hari ini aku tidak bisa turun tangan. Tapi kau terlalu jahat! Di lain hari kau pasti akan jatuh ke tanganku!” Sehabis berkata begitu dia berjalan keluar dengan tindakan lebar.
Tapi baru saja dia berjalan belasan tombak, Tio Beng sudah memburu. “Thio Bu Kie! Mau ke mana kau?!” teriak si nona.
“Kau tidak perlu tahu!”
“Aku mau bicara dengan Cia-tayhiap dan Ciu-kouwnio. Antarkan aku kepada mereka!”
“Gie-hu tak akan berlaku sungkan terhadapmu,” kata Bu Kie. “Menemui Gie-hu berarti mengantarkan jiwa.”
“Gie-humu kejam, tapi dia tidak setolol kau. Di samping itu, bila Gie-humu membunuh aku, bukankah dengan demikian sakit hati Piauw-moaymu jadi terbalas impas?”
“Tolol apa aku? Aku hanya tidak ingin kau menemui Gie-hu.”
“Thio Bu Kie, kau memang tolol. Kau tidak rela mengorbankan aku. Kau tidak ingin ayah angkatmu membunuh aku. Bukankah begitu?”
Muka Bu Kie berubah merah. “Jangan rewel!” bentaknya. “Sebaiknya kau menyingkir jauh-jauh dari kami. Jika tidak mungkin aku tak bisa menguasai diriku lagi dan akan mengambil jiwamu.”
Setindak demi setindak Tio Beng mendekati. “Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Cia-tayhiap dan Ciu-kouwnio,” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Aku tak berani bicara jelek di belakang orang. Aku akan menanyakan seterang-terangnya secara berhadap-hadapan.”
“Pertanyaan apa yang akan kau ajukan?”
“Kau akan segera tahu. Aku berani menempuh bahaya, kenapa kau sendiri justru berbalik ketakutan?”
Bu Kie kelihatan sangat bersangsi. Lewat beberapa saat barulah dia berkata, “Kau harus ingat bahwa kaulah yang memaksa. Jika Gie-hu menurunkan tangan jahat, aku tidak bisa menolong kau.”
“Kau tidak usah terlalu kuatir,” kata si nona.
Tiba-tiba saja Bu Kie naik darah. “Kuatir?” dia mengulang. “Huh... huh! Menurut pantas aku harus segera mengambil jiwamu.”
“Hayolah!” si nona menantang sambil tertawa.
Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. Tanpa meladeni lagi dia segera menuju ke kota dengan tindakan lebar, diikuti oleh Tio Beng dari belakang. Waktu hampir tiba di kota, Bu Kie menghentikan tindakannya kemudian menengok ke belakang.
“Tio-kouwnio,” katanya, “Dulu aku pernah berjanji akan melakukan tiga pekerjaan untukmu. Yang pertama mencari To-liong-to. Janji ini telah kupenuhi. Sekarang masih ada dua. Jika kau menemui Gie-hu, jiwamu pasti melayang. Kau pergilah! Aku ingin memenuhi janjiku dan sesudah terpenuhi, barulah kau pergi menemui Gie-hu.”
Si nona tertawa geli. “Thio Bu Kie,” katanya dengan suara bahagia. “Kau hanya mencari-cari alasan supaya Gie-humu jangan sampai membinasakan aku. Aku tahu, kau tidak tega mengorbankan aku.”
“Kalau aku tidak tega, mau apa kau?” kata Bu Kie dengan suara aseran.
“Aku merasa sangat girang,” jawabnya.
Bu Kie menghela napas. “Tio-kouwnio,” katanya. “Aku mohon... aku mohon... kau jangan pergi...”
Si nona menggelengkan kepalanya. “Tidak, biar bagaimana pun juga aku mesti menemui Cia-tayhiap,” katanya dengan suara tetap.
Bu Kie mengerti bahwa tak ada gunanya dia membujuk lagi. Maka dengan tindakan berat dia segera menuju rumah penginapan. Setibanya di depan kamar Cia Sun, dia mengetuk pintu.
“Gie-hu...!” panggilnya.
Biar pun sudah memanggil beberapa kali, dia belum juga mendapat jawaban. Dia menolak pintu kamar, tapi pintu itu dikunci dari dalam. Dia merasa sangat heran karena dia tahu sang ayah angkat sangat sigap dan andai kata tertidur, tindakan kakinya di luar kamar pasti sudah menyadarkannya. Dia pun curiga dan kuatir. Kalau orang tua itu keluar, mengapa pintu terkunci dari dalam? Dia segera mengerahkan tenaga dan mendorong pintu.
“Brakk!”
Palang pintu patah dan pintu terbuka dan... Cia Sun tidak berada di dalam kamarnya! Bu Kie menyapu seluruh kamar dengan matanya. Dia mendapat kenyataan bahwa jendela terbuka separuh.
“Gie-hu tentu keluar dari jendela,” pikirnya.
Dia lalu pergi ke depan kamar nona Ciu. “Cie Jiak! Cie Jiak!” panggilnya.
Si nona tidak memberi jawaban. Dia segera membuka pintu dengan paksa dan sekali lagi mendapat kenyataan bahwa Cie Jiak juga tidak berada di kamar tetapi buntalan pakaiannya masih tergeletak di atas pembaringan.
“Apakah mereka disatroni musuh?” tanyanya dalam hati.
Dia segera bertanya kepada seorang pelayan, tetapi pelayan itu tidak melihat Cia Sun dan Cie Jiak dan juga tidak mendengar suara keributan. Bu Kie jadi agak lega.
“Mungkin sekali mereka mendengar suara mencurigakan lalu mereka mengejar. Ayah angkat berkepandaian amat tinggi dan dengan dikawani Cie Jiak yang sangat berhati-hati kemungkinan besar takkan terjadi sesuatu yang tak enak.“
Waktu memeriksa jendela dan keadaan di bawah jendela, dia tidak melihat petunjuk yang mencurigakan. Dengan hati yang lebih tenang dia lalu kembali ke kamarnya.
“Melihat Cia-tayhiap tidak berada di dalam kamar, kenapa kau berbalik merasa senang?” tanya Tio Beng sambil tersenyum.
“Omong kosong! Lagi pula kapan aku merasa senang?”
“Kau rasa aku tidak dapat membaca paras mukamu? Waktu menolak pintu, kau memang kaget. Tapi sesudah itu ketegangan otot mukamu lantas menghilang.”
Bu Kie tidak meladeni. Dia lalu duduk di pembaringan batu. Seraya tersenyum simpul Tio Beng duduk di kursi. Dia melirik Bu Kie dan berkata dengan suara perlahan.
“Aku tahu... aku tahu bahwa di dalam hati kau merasa kuatir Cia-tayhiap akan membunuhku sehingga menghilangnya orang tua itu berbalik menyenangkan hatimu. Aku tahu... kau tidak tega mengorbankan aku.”
“Kalau aku tidak tega, mau apa kau?!” bentak Bu Kie dengan mendongkol.
Si nona tertawa, “Aku merasa sangat girang,” jawabnya.
“Tapi mengapa berulang kali kau coba mencelakai aku?” tanya Bu Kie. “Apa di hati kau membenci aku sehingga kau rela mengorbankan aku?”
Paras Tio Beng lantas bersemu dadu. “Benar,” katanya, “Memang benar dahulu aku berusaha untuk mengambil jiwamu. Tetapi sesudah pertemuan di Lek-liu-chung, apa bila di hati aku mempunyai sedikit saja niatan untuk mencelakai kau, biarlah aku dikutuk Tuhan Yang Maha Esa, biarlah aku binasa mengenaskan, biarlah aku tidak dapat menitis lagi di dunia fana ini.”
Mendengar sumpah yang sangat berat itu, Bu Kie terkejut sekali. “Tetapi mengapa hanya karena sebatang golok dan sebatang pedang saja kau sudah begitu tega terhadapku dan meninggalkan aku di pulau kecil itu?” tanyanya lagi.
“Kalau kau tetap berpendapat begitu, aku pun tidak akan bisa membantah,” kata si nona. “Tunggu saja sampai Cia-tayhiap dan Ciu-kouwnio datang.”
“Kau hanya bisa menipu aku seorang dengan lidahmu. Tetapi kau pasti tidak akan dapat mengelabui Gie-hu dan Ciu-kouwnio.”
“Mengapa kau rela ditipu? Karena kau mencintai aku, bukan?”
“Kalau ya, mau apa kau?!” bentak Bu Kie.
“Aku sangat girang,” jawabnya sambil tertawa manis.
Melihat tawa yang menggoncangkan hati itu, cepat Bu Kie memalingkan kepala ke jurusan lain.
“Hampir setengah hari aku bersembunyi di pohon itu,” kata Tio Beng. “Sekarang aku lapar sekali.“ Tanpa menanti jawaban dia memanggil pelayan, lalu menyerahkan sepotong emas sambil memerintahkan supaya disediakan semeja makanan kelas satu.
Melihat uang yang berjumlah besar itu, si pelayan berlaku hormat luar biasa dan tak lama kemudian makanan dan minuman mulai diantar masuk.
“Sebaiknya tunggu sampai Gie-hu datang dan bolehlah kita makan bersama-sama,” kata Bu Kie.
“Begitu Cia-tayhiap datang maka jiwaku langsung melayang,” kata si nona. “Paling benar makan dulu. Lebih baik jadi setan perut kenyang dari pada setan kelaparan.“ Biar pun dia berkata begitu tetapi sikap dan suaranya sangat tenang, sedikit pun tidak mengunjuk rasa kuatir. Setelah berdiam sejenak dia berkata lagi, “Aku masih mempunyai emas. Sebentar kita boleh pesan makanan lagi.”
“Tapi aku tidak berani makan bersama kau,” kata Bu Kie dengan suara dingin. “Aku takkan tahu kalau kau menaruh Sip-hiang Joan-kin-san.”
Paras muka Tio Beng lantas berubah. Dia sangat mendongkol. “Terserah,” katanya. Sehabis berkata begitu dia segera makan seorang diri. Karena dia sendiri memang sudah amat lapar, Bu Kie lalu minta beberapa potong kue phia dan memakannya dengan duduk di pembaringan batu.
Sesudah makan beberapa suap, si nona mendadak merasa sedih dan air matanya turun. Tiba-tiba dia melemparkan sumpit lalu mendekam di meja sambil menangis segak seguk. Lama juga dia menangis. Setelah kedukaannya disalurkan, dia mengawasi keluar jendela.
“Satu jam lagi siang akan berganti malam,” katanya seorang diri. “Ke mana Han Lim Jie akan dibawa? Kalau jejaknya tidak dapat dicari, dia sukar ditolong lagi.”
Bu Kie terkejut sekali. Ia melompat bangun dan berkata, “Benar. Aku harus menolong Han Heng-te terlebih dahulu.”
“Cis! Tak tahu malu!” bentak Tio Beng. “Aku bukan bicara dengan kau.”
Melihat lagak si nona Bu Kie merasa geli campur dongkol. Cepat-cepat dia menghabiskan kuenya lalu berjalan keluar dengan tindakan lebar.
“Aku ikut!” teriak Tio Beng.
“Tidak boleh!”
“Mengapa?”
“Kau membunuh Piauw-moayku. Mana bisa aku berjalan bersama musuh?”
“Baik. Nah, kau pergilah!”
Bu Kie segera bertindak keluar, tapi baru beberapa langkah, dia merandek. “Perlu apa kau berdiam di sini?” tanyanya.
“Menunggu Gie-humu. Aku akan memberi-tahu bahwa kau pergi untuk menolong Han Lim Jie.”
“Gie-hu sangat membenci kejahatan. Dia tidak akan mengampuni kau.”
Tio Beng menghela napas. “Jika aku mesti mati maka aku takkan menyalahkan siapa pun juga,” katanya. “Aku mati karena nasibku memang buruk.”
Bu Kie mengawasi si nona. “Sebaiknya kau menyingkir untuk sementara waktu,” katanya dengan suara membujuk. “Sesudah aku kembali, kita bisa berdamai lagi.”
“Tak ada tempat untuk aku menyingkirkan diri.”
“Sudahlah! Kau ikut aku menolong Han Lim Jie.”
Tio Beng tertawa. “Ingat, kaulah yang mengajakku,” katanya. “Bukan aku yang memohon-mohon padamu.”
“Hmm... kau binatang iblis bagi diriku. Rupa-rupanya memang sudah nasibku harus selalu menderita semenjak bertemu dengan kau.”
Tio Beng tertawa geli. “Tunggu sebentar,” katanya sambil menutup pintu.
Beberapa lama kemudian, sesudah pintu terbuka kembali ternyata si nona sudah bertukar pakaian, pakaian wanita yang sangat indah. Bu Kie tidak pernah menduga bahwa di dalam buntalan yang selalu dibawa-bawa terisi seperangkat pakaian yang harganya mahal.
“Perempuan ini banyak akalnya dan sepak terjangnya selalu di luar dugaan orang,” kata si pemuda di dalam hati.
“Mengapa kau terus mengawasi aku?” tanya Tio Beng. “Apakah pakaianku bagus?”
“Muka seperti bunga tho dan lie, hati bagaikan ular dan kalajengking,” jawabnya.
Tio Beng segera tertawa terbahak-bahak. “Terima kasih banyak kepada Thio Toa-kauwcu yang sudah menghadiahkan kata-kata seindah itu,” katanya. “Thio-kauwcu, kau pun harus bertukar pakaian.”
“Sedari kecil aku sudah biasa memakai pakaian compang-camping,” kata Bu Kie dengan hati mendelu. “Bila kau merasa malu melihat pakaianku, kau boleh tak usah mengikutiku.”
“Kau jangan menyangka yang bukan-bukan,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku hanya ingin melihat romanmu sesudah kau mengenakan pakaian yang bagus. Bu Kie Koko, kau tunggulah di sini sebentar. Kawanan pengemis itu pasti mengambil jalanan ke Kwan-lwee. Kita tentu dapat mengejar mereka.“ Sehabis berkata begitu, tanpa menunggu jawaban dia segera berlalu.
Bu Kie duduk bengong di pembaringan batu. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri. Dia heran mengapa dia seperti tauw-hu (tahu) yang bisa dipermainkan oleh perempuan itu.
“Terang-terang dialah yang membinasakan Piauw-moay, tetapi aku masih bisa bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dia,” pikirnya. “Bu Kie... ah Bu Kie... Lelaki apa kau? Apa kau punya muka untuk menjadi kauwcu dari Beng-kauw, untuk memimpin segenap orang gagah di kolong langit?” Lama juga dia menunggu, tapi Tio Beng belum juga balik. Cuaca sudah mulai gelap. “Perlu apa aku menunggu dia?” pikirnya.
Dia mau lantas berangkat, tapi dia segera membayangkan kemungkinan bertemunya Tio Beng dengan ayah angkatnya. Kalau mereka bertemu muka, nona Tio pasti akan binasa. Mengingat begitu dia mengurungkan niatnya dan menunggu terus. Dia mendongkol bukan main, duduk salah berdiri pun salah. Akhirnya terdengar tindakan kaki dan si nona masuk dengan tangan menyangga dua bungkusan.
“Mengapa begitu lama?” tanya Bu Kie. “Sudahlah! Aku tidak usah tukar pakaian. Mari kita berangkat.”
Si nona tertawa. “Sesudah kau menunggu begitu lama, beberapa detik lagi untuk menyalin pakaian tidak menjadi soal,” katanya. “Aku sudah membeli dua ekor kuda, maka kita bisa mengejar di waktu malam.“ Ia meletakkan kedua bungkusan itu kemudian mengeluarkan seperangkat pakaian, sepatu dan kaos kaki. “Di tempat kecil tidak ada barang yang baik,” katanya lagi. “Setibanya di kota raja aku akan membelikan baju kulit rase.”
Bu Kie kaget sekali lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Tio-kouwnio, kalau kau menganggap bahwa aku kemaruk akan segala kemewahan dan bersedia untuk menekuk lutut kepada kerajaan, hilangkanlah anggapan itu. Thio Bu Kie adalah anak cucu bangsa Han. Andai kata diangkat menjadi raja muda, dia pun tak akan menakluk kepada bangsa Mongol.”
Tio Beng menghela napas. “Thio-kauwcu, kau lihatlah!” katanya. “Lihatlah, apa ini pakaian seorang Mongol atau pakaian orang Han?” Seraya berkata begitu dia lalu membuka baju dan celana yang baru dibelinya.
Bu Kie manggutkan kepalanya sebab pakaian itu adalah pakaian Han. Setelah itu, sambil memutar tubuh si nona berkata pula,
“Nah kau lihatlah lagi! Apa pakaian ini pakaian puteri Mongol atau pakaian seorang puteri Han?”
Hati Bu Kie berdebar. Tadi dia tidak memperhatikan. Sekarang dia mendapat kenyataan bahwa nona Tio memang mengenakan pakaian wanita Han. Dia menatap wajah si nona yang balas mengawasinya dengan sorot mata penuh cinta. Tiba-tiba dia tersadar. Dia sadar akan maksud puteri Mongol ini.
“Kau... kau...“ katanya dengan suara parau.
“Karena aku tahu kau mencintai aku, sekarang aku tidak mempedulikan apa pun jua. Aku bersedia melakukan pengorbanan yang paling besar,” katanya dengan suara pelan. “Bagiku, orang Mongol atau orang Han tak jadi soal lagi. Kalau kau orang Han, aku orang Han. Kalau kau orang Mongol, aku pun orang Mongol. Apa yang kau pikirkan adalah soal negara, soal ketenteraman, soal kekuasaan, soal pengaruh dan nama. Tapi Bu Kie Koko, bagiku yang paling penting adalah kau seorang, pribadimu sendiri. Entah kau orang baik, entah kau pengemis... bagiku... sama saja!”
Mendengar kata-kata itu, bukan main rasa terharunya Bu Kie. Untuk beberapa saat dia hanya berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya dia berkata,
“Apakah kau mencelakai piauw-moay lantaran cemburu? Lantaran kuatir jika aku akan menikah dengan dia?”
“Thio Toa-kauwcu!” bentak Tio Beng dengan suara keras. “Bukan aku yang mencelakai In-kouwnio. Kau mau percaya, baik. Kalau tidak, ya sudah! Hanya ini keteranganku!”
Bu Kie menghela napas. “Tio-kouwnio,” katanya, “Manusia bukanlah kayu atau batu. Aku tahu cintamu terhadapku. Tetapi apakah sampai hari ini dan di tempat ini, kau masih juga ingin mendustai aku?”
“Dahulu kuanggap diriku pintar. Tapi sekarang aku tahu bahwa di dunia ada hal-hal yang berada di luar taksiran manusia,” kata si nona secara menyimpang. “Bu Kie Koko, biarlah kita jangan berangkat hari ini. Kau tunggu Cia-tayhiap di kamar ini dan aku sendiri akan menunggu Ciu-kouwnio di kamarnya.”
“Mengapa begitu?” tanya Bu Kie heran.
“Kau tidak usah tanya,” jawabnya. “Kau tidak usah kuatir akan keselamatan Han Lim Jie. Aku tanggung dia akan dapat ditolong.“ Seraya berkata begitu ia berjalan keluar dan pergi ke kamar Cie Jiak.
Bu Kie bingung. Dia tidak bisa meraba maksud si nona. Sambil bersandar di pembaringan batu dia mengasah otak. Mendadak di otaknya berkelebat ingatan.
“Apa dia mengatur siasat untuk mencelakai Cie Jiak karena dia tahu aku sudah bertunangan dengan nona Ciu?” pikirnya dalam hati. “Apa tak bisa dia menyuruh Hian-beng Jie-lo datang ke sini untuk membokong Gie-hu dan Cie Jiak?”
Mengingat Hian-beng Jie-lo, rasa kuatirnya semakin menghebat. Kedua kakek itu memiliki kepandaian amat tinggi. Biar pun matanya bisa melihat belum tentu ayah angkatnya dapat menandingi salah seorang dari mereka. Dia melompat bangun lantas berlari ke kamar Tio Beng.
“Tio-kouwnio, ke mana perginya Hian-beng Jie-lo?” tanyanya.
“Mungkin mereka menyusul ke selatan karena agaknya mereka menganggap aku masuk ke daerah Kwan-lwee sesudah aku meloloskan diri,” jawabnya.
“Apa benar?”
“Kalau tidak percaya, perlu apa kau bertanya?”
Bu Kie tertegun. Dia berdiri di depan kamar tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kalau aku mengatakan bahwa aku sudah menyuruh Hian-beng Jie-lo datang ke sini untuk membinasakan Cia-tayhiap dan Ciu-kouwniomu yang tercinta, apa kau percaya?” tanya si nona.
Perkataan itu kena jitu di hati Bu Kie. Sekali menendang, pintu segera terpental. Dengan paras muka merah padam dia berkata.
“Kau...! Kau...!”
Melihat paras yang menakutkan barulah si nona ketakutan. Dia merasa menyesal sudah mengeluarkan kata-kata itu.
“Jangan marah!” katanya terburu-buru. “Aku hanya bercanda.”
Dengan sorot mata laksana pisau Bu Kie menatap wajah si nona. “Tio-kouwnio, bicaralah terang-terangan...“ katanya dengan suara menyeramkan. “Kau tidak takut datang ke sini... kau tidak takut bertemu dan dipadukan dengan Gie-hu. Apakah itu berarti kau sudah tahu bahwa mereka berdua sudah mati, sudah tak ada lagi di dunia ini?” seraya berkata demikian Bu Kie maju beberapa tindak sehingga dengan sekali menghantam dia bisa mengambil jiwa nona Tio.
Tio Beng balas menatap mata pemuda itu. “Thio Bu Kie,” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Aku bicara terus terang padamu. Dalam hal-hal di dunia ini, kecuali kau melihat dengan mata sendiri, kau tidak boleh lantas percaya. Lebih-lebih kau tidak boleh berpikir yang bukan-bukan dan menarik kesimpulan sendiri. Jika kau mau membunuhku, sekarang pun kau boleh turun tangan. Tapi kalau sebentar Gie-humu datang, bagaimana perasaanmu?”
Kemarahan Bu Kie lantas mereda, bahkan dia merasa malu sendiri. “Apa bila Gie-hu tidak kurang suatu apapun, tentu saja aku merasa amat girang,“ katanya dengan suara pelan. “Kau tidak boleh bercanda soal keselamatan ayah angkatku.”
Tio Beng mengangguk. “Memang, memang tidak pantas aku mengeluarkan kata-kata itu,“ katanya. “Kuharap kau suka memaafkan.”
Mendengar permintaan maaf itu, hati Bu Kie lantas lemas. Ia tersenyum dan berkata,
“Untuk kekasaranku, aku pun mohon maaf.“ Sehabis berkata demikian dia segera balik ke kamar Cia Sun.
Semalam suntuk mereka menunggu, namun kedua orang yang ditunggu tak juga kembali. Sesudah sarapan pagi dia segera berdamai dengan Tio Beng.
“Heran sekali,” kata si nona sambil mengerutkan alis. “Selain Kay-pang, di tempat ini tidak terdapat orang Kangouw lainnya. Sebaiknya kita mengejar rombongan Su Hwee Liong dan coba menyelidiki.”
Bu Kie menyetujui usul itu. Setelah membayar uang sewa kamar dia lalu berpesan kepada pengurus rumah penginapan bahwa kalau Cia Sun dan Cie Jiak kembali, supaya mereka menunggu saja di penginapan ini. Tak lama kemudian seorang pelayan menuntun dua ekor kuda yang garang dan bertubuh tinggi besar. Bu Kie merasa kagum dan dia memberi pujian kepada kuda Kwan-gwa yang tersohor itu. Mereka lantas meloncat ke punggung tunggangannya yang segera dikaburkan ke jurusan selatan.
Mereka merupakan pasangan setimpal. Yang lelaki tampan yang perempuan cantik, dan kedua-duanya mengenakan pakaian indah. Yang tidak tahu pastilah akan menduga bahwa mereka adalah suami isteri bangsawan yang sedang pesiar di daerah itu.
Hari itu mereka telah melalui dua ratus li lebih. Malamnya menginap di sebuah penginapan. Keesokan paginya mereka meneruskan perjalanan. Sekitar tengah hari angin dingin mulai bertiup dengan santernya sehingga awan hitam beterbangan di angkasa. Sesudah maju lagi lebih dari dua puluh lie, salju mulai turun. Selama di perjalanan Bu Kie jarang bicara. Meskipun turunnya salju makin besar, dia terus membedal kuda tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Di waktu magrib tebalnya salju hampir sekaki. Meski pun gagah, kedua tunggangannya lelah juga. Apa lagi mereka harus berjalan di gunung yang licin dan saljunya tebal. Bu Kie menahan les dan mengawasi seputarnya. Mereka berada di gunung yang tidak ada manusianya.
“Tio-kouwnio, bagaimana baiknya?” Bu Kie bertanya, “Kalau kita meneruskan perjalanan, kedua binatang ini mungkin akan roboh.”
Si nona tertawa dingin. “Kau hanya memikirkan kuda tetapi tidak mempedulikan manusia,“ jawabnya.
Ditegur begitu, Bu Kie merasa menyesal bercampur malu. “Aku sendiri memiliki Kiu-yang Sin-kang sehingga tidak mengenal letih,” pikirnya. “Benar-benar aku tidak ingat dia.”
Sesudah berjalan lagi beberapa jauh, dari pinggir jalan mendadak melompat keluar seekor kijang yang terus kabur ke atas.
“Tio-kouwnio, kau tunggulah di sini,“ kata Bu Kie. “Aku hendak menangkap kijang itu untuk mengisi perut.“
Dia melompat turun terus mengejar mengikuti tapak di salju. Sesudah membelok di sebuah tanjakan lapat-lapat dia melihat binatang itu berlari ke arah sebuah goa. Dengan sekali mengempos semangat tubuh Bu Kie melesat bagai anak panah dan sebelum kijang itu masuk ke goa, dia sudah berhasil mencekal lehernya. Binatang itu memberontak, tapi tulang lehernya patah dipijit Bu Kie. Dengan menenteng bangkai kijang, Bu Kie kembali.
“Di situ ada sebuah goa yang cukup besar untuk dua orang,“ katanya. “Apa kau setuju jika kita menginap di situ?”
Nona Tio mengangguk. Tiba-tiba mukanya bersemu dadu dan dia memalingkan kepala ke jurusan lain.
Sesudah menambatkan kedua kuda di bawah pohon siong, Bu Kie lantas mencari cabang-cabang kayu kering dan membuat perapian di depan goa. Goa yang gelap itu ternyata sangat bersih, bebas dari kotoran binatang. Bu Kie menguliti bangkai kijang, lalu mencuci dagingnya dengan salju dan membakarnya di atas perapian.
Tio Beng membuka baju luarnya yang terbuat dari pada kulit binatang, lalu menggelarnya di lantai goa dan mendudukinya sambil menikmati hawa hangat dari perapian. Tiba-tiba Bu Kie menengok dan mereka berdua saling tersenyum. Senyum yang menghilangkan semua rasa letih dan lelah. Sesudah daging masak mereka segera makan dengan bernapsu. Selang beberapa lama, sambil bersender di dinding goa Bu Kie berkata,
“Kau tidurlah!”
Si nona tertawa manis. Dia bersandar di dinding seberang kemudian memejamkan kedua matanya. Dengan hidung yang kadang mencium wewangian yang keluar dari badan puteri Mongol itu, Bu Kie melirik dengan rasa kagum, karena di bawah sinar api Tio Beng terlihat lebih cantik lagi, seakan-akan sekuntum bunga Hay Thong yang baru saja mekar. Seraya menghela napas dia pun memejamkan mata. Kira-kira tengah malam sayup-sayup dia tersadar dan segera memasang kuping. Dia tahu bahwa yang sedang mendekat adalah empat ekor kuda.
“Di tengah malam buta dan di waktu turun salju mereka berjalan juga,” katanya dalam hati. “Pasti mereka sedang menghadapi urusan penting.”
Makin lama suara itu makin dekat. Sejenak mereka berhenti, kemudian berjalan lagi. Tak salah lagi, kuda-kuda itu menghampiri goa. Bu Kie terkejut sekali.
“Goa ini terletak di tempat tersembunyi,” pikirnya. “Kalau bukan dituntun kijang, aku tak akan bisa menemukannya. Mengapa dan cara bagaimana orang-orang itu bisa datang kemari?” Mendadak dia sadar dan berkata di dalam hati. “Benar! Tentu mereka melihat tapak kaki kami.”
Ketika itu Tio Beng pun tersadar. “Mungkin mereka adalah musuh,” katanya. “Biar pun kita tidak takut, tetapi sebaiknya kita menyingkir.”
“Mereka datang dari selatan,” kata Bu Kie.
“Heran sekali,” kata si nona sambil meraup salju yang lalu digunakan untuk menutup api.
Sementara itu suara kaki kuda telah berhenti dan sebagai gantinya kini terdengar gerakan empat orang. Dalam sekejap mereka sudah mendekati goa.
“Gerakan mereka cepat sekali,” bisik Bu Kie. “Jelas mereka berkepandaian sangat tinggi.” Dia bingung sebab orang-orang itu sudah hampir tiba di depan goa.
Mendadak Tio Beng memegang tangannya lalu menariknya masuk ke dalam. Semakin ke dalam goa itu menjadi kian sempit dan baru saja masuk setombak lebih, mereka bertemu tikungan. Sekonyong-konyong terdengar suara seseorang.
“Ahh...! Di sini ada goa.”
Bu Kie kaget campur girang karena dia segera mengenali bahwa orang yang berbicara adalah paman gurunya yang keempat, Thio Siong Kee!
“Tanda-tanda yang ditinggalkan Cit-te menuju tempat ini,” kata seorang lainnya. “Mungkin sekali Cit-te pernah masuk ke goa ini.” Itulah suara Bu-tong Liok-hiap, In Lie Heng!
Baru saja Bu Kie hendak memanggil, mendadak mulutnya dibekap Tio Beng. “Kita hanya berduaan di sini. Kalau dilihat mereka, merasa tidak enak,” bisik si nona.
Bu Kie menyetujui peringatan itu. Meski pun dia putih bersih, akan tetapi kalau dia dan Tio Beng ditemukan berduaan di sebuah goa, para paman tentu sukar mempercayai kebersihannya. Lagi pula sebagai Kuncu kerajaan Goan, nona Tio pernah memenjarakan para pendekar Bu-tong di Ban-hoat-si sehingga kalau mereka bertemu muka, pertemuan itu merupakan pertemuan antara musuh dengan musuh. Bu Kie segera mengambil keputusan. Begitu para pamannya berlalu, maka dia akan segera berpisah dengan Tio Beng agar dia tidak usah mengalami hal-hal yang tak enak.
“Ihhh...!” Demikian terdengar seruan Jie Lian Ciu. “Di sini ada cabang-cabang siong yang terbakar... Hmm... kulit... darah dan sisa daging kijang.”
“Hatiku rasanya sangat tidak enak,“ kata orang ke empat. “Kuharap saja Cit-te tak kurang apapun.“ Orang itu bukan lain dari pada Song Wan Kiauw.
Jantung Bu Kie berdetak kencang. Empat paman gurunya turun gunung untuk mencari Boh Seng Kok. Dari pembicaraan mereka dapat ditarik kesimpulan bahwa paman guru yang paling kecil itu telah bertemu dengan musuh yang kuat. Dia ikut merasa kuatir.
“Toa-suko tidak usah begitu kuatir,” kata Thio Siong Kee sambil tertawa. “Karena sangat mencintai Cit-te, Toa-suko masih menganggap dia anak kecil. Andai kata ia bertemu dengan musuh tangguh, kurasa Cit-te masih bisa menghadapinya.”
“Aku bukan kuatir akan Cit-te,” kata In Lie Heng. “Yang kupikirkan adalah si bocah Bu Kie yang sekarang tak ketahuan ke mana perginya. Sekarang dia menjadi Kauwcu Beng-kauw. Pohon yang tinggi mengundang angin. Dalam kedudukannya itu tentu ada banyak musuh yang ingin mencelakainya. Meski pun ilmu silatnya tinggi tapi pikirannya terlampau sederhana dan dia tidak tahu betapa hebatnya gelombang Kangouw. Aku kuatir dia kena ditipu orang jahat.”
Bu Kie merasa terharu. Budi kebaikan para pamannya besar bagaikan gunung dan dia tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Mendadak Tio Beng berbisik,
“Aku adalah orang jahat dan sekarang kau sudah ditipu orang jahat. Apa kau tahu?”
“Dalam usahanya mencari Bu Kie, dengan mengambil jalan utara nampaknya Cit-te sudah mendapat jejak,” kata Song Wan Kiauw. “Tapi apa artinya itu delapan perkataan yang ditinggalkannya di rumah penginapan Wie Kek di Tian Cin?”
“Ya...“ kata Thio Siong Kee. “Cit-te mengatakan ‘dalam rumah tangga ada perubahan, kita harus membersihkannya’. Siapa yang dimaksudkan dengan kata-kata itu? Apakah di Bu-tong-pay terdapat manusia keji? Apa Bu Kie...“ dia tidak meneruskan ucapannya, tapi nada suaranya mengunjuk rasa kuatir.
“Kurasa anak Bu Kie tak akan melakukan sesuatu yang merusak rumah perguruan kita,“ kata In Lie Heng.
“Tapi si perempuan siluman Tio Beng terlalu lihai,” kata pula Thio Siong Kee. “Kau jangan lupa bahwa anak Bu Kie masih muda. Seorang muda gampang sekali dipengaruhi kecantikan. Apakah... apakah... ia bertindak seperti ayahnya yang akhirnya binasa mengenaskan...?“
Keadaan berubah sunyi. Yang terdengar hanyalah helaan napas. Beberapa saat kemudian terdengar suara beradunya batu api yang membakar cabang-cabang pohon. Salah seorang pendekar Bu-tong membuat obor yang sinarnya lantas menerangi bagian dalam goa. Biar pun berada di tikungan, sayup-sayup Bu Kie bisa melihat paras muka Tio Beng yang mengunjuk rasa duka campur marah. Dia tahu bahwa perkataan Thio Siong Kee membangkitkan rasa jengkelnya si nona. Dia sendri merasa bingung dan berkata di dalam hati.
“Perkataan Thio Sie Siok memang beralasan. Ibu belum pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas, namun toh dia menyeret ayah sampai binasa. Tio-kouwnio telah membunuh piauw-moay, juga menghina Thay-suhu dan para paman, maka dia tak bisa dibandingkan dengan ibu.“ Berpikir begitu dia menjadi semakin bingung. “Jika mereka menemukan aku bersama Tio-kouwnio di goa ini, walau pun aku mencuci dengan semua air sungai Huang-ho, tetap saja aku tidak dapat membersihkan diri.” Mendadak terdengar suara Song Wan Kiauw yang agak gemetar.
“Sie-te, di hatiku ada sebuah pertanyaan yang tak bisa keluar dari mulutku. Kalau aku mengatakan terang-terangan, aku merasa tidak adil terhadap Ngo-te yang sudah meninggal dunia.”
“Apakah Toako kuatir Bu Kie menurunkan tangan jahat terhadap Cit-te?” tanya Thio Siong Kee dengan suara perlahan.
Song Wan Kiauw tidak menyahut. Meski pun tak melihat, Bu Kie merasa bahwa pamannya manggutkan kepala.
“Anak Bu Kie berwatak mulia dan jujur,“ kata Thio Siong Kee. “Menurut pantas dia takkan melakukan perbuatan keji seperti itu. Tapi Cit-te sangat berangasan dan ceroboh. Apa bila ia mendesak Bu Kie sampai di jalan buntu, ditambah dengan siasat si perempuan siluman Tio Beng, memang... memang... Hai...! Hati manusia tidak dapat dijajaki. Sejak dulu orang gagah sukar melawan paras cantik. Aku hanya berdoa agar Bu Kie bisa mempertahankan diri dalam menghadapi detik-detik penting.”
“Toako, Sieko! Kalian jangan bicara yang tidak-tidak!” kata In Lie Heng. “Belum tentu Cit-te mengalami bencana.”
“Tapi sedari melihat pedang Cit-te, aku tak enak tidur,” kata Song Wan Kiauw.
“Memang benar,” menyambung Jie Lian Ciu. “Orang-orang rimba persilatan sekali-kali tak boleh lalai terhadap senjatanya. Kita tidak boleh meletakkan senjata sembarangan saja. Apa lagi pedang itu hadiah Suhu. Kata orang, pedang ada orangnya hidup, pedang hilang orangnya...“ mendadak dia berhenti bicara dan perkataan ‘mati’ yang hampir keluar cepat-cepat ditelan lagi olehnya.
Mendengar kecurigaan empat paman guru terhadap dirinya, Bu Kie makin bingung dan berduka. Sekonyong-konyong dari dalam goa keluar semacam bau wangi bercampur dengan bau anak binatang, sepertinya goa itu pernah atau memang sedang didiami binatang. Karena kuatir wewangian itu terendus para pamannya, sambil menahan napas dan mencekal sebelah tangan Tio Beng, Bu Kie masuk lebih jauh ke dalam goa. Supaya tidak tersandung batu yang menonjol, sambil berjalan Bu Kie meraba-raba lantai goa dengan tangan kirinya. Sesudah beberapa langkah dan baru saja membelok di sebuah tikungan lain, tangannya menyentuh benda lembek seperti tubuh manusia. Bu Kie terkesiap.
“Tidak peduli orang ini sahabat atau musuh, sedikit saja dia bersuara pastilah para paman akan mendengarnya,” katanya di dalam hati.
Bagaikan kilat ia menotok lima ‘hiat’ di dada orang itu kemudian mencekal tangannya dan hatinya mencelos karena tangan itu dingin seperti es. Tangan orang mati! Dengan bantuan sinar remang-remang yang menembus dari luar ia mengawasi mukanya. Tiba-tiba Bu Kie menggigil. Lapat-lapat ia seperti melihat muka Boh Seng Kok! Tanpa menghiraukan bahaya lagi ia mendukung jenazah itu, lalu maju beberapa tindak ke tempat yang lebih terang.
Sekarang ia mendapat kepastian bahwa jenazah itu adalah Boh Seng Kok yang mukanya pucat dan matanya belum tertutup. Perasaan marah dan duka bergolak-golak di dada pemuda ini, untuk sejenak ia berdiri terpaku. Beberapa tindakan Bu Kie ini sudah didengar oleh keempat pendekar Bu-tong.
“Siapa?!” bentak Jie Lian Ciu. Dengan serentak mereka menghunus pedang.
Bu Kie mengeluh, “Jika ditemukan, aku pasti tidak bisa mengelakkan tuduhan membunuh paman,” pikirnya.
Pada detik itu di otaknya berkelebatan berbagai ingatan. Dadanya menyesak dengan kedukaan yang amat hebat karena ia ingat budi kecintaan Boh Seng Kok terhadap dirinya.
Dalam menghadapi bahaya Tio Beng bisa berpikir cepat. Tiba-tiba ia melompat kemudian menerjang sambil memutar pedang. Bagaikan kilat dia mengirim empat serangan dengan pukulan-pukulan Go-bi Kiam-hoat yang paling hebat. Baru saja keempat pendekar Bu-tong menangkis, dia telah menerobos keluar dan sambil mengelakkan tikaman Thio Siong Kee, dia melompat ke punggung kuda lantas menendang perut tunggangan itu dengan kakinya sehingga kuda itu kabur sekencang-kencangnya.
Tiba-tiba dia merasa punggungnya sakit dan matanya berkunang-kunang. Sambil mendekam dan memeluk leher kuda dia mempertahankan diri dan kabur terus. Ternyata dia sudah kena pukulan Jie Lian Ciu yang meski pun kenanya tidak telak, tetapi dia terluka berat. Sementara itu sambil berteriak-teriak keempat pendekar Bu-tong mengejar menggunakan ilmu mengentengkan badan.
“Makin jauh aku lari, semakin gampang pula dia meloloskan diri,” kata Tio Beng di dalam hati. “Untung juga semua orang mengejarku.”
Ketika si nona menerjang ke luar, hati Bu Kie langsung mencelos. Di lain saat barulah dia mengerti bahwa Tio Beng telah mempergunakan tipu muslihat untuk memancing harimau meninggalkan gunung guna menolong dirinya. Sambil mendukung jenazah Boh Seng Kok buru-buru dia lari keluar dan terus kabur ke jurusan barat sebab para pamannya mengejar ke arah timur. Sesudah melalui kurang lebih dua li, Bu Kie berhenti lalu menaruh jenazah itu di belakang sebuah batu besar. Sesudah itu dia kembali ke jalanan tadi dan memanjat sebuah pohon. Lama dia bersembunyi di situ sambil mengucurkan air mata.
“Ahh! Sungguh malang nasib Bu-tong-pay!” pikirnya. “Siapakah yang telah membinasakan Cit-susiok?”
Berselang sekitar setengah jam dia mendengar suara kaki kuda yang mendatangi utara dari tenggara. Tidak lama kemudian dia melihat dua ekor kuda dengan empat penunggangnya: Song Wan Kiauw dan Jie Lian Ciu menunggang seekor kuda, In Lie Heng dan Thio Siong Kee menunggang kuda yang lain.
“Sesudah kena pukulanku, perempuan siluman itu jatuh ke jurang,” demikianlah terdengar suara Jie Lian Ciu. “Kurasa dia tidak akan bisa hidup lagi.”
“Hari ini barulah kita bisa mencuci hinaan di Ban-hoat-si,” kata Thio Siong Kee. “Tapi perlu apa dia bersembunyi di goa itu? Aku benar-benar merasa heran.”
“Tapi Sie-ko, apakah kau tidak bisa menebak-nebak?” tanya In Lie Heng.
“Tidak bisa,” jawabnya. “Bagi kita, binasanya perempuan siluman itu tidak begitu penting. Kita baru bisa girang kalau kita bisa menemukan Cit-te.“ Makin lama mereka semakin jauh hingga akhirnya Bu Kie tidak dapat mendengar lagi pembicaraan mereka.
Setelah menunggu beberapa lama lagi barulah Bu Kie turun dari pohon. Dengan mengikuti tapak-tapak kaki di atas salju, dia lantas berlari-lari ke arah timur. Dia sangat kuatir akan keselamatan Tio Beng dan berkata dalam hatinya. “Biar pun jahat tapi kali ini dia menolong jiwaku. Kalau karena aku dia mengantarkan jiwa, aku sungguh...“ Berpikir begitu dia berlari makin kencang dan sesudah melalui kira-kira lima li, akhirnya dia bertemu dengan sebuah tebing.
Tapak-tapak di sekitarnya kelihatan kalang kabut, sedangkan di sisi tebing terdapat tanda-tanda dari gugurnya tanah dan batu. Bu Kie tahu bahwa karena terdesak, Tio Beng terjun ke bawah bersama kudanya.
“Tio-kouwnio! Tio-kouwnio!” teriaknya. Tapi dia tidak mendapat jawaban.
Dia lalu melongok ke dalam jurang. Di tengah malam dia tidak dapat melihat dasar jurang yang dindingnya sangat terjal dan tidak punya tempat untuk menaruh kaki. Tapi Bu Kie sudah nekat. Seraya menarik napas dalam-dalam dia turunkan kedua kakinya kemudian merosot ke bawah sambil bersandar di dinding jurang. Perbuatan itu tentu amat berbahaya, tapi dia tidak berpikir panjang. Seraya merosot dia mengerahkan lweekang dan berusaha keras untuk menancapkan sepuluh tangannya di es yang keras.
Dia berhasil dan setelah berhenti sejenak, dia pun merosot lagi. Kejadian ini berulang lima enam kali hingga akhirnya dia tiba di dasar jurang. Tiba-tiba dia melompat karena kakinya menyentuh sesuatu yang lembek. Dengan meraba-raba dia mendapat tahu bahwa kakinya menginjak paha kuda dan Tio Beng sendiri masih mendekam pada punggung kuda sambil memeluk leher binatang itu. Cepat-cepat dia menyelidiki pernapasan si nona dan dia pun merasa agak lega. Meski pun pingsan tetapi gadis itu masih bernapas. Untung sekali si nona terus memeluk leher kuda sehingga ketika jatuh, yang terpukul hebat adalah binatang yang mati seketika itu juga.
Bu Kie segera memeriksa nadi Tio Beng. Dia merasa girang karena mendapat kenyataan bahwa meski pun terluka berat tapi jiwa si nona tak akan terancam. Dia cepat mendukung gadis itu, menempelkan sepasang telapak tangannya dengan telapak tangan Tio Beng lalu mengerahkan tenaga dalam mengobati lukanya. Bu Kie bukan saja mempunyai lweekang yang sangat kuat, tetapi juga mahir dalam ilmu ketabiban. Karena itu, sesudah dibantu kira-kira setengah jam dengan lweekang Bu-tong-pay yang murni, perlahan-lahan Tio Beng tersadar. Sesudah itu Bu Kie lalu memasukkan Kiu-yang Cin-khie ke dalam tubuh si nona. Setengah jam kemudian fajar menyingsing.
“Uahh...!” tiba-tiba Tio Beng muntah darah, kini dia tersadar sepenuhnya. “Apakah mereka sudah pergi? Apakah mereka bertemu dengan kau?” bisiknya.
Mendengar pertanyaan yang penuh kasih sayang itu, bukan main rasa terharunya Bu Kie.
“Mereka tidak menemukan aku,” jawabnya. “Ahh...! Karena aku, kau sangat menderita...“ Selagi bicara dia tetap mengirim Cin-khie ke tubuh si nona.
Dengan bibir tersungging senyuman Tio Beng pejamkan matanya. Kaki tangannya lemas, tetapi dada serta perutnya terasa hangat dan dia merasa nyaman sekali. Sesudah ‘hawa tulen’ itu berputar beberapa kali di dalam tubuhnya, dia memutar kepalanya lantas berkata sambil tersenyum.
“Kau mengasolah. Aku sudah banyak mendingan.”
Mendadak rasa terima kasih yang sangat besar bergelombang di dada Bu Kie. Dia memeluk erat-erat dan menempelkan pipinya pada pipi si nona.
“Kau sudah menolong nama baikku. Pertolongan itu sepuluh kali lipat lebih berharga dari pada pertolongan jiwa,” bisiknya.
Tio Beng tertawa geli. “Aku perempuan jahat, bagiku nama baik tidak menjadi soal. Yang penting adalah jiwa.”
Pada saat itulah dari atas jurang tiba-tiba terdengar bentakan. “Perempuan siluman! Benar saja ternyata kau belum mampus! Bagaimana kau mencelakai Boh Cit-hiap? Lekas mengaku!”
“Jangan perlihatkan mukamu!” bisik nona Tio.
“Perempuan bangsat!” Teriak Thio Siong Kee. “Jika kau tidak menjawab maka kami akan menghantam dengan batu besar!”
Tio Beng mengawasi ke atas. Benar saja, Song Wan Kiauw berempat kelihatan berdiri di pinggiran tebing dengan memegang sebuah batu besar. Jika mereka menimpuk maka jiwanya dan jiwa Bu Kie akan segera melayang.
“Robek baju kulit ini untuk menutupi mukamu,” bisiknya. “Sesudah itu barulah kita kabur.”
Bu Kie segera melaksanakan nasihat si nona. Setelah memakai topeng, dia menekan topi kulitnya ke bawah sampai melewati dahi. Mengapa empat pendekar Bu-tong itu balik kembali? Karena mereka memiliki pengalaman luas!
Sesudah Tio Beng jatuh ke jurang, mereka sengaja menyingkir jauh-jauh. Namun mereka tahu bahwa sebagai seorang puteri kerajaan Goan, si nona pasti tidak berjalan sendirian. Dia pasti mempunyai orang-orang yang melindunginya secara diam-diam. Demikianlah, sesudah berjalan beberapa li, mereka lalu kembali dan sesudah menambat tunggangan mereka pada dahan pohon, mereka membuat obor dan memeriksa goa bekas tempat persembunyian Tio Beng. Di dalam goa itu mereka menemukan bangkai dua ekor rase yang badannya rusak akibat gigitan binatang, entah binatang apa. Bau wangi rase itu masih belum hilang.
Sesudah menyelidiki, mereka lalu keluar dari goa dan terus mengikuti tapak kaki Bu Kie. Akhirnya mereka dapat menemukan jenazah Boh Seng Kok yang kaki tangannya tergigit binatang. Kemarahan dan kedukaan mereka sulit dilukiskan, bahkan In Lie Heng menangis tersedu-sedu dan akhirnya roboh pingsan.
“Meski pun berkepandaian tinggi, seorang diri perempuan siluman itu takkan dapat membinasakan Cit-te,” kata Jie Lian Ciu sambil menyusut air mata. “Lak-te, jangan terlalu berduka. Sekarang kita harus mencari semua musuh dan membinasakan mereka untuk membalaskan sakit hati Cit-te.”
“Sebaiknya kita bersembunyi di sekitar goa ini dan menanti sampai fajar,” kata Thio Siong Kee. “Menurut dugaanku, kaki tangan perempuan siluman pasti akan datang ke sini untuk mencarinya.”
Di antara ketujuh pendekar Bu-tong, Siong Kee-lah yang paling berakal budi. Mendengar usul itu, Song Wan Kiauw bertiga berhenti menangis dan dengan berpencaran lalu menyembunyikan diri di belakang batu dekat mulut goa. Tapi sampai fajar menyingsing, tiada manusia yang datang ke situ. Dengan mendongkol keempat jago Bu-tong itu lalu pergi ke tebing untuk mengamat-amati. Tiba-tiba mereka terkejut sebab sayup-sayup mereka mendengar suara manusia di bawah jurang. Pada waktu melongok ke bawah, mereka melihat seorang pria yang mengenakan pakaian indah sedang memangku Tio Beng.
Buru-buru mereka mengambil batu besar dan mengancam. Mereka tidak lantas menimpuk karena ingin menyelidiki sebab musabab kebinasaan Boh Seng Kok. Jurang itu menyerupai sebuah sumur yang berdinding batu. Hanya di sudut barat terdapat sebuah jalanan keluar yang sangat sempit.
“Anjing Goan!” bentak Thio Siong Kee. “Naik dari jalan itu! Kalau bertingkah maka kami akan menghabisi jiwa kalian dengan batu-batu ini.“
Karena pakaiannya indah, Thio Siong Kee menganggap Bu Kie orang Mongol. Bu Kie sendiri bingung bukan main. Di dasar jurang tidak terdapat tempat persembunyian yang bagaimana pun juga. Kalau para pamannya menimpuk, meski pun dia sendiri dapat menyelamatkan diri tapi Tio Beng akan binasa. Lantaran tidak melihat jalan lain lagi, maka dengan terpaksa, perlahan-lahan ia memanjat ke atas sambil mendukung Tio Beng.
Ia sengaja tidak memperlihatkan kepandaiannya. Kadang ia berlagak terpeleset dan napasnya tersengal-sengal seperti orang kecapaian. Sesudah jatuh bangun beberapa kali barulah kakinya menginjak tanah datar. Menurut perhitungan, begitu keluar dari mulut jurang dia ingin segera melarikan diri sambil menggendong Tio Beng. Dengan mempergunakan ilmu ringan badannya yang tinggi, dia masih ungkulan untuk meloloskan diri dari kejaran.
Tapi Thio Siong Kee pintar luar biasa. Sejak tadi dia sudah melihat bahwa orang Mongol itu berpura-pura dan dia telah memberi isyarat agar ketiga saudara seperguruannya waspada. Maka itu, begitu Bu Kie menginjak bumi dia sudah dikurung dengan empat pedang yang ujungnya terpisah kira-kira satu kaki dari tubuhnya.
“Bangsat Tat-cu!” caci Song Wan Kiauw dengan suara gemetar. “Apakah dengan memakai topeng kau kira akan mampu melarikan diri? Siapa yang membunuh Boh Cit-hiap? Lekas mengaku! Kalau kau berdusta akan kucincang badanmu!”
Sesungguhnya Song Wan Kiauw berwatak sabar dan welas asih. Hanya sesudah melihat kebinasaan Boh Seng Kok yang begitu mengenaskan maka ia mengeluarkan cacian yang menyeramkan. Selama puluhan tahun baru sekarang dia memperlihatkan kemarahan yang sedemikian hebat.
Tio Beng menghela napas. “Kalupawa-ciangkun,” katanya. “Tidak ada jalan lain lagi untuk meloloskan diri, maka sekarang kau boleh mengaku terus terang!” Sesudah itu ia berbisik di kuping Bu Kie, “Gunakan ilmu silat Seng-hwee-leng.”
Tak usah dikatakan lagi, jika bisa tentu Bu Kie tak ingin bertempur melawan paman-pamannya. Tapi sekarang sudah terdesak di jalan buntu. Sambil menggigit gigi ia melemparkan tubuh Tio Beng ke arah In Lie Heng dan seraya berjungkir balik tangannya menyambar lengan Thio Siong Kee. Dengan kaget In Lie Heng menyambut tubuh nona Tio. Sesudah tertegun sejenak dia pun menotok jalan darah si nona kemudian melontarkannya di tanah.
Sementara itu Bu Kie sudah mengeluarkan ilmu silat Seng-hwee-leng yang amat aneh. Ia meninju Song Wan Kiauw, menendang Jie Lian Ciu, menyeruduk Thio Siong Kee dengan kepalanya dan merampas pedang In Lie Heng. Keempat pendekar Bu-tong itu adalah ahli-ahli silat kelas satu yang berpengalaman luas. Tapi mereka sangat kerepotan dan hampir-hampir tidak bisa membela diri dalam menghadapi ilmu silat Seng-hwee-leng.
Dalam pertempuran di Leng-coa-to. Bu Kie yang memiliki Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie masih tidak dapat melawan Sam-su dari Persia yang baru mempelajari sebagian ilmu Seng-hwee-leng. Sekarang Bu Kie sudah menyelami seluruh ilmu yang tertera pada keenam Seng-hwee-leng dan kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Sam-su.
Pada hakekatnya ilmu Seng-hwee-leng bukanlah ilmu yang sangat aneh dan sukar diraba. Mana kala ilmu tersebut digunakan orang biasa, orang itu bukan tandingan pendekar Bu-tong yang terkenal ahli lweekang kelas utama. Tapi Bu Kie bukan orang biasa. Dia memiliki Kiu-yang Sin-kang, mahir Kian-kun Tay-lo-ie dan paham segala ilmu dari Bu-tong-pay. Karena itulah setiap serangannya merupakan serangan berbahaya dan ditujukan ke bagian-bagian yang kosong dari garis pembelaan keempat pendekar itu. Sesudah bertanding kurang lebih dua puluh jurus, serangan Bu Kie semakin hebat dan bertambah aneh.
Tio Beng yang menggeletak di tanah mendadak berteriak, “Kalupuwa-ciangkun, sekarang mereka baru tahu kelihaian ilmu silat Mongol! Hajar mereka! Jangan sungkan-sungkan!”
Keempat pendekar Bu-tong mendongkol bukan main. Akan tetapi mereka tak bisa berbuat banyak. Kian lama mereka makin terdesak.
“Bela diri dengan Thay-kek-kun!” seru Thio Siong Kee.
Keempat pendekar Bu-tong lantas merubah cara bersilat mereka. Sekarang mereka membela diri secara rapat sekali dengan memainkan ilmu gubahan Thio Sam Hong yang sangat lihai itu. Sekonyong-konyong Bu Kie duduk di tanah, kedua tinjunya meninju-ninju dadanya sendiri!
Selama menjagoi rimba persilatan, para pendekar Bu-tong pernah mengukur tenaga dengan banyak sekali ahli silat yang tangguh dan pernah melayani entah berapa banyak pukulan yang aneh-aneh. Tetapi baru sekarang mereka menyaksikan cara berkelahi yang aneh dari ‘Tat-cu’. Duduk di tanah sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Jangankan melihat, bahkan belum pernah mendengar pukulan yang luar biasa itu.
Sebelum Bu Kie mengeluarkan ilmu silatnya yang luar biasa itu, empat pendekar Bu-tong telah memasukkan pedang mereka ke dalam sarungnya dan membela diri dengan tangan kosong. Kini melihat Bu Kie duduk di tanah sambil memukul-mukul dada, dalam kaget dan herannya serentak mereka menghunus pedang lantas menikam. Hampir berbareng tiga batang pedang Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, dan Thio Siong Kee menyambar tubuh Bu Kie. Pedang In Lie Heng sudah dirampas dan dilemparkan oleh Bu Kie, tetapi di pinggangnya masih tergantung pedang Boh Seng Kok. Ia segera menghunus pedang itu dan turut menikam.
Pada detik yang sangat berbahaya, mendadak Bu Kie menyapu salju dengan kakinya dan salju itu muncrat berhamburan ke empat penjuru.
Itulah salah satu pukulan Seng-hwee-leng yang dinamakan Hui-see Coan-siang-tui (pasir terbang menggulung rombongan pedagang). Ilmu ini dulu sering digunakan si orang tua dari pegunungan untuk merobohkan rombongan pedagang yang lewat di padang pasir dengan menggunakan unta.
‘Si orang tua dari pegunungan’ adalah perampok besar. Kalau melihat iring-iringan pedagang, dia segera duduk di pasir dan menangis tersedu sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Rombongan pedagang itu tentu saja lantas berhenti dan menanyakan sebab musababnya. Selagi orang tidak waspada, ‘Si orang tua dari pegunungan’ tiba-tiba menyapu pasir dengan kakinya sehingga pasir muncrat berhamburan dan masuk ke mata pedagang-pedagang itu.
Selagi korban-korbannya belum dapat membuka mata, dia menyerang sehebat-hebatnya. Dengan sekali pukul dia bisa membinasakan puluhan orang. Inilah asal-usul Hui-see Coan-siang-tui dan sebagai gantinya pasir, Bu Kie menggunakan salju. Berbareng dengan muncratnya salju, keempat pendekar Bu-tong lantas kelilipan sehingga tidak bisa membuka mata. Tapi sebagai jago-jago ulung gerakan mereka cepat luar biasa dan serentak melompat ke belakang.
Tapi kalau mereka cepat, Bu Kie lebih cepat lagi. Bagaikan kilat dia memeluk kedua lutut Jie Lian Ciu dan selagi menggulingkan diri, dia sudah menotok tiga hiat besar di tubuh Jie Lian Ciu. Hampir berbareng dia berjungkir dan selagi badannya melayang turun, lutut kanannya menggentus Ngo-cu-hiat dan Sin-kong-hiat pada tubuh In Lie Heng yang matanya lantas berkunang-kunang dan roboh di tanah.
Song Wan Kiauw tidak bisa menggunakan pedangnya lagi, tapi tangan kirinya menghantam kepala si Tat-cu. Tetapi sebelum pukulan itu mampir pada sasaran, tiba-tiba dadanya kesemutan dan jalan darahnya sudah kena disikut Bu Kie. Tak kepalang kagetnya Thio Siong Kee. Dalam sekejap saja tiga saudara seperguruannya dibikin tidak berdaya. Ia mengerti bahwa biar bagaimana pun juga, dengan seorang diri ia bukan tandingan musuh yang tangguh ini. Tapi ia tentu tidak bisa kabur sendirian dengan meninggalkan saudara-saudaranya. Dengan nekat ia segera mengirim tiga tikaman berantai.
Pada saat itu Thio Siong Kee sudah di jalan buntu dan sedang menghadapi bahaya besar. Tindakannya tetap, sikapnya tenang dan serangannya hebat, sesuai dengan kemestian.
Melihat itu di hati Bu Kie bersorak. “Ilmu silat Bu-tong benar-benar luar biasa. Jika tidak memiliki silat yang aneh ini, mungkin sekali aku tidak bisa melawan para pamanku.”
Tiba-tiba Bu Kie memutar kepalanya, membuat lingkaran-lingkaran. Thio Siong Kee tidak mempedulikan, dia sengaja tidak mau melihat lingkaran-lingkaran itu. Dengan kecepatan luar biasa mendadak dia menikam dada Bu Kie. Bu Kie menundukkan kepala, seolah-olah dia hendak memapaki tikaman itu dengan batok kepalanya. Pada waktu ujung pedang hampir menyentuh kulit kepala, sekonyong-konyong dia membuang diri ke tanah sambil menubruk ke depan. Hampir berbareng empat hiat di perut dan betis kiri Thio Siong Kee kena tertotok dan tanpa ampun lagi dia langsung jatuh terjengkang.
Bu Kie maklum bahwa empat totokan itu hanya dapat melumpuhkan bagian bawah tubuh pamannya. Selagi dia mau menotok Tiong-kie-hiat dan Tho-to-hiat pada bagian punggung, mendadak Thio Siong Kee mengeluarkan teriakan menyayat hati, kedua matanya terbalik, tubuhnya gemetaran dan sesaat kemudian napasnya habis. Hati Bu Kie mencelos, empat totokannya tidak akan melukai sang paman. Apakah pamannya memang sudah sakit dan penyakitnya kambuh kembali karena ditotok? Keringat dingin membasahi bajunya dan dengan tangan gemetar dia meraba kepala pamannya.
Siong Kee menyambar dan topeng Bu Kie terlocot! Mereka saling pandang dengan mata membelalak. Tidak lama kemudian Thio Siong Kee berkata dengan suara parau.
“Thio Bu Kie... kau...! Kasih sayang kami terhadap kau ternyata sia-sia...“ Nada suara itu mengunjuk rasa duka dan marah tiada taranya. Sambil menatap wajah Bu Kie, air mata pendekar Bu-tong itu mengalir turun di kedua pipinya.
Tadi sesudah dirobohkan dia mengambil keputusan melocotkan topeng musuh agar jika mesti mati, dia ingin mati setelah melihat wajah lawannya. Maka itu dia berlagak mati hingga akhirnya berhasil menjambret topeng Bu Kie. Di lain pihak, Bu Kie yang berwatak polos tidak pernah menduga bahwa dia akan diakali begitu. Pada waktu itu penderitaan Bu Kie jauh lebih hebat dari pada penderitaan jasmaniah yang paling hebat. Bagai orang hilang ingatan dia hanya berkata dengan suara perlahan,
“Bukan aku... Sie-supek... bukan aku yang membunuh Cit-susiok... “
Thio Siong Kee tertawa terbahak-bahak. “Bagus...! Bagus...!“ serunya. “Lekas kau bunuh kami semua! Toako! Lak-te! Kau sudah lihat bahwa manusia yang kita namakan Tat-cu bukan lain dari pada anak Bu Kie yang kita cintai.”
Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu dan In Lie Heng yang badannya tidak dapat bergerak hanya mengawasi dengan mata melotot dan muka merah padam. Hebat sungguh kedudukan Bu Kie. Tiba-tiba serupa ingatan pendek berkelebat di otaknya. Lebih baik mati! Tapi sebelum menjemput pedang dan menggorok leher, tiba-tiba Tio Beng berkata,
“Thio Bu Kie! Dalam menghadapi penasaran, seorang laki-laki harus sanggup mempertahankan diri. Di dunia ini, air surut batu kelihatan. Kau harus berusaha membinasakan penjahat yang membunuh Boh Cit-hiap untuk membalaskan sakit hatinya. Hanya dengan berbuat begitu barulah kau tak percuma menerima kasih sayang para pendekar Bu-tong.”
Bu Kie terkejut. Ia menyetujui pendapat Tio Beng. “Tapi apakah yang harus kita perbuat?” tanyanya. Sambil bertanya begitu ia menghampiri lalu mengurut punggung serta pinggang si nona untuk membuka jalan darahnya yang tertotok.
“Kau tidak usah terlalu bingung,” bujuk Tio Beng dengan suara lemah lembut. “Di kalangan Beng-kauw terdapat banyak orang pandai, sedang aku pun mempunyai banyak pembantu yang berkepandaian tinggi. Penjahat itu pasti akan bisa dibekuk.”
“Thio Bu Kie!” Teriak Siong Kee. “Kalau di hatimu masih terdapat rasa kasihan, kau bunuhlah kami dengan segera! Aku tidak kuat menyaksikan kau bercinta-cintaan dengan perempuan siluman itu.”
Paras muka pemuda itu pucat bagaikan mayat. Ia benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Tindakan pertama yang harus kita lakukan adalah mencoba menolong Han Lim Jie,” kata Tio Beng. “Sesudah itu barulah kita berusaha mencari ayah angkatmu. Di sepanjang jalan kita boleh menyelidiki penjahat yang membunuh Boh Cit-hiap, juga yang membunuh Piauw-moaymu.”
“Apa...? Apa...?“ tanya Bu Kie dengan suara terputus-putus.
“Apakah engkau membunuh Boh Cit-hiap?” Tio Beng balas bertanya dengan suara dingin. “Mengapa keempat pamanmu menuduh kau? Apa In Lee dibunuh olehku? Mengapa kamu menuduh aku? Apakah hanya kau seorang yang boleh penasaran terhadap orang lain dan orang lain tidak boleh merasa penasaran terhadapmu?” kata-kata itu bagaikan halilintar di tengah hari bolong.
Sekarang sesudah mengalami sendiri barulah dia mengakui bahwa di dunia yang lebar ini sering terjadi kejadian-kejadian yang amat kebetulan, yang tidak bisa dikira oleh manusia. Sekarang dia sendiri menerima tuduhann berat. Dia tidak berdosa, tetapi dia tidak berdaya membersihkan diri.
“Apakah... apakah Tio-kouwnio seperti aku...?“ tanyanya di dalam hati.
“Apakah keempat pamanmu bisa membuka sendiri totokanmu?” tanya pula Nona Tio.
Bu Kie menggelengkan kepala. “Tidak,” jawabnya. “Totokanku dari ilmu Seng-hwee-leng. Supek dan Susiok tidak akan dapat membukanya. Tetapi totokan itu akan terbuka sendiri sesudah lewat dua belas jam.”
“Jalan satu-satunya bagi kita adalah menaruh keempat pamanmu di goa, kemudian kita segera menyingkirkan diri,” kata Tio Beng. “Sebelum berhasil menemukan penjahat yang berdosa, kau tidak boleh bertemu muka lagi dengan dia.”
“Tapi di goa itu sering keluar masuk binatang,” kata Bu Kie. “Pada jenazah Boh Cit-susiok terdapat tanda-tanda gigitan.”
“Ahh! Otakmu sudah tidak bisa bekerja lagi!” kata si nona tak sabar. “Kalau salah seorang dari keempat pamanmu dapat menggerakkan tangannya dan di dalam tangannya terdapat sebatang pedang, apakah binatang buas akan bisa melukai mereka?”
Muka Bu Kie berubah merah. Ia mengangguk dan menjawab. “Benar, kau benar.“
Sesudah berkata begitu ia mendukung tubuh keempat pamannya dan menaruh mereka di belakang sebuah batu besar supaya terbebas dari serangan salju.
“Tak usah kau berlagak baik. Bunuh saja kami!” teriak Siong Kee.
Bu Kie tidak menjawab melainkan hanya mengucurkan air mata. Tio Beng tak bisa menahan sabarnya lagi.
“Kalian adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi di rimba persilatan dan aku sungguh tak mengerti mengapa kalian begitu tolol,” katanya. “Kalau benar Bu Kie membunuh Boh Cit-hiap, bukankah dengan mudah saja dia bisa membinasakan kalian semua untuk menutup mulut kalian? Kalau dia tega membunuh Boh Cit-hiap, apakah dia tidak tega membunuh kalian? Kalau kalian terus mencaci maka akan kugaplok muka kalian satu persatu. Aku perempuan siluman, aku dapat melakukan apa yang kukatakan. Dulu waktu kalian berada di Ban-hoat-si, karena memandang muka Thio-kongcu aku memberikan perlakuan istimewa kepada orang-orang Bu-tong-pay. Kalian lihatlah jari tangan jago-jago Siauw-lim, Kun-lun, Go-bi, Hoa-san dan Khong-tong yang kuputuskan. Tapi terhadap pendekar-pendekar Bu-tong, aku membuat pengecualian. Di bagian mana perlakuanku terhadap kalian kurang sempurna? Bilang!”
Song Wan Kiauw berempat saling pandang. Di dalam hati mereka masih berpendapat bahwa Boh Seng Kok dibunuh oleh Bu Kie, tapi mereka kuatir Tio Beng benar-benar akan menggaplok mereka. Seorang gagah boleh dibinasakan, tapi tidak boleh dihina. Kalau sampai mereka digaplok si perempuan siluman, mereka benar-benar merasa terhina. Oleh sebab itu mereka lantas berhenti mencaci. Tio Beng tersenyum sambil berkata,
“Ambillah tunggangan kita untuk membawa keempat pamanmu ke goa.”
Bu Kie terlihat sangsi. “Lebih baik kudukung mereka,” katanya.
Si nona tahu maksud perkataannya. Dia tertawa dingin kemudian berkata, “Apakah karena berkepandaian tinggi kau merasa dengan seorang diri bisa membawa empat orang sekaligus? Aku tahu, kau kuatir begitu kau pergi, aku akan membunuh paman-pamanmu. Kau belum pernah menaruh kepercayaan pada diriku. Baiklah, aku yang pergi mengambil kuda dan kau tunggu di sini.”
Mendengar perkataan yang jitu itu, sekali lagi muka Bu Kie berubah merah. Tapi memang benar bahwa dia tidak berani menyerahkan keempat pamannya ke tangan si nona yang angin-anginan. Maka itu dia lantas saja berkata,
“Terima kasih banyak jika kau sudi mengambil kuda-kuda itu. Aku menunggu di sini.”
“Hmm...!“ Si nona mengeluarkan suara di hidung. “Kau begitu mulia, tapi orang tetap tidak percaya kepadamu. Kau begitu baik hati, tapi orang tetap menganggap kau seperti anjing.“ Sehabis berkata begitu dia berjalan pergi.
Bu Kie tidak meladeni. Dengan hati masgul dia megawasi bayangan si nona. Sekonyong-konyong terdengar suara larinya kuda dari selatan dan didengar dari suaranya jumlah kuda sedikitnya ada tiga ekor. Tio Beng pun sudah mendengarnya, karenanya dia buru-buru kembali dan berkata,
“Ada orang!” seraya berkata begitu dia lari ke belakang batu lalu berjongkok di samping Bu Kie. Melihat separuh badan Jie Lian Ciu berada di luar batu, dia segera menariknya.
“Jangan sentuh tubuhku!” bentak Jie-hiap dengan mata melotot.
Si nona tertawa. “Aku justru ingin memegang tubuhmu,” katanya. “Aku mau lihat apa yang bisa kau perbuat.”
“Tio-kouwnio! Jangan kurang ajar terhadap Supek-ku!” bentak Bu Kie.
Tio Beng tertawa dan mengeluarkan lidahnya. Sesaat itu seorang penunggang kuda nampak mendatangi dengan dikejar dua orang lain. Dalam jarak kira-kira tiga puluh tombak Bu Kie yang bermata jeli sudah mengenali.
“Song Ceng Su Toako!” bisiknya.
“Tahan kudanya!” kata Tio Beng.
“Untuk apa?” tanya Bu Kie.
“Jangan banyak tanya. Apakah kau sudah lupa pembicaraan di ruangan kelenteng Bie-lek-hud?” kata si nona.
Bu Kie sadar, menjemput sepotong es lalu menimpuk. Timpukan itu kena tepat di kaki depan kuda Song Ceng Su yang langsung saja berlutut. Song Ceng Su melompat turun lalu mencoba membangunkan tunggangannya, tetapi kuda itu tidak bisa berdiri lagi sebab tulangnya patah. Melihat pengejarnya sudah datang, cepat Song Ceng Su segera melarikan diri. Tetapi dia tidak dapat lari jauh karena Bu Kie sudah menimpuk lagi dan potongan es mampir tepat pada jalan darah di betis kanannya. Hampir berbareng dengan robohnya Song Ceng Su, kedua pengejar itu telah menyandak. Mereka adalah Tan Yu Liang dan Ciang-pun Liong-tauw.
“Sungguh heran!” kata Bu Kie dalam hati. “Mereka bertiga bersama-sama pergi ke Tiang-pek-san untuk mencari racun. Mengapa yang seorang lari dikejar oleh yang dua?” sejenak kemudian dia mendapat pikiran lain. “Ya, mungkin sekali Song Toako sudah sadar dan insyaf bahwa dia tidak boleh melakukan perbuatan terkutuk. Untung sekali dia lari ke sini. Aku harus menolongnya.”
Begitu menyandak, Tan Yu Liang dan Ciang Liong Tauw meloncat turun dari tunggangannya. Mereka menduga kuda Song Ceng Su roboh karena terlalu letih dan pemuda itu sendiri terluka berat. Karena dugaan itu mereka lantas menghunus senjata yang langsung saja ditudingkan ke tubuh Ceng Su.
Tangan Bu Kie sudah mencekal kepingan es, siap sedia untuk menimpuk, tapi tangannya segera disentuh Tio Beng. Si nona menggelengkan kepala sambil menuding kupingnya sendiri, lalu menuding Song Ceng Su. Bu Kie mengerti bahwa ia dinasihati untuk bersabar dan menunggu pembicaraan ketiga orang itu.
“Hei, orang she Song!” bentak Ciang-pun Liong-tauw. “Kenapa kau kabur di tengah malam buta? Apa kau mau membuka rahasia kepada ayahmu?” Sambil mencaci dia memutar-mutarkan golok Cie-kim Pat-kwa-lo di atas kepala Ceng Su.
Song Wan Kiauw sangat kuatir akan keselematan puteranya. Secara kebetulan Bu Kie menengok dan dia melihat sorot mata sang paman yang penuh kekuatiran itu. Pada waktu bentrok dengan mata Bu Kie sinar matanya berubah dan memperlihatkan sinar memohon. Bu Kie manggut-manggutkan kepalanya sebagai janji bahwa ia akan menolong.
“Kecintaaan ayah ibu benar-benar setinggi langit dan setebal bumi,” katanya di dalam hati. “Toa-supek begitu marah padaku. Tetapi begitu melihat jiwa Song-toako terancam bahaya, ia rela meminta pertolongan kepadaku. Andai kata Toa-supek sendiri yang terancam bahaya, ia pasti tak akan meminta pertolongan.“
Pada detik itu tiba-tiba saja hatinya seperti tersayat pisau. Dia ingat bahwa Song Ceng Su mempunyai seorang ayah yang sangat mencintai, sedangkan dia sendiri adalah seorang anak yatim piatu. Sementara itu terdengar Song Ceng Su menjawab,
“Aku bukan hendak memberi-tahu ayah.”
“Pangcu telah memberi-tahu kau supaya ikut kami ke Tiang-pek-san untuk mencari obat,” kata Ciang-pun Liong-tauw. “Mengapa kau pergi tanpa permisi?”
“Ciang-pun Liong-tauw! Aku adalah anak manusia yang mempunyai ayah serta ibu. Kalian memaksaku untuk mencelakai ayah kandung sendiri. Tapi mana tega aku berbuat begitu? Aku bukan ingin berseteru dengan kalian. Aku hanya tidak sanggup melakukan perbuatan binatang itu.”
“Apakah kau hendak melanggar perintah Pangcu? Apa kau tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap seorang anggota yang mengkhianati partai?”
“Aku seorang berdosa besar. Aku memang sudah tidak ingin hidup. Selama beberapa hari ini setiap kali memejamkan mata aku selalu melihat bayangan Boh Cit-susiok yang selalu mengganggu aku. Ciang-pun Liong-tauw, bunuhlah aku! Aku akan merasa berterima kasih sekali.”
“Baiklah!” bentak si pengemis sambil mengangkat goloknya.
“Tahan!” cegah Tan Yu Liang. “Liong-tauw Toako, apa bila Song Heng-te tetap menolak, lepaskan saja dia. Tidak baik kalau kita bunuh.”
“Lepaskan dia?” Ciang-pun Liong-tauw menegas dengan suara heran.
“Benar, dia membinasakan paman gurunya sendiri, Boh Seng Kok. Dia berdosa besar dan pasti akan dibunuh orang partainya sendiri. Perlu apa kita mengotorkan senjata?”
Itulah perkataan yang sangat mengejutkan. Bagi keempat pendekar Bu-tong, kata-kata itu bagaikan halilintar yang menyambar dengan tiba-tiba. Pada waktu mengintip pertemuan Kay-pang di kelenteng Bie-lek-hud, ketika Tan Yu Liang menyebut-nyebut nama Boh Seng Kok sebenarnya Bu Kie sudah menduga bahwa Song Ceng Su telah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap pamannya itu. Tapi mimpi pun dia tak pernah bahwa Boh Seng Kok binasa di tangan pemuda ini. Di antara mereka semua hanya Tio Beng seorang yang tidak terlalu kaget sebab dia telah menduga terjadinya kejadian itu.
“Tan-toako,” kata Song Ceng Su dengan suara gemetar. “Engkau sudah bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia ini. Asalkan kau tidak membuka mulut, ayah tentu tak akan tahu.”
Tan Yu Liang tertawa tawar. “Kau hanya mengingat sumpahku tapi lupa sumpah sendiri,” katanya. “Kau telah bersumpah bahwa mulai saat itu kau akan menurut segala perintahku. Siapa yang lebih dahulu melanggar sumpah? Kau atau aku?”
“Biar pun mati aku tak dapat menuruti perintahmu untuk menaruh racun di makanan Thay-suhu dan ayah. Lebih baik kau bunuh saja aku.”
“Song Heng-te, seorang gagah harus bisa bertindak dengan mengimbangi keadaan. Kami bukan menyuruh kau membinasakan ayah sendiri. Kami hanya ingin kau menaruh sedikit racun Bong-han-yo (obat yang melupakan) agar mereka tertidur untuk sementara waktu. Bukankah kau sudah mengiyakan ketika kita berada di kelenteng Bie-lek-hud?”
“Aku hanya mengiyakan untuk menaruh Bong-han-yo. Tapi yang hendak ditangkap Ciang-pun Liong-tauw adalah binatang yang amat beracun, ular, kelabang, dan sebagainya. Itu semua racun untuk membinasakan manusia. Itu semua bukan Bong-han-yo.”
Tan Yu Liang menatap korbannya dan perlahan-lahan memasukkan pedangnya ke dalam sarung.
“Ciu-kouwnio dari Go-bi-pay sangat cantik bagaikan bidadari,” katanya. “Di dunia amat sukar dicari tandingannya. Aku merasa heran mengapa kau rela menyerahkan gadis itu ke tangan si bocah Bu Kie. Song Heng-te, malam itu kau mengintip kamar tidur para wanita murid-murid Go-bi-pay dan perbuatanmu itu diketahui Cit-susiokmu yang lantas mengejar sehingga terjadi pertempuran di bukit batu. Pertempuran itu berakhir dengan peristiwa pembunuhan seorang keponakan terhadap pamannya sendiri. Mengapa kau melakukan pembunuhan itu? Bukankah karena ingin mendapatkan Ciu-kouwnio yang cantik manis? Apakah sekarang kau bisa mundur lagi? Tidak! Pasti tidak!”
Dengan menggunakan seluruh tenaganya Song Ceng Su bangun berdiri. “Tan Yu Liang, lidahmu sungguh jahat!” teriaknya. “Kau menekan aku keterlaluan. Malam itu aku sudah kalah dalam pertempuran melawan Boh Cit-susiok. Aku berdosa besar. Kalau aku binasa maka segalanya akan menjadi benar. Siapa suruh kau membantu aku? Aku kena ditipu olehmu sehingga sekarang namaku hancur dan tidak akan bisa ditolong lagi.”
“Bagus, bagus!” kata Tan Yu Liang dengan suara mengejek. “Apakah aku boleh bertanya? Boh Seng Kok tewas karena punggungnya terpukul dengan pukulan Cia-thian Tiat-ciang (Pukulan tangan besi yang menggetarkan langit). Siapakah yang memukulnya? Apa kau? Malam itu bukan saja aku menolong jiwamu, tapi juga menolong namamu. Apa itu salah? Song Heng-te, dalam persahabatan, yang lain tidak usah disebut-sebut lagi, tapi hal kau membunuh paman sendiri tak akan diuar-uar olehku. Sekarang kita boleh berpisah dan di lain hari kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu muka lagi.”
Mendengar kata-kata orang itu yang seolah bersedia untuk menyudahi segala persoalan sampai di situ, Song Ceng Su merasa sangsi sekali.
“Tan... Tan Toako, apa yang hendak kau perbuat terhadapku?” tanyanya.
Tan Yu Liang tertawa. “Aku selalu berbuat baik terhadapmu, tetapi kau tetap tak percaya padaku,” katanya. “Apa yang aku mau perbuat terhadapmu? Tidak! Aku tak ingin berbuat apa pun juga terhadapmu. Aku hanya ingin memperlihatkan suatu barang kepadamu. Kau lihatlah! Apa ini?”
Bu Kie dan Tio Beng ingin sekali melihat barang itu, tetapi sedikit pun mereka tidak berani mengeluarkan kepala. Tiba-tiba terdengar suara kaget dari Song Ceng Su.
“Ahh...! Cincin besi Go-bi-pay...! Itu milik Ciu-kouwnio. Dari mana kau dapatkan itu?”
Bu Kie terkejut, tapi di lain saat dia menduga bahwa cincin itu bukan cincin tulen. Tan Yu Liang tertawa.
“Lihatlah dahulu,” katanya. “Lihat dulu, apakah tulen atau palsu.”
Beberapa saat kemudian Song Ceng Su berkata, “Sewaktu berada di See-hek aku pernah minta pelajaran silat dari Biat-coat Suthay. Kulihat cincin ini di jarinya. Rasanya barang ini bukan barang palsu.”
“Trangg...!”
Tiba-tiba terdengar suara. “Inilah buktinya,” kata Tan Yu Liang. “Kalau palsu, bacokanku akan mematahkannya. Lihatlah! Di dalam cincin terdapat empat huruf Liu Ie Siang Lie (dihadiahkan kepada anak Siang). Cincin ini dulunya milik Kwee Siang Lihiap, pendiri Go-bi-pay dan terbuat dari pada besi Hian-tiat.
“Tan Toako...“ kata Song Ceng Su dengan suara parau. “Harap katakan. Dari mana... dari mana kau mendapatkannya...? Di mana Ciu-kouwnio sekarang?”
Tan Yu Liang tersenyum, “Ciang-pun Liong-tauw, marilah kita berangkat,” katanya tanpa mempedulikan pertanyaan Song Ceng Su. “Mulai dari dulu Kay-pang selalu menghargai persahabatan, tetapi sekarang Kay-pang tidak memerlukan manusia seperti dia lagi.“
Suara tindakan kaki lantas terdengar. Kedua orang itu berjalan ke jurusan utara. Sekonyong-konyong Song Ceng Su memanggil,
“Tan-toako! Apakah dia mati atau masih hidup?”
Tan Yu Liang balik kembali. “Benar,” katanya, “Ciu-kouwnio berada di tangan kami. Dia sungguh cantik sedangkan aku sendiri belum beristeri. Aku hendak memohon kepada Pangcu untuk menikah dengannya. Kurasa Pangcu akan meluluskan.”
Song Ceng Su mengeluarkan seruan tertahan.
“Benar, pada hakekatnya seorang Kuncu tak akan merampas milik orang lain,” kata pula Tan Yu Liang. “Tan Yu Liang pasti tidak akan merusak persahabatan karena paras cantik. Tapi sekarang kau sudah menjadi pengkhianat partai. Di antara kita sudah tak ada ikatan apa pun juga dan aku bisa berbuat sesuka hati, bukankah begitu?”
Song Ceng Su tidak lantas menyahut. Rupanya dua macam pikiran sedang berkelahi di dalam hatinya.
Bu Kie melirik Song Wan Kiauw. Dengan rasa iba, dia melihat pamannya mengucurkan air mata. Jika bukan terlalu duka, sebagai seorang gagah pamannya tentu takkan menangis. Beberapa saat kemudian barulah Song Ceng Su berkata,
“Tan Toako, Liong-tauw Toako, tadi pikiranku kusut. Aku bersalah dan kuharap kalian suka memaafkan.”
Tan Yu Liang tertawa terbahak. “Nah begini baru benar,” katanya. “Dengan menepuk dada aku memberi jaminan bahwa mengenai kau menaruh Bong-han-yo di minuman para pendekar Bu-tong, bukan saja jiwa ayahmu tak akan kurang suatu apapun, tapi Ciu Cie Jiak pun akan segera menjadi isterimu. Sesudah Thio Sam Hong dan para pendekar Bu-tong berada di tangan kita. Thio Bu Kie pasti akan menurut segala perintah kita. Setelah Kay-pang menguasai Beng-kauw, mengusir Tat-cu dan merebut kembali tahta kerajaan, kau dan aku akan menjadi menteri-menteri negara sendiri. Bukan saja isteri kita dan anak-anak kita, tapi ayah kita pun akan menikmati segala kebesaran.”
Song Ceng Su tertawa getir. “Thia-thia bukan orang yang kemaruk harta,” katanya. “Aku hanya berharap agar ayah jangan membunuh aku. Apa bila harapan itu bisa terkabul, aku sudah merasa puas.”
Tan Yu Liang tertawa, “Kecuali ayahmu adalah dewa, dia pasti takkan tahu latar belakang kejadian itu,” katanya. “Song Heng-te, apa kakimu terluka? Kita berdua bisa menunggang kudaku. Setibanya di kota kita bisa membeli kuda lain.”
“Karena terburu-buru, betisku terpukul kepingan es,” jawabnya. “Sungguh sial kepingan es itu kena tepat pada Cu-peng-hiat. Di dunia ini memang sering terjadi kejadian yang kebetulan.”
Dari pengakuan Song Ceng Su dapatlah dilihat kelihaian Bu Kie dalam ilmu melepaskan senjata rahasia. Pemuda itu sama sekali tak pernah menyangka bahwa dirinya dibokong orang. Ia hanya merasa terpukul oleh kepingan es yang secara kebetulan kena pada jalan darahnya. Hal ini pada hakekatnya tidak luar biasa. Lengan kita secara tidak sengaja juga sering membentur meja kursi dan kadang-kadang begitu terbentur kita merasa kesemutan karena benturan itu kebetulan kena pada ‘Hiat’.
“Bukan sial tetapi mujur,” kata Tan Yu Liang sambil tertawa. “Song Heng-te bernasib baik dan sudah ditakdirkan bakal mempunyai isteri yang amat cantik. Kalau tadi betismu tidak terpukul es dan kami tidak bisa menyusul, maka kau tidak akan sadar dari kekeliruan. Dengan demikian bukan saja namamu hancur, tetapi usaha kita pun akan menjadi gagal. Selain itu Ciu Cie Jiak yang ayu akan menjadi isteri Tan Yu Liang. Bukankah kejadian itu seperti burung hong berjodoh dengan burung gagak seolah sekuntum bunga tertancap di atas tahi kerbau?” Ia berbicara secara bercanda, tapi setiap perkataannya hebat bukan main dan menekan Song Ceng Su sehingga pemuda itu tidak bisa berkutik lagi.
Song Ceng Su menghela napas panjang dan berkata dengan suara perlahan. “Tan-toako, bukan aku tidak percaya...”
“Kau mau bertemu dengan Ciu-kouwnio?” memutus Tan Yu Liang. “Boleh! Mudah sekali. Sekarang Pangcu dan para Tianglo berada di Louw-liong dan Ciu-kouwnio pun berada di situ. Mari kita pergi ke Louw-liong. Sesudah urusan Bu-tong beres, kakakmu akan segera mengadakan pesta pernikahan untuk mewujudkan idam-idamanmu. Dan... seumur hidup kau akan berterima kasih kepada Tan Yu Liang Toako... ha-ha-ha...”
“Baiklah, mari sekarang kita pergi ke Louw-liong,” kata pula Song Ceng Su. “Tapi Toako, bagaimana... bagaimana Ciu-kouwnio bisa berada di tangan kita?”
“Itu berkat jasa Liong-tauw Toako,” jawab Tan Yu Liang sambil tertawa. “Hari itu, ketika Ciang-pang dan Ciang-pun Liong-tauw makan minum di sebuah Ciu-lauw, mereka melihat tiga orang yang tidak dikenal. Setelah diselidiki kiranya salah seorang adalah Ciu-kouwnio. Ciang-pun Liong-tauw Toako cepat-cepat mengirim orang untuk mengundangnya. Legakan hatimu. Ciu-kouwnio sehat walfiat, tak kurang apapun.”
Bu Kie mengeluh. Kini barulah dia tahu bahwa hari itu sebenarnya mereka telah dikenali. “Kalau Gie-hu tidak buta, dia bisa melihat bahwa rahasia sudah terbuka,” pikirnya. “Hai... aku dan Cie Jiak masih terus mimpi... Tapi bagaimana dengan keselamatan Gie-hu?” Dia merasa bingung karena Tan Yu Liang tak pernah menyebut-nyebut ayah angkatnya.
Sementara itu si orang she Tan sudah berkata lagi. “Song Heng-te, sesudah kau menikah dengan Ciu-kouwnio, Go-bi dan Bu-tong-pay harus menurut perintah Kay-pang. Siauw-lim-pay sudah berada di tanganku. Kalau ditambah dengan Kay-pang dan Beng-kauw maka tenaga kita bukan main besarnya. Kita pasti dapat mengalahkan orang Mongol dan merebut negeri. Huh... huh...! Negara akan segera bertukar majikan.”
Tan Yu Liang bicara dengan hati berbunga-bunga. Dia memperlihatkan lagak seolah-olah Kay-pang telah merebut seluruh negeri dan dia sendiri akan segera naik tahta kerajaan. Ciang-pun Liong tauw dan Song Ceng Su juga turut tertawa, namun tawa mereka adalah tawa getir.
“Mari kita berangkat,” ajak Tan Yu Liang. “Song Heng-te, Bok Cit-hiap binasa di dekat sini. Kau telah meletakkan jenazahnya dalam goa yang rasanya tak jauh dari sini. Bukankah begitu? Tadi kudamu tiba-tiba roboh. Apakah roh Bok Cit-hiap menunjukkan keangkerannya? Ha-ha-ha...! Ha-ha-ha...!”
Kata-kata itu membangunkan bulu roma Song Ceng Su yang lantas saja berjalan dengan terpincang pincang. Setelah ketiga orang itu berlalu, Bu Kie segera membuka jalan darah keempat pamannya. Sambil berlutut dia manggut-manggutkan kepalanya dan berkata,
“Supek, Susiok, tadi tit-jie berada dalam keadaan amat terjepit dan tidak bisa membersihkan diri sehingga karena terpaksa tit-jie telah melakukan perbuatan berdosa terhadap Supek dan Susiok. Tit-jie siap untuk menerima hukuman.”
Song Wan Kiauw menghela napas panjang, air matanya mengucur dan dia menengadah tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Jie Lian Ciu segera membangunkan keponakannya dan berkata dengan suara menyesal.
“Hubungan kita bagaikan hubungan tulang dan daging. Hal itu tak usah disebut-sebut lagi. Aku sungguh tidak menduga bahwa Ceng Su... Ceng Su... Hai...! Kalau bukan mendengar dengan kuping sendiri, siapa yang bisa percaya?”
“Srett...!”
Tiba-tiba Song Wan Kiauw menghunus pedang. “Binatang...!” katanya dengan suara gemetar. “Sam-wi Sute dan anak Bu Kie, mari kita kejar dia. Biar kubunuh binatang itu dengan tanganku sendiri.“ Sebelum kata-katanya selesai diucapkan, badannya sudah berkelebat dan ia mengejar puteranya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
“Toako, balik!” teriak Thio Siong Kee. “Kita harus berunding dulu.“
Tapi Song-tayhiap tidak meladeni. Bu Kie segera mengejar. Dengan cepat dia melewati sang paman kemudian menghalang di depannya.
“Toa-supek,” katanya sambil membungkuk. “Sie-supek ingin bicara. Karena ditipu, Song-toako telah membuat kekeliruan. Tapi di hari kemudian dia akan sadar. Jika Toa-supek mau menghukum, hal itu tidak perlu dilakukan tergesa-gesa.”
“Cit-te...! Cit-te...!” kata Song Wan Kiauw dengan suara di tenggorokan. “Kakakmu benar-benar berdosa besar...“
Sekonyong-konyong dia mengangkat pedangnya dan mencoba menggorok leher. Bu Kie terkesiap dan secepat kilat tangannya menyambar. Sungguh mujur dia masih keburu merampas senjata itu dengan menggunakan ilmu Kian-kun Tay-lo-ie. Walau pun tak sampai membinasakan tapi ujung pedang menggores juga leher Song-tayhiap.
Namun karena belum takdirnya mati, seorang penolong sudah bersiap sedia. Mendengar pembicaraan Tio Beng dan kedua jagonya, Tan Yu Liang yang sangat pintar sudah dapat menduga bakal adanya serangan itu dan dia segera mendekati Su Hwee Liong. Pada detik yang sangat berbahaya itu dia mendorong pundak Su Hwee Liong ke belakang patung Bie-lek-hud sehingga pukulan Jie-lo jatuh pada patung itu yang lantas saja pecah, pecahannya muncrat berhamburan dan patung itu sendiri bergoyang-goyang.
Ho Pit Ong maju setindak, menghantam dan mendorong. Maka patung yang sangat besar itu lantas roboh terguling. Keadaan menjadi kalut, semua orang melompat minggir supaya tidak tertimpa patung itu. Dengan menggunakan kesempatan itu Tio Beng cepat-cepat kabur ke pekarangan depan sambil dikejar oleh Song Ceng Su dan Ciang-pang Liong-tauw. Selagi si nona mau melompati pintu, tiga batang tongkat menyambar kakinya. Tio Beng mencelos batinnya, ia digencet dari belakang dan dari depan. Dengan mati-matian ia berhasil mengalihkan dua tongkat yang menyambar lebih dulu, tapi tongkat ketiga mampir tepat pada kakinya sehingga tanpa ampun lagi ia ambruk di lantai.
Song Ceng Su cepat merangsek. Dia membalik pedangnya dan memukul kepala si nona dengan gagang pedang untuk menangkapnya hidup-hidup. Pada saat yang berbahaya itu tiba-tiba saja tongkat bambu Ciang-pang Liong-tauw berkelebat dan menangkis pedang Song Ceng Su, dan dengan berbareng satu bayangan manusia melompat keluar dari atas tembok dengan kecepatan yang sukar dilukiskan. Song Ceng Su menoleh kepada Ciang-pang Liong-tauw kemudian bertanya dengan suara mendongkol.
“Mengapa kau melepaskan dia?”
“Perlu apa kau pukul tongkatku?” si pengemis balas bertanya dengan mata melotot.
“Ehh! Bukankah kau yang memukul gagang pedangku? Mengapa...”
“Jangan rewel! Lekas kejar!”
Mereka segera melompati tembok. Setibanya di luar, pada kaki tembok mereka bertemu seorang murid tujuh karung yang kakinya patah dan tidak bisa bediri lagi. Mereka segera menghampiri tujuh delapan pengemis yang menjaga di luar kelenteng.
“Ke mana larinya perempuan siluman itu?” tanya Ciang-pang Liong-tauw.
“Perempuan yang mana? Kami tidak melihat manusia lain,” jawab seseorang.
Ciang-pang Liong-tauw marah tak kepalang. “Apakah kalian buta semua?” bentaknya. “Terang-terangan perempuan itu melompat keluar dari tembok sana.”
Sambil membangunkan pengemis yang kakinya patah, seorang murid enam karung lantas berkata.
“Barusan toako inilah yang melompat keluar. Kami tidak melihat orang lain.”
Ciang-pang Liong-tauw menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa kau melompati tembok?” tanyanya.
“Aku... aku... ditangkap lantas dilemparkan,” jawab si murid tujuh karung sambil menahan sakit. “Perempuan siluman itu mempunyai ilmu yang sangat aneh.”
Dengan paras muka marah Ciang-pang Liong-tauw mengawasi Song Ceng Su. “Mengapa kau pukul tongkatku? Apa maksudmu? Baru saja masuk ke dalam Kay-pang, kau sudah coba-coba main gila.”
Song Ceng Su meluap darahnya, tapi sebisa-bisanya ia menahan diri. “Selagi teecu memukul kepala perempuan siluman itu tiba-tiba saja Liong-tauw-toako menangkis senjataku sehingga siluman itu bisa melarikan diri,” jawabnya.
“Omong kosong!” bentak si pengemis tua. “Perlu apa aku menangkis gagang pedangmu? Sudah beberapa puluh tahun aku mengabdi di partai dan karena jasa-jasaku maka sekarang aku menduduki kursi Ciang-pang Liong-tauw. Apa kau mau mengatakan bahwa aku sengaja membantu orang luar? Sekarang aku bertanya kepadamu. Mengapa kau tidak menggunakan ujung pedang untuk menikam dia tetapi berlagak memukul dengan gagang pedang? Huh... huh...! Mataku belum lamur, kau tidak dapat memperdayai aku.”
Biar pun di Bu-tong-pay kedudukan Song Ceng Su hanyalah murid turunan ketiga, tapi karena orang-orang Bu-tong tahu bahwa dia adalah calon Ciang-bun-jin maka mereka sangat mengindahkannya. Bahkan Jie Lian Ciu, Thio Song Kee dan lainnya yang masih terhitung paman berlaku sungkan kepadanya. Sekarang atas tekanan Tan Yu Liang dia terpaksa masuk ke dalam Kay-pang. Tapi di luar dugaan pada hari pertama dia sudah dicaci orang. Dia adalah seorang yang beradat tinggi dan meski pun dia tahu bahwa Ciang-pang Liong-tauw mempunyai kedudukan tinggi, tapi dia tidak bisa menahan sabar lagi.
“Kata-kata main gila adalah tuduhan yang membuta tuli,” katanya dengan bernafsu. “Liong-tauw Toako mesti bisa membuktikan tuduhan ini. Terang-terangan kaulah yang menangkis gagang pedangku. Di siang hari bolong belum tentu tidak ada yang melihatnya.” Dengan berkata begitu Song Ceng Su balas menuduh bahwa si pengemislah yang sudah main gila dan sengaja melepaskan Tio Beng.
Ciang-pang Liong-tauw adalah seorang yang berangasan. Mana bisa dia menelan hinaan itu?
“Binatang!” bentaknya. “Kau tidak mengindahkan orang yang lebih tua. Apakah di tempat ini kau masih mau mengandalkan pengaruh Bu-tong-pay?” Seraya berkata begitu dia telah menghantam kepala Song Ceng Su dengan tongkatnya. Dalam kemarahannya dia sudah menggunakan tenaga dalam yang amat dahsyat.
Song Ceng Su segera menangkis tanpa sungkan lagi. Walau pun tongkat itu terbuat dari bambu tetapi amat ulet dan keras dan babatan pedang tidak dapat memutuskannya. Begitu kedua senjata beradu Song Ceng Su merasa telapak tangannya terbeset. Ia kaget, ternyata si pengemis mempunyai Iweekang yang sangat kuat dan lebih unggul dari pada tenaga dalamnya. Di lain pihak si pengemis merasa lengannya kesemutan. Dia juga terkejut karena dia tidak menduga bahwa pemuda ini memiliki Iweekang yang sedemikian kuat. “Bocah she Song!” bentaknya. “Berani sungguh kau melawan aku. Apakah kau suruhan musuh untuk menjadi mata-mata di sini?” Sambil mencaci dia menghantam lagi.
Tiba-tiba saja seseorang melompat keluar dan menangkis pukulan itu. “Liong-tauw Toako, sabar dulu,” katanya. Orang itu adalah Tan Yu Liang.
“Tan Heng-te, aku minta kau menimbang urusan ini,” kata Ciang-pang Liong-tauw.
“Mana si perempuan siluman?” tanya Tan Yu Liang.
“Dilepaskan oleh dia,” kata Ciang-pang Liong-tauw sambil menuding Song Ceng Su.
“Bukan aku, justru dialah yang melepaskan,” balas Song Ceng Su.
Selagi keduanya bertengkar Hian-beng Jie-lo sudah menerobos keluar. Melihat Tio Beng tidak berada di luar kelenteng, tahulah mereka bahwa sang majikan sudah meloloskan diri sehingga hati mereka menjadi lega dan lebih mantap. Sambil tertawa nyaring mereka menyerang lagi dengan sekuat tenaga. Dengan satu jurus saja empat murid Kay-pang roboh di tanah. Waktu Coan-kang, Cie-hoat dan Ciang-pun memburu keluar mereka sudah kabur jauh dan hanya terdengar suara tertawa mereka yang membangunkan bulu roma. Ciang-pang Liong-tauw berjingkrak saking marahnya..
“Kejar!” teriaknya.
“Jangan!” cegah Tan Yu Liang. “Liong-tauw Toako, mungkin saja musuh menyembunyikan pasukan kuat di sepanjang jalan.”
Si pengemis sadar. “Benar,” katanya. “Mengapa aku begitu tolol? Musuh pasti datang kemari dalam jumlah yang besar. Dua orang saja sudah sukar dilawan.“
Ia merasa berterima kasih terhadap Tan Yu Liang dan kemarahannya terhadap Song Ceng Su pun agak mereda. Sementara itu Cie-hoat Tianglo menghitung kerusakan pada pihaknya. Sebelas orang mati di tangan Hian-beng Jie-lo, tujuh orang terluka berat dan delapan sembilan orang luka akibat tertimpa patung Bie-lek-hud. Ia segera memerintahkan orang untuk menolong yang luka dan memerintahkan Ciang-pun Liong-tauw memeriksa di sekeliling kelenteng dengan membawa sejumlah murid.
**********
Sekarang marilah kita menengok Tio Beng. Sebagaimana diketahui, dengan rasa kuatir Bu Kie memperhatikan segala gerak geriknya. Waktu Song Ceng Su membalik pedangnya dan memukul kepala si nona dengan gagang senjata, hati Bu Kie langsung mencelos. Pukulan itu bisa enteng bisa pula berat. Kalau enteng nona Tio akan pingsan, kalau berat jiwanya melayang. Pada detik yang sangat berbahaya, tanpa berpikir panjang lagi ia melompat turun sambil mendorong tongkat Ciang-pang Liong-tauw agar menangkis gagang pedang yang menyambar. Dalam dorongan itu ia menggunakan Kian-kun Tay-lo-ie.
Selama berdiam beberapa bulan di pulau kecil, ia mempelajari dan melatih diri dalam ilmu yang tertera pada Seng-hwee-leng yang diterjemahkan Siauw Ciauw hingga dia mendapat kemajuan pesat dan sekarang kepandaiannya sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada yang dimiliki oleh Sam-su dari Persia. Sebab itulah dorongannya tadi bahkan tidak diketahui tokoh tokoh yang berilmu tinggi seperti Ciang-pang Liong-tauw dan Tan Yu Liang. Ciang-pang Liong-tauw mengira Song Ceng Su sengaja memukul tongkatnya, sedangkan Song Ceng Su menduga bahwa si pengemis yang sengaja menangkis senjatanya.
Ketika kedua musuhnya sedang kaget, Bu Kie cepat menjambret seorang pengemis tujuh karung kemudian melemparkan keluar tembok sehingga dengan demikian, karena melihat berkelebatnya bayangan manusia, Ciang-pang Liong-tauw dan Tan Yu Liang menyangka bahwa Tio Beng melarikan diri dengan melompati tembok.
Sementara itu sambil mendukung si nona bagaikan kilat Bu Kie melompat ke atas lantas hinggap di atap toa-thia. Pada waktu itu ilmu mengentengkan badan Bu Kie sudah mencapai puncak tertinggi. Dia melompat seperti terbangnya seekor burung. Ada beberapa hal yang menguntungkan Bu Kie sehingga lompatannya tidak terlihat orang.
Pertama, saat itu sudah lewat lohor dan segalanya yang berada di bawah matahari tidak terlihat bayangannya lagi. Ke dua, para pengemis sedang memburu keluar sehingga biar pun ada beberapa orang yang merasa ada sesuatu yang lewat di dalam, tapi mereka tidak menghiraukan. Ke tiga, sekitar toa-thia masih penuh dengan debu yang melayang di udara sebagai akibat dari robohnya patung Bie-lek-hud. Ke empat, keadaan tengah kalut dan ke lima, tokoh-tokoh berkepandaian tinggi telah memburu keluar untuk mengepung Hian-beng Jie-lo dan membekuk Tio Beng. Inilah beberapa hal yang membikin Bu Kie bisa menolong Tio Beng tanpa diketahui siapa pun juga.
Selagi badannya melayang di udara dengan didukung lengan yang kuat, Tio Beng membuka matanya. Dia terkesiap karena penolong yang alisnya tebal dan mukanya tampan itu bukan lain Bu Kie. Dia hampir tidak percaya dengan matanya sendiri.
“Kau...!” serunya dengan suara parau.
Buru-buru Bu Kie mendekap muka si nona. Ia mengawasi ke bawah. Di kiri kanan dan di depan belakang kelenteng penuh dengan murid Kay-pang. Walau pun begitu, kalau mau dia masih bisa meloloskan diri. Tetapi sesudah mengetahui adanya perundingan Kay-pang untuk menjatuhkan Beng-kauw dan masuknya Song Ceng Su ke dalam partai pengemis, ia bertekad untuk menyelidiki hal itu sampai seterang-terangnya! Ia tak boleh pergi begitu saja.
Di samping itu dalam pertengkaran antara Ciang-pang Liong-tauw dengan Song Ceng Su, kedua mata si pengemis mengeluarkan sinar yang ganas sehingga terdapat kemungkinan bahwa pengemis itu tak merasa segan untuk menurunkan tangan jahat. Pertimbangan lain yang menahan perginya Bu Kie adalah Han Lim Jie yang masih tertawan. Pembantu yang setia itu harus ditolong. Karena berpikir demikian dia mengambil keputusan untuk masuk lagi dan bersembunyi di ruangan toa-thia. Dia merangkak ke pinggir genteng, lalu menggaet payon dengan kedua kakinya dan dengan sekali melompat dia telah berada di belakang sebuah patung Buddha.
Tempat itu amat sempit, apa lagi untuk bersembunyi dua orang. Lagi pula masih ada kemungkinan bisa dilihat orang dari bawah. Karena itu Bu Kie segera mengawasi ruangan itu. Su Hwee Liong, Coan-kang, Cie-hoat, Thiang Boo dan lain-lain sudah memburu keluar sedang ruangan toa-thia hanya terdapat beberapa pengemis yang terluka karena tertimpa patung Bie-lek-hud. Han Lim Jie sendiri tidak kelihatan mata hidungnya.
Dia mengawasi ke seputarnya, tapi sampai beberapa saat dia masih belum mendapatkan tempat yang cocok untuk menyembunyikan diri. Tiba-tiba Tio Beng menyentuh tangannya dan menuding sebuah tambur besar. Tambur itu terletak di atas tempat menaruh tambur yang tingginya setombak lebih dan berhadap-hadapan dengan sebuah lonceng besar. Bu Kie lantas sadar. Dengan berjalan mepet pinggir tembok ia pun pergi ke belakang tambur. Sambil meloncat ke atas, jari tangannya menggores kulit.
“Prett!”
Kulit kerbau yang tebal terobek seperti digores pisau. Dengan berdiri di lang-kan kayu, dia menggores lagi dengan jerijinya dan membuat robekan garis silang. Sesudah itu dia masuk ke dalamnya sambil mendukung Tio Beng. Tambur itu sudah tua. Di antara debu dan bau apek, Bu Kie mencium wewangian yang keluar dari badan si nona. Tambur itu cukup besar, tapi kedua orang yang bersembunyi di dalamnya bergerak pun tidak bisa lagi. Dengan hati berdebar-debar si nona bersandar di dada Bu Kie.
Perasaan pemuda itu sendiri sulit dilukiskan. Rasa benci, sakit hati, marah, duka dan rasa cinta tercampur menjadi satu. Dia ingin mencaci, namun karena dikelilingi musuh dia tidak bisa membuka suara. Tiba-tiba dia sadar bahwa kepala si nona bersandar pada dadanya. Dia terkejut dan mendorong keras-keras. Tio Beng menjadi marah kemudian menyikut dadanya. Dengan ilmu memindahkan tenaga memukul tenaga, Bu Kie menghantam balik sehingga si nona kesakitan, hampir-hampir ia berteriak kalau mulutnya tidak keburu didekap Bu Kie. Beberapa saat kemudian terdengar suara Cie-hoat Tianglo,
“Melaporkan kepada Pangcu,” ia lalu mengatakan bahwa musuh telah meloloskan diri. “Karena ketololanku maka aku tak bisa menyerahkan musuh kepada Pangcu. Untuk kesalahan ini aku mohon Pangcu memaafkan.”
“Sudahlah!” kata Su Hwee Liong. “Musuh berkepandaian sangat tinggi. Hal itu disaksikan semua orang. Cie-hoat Tianglo tidak usah terlalu sungkan.”
“Terima kasih, Pangcu,” kata Cie-hoat.
Setelah itu Ciang-pang Liong-tauw segera mengadu bahwa Song Ceng Su sengaja melepaskan Tio Beng, tapi pemuda itu membela diri dan balas menuduh. Mereka lantas saja bertengkar sehingga suasana menjadi tegang.
“Tan Heng-te, bagaimana pendapatmu?” tanya Su Hwee Liong.
“Melaporkan kepada Pangcu bahwa Ciang-pang Liong-tauw adalah tetua partai kita, maka dia tentu tidak berdusta,” jawabnya. “Tetapi Song Heng-te pun masuk ke dalam partai kita dengan setulus hati, lebih lagi wanita siluman itu adalah musuhnya. Menurutku perempuan she Tio itu memang mempunyai kepandaian luar biasa dan dengan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga, dia tadi mendorong tongkat Liong-tauw untuk menangkis gagang pedang Song Heng-te. Dalam kekalutan kedua belah pihak menjadi salah paham.”
Dalam hatinya Bu Kie memuji Tan Yu Liang. Dia benar-benar pintar. Tanpa menyaksikan kejadian itu dia sudah bisa menebak tanpa meleset jauh.
“Benar,” kata Su Hwee Liong. “Saudara-saudara, kalian berdua memiliki tujuan yang sama, yaitu mengabdi kepada partai kita. Maka itu hendaknya kalian tidak menjadi bermusuhan karena hal yang remeh ini.”
Ciang-pang Liong-tauw manggut-manggutkan kepalanya, kemudian berkata dengan suara mendongkol,
“Biar pun dia...”
“Song Heng-te,” memutus Tan Yu Liang. “Liong-tauw Toako seorang yang berkedudukan tinggi. Biar pun dia menyalahkan kau tapi kau harus menerimanya dengan segala senang hati. Hayo, lekas minta maaf.”
Dengan terpaksa Song Ceng Su maju setindak lantas menjura. “Liong-tauw Toako,” katanya, “Siauwte bersalah dan mohon Toako suka memaafkan.”
Meski pun masih marah, si pengemis tak bisa lagi mengumbar amarahnya. Ia mengeluarkan suara di hidung dan berkata,
“Ya, sudahlah!”
Meskipun menggunakan kata-kata yang kedengarannya seperti menegur Song Ceng Su, pada hakekatnya Tan Yu Liang menyalahkan si pengemis tua. Dia mengatakan bahwa Tio Beng mendorong tongkat Liong-tauw Toako untuk menangkis gagang pedang Song Heng-te dan bahwa Liong-tauw Toako seorang yang berkedudukan tinggi. ‘Biar pun dia menyalahkan kau tapi kau harus menerimanya dengan segala senang hati’. Kata-kata itu sesungguhnya menyindir Ciang-pang Liong-tauw dan sindiran itu dimengerti para Tianglo. Tetapi karena Tan Yu Liang sangat disayangi oleh Pangcu, maka tak seorang pun berani membuka suara.
“Tan Heng-te,” kata Su Hwee Liong. “Perempuan itu adalah puteri Jie Lam Ong, ada pun Mo-kauw adalah musuh dari kerajaan Goan. Tapi mengapa Kuncu Nio-nio berbalik membela si iblis kecil Thio Bu Kie?”
Tan Yu Liang kelihatan berpikir, tapi sebelum ia menjawab, Ciang-pang Liong-tauw mendahului.
“Aku melihat Kuncu Nio-nio itu amat marah mendengar Tan Heng-te mencaci Kiauwcu dari Mo-kauw, seakan-akan dia mendengar cacian terhadap ayah atau saudara kandungnya sendiri. Hal ini sungguh membikin orang tidak mengerti.”
“Aku tahu sebabnya,” kata Song Ceng Su. “Walau pun Mo-kauw adalah musuh kerajaan tetapi Beng Beng Kuncu mencintai Thio Bu Kie. Maka bukanlah hal yang mengherankan kalau dia selalu melindungi bocah itu.”
Para pengemis terkejut bukan main. Bu Kie sendiri merasa sangat jengah dan jantungnya berdetak lebih keras. Tio Beng memutar kepalanya dan mengawasi si pemuda. Di dalam tambur sangat gelap, tetapi dengan kedua matanya yang luar biasa Bu Kie bisa melihat sinar mata si nona yang mengeluarkan sorot mencintai. Tanpa terasa ia memeluk lebih keras.
Tiba-tiba di depan matanya terbayang In Lee yang binasa mengenaskan. Mendadak pula, rasa cintanya yang baru muncul berubah menjadi rasa benci dan dia memijit lengan Tio Beng dengan penuh kemarahan. Meski pijitan itu tidak disertai tenaga dalam yang kuat tapi si nona merasakan kesakitan yang luar biasa. Dengan menggigit gigi dia menahan sakit dan air matanya mengalir turun di kedua pipinya. Bu Kie mengeraskan hati dan tidak mempedulikannya. Sementara itu Tan Yu Liang bertanya,
“Bagaimana kau bisa tahu? Apa benar ada hal yang sedemikian aneh?”
“Memang benar,” jawab Song Ceng Su dengan nada amat membenci. “Bocah Thio Bu Kie bukan pemuda tampan, mukanya biasa saja, tetapi dia mempunyai ilmu siluman sehingga banyak sekali wanita lupa daratan.”
Cie-hoat Tianglo manggut-manggutkan kepalanya. “Tak salah. Di dalam Mo-kauw memang terdapat ilmu untuk memelet wanita. Bukankah Kie Siauw Hu dari Go-bi-pay celaka karena dipelet siluman Yo Siauw? Thio Cui San, ayah Thio Bu Kie, juga kena dipelet siluman In So So sehingga akhirnya mati bunuh diri. Menurut pendapatku, dengan menggunakan ilmu iblisnya siluman kecil itu telah merusak kehormatan Beng Beng Kuncu sehingga ibarat beras telah menjadi nasi dan Beng Beng Kuncu tidak bisa menyelamatkan dirinya lagi.”
Semua pengemis langsung berteriak mencaci Bu Kie yang dimaki sebagai manusia keji dan kotor.
“Seluruh orang gagah harus berusaha untuk menyingkirkan manusia itu dari dunia,” kata Coan-kang Tianglo dengan suara yang sangat menyeramkan. “Kalau dia dibiarkan hidup terus, entah berapa banyak wanita suci akan celaka di tangan penjahat cabul itu.”
Bu Kie merasa dadanya menyesak. Karena menahan amarahnya, badannya jadi gemetar. Sampai pada detik itu ia masih jejaka yang suci tapi sungguh sering ia dimaki sebagai penjahat cabul. Ia benar-benar penasaran, tapi ia tak dapat mencuci segala tuduhan itu. Ia merasa marah terutama karena dikatakan sudah mencemarkan kesucian Tio Beng. Tiba-tiba ia terkesiap,
“Celaka!” ia mengeluh di dalam hati. “Jika orang tahu aku bersembunyi di sini berdua biar pun bersumpah berat orang takkan percaya kebersihanku.”
“Sesudah jatuh ke tangan penjahat cabul itu, mungkin sekali Ciu Cie Jiak Kouwnio juga tidak dapat mempertahankan kesuciannya,” kata pula Coan-kang Tianglo.
“Song Heng-te, kau tidak usah merasa jengkel. Kami pasti akan merebut kembali kekasihmu yang tercinta. Peristiwa Kie Siauw Hu tidak akan terulang lagi.”
“Benar,” sambut Cie-hoat Tianglo, “Perkataan Toako benar sekali. Dulu Bu-tong-pay tidak bisa membantu In Lie Heng dan sekarang partai itu juga tidak bisa membantu Song Ceng Su. Kini Song Heng-te telah masuk ke Kay-pang. Apa bila kita tidak bisa membela sakit hatinya dan tidak bisa mewujudkan angan-angannya, apa gunanya dia menjadi murid enam karung dari partai kita, sedangkan di Bu-tong-pay dia adalah seorang calon Ciang-bun-jin?”
Sekali lagi para pengemis berteriak-teriak. Mereka mencaci Bu Kie habis-habisan. Tio Beng menempelkan bibirnya di kuping Bu Kie kemudian berbisik.
“Ahh...! Ternyata kau penjahat cabul!” bisiknya bernada marah, duka dan cinta sehingga jantung Bu Kie kembali berdebar-debar.
“Kalau dia tidak begitu kejam, aku benar-benar beruntung jika bisa menikah dengannya,” katanya di dalam hati.
Sementara itu dengan suara perlahan Song Ceng Su menghaturkan terima kasih kepada pengemis yang mau membela dirinya. Cie-hoat Tianglo adalah seorang yang sangat berhati-hati, maka dia bertanya lagi,
“Song Heng-te, apakah kau tahu bagaimana caranya Beng Beng Kuncu dipincuk (dibuat terpikat) oleh si penjahat cabul?”
“Latar belakangnya aku tidak tahu,” jawabnya. “Aku hanya tahu bahwa Beng Beng Kuncu pernah menyateroni Bu-tong-san dengan memimpin sejumlah jago-jago untuk menangkap Thay-suhu. Tapi begitu bertemu dengan si penjahat, dia segera mengundurkan diri hingga bencana itu bisa dielakkan. Selama lebih dari dua puluh tahun Sam-susiok Jie Thay Giam menderita cacat, tetapi Beng Beng Kuncu bahkan menghadiahkan obat kepada si penjahat sehingga Sam-susiok sembuh.”
“Bu-tong-pay adalah paku di mata kerajaan Goan. Jika Beng Beng Kuncu tidak terpincuk, dia tentu tak akan menyerahkan obat kepada si penjahat. Dilihat begini, biar pun wataknya jahat tetapi penjahat itu telah membuang budi kepada Thay-suhu-mu dan para pamanmu,” kata Cie-hoat.
“Ah!” tiba-tiba Tan Yu Liang berseru. “Melaporkan kepada Pangcu bahwa setelah mendengar pembicaraan tadi, sekarang aku mempunyai siasat yang bisa menaklukkan penjahat cabul itu. Dengan siasat ini seluruh Mo-kauw dari atas sampai bawah akan menuruti perintah partai kita!”
Su Hwee Liong kegirangan. “Tan Heng-te, lekas beritahu siasatmu!” katanya.
“Di sini terlalu banyak orang,” kata Tan Yu Liang. “Biar pun kita berada di antara saudara-saudara sendiri, aku masih kuatir kalau kalau rahasia besar ini menjadi bocor.”
Keadaan di toa-thia berubah jadi sunyi. Beberapa saat kemudian terdengar tindakan kaki belasan orang yang keluar dari ruangan itu sehingga yang tinggal hanyalah beberapa tokoh penting dari Kay-pang.
“Rahasia ini harus dijaga baik-baik agar jangan sampai bocor,” kata Tan Yu Liang. “Song Heng-te dan kedua Liong-tauw Toako, mari kita periksa di atas, di depan dan di belakang kelenteng untuk memastikan bahwa tak ada orang luar yang mencuri dengar pembicaraan kita.”
Ciang-pang dan Ciang-pun Liong-tauw segera melompat ke atas genteng, sedang Tan Yu Liang dan Song Ceng Su memeriksa seluruh toa-thia, di depan dan di belakang kelenteng. Diam-diam Bu Kie memuji Tio Beng karena selain tambur itu segala pelosok diperiksa dengan teliti. Beberapa lama kemudian mereka berempat kembali ke toa-thia.
“Dalam siasat ini kita harus mengandalkan bantuan Song Heng-te,” bisik Tan Yu Liang.
“Aku?” menegas Song Ceng Su dengan suara heran.
“Benar,” jawabnya. “Ciang-pun Liong-tauw Toako, kuharap kau suka membagi racun Ngo-tok Swee-sim-san (bubuk racun yang dapat menghilangkan kesadaran manusia) kepada Song Heng-te. Song Heng-te, dengan membawa racun itu kau harus pulang ke Bu-tong-san, kemudian diam-diam menaruhnya dalam makanan Thio Cinjin dan para pendekar Bu-tong. Kami akan menunggu di kaki gunung. Sesudah berhasil kita akan menangkap Thio Cinjin dan semua pendekar Bu-tong. Kemudian kita menggunakan penangkapan tersebut untuk menekan Thio Bu Kie, memaksa dia untuk menuruti segala kemauan kita.”
“Bagus! Siasat itu benar-benar bagus!” puji Su Hwee Liong.
“Tipuan ini memang sangat bagus,” menyambut Cie-hoat. “Kita sukar untuk bisa meracuni Thio Bu Kie. Tapi Song Heng-te pasti berhasil. Sebagai anggota penting dari Bu-tong-pay, kau bisa turun tangan dengan mudah sekali.”
Song Ceng Su menjadi bingung. Dengan paras muka pucat dia berkata, “Tapi... tapi... aku tidak bisa meracuni ayah sendiri...”
“Song Heng-te tak usah kuatir,” bujuk Tan Yu Liang. “Ngo-tok Swee-sim-san adalah racun yang luar biasa dari partai kita. Racun ini hanya dapat menghilangkan kesadaran manusia untuk sementara waktu dan sama sekali takkan membahayakan jiwa. Kami semua sangat mengindahkan Song-tayhiap. Kami takkan mengganggu selembar rambut ayahmu.”
Tapi Song Ceng Su tetap menolak. “Jika masuknya aku ke dalam partai kita ini diketahui, aku akan ditegur oleh Thay-suhu dan ayah,” katanya. “Meracuni ayah sendiri adalah perbuatan yang tak akan berani aku lakukan.”
“Saudara,” kata Tan Yu Liang. “Jalan pikiranmu itu salah. Dalam sejarah terdapat contoh-contoh bahwa ada orang-orang yang rela menghukum keluarga sendiri demi kepentingan orang banyak atau negara. Lagi pula tujuan kita sekarang adalah hendak menumpas Mo-kauw. Kita menawan para pendekar Bu-tong hanya untuk menaklukkan si penjahat cabul.”
“Jika aku melakukan perbuatan itu maka aku akan dicaci berlaksa orang di dunia Kangouw dan aku tidak punya muka lagi untuk hidup di antara langit dan bumi,” kata Song Ceng Su.
“Song Heng-te, kau tidak usah begitu kuatir,” kata Tan Yu Liang. “Mengapa tadi aku minta agar semua Tianglo delapan karung meninggalkan ruangan ini? Mengapa kita memeriksa di seluruh kelenteng? Aku begitu berhati-hati karena takut rahasia ini bocor. Song Heng-te, sesudah menaruh racun, kau sendiri harus berlagak pingsan dan kau pun akan ditangkap. Kau akan dikumpulkan bersama Thay-suhu-mu, ayahmu dan paman-pamanmu. Kecuali kita tujuh orang ini, di dunia tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Kami semua kagum dan berterima kasih terhadap kau yang sudah menunaikan tugas yang amat berat. Siapa lagi yang akan mentertawakan kau?”
Ceng Su mengerutkan alisnya. Sesudah berpikir beberapa lama dia berkata dengan suara perlahan.
“Perintah Pangcu dan Tan-toako sebenarnya tidak boleh ditolak olehku. Apa lagi sebagai anggota baru dari partai kita, siauwte seharusnya menggunakan kesempatan ini untuk membuat pahala. Biar harus melalui barisan golok mau pun harus masuk ke dalam lautan api, siauwte mesti melakukannya. Tapi... tapi... setiap manusia yang hidup di dunia ini harus berpokok kepada ‘hauw-gie’ (berbakti dan mempunyai rasa persahabatan). Maka itu biar bagaimana pun juga siauwte tidak akan bisa turun tangan terhadap ayah kandung sendiri.”
Semenjak dahulu Kay-pang amat mengutamakan ‘kebaktian’. Mendengar perkataan Song Ceng Su, para tetua tidak berani mendesak lagi. Mendadak Tan Yu Liang tertawa dingin.
“Yang muda tidak boleh menyerang yang tua adalah salah satu keharusan di rimba persilatan,” katanya. “Hal itu sudah kuketahui sehingga Song Heng-te tak usah mengajari aku. Aku hanya ingin mengajukan pertanyaan. Pernah apakah Song Heng-te dengan Boh Seng Kok Cit-hiap? Siapa yang lebih tinggi tingkatannya? Boh Cit-hiap atau kau sendiri?”
Song Ceng Su tidak menjawab. Dia menundukkan kepala dan setelah berselang beberapa lama barulah dia berkata,
“Baik! Siauwte akan menurut perintah! Tapi kalian harus berjanji untuk tidak mengganggu selembar rambut ayahku, untuk tidak menghina ayahku dengan cara apa pun juga. Kalau kalian tidak berjanji begitu, Siauwte lebih suka celaka dari pada melakukan perbuatan yang tidak mengenal kebaktian ini.”
Su Hwee Liong dan yang lain-lain menjadi amat girang. Mereka segera mengiyakan tuntutan Song Ceng Su.
Bu Kie merasa sangat heran. “Song-toako tadinya menolak keras, tetapi mengapa begitu Tan Yu Liang menyebutkan Boh Cit-siok ia lantas menyerah?” tanyanya di dalam hati. “Dalam hal ini tentu terselip latar belakang yang luar biasa. Aku harus menanyakan Boh Cit-siok sendiri.”
Sementara itu Cie-hoat Tianglo dan Tan Yu Liang lantas berunding dengan bisik-bisik. Mereka membicarakan tindakan untuk menangkap tokoh-tokoh Bu-tong-pay sesudah mereka kena racun. Setiap Tan Yu Liang menyatakan buah pikirannya, sedangkan Su Hwee Liong selalu berkata,
“Bagus! Bagus!”
“Sekarang musim dingin dan Ngo-tok masih bersembunyi di bawah tanah,” kata Ciang-pun Liong-tauw. “Siauwte harus pergi ke kaki gunung Tian-pek-san untuk menggalinya. Dalam dua puluh hari atau paling lama sebulan, siauwte akan bisa membuat Ngo-tok Swee-sim-san (Lima macam binatang beracun).”
“Jika begitu sebaiknya Tan Heng-te dan Song Heng-te mengawani Ciang-pun Liong-tauw ke Tiang-pek-san sedangkan kami sendiri akan turun ke selatan lebih dulu,” kata Cie-hoat Tianglo. “Sebulan kemudian kita berkumpul lagi di Lao-ho. Hari ini Cap-jie-gwee Cee-peh (bulan 12 tanggal 8). Lain tahun Cia-gwee Cee-peh (bulan 1 tanggal 8) kita bertemu lagi.“ Setelah berdiam sejenak dia berkata lagi, “Han Lim Jie yang sudah menjadi tawanan kita banyak gunanya. Kuminta Ciang-pang Liong-tauw menjaganya baik-baik agar jangan sampai direbut orang-orang Mo-kauw. Dalam perjalanan ini kita harus sangat berhati-hati supaya tindakan kita tidak tercium musuh.”
Setelah itu semua orang lantas minta diri kepada Pangcu. Ciang-pun Liong-tauw, Tan Yu Liang dan Song Ceng Su berangkat paling dahulu, kemudian dengan beruntun semua pengemis meninggalkan kelenteng Bie-lek-hud.
ANTARA CINTA DAN BENCI
Sesudah semua orang berlalu, barulah Bu Kie dan Tio Beng melompat keluar dari dalam tambur. Sambil membereskan pakaiannya nona Tio mengawasi Bu Kie dengan sorot mata girang bercampur marah.
“Hemm...“ Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kau masih punya muka untuk bertemu dengan aku...!”
Paras muka si nona lantas berubah. “Mengapa?” Dia menegas. “Dosa apa yang kuperbuat terhadap Toa-kauwcu?”
“Manusia kejam!” bentak Bu Kie dengan muka pucat. “Aku tidak menyalahkanmu bila kau hanya mencuri Ie-thian-kiam dan To-liong-to. Aku takkan menyalahkan kau jika hanya meninggalkan aku di pulau terpencil itu! Tetapi kau tahu bahwa In-kouwnio sedang terluka berat. Mengapa kau begitu kejam, begitu tega menurunkan tangan jahat kepadanya? Kau perempuan kejam! Di dunia yang selebar ini, kekejamanmu sukar dicari keduanya!” Selagi mencaci darahnya meluap. Dia maju setindak dan kedua tangannya menggaplok.
Tio Beng mencoba berkelit, tetapi mana bisa dia menyingkir dari serangan Bu Kie yang sudah kalap?
“Plak...! Plak...! Plak...! Plak...!”
Kedua pipinya merah bengkak terkena empat gamparan. Rasa sakit, malu dan marah bercampur aduk dalam dada si nona. Akhirnya dia menangis.
“Kau bilang aku mencuri Ie-thian-kiam dan To-liong-to...? Siapa yang lihat?” tanyanya. “Kau bilang... aku kejam terhadap In-kouwnio...? Panggil dia kemari untuk diadu denganku...”
Bu Kie makin marah. “Baiklah!” teriaknya. “Aku akan kirim kau ke akherat untuk diadu dengannya!” Tangannya menyambar dan mencekik leher si nona.
Tio Beng memberontak dan memukul dada Bu Kie, tapi pemuda yang tubuhnya dilindungi Kiu-yang Sin-kang itu tak menghiraukan semua pukulan. Selang beberapa saat kemudian, dengan muka merah si nona jatuh pingsan.
Sebenarnya dalam sakit hatinya Bu Kie ingin membinasakan nona Tio. Tapi melihat si nona dalam keadaan pingsan, tiba-tiba hatinya lemas dan dia melepaskan cekikannya sehingga si nona lantas roboh dengan kepala membentur batu lantai. Setelah berselang beberapa lama, perlahan-lahan Tio Beng tersadar. Ia membuka kedua matanya dan melihat paras muka Bu Kie yang menunjukkan rasa kuatir. Sesudah si nona tersadar barulah Bu Kie menahan napas lega.
“Apa benar In-kouwnio sudah meninggal dunia?” tanya Tio Beng.
Darah pemuda itu bergolak lagi. “Jika digores pedang tujuh belas delapan belas goresan, bagaimana dia bisa hidup?” jawabnya dengan suara gemetar.
“Siapa... siapa yang bilang aku berbuat begitu?” tanya Tio Beng. “Apa Ciu-kouwnio?”
“Ciu-kouwnio tidak pernah memfitnah orang. Dia sama sekali tidak menuduh kau.”
“Apa In-kouwnio sendiri yang berkata begitu?”
“In-kouwnio tidak dapat bicara. Binatang di pulau itu hanya terdapat lima orang. Apakah ini perbuatan Gie-hu? Apa aku? Apakah In-kouwnio yang membacok dirinya sendiri? Hmm..! Aku tahu jalan pikiranmu. Kau turunkan tangan jahat sebab kau takut aku menikah dengan Piauw-moay. Sekarang aku bicara terus terang. Tak peduli dia mati atau hidup, aku tetap menganggapnya sebagai isteriku.”
Tio Beng menundukkan kepalanya. Lama sekali dia berdiri terpaku. Akhirnya dia bertanya.
“Bagaimana kau bisa kembali ke Tiong-goan?”
Bu Kie tertawa dingin. “Kami bisa kembali berkat kemuliaan hatimu,” katanya dengan nada mengejek. “Kau mengirim angkatan laut mencari kami. Tapi untungnya Gie-hu tidak sebodoh aku. Karena kecerdasan Gie-hu maka kami tidak masuk ke dalam perangkapmu. Kami tahu bahwa kau telah mempersiapkan kapal meriam untuk menenggelamkan kapal yang kami tumpangi. Tapi lihatlah! Siasat busukmu tidak berhasil.”
Sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak si nona menatap wajah Bu Kie. Mendadak kedua matanya mengeluarkan sinar kasihan dan mencinta. Dia menghela napas panjang. Buru-buru Bu Kie memalingkan kepala ke jurusan lain karena dia kuatir jatuh di bawah pengaruh kecantikan. Ia menjejak bumi kemudian berkata,
“Aku pernah bersumpah untuk membalas sakit hati piauw-moay. Aku mengakui kelemahanku, dan hari ini aku tidak bisa turun tangan. Tapi kau terlalu jahat! Di lain hari kau pasti akan jatuh ke tanganku!” Sehabis berkata begitu dia berjalan keluar dengan tindakan lebar.
Tapi baru saja dia berjalan belasan tombak, Tio Beng sudah memburu. “Thio Bu Kie! Mau ke mana kau?!” teriak si nona.
“Kau tidak perlu tahu!”
“Aku mau bicara dengan Cia-tayhiap dan Ciu-kouwnio. Antarkan aku kepada mereka!”
“Gie-hu tak akan berlaku sungkan terhadapmu,” kata Bu Kie. “Menemui Gie-hu berarti mengantarkan jiwa.”
“Gie-humu kejam, tapi dia tidak setolol kau. Di samping itu, bila Gie-humu membunuh aku, bukankah dengan demikian sakit hati Piauw-moaymu jadi terbalas impas?”
“Tolol apa aku? Aku hanya tidak ingin kau menemui Gie-hu.”
“Thio Bu Kie, kau memang tolol. Kau tidak rela mengorbankan aku. Kau tidak ingin ayah angkatmu membunuh aku. Bukankah begitu?”
Muka Bu Kie berubah merah. “Jangan rewel!” bentaknya. “Sebaiknya kau menyingkir jauh-jauh dari kami. Jika tidak mungkin aku tak bisa menguasai diriku lagi dan akan mengambil jiwamu.”
Setindak demi setindak Tio Beng mendekati. “Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Cia-tayhiap dan Ciu-kouwnio,” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Aku tak berani bicara jelek di belakang orang. Aku akan menanyakan seterang-terangnya secara berhadap-hadapan.”
“Pertanyaan apa yang akan kau ajukan?”
“Kau akan segera tahu. Aku berani menempuh bahaya, kenapa kau sendiri justru berbalik ketakutan?”
Bu Kie kelihatan sangat bersangsi. Lewat beberapa saat barulah dia berkata, “Kau harus ingat bahwa kaulah yang memaksa. Jika Gie-hu menurunkan tangan jahat, aku tidak bisa menolong kau.”
“Kau tidak usah terlalu kuatir,” kata si nona.
Tiba-tiba saja Bu Kie naik darah. “Kuatir?” dia mengulang. “Huh... huh! Menurut pantas aku harus segera mengambil jiwamu.”
“Hayolah!” si nona menantang sambil tertawa.
Bu Kie mengeluarkan suara di hidung. Tanpa meladeni lagi dia segera menuju ke kota dengan tindakan lebar, diikuti oleh Tio Beng dari belakang. Waktu hampir tiba di kota, Bu Kie menghentikan tindakannya kemudian menengok ke belakang.
“Tio-kouwnio,” katanya, “Dulu aku pernah berjanji akan melakukan tiga pekerjaan untukmu. Yang pertama mencari To-liong-to. Janji ini telah kupenuhi. Sekarang masih ada dua. Jika kau menemui Gie-hu, jiwamu pasti melayang. Kau pergilah! Aku ingin memenuhi janjiku dan sesudah terpenuhi, barulah kau pergi menemui Gie-hu.”
Si nona tertawa geli. “Thio Bu Kie,” katanya dengan suara bahagia. “Kau hanya mencari-cari alasan supaya Gie-humu jangan sampai membinasakan aku. Aku tahu, kau tidak tega mengorbankan aku.”
“Kalau aku tidak tega, mau apa kau?” kata Bu Kie dengan suara aseran.
“Aku merasa sangat girang,” jawabnya.
Bu Kie menghela napas. “Tio-kouwnio,” katanya. “Aku mohon... aku mohon... kau jangan pergi...”
Si nona menggelengkan kepalanya. “Tidak, biar bagaimana pun juga aku mesti menemui Cia-tayhiap,” katanya dengan suara tetap.
Bu Kie mengerti bahwa tak ada gunanya dia membujuk lagi. Maka dengan tindakan berat dia segera menuju rumah penginapan. Setibanya di depan kamar Cia Sun, dia mengetuk pintu.
“Gie-hu...!” panggilnya.
Biar pun sudah memanggil beberapa kali, dia belum juga mendapat jawaban. Dia menolak pintu kamar, tapi pintu itu dikunci dari dalam. Dia merasa sangat heran karena dia tahu sang ayah angkat sangat sigap dan andai kata tertidur, tindakan kakinya di luar kamar pasti sudah menyadarkannya. Dia pun curiga dan kuatir. Kalau orang tua itu keluar, mengapa pintu terkunci dari dalam? Dia segera mengerahkan tenaga dan mendorong pintu.
“Brakk!”
Palang pintu patah dan pintu terbuka dan... Cia Sun tidak berada di dalam kamarnya! Bu Kie menyapu seluruh kamar dengan matanya. Dia mendapat kenyataan bahwa jendela terbuka separuh.
“Gie-hu tentu keluar dari jendela,” pikirnya.
Dia lalu pergi ke depan kamar nona Ciu. “Cie Jiak! Cie Jiak!” panggilnya.
Si nona tidak memberi jawaban. Dia segera membuka pintu dengan paksa dan sekali lagi mendapat kenyataan bahwa Cie Jiak juga tidak berada di kamar tetapi buntalan pakaiannya masih tergeletak di atas pembaringan.
“Apakah mereka disatroni musuh?” tanyanya dalam hati.
Dia segera bertanya kepada seorang pelayan, tetapi pelayan itu tidak melihat Cia Sun dan Cie Jiak dan juga tidak mendengar suara keributan. Bu Kie jadi agak lega.
“Mungkin sekali mereka mendengar suara mencurigakan lalu mereka mengejar. Ayah angkat berkepandaian amat tinggi dan dengan dikawani Cie Jiak yang sangat berhati-hati kemungkinan besar takkan terjadi sesuatu yang tak enak.“
Waktu memeriksa jendela dan keadaan di bawah jendela, dia tidak melihat petunjuk yang mencurigakan. Dengan hati yang lebih tenang dia lalu kembali ke kamarnya.
“Melihat Cia-tayhiap tidak berada di dalam kamar, kenapa kau berbalik merasa senang?” tanya Tio Beng sambil tersenyum.
“Omong kosong! Lagi pula kapan aku merasa senang?”
“Kau rasa aku tidak dapat membaca paras mukamu? Waktu menolak pintu, kau memang kaget. Tapi sesudah itu ketegangan otot mukamu lantas menghilang.”
Bu Kie tidak meladeni. Dia lalu duduk di pembaringan batu. Seraya tersenyum simpul Tio Beng duduk di kursi. Dia melirik Bu Kie dan berkata dengan suara perlahan.
“Aku tahu... aku tahu bahwa di dalam hati kau merasa kuatir Cia-tayhiap akan membunuhku sehingga menghilangnya orang tua itu berbalik menyenangkan hatimu. Aku tahu... kau tidak tega mengorbankan aku.”
“Kalau aku tidak tega, mau apa kau?!” bentak Bu Kie dengan mendongkol.
Si nona tertawa, “Aku merasa sangat girang,” jawabnya.
“Tapi mengapa berulang kali kau coba mencelakai aku?” tanya Bu Kie. “Apa di hati kau membenci aku sehingga kau rela mengorbankan aku?”
Paras Tio Beng lantas bersemu dadu. “Benar,” katanya, “Memang benar dahulu aku berusaha untuk mengambil jiwamu. Tetapi sesudah pertemuan di Lek-liu-chung, apa bila di hati aku mempunyai sedikit saja niatan untuk mencelakai kau, biarlah aku dikutuk Tuhan Yang Maha Esa, biarlah aku binasa mengenaskan, biarlah aku tidak dapat menitis lagi di dunia fana ini.”
Mendengar sumpah yang sangat berat itu, Bu Kie terkejut sekali. “Tetapi mengapa hanya karena sebatang golok dan sebatang pedang saja kau sudah begitu tega terhadapku dan meninggalkan aku di pulau kecil itu?” tanyanya lagi.
“Kalau kau tetap berpendapat begitu, aku pun tidak akan bisa membantah,” kata si nona. “Tunggu saja sampai Cia-tayhiap dan Ciu-kouwnio datang.”
“Kau hanya bisa menipu aku seorang dengan lidahmu. Tetapi kau pasti tidak akan dapat mengelabui Gie-hu dan Ciu-kouwnio.”
“Mengapa kau rela ditipu? Karena kau mencintai aku, bukan?”
“Kalau ya, mau apa kau?!” bentak Bu Kie.
“Aku sangat girang,” jawabnya sambil tertawa manis.
Melihat tawa yang menggoncangkan hati itu, cepat Bu Kie memalingkan kepala ke jurusan lain.
“Hampir setengah hari aku bersembunyi di pohon itu,” kata Tio Beng. “Sekarang aku lapar sekali.“ Tanpa menanti jawaban dia memanggil pelayan, lalu menyerahkan sepotong emas sambil memerintahkan supaya disediakan semeja makanan kelas satu.
Melihat uang yang berjumlah besar itu, si pelayan berlaku hormat luar biasa dan tak lama kemudian makanan dan minuman mulai diantar masuk.
“Sebaiknya tunggu sampai Gie-hu datang dan bolehlah kita makan bersama-sama,” kata Bu Kie.
“Begitu Cia-tayhiap datang maka jiwaku langsung melayang,” kata si nona. “Paling benar makan dulu. Lebih baik jadi setan perut kenyang dari pada setan kelaparan.“ Biar pun dia berkata begitu tetapi sikap dan suaranya sangat tenang, sedikit pun tidak mengunjuk rasa kuatir. Setelah berdiam sejenak dia berkata lagi, “Aku masih mempunyai emas. Sebentar kita boleh pesan makanan lagi.”
“Tapi aku tidak berani makan bersama kau,” kata Bu Kie dengan suara dingin. “Aku takkan tahu kalau kau menaruh Sip-hiang Joan-kin-san.”
Paras muka Tio Beng lantas berubah. Dia sangat mendongkol. “Terserah,” katanya. Sehabis berkata begitu dia segera makan seorang diri. Karena dia sendiri memang sudah amat lapar, Bu Kie lalu minta beberapa potong kue phia dan memakannya dengan duduk di pembaringan batu.
Sesudah makan beberapa suap, si nona mendadak merasa sedih dan air matanya turun. Tiba-tiba dia melemparkan sumpit lalu mendekam di meja sambil menangis segak seguk. Lama juga dia menangis. Setelah kedukaannya disalurkan, dia mengawasi keluar jendela.
“Satu jam lagi siang akan berganti malam,” katanya seorang diri. “Ke mana Han Lim Jie akan dibawa? Kalau jejaknya tidak dapat dicari, dia sukar ditolong lagi.”
Bu Kie terkejut sekali. Ia melompat bangun dan berkata, “Benar. Aku harus menolong Han Heng-te terlebih dahulu.”
“Cis! Tak tahu malu!” bentak Tio Beng. “Aku bukan bicara dengan kau.”
Melihat lagak si nona Bu Kie merasa geli campur dongkol. Cepat-cepat dia menghabiskan kuenya lalu berjalan keluar dengan tindakan lebar.
“Aku ikut!” teriak Tio Beng.
“Tidak boleh!”
“Mengapa?”
“Kau membunuh Piauw-moayku. Mana bisa aku berjalan bersama musuh?”
“Baik. Nah, kau pergilah!”
Bu Kie segera bertindak keluar, tapi baru beberapa langkah, dia merandek. “Perlu apa kau berdiam di sini?” tanyanya.
“Menunggu Gie-humu. Aku akan memberi-tahu bahwa kau pergi untuk menolong Han Lim Jie.”
“Gie-hu sangat membenci kejahatan. Dia tidak akan mengampuni kau.”
Tio Beng menghela napas. “Jika aku mesti mati maka aku takkan menyalahkan siapa pun juga,” katanya. “Aku mati karena nasibku memang buruk.”
Bu Kie mengawasi si nona. “Sebaiknya kau menyingkir untuk sementara waktu,” katanya dengan suara membujuk. “Sesudah aku kembali, kita bisa berdamai lagi.”
“Tak ada tempat untuk aku menyingkirkan diri.”
“Sudahlah! Kau ikut aku menolong Han Lim Jie.”
Tio Beng tertawa. “Ingat, kaulah yang mengajakku,” katanya. “Bukan aku yang memohon-mohon padamu.”
“Hmm... kau binatang iblis bagi diriku. Rupa-rupanya memang sudah nasibku harus selalu menderita semenjak bertemu dengan kau.”
Tio Beng tertawa geli. “Tunggu sebentar,” katanya sambil menutup pintu.
Beberapa lama kemudian, sesudah pintu terbuka kembali ternyata si nona sudah bertukar pakaian, pakaian wanita yang sangat indah. Bu Kie tidak pernah menduga bahwa di dalam buntalan yang selalu dibawa-bawa terisi seperangkat pakaian yang harganya mahal.
“Perempuan ini banyak akalnya dan sepak terjangnya selalu di luar dugaan orang,” kata si pemuda di dalam hati.
“Mengapa kau terus mengawasi aku?” tanya Tio Beng. “Apakah pakaianku bagus?”
“Muka seperti bunga tho dan lie, hati bagaikan ular dan kalajengking,” jawabnya.
Tio Beng segera tertawa terbahak-bahak. “Terima kasih banyak kepada Thio Toa-kauwcu yang sudah menghadiahkan kata-kata seindah itu,” katanya. “Thio-kauwcu, kau pun harus bertukar pakaian.”
“Sedari kecil aku sudah biasa memakai pakaian compang-camping,” kata Bu Kie dengan hati mendelu. “Bila kau merasa malu melihat pakaianku, kau boleh tak usah mengikutiku.”
“Kau jangan menyangka yang bukan-bukan,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku hanya ingin melihat romanmu sesudah kau mengenakan pakaian yang bagus. Bu Kie Koko, kau tunggulah di sini sebentar. Kawanan pengemis itu pasti mengambil jalanan ke Kwan-lwee. Kita tentu dapat mengejar mereka.“ Sehabis berkata begitu, tanpa menunggu jawaban dia segera berlalu.
Bu Kie duduk bengong di pembaringan batu. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri. Dia heran mengapa dia seperti tauw-hu (tahu) yang bisa dipermainkan oleh perempuan itu.
“Terang-terang dialah yang membinasakan Piauw-moay, tetapi aku masih bisa bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dia,” pikirnya. “Bu Kie... ah Bu Kie... Lelaki apa kau? Apa kau punya muka untuk menjadi kauwcu dari Beng-kauw, untuk memimpin segenap orang gagah di kolong langit?” Lama juga dia menunggu, tapi Tio Beng belum juga balik. Cuaca sudah mulai gelap. “Perlu apa aku menunggu dia?” pikirnya.
Dia mau lantas berangkat, tapi dia segera membayangkan kemungkinan bertemunya Tio Beng dengan ayah angkatnya. Kalau mereka bertemu muka, nona Tio pasti akan binasa. Mengingat begitu dia mengurungkan niatnya dan menunggu terus. Dia mendongkol bukan main, duduk salah berdiri pun salah. Akhirnya terdengar tindakan kaki dan si nona masuk dengan tangan menyangga dua bungkusan.
“Mengapa begitu lama?” tanya Bu Kie. “Sudahlah! Aku tidak usah tukar pakaian. Mari kita berangkat.”
Si nona tertawa. “Sesudah kau menunggu begitu lama, beberapa detik lagi untuk menyalin pakaian tidak menjadi soal,” katanya. “Aku sudah membeli dua ekor kuda, maka kita bisa mengejar di waktu malam.“ Ia meletakkan kedua bungkusan itu kemudian mengeluarkan seperangkat pakaian, sepatu dan kaos kaki. “Di tempat kecil tidak ada barang yang baik,” katanya lagi. “Setibanya di kota raja aku akan membelikan baju kulit rase.”
Bu Kie kaget sekali lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Tio-kouwnio, kalau kau menganggap bahwa aku kemaruk akan segala kemewahan dan bersedia untuk menekuk lutut kepada kerajaan, hilangkanlah anggapan itu. Thio Bu Kie adalah anak cucu bangsa Han. Andai kata diangkat menjadi raja muda, dia pun tak akan menakluk kepada bangsa Mongol.”
Tio Beng menghela napas. “Thio-kauwcu, kau lihatlah!” katanya. “Lihatlah, apa ini pakaian seorang Mongol atau pakaian orang Han?” Seraya berkata begitu dia lalu membuka baju dan celana yang baru dibelinya.
Bu Kie manggutkan kepalanya sebab pakaian itu adalah pakaian Han. Setelah itu, sambil memutar tubuh si nona berkata pula,
“Nah kau lihatlah lagi! Apa pakaian ini pakaian puteri Mongol atau pakaian seorang puteri Han?”
Hati Bu Kie berdebar. Tadi dia tidak memperhatikan. Sekarang dia mendapat kenyataan bahwa nona Tio memang mengenakan pakaian wanita Han. Dia menatap wajah si nona yang balas mengawasinya dengan sorot mata penuh cinta. Tiba-tiba dia tersadar. Dia sadar akan maksud puteri Mongol ini.
“Kau... kau...“ katanya dengan suara parau.
“Karena aku tahu kau mencintai aku, sekarang aku tidak mempedulikan apa pun jua. Aku bersedia melakukan pengorbanan yang paling besar,” katanya dengan suara pelan. “Bagiku, orang Mongol atau orang Han tak jadi soal lagi. Kalau kau orang Han, aku orang Han. Kalau kau orang Mongol, aku pun orang Mongol. Apa yang kau pikirkan adalah soal negara, soal ketenteraman, soal kekuasaan, soal pengaruh dan nama. Tapi Bu Kie Koko, bagiku yang paling penting adalah kau seorang, pribadimu sendiri. Entah kau orang baik, entah kau pengemis... bagiku... sama saja!”
Mendengar kata-kata itu, bukan main rasa terharunya Bu Kie. Untuk beberapa saat dia hanya berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya dia berkata,
“Apakah kau mencelakai piauw-moay lantaran cemburu? Lantaran kuatir jika aku akan menikah dengan dia?”
“Thio Toa-kauwcu!” bentak Tio Beng dengan suara keras. “Bukan aku yang mencelakai In-kouwnio. Kau mau percaya, baik. Kalau tidak, ya sudah! Hanya ini keteranganku!”
Bu Kie menghela napas. “Tio-kouwnio,” katanya, “Manusia bukanlah kayu atau batu. Aku tahu cintamu terhadapku. Tetapi apakah sampai hari ini dan di tempat ini, kau masih juga ingin mendustai aku?”
“Dahulu kuanggap diriku pintar. Tapi sekarang aku tahu bahwa di dunia ada hal-hal yang berada di luar taksiran manusia,” kata si nona secara menyimpang. “Bu Kie Koko, biarlah kita jangan berangkat hari ini. Kau tunggu Cia-tayhiap di kamar ini dan aku sendiri akan menunggu Ciu-kouwnio di kamarnya.”
“Mengapa begitu?” tanya Bu Kie heran.
“Kau tidak usah tanya,” jawabnya. “Kau tidak usah kuatir akan keselamatan Han Lim Jie. Aku tanggung dia akan dapat ditolong.“ Seraya berkata begitu ia berjalan keluar dan pergi ke kamar Cie Jiak.
Bu Kie bingung. Dia tidak bisa meraba maksud si nona. Sambil bersandar di pembaringan batu dia mengasah otak. Mendadak di otaknya berkelebat ingatan.
“Apa dia mengatur siasat untuk mencelakai Cie Jiak karena dia tahu aku sudah bertunangan dengan nona Ciu?” pikirnya dalam hati. “Apa tak bisa dia menyuruh Hian-beng Jie-lo datang ke sini untuk membokong Gie-hu dan Cie Jiak?”
Mengingat Hian-beng Jie-lo, rasa kuatirnya semakin menghebat. Kedua kakek itu memiliki kepandaian amat tinggi. Biar pun matanya bisa melihat belum tentu ayah angkatnya dapat menandingi salah seorang dari mereka. Dia melompat bangun lantas berlari ke kamar Tio Beng.
“Tio-kouwnio, ke mana perginya Hian-beng Jie-lo?” tanyanya.
“Mungkin mereka menyusul ke selatan karena agaknya mereka menganggap aku masuk ke daerah Kwan-lwee sesudah aku meloloskan diri,” jawabnya.
“Apa benar?”
“Kalau tidak percaya, perlu apa kau bertanya?”
Bu Kie tertegun. Dia berdiri di depan kamar tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kalau aku mengatakan bahwa aku sudah menyuruh Hian-beng Jie-lo datang ke sini untuk membinasakan Cia-tayhiap dan Ciu-kouwniomu yang tercinta, apa kau percaya?” tanya si nona.
Perkataan itu kena jitu di hati Bu Kie. Sekali menendang, pintu segera terpental. Dengan paras muka merah padam dia berkata.
“Kau...! Kau...!”
Melihat paras yang menakutkan barulah si nona ketakutan. Dia merasa menyesal sudah mengeluarkan kata-kata itu.
“Jangan marah!” katanya terburu-buru. “Aku hanya bercanda.”
Dengan sorot mata laksana pisau Bu Kie menatap wajah si nona. “Tio-kouwnio, bicaralah terang-terangan...“ katanya dengan suara menyeramkan. “Kau tidak takut datang ke sini... kau tidak takut bertemu dan dipadukan dengan Gie-hu. Apakah itu berarti kau sudah tahu bahwa mereka berdua sudah mati, sudah tak ada lagi di dunia ini?” seraya berkata demikian Bu Kie maju beberapa tindak sehingga dengan sekali menghantam dia bisa mengambil jiwa nona Tio.
Tio Beng balas menatap mata pemuda itu. “Thio Bu Kie,” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Aku bicara terus terang padamu. Dalam hal-hal di dunia ini, kecuali kau melihat dengan mata sendiri, kau tidak boleh lantas percaya. Lebih-lebih kau tidak boleh berpikir yang bukan-bukan dan menarik kesimpulan sendiri. Jika kau mau membunuhku, sekarang pun kau boleh turun tangan. Tapi kalau sebentar Gie-humu datang, bagaimana perasaanmu?”
Kemarahan Bu Kie lantas mereda, bahkan dia merasa malu sendiri. “Apa bila Gie-hu tidak kurang suatu apapun, tentu saja aku merasa amat girang,“ katanya dengan suara pelan. “Kau tidak boleh bercanda soal keselamatan ayah angkatku.”
Tio Beng mengangguk. “Memang, memang tidak pantas aku mengeluarkan kata-kata itu,“ katanya. “Kuharap kau suka memaafkan.”
Mendengar permintaan maaf itu, hati Bu Kie lantas lemas. Ia tersenyum dan berkata,
“Untuk kekasaranku, aku pun mohon maaf.“ Sehabis berkata demikian dia segera balik ke kamar Cia Sun.
Semalam suntuk mereka menunggu, namun kedua orang yang ditunggu tak juga kembali. Sesudah sarapan pagi dia segera berdamai dengan Tio Beng.
“Heran sekali,” kata si nona sambil mengerutkan alis. “Selain Kay-pang, di tempat ini tidak terdapat orang Kangouw lainnya. Sebaiknya kita mengejar rombongan Su Hwee Liong dan coba menyelidiki.”
Bu Kie menyetujui usul itu. Setelah membayar uang sewa kamar dia lalu berpesan kepada pengurus rumah penginapan bahwa kalau Cia Sun dan Cie Jiak kembali, supaya mereka menunggu saja di penginapan ini. Tak lama kemudian seorang pelayan menuntun dua ekor kuda yang garang dan bertubuh tinggi besar. Bu Kie merasa kagum dan dia memberi pujian kepada kuda Kwan-gwa yang tersohor itu. Mereka lantas meloncat ke punggung tunggangannya yang segera dikaburkan ke jurusan selatan.
Mereka merupakan pasangan setimpal. Yang lelaki tampan yang perempuan cantik, dan kedua-duanya mengenakan pakaian indah. Yang tidak tahu pastilah akan menduga bahwa mereka adalah suami isteri bangsawan yang sedang pesiar di daerah itu.
Hari itu mereka telah melalui dua ratus li lebih. Malamnya menginap di sebuah penginapan. Keesokan paginya mereka meneruskan perjalanan. Sekitar tengah hari angin dingin mulai bertiup dengan santernya sehingga awan hitam beterbangan di angkasa. Sesudah maju lagi lebih dari dua puluh lie, salju mulai turun. Selama di perjalanan Bu Kie jarang bicara. Meskipun turunnya salju makin besar, dia terus membedal kuda tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Di waktu magrib tebalnya salju hampir sekaki. Meski pun gagah, kedua tunggangannya lelah juga. Apa lagi mereka harus berjalan di gunung yang licin dan saljunya tebal. Bu Kie menahan les dan mengawasi seputarnya. Mereka berada di gunung yang tidak ada manusianya.
“Tio-kouwnio, bagaimana baiknya?” Bu Kie bertanya, “Kalau kita meneruskan perjalanan, kedua binatang ini mungkin akan roboh.”
Si nona tertawa dingin. “Kau hanya memikirkan kuda tetapi tidak mempedulikan manusia,“ jawabnya.
Ditegur begitu, Bu Kie merasa menyesal bercampur malu. “Aku sendiri memiliki Kiu-yang Sin-kang sehingga tidak mengenal letih,” pikirnya. “Benar-benar aku tidak ingat dia.”
Sesudah berjalan lagi beberapa jauh, dari pinggir jalan mendadak melompat keluar seekor kijang yang terus kabur ke atas.
“Tio-kouwnio, kau tunggulah di sini,“ kata Bu Kie. “Aku hendak menangkap kijang itu untuk mengisi perut.“
Dia melompat turun terus mengejar mengikuti tapak di salju. Sesudah membelok di sebuah tanjakan lapat-lapat dia melihat binatang itu berlari ke arah sebuah goa. Dengan sekali mengempos semangat tubuh Bu Kie melesat bagai anak panah dan sebelum kijang itu masuk ke goa, dia sudah berhasil mencekal lehernya. Binatang itu memberontak, tapi tulang lehernya patah dipijit Bu Kie. Dengan menenteng bangkai kijang, Bu Kie kembali.
“Di situ ada sebuah goa yang cukup besar untuk dua orang,“ katanya. “Apa kau setuju jika kita menginap di situ?”
Nona Tio mengangguk. Tiba-tiba mukanya bersemu dadu dan dia memalingkan kepala ke jurusan lain.
MELAWAN EMPAT PAMAN GURU
Sesudah menambatkan kedua kuda di bawah pohon siong, Bu Kie lantas mencari cabang-cabang kayu kering dan membuat perapian di depan goa. Goa yang gelap itu ternyata sangat bersih, bebas dari kotoran binatang. Bu Kie menguliti bangkai kijang, lalu mencuci dagingnya dengan salju dan membakarnya di atas perapian.
Tio Beng membuka baju luarnya yang terbuat dari pada kulit binatang, lalu menggelarnya di lantai goa dan mendudukinya sambil menikmati hawa hangat dari perapian. Tiba-tiba Bu Kie menengok dan mereka berdua saling tersenyum. Senyum yang menghilangkan semua rasa letih dan lelah. Sesudah daging masak mereka segera makan dengan bernapsu. Selang beberapa lama, sambil bersender di dinding goa Bu Kie berkata,
“Kau tidurlah!”
Si nona tertawa manis. Dia bersandar di dinding seberang kemudian memejamkan kedua matanya. Dengan hidung yang kadang mencium wewangian yang keluar dari badan puteri Mongol itu, Bu Kie melirik dengan rasa kagum, karena di bawah sinar api Tio Beng terlihat lebih cantik lagi, seakan-akan sekuntum bunga Hay Thong yang baru saja mekar. Seraya menghela napas dia pun memejamkan mata. Kira-kira tengah malam sayup-sayup dia tersadar dan segera memasang kuping. Dia tahu bahwa yang sedang mendekat adalah empat ekor kuda.
“Di tengah malam buta dan di waktu turun salju mereka berjalan juga,” katanya dalam hati. “Pasti mereka sedang menghadapi urusan penting.”
Makin lama suara itu makin dekat. Sejenak mereka berhenti, kemudian berjalan lagi. Tak salah lagi, kuda-kuda itu menghampiri goa. Bu Kie terkejut sekali.
“Goa ini terletak di tempat tersembunyi,” pikirnya. “Kalau bukan dituntun kijang, aku tak akan bisa menemukannya. Mengapa dan cara bagaimana orang-orang itu bisa datang kemari?” Mendadak dia sadar dan berkata di dalam hati. “Benar! Tentu mereka melihat tapak kaki kami.”
Ketika itu Tio Beng pun tersadar. “Mungkin mereka adalah musuh,” katanya. “Biar pun kita tidak takut, tetapi sebaiknya kita menyingkir.”
“Mereka datang dari selatan,” kata Bu Kie.
“Heran sekali,” kata si nona sambil meraup salju yang lalu digunakan untuk menutup api.
Sementara itu suara kaki kuda telah berhenti dan sebagai gantinya kini terdengar gerakan empat orang. Dalam sekejap mereka sudah mendekati goa.
“Gerakan mereka cepat sekali,” bisik Bu Kie. “Jelas mereka berkepandaian sangat tinggi.” Dia bingung sebab orang-orang itu sudah hampir tiba di depan goa.
Mendadak Tio Beng memegang tangannya lalu menariknya masuk ke dalam. Semakin ke dalam goa itu menjadi kian sempit dan baru saja masuk setombak lebih, mereka bertemu tikungan. Sekonyong-konyong terdengar suara seseorang.
“Ahh...! Di sini ada goa.”
Bu Kie kaget campur girang karena dia segera mengenali bahwa orang yang berbicara adalah paman gurunya yang keempat, Thio Siong Kee!
“Tanda-tanda yang ditinggalkan Cit-te menuju tempat ini,” kata seorang lainnya. “Mungkin sekali Cit-te pernah masuk ke goa ini.” Itulah suara Bu-tong Liok-hiap, In Lie Heng!
Baru saja Bu Kie hendak memanggil, mendadak mulutnya dibekap Tio Beng. “Kita hanya berduaan di sini. Kalau dilihat mereka, merasa tidak enak,” bisik si nona.
Bu Kie menyetujui peringatan itu. Meski pun dia putih bersih, akan tetapi kalau dia dan Tio Beng ditemukan berduaan di sebuah goa, para paman tentu sukar mempercayai kebersihannya. Lagi pula sebagai Kuncu kerajaan Goan, nona Tio pernah memenjarakan para pendekar Bu-tong di Ban-hoat-si sehingga kalau mereka bertemu muka, pertemuan itu merupakan pertemuan antara musuh dengan musuh. Bu Kie segera mengambil keputusan. Begitu para pamannya berlalu, maka dia akan segera berpisah dengan Tio Beng agar dia tidak usah mengalami hal-hal yang tak enak.
“Ihhh...!” Demikian terdengar seruan Jie Lian Ciu. “Di sini ada cabang-cabang siong yang terbakar... Hmm... kulit... darah dan sisa daging kijang.”
“Hatiku rasanya sangat tidak enak,“ kata orang ke empat. “Kuharap saja Cit-te tak kurang apapun.“ Orang itu bukan lain dari pada Song Wan Kiauw.
Jantung Bu Kie berdetak kencang. Empat paman gurunya turun gunung untuk mencari Boh Seng Kok. Dari pembicaraan mereka dapat ditarik kesimpulan bahwa paman guru yang paling kecil itu telah bertemu dengan musuh yang kuat. Dia ikut merasa kuatir.
“Toa-suko tidak usah begitu kuatir,” kata Thio Siong Kee sambil tertawa. “Karena sangat mencintai Cit-te, Toa-suko masih menganggap dia anak kecil. Andai kata ia bertemu dengan musuh tangguh, kurasa Cit-te masih bisa menghadapinya.”
“Aku bukan kuatir akan Cit-te,” kata In Lie Heng. “Yang kupikirkan adalah si bocah Bu Kie yang sekarang tak ketahuan ke mana perginya. Sekarang dia menjadi Kauwcu Beng-kauw. Pohon yang tinggi mengundang angin. Dalam kedudukannya itu tentu ada banyak musuh yang ingin mencelakainya. Meski pun ilmu silatnya tinggi tapi pikirannya terlampau sederhana dan dia tidak tahu betapa hebatnya gelombang Kangouw. Aku kuatir dia kena ditipu orang jahat.”
Bu Kie merasa terharu. Budi kebaikan para pamannya besar bagaikan gunung dan dia tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Mendadak Tio Beng berbisik,
“Aku adalah orang jahat dan sekarang kau sudah ditipu orang jahat. Apa kau tahu?”
“Dalam usahanya mencari Bu Kie, dengan mengambil jalan utara nampaknya Cit-te sudah mendapat jejak,” kata Song Wan Kiauw. “Tapi apa artinya itu delapan perkataan yang ditinggalkannya di rumah penginapan Wie Kek di Tian Cin?”
“Ya...“ kata Thio Siong Kee. “Cit-te mengatakan ‘dalam rumah tangga ada perubahan, kita harus membersihkannya’. Siapa yang dimaksudkan dengan kata-kata itu? Apakah di Bu-tong-pay terdapat manusia keji? Apa Bu Kie...“ dia tidak meneruskan ucapannya, tapi nada suaranya mengunjuk rasa kuatir.
“Kurasa anak Bu Kie tak akan melakukan sesuatu yang merusak rumah perguruan kita,“ kata In Lie Heng.
“Tapi si perempuan siluman Tio Beng terlalu lihai,” kata pula Thio Siong Kee. “Kau jangan lupa bahwa anak Bu Kie masih muda. Seorang muda gampang sekali dipengaruhi kecantikan. Apakah... apakah... ia bertindak seperti ayahnya yang akhirnya binasa mengenaskan...?“
Keadaan berubah sunyi. Yang terdengar hanyalah helaan napas. Beberapa saat kemudian terdengar suara beradunya batu api yang membakar cabang-cabang pohon. Salah seorang pendekar Bu-tong membuat obor yang sinarnya lantas menerangi bagian dalam goa. Biar pun berada di tikungan, sayup-sayup Bu Kie bisa melihat paras muka Tio Beng yang mengunjuk rasa duka campur marah. Dia tahu bahwa perkataan Thio Siong Kee membangkitkan rasa jengkelnya si nona. Dia sendri merasa bingung dan berkata di dalam hati.
“Perkataan Thio Sie Siok memang beralasan. Ibu belum pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas, namun toh dia menyeret ayah sampai binasa. Tio-kouwnio telah membunuh piauw-moay, juga menghina Thay-suhu dan para paman, maka dia tak bisa dibandingkan dengan ibu.“ Berpikir begitu dia menjadi semakin bingung. “Jika mereka menemukan aku bersama Tio-kouwnio di goa ini, walau pun aku mencuci dengan semua air sungai Huang-ho, tetap saja aku tidak dapat membersihkan diri.” Mendadak terdengar suara Song Wan Kiauw yang agak gemetar.
“Sie-te, di hatiku ada sebuah pertanyaan yang tak bisa keluar dari mulutku. Kalau aku mengatakan terang-terangan, aku merasa tidak adil terhadap Ngo-te yang sudah meninggal dunia.”
“Apakah Toako kuatir Bu Kie menurunkan tangan jahat terhadap Cit-te?” tanya Thio Siong Kee dengan suara perlahan.
Song Wan Kiauw tidak menyahut. Meski pun tak melihat, Bu Kie merasa bahwa pamannya manggutkan kepala.
“Anak Bu Kie berwatak mulia dan jujur,“ kata Thio Siong Kee. “Menurut pantas dia takkan melakukan perbuatan keji seperti itu. Tapi Cit-te sangat berangasan dan ceroboh. Apa bila ia mendesak Bu Kie sampai di jalan buntu, ditambah dengan siasat si perempuan siluman Tio Beng, memang... memang... Hai...! Hati manusia tidak dapat dijajaki. Sejak dulu orang gagah sukar melawan paras cantik. Aku hanya berdoa agar Bu Kie bisa mempertahankan diri dalam menghadapi detik-detik penting.”
“Toako, Sieko! Kalian jangan bicara yang tidak-tidak!” kata In Lie Heng. “Belum tentu Cit-te mengalami bencana.”
“Tapi sedari melihat pedang Cit-te, aku tak enak tidur,” kata Song Wan Kiauw.
“Memang benar,” menyambung Jie Lian Ciu. “Orang-orang rimba persilatan sekali-kali tak boleh lalai terhadap senjatanya. Kita tidak boleh meletakkan senjata sembarangan saja. Apa lagi pedang itu hadiah Suhu. Kata orang, pedang ada orangnya hidup, pedang hilang orangnya...“ mendadak dia berhenti bicara dan perkataan ‘mati’ yang hampir keluar cepat-cepat ditelan lagi olehnya.
Mendengar kecurigaan empat paman guru terhadap dirinya, Bu Kie makin bingung dan berduka. Sekonyong-konyong dari dalam goa keluar semacam bau wangi bercampur dengan bau anak binatang, sepertinya goa itu pernah atau memang sedang didiami binatang. Karena kuatir wewangian itu terendus para pamannya, sambil menahan napas dan mencekal sebelah tangan Tio Beng, Bu Kie masuk lebih jauh ke dalam goa. Supaya tidak tersandung batu yang menonjol, sambil berjalan Bu Kie meraba-raba lantai goa dengan tangan kirinya. Sesudah beberapa langkah dan baru saja membelok di sebuah tikungan lain, tangannya menyentuh benda lembek seperti tubuh manusia. Bu Kie terkesiap.
“Tidak peduli orang ini sahabat atau musuh, sedikit saja dia bersuara pastilah para paman akan mendengarnya,” katanya di dalam hati.
Bagaikan kilat ia menotok lima ‘hiat’ di dada orang itu kemudian mencekal tangannya dan hatinya mencelos karena tangan itu dingin seperti es. Tangan orang mati! Dengan bantuan sinar remang-remang yang menembus dari luar ia mengawasi mukanya. Tiba-tiba Bu Kie menggigil. Lapat-lapat ia seperti melihat muka Boh Seng Kok! Tanpa menghiraukan bahaya lagi ia mendukung jenazah itu, lalu maju beberapa tindak ke tempat yang lebih terang.
Sekarang ia mendapat kepastian bahwa jenazah itu adalah Boh Seng Kok yang mukanya pucat dan matanya belum tertutup. Perasaan marah dan duka bergolak-golak di dada pemuda ini, untuk sejenak ia berdiri terpaku. Beberapa tindakan Bu Kie ini sudah didengar oleh keempat pendekar Bu-tong.
“Siapa?!” bentak Jie Lian Ciu. Dengan serentak mereka menghunus pedang.
Bu Kie mengeluh, “Jika ditemukan, aku pasti tidak bisa mengelakkan tuduhan membunuh paman,” pikirnya.
Pada detik itu di otaknya berkelebatan berbagai ingatan. Dadanya menyesak dengan kedukaan yang amat hebat karena ia ingat budi kecintaan Boh Seng Kok terhadap dirinya.
Dalam menghadapi bahaya Tio Beng bisa berpikir cepat. Tiba-tiba ia melompat kemudian menerjang sambil memutar pedang. Bagaikan kilat dia mengirim empat serangan dengan pukulan-pukulan Go-bi Kiam-hoat yang paling hebat. Baru saja keempat pendekar Bu-tong menangkis, dia telah menerobos keluar dan sambil mengelakkan tikaman Thio Siong Kee, dia melompat ke punggung kuda lantas menendang perut tunggangan itu dengan kakinya sehingga kuda itu kabur sekencang-kencangnya.
Tiba-tiba dia merasa punggungnya sakit dan matanya berkunang-kunang. Sambil mendekam dan memeluk leher kuda dia mempertahankan diri dan kabur terus. Ternyata dia sudah kena pukulan Jie Lian Ciu yang meski pun kenanya tidak telak, tetapi dia terluka berat. Sementara itu sambil berteriak-teriak keempat pendekar Bu-tong mengejar menggunakan ilmu mengentengkan badan.
“Makin jauh aku lari, semakin gampang pula dia meloloskan diri,” kata Tio Beng di dalam hati. “Untung juga semua orang mengejarku.”
Ketika si nona menerjang ke luar, hati Bu Kie langsung mencelos. Di lain saat barulah dia mengerti bahwa Tio Beng telah mempergunakan tipu muslihat untuk memancing harimau meninggalkan gunung guna menolong dirinya. Sambil mendukung jenazah Boh Seng Kok buru-buru dia lari keluar dan terus kabur ke jurusan barat sebab para pamannya mengejar ke arah timur. Sesudah melalui kurang lebih dua li, Bu Kie berhenti lalu menaruh jenazah itu di belakang sebuah batu besar. Sesudah itu dia kembali ke jalanan tadi dan memanjat sebuah pohon. Lama dia bersembunyi di situ sambil mengucurkan air mata.
“Ahh! Sungguh malang nasib Bu-tong-pay!” pikirnya. “Siapakah yang telah membinasakan Cit-susiok?”
Berselang sekitar setengah jam dia mendengar suara kaki kuda yang mendatangi utara dari tenggara. Tidak lama kemudian dia melihat dua ekor kuda dengan empat penunggangnya: Song Wan Kiauw dan Jie Lian Ciu menunggang seekor kuda, In Lie Heng dan Thio Siong Kee menunggang kuda yang lain.
“Sesudah kena pukulanku, perempuan siluman itu jatuh ke jurang,” demikianlah terdengar suara Jie Lian Ciu. “Kurasa dia tidak akan bisa hidup lagi.”
“Hari ini barulah kita bisa mencuci hinaan di Ban-hoat-si,” kata Thio Siong Kee. “Tapi perlu apa dia bersembunyi di goa itu? Aku benar-benar merasa heran.”
“Tapi Sie-ko, apakah kau tidak bisa menebak-nebak?” tanya In Lie Heng.
“Tidak bisa,” jawabnya. “Bagi kita, binasanya perempuan siluman itu tidak begitu penting. Kita baru bisa girang kalau kita bisa menemukan Cit-te.“ Makin lama mereka semakin jauh hingga akhirnya Bu Kie tidak dapat mendengar lagi pembicaraan mereka.
Setelah menunggu beberapa lama lagi barulah Bu Kie turun dari pohon. Dengan mengikuti tapak-tapak kaki di atas salju, dia lantas berlari-lari ke arah timur. Dia sangat kuatir akan keselamatan Tio Beng dan berkata dalam hatinya. “Biar pun jahat tapi kali ini dia menolong jiwaku. Kalau karena aku dia mengantarkan jiwa, aku sungguh...“ Berpikir begitu dia berlari makin kencang dan sesudah melalui kira-kira lima li, akhirnya dia bertemu dengan sebuah tebing.
Tapak-tapak di sekitarnya kelihatan kalang kabut, sedangkan di sisi tebing terdapat tanda-tanda dari gugurnya tanah dan batu. Bu Kie tahu bahwa karena terdesak, Tio Beng terjun ke bawah bersama kudanya.
“Tio-kouwnio! Tio-kouwnio!” teriaknya. Tapi dia tidak mendapat jawaban.
Dia lalu melongok ke dalam jurang. Di tengah malam dia tidak dapat melihat dasar jurang yang dindingnya sangat terjal dan tidak punya tempat untuk menaruh kaki. Tapi Bu Kie sudah nekat. Seraya menarik napas dalam-dalam dia turunkan kedua kakinya kemudian merosot ke bawah sambil bersandar di dinding jurang. Perbuatan itu tentu amat berbahaya, tapi dia tidak berpikir panjang. Seraya merosot dia mengerahkan lweekang dan berusaha keras untuk menancapkan sepuluh tangannya di es yang keras.
Dia berhasil dan setelah berhenti sejenak, dia pun merosot lagi. Kejadian ini berulang lima enam kali hingga akhirnya dia tiba di dasar jurang. Tiba-tiba dia melompat karena kakinya menyentuh sesuatu yang lembek. Dengan meraba-raba dia mendapat tahu bahwa kakinya menginjak paha kuda dan Tio Beng sendiri masih mendekam pada punggung kuda sambil memeluk leher binatang itu. Cepat-cepat dia menyelidiki pernapasan si nona dan dia pun merasa agak lega. Meski pun pingsan tetapi gadis itu masih bernapas. Untung sekali si nona terus memeluk leher kuda sehingga ketika jatuh, yang terpukul hebat adalah binatang yang mati seketika itu juga.
Bu Kie segera memeriksa nadi Tio Beng. Dia merasa girang karena mendapat kenyataan bahwa meski pun terluka berat tapi jiwa si nona tak akan terancam. Dia cepat mendukung gadis itu, menempelkan sepasang telapak tangannya dengan telapak tangan Tio Beng lalu mengerahkan tenaga dalam mengobati lukanya. Bu Kie bukan saja mempunyai lweekang yang sangat kuat, tetapi juga mahir dalam ilmu ketabiban. Karena itu, sesudah dibantu kira-kira setengah jam dengan lweekang Bu-tong-pay yang murni, perlahan-lahan Tio Beng tersadar. Sesudah itu Bu Kie lalu memasukkan Kiu-yang Cin-khie ke dalam tubuh si nona. Setengah jam kemudian fajar menyingsing.
“Uahh...!” tiba-tiba Tio Beng muntah darah, kini dia tersadar sepenuhnya. “Apakah mereka sudah pergi? Apakah mereka bertemu dengan kau?” bisiknya.
Mendengar pertanyaan yang penuh kasih sayang itu, bukan main rasa terharunya Bu Kie.
“Mereka tidak menemukan aku,” jawabnya. “Ahh...! Karena aku, kau sangat menderita...“ Selagi bicara dia tetap mengirim Cin-khie ke tubuh si nona.
Dengan bibir tersungging senyuman Tio Beng pejamkan matanya. Kaki tangannya lemas, tetapi dada serta perutnya terasa hangat dan dia merasa nyaman sekali. Sesudah ‘hawa tulen’ itu berputar beberapa kali di dalam tubuhnya, dia memutar kepalanya lantas berkata sambil tersenyum.
“Kau mengasolah. Aku sudah banyak mendingan.”
Mendadak rasa terima kasih yang sangat besar bergelombang di dada Bu Kie. Dia memeluk erat-erat dan menempelkan pipinya pada pipi si nona.
“Kau sudah menolong nama baikku. Pertolongan itu sepuluh kali lipat lebih berharga dari pada pertolongan jiwa,” bisiknya.
Tio Beng tertawa geli. “Aku perempuan jahat, bagiku nama baik tidak menjadi soal. Yang penting adalah jiwa.”
Pada saat itulah dari atas jurang tiba-tiba terdengar bentakan. “Perempuan siluman! Benar saja ternyata kau belum mampus! Bagaimana kau mencelakai Boh Cit-hiap? Lekas mengaku!”
“Jangan perlihatkan mukamu!” bisik nona Tio.
“Perempuan bangsat!” Teriak Thio Siong Kee. “Jika kau tidak menjawab maka kami akan menghantam dengan batu besar!”
Tio Beng mengawasi ke atas. Benar saja, Song Wan Kiauw berempat kelihatan berdiri di pinggiran tebing dengan memegang sebuah batu besar. Jika mereka menimpuk maka jiwanya dan jiwa Bu Kie akan segera melayang.
“Robek baju kulit ini untuk menutupi mukamu,” bisiknya. “Sesudah itu barulah kita kabur.”
Bu Kie segera melaksanakan nasihat si nona. Setelah memakai topeng, dia menekan topi kulitnya ke bawah sampai melewati dahi. Mengapa empat pendekar Bu-tong itu balik kembali? Karena mereka memiliki pengalaman luas!
Sesudah Tio Beng jatuh ke jurang, mereka sengaja menyingkir jauh-jauh. Namun mereka tahu bahwa sebagai seorang puteri kerajaan Goan, si nona pasti tidak berjalan sendirian. Dia pasti mempunyai orang-orang yang melindunginya secara diam-diam. Demikianlah, sesudah berjalan beberapa li, mereka lalu kembali dan sesudah menambat tunggangan mereka pada dahan pohon, mereka membuat obor dan memeriksa goa bekas tempat persembunyian Tio Beng. Di dalam goa itu mereka menemukan bangkai dua ekor rase yang badannya rusak akibat gigitan binatang, entah binatang apa. Bau wangi rase itu masih belum hilang.
Sesudah menyelidiki, mereka lalu keluar dari goa dan terus mengikuti tapak kaki Bu Kie. Akhirnya mereka dapat menemukan jenazah Boh Seng Kok yang kaki tangannya tergigit binatang. Kemarahan dan kedukaan mereka sulit dilukiskan, bahkan In Lie Heng menangis tersedu-sedu dan akhirnya roboh pingsan.
“Meski pun berkepandaian tinggi, seorang diri perempuan siluman itu takkan dapat membinasakan Cit-te,” kata Jie Lian Ciu sambil menyusut air mata. “Lak-te, jangan terlalu berduka. Sekarang kita harus mencari semua musuh dan membinasakan mereka untuk membalaskan sakit hati Cit-te.”
“Sebaiknya kita bersembunyi di sekitar goa ini dan menanti sampai fajar,” kata Thio Siong Kee. “Menurut dugaanku, kaki tangan perempuan siluman pasti akan datang ke sini untuk mencarinya.”
Di antara ketujuh pendekar Bu-tong, Siong Kee-lah yang paling berakal budi. Mendengar usul itu, Song Wan Kiauw bertiga berhenti menangis dan dengan berpencaran lalu menyembunyikan diri di belakang batu dekat mulut goa. Tapi sampai fajar menyingsing, tiada manusia yang datang ke situ. Dengan mendongkol keempat jago Bu-tong itu lalu pergi ke tebing untuk mengamat-amati. Tiba-tiba mereka terkejut sebab sayup-sayup mereka mendengar suara manusia di bawah jurang. Pada waktu melongok ke bawah, mereka melihat seorang pria yang mengenakan pakaian indah sedang memangku Tio Beng.
Buru-buru mereka mengambil batu besar dan mengancam. Mereka tidak lantas menimpuk karena ingin menyelidiki sebab musabab kebinasaan Boh Seng Kok. Jurang itu menyerupai sebuah sumur yang berdinding batu. Hanya di sudut barat terdapat sebuah jalanan keluar yang sangat sempit.
“Anjing Goan!” bentak Thio Siong Kee. “Naik dari jalan itu! Kalau bertingkah maka kami akan menghabisi jiwa kalian dengan batu-batu ini.“
Karena pakaiannya indah, Thio Siong Kee menganggap Bu Kie orang Mongol. Bu Kie sendiri bingung bukan main. Di dasar jurang tidak terdapat tempat persembunyian yang bagaimana pun juga. Kalau para pamannya menimpuk, meski pun dia sendiri dapat menyelamatkan diri tapi Tio Beng akan binasa. Lantaran tidak melihat jalan lain lagi, maka dengan terpaksa, perlahan-lahan ia memanjat ke atas sambil mendukung Tio Beng.
Ia sengaja tidak memperlihatkan kepandaiannya. Kadang ia berlagak terpeleset dan napasnya tersengal-sengal seperti orang kecapaian. Sesudah jatuh bangun beberapa kali barulah kakinya menginjak tanah datar. Menurut perhitungan, begitu keluar dari mulut jurang dia ingin segera melarikan diri sambil menggendong Tio Beng. Dengan mempergunakan ilmu ringan badannya yang tinggi, dia masih ungkulan untuk meloloskan diri dari kejaran.
Tapi Thio Siong Kee pintar luar biasa. Sejak tadi dia sudah melihat bahwa orang Mongol itu berpura-pura dan dia telah memberi isyarat agar ketiga saudara seperguruannya waspada. Maka itu, begitu Bu Kie menginjak bumi dia sudah dikurung dengan empat pedang yang ujungnya terpisah kira-kira satu kaki dari tubuhnya.
“Bangsat Tat-cu!” caci Song Wan Kiauw dengan suara gemetar. “Apakah dengan memakai topeng kau kira akan mampu melarikan diri? Siapa yang membunuh Boh Cit-hiap? Lekas mengaku! Kalau kau berdusta akan kucincang badanmu!”
Sesungguhnya Song Wan Kiauw berwatak sabar dan welas asih. Hanya sesudah melihat kebinasaan Boh Seng Kok yang begitu mengenaskan maka ia mengeluarkan cacian yang menyeramkan. Selama puluhan tahun baru sekarang dia memperlihatkan kemarahan yang sedemikian hebat.
Tio Beng menghela napas. “Kalupawa-ciangkun,” katanya. “Tidak ada jalan lain lagi untuk meloloskan diri, maka sekarang kau boleh mengaku terus terang!” Sesudah itu ia berbisik di kuping Bu Kie, “Gunakan ilmu silat Seng-hwee-leng.”
Tak usah dikatakan lagi, jika bisa tentu Bu Kie tak ingin bertempur melawan paman-pamannya. Tapi sekarang sudah terdesak di jalan buntu. Sambil menggigit gigi ia melemparkan tubuh Tio Beng ke arah In Lie Heng dan seraya berjungkir balik tangannya menyambar lengan Thio Siong Kee. Dengan kaget In Lie Heng menyambut tubuh nona Tio. Sesudah tertegun sejenak dia pun menotok jalan darah si nona kemudian melontarkannya di tanah.
Sementara itu Bu Kie sudah mengeluarkan ilmu silat Seng-hwee-leng yang amat aneh. Ia meninju Song Wan Kiauw, menendang Jie Lian Ciu, menyeruduk Thio Siong Kee dengan kepalanya dan merampas pedang In Lie Heng. Keempat pendekar Bu-tong itu adalah ahli-ahli silat kelas satu yang berpengalaman luas. Tapi mereka sangat kerepotan dan hampir-hampir tidak bisa membela diri dalam menghadapi ilmu silat Seng-hwee-leng.
Dalam pertempuran di Leng-coa-to. Bu Kie yang memiliki Kiu-yang Sin-kang dan Kian-kun Tay-lo-ie masih tidak dapat melawan Sam-su dari Persia yang baru mempelajari sebagian ilmu Seng-hwee-leng. Sekarang Bu Kie sudah menyelami seluruh ilmu yang tertera pada keenam Seng-hwee-leng dan kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Sam-su.
Pada hakekatnya ilmu Seng-hwee-leng bukanlah ilmu yang sangat aneh dan sukar diraba. Mana kala ilmu tersebut digunakan orang biasa, orang itu bukan tandingan pendekar Bu-tong yang terkenal ahli lweekang kelas utama. Tapi Bu Kie bukan orang biasa. Dia memiliki Kiu-yang Sin-kang, mahir Kian-kun Tay-lo-ie dan paham segala ilmu dari Bu-tong-pay. Karena itulah setiap serangannya merupakan serangan berbahaya dan ditujukan ke bagian-bagian yang kosong dari garis pembelaan keempat pendekar itu. Sesudah bertanding kurang lebih dua puluh jurus, serangan Bu Kie semakin hebat dan bertambah aneh.
Tio Beng yang menggeletak di tanah mendadak berteriak, “Kalupuwa-ciangkun, sekarang mereka baru tahu kelihaian ilmu silat Mongol! Hajar mereka! Jangan sungkan-sungkan!”
Keempat pendekar Bu-tong mendongkol bukan main. Akan tetapi mereka tak bisa berbuat banyak. Kian lama mereka makin terdesak.
“Bela diri dengan Thay-kek-kun!” seru Thio Siong Kee.
Keempat pendekar Bu-tong lantas merubah cara bersilat mereka. Sekarang mereka membela diri secara rapat sekali dengan memainkan ilmu gubahan Thio Sam Hong yang sangat lihai itu. Sekonyong-konyong Bu Kie duduk di tanah, kedua tinjunya meninju-ninju dadanya sendiri!
Selama menjagoi rimba persilatan, para pendekar Bu-tong pernah mengukur tenaga dengan banyak sekali ahli silat yang tangguh dan pernah melayani entah berapa banyak pukulan yang aneh-aneh. Tetapi baru sekarang mereka menyaksikan cara berkelahi yang aneh dari ‘Tat-cu’. Duduk di tanah sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Jangankan melihat, bahkan belum pernah mendengar pukulan yang luar biasa itu.
Sebelum Bu Kie mengeluarkan ilmu silatnya yang luar biasa itu, empat pendekar Bu-tong telah memasukkan pedang mereka ke dalam sarungnya dan membela diri dengan tangan kosong. Kini melihat Bu Kie duduk di tanah sambil memukul-mukul dada, dalam kaget dan herannya serentak mereka menghunus pedang lantas menikam. Hampir berbareng tiga batang pedang Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu, dan Thio Siong Kee menyambar tubuh Bu Kie. Pedang In Lie Heng sudah dirampas dan dilemparkan oleh Bu Kie, tetapi di pinggangnya masih tergantung pedang Boh Seng Kok. Ia segera menghunus pedang itu dan turut menikam.
Pada detik yang sangat berbahaya, mendadak Bu Kie menyapu salju dengan kakinya dan salju itu muncrat berhamburan ke empat penjuru.
Itulah salah satu pukulan Seng-hwee-leng yang dinamakan Hui-see Coan-siang-tui (pasir terbang menggulung rombongan pedagang). Ilmu ini dulu sering digunakan si orang tua dari pegunungan untuk merobohkan rombongan pedagang yang lewat di padang pasir dengan menggunakan unta.
‘Si orang tua dari pegunungan’ adalah perampok besar. Kalau melihat iring-iringan pedagang, dia segera duduk di pasir dan menangis tersedu sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Rombongan pedagang itu tentu saja lantas berhenti dan menanyakan sebab musababnya. Selagi orang tidak waspada, ‘Si orang tua dari pegunungan’ tiba-tiba menyapu pasir dengan kakinya sehingga pasir muncrat berhamburan dan masuk ke mata pedagang-pedagang itu.
Selagi korban-korbannya belum dapat membuka mata, dia menyerang sehebat-hebatnya. Dengan sekali pukul dia bisa membinasakan puluhan orang. Inilah asal-usul Hui-see Coan-siang-tui dan sebagai gantinya pasir, Bu Kie menggunakan salju. Berbareng dengan muncratnya salju, keempat pendekar Bu-tong lantas kelilipan sehingga tidak bisa membuka mata. Tapi sebagai jago-jago ulung gerakan mereka cepat luar biasa dan serentak melompat ke belakang.
Tapi kalau mereka cepat, Bu Kie lebih cepat lagi. Bagaikan kilat dia memeluk kedua lutut Jie Lian Ciu dan selagi menggulingkan diri, dia sudah menotok tiga hiat besar di tubuh Jie Lian Ciu. Hampir berbareng dia berjungkir dan selagi badannya melayang turun, lutut kanannya menggentus Ngo-cu-hiat dan Sin-kong-hiat pada tubuh In Lie Heng yang matanya lantas berkunang-kunang dan roboh di tanah.
Song Wan Kiauw tidak bisa menggunakan pedangnya lagi, tapi tangan kirinya menghantam kepala si Tat-cu. Tetapi sebelum pukulan itu mampir pada sasaran, tiba-tiba dadanya kesemutan dan jalan darahnya sudah kena disikut Bu Kie. Tak kepalang kagetnya Thio Siong Kee. Dalam sekejap saja tiga saudara seperguruannya dibikin tidak berdaya. Ia mengerti bahwa biar bagaimana pun juga, dengan seorang diri ia bukan tandingan musuh yang tangguh ini. Tapi ia tentu tidak bisa kabur sendirian dengan meninggalkan saudara-saudaranya. Dengan nekat ia segera mengirim tiga tikaman berantai.
Pada saat itu Thio Siong Kee sudah di jalan buntu dan sedang menghadapi bahaya besar. Tindakannya tetap, sikapnya tenang dan serangannya hebat, sesuai dengan kemestian.
Melihat itu di hati Bu Kie bersorak. “Ilmu silat Bu-tong benar-benar luar biasa. Jika tidak memiliki silat yang aneh ini, mungkin sekali aku tidak bisa melawan para pamanku.”
Tiba-tiba Bu Kie memutar kepalanya, membuat lingkaran-lingkaran. Thio Siong Kee tidak mempedulikan, dia sengaja tidak mau melihat lingkaran-lingkaran itu. Dengan kecepatan luar biasa mendadak dia menikam dada Bu Kie. Bu Kie menundukkan kepala, seolah-olah dia hendak memapaki tikaman itu dengan batok kepalanya. Pada waktu ujung pedang hampir menyentuh kulit kepala, sekonyong-konyong dia membuang diri ke tanah sambil menubruk ke depan. Hampir berbareng empat hiat di perut dan betis kiri Thio Siong Kee kena tertotok dan tanpa ampun lagi dia langsung jatuh terjengkang.
MENCUCI DIRI MEMBERSIHKAN NAMA
Bu Kie maklum bahwa empat totokan itu hanya dapat melumpuhkan bagian bawah tubuh pamannya. Selagi dia mau menotok Tiong-kie-hiat dan Tho-to-hiat pada bagian punggung, mendadak Thio Siong Kee mengeluarkan teriakan menyayat hati, kedua matanya terbalik, tubuhnya gemetaran dan sesaat kemudian napasnya habis. Hati Bu Kie mencelos, empat totokannya tidak akan melukai sang paman. Apakah pamannya memang sudah sakit dan penyakitnya kambuh kembali karena ditotok? Keringat dingin membasahi bajunya dan dengan tangan gemetar dia meraba kepala pamannya.
Siong Kee menyambar dan topeng Bu Kie terlocot! Mereka saling pandang dengan mata membelalak. Tidak lama kemudian Thio Siong Kee berkata dengan suara parau.
“Thio Bu Kie... kau...! Kasih sayang kami terhadap kau ternyata sia-sia...“ Nada suara itu mengunjuk rasa duka dan marah tiada taranya. Sambil menatap wajah Bu Kie, air mata pendekar Bu-tong itu mengalir turun di kedua pipinya.
Tadi sesudah dirobohkan dia mengambil keputusan melocotkan topeng musuh agar jika mesti mati, dia ingin mati setelah melihat wajah lawannya. Maka itu dia berlagak mati hingga akhirnya berhasil menjambret topeng Bu Kie. Di lain pihak, Bu Kie yang berwatak polos tidak pernah menduga bahwa dia akan diakali begitu. Pada waktu itu penderitaan Bu Kie jauh lebih hebat dari pada penderitaan jasmaniah yang paling hebat. Bagai orang hilang ingatan dia hanya berkata dengan suara perlahan,
“Bukan aku... Sie-supek... bukan aku yang membunuh Cit-susiok... “
Thio Siong Kee tertawa terbahak-bahak. “Bagus...! Bagus...!“ serunya. “Lekas kau bunuh kami semua! Toako! Lak-te! Kau sudah lihat bahwa manusia yang kita namakan Tat-cu bukan lain dari pada anak Bu Kie yang kita cintai.”
Song Wan Kiauw, Jie Lian Ciu dan In Lie Heng yang badannya tidak dapat bergerak hanya mengawasi dengan mata melotot dan muka merah padam. Hebat sungguh kedudukan Bu Kie. Tiba-tiba serupa ingatan pendek berkelebat di otaknya. Lebih baik mati! Tapi sebelum menjemput pedang dan menggorok leher, tiba-tiba Tio Beng berkata,
“Thio Bu Kie! Dalam menghadapi penasaran, seorang laki-laki harus sanggup mempertahankan diri. Di dunia ini, air surut batu kelihatan. Kau harus berusaha membinasakan penjahat yang membunuh Boh Cit-hiap untuk membalaskan sakit hatinya. Hanya dengan berbuat begitu barulah kau tak percuma menerima kasih sayang para pendekar Bu-tong.”
Bu Kie terkejut. Ia menyetujui pendapat Tio Beng. “Tapi apakah yang harus kita perbuat?” tanyanya. Sambil bertanya begitu ia menghampiri lalu mengurut punggung serta pinggang si nona untuk membuka jalan darahnya yang tertotok.
“Kau tidak usah terlalu bingung,” bujuk Tio Beng dengan suara lemah lembut. “Di kalangan Beng-kauw terdapat banyak orang pandai, sedang aku pun mempunyai banyak pembantu yang berkepandaian tinggi. Penjahat itu pasti akan bisa dibekuk.”
“Thio Bu Kie!” Teriak Siong Kee. “Kalau di hatimu masih terdapat rasa kasihan, kau bunuhlah kami dengan segera! Aku tidak kuat menyaksikan kau bercinta-cintaan dengan perempuan siluman itu.”
Paras muka pemuda itu pucat bagaikan mayat. Ia benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Tindakan pertama yang harus kita lakukan adalah mencoba menolong Han Lim Jie,” kata Tio Beng. “Sesudah itu barulah kita berusaha mencari ayah angkatmu. Di sepanjang jalan kita boleh menyelidiki penjahat yang membunuh Boh Cit-hiap, juga yang membunuh Piauw-moaymu.”
“Apa...? Apa...?“ tanya Bu Kie dengan suara terputus-putus.
“Apakah engkau membunuh Boh Cit-hiap?” Tio Beng balas bertanya dengan suara dingin. “Mengapa keempat pamanmu menuduh kau? Apa In Lee dibunuh olehku? Mengapa kamu menuduh aku? Apakah hanya kau seorang yang boleh penasaran terhadap orang lain dan orang lain tidak boleh merasa penasaran terhadapmu?” kata-kata itu bagaikan halilintar di tengah hari bolong.
Sekarang sesudah mengalami sendiri barulah dia mengakui bahwa di dunia yang lebar ini sering terjadi kejadian-kejadian yang amat kebetulan, yang tidak bisa dikira oleh manusia. Sekarang dia sendiri menerima tuduhann berat. Dia tidak berdosa, tetapi dia tidak berdaya membersihkan diri.
“Apakah... apakah Tio-kouwnio seperti aku...?“ tanyanya di dalam hati.
“Apakah keempat pamanmu bisa membuka sendiri totokanmu?” tanya pula Nona Tio.
Bu Kie menggelengkan kepala. “Tidak,” jawabnya. “Totokanku dari ilmu Seng-hwee-leng. Supek dan Susiok tidak akan dapat membukanya. Tetapi totokan itu akan terbuka sendiri sesudah lewat dua belas jam.”
“Jalan satu-satunya bagi kita adalah menaruh keempat pamanmu di goa, kemudian kita segera menyingkirkan diri,” kata Tio Beng. “Sebelum berhasil menemukan penjahat yang berdosa, kau tidak boleh bertemu muka lagi dengan dia.”
“Tapi di goa itu sering keluar masuk binatang,” kata Bu Kie. “Pada jenazah Boh Cit-susiok terdapat tanda-tanda gigitan.”
“Ahh! Otakmu sudah tidak bisa bekerja lagi!” kata si nona tak sabar. “Kalau salah seorang dari keempat pamanmu dapat menggerakkan tangannya dan di dalam tangannya terdapat sebatang pedang, apakah binatang buas akan bisa melukai mereka?”
Muka Bu Kie berubah merah. Ia mengangguk dan menjawab. “Benar, kau benar.“
Sesudah berkata begitu ia mendukung tubuh keempat pamannya dan menaruh mereka di belakang sebuah batu besar supaya terbebas dari serangan salju.
“Tak usah kau berlagak baik. Bunuh saja kami!” teriak Siong Kee.
Bu Kie tidak menjawab melainkan hanya mengucurkan air mata. Tio Beng tak bisa menahan sabarnya lagi.
“Kalian adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi di rimba persilatan dan aku sungguh tak mengerti mengapa kalian begitu tolol,” katanya. “Kalau benar Bu Kie membunuh Boh Cit-hiap, bukankah dengan mudah saja dia bisa membinasakan kalian semua untuk menutup mulut kalian? Kalau dia tega membunuh Boh Cit-hiap, apakah dia tidak tega membunuh kalian? Kalau kalian terus mencaci maka akan kugaplok muka kalian satu persatu. Aku perempuan siluman, aku dapat melakukan apa yang kukatakan. Dulu waktu kalian berada di Ban-hoat-si, karena memandang muka Thio-kongcu aku memberikan perlakuan istimewa kepada orang-orang Bu-tong-pay. Kalian lihatlah jari tangan jago-jago Siauw-lim, Kun-lun, Go-bi, Hoa-san dan Khong-tong yang kuputuskan. Tapi terhadap pendekar-pendekar Bu-tong, aku membuat pengecualian. Di bagian mana perlakuanku terhadap kalian kurang sempurna? Bilang!”
Song Wan Kiauw berempat saling pandang. Di dalam hati mereka masih berpendapat bahwa Boh Seng Kok dibunuh oleh Bu Kie, tapi mereka kuatir Tio Beng benar-benar akan menggaplok mereka. Seorang gagah boleh dibinasakan, tapi tidak boleh dihina. Kalau sampai mereka digaplok si perempuan siluman, mereka benar-benar merasa terhina. Oleh sebab itu mereka lantas berhenti mencaci. Tio Beng tersenyum sambil berkata,
“Ambillah tunggangan kita untuk membawa keempat pamanmu ke goa.”
Bu Kie terlihat sangsi. “Lebih baik kudukung mereka,” katanya.
Si nona tahu maksud perkataannya. Dia tertawa dingin kemudian berkata, “Apakah karena berkepandaian tinggi kau merasa dengan seorang diri bisa membawa empat orang sekaligus? Aku tahu, kau kuatir begitu kau pergi, aku akan membunuh paman-pamanmu. Kau belum pernah menaruh kepercayaan pada diriku. Baiklah, aku yang pergi mengambil kuda dan kau tunggu di sini.”
Mendengar perkataan yang jitu itu, sekali lagi muka Bu Kie berubah merah. Tapi memang benar bahwa dia tidak berani menyerahkan keempat pamannya ke tangan si nona yang angin-anginan. Maka itu dia lantas saja berkata,
“Terima kasih banyak jika kau sudi mengambil kuda-kuda itu. Aku menunggu di sini.”
“Hmm...!“ Si nona mengeluarkan suara di hidung. “Kau begitu mulia, tapi orang tetap tidak percaya kepadamu. Kau begitu baik hati, tapi orang tetap menganggap kau seperti anjing.“ Sehabis berkata begitu dia berjalan pergi.
Bu Kie tidak meladeni. Dengan hati masgul dia megawasi bayangan si nona. Sekonyong-konyong terdengar suara larinya kuda dari selatan dan didengar dari suaranya jumlah kuda sedikitnya ada tiga ekor. Tio Beng pun sudah mendengarnya, karenanya dia buru-buru kembali dan berkata,
“Ada orang!” seraya berkata begitu dia lari ke belakang batu lalu berjongkok di samping Bu Kie. Melihat separuh badan Jie Lian Ciu berada di luar batu, dia segera menariknya.
“Jangan sentuh tubuhku!” bentak Jie-hiap dengan mata melotot.
Si nona tertawa. “Aku justru ingin memegang tubuhmu,” katanya. “Aku mau lihat apa yang bisa kau perbuat.”
“Tio-kouwnio! Jangan kurang ajar terhadap Supek-ku!” bentak Bu Kie.
Tio Beng tertawa dan mengeluarkan lidahnya. Sesaat itu seorang penunggang kuda nampak mendatangi dengan dikejar dua orang lain. Dalam jarak kira-kira tiga puluh tombak Bu Kie yang bermata jeli sudah mengenali.
“Song Ceng Su Toako!” bisiknya.
“Tahan kudanya!” kata Tio Beng.
“Untuk apa?” tanya Bu Kie.
“Jangan banyak tanya. Apakah kau sudah lupa pembicaraan di ruangan kelenteng Bie-lek-hud?” kata si nona.
Bu Kie sadar, menjemput sepotong es lalu menimpuk. Timpukan itu kena tepat di kaki depan kuda Song Ceng Su yang langsung saja berlutut. Song Ceng Su melompat turun lalu mencoba membangunkan tunggangannya, tetapi kuda itu tidak bisa berdiri lagi sebab tulangnya patah. Melihat pengejarnya sudah datang, cepat Song Ceng Su segera melarikan diri. Tetapi dia tidak dapat lari jauh karena Bu Kie sudah menimpuk lagi dan potongan es mampir tepat pada jalan darah di betis kanannya. Hampir berbareng dengan robohnya Song Ceng Su, kedua pengejar itu telah menyandak. Mereka adalah Tan Yu Liang dan Ciang-pun Liong-tauw.
“Sungguh heran!” kata Bu Kie dalam hati. “Mereka bertiga bersama-sama pergi ke Tiang-pek-san untuk mencari racun. Mengapa yang seorang lari dikejar oleh yang dua?” sejenak kemudian dia mendapat pikiran lain. “Ya, mungkin sekali Song Toako sudah sadar dan insyaf bahwa dia tidak boleh melakukan perbuatan terkutuk. Untung sekali dia lari ke sini. Aku harus menolongnya.”
Begitu menyandak, Tan Yu Liang dan Ciang Liong Tauw meloncat turun dari tunggangannya. Mereka menduga kuda Song Ceng Su roboh karena terlalu letih dan pemuda itu sendiri terluka berat. Karena dugaan itu mereka lantas menghunus senjata yang langsung saja ditudingkan ke tubuh Ceng Su.
Tangan Bu Kie sudah mencekal kepingan es, siap sedia untuk menimpuk, tapi tangannya segera disentuh Tio Beng. Si nona menggelengkan kepala sambil menuding kupingnya sendiri, lalu menuding Song Ceng Su. Bu Kie mengerti bahwa ia dinasihati untuk bersabar dan menunggu pembicaraan ketiga orang itu.
“Hei, orang she Song!” bentak Ciang-pun Liong-tauw. “Kenapa kau kabur di tengah malam buta? Apa kau mau membuka rahasia kepada ayahmu?” Sambil mencaci dia memutar-mutarkan golok Cie-kim Pat-kwa-lo di atas kepala Ceng Su.
Song Wan Kiauw sangat kuatir akan keselematan puteranya. Secara kebetulan Bu Kie menengok dan dia melihat sorot mata sang paman yang penuh kekuatiran itu. Pada waktu bentrok dengan mata Bu Kie sinar matanya berubah dan memperlihatkan sinar memohon. Bu Kie manggut-manggutkan kepalanya sebagai janji bahwa ia akan menolong.
“Kecintaaan ayah ibu benar-benar setinggi langit dan setebal bumi,” katanya di dalam hati. “Toa-supek begitu marah padaku. Tetapi begitu melihat jiwa Song-toako terancam bahaya, ia rela meminta pertolongan kepadaku. Andai kata Toa-supek sendiri yang terancam bahaya, ia pasti tak akan meminta pertolongan.“
Pada detik itu tiba-tiba saja hatinya seperti tersayat pisau. Dia ingat bahwa Song Ceng Su mempunyai seorang ayah yang sangat mencintai, sedangkan dia sendiri adalah seorang anak yatim piatu. Sementara itu terdengar Song Ceng Su menjawab,
“Aku bukan hendak memberi-tahu ayah.”
“Pangcu telah memberi-tahu kau supaya ikut kami ke Tiang-pek-san untuk mencari obat,” kata Ciang-pun Liong-tauw. “Mengapa kau pergi tanpa permisi?”
“Ciang-pun Liong-tauw! Aku adalah anak manusia yang mempunyai ayah serta ibu. Kalian memaksaku untuk mencelakai ayah kandung sendiri. Tapi mana tega aku berbuat begitu? Aku bukan ingin berseteru dengan kalian. Aku hanya tidak sanggup melakukan perbuatan binatang itu.”
“Apakah kau hendak melanggar perintah Pangcu? Apa kau tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap seorang anggota yang mengkhianati partai?”
“Aku seorang berdosa besar. Aku memang sudah tidak ingin hidup. Selama beberapa hari ini setiap kali memejamkan mata aku selalu melihat bayangan Boh Cit-susiok yang selalu mengganggu aku. Ciang-pun Liong-tauw, bunuhlah aku! Aku akan merasa berterima kasih sekali.”
“Baiklah!” bentak si pengemis sambil mengangkat goloknya.
“Tahan!” cegah Tan Yu Liang. “Liong-tauw Toako, apa bila Song Heng-te tetap menolak, lepaskan saja dia. Tidak baik kalau kita bunuh.”
“Lepaskan dia?” Ciang-pun Liong-tauw menegas dengan suara heran.
“Benar, dia membinasakan paman gurunya sendiri, Boh Seng Kok. Dia berdosa besar dan pasti akan dibunuh orang partainya sendiri. Perlu apa kita mengotorkan senjata?”
Itulah perkataan yang sangat mengejutkan. Bagi keempat pendekar Bu-tong, kata-kata itu bagaikan halilintar yang menyambar dengan tiba-tiba. Pada waktu mengintip pertemuan Kay-pang di kelenteng Bie-lek-hud, ketika Tan Yu Liang menyebut-nyebut nama Boh Seng Kok sebenarnya Bu Kie sudah menduga bahwa Song Ceng Su telah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap pamannya itu. Tapi mimpi pun dia tak pernah bahwa Boh Seng Kok binasa di tangan pemuda ini. Di antara mereka semua hanya Tio Beng seorang yang tidak terlalu kaget sebab dia telah menduga terjadinya kejadian itu.
“Tan-toako,” kata Song Ceng Su dengan suara gemetar. “Engkau sudah bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia ini. Asalkan kau tidak membuka mulut, ayah tentu tak akan tahu.”
Tan Yu Liang tertawa tawar. “Kau hanya mengingat sumpahku tapi lupa sumpah sendiri,” katanya. “Kau telah bersumpah bahwa mulai saat itu kau akan menurut segala perintahku. Siapa yang lebih dahulu melanggar sumpah? Kau atau aku?”
“Biar pun mati aku tak dapat menuruti perintahmu untuk menaruh racun di makanan Thay-suhu dan ayah. Lebih baik kau bunuh saja aku.”
“Song Heng-te, seorang gagah harus bisa bertindak dengan mengimbangi keadaan. Kami bukan menyuruh kau membinasakan ayah sendiri. Kami hanya ingin kau menaruh sedikit racun Bong-han-yo (obat yang melupakan) agar mereka tertidur untuk sementara waktu. Bukankah kau sudah mengiyakan ketika kita berada di kelenteng Bie-lek-hud?”
“Aku hanya mengiyakan untuk menaruh Bong-han-yo. Tapi yang hendak ditangkap Ciang-pun Liong-tauw adalah binatang yang amat beracun, ular, kelabang, dan sebagainya. Itu semua racun untuk membinasakan manusia. Itu semua bukan Bong-han-yo.”
Tan Yu Liang menatap korbannya dan perlahan-lahan memasukkan pedangnya ke dalam sarung.
“Ciu-kouwnio dari Go-bi-pay sangat cantik bagaikan bidadari,” katanya. “Di dunia amat sukar dicari tandingannya. Aku merasa heran mengapa kau rela menyerahkan gadis itu ke tangan si bocah Bu Kie. Song Heng-te, malam itu kau mengintip kamar tidur para wanita murid-murid Go-bi-pay dan perbuatanmu itu diketahui Cit-susiokmu yang lantas mengejar sehingga terjadi pertempuran di bukit batu. Pertempuran itu berakhir dengan peristiwa pembunuhan seorang keponakan terhadap pamannya sendiri. Mengapa kau melakukan pembunuhan itu? Bukankah karena ingin mendapatkan Ciu-kouwnio yang cantik manis? Apakah sekarang kau bisa mundur lagi? Tidak! Pasti tidak!”
Dengan menggunakan seluruh tenaganya Song Ceng Su bangun berdiri. “Tan Yu Liang, lidahmu sungguh jahat!” teriaknya. “Kau menekan aku keterlaluan. Malam itu aku sudah kalah dalam pertempuran melawan Boh Cit-susiok. Aku berdosa besar. Kalau aku binasa maka segalanya akan menjadi benar. Siapa suruh kau membantu aku? Aku kena ditipu olehmu sehingga sekarang namaku hancur dan tidak akan bisa ditolong lagi.”
“Bagus, bagus!” kata Tan Yu Liang dengan suara mengejek. “Apakah aku boleh bertanya? Boh Seng Kok tewas karena punggungnya terpukul dengan pukulan Cia-thian Tiat-ciang (Pukulan tangan besi yang menggetarkan langit). Siapakah yang memukulnya? Apa kau? Malam itu bukan saja aku menolong jiwamu, tapi juga menolong namamu. Apa itu salah? Song Heng-te, dalam persahabatan, yang lain tidak usah disebut-sebut lagi, tapi hal kau membunuh paman sendiri tak akan diuar-uar olehku. Sekarang kita boleh berpisah dan di lain hari kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu muka lagi.”
Mendengar kata-kata orang itu yang seolah bersedia untuk menyudahi segala persoalan sampai di situ, Song Ceng Su merasa sangsi sekali.
“Tan... Tan Toako, apa yang hendak kau perbuat terhadapku?” tanyanya.
Tan Yu Liang tertawa. “Aku selalu berbuat baik terhadapmu, tetapi kau tetap tak percaya padaku,” katanya. “Apa yang aku mau perbuat terhadapmu? Tidak! Aku tak ingin berbuat apa pun juga terhadapmu. Aku hanya ingin memperlihatkan suatu barang kepadamu. Kau lihatlah! Apa ini?”
Bu Kie dan Tio Beng ingin sekali melihat barang itu, tetapi sedikit pun mereka tidak berani mengeluarkan kepala. Tiba-tiba terdengar suara kaget dari Song Ceng Su.
“Ahh...! Cincin besi Go-bi-pay...! Itu milik Ciu-kouwnio. Dari mana kau dapatkan itu?”
Bu Kie terkejut, tapi di lain saat dia menduga bahwa cincin itu bukan cincin tulen. Tan Yu Liang tertawa.
“Lihatlah dahulu,” katanya. “Lihat dulu, apakah tulen atau palsu.”
Beberapa saat kemudian Song Ceng Su berkata, “Sewaktu berada di See-hek aku pernah minta pelajaran silat dari Biat-coat Suthay. Kulihat cincin ini di jarinya. Rasanya barang ini bukan barang palsu.”
“Trangg...!”
Tiba-tiba terdengar suara. “Inilah buktinya,” kata Tan Yu Liang. “Kalau palsu, bacokanku akan mematahkannya. Lihatlah! Di dalam cincin terdapat empat huruf Liu Ie Siang Lie (dihadiahkan kepada anak Siang). Cincin ini dulunya milik Kwee Siang Lihiap, pendiri Go-bi-pay dan terbuat dari pada besi Hian-tiat.
“Tan Toako...“ kata Song Ceng Su dengan suara parau. “Harap katakan. Dari mana... dari mana kau mendapatkannya...? Di mana Ciu-kouwnio sekarang?”
Tan Yu Liang tersenyum, “Ciang-pun Liong-tauw, marilah kita berangkat,” katanya tanpa mempedulikan pertanyaan Song Ceng Su. “Mulai dari dulu Kay-pang selalu menghargai persahabatan, tetapi sekarang Kay-pang tidak memerlukan manusia seperti dia lagi.“
Suara tindakan kaki lantas terdengar. Kedua orang itu berjalan ke jurusan utara. Sekonyong-konyong Song Ceng Su memanggil,
“Tan-toako! Apakah dia mati atau masih hidup?”
Tan Yu Liang balik kembali. “Benar,” katanya, “Ciu-kouwnio berada di tangan kami. Dia sungguh cantik sedangkan aku sendiri belum beristeri. Aku hendak memohon kepada Pangcu untuk menikah dengannya. Kurasa Pangcu akan meluluskan.”
Song Ceng Su mengeluarkan seruan tertahan.
“Benar, pada hakekatnya seorang Kuncu tak akan merampas milik orang lain,” kata pula Tan Yu Liang. “Tan Yu Liang pasti tidak akan merusak persahabatan karena paras cantik. Tapi sekarang kau sudah menjadi pengkhianat partai. Di antara kita sudah tak ada ikatan apa pun juga dan aku bisa berbuat sesuka hati, bukankah begitu?”
Song Ceng Su tidak lantas menyahut. Rupanya dua macam pikiran sedang berkelahi di dalam hatinya.
Bu Kie melirik Song Wan Kiauw. Dengan rasa iba, dia melihat pamannya mengucurkan air mata. Jika bukan terlalu duka, sebagai seorang gagah pamannya tentu takkan menangis. Beberapa saat kemudian barulah Song Ceng Su berkata,
“Tan Toako, Liong-tauw Toako, tadi pikiranku kusut. Aku bersalah dan kuharap kalian suka memaafkan.”
Tan Yu Liang tertawa terbahak. “Nah begini baru benar,” katanya. “Dengan menepuk dada aku memberi jaminan bahwa mengenai kau menaruh Bong-han-yo di minuman para pendekar Bu-tong, bukan saja jiwa ayahmu tak akan kurang suatu apapun, tapi Ciu Cie Jiak pun akan segera menjadi isterimu. Sesudah Thio Sam Hong dan para pendekar Bu-tong berada di tangan kita. Thio Bu Kie pasti akan menurut segala perintah kita. Setelah Kay-pang menguasai Beng-kauw, mengusir Tat-cu dan merebut kembali tahta kerajaan, kau dan aku akan menjadi menteri-menteri negara sendiri. Bukan saja isteri kita dan anak-anak kita, tapi ayah kita pun akan menikmati segala kebesaran.”
Song Ceng Su tertawa getir. “Thia-thia bukan orang yang kemaruk harta,” katanya. “Aku hanya berharap agar ayah jangan membunuh aku. Apa bila harapan itu bisa terkabul, aku sudah merasa puas.”
Tan Yu Liang tertawa, “Kecuali ayahmu adalah dewa, dia pasti takkan tahu latar belakang kejadian itu,” katanya. “Song Heng-te, apa kakimu terluka? Kita berdua bisa menunggang kudaku. Setibanya di kota kita bisa membeli kuda lain.”
“Karena terburu-buru, betisku terpukul kepingan es,” jawabnya. “Sungguh sial kepingan es itu kena tepat pada Cu-peng-hiat. Di dunia ini memang sering terjadi kejadian yang kebetulan.”
Dari pengakuan Song Ceng Su dapatlah dilihat kelihaian Bu Kie dalam ilmu melepaskan senjata rahasia. Pemuda itu sama sekali tak pernah menyangka bahwa dirinya dibokong orang. Ia hanya merasa terpukul oleh kepingan es yang secara kebetulan kena pada jalan darahnya. Hal ini pada hakekatnya tidak luar biasa. Lengan kita secara tidak sengaja juga sering membentur meja kursi dan kadang-kadang begitu terbentur kita merasa kesemutan karena benturan itu kebetulan kena pada ‘Hiat’.
“Bukan sial tetapi mujur,” kata Tan Yu Liang sambil tertawa. “Song Heng-te bernasib baik dan sudah ditakdirkan bakal mempunyai isteri yang amat cantik. Kalau tadi betismu tidak terpukul es dan kami tidak bisa menyusul, maka kau tidak akan sadar dari kekeliruan. Dengan demikian bukan saja namamu hancur, tetapi usaha kita pun akan menjadi gagal. Selain itu Ciu Cie Jiak yang ayu akan menjadi isteri Tan Yu Liang. Bukankah kejadian itu seperti burung hong berjodoh dengan burung gagak seolah sekuntum bunga tertancap di atas tahi kerbau?” Ia berbicara secara bercanda, tapi setiap perkataannya hebat bukan main dan menekan Song Ceng Su sehingga pemuda itu tidak bisa berkutik lagi.
Song Ceng Su menghela napas panjang dan berkata dengan suara perlahan. “Tan-toako, bukan aku tidak percaya...”
“Kau mau bertemu dengan Ciu-kouwnio?” memutus Tan Yu Liang. “Boleh! Mudah sekali. Sekarang Pangcu dan para Tianglo berada di Louw-liong dan Ciu-kouwnio pun berada di situ. Mari kita pergi ke Louw-liong. Sesudah urusan Bu-tong beres, kakakmu akan segera mengadakan pesta pernikahan untuk mewujudkan idam-idamanmu. Dan... seumur hidup kau akan berterima kasih kepada Tan Yu Liang Toako... ha-ha-ha...”
“Baiklah, mari sekarang kita pergi ke Louw-liong,” kata pula Song Ceng Su. “Tapi Toako, bagaimana... bagaimana Ciu-kouwnio bisa berada di tangan kita?”
“Itu berkat jasa Liong-tauw Toako,” jawab Tan Yu Liang sambil tertawa. “Hari itu, ketika Ciang-pang dan Ciang-pun Liong-tauw makan minum di sebuah Ciu-lauw, mereka melihat tiga orang yang tidak dikenal. Setelah diselidiki kiranya salah seorang adalah Ciu-kouwnio. Ciang-pun Liong-tauw Toako cepat-cepat mengirim orang untuk mengundangnya. Legakan hatimu. Ciu-kouwnio sehat walfiat, tak kurang apapun.”
Bu Kie mengeluh. Kini barulah dia tahu bahwa hari itu sebenarnya mereka telah dikenali. “Kalau Gie-hu tidak buta, dia bisa melihat bahwa rahasia sudah terbuka,” pikirnya. “Hai... aku dan Cie Jiak masih terus mimpi... Tapi bagaimana dengan keselamatan Gie-hu?” Dia merasa bingung karena Tan Yu Liang tak pernah menyebut-nyebut ayah angkatnya.
Sementara itu si orang she Tan sudah berkata lagi. “Song Heng-te, sesudah kau menikah dengan Ciu-kouwnio, Go-bi dan Bu-tong-pay harus menurut perintah Kay-pang. Siauw-lim-pay sudah berada di tanganku. Kalau ditambah dengan Kay-pang dan Beng-kauw maka tenaga kita bukan main besarnya. Kita pasti dapat mengalahkan orang Mongol dan merebut negeri. Huh... huh...! Negara akan segera bertukar majikan.”
Tan Yu Liang bicara dengan hati berbunga-bunga. Dia memperlihatkan lagak seolah-olah Kay-pang telah merebut seluruh negeri dan dia sendiri akan segera naik tahta kerajaan. Ciang-pun Liong tauw dan Song Ceng Su juga turut tertawa, namun tawa mereka adalah tawa getir.
“Mari kita berangkat,” ajak Tan Yu Liang. “Song Heng-te, Bok Cit-hiap binasa di dekat sini. Kau telah meletakkan jenazahnya dalam goa yang rasanya tak jauh dari sini. Bukankah begitu? Tadi kudamu tiba-tiba roboh. Apakah roh Bok Cit-hiap menunjukkan keangkerannya? Ha-ha-ha...! Ha-ha-ha...!”
Kata-kata itu membangunkan bulu roma Song Ceng Su yang lantas saja berjalan dengan terpincang pincang. Setelah ketiga orang itu berlalu, Bu Kie segera membuka jalan darah keempat pamannya. Sambil berlutut dia manggut-manggutkan kepalanya dan berkata,
“Supek, Susiok, tadi tit-jie berada dalam keadaan amat terjepit dan tidak bisa membersihkan diri sehingga karena terpaksa tit-jie telah melakukan perbuatan berdosa terhadap Supek dan Susiok. Tit-jie siap untuk menerima hukuman.”
Song Wan Kiauw menghela napas panjang, air matanya mengucur dan dia menengadah tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Jie Lian Ciu segera membangunkan keponakannya dan berkata dengan suara menyesal.
“Hubungan kita bagaikan hubungan tulang dan daging. Hal itu tak usah disebut-sebut lagi. Aku sungguh tidak menduga bahwa Ceng Su... Ceng Su... Hai...! Kalau bukan mendengar dengan kuping sendiri, siapa yang bisa percaya?”
“Srett...!”
Tiba-tiba Song Wan Kiauw menghunus pedang. “Binatang...!” katanya dengan suara gemetar. “Sam-wi Sute dan anak Bu Kie, mari kita kejar dia. Biar kubunuh binatang itu dengan tanganku sendiri.“ Sebelum kata-katanya selesai diucapkan, badannya sudah berkelebat dan ia mengejar puteranya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
“Toako, balik!” teriak Thio Siong Kee. “Kita harus berunding dulu.“
Tapi Song-tayhiap tidak meladeni. Bu Kie segera mengejar. Dengan cepat dia melewati sang paman kemudian menghalang di depannya.
“Toa-supek,” katanya sambil membungkuk. “Sie-supek ingin bicara. Karena ditipu, Song-toako telah membuat kekeliruan. Tapi di hari kemudian dia akan sadar. Jika Toa-supek mau menghukum, hal itu tidak perlu dilakukan tergesa-gesa.”
“Cit-te...! Cit-te...!” kata Song Wan Kiauw dengan suara di tenggorokan. “Kakakmu benar-benar berdosa besar...“
Sekonyong-konyong dia mengangkat pedangnya dan mencoba menggorok leher. Bu Kie terkesiap dan secepat kilat tangannya menyambar. Sungguh mujur dia masih keburu merampas senjata itu dengan menggunakan ilmu Kian-kun Tay-lo-ie. Walau pun tak sampai membinasakan tapi ujung pedang menggores juga leher Song-tayhiap.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar