Jumat, 09 Oktober 2026

To Liong To 07

PENG-HWEE-TO (PULAU ES DAN API)

So So tertawa nyaring. “Mampuskan semua biruang itu,” katanya. “Kalau kau tidak keburu datang, kami berdua tentu sudah masuk ke dalam perut mereka.“

Sambil memekik kera itu melompat turun lagi dan dalam sekejap ia sudah membinasakan semua biruang itu. Cui San dan So So lantas melompat turun. Melihat tiga belas bangkai binatang itu, Cui San merasa tidak tega dan ia berkata dengan suara menyesal,

“Sebenarnya tidak usah membinasakan mereka semua. Cukup jika mereka diusir pergi.”

Mendengar kata-kata suaminya, So So yang sedang mencekal lengan si kera agak kaget. “Ngoko tentu mencela perbuatanku,” katanya dalam hati. “Ya... aku harus berusaha mengubah adatku yang kejam.“ Biar pun hatinya menyesal tapi ia tertawa seraya berkata,

“Hm... sekarang Ngoko merasa kasihan terhadap binatang-binatang buas itu. Kalau saudara kera tidak datang menolong, apakah biruang-biruang itu akan menaruh belas kasihan terhadap kita?”

“Kalau kita sama kejamnya seperti binatang, bukankah kita tiada beda seperti binatang?” kata sang suami.

“Binatang pun ada juga yang baik,” kata So So sambil tertawa. “Lihatlah saudara kera ini. Kepandaiannya lebih tinggi dan parasnya lebih tampan dari pada kau.”

Cui San tertawa terbahak-bahak. “Ai ya...!” serunya. “Kau membuat aku cemburu.”

Setelah lolos dari lubang jarum, mereka gembira sekali dan bercakap-cakap dengan tertawa. Kera merah itu pun tidak kurang gembiranya dan dia melompat-lompat kian kemari.

“Kawanan biruang itu mungkin mempunyai anak, coba kita tengok,” kata Cui San.

So So menuntun kera, mereka lalu masuk ke dalam goa. Setelah berjalan kira-kira sembilan tombak, di tengah-tengah goa itu terbuka sebuah lubang sehingga sinar terang menyorot masuk ke dalam. Hanya sayang, goa yang sebetulnya amat nyaman itu berbau busuk sebab penuh dengan kotoran dan air kencing biruang.

“Kalau tidak berbau busuk, tempat ini cocok sekali untuk dijadikan tempat kita berteduh,” kata So So sambil menekap hidung.

“Kita dapat membersihkannya,” kata sang suami. “Sesudah lewat sepuluh hari atau paling lama setengah bulan, kurasa bau itu akan hilang sendiri.”

So So memandang Cui San dengan hati girang bercampur duka, karena dia ingat bahwa mulai hari itu dia akan berdiam di pulau itu bersama Cui San untuk selama-lamanya. Sementara itu Cui San mematahkan cabang-cabang pohon yang lalu dibuat menjadi sebuah sapu. Dibantu isterinya, ia lalu menyapu kotoran biruang. Dengan gembira si kera mencoba membantu. Biar pun pintar tetapi kera tetap kera, maka sebaliknya dari pada membantu, ia justru mengacau pekerjaan orang. Karena mengingat budinya, Cui San dan So So membiarkan ia mengunjuk kenakalannya. Sesudah bekerja berat akhirnya goa itu bersih, tapi bau busuknya belum mau menghilang.

“Alangkah baiknya jika kita bisa mencuci tempat ini dengan air,” kata So So. “Tapi sayang kita tak punya tahang.“

Sesudah berpikir sejenak, Cui San berkata, “Ada jalan.” Buru-buru ia mendaki gunung dan mengambil beberapa balok es yang lalu ditaruh di batu-batu yang agak tinggi di dalam goa itu.

“Ngoko, otakmu sungguh lihay!” memuji sang isteri sambil bertepuk tangan.

Tak lama kemudian balokan es itu mulai melumer dan airnya mengalir ke bawah sehingga goa itu seolah-olah disiram. Selagi suaminya mencuci goa, dengan menggunakan pedang bengkok So So memotong daging biruang yang kemudian ditumpuk menjadi satu. Walau pun di pulau itu terdapat gunung berapi, tetapi karena berada di wilayah Kutub Utara maka hawanya masih sangat dingin. Sebab itu setelah diuruk dengan potongan-potongan es, daging itu rasanya tak akan rusak dalam tempo lama. Sesudah selesai bekerja, So So menghela napas seraya berkata,

“Manusia selalu merasa tidak puas. Jika sekarang kita dapat menyalakan api dan membakar telapak kaki biruang, kita akan dapat mencicipi makanan yang sungguh luar biasa.“ Sejak jaman purba telapak kaki biruang diakui salah satu makanan yang paling enak.

“Api ada, hanya terlalu besar,” kata Cui San sambil mengawasi asap yang mengepul dari gunung berapi. “Perlahan-lahan kita harus berusaha mengambil api itu.“

Malam itu mereka makan otak biruang dan tidur di atas pohon. Pada keesokan paginya, baru saja membuka mata, So So berteriak,

“Aduh! Wangi sungguh!”

Ia melompat turun dari pohon dan tahu bahwa bau wangi itu datang dari dalam goa. Bersama suaminya berlarian ke dalam goa, di mana terdapat tumpukan-tumpukan bunga yang tengah dilontarkan kian kemari oleh si kera sambil melompat-lompat. So So yang sangat suka akan bunga jadi girang bukan main dan mengawasi lagak kera itu sambil menepuk-nepuk tangan Cui San.

“Aku hendak membicarakan suatu hal denganmu,“ kata Cui San. So So agak terkejut ketika melihat paras suaminya yang bersungguh-sungguh. “Ada apa?” tanyanya.

“Aku ingin diskusi bagaimana bisa mendapatkan api,“ jawabnya.

“Ahh, dasar edan kau!” bentak sang isteri seraya tertawa. “Tadi kukira ada urusan penting. Ambil api! Aku setuju. Lekas beri-tahukan rencanamu.“

“Di mulut gunung berapi hawanya luar biasa panas dan kita takkan dapat mendekatinya,” menerangkan Cui San. “Maka itu menurut pendapatku, jalan satu-satunya ialah membuat tambang yang panjang dari kulit pohon. kemudian menjemur tambang itu dan...“

“Bagus!” sang isteri memutus. “Kemudian mengikat sebutir batu di ujung tambang dan melontarkan tambang itu ke mulut gunung berapi, lalu menariknya kembali sesudah ujung tambang terbakar. Bukankah begitu maksudmu?”

Cui San mengangguk seraya memuji kepintaran isterinya. Karena ingin sekali makan daging matang, tanpa menunggu tempo lagi mereka segera bekerja. Selang dua hari telah berhasil membuat tambang yang panjangnya lebih dari seratus tombak dan yang lalu dijemur di bawah sinar matahari. Pada hari ke empat, dengan membawa tambang itu mereka pergi ke gunung berapi. Walau pun kelihatannya dekat tapi sebetulnya gunung itu terpisah empat puluh li lebih dari tempat mereka. Makin dekat dengan gunung itu, hawa makin panas. Keringat mengucur dan di seputar itu tidak terdapat pohon-pohonan lagi. Apa yang mereka temui hanyalah batu-batu gundul. Sesudah berjalan lagi beberapa lama, hawa panas makin hebat. Melihat muka isterinya yang merah kepanasan, Cui San yang menggendong tambang merasa tidak tega.

“Kau tunggu di sini, biar aku saja yang pergi ke situ,” katanya.

“Jangan rewel!” bentak sang isteri. “Kalau kau banyak bicara, aku tak akan meladeni lagi. Paling banyak seumur hidup kita tidak mengenal api lagi, kemudian seumur hidup makan makanan mentah.“

Cui San tesenyum dan mereka pun terus mendaki. Setelah berjalan lagi kurang lebih satu li, napas mereka tersengal-sengal dan hampir tidak dapat bertahan lagi. Cui San memiliki Iweekang yang sangat tinggi, tetapi dia pun merasa matanya berkunang-kunang dan kupingnya berbunyi.

“Sudahlah,” katanya. “Dari sini saja kita melontarkan tambang ini. Apa bila tidak menyala, hm... kita...“

So So tertawa dan menyambung, “Kita menjadi suami isteri orang hutan...“

Belum habis perkataannya, tubuhnya bergoyang-goyang dan roboh jika tidak buru-buru memegang pundak suaminya. Dari atas tanah Cui San menjemput sebutir batu yang lalu diikatkan ke ujung tambang. Sesudah itu sambil berlari dan mengerahkan Iweekang, ia melontarkan tambang sekuat tenaga. Bagaikan seekor ular tambang itu terbang di tengah udara, kemudian jatuh di permukaan bumi. Akan tetapi karena jarak dengan mulut gunung yang mengeluarkan api masih terlalu jauh, maka sesudah mereka menunggu beberapa lama, tambang itu belum juga menyala. Sementara itu mereka merasakan hawa panas makin menghebat sehingga mata mereka seolah-olah mengeluarkan api. Cui San menghela napas seraya berkata,

“Orang-orang jaman dulu membuat api dengan menggosok kayu atau memukul batu. Sudahlah! Jika menggunakan tambang tak berhasil, biarlah kita mencari jalan lain saja.“

Dengan rasa kecewa So So manggutkan kepala. Selagi dia hendak memanggil si kera merah yang selalu mengikuti ke mana pun, tiba-tiba ia melihat binatang itu menjemput sebutir batu dan dengan mencontoh cara Cui San, dia berlari-lari kemudian melontarkan batu itu. Dia gembira bukan main dan kelihatannya tidak takut dengan hawa panas. Melihat begitu, tiba-tiba So So mendapat satu pikiran.

“Eh eh, kera itu kelihatannya tidak takut api.“ katanya dalam hati. Dia segera bersiul dan berkata, “Saudara kera, apakah kau dapat menolong untuk membawa ujung tambang ke api dan menyalakannya?” Sambil berkata begitu dia memberi isyarat dengan tangannya.

Kera itu ternyata pintar luar biasa. Baru saja So So memberi isyarat dua tiga kali, dia mengerti apa maksudnya dan seraya berbunyi keras, dengan belasan kali lompatan saja, dia sudah melalui seratus tombak lebih dan setelah menjemput ujung tambang, dia berlari ke mulut gunung bagaikan kilat cepatnya. Melihat itu Cui San dan So So merasa menyesal karena mereka kuatir dia tercemplung dalam lubang api.

“Kauw-ji! Kauw-ji!” teriak So So. “Balik! Hayo balik!”

Baru saja dia berteriak begitu, dari kejauhan terlihat mengepulnya asap di ujung tambang yang kemudian ditarik dengan cepat oleh si kera. Beberapa saat kemudian ujung tambang yang menyala sudah berada di hadapan Cui San dan So So. Bukan main girangnya mereka. So So melompat lantas memeluk binatang itu, sedangkan Cui San segera mengambil cabang-cabang kayu kering yang diikat menjadi satu semacam obor, kemudian menyulutnya dengan api di tambang itu. Apa yang sangat mengherankan bagi mereka ialah, jangankan badannya, bulu si kera sedikit pun tak berubah. Dengan hati girang kedua suami isteri itu segera kembali ke goa biruang ber-sama si kera merah. Mereka segera mengumpulkan cabang-cabang kayu dan rumput kering untuk membuat sebuah perapian.

Di dunia bisa dikatakan semua binatang amat takut kepada api. Tapi si kera merah lain dari pada yang lain. Sambil mengeluarkan bunyi yang menggelikan dan dengan lagak nakal, dia bergulingan beberapa kali di atas perapian yang berkobar-kobar. Mendadak Cui San ingat apa yang pernah dituturkan gurunya dan tanpa merasa dia mengeluarkan seruan.

“Ahh...!”

“Ada apa?” tanya sang isteri.

“Dulu Suhu pernah memberi-tahu bahwa di dunia ini hidup semacam tikus yang dinamakan tikus api,” jawabnya. “Tikus itu dapat masuk ke dalam api tanpa terbakar. Bulunya yang panjangnya satu dim lebih bisa dibuat menjadi semacam kain yang disebut kain asbes. Kalau kain itu kotor, cara mencucinya adalah memasukkannya ke dalam api dan begitu dikeluarkan dari api, warnanya putih kembali seperti sedia kala. Menurut pendapatku, kera itu tidak banyak bedanya dengan tikus yang dituturkan Suhu.“

So So tertawa. “Jika bulu Saudara Kauw-ji rontok, aku akan membuatkan kain untukmu!” katanya. “Tapi paling sedikit kau harus berusia dua atau tiga ratus tahun.“

Sesudah mempunyai api, segalanya beres, mereka masak air, masak daging dan membuat satu dua macam masakan. Semenjak perahu tenggelam, belum pernah mereka merasakan makanan matang. Sekarang secara tidak diduga-duga, mereka dapat makan telapak kaki biruang yang kesohor lezat dan dapatlah dibayangkan kegembiraan mereka. Si kera merah yang tidak makan lain dari pada otak biruang, pergi ke hutan mencari buah-buahan. Malam itu, sesudah makan kenyang Cui San dan So So tidur di dalam goa di antara bau wangi dari berbagai macam bunga yang luar biasa. Keesokan paginya Cui San keluar dari goa dan dengan hati lapang ia memandang ke tempat jauh.

Tiba-tiba ia melihat seseorang yang bertubuh tinggi besar berdiri tegak di atas batu cadas di pinggir laut. Ia kaget bukan main karena orang itu bukan lain dari pada Cia Sun! Sesudah mengalami penderitaan yang sangat hebat, dia dan isterinya mendarat di pulau yang indah itu. Akan tetapi baru saja beberapa hari menikmati penghidupan bahagia dan tenteram, si memedi sudah muncul lagi. Di lain saat dia lihat Cia Sun jalan mendatangi dengan badan bergoyang-goyang. Sesudah matanya buta, ternyata dia tidak dapat menangkap ikan atau membunuh biruang sehingga sedari hari itu dia tidak pernah mengisi perut. Maka, biar pun badannya kuat luar biasa, dia tidak dapat mempertahankan diri lagi. Setelah berjalan belasan tombak lagi, badannya kelihatan gemetar dan dia pun roboh. Buru-buru Cui San kembali ke goa. Begitu melihat suaminya, So So tersenyum seraya berkata,

“Ngo...“ Ia tidak meneruskan perkataannya sebab melihat paras sang suami yang suram.

Sesudah berhadapan dengan isterinya, Cui San berkata dengan suara perlahan, “Si orang she Cia ada di sini!”

So So meloncat bangun seperti orang dipagut ular. “Dia telah melihat kau?” bisiknya. Tapi saat itu juga dia ingat bahwa Cia Sun sudah buta, maka hatinya jadi lebih tenang. “Ngoko, kau tak usah takut,” katanya pula. “Masa kita berdua, ditambah lagi dengan Kauw-ji, tidak dapat melawan seorang buta?”

Cui San manggut-manggut. “Dia roboh pingsan karena kelaparan,” katanya.

“Mari kita tengok,” kata sang isteri sambil merobek ujung bajunya yang kemudian dirobek lagi hingga menjadi empat potong kecil. Dua segera dimasukkan ke kupingnya dan yang dua lagi diserahkan kepada suaminya. Dengan tangan kanan mencekal pedang dan tangan kiri menuntun si kera merah, dia lalu mengikuti Cui San untuk menengok Cia Sun. Sesudah berada dekat, Cui San berteriak,

“Cia-cianpwe. apa kau mau makan?”

Dalam keadaan setengah sadar Cia Sun mendengar teriakan itu dan pada paras mukanya lantas terlukis sinar harapan. Tetapi di lain saat dia mengenali bahwa suara itu adalah suara Cui San dan paras mukanya berubah menyeramkan. Selang beberapa lama barulah dia mengangguk. Cui San segera melontarkan sepotong daging seraya berteriak,

“Sambutlah!”

Cia Sun bangun sambil menekan tanah dengan tangan kiri dan dengan bantuan kupingnya yang sangat tajam, dengan tangan lainnya dia menangkap daging itu yang lantas dimakan perlahan-lahan. Melihat seorang yang begitu gagah perkasa menjadi lemah, hati Cui San lantas timbul perasaan kasihan. Namun So So mempunyai pendapat lain. Dia sangat tidak setuju dengan tindakan suaminya yang sudah memberi makanan kepada Cia Sun.

“Hmm! Sesudah kuat mungkin dia akan membinasakan kita berdua,” katanya dalam hati. Akan tetapi karena sudah bersumpah untuk menjadi orang baik, maka dia menutup mulut meski pun hatinya mendongkol.

Sesudah makan sepotong daging itu, Cia Sun lantas tertidur pulas di atas tanah. Cui San segera menyalakan sebuah perapian didekatnya untuk mengusir hawa dingin sambil mengeringkan pakaian Cia Sun yang basah kuyup. Sampai lohor barulah si buta sadar.

“Tempat apa ini?” tanyanya.

Melihat gerakan mulutnya, Cui San dan So So yang menungguinya segera mencabut satu sumbatan kuping untuk mulai bicara, tetapi mereka sangat waspada dan siap sedia untuk menyumbat kuping jika terlihat gerakan yang luar biasa.

“Pulau ini adalah pulau yang tidak ada manusianya,“ jawab Cui San.

Cia Sun mengeluarkan suara di hidung. Beberapa saat kemudian barulah ia berkata, “Jika begitu kita tak akan bisa pulang.“

“Hal itu lebih baik kita serahkan saja kepada kebijaksanaan langit,” kata pula Cui San.

Mendadak Cia Sun meluap darahnya dan bagaikan kalap ia mulai mencaci langit. Setelah kenyang memaki-maki, dia meraba-raba batu besar lalu duduk di atasnya.

“Apa yang ingin kalian perbuat terhadapku?” tanyanya.

Cui San melirik isterinya yang segera memberi isyarat bahwa dia menyerahkan keputusan kepada sang suami. Setelah berpikir sejenak, kemudian pemuda itu berkata dengan suara nyaring,

“Cia-cianpwe, kami berdua suami isteri...“

“Hmm...” Cia Sun memotong pembicaraan orang. “Kalian sudah menjadi suami isteri?”

Paras muka So So bersemu dadu, sedangkan hatinya merasa girang. “Dalam pernikahan kami bisa dikatakan Cianpwe-lah yang menjadi comblangnya,” katanya seraya tertawa. “Untuk itu kami menghaturkan terima kasih.“

Cia Sun kembali mengeluarkan suara di hidung. “Baiklah. Apa yang hendak kalian perbuat terhadapku?” tanyanya pula.

“Cia-cianpwe,” kata Cui San. “Kami merasa sangat menyesal karena kami telah membikin buta kedua matamu. Tetapi karena hal itu telah terjadi, kami meminta maaf pun tidak ada gunanya. Jika memang kita ditakdirkan untuk berdiam di pulau ini seumur hidup dan tidak bisa kembali lagi ke Tiong-goan, maka yang dapat kami lakukan adalah merawat Cianpwe seumur hidup.“

Cia Sun mengangguk. “Ya... begitu saja,” katanya.

“Kami berdua sangat mencintai satu sama lain dan akan hidup atau mati bersama-sama,” kata pula Cui San. “Jika penyakit Cianpwe kumat lagi dan mencelakakan salah seorang di antara kami, maka orang yang masih hidup sudah pasti tidak akan mau hidup lebih lama lagi.“

”Kau ingin mengatakan bahwa jika kalian berdua mati, aku pun tak bisa hidup seorang diri di pulau ini. Bukankah begitu?” tanya Cia Sun.

“Benar,” jawab Cui San.

“Kalau begitu, perlu apa kalian menyumbat kuping?” tanya Cia Sun.

Cui San dan So So saling pandang sambil tersenyum, lalu mencabut potongan kain yang masih menyumbat kuping kiri mereka. Mereka merasa kagum bukan main karena walau pun sudah tidak dapat melihat, tetapi dengan kupingnya yang sangat tajam Cia Sun masih dapat mengetahui segalanya. Sesudah berbincang sebentar, Cui San lalu meminta supaya orang tua itu memberi nama pulau mereka.

“Di pulau ini terdapat es yang ribuan tahun tak pernah melumer dan terdapat pula api yang laksaan tahun tak pernah padam,“ kata Cia Sun. “Maka biarlah kita menamakannya pulau Peng-hwee-to (Pulau es dan api) saja.“

Begitulah, mulai saat itu tiga manusia dan seekor kera menjadi penghuni pulau terpencil itu. Untuk keperluan hidup, Cui San dan So So bekerja keras. Mereka membuat piring mangkok dengan membakar tanah liat, membangun dapur dengan menumpuk tanah dan batu, membuat kursi meja dan lain-lain perabot rumah tangga. Walau pun buatannya sangat kasar tetapi alat-alat dan perabotan itu dapat memenuhi keperluan mereka. Setiap ada waktu luang, mereka menanam pohon-pohon bunga di sebelah kiri goa.

Cia Sun juga tidak pernah rewel dan hidup dengan tenteram. Setiap hari dia selalu duduk termenung sambil memegang To-liong-to. Rupanya kakek ini terus mengasah otak untuk memecahkan rahasia yang tersembunyi dalam golok mustika itu. Mereka membujuk agar dia jangan memutar otak lagi.

“Aku mengerti bahwa andai kata aku dapat memecahkan rahasia ini, aku pun tidak akan dapat berdiam di tempat yang terpencil dan tak punya harapan untuk bisa kembali ke Tiong-goan,” jawabnya dengan suara getir. “Akan tetapi, karena aku tak punya kerjaan dan merasa amat kesepian maka biarlah aku mengasah otak untuk melewatkan waktu.“

Mendengar jawaban yang sangat beralasan ini, mereka mengangguk dan tidak membujuk lagi. Kira-kira setengah li dalam goa biruang terdapat sebuah goa lain yang lebih kecil. Setelah bekerja keras kurang lebih sepuluh hari, Cui San mengubah goa itu menjadi sebuah kamar berukuran kecil yang lalu diserahkan kepada Cia Sun untuk dijadikan kamar tidurnya. Beberapa bulan sudah berlalu dengan cepatnya. Pada suatu hari, bersama si kera merah, Cui San dan So So pergi pesiar ke sebelah utara pulau. Di luar dugaan mereka, pulau itu amat panjang dan sesudah melalui seratus li lebih, mereka belum mencapai ujungnya. Sesudah berjalan lagi beberapa lama, di sebelah depan menghadang sebuah hutan yang sangat besar. Mereka mendekati hutan itu, tetapi baru saja Cui San ingin masuk, si kera merah berbunyi keras dan memperlihatkan sikap ketakutan. So So jadi kuatir dan berkata,

“Ngoko, kau tidak boleh masuk, Kauw-ji kelihatannya amat ketakutan.“

Cui San merasa heran bercampur kuatir karena si isteri yang biasanya amat gembira jika menemui sesuatu yang luar biasa, akhir-akhir ini kelihatannya amat lesu.

“So So, mengapa kau?” tanyanya. “Apa badanmu kurang enak?“

Ditanya begitu, So So kelihatan kemalu-maluan sehingga paras mukanya berubah merah.

“Tidak apa-apa,” jawabnya dengan suara perlahan.

Sang suami makin heran dan terus mendesak. Akhirnya sambil menunduk dia berkata dengan suara perlahan,

“Langit rupanya tahu bahwa kita terlalu kesepian di sini, dan akan mengirim seorang manusia lain datang ke pulau ini.“

Cui San terkesiap, tetapi di lain saat kegirangannya meluap-luap. “Kita akan punya anak?” tanyanya.

“Sstt! Perlahan sedikit!” bentak si isteri, tapi di lain saat ia tertawa geli karena baru ia ingat bahwa di sekitar hutan itu tiada lain manusia.

Siang malam terbang bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya. Cuaca berubah lagi, siang makin pendek dan malam makin panjang, sedangkan hawa udara pun semakin dingin. Sesudah hamil, So So gampang capai. Namun dia tetap melakukan pekerjaan sehari-hari seperti masak, menambal pakaian dan menyapu lantai. Malam itu dia sudah hamil hampir sepuluh bulan. Sesudah menyalakan perapian di dalam goa, kedua suami isteri lalu duduk bercakap-cakap.

“Ngoko. coba kau tebak, apa anak kita lelaki atau perempuan?” kata So So.

“Perempuan seperti kau, lelaki seperti aku, bagiku sama saja,“ jawab sang suami.

“Aku lebih suka anak lelaki,“ kata pula So So. “Coba kau pilih satu nama untuknya.“

“Hmm...!” Cui San hanya mengeluarkan suara itu dan tidak menjawab perkataan isterinya.

“Ngoko, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya pula sang isteri. “Beberapa hari belakangan ini kau kelihatannya agak bingung.“

Cui San tersenyum. “Tidak apa-apa, mungkin karena kegirangan bakal menjadi ayah, aku kelihatan tolol,” jawabnya.

Tapi nyonya yang sangat pintar itu tidak dapat diakali. Ia sudah melihat pada mata suaminya terdapat sinar kekuatiran.

“Ngoko, aku akan jengkel sekali jika kau tak mau berterus terang,“ katanya dengan suara lemah lembut. “Apakah yang mendukakan hatimu?”

Cui San menghela napas panjang. “Aku harap saja penglihatanku keliru,” katanya. “Dalam beberapa hari ini kulihat perubahan pada paras muka Cia-cianpwe.“

So So mengeluarkan seruan tertahan, lantas berkata dengan suara kuatir, “Benar, aku pun melihat perubahan itu. Makin hari paras mukanya semakin ganas dan mungkin sekali dia bakal kalap lagi.“

Cui San manggut-manggut. “Rupanya dia merasa jengkel karena tidak bisa menembus rahasia yang meliputi To-liong-to,“ katanya.

Tiba-tiba saja air mata So So mengucur sehingga suaminya terkejut. “Sedikit pun aku tak merasa halangan kalau kita mati bertempur dan mati bersama-sama dia,” katanya dengan suara sedih. “Tapi... tapi...“

Dengan rasa terharu Cui San memeluk isterinya. “Benar. Sesudah mempunyai anak, kita tidak boleh sembarangan mengadu jiwa,” katanya. “Kalau kalapnya kumat lagi, tiada jalan lain dari pada membinasakannya. Kedua matanya telah buta, maka aku merasa yakin dia tidak akan bisa mencelakai kita.“

Mendengar niatan suaminya untuk membunuh Cia Sun, badan nyonya itu gemetaran. Sebagaimana diketahui, sewaktu masih gadis dia kejam luar biasa dan dapat membunuh puluhan manusia tanpa berkedip. Tapi sesudah hamil, entah kenapa hatinya berubah mulia. Pernah kejadian pada suatu hari Cui San menangkap seekor biang menjangan yang diikuti oleh dua anaknya sampai di goa. So So merasa tidak tega dan berkeras agar suaminya melepaskan betina menjangan itu. Nyonya muda ini lebih suka makan buah buahan saja dari pada membunuhnya. Melihat isterinya menggigil, Cui San tertawa seraya berkata dengan suara mencinta,

“Aku harap dia tidak kalap lagi. So So, berikan saja nama Liam Cu (Langit Welas asih) kepada anak kita. Apakah kau setuju? Aku ingin agar bila sudah besar dia akan terus ingat bahwa ibunya memiliki hati welas asih. Perempuan atau lelaki, kita berikan saja nama itu.“

So So mengangguk dengan perasaan beruntung. “Dulu setiap kali aku membunuh orang, hatiku merasa girang,” katanya. “Tapi sekarang, dengan mengetahui bahwa dalam hatiku telah muncul perasaan kasih terhadap sesama manusia, aku merasa sangat bahagia dan kebahagiaan itu berbeda jauh dengan kegirangan pada waktu dulu, waktu aku membunuh manusia.“

Sang suami manggut-manggut. “Aku sungguh girang mendengar pengakuanmu ini,” katanya. “Orang kata, bibit mencelakakan manusia tidak boleh ditanam di dalam hati, sebaliknya bibit menolong manusia harus terus dipupuk.“

“Benar,” kata So So. “Tetapi bagaimana kita harus bertindak kalau benar dia kalap lagi? Dengan adanya saudara Kauw-ji sebagai pembantu, kekuatan kita bertambah besar.”

“Tapi kurasa kita tidak dapat terlalu mengandalkan kera,” kata sang suami. “Dia memang pintar sekali, tapi belum tentu dia mengerti kemauan kita. Kita harus mencari daya upaya yang lebih sempurna.“

“Begini saja,” So So mengajukan usulnya. “Waktu memberikan makanan kepadanya, kita menaruh racun... Tidak! Tidak boleh begitu! Belum tentu dia kalap lagi dan mungkin sekali kita menduga keliru.“

“Aku mempunyai akal yang rasanya dapat digunakan,” kata Cui San. “Mulai besok kita pindah ke bagian sebelum goa ini dan membuat sebuah lubang jebakan di bagian luar, lalu di atas lubang itu kita tutupi dengan rumput dan daun daun kering.“

“Sesungguhnya akal itu sangat baik, hanya aku kuatir kau akan dicegat dia di tengah jalan waktu kau berburu binatang,” kata So So.

Cui San tertawa. “Tak usah kau kuatirkan keselamatanku,” katanya. “Begitu melihat gelagat yang kurang baik, aku bisa melarikan diri. Dengan memanjat batu cadas dan tebing, kurasa dia tak akan dapat menyusul.“

Keesokan paginya, Cui San lalu mulai menggali lubang di bagian luar goa itu. Karena tidak mempunyai cangkul besi, terpaksa dia menggunakan potongan kayu sehingga pekerjaan itu memerlukan tenaga yang sangat besar. Tapi berkat Iweekang-nya yang sangat tinggi, sesudah bekerja keras tujuh hari lamanya, dia berhasil menggali lubang yang dalamnya kira-kira tiga tombak. Sementara itu makin hari lagak Cia Sun semakin gila. Sering kali ia menari-nari di tempat terbuka sambil mencekal To-liong-to. Cui San bekerja makin keras. Sesudah menggali lima tombak, dia berniat menancapkan potongan-potongan kayu tajam pada dasar lubang. Menurut rencananya, goa itu bermulut lebar dan berdasar sempit sehingga jika Cia Sun jatuh ke dalamnya, bukan saja dia akan terluka tapi juga sukar dapat melompat keluar karena badannya bakal terjepit. Hanya sayang, sebelum ia selesai menggali sampai lima tombak, penyakit Cia Sun sudah keburu kumat.

BU KIE

Hari itu, sesudah makan siang Cia Sun mondar-mandir di depan goa. Cui San tak berani bekerja karena kuatir suara menggali tanah akan menimbulkan kecurigaannya. Dia juga tidak berani meninggalkan isterinya dan terus berdiam di luar mulut goa sambil menahan napas dan waspada. Tiba-tiba saja Cia Sun mulai mencaci. Ia mencaci Langit, Bumi, dewa-dewa dan malaikat-malaikat. Sesudah itu ia mencaci Kaisar-Kaisar dan orang-orang ternama di jaman purba. Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi, makian-makiannya disertai dengan kutipan-kutipan sejarah sehingga Cui San yang mendengar merasa sangat tertarik.

Sesudah puas menyikat orang-orang jaman dulu, ia mulai mencaci pentolan-pentolan rimba persilatan. Tat-mo Couwsu dari Siauw-lim-pay, Gak Bu Bok (Gak Hui), jago-jago dan bintang-bintang lain di langit persilatan semua disikat bersih. Dia mencaci orang-orang gagah dari satu ke lain jaman dan apa yang sangat menarik, caciannya bukan membuta tuli, namun disertai pula dengan kupasan-kupasan pedas tajam mengenai kekurangan dari ilmu silat setiap partai atau perseorangan. Waktu memaki orang-orang gagah pada akhir jaman Lam-song (Kerajaan Song Selatan), yang disikatnya adalah Tong-sia, See-tok, Lam-tee, Pak-kay dan Tiong-sin-thong. Setelah lima jago itu, dia juga mencaci Kwee Ceng dan Yo Ko. Akhirnya tibalah giliran Thio Sam Hong, pendiri dari Bu-tong-pay dan sampai di situ, Cui San tak dapat menahan sabar lagi. Dengan darah meluap Cui San membuka mulutnya untuk balas memaki. Tetapi sebelum perkataannya keluar, tiba-tiba Cia Sun berteriak,

“Thio Sam Hong bukan manusia! Muridnya, Thio Cui San, juga bukan manusia! Paling benar aku mampuskan dulu bininya!” Sambil berteriak begitu dia melompat masuk ke dalam goa.

Cui San lantas turut melompat, akan tetapi hampir berbarengan dia mendengar suara gedubrakan sebagai tanda bahwa orang edan itu sudah terjeblos ke dalam jebakan. Tetapi karena di dasar lubang belum dipasang kayu-kayu tajam, maka biar pun terguling Cia Sun tidak sampai terluka dan sesudah hilang kagetnya, dia segera melompat ke atas. Sementara itu Cui San sudah menjemput potongan kayu yang digunakan untuk menggali tanah dan begitu melihat munculnya badan Cia Sun, dia segera menghantamkan kayu itu.

Mendengar ada sambaran angin tajam, cepat bagaikan kilat Cia Sun menangkap kayu itu dengan tangan kirinya dan membetotnya keras-keras. Cui San tak kuat menahan betotan yang sangat hebat itu sehingga bukan saja kayu itu terlepas, tetapi telapak tangannya pun terbeset dan mengeluarkan darah. Namun tubuh Cia Sun kembali jatuh ke dalam lubang akibat pukulan tersebut. Tanpa diketahui sang suami, pada saat itu sesungguhnya So So sudah hampir melahirkan anak. Pada saat si edan mondar-mandir di depan goa, perutnya sudah terasa sakit tetapi dia tidak berani memanggil suaminya karena kuatir didengar Cia Sun. Sekarang, melihat senjata suaminya direbut, sambil menahan sakit ia mengambil pedangnya yang kemudian dilontarkan kepada Cui San.

“Kepandaian orang itu sepuluh kali lipat tinggi dari padaku dan jika aku membacok, maka pedang ini pasti akan direbut olehnya,” pikir Cui San.

Mendadak dia ingat bahwa sesudah kedua matanya buta, Cia Sun menangkap potongan kayu tadi dengan mendengar sambaran angin pukulan. Karena itu pasti akan berhasil jika bisa menyerang tanpa menerbitkan sambaran angin. Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak disusul dengan melompatnya si kalap ke mulut lubang goa. Cui San segera menudingkan ujung pedang yang sudah diluruskan setelah mereka mendarat di pulau itu ke arah si edan yang sedang melesat ke atas. Dia tidak menikam atau membacok, melainkan hanya menunggu.

“Crass...!” ujung pedang menancap di kepala Cia Sun.

Karena tidak ada sambaran angin, Cia Sun yang sedang melompat ke atas tentu saja tak menduga bahwa dia akan dipapaki senjata tajam. Masih untung dia punya kepandaian yang sangat tinggi dan dapat bergerak luar biasa cepat. Begitu ujung pedang menggores batok kepalanya, ketika itu pula dia melenggokkan kepala seraya menangkap badan pedang dan mengerahkan tenaga Cian-kie-tui (ilmu untuk menambah berat badan) sehingga tubuhnya jatuh lagi ke lubang dengan kecepatan luar biasa.

Meski pun dapat menyelamatkan jiwanya namun dia terluka agak berat dan darah mengucur dari kepalanya. Begitu jatuh dia langsung mencabut pedang yang menancap di batok kepalanya dan sesudah menghunus To-liong-to, untuk ketiga kalinya dia melompat pula sambil memutar golok mustika itu guna melindungi kepala.

Kali ini Cui San menimpuk dengan batu besar, tapi batu itu dipukul terpental dengan To-liong-to. Begitu sepasang kakinya hinggap di pinggir lubang, Cia Sun lantas menerjang seperti orang gila. Sambil melompat mundur hati Cui San terasa mencelos. Dia pikir hari itu dia dan So So akan berpulang ke alam baka tanpa sempat melihat anaknya yang belum lahir.

Biar pun sedang kalap dalam perkelahian, ternyata Cia Sun masih dapat menggunakan otaknya. Dia merasa bahwa yang paling penting adalah menjaga supaya Cui San dan So So tidak dapat keluar dari goa itu. Begitu mereka keluar maka dia tidak akan dapat mencarinya. Maka itu, dengan tangan kanan mencekal golok dan tangan kiri memegang pedang, dia memutar kedua senjata itu bagaikan kitiran cepatnya sehingga mulut goa tertutup dengan sambaran-sambaran senjata yang sangat hebat. Pada saat yang sangat berbahaya bagi diri kedua suami isteri itu, mendadak dalam goa terdengar suara menangisnya bayi. Cia Sun terkesiap dan dia pun berhenti bergerak. Bayi itu menangis terus. Pada saat itu, walau pun tahu bahwa bencana sedang berada di atas kepalanya, Cui San tidak menghiraukan orang edan itu lagi. Dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan, mata Cui San dan So Sa mengawasi bayi itu yang menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil menangis keras.

Mereka mengerti bahwa dengan sekali membabat, Cia Sun dapat membinasakan mereka bersama bayi yang baru lahir. Akan tetapi mereka tidak menghiraukan. Di dalam hati mereka amat bersyukur bahwa sebelum mati masih dapat melihat wajah anak itu. Mereka sama sekali tak pernah mimpi bahwa tangisan bayi itu mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa.

Secara tiba-tiba Cia Sun tersadar dan kalapnya hilang seketika, seperti daun disapu angin. Di depan matanya terbayang peristiwa puluhan tahun berselang, sewaktu keluarganya dianiaya. Isterinya belum lama melahirkan dan bayi yang baru lahir itu juga tak luput dari keganasan musuh. Dalam otaknya berkelebat-kelebat ingatan-ingatan yang menyayat hati, kecintaan suami isteri, kekejaman musuh, dibantingnya bayi yang baru lahir, usahanya untuk menambah kepandaian namun kepandaian musuh bertambah lebih cepat, didapatinya To-liong-to dan kegagalannya untuk menembus rahasia golok mustika itu. Lama dia berdiri terpaku, sebentar tersenyum sebentar mengertak gigi.

“Lelaki atau perempuan?” mendadak terdengar pertanyaan Cia Sun.

“Lelaki,“ jawab Cui San.

“Apa arinya sudah digunting?” tanyanya pula.

“Benar! Aduh, aku lupa!” jawab Cui San.

Cia Sun segera memutar pedang yang dicekalnya dan menyodorkan gagangnya kepada Cui San yang segera menyambut kemudian memotong ari bayi itu. Sesaat ia terkesiap karena baru ia ingat bahwa si edan berada dekat sekali dengan mereka. Tetapi begitu melirik muka Cia Sun, ia merasa lega karena kekalapannya sudah hilang dan paras mukanya terlukis perasaan menyayang.

“Berikan kepadaku,” kata So So dengan suara lemah.

Sang suami segera mengangkat bayi itu lalu menaruhnya dalam gendongan isterinya.

“Apa kau sudah masak air untuk memandikannya?” tanya Cia Sun dengan suara pelan.

Cui San tertawa. “Ah, aku benar gila!” katanya. “Aku telah melupakan segalanya.“ Seraya berkata dia segera bertindak keluar untuk memasak air. Tapi baru saja satu dua tindakan, dia segera berhenti karena merasa sangsi.

Rupanya Cia Sun dapat menebak kekuatiran pemuda itu. “Kau diam saja di sini menemani isterimu,” katanya. “Biar aku yang masak air.“

Ia segera memasukkan To-liong-to ke dalam sarung dan berjalan keluar sambil melompati lubang jebakan. Tak lama kemudian dia telah kembali sambil membawa sepaso air panas dan Cui San lalu memandikan bayinya.

“Bagaimana macamnya bayi itu?” tanya Cia Sun. “Seperti ibunya atau seperti ayahnya?”

Cui San tersenyum. “Lebih banyak menyerupai ibunya,” jawabnya. “Dia tidak gemuk dan mukanya potongan kwaci.”

Cia Sun menghela napas panjang. Sesudah termenung sejenak dia berkata dengan suara perlahan,

“Aku mendoakan agar setelah besar dia jangan bernasib jelek. Aku mendoakan supaya dia berumur panjang, banyak rezeki dan jauh dari segala penderitaan.“

“Cia-cianpwe, apakah nasib anak ini kurang baik?” tanya So So.

“Bukan begitu,” jawabnya, “Kudengar anak itu mirip kau. Kalau benar berarti dia berparas terlampau ayu. Kata orang yang terlalu ayu sering bernasib jelek sehingga aku kuatir anak ini akan menemui banyak kesukaran kalau di kemudian hari dia masuk di dunia pergaulan.“

“Cia-cianpwe, kau berpikir terlampau jauh,” kata Cui San sambil tertawa. “Kita berempat berada di pulau yang terpencil, mana dapat anak kami masuk di dunia pergaulan?”

“Tidak!” bentak So So. “Kita boleh tak usah kembali lagi ke Tiong-goan, tapi anak ini tidak dapat dibiarkan berdiam di sini terus menerus seumur hidup. Setelah kita bertiga mati, siapa yang akan mengawaninya? Setelah dia dewasa, di mana dia harus mencari isteri?”

Sejak kecil In So So berada di antara orang-orang Peh-bie-kauw dan apa yang dilihatnya ialah perbuatan-perbuatan kejam sehingga sesudah besar, sifatnya jadi ganas sekali. Tetapi sesudah bersuami isteri dengan Thio Cui San, sifatnya berubah dengan perlahan. Sekarang sesudah menjadi ibu, rasa cinta yang wajar terhadap anaknya memenuhi lubuk hatinya dan dia rela berkorban demi kepentingan bayi yang baru lahir itu. Mendengar perkataan sang isteri, Cui San berduka sekali. Dengan berada di pulau yang terpisah laksaan li dari wiiayah Tiong-goan, dan tanpa mempunyai alat angkutan, mana dapat mereka kembali ke dunia ramai? Tetapi dia hanya membungkam karena kuatir isterinya putus harapan.

“Tak salah perkataan Thio-hujin tadi,“ kata Cia Sun. “Bagi kita bertiga, tiada halangannya untuk berdiam di sini seumur hidup. Tapi anak ini, tidak! Kita tidak boleh membiarkan dia terus berdiam di sini seumur hidupnya tanpa mencicipi kesenangan dunia. Thio-hujin, kita bertiga harus berusaha sedapat mungkin supaya anak itu bisa kembali ke Tiong-goan.“

Bukan main girangnya So So. Dia berusaha untuk bangun berdiri. Buru-buru Cui San mencekal lengannya seraya berkata,

“So So, kau mau apa? Rebahan saja!”

“Ngoko,” jawabnya, “Kita berdua harus berlutut di depan Cia-cianpwe guna menghaturkan terima kasih untuk kebaikannya terhadap anak kita.“

Cia Sun menggoyang-goyangkan tangannya seraya mencegah, “Tak usah! Tak usah! Apa anak itu sudah diberi nama?”

“Secara sembarangan kami memilih sebuah nama, yaitu Liam Cu,” jawab Cui San. “Cia-cianpwe seorang yang berpengetahuan tinggi, bolehlah Cianpwe memilih nama lain yang lebih cocok untuknya!”

Cia Sun berpikir sejenak. “Thio Liam Cu... Thio Liam Cu...” katanya. “Namanya itu sudah cukup baik. Tidak usah diubah.”

Tiba-tiba saja So So mendapat satu pikiran. “Orang aneh itu kelihatannya sayang sekali kepada anakku,” katanya dalam hati. “Paling benar aku memberikan anak ini sebagai anak pungutnya supaya dia tidak menurunkan tangan jahat kalau kalapnya datang lagi.“ Berpikir begitu, ia lantas berkata,

“Cia-cianpwe, untuk kepentingan anak ini, aku akan mengajukan permohonan kepadamu dan kuharap kau tidak menolaknya.”

“Permohonan apa?” tanyanya.

“Aku ingin menyerahkan Liam Cu kepadamu untuk dijadikan anak angkat,” jawabnya. “Bila dia telah besar maka dia dapat merawat kau seperti ayahandanya sendiri. Dengan berada di bawah perlindunganmu, tentu seumur hidupnya dia tidak akan dihina orang. Bagaimana pendapatmu, Ngoko?”

“Bagus!” kata Cui San. “Aku harap Cia-cianpwe tidak menolak permohonan kami berdua.“

Paras muka Cia Sun mendadak berubah dan diliputi dengan sinar kedukaan yang sangat besar.

“Anak kandungku sendiri telah dibanting orang hingga menjadi perkedel,” katanya dengan suara perlahan. “Apa kau tidak lihat?”

Cui San dan Sa So saling melirik dengan perasaan kuatir, karena perkataan itu seperti keluar dari mulut seorang gila. Dalam kekuatiran mereka pun merasa kasihan terhadap orang yang bernasib malang itu. Sesudah berdiam sejenak, Cia Sun berkata pula,

“Kalau dia hidup, sekarang telah berusia delapan belas tahun. Aku Cia Sun pasti akan menurunkan semua baik ilmu surat mau pun ilmu silat kepadanya. Huh huh! Belum tentu dia kalah dari Bu-tong Cit-hiap atau Siauw-lim Sam-gie.“ Kata-kata itu, yang kedengarannya angkuh, bernada sedih dan mengutarakan perasaan dari seorang yang hatinya sangat kesepian.

Mendengar itu Cui San dan So So turut berduka. Mereka merasa menyesal bahwa karena terpaksa maka kedua mata orang itu dibikin buta.

“Kalau dia masih dapat melihat, bukankah kita berempat bisa hidup senang di pulau ini?” kata Cui San dalam hati.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga orang itu tidak mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya kesunyian dipecahkan oleh Cui San yang berkata dengan suara tetap,

“Cia-cianpwe, kau terimalah anak ini. Kami akan menukar she-nya menjadi she Cia.“

Mendadak seberkas sinar terang berkelebat di muka Cia Sun yang suram. “Apa benar?” tanyanya dengan suara kurang percaya. “Kalian rela dia menukar she? Cia Liam Cu... Cia Liam Cu... Nama itu cukup baik. Tapi anakku yang mati bernama Bu Kie.”

“Kalau Cia-ciapwee menghendaki, anak kami boleh dinamakan Bu Kie,” kata Cui San.

Tak kepalang girangnya Cia Sun, tapi dalam kegirangan itu dia merasa sangsi kalau-kalau kedua suami isteri itu sedang menipunya.

“Kalian memberikan anakmu kepadaku, tapi bagaimana kalian sendiri?” tanyanya pula.

“Tidak peduli dia she Cia atau she Thio, kami berdua akan tetap mencintainya,” kata Cui San. “Di belakang hari dia harus mengunjuk kebaktian kepada Cianpwe dan kepada kami sendiri. Bukankah itu baik sekali? So So, bagaimana pendapatmu?”

“Aku setuju apa yang kau katakan,” jawab So So dengan suara agak bersangsi. “Semakin banyak orang menyintainya, semakin bagus pula peruntungan anak ini.“

Dengan air mata ber-linang Cia Sun menyoja sambil membungkuk. “Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian,” katanya dengan suara sangat terharu. “Sakit hati membutakan mata mulai sekarang sudah dihapuskan. Cia Sun kehilangan anak, akan tetapi hari ini dia mendapat pula seorang anak. Di hari kemudian nama Cia Bu Kie akan menggetarkan dunia dan biarlah orang tahu bahwa ayahnya adalah Thio Cui San, ibunya In So So, sedang ayah angkatnya adalah Kim-mo Say-ong Cia Sun.”

Barusan So So agak bersangsi karena Cia Bu Kie yang tulen telah binasa seperti perkedel sehingga dia kuatir nama itu kurang baik untuk anaknya. Tapi melihat kegirangan Cia Sun yang begitu besar, dia merasa tidak tega untuk mengutarakan kesangsiannya. Dia yakin bahwa anak itu tentu akan sangat dicinta oleh Cia Sun dan hal ini merupakan keberkahan untuk anak itu.

“Cia-cianpwe apa kau mau menggendongnya?” tanyanya sambil mengangsurkan anak itu.

Cia Sun menyambut dan memeluknya dengan hati-hati. Mendadak, karena terlalu girang, kedua tangannya gemetaran dan air matanya mengalir.

“Kau... kau.. ambilah kembali,” katanya. “Dia bisa ketakutan setengah mati kalau melihat mukaku.“

“Kalau kau masih senang, kau boleh menggendongnya lebih lama,” kata So So sambil tersenyum. “Di kemudian hari kaulah yang harus mengajak dia bermain.“ Sehabis berkata begitu dia menyambut anak itu.

“Baik! Baik!” kata Cia Sun sambil tertawa debar. Mendengar si bayi menangis keras ia lalu berkata pula, “Susuilah. Dia lapar. Aku mau keluar dulu.“

Cui San dan So So tersenyum. Dengan matanya yang sudah buta, biar pun So So sedang menyusui, sesungguhnya dia boleh berdiam terus di situ. Tadi dalam kalapnya dia begitu ganas, namun sekarang dia begitu mengenal adat. Sebelum dia bertindak keluar, Cui San sudah mendului,

“Cia-cianpwe...“

“Tidak! Sesudah kita jadi orang sendiri, kau tak boleh menggunakan istilah Cianpwe lagi,” katanya. “Apa kalian setuju jika sekarang kita mengangkat saudara? Tali kekeluargaan ini akan banyak baiknya untuk anak kita!”

“Cianpwe adalah seorang yang berusia jauh lebih tua dan berkepandaian jauh lebih tinggi, jadi mana bisa kami berdua berdiri berendeng dengan Cianpwe?” kata Cui San.

“Fui!” bentak Cia Sun. “Kau adalah orang rimba persilatan dan aku benar-benar tak mengerti mengapa kau begitu rewel? Ngote, So-moay, apakah kau berdua bersedia untuk memanggil aku Toako (kakak paling tua)?”

“Baiklah, biar aku yang lebih dahulu memanggil Toako,“ kata So So. “Kalau dia tetap mau panggil kau Cianpwe, maka terhadap aku pun dia harus memanggil Cianpwe.“

“Kalau begitu, biarlah siauwte menurut perintah Toako,” kata Cui San.

“Sesudah mencapai persetujuan, beberapa hari lagi, sesudah aku lebih kuat barulah kita bersembahyang dan memberi-tahukan kepada Langit dan Bumi, kemudian melaksanakan peradatan mengangkat ayah dan mengikat tali persaudaraan,” kata SoSo.

Cia Sun tertawa terbahak-bahak. “Seorang laki-laki takkan menarik pulang perkataannya. Perlu apa bersembahyang kepada langit? Aku sudah membenci Langit!” Sehabis berkata begitu dengan tindakan lebar dia berjalan keluar.

Beberapa saat kemudian Cui San dan So So mendengar suara tawanya yang panjang dan nyaring. Sejak bertemu belum pernah mereka melihat dia begitu gembira. Demikianlah, dengan penuh perhatian ketiga orang itu merawat dan memelihara Cia Bu Kie. Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say-ong, kepandaian Cia Sun dalam ilmu menangkap dan melatih binatang dapat dikatakan tidak bandingannya di dunia. Cui San mengajak ia pergi ke berbagai pelosok pulau itu dan sekali pergi, ia tidak melupakan lagi jalanan-jalanannya.

Dalam pembagian pekerjaan, Cia Sun bertanggung jawab menyediakan daging bagi keluarganya, menangkap menjangan atau memburu biruang. Kadang kala si kera merah ikut dengannya, tapi karena cara kera itu membinasakan biruang terlalu mudah, maka Cia Sun tidak merasa gembira. Semula dia masih suka mengajaknya untuk dijadikan penunjuk jalan, tapi sesudah mengenal jalan, ia tidak memperkenankan lagi dia ikut dan memerintahkan diam untuk bermain-main dengan Bu Kie.

Beberapa tahun sudah berlalu dengan aman sentosa. Bayi itu bertubuh kuat, tidak pernah mengenal penyakit, dan dengan cepatnya menjadi seorang anak yang mungil dan sehat. Di antara ketiga orang tua itu, Cia Sun-lah yang paling memanjakannya. Setiap kali Cui San atau So So hendak menghukumnya karena terlalu nakal, Cia Sun selalu datang menengahi lantas menghalang-halangi. Dengan demikian, Setiap ayah dan ibu kandungnya marah, Bu Kie tentu lari ke ayah angkatnya minta pertolongan. Kedua orang tuanya hanya bisa meng-gelengkan kepala dan menggerutu bahwa anak itu terlalu dimanja oleh sang toako. Ketika Bu Kie berusia empat tahun, So So mulai mengajarkan ilmu surat kepadanya. Pada hari ulang tahunnya yang kelima, Cui San berkata,

“Toako, anak kita sudah boleh belajar silat. Mulai hari ini kurasa kau sudah boleh mengajarnya. Apa Toako setuju?”

Sang kakak menggelengkan kepala. “Tidak bisa,” katanya. “Ilmu silatku terlampau dalam. Jika sekarang aku yang mengajarnya, dia tidak akan mengerti. Sebaiknya lebih dulu kau menurunkan ilmu Bu-tong Sim-hoat dan kelak sesudah dia berusia delapan tahun barulah aku yang mengajarnya. Sesudah aku mengajar dua tahun, kalian boleh pulang!”

So So kaget dan heran. “Apa? Pulang? Pulang ke Tiong-goan?” Dia menegas.

“Benar,“ jawabnya. “Selama beberapa tahun ini, setiap hari aku memperhatikan arah angin dan arus air. Dan aku mendapat kenyataan bahwa tiap tahun, pada malam yang paling panjang, turunlah angin yang meniup keras terus-menerus sampai beberapa puluh malam. Sebelum waktu itu tiba kita bisa membuat sebuah getek yang besar, memasang layar dan jika Langit tidak mengacau, besar kemungkinan kalian bisa ditiup angin sampai ke Tiong-goan.“

“Kami?” tanya pula So So. “Apa kau tidak turut serta?”

“Mataku sudah tidak bisa melihat, perlu apa aku pulang ke Tiong-goan?” jawabnya.

“Jika kau tidak ikut, kami pasti tidak akan mengijinkan kau berdiam sendirian di pulau ini,” kata So So. “Anak kita pun tidak akan mau mengerti. Kalau bukan Gie-hu (ayah angkat), siapa lagi yang bisa menyayanginya?”

Cia Sun menghela napas dan paras mukanya tampak berduka. “Aku telah menyayangnya sepuluh tahun. Cukuplah,” katanya. “Selamanya Langit sering mengacau penghidupanku. Jika anak kita terlalu lama berdampingan denganku, mungkin Langit akan menggusari dia dan dia bisa celaka.“

Cui San dan So So bingung. Namun sesaat kemudian mereka menganggap bahwa sang kakak bicara sembarangan saja dan hati mereka menjadi lebih lega. Mulai hari itu Cui San mulai memberi pelajaran menghimpun Iweekang kepada puteranya. Dia menganggap bahwa bagi anaknya yang masih begitu kecil, pelajaran Iweekang untuk menguatkan diri sudahlah cukup. Di samping itu, dengan berdiam di pulau tersebut, anak itu sebetulnya tidak perlu memiliki ilmu silat karena tak ada kemungkinan untuk berkelahi. Mengenai kesempatan pulang ke Tiong-goan tidak pernah disebut-sebut lagi oleh Cia Sun sehingga Cui San dan So So menganggap bahwa kakak mereka itu sudah berkata sembarangan saja.

Pada saat Bu Kie berusia delapan tahun, benar saja Cia Sun mengajukan memberi pelajaran ilmu silat. Tapi ia mengadakan peraturan bahwa waktu ia menurunkan pelajaran, baik Cui San mau pun So So tidak boleh turut menyaksikan. Peraturan yang sudah lazim di rimba persilatan itu tidak pernah dibantah oleh mereka. Mereka tahu bahwa sang kakak akan memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepada Bu Kie.

Sang tempo lewat dengan cepat dan tahu-tahu Bu Kie sudah menerima pelajaran setahun lebih dari ayah pungutnya. Semenjak terlahirnya anak itu, karena hatinya sangat bahagia dan mempunyai tugas tertentu, Cia Sun tak pernah memperhatikan To-liong-to lagi. Pada suatu malam, karena tidak dapat pulas Cui San keluar dari goa lalu berjalan-jalan di seputar situ. Tiba-tiba ia melihat Cia Sun sedang bersila di atas sebuah batu besar sambil mencekal golok mustika dengan kepala menunduk. Baru saja ia mau menyingkir, sang kakak yang telah mendengar suara tindakannya keburu berseru,

“Ngote, kurasa kata-kata ‘Bu lim cie cun, po to to liong’ hanya kata-kata kosong belaka.“

Cui San menghampiri seraya berkata “Di rimba persilatan memang banyak sekali tersiar omongan-omongan yang tak boleh dipercaya. Toako adalah seorang yang memiliki pengetahuan tinggi, maka sebenarnya aku tak mengerti mengapa kau percaya omongan itu?”

“Ngote, aku bukan percaya secara serampangan saja,” jawabnya. “Keterangan itu kudapat dari Kong-kian Taysu, seorang pendeta Siauw-lim-pay.“

“Ah!” Cui San mendadak mengeluarkan seruan tertahan. “Kong-kian Taysu! Kudengar dia adalah Suheng (kakak seperguruan) dari Kong-bun Taysu, Ciang-bun-jin Siauw-lim-pay. Ia sudah meninggal dunia lama sekali.

“Benar,” kata Cia Sun. “Akulah yang membinasakannya!”

Tak kepalang kagetnya Cui San. Dalam dunia Kangouw terdapat kata-kata seperti berikut: ‘Siauw-lim Seng-ceng, Kian Bun Tie Seng’ (Pendeta suci dari Siauw-lim-pay ialah Kian, Bun, Tie dan Seng). Kata-kata itu untuk mengunjuk keempat Hwesio Siauw-lim-si, yaitu Kong-kian, Kong-bun, Kong-tie dan Kong-seng. Belakangan ia mendengar dari gurunya bahwa Kong-kian sudah meninggal dunia dan tak dinyana, sekarang ia tahu bahwa pendeta suci itu dibinasakan oleh kakaknya. Cia Sun menghela napas panjang dan paras mukanya berubah sedih.

“Kong-kian itu manusia tolol,” katanya. “Ia membiarkan aku memukulnya tanpa membalas. Ia pun mati sesudah kupukul tiga belas kali.”

Cui San menjadi lebih kaget lagi. Seorang yang kuat menerima tiga belas pukulan Cia Sun harus mempunyai kepandaian yang luar biasa tinggi. Sementara itu paras muka Cia Sun makin suram dan terdapat sinar penyesalan yang sangat dalam. Cui San mengerti bahwa di balik kebinasaan Kong-kian Taysu tersembunyi peristiwa yang sangat mendukakan. Dia yakin bahwa kebinasaan pendeta suci itu bukan kejadian yang biasa saja. Meski pun sudah delapan tahun mereka hidup bersama-sama sebagai saudara angkat, selain rasa menghormat kepada kakak, dalam hati Cui San juga terdapat rasa jeri. Dia tidak berani bertanya melit-melit karena kuatir membangunkan ingatan yang tak enak dari masa lalu.

“Sepanjang hidupku, orang yang kuhargai hanya ada beberapa gelintir saja,” kata Cia Sun dengan suara perlahan. “Orang yang seperti gurumu, yaitu Thio Cinjin, aku hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah bertemu dengan beliau. Kong-kian Taysu benar-benar seorang pendeta suci. Meski pun nama besarnya tidak begitu dikenal seperti adik seperguruannya seperti Kong-tie dan Kong-seng, tetapi menurut pendapatku, kepandaian kedua Taysu itu tidak dapat menandingi Kong-kian Taysu.”

Semenjak bertemu dengan Cui San, Cia Sun selalu memandang rendah seluruh pentolan-pentolan dunia. Karena itu Cui San heran tak kepalang ketika mendengar pujian terhadap Kong-kian Taysu.

“Mungkin sekali karena orang tua itu selalu hidup menyembunyikan diri dalam kelenteng, maka tidak banyak orang yang mengenal kepandaiannya,“ kata Cui San.

Cia Sun tidak kedengaran menjawab. Dia bengong sambil kedua matanya memandang ke tempat jauh.

“Sayang...! Sungguh sayang...!“ katanya pada diri sendiri. “Manusia yang begitu luar biasa binasa di tanganku! Kalau waktu itu dia membalas, aku Cia Sun tentu tidak bisa hidup sampai sekarang.”

“Apakah kepandaian pendeta itu lebih tinggi dari pada Toako?” tanya Cui San.

“Mana bisa aku dibandingkan dengan beliau?” jawabnya. “Ilmu silat murid-muridnya juga lebih tinggi dari pada aku.“ Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan nada penyesalan yang tiada taranya.

Cui San semakin heran. Ia hampir tak percaya keterangan kakaknya. Gurunya sendiri, Thio Sam Hong, adalah salah seorang luar biasa pada jaman itu. Namun ia yakin bahwa apa bila gurunya bertanding dengan Cia Sun, paling banyak sang guru lebih unggul setengah tingkat. Jika Kong-kian lebih unggul dari Cia Sun, bukankah gurunya sendiri tak akan mampu menandingi Kong-kian? Tapi ia pun mengenal kakaknya sebagai manusia yang sangat angkuh. Jika ia tidak benar-benar merasa takluk, pasti ia tak akan membuat pengakuan itu.

KISAH MASA LALU

Rupanya Cia Sun dapat membaca apa yang dipikir oleh adiknya. “Baiklah. Sekarang panggil Bu Kie. Katakan kepadanya bahwa aku hendak menceritakan sebuah cerita masa lalu.“

Biar pun merasa bahwa membangunkan anak itu tengah malam buta bukan seharusnya, namun Cui San tak berani membantah perintah sang kakak. Maka itu dia segera kembali ke goanya dan membangunkan arak itu. Mendengar ayah angkatnya hendak bercerita, Bu Kie jadi girang dan mengiyakan dengan suara keras-keras sehingga ibunya turut tersadar. Karena itu mereka bertiga lantas pergi ke goa Cia Sun untuk mendengarkan ceritera yang dijanjikan. Sesudah semua orang berkumpul, Cia Sun segera mulai,

“Anak, tidak lama lagi kau akan pulang ke Tiong-goan...”

“Apa? Ke Tiong-goan?” memutus Bu Kie.

Cia Sun menggoyangkan tangannya agar anak itu jangan memutus omongannya dan berkata,

“Kalau getek kita tenggelam di laut atau ditiup angin ke samudera yang luas, maka kita boleh tak usah bicara lagi. Tapi andai kata kita bisa kembali ke Tiong-goan, aku ingin memberi-tahu suatu hal kepadamu. Ingatlah, hati manusia di dunia sangat jahat dan kau tak boleh percaya kepada siapa pun juga kecuali ayah dan ibu sendiri. Aku menyesal bahwa di waktu masih muda tak pernah ada orang yang memberi nasihat itu kepadaku. Biar pun ada yang menasihati, tapi waktu itu aku tidak mau percaya.

Pada waktu aku berusia sepuluh tahun, kebetulan aku sudah bisa berguru dengan seorang yang mempunyai nama besar di rimba persilatan. Karena melihat bakatku yang sangat baik, Suhu sangat menyayangiku dan menurunkan ilmu-ilmu silat yang istimewa kepadaku sehingga dengan demikian hubungan kami bagaikan ayah dan anak. Ngote, pada waktu itu rasa cinta dan rasa hormatku terhadap Suhu kira-kira sama seperti rasa cinta dan rasa hormatmu terhadap gurumu. Aku keluar dari rumah perguruan pada usia dua puluh tiga tahun. Tak lama kemudian aku menikah dan mempunyai seorang anak. Penghidupan kami sangat beruntung...

Selang dua tahun, waktu lewat di kampung kelahiranku, Suhu mampir dan berdiam berapa hari di rumahku. Aku girang bukan main dan seluruh keluarga melayaninya dengan sepenuh perhatian. Menggunakan kesempatan itu guruku juga memberi berbagai petunjuk kekurangan-kekurangan dari ilmu silatku. Tapi siapa nyana... seorang tokoh yang termashur di rimba persilatan sebenarnya memiliki hati binatang! Pada tanggal lima belas bulan tujuh, sesudah minum arak, tiba-tiba ia mencoba memperkosa isteriku...“ Dalam waktu bersamaan Cui San dan So So mengeluarkan seruan kaget. Guru menodai kehormatan isteri muridnya adalah suatu kejahatan langka di rimba persilatan.

“Isteriku memberontak dan ber-teriak minta tolong.“ Cia Sun melanjutkan penuturannya. “Mendengar teriakan itu ayahku segera menerjang masuk ke dalam kamar. Begitu melihat rahasianya terbuka, guruku memukul ayahku sampai binasa. Sesudah itu dia membinasakan juga ibuku dan membanting Cia Bu Kie, anakku yang berumur belum cukup satu tahun...“

“Cia Bu Kie?” memotong si bocah dengan suara heran.

“Jangan rewel! Dengarkan cerita Gie-hu!” bentak Cui San.

“Benar,” jawab sang ayah pungut. “Itulah anak kandungku yang namanya sama dengan namamu. Guruku membantingnya keras-keras sehingga dia jadi perkedel!”

“Gie-hu! Apa... apa dia masih bisa hidup?” tanya Bu Kie.

“Tidak bisa! Tidak bisa hidup lagi!” jawabnya dengan suara parau.

So So mendelik sambil menggoyang-goyangkan tangannya untuk melarang anak itu agar tidak bertanya lagi. Sesudah bengong beberapa saat barulah Cia Sun berkata lagi,

“Melihat kejadian itu nyawaku terbang separuh dan aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata membelalak. Tiba-tiba guruku melompat dan meninju dadaku sehingga aku roboh terguling dalam keadaan pingsan. Ketika aku sadar, guruku telah menghilang, sedang di sekeliling rumahku penuh mayat. Mayat ayah dan ibuku, isteriku, anakku, isteri adikku dan bujang-bujangku, semuanya berjumlah tiga belas jiwa. Dia tidak memukul aku lagi karena agaknya dia menduga aku sudah mati.

Karena terluka, berduka dan marah melampaui batas, aku jatuh sakit berat sekali. Sesudah sembuh, siang malam aku melatih diri dan selang lima tahun, aku mencari guruku untuk membalas sakit hati. Tetapi kepandaianku masih kalah terlalu jauh sehingga aku mendapat hinaan yang amat hebat. Biar bagaimana pun juga sakit hati tiga belas orang tak dapat disudahi begitu saja. Aku segera berkelana mencari guru yang pandai. Selama sepuluh tahun sudah bertemu dengan tiga orang berilmu yang menurunkan kepandaiannya kepadaku. Dengan dugaan bahwa kepandaianku sudah cukup tinggi, sekali lagi aku mencari guruku. Namun di luar taksiran, meski pun kepandaianku bertambah tapi kepandaiannya bertambah lebih banyak lagi. Demikianlah untuk kedua kalinya aku pulang dengan luka berat.

Sekali lagi aku melatih diri tanpa mengenal capai. Kali ini aku melatih Iweekang dari Cit-siang-kun (Ilmu Pukulan Tujuh Luka) dan setelah berlatih tiga tahun lamanya, barulah aku berhasil. Dengan menguasai ilmu kepandaian itu aku menganggap sudah boleh berendeng dengan ahli-ahli silat kelas utama dan jika guruku tidak mendapat lain-lain ilmu yang lebih tinggi maka dia pasti tidak akan mampu melawanku. Untuk ketiga kalinya aku pergi menyatroni rumahnya, tapi bukan main rasa kecewaku karena ia sudah pindah ke tempat lain. Aku lalu berkelana di kalangan Kangouw untuk mencarinya, tetapi mata hidungnya tidak kelihatan. Rupanya, untuk menyingkir dari bencana, dia telah kabur ke tempat jauh. Dunia begini luas, di mana aku mencarinya?

Sesudah itu, dengan sakit hati yang makin lama semakin mendalam dan kemarahan yang meluap-luap, aku lalu mengamuk. Aku memperkosa wanita, merampok, membunuh dan membakar rumah. Setiap kali bekerja aku selalu meninggalkan nama guruku!”

“Ahh...!” dengan berbareng Cui San dan So So mengeluarkan seruan kaget.

“Apa kau tahu siapa guruku?” tanya Cia Sun.

So So manggut-manggut seraya berkata, “Kalau begitu Toako adalah murid Hun-goan Pek-lek-chiu (si tangan geledek) Seng Kun.”

Ternyata belasan tahun yang silam di rimba persilatan terjadi gelombang yang sangat hebat. Dalam tempo setengah tahun, dari Liao-tong sampai Leng-lam dengan beruntun terjadi peristiwa-peristiwa besar. Lebih dari tiga puluh orang-orang gagah kenamaan dibunuh dan si pembunuh selalu meninggalkan nama Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun. Orang yang dibunuh itu jika bukan Ciang-bun-jin sebuah partai, tentulah seorang gagah yang memiliki pergaulan luas. Seluruh rimba persilatan mengerahkan tenaga untuk menyelidiki pembunuhan itu, dan atas perintah guru mereka, Bu-tong Cit-hiap juga turun gunung untuk membantu.

Tetapi sesudah membuang banyak waktu dan tenaga, mereka tetap tidak berhasil dalam usahanya. Tak seorang pun tahu siapa pembunuh yang kejam itu. Semua orang mengerti bahwa ada orang yang sengaja mau mencelakakan Seng Kun, karena sebegitu jauh Seng Kun dikenal sebagai manusia baik-baik dan beberapa orang yang telah dibinasakan justru adalah sahabat-sahabat baiknya. Satu-satunya orang yang mungkin tahu siapa pembunuh itu adalah Seng Kun sendiri. Tapi jago itu mendadak menghilang tanpa meninggalkan bekas sehingga biar pun semua orang gagah di dunia persilatan ingin membantu, namun mereka sama sekali tidak berdaya karena tidak tahu siapa penjahatnya.

Sekarang setelah mendengar pengakuan Cia Sun barulah Cui San dan So So mengetahui latar belakang dari kejadian-kejadian yang hebat itu. Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Sun melanjutkan penuturannya,

“Kalian harus tahu bahwa tujuan dari sepak terjangku itu adalah untuk memaksa keluarnya Seng Kun. Kalau dicari oleh ribuan atau sedikitnya ratusan orang, menurut dugaanku dia pasti akan dapat ditemukan.“

“Tipu Toako memang bagus sekali,” kata So So. “Tetapi sungguh kasihan orang-orang yang dibunuh tanpa dosa.“

“Hmm! Apakah kau tidak merasa kasihan terhadap orang tua dan anak isteriku yang juga telah dibunuh tanpa dosa?” tanya Cia Sun dengan suara getir. “Dulu kulihat kau adalah seorang yang sangat polos terbuka. Tapi sesudah menikah sepuluh tahun dengan Ngote, kau jadi bawel seperti nenek tua.”

So So melirik suaminya sambil tersenyum. “Toako, bagaimana akhirnya? Apa kau berhasil mencari Seng Kun?” tanyanya.

“Tidak, aku tak berhasil,” jawabnya. “Belakangan, waktu berada di Lok-yang, aku bertemu dengan Song Wan Kiauw.“

Cui San terkesiap. “Song Wan Kiauw, Toa-suko-ku?” dia menegas.

“Benar, Song Wan Kiauw, kepala Bu-tong Cit-hiap,“ jawabnya. “Sesudah aku mengamuk, rimba persilatan kacau balau dan kalang kabut. Tapi guru...“

“Gie-hu,” potong Bu Kie. “Dia begitu jahat, mengapa masih memanggil guru kepadanya?”

Cia Sun tertawa getir. “Sudah kebiasaan sedari kecil,” jawabnya. “Sebagian besar ilmu silatku kuperoleh darinya. Dia jahat, aku pun bukan manusia baik. Mungkin sekali segala kejahatanku juga didapat dari dia. Maka itu aku tetap memanggil guru kepadanya.“

Mendengar penuturan sang kakak yang demikian hebat, Cui San merasa kuatir bahwa ceritera itu akan memberi pengaruh kurang baik kepada Bu Kie. Diam-diam dia mengambil keputusan untuk memberi penerangan dan penjelasan lebih jauh kepada bocah itu. Sementara itu Cia Sun telah menyambung pula penuturannya,

“Melihat guruku belum juga muncul, aku berpendapat bahwa selama aku tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang menggemparkan dunia, dia pasti tidak akan keluar. Sebagaimana kau tahu, di rimba persilatan, yang paling dihormati orang adalah partai Siauw-lim dan Bu-tong. Jadi menurut pendapatku, aku baru bisa berhasil jika membunuh seorang pentolan Siauw-lim atau Bu-tong. Hari itu di taman Bouw-tan-wan, di depan kuil Ceng-hie-koan di kota Lok-yang, aku menyaksikan bagaimara Song Wan Kiauw menghajar seorang hartawan jahat. Aku mendapat kenyataan bahwa dia benar-benar berkepadaian tinggi sehingga pada saat itu juga aku segera mengambil keputusan untuk membinasakannya.“

Biar pun tahu bahwa akhirnya Song Wan Kiauw tidak terbunuh, akan tetapi Cui San merasa terkejut juga. Ia yakin bahwa kepandaian Cia Sun lebih tinggi dari saudara seperguruannya sehingga jika diserang, Toa-suheng-nya pasti akan dijatuhkan. So So juga tahu bahwa Song Wan Kiauw tidak dibinasakan, maka dia pun segera berkata,

“Toako, masih untung kau tidak tega menurunkan tangan jahat. Jika kau binasakan Song-tayhiap, Thio Ngo-hiap pasti akan mengadu jiwa denganmu dan kita tak bisa mengangkat saudara lagi.“

Cia Sun mengeluarkan suara dari hidung. “Tidak tega? Mana boleh tidak tega?” katanya. “Kalau sekarang, aku tentu tak akan memusuhi orang-orang Bu-tong. Tapi waktu itu jangankan Song Wan Kiauw, sedangkan Ngote sendiri pun kalau bertemu denganku, aku pasti akan membinasakannya tanpa ragu-ragu.“

“Gie-hu, mengapa kau mau membunuh ayah?” Bu Kie menyela.

“Aku hanya menyebutkan sebuah perumpamaan dan bukan benar-benar mau membunuh ayahmu,” jawab sang ayah angkat sambil tersenyum.

“Oh begitu?” kata si bocah.

Sambil meng-usap kepala anak itu, Cia Sun berkata pula dengan suara perlahan, “Meski pun Langit sering menyakiti hatiku, sekali ini aku merasa bersyukur bahwa pada akhirnya aku tidak membunuh Song Wan Kiauw. Memang betul, apa bila Song Wan Kiauw sampai dibunuh olehku maka kita tak akan bisa mengangkat saudara.“ Ia berdiam sejenak kemudian berkata kembali, “Malam itu, sesudah bersantap aku segera bersemedhi di kamar untuk mengumpulkan semangat serta tenaga. Aku mengerti sebagai kepala dari Cit-hiap, Song Wan Kiauw mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Jika dengan sekali pukul aku tidak dapat membinasakannya dan dia bisa melarikan diri, maka rahasiaku akan bocor dan usaha mencari guruku akan gagal sama sekali. Bukan itu saja, bahkan aku bakal dikepung oleh orang gagah di kolong langit sehingga biar pun aku mempunyai tiga kepala enam tangan, aku pasti tak akan dapat melawannya. Aku mati tak menjadi soal. Tapi jika aku mati begitu rupa, sakit hati yang begitu besar akan dibawa ke lubang kubur.“

“Gie-hu,” Bu Kie menyela lagi. “Matamu tidak dapat melihat. Tunggulah sampai aku besar. Sesudah mempunyai kepandaian tinggi aku akan membalaskan sakit hati Gie-hu.“

Perkataan itu mengejutkan Cia Sun dan Cui San yang dengan serentak bangun berdiri. Dengan mata yang tidak dapat melihat, Cia Sun ‘mengawasi’ anak angkatnya dan berkata dengan suara perlahan,

“Bu Kie, apa benar kau mempunyai niatan begitu?”

Cui San dan So So menjadi bingung. Sekarang mereka berada di sebuah pulau terpencil di daerah Kutub Utara sehingga belum tentu mereka bisa kembali ke Tiong-goan. Tetapi di rimba persilatan orang sangat mengutamakan kepercayaan. Sekali berjanji seumur hidup tidak dapat ditarik lagi. Begitu Bu Kie menyanggupi membalas sakit hati Cia Sun, maka ia segera memikul beban yang luar biasa berat di atas pundaknya. Sedang Cia Sun yang memiliki kepandaian sedemikian tinggi masih belum mampu membalas sakit hatinya, bagaimana anak ini bisa memenuhi janjinya? Menurut kebiasaan rimba persilatan, walau pun anak itu masih kecil, dalam urusan itu dia harus mengambil keputusan sendiri dan orang tuanya tak boleh mempengaruhi pikirannya. Maka itu walau pun sangat kuatir namun Cui San dan So So tidak berani mengeluarkan sepatah katapun.

“Gie-hu,” kata anak itu dengan suara nyaring “Orang yang sudah membinasakan seluruh keluargamu bernama Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun, bukan? Baiklah, Bu Kie akan mengingat nama itu. Di belakang hari anak tentu mewakili ayah untuk membalas sakit hati dan akan membasmi seluruh keluarganya, tak satu pun yang diberi hidup!”

“Bu Kie! Jangan ngaco kau!” bentak Cui San dengan marah. “Satu orang yang berbuat, satu orang yang harus bertanggung jawab. Walau pun dosanya Seng Kun lebih besar lagi, hanya dia seorang yang harus mendapat hukuman. Lain orang yang tidak berdosa tidak boleh diganggu selembar rambutnya!”

“Ya, ya... Thia-thia,” katanya dengan suara ketakutan dan ia tidak berani membuka suara lagi.

“Orang yang sudah mati tak tahu apa-apa,” kata Cia Sun. “Paling hebat ialah hidup sendirian di dunia sesudah seluruh keluarga dibinasakan orang...“

“Toako, bagaimana kesudahan usahamu untuk bertempur dengan Toa-suheng?” Cui San memotong perkataan kakaknya. Ia berbuat begitu karena kuatir Cia Sun bicara terlampau panjang tentang penderitaannya sehingga dapat memberi pengaruh yang lebih besar pada anaknya. “Sungguh heran, selama ini Toa-suheng belum pernah menuturkan kejadian itu kepada kami.”

“Song Wan Kiauw tak pernah mimpi bahwa dia hampir menjadi bulan-bulanan,” jawabnya. “Mungkin sekali dia malahan belum pernah mendengar nama Kim-mo Say-ong Cia Sun. Mengapa? Karena pada akhirnya aku tidak jadi mencarinya.“

Cui San menarik napas lega. “Terima kasih Langit, terima kasih Bumi,“ katanya.

“Mengapa kau menghaturkan terima kasih kepada Langit dan Bumi?” tanya So So sambil tertawa. “Yang harus menerima pernyataan terima kasihmu adalah Cia-toako.“

Mendengar itu Cui San dan Bu Kie turut tertawa. Cia Sun tidak turut tertawa. Paras mukanya berubah jadi berduka dan dia berkata dengan suara perlahan,

“Kejadian malam itu masih diingat tegas olehku, seperti juga baru terjadi kemarin. Aku duduk di atas pembaringan batu dan menjalankan pernapasan, melatih Cit-siang-kun beberapa kali. Ngote, kau belum pernah menyaksikan pukulan Cit-siang-kun. Apakah kau ingin melihatnya?”

“Ilmu pukulan itu tentulah hebat luar biasa,” mendahului So So. “Toako, kenapa kau tidak mencari Song-tayhiap?”

“Kalau tidak hebat, bagaimana pukulan itu bisa dinamakan Cit-siang-kun?” kata Cia Sun sambil tersenyum.

Ia berjalan mendekati pohon besar lalu mengangkat tangannya. Seraya membentak keras ia menghantam batang pohon itu. Dengan Iweekang yang dimilikinya, biar pun tidak dapat merobohkan pohon itu, sedikitnya tinju Cia Sun amblas di batang itu. Tapi di luar dugaan, pohon itu bergoyang pun tidak, sedangkan kulitnya tetap utuh.

So So merasa menyesal dan berkata dalam hati, “Setelah berdiam di sini sembilan tahun, ilmu silat Toako merosot banyak. Hal itu tidak heran karena ia memang tak pernah berlatih lagi.“ Walau pun hatinya berduka tetapi mulutnya bersorak sorai.

“So-moay, sorakanmu tidak keluar dari hati yang setulusnya,” kata sang kakak. “Tentu kau anggap ilmu sllatku sudah tidak seperti dulu, bukan?“

“Dengan berdiam di pulau terpencil ini dan kita berempat adalah keluarga, memang kita tidak perlu berlatih silat lagi,” kata So So.

“Ngote, apa kau bisa melihat lihaynya pukulanku?” tanya Cia Sun tanpa menghiraukan So So.

“Waktu menyambar, pukulan itu amat dahsyat. Maka aku tidak mengerti mengapa pohon itu tidak bergeming, bahkan daunnya tidak bergoyang,” kata Cui San. “Aku percaya malah Bu Kie dapat menggoyang dahan itu.“

“Aku bisa!” teriak si bocah sambil berlari-lari kemudian meninju batang pohon itu.

Benar saja, pohon yang besar itu bergoyang keras. Kedua suami isteri girang bukan main karena putera mereka sudah memiliki tenaga yang begitu besar. Mereka mengawasi Cia Sun dan menunggu penjelasan sang kakak. Cia Sun tersenyum seraya berkata,

“Tiga hari kemudian semua daun akan menjadi kering lalu rontok dan selewat tujuh hari, pohon itu akan mati berdiri. Aku sudah memutuskan nadi pohon.“

Kedua suami isteri kaget sekaligus heran, tapi mereka tidak menyangsikan keterangan itu karena sang kakak belum pernah berdusta.

Tiba-tiba Cia Sun menghunus To-liong-to, kemudian menyabet putus batang pohon yang tadi dipukulnya. Dengan suara gedubrakan, pohon itu roboh di tanah.

“Mari, lihatlah,” kata sang kakak. “Kalian boleh menyaksikan lihaynya Cit-siang-kun.“

Cui San bertiga lantas menghampiri. Ternyata ‘hati’ pohon sudah rusak, ada ‘urat-urat’ yang hancur dan ada juga yang putus, suatu tanda bahwa pukulan Cit-siang-kun mengandung beberapa macam tenaga. Bukan main rasa kagumnya Cui San dan So So.

“Toako, hari ini kau telah membuka mata siauwte,” kata Cui San.

“Dalam pukulanku itu terkandung tujuh macam tenaga,” kata sang kakak dengan suara bangga. “Tenaga keras, tenaga lembek, tenaga lembek dalam keras, keras dalam lembek dan sebagainya. Seorang musuh yang dapat menahan tenaga pertama, tidak akan dapat menahan tenaga kedua, yang dapat menahan tenaga kedua, tidak akan dapat menahan tenaga ketiga dan begitu seterusnya. Sebab itulah pukulan tersebut diberi nama Cit-siang-kun. Huh! Huh! Mungkin sekali kau akan mengatakan bahwa Cit-siang-kun terlalu kejam.“

“Gie-hu, bolehkah kau turunkan Cit-siang-kun kepadaku?” tanya Bu Kie.

“Tidak bisa!” jawabnya seraya menggeleng-gelengkan kepala sehingga bocah itu merasa sangat kecewa.

“Bu Kie, kau edan!” kata So So. “Pukulan Gie-hu-mu itu tidak akan dapat dipelajari sebelum mempunyai Iweekang yang sangat tinggi.“

Si bocah mengangguk seraya berkata, “Baiklah, nanti bila telah memiliki Iweekang tinggi barulah Bu Kie mengajukan permintaan lagi kepada gie-hu.“

“Tidak boleh, tak akan aku turunkan Cit-siang-kun kepadamu,” kata Cia Sun. “Dalam tubuh setiap manusia bukan saja terdapat hawa Im dan Yang (negatif dan positif), tapi juga lima Heng yaitu Kim, Bok, Sui, Ho dan Touw (emas, kayu, air, api, dan tanah). Misalnya saja paru-paru termasuk dalam Kim, buah pinggang termasuk dalarn Sui, nyali termasuk dalam Touw dan sebagainya. Begitu seseorang melatih diri dalam pukulan Cit-siang-kun, tujuh bagian isi perutnya yang sangat penting akan terluka. Makin tinggi kepandaiannya semakin hebat luka dalam itu. ‘Cit-siang’ atau ‘tujuh luka’ lebih dulu melukai diri sendiri, kemudian baru melukai musuh. Sebab musabab mengapa aku sering kalap adalah karena latihan Cit-siang-kun.”

Cui San dan So So terkejut. Baru sekarang mereka tahu mengapa Cia Sun yang bun-bu-coan-cay (pandai ilmu surat dan ilmu silat) itu acap kali berlaku seperti binatang buas.

“Kalau aku melatih Cit-siang-kun sesudah memiliki Iweekang yang sama tingginya seperti Iweekang yang dimiliki Kong-kian Taysu atau Thio Cinjin dari Bu-tong-pay, mungkin sekali aku tidak sampai terluka, kalau pun terluka maka luka itu tak menjadi halangan,” kata pula Cia Sun.

“Aku sudah tidak menghiraukan segala bencana karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk membalas sakit hati secepat mungkin. Tahun itu, setelah membinasakan tujuh orang barulah aku dapat merampas kitab Cit-siang-kun dari tangan Khong-tong-pay kemudian dengan ter-gesa-gesa melatih diri menurut petunjuk kitab itu. Aku berbuat begitu sebab kuatir guruku keburu mati dan aku tidak bisa membalas sakit hati. Sesudah terlambat dan tidak dapat diubah lagi, barulah aku sadar bahwa aku sudah mendapat luka dalam. Aku sama sekali tidak berpikir untuk lebih dulu menyelidiki, mengapa di kalangan Khong-tong-pay sendiri tak ada orang yang mempelajari ilmu pukulan itu. Selain itu masih ada sebab lain mengapa aku segera melatih diri dengan Cit-siang-kun. Pukulan itu mempunyai sifat-sifat yang dahsyat dan menyeramkan, tetapi bagiku hal itu merupakan keuntungan besar. So-moay, apakah kau mengerti maksudku?“

So So berpikir sejenak. “Apakah Toako maksudkan bahwa Cit-siang-kun rada-rada mirip dengan ilmu silat Pek-lek-chiu?“ tanya si adik.

“Betul!” jawabnya. “So-moay, kau benar-benar pintar. Guruku bergelar Hun-goan Pek-lek-chiu atau si Tangan Geledek, dan ilmu silatnya mengandung pengaruh angin dan geledek yang amat hebat. Apa bila aku menyerang dengan Cit-siang-kun, dia pasti akan menduga bahwa aku menyerang dengan ilmu silatnya sendiri. Dia akan sadar setelah pukulanku mampir di badannya, tapi sudah terlambat. Ngote, jangan kau berkata bahwa aku licik dan kejam. Guruku adalah salah seorang yang paling hati-hati dan paling kejam di dunia. Jika aku tidak menggunakan racun untuk melawan racun, sakit hatiku pasti tak akan terbalas. Hai! Ngote, aku telah melantur terlampau jauh sehingga melupakan soal Kong-kian Taysu yang hendak kututurkan.

Malam itu, setelah melatih diri dengan Cit-siang-kun aku segera berangkat mencari Song Wan Kiauw. Selagi aku melompat keluar dari tembok, sedangkan dua kakiku belum hinggap di bumi, tiba-tiba pundakku ditepuk orang. Aku kaget bukan main. Bahwa tubuhku disentuh orang tanpa aku mampu menangkis adalah kejadian yang belum pernah terjadi, Bu Kie, cobalah kau pikir. Kalau saja orang itu menepuk dengan menggunakan Iweekang, bukankah aku sudah mendapatkan luka berat?. Aku balas memukul dan begitu kaki kiriku hinggap di tanah, aku segera memutar badan. Saat itu sekali lagi aku merasa punggungku ditepuk orang dan hampir berbareng terdengar helaan napas kemudian suara seseorang: ‘Lautan penderitaan tiada terbatas, menengok ke belakang melihat tepian’.“

Bu Kie gembira sekali, ia tertawa terbahak-bahak. “Gie-hu,” katanya. “Apa orang itu main-main denganmu?”

Cui San dan So So sudah menebak bahwa orang itu Kong-kian Taysu adanya.

“Waktu itu aku begitu kaget sehingga sekujur badan dingin semua,” Cia Sun melanjutkan penuturannya. “Dengan kepandaian sedemikian tinggi, dengan mudah orang itu bisa mengambil jiwaku. Tapi delapan kata yang diucapkannya bernada lemah lembut, penuh kasih sayang. Begitu memutar badan, kulihat seorang pendeta yang mengenakan jubah putih berdiri dalam jarak empat tombak lebih. Dengan demikian, sesudah menepuk punggungku, dia sudah melompat kira-kira empat tombak jauhnya dan kecepatan gerakan itu sungguh-sungguh luar biasa. Pada waktu itu aku hanya menarik sebuah kesimpulan bahwa yang berdiri di hadapanku bukan manusia, melainkan setan penasaran dari seorang yang sudah dibunuh olehku. Aku menarik kesimpulan itu karena menurut pendapatku, seorang manusia biasa tak akan sanggup bergerak begitu cepat. Karena menduga begitu maka nyaliku menjadi besar lagi dan aku segera membentak: ‘Setan siluman! Pergi kau! Aku tidak takut Langit dan bumi, apa lagi kau!’.

Pendeta itu merangkap kedua tangannya seraya berkata: ‘Cia-kiesu, Loceng Kong-kian memberi hormat’. Begitu mendengar kata ‘Kong-kian’, aku segera terkesiap. Sudah lama aku mendengar ‘Siauw-lim Seng-ceng, Kian Bun Tie Seng’ yang tersiar luas di rimba persilatan. Kong-kian Taysu adalah kepala dari empat pendeta nabi (Seng-ceng) Siauw-lim-si sehingga tidaklah heran jika ia memiliki kepandaian yang begitu tinggi.“

Mendengar sampai di situ, hati Cui San dan So So merasa tidak enak karena mereka tahu pada akhirnya Kong-kian binasa akibat tiga belas pukulan Cia Sun. Setelah berdiam sejenak, Cia Sun kembali berkata,

“Aku mengawasinya seraya bertanya: ‘Apakah sekarang aku sedang berhadapan dengan Kong-kian Seng-ceng dari Siauw-lim-si?’. Ia menjawab: ‘Perkataan Seng-ceng aku tidak dapat menerima, tapi memang benar lolap adalah Kong-kian dari Siauw-lim-si’. Aku kata: ‘Aku dan Taysu belum pernah mengenal satu sama lain, tapi mengapa Taysu mempermainkan aku?’. Kata Kong-kian: ‘Mana berani lolap mempermainkan Kiesu? Aku hanya ingin bertanya: Ke mana Kiesu mau pergi?’. Kujawab: ‘Ke mana aku mau pergi tiada sangkut pautnya dengan Taysu!‘.. Dia menghela napas lantas berkata dengan suara perlahan: ‘Hmm, malam ini Kiesu ingin membunuh Song Wan Kiauw Tayhiap dari Bu-tong-pay. Bukankah begitu?’.

Sekali lagi aku terkesiap. Dia terus mengawasiku dengan mata tajam, lalu berkata pula: ‘Kiesu ingin melakukan perbuatan-perbuatan yang akan menggemparkan rimba persilatan untuk memancing keluar Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun guna membalas sakit hati’. Aku heran dan terkejut tak kepalang. Aku belum pernah memberi-tahu perbuatan guruku kepada orang lain, sementara itu guruku pun tidak pernah membuka rahasia busuknya itu. Begitu mendengar Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun, tubuhku menggigil. ‘Jika Taysu sudi menunjukkan di mana adanya dia, aku rela menjadi kerbau atau kuda untuk kepentingan Taysu’, kataku. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal: ‘Perbuatan Seng Kun memang suatu kedosaan yang sangat besar. Tetapi dalam kegusarannya, Kiesu sudah membunuh begitu banyak orang. Perbuatan Kiesu itu juga merupakan kedosaan yang tidak kecil’.“

“Aku mendongkol dan sebenarnya ingin sekali menyemprotnya. Tetapi karena tahu bahwa aku bukan tandingannya, maka sambil menahan amarah aku berkata: ‘Aku berbuat begitu sebab tiada jalan lain. Seng Kun menyembunyikan diri dan aku tidak dapat mencarinya’. Dia manggut-manggutkan kepala seraya berkata: ‘Aku mengerti, aku sangat merasakan perasanmu. Sakit hatimu besar luar biasa dan aku tidak dapat membantu melampiaskan. Namun Song-tayhiap adalah murid pertama Thio Sam Hong Cinjin, maka bakal muncul gelombang yang tidak kecil dan jika kau membinasakannya’.

Aku tersenyum getir. ‘Itu memang tujuanku’, jawabku. ‘Semakin dahsyat gelombang yang diterbitkan olehku, semakin baik pula, sebab hanya itulah yang bisa memaksa keluarnya Seng Kun dari tempat persembunyiannya’. Setelah itu aku dan Kong-kian bicara seperti berikut: ‘Cia-kiesu, jika kau membinasakan Song-tayhiap, memang Seng Kun tidak bisa tidak keluar dari tempat persembunyiannya. Tetapi Seng Kun yang sekarang bukan Seng Kun yang dulu. Terang-terang aku katakan bahwa kepandaian Kiesu masih belum mampu menandinginya. Biar bagaimana pun juga Kiesu tak akan bisa membalas sakit hatimu’. Amarahku lantas meluap: ‘Seng Kun adalah guruku. Aku lebih mengenal kepandaiannya dari pada Taysu’, kataku.“

“Pendeta itu tetap tenang dan menjawab: ‘Tidak, tidak begitu. Ada sesuatu hal yang tidak diketahui Kiesu. Seng Kun sudah mendapat guru yang sangat lihai dan selama tiga tahun dia sudah memperoleh kemajuan luar biasa pesat. Walau pun Kiesu mahir dalam ilmu Cit-siang-kun dari Khong-tong-pay tapi Kiasu tak akan dapat melukainya’. Untuk sekian kalinya aku terkejut. Kong-kian Taysu belum pernah bertemu denganku, tapi gerak gerikku diketahui begitu jelas olehnya. Aku mengawasinya dengan mata terbelalak. Setelah menenteramkan hatiku yang ber-debar, aku bertanya: ‘Bagaimana Taysu tahu?’. Dia menjawab: ‘Seng Kun sendiri yang memberi-tahukan kepadaku’.”

Dengan berbareng Cui San, So So dan Bu Kie mengeluarkan suara tertahan.

PENGORBANAN PENDETA BERHATI MULIA

“Kalian heran, tetapi aku lebih heran lagi. Aku melompat saking kagetku, lalu membentak: ‘Bagaimana dia tahu?’. Kong-kian menjawab dengan suara perlahan: ‘Sebenarnya selama beberapa tahun ini dia selalu mendampingi Kiesu. Hanya karena dia selalu menyamar, maka Kiesu tidak tahu’. Aku langsung berteriak: ‘Tidak mungkin! Tidak mungkin! Aku mengenalnya. Biar pun dia sudah menjadi abu, aku masih dapat mengenalinya’. Kong-kian menggelengkan kepala seraya berkata dengan suara lemah lembut: ‘Cia-kiesu, kau bukan seorang sembrono. Akan tetapi, karena kau hanya ingat soal membalas sakit hati, maka kau tidak memperhatikan keadaan di sekitarmu. Kau di tempat terang, dia di tempat gelap. Tak heran jika kau tidak mengenalinya’.

Tak bisa tidak aku percaya keterangan itu. Kong-kian Taysu adalah seorang pendeta suci yang namanya terkenal di kolong langit sehingga tak mungkin ia berdusta. ‘Kalau begitu, bukankah lebih baik baginya jika ia membunuh aku dengan membokong?’ kataku. ‘Jika ia ingin mengambil jiwa, ia dapat melakukannya seperti membalik tangan sendiri’. Kata Kong-kian: ‘Cia-kiesu, dua kali kau coba membalas sakit hati, dua kali pula sudah dikalahkan. Jika ia memang mau menghendaki jiwamu, mengapa waktu itu ia tidak turun tangan? Ketika kau coba merampas kitab Cit-siang-kun, kau sudah mengadu Iweekang dengan tiga tetua dari Khong-tong-pay. Sebagaimana kau tahu, partai itu mempunyai lima orang tetua. Ke mana perginya dua tetua yang lain? Mengapa kedua orang itu tidak turut mengerubuti kau? Jika Ngo-lo (Lima tetua) turun tangan dengan berbareng, apakah Kiesu masih bisa hidup terus?’.

Untuk kesekian kalinya aku terkejut. Memang benar, pada saat aku melukai Khong-tong Sam-lo (Tiga tetua Khong-tong-pay), aku tahu bahwa dua tetua yang lain, yang tidak turut bertempur, juga mendapat luka berat. Hal itu selalu merupakan teka-teki yang tidak dapat dipecahkan olehku. Apakah kedua tetua itu berkelahi dengan kawan sendiri? Apakah aku dibantu oleh seorang yang berilmu tinggi? Sekarang, mendengar perkataan Kong-kian Taysu, aku bertanya dalam hati. Apakah dua tetua itu dilukai oleh Seng Kun?”

Cui San dan So So adalah orang-orang yang memiliki banyak pengalaman, juga pergaulan dan pendengarannya luas. Mereka sudah kenyang mendengar cerita aneh di rimba persilatan, namun belum pernah ada yang seaneh cerita Cia Sun. Sesudah bergaul lama, mereka tahu bahwa Cia Sun bukan lihay ilmu silatnya saja, tapi juga lihay otaknya. Tetapi kelihatannya Hun-goan Pek-lek-chiu Seng Kun lebih lihay lagi.

“Toako,“ kata So So. “Apa benar kedua tetua Khong-tong-pay dilukai oleh gurumu?”

Cia Sun mengangguk seraya menjawab, “Benar. Aku pun sudah mengajukan pertanyaan begitu pada Kong-kian. ‘Cia-kiesu, apa kau melihat mukanya kedua tetua itu?’ tanyanya. ‘Bagaimana paras muka mereka?’. Aku tidak lantas menjawab dan setelah mengingat beberapa saat, barulah aku berkata: ‘Jika begitu Khong-tong Jie-lo benar-benar telah dilukai oleh guruku. Aku terpaksa harus mengakuinya, karena kuingat bahwa pada waktu Khong-tong Jie-lo menggeletak di tanah, muka mereka penuh dengan bintik-bintik merah darah. Ini adalah petunjuk bahwa mereka telah menyerang dengan menggunakan tenaga Im-kin (Tenaga lembek), tapi telah dipukul balik dengan ilmu Hun-goan-kong. Setahuku, di samping akibat pukulan Hun-goan-kong, bintik-bintik merah pada muka adalah tanda dari penyakit cacar atau sebangsanya. Tapi tidak mungkin Jie-lo mendapatkan penyakit cacar, karena pada hari itu, ketika aku baru bertemu dengan Khong-tong Ngo-lo, mereka semua segar bugar. Aku juga tahu bahwa di rimba persilatan, Hun-goan-kong hanya dimiliki oleh guruku dan aku saja’.

Kong-kian Taysu manggut-manggut. Dia menghela napas lalu berkata: ‘Dalam keadaan mabuk memang gurumu telah melakukan perbuatan yang amat hebat. Setelah tersadar dari mabuknya dia menjadi malu dan menyesal sekali. Dua kali kau mencarinya untuk membalas sakit hati, dua kali pula dia tidak mengambil jiwamu. Malah dia tak ingin melukai kau. Tapi karena kau menyerang secara nekat seperti orang edan, dia tidak bisa meloloskan diri tanpa melukai kau. Sesudah itu dia terus membayangi kau dari belakang dan secara diam-diam sudah tiga kali dia menolong kau dari bencana’.“

“Aku segera meng-ingat dan memang benar, selain dari peristiwa pertempuran melawan para tetua Khong-tong-pay, telah dua kali aku lolos dari bahaya secara mengherankan. Sesudah diam sejenak Kong-kian Taysu berkata: ‘Karena Seng Kun tahu bahwa dosanya terlalu besar, ia tidak berani memohon ampun. Ia hanya mengharap bahwa lama-lama kau akan melupakan sakit hati itu. Tetapi di luar dugaan, gelombang yang kau terbitkan makin lama makin besar dan jumlah manusia yang dibinasakan olehmu semakin banyak. Hari ini jika kau membinasakan Song-tayhiap, suatu bencana besar tak akan dapat dielakkan lagi’. Mendengar itu aku segera berkata: ‘Baiklah, aku tidak akan mencari orang she Song itu, Tetapi aku harap Taysu suka minta guruku menemuiku’.

Jawab Kong-kian Taysu: ‘Dia tidak punya muka untuk bertemu dengan kau dan dia pun tak berani menemui kau. Di samping itu, Cia-kiesu, bukan lolap mau memandang rendah kepadamu, andai kata kau bertemu dengan gurumu, kau pun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dibandingkan dengan dia, kepandaianmu masih terlalu rendah. Kurasa kau tak akan mampu membalas sakit hatimu’. Aku jadi amat mendongkol dan segera berkata: ‘Taysu adalah seorang pendeta suci yang mempunyai perasaan adil. Apakah dengan berkata demikian Taysu ingin aku menyudahi saja urusan ini?’.

Dia mengawasiku dengan sorot mata kasihan. ‘Aku dapat merasakan betapa hebatnya penderitaan Kiesu’, katanya. ‘Tetapi kau harus ingat bahwa perbuatan gurumu dilakukan dalam keadaan mabuk arak dan sebenarnya dia sama sekali tak berniat begitu. Lagi pula dia sungguh merasa malu dan menyesal. Maka itu lolap memohon pertimbangan Kiesu mengingat kecintaan antara guru dan murid di masa lalu’. Mendengar bujukan itu, sambil menahan amarah aku segera berkata dengan suara kaku: ‘Kalau sekali ini aku tidak bisa memenangkan dia, biarlah dia binasakan aku. Kalau aku tidak bisa membalas sakit hati, aku pun tak sudi hidup lebih lama lagi di dunia’.“

Kong-kian mengawasi aku dengan paras muka berduka. Lama ia berdiri termenung tanpa mengeluarkan sepatah katapun. ‘Cia-kiesu’, katanya dengan suara pelan, ‘ilmu silat gurumu sekarang berbeda jauh. Biar pun kau mempunyai pukulan Cit-siang-kun, kau tidak dapat melukainya. Jika kau tidak percaya, cobalah jajal pukulan itu terhadap diri lolap’. Tentu saja aku menolaknya. ‘Aku dan Taysu sama sekali tidak mempunyai permusuhan, mana berani aku melukai Taysu?’ kataku, ‘Walau pun berkepandaian rendah, kurasa Cit-siang-kun tidak mudah dilawan orang’.

Mendengar jawabanku itu, untuk sejenak ia mengawasi aku lantas berkata dengan suara tetap: ‘Cia-kiesu, marilah kita bertaruh. Gurumu sudah membinasakan tiga belas anggota keluargamu, maka kau boleh memukulku tiga belas kali. Jika kau berhasil melukaiku, aku tidak akan ikut campur lagi urusan ini dan gurumu akan keluar untuk menemui kau. Tetapi kalau kau tidak dapat melukaiku maka kau harus melupakan sakit hatimu. Cia-kiesu, bagaimana pendapatmu? Apa kau setuju taruhan ini?’. Aku tidak lantas menjawab. Aku tahu pendeta itu mempunyai ilmu silat yang amat tinggi dan meski pun lihay, tapi Cit-siang-kun belum tentu dapat melukainya. Jika aku tidak bisa melukainya, apakah sakit hatiku boleh disudahi saja?

Sementara itu Kong-kian sudah berkata pula: ‘Sekarang aku mau bicara terang-terangan kepada Kiesu. Setelah mencampuri urusan ini, lolap pasti tidak akan mempermisikan kau membinasakan lagi kawan-kawan rimba persilatan yang tidak berdosa. Jika mulai saat ini Kiesu mau menghentikan perbuatan kejam itu, aku bersedia melupakan segala perbuatan masa lalu. Cia-kiesu, kau mencari musuhmu untuk membalas sakit hati. Apakah kau kira keluarga atau murid-murid dari orang-orang yang dibunuh olehmu tidak akan mencarimu untuk membalas sakit hati?’. Mendengar perkataan yang diucapkan dengan suara kereng itu amarahku meluap. ‘Baiklah, aku akan memukul kau tiga belas kali!’ teriakku. ‘Apa bila merasa tidak tahan, Taysu boleh segera berteriak. Seorang lelaki tidak akan melanggar janjinya sendiri. Kalau kalah maka Taysu harus menyuruh guru menemuiku’. Kong-kian tersenyum seraya berkata: ‘Kiesu boleh segera mulai’. Melihat tubuhnya yang kate kecil, rambut dan alisnya yang telah putih semua, dan paras mukanya yang welas asih, aku sungguh merasa tidak tega untuk turun tangan. Karena itu dalam pukulan pertama yang ditujukan ke dadanya aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga.”

“Gie-hu,” Bu Kie memotong, “apakah pukulan pertama itu kau menggunakan Cit-siang-kun yang dapat memutuskan nadi pohon?”

“Tidak,” jawabnya. “Dalam pukulan pertama aku menggunakan Pek-lek-chiu dari guruku. Begitu terpukul, badan Kong-kian Taysu bergoyang-goyang. Ia mundur setindak. Dalam hati aku memandang rendah padanya. Dengan menggunakan tiga bagian tenaga saja dia sudah terhuyung setindak. Aku menduga bahwa jika aku memukul dengan Cit-siang-kun, dengan tiga kali pukulan sudah mengambil jiwanya. Dalam pukulan kedua aku menambah tenaga. Badannya bergoyang-goyang pula dan dia mundur setindak lagi. Pukulan yang ke tiga pun mengeluarkan hasil yang sama. Diam-diam aku merasa heran. Dalam pukulan ke tiga itu aku kembali menambah tenaga, tapi dia tetap dapat menerimanya dengan sikap acuh tak acuh. Selain itu aku pun merasa heran bukan main sebab tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan tenaga yang melawan tenaga pukulanku.

Aku langsung menarik kesimpulan bahwa untuk merobohkannya aku perlu menggunakan seluruh tenaga. Akan tetapi jika aku menggunakan seluruh tenaga, ia tentu akan mati, atau sedikitnya luka berat. Biar pun aku seorang jahat dan kejam, tetapi terhadap Kong-kian Taysu yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain, aku menaruh hormat yang sangat besar. Karena itu aku lantas berkata: ‘Taysu, kau menerima pukulan tanpa membalas. Aku tidak tega memukul lagi. Kau sudah dipukul tiga kali. Baiklah sekarang aku berjanji tidak akan mencari Song Wan Kiauw’. Dia tersenyum. ‘Tapi bagaimana dengan sakit hatimu terhadap Seng Kun?’ tanyanya. Dengan bernapsu aku menjawab: ‘Aku dan Seng Kun tidak dapat hidup bersama-sama di kolong langit. Kalau bukan dia, akulah yang binasa’. Aku berdiam sejenak lantas berkata pula: ‘Tapi setelah Taysu tampil ke muka, dengan memandang Taysu aku berjanji bahwa mulai sekarang aku tidak akan membunuh kawan-kawan di rimba persilatan lagi. Tujuanku hanya Seng Kun dan keluarganya!’.

Dia merangkap kedua tangannya seraya berkata: ‘Atas nama kawan-kawan rimba persilatan, aku menghaturkan terima kasih untuk janji Kiesu itu. Akan tetapi lolap sudah mengambil keputusan untuk mendamaikan sakit hati ini sehingga oleh karenanya, lebih baik Kiesu meneruskan pukulan itu’. Diam-diam aku menghitung-hitung. Memang paling baik aku melakukannya dengan Cit-siang-kun untuk memaksa keluarnya guruku. Untung juga aku sudah mahir dalam pukulan itu hingga berat entengnya, mengirimnya atau menarik pulangnya bisa dilakukan sesuka hatiku. Dengan demikian kurasa aku akan bisa mengimbangi pukulanku agar tidak sampai mengambil jiwa pendeta yang mulia itu. Berpikir begitu, aku segera berkata: ‘Baiklah!’ dan aku pun mengirim pukulan Cit-siang-kun. Begitu lekas tinjuku menyentuh dadanya, dada itu agak melesak dan dia maju setindak’.“

Bu Kie bertepuk tangan. “Heran sungguh!” katanya sambil tertawa. “Kali ini sebaliknya dari pada mundur, Hwesio tua itu malah maju ke depan.“

“Toako, bukankah Kong-kian Taysu menyambut pukulanmu itu dengan ilmu Kim-kong Put-hoay-tee (ilmu malaikat untuk membebaskan tubuh manusia dari segala kerusakan) dari Siauw-lim-pay?” tanya Cui San.

Cia Sun mengangguk beberapa kali. “Ngote, ternyata kau mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas sekali,” ia memuji. “Memang benar Kong-kian Taysu menggunakan ilmu itu. Sekali ini, berbeda dari pada waktu menyambut tiga pukulan yang pertama, dari dalam tubuhnya keluar tenaga yang membalik sehingga isi perutku tergoncang hebat. Aku mengerti bahwa Kong-kian Taysu sudah terpaksa mengeluarkan ilmu tersebut. Jika tidak, dia tak akan dapat menyambut pukulan Cit-siang-kun. Sudah lama kudengar bahwa Kim-kong Put-hoay-tee dari Siauw-lim-pay adalah salah satu dari lima ilmu ajaib yang tertinggi di rimba persilatan. Sekarang baru aku tahu bahwa ilmu itu sungguh-sungguh hebat. Aku segera mengirim tinju ke lima dengan menggunakan tenaga im-jiu (Tenaga lembek). Ia menyambutnya dengan maju lagi setindak dan aku sendiri lalu mengerahkan Iweekang untuk memunahkan tenaga im-jiu yang berbalik menghantam diriku...“

“Gie-hu,” Bu Kie memutus pula perkataan ayah angkatnya, ”Dengan begitu pendeta tua itu telah melanggar janji. Ia berjanji tidak akan membalas, tapi mengapa ia menghantam balik tenaga Im-jiumu?”

Cia Sun mengusap-usap kepala bocah itu dan berkata pula dengan suara halus, “Sesudah aku mengirim tinju ke lima, Kong-kian Taysu berkata: ‘Cia-kiesu, aku tak nyana Cit-siang-kun sedemikian hebat. Jika aku tidak mengerahkan Iweekang untuk menolak tenagamu, maka aku tidak akan dapat bertahan’. Aku berkata dengan tulus: ‘Tidak apa-apa. Bahwa Taysu sudah tidak membalas dengan pukulan, aku sudah merasa amat sangat berterima kasih’. Bagaikan hujan angin aku segera mengirim pukulan ke enam, ke tujuh, ke delapan dan ke sembilan. Kong-kian Taysu benar-benar lihay. Ia menyambut setiap pukulanku dengan sikap tenang dan apa yang paling mengherankan, ia dapat membedakan lebih dulu tenaga tenaga yang digunakan olehku. Aku mengirim tinju yang kesepuluh seraya berteriak: ‘Awas!’.“

“Dia mengangguk sedikit lalu mendahului maju dua tindak ke depan. Dalam pukulan yang ke sepuluh aku sudah mempergunakan seluruh tenaga dan aku terhuyung ke belakang beberapa tindak sebab terbentur dengan tenaga menolak yang sangat dahsyat. Aku tidak bisa melihat mukaku sendiri, tapi aku tahu mukaku sudah pucat bagaikan kertas. Sedang napas Kong-kian Taysu pun tersengal-sengal, namun ia masih dapat mengingatkan: ‘Cia-kiesu’, katanya, ‘kau harus mengaso dulu sebelum mengirim pukulan ke sebelas’. Aku adalah seorang yang sungkan mengaku kalah, tetapi pada saat itu aku benar-benar tidak sanggup mengirim pukulan.“

Cui San dan So So mengawasi sang kakak dengan perasaan tegang.

“Gie-hu, lebih baik kau jangan memukul lagi,” kata Bu Kie dengan tiba-tiba.

“Mengapa?” tanya Cia Sun.

“Pendeta tua itu sangat mulia hatinya,” jawabnya. “Jika Gie-hu melukainya, tentu hati Gie-hu merasa tak enak. Jika Gie-hu terluka, kejadian itu sama tidak baiknya.“

Cui San dan So So saling melirik. Mereka girang bahwa Bu Kie yang masih begitu kecil sudah memiliki pandangan jauh. Terutama Cui San merasa sangat terhibur, karena ia mendapat kenyataan bahwa puteranya mempunyai pribudi luhur dan bisa membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Cia Sun menghela napas panjang.

“Ya! Aku hidup berpuluh tahun dengan sia-sia karena pikiranku tidak bisa menandingi pikiran anak kecil,” katanya dengan suara menyesal. “Tapi pada waktu itu, dengan adanya tekad bulat untuk membalas sakit hati, aku tak peduli apa pun juga. Aku merasa bahwa jika aku memukul tiga kali lagi, salah seorang pasti akan binasa atau luka berat. Tapi aku tidak peduli. Aku segera mengerahkan seluruh lweekang dan mengirim pukulan yang ke sebelas. Kali ini ia melompat sehingga tinju yang ditujukan ke dadanya mengenai perut. Aku mengerti maksudnya yang sangat mulia. Jika aku memukul dadanya, tenaga mendorong dari dada itu hebat luar biasa dan ia kuatir aku takkan kuat menerimanya. Tetapi dengan memasang perut maka ia sangat menderita. Begitu kena ia lantas mengerutkan alis seperti orang menahan sakit.

Untuk sejenak aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata mendelong, kemudian aku berkata dengan terharu: ‘Taysu, dosa guruku sangat besar, maka sudah pantas kalau ia menerima hukuman mati. Mengapa Taysu rela mengorbankan diri yang berharga bagaikan emas dan giok untuk menolong manusia berdosa itu?’. Ia tidak lantas menjawab. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri tegak dan mengatur jalan pernapasan. Setelah itu ia tertawa getir seraya berkata: ‘Tinggal dua pukulan lagi... dan... permusuhan akan dapat dibereskan’. Melihat itu tiba-tiba di otakku berkelebat ingatan. Pada waktu mengerahkan tenaga Kim-kong Put-hoay-tee ternyata ia tak boleh bicara. Kenapa aku tidak memancing supaya ia bicara dan dengan berbareng mengirim pukulan mendadak? Mengingat begitu segera aku berkata: ‘Kalau dalam tiga belas pukulan aku berhasil melukai Taysu, apakah Taysu tanggung bahwa guruku bakal datang untuk menemuiku?’.

Sambil tersenyum ia menjawab: ‘Seorang beribadat tak akan berdusta’. Aku bertanya pula: ‘Meski pun Taysu berjanji, tapi apakah Taysu mempunyai pegangan bahwa ia pasti akan muncul?’. Ia menjawab: ‘Dia sendiri yang mengatakan begitu padaku’. Pada detik itulah, sebelum kata-katanya habis, mendadak dan secepat kilat aku mengirim pukulan yang ke dua belas ke arah perutnya. Aku merasa pasti bahwa ia tak akan keburu mengerahkan tenaga Kim-kong Put-hoay-tee!. Tapi di luar dugaan, ilmu itu dapat digunakan menurut kemauan hati. Begitu tinjuku menyentuh perut, tenaga malaikat dari Kim-kong Put-hoay-tee sudah berada di seluruh tubuhnya. Tiba-tiba saja aku merasa langit berputar dan bumi terbalik, sedangkan isi perutku seakan-akan hendak meledak. Aku terhuyung tujuh delapan tindakan. Sesudah punggungku membentur pohon, barulah aku bisa berdiri tegak. Hatiku hancur dan mendadak aku mendapat pikiran jahat. ‘Sudahlah!’ teriakku. ‘Sakit hati ini sukar bisa dibalas. Apa gunanya Cia Sun hidup lebih lama di dunia ini?’ Seraya berkata begitu aku mengangkat tangan untuk menghantam batok kepalaku.“

“Lihay! Sungguh lihay tipu itu!” seru Bu Kie. “Tapi Gie-hu, apakah siasatmu itu tidak terlalu kejam?”

“Dari mana kau melihatnya?” tanya Cui San.

“Melihat Gie-hu hendak membunuh diri dengan rnenghantam batok kepala sendiri, Hwesio tua itu pasti akan berteriak untuk mencegah dan akan mencoba menolong,” jawab Bu Kie. “Pada saat pendeta itu tidak berjaga-jaga, Gie-hu pasti akan turun tangan. Tapi ia begitu baik terhadapmu dan Gie-hu tentu tidak boleh melukainya. Bukankah begitu?“

Bukan main herannya Cui San dan So So. Mereka memang tahu bahwa anak itu sangat cerdas otaknya. Namun mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa dalam waktu sekejap mata saja ia bisa melihat akal khianatnya Cia Sun. Mereka sendiri adalah orang-orang yang terkenal pintar dan memiliki banyak pengalaman di dunia Kangouw. Tapi dalam kecepatan berpikir, ternyata mereka masih kalah setingkat dari anak ini. Paras muka Cia Sun berubah sedih. Sesudah menghela napas dia berkata dengan suara parau:

“Benar. Aku justru hendak menyalah gunakan kemuliaan Kong-kian Taysu! Bu Kie, tebakanmu tepat sekali. Biar pun benar gerakanku itu merupakan akal busuk, tetapi pada waktu aku mengayun tangan untuk menepuk batok kepalaku, aku pun menghadapi bahaya yang amat besar. Jika aku tidak menghantam sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga, Kong-kian tentu bisa melihatnya dan ia pasti tidak akan mencoba menolong. Dari tiga belas pukulan hanya tinggal satu pukulan saja. Cit-siang-kun memang lihay, namun terbukti bahwa itu tidak bisa menghancurkan Kim-kong Put-hoay-tee yang melindungi seluruh tubuhnya. Karena itu dengan pukulan biasa tak usah diharap aku bisa berhasil dan aku boleh tidak usah mimpi untuk membalas sakit hati ini.

Demikianlah, ibarat orang berjudi, pada detik itu aku sedang melempar dadu untuk penghabisan kali. Aku menghantam dengan sekuat tenaga. Kalau ia tidak menolong maka aku akan binasa dengan kepala hancur. Jika aku tidak bisa membalas sakit hati memang lebih baik aku binasa saja. Melihat sambaran tanganku, Kong-kian Taysu segera berteriak: ‘Hei! Jangan...!’ Seraya berteriak dia melompat dan menangkis tanganku. Pada detik itulah aku mengirim tinju kiri ke bawah dadanya. ‘Buk!’ Tinjuku mampir tepat pada sasarannya. Kali ini ia benar-benar tidak berjaga-jaga. Tubuh manusia terdiri dari darah dan daging, tentu saja tidak bisa menerima pukulan Cit-siang-kun yang sedahsyat itu. Tanpa bersuara pendeta yang sangat mulia itu roboh di tanah! Aku mengawasinya sejenak dan mendadak rasa kemanusiaanku mengamuk hebat. Aku memeluknya dan menangis keras. ‘Kong-kian Taysu, Cia Sun tak mengenal pribudi, lebih hina dari pada babi dan anjing!’ kataku dengan suara parau.“

Cui San bertiga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mereka amat berduka akan kebinasaan pendeta yang berhati begitu mulia.

“Melihat aku menangis, Kong-kian Taysu tersenyum,“ kata pula Cia Sun. “Dia menghibur aku dengan berkata: ‘Setiap manusia di dunia harus pulang ke alam baka! Kiesu tak usah begitu bersedih. Tidak lama lagi gurumu akan tiba di sini dan kau harus menghadapinya dengan penuh ketenangan’. Nasihat itu menyadarkan aku. Barusan, setelah megirimkan tiga belas pukulan, tenagaku dapat dikatakan habis. Sekarang dalam menghadapi lawan berat aku tak boleh terlampau berduka karena hal itu dapat merusak semangat. Aku segera bersila dan mengatur jalan pernapasan. Tapi setelah lewat sekian lama, guruku belum juga datang. Aku melirik Kong-kian Taysu dan melihat bahwa paras mukanya terlukis rasa heran.

Sesaat itu napas Kong-kian Taysu sudah benar-benar lemah. Ia pun mengawasiku dan berkata dengan suara terputus-putus. ‘Tak dinyana... dia tidak... tidak... boleh dipercaya. Apa dia tertahan karena urusan lain?'. Aku marah tak kepalang. ‘Kau telah menipuku!’ bentakku. ‘Kau menipuku sehingga aku membinaskan kau. Sampai sekarang guruku belum muncul!’. Ia gelengkan kepala. ‘Aku tidak menipu’, katanya. ‘Aku merasa bersalah padamu’. Dalam kemarahan yang meluap-luap aku mencacinya. Selagi memaki, tiba-tiba saja aku terkejut karena ingat kenyataan yang sesungguhnya. Andai kata dia menipuku, tipunya merupakan pengorbanan jiwa dan baginya tidak menghasilkan keuntungan apa pun, pikirku. Bahkan sesudah mengorbankan jiwa, dia malah meminta maaf kepadaku.

Tak kepalang rasa maluku dan aku cepat-cepat berlutut di sampingnya. ‘Taysu, apakah kau memiliki keinginan yang belum ditunaikan?’ tanyaku dengan suara parau. ‘Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya’. Dia tersenyum seraya berkata dengan berbisik: ‘Aku hanya mengharap bahwa kalau kau hendak membunuh orang, ingatlah lolap’. Kong-kian Taysu bukan saja seorang pendeta suci yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi juga seorang budiman dan bijaksana yang dapat menyelami perasaanku. Ia mengerti bahwa jika ia meminta agar aku menyudahi permusuhan dan berubah menjadi orang baik, tentu aku tidak akan dapat melakukannya. Ia tahu bahwa permintaan begitu bakal sia-sia saja. Maka itu, ia hanya berpesan supaya jika hendak membunuh orang, biarlah aku ingat pengorbanannya. Ngote, hari itu pada waktu kita mengadu tenaga di perahu, aku tidak mengambil jiwamu sebab secara mendadak aku ingat Kong-kian Taysu.“

Cui San tercengang. Sedikit pun ia tidak pernah menyangka bahwa jiwanya ditolong oleh seorang pendeta yang sudah tidak ada di dunia. Ia menghela napas dengan rasa kagum dan rasa hormat yang tiada batasnya.

“Gie-hu, mengapa kau mengadu tenaga dengan Thia-thia?” Bu Kie menyela.

“Mereka hanya main-main untuk menjajal Iweekang siapa yang lebih tinggi,” So So mendahului.

Bocah itu tidak percaya. “Gie-hu,” katanya pula. “Apakah waktu itu kedua matamu sudah buta?”

“Bu Kie! Jangan ngaco!” bentak sang ibu dengan rasa terkejut.

Cia Sun tersenyum. “Belum, waktu itu aku belum buta,” jawabnya. “Mengapa kau bertanya begitu?”

Mendengar jawaban ayah angkatnya, Bu Kie segera berkata lagi, “Kalau begitu, mungkin sekali karena ayah tidak dapat mengalahkan Gie-hu, maka ibu turun tangan hingga membutakan ke dua matamu...“

“Bu Kie!” bentak Cui San dan So So dengan berbareng sehingga anak itu ketakutan dan tidak berani membuka suara lagi.

“Tak boleh kamu menakut-nakuti anak itu,” kata sang kakak, “Bu Kie, tebakanmu itu tidak salah. Bagaimana kau dapat rnenebaknya?”

Bocah itu mengawasi kedua orang tuanya lantas menjawab dengan suara terputus-putus,

“Aku... aku...“

“Kau benar,” kata sang ayah angkat. “Waktu itu, karena ayahmu tidak bisa mengalahkan aku, ibumu turun tangan dan menimpuk kedua mataku. Namun kejadian itu sudah terjadi lama sekali dan orang yang bersalah adalah aku sendiri. Dan aku sama sekali tidak menjadi marah. Apakah kau dengar dari ibumu?”

Ia tahu bahwa So So tidak mungkin menceritakan kepada puteranya, tetapi ia sengaja mengajukan pertanyaan itu supaya Cui San dan So So tidak bisa mencegah penjelasan si Bu Kie.

“Tidak! Ayah dan ibu sama sekali belum pernah menuturkan kejadian itu kepadaku,” jawab Bu Kie. “Beberapa hari yang lalu ibu mengatakan bahwa ia mau mengajari aku menimpuk dengan jarum emas, tapi pada keesokan harinya ia membatalkan janjinya. Menurut dugaanku, ayahlah yang sudah melarang ibu karena ia kuatir hal itu mengingatkan Gie-hu mengenai kejadian-kejadian yang lampau.“

Cia Sun tertawa terbahak-bahak. “Ngote, So-moay, anak kita lebih pintar lima kali lipat dari pada aku, bahkan lebih cerdas sepuluh kali lipat dari pada kalian berdua,” katanya dengan suara girang dan bangga, “Hmm...! Aku tak bisa menebak kelihayannya di kemudian hari.“

Tanpa terasa Cui San dan So So mengulur tangan mereka dan mencekal tangan si bocah erat-erat. Mereka sangat girang, tapi kegirangan itu bercampur dengan rasa kuatir. Cui San kuatir bahwa karena terlalu pintar di hari kemudian anak itu akan menyeleweng. Sedangkan So So sendiri kuatir puteranya tidak bisa berumur panjang.

“Gie-hu,” kata pula Bu Kie sambil tertawa. “Dengan berkata begitu, bukankah Gie-hu lebih pintar dua kali lipat dari pada ayah dan ibu?”

“Lebih dari pada dua kali lipat,” jawabnya disusul dengan tertawa nyaring.

“Gie-hu, bagaimana dengan pendeta tua itu? Apakah jiwanya dapat diselamatkan?” tanya pula si bocah.

Cia Sun menghela napas. “Tidak, dia tidak dapat disembuhkan lagi,” jawabnya. “Napasnya makin lama semakin lemah. Dengan mati-matian aku menekan jalan darah Leng-tay-hiat-nya sambil mengempos Iweekang untuk mencoba menolong jiwanya. Tiba-tiba ia menarik napas panjang kemudian berkata dengan suara berbisik: ‘Apakah gurumu belum datang?’. Aku menjawab: ‘Belum!’. Katanya pula: ‘Kalau begitu dia tidak akan datang’. Aku sangat terharu dengan pengorbanan mulia itu, maka aku berkata: ‘Taysu, legakanlah hatimu. Aku berjanji takkan membunuh orang lagi secara serampangan untuk memancing dia. Untuk mencarirya, aku akan menjelajahi seluruh dunia’.

Dia mengangguk, lalu berkata dengan suara ter-putus-putus: 'Bagus... bagus... Hanya sayang ilmu silatmu belum bisa menandinginya... kecuali... kecuali...'. Sampai di situ suaranya hampir tidak dapat didengar lagi. Aku menempelkan kupingku di mulutnya. Sesaat kemudian dia berkata pula: ‘Kecuali... kau dapat mencari To-liong-to... mencari golok itu punya pit...’. Dia hanya dapat mengeluarkan perkataan ‘pit’. Napasnya menyesak lalu menghembuskan napas terakhir!”

(Lanjutan dari ‘pit’ adalah ‘bit’. ‘Pit bit’ berarti ‘rahasia’).

Sekarang Cui San dan So So rnengerti mengapa kakaknya berusaha mengorek rahasia To-liong-to, mengapa ia kadang-kadang kalap seperti binatang buas dan mengapa ia selalu diliputi kedukaan. Sesudah mengangkat saudara sepuluh tahun, baru malam ini mereka mengetahui asal usul Cia Sun.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar