MENUJU PULAU ONG-POAN-SAN
Bukan main rasa terima kasihnya In So So. Dia mengerti saat itu Cui San tak boleh diganggu maka dia pun segera meramkan kedua matanya dan tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Mendadak terdengar suara.
“Plokk!”
Sebatang piauw melompat keluar kira-kira satu tombak jauhnya lalu menghantam dinding gubuk perahu, disusul dengan mancurnya darah hitam dari lubang luka. Kini lengan yang hitam itu perlahan-lahan berubah merah. Sesaat kemudian, piauw kedua melompat keluar. Selagi Cui San mengempos semangat untuk mengeluarkan piauw yang terakhir, tiba-tiba terdengar seruan orang,
“Hei! Apa In-kouwnio ada di situ?”
Cui San heran, tapi karena sedang mengerahkan tenaga maka dia tidak menggubris.
“Siang Tan-cu, lekaslah kemari!” demikian terdengar teriakan si tukang perahu. “Ada orang jahat mau menganiaya In-kouwnio.”
“Bangsat! Jangan kurang ajar!” demikianlah terdengar teriakan menggeledek dari sebuah perahu yang mendekat dengan cepat.
In So So membuka matanya dan tersenyum dengan paras seperti orang ingin minta maaf untuk salah mengerti itu. Piauw yang ketiga ternyata masuk dalam sekali di daging si nona sehingga biar pun sudah tiga kali menggunakan seantero tenaga dalamnya, senjata rahasia itu belum juga bisa didesak keluar. Sementara itu setelah terdengar suara dayung memukul air, sebuah perahu datang dekat sekali. Sesaat kemudian perahu si nona bergoyang sedikit karena hinggapnya kaki manusia di papan perahu. Tanpa menengok Cui San terus mengempos semangat.
Dengan langkah lebar orang itu masuk ke gubuk perahu. Melihat kedua tangan Thio Ngo-hiap memegang lengan kiri si nona, tentu saja dia tidak menduga bahwa pemuda itu sedang mengobati luka In So So. Dengan kemarahan meluap dia mengangkat tangannya menghantam punggung Cui San.
“Bangsat! Lepaskan!” bentaknya.
Cui San tidak menangkis. Sambil menarik napas dia pasang punggungnya.
“Bukk!” pukulan itu kena tepat pada sasarannya.
Sebagai murid utama dari Bu-tong-pay, tentu saja Iweekang Thio Cui San sudah mencapai tingkat tinggi dan dia juga memiliki kepandaian luar biasa. Demikianlah, dengan menggunakan ilmu ‘meminjam tenaga memindahkan tenaga’, tanpa bergerak dia memindahkan tenaga pukulan itu ke telapak tangannya sendiri.
“Plokk!”
Bwee-hoa-piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So dan menancap di papan gubuk perahu! Pada saat itu orang yang menyerang mengirim pukulan kedua. Dia terkesiap melihat akibat pukulannya yang pertama sehingga tangannya yang tengah menyambar berhenti di tengah udara.
“In-kouwnio...! Kau... apakah kau terluka?” teriaknya.
Si nona tidak menyahut. Sebagai seorang jago yang berpengalaman, begitu melihat darah hitam yang mancur dari lengan si nona, orang itu mengerti bahwa dia sudah berbuat kekhilafan. Dia merasa sangat menyesal dan menduga Thio Cui San mendapat luka berat karena pukulannya tadi hebat luar biasa. Buru-buru dia merogoh saku dan mengeluarkan obat untuk diberikan kepada pemuda itu. Cui San menggelengkan kepala. Setelah melihat darah hitam berubah merah, per-lahan ia melepaskan lengan si nona. Ia menengok dan berkata sambil tertawa,
“Tenaga pukulanmu sungguh tidak kecil.”
Orang itu kaget bukan kepalang. Dengan pukulan serupa itu, entah sudah berapa banyak jago binasa dalam tangannya. Sungguh heran, pemuda itu seperti juga tidak merasakan apa pun. Ia mengawasi dengan mulut ternganga dan berkata dengan suara ter-putus-putus.
“Kau... kau...“ Ia mengangsurkan tiga jari lalu ditempelkan ke Cui San.
“Biarlah aku main-main sedikit dengannya,” pikir pemuda itu.
Dia segera mengerahkan Iweekang sehingga jantungnya berhenti berdenyut. Inilah semacam kepandaian yang hanya dimiliki seorang yang Iweekang-nya sudah mencapai puncak tertinggi. Begitu menyentuh nadi Cui San, paras muka orang itu berubah pucat karena nadi itu tidak berdetik lagi. Dalam kagetnya ia meraba dada pemuda itu dan hatinya mencelos sehingga ia melompat ke belakang sambil mengeluarkan seruan tertahan.
“In-kouwnio, apakah tuan ini sahabatmu?” tanya Cui San sambil tersenyum. “Mengapa kau tidak memperkenalkan kepadaku?” Sambil berkata begitu ia menyambut sapu tangan yang disodorkan oleh In So So lalu membalut luka di lengan nona itu.
Mendengar suara Cui San yang tidak berubah sedikit pun, keheranan orang itu tidak mungkin dilukiskan lagi. “Siang Tan-cu, kau tak boleh kurang ajar!” membentak si nona. “Ini Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay.”
Orang itu buru-buru memberi hormat dan berkata dengan suara kagum. “Aha. Kalau begitu Thio Ngo-hiap dari Bu-tong Cit-hiap! Tak heran jika Iweekang-nya sedemikian tinggi. Aku yang rendah Siang Kim Peng mohon maaf untuk kekurang-ajaranku.”
Cui San mengawasi orang itu yang berusia kurang lebih lima puluh tahun. Mukanya penuh bopeng dengan otot-otot yang menonjol keluar, dan telapak tangannya lebar seperti kipas sehingga selintas saja dapat diketahui bahwa orang she Siang itu adalah seorang ahli silat Gwa-kee. Ia mengerti jika Iweekang-nya belum sempurna benar maka pukulannya tadi sudah pasti akan mengambil jiwanya sendiri.
Setelah memberi hormat kepada pemuda itu, Siang Kim Peng lalu menjalankan peradatan di hadapan In So So yang menerimanya dengan sikap acuh tak acuh.
Cui San menjadi amat heran. Dari pukulan Siang Kim Peng, ia tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang. Tapi mengapa In So So berani bersikap begitu kurang ajar terhadapnya dan dia juga kelihatannya menerima baik sikap dari si nona.
Di lain saat Siang Kim Peng berkata dengan suara pelan, “Hian-bu-tan Pek Tan-cu sudah menjanjikan orang-orang dari Hay-see-pay, Kie-keng-pang dan Hok-kian Sin-kun-bun untuk besok pagi mengadakan pertemuan di pulau Ong-poan-san di muara sungai Cian-tong-kang, guna mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Jika kesehatan nona agak terganggu, biarlah Siauw-jin lebih dahulu mengantarkan nona pulang ke Lim-an. Menurut pendapatku, Pek Tan-cu sudah lebih dari pada cukup untuk membereskan segala urusan di Ong-poan-san.”
So So mengeluarkan suara di hidung. “Hay-see-pay, Kie-keng-pang, Sin-kun-bun... Hm... Apakah Ciang-bun-jin Hoa-kun-bun Kwee Sam Kun turut datang juga?” tanyanya.
“Ya. Kudengar ia akan datang sendiri dengan mengajak dua belas murid utamanya,” jawabnya.
Si nona tertawa dingin. “Meski pun nama Kwee Sam Kun amat cemerlang, tapi dia bukan tandingan Pek Tan-cu,” katanya. “Siapa lagi yang bakal turut serta?”
Sesudah berdiam sejenak, barulah Siang Kim Peng menjawab, “Menurut warta, dua orang Kiam-kek (ahli silat pedang) muda dari Kun-lun-pay juga akan menghadiri pertemuan itu untuk... melihat To... To...“ Ia melirik Thio Cui San dan tidak meneruskan perkataannya.
“Mereka mengatakan mau melihat-lihat To-liong-to?” tanya So So. “Hm... setelah melihat mungkin dalam hati mereka akan timbul rasa serakah...”
Mendengar perkataan ‘To-liong-to’, Cui San terkejut, tetapi sebelum dia keburu membuka mulut untuk menanyakan terlebih jauh, si nona berkata pula,
“Hm, selama beberapa tahun ini, di rimba persilatan, gelombang Tiang-kang yang di sebelah belakang sudah mendorong gelombang di sebelah depan. Orang Kun-lun-pay tidak dapat dipandang enteng. Begini saja. Luka di lenganku ini tidak berarti. Aku akan turut pergi ke sana untuk menonton keramaian. Mungkin sekali aku perlu memberi bantuan kepada Pek Tan-cu.“ Ia berpaling kepada Thio Cui San lalu menyambung perkataannya, “Thio Ngo-hiap, di sini saja kita berpisah. Aku menumpang di perahu Siang Tan-cu dan kau sendiri boleh menggunakan perahuku untuk kembali ke Lim-an. Jangan sampai Bu-tong-pay kerembet dalam urusan ini.”
“Terlukanya Samko agaknya bersangkut paut dengan To-liong-to,” kata Cui San. “Apakah nona dapat memberi keterangan lebih jelas mengenai hal itu?”
“Seluk beluk kejadian itu tidak diketahui jelas olehku.“ jawabnya. “Kau harus tanya Samko-mu sendiri.”
Cui San mengerti bahwa So So sungkan memberi keterangan, karena itu dia pun tak mau mendesak lagi.
“Orang yang melukai Samko benar-benar ingin memiliki To-liong-to,” katanya dalam hati. “Menurut Siang Tan-cu, pertemuan di Ong-poan-san adalah untuk mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Apakah bisa jadi To-liong-to berada di tangan mereka? Apa bila benar begitu, orang-orang yang mencelakakan Samko tentu turut datang juga ke pulau itu.”
Berpikir begitu, ia lantas bertanya, “Apakah Tosu yang menyerang kau dengan Bwee-hoa-piauw akan turut datang di pulau itu?”
Sebaliknya dari menjawab pertanyaan orang, So So malahan tertawa. Dia balas bertanya,
“Kau pun ingin menonton keramaian, bukan? Baiklah! Kita pergi ber-sama.“ Ia menengok kepada Siang Kim Peng dan berkata pula, “Siang Tan-cu, perahumu jalan duluan.”
“Baiklah,” jawabnya sambil membungkuk lalu berjalan pergi, seperti seorang pegawai terhadap majikannya. Si nona hanya mengangguk sedikit, tapi Cui San yang menghargai ilmu silatnya orang itu sudah mengantarkannya sampai di pintu gubuk perahu.
Sesudah itu So So menggapai jurumudi seraya membentak, “Kemari kau!”
Paras muka si tukang perahu berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Ia tahu bahwa tadi ia sudah berbuat kesalahan dengan teriakan-teriakannya dan sekarang ia akan mendapat hukuman. Dengan bibir gemetar, ia berkata:
“Siauw... siauw-jin tidak sengaja... Mohon... mohon Kouwnio sudi mengampuni...”
Si nona tidak menjawab sehingga ia jadi lebih ketakutan dan dengan sorot mata memohon pertolongan, ia mengawasi Cui San yang merasa sangat tidak mengerti akan sikapnya itu. Bahwa jurumudi tersebut sudah berteriak-teriak meminta pertolongan Siang Kim Peng, itu adalah karena salah mengerti, karena ia menduga Cui San hendak mencelakakan So So. Tapi teriakannya adalah karena kesetiaannya terhadap si nona. Lalu mengapa ia begitu ketakutan?
Di lain saat si nona berkata dengan suara kaku, “Matamu tidak ada bijinya, kupingmu tuli. Perlu apa kau mempunyai mata dan kuping?”
Mendengar omelan itu, paras muka si jurumudi berubah girang, sebab ia tahu si nona sudah mengampuni jiwanya. Buru-buru dia menekuk lutut seraya berkata,
“Banyak terima kasih untuk kemurahan hati nona!” Hampir berbareng dia meraba pinggangnya dan menghunus sebilah pisau yang lalu digunakan untuk memotong kedua kupingnya. Setelah itu ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi ditujukan ke arah matanya!
Bukan main kagetnya Cui San. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan dua jemarinya menjepit pisau itu yang sedang meluncur turun ke mata si jurumudi.
“In-kouwnio,” katanya. “Dengan memberanikan hati, aku mohon belas kasihanmu.”
So So memandang ke arah pemuda itu, lalu berkata dengan suara perlahan, “Baiklah.“ Ia menengok pada si tukang perahu kemudian menyambung perkataannya, “Lekas haturkan terima kasih kepada Thio Ngo-hiap!”
Dengan tersipu-sipu dia segera menekuk lutut sambil berulang kali manggut-manggutkan kepalanya di hadapan Cui San, kemudian berlutut lagi di hadapan So So. Sesudah itu dia mundur ke belakang dan dengan suara nyaring memerintahkan kepada anak buah perahu untuk menaikkan layar.
Sementara itu Cui San berdiri membelakang So So sambil mengawasi air yang luas tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di dalam hati dia merasa heran, bagaimana seorang wanita yang berparas begitu cantik mempunyai tangan begitu kejam.
So So melirik pemuda itu dan melihat pakaiannya yang pecah di bagian punggung karena pukulan Siang Kim Peng. Dia segera berkata,
“Buka pakaianmu. Mau aku tambal.”
“Tidak usah!” kata Cui San.
“Kau kira aku tidak bisa menjahit?” tanya si nona.
“Bukan begitu,” kata pemuda itu dengan suara pendek dan matanya tetap memandang ke tempat jauh.
Di dalam hati dia ingat kebinasaan yang sangat menyedihkan dari orang-orang Liong-bun Piauw-kiok. Tapi sebaliknya dari pada membunuh manusia yang begitu kejam, dia malah menolongnya dengan mengeluarkan piauw beracun. Meski pertolongan itu adalah untuk membalas budi orang yang sudah membantu Suheng-nya, tetapi sepak terjangnya tetap tidak dapat dibenarkan dan dia merasa bahwa dalam tindakannya itu dia tidak bisa membedakan yang jahat dan yang baik. Diam-diam dia sudah mengambil keputusan bahwa begitu pertemuan di pulau Ong-poan-san selesai, maka secepatnya dia akan berpisah dengan nona itu untuk selama-lamanya.
Melihat paras muka Cui San yang suram, So So dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia tertawa dingin dan berkata:
“Bukan saja Touw Tay Kim, Ciok dan Su Piauw-tauw, bukan saja semua orang dari Liong-bun Piauw-kiok dan dua pendeta Siauw-lim itu, tapi Hui-hong pun dibunuh olehku.”
“Aku memang sudah mencurigai kau, hanya saja aku tidak tahu dengan cara bagaimana kau membunuh dia?” kata Cui San.
“Tak usah heran,” kata si nona. “Waktu itu aku berendam dalam air dan mendengarkan pembicaraan kalian. Setelah didesak olehmu, tiba-tiba Hui-hong merasa bahwa muka kita memang berbeda, tapi sebelum dia keburu mengaku, aku mendahului melepaskan sebatang jarum ke mulutnya. Kau mencoba mencariku di gerombolan pohon dan rumput-rumput tinggi, tapi aku sendiri enak-enakan berendam di air.”
“Hmm, sebagai akibat dari perbuatanmu itu, pihak Siauw-lim menuduhku,” kata Cui San dengan mendongkol. “In-kouwnio, kau sungguh pintar dan tanganmu benar-benar lihay.”
So So berlagak pilon. Dia bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk, “Terima kasih, Thio Ngo-hiap memuji aku terlalu tinggi.”
Cui San menjadi bertambah marah. “In-kouwnio!” bentaknya. “Aku seorang she Thio belum pernah berbuat kesalahan apa pun juga kepadamu. Tapi mengapa kau begitu tega mencelakaiku?”
So So tersenyum. “Aku bukannya ingin mencelakakan kau,” katanya dengan suara tenang “Mengapa aku berbuat begitu? Siauw-lim dan Bu-tong adalah dua partai persilatan yang sangat besar dan ternama. Aku hanya ingin mereka bertempur untuk menyaksikan siapa sebenarnya yang lebih kuat.”
Cui San terkejut mendengar pengakuan si nona. Sedikit pun ia tak nyana wanita cantik itu mempunyai tujuan yang demikian hebat. “Kalau Siauw-lim dan Bu-tong bertempur, entah berapa banyak korban yang akan roboh. Kejadian itu bakal merupakan suatu peristiwa hebat di rimba persilatan,” pikirnya. Paras si nona sendiri tetap berseri-seri dan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, dia berkata:
“Thio Ngo-hiap, bolehkah kulihat tulisan dan lukisan di kipasmu?”
Sebelum Cui San keburu menjawab, dari perahu Siang Kim Peng se-konyong-konyong terdengar suara teriakan,
“Apakah itu perahu Kie-keng-pang?! Siapa yang berada di perahu?!”
“Siauw-pangcu dari Kie-keng-pang ingin menghadiri pertemuan di pulau Ong-poan-san.”
“In-kouwnio dan Cu-ciak-tan Siang Tan-cu berada di sini!” teriak seseorang dari perahu Siang Kim peng. “Harap kalian mengikuti saja dari belakang.”
“Jika Peh-bie-kauw In-kauwcu sendiri yang berada di situ, kami bersedia mengalah!” jawab seseorang dengan suara keras. “Kalau orang lain, maaf saja.”
Mendengar perkataan ‘Peh-bie-kauw In-kauwcu’, Cui San kaget, karena dia belum pernah mendengar nama agama (kauw) itu, baik dari gurunya mau pun dari luaran. Dia melongok keluar jendela dan dilihatnya sebelah kanan terdapat sebuah perahu yang bentuknya menyerupai seekor ikan paus. Di kepala perahu terlihat sinar putih yang berkilau-kilauan karena dipasangnya berpuluh-puluh pisau sebagai gigi ikan, sedang badan perahu yang melengkung dan buntutnya yang mengacung ke atas berbentuk seperti buntut ikan paus. Layar perahu sangat lebar dan jalannya lebih cerat dari pada perahu Siang Kim Peng.
Kie-keng-pang (Partai Ikan Paus Raksasa) adalah sebuah perkumpulan bajak laut yang berkeliaran di sepanjang pantai propinsi Kangsouw, Ciatkang dan Hokkian. Mereka membajak, membunuh dan melakukan perbuatan lain yang terkutuk, tapi sebegitu jauh, karena licinnya belum dapat ditumpas oleh angkatan laut negeri sehingga selama puluhan tahun malang melintang di perairan lautan Tong-hay.
Siang Kim Peng segera maju dan berdiri di kepala perahu. “Bek Siauw-pangcu!” teriaknya. “In-kouwnio berada di sini. Apakah kau sungkan memberi sedikit muka kepada kami?”
Dari gubuk perahu Kie-keng-pang muncul seorang pemuda yang mengenakan pakaian warna kuning. Ia tertawa dingin seraya berkata,
“Di daratan Peh-bie-kauw boleh menjagoi, tapi di air Kie-keng-pang yang memegang kekuasaan. Mengapa kami mesti mengalah dan membuntuti kamu dari belakang?”
Mendengar pembicaraan mereka, Cui San merasa bahwa cara-cara Peh-bie-kauw itu terlalu sombong. Sementara itu anak buah Kie-keng-pang sudah menaikkan sebuah layar lagi sehingga jalannya perahu menjadi semakin laju, dengan begitu sukar dapat diuber lagi. Siang Kim Peng mengeluarkan suara di hidung.
“Kie-keng-pang... hm... To-liong-to... juga To-liong-to...“ demikian terdengar perkataannya.
Karena suara angin yang menderu-deru dan jarak antara kedua perahu sudah agak jauh, maka Bek Siauw-pangcu hanya dapat menangkap ‘To-liong-to’. Dia nampak terkejut dan buru-buru memerintahkan anak buahnya memperlambat jalan perahu. Beberapa saat kemudian perahu Siang Kim Peng sudah mendekati.
“Siang Tan-cu, apa kau kata?” tanya pemuda itu.
“Bek Siauw-pangcu, Hian-bun-tan Pek Tan-cu kami... golok To-liong-to itu...“ jawab Siang Kim Peng.
Cui San merasa heran karena terputus-putusnya jawaban Siang Kim Peng. Sementara itu kedua perahu semakin dekat. Tiba-tiba saja terdengar suara gedubrakan disusul dengan teriakan orang. Ternyata di luar dugaan semua orang, mendadak Siang Kim Peng mengangkat jangkar lalu melontarkannya ke perahu Kie-keng-pang. Bunyi rantai dan mencangkolnya jangkar di perahu Kie-keng-pang dibarengi dengan jeritan kesakitan karena ada dua orang anak buah perahu yang tertimpa jangkar.
“Hai! Apa kau gila?!” bentak Bek Siauw-pangcu.
Anak buah Siang Kim Peng mengangkat sebuah jangkar lain yang lalu dilemparkan lagi ke perahu Kie-keng-pang dan dua buab jangkar itu telah mengambil jiwa tiga orang anak buah. Di lain saat kedua perahu hampir berdempetan. Bek Siauw-pangcu melompat ke pinggir perahu dan coba mengangkat salah satu jangkar. Tapi sebelum ia berhasil, Siang Kim Peng sudah mengayun tangan kanannya dan benda warna biru yang menyerupai buah semangka menghantam tiang layar tengah.
Benda itu terbuat dari baja, adalah salah sebuah dari sepasang senjata Siang Kim Peng yang berantai emas dan digunakan sebagai bandringan. ‘Semangka’ itu adalah senjata berat yang dipegang di tangan kiri dan beratnya sembilan puluh lima kati, sedang yang di tangan kanan beratnya seratus lima kati. Dari situ dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga orang she Siang. Jika tidak memiliki tenaga ribuan kati, dia pasti tidak akan dapat menggunakan senjata seberat itu. Begitu dihantam dengan ‘semangka’ kanan, tiang layar itu bergoyang-goyang. ‘Semangka’ kiri menyusul dan disusul pula dengan ‘semangka’ kanan.
“Krek...! Krek...! Krek...! Brakk!”
Tiang yang besar itu tidak tahan kemudian patah. Keadaan jadi lebih kalut karena anak-anak buah Kie-keng-pang berteriak-teriak sambil menghunus senjata. Tanpa mempedulikan segala kekacauan itu Siang Kim Peng cepat melompat ke belakang perahu itu dan menghantam tiang layar belakang. Tiang itu lebih kecil dan sekali hajar, lantas ambruk.
Sesungguhnya Bek Siauw-pangcu mempunyai kepandaian tinggi. Senjatanya dinamakan Hun-sun Go-bi-cek, sepasang pusut (jarum penusuk) yang panjangnya kira-kira satu kaki dan sangat cocok untuk digunakan dalam pertempuran dalam air. Tapi dalam kaget dan bingungnya, sebelum dia berbuat sesuatu, Siang Kim Peng yang bergerak cepat luar biasa itu sudah mematahkan dua tiang layarnya.
“Dengan adanya Peh-bie-kauw, di atas air pun Kie-keng-pang tidak memiliki kekuasaan,” orang she Siang itu berteriak sambil melontarkan sebuah ‘semangka’ ke lambung perahu musuh yang lantas saja berlubang besar sehingga air pun segera mengalir masuk. Anak buah Kie-keng-pang semakin bingung.
Dengan mata merah Bek Siauw-pangcu mencabut pusutnya. Dengan sekali menotol kaki di papan perahu, badannya melesat ke perahu musuh. Selagi tubuh pemuda itu berada di tengah udara, mendadak Siang Kim Peng melontarkan senjatanya ke muka pemuda itu. Serangan yang dikirim mendadak dan kejam itu sangat mengejutkan hati Bek Siauw-pangcu.
“Celaka!” teriaknya sambil menotok ‘semangka’ itu dengan kedua pusutnya dalam usaha melompat balik dengan meminjam tenaga tersebut.
Jika ilmu mengentengkan tubuhnya memiliki tingkat yang sama dengan ilmu Thio Cui San, bukan saja ia akan dapat mengelakkan serangan itu, tetapi ia juga bisa balas menyerang. Tapi dalam segala hal dia masih kalah jauh dari jago Bu-tong-pay itu. ‘Semangka’ yang beratnya seratus kati, ditambah dengan tenaga Siang Kim Peng sendiri, masih terlalu hebat untuk dilawannya. Tiba-tiba dia merasa dadanya menyesak, matanya berkunang-kunang dan tanpa ampun dia pun roboh terguling di atas perahunya.
Begitu melihat lawannya roboh, Siang Kim Peng segera menghantam lagi dengan kedua ‘semangka’ dan badan perahu Kie-keng-pang berlubang di beberapa tempat. Sesudah itu, sambil mengerahkan Iweekang dia lalu menarik pulang kedua jangkar yang mencantol di perahu musuh. Tanpa diperintah lagi oleh Tan-cu mereka, anak buah perahu Peh-bie-kauw segera menaikkan layar dan perahu itu perlahan-lahan mulai bergerak, tetapi sebentar kemudian melaju ke depan dengan amat cepatnya.
Melihat cara Siang Kim Peng merobohkan musuh, jantung Thio Cui San berdebar keras, “Jika tidak mempunyai kepandaian meminjam tenaga memindahkan tenaga, tadi aku tentu sudah binasa di tangannya,” pikirnya. Dia melirik In So So yang bersikap tenang-tenang saja, seolah-olah tidak terjadi kejadian luar biasa. Tiba-tiba di sebelah kejauhan terdengar suara guruh. Itulah tanda bahwa air pasang menghampiri. Biar pun anak buah Kie-keng-pang pandai berenang, akan tetapi tak mungkin mereka mampu melawan gelombang pasang yang seperti gunung. Bahaya yang dihadapi mereka lebih besar lagi, karena waktu itu mereka berada di muara tempat bertemunya sungai dan lautan sehingga lebar permukaan sungai sampai puluhan li.
Maka itulah, begitu mendengar guruh, anak-anak Kie-keng-pang ketakutan setengah mati dan berteriak-teriak minta pertolongan. Tetapi perahu Siang Kim Peng dan In So So tidak meladeni dan terus berlayar ke jurusan timur. Thio Cui San melongok keluar jendela dan melihat perahu ikan paus itu tenggelam separuh. Mendengar teriakan-teriakan anak buah perahu, sebenarnya dia merasa sangat tidak tega. Tapi karena mengetahui bahwa Siang Kim Peng dan In So So adalah manusia-manusia kejam, dia merasa tak ada gunanya membuka mulut. Melihat paras pemuda itu, si nona tersenyum. Mendadak dia berseru,
“Siang Tan-cu, hati Thio Ngo-hiap sangat mulia. Tolonglah anak buah perahu Kie-keng-pang!”
Cui San terkejut, sebab hal itu benar-benar di luar dugaannya.
“Baik!” teriak Siang Kim Peng. Di lain saat perahunya membelok kemudian menuju ke perahu Kie-keng-pang. “Anggota-anggota Kie-keng-pang, dengarlah!” teriak Siang Kim Peng, ”Atas permintaan Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay, kami bersedia menolong jiwamu. Siapa yang mau hidup, berenanglah kemari!”
Anak buah Kie-keng-pang menjadi girang dan berenang ke arah perahu Siang Kim Peng yang meluncur memapaki mereka. Dalam tempo tidak berapa lama, hampir semua orang termasuk juga Bek Siauw-pangcu, dapat ditolong. Tapi biar pun begitu, ada enam tujuh orang yang mati dipukul ombak.
“Terima kasih untuk pertolonganmu!” kata Cui San.
Si nona mengeluarkan suara di hidung dan berkata dengan suara tawar: “Orang-orang itu adalah bajak yang biasa merampok dan membunuh, perlu apa kau menolong mereka?”
Cui San lantas tergugu, dia tidak dapat menjawab pertanyaan si nona. Memang dia sudah mendengar bahwa Kie-keng-pang adalah salah satu dari empat ‘pang’ yang jahat dan dia pun tak pernah menduga bahwa hari ini dia menolong kawanan bajak yang kejam itu.
“Kalau mereka tidak ditolong, hati Thio Ngo-hiap pasti akan mencaci maki aku,” berkata pula si nona. “Kau tentu akan mencaci aku sebagai perempuan kejam yang tidak pantas ditolong.”
Perkataan itu mengena jitu di hati Cui San sehingga paras muka pemuda itu berubah merah.
“Kau memang pandai bicara dan aku tidak sanggup menandingi,” katanya sambil tertawa. “Dengan menolong orang-orang itu, kau sudah melakukan perbuatan baik dan kau sendirilah yang akan mendapat pembalasan baik, sedikit pun tidak ada sangkut pautnya denganku.”
Baru saja dia berkata begitu, datanglah gelombang pasang. Perahu In So So seperti juga dilontarkan ke atas sehingga mereka pun tidak dapat bicara lagi. Cui San melongok keluar jendela dan ia melihat gelombang-gelombang besar dalam bentuk seperti tembok-tembok tinggi datang saling susul. Ia langsung bergidik karena mengingat bahwa jika tidak ditolong maka semua anak buah perahu Kie-keng-pang pasti binasa dalam air.
Mendadak si nona bangun berdiri, lalu masuk ke gubuk perahu sebelah bekakang dan menutup pintu. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dengan mengenakan pakaian wanita dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya supaya Cui San membuka jubah luarnya.
Karena merasa kurang enak untuk menolak lagi, dia membuka jubahnya. Ia menduga si nona ingin menambal bagian yang berlubang dari jubah itu. Tapi tak dinyana, So So lalu mengangsurkan jubahnya sendiri yang tadi dipakai olehnya, sedangkan jubah Cui San dibawanya ke gubuk belakang. Mau tidak mau Cui San terpaksa memakai juga. Karena jubah luar biasanya dibuat dalam ukuran besar, maka meski pun tubuh pemuda itu lebih besar dari pada badan si nona, dia masih dapat menggunakannya. Di lain saat jantungnya memukul keras karena hidungnya mengendus bebauan yang sedap dan wangi. Ia merasa jengah dan tidak berani lagi memandang si nona. Karenanya matanya ditujukan kepada lukisan-lukisan yang dipasang didinding gubuk, tapi hatinya tetap berdebar-debar.
In So So pun tidak mengajaknya bicara lagi. Dia duduk diam sambil mendengarkan suara gelombang. Dalam gubuk ini dipasang sebatang lilin. Mendadak sebagai akibat hantaman gelombang, perahu miring dan lilin padam.
“Celaka!” Cui San mengeluh dalam hati. “Meski pun aku sopan, tetapi dengan berdiam berdua-duaan di tempat gelap, nama baik In-kouwnio bisa ternoda.”
Buru-buru dia bangun berdiri dan membuka pintu belakang, kemudian berjalan ke ruangan jurumudi yang dengan tenang mengemudikan perahu itu ke aliran bawah. Kurang lebih satu jam kemudian air pasang mulai surut dan air keluar lagi menuju lautan sehingga dengan mengikuti aliran air, perahu itu melaju semakin cepat. Pada waktu fajar menyingsing pulau Ong-poan-san sudah berada di depan mata.
Pulau itu terletak di mulut sungai Cian-tong-kang di perairan lautan Tong-hay adalah sebuah pulau kecil yang tandus dan tak ada penduduknya. Waktu kedua perahu itu berada dalam jarak beberapa kaki, dari atas pulau tiba-tiba terdengar suara terompet dan terlihat dua orang menggoyang-goyangkan dua bendera hitam. Waktu perahu datang lebih dekat, Cui San dapat melihat bahwa bendera hitam itu berpinggir putih dengan sulaman kura-kura terbang. Di bawah dua bendera itu duduk seorang tua. Begitu perahu menepi, lantas dia berseru,
“Hian-bun-tan Pek Kwie Siu menyambut In-kouwnio dengan segala kehormatan.“ Suaranya keras tetapi kedengarannya sangat menusuk kuping. Sehabis berseru begitu si kakek sendiri memasang papan untuk pendaratan.
In So So mempersilakan Cui San jalan lebih dulu dan setelah mereka mendarat, dia segera memperkenalkan pemuda itu kepada Pek Kwie Siu. Mendengar pemuda itu adalah salah seorang dari Bu-tong Cit-hiap, Pek Kwie Siu terkejut.
“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Bu-tong Cit-hiap,” katanya. “Aku merasa sangat beruntung pada hari ini dapat bertemu muka dengan Thio Ngo-hiap.”
Thio Cui San segera menjawab dengan perkataan-perkataan merendahkan diri.
“Hai! Kalian berdua pandai sekali bicara manis-manis,” kata In So So. “Lain di hati, lain di mulut. Di dalam hati, yang satu berkata: ‘Celaka. Orang Bu-tong-pay turut datang ke sini dan tambah lagi satu lawan lihay yang mau merebut To-liong-to’. Yang lain berpikir: ‘Huh! Manusia apa kau? Anggota dari agama yang menyeleweng. Mana sudi aku bersahabat denganmu’. Menurut pendapatku, lebih baik kalian bicara saja terang-terang. Jangan main berpura-pura.”
Pek Kwie Siu tertawa terbahak-bahak.
“Tidak, aku tidak berpikir begitu,” kata Cui San. “Aku yakin bahwa Pek Tan-cu mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Ilmu mengirim suara sangat mengagumkan. Kedatanganku di sini hanyalah untuk menemani In-kouwnio menonton keramaian. Sedikit pun aku tidak mempunyai niatan untuk turut dalam perebutan golok mustika.”
Mendengar perkataan pemuda itu, In So So merasa girang sekali. Pek Kwie Siu mengenal nona In sebagai wanita berhati kejam yang tidak pernah berlaku manis terhadap siapa pun juga. Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya dia menyaksikan sikap yang luar biasa halus dari si nona terhadap Thio Cui San sehingga kakek ini mengetahui bahwa So So jatuh hati kepada pemuda yang tampan itu. Selain itu dia juga merasa senang mendengar pujian yang diberikan Cui San, dan rasa permusuhannya terhadap pemuda itu hilang.
“In-kouwnio,” katanya sambil tersenyum, “orang-orang Hay-see-pay dan Sin-kun-bun telah datang semua. Selain mereka terdapat juga dua pemuda dari Kun-lun-pay. Lagak mereka agak sombong dan berbeda jauh dengan Thio Ngo-hiap yang bernama besar. Hm... orang yang benar-benar berkepandaian tinggi memang tidak banyak tingkah”
Baru saja dia berkata sampai di situ, dari belakang bukit mendadak terdengar bentakan,
“Hai! Perlu apa kau mem-busuk-busukkan nama orang di belakang? Apa itu perbuatan seorang laki-laki?”
Berbareng dengan bentakan itu, dari belakang bukit turun dua pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang bertubuh kurus dan mengenakan jubah panjang warna kuning, sedangkan di punggung mereka terselip sebatang pedang. Mereka menghampiri dengan paras muka menyeramkan.
Pek Kwie Siu tertawa nyaring, lalu berkata dengan suara tenang, “Aha! Baru saja nama Co Coh disebut, Co Coh lantas datang. Mari, mari aku memperkenalkan kalian.”
Dua Kiam-kek (ahli pedang) Kun-lun-pay itu sebenamya sudah mau mengunjuk kemarahan mereka, tetapi begitu melihat kecantikan So So mereka tertegun. Yang satu mengawasi si nona dengan mulut ternganga, yang lain melengos tapi diam-diam melirik berulang-ulang. Sambil menunjuk pemuda yang tengah mengawasi So So, Pek Kwie Siu berkata,
“Yang ini adalah Ko Cek Seng Tay-kiam-kek.“ Ia menengok ke arah yang lain, lalu menyambung kata-katanya, “Yang itu adalah Chio Tauw Tay-kiam-kek. Mereka berdua adalah pentolan-pentolan Kun-lun-pay. Nama Kun-lun-pay telah menggetarkan wilayah Barat dan di rimba persilatan, semua orang merasa kagum akan tingginya ilmu silat Kun-lun. Maka itu Ko dan Chio Tay-kiam-kek pasti memiliki kepandaian yang lain dari pada yang lain. Sekali ini dari tempat jauh mereka datang ke Tiong-goan dan mereka pasti akan memperlihatkan kepandaian istimewa supaya kita semua bisa menambah pengalaman.”
Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan nada mengejek itu, Cui San menduga bahwa dua pemuda Kun-lun itu akan segera menghunus senjata, atau sedikitnya akan membalas dengan kata-kata tajam. Namun di luar dugaan, mereka hanya manggut-manggut tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sesudah mengawasi muka mereka, barulah Cui San tahu sebab musababnya. Ternyata mereka seperti orang linglung karena dipengaruhi kecantikan In So So. Cui San merasa geli bukan main. “Nama Kun-lun-pay tersohor di kolong langit dan dikenal sebagai malaikat dalam ilmu silat pedang,” pikirnya. “Sayang sekali murid-muridnya yang datang kemari adalah manusia-manusia rendah.”
Meski pun Ko Cek Seng dan Chio Tauw beradat sombong, sebenarnya mereka bukan manusia rendah yang gemar dengan paras cantik. Yang menjadi soal ialah karena So So memang terlampau cantik dan memiliki sifat-sifat seperti besi berani yang dapat membetot semangat orang. Dengan mengingat bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa, apa lagi usia mereka masih demikian muda, maka sikap yang menggelikan itu bisa dikatakan jamak (wajar) saja. Sementara itu Pek Kwie Siu berkata lagi:
“Yang itu adalah Thio Cui San Siang-kong dari Bu-tong-pay, yang ini nona In So So, sedang yang itu Siang Kim Peng Tan-cu dari agama kami.”
Mendengar perkataan Pek Kwie Siu, So So merasa sangat girang. Bahwa si kakek hanya menggunakan istilah ‘Siang-kong’ (tuan) dan tidak menggunakan lagi perkataan ‘Thio Ngo-hiap’, merupakan petunjuk bahwa dia menganggap Cui San seperti orang sendiri. Sambil tersenyum si nona melirik pemuda itu dengan sorot mata mencinta. Melihat sikap In So So terhadap Cui San, Ko Cek Seng yang beradat kasar langsung saja meluap darahnya dan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa cemburunya.
“Chio-sute,” katanya dengan suara tawar, “di See-hek sepertinya kita pernah mendengar bahwa Bu-tong-pay merupakan sebuah partai yang tulen di rimba persilatan di wilayah Tiong-goan.”
“Benar, aku pun seperti pemah mendengar begitu,” jawab adik seperguruannya.
“Tapi ternyata mendengar tidak sama dengan melihatnya sendiri,” kata pula Ko Cek Seng “Pendengaran itu tidak dapat dipercaya.”
“Di kalangan Kangouw memang banyak sekali tersiar desas desus yang tidak boleh dipercaya,” menyambung Chio Tauw. “Ko-suheng, apa artinya perkataanmu itu?”
“Murid dari partai persilatan yang tulen bagaimana bisa bergaul dengan orang-orang dari Sia-kauw (agama yang menyeleweng)?” jawabnya, “Bukankah kejadian seperti ini sangat menurunkan nama partai yang sangat cemerlang itu?”
Dalam menyindir Thio Cui San, mereka tak pernah bermimpi bahwa In So So pun seorang anggota Peh-bie-kauw. Mereka hanya mengetahui bahwa yang menjadi anggota agama itu hanya Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng.
Cui San meluap darahnya, namun segera dia mendapat pikiran lain. Dia segera ingat bahwa kedatangannya di pulau Ong-poan-san adalah untuk menyelidiki musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam sehingga dia tidak boleh merusak tujuannya sendiri dengan mengumbar napsu amarah. Ia juga ingat bahwa biar pun berusia lebih tinggi dari padanya, kedua Kiam-kek Kun-lun-pay itu adalah orang-orang tak ternama yang baru menceburkan diri di dunia Kangouw. Karena itu tidak pantas bila dia meladeninya. Dia pun mengakui bahwa Peh-bie-kauw memang sebuah agama yang menyeleweng dan In So So serta Siang Kim Peng adalah manusia kejam yang dapat membunuh sesama manusia seperti orang menyuap nasi. Ia memang sudah mengambil keputusan untuk tidak bergaul terus dengan dua orang itu. Berpikir demikian, ia tersenyum seraya berkata,
“Dengan orang-orang Peh-bie-kauw, aku pun baru berkenalan, tidak berbeda dengan kedua Heng-tay.”
Keterangan itu mengherankan hati semua orang, kecuali si nona sendiri. Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng pun semula menduga bahwa persahabatan antara nona In dan Cui San sudah berjalan lama. In So So sendiri merasa sangat mendongkol. Dia mengerti bahwa dengan berkata begitu, Cui San memandang rendah kepada Peh-bie-kauw. Ko Cek Seng dan Chio Tauw bertukar pandang dengan senyum mengejek di bibir. Mereka menganggap bahwa Cui San ketakutan karena mendengar nama Kun-lun-pay.
“Kecuali Bek Siauw-pangcu, semua tetamu sudah tiba,” kata Pek Kwie Siu. “Kita tak usah menunggu dia. Sekarang kalian boleh jalan-jalan di pulau ini secara bebas, dan sebentar tengah hari harap kalian suka datang di lembah untuk minum arak dan melihat-lihat golok mustikaku.”
Siang Kim Peng tertawa. “Tadi perahu Bek Siauw-pangcu mendapat kerusakan dan atas permintaan Thio-siangkong, mereka ditolong,” dia menerangkan. “Sekarang Siauw-pangcu berada dalam perahuku. Nanti bolehlah kita mengundangnya untuk menghadiri pertemuan.”
Meski kedua Tan-cu itu bersikap sangat hormat dan walau pun In So So memperlihatkan kecintaannya, tetapi Cui San telah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri. Maka itu dia lantas berkata,
“Siauwte ingin jalan-jalan sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban dia segera berjalan ke arah sebuah hutan di sebelah timur. Kecuali bukit-bukit dan hutan-hutan kecil, di pulau itu tiada pemandangan yang berharga. Di sebelah tenggara terdapat sebuah pelabuhan di mana berlabuh belasan perahu, yaitu perahu-perahu para tetamu. Sambil menunduk Cui San berjalan di sepanjang pantai dan sembari berjalan dia mengasah otak. Ia merasa sangat tidak puas dengan kekejaman dan sepak terjang In So So, tapi sungguh heran, hatinya seperti juga dibetot-betot dan tidak dapat melupakan nona yang cantik itu.
“Tak dapat disangkal lagi, In-kouwnio mempunyai kedudukan yang amat tinggi di Peh-bie-kauw,” pikirnya. “Pek Tan-cu dan Siang Tan-cu amat menghormatinya seperti juga dia seorang puteri. Tapi sudah terang dia bukan Kauwcu. Lalu siapakah dia?”
Di lain saat dia berkata pula dalam hatinya, “pertemuan ini dihimpunkan oleh Peh-bie-kauw, partai-partai lain sudah mengirim wakil-wakilnya yang paling jempolan. Tapi Peh-bie-kauw sendiri hanya mengutus seorang Tan-cu, se-olah mereka tidak memandang sebelah mata pihak lawan. Dilihat dari gerakan-gerakannya, kepandaian Pek Tan-cu berada di Siang Tan-cu. Kalau begitu Peh-bie-kauw sungguh-sungguh tidak boleh dipandang enteng. Biarlah hari ini aku menyelidiki asal usul mereka, Mungkin sekali di kemudian hari Bu-tong Cit-hiap harus bertempur mati-matian dengan mereka.“ Selagi berpikir demikian, tiba-tiba dia mendengar suara beradunya senjata di luar hutan. Dia merasa heran, kemudian menuju ke arah suara itu. Dari kejauhan dia melihat Ko Cek Seng dan Chio Tauw sedang berlatih pedang dan ditonton In So So.
“Suhu sering mengatakan bahwa kiam-sut (ilmu pedang) Kun-lun-pay lihaynya bukan main dan di waktu masih muda beliau pernah bertempur dengan seorang pentolan Kun-lun-pay yang bergelar Kiam-seng (Nabi pedang),” pikirnya. “Kesempatan menyaksikan ilmu pedang itu tak boleh disia-siakan. Akan tetapi menurut peraturan rimba persilatan, jika orang sedang berlatih silat, orang luar tidak boleh mencuri lihat.“
Sebagai murid dari perguruan yang terhormat, Cui San sungkan melanggar peraturan itu sehingga oleh karenanya, meski dalam hati sangat kepingin menonton, tetapi sesudah melihat beberapa kali, dia segera memutar badan dan berjalan pergi. Tapi di luar dugaan, baru melangkah satu dua tindak, sudah dilihat In So So yang lantas berteriak sambil menggapai-gapai,
“Thio-ngoko, kemarilah!”
Cui San tahu bahwa kalau tidak menghampiri, dia bisa dicurigai sebagai orang yang benar mencuri lihat latihan pedang itu. Maka dia mendekati seraya berkata,
“Kedua Heng-tay tengah berlatih, tidak pantas kalau kita berdiam lama-lama di sini. Mari kita pergi ke tempat lain.”
Sebelum si nona menjawab, mendadak berkelebat sinar pedang dan...
“Brett!”
Tiba-tiba pedang Chio Tauw menggores lengan kiri Ko Cek Seng yang langsung saja mengucurkan darah. Cui San terkejut. Dia menduga Chio Tauw kesalahan tangan. Namun dia lebih terkejut lagi karena tanpa mengeluarkan sepatah kata dan dengan paras muka merah padam, Ko Cek Seng mengirim tiga serangan beruntun yang sangat hebat dan ditujukan ke arah bagian-bagian tubuh yang membinasakan. Sekarang baru dia tahu bahwa kedua orang itu bukan berlatih melainkan sedang bertempur sungguhan. In So So tertawa dan berkata:
“Dilihat begini, sang Suko belum dapat menandingi si adik. Menurut pendapatku ilmu Chio-heng lebih unggul sedikit.”
Mendengar itu, sambil mengertak gigi Ko Cek Seng memutar tubuh lalu menyabet dengan pedangnya dalam pukulan Pek-tiang-hu-po (Air tumpah beratus tombak panjangnya). Pedang itu menyambar dari atas ke bawah, se-olah turunnya air tumpah. Dengan menggunakan seantero kelincahannya, Chio Tauw mundur ke belakang, tapi pedang Ko Cek Seng tiba-tiba berubah arah.
“Brett!” diiringi satu suara, ujung pedang mengenai betis kirinya.
Si nona tertawa geli sambil bertepuk-tepuk tangan. “Aha! Jika begitu sang Suheng mempunyai ilmu simpanan!” teriaknya. “Kali ini Chio-heng yang kalah.”
“Belum tentu!” bentak Chio Tauw dengan gusar sambil menyerang dengan pukulan Ie-teh-hui-hoa (Hujan menghantam bunga yang beterbangan). Pedangnya menyambar-nyambar dalam gerakan miring, kadang-kadang diseling dengan tikaman lurus.
Sebagai murid Kun-lun-pay tentu saja Ko Cek Seng paham dengan ilmu pedang itu, maka tanpa sungkan-sungkan ia pun membuat serangan-serangan balasan. Mereka berdua sama-sama terluka. Meski pun tidak berbahaya, dalam pertempuran darah mereka beterbangan kian kemari sehingga muka, tangan dan pakaian mereka penuh noda darah. Mereka terus bertempur, semakin lama semakin sengit hingga akhirnya mereka saling tikam mati-matian, seolah-olah sedang berhadapan dengan musuh besar. Di lain pihak In So So sesekali tertawa dan bertepuk-tepuk tangan. Sebentar dia memuji yang satu, sebentar kemudian memuji yang lain.
Sekarang Cui San mengerti pertempuran kedua saudara seperguruan itu adalah karena gara-gara si cantik, yang rupanya sedang menjalankan siasat adu domba karena mendongkol atas ejekan mereka terhadap Peh-bie-kauw. Sesudah mengawasi beberapa lama dia berpendapat bahwa meski pun mereka cukup paham ilmu pedang, namun perubahan pedang masih kurang cepat dan Iweekang mereka pun masih belum cukup tinggi.
“Thio-ngoko,” kata si nona dengan gembira. “Bagaimana pendapatmu dengan Kiam-hoat Kun-lun-pay?”
Cui San tidak menjawab. Dia mengerutkan alis seperti orang sebal. Melihat itu, So So lantas berkata,
“Sudahlah! Begitu-begitu juga. Aku pun merasa sebal. Mari kita pergi ke situ untuk menikmati pemandangan langit.“
Sehabis berkata begitu dia menarik tangan kiri Cui San kemudian berjalan pergi. Jantung Cui San berdebar keras. Dia merasa tangannya dicekal oleh tangan yang empuk halus, sedangkan hidungnya mengendus bebauan yang amat wangi. Dia mengerti bahwa begitu, So So sengaja membangkitkan rasa cemburu dan marah kedua murid Kun-lun-pay itu. Karena merasa tak enak hati untuk melepaskan tangannya, dia segera mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka berdiri di tepi laut sambil memandang air yang se-akan tiada batasnya. Beberapa saat kemudian mendadak So So berkata,
“Di kitab Cong-cu bagian Chiu-sui-pian terdapat kata-kata begini: Air di kolong langit tidak ada yang lebih besar dari pada lautan. Laksana sungai mengalir ke laut. Entah kapan sungai-sungai itu berhenti mengalir dan tidak memenuhi lautan. Tapi Sang laut sedikit pun tidak menjadi sombong dan hanya berkata: Aku berada di antara langit dan bumi seperti juga sebutir batu atau satu pohon kecil yang tumbuh di sebelah gunung yang besar. Setiap kali membaca kitab itu, aku lalu mengagumi Cong-cu (Chuang tze) tidak habisnya, karena dari tulisan-tulisan tersebut, dia sungguh-sungguh seorang berjiwa besar.”
Cui San kaget mendengar perkataan si nona. Ia merasa tak puas melihat cara-cara nona In yang sudah mencari kesenangan dengan mengadu domba orang. Sedikit pun ia tak nyana bahwa memedi perempuan yang bisa membunuh manusia tanpa berkedip ini dapat mengutip kata-kata dari kitab Cong-cu. Kitab Cong-cu adalah sebuah kitab yang mesti dibaca dan dipelajari oleh murid-murid agama To-kauw. Waktu masih berguru di Bu-tong-san, dia dan saudara seperguruannya sering sekali mendengar penjelasan-penjelasan Thio Sam Hong mengenai isi kitab itu. Demikianlah dalam rasa kaget dan herannya, tanpa terasa dia berkata,
“Benar. Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam.”
Mendengar Cui San mengutip kitab Cong-cu untuk melukiskan besar dan dalamnya lautan, sedangkan muka pemuda itu terlihat penuh hormat, si nona segera bertanya,
“Apakah kau teringat Suhu-mu?”
Cui San terkesiap. Tanpa terasa ia mengangsurkan tangan kanannya kemudian mencekal tangan si nona yang satunya lagi.
“Bagaimana kau tahu apa yang sedang kupikirkan?” tanyanya dengan suara heran.
Hal ini mempunyai latar belakang seperti berikut: Dulu waktu berada di gunung Bu-tong-san, pada suatu hari dia bersama-sama Song Wan Kiauw dan Jie Thay Giam membaca kitab Cong-cu. Setelah membaca ‘Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam’, Jie Thay Giam berkata, “Dalam berguru dengan Suhu, makin lama belajar aku merasa semakin berbeda jauh dengan kepandaian beliau. Menurut pendapatku, sebaliknya dari pada maju, rasanya setiap hari kita justru mundur. Kata-kata Cong-cu itu adalah kata yang paling tepat untuk melukiskan kepandaian Suhu yang tak dapat diukur berapa dalamnya.” Mendengar perkataan saudaranya, Wan Kiauw dan Cui San manggut-manggutkan. Itulah sebab musabab mengapa begitu mengutip kata-kata itu, ia lantas ingat gurunya yang tercinta.
“Dengan melihat paras mukamu, aku mengetahui jika bukan teringat kedua orang tuamu, tentu kau sedang teringat kepada gurumu,” jawab si nona. “Karena di dunia ini hanya Thio Sam Hong seorang saja yang surup (pantas) dilukiskan dengan perkataan itu, maka aku segera menduga pasti yang diingat olehmu adalah Suhu-mu.”
“Kau sungguh pintar,” kata Cui San dengan suara kagum. Sesaat itu mendadak dia sadar bahwa kedua tangannya sedang mencekal kedua tangan si nona. Paras mukanya lantas saja berubah merah dan buru-buru dia melepaskannya.
“Apakah kau bisa memberi-tahu, berapa tinggi ilmu silat gurumu?” tanya So So.
Pemuda itu tidak menjawab. Setelah berpikir sejenak baru ia berkata, “Ilmu silat adalah ilmu yang tidak begitu penting. Apa yang diajarkan oleh beliau bukan terbatas pada ilmu silat saja. Luas dan dalam... entah bagaimana aku harus menceritakannya.”
Si nona tersenyum seraya berkata, “Hucu bertindak, aku turut bertindak. Hucu berjalan, aku turut berjalan. Hucu berlari aku turut berlari. Tapi begitu Hucu berlari cepat, biar pun mengikuti sebisa-bisanya, aku tetap ketinggalan jauh.” (Hucu berarti guru, tapi di sini dimaksudkan Khongcu atau Konfusius).
Mendengar si nona mengutip pujian Gan Hwee (murid Khongcu) terhadap Khongcu, Cui San berkata:
“Tapi guruku tak usah berlari keras. Sekali dia berjalan atau berlari pelan, kami tidak bisa mengikutinya.“
Dari perkataan itu diketahui bahwa pemuda ini sangat memuja gurunya. Demikianlah, dengan duduk berendeng di atas batu besar, kedua orang muda itu merundingkan ilmu surat dan ilmu silat panjang lebar dan mendalam. Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi dan sangat cerdas, In So So dapat menimpali Cui San dalam omong-omong itu. Mendadak terdengar suara tindakan dan batuk-batuk, disusul suara orang,
“Thio-siangkong, In-kouwnio, Ngo-sie (tengah hari) sudah tiba. Harap kalian berdua pergi ke tempat perjamuan.”
Cui San menengok dan melihat Siang Kim Peng berdiri dalam jarak belasan tombak dan mengawasi mereka dengan tersenyum. Dari paras mukanya, dia kelihatan kagum dan gembira melihat dua sejoli yang setimpal itu. Biasanya In So So berlaku sombong dan kurang ajar jika berhadapan dengan orang-orang sebawahannya. Tapi kali ini, dengan muka kemerah-merahan dia menundukkan kepala. Siang Kim Peng memutar badan kemudian berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar.
“Aku jalan lebih dulu,” bisik si nona.
Cui San tidak mengerti, ia hanya mengangguk saja. In So So berlari-lari dan berjalan berendeng dengan Siang Kim Peng.
“Bagaimana dengan kedua bocah tolol dari Kun-lun itu?” terdengar pertanyaan si nona.
Cui San mengawasi mereka dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Kemudian, sesudah mereka terpisah jauh, barulah dia mengikuti dengan tindakan perlahan. Begitu tiba di mulut lembah, dia melihat ada tujuh delapan meja persegi di sebidang tanah lapang rumput. Kecuali meja utama di sebelah timur, semua meja sudah penuh orang. Melihat kedatangan Cui San, Siang Kim Peng segera bangun berdiri lalu berteriak dengan suara nyaring,
“Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay.”
Hampir berbarengan Pek Kwie Siu juga bangun dari tempat duduknya, kemudian dengan diiringi lima orang Hio-cu, kedua Tan-cu itu meninggalkan meja perjamuan untuk menyambut tamu. Dua belas orang berdiri berjejer di kedua pinggir dan menyambut sambil membungkuk.
“Hian-bun-tan Pek Kwie Siu dan Ciak-tan Siang Kim Peng yang berada di bawah perintah In-kauwcu dan Peh-bie-kauw, menyambut kedatangan Thio Ngo-hiap!” seru Pek Kwie Siu dengan suara nyaring.
In So So sendiri tidak meninggalkan meja, tetapi dia turut bangun berdiri. Mendengar ‘In-kauwcu’, hati Cui San berdebar. “Kalau begitu kepala agama Peh-bie-kauw benar-benar seorang she In,” katanya dalam hati. Segera dia merangkapkan kedua tangannya kemudian berkata,
“Tak berani menerima kehormatan yang begitu besar.“
Begitu sampai di dekat meja-meja perjamuan ia mendapat kenyataan bahwa semua orang mengawasinya dengan paras mendongkol. Ia merasa heran, tapi tidak mempedulikan. Yang menjadi sebab dari perasaan mendongkol itu adalah karena kedatangan pemimpin-pemimpin Hay-see-pay, Kie-keng-pang dan Sin-kun-bun hanya disambut oleh seorang Hio-cu dan tidak mendapat kehormatan seperti yang didapat oleh jago Bu-tong-pay ini. Keruan saja mereka merasa dihina, tetapi kejadian itu tidak diketahui oleh Cui San.
Dengan sikap hormat Pek Kwie Siu mengantarkan pemuda itu ke meja utama di sebelah timur dan mengundang supaya dia duduk di situ. Di meja itu, yang mempunyai kedudukan paling mulia, hanya terdapat sebuah kursi. Cui San menyapu seluruh arena perjamuan dengan matanya dan mendapat kenyataan bahwa di lain meja duduk tujuh delapan orang, hanya pada meja keenam duduk dua orang, yaitu Ko Cek Seng dan Chio Tauw.
“Aku yang rendah adalah seorang muda yang berkepandaian cetek,” kata Cui San dengan suara nyaring. “Aku tidak berani duduk di meja utama ini.”
“Dalam rimba persilatan, Bu-tong-pay merupakan gunung Thay-san atau bintang Pak-tauw,” kata Pek Kwie Siu. “Apa bila Thio Ngo-hiap yang namanya menggetarkan seluruh negara tidak berani duduk, siapa lagi yang berani duduk di situ?”
Tapi Cui San yang selalu diajar oleh gurunya untuk merendah, tetap menolak. Sementara itu Ko Cek Seng dan Chio Tauw saling memberi isyarat dengan lirikan mata. Tiba-tiba Chio Tauw mengangkat kursinya lantas melontarkan ke arah meja utama. Antara meja yang diduduki dan meja utama terdapat lima buah meja lain. Dengan menggunakan Iweekang yang tepat, kursi itu terbang di atas kepala para tamu kemudian hinggap di samping kursi utama. Begitu selesai Chio Tauw memperlihatkan kepandaiannya, Ko Cek Seng segera berseru:
“Huh! Huhh! Thaysan... Pak-tauw! Siapa yang mengangkat Bu-tong-pay menjadi Thaysan atau Pak-tauw? Jika she Thio tidak berani duduk di situ, biarlah kami berdua yang menggantikannya.“ Bersama Sute-nya dia segera melompat ke meja utama itu.
Bagaimana kedua saudara seperguruan itu yang tadi bertempur mati-matian kini akur kembali?. Tadi setelah berkenalan, dalam kedongkolannya karena kedua pemuda itu mengejek Peh-bie-kauw, In So So lantas bertanya siapa di antara mereka berdua yang memiliki ilmu pedang lebih tinggi dan mengatakan bahwa dia ingin sekali mempelajari beberapa pukulan dari Kun-lun Kiam-hoat. Kedua pemuda yang telah dirobohkan oleh kecantikan si nona itu lantas menghunus pedang. Semula mereka hanya ingin memperlihatkan keunggulan dalam latihan, tapi makin lama semakin sengit, apa lagi ditambah dengan ejekan-ejekan So So, akhirnya mereka jadi bertempur mati-matian hingga keduanya terluka.
Belakangan, sesudah si nona meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan dengan Cui San, barulah mereka sadar lantas menghentikan pertempuran. Dengan rasa malu dan marah mereka membalut luka, tetapi tak berani mengunjuk kemarahan terang-terangan kepada nona In. Demikianlah, sekarang mereka ingin merebut kursi yang ditawarkan kepada Cui San untuk menghina pemuda itu di hadapan orang banyak.
“Tahan!” bentak Siang Kim Peng sambil merentangkan tangannya.
Ko Cek Seng segera mengangkat tangan untuk menotok jalan darah lengan Kim Peng. Tapi sebelum ia turun tangan, Cui San sudah mendahului berkata:
“Jie-wi berdua memang paling cocok duduk di sini,” kata Cui San. “Dan biarlah aku duduk di situ.“ dia berjalan ke meja ke enam.
“Thio-ngoko, kemari!” seru In So So sambil menggapai.
Cui San segera mendekat karena menyangka si nona ingin bicara. Namun di luar dugaan, So So menarik sebuah kursi kemudian menaruhnya di samping kursinya.
“Kau duduk di sini saja,“ katanya sambil tersenyum.
Cui San jengah bukan main. Untuk sejenak tidak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau duduk di situ, dia merasa malu. Apa bila menolak, merupakan hinaan besar bagi si nona.
“Aku ingin bicara denganmu,” bisik SoSo.
Melihat sorot mata memohon, Cui San tidak tega menolak dan lantas duduk di kursi itu. Nona In sangat girang dan sambil tersenyum-senyum, ia menuang secawan arak. Di lain pihak, melihat Cui San di samping nona In, sungguh pun sudah berhasil merebut kedudukan utama, Ko Cek Seng dan Chio Tauw semakin mendongkol. Sebelum mereka duduk di kedua kursi itu, Pek Kwie Siu menyelak dan mengebut-ngebut kursi itu dengan menggunakan tangan bajunya.
“Memang pantas sekali bila Tay-kiam-kek dari Kun-lun-pay duduk di kursi utama,” katanya sambil tertawa. “Duduklah.“ Habis berkata begitu dia segera kembali ke tempat duduknya bersama Siang Kim Peng dan sepuluh Hio-cu.
Dengan menganggap bahwa mereka berhasil menindih lawannya, Ko Cek Seng dan Chio Tauw segera duduk di kedua kursi itu. Akan tetapi...
“Krekek!”
Terdengar suara dan kaki kursi tiba-tiba patah sehingga mereka pun roboh terjengkang. Masih untung bagi mereka, sebagai ahli-ahli silat, begitu roboh, mereka melompat bangun. Tak usah dikatakan lagi, mereka malu bukan main, lebih-lebih karena para hadirin tertawa terbahak-bahak.
Ko Cek Seng mengerti bahwa patahnya kaki kursi adalah karena perbuatan Pek Kwie Siu yang mengerahkan Iweekang waktu mengebut-ngebut dengan tangan bajunya. Dia yakin sekali bahwa si orang she Pek itu telah menggunakan tenaga Im-kin (tenaga dingin) yang tidak dimiliki olehnya. Dia adalah seorang yang angkuh dan sama sekali tak memandang mata kepada Peh-bie-kauw yang dianggapnya sebagai agama menyeleweng. Mimpi pun dia tak pernah bahwa dalam Peh-bie-kauw terdapat orang yang berkepandaian sedemikian tinggi.
Sementara itu dengan suara tawar Pek Kwie Siu berkata, “Semua orang tahu ilmu silat Kun-lun-pay lihay luar biasa. Akan tetapi, janganlah Jie-wi menumplekkan hawa marah kepada kursi itu. Aku yakin ilmu yang barusan diperlihatkan Jie-wi dimiliki oleh semua orang yang hadir di sini.“ Ia menuding kepada sepuluh orang Hio-cu yang duduk di meja paling ujung.
“Krekek! Krekek!”
Diiringi suara berderak, hampir berbareng sepuluh kursi patah kakinya dan sepuluh Hio-cu bangun berdiri dengan sikap tenang. Sekali lagi para hadirin bersorak sorai, sedangkan paras muka kedua jago Kun-lun-pay menjadi pucat bagaikan mayat. Di antara sorakan itu tiba-tiba dua orang Hio-cu menghampiri meja utama dengan masing-masing mendukung sebuah batu besar.
“Kiranya kursi kayu tidak cukup kuat untuk diduduki kalian,” kata satu diantaranya. “Jie-wi duduklah di batu ini.”
Kedua Hio-cu itu adalah orang kuat di Peh-bie-kauw. Ilmu silat mereka biasa saja, tapi mereka memiliki tenaga yang luar biasa. Ko Cek Seng dan Chio Tauw kaget bukan main. Meski pun mereka berkepandaian tinggi dalam ilmu pedang, tetapi mereka merasa tidak sanggup menyambut batu yang beratnya kira-kira tujuh ratus kati itu.
“Taruhlah,“ kata Ko Cek Seng.
“Huh!’ kedua orang kuat itu mengerahkan tenaga dan mengangkat tinggi-tinggi kedua batu itu. “Sambutlah!” kata mereka.
Kedua jago Kun-lun itu terkesiap. Dengan serentak mereka melompat ke belakang.
“Kalau Jie-wi Kun-lun Kiam-kek tak mau duduk di meja utama, biarlah Thio-siangkong yang duduk di situ,” kata Pek Kwie Siu.
Mendengar perkataan itu, Cui San yang sedang kelelap dalam lautan asmara mendadak tersadar.
“Celaka!” ia mengeluh. “Tak boleh aku membiarkan diriku dijatuhkan oleh memedi perempuan ini,” Ia lantas bangun berdiri dan menghampiri meja utama.
Dalam mengundang Cui San untuk duduk di meja utama, Pek Kwie Siu beminat menjajal kepandaian pemuda itu, yang dipuji tinggi oleh Siang Kim Peng namun belum disaksikan olehnya sendiri. Karena itu, begitu Cui San menghampiri, ia memberi isyarat kepada kedua Hio-cu dengan lirikan mata.
“Thio-siangkong, hati-hati!” teriak kedua Hio-cu itu pada saat Cui San sudah datang cukup dekat. Kemudian sambil membentak keras, dengan berbareng mereka melontarkan kedua batu yang lantas terbang ke kepala Cui San.
Semua hadirin terkesiap dan serentak mereka bangun berdiri. Di lain pihak, begitu melihat terbangnya kedua batu besar itu, Pek Kwie Siu yang hanya berniat mencoba kepandaian pemuda itu dan pada hakekatnya tidak mempunyai maksud yang kurang baik, merasa menyesal tercampur takut. Ia yakin bahwa sebagai seorang ahli silat, pemuda itu masih bisa menyelamatkan diri dengan melompat mundur. Akan tetapi kejadian itu adalah kejadian yang sangat memalukan sehingga bukan saja Cui San, tetapi In So So pun bisa marah. Sebagai seorang kejam, saat itu dia sudah mengambil keputusan bahwa dia akan menumplek semua kesalahan di atas pundak kedua Hio-cu itu, bahkan jika perlu dia akan membinasakan mereka supaya dapat meloloskan diri dari kemarahan nona In.
Melihat menyambarnya batu, Cui San pun terkejut. Jika dia melompat mundur seperti Ko Cek Seng dan Chia Tauw, ia merasa sangat malu karena hal ini akan sangat menurunkan pamornya Bu-tong-pay. Pada detik yang amat genting itu dia tak sempat berpikir panjang-panjang lagi. Pada saat-saat berbahaya, semua tenaga dan ilmu dari seorang yang pandai silat bisa keluar secara wajar (otomatis). Demikianlah, tanpa dipikir lagi tangan kirinya mengibas ke kanan batu yang menyambar dari sebelah kiri dengan pukulan huruf ‘bu’ (persilatan), sedangkan tangan kanan mengibas ke kiri batu yang menyambar dari sebelah kanan.
Seperti telah dikatakan, berat setiap batu tidak kurang dari tujuh ratus kati sehingga kalau ditambah dengan tenaga jatuhnya dari atas ke bawah, maka tenaga menindih dari setiap batu tidak kurang dari seribu kati. Dalam mempelajari ilmu silat, Cui San belum pernah mengutamakan latihan-latihan untuk memperbesar tenaga sehingga jika diukur dengan tenaga yang dimilikinya, dia pasti tidak akan mampu menyambut kedua batu itu. Akan tetapi ilmu silat dari Thio Sam Hong yang berdasarkan Su-hoat adalah ilmu silat yang sangat luar biasa.
Pada hakekatnya ilmu silat Bu-tong-pay tidak mengutamakan tenaga atau kecepatan memukul. Yang dipelajari adalah ilmu mengeluarkan tenaga pada saat yang tepat dengan gerakan dan kekuatan tenaga yang tepat pula. Pada jaman belakangan, dalam kitab Thay-kek Kun-keng, Ong Cong Gak, seorang ahli Bu-tong-pay menyebutkan pukulan Sie-nio Po-cian-kin (tenaga empat tahil melontarkan benda yang beratnya ribuan kati). Dengan lain perkataan, jika tenaga yang dikirim sesuai dengan ‘aturan’, maka tenaga empat tahil akan dapat melontarkan benda yang beratnya ribuan kati.
Demikianlah dengan memakai ilmu silat yang paling tinggi dari gurunya, Cui San berhasil melontarkan kedua batu besar itu yang menyambar kepalanya. Apa yang mengejutkan para hadirin ialah dia se-olah melemparkan kedua batu itu dengan tangan bajunya, karena kedua tangannya bersembunyi di dalam tangan baju yang lebar. Kejadian itu begitu mengejutkan sehingga semua orang hanya mengawasi dengan mulut terngaga dan lupa untuk bersorak-sorai lagi.
Di lain saat kedua batu itu melayang turun, yang satu lebih tinggi, yang lain lebih rendah. Dengan sekali menotol kakinya di tanah, badan Cui San melesat ke atas lalu dia bersila di atas batu yang lebih tinggi. Dengan suara gedubrakan hebat sehingga bumi tergetar, batu pertama ambruk ke bumi dan separuhnya amblas ke dalam tanah. Kemudian di lain detik, batu kedua jatuh tepat di atas batu pertama dan waktu kedua batu itu beradu, lelatu api muncrat ke atas. Dengan paras tenang Cui San tetap duduk di batu yang sebelah atas.
“Tenaga kedua Hio-cu sungguh besar,“ katanya sambil tersenyum. “Aku merasa kagum dan takluk.“
Akan tetapi kedua Hio-cu itu masih mengawasi dengan mata terbelalak tanpa dapat mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian barulah bergema sorak sorai gegap gempita di lembah yang sunyi itu. In So So mengawasi Pek Kwie Siu dengan mata melotot, tapi paras mukanya berseri-seri. Sekarang Pek Kwie Siu malah kegirangan. Dia mengerti bahwa kecerobohannya yang hampir-hampir menerbitkan onar itu kini berbalik menjadi keuntungan bagi dirinya. Sesudah menuang secawan arak, ia segera menghampiri Thio Cui San kemudian berkata dengan suara nyaring,
“Sudah lama kami mendengar nama besar Bu-tong Cit-hiap, tetapi baru sekarang kami melihat kepandaian Thio Ngo-hiap. Betapa besar rasa kagum kami tak dapat dilukiskan lagi. Ijinkan siauw-jin memberi selamat kepada Thio-siangkong dengan secawan arak ini.“ Sehabis berkata begitu, ia minum kering arak itu.
Cui San turut minum dan menjawab dengan kata-kata merendah. Tiba-tiba dari meja Kie-keng-pang bangun berdiri seorang laki-laki yang mengenakan baju kuning.
“Menurut pendapatku, ilmu silat Thio Ngo-hiap yang sangat tinggi adalah soal kedua,“ teriaknya. “Akan tetapi yang paling mengagumkan ialah hatinya yang mulia, berbeda jauh dengan manusia rendah yang berhati jahat dan biasa menggunakan siasat busuk. Sebab itu aku juga ingin memberi selamat kepada Thio Ngo-hiap dengan secawan arak.“ Sehabis berkata begitu, ia minum kering secawan arak yang dipegangnya.
Orang itu bukan lain Bek Siauw-pangcu yang kemarin ditolong dengan perahu Siang Kim Peng atas permintaan Cui San. Sambil membungkuk pemuda itu mengangkat cawan araknya seraya berkata,
“Tak berani menerima pujian yang begitu tinggi. Aku pun ingin balas memberi hormat kepada Bek Siauw-pangcu dengan secawan arak ini.“ Lalu ia menghirup araknya sampai kering.
Setelah suasana berubah tenang kembali, perlahan-lahan Pek Kwie Siu bangun berdiri dan berkata dengan suara nyaring,
“Belum lama berselang, agama kami mendapat golok mustika yang dikenal To-liong-to. Ada pun mengenai golok itu, di rimba persilatan tersiar kata-kata sebagai berikut: Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put-ciong!” Berkata sampai di situ, dia berhenti sejenak dan kedua matanya yang bersinar terang menyapu para hadirin.
“Sesudah memperoleh golok mustika itu, In-kauwcu dari agama kami sesungguhnya ingin mengundang orang-orang di kolong langit untuk mengadakan pertemuan besar di gunung Heng-san guna menunjukkan golok itu kepada dunia,” katanya pula. “Akan tetapi untuk menghimpun pertemuan besar itu memerlukan banyak tenaga dan tempo sehingga pemimpin kami mengambil keputusan untuk mengundang saja kalian yang berada di tempat-tempat yang berdekatan agar kalian dapat turut melihat macamnya golok mustika itu.“ Sehabis berkata begitu dia lalu mengibaskan tangannya.
Delapan orang murid Peh-bie-kauw bangun berdiri kemudian berjalan menuju ke sebuah goa yang terletak di sebelah barat. Semua mata mengawasi delapan orang itu yang mendapat tugas untuk mengambil To-liong-to. Tapi waktu mereka keluar lagi, yang dibawa bukan golok melainkan satu hanglo (tempat perapian) besi yang amat besar dengan api yang berkobar-kobar. Mereka memikulnya menggunakan pikulan kayu yang sangat panjang, lalu dengan napas yang tersengal-sengal menaruh hanglo itu di tengah-tengah lapangan. Di belakang mereka mengikuti empat orang, dua menggotong sebuah bantalan besi dan dua orang lagi masing-masing membawa sebuah martil raksasa.
“Siang Tan-cu,” kata Pek Kwie Siu, “harap kau suka menunjukkan golok mustika itu untuk menetapkan keangkeran!”
“Baiklah,“ kata Siang Kim Peng sambil berpaling, kemudian berkata kepada Hio-cu yang tadi melontarkan batu kepada Cui San. “Ambil golok mustika itu!”
Mereka masuk ke dalam goa dan keluar kembali dengan seorang menyangga satu bungkusan sutera kuning dengan kedua tangannya, sedang seorang lain melindungi di sampingnya. Hio-cu itu lalu menyerahkan bungkusan tersebut kepada Siang Kim Peng, kemudian berdiri di kiri kanannya. Dengan sikap hormat Siang Kim Peng membuka bungkusan yang di dalamnya berisi sebatang golok. Dengan dua tangan ia mengangkat tinggi-tinggi golok itu yang kemudian dihunusnya.
“Golok ini adalah To-liong-to yang sangat dihormati di rimba persilatan!” teriaknya. “Kalian boleh melihatnya dengan teliti.”
Nama besar To-liong-to sudah lama dikenal di dunia Kangouw. Akan tetapi melihat macamnya golok itu yang biasa saja dan warnanya kehitam-hitaman, semua orang menjadi sangsi. Apa benar golok itu To-liong-to yang dikagumi? Perlahan-lahan Siang Kim Peng menurunkan golok itu lalu menyerahkannya kepada Hio-cu yang berdiri di sebelah dirinya.
“Gunakan martil!” dia memerintah.
Hio-cu itu menyambuti golok tersebut yang lalu ditaruh di atas bantalan besi dengan mata golok menghadap ke atas. Hio-cu yang di sebelah kanan segera mengangkat martil dan menghantamnya ke mata golok.
“Trangg...!”
Kepala martil terpapas putus jadi dua potong. Separuh jatuh di tanah sedangkan separuh lagi masih menempel digagang martil. Kejadian yang benar-benar luar biasa. Semua orang terkesiap dan dengan serentak mereka bangun berdiri. Bahwa di rimba persilatan terdapat senjata mustika yang bisa memapas baja atau emas, bukan kejadian langka. Tapi senjata yang dapat memapas besi yang begitu besar seperti memapas tahu, benar-benar belum pernah terdengar. Seorang dari Sin-kun-bun dan seorang dari Kie-keng-pang segera menghampiri bantalan besi itu kemudian menjemput potongan martil yang jatuh di tanah. Ternyata bagian yang terpapas tampak berkilat-kilat tanda baru saja dipapasnya. Sementara itu dua orang Hio-cu yang lain telah mengangkat martil yang satunya lagi yang lalu dihantamkan ke mata golok.
“Trangg...!”
Seperti juga tadi, kepala martil terpapas pula dengan mengeluarkan suara nyaring. Kali ini semplaknya martil disambut dengan tampik sorak riuh. Perlahan-lahan Siang Kim Peng mendekati bantalan besi itu dan mengangkat To-liong-to. Kemudian dengan gerakan To-pek Hoa-san (Menghantam gunung Hoa-san) ia membabat bantalan besi itu yang langsung saja kutung dua. Sesudah itu, sambil menenteng golok ia berjalan ke sebelah barat dan dengan kecepatan kilat menyabet dahan pohon siong tua. Dengan beruntun ia membabat delapan belas pohon siong. Para hadirin sangat heran karena pohon-pohon itu masih tetap berdiri tegak meski pun terang-terangan dibabat putus. Pek Kwie Siu tertawa nyaring kemudian dengan tangan bajunya, ia mengibas pohon yang pertama. Dengan suara gedubrakan pohon itu roboh di atas tanah sebatas yang telah terbacok.
Ternyata, dengan sekali membabat saja, dahan pohon menjadi putus. Karena To-liong-to tajam luar biasa, maka biar pun dahannya putus tetapi pohon itu masih tetap berdiri dan barulah tumbang sesudah didorong oleh Pek Kwie Siu. Sesudah merobohkan pohon pertama, Pek Tan-cu lalu mengibas pohon-pohon lainnya yang juga lantas roboh dengan mengeluarkan suara keras.
Sambil tertawa terbahak-bahak Pek Kwie Siu mengambil To-liong-to dari tangan Siang Kim Peng, kemudian memasukkannya ke dalam hanglo yang apinya sedang berkobar-kobar. Pada waktu pohon-pohon roboh dikebas Pek Kwie Siu, tiba-tiba di kejauhan terdengar suara peletak peletok dan gedubrakan yang beruntun-runtun, seperti ada orang lain yang sedang merobohkan pohon-pohon lainnya.
Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng terkejut segera mengawasi ke arah suara itu. Mereka menjadi lebih kaget lagi karena ternyata bahwa tiang-tiang dari perahu-perahu yang berlabuh di pantai, roboh satu demi satu. Pada tiang-tiang itu tergantung bendera-bendera Peh-bie-kauw, Kie-keng-pang, Hay-see-pay dan Sin-kun-bun. Semua orang ikut memandang ke arah itu. Keruan mereka menjadi marah bukan kepalang dan beberapa pemimpin, dengan mengajak sejumlah orang bawahannya, berlari-lari ke pantai untuk menyelidiki.
Mendadak jago-jago yang berkumpul di lapangan itu melihat perkembangan lain yang lebih mengagetkan. Satu demi satu perahu mereka mulai tenggelam. Rombongan kedua yang terdiri dari beberapa partai menyusul ke pantai. Jarak antara pelabuhan dan lapangan rumput itu tidak terlalu jauh, tapi rombongan penyelidik pertama yang terdiri dari belasan orang tidak kelihatan balik kembali. Semua orang saling pandang dengan perasaan sangsi. Sambil menengok kepada seorang Hio-cu Pek Kwie Siu berkata,
“Coba kau pergi lihat.“
Sesudah orang itu pergi, dengan sikap tenang yang dibuat-buat ia berkata pula, “Mungkin sekali di lautan terjadi perubahan luar biasa. Tapi tuan-tuan tidak usah kuatir. Andai kata semua perahu rusak, kita masih bisa pulang dengan getek-getek kayu. Mari! Keringkan cawan!”
Meski pun hati bergoncang keras, supaya tidak dikatakan bernyali kecil, jago-jago itu terpaksa mengangkat cawan. Namun baru saja cawan menempel di bibir, tiba-tiba terdengar teriakan menyayat hati, seperti jeritan orang yang melompat bangun dengan paras muka pucat. Rata-rata mereka adalah manusia yang sudah biasa membunuh sesama. Tapi sekarang jadi ketakutan akibat terjadinya perkembangan luar biasa dan suara jeritan yang amat menyeramkan itu. Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng mengenal teriakan Hio-cu yang barusan diperintah pergi menyelidiki.
Di lain saat sekonyong-konyong terdengar bunyi tindakan kaki dan orang yang bagaikan mandi darah mendatangi dengan berlari-lari. Orang itu bukan lain dari pada Hio-cu tadi. Dengan kedua tangan dia mendekap mukanya yang bercucuran darah, kulit kepala terbeset, pakaian robek-robek dan berlepotan darah. Begitu berhadapan dengan suara gemetar dia berkata,
“Kim-mo Say-ong (Raja singa bulu emas)...! Kim-mo Say-ong...“
“Singa?” Pek Kwie Siu menegas dengan hati terasa lebih lega karena menyangka bahwa yang menyerang adalah seekor binatang buas.
“Bukan... bukan...!“ jawab Hio-cu itu, “Manusia... bukan singa. Semua orang dicakarnya sampai mati... semua perahu tenggelam!” Sehabis berkata dia tidak dapat mempertahankan diri lagi lalu roboh binasa.
“Coba aku yang menyelidiki,” kata Pek Kwie Siu.
“Aku ikut,” kata Siang Kim Peng.
“Tidak, kau harus melindungi In-kouwnio,” cegah Pek Kwie Siu yang mengerti bahwa kini dia sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh.
Hio-cu adalah salah seorang yang ilmu silatnya paling tinggi di kalangan Peh-bie-kauw. Bahwa dia telah dibinasakan begitu mudah, suatu tanda bahwa pihak lawan orang yang lihay bukan main. Siang Kim Peng tidak membantah lagi. Sambil mengangguk dia menjawab,
“Ya.”
Mendadak terdengar suara batuk-batuk, diikuti dengan suara bicaranya seseorang, “Kim-mo Say-ong berada di sini!”
Semua orang terkejut dan menengok, tapi mereka tak melihat bayangan manusia lain. Di mana orang itu bersembunyi?
Mendadak suara itu terdengar lagi, “Tolol! Sungguh tolol!”
Cacian itu disusul melayangnya sebuah batu besar dan satu manusia melompat keluar dari lubang di bawah batu. Ternyata siang-siang dia telah bersembunyi di belakang pohon, kemudian dengan menggali tanah dia masuk ke dalam lubang yang dibuatnya di bawah sebuah batu besar. Bukan main kagetnya semua orang, tidak terkecuali In So So yang berlari mendekati Thio Cui San sambil mengeluarkan seruan,
“Ahh...!”
Badan orang itu tinggi besar luar biasa, kira-kira lebih tinggi satu kaki dari manusia biasa. Rambutnya berwarna kuning terurai di pundaknya, sedangkan kedua matanya yang bersinar hijau menyorot tajam laksana pisau. Tangannya memegang sebatang toya Long-gee-pang yang panjangnya satu tombak (tujuh kaki). Dengan tubuh seperti raksasa dia berdiri di antara meja-meja perjamuan bagaikan malaikat.
“Kim-mo Say-ong?” Cui San bertanya pada diri sendiri. “Siapa dia? Aku belum pemah mendengar namanya, baik dari Suhu mau pun dari orang lain.“
Dia mendapat kenyataan bahwa orang itu mengenakan jubah panjang yang terbuat dari bermacam-macam kulit binatang seperti harimau, macan tutul, kerbau, menjangan, anjing ajak (serigala), biruang, rase dan sebagainya. Sepotong demi sepotong kulit-kulit itu dijahit satu sama lain dan buatannya yang sangat halus, tukang yang membuatnya bukan sembarang tukang. Di antara banyak binatang, hanya kulit singa yang tidak ada. Cui San menduga bahwa orang itu amat menghormati binatang singa sehingga dia menggunakan nama binatang itu sebagai gelarnya.
Long-gee-pang atau toya gigi serigala yang dicekal oleh orang itu pun lain dari pada yang lain. Menurut kebiasaan, paku-paku yang merupakan gigi serigala hanya dipasang pada satu ujung dari Long-gee-pang. Tetapi toya orang ini bukan saja panjang dan besar luar biasa, tapi juga dipasang paku-paku di kedua ujungnya, warna toya keemas-emasan, tapi bukan terbuat dari pada emas. Sesudah berhasil menenteramkan hatinya yang berdebaran, Pek Kwie Siu maju setindak seraya bertanya,
“Apakah aku boleh tahu she dan nama tuan yang mulia?”
“Aku she Cia bernama Sun alias Twie Su,” jawabnya. “Selain itu aku juga mempunyai satu gelar, yaitu Kim-mo Say-ong.”
Cui San dan So So saling melirik. Mereka sependapat bahwa walau pun ganas, orang itu mempunyai nama dan gelar seperti seorang sasterawan.
Mendengar jawaban yang pantas, hati Pek Kwie Siu jadi lebih lega. “Oh, kalau begitu aku berhadapan dengan Cia Sian-seng,” katanya sambil membungkuk. “Sebegitu jauh yang kuketahui, Sian-seng dan kami sama sekali belum pernah berurusan, bahkan belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi mengapa begitu tiba Sian-seng merusak perahu dan membunuh orang?”
Cia Sun tersenyum, memperlihatkan dua baris giginya yang putih dan berkilat. “Perlu apa tuan-tuan berkumpul di tempat ini?” dia balas bertanya.
Pek Kwie Siu merasa tidak dapat berdusta terhadap orang yang lihay ini. Dalam perhitungannya, walau pun ia tahu orang itu bekepandaian tinggi, dia hanya seorang diri, ia tidak begitu keder. Ia menganggap bahwa bersama Siang Kim Peng, Thio Cui San dan In So So, bagaimana pun pihaknya akan dapat menjatuhkan lawan tunggal. Berpikir demikian, ia lantas menjawab dengan suara nyaring,
“Belum lama berselang Peh-bie-kauw memperoleh sebilah golok mustika dan sekarang kami mengumpulkan sahabat-sahabat di dunia Kangouw untuk menyaksikan golok tersebut.”
Cia Sun menengok ke hanglo yang apinya berkobar-kobar dan membakar sebilah golok berwarna hitam. Melihat api yang demikian hebat, namun golok itu sedikit pun tidak bergeming, ia tahu golok itu benar-benar senjata mustika. Dengan tindakan lebar ia mendekat lalu mengangsurkan tangan untuk mencekal gagang golok.
“Tahan!” bentak Siang Kim Peng.
Cia Sun menengok. “Mengapa?” tanyanya sambil tersenyum tawar.
“Golok itu milik agama kami,” jawabnya. “Sobat, kau hanya boleh melihat dari jauh dan tidak boleh mendekatinya“.
“Milikmu?” menegas Cia Sun. “Apakah golok itu dibuat olehmu atau dibeli olehmu?”
Siang Kim Peng tergagap, dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
“Pihakmu mengambil dari tangan orang lain, sekarang aku mengambil dari tangan kamu,” kata Cia Sun. “Hal itu cukup adil, mengapa tidak boleh?”
Kemudian ia kembali memutar badan dan mengangsurkan tangannya untuk mencekal gagang To-liong-to. Berbareng dengan suara berkerincing rantai, Siang Kim Peng mengeluarkan senjata semangka dari pinggangnya.
“Sahabat!” bentaknya. “Jika kau tidak meladeni maka terpaksa aku berlaku kurang sopan.“ Ia memberi peringatan, tapi sebenarnya berbareng dengan perkataannya itu ‘semangka’ yang di tangan kirinya sudah menyambar punggung Cia Sun.
Tanpa memutar badan atau menengok, Cia Sun menyodok ke belakang dengan toyanya. Benturan antara Long-gee-pang dan ’semangka’ menerbitkan suara yang sangat hebat dan semangka besi itu hancur menjadi tujuh delapan potong yang melesat ke sana sini. Hampir berbareng badan Siang Kim Peng bergoyang-goyang dan muntahkan darah, lalu dia roboh terguling tanpa beryawa lagi. Ternyata Siang Kim Peng sudah dibinasakan dengan tenaga Iweekang yang menyerang dari Long-gee-pang lewat semangka besi ke tubuhnya. Kalau orang tahu betapa tinggi kepandaian Siang Kim Peng, dapatlah dia membayangkan hebatnya Iweekang orang she Cia ini.
Lima Hio-cu Cu-ciak-tan mencelos hatinya. Serentak mereka melompat maju, dua menubruk pemimpin mereka, sedangkan tiga yang lain, tanpa mempedulikan apapun segera menghunus golok dan menerjang musuh. Setelah mengambil To-liong-to, dengan menggunakan Long-gee-pang Cia Sun menyontek hanglo besi itu yang lantas terbang ke atas lalu jatuh menghantam tubuh ketiga Hio-cu itu. Karena tenaganya belum habis, hanglo itu menggelinding terus menghantam pula dua Hio-cu yang sedang mencoba membangunkan Siang Kim Peng. Dalam sekejap pakaian lima Hio-cu dan mayat Siang Kim Peng berkobar-kobar. Empat Hio-cu mati di situ, sedangkan yang satu menjerit-jerit kesakitan. Siapakah yang tidak menjadi gentar melihat kejadian yang sangat hebat itu?
Meski pun masih berusia muda tetapi Cui San kenyang makan asam garam dunia Kangouw dan sudah pernah bertemu dengan banyak orang pandai. Tetapi manusia yang kepandaiannya setinggi Cia Sun, belum pemah ditemuinya. Diam-diam dia mengakui bahwa kepandaiannya masih kalah jauh. Dia mengakui bahwa di antara saudara-saudara seperguruannya tak satu pun yang dapat menandingi orang ini, bahkan Bu-tong Cit-hiap, tujuh pendekar Bu-tong, maju bersama belum tentu bisa memperoleh kemenangan. Menurut taksirannya, hanya gurunya seorang yang dapat meladeni Cia Sun.
Sementara itu dengan jarinya Cia Sun menyentil To-liong-to sehingga mengeluarkan suara aneh, seperti suara tersentuhnya emas tapi bukan emas, seperti kayu tapi bukan kayu. Ia manggut-manggut seraya berkata dengan suara perlahan,
“Tak ada suara, tak ada warna, Benar-benar golok mustika.”
Kemudian ia memandang sarung golok yang tergeletak di meja, dekat berdirinya Pek Kwie Siu.
“Apakah itu sarung To-liong-to?” tanyanya. “Bawa kemari!”
Pek Kwie Siu mengerti bahwa sepuluh sembilan jiwanya bakal melayang. Akan tetapi jika dia menurut dan menyerahkan sarung golok itu, maka habislah nama baiknya yang sudah dipertahankan puluhan tahun. Selain itu, jika di kemudian hari Kauwcu menyelidiki peristiwa tersebut, dia pasti akan binasa di tangan sang pemimpin. Namun di lain pihak, jika membangkang dia juga bakalan mati. Karena itu, sesudah berpikir sejenak dia lantas berkata,
“Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah! Aku she Pek bukan manusia yang takut mati.”
Cia Sun tersenyum. “Keras kepala! Manusia keras kepala!” katanya. “Dalam Peh-bie-kauw ternyata ada orang yang mempunyai nyali.“
Tiba-tiba dia mengayun tangan kirinya dan To-liong-to menyambar ke arah Pek Kwie Siu, Begitu golok menyambar, Pek Kwie Siu yang tidak berani menyambut lantas berkelit ke samping. Namun di luar dugaan, ketika mendekati meja tiba-tiba golok itu terbang rendah.
“Srok!”
Golok itu masuk tepat ke dalam sarungnya! Tetapi yang lebih aneh lagi, golok yang sudah bersarung itu terbang balik dan dengan sekali menyontek dengan Long-gee-pang, Cia Sun telah memegang lagi golok itu yang bersama-sama sarungnya lantas diselipkan di pinggangnya! Pertunjukan aneh itu, yang hanya dapat diperlihatkan seseorang yang Iweekang-nya sudah mencapai puncak kesempurnaan, benar-benar menakjubkan.
Sesudah itu, sambil menyapu para hadirin dengan matanya yang sangat tajam, ia berkata:
“Apakah tuan-tuan mempunyai pendapat lain mengenai keinginanku memiliki golok mustika ini?”
Sesudah ia mengulagi pertanyaannya dua kali, tiba-tiba orang yang duduk di meja Hay-see-pay bangkit berdiri dan berkata,
“Cia-cianpwe adalah seorang yang mulia dan tersohor di empat lautan. Golok mustika memang pantas dimiliki Cia-cianpwe dan kami sangat setuju.”
“Apakah tuan Cong-to-cu (pemimpin besar) dari Hay-see-pay yang bernama Goan Kong Po?” tanya Cia Sun.
“Benar,” jawabnya. Dia girang dan heran mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Cia Sun bisa mengenal she dan namanya?
“Apa kau tahu siapa guruku?” tanya pula Cia Sun. “Apa kau tahu aku berasal dari partai mana? Perbuatan mulia apa yang pernah dilakukan olehku?”
Goan Kong Po tergugu. “Aku... aku...“ jawabnya terputus-putus.
Sebenarnya dia tidak pernah mangenal Cia Sun dan kata-katanya yang barusan hanyalah untuk menyanjung.
“Sedangkan kau tidak mengenal aku, bagaimana kau tahu aku sangat mulia dan tersohor di empat lautan?” tanya Cia Sun dengan suara memandang rendah. “Golok ini dulu dimiliki Hay-see-pay, kemudian direbut oleh Tiang-pek Sam-kim dan akhirnya jatuh ke tangan Jie Thay Giam dari Bu-tong-pay...”
Mendengar ‘Jatuh ke tangan Jie Thay Giam dari Bu-tong-pay’ membuat jantung Cui Sin bergetar keras. Sekarang baru dia tahu bahwa golok itu ada sangkut paut dengan Samkonya.
Sementara itu Cia Sun bicara terus: “Dengan diam-diam turunkan tangan beracun, Peh-bie-kauw merampas golok ini dari tangan Jie Thay Giam. Huh! Huh! Sesudah merasa bahwa Hay-see-pay tidak mempunyai kesempatan untuk merebut To-liong-to, kau segera mengeluarkan kata merdu untuk menyanjungku. Kau adalah penjilat yang tidak mengenal malu dan selama hidupku, aku paling benci bangsa penjilat. Kemari!” Waktu mengucapkan kata-kata terakhir, suaranya nyaring bagaikan geledek dan menusuk kuping.
Goan Kong Po yang sudah hancur nyalinya tidak berani membangkang. Dengan tindakan limbung dia segera menghampiri dan ketika berhadapan dengan Cia Sun, sepasang kakinya tampak gemetaran.
Sementara itu hati Cui San berdebar dan darahnya bergolak. Waktu melirik In So So, dia mendapat kenyataan paras muka si nona pucat bagaikan kertas.
“Kalian, kawanan Hay-see-pay, sungguh kawanan si muka tebal!” Cia Sun mencaci pula. “Ilmu silat kalian hanyalah ilmu silat pasaran sedangkan modal kalian untuk mencelakakan manusia adalah garam beracun. Tahun yang lalu, di Gin-yauw kalian membinasakan Thio Teng In sekeluarga, tidak kurang dari sebelas orang melayang jiwanya. Tanggal satu bulan ini kalian juga telah membunuh Auwyang Ceng di Hay-bun.”
Goan Kong Po kaget tak kepalang. Ia sungguh tak mengerti bagaimana Cia Sun bisa tahu seluk beluk kedua pembunuhan itu yang dilakukan secara rahasia.
“Kenapa kau diam saja?” bentak Cia Sun. “Suruh orangmu membawa dua mangkok garam beracun kemari! Aku mau lihat bagaimana macamnya racunmu itu?”
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Hay-see-pay bahwa ke mana pun mereka pergi, pasti membekal garam beracun. Maka apa boleh buat, Goan Kong Po segera memerintahkan bawahannya membawa dua mangkok racun. Cia Sun menyambut dua mangkok itu yang lantas diendut-endus dengan hidungnya,
“Mari kita masing-masing makan semangkok!” katanya.
Goan Kong Po terkesiap, garam itu mengandung racun yang hebat bukan main, jangankan dimakan, menempel di badan manusia saja sudah cukup mengambil jiwa orang. Di lain saat Cia Sun menancapkan toyanya di tanah lalu satu tangan menyambar ke dagu Goan Kong Po yang begitu tersentuh, mulutnya lantas menganga dan tidak dapat ditutup lagi. Hampir berbareng ia mengangkat mangkok garam dan menuang semua isinya ke mulut orang!
Binasanya Thio Teng In bersama semua keluarganya di Gin-yauw dan terbunuh matinya Auwyang Ceng dalam sebuah hotel di Hay-bun merupakan sebuah teka-teki yang sangat mengherankan di rimba persilatan. Sekarang baru tahu bahwa kedua pembunuhan gelap itu dilakukan oleh orang-orang Hay-see-pay. Karena itu, melihat nasib yang dijalani Goan Kong Po, jago-jago yang berada di situ diam-diam merasa girang, Setelah mencekoki Goan Kong Po, sambil mengangkat mangkok garam yang satunya lagi Cia Sun berkata dengan suara nyaring,
“Aku she Cia selalu berlaku adil dan jujur. Kau sudah makan semangkok, aku pun akan makan semangkok.“ Dia menuang garam itu ke dalam mulut lalu menelannya. Perbuatan yang tak pernah diduga.
Orang yang paling kaget adalah Cui San. Sesudah memperhatikan paras muka Cia Sun, dia mendapat kenyataan meski pun sepak terjangnya amat ganas, tapi paras mukanya terlihat sinar kesedihan. Dengan mengingat bahwa jago yang telah dibinasakan olehnya adalah manusia-manusia jahat, maka dalam hati pemuda itu muncul rasa simpati. Demikianlah, begitu melihat Cia Sun menelan garam, tanpa terasa dia berteriak,
“Cia-cianpwe, manusia itu memang pantas mendapat hukuman mati. Perlu apa Cianpwe berbuat begitu?”
Cia Sun menengok dan mengawasi. Cui San tersenyum, paras mukanya sedikit tidak terlihat sinar ketakutan.
“Siapa tuan?” tanya Cia Sun.
“Boanpwe Thio Cui San dari Bu-tong,” jawabnya.
“Hm... Bu-tong Thio Ngo-hiap... apakah kau datang untuk merebut To-liong-to?” tanyanya pula.
Pemuda itu menggelengkan kepala seraya berkata, “Bukan. Kedatangan Boanpwe adalah untuk menyelidiki sebab musabab terlukanya Jie-samko. Kurasa Cianpwe banyak mengetahui tentang peristiwa itu dan aku mohon keterangan Cianpwe.”
Sebelum Cia Sun menjawab, Goan Kong Po mengeluarkan jeritan kesakitan kemudian roboh sambil memegang perutnya. Sesudah bergulingan beberapa kali di tanah, badannya tidak bergerak lagi dan rohnya berpulang ke alam baka.
“Cia Sian-seng, lekas minum obat!” teriak Cui San dengan bingung.
“Obat apa?!” bentaknya. “Ambilkan arak!”
Seorang pelayan dari Peh-bie-kauw lantas mengambil cawan dan poci arak.
“Mengapa Peh-bie-kauw begitu kikir?!” teriak Cia Sun. “Ambil poci yang paling besar!”
Dengan ter-gesa-gesa pelayan itu segera mengambil poci yang paling besar, lalu menaruhnya di hadapan Cia Sun. “Rupanya manusia ini kepingin mampus lebih cepat,” katanya dalam hati. Sambil tertawa Cia Sun mengangkat tempat arak itu. lalu menuangkan isinya ke mulut. Dalam sekejap arak yang beratnya kira-kira tiga puluh kati telah dituang kering. Ia mengelus-elus perutnya yang melembung besar den tertawa berkakakan. Tiba-tiba ia mendongak dan membuka mulutnya. Hampir berbareng, di luar dugaan ia menyemburkan arak yang lantas menyambar dada Pek Kwie Siu laksana sehelai sutera putih. Karena tidak ber-jaga, Pek Tan-cu terhuyung kemudian roboh karena dadanya seperti dipukul martil. Sesudah itu Cia Sun lalu menyemburkan arak itu ke atas yang kemudian jatuh seperti hujan gerimis sehingga membasahi muka semua orang.
Sejumlah orang yang Iweekang-nya masih cetek, yang tidak tahan dengan bau dan racun arak, lantas roboh dalam keadaan pingsan. Ternyata, dengan menggunakan Iweekang-nya yang sangat tinggi, lebih dulu Cia Sun mencuci racun garam di perutnya dengan arak yang kemudian disembur keluar sebagai arak beracun. Sedikit racun yang masih ketinggalan di perut lantas ditindih olehnya dengan menggunakan Iweekang.
Bek Keng Pangcu dari Kie-keng-pang marah bukan main dan mendadak ia melompat bangun. Tapi di lain detik ia ingat bahwa kepandaiannya masih jauh dari kepandaian orang itu sehingga perlahan-lahan ia duduk kembali sambil menahan amarah.
“Bek Pangcu,” kata Cia Sun seraya tertawa dingin. “Bukankah pada Go-gwee tahun ini di muara Sungai Bin-kiang kau telah membajak sebuah perahu dari Liauw-tong?”
Paras muka Bek Keng berubah pucat. “Benar,” jawabnya.
“Memang wajar. Sebagai bajak, kalau tidak membajak tentu kau tak bisa hidup,” kata pula Cia Sun. “Bahwa kau membajak, sangat bisa dimengerti olehku. Sedikit pun aku tidak menyalahkan kau. Tapi kenapa kau melemparkan beberapa puluh pedagang yang tidak berdosa ke laut dan memperkosa tujuh wanita hingga binasa? Apakah seorang gagah di dunia Kangouw boleh melakukan perbuatan yang terkutuk itu?”
Sekujur badan Bek Keng gemetar. “Itu... itu... perbuatan... perbuatan orang-orangku,” jawabnya terputus-putus. “Aku… aku sama sekali tidak ambil bagian.”
Cia Sun mengeluarkan suara dari hidung. “Huh! Enak benar kau menyangkal!” bentaknya. “Andai benar kau tidak ambil bagian, tapi kau sama sekali tidak mencegah orang-orangmu melakukan perbuatan yang betul-betul memalukan rimba persilatan, maka semua dosa harus kau tanggung sendiri. Perbuatan itu sama saja dilakukan olehmu sendiri. Sekarang aku bertanya: Pada hari itu siapa saja yang telah melakukan perbuatan terkutuk?”
Untuk menyelamatkan jiwanya sendiri, Bek Keng segera menghunus golok. “Coa Sie, Hoa Cong dan Ouw Liok! Pada hari itu kalian bertiga juga ikut ambil bagian!” Hampir berbareng, laksana kilat ia membacok tiga kali dan ketiga bajak itu lantas roboh tanpa bernyawa lagi.
“Bagus! Hanya sayangnya terlambat,” kata Cia Sun. “Jika hari itu kau menghukum mereka, tentu hari ini aku tidak akan turun tangan. Bek Pangcu, ilmu apa yang paling diandalkan olehmu?”
Melihat dia sudah tidak dapat meloloskan diri lagi, Bek Keng berkata dalam hatinya, “Bila bertanding di daratan, barang kali aku tidak mampu melawan dalam tiga jurus. Tapi di air adalah duniaku. Andai kalah, aku masih dapat melarikan diri. Tak mungkin ilmu berenangnya lebih lihay dari padaku.“ Berpikir begitu, dia lantas saja berkata,
“Aku ingin meminta pelajaran Cia-cianpwe dalam ilmu berkelahi di bawah air.”
“Baiklah, mari kita pergi ke tengah laut untuk menjajal kepandaian,” jawab Cia Sun sambil mengangguk. Tapi baru berjalan beberapa tindak, ia berhenti seraya berkata, “Tahan! Aku kuatir begitu aku pergi, orang-orang ini lantas kabur!”
Mendengar perkataan itu, semua orang menjadi terkejut. Apakah dia mau membinasakan semua orang? Bek Keng sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Segera dia berkata dengan tergesa-gesa.
“Biar pun di dalam air, aku bukan tandingan Cianpwe. Aku mohon pertandingan dibatalkan saja dan aku mengaku kalah.”
“Hm... kalau begitu aku tak usah banyak berabe,” kata Cia Sun. “Jika kau mengaku kalah, kau harus bunuh diri.”
Bek Keng terkesiap. Setelah berdiam sejenak, ia berkata dengan suara lampas (terdengar halus),
“Dalam... dalam pertempuran, kalah menang adalah kejadian biasa. Kenapa mesti bunuh diri?”
“Tak usah rewel!” Cia Sun membentak. “Manusia seperti kau ingin bertanding denganku? Kedatanganku hari ini adalah untuk menagih jiwa. Siapa pun yang pernah melakukan perbuatan jahat dan membunuh manusia tidak berdosa, tidak akan bisa lolos dari tanganku. Hanya karena aku kuatir kamu binasa penasaran, maka aku memberi kesempatan untuk mengeluarkan kepandaian yang paling lihay guna membela diri. Siapa yang dengan kepandaiannya dapat menangkan aku, aku akan mengampuni jiwanya.”
Kemudian dia membungkuk dan mengambil dua gumpal tanah liat yang lalu dibasahi dengan arak. Sesudah memulung gumpalan tanah itu menjadi dua bola bundar, dia segera berkata:
“Tinggi rendahnya kepandaian berenang dapat diukur dengan berapa lama dia mampu bertahan di bawah permukaan air. Sekarang begini saja. Dengan menggunakan tanah ini, aku dan kau menutup hidung dan mulut. Siapa yang lebih dulu tidak tahan, boleh mengorek tanah ini, tetapi dia harus bunuh diri.”
Tanpa bertanya lagi apakah Bek Keng setuju atau tidak, dia segera menutup hidung dan mulutnya dengan tanah liat itu, kemudian sekali menimpuk, bola tanah yang lain menutup hidung dan mulut Bek Keng. Melihat pertunjukan itu, semua orang merasa geli, tetapi tak satu pun yang berani tertawa. Sebelum jalan napasnya ditutup, Bek Keng sudah menarik napas dalam-dalam. Sesudah itu dia lantas bersila sambil menahan napas.
Dalam ilmu menahan napas, Bek Keng jauh lebih unggul dari pada manusia kebanyakan. Semenjak berusia tujuh delapan tahun, dia sering selulup di air untuk menangkap ikan dan kepiting. Dengan latihan yang terus menerus, semakin lama dia makin mengenal sifat air dan mampu bertahan di bawah permukaan air sampai kira-kira sepasangan hio. Maka itu, dalam pertandingan dia percaya bakal mendapat kemenangan.
Di lain pihak, Cia Sun tidak mencontoh perbuatan lawannya. Sebaliknya dari bersila atau duduk, dengan tindakan lebar dia menghampiri meja Sin-kun-bun kemudian dengan mata melotot menatap wajah Kwee Sam Kun, Ciang-bun-jin Sin-kun-bun. Diawasi begitu, orang she Kwee bangun bulu romanya. Buru-buru ia berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangannya.
“Cia-cianpwe, aku yang rendah Kwee Sam Kun dari Sin-kun-bun.”
Karena hidung dan mulutnya tertutup, Cia Sun tidak dapat bicara. Ia mencelup telunjuknya ke dalam cawan arak lalu menulis tiga huruf di atas meja. Begitu membaca tiga huruf itu, paras muka Kwee Sam Kun berubah pucat seperti kertas. Beberapa muridnya melirik huruf-huruf itu yang ternyata berbunyi ‘Cui Hui Yan’, yaitu nama seorang wanita, tetapi tidak tahu mengapa guru mereka menjadi begitu ketakutan.
Cui Hui Yan adalah puteri gurunya Kwee Sam Kun. Sesudah sang guru meninggal dunia, dia main gila dengan nona itu. Tetapi sesudah nona itu hamil, dia meninggalkannya begitu saja lalu masuk menjadi murid partai Sin-kun-bun. Karena malu dan marah, Hui Yan gantung diri hingga binasa. Karena keluarga Hui hanya tinggal Hui Yan seorang, maka urusan itu tak menjadi panjang dan kecuali Kwee Sam Kun sendiri, rahasia tersebut tidak diketahui oleh orang luar. Tapi di luar dugaan, sesudah lewat kurang lebih dua puluh tahun, Cia Sun telah menulis nama nona itu di atas meja.
Begitu melihat tiga huruf itu, Kwee Sam Kun segera berkata dalam hatinya, “Sesudah menangkan Bek Keng dan mencopot tanah liat yang menutup jalan napasnya, dia tentu akan mengumumkan perbuatannya. Paling baik aku menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan lebih dulu. Jika dia mengerahkan tenaga melawan aku, dia tentu akan kalah dalam pertandingan melawan Bek Keng.” Berpikir demikian, dia lantas berkata dengan suara nyaring,
“Aku yang rendah Ciang-bun-jin dari Sin-kun-bun. Kepandaianku yang paling kuandalkan adalah silat tangan kosong. Sekarang aku minta pelajaran darimu.”
Berbareng dengan kata-katanya, dia langsung mengirim tinju ke perut Cia Sun dan tinju pertama disusul tinju kedua. Nama ‘Sam Kun’ atau ‘Tiga tinju’ digunakannya adalah karena dia memiliki tinju yang luar biasa keras sehingga dengan sekali meninju saja dia dapat membinasakan seekor kerbau. Di kalangan Kangouw, ahli kelas pertengahan jarang ada yang sanggup melayani tiga tinjunya sehingga karenanya, dia terkenal dengan nama ‘Kwee Sam Kun’, sedangkan namanya yang asli tidak diketahui orang. Dua tinju yang dikirim dengan beruntun itu ditangkis oleh Cia Sun. Kwee Sam Kun merasa bahwa dalam menangkis pukulannya, Iweekang lawan tidak seberapa kuat dan berbeda jauh dengan Iweekang yang digunakan untuk membunuh Siang Kim Peng. Maka itu, sambil mengayun tinju ketiga dia pun membentak keras,
“Jagalah pukulan ketiga!”
Tinju yang sangat hebat itu diberi nama Hun-sauw-cian-kun (Menyapu laksaan serdadu) dan pukulan tersebut sudah pernah menjatuhkan banyak sekali jago-jago Kangouw.
Sementara itu, Bek Keng yang bersila sambil menahan napas rupanya sudah merasa tak tahan lagi. Muka dan kupingnya merah, sedangkan matanya berkunang-kunang.
Melihat keadaan ayahnya, Bek Siauw-pangcu menjadi kuatir bukan main. Maka itu, selagi Kwee Sam Kun menyerang dengan dua pukulan, cepat dia mencabut sebatang tusuk konde seorang Tocu wanita dari Kie-keng-pang. Dengan mengerahkan Iweekang di jari tangannya, dia mematahkan tangkai tusuk konde yang kemudian ditimpukkan ke mulut ayahnya. Walau pun tangkai tusuk konde itu dapat melukai mulut atau tenggorokan sang ayah, tapi tanah liat yang menutup jalanan napas akan berlubang sehingga sedikit banyak ayahnya mendapat udara segar.
Pada saat tangkai tusuk konde itu kira-kira setombak dari mulut Bek Keng, mata Cia Sun yang sangat tajam telah melihatnya. Tanpa menggerakkan tubuh dia menendang tanah dan sebutir batu kecil melesat ke atas, menyambar tangkai tusuk konde yang begitu terpukul langsung membalik. Tiba-tiba Bek Siauw-pangcu mengeluarkan teriakan kesakitan sambil menutup mata kanannya yang mengeluarkan darah. Ternyata tangkai tusuk konde itu menyambar tepat ke mata kanannya yang lantas saja menjadi buta.
Pada saat itulah tinju Kwee Sam Kun yang ke tiga menyambar perut Cia Sun. Sebelum sampai sasaran, pukulan yang sangat dahsyat itu mengeluarkan sambaran angin yang sangat tajam. Sam Kun menduga lawannya akan menangkis atau berkelit. Tapi tak dinyana Cia Sun tidak bergerak.
“Bukk!”
Kepalan itu tepat pada sasarannya. Perut adalah salah satu bagian tubuh manusia yang paling lemah dan tinju itu amblas. Tapi pada saat itu pula Kwee Sam Kun mencelos hatinya, tinjunya tersedot semacam tenaga seperti besi berani. Cepat-cepat dia mengerahkan Iweekang menarik kembali kepalannya, tapi sedikit pun tidak bergeming dan tinju itu melekat di perut musuh.
Dengan tenang Cia Sun mengangsurkan tangan kirinya ke pinggang lawan. Melihat guru mereka dalam bahaya, dua orang murid Sin-kun cepat melompat memberi pertolongan. Tetapi begitu diawasi Cia Sun dengan sorot mata setajam pisau, hati mereka keder dan tidak berani bergerak lagi.
Di lain saat Cia Sun meloloskan ikat pinggang Kwee Sam Kun yang lalu digunakan untuk melibat leher pecundang itu. Sesudah itu dia mengikat ujung ikat pinggang ke dahan pohon sehingga badan Kwee Sam Kun jadi tergantung. Kwee Sam Kun meronta-ronta. Tetapi semakin dia meronta, ikatan pada lehernya menjirat semakin erat. Beberapa saat kemudian di depan matanya terlihat bayangan Cui Hui Yang. Rasa takut dan menyesal bercampur aduk dalam hatinya. Dalam keadaan separuh sadar, kupingnya mendengar kata-kata,
“Jalan langit tidak pernah gagal. Perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat!”
Cia Sun menoleh dan melihat warna putih pada kedua mata Bek Keng, dia menghampiri, lalu mencopot tanah liat yang menutupi jalan napas lawan itu dan meraba-raba dadanya. Sesudah mendapat kepastian bahwa Pangcu Kie-keng-pang itu sudah tak bernyawa lagi, barulah dia mencopot tanah yang menutupi hidung dan mulutnya sendiri. Dia mendongak dan tertawa nyaring.
“Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang sangat jahat,” katanya. “Bahwa mereka baru binasa sekarang sesungguhnya sudah terlalu terlambat.“ Sehabis berkata begitu dia mengawasi kedua Kiam-kek muda dari Kun-lun-pay.
Paras muka Ko Cek Seng dan Chio Tauw pucat bagaikan kertas, tetapi mereka pun balas mengawasi tanpa mengunjuk rasa keder. Melihat cara bagaimana Cui San telah membinasakan dua orang pemimpin dari dua partai persilatan yang ternama, Cui San kaget bukan main dan sugguh-sungguh dia tidak dapat mengukur betapa tinggi kepandaian orang itu. Dan kini melihat Cia Sun mengawasi kedua Kiam-kek Kun-lun, dia merasa sangat kuatir akan keselamatan kedua orang muda itu. Buru-buru ia bangun berdiri sambil berkata:
“Cia-cianpwe, menurut katamu sendiri, orang-orang yang telah dibinasakan olehmu adalah manusia-manusia jahat yang patut dibunuh. Tetapi jika kau sendiri membunuh manusia secara sembarangan. maka kau pun tidak ada banyak bedanya dengan orang-orang yang dikatakan jahat olehmu.”
“Tidak banyak bedanya?” Cia Sun menegas sambil tertawa-tawa. “Kepandaianku tinggi, kepandaian mereka rendah. Yang kuat menjatuhkan yang lemah. Itulah perbedaannya.”
“Manusia bukan binatang dan manusia yang normal harus dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah,” kata pula Cui San. “Jika seorang menindih yang lemah hanya dengan mengandalkan kekuatannya, tanpa mempedulikan benar atau salah, maka orang itu tiada bedanya dengan binatang.”
Cia Sun tertawa berkakakan. “Apa benar di dalam dunia ini terdapat apa yang dinamakan salah atau benar?” tanyanya dengan nada mengejek. “Orang yang berkuasa pada jaman ini adalah bangsa Mongol. Mereka sering berbuat se-wenang2. Apakah dalam melakukan perbuatan2 itu mereka bersedia untuk membicarakan soal benar atau salah denganmu?”
“Memang benar, mereka tidak mempedulikan benar atau salah,” jawab Cui San. “Tetapi juga benar bahwa segenap pencinta negeri siang malam mengharap-harapkan datangnya kesempatan untuk mengusir kawanan penjajah itu.”
Cia Sun menyeringai, “Huh! Sekarang kita bicara saja mengenai orang-orang Han sendiri,” katanya. “Dulu, pada waktu orang Han duduk di atas tahta, apa dia menggubris soal benar atau salah dalam sepak terjangnya? Gak Hui adalah seorang menteri setia, tapi mengapa dia dibunuh oleh Song-ko-cong? Cin Kwee dan Kee Su To adalah menteri-menteri dorna, tapi mengapa mereka dapat memanjat kedudukan tinggi sehingga hidup dalam kemuliaan dan kemewahan?”
“Kaisar-Kaisar Lam-song (kerajaan Song Selatan) sudah menggunakan manusia-manusia pengkhianat dan membinasakan menteri-menteri setia, di antaranya Gak Hui, sehingga kerajaan roboh dan negeri jatuh ke dalam tangan bangsa lain,” kata Cui San. “Dalam hal ini dapatlah kita katakan bahwa Kaisar-Kaisar itu telah mendapat buah yang jahat karena menebarkan bibit kejahatan. Inilah kejadian yang membuktikan adanya perbedaan antara salah dan benar.”
Cia Sun tersenyum dan berkata dengan suara duka, “Thio Ngo-hiap, tadi kau mengatakan bahwa Kaisar-Kaisar itu telah mencicipi buah karena perbuatannya yang jahat dan kejam. Sekarang aku hendak bertanya: Apakah dosanya rakyat jelata sehingga mesti menderita terus menerus, mesti mengalami tindasan?”
Cui San tidak dapat menjawab, dia hanya menghela napas dengan paras muka suram.
“Rakyat terpaksa membiarkan dirinya disakiti karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan,” menyeletuk In So So. “Hal ini adalah hal yang lumrah di dalam dunia.”
“Itulah sebabnya mengapa kita orang-orang rimba persilatan sudah belajar silat,” sambung Cui San. “Tujuan kita yang utama adalah membela keadilan dan menolong manusia yang perlu ditolong. Cia-cianpwe adalah seorang enghiong yang jarang ada tandingannya, dan dengan memiliki ilmu yang amat tinggi itu maka Cianpwe bisa berbuat banyak sekali bagi umat manusia!”
“Apa bagusnya membela keadilan?” tanya Cia Sun sambil berjebi. “Apa perlunya membela keadilan?”
Cui San kaget tak kepalang. Semenjak kecil dia telah menerima didikan batin dari gurunya dan sebelum belajar silat dia sudah tahu pentingnya tugas membela keadilan. Dalam alam pikirannya, seorang yang belajar silat secara otomatis mempunyai tugas suci itu. Selama hidup, pertanyaan perlu apa membela keadilan belum pernah masuk ke dalam otaknya. Karena itu, mendengar perkataan Cia Sun, dia tercengang dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata. Beberapa saat kemudian barulah dia berkata,
“Membela keadilan, itulah jalan untuk menegakkan keadilan sehingga perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat.”
Cia Sun segera tertawa terbahak-bahak. “Omong kosong!” katanya dengan suara nyaring. “Perbuatan baik mendapat pembalasan baik, perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat! itu semua omong kosong belaka! Orang-orang Bu-tong-pay paling senang membaca kitab Cong-cu dan sebagai murid Bu-tong, kau tentu paham dengan isinya kitab itu.”
“Dalam kitab tersebut terdapat kata-kata yang seperti berikut: Dalam dunia ini, Kaisar Uy Tee dianggap sebagai manusia yang memiliki kedudukan paling tinggi. Tapi Uy Tee masih belum bisa menyempurnakan kemuliaannya. Dalam peperangan di lembah To Ok ia telah mengalirkan darah sampai ratusan li jauhnya. Kaisar Gouw tidak welas asih, Kaisar Sun tidak berbakti. Kaisar Ie berpandangan sempit. Kaisar Tong mengusir majikannya, Bu-ong menyerang Tiu, sedang Bu-ong menangkap Kiang Lie. Sepanjang sejarah, keenam Kaisar itu dianggap sebagai manusia-manusia yang paling mulia. Untuk kepentingan pribadi, ahli-ahli sejarah telah memutar balikkan kenyataan-kenyataan secara tidak mengenal malu.“
“Sekarang aku hendak bertanya, apa artinya perkataan2 itu? Uy Tee yang selalu dianggap sebagai seorang nabi masih bisa membunuh begitu banyaknya manusia dan mengalirkan darah sampai ratusan li. Apa bila dibandingkan dengan itu, apa artinya perbuatanku yang hanya membinasakan beberapa manusia saja dan mengalirkan darah yang jauhnya hanya beberapa tindak?”
Cui San tak pernah menduga bahwa manusia yang macamnya begitu menyeramkan dan sepak terjangnya begitu kejam ganas, dapat menghapal kitab-kitab kuno. Rasa kagumnya jadi semakin besar dan dia pun berkata dengan sikap menghormat,
“Cia-cianpwe, apa yang barusan dihapal olehmu adalah bagian To-tit-pian dari kitab Cong-cu, tetapi bagian itu dipalsukan orang, bukan ditulis oleh Cong-cu sendiri.”
“Andai kata benar bagian itu ditulis oleh orang lain, tetapi yang penting bukan penulisnya,“ kata Cia Sun. “Yang menjadi soal adalah: Apakah tulisan itu beralasan atau tidak?”
“Beralasan terang beralasan juga,“ jawab Cui San. “Tapi tulisan yang menyerang Kaisar-Kaisar jaman dahulu itu terlalu mencari-cari kesalahan orang dan menuntut kesempurnaan dalam diri manusia, sedangkan pada hakekatnya di dunia yang fana ini tidak ada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan.”
Cia Sun mengeluarkan suara di hidung. “Kau selalu mencari-cari alasan untuk membela orang-orang itu,” katanya. “Di dalam kitab Kit-bong-su terdapat tulisan seperti ini: Soan mengusir Giauw di Pang-yang. Ek dibunuh oleh Kit. Dalam kitab Siang-sie Tong-cek terdapat kata-kata: Tong mengusir Kiat di Lam-co dan perbuatan itu amat mengurangi kemuliaannya Nah, lihatlah! Bukankah kedua kitab terang2 mengunjuk bahwa Kaisar-Kaisar jaman dulu yang begitu dimuliakan sebenarnya tidak begitu mulia?”
Kembali Cui San bengong untuk beberapa saat. “Aku seorang yang berpengetahuan dangkal dan belum pernah membaca kitab-kitab itu,” katanya. “Tapi halnya Kaisar-Kaisar itu terjadi di jaman purba sehingga benar tidaknya tak dapat diketahui dengan pasti.”
“Baiklah. Kalau begitu, sekarang bicarakan saja kejadian-kejadian yang belakangan,” kata Cia Sun. “Tadi kau mengatakan bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat. Tapi kenyataannya tak selamanya begitu. Cong-cu berkata seperti berikut: Benda di luar selamanya belum dapat dipastikan. Maka itulah Liong Hong dibinasakan, Pie Kan binasa, Kie Cu jadi gila, Ok Lay meninggal dunia, Kiat dan Cu juga habis nyawanya. Orang yang menjadi raja selalu mengharapkan kesetiaan menteri-menterinya, tetapi menteri setia belum tentu dipercaya. Maka itulah Ngo Yan menceburkan dirinya di sungai, sedangkan Tiang Sie binasa di negeri Siok.”
“Itulah kata-kata yang ditulis oleh Cong-cu. Di samping itu kau tentu tahu bahwa Souw Cin telah berhasil mempersatukan enam negara, namun dia sendiri celaka. Kut Goan seorang menteri setia, tapi belakangan dia sampai membuang diri di sungai Bie-lo. Han Sin berjasa besar untuk negaranya, namun tak urung dia binasa di dalam penjara. Sekarang marilah tengok orang-orang peperangan. Tang Ngay berhasil merebut Siok-han, tapi akhirnya dia masuk kerangkeng. Atas bantuan Ngo Cu Sie, negeri Gouw menjagoi, tetapi Ngo Cu Sie sendiri didesak oleh rajanya sehingga dia mesti membunuh diri”.
“Han-ko-couw telah merebut dunia (Tiongkok) atas bantuan Han Sin, tetapi dia masih tega untuk membunuh Han Sin. Setelah mengalahkan Tio Cui di Liang-peng, Raja Cin berbalik membunuh Pek Kie. Dilihat dari contoh-contoh itu, siapa dapat berkata bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik?”
Cui San menghela napas panjang. Ia berduka karena mengingat bahwa di antara jenderal-jenderal ternama seperti Tang Ngay, Ngo Cu Sie, Han Sin, Pek Kie, Lie Kong, Man Wan dan lain-lain, banyak sekali yang menjadi korban Kaisar-Kaisar kejam.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Plokk!”
Sebatang piauw melompat keluar kira-kira satu tombak jauhnya lalu menghantam dinding gubuk perahu, disusul dengan mancurnya darah hitam dari lubang luka. Kini lengan yang hitam itu perlahan-lahan berubah merah. Sesaat kemudian, piauw kedua melompat keluar. Selagi Cui San mengempos semangat untuk mengeluarkan piauw yang terakhir, tiba-tiba terdengar seruan orang,
“Hei! Apa In-kouwnio ada di situ?”
Cui San heran, tapi karena sedang mengerahkan tenaga maka dia tidak menggubris.
“Siang Tan-cu, lekaslah kemari!” demikian terdengar teriakan si tukang perahu. “Ada orang jahat mau menganiaya In-kouwnio.”
“Bangsat! Jangan kurang ajar!” demikianlah terdengar teriakan menggeledek dari sebuah perahu yang mendekat dengan cepat.
In So So membuka matanya dan tersenyum dengan paras seperti orang ingin minta maaf untuk salah mengerti itu. Piauw yang ketiga ternyata masuk dalam sekali di daging si nona sehingga biar pun sudah tiga kali menggunakan seantero tenaga dalamnya, senjata rahasia itu belum juga bisa didesak keluar. Sementara itu setelah terdengar suara dayung memukul air, sebuah perahu datang dekat sekali. Sesaat kemudian perahu si nona bergoyang sedikit karena hinggapnya kaki manusia di papan perahu. Tanpa menengok Cui San terus mengempos semangat.
Dengan langkah lebar orang itu masuk ke gubuk perahu. Melihat kedua tangan Thio Ngo-hiap memegang lengan kiri si nona, tentu saja dia tidak menduga bahwa pemuda itu sedang mengobati luka In So So. Dengan kemarahan meluap dia mengangkat tangannya menghantam punggung Cui San.
“Bangsat! Lepaskan!” bentaknya.
Cui San tidak menangkis. Sambil menarik napas dia pasang punggungnya.
“Bukk!” pukulan itu kena tepat pada sasarannya.
Sebagai murid utama dari Bu-tong-pay, tentu saja Iweekang Thio Cui San sudah mencapai tingkat tinggi dan dia juga memiliki kepandaian luar biasa. Demikianlah, dengan menggunakan ilmu ‘meminjam tenaga memindahkan tenaga’, tanpa bergerak dia memindahkan tenaga pukulan itu ke telapak tangannya sendiri.
“Plokk!”
Bwee-hoa-piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So dan menancap di papan gubuk perahu! Pada saat itu orang yang menyerang mengirim pukulan kedua. Dia terkesiap melihat akibat pukulannya yang pertama sehingga tangannya yang tengah menyambar berhenti di tengah udara.
“In-kouwnio...! Kau... apakah kau terluka?” teriaknya.
Si nona tidak menyahut. Sebagai seorang jago yang berpengalaman, begitu melihat darah hitam yang mancur dari lengan si nona, orang itu mengerti bahwa dia sudah berbuat kekhilafan. Dia merasa sangat menyesal dan menduga Thio Cui San mendapat luka berat karena pukulannya tadi hebat luar biasa. Buru-buru dia merogoh saku dan mengeluarkan obat untuk diberikan kepada pemuda itu. Cui San menggelengkan kepala. Setelah melihat darah hitam berubah merah, per-lahan ia melepaskan lengan si nona. Ia menengok dan berkata sambil tertawa,
“Tenaga pukulanmu sungguh tidak kecil.”
Orang itu kaget bukan kepalang. Dengan pukulan serupa itu, entah sudah berapa banyak jago binasa dalam tangannya. Sungguh heran, pemuda itu seperti juga tidak merasakan apa pun. Ia mengawasi dengan mulut ternganga dan berkata dengan suara ter-putus-putus.
“Kau... kau...“ Ia mengangsurkan tiga jari lalu ditempelkan ke Cui San.
“Biarlah aku main-main sedikit dengannya,” pikir pemuda itu.
Dia segera mengerahkan Iweekang sehingga jantungnya berhenti berdenyut. Inilah semacam kepandaian yang hanya dimiliki seorang yang Iweekang-nya sudah mencapai puncak tertinggi. Begitu menyentuh nadi Cui San, paras muka orang itu berubah pucat karena nadi itu tidak berdetik lagi. Dalam kagetnya ia meraba dada pemuda itu dan hatinya mencelos sehingga ia melompat ke belakang sambil mengeluarkan seruan tertahan.
“In-kouwnio, apakah tuan ini sahabatmu?” tanya Cui San sambil tersenyum. “Mengapa kau tidak memperkenalkan kepadaku?” Sambil berkata begitu ia menyambut sapu tangan yang disodorkan oleh In So So lalu membalut luka di lengan nona itu.
Mendengar suara Cui San yang tidak berubah sedikit pun, keheranan orang itu tidak mungkin dilukiskan lagi. “Siang Tan-cu, kau tak boleh kurang ajar!” membentak si nona. “Ini Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay.”
Orang itu buru-buru memberi hormat dan berkata dengan suara kagum. “Aha. Kalau begitu Thio Ngo-hiap dari Bu-tong Cit-hiap! Tak heran jika Iweekang-nya sedemikian tinggi. Aku yang rendah Siang Kim Peng mohon maaf untuk kekurang-ajaranku.”
Cui San mengawasi orang itu yang berusia kurang lebih lima puluh tahun. Mukanya penuh bopeng dengan otot-otot yang menonjol keluar, dan telapak tangannya lebar seperti kipas sehingga selintas saja dapat diketahui bahwa orang she Siang itu adalah seorang ahli silat Gwa-kee. Ia mengerti jika Iweekang-nya belum sempurna benar maka pukulannya tadi sudah pasti akan mengambil jiwanya sendiri.
Setelah memberi hormat kepada pemuda itu, Siang Kim Peng lalu menjalankan peradatan di hadapan In So So yang menerimanya dengan sikap acuh tak acuh.
Cui San menjadi amat heran. Dari pukulan Siang Kim Peng, ia tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang. Tapi mengapa In So So berani bersikap begitu kurang ajar terhadapnya dan dia juga kelihatannya menerima baik sikap dari si nona.
Di lain saat Siang Kim Peng berkata dengan suara pelan, “Hian-bu-tan Pek Tan-cu sudah menjanjikan orang-orang dari Hay-see-pay, Kie-keng-pang dan Hok-kian Sin-kun-bun untuk besok pagi mengadakan pertemuan di pulau Ong-poan-san di muara sungai Cian-tong-kang, guna mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Jika kesehatan nona agak terganggu, biarlah Siauw-jin lebih dahulu mengantarkan nona pulang ke Lim-an. Menurut pendapatku, Pek Tan-cu sudah lebih dari pada cukup untuk membereskan segala urusan di Ong-poan-san.”
So So mengeluarkan suara di hidung. “Hay-see-pay, Kie-keng-pang, Sin-kun-bun... Hm... Apakah Ciang-bun-jin Hoa-kun-bun Kwee Sam Kun turut datang juga?” tanyanya.
“Ya. Kudengar ia akan datang sendiri dengan mengajak dua belas murid utamanya,” jawabnya.
Si nona tertawa dingin. “Meski pun nama Kwee Sam Kun amat cemerlang, tapi dia bukan tandingan Pek Tan-cu,” katanya. “Siapa lagi yang bakal turut serta?”
Sesudah berdiam sejenak, barulah Siang Kim Peng menjawab, “Menurut warta, dua orang Kiam-kek (ahli silat pedang) muda dari Kun-lun-pay juga akan menghadiri pertemuan itu untuk... melihat To... To...“ Ia melirik Thio Cui San dan tidak meneruskan perkataannya.
“Mereka mengatakan mau melihat-lihat To-liong-to?” tanya So So. “Hm... setelah melihat mungkin dalam hati mereka akan timbul rasa serakah...”
Mendengar perkataan ‘To-liong-to’, Cui San terkejut, tetapi sebelum dia keburu membuka mulut untuk menanyakan terlebih jauh, si nona berkata pula,
“Hm, selama beberapa tahun ini, di rimba persilatan, gelombang Tiang-kang yang di sebelah belakang sudah mendorong gelombang di sebelah depan. Orang Kun-lun-pay tidak dapat dipandang enteng. Begini saja. Luka di lenganku ini tidak berarti. Aku akan turut pergi ke sana untuk menonton keramaian. Mungkin sekali aku perlu memberi bantuan kepada Pek Tan-cu.“ Ia berpaling kepada Thio Cui San lalu menyambung perkataannya, “Thio Ngo-hiap, di sini saja kita berpisah. Aku menumpang di perahu Siang Tan-cu dan kau sendiri boleh menggunakan perahuku untuk kembali ke Lim-an. Jangan sampai Bu-tong-pay kerembet dalam urusan ini.”
“Terlukanya Samko agaknya bersangkut paut dengan To-liong-to,” kata Cui San. “Apakah nona dapat memberi keterangan lebih jelas mengenai hal itu?”
“Seluk beluk kejadian itu tidak diketahui jelas olehku.“ jawabnya. “Kau harus tanya Samko-mu sendiri.”
Cui San mengerti bahwa So So sungkan memberi keterangan, karena itu dia pun tak mau mendesak lagi.
“Orang yang melukai Samko benar-benar ingin memiliki To-liong-to,” katanya dalam hati. “Menurut Siang Tan-cu, pertemuan di Ong-poan-san adalah untuk mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Apakah bisa jadi To-liong-to berada di tangan mereka? Apa bila benar begitu, orang-orang yang mencelakakan Samko tentu turut datang juga ke pulau itu.”
Berpikir begitu, ia lantas bertanya, “Apakah Tosu yang menyerang kau dengan Bwee-hoa-piauw akan turut datang di pulau itu?”
Sebaliknya dari menjawab pertanyaan orang, So So malahan tertawa. Dia balas bertanya,
“Kau pun ingin menonton keramaian, bukan? Baiklah! Kita pergi ber-sama.“ Ia menengok kepada Siang Kim Peng dan berkata pula, “Siang Tan-cu, perahumu jalan duluan.”
“Baiklah,” jawabnya sambil membungkuk lalu berjalan pergi, seperti seorang pegawai terhadap majikannya. Si nona hanya mengangguk sedikit, tapi Cui San yang menghargai ilmu silatnya orang itu sudah mengantarkannya sampai di pintu gubuk perahu.
Sesudah itu So So menggapai jurumudi seraya membentak, “Kemari kau!”
Paras muka si tukang perahu berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Ia tahu bahwa tadi ia sudah berbuat kesalahan dengan teriakan-teriakannya dan sekarang ia akan mendapat hukuman. Dengan bibir gemetar, ia berkata:
“Siauw... siauw-jin tidak sengaja... Mohon... mohon Kouwnio sudi mengampuni...”
Si nona tidak menjawab sehingga ia jadi lebih ketakutan dan dengan sorot mata memohon pertolongan, ia mengawasi Cui San yang merasa sangat tidak mengerti akan sikapnya itu. Bahwa jurumudi tersebut sudah berteriak-teriak meminta pertolongan Siang Kim Peng, itu adalah karena salah mengerti, karena ia menduga Cui San hendak mencelakakan So So. Tapi teriakannya adalah karena kesetiaannya terhadap si nona. Lalu mengapa ia begitu ketakutan?
Di lain saat si nona berkata dengan suara kaku, “Matamu tidak ada bijinya, kupingmu tuli. Perlu apa kau mempunyai mata dan kuping?”
Mendengar omelan itu, paras muka si jurumudi berubah girang, sebab ia tahu si nona sudah mengampuni jiwanya. Buru-buru dia menekuk lutut seraya berkata,
“Banyak terima kasih untuk kemurahan hati nona!” Hampir berbareng dia meraba pinggangnya dan menghunus sebilah pisau yang lalu digunakan untuk memotong kedua kupingnya. Setelah itu ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi ditujukan ke arah matanya!
Bukan main kagetnya Cui San. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan dua jemarinya menjepit pisau itu yang sedang meluncur turun ke mata si jurumudi.
“In-kouwnio,” katanya. “Dengan memberanikan hati, aku mohon belas kasihanmu.”
So So memandang ke arah pemuda itu, lalu berkata dengan suara perlahan, “Baiklah.“ Ia menengok pada si tukang perahu kemudian menyambung perkataannya, “Lekas haturkan terima kasih kepada Thio Ngo-hiap!”
Dengan tersipu-sipu dia segera menekuk lutut sambil berulang kali manggut-manggutkan kepalanya di hadapan Cui San, kemudian berlutut lagi di hadapan So So. Sesudah itu dia mundur ke belakang dan dengan suara nyaring memerintahkan kepada anak buah perahu untuk menaikkan layar.
Sementara itu Cui San berdiri membelakang So So sambil mengawasi air yang luas tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di dalam hati dia merasa heran, bagaimana seorang wanita yang berparas begitu cantik mempunyai tangan begitu kejam.
So So melirik pemuda itu dan melihat pakaiannya yang pecah di bagian punggung karena pukulan Siang Kim Peng. Dia segera berkata,
“Buka pakaianmu. Mau aku tambal.”
“Tidak usah!” kata Cui San.
“Kau kira aku tidak bisa menjahit?” tanya si nona.
“Bukan begitu,” kata pemuda itu dengan suara pendek dan matanya tetap memandang ke tempat jauh.
Di dalam hati dia ingat kebinasaan yang sangat menyedihkan dari orang-orang Liong-bun Piauw-kiok. Tapi sebaliknya dari pada membunuh manusia yang begitu kejam, dia malah menolongnya dengan mengeluarkan piauw beracun. Meski pertolongan itu adalah untuk membalas budi orang yang sudah membantu Suheng-nya, tetapi sepak terjangnya tetap tidak dapat dibenarkan dan dia merasa bahwa dalam tindakannya itu dia tidak bisa membedakan yang jahat dan yang baik. Diam-diam dia sudah mengambil keputusan bahwa begitu pertemuan di pulau Ong-poan-san selesai, maka secepatnya dia akan berpisah dengan nona itu untuk selama-lamanya.
Melihat paras muka Cui San yang suram, So So dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia tertawa dingin dan berkata:
“Bukan saja Touw Tay Kim, Ciok dan Su Piauw-tauw, bukan saja semua orang dari Liong-bun Piauw-kiok dan dua pendeta Siauw-lim itu, tapi Hui-hong pun dibunuh olehku.”
“Aku memang sudah mencurigai kau, hanya saja aku tidak tahu dengan cara bagaimana kau membunuh dia?” kata Cui San.
“Tak usah heran,” kata si nona. “Waktu itu aku berendam dalam air dan mendengarkan pembicaraan kalian. Setelah didesak olehmu, tiba-tiba Hui-hong merasa bahwa muka kita memang berbeda, tapi sebelum dia keburu mengaku, aku mendahului melepaskan sebatang jarum ke mulutnya. Kau mencoba mencariku di gerombolan pohon dan rumput-rumput tinggi, tapi aku sendiri enak-enakan berendam di air.”
“Hmm, sebagai akibat dari perbuatanmu itu, pihak Siauw-lim menuduhku,” kata Cui San dengan mendongkol. “In-kouwnio, kau sungguh pintar dan tanganmu benar-benar lihay.”
So So berlagak pilon. Dia bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk, “Terima kasih, Thio Ngo-hiap memuji aku terlalu tinggi.”
Cui San menjadi bertambah marah. “In-kouwnio!” bentaknya. “Aku seorang she Thio belum pernah berbuat kesalahan apa pun juga kepadamu. Tapi mengapa kau begitu tega mencelakaiku?”
So So tersenyum. “Aku bukannya ingin mencelakakan kau,” katanya dengan suara tenang “Mengapa aku berbuat begitu? Siauw-lim dan Bu-tong adalah dua partai persilatan yang sangat besar dan ternama. Aku hanya ingin mereka bertempur untuk menyaksikan siapa sebenarnya yang lebih kuat.”
Cui San terkejut mendengar pengakuan si nona. Sedikit pun ia tak nyana wanita cantik itu mempunyai tujuan yang demikian hebat. “Kalau Siauw-lim dan Bu-tong bertempur, entah berapa banyak korban yang akan roboh. Kejadian itu bakal merupakan suatu peristiwa hebat di rimba persilatan,” pikirnya. Paras si nona sendiri tetap berseri-seri dan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, dia berkata:
“Thio Ngo-hiap, bolehkah kulihat tulisan dan lukisan di kipasmu?”
Sebelum Cui San keburu menjawab, dari perahu Siang Kim Peng se-konyong-konyong terdengar suara teriakan,
“Apakah itu perahu Kie-keng-pang?! Siapa yang berada di perahu?!”
“Siauw-pangcu dari Kie-keng-pang ingin menghadiri pertemuan di pulau Ong-poan-san.”
“In-kouwnio dan Cu-ciak-tan Siang Tan-cu berada di sini!” teriak seseorang dari perahu Siang Kim peng. “Harap kalian mengikuti saja dari belakang.”
“Jika Peh-bie-kauw In-kauwcu sendiri yang berada di situ, kami bersedia mengalah!” jawab seseorang dengan suara keras. “Kalau orang lain, maaf saja.”
Mendengar perkataan ‘Peh-bie-kauw In-kauwcu’, Cui San kaget, karena dia belum pernah mendengar nama agama (kauw) itu, baik dari gurunya mau pun dari luaran. Dia melongok keluar jendela dan dilihatnya sebelah kanan terdapat sebuah perahu yang bentuknya menyerupai seekor ikan paus. Di kepala perahu terlihat sinar putih yang berkilau-kilauan karena dipasangnya berpuluh-puluh pisau sebagai gigi ikan, sedang badan perahu yang melengkung dan buntutnya yang mengacung ke atas berbentuk seperti buntut ikan paus. Layar perahu sangat lebar dan jalannya lebih cerat dari pada perahu Siang Kim Peng.
Kie-keng-pang (Partai Ikan Paus Raksasa) adalah sebuah perkumpulan bajak laut yang berkeliaran di sepanjang pantai propinsi Kangsouw, Ciatkang dan Hokkian. Mereka membajak, membunuh dan melakukan perbuatan lain yang terkutuk, tapi sebegitu jauh, karena licinnya belum dapat ditumpas oleh angkatan laut negeri sehingga selama puluhan tahun malang melintang di perairan lautan Tong-hay.
Siang Kim Peng segera maju dan berdiri di kepala perahu. “Bek Siauw-pangcu!” teriaknya. “In-kouwnio berada di sini. Apakah kau sungkan memberi sedikit muka kepada kami?”
Dari gubuk perahu Kie-keng-pang muncul seorang pemuda yang mengenakan pakaian warna kuning. Ia tertawa dingin seraya berkata,
“Di daratan Peh-bie-kauw boleh menjagoi, tapi di air Kie-keng-pang yang memegang kekuasaan. Mengapa kami mesti mengalah dan membuntuti kamu dari belakang?”
Mendengar pembicaraan mereka, Cui San merasa bahwa cara-cara Peh-bie-kauw itu terlalu sombong. Sementara itu anak buah Kie-keng-pang sudah menaikkan sebuah layar lagi sehingga jalannya perahu menjadi semakin laju, dengan begitu sukar dapat diuber lagi. Siang Kim Peng mengeluarkan suara di hidung.
“Kie-keng-pang... hm... To-liong-to... juga To-liong-to...“ demikian terdengar perkataannya.
Karena suara angin yang menderu-deru dan jarak antara kedua perahu sudah agak jauh, maka Bek Siauw-pangcu hanya dapat menangkap ‘To-liong-to’. Dia nampak terkejut dan buru-buru memerintahkan anak buahnya memperlambat jalan perahu. Beberapa saat kemudian perahu Siang Kim Peng sudah mendekati.
“Siang Tan-cu, apa kau kata?” tanya pemuda itu.
“Bek Siauw-pangcu, Hian-bun-tan Pek Tan-cu kami... golok To-liong-to itu...“ jawab Siang Kim Peng.
Cui San merasa heran karena terputus-putusnya jawaban Siang Kim Peng. Sementara itu kedua perahu semakin dekat. Tiba-tiba saja terdengar suara gedubrakan disusul dengan teriakan orang. Ternyata di luar dugaan semua orang, mendadak Siang Kim Peng mengangkat jangkar lalu melontarkannya ke perahu Kie-keng-pang. Bunyi rantai dan mencangkolnya jangkar di perahu Kie-keng-pang dibarengi dengan jeritan kesakitan karena ada dua orang anak buah perahu yang tertimpa jangkar.
“Hai! Apa kau gila?!” bentak Bek Siauw-pangcu.
Anak buah Siang Kim Peng mengangkat sebuah jangkar lain yang lalu dilemparkan lagi ke perahu Kie-keng-pang dan dua buab jangkar itu telah mengambil jiwa tiga orang anak buah. Di lain saat kedua perahu hampir berdempetan. Bek Siauw-pangcu melompat ke pinggir perahu dan coba mengangkat salah satu jangkar. Tapi sebelum ia berhasil, Siang Kim Peng sudah mengayun tangan kanannya dan benda warna biru yang menyerupai buah semangka menghantam tiang layar tengah.
Benda itu terbuat dari baja, adalah salah sebuah dari sepasang senjata Siang Kim Peng yang berantai emas dan digunakan sebagai bandringan. ‘Semangka’ itu adalah senjata berat yang dipegang di tangan kiri dan beratnya sembilan puluh lima kati, sedang yang di tangan kanan beratnya seratus lima kati. Dari situ dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga orang she Siang. Jika tidak memiliki tenaga ribuan kati, dia pasti tidak akan dapat menggunakan senjata seberat itu. Begitu dihantam dengan ‘semangka’ kanan, tiang layar itu bergoyang-goyang. ‘Semangka’ kiri menyusul dan disusul pula dengan ‘semangka’ kanan.
“Krek...! Krek...! Krek...! Brakk!”
Tiang yang besar itu tidak tahan kemudian patah. Keadaan jadi lebih kalut karena anak-anak buah Kie-keng-pang berteriak-teriak sambil menghunus senjata. Tanpa mempedulikan segala kekacauan itu Siang Kim Peng cepat melompat ke belakang perahu itu dan menghantam tiang layar belakang. Tiang itu lebih kecil dan sekali hajar, lantas ambruk.
Sesungguhnya Bek Siauw-pangcu mempunyai kepandaian tinggi. Senjatanya dinamakan Hun-sun Go-bi-cek, sepasang pusut (jarum penusuk) yang panjangnya kira-kira satu kaki dan sangat cocok untuk digunakan dalam pertempuran dalam air. Tapi dalam kaget dan bingungnya, sebelum dia berbuat sesuatu, Siang Kim Peng yang bergerak cepat luar biasa itu sudah mematahkan dua tiang layarnya.
“Dengan adanya Peh-bie-kauw, di atas air pun Kie-keng-pang tidak memiliki kekuasaan,” orang she Siang itu berteriak sambil melontarkan sebuah ‘semangka’ ke lambung perahu musuh yang lantas saja berlubang besar sehingga air pun segera mengalir masuk. Anak buah Kie-keng-pang semakin bingung.
Dengan mata merah Bek Siauw-pangcu mencabut pusutnya. Dengan sekali menotol kaki di papan perahu, badannya melesat ke perahu musuh. Selagi tubuh pemuda itu berada di tengah udara, mendadak Siang Kim Peng melontarkan senjatanya ke muka pemuda itu. Serangan yang dikirim mendadak dan kejam itu sangat mengejutkan hati Bek Siauw-pangcu.
“Celaka!” teriaknya sambil menotok ‘semangka’ itu dengan kedua pusutnya dalam usaha melompat balik dengan meminjam tenaga tersebut.
Jika ilmu mengentengkan tubuhnya memiliki tingkat yang sama dengan ilmu Thio Cui San, bukan saja ia akan dapat mengelakkan serangan itu, tetapi ia juga bisa balas menyerang. Tapi dalam segala hal dia masih kalah jauh dari jago Bu-tong-pay itu. ‘Semangka’ yang beratnya seratus kati, ditambah dengan tenaga Siang Kim Peng sendiri, masih terlalu hebat untuk dilawannya. Tiba-tiba dia merasa dadanya menyesak, matanya berkunang-kunang dan tanpa ampun dia pun roboh terguling di atas perahunya.
Begitu melihat lawannya roboh, Siang Kim Peng segera menghantam lagi dengan kedua ‘semangka’ dan badan perahu Kie-keng-pang berlubang di beberapa tempat. Sesudah itu, sambil mengerahkan Iweekang dia lalu menarik pulang kedua jangkar yang mencantol di perahu musuh. Tanpa diperintah lagi oleh Tan-cu mereka, anak buah perahu Peh-bie-kauw segera menaikkan layar dan perahu itu perlahan-lahan mulai bergerak, tetapi sebentar kemudian melaju ke depan dengan amat cepatnya.
Melihat cara Siang Kim Peng merobohkan musuh, jantung Thio Cui San berdebar keras, “Jika tidak mempunyai kepandaian meminjam tenaga memindahkan tenaga, tadi aku tentu sudah binasa di tangannya,” pikirnya. Dia melirik In So So yang bersikap tenang-tenang saja, seolah-olah tidak terjadi kejadian luar biasa. Tiba-tiba di sebelah kejauhan terdengar suara guruh. Itulah tanda bahwa air pasang menghampiri. Biar pun anak buah Kie-keng-pang pandai berenang, akan tetapi tak mungkin mereka mampu melawan gelombang pasang yang seperti gunung. Bahaya yang dihadapi mereka lebih besar lagi, karena waktu itu mereka berada di muara tempat bertemunya sungai dan lautan sehingga lebar permukaan sungai sampai puluhan li.
Maka itulah, begitu mendengar guruh, anak-anak Kie-keng-pang ketakutan setengah mati dan berteriak-teriak minta pertolongan. Tetapi perahu Siang Kim Peng dan In So So tidak meladeni dan terus berlayar ke jurusan timur. Thio Cui San melongok keluar jendela dan melihat perahu ikan paus itu tenggelam separuh. Mendengar teriakan-teriakan anak buah perahu, sebenarnya dia merasa sangat tidak tega. Tapi karena mengetahui bahwa Siang Kim Peng dan In So So adalah manusia-manusia kejam, dia merasa tak ada gunanya membuka mulut. Melihat paras pemuda itu, si nona tersenyum. Mendadak dia berseru,
“Siang Tan-cu, hati Thio Ngo-hiap sangat mulia. Tolonglah anak buah perahu Kie-keng-pang!”
Cui San terkejut, sebab hal itu benar-benar di luar dugaannya.
“Baik!” teriak Siang Kim Peng. Di lain saat perahunya membelok kemudian menuju ke perahu Kie-keng-pang. “Anggota-anggota Kie-keng-pang, dengarlah!” teriak Siang Kim Peng, ”Atas permintaan Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay, kami bersedia menolong jiwamu. Siapa yang mau hidup, berenanglah kemari!”
Anak buah Kie-keng-pang menjadi girang dan berenang ke arah perahu Siang Kim Peng yang meluncur memapaki mereka. Dalam tempo tidak berapa lama, hampir semua orang termasuk juga Bek Siauw-pangcu, dapat ditolong. Tapi biar pun begitu, ada enam tujuh orang yang mati dipukul ombak.
“Terima kasih untuk pertolonganmu!” kata Cui San.
Si nona mengeluarkan suara di hidung dan berkata dengan suara tawar: “Orang-orang itu adalah bajak yang biasa merampok dan membunuh, perlu apa kau menolong mereka?”
Cui San lantas tergugu, dia tidak dapat menjawab pertanyaan si nona. Memang dia sudah mendengar bahwa Kie-keng-pang adalah salah satu dari empat ‘pang’ yang jahat dan dia pun tak pernah menduga bahwa hari ini dia menolong kawanan bajak yang kejam itu.
“Kalau mereka tidak ditolong, hati Thio Ngo-hiap pasti akan mencaci maki aku,” berkata pula si nona. “Kau tentu akan mencaci aku sebagai perempuan kejam yang tidak pantas ditolong.”
Perkataan itu mengena jitu di hati Cui San sehingga paras muka pemuda itu berubah merah.
“Kau memang pandai bicara dan aku tidak sanggup menandingi,” katanya sambil tertawa. “Dengan menolong orang-orang itu, kau sudah melakukan perbuatan baik dan kau sendirilah yang akan mendapat pembalasan baik, sedikit pun tidak ada sangkut pautnya denganku.”
Baru saja dia berkata begitu, datanglah gelombang pasang. Perahu In So So seperti juga dilontarkan ke atas sehingga mereka pun tidak dapat bicara lagi. Cui San melongok keluar jendela dan ia melihat gelombang-gelombang besar dalam bentuk seperti tembok-tembok tinggi datang saling susul. Ia langsung bergidik karena mengingat bahwa jika tidak ditolong maka semua anak buah perahu Kie-keng-pang pasti binasa dalam air.
Mendadak si nona bangun berdiri, lalu masuk ke gubuk perahu sebelah bekakang dan menutup pintu. Beberapa saat kemudian dia keluar lagi dengan mengenakan pakaian wanita dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya supaya Cui San membuka jubah luarnya.
Karena merasa kurang enak untuk menolak lagi, dia membuka jubahnya. Ia menduga si nona ingin menambal bagian yang berlubang dari jubah itu. Tapi tak dinyana, So So lalu mengangsurkan jubahnya sendiri yang tadi dipakai olehnya, sedangkan jubah Cui San dibawanya ke gubuk belakang. Mau tidak mau Cui San terpaksa memakai juga. Karena jubah luar biasanya dibuat dalam ukuran besar, maka meski pun tubuh pemuda itu lebih besar dari pada badan si nona, dia masih dapat menggunakannya. Di lain saat jantungnya memukul keras karena hidungnya mengendus bebauan yang sedap dan wangi. Ia merasa jengah dan tidak berani lagi memandang si nona. Karenanya matanya ditujukan kepada lukisan-lukisan yang dipasang didinding gubuk, tapi hatinya tetap berdebar-debar.
In So So pun tidak mengajaknya bicara lagi. Dia duduk diam sambil mendengarkan suara gelombang. Dalam gubuk ini dipasang sebatang lilin. Mendadak sebagai akibat hantaman gelombang, perahu miring dan lilin padam.
“Celaka!” Cui San mengeluh dalam hati. “Meski pun aku sopan, tetapi dengan berdiam berdua-duaan di tempat gelap, nama baik In-kouwnio bisa ternoda.”
Buru-buru dia bangun berdiri dan membuka pintu belakang, kemudian berjalan ke ruangan jurumudi yang dengan tenang mengemudikan perahu itu ke aliran bawah. Kurang lebih satu jam kemudian air pasang mulai surut dan air keluar lagi menuju lautan sehingga dengan mengikuti aliran air, perahu itu melaju semakin cepat. Pada waktu fajar menyingsing pulau Ong-poan-san sudah berada di depan mata.
KUN-LUN KIAM-KEK (JAGO PEDANG DARI KUN-LUN)
Pulau itu terletak di mulut sungai Cian-tong-kang di perairan lautan Tong-hay adalah sebuah pulau kecil yang tandus dan tak ada penduduknya. Waktu kedua perahu itu berada dalam jarak beberapa kaki, dari atas pulau tiba-tiba terdengar suara terompet dan terlihat dua orang menggoyang-goyangkan dua bendera hitam. Waktu perahu datang lebih dekat, Cui San dapat melihat bahwa bendera hitam itu berpinggir putih dengan sulaman kura-kura terbang. Di bawah dua bendera itu duduk seorang tua. Begitu perahu menepi, lantas dia berseru,
“Hian-bun-tan Pek Kwie Siu menyambut In-kouwnio dengan segala kehormatan.“ Suaranya keras tetapi kedengarannya sangat menusuk kuping. Sehabis berseru begitu si kakek sendiri memasang papan untuk pendaratan.
In So So mempersilakan Cui San jalan lebih dulu dan setelah mereka mendarat, dia segera memperkenalkan pemuda itu kepada Pek Kwie Siu. Mendengar pemuda itu adalah salah seorang dari Bu-tong Cit-hiap, Pek Kwie Siu terkejut.
“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Bu-tong Cit-hiap,” katanya. “Aku merasa sangat beruntung pada hari ini dapat bertemu muka dengan Thio Ngo-hiap.”
Thio Cui San segera menjawab dengan perkataan-perkataan merendahkan diri.
“Hai! Kalian berdua pandai sekali bicara manis-manis,” kata In So So. “Lain di hati, lain di mulut. Di dalam hati, yang satu berkata: ‘Celaka. Orang Bu-tong-pay turut datang ke sini dan tambah lagi satu lawan lihay yang mau merebut To-liong-to’. Yang lain berpikir: ‘Huh! Manusia apa kau? Anggota dari agama yang menyeleweng. Mana sudi aku bersahabat denganmu’. Menurut pendapatku, lebih baik kalian bicara saja terang-terang. Jangan main berpura-pura.”
Pek Kwie Siu tertawa terbahak-bahak.
“Tidak, aku tidak berpikir begitu,” kata Cui San. “Aku yakin bahwa Pek Tan-cu mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Ilmu mengirim suara sangat mengagumkan. Kedatanganku di sini hanyalah untuk menemani In-kouwnio menonton keramaian. Sedikit pun aku tidak mempunyai niatan untuk turut dalam perebutan golok mustika.”
Mendengar perkataan pemuda itu, In So So merasa girang sekali. Pek Kwie Siu mengenal nona In sebagai wanita berhati kejam yang tidak pernah berlaku manis terhadap siapa pun juga. Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya dia menyaksikan sikap yang luar biasa halus dari si nona terhadap Thio Cui San sehingga kakek ini mengetahui bahwa So So jatuh hati kepada pemuda yang tampan itu. Selain itu dia juga merasa senang mendengar pujian yang diberikan Cui San, dan rasa permusuhannya terhadap pemuda itu hilang.
“In-kouwnio,” katanya sambil tersenyum, “orang-orang Hay-see-pay dan Sin-kun-bun telah datang semua. Selain mereka terdapat juga dua pemuda dari Kun-lun-pay. Lagak mereka agak sombong dan berbeda jauh dengan Thio Ngo-hiap yang bernama besar. Hm... orang yang benar-benar berkepandaian tinggi memang tidak banyak tingkah”
Baru saja dia berkata sampai di situ, dari belakang bukit mendadak terdengar bentakan,
“Hai! Perlu apa kau mem-busuk-busukkan nama orang di belakang? Apa itu perbuatan seorang laki-laki?”
Berbareng dengan bentakan itu, dari belakang bukit turun dua pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang bertubuh kurus dan mengenakan jubah panjang warna kuning, sedangkan di punggung mereka terselip sebatang pedang. Mereka menghampiri dengan paras muka menyeramkan.
Pek Kwie Siu tertawa nyaring, lalu berkata dengan suara tenang, “Aha! Baru saja nama Co Coh disebut, Co Coh lantas datang. Mari, mari aku memperkenalkan kalian.”
Dua Kiam-kek (ahli pedang) Kun-lun-pay itu sebenamya sudah mau mengunjuk kemarahan mereka, tetapi begitu melihat kecantikan So So mereka tertegun. Yang satu mengawasi si nona dengan mulut ternganga, yang lain melengos tapi diam-diam melirik berulang-ulang. Sambil menunjuk pemuda yang tengah mengawasi So So, Pek Kwie Siu berkata,
“Yang ini adalah Ko Cek Seng Tay-kiam-kek.“ Ia menengok ke arah yang lain, lalu menyambung kata-katanya, “Yang itu adalah Chio Tauw Tay-kiam-kek. Mereka berdua adalah pentolan-pentolan Kun-lun-pay. Nama Kun-lun-pay telah menggetarkan wilayah Barat dan di rimba persilatan, semua orang merasa kagum akan tingginya ilmu silat Kun-lun. Maka itu Ko dan Chio Tay-kiam-kek pasti memiliki kepandaian yang lain dari pada yang lain. Sekali ini dari tempat jauh mereka datang ke Tiong-goan dan mereka pasti akan memperlihatkan kepandaian istimewa supaya kita semua bisa menambah pengalaman.”
Mendengar ucapan yang dikeluarkan dengan nada mengejek itu, Cui San menduga bahwa dua pemuda Kun-lun itu akan segera menghunus senjata, atau sedikitnya akan membalas dengan kata-kata tajam. Namun di luar dugaan, mereka hanya manggut-manggut tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sesudah mengawasi muka mereka, barulah Cui San tahu sebab musababnya. Ternyata mereka seperti orang linglung karena dipengaruhi kecantikan In So So. Cui San merasa geli bukan main. “Nama Kun-lun-pay tersohor di kolong langit dan dikenal sebagai malaikat dalam ilmu silat pedang,” pikirnya. “Sayang sekali murid-muridnya yang datang kemari adalah manusia-manusia rendah.”
Meski pun Ko Cek Seng dan Chio Tauw beradat sombong, sebenarnya mereka bukan manusia rendah yang gemar dengan paras cantik. Yang menjadi soal ialah karena So So memang terlampau cantik dan memiliki sifat-sifat seperti besi berani yang dapat membetot semangat orang. Dengan mengingat bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa, apa lagi usia mereka masih demikian muda, maka sikap yang menggelikan itu bisa dikatakan jamak (wajar) saja. Sementara itu Pek Kwie Siu berkata lagi:
“Yang itu adalah Thio Cui San Siang-kong dari Bu-tong-pay, yang ini nona In So So, sedang yang itu Siang Kim Peng Tan-cu dari agama kami.”
Mendengar perkataan Pek Kwie Siu, So So merasa sangat girang. Bahwa si kakek hanya menggunakan istilah ‘Siang-kong’ (tuan) dan tidak menggunakan lagi perkataan ‘Thio Ngo-hiap’, merupakan petunjuk bahwa dia menganggap Cui San seperti orang sendiri. Sambil tersenyum si nona melirik pemuda itu dengan sorot mata mencinta. Melihat sikap In So So terhadap Cui San, Ko Cek Seng yang beradat kasar langsung saja meluap darahnya dan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa cemburunya.
“Chio-sute,” katanya dengan suara tawar, “di See-hek sepertinya kita pernah mendengar bahwa Bu-tong-pay merupakan sebuah partai yang tulen di rimba persilatan di wilayah Tiong-goan.”
“Benar, aku pun seperti pemah mendengar begitu,” jawab adik seperguruannya.
“Tapi ternyata mendengar tidak sama dengan melihatnya sendiri,” kata pula Ko Cek Seng “Pendengaran itu tidak dapat dipercaya.”
“Di kalangan Kangouw memang banyak sekali tersiar desas desus yang tidak boleh dipercaya,” menyambung Chio Tauw. “Ko-suheng, apa artinya perkataanmu itu?”
“Murid dari partai persilatan yang tulen bagaimana bisa bergaul dengan orang-orang dari Sia-kauw (agama yang menyeleweng)?” jawabnya, “Bukankah kejadian seperti ini sangat menurunkan nama partai yang sangat cemerlang itu?”
Dalam menyindir Thio Cui San, mereka tak pernah bermimpi bahwa In So So pun seorang anggota Peh-bie-kauw. Mereka hanya mengetahui bahwa yang menjadi anggota agama itu hanya Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng.
Cui San meluap darahnya, namun segera dia mendapat pikiran lain. Dia segera ingat bahwa kedatangannya di pulau Ong-poan-san adalah untuk menyelidiki musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam sehingga dia tidak boleh merusak tujuannya sendiri dengan mengumbar napsu amarah. Ia juga ingat bahwa biar pun berusia lebih tinggi dari padanya, kedua Kiam-kek Kun-lun-pay itu adalah orang-orang tak ternama yang baru menceburkan diri di dunia Kangouw. Karena itu tidak pantas bila dia meladeninya. Dia pun mengakui bahwa Peh-bie-kauw memang sebuah agama yang menyeleweng dan In So So serta Siang Kim Peng adalah manusia kejam yang dapat membunuh sesama manusia seperti orang menyuap nasi. Ia memang sudah mengambil keputusan untuk tidak bergaul terus dengan dua orang itu. Berpikir demikian, ia tersenyum seraya berkata,
“Dengan orang-orang Peh-bie-kauw, aku pun baru berkenalan, tidak berbeda dengan kedua Heng-tay.”
Keterangan itu mengherankan hati semua orang, kecuali si nona sendiri. Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng pun semula menduga bahwa persahabatan antara nona In dan Cui San sudah berjalan lama. In So So sendiri merasa sangat mendongkol. Dia mengerti bahwa dengan berkata begitu, Cui San memandang rendah kepada Peh-bie-kauw. Ko Cek Seng dan Chio Tauw bertukar pandang dengan senyum mengejek di bibir. Mereka menganggap bahwa Cui San ketakutan karena mendengar nama Kun-lun-pay.
“Kecuali Bek Siauw-pangcu, semua tetamu sudah tiba,” kata Pek Kwie Siu. “Kita tak usah menunggu dia. Sekarang kalian boleh jalan-jalan di pulau ini secara bebas, dan sebentar tengah hari harap kalian suka datang di lembah untuk minum arak dan melihat-lihat golok mustikaku.”
Siang Kim Peng tertawa. “Tadi perahu Bek Siauw-pangcu mendapat kerusakan dan atas permintaan Thio-siangkong, mereka ditolong,” dia menerangkan. “Sekarang Siauw-pangcu berada dalam perahuku. Nanti bolehlah kita mengundangnya untuk menghadiri pertemuan.”
Meski kedua Tan-cu itu bersikap sangat hormat dan walau pun In So So memperlihatkan kecintaannya, tetapi Cui San telah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri. Maka itu dia lantas berkata,
“Siauwte ingin jalan-jalan sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban dia segera berjalan ke arah sebuah hutan di sebelah timur. Kecuali bukit-bukit dan hutan-hutan kecil, di pulau itu tiada pemandangan yang berharga. Di sebelah tenggara terdapat sebuah pelabuhan di mana berlabuh belasan perahu, yaitu perahu-perahu para tetamu. Sambil menunduk Cui San berjalan di sepanjang pantai dan sembari berjalan dia mengasah otak. Ia merasa sangat tidak puas dengan kekejaman dan sepak terjang In So So, tapi sungguh heran, hatinya seperti juga dibetot-betot dan tidak dapat melupakan nona yang cantik itu.
“Tak dapat disangkal lagi, In-kouwnio mempunyai kedudukan yang amat tinggi di Peh-bie-kauw,” pikirnya. “Pek Tan-cu dan Siang Tan-cu amat menghormatinya seperti juga dia seorang puteri. Tapi sudah terang dia bukan Kauwcu. Lalu siapakah dia?”
Di lain saat dia berkata pula dalam hatinya, “pertemuan ini dihimpunkan oleh Peh-bie-kauw, partai-partai lain sudah mengirim wakil-wakilnya yang paling jempolan. Tapi Peh-bie-kauw sendiri hanya mengutus seorang Tan-cu, se-olah mereka tidak memandang sebelah mata pihak lawan. Dilihat dari gerakan-gerakannya, kepandaian Pek Tan-cu berada di Siang Tan-cu. Kalau begitu Peh-bie-kauw sungguh-sungguh tidak boleh dipandang enteng. Biarlah hari ini aku menyelidiki asal usul mereka, Mungkin sekali di kemudian hari Bu-tong Cit-hiap harus bertempur mati-matian dengan mereka.“ Selagi berpikir demikian, tiba-tiba dia mendengar suara beradunya senjata di luar hutan. Dia merasa heran, kemudian menuju ke arah suara itu. Dari kejauhan dia melihat Ko Cek Seng dan Chio Tauw sedang berlatih pedang dan ditonton In So So.
“Suhu sering mengatakan bahwa kiam-sut (ilmu pedang) Kun-lun-pay lihaynya bukan main dan di waktu masih muda beliau pernah bertempur dengan seorang pentolan Kun-lun-pay yang bergelar Kiam-seng (Nabi pedang),” pikirnya. “Kesempatan menyaksikan ilmu pedang itu tak boleh disia-siakan. Akan tetapi menurut peraturan rimba persilatan, jika orang sedang berlatih silat, orang luar tidak boleh mencuri lihat.“
Sebagai murid dari perguruan yang terhormat, Cui San sungkan melanggar peraturan itu sehingga oleh karenanya, meski dalam hati sangat kepingin menonton, tetapi sesudah melihat beberapa kali, dia segera memutar badan dan berjalan pergi. Tapi di luar dugaan, baru melangkah satu dua tindak, sudah dilihat In So So yang lantas berteriak sambil menggapai-gapai,
“Thio-ngoko, kemarilah!”
Cui San tahu bahwa kalau tidak menghampiri, dia bisa dicurigai sebagai orang yang benar mencuri lihat latihan pedang itu. Maka dia mendekati seraya berkata,
“Kedua Heng-tay tengah berlatih, tidak pantas kalau kita berdiam lama-lama di sini. Mari kita pergi ke tempat lain.”
Sebelum si nona menjawab, mendadak berkelebat sinar pedang dan...
“Brett!”
Tiba-tiba pedang Chio Tauw menggores lengan kiri Ko Cek Seng yang langsung saja mengucurkan darah. Cui San terkejut. Dia menduga Chio Tauw kesalahan tangan. Namun dia lebih terkejut lagi karena tanpa mengeluarkan sepatah kata dan dengan paras muka merah padam, Ko Cek Seng mengirim tiga serangan beruntun yang sangat hebat dan ditujukan ke arah bagian-bagian tubuh yang membinasakan. Sekarang baru dia tahu bahwa kedua orang itu bukan berlatih melainkan sedang bertempur sungguhan. In So So tertawa dan berkata:
“Dilihat begini, sang Suko belum dapat menandingi si adik. Menurut pendapatku ilmu Chio-heng lebih unggul sedikit.”
Mendengar itu, sambil mengertak gigi Ko Cek Seng memutar tubuh lalu menyabet dengan pedangnya dalam pukulan Pek-tiang-hu-po (Air tumpah beratus tombak panjangnya). Pedang itu menyambar dari atas ke bawah, se-olah turunnya air tumpah. Dengan menggunakan seantero kelincahannya, Chio Tauw mundur ke belakang, tapi pedang Ko Cek Seng tiba-tiba berubah arah.
“Brett!” diiringi satu suara, ujung pedang mengenai betis kirinya.
Si nona tertawa geli sambil bertepuk-tepuk tangan. “Aha! Jika begitu sang Suheng mempunyai ilmu simpanan!” teriaknya. “Kali ini Chio-heng yang kalah.”
“Belum tentu!” bentak Chio Tauw dengan gusar sambil menyerang dengan pukulan Ie-teh-hui-hoa (Hujan menghantam bunga yang beterbangan). Pedangnya menyambar-nyambar dalam gerakan miring, kadang-kadang diseling dengan tikaman lurus.
Sebagai murid Kun-lun-pay tentu saja Ko Cek Seng paham dengan ilmu pedang itu, maka tanpa sungkan-sungkan ia pun membuat serangan-serangan balasan. Mereka berdua sama-sama terluka. Meski pun tidak berbahaya, dalam pertempuran darah mereka beterbangan kian kemari sehingga muka, tangan dan pakaian mereka penuh noda darah. Mereka terus bertempur, semakin lama semakin sengit hingga akhirnya mereka saling tikam mati-matian, seolah-olah sedang berhadapan dengan musuh besar. Di lain pihak In So So sesekali tertawa dan bertepuk-tepuk tangan. Sebentar dia memuji yang satu, sebentar kemudian memuji yang lain.
Sekarang Cui San mengerti pertempuran kedua saudara seperguruan itu adalah karena gara-gara si cantik, yang rupanya sedang menjalankan siasat adu domba karena mendongkol atas ejekan mereka terhadap Peh-bie-kauw. Sesudah mengawasi beberapa lama dia berpendapat bahwa meski pun mereka cukup paham ilmu pedang, namun perubahan pedang masih kurang cepat dan Iweekang mereka pun masih belum cukup tinggi.
“Thio-ngoko,” kata si nona dengan gembira. “Bagaimana pendapatmu dengan Kiam-hoat Kun-lun-pay?”
Cui San tidak menjawab. Dia mengerutkan alis seperti orang sebal. Melihat itu, So So lantas berkata,
“Sudahlah! Begitu-begitu juga. Aku pun merasa sebal. Mari kita pergi ke situ untuk menikmati pemandangan langit.“
Sehabis berkata begitu dia menarik tangan kiri Cui San kemudian berjalan pergi. Jantung Cui San berdebar keras. Dia merasa tangannya dicekal oleh tangan yang empuk halus, sedangkan hidungnya mengendus bebauan yang amat wangi. Dia mengerti bahwa begitu, So So sengaja membangkitkan rasa cemburu dan marah kedua murid Kun-lun-pay itu. Karena merasa tak enak hati untuk melepaskan tangannya, dia segera mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka berdiri di tepi laut sambil memandang air yang se-akan tiada batasnya. Beberapa saat kemudian mendadak So So berkata,
“Di kitab Cong-cu bagian Chiu-sui-pian terdapat kata-kata begini: Air di kolong langit tidak ada yang lebih besar dari pada lautan. Laksana sungai mengalir ke laut. Entah kapan sungai-sungai itu berhenti mengalir dan tidak memenuhi lautan. Tapi Sang laut sedikit pun tidak menjadi sombong dan hanya berkata: Aku berada di antara langit dan bumi seperti juga sebutir batu atau satu pohon kecil yang tumbuh di sebelah gunung yang besar. Setiap kali membaca kitab itu, aku lalu mengagumi Cong-cu (Chuang tze) tidak habisnya, karena dari tulisan-tulisan tersebut, dia sungguh-sungguh seorang berjiwa besar.”
Cui San kaget mendengar perkataan si nona. Ia merasa tak puas melihat cara-cara nona In yang sudah mencari kesenangan dengan mengadu domba orang. Sedikit pun ia tak nyana bahwa memedi perempuan yang bisa membunuh manusia tanpa berkedip ini dapat mengutip kata-kata dari kitab Cong-cu. Kitab Cong-cu adalah sebuah kitab yang mesti dibaca dan dipelajari oleh murid-murid agama To-kauw. Waktu masih berguru di Bu-tong-san, dia dan saudara seperguruannya sering sekali mendengar penjelasan-penjelasan Thio Sam Hong mengenai isi kitab itu. Demikianlah dalam rasa kaget dan herannya, tanpa terasa dia berkata,
“Benar. Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam.”
Mendengar Cui San mengutip kitab Cong-cu untuk melukiskan besar dan dalamnya lautan, sedangkan muka pemuda itu terlihat penuh hormat, si nona segera bertanya,
“Apakah kau teringat Suhu-mu?”
Cui San terkesiap. Tanpa terasa ia mengangsurkan tangan kanannya kemudian mencekal tangan si nona yang satunya lagi.
“Bagaimana kau tahu apa yang sedang kupikirkan?” tanyanya dengan suara heran.
Hal ini mempunyai latar belakang seperti berikut: Dulu waktu berada di gunung Bu-tong-san, pada suatu hari dia bersama-sama Song Wan Kiauw dan Jie Thay Giam membaca kitab Cong-cu. Setelah membaca ‘Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam’, Jie Thay Giam berkata, “Dalam berguru dengan Suhu, makin lama belajar aku merasa semakin berbeda jauh dengan kepandaian beliau. Menurut pendapatku, sebaliknya dari pada maju, rasanya setiap hari kita justru mundur. Kata-kata Cong-cu itu adalah kata yang paling tepat untuk melukiskan kepandaian Suhu yang tak dapat diukur berapa dalamnya.” Mendengar perkataan saudaranya, Wan Kiauw dan Cui San manggut-manggutkan. Itulah sebab musabab mengapa begitu mengutip kata-kata itu, ia lantas ingat gurunya yang tercinta.
“Dengan melihat paras mukamu, aku mengetahui jika bukan teringat kedua orang tuamu, tentu kau sedang teringat kepada gurumu,” jawab si nona. “Karena di dunia ini hanya Thio Sam Hong seorang saja yang surup (pantas) dilukiskan dengan perkataan itu, maka aku segera menduga pasti yang diingat olehmu adalah Suhu-mu.”
“Kau sungguh pintar,” kata Cui San dengan suara kagum. Sesaat itu mendadak dia sadar bahwa kedua tangannya sedang mencekal kedua tangan si nona. Paras mukanya lantas saja berubah merah dan buru-buru dia melepaskannya.
“Apakah kau bisa memberi-tahu, berapa tinggi ilmu silat gurumu?” tanya So So.
Pemuda itu tidak menjawab. Setelah berpikir sejenak baru ia berkata, “Ilmu silat adalah ilmu yang tidak begitu penting. Apa yang diajarkan oleh beliau bukan terbatas pada ilmu silat saja. Luas dan dalam... entah bagaimana aku harus menceritakannya.”
Si nona tersenyum seraya berkata, “Hucu bertindak, aku turut bertindak. Hucu berjalan, aku turut berjalan. Hucu berlari aku turut berlari. Tapi begitu Hucu berlari cepat, biar pun mengikuti sebisa-bisanya, aku tetap ketinggalan jauh.” (Hucu berarti guru, tapi di sini dimaksudkan Khongcu atau Konfusius).
Mendengar si nona mengutip pujian Gan Hwee (murid Khongcu) terhadap Khongcu, Cui San berkata:
“Tapi guruku tak usah berlari keras. Sekali dia berjalan atau berlari pelan, kami tidak bisa mengikutinya.“
Dari perkataan itu diketahui bahwa pemuda ini sangat memuja gurunya. Demikianlah, dengan duduk berendeng di atas batu besar, kedua orang muda itu merundingkan ilmu surat dan ilmu silat panjang lebar dan mendalam. Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi dan sangat cerdas, In So So dapat menimpali Cui San dalam omong-omong itu. Mendadak terdengar suara tindakan dan batuk-batuk, disusul suara orang,
“Thio-siangkong, In-kouwnio, Ngo-sie (tengah hari) sudah tiba. Harap kalian berdua pergi ke tempat perjamuan.”
Cui San menengok dan melihat Siang Kim Peng berdiri dalam jarak belasan tombak dan mengawasi mereka dengan tersenyum. Dari paras mukanya, dia kelihatan kagum dan gembira melihat dua sejoli yang setimpal itu. Biasanya In So So berlaku sombong dan kurang ajar jika berhadapan dengan orang-orang sebawahannya. Tapi kali ini, dengan muka kemerah-merahan dia menundukkan kepala. Siang Kim Peng memutar badan kemudian berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar.
“Aku jalan lebih dulu,” bisik si nona.
Cui San tidak mengerti, ia hanya mengangguk saja. In So So berlari-lari dan berjalan berendeng dengan Siang Kim Peng.
“Bagaimana dengan kedua bocah tolol dari Kun-lun itu?” terdengar pertanyaan si nona.
Cui San mengawasi mereka dengan perasaan yang sukar dilukiskan. Kemudian, sesudah mereka terpisah jauh, barulah dia mengikuti dengan tindakan perlahan. Begitu tiba di mulut lembah, dia melihat ada tujuh delapan meja persegi di sebidang tanah lapang rumput. Kecuali meja utama di sebelah timur, semua meja sudah penuh orang. Melihat kedatangan Cui San, Siang Kim Peng segera bangun berdiri lalu berteriak dengan suara nyaring,
“Thio Ngo-hiap dari Bu-tong-pay.”
Hampir berbarengan Pek Kwie Siu juga bangun dari tempat duduknya, kemudian dengan diiringi lima orang Hio-cu, kedua Tan-cu itu meninggalkan meja perjamuan untuk menyambut tamu. Dua belas orang berdiri berjejer di kedua pinggir dan menyambut sambil membungkuk.
“Hian-bun-tan Pek Kwie Siu dan Ciak-tan Siang Kim Peng yang berada di bawah perintah In-kauwcu dan Peh-bie-kauw, menyambut kedatangan Thio Ngo-hiap!” seru Pek Kwie Siu dengan suara nyaring.
In So So sendiri tidak meninggalkan meja, tetapi dia turut bangun berdiri. Mendengar ‘In-kauwcu’, hati Cui San berdebar. “Kalau begitu kepala agama Peh-bie-kauw benar-benar seorang she In,” katanya dalam hati. Segera dia merangkapkan kedua tangannya kemudian berkata,
“Tak berani menerima kehormatan yang begitu besar.“
Begitu sampai di dekat meja-meja perjamuan ia mendapat kenyataan bahwa semua orang mengawasinya dengan paras mendongkol. Ia merasa heran, tapi tidak mempedulikan. Yang menjadi sebab dari perasaan mendongkol itu adalah karena kedatangan pemimpin-pemimpin Hay-see-pay, Kie-keng-pang dan Sin-kun-bun hanya disambut oleh seorang Hio-cu dan tidak mendapat kehormatan seperti yang didapat oleh jago Bu-tong-pay ini. Keruan saja mereka merasa dihina, tetapi kejadian itu tidak diketahui oleh Cui San.
Dengan sikap hormat Pek Kwie Siu mengantarkan pemuda itu ke meja utama di sebelah timur dan mengundang supaya dia duduk di situ. Di meja itu, yang mempunyai kedudukan paling mulia, hanya terdapat sebuah kursi. Cui San menyapu seluruh arena perjamuan dengan matanya dan mendapat kenyataan bahwa di lain meja duduk tujuh delapan orang, hanya pada meja keenam duduk dua orang, yaitu Ko Cek Seng dan Chio Tauw.
“Aku yang rendah adalah seorang muda yang berkepandaian cetek,” kata Cui San dengan suara nyaring. “Aku tidak berani duduk di meja utama ini.”
“Dalam rimba persilatan, Bu-tong-pay merupakan gunung Thay-san atau bintang Pak-tauw,” kata Pek Kwie Siu. “Apa bila Thio Ngo-hiap yang namanya menggetarkan seluruh negara tidak berani duduk, siapa lagi yang berani duduk di situ?”
Tapi Cui San yang selalu diajar oleh gurunya untuk merendah, tetap menolak. Sementara itu Ko Cek Seng dan Chio Tauw saling memberi isyarat dengan lirikan mata. Tiba-tiba Chio Tauw mengangkat kursinya lantas melontarkan ke arah meja utama. Antara meja yang diduduki dan meja utama terdapat lima buah meja lain. Dengan menggunakan Iweekang yang tepat, kursi itu terbang di atas kepala para tamu kemudian hinggap di samping kursi utama. Begitu selesai Chio Tauw memperlihatkan kepandaiannya, Ko Cek Seng segera berseru:
“Huh! Huhh! Thaysan... Pak-tauw! Siapa yang mengangkat Bu-tong-pay menjadi Thaysan atau Pak-tauw? Jika she Thio tidak berani duduk di situ, biarlah kami berdua yang menggantikannya.“ Bersama Sute-nya dia segera melompat ke meja utama itu.
Bagaimana kedua saudara seperguruan itu yang tadi bertempur mati-matian kini akur kembali?. Tadi setelah berkenalan, dalam kedongkolannya karena kedua pemuda itu mengejek Peh-bie-kauw, In So So lantas bertanya siapa di antara mereka berdua yang memiliki ilmu pedang lebih tinggi dan mengatakan bahwa dia ingin sekali mempelajari beberapa pukulan dari Kun-lun Kiam-hoat. Kedua pemuda yang telah dirobohkan oleh kecantikan si nona itu lantas menghunus pedang. Semula mereka hanya ingin memperlihatkan keunggulan dalam latihan, tapi makin lama semakin sengit, apa lagi ditambah dengan ejekan-ejekan So So, akhirnya mereka jadi bertempur mati-matian hingga keduanya terluka.
Belakangan, sesudah si nona meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan dengan Cui San, barulah mereka sadar lantas menghentikan pertempuran. Dengan rasa malu dan marah mereka membalut luka, tetapi tak berani mengunjuk kemarahan terang-terangan kepada nona In. Demikianlah, sekarang mereka ingin merebut kursi yang ditawarkan kepada Cui San untuk menghina pemuda itu di hadapan orang banyak.
“Tahan!” bentak Siang Kim Peng sambil merentangkan tangannya.
Ko Cek Seng segera mengangkat tangan untuk menotok jalan darah lengan Kim Peng. Tapi sebelum ia turun tangan, Cui San sudah mendahului berkata:
“Jie-wi berdua memang paling cocok duduk di sini,” kata Cui San. “Dan biarlah aku duduk di situ.“ dia berjalan ke meja ke enam.
“Thio-ngoko, kemari!” seru In So So sambil menggapai.
Cui San segera mendekat karena menyangka si nona ingin bicara. Namun di luar dugaan, So So menarik sebuah kursi kemudian menaruhnya di samping kursinya.
“Kau duduk di sini saja,“ katanya sambil tersenyum.
Cui San jengah bukan main. Untuk sejenak tidak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau duduk di situ, dia merasa malu. Apa bila menolak, merupakan hinaan besar bagi si nona.
“Aku ingin bicara denganmu,” bisik SoSo.
Melihat sorot mata memohon, Cui San tidak tega menolak dan lantas duduk di kursi itu. Nona In sangat girang dan sambil tersenyum-senyum, ia menuang secawan arak. Di lain pihak, melihat Cui San di samping nona In, sungguh pun sudah berhasil merebut kedudukan utama, Ko Cek Seng dan Chio Tauw semakin mendongkol. Sebelum mereka duduk di kedua kursi itu, Pek Kwie Siu menyelak dan mengebut-ngebut kursi itu dengan menggunakan tangan bajunya.
“Memang pantas sekali bila Tay-kiam-kek dari Kun-lun-pay duduk di kursi utama,” katanya sambil tertawa. “Duduklah.“ Habis berkata begitu dia segera kembali ke tempat duduknya bersama Siang Kim Peng dan sepuluh Hio-cu.
Dengan menganggap bahwa mereka berhasil menindih lawannya, Ko Cek Seng dan Chio Tauw segera duduk di kedua kursi itu. Akan tetapi...
“Krekek!”
Terdengar suara dan kaki kursi tiba-tiba patah sehingga mereka pun roboh terjengkang. Masih untung bagi mereka, sebagai ahli-ahli silat, begitu roboh, mereka melompat bangun. Tak usah dikatakan lagi, mereka malu bukan main, lebih-lebih karena para hadirin tertawa terbahak-bahak.
KIM-MO SAY-ONG (RAJA SINGA BERAMBUT EMAS)
Ko Cek Seng mengerti bahwa patahnya kaki kursi adalah karena perbuatan Pek Kwie Siu yang mengerahkan Iweekang waktu mengebut-ngebut dengan tangan bajunya. Dia yakin sekali bahwa si orang she Pek itu telah menggunakan tenaga Im-kin (tenaga dingin) yang tidak dimiliki olehnya. Dia adalah seorang yang angkuh dan sama sekali tak memandang mata kepada Peh-bie-kauw yang dianggapnya sebagai agama menyeleweng. Mimpi pun dia tak pernah bahwa dalam Peh-bie-kauw terdapat orang yang berkepandaian sedemikian tinggi.
Sementara itu dengan suara tawar Pek Kwie Siu berkata, “Semua orang tahu ilmu silat Kun-lun-pay lihay luar biasa. Akan tetapi, janganlah Jie-wi menumplekkan hawa marah kepada kursi itu. Aku yakin ilmu yang barusan diperlihatkan Jie-wi dimiliki oleh semua orang yang hadir di sini.“ Ia menuding kepada sepuluh orang Hio-cu yang duduk di meja paling ujung.
“Krekek! Krekek!”
Diiringi suara berderak, hampir berbareng sepuluh kursi patah kakinya dan sepuluh Hio-cu bangun berdiri dengan sikap tenang. Sekali lagi para hadirin bersorak sorai, sedangkan paras muka kedua jago Kun-lun-pay menjadi pucat bagaikan mayat. Di antara sorakan itu tiba-tiba dua orang Hio-cu menghampiri meja utama dengan masing-masing mendukung sebuah batu besar.
“Kiranya kursi kayu tidak cukup kuat untuk diduduki kalian,” kata satu diantaranya. “Jie-wi duduklah di batu ini.”
Kedua Hio-cu itu adalah orang kuat di Peh-bie-kauw. Ilmu silat mereka biasa saja, tapi mereka memiliki tenaga yang luar biasa. Ko Cek Seng dan Chio Tauw kaget bukan main. Meski pun mereka berkepandaian tinggi dalam ilmu pedang, tetapi mereka merasa tidak sanggup menyambut batu yang beratnya kira-kira tujuh ratus kati itu.
“Taruhlah,“ kata Ko Cek Seng.
“Huh!’ kedua orang kuat itu mengerahkan tenaga dan mengangkat tinggi-tinggi kedua batu itu. “Sambutlah!” kata mereka.
Kedua jago Kun-lun itu terkesiap. Dengan serentak mereka melompat ke belakang.
“Kalau Jie-wi Kun-lun Kiam-kek tak mau duduk di meja utama, biarlah Thio-siangkong yang duduk di situ,” kata Pek Kwie Siu.
Mendengar perkataan itu, Cui San yang sedang kelelap dalam lautan asmara mendadak tersadar.
“Celaka!” ia mengeluh. “Tak boleh aku membiarkan diriku dijatuhkan oleh memedi perempuan ini,” Ia lantas bangun berdiri dan menghampiri meja utama.
Dalam mengundang Cui San untuk duduk di meja utama, Pek Kwie Siu beminat menjajal kepandaian pemuda itu, yang dipuji tinggi oleh Siang Kim Peng namun belum disaksikan olehnya sendiri. Karena itu, begitu Cui San menghampiri, ia memberi isyarat kepada kedua Hio-cu dengan lirikan mata.
“Thio-siangkong, hati-hati!” teriak kedua Hio-cu itu pada saat Cui San sudah datang cukup dekat. Kemudian sambil membentak keras, dengan berbareng mereka melontarkan kedua batu yang lantas terbang ke kepala Cui San.
Semua hadirin terkesiap dan serentak mereka bangun berdiri. Di lain pihak, begitu melihat terbangnya kedua batu besar itu, Pek Kwie Siu yang hanya berniat mencoba kepandaian pemuda itu dan pada hakekatnya tidak mempunyai maksud yang kurang baik, merasa menyesal tercampur takut. Ia yakin bahwa sebagai seorang ahli silat, pemuda itu masih bisa menyelamatkan diri dengan melompat mundur. Akan tetapi kejadian itu adalah kejadian yang sangat memalukan sehingga bukan saja Cui San, tetapi In So So pun bisa marah. Sebagai seorang kejam, saat itu dia sudah mengambil keputusan bahwa dia akan menumplek semua kesalahan di atas pundak kedua Hio-cu itu, bahkan jika perlu dia akan membinasakan mereka supaya dapat meloloskan diri dari kemarahan nona In.
Melihat menyambarnya batu, Cui San pun terkejut. Jika dia melompat mundur seperti Ko Cek Seng dan Chia Tauw, ia merasa sangat malu karena hal ini akan sangat menurunkan pamornya Bu-tong-pay. Pada detik yang amat genting itu dia tak sempat berpikir panjang-panjang lagi. Pada saat-saat berbahaya, semua tenaga dan ilmu dari seorang yang pandai silat bisa keluar secara wajar (otomatis). Demikianlah, tanpa dipikir lagi tangan kirinya mengibas ke kanan batu yang menyambar dari sebelah kiri dengan pukulan huruf ‘bu’ (persilatan), sedangkan tangan kanan mengibas ke kiri batu yang menyambar dari sebelah kanan.
Seperti telah dikatakan, berat setiap batu tidak kurang dari tujuh ratus kati sehingga kalau ditambah dengan tenaga jatuhnya dari atas ke bawah, maka tenaga menindih dari setiap batu tidak kurang dari seribu kati. Dalam mempelajari ilmu silat, Cui San belum pernah mengutamakan latihan-latihan untuk memperbesar tenaga sehingga jika diukur dengan tenaga yang dimilikinya, dia pasti tidak akan mampu menyambut kedua batu itu. Akan tetapi ilmu silat dari Thio Sam Hong yang berdasarkan Su-hoat adalah ilmu silat yang sangat luar biasa.
Pada hakekatnya ilmu silat Bu-tong-pay tidak mengutamakan tenaga atau kecepatan memukul. Yang dipelajari adalah ilmu mengeluarkan tenaga pada saat yang tepat dengan gerakan dan kekuatan tenaga yang tepat pula. Pada jaman belakangan, dalam kitab Thay-kek Kun-keng, Ong Cong Gak, seorang ahli Bu-tong-pay menyebutkan pukulan Sie-nio Po-cian-kin (tenaga empat tahil melontarkan benda yang beratnya ribuan kati). Dengan lain perkataan, jika tenaga yang dikirim sesuai dengan ‘aturan’, maka tenaga empat tahil akan dapat melontarkan benda yang beratnya ribuan kati.
Demikianlah dengan memakai ilmu silat yang paling tinggi dari gurunya, Cui San berhasil melontarkan kedua batu besar itu yang menyambar kepalanya. Apa yang mengejutkan para hadirin ialah dia se-olah melemparkan kedua batu itu dengan tangan bajunya, karena kedua tangannya bersembunyi di dalam tangan baju yang lebar. Kejadian itu begitu mengejutkan sehingga semua orang hanya mengawasi dengan mulut terngaga dan lupa untuk bersorak-sorai lagi.
Di lain saat kedua batu itu melayang turun, yang satu lebih tinggi, yang lain lebih rendah. Dengan sekali menotol kakinya di tanah, badan Cui San melesat ke atas lalu dia bersila di atas batu yang lebih tinggi. Dengan suara gedubrakan hebat sehingga bumi tergetar, batu pertama ambruk ke bumi dan separuhnya amblas ke dalam tanah. Kemudian di lain detik, batu kedua jatuh tepat di atas batu pertama dan waktu kedua batu itu beradu, lelatu api muncrat ke atas. Dengan paras tenang Cui San tetap duduk di batu yang sebelah atas.
“Tenaga kedua Hio-cu sungguh besar,“ katanya sambil tersenyum. “Aku merasa kagum dan takluk.“
Akan tetapi kedua Hio-cu itu masih mengawasi dengan mata terbelalak tanpa dapat mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian barulah bergema sorak sorai gegap gempita di lembah yang sunyi itu. In So So mengawasi Pek Kwie Siu dengan mata melotot, tapi paras mukanya berseri-seri. Sekarang Pek Kwie Siu malah kegirangan. Dia mengerti bahwa kecerobohannya yang hampir-hampir menerbitkan onar itu kini berbalik menjadi keuntungan bagi dirinya. Sesudah menuang secawan arak, ia segera menghampiri Thio Cui San kemudian berkata dengan suara nyaring,
“Sudah lama kami mendengar nama besar Bu-tong Cit-hiap, tetapi baru sekarang kami melihat kepandaian Thio Ngo-hiap. Betapa besar rasa kagum kami tak dapat dilukiskan lagi. Ijinkan siauw-jin memberi selamat kepada Thio-siangkong dengan secawan arak ini.“ Sehabis berkata begitu, ia minum kering arak itu.
Cui San turut minum dan menjawab dengan kata-kata merendah. Tiba-tiba dari meja Kie-keng-pang bangun berdiri seorang laki-laki yang mengenakan baju kuning.
“Menurut pendapatku, ilmu silat Thio Ngo-hiap yang sangat tinggi adalah soal kedua,“ teriaknya. “Akan tetapi yang paling mengagumkan ialah hatinya yang mulia, berbeda jauh dengan manusia rendah yang berhati jahat dan biasa menggunakan siasat busuk. Sebab itu aku juga ingin memberi selamat kepada Thio Ngo-hiap dengan secawan arak.“ Sehabis berkata begitu, ia minum kering secawan arak yang dipegangnya.
Orang itu bukan lain Bek Siauw-pangcu yang kemarin ditolong dengan perahu Siang Kim Peng atas permintaan Cui San. Sambil membungkuk pemuda itu mengangkat cawan araknya seraya berkata,
“Tak berani menerima pujian yang begitu tinggi. Aku pun ingin balas memberi hormat kepada Bek Siauw-pangcu dengan secawan arak ini.“ Lalu ia menghirup araknya sampai kering.
Setelah suasana berubah tenang kembali, perlahan-lahan Pek Kwie Siu bangun berdiri dan berkata dengan suara nyaring,
“Belum lama berselang, agama kami mendapat golok mustika yang dikenal To-liong-to. Ada pun mengenai golok itu, di rimba persilatan tersiar kata-kata sebagai berikut: Bu lim cie cun, po to to liong, hauw leng thian hee, boh kam put-ciong!” Berkata sampai di situ, dia berhenti sejenak dan kedua matanya yang bersinar terang menyapu para hadirin.
“Sesudah memperoleh golok mustika itu, In-kauwcu dari agama kami sesungguhnya ingin mengundang orang-orang di kolong langit untuk mengadakan pertemuan besar di gunung Heng-san guna menunjukkan golok itu kepada dunia,” katanya pula. “Akan tetapi untuk menghimpun pertemuan besar itu memerlukan banyak tenaga dan tempo sehingga pemimpin kami mengambil keputusan untuk mengundang saja kalian yang berada di tempat-tempat yang berdekatan agar kalian dapat turut melihat macamnya golok mustika itu.“ Sehabis berkata begitu dia lalu mengibaskan tangannya.
Delapan orang murid Peh-bie-kauw bangun berdiri kemudian berjalan menuju ke sebuah goa yang terletak di sebelah barat. Semua mata mengawasi delapan orang itu yang mendapat tugas untuk mengambil To-liong-to. Tapi waktu mereka keluar lagi, yang dibawa bukan golok melainkan satu hanglo (tempat perapian) besi yang amat besar dengan api yang berkobar-kobar. Mereka memikulnya menggunakan pikulan kayu yang sangat panjang, lalu dengan napas yang tersengal-sengal menaruh hanglo itu di tengah-tengah lapangan. Di belakang mereka mengikuti empat orang, dua menggotong sebuah bantalan besi dan dua orang lagi masing-masing membawa sebuah martil raksasa.
“Siang Tan-cu,” kata Pek Kwie Siu, “harap kau suka menunjukkan golok mustika itu untuk menetapkan keangkeran!”
“Baiklah,“ kata Siang Kim Peng sambil berpaling, kemudian berkata kepada Hio-cu yang tadi melontarkan batu kepada Cui San. “Ambil golok mustika itu!”
Mereka masuk ke dalam goa dan keluar kembali dengan seorang menyangga satu bungkusan sutera kuning dengan kedua tangannya, sedang seorang lain melindungi di sampingnya. Hio-cu itu lalu menyerahkan bungkusan tersebut kepada Siang Kim Peng, kemudian berdiri di kiri kanannya. Dengan sikap hormat Siang Kim Peng membuka bungkusan yang di dalamnya berisi sebatang golok. Dengan dua tangan ia mengangkat tinggi-tinggi golok itu yang kemudian dihunusnya.
“Golok ini adalah To-liong-to yang sangat dihormati di rimba persilatan!” teriaknya. “Kalian boleh melihatnya dengan teliti.”
Nama besar To-liong-to sudah lama dikenal di dunia Kangouw. Akan tetapi melihat macamnya golok itu yang biasa saja dan warnanya kehitam-hitaman, semua orang menjadi sangsi. Apa benar golok itu To-liong-to yang dikagumi? Perlahan-lahan Siang Kim Peng menurunkan golok itu lalu menyerahkannya kepada Hio-cu yang berdiri di sebelah dirinya.
“Gunakan martil!” dia memerintah.
Hio-cu itu menyambuti golok tersebut yang lalu ditaruh di atas bantalan besi dengan mata golok menghadap ke atas. Hio-cu yang di sebelah kanan segera mengangkat martil dan menghantamnya ke mata golok.
“Trangg...!”
Kepala martil terpapas putus jadi dua potong. Separuh jatuh di tanah sedangkan separuh lagi masih menempel digagang martil. Kejadian yang benar-benar luar biasa. Semua orang terkesiap dan dengan serentak mereka bangun berdiri. Bahwa di rimba persilatan terdapat senjata mustika yang bisa memapas baja atau emas, bukan kejadian langka. Tapi senjata yang dapat memapas besi yang begitu besar seperti memapas tahu, benar-benar belum pernah terdengar. Seorang dari Sin-kun-bun dan seorang dari Kie-keng-pang segera menghampiri bantalan besi itu kemudian menjemput potongan martil yang jatuh di tanah. Ternyata bagian yang terpapas tampak berkilat-kilat tanda baru saja dipapasnya. Sementara itu dua orang Hio-cu yang lain telah mengangkat martil yang satunya lagi yang lalu dihantamkan ke mata golok.
“Trangg...!”
Seperti juga tadi, kepala martil terpapas pula dengan mengeluarkan suara nyaring. Kali ini semplaknya martil disambut dengan tampik sorak riuh. Perlahan-lahan Siang Kim Peng mendekati bantalan besi itu dan mengangkat To-liong-to. Kemudian dengan gerakan To-pek Hoa-san (Menghantam gunung Hoa-san) ia membabat bantalan besi itu yang langsung saja kutung dua. Sesudah itu, sambil menenteng golok ia berjalan ke sebelah barat dan dengan kecepatan kilat menyabet dahan pohon siong tua. Dengan beruntun ia membabat delapan belas pohon siong. Para hadirin sangat heran karena pohon-pohon itu masih tetap berdiri tegak meski pun terang-terangan dibabat putus. Pek Kwie Siu tertawa nyaring kemudian dengan tangan bajunya, ia mengibas pohon yang pertama. Dengan suara gedubrakan pohon itu roboh di atas tanah sebatas yang telah terbacok.
Ternyata, dengan sekali membabat saja, dahan pohon menjadi putus. Karena To-liong-to tajam luar biasa, maka biar pun dahannya putus tetapi pohon itu masih tetap berdiri dan barulah tumbang sesudah didorong oleh Pek Kwie Siu. Sesudah merobohkan pohon pertama, Pek Tan-cu lalu mengibas pohon-pohon lainnya yang juga lantas roboh dengan mengeluarkan suara keras.
Sambil tertawa terbahak-bahak Pek Kwie Siu mengambil To-liong-to dari tangan Siang Kim Peng, kemudian memasukkannya ke dalam hanglo yang apinya sedang berkobar-kobar. Pada waktu pohon-pohon roboh dikebas Pek Kwie Siu, tiba-tiba di kejauhan terdengar suara peletak peletok dan gedubrakan yang beruntun-runtun, seperti ada orang lain yang sedang merobohkan pohon-pohon lainnya.
Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng terkejut segera mengawasi ke arah suara itu. Mereka menjadi lebih kaget lagi karena ternyata bahwa tiang-tiang dari perahu-perahu yang berlabuh di pantai, roboh satu demi satu. Pada tiang-tiang itu tergantung bendera-bendera Peh-bie-kauw, Kie-keng-pang, Hay-see-pay dan Sin-kun-bun. Semua orang ikut memandang ke arah itu. Keruan mereka menjadi marah bukan kepalang dan beberapa pemimpin, dengan mengajak sejumlah orang bawahannya, berlari-lari ke pantai untuk menyelidiki.
Mendadak jago-jago yang berkumpul di lapangan itu melihat perkembangan lain yang lebih mengagetkan. Satu demi satu perahu mereka mulai tenggelam. Rombongan kedua yang terdiri dari beberapa partai menyusul ke pantai. Jarak antara pelabuhan dan lapangan rumput itu tidak terlalu jauh, tapi rombongan penyelidik pertama yang terdiri dari belasan orang tidak kelihatan balik kembali. Semua orang saling pandang dengan perasaan sangsi. Sambil menengok kepada seorang Hio-cu Pek Kwie Siu berkata,
“Coba kau pergi lihat.“
Sesudah orang itu pergi, dengan sikap tenang yang dibuat-buat ia berkata pula, “Mungkin sekali di lautan terjadi perubahan luar biasa. Tapi tuan-tuan tidak usah kuatir. Andai kata semua perahu rusak, kita masih bisa pulang dengan getek-getek kayu. Mari! Keringkan cawan!”
Meski pun hati bergoncang keras, supaya tidak dikatakan bernyali kecil, jago-jago itu terpaksa mengangkat cawan. Namun baru saja cawan menempel di bibir, tiba-tiba terdengar teriakan menyayat hati, seperti jeritan orang yang melompat bangun dengan paras muka pucat. Rata-rata mereka adalah manusia yang sudah biasa membunuh sesama. Tapi sekarang jadi ketakutan akibat terjadinya perkembangan luar biasa dan suara jeritan yang amat menyeramkan itu. Pek Kwie Siu dan Siang Kim Peng mengenal teriakan Hio-cu yang barusan diperintah pergi menyelidiki.
Di lain saat sekonyong-konyong terdengar bunyi tindakan kaki dan orang yang bagaikan mandi darah mendatangi dengan berlari-lari. Orang itu bukan lain dari pada Hio-cu tadi. Dengan kedua tangan dia mendekap mukanya yang bercucuran darah, kulit kepala terbeset, pakaian robek-robek dan berlepotan darah. Begitu berhadapan dengan suara gemetar dia berkata,
“Kim-mo Say-ong (Raja singa bulu emas)...! Kim-mo Say-ong...“
“Singa?” Pek Kwie Siu menegas dengan hati terasa lebih lega karena menyangka bahwa yang menyerang adalah seekor binatang buas.
“Bukan... bukan...!“ jawab Hio-cu itu, “Manusia... bukan singa. Semua orang dicakarnya sampai mati... semua perahu tenggelam!” Sehabis berkata dia tidak dapat mempertahankan diri lagi lalu roboh binasa.
“Coba aku yang menyelidiki,” kata Pek Kwie Siu.
“Aku ikut,” kata Siang Kim Peng.
“Tidak, kau harus melindungi In-kouwnio,” cegah Pek Kwie Siu yang mengerti bahwa kini dia sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh.
Hio-cu adalah salah seorang yang ilmu silatnya paling tinggi di kalangan Peh-bie-kauw. Bahwa dia telah dibinasakan begitu mudah, suatu tanda bahwa pihak lawan orang yang lihay bukan main. Siang Kim Peng tidak membantah lagi. Sambil mengangguk dia menjawab,
“Ya.”
Mendadak terdengar suara batuk-batuk, diikuti dengan suara bicaranya seseorang, “Kim-mo Say-ong berada di sini!”
Semua orang terkejut dan menengok, tapi mereka tak melihat bayangan manusia lain. Di mana orang itu bersembunyi?
Mendadak suara itu terdengar lagi, “Tolol! Sungguh tolol!”
Cacian itu disusul melayangnya sebuah batu besar dan satu manusia melompat keluar dari lubang di bawah batu. Ternyata siang-siang dia telah bersembunyi di belakang pohon, kemudian dengan menggali tanah dia masuk ke dalam lubang yang dibuatnya di bawah sebuah batu besar. Bukan main kagetnya semua orang, tidak terkecuali In So So yang berlari mendekati Thio Cui San sambil mengeluarkan seruan,
“Ahh...!”
Badan orang itu tinggi besar luar biasa, kira-kira lebih tinggi satu kaki dari manusia biasa. Rambutnya berwarna kuning terurai di pundaknya, sedangkan kedua matanya yang bersinar hijau menyorot tajam laksana pisau. Tangannya memegang sebatang toya Long-gee-pang yang panjangnya satu tombak (tujuh kaki). Dengan tubuh seperti raksasa dia berdiri di antara meja-meja perjamuan bagaikan malaikat.
“Kim-mo Say-ong?” Cui San bertanya pada diri sendiri. “Siapa dia? Aku belum pemah mendengar namanya, baik dari Suhu mau pun dari orang lain.“
Dia mendapat kenyataan bahwa orang itu mengenakan jubah panjang yang terbuat dari bermacam-macam kulit binatang seperti harimau, macan tutul, kerbau, menjangan, anjing ajak (serigala), biruang, rase dan sebagainya. Sepotong demi sepotong kulit-kulit itu dijahit satu sama lain dan buatannya yang sangat halus, tukang yang membuatnya bukan sembarang tukang. Di antara banyak binatang, hanya kulit singa yang tidak ada. Cui San menduga bahwa orang itu amat menghormati binatang singa sehingga dia menggunakan nama binatang itu sebagai gelarnya.
Long-gee-pang atau toya gigi serigala yang dicekal oleh orang itu pun lain dari pada yang lain. Menurut kebiasaan, paku-paku yang merupakan gigi serigala hanya dipasang pada satu ujung dari Long-gee-pang. Tetapi toya orang ini bukan saja panjang dan besar luar biasa, tapi juga dipasang paku-paku di kedua ujungnya, warna toya keemas-emasan, tapi bukan terbuat dari pada emas. Sesudah berhasil menenteramkan hatinya yang berdebaran, Pek Kwie Siu maju setindak seraya bertanya,
“Apakah aku boleh tahu she dan nama tuan yang mulia?”
“Aku she Cia bernama Sun alias Twie Su,” jawabnya. “Selain itu aku juga mempunyai satu gelar, yaitu Kim-mo Say-ong.”
Cui San dan So So saling melirik. Mereka sependapat bahwa walau pun ganas, orang itu mempunyai nama dan gelar seperti seorang sasterawan.
Mendengar jawaban yang pantas, hati Pek Kwie Siu jadi lebih lega. “Oh, kalau begitu aku berhadapan dengan Cia Sian-seng,” katanya sambil membungkuk. “Sebegitu jauh yang kuketahui, Sian-seng dan kami sama sekali belum pernah berurusan, bahkan belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi mengapa begitu tiba Sian-seng merusak perahu dan membunuh orang?”
Cia Sun tersenyum, memperlihatkan dua baris giginya yang putih dan berkilat. “Perlu apa tuan-tuan berkumpul di tempat ini?” dia balas bertanya.
Pek Kwie Siu merasa tidak dapat berdusta terhadap orang yang lihay ini. Dalam perhitungannya, walau pun ia tahu orang itu bekepandaian tinggi, dia hanya seorang diri, ia tidak begitu keder. Ia menganggap bahwa bersama Siang Kim Peng, Thio Cui San dan In So So, bagaimana pun pihaknya akan dapat menjatuhkan lawan tunggal. Berpikir demikian, ia lantas menjawab dengan suara nyaring,
“Belum lama berselang Peh-bie-kauw memperoleh sebilah golok mustika dan sekarang kami mengumpulkan sahabat-sahabat di dunia Kangouw untuk menyaksikan golok tersebut.”
Cia Sun menengok ke hanglo yang apinya berkobar-kobar dan membakar sebilah golok berwarna hitam. Melihat api yang demikian hebat, namun golok itu sedikit pun tidak bergeming, ia tahu golok itu benar-benar senjata mustika. Dengan tindakan lebar ia mendekat lalu mengangsurkan tangan untuk mencekal gagang golok.
“Tahan!” bentak Siang Kim Peng.
Cia Sun menengok. “Mengapa?” tanyanya sambil tersenyum tawar.
“Golok itu milik agama kami,” jawabnya. “Sobat, kau hanya boleh melihat dari jauh dan tidak boleh mendekatinya“.
“Milikmu?” menegas Cia Sun. “Apakah golok itu dibuat olehmu atau dibeli olehmu?”
Siang Kim Peng tergagap, dia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
“Pihakmu mengambil dari tangan orang lain, sekarang aku mengambil dari tangan kamu,” kata Cia Sun. “Hal itu cukup adil, mengapa tidak boleh?”
Kemudian ia kembali memutar badan dan mengangsurkan tangannya untuk mencekal gagang To-liong-to. Berbareng dengan suara berkerincing rantai, Siang Kim Peng mengeluarkan senjata semangka dari pinggangnya.
“Sahabat!” bentaknya. “Jika kau tidak meladeni maka terpaksa aku berlaku kurang sopan.“ Ia memberi peringatan, tapi sebenarnya berbareng dengan perkataannya itu ‘semangka’ yang di tangan kirinya sudah menyambar punggung Cia Sun.
Tanpa memutar badan atau menengok, Cia Sun menyodok ke belakang dengan toyanya. Benturan antara Long-gee-pang dan ’semangka’ menerbitkan suara yang sangat hebat dan semangka besi itu hancur menjadi tujuh delapan potong yang melesat ke sana sini. Hampir berbareng badan Siang Kim Peng bergoyang-goyang dan muntahkan darah, lalu dia roboh terguling tanpa beryawa lagi. Ternyata Siang Kim Peng sudah dibinasakan dengan tenaga Iweekang yang menyerang dari Long-gee-pang lewat semangka besi ke tubuhnya. Kalau orang tahu betapa tinggi kepandaian Siang Kim Peng, dapatlah dia membayangkan hebatnya Iweekang orang she Cia ini.
Lima Hio-cu Cu-ciak-tan mencelos hatinya. Serentak mereka melompat maju, dua menubruk pemimpin mereka, sedangkan tiga yang lain, tanpa mempedulikan apapun segera menghunus golok dan menerjang musuh. Setelah mengambil To-liong-to, dengan menggunakan Long-gee-pang Cia Sun menyontek hanglo besi itu yang lantas terbang ke atas lalu jatuh menghantam tubuh ketiga Hio-cu itu. Karena tenaganya belum habis, hanglo itu menggelinding terus menghantam pula dua Hio-cu yang sedang mencoba membangunkan Siang Kim Peng. Dalam sekejap pakaian lima Hio-cu dan mayat Siang Kim Peng berkobar-kobar. Empat Hio-cu mati di situ, sedangkan yang satu menjerit-jerit kesakitan. Siapakah yang tidak menjadi gentar melihat kejadian yang sangat hebat itu?
Meski pun masih berusia muda tetapi Cui San kenyang makan asam garam dunia Kangouw dan sudah pernah bertemu dengan banyak orang pandai. Tetapi manusia yang kepandaiannya setinggi Cia Sun, belum pemah ditemuinya. Diam-diam dia mengakui bahwa kepandaiannya masih kalah jauh. Dia mengakui bahwa di antara saudara-saudara seperguruannya tak satu pun yang dapat menandingi orang ini, bahkan Bu-tong Cit-hiap, tujuh pendekar Bu-tong, maju bersama belum tentu bisa memperoleh kemenangan. Menurut taksirannya, hanya gurunya seorang yang dapat meladeni Cia Sun.
Sementara itu dengan jarinya Cia Sun menyentil To-liong-to sehingga mengeluarkan suara aneh, seperti suara tersentuhnya emas tapi bukan emas, seperti kayu tapi bukan kayu. Ia manggut-manggut seraya berkata dengan suara perlahan,
“Tak ada suara, tak ada warna, Benar-benar golok mustika.”
Kemudian ia memandang sarung golok yang tergeletak di meja, dekat berdirinya Pek Kwie Siu.
“Apakah itu sarung To-liong-to?” tanyanya. “Bawa kemari!”
Pek Kwie Siu mengerti bahwa sepuluh sembilan jiwanya bakal melayang. Akan tetapi jika dia menurut dan menyerahkan sarung golok itu, maka habislah nama baiknya yang sudah dipertahankan puluhan tahun. Selain itu, jika di kemudian hari Kauwcu menyelidiki peristiwa tersebut, dia pasti akan binasa di tangan sang pemimpin. Namun di lain pihak, jika membangkang dia juga bakalan mati. Karena itu, sesudah berpikir sejenak dia lantas berkata,
“Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah! Aku she Pek bukan manusia yang takut mati.”
Cia Sun tersenyum. “Keras kepala! Manusia keras kepala!” katanya. “Dalam Peh-bie-kauw ternyata ada orang yang mempunyai nyali.“
Tiba-tiba dia mengayun tangan kirinya dan To-liong-to menyambar ke arah Pek Kwie Siu, Begitu golok menyambar, Pek Kwie Siu yang tidak berani menyambut lantas berkelit ke samping. Namun di luar dugaan, ketika mendekati meja tiba-tiba golok itu terbang rendah.
“Srok!”
Golok itu masuk tepat ke dalam sarungnya! Tetapi yang lebih aneh lagi, golok yang sudah bersarung itu terbang balik dan dengan sekali menyontek dengan Long-gee-pang, Cia Sun telah memegang lagi golok itu yang bersama-sama sarungnya lantas diselipkan di pinggangnya! Pertunjukan aneh itu, yang hanya dapat diperlihatkan seseorang yang Iweekang-nya sudah mencapai puncak kesempurnaan, benar-benar menakjubkan.
PERADILAN KIM-MO SAY-ONG
Sesudah itu, sambil menyapu para hadirin dengan matanya yang sangat tajam, ia berkata:
“Apakah tuan-tuan mempunyai pendapat lain mengenai keinginanku memiliki golok mustika ini?”
Sesudah ia mengulagi pertanyaannya dua kali, tiba-tiba orang yang duduk di meja Hay-see-pay bangkit berdiri dan berkata,
“Cia-cianpwe adalah seorang yang mulia dan tersohor di empat lautan. Golok mustika memang pantas dimiliki Cia-cianpwe dan kami sangat setuju.”
“Apakah tuan Cong-to-cu (pemimpin besar) dari Hay-see-pay yang bernama Goan Kong Po?” tanya Cia Sun.
“Benar,” jawabnya. Dia girang dan heran mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Cia Sun bisa mengenal she dan namanya?
“Apa kau tahu siapa guruku?” tanya pula Cia Sun. “Apa kau tahu aku berasal dari partai mana? Perbuatan mulia apa yang pernah dilakukan olehku?”
Goan Kong Po tergugu. “Aku... aku...“ jawabnya terputus-putus.
Sebenarnya dia tidak pernah mangenal Cia Sun dan kata-katanya yang barusan hanyalah untuk menyanjung.
“Sedangkan kau tidak mengenal aku, bagaimana kau tahu aku sangat mulia dan tersohor di empat lautan?” tanya Cia Sun dengan suara memandang rendah. “Golok ini dulu dimiliki Hay-see-pay, kemudian direbut oleh Tiang-pek Sam-kim dan akhirnya jatuh ke tangan Jie Thay Giam dari Bu-tong-pay...”
Mendengar ‘Jatuh ke tangan Jie Thay Giam dari Bu-tong-pay’ membuat jantung Cui Sin bergetar keras. Sekarang baru dia tahu bahwa golok itu ada sangkut paut dengan Samkonya.
Sementara itu Cia Sun bicara terus: “Dengan diam-diam turunkan tangan beracun, Peh-bie-kauw merampas golok ini dari tangan Jie Thay Giam. Huh! Huh! Sesudah merasa bahwa Hay-see-pay tidak mempunyai kesempatan untuk merebut To-liong-to, kau segera mengeluarkan kata merdu untuk menyanjungku. Kau adalah penjilat yang tidak mengenal malu dan selama hidupku, aku paling benci bangsa penjilat. Kemari!” Waktu mengucapkan kata-kata terakhir, suaranya nyaring bagaikan geledek dan menusuk kuping.
Goan Kong Po yang sudah hancur nyalinya tidak berani membangkang. Dengan tindakan limbung dia segera menghampiri dan ketika berhadapan dengan Cia Sun, sepasang kakinya tampak gemetaran.
Sementara itu hati Cui San berdebar dan darahnya bergolak. Waktu melirik In So So, dia mendapat kenyataan paras muka si nona pucat bagaikan kertas.
“Kalian, kawanan Hay-see-pay, sungguh kawanan si muka tebal!” Cia Sun mencaci pula. “Ilmu silat kalian hanyalah ilmu silat pasaran sedangkan modal kalian untuk mencelakakan manusia adalah garam beracun. Tahun yang lalu, di Gin-yauw kalian membinasakan Thio Teng In sekeluarga, tidak kurang dari sebelas orang melayang jiwanya. Tanggal satu bulan ini kalian juga telah membunuh Auwyang Ceng di Hay-bun.”
Goan Kong Po kaget tak kepalang. Ia sungguh tak mengerti bagaimana Cia Sun bisa tahu seluk beluk kedua pembunuhan itu yang dilakukan secara rahasia.
“Kenapa kau diam saja?” bentak Cia Sun. “Suruh orangmu membawa dua mangkok garam beracun kemari! Aku mau lihat bagaimana macamnya racunmu itu?”
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Hay-see-pay bahwa ke mana pun mereka pergi, pasti membekal garam beracun. Maka apa boleh buat, Goan Kong Po segera memerintahkan bawahannya membawa dua mangkok racun. Cia Sun menyambut dua mangkok itu yang lantas diendut-endus dengan hidungnya,
“Mari kita masing-masing makan semangkok!” katanya.
Goan Kong Po terkesiap, garam itu mengandung racun yang hebat bukan main, jangankan dimakan, menempel di badan manusia saja sudah cukup mengambil jiwa orang. Di lain saat Cia Sun menancapkan toyanya di tanah lalu satu tangan menyambar ke dagu Goan Kong Po yang begitu tersentuh, mulutnya lantas menganga dan tidak dapat ditutup lagi. Hampir berbareng ia mengangkat mangkok garam dan menuang semua isinya ke mulut orang!
Binasanya Thio Teng In bersama semua keluarganya di Gin-yauw dan terbunuh matinya Auwyang Ceng dalam sebuah hotel di Hay-bun merupakan sebuah teka-teki yang sangat mengherankan di rimba persilatan. Sekarang baru tahu bahwa kedua pembunuhan gelap itu dilakukan oleh orang-orang Hay-see-pay. Karena itu, melihat nasib yang dijalani Goan Kong Po, jago-jago yang berada di situ diam-diam merasa girang, Setelah mencekoki Goan Kong Po, sambil mengangkat mangkok garam yang satunya lagi Cia Sun berkata dengan suara nyaring,
“Aku she Cia selalu berlaku adil dan jujur. Kau sudah makan semangkok, aku pun akan makan semangkok.“ Dia menuang garam itu ke dalam mulut lalu menelannya. Perbuatan yang tak pernah diduga.
Orang yang paling kaget adalah Cui San. Sesudah memperhatikan paras muka Cia Sun, dia mendapat kenyataan meski pun sepak terjangnya amat ganas, tapi paras mukanya terlihat sinar kesedihan. Dengan mengingat bahwa jago yang telah dibinasakan olehnya adalah manusia-manusia jahat, maka dalam hati pemuda itu muncul rasa simpati. Demikianlah, begitu melihat Cia Sun menelan garam, tanpa terasa dia berteriak,
“Cia-cianpwe, manusia itu memang pantas mendapat hukuman mati. Perlu apa Cianpwe berbuat begitu?”
Cia Sun menengok dan mengawasi. Cui San tersenyum, paras mukanya sedikit tidak terlihat sinar ketakutan.
“Siapa tuan?” tanya Cia Sun.
“Boanpwe Thio Cui San dari Bu-tong,” jawabnya.
“Hm... Bu-tong Thio Ngo-hiap... apakah kau datang untuk merebut To-liong-to?” tanyanya pula.
Pemuda itu menggelengkan kepala seraya berkata, “Bukan. Kedatangan Boanpwe adalah untuk menyelidiki sebab musabab terlukanya Jie-samko. Kurasa Cianpwe banyak mengetahui tentang peristiwa itu dan aku mohon keterangan Cianpwe.”
Sebelum Cia Sun menjawab, Goan Kong Po mengeluarkan jeritan kesakitan kemudian roboh sambil memegang perutnya. Sesudah bergulingan beberapa kali di tanah, badannya tidak bergerak lagi dan rohnya berpulang ke alam baka.
“Cia Sian-seng, lekas minum obat!” teriak Cui San dengan bingung.
“Obat apa?!” bentaknya. “Ambilkan arak!”
Seorang pelayan dari Peh-bie-kauw lantas mengambil cawan dan poci arak.
“Mengapa Peh-bie-kauw begitu kikir?!” teriak Cia Sun. “Ambil poci yang paling besar!”
Dengan ter-gesa-gesa pelayan itu segera mengambil poci yang paling besar, lalu menaruhnya di hadapan Cia Sun. “Rupanya manusia ini kepingin mampus lebih cepat,” katanya dalam hati. Sambil tertawa Cia Sun mengangkat tempat arak itu. lalu menuangkan isinya ke mulut. Dalam sekejap arak yang beratnya kira-kira tiga puluh kati telah dituang kering. Ia mengelus-elus perutnya yang melembung besar den tertawa berkakakan. Tiba-tiba ia mendongak dan membuka mulutnya. Hampir berbareng, di luar dugaan ia menyemburkan arak yang lantas menyambar dada Pek Kwie Siu laksana sehelai sutera putih. Karena tidak ber-jaga, Pek Tan-cu terhuyung kemudian roboh karena dadanya seperti dipukul martil. Sesudah itu Cia Sun lalu menyemburkan arak itu ke atas yang kemudian jatuh seperti hujan gerimis sehingga membasahi muka semua orang.
Sejumlah orang yang Iweekang-nya masih cetek, yang tidak tahan dengan bau dan racun arak, lantas roboh dalam keadaan pingsan. Ternyata, dengan menggunakan Iweekang-nya yang sangat tinggi, lebih dulu Cia Sun mencuci racun garam di perutnya dengan arak yang kemudian disembur keluar sebagai arak beracun. Sedikit racun yang masih ketinggalan di perut lantas ditindih olehnya dengan menggunakan Iweekang.
Bek Keng Pangcu dari Kie-keng-pang marah bukan main dan mendadak ia melompat bangun. Tapi di lain detik ia ingat bahwa kepandaiannya masih jauh dari kepandaian orang itu sehingga perlahan-lahan ia duduk kembali sambil menahan amarah.
“Bek Pangcu,” kata Cia Sun seraya tertawa dingin. “Bukankah pada Go-gwee tahun ini di muara Sungai Bin-kiang kau telah membajak sebuah perahu dari Liauw-tong?”
Paras muka Bek Keng berubah pucat. “Benar,” jawabnya.
“Memang wajar. Sebagai bajak, kalau tidak membajak tentu kau tak bisa hidup,” kata pula Cia Sun. “Bahwa kau membajak, sangat bisa dimengerti olehku. Sedikit pun aku tidak menyalahkan kau. Tapi kenapa kau melemparkan beberapa puluh pedagang yang tidak berdosa ke laut dan memperkosa tujuh wanita hingga binasa? Apakah seorang gagah di dunia Kangouw boleh melakukan perbuatan yang terkutuk itu?”
Sekujur badan Bek Keng gemetar. “Itu... itu... perbuatan... perbuatan orang-orangku,” jawabnya terputus-putus. “Aku… aku sama sekali tidak ambil bagian.”
Cia Sun mengeluarkan suara dari hidung. “Huh! Enak benar kau menyangkal!” bentaknya. “Andai benar kau tidak ambil bagian, tapi kau sama sekali tidak mencegah orang-orangmu melakukan perbuatan yang betul-betul memalukan rimba persilatan, maka semua dosa harus kau tanggung sendiri. Perbuatan itu sama saja dilakukan olehmu sendiri. Sekarang aku bertanya: Pada hari itu siapa saja yang telah melakukan perbuatan terkutuk?”
Untuk menyelamatkan jiwanya sendiri, Bek Keng segera menghunus golok. “Coa Sie, Hoa Cong dan Ouw Liok! Pada hari itu kalian bertiga juga ikut ambil bagian!” Hampir berbareng, laksana kilat ia membacok tiga kali dan ketiga bajak itu lantas roboh tanpa bernyawa lagi.
“Bagus! Hanya sayangnya terlambat,” kata Cia Sun. “Jika hari itu kau menghukum mereka, tentu hari ini aku tidak akan turun tangan. Bek Pangcu, ilmu apa yang paling diandalkan olehmu?”
Melihat dia sudah tidak dapat meloloskan diri lagi, Bek Keng berkata dalam hatinya, “Bila bertanding di daratan, barang kali aku tidak mampu melawan dalam tiga jurus. Tapi di air adalah duniaku. Andai kalah, aku masih dapat melarikan diri. Tak mungkin ilmu berenangnya lebih lihay dari padaku.“ Berpikir begitu, dia lantas saja berkata,
“Aku ingin meminta pelajaran Cia-cianpwe dalam ilmu berkelahi di bawah air.”
“Baiklah, mari kita pergi ke tengah laut untuk menjajal kepandaian,” jawab Cia Sun sambil mengangguk. Tapi baru berjalan beberapa tindak, ia berhenti seraya berkata, “Tahan! Aku kuatir begitu aku pergi, orang-orang ini lantas kabur!”
Mendengar perkataan itu, semua orang menjadi terkejut. Apakah dia mau membinasakan semua orang? Bek Keng sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Segera dia berkata dengan tergesa-gesa.
“Biar pun di dalam air, aku bukan tandingan Cianpwe. Aku mohon pertandingan dibatalkan saja dan aku mengaku kalah.”
“Hm... kalau begitu aku tak usah banyak berabe,” kata Cia Sun. “Jika kau mengaku kalah, kau harus bunuh diri.”
Bek Keng terkesiap. Setelah berdiam sejenak, ia berkata dengan suara lampas (terdengar halus),
“Dalam... dalam pertempuran, kalah menang adalah kejadian biasa. Kenapa mesti bunuh diri?”
“Tak usah rewel!” Cia Sun membentak. “Manusia seperti kau ingin bertanding denganku? Kedatanganku hari ini adalah untuk menagih jiwa. Siapa pun yang pernah melakukan perbuatan jahat dan membunuh manusia tidak berdosa, tidak akan bisa lolos dari tanganku. Hanya karena aku kuatir kamu binasa penasaran, maka aku memberi kesempatan untuk mengeluarkan kepandaian yang paling lihay guna membela diri. Siapa yang dengan kepandaiannya dapat menangkan aku, aku akan mengampuni jiwanya.”
Kemudian dia membungkuk dan mengambil dua gumpal tanah liat yang lalu dibasahi dengan arak. Sesudah memulung gumpalan tanah itu menjadi dua bola bundar, dia segera berkata:
“Tinggi rendahnya kepandaian berenang dapat diukur dengan berapa lama dia mampu bertahan di bawah permukaan air. Sekarang begini saja. Dengan menggunakan tanah ini, aku dan kau menutup hidung dan mulut. Siapa yang lebih dulu tidak tahan, boleh mengorek tanah ini, tetapi dia harus bunuh diri.”
Tanpa bertanya lagi apakah Bek Keng setuju atau tidak, dia segera menutup hidung dan mulutnya dengan tanah liat itu, kemudian sekali menimpuk, bola tanah yang lain menutup hidung dan mulut Bek Keng. Melihat pertunjukan itu, semua orang merasa geli, tetapi tak satu pun yang berani tertawa. Sebelum jalan napasnya ditutup, Bek Keng sudah menarik napas dalam-dalam. Sesudah itu dia lantas bersila sambil menahan napas.
Dalam ilmu menahan napas, Bek Keng jauh lebih unggul dari pada manusia kebanyakan. Semenjak berusia tujuh delapan tahun, dia sering selulup di air untuk menangkap ikan dan kepiting. Dengan latihan yang terus menerus, semakin lama dia makin mengenal sifat air dan mampu bertahan di bawah permukaan air sampai kira-kira sepasangan hio. Maka itu, dalam pertandingan dia percaya bakal mendapat kemenangan.
Di lain pihak, Cia Sun tidak mencontoh perbuatan lawannya. Sebaliknya dari bersila atau duduk, dengan tindakan lebar dia menghampiri meja Sin-kun-bun kemudian dengan mata melotot menatap wajah Kwee Sam Kun, Ciang-bun-jin Sin-kun-bun. Diawasi begitu, orang she Kwee bangun bulu romanya. Buru-buru ia berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangannya.
“Cia-cianpwe, aku yang rendah Kwee Sam Kun dari Sin-kun-bun.”
Karena hidung dan mulutnya tertutup, Cia Sun tidak dapat bicara. Ia mencelup telunjuknya ke dalam cawan arak lalu menulis tiga huruf di atas meja. Begitu membaca tiga huruf itu, paras muka Kwee Sam Kun berubah pucat seperti kertas. Beberapa muridnya melirik huruf-huruf itu yang ternyata berbunyi ‘Cui Hui Yan’, yaitu nama seorang wanita, tetapi tidak tahu mengapa guru mereka menjadi begitu ketakutan.
Cui Hui Yan adalah puteri gurunya Kwee Sam Kun. Sesudah sang guru meninggal dunia, dia main gila dengan nona itu. Tetapi sesudah nona itu hamil, dia meninggalkannya begitu saja lalu masuk menjadi murid partai Sin-kun-bun. Karena malu dan marah, Hui Yan gantung diri hingga binasa. Karena keluarga Hui hanya tinggal Hui Yan seorang, maka urusan itu tak menjadi panjang dan kecuali Kwee Sam Kun sendiri, rahasia tersebut tidak diketahui oleh orang luar. Tapi di luar dugaan, sesudah lewat kurang lebih dua puluh tahun, Cia Sun telah menulis nama nona itu di atas meja.
Begitu melihat tiga huruf itu, Kwee Sam Kun segera berkata dalam hatinya, “Sesudah menangkan Bek Keng dan mencopot tanah liat yang menutup jalan napasnya, dia tentu akan mengumumkan perbuatannya. Paling baik aku menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan lebih dulu. Jika dia mengerahkan tenaga melawan aku, dia tentu akan kalah dalam pertandingan melawan Bek Keng.” Berpikir demikian, dia lantas berkata dengan suara nyaring,
“Aku yang rendah Ciang-bun-jin dari Sin-kun-bun. Kepandaianku yang paling kuandalkan adalah silat tangan kosong. Sekarang aku minta pelajaran darimu.”
Berbareng dengan kata-katanya, dia langsung mengirim tinju ke perut Cia Sun dan tinju pertama disusul tinju kedua. Nama ‘Sam Kun’ atau ‘Tiga tinju’ digunakannya adalah karena dia memiliki tinju yang luar biasa keras sehingga dengan sekali meninju saja dia dapat membinasakan seekor kerbau. Di kalangan Kangouw, ahli kelas pertengahan jarang ada yang sanggup melayani tiga tinjunya sehingga karenanya, dia terkenal dengan nama ‘Kwee Sam Kun’, sedangkan namanya yang asli tidak diketahui orang. Dua tinju yang dikirim dengan beruntun itu ditangkis oleh Cia Sun. Kwee Sam Kun merasa bahwa dalam menangkis pukulannya, Iweekang lawan tidak seberapa kuat dan berbeda jauh dengan Iweekang yang digunakan untuk membunuh Siang Kim Peng. Maka itu, sambil mengayun tinju ketiga dia pun membentak keras,
“Jagalah pukulan ketiga!”
Tinju yang sangat hebat itu diberi nama Hun-sauw-cian-kun (Menyapu laksaan serdadu) dan pukulan tersebut sudah pernah menjatuhkan banyak sekali jago-jago Kangouw.
Sementara itu, Bek Keng yang bersila sambil menahan napas rupanya sudah merasa tak tahan lagi. Muka dan kupingnya merah, sedangkan matanya berkunang-kunang.
Melihat keadaan ayahnya, Bek Siauw-pangcu menjadi kuatir bukan main. Maka itu, selagi Kwee Sam Kun menyerang dengan dua pukulan, cepat dia mencabut sebatang tusuk konde seorang Tocu wanita dari Kie-keng-pang. Dengan mengerahkan Iweekang di jari tangannya, dia mematahkan tangkai tusuk konde yang kemudian ditimpukkan ke mulut ayahnya. Walau pun tangkai tusuk konde itu dapat melukai mulut atau tenggorokan sang ayah, tapi tanah liat yang menutup jalanan napas akan berlubang sehingga sedikit banyak ayahnya mendapat udara segar.
Pada saat tangkai tusuk konde itu kira-kira setombak dari mulut Bek Keng, mata Cia Sun yang sangat tajam telah melihatnya. Tanpa menggerakkan tubuh dia menendang tanah dan sebutir batu kecil melesat ke atas, menyambar tangkai tusuk konde yang begitu terpukul langsung membalik. Tiba-tiba Bek Siauw-pangcu mengeluarkan teriakan kesakitan sambil menutup mata kanannya yang mengeluarkan darah. Ternyata tangkai tusuk konde itu menyambar tepat ke mata kanannya yang lantas saja menjadi buta.
Pada saat itulah tinju Kwee Sam Kun yang ke tiga menyambar perut Cia Sun. Sebelum sampai sasaran, pukulan yang sangat dahsyat itu mengeluarkan sambaran angin yang sangat tajam. Sam Kun menduga lawannya akan menangkis atau berkelit. Tapi tak dinyana Cia Sun tidak bergerak.
“Bukk!”
Kepalan itu tepat pada sasarannya. Perut adalah salah satu bagian tubuh manusia yang paling lemah dan tinju itu amblas. Tapi pada saat itu pula Kwee Sam Kun mencelos hatinya, tinjunya tersedot semacam tenaga seperti besi berani. Cepat-cepat dia mengerahkan Iweekang menarik kembali kepalannya, tapi sedikit pun tidak bergeming dan tinju itu melekat di perut musuh.
Dengan tenang Cia Sun mengangsurkan tangan kirinya ke pinggang lawan. Melihat guru mereka dalam bahaya, dua orang murid Sin-kun cepat melompat memberi pertolongan. Tetapi begitu diawasi Cia Sun dengan sorot mata setajam pisau, hati mereka keder dan tidak berani bergerak lagi.
Di lain saat Cia Sun meloloskan ikat pinggang Kwee Sam Kun yang lalu digunakan untuk melibat leher pecundang itu. Sesudah itu dia mengikat ujung ikat pinggang ke dahan pohon sehingga badan Kwee Sam Kun jadi tergantung. Kwee Sam Kun meronta-ronta. Tetapi semakin dia meronta, ikatan pada lehernya menjirat semakin erat. Beberapa saat kemudian di depan matanya terlihat bayangan Cui Hui Yang. Rasa takut dan menyesal bercampur aduk dalam hatinya. Dalam keadaan separuh sadar, kupingnya mendengar kata-kata,
“Jalan langit tidak pernah gagal. Perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat!”
Cia Sun menoleh dan melihat warna putih pada kedua mata Bek Keng, dia menghampiri, lalu mencopot tanah liat yang menutupi jalan napas lawan itu dan meraba-raba dadanya. Sesudah mendapat kepastian bahwa Pangcu Kie-keng-pang itu sudah tak bernyawa lagi, barulah dia mencopot tanah yang menutupi hidung dan mulutnya sendiri. Dia mendongak dan tertawa nyaring.
“Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang sangat jahat,” katanya. “Bahwa mereka baru binasa sekarang sesungguhnya sudah terlalu terlambat.“ Sehabis berkata begitu dia mengawasi kedua Kiam-kek muda dari Kun-lun-pay.
Paras muka Ko Cek Seng dan Chio Tauw pucat bagaikan kertas, tetapi mereka pun balas mengawasi tanpa mengunjuk rasa keder. Melihat cara bagaimana Cui San telah membinasakan dua orang pemimpin dari dua partai persilatan yang ternama, Cui San kaget bukan main dan sugguh-sungguh dia tidak dapat mengukur betapa tinggi kepandaian orang itu. Dan kini melihat Cia Sun mengawasi kedua Kiam-kek Kun-lun, dia merasa sangat kuatir akan keselamatan kedua orang muda itu. Buru-buru ia bangun berdiri sambil berkata:
“Cia-cianpwe, menurut katamu sendiri, orang-orang yang telah dibinasakan olehmu adalah manusia-manusia jahat yang patut dibunuh. Tetapi jika kau sendiri membunuh manusia secara sembarangan. maka kau pun tidak ada banyak bedanya dengan orang-orang yang dikatakan jahat olehmu.”
“Tidak banyak bedanya?” Cia Sun menegas sambil tertawa-tawa. “Kepandaianku tinggi, kepandaian mereka rendah. Yang kuat menjatuhkan yang lemah. Itulah perbedaannya.”
“Manusia bukan binatang dan manusia yang normal harus dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah,” kata pula Cui San. “Jika seorang menindih yang lemah hanya dengan mengandalkan kekuatannya, tanpa mempedulikan benar atau salah, maka orang itu tiada bedanya dengan binatang.”
Cia Sun tertawa berkakakan. “Apa benar di dalam dunia ini terdapat apa yang dinamakan salah atau benar?” tanyanya dengan nada mengejek. “Orang yang berkuasa pada jaman ini adalah bangsa Mongol. Mereka sering berbuat se-wenang2. Apakah dalam melakukan perbuatan2 itu mereka bersedia untuk membicarakan soal benar atau salah denganmu?”
“Memang benar, mereka tidak mempedulikan benar atau salah,” jawab Cui San. “Tetapi juga benar bahwa segenap pencinta negeri siang malam mengharap-harapkan datangnya kesempatan untuk mengusir kawanan penjajah itu.”
Cia Sun menyeringai, “Huh! Sekarang kita bicara saja mengenai orang-orang Han sendiri,” katanya. “Dulu, pada waktu orang Han duduk di atas tahta, apa dia menggubris soal benar atau salah dalam sepak terjangnya? Gak Hui adalah seorang menteri setia, tapi mengapa dia dibunuh oleh Song-ko-cong? Cin Kwee dan Kee Su To adalah menteri-menteri dorna, tapi mengapa mereka dapat memanjat kedudukan tinggi sehingga hidup dalam kemuliaan dan kemewahan?”
“Kaisar-Kaisar Lam-song (kerajaan Song Selatan) sudah menggunakan manusia-manusia pengkhianat dan membinasakan menteri-menteri setia, di antaranya Gak Hui, sehingga kerajaan roboh dan negeri jatuh ke dalam tangan bangsa lain,” kata Cui San. “Dalam hal ini dapatlah kita katakan bahwa Kaisar-Kaisar itu telah mendapat buah yang jahat karena menebarkan bibit kejahatan. Inilah kejadian yang membuktikan adanya perbedaan antara salah dan benar.”
Cia Sun tersenyum dan berkata dengan suara duka, “Thio Ngo-hiap, tadi kau mengatakan bahwa Kaisar-Kaisar itu telah mencicipi buah karena perbuatannya yang jahat dan kejam. Sekarang aku hendak bertanya: Apakah dosanya rakyat jelata sehingga mesti menderita terus menerus, mesti mengalami tindasan?”
Cui San tidak dapat menjawab, dia hanya menghela napas dengan paras muka suram.
“Rakyat terpaksa membiarkan dirinya disakiti karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan,” menyeletuk In So So. “Hal ini adalah hal yang lumrah di dalam dunia.”
“Itulah sebabnya mengapa kita orang-orang rimba persilatan sudah belajar silat,” sambung Cui San. “Tujuan kita yang utama adalah membela keadilan dan menolong manusia yang perlu ditolong. Cia-cianpwe adalah seorang enghiong yang jarang ada tandingannya, dan dengan memiliki ilmu yang amat tinggi itu maka Cianpwe bisa berbuat banyak sekali bagi umat manusia!”
“Apa bagusnya membela keadilan?” tanya Cia Sun sambil berjebi. “Apa perlunya membela keadilan?”
Cui San kaget tak kepalang. Semenjak kecil dia telah menerima didikan batin dari gurunya dan sebelum belajar silat dia sudah tahu pentingnya tugas membela keadilan. Dalam alam pikirannya, seorang yang belajar silat secara otomatis mempunyai tugas suci itu. Selama hidup, pertanyaan perlu apa membela keadilan belum pernah masuk ke dalam otaknya. Karena itu, mendengar perkataan Cia Sun, dia tercengang dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata. Beberapa saat kemudian barulah dia berkata,
“Membela keadilan, itulah jalan untuk menegakkan keadilan sehingga perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat.”
Cia Sun segera tertawa terbahak-bahak. “Omong kosong!” katanya dengan suara nyaring. “Perbuatan baik mendapat pembalasan baik, perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat! itu semua omong kosong belaka! Orang-orang Bu-tong-pay paling senang membaca kitab Cong-cu dan sebagai murid Bu-tong, kau tentu paham dengan isinya kitab itu.”
“Dalam kitab tersebut terdapat kata-kata yang seperti berikut: Dalam dunia ini, Kaisar Uy Tee dianggap sebagai manusia yang memiliki kedudukan paling tinggi. Tapi Uy Tee masih belum bisa menyempurnakan kemuliaannya. Dalam peperangan di lembah To Ok ia telah mengalirkan darah sampai ratusan li jauhnya. Kaisar Gouw tidak welas asih, Kaisar Sun tidak berbakti. Kaisar Ie berpandangan sempit. Kaisar Tong mengusir majikannya, Bu-ong menyerang Tiu, sedang Bu-ong menangkap Kiang Lie. Sepanjang sejarah, keenam Kaisar itu dianggap sebagai manusia-manusia yang paling mulia. Untuk kepentingan pribadi, ahli-ahli sejarah telah memutar balikkan kenyataan-kenyataan secara tidak mengenal malu.“
“Sekarang aku hendak bertanya, apa artinya perkataan2 itu? Uy Tee yang selalu dianggap sebagai seorang nabi masih bisa membunuh begitu banyaknya manusia dan mengalirkan darah sampai ratusan li. Apa bila dibandingkan dengan itu, apa artinya perbuatanku yang hanya membinasakan beberapa manusia saja dan mengalirkan darah yang jauhnya hanya beberapa tindak?”
Cui San tak pernah menduga bahwa manusia yang macamnya begitu menyeramkan dan sepak terjangnya begitu kejam ganas, dapat menghapal kitab-kitab kuno. Rasa kagumnya jadi semakin besar dan dia pun berkata dengan sikap menghormat,
“Cia-cianpwe, apa yang barusan dihapal olehmu adalah bagian To-tit-pian dari kitab Cong-cu, tetapi bagian itu dipalsukan orang, bukan ditulis oleh Cong-cu sendiri.”
“Andai kata benar bagian itu ditulis oleh orang lain, tetapi yang penting bukan penulisnya,“ kata Cia Sun. “Yang menjadi soal adalah: Apakah tulisan itu beralasan atau tidak?”
“Beralasan terang beralasan juga,“ jawab Cui San. “Tapi tulisan yang menyerang Kaisar-Kaisar jaman dahulu itu terlalu mencari-cari kesalahan orang dan menuntut kesempurnaan dalam diri manusia, sedangkan pada hakekatnya di dunia yang fana ini tidak ada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan.”
Cia Sun mengeluarkan suara di hidung. “Kau selalu mencari-cari alasan untuk membela orang-orang itu,” katanya. “Di dalam kitab Kit-bong-su terdapat tulisan seperti ini: Soan mengusir Giauw di Pang-yang. Ek dibunuh oleh Kit. Dalam kitab Siang-sie Tong-cek terdapat kata-kata: Tong mengusir Kiat di Lam-co dan perbuatan itu amat mengurangi kemuliaannya Nah, lihatlah! Bukankah kedua kitab terang2 mengunjuk bahwa Kaisar-Kaisar jaman dulu yang begitu dimuliakan sebenarnya tidak begitu mulia?”
Kembali Cui San bengong untuk beberapa saat. “Aku seorang yang berpengetahuan dangkal dan belum pernah membaca kitab-kitab itu,” katanya. “Tapi halnya Kaisar-Kaisar itu terjadi di jaman purba sehingga benar tidaknya tak dapat diketahui dengan pasti.”
“Baiklah. Kalau begitu, sekarang bicarakan saja kejadian-kejadian yang belakangan,” kata Cia Sun. “Tadi kau mengatakan bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat. Tapi kenyataannya tak selamanya begitu. Cong-cu berkata seperti berikut: Benda di luar selamanya belum dapat dipastikan. Maka itulah Liong Hong dibinasakan, Pie Kan binasa, Kie Cu jadi gila, Ok Lay meninggal dunia, Kiat dan Cu juga habis nyawanya. Orang yang menjadi raja selalu mengharapkan kesetiaan menteri-menterinya, tetapi menteri setia belum tentu dipercaya. Maka itulah Ngo Yan menceburkan dirinya di sungai, sedangkan Tiang Sie binasa di negeri Siok.”
“Itulah kata-kata yang ditulis oleh Cong-cu. Di samping itu kau tentu tahu bahwa Souw Cin telah berhasil mempersatukan enam negara, namun dia sendiri celaka. Kut Goan seorang menteri setia, tapi belakangan dia sampai membuang diri di sungai Bie-lo. Han Sin berjasa besar untuk negaranya, namun tak urung dia binasa di dalam penjara. Sekarang marilah tengok orang-orang peperangan. Tang Ngay berhasil merebut Siok-han, tapi akhirnya dia masuk kerangkeng. Atas bantuan Ngo Cu Sie, negeri Gouw menjagoi, tetapi Ngo Cu Sie sendiri didesak oleh rajanya sehingga dia mesti membunuh diri”.
“Han-ko-couw telah merebut dunia (Tiongkok) atas bantuan Han Sin, tetapi dia masih tega untuk membunuh Han Sin. Setelah mengalahkan Tio Cui di Liang-peng, Raja Cin berbalik membunuh Pek Kie. Dilihat dari contoh-contoh itu, siapa dapat berkata bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik?”
Cui San menghela napas panjang. Ia berduka karena mengingat bahwa di antara jenderal-jenderal ternama seperti Tang Ngay, Ngo Cu Sie, Han Sin, Pek Kie, Lie Kong, Man Wan dan lain-lain, banyak sekali yang menjadi korban Kaisar-Kaisar kejam.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar