Jumat, 09 Oktober 2026

To Liong To 06

MEMENANGKAN TANTANGAN

Sementara itu Cia Sun berkata pula: “Dengan segenap jiwa raga. Tay-hu Bun Ciong mengabdi kepada Gouw-ong Kouw Cian sehingga Kouw Cian dapat merebut pulang negerinya. Tapi bagaimana akhirnya? Akhirnya Bun Ciong dibunuh mati oleh Kouw Cian.”

“Kay Cu Tui mengikuti Ciong Yi mengunjungi berbagai negeri sehingga belakangan Ciong Yi bisa pulang ke negeri Cin dan menjadi Raja Cin-bun-kong. Akan tetapi Cin-bun-kong bukan saja melupakan jasa-jasa Kay Cu Tui, bahkan belakangan ia membakar gunung sehingga Kay Cu Tui mati terbakar.”

“Hok Kong bersetia kepada kerajaan Han, tetapi sesudah dia mati, Kaisar Han membunuh semua keluarganya.”

“Pada jaman Sam Kok, Liok Sun mengalahkan Lauw Pie dan membakar tenda-tenda tentara yang panjangnya tujuh ratus hingga menyelamatkan Tong-gouw dari kemusnahan. Namun tak urung Sun Koan curiga dan menulis surat berulang-ulang sehingga karena jengkel dia meninggal dunia.”

“Pada jaman Tong, Pang Hiang Lang berhamba kepada Tong-thay-cong. Dia mengunjuk kesetiaannya sehingga namanya dipuji tinggi dalam kitab sejarah. Tetapi akhirnya seluruh keluarganya tak urung disapu bersih juga oleh sang Kaisar...”

Dengan bersemangat, terus-menerus Cia Sun memberi contoh-contoh dari sejarah, bagaimana menteri setia menjadi korban di tangan Kaisar-Kaisar kejam. Sebagian contoh itu dikenal, sebagian pula tidak dikenal oleh Cui San. Dari sini dapatlah dilihat betapa dalamnya pengetahuan Cia Sun mengenai ilmu surat dan pengetahuannya itu bahkan melebihi sasterawan biasa. Sambil mengawasi ke tempat jauh, Cui San merenungkan percakapan itu.

“Hmm... sekarang kau lihatlah!” kata pula Cia Sun. “Kau lihatlah... baik dibalas baik, jahat dibalas jahat, tidak selamanya begitu. Banyak manusia jahat hidup mewah dan memiliki kedudukan tinggi. Kita ambil contoh yang paling terkenal. Han-ko-couw Lauw Pang adalah manusia kejam. Waktu ia akan perang, untuk menyelamatkan jiwanya, ia melontarkan putera-puteri kandungnya ke bawah kereta.”

“Satu waktu Hang Ie menangkap ayahnya dan dia diberi-tahu bahwa daging sang ayah bakal dimasak. Tapi Lauw Pang cukup tega untuk berkata begini: ‘Sesudah dimasak bagilah sedikit kepadaku untuk dicoba’. Tapi manusia kejam itu, manusia tak berbakti itu, bukan saja menjadi Kaisar tapi juga berumur panjang dan mati baik-baik di atas pembaringan. Huh! Tong-thay-tiong membunuh kakak dan adiknya sendiri, dan kemudian mendesak ayahandanya sampai begitu rupa sehingga mau tidak mau sang ayah terpaksa menyerahkan kedudukan kepada anak durhaka itu.”

“Song-thay-cong pun tak kalah kejamnya. Ia manusia yang telah membunuh saudara sendiri. Di kalangan Kangouw, manusia begitu dipandang luar biasa jahat. Tapi pembalasan apa yang didapat mereka?”

“Tentang kekejaman Kaisar-Kaisar jaman dulu, apa yang dikatakan Cia-cianpwe memang benar sekali,” kata Cui San. “Di antara sepuluh Kaisar, ada sembilan Kaisar yang sangat kejam dan buas. Dengan kekuasaannya yang tidak terbatas, mereka membunuh manusia dan berbuat se-wenang-wenang, sesuka hati. Mungkin sekali di hari kemudian akan tiba saatnya dunia tidak lagi melihat Kaisar yang memiliki kekuasaan tidak terbatas. Tetapi bagaimana pun juga aku tetap berpendapat bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat,” kata Cui San, lalu melanjutkan.

“Menurut pendapatku, tujuan yang utama dari hidup manusia di dunia ini adalah mencari keberuntungan dalam rupa ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Dan seseorang barulah bisa merasa beruntung kalau dia tahu bahwa selama hidupnya sudah berbuat banyak kebaikan terhadap sesama manusia.”

“Ada pun mengenai Kaisar-Kaisar itu atau menteri-menteri dorna yang banyak mencelakai manusia, sedikit pun aku tak percaya jika dikatakan mereka tidak mendapat pembalasan. Manusia yang bermusuhan dengan ayah atau saudara sendiri, bahkan mencelakakannya, adalah manusia yang paling tidak beruntung di dunia. Bayangkan saja penderitaan batin dari manusia itu! Mana boleh mereka tidak terhukum? Mungkin mereka lolos dari hukuman lahir, tetapi mereka pasti tidak lolos dari hukuman batin dan hukuman batin adalah hukuman yang terhebat, karena orang terhukum tidak sedikit pun dapat mencicipi kesenangan dan kepuasan dalam hatinya. Karena itulah aku tetap berpendapat bahwa siapa yang menyebar angin pasti akan mendapat taufan.”

Sesudah mendengar perundingan yang panjang itu, paras muka Cia Sun agak berubah. Dalam hati kecilnya dia mengakui kebenaran perkataan pemuda itu. Tetapi tentu saja dia sungkan mengaku terang-terangan. Sesaat kemudian, sambil mengawasi Cui San dengan sorot mata tajam, dia berkata dengan suara mengejek,

“Kudengar gurumu, Thio Sam Hong, berilmu tinggi. Hanya sayang aku belum pernah berjumpa dengannya. Kau adalah salah seorang murid utama dari Thio Sam Hong dan aku merasa menyesal sekali karena mendapat kenyataan bahwa pandanganmu begitu tolol. Kurasa Thio Sam Hong tidak banyak bedanya denganmu, jadi lebih baik aku tak usah pergi menemuinya.”

Melihat Cia Sun memiliki pengetahuan tinggi dalam ilmu surat dan ilmu silat, tadinya Cui San merasa sangat kagum. Tapi karena mendadak orang itu memandang rendah gurunya yang dipuja bagai malaikat, darahnya meluap.

“In-su (guruku) memiliki kepandaian sedemikian tinggi sehingga takkan dapat diukur oleh manusia biasa,” katanya dengan suara keras. “Memang ilmu Cianpwe sangat tinggi dan tidak bisa dilawan oleh orang-orang muda. Tetapi di mata In-su, Cia-cianpwe hanyalah seorang kasar yang tidak kenal budi.”

Mendengar kata-kata itu, In So So terkejut bukan main dan buru-buru menarik ujung baju Cui San. Tapi pemuda yang sedang panas perutnya itu lantas berkata,

“Seorang laki-laki jika mati biarlah mati, tapi tak dapat dia membiarkan gurunya dihina orang!”

Di luar dugaan, Cia Sun tidak menjadi marah. “Thio Sam Hong adalah seorang guru besar dan pendiri sebuah partai yang besar pula,” katanya dengan suara tawar. “Mungkin sekali ia mempunyai kepandaian tinggi, ilmu silat yang tiada taranya. Jika dibandingkan, kepandaianku tidak nempil dengan kepandaiannya. Nanti suatu hari aku pasti akan mendaki Bu-tong-san untuk minta pelajaran. Thio Ngo-hiap, ilmu apakah yang kau paling mahir? Hari ini aku orang she Cia ingin menambah pengalaman.”

In So So terkejut. Setelah menyaksikan kepandaian Cia Sun, dia mengerti bahwa Cui San bukan tandingannya. Maka ia lantas berkata:

“Cia-cianpwe, To-liong-to sudah jatuh ke tanganmu dan semua orang merasa sangat kagum melihat kepandaianmu. Apa lagi yang kau mau?”

“Mengenai To-liong-to, sejak dulu telah tersiar beberapa kata-kata yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan orang,“ kata Cia Sun. “Apakah kau tahu bunyi kata-kata itu?”

“Ya,” jawabnya.

“Golok ini katanya sebuah senjata yang paling dihormati di rimba persilatan dan siapa pun yang memilikinya akan dapat memerintah di kolong langit dan tidak ada manusia yang akan menentangnya,” kata pula Cia Sun. “Tetapi sampai sekarang belum ada yang tahu rahasia apa tersembunyi dalam golok ini. Apakah benar orang yang memilikinya dapat memerintah orang-orang gagah di rimba persilatan?” “Cia-cianpwe adalah orang yang memiliki pengetahuan tinggi, maka boanpwe justru ingin menanyakan Cianpwe tentang hal itu,” kata si nona.

“Aku pun tidak tahu,” jawab Cia Sun. “Sesudah mendapatkan golok ini, aku akan berdiam di tempat yang sepi dan akan menggunakan tempo beberapa tahun untuk mencoba memecahkan teka-teki itu.“

“Bagus!“ kata So So. “Cia-cianpwe mempunyai kecerdasan otak melebihi manusia biasa. Jika Cianpwe tidak berhasil, orang lain pun pasti tak akan berhasil.”

“Huh! Huh! Aku she Cia bukan sebangsa manusia sombong,” katanya. “Mengenai ilmu surat dan ilmu silat, Kong-bun Taysu Ciang-bun-jin Siauw-lim-pay, Thio Sam Hong Totiang dari Bu-tong-pay, Tianglo dari Go-bi-pay dan Kun-lun-pay semuanya orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi. Mengenai kecerdasan otak, Peh-bie Eng-ong In-kauwcu dari Peh-bie-kauw memiliki kecerdasan otak yang jarang terdapat dalam ratusan abad.”

In So So segera bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk: “Terima kasih banyak atas pujian Cianpwe.”

“Aku ingin memiliki golok ini, orang lain juga kepingin,” kata Cia Sun. “Hari ini, di pulau Ong-poan-san aku tidak bertemu dengan tandingan. Dalam hal ini In-kauwcu salah menghitung. Ia menganggap bahwa Pek Tan-cu dan yang lain-lainnya cukup untuk menghadapi Hay-see-pay, Kie-keng-pang dan Sin-kun-bun. Sedikit pun dia tidak menduga bahwa she Cia bisa datang kemari.”

“Bukan, bukan Kauwcu salah menghitung,” memutus si nona. “Ia tak dapat datang kemari karena mempunyai urusan lain yang lebih penting.”

“Tapi biar pun begitu, hari ini To-liong-to jatuh ke tanganku, sedikit banyak telah menurunkan nama besar In-kauwcu sebagai seorang yang bisa menghitung bagaikan malaikat,” kata Cia Sun seraya tersenyum.

Si nona tersenyum kemudian berkata pula, “Di dunia ini banyak kejadian yang tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu. Enam kali Cukat Buhouw ke luar dari gunung Kie San, tapi ia gagal dalam usahanya untuk mempersatukan seluruh Tiongkok. Tapi meski pun dia mengalami kegagalan, nama besarnya tidak merosot. Inilah apa yang dikatakan: Manusia berusaha, Allah yang berkuasa. Cia-cianpwe adalah orang yang luar biasa dan mempunyai rejeki besar. Orang lain harus bergulat mati-matian merebut golok itu, tapi Cianpwe sendiri dapat memiliknya dengan mudah sekali.“

Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Cia Sun sambil tersenyum manis. Ia sengaja mengulur-ulur pembicaraan itu agar Cia Sun melupakan tantangannya terhadap Thio Cui San.

“Semenjak muncul di dunia, entah sudah berapa kali golok ini berpindah tangan dan entah sudah berapa orang yang binasa karena memilikinya,” kata Cia Sun. “Sekarang aku berhasil merebut golok ini. Siapa tahu kalau di kemudian hari tidak muncul seorang yang berkepandaian lebih tinggi dari padaku.”

So So dan Cui San saling melirik. Mereka menganggap perkataan orang mengandung maksud yang dalam. Cui San teringat bahwa kakak seperguruannya mendapat luka berat karena mempunyai sangkut paut dengan To-liong-to, dan sampai sekarang mati hidupnya belum dapat dipastikan. Ia sendiri berada dalam bahaya besar dan sebab-sebabnya hanya karena turut melihat golok mustika itu.

Setelah berdiam sejenak, Cia Sun menghela napas panjang. “Kalian berdua adalah orang-orang yang bun-bu-coan-cay (mahir ilmu surat dan ilmu silat), juga benar-benar serasi satu sama lain, yang satu cantik dan yang lain tampan,” katanya. “Bila aku membunuh kalian, aku se-olah menghancurkan sepasang Giak-kee (alat dari batu giok) yang jarang terdapat di dunia. Tapi karena didesak oleh keadaan dan kenyataan, tak dapat aku tidak membinasakan kalian.”

“Mengapa begitu?” tanya si nona dengan suara kaget.

“Kalau aku pergi dengan membawa golok ini dan meninggalkan kalian di pulau ini, dalam beberapa hari saja orang sedunia tahu bahwa To-liong-to berada di tanganku,” Ia menerangkan. “Yang ini akan cari aku, yang itu akan cari aku, semua orang akan cari aku. Aku bukan manusia yang tiada tandingan di dunia. Yang lain tak usah dibicarakan, hanya satu orang Peh-bie Eng-ong saja belum tentu dapat aku robohkan.”

“Ahh! Kalau begitu kau membunuh orang untuk menutup mulut!” kata Cui San dengan suara tawar.

“Benar,“ jawabnya.

“Kalau demikian perlu apa kau mengunjuk kedosaan orang-orang Hay-see-pay, Kie-keng-pang dan Sin-kun-bun?” tanya Cui San.

Cia Sun tertawa berkakakan. “Aku ingin mereka mati tanpa penasaran,” jawabnya.

“Hmm... kelihatannya kau masih mempunyai hati yang baik,” kata pemuda itu memuji.

“Di dunia ini, siapa yang bisa hidup abadi?” tanya Cia Sun. “Tidak banyak bedanya mati lebih cepat atau mati lebih lama beberapa tahun. Thio Ngo-hiap dan In-kouwnio berusia sangat muda. Apa bila hari ini kalian binasa di pulau Ong-poan-san, kelihatannya sangat disayangkan. Tetapi ditinjau seratus tahun kemudian, bukankah kebinasaan hari ini atau meninggal dunia di hari nanti sama saja? Andai kata dahulu Cin Kwee tidak mencelakai Gak Hui sehingga panglima besar itu binasa, apakah Gak Hui bisa hidup sampai sekarang? Yang penting ialah seseorang harus mati dengan hati terang dan tidak merasakan penderitaan. Karena itu sekarang aku mengajak kalian bertanding secara adil, siapa yang kalah dialah yang mati. Usia kalian lebih muda dan aku suka mengalah. Pilihlah, mau ilmu silat dengan senjata, tanpa senjata, Iweekang, mengentengkan badan, senjata rahasia, atau ilmu berenang, kalian boleh pilih dan aku akan mengikuti.”

“Kau sombong sekali,” kata si nona. “Apakah artinya kau bersedia melayani kami dalam ilmu apa pun juga?” Suara si nona agak gemetar karena ia tahu bahwa ia dan Cui San tidak dapat meloloskan diri lagi.

Mendengar pertanyaan So So, Cia Sun agak terkejut. Dia adalah seorang yang amat cerdas dan sesaat itu juga ia ingat bahwa si nona dapat menantangnya dalam ilmu menjahit atau lain-lain ilmu kaum wanita yang tidak dimilikinya. Mengingat demikian, ia lantas menjawab dengan suara nyaring,

“Tantanganku hanya terbatas dalam ilmu silat. Aku pasti tak bermaksud untuk bertanding makan nasi, minum arak dan sebagainya yang tidak bersangkut paut dengan ilmu silat.“ Di lain saat, melihat Cui San mencekal kipas, ia segera menyambung, “Aku pun bersedia melayani kalian dalam ilmu bun (ilmu surat). Menulis huruf indah, melukis, memetik khim, main tio-kie, menulis syair atau sajak, semuanya boleh. Hanya kita harus berjanji bahwa pihak yang kalah segera membunuh diri sendiri. Hai! Melihat kalian, sepasang orang muda yang benar-benar serasi untuk menjadi suami isteri, aku tidak tega untuk turun tangan.”

Mendengar perkataan terakhir, paras muka kedua orang muda itu berubah merah. Si nona mengerutkan alis.

“Kalau kau yang kalah, apakah kau juga akan bunuh diri?” tanyanya.

“Bagaimana aku bisa kalah?” kata Cia Sun sambil tertawa.

“Dalam sebuah pertandingan mesti ada yang kalah dan ada yang menang,” kata si nona. “Thio Ngo-hiap adalah murid dari seorang berilmu tinggi, jadi selalu ada kemungkinan dia mengalahkan kau.“

Cia Sun tertawa, “Orang yang masih berusia begitu muda, biar pun berkepandaian tinggi tak akan memiliki Iweekang yang cukup dalam untuk dapat menghadapiku,” katanya.

Selagi kedua orang itu bicara, diam-diam Cui San mengasah otak untuk menetapkan ilmu apa yang akan diajukan olehnya. Dalam ilmu surat di mana tercakup seni melukis huruf indah, juga seni lukis, memetik khim, main tio-kie, menulis syair, pengetahuannya masih dangkal. Ilmu apa yang harus diajukannya? Ilmu silat? Ilmu mengentengkan badan? Ilmu silat gubahan gurunya yang berdasarkan Su-hoat? Tiba-tiba serupa ingatan berkelebat di otaknya dan dia lantas berkata,

“Cia-cianpwe, karena kau mendesak, maka aku tak dapat tidak mempersembahkan kebodohanku. Kalau kalah, aku akan menggorok leher sendiri. Tapi bagaimana andai kata aku beruntung bisa keluar dengan seri?”

Cia Sun menggelengkan kepala, “Tak mungkin seri,” jawabnya. “Seri dalam pertandingan pertama, kita bertanding lagi sampai ada yang menang dan ada yang kalah.”

“Baiklah,” kata Cui San. “Andai kata dalam pertandingan ini Boanpwe memperlihatkan keunggulan, Boanpwe tak berani menuntut apa pun. Boanpwe hanya ingin memohon supaya Cianpwe sudi meluluskan satu permintaan.”

“Aku berjanji meluluskan permintaanmu,” kata Cia Sun. “Hayolah, katakan saja, dalam ilmu apa kau ingin bertanding.”

Melihat demikian, bukan main leganya hati si nona. “Kau mau bertanding ilmu apa? Apa kau punya pegangan untuk mendapat kemenangan?” bisiknya.

“Belum tentu,” jawabnya.

“Kalau kau kalah, kita coba lari,” bisik pula si nona.

Cui San tak menjawab, ia hanya tersenyum getir. Dengan perahu telah tenggelam semua dan mereka berada di sebuah pulau kecil, ke mana mereka mau lari? Ia segera mengikat tali pinggang erat-erat dan mencabut Poan-koan-pit dari pinggangnya.

“Di dunia Kangouw, nama Gin-kauw Tiat-hoa Thio Cui San sangat cemerlang dan hari ini aku akan menjajal dengan Long-gee-pang,“ kata Cia Sun. “Tapi kenapa kau tidak mengeluarkan Lan-gin Houw-tauw Gin-kauw sekalian?”

“Boanpwe bukan ingin bertempur melawan Cianpwe menggunakan senjata,” jawab Cui San dengan sikap hormat. “Boanpwe hanya ingin sekedar menulis beberapa huruf.“

Sehabis berkata begitu ia berjalan ke lereng bukit di mana berdiri tembok batu yang tinggi dan besar. Ia menarik napas, menotol tanah dengan kakinya dan badannya melesat ke atas. Ilmu ringan badan dari Bu-tong-pay adalah yang terbaik di seluruh rimba persilatan. Pada detik mati atau hidup Cui San telah mengeluarkan seantero kepandaiannya. Dengan sekali lompat tubuhnya melesat setombak lebih dan lompatan itu disusul dengan lompatan Tee-in-ciong, kaki kanannya menendang tembok dan badannya kembali terbang ke atas kurang lebih dua tombak. Dengan berbareng Poan-koan-pit bergerak.

“Sret sret sret...!“ Bagaikan kilat dia menulis huruf ‘bu’.

Baru saja selesai satu huruf, badannya melayang turun ke bawah. Dengan cepat ia mencabut Gin-kauw yang lalu ditancapkan ke sebuah lubang kecil pada tembok batu itu. Demikianlah, dengan menggunakan gaetan itu untuk menahan badannya, dia lalu menulis huruf ‘lim’. Ia menulis dengan menggunakan gerakan yang digubah Thio Sam Hong pada malam itu, gerakan yang mengandung tenaga Im dan Yang, Kong dan Jiu (negatip dan positip, keras dan lembek) dan semua itu merupakan ilmu silat tertinggi dari Bu-tong-pay.

Meski Iweekang Thio Cui San belum sempurna sehingga goresan-goresan Poan-koan-pit tidak masuk terlalu dalam di tembok batu, tapi kedua huruf itu indah luar biasa, seolah-olah terbangnya naga atau menarinya burung Hong. Sesudah huruf ‘cie’ dan ‘cun’, dia menulis semakin cepat dan dalam sekejap mata, kedua puluh empat huruf itu sudah selesai.

Sesudah menulis huruf ‘hong’ yang terakhir, Gin-kauw dan Poan-koan-pit menotol tembok secara berbareng dan dengan sebuah gerakan yang indah, badannya melayang turun ke bawah lalu hinggap didampingi si nona.

Dengan mulut ternganga Cia Sun memandang tiga baris huruf itu yang setiap hurufnya sebesar gantang. Sesudah lewat sekian lama, dia menghela napas seraya berkata,

“Aku tidak dapat menulis seperti itu. Aku kalah.”

Tentu saja dia tidak tahu bahwa Thio Sam Hong berhasil menggubah ilmu silat yang amat luar biasa itu sesudah mengasah otak sepanjang malam dan pada waktu bersilat, dia telah menumplekkan seluruh semangat dan pikirannya. Andai kata Thio Sam Hong sendiri yang harus menulis huruf-huruf itu di atas tembok, belum tentu dia bisa menulis begitu indah dan bertenaga, jika tidak disertai dengan semangat dan pemusatan pikiran yang sesuai.

Tentu saja Cia Sun tidak tahu bahwa dua puluh empat huruf itu serupa ilmu silat. Ia hanya menduga bahwa karena melihat To-liong-to, Cui San ingat perkataan yang tersiar mengenai golok itu lalu menulisnya. Dia tidak pernah mimpi bahwa apa yang dapat ditulis oleh Cui San hanyalah dua puluh empat huruf itu.

In So So girang bukan kepalang. “Kau sudah kalah, kau tidak boleh mungkir dari janjimu!” teriaknya.

“Thio Ngo-hiap, baru sekarang ini aku melihat ilmu yang mempersatukan Bu-hoat dengan Su-hoat (ilmu silat dengan ilmu huruf-huruf bagus),” kata Cia Sun. “Aku sungguh merasa kagum. Perintah apa yang hendak kau berikan padaku?”

“Boanpwe hanya seorang muda yang berkepandaian cetek, mana berani memberi perintah kepada Cianpwe?” jawabnya sambil membungkuk. “Boanpwe hanya ingin memberanikan hati untuk mengajukan satu permohonan.”

“Permohonan apa?” tanya Cia Sun.

“Aku mohon agar Cianpwe suka mengampuni jiwa semua orang yang berada di pulau ini,” jawabnya. “Cianpwe dapat memerintahkan agar mereka bersumpah untuk tidak membuka rahasia bahwa To-liong-to berada di tanganmu.”

“Aku belum begitu edan untuk percaya sumpah manusia,“ kata Cia Sun dengan mata melotot.

“Apakah kau hendak menarik pulang janjimu sendiri?” tanya si nona. “Bukankah kau telah berjanji bahwa jika kalah maka kau akan meluluskan permintaan Thio-ngoko?”

“Kalau aku tidak pegang janji, mau apa kau?!” bentak Cia Sun. Tapi sesaat itu rupanya ia langsung menginsyafi kekeliruannya, segera menyambung perkataannya, “Jiwa kalian berdua sudah kuampuni. Yang lain tidak bisa.”

“Kedua Kiam-kek Kun-lun-pay adalah murid-murid dari partai ternama dan mereka belum pernah melakukan perbuatan jahat,” kata Cui San.

“Jangan rewel!” bentak Cia Sun. “Di mataku, baik dan jahat tak ada bedanya. Lekas robek ujung baju kalian dan sumbatlah kuping kalian. Tutup kuping rapat-rapat dengan kedua tangan. Jika kalian menyayang jiwa, turutlah perintahku.“ Dia bicara separuh berbisik, seperti takut didengar orang.

Cui San dan So So saling pandang dengan perasaan heran. Tapi karena melihat Cia Sun bicara sungguh-sungguh, mereka segera merobek ujung tangan baju lalu digunakan menyumbat kuping kemudian mereka menutup kuping dengan kedua tangan. Tiba-tiba Cia Sun membuka mulut lebar-lebar seperti orang berteriak dan mendadak mereka merasa bumi ber-goyang. Hampir berbareng orang-orang Peh-bie-kauw, Kie-keng-pang, Hay-see-pay dan Sin-kun-bun berubah paras mukanya seolah-olah merasakan kesakitan yang luar biasa, dan di lain saat mereka roboh bergulingan di atas tanah.

Ko Cek Seng dan Cio Tauw kelihatan kaget dan ketakutan, buru-buru mereka bersila dan mengerahkan Iweekang melawan teriakan. Dilihat dari paras muka kedua Kiam-kek serta keringat yang turun dari muka mereka, Cui San dan So So tahu bahwa Ko Cek Seng dan Cio Tauw sedang mengeluarkan seantero tenaganya. Beberapa kali mereka mengangkat tangan menutup kuping, namun selalu gagal dan tangan mereka sudah diturunkan lagi sebelum menyentuh kuping.

Sesaat kemudian Cui San merasa tubuhnya bergoyang keras dan hampir berbareng tubuh Ko Cek Seng dan Cio Tauw melesat ke atas kira-kira satu tombak kemudian roboh di tanah tanpa bergerak lagi. Cia Sun segera menutup mulutnya kemudian memberi isyarat supaya Cui San dan So So membuka sumbat kuping.

“Sebagai akibat dari teriakanku, mereka akan pingsan sementara waktu,” katanya. “Nanti sesudah sadar urat syaraf mereka yang rusak tidak dapat pulih lagi seperti semula dan mereka menjadi gila. Mereka tidak ingat apa yang sudah terjadi di sini. Thio Ngo-hiap, kau minta aku mengampuni jiwa semua orang yang berada di pulau ini dan permintaan itu sudah kupenuhi.”

Cui San bengong dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Dia amat marah dan berduka tetapi tidak berdaya. Biar bagaimana pun juga kepandaian Cia Sun yang sangat luar biasa harus dikagumi. Ia juga akan mengalami nasib seperti yang lainnya. Dengan perasaan tidak keruan rasanya dia mengawasi Ko Cek Seng, Chio Tauw, Pek Kwie Siu dan lain-lain yang rebah di tanah dengan paras muka pucat bagaikan mayat.

“Mari kita berangkat,” kata Cia Sun dengan suara tawar.

“Ke mana?” tanya Cui San.

“Pulang!” jawabnya. “Urusan di Ong-poan-san sudah beres. Perlu apa berdiam lama-lama di sini?”

Sehabis berkata begitu dia mengajak kedua orang muda itu pergi ke sebelah barat pulau, ke belakang sebuah bukit kecil, dari mana mereka dapat melihat sebuah perahu dengan tiga tiang layar yang berlabuh di sebuah muara kecil. Perahu itu adalah perahu Cia Sun. Begitu sampai di pinggir perahu, Cia Sun berkata sambil membungkuk,

“Aku mengundang Jie-wi naik ke perahu.”

“Hm! Sekarang kau berlaku mulia sekali,“ kata So So seraya tertawa dingin.

“Di dalam perahuku kalian adalah tamu terhormat, maka aku harus memperlakukan kalian dengan segala kehormatan,” jawabnya.

Dia memberi isyarat kepada anak buahnya yang segera mengangkat jangkar dan perahu lantas berangkat. Di perahu terdapat enam belas atau tujuh belas anak buah. Namun pada saat memberi perintah-perintah kepada mereka, juru mudi hanya menggerak-gerakkan kaki tangannya, seolah-olah semua anak buah itu gagu dan tuli.

Si nona merasa heran dan berkata, “Kau sungguh pintar, bisa mendapat anak buah yang tuli gagu.”

Cia Sun tertawa. “Apa sukarnya?” jawabnya. “Aku hanya perlu mencari orang-orang yang buta huruf, menusuk telinganya, memberi obat kepadanya dan segalanya beres.”

Mendengar keterangan itu, bulu roma Cui San bangun semua dan dia mengawasi Cia Sun dengan sorot mata marah. Tapi So So bertepuk tangan dan tertawa nyaring.

“Bagus! Bagus!” katanya. “Tuli dan gagu juga buta huruf. Hmm! Rahasiamu yang bagaimana besar pun tidak akan bocor. Hanya sayang, kau masih memerlukan mereka untuk menjalankan perahu. Kalau tidak begitu, bukankah kau akan membutakan juga mata mereka?”

Cui San melirik si nona dan menegur dengan suara mendongkol, “In-kouwnio, kau adalah seorang gadis baik-baik, kenapa kau begitu kejam? Kejadian itu adalah kejadian yang sangat mendukakan, maka aku sungguh tidak mengerti bagaimana kau sampai hati mengatakan begitu.”

So So sudah membuka mulutnya untuk bertengkar, tapi dia mengurungkannya karena Cui San kelihatannya marah sungguhan.

“Di kemudian hari, setelah kembali di daratan Tiongkok, aku akan menusuk mata mereka,” kata Cia Sun dengan suara dingin.

Sementara itu layar sudah naik dan perahu melaju semakin cepat.....

MENCARI PULAU TERPENCIL

“Cia-cianpwe, bagaimana dengan mereka yang berada di pulau Ong-poan-san?“ tanya Cui San. “Kau telah menenggelamkan semua perahu. Bagaimana mereka bisa pulang?“

“Thio Ngo-hiap,” jawabnya, “kau adalah seorang yang berhati mulia, hanya saja kau bawel mirip nenek bangkotan. Biarlah mereka mampus sendiri bagaikan impian di musim semi yang tiada bekasnya, bukankah itu kejadian yang bagus sekali?”

Cui San segera menutup mulutnya, karena dia tahu tidak dapat berunding lagi dengan manusia kejam ini. Dia menunduk dan menghela napas perlahan. Dia ingat bahwa selama beberapa tahun, Bu-tong Cit-hiap malang melintang di dunia Kangouw dan selalu berada di atas angin. Tetapi sekarang, di luar dugaan dia mesti tunduk di bawah pengaruh orang, tanpa dapat melawan sama sekali. Hatinya jengkel, pikirannya kusut dan dia memandang ke tempat jauh tanpa meladeni Cia Sun dan So So. Tidak lama kemudian tampak seorang pelayan membawa makanan dan menuang arak di tiga cawan.

“Sebelum bersantap aku ingin memetik khim guna menghibur tetamuku yang terhormat,” kata Cia Sun. “Di samping itu aku ingin minta petunjuk dari Thio-siangkong dan In-kouwnio.”

Kemudian dia mengambil sebuah khim dari dinding gubuk perahu, lalu mulai memetiknya. Dalam seni musik Cui San tidak memiliki pengetahuan yang mendalam dan dia tidak mengenal lagu yang dimainkan. Dia hanya merasa bahwa lagu itu sangat sedih, makin lama semakin menyayat hati sehingga pada akhirnya tidak dapat mempertahankan diri lagi lalu mengucurkan air mata. Dengan sekali menggaruk dengan kelima jarinya, mendadak suara tetabuhan itu berhenti.

“Sebenarnya aku ingin menghibur kalian, tak dinyana Thio-siangkong berbalik sedih,” katanya sambil tertawa getir. “Untuk kesalahan itu aku harus didenda dengan secawan arak.” Ia mengangkat cawan lalu meneguk isinya.

“Lagu apa yang barusan diperdengarkan oleh Cia-cianpwe?” tanya Cui San.

Cia Sun mengawasi So So, seperti juga ingin meminta agar nona itu yang menjawabnya. Tapi si nona menggelengkan kepala.

“Apakah kau pernah mendengar riwayat Kie Kong dari jaman Cin?” tanya Cia Sun. “Inilah lagu yang diperdengarkannya waktu dia mau dihukum mati.”

“Lagu Kong-leng-san?” tanya Cui San dengan terkejut.

“Benar,” jawabnya.

“Sepanjang sejarah, semenjak Kie Kong meninggal dunia, lagu ini sudah tidak ada lagi di dunia,” kata pula pemuda itu. “Bagaimana Cianpwe bisa mendapatkannya?”

Cia Sun tertawa dan paras mukanya yang berseri-seri mengunjuk bahwa hatinya senang sekali.

“Kie Kong manusia keras kepala, adatnya mirip denganmu,“ katanya. “Pada jaman itu Ciong Hwee berpangkat tinggi, namun mendengar nama besar Kie Kong, dia mengunjunginya. Tapi Kie Kong tidak meladeni dan terus memukul besi yang sedang dikerjakannya. Ciong Hwee mendongkol dan lantas berlalu. Dia adalah orang yang sangat pintar dan berkepandaian tinggi, hanya sayang pandangannya terlalu sempit. Sikap Kie Kong dianggapnya suatu hinaan yang tidak dapat diampuni, maka secara licik dia lalu menggosok-gosok Suma Ciauw dengan mengatakan bahwa Kie Kong bicara jelek tentang Suma Ciauw itu. Dengan marah Suma Ciauw menjatuhkan hukuman mati atas diri Kie Kong. Sebelum dibunuh ia memetik khim dan memperdengarkan lagu Kong-leng-san. Sesudah selesai dia berkata: ‘Mulai hari ini Kong-leng-san tidak akan dapat didengar lagi di dunia’. Menurut pendapatku, kata-kata itu amat memandang rendah kepada mereka yang hidup di jaman dahulu. Dia hidup pada jaman Sam Kok. Menurut perhitunganku, mungkin sekali lagu itu tidak tersiar pula sesudah jaman itu. Tapi aku tak percaya Kong-leng-san tidak dikenal orang pada sebelum jaman Sam Kok.”

Thio Cui San tidak mengerti apa maksudnya keterangan itu dan dia lalu minta penjelasan.

“Perkataan Kie Kong menimbulkan rasa penasaran dalam hatiku,” menerangkan pula Cia Sun. “Aku segera membongkar kuburan para menteri besar dari kerajaan Tong-han dan setelah membongkar dua puluh sembilan kuburan akhirnya aku berhasil menemukan lagu Kong-leng-san di kuburan Coa Yong.” Sehabis menerangkan begitu, dia tertawa ter-bahak dengan kegirangan besar.

Cui San terkejut sekali. “Orang ini benar-benar tak mengenal Tuhan,” katanya dalam hati. “Hanya karena sepatah kata yang diucapkan orang jaman dulu, dia rela pembongkar kuburan. Andai kata ada orang yang berdosa kepadanya, ia pasti membalas sakit hati dengan sehebat-hebatnya.” Waktu mendongak, dia melihat sebuah lukisan yang tergantung di dinding gubuk perahu. Kalau dilihat dari warnanya yang sudah agak suram, lukisan San Cui (gunung dan air) itu sudah tua sekali, tapi lukisannya sendiri amat hidup, indah dan angker luar biasa.

Melihat pemuda itu mengawasi tanpa berkedip Cia Sun berkata, “Lukisan itu buah tangan Thio Ceng Yu jaman kerajaan Liang. Aku mencurinya dari istana Kaisar. Menurut orang, kalau melukis naga dia tidak pernah melukis matanya, sebab jika dilukis maka gambar naga lantas hidup dan terbang ke langit setelah mendobrak tembok. Tentu saja cerita itu omong kosong belaka dan hanya digunakan untuk memberi pujian kepada lukisan naga Thio Ceng Yu yang indah luar biasa. Menurut pendapatku, dua puluh empat huruf yang ditulis olehmu di tembok batu tidak kalah indahnya dari lukisan San-sui itu.”

“Boanpwe hanya mencorat-coret serampangan, mana dapat dibandingkan dengan pelukis kenamaan jaman dulu,” Cui San merendah.

Demikianlah, mereka berbincang-bincang tentang sastera dan lain-lain ilmu jaman dulu dan jaman sekarang dengan tuan rumah bicara sebagai seorang sasterawan besar. Cui San merasa sangat kagum akan pengetahuan Cia Sun, tapi hatinya tetap diliputi kegusaraaan karena mengingat kekejamannya. Beberapa lama kemudian dia mulai merasa sebal lalu memandang keluar jendela dan membiarkan si nona bicara terus dengan tuan rumah. Tiba-tiba dilihatnya matahari sore tenggelam di tepian laut sambil memancarkan sinar emas yang gilang gemilang. Selagi ia memandang dengan pikiran melayang-layang, mendadak ia terkejut.

“Kenapa matahari tenggelam di sebelah belakang perahu?” tanyanya dalam hati. Ia cepat menengok seraya berkata: “Cia-cianpwe, juru mudimu mengambil jalan yang salah. Kita menuju ke arah timur.”

“Tidak salah, kita memang sedang menuju ke timur,” jawabnya.

In So So juga kaget bukan main. “Di sebelah timur adalah lautan besar. Ke mana kita mau pergi?” tanyanya.

Cia Sun tidak segera memberi jawaban, tetapi perlahan-lahan menuang secawan arak lalu mengendus endusnya dengan paras muka berseri-seri.

”Arak ini adalah Lie-tin Tin-ciu dari Siauw-hin,” katanya sambil tersenyum. “Usianya paling sedikit sudah dua puluh tahun dan Jie-wi tak boleh memandang rendah.”

“Aku bukan bicarakan soal arak,” kata si nona dengan suara tidak sabaran. “Perahu salah jalan dan kau harus memerintahkan jurumudi memutar kemudi.”

“Bukankah waktu masih berada di pulau Ong-poan-san aku telah memberi-tahukan kalian seterang-terangnya?” kata Cia Sun, “Setelah mendapatkan To-liong-to, aku ingin mencari tempat yang terpencil di mana aku dapat mempergunakan tempo beberapa tahun untuk memecahkan teka teki pada golok mustika. Aku ingin mencari tahu kenapa To-liong-to dikatakan sebagai senjata yang paling dihormati di rimba persilatan dan apa benar pemiliknya dapat menguasai segenap orang gagah di kolong langit?

Daratan Tiong-goan adalah tempat yang amat ramai. Begitu orang tahu bahwa aku memiliki golok itu, mereka beramai-ramai tentu akan menyateroni untuk merebutnya dari tanganku. Dengan adanya gangguan itu, mana bisa aku memusatkan pikiran? Apa bila yang datang adalah pentolan seperti Thio Sam Hong Sian-seng atau Peh-bie Kauwcu atau yang lain-lain, belum tentu aku sanggup menandinginya. Itulah sebabnya kenapa aku ingin mencari sebuah pulau kecil yang terasing di tengah-tengah lautan, guna dijadikan tempat tinggalku selama beberapa tahun.”

“Kalau begitu kau antarkan kami pulang lebih dulu,” kata So So.

Cia Sun tertawa ber-gelak. “Begitu lekas kalian kembali di Tiong-goan, apakah rahasiaku tidak bocor?” tanyanya.

Cui San melompat dan berseru dengan suara keras: “Habis apa yang kau mau?”

“Aku tidak dapat berbuat lain kecuali minta supaya kalian tinggal bersamaku dan melewati hari-hari secara riang gembira selama beberapa tahun,” jawabnya. “Begitu aku berhasil menembus rahasia To-liong-to, kita bertiga segera kembali ke daratan Tiong-goan bersama-sama.”

“Bagaimana kalau sampai sepuluh tahun kau masih juga belum berhasil?” tanya pula Cui San.

“Kalian harus mengawani sampai sepuluh tahun,” jawabnya dengan tenang. “Seandainya seumur hidup aku tidak berhasil, maka kalian pun harus menemaniku seumur hidup. Kalian adalah sepasang orang muda yang amat serasi dan aku mengerti bahwa kalian saling mencinta satu sama lain. Nah! Kalian boleh menikah dan berumah tangga di pulau itu. Apa itu tidak cukup menyenangkan?”

Cui San marah bukan main. “Jangan ngaco kau!” bentaknya.

Ia melirik In So So dan ternyata si nona menunduk dengan paras muka kemalu-maluan. Ia bingung bukan main. Ia merasa tengah menghadapi beberapa lawan tangguh secara berbareng. Cia Sun lawan pertama, si nona lawan kedua, sedangkan dirinya sendiri merupakan lawan ketiga. Jika terus berdampingan dengan wanita cantik itu, belum tentu selamanya ia bisa menguasai diri. Terdapat kemungkinan besar sekali bahwa pada akhirnya ia akan roboh di bawah kaki In So So. Berpikir begitu, sambil menahan amarah ia berkata,

“Cia-cianpwe, aku adalah orang yang selamanya selalu memegang teguh kepercayaan. Aku pasti tak akan membocorkan rahasia Cianpwe. Aku bersumpah takkan bicara dengan siapa pun jua tentang kejadian hari ini.”

“Aku percaya dengan segala perkataanmu,” kata Cia Sun. “Thio Ngo-hiap adalah seorang pendekar kenamaan dan setiap kata-katanya berharga ribuan tahil emas. Hanya sayang, waktu berusia dua puluh lima tahun aku pernah bersumpah berat. Kalian lihatlah jeriji tanganku.”

Dia mengangkat tangan kirinya dan mementang jari-jarinya. Ternyata di tangan itu hanya ketinggalan tiga jeriji. Dengan paras muka dingin Cui San berkata,

“Tahun itu orang yang paling aku percaya dan paling kuhormati menipu dan mencelakakan hingga namaku rusak, rumah tangga berantakan, semua anggota keluargaku binasa dalam sekejap mata. Waktu itu aku membacok jari tangan dan bersumpah bahwa selama hidup tak percaya manusia lagi. Sekarang aku berusia empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun aku hanya bergaul dengan kawanan binatang. Aku percaya binatang, tidak percaya manusia. Selama dua puluh tahun aku membunuh manusia, tidak membunuh binatang.”

Cui San bergidik. Sekarang ia mengerti kenapa lagu Kong-leng-san begitu menyayat hati dan mengapa, meski pun berkepandaian sangat tinggi, nama orang itu tidak dikenal di dunia Kangouw. Sekarang ia mengerti bahwa kejadian hebat yang terjadi dua puluh tahun berselang telah mengubah sifat Cia Sun sehingga dia sangat membenci dunia dan segenap penghuninya. Dengan munculnya pengertian itu rasa marahnya agak mereda dan di dalam hatinya malah timbul rasa kasihan. Sesudah bengong sejenak, dia berkata dengan suara halus,

“Cia-cianpwe, bukankah sakit hatimu sudah terbalas?”

“Belum,” jawabnya. “Ilmu silat orang yang mencelakakan aku luar biasa tinggi dan aku tak dapat melawannya.”

Tanpa terasa, hampir berbareng Cui San dan So So mengeluarkan suara tertahan, “Masih ada manusia yang lebih lihay darimu?” tanya si nona. “Siapa dia?”

“Perlu apa aku memberi-tahukan namanya kepada kalian?” Cia Sun balas bertanya. “Jika bukan karena gara-gara sakit hati ini, apa perlunya aku merebut To-liong-to? Apa gunanya aku berusaha memecahkan teka teki pada golok itu? Thio Ngo-hiap, begitu bertemu denganmu aku merasa suka. Kalau menuruti kebiasaanku, sejak siang-siang jiwamu pasti sudah melayang. Bahwa aku membiarkan kalian hidup beberapa tahun lebih lama sebenarnya sudah melanggar kebiasaanku sehingga mungkin sekali pelanggaran itu akan mengakibatkan kejadian yang tidak baik bagi diriku.”

“Apa artinya perkataanmu?” menegas So So. “Mengapa kau mengatakan ‘hidup beberapa tahun lebih lama’?”

“Sesudah aku berhasil memecahkan rahasia To-liong-to, waktu mau meninggalkan pulau itu aku akan mengambil jiwamu,” jawabnya dengan tawar. “Satu hari belum berhasil, satu hari kalian masih boleh hidup.”

Si nona mengeluarkan suara di hidung. “Hmm! Menurut pendapatku golok itu hanya golok yang berat luar biasa dan tajam bukan main,” katanya. “Ada pun kata-kata tentang siapa saja yang memilikinya akan menguasai orang-orang gagah di kolong langit rasanya hanya omong kosong belaka.”

“Kalau benar begitu, biarlah kita bertiga berdiam di pulau itu seumur hidup,” kata Cui San.

Mendadak Cia Sun menghela napas dan paras mukanya diliputi awan kedukaan. Perkataan si nona mengena pada hatinya. Memang mungkin sekali To-liong-to hanya sebuah golok yang tajam dan kalau benar demikian maka sakit hatinya yang sangat besar tidak akan dapat dibalas lagi. Melihat paras Cia Sun yang penuh dengan kesedihan, Cui San ingin menghibur. Tapi sebelum ia membuka mulut, Cia Sun sudah meniup lilin seraya berkata,

“Tidurlah!”

Ia kembali menghela napas dan suara helaan napas itu terdengarnya bukan seperti suara manusia, tapi bunyi binatang yang sudah menghembuskan napasnya. Dan suara yang menyeramkan itu jadi lebih menyeramkan lagi karena bercampur dengan arus ombak di tengah lautan. Mendengar itu jantung Cui San dan So So memukul keras. Angin laut yang dingin menderu-deru. Sesudah lewat beberapa lama, si nona yang hanya mengenakan selembar pakaian tipis, tidak mampu mempertahankan diri lagi dan mulai menggigil.

“In-kouwnio, apa kau kedinginan?” bisik Cui San.

“Tidak apa-apa,“ jawabnya.

Cui San segera membuka jubah panjangnya dan berkata, “Kau pakailah.”

Si nona merasa amat berterima kasih. “Tak usah, kau sendiri juga kedinginan,” Ia menolak sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Meski pun mulutnya menolak tetapi tangannya menyambut juga jubah itu yang lalu digunakan untuk menyelimuti pundaknya. Begitu merasakan hawa hangat dari jubah, ia tersenyum dengan rasa beruntung.

Sementara itu Cui San sendiri mengasah otak untuk mencari jalan guna meloloskan diri. Sesudah berpikir bolak balik, ia berpendapat bahwa jalan satu-satunya adalah membunuh Cia Sun. Ia memasang kuping dan di antara suara gelombang terdengar suara menggerosnya Cia Sun yang sudah pulas nyenyak. Ia heran dan berkata dalam hati,

“Orang ini sudah bersumpah untuk tidak percaya pada manusia. Tapi bagaimana bisa tidur pulas dalam sebuah perahu bersama aku dan In-kouwnio? Apa dia tidak takut aku menurunkan tangan jahat? Atau, apakah karena menganggap kepandaiannya sudah amat tinggi maka tidak memandang sebelah mata kepadaku? Sudahlah! Biar bagaimana pun juga aku harus berani menempuh bahaya. Orang ini sudah pasti akan melakukan apa yang dikatakannya. Kalau terlambat, bisa-bisa aku harus menemani dia di pulau kecil sampai masuk ke lubang kubur.”

Setelah berpikir begitu, per-lahan ia mendekati In So So untuk membisikkan niatannya. Namun di luar dugaan, sebelum ia sempat membuka mulut, dalam kegelapan apa mau dikata si nona memutar kepala sehingga tanpa tercegah lagi, bibir pemuda itu menyentuh pipinya. Bukan main kagetnya Cui San! Ia ingin sekali menyatakan kepada si nona bahwa kejadian itu adalah kejadian kebetutan dan ia sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang ajar, tetapi mulutnya terkancing dan ia tak dapat mengeluarkan sepatah katapun.

Di lain pihak si nona girang bukan main. Ia lalu merebahkan kepalanya di pundak pemuda itu. Sesaat So So melupakan segala bahaya yang sedang mengancam dan pada detik itu ia merasa dirinya bagai manusia yang paling beruntung di dunia. Tiba-tiba ia mendengar bisikan Cui San,

“In-kouwnio, aku harap kau tidak menjadi marah.”

Dengan paras muka bersemu merah dan dengan suara terputus-putus, ia berkata, “Kau... mencintai aku... Aku... sangat... girang.”

In So So adalah sosok perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkedip. Tapi dalam keadaan begitu tak ada bedanya seperti wanita lain. Jantungnya memukul keras, mukanya panas, rasa malu, kaget dan girang tercampur menjadi satu. Kalau bukan berada dalam kegelapan, mungkin sekali ia tidak berani mengucapkan kata-kata yang menumplek isi hatinya itu kepada pemuda yang dicintainya.

Mendengar jawaban si nona, sekali lagi Cui San terkesiap. Ia tak menduga bahwa permintaan maafnya memancing pengakuan cinta. Biar bagaimanapun ia adalah manusia biasa, lelaki yang masih berusia muda. Maka jantungnya memukul keras dan ia jadi bingung bukan main. Tiba-tiba jiwa ksatrianya memberontak.

“Cui San!” Ia mengeluh. “Kenapa kau begitu lemah? Apa kau sudah lupa pesan In-su? Biar pun ia mencintai aku dan ia pernah melepas budi kepada Samko, tapi ia seorang dari agama yang menyeleweng dengan sepak terjangnya yang tidak dapat dibenarkan. Andai kata aku ingin menikah dengannya, lebih dulu aku harus memberi-tahu In-su. Mana boleh aku bercinta-cintaan di tempat gelap?” Berpikir demikian, perlahan ia mendorong tubuh si nona dan berbisik,

“Kita harus berusaha menaklukkan orang itu guna meloloskan diri.”

Mendengar bisikan itu, So So terkejut. “Apa?” Ia menegas.

“Meski berada dalam bahaya, kita harus bertindak secara tenang,” Menerangkan pemuda itu. “Jika kita menyerang selagi dia pulas, perbuatan kita bukan perbuatan ksatria. Aku akan membangunkannya kemudian akan menantangnya mengadu kekuatan. Selagi aku bertanding, kau harus melepaskan jarum emas ke jalan darahnya. Biar pun kita main keroyok dan kemenangan kita bukan kemenangan yang gemilang, tetapi apa boleh buat, karena ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari pada kita.”

Cui San membisikkan dengan suara yang sangat halus dan bibirnya hampir menempel di telinga si nona. Namun di luar dugaan, baru saja dia selesai, Cia Sun yang tidur di gubuk belakang tertawa terbahak-bahak.

“Kalau kau membokong, mungkin sekali kau masih mempunyai harapan,“ katanya dengan suara nyaring. “Tapi dengan ingin mengambil jalan yang terang untuk mempertahankan nama baik partaimu, kau malah mencari celaka sendiri.”

Di lain saat, berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia tahu-tahu ia telah berada di hadapan Cui San lantas menghantam dada pemuda itu dengan telapak tangannya. Selagi Cui San bicara, ia telah mengempos semangat dan mengerahkan Iweekang. Begitu lawan menyerang, segera menyambut dengan tangan kanannya dan balas mengirim serangan dengan tenaga Bin-ciang (Pukulan kapas). Begitu tangannya bentrok dengan tangan lawan, ia merasa dadanya tergetar dan tenaga lawan menindih hebat bagaikan gelombang. Sebelum tangan lawan menyambar, Cui San yang mengetahui keunggulan orang telah mengerahkan seluruh Iweekang untuk membela diri. Oleh sebab itu, waktu angin pukulan menyambar, ia segera menarik pulang lengannya kira-kira delapan dim dan dengan garis pembelaan yang lebih pendek itu, ia mendapat banyak keuntungan sehingga biar pun Cia Sun terus menambah tenaganya, ia masih dapat mempertahankan diri.

Sesudah mendorong tiga kali, Cia Sun merasa heran sekali karena meski pun Iweekang lawannya lebih rendah, namun ia tidak berhasil menghancurkannya. Ia terus menambah tenaga, tetapi Cui San masih tetap dapat mempertahankan diri. Selagi mereka mengadu kekuatan mati-matian, papan perahu mengeluarkan suara.

“Krekek! Krekek!”

Papan itu tidak kuat menahan tindihan tenaga kedua orang yang tengah bertanding itu. Tiba-tiba Cia Sun mengangkat tangan kirinya menghantam kepala Cui San yang cepat menangkis dengan tangan kirinya menggunakan pukulan Hou-kee-kim-liang (Memasang penglari emas). Sesudah kedua tangannya beradu, Cui San merasa dadanya ditindih tenaga Im-jiu (tenaga lembek), sedangkan tenaga yang menindih dari atas kepala adalah tenaga Yang-kong (tenaga keras). Bahwa orang dapat menyerang dengan dua macam tenaga berbarengan adalah kepandaian yang sungguh jarang terdapat di rimba persilatan.

Untung ilmu silat Bu-tong-pay sangat mengutamakan Iweekang, sehingga meski pun dalam pertempuran biasa kepandaian Cui San masih jauh, tapi dalam pertandingan Iweekang, dengan menggunakan ‘ilmu meminjam tenaga, memindahkan tenaga’ dan Sie-nio-po-cia-kin, sedikitnya untuk sementara waktu ia masih dapat mempertahankan diri. Dalam sekejap saja keringat membasahi pakaian pemuda itu.

“Mengapa In-kouwnio masih belum turun tangan?” tanyanya dalam hati. “Jika In-kouwnio menyerang, dia pasti akan berkelit dan waktu dia berkelit, aku bisa menggunakan kesempatan menyerang.”

Rupanya kemungkinan itu juga telah diingat oleh Cia Sun sendiri. Waktu baru menyerang, ia menduga bahwa dengan sekali pukul, ia akan dapat merobohkan pemuda itu. Tetapi di luar dugaan, sesudah sepeminuman teh Cui San masih sanggup mempertahankan diri. Ia mengerti bahwa ia bisa celaka jika si nona turun tangan. Oleh sebab itu sambil bertanding kedua lawan tersebut terus memperhatikan gerak-gerik In So So. Karena sedang mengerahkan seluruh Iweekang-nya, Cui San tidak berani bicara. Tetapi Cia Sun yang Iweekang-nya sudah mencapai puncak tertinggi masih dapat bicara.

“Nona kecil, aku nasihati kau agar jangan coba-coba turun tangan,” katanya. “Begitu kau melepaskan jarum emasmu maka aku lantas menghantam dengan sekuat tenaga hingga kekasihmu tidak dapat hidup lebih lama lagi “

“Cia-cianpwe, tarik pulang seranganmu,” kata si nona.

“Kamu akan menghaturkan maaf?” tanya Cia Sun.

Cui San tidak berani menjawab, karena begitu membuka suara, tenaganya akan habis. Ia mendongkol bukan main karena So So tidak melepaskan jarumnya.

“Cia-cianpwe, lekas tarik pulang tenagamu!” teriak nona In dengan suara bingung. “Apa kau mau aku turun tangan?”

Sebenarnya dalam hati Cia Sun pun sangat kuatir. Dalam kegelapan dan di tempat yang sangat sempit, ia akan sukar menolong diri kalau si nona menyerang dengan jarum emas yang berjumlah besar dan halus itu. Ia juga tidak bisa menangkis jarum-jarum itu dengan kedua tangannya yang tengah beradu dengan kedua tangan Cui San. Maka itu apa bila So So menyerang, mungkin sekali mereka bertiga akan binasa atau terluka berat bersama-sama. Karena adanya kekuatiran itu, ia segera berkata:

“Nona kecil, sebenarnya aku tidak punya niat yang kurang baik. Aku bersedia mengampuni jiwanya jika kau bersumpah atas namanya.”

Sesudah berpikir sejenak, So So berkata: “Thio-ngoko, kita bukan tandingan Cia-cianpwe. Tak ada jalan lain kecuali menurut perintahnya dan menemani dia satu dua tahun. Sebagai seorang yang otaknya sangat cerdas, kurasa tak sukar untuk Cia-cianpwe memecahkan rahasia To-liong-to. Ngo-ko, boleh aku bersumpah atas namamu?”

Cui San tetap tidak berani menyahut. Di dalam hati ia mendongkol bukan main karena si nona masih juga tidak mau melepaskan senjata rahasianya. Melihat kekasihnya bungkam, si nona lantas berkata,

“Aku In So So bersama Thio Cui San berjanji akan mengawani Cia-cianpwe di sebuah pulau sampai Cia-cianpwe bisa memecahkan rahasia To-liong-to. Jika kami mempunyai hati bercabang, biarlah kami mati di bawah pedang atau golok “

Cia Sun tertawa, “Bagi orang-orang rimba persilatan, mati di bawah senjata bukanlah soal penting,” katanya.

Si nona menggertak gigi. “Baiklah,” katanya dengan suara marah. “Apa bila aku melanggar janji, biarlah aku tidak bisa hidup sampai dua puluh tahun. Apa kau puas?”

Cia Sun tertawa terbahak-bahak kemudian dia menarik pulang tenaganya. Begitu tindihan tenaga lawan disingkirkan, Cui San yang sudah habis tenaganya lantas roboh di atas papan perahu. Melihat muka pemuda itu pucat bagaikan kertas dan napasnya tersengal-sengal, bukan main bingungnya si nona yang lantas saja menubruk sambil mengucurkan air mata.

“Murid Bu-tong sungguh-sungguh bukan nama kosong,” memuji Cia Sun. “Tak malu mereka menjagoi rimba persilatan di wilayah Tiong-goan.”

Sementara itu So So telah mengeluarkan sapu tangan kemudian menyusuti keringat yang membasahi wajah Cui San. Melihat si nona menangis sedu sedan, kedongkolan pemuda itu hilang malah di dalam hatinya timbul perasaan amat berterima kasih. Baru saja ia ingin menghaturkan terima kasih, tiba-tiba matanya gelap. Sayup-sayup ia mendengar teriakan So So,

“Orang she Cia, jika kakakku mati, aku akan mengadu jiwa denganmu!”

Di lain saat, dalam keadaan setengah sadar ia mendengar suara menderunya angin sambil badannya terayun-ayun. Dia merasa badannya basah dan air asin masuk ke dalam mulutnya. Saat itu ia sadar dan hatinya bingung, karena ia menduga perahu tenggelam. Cepat-cepat ia bangun berdiri, tapi ia tak dapat berdiri tegak sebab perahu kembali miring ke kiri karena ada gelombang yang menghantam. Angin menderu-deru dan gelombang sebesar bukit menerjang susul meyusul. Dalam keadaan ribut dan kacau itu tiba-tiba dia mendengar teriakan Cia Sun,

“Thio Cui San, lekas pergi ke belakang perahu dan pegang kemudi.”

Tanpa pikir lagi dia berlari ke belakang perahu. Ombak lagi-lagi menghantam perahu miring ke kiri kanan dan sebuah perahu kecil yang semula ditaruh di atas perahu layar terbang ke atas beberapa tombak tingginya, kemudian tenggelam ke dasar laut. Sebelum Cui San tiba di tempat kemudi, gelombang-gelombang besar mengamuk hingga perahu terputar-putar dan terpental kian kemari. Buru buru dia mengempos semangat dan menancap kedua kakinya di papan perahu sehingga biar pun perahu terombang-ambing badannya tidak bergerak. Beberapa saat kemudian, sesudah serangan gelombang agak mereda, ia merangkak dan dengan kedua tangannya ia memegang kemudi erat-erat.

Se-konyong-konyong terdengar beberapa kali suara gedubrakan yang keras bukan main dan badan perahu bergoyang-goyang. Ternyata dengan menggunakan Long-gee-pang Cia Sun merobohkan tiang layar tengah dan depan, lalu kedua tiang itu bersama-sama kain layarnya yang berwarna putih jatuh ke laut. Topan yang menyerang benar-benar hebat. Biar pun sekarang hanya tersisa sebuah layar belakang, akan tetapi perahu itu masih tetap miring kian kemari seperti orang mabok arak. Menghadapi serangan alam yang hebat, Cia Sun yang gagah tak berdaya. Dia mengawasi langit dengan paras muka mendongkol dan beberapa kali hampir saja ia tergelincir disapu angin. Akhirnya dengan apa boleh buat dia mengangkat Long-gee-pang, lalu menghantam tiang yang terakhir. Sesudah semua tiang layar roboh, perahu terombang ambing tanpa tujuan.

Tiba-tiba Cui San ingat So So. “In-kouwnio!” teriaknya. “Di mana kau? In-kouwnio! Di mana kau?”

Berulang-ulang ia berteriak, tetapi sedikit pun tidak mendapat jawaban sehingga dalam teriakan terakhir, suaranya seperti orang menangis. Ia merasa lututnya seperti dipeluk orang dan berbareng itu sebuah gelombang besar menyambar badannya.

ASMARA DI TENGAH MAUT

Sambil mengempos semangat dia mencekal kemudi erat-erat, namun tak urung tubuhnya bergoyang-goyang karena dahsyatnya ombak itu. Pada detik itu orang yang barusan memeluk lututnya sudah merangkul pinggangnya.

“Thio-ngoko, terima kasih,” demikian terdengar suara In So So yang lemah lembut, “Kau sangat memperhatikan keselamatanku.”

Cui San girang bukan kepalang. “Oh, Tuhan! Terima kasih untuk perlindunganMu!” bisiknya sambil memeluk pinggang si nona.

Angin terus mengamuk dan amarah lautan belum mereda. Di antara pukulan-pukulan gelombang, mendadak Cui San melihat kenyataan. Dia sekarang mengakui bahwa dalam bahaya dia lebih memikirkan keselamatan So So dari pada keselamatan dirinya sandiri.

“Thio-ngoko, biarlah kita mati bersama-sama,” bisik si nona.

Dalam keadaan biasa, sungguh pun kedua orang muda itu mencintai satu sama lain mereka tak akan menumplekkan isi hati begitu cepat dan terang-terangan. Namun pada saat itu, pada detik bersama menghadapi kebinasaan, segala perasaan malu dan jengah dikesampingkan.

“Krekek...! Krekek...!”

Di dalam kegelapan dan di antara badai, badan perahu tak hentinya mengeluarkan suara dan bisa hancur luluh disetiap saat, tapi di dalam hati kedua orang muda itu terdapat rasa beruntung yang tiada batas. Setelah mengadu tenaga dengan Cia Sun, sebenarnya Cui San merasa lelah bukan main. Tetapi rasa cinta yang sekarang sedang memenuhi dadanya sudah memberi tenaga baru kepadanya. Dengan tangan kanan mencekal kemudi dan tangan kiri memeluk pinggang si nona, ia mengempos semangat dan mengerahkan seluruh tenaga untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan topan dan gelombang. Semua anak buah perahu sudah habis disapu air. Jika Cia Sun, Cui San dan So So tidak memiliki ilmu tinggi, siang-siang mereka pun sudah ditelan laut.

Untung juga perahu itu sangat kuat buatannya sehingga walau pun diserang begitu hebat tetapi tidak sampai jadi berantakan. Di lain saat, untuk menambah penderitaan, hujan turun seperti dituang-tuang. Sementara itu, sesudah merobohkan semua tiang layar, sambil merangkak Cia Sun pergi ke belakang perahu.

“Thio-hengte, terima kasih untuk bantuanmu,” katanya. “Serahkan kemudi kepadaku dan pergilah kalian mengaso di gubuk perahu.”

Cui San menyerahkan kemudi kepadanya, kemudian dia menuju ke gubuk perahu sambil menuntun tangan si nona. Tetapi baru saja berjalan beberapa tindak, se-konyong2 sebuah gelombang sebesar bukit menghantam dengan dahsyatnya. Karena serangan itu datang secara sangat mendadak, kali ini Cui San tidak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badan mereka tersapu dan terpental keluar perahu. Pada lain detik tubuh Cui San sudah berada di tengah udara dan melayang turun ke atas gelombang! Dalam bingungnya dia berhasil menjambret pergelangan tangan So So. Pada saat itu dia hanya ingat untuk binasa bersama dengan si nona.

Tapi baru saja tangan kirinya mencekal pergelangan tangan nona In, sekonyong-konyong sehelai tambang sudah datang menyambar lalu melibat lengan tangan kanannya. Hampir berbareng dia merasa tubuhnya ditarik ke belakang, kemudian bersama-sama So So jatuh di atas papan perahu. Yang menolong mereka adalah Cia Sun sendiri. Pada saat yang sangat genting Cia Sun menjemput seutas tambang layar yang kebetulan menggetetak di dekat kakinya sehingga pada detik terakhir itu, jiwa kedua orang muda ini dapat tertolong. Itulah kejadian yang sangat di luar dugaan.

“Benar-benar berbahaya!” Cia Sun mengeluh. Kalau tambang itu tidak kebetulan berada di dekatnya, biar pun mempunyai kepandaian yang sepuluh kali lipat lebih tinggi, ia tentu tak akan berdaya.

Dengan merangkak Cui San dan So So lalu masuk ke dalam gubuk perahu. Perahu terus terombang-ambing, sebentar seperti berada di puncak gunung dan sebentar seperti masuk ke dalam lembah. Tapi semua bahaya itu tidak ada artinya lagi bagi mereka yang seolah-olah baru saja bangun dari kuburan.

“Ngoko,” bisik nona In. “Jika kita bisa hidup terus, aku tidak mau berpisahan dengan kau untuk selama-lamanya.”

“Aku pun justru ingin mengatakan begitu,” kata Cui San. “Langit di atas, bumi di bawah, di antara manusia dan di dasar lautan, kita akan tetap bersama-sama.”

Si nona menghela napas. “Benar,” bisiknya pula. “Langit di atas, bumi di bawah, di antara manusia dan di dasar lautan, kita akan tetap bersama-sama.”

Sementara itu Cia Sun mengemudikan perahu sambil mengomel panjang pendek. Dalam menghadapi badai dan gelombang, ternyata kepandaiannya yang amat tinggi itu tidak bisa banyak menolong. Setelah mengamuk tujuh jam lamanya barulah topan mereda. Awan hitam perlahan-lahan buyar dan bintang-bintang mulai muncul lagi di atas langit. Cui San dan So So keluar dari gubuk perahu.

“Cia-cianpwe, terima kasih banyak untuk pertolonganmu,” kata pemuda itu.

“Tidak usah rewel,” jawabnya. “Kita bertiga hampir saja mampus.”

Cui San menghela napas kemudian menggantikan memegang kemudi. Sesudah bertahan mati-matian hampir satu malam, Cia Sun pun sudah lelah sekali sehingga dia segera pergi ke gubuk perahu untuk mengaso. So So duduk di samping kecintaannya sambil mendongak memandang bintang Pak-tauw yang tengah memancarkan sinarnya.

“Ngoko, perahu ini tengah menuju ke jurusan utara,” katanya.

“Benar,” jawabnya. “Aku ingin sekali dia menuju ke barat supaya kita bisa pulang.”

“Kalau dia berbalik ke timur, entah ke mana kita akan pergi,” kata pula nona In.

“Ke timur masuk bilangan samudera,” kata Cui San. “Apa bila kita berada di tengah lautan tujuh delapan hari saja, tanpa air, maka kita akan...”

“Kudengar di lautan Tanghay ada sebuah pulau dewata,” memutus si nona. “Kata orang di pulau itu terdapat dewa-dewi yang hidup abadi. Jika kita mendarat di pulau itu, siapa tahu kita akan bertemu dengan para dewa dan dewi...” Sambil mengawasi bima sakti yang membentang di langit, ia berkata lagi, “Mungkin sekali perahu ini akan berlayar terus sehingga sampai di bima sakti dan kita dapat menyaksikan pertemuan di atas jembatan burung antara Gu Long dan Cit Lie.“

Bima sakti adalah sehelai sinar terang di waktu malam yang membentang di langit, terdiri dari pada rangkaian bintang-bintang.

“Ya,” kata Cui San. “Kita boleh menyerahkan perahu ini kepada Gu Long supaya dia dapat menemui Cit Lie di sembarang waktu dan tidak usah menunggu Cit-gwee Cit-sek (tanggal tujuh Cit-lie).”

Si nona tersenyum. “Ngoko, jika perahu dihadiahkan kepada Gu Long, alat angkut apakah yang dapat digunakan kita jika kita ingin bertemu?” tanyanya.

“Langit di atas, bumi di bawah, sekali bersama-sama, kita akan selalu bersama-sama,” jawabnya. “Perlu apa kita menyeberangi bima sakti?”

In So So tertawa, paras mukanya seolah-olah sekuntum bunga yang baru mekar. Dengan sikap kemalu-maluan dia memegang erat-erat tangan Cui San. Kedua orang mula itu saling berpegang tangan dengan rasa bahagia. Banyak sekali yang ingin dikatakan mereka, akan tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu. Memang begitulah, mana kala dua manusia sedang mencintai satu sama lain, tidak perlu kata-kata sama sekali. Dengan lirikan mata saja mereka sudah berbicara banyak karena dalam keadaan demikian, yang satu sudah tahu apa yang mau dikatakan oleh yang lain.

Entah sudah selang berapa lama barulah Cui San menunduk dan melirik kecintaannya. Ia terkejut karena kedua mata si nona nampak basah dan paras mukanya penuh kedukaan.

“Mengapa kau menangis?” bisiknya.

“Di antara manusia atau di bawah lautan mungkin sekali aku dapat berkumpul denganmu,“ jawabnya perlahan. “Tapi di hari kemudian, setelah kita meninggal dunia, kau akan masuk ke surga, sedangkan aku... aku... akan masuk ke neraka!”

“Omong kosong!” bentak Cui San dengan suara mencinta.

So So menghela napas dan berkata dengan suara menyesal, “Aku sendiri mengerti... aku mengakui bahwa memang aku telah melakukan banyak sekali perbuatan jahat dan banyak membunuh manusia secara sembarangan.”

Cui San terkejut. Diam-diam dia merasa bahwa memang benar dia tidak pantas menikah dengan seorang wanita yang sepak terjangnya menyeleweng seperti In So So. Akan tetapi karena rasa cintanya sudah mendalam, juga dalam menghadapi bahaya besar orang tidak menghitung-hitung kejadian di hari kemudian, maka dia pun lantas saja membujuk dengan suara lemah lembut,

“Masih belum terlambat kalau kau ingin memperbaiki kesalahanmu. Mulai sekarang juga kau harus berbuat kebaikan guna menebus segala dosa-dosamu.“

So So tidak menyahut. Beberapa saat kemudian tiba-tiba dia menyanyi dengan perlahan. Yang dinyanyikannya adalah lagu Sam-po-yang, sebuah lagu rakyat yang sangat terkenal pada jaman kerajaan Goan. Lagu itu biasa dinyanyikan rakyat dari selatan hingga di utara, hanya kata-katanya banyak berbeda satu sama lain. Sambil menahan napas Cui San mendengar nyanyian itu yang seperti berikut:

“Dia dan aku,
Aku dan dia.
Di antara kita terdapat banyak rintangan.
Bagaimana dapat mencapai sebuah pernikahan?
Akhirnya mati di depan keraton Giam-ong.

Ai ya! Biarkanlah!
Mengambil alu untuk menumbuknya.
Mengambil gergaji untuk menggergajinya
Mengambil penggilingan untuk menggilingnya,
Mengambil kuali untuk menggorengnya.

Ai ya! Biarkanlah!
Apa yang terlihat, manusia hidup mendapat hukuman,
Belum pernah terlihat, setan jadi perantaian.

Ai ya! Biarkanlah!
Alis terbakar, perhatikan saja mata,
Alis terbakar, perhatikan saja mata.”

Nyanyian itu disambut dengan sorak sorai Cia Sun dari dalam gubuk perahu. “Bagus! Nyanyian itu benar-benar bagus!” teriaknya. “In-kouwnio, kau lebih menyocoki aku dari pada Thio-siangkong-mu yang berlagak mulia!”

“Ya, aku dan kau adalah manusia-manusia jahat, maka kita pasti akan mati secara tidak baik,” kata si nona.

“Kalau kau mati secara tidak baik, aku pun begitu,” bisik Cui San.

So So kaget tercampur girang. Ia mengawasi pemuda itu dan hanya dapat mengeluarkan sepatah kata,

“Ngoko ...”

Pada keesokan paginya, dengan mempergunakan Long-gee-pang Cia Sun membinasakan seekor ikan yang beratnya belasan kati dan yang dapat menangsal perut selama dua hari. Karena lapar, biar pun hanya ikan mentah tetapi mereka makan dengan bernapsu. Untung toya itu yang dipasangi paku-paku seperti gaetan sehingga menjadi alat yang amat cocok untuk memukul ikan. Walau pun di atas perahu sudah tidak ketinggalan setetes air tawar, tapi dengan menelan minyak dan cairan yang keluar dari badan ikan mereka masih dapat mempertahankan diri.

Arus air terus mengalir ke utara. Siang malam mereka dapat melihat bintang kutub utara yang memancarkan sinarnya berhadapan dengan kepala perahu. Di waktu siang matahari muncul dari sebelah kiri perahu dan di waktu sore tenggelam dari sebelah kanan. Selama belasan hari keadaan berlangsung seperti itu tanpa perubahan. Semakin lama hawa udara jadi semakin dingin. Dengan memiliki Lweelang yang tinggi, Cia Sun dan Cui San masih mampu mepertahankan diri. Tetapi tidak begitu dengan In So So. Dia kedinginan sehingga mukanya berubah pucat. Cia Sun dan Cui San membuka jubah panjang mereka lalu memberikannya kepada si nona, tetapi pakaian yang tidak seberapa tebal itu tidak banyak menolong.

Dengan sekuat tenaga si nona coba menguatkan diri bertahan dan sebisa-bisanya terus memperlihatkan paras gembira. Namun Cui San yang tahu bahwa kegembiraan itu adalah kegembiraan yang dibuat-buat, menjadi semakin bingung. Kalau perahu terus menuju ke utara beberapa hari lagi, dia tahu bahwa kecintaannya bakal mati kedinginan. Tapi benar juga orang kata, Langit tidak memutuskan jalan manusia. Secara tak diduga-duga, mendadak perahu berpapasan dengan sekelompok biruang dan dengan menggunakan Long-gee-pang, Cia Sun telah membinasakan beberapa antaranya. Kulit biruang merupakan selimut hangat, sedangkan dagingnya dapat dimakan. Maka tak usah dikatakan lagi, mereka bertiga menjadi girang bukan main. Malam itu mereka berkumpul di kepala perahu sambil mengawasi langit.

“Binatang apa yang paling berfaedah dalam dunia ini?” tanya So So sambil tertawa.

Cia Sun dan Cui San tertawa geli. “Biruang,” jawab mereka hampir berbareng. Sesaat itu tiba-tiba terdengar suara.

“Ting tung ting tung...!”

Serentak mereka memasang kuping, lalu paras muka Cia Sun mendadak berubah pucat.

“Es! Es yang mengambang!” katanya dengan suara parau. Ia memukul-mukul air dengan senjatanya dan terdengar suara terpukulnya kepingan-kepingan es.

Hati mencelos, dingin bagaikan es. Mereka tahu bahwa jika perahu terus menuju ke utara, pada akhirnya dia akan terjepit di antara balokan-balokan es dan tidak dapat bergerak lagi. Itu akan berarti bahwa mereka pun tidak akan bisa hidup lebih lama lagi. Malam itu mereka tidak dapat pulas, kuping mereka terus mendengar suara “ting tung ting tung” yang tak henti-hentinya. Pada keesokan paginya kepingan-kepingan es sudah menjadi lebih besar, sudah sebesar mangkok, sedangkan suaranya pun makin nyaring.

Cia Sun tertawa getir seraya berkata, “Hai! Aku bermimpi ingin membuka rahasia To-liong-to. Tapi siapa nyana sebelum berhasil aku sudah menjadi manusia es.”

Jantung si nona berdebar-debar. Dia mencekal tangan Cui San erat-erat. Mendadak Cia Sun mengangkat To-liong-to dan membentak dengan suara gusar.

“Paling benar lebih dulu aku mengantarkan kamu kekeraton Raja Naga!”

Walau pun sudah mengangkat golok tetapi dia tidak tega dan sambil menghela napas dia pergi ke gubuk perahu untuk menaruh golok mustika. Empat hari lewat lagi dan selama empat hari itu perahu terus menuju ke utara. Balokan es jadi semakin besar, sekarang telah sebesar meja atau rumah kecil. Mereka merasa bahwa kebinasaan sudah berada di depan mata dan dalam menghadapi kebinasaan, mereka jadi nekat dan tidak mau berpikir panjang2 lagi. Malam itu kira-kira tengah malam, sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan dan perahu bergoncang hebat.

“Bagus! Sungguh bagus!” teriak Cia Sun. “Gunung es!”

Cui San dan So So saling memandang sambil tersenyum getir. “Inilah saat terakhir!” pikir mereka. Tiba-tiba mereka saling berpelukan erat-erat. Mereka ingin mati dalam keadaan begitu. Di lain saat mereka merasa air es sudah sampai di lutut.

“Tamatlah! Perahu sudah pecah!”

Sekonyong-konyong terdengar teriakan Cia Sun, “Naik ke atas gunung es! Bisa hidup satu hari, biar kita hidup satu hari! Langit mau membinasakan aku, aku akan melawan!”

Dua orang muda itu tersadar. Buru-buru mereka melompat ke kepala perahu. Di samping perahu berdiri sebuah gunung es yang di bawah sinar rembulan memancarkan sinar hijau yang dingin luar biasa. Itulah pemandangan yang indah tapi amat menakutkan. Cia Sun berdiri di sebuah undakan di bagian bawah gunung es itu, lalu dia menyodorkan senjatanya untuk menyambut kedua orang muda itu. Dengan tangan kiri So So menekan Long-gee-pang, lalu dia melompat naik ke gunung es itu bersama-sama Cui San. Perahu itu ternyata berlubang besar dan selang kira-kira seminuman teh sudah tenggelam ke dalam laut.

Cia Sun segera menggelar selembar kulit biruang di atas es, dan mereka bertiga lantas saja duduk dengan berendeng pundak. Jika berada di atas bumi, besar gunung es itu kira-kira sama dengan sebuah bukit kecil, dengan garis tengah sekitar delapan belas tombak dan tingginya kurang lebih lima tombak. Cia Sun mendongak sambil mengeluarkan teriakan nyaring se-akan2 sedang menantang musuh,

“Dadaku menjadi sesak jika berdiam di perahu yang sempit,” katanya. “Tempat ini lebih cocok untuk aku melemaskan urat,” sambil berkata begitu ia berjalan mondar mandir dan sungguh heran, kakinya tidak terpeleset meski pun permukaan es licin luar biasa.

Cui San mengerti bahwa dia sedang menantang Langit yang dianggapnya sangat tidak adil terhadapnya. Dalam menghadapi kebinasaan, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Dengan menuruti tiupan angin dan arus air, gunung es itu terus bergerak ke jurusan utara. Pada suatu hari, selagi mereka bertiga duduk terpekur, tiba-tiba Cia Sun tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara mengejek,

“Langit sudah mengirim sebuah perahu untuk menyambut kita guna bertemu dengan Pak-kek Siang-ong (Dewa Kutub Utara).”

Mendengar itu So So hanya tersenyum. Ia tidak menghiraukan biar pun langit bakal roboh asal saja kecintaannya berada di sampingnya. Tetapi Cui San mengerutkan alis dan pada paras mukanya terlukis sinar kedukaan. Selang tujuh delapan hari kemudian, es yang disoroti matahari memancarkan sinar yang berkilau demikian hebatnya sehingga mata mereka terasa sakit sekali. Oleh karena itu, di waktu siang mereka menyelimuti kepala dengan kulit biruang sambil merebahkan diri di atas es dan pada waktu malam barulah mereka bangun untuk menangkap atau memburu biruang.

Sungguh heran, makin ke utara siang hari menjadi semakin panjang sehingga belakangan, jangka waktu di malam hari hanya beberapa jam saja. Makin lama Cui San dan So So jadi makin lelah dan paras muka mereka makin pucat. Cia Sun sendiri kelihatan seperti seorang yang lupa ingatan dan pada kedua matanya terlihat sinar luar biasa. Kadang-kadang, kalau datang kalapnya, dia menuding-nuding tangan dan mencaci-caci seolah-olah dia sudah menjadi manusia edan. Pada suatu malam, karena tak dapat pulas di siang hari, Cui San tidur sambil menyender pada es. Dalam pulasnya tiba-tiba dia mendengar jeritan So So,

“Lepaskan! Lepaskan!”

Dia tersadar lantas melompat bangun dan melihat Cia Sun sedang memeluk kecintaannya dengan mulut mengeluarkan suara seperti bunyi binatang buas.

“Ho-ho-ho!”

Sesudah menyaksikan lagak Cia Sun yang luar biasa selama beberapa hari, sebenarnya Cui San merasa sangat berkuatir. Hanya dia tak menduga bahwa orang itu dapat berbuat begitu rupa terhadap So So.

“Lepaskan!” bentaknya dengan gusar sambil melompat maju.

Cia Sun tertawa terbahak-bahak. “Dalam menghadapi kebinasaan, aku tidak kenal segala peraturan bau,” katanya. “Sewaktu masih berada di atas bumi aku sudah tidak mengenal Lie-gie-liam-tie. Apa lagi sekarang!”

Lie-gie-liam-tie berarti adat istiadat, pribudi putih bersih, tidak korupsi dan mengenal malu, yaitu empat prinsip dari Kwan Tong.

“Lepaskan!” teriak pula Cui San dengan gusar. “Kalau tidak maka aku akan mengadu jiwa denganmu.”

“Dia apamu? Jangan ikut campur urusanku!” jawabnya dengan suara dingin. Kemudian dia mengencangkan pelukannya sehingga So So mengeluarkan jeritan kesakitan.

“Dia isteriku,” kata Cui San dengan bingung. “Cia-cianpwe, seorang laki-laki lurus berjalan lurus. Walau pun sekarang kita berada di atas gunung es, tetapi janganlah kau melakukan perbuatan yang hanya akan memalukan diri sendiri.”

Cia Sun tertawa terbahak-bahak. “Aku si orang she Cia belum pernah menghiraukan jahat atau baik,” katanya. “Andai kata benar kau suaminya, kau tetap tak boleh ikut campur dan harus menuruti segala perintahku. Aku akan menghajarmu jika berani membandel.”

Cui San tak bisa menahan sabar lagi. “Baiklah, biar kita bertiga mampus bersama-sama!” bentaknya seraya menghantam punggung Cia Sun yang cepat menangkis dengan tangan kirinya.

Tubuh Cui San bergoyang-goyang dan karena licinnya es, dia tak dapat berdiri tetap dan lantas saja terguling. Cia Sun mengangkat kaki kanannya kemudian menendang pinggang pemuda itu. Tapi Cui San pun bukan anak kemarin dulu. Dia menekan es dengan satu tangannya dan melompat bangun, sementara tangan yang lain menotok jalan darah di lutut Cia Sun. Pada detik yang berbahaya, cepat bagaikan tendangannya, tangan kanannya memukul kepala Cui San sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang si nona.

Sesaat itu tangan kiri So So mendapat kemerdekaan, maka buru-buru dia menggunakan dua jerijinya untuk menotok jalan darah Sui-touw-hiat di tenggorokan orang. Akan tetapi di luar dugaan, tanpa menghiraukan serangan itu Cia Sun terus mengerahkan Lweekang dan memukul kepala Cui San. Pemuda itu menangkis dengan kedua tangan dan dia terkesiap karena pukulan itu berat luar biasa sehingga dadanya menyesak.

Di lain pihak, nona In pun tidak kurang kagetnya. Dua jerijinya yang menotok Sui-touw-hiat seperti membentur benda yang licin dan serta merta didorong balik dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan. Si nona mencelos hatinya, sebab biar pun seorang yang mempunyai ilmu weduk Kim-ciong-to atau Tiat-po-san tidak akan dapat menahan totokannya itu. Dari sini dapat dibayangkan betapa tinggi kepandaian Cia Sun.

Waktu itu badan So So dan tangan kanannya sedang dipeluk keras2 dan hanya tangan kirinya yang merdeka. Setelah totokannya gagal, dengan pertolongan sinar es dia melihat muka Cui San yang sepasang matanya berwarna merah bagaikan darah dan seolah-olah mengeluarkan api. Pada detik itu mendadak dia teringat pengalamannya waktu mengikuti ayahnya memburu harimau di hutan. Ia ingat bahwa kedua mata seekor harimau yang terluka juga berwarna merah darah. Sepulangnya dari perburuan, sering dia merasa kasihan terhadap binatang itu.

Sekarang, melihat Cia Sun yang menyerupai macan edan, rasa kasihannya timbul dan dia berkata kepada dirinya sendiri: “Dia biasanya ramah tamah dan sopan santun. Dia beradat aneh, tapi keanehan itu adalah akibat pengalaman getir di dalam kehidupannya. Tapi biar bagaimana pun juga dia adalah seorang yang luar biasa mahir dalam ilmu surat dan ilmu silat. Bahwa sekarang dia kalap adalah karena otaknya yang kurang beres. Selagi berpikir begitu, tiba-tiba di sebelah utara muncul sinar berkeredepan yang beraneka warna dan indah luar biasa.

“Cia-cianpwe,” katanya dengan suara lemah lembut. “Kau mengasolah. Lihatlah! Di tepian langit muncul sinar yang sangat luar biasa!”

Cia Sun menengok ke arah yang ditunjuk si nona. Di antara kegelapan di sebelah utara itu ternyata muncul ribuan bahkan laksaan sinar terang yang amat aneh, sebentar besar dan sebentar kecil, sedangkan warnanya kuning bercampur ungu dan di dalam sinar ungu itu berkeredepan sinar keemas-emasan. Cia Sun terkesiap, dia cepat melepaskan pelukannya dan menarik pulang tangannya yang menindih kedua tangan Cui San. Di lain saat, sambil menggendong tangan dia berjalan ke pinggir gunung es dan memandang ke arah utara dengan mata membelalak.

Ternyata kini mereka sudah mendekati Kutub Utara. Sinar aneh yang luar biasa itu adalah pemandangan yang hanya terdapat di daerah kutub. Pada jaman itu belum pernah ada orang Tionghoa yang pernah melihat pemandangan tersebut. Sambil memegangi tangan kecintaannya, Cui San mengawasi orang aneh itu dengan hati berdebaran. Malam itu Cia Sun tidak mengganggu lagi. Lama sekali dia berdiri terpaku di situ sambil menikmati sinar-sinar menakjubkan itu.

Pada keesokan paginya sinar-sinar itu menghilang dari pemandangan. Rupanya Cia Sun merasa jengah karena kejadian semalam sehingga seharian suntuk dia tak pernah berani melirik si nona, sedangkan gerak-geriknya pun kelihatan kikuk sekali. Beberapa hari kembali lewat dan mereka terus berlayar ke jurusan utara. Sementara itu gilanya Cia Sun mulai kumat kembali. Makin hari caciannya terhadap langit jadi semakin hebat, sementara dari matanya keluar pula sinar mata binatang buas. Cui San dan So So memperhatikan perubahan perubahan itu dengan hati kuatir dan mereka selalu waspada untuk menghadapi segala kemungkinan.

Hari itu sudah lewat jam tujuh malam, tapi matahari yang menyerupai sebuah bola merah masih tergantung di tepian laut sebelah barat dan tak juga mau menyelam. Mendadak Cia Sun melompat bangun dan sambil menuding matahari, dia membentak,

“Kau juga mau menghina aku? Ohh, matahari, kalau aku memiliki busur dan anak panah, dengan sekali memanah aku dapat menembuskan badanmu!”

Mendadak dengan tinjunya dia menghantam es yang menjadi somplak, kemudian dengan sekuat tenaga dia menimpuk matahari dengan potongan es yang lantas terbang puluhan tombak kemudian jatuh di laut. Dia mengulangi lagi perbuatan itu sehingga dalam tempo yang tidak terlampau lama dia sudah melontarkan tujuh puluh lapis potongan es. Sesudah itu, sambil berteriak-teriak dia menginjak-injak gunung es itu sehingga kepingan-kepingan es pada muncrat ke atas.

“Cia-cianpwe, kau mengasolah dulu,” membujuk So So dengan suara lemah lembut. “Kau jangan meladeni matahari itu.”

Cia Sun menengok dan dia menatap wajah si nona dengan mata merah. So So ketakutan, tetapi dia memaksakan diri untuk tersenyum. Sekonyong-konyong sambil berteriak keras Cia Sun melompat kemudian memeluki nona.

“Mampus kau! Mampus!” jeritnya.

So So memberontak, tetapi sedikit pun tidak bergeming. Cui San terkejut bukan main dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menghantam jalan darah Sin-to-hiat di punggung Cia Sun. Tapi tinju yang hebat itu seolah-olah memukul besi. Sementara itu Cia Sun mengencangkan pelukannya sambil mengeluarkan suara seperti bunyi binatang buas.

“Ho-ho-ho...!”

“Lepaskan! Jika tak kau lepaskan maka aku akan menggunakan senjata!” teriak Cui San.

Tapi orang kalap itu tetap tidak meladeni. Cepat laksana kilat Cui San mencabut Poan-koan-pit dari pinggangnya lalu menotok jalan darah Kian-kin-hiat di pundak kanan serta Siauw-hay-hiat pada lengan kiri Cia Sun. Tetapi dia sungguh-sungguh lihay. Kalau seorang ahli silat biasa terkena totokan itu, sudah pasti kedua tangannya tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi dia hanya merasa kesemutan dan dengan sekali menjambret, dia berhasil merampas Poan-koan-pit yang lalu dilontarkan ke laut. Tapi serangan Cui San bukan tidak ada hasilnya. Totokan itu melonggarkan pelukan Cia Sun. Nona In memberontak dan berhasil memerdekakan dirinya. Tetapi hampir berbareng, sambil menghantam leher Cui San dengan telapak tangan kirinya, Cia Sun juga mencoba menyengkeram badan si nona dengan tangan kanan.

“Brett!”

Dengan satu suara keras kulit biruang yang menyelimuti badan So So menjadi robek. Cui San tahu bahwa jika dia melompat mundur maka kecintaannya pasti akan tertangkap lagi. Oleh sebab itu sambil mengerahkan seantero Lweekang-nya ia menyambut tangan lawan dengan pukulan Bian-ciang. Begitu lekas kedua tangan kebentrok, Cui San merasa tangannya dihisap oleh semacam tenaga yang dahsyat luar biasa sehingga tak dapat dilepaskan lagi. Ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengempos semangat untuk coba melawan.

Tiba-tiba dia merasakan ada semacam hawa yang sangat panas dari tangan lawan yang menyerangnya sehingga pikirannya kalang-kabut dan kepalanya pusing. Inilah untuk yang ketiga kalinya Cui San mengadu tenaga dengan Cia Sun. Dalam dua pertandingan yang lebih dulu dia belum pernah mengalami serangan yang seaneh itu.

Di lain detik, dengan satu tangannya terus menempel pada tangan pemuda itu, Cia Sun miringkan badannya dan coba menjambret si nona, tetapi dengan cepat nona In melompat ke belakang. Selagi tubuhnya masih berada di tengah udara, tiba-tiba Cia Sun menendang es sehingga beberapa keping es melayang kemudian mengenai lutut kanan si nona yang sambil mengeluarkan teriakan kesakitan lantas roboh terguling. Hampir berbareng Cia Sun mengibaskan tangannya yang menempel dengan tangan Cui San sehingga pemuda itu terlempar beberapa tombak jauhnya. Dia jatuh di pinggir gunung es, kemudian terpeleset dan tergelincir ke dalam air.

“Celaka!” Cui San mengeluarkan seruan tertahan.

Tapi berkat kepandaiannya yang sudah mencapai taraf sangat tinggi, dalam keadaan yang sangat berbahaya itu dia masih sempat mencabut Gin-kauw dari pinggangnya yang cepat digunakannya untuk menotok es, kemudian dengan meminjam tenaga, badannya kembali melesat ke atas. Selagi kedua kakinya hinggap di atas es, hatinya berdebar-debar karena dia merasa pasti bahwa So So akan jatuh lagi ke dalam tangannya orang edan itu. Tetapi di luar dugaan, di bawah cahaya rembulan dia melihat Cia Sun sedang mendekap kedua matanya dengan tangan sambil mengeluarkan suara kesakitan, sedangkan So So sendiri menggeletak di atas es. Buru-buru Cui San membangunkannya.

Sambil memeluk leher pemuda itu, si nona berbisik, “Aku... aku telah melukai matanya.”

Mendadak Cia Sun menubruk sambil mengaum bagaikan harimau, tetapi untung juga Cui San berhasil menyelamatkan diri dengan bergulingan sambil memeluk kecintaannya. Tiba-tiba terdengar beberapa kali suara keras dan kedua tangan Cia Sun kelihatan amblas di dalam es yang beratnya seratus kati lebih. Ia berdiri diam sambil memasang kuping untuk mendengar di mana adanya kedua orang muda itu.....

LANGIT DI ATAS BUMI DI BAWAH

Cui San dan So So mengerti apa artinya itu. Per-lahan mereka menyembunyikan diri di dalam sebuah lubang yang terdapat di gunung es itu dan mengawasi si orang edan sambil menghela napas. Melihat darah yang mengalir dari kedua mata Cia Sun, Cui San mengerti bahwa pada saat berbahaya tadi So So telah menimpuk dengan jarum emasnya sehingga sekarang orang itu menjadi buta.

Tetapi meski pun sudah tidak dapat melihat, kuping orang kalap itu tajam luar biasa. Lama dia berdiri bagaikan patung. Kalau kedua orang muda itu mengeluarkan suara sedikit saja, dia pasti akan menyerang sehebat-hebatnya. Untung sekali bahwa suara gelombang, angin dan suara terbenturnya balokan-balokan es pada gunung es telah menutupi suara napas mereka. Andai kata berada dalam sebuah kamar tertutup di atas daratan, dipastikan mereka tidak akan lolos dari tangan Cia Sun.

Sesudah memasang kuping beberapa lama tanpa hasil, dalam kemarahan, kesakitan dan ketakutan, Cia Sun kalap lagi. Sambil berteriak-teriak ia memukul-mukul dan menendang-nendang, sambil menimpuk kian kemari dengan potongan-potongan es. Dengan paras muka pucat, Cui San dan So So saling peluk di lubang itu. Mereka yakin, sepotong es saja sudah cukup untuk mengambil jiwa mereka.

Cia Sun mengamuk kurang lebih setengah jam, namun kedua orang muda itu merasakan seperti setengah tahun. Beberapa saat kemudian dia berhenti dan mendadak berkata dengan suara lemah lembut,

“Thio-siangkong, In-kouwnio, barusan aku kalap dan sudah melakukan tindakan gila-gilaan. Kuharap kalian sudi memaafkan.”

Sudah berkata begitu dia duduk untuk menunggu jawaban. Thio Cui San adalah seorang yang mulia dan murah hati, tapi dia pun pintar dan amat hati-hati sehingga tidak gampang diakali orang. Nona In yang licin dan banyak akalnya malah lebih sulit dikelabui. Mereka tak mau meladeni perkataan Cia Sun dan tetap bersikap waspada sambil bernapas pelan-pelan. Setelah mengulangi perkataannya hingga beberapa kali, Cia Sun menghela napas panjang seraya berkata,

“Jika kalian tidak sudi memberi maaf, aku pun tidak bisa memaksa lagi.” Sehabis berkata begitu dia menarik napas dalam-dalam.

Tiba-tiba di otak Cui San berkelebat satu peringatan. Dia ingat bahwa sebelum mengeluarkan jeritan yang sangat dahsyat di pulau Ong-poan-san, Cia Sun telah menarik napas seperti itu. Hatinya mencelos, karena untuk menyumbat kuping sudah tidak keburu lagi. Dengan cepat dia membetot tangan si nona lantas melompat ke dalam air. Sebelum si nona mengerti maksudnya, Cia Sun mengeluarkan teriakan yang amat dahsyat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, pemuda itu membetot tangan kekasihnya lalu mereka menyelam ke dalam air.

Dengan Gin-kauw yang dipegang di tangan kiri, Cui San menggaet pinggiran gunung es, sedangkan tangan kanannya memegang tangan nona In. Tetapi biar pun kepala berada di bawah permukaan air, kuping mereka masih mendengar teriakan-teriakan yang hebat luar biasa.

Gunung es terus maju ke utara. Diam-diam Cui San bersyukur bahwa yang dilemparkan Cia Sun adalah Poan-koan-pit sehingga dia masih dapat mempergunakan Gin-kauw untuk menggaet gunung es. Andai kata dia kehilangan Gin-kauw, maka sungguh pun mampu menyelamatkan diri dari teriakan Cia Sun tapi mereka akan mati di dalam air karena ditinggalkan gunung es itu yang terus bergerak maju.

Sesudah lewat beberapa lama, mereka muncul di permukaan air untuk menyedot hawa udara yang segar. Cia Sun pun sudah berhenti berteriak. Teriakan-teriakan itu rupanya telah meminta banyak tenaga dan dengan letih dia bersila di atas es sambil menjalankan pernapasannya. Cui San lantas menarik tangan So So dan pelan pelan mereka merayap naik ke atas. Sesudah duduk di tempat agak jauh dari Cia Sun, mereka mencabut bulu biruang untuk menyumbat kuping. Mereka tahu bahwa setiap detik mereka menghadapi bahaya besar. Matahari belum juga tenggelam karena sekarang mereka sudah berada di daerah kutub, di mana siang dan malam berbeda jauh dengan bagian lain bumi.

Beberapa saat kemudian So So yang basah kuyup tidak mampu mempertahankan dirinya lagi. Badannya gemetaran dan giginya bercakrukan. Tentu saja suara itu terdengar oleh Cia Sun yang sambil membentak keras lantas menghantam dengan Long-gee-pang. Buru-buru mereka menyingkirkan diri. Dengan satu suara nyaring luar biasa, gunung es itu somplak kemudian tujuh delapan balokan es jatuh ke dalam laut.

Sesudah gagal dengan pukulannya yang pertama, Cia Sun langsung memutar senjatanya bagaikan kitiran. Begitu diputar, senjata yang panjangnya setombak lebih itu segera mengeluarkan tenaga mendorong yang sangat hebat dalam jarak tujuh delapan tombak. Cui San dan So So terpaksa mundur terus dan dalam sekejap mereka sudah berdiri di pinggir gunung es. Cia Sun terus mendesak...

“Bagaimana baiknya?” bisik si nona dengan suara parau.

Sekali lagi Cui San membetot tangan si nona dan mereka segera melompat pula ke dalam air. Selagi badan mereka masih berada di udara, terdengarlah suara nyaring kemudian beberapa kepingan es menghantam punggung mereka hingga terasa menyakitkan sekali. Hampir berbareng dengan jatuhnya mereka ke dalam air, satu balok es sebesar meja jatuh di dekat mereka. Dengan cepat Cui San menjambretnya dan di lain saat keduanya duduk di atas balokan es itu.

Bagaikan seorang gila Cia Sun menimpuk kalang kabut dengan potonngan-potongan es, akan tetapi karena matanya sudah buta dan balokan es yang diduduki kedua orang muda itu terus bergerak maju, maka timpukannya meleset semua. Karena balokan es itu jauh lebih kecil dari pada gunung es, maka jalannya pun jauh lebih cepat sehingga tak lama kemudian Cui San dan So So sudah meninggalkan Cia Sun jauh sekali. Tetapi karena kecilnya, balokan es itu tidak mampu menahan berat badan dari dua orang dan sebagian tubuh mereka masuk ke dalam air.

Untung juga tak lama kemudian mereka bertemu dengan sebuah gunung es. Cepat-cepat mereka mengayuh dengan menggunakan tangan untuk mendekati gunung es itu kemudian merapat naik ke atasnya.

“Memang langit tidak memutuskan jalan orang, akan tetapi langit telah memberikan amat banyak penderitaan kepada kita,” sambil tertawa getir Cui San berkata. “So So bagaimana keadaanmu?”

“Sungguh sayang kita tak sempat membekal daging biruang,” kata pula si nona. “Apakah Gin-kauwmu hilang?”

Di lain saat keduanya tertawa geli karena mereka baru merasa bahwa bulu biruang yang sejak tadi digunakan untuk menyumbat kuping belum dicabut sehingga masing-masing tak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh pihak lain.

“So So,” kata Cui San sesudah mereka mencabut bulu biruang dari kuping mereka. “Andai kata kita mesti mati kita pun tak akan berpisah lagi.”

“Ngoko,” kata si nona dengan suara aleman. “Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Kuharap kau akan menjawab dengan sejujurnya. Andai kata kita berada di daratan tanpa mengalami penderitaan yang hebat ini, apakah kau akan tetap mencintai aku?”

Cui San terhenyak. Beberapa saat kemudian barulah dia dapat menjawab, “Aku rasa kita tidak akan bisa bersahabat begitu cepat. Juga... juga... kita pasti akan mendapat banyak rintangan. Kita berasal dari lain partai...”

So So menghela napas panjang, “Aku pun berpendapat begitu,” katanya. “Itulah sebabnya mengapa waktu kau bertanding pertama kali dengan Cia Sun, aku tidak mau melepaskan jarum emas, biar pun berulang-ulang didesak olehmu.”

“Ya, tetapi mengapa begitu?” tanya Cui San dengan rasa heran, “Semula aku menyangka bahwa kau menolak untuk melepaskan jarum karena kuatir akan melukai aku yang waktu itu sedang bertanding di tempat gelap.”

“Bukan, bukan begitu,” bisik si nona. “Kalau waktu itu aku melukai dia sehingga kita dapat kembali ke daratan, kau tentu akan meninggalkan aku!”

Cui San kaget mendengar pengakuan itu. “So So!” serunya.

“Mungkin kau akan marah,” kata si nona. “Tapi satu-satunya tujuanku adalah supaya tidak berpisah dengan kau. Keinginan Cia Sun agar kita mengawaninya di pulau yang terpencil, cocok sekali dengan keinginanku.”

Bukan main rasa terima kasihnya Cui San. Dia tidak pernah menduga bahwa rasa cinta si nona sedemikian besarnya.

“So So, sedikit pun aku tidak marah,” bisiknya.

Nona In mendongak mengawasi pemuda itu dan berkata pula dengan suara lemah lembut,

“Langit telah mengirim aku ke neraka dingin ini, tapi sebaliknya dari penasaran aku malah merasa beruntung sekali. Aku berharap agar kita jangan kembali ke selatan untuk selama-lamanya. Hm... Jika kita pulang ke Tiong-goan gurumu tentu akan membenci aku, sedang ayah mungkin sekali akan membunuh kau...”

“Ayahmu?” menegas Cui San.

“Ya, ayah adalah Peh-bie Eng-ong In Thian Ceng,” jawabnya. “Ia adalah pendiri sekaligus pemimpin Peh-bie-kauw.”

“Oh, begitukah?” kata Cui San. “So So, kau tidak usah takut. Aku pasti akan tetap berada bersama-sama kau. Aku yakin, walau pun ganas tapi ayahmu tentu tidak akan membunuh puteri dan mantunya sendiri.”

Mendengar perkataan itu, paras si nona bersinar terang, sedang mukanya bersemu dadu.

“Apa kau bicara setulus hati?” tanyanya.

“So So, biar sekarang saja kita menjadi suami isteri,” kata Cui San.

Segera mereka berlutut dengan berendeng di atas es, kemudian Cui San berkata dengan suara nyaring,

“Raja Langit menjadi saksinya bahwa hari ini teecu Thio Cui San terangkap jodoh menjadi suami isteri dengan In So So. Biarlah senang dan susah dialami bersama-sama dan cinta mencinta selama-lamanya!”

Sesudah Cui San, si nona pun berdoa perlahan, “Aku mohon agar Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami isteri.“ Ia berdiam sejenak kemudian berkata pula, “Andai kata di belakang hari kami bisa kembali di Tiong-goan, teecu akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu. Teecu akan bertobat dan bersama-sama suamiku, teecu akan berusaha melakukan perbuatan-perbuatan baik. Teecu tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika teecu melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum teecu.”

Cui San girang tak kepalang. Ia tak pernah menduga bahwa tanpa diminta sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia baik-baik. Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling berpegangan tangan mereka duduk berendeng di atas es. Pakaian mereka basah kuyup dan hawa dingin menyerang dengan hebat. Akan tetapi hati mereka hangat bagaikan hangatnya musim semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.

Lewat beberapa lama, mereka baru ingat bahwa sudah sehari suntuk perut mereka belum diisi. Kedua senjata Cui San sudah hilang di laut, tapi So So masih memiliki pedang yang tergantung di pinggangnya. Cui San menghunus pedang isterinya, lalu membungkus ujung pedang dengan kulit biruang, kemudian sambil mengerahkan Iweekang sampai ke jeriji tangan, dia menekuknya sehingga ujung pedang itu menjadi bengkok seperti gaetan. Tak lama kemudian, dengan menggunakan gaetan itu dia berhasil menangkap seekor ikan yang cukup besar. Ikan di wilayah Kutub Utara bertubuh gemuk dan mengandung banyak minyak sehingga walau pun baunya sangat amis akan tetapi dapat menambah tenaga dan menghangatkan badan.

Demikianlah, siang malam gunung es itu terapung-apung ke arah utara. Mereka mengerti bahwa kemungkinan pulang ke Tiong-goan hampir tidak ada, tapi hati mereka tenang dan damai. Ketika itu siang sudah berubah sangat panjang, sedangkan malam sangat pendek sehingga mereka tak dapat menghitung hari lagi. Pada suatu hari mendadak mereka melihat mengepulnya asap hitam di sebelah utara. So So yang melihat lebih dulu, mencelos hatinya dan paras mukanya berubah pucat.

“Ngoko!” teriaknya sambil menuding asap hitam itu.

“Apa di situ terdapat manusia?” tanya sang suami dengan rasa terkejut bercampur girang.

Tapi biar pun sudah tampak dalam pandangan mata, tempat dari mana asap itu keluar masih terpisah jauh sekali. Sesudah lewat lagi satu hari, asap itu jadi semakin besar dan kelihatan semakin tinggi, dan di antara asap terlihat sinar api.

“Siapa itu?” tanya So So.

Sang suami tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Ngoko, ajal kita sudah hampir tiba,” kata si isteri dengan suara gemetar. “Itu adalah pintu neraka.”

Cui San terkejut, namun dia segera membujuk, “Mungkin di sana ada manusia yang sedang membakar hutan.”

“Kalau membakar hutan, bagaimana asap dan apinya begitu tinggi?” tanya sang isteri.

“So So, sesudah tiba di sini, biarlah kita menyerahkan segalanya kepada Langit,” kata Cui San. “Kalau Langit tidak mau kita mati kedinginan tapi justru ingin kita mati terbakar, maka biarlah kita menerima nasib.”

Dengan perlahan tapi pasti gunung es itu terus menuju ke arah asap dan api. Cui San dan So So yang tidak mengerti sebab musababnya, merasa sangat heran dan mereka hanya menganggap bahwa apa pun yang bakal terjadi, baik kecelakaan mau pun keselamatan, adalah takdir.

Apa yang dilihat mereka sesungguhnya adalah gunung berapi yang masih bekerja sehingga sebagai akibat, air laut di seputar gunung itu menjadi hangat dan air yang hangat mengalir ke arah selatan. Dengan demikian secara wajar air yang dingin atau es terbetot ke arah utara. Sebagaimana diketahui, angin dan gelombang yang saling terjadi di tengah lautan adalah karena perbedaan antara air dingin dan panas dalam hawa dan air. Sesudah terapung-apung sehari semalam lagi, gunung es itu tiba di kaki gunung. Ternyata gunung berapi itu berada di atas sebuah pulau yang amat besar. Di sebelah barat terdapat sebuah puncak dengan batu yang bentuk dan macamnya sangat aneh.

Selama berkelana di daerah Tiong-goan, Cui San sudah kenyang mendaki gunung-gunung yang kenamaan, akan tetapi belum pernah dia melihat puncak yang begitu luar biasa. Dia mengawasi itu semua dengan mata terbelalak dan kegirangan meluap-luap dalam hatinya. Dia tidak tahu bahwa puncak itu adalah tumpukan lahar yang disemprotkan gunung berapi selama ratusan atau ribuan tahun. Di sebelah timur terdapat tanah datar yang sangat luas. Tanah datar itu pun muncul di situ karena bekerjanya gunung berapi. Abu yang disemprotkan oleh gunung itu jatuh ke dalam laut dan lama-lama, mungkin dalam tempo ribuan tahun, air laut teruruk kemudian muncullah tanah datar yang sangat luas.

Meski tempat itu sudah mendekati Kutub Utara, tapi karena gunung berapi masih bekerja, maka hawa di pulau itu menyerupai hawa di gunung Tiang-pek-san atau daerah Hek-liong-kang. Pada puncak-puncak yang tinggi terlihat salju, namun di tempat yang rendah pohon-pohon menghijau, pohon siong, pek dan lain-lain yang tidak ada di wilayah Tiong-goan. Sesudah memandang beberapa lama dengan mata tidak berkedip, tiba-tiba So So melompat dan memeluk suaminya.

“Ngoko! Kita sudah tiba di tempat dewa!” bisiknya dengan suara serak.

Kegirangan Cui San pun sukar dilukiskan. Dia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya balas memeluk isterinya yang tercinta. Lama mereka saling peluk dengan disaksikan sejumlah menjangan yang sedang makan rumput dengan tenang di atas pulau itu. Kecuali asap api yang agak menakutkan, segalanya yang tampak di situ adalah tenang, damai dan indah. Mendadak terdengar teriakan So So,

“Celaka! Kita tak dapat mendarat!” Ternyata gunung es itu, karena terpukul air hangat, mulai bergerak meninggalkan pulau.

Cui San pun tak kurang kagetnya. Buru-buru ia mengerahkan Iweekang dan menghantam es yang langsung saja somplak sebesar balok. Sesudah itu, sambil memeluk balokan es mereka melompat ke dalam air dan dengan menggunakan tangan serta kaki sebagai pengayuh, akhirnya mereka mendarat di pulau itu. Melihat kedatangan manusia, menjangan yang sedang makan rumput lantas mendongak dan mengawasi, tapi mereka tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun. Perlahan-lahan So So mendekati, menepuk-nepuk punggung salah seekor menjangan.

“Kalau di sini terdapat beberapa ekor burung ho, aku pasti akan mengatakan bahwa tempat ini adalah tempatnya dewa Lam-kek Sian-ong,” katanya seraya tertawa.

Karena letih mereka segera merebahkan diri di atas lapangan rumput dan tertidur nyenyak untuk beherapa jam lamanya. Waktu mereka tersadar, matahari masih belum menyelam.

“Sekarang mari kita menyelidiki pulau ini untuk mendapat tahu apakah ada manusia atau binatang buas,” kata sang suami.

“Aku rasa tak mungkin ada binatang buas,” kata So So.

“Lihat saja menjangan-menjangan itu yang hidup damai dan tenteram.”

So So adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan dandanannya. Biar pun sedang menghadapi bahaya di atas gunung es, dia tetap berpakaian rapi. Sekarang mereka berada di atas tanah. Begitu sadar dia cepat-cepat membereskan pakaian dan rambutnya, kemudian membantu sang suami menyisir rambut. Sesudah itu barulah mereka berangkat menyelidiki pulau tersebut.

Untuk menghadapi segala kemungkinan, So So mencekal pedangnya yang telah bengkok itu, sedangkan Cui San sendiri lalu mematahkan cabang pohon untuk dijadikan semacam tongkat. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka ber-lari dari selatan ke utara yang panjangnya lebih dari dua puluh lie. Selain pohon-pohon yang tinggi kate, apa yang mereka lihat di sepanjang jalan adalah binatang kecil, burung dan pohon-pohon bunga yang kebanyakan tidak dikenal mereka. Belakangan, setelah melewati hutan besar, dari jauh mereka melihat sebuah gunung batu dan di kaki gunung itu terdapat sebuah goa.

“Ah! Sungguh bagus tempat ini!” teriak sang isteri sambil berlarian.

“Hati-hati!” teriak Cui San.

Belum lagi rapat mulutnya, dari dalam goa tiba-tiba berkelebat bayangan dan seekor biruang putih yang amat besar menerjang keluar. Biruang itu bulunya panjang seolah-olah seekor kerbau. Dengan kaget So So melompat mundur. Biruang itu berdiri di atas kedua kakinya seperti manusia dan menghantam kepala So So dengan satu telapak kakinya. Nyonya itu cepat menyambut dengan sabetan pedangnya. Tapi apa mau dikata, karena pedang bengkok itu sudah menjadi lebih pendek maka sabetannya meleset. Baru saja dia mau membabat lagi, binatang itu sudah menubruk dan menghantam senjatanya yang lantas jatuh di atas tanah.

“So So, mundurlah!” teriak Cui San seraya melompat dan menotok lutut biruang itu dengan tongkatnya. Cabang kayu itu patah, tetapi tulang kaki binatang itu hancur dan dia mengeluarkan jeritan hebat dan menyeramkan.

Buru-buru So So menjemput pedangnya untuk memberi bantuan.

“Lekas lontarkan pedang itu ke udara!” teriak Cui San.

Sang isteri terkejut, tapi dia menurut apa yang diperintahkan suaminya. Dengan kaki menotol tanah, Cui San melompat tinggi menggunakan ilmu Tee-in-ciong, kemudian sekali menjambret dia menangkap pedang itu. Dengan tangan kiri memegang tongkat pendek, dia sekarang seperti bersenjatakan Gin-kauw dan Poan-koan-pit. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyabet dari atas ke bawah dengan gerakan huruf ‘Hong’ (tajam). Pukulan itu disertai Iweekang yang sangat dahsyat dan tongkat pendek itu amblas tujuh delapan dim di kepala binatang itu yang sesudah mengamuk dan menggeram hebat, kemudian roboh tanpa berkutik lagi.

So So bertepuk tangan sambil tertawa. “Indah sekali ilmu meringankan badan itu!” teriak si nyonya. “Sungguh hebat totokan itu!”

Tapi, baru habis dia berteriak begitu, tiba-tiba Cui San berseru, “Awas! Lari!”

Mendengar teriakan suaminya, dengan cepat ia melompat ke depan. Begitu menengok ke belakang, ia terkesiap karena di belakangnya berbaris tujuh ekor biruang putih yang memperlihatkan sikap menakutkan. Cui San mengerti bahwa mereka berdua tak akan dapat melawan tujuh binatang buas itu.

“Lari!” bisiknya dan mereka lantas kabur menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Meski pun badannya besar, binatang-binatang itu bisa berlari cepat sekali, tapi kecepatan mereka masih kalah dengan ilmu meringankan badan Cui San dan So So. Maka sesudah mengejar beberapa lama, mereka ketinggalan jauh. Namun mereka terus mengejar dari belakang.

“Jalan satu-satunya adalah lari ke air,” kata Cui San. “Apa biruang tidak dapat berenang?” tanyanya.

“Entahlah,” jawab So So sambil menggelengkan kepala. “Semoga saja mereka tidak dapat berenang.” Sambil bicara mereka terus berlari secepat-cepatnya. “Celaka!” mendadak So So mengeluh.

“Mengapa?” tanya Cui San.

“Tahukah kau apa makanan biruang putih?” sang isteri balas bertanya. “Menurut seorang jurumudi, biruang makan madu tawon dan ikan.”

“Makan ikan?” menegas Cui San sambil menghentikan tindakannya. “Kalau betul binatang itu makan ikan, mereka pasti bisa berenang.”

Sebelum mereka dapat berdamai terlebih jauh, sekonyong-konyong So So berteriak, “Ihh! Mengapa mereka berada di depan kita?”

Dengan hati berdebar-debar mereka mengawasi enam ekor biruang yang mendatangi dari sebelah depan.

“Bukan. Mereka bukan biruang yang tadi,” kata Cui San. “Sekarang kita telah dicegat dari depan dan belakang.” Sehabis berkata begitu, buru-buru dia melompat ke atas satu pohon siong yang sangat besar.

Setelah berada di atas pohon, dia menggaetkan kedua kakinya di cabang pohon sehingga badannya menggelantung ke bawah dan kedua tangannya menyambut tangan sang isteri yang turut melompat ke atas.

“Aku harap saja mereka tidak dapat memanjat pohon,” kata So So sesudah mereka duduk di satu cabang.

“Biar pun mereka bisa memanjat tetapi kita tak usah kuatir,” kata sang suami. “Maju satu, kita binasakan satu. Asal saja tidak dikurung, kita masih dapat melayani.”

Sesaat kemudian enam ekor biruang yang datang dari depan dan tujuh ekor dari belakang sudah berkumpul di bawah pohon itu. Mereka mendongak dan menggeram hebat sambil memperlihatkan gigi mereka. Cui San mematahkan sebatang cabang kecil yang lalu digunakan untuk menimpuk mata seekor biruang. Timpukan itu mengena tepat pada sasarannya dan sambil menggeram serta me-lompat karena sakitnya, binatang itu nyeruduk pangkal pohon dengan kepalanya. Melihat hasil pertama, Cui San segera mengulangi perbuatannya.

Tapi kawanan binatang itu ternyata pintar sekali dan mereka semua menundukkan kepala dan mulai menggeragoti pohon. Oleh karena itu Cui San hanya bisa menimpuk punggung mereka yang kulitnya tebal sehingga serangan itu tidak dirasakan sama sekali. Tidak lama kemudian pangkal pohon itu sudah somplak sebagian sehingga kalau didorong be-ramai sudah pasti akan roboh. Cui San menghela napas.

“Aku tak nyana, setelah berhasil menyelamatkan diri dari lautan kita bakal menjadi makanan kawanan biruang,” katanya.

Dengan jantung memukul keras, So So mengawasi satu pohon siong yang terpisah kira-kira tujuh delapan tombak.

“Ngoko,” bisiknya. “Dengan ilmu mengentengkan badan, sekali lompat kau bisa turun ke bawah lantas dengan sekali lompat lagi, kau bisa naik ke pohon itu.”

Sang suami pun sudah melihat kemungkinan itu. Memang, apa bila seorang diri dia dapat berbuat begitu. Tetapi dengan membawa isterinya, mereka tentu akan tercegat di tengah jalan. Karena itu sambil menggelengkan kepala dia berkata,

“Tidak dapat. Aku tidak dapat berbuat begitu.”

“Ngoko, tak usah kau pikirkan aku,” kata pula sang istiri. “Tak perlu kita mati berdua-dua.”

“Kita sudah bersumpah bahwa Langit di atas bumi di bawah, kita tak akan berpisah untuk selama-lamanya,“ jawab sang suami. “Mana dapat aku meninggalkan kau begitu saja?”

Bukan main rasa terharunya nyonya itu sehingga air matanya berlinang-linang. Ia ingin membujuk lagi, tapi mu!utnya seperti terkancing. Pada saat itu pula mendadak pohon bergoyang-goyang karena didesak berbareng oleh kawanan biruang itu. Hati So So mencelos sehingga tanpa merasa ia mengeluarkan teriakan perlahan. Ia tahu beberapa detik lagi pohon pasti akan roboh. Pada saat yang sangat berbahaya itu, di sebelah kejauhan sekonyong-konyong terdengar suara yang amat tajam. Suara itu tidak begitu keras, namun sungguh aneh, seperti bunyi burung malam, seperti bunyi khim, seperti angin meniup daun bambu dan seperti bunyi genta.

Begitu mendengar suara itu, ketiga belas biruang serentak berhenti dalam usahanya merobohkan pohon dan berdiri diam sambil memasang kuping. Dari sikap mereka, seolah-olah suara itu merupakan suara yang paling menakutkan di dunia. Dan yang paling mengherankan lagi, sesaat kemudian seekor demi seekor menundukkan kepala kemudian mendekam di atas tanah tanpa bergerak. Walau pun tidak tahu apa artinya itu, Cui San dan So So girang tak kepalang dan harapan besar muncul di dalam hati mereka.

“Tolong! Tolong!” jerit So So. “Tolong...! Biruang mau mencelakakan manusia.”

Jeritan itu disambut dengan suara tadi yang kini menghampiri dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari terbangnya burung. Sesaat kemudian di depan mereka berkelebat bayangan merah, seolah-olah sebuah bola api yang menyambar dari satu pohon di sebelah depan kemudian hinggap di dahan pohon di mana Cui San dan So So sedang menyembunyikan diri. Sekarang mereka baru bisa melihat nyata. Yang hinggap di dahan itu adalah seekor kera yang bulunya merah, tingginya kira-kira tiga kaki, mukanya putih seperti batu giok, sedang kedua matanya yang berkilat-kilat mengeluarkan sinar keemas-emasan.

Sungguh mereka tidak menduga bahwa binatang yang datang ke situ adalah seekor kera yang begitu menarik. Ketika berteriak meminta pertolongan, So So menaksir bahwa binatang yang mengeluarkan suara begitu adalah binatang buas yang sangat menakutkan. Tetapi karena sedang menghadapi bahaya besar, mau tidak mau dia berteriak juga. Maka itu, dengan kegirangan yang meluap-luap dia segera mengangsurkan tangannya ke arah kera itu. Biar pun belum pernah melihat manusia tapi kera itu ternyata pintar luar biasa. Rupanya ia mengerti maksud persahabatan itu dan segera mengulur satu tangannya dan menyentuh tangan si nyonya. Sambil menuding kawanan biruang itu, So So berkata,

“Mereka mau mencelakakan kami. Apa kau dapat menolong?”

Melihat gerakan So So, seraya memekik kera itu melompat turun lalu menghampiri salah seekor biruang. Dengan sekali menggerakkan tangan, jari-jarinya amblas ke dalam kepala biruang itu dan di lain saat tangannya sudah memegang otak biruang. Dia melompat naik pula dan dengan sikap hormat mengangsurkan otak biruang itu kepada So So.

Cui San dan isterinya terkejut bukan main. Tenaga binatang yang sehebat itu sungguh-sungguh belum pernah didengar mereka. Sebenarnya So So tidak sanggup menelan otak mentah itu. Tapi karena tidak mau membangkitkan kemarahan tuan penolong itu, dengan apa boleh buat dia lalu menyambutnya. Dia menggigit sebagian otak itu dan menyerahkan sisanya kepada Cui San. Di luar dugaan otak biruang itu lezat luar biasa, lebih enak dari makanan apa pun jua yang pernah dimakannya. Sambil tersenyum dia mengambilnya kembali dari tangan suaminya lalu menghabiskan semuanya.

“Terima kasih, terima kasih,” katanya sambil memanggut-manggutkan kepala.

Di lain saat kera itu sudah melompat turun lagi dan mengambil pula dua otak biruang yang lantas dimakannya. Sungguh mengherankan, kawanan biruang itu bukan saja tidak berani melawan, tapi juga tidak berani lari. Mereka terus mendekam di atas tanah seperti orang yang sedang menerima hukuman.....

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar