Lekas Hoat-ong mengangkat roda emasnya buat menangkis, sedangkan roda perak di tangan lain mengetok ke batang pedang Yo Ko.
Tadi mereka sudah saling gebrak di atas tangga. Yo Ko merasa tenaga Hoat-ong sangat kuat dan berat, seumur hidupnya belum pernah dia ketemu lawan setangguh ini, maka diam-diam dia amat heran. Dia pikir dengan gemblengannya di tengah ombak, tenaganya cukup kuat melawan gelombang ombak, 16 tahun yang lalu Hoat-ong bukan tandingannya, akan tetapi tadi ketika dia menghantam hampir-hampir saja dirinya malah tak sanggup menahannya!
Karena pikiran itu, demi nampak kedua roda orang maju berbareng, ia tidak menghindar melainkan pedangnya lantas disendal, ia sengaja hendak menjajal tenaga Hoat-ong yang sebenarnya.
Terdengarlah suara gemerincing keras. Kalau orang lain pasti tidak akan tahan oleh tenaga sendalan Yo Ko, tapi Hoat-ong punya ‘ilmu sakti bertenaga naga dan gajah’ dan sudah terlatih sampai tingkat ke-11.
“Pletak!”
Begitu kedua tenaga raksasa berbenturan, terdengarlah suara keras, pedang Yo Ko yang kalah, patah menjadi beberapa potong, sedang sepasang roda Kim-lun Hoat-ong juga terlepas dari cekalan kemudian terpental jatuh ke bawah panggung. Sial bagi tiga pemanah Mongol, kepala mereka pecah terketok roda-roda itu.
Setelah gebrakan ini, keduanya melompat mundur, tangan terasa pedas kesemutan. Namun Hoat-ong masih belum kehabisan senjata, segera roda besi dan roda tembaga dikeluarkannya terus menubruk maju lagi. Sebaliknya Yo Ko tiada senjata lain, terpaksa lengan baju kirinya mengebas, ia balas menghantam dengan tangan kanan.
“Hai, hai, Hwesio besar, aku sudah bilang kau tak mampu menandingi Toa-koko-ku, sekarang benar tidak?” Kwe Siang berteriak-teriak. “Ha, masih berani kau berlagak pandai, kenapa sekarang kau bersenjata melawan dia yang bertangan kosong?”
Hoat-ong hanya menjengek, ia tidak menjawab, permainan kedua rodanya semakin kencang.
Tatkala itu Oey Yok-su, Kwe Ceng, Oey Yong dan lainnya sedang memimpin pasukannya pulang kembali untuk menolong kota Siang-yang. Ketika melihat Yo Ko, Siao-liong-li dan Sin-tiau muncul terus menyerbu ke atas panggung, tentu saja semangat mereka bangkit.
Segera Oey Yok-su gerakkan panji komandonya, ia menarik kelima pasukannya masing-masing 4000 orang 20 ribu orang untuk menggempur bagian belakang musuh yang sedang menyerang benteng kota, sisanya 20 ribu orang tetap di formasi semula, tetap mengepung panggung untuk membantu Yo Ko.
Walau pun pasukan Song sudah berkurang separoh, tapi demi nampak Yo Ko sudah naik ke atas panggung, mereka menjadi gagah berani, dengan 1 lawan 10 mereka bertempur mati-matian. Akan tetapi pasukan pemanah Mongol berjaga terlalu rapat dan kuat hingga beberapa kali pasukan Song menyerbu maju dan selalu kena didesak mundur lagi.
Sementara itu di bawah benteng Siang-yang pertempuran juga sedang berjalan dengan sengitnya antara yang menggempur dan yang bertahan. Gubernur militer kota, Lu Bun-hwan, dengan seragam lengkap tidak berani memimpin sendiri ke atas benteng melainkan mengkeret bersembunyi di kamar dengan dua selir kesayangannya, dengan badan gemetar sebentar-sebentar menyebut sabda Buddha, lain saat bertanya kuatir bagaimana suasana pertempuran di luar?
Saat itulah dengan tangan kosong dan berlengan tunggal Yo Ko menempur kedua roda besi dan tembaga Kim-lun Hoat-ong hingga lebih dari 400 jurus.
Ilmu silat yang dilatih kedua orang itu meski berbeda, tapi sama-sama lihaynya dan makin lama semakin kuat. Sementara itu asap tebal dari bawah panggung membuat mata ketiga orang di atas panggung menjadi pedas.
Walau pun Yo Ko tidak bersenjata tetapi dia tidak pernah terdesak di bawah angin. Dalam pertarungan sengit ini Hoat-ong merasa panggung rada bergoyang, dia tahu tentu kaki panggung sudah terbakar, sebentar lagi akan ambruk, tatkala itu tak terhindarkan dirinya tentu akan gugur bersama dengan Yo Ko dan Kwe Siang. Pula melihat pukulan Yo Ko makin lama makin aneh, kalau ratusan jurus lagi, mungkin dia sendiri akan terdesak.
Dalam gugupnya mendadak timbuI pikiran jahatnya, tiba-tiba roda besinya dia hantamkan ke pundak kanan Yo Ko dan selagi orang mengegos, secepat kilat roda tembaganya disambitkan ke muka Kwe Siang.
Gadis itu terikat di satu cagak, tentu saja badannya tidak dapat bergerak apa lagi hendak menghindar. Keruan Yo Ko sangat terkejut. Lekas ia melompat dan dengan lengan bajunya dia sabet jatuh roda tembaga orang.
Namun waktu bertarung sesungguhnya jago silat tidak boleh lengah sedetik pun. Karena pikirannya dipusatkan menolong Kwe Siang, maka pertahanan diri sendiri menjadi terbuka. Hoat-ong tidak sia-siakan kesempatan itu, tangannya menjulur dan roda besinya mengiris paha kiri Yo Ko.
Dalam keadaan badan malayang, lekas Yo Ko depakkan kaki kirinya ke pergelangan tangan musuh, namun roda besi Hoat-ong membalik ke bawah. Sekali ini Yo Ko tak mampu lagi menghindar.
“Crett!”
Betis kanan terkena roda besi dan mengucurkan darah, lukanya ternyata tidak enteng. Dalam kagetnya Kwe Siang menjerit kuatir. Sementara Hoat-ong sudah mengeluarkan serep rodanya yang masih satu, roda timah. Kembali dengan sepasang roda dia menyerang kalap, cuma bukan diarahkan kepada Yo Ko, tetapi selalu mengincar Kwe Siang.
Kiranya dia tahu meski Yo Ko terluka, tapi hendak mengalahkannya tidak mungkin terjadi dalam waktu singkat, karena itu ia hanya mengincar Kwe Siang, dengan demikian Yo Ko pasti akan berusaha menolongnya dan kedudukan lawan tentu saja berada di pihak terdesak.
“Toa-koko, jangan kau urus aku, kau bunuh saja Hwesio jahat ini untuk membalaskan sakit hatiku!” Kwe Siang berseru.
Tiba-tiba terdengar suara tertahan Yo Ko. Kiranya pundak kirinya terluka oleh roda musuh lagi, luka ini ternyata lebih berat hingga tangannya hampir-hampir tak bisa diangkat. Di bawah panggung Siao-liong-li, Sin-tiau dan Ciu Pek-thong telah menghalau pemanah-pemanah Mongol supaya mereka tak sempat melepaskan panah kepada Yo Ko dan Kwe Siang. Akan tetapi seluruh perhatian Siao-liong-li tidak pernah meninggalkan diri Yo Ko, di samping memutar senjatanya membunuh musuh, saban-saban dia mendongak memandang ke atas panggung. Ketika mendadak dilihatnya tubuh Yo Ko penuh berlepotan darah, hatinya mencelos, kagetnya tidak kepalang.
Tatkala itu tangga panggung sudah putus terbakar, tiada jalan lagi untuk naik ke atas buat membantu. Pikiran Siao-liong-li kabur, walau pun pedangnya masih terus diputar membacok dan membabat namun otaknya seperti kosong plong tak tahu berada di mana dan sedang melakukan apa!
Menghadapi bahaya, beberapa kali Yo Ko mengeluarkan ilmu pukulan ‘lm-jian-siau-hun-ciang’ untuk menggempur musuh. Tetapi untuk memainkan ilmu pukulan ini, jiwa dan raga harus bersatu, padahal sejak dia bertemu kembali dengan Siao-liong-li, dia menjadi girang dan periang, dari mana dapat timbul lagi perasaan ‘lm-jian-siau-hun’ (hati muram jiwa merana)?
Meski pun dalam keadaan berbahaya, tiada sedikit pun rasa rindunya seperti ketika berpisah tempo hari, maka gerakan serangannya selalu berselisih sedikit dari pada kehendaknya dan tak dapat menunjukkan daya saktinya lagi.
Kwe Ceng dan lainnya juga melihat keadaan Yo Ko yang menempur musuh dengan bertangan kosong dan sudah terluka, tetapi jaraknya terlampau jauh, bagaimana mereka bisa membantunya?
Tiba-tiba pikiran Oey Yong tergerak. Ia sambar pedang Yalu Ce dan dilemparkan kepada sang suami sambil berseru:
“Lemparkan ke atas panggung kepada Ko-ji!”
Kwe Ceng menurut. Pedang itu dipasang ke atas busurnya terus dijepretkan, maka meluncurlah pedang itu dengan pesatnya sambil mengeluarkan sinar ber-kilauan.
Pedang itu cukup berat, bentuknya juga berlainan dari pada anak panah biasa, jika bukan bidikan tenaga sakti Kwe Ceng sukar juga bila hendak diluncurkannya ke atas panggung, Maka menyambarlah pedang itu dengan cepatnya ke punggung Yo Ko.
Ketika sudah dekat, mendadak lengan baju Yo Ko mengebas ke belakang hingga dengan tepat dapat melibat batang pedang itu. Saat itu pula kebetulan roda Hoat-ong sedang dihantamkan padanya. Segera Yo Ko menarik pedangnya terus ditusukkan melalui sela-sela kedua roda musuh.
Tak terduga, karena pundaknya terluka, gerak-geriknya menjadi terganggu, pula pedang ini bukan Hian-tiat-pokiam yang tajam tiada bandingan. Maka, ketika roda Hoat-ong menjepit terus memuntir kedua rodanya,
“Pletak!” kembali pedang Yo Ko patah.
Menyaksikan itu, semua orang di bawah panggung menjadi terkejut luar biasa. Diam-diam Yo Ko insaf bahwa hari ini pasti celaka, bukan saja tidak dapat menolong Kwe Siang, bahkan jiwa sendiri akan melayang di panggung ini. Karena itu dengan cemas dia memandang sekejap ke arah Siao-liong-li sembari berseru:
“Selamat tinggal, Liong-ji, jagalah dirimu baik-baik!”
Dan pada saat itu juga, sebuah roda Hoat-ong mengepruk ke atas kepalanya. Dalam keadaan putus asa, dengan lesu dan kurang semangat Yo Ko mengebaskan lengan bajunya menangkis dan sebelah tangannya memukul.
“Plakk!”
Di luar dugaan, terdengar suara yang keras, pukulannya dengan tepat mengenai pundak Kim-lun Hoat-ong. Menyusul terdengar Ciu Pek-thong berteriak dari bawah panggung:
“Bagus sekali tipu pukulan ‘tho-ni-tay-sui’ (berlepotan tanah membawa air)!”
Yo Ko melengak, tetapi lantaran itu pula barulah dia sadar. Kiranya dalam keadaan putus asa dan lesu, tanpa terasa dia sudah keluarkan tipu serangan ‘tho-ni-tay-sui’, satu jurus dari ilmu pukulan ‘Im-jian-soh-hun-ciang’.
Ilmu pukulan ini harus timbul sendiri dari lubuk hati, lantas dari lubuk hati meneruskan perasaan ke lengan dan lengan menggerakkan tangan, semuanya tergantung pada sang perasaan. Rahasia ini sekali pun Ciu Pek-thong yang serba lengkap mempelajari ilmu silat macam apa pun juga tak mampu memahaminya.
Semenjak Yo Ko bertemu kembali dengan Siao-liong-li, ilmu pukulan ciptaannya ini sudah kehilangan daya gunanya, baru pada saat yang paling kritis, ketika dalam hati merasa akan berpisah untuk selamanya dengan Siao-liong-li, pada detik rasa dukanya itulah tanpa terasa kekuatan dari ilmu pukulan ‘lm-jian-siau hun-cio’ itu timbul dengan sendirinya.
Karena pundaknya kena digebuk sekali hingga tubuhnya sempoyongan, Hoat-ong terkejut dan heran, tetapi segera dia menubruk maju lagi.
Yo Ko mengegos mundur, lalu memberondongi tiga kali serangan ‘Lik-put-ciong-sim’ (keinginan ada, tenaga kurang), ‘To-heng-gik-si’ (jalan terbalik, berbuat berlawanan) dan “Yok-yu-soh-sit” (se-olah kehilangan sesuatu). Menyusul dengan tipu ‘Heng-si-cau-bak’ (mayat berjalan bangkai bergerak), kakinya segera menendang.
Tendangan ini datangnya mendadak dan tidak ter-duga, maka tak sanggup lagi Hoat-ong menghindar, tepat sekali kena ‘Tan-tiong-hiat’ dadanya. Sambil menjerit keras dan muntahkan darah tegar, tanpa ampun lagi Hoat-ong terjungkal ke bawah panggung.
Melihat itu, tanpa berjanji lebih dahulu pasukan Song dan pasukan Mongol berteriak berbareng, Bedanya pasukan Song bersorak gembira, sebaliknya pasukan Mongol berteriak kaget.
Saat itu panggung mulai bergoyang mengeluarkan suara “krak-krek” yang keras. Yo Ko tahu gelagat jelek, keadaan sudah mendesak, tak sempat lagi memutus tali ringkusan Kwe Siang. Maka sekali telapak tangannya memotong, ia hantam patah cagak kayu yang mengikat si anak dara, lalu orangnya bersama cagaknya diangkat sembari berseru:
“Tiau-heng, terimalah kami!”
Ia incar baik-baik punggung rajawali sakti terus melompat ke atasnya. Tangkas sekali Sin-tiau itu. Meski pun tak bisa terbang, tapi sekali meloncat setinggi dua-tiga tombak, dengan enteng Yo Ko bersama Kwe Siang jatuh dengan tepat di atas punggungnya kemudian perlahan-lahan turun ke tanah.
Saat itulah, didahului suara gedubrakan yang gemuruh, api dan asap berhamburan. Panggung tinggi itu ambruk rata dengan tanah.
Tatkala Kim-lun Hoat-ong ditendang terjungkal ke bawah, meski terluka parah ia masih berusaha menyelamatkan diri, dengan menahan napas ia berguling sekali di tanah. Selagi hendak bangkit tiba-tiba terdengar di belakangnya seseorang ketawa terbahak-bahak, tahu-tahu pinggangnya dirangkul terus ditahan di atas tanah lagi. Menyusul Hoat-ong merasa seperti beratus atau beribu jarum tajam menusuk masuk semua ke dalam tubuhnya.
Kiranya yang merangkul dan menindihnya bukan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong. Si tua nakal ini memakai baju kutang berduri landak, benda pusaka Oey Yok-su, benda ini tak mempan segala senjata, sebaliknya penuh duri lancip bagai landak. Memang Hoat-ong sudah terluka parah, kini kena dirangkul terus ditindih Lo-wan-tong, keruan jiwanya melayang tanpa ampun.
Ketika panggung tinggi itu ambruk, cepat Ciu Pek-thong melompat pergi, sementara Hoat-ong terkubur di bawah puing panggung berapi itu.
Melihat puteri kesayangan terhindar dari elmaut, saking girangnya Oey Yong mencucurkan air mata. Sungguh tak terkatakan terima kasihnya pada Yo Ko. Sekali pun saat itu ia diharuskan mati untuk Yo Ko rasanya ia pun rela. Maka cepat ia mendekati sang puteri membuka tali pengikatnya.
Semangat Kwe Ceng, Oey Yok-su, It-teng Taysu, Kwe Hu dan lain-lain segera terbangun. Sebaliknya begitu melihat pemimpinnya mati, seketika pasukan Mongol yang mengepung panggung menjadi kacau-balau, ditambah lagi terjangan pasukan Song kian kemari, tentu saja tambah pontang-panting tak keruan.
“Gempur balik ke Siang-yang, bunuh raja itu!” teriak Kwe Ceng keras-keras.
Bersoraklah pasukan Song, mereka cepat memutar tubuh menerjang pasukan Mongol yang sedang menggempur benteng.
Melihat luka Yo Ko, Siao-liong-li menyobek kain bajunya membalut luka, saking terharunya hingga tangannya gemetar, tapi tak sanggup buka suara.
“Rasa kuatirmu di bawah panggung jauh lebih menderita dari pada aku yang bertarung di atas panggung tadi,” ujar Yo Ko tertawa.
Sementara itu terdengar teriakan pasukan Song yang hiruk-pikuk memecah bumi dan secara gagah berani menerjang musuh. Dari jauh Yo Ko melihat formasi pasukan musuh sangat teratur, pula jumlahnya berlipat ganda dari pada pasukan Song, ber-kali-kali pasukan Song menyerbu maju bagai gelombang ombak yang susuI-menyusuI, akan tetapi sama sekali tak bisa memboboIkan pertahanan pasukan Mongol.
“Liong-ji,” kata Yo Ko, “meski lawan tangguh sudah mampus, pasukan musuh belum kalah. Mari kita menyerbu. Kau letih tidak?”
Betapa bersemangat kata-kata Yo Ko bagian depan itu, sedangkan kata-kata terakhir berubah menjadi begitu halus lembut penuh kasih sayang. Siao-liong-li tersenyum, jawabnya:
“Jika kau bilang serbu, hayo serbu!”
“Toa-koko,” mendadak suara anak dara berkata di sampingnya, “Sungguh cantik Liong-cici seperti dewi kayangan.”
Siao-liong-li berpaling pada Kwe Siang, sahutnya sambil tertawa: “Adik cilik, banyak terima kasih atas doamu untuk pertemuan kembali kami, Toa-koko-mu banyak cerita tentang kebaikanmu, dia sengaja membawa aku ke Siang-yang sini buat bertemu dengan kau.”
“Dan hanya engkaulah yang setimpal berjodohkan dia,” ujar Kwe Siang menghela napas.
Siao-liong-li menggandeng tangan si anak dara dengan amat akrabnya. Sebenarnya terhadap siapa pun selalu Siao-liong-li bersikap dingin, tapi sepanjang jalan ia mendengar cerita Yo Ko yang memuji-muji Kwe Siang, pula melihat dalam usia sekecil anak dara ini, meski menghadapi ancaman elmaut tadi tetap tak gentar, maka sikap Siao-liong-li berubah dari pada biasanya.
Sementara itu Yo Ko membawakan beberapa ekor kuda yang tak bertuan, lalu katanya: “Marilah naik, aku membuka jalan, kita terjang musuh bersama!”
Segera dia mendahului cemplak kudanya lantas dilarikan paling depan. Dengan kencang Siao-liong-li dan Kwe Siang ikut di belakangnya. Mereka menuju ke selatan dan tak lama kemudian terlihatlah tangga pencakar langit berderet-deret bersandar pada tembok benteng, tentara Mongol bagai semut banyaknya sedang memanjat ke atas.
Ketika mereka memandang dari tempat yang tinggi, terlihat di sebelah barat beribu tentara Mongol mengurung Yalu Ce bersama 200 orang anak buahnya. Tentara Mongol itu semuanya bersenjata golok sepanjang lima kaki yang bentuknya melengkung, maka satu persatu anak buah Yalu Ce banyak yang kena dibabat terguling.
Kwe Hu kelihatan memimpin sepasukan tentara menerjang hendak menolong suaminya, tetapi kena ditahan pasukan Mongol yang berjumlah ribuan orang. Suami isteri itu hanya dapat melihat dari jauh, tapi tak bisa berhimpun menjadi satu.
Menyaksikan prajurit-prajurit di samping suaminya makin lama semakin berkurang, hati Kwe Hu benar-benar seperti disayat-sayat. Ia tahu dalam pertempuran besar demikian, bila sampai terkepung sendirian, betapa pun tinggi ilmu silatnya tak terhindar dari kematian.
Saat itulah mendadak terdengar Yo Ko berseru: “Kwe-toakounio (nona Kwe besar), asal kau menyembah tiga kali padaku, segera aku menolong suamimu!”
Kalau turuti watak Kwe Hu yang congkak dan tinggi hati, jangankan disuruh menyembah, sekali pun mati dia takkan mau kalah mulut pada Yo Ko. Tetapi kini jiwa sang suami bergantung di ujung rambut, tanpa ragu-ragu ia keprak kuda mendekati Yo Ko, sekali melompat turun, ia menekuk lututnya dan hendak menyembah sungguh-sungguh.
Melihat itu Yo Ko malah terkejut sekali. Lekas ia menarik bangun, ia menyesal atas kata-katanya tadi yang rendah budi,
“Maafkan aku telah salah omong, jangan kau anggap sungguh-sungguh. Yalu-heng adalah sahabatku yang baik, tidak mungkin aku tidak menolongnya.”
Habis itu ia mengumpulkan delapan ekor kuda lagi, yang empat ekor ia jadikan satu baris di depan dan empat ekor lain tergandeng satu baris di belakang. Dengan dua baris kuda muka belakang masing-masing empat ekor, segera dia melompat ke atasnya, dengan tangan tunggal ia pegang delapan tali kendali, sekali ia bersuit segera terjang pasukan musuh.
Walau pun ‘tank-kuda’ yang dikendalikan Yo Ko belum terlatih, namun dengan tenaga saktinya tidak sukar mengendalikannya. Maka 32 tapak kaki segera ber-detak-detak ke depan hingga debu pasir berhamburan, Yo Ko sendiri dengan Ginkang-nya yang tinggi, melompat ke sana ke sini di atas ke delapan ekor kuda itu.
Ketika tentara Mongol sedang tertegun menyaksikan ilmu menunggang kuda yang aneh menyerbu ke dalam pasukan mereka, sekali lengan baju Yo Ko mengebas, sebuah panji segera kena dirampasnya terus ditancapkan di atas pelana.
Dengan membentak-bentak segera perwira dan bintara Mongol hendak merintangi, tapi di mana panji Yo Ko rampasan tadi menyabet, sekaligus tiga perwira musuh terguling dari kudanya.
Saat itu Yalu Ce kelihatan tinggal tiga tombak jauhnya, segera Yo Ko berseru: “Yalu-heng lekas melompat ke atas!”
Berbareng itu, sekali panji diayunkan, Yalu Ce melompat tinggi ke udara. Cepat Yo Ko menggulung dengan panjinya hingga dengan tepat tubuh Yalu Ce terbungkus kain panji. Dua orang delapan kuda segera menerjang keluar kepungan musuh.
“Yo-hengte,” kata Yalu Ce menarik napas lega, “banyak terima kasih atas pertolonganmu, tapi anak buahku masih banyak yang terkepung, tidak mungkin aku menyelamatkan jiwa sendiri. Biarlah aku bertempur lagi dan mati bersama dengan mereka.”
Tiba-tiba saja pikiran Yo Ko tergerak, katanya: “Mari kau pun merampas sebuah panji besar!” Habis ini dia mengeluarkan geretan dan kain panji di tangannya dibakar.
“Akal yang bagus!” seru Yalu Ce. Segera ia pun merampas sebuah panji kemudian menyulutnya dengan api dari panji Yo Ko yang sudah berkobar-kobar.
Sambil mem-bentak-bentak panji berapi itu mereka ubat-abitkan, kembali mereka menyerbu ke tengah pasukan musuh. Dengan diputarnya kedua panji berapi yang menari-nari kian kemari di udara, asal sedikit kesenggol siapa pun pasti akan kepala gosong dan rambut hangus.
Walau pun pasukan Mongol gagah berani, namun ketika menghadapi api, tak bisa tidak mereka harus mundur. Sementara itu bawahan Yalu Ce tinggal 50-60 orang saja, segera mereka menerjang keluar dari kepungan. Dengan sisa prajuritnya itu, Yalu Ce berkumpul di atas tanah bukit sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kwe Hu mendekati Yo Ko lalu menyembah. “Yo-toako, selama hidup aku selalu tak baik padamu, tapi kau berbudi luhur, kejelekanku kau balas dengan kebajikan dan kini engkau sudah menolong...” Berkata sampai di sini suaranya jadi parau dan tenggorokan se-akan-akan tersumbat.
Memang beberapa kali Yo Ko pernah menoIongnya, tetapi selalu merasa sirik dan dengki padanya. Sudah terang orang ada budi kepadanya, tapi rasa jemunya sukar dilenyapkan. Sering ia merasa Yo Ko terlalu angkuh dan suka agulkan kepandaiannya yang tinggi serta sengaja pamer. Dan sekarang sesudah Yo Ko menolong jiwa suaminya, barulah Kwe Hu benar-benar merasa berterima kasih, dia insaf kesalah-pahamannya yang lalu.
Lekas Yo Ko membalas hormat, sahutnya: “Adik Hu, semenjak kecil kita hidup bersama dan suka cekcok, padahal hubungan kita bagai kakak dan adik, asal kini kau tidak jemu lagi padaku, aku sudah merasa senang.”
Kwe Hu tertegun atas sebutan itu, sekilas segala kejadian di masa anak-anak terbayang olehnya.
“Ya, apakah karena aku jemu padanya? Ataukah benci kepadanya? Bu-si Hengte begitu baik dan suka me-nyanjung, tetapi dia selamanya tak gubris diriku. Padahal asal sedikit turuti kemauanku, sedikit pikirkan diriku, rasanya biar mati untuknya juga aku rela. Sebab apakah aku benci padanya tanpa alasan? Rupanya diam-diam aku suka padanya, tapi sedikit pun ternyata aku tidak terisi di hatinya,” demikianlah pikirnya.
Aneh juga, selama 20-an tahun Kwe Hu tidak tahu perasaan hatinya sendiri. Setiap ingat Yo Ko, selalu dia pandang sebagai musuhnya, padahal dalam hati kecilnya, betapa perhatian dan rindunya pada Yo Ko tidaklah dapat dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin itulah yang dikatakan: ‘Cinta yang dalam, bencinya juga mendalam’.
Semenjak kecil sifat Kwe Hu tinggi hati, ia anggap seharusnya Yo Ko menjunjungnya seperti kedua saudara Bu yang begitu penurut. Akan tetapi, sedikit pun Yo Ko ternyata tidak paham perasaannya, sebaliknya dia sendiri pun tidak paham akan perasaan Yo Ko.
Apalagi Kwe Ceng dan Oey Yong. Kedua orang tua ini merasa Kwe Hu dan Yo Ko dilahirkan sebagai musuh, asal bertemu pasti cekcok, akhirnya lengan Yo Ko buntung ditebas Kwe Hu hampir-hampir urusan meluas sampai batas-batas yang sulit diatasi.
Kini sesudah rasa benci dan sirik itu hilang barulah Kwe Hu sadar, ternyata perasaannya pada Yo Ko sesungguhnya begitu mesra, begitu mendalam.
“Waktu dia menyerbu musuh menolong kakak Ce, sesungguhnya hatiku lebih kuatir untuk siapakah? aku tak bisa menerangkan. Tentu saja kini aku tak mencintainya lagi, tapi dulu, kenapa aku menjadi begitu benci padanya?” demikian pikirnya.
Demikianlah di tengah-tengah pertempuran yang gegap gempita tiba-tiba Kwe Hu menjadi jelas akan perasaan hatinya sendiri.
“Pada hari ulang tahun Siang-moay, dia memberikan tiga hadiah besar padanya dan mengapa aku harus begitu benci padanya? Dia membongkar kedok Hotu dan mendukung Ce-koko menjadi pangcu dari Kay-pang, kenapa diam-diam aku malah marah? Ahh, Kwe Hu, Kwe Hu! Nyata kau cemburu kepada adik perempuanmu sendiri! Soalnya budinya sedemikian manis kepada Siang-moay, tapi selamanya tak pernah sedikit pun begitu baik terhadapku.”
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia mendongkol dan marah kembali, dengan sengit ia melotot sekejap ke arah Yo Ko dan Kwe Siang, tapi mendadak ia sadar lagi.
“Ah, kenapa aku pikirkan hal-hal ini? Bukankah sekarang aku sudah menjadi wanita yang bersuami? Lagi pula kakak Ce juga sangat cinta padaku.”
DemikianIah akhirnya ia menghela napas panjang. Walau pun hidupnya tidak kekurangan namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam se-akan tertinggal semacam rasa penyesalan yang tak terkatakan.
Biasanya apa pun yang dikehendaki pasti terpenuhi, tetapi sesuatu yang justru sangat diinginkannya malah tidak dapat diperoleh. Sebab itulah selama hidupnya terkadang dia sendiri pun tidak paham, sebab apa sifatnya begitu keras? Sebab apa di waktu orang lain bergirang, ia sendiri justru mendongkol dan marah tanpa sebab? Wajahnya sebentar marah sebentar pucat, dia terus memikirkan perasaannya yang aneh.
Tetapi Yo Ko, Siao-liong-li, Yalu Ce, Kwe Siang dan lain-lainnya sedang memandang jauh mengikuti pertempuran dahsyat yang masih berlangsung di depan benteng Siang-yang. Tampak tentara Mongol laksana semut sedang merembet ke atas benteng, Kwe Ceng dan Oey Yok-su bersama prajuritnya menggempur dari belakang, Tetapi jumlahnya sedikit hingga sukar menggulingkan pasukan besar musuh yang menggempur benteng.
Sedangkan panji kebesaran raja Mongol tampak perlahan-lahan mendekati kota. Rupanya pasukan penjaga kota sudah patah semangat, tidak sanggup lagi menggempur turun pasukan musuh yang merembes ke atas benteng.
Melihat itu, Kwe Siang berseru kuatir: “Toa-koko, bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya ini?”
Diam-diam Yo Ko pikir: “Hidupku dapat berjumpa lagi dengan Liong-ji, sesungguhnya Thian sudah berlaku murah padaku. Walau pun hari ini harus mati, rasanya aku tidak menyesal. Laki-laki sejati harus membela tanah air dan berkorban di medan bakti. Inilah tempat berpulang yang paling tepat bagiku.” seketika semangatnya me-nyala-nyala, serunya segera:
“Mari, Yalu-heng, kita menerjang musuh lagi!”
“Bagus sekali!” sahut Yalu Ce tanpa pikir.
“Mari kita ikut menyerbu!” Siao-liong-li dan Kwe Siang berseru berbareng.
“Baik,” kata Yo Ko. “Aku merintis di depan, kalian kumpulkan sebanyaknya tombak yang panjang dan ikut di belakangku.”
Segera Yalu Ce memberi perintah bawahannya mengumpulkan tombak yang berserakan di medan pertempuran itu, mereka masing-masing membawa beberapa buah juga.
Dengan tombak di tangan, Yo Ko cemplak kuda menerjang ke depan. Sin-tiau, Si rajawali sakti selalu mendampingi kudanya, sayapnya yang kuat seakan perisai bagi Yo Ko dan menyampuk panah yang berhamburan datang. Siao-liong-li, Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Siang ngintil di belakang dengan kencang.
Ternyata jurusan yang diarah Yo Ko justru di mana kelihatan panji kebesaran raja Mongol berkibar. Keruan Yalu Ce terkejut bukan main. Ia tahu, sekali raja Mongol berani memimpin tentaranya, tentu penjagaan sudah diatur keras dan rapat sekali. Kini jumlah pihaknya yang tiada seratus orang bukankah cuma antarkan kematian bila berani menerjangnya? Tapi bila teringat jiwanya yang tadi hampir melayang tapi tertolong Yo Ko, maka ke mana saja diajak, ke lautan api atau masuk air mendidihpun pasti akan diturutnya.
Demikianlah dalam sekejap mereka menerjang mendekati benteng Siang-yang, Ketika pengawal Mongol melihat serbuan rombongan Yo Ko yang sangat hebat, segera ada 200 orang dikerahkan untuk menahannya.
Tetapi sekali Yo Ko ayunkan tangannya yang tunggal itu, pesat bagaikan panah sebatang lembing atau tombak meluncur ke depan lantas menembus dada seorang perwira musuh, setelah itu dia sambut pula sebatang lembing lain dari Yalu Ce terus ditumpukkan lagi dan kembali perwira musuh kedua terjungkal.
Keruan pasukan Mongol menjadi kacau dan rombongan Yo Ko dengan cepat menerjang lewat. Terkejut sekali para pengawal Mongol, beramai-ramai mereka mengangkat senjata menghadang maju. Tetapi setiap kali tombak Yo Ko menusuk, satu orang pasti terguling, siapa yang merintangi pasti mati.
Harus diketahui tenaga sakti lengan tunggal Yo Ko terlatih di bawah damparan ombak badai, betapa kuat sambitan lembingnya itu, jangankan badan manusia, sekali pun batu cadas juga tembus. Setiap lembingnya selalu diincarkan kepada perwira-perwira yang memakai topi baja yang mudah dikenal, maka sekejap saja 17 tombak membunuh 17 perwira Mongol yang perkasa.
Dengan serangan kilat ini, meski berpuluh ribu tentara terhimpun di bawah benteng, tetapi ke mana pun rombongan Yo Ko sampai, di situ lantas kacau balau, sekaligus Yo Ko menerjang sampai di depan raja Mongol.
Dengan mati-matian pengawal pribadi Monko maju bertahan. Malahan beberapa orang di antaranya terus mengaling-aling di depan junjungan mereka sebagai tameng.
Ketika Yo Ko membalikkan tangannya hendak menerima tombak lagi dari Yalu Ce, ternyata ia hanya mendapat tempat kosong. Kiranya mereka sudah diterjang pasukan musuh hingga terpisah.
Sementara Yo Ko melihat muka raja MongoI mengunjuk rasa gugup dan kuatir, kudanya segera diputar lantas hendak kabur. Tiba-tiba Yo Ko bersuit panjang, sekali kakinya menggenjot pelana kuda, tubuhnya mencelat ke atas dan menubruk ke sana.
Belasan prajurit pengawal raja segera memutar senjata menusuk ke atas, namun mendadak Yo Ko berjumpalitan satu kali di udara, tahu-tahu tubuhnya melayang lewat di atas senjata-senjata musuh.
Melihat gelagat jelek, sekali tarik kudanya, segera raja Mongol itu kabur ke depan dengan cepat. Kuda tunggangannya adalah binatang pilihan, larinya begitu cepat bagaikan terbang. Tetapi Yo Ko tetap mengejarnya dengan kencang, dengan ilmu entengkan tubuh yang tinggi. Dan di belakangnya menyusul beratus prajurit pengawal Mongol.
Melihat keadaan itu, pasukan kedua belah pihak, di atas dan di bawah benteng, untuk sementara lupa bertempur dan mereka berteriak-teriak. Pasukan Mongol berteriak mengharap kuda junjungan mereka berlari lebih cepat, sebaliknya pasukan Song berteriak memberi semangat pada Yo Ko agar bisa membekuk raja Mongol.
Diam-diam Yo Ko sangat girang melihat raja Mongol kabur terpencil sendirian. Pikirnya, betapa pun cepat kau kabur, akhirnya akan kutangkap. Tak terduga-duga, kuda tunggangan Monko yang bernama ‘Hui-hun-cui’ (kuda awan melayang) ternyata luar biasa. Sedikit menggenjot, sekali melompat lantas beberapa meter ke depan. Meski Yo Ko sudah mengejar sekuatnya, malah semakin jauh ketinggalan.
Mendadak Yo Ko menyambar sebatang tombak lalu ditimpukkannya ke punggung Monko sekuat tenaga. Tampaknya lembing itu meluncur bagai panah dan segera bakal tertancap pada punggung orang. Saking tegangnya sampai kedua pihak ternganga menahan napas, siapa tahu mendadak kuda ‘Hui-hun-cui’ itu memancal ke depan sehingga lembing itu jatuh satu kaki jauhnya di belakang punggung raja Mongol itu.
Maka berteriak lagi pasukan kedua pihak. Pasukan Song merasa sayang atau gegetun, sebaliknya pasukan Mongoi bersyukur girang.
Waktu itu jarak Kwe Ceng, Oey Yok-su, Oey Yong, Ciu Pek-thong dan It-teng semuanya sangat jauh, mereka hanya ikut kuatir saja tanpa dapat membantu Yo Ko. Sebaliknya prajurit dan perwira Mongol juga hanya bisa ber-teriak-teriak memberi semangat saja, walau pun ada maksud berkorban untuk junjungan mereka, tapi mana dapat menyusul larinya ‘Hui-hun-cui’ yang begitu pesat?
Ketika Monko menoleh ke belakang dan melihat Yo Ko semakin ketinggalan jauh, dia menjadi lega. Segera dia belokkan kudanya menuju ke barat, ke pasukannya yang berada di situ. Maka sambil berteriak-teriak pasukan Mongol itu pun maju memapak.
Jika sampai keduanya bergabung, lebih tinggi lagi kepandaian Yo Ko juga takkan berdaya menangkap raja musuh itu. Melihat usahanya akan gagal, Yo Ko menjadi amat gegetun. Tiba-tiba pikirannya tergerak. Ia pikir tombak terlalu berat, sukar mencapai jauh, kenapa tidak pakai batu saja?
Karena itu cepat ia jemput dua potong batu kecil seadanya, ia gunakan ‘Tan-ci-sin-thong’ (ilmu sakti selentikan jari), dua batu itu satu persatu diselentikkan ke depan. Terdengar dua kali suara mendenging tajam, tanda betapa pesat menyambarnya batu itu dan keduanya kena pantat kuda ‘Hui-hun-cui’ hingga karena kesakitan, sembari meringkik, binatang itu berjingkrak terus berdiri menegak.
Monko adalah raja yang amat tangkas dan gagah perwira, semenjak kecil sudah banyak ikut bertempur bersama kakeknya, yakni Jengis Khan, hidupnya boleh dikatakan dibesarkan di atas kuda dan di tengah senjata. Meski kini menghadapi bahaya, sama sekali ia tidak menjadi gugup, cepat ia tarik gendewa terus memanah ke belakang sambil kedua kakinya mengempit kencang kudanya yang menegak.
Tapi dengan sedikit menunduk, Yo Ko hindarkan panah, habis itu secepat terbang ia melompat maju, sedangkan tangannya sudah dapat meraup sepotong batu lagi. Waktu ia sambitkan sekuatnya, dengan tepat batu itu mengenai punggung Monko.
Betapa hebat tenaga sambitan Yo Ko, keruan Monko tak tahan, tulang iganya patah, orangnya terjungkal dari kuda dan terbanting binasa. Melihat raja mereka terguling dari kuda, seluruh pasukan MongoI menjadi kacau, beramai-ramai merubung maju dari segala jurusan.
Segera Kwe Ceng memberi tanda serangan umum. Demikian pula pasukan Song yang berada di dalam benteng ikut menyerbu keluar. Ditambah lagi barisan 28 bintang yang dipimpin Oey Yok-su lantas menggempur musuh ke sana ke sini.
Dalam keadaan kacau balau itu pasukan Mongol saling injak-menginjak, yang binasa tidak terhitung banyaknya, di sepanjang jalan penuh senjata yang ditinggalkan, akhirnya kabur tanpa teratur ke utara.
Selagi Kwe Ceng memimpin pasukannya mengejar musuh, tiba-tiba terlihat dari arah barat muncul lagi satu pasukan musuh yang barisannya sangat rajin teratur, dari panjinya dapat diketahui itu adalah pasukan yang dipimpin adik raja, yaitu Kubilai.
Akan tetapi sekali pasukan Mongol sudah kalah, keadaannya bagai air bah melanda dan seketika tidak mungkin dapat ditahan. Betapa pun Kubilai mengatur tentara dengan baik, tetap saja kena terjang, pasukan kalah yang mundur laksana arus menerjang itu sehingga seketika pasukannya justru ikut menjadi kacau.
Melihat gelagat jelek, segera Kubilai putar balik pasukannya, dia sendiri dengan pasukan pribadinya perlahan-lahan mundur ke utara dengan teratur.
Sejak terjadi pertempuran antara pasukan Mongol dan kerajaan Song, selamanya pihak Mongol belum pernah mengalami kekalahan begitu besar, apalagi raja mereka gugur di medan pertempuran, hal ini sangat mempengaruhi semangat tentaranya.
Pula menurut tradisi bangsa Mongol, takhta kerajaan bukan diteruskan putera mahkota, tetapi dicalonkan suatu dewan yang terdiri dari keluarga raja, pengeran-pangeran, pembesar-pembesar dan panglima yang terkemuka.
Kini Monko sudah mati, Kubilai ingin buru-buru bisa naik takhta, maka dia pun cepat memimpin pasukannya pulang ke utara. Kelak tiga belas tahun kemudian barulah pasukan Mongol datang menggempur Siang-yang lagi.
Waktu Kwe Ceng memimpin pasukannya kembali ke kota, tampaklah gubernur Lu Bun-hwan beserta stafnya lengkap sudah menanti di pintu gerbang untuk menyambutnya. Begitu pula rakyat ber-jubel-jubel berdiri di luar benteng sambil membawakan arak dan segala macam daharan sebagai hiburan bagi pasukan yang menang itu.
Kwe Ceng menggandeng tangan Yo Ko. Dia terima secawan arak yang disuguhkan seorang penduduk tua, tapi ia angsurkan kepada Yo Ko, katanya.
“Ko-ji, hari ini kau telah berjasa sedemikian besar, namamu akan harum tersiar ke mana-mana, seluruh rakyat penduduk kota ini pun tiada yang tak berterima kasih padamu.”
Terharu sekali Yo Ko atas pujian Kwe Ceng. Ada sepatah kata yang tersimpan lebih 20 tahun dalam hatinya dan belum pernah diucapkan. Kini tak tertahan lagi, dengan suara lantang segera ia menjawab:
“Kwe-pepek, jika waktu kecil siautit (keponakan) tidak mendapat perawatan dan pengajaranmu, mana mungkin terjadi seperti hari ini?”
Lalu kedua orang bergandengan tangan masuk kota bersama. Terdengarlah suara sorak sorai rakyat yang gegap gempita menyambut mereka.
Tiba-tiba Yo Ko teringat akan kejadian dahulu: “Lebih 20 tahun yang lalu Kwe-pepek juga menggandeng tanganku mengantar aku ke Cong-lam-san untuk belajar silat, perhatiannya hingga sekarang sedikit pun tidak pernah berubah. Tapi aku sendiri telah berbuat onar, bikin gara-gara, mendurhakai guru dan mengkhianati agama. Coba kalau aku terus tersesat di jalan yang tidak benar, tidak akan hari ini aku dapat bergandengan tangan lagi dengan Kwe-pepek.” Berpikir demikian tanpa terasa Yo Ko merasa malu sendiri.
Malamnya di dalam kota diadakan perjamuan besar untuk merayakan kemenangan yang gilang gemilang itu. Di tengah suasana yang gembira itu, tiba-tiba Kwe Ceng berduka sebab terkenang pada Ang Chit-kong. Katanya:
“Dahulu kalau bukan Khu-totiang (Khu Ju-ki) dari Coan-cin-kau yang berbudi itu dan ketujuh Insu (guru berbudi) jauh-jauh mencariku ke Mongol, juga mendapatkan didikan dari Ang-lo-insu, tidak mungkin aku Kwe Ceng bisa sedikit berjasa seperti hari ini. Kini kita bergembira di sini, di antara para Insu, kecuali Kwa-Io-insu, selebihnya sudah wafat semua, kalau ingat beliau-beliau itu, sungguh aku menjadi berduka.”
Mendengar itu It-teng Taysu dan yang lain-lain ikut muram, sebaliknya Lu Bun-hwan sama sekali tidak mengerti seluk-beluknya, katanya di dalam hati:
“Orang-orang ini benar-benar tak tahu aturan, dalam perayaan yang gembira ria ini malah berbicara tentang orang mati segala.”
Sementara itu Kwe Ceng berkata kembali: “Jika urusan di sini selesai, besok aku ingin berangkat ke Hoa-san berziarah ke makam Insu.”
“Kwe-pepek,” sela Yo Ko. “aku pun lagi hendak bilang begitu. Mari kita pergi beramai-ramai.”
Memang Oey Yok-su, It-teng dan Ciu Pek-thong juga sudah kangen pada sobat tua yang telah meninggal lebih 20 tahun, segera mereka menyatakan setuju. Dan perjamuan terus berlangsung dengan meriah hingga jauh malam.
Besok paginya, diam-diam Kwe Ceng dengan rombongan berangkat menuju ke Hoa-san. Kesehatan Ciu Pek-thong, Liok Bu-siang, Su-si-hengte dan Su-sui Hi-un belum sembuh betul, maka mereka menunggang kuda dan berjalan perlahan. Baiknya tidak ada urusan penting, maka perjalanan mereka dilakukan seenaknya saja.
Tidak berapa hari tibalah mereka di Hoa-san, ketika itu Ciu Pek-thong dan lainnya telah sembuh semuanya. Maka naiklah mereka ke atas gunung, Yo Ko menunjukkan tempat di mana jenazah Ang Chit-kong dan Auyang Hong dikubur dulu.
Oey Yong membawakan sayur-mayur, ayam, daging dan lain-lain sesajen. Segera ia membikin tungku dan menyalakan api, ia bikin beberapa macam masakan yang paling disukai mendiang Ang Chit-kong sebagai sesajen sembahyang. Lalu para ksatria itu pun menjalankan penghormatan dan mengheningkan cipta.
Kuburan Auyang Hong letaknya di samping kuburan Ang Chit-kong. Namun dendam Kwe Ceng kepada Auyang Hong boleh dikatakan sedalam lautan, bila ingat beberapa gurunya yang berbudi seperti Ju Jong, Han Po-ki dan lain-lain terbunuh secara keji, meski kejadian sudah lewat berpuluh tahun, tapi rasanya masih sangat benci padanya.
Hanya Yo Ko yang mengingat budi kebaikan Auyang Hong dulu yang mengaku anak angkat padanya, maka dia pun berlutut dan menyembah di hadapan makam ayah angkatnya bersama Siao-liong-li.
Ciu Pek-thong maju ke depan kuburan Auyang Hong. Dia membungkuk memberi hormat, katanya: “Wahai Lo-tok-but (makhluk berbisa tua, julukan Auyang Hong), hidupmu dahulu banyak melakukan kejahatan, sesudah mati kau menjadi tetangga Lo-kiau-hua (pengemis tua, Ang Chit-kong), boleh dikatakan kaulah yang beruntung. Hari ini semua orang datang berziarah ke makam Lo-kiau-hua, hanya dua bocah yang menyembah kepadamu, kalau di tanah baka kau tahu, seharusnya kau menyesali keganasan semasa hidupmu dulu.”
Mendengar doa sembahyang yang lucu aneh itu, semua orang menjadi geli. Kemudian semua orang mengambil mangkok dan sumpit, mereka hendak dahar di depan kuburan. Namun dari balik gunung tiba-tiba berkumandang terbawa angin suara beradunya senjata serta bentak-membentak orang, tampaknya seperti ada orang berkelahi.
Dasar watak Ciu Pek-thong paling getol mengenai sesuatu, langsung saja dia mendahului berlari ke tempat ramai-ramai itu, kemudian semua orang pun menyusulnya.
Lewat dua tanjakan, pada sebuah tanah datar yang sempit berkumpul 30-40 orang yang beraneka macam bentuknya, tinggi-pendek, gemuk-kurus, tua muda, laki-perempuan, ada paderi, ada preman semua bersenjata. Orang-orang itu sedang bertengkar.
Melihat kedatangan rombongan Ciu Pek-thong dan Kwe Ceng, dikira kaum pelancong biasa, maka tak digubrisnya. Terdengar seorang laki-laki tinggi besar berkata dengan suara lantang.
“Diam, diam! Kita jangan ‘hantam kromo’ tak keruan. Sebutan ‘juara ilmu silat’ tidak mungkin diperoleh dengan jalan ribut-ribut begini. Sekarang para orang gagah telah berkumpul semua di sini, mengapa kita tidak saling ukur kepandaian masing-masing dengan ilmu pukulan atau senjata? Barang siapa mampu memenangkan seluruh pertandingan, kita bersama lantas menyerah dan mengangkat dia sebagai juara.”
“Betul!” timbrung seorang Tojin berjenggot panjang bersenjata pedang. “Menurut cerita di kalangan Bu-Iim, dulu pernah terjadi ‘Hoa-san-lun-kiam’ (pertandingan pedang di Hoa-san). Sekarang kita boleh coba-coba bertanding, lihat siapa gerangan yang akan menduduki tempat tertinggi?”
Segera semua orang bersorak menyatakan akur, malah ada beberapa orang di antaranya tanpa disuruh terus melompat ke tengah sambil berteriak:
“Hayolah, siapa berani maju menghadapi aku?”
Melihat itu, Ciu Pek-thong, Oey Yok-su, It-teng dan yang lainnya saling pandang dengan bingung karena di antara orang-orang itu tiada seorang pun yang mereka kenal.
‘Hoa-san-lun-kiam’ (pertandingan pedang Hoa-san) yang di-sebut-sebut iitu, pada saat pertama kali diadakan, Kwe Ceng sendiri pun belum Iahir. Tatkala itu terjadi perebutan kitab Kiu-im-cin-keng. Untuk itu Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, yaitu nama-nama julukan Oey Yok-su. Auyang Hong, Toan-Ti-hin (It-teng Taysu sekarang), Ang Chit-kong dan Ong Tiong-yang berkumpul di puncak tertinggi Hoa-san untuk mengukur tenaga, dan akhirnya Tiong-sin-thong Ong Tiong-yang menjagoi tokoh-tokoh lainnya dan dapat menangkan gelar ‘Juara’.
25 tahun kemudian, saat Oey Yok-su dan lain-lain untuk kedua kalinya mengadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’, Ong Tiong-yang sudah wafat. Sekali ini kecuali keempat tokoh yang lama, yaitu Tang-sia, Se tok, Lam-te dan Pak-kay, bertambah lagi Ciu Pek-thong, Kiu Jian-yim dan Kwe Ceng bertiga. Akan tetapi setelah saling gebrak, semuanya merasa kepandaian masing-masing belum mencapai tingkat yang susah diukur, untuk mendapatkan gelar ‘Juara’ sesungguhnya belum bisa.
Sungguh tak terduga sesudah berpuluh tahun kemudian, kini ada serombongan tokoh silat kalangan Bu-lim yang ingin mengadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’ ketiga kalinya. Hal ini tentu saja membuat Oey Yok-su dan lain-lain rada heran, tetapi yang lebih aneh adalah berpuluh orang di hadapannya ini tak ada yang mereka kenal. Apakah mungkin karena diri mereka seperti kodok dalam sumur yang tak tahu di luar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai?
Sementara itu terlihat beberapa orang mulai saling gebrak, tetapi baru beberapa jurus saja Oey Yok-su dan Ciu Pek-thong tak dapat menahan rasa gelinya, sampai orang alim seperti It-teng juga ikut geli. Sejenak pula, saking tak tahan, Oey Yok-su, Ciu Pek-thong, Yo Ko dan Oey Yong tertawa ter-pingkal-pingkal.
Ternyata ilmu silat beberapa orang yang saling labrak itu terlalu rendah, hakikatnya cuma jual jamu di Kangouw saja. Entah kenapa mereka bisa datang ke Hoa-san dan me-niru-niru hendak mengadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’ segala.
Ketika mendengar suara tawa Ciu Pek-thong dan lain-lain, pertarungan beberapa orang itu berhenti dan melompat mundur.
“Hai, manusia-manusia tak kenal mati-hidup! Tuan-tuan besar sedang bertanding silat di sini, kenapa kalian malah ter-kekeh-kekeh dan peringas-peringas di sini? Hayo lekas pergi jika ingin selamat!”
Tiba-tiba Yo Ko bergelak, begitu keras dan panjang suaranya hingga menggema angkasa laksana bunyi guntur gemuruh. Mula-mula rombongan itu berwajah pucat, menyusul badan gemetar, lalu senjatanya berjatuhan.
“Nah, lekas enyah!” bentak Yo Ko kemudian.
Sesudah terpaku sebentar, mendadak orang-orang itu berteriak ramai, lalu berbareng lari sipat-kuping ke bawah gunung, saking ketakutan sampai banyak yang jatuh bangun tanpa berani menoleh lagi, lapat-lapat terdengar ada di antaranya yang berseru:
“Lekas lari, lekas lari! Itu Sin-tiau-tayhiap!”
Sekejap mereka sudah kabur bersih. Saking gelinya Eng-koh dan Kwe Hu terpingkal-pingkal sembari memegangi perut.
“Manusia yang suka mengelabui orang dan memajukan nama di mana-mana selalu ada, tetapi tidak nyana di puncak Hoa-san ini pun diketemukan bangsa-bangsa demikian ini,” ujar Oey Yok-su gegetun.
“Dulu di seluruh jagat terkenal ada ‘Ngo-coat’ (panca mahayana, lima tokoh terkemuka),” tiba-tiba Ciu Pek-thong menyela. “Kini Se-tok, Pak-kay dan Tiong-sin-thong sudah tewas, lalu tokoh yang masih hidup sekarang ada berapa orang lagi yang dapat disebut ‘Ngo-Coat’?”
Sahut Oey Yong dengan tertawa: “It-teng Taysu dan ayahku makin hari makin tinggi ilmunya, dahulu saja sudah termasuk dalam hitungan ‘Ngo-coat’ apalagi sekarang tidak perlu disangsikan lagi. Dan kalau mau bicara jujur, suamiku sendiri murid Pak-kay, dia bisa termasuk satu di antara ‘Ngo-coat’. Usia Ko-ji meski muda tapi ilmu silatnya susah diukur, di antara angkatan muda siapa yang bisa membandinginya? Apa lagi ia pun anak angkat Auyang Hong. Jadi Tang dan Lam adalah orang lama, sedang Se dan Pak harus diteruskan oleh suamiku dan Ko-ji.”
“Salah, salah!” sahut Pek-thong tiba-tiba sambil geleng-geleng kepala.
“Kenapa salah?” tanya Oey Yong.
“Ya, salah,” kata Pek-thong. “Auyang Hong berjuIuk Se-tok, tapi hati dan tindak tanduk si Yo Ko ini sama sekali tidak ‘Tok’ (racun, artinya kejam), kalau dia pun disebut Se-tok, kan tidak cocok?”
“Benar! Ceng-koko juga tidak jadi pengemis, pula It-teng Taysu sekarang pun sudah tidak menjadi Hongte lagi,” ujar Oey Yong, “Maka menurut aku, julukan kalian sekarang harus diperbaharui. Tang-sia, julukan ayah, adalah ‘merek’ lama, maka itu tidak perlu diganti, It-teng Taysu tidak lagi menjadi Hongte, tapi menjadi Hwesio, dia harus disebut ‘Lam-ceng’ (paderi diri selatan). Mengenai Ko-ji (Yo Ko), biar kuhadiahi dia julukan ‘Ong’ (bebas, tak terkekang), kalian bilang tepat tidak?”
“Bagus!” seru Oey Yok-su yang pertama-tama menyatakan akur. “Ha-ha, sejak kini, satu Tang-sia dan yang lain Se-ong, satu tua dan satu muda, kita berdua memang pasangan yang setimpal.”
“Ahh, usiaku masih terlalu muda, mana berani berdiri sejajar dengan para Cianpwe,” ujar Yo Ko merendah.
“Aha, adik cilik, kau salah kalau berkata begitu,” seru Oey Yok-su, “Kau kan sudah pakai julukan ‘Ong’ (berlaku bebas)? Jika berdasarkan namamu yang tersohor dan ilmu silatmu, masa tidak lebih tinggi dari pada Lo-wan-tong?”
Oey Yok-su tahu puterinya (Oey Yong) sengaja tidak menyebut Ciu Pek-thong, agar si tua nakal itu tidak tahan, lalu muring-muring sendiri, maka ia pun sengaja membumbui sekalian.
Yo Ko pun paham maksud hati ayah dan anak itu. Ia saling pandang dengan Siao-liong-li sambil tersenyum, dalam hati ia berpikir: “Julukan ‘Ong’ ini memang sangat tepat.”
Di luar dugaan Oey Yok-su, sama sekali Ciu Pek-thong tidak ribut, malah dia bertanya: “Kalau Lam-ceng dan Se-ong sudah ganti merek, lalu Pak-kay bagaimana? Harus diganti apa?”
“Ksatrta seluruh jagat saat ini kalau menyebut Kwe-heng. semua menyebut ‘Kwe-tayhiap’ kepadanya,” demikian Cu Cu-liu ikut buka suara. “Selama berpuluh tahun ia mempertahankan Siang-yang dengan susah payah, membela tanah air dan melindungi rakyat, orang gagah perwira seperti dia semenjak dulu hingga sekarang susah dicari bandingannya. Maka menurut aku, jika kita menyebut dia ‘Pak-hiap’ (pendekar dari utara) rasanya semua orang akan setuju.”
Mendengar itu, segera It-teng Taysu, Bu Sam-thong dan lain-lain bertepuk tangan memuji nama baik itu.
“Nah, Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng dan Pak-hiap sudah ada orangnya semua, lantas yang tengah, siapa yang harus menduduki menggantikan Tiong-sin-thong Ong Tiong-yang?” ujar Oey Yok-su. Sambil bicara ia sengaja melirik sekejap ke arah Ciu Pek-thong, lalu menyambung: “Yo-hujin (nyonya Yo, maksudnya Siao-liong-li) adalah ahli waris satu-satunya dari Ko-bong-pay, dulu nama Lim Tiau-eng menggetarkan Kangouw, meski Ong Tiong-yang sendiri juga jeri padanya. Dengan ilmu pedang Giok-li-kiam-hoat ciptaan Ko-bong-pay yang khas, kalau dulu Lim-lihiap juga ikut menghadiri Hoa-san-lun-kiam, jangankan nama Ngo-coat harus diubah, bisa jadi gelar ‘juara’ yang diperoleh Ong Tiong-yang itu sulit dipertahankan. Sekarang ilmu silat Yo Ko berasal dari ajaran sang isteri, muridnya saja termasuk ‘Ngo-coat’ baru, gurunya tentu saja tidak perlu disangsikan lagi, Sebab itulah Yo-hujin tepat sekali menduduki tempat tengah.”
Namun Siao-liong-li tidak pernah tertarik segala nama pujian itu, dengan tersenyum dia menjawab:
“Ahh, sekali-sekali aku tak berani menerimanya.”
“Jika tidak mau, tentunya harus Yong-ji,” kata Oey Yok-su, “Meski ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tetapi banyak tipu akal, pintar dan cerdik, kalau dia termasuk satu di antara Ngo-coat juga pantas.”
“Bagus, bagus!” seru Ciu Pek-thong mendadak sembari bertepuk tangan tertawa. “Terus terang, kau Oey-losia, Kwe-tayhiap, semuanya bikin hatiku kagum dan takluk betul, hanya Oey Yong si bocah ini memang cerdik dan licin, asal Lo-wan-tong ketumbuk dia lantas mati kutu. Jika dia dimasukkan salah satu di antara Ngo-coat, memang paling tepat.”
Semua orang tercengang mendengar ucapan itu. Sungguh kalau bicara mengenai ilmu silat, sekali pun Oey Yok-su dan It-teng juga merasa masih kalah sedikit dari pada Lo-wan-tong. Sebabnya nama Ciu Pek-thong tidak diungkap sebenarnya hanya ingin bergurau untuk menggodanya saja.
Siapa tahu dasar pembawaan Ciu Pek-thong memang jujur polos, sedikit pun hatinya tak ada rasa iri dan dengki. Meski pembawaannya gemar silat tetapi tak pernah timbul pikiran cari nama untuk menjagoi dunia, maka sama sekali tidak terpikir olehnya apakah ia sendiri harus termasuk di dalam Ngo-coat atau tidak.
Maka tertawalah Oey Yok-su, katanya: “Wahai, Lo-wan-tong, kau benar-benar hebat. Soal ‘nama’ aku Oey-losia memandangnya dingin. It-teng Taysu anggap ‘nama’ hanyalah khayalan belaka. Tapi kau, hatimu kosong bersih, bahkan hakikatnya tidak pernah terpikir tentang ‘nama’ segala, nyata kau lebih hebat setingkat lagi dari pada kami. Ha-ha-ha…, Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng, Pak-hiap, Tiong-wan-tong. Di antara Ngo-coat, kaulah yang paling tinggi.”
Mendengar sebutan ‘Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng, Pak-hiap, Tiong-wan-tong’, semua orang lantas bersorak memuji, tapi merasa geli pula.
Setelah kedudukan ‘Ngo-coat’ ditetapkan, semua orang lantas bergembira ria, lalu dengan berpencar mereka pergi pesiar sendiri-sendiri menikmati keindahan pegunungan Hoa-san.
Mula-mula Kwe Siang ikut di belakang sang ibu, Oey Yong. Dia lihat Yo Ko bergandengan tangan dengan Siao-liong-li dengan mesranya menuju ke arah lain. Katanya tiba-tiba pada ibunya:
“Ibu, sekarang aku bisa ikut pergi bersama Yo-toako dan Liong-cici dengan bebas, bukan?” Oey Yong mendadak diam tertegun sejenak, tapi lantas tersenyum penuh arti.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Tadi mereka sudah saling gebrak di atas tangga. Yo Ko merasa tenaga Hoat-ong sangat kuat dan berat, seumur hidupnya belum pernah dia ketemu lawan setangguh ini, maka diam-diam dia amat heran. Dia pikir dengan gemblengannya di tengah ombak, tenaganya cukup kuat melawan gelombang ombak, 16 tahun yang lalu Hoat-ong bukan tandingannya, akan tetapi tadi ketika dia menghantam hampir-hampir saja dirinya malah tak sanggup menahannya!
Karena pikiran itu, demi nampak kedua roda orang maju berbareng, ia tidak menghindar melainkan pedangnya lantas disendal, ia sengaja hendak menjajal tenaga Hoat-ong yang sebenarnya.
Terdengarlah suara gemerincing keras. Kalau orang lain pasti tidak akan tahan oleh tenaga sendalan Yo Ko, tapi Hoat-ong punya ‘ilmu sakti bertenaga naga dan gajah’ dan sudah terlatih sampai tingkat ke-11.
“Pletak!”
Begitu kedua tenaga raksasa berbenturan, terdengarlah suara keras, pedang Yo Ko yang kalah, patah menjadi beberapa potong, sedang sepasang roda Kim-lun Hoat-ong juga terlepas dari cekalan kemudian terpental jatuh ke bawah panggung. Sial bagi tiga pemanah Mongol, kepala mereka pecah terketok roda-roda itu.
Setelah gebrakan ini, keduanya melompat mundur, tangan terasa pedas kesemutan. Namun Hoat-ong masih belum kehabisan senjata, segera roda besi dan roda tembaga dikeluarkannya terus menubruk maju lagi. Sebaliknya Yo Ko tiada senjata lain, terpaksa lengan baju kirinya mengebas, ia balas menghantam dengan tangan kanan.
“Hai, hai, Hwesio besar, aku sudah bilang kau tak mampu menandingi Toa-koko-ku, sekarang benar tidak?” Kwe Siang berteriak-teriak. “Ha, masih berani kau berlagak pandai, kenapa sekarang kau bersenjata melawan dia yang bertangan kosong?”
Hoat-ong hanya menjengek, ia tidak menjawab, permainan kedua rodanya semakin kencang.
Tatkala itu Oey Yok-su, Kwe Ceng, Oey Yong dan lainnya sedang memimpin pasukannya pulang kembali untuk menolong kota Siang-yang. Ketika melihat Yo Ko, Siao-liong-li dan Sin-tiau muncul terus menyerbu ke atas panggung, tentu saja semangat mereka bangkit.
Segera Oey Yok-su gerakkan panji komandonya, ia menarik kelima pasukannya masing-masing 4000 orang 20 ribu orang untuk menggempur bagian belakang musuh yang sedang menyerang benteng kota, sisanya 20 ribu orang tetap di formasi semula, tetap mengepung panggung untuk membantu Yo Ko.
Walau pun pasukan Song sudah berkurang separoh, tapi demi nampak Yo Ko sudah naik ke atas panggung, mereka menjadi gagah berani, dengan 1 lawan 10 mereka bertempur mati-matian. Akan tetapi pasukan pemanah Mongol berjaga terlalu rapat dan kuat hingga beberapa kali pasukan Song menyerbu maju dan selalu kena didesak mundur lagi.
Sementara itu di bawah benteng Siang-yang pertempuran juga sedang berjalan dengan sengitnya antara yang menggempur dan yang bertahan. Gubernur militer kota, Lu Bun-hwan, dengan seragam lengkap tidak berani memimpin sendiri ke atas benteng melainkan mengkeret bersembunyi di kamar dengan dua selir kesayangannya, dengan badan gemetar sebentar-sebentar menyebut sabda Buddha, lain saat bertanya kuatir bagaimana suasana pertempuran di luar?
Saat itulah dengan tangan kosong dan berlengan tunggal Yo Ko menempur kedua roda besi dan tembaga Kim-lun Hoat-ong hingga lebih dari 400 jurus.
Ilmu silat yang dilatih kedua orang itu meski berbeda, tapi sama-sama lihaynya dan makin lama semakin kuat. Sementara itu asap tebal dari bawah panggung membuat mata ketiga orang di atas panggung menjadi pedas.
Walau pun Yo Ko tidak bersenjata tetapi dia tidak pernah terdesak di bawah angin. Dalam pertarungan sengit ini Hoat-ong merasa panggung rada bergoyang, dia tahu tentu kaki panggung sudah terbakar, sebentar lagi akan ambruk, tatkala itu tak terhindarkan dirinya tentu akan gugur bersama dengan Yo Ko dan Kwe Siang. Pula melihat pukulan Yo Ko makin lama makin aneh, kalau ratusan jurus lagi, mungkin dia sendiri akan terdesak.
Dalam gugupnya mendadak timbuI pikiran jahatnya, tiba-tiba roda besinya dia hantamkan ke pundak kanan Yo Ko dan selagi orang mengegos, secepat kilat roda tembaganya disambitkan ke muka Kwe Siang.
Gadis itu terikat di satu cagak, tentu saja badannya tidak dapat bergerak apa lagi hendak menghindar. Keruan Yo Ko sangat terkejut. Lekas ia melompat dan dengan lengan bajunya dia sabet jatuh roda tembaga orang.
Namun waktu bertarung sesungguhnya jago silat tidak boleh lengah sedetik pun. Karena pikirannya dipusatkan menolong Kwe Siang, maka pertahanan diri sendiri menjadi terbuka. Hoat-ong tidak sia-siakan kesempatan itu, tangannya menjulur dan roda besinya mengiris paha kiri Yo Ko.
Dalam keadaan badan malayang, lekas Yo Ko depakkan kaki kirinya ke pergelangan tangan musuh, namun roda besi Hoat-ong membalik ke bawah. Sekali ini Yo Ko tak mampu lagi menghindar.
“Crett!”
Betis kanan terkena roda besi dan mengucurkan darah, lukanya ternyata tidak enteng. Dalam kagetnya Kwe Siang menjerit kuatir. Sementara Hoat-ong sudah mengeluarkan serep rodanya yang masih satu, roda timah. Kembali dengan sepasang roda dia menyerang kalap, cuma bukan diarahkan kepada Yo Ko, tetapi selalu mengincar Kwe Siang.
Kiranya dia tahu meski Yo Ko terluka, tapi hendak mengalahkannya tidak mungkin terjadi dalam waktu singkat, karena itu ia hanya mengincar Kwe Siang, dengan demikian Yo Ko pasti akan berusaha menolongnya dan kedudukan lawan tentu saja berada di pihak terdesak.
“Toa-koko, jangan kau urus aku, kau bunuh saja Hwesio jahat ini untuk membalaskan sakit hatiku!” Kwe Siang berseru.
Tiba-tiba terdengar suara tertahan Yo Ko. Kiranya pundak kirinya terluka oleh roda musuh lagi, luka ini ternyata lebih berat hingga tangannya hampir-hampir tak bisa diangkat. Di bawah panggung Siao-liong-li, Sin-tiau dan Ciu Pek-thong telah menghalau pemanah-pemanah Mongol supaya mereka tak sempat melepaskan panah kepada Yo Ko dan Kwe Siang. Akan tetapi seluruh perhatian Siao-liong-li tidak pernah meninggalkan diri Yo Ko, di samping memutar senjatanya membunuh musuh, saban-saban dia mendongak memandang ke atas panggung. Ketika mendadak dilihatnya tubuh Yo Ko penuh berlepotan darah, hatinya mencelos, kagetnya tidak kepalang.
Tatkala itu tangga panggung sudah putus terbakar, tiada jalan lagi untuk naik ke atas buat membantu. Pikiran Siao-liong-li kabur, walau pun pedangnya masih terus diputar membacok dan membabat namun otaknya seperti kosong plong tak tahu berada di mana dan sedang melakukan apa!
Menghadapi bahaya, beberapa kali Yo Ko mengeluarkan ilmu pukulan ‘lm-jian-siau-hun-ciang’ untuk menggempur musuh. Tetapi untuk memainkan ilmu pukulan ini, jiwa dan raga harus bersatu, padahal sejak dia bertemu kembali dengan Siao-liong-li, dia menjadi girang dan periang, dari mana dapat timbul lagi perasaan ‘lm-jian-siau-hun’ (hati muram jiwa merana)?
Meski pun dalam keadaan berbahaya, tiada sedikit pun rasa rindunya seperti ketika berpisah tempo hari, maka gerakan serangannya selalu berselisih sedikit dari pada kehendaknya dan tak dapat menunjukkan daya saktinya lagi.
Kwe Ceng dan lainnya juga melihat keadaan Yo Ko yang menempur musuh dengan bertangan kosong dan sudah terluka, tetapi jaraknya terlampau jauh, bagaimana mereka bisa membantunya?
Tiba-tiba pikiran Oey Yong tergerak. Ia sambar pedang Yalu Ce dan dilemparkan kepada sang suami sambil berseru:
“Lemparkan ke atas panggung kepada Ko-ji!”
Kwe Ceng menurut. Pedang itu dipasang ke atas busurnya terus dijepretkan, maka meluncurlah pedang itu dengan pesatnya sambil mengeluarkan sinar ber-kilauan.
Pedang itu cukup berat, bentuknya juga berlainan dari pada anak panah biasa, jika bukan bidikan tenaga sakti Kwe Ceng sukar juga bila hendak diluncurkannya ke atas panggung, Maka menyambarlah pedang itu dengan cepatnya ke punggung Yo Ko.
Ketika sudah dekat, mendadak lengan baju Yo Ko mengebas ke belakang hingga dengan tepat dapat melibat batang pedang itu. Saat itu pula kebetulan roda Hoat-ong sedang dihantamkan padanya. Segera Yo Ko menarik pedangnya terus ditusukkan melalui sela-sela kedua roda musuh.
Tak terduga, karena pundaknya terluka, gerak-geriknya menjadi terganggu, pula pedang ini bukan Hian-tiat-pokiam yang tajam tiada bandingan. Maka, ketika roda Hoat-ong menjepit terus memuntir kedua rodanya,
“Pletak!” kembali pedang Yo Ko patah.
Menyaksikan itu, semua orang di bawah panggung menjadi terkejut luar biasa. Diam-diam Yo Ko insaf bahwa hari ini pasti celaka, bukan saja tidak dapat menolong Kwe Siang, bahkan jiwa sendiri akan melayang di panggung ini. Karena itu dengan cemas dia memandang sekejap ke arah Siao-liong-li sembari berseru:
“Selamat tinggal, Liong-ji, jagalah dirimu baik-baik!”
Dan pada saat itu juga, sebuah roda Hoat-ong mengepruk ke atas kepalanya. Dalam keadaan putus asa, dengan lesu dan kurang semangat Yo Ko mengebaskan lengan bajunya menangkis dan sebelah tangannya memukul.
“Plakk!”
Di luar dugaan, terdengar suara yang keras, pukulannya dengan tepat mengenai pundak Kim-lun Hoat-ong. Menyusul terdengar Ciu Pek-thong berteriak dari bawah panggung:
“Bagus sekali tipu pukulan ‘tho-ni-tay-sui’ (berlepotan tanah membawa air)!”
Yo Ko melengak, tetapi lantaran itu pula barulah dia sadar. Kiranya dalam keadaan putus asa dan lesu, tanpa terasa dia sudah keluarkan tipu serangan ‘tho-ni-tay-sui’, satu jurus dari ilmu pukulan ‘Im-jian-soh-hun-ciang’.
Ilmu pukulan ini harus timbul sendiri dari lubuk hati, lantas dari lubuk hati meneruskan perasaan ke lengan dan lengan menggerakkan tangan, semuanya tergantung pada sang perasaan. Rahasia ini sekali pun Ciu Pek-thong yang serba lengkap mempelajari ilmu silat macam apa pun juga tak mampu memahaminya.
Semenjak Yo Ko bertemu kembali dengan Siao-liong-li, ilmu pukulan ciptaannya ini sudah kehilangan daya gunanya, baru pada saat yang paling kritis, ketika dalam hati merasa akan berpisah untuk selamanya dengan Siao-liong-li, pada detik rasa dukanya itulah tanpa terasa kekuatan dari ilmu pukulan ‘lm-jian-siau hun-cio’ itu timbul dengan sendirinya.
Karena pundaknya kena digebuk sekali hingga tubuhnya sempoyongan, Hoat-ong terkejut dan heran, tetapi segera dia menubruk maju lagi.
Yo Ko mengegos mundur, lalu memberondongi tiga kali serangan ‘Lik-put-ciong-sim’ (keinginan ada, tenaga kurang), ‘To-heng-gik-si’ (jalan terbalik, berbuat berlawanan) dan “Yok-yu-soh-sit” (se-olah kehilangan sesuatu). Menyusul dengan tipu ‘Heng-si-cau-bak’ (mayat berjalan bangkai bergerak), kakinya segera menendang.
Tendangan ini datangnya mendadak dan tidak ter-duga, maka tak sanggup lagi Hoat-ong menghindar, tepat sekali kena ‘Tan-tiong-hiat’ dadanya. Sambil menjerit keras dan muntahkan darah tegar, tanpa ampun lagi Hoat-ong terjungkal ke bawah panggung.
Melihat itu, tanpa berjanji lebih dahulu pasukan Song dan pasukan Mongol berteriak berbareng, Bedanya pasukan Song bersorak gembira, sebaliknya pasukan Mongol berteriak kaget.
Saat itu panggung mulai bergoyang mengeluarkan suara “krak-krek” yang keras. Yo Ko tahu gelagat jelek, keadaan sudah mendesak, tak sempat lagi memutus tali ringkusan Kwe Siang. Maka sekali telapak tangannya memotong, ia hantam patah cagak kayu yang mengikat si anak dara, lalu orangnya bersama cagaknya diangkat sembari berseru:
“Tiau-heng, terimalah kami!”
Ia incar baik-baik punggung rajawali sakti terus melompat ke atasnya. Tangkas sekali Sin-tiau itu. Meski pun tak bisa terbang, tapi sekali meloncat setinggi dua-tiga tombak, dengan enteng Yo Ko bersama Kwe Siang jatuh dengan tepat di atas punggungnya kemudian perlahan-lahan turun ke tanah.
Saat itulah, didahului suara gedubrakan yang gemuruh, api dan asap berhamburan. Panggung tinggi itu ambruk rata dengan tanah.
Tatkala Kim-lun Hoat-ong ditendang terjungkal ke bawah, meski terluka parah ia masih berusaha menyelamatkan diri, dengan menahan napas ia berguling sekali di tanah. Selagi hendak bangkit tiba-tiba terdengar di belakangnya seseorang ketawa terbahak-bahak, tahu-tahu pinggangnya dirangkul terus ditahan di atas tanah lagi. Menyusul Hoat-ong merasa seperti beratus atau beribu jarum tajam menusuk masuk semua ke dalam tubuhnya.
Kiranya yang merangkul dan menindihnya bukan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong. Si tua nakal ini memakai baju kutang berduri landak, benda pusaka Oey Yok-su, benda ini tak mempan segala senjata, sebaliknya penuh duri lancip bagai landak. Memang Hoat-ong sudah terluka parah, kini kena dirangkul terus ditindih Lo-wan-tong, keruan jiwanya melayang tanpa ampun.
Ketika panggung tinggi itu ambruk, cepat Ciu Pek-thong melompat pergi, sementara Hoat-ong terkubur di bawah puing panggung berapi itu.
Melihat puteri kesayangan terhindar dari elmaut, saking girangnya Oey Yong mencucurkan air mata. Sungguh tak terkatakan terima kasihnya pada Yo Ko. Sekali pun saat itu ia diharuskan mati untuk Yo Ko rasanya ia pun rela. Maka cepat ia mendekati sang puteri membuka tali pengikatnya.
Semangat Kwe Ceng, Oey Yok-su, It-teng Taysu, Kwe Hu dan lain-lain segera terbangun. Sebaliknya begitu melihat pemimpinnya mati, seketika pasukan Mongol yang mengepung panggung menjadi kacau-balau, ditambah lagi terjangan pasukan Song kian kemari, tentu saja tambah pontang-panting tak keruan.
“Gempur balik ke Siang-yang, bunuh raja itu!” teriak Kwe Ceng keras-keras.
Bersoraklah pasukan Song, mereka cepat memutar tubuh menerjang pasukan Mongol yang sedang menggempur benteng.
Melihat luka Yo Ko, Siao-liong-li menyobek kain bajunya membalut luka, saking terharunya hingga tangannya gemetar, tapi tak sanggup buka suara.
“Rasa kuatirmu di bawah panggung jauh lebih menderita dari pada aku yang bertarung di atas panggung tadi,” ujar Yo Ko tertawa.
Sementara itu terdengar teriakan pasukan Song yang hiruk-pikuk memecah bumi dan secara gagah berani menerjang musuh. Dari jauh Yo Ko melihat formasi pasukan musuh sangat teratur, pula jumlahnya berlipat ganda dari pada pasukan Song, ber-kali-kali pasukan Song menyerbu maju bagai gelombang ombak yang susuI-menyusuI, akan tetapi sama sekali tak bisa memboboIkan pertahanan pasukan Mongol.
“Liong-ji,” kata Yo Ko, “meski lawan tangguh sudah mampus, pasukan musuh belum kalah. Mari kita menyerbu. Kau letih tidak?”
Betapa bersemangat kata-kata Yo Ko bagian depan itu, sedangkan kata-kata terakhir berubah menjadi begitu halus lembut penuh kasih sayang. Siao-liong-li tersenyum, jawabnya:
“Jika kau bilang serbu, hayo serbu!”
“Toa-koko,” mendadak suara anak dara berkata di sampingnya, “Sungguh cantik Liong-cici seperti dewi kayangan.”
Siao-liong-li berpaling pada Kwe Siang, sahutnya sambil tertawa: “Adik cilik, banyak terima kasih atas doamu untuk pertemuan kembali kami, Toa-koko-mu banyak cerita tentang kebaikanmu, dia sengaja membawa aku ke Siang-yang sini buat bertemu dengan kau.”
“Dan hanya engkaulah yang setimpal berjodohkan dia,” ujar Kwe Siang menghela napas.
Siao-liong-li menggandeng tangan si anak dara dengan amat akrabnya. Sebenarnya terhadap siapa pun selalu Siao-liong-li bersikap dingin, tapi sepanjang jalan ia mendengar cerita Yo Ko yang memuji-muji Kwe Siang, pula melihat dalam usia sekecil anak dara ini, meski menghadapi ancaman elmaut tadi tetap tak gentar, maka sikap Siao-liong-li berubah dari pada biasanya.
Sementara itu Yo Ko membawakan beberapa ekor kuda yang tak bertuan, lalu katanya: “Marilah naik, aku membuka jalan, kita terjang musuh bersama!”
Segera dia mendahului cemplak kudanya lantas dilarikan paling depan. Dengan kencang Siao-liong-li dan Kwe Siang ikut di belakangnya. Mereka menuju ke selatan dan tak lama kemudian terlihatlah tangga pencakar langit berderet-deret bersandar pada tembok benteng, tentara Mongol bagai semut banyaknya sedang memanjat ke atas.
Ketika mereka memandang dari tempat yang tinggi, terlihat di sebelah barat beribu tentara Mongol mengurung Yalu Ce bersama 200 orang anak buahnya. Tentara Mongol itu semuanya bersenjata golok sepanjang lima kaki yang bentuknya melengkung, maka satu persatu anak buah Yalu Ce banyak yang kena dibabat terguling.
Kwe Hu kelihatan memimpin sepasukan tentara menerjang hendak menolong suaminya, tetapi kena ditahan pasukan Mongol yang berjumlah ribuan orang. Suami isteri itu hanya dapat melihat dari jauh, tapi tak bisa berhimpun menjadi satu.
Menyaksikan prajurit-prajurit di samping suaminya makin lama semakin berkurang, hati Kwe Hu benar-benar seperti disayat-sayat. Ia tahu dalam pertempuran besar demikian, bila sampai terkepung sendirian, betapa pun tinggi ilmu silatnya tak terhindar dari kematian.
Saat itulah mendadak terdengar Yo Ko berseru: “Kwe-toakounio (nona Kwe besar), asal kau menyembah tiga kali padaku, segera aku menolong suamimu!”
Kalau turuti watak Kwe Hu yang congkak dan tinggi hati, jangankan disuruh menyembah, sekali pun mati dia takkan mau kalah mulut pada Yo Ko. Tetapi kini jiwa sang suami bergantung di ujung rambut, tanpa ragu-ragu ia keprak kuda mendekati Yo Ko, sekali melompat turun, ia menekuk lututnya dan hendak menyembah sungguh-sungguh.
Melihat itu Yo Ko malah terkejut sekali. Lekas ia menarik bangun, ia menyesal atas kata-katanya tadi yang rendah budi,
“Maafkan aku telah salah omong, jangan kau anggap sungguh-sungguh. Yalu-heng adalah sahabatku yang baik, tidak mungkin aku tidak menolongnya.”
Habis itu ia mengumpulkan delapan ekor kuda lagi, yang empat ekor ia jadikan satu baris di depan dan empat ekor lain tergandeng satu baris di belakang. Dengan dua baris kuda muka belakang masing-masing empat ekor, segera dia melompat ke atasnya, dengan tangan tunggal ia pegang delapan tali kendali, sekali ia bersuit segera terjang pasukan musuh.
Walau pun ‘tank-kuda’ yang dikendalikan Yo Ko belum terlatih, namun dengan tenaga saktinya tidak sukar mengendalikannya. Maka 32 tapak kaki segera ber-detak-detak ke depan hingga debu pasir berhamburan, Yo Ko sendiri dengan Ginkang-nya yang tinggi, melompat ke sana ke sini di atas ke delapan ekor kuda itu.
Ketika tentara Mongol sedang tertegun menyaksikan ilmu menunggang kuda yang aneh menyerbu ke dalam pasukan mereka, sekali lengan baju Yo Ko mengebas, sebuah panji segera kena dirampasnya terus ditancapkan di atas pelana.
Dengan membentak-bentak segera perwira dan bintara Mongol hendak merintangi, tapi di mana panji Yo Ko rampasan tadi menyabet, sekaligus tiga perwira musuh terguling dari kudanya.
Saat itu Yalu Ce kelihatan tinggal tiga tombak jauhnya, segera Yo Ko berseru: “Yalu-heng lekas melompat ke atas!”
Berbareng itu, sekali panji diayunkan, Yalu Ce melompat tinggi ke udara. Cepat Yo Ko menggulung dengan panjinya hingga dengan tepat tubuh Yalu Ce terbungkus kain panji. Dua orang delapan kuda segera menerjang keluar kepungan musuh.
“Yo-hengte,” kata Yalu Ce menarik napas lega, “banyak terima kasih atas pertolonganmu, tapi anak buahku masih banyak yang terkepung, tidak mungkin aku menyelamatkan jiwa sendiri. Biarlah aku bertempur lagi dan mati bersama dengan mereka.”
Tiba-tiba saja pikiran Yo Ko tergerak, katanya: “Mari kau pun merampas sebuah panji besar!” Habis ini dia mengeluarkan geretan dan kain panji di tangannya dibakar.
“Akal yang bagus!” seru Yalu Ce. Segera ia pun merampas sebuah panji kemudian menyulutnya dengan api dari panji Yo Ko yang sudah berkobar-kobar.
Sambil mem-bentak-bentak panji berapi itu mereka ubat-abitkan, kembali mereka menyerbu ke tengah pasukan musuh. Dengan diputarnya kedua panji berapi yang menari-nari kian kemari di udara, asal sedikit kesenggol siapa pun pasti akan kepala gosong dan rambut hangus.
Walau pun pasukan Mongol gagah berani, namun ketika menghadapi api, tak bisa tidak mereka harus mundur. Sementara itu bawahan Yalu Ce tinggal 50-60 orang saja, segera mereka menerjang keluar dari kepungan. Dengan sisa prajuritnya itu, Yalu Ce berkumpul di atas tanah bukit sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kwe Hu mendekati Yo Ko lalu menyembah. “Yo-toako, selama hidup aku selalu tak baik padamu, tapi kau berbudi luhur, kejelekanku kau balas dengan kebajikan dan kini engkau sudah menolong...” Berkata sampai di sini suaranya jadi parau dan tenggorokan se-akan-akan tersumbat.
Memang beberapa kali Yo Ko pernah menoIongnya, tetapi selalu merasa sirik dan dengki padanya. Sudah terang orang ada budi kepadanya, tapi rasa jemunya sukar dilenyapkan. Sering ia merasa Yo Ko terlalu angkuh dan suka agulkan kepandaiannya yang tinggi serta sengaja pamer. Dan sekarang sesudah Yo Ko menolong jiwa suaminya, barulah Kwe Hu benar-benar merasa berterima kasih, dia insaf kesalah-pahamannya yang lalu.
Lekas Yo Ko membalas hormat, sahutnya: “Adik Hu, semenjak kecil kita hidup bersama dan suka cekcok, padahal hubungan kita bagai kakak dan adik, asal kini kau tidak jemu lagi padaku, aku sudah merasa senang.”
Kwe Hu tertegun atas sebutan itu, sekilas segala kejadian di masa anak-anak terbayang olehnya.
“Ya, apakah karena aku jemu padanya? Ataukah benci kepadanya? Bu-si Hengte begitu baik dan suka me-nyanjung, tetapi dia selamanya tak gubris diriku. Padahal asal sedikit turuti kemauanku, sedikit pikirkan diriku, rasanya biar mati untuknya juga aku rela. Sebab apakah aku benci padanya tanpa alasan? Rupanya diam-diam aku suka padanya, tapi sedikit pun ternyata aku tidak terisi di hatinya,” demikianlah pikirnya.
Aneh juga, selama 20-an tahun Kwe Hu tidak tahu perasaan hatinya sendiri. Setiap ingat Yo Ko, selalu dia pandang sebagai musuhnya, padahal dalam hati kecilnya, betapa perhatian dan rindunya pada Yo Ko tidaklah dapat dilukiskan dengan kata-kata. Mungkin itulah yang dikatakan: ‘Cinta yang dalam, bencinya juga mendalam’.
Semenjak kecil sifat Kwe Hu tinggi hati, ia anggap seharusnya Yo Ko menjunjungnya seperti kedua saudara Bu yang begitu penurut. Akan tetapi, sedikit pun Yo Ko ternyata tidak paham perasaannya, sebaliknya dia sendiri pun tidak paham akan perasaan Yo Ko.
Apalagi Kwe Ceng dan Oey Yong. Kedua orang tua ini merasa Kwe Hu dan Yo Ko dilahirkan sebagai musuh, asal bertemu pasti cekcok, akhirnya lengan Yo Ko buntung ditebas Kwe Hu hampir-hampir urusan meluas sampai batas-batas yang sulit diatasi.
Kini sesudah rasa benci dan sirik itu hilang barulah Kwe Hu sadar, ternyata perasaannya pada Yo Ko sesungguhnya begitu mesra, begitu mendalam.
“Waktu dia menyerbu musuh menolong kakak Ce, sesungguhnya hatiku lebih kuatir untuk siapakah? aku tak bisa menerangkan. Tentu saja kini aku tak mencintainya lagi, tapi dulu, kenapa aku menjadi begitu benci padanya?” demikian pikirnya.
Demikianlah di tengah-tengah pertempuran yang gegap gempita tiba-tiba Kwe Hu menjadi jelas akan perasaan hatinya sendiri.
“Pada hari ulang tahun Siang-moay, dia memberikan tiga hadiah besar padanya dan mengapa aku harus begitu benci padanya? Dia membongkar kedok Hotu dan mendukung Ce-koko menjadi pangcu dari Kay-pang, kenapa diam-diam aku malah marah? Ahh, Kwe Hu, Kwe Hu! Nyata kau cemburu kepada adik perempuanmu sendiri! Soalnya budinya sedemikian manis kepada Siang-moay, tapi selamanya tak pernah sedikit pun begitu baik terhadapku.”
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia mendongkol dan marah kembali, dengan sengit ia melotot sekejap ke arah Yo Ko dan Kwe Siang, tapi mendadak ia sadar lagi.
“Ah, kenapa aku pikirkan hal-hal ini? Bukankah sekarang aku sudah menjadi wanita yang bersuami? Lagi pula kakak Ce juga sangat cinta padaku.”
DemikianIah akhirnya ia menghela napas panjang. Walau pun hidupnya tidak kekurangan namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam se-akan tertinggal semacam rasa penyesalan yang tak terkatakan.
NGO-COAT (Lima Tokoh Terkemuka)
Biasanya apa pun yang dikehendaki pasti terpenuhi, tetapi sesuatu yang justru sangat diinginkannya malah tidak dapat diperoleh. Sebab itulah selama hidupnya terkadang dia sendiri pun tidak paham, sebab apa sifatnya begitu keras? Sebab apa di waktu orang lain bergirang, ia sendiri justru mendongkol dan marah tanpa sebab? Wajahnya sebentar marah sebentar pucat, dia terus memikirkan perasaannya yang aneh.
Tetapi Yo Ko, Siao-liong-li, Yalu Ce, Kwe Siang dan lain-lainnya sedang memandang jauh mengikuti pertempuran dahsyat yang masih berlangsung di depan benteng Siang-yang. Tampak tentara Mongol laksana semut sedang merembet ke atas benteng, Kwe Ceng dan Oey Yok-su bersama prajuritnya menggempur dari belakang, Tetapi jumlahnya sedikit hingga sukar menggulingkan pasukan besar musuh yang menggempur benteng.
Sedangkan panji kebesaran raja Mongol tampak perlahan-lahan mendekati kota. Rupanya pasukan penjaga kota sudah patah semangat, tidak sanggup lagi menggempur turun pasukan musuh yang merembes ke atas benteng.
Melihat itu, Kwe Siang berseru kuatir: “Toa-koko, bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya ini?”
Diam-diam Yo Ko pikir: “Hidupku dapat berjumpa lagi dengan Liong-ji, sesungguhnya Thian sudah berlaku murah padaku. Walau pun hari ini harus mati, rasanya aku tidak menyesal. Laki-laki sejati harus membela tanah air dan berkorban di medan bakti. Inilah tempat berpulang yang paling tepat bagiku.” seketika semangatnya me-nyala-nyala, serunya segera:
“Mari, Yalu-heng, kita menerjang musuh lagi!”
“Bagus sekali!” sahut Yalu Ce tanpa pikir.
“Mari kita ikut menyerbu!” Siao-liong-li dan Kwe Siang berseru berbareng.
“Baik,” kata Yo Ko. “Aku merintis di depan, kalian kumpulkan sebanyaknya tombak yang panjang dan ikut di belakangku.”
Segera Yalu Ce memberi perintah bawahannya mengumpulkan tombak yang berserakan di medan pertempuran itu, mereka masing-masing membawa beberapa buah juga.
Dengan tombak di tangan, Yo Ko cemplak kuda menerjang ke depan. Sin-tiau, Si rajawali sakti selalu mendampingi kudanya, sayapnya yang kuat seakan perisai bagi Yo Ko dan menyampuk panah yang berhamburan datang. Siao-liong-li, Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Siang ngintil di belakang dengan kencang.
Ternyata jurusan yang diarah Yo Ko justru di mana kelihatan panji kebesaran raja Mongol berkibar. Keruan Yalu Ce terkejut bukan main. Ia tahu, sekali raja Mongol berani memimpin tentaranya, tentu penjagaan sudah diatur keras dan rapat sekali. Kini jumlah pihaknya yang tiada seratus orang bukankah cuma antarkan kematian bila berani menerjangnya? Tapi bila teringat jiwanya yang tadi hampir melayang tapi tertolong Yo Ko, maka ke mana saja diajak, ke lautan api atau masuk air mendidihpun pasti akan diturutnya.
Demikianlah dalam sekejap mereka menerjang mendekati benteng Siang-yang, Ketika pengawal Mongol melihat serbuan rombongan Yo Ko yang sangat hebat, segera ada 200 orang dikerahkan untuk menahannya.
Tetapi sekali Yo Ko ayunkan tangannya yang tunggal itu, pesat bagaikan panah sebatang lembing atau tombak meluncur ke depan lantas menembus dada seorang perwira musuh, setelah itu dia sambut pula sebatang lembing lain dari Yalu Ce terus ditumpukkan lagi dan kembali perwira musuh kedua terjungkal.
Keruan pasukan Mongol menjadi kacau dan rombongan Yo Ko dengan cepat menerjang lewat. Terkejut sekali para pengawal Mongol, beramai-ramai mereka mengangkat senjata menghadang maju. Tetapi setiap kali tombak Yo Ko menusuk, satu orang pasti terguling, siapa yang merintangi pasti mati.
Harus diketahui tenaga sakti lengan tunggal Yo Ko terlatih di bawah damparan ombak badai, betapa kuat sambitan lembingnya itu, jangankan badan manusia, sekali pun batu cadas juga tembus. Setiap lembingnya selalu diincarkan kepada perwira-perwira yang memakai topi baja yang mudah dikenal, maka sekejap saja 17 tombak membunuh 17 perwira Mongol yang perkasa.
Dengan serangan kilat ini, meski berpuluh ribu tentara terhimpun di bawah benteng, tetapi ke mana pun rombongan Yo Ko sampai, di situ lantas kacau balau, sekaligus Yo Ko menerjang sampai di depan raja Mongol.
Dengan mati-matian pengawal pribadi Monko maju bertahan. Malahan beberapa orang di antaranya terus mengaling-aling di depan junjungan mereka sebagai tameng.
Ketika Yo Ko membalikkan tangannya hendak menerima tombak lagi dari Yalu Ce, ternyata ia hanya mendapat tempat kosong. Kiranya mereka sudah diterjang pasukan musuh hingga terpisah.
Sementara Yo Ko melihat muka raja MongoI mengunjuk rasa gugup dan kuatir, kudanya segera diputar lantas hendak kabur. Tiba-tiba Yo Ko bersuit panjang, sekali kakinya menggenjot pelana kuda, tubuhnya mencelat ke atas dan menubruk ke sana.
Belasan prajurit pengawal raja segera memutar senjata menusuk ke atas, namun mendadak Yo Ko berjumpalitan satu kali di udara, tahu-tahu tubuhnya melayang lewat di atas senjata-senjata musuh.
Melihat gelagat jelek, sekali tarik kudanya, segera raja Mongol itu kabur ke depan dengan cepat. Kuda tunggangannya adalah binatang pilihan, larinya begitu cepat bagaikan terbang. Tetapi Yo Ko tetap mengejarnya dengan kencang, dengan ilmu entengkan tubuh yang tinggi. Dan di belakangnya menyusul beratus prajurit pengawal Mongol.
Melihat keadaan itu, pasukan kedua belah pihak, di atas dan di bawah benteng, untuk sementara lupa bertempur dan mereka berteriak-teriak. Pasukan Mongol berteriak mengharap kuda junjungan mereka berlari lebih cepat, sebaliknya pasukan Song berteriak memberi semangat pada Yo Ko agar bisa membekuk raja Mongol.
Diam-diam Yo Ko sangat girang melihat raja Mongol kabur terpencil sendirian. Pikirnya, betapa pun cepat kau kabur, akhirnya akan kutangkap. Tak terduga-duga, kuda tunggangan Monko yang bernama ‘Hui-hun-cui’ (kuda awan melayang) ternyata luar biasa. Sedikit menggenjot, sekali melompat lantas beberapa meter ke depan. Meski Yo Ko sudah mengejar sekuatnya, malah semakin jauh ketinggalan.
Mendadak Yo Ko menyambar sebatang tombak lalu ditimpukkannya ke punggung Monko sekuat tenaga. Tampaknya lembing itu meluncur bagai panah dan segera bakal tertancap pada punggung orang. Saking tegangnya sampai kedua pihak ternganga menahan napas, siapa tahu mendadak kuda ‘Hui-hun-cui’ itu memancal ke depan sehingga lembing itu jatuh satu kaki jauhnya di belakang punggung raja Mongol itu.
Maka berteriak lagi pasukan kedua pihak. Pasukan Song merasa sayang atau gegetun, sebaliknya pasukan Mongoi bersyukur girang.
Waktu itu jarak Kwe Ceng, Oey Yok-su, Oey Yong, Ciu Pek-thong dan It-teng semuanya sangat jauh, mereka hanya ikut kuatir saja tanpa dapat membantu Yo Ko. Sebaliknya prajurit dan perwira Mongol juga hanya bisa ber-teriak-teriak memberi semangat saja, walau pun ada maksud berkorban untuk junjungan mereka, tapi mana dapat menyusul larinya ‘Hui-hun-cui’ yang begitu pesat?
Ketika Monko menoleh ke belakang dan melihat Yo Ko semakin ketinggalan jauh, dia menjadi lega. Segera dia belokkan kudanya menuju ke barat, ke pasukannya yang berada di situ. Maka sambil berteriak-teriak pasukan Mongol itu pun maju memapak.
Jika sampai keduanya bergabung, lebih tinggi lagi kepandaian Yo Ko juga takkan berdaya menangkap raja musuh itu. Melihat usahanya akan gagal, Yo Ko menjadi amat gegetun. Tiba-tiba pikirannya tergerak. Ia pikir tombak terlalu berat, sukar mencapai jauh, kenapa tidak pakai batu saja?
Karena itu cepat ia jemput dua potong batu kecil seadanya, ia gunakan ‘Tan-ci-sin-thong’ (ilmu sakti selentikan jari), dua batu itu satu persatu diselentikkan ke depan. Terdengar dua kali suara mendenging tajam, tanda betapa pesat menyambarnya batu itu dan keduanya kena pantat kuda ‘Hui-hun-cui’ hingga karena kesakitan, sembari meringkik, binatang itu berjingkrak terus berdiri menegak.
Monko adalah raja yang amat tangkas dan gagah perwira, semenjak kecil sudah banyak ikut bertempur bersama kakeknya, yakni Jengis Khan, hidupnya boleh dikatakan dibesarkan di atas kuda dan di tengah senjata. Meski kini menghadapi bahaya, sama sekali ia tidak menjadi gugup, cepat ia tarik gendewa terus memanah ke belakang sambil kedua kakinya mengempit kencang kudanya yang menegak.
Tapi dengan sedikit menunduk, Yo Ko hindarkan panah, habis itu secepat terbang ia melompat maju, sedangkan tangannya sudah dapat meraup sepotong batu lagi. Waktu ia sambitkan sekuatnya, dengan tepat batu itu mengenai punggung Monko.
Betapa hebat tenaga sambitan Yo Ko, keruan Monko tak tahan, tulang iganya patah, orangnya terjungkal dari kuda dan terbanting binasa. Melihat raja mereka terguling dari kuda, seluruh pasukan MongoI menjadi kacau, beramai-ramai merubung maju dari segala jurusan.
Segera Kwe Ceng memberi tanda serangan umum. Demikian pula pasukan Song yang berada di dalam benteng ikut menyerbu keluar. Ditambah lagi barisan 28 bintang yang dipimpin Oey Yok-su lantas menggempur musuh ke sana ke sini.
Dalam keadaan kacau balau itu pasukan Mongol saling injak-menginjak, yang binasa tidak terhitung banyaknya, di sepanjang jalan penuh senjata yang ditinggalkan, akhirnya kabur tanpa teratur ke utara.
Selagi Kwe Ceng memimpin pasukannya mengejar musuh, tiba-tiba terlihat dari arah barat muncul lagi satu pasukan musuh yang barisannya sangat rajin teratur, dari panjinya dapat diketahui itu adalah pasukan yang dipimpin adik raja, yaitu Kubilai.
Akan tetapi sekali pasukan Mongol sudah kalah, keadaannya bagai air bah melanda dan seketika tidak mungkin dapat ditahan. Betapa pun Kubilai mengatur tentara dengan baik, tetap saja kena terjang, pasukan kalah yang mundur laksana arus menerjang itu sehingga seketika pasukannya justru ikut menjadi kacau.
Melihat gelagat jelek, segera Kubilai putar balik pasukannya, dia sendiri dengan pasukan pribadinya perlahan-lahan mundur ke utara dengan teratur.
Sejak terjadi pertempuran antara pasukan Mongol dan kerajaan Song, selamanya pihak Mongol belum pernah mengalami kekalahan begitu besar, apalagi raja mereka gugur di medan pertempuran, hal ini sangat mempengaruhi semangat tentaranya.
Pula menurut tradisi bangsa Mongol, takhta kerajaan bukan diteruskan putera mahkota, tetapi dicalonkan suatu dewan yang terdiri dari keluarga raja, pengeran-pangeran, pembesar-pembesar dan panglima yang terkemuka.
Kini Monko sudah mati, Kubilai ingin buru-buru bisa naik takhta, maka dia pun cepat memimpin pasukannya pulang ke utara. Kelak tiga belas tahun kemudian barulah pasukan Mongol datang menggempur Siang-yang lagi.
********
Waktu Kwe Ceng memimpin pasukannya kembali ke kota, tampaklah gubernur Lu Bun-hwan beserta stafnya lengkap sudah menanti di pintu gerbang untuk menyambutnya. Begitu pula rakyat ber-jubel-jubel berdiri di luar benteng sambil membawakan arak dan segala macam daharan sebagai hiburan bagi pasukan yang menang itu.
Kwe Ceng menggandeng tangan Yo Ko. Dia terima secawan arak yang disuguhkan seorang penduduk tua, tapi ia angsurkan kepada Yo Ko, katanya.
“Ko-ji, hari ini kau telah berjasa sedemikian besar, namamu akan harum tersiar ke mana-mana, seluruh rakyat penduduk kota ini pun tiada yang tak berterima kasih padamu.”
Terharu sekali Yo Ko atas pujian Kwe Ceng. Ada sepatah kata yang tersimpan lebih 20 tahun dalam hatinya dan belum pernah diucapkan. Kini tak tertahan lagi, dengan suara lantang segera ia menjawab:
“Kwe-pepek, jika waktu kecil siautit (keponakan) tidak mendapat perawatan dan pengajaranmu, mana mungkin terjadi seperti hari ini?”
Lalu kedua orang bergandengan tangan masuk kota bersama. Terdengarlah suara sorak sorai rakyat yang gegap gempita menyambut mereka.
Tiba-tiba Yo Ko teringat akan kejadian dahulu: “Lebih 20 tahun yang lalu Kwe-pepek juga menggandeng tanganku mengantar aku ke Cong-lam-san untuk belajar silat, perhatiannya hingga sekarang sedikit pun tidak pernah berubah. Tapi aku sendiri telah berbuat onar, bikin gara-gara, mendurhakai guru dan mengkhianati agama. Coba kalau aku terus tersesat di jalan yang tidak benar, tidak akan hari ini aku dapat bergandengan tangan lagi dengan Kwe-pepek.” Berpikir demikian tanpa terasa Yo Ko merasa malu sendiri.
Malamnya di dalam kota diadakan perjamuan besar untuk merayakan kemenangan yang gilang gemilang itu. Di tengah suasana yang gembira itu, tiba-tiba Kwe Ceng berduka sebab terkenang pada Ang Chit-kong. Katanya:
“Dahulu kalau bukan Khu-totiang (Khu Ju-ki) dari Coan-cin-kau yang berbudi itu dan ketujuh Insu (guru berbudi) jauh-jauh mencariku ke Mongol, juga mendapatkan didikan dari Ang-lo-insu, tidak mungkin aku Kwe Ceng bisa sedikit berjasa seperti hari ini. Kini kita bergembira di sini, di antara para Insu, kecuali Kwa-Io-insu, selebihnya sudah wafat semua, kalau ingat beliau-beliau itu, sungguh aku menjadi berduka.”
Mendengar itu It-teng Taysu dan yang lain-lain ikut muram, sebaliknya Lu Bun-hwan sama sekali tidak mengerti seluk-beluknya, katanya di dalam hati:
“Orang-orang ini benar-benar tak tahu aturan, dalam perayaan yang gembira ria ini malah berbicara tentang orang mati segala.”
Sementara itu Kwe Ceng berkata kembali: “Jika urusan di sini selesai, besok aku ingin berangkat ke Hoa-san berziarah ke makam Insu.”
“Kwe-pepek,” sela Yo Ko. “aku pun lagi hendak bilang begitu. Mari kita pergi beramai-ramai.”
Memang Oey Yok-su, It-teng dan Ciu Pek-thong juga sudah kangen pada sobat tua yang telah meninggal lebih 20 tahun, segera mereka menyatakan setuju. Dan perjamuan terus berlangsung dengan meriah hingga jauh malam.
Besok paginya, diam-diam Kwe Ceng dengan rombongan berangkat menuju ke Hoa-san. Kesehatan Ciu Pek-thong, Liok Bu-siang, Su-si-hengte dan Su-sui Hi-un belum sembuh betul, maka mereka menunggang kuda dan berjalan perlahan. Baiknya tidak ada urusan penting, maka perjalanan mereka dilakukan seenaknya saja.
Tidak berapa hari tibalah mereka di Hoa-san, ketika itu Ciu Pek-thong dan lainnya telah sembuh semuanya. Maka naiklah mereka ke atas gunung, Yo Ko menunjukkan tempat di mana jenazah Ang Chit-kong dan Auyang Hong dikubur dulu.
Oey Yong membawakan sayur-mayur, ayam, daging dan lain-lain sesajen. Segera ia membikin tungku dan menyalakan api, ia bikin beberapa macam masakan yang paling disukai mendiang Ang Chit-kong sebagai sesajen sembahyang. Lalu para ksatria itu pun menjalankan penghormatan dan mengheningkan cipta.
Kuburan Auyang Hong letaknya di samping kuburan Ang Chit-kong. Namun dendam Kwe Ceng kepada Auyang Hong boleh dikatakan sedalam lautan, bila ingat beberapa gurunya yang berbudi seperti Ju Jong, Han Po-ki dan lain-lain terbunuh secara keji, meski kejadian sudah lewat berpuluh tahun, tapi rasanya masih sangat benci padanya.
Hanya Yo Ko yang mengingat budi kebaikan Auyang Hong dulu yang mengaku anak angkat padanya, maka dia pun berlutut dan menyembah di hadapan makam ayah angkatnya bersama Siao-liong-li.
Ciu Pek-thong maju ke depan kuburan Auyang Hong. Dia membungkuk memberi hormat, katanya: “Wahai Lo-tok-but (makhluk berbisa tua, julukan Auyang Hong), hidupmu dahulu banyak melakukan kejahatan, sesudah mati kau menjadi tetangga Lo-kiau-hua (pengemis tua, Ang Chit-kong), boleh dikatakan kaulah yang beruntung. Hari ini semua orang datang berziarah ke makam Lo-kiau-hua, hanya dua bocah yang menyembah kepadamu, kalau di tanah baka kau tahu, seharusnya kau menyesali keganasan semasa hidupmu dulu.”
Mendengar doa sembahyang yang lucu aneh itu, semua orang menjadi geli. Kemudian semua orang mengambil mangkok dan sumpit, mereka hendak dahar di depan kuburan. Namun dari balik gunung tiba-tiba berkumandang terbawa angin suara beradunya senjata serta bentak-membentak orang, tampaknya seperti ada orang berkelahi.
Dasar watak Ciu Pek-thong paling getol mengenai sesuatu, langsung saja dia mendahului berlari ke tempat ramai-ramai itu, kemudian semua orang pun menyusulnya.
Lewat dua tanjakan, pada sebuah tanah datar yang sempit berkumpul 30-40 orang yang beraneka macam bentuknya, tinggi-pendek, gemuk-kurus, tua muda, laki-perempuan, ada paderi, ada preman semua bersenjata. Orang-orang itu sedang bertengkar.
Melihat kedatangan rombongan Ciu Pek-thong dan Kwe Ceng, dikira kaum pelancong biasa, maka tak digubrisnya. Terdengar seorang laki-laki tinggi besar berkata dengan suara lantang.
“Diam, diam! Kita jangan ‘hantam kromo’ tak keruan. Sebutan ‘juara ilmu silat’ tidak mungkin diperoleh dengan jalan ribut-ribut begini. Sekarang para orang gagah telah berkumpul semua di sini, mengapa kita tidak saling ukur kepandaian masing-masing dengan ilmu pukulan atau senjata? Barang siapa mampu memenangkan seluruh pertandingan, kita bersama lantas menyerah dan mengangkat dia sebagai juara.”
“Betul!” timbrung seorang Tojin berjenggot panjang bersenjata pedang. “Menurut cerita di kalangan Bu-Iim, dulu pernah terjadi ‘Hoa-san-lun-kiam’ (pertandingan pedang di Hoa-san). Sekarang kita boleh coba-coba bertanding, lihat siapa gerangan yang akan menduduki tempat tertinggi?”
Segera semua orang bersorak menyatakan akur, malah ada beberapa orang di antaranya tanpa disuruh terus melompat ke tengah sambil berteriak:
“Hayolah, siapa berani maju menghadapi aku?”
Melihat itu, Ciu Pek-thong, Oey Yok-su, It-teng dan yang lainnya saling pandang dengan bingung karena di antara orang-orang itu tiada seorang pun yang mereka kenal.
‘Hoa-san-lun-kiam’ (pertandingan pedang Hoa-san) yang di-sebut-sebut iitu, pada saat pertama kali diadakan, Kwe Ceng sendiri pun belum Iahir. Tatkala itu terjadi perebutan kitab Kiu-im-cin-keng. Untuk itu Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, yaitu nama-nama julukan Oey Yok-su. Auyang Hong, Toan-Ti-hin (It-teng Taysu sekarang), Ang Chit-kong dan Ong Tiong-yang berkumpul di puncak tertinggi Hoa-san untuk mengukur tenaga, dan akhirnya Tiong-sin-thong Ong Tiong-yang menjagoi tokoh-tokoh lainnya dan dapat menangkan gelar ‘Juara’.
25 tahun kemudian, saat Oey Yok-su dan lain-lain untuk kedua kalinya mengadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’, Ong Tiong-yang sudah wafat. Sekali ini kecuali keempat tokoh yang lama, yaitu Tang-sia, Se tok, Lam-te dan Pak-kay, bertambah lagi Ciu Pek-thong, Kiu Jian-yim dan Kwe Ceng bertiga. Akan tetapi setelah saling gebrak, semuanya merasa kepandaian masing-masing belum mencapai tingkat yang susah diukur, untuk mendapatkan gelar ‘Juara’ sesungguhnya belum bisa.
Sungguh tak terduga sesudah berpuluh tahun kemudian, kini ada serombongan tokoh silat kalangan Bu-lim yang ingin mengadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’ ketiga kalinya. Hal ini tentu saja membuat Oey Yok-su dan lain-lain rada heran, tetapi yang lebih aneh adalah berpuluh orang di hadapannya ini tak ada yang mereka kenal. Apakah mungkin karena diri mereka seperti kodok dalam sumur yang tak tahu di luar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai?
Sementara itu terlihat beberapa orang mulai saling gebrak, tetapi baru beberapa jurus saja Oey Yok-su dan Ciu Pek-thong tak dapat menahan rasa gelinya, sampai orang alim seperti It-teng juga ikut geli. Sejenak pula, saking tak tahan, Oey Yok-su, Ciu Pek-thong, Yo Ko dan Oey Yong tertawa ter-pingkal-pingkal.
Ternyata ilmu silat beberapa orang yang saling labrak itu terlalu rendah, hakikatnya cuma jual jamu di Kangouw saja. Entah kenapa mereka bisa datang ke Hoa-san dan me-niru-niru hendak mengadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’ segala.
Ketika mendengar suara tawa Ciu Pek-thong dan lain-lain, pertarungan beberapa orang itu berhenti dan melompat mundur.
“Hai, manusia-manusia tak kenal mati-hidup! Tuan-tuan besar sedang bertanding silat di sini, kenapa kalian malah ter-kekeh-kekeh dan peringas-peringas di sini? Hayo lekas pergi jika ingin selamat!”
Tiba-tiba Yo Ko bergelak, begitu keras dan panjang suaranya hingga menggema angkasa laksana bunyi guntur gemuruh. Mula-mula rombongan itu berwajah pucat, menyusul badan gemetar, lalu senjatanya berjatuhan.
“Nah, lekas enyah!” bentak Yo Ko kemudian.
Sesudah terpaku sebentar, mendadak orang-orang itu berteriak ramai, lalu berbareng lari sipat-kuping ke bawah gunung, saking ketakutan sampai banyak yang jatuh bangun tanpa berani menoleh lagi, lapat-lapat terdengar ada di antaranya yang berseru:
“Lekas lari, lekas lari! Itu Sin-tiau-tayhiap!”
Sekejap mereka sudah kabur bersih. Saking gelinya Eng-koh dan Kwe Hu terpingkal-pingkal sembari memegangi perut.
“Manusia yang suka mengelabui orang dan memajukan nama di mana-mana selalu ada, tetapi tidak nyana di puncak Hoa-san ini pun diketemukan bangsa-bangsa demikian ini,” ujar Oey Yok-su gegetun.
“Dulu di seluruh jagat terkenal ada ‘Ngo-coat’ (panca mahayana, lima tokoh terkemuka),” tiba-tiba Ciu Pek-thong menyela. “Kini Se-tok, Pak-kay dan Tiong-sin-thong sudah tewas, lalu tokoh yang masih hidup sekarang ada berapa orang lagi yang dapat disebut ‘Ngo-Coat’?”
Sahut Oey Yong dengan tertawa: “It-teng Taysu dan ayahku makin hari makin tinggi ilmunya, dahulu saja sudah termasuk dalam hitungan ‘Ngo-coat’ apalagi sekarang tidak perlu disangsikan lagi. Dan kalau mau bicara jujur, suamiku sendiri murid Pak-kay, dia bisa termasuk satu di antara ‘Ngo-coat’. Usia Ko-ji meski muda tapi ilmu silatnya susah diukur, di antara angkatan muda siapa yang bisa membandinginya? Apa lagi ia pun anak angkat Auyang Hong. Jadi Tang dan Lam adalah orang lama, sedang Se dan Pak harus diteruskan oleh suamiku dan Ko-ji.”
“Salah, salah!” sahut Pek-thong tiba-tiba sambil geleng-geleng kepala.
“Kenapa salah?” tanya Oey Yong.
“Ya, salah,” kata Pek-thong. “Auyang Hong berjuIuk Se-tok, tapi hati dan tindak tanduk si Yo Ko ini sama sekali tidak ‘Tok’ (racun, artinya kejam), kalau dia pun disebut Se-tok, kan tidak cocok?”
“Benar! Ceng-koko juga tidak jadi pengemis, pula It-teng Taysu sekarang pun sudah tidak menjadi Hongte lagi,” ujar Oey Yong, “Maka menurut aku, julukan kalian sekarang harus diperbaharui. Tang-sia, julukan ayah, adalah ‘merek’ lama, maka itu tidak perlu diganti, It-teng Taysu tidak lagi menjadi Hongte, tapi menjadi Hwesio, dia harus disebut ‘Lam-ceng’ (paderi diri selatan). Mengenai Ko-ji (Yo Ko), biar kuhadiahi dia julukan ‘Ong’ (bebas, tak terkekang), kalian bilang tepat tidak?”
“Bagus!” seru Oey Yok-su yang pertama-tama menyatakan akur. “Ha-ha, sejak kini, satu Tang-sia dan yang lain Se-ong, satu tua dan satu muda, kita berdua memang pasangan yang setimpal.”
“Ahh, usiaku masih terlalu muda, mana berani berdiri sejajar dengan para Cianpwe,” ujar Yo Ko merendah.
“Aha, adik cilik, kau salah kalau berkata begitu,” seru Oey Yok-su, “Kau kan sudah pakai julukan ‘Ong’ (berlaku bebas)? Jika berdasarkan namamu yang tersohor dan ilmu silatmu, masa tidak lebih tinggi dari pada Lo-wan-tong?”
Oey Yok-su tahu puterinya (Oey Yong) sengaja tidak menyebut Ciu Pek-thong, agar si tua nakal itu tidak tahan, lalu muring-muring sendiri, maka ia pun sengaja membumbui sekalian.
Yo Ko pun paham maksud hati ayah dan anak itu. Ia saling pandang dengan Siao-liong-li sambil tersenyum, dalam hati ia berpikir: “Julukan ‘Ong’ ini memang sangat tepat.”
Di luar dugaan Oey Yok-su, sama sekali Ciu Pek-thong tidak ribut, malah dia bertanya: “Kalau Lam-ceng dan Se-ong sudah ganti merek, lalu Pak-kay bagaimana? Harus diganti apa?”
“Ksatrta seluruh jagat saat ini kalau menyebut Kwe-heng. semua menyebut ‘Kwe-tayhiap’ kepadanya,” demikian Cu Cu-liu ikut buka suara. “Selama berpuluh tahun ia mempertahankan Siang-yang dengan susah payah, membela tanah air dan melindungi rakyat, orang gagah perwira seperti dia semenjak dulu hingga sekarang susah dicari bandingannya. Maka menurut aku, jika kita menyebut dia ‘Pak-hiap’ (pendekar dari utara) rasanya semua orang akan setuju.”
Mendengar itu, segera It-teng Taysu, Bu Sam-thong dan lain-lain bertepuk tangan memuji nama baik itu.
“Nah, Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng dan Pak-hiap sudah ada orangnya semua, lantas yang tengah, siapa yang harus menduduki menggantikan Tiong-sin-thong Ong Tiong-yang?” ujar Oey Yok-su. Sambil bicara ia sengaja melirik sekejap ke arah Ciu Pek-thong, lalu menyambung: “Yo-hujin (nyonya Yo, maksudnya Siao-liong-li) adalah ahli waris satu-satunya dari Ko-bong-pay, dulu nama Lim Tiau-eng menggetarkan Kangouw, meski Ong Tiong-yang sendiri juga jeri padanya. Dengan ilmu pedang Giok-li-kiam-hoat ciptaan Ko-bong-pay yang khas, kalau dulu Lim-lihiap juga ikut menghadiri Hoa-san-lun-kiam, jangankan nama Ngo-coat harus diubah, bisa jadi gelar ‘juara’ yang diperoleh Ong Tiong-yang itu sulit dipertahankan. Sekarang ilmu silat Yo Ko berasal dari ajaran sang isteri, muridnya saja termasuk ‘Ngo-coat’ baru, gurunya tentu saja tidak perlu disangsikan lagi, Sebab itulah Yo-hujin tepat sekali menduduki tempat tengah.”
Namun Siao-liong-li tidak pernah tertarik segala nama pujian itu, dengan tersenyum dia menjawab:
“Ahh, sekali-sekali aku tak berani menerimanya.”
“Jika tidak mau, tentunya harus Yong-ji,” kata Oey Yok-su, “Meski ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tetapi banyak tipu akal, pintar dan cerdik, kalau dia termasuk satu di antara Ngo-coat juga pantas.”
“Bagus, bagus!” seru Ciu Pek-thong mendadak sembari bertepuk tangan tertawa. “Terus terang, kau Oey-losia, Kwe-tayhiap, semuanya bikin hatiku kagum dan takluk betul, hanya Oey Yong si bocah ini memang cerdik dan licin, asal Lo-wan-tong ketumbuk dia lantas mati kutu. Jika dia dimasukkan salah satu di antara Ngo-coat, memang paling tepat.”
Semua orang tercengang mendengar ucapan itu. Sungguh kalau bicara mengenai ilmu silat, sekali pun Oey Yok-su dan It-teng juga merasa masih kalah sedikit dari pada Lo-wan-tong. Sebabnya nama Ciu Pek-thong tidak diungkap sebenarnya hanya ingin bergurau untuk menggodanya saja.
Siapa tahu dasar pembawaan Ciu Pek-thong memang jujur polos, sedikit pun hatinya tak ada rasa iri dan dengki. Meski pembawaannya gemar silat tetapi tak pernah timbul pikiran cari nama untuk menjagoi dunia, maka sama sekali tidak terpikir olehnya apakah ia sendiri harus termasuk di dalam Ngo-coat atau tidak.
Maka tertawalah Oey Yok-su, katanya: “Wahai, Lo-wan-tong, kau benar-benar hebat. Soal ‘nama’ aku Oey-losia memandangnya dingin. It-teng Taysu anggap ‘nama’ hanyalah khayalan belaka. Tapi kau, hatimu kosong bersih, bahkan hakikatnya tidak pernah terpikir tentang ‘nama’ segala, nyata kau lebih hebat setingkat lagi dari pada kami. Ha-ha-ha…, Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng, Pak-hiap, Tiong-wan-tong. Di antara Ngo-coat, kaulah yang paling tinggi.”
Mendengar sebutan ‘Tang-sia, Se-ong, Lam-ceng, Pak-hiap, Tiong-wan-tong’, semua orang lantas bersorak memuji, tapi merasa geli pula.
Setelah kedudukan ‘Ngo-coat’ ditetapkan, semua orang lantas bergembira ria, lalu dengan berpencar mereka pergi pesiar sendiri-sendiri menikmati keindahan pegunungan Hoa-san.
Mula-mula Kwe Siang ikut di belakang sang ibu, Oey Yong. Dia lihat Yo Ko bergandengan tangan dengan Siao-liong-li dengan mesranya menuju ke arah lain. Katanya tiba-tiba pada ibunya:
“Ibu, sekarang aku bisa ikut pergi bersama Yo-toako dan Liong-cici dengan bebas, bukan?” Oey Yong mendadak diam tertegun sejenak, tapi lantas tersenyum penuh arti.
T A M A T


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar