Sore harinya, kedua saudara Bu yang ditugaskan ke Lam-yang sudah mengirim berita bahwa gudang rangsum musuh memang benar sudah terbakar habis, malahan api masih belum padam, pasukan MongoI telah mundur ke utara sejauh ratusan li dan berkemah di sana. Mendengar kabar itu, seluruh penduduk kota Siang-yang menjadi girang. Nama ‘Sin-tiau-tayhiap’ sengaja di-bumbui dengan pujian setinggi langit. Malam harinya Kwe Ceng suami isteri diundang oleh Lu Bun-hwan untuk merundingkan soal pertahanan kota hingga sampai jauh malam baru pulang.
Besok paginya, seperti biasa Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Boh-lo datang memberi selamat pada orang tua, tapi sampai lama Kwe Siang tak kelihatan muncul. Oey Yong menjadi kuatir. Segera disuruhnya pelayan melihat ke kamar puteri kedua itu apakah lantaran sakit. Tetapi tidak lama pelayan itu dan dayang pribadi Kwe Siang sudah kembali melapor, katanya:
“Semalam Jisiocia tidak kembali ke kamar.”
Keruan Oey Yong terkejut. “Kenapa semalam tidak melapor?” tanyanya segera.
“Semalam Hujin pulang larut malam, hamba tak berani mengganggu. pula kuatir sebentar Jisiocia akan kembali ke kamar, tidak tahunya menunggu sampai sekarang masih belum kelihatan,” tutur pelayan pribadi Kwe Siang itu.
Sesudah merenung sebentar segera Oey Yong memeriksa kamar anak dara itu. Dia lihat baju se-hari-hari, senjata dan uang semuanya tidak ada yang dibawa anak dara itu. Tengah dia heran, tiba-tiba dilihatnya di bawah bantal puterinya itu menongol ujung secarik kertas. Segera Oey Yong menduga jelek, diam-diam dia mengeluh, cepat kertas itu disambarnya dan dibaca, ternyata surat itu tertulis:
Ayah dan ibu tercinta,
Anak pergi mencegah Yo-toako agar jangan sekali-sekali berpikiran pendek. Bila sudah dapat mencegahnya, segera anak akan pulang.
Hormat puterimu, Siang
Sesaat Oey Yong mematung tak bersuara, dalam hati ia pikir: “Anak dara ini benar-benar kekanak-kanakan. Dia tidak tahu macam apakah orangnya Yo Ko itu, kecuali Siao-liong-li, siapa lagi yang bisa bikin dia menurut? Dia bukanlah Yo Ko kalau begitu gampang mau mendengar kata-kata orang Iain.”
Niat Oey Yong hendak mencari puteri kecil itu, namun mengingat situasi sangat genting, setiap saat pasukan MongoI bisa dikerahkan menyerang Siang-yang, mana boleh karena urusan anak-anak harus menjelajah Kangouw lagi? Maka sesudah berunding dengan Kwe Ceng, segera dia menulis empat pucuk surat dan menyuruh empat anak murid Kay-pang yang dapat dipercaya pergi mencari Kwe Siang agar anak dara itu bisa lekas pulang.
Kiranya hari itu, sesudah Kwe Siang mendengar cerita sang ibu, dia lantas tertidur. Akan tetapi mimpi buruk terbayang terus menerus, sebentar dilihatnya Yo Ko menebas buntung lengannya yang tinggal satu itu, di lain saat terbayang Yo Ko terjun ke jurang yang beribu tombak dalamnya hingga hancur lebur. Karena impian buruk itu, Kwe Siang terjaga bangun dengan keringat dingin. Dia terduduk di tepi ranjang dan termenung-menung
“Toakoko telah memberi tiga jarum emas padaku dan sanggup menerima tiga permohonanku yang pasti akan dilakukan untukku. Kini jarum emas tinggal satu, dapat kugunakan untuk mohon agar dia jangan cari jalan pendek (bunuh diri). Dia adalah seorang pendekar, seorang jantan, apa yang dia katakan tentu di pegang janjinya, biar sekarang juga aku pergi mencarinya.”
Lantas ia tinggalkan sepucuk surat singkat pada orang tuanya, lalu pergilah ia keluar kota. Tapi tatkala itu Yo Ko bersama Oey Yok-su entah sampai di mana, sesungguhnya sukar untuk dicari. Sesudah 30-40 li Kwe Siang menempuh perjalanan tanpa tujuan, dia mulai merasa lapar, dia pikir harus tangsal perut dulu pada sebuah rumah makan. Tapi di luar kota Siang-yang penduduknya yang takut datangnya pasukan musuh sudah lama mengungsi, jangankan rumah makan, bahkan rumah penduduk satu pun tiada isinya.
Selamanya Kwe Siang belum pernah keluar rumah sendirian, sama sekali tidak tersangka olehnya orang melawat jauh sesungguhnya sulit seorang diri. Ia duduk termenung di atas batu di tepi jalan sambil bertopang dagu. Ia duduk sebentar. Ia pikir tiada rumah makan, cari sedikit buah untuk sekedar tangsal perut juga lumayan. Namun ketika memandang sekelilingnya, beberapa li di sekelilingnya hanya tanah tandus tanpa pohon, apa lagi buah-buahan.
Selagi ia rada bingung, tiba-tiba terdengar derap kuda, seorang penunggang berlari cepat dari timur menuju barat. Ketika sudah dekat terlihatlah penunggangnya adalah seorang Hwesio tua yang berperawakan tinggi kekar, memakai jubah kuning, kasa bersemampir di pundaknya, di kepalanya memakai sebuah kopiah bundar yang bercahaya emas mengkilat. Kuda itu berlari dengan cepat sekali, sekejap saja sudah lewat. Tetapi tiba-tiba paderi itu memutar kuda kembali dan mendekati Kwe Siang dengan rasa heran.
“Nona cilik, siapakah kau?” demikian tanyanya. “Kenapa seorang diri kau berada di sini?”
Melihat sorot mata orang tajam bagaikan kilat, hati Kwe Siang terkesiap. Segera dia teringat pada It-teng Taysu yang pernah dilihatnya di tambak Hek-liong-tam, diam-diam ia pikir: “It-teng Taysu itu sangat welas asih, tentu paderi beralis putih ini pun orang baik.” Maka jawabnya:
“Aku bernama Kwe Siang. Aku baru datang dari Siang-yang dan sedang mencari seseorang.”
“Kau hendak mencari siapa?” tanya paderi tua itu.
Kwe Siang tersenyum sambil miringkan kepala dan katanya: “Hwesio tua suka campur urusan orang lain, aku tak mau beri-tahukan padamu.”
“Cobalah kau terangkan siapakah orang yang hendak kau cari, boleh jadi di tengah jalan tadi aku melihatnya, bukankah bisa kuberi petunjuk padamu,” ujar paderi tua.
Betul juga, pikir Kwe Siang. Maka jawabnya: “Orang yang kucari itu amat mudah dikenali. Ia adalah seorang laki-laki muda tanpa lengan kanan. ia mungkin berada bersama dengan seekor rajawali raksasa, boleh jadi berada sendirian pula.” Kiranya paderi tua ini bukan lain Kim-lun Hoat-ong. Mendengar orang yang dimaksudkan Kwe Siang itu ternyata Yo Ko adanya, dia terkejut, tapi pada lahirnya dia tenang-tenang saja dan pura-pura girang.
“He, orang yang hendak kau cari itu she Yo bernama Ko, bukan?” katanya cepat.
Kwe Siang menjadi girang: “Ya, kau kenal dia?”
“Tentu saja aku kenal, kami adalah sobat lama,” demikian kata Kim-lun Hoat-ong dengan tertawa: “Sewaktu kami berkenalan, boleh jadi kau belum lahir.”
Muka Kwe Siang yang cantik sedikit merah, tetapi tanyanya pula: “Toa-hwesio, siapakah nama gelaranmu?”
“Aku bernama Cumulangmah,” sahut Kim-lun Hoat-ong.
“Apa cumi? Mamah? Ah, begitu panjang, sulit sekali diucapkan,” kata Kwe Siang tertawa.
“Cu-mu-Iang-mah,” Hoat-ong menegas sekata demi sekata,
“Oh, Cumulangmah, apakah kau tahu di mana Toakoko-ku berada?” tanya si anak dara lagi.
Kiranya Kim-lun Hoat-ong sengaja bilang namanya Cumulangmah, nama puncak tertinggi di pegunungan Himalaya, yaitu terkenal juga dengan nama Mount Everest. Dengan nama samaran ini Hoat-ong se-akan anggap ilmu silatnya di seluruh jagat tiada bandingannya. Maka jawabnya:
“Kau punya Toakoko? Siapa dia?”
“Dialah Yo Ko,” sahut Kwe Siang.
“Ha, kau panggil Yo Ko sebagai Toakoko, katanya kau she Kwe?” tanya Hoat-ong.
Kwe Siang rada jengah, namun jawabnya: “Ya, kami adalah famili turun temurun, waktu kecil dia pun tinggal di rumahku.”
Tergerak hati Hoat-ong, maka segera ia bertanya. “Aku mempunyai seorang kenalan baik, ia berilmu silat sangat tinggi, namanya terkenal di seluruh jagat, juga she Kwe, namanya Ceng. Entah nona kenal padanya tidak?”
Terkejut Kwe Siang, di dalam hati dia membatin: “Aku telah minggat dari rumah, kalau dia adalah sobat ayah, mungkin sekali aku akan diseret pulang, lebih baik tidak aku katakan saja.”
Maka jawabnya kemudian: “Apakah kau maksudkan Kwe Ceng, Kwe-tayhiap? Dia adalah angkatan tua dari keluarga Kwe kami. Apakah Toa-hwesio hendak berkunjung padanya?”
Kim-lun Hoat-ong adalah seorang yang sangat pintar dan cerdik, lagi pula sudah kenyang asam garam, sikap Kwe Siang yang aneh ini segera dapat dilihatnya. Maka katanya pula dengan menghela napas:
“Aku dan Kwe-tayhiap memang sobat kental dan sudah lebih 20 tahun tak berjumpa. Tempo hari di daerah utara aku mendengar berita buruk, katanya Kwe-tayhiap telah meninggal, aku menjadi sedih, maka aku cepat datang kemari. Aihh, seorang pahlawan besar tidak diberkahi umur panjang, sungguh Thian tidak adil.” Berkata sampai di sini air matanya bercucuran membasahi jubahnya.
Iwekang Kim-lun Hoat-ong sudah terlatih sedemikian tinggi sehingga seluruh otot daging tubuhnya dan pernapasan dapat diatur sesuka hati, maka untuk menghentikan denyut jantung sementara saja tidak sukar, apa lagi hanya mencucurkan air mata bikinan. MeIihat orang menangis sungguhan, biar pun Kwe Siang tahu jelas ayahnya tidak pernah mati, namun soalnya mengenai ayah dan anak, mau tak mau hatinya ikut pilu juga, maka cepat katanya:
“Toa-hwesio, kau tak perlu berduka, Kwe tayhiap tidak pernah meninggal.”
“Ahh, jangan ngaco, dia benar-benar sudah meninggal. Anak perempuan mana tahu akan urusan orang tua?” sahut Hoat-ong sambil menggeleng kepala.
“Aku baru saja keluar dari Siang-yang, masa aku tidak tahu, malah baru kemarin aku melihat muka Kwe-tayhiap,” kata Kwe Siang.
Sekarang Hoat-ong tidak ragu-ragu lagi. Saking girangnya ia menengadah dan bergeIak-tawa.
“Ah, kiranya kau adalah puteri Kwe tayhiap,” katanya kemudian. Namun mendadak ia geleng-geleng kepala Iagi: “Salah, salah! Puteri Kwe-tayhiap itu kukenal, namanya Kwe Hu, umurnya sekarang sedikitnya sudah lebih 30 tahun.”
Tak tahan akan pancingan kata-kata orang, segera Kwe Siang menegaskan “Dialah enci-ku, dia bernama Kwe Hu dan aku bernama Kwe Siang.”
Girang luar biasa hati Hoat-ong, ia membatin: “Hari ini benar-benar Thian memberkahiku, rejeki ini telah menubruk sendiri padaku.”
Segera ia pun berkata: “Jika begitu, jadi Kwe-tayhiap memang benar tidak meninggal.”
Melihat orang benar-benar girang, Kwe Siang menyangka paderi ini berhati bajik dan senang karena mendengar ayahnya masih segar-bugar. Dia menegaskan lebih jauh:
“Aku bilang tidak meninggal tentu tidak meninggal. Ia adalah ayahku, masa aku mendustai kau?”
“Baik, baik, baik! Aku percaya, nona Kwe, malahan aku pun tak perlu pergi ke Siang-yang lagi. Sudilah kau sampaikan kepada ayahmu bahwa kawan lama Cumulangmah mengirim salam untuknya,” kata Hoat-ong.
Dia tahu pasti Kwe Siang akan tanya tentang urusan Yo Ko, maka dia sengaja memberi hormat, lalu menarik kudanya terus hendak pergi. Benar saja, segera terdengar Kwe Siang berteriak:
“Hai, hai! Toa-hwesio, kenapa kau tak tahu aturan?”
“Tidak tahu aturan?” Hoat-ong menegas pula tak mengerti.
“Bukankah aku sudah beri-tahukan keadaan ayahku, tetapi kau belum juga menceritakan keadaan Yo Ko. Sebenarnya di manakah dia?” tanya Kwe Siang.
“Ahh, benar. Aku menjadi lupa!” ujar Hoat-ong. “Kemarin dulu baru saja aku ber-omong dengan dia di lembah pegunungan sebelah utara Sin-yang. Dia sedang berlatih pedang di sana, saat ini mungkin masih belum pergi, boleh kau mencarinya ke sana.”
Kwe Siang mengerutkan kening oleh penjelasan itu. “Lembah gunung begini banyak, bagaimana aku bisa menemukannya? Terangkanlah lebih jelas,” pintanya.
Hoat-ong pura-pura berpikir, lalu katanya: “Baiklah, sebab aku juga akan ke utara, biarlah kubawa kau ke sana.”
Keruan Kwe Siang girang. “Ah, sungguh terima kasih,” katanya.
Lalu Hoat-ong menuntun kudanya ke hadapan anak dara itu dan katanya: “Silakan nona cilik menunggang, paderi tua berjalan kaki.”
“Ah, mana boleh jadi,” sahut Kwe Siang.
“Tidak apa-apa,” kata Hoat-ong tertawa. “Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat dari pada kedua kaki paderi tua.”
Selagi Kwe Siang hendak mencemplak ke atas kuda, tiba-tiba ia berseru: “Ai, sialan! Toa-hwesio, aku merasa lapar, kau memhawa makanan tidak?”
Dari buntalannya Hoat-ong mengeluarkan sebungkus rangsum kering. Sungguh pun Kwe Siang tidak biasa dengan makanan begitu, apa lagi panganan kaum paderi, tetapi karena sudah sangat lapar, terpaksa dimakannya sebagian sekedar menangsal perut, lalu dia mengeprak kuda berangkat diikuti Hoat-ong yang berjalan di sampingnya. Tiba-tiba anak dara itu ingat pada kata-kata orang tadi bahwa ‘Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat dari pada kedua kaki paderi tua’. Maka tiba-tiba saja dia pecut kudanya sambil berseru: “Toa-hwesio, kutunggu kau di depan sana.” Habis itu, secepat terbang dia larikan kudanya.
Kuda itu amat bagus dan tangkas, sekali berlari Kwe Siang merasa tetumbuhan di pinggir jalan dalam sekejap sudah jauh tertinggal di belakang, sebentar saja belasan li sudah ditempuhnya. Tidak lama kemudian ia menoleh dan berkata dengan tertawa:
“Toa-hwesio, dapatkah kau menyusul aku?”
Namun dia menjadi heran dan terkejut, ternyata bayangan Kim-lun Hoat-ong tak kelihatan, sebaliknya mendadak ia lantas mendengar suara orang berseru di dalam hutan di depan sana:
“Nona Kwe, kudaku itu kurang cepat, kau harus memecutnya lebih lekas.”
Kwe Siang menjadi tambah heran. “Kenapa dia malah sudah berada di depan?”
Segera dia keprak kuda pula, maka terlihatlah Kim-lun Hoat-ong sedang berjalan dengan ‘Ienggang-kangkung’ seenaknya di depan. Ia pecut kudanya supaya berlari lebih kencang, tetapi jaraknya selalu belasan tombak di belakang Hoat-ong, Di tanah datar utara Siang-yang itu debu selalu bertebaran oleh larinya kuda, tapi Hoat-ong yang berjalan di depan itu se-akan kakinya tak menempel tanah, debu sedikit pun tidak mengepul. Diam-diam Kwe Siang sangat kagum, pikirnya: “Jika dia tidak memiliki ilmu silat setinggi ini memang tidak sesuai menjadi sobat kental ayah.” Dan dari rasa kagum itu dia menjadi hormat, maka serunya segera: “Hai Toa-hwesio, kau adalah orang tua, lebih baik kau yang menunggang kuda saja.”
“Buat apa kita mesti banyak buang tempo di tengah jalan? Tidakkah lebih cepat bertemu dengan Toakoko-mu akan lebih baik?” sahut Hoat-ong menoleh sambil tertawa.
Tatkala itu kuda tunggangan Kwe Siang sudah mulai payah, larinya tidak secepat mula-mula lagi sehingga jaraknya dengan Hoat-ong semakin jauh. Pada saat itulah tiba-tiba dari arah utara ada suara derap kuda pula, dua penunggang kuda secepat terbang mendatangi.
“Marilah kita tahan kuda mereka ini, dengan menukar kuda tentu kau bisa berlari lebih cepat,” demikian kata Hoat-ong.
Tak lama kemudian kedua penunggang kuda itu sudah datang mendekat. “Mari kalian turun dulu!” bentak Hoat-ong mendadak sambil dua tangannya terpentang menghadang di tengah jalan.
Kedua kuda itu terkejut hingga meringkik sambil berdiri menegak. Tetapi penunggangnya ternyata amat mahir, tubuhnya masih tetap menempel di atas pelana tak sampai terjatuh.
“Siapa kau?! Apa cari mampus?!” bentak seorang di antaranya dengan marah. Berbareng itu pecutnya diayun menyabet.
“Hai, Toa-thau-kui, Tiang-si-kui, semua kawan sendiri, jangan berkelahi!” seru Kwe Siang cepat.
Ternyata kedua orang itu memang benar adalah si setan berkepala besar bersama setan berjenggot panjang dari Se-san It-khut-kui. Tetapi saat itu tangan kiri Hoat-ong sudah meraih pecut Toa-thau-kui yang menyabet tadi terus ditarik kuat-kuat. Tak terduga, meski Toa-thau-kui orangnya ceboI tetapi bertenaga raksasa, lagi pula pecut itu adalah bikinan kulit sapi yang sangat ulet, tenaga tarikan Hoat-ong yang beratus kati itu ternyata tidak membikin pecut itu menjadi putus, juga tidak terlepas dari tangan Toa-thau-kui.
“Bagus!” seru Hoat-ong. Diam-diam ia menambahi tenaga, dan karena saling betot itulah, segera terdengar suara yang keras.
“Pletak!”
Yang kalah adalah kuda tunggangan Toa-thau-kui yang patah tulang punggungnya terus terkulai ke tanah. Toa-thau-kui menjadi murka, sekali melompat turun, segera hendak menubruk maju dan melabrak Hoat-ong.
“Nanti dulu,” teriak Tiang-si-kui tiba-tiba, lalu tanyanya pada Kwe Siang: “Jisiocia, kenapa kau berada bersama dengan Kim-lun Hoat-ong?”
Dahulu Kim-lun Hoat-ong bersama Yo Ko pernah datang ke Coat-ceng-kok, lembah tempat bersemayamnya Kongsun Ci, maka Tiang-si-kui Hoan It-ong kenal padanya.
“Ah, kau telah salah mengenal orang. Ia bernama Cumulangmah, sobat baik ayah,” sahut Kwe Siang tertawa. “Padahal Kim-lun Hoat-ong itu adalah musuh bebuyutan ayah, ucapanmu ini kan ‘kepala sapi tidak cocok dengan mulut kuda’ (artinya salah wesel)?”
“Di mana kau ketemu dengan Hwesio ini?” tanya Tiang-si-kui.
“Baru saja kami bertemu,” ujar Kwe Siang. “Hwesio besar ini bilang ayah telah meninggal, coba, lucu bukan? Dan sekarang dia hendak membawa aku pergi mencari Toakoko.”
“Jisiocia, lekas kembali, Hwesio ini bukan orang baik-baik, dia sudah mendustai kau,” seru Toa-thau-kui.
Tapi Kwe Siang masih ragu-ragu. “Dia mendustai aku?” tanyanya.
“Ya,” sahut Toa-thau-kui. “Sin-tiau-hiap berada di selatan sana, kenapa dia membawa kau ke utara?”
Kim-lun Hoat-ong hanya tersenyum saja walau pun kedoknya sudah terbongkar. Katanya tiba-tiba.
“Dua orang cebol ini suka mengaco-belo.” Setelah itu sedikit tubuhnya bergerak, cepat sekali mendekati kedua ‘setan’ itu terus menghantam batok kepala mereka dengan kedua tangan.
Selama belasan tahun ini Hoat-ong sudah giat berlatih ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), semacam ilmu kebatinan tenaga gaib. ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ ini seluruhnya bertingkat tiga belas, konon selama ini tiada pernah ada satu orang pun yang sanggup melatih diri hingga lebih dari tingkat sepuluh. Akan tetapi Kim-lun Hoat-ong adalah orang berbakat luar biasa. Dengan telaten dan giat akhirnya dia dapat menembus ke atas tingkat sepuluh dan kini sudah mencapai tingkatan ke sebelas.
Dahulu dia dikalahkan Yo Ko bersama Siao-liong-li, hal mana dirasakannya sebagai suatu noda besar dalam hidupnya. Kini ilmu kepandaiannya sudah maju berlipat ganda, pada kesempatan raja Mongol memimpin pasukan sendiri ke selatan, sekalian ia pun ikut serta dengan tujuan hendak balas dendam menewaskan Yo Ko dan Siao-liong-li berdua dengan ilmu pukulannya yang maha sakti ini. Kembali tadi, ketika kedua tangan lawan memukul, cepat Toa-thau-kui menangkis, namun segera terdengar suara.
“Krakk!”
Seketika tangannya patah, menyusul batok kepalanya pecah, tanpa menjengek sedikit pun terus binasa. Kepandaian Tiang-si-kui lebih ulet. Dia tahu pukulan musuh amat lihay, dengan sekuatnya dia angkat kedua tangan untuk menahan. Maka terasalah sebuah kekuatan yang maha besar menindih tubuh, seketika pandangannya menjadi gelap, orangnya pun terus roboh. Terkejut sekali Kwe Siang,
“Hai, kedua orang ini adalah kawanku, berani kau mencelakai mereka?” bentaknya gusar.
DaIam pada itu, meski pun roboh dan muntah darah, Tiang-si-kui melompat bangun terus merangkul kedua kaki Hoat-ong sambil berseru:
“Lekas lari nona Kwe, Iekas!”
Segera Hoat-ong mencengkeram punggung Tiang-si-kui. Ia hendak mengangkatnya untuk dibanting, tapi dengan mati-matian Tiang-si-kui ingin melindungi Kwe Siang, kedua tangannya bagai gelang besi saja memegang erat-erat kedua kaki orang, sekali pun tenaga Hoat-ong sangat besar, untuk sesaat juga sukar menariknya lepas. Terkejut dan gusar sekali Kwe Siang. Usianya kecil, tetapi pembawaannya berbudi luhur. Kini dia pun sudah tahu Hoat-ong tidak bermaksud baik padanya, tetapi dia toh tidak mau lari meninggalkan Tiang-si-kui. Segera ia bertolak pinggang, bentaknya dengan suara keras:
“Hai, Hwesio jahat, kenapa kau begini keji? Lekas lepaskan Tiang-si-kui, biar nona ikut kau pergi.”
“Lekas lari, nona, jangan...” demikian seru Tiang-si-kui. Tapi belum lagi habis ucapannya, jiwanya ternyata sudah melayang.
Mayat Tiang-si-kui kemudian diangkat Hoat-ong dan dibuang ke tepi jalan, lalu katanya dengan menyeringai bengis:
“Nah, kalau mau lari, kenapa tidak lekas naik kuda?”
Selama hidup Kwe Siang tak pernah benci pada siapa pun, meski diketahuinya Loh Yu-ka dibunuh Hotu, tapi ia tidak menyaksikan sendiri, ia hanya berduka dan tidak dendam, tapi kini melihat Hoat-ong begini kejam, tanpa terasa ia menjadi benci padanya, maka dengan melotot ia pandang orang tanpa gentar sedikit pun.
“Nona cilik, kau tidak takut padaku?” tanya Hoat-ong.
“Takut apa?!” sahut Kwe Siang sengit. “Mau bunuh, lekas kau bunuh aku.”
Tetapi Hoat-ong lantas unjuk jempolnya dan memuji: “Hebat, memang hebat, ayah ksatria tidak akan melahirkan puteri pengecut.”
Dengan benci Kwe Siang memandang Hoat-ong sekejap lagi. Pikirnya hendak mengubur jenazah kedua kawannya, tetapi di situ tidak ada alat penggali. Setelah berpikir, ia angkat mayat Tiang-si-kui dan Toa-thau-kui ke atas kuda, tali pelana dibaliknya untuk mengikat mayat itu, lalu dia depak pantat kuda sambil berkata:
“Kuda, kuda, lekas antar majikanmu pulang.”
Karena sakit didepak, kuda itu berlari pergi ke arah datangnya tadi.
Bercerita tentang Oey Yok-su dan Yo Ko, keduanya bergandengan tangan dengan cepat menuju ke selatan, sekejap saja beberapa puluh li telah mereka tempuh. Mendekati lohor, sampailah di kota Swan-sia. Mereka masuk ke sebuah restoran besar, memesan daharan dan saling menceritakan pengalaman masing-masing selama ini. Ketika Oey Yok-su menyinggung diri Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua, selama belasan tahun ini mereka hidup menyepi di kediaman leluhur, yaitu Leng-oh, daerah Siang-ciu, dan Sah-koh, cucu murid Oey Yok-su yang gendeng, tinggal bersama dengan mereka.
Mendengar itu Yo Ko menghela napas panjang. Setelah minum beberapa cawan arak, segera Yo Ko bertanya:
“Oey-tocu, selama belasan tahun ini Wanpwe selalu mencari engkau orang tua, sebab ingin sekali bertanya sesuatu padamu, baru hari ini harapanku terkabul.”
“Watakku makin tua makin aneh, entah adik hendak tanya apa padaku?” sahut Oey Yok-su tertawa.
Selagi Yo Ko hendak buka suara, mendadak terdengar suara tangga berdetak, ada orang naik ke atas loteng restoran itu, seluruhnya tiga orang. Ketika mendengar suara tindakan orang, segera Oey Yok-su dan Yo Ko menduga orang-orang yang datang ini berilmu silat sangat tinggi. Kemudian, sesudah melihat orangnya, segera Yo Ko kenal satu di antaranya ialah Siau-siang-cu. Orang kedua bermuka hitam, ia tidak kenal, sedang orang ketiga In Kik-si, saudagar bangsa Persi yang memiliki berkepandaian lihay.
Dalam pada itu Siau-siang-cu dan In Kik-si juga sudah melihat Yo Ko. Keduanya menjadi terkesiap dan berhenti, mereka saling mengedip mata kemudian hendak turun kembali ke bawah.
“Eh-eh, sobat lama bertemu lagi, kenapa buru-buru hendak pergi?” sengaja Yo Ko menegur dengan tertawa mengejek.
“Baik-baikkah Yo-tayhiap selama ini?” segera In Kik-si menyapa sambil bersoja.
Sebaliknya Siau-siang-cu masih merasa dendam karena dulu di Cong-lam-san lengannya dipatahkan oleh Yo Ko. Selama belasan tahun ini kepandaiannya juga sudah banyak maju, tetapi dia tahu masih bukan tandingan Yo Ko, maka teguran Yo Ko tidak dia gubris, juga tidak menoleh,.lalu hendak melangkah turun. Orang bermuka hitam yang datang bersama mereka seorang jago terkemuka di bawah Kubilai, selamanya sangat tinggi hati. Bersama In Kik-si dan Siau-siang-cu mereka keluar mencari berita, siapa pun tidak dipandang sebelah mata olehnya. Kini melihat kedua kawannya begitu jeri pada Yo Ko, dia melirik hina ke arah Yo Ko, lalu berteriak:
“Nanti dulu, Siau-heng, jika ada orang jahat berani merintangi kesenangan kita, biar Siaute mengusirnya pergi.”
Habis bicara sebelah tangannya yang terpentang lebar mencengkeram ke pundak Yo Ko dengan maksud mencekalnya untuk dilemparkan ke jalan umum. Melihat telapak tangan orang bersemu hitam biru, Yo Ko tahu orang tentu berlatih ‘Tok-joa-cio’ atau ilmu pukulan pasir beracun. Tiba-tiba pikirannya tergerak. “Ya, mengapa aku tidak menggunakan tenaga orang ini untuk tanya Oey-Iocianpwe mengenai Lam-hay Sin-ni?” demikian pikirnya.
Tatkala itu tangan orang bermuka hitam itu sudah hampir menyentuh pundaknya. Yo Ko membalkan tangannya menyampuk.
“Plak! Plak!” tahu-tahu orang itu malah kena ditempeleng dua kali olehnya.
Terperanjat Oey Yok-su menyaksikan itu. “Cepat benar pukulannya ini!” ia memuji.
Dan hanya sekali serangan ini saja sudah terlihatlah ilmu silat ciptaan Yo Ko sendiri telah menjadi suatu aliran terkemuka. Sementara terdengar lagi dua kali suara.
“Plak! Plak!”
Kedua pipi Siau-siang-cu dipersen tamparan pula. Hanya In Kik-si yang bebas dari tempelengan itu karena Yo Ko melihat orang tadi berlaku sopan.
“Yo-laute, ilmu pukulan ciptaanmu ini benar-benar hebat sekali, lohu (aku yang tua) ingin sekali melihat keseluruhannya, entah dapat tidak?” kata Oey Yok-su dengan tertawa.
“Justru aku ingin minta petunjuk Locianpwe,” sahut Yo Ko.
Segera tubuhnya bergerak cepat, ia pun mainkan ilmu pukulan “lm-jiau-siau-hun-cio-hoat” yang hebat itu. Maka tampaklah lengan bajunya me-lambai-lambai, telapak tangannya naik turun, tiba-tiba memainkan gerak serangan ‘Bu-tiong-seng-yu’, pada lain saat gerakan ‘Ki-jin-yu-Thian’, dia mengurung Siau-siang-cu, In Kik-si dan orang bermuka hitam itu di tengah-tengah angin pukulannya.
Ketiga orang itu serasa terombang ambing di tengah gelombang badai, ter-huyung dan sempoyongan terbawa oleh angin pukulan Yo Ko, jangankan hendak melawan, untuk berdiri tegak saja susah.
“Sungguh hebat,” puji Oey Yok-su. “Hari ini lohu dapat menyaksikan ilmu pukulan Iaute ini sambil minum arak, sungguh hidupku tidak kecewa.”
“Locianpwe, sukalah memberi petunjuk barang sejurus!” teriak Yo Ko mendadak.
Ketika telapak tangannya mendorong, tahu-tahu Siau-siang-cu sudah ‘dikirim’ ke hadapan Oey Yok-su. Oey Yok-su tidak berani ayal, cepat telapak tangan kirinya menyorong ke depan, tubuh Siau-siang-cu dikembalikan ke sana. Namun segera tampak lelaki muka hitam itu menubruk datang lagi. Cepat Oey Yok-su mengangkat cawannya menenggak arak sambil mengayun tangan mendorongnya pergi pula. Melihat gerak pukulan orang memang sangat kuat dan hebat, tapi juga tidak terlalu luar biasa. dalam hati Yo Ko berpikir: “Agaknya kalau aku tidak menggunakan seluruh tenaga takkan dapat memancing ilmu pukulan yang dia pelajari dan Lam-hay Sin-ni.”
Maka ia pusatkan napasnya dan himpun tenaga, secara cepat Siau-siang-cu, In Kik-si dan lelaki muka hitam itu silih berganti didorongnya ke depan Oey Yok-su.
Terpaksa Oey Yok-su mengembalikan lagi, namun terasa daya tekanan serudukan ketiga orang itu semakin berat dan susul menyusul laksana datangnya gelombang ombak, yang satu lebih kuat dan lebih tinggi dan yang lain.
“Tenaga pukulan bocah ini semakin lama semakin kuat, sungguh bakat yang susah dicari dalam dunia persilatan!” demikian diam-diam Oey Yok-su membatin.
Dan pada saat itu juga orang bermuka hitam itu kembali melayang datang, bahkan kedua kakinya terus menjejak ke mukanya. Cepat Oey Yok-su menyampuknya, tetapi karena sedikit tergoncang itulah tanpa terasa arak dalam cawannya terciprat keluar beberapa tetes, menyusul In Kik-si dan Siau-siang-cu sudah menubruk datang lagi, yang satu dari depan dan yang lain dari samping.
“Bagus!” seru Oey Yok-su, dia letakkan cawan araknya, lalu dengan kedua tangannya dia mendorong ke depan.
Demikianlah, kedua orang, Yo Ko dan Oey Yok-su, saling oper-mengoper dari jarak beberapa tombak bagai orang bermain bola basket. Siau-siang-cu bertiga bagai bola saja terombang-ambing di antara tenaga pukulan kedua orang itu se-olah terbang kian kemari di udara. Tapi baru saja ‘lm-jian-soh-hun-ciang’ Yo Ko itu dimainkan sampai tengah jalan, ‘Loh-eng-cio-hoat’ Oey Yok-su sudah tampak di bawah angin. Saat itu secepat panah tubuh In Kik-si menubruk ke arahnya, Yok-su menaksir tenaganya tidak cukup untuk melawan tenaga dorongan Yo Ko sekali ini, maka segera dia gunakan jarinya untuk menyelentik.
“Crittt!” terdengar suara lirih tajam, satu kekuatan halus tapi kuat meluncur ke depan dan seketika tenaga pukulan Yo Ko terpatahkan.
Be-runtun Oey Yok-su menyelentik tiga kali, maka terdengar tiga kali gedebukan, tubuh Siau-sing-cu: It Kik-si dan lelaki muka hitam itu terbanting semua di atas papan loteng dan semaput.
Apa bila ‘Loh-eng-cio-hoat’ sedikit kalah kuat dari pada tenaga Yo Ko, namun tenaga sakti jarinya ‘Sian-ci-sin-thong’ ternyata sama kuatnya, siapa pun tiada yang lebih unggul. Maka bergelak ketawalah kedua orang itu, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, menuang arak dan pasang omong pula.
“llmu pukulan adik ini, kalau soal tenaga, hanya ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ menantuku Kwe Ceng yang dapat menandingi, sedangkan Loh-eng-cio Lohu masih kalah setingkat,” begitu kata Oey Yok-su kemudian.
Berulang-ulang Yo Ko menyatakan terima kasih dengan rendah hati. Lalu tanyanya: “Konon kabarnya Locianpwe pernah mendapat petunjuk dari Lam-hay Sin-ni hingga dapat mempelajari sejurus Cio-hoat (ilmu pukulan), entah dapatkah Wanpwe melihatnya untuk menambah pengalaman?”
“Lam-hay Sin-ni? Siapakah dia? Selamanya belum pernah aku mendengar namanya,” ujar Oey Yok-su heran.
Seketika berubah air muka Yo Ko. Ia berdiri, dengan suara gemetar ia menegas: “Apakah di dunia ini hakikatnya tiada seorang Lam-hay Sin-ni?”
Melihat perubahan wajah orang yang amat aneh itu, Oey Yok-su rada terkejut juga, maka jawabnya dengan ragu-ragu:
“Apakah mungkin seorang kosen yang belum lama ini baru terkenal? Lohu suka hidup menyendiri, maka belum kenal akan namanya.”
Terpaku Yo Ko berdiri, begitu cemas perasaannya, serasa hatinya akan melompat keluar dari rongga dadanya, katanya dalam hati: “Dengan jelas Kwe-pekbo menyatakan bahwa Liong-ji telah ditolong pergi oleh Lam-hay Sin-ni, siapa tahu semua itu bohong belaka dan sengaja mendustai aku!” Berpikir sampai di sini, mendadak dia berteriak sambil menengadah, suaranya menggetar sukma, air mata pun meleleh.
“Ada kesulitan apakah, Laute? Dapatkah kau jelaskan? Boleh jadi Lohu dapat membantu sebisanya,” tanya Yoksu.
Akan tetapi Yo Ko lantas memberi hormat sambil berkata dengan suara parau: “Perasaan Wanpwe kacau luar biasa sehingga tindak tanduk kurang wajar, harap dimaafkan.”
Setelah itu lengan bajunya mengebas, dia putar tubuh terus turun ke bawah. “Krak! Krak!” terdengarlah suara beberapa kali, beberapa undak tangga hancur kena diinjaknya.
Oey Yok-su menjadi bingung, dia menggumam sendiri: “Lam-hay Sin-ni, Lam-hay Sin-ni? Siapakah gerangan?”
Sementara itu Yo Ko sudah berlari pergi seperti kerasukan setan. Dia lari dan lari terus, dalam beberapa hari tanpa makan tanpa tidur, dia pikir hanya mati letih barulah tak akan ingat Siao-liong-li. Sebenarnya kelak masih dapat bertemu tidak, saat itu sama sekali tak berani dibayangkannya. Tidak berapa lama kemudian tibalah dia di tepi sungai besar. Yo Ko tidak tahan lagi oleh hancurnya perasaan, ketika dilihatnya ada sebuah perahu menepi segera ia melompat naik, ia berikan sepotong perak kepada si tukang perahu dan tanpa bertanya lagi ke mana perahu itu bakal berlayar, segera ia rebah di situ terus tidur.
Air sungai mengalir dengan derasnya. Perahu layar yang ditumpangi Yo Ko terus laju, di setiap kota dagang pasti perahu itu berlabuh beberapa hari buat bongkar-muat barang, agaknya itu adalah sebuah perahu barang yang hilir-mudik di sungai Tiang-kang. Hati Yo Ko saat itu seolah-olah kosong blong, ke mana pun serupa baginya, maka ia pun tidak peduli kapal itu akan berlayar atau berlabuh. Ia lewatkan hari-hari itu dengan minum arak, di malam hari ia suka bersiul panjang dan termenung-menung tanpa kenal waktu.
Si tukang perahu dan saudagar yang mencarter kapal itu tampak akan uang Yo Ko yang membayar tanpa menawar itu, mereka mengira dia adalah pengelana sinting, maka siapa pun tiada yang mengurusnya. Suatu hari tibalah kapal itu di Kang-im. Seorang saudagar sekapal sudah mohon diri pada Yo Ko dan bilang akan pergi ke Ka-hin dan Lim-an untuk membeli sutera. Mendengar kata-kata Ka-hin, mendadak Yo Ko terkejut dan berpikir
“Dulu ayahku tewas secara mengenaskan oleh Oey Yong di kelenteng Ong-tiat-jiang di kota Ka-hin, entah di manakah kuburannya? Aku tidak bisa mengubur jenazah ayah secara baik-baik, benar-benar aku seorang anak yang tak berbakti.” Berpikir akan itu, segera dia tinggalkan perahu dan mendarat terus menuju ke Ka-hin.
Tatkala itu sudah masuk musim dingin, meski pun di daerah Kanglam tak sedingin daerah utara, namun di mana-mana salju bertebaran. Yo Ko memakai mantel ijuk dan bertopikan caping, menujulah dia ke Ka-hin. Sampai di kota itu, cuaca telah gelap. Yo Ko mencari sebuah rumah makan dan bertanya jalan ke kelenteng Ong-tiat-jiang, di bawah hujan salju yang lebat ia lalu pergi ke sana. Ketika tiba di kelenteng itu, waktu sudah dekat tengah malam, salju masih terus turun, keadaannya gelap gulita. Tapi Yo Ko sanggup melihat di malam gelap, dia lihat Tiat-jiang-bio atau ‘keIenteng tombak besi’ itu sudah bobrok, pintunya sudah lapuk, sedikit didorong lantas roboh.
Yo Ko masuk ke dalam. Di mana-mana terlihat penuh debu dan galagasi bersinggasana, suatu tanda tiada penghuninya. Dia berdiri termangu-mangu di tengah ruangan kelenteng, terbayang olehnya ketika ayahnya tewas di situ dahulu hingga sejak lahirnya tiada pernah melihat muka ayahnya sendiri. Sungguh nasib malang itu jarang terdapat di dunia ini, dia menjadi berduka sehingga makin menambah pilu hatinya. Ia periksa sekitar kelenteng itu. Ia pikir sudah lebih 30 tahun ayahnya meninggal, dengan sendirinya tiada meninggalkan sesuatu tanda apa-apa. Ia pergi ke belakang kelenteng, ia lihat di bawah apitan dua pohon ada dua kuburan, di depan kuburan itu masing-masing berdiri sebuah batu nisan yang penuh tertutup oleh salju.
Ketika Yo Ko kebaskan lengan bajunya hingga salju berhamburan oleh angin kebasannya itu, maka tampaklah pada batu nisan sebelah kiri tertulis ‘Kuburan Bok-si dari keluarga Yo’. Diam-diam Yo Ko pikir siapakah gerangan wanita she Bok ini? Waktu batu nisan sebelah lain dipandangnya, seketika tak tahan lagi rasa gusarnya. Kiranya batu nisan itu tertulis: ‘Kuburan murid durhaka Yo Khong’, dan pada pinggirnya tertulis sebaris huruf kecil yang berbunyi ‘Guru tak berilmu Khu Ju-ki’.
Pikir Yo Ko dengan gusar: “lmam tua ini tak berbudi. Ayahku telah meninggal, tapi kenapa harus mendirikan batu nisan untuk mencela kelakuannya? Dalam hal apa ayahku durhaka? Hmm, kalau aku tidak pergi ke Coan-cin-kau dan mengobrak-abriknya, rasanya hatiku tidak puas.”
Habis itu tangannya diangkat terus hendak menghantam batu nisan itu. Akan tetapi, selagi tangan hendak digablokkan, mendadak dari arah barat terdengar berkumandang datang suara tindakan kaki yang cepat. Suaranya demikian aneh, seperti beberapa tokoh dunia persilatan yang hebat, tetapi juga mirip jalannya dua ekor binatang, sewaktu kaki menginjak tanah, sebelah kiri antap dan sebelah kanan enteng, benar-benar aneh luar biasa.
Yo Ko mendengar suara itu justru menuju ke kelenteng ini, maka cepat ia masuk kembali ke ruangan tengah kelenteng dan bersembunyi di belakang patung malaikat yang sudah doyong. Hendak dilihatnya makhluk aneh apakah yang datang itu? Dalam waktu sebentar saja suara tindakan kaki itu sudah sampai di depan kelenteng, tapi lantas berhenti tidak bergerak lagi, agaknya seperti kuatir kalau di dalam kelenteng ada musuh yang bersembunyi. Selang sejenak, barulah dia masuk.
Ketika Yo Ko mengintip keluar, hampir saja dia tertawa geli. Ternyata yang masuk kelenteng ini seluruhnya empat orang. Kaki kiri keempat orang ini sudah putus semua, setiap orang memakai sebatang tongkat dan di pundak kiri masing-masing dirangkai seutas rantai besi yang saling terkunci, oleh sebab itulah waktu berjalan empat tongkat menutul tanah berbareng, lalu empat kaki keempat orang juga melangkah maju bersama. Orang yang paling depan berkepala gundul pelontos, tangan kiri sudah buntung, kaki kiri putus separoh, sudah cacat bertambah cacat. Orang kedua jidatnya jendul, terdapat tiga uci-uci yang besar. Orang ketiga bertubuh kecil pendek dan orang keempat adalah Hwesio berbadan tegap.
Yo Ko terheran-heran, orang-orang macam apakah ini? Dan kenapa saling dirantai tanpa terpisahkan? Lalu terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, si gundul tadi mengeluarkan geretan api dan menyalakan sepotong sisa lilin. Maka sekarang jelaslah Yo Ko melihatnya. Ternyata kecuali orang pertama yang gundul ini, tiga orang lainnya berlubang mata, tapi tiada biji matanya. Karena itu ia baru mengerti persoalannya, kiranya ketiga orang buta itu menggunakan si gundul ini sebagai penunjuk jalan mereka.
Si gundul mengangkat lilin kemudian memeriksa sekitar kelenteng, maka keempat orang itu menjadi seperti berbaris beriring-iringan, jarak mereka masing-masing tidak lebih dari tiga kaki. Namun Yo Ko yang sembunyi di belakang patung tidak diketahui mereka. Setelah memeriksa, keempat orang itu masuk lagi ke ruangan dalam, kemudian si gundul berkata:
“Kwa-lothau tidak membocorkan jejak kita. Jika ia mengundang bala bantuan, tentu sudah disembunyikannya di sini.”
“Ya, benar, ia telah berjanji sekata pun takkan dibocorkan pada orang lain. Orang macam dia ini selamanya berambekan tinggi, jadi dalam hal ‘kepercayaan’ sangatlah diberatkan,“ demikian ujar orang ketiga.
Tapi orang yang ber-uci-uci itu lantas berkata: “Soa-toako, kau kira si tua she Kwa itu akan datang atau tidak?”
“ltulah sukar kukatakan. Kurasa dia tidak akan datang, masa dia begitu bodoh sengaja mengantarkan kematian?” ujar orang pertama tadi.
“Tetapi Kwa-lothau ini adalah orang pertama dari Kanglam-chit-koay. Dahulu mereka bertaruh dengan imam keparat Khu Ju-ki dan jauh-jauh tanpa kenal lelah pergi ke Mongol memberi pelajaran silat kepada Kwe Ceng. Ketika hal ini tersiar di Kangouw, semua orang memuji akan janji emas Kanglam-chit-koay, sekali berkata pasti pegang janji. Kita justru mengingat hal ini barulah melepaskan dia pergi.”
Percakapan mereka itu terdengar jelas oleh Yo Ko, diam-diam ia berpikir: “Ehh, ternyata mereka sedang menantikan Kwa-kongkong di sini.”
Dalam pada itu orang kedua yang berjendul lantas berkata: “Tapi aku bilang dia pasti tak akan datang, Peng-toako, beranikah kau bertaruh? Coba lihat...”
Tapi belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara tindakan orang datang dari arah timur, juga langkah yang sebelah antap sedangkan sebelah lagi enteng. Ada orang datang lagi menggunakan tongkat, cuma sekarang seorang diri saja. Semenjak kecil Yo Ko sudah lama tinggal bersama Kwa Tin-ok di Tho-hoa-to, maka begitu mendengar segera ia tahu orang tua itulah yang datang. Terdengarlah si orang ketiga yang kecil kurus tadi tertawa bergelak, katanya:
“Nah, Kau-laute, Kwa-lothau benar-benar datang, kau masih berani bertaruh tidak?”
“Keparat, dia benar-benar tidak takut mati, sungguh aneh,” orang kedua tadi mengomel.
Kemudian terdengarlah suara ketokan nyaring beberapa kali, suara ketokan tongkat besi. Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok tampak masuk ke dalam kelenteng, lantas berdiri tegak di tengah ruangan.
“Kwa Tin-ok telah datang memenuhi janji, inilah Kiu-hoa-giok-loh-wan buatan Tho-hoa-to, seluruhnya berjumlah 12 butir, setiap orang makan tiga butir,” demikian katanya.
Berbareng tangannya mengayun, sebuah botol kecil ditimpukkan ke arah si kakek gundul tadi.
“Terima kasih!” sahut si gundul girang. Ia sambut botol kecil yang dilemparkan kepadanya itu.
“Urusan pribadi Lohu sudah selesai, sekarang sengaja datang buat terima kematian,” tiba-tiba Kwa Tin-ok berkata. Ia tegak leher berdiri di tengah ruangan, jenggotnya yang sudah putih ter-gerak, sikapnya sewajarnya saja.
“Soa-toako, karena dia sudah memberikan Kiu-hoa-giok-loh-wan pada kita sehingga luka dalam kita bakal sembuh, dan tua bangka ini pun tiada permusuhan apa-apa dengan kita, biarlah kita ampuni dia saja,” kata si orang kedua yang kepalanya berjendul itu.
“Kau-laute,” jengek si orang ketiga, “kata peribahasa ‘piara harimau cari penyakit’, karena hatimu yang lemah ini mungkin kita berempat nanti harus jadi korban semua. Kini meski ia belum membocorkan rahasia kita, tetapi siapa yang berani menjamin dia akan tutup mulut selamanya?”
Habis itu mendadak ia membentak: “HayoIah, turun tangan!”
Dan keempat orang pun melompat bangun cepat lalu berdiri di empat sudut, dengan tepat Kwa Tin-ok terkurung di tengah-tengah.
“Kwa-Iothau,” kata si kakek gundul dengan suara serak, “lebih 30 tahun yang lampau kita sudah menyaksikan bersama kematian Yo Khong di sini, sungguh tidak nyana hari ini kau pun akan menyusulnya, ini namanya sudah suratan nasib.”
Tapi tiba-tiba Kwa Tin-ok mengetok keras-keras tongkatnya ke lantai, dengan marah katanya,
“Yo Kong itu mengaku musuh sebagai ayah, menjual tanah air untuk kenikmatan sendiri, dia seorang rendah yang tidak tahu malu, sedangkan aku Kwa Tin-ok adalah lelaki sejati yang dapat mempertanggung jawabkan segala tindak-tandukku kepada negara mau pun bangsa, kenapa kau bandingkan aku Hui-thian-pian-hok dengan manusia rendah itu?”
“Hmm, kematianmu sudah di depan mata tapi masih berlagak pahlawan gagah?” jengek si pendek, orang ketiga tadi.
Habis itu mereka sama-sama menghantamkan sebelah tangan ke atas kepala Kwa Tin-ok. Merasa dirinya bukanlah tandingan keempat lawan ini, Tin-ok hanya berdiri tegak dengan tongkatnya tanpa menangkis. Maka terdengarlah suara menyambarnya angin yang keras.
“Blungg...!”
Terdengarlah suara keras dibarengi berhamburnya debu pasir. Keempat orang itu merasa tempat yang terkena pukulan mereka itu rasanya tidak betul, bukannya mengenai tubuh manusia. Segera si kakek gundul dapat melihat jelas, Kwa Tin-ok sudah menghilang dari dalam lingkaran yang mereka kepung, sedangkan tempat di mana orang berdiri tadi kini telah tertukar patung bobrok dari kelenteng itu. Karena pukulan keempat orang itu kena kepala patung, maka seketika hancur menjadi bubuk.
Dari keempat orang itu tiga di antaranya adalah buta, meski si kakek gundul itu bermata tajam. Tapi hanya sekejap saja tahu-tahu Kwa Tin-ok bisa berubah menjadi patung, hal ini sungguh bikin terkejut tidak kepalang, empat orang itu sekaligus membalik ke beIakang. Maka terlihatnya seorang laki-laki berumur 30-an berlengan tunggal sudah berdiri di sana dengan wajah marah, Kwa Tin-ok tercengkeram tengkuknya dan terangkat tinggi.
“Berdasar apa kau berani mencaci-maki ayahku?!” demikian lelaki buntung itu membentak Tin-ok.
“Siapakah saudara?” tanya Tin-ok tak gentar.
“Aku adalah Yo Ko, puteranya Yo Khong,” sahut Yo Ko. “Ketika dahulu tinggal di Tho-hoa-to, tidaklah jelek kau terhadapku. Tapi mengapa di belakang kau memaki dan memfitnah mendiang ayahku?”
“Hmm,” jengek Tin-ok dingin, “sejak dahulu kala, manusia yang mati meninggalkan nama, tapi ada juga orang yang menurunkan nama busuk, baik atau busuk semuanya perbuatan manusia, mana bisa menyumbat mulut orang agar tidak menyebutkannya?”
Melihat orang sedikit pun tidak merasa gentar, Yo Ko tambah marah, ia angkat tubuh Tin-ok dan dibanting ke lantai sambil membentak:
“Cobalah katakan, kenapa ayahku rendah dan kotor?”
Melihat begini hebat dan tangkasnya Yo Ko, si kakek gundul tadi diam-diam menarik tiga kawannya hendak mengeluyur pergi. Namun sedikit Yo Ko melesat tahu-tahu sudah menghadang di ambang pintu.
“Hmm, kalau tidak bicara yang jelas, siapa pun tidak akan hidup keluar dari kelenteng ini!” demikian bentaknya.
Mendadak keempat orang itu menggertak sekaligus dan memukul ke depan.
“Bagus!” sambut Yo Ko, dia pun mendorong sebelah tangannya.
Belum lagi tangan beradu tangan, keempat orang itu sudah merasa sebuah tenaga pukulan yang maha besar menindih ke arah mereka. Tanpa ampun lagi mereka langsung terjengkang ke belakang dan menerbitkan suara gedubrakan yang keras, tubuh keempat orang menindih di atas patung tadi hingga patung itu remuk ber-keping-keping. Di antara empat orang itu, si orang kedua yang punya tiga uci-uci di batok kepalanya itu berkepandaian paling lemah, justru kepalanya tepat menumbuk dada patung itu, keruan seketika dia semaput.
“Kalian berempat ini siapa? Kenapa terantai menjadi satu begini dan kenapa bisa berjanji untuk bertemu dengan Kwa Tin-ok di sini?” tanya Yo Ko.
Kiranya kakek gundul ini adalah Soa Thong-thian. Orang kedua yang ber-uci itu adalah Sute-nya, Kau Hay-thong, ada pun yang pendek kecil adalah Peng Lian-hou dan Hwesio yang tinggi besar itu adalah Lian-ti Siangjin. Lebih 30 tahun yang silam mereka tertangkap oleh Lo wan-tong Ciu Pek-thong, kemudian diserahkan kepada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it untuk mengurung mereka dalam Tiong-yang-kiong di Cong-Iam-san, kalau mereka sudah insaf baru akan dibebaskan. Akan tetapi keempat orang ini sukar mengubah watak jahat mereka, dengan segala jalan mereka berusaha melarikan diri, tapi setiap kali kena dibekuk kembali.
Pada saat untuk ketiga kalinya mereka hendak merat, Peng-Lian-hou, Kau Hay-thong dan Ling-ti Siangjin bertiga telah membunuh beberapa anak murid Coan-cin-kau yang menjaga mereka. Setelah tertangkap kembali, sebagai hukuman yang setimpal maka sebelah kaki dikutungi dan mata mereka dibutakan, hanya Soa Thong-thian yang selamat kedua matanya karena tidak mencelakai jiwa manusia,.
Pada saat Yo Ko belajar silat di Tiong-yang-kiong, karena waktunya tidak lama, lagi pula selalu menderita, maka empat orang hukuman itu tak dikenalnya. Sampai 16 tahun yang lalu, ketika jago-jago Mongol membakar Tiong-yang-kiong, dalam keadaan kacau-balau dapatlah Soa Thong-thian berempat meloloskan diri. Dan karena ketiganya buta, terpaksa bergantung pada Soa Thong-thian sebagai penuntun jalan. Peng Lian-hou kuatir kalau orang tinggal pergi sendiri, maka dia berkeras tidak mau menanggalkan rantai yang masih mengikat tubuh mereka berempat.
Sesudah lari dari Tiong-yang-kiong, Soa Thong-thian berempat masih kuatir kalau-kalau dapat dibekuk kembali oleh orang-orang Coan-cin-pay, maka dengan diam-diam mereka lari ke daerah Kanglam dan selalu sembunyi menyepi di pedusunan. Hari itu kebetulan mereka kepergok Kwa Tin-ok. Ilmu silat Tin-ok jauh bukan tandingan keempat orang itu, maka sekali gebrak sudah kalah. Ketika ditanya barulah diketahui Kwa Tin-ok ada keperluan dan tiada maksud mencari mereka. Meski pun mereka tiada permusuhan atau dendam tapi pendirian berbeda, lagi pula kuatir orang membocorkan tentang jejak mereka, maka Soa Thong-thian berempat bermaksud membunuh Tin-ok.
Waktu itu Tin-ok berkata bahwa ia harus pergi ke Leng-oh-tin di daerah Siangcu, apa bila urusan selesai ia sendiri akan datang kembali buat terima kematian, kalau keempat orang itu bersedia memberi hidup lebih lama beberapa hari kepadanya, dia akan mengambilkan beberapa pil ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ yang amat mujarab untuk luka-luka dalam, yaitu obat buatan Oey Yok-su dari Tho-hoa-to sebagai balas budi. Sejak kakinya dipatahkan, keempat orang itu memang selalu menderita sakit encok yang jahat. Kini mendengar Tin-ok bersumpah takkan membocorkan tempat sembunyi mereka, juga tak akan mengajak pembantu, barulah kemudian mereka menetapkan harinya untuk bertemu kembali di kelenteng Ong-tiat-jiang di Ka-hin ini.
BegituIah sehabis menutur kejadian-kejadian itu, Soa Thong-thian kemudian berkata: “Yo-kongcu, waktu ayahmu masih hidup, kami semua adalah tamu undangannya. Sampai ia meninggal, sedikit pun kami tidak bersalah kepadanya, maka haraplah suka mengingat kebaikan dulu dan membiarkan kami pergi!”
Dulu Soa Thong-thian berempat adalah jago-jago kelas tinggi di kalangan Kangouw, sekali pun golok mengancam di tengkuknya tak akan gentar, tetapi sejak mereka dikurung lama, kaki buntung, mata buta, jiwa mereka menjadi melempem, semangat jantan hilang, kini tanpa segan-segan mohon ampun pada Yo Ko. Akan tetapi Yo Ko tak menggubris mereka, katanya pula pada Kwa Tin-ok:
“Kau pergi ke Leng-oh-tin, apakah untuk menemui Thia Eng dan Liok Bu-siang enci beradik? Dan untuk urusan apa?”
Tiba-tiba Tio-ok menengadah tertawa panjang, katanya: “Wahai Yo Ko, Yo Ko, kau bocah ini benar-benar tak tahu urusan!”
“Kenapa aku tak tahu urusan?” sahut Yo Ko marah.
“Aku Hui-thian-pian-hok (kelelawar terbang di langit, julukan Tin-ok) sudah tidak pikirkan jiwa lapuk ini lagi, sekali pun di masa muda, aku Kwa Tin-ok juga tidak pernah takut pada siapa pun, betapa tinggi ilmu silatmu paling banyak hanya bisa menakut-nakuti sebangsa manusia-manusia yang takut mati dan tamak hidup, tetapi Kanglam-chit-koay apa kau kira kena digertak orang?” demikian sahut Tin-ok.
Melihat sikap orang yang gagah berani, tanpa terasa Yo Ko jadi menaruh hormat. Maka katanya lagi:
“Kwa-Iok ongkong, ya, memang akulah yang salah, tapi lantaran kata-katamu tadi menghina mendiang ayahku, terpaksa aku berlaku tidak sopan. Nama Kwa-kongkong terkenal di seluruh jagat, Yo Ko semenjak kecil juga sangat kagum, selamanya tak berani kurang ajar.”
“Beginilah baru pantas,” ujar Tin-ok, “Aku melihat kelakuanmu tidak jelek, lagi pula sudah berjasa besar di Siang-yang, maka aku anggap kau adalah tokoh kelas satu. Tetapi kalau macam ayahmu dahulu, sekali pun berbicara saja aku merasa mual.”
Amarah Yo Ko berkobar lagi oleh olok-olok itu, dengan suara keras ia bertanya: “Sebenarnya ayahku berbuat salah apakah? Coba terangkan.”
Harus diketahui bahwa di antara kawan-kawan yang pernah dikenal Yo Ko tidak sedikit orang yang tahu seluk beluk ayahnya dahulu, tapi karena sungkan mengolok-olok ayah seorang ‘Sin-tiau-hiap’ maka semua orang sungkan membicarakannya, sekali pun ditanya Yo Ko sendiri.
Namun dasar Kwa Tin-ok selamanya pandang kejahatan sebagai musuh, wataknya keras jujur, dia tak peduli apakah ceritanya nanti akan menyinggung perasaan Yo Ko atau tidak, segera saja ia ceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Yo Khong tak kenal budi, malahan bersekongkoI dengan Auyang Hong sehingga lima kawannya dari Kanglam-chit-koay terbinasakan dan akhirnya menggaplok punggung Oey Yong. Namun senjata makan tuan, duri landak kutang Oey Yong yang tanpa sengaja tertempel racun ularnya Auyang Hong itu malah membinasakan Yo Khong sendiri.
“Kejadian pada malam itu, beberapa orang ini pun ikut menyaksikannya. Soa Thong-thian, Peng Lian-hou, coba kalian katakan, apakah aku Kwa-Iothai pernah berbohong?” demikian kata Tin-ok akhirnya.
Beberapa perkataan paling akhir ini diucapkannya dengan amat keras hingga bikin kaget. Beberapa puluh ekor burung gagak yang berada di menara kelenteng itu terbang ke udara dengan suara yang berisik.
“Ya, malam itu juga terdapat burung-burung gagak begini...” tutur Soa Thong-thian. “Nih, tanganku ini justru karena digaruk sekali oleh Yo-kongcu, jika Peng-hengte ini tidak cepat bertindak dan tanganku ini terus ditebasnya, mungkin jiwaku akan melayang pada malam itu juga.”
Sungguh tak kepalang rasa pedih dan pilu Yo Ko pada saat itu, ia memegangi kepalanya dan duduk termangu-mangu dengan muka muram, tak diduganya bahwa ayahnya ternyata seorang yang begitu jahat dan keji, sekali pun namanya dan perbuatannya sendiri sekarang lebih cemerlang juga sukar mencuci bersih noda ayahnya itu. Begitulah, untuk sesaat di dalam kelenteng menjadi sunyi, keenam orang tiada yang buka suara, hanya suara gaok masih terus berisik tiada hentinya. Selang agak lama, berkatalah Kwa Tin-ok,
“Yo-kongcu, kau telah berjasa besar di Siang-yang, betapa pun dosa ayahmu juga sudah tertutup semua. Di alam baka pasti dia akan senang karena kau bisa menebus kesalahan orang tua.”
Yo Ko coba merenungkan segala apa yang dialaminya selama ini. Sejak dia kenal suami isteri Kwe Ceng, selalu Oey Yong menaruh prasangka padanya, segala kesalah pahaman dulu semuanya disebabkan ayahnya itu. Tapi kalau tiada ayah dari manakah datang dirinya ini? Namun banyak kematian dan rasa kesalnya selama ini sebenarnya juga gara-gara perbuatan mendiang ayahnya. Tanpa terasa ia menghela napas panjang oleh segala suka duka itu.
“Kwa-lokongkong,” tanyanya kemudian, “Apakah Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua enci beradik baik-baik saja?”
“Ya, mereka menjadi begitu girang ketika mendengar kau membakar gudang perbekalan musuh di kota Sin-yang dan membasmi dua ribu pasukan perintis Mongol,” sahut Tin-ok, “Mereka tanya pula tentang keadaanmu selama ini dan berita Siao-liong-li. Nyata kedua enci-beradik itu sangat terkenang padamu.”
“Aih, kedua adik ini juga sudah 16 tahun aku tak melihatnya,” kata Yo Ko kemudian, habis itu mendadak dia menoleh terus membentak pada Soa Thong-thian: “Nah, Kwa-kongkong sudah berjanji hendak serahkan jiwanya pada kalian. Ia orang tua selamanya sekali bicara tidak pernah pungkir janji, maka sekarang lekaslah kalian turun tangan, dan setelah kalian membunuhnya baru aku membunuh juga kalian berempat anjing ini untuk membalaskan sakit hatinya.”
Soa Thong-thian dan Peng Lian-hou menjadi tertegun, sungguh mereka tidak pernah dengar ada bunuh membunuh cara demikian. Maka kata Soa Thong-thian kemudian:
“Yo-tayhiap, kami tidak tahu sehingga berlaku kurang ajar kepada Kwa-lohiap (pendekar tua Kwa), harap kalian berdua memaafkan kami.”
“Jika begitu, nah, ingat baik-baik, kalian sendiri yang tidak menepati janji dan tak inginkan jiwa Kwa-kongkong,” kata Yo Ko.
“Ya, ya,” sahut Soa Thong-thian cepat. “Terhadap budi luhur Kwa-lohiap kami selamanya juga sangat kagum.”
“Nah, sekarang lekas enyah! Lain kali jangan ketumbuk lagi di tanganku,” bentak Yo Ko.
Keruan Soa Thong-thian berempat seakan mendapat lotere. Sesudah memberi hormat, dengan cepat mereka lari keluar kelenteng itu.
Yo Ko menolong jiwa Kwa Tin-ok dan menjaga kehormatannya sebagai seorang ksatria, tentu saja Kwa Tin-ok amat berterima kasih. Dan sesudah membersihkan pecahan patung di ruangan itu, mereka lalu duduk untuk omong-omong.
“Aku pergi ke Leng-oh-tin adalah sebab urusan Kwe-ji-kohnio,” demikian tutur Tin-ok.
“Ha?” Yo Ko rada terkejut. “Ada apakah nona kecil ini?”
“Kedua puteri Kwe Ceng itu masing-masing punya kenakalannya sendiri-sendiri, sungguh bikin orang pusing kepala,” ujar Tin-ok. “Entah mengapa, tiba-tiba Kwe Siang si anak dara itu meninggalkan rumah tanpa pamit entah ke mana, Sudah tentu orang tuanya menjadi kelabakan, lalu mengirim orang ke mana-mana untuk mencarinya, tapi sama sekali tiada kabar berita. Karena aku si buta ini tiada pekerjaan apa-apa di Siang-yang, maka aku juga keluar untuk mencarinya. Sudah ada orang yang mencarinya ke jurusan timur, utara dan barat, karena aku lebih paham keadaan daerah Kanglam maka aku lantas ke selatan sini.”
“Dan apakah sudah mendapatkan beritanya?” tanya Yo Ko.
“Beberapa hari yang lalu secara kebetulan aku mendengar percakapan dua orang kurir bangsa Mongol, katanya puteri kecil Kwe-tayhiap dari Siang-yang telah tertawan pasukan Mongol.”
“Hayaa...! Apakah kabar ini betul atau bohong?”
“Kedua kurir Mongol itu berbicara dalam bahasa mereka dan menyangka tiada orang lain yang paham, tidak tahunya aku pernah tinggal belasan tahun di negeri Mongol, tentu saja semuanya kudengar dengan jelas,” kata Tin-ok pula.
“He, kalau begitu jadi berita ini tidaklah bohong?” tanya Yo Ko terkejut.
“Ya, maka dalam gusarku segera kedua kurir Mongol itu kupersen sebiji ‘Tok-cit-le’ dan hendak melapor ke Siang-yang, siapa tahu di tengah jalan kepergok empat setan tadi,” tutur Tin-ok. “Aku pikir jiwaku tidak jadi soal, tapi berita nona Kwe Siang harus disampaikan, maka aku minta mereka memberi kelonggaran beberapa hari. Aku lalu pergi ke Leng-oh-tin yang berdekatan dan memberi-tahukan kepada Thia Eng dan Liok Bu siang. Mendengar berita itu, segera kedua nona itu berangkat ke utara, sementara aku harus menepati janji datang kemari mengantarkan kematian. Sungguh tidak nyana sekarang ke empat setan jahat ini sendiri tidak dapat dipercaya, sampai saat terakhir mereka tidak berani turun tangan. Ha-ha-ha-ha!”
“Apakah Kwa-kongkong juga mendengar cerita kedua kurir Mongol itu tentang bagaimana cara tertawannya nona Kwe dan apakah jiwanya berbahaya?” tanya Yo Ko sesudah pikir sejenak.
“ltu aku tidak mendengar,” sahut Tin-ok.
“Urusan ini sangat gawat, sekarang juga Wanpwe pergi ke sana dan berusaha menolong sebisanya,” kata Yo Ko, “Dan Kwa-kongkong sendiri bolehlah menyusul belakangan saja.”
“Baiklah, ada kau yang pergi menolongnya, hatiku akan merasa lega. Biar aku menunggu kabar baik saja di Siang-yang,” sahut Tin-ok.
Nyata sejak menyaksikan apa yang dilakukan Yo Ko di Siang-yang tempo hari, hati orang tua ini sudah sangat kagum atas kemampuannya.
“Tapi Wanpwe ada suatu permintaan, aku mohon bantuanmu, Kwa-kongkong,” pinta Yo Ko “Yakni sukalah kau mengganti sebuah batu nisan kuburan ayahku, tulislah puteranya Yo Ko yang mendirikan.”
“Baiklah, pasti akan kukerjakan dengan baik,” sahut Tin-ok.
Dan berangkatlah Yo Ko segera sesudah memberi hormat. Ia membeli dua ekor kuda di Ka-hin dan sepanjang jalan bergantian kuda terus menuju ke Sin-yang tanpa berhenti, maka tidak seberapa hari sudah dekatlah dengan perkemahan pasukan Mongol.
Kiranya raja Mongol yang memimpin pasukan hendak menggempur Siang-yang, ketika tanpa tahu sebab musababnya kedua pasukan perintisnya terbasmi di Tengciu dan Sin-ya, dia menjadi ragu-ragu akan kekuatan pasukan Song yang sebenarnya, maka pasukan induknya berkemah di antara Lam-yang sehingga kedua pihak belum pernah bertempur. Maka nampaklah panji-panji ber-kibar, senjata gemerlapan, perkemahan yang berderet-deret memanjang tanpa kelihatan ujungnya.
Setelah menunggu malam, Yo Ko menyelundup ke perkemahan musuh. Ia lihat penjagaan sangat keras, disiplin amat baik. Kekuatan tentara Mongol memang sangat hebat. Lebih-lebih kemah di mana raja berdiam, penjagaan lebih ketat lagi. Meski tinggi ilmu silat Yo Ko, tapi dia tahu tidak sedikit orang-orang gagah dalam pasukan musuh, betapa pun tangkas sukar juga melawan orang banyak, maka dia pun tidak berani sembarangan unjuk diri.
Malam itu ia hanya dapat menyelidiki perkemahan bagian timur, lalu besoknya dilanjutkan bagian selatan dan lain hari perkemahan barat, berturut-turut empat malam empat bagian pertengahan musuh itu selesai diintainya, tapi masih belum memperoleh kabar berita Kwe Siang. Akhirnya Yo Ko menawan seorang perwira musuh. Di bawah ancaman perwira itu mengaku terus terang bahwa sesungguhnya tidak pernah terdengar mengenai puteri Kwe Ceng dari Siang-yang. Akan tetapi Yo Ko masih ragu-ragu. Ia selidiki lagi beberapa hari, kemudian baru percaya bahwa Kwe Siang memang tidak disekap di sana. Pikirnya:
“Agaknya Kwe-pepek sudah dapat menolong puterinya pulang, atau mungkin kedua kurir Mongol itu juga mendengar dari orang lain, jadi hanya berita bohong belaka.”
Sementara itu musim semi sudah tiba, bunga mekar mewangi. Janji Siao-liong-li 16 tahun yang lalu sudah hampir tiba, maka Yo Ko menuju ke utara, pergi ke Coat-ceng-kok atau lembah putus cinta.
Setelah menyaksikan Kim-lun Hoat-ong secara keji membinasakan Tiang-si-kui dan Toa-thau-kui, dalam hati Kwe Siang menjadi berduka. Dia pun insaf tak akan bisa lolos dari cengkeraman elmaut, maka dengan kepala tegak dia menantang:
“Hayolah, bunuhlah aku, tunggu apa lagi?”
“Hendak membunuh kau adalah pekerjaan yang terlalu mudah,” sahut Kim-lun Hoat-ong tertawa. “Tapi hari ini aku sudah membunuh dua orang, sudah cukup, lewat beberapa hari lagi nanti akan kusembelih kau. Sekarang lekas turut aku pergi.”
Kwe Siang pikir percuma saja hendak membangkang, biarlah nanti tunggu kesempatan untuk meloloskan diri. Maka ia pun cempIak ke atas kuda dan jalan perlahan.
Kim-lun Hoat-ong gembira, pikirnya: “Hongsiang dan Hongte (raja dan adik Raja) ingin sekali mencabut jiwa Kwe Ceng, tapi selama ini tidak berdaya. Hari ini aku dapat menawan puteri kesayangannya, dengan sandera ini mau tak mau Kwe Ceng harus tunduk kepala dan turut perintah. Umpama Kwe Ceng tak mau takluk, perlahan kita siksa lahir batin nona ini di bawah benteng di hadapan Kwe Ceng, biar dia menjadi ngenas dan pikirannya kacau, tatkala itu sekali gempur pasti Siang-yang akan bobol.”
Sampai hari malam, mereka mondok di rumah pinggir jalan. Tapi penghuni rumah sudah kabur, rumah itu kosong melompong. Hoat-ong mengeluarkan rangsum kering, lalu diberikan sedikit pada Kwe Siang. Anak dara itu disuruh tidur di dalam kamar, dia sendiri duduk sila bersemedi di ruangan luar.
Kwe Siang gulang-guIing di atas pembaringannya tak dapat pulas. Sampai tengah malam, secara berindap-indap ia mengintip ke ruangan tengah. Ia lihat Hoat-ong masih duduk sila menghadap tembok, sayup-sayup terdengar suara mendengkurnya perlahan, agaknya dia sudah tertidur. Kwe Siang girang bukan main. Perlahan-lahan ia melompat keluar jendela, ia robek kain buntalannya menjadi empat buat membungkus telapak kaki kuda, kemudian binatang itu dituntunnya perlahan. Sesudah agak jauh dan melihat Hoat-ong tidak mengejar barulah ia cemplak kuda lalu dilarikan secepat terbang. Ia pikir apa bila Hoat-ong mengetahui dirinya sudah lari, maka akan mengejarnya ke arah Siang-yang, jadi ke selatan, maka sekarang ia sengaja berlari ke jurusan barat laut.
“Betapa pun dia takkan menemukan aku,” demikian pikirnya.
Begitulah, dia keprak kudanya sekaligus berlari lebih satu jam. Karena binatang itu sudah payah, barulah dia lambatkan setindak demi setindak, sepanjang jalan dia selalu menoleh kalau-kalau Hoat-ong mengejarnya. Sampai hari terang tanah, kira-kira telah beberapa puluh li jauhnya, hati anak dara ini barulah lega. Dia memasuki jalan kecil pegunungan yang menanjak, makin lama semakin tinggi. Sesudah membelok ke sana, tiba-tiba terdengar suara ngorok orang tidur sekeras guntur, seorang terlentang melintang di tengah jalan lagi mendengkur. Ketika Kwe Siang mengawasinya, hampir saja dia merosot jatuh dari kudanya.
Ternyata orang yang melintang di tengah jalan itu berkepala gundul dan berjubah kuning, siapa lagi dia kalau bukan Kim-lun Hoat-ong, sungguh sulit dimengerti bagaimana caranya tahu-tahu orang malah sudah berada di bagian depannya. Lekas-lekas Kwe Siang memutar kudanya terus lari ke bawah bukit. Ketika dia menoleh, Hoat-ong tampak masih enak-enak tidur tak mengejarnya. Sekali ini ia tidak menuju ke jalan tadi, tapi ke arah tenggara, ke tempat yang sepi. Setelah setanakan nasi, tiba-tiba terlihat di atas pohon di depan sana ada seorang menjungkir, kedua kakinya menggantoI pada dahan pohon dan sedang nyengir padanya. Kurangajar! Siapa lagi dia kalau bukan Hoat-ong? Namun Kwe Siang tidak lagi terkejut, sebaliknya ia menjadi marah, damperatnya:
“Hwesio keparat, kau mau mencegat boleh cegat saja, kenapa mesti permainkan nonamu?” Habis berkata ia keprak kudanya ke depan, ketika sudah dekat, mendadak pecutnya disabetkan ke muka orang.
Dia melihat Hoat-ong sama sekali tidak berkelit, maka tepat sekali ujung pecut mengenai mukanya. Pada saat itu juga kuda tunggangan Kwe Siang melewati tubuh Hoat-ong yang tergantung itu. Ketika Kwe Siang menarik pecutnya, mendadak tenaga maha besar melibatnya sehingga tanpa kuasa tubuhnya mencelat ke udara. Ternyata ketika pecut sampai di muka Hoat-ong, secepat kilat Hoat-ong membuka mulut kemudian menggigit ujung pecut. Karena tubuhnya tergantung menjungkir, maka ia terayun tinggi ke atas sehingga Kwe Siang ikut terangkat.
Meski tubuh di atas udara namun Kwe Siang tidak menjadi gugup. Ketika dilihatnya Hoat-ong hendak mengayunnya kembali, cepat ia lepaskan pecutnya. Hoat-ong terkejut. Ia kuatir anak dara itu terbanting luka, maka cepat melompat turun dan menangkapnya sambil berseru:
“Awas!”
Tetapi Kwe Siang juga tidak kurang cerdiknya. Dia sengaja berteriak-teriak: “Tolong!”
Ketika tubuhnya sudah dekat Hoat-ong, mendadak kedua tangannya memukul berbareng, tepat sekali dada Hoat-ong kena digenjotnya. Serangan Kwe Siang ini cepat sekali dan di luar dugaan, sungguh pun ilmu silat Hoat-ong sangat tinggi dan orangnya juga cerdik, namun tidak sanggup berkelit lagi. Kedua kakinya menjadi lemas dan orangnya terkulai ke tanah, kaku tak berkutik.
Tak tersangka oleh Kwe Siang bahwa sekali serang akan berhasil, keruan ia kegirangan. Cepat ia angkat sepotong batu besar hendak dikeprukkan ke atas kepala Hoat-ong yang gundul itu. Tapi selamanya belum pernah ia membunuh orang, meski ia benci orang telah membunuh dua kawannya, namun ketika hendak turun tangan hatinya tidak tega. Ia tertegun sejenak, lalu batu besar itu diletakkannya kembali. Sebagai gantinya segera dia totok ‘Thian-teng-hiat’ di tengkuk Hoat-ong, ‘Peng-hong-hiat’ di punggung, ‘Sin-hong-hiat’ di dada, ‘Jing-ling-hiat’ di lengan serta ‘Hok-hou-hiat’ di atas mata, sekaligus tanpa berhenti ia totok tiga belas tempat jalan darah orang. Anak dara ini masih belum puas, ia angkat empat potong batu yang beratnya hampir beratus kati, batu-batu itu ia tindih di atas badan Hoat-ong.
“Wahai, Hwesio jahat, hari ini nona tak ingin membunuh kau, maka selanjutnya kau harus perbaiki diri dan jangan mencelakai orang lain lagi,” demikian kata Kwe Siang kemudian. Habis itu dia kebut bajunya yang berdebu, lalu cemplak kuda hendak tinggal pergi.
Namun kedua mata Kim-lun Hoat-ong yang berkilau-kilau terus memandanginya, tiba-tiba katanya dengan tertawa:
“Hati nona cilik ternyata berperi-kemanusiaan, Hwesio tua amat suka padamu.”
Kemudian terdengar suara keras beberapa kali, beberapa potong batu tadi membal semua, lalu orangnya melompat bangun. Aneh, entah mengapa ke-13 tempat jalan darah yang ditotok Kwe Siang tadi terlepas semua. Dalam terkejutnya Kwe Siang ternganga tanpa bisa buka suara. Kiranya meski Hoat-ong terkena pukulannya tadi dan dadanya terasa sakit juga, tapi selisih kepandaian mereka terlalu jauh, mana mungkin dua kali pukul Kwe Siang merobohkan Hoat-ong? Apa lagi hendak menotoknya hingga tak berkutik? Ia hanya berpura-pura saja dan hendak melihat apa yang hendak diperbuat anak dara itu.
Ketika melihat Kwe Siang tak jadi mengepruknya dengan batu, diam-diam ia merasa suka akan kebaikan hati anak dara itu. Pintar dan cerdik, jauh lebih baik dari pada murid-murid yang pernah dia terima. Tanpa terasa timbul keinginan Hoat-ong menjadikan Kwe Siang sebagai muridnya, apa lagi mengingat usianya sudah lanjut, sedangkan muridnya yang dahulu seperti Darba, orangnya jujur, bertenaga raksasa, tetapi otaknya kurang tajam untuk bisa memahami inti sari pelajaran Iwekang yang tinggi, ada pun Hotu orangnya tidak berbudi, dalam keadaan berbahaya tidak segan-segan selamatkan diri sendiri dan malah menjerumuskan guru.
Karena itu kadang-kadang Hoat-ong menjadi sedih, karena kuatir ilmu kepandaiannya akan terpendam begitu saja. Kini melihat Kwe Siang berbakat bagus, boleh dibilang susah dicari. Meski puteri musuh, tapi usianya masih muda. tidaklah sukar untuk mengubahnya, asal diajarkan ilmu kepandaian hebat kepadanya, lama-lama dengan sendirinya anak dara itu akan melupakan segala persoalan yang Ialu.
Orang-orang Bu-lim atau kalangan persilatan pada umumnya sangat memandang berat soal murid dan keturunan. Sekali Hoat-ong timbul pikiran begitu, untuk sementara urusan menggempur Siang-yang, memaksa Kwe Ceng menyerah dan lain-lain dikesampingkan semua.
Melihat biji mata orang mengerling tajam, tapi sama sekali tidak buka suara, segera Kwe Siang melompat turun dari kudanya lalu berkata:
“Kepandaian Hwesio tua memang hebat, sayangnya tidak mau berbuat baik.”
“Kalau kau kagum pada kepandaianku, asal kau angkat guru padaku, aku ajarkan seluruh kepandaianku ini kepadamu,” ujar Hoat-ong tertawa.
“Cis!” semprot Kwe Siang. “Buat apa aku mempelajari kepandaian Hwesio? Toh aku tidak ingin menjadi Nikoh?”
“Apakah belajar kepandaianku lantas harus menjadi Nikoh?” sahut Hoat-ong tertawa, “Kau menotok jalan darahku, aku dapat meIepaskan diri. Kau menindih badanku dengan batu-batu besar, batu-batu itu bisa terpental sendirinya. Kau lari menunggang kuda, tahu-tahu aku sudah tidur di depanmu, apakah semua kepandaian ini tidak menarik?”
Kwe Siang pikir kepandaian-kepandaian itu memang menarik juga, akan tetapi Hwesio tua ini adalah orang jahat mana boleh mengangkat guru? Pula dia sendiri buru-buru hendak mencari Yo Ko, tiada tempo buat mengobrol, maka katanya sambil geleng kepala:
“Lebih tinggi lagi kepandaianmu juga tak mungkin kuangkat sebagai guru.”
“Dari mana kau tahu aku orang jahat?” tanya Hoat-ong.
“Sekali hantam kau membinasakan Tiang-jiu-kui dan Toa-thau-kui, apakah itu tidak jahat?” sahut Kwe Siang, “Mereka tidak ada dendam dan tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau turun tangan begitu keji?”
“Itu justru karena aku hendak mencari kuda untukmu, mereka sendiri yang menyerangku lebih dulu, tadi kau sendiri menjadi saksi,” kata Hoat-ong. “Coba bila kepandaianku sedikit rendah, mungkin aku mati dihantam mereka. Seorang Hwesio harus welas asih, jika tidak terpaksa, tidak akan membunuh orang.”
Akan tetapi Kwe Siang menjengek tidak percaya, katanya: “Dan bagaimana kehendakmu sebenarnya? Kalau kau orang baik-baik, kenapa aku tidak boleh pergi?”
“Bilakah aku melarang kau pergi?” sahut Hoat-ong. “Kau menunggang kuda ke timur, tak kularang, ke barat, aku juga tidak mencegah, aku hanya tidur di tengah jalan, apakah aku menghalangi kau?”
“Jika begitu, kau lepaskan aku pergi mencari Yo Ko, Yo-toako, dan jangan mengikuti aku,” kata Kwe Siang.
“Itu tak boleh,” ujar Hoat-ong sambil geleng kepala. “Kau harus mengangkat guru padaku, belajar silat 20 tahun dengan aku, habis itu, kemana kau pergi, siapa ingin kau cari, boleh sesukamu.”
“Kau Hwesio ini kenapa begini tak tahu aturan? Aku tidak suka mengangkat guru padamu, kenapa kau paksa?” damperat Kwe Siang.
“Kau anak dara cilik tak kenal adat, guru pandai seperti aku, kemana bisa kau cari di seluruh jagat?” sahut Hoat-ong pula. “Kalau orang lain, sekali pun menyembah tiga kali padaku dan mohon dengan sangat agar aku menerimanya sebagai murid, belum tentu aku mau. Tapi kini kau diberi kesempatan bagus, malah berlagak jual mahal, sungguh aneh!”
“Tak tahu malu, hmm, tidak tahu malu,” tiba-tiba Kwe Siang mengolok-olok. “Guru macam apa kau ini? Paling banyak kau bisa menangkan aku seorang gadis cilik, apanya yang harus diherankan? Tapi apa kau bisa menangkan ayah-ibuku? Bisa menangkan Gwakong-ku Oey Yok-su? Jangankan mereka, seumpama Toakoko Yo Ko saja kau takkan sanggup melawannya!”
“Siapa bilang? Siapa bilang aku takkan sanggup melawan Yo Ko si anak ingusan?” tanya Hoat-ong cepat tanpa pikir.
“Semua ksatria, setiap pahlawan di kolong langit ini semuanya bilang begitu,” sahut Kwe Siang. “Tempo hari waktu ada pertemuan besar para pahlawan di Siang-yang, semuanya juga bilang bahwa tiga orang Kim-lun Hoat-ong tak akan mampu menangkan seorang Sin-tiau-tayhiap Yo Ko yang berlengan tunggal.”
Sudah tentu apa yang dikatakannya hanya untuk membikin marah Kim-lun Hoat-ong saja, tapi yang omong tidak sengaja, yang mendengar justru kena. Sebab belasan tahun yang lalu memang beberapa kali Kim-lun Hoat-ong benar-benar dikalahkan oleh Yo Ko, ia sangka kejadian ini benar-benar selalu dibuat buah tutur semua ksatria diseluruh jagat. Keruan tidak tahan api amarahnya, bentaknya segera:
“Apa bila Yo Ko si anak busuk itu berada di sini, biar dia mencicipi lihaynya aku punya ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), setelah dia tahu rasa barulah akan ketahuan sebenarnya dia Yo Ko lebih hebat atau aku Kim-lun Hoat-ong yang lebih lihay.”
Pikiran Kwe Siang jadi tergerak melihat orang betul-betul penasaran, maka katanya pula:
“Ah, sudah terang kau tahu Toakoko-ku sekarang tidak berada di sini, kau meniup harga diri setinggi langit. Coba, jika kau bernyali besar, kenapa kau tak pergi mencarinya untuk bertanding? Kau punya ilmu sakti tenaga babi dan anjing...!”
“llmu sakti naga dan gajah!” demikian Hoat-ong memotong membetulkan.
“Kalau kau menangkan dia barulah naga dan gajah, tetapi kalau kau tidak tahan sekali gebuk, paling banyak hanya jadi babi dan anjing saja!” ujar Kwe Siang, “Jika ilmu silatmu bisa menangkan dia, tidak perlu kau paksa aku, dengan sendirinya aku menyembah kau sebagai guru. Cuma aku yakin, mungkin kau tak berani mencari dia, maka percuma soal ini dibicarakan. Menurut aku, boleh jadi melihat bayangannya saja kau sudah ketakutan lantas lari ter-birit-birit.”
Hoat-ong adalah seorang cerdik, sudah tentu dia pun tahu akan kata-kata pancingan Kwe Siang. Tapi selama hidupnya dia sangat tinggi menilai dan lantaran pernah dikalahkan Yo Ko, maka sekarang ilmu sakti bertenaga naga dan gajah itu telah dilatihnya hingga tingkat ke-11. Memang dia sudah mencari Yo Ko buat menuntut balas atas kekalahannya dahulu. Maka kini mendengar kata-kata Kwe Siang, tak tahan ia menyahut keras-keras:
“Tadinya aku bilang Yo Ko berada di mana, itu hanya untuk membohongi kau saja, tapi sayangnya aku justru tidak tahu anak itu ngumpet di mana. Bila kau tahu, ajaklah, kalau aku tidak meluruk ke tempatnya dan menghajarnya hingga dia me-nyembah minta ampun!”
“Ha-ha-ha...!” tiba-tiba Kwe Siang ter-kekeh sambil tangannya bertepuk tangan: “Hwesio gundul membual anggap diri tiada bandingan, sekali melihat Yo Ko datang, tancap gas lari tunggang Ianggang!”
Hoat-ong menjengeknya satu kali, lalu membisu tanpa berkata.
“Ya, meski aku tidak tahu sekarang Yo Ko berada di mana, tetapi lewat sebulan lagi pasti dia akan datang ke suatu tempat, hal itu aku malah tahu pasti,” kata Kwe Siang kemudian.
“Datang ke mana?” tanya Hoat-ong.
“Percuma juga kukatakan padamu! Kau lak berani pergi menemuinya. jangan-jangan nanti malah bikin kau tak enak makan tak nyenyak tidur,” kala Kwe Siang.
Hoat-ong menjadi gemas kena di-kili-kili. “Katakan, coba katakan!” teriaknya sengit.
“Ia akan datang ke Coat-ceng kok, di atas jurang Toan-jong-khe, ia akan bertemu kembali dengan isterinya, Siao-liong-li,” kata Kwe Siang. “Tapi Hwesio besar, lebih baik jangan kau mengantar kematian ke sana, seorang Yo Ko saja bikin hati terkejut dan daging kedutan, apa lagi ditambah seorang Siao-liong-li.”
Memang selama belasan tahun ini Kim-lun Hoat-ong giat berlatih ‘ilmu sakti bertenaga naga dan gajah’ justru maksudnya ingin digunakan untuk melawan ‘Giok-li-soh-sim-kiam-hoat’ yang dimainkan Yo Ko dan Siao-liong-li ber-sama. Kalau dia tidak yakin akan satu dapat mengalahkan dua, tak akan dia datang ke daerah Tionggoan lagi. Kini kena di-kili-kili Kwe Siang, dia menjadi semakin murka, dari murka dia pun maIah tertawa.
“Ya, marilah sekarang juga kita pergi ke Coat-ceng-kok, kalau aku dapat mengalahkan Yo Ko dan Siao-liong-li, lalu bagaimana nanti?” tanyanya segera.
“Kalau ilmu silatmu benar-benar begitu tinggi, hm, masa aku tidak cepat mengangkat guru padamu? Bukankah itu sukar dicari?” sahut Kwe Siang. “Cuma sayang, Coat-ceng-kok itu tempatnya jauh dan sepi, tidak mudah mencarinya.”
“Kebetulan aku pernah ke sana, tak perlu kau kuatir,” ujar Hoat-ong tertawa. “Tetapi kini waktunya masih cukup lama, mari kau ikut aku pergi ke perkemahan pasukan Mongol dulu, setelah selesaikan beberapa urusan, kita pergi ke Coat-ceng-kok.”
Mendengar orang mau pergi ke Coat-ceog-kok untuk bertanding dengan Yo Ko, dalam hati Kwe Siang menjadi sangat lega, pikirnya diam-diam: “Aku kuatir kalau kau tidak mau pergi ke sana, tetapi kini kau mau pergi sendiri, ha, tahu rasa kau nanti! Kau Hwesio jahat ini tampaknya garang, nanti kalau sudah bertemu Toakoko, mungkin kau akan mengkeret seperti celurut.”
Maka ia pun pergilah ikut Hoat-ong ke tengah pasukan Mongol. Saat itu yang dipikir oleh Hoat-ong hanya ingin menjadikan Kwe Siang sebagai murid ahli-warisnya. Dia yakin asal bisa menaklukkan hati anak dara ini, kelak tentu akan menjadi muridnya yang terkemuka, Maka di sepanjang jalan dia sangat ramah tamah pada si nona. Harus diketahui, dalam kalangan Bu-lim guru pandai susah dicari, namun murid berbakat juga sukar didapatkan. Murid harus pilih guru, guru juga ingin memilih murid.
Demikianlah di sepanjang jalan Hoat-ong selalu mengajak Kwe Siang bicara dan bergurau. Dia semakin merasakan anak dara ini sangat pintar, otaknya tajam, diam-diam dia sangat girang. Kadang-kadang bila Kwe Siang berduka oleh kematian Toa-thau-kui dan Tiang-si-kui dan mencela kekejian Hoat-ong, selalu Hoat-ong anggap sepi saja tanpa gusar, malah dia anggap anak dara ini seorang berperasaan, tidak seperti Hotu yang rendah budi.
Pasukan Mongol adalah perkemahan pasukan bagian selatan yang dipimpin Kubilai, adik raja Mongol, sebaliknya tempat yang dicari Yo Ko adalah pasukan utara yang dipimpin Monko, si raja sendiri. Soalnya karena percakapan kedua kurir Mongol yang didengar Kwa Tin-ok itu kurang lengkap hingga Yo Ko buang waktu percuma, padahal waktu Yo Ko berangkat ke Coat-ceng-kok, tak lama kemudian Hoat-ong dan Kwe Siang juga berangkat seperti sudah direncanakan.
Jarak mereka tiada ratusan li, tapi jalan Yo Ko lebih cepat, lagi pula tak sabar karena ingin lekas bertemu dengan Siao-liong-li, maka dia tiba lebih dulu beberapa hari dari pada Hoat-ong dan Kwe Siang.
Di lain pihak, sejak puteri bungsunya itu minggat, siang malam Kwe Ceng dan Oey Yong sangat berkuatir. Belasan hari kemudian, beberapa anak murid Kay-pang yang ditugaskan pergi mencari kabar juga pulang dengan tangan hampa. Selang beberapa hari, mendadak Thia Eng dan Bu-siang datang di Siang-yang dan membawa kabar buruk berasal dari Kwa Tin-ok bahwa Kwe Siang telah tertawan oleh pasukan Mongol.
Keruan Kwe Ceng dan Oey Yong sangat terkejut. Malam itu juga Oey Yong bersama Thia Eng menyelidiki ke perkemahan musuh, tetapi serupa saja seperti Yo Ko, mereka pun tidak memperoleh tanda-tanda. Bahkan malam ketiga mereka kepergok patroli Mongol sehingga Oey Yong dan Thia Eng terkepung beberapa puluh perwira. Syukur Oey Yong dan Thia Eng bukanlah orang lemah, dengan ilmu silat mereka yang hebat dapat lolos dari kepungan musuh.
Melihat gelagatnya, Oey Yong menduga puteri kecil itu tentu tidak ada dalam pasukan Mongol, tetapi sedikit pun belum mendapat berita, ini bukanlah alamat baik. Maka, setelah berunding dengan Kwe Ceng, ia putuskan akan keluar kota mencari sendiri. Ia membawa sepasang rajawali putih piaraannya untuk menjaga bila perlu dapat dibuat mengirim surat.
Thia Eng dan Liok Bu-siang berkeras ingin ikut serta, sungguh kebetulan bagi Oey Yong bisa memperoleh dua pembantu yang kuat, maka mereka bertiga mengitari kemah pasukan Mongol terus menuju ke barat laut. Menurut taksiran Oey Yong, kepergian Kwe Siang itu adalah hendak menasihatkan Yo Ko agar jangan mencari pikiran pendek. Dulu bertemunya mereka ada di sekitar tambangan Hongleng, sekali ini tentu si nona akan pergi ke sana pula, karena itu bila lebih dulu ke Hongleng, besar kemungkinan akan mendapat jejaknya.
Ketika mereka bertiga berangkat dari Siang-yang, saat itu masih musim dingin, sepanjang jalan mereka mencari kabar dan setiba di tambangan Hongleng, sementara sudah masuk musim semi, salju sudah mencair, sungai sudah mengalir normal. Setengah harian Oey Yong bertiga mencari keterangan di kota tambangan itu, baik tukang perahu, pengurus hotel, tukang kereta, mau pun kuli pikul, semuanya bilang tidak melihat nona seperti yang ditanyakan itu.
”Suci (kakak seperguruan),” kata Thia Eng kepada Oey Yong. “Hendaklah kau tidak perlu kuatir. Ketika Siang-ji lahir, hari itu juga digondol lari oleh Kim-lun Hoat-ong dan Li Bok-chiu, dua momok yang paling disegani. Jika dulu tidak apa-apa, rasanya sekarang juga takkan ada bahaya.”
Oey Yong hanya menarik napas tanpa menjawab. Mereka meninggalkan kota tambangan itu dan menuju ke jurusan pegunungan sepi. Suatu hari, sang surya memancarkan sinarnya yang hangat, angin selatan silir-silir sejuk, tetumbuhan sudah banyak mekar berbunga, musim semi semakin menarik.
“Suci,” kata Thia Eng sambil menunjuk bunga Tho yang menarik kepada Oey Yong sekedar menghiburnya. “Musim semi di daerah utara belum lagi mulai, tetapi di sini bunga Tho sudah mekar dengan indahnya, bahkan pohon Tho di pulau Tho-hoa-to biasanya sudah lama berbuah!” Sembari berkata Thia Eng memetik sekuntum bunga Tho yang indah.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mengaung-aungnya tawon, seekor tawon besar terbang mengitari bunga Tho yang dipegang Thia Eng, kemudian hinggap dan menyelusup masuk ke dalam kelopak bunga itu untuk menghisap sari bunganya.
Melihat tawon itu berwarna putih kelabu, ukuran badannya berlipat ganda dari pada tawon umumnya, hati Oey Yong jadi tergerak.
“Agaknya ini adalah Giok-hong (tawon putih) piaraan Siao-liong-li, kenapa bisa muncul di sini?” demikian katanya heran.
“Ya,” sahut Liok Bu-siang, “Mari kita menguntit tawon ini terbang ke mana?”
Sesudah selesai menghisap sari bunga, tawon itu lalu terbang mengitari udara beberapa kali dan akhirnya menuju ke barat-laut. Lekas-lekas Oey Yong mengikutinya dengan ilmu enteng tubuh yang cepat. Agak lama tawon itu terbang, pada saat menemukan tumbuhan bunga, kembali berhenti, kemudian terbang lagi dan berhenti pula beberapa kali, akhirnya bertambah lagi dengan dua ekor tawon lain. Menjelang petang mereka bertiga sudah menguntit sampai di suatu lembah gunung yang pemandangannya sangat indah. Di tanah di sekitar sana terdapat beberapa sarang tawon terbuat dari kayu, dan sampai di sana ketiga ekor tawon tadi segera menyusup ke sarangnya.
Sesudah mereka memandang, di tanah datar sebelah lain terdapat tiga-empat buah rumah dan ada dua rase kecil sedang bermain. Tiba-tiba pintu rumah gubuk yang tengah terpentang dan keluarlah seorang tua bermuka merah bercahaya, rambut hitam ke-putihan, nyata dialah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong. Keruan Oey Yong sangat girang, segera ia berteriak:
“Hai, Lo-wan-tong, lihatlah, siapa yang datang?”
Begitu melihat Oey Yong, Ciu Pek-thong juga tertawa gembira. Dia langsung berlari maju menyambut, tapi baru beberapa langkah, mendadak selebar mukanya merah jengah, lalu putar tubuh terus menyelinap masuk rumah lagi, pintu digabrukkan dan dikunci rapat. Oey Yong menjadi heran oleh kelakuan si tua nakal itu, dia gedor pintu rumah itu sambil berseru.
“Hayo, Lo-wan-tong, kenapa kedatangan tamu malah bersembunyi?”
“Tidak mau buka, tidak mau buka!” sahut Ciu Pek-thong dari dalam.
“Ha-ha-ha…., kau tak mau buka, sebentar kubuka ruang kucingmu ini,” kata Oey Yong tertawa.
Pada saat lain tiba-tiba pintu rumah sebelah sana juga terpentang, lalu seorang menyapa dengan tertawa.
“Ha-ha-ha, pegunungan sunyi ini sudah kedatangan tamu agung, Hwesio tua mengaturkan selamat datang!”
Ketika Oey Yong menoIeh, terlihatlah It-teng Taysu berdiri di depan pintu dengan senyum simpul dan sedang memberi hormat. Segera Oey Yong membalas hormat orang dan menyapa:
“Ehh, kiranya Taysu menjadi tetangga Lo-wan-tong, sungguh tidak nyana. Dan entah mengapa mendadak Lo wan-tong menutup pintu dan tidak terima tamu?”
It-teng terbahak-bahak mendengar itu, katanya: “Jangan urus dia! Mari silakan masuk kemari!”
Lalu mereka pun masuk ke rumah It-teng Taysu dan disuguh teh oleh tuan rumah.
“Kwe-hujin, coba kau menerkanya, siapakah penghuni rumah gubuk sebelah kanan itu?” kata It-teng kemudian.
Oey Yong ingat kelakuan Ciu Pek-thong tadi yang tiba-tiba bermuka merah jengah. Segera pikirannya bergerak dan tahulah ia sebab musababnya, maka jawabnya dengan bersajak:
“Empat buah perkakas tenun, maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan.”
Ia bacakan sebuah sajak gubahan Lau-kuihui alias Eng-koh sekarang, yang merindukan kekasih. Karena itu It-teng Tay-su tertawa memuji:
“Kwe-hujin benar-benar hebat, segalanya tidak terlepas dari dugaanmu.”
Lalu ia melongok keluar dan memanggil: “Eng-koh, Eng-koh, marilah menemui kawan cilik kita.”
Tak lama datanglah Eng-koh membawa senampan minuman beserta makanan manisan, buah-buahan, kacang dan lain-lain. Cepat Oey Yong memberi hormat dan kelima orang lantas pasang omong dengan meriah. Kiranya sesudah menyelesaikan suka-duka selama berpuluh tahun, It-teng Tay-su, Eng-koh dan Ciu Pek-thong lalu tinggal bersama, menyepi di lembah beribu bunga ini sambil bercocok tanam, piara tawon dan lain-lain, segala kejadian yang merikuhkan dulu sudah terlupa semua.
Walau pun begitu, ketika Ciu Pek-ong melihat Oey Yong, tanpa terasa dia menjadi kikuk, maka dia sembunyi dan tutup pintu rapat-rapat. Meski sembunyi di dalam rumah, namun dia tetap pasang kuping mendengarkan percakapan kelima orang itu. Saat didengarnya cerita Oey Yong tentang pertemuan besar kaum ksatria di Siang-yang, kemudian tentang terbongkarnya kedok Hotu yang menyamar sebagai Ho Su-ngo, sampai bagian yang mengasyikkan tetapi tiba-tiba Oey Yong sengaja membelokkan ceritanya, maka Pek-thong tak tahan, ia menerobos ke rumah langsung tanya Oey Yong:
“Lalu bagaimana dengan keparat Hotu itu? Apakah ia berhasil lolos?”
Begitulah malamnya Oey Yong bertiga lantas menginap di rumah Eng-koh. Esok paginya, ketika Oey Yong keluar, dilihatnya Ciu Pek-thong sedang berjingkrak-jingkrak kegirangan dan tangannya membawa seekor tawon putih.
“Lo-wan tong, ada apakah begitu gembira?” tanya Oey Yong tertawa.
“Ha-ha-ha, Oey Yong cilik, kepandaianku makin lama semakin tinggi, kau kagum tidak?” demikian sahut Pek-thong.
Oey Yong kenal sifat si tua nakal itu. Selama hidupnya hanya ada dua kesenangan, kesatu ilmu silat dan kedua main-main dan menerbitkan onar. Ia menduga tentu Ciu Pek-thong telah menciptakan semacam ilmu silat aneh, maka ia menjadi ingin melihatnya, jawabnya segera:
“IImu silat Lo-wan-tong sudah sangat kukagumi sejak dulu, hal ini tak perlu ditanya lagi. Tapi selama beberapa tahun ini apa ada ciptaan ilmu silat baru lagi yang aneh-aneh dan bagus?”
“Bukan, bukan ilmu silat,” kata Ciu Pek-thong menggeleng kepala, “llmu silat paling hebat terakhir yang kulihat adalah ‘lm-jian-siau-hun-ciang’ ciptaan si bocah Yo Ko. Lo-wan-tong sudah mengaku kalah, maka soal ilmu silat jangan dibicarakan lagi.”
Diam-diam Oey Yong sangat heran, pikirnya: “Hebat benar si Yo Ko ini, yang kecil seperti Kwe Siang, yang tua ada juga Lo-wan-tong yang begitu kesemsem padanya. Entah ilmu pukulan ‘Im-jian-siau-hun-ciang’ itu bagaimana macamnya?” Maka kemudian ia pun tanya Ciu Pek-thong:
“Lalu kau bilang makin lama semakin pandai. Ilmu sakti apakah itu?”
Ciu Pek-thong angkat tinggi tangannya. Dia tidak lantas menjawab, dia unjukkan tawon putih itu dengan rasa bangga, kemudian katanya:
“kepandaianku memiara tawon.”
“Tawon ini adalah pemberian Siao-liong-li kepadamu, apanya yang mengherankan?” ujar Oey Yong.
“lni yang kau tidak paham,” kata Pek-thong. “Tawon yang Siao-liong-li berikan padaku memang betul adalah jenis yang sangat bagus, tetapi sesudah Lo-wan-tong memelihara lebih giat, kini dapat kuperoleh sejenis bibit tawon yang tiada bandingan di seluruh jagat, betapa pun hebat orang pandai juga tiada yang dapat menciptakannya, mana bisa Siao-liong-li dibandingkan aku lagi.”
“Ha-ha-ha…” Oey Yong tertawa, “Semakin tua Lo-wan-tong semakin bermuka tebal, pandai sekali kau me-niup diri sendiri setinggi langit, se-akan di jagat ini tiada bandingannya.”
Namun Pek-thong tidak marah, malah dengan ter-kekeh ia berkata lagi. “Oey Yong cilik, coba aku ingin tanya. Manusia adalah makhluk tercerdik dari segala makhluk hidup, tubuh orang banyak yang suka ditisik dengan gambar dan tulisan. Akan tetapi kecuali manusia, di antara tubuh binatang apakah ada yang terdapat tulisan?”
“Harimau ada yang Ioreng, macan tutul kulitnya ber-tutul, kupu dan ular berbisa, tubuh mereka semuanya berlipat ganda lebih mengherankan dari pada tisikan gambar di badan manusia,” ujar Oey Yong.
“Ya, akan tetapi pernahkah kau melihat di badan sebangsa serangga dan penyengat ada tulisannya?” kata Pek-thong.
“Apa kau maksudkan dari pembawaannya? Memang belum pernah,” sahut Oey Yong.
“Baik, nah, ini biar kutunjukkan,” kata Pek-thong sambil ulurkan tangannya ke depan mata Oey Yong.
Maka tampaklah tawon besar di tengah telapak tangannya itu pada kedua sayapnya benar-benar terdapat tisikan tulisan. Waktu Oey Yong menegasi, dia lihat pada sayap kiri tawon putih itu tertulis huruf ‘Aku berada di’ dan di sayap kanan juga ada tiga huruf ‘Coat-ceng-kok’, setiap hurufnya sebesar beras menir, tapi tulisannya amat jelas, terang dibuat dengan tisikan jarum yang paling lembut.
Oey Yong jadi terheran-heran, ia menggumam sendiri: “Aku berada di Coat-ceng-kok, aku berada di Coat-ceng-kok.” Diam-diam dia pikir pula: ”Andai keenam huruf ini pasti bukan pembawaan, tapi ada orarg sengaja menisiknya. Kalau menuruti tabiat Lo-wan-tong, tak mungkin dia bisa melakukan pekerjaan yang makan tempo dan harus sabar.” Tetapi segera dia berpendapat lain lagi, katanya dengan terlawa:
“Ai, begini saja kenapa bilang aneh? Kau minta Eng-koh tisikkan enam huruf ini, masa kau mampu membohongi aku?”
Muka Pek-thong menjadi merah, sahutnya: “Kau boleh tanya Eng-koh apakah aku minta dia menisik tulisan di sini?”
“Tentu saja dia akan membela kau, jika kau bilang matahari dari barat, tentu saja dia akan berkata: ‘Ya, ya, benar, matahari muncul dari arah barat’!” ujar Oey Yong tertawa.
Selebar muka Lo-wan-tong menjadi makin merah, merahnya malu-malu, rasa kikuk dan terasa penasaran pula. Karena itu dia lepaskan tawon di tangannya itu, lalu tangan Oey Yong ditariknya sembari berkata:
“Mari, mari, biar kutunjukan, boleh kau periksa sendiri.” ia seret Oey Yong ke suatu sarang tawon di tanah datar sebelah sana, Sarang tawon itu berdiri sendiri jauh dari yang lain-lain. Ketika Pek-thong gerakkan tangannya, segera dua ekor tawon dapat ditangkapnya.
“Nih, lihat!” katanya.
Waktu Oey Yong mengamat-amati, benar juga pada kedua sayap tawon-tawon itu juga ada tulisannya dan serupa tadi terdiri dari enam huruf, yang kiri ‘Aku berada di’ dan yang kanan ‘Coat-ceng-kok’. Oey Yong heran sekali, pikirnya diam-diam: “Betapa pun aneh pencipta makhluk juga tak mungkin menciptakan tawon seperti ini. Pasti di balik ini ada sebab-sebabnya.” Maka katanya pula:
“Cobalah. Lo-wan-tong, kau tangkap lagi beberapa ekor!”
Segera Pek-thong menangkap empat tawon, dua di antaranya bersih sayapnya, tapi dua ekor lainnya ada pula tisikan enam huruf serupa itu. Melihat Oey Yong termangu-mangu, terang dia sudah mengaku kalah, Pek-thong menjadi senang, katanya dengan tertawa.
“Nah, apa yang bisa kau katakan lagi? Hari ini kau kalah tidak dengan Lo-wan-tong?”
Oey Yong tidak menjawab, tapi ia menggumam huruf itu: “Aku berada di Coat-ceng kok.” Sesudah beberapa kali ia ulangi, tiba-tiba saja ia melompat dan berseru: “Ya, tahulah aku sekarang. Itu harus dibaca menjadi ‘Aku berada di dasar Coat-ceng-kok’! Siapakah yang berada di dasar Coat-ceng-kok? Jangan-jangan Siang-ji?”
Segera dia tanya Ciu Pek-thong: “Lo-wan-tong, tawon ini bukan kau yang piara sendiri, tapi datang dari lain tempat, betul tidak?”
Kembali wajah Pek-thong merah lagi, sahutnya: “Ehh, aneh, dari mana kau tahu?”
“Tentu saja aku tahu,” kata Oey Yong, “Tawon ini sudah berapa hari bersarang di sini?”
“Tidak terhitung hari lagi, tetapi sudah beberapa tahun!” sahut Pek-thong. “Mula-mula aku tidak perhatikan bahwa di sayap tawon ini ada tulisannya, baru beberapa hari yang lalu dapat kulihat.”
“Benar-benar sudah beberapa tahun?” desak Oey Yong.
“Ya, kenapa kudustai kau?” jawab Pek-thong.
Oey Yong termenung-menung sejenak. Segera dia kembali ke rumah sebelah sana lantas berunding dengan It-teng Taysu, Thia Eng dan Liok Bu-siang. Semuanya juga merasa di dasar Coat-ceng-kok pasti ada apa-apanya. Karena menguatirkan puterinya, segera Oey Yong bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang mohon diri hendak berangkat ke sana. Segera pula It-teng menyatakan ikut serta. Melihat kawan-kawan pada pergi, sudah tentu Lo-wan-tong tak mau kesepian, ia berkeras mengajak Eng-koh juga turut.
Oey Yong menjadi lega dengan bertambahnya pembantu tiga tokoh terkemuka itu. Ia pikir dengan enam orang yang baik mengadu pikiran mau pun mengadu kekuatan mungkin di seluruh jagat ini tiada tandingan lagi, sekali pun Siang-ji jatuh dalam cengkeraman orang jahat, tentu dapat ditolong keluar. Maka enam orang bersama sepasang rajawali lantas beramai menuju ke arah barat.
Kembali tentang Yo Ko. Karena janji pertemuan kembalinya dengan Siao-liong-li sudah hampir tiba, dia tak berani ayal, dia jalan terus siang-malam menuju Coat-ceng-kok atau Iembah putus cinta. Setiba di tempat tujuan, menurut perhitungan masih kurang lima hari dari pada hari yang dijanjikan Siao-liong-li 16 tahun yang lalu. Lembah ini sepi nyenyak, gedung megah yang dahulu dibangun suami-isteri Kongsun Ci dan anak muridnya yang berbaju hijau sudah ambruk atau bobrok.
Sejak 16 tahun yang lalu Yo Ko tinggalkan lembah itu, setiap beberapa tahun sekali pasti dia datang dan tinggal lagi di lembah itu dengan harapan Lam-hay Sin-ni menaruh belas kasihan dan mendadak memulangkan Siao-liong-li, Walau pun setiap kali dia harus kembali dengan tangan hampa dan lesu, tapi setiap kali selalu beberapa tahun lebih dekat dengan waktu yang dijanjikan itu.
Sekarang ia mengunjungi tempat lama pula. Ia lihat keadaan sunyi penuh semak belukar, sedikit pun tiada tanda-tanda pernah diinjak manusia. Segera ia berlari ke Toan-jong-khe atau karang patah hati, ia melalui jembatan batu yang hanya terdiri dari selonjor batu panjang, kemudian me-raba tulisan di atas dinding tebing yang ditinggalkan Siao-liong-li dahulu. Dengan jarinya dia masukkan ke dekukan tulisan itu dan mengkorek keluar lumut yang menutupi hurufnya, maka segera nampaklah kedua baris tulisan dengan jelas. Perlahan Yo Ko membacanya:
‘Dengan sangat Siao-liong-li menyampaikan pesan kepada suamiku Yo Ko supaya menjaga diri baik-baik dan harus berusaha untuk berkumpul kembali’.
BegituIah sehari penuh dia termenung memandangi kedua batu tulisan itu. Malamnya dia tidur di atas pohon dengan ranjang tali seperti dahulu. Besoknya Yo Ko pesiar ke seluruh lembah itu. Ia lihat tanaman Ceng-hoa atau bunga cinta yang dulu dibabat olehnya bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang kini tidak berkembang lagi, tetapi bunga merah yang olehnya diberi nama ‘Liong-li-hoa’ atau bunga puteri Liong, sedang mekar dengan indahnya. Maka dia petik seikat bunga merah itu lantas ditaruh di depan tebing yang terdapat tulisan Siao-liong-li itu. BegituIah, dengan perasaan tertekan dia lewatkan hari, sampai tanggal 7 bulan tiga, Yo Ko sudah dua hari dua malam tidak pernah tidur.
Sejak itu dia tak mau berpisah setengah langkah pun dari karang patah hati itu. Sejak pagi dia menanti, dari pagi hingga siang dan siang berganti sore, setiap ada angin meniup atau pohon bergerak, segera dia melompat bangun melongak-longok sekitarnya, tapi bayangan Siao-liong-li tetap tidak tampak! Sejak Yo Ko mendengar kata-kata Oey Yok-su tempo hari, dia tahu bahwa ‘Lam-hay Sin-ni’ hanya karangan Oey Yong belaka. Tapi tulisan di tebing itu jelas adalah tulisan tangan Siao-liong-li yang tidak bisa dipalsukan. Maka dia tetap berharap sang isteri akan penuhi janji dan bisa berkumpul kembali.
Sementara itu sang surya telah silam, hati Yo Ko tenggelam mengikuti silamnya sang petang. Ketika matahari tertutup puncak gunung, Yo Ko menjerit dan berlari ke atas puncak. Di tempat setinggi itu, bola merah membara kembali tampak bulat lagi. Hatinya menjadi sedikit lega, asal sang surya belum menghilang, berarti tanggal 7 bulan tiga itu pun belum lagi lalu. Namun demikian akhirnya sang surya tetap silam di ufuk barat sana. Yo Ko masih terpaku di puncak gunung, keadaan sunyi dan kosong belaka, hawa dingin menusuk tulang, cuaca remang-remang sudah mulai. Dia berdiri terpaku, lama sekali tetap tidak bergerak.
Lewat agak lama, bulan sabit per-lahan tampak tergantung di tengah cakrawala, bukan saja hari tanggal 7 sudah akan lalu, bahkan malam ini pun akan lalu dengan cepat. Tetapi Siao-liong-li masih tetap tidak muncul. Bagaikan patung saja semalam suntuk Yo Ko berdiri terpaku di puncak gunung sampai sang surya muncul di sebelah timur. Sungguh indah permai suasana pagi di pegunungan, burung berkicauan merdu, bunga mekar mewangi, sungguh musim semi ini memabukkan orang. Namun waktu itu hati Yo Ko dingin bagai es, lapat-lapat suara mendenging di tepi telinganya.
“Tolol! Sudah lama dia mati, 16 tahun yang lalu dia sudah mati. Dia tahu dirinya kena racun tak bisa sembuh dan kau pun tak mau hidup sendirian, maka dia telah bunuh diri dan mendustai kau untuk menanti 16 tahun. Tolol, begitulah cintanya padamu, apakah sampai hari ini masih kau tidak mengerti akan jalan pikirannya?”
Perlahan Yo Ko turun dari puncak gunung dengan raga tanpa jiwa. Sehari-semalam dia tidak makan minum, ia merasa mulutnya kering, ia pergi ke tepi sungai kecil dan meraup air untuk diminum. Pada waktu menunduk, mendadak terlihat bayangan dirinya dalam air, tampak kedua pelipisnya telah ke-putihan. Kini dia berusia 36 tahun, mestinya seutas rambut putih pun tiada, tetapi kini mendadak kedua pelipisnya tampak putih, mukanya kotor, hampir ia tak mengenali dirinya sendiri. Mendadak ia melompat menuju ke depan karang Toan-keng-khe, ia pandang kedua baris tulisan guratan Siao-liong-li itu, ia berteriak keras:
”16 tahun kemudian, bertemu lagi di sini, cinta kasih suami isteri, janganlah ingkar janji! Tapi Siao-liong-li, wahai Siao-liong-li, tulisan yang kau ukir sendiri ini, kenapa sekarang kau malah tidak menepati janji?” Suaranya begitu keras menggema di angkasa raya, seluruh lembah gunung seakan-akan tergetar, dari empat penjuru berkumandang kembali suara:
“Kenapa kau tidak menepati janji.....? Tidak menepati janji….? Tidak menepati janji...?”
Dasar pembawaan Yo Ko berwatak keras dan mudah tersinggung, kini segala harapannya hampa belaka, pikirnya: “Jika Liong-ji sudah meninggal 16 tahun yang lalu, sungguh tiada artinya bagiku hidup sendiri selama ini.”
Dia memandangi jurang Toan-jong-khe yang entah berapa dalamnya itu, dia menggumam perlahan:
“Dahulu mendadak kau menghilang tanpa bekas, agaknya kau sudah terjun ke dalam jurang ini, Selama 16 tahun ini, apakah kau tidak kesepian?”
Begitulah tiba-tiba pandangannya terasa kabur, bayangan Siao-liong-li seakan muncul di kelopak matanya, sayup-sayup seperti terdengar suara Siao-liong-li sedang memanggilnya di dasar jurang:
“Yo-long, Yo-Iong! Janganlah berduka, janganlah berduka!”
Tiba-tiba Yo Ko memejamkan mata dan tubuhnya melayang ke depan, ia terjun ke dalam jurang.
Kembali kepada Kim-lun Hoat-ong yang membawa Kwe Siang menuju Coat-ceng-kok. Hoat-ong benar-benar manusia aneh. Di waktu ganas kejamnya melebihi binatang berbisa, tetapi karena dia sudah mengambil ketetapan akan menerima Kwe Siang sebagai ahli warisnya, sepanjang jalan dia menjadi begitu memperhatikan diri anak dara itu, begitu sayang bagai puteri sendiri saja. Sebaliknya karena benci pada Hoat-ong yang telah membinasakan Tiang-si-kui dan Toa-thau-kui secara keji, maka Kwe Siang selalu bersikap dingin. Hari itu mereka sampai di Coat-ceng-kok. Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang yang sangat keras:
“Kenapa kau tidak menepati janji?!”
Suara itu penuh rasa penasaran, putus asa dan menderita sekali. Ketika kemudian suara yang menggema itu berkumandang kembali dari balik ke lembah gunung, Kwe Siang terkejut. Serunya:
“Ha, itulah suara Toakoko, lekas kita mencarinya ke sana.” Sembari berkata segera dia mendahului memburu ke lembah pegunungan itu.
Mendengar lawan besar telah mendekat, semangat Kim-lun Hoat-ong bangkit seketika, segera dari buntalannya dia keluarkan ‘panca-roda’, senjatanya yang istimewa, lima roda yang terdiri dari lima macam logam: emas, perak, tembaga, besi dan timah. Biar pun sekarang ilmu sakti tenaga naga dan gajah sudah dilatih hingga tingkatan ke-11, namun seIama 16 tahun ini dia yakin Yo Ko dan Siao-liong-li juga tidak melewatkan waktu percuma, maka Hoat-ong sedikit pun tidak berani meremehkannya.
Begitulah Kwe Siang berlari menuju tempat datangnya suara. Tak lama ‘jurang patah hati’ itu sudah dekat, terlihatlah waktu itu Yo Ko masih berdiri di atas karang, belasan tangkai bunga merah bergerak di sekitarnya. Melihat jurang itu amat curam, Kwe Siang lidak berani melayang ke sana, maka serunya:
“Toakoko, aku datang!”
Namun hati Yo Ko sudah hancur luIuh, tidak mendengar seruan anak dara itu. Dari jauh melihat kelakuan orang agak aneh, cepat Kwe Siang berteriak:
“Toakoko, aku masih menyimpan sebuah jarum emas pemberianmu. Kau harus dengar kataku, jangan kau bunuh diri!”
Sembari berkata, tanpa pikir lagi ia berlari hendak mendekati Yo Ko melalui belandar batu jurang, namun sampai di tengah jalan, terlihatlah Yo Ko sudah terjun ke bawah jurang yang tak terperikan dalamnya. Keruan kejut Kwe Siang tidak kepalang dan terasa sukmanya terbang ke awang. Sesaat itu juga entah terpeleset karena kaget atau sebab berpikir hendak menolong Yo Ko, atau mungkin juga karena cintanya sudah mendalam hingga rela menyusulnya ke alam baka, mendadak anak dara itu pun ikut terjun ke bawah jurang.
Tatkala itu Kim-lun Hoat-ong ketinggalan kira-kira beberapa tombak di belakang. Melihat Kwe Siang jatuh ke bawah, cepat dia melesat maju untuk menolong. Betapa pesat ilmu entengi tubuh Hoat-ong ini seperti anak panah terlepas dari busurnya, namun toh masih terlambat sedikit. Saat memburu sampai di tepi jurang, tubuh Kwe Siang telah terjerumus ke bawah. Tanpa pikir lagi Hoat-ong gunakan gerakan ‘To-kwa kim-kau’ atau kaitan emas tergantung terbalik, dengan kakinya menggantoI di pinggir jurang. Cara Hoat-ong ini sesungguhnya sangat berbahaya, sedikit saja meleset, boleh jadi dia sendiri pun tergelincir masuk jurang.
“Brett!”
Maka terdengarlah suara kain baju Kwe Siang sobek sebagian, sedang tubuh anak dara itu masih terus tenggelam ke bawah jurang, kabut tebal yang menutupi dari bawah jurang itu segera menelan Kwe Siang tanpa bekas. Kim-lun Hoat-ong menghela napas gegetun. Dia menjadi lesu, sepotong kain baju masih dipeganginya, dia termangu-mangu memandang ke dalam jurang. Selang agak lama, tiba-tiba saja didengarnya di seberang sana ada seseorang menegurnya:
“Hai, Hwesio, apa yang kau lakukan di sini?”
Hoat-ong menoleh. Dia lihat di atas gunung sana berdiri enam orang, yang paling depan seorang tua bermuka muda, Ciu Pek-thong. Di sampingnya berdiri tiga wanita yang dikenalnya sebagai Oey Yong, Thia Eng, dan Liok Bu-siang. Dan di belakangnya seorang Hwesio tua beralis jenggot putih beserta seorang wanita tua berbaju hitam mulus. Dua orang terakhir ini tak dikenalnya, yakni It-teng Taysu dan Eng-koh. Sudah beberapa kali Hoat-ong kenal kepandaian Ciu Pek-thong. Ia tahu ilmu silat si tua ini luar biasa lihaynya, selamanya ia pun rada jeri padanya, apa lagi kini ditambah Oey Yong yang merangkap pelajaran Tang-sia dan Pak-kay, orangnya cerdik isinya banyak. Lebih-lebih dalam keadaan berduka atas kematian Kwe Siang, sebenarnya tiada niat lagi buat bermusuhan, maka katanya kemudian dengan muram:
“Nona Kwe Siang telah terjun ke dalam jurang!”
“Hah?!” semua orang terkejut. Terutama Oey Yong sebagai ibu, ia yang paling tergoncang hatinya, dengan suara gemetar ia menegas: “Apa benar katamu?”
“Untuk apa aku dusta? Bukankah ini kain bajunya?” sahut Hoat-ong sembari menggerakkan sobekan baju Kwe Siang yang masih dipegangnya.
Melihat kain itu memang benar-benar adalah sobekan baju puterinya, seketika Oey Yong menggigil seakan-akan terjerumus ke dalam jurang es dan tak sanggup buka suara. Segera Ciu Pek-thong menjadi marah bukan main, damperatnya:
“Hwesio busuk, kenapa kau membunuh nona cilik itu? Hatimu benar-benar kejam!”
“Bukan aku yang membunuhnya,” sahut Hoat-ong.
“Tanpa sebab mengapa dia bisa terjun ke dalam jurang?” debat Pek-thong. “Kalau bukan kau mendorongnya, tentu kau yang memaksanya!”
“Bukan keduanya,” kata Hoat-ong sambil menggelengkan kepala. “Aku malah bermaksud menerimanya sebagai murid ahli warisku, mana mau sembarangan aku membunuhnya?”
“Fuih!” mendadak Ciu Pek-thong meludahi orang dengan dahak kental. Lalu damperatnya: “Kentut, kentut! Engkongnya adalah Oey-losia, ayahnya Kwe Ceng dan ibunya Oey Yong, siapa di antara mereka yang tidak lebih hebat dari pada kau, Hwesio busuk? Mana sudi ia mengangkat guru padamu untuk mewarisi ilmumu yang apek? Huh, melulu aku Lo-wan-tong saja jika mau mengajarkan beberapa jurus padanya juga lebih hebat dari pada segala gelangmu yang rombengan ini!”
Jarak Pek-thong dengan Hoat-ong cukup jauh, tetapi dahak kental yang disemprotkan itu laksana sebutir peluru saja mengarah ke mukanya. Lekas-lekas dia mengegos dan diam-diam merasa kagum. Sebaliknya Lo-wan-tong menjadi bertambah senang karena orang tidak berani menjawab damperatannya tadi. Dengan suara keras dia mendesak pula:
“Nah, tentunya dia tak sudi mengangkat guru padamu, bukan? Tapi kau tetap berkeras hendak menerimanya sebagai murid?”
Hoat-ong mengangguk.
“Nah, apa yang perlu dikatakan lagi? Bukankah karena itu lantas kau mendorongnya ke dalam jurang?” teriak Pek-thong pula.
Namun perasaan Hoat-ong masih cemas oleh kematian Kwe Siang. Dia menghela napas dan menyahut:
“Aku tidak mendorong dia. Tapi sebab apa aku tidak mengerti!”
Sementara itu Oey Yong sudah agak tenang. Sekali dia mengertak gigi, pentung bambu diangkat terus menubruk ke arah Hoat-ong. Dengan gaya ‘bong’ mengurung, bayangan pentungan berkelebat kian kemari, seketika tubuh Hoat-ong dikurung oleh pentungnya. Karena ingin membalaskan dendam puterinya, di atas belandar batu yang lebarnya hanya satu dua kaki itu Oey Yong meluncurkan tipu-tipu serangan mematikan ber-tubi-tubi.
Meski ilmu silat Hoat-ong sebenarnya lebih tinggi dari pada Oey Yong, tapi tak berani dia mengadu jiwa. Melihat permainan pentung orang sangat hebat, bila dia terlibat sedikit saja hingga Ciu Pek-thong maju membantu, pula di tempat yang berbahaya, tentu ia akan sulit melawannya. Mendadak dia tutul kakinya melompat mundur, habis itu dia bersiul panjang, tahu-tahu dia melayang Iewat di atas kepala Oey Yong.
Cepat Oey Yong angkat pentungnya menyodok ke atas, namun kena ditangkis oleh roda perak Hoat-ong. Ketika Oey Yong membalikkan tubuh, saat itu pula Ciu Pek-thong memberondongkan pukulan dan tendangan, lantas bergebrak dengan Hoat-ong. Mengingat dirinya seorang guru besar aliran silat tersendiri, melihat lawannya tidak bersenjata, Hoat-ong menyelipkan rodanya ke pinggang, lalu dengan tangan kosong dia melayani Pek-thong. Dalam pada itu Oey Yong sudah memburu lagi, pentungnya terus menyodok ke punggung Hoat-ong.
Sejak Hoat-ong berhasil melatih ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ hingga tingkat ke-11, selamanya ilmu ini belum pernah dia gunakan. Kini ketemu lawan tangguh, kebetulan baginya untuk mencobanya. Karena itu, ketika melihat jotosan Ciu Pek-thong tiba, segera dia pun balas menjotos dengan kepalan lawan kepalan. Pek-thong terperanjat. Ia tahu tenaga kepalan orang tentu hebat, maka tak berani keras lawan keras. Sedikit ia tekan ke bawah, cepat ia gunakan pukulan ‘Khong-beng-kun’ atau pukulan terang-terang kosong.
Meski tidak sekuat naga atau gajah, tenaga pukulan Hoat-ong itu beratnya melebihi ribuan kati, tubuh manusia tak mungkin sanggup menahannya. Tapi ketika saling beradu dengan tenaga pukulan Ciu Pek-thong, tiba-tiba saja terasa mengenai tempat kosong. Diam-diam Hoat-ong heran, menyusul cepat tangan kiri pun dihantamkan. Sementara itu Lo-wan-tong sudah dapat mengetahui tenaga Hoat-ong ternyata besar luar biasa. Tapi dasar pembawaannya ‘gila silat’, asal mengetahui siapa mempunyai semacam kepandaian istimewa, pasti ingin dijajalnya.
Tetapi selama hidupnya tenaga pukulan sebesar Hoat-ong ini belum pernah didengarnya, apa lagi melihat. Seketika ia menjadi bingung macam apakah ilmu silat orang ini? Segera dia keluarkan 72 jurus Khong-beng-kun yang ‘terang-terang kosong’ itu untuk melawan tenaga pukulan orang yang maha kuat.
Dengan begitu, tenaga raksasa Hoat-ong menjadi tidak berguna. Beberapa kali Hoat-ong melontarkan serangan, tidak mencapai sasarannya, keruan dia menjadi kesal tidak kepalang. Ilmu sakti yang sudah dilatihnya belasan tahun dan baru sekali keluar ternyata tidak berguna. Pada saat lain tiba-tiba didengarnya sambaran angin dari belakang, pentung bambu Oey Yong kembali menotok lagi ke ‘Ling-tay-hiat’ di punggungnya. Tanpa pikir dia menyampuk ke belakang.
“Krakk!”
Seketika pentung bambu Oey Yong remuk, bahkan sisa tenaganya menggoncangkan debu pasir hingga berhamburan. Oey Yong melompat terkejut. Dia kenal kelihayan Hoat-ong, tapi kepandaian orang sekarang ternyata jauh lebih hebat dari pada dulu, sekali gaplok bikin remuk pentung bambunya, ilmu pukulan apakah itu? Begitu melihat Oey Yong terdesak, cepat Thia Eng dan Liok Bu-siang mengerubut maju dari kanan-kiri, yang satu bersenjata seruling kemala dan yang lain berpedang.
“Awas!” segera Oey Yong memperingatkan mereka.
“Krakk! Krakk!”
Betul saja, menyusul terdengar suara dua kali, seruling dan pedang patah semua. Oleh karena berduka atas kematian Kwe Siang yang mengenaskan, Hoat-ong tidak ingin mencelakai nyawa manusia lagi, maka ia hanya membentak:
“Minggir!”
Dia tidak mendesak Thia Eng dan Bu-siang lebih jauh. Ilmu kepandaian Eng-koh sebetulnya belum setinggi Oey Yong, tapi ilmu ‘Ni-jiu-kang’ atau ilmu belut, sangat tepat untuk berkelit dan mengegos. Ketika dilihatnya Hoat-ong hendak angkat kaki, segera dia pun maju menyerang. Namun sekali Hoat-ong menangkis, terus memotong ke pinggang Eng-koh. Ketika mendadak terasa sesuatu tenaga maha besar menubruk pinggangnya, lekas-lekas Eng-koh mengegal-egolkan tubuhnya seperti belut, dan terhindarlah tenaga pukulan Hoat-ong.
Hoat-ong tidak tahu kepandaian Eng-koh sesungguhnya belum mencapai tingkatan kelas wahid, tapi beberapa kali menghantam selalu dapat dihindarkan dengan gaya yang sangat aneh. Dia sangat terkejut, ilmu sakti yang amat dia aguIkan untuk menjagoi kolong langit ternyata seorang wanita saja tak dapat dirobohkannya. Mau tak mau ia menjadi jeri, ia tidak berani terlibat lebih lama lagi, sekali tubuhnya melesat, cepat ia menyingkir ke kiri.
“Jangan Iari!” bentak Pek-thong sambil mengudak.
Selagi Hoat-ong hendak membalikkan tangan menyerang, tiba-tiba terdengar suara mencicit perlahan, suatu hawa hangat menyerang mukanya. Itulah ‘lt-yang-ci’ atau ilmu jari betara surya, ilmu kepandaian khas It-teng Taysu yang telah mencegat larinya. Sejak tadi Hoat-ong tidak memperhatikan paderi tua ini, siapa duga tenaga totokan jarinya ternyata sedemikian hebatnya.
Ketika itu ilmu ‘It-yang-ci’ It-teng Taysu telah mencapai puncak kesempurnaan, meski tenaga totokannya tampak lambat dan halus, tetapi sesungguhnya kuat luar biasa tak tertahankan. Dalam terkejutnya Hoat-ong cepat berkelit, habis itu barulah dia balas menyerang sekali. Karena melihat tenaga pukulan Hoat-ong keras luar biasa, It-teng Taysu juga tidak berani menyambutnya dari depan, dengan enteng ia melangkah mundur beberapa tindak. Yang satu adalah paderi berilmu dari selatan dan yang lain adalah orang kosen dari benua barat, setelah saling gebrak sekali, masing-masing tiada yang berani memandang rendah lawannya lagi.
Ciu Pek-thong ingin menjaga harga diri, maka ia tidak mau mengerubuti melainkan berdiri mengawasi saja di samping. Jarak antara It-teng dan Hoat-ong tadinya tidak ada beberapa kaki, tetapi sesudah serang menyerang, yang satu menotok dan yang lain memukuI, akhirnya jarak mereka semakin jauh hingga lebih dari dua tombak, masing-masing mengeluarkan tenaga sepenuhnya dan menyerang dari jauh. Kepala It-teng Taysu tampak mulai menguap, terang sekali dia sedang pusatkan seluruh Iwekang-nya.
Oey Yong jadi kuatir. Usia It-teng sudah tua hingga tak sanggup melawan Hoat-ong. Hatinya sedih oleh kematian puterinya, meski sebetulnya tiada niat untuk adu jiwa dengan musuh, tapi bila melihat serang menyerang kedua orang masih begitu dasyatnya, ia tidak berani sembarangan menerjang maju. Selagi ia tidak berdaya, tiba-tiba terdengar suara mencuitnya rajawali di udara. Pikirannya tergerak, segera ia bersuit sambil menunjuk Hoat-ong. Melihat itu, sekali bercuit sepasang rajawali itu langsung menubruk turun ke atas kepala Hoat-ong.
Jika Sin-tiau kawan Yo Ko itu yang datang, mungkin Hoat-ong akan jeri. Tetapi sepasang rajawali ini hanya badannya yang besar, namun burung biasa saja, mana dapat menakuti Hoat-ong? Cuma saat itu ia lagi pusatkan pikiran dan tenaga buat melawan It-teng Taysu, sedikit pun tidak berani ayal. Kini mendadak disergap kedua rajawali dari atas, terpaksa ia mengayun tangan kirinya ke atas, dengan tenaga pukulan kuat menghantam sepasang rajawali. Karena tak tahan, cepat rajawali itu terbang ke atas lagi. Dan karena godaan itu, keadaan It-teng Taysu di atas angin. Lekas-lekas Hoat-ong kerahkan tenaga baru kemudian bisa mengimbangi lagi.
Sepasang rajawali itu sudah lama dipiara Oey Yong dan sudah pintar. Ketika mendengar suitan Oey Yong yang mendesak terus, padahal musuh terlalu lihay, mereka tidak berani menubruk lagi seperti tadi, melainkan hanya menyambar kian kemari di atas kepala Hoat-ong. Walau pun tidak bisa melukainya, tapi perhatian Hoat-ong banyak terkacau. Sebenarnya tenaga pukulan Hoat-ong masih lebih unggul dari pada It-teng, tapi kalau soal ilmu kebatinan dia kalah jauh. Ditambah kini dia merasa gegetun oleh matinya Kwe Siang, semangatnya yang memang sudah tidak tenang kena dikacau lagi oleh kedua rajawali itu, keruan dia menjadi gopoh.
Segera hal ini diketahui It-teng. Sambil tersenyum It-teng lantas mendesak maju setengah langkah. Meski Oey Yong sendiri sangat berduka akan kematian puterinya, tapi kecerdikannya tak pernah berkurang. Ketika melihat It-teng melangkah maju, mendadak ia pun menggertak:
“Kwe Ceng, Yo Ko, kebetulan kedatangan kalian, lekas tangkap dia beramai-ramai!”
Padahal tak mungkin Oey Yong menyebut nama sang suami, seruannya ini hanya gertak sambal belaka untuk mengejutkan Hoat-ong, sebab bila dia bilang ‘Ceng-koko’ Hwesio itu akan berpikir, dan kalau sempat berpikir rasa kaget itu pun akan berkurang. Benar saja, ketika tiba-tiba Hoat-ong mendengar suara ‘Kwe Ceng dan Yo Ko’, dia terperanjat, pikirnya: “Jika kedua jago ini datang juga, maka melayanglah jiwaku!”
Pada saat itulah kembali It-teng mendesak maju setengah langkah lagi. Rupanya kedua rajawali di atas udara itu pun melihat ada kesempatan, mendadak rajawali yang betina bercuit keras terus menubruk cepat ke bawah untuk mencakar biji mata Hoat-ong.
“Binatang!” damperat Hoat-ong sengit, berbareng sebelah tangannya digablokkan.
Tak terduga sergapan rajawali betina itu hanya pura-pura belaka. Setelah dekat mukanya tiba-tiba membelok ke atas lagi, sebaliknya rajawali yang jantan malah menyerang dari samping. Ketika Hoat-ong mengetahui tapi cakar rajawali itu sudah menyentuh kepalanya yang gundul. Terkejut dan marah sekali Hoat-ong, sehelai tangannya menyampuk ke atas.
“Plokk!”
Bulu-bulu bertebaran, rajawali jantan berhasil mencengkeram kopiah emas Hoat-ong terus terbang pergi. Tapi sampukan Hoat-ong itu pun sangat keras, rajawali jantan sudah terbang sampai di tengah udara tapi akhirnya tidak tahan dan mendadak terjungkal terjerumus ke dalam jurang yang tak terkirakan dasarnya. Oey Yong, Thia Eng, Liok Bu-siang dan Eng-koh menjerit kaget, ada pun Ciu Pek-thong menjadi marah.
“Hwesio apek!” segera ia memaki, “Kini Lo-wan-tong tidak mau pakai aturan Kangouw lagi, mungkin harus dua lawan satu sekaligus.” Habis itu secara bertubi-tubi dia kirim hantaman ke punggung Kim-lun Hoat-ong.
Dalam pada itu si rajawali betina melihat yang jantan terjerumus ke dalam jurang, sekali bercuit panjang, tahu-tahu yang betina ini pun ikut terjun ke bawah hingga lama sekali tak nampak naik kembali.
Karena dikeroyok dari muka belakang, mau tak mau Kim-lun Hoat-ong menjadi jeri. Sekali pun tinggi ilmu silatnya, mana mungkin melawan keroyokan dua jago tertinggi ini? Maka ia tak berani terlibat lebih lama. Mendadak terdengar suara gemerantang. Roda emas dan perak menyambar sekaligus, yang depan menahan totokan ‘lt-yang-ci’ dan bagian belakang menolak serangan ‘Khong-beng-kun’, tubuhnya terus mencelat pergi dan cepat sekali sudah melintasi tanah bukit. Dengan membentak-bentak, segera Ciu Pek-thong mengudak.
Sesudah berhasil meloloskan diri, Hoat-ong terus berlari dengan cepat. Dia tahu bila kena ditahan lagi oleh Ciu Pek-thong, mungkin beberapa ratus jurus tidak akan bisa ketahuan unggul atau asor, tatkala itu It-teng Taysu tentu akan menyusul tiba dan jiwanya boleh jadi akan melayang di lembah sunyi ini. Tiba-tiba dilihatnya di depan membentang hutan yang lebat. Dia menjadi girang, cepat dia berlari ke sana. Tak terduga mendadak terdengar suara mendenging yang cepat, sebutir batu kecil tahu-tahu menyambar keluar dari dalam hutan.
Jarak hutan itu dengan Hoat-ong masih ada beratus tindak, tetapi entah tenaga sakti apa yang menyambitkan batu sekecil itu, dari suara mendengingnya teranglah keras luar biasa dan mengarah badan Hoat-ong. Lekas Hoat-ong angkat rodanya menyampuk. Dibarengi suara benturan, batu itu pecah berantai hingga muka Hoat-ong sendiri kecipratan beberapa butir krikil. Hoat-ong sungguh terkejut, pikirnya:
“Batu sekecil ini disambitkan dari tempat jauh, tetapi rodaku kena terbentur mundur, nyata tenaga orang ini tidak di bawah Lo-wan-tong dan Hwesio tua tadi, sungguh tidak nyana di jagat ini masih terdapat jago sebanyak ini.”
Sedang dia tertegun, terlihatlah dari dalam hutan muncul seorang tua berjubah hijau. Ciu Pek-thong menjadi girang sekali, segera ia berseru:
“Oey-losia! Hwesio apek itu telah membinasakan cucu perempuanmu, lekas kau ikut menangkapnya.”
Orang yang muncul dari hutan itu memang Tho-hoa-tocu Oey Yok-su adanya. Sejak ditinggalkan Yo Ko, ia meneruskan pengembaraannya lagi ke utara. Suatu hari saat singgah minum di suatu pedusunan, tiba-tiba terlihat sepasang rajawali terbang lewat. Dia tahu kalau bukan Oey Yong, tentulah Kwe Hu atau Kwe Siang yang berada di sekitar sini, maka diam-diam dia menguntit hingga sampai di Coat-ceng-kok. Karena tak ingin dilihat oleh puterinya, dia hanya menguntit dari jauh saja hingga akhirnya dia melihat It-teng Taysu dan Ciu Pek-thong berturut-turut bergebrak melawan Kim-lun Hoat-ong. Dia merasa paderi asing ini benar-benar seorang lawan tangguh yang jarang diketemukan, maka dia menjadi tertarik dan ikut turun tangan.
Maka berkatalah Hoat-ong sembari gosok-gosokkan kedua rodanya hingga mengeluarkan suara nyaring:
“Apakah kau ini Tang-sia Oey Yok-su?”
“Betul,” sahut Yok-su mengangguk. “Ada petunjuk apakah, Taysu?”
“Waktu aku berada di tempatku, kudengar di daerah Tionggoan terdapat Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong. lima orang lihay. Hari ini beruntung dapat bertemu dan ternyata memang bukan omong kosong belaka,” demikian sahut Hoat-ong, “Dan di manakah yang empat orang?”
“Tiong-sin-thong (Ong Tiong-yang), Pak-kay dan Se-tok sudah lama meninggal,” kata Yok-su, “Paderi agung inilah Lam-te yang kau tanyakan, sedangkan yang ini adalah Ciu-heng, Sute-nya Tiong-sin-thong.”
“Jika Suheng-ku masih hidup, hm, tak akan kau mampu menahan 10 jurus serangannya,” kata Pek-thong.
Mereka bertiga mengepung Hoat-ong. Dalam keadaan begitu Hoat-ong menjadi serba susah. Dia pandang It-teng Taysu, di lain saat melihat Ciu Pek-thong dan sebentar dia memandang Oey Yok-su. Setelah itu mendadak dia menghela napas panjang, lima rodanya dilempar ke tanah, lalu katanya:
“Jika satu lawan satu, siapa pun tiada yang kutakuti.”
“Betul,” kata Pek-thong. “Tetapi hari ini kita bukan bertanding untuk perebutan gelar juara segala, siapa ingin main satu lawan satu denganmu? Hwesio apek, kau sudah terlampau banyak melakukan kejahatan, dan sekarang kau lekas bunuh diri saja.”
“Lima tokoh besar Tionggoan, kini dua di antaranya sudah kulihat, meski pun aku mati di tangan kalian bertiga tidak kecewa,” sahut Hoat-ong. “Cuma sayangnya ilmu Liong-jio-pan-yok-kang terputus sampai di tanganku, selanjutnya di jagat ini tiada ahli warisnya lagi.” Habis berkata, sebelah tangannya diangkat hendak menabok batok kepalanya sendiri.
Ketika mendengar kata-kata ‘Liong-jio-pan-yok-kang’, tiba-tiba Ciu Pek-thong jadi tertarik. Secepat kilat dia melompat maju menangkis tangan Hoat-ong itu dan berkata:
“Nanti dulu!”
“Aku lebih suka mati dari pada dihina, lantas apa lagi yang kau inginkan?” kata Hoat-ong mendongkol.
“Kau bilang sayang Liong-jio-pan-yok-kang tiada ahli warisnya, kenapa tidak kau turunkan saja padaku, kemudian kau boleh bunuh diri?” sahut Pek-thong tertawa.
Tapi sebelum Hoat-ong buka suara, mendadak terdengar suara rajawali betina yang sudah membawa rajawali jantan dari dalam jurang. Kedua rajawali itu sama basah kuyup, agaknya di dalam jurang itu adalah sebuah kolam air. Rajawati jantan bulunya serawutan tak keruan, napasnya sudah kempas kempis, tetapi cakarnya masih mencengkeram kopiah emas Hoat-ong dengan kencang. Sesudah meletakkan yang jantan, rajawali betina mendadak terjun lagi ke bawah jurang. Ketika naik lagi, di atas punggungnya menunggang satu orang. Ternyata Kwe Siang yang disangka sudah mati itu.
Keruan Oey Yong terkejut bercampur girang, cepat dia berseru: “Siang-ji...! Siang-ji...!” Ia memburu maju untuk menurunkan puterinya itu dari punggung rajawali betina.
Melihat Kwe Siang ternyata tak kurang suatu apa pun, Hoat-oag juga tercengang. Waktu itu Ciu Pek-thong masih menahan tangan Hoat-ong. Sekali si Tua Nakal ini kedipi It-teng dan Oey Yok-su, segera Tang-sia dan Lam-te turun tangan berbareng, dengan cepatnya ketiak kanan dan kiri Hoat-ong sekalian kena ditotok. Menyusul Ciu Pek-thong menambahi sekali gebuk pada ‘Ci-yang-hiat’ di punggungnya sambil tertawa:
“Nah, tidurlah sebentar!”
Maka lemaslah kedua kaki Hoat-ong, dia lantas mendeprok terduduk. It-teng bertiga saling pandang dengan tercengang. Sungguh Hwesio ini lihay luar biasa, beruntun tubuhnya kena ditotok dan digebuk tapi masih tidak roboh menggeletak. Lalu mereka pun mendekati Kwe Siang untuk menanyakan keadaannya.
“Ibu,” demikian anak dara itu menutur,” dia berada di... di bawah... lekas menolongnya ... lekas menolongnya...” saking cemas dan kuatir hanya beberapa kata itu saja yang dapat diucapkannya, lalu jatuh pingsan.
“Tidak apa,” ujar It-teng sesudah memegang nadi Kwe Siang.
Segera dia memijit beberapa kali pinggang anak dara itu, berselang tak lama, Kwe Siang pun siuman.
“Di manakah Toako Yo Ko? Apakah dia sudah naik?” tanyanya segera setelah anak dara itu menenangkan diri.
“Apakah Yo Ko juga berada di bawah sana?” tanya Oey Yong cepat.
Kwe Siang mengangguk, sahutnya perlahan: “Ya, tentu...” Di dalam hati dia pun berkata: “Jika dia tidak di bawah, untuk apa aku ikut terjun ke sana?”
Melihat badan puterinya basah kuyup, Oey Yong bertanya lagi: “Apakah di bawah adalah sebuah kolam air?”
Kwe Siang mengangguk saja. Ia pejamkan matanya, tak sanggup lagi buka suara, hanya menunjuk ke bawah jurang.
“Kalau Yo Ko memang berada di bawah sana, terpaksa suruh Tiau-ji mengambilnya naik,” ujar Oey Yong. Lalu dia bersuit buat memanggil rajawali betina tadi.
Namun aneh, sudah berapa kali dia bersuit rajawali betina itu masih tidak menggubrisnya. Oey Yong menjadi heran, sudah berpuluh tahun kedua rajawali ini sangat penurut, kenapa sekarang perintahnya dianggap angin belaka? Maka kembali dia ulangi suitannya. Dia lihat rajawali betina itu pentang sayap dan terbang lagi. Setelah mengitar beberapa kali dan bersuara memilukan, burung itu menjungkal ke bawah secepat batu meteor.
“Celaka!” keluh Oey Yong dalam hati, segera dia pun berteriak: “Tiau-ji!”
Akan tetapi sudah terlambat. Rajawali itu tertumbuk batu cadas hingga kepalanya pecah dan sayapnya patah terus mati.
Semua orang terkejut. Waktu memeriksa binatang itu, kiranya rajawali jantan telah dingin beku dan sudah lama mati. Semua orang menjadi terharu oleh jiwa setia sehidup semati sepasang burung itu. Oey Yong paling berduka hingga hampir mencucurkan air mata.
“Suhu, Suci, jika Yo-toako berada di bawah jurang, cara bagaimana kita harus menolong dia naik?” kata Thia Eng kemudian.
“Siang-ji,” kata Oey Yong sambil mengusap kedua matanya yang basah, “Sesungguhnya bagaimanakah keadaan di dalam jurang sana?”
Sementara itu Kwe Siang sudah pulih kembali semangatnya, maka tuturnya: “Begitu aku jatuh ke bawah, dengan cepat aku tenggelam ke dasar kolam, dalam keadaan gugup aku pun kemasukan beberapa cegukan air. Kemudian entah... entah mengapa aku terapung ke permukaan air dan Yo-toako telah menjambak rambutku terus diangkat ke atas...”
Oey Yong rada lega mendengar itu, katanya. “Apakah di tepi kolom itu ada goanya yang dapat dibuat berdiri?”
“Ya, di tepi kolam itu banyak pepohonan,” sahut Kwe Siang.
“Oh,” kata Oey Yong. “Dan sebab apa kau terjun ke bawah?”
“Waktu aku diangkat ke atas, Yo-toako juga menanya aku seperti itu,” tutur Kwe Siang. “Aku lantas keluarkan jarum emas dan serahkan kepadanya, kataku: ‘Aku minta supaya engkau menjaga dirimu dan janganlah mencari pikiran pendek’.
Tanpa berkedip dia memandangi aku, tak lama kemudian rajawali jantan jatuh ke bawah, menyusul yang betina lantas datang membawa kawannya ke atas, kemudian datang lagi membawa aku. Kuminta Yo-toako juga ikut naik, tetapi dia tidak membuka suara dan aku dinaikkannya ke atas punggung rajawali. Ibu, suruhlah rajawali itu turun kembali ke bawah untuk menjemputnya.”
Sementara Oey Yong tak mau memberi tahu tentang kematian sepasang rajawali itu. Dia tanggalkan baju luarnya sendiri untuk menutupi badan sang puteri yang basah.
“Tampaknya sementara Ko-ji tidak berbahaya, lekas kita pintal seutas tambang panjang untuk menjemputnya naik!” kata Oey Yong kemudian kepada kawan-kawannya.
Beramai-ramai semua orang lantas mengelotoki kulit pohon buat dibikin tali. Kecuali Hoat-ong yang jalan darahnya tertotok, Kwe Siang yang belum pulih dari letihnya, selebihnya ikut kerja keras. Meski mereka adalah jago silat terkemuka, namun untuk memilin tambang tidaklah lebih pandai dari pada tukang yang biasa, maka sesudah sibuk sampai hari gelap baru ratusan tombak tambang itu dapat mereka pilin, tampaknya masih jauh dari cukup.
Thia Eng mengikat sebuah batu pada ujung tambang itu dan diturunkan ke bawah jurang, ujung tambang yang lain diikat pada dahan sebuah pohon. Tali itu terus dipilin dan makin panjang terus menurun ke bawah. Satu malam suntuk mereka bekerja terus, sampai besok paginya, Kwe Siang juga turut membantu sehingga tambang itu pun terus bertambah panjang. Tapi Yo Ko yang katanya berada di bawah jurang itu sama sekali tak mengirimkan sesuatu tanda atau berita.
Oey Yok-su mulai kuatir. Dia keluarkan serulingnya terus ditiup dengan tenaga dalamnya yang hebat. Suara seruling demikian nyaring merdu tersiar ke dalam jurang, kalau Yo Ko mendengar suara seruling itu pasti akan bersiul panjang untuk menjawabnya. Siapa tahu keadaan masih tetap sunyi saja. Sesudah berpikir sejenak, Oey Yong memotong sepotong kayu, dengan ujung pedang dia ukir beberapa huruf di atas kayu itu, bunyinya singkat:
‘Apa selamat? Harap jawab!’
Lalu batang kayu itu dilemparkan ke dalam jurang. Namun sudah lama sekali, tetap tiada sesuatu suara di dalam jurang sana hingga semua orang menjadi kuatir. Meski jurang itu sangat dalam, tapi panjang tambang agaknya sudah mencapai dasarnya.
“Biarlah aku turun melihatnya,” kata Thia Eng.
“Aku saja yang turun!” seru Ciu Pek-thong tiba-tiba, dan tanpa menunggu jawaban orang lain, cepat saja dia merosot turun dengan tambang itu, hanya sekejap saja orangnya telah menghilang menembus kabut yang mengapung di permukaan jurang.
Agak lama kemudian, secepat kera Ciu Pek-thong merembet naik kembali, rambut serta jenggotnya berlepotan lumut, berulang-ulang si tua ini menggeleng kepala dan berkata:
“Sedikit pun tiada bayangannya, mana ada Yo Ko segala?”
Karena itu semua orang memandangi Kwe Siang dengan rasa sangsi.
“Tadi Toakoko berada di bawah, mengapa bilang tidak ada?” kata Kwe Siang pasti. “Dia duduk di atas pohon besar di tepi kolam.”
Thia Eng tidak mau banyak bicara, segera dia merosot turun dengan tambang, menyusul Liok Bu-siang ikut turun dan berturut-turut Eng-koh, selanjutnya Oey Yok-su dan It-teng Taysu juga ikut turun ke bawah. Bagi mereka pertama-tama kuatirkan keselamatan Yo Ko, kedua tertarik dan ingin mengetahui macam apa pemandangan di bawah jurang itu. Oey Yong yang turun paling belakang lalu memberi pesan kepada sang puteri:
“Siang-ji, kesehatanmu belum puIih, jangan kau ikut turun. Jika Yo-toako berada di bawah, dengan kawan-kawan begini banyak kita pasti dapat menolongnya ke atas.”
Meski pun perasaannya sangat kuatir tetapi Kwe Siang mengiyakan dengan mengembeng air mata. Oey Yong pandang pula Hoat-ong yang deprok di tanah itu. Ia kuatir kalau-kalau Iwekang terlalu lihay hingga dapat melepaskan totokan yang sebenarnya harus lewat 12 jam baru bisa punah sendirinya. Maka dia mendekatinya dan menotok pula di punggung, dada dan kedua lengannya, di tempat-tempat yang melumpuhkan, setelah itu barulah dia menyusul melorot ke bawah jurang. Daya merosotnya makin lama semakin cepat.
Jurang itu dalam sekali, hingga lama barulah sampai di bawah. Ia lihat di bawah jurang itu memang betul ada sebuah kolam yang berair biru kehijau-hijauan. Oey Yoksu dan lainnya berdiri di tepi kolam sedang memeriksa dengan teliti, tapi jejak Yo Ko tidak terlihat. Di kiri kolam sana, di atas sebatang pohon terdapat lebih dari 30 buah sarang tawon, terdengar suara mendengungnya tawon yang mengitari sarangnya, nyata itulah tawon putih. Tergerak pikiran Oey Yong, katanya cepat:
“Ciu-toako, lekas kau tangkap seekor tawon itu, coba kita lihat apakah di sayapnya juga terdapat tulisan?”
Ciu Pek-thong menurut. Dia tangkap seekor tawon itu, tapi tiada terdapat sesuatu tulisan. Sesudah Oey Yong memeriksa sekitar jurang itu, ternyata empat penjuru hanya dinding tebing yang beratus tombak tingginya, terang tiada jalan tembusan lain, pohon besar di tepi kolam berbentuk pipa-pipa dan tak diketahui apa namanya. Waktu mendongak, kabut rapat menutupi permukaan jurang hingga tak tertembus sinar matahari. Sedang ia termenung-menung, mendadak terdengar Ciu Pek-thong berseru:
“Hai, seekor ini ada tulisannya!”
Lekas Oey Yong mendekatinya dan benarlah pada kedua sayap tawon itu tertisik tulisan, bunyinya tetap
‘Aku berada di dasar Coat-ceng-kok’.
Di antara orang yang hadir sekarang, Oey Yong sendiri yang paling pandai menyelam. Tanpa disuruh lagi ia ringkaskan bajunya, ia telan sebutir pil ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ untuk menjaga kemungkinan ular air berbisa dan lain-lain, habis itu ia terjun ke dalam kolam. Cepat Oey Yong menyelam ke bawah, makin dalam air kolam itu semakin dingin hingga serasa menusuk tulang. Diam-diam Oey Yong terkejut melihat air hijau berlumut se-akan membeku itu. Tetapi dia belum putus asa, setelah menongol ke permukaan air menghirup udara, dia menyelam lebih dalam lagi.
Ketika sampai tempat yang sangat dalam, dari dasar kolam itu dengan sendirinya timbul semacam daya penolak yang kuat. Sekali pun Oey Yong sudah berusaha sebisanya tak sanggup menyelam sampai dasar kolam. Apa pula dinginnya tak tertahan, sekitarnya juga tiada tanda-tanda yang aneh, terpaksa ia timbul kembali ke atas. Melihat Oey Yong kedinginan hingga bibirnya kebiruan, rambutnya mengkilat putih, ternyata terbeku selapis es tipis, sungguh semua orang terkejut sekali.
Lekas-lekas Thia Eng dan Liok Bu-siang mengumpulkan kayu kering membuat api unggun untuk menghangatkan badan Oey Yong.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Besok paginya, seperti biasa Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Boh-lo datang memberi selamat pada orang tua, tapi sampai lama Kwe Siang tak kelihatan muncul. Oey Yong menjadi kuatir. Segera disuruhnya pelayan melihat ke kamar puteri kedua itu apakah lantaran sakit. Tetapi tidak lama pelayan itu dan dayang pribadi Kwe Siang sudah kembali melapor, katanya:
“Semalam Jisiocia tidak kembali ke kamar.”
Keruan Oey Yong terkejut. “Kenapa semalam tidak melapor?” tanyanya segera.
“Semalam Hujin pulang larut malam, hamba tak berani mengganggu. pula kuatir sebentar Jisiocia akan kembali ke kamar, tidak tahunya menunggu sampai sekarang masih belum kelihatan,” tutur pelayan pribadi Kwe Siang itu.
Sesudah merenung sebentar segera Oey Yong memeriksa kamar anak dara itu. Dia lihat baju se-hari-hari, senjata dan uang semuanya tidak ada yang dibawa anak dara itu. Tengah dia heran, tiba-tiba dilihatnya di bawah bantal puterinya itu menongol ujung secarik kertas. Segera Oey Yong menduga jelek, diam-diam dia mengeluh, cepat kertas itu disambarnya dan dibaca, ternyata surat itu tertulis:
Ayah dan ibu tercinta,
Anak pergi mencegah Yo-toako agar jangan sekali-sekali berpikiran pendek. Bila sudah dapat mencegahnya, segera anak akan pulang.
Hormat puterimu, Siang
Sesaat Oey Yong mematung tak bersuara, dalam hati ia pikir: “Anak dara ini benar-benar kekanak-kanakan. Dia tidak tahu macam apakah orangnya Yo Ko itu, kecuali Siao-liong-li, siapa lagi yang bisa bikin dia menurut? Dia bukanlah Yo Ko kalau begitu gampang mau mendengar kata-kata orang Iain.”
Niat Oey Yong hendak mencari puteri kecil itu, namun mengingat situasi sangat genting, setiap saat pasukan MongoI bisa dikerahkan menyerang Siang-yang, mana boleh karena urusan anak-anak harus menjelajah Kangouw lagi? Maka sesudah berunding dengan Kwe Ceng, segera dia menulis empat pucuk surat dan menyuruh empat anak murid Kay-pang yang dapat dipercaya pergi mencari Kwe Siang agar anak dara itu bisa lekas pulang.
Kiranya hari itu, sesudah Kwe Siang mendengar cerita sang ibu, dia lantas tertidur. Akan tetapi mimpi buruk terbayang terus menerus, sebentar dilihatnya Yo Ko menebas buntung lengannya yang tinggal satu itu, di lain saat terbayang Yo Ko terjun ke jurang yang beribu tombak dalamnya hingga hancur lebur. Karena impian buruk itu, Kwe Siang terjaga bangun dengan keringat dingin. Dia terduduk di tepi ranjang dan termenung-menung
“Toakoko telah memberi tiga jarum emas padaku dan sanggup menerima tiga permohonanku yang pasti akan dilakukan untukku. Kini jarum emas tinggal satu, dapat kugunakan untuk mohon agar dia jangan cari jalan pendek (bunuh diri). Dia adalah seorang pendekar, seorang jantan, apa yang dia katakan tentu di pegang janjinya, biar sekarang juga aku pergi mencarinya.”
Lantas ia tinggalkan sepucuk surat singkat pada orang tuanya, lalu pergilah ia keluar kota. Tapi tatkala itu Yo Ko bersama Oey Yok-su entah sampai di mana, sesungguhnya sukar untuk dicari. Sesudah 30-40 li Kwe Siang menempuh perjalanan tanpa tujuan, dia mulai merasa lapar, dia pikir harus tangsal perut dulu pada sebuah rumah makan. Tapi di luar kota Siang-yang penduduknya yang takut datangnya pasukan musuh sudah lama mengungsi, jangankan rumah makan, bahkan rumah penduduk satu pun tiada isinya.
Selamanya Kwe Siang belum pernah keluar rumah sendirian, sama sekali tidak tersangka olehnya orang melawat jauh sesungguhnya sulit seorang diri. Ia duduk termenung di atas batu di tepi jalan sambil bertopang dagu. Ia duduk sebentar. Ia pikir tiada rumah makan, cari sedikit buah untuk sekedar tangsal perut juga lumayan. Namun ketika memandang sekelilingnya, beberapa li di sekelilingnya hanya tanah tandus tanpa pohon, apa lagi buah-buahan.
Selagi ia rada bingung, tiba-tiba terdengar derap kuda, seorang penunggang berlari cepat dari timur menuju barat. Ketika sudah dekat terlihatlah penunggangnya adalah seorang Hwesio tua yang berperawakan tinggi kekar, memakai jubah kuning, kasa bersemampir di pundaknya, di kepalanya memakai sebuah kopiah bundar yang bercahaya emas mengkilat. Kuda itu berlari dengan cepat sekali, sekejap saja sudah lewat. Tetapi tiba-tiba paderi itu memutar kuda kembali dan mendekati Kwe Siang dengan rasa heran.
“Nona cilik, siapakah kau?” demikian tanyanya. “Kenapa seorang diri kau berada di sini?”
Melihat sorot mata orang tajam bagaikan kilat, hati Kwe Siang terkesiap. Segera dia teringat pada It-teng Taysu yang pernah dilihatnya di tambak Hek-liong-tam, diam-diam ia pikir: “It-teng Taysu itu sangat welas asih, tentu paderi beralis putih ini pun orang baik.” Maka jawabnya:
“Aku bernama Kwe Siang. Aku baru datang dari Siang-yang dan sedang mencari seseorang.”
“Kau hendak mencari siapa?” tanya paderi tua itu.
Kwe Siang tersenyum sambil miringkan kepala dan katanya: “Hwesio tua suka campur urusan orang lain, aku tak mau beri-tahukan padamu.”
“Cobalah kau terangkan siapakah orang yang hendak kau cari, boleh jadi di tengah jalan tadi aku melihatnya, bukankah bisa kuberi petunjuk padamu,” ujar paderi tua.
Betul juga, pikir Kwe Siang. Maka jawabnya: “Orang yang kucari itu amat mudah dikenali. Ia adalah seorang laki-laki muda tanpa lengan kanan. ia mungkin berada bersama dengan seekor rajawali raksasa, boleh jadi berada sendirian pula.” Kiranya paderi tua ini bukan lain Kim-lun Hoat-ong. Mendengar orang yang dimaksudkan Kwe Siang itu ternyata Yo Ko adanya, dia terkejut, tapi pada lahirnya dia tenang-tenang saja dan pura-pura girang.
“He, orang yang hendak kau cari itu she Yo bernama Ko, bukan?” katanya cepat.
Kwe Siang menjadi girang: “Ya, kau kenal dia?”
“Tentu saja aku kenal, kami adalah sobat lama,” demikian kata Kim-lun Hoat-ong dengan tertawa: “Sewaktu kami berkenalan, boleh jadi kau belum lahir.”
Muka Kwe Siang yang cantik sedikit merah, tetapi tanyanya pula: “Toa-hwesio, siapakah nama gelaranmu?”
“Aku bernama Cumulangmah,” sahut Kim-lun Hoat-ong.
“Apa cumi? Mamah? Ah, begitu panjang, sulit sekali diucapkan,” kata Kwe Siang tertawa.
“Cu-mu-Iang-mah,” Hoat-ong menegas sekata demi sekata,
“Oh, Cumulangmah, apakah kau tahu di mana Toakoko-ku berada?” tanya si anak dara lagi.
Kiranya Kim-lun Hoat-ong sengaja bilang namanya Cumulangmah, nama puncak tertinggi di pegunungan Himalaya, yaitu terkenal juga dengan nama Mount Everest. Dengan nama samaran ini Hoat-ong se-akan anggap ilmu silatnya di seluruh jagat tiada bandingannya. Maka jawabnya:
“Kau punya Toakoko? Siapa dia?”
“Dialah Yo Ko,” sahut Kwe Siang.
“Ha, kau panggil Yo Ko sebagai Toakoko, katanya kau she Kwe?” tanya Hoat-ong.
Kwe Siang rada jengah, namun jawabnya: “Ya, kami adalah famili turun temurun, waktu kecil dia pun tinggal di rumahku.”
Tergerak hati Hoat-ong, maka segera ia bertanya. “Aku mempunyai seorang kenalan baik, ia berilmu silat sangat tinggi, namanya terkenal di seluruh jagat, juga she Kwe, namanya Ceng. Entah nona kenal padanya tidak?”
Terkejut Kwe Siang, di dalam hati dia membatin: “Aku telah minggat dari rumah, kalau dia adalah sobat ayah, mungkin sekali aku akan diseret pulang, lebih baik tidak aku katakan saja.”
Maka jawabnya kemudian: “Apakah kau maksudkan Kwe Ceng, Kwe-tayhiap? Dia adalah angkatan tua dari keluarga Kwe kami. Apakah Toa-hwesio hendak berkunjung padanya?”
Kim-lun Hoat-ong adalah seorang yang sangat pintar dan cerdik, lagi pula sudah kenyang asam garam, sikap Kwe Siang yang aneh ini segera dapat dilihatnya. Maka katanya pula dengan menghela napas:
“Aku dan Kwe-tayhiap memang sobat kental dan sudah lebih 20 tahun tak berjumpa. Tempo hari di daerah utara aku mendengar berita buruk, katanya Kwe-tayhiap telah meninggal, aku menjadi sedih, maka aku cepat datang kemari. Aihh, seorang pahlawan besar tidak diberkahi umur panjang, sungguh Thian tidak adil.” Berkata sampai di sini air matanya bercucuran membasahi jubahnya.
Iwekang Kim-lun Hoat-ong sudah terlatih sedemikian tinggi sehingga seluruh otot daging tubuhnya dan pernapasan dapat diatur sesuka hati, maka untuk menghentikan denyut jantung sementara saja tidak sukar, apa lagi hanya mencucurkan air mata bikinan. MeIihat orang menangis sungguhan, biar pun Kwe Siang tahu jelas ayahnya tidak pernah mati, namun soalnya mengenai ayah dan anak, mau tak mau hatinya ikut pilu juga, maka cepat katanya:
“Toa-hwesio, kau tak perlu berduka, Kwe tayhiap tidak pernah meninggal.”
“Ahh, jangan ngaco, dia benar-benar sudah meninggal. Anak perempuan mana tahu akan urusan orang tua?” sahut Hoat-ong sambil menggeleng kepala.
“Aku baru saja keluar dari Siang-yang, masa aku tidak tahu, malah baru kemarin aku melihat muka Kwe-tayhiap,” kata Kwe Siang.
Sekarang Hoat-ong tidak ragu-ragu lagi. Saking girangnya ia menengadah dan bergeIak-tawa.
“Ah, kiranya kau adalah puteri Kwe tayhiap,” katanya kemudian. Namun mendadak ia geleng-geleng kepala Iagi: “Salah, salah! Puteri Kwe-tayhiap itu kukenal, namanya Kwe Hu, umurnya sekarang sedikitnya sudah lebih 30 tahun.”
Tak tahan akan pancingan kata-kata orang, segera Kwe Siang menegaskan “Dialah enci-ku, dia bernama Kwe Hu dan aku bernama Kwe Siang.”
Girang luar biasa hati Hoat-ong, ia membatin: “Hari ini benar-benar Thian memberkahiku, rejeki ini telah menubruk sendiri padaku.”
Segera ia pun berkata: “Jika begitu, jadi Kwe-tayhiap memang benar tidak meninggal.”
Melihat orang benar-benar girang, Kwe Siang menyangka paderi ini berhati bajik dan senang karena mendengar ayahnya masih segar-bugar. Dia menegaskan lebih jauh:
“Aku bilang tidak meninggal tentu tidak meninggal. Ia adalah ayahku, masa aku mendustai kau?”
“Baik, baik, baik! Aku percaya, nona Kwe, malahan aku pun tak perlu pergi ke Siang-yang lagi. Sudilah kau sampaikan kepada ayahmu bahwa kawan lama Cumulangmah mengirim salam untuknya,” kata Hoat-ong.
Dia tahu pasti Kwe Siang akan tanya tentang urusan Yo Ko, maka dia sengaja memberi hormat, lalu menarik kudanya terus hendak pergi. Benar saja, segera terdengar Kwe Siang berteriak:
“Hai, hai! Toa-hwesio, kenapa kau tak tahu aturan?”
“Tidak tahu aturan?” Hoat-ong menegas pula tak mengerti.
“Bukankah aku sudah beri-tahukan keadaan ayahku, tetapi kau belum juga menceritakan keadaan Yo Ko. Sebenarnya di manakah dia?” tanya Kwe Siang.
“Ahh, benar. Aku menjadi lupa!” ujar Hoat-ong. “Kemarin dulu baru saja aku ber-omong dengan dia di lembah pegunungan sebelah utara Sin-yang. Dia sedang berlatih pedang di sana, saat ini mungkin masih belum pergi, boleh kau mencarinya ke sana.”
Kwe Siang mengerutkan kening oleh penjelasan itu. “Lembah gunung begini banyak, bagaimana aku bisa menemukannya? Terangkanlah lebih jelas,” pintanya.
Hoat-ong pura-pura berpikir, lalu katanya: “Baiklah, sebab aku juga akan ke utara, biarlah kubawa kau ke sana.”
Keruan Kwe Siang girang. “Ah, sungguh terima kasih,” katanya.
Lalu Hoat-ong menuntun kudanya ke hadapan anak dara itu dan katanya: “Silakan nona cilik menunggang, paderi tua berjalan kaki.”
“Ah, mana boleh jadi,” sahut Kwe Siang.
“Tidak apa-apa,” kata Hoat-ong tertawa. “Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat dari pada kedua kaki paderi tua.”
Selagi Kwe Siang hendak mencemplak ke atas kuda, tiba-tiba ia berseru: “Ai, sialan! Toa-hwesio, aku merasa lapar, kau memhawa makanan tidak?”
Dari buntalannya Hoat-ong mengeluarkan sebungkus rangsum kering. Sungguh pun Kwe Siang tidak biasa dengan makanan begitu, apa lagi panganan kaum paderi, tetapi karena sudah sangat lapar, terpaksa dimakannya sebagian sekedar menangsal perut, lalu dia mengeprak kuda berangkat diikuti Hoat-ong yang berjalan di sampingnya. Tiba-tiba anak dara itu ingat pada kata-kata orang tadi bahwa ‘Empat kaki kuda ini belum tentu lebih cepat dari pada kedua kaki paderi tua’. Maka tiba-tiba saja dia pecut kudanya sambil berseru: “Toa-hwesio, kutunggu kau di depan sana.” Habis itu, secepat terbang dia larikan kudanya.
Kuda itu amat bagus dan tangkas, sekali berlari Kwe Siang merasa tetumbuhan di pinggir jalan dalam sekejap sudah jauh tertinggal di belakang, sebentar saja belasan li sudah ditempuhnya. Tidak lama kemudian ia menoleh dan berkata dengan tertawa:
“Toa-hwesio, dapatkah kau menyusul aku?”
Namun dia menjadi heran dan terkejut, ternyata bayangan Kim-lun Hoat-ong tak kelihatan, sebaliknya mendadak ia lantas mendengar suara orang berseru di dalam hutan di depan sana:
“Nona Kwe, kudaku itu kurang cepat, kau harus memecutnya lebih lekas.”
Kwe Siang menjadi tambah heran. “Kenapa dia malah sudah berada di depan?”
Segera dia keprak kuda pula, maka terlihatlah Kim-lun Hoat-ong sedang berjalan dengan ‘Ienggang-kangkung’ seenaknya di depan. Ia pecut kudanya supaya berlari lebih kencang, tetapi jaraknya selalu belasan tombak di belakang Hoat-ong, Di tanah datar utara Siang-yang itu debu selalu bertebaran oleh larinya kuda, tapi Hoat-ong yang berjalan di depan itu se-akan kakinya tak menempel tanah, debu sedikit pun tidak mengepul. Diam-diam Kwe Siang sangat kagum, pikirnya: “Jika dia tidak memiliki ilmu silat setinggi ini memang tidak sesuai menjadi sobat kental ayah.” Dan dari rasa kagum itu dia menjadi hormat, maka serunya segera: “Hai Toa-hwesio, kau adalah orang tua, lebih baik kau yang menunggang kuda saja.”
“Buat apa kita mesti banyak buang tempo di tengah jalan? Tidakkah lebih cepat bertemu dengan Toakoko-mu akan lebih baik?” sahut Hoat-ong menoleh sambil tertawa.
Tatkala itu kuda tunggangan Kwe Siang sudah mulai payah, larinya tidak secepat mula-mula lagi sehingga jaraknya dengan Hoat-ong semakin jauh. Pada saat itulah tiba-tiba dari arah utara ada suara derap kuda pula, dua penunggang kuda secepat terbang mendatangi.
“Marilah kita tahan kuda mereka ini, dengan menukar kuda tentu kau bisa berlari lebih cepat,” demikian kata Hoat-ong.
Tak lama kemudian kedua penunggang kuda itu sudah datang mendekat. “Mari kalian turun dulu!” bentak Hoat-ong mendadak sambil dua tangannya terpentang menghadang di tengah jalan.
Kedua kuda itu terkejut hingga meringkik sambil berdiri menegak. Tetapi penunggangnya ternyata amat mahir, tubuhnya masih tetap menempel di atas pelana tak sampai terjatuh.
“Siapa kau?! Apa cari mampus?!” bentak seorang di antaranya dengan marah. Berbareng itu pecutnya diayun menyabet.
“Hai, Toa-thau-kui, Tiang-si-kui, semua kawan sendiri, jangan berkelahi!” seru Kwe Siang cepat.
Ternyata kedua orang itu memang benar adalah si setan berkepala besar bersama setan berjenggot panjang dari Se-san It-khut-kui. Tetapi saat itu tangan kiri Hoat-ong sudah meraih pecut Toa-thau-kui yang menyabet tadi terus ditarik kuat-kuat. Tak terduga, meski Toa-thau-kui orangnya ceboI tetapi bertenaga raksasa, lagi pula pecut itu adalah bikinan kulit sapi yang sangat ulet, tenaga tarikan Hoat-ong yang beratus kati itu ternyata tidak membikin pecut itu menjadi putus, juga tidak terlepas dari tangan Toa-thau-kui.
“Bagus!” seru Hoat-ong. Diam-diam ia menambahi tenaga, dan karena saling betot itulah, segera terdengar suara yang keras.
“Pletak!”
Yang kalah adalah kuda tunggangan Toa-thau-kui yang patah tulang punggungnya terus terkulai ke tanah. Toa-thau-kui menjadi murka, sekali melompat turun, segera hendak menubruk maju dan melabrak Hoat-ong.
“Nanti dulu,” teriak Tiang-si-kui tiba-tiba, lalu tanyanya pada Kwe Siang: “Jisiocia, kenapa kau berada bersama dengan Kim-lun Hoat-ong?”
Dahulu Kim-lun Hoat-ong bersama Yo Ko pernah datang ke Coat-ceng-kok, lembah tempat bersemayamnya Kongsun Ci, maka Tiang-si-kui Hoan It-ong kenal padanya.
“Ah, kau telah salah mengenal orang. Ia bernama Cumulangmah, sobat baik ayah,” sahut Kwe Siang tertawa. “Padahal Kim-lun Hoat-ong itu adalah musuh bebuyutan ayah, ucapanmu ini kan ‘kepala sapi tidak cocok dengan mulut kuda’ (artinya salah wesel)?”
“Di mana kau ketemu dengan Hwesio ini?” tanya Tiang-si-kui.
“Baru saja kami bertemu,” ujar Kwe Siang. “Hwesio besar ini bilang ayah telah meninggal, coba, lucu bukan? Dan sekarang dia hendak membawa aku pergi mencari Toakoko.”
“Jisiocia, lekas kembali, Hwesio ini bukan orang baik-baik, dia sudah mendustai kau,” seru Toa-thau-kui.
Tapi Kwe Siang masih ragu-ragu. “Dia mendustai aku?” tanyanya.
“Ya,” sahut Toa-thau-kui. “Sin-tiau-hiap berada di selatan sana, kenapa dia membawa kau ke utara?”
Kim-lun Hoat-ong hanya tersenyum saja walau pun kedoknya sudah terbongkar. Katanya tiba-tiba.
“Dua orang cebol ini suka mengaco-belo.” Setelah itu sedikit tubuhnya bergerak, cepat sekali mendekati kedua ‘setan’ itu terus menghantam batok kepala mereka dengan kedua tangan.
Selama belasan tahun ini Hoat-ong sudah giat berlatih ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), semacam ilmu kebatinan tenaga gaib. ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ ini seluruhnya bertingkat tiga belas, konon selama ini tiada pernah ada satu orang pun yang sanggup melatih diri hingga lebih dari tingkat sepuluh. Akan tetapi Kim-lun Hoat-ong adalah orang berbakat luar biasa. Dengan telaten dan giat akhirnya dia dapat menembus ke atas tingkat sepuluh dan kini sudah mencapai tingkatan ke sebelas.
Dahulu dia dikalahkan Yo Ko bersama Siao-liong-li, hal mana dirasakannya sebagai suatu noda besar dalam hidupnya. Kini ilmu kepandaiannya sudah maju berlipat ganda, pada kesempatan raja Mongol memimpin pasukan sendiri ke selatan, sekalian ia pun ikut serta dengan tujuan hendak balas dendam menewaskan Yo Ko dan Siao-liong-li berdua dengan ilmu pukulannya yang maha sakti ini. Kembali tadi, ketika kedua tangan lawan memukul, cepat Toa-thau-kui menangkis, namun segera terdengar suara.
“Krakk!”
Seketika tangannya patah, menyusul batok kepalanya pecah, tanpa menjengek sedikit pun terus binasa. Kepandaian Tiang-si-kui lebih ulet. Dia tahu pukulan musuh amat lihay, dengan sekuatnya dia angkat kedua tangan untuk menahan. Maka terasalah sebuah kekuatan yang maha besar menindih tubuh, seketika pandangannya menjadi gelap, orangnya pun terus roboh. Terkejut sekali Kwe Siang,
“Hai, kedua orang ini adalah kawanku, berani kau mencelakai mereka?” bentaknya gusar.
DaIam pada itu, meski pun roboh dan muntah darah, Tiang-si-kui melompat bangun terus merangkul kedua kaki Hoat-ong sambil berseru:
“Lekas lari nona Kwe, Iekas!”
Segera Hoat-ong mencengkeram punggung Tiang-si-kui. Ia hendak mengangkatnya untuk dibanting, tapi dengan mati-matian Tiang-si-kui ingin melindungi Kwe Siang, kedua tangannya bagai gelang besi saja memegang erat-erat kedua kaki orang, sekali pun tenaga Hoat-ong sangat besar, untuk sesaat juga sukar menariknya lepas. Terkejut dan gusar sekali Kwe Siang. Usianya kecil, tetapi pembawaannya berbudi luhur. Kini dia pun sudah tahu Hoat-ong tidak bermaksud baik padanya, tetapi dia toh tidak mau lari meninggalkan Tiang-si-kui. Segera ia bertolak pinggang, bentaknya dengan suara keras:
“Hai, Hwesio jahat, kenapa kau begini keji? Lekas lepaskan Tiang-si-kui, biar nona ikut kau pergi.”
“Lekas lari, nona, jangan...” demikian seru Tiang-si-kui. Tapi belum lagi habis ucapannya, jiwanya ternyata sudah melayang.
Mayat Tiang-si-kui kemudian diangkat Hoat-ong dan dibuang ke tepi jalan, lalu katanya dengan menyeringai bengis:
“Nah, kalau mau lari, kenapa tidak lekas naik kuda?”
Selama hidup Kwe Siang tak pernah benci pada siapa pun, meski diketahuinya Loh Yu-ka dibunuh Hotu, tapi ia tidak menyaksikan sendiri, ia hanya berduka dan tidak dendam, tapi kini melihat Hoat-ong begini kejam, tanpa terasa ia menjadi benci padanya, maka dengan melotot ia pandang orang tanpa gentar sedikit pun.
“Nona cilik, kau tidak takut padaku?” tanya Hoat-ong.
“Takut apa?!” sahut Kwe Siang sengit. “Mau bunuh, lekas kau bunuh aku.”
Tetapi Hoat-ong lantas unjuk jempolnya dan memuji: “Hebat, memang hebat, ayah ksatria tidak akan melahirkan puteri pengecut.”
Dengan benci Kwe Siang memandang Hoat-ong sekejap lagi. Pikirnya hendak mengubur jenazah kedua kawannya, tetapi di situ tidak ada alat penggali. Setelah berpikir, ia angkat mayat Tiang-si-kui dan Toa-thau-kui ke atas kuda, tali pelana dibaliknya untuk mengikat mayat itu, lalu dia depak pantat kuda sambil berkata:
“Kuda, kuda, lekas antar majikanmu pulang.”
Karena sakit didepak, kuda itu berlari pergi ke arah datangnya tadi.
********
Bercerita tentang Oey Yok-su dan Yo Ko, keduanya bergandengan tangan dengan cepat menuju ke selatan, sekejap saja beberapa puluh li telah mereka tempuh. Mendekati lohor, sampailah di kota Swan-sia. Mereka masuk ke sebuah restoran besar, memesan daharan dan saling menceritakan pengalaman masing-masing selama ini. Ketika Oey Yok-su menyinggung diri Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua, selama belasan tahun ini mereka hidup menyepi di kediaman leluhur, yaitu Leng-oh, daerah Siang-ciu, dan Sah-koh, cucu murid Oey Yok-su yang gendeng, tinggal bersama dengan mereka.
Mendengar itu Yo Ko menghela napas panjang. Setelah minum beberapa cawan arak, segera Yo Ko bertanya:
“Oey-tocu, selama belasan tahun ini Wanpwe selalu mencari engkau orang tua, sebab ingin sekali bertanya sesuatu padamu, baru hari ini harapanku terkabul.”
“Watakku makin tua makin aneh, entah adik hendak tanya apa padaku?” sahut Oey Yok-su tertawa.
Selagi Yo Ko hendak buka suara, mendadak terdengar suara tangga berdetak, ada orang naik ke atas loteng restoran itu, seluruhnya tiga orang. Ketika mendengar suara tindakan orang, segera Oey Yok-su dan Yo Ko menduga orang-orang yang datang ini berilmu silat sangat tinggi. Kemudian, sesudah melihat orangnya, segera Yo Ko kenal satu di antaranya ialah Siau-siang-cu. Orang kedua bermuka hitam, ia tidak kenal, sedang orang ketiga In Kik-si, saudagar bangsa Persi yang memiliki berkepandaian lihay.
Dalam pada itu Siau-siang-cu dan In Kik-si juga sudah melihat Yo Ko. Keduanya menjadi terkesiap dan berhenti, mereka saling mengedip mata kemudian hendak turun kembali ke bawah.
“Eh-eh, sobat lama bertemu lagi, kenapa buru-buru hendak pergi?” sengaja Yo Ko menegur dengan tertawa mengejek.
“Baik-baikkah Yo-tayhiap selama ini?” segera In Kik-si menyapa sambil bersoja.
Sebaliknya Siau-siang-cu masih merasa dendam karena dulu di Cong-lam-san lengannya dipatahkan oleh Yo Ko. Selama belasan tahun ini kepandaiannya juga sudah banyak maju, tetapi dia tahu masih bukan tandingan Yo Ko, maka teguran Yo Ko tidak dia gubris, juga tidak menoleh,.lalu hendak melangkah turun. Orang bermuka hitam yang datang bersama mereka seorang jago terkemuka di bawah Kubilai, selamanya sangat tinggi hati. Bersama In Kik-si dan Siau-siang-cu mereka keluar mencari berita, siapa pun tidak dipandang sebelah mata olehnya. Kini melihat kedua kawannya begitu jeri pada Yo Ko, dia melirik hina ke arah Yo Ko, lalu berteriak:
“Nanti dulu, Siau-heng, jika ada orang jahat berani merintangi kesenangan kita, biar Siaute mengusirnya pergi.”
Habis bicara sebelah tangannya yang terpentang lebar mencengkeram ke pundak Yo Ko dengan maksud mencekalnya untuk dilemparkan ke jalan umum. Melihat telapak tangan orang bersemu hitam biru, Yo Ko tahu orang tentu berlatih ‘Tok-joa-cio’ atau ilmu pukulan pasir beracun. Tiba-tiba pikirannya tergerak. “Ya, mengapa aku tidak menggunakan tenaga orang ini untuk tanya Oey-Iocianpwe mengenai Lam-hay Sin-ni?” demikian pikirnya.
Tatkala itu tangan orang bermuka hitam itu sudah hampir menyentuh pundaknya. Yo Ko membalkan tangannya menyampuk.
“Plak! Plak!” tahu-tahu orang itu malah kena ditempeleng dua kali olehnya.
Terperanjat Oey Yok-su menyaksikan itu. “Cepat benar pukulannya ini!” ia memuji.
Dan hanya sekali serangan ini saja sudah terlihatlah ilmu silat ciptaan Yo Ko sendiri telah menjadi suatu aliran terkemuka. Sementara terdengar lagi dua kali suara.
“Plak! Plak!”
Kedua pipi Siau-siang-cu dipersen tamparan pula. Hanya In Kik-si yang bebas dari tempelengan itu karena Yo Ko melihat orang tadi berlaku sopan.
“Yo-laute, ilmu pukulan ciptaanmu ini benar-benar hebat sekali, lohu (aku yang tua) ingin sekali melihat keseluruhannya, entah dapat tidak?” kata Oey Yok-su dengan tertawa.
“Justru aku ingin minta petunjuk Locianpwe,” sahut Yo Ko.
Segera tubuhnya bergerak cepat, ia pun mainkan ilmu pukulan “lm-jiau-siau-hun-cio-hoat” yang hebat itu. Maka tampaklah lengan bajunya me-lambai-lambai, telapak tangannya naik turun, tiba-tiba memainkan gerak serangan ‘Bu-tiong-seng-yu’, pada lain saat gerakan ‘Ki-jin-yu-Thian’, dia mengurung Siau-siang-cu, In Kik-si dan orang bermuka hitam itu di tengah-tengah angin pukulannya.
Ketiga orang itu serasa terombang ambing di tengah gelombang badai, ter-huyung dan sempoyongan terbawa oleh angin pukulan Yo Ko, jangankan hendak melawan, untuk berdiri tegak saja susah.
“Sungguh hebat,” puji Oey Yok-su. “Hari ini lohu dapat menyaksikan ilmu pukulan Iaute ini sambil minum arak, sungguh hidupku tidak kecewa.”
“Locianpwe, sukalah memberi petunjuk barang sejurus!” teriak Yo Ko mendadak.
Ketika telapak tangannya mendorong, tahu-tahu Siau-siang-cu sudah ‘dikirim’ ke hadapan Oey Yok-su. Oey Yok-su tidak berani ayal, cepat telapak tangan kirinya menyorong ke depan, tubuh Siau-siang-cu dikembalikan ke sana. Namun segera tampak lelaki muka hitam itu menubruk datang lagi. Cepat Oey Yok-su mengangkat cawannya menenggak arak sambil mengayun tangan mendorongnya pergi pula. Melihat gerak pukulan orang memang sangat kuat dan hebat, tapi juga tidak terlalu luar biasa. dalam hati Yo Ko berpikir: “Agaknya kalau aku tidak menggunakan seluruh tenaga takkan dapat memancing ilmu pukulan yang dia pelajari dan Lam-hay Sin-ni.”
Maka ia pusatkan napasnya dan himpun tenaga, secara cepat Siau-siang-cu, In Kik-si dan lelaki muka hitam itu silih berganti didorongnya ke depan Oey Yok-su.
KUBURAN AYAH
Terpaksa Oey Yok-su mengembalikan lagi, namun terasa daya tekanan serudukan ketiga orang itu semakin berat dan susul menyusul laksana datangnya gelombang ombak, yang satu lebih kuat dan lebih tinggi dan yang lain.
“Tenaga pukulan bocah ini semakin lama semakin kuat, sungguh bakat yang susah dicari dalam dunia persilatan!” demikian diam-diam Oey Yok-su membatin.
Dan pada saat itu juga orang bermuka hitam itu kembali melayang datang, bahkan kedua kakinya terus menjejak ke mukanya. Cepat Oey Yok-su menyampuknya, tetapi karena sedikit tergoncang itulah tanpa terasa arak dalam cawannya terciprat keluar beberapa tetes, menyusul In Kik-si dan Siau-siang-cu sudah menubruk datang lagi, yang satu dari depan dan yang lain dari samping.
“Bagus!” seru Oey Yok-su, dia letakkan cawan araknya, lalu dengan kedua tangannya dia mendorong ke depan.
Demikianlah, kedua orang, Yo Ko dan Oey Yok-su, saling oper-mengoper dari jarak beberapa tombak bagai orang bermain bola basket. Siau-siang-cu bertiga bagai bola saja terombang-ambing di antara tenaga pukulan kedua orang itu se-olah terbang kian kemari di udara. Tapi baru saja ‘lm-jian-soh-hun-ciang’ Yo Ko itu dimainkan sampai tengah jalan, ‘Loh-eng-cio-hoat’ Oey Yok-su sudah tampak di bawah angin. Saat itu secepat panah tubuh In Kik-si menubruk ke arahnya, Yok-su menaksir tenaganya tidak cukup untuk melawan tenaga dorongan Yo Ko sekali ini, maka segera dia gunakan jarinya untuk menyelentik.
“Crittt!” terdengar suara lirih tajam, satu kekuatan halus tapi kuat meluncur ke depan dan seketika tenaga pukulan Yo Ko terpatahkan.
Be-runtun Oey Yok-su menyelentik tiga kali, maka terdengar tiga kali gedebukan, tubuh Siau-sing-cu: It Kik-si dan lelaki muka hitam itu terbanting semua di atas papan loteng dan semaput.
Apa bila ‘Loh-eng-cio-hoat’ sedikit kalah kuat dari pada tenaga Yo Ko, namun tenaga sakti jarinya ‘Sian-ci-sin-thong’ ternyata sama kuatnya, siapa pun tiada yang lebih unggul. Maka bergelak ketawalah kedua orang itu, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, menuang arak dan pasang omong pula.
“llmu pukulan adik ini, kalau soal tenaga, hanya ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ menantuku Kwe Ceng yang dapat menandingi, sedangkan Loh-eng-cio Lohu masih kalah setingkat,” begitu kata Oey Yok-su kemudian.
Berulang-ulang Yo Ko menyatakan terima kasih dengan rendah hati. Lalu tanyanya: “Konon kabarnya Locianpwe pernah mendapat petunjuk dari Lam-hay Sin-ni hingga dapat mempelajari sejurus Cio-hoat (ilmu pukulan), entah dapatkah Wanpwe melihatnya untuk menambah pengalaman?”
“Lam-hay Sin-ni? Siapakah dia? Selamanya belum pernah aku mendengar namanya,” ujar Oey Yok-su heran.
Seketika berubah air muka Yo Ko. Ia berdiri, dengan suara gemetar ia menegas: “Apakah di dunia ini hakikatnya tiada seorang Lam-hay Sin-ni?”
Melihat perubahan wajah orang yang amat aneh itu, Oey Yok-su rada terkejut juga, maka jawabnya dengan ragu-ragu:
“Apakah mungkin seorang kosen yang belum lama ini baru terkenal? Lohu suka hidup menyendiri, maka belum kenal akan namanya.”
Terpaku Yo Ko berdiri, begitu cemas perasaannya, serasa hatinya akan melompat keluar dari rongga dadanya, katanya dalam hati: “Dengan jelas Kwe-pekbo menyatakan bahwa Liong-ji telah ditolong pergi oleh Lam-hay Sin-ni, siapa tahu semua itu bohong belaka dan sengaja mendustai aku!” Berpikir sampai di sini, mendadak dia berteriak sambil menengadah, suaranya menggetar sukma, air mata pun meleleh.
“Ada kesulitan apakah, Laute? Dapatkah kau jelaskan? Boleh jadi Lohu dapat membantu sebisanya,” tanya Yoksu.
Akan tetapi Yo Ko lantas memberi hormat sambil berkata dengan suara parau: “Perasaan Wanpwe kacau luar biasa sehingga tindak tanduk kurang wajar, harap dimaafkan.”
Setelah itu lengan bajunya mengebas, dia putar tubuh terus turun ke bawah. “Krak! Krak!” terdengarlah suara beberapa kali, beberapa undak tangga hancur kena diinjaknya.
Oey Yok-su menjadi bingung, dia menggumam sendiri: “Lam-hay Sin-ni, Lam-hay Sin-ni? Siapakah gerangan?”
Sementara itu Yo Ko sudah berlari pergi seperti kerasukan setan. Dia lari dan lari terus, dalam beberapa hari tanpa makan tanpa tidur, dia pikir hanya mati letih barulah tak akan ingat Siao-liong-li. Sebenarnya kelak masih dapat bertemu tidak, saat itu sama sekali tak berani dibayangkannya. Tidak berapa lama kemudian tibalah dia di tepi sungai besar. Yo Ko tidak tahan lagi oleh hancurnya perasaan, ketika dilihatnya ada sebuah perahu menepi segera ia melompat naik, ia berikan sepotong perak kepada si tukang perahu dan tanpa bertanya lagi ke mana perahu itu bakal berlayar, segera ia rebah di situ terus tidur.
Air sungai mengalir dengan derasnya. Perahu layar yang ditumpangi Yo Ko terus laju, di setiap kota dagang pasti perahu itu berlabuh beberapa hari buat bongkar-muat barang, agaknya itu adalah sebuah perahu barang yang hilir-mudik di sungai Tiang-kang. Hati Yo Ko saat itu seolah-olah kosong blong, ke mana pun serupa baginya, maka ia pun tidak peduli kapal itu akan berlayar atau berlabuh. Ia lewatkan hari-hari itu dengan minum arak, di malam hari ia suka bersiul panjang dan termenung-menung tanpa kenal waktu.
Si tukang perahu dan saudagar yang mencarter kapal itu tampak akan uang Yo Ko yang membayar tanpa menawar itu, mereka mengira dia adalah pengelana sinting, maka siapa pun tiada yang mengurusnya. Suatu hari tibalah kapal itu di Kang-im. Seorang saudagar sekapal sudah mohon diri pada Yo Ko dan bilang akan pergi ke Ka-hin dan Lim-an untuk membeli sutera. Mendengar kata-kata Ka-hin, mendadak Yo Ko terkejut dan berpikir
“Dulu ayahku tewas secara mengenaskan oleh Oey Yong di kelenteng Ong-tiat-jiang di kota Ka-hin, entah di manakah kuburannya? Aku tidak bisa mengubur jenazah ayah secara baik-baik, benar-benar aku seorang anak yang tak berbakti.” Berpikir akan itu, segera dia tinggalkan perahu dan mendarat terus menuju ke Ka-hin.
Tatkala itu sudah masuk musim dingin, meski pun di daerah Kanglam tak sedingin daerah utara, namun di mana-mana salju bertebaran. Yo Ko memakai mantel ijuk dan bertopikan caping, menujulah dia ke Ka-hin. Sampai di kota itu, cuaca telah gelap. Yo Ko mencari sebuah rumah makan dan bertanya jalan ke kelenteng Ong-tiat-jiang, di bawah hujan salju yang lebat ia lalu pergi ke sana. Ketika tiba di kelenteng itu, waktu sudah dekat tengah malam, salju masih terus turun, keadaannya gelap gulita. Tapi Yo Ko sanggup melihat di malam gelap, dia lihat Tiat-jiang-bio atau ‘keIenteng tombak besi’ itu sudah bobrok, pintunya sudah lapuk, sedikit didorong lantas roboh.
Yo Ko masuk ke dalam. Di mana-mana terlihat penuh debu dan galagasi bersinggasana, suatu tanda tiada penghuninya. Dia berdiri termangu-mangu di tengah ruangan kelenteng, terbayang olehnya ketika ayahnya tewas di situ dahulu hingga sejak lahirnya tiada pernah melihat muka ayahnya sendiri. Sungguh nasib malang itu jarang terdapat di dunia ini, dia menjadi berduka sehingga makin menambah pilu hatinya. Ia periksa sekitar kelenteng itu. Ia pikir sudah lebih 30 tahun ayahnya meninggal, dengan sendirinya tiada meninggalkan sesuatu tanda apa-apa. Ia pergi ke belakang kelenteng, ia lihat di bawah apitan dua pohon ada dua kuburan, di depan kuburan itu masing-masing berdiri sebuah batu nisan yang penuh tertutup oleh salju.
Ketika Yo Ko kebaskan lengan bajunya hingga salju berhamburan oleh angin kebasannya itu, maka tampaklah pada batu nisan sebelah kiri tertulis ‘Kuburan Bok-si dari keluarga Yo’. Diam-diam Yo Ko pikir siapakah gerangan wanita she Bok ini? Waktu batu nisan sebelah lain dipandangnya, seketika tak tahan lagi rasa gusarnya. Kiranya batu nisan itu tertulis: ‘Kuburan murid durhaka Yo Khong’, dan pada pinggirnya tertulis sebaris huruf kecil yang berbunyi ‘Guru tak berilmu Khu Ju-ki’.
Pikir Yo Ko dengan gusar: “lmam tua ini tak berbudi. Ayahku telah meninggal, tapi kenapa harus mendirikan batu nisan untuk mencela kelakuannya? Dalam hal apa ayahku durhaka? Hmm, kalau aku tidak pergi ke Coan-cin-kau dan mengobrak-abriknya, rasanya hatiku tidak puas.”
Habis itu tangannya diangkat terus hendak menghantam batu nisan itu. Akan tetapi, selagi tangan hendak digablokkan, mendadak dari arah barat terdengar berkumandang datang suara tindakan kaki yang cepat. Suaranya demikian aneh, seperti beberapa tokoh dunia persilatan yang hebat, tetapi juga mirip jalannya dua ekor binatang, sewaktu kaki menginjak tanah, sebelah kiri antap dan sebelah kanan enteng, benar-benar aneh luar biasa.
Yo Ko mendengar suara itu justru menuju ke kelenteng ini, maka cepat ia masuk kembali ke ruangan tengah kelenteng dan bersembunyi di belakang patung malaikat yang sudah doyong. Hendak dilihatnya makhluk aneh apakah yang datang itu? Dalam waktu sebentar saja suara tindakan kaki itu sudah sampai di depan kelenteng, tapi lantas berhenti tidak bergerak lagi, agaknya seperti kuatir kalau di dalam kelenteng ada musuh yang bersembunyi. Selang sejenak, barulah dia masuk.
Ketika Yo Ko mengintip keluar, hampir saja dia tertawa geli. Ternyata yang masuk kelenteng ini seluruhnya empat orang. Kaki kiri keempat orang ini sudah putus semua, setiap orang memakai sebatang tongkat dan di pundak kiri masing-masing dirangkai seutas rantai besi yang saling terkunci, oleh sebab itulah waktu berjalan empat tongkat menutul tanah berbareng, lalu empat kaki keempat orang juga melangkah maju bersama. Orang yang paling depan berkepala gundul pelontos, tangan kiri sudah buntung, kaki kiri putus separoh, sudah cacat bertambah cacat. Orang kedua jidatnya jendul, terdapat tiga uci-uci yang besar. Orang ketiga bertubuh kecil pendek dan orang keempat adalah Hwesio berbadan tegap.
Yo Ko terheran-heran, orang-orang macam apakah ini? Dan kenapa saling dirantai tanpa terpisahkan? Lalu terdengarlah suara gemerantang yang nyaring, si gundul tadi mengeluarkan geretan api dan menyalakan sepotong sisa lilin. Maka sekarang jelaslah Yo Ko melihatnya. Ternyata kecuali orang pertama yang gundul ini, tiga orang lainnya berlubang mata, tapi tiada biji matanya. Karena itu ia baru mengerti persoalannya, kiranya ketiga orang buta itu menggunakan si gundul ini sebagai penunjuk jalan mereka.
Si gundul mengangkat lilin kemudian memeriksa sekitar kelenteng, maka keempat orang itu menjadi seperti berbaris beriring-iringan, jarak mereka masing-masing tidak lebih dari tiga kaki. Namun Yo Ko yang sembunyi di belakang patung tidak diketahui mereka. Setelah memeriksa, keempat orang itu masuk lagi ke ruangan dalam, kemudian si gundul berkata:
“Kwa-lothau tidak membocorkan jejak kita. Jika ia mengundang bala bantuan, tentu sudah disembunyikannya di sini.”
“Ya, benar, ia telah berjanji sekata pun takkan dibocorkan pada orang lain. Orang macam dia ini selamanya berambekan tinggi, jadi dalam hal ‘kepercayaan’ sangatlah diberatkan,“ demikian ujar orang ketiga.
Tapi orang yang ber-uci-uci itu lantas berkata: “Soa-toako, kau kira si tua she Kwa itu akan datang atau tidak?”
“ltulah sukar kukatakan. Kurasa dia tidak akan datang, masa dia begitu bodoh sengaja mengantarkan kematian?” ujar orang pertama tadi.
“Tetapi Kwa-lothau ini adalah orang pertama dari Kanglam-chit-koay. Dahulu mereka bertaruh dengan imam keparat Khu Ju-ki dan jauh-jauh tanpa kenal lelah pergi ke Mongol memberi pelajaran silat kepada Kwe Ceng. Ketika hal ini tersiar di Kangouw, semua orang memuji akan janji emas Kanglam-chit-koay, sekali berkata pasti pegang janji. Kita justru mengingat hal ini barulah melepaskan dia pergi.”
Percakapan mereka itu terdengar jelas oleh Yo Ko, diam-diam ia berpikir: “Ehh, ternyata mereka sedang menantikan Kwa-kongkong di sini.”
Dalam pada itu orang kedua yang berjendul lantas berkata: “Tapi aku bilang dia pasti tak akan datang, Peng-toako, beranikah kau bertaruh? Coba lihat...”
Tapi belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara tindakan orang datang dari arah timur, juga langkah yang sebelah antap sedangkan sebelah lagi enteng. Ada orang datang lagi menggunakan tongkat, cuma sekarang seorang diri saja. Semenjak kecil Yo Ko sudah lama tinggal bersama Kwa Tin-ok di Tho-hoa-to, maka begitu mendengar segera ia tahu orang tua itulah yang datang. Terdengarlah si orang ketiga yang kecil kurus tadi tertawa bergelak, katanya:
“Nah, Kau-laute, Kwa-lothau benar-benar datang, kau masih berani bertaruh tidak?”
“Keparat, dia benar-benar tidak takut mati, sungguh aneh,” orang kedua tadi mengomel.
Kemudian terdengarlah suara ketokan nyaring beberapa kali, suara ketokan tongkat besi. Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok tampak masuk ke dalam kelenteng, lantas berdiri tegak di tengah ruangan.
“Kwa Tin-ok telah datang memenuhi janji, inilah Kiu-hoa-giok-loh-wan buatan Tho-hoa-to, seluruhnya berjumlah 12 butir, setiap orang makan tiga butir,” demikian katanya.
Berbareng tangannya mengayun, sebuah botol kecil ditimpukkan ke arah si kakek gundul tadi.
“Terima kasih!” sahut si gundul girang. Ia sambut botol kecil yang dilemparkan kepadanya itu.
“Urusan pribadi Lohu sudah selesai, sekarang sengaja datang buat terima kematian,” tiba-tiba Kwa Tin-ok berkata. Ia tegak leher berdiri di tengah ruangan, jenggotnya yang sudah putih ter-gerak, sikapnya sewajarnya saja.
“Soa-toako, karena dia sudah memberikan Kiu-hoa-giok-loh-wan pada kita sehingga luka dalam kita bakal sembuh, dan tua bangka ini pun tiada permusuhan apa-apa dengan kita, biarlah kita ampuni dia saja,” kata si orang kedua yang kepalanya berjendul itu.
“Kau-laute,” jengek si orang ketiga, “kata peribahasa ‘piara harimau cari penyakit’, karena hatimu yang lemah ini mungkin kita berempat nanti harus jadi korban semua. Kini meski ia belum membocorkan rahasia kita, tetapi siapa yang berani menjamin dia akan tutup mulut selamanya?”
Habis itu mendadak ia membentak: “HayoIah, turun tangan!”
Dan keempat orang pun melompat bangun cepat lalu berdiri di empat sudut, dengan tepat Kwa Tin-ok terkurung di tengah-tengah.
“Kwa-Iothau,” kata si kakek gundul dengan suara serak, “lebih 30 tahun yang lampau kita sudah menyaksikan bersama kematian Yo Khong di sini, sungguh tidak nyana hari ini kau pun akan menyusulnya, ini namanya sudah suratan nasib.”
Tapi tiba-tiba Kwa Tin-ok mengetok keras-keras tongkatnya ke lantai, dengan marah katanya,
“Yo Kong itu mengaku musuh sebagai ayah, menjual tanah air untuk kenikmatan sendiri, dia seorang rendah yang tidak tahu malu, sedangkan aku Kwa Tin-ok adalah lelaki sejati yang dapat mempertanggung jawabkan segala tindak-tandukku kepada negara mau pun bangsa, kenapa kau bandingkan aku Hui-thian-pian-hok dengan manusia rendah itu?”
“Hmm, kematianmu sudah di depan mata tapi masih berlagak pahlawan gagah?” jengek si pendek, orang ketiga tadi.
Habis itu mereka sama-sama menghantamkan sebelah tangan ke atas kepala Kwa Tin-ok. Merasa dirinya bukanlah tandingan keempat lawan ini, Tin-ok hanya berdiri tegak dengan tongkatnya tanpa menangkis. Maka terdengarlah suara menyambarnya angin yang keras.
“Blungg...!”
Terdengarlah suara keras dibarengi berhamburnya debu pasir. Keempat orang itu merasa tempat yang terkena pukulan mereka itu rasanya tidak betul, bukannya mengenai tubuh manusia. Segera si kakek gundul dapat melihat jelas, Kwa Tin-ok sudah menghilang dari dalam lingkaran yang mereka kepung, sedangkan tempat di mana orang berdiri tadi kini telah tertukar patung bobrok dari kelenteng itu. Karena pukulan keempat orang itu kena kepala patung, maka seketika hancur menjadi bubuk.
Dari keempat orang itu tiga di antaranya adalah buta, meski si kakek gundul itu bermata tajam. Tapi hanya sekejap saja tahu-tahu Kwa Tin-ok bisa berubah menjadi patung, hal ini sungguh bikin terkejut tidak kepalang, empat orang itu sekaligus membalik ke beIakang. Maka terlihatnya seorang laki-laki berumur 30-an berlengan tunggal sudah berdiri di sana dengan wajah marah, Kwa Tin-ok tercengkeram tengkuknya dan terangkat tinggi.
“Berdasar apa kau berani mencaci-maki ayahku?!” demikian lelaki buntung itu membentak Tin-ok.
“Siapakah saudara?” tanya Tin-ok tak gentar.
“Aku adalah Yo Ko, puteranya Yo Khong,” sahut Yo Ko. “Ketika dahulu tinggal di Tho-hoa-to, tidaklah jelek kau terhadapku. Tapi mengapa di belakang kau memaki dan memfitnah mendiang ayahku?”
“Hmm,” jengek Tin-ok dingin, “sejak dahulu kala, manusia yang mati meninggalkan nama, tapi ada juga orang yang menurunkan nama busuk, baik atau busuk semuanya perbuatan manusia, mana bisa menyumbat mulut orang agar tidak menyebutkannya?”
Melihat orang sedikit pun tidak merasa gentar, Yo Ko tambah marah, ia angkat tubuh Tin-ok dan dibanting ke lantai sambil membentak:
“Cobalah katakan, kenapa ayahku rendah dan kotor?”
Melihat begini hebat dan tangkasnya Yo Ko, si kakek gundul tadi diam-diam menarik tiga kawannya hendak mengeluyur pergi. Namun sedikit Yo Ko melesat tahu-tahu sudah menghadang di ambang pintu.
“Hmm, kalau tidak bicara yang jelas, siapa pun tidak akan hidup keluar dari kelenteng ini!” demikian bentaknya.
Mendadak keempat orang itu menggertak sekaligus dan memukul ke depan.
“Bagus!” sambut Yo Ko, dia pun mendorong sebelah tangannya.
Belum lagi tangan beradu tangan, keempat orang itu sudah merasa sebuah tenaga pukulan yang maha besar menindih ke arah mereka. Tanpa ampun lagi mereka langsung terjengkang ke belakang dan menerbitkan suara gedubrakan yang keras, tubuh keempat orang menindih di atas patung tadi hingga patung itu remuk ber-keping-keping. Di antara empat orang itu, si orang kedua yang punya tiga uci-uci di batok kepalanya itu berkepandaian paling lemah, justru kepalanya tepat menumbuk dada patung itu, keruan seketika dia semaput.
“Kalian berempat ini siapa? Kenapa terantai menjadi satu begini dan kenapa bisa berjanji untuk bertemu dengan Kwa Tin-ok di sini?” tanya Yo Ko.
Kiranya kakek gundul ini adalah Soa Thong-thian. Orang kedua yang ber-uci itu adalah Sute-nya, Kau Hay-thong, ada pun yang pendek kecil adalah Peng Lian-hou dan Hwesio yang tinggi besar itu adalah Lian-ti Siangjin. Lebih 30 tahun yang silam mereka tertangkap oleh Lo wan-tong Ciu Pek-thong, kemudian diserahkan kepada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it untuk mengurung mereka dalam Tiong-yang-kiong di Cong-Iam-san, kalau mereka sudah insaf baru akan dibebaskan. Akan tetapi keempat orang ini sukar mengubah watak jahat mereka, dengan segala jalan mereka berusaha melarikan diri, tapi setiap kali kena dibekuk kembali.
Pada saat untuk ketiga kalinya mereka hendak merat, Peng-Lian-hou, Kau Hay-thong dan Ling-ti Siangjin bertiga telah membunuh beberapa anak murid Coan-cin-kau yang menjaga mereka. Setelah tertangkap kembali, sebagai hukuman yang setimpal maka sebelah kaki dikutungi dan mata mereka dibutakan, hanya Soa Thong-thian yang selamat kedua matanya karena tidak mencelakai jiwa manusia,.
Pada saat Yo Ko belajar silat di Tiong-yang-kiong, karena waktunya tidak lama, lagi pula selalu menderita, maka empat orang hukuman itu tak dikenalnya. Sampai 16 tahun yang lalu, ketika jago-jago Mongol membakar Tiong-yang-kiong, dalam keadaan kacau-balau dapatlah Soa Thong-thian berempat meloloskan diri. Dan karena ketiganya buta, terpaksa bergantung pada Soa Thong-thian sebagai penuntun jalan. Peng Lian-hou kuatir kalau orang tinggal pergi sendiri, maka dia berkeras tidak mau menanggalkan rantai yang masih mengikat tubuh mereka berempat.
Sesudah lari dari Tiong-yang-kiong, Soa Thong-thian berempat masih kuatir kalau-kalau dapat dibekuk kembali oleh orang-orang Coan-cin-pay, maka dengan diam-diam mereka lari ke daerah Kanglam dan selalu sembunyi menyepi di pedusunan. Hari itu kebetulan mereka kepergok Kwa Tin-ok. Ilmu silat Tin-ok jauh bukan tandingan keempat orang itu, maka sekali gebrak sudah kalah. Ketika ditanya barulah diketahui Kwa Tin-ok ada keperluan dan tiada maksud mencari mereka. Meski pun mereka tiada permusuhan atau dendam tapi pendirian berbeda, lagi pula kuatir orang membocorkan tentang jejak mereka, maka Soa Thong-thian berempat bermaksud membunuh Tin-ok.
Waktu itu Tin-ok berkata bahwa ia harus pergi ke Leng-oh-tin di daerah Siangcu, apa bila urusan selesai ia sendiri akan datang kembali buat terima kematian, kalau keempat orang itu bersedia memberi hidup lebih lama beberapa hari kepadanya, dia akan mengambilkan beberapa pil ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ yang amat mujarab untuk luka-luka dalam, yaitu obat buatan Oey Yok-su dari Tho-hoa-to sebagai balas budi. Sejak kakinya dipatahkan, keempat orang itu memang selalu menderita sakit encok yang jahat. Kini mendengar Tin-ok bersumpah takkan membocorkan tempat sembunyi mereka, juga tak akan mengajak pembantu, barulah kemudian mereka menetapkan harinya untuk bertemu kembali di kelenteng Ong-tiat-jiang di Ka-hin ini.
BegituIah sehabis menutur kejadian-kejadian itu, Soa Thong-thian kemudian berkata: “Yo-kongcu, waktu ayahmu masih hidup, kami semua adalah tamu undangannya. Sampai ia meninggal, sedikit pun kami tidak bersalah kepadanya, maka haraplah suka mengingat kebaikan dulu dan membiarkan kami pergi!”
Dulu Soa Thong-thian berempat adalah jago-jago kelas tinggi di kalangan Kangouw, sekali pun golok mengancam di tengkuknya tak akan gentar, tetapi sejak mereka dikurung lama, kaki buntung, mata buta, jiwa mereka menjadi melempem, semangat jantan hilang, kini tanpa segan-segan mohon ampun pada Yo Ko. Akan tetapi Yo Ko tak menggubris mereka, katanya pula pada Kwa Tin-ok:
“Kau pergi ke Leng-oh-tin, apakah untuk menemui Thia Eng dan Liok Bu-siang enci beradik? Dan untuk urusan apa?”
Tiba-tiba Tio-ok menengadah tertawa panjang, katanya: “Wahai Yo Ko, Yo Ko, kau bocah ini benar-benar tak tahu urusan!”
“Kenapa aku tak tahu urusan?” sahut Yo Ko marah.
“Aku Hui-thian-pian-hok (kelelawar terbang di langit, julukan Tin-ok) sudah tidak pikirkan jiwa lapuk ini lagi, sekali pun di masa muda, aku Kwa Tin-ok juga tidak pernah takut pada siapa pun, betapa tinggi ilmu silatmu paling banyak hanya bisa menakut-nakuti sebangsa manusia-manusia yang takut mati dan tamak hidup, tetapi Kanglam-chit-koay apa kau kira kena digertak orang?” demikian sahut Tin-ok.
Melihat sikap orang yang gagah berani, tanpa terasa Yo Ko jadi menaruh hormat. Maka katanya lagi:
“Kwa-Iok ongkong, ya, memang akulah yang salah, tapi lantaran kata-katamu tadi menghina mendiang ayahku, terpaksa aku berlaku tidak sopan. Nama Kwa-kongkong terkenal di seluruh jagat, Yo Ko semenjak kecil juga sangat kagum, selamanya tak berani kurang ajar.”
“Beginilah baru pantas,” ujar Tin-ok, “Aku melihat kelakuanmu tidak jelek, lagi pula sudah berjasa besar di Siang-yang, maka aku anggap kau adalah tokoh kelas satu. Tetapi kalau macam ayahmu dahulu, sekali pun berbicara saja aku merasa mual.”
Amarah Yo Ko berkobar lagi oleh olok-olok itu, dengan suara keras ia bertanya: “Sebenarnya ayahku berbuat salah apakah? Coba terangkan.”
Harus diketahui bahwa di antara kawan-kawan yang pernah dikenal Yo Ko tidak sedikit orang yang tahu seluk beluk ayahnya dahulu, tapi karena sungkan mengolok-olok ayah seorang ‘Sin-tiau-hiap’ maka semua orang sungkan membicarakannya, sekali pun ditanya Yo Ko sendiri.
Namun dasar Kwa Tin-ok selamanya pandang kejahatan sebagai musuh, wataknya keras jujur, dia tak peduli apakah ceritanya nanti akan menyinggung perasaan Yo Ko atau tidak, segera saja ia ceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Yo Khong tak kenal budi, malahan bersekongkoI dengan Auyang Hong sehingga lima kawannya dari Kanglam-chit-koay terbinasakan dan akhirnya menggaplok punggung Oey Yong. Namun senjata makan tuan, duri landak kutang Oey Yong yang tanpa sengaja tertempel racun ularnya Auyang Hong itu malah membinasakan Yo Khong sendiri.
“Kejadian pada malam itu, beberapa orang ini pun ikut menyaksikannya. Soa Thong-thian, Peng Lian-hou, coba kalian katakan, apakah aku Kwa-Iothai pernah berbohong?” demikian kata Tin-ok akhirnya.
Beberapa perkataan paling akhir ini diucapkannya dengan amat keras hingga bikin kaget. Beberapa puluh ekor burung gagak yang berada di menara kelenteng itu terbang ke udara dengan suara yang berisik.
“Ya, malam itu juga terdapat burung-burung gagak begini...” tutur Soa Thong-thian. “Nih, tanganku ini justru karena digaruk sekali oleh Yo-kongcu, jika Peng-hengte ini tidak cepat bertindak dan tanganku ini terus ditebasnya, mungkin jiwaku akan melayang pada malam itu juga.”
Sungguh tak kepalang rasa pedih dan pilu Yo Ko pada saat itu, ia memegangi kepalanya dan duduk termangu-mangu dengan muka muram, tak diduganya bahwa ayahnya ternyata seorang yang begitu jahat dan keji, sekali pun namanya dan perbuatannya sendiri sekarang lebih cemerlang juga sukar mencuci bersih noda ayahnya itu. Begitulah, untuk sesaat di dalam kelenteng menjadi sunyi, keenam orang tiada yang buka suara, hanya suara gaok masih terus berisik tiada hentinya. Selang agak lama, berkatalah Kwa Tin-ok,
“Yo-kongcu, kau telah berjasa besar di Siang-yang, betapa pun dosa ayahmu juga sudah tertutup semua. Di alam baka pasti dia akan senang karena kau bisa menebus kesalahan orang tua.”
Yo Ko coba merenungkan segala apa yang dialaminya selama ini. Sejak dia kenal suami isteri Kwe Ceng, selalu Oey Yong menaruh prasangka padanya, segala kesalah pahaman dulu semuanya disebabkan ayahnya itu. Tapi kalau tiada ayah dari manakah datang dirinya ini? Namun banyak kematian dan rasa kesalnya selama ini sebenarnya juga gara-gara perbuatan mendiang ayahnya. Tanpa terasa ia menghela napas panjang oleh segala suka duka itu.
“Kwa-lokongkong,” tanyanya kemudian, “Apakah Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua enci beradik baik-baik saja?”
“Ya, mereka menjadi begitu girang ketika mendengar kau membakar gudang perbekalan musuh di kota Sin-yang dan membasmi dua ribu pasukan perintis Mongol,” sahut Tin-ok, “Mereka tanya pula tentang keadaanmu selama ini dan berita Siao-liong-li. Nyata kedua enci-beradik itu sangat terkenang padamu.”
“Aih, kedua adik ini juga sudah 16 tahun aku tak melihatnya,” kata Yo Ko kemudian, habis itu mendadak dia menoleh terus membentak pada Soa Thong-thian: “Nah, Kwa-kongkong sudah berjanji hendak serahkan jiwanya pada kalian. Ia orang tua selamanya sekali bicara tidak pernah pungkir janji, maka sekarang lekaslah kalian turun tangan, dan setelah kalian membunuhnya baru aku membunuh juga kalian berempat anjing ini untuk membalaskan sakit hatinya.”
Soa Thong-thian dan Peng Lian-hou menjadi tertegun, sungguh mereka tidak pernah dengar ada bunuh membunuh cara demikian. Maka kata Soa Thong-thian kemudian:
“Yo-tayhiap, kami tidak tahu sehingga berlaku kurang ajar kepada Kwa-lohiap (pendekar tua Kwa), harap kalian berdua memaafkan kami.”
“Jika begitu, nah, ingat baik-baik, kalian sendiri yang tidak menepati janji dan tak inginkan jiwa Kwa-kongkong,” kata Yo Ko.
“Ya, ya,” sahut Soa Thong-thian cepat. “Terhadap budi luhur Kwa-lohiap kami selamanya juga sangat kagum.”
“Nah, sekarang lekas enyah! Lain kali jangan ketumbuk lagi di tanganku,” bentak Yo Ko.
Keruan Soa Thong-thian berempat seakan mendapat lotere. Sesudah memberi hormat, dengan cepat mereka lari keluar kelenteng itu.
SALING MENCARI
Yo Ko menolong jiwa Kwa Tin-ok dan menjaga kehormatannya sebagai seorang ksatria, tentu saja Kwa Tin-ok amat berterima kasih. Dan sesudah membersihkan pecahan patung di ruangan itu, mereka lalu duduk untuk omong-omong.
“Aku pergi ke Leng-oh-tin adalah sebab urusan Kwe-ji-kohnio,” demikian tutur Tin-ok.
“Ha?” Yo Ko rada terkejut. “Ada apakah nona kecil ini?”
“Kedua puteri Kwe Ceng itu masing-masing punya kenakalannya sendiri-sendiri, sungguh bikin orang pusing kepala,” ujar Tin-ok. “Entah mengapa, tiba-tiba Kwe Siang si anak dara itu meninggalkan rumah tanpa pamit entah ke mana, Sudah tentu orang tuanya menjadi kelabakan, lalu mengirim orang ke mana-mana untuk mencarinya, tapi sama sekali tiada kabar berita. Karena aku si buta ini tiada pekerjaan apa-apa di Siang-yang, maka aku juga keluar untuk mencarinya. Sudah ada orang yang mencarinya ke jurusan timur, utara dan barat, karena aku lebih paham keadaan daerah Kanglam maka aku lantas ke selatan sini.”
“Dan apakah sudah mendapatkan beritanya?” tanya Yo Ko.
“Beberapa hari yang lalu secara kebetulan aku mendengar percakapan dua orang kurir bangsa Mongol, katanya puteri kecil Kwe-tayhiap dari Siang-yang telah tertawan pasukan Mongol.”
“Hayaa...! Apakah kabar ini betul atau bohong?”
“Kedua kurir Mongol itu berbicara dalam bahasa mereka dan menyangka tiada orang lain yang paham, tidak tahunya aku pernah tinggal belasan tahun di negeri Mongol, tentu saja semuanya kudengar dengan jelas,” kata Tin-ok pula.
“He, kalau begitu jadi berita ini tidaklah bohong?” tanya Yo Ko terkejut.
“Ya, maka dalam gusarku segera kedua kurir Mongol itu kupersen sebiji ‘Tok-cit-le’ dan hendak melapor ke Siang-yang, siapa tahu di tengah jalan kepergok empat setan tadi,” tutur Tin-ok. “Aku pikir jiwaku tidak jadi soal, tapi berita nona Kwe Siang harus disampaikan, maka aku minta mereka memberi kelonggaran beberapa hari. Aku lalu pergi ke Leng-oh-tin yang berdekatan dan memberi-tahukan kepada Thia Eng dan Liok Bu siang. Mendengar berita itu, segera kedua nona itu berangkat ke utara, sementara aku harus menepati janji datang kemari mengantarkan kematian. Sungguh tidak nyana sekarang ke empat setan jahat ini sendiri tidak dapat dipercaya, sampai saat terakhir mereka tidak berani turun tangan. Ha-ha-ha-ha!”
“Apakah Kwa-kongkong juga mendengar cerita kedua kurir Mongol itu tentang bagaimana cara tertawannya nona Kwe dan apakah jiwanya berbahaya?” tanya Yo Ko sesudah pikir sejenak.
“ltu aku tidak mendengar,” sahut Tin-ok.
“Urusan ini sangat gawat, sekarang juga Wanpwe pergi ke sana dan berusaha menolong sebisanya,” kata Yo Ko, “Dan Kwa-kongkong sendiri bolehlah menyusul belakangan saja.”
“Baiklah, ada kau yang pergi menolongnya, hatiku akan merasa lega. Biar aku menunggu kabar baik saja di Siang-yang,” sahut Tin-ok.
Nyata sejak menyaksikan apa yang dilakukan Yo Ko di Siang-yang tempo hari, hati orang tua ini sudah sangat kagum atas kemampuannya.
“Tapi Wanpwe ada suatu permintaan, aku mohon bantuanmu, Kwa-kongkong,” pinta Yo Ko “Yakni sukalah kau mengganti sebuah batu nisan kuburan ayahku, tulislah puteranya Yo Ko yang mendirikan.”
“Baiklah, pasti akan kukerjakan dengan baik,” sahut Tin-ok.
Dan berangkatlah Yo Ko segera sesudah memberi hormat. Ia membeli dua ekor kuda di Ka-hin dan sepanjang jalan bergantian kuda terus menuju ke Sin-yang tanpa berhenti, maka tidak seberapa hari sudah dekatlah dengan perkemahan pasukan Mongol.
Kiranya raja Mongol yang memimpin pasukan hendak menggempur Siang-yang, ketika tanpa tahu sebab musababnya kedua pasukan perintisnya terbasmi di Tengciu dan Sin-ya, dia menjadi ragu-ragu akan kekuatan pasukan Song yang sebenarnya, maka pasukan induknya berkemah di antara Lam-yang sehingga kedua pihak belum pernah bertempur. Maka nampaklah panji-panji ber-kibar, senjata gemerlapan, perkemahan yang berderet-deret memanjang tanpa kelihatan ujungnya.
Setelah menunggu malam, Yo Ko menyelundup ke perkemahan musuh. Ia lihat penjagaan sangat keras, disiplin amat baik. Kekuatan tentara Mongol memang sangat hebat. Lebih-lebih kemah di mana raja berdiam, penjagaan lebih ketat lagi. Meski tinggi ilmu silat Yo Ko, tapi dia tahu tidak sedikit orang-orang gagah dalam pasukan musuh, betapa pun tangkas sukar juga melawan orang banyak, maka dia pun tidak berani sembarangan unjuk diri.
Malam itu ia hanya dapat menyelidiki perkemahan bagian timur, lalu besoknya dilanjutkan bagian selatan dan lain hari perkemahan barat, berturut-turut empat malam empat bagian pertengahan musuh itu selesai diintainya, tapi masih belum memperoleh kabar berita Kwe Siang. Akhirnya Yo Ko menawan seorang perwira musuh. Di bawah ancaman perwira itu mengaku terus terang bahwa sesungguhnya tidak pernah terdengar mengenai puteri Kwe Ceng dari Siang-yang. Akan tetapi Yo Ko masih ragu-ragu. Ia selidiki lagi beberapa hari, kemudian baru percaya bahwa Kwe Siang memang tidak disekap di sana. Pikirnya:
“Agaknya Kwe-pepek sudah dapat menolong puterinya pulang, atau mungkin kedua kurir Mongol itu juga mendengar dari orang lain, jadi hanya berita bohong belaka.”
Sementara itu musim semi sudah tiba, bunga mekar mewangi. Janji Siao-liong-li 16 tahun yang lalu sudah hampir tiba, maka Yo Ko menuju ke utara, pergi ke Coat-ceng-kok atau lembah putus cinta.
********
Setelah menyaksikan Kim-lun Hoat-ong secara keji membinasakan Tiang-si-kui dan Toa-thau-kui, dalam hati Kwe Siang menjadi berduka. Dia pun insaf tak akan bisa lolos dari cengkeraman elmaut, maka dengan kepala tegak dia menantang:
“Hayolah, bunuhlah aku, tunggu apa lagi?”
“Hendak membunuh kau adalah pekerjaan yang terlalu mudah,” sahut Kim-lun Hoat-ong tertawa. “Tapi hari ini aku sudah membunuh dua orang, sudah cukup, lewat beberapa hari lagi nanti akan kusembelih kau. Sekarang lekas turut aku pergi.”
Kwe Siang pikir percuma saja hendak membangkang, biarlah nanti tunggu kesempatan untuk meloloskan diri. Maka ia pun cempIak ke atas kuda dan jalan perlahan.
Kim-lun Hoat-ong gembira, pikirnya: “Hongsiang dan Hongte (raja dan adik Raja) ingin sekali mencabut jiwa Kwe Ceng, tapi selama ini tidak berdaya. Hari ini aku dapat menawan puteri kesayangannya, dengan sandera ini mau tak mau Kwe Ceng harus tunduk kepala dan turut perintah. Umpama Kwe Ceng tak mau takluk, perlahan kita siksa lahir batin nona ini di bawah benteng di hadapan Kwe Ceng, biar dia menjadi ngenas dan pikirannya kacau, tatkala itu sekali gempur pasti Siang-yang akan bobol.”
Sampai hari malam, mereka mondok di rumah pinggir jalan. Tapi penghuni rumah sudah kabur, rumah itu kosong melompong. Hoat-ong mengeluarkan rangsum kering, lalu diberikan sedikit pada Kwe Siang. Anak dara itu disuruh tidur di dalam kamar, dia sendiri duduk sila bersemedi di ruangan luar.
Kwe Siang gulang-guIing di atas pembaringannya tak dapat pulas. Sampai tengah malam, secara berindap-indap ia mengintip ke ruangan tengah. Ia lihat Hoat-ong masih duduk sila menghadap tembok, sayup-sayup terdengar suara mendengkurnya perlahan, agaknya dia sudah tertidur. Kwe Siang girang bukan main. Perlahan-lahan ia melompat keluar jendela, ia robek kain buntalannya menjadi empat buat membungkus telapak kaki kuda, kemudian binatang itu dituntunnya perlahan. Sesudah agak jauh dan melihat Hoat-ong tidak mengejar barulah ia cemplak kuda lalu dilarikan secepat terbang. Ia pikir apa bila Hoat-ong mengetahui dirinya sudah lari, maka akan mengejarnya ke arah Siang-yang, jadi ke selatan, maka sekarang ia sengaja berlari ke jurusan barat laut.
“Betapa pun dia takkan menemukan aku,” demikian pikirnya.
Begitulah, dia keprak kudanya sekaligus berlari lebih satu jam. Karena binatang itu sudah payah, barulah dia lambatkan setindak demi setindak, sepanjang jalan dia selalu menoleh kalau-kalau Hoat-ong mengejarnya. Sampai hari terang tanah, kira-kira telah beberapa puluh li jauhnya, hati anak dara ini barulah lega. Dia memasuki jalan kecil pegunungan yang menanjak, makin lama semakin tinggi. Sesudah membelok ke sana, tiba-tiba terdengar suara ngorok orang tidur sekeras guntur, seorang terlentang melintang di tengah jalan lagi mendengkur. Ketika Kwe Siang mengawasinya, hampir saja dia merosot jatuh dari kudanya.
Ternyata orang yang melintang di tengah jalan itu berkepala gundul dan berjubah kuning, siapa lagi dia kalau bukan Kim-lun Hoat-ong, sungguh sulit dimengerti bagaimana caranya tahu-tahu orang malah sudah berada di bagian depannya. Lekas-lekas Kwe Siang memutar kudanya terus lari ke bawah bukit. Ketika dia menoleh, Hoat-ong tampak masih enak-enak tidur tak mengejarnya. Sekali ini ia tidak menuju ke jalan tadi, tapi ke arah tenggara, ke tempat yang sepi. Setelah setanakan nasi, tiba-tiba terlihat di atas pohon di depan sana ada seorang menjungkir, kedua kakinya menggantoI pada dahan pohon dan sedang nyengir padanya. Kurangajar! Siapa lagi dia kalau bukan Hoat-ong? Namun Kwe Siang tidak lagi terkejut, sebaliknya ia menjadi marah, damperatnya:
“Hwesio keparat, kau mau mencegat boleh cegat saja, kenapa mesti permainkan nonamu?” Habis berkata ia keprak kudanya ke depan, ketika sudah dekat, mendadak pecutnya disabetkan ke muka orang.
Dia melihat Hoat-ong sama sekali tidak berkelit, maka tepat sekali ujung pecut mengenai mukanya. Pada saat itu juga kuda tunggangan Kwe Siang melewati tubuh Hoat-ong yang tergantung itu. Ketika Kwe Siang menarik pecutnya, mendadak tenaga maha besar melibatnya sehingga tanpa kuasa tubuhnya mencelat ke udara. Ternyata ketika pecut sampai di muka Hoat-ong, secepat kilat Hoat-ong membuka mulut kemudian menggigit ujung pecut. Karena tubuhnya tergantung menjungkir, maka ia terayun tinggi ke atas sehingga Kwe Siang ikut terangkat.
Meski tubuh di atas udara namun Kwe Siang tidak menjadi gugup. Ketika dilihatnya Hoat-ong hendak mengayunnya kembali, cepat ia lepaskan pecutnya. Hoat-ong terkejut. Ia kuatir anak dara itu terbanting luka, maka cepat melompat turun dan menangkapnya sambil berseru:
“Awas!”
Tetapi Kwe Siang juga tidak kurang cerdiknya. Dia sengaja berteriak-teriak: “Tolong!”
Ketika tubuhnya sudah dekat Hoat-ong, mendadak kedua tangannya memukul berbareng, tepat sekali dada Hoat-ong kena digenjotnya. Serangan Kwe Siang ini cepat sekali dan di luar dugaan, sungguh pun ilmu silat Hoat-ong sangat tinggi dan orangnya juga cerdik, namun tidak sanggup berkelit lagi. Kedua kakinya menjadi lemas dan orangnya terkulai ke tanah, kaku tak berkutik.
Tak tersangka oleh Kwe Siang bahwa sekali serang akan berhasil, keruan ia kegirangan. Cepat ia angkat sepotong batu besar hendak dikeprukkan ke atas kepala Hoat-ong yang gundul itu. Tapi selamanya belum pernah ia membunuh orang, meski ia benci orang telah membunuh dua kawannya, namun ketika hendak turun tangan hatinya tidak tega. Ia tertegun sejenak, lalu batu besar itu diletakkannya kembali. Sebagai gantinya segera dia totok ‘Thian-teng-hiat’ di tengkuk Hoat-ong, ‘Peng-hong-hiat’ di punggung, ‘Sin-hong-hiat’ di dada, ‘Jing-ling-hiat’ di lengan serta ‘Hok-hou-hiat’ di atas mata, sekaligus tanpa berhenti ia totok tiga belas tempat jalan darah orang. Anak dara ini masih belum puas, ia angkat empat potong batu yang beratnya hampir beratus kati, batu-batu itu ia tindih di atas badan Hoat-ong.
“Wahai, Hwesio jahat, hari ini nona tak ingin membunuh kau, maka selanjutnya kau harus perbaiki diri dan jangan mencelakai orang lain lagi,” demikian kata Kwe Siang kemudian. Habis itu dia kebut bajunya yang berdebu, lalu cemplak kuda hendak tinggal pergi.
Namun kedua mata Kim-lun Hoat-ong yang berkilau-kilau terus memandanginya, tiba-tiba katanya dengan tertawa:
“Hati nona cilik ternyata berperi-kemanusiaan, Hwesio tua amat suka padamu.”
Kemudian terdengar suara keras beberapa kali, beberapa potong batu tadi membal semua, lalu orangnya melompat bangun. Aneh, entah mengapa ke-13 tempat jalan darah yang ditotok Kwe Siang tadi terlepas semua. Dalam terkejutnya Kwe Siang ternganga tanpa bisa buka suara. Kiranya meski Hoat-ong terkena pukulannya tadi dan dadanya terasa sakit juga, tapi selisih kepandaian mereka terlalu jauh, mana mungkin dua kali pukul Kwe Siang merobohkan Hoat-ong? Apa lagi hendak menotoknya hingga tak berkutik? Ia hanya berpura-pura saja dan hendak melihat apa yang hendak diperbuat anak dara itu.
Ketika melihat Kwe Siang tak jadi mengepruknya dengan batu, diam-diam ia merasa suka akan kebaikan hati anak dara itu. Pintar dan cerdik, jauh lebih baik dari pada murid-murid yang pernah dia terima. Tanpa terasa timbul keinginan Hoat-ong menjadikan Kwe Siang sebagai muridnya, apa lagi mengingat usianya sudah lanjut, sedangkan muridnya yang dahulu seperti Darba, orangnya jujur, bertenaga raksasa, tetapi otaknya kurang tajam untuk bisa memahami inti sari pelajaran Iwekang yang tinggi, ada pun Hotu orangnya tidak berbudi, dalam keadaan berbahaya tidak segan-segan selamatkan diri sendiri dan malah menjerumuskan guru.
Karena itu kadang-kadang Hoat-ong menjadi sedih, karena kuatir ilmu kepandaiannya akan terpendam begitu saja. Kini melihat Kwe Siang berbakat bagus, boleh dibilang susah dicari. Meski puteri musuh, tapi usianya masih muda. tidaklah sukar untuk mengubahnya, asal diajarkan ilmu kepandaian hebat kepadanya, lama-lama dengan sendirinya anak dara itu akan melupakan segala persoalan yang Ialu.
Orang-orang Bu-lim atau kalangan persilatan pada umumnya sangat memandang berat soal murid dan keturunan. Sekali Hoat-ong timbul pikiran begitu, untuk sementara urusan menggempur Siang-yang, memaksa Kwe Ceng menyerah dan lain-lain dikesampingkan semua.
Melihat biji mata orang mengerling tajam, tapi sama sekali tidak buka suara, segera Kwe Siang melompat turun dari kudanya lalu berkata:
“Kepandaian Hwesio tua memang hebat, sayangnya tidak mau berbuat baik.”
“Kalau kau kagum pada kepandaianku, asal kau angkat guru padaku, aku ajarkan seluruh kepandaianku ini kepadamu,” ujar Hoat-ong tertawa.
“Cis!” semprot Kwe Siang. “Buat apa aku mempelajari kepandaian Hwesio? Toh aku tidak ingin menjadi Nikoh?”
“Apakah belajar kepandaianku lantas harus menjadi Nikoh?” sahut Hoat-ong tertawa, “Kau menotok jalan darahku, aku dapat meIepaskan diri. Kau menindih badanku dengan batu-batu besar, batu-batu itu bisa terpental sendirinya. Kau lari menunggang kuda, tahu-tahu aku sudah tidur di depanmu, apakah semua kepandaian ini tidak menarik?”
Kwe Siang pikir kepandaian-kepandaian itu memang menarik juga, akan tetapi Hwesio tua ini adalah orang jahat mana boleh mengangkat guru? Pula dia sendiri buru-buru hendak mencari Yo Ko, tiada tempo buat mengobrol, maka katanya sambil geleng kepala:
“Lebih tinggi lagi kepandaianmu juga tak mungkin kuangkat sebagai guru.”
“Dari mana kau tahu aku orang jahat?” tanya Hoat-ong.
“Sekali hantam kau membinasakan Tiang-jiu-kui dan Toa-thau-kui, apakah itu tidak jahat?” sahut Kwe Siang, “Mereka tidak ada dendam dan tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau turun tangan begitu keji?”
“Itu justru karena aku hendak mencari kuda untukmu, mereka sendiri yang menyerangku lebih dulu, tadi kau sendiri menjadi saksi,” kata Hoat-ong. “Coba bila kepandaianku sedikit rendah, mungkin aku mati dihantam mereka. Seorang Hwesio harus welas asih, jika tidak terpaksa, tidak akan membunuh orang.”
Akan tetapi Kwe Siang menjengek tidak percaya, katanya: “Dan bagaimana kehendakmu sebenarnya? Kalau kau orang baik-baik, kenapa aku tidak boleh pergi?”
“Bilakah aku melarang kau pergi?” sahut Hoat-ong. “Kau menunggang kuda ke timur, tak kularang, ke barat, aku juga tidak mencegah, aku hanya tidur di tengah jalan, apakah aku menghalangi kau?”
“Jika begitu, kau lepaskan aku pergi mencari Yo Ko, Yo-toako, dan jangan mengikuti aku,” kata Kwe Siang.
“Itu tak boleh,” ujar Hoat-ong sambil geleng kepala. “Kau harus mengangkat guru padaku, belajar silat 20 tahun dengan aku, habis itu, kemana kau pergi, siapa ingin kau cari, boleh sesukamu.”
“Kau Hwesio ini kenapa begini tak tahu aturan? Aku tidak suka mengangkat guru padamu, kenapa kau paksa?” damperat Kwe Siang.
“Kau anak dara cilik tak kenal adat, guru pandai seperti aku, kemana bisa kau cari di seluruh jagat?” sahut Hoat-ong pula. “Kalau orang lain, sekali pun menyembah tiga kali padaku dan mohon dengan sangat agar aku menerimanya sebagai murid, belum tentu aku mau. Tapi kini kau diberi kesempatan bagus, malah berlagak jual mahal, sungguh aneh!”
“Tak tahu malu, hmm, tidak tahu malu,” tiba-tiba Kwe Siang mengolok-olok. “Guru macam apa kau ini? Paling banyak kau bisa menangkan aku seorang gadis cilik, apanya yang harus diherankan? Tapi apa kau bisa menangkan ayah-ibuku? Bisa menangkan Gwakong-ku Oey Yok-su? Jangankan mereka, seumpama Toakoko Yo Ko saja kau takkan sanggup melawannya!”
“Siapa bilang? Siapa bilang aku takkan sanggup melawan Yo Ko si anak ingusan?” tanya Hoat-ong cepat tanpa pikir.
“Semua ksatria, setiap pahlawan di kolong langit ini semuanya bilang begitu,” sahut Kwe Siang. “Tempo hari waktu ada pertemuan besar para pahlawan di Siang-yang, semuanya juga bilang bahwa tiga orang Kim-lun Hoat-ong tak akan mampu menangkan seorang Sin-tiau-tayhiap Yo Ko yang berlengan tunggal.”
Sudah tentu apa yang dikatakannya hanya untuk membikin marah Kim-lun Hoat-ong saja, tapi yang omong tidak sengaja, yang mendengar justru kena. Sebab belasan tahun yang lalu memang beberapa kali Kim-lun Hoat-ong benar-benar dikalahkan oleh Yo Ko, ia sangka kejadian ini benar-benar selalu dibuat buah tutur semua ksatria diseluruh jagat. Keruan tidak tahan api amarahnya, bentaknya segera:
“Apa bila Yo Ko si anak busuk itu berada di sini, biar dia mencicipi lihaynya aku punya ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ (ilmu sakti tenaga naga dan gajah), setelah dia tahu rasa barulah akan ketahuan sebenarnya dia Yo Ko lebih hebat atau aku Kim-lun Hoat-ong yang lebih lihay.”
Pikiran Kwe Siang jadi tergerak melihat orang betul-betul penasaran, maka katanya pula:
“Ah, sudah terang kau tahu Toakoko-ku sekarang tidak berada di sini, kau meniup harga diri setinggi langit. Coba, jika kau bernyali besar, kenapa kau tak pergi mencarinya untuk bertanding? Kau punya ilmu sakti tenaga babi dan anjing...!”
“llmu sakti naga dan gajah!” demikian Hoat-ong memotong membetulkan.
“Kalau kau menangkan dia barulah naga dan gajah, tetapi kalau kau tidak tahan sekali gebuk, paling banyak hanya jadi babi dan anjing saja!” ujar Kwe Siang, “Jika ilmu silatmu bisa menangkan dia, tidak perlu kau paksa aku, dengan sendirinya aku menyembah kau sebagai guru. Cuma aku yakin, mungkin kau tak berani mencari dia, maka percuma soal ini dibicarakan. Menurut aku, boleh jadi melihat bayangannya saja kau sudah ketakutan lantas lari ter-birit-birit.”
Hoat-ong adalah seorang cerdik, sudah tentu dia pun tahu akan kata-kata pancingan Kwe Siang. Tapi selama hidupnya dia sangat tinggi menilai dan lantaran pernah dikalahkan Yo Ko, maka sekarang ilmu sakti bertenaga naga dan gajah itu telah dilatihnya hingga tingkat ke-11. Memang dia sudah mencari Yo Ko buat menuntut balas atas kekalahannya dahulu. Maka kini mendengar kata-kata Kwe Siang, tak tahan ia menyahut keras-keras:
“Tadinya aku bilang Yo Ko berada di mana, itu hanya untuk membohongi kau saja, tapi sayangnya aku justru tidak tahu anak itu ngumpet di mana. Bila kau tahu, ajaklah, kalau aku tidak meluruk ke tempatnya dan menghajarnya hingga dia me-nyembah minta ampun!”
“Ha-ha-ha...!” tiba-tiba Kwe Siang ter-kekeh sambil tangannya bertepuk tangan: “Hwesio gundul membual anggap diri tiada bandingan, sekali melihat Yo Ko datang, tancap gas lari tunggang Ianggang!”
Hoat-ong menjengeknya satu kali, lalu membisu tanpa berkata.
“Ya, meski aku tidak tahu sekarang Yo Ko berada di mana, tetapi lewat sebulan lagi pasti dia akan datang ke suatu tempat, hal itu aku malah tahu pasti,” kata Kwe Siang kemudian.
“Datang ke mana?” tanya Hoat-ong.
“Percuma juga kukatakan padamu! Kau lak berani pergi menemuinya. jangan-jangan nanti malah bikin kau tak enak makan tak nyenyak tidur,” kala Kwe Siang.
Hoat-ong menjadi gemas kena di-kili-kili. “Katakan, coba katakan!” teriaknya sengit.
“Ia akan datang ke Coat-ceng kok, di atas jurang Toan-jong-khe, ia akan bertemu kembali dengan isterinya, Siao-liong-li,” kata Kwe Siang. “Tapi Hwesio besar, lebih baik jangan kau mengantar kematian ke sana, seorang Yo Ko saja bikin hati terkejut dan daging kedutan, apa lagi ditambah seorang Siao-liong-li.”
Memang selama belasan tahun ini Kim-lun Hoat-ong giat berlatih ‘ilmu sakti bertenaga naga dan gajah’ justru maksudnya ingin digunakan untuk melawan ‘Giok-li-soh-sim-kiam-hoat’ yang dimainkan Yo Ko dan Siao-liong-li ber-sama. Kalau dia tidak yakin akan satu dapat mengalahkan dua, tak akan dia datang ke daerah Tionggoan lagi. Kini kena di-kili-kili Kwe Siang, dia menjadi semakin murka, dari murka dia pun maIah tertawa.
“Ya, marilah sekarang juga kita pergi ke Coat-ceng-kok, kalau aku dapat mengalahkan Yo Ko dan Siao-liong-li, lalu bagaimana nanti?” tanyanya segera.
“Kalau ilmu silatmu benar-benar begitu tinggi, hm, masa aku tidak cepat mengangkat guru padamu? Bukankah itu sukar dicari?” sahut Kwe Siang. “Cuma sayang, Coat-ceng-kok itu tempatnya jauh dan sepi, tidak mudah mencarinya.”
“Kebetulan aku pernah ke sana, tak perlu kau kuatir,” ujar Hoat-ong tertawa. “Tetapi kini waktunya masih cukup lama, mari kau ikut aku pergi ke perkemahan pasukan Mongol dulu, setelah selesaikan beberapa urusan, kita pergi ke Coat-ceng-kok.”
Mendengar orang mau pergi ke Coat-ceog-kok untuk bertanding dengan Yo Ko, dalam hati Kwe Siang menjadi sangat lega, pikirnya diam-diam: “Aku kuatir kalau kau tidak mau pergi ke sana, tetapi kini kau mau pergi sendiri, ha, tahu rasa kau nanti! Kau Hwesio jahat ini tampaknya garang, nanti kalau sudah bertemu Toakoko, mungkin kau akan mengkeret seperti celurut.”
Maka ia pun pergilah ikut Hoat-ong ke tengah pasukan Mongol. Saat itu yang dipikir oleh Hoat-ong hanya ingin menjadikan Kwe Siang sebagai murid ahli-warisnya. Dia yakin asal bisa menaklukkan hati anak dara ini, kelak tentu akan menjadi muridnya yang terkemuka, Maka di sepanjang jalan dia sangat ramah tamah pada si nona. Harus diketahui, dalam kalangan Bu-lim guru pandai susah dicari, namun murid berbakat juga sukar didapatkan. Murid harus pilih guru, guru juga ingin memilih murid.
Demikianlah di sepanjang jalan Hoat-ong selalu mengajak Kwe Siang bicara dan bergurau. Dia semakin merasakan anak dara ini sangat pintar, otaknya tajam, diam-diam dia sangat girang. Kadang-kadang bila Kwe Siang berduka oleh kematian Toa-thau-kui dan Tiang-si-kui dan mencela kekejian Hoat-ong, selalu Hoat-ong anggap sepi saja tanpa gusar, malah dia anggap anak dara ini seorang berperasaan, tidak seperti Hotu yang rendah budi.
Pasukan Mongol adalah perkemahan pasukan bagian selatan yang dipimpin Kubilai, adik raja Mongol, sebaliknya tempat yang dicari Yo Ko adalah pasukan utara yang dipimpin Monko, si raja sendiri. Soalnya karena percakapan kedua kurir Mongol yang didengar Kwa Tin-ok itu kurang lengkap hingga Yo Ko buang waktu percuma, padahal waktu Yo Ko berangkat ke Coat-ceng-kok, tak lama kemudian Hoat-ong dan Kwe Siang juga berangkat seperti sudah direncanakan.
Jarak mereka tiada ratusan li, tapi jalan Yo Ko lebih cepat, lagi pula tak sabar karena ingin lekas bertemu dengan Siao-liong-li, maka dia tiba lebih dulu beberapa hari dari pada Hoat-ong dan Kwe Siang.
********
Di lain pihak, sejak puteri bungsunya itu minggat, siang malam Kwe Ceng dan Oey Yong sangat berkuatir. Belasan hari kemudian, beberapa anak murid Kay-pang yang ditugaskan pergi mencari kabar juga pulang dengan tangan hampa. Selang beberapa hari, mendadak Thia Eng dan Bu-siang datang di Siang-yang dan membawa kabar buruk berasal dari Kwa Tin-ok bahwa Kwe Siang telah tertawan oleh pasukan Mongol.
Keruan Kwe Ceng dan Oey Yong sangat terkejut. Malam itu juga Oey Yong bersama Thia Eng menyelidiki ke perkemahan musuh, tetapi serupa saja seperti Yo Ko, mereka pun tidak memperoleh tanda-tanda. Bahkan malam ketiga mereka kepergok patroli Mongol sehingga Oey Yong dan Thia Eng terkepung beberapa puluh perwira. Syukur Oey Yong dan Thia Eng bukanlah orang lemah, dengan ilmu silat mereka yang hebat dapat lolos dari kepungan musuh.
Melihat gelagatnya, Oey Yong menduga puteri kecil itu tentu tidak ada dalam pasukan Mongol, tetapi sedikit pun belum mendapat berita, ini bukanlah alamat baik. Maka, setelah berunding dengan Kwe Ceng, ia putuskan akan keluar kota mencari sendiri. Ia membawa sepasang rajawali putih piaraannya untuk menjaga bila perlu dapat dibuat mengirim surat.
Thia Eng dan Liok Bu-siang berkeras ingin ikut serta, sungguh kebetulan bagi Oey Yong bisa memperoleh dua pembantu yang kuat, maka mereka bertiga mengitari kemah pasukan Mongol terus menuju ke barat laut. Menurut taksiran Oey Yong, kepergian Kwe Siang itu adalah hendak menasihatkan Yo Ko agar jangan mencari pikiran pendek. Dulu bertemunya mereka ada di sekitar tambangan Hongleng, sekali ini tentu si nona akan pergi ke sana pula, karena itu bila lebih dulu ke Hongleng, besar kemungkinan akan mendapat jejaknya.
Ketika mereka bertiga berangkat dari Siang-yang, saat itu masih musim dingin, sepanjang jalan mereka mencari kabar dan setiba di tambangan Hongleng, sementara sudah masuk musim semi, salju sudah mencair, sungai sudah mengalir normal. Setengah harian Oey Yong bertiga mencari keterangan di kota tambangan itu, baik tukang perahu, pengurus hotel, tukang kereta, mau pun kuli pikul, semuanya bilang tidak melihat nona seperti yang ditanyakan itu.
”Suci (kakak seperguruan),” kata Thia Eng kepada Oey Yong. “Hendaklah kau tidak perlu kuatir. Ketika Siang-ji lahir, hari itu juga digondol lari oleh Kim-lun Hoat-ong dan Li Bok-chiu, dua momok yang paling disegani. Jika dulu tidak apa-apa, rasanya sekarang juga takkan ada bahaya.”
Oey Yong hanya menarik napas tanpa menjawab. Mereka meninggalkan kota tambangan itu dan menuju ke jurusan pegunungan sepi. Suatu hari, sang surya memancarkan sinarnya yang hangat, angin selatan silir-silir sejuk, tetumbuhan sudah banyak mekar berbunga, musim semi semakin menarik.
“Suci,” kata Thia Eng sambil menunjuk bunga Tho yang menarik kepada Oey Yong sekedar menghiburnya. “Musim semi di daerah utara belum lagi mulai, tetapi di sini bunga Tho sudah mekar dengan indahnya, bahkan pohon Tho di pulau Tho-hoa-to biasanya sudah lama berbuah!” Sembari berkata Thia Eng memetik sekuntum bunga Tho yang indah.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mengaung-aungnya tawon, seekor tawon besar terbang mengitari bunga Tho yang dipegang Thia Eng, kemudian hinggap dan menyelusup masuk ke dalam kelopak bunga itu untuk menghisap sari bunganya.
JANJI PERTEMUAN
Melihat tawon itu berwarna putih kelabu, ukuran badannya berlipat ganda dari pada tawon umumnya, hati Oey Yong jadi tergerak.
“Agaknya ini adalah Giok-hong (tawon putih) piaraan Siao-liong-li, kenapa bisa muncul di sini?” demikian katanya heran.
“Ya,” sahut Liok Bu-siang, “Mari kita menguntit tawon ini terbang ke mana?”
Sesudah selesai menghisap sari bunga, tawon itu lalu terbang mengitari udara beberapa kali dan akhirnya menuju ke barat-laut. Lekas-lekas Oey Yong mengikutinya dengan ilmu enteng tubuh yang cepat. Agak lama tawon itu terbang, pada saat menemukan tumbuhan bunga, kembali berhenti, kemudian terbang lagi dan berhenti pula beberapa kali, akhirnya bertambah lagi dengan dua ekor tawon lain. Menjelang petang mereka bertiga sudah menguntit sampai di suatu lembah gunung yang pemandangannya sangat indah. Di tanah di sekitar sana terdapat beberapa sarang tawon terbuat dari kayu, dan sampai di sana ketiga ekor tawon tadi segera menyusup ke sarangnya.
Sesudah mereka memandang, di tanah datar sebelah lain terdapat tiga-empat buah rumah dan ada dua rase kecil sedang bermain. Tiba-tiba pintu rumah gubuk yang tengah terpentang dan keluarlah seorang tua bermuka merah bercahaya, rambut hitam ke-putihan, nyata dialah Lo-wan-tong Ciu Pek-thong. Keruan Oey Yong sangat girang, segera ia berteriak:
“Hai, Lo-wan-tong, lihatlah, siapa yang datang?”
Begitu melihat Oey Yong, Ciu Pek-thong juga tertawa gembira. Dia langsung berlari maju menyambut, tapi baru beberapa langkah, mendadak selebar mukanya merah jengah, lalu putar tubuh terus menyelinap masuk rumah lagi, pintu digabrukkan dan dikunci rapat. Oey Yong menjadi heran oleh kelakuan si tua nakal itu, dia gedor pintu rumah itu sambil berseru.
“Hayo, Lo-wan-tong, kenapa kedatangan tamu malah bersembunyi?”
“Tidak mau buka, tidak mau buka!” sahut Ciu Pek-thong dari dalam.
“Ha-ha-ha…., kau tak mau buka, sebentar kubuka ruang kucingmu ini,” kata Oey Yong tertawa.
Pada saat lain tiba-tiba pintu rumah sebelah sana juga terpentang, lalu seorang menyapa dengan tertawa.
“Ha-ha-ha, pegunungan sunyi ini sudah kedatangan tamu agung, Hwesio tua mengaturkan selamat datang!”
Ketika Oey Yong menoIeh, terlihatlah It-teng Taysu berdiri di depan pintu dengan senyum simpul dan sedang memberi hormat. Segera Oey Yong membalas hormat orang dan menyapa:
“Ehh, kiranya Taysu menjadi tetangga Lo-wan-tong, sungguh tidak nyana. Dan entah mengapa mendadak Lo wan-tong menutup pintu dan tidak terima tamu?”
It-teng terbahak-bahak mendengar itu, katanya: “Jangan urus dia! Mari silakan masuk kemari!”
Lalu mereka pun masuk ke rumah It-teng Taysu dan disuguh teh oleh tuan rumah.
“Kwe-hujin, coba kau menerkanya, siapakah penghuni rumah gubuk sebelah kanan itu?” kata It-teng kemudian.
Oey Yong ingat kelakuan Ciu Pek-thong tadi yang tiba-tiba bermuka merah jengah. Segera pikirannya bergerak dan tahulah ia sebab musababnya, maka jawabnya dengan bersajak:
“Empat buah perkakas tenun, maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan.”
Ia bacakan sebuah sajak gubahan Lau-kuihui alias Eng-koh sekarang, yang merindukan kekasih. Karena itu It-teng Tay-su tertawa memuji:
“Kwe-hujin benar-benar hebat, segalanya tidak terlepas dari dugaanmu.”
Lalu ia melongok keluar dan memanggil: “Eng-koh, Eng-koh, marilah menemui kawan cilik kita.”
Tak lama datanglah Eng-koh membawa senampan minuman beserta makanan manisan, buah-buahan, kacang dan lain-lain. Cepat Oey Yong memberi hormat dan kelima orang lantas pasang omong dengan meriah. Kiranya sesudah menyelesaikan suka-duka selama berpuluh tahun, It-teng Tay-su, Eng-koh dan Ciu Pek-thong lalu tinggal bersama, menyepi di lembah beribu bunga ini sambil bercocok tanam, piara tawon dan lain-lain, segala kejadian yang merikuhkan dulu sudah terlupa semua.
Walau pun begitu, ketika Ciu Pek-ong melihat Oey Yong, tanpa terasa dia menjadi kikuk, maka dia sembunyi dan tutup pintu rapat-rapat. Meski sembunyi di dalam rumah, namun dia tetap pasang kuping mendengarkan percakapan kelima orang itu. Saat didengarnya cerita Oey Yong tentang pertemuan besar kaum ksatria di Siang-yang, kemudian tentang terbongkarnya kedok Hotu yang menyamar sebagai Ho Su-ngo, sampai bagian yang mengasyikkan tetapi tiba-tiba Oey Yong sengaja membelokkan ceritanya, maka Pek-thong tak tahan, ia menerobos ke rumah langsung tanya Oey Yong:
“Lalu bagaimana dengan keparat Hotu itu? Apakah ia berhasil lolos?”
Begitulah malamnya Oey Yong bertiga lantas menginap di rumah Eng-koh. Esok paginya, ketika Oey Yong keluar, dilihatnya Ciu Pek-thong sedang berjingkrak-jingkrak kegirangan dan tangannya membawa seekor tawon putih.
“Lo-wan tong, ada apakah begitu gembira?” tanya Oey Yong tertawa.
“Ha-ha-ha, Oey Yong cilik, kepandaianku makin lama semakin tinggi, kau kagum tidak?” demikian sahut Pek-thong.
Oey Yong kenal sifat si tua nakal itu. Selama hidupnya hanya ada dua kesenangan, kesatu ilmu silat dan kedua main-main dan menerbitkan onar. Ia menduga tentu Ciu Pek-thong telah menciptakan semacam ilmu silat aneh, maka ia menjadi ingin melihatnya, jawabnya segera:
“IImu silat Lo-wan-tong sudah sangat kukagumi sejak dulu, hal ini tak perlu ditanya lagi. Tapi selama beberapa tahun ini apa ada ciptaan ilmu silat baru lagi yang aneh-aneh dan bagus?”
“Bukan, bukan ilmu silat,” kata Ciu Pek-thong menggeleng kepala, “llmu silat paling hebat terakhir yang kulihat adalah ‘lm-jian-siau-hun-ciang’ ciptaan si bocah Yo Ko. Lo-wan-tong sudah mengaku kalah, maka soal ilmu silat jangan dibicarakan lagi.”
Diam-diam Oey Yong sangat heran, pikirnya: “Hebat benar si Yo Ko ini, yang kecil seperti Kwe Siang, yang tua ada juga Lo-wan-tong yang begitu kesemsem padanya. Entah ilmu pukulan ‘Im-jian-siau-hun-ciang’ itu bagaimana macamnya?” Maka kemudian ia pun tanya Ciu Pek-thong:
“Lalu kau bilang makin lama semakin pandai. Ilmu sakti apakah itu?”
Ciu Pek-thong angkat tinggi tangannya. Dia tidak lantas menjawab, dia unjukkan tawon putih itu dengan rasa bangga, kemudian katanya:
“kepandaianku memiara tawon.”
“Tawon ini adalah pemberian Siao-liong-li kepadamu, apanya yang mengherankan?” ujar Oey Yong.
“lni yang kau tidak paham,” kata Pek-thong. “Tawon yang Siao-liong-li berikan padaku memang betul adalah jenis yang sangat bagus, tetapi sesudah Lo-wan-tong memelihara lebih giat, kini dapat kuperoleh sejenis bibit tawon yang tiada bandingan di seluruh jagat, betapa pun hebat orang pandai juga tiada yang dapat menciptakannya, mana bisa Siao-liong-li dibandingkan aku lagi.”
“Ha-ha-ha…” Oey Yong tertawa, “Semakin tua Lo-wan-tong semakin bermuka tebal, pandai sekali kau me-niup diri sendiri setinggi langit, se-akan di jagat ini tiada bandingannya.”
Namun Pek-thong tidak marah, malah dengan ter-kekeh ia berkata lagi. “Oey Yong cilik, coba aku ingin tanya. Manusia adalah makhluk tercerdik dari segala makhluk hidup, tubuh orang banyak yang suka ditisik dengan gambar dan tulisan. Akan tetapi kecuali manusia, di antara tubuh binatang apakah ada yang terdapat tulisan?”
“Harimau ada yang Ioreng, macan tutul kulitnya ber-tutul, kupu dan ular berbisa, tubuh mereka semuanya berlipat ganda lebih mengherankan dari pada tisikan gambar di badan manusia,” ujar Oey Yong.
“Ya, akan tetapi pernahkah kau melihat di badan sebangsa serangga dan penyengat ada tulisannya?” kata Pek-thong.
“Apa kau maksudkan dari pembawaannya? Memang belum pernah,” sahut Oey Yong.
“Baik, nah, ini biar kutunjukkan,” kata Pek-thong sambil ulurkan tangannya ke depan mata Oey Yong.
Maka tampaklah tawon besar di tengah telapak tangannya itu pada kedua sayapnya benar-benar terdapat tisikan tulisan. Waktu Oey Yong menegasi, dia lihat pada sayap kiri tawon putih itu tertulis huruf ‘Aku berada di’ dan di sayap kanan juga ada tiga huruf ‘Coat-ceng-kok’, setiap hurufnya sebesar beras menir, tapi tulisannya amat jelas, terang dibuat dengan tisikan jarum yang paling lembut.
Oey Yong jadi terheran-heran, ia menggumam sendiri: “Aku berada di Coat-ceng-kok, aku berada di Coat-ceng-kok.” Diam-diam dia pikir pula: ”Andai keenam huruf ini pasti bukan pembawaan, tapi ada orarg sengaja menisiknya. Kalau menuruti tabiat Lo-wan-tong, tak mungkin dia bisa melakukan pekerjaan yang makan tempo dan harus sabar.” Tetapi segera dia berpendapat lain lagi, katanya dengan terlawa:
“Ai, begini saja kenapa bilang aneh? Kau minta Eng-koh tisikkan enam huruf ini, masa kau mampu membohongi aku?”
Muka Pek-thong menjadi merah, sahutnya: “Kau boleh tanya Eng-koh apakah aku minta dia menisik tulisan di sini?”
“Tentu saja dia akan membela kau, jika kau bilang matahari dari barat, tentu saja dia akan berkata: ‘Ya, ya, benar, matahari muncul dari arah barat’!” ujar Oey Yong tertawa.
Selebar muka Lo-wan-tong menjadi makin merah, merahnya malu-malu, rasa kikuk dan terasa penasaran pula. Karena itu dia lepaskan tawon di tangannya itu, lalu tangan Oey Yong ditariknya sembari berkata:
“Mari, mari, biar kutunjukan, boleh kau periksa sendiri.” ia seret Oey Yong ke suatu sarang tawon di tanah datar sebelah sana, Sarang tawon itu berdiri sendiri jauh dari yang lain-lain. Ketika Pek-thong gerakkan tangannya, segera dua ekor tawon dapat ditangkapnya.
“Nih, lihat!” katanya.
Waktu Oey Yong mengamat-amati, benar juga pada kedua sayap tawon-tawon itu juga ada tulisannya dan serupa tadi terdiri dari enam huruf, yang kiri ‘Aku berada di’ dan yang kanan ‘Coat-ceng-kok’. Oey Yong heran sekali, pikirnya diam-diam: “Betapa pun aneh pencipta makhluk juga tak mungkin menciptakan tawon seperti ini. Pasti di balik ini ada sebab-sebabnya.” Maka katanya pula:
“Cobalah. Lo-wan-tong, kau tangkap lagi beberapa ekor!”
Segera Pek-thong menangkap empat tawon, dua di antaranya bersih sayapnya, tapi dua ekor lainnya ada pula tisikan enam huruf serupa itu. Melihat Oey Yong termangu-mangu, terang dia sudah mengaku kalah, Pek-thong menjadi senang, katanya dengan tertawa.
“Nah, apa yang bisa kau katakan lagi? Hari ini kau kalah tidak dengan Lo-wan-tong?”
Oey Yong tidak menjawab, tapi ia menggumam huruf itu: “Aku berada di Coat-ceng kok.” Sesudah beberapa kali ia ulangi, tiba-tiba saja ia melompat dan berseru: “Ya, tahulah aku sekarang. Itu harus dibaca menjadi ‘Aku berada di dasar Coat-ceng-kok’! Siapakah yang berada di dasar Coat-ceng-kok? Jangan-jangan Siang-ji?”
Segera dia tanya Ciu Pek-thong: “Lo-wan-tong, tawon ini bukan kau yang piara sendiri, tapi datang dari lain tempat, betul tidak?”
Kembali wajah Pek-thong merah lagi, sahutnya: “Ehh, aneh, dari mana kau tahu?”
“Tentu saja aku tahu,” kata Oey Yong, “Tawon ini sudah berapa hari bersarang di sini?”
“Tidak terhitung hari lagi, tetapi sudah beberapa tahun!” sahut Pek-thong. “Mula-mula aku tidak perhatikan bahwa di sayap tawon ini ada tulisannya, baru beberapa hari yang lalu dapat kulihat.”
“Benar-benar sudah beberapa tahun?” desak Oey Yong.
“Ya, kenapa kudustai kau?” jawab Pek-thong.
Oey Yong termenung-menung sejenak. Segera dia kembali ke rumah sebelah sana lantas berunding dengan It-teng Taysu, Thia Eng dan Liok Bu-siang. Semuanya juga merasa di dasar Coat-ceng-kok pasti ada apa-apanya. Karena menguatirkan puterinya, segera Oey Yong bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang mohon diri hendak berangkat ke sana. Segera pula It-teng menyatakan ikut serta. Melihat kawan-kawan pada pergi, sudah tentu Lo-wan-tong tak mau kesepian, ia berkeras mengajak Eng-koh juga turut.
Oey Yong menjadi lega dengan bertambahnya pembantu tiga tokoh terkemuka itu. Ia pikir dengan enam orang yang baik mengadu pikiran mau pun mengadu kekuatan mungkin di seluruh jagat ini tiada tandingan lagi, sekali pun Siang-ji jatuh dalam cengkeraman orang jahat, tentu dapat ditolong keluar. Maka enam orang bersama sepasang rajawali lantas beramai menuju ke arah barat.
********
Kembali tentang Yo Ko. Karena janji pertemuan kembalinya dengan Siao-liong-li sudah hampir tiba, dia tak berani ayal, dia jalan terus siang-malam menuju Coat-ceng-kok atau Iembah putus cinta. Setiba di tempat tujuan, menurut perhitungan masih kurang lima hari dari pada hari yang dijanjikan Siao-liong-li 16 tahun yang lalu. Lembah ini sepi nyenyak, gedung megah yang dahulu dibangun suami-isteri Kongsun Ci dan anak muridnya yang berbaju hijau sudah ambruk atau bobrok.
Sejak 16 tahun yang lalu Yo Ko tinggalkan lembah itu, setiap beberapa tahun sekali pasti dia datang dan tinggal lagi di lembah itu dengan harapan Lam-hay Sin-ni menaruh belas kasihan dan mendadak memulangkan Siao-liong-li, Walau pun setiap kali dia harus kembali dengan tangan hampa dan lesu, tapi setiap kali selalu beberapa tahun lebih dekat dengan waktu yang dijanjikan itu.
Sekarang ia mengunjungi tempat lama pula. Ia lihat keadaan sunyi penuh semak belukar, sedikit pun tiada tanda-tanda pernah diinjak manusia. Segera ia berlari ke Toan-jong-khe atau karang patah hati, ia melalui jembatan batu yang hanya terdiri dari selonjor batu panjang, kemudian me-raba tulisan di atas dinding tebing yang ditinggalkan Siao-liong-li dahulu. Dengan jarinya dia masukkan ke dekukan tulisan itu dan mengkorek keluar lumut yang menutupi hurufnya, maka segera nampaklah kedua baris tulisan dengan jelas. Perlahan Yo Ko membacanya:
‘Dengan sangat Siao-liong-li menyampaikan pesan kepada suamiku Yo Ko supaya menjaga diri baik-baik dan harus berusaha untuk berkumpul kembali’.
BegituIah sehari penuh dia termenung memandangi kedua batu tulisan itu. Malamnya dia tidur di atas pohon dengan ranjang tali seperti dahulu. Besoknya Yo Ko pesiar ke seluruh lembah itu. Ia lihat tanaman Ceng-hoa atau bunga cinta yang dulu dibabat olehnya bersama Thia Eng dan Liok Bu-siang kini tidak berkembang lagi, tetapi bunga merah yang olehnya diberi nama ‘Liong-li-hoa’ atau bunga puteri Liong, sedang mekar dengan indahnya. Maka dia petik seikat bunga merah itu lantas ditaruh di depan tebing yang terdapat tulisan Siao-liong-li itu. BegituIah, dengan perasaan tertekan dia lewatkan hari, sampai tanggal 7 bulan tiga, Yo Ko sudah dua hari dua malam tidak pernah tidur.
Sejak itu dia tak mau berpisah setengah langkah pun dari karang patah hati itu. Sejak pagi dia menanti, dari pagi hingga siang dan siang berganti sore, setiap ada angin meniup atau pohon bergerak, segera dia melompat bangun melongak-longok sekitarnya, tapi bayangan Siao-liong-li tetap tidak tampak! Sejak Yo Ko mendengar kata-kata Oey Yok-su tempo hari, dia tahu bahwa ‘Lam-hay Sin-ni’ hanya karangan Oey Yong belaka. Tapi tulisan di tebing itu jelas adalah tulisan tangan Siao-liong-li yang tidak bisa dipalsukan. Maka dia tetap berharap sang isteri akan penuhi janji dan bisa berkumpul kembali.
Sementara itu sang surya telah silam, hati Yo Ko tenggelam mengikuti silamnya sang petang. Ketika matahari tertutup puncak gunung, Yo Ko menjerit dan berlari ke atas puncak. Di tempat setinggi itu, bola merah membara kembali tampak bulat lagi. Hatinya menjadi sedikit lega, asal sang surya belum menghilang, berarti tanggal 7 bulan tiga itu pun belum lagi lalu. Namun demikian akhirnya sang surya tetap silam di ufuk barat sana. Yo Ko masih terpaku di puncak gunung, keadaan sunyi dan kosong belaka, hawa dingin menusuk tulang, cuaca remang-remang sudah mulai. Dia berdiri terpaku, lama sekali tetap tidak bergerak.
Lewat agak lama, bulan sabit per-lahan tampak tergantung di tengah cakrawala, bukan saja hari tanggal 7 sudah akan lalu, bahkan malam ini pun akan lalu dengan cepat. Tetapi Siao-liong-li masih tetap tidak muncul. Bagaikan patung saja semalam suntuk Yo Ko berdiri terpaku di puncak gunung sampai sang surya muncul di sebelah timur. Sungguh indah permai suasana pagi di pegunungan, burung berkicauan merdu, bunga mekar mewangi, sungguh musim semi ini memabukkan orang. Namun waktu itu hati Yo Ko dingin bagai es, lapat-lapat suara mendenging di tepi telinganya.
“Tolol! Sudah lama dia mati, 16 tahun yang lalu dia sudah mati. Dia tahu dirinya kena racun tak bisa sembuh dan kau pun tak mau hidup sendirian, maka dia telah bunuh diri dan mendustai kau untuk menanti 16 tahun. Tolol, begitulah cintanya padamu, apakah sampai hari ini masih kau tidak mengerti akan jalan pikirannya?”
Perlahan Yo Ko turun dari puncak gunung dengan raga tanpa jiwa. Sehari-semalam dia tidak makan minum, ia merasa mulutnya kering, ia pergi ke tepi sungai kecil dan meraup air untuk diminum. Pada waktu menunduk, mendadak terlihat bayangan dirinya dalam air, tampak kedua pelipisnya telah ke-putihan. Kini dia berusia 36 tahun, mestinya seutas rambut putih pun tiada, tetapi kini mendadak kedua pelipisnya tampak putih, mukanya kotor, hampir ia tak mengenali dirinya sendiri. Mendadak ia melompat menuju ke depan karang Toan-keng-khe, ia pandang kedua baris tulisan guratan Siao-liong-li itu, ia berteriak keras:
”16 tahun kemudian, bertemu lagi di sini, cinta kasih suami isteri, janganlah ingkar janji! Tapi Siao-liong-li, wahai Siao-liong-li, tulisan yang kau ukir sendiri ini, kenapa sekarang kau malah tidak menepati janji?” Suaranya begitu keras menggema di angkasa raya, seluruh lembah gunung seakan-akan tergetar, dari empat penjuru berkumandang kembali suara:
“Kenapa kau tidak menepati janji.....? Tidak menepati janji….? Tidak menepati janji...?”
Dasar pembawaan Yo Ko berwatak keras dan mudah tersinggung, kini segala harapannya hampa belaka, pikirnya: “Jika Liong-ji sudah meninggal 16 tahun yang lalu, sungguh tiada artinya bagiku hidup sendiri selama ini.”
Dia memandangi jurang Toan-jong-khe yang entah berapa dalamnya itu, dia menggumam perlahan:
“Dahulu mendadak kau menghilang tanpa bekas, agaknya kau sudah terjun ke dalam jurang ini, Selama 16 tahun ini, apakah kau tidak kesepian?”
Begitulah tiba-tiba pandangannya terasa kabur, bayangan Siao-liong-li seakan muncul di kelopak matanya, sayup-sayup seperti terdengar suara Siao-liong-li sedang memanggilnya di dasar jurang:
“Yo-long, Yo-Iong! Janganlah berduka, janganlah berduka!”
Tiba-tiba Yo Ko memejamkan mata dan tubuhnya melayang ke depan, ia terjun ke dalam jurang.
*********
Kembali kepada Kim-lun Hoat-ong yang membawa Kwe Siang menuju Coat-ceng-kok. Hoat-ong benar-benar manusia aneh. Di waktu ganas kejamnya melebihi binatang berbisa, tetapi karena dia sudah mengambil ketetapan akan menerima Kwe Siang sebagai ahli warisnya, sepanjang jalan dia menjadi begitu memperhatikan diri anak dara itu, begitu sayang bagai puteri sendiri saja. Sebaliknya karena benci pada Hoat-ong yang telah membinasakan Tiang-si-kui dan Toa-thau-kui secara keji, maka Kwe Siang selalu bersikap dingin. Hari itu mereka sampai di Coat-ceng-kok. Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang yang sangat keras:
“Kenapa kau tidak menepati janji?!”
Suara itu penuh rasa penasaran, putus asa dan menderita sekali. Ketika kemudian suara yang menggema itu berkumandang kembali dari balik ke lembah gunung, Kwe Siang terkejut. Serunya:
“Ha, itulah suara Toakoko, lekas kita mencarinya ke sana.” Sembari berkata segera dia mendahului memburu ke lembah pegunungan itu.
Mendengar lawan besar telah mendekat, semangat Kim-lun Hoat-ong bangkit seketika, segera dari buntalannya dia keluarkan ‘panca-roda’, senjatanya yang istimewa, lima roda yang terdiri dari lima macam logam: emas, perak, tembaga, besi dan timah. Biar pun sekarang ilmu sakti tenaga naga dan gajah sudah dilatih hingga tingkatan ke-11, namun seIama 16 tahun ini dia yakin Yo Ko dan Siao-liong-li juga tidak melewatkan waktu percuma, maka Hoat-ong sedikit pun tidak berani meremehkannya.
Begitulah Kwe Siang berlari menuju tempat datangnya suara. Tak lama ‘jurang patah hati’ itu sudah dekat, terlihatlah waktu itu Yo Ko masih berdiri di atas karang, belasan tangkai bunga merah bergerak di sekitarnya. Melihat jurang itu amat curam, Kwe Siang lidak berani melayang ke sana, maka serunya:
“Toakoko, aku datang!”
Namun hati Yo Ko sudah hancur luIuh, tidak mendengar seruan anak dara itu. Dari jauh melihat kelakuan orang agak aneh, cepat Kwe Siang berteriak:
“Toakoko, aku masih menyimpan sebuah jarum emas pemberianmu. Kau harus dengar kataku, jangan kau bunuh diri!”
Sembari berkata, tanpa pikir lagi ia berlari hendak mendekati Yo Ko melalui belandar batu jurang, namun sampai di tengah jalan, terlihatlah Yo Ko sudah terjun ke bawah jurang yang tak terperikan dalamnya. Keruan kejut Kwe Siang tidak kepalang dan terasa sukmanya terbang ke awang. Sesaat itu juga entah terpeleset karena kaget atau sebab berpikir hendak menolong Yo Ko, atau mungkin juga karena cintanya sudah mendalam hingga rela menyusulnya ke alam baka, mendadak anak dara itu pun ikut terjun ke bawah jurang.
Tatkala itu Kim-lun Hoat-ong ketinggalan kira-kira beberapa tombak di belakang. Melihat Kwe Siang jatuh ke bawah, cepat dia melesat maju untuk menolong. Betapa pesat ilmu entengi tubuh Hoat-ong ini seperti anak panah terlepas dari busurnya, namun toh masih terlambat sedikit. Saat memburu sampai di tepi jurang, tubuh Kwe Siang telah terjerumus ke bawah. Tanpa pikir lagi Hoat-ong gunakan gerakan ‘To-kwa kim-kau’ atau kaitan emas tergantung terbalik, dengan kakinya menggantoI di pinggir jurang. Cara Hoat-ong ini sesungguhnya sangat berbahaya, sedikit saja meleset, boleh jadi dia sendiri pun tergelincir masuk jurang.
“Brett!”
Maka terdengarlah suara kain baju Kwe Siang sobek sebagian, sedang tubuh anak dara itu masih terus tenggelam ke bawah jurang, kabut tebal yang menutupi dari bawah jurang itu segera menelan Kwe Siang tanpa bekas. Kim-lun Hoat-ong menghela napas gegetun. Dia menjadi lesu, sepotong kain baju masih dipeganginya, dia termangu-mangu memandang ke dalam jurang. Selang agak lama, tiba-tiba saja didengarnya di seberang sana ada seseorang menegurnya:
“Hai, Hwesio, apa yang kau lakukan di sini?”
Hoat-ong menoleh. Dia lihat di atas gunung sana berdiri enam orang, yang paling depan seorang tua bermuka muda, Ciu Pek-thong. Di sampingnya berdiri tiga wanita yang dikenalnya sebagai Oey Yong, Thia Eng, dan Liok Bu-siang. Dan di belakangnya seorang Hwesio tua beralis jenggot putih beserta seorang wanita tua berbaju hitam mulus. Dua orang terakhir ini tak dikenalnya, yakni It-teng Taysu dan Eng-koh. Sudah beberapa kali Hoat-ong kenal kepandaian Ciu Pek-thong. Ia tahu ilmu silat si tua ini luar biasa lihaynya, selamanya ia pun rada jeri padanya, apa lagi kini ditambah Oey Yong yang merangkap pelajaran Tang-sia dan Pak-kay, orangnya cerdik isinya banyak. Lebih-lebih dalam keadaan berduka atas kematian Kwe Siang, sebenarnya tiada niat lagi buat bermusuhan, maka katanya kemudian dengan muram:
“Nona Kwe Siang telah terjun ke dalam jurang!”
“Hah?!” semua orang terkejut. Terutama Oey Yong sebagai ibu, ia yang paling tergoncang hatinya, dengan suara gemetar ia menegas: “Apa benar katamu?”
“Untuk apa aku dusta? Bukankah ini kain bajunya?” sahut Hoat-ong sembari menggerakkan sobekan baju Kwe Siang yang masih dipegangnya.
Melihat kain itu memang benar-benar adalah sobekan baju puterinya, seketika Oey Yong menggigil seakan-akan terjerumus ke dalam jurang es dan tak sanggup buka suara. Segera Ciu Pek-thong menjadi marah bukan main, damperatnya:
“Hwesio busuk, kenapa kau membunuh nona cilik itu? Hatimu benar-benar kejam!”
“Bukan aku yang membunuhnya,” sahut Hoat-ong.
“Tanpa sebab mengapa dia bisa terjun ke dalam jurang?” debat Pek-thong. “Kalau bukan kau mendorongnya, tentu kau yang memaksanya!”
“Bukan keduanya,” kata Hoat-ong sambil menggelengkan kepala. “Aku malah bermaksud menerimanya sebagai murid ahli warisku, mana mau sembarangan aku membunuhnya?”
“Fuih!” mendadak Ciu Pek-thong meludahi orang dengan dahak kental. Lalu damperatnya: “Kentut, kentut! Engkongnya adalah Oey-losia, ayahnya Kwe Ceng dan ibunya Oey Yong, siapa di antara mereka yang tidak lebih hebat dari pada kau, Hwesio busuk? Mana sudi ia mengangkat guru padamu untuk mewarisi ilmumu yang apek? Huh, melulu aku Lo-wan-tong saja jika mau mengajarkan beberapa jurus padanya juga lebih hebat dari pada segala gelangmu yang rombengan ini!”
Jarak Pek-thong dengan Hoat-ong cukup jauh, tetapi dahak kental yang disemprotkan itu laksana sebutir peluru saja mengarah ke mukanya. Lekas-lekas dia mengegos dan diam-diam merasa kagum. Sebaliknya Lo-wan-tong menjadi bertambah senang karena orang tidak berani menjawab damperatannya tadi. Dengan suara keras dia mendesak pula:
“Nah, tentunya dia tak sudi mengangkat guru padamu, bukan? Tapi kau tetap berkeras hendak menerimanya sebagai murid?”
Hoat-ong mengangguk.
“Nah, apa yang perlu dikatakan lagi? Bukankah karena itu lantas kau mendorongnya ke dalam jurang?” teriak Pek-thong pula.
Namun perasaan Hoat-ong masih cemas oleh kematian Kwe Siang. Dia menghela napas dan menyahut:
“Aku tidak mendorong dia. Tapi sebab apa aku tidak mengerti!”
Sementara itu Oey Yong sudah agak tenang. Sekali dia mengertak gigi, pentung bambu diangkat terus menubruk ke arah Hoat-ong. Dengan gaya ‘bong’ mengurung, bayangan pentungan berkelebat kian kemari, seketika tubuh Hoat-ong dikurung oleh pentungnya. Karena ingin membalaskan dendam puterinya, di atas belandar batu yang lebarnya hanya satu dua kaki itu Oey Yong meluncurkan tipu-tipu serangan mematikan ber-tubi-tubi.
Meski ilmu silat Hoat-ong sebenarnya lebih tinggi dari pada Oey Yong, tapi tak berani dia mengadu jiwa. Melihat permainan pentung orang sangat hebat, bila dia terlibat sedikit saja hingga Ciu Pek-thong maju membantu, pula di tempat yang berbahaya, tentu ia akan sulit melawannya. Mendadak dia tutul kakinya melompat mundur, habis itu dia bersiul panjang, tahu-tahu dia melayang Iewat di atas kepala Oey Yong.
Cepat Oey Yong angkat pentungnya menyodok ke atas, namun kena ditangkis oleh roda perak Hoat-ong. Ketika Oey Yong membalikkan tubuh, saat itu pula Ciu Pek-thong memberondongkan pukulan dan tendangan, lantas bergebrak dengan Hoat-ong. Mengingat dirinya seorang guru besar aliran silat tersendiri, melihat lawannya tidak bersenjata, Hoat-ong menyelipkan rodanya ke pinggang, lalu dengan tangan kosong dia melayani Pek-thong. Dalam pada itu Oey Yong sudah memburu lagi, pentungnya terus menyodok ke punggung Hoat-ong.
Sejak Hoat-ong berhasil melatih ‘Liong-jio-pan-yok-kang’ hingga tingkat ke-11, selamanya ilmu ini belum pernah dia gunakan. Kini ketemu lawan tangguh, kebetulan baginya untuk mencobanya. Karena itu, ketika melihat jotosan Ciu Pek-thong tiba, segera dia pun balas menjotos dengan kepalan lawan kepalan. Pek-thong terperanjat. Ia tahu tenaga kepalan orang tentu hebat, maka tak berani keras lawan keras. Sedikit ia tekan ke bawah, cepat ia gunakan pukulan ‘Khong-beng-kun’ atau pukulan terang-terang kosong.
Meski tidak sekuat naga atau gajah, tenaga pukulan Hoat-ong itu beratnya melebihi ribuan kati, tubuh manusia tak mungkin sanggup menahannya. Tapi ketika saling beradu dengan tenaga pukulan Ciu Pek-thong, tiba-tiba saja terasa mengenai tempat kosong. Diam-diam Hoat-ong heran, menyusul cepat tangan kiri pun dihantamkan. Sementara itu Lo-wan-tong sudah dapat mengetahui tenaga Hoat-ong ternyata besar luar biasa. Tapi dasar pembawaannya ‘gila silat’, asal mengetahui siapa mempunyai semacam kepandaian istimewa, pasti ingin dijajalnya.
Tetapi selama hidupnya tenaga pukulan sebesar Hoat-ong ini belum pernah didengarnya, apa lagi melihat. Seketika ia menjadi bingung macam apakah ilmu silat orang ini? Segera dia keluarkan 72 jurus Khong-beng-kun yang ‘terang-terang kosong’ itu untuk melawan tenaga pukulan orang yang maha kuat.
TOAN-JONG-KHE (Jurang Patah Hati)
Dengan begitu, tenaga raksasa Hoat-ong menjadi tidak berguna. Beberapa kali Hoat-ong melontarkan serangan, tidak mencapai sasarannya, keruan dia menjadi kesal tidak kepalang. Ilmu sakti yang sudah dilatihnya belasan tahun dan baru sekali keluar ternyata tidak berguna. Pada saat lain tiba-tiba didengarnya sambaran angin dari belakang, pentung bambu Oey Yong kembali menotok lagi ke ‘Ling-tay-hiat’ di punggungnya. Tanpa pikir dia menyampuk ke belakang.
“Krakk!”
Seketika pentung bambu Oey Yong remuk, bahkan sisa tenaganya menggoncangkan debu pasir hingga berhamburan. Oey Yong melompat terkejut. Dia kenal kelihayan Hoat-ong, tapi kepandaian orang sekarang ternyata jauh lebih hebat dari pada dulu, sekali gaplok bikin remuk pentung bambunya, ilmu pukulan apakah itu? Begitu melihat Oey Yong terdesak, cepat Thia Eng dan Liok Bu-siang mengerubut maju dari kanan-kiri, yang satu bersenjata seruling kemala dan yang lain berpedang.
“Awas!” segera Oey Yong memperingatkan mereka.
“Krakk! Krakk!”
Betul saja, menyusul terdengar suara dua kali, seruling dan pedang patah semua. Oleh karena berduka atas kematian Kwe Siang yang mengenaskan, Hoat-ong tidak ingin mencelakai nyawa manusia lagi, maka ia hanya membentak:
“Minggir!”
Dia tidak mendesak Thia Eng dan Bu-siang lebih jauh. Ilmu kepandaian Eng-koh sebetulnya belum setinggi Oey Yong, tapi ilmu ‘Ni-jiu-kang’ atau ilmu belut, sangat tepat untuk berkelit dan mengegos. Ketika dilihatnya Hoat-ong hendak angkat kaki, segera dia pun maju menyerang. Namun sekali Hoat-ong menangkis, terus memotong ke pinggang Eng-koh. Ketika mendadak terasa sesuatu tenaga maha besar menubruk pinggangnya, lekas-lekas Eng-koh mengegal-egolkan tubuhnya seperti belut, dan terhindarlah tenaga pukulan Hoat-ong.
Hoat-ong tidak tahu kepandaian Eng-koh sesungguhnya belum mencapai tingkatan kelas wahid, tapi beberapa kali menghantam selalu dapat dihindarkan dengan gaya yang sangat aneh. Dia sangat terkejut, ilmu sakti yang amat dia aguIkan untuk menjagoi kolong langit ternyata seorang wanita saja tak dapat dirobohkannya. Mau tak mau ia menjadi jeri, ia tidak berani terlibat lebih lama lagi, sekali tubuhnya melesat, cepat ia menyingkir ke kiri.
“Jangan Iari!” bentak Pek-thong sambil mengudak.
Selagi Hoat-ong hendak membalikkan tangan menyerang, tiba-tiba terdengar suara mencicit perlahan, suatu hawa hangat menyerang mukanya. Itulah ‘lt-yang-ci’ atau ilmu jari betara surya, ilmu kepandaian khas It-teng Taysu yang telah mencegat larinya. Sejak tadi Hoat-ong tidak memperhatikan paderi tua ini, siapa duga tenaga totokan jarinya ternyata sedemikian hebatnya.
Ketika itu ilmu ‘It-yang-ci’ It-teng Taysu telah mencapai puncak kesempurnaan, meski tenaga totokannya tampak lambat dan halus, tetapi sesungguhnya kuat luar biasa tak tertahankan. Dalam terkejutnya Hoat-ong cepat berkelit, habis itu barulah dia balas menyerang sekali. Karena melihat tenaga pukulan Hoat-ong keras luar biasa, It-teng Taysu juga tidak berani menyambutnya dari depan, dengan enteng ia melangkah mundur beberapa tindak. Yang satu adalah paderi berilmu dari selatan dan yang lain adalah orang kosen dari benua barat, setelah saling gebrak sekali, masing-masing tiada yang berani memandang rendah lawannya lagi.
Ciu Pek-thong ingin menjaga harga diri, maka ia tidak mau mengerubuti melainkan berdiri mengawasi saja di samping. Jarak antara It-teng dan Hoat-ong tadinya tidak ada beberapa kaki, tetapi sesudah serang menyerang, yang satu menotok dan yang lain memukuI, akhirnya jarak mereka semakin jauh hingga lebih dari dua tombak, masing-masing mengeluarkan tenaga sepenuhnya dan menyerang dari jauh. Kepala It-teng Taysu tampak mulai menguap, terang sekali dia sedang pusatkan seluruh Iwekang-nya.
Oey Yong jadi kuatir. Usia It-teng sudah tua hingga tak sanggup melawan Hoat-ong. Hatinya sedih oleh kematian puterinya, meski sebetulnya tiada niat untuk adu jiwa dengan musuh, tapi bila melihat serang menyerang kedua orang masih begitu dasyatnya, ia tidak berani sembarangan menerjang maju. Selagi ia tidak berdaya, tiba-tiba terdengar suara mencuitnya rajawali di udara. Pikirannya tergerak, segera ia bersuit sambil menunjuk Hoat-ong. Melihat itu, sekali bercuit sepasang rajawali itu langsung menubruk turun ke atas kepala Hoat-ong.
Jika Sin-tiau kawan Yo Ko itu yang datang, mungkin Hoat-ong akan jeri. Tetapi sepasang rajawali ini hanya badannya yang besar, namun burung biasa saja, mana dapat menakuti Hoat-ong? Cuma saat itu ia lagi pusatkan pikiran dan tenaga buat melawan It-teng Taysu, sedikit pun tidak berani ayal. Kini mendadak disergap kedua rajawali dari atas, terpaksa ia mengayun tangan kirinya ke atas, dengan tenaga pukulan kuat menghantam sepasang rajawali. Karena tak tahan, cepat rajawali itu terbang ke atas lagi. Dan karena godaan itu, keadaan It-teng Taysu di atas angin. Lekas-lekas Hoat-ong kerahkan tenaga baru kemudian bisa mengimbangi lagi.
Sepasang rajawali itu sudah lama dipiara Oey Yong dan sudah pintar. Ketika mendengar suitan Oey Yong yang mendesak terus, padahal musuh terlalu lihay, mereka tidak berani menubruk lagi seperti tadi, melainkan hanya menyambar kian kemari di atas kepala Hoat-ong. Walau pun tidak bisa melukainya, tapi perhatian Hoat-ong banyak terkacau. Sebenarnya tenaga pukulan Hoat-ong masih lebih unggul dari pada It-teng, tapi kalau soal ilmu kebatinan dia kalah jauh. Ditambah kini dia merasa gegetun oleh matinya Kwe Siang, semangatnya yang memang sudah tidak tenang kena dikacau lagi oleh kedua rajawali itu, keruan dia menjadi gopoh.
Segera hal ini diketahui It-teng. Sambil tersenyum It-teng lantas mendesak maju setengah langkah. Meski Oey Yong sendiri sangat berduka akan kematian puterinya, tapi kecerdikannya tak pernah berkurang. Ketika melihat It-teng melangkah maju, mendadak ia pun menggertak:
“Kwe Ceng, Yo Ko, kebetulan kedatangan kalian, lekas tangkap dia beramai-ramai!”
Padahal tak mungkin Oey Yong menyebut nama sang suami, seruannya ini hanya gertak sambal belaka untuk mengejutkan Hoat-ong, sebab bila dia bilang ‘Ceng-koko’ Hwesio itu akan berpikir, dan kalau sempat berpikir rasa kaget itu pun akan berkurang. Benar saja, ketika tiba-tiba Hoat-ong mendengar suara ‘Kwe Ceng dan Yo Ko’, dia terperanjat, pikirnya: “Jika kedua jago ini datang juga, maka melayanglah jiwaku!”
Pada saat itulah kembali It-teng mendesak maju setengah langkah lagi. Rupanya kedua rajawali di atas udara itu pun melihat ada kesempatan, mendadak rajawali yang betina bercuit keras terus menubruk cepat ke bawah untuk mencakar biji mata Hoat-ong.
“Binatang!” damperat Hoat-ong sengit, berbareng sebelah tangannya digablokkan.
Tak terduga sergapan rajawali betina itu hanya pura-pura belaka. Setelah dekat mukanya tiba-tiba membelok ke atas lagi, sebaliknya rajawali yang jantan malah menyerang dari samping. Ketika Hoat-ong mengetahui tapi cakar rajawali itu sudah menyentuh kepalanya yang gundul. Terkejut dan marah sekali Hoat-ong, sehelai tangannya menyampuk ke atas.
“Plokk!”
Bulu-bulu bertebaran, rajawali jantan berhasil mencengkeram kopiah emas Hoat-ong terus terbang pergi. Tapi sampukan Hoat-ong itu pun sangat keras, rajawali jantan sudah terbang sampai di tengah udara tapi akhirnya tidak tahan dan mendadak terjungkal terjerumus ke dalam jurang yang tak terkirakan dasarnya. Oey Yong, Thia Eng, Liok Bu-siang dan Eng-koh menjerit kaget, ada pun Ciu Pek-thong menjadi marah.
“Hwesio apek!” segera ia memaki, “Kini Lo-wan-tong tidak mau pakai aturan Kangouw lagi, mungkin harus dua lawan satu sekaligus.” Habis itu secara bertubi-tubi dia kirim hantaman ke punggung Kim-lun Hoat-ong.
Dalam pada itu si rajawali betina melihat yang jantan terjerumus ke dalam jurang, sekali bercuit panjang, tahu-tahu yang betina ini pun ikut terjun ke bawah hingga lama sekali tak nampak naik kembali.
Karena dikeroyok dari muka belakang, mau tak mau Kim-lun Hoat-ong menjadi jeri. Sekali pun tinggi ilmu silatnya, mana mungkin melawan keroyokan dua jago tertinggi ini? Maka ia tak berani terlibat lebih lama. Mendadak terdengar suara gemerantang. Roda emas dan perak menyambar sekaligus, yang depan menahan totokan ‘lt-yang-ci’ dan bagian belakang menolak serangan ‘Khong-beng-kun’, tubuhnya terus mencelat pergi dan cepat sekali sudah melintasi tanah bukit. Dengan membentak-bentak, segera Ciu Pek-thong mengudak.
Sesudah berhasil meloloskan diri, Hoat-ong terus berlari dengan cepat. Dia tahu bila kena ditahan lagi oleh Ciu Pek-thong, mungkin beberapa ratus jurus tidak akan bisa ketahuan unggul atau asor, tatkala itu It-teng Taysu tentu akan menyusul tiba dan jiwanya boleh jadi akan melayang di lembah sunyi ini. Tiba-tiba dilihatnya di depan membentang hutan yang lebat. Dia menjadi girang, cepat dia berlari ke sana. Tak terduga mendadak terdengar suara mendenging yang cepat, sebutir batu kecil tahu-tahu menyambar keluar dari dalam hutan.
Jarak hutan itu dengan Hoat-ong masih ada beratus tindak, tetapi entah tenaga sakti apa yang menyambitkan batu sekecil itu, dari suara mendengingnya teranglah keras luar biasa dan mengarah badan Hoat-ong. Lekas Hoat-ong angkat rodanya menyampuk. Dibarengi suara benturan, batu itu pecah berantai hingga muka Hoat-ong sendiri kecipratan beberapa butir krikil. Hoat-ong sungguh terkejut, pikirnya:
“Batu sekecil ini disambitkan dari tempat jauh, tetapi rodaku kena terbentur mundur, nyata tenaga orang ini tidak di bawah Lo-wan-tong dan Hwesio tua tadi, sungguh tidak nyana di jagat ini masih terdapat jago sebanyak ini.”
Sedang dia tertegun, terlihatlah dari dalam hutan muncul seorang tua berjubah hijau. Ciu Pek-thong menjadi girang sekali, segera ia berseru:
“Oey-losia! Hwesio apek itu telah membinasakan cucu perempuanmu, lekas kau ikut menangkapnya.”
Orang yang muncul dari hutan itu memang Tho-hoa-tocu Oey Yok-su adanya. Sejak ditinggalkan Yo Ko, ia meneruskan pengembaraannya lagi ke utara. Suatu hari saat singgah minum di suatu pedusunan, tiba-tiba terlihat sepasang rajawali terbang lewat. Dia tahu kalau bukan Oey Yong, tentulah Kwe Hu atau Kwe Siang yang berada di sekitar sini, maka diam-diam dia menguntit hingga sampai di Coat-ceng-kok. Karena tak ingin dilihat oleh puterinya, dia hanya menguntit dari jauh saja hingga akhirnya dia melihat It-teng Taysu dan Ciu Pek-thong berturut-turut bergebrak melawan Kim-lun Hoat-ong. Dia merasa paderi asing ini benar-benar seorang lawan tangguh yang jarang diketemukan, maka dia menjadi tertarik dan ikut turun tangan.
Maka berkatalah Hoat-ong sembari gosok-gosokkan kedua rodanya hingga mengeluarkan suara nyaring:
“Apakah kau ini Tang-sia Oey Yok-su?”
“Betul,” sahut Yok-su mengangguk. “Ada petunjuk apakah, Taysu?”
“Waktu aku berada di tempatku, kudengar di daerah Tionggoan terdapat Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong. lima orang lihay. Hari ini beruntung dapat bertemu dan ternyata memang bukan omong kosong belaka,” demikian sahut Hoat-ong, “Dan di manakah yang empat orang?”
“Tiong-sin-thong (Ong Tiong-yang), Pak-kay dan Se-tok sudah lama meninggal,” kata Yok-su, “Paderi agung inilah Lam-te yang kau tanyakan, sedangkan yang ini adalah Ciu-heng, Sute-nya Tiong-sin-thong.”
“Jika Suheng-ku masih hidup, hm, tak akan kau mampu menahan 10 jurus serangannya,” kata Pek-thong.
Mereka bertiga mengepung Hoat-ong. Dalam keadaan begitu Hoat-ong menjadi serba susah. Dia pandang It-teng Taysu, di lain saat melihat Ciu Pek-thong dan sebentar dia memandang Oey Yok-su. Setelah itu mendadak dia menghela napas panjang, lima rodanya dilempar ke tanah, lalu katanya:
“Jika satu lawan satu, siapa pun tiada yang kutakuti.”
“Betul,” kata Pek-thong. “Tetapi hari ini kita bukan bertanding untuk perebutan gelar juara segala, siapa ingin main satu lawan satu denganmu? Hwesio apek, kau sudah terlampau banyak melakukan kejahatan, dan sekarang kau lekas bunuh diri saja.”
“Lima tokoh besar Tionggoan, kini dua di antaranya sudah kulihat, meski pun aku mati di tangan kalian bertiga tidak kecewa,” sahut Hoat-ong. “Cuma sayangnya ilmu Liong-jio-pan-yok-kang terputus sampai di tanganku, selanjutnya di jagat ini tiada ahli warisnya lagi.” Habis berkata, sebelah tangannya diangkat hendak menabok batok kepalanya sendiri.
Ketika mendengar kata-kata ‘Liong-jio-pan-yok-kang’, tiba-tiba Ciu Pek-thong jadi tertarik. Secepat kilat dia melompat maju menangkis tangan Hoat-ong itu dan berkata:
“Nanti dulu!”
“Aku lebih suka mati dari pada dihina, lantas apa lagi yang kau inginkan?” kata Hoat-ong mendongkol.
“Kau bilang sayang Liong-jio-pan-yok-kang tiada ahli warisnya, kenapa tidak kau turunkan saja padaku, kemudian kau boleh bunuh diri?” sahut Pek-thong tertawa.
Tapi sebelum Hoat-ong buka suara, mendadak terdengar suara rajawali betina yang sudah membawa rajawali jantan dari dalam jurang. Kedua rajawali itu sama basah kuyup, agaknya di dalam jurang itu adalah sebuah kolam air. Rajawati jantan bulunya serawutan tak keruan, napasnya sudah kempas kempis, tetapi cakarnya masih mencengkeram kopiah emas Hoat-ong dengan kencang. Sesudah meletakkan yang jantan, rajawali betina mendadak terjun lagi ke bawah jurang. Ketika naik lagi, di atas punggungnya menunggang satu orang. Ternyata Kwe Siang yang disangka sudah mati itu.
Keruan Oey Yong terkejut bercampur girang, cepat dia berseru: “Siang-ji...! Siang-ji...!” Ia memburu maju untuk menurunkan puterinya itu dari punggung rajawali betina.
Melihat Kwe Siang ternyata tak kurang suatu apa pun, Hoat-oag juga tercengang. Waktu itu Ciu Pek-thong masih menahan tangan Hoat-ong. Sekali si Tua Nakal ini kedipi It-teng dan Oey Yok-su, segera Tang-sia dan Lam-te turun tangan berbareng, dengan cepatnya ketiak kanan dan kiri Hoat-ong sekalian kena ditotok. Menyusul Ciu Pek-thong menambahi sekali gebuk pada ‘Ci-yang-hiat’ di punggungnya sambil tertawa:
“Nah, tidurlah sebentar!”
Maka lemaslah kedua kaki Hoat-ong, dia lantas mendeprok terduduk. It-teng bertiga saling pandang dengan tercengang. Sungguh Hwesio ini lihay luar biasa, beruntun tubuhnya kena ditotok dan digebuk tapi masih tidak roboh menggeletak. Lalu mereka pun mendekati Kwe Siang untuk menanyakan keadaannya.
“Ibu,” demikian anak dara itu menutur,” dia berada di... di bawah... lekas menolongnya ... lekas menolongnya...” saking cemas dan kuatir hanya beberapa kata itu saja yang dapat diucapkannya, lalu jatuh pingsan.
“Tidak apa,” ujar It-teng sesudah memegang nadi Kwe Siang.
Segera dia memijit beberapa kali pinggang anak dara itu, berselang tak lama, Kwe Siang pun siuman.
“Di manakah Toako Yo Ko? Apakah dia sudah naik?” tanyanya segera setelah anak dara itu menenangkan diri.
“Apakah Yo Ko juga berada di bawah sana?” tanya Oey Yong cepat.
Kwe Siang mengangguk, sahutnya perlahan: “Ya, tentu...” Di dalam hati dia pun berkata: “Jika dia tidak di bawah, untuk apa aku ikut terjun ke sana?”
Melihat badan puterinya basah kuyup, Oey Yong bertanya lagi: “Apakah di bawah adalah sebuah kolam air?”
Kwe Siang mengangguk saja. Ia pejamkan matanya, tak sanggup lagi buka suara, hanya menunjuk ke bawah jurang.
“Kalau Yo Ko memang berada di bawah sana, terpaksa suruh Tiau-ji mengambilnya naik,” ujar Oey Yong. Lalu dia bersuit buat memanggil rajawali betina tadi.
Namun aneh, sudah berapa kali dia bersuit rajawali betina itu masih tidak menggubrisnya. Oey Yong menjadi heran, sudah berpuluh tahun kedua rajawali ini sangat penurut, kenapa sekarang perintahnya dianggap angin belaka? Maka kembali dia ulangi suitannya. Dia lihat rajawali betina itu pentang sayap dan terbang lagi. Setelah mengitar beberapa kali dan bersuara memilukan, burung itu menjungkal ke bawah secepat batu meteor.
“Celaka!” keluh Oey Yong dalam hati, segera dia pun berteriak: “Tiau-ji!”
Akan tetapi sudah terlambat. Rajawali itu tertumbuk batu cadas hingga kepalanya pecah dan sayapnya patah terus mati.
Semua orang terkejut. Waktu memeriksa binatang itu, kiranya rajawali jantan telah dingin beku dan sudah lama mati. Semua orang menjadi terharu oleh jiwa setia sehidup semati sepasang burung itu. Oey Yong paling berduka hingga hampir mencucurkan air mata.
“Suhu, Suci, jika Yo-toako berada di bawah jurang, cara bagaimana kita harus menolong dia naik?” kata Thia Eng kemudian.
“Siang-ji,” kata Oey Yong sambil mengusap kedua matanya yang basah, “Sesungguhnya bagaimanakah keadaan di dalam jurang sana?”
Sementara itu Kwe Siang sudah pulih kembali semangatnya, maka tuturnya: “Begitu aku jatuh ke bawah, dengan cepat aku tenggelam ke dasar kolam, dalam keadaan gugup aku pun kemasukan beberapa cegukan air. Kemudian entah... entah mengapa aku terapung ke permukaan air dan Yo-toako telah menjambak rambutku terus diangkat ke atas...”
Oey Yong rada lega mendengar itu, katanya. “Apakah di tepi kolom itu ada goanya yang dapat dibuat berdiri?”
“Ya, di tepi kolam itu banyak pepohonan,” sahut Kwe Siang.
“Oh,” kata Oey Yong. “Dan sebab apa kau terjun ke bawah?”
“Waktu aku diangkat ke atas, Yo-toako juga menanya aku seperti itu,” tutur Kwe Siang. “Aku lantas keluarkan jarum emas dan serahkan kepadanya, kataku: ‘Aku minta supaya engkau menjaga dirimu dan janganlah mencari pikiran pendek’.
Tanpa berkedip dia memandangi aku, tak lama kemudian rajawali jantan jatuh ke bawah, menyusul yang betina lantas datang membawa kawannya ke atas, kemudian datang lagi membawa aku. Kuminta Yo-toako juga ikut naik, tetapi dia tidak membuka suara dan aku dinaikkannya ke atas punggung rajawali. Ibu, suruhlah rajawali itu turun kembali ke bawah untuk menjemputnya.”
Sementara Oey Yong tak mau memberi tahu tentang kematian sepasang rajawali itu. Dia tanggalkan baju luarnya sendiri untuk menutupi badan sang puteri yang basah.
“Tampaknya sementara Ko-ji tidak berbahaya, lekas kita pintal seutas tambang panjang untuk menjemputnya naik!” kata Oey Yong kemudian kepada kawan-kawannya.
Beramai-ramai semua orang lantas mengelotoki kulit pohon buat dibikin tali. Kecuali Hoat-ong yang jalan darahnya tertotok, Kwe Siang yang belum pulih dari letihnya, selebihnya ikut kerja keras. Meski mereka adalah jago silat terkemuka, namun untuk memilin tambang tidaklah lebih pandai dari pada tukang yang biasa, maka sesudah sibuk sampai hari gelap baru ratusan tombak tambang itu dapat mereka pilin, tampaknya masih jauh dari cukup.
Thia Eng mengikat sebuah batu pada ujung tambang itu dan diturunkan ke bawah jurang, ujung tambang yang lain diikat pada dahan sebuah pohon. Tali itu terus dipilin dan makin panjang terus menurun ke bawah. Satu malam suntuk mereka bekerja terus, sampai besok paginya, Kwe Siang juga turut membantu sehingga tambang itu pun terus bertambah panjang. Tapi Yo Ko yang katanya berada di bawah jurang itu sama sekali tak mengirimkan sesuatu tanda atau berita.
Oey Yok-su mulai kuatir. Dia keluarkan serulingnya terus ditiup dengan tenaga dalamnya yang hebat. Suara seruling demikian nyaring merdu tersiar ke dalam jurang, kalau Yo Ko mendengar suara seruling itu pasti akan bersiul panjang untuk menjawabnya. Siapa tahu keadaan masih tetap sunyi saja. Sesudah berpikir sejenak, Oey Yong memotong sepotong kayu, dengan ujung pedang dia ukir beberapa huruf di atas kayu itu, bunyinya singkat:
‘Apa selamat? Harap jawab!’
Lalu batang kayu itu dilemparkan ke dalam jurang. Namun sudah lama sekali, tetap tiada sesuatu suara di dalam jurang sana hingga semua orang menjadi kuatir. Meski jurang itu sangat dalam, tapi panjang tambang agaknya sudah mencapai dasarnya.
“Biarlah aku turun melihatnya,” kata Thia Eng.
“Aku saja yang turun!” seru Ciu Pek-thong tiba-tiba, dan tanpa menunggu jawaban orang lain, cepat saja dia merosot turun dengan tambang itu, hanya sekejap saja orangnya telah menghilang menembus kabut yang mengapung di permukaan jurang.
Agak lama kemudian, secepat kera Ciu Pek-thong merembet naik kembali, rambut serta jenggotnya berlepotan lumut, berulang-ulang si tua ini menggeleng kepala dan berkata:
“Sedikit pun tiada bayangannya, mana ada Yo Ko segala?”
Karena itu semua orang memandangi Kwe Siang dengan rasa sangsi.
“Tadi Toakoko berada di bawah, mengapa bilang tidak ada?” kata Kwe Siang pasti. “Dia duduk di atas pohon besar di tepi kolam.”
Thia Eng tidak mau banyak bicara, segera dia merosot turun dengan tambang, menyusul Liok Bu-siang ikut turun dan berturut-turut Eng-koh, selanjutnya Oey Yok-su dan It-teng Taysu juga ikut turun ke bawah. Bagi mereka pertama-tama kuatirkan keselamatan Yo Ko, kedua tertarik dan ingin mengetahui macam apa pemandangan di bawah jurang itu. Oey Yong yang turun paling belakang lalu memberi pesan kepada sang puteri:
“Siang-ji, kesehatanmu belum puIih, jangan kau ikut turun. Jika Yo-toako berada di bawah, dengan kawan-kawan begini banyak kita pasti dapat menolongnya ke atas.”
Meski pun perasaannya sangat kuatir tetapi Kwe Siang mengiyakan dengan mengembeng air mata. Oey Yong pandang pula Hoat-ong yang deprok di tanah itu. Ia kuatir kalau-kalau Iwekang terlalu lihay hingga dapat melepaskan totokan yang sebenarnya harus lewat 12 jam baru bisa punah sendirinya. Maka dia mendekatinya dan menotok pula di punggung, dada dan kedua lengannya, di tempat-tempat yang melumpuhkan, setelah itu barulah dia menyusul melorot ke bawah jurang. Daya merosotnya makin lama semakin cepat.
Jurang itu dalam sekali, hingga lama barulah sampai di bawah. Ia lihat di bawah jurang itu memang betul ada sebuah kolam yang berair biru kehijau-hijauan. Oey Yoksu dan lainnya berdiri di tepi kolam sedang memeriksa dengan teliti, tapi jejak Yo Ko tidak terlihat. Di kiri kolam sana, di atas sebatang pohon terdapat lebih dari 30 buah sarang tawon, terdengar suara mendengungnya tawon yang mengitari sarangnya, nyata itulah tawon putih. Tergerak pikiran Oey Yong, katanya cepat:
“Ciu-toako, lekas kau tangkap seekor tawon itu, coba kita lihat apakah di sayapnya juga terdapat tulisan?”
Ciu Pek-thong menurut. Dia tangkap seekor tawon itu, tapi tiada terdapat sesuatu tulisan. Sesudah Oey Yong memeriksa sekitar jurang itu, ternyata empat penjuru hanya dinding tebing yang beratus tombak tingginya, terang tiada jalan tembusan lain, pohon besar di tepi kolam berbentuk pipa-pipa dan tak diketahui apa namanya. Waktu mendongak, kabut rapat menutupi permukaan jurang hingga tak tertembus sinar matahari. Sedang ia termenung-menung, mendadak terdengar Ciu Pek-thong berseru:
“Hai, seekor ini ada tulisannya!”
Lekas Oey Yong mendekatinya dan benarlah pada kedua sayap tawon itu tertisik tulisan, bunyinya tetap
‘Aku berada di dasar Coat-ceng-kok’.
Di antara orang yang hadir sekarang, Oey Yong sendiri yang paling pandai menyelam. Tanpa disuruh lagi ia ringkaskan bajunya, ia telan sebutir pil ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ untuk menjaga kemungkinan ular air berbisa dan lain-lain, habis itu ia terjun ke dalam kolam. Cepat Oey Yong menyelam ke bawah, makin dalam air kolam itu semakin dingin hingga serasa menusuk tulang. Diam-diam Oey Yong terkejut melihat air hijau berlumut se-akan membeku itu. Tetapi dia belum putus asa, setelah menongol ke permukaan air menghirup udara, dia menyelam lebih dalam lagi.
Ketika sampai tempat yang sangat dalam, dari dasar kolam itu dengan sendirinya timbul semacam daya penolak yang kuat. Sekali pun Oey Yong sudah berusaha sebisanya tak sanggup menyelam sampai dasar kolam. Apa pula dinginnya tak tertahan, sekitarnya juga tiada tanda-tanda yang aneh, terpaksa ia timbul kembali ke atas. Melihat Oey Yong kedinginan hingga bibirnya kebiruan, rambutnya mengkilat putih, ternyata terbeku selapis es tipis, sungguh semua orang terkejut sekali.
Lekas-lekas Thia Eng dan Liok Bu-siang mengumpulkan kayu kering membuat api unggun untuk menghangatkan badan Oey Yong.
********


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar