ads

Rabu, 20 Oktober 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 36

“Apa saja yang kau percakapkan dengan adikmu di kelenteng Yo-tayhu? Coba ceritakan seluruhnya, satu patah kata pun tak boleh melompat,” desak Oey Yong.

“Juga tidak ada apa-apa yang kami bicarakan. Memang sudah biasa adik suka adu mulut denganku,” sahut Kwe Hu.

Lalu ia pun menuturkan tentang adik perempuannya itu menyatakan tak akan menghadiri Eng-hiong-tay-hwe, tak akan menyaksikan pemilihan pangcu serta bilang pada Shejit-nya nanti bakal ada seorang ksatria muda yang gagah perkasa akan datang menyambanginya. Sesudah menuturkan semuanya, akhirnya ditambahkan dengan tertawa:

“Dan betul juga tidak sedikit sobatnya datang, cuma kalau bukan sebangsa Hwesio atau Nikoh, ternyata adalah kakek dan nenek, sedangkan ksatria muda gagah perkasa? Entahlah.”

Mendengar sampai di sini, Oey Yong tidak ragu lagi, dia yakin orang yang dimaksudkan Kwe Siang itu tentulah Yo Ko. Ia menaksir tentunya Kwe Siang dan Yo Ko sudah berjanji bertemu di kelenteng Yo-tayhu, tetapi dikacau oleh datangnya Kwe Hu. Untuk membela kehormatan Kwe Siang, Yo Ko lantas mengundang tokoh-tokoh Kangouw yang banyak itu untuk memberi kado serta memberi selamat hari ulang tahunnya.

“Tapi untuk apa ia korbankan begitu banyak tenaga dan pikiran untuk Siang-ji?” demikian pikirnya. Kalau teringat olehnya selama beberapa hari ini puteri kecil itu selalu lesu, pikiran tidak tenteram, kadang-kadang pipinya merah jengah, mendadak tanpa terasa Oey Yong menarik napas dingin: “Celaka, jangan-jangan selama menghilang sehari semalam di tambangan Hong-leng itu Siang-ji telah berbuat hal tidak senonoh dengan dia.”

Menyusul itu lalu terpikir pula olehnya: “Yo Ko sakit hati karena aku sudah membinasakan ayahnya. Ia benci pula Hu-ji yang mengutungi lengannya dan melukai Siao-liong-li dengan jarum berbisa. Ahh, janji Siao-liong-li yang akan bertemu lagi sesudah 16 tahun, dan tahun inilah tahun ke-16 itu. Ha, kalau begitu agaknya Yo Ko datang untuk membalas dendam.”

Teringat akan kata-kata ‘Yo Ko datang untuk membalas dendam’, tanpa terasa Oey Yong menjadi ngeri. Ia cukup kenal kepintaran Yo Ko. Meski belum melebihi dirinya, tapi orang ini sejak kecil tindak tanduknya sangat lihay, cintanya terhadap Siao-liong-li sangat mendalam dan murni, setelah menunggu selama 16 tahun, tetapi tidak bersua kembali, tentu penasaran itu akan dicari pangkal pokok yang menyebabkannya dan tentu akan benci luar biasa pada keluarga Kwe.

Dan kalau menuruti sifat Yo Ko yang luar biasa itu, dendam selama 16 tahun ini tak akan puas hanya sekali hantam membinasakan Kwe Hu saja, tetapi pasti akan menggunakan tipu akal yang paling keji untuk membalas sakit hati itu secara besar-besaran.

“Apakah dia sengaja hendak memancing Siang-ji masuk perangkapnya, membikin anak ini jatuh hati dan menyerah padanya, lalu menyiksanya lahir batin, mati tidak, hidup tidak? Ah, ya, ya, benar, kalau turuti watak Yo Ko memang benar akan dilakukannya,” demikian pikir Oey Yong pula.

Biia teringat semua ini, perasaan tertekan selama beberapa hari segera menjadi buyar. Ia menduga sebabnya Yo Ko mau membunuh Nimo Singh untuk menolong Kwe Siang dan mengundang begitu banyak tokoh-tokoh silat untuk datang memberi selamat kepadanya, semua ini bertujuan untuk menarik hati anak dara itu. Diam-diam Oey Yong menghitung lagi dan berpikir.

“Tetapi ada yang tidak benar! Hari ini tepat ulang tahun Siang-ji. Enam belas tahun yang lalu ketika Siang-ji lahir, lewat beberapa bulan kemudian barulah dia berpisah dengan Siao-liong-li di lembah Coat-ceng-kok, layaknya kalau dia mau balas dendam juga harus menunggu sampai genap 16 tahun, yaitu sesudah lewat janjinya bertemu dengan Siao-liong-li. Meski janji bertemu 16 tahun kemudian itu sukar dipercaya, tapi tulisan yang ditinggalkan itu jelas tulisan Siao-liong-li, siapa tahu kalau mereka suami isteri benar akan berkumpul? Apakah mungkin ayahku... atau mungkin bualan tentang Lam-hay Sin-ni?”

Begitulah makin dipikir perasaannya mulai terasa tidak enak, “Ah, biarlah apa pun jadinya, jika Siang-ji bertemu lagi dengan dia pastilah terlalu banyak risikonya. Sifat Siang-ji masih polos kekanak-kanakan, mana bisa memahami hati manusia yang kejam dan keji?”

Pada saat itulah mendadak terdengar suara jeritan, kiranya Bu Siu-bun telah merobohkan lagi lawannya yang tinggal satu tadi. Lalu Oey Yong mendekati suaminya dan membisiki:

“Kau mengawasi di sini, biar aku pergi menjenguk Siang-ji.”

“Siang-ji tidak datang?” tanya Kwe Ceng.

“Ya, biar aku sendiri memanggilnya, budak cilik ini memang aneh,” sahut sang isteri.

Ketika sampai di kamar puteri kecil itu, kiranya Kwe Siang tidak ada di kamar. Ia bertanya kepada pelayan, katanya puteri kecil itu berada di taman bunga dan melarang orang lain mengganggunya. Oey Yong terkejut, pikirnya: “Ah, Siang-ji tak mau menonton pertandingan ramai di alun-alun, tentu karena dia sudah ada janji dengan Yo Ko.”

Segera ia kembali ke kamar sendiri, ia bawa senjata rahasia seperlunya dan menyelipkan sebilah pedang pendek, lalu membawa lagi pentung pendek terus menuju ke taman bunga di belakang rumah. Ia tahu ilmu silat Yo Ko sekarang tentu lain dari pada dahulu, sesungguhnya lawan yang menakutkan, sebab itu dia tak berani asal. Dia tidak melalui jalanan taman yang berbatu-batu kecil itu, tetapi memutar dari belakang gunung-gunungan. Ketika hampir dekat gardu bunga, tiba-tiba terdengar Kwe Siang menghela napas. Oey Yong sembunyi di belakang gunung-gunungan itu. Terdengarlah puterinya itu sedang menggumam sendiri perlahan:

“Kenapa sampai sekarang masih belum datang? Ai, benar-benar bikin orang tidak sabar!”

Hati Oey Yong menjadi terhibur. “Ah, kiranya dia belum tiba, kebetulan bisa mencegatnya di tengah jalan,” demikian pikirnya.

Sementara itu terdengar Kwe Siang berkata pula: “Setiap hari ulang tahunku, ibu selalu menyuruh aku menyebut tiga angan-angan. Sekarang di sini tiada orang lain, biarlah aku katakan kepada Tuhan.”

Sebenarnya Oey Yong hendak unjuk diri, tapi ketika mendengar gumaman puterinya, tiba-tiba ia tarik kembali kakinya. Ia ingin mendengarkan dulu apakah ketiga angan-angan yang akan dikatakan puteri kecil itu. Selang sejenak, terdengar Kwe Siang berkata:

“Oh, Thian (Tuhan) yang maha pengasih, berkatilah permohonanku ini. Angan-anganku yang pertama semoga ayah-ibu dapat memimpin pasukan membunuh habis atau mengusir semua pasukan Mongol yang datang menyerbu, agar rakyat Siang-yang dapat melewatkan hari-hari yang aman sentosa.”

Diam-diam Oey Yong menarik napas lega dan bersyukur akan hati sang puteri yang luhur itu. Sementara terdengar anak dara itu berkata lagi: “Dan harapanku yang kedua, semoga ayah ibu berbadan sehat, berumur panjang, segala sesuatu yang dikerjakannya berjalan baik tak kurang suatu apa pun.”

Waktu Kwe Siang dilahirkan, Kwe Ceng dan Oey Yong berdua banyak mengalami peristiwa-peristiwa berbahaya sehingga kemudian bila teringat selalu merasa ngeri, sebab itulah tanpa terasa mereka tidak begitu sayang kepada Kwe Siang seperti sang enci, tapi kini setelah mendengar beberapa kata hati-nurani anak dara itu, tanpa tertahan matanya menjadi basah, rasa kasih sayangnya bertambah.

Dan harapan ketiga Kwe Siang seketika ternyata sukar diucapkannya, sesudah agak lama barulah terdengar ia buka suara:

“Dan harapanku yang ketiga ini adalah semoga Sin-tiau-tayhiap Yo Ko...”

Memang Oey Yong sudah menduga bahwa harapan puteri kecil yang ketiga ini tentu ada hubungannya dengan Yo Ko. Namun demikian, hatinya terkesiap juga ketika mendengar nama Yo Ko disebut,. Sementara terdengar anak dara itu sedang meneruskan:

“...dapat lekas-lekas berkumpul kembali dengan isterinya, Siao-liong-li, dan selanjutnya hidup aman dan bahagia.”

Sungguh kata-kata yang terakhir ini sama sekali di luar dugaan Oey Yong. Mula-mula dia menyangka Yo Ko akan memancing puterinya dengan menggunakan kata-kata manis dan putar lidah dengan segala macam omongan palsu, tetapi di luar dugaan ternyata puterinya malahan sudah mengetahui persoalan Yo Ko dan Siao-liong-Ii, juga tahu bahwa Yo Ko senantiasa menanti saat berjumpa lagi dengan Siao-liong-li, maka diam-diam anak dara itu berdoa untuknya. Namun segera terpikir lagi olehnya:

“Ai, celaka, cara Yo Ko ini ternyata sangat licin, justru semakin ia menyatakan tak pernah melupakan kekasihnya, semakin Siang-ji merasa dia benar-benar seorang berbudi dan akan lebih jatuh hati padanya.”

Nyata saking pintarnya Oey Yong, sehingga segala sesuatu selalu dipikirnya secara jauh. Lagi pula selama ini dia suka berperasangka terhadap Yo Ko, ditambah perhatiannya atas diri sang puteri, maka pikirannya menjadi kacau dan diam-diam berkuatir. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara keresekan sekali, tahu-tahu dari pagar tembok melompat turun satu orang. Terlihatlah orang ini berkepala besar, namun tubuhnya pendek, bentuknya sangat Iucu. Demi tampak si cebol ini, seketika Kwe Siang melonjak girang.

“Hai, Toa-thau-kui, apakah dia... dia sudah datang?”

Memang si cebol berkepala besar ini adalah Toa-thau-kui atau setan kepala besar, satu di antara Se-san It-khut-kui (gerombolan setan Se-san). Sesudah masuk kedalam gardu taman bunga, segera Toa-thau-kui memberi hormat kepada Kwe Siang, sikapnya sangat merendah sekali.

“Aih, paman Toa-thau-kui, mengapa kau menjadi begini sungkan-sungkan padaku?” tegur Kwe Siang tertawa.

“Jangan nona panggil aku paman segala, panggil saja ‘Toa-thau-kui’ sudah cukup,” sahut Toa-thau-kui. “Aku mendapat perintah Sin-tiau-tayhiap agar memberi-tahukan nona...”

Mendengar sampai di sini, Kwe Siang tampak kecewa, matanya menjadi basah. “Toakoko bilang ada urusan sehingga tak dapat datang, bukan?” demikian menyela, “tapi dia sudah berjanji...”

“Tidak... tidak!” berulang kali Toa-thau-kui menggelengkan kepalanya yang besar laksana gantang itu.

“Kenapa tidak? Apa yang kau ketahui?” omel Kwe Siang cepat. “Justru dia sudah berjanji padaku.” Dan karena cemasnya hampir-hampir anak dara ini mengucurkan air mata.

“Aku tidak bilang dia tak berjanji padamu, tapi ingin kukatakan dia tidak bermaksud takkan mengunjungi kau.”

Mendengar ini barulah Kwe Siang tertawa. “Lihatlah, bicara saja tidak genah, bukan ini, tidak itu, tak keruan,” omelnya.

“Ya, Sin-tiau-tayhiap bilang bahwa karena beliau sendiri sedang menyiapkan tiga macam kado untuk hari ulang tahunmu, maka kedatangannya sedikit terlambat,” tutur Toa-thau-kui kemudian.

Maka senanglah hati si gadis, katanya: “Sudah begini banyak orang yang membawa kado untukku, segala apa aku pun sudah punya. Haraplah sampaikan pada Toakoko bahwa tak perlu lagi ia membawa kado segala.”

“Tetapi,” ujar Toa-thau-kui sambil goyang-goyang kepala, “ketiga macam hadiah itu, yang pertama sudah disediakannya, hadiah yang kedua Sin-tiau-tayhiap bersama para saudara juga sedang menyiapkannya, besar kemungkinan kini sudah selesai.”

“Aih, aku lebih suka dia lekas datang dari pada buang waktu mengadakan kado segala,” sahut Kwe Siang.

“Ada pun mengenai hadiah yang ketiga, Sin-tiau-tayhiap bilang akan diserahkan sendiri kepada nona di tengah rapat besar Kay-pang di alun-alun sana,” kata Toa-thau-kui lagi. “Sebab itulah nona Kwe silakan ke sana, agaknya sekarang waktunya sudah dekat.”

“Sebenarnya aku dongkoI pada Cici dan sudah bilang tidak mau hadir ke sana, tapi kalau Toakoko ingin begitu, baiklah, biar kita pergi bersama sekarang juga,” sahut Kwe Siang.

Toa-thau-kui mengangguk, lalu ia bersuit. Dari luar pagar tembok sana tiba-tiba melompat masuk sesuatu makhluk besar, sesudah ditegasi ternyata adalah Sin-tiau atau si rajawali sakti. Melihat Sin-tiau, segera Kwe Siang merangkul lehernya seperti sedang berjumpa dengan sahabat lama saja. Sebaliknya rajawali itu malah melangkah mundur dua tindak kemudian berdiri dengan angkuh dan melirik seperti sama sekali tidak pandang sebelah mata pada Kwe Siang.

“Ha, Tiau-toako ini angkuh bukan main. Dia tak gubris padaku, tetapi aku justru ingin kau menggubris.” kata Kwe Siang tertawa.

Habis itu kembali dia melompat terus merangkul leher Sin-tiau lagi. Sekali ini binatang itu tidak menghindar, tapi kepalanya tetap berpaling ke arah lain, seolah seorang ayah yang kereng menghadapi anak yang nakal dan aleman.

“Marilah Tiau-toako, kau pun ikut, nanti aku memberi makanan enak padamu, kau minum arak tidak?” kata Kwe Siang.

“Ha, jika kau menyuguh Sin-tiau minum arak, itu yang paling disukanya,” ujar Toa-thau-kui tertawa.

“Bagus, kau tunggu sebentar,” seru si gadis terus berlari ke dapur, sebentar saja ia sudah kembali dengan seguci arak pilihan.

Segera Toa-thau-kui membuka tutup guci sehingga harum arak seketika menusuk hidung. Cepat saja setan kepala besar itu angkat guci itu terus ditenggak dulu. Ketika ia sodorkan arak itu pada Sin-tiau, sekali binatang ini mencocok dengan paruhnya, maka berlubanglah guci itu. Segera Sin-tiau memasukkan paruhnya ke dalam guci dan sekejap saja seluruh isinya terhirup habis.

“Anak dara ini benar-benar harus dihajar, sembarangan memberikan ‘Kiu-hoa-giok-loh-ciu’ buatanku kepada seekor binatang,” demikian diam-diam Oey Yong mendamperat.

Ternyata cara pembuatan arak itu tidaklah mudah. Oey Yong membikinnya berdasarkan resep cara ayahnya meracik obat ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’, yakni mengumpulkan sari bunga mawar dicampur berbagai racikan obat lain ke dalam arak simpanan, kalau bukan sobat kental biasanya Oey Yong tidak sembarangan mengeluarkan arak itu.

“Wah! Kekuatan minum Tiau-toako sungguh hebat, marilah berangkat,” kata Kwe Siang kemudian dengan tertawa. Lalu dua orang dan satu rajawali lantas menuju ke alun-alun.

Ketika memasuki Iapangan, melihat badan Sin-tiau itu begitu kekar, tapi rupanya jelek dan aneh, para pahlawan merasa heran. Kwe Siang lantas membawa Toa-thau-kui dan Sin-tiau itu duduk di tempat yang sepi. Anak murid Kay-pang yang bertugas menyambut tamu merasa belum mengenal Toa-thau-kui, segera mereka datang menyapa sambil menanyakan namanya. Namun Toa-thau-kui menjawab:

“Aku tidak punya nama, segala apa pun tidak tahu. Nona Kwe yang mengajak aku kemari, maka aku lantas ikut kemari.”

Sementara itu pertandingan di atas panggung sudah silih berganti. Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua sudah dijatuhkan orang, begitu pula keponakan Cu Cu-liu dan tiga anak murid Su-sut-hiun serta beberapa anak murid Kay-pang berturut-turut sudah kalah. Yang tinggal di atas panggung tatkala itu ialah Yalu Ce dengan 72 jurus ‘Khong-beng-kun’ (ilmu pukulan ‘terang-kosong’) ajaran Ciu Pek-thong. Ia sedang menempur seorang lelaki kekar setengah umur.

Orang ini bernama Na Thian-ho, seorang suku Miau dari propinsi Kuiciu. Waktu kecilnya ketika ia mencari bahan obat di pegunungan telah bertemu seorang kosen dan mendapat ajaran semacam ilmu pukulan yang Iihay. Gerak serangan Yalu Ce mengutamakan kelemasan, enteng tanpa suara sehingga sukar diduga lawan. BegituIah satu keras dan yang lain lemas saling gebrak dengan sama kuatnya. Meski tenaga pukulan Na Thian-ho amat keras, tapi angin tidak selamanya meniup, hujan tidak selamanya turun, betapa pun tidak bisa tahan lama. Walau pun setiap pukulan yang dilontarkannya masih membawa sambaran angin yang santer, tetapi tenaga dalamnya kini sudah mulai berkurang.

Sebaliknya tipu gerakan Yalu Ce tidak lebih cepat juga tidak menjadi lambat dibandingkan tadi. Ia bergerak enteng saja, setiap serangan lawan selalu dipatahkannya dengan baik. Ia tahu pertandingan ini bukanlah pertandingan satu-dua orang saja, tetapi lawan yang akan naik panggung lagi dan lebih kuat tentu masih banyak, maka perlu menyimpan tenaga.

Akhirnya Na Thian-ho mulai tak sabar. Selama berpuluh tahun di daerah barat daya belum pernah ada lawan yang sanggup menahan sampai 30 jurus serangannya, tetapi hari ini ia tidak bisa apa-apa menghadapi seorang muda di depan pahlawan-pahlawan yang begini banyak, bukankah ini amat memalukan? Sebab itulah ia kerahkan tenaga dalamnya terus menambahi tenaga pukulannya. Setelah beberapa puluh jurus berlangsung, tiba-tiba Na Thian-ho melihat kesempatan baik.

“Kena!” bentaknya cepat, berbareng itu dia hantam dada Yalu Ce dengan tipu ‘Kiu-kui-it-seng-lu’ (sembilan setan mencapai bintang).

Ia sangat girang karena dilihatnya dada lawan terbuka tak terjaga, serangan ini yakin akan mengenai sasarannya. Dan betul saja, pukulannya tepat mengenai tempat yang diarah.

“Blukk!”

Melihat itu, sebagian besar penonton di bawah panggung berseru kaget sehingga mereka semua berdiri. Mendengar suara terpukulnya itu, dapat diduga kalau pun tidak mati Yalu Ce pasti terluka parah. Padahal tadi Nio-tianglo sudah memperingatkan agar berhenti apa bila tubuh masing-masing sudah ketutul, sekarang jika sekali pukul Na Thian-ho menewaskan Yalu Ce, sedangkan orang adalah mantu kesayangan Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, dapat diduga segera urusan akan bertambah meluas. Siapa tahu, begitu berhasil memukul, air muka Na Thian-ho malah pucat lesi, lalu terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.

“Kagum, kagum!” katanya tiba-tiba sambil kiong-ciu kepada Yalu Ce, lalu balik berjalan ke depan panggung dan berteriak dengan suara lantang: “Yalu-toaya sengaja berlaku murah hati mengampuni jiwaku, benar-benar seorang ksatria berbudi luhur, sungguh aku merasa kagum dan terima menyerah.” Habis berkata, segera ia pun melompat turun panggung.

Keruan penonton saling pandang dengan bingung karena tak mengerti apa sebabnya.

HADIAH ULANG TAHUN

Waktu mereka pandang Yalu Ce, pemuda itu bersenyum saja seperti biasa. Sudah terang terlihat Yalu Ce kena dihantam Na Thian-ho, tetapi kenapa malah Yalu Ce yang dikatakan mengampuni jiwa Na Thian-ho? Sekali pun Iwekang-nya memang tinggi, tetapi juga sukar untuk menang dengan kepandaian itu. Demikian semua orang tidak habis mengerti.

Kiranya tadi ketika tangannya mengenai dada Yalu Ce, mendadak Na Thian-ho merasa tangannya seakan-akan mengenai tempat kosong, tapi toh bukannya hampa sama sekali, hanya seperti tangan masuk ke dalam air saja, seperti kosong dan seperti ada barangnya, seolah-olah ada semacam kekuatan yang melengket dan menahan tangannya. Tak kepalang kejut Na Thian-ho. Ia kumpulkan tenaga menarik sekuatnya, tapi tangannya terasa melengket, dapat ditarik tetapi tak bisa terlepas. Ia jadi teringat waktu belajar dulu sang guru pernah memperingatkan bahwa ilmu silatnya itu, ‘Hong-lui-cio-hoat’ (ilmu pukulan angin dan guntur), kalau bertemu dengan ahli Iwekang harus hati-hati sebab bila terserang tenaga dalam lawan hingga masuk ke perut, maka biar pun tidak mati seketika, sedikitnya akan cacat untuk selamanya.

Namun selama tiga puluh tahun belum pernah dia ketemukan lawan tangguh, maka kata-kata sang guru sudah lama terlupa. Siapa tahu kini benar-benar bertemu dengan seorang lihay yang berkepandaian seperti dikatakan gurunya, maka sekilas peringatan itu segera terbayang olehnya sehingga ia pejamkan mata dan menanti ajal. Sama sekali tak tersangka tiba-tiba daya lengket itu terasa lenyap, menyusul hawa mendidih di dalam perutnya perlahan-lahan buyar, pada waktu Na Thian-ho menggerakkan tangannya, terasa kepandaiannya sedikit pun tidak terhalang. Terang Yalu Ce sengaja mengampuni jiwanya, sebab itulah dalam keadaan malu dan berterima kasih tak lupa ia mengucapkan beberapa patah kata di hadapan orang banyak.

Pertarungan sengit di antara kedua orang itu telah disaksikan semua orang. Betapa hebat ilmu pukulan Na Thian-ho tetapi akhirnya dikalahkan Yalu Ce secara menakjubkan, maka bagi orang yang punya sedikit pengalaman tidak ada yang berani lagi coba-coba naik ke atas panggung. Di samping itu Yalu Ce adalah anak menantu Kwe Ceng dan Oey Yong yang amat rapat hubungannya dengan Kay-pang, dengan sendirinya anak murid Kay-pang lebih suka kalau pemuda ini jadi pangcu mereka. Lagi pula ia adalah murid Ciu Pek-thong yang tergolong tokoh tertua Coan-cin-pay, dengan sendirinya anak murid Coan-cin-pay dan anak murid Tang-sia atau Lam-te juga sungkan bertanding dengan dia. Hanya ada dua tiga orang yang sembrono masih coba-coba naik panggung, tapi hanya beberapa gebrak saja sudah dikalahkan.

Melihat sang suami menjagoi panggung, rasa senang Kwe Hu tak terkatakan. Namun ketika sekilas dapat dilihatnya ada seekor rajawali raksasa yang aneh dan jelek beserta si cebol berkepala besar yang dilihatnya di tambangan Hong-leng sedang duduk di sisi adik perempuannya, tanpa tertahan ia pun tercengang. Tadi waktu Kwe Siang bersama Toa-thao-kui dan Sin-tiau masuk lapangan, saat itu Yalu Ce lagi seru menempur Na Thian-ho, maka seluruh perhatian Kwe Hu sedang dicurahkan pada diri sang suami sehingga ia sama sekali tak melihatnya. Sekarang setelah keadaan mereda barulah ia melihat datangnya sang adik yang katanya tidak mau datang. Mengapa sekarang hadir?

Tapi lantas terpikir lagi sesuatu olehnya, diam-diam ia berkata: “Celaka, Yo Ko menyebut dirinya sebagai ‘Sin-tiau-tayhiap’, jadi rajawali besar jelek ini tentunya adalah Sin-tiau yang dimaksudkan itu. Dan kalau Sin-tiau sudah datang ke sini, pasti Yo Ko juga sudah berada di sekitar sini, Kalau dia datang untuk berebut kedudukan Pangcu... ya, kalau dia datang untuk perebutan Pangcu...”

Begitulah sesaat itu dari rasa girangnya lantas berubah menjadi kuatir sebab betapa tinggi ilmu kepandaian Yo Ko yang pernah dirasakannya, dapatlah dia mengetahui apa artinya jika orang benar-benar telah datang untuk maksud berebut Pangcu. Tetapi waktu dia memandang sekitarnya, jejak Yo Ko sama sekali tak terlihat. Sementara itu hari sudah petang, beruntun Yalu Ce mengalahkan tujuh orang dan tiada yang berani naik panggung lagi. Maka majulah Nio-tianglo ke depan dan berkata dengan suara lantang:

“Yalu Ce-toaya berkepandaian serba lengkap Bu dan Bun (silat dan surat ), kita sudah lama mengaguminya, kini kalau beliau bisa menjadi Pangcu kita, sudah tentu kami mendukungnya.”

Berkata sampai di sini, para anggota Kay-pang yang berada di bawah panggung serentak berdiri dan bersorak-sorai. Kemudian Nio-tianglo menyambung pula:

“Dan entah ada tidak ksatria lain yang masih ingin naik panggung buat bertanding lagi?”

Berulang kali dia bertanya, namun di bawah panggung sepi saja tiada jawaban. Kwe Hu girang sekali, pikirnya: “Yo Ko tidak datang pada saat ini, maka hilanglah kesempatannya! Asalkan Ce-koko sudah menerima jabatan Pangcu, sekali pun ia hendak mempersulit tiada gunanya.”

Pada saat itu pula terdengar suara derap kuda yang cepat, dua orang penunggangnya secepat terbang menghampiri. Mendengar suara derap kuda yang riuh terang penunggangnya sangat tergesa-gesa.

“Akhirnya datanglah dia!” pikir Kwe Hu.

Dalam pada itu, kedua penunggang kuda itu sudah masuk lapangan, semuanya memakai baju abu-abu, kiranya dua pengintai yang disuruh Kwe Ceng untuk mencari berita tentang pasukan musuh. Meski Kwe Ceng terus mengikuti pertandingan di atas panggung, tapi setiap saat selalu ia pikirkan situasi militer. Kini melihat kedua pengintainya kembali dengan begitu cepat, dia pun berkata dalam hati: “Ha, akhirnya datanglah!”

Dalam hati Kwe Ceng dan Kwe Hu berdua sama-sama berkata: ‘Akhirnya datanglah’, tapi yang dimaksudkan oleh sang puteri ialah Yo Ko, sedang sang ayah maksudkan pasukan musuh, yaitu orang Mongol. Sesudah dekat, segera kedua pengintai itu menghadap Kwe Ceng dan memberi hormat. Pada umumnya, baik atau buruk situasi militer yang akan dilaporkan biasanya sudah bisa kelihatan dari air muka pengintai. Kini terlihat wajah kedua pengintai itu menunjukkan rasa bingung tapi penuh girang, seperti ketemu sesuatu kejadian di luar dugaan.

“Lapor Kwe-tayhiap, pasukan perintis Mongol dari jurusan kanan yang berjumlah seribu jiwa sudah sampai di Sin-ya,” demikian salah seorang pengintai itu melapor.

Diam-diam Kwe Ceng terkejut. “Cepat benar majunya,” katanya dalam hati.

Kemudian terdengar pengintai yang lain juga buka suara: “Lapor, pasukan perintis Mongol barisan kiri yang berjumlah seribu orang sudah tiba sampai di Tengciu.”

Harus diketahui bahwa jarak antara Tengciu dan Sin-ya dengan Siang-yang hanya kira-kira seratus li lebih, jalan kedua tempat itu seluruhnya jalan datar, kalau pasukan gerak cepat Mongol itu maju pesat maka tidak sampai satu hari pasti akan sampai Siang-yang. Namun pengintai yang kedua tadi dengan ber-seri lantas berkata lagi:

“Cuma ada kejadian aneh. Seribu pasukan Mongol di luar kota Tengciu itu seluruhnya menggeletak mati, tiada satu pun yang hidup.”

“Bisa terjadi begitu?” tanya Kwe Ceng heran.

“Ya, apa yang hamba lihat di Sin-ya juga begitu,” sela pengintai satunya. “Seribu tentara perintis Mongol yang lain juga seluruhnya sudah menjadi mayat, yang paling aneh adalah setiap mayat prajurit Mongol itu daun telinga kirinya diiris orang.”

“Benar, prajurit Mongol yang di Tengciu juga demikian, daun telinga kanan mereka sudah Ienyap,” sambung pengintai kedua tadi.

Mendengar itu Kwe Ceng dan Oey Yong hanya dapat saling pandang dengan rasa heran dan girang bercampur-aduk. Mereka amat heran, siapakah yang mengirim pasukan penggempur lihay sehingga kedua pasukan musuh itu kena dihancurkan semua, walau pun hanya 2000 orang musuh dari beratus ribu lainnya, tapi bila berita ini disiarkan tentu akan bisa membangkitkan semangat tentara sendiri.

“Dan bagaimana pasukan pertahanan kita di kota Sin-ya dan Tengciu?” tanya Kwe Ceng.

“Kedua kota itu tertutup rapat, mungkin hingga kini kematian pasukan Mongol di luar kota itu belum diketahui panglima penjaga kota-kota tersebut,” sahut kedua pengintai itu.

“Lekas kalian laporkan hal ini kepada Lu-tayswe, tentu kalian akan diberi hadiah,” ujar Oey Yong.

Maka pergilah kedua pengintai itu dengan cepat. Pada saat berita itu diumumkan di atas panggung, seketika bersorak sorailah seluruh hadirin.

“Kay-pang memilih pangcu adalah urusan besar, tapi lebih besar lagi adalah berita tentang hancurnya pasukan musuh ini!” kata Oey Yong pula. “Maka Nio-tianglo, lekas suruh orang menyiapkan perjamuan, kita harus merayakan kemenangan besar-besaran ini.”

Memang daharan sudah disiapkan, yakni untuk merayakan Pangcu pilihan baru. Kini berita kemenangan itu membuat semua orang tambah gembira. Hanya Bu Siu-bun dan Bu Tun-si yang kalah bertanding tampak kesal. Tapi yang gembira banyak dan yang kesal hanya satu-dua orang, tentu saja tidak mempengaruhi suasana gembira ria itu. Sebentar saja suara saling memberi selamat terdengar gemuruh diselingi suara beradunya cawan arak. Kemenangan mendadak itu disangka para pahlawan tentu perangkap yang sudah diatur Kwe Ceng dan Oey Yong, maka berbondong-bondong mereka datang memberi selamat, tetapi dengan tegas Kwe Ceng menyatakan bukanlah jasanya. Sudah tentu semua orang tak mau percaya, sebab memang sudah menjadi watak Kwe Ceng yang suka rendah hati.

“Memang kejadian ini rada aneh, Ceng-koko, biarlah kita tunggu kabar lebih lanjut hingga bisa mengetahui duduknya perkara,” ujar Oey Yong.

Pada waktu mendapat laporan itu, kiranya Oey Yong tahu di dalamnya tentu ada sesuatu yang mencurigakan. Maka cepat dia mengirim delapan anak murid Kay-pang yang pandai dan cerdik untuk menyelidik ke Sin-ya dan Tengciu. Dalam pada itu Kwe Siang, Toa-thau-kui beserta Sin-tiau sedang duduk bersama di suatu tempat. Melihat rupa Sin-tiau yang aneh dan hebat maka tiada seorang pun yang berani mendekatinya.

“Kenapa Toakoko masih belum datang?” demikian Kwe Siang terus menanyakan Yo Ko.

“Dia sudah bilang akan datang, pasti datang,” sahut Toa-thau-kui. Dan belum lenyap suaranya, mendadak ia sambung: “Tuh, dengarlah. Suara apakah itu?”

Ketika Kwe Siang mendengarkan dengan cermat, maka dari jauh terdengarlah kumandang suara meraungnya binatang-binatang buas. Ia girang.

“Ah, Su-si-hengte telah datang!” demikian katanya.

Tidak lama kemudian suara raungan binatang itu semakin mendekat. Para pahlawan menjadi terkejut, beramai-ramai mereka melolos senjata sambil berdiri, seketika suasana lapangan itu menjadi kacau dan ramai dengan suara orang.

“Dari manakah datangnya binatang buas begini banyak?”

“He, singa! Ahh, juga harimau!”

“Awas! Berjagalah diserang serigala, begitu juga awas terhadap macan tutul!”

Hanya sikap Kwe Ceng saja yang sangat tenang, ia pesan Bu Siu-bun: “Kau kembali ke kota dan sampaikan perintahku agar dikirim 2000 pemanah kemari.”

Bu Siu-bun mengiyakan. Selagi hendak pergi, mendadak dari jauh terdengar suara seruan orang yang panjang:

“Ban-siu-san-ceng Su-si-hengte diperintahkan oleh Sin-tiau-hiap datang memberi selamat Shejit kepada nona Kwe Siang serta menghantarkan hadiah ulang tahun.”

Suara itu bukan teriakan satu orang, tapi keluar dari mulut Su-si-hengte berlima. Iwekang mereka beraliran tersendiri, sungguh pun bukan jagoan kelas wahid namun suara teriakan mereka berbareng seakan paduan suara yang memekakkan telinga.

Oey Yong memberi tanda agar Bu Siu-bun tetap pergi melaksanakan perintah sang suami tadi, sebab biar pun Su-si-hengte berkata begitu, namun tiada jeleknya kalau bersiap-siap untuk segala kemungkinan. Maka pergilah Siu-bun dengan cepat mencemplak kudanya. Selang tak lama, pasukan pemanah pertama telah datang dan tersebar di samping alun-alun. Dan baru saja pasukan pemanah itu mengambil kedudukan ber-siap, terlihatlah seorang laki-laki berbaju kulit macan sudah sampai di luar lapangan itu dengan membawa seratus ekor harimau, siapa lagi dia jika bukan Pek-hia-san-kun Su Pek-wi. Seratus ekor harimau itu dengan rapih berbaris mendekam di atas tanah.

Menyusul Koan-kian-cu Su Tiong-beng membawa seratus ekor macan tutul, Kim-kah-say-ong menggiring seratus ekor singa, Tay-lik-sin Su Ki-kiang memimpin seratus ekor gajah, Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat dengan seratus ekor monyet besar, semua berbaris dengan rapih di luar lapangan. Meski binatang-binatang itu buas dan tiada henti-hentinya mengeluarkan suara raungan, tapi barisannya rapih tanpa kacau sedikit pun.

Para pahlawan yang hadir itu semuanya sudah banyak berpengalaman, tetapi mendadak melihat datangnya binatang-binatang buas begini banyak, mau tidak mau berkuatir juga. Kemudian Su-si-hengte masing-masing membawa sebuah kantong kulit terus berjalan ke hadapan Kwe Siang, dengan membungkuk badan mereka berkata:

“Selamat hari ulang tahun, nona, semoga panjang umur dan tetap awet muda.”

“Banyak terima kasih atas doa restu kelima paman Su,” sahut Kwe Siang.

“Dan inilah hadiah ulang tahun pertama yang Sin-tiau-hiap kirim untuk nona,” kata Su Pek-wi sambil menunjuk kelima kantong kulit yang mereka bawa.

“Ahh, benar-benar aku tidak berani menerimanya. Barang apa?”, demikian sambut Kwe Siang, “Ehm, aku terka di dalam kantong kulitmu itu tentu berisi seekor anak harimau kecil, ya bukan?”

“Bukan,” sahut Pek-wi menggoyang kepala, “Tapi hadiah ini adalah berkat usaha Sin-tiau-hiap bersama beratus tokoh Kangouw, tenaga yang mereka keluarkan sungguh tidaklah sedikit.” Habis berkata dia lantas buka kantong kulit yang dipeganginya.

Ketika Kwe Siang memeriksa isinya, mendadak dia berteriak dan terkejut: “He, kuping!”

“Betul,” sahut Su Pek-wi. “Kedua kantong kulit ini isinya adalah 2000 pasang daun kuping prajurit Mongol.”

Kwe Siang belum paham akan maksud Su Pek-wi itu, maka dengan terkejut dia bertanya:

“Daun kuping prajurit Mongol sebanyak ini, untuk apa diberikan padaku?”

Kwe Ceng dan Oey Yong mendengar jelas percakapan itu, maka mereka pun bangkit dan mendekati Su Pek-wi serta melongok isi kantong kulit itu. Segera teringatlah apa yang dilaporkan kedua pengintai tadi, tak tertahan lagi mereka terkejut dan ter-heran.

“Su-toako, kiranya yang membunuh serdadu Mongol di kota Sin-ya dan Tengciu itu adalah Sin-tiau-hiap beserta kawannya?” tanya Oey Yong.

Kelima saudara Su memberi hormat pada Kwe Ceng dan Oey Yong yang segera pula membalas hormat itu. Kemudian barulah Su Pek-wi menjawab:

“Kata Sin-tiau-hiap, nona Kwe berada di Siang-yang, tapi pasukan Mongol berani datang dan harus dibunuh, cuma kekuatan musuh terlalu besar dan tidak dapat sekaligus dibunuh semua, maka bersama beberapa pahlawan hanya membunuh dulu dua ribu pasukan perintis musuh.”

“Di manakah Sin-tiau-tayhiap kini berada? Bisakah aku menemuinya untuk menghaturkan terima kasih atas nama segenap penduduk kota?” kata Kwe Ceng.

Hendaklah diketahui bahwa selama belasan tahun ini Kwe Ceng senantiasa mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pertahanan kota Siang-yang, maka terhadap urusan-urusan Kangouw sudah lama tak ikut campur, sedangkan Yo Ko mengasingkan diri dan berganti nama, pergaulannya juga dengan orang yang aneh-aneh sehingga Kwe Ceng tidak tahu bahwa ‘Sin-tiau-hiap’ itu adalah Yo Ko. Maka menjawablah Su Pek-wi:

“Beberapa hari ini Sin-tiau-hiap sibuk menyiapkan hadiah ulang tahun untuk nona Kwe, maka belum sempat datang menjumpai Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, haraplah dimaafkan.”

Pada saat itulah tiba-tiba suara suitan bangkit pula dari kejauhan, suara seseorang telah berteriak:

“Se-san It-khut-kui mendapat perintah dari Sin-tiau-hiap untuk datang memberi selamat ulang tahun kepada nona Kwe dan membawakan hadiah Shejit.”

Suara ini lembut tajam, seperti terputus, tapi terdengar jelas oleh setiap orang. Melihat hadiah yang pertama tadi sebenarnya hebat sekali, maka lekas-lekas Kwe Ceng berseru menyahut:

“Kwe Ceng menantikan kedatangan kalian dengan hormat!” Lalu ia pun menuju ke pintu masuk alun-alun buat menyambut.

“Kau kira Sin-tiau-hiap ini siapa?“ tanya Oey Yong berbisik ketika berdiri menyanding ang suami.

“Entahlah, aku tak tahu,” sahut Kwe Ceng.

“Dialah Yo Ko!” kata Oey Yong.

“Apa?! Yo Ko?” Kwe Ceng menegas sambil tercengang, namun segera ia pun girang. “Aha, hebat, sungguh hebat! Dia berjasa begini besarnya, sungguh ditakdirkan membantu Song kita.”

“Kau terka hadiah Shejit-nya yang kedua itu apa?” tanya Oey Yong.

“Kepintaran Ko-ji luar biasa, hanya kau yang bisa melebihi dia dan hanya kau yang bisa menerka pikirannya,” sahut Kwe Ceng tertawa.

“Tapi sekali ini aku tak bisa menerkanya,” ujar Oey Yong menggeleng.

Tak lama kemudian, Tiang-si-kui Hoan It-ong beserta delapan setan lainnya telah sampai di lapangan lantas memberi hormat pada Kwe Ceng suami isteri, lalu mereka mendekati Kwe Siang dan berkata:

“Selamat hari ulang tahun, nona, semoga hidup tenang bahagia. Sin-tiau-hiap menyuruh kami mengantarkan hadiahnya yang kedua ini.”

“Terima kasih, banyak terima kasih,” segera Kwe Siang berseru.

Maka nampaklah setiap orang Se-san It-khut-kui membawa sebuah kotak. Karena kuatir mereka kembali memberi hadiah sebangsa daun kuping atau pun batang hidung manusia, cepat Kwe Siang berkata lagi:

“Jika barang yang tak baik dilihat, janganlah dibuka.”

“Ha, sekali ini justru sangat indah untuk dilihat,” sahut Toa-thau-kui tertawa.

Ketika Hoan It-ong membuka kotaknya, dikeluarkannya sebuah mercon roket yang sangat besar. Ketika sumbunya disulut, secepat kilat mercon roket itu meluncur tinggi ke langit. Kemudian waktu mercon itu meletus di tengah udara, maka terlihatlah gemerlapan bintik-bintik sinar di udara tiba-tiba terbentuk menjadi suatu tulisan, menyusul itu Tiau-si-kui juga melepaskan sebuah bunga api yang iain dan merupakan suatu huruf lagi. Setelah bergiliran Se-san It-khut-kui melepaskan bunga api masing-masing, huruf bunga api yang gemerlapan itu kalau diurut menjadi berbunyi:

‘Dengan hormat mendoakan semoga nona Kwe panjang umur dan banyak rejeki’.
Sepuluh huruf dalam sepuluh warna tergantung tinggi di angkasa, hingga lama barulah buyar. Bunga api ini adalah ciptaan ahli terkenal yang bernama Wi It-bau, betapa indah bunga api buatannya pada jaman itu dianggap sebagai semacam kepandaian khas yang tiada bandingannya.

Kwe Ceng tersenyum senang melihat suasana itu, pikirnya di dalam hati: “Memang anak perempuan paling suka dengan permainan yang aneh-aneh ini, sungguh pintar Ko-ji bisa mencari ahli pembuat bunga api terkenal ini.”

Tetapi baru saja sepuluh huruf bunga api ini buyar, tiba-tiba di udara sebelah utara meluncur sebuah mercon yang jaraknya beberapa li dari lapangan ini, menyusul mana di bagian utara lebih jauh lagi menjulang tinggi pula sebuah meteorit yang lain.

“Cara memberi tanda pakai meteor seperti ini dalam sekejap saja bisa tersambung hingga beratus li jauhnya. Entah apa yang telah diatur Yo Ko, tapi rasanya hadiahnya yang kedua ini sekali-sekali bukan hanya membakar bunga api untuk membikin senang Siang-ji saja,” demikian Oey Yong berpikir.

Lalu ia pun perintahkan menyediakan meja dan daharan untuk Su-si-hengte serta Se-san It-khut-kui. Tapi belum selesai perjamuan itu disiapkan, dari jauh di utara sana terdengar berkumandang suara gemuruh bagai guntur melempem, namun suara itu susul menyusul mengguruh terus tiada berhenti, cuma karena jaraknya terlalu jauh maka suara gemuruh itu kedengaran enteng saja. Sebaliknya demi mendengar suara gemuruh itu, tiba-tiba Su-si-hengte dan Se-san It-khut-kui berjingkrak girang sambil berteriak-teriak:

“Berhasil, berhasil sudah!”

Para pahlawan menjadi bingung, entah berhasil apa yang dimaksud itu. Toa-thau-kui menuding ke utara dan berteriak:

“Bagus, bagus!”

Tatkala itu udara gelap gulita, namun di ujung langit sebelah utara itu ternyata bercahaya merah. Terkejut Oey Yong, tapi segera ia pun girang,

“Ah, Lam-yang telah terbakar!” serunya kemudian.

“Ya, benar, itulah Lam-yang!” Kwe Ceng ikut berteriak sambil menepuk paha.

“Dapatkah kami mendapat sedikit keterangan?” tanya Oey Yong kepada Hoan It-ong.

“ltulah hadiah ulang tahun kedua yang Sin-tiau-hiap berikan bagi nona Kwe, yaitu rangsum pasukan Mongol yang berjumlah dua ratus ribu jiwa itu sudah dibakarnya,” kata Hoan It-ong.

Memang Oey Yong sudah menduga akan itu. Kini mendengar dugaannya ternyata tepat, ia saling pandang dengan sang suami dengan girang. Kiranya pasukan Mongol yang menggempur kota Siang-yang itu menggunakan Lam-yang sebagai kota perbekalan. Beberapa tahun yang lalu mereka sudah mendirikan gudang di kota itu secara besar-besaran, lalu dari mana-mana didatangkan rangsum dan disimpan di situ. Sudah beberapa kali Kwe Ceng mengirim pasukan menggempur kota rangsum musuh, tapi pertahanan pihak Mongol terlalu kuat sehingga tidak pernah berhasil. Siapa nyana kini Yo Ko hanya menggunakan waktu semalam saja dapat membakar ludes perbekalan musuh itu.

Menyaksikan sinar api yang ber-kobar di arah itu semakin lama semakin besar, akhirnya Kwe Ceng malah menjadi kuatir. Tanyanya kepada Hoan It-ong:

“Apakah para pahlawan yang berjuang di sana itu dapat kembali dengan selamat semua?”

Hoan It-ong harus mengakui bahwa memang benarlah Kwe Ceng seorang berbudi luhur. Dia tidak bertanya hasil pembakaran itu, tetapi lebih dulu menanyakan keselamatan orangnya. Maka jawabnya:

“Terima kasih atas perhatian Kwe-tayhiap, hal itu Sin-tiau-hiap sudah mengaturnya dengan baik. Yang ikut membakar kota Lam-yang adalah Seng-in Suthay, Liong-ah Thauto, Thio It-bin dan Pek-cau-sian cs. yang semuanya tergolong jago kelas wahid dan seluruhnya ada 81 orang. Rasanya prajurit mau pun perwira Mongol yang biasa saja tak akan bisa mencelakai mereka.”

Sekarang Kwe Ceng pun menjadi paham, katanya kepada Oey Yong: “Lihatlah, Ko-ji telah mengundang pahlawan-pahlawan begitu banyak, kiranya bertujuan mendirikan pahala luar biasa ini, kalau bukan jago-jago terkemuka ini sekaligus turun tangan berbareng, memang tidaklah mudah menghancurkan 2000 prajurit musuh.”

“Kami telah mendapat berita bahwa pasukan Mongol akan menggempur kota Siang-yang dengan meriam dan obat peledak lain, maka di gudang bawah tanah Lam-yang penuh tersimpan beratus-ribu kati obat pasang,” demikian tutur Hoan It-ong pula. “Sebab itulah ketika melihat bunga api selamat ulang tahun yang kami bakar tadi, segera 81 jago angkatan tua yang sudah siap di kota Lam-yang turun tangan berbareng, membakar obat peledak dan menghancurkan rangsum musuh, sekali ini pasukan musuh pasti akan kelaparan.”

Mendengar keterangan itu, Kwe Ceng saling pandang dengan Oey Yong dan diam-diam mereka terkesiap. Dahulu mereka pernah mengikuti Jengis Khan menjelajah ke barat dan menyaksikan sendiri tentara Mongol menggunakan meriam menggempur benteng musuh, betapa dahsyatnya meriam itu benar-benar seperti gugur gunung, cuma saja obat pasang dan peluru meriamnya sukar diperoleh, maka beberapa kali pasukan Mongol menyerang Siang-yang tetapi belum pernah menggunakan meriam.

Tetapi sekali ini rajanya sendiri, Mooko, yang memimpin pasukan, sudah tentu membawa alat penggempur benteng yang paling lihay pada jaman itu. Kalau Yo Ko tidak melakukan semua itu, dapat dipastikan penduduk Siang-yang bakal tertimpa mala petaka besar. Apa lagi bisa menghancurkan 2000 prajurit musuh dan membakar rangsum musuh yang sudah terhimpun selama beberapa tahun di Lam-yang, dalam keadaan serba kurang lengkap, pasti pasukan musuh terpaksa mundur. Dan jasa itu sungguh besar luar biasa, maka suami isteri itu lantas menghaturkan terima kasih kepada Su-si-hengte dan Se-san It-khut-kui.

Dalam pada itu suara ledakan obat pasang masih terus terdengar, cuma terlalu jauh maka kedengarannya seakan-akan kabur. Mendadak terdengar letusan beberapa kali yang lebih keras, menyusul tanah sedikit tergoncang. Maka berteriaklah Hoan It-ong:

“Aihh, gudang obat pasang yang terbesar itu pun sudah meledak.”

Segera juga Kwe Ceng memanggil Bu-si Hengte menghadap dan berkata pada mereka:

“Kalian lekas memimpin 2000 pemanah dan merunduk ke Lam-yang. Jika pasukan musuh dalam formasi yang teratur, maka tak usah turun tangan, tapi kalau musuh kacau gugup, segera hujani anak panah dan basmi mereka.”

Maka pergilah dua saudara Bu itu dengan cepat. Karena kejadian hebat yang datangnya susul-menyusul itu seketika ramailah orang membicarakan kegagahan dan memuji akan budi luhur Sin-tiau-hiap. Sebaliknya Kwe Hu melihat suaminya sudah menjagoi di atas panggung dan kedudukan Pangcu sudah terang tergenggam di tangan. Tetapi siapa tahu mendadak terjadi hal-hal yang menyimpang, dan belum lagi Yo Ko muncul orangnya atau suaranya, namun sudah merobohkan nama sang suami.

Meski pun kejadian-kejadian membakar rangsum musuh dan membasmi pasukan perintis Mongol adalah berita kemenangan yang menggirangkan, tetapi dasar Kwe Hu berjiwa sempit maka dia menjadi kurang senang. Apa lagi didengarnya bahwa apa yang terjadi itu menurut Su-si-hengte dan Se-san It-khut-kui adalah hadiah ulang tahun Yo Ko untuk adik perempuannya, kalau dibandingkan terang pamor dia sendiri semakin merosot. Berpikir sampai di sini, ia pun menjadi gusar, pikirnya. “Bagus, keparat Yo Ko ini dendam padaku karena kutebas buntung lengannya dan sekarang sengaja datang menghilangkan mukaku!”

Nio-tianglo dan Yalu Ce serta Kwe Hu bersama satu meja. Orang tua ini melihat semua orang sama riang gembira, hanya Kwe Hu saja tampak bersungut. Setelah ia pikir, segera ia tahu sebab-sebabnya, maka katanya tertawa:

“Ahh, aku benar-benar telah pikun, karena kegirangan oleh datangnya berita kemenangan ternyata urusan di depan mata menjadi terlupa.” Habis ini segera dia melompat ke atas panggung lagi dan serunya lantang: “Para hadirin, pasukan musuh berulang kali mengalami kehancuran tentu saja kita merasa girang sekali. Tapi masih ada pula sesuatu yang menambah kegirangan kita, yaitu tadi Yalu-toaya telah menunjukkan ilmu silatnya yang tinggi dan semua orang amat mengaguminya. Sekarang juga kita akan mengangkat Yalu-toaya sebagai Pangcu kami, apakah di antara pahlawan yang hadir ini ada yang menyanggah? Dan anak murid perkumpulan kita sendiri, apakah ada yang tidak setuju?”

Sesudah ditanya tiga kali dan di bawah panggung tetap tiada sahutan, maka Nio-tianglo melanjutkan:

”Jika begitu, silakan Yalu Ce naiklah kemari!”

Segera Yalu Ce melompat ke atas panggung. Dia merangkap kepalan memberi hormat ke sekeliling panggung, dan selagi dia hendak buka suara dengan kata-kata yang merendah diri, tiba-tiba di bawah panggung ada seseorang berteriak:

“Nanti dulu, hamba ada sesuatu pertanyaan perlu minta penjelasan Yalu-toaya!”

Yalu Ce tercengang. Didengarnya suara itu keluar dari gerombolan anak murid Kay-pang sendiri, maka cepat dia pun menjawab:

“Katakanlah, silakan!”

Lantas terlihat di antara anak murid Kay-pang sana telah berdiri satu orang dan berseru:

“Ayah YaIu-toaya amat agung menjabat perdana menteri di negeri Mongol, kakaknya juga pernah menjadi pembesar tinggi, walau pun sudah meninggal semua, tetapi Kay-pang kita adalah musuh Mongol. Dengan riwayat Yalu-toaya yang menimbulkan curiga itu, apakah dapat menjadi Pangcu perkumpulan kita?”

“Mendiang ayahku, Yalu Cucay meninggal akibat diracun ibu suri raja Mongol, sedangkan mendiang kakakku, Yalu Cin, dibunuh raja Mongol yang sekarang. Hamba sendiri dengan raja Mongol yang kejam itu mempunyai dendam yang tiada taranya,” demikian sahut Yalu Ce dengan sengit.

“Meski begitu, tapi kematian ayahmu sebenarnya kurang jelas, tentang diracun hanya berita angin belaka dan belum ada sesuatu bukti nyata,” kata pengemis tadi pula, “Dan kakakmu melanggar perintah, maka pantaslah dihukum mati. Apakah dendam ini tak perlu dibalas, sebaliknya sakit hati Kay-pang inilah yang belum terbalas?”

Mendengar orang berani menyindir suaminya, Kwe Hu menjadi murka. Ia tak tahan lagi, ia lantas membentak:

“Siapa kau?! Berani mengaco-belo di sini? Kalau berani, hayolah naik ke atas panggung!”

“Ha-ha-ha, bagus, bagus!” sahut pengemis itu terbahak. “Pangcu belum tentu jadi, tetapi calon nyonya Pangcu sudah unjuk lagak.” Habis itu, tanpa bergerak tahu-tahu orangnya sudah berada di atas panggung.

Menyaksikan ilmu entengi tubuh orang ini, semua orang terkesiap. “Hebat benar ilmu silatnya, siapakah dia?” demikian semua orang bertanya.

Seketika pandangan beribu pasang mata terpusat atas diri pengemis ini.

HADIAH YANG KETIGA

Pengemis ini memakai baju hitam yang longgar dan compang camping, tangan kanannya membawa sebatang tongkat yang bulat tengahnya sebesar cawan arak, rambutnya awut-awutan, mukanya kuning ke-gemukan seperti orang berpenyakit beri-beri, dekak-dekuk seperti bekas koreng, di punggungnya menggemblok lima kantong kain. Kiranya ia adalah anak murid Kay-pang berkantong lima. Sesungguhnya dalam kaum jembel tidaklah kurang orang yang bermuka jelek, namun kejelekan orang ini luar biasa. Para anggota Kay-pang mengenal dia bernama Ho Su-ngo, orangnya pendiam tetapi giat, sedikit bicara banyak bekerja.

Karena belasan tahun selalu giat berjuang untuk tugas perkumpulan dengan setia tanpa kenal capek, maka lambat-laun dia naik tingkat menjadi kantong lima, cuma silatnya dikenal rendah, kedudukan juga rendah, maka siapa pun tidak memperhatikannya. Orang menduga setelah naik sampai tingkatan kantong lima tidak mungkin naik lebih tinggi lagi, siapa tahu orang bodoh dan rendah demikian ini tiba-tiba naik panggung dan mendebat Yalu Ce, malahan ilmu silatnya juga di luar dugaan. Maka semua orang membatin: “Ho Su-ngo ini dari mana berhasil mencuri belajar ilmu silat yang demikian bagusnya?”

Sungguh pun Ho Su-ngo orangnya sepele, tapi karena mukanya yang begitu jelek hingga membikin siapa yang melihatnya sulit melupakannya, maka Yalu Ce juga kenal. Segera Yalu Ce merangkap tangan dan menegur:

“Entah Ho-heng ada pendapat apa lagi, silakan memberi petunjuk.”

“Bilang memberi petunjuk, aku tak berani,” sahut Ho Su-ngo tertawa dingin. “Cuma hamba ada dua soal yang belum jelas, maka naik ke sini dan ingin bertanya.”

“Dua soal apa?” tanya Yalu Ce..”

“Pertama,” kata Ho Su-ngo, “Kalau mengadakan timbang terima, Pangcu baru dan lama selalu menggunakan ‘Pak-kau-pang’ (pentung pemukul anjing) sebagai tanda penyerahan kekuasaan. Hari ini Yalu Ce-toaya hendak menjadi Pangcu, entah pusaka kita, Pak-kau-pang itu berada di mana? Hamba ingin sekali melihatnya.”

Mendengar pertanyaan ini, para anggota Kay-pang berkata dalam hati: “Sungguh hebat pertanyaan ini.”

Sementara terdengar Yalu Ce menjawab: “Loh-pangcu tewas dibokong musuh, Pak-kau-pang hilang dirampas penjahat itu. Memang ini adalah noda perkumpulan kita yang harus dicuci bersih, siapa saja asal anak murid kita berkewajiban mencari kembali pentung pemukul anjing itu.”

“Dan,” kata Ho Su-ngo lagi, ”soal kedua yang hamba tidak jelas dan ingin tanya ialah sakit hati Loh-pangcu sebenarnya harus dibalas atau tidak?”

“Loh-pangcu dicelakai Hotu, hal ini semua orang tahu, orang-orang gagah pada jaman ini semuanya ikut berduka dan penasaran. Kita sudah mencari dan menyelidiki tetapi jejak si bangsat Hotu ini belum kelihatan,” demikian sahut Yalu Ce. “Tetapi ini adalah tugas penting perkumpulan kita, sekali pun ke ujung langit akan kita bekuk keparat Hotu itu untuk membalaskan sakit hati Loh-pangcu.”

“Hmm,” tiba-tiba Ho Su-ngo tertawa dingin. “Pertama, pentung pemukul anjing belum diketemukan. Dan kedua, pembunuh Loh-pangcu belum didapatkan. Bila urusan ini belum selesai sudah ingin menjadi Pangcu, rasanya agak terlalu terburu-buru.”

Pertanyaan yang tepat dan tegas ini membikin wajah Yalu Ce menjadi merah padam dan tak sanggup menjawab. Maka cepat-cepat Nio-tianglo menyela:

“Apa yang dikatakan Ho-laute ada benarnya juga. Tetapi anak murid perkumpulan kita yang meliputi beratus ribu jumlahnya dan tersebar di seluruh pelosok tidak dapat tanpa pemimpin, sedangkan urusan mencari pentung dan menuntut balas dendam memerlukan pimpinan. Justru inilah alasannya kenapa kita buru-buru ingin mengangkat seorang Pangcu baru.”

“Kata-kata Nio-tianglo ini salah besar, boleh dikatakan memutar-balikkan persoalan,” tiba-tiba Ho Su-ngo menjawab sambil menggeleng-geleng kepala.

Keruan Nio-tianglo menjadi gusar. Ia adalah tertua dalam kalangan Kay-pang, tapi seorang anak murid berkantong lima saja berani mencelanya di depan umum, sungguh besar amat nyalinya.

“Di mana letak kata-kataku yang salah?” segera Nio-tianglo bertanya dengan gusar.

“Kalau menurut pendapat Tecu,” demikian Ho Su-ngo menjawab, “barang siapa yang bisa menemukan Pak-kau-pang dan siapa mampu membunuh Hotu untuk balas sakit hati Loh-pangcu, orang itu lantas kita angkat menjadi Pangcu. Tapi kalau cara seperti sekarang ini, ilmu silat siapa yang paling kuat lantas dia menjadi Pangcu, jika umpama mendadak Hotu datang kemari dan ilmu silatnya sanggup menangkan Yalu-toaya, apakah kita pun lantas mengangkatnya menjadi Pangcu?”

Debatan ini membuat orang saling pandang dan merasa apa yang dikatakan ada benarnya juga. Namun Kwe Hu sudah berkaok-kaok dari bawah panggung, teriaknya:

“Ngaco-belo, ilmu silatnya Hotu mana bisa menangkan dia?”

“Hmm, meski ilmu silat Yalu-toaya sangat tinggi, belum berarti di seluruh jagat tiada tandingan. Memang hamba hanya seorang murid kantong lima, tapi belum pasti kalah darinya,” sahut Ho Su-ngo tertawa dingin.

Kwe Hu amat mendongkol dengan kata-kata orang kurang ajar itu. Kini mendengar orang bersedia saling gebrak, malah kebetulan sekali, maka cepat dia menggembor lagi:

“Ce-koko, hajarlah manusia congkak yang kurang ajar ini!”

“Nio-tianglo,” kata Ho Su-ngo pula, “jika Tecu bisa menangkan Yalu-toaya, maka jabatan Pangcu ini menjadi bagian Tecu, bukan? Atau mesti menunggu ada orang lain yang menemukan pentung dan membalas dendam baru akan diangkat menjadi pemimpin kita?”

Melihat sikap orang makin lama semakin kurang ajar, Nio-tianglo menjadi marah sungguh-sungguh.

“Tidak peduli siapa,” demikian sahutnya, “jika tak mampu menangkan para ksatria, tak mungkin bisa diangkat Pangcu, kelak kalau dia tidak mampu ketemukan pentung dan membalas dendam, pasti dia akan malu menduduki jabatan ini. Kalau Yalu-toaya menjadi pangcu kita, kedua tugas itu mau tidak mau harus dilaksanakan, dan kalau dia tidak mampu menangkan Ho-laute, tak mungkin juga dia bisa menjadi Pangcu!”

“Tepat perkataan Nio-tianglo,” seru Ho Su-ngo, “biarlah hamba segera belajar kenal dulu dengan kepandaian Yalu-toaya, kemudian barulah pergi mencari pentung dan membunuh musuh.” Di balik kata-kata ini nyata benar seolah-olah pertandingan ini 9/10 bagian sudah pasti Yalu Ce akan kalah.

Biasanya Yalu Ce sangat sabar dan berjiwa besar, tapi demi mendengar kata-kata Ho Su-ngo ini, tanpa terasa ia pun mendongkoI, maka jawabnya:

“Siaute berkepandaian rendah, tak berani menjadi Pangcu, tapi jika Ho-heng suka memberi pelunjuk, itu sangat beruntung.”

“Tak perlu merendah,” kata Ho Su-ngo, pentung besi yang dibawanya lantas ditancapkan di atas panggung, lalu sekali pukul, segera dia merangsek maju.

Tenaga pukulan itu tidak terlalu keras, tapi sasarannya meliputi tempat yang sangat luas. Tatkala itu Nio-tianglo belum lagi mundur sehingga angin pukulan Ho Su-ngo yang hebat membikin pipinya terasa pedas. Yalu Ce tidak berani ayal, tangan kiri menangkis, segera tangan kanan memukul dengan tipu ‘jin-cong-yok-bi (tersembunyi seperti kosong), sebuah tipu pukulan hebat dari 72 jurus ‘Khong-bin-kun” ajaran Ciu Pek-thong. Segera pertarungan kedua orang berlangsung dengan seru di atas panggung.

Tatkala itu sudah lewat tengah malam, di sekitar panggung terdapat beberapa puluh obor besar, maka pertarungan kedua orang itu dapat disaksikan semua orang dengan jelas. Setelah bergebrak belasan jurus, Oey Yong melihat anak menantunya sedikit pun belum di atas angin. Dia coba meneliti gerak ilmu silat Ho Su-ngo, tapi tidak bisa mengenali dari aliran manakah, hanya terlihat orang sangat ulet, sedikitnya sudah mempunyai latihan selama 40 tahun, maka diam-diam ia berpikir.

“Belasan tahun terakhir ini hanya secara kebetulan kubaca nama Ho Su-ngo yang karena bekerja giat telah dinaikkan tingkatannya, tetapi selamanya tiada orang menyebut tentang ilmu silatnya. Kini melihat gerak-geriknya terang bukan baru saja mendapat guru pandai atau penemuan aneh sehingga ilmu silatnya maju mendadak, padahal dalam Kay-pang selama ini ia merendah diri dan tidak terkenal. Apakah tujuannya memang untuk hari ini?”

Setelah berlangsung lebih 50 jurus, lambat-laun Yalu Ce terkejut. Tidak peduli bagaimana dia ganti gerak tipu serangan selalu kena dipatahkan lawan secara mudah, sungguh Ho Su-ngo merupakan lawan tangguh yang jarang ditemukannya selama ini. Tapi anehnya justru orang juga tidak ambil kesempatan untuk balas menyerang, seakan-akan sengaja piara tenaga biar lawan roboh sendiri. Yalu Ce sendiri sudah bertempur melawan beberapa orang. Kecuali melawan Nu Thian-ho tadi, selebihnya biasa saja tidak banyak membuang tenaga. Sekarang melihat Ho Su-ngo bergerak secara enteng dan tak menentu se-akan orang tua menggoda anak kecil, Yalu Ce menjadi tak sabar. Mendadak dari kepalan ia ganti menjadi telapak tangan, kemudian menyerang cepat dengan kedua tangan.

Kiranya meski pun Yalu Ce murid Ciu Pek-thong, namun kepandaian khas Ciu Pek-thong, yaitu dua tangan memainkan dua macam ilmu silat berbareng tidaklah mudah dipelajarinya, maka Yalu Ce juga tidak memperoleh ajaran ilmu silat hebat itu. Sebaliknya Yalu Ce cukup matang memahami ajaran ilmu silat Coan-cin kau, maka kini setelah dimainkan, seketika sumbu belasan obor di atas panggung itu terdorong memanjang. Dari ini saja cukup terbukti betapa kuat tenaga pukulannya. Maka tampaklah di atas panggung itu dua bayangan orang berkelebat kian kemari di bawah cahaya obor yang bergoncang.

“Ceng-koko,” tanya Oey Yong kepada suaminya, “Jika menurut pandanganmu, dari aliran manakah kepandaian Ho Su-ngo ini?”

“Sampai saat ini belum sejurus ilmu silat perguruannya diunjukkan, terang dia sengaja menyembunyikan asal usul dirinya,” sahut Kwe Ceng. “Tapi bila 80 jurus lagi lambat laun Ce-ji bakal di atas angin, tatkala mana kalau dia tak mau mengaku kalah maka terpaksa harus membongkar muka aslinya.”

Dalam pada itu pertarungan kedua orang semakin cepat. Tak lama kemudian 70-80 jurus sudah berlangsung. Betul juga seperti apa dikatakan Kwe Ceng, tenaga pukulan Yalu Ce sudah mengurung rapat seluruh tubuh lawannya. Kwe Ceng dan Oey Yong memandangi Ho Su-ngo penuh perhatian. Mereka tahu dalam keadaan kepepet, bila tidak keluarkan kepandaian aslinya dan masih menggunakan ilmu silat dari aliran lain, pasti orang she Ho itu akan celaka. Rupanya Yalu Ce juga sudah tahu akan kelemahan lawannya, maka tenaga pukulannya semakin gencar, tetapi tidak sembarangan maju, melainkan tetap tenang.

Pada suatu saat, tampaknya tidak mungkin bagi Ho Su-ngo tidak mengganti tipu silatnya. Sekonyong-konyong terlihatlah lengan bajunya mengebas, angin menyambar santer mulur dan mengkerut. Karena itu belasan titik obor yang menyala di atas panggung itu juga memanjang, lalu menyurut kembali dan terus sirap. Seketika keadaan menjadi gelap gulita, menyusul terdengarlah Ho Su-ngo dan Yalu Ce menjerit bersama, terdengar pula suara gedebukan. Ternyata Yalu Ce sudah berguling ke bawah panggung, sebaliknya Ho Su-ngo bergelak tertawa di atas panggung. Dalam keadaan terkejut, semua orang tiada yang berani bersuara, dalam keadaan sunyi itu suara tertawa Ho Su-ngo kedengaran sangat gembira sekali.

“Nyalakan obor lagi!” teriak Nio-tianglo segera.

Maka segera beberapa anak murid Kay-pang naik ke panggung dan menyulut obor yang padam. Di bawah sinar obor tampaklah pipi kiri Yalu Ce berlumuran darah terluka sebesar cangkir, sebaliknya Ho Su-ngo sedang mengulurkan telapak tangan kirinya sambil tertawa dingin dan berkata:

“Ha, baju kutang hebat, baju kutang hebat!”

Ternyata telapak tangannya juga penuh darah. Kwe Ceng dan Oey Yong saling pandang sekejap. Mereka tahu Kwe Hu telah pinjamkan ‘kutang lemas berduri landak’ kepada sang suami, sebab itu sewaktu Ho Su-ngo berhasil menghantam Yalu Ce, sebaliknya tangannya terluka oleh duri baju pusaka yang tajam itu. Cuma, sebab apa Yalu Ce terluka hingga terguling ke bawah panggung, karena keadaan mendadak menjadi gelap, maka mereka tidak tahu.

Kiranya tadi waktu pertarungan antara Ho Su-ngo dan Yalu Ce sampai titik menentukan, mendadak Ho Su-ngo mengeluarkan tenaga kebasan lengan bajunya yang hebat hingga obor itu seluruhnya padam. Dalam keadaan terkesiap, cepat Yalu Ce menghantam ke depan untuk membela diri, tetapi mendadak terasa ujung jarinya seperti menyentuh benda keras sebangsa logam. Seketika ia sadar tentu Ho Su-ngo yang telah bertempur lama dan belum bisa unggul itu kini tiba-tiba menggunakan muslihat dan dalam kegelapan telah lolos senjatanya untuk membokong.

Namun Yalu Ce bukan murid Lo-wan-tong Ciu Pek-thong jika begitu gampang kecundang, sekali pun bertangan kosong dia tidak gentar terhadap musuh yang bersenjata. Maka tipu pukulannya tadi segera dirubahnya menjadi gerak ‘Kim-na-jiu-hoat’ untuk merampas senjata lawan. Dengan gerak tangkapan itu, tubuhnya berbareng mendekati lawan, sekali tangannya membalik, gagang senjata musuh kena dipegangnya, bahkan menyusul telapak tangannya yang lain segera memukul muka orang.

Dengan begitu mau tidak mau Ho Su-ngo terpaksa melepaskan senjatanya. Dalam keadaan gelap, benarlah Ho Su-ngo telah miringkan kepalanya mengegos dan kendorkan tangannya, maka berpindah tanganlah senjatanya ke tangan Yalu Ce. Tapi pada saat yang sama itulah Yalu Ce merasa pipinya kesakitan sekali, terang sudah terluka, menyusul dadanya kena dihantam pula sehingga tidak sanggup berdiri tegak dan tergentak jatuh ke bawah panggung.

Sungguh tak terduga bahwa senjata lawan itu ternyata aneh luar biasa, yaitu di dalamnya terdapat alat rahasia dan terbagi dalam dua potong, setengah potong kena direbutnya dan setengah potong lainnya mendadak menyambar lalu kena pipinya. Cuma saja lukanya ini meski berat tetapi bukan di tempat berbahaya. Sebenarnya pukulan mematikan Ho Su-ngo itu terletak pada pukulannya yang mengenai dada Yalu Ce. Syukur sebelum itu Kwe Hu berkeras agar suaminya memakai kaos kutang berduri landak di dalam bajunya, sebab itu pukulan hebat itu tidak melukainya, sebaliknya telapak tangan Ho Su-ngo sendiri yang tertusuk duri kaos kutang itu sehingga berlumuran darah.

Melihat suaminya terjungkal ke bawah panggung, Kwe Hu menjadi kuatir dan marah, maka cepat ia memeriksanya. Sementara Nio-tianglo juga tahu Ho Su-ngo telah menggunakan muslihat licik. Tetapi karena tiada bukti nyata, lagi pula keduanya sama-sama terluka dan berdarah, maka tak mungkin menyalahkan salah satu pihak melanggar peraturan melukai lawan. Meski pun tampaknya luka kedua orang tidak berat tetapi Yalu Ce sudah terpukul jatuh ke bawah panggung, terang dia sudah kalah dalam pertandingan ini. Namun Kwe Hu masih penasaran, katanya:

“Orang ini berlaku licik. Kakak Ce, naiklah ke atas lagi untuk menentukan unggul dan asor denganya.”

“Tidak,” sahut Yalu Ce menggeleng, “biar pun dia menggunakan tipuan, terang sudah menang. Lagi pula aku juga belum pasti menang walau pun benar-benar mengeluarkan kepandaian sejati.”

Karena pada saat menentukan tadi panggung menjadi gelap, maka Oey Yong dan Kwe Ceng tidak mengetahui Ho Su-ngo menang dengan memakai tipu serangan apa. Segera Oey Yong memanggil Yalu Ce ke dekatnya dan memeriksa sepotong senjata musuh yang kena dirampasnya itu. Ternyata benda itu adalah satu lonjor baja yang panjangnya lima-enam dim saja, seperti sebatang ruji kipas. Siapakah gerangan orang Bu-lim yang suka memakai senjata macam ini.

Pada saat itulah Ho Su-ngo berkata sambil menegakkan mukanya yang jelek dan bengkak itu:

“Meski aku telah menangkan Yalu-toaya, tetapi aku belum berani menduduki jabatan Pangcu. Sesudah dapat menemukan Pak-kau-pang dan membunuh Hotu, tatkala itu barulah terserah keputusan musyawarah umum untuk menentukannya.”

Mendengar kata-kata orang yang ternyata sangat adil dan berjiwa besar, walau pun cara menangnya itu masih meragukan tapi ilmu silatnya memanglah amat tinggi, maka segera ada beberapa anggota Kay-pang bersorak memuji ucapannya itu.

“Dan ksatria manakah yang kiranya masih ingin naik panggung buat memberi petunjuk?” kemudian Ho Su-ngo berseru sambil memberi hormat di depan panggung.

Baru selesai dia bicara, mendadak terdengar Su Pek-wi bersuit sekali, lalu beratus ekor binatang buas yang mengelilingi sekitar lapangan itu meraung keras sembari berdiri. Hanya suara raungan seekor dua ekor harimau atau singa saja amat menggetarkan, apa lagi kini beratus ekor meraung berbareng, keruan suaranya seakan-akan gugur gunung dan memecah bumi. Seluruh mangkok piring di atas meja perjamuan para pahlawan ikut bergoncang hingga suaranya gemerincing. Di bawah suara raungan binatang-binatang buas yang keras itu, berbareng Se-san It-khut-kui dan keempat saudara Su meloncat ke samping panggung, mereka meloloskan senjata, dan segera panggung itu terkepung rapat.

Pada saat itulah dari jalan datang yang diterangi sinar obor tampak masuk delapan orang dengan obor terangkat di atas tangan. Terdengar mereka berseru lantang:

“Sin-tiau-hiap menghaturkan selamat ulang tahun kepada nona Kwe Siang dan inilah hadiah ketiga yang beliau bawa!”

Terlihat delapan orang itu dengan cepat sekali telah berada di hadapan Kwe Siang, nyata orang-orang itu sudah mengunjukkan betapa tinggi ilmu enteng tubuh mereka yang cepat dan gesit. Segera delapan orang itu membungkuk memberi hormat pada Kwe Siang dan masing-masing memberi-tahukan namanya sendiri-sendiri. Para pahlawan menjadi terkejut demi mendengar nama-nama mereka. Ternyata seorang Hwesio yang paling depan itu adalah Bu-sik Siansu, pengawas kuil Siau-lim-si. Yang lain-lain di antaranya ialah Tio-lokunsu, Jing-ling-cu dan kawan-kawan, semuanya adalah tokoh-tokoh terkemuka angkatan tua dari dunia persilatan yang sangat disegani.

Tapi Kwe Siang tidak peduIikan betapa tenar nama orang-orang itu, dia hanya bangkit membalas hormat dengan ber-seri, katanya:

“Banyak terima kasih para paman dan bibi telah sudi berkunjung kemari. Barang permainan apakah yang kalian bawa untukku?”

Segera empat orang yang mengangkat empat ujung sebuah kantong besar terus menarik perlahan, maka terdengarlah suara sobeknya kain dan kantong itu pecah menjadi empat potong. Dari dalam menggelinding keluar seorang Hwesio berkepala gundul. Begitu kaki Hwesio itu menyentuh tanah, cepat orangnya melompat bangun, gerak tubuhnya ternyata gesit bukan main. Segera tampak wajah si Hwesio ini merah padam saking marahnya, mulutnya mengomel tiada henti dalam bahasa yang tidak dikenal, entah apa yang dia katakan.

Tapi Kwe Ceng dan Oey Yong segera mengenal Hwesio ini adalah murid Kim-lun Hoat-ong, yaitu Darba. Sungguh aneh, entah cara bagaimana ia telah kena ditawan oleh Bu-sik Siansu dan Tio-lokunsu cs. Mula2 Kwe Siang menyangka dalam kantong itu tentu berisi kado yang menyenangkan, siapa tahu isinya adalah seorang paderi Tibet yang mukanya kasar jelek, maka ia menjadi rada kecewa. Katanya:

“Buat apa Toakoko mengirimkan hadiah seperti ini kepadaku? Aku tidak suka. Di manakah dia sekarang? Kenapa belum datang?”

Kedelapan orang itu tidak menjawab, di antaranya Jing-ling-cu sudah lama tinggal di daerah Tibet dan fasih bicara bahasa Tibet, maka ia mendekati Darba dan bisik-bisik di telinganya. Menyusul itu segera wajah Darba kelihatan terperanjat, matanya tanpa berkedip memandangi Ho Su-ngo yang berada di atas panggung. Kemudian Jing-ling-cu berkata lagi dua patah kata bahasa Tibet dengan lantang sembari mengangsurkan gada emas yang dipegangnya kepada Darba.

Gada emas itu adalah senjata Darba sendiri. Dia sudah dikeroyok oleh kedelapan tokoh terkemuka itu hingga tertawan, senjatanya pun terampas. Kini setelah mendengar kisikan Jing-ling-cu, mendadak ia melompat ke atas panggung.

“Nona Kwe,” kata Jing-ling-cu kemudian pada Kwe Siang, “Hwesio ini bisa bermain sulap, maka Sin-tiau-hiap menyuruh dia naik panggung memberi pertunjukan sulap, cobalah kau melihatnya.”

“Oh, kiranya begitu,” sahut Kwe Siang. “Memang aku heran, untuk apa Toakoko membuang tenaga begitu banyak hanya membawakan seorang Hwesio kepadaku?”

Sementara itu Darba sedang bicara keras-keras kepada Ho Su-ngo, tapi bahasanya ‘kili-kuIuk’ sehingga sukar dimengerti apa yang dia katakan.

“Hai, Hwesio, kau sedang berkata apa? Sedikit pun aku tak paham,” demikian Ho Su-ngo membentak.

Mendadak Darba menjinjing gada emasnya melangkah maju terus mengemplang kepala Ho Su-ngo. Ho Su-ngo berkelit, namun Darba mengayun gada emas yang gede itu terus merangsek. Dengan bertangan kosong harus melawan senjata yang begitu berat, terpaksa Ho Su-ngo main mundur. Melihat Hwesio Tibet ini demikian garang, seketika anggota Kay-pang yang lain menjadi ‘solider’ pada Ho Su-ngo. Beramai-ramai mereka berteriak, begitu pula Nio-tianglo segera membentak:

“Hai, Hwesio, jangan serampangan, kau harus tahu dia adalah bakal Pangcu perkumpulan kami!”

Akan tetapi Darba sama sekali tidak menggubris, gadanya berputar begitu cepat hingga berwujud lingkaran emas dengan sambaran angin yang semakin dahsyat. Sebab itu ada 6-7 anak murid Kay-pang yang tak tahan lagi, mereka melompat ke pinggir panggung hendak membantu sang kawan. Tapi Jing-ling-cu dan rombongannya, Se-san It-khut-kui dan lima saudara she Su yang seluruhnya berjumlah 23 orang telah mengepung rapat panggung dan menghalang-alangi orang lain naik ke atas panggung, maka biar pun anggota Kay-pang berjumlah banyak, tapi sesaat tidak bisa menerobos lewat.

Sedang keadaan agak kacau, tiba-tiba saja Jing-ling-cu melompat ke atas panggung lalu mencabut pentung besi Ho Su-ngo yang tadi ditancapkannya di pinggir panggung. Ho Su-ngo terkejut sekali, cepat dia hendak merebut kembali senjatanya, tetapi kena didesak oleh gada emas Darba sehingga dia tidak bisa bergeser selangkah pun.

Betapa pun Oey Yong yang biasanya sangat cerdik, dalam keadaan demikian ia menjadi bingung juga dan tidak tahu sebab apa Yo Ko mengirim tokoh-tokoh silat ini datang mengacau. Apakah maksud tujuan yang sebenarnya? Kalau mengingat hadiah ulang tahun yang diberikannya kepada Kwe Siang, yang pertama dan kedua semuanya sangat berfaedah bagi Siang-yang, rasanya hadiah ketiga ini tidak mungkin bersifat permusuhan. Karena itulah Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri hanya berpeluk tangan saja menyaksikan perkembangan selanjutnya.

Yalu Ce sendiri meski sudah digulingkan Ho Su-ngo ke bawah panggung, tapi ia ber-cita-cita meneruskan usaha ibu mertua dan berniat mati-matian membela Kay-pang. Kini melihat Ho Su-ngo keripuhan didesak Darba, tanpa pikir lagi dia membentak:

“Jangan kuatir, Ho-heng, biar aku membantu kau!”

Tapi ketika dia melompat ke pinggir panggung itu, seseorang berseru padanya: “Siapa pun dilarang naik panggung!” Berbareng tangan orang itu pun segera dipalangkan buat merintangi.

Segera Yalu Ce menyampuk tangan orang. Tapi sekali membalik, orang itu malah hendak menangkap pergelangan tangan Yalu Ce, gerakannya ternyata bagus sekali, betapa besar tenaga dalamnya juga lain dari pada yang lain. Keruan Yalu Ce terkejut. Waktu dia pandang orangnya, kiranya dia adalah Su Siok-kang, tokoh ketiga dari kelima saudara Su. Beberapa kali Yalu Ce merubah gerak tipu lain, tetapi tidak mampu mendesak mundur Su Siok-kang, diam-diam ia terkejut dan heran: “Orang ini hanya anak buah Sin-tiau-hiap saja tapi sudah demikian lihay, lalu Sin-tiau-hiap yang memerintah dan menyuruh tokoh-tokoh silat yang begini banyaknya, dia sendiri entah tokoh macam apa?”

Sementara itu Jing-ling-cu sudah mengangkat tinggi pentung besi milik Ho Su-ngo yang dirampasnya tadi dan menggembor:

“Wahai para ksatria sekalian, lihatlah, barang apakah ini?”

Sesudah itu mendadak dia ayunkan sebelah tangannya dan membelah ke tengah-tengah pentung besi itu.

“Krakk!” pentung besi itu pecah oleh belahan telapak tangannya.

Ternyata pentung itu tengahnya bolong. Ketika Jing-ling-cu menarik pentung yang pecah itu, di dalamnya tampak sebatang pentung bambu yang hijau mengkilat. Melihat pentung bambu ini, sesaat anggota Kay-pang terdiam, tetapi menyusul beramai-ramai mereka lantas berteriak:

“He, itulah Pak-kau-pang milik Pangcu!”

Beberapa anak murid Kay-pang yang sedang bergebrak dengan Su-si-hengte dan Se-san It-khut-kui segera melompat mundur, mereka menjadi heran. Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing, pentung simbolis dari Pangcu mereka kenapa bisa tersembunyi di dalam pentung besinya Ho Su-ngo dan kenapa ia merahasiakannya? Sungguh mereka tak habis mengerti! Dalam hening itu semua orang menantikan penjelasan Jing-ling-cu. Siapa tahu Jing-ling-cu tidak lagi bicara, dia melompat ke bawah panggung dan menyerahkan pentung bambu itu kepada Kwe Siang.

Melihat barang itu, Kwe Siang teringat kepada orangnya, terkenang olehnya suara dan wajah tertawa Loh Yu-ka. Ia menjadi berduka, dengan khidmat ia angsurkan pentung bambu itu kepada ibunya. Tatkala itu tipu serangan gada emas Darba semakin gencar, Ho Su-ngo hanya sanggup berkelit dan mengegos kian kemari, berulang ia menghadapi berbagai bahaya. Tapi kini Ho Su-ngo tidak mendapat simpatik siapa pun lagi, sesudah orang-orang Kay-pang melihat ‘pentung pemukul anjing’ tadi, mereka menduga sebabnya Jing-ling-cu menawan Darba kemari untuk menempur Ho Su-ngo tentu ada maksud tujuannya.

Dalam pada itu belasan jurus sudah berlalu lagi, tampaknya Ho Su-ngo pasti akan binasa di bawah gada emas. Saat itulah mendadak Oey Yong ingat sesuatu.

“Ho Su-ngo telah melukai Ce-ji, sudah terang dalam lengan bajunya tersembunyi senjata, kenapa detik berbahaya ini masih belum dikeluarkannya buat melawan musuh?”

Dia lihat waktu itu gada emas Darba telah menyerang dan Ho Su-ngo terpaksa melompat berkelit. Tapi tiba-tiba Darba tegakkan gadanya terus menyodok ke atas. Saat itu Ho Su-ngo terapung diudara, sodokan ini betapa pun tiada jalan buat menghindar.

“Crengg...!” terdengarlah suara nyaring beradunya senjata, berbareng itu Ho Su-ngo telah melompat ke samping, di tangannya tahu-tahu sudah bertambah semacam senjata yang berbentuk pendek.

Tampak Darba semakin murka, ia mencaci-maki kalang-kabut dan gada emasnya diputar semakin cepat. Namun sesudah pegang senjata, keadaan terdesak Ho Su-ngo tadi lantas berubah, segera dia pun ‘unjuk gigi’. Dia menotok, menjojoh, menusuk dan menghantam, sungguh pun senjatanya pendek, tapi gerak serangannya ternyata sangat hebat. Sekarang keadaan menjadi sama kuat.

Setelah menyaksikan sebentar lagi, mendadak Cu Cu-liu menjadi paham, serunya: “Aha! Kwe-hujin, sekarang tahulah aku siapa dia. Cuma masih ada sesuatu yang aku belum mengerti.”

Oey Yong tersenyum. Rupanya ia pun sudah tahu lebih dulu, maka jawabnya: “ltu karena mukanya dipoles dengan campuran tepung, madu, hm dan lain-lain bahan pelekat.”

Waktu itu Yalu Ce, Kwe Hu dan Kwe Siang berdiri di samping sang ibu, namun mereka menjadi bingung mendengar percakapan itu.

“Cu-lopek, kau maksudkan siapakah?” tanya Kwe Hu.

“Aku maksudkan Ho Su-ngo yang melukai suamimu itu,” sahut Cu-liu.

“Kenapa? Apakah dia bukan Ho Su-ngo? Lalu siapa?” tanya Kwe Hu lagi.

“Coba kau perhatikan senjata apa yang dia pakai,” ujar Cu-liu.

Kwe Hu mencoba mengamat-amati, sejenak kemudian dia berkata: “Panjang senjatanya tidak ada satu kaki, memang bentuknya aneh, bukan Boan-koan-pit, bukan Oh-hut-ji, juga bukan Tiam-biat-kut.”

“Kau harus peras otak berpikir dulu,” sela Oey Yong. “Sebab apakah dia tidak mau pakai senjatanya sejak tadi tapi lebih suka menerima resiko dengan selalu berkelit saja, sampai akhirnya sesudah terdesak benar-benar oleh Hwesio itu barulah dia loloskan senjatanya? Dia melukai Ce-ji dengan senjata, sebab apa pula harus menyirapkan obor lebih dulu?”

“Ya, tahulah aku sekarang. Tentu dia kuatir di antara orang-orang yang hadir ini ada yang mengenal senjata dan gerak tipunya, maka tidak berani unjukkan corak aslinya,” kata Kwe Siang.

“Bagus, memang Kwe-jisiocia sangat pintar,” puji Cu-liu.

Mendengar adik perempuannya dipuji, dalam hati Kwe Hu menjadi iri, katanya: “Tak mau unjukkan corak asli apa katamu? Bukankah terang-terangan dia berdiri di atas panggung? Siapa pun dapat melihatnya?”

Tapi Kwe Siang segera ingat lagi kata sang ibu tadi, maka dia menyambung pula: “Ahh, kiranya dekak dekuk bekas koreng di mukanya itu adalah palsu semua. Mukanya benar-benar menakutkan. Sekali aku melihatnya, tak sudi melihatnya untuk kedua kalinya.”

“Ya, semakin jelek dan semakin seram ia menyamar, semakin jejaknya takkan diketahui sebab semua orang merasa jenuh pada mukanya yang jelek hingga sungkan memandang padanya, dengan begitu meski muka palsu itu ada sedikit keganjilan juga tak akan mudah diketahui orang,” kata Oey Yong. “Aih, menyamar selama 16 tahun, sesungguhnya bukan suatu pekerjaan mudah.”

“Bentuk muka bisa dipalsu, tetapi ilmu silat dan gerak-geriknya tidak mungkin dipalsukan. Ilmu kepandaian yang sudah terlatih berpuluh tahun, mana bisa berubah begitu saja,” ujar Ciu-liu.

“Kalian maksudkan Ho Su-ngo itu palsu? Jika begitu siapakah gerangan?” tanya Kwe Hu. “Adik, kau yang pintar, coba terangkan.”

“Aku sedikit pun tidak pintar, maka sedikit pun tidak tahu,” ujar Kwe Siang sambil geleng-geleng kepala.

“Toasiocia (puteri pertama) sendiri sudah pernah melihat dia, tatkala itu Jisiocia malahan belum lahir,” kata Cu-liu tersenyum, ”17 tahun yang lalu, di tengah perjamuan besar kaum ksatria di Heng-ci-koan, ada seseorang menempur aku sampai beratus jurus, siapakah dia?”

“He, dia Hotu?” seru Kwe Hu. “Ah, tidak, bukan dia. Hm, ia memakai senjata kipas lempit, senjata inilah yang agaknya rada mirip. Ya, ya, kipasnya tinggal tulang kipas saja tanpa muka kipas, maka seketika susah dikenali.”

“Pertarunganku dengan dia dahulu adalah kejadian berbahaya selama hidupku, maka tipu serangan serta gerak tubuhnya tidak akan kuIupakan,” ujar Cu-liu pula, “Kalau orang ini bukan Hotu, ha, aku she Cu inilah yang bermata lamur!”

Ketika Kwe Hu memandang ke atas panggung, ia lihat gerak langkah Ho Su-ngo kini ternyata gesit sekali, serangannya sangat keji, lapat-lapat memang benarlah si Hotu yang pernah dilihatnya dahulu, cuma dalam hati dia masih banyak yang tidak paham, maka tanyanya pula:

“Tapi jika benar dia adalah Hotu, padahal paderi Tibet ini adalah Suheng-nya, masa mereka tidak kenal, sebaliknya saling gebrak begitu hebat?”

“Justru karena Darba mengenali orang itu adalah Sute-nya, maka ia melabraknya dengan mati-matian,” sahut Oey Yong. “Tahun itu waktu pertarungan sengit di Tiong-yang-kiong, Cong-lam-san, dengan sebilah ‘Hian-tiat-kiam’ (pedang besi murni) Yo Ko telah menindih Darba dan Hotu ke bawah. Melihat jiwa terancam, mendadak Hotu gunakan akal licik, dia mengkhianati buat selamatkan jiwa sendiri, kejadian ini disaksikan orang banyak, tentu kau pun mendengar cerita orang.”

“Oh, kiranya begitulah sehingga Darba benci padanya,” ujar Kwe Hu.

Mendengar betapa ibunya bercerita tentang Yo Ko dengan sebilah pedang menindih Hotu dan Darba ke bawah, Kwe Siang jadi terbayang betapa gagah perwiranya Yo Ko di masa dahulu, tanpa terasa dia kesemsem.

KISAH TIGA TURUNAN

“Dan kenapa dia berubah menjadi pengemis? Sebab apa pula Pak-kau-pang bisa berada di tangannya?” Kwe Hu menegas.

“Bukankah itu sangat sederhana?” jawab Oey Yong. “Hotu sudah mendurhakai Suhu-nya dan mengkhianati Suheng-nya, tentu dia takut dicari mereka, sebab itu dia sengaja menyamar dan berganti corak menyelundup ke Kay-pang, sedikit pun tidak menimbulkan curiga dan lambat laun meningkat sehingga menjadi anak murid berkantong lima, dengan begitu orang-orang Kay-pang tiada yang curiga. Kim-lun Hoat-ong lebih-lebih tidak dapat menemukannya.

Tapi manusia jahat yang berhati dengki tak mungkin mau hidupnya terpendam begitu saja, apa bila ada kesempatan, segera ia jalankan muslihatnya lagi. Hari itu ketika Loh-pangcu meronda keluar kota, diam-diam ia sembunyi di sana dan tiba-tiba membokongnya, tetapi cara turun tangannya sudah membongkar rahasianya, dia tinggalkan murid Kay-pang yang masih bernyawa agar menyampaikan bahwa yang membunuh Loh Yu-ka adalah Hotu.

Sesudah Pak-kau-pang dapat direbutnya, kemudian disembunyikan dalam pentungnya, ia menanti saatnya pemilihan pangcu lantas muncul dan ikut memperebutkannya. Dengan ilmu silatnya yang memang tinggi, tentu tidak terlalu susah baginya untuk merobohkan para ksatria, malahan dia sengaja mengemukakan syarat mengenai ‘menemukan pentung pemukul anjing’, suatu syarat yang memang menjadi peraturan Kay-pang turun-temurun, dengan sendirinya tiada yang bisa mendebatnya. Aih, keparat Hotu ini benar-benar pintar berpikir panjang.”

“Tapi ada Kwe-hujin di sini, meski pun dapat mengelabui orang untuk sementara, akhirnya juga tak bisa mendustai kau,” ujar Cu Cu-liu tertawa.

Oey Yong tersenyum tak menjawabnya, dalam hati ia berkata: “Kalau dia menyelundup ke Kay-pang dan tidak unjuk sesuatu tanda mungkin masih bisa mengelabui aku, tetapi kalau ingin menjadi Pangcu terlalu meremehkan aku si Oey Yong ini.”

“Dan si Yo Ko ini juga hebat benar, ternyata muslihat Hotu dapat diketahuinya, pentung pemukul anjing dapat direbutnya kembali, kedok Hotu juga kena dibongkar kemudian dihadiahkan pada Kwe-jisoacia sebagai kado ulang tahun. Sungguh hadiah ini tidak kecil,” ujar Cu-liu.

“Hm, kukira itu pun kebetulan saja dapat diketahuinya,” jengek Kwe Hu.

Namun Kwe Siang teringat sesuatu, katanya: “Hotu ini sengaja menyamar sebagai pengemis muka jelek di Kay-pang dan sengaja mengacau. Sebenarnya Su-samsiok dari kelima saudara Su itu pun pernah dilukainya, jadi mungkin juga Su-samsiok sengaja mencarinya untuk membalas sakit hati dan akhirnya menemukan jejaknya.”

“Benar,” sahut Oey Yong mengangguk, “di kalangan Kangouw jejak Hotu ini akan mudah sekali diketahui, tapi orang lain sekali-kali tidak pernah menyangka bahwa Ho Su-ngo dari Kay-pang adalah orang yang sama dengan dia. Tapi seorang yang terlalu tinggi hati, suatu hari pasti terjungkal dan terbuka kedoknya.”

“Tapi,” sela Kwe Hu, “sebab apa dia sendiri bilang akan membunuh Hotu? Bukankah itu sangat bodoh?”

“ltu hanya kata-kata untuk menutupi kedoknya saja supaya orang iain tak mencurigainya,” kata Oey Yong.

Di lain pihak Kwe Siang sedang komat-kamit perlahan: “Tentu hari itu ia telah mendengar semua perkataanku ketika aku menyembahyangi arwah Loh-pepek di kelenteng Yo-tayhu. Karena tahu hatiku berduka sebab Loh-pepek terbunuh musuh, maka dia lantas mencari pembunuhnya ini. Tapi kenapa dia sendiri masih belum datang?”

Tengah bicara, pertarungan Darba dan Hotu di atas panggung kini semakin sengit. Kedua orang berasal dari satu guru, masing-masing cukup mengenal kepandaian lawan, Darba menang dalam hal tenaga yang lebih besar, tetapi Hotu lebih unggul akan kecepatan dan kegesitan, maka sesudah ratusan jurus keduanya masih seimbang. Mendadak sontak Darba menggertak, lalu secepat kilat gada emasnya ditimpukkan ke arah Hotu. Gada emas ini beratnya lebih dari 30 kati, ditimpukkan lagi, gaya luncurnya menjadi lihay sekali.

Terkejut Hotu, selamanya belum pernah melihat gerak serangan sang Suheng ini. Lekas-lekas ia mengegos, tapi Darba sudah memburu maju, telapak tangannya mendorong dan mendadak gada emas itu memutar arah terus memburu Hotu. Sungguh tidak kepalang terperanjat Hotu. Sekarang barulah ia tahu selama belasan tahun ini sang Suheng sudah banyak memperoleh tambahan ilmu Iwekang lagi dari sang Suhu. Kepandaian menimpuk gada ini persis gayanya seperti Kim-lun Hoat-ong menyambitkan kelima rodanya yang terbikin dari ‘panca logam’ itu. Melihat tenaga timpukan gada yang sangat keras, sekali-kali tak sanggup ditangkis dengan kipas, terpaksa Hotu berkelit, Gada itu menyambar lewat dua tiga senti di atas kepalanya.

Namun semakin ditimpuk dan didorong, gada emas Darba itu semakin cepat, obor yang menyala di sekitar panggung bergoyang-goyang oleh angin sambaran sehingga sebentar terang sebentar gelap. Hotu tak berani ayal, dia cepat melompat ke sana kemari di bawah ancaman gada yang me-nyambar. Melihat keadaan yang menggetarkan itu, semua orang yang menyaksikan ikut terperanjat. Sampai timpukan yang ke-18 mendadak Darba membentak keras, gada emasnya bagai anak panah meluncur ke depan. Hotu tak sanggup berkelit lagi, maka segera terdengarlah suara benturan yang keras, dada dan badannya lemas terkulai di atas panggung tak berkutik lagi.

Sesudah mengambil kembali gada emasnya, Darba menggerung menangis tiga kali, lalu dia duduk bersila di depan mayat Sutenya membacakan doa, kemudian dia melompat turun mendekati Jing-ling-cu, gada emas itu diangkat tinggi hendak dikembalikan kepada orang. Namun Jing ling-cu tidak menerimanya, katanya:

“Selamat, kau berhasil mencuci bersih sampah perguruanmu. Sin-tiau-hiap telah mengampuni kau, supaya kau segera pulang ke Tibet dan selanjutnya tak boleh menginjak daerah Tionggoan lagi.”

“Banyak terima kasih kepada Sin-tiau-tayhiap, hamba menurut perintahnya,” sahut Darba. Lalu ia memberi hormat dan pergi.

Melihat Hotu menggeletak mati di atas panggung, mukanya bengkak seram, tapi Kwe Hu masih tak mau percaya muka demikian ini adalah palsu. Tiba-tiba ia mencabut pedangnya lalu melompat ke atas panggung, dengan ujung pedang ia hendak iris batang hidung Hotu, serunya:

“Biarlah kita melihat muka asli bangsat ini bagaimana macamnya?”

Tak terduga, mendadak terdengar Hotu membentak satu kali, tahu-tahu melompat tinggi, kedua telapak tangannya menghantam dengan ganasnya. Kiranya oleh sodokan gada tadi, meski terluka parah sekali, tetapi jiwanya masih belum melayang. Dasar Hotu memang licik, maka dia sengaja tak berkutik, dia menunggu kalau-kalau Darba mendekatinya dan hendak membalasnya dengan sekali hantam pada saat sebelum ajalnya agar dapat gugur bersama. Siapa tahu Darba hanya membacakan doa agar arwahnya menuju alam baka, lalu turun panggung, sebaliknya malah Kwe Hu yang datang untuk mengiris hidungnya.

Hantaman Hotu ini boleh dikatakan seluruh sisa tenaga yang masih ada telah dikeluarkan seluruhnya. Keruan Kwe Hu terkejut sekali, sesaat ia menjadi lupa mengayunkan pedang buat menahan serangan musuh, pula kutang berduri landak sudah dipinjamkan suaminya, tampaknya jiwanya sekejap saja pasti akan melayang oleh hantaman kedua tangan Hotu.

Dalam kagetnya Kwe Ceng, Oey Yong dan Yalu Ce berbareng hendak melompat ke atas panggung untuk menolongnya, tapi terang tak keburu lagi. Pada detik berbahaya itulah, tiba-tiba terdengar suara mencicit dua kali, tahu-tahu dari udara menyambar datang dua senjata rahasia dengan pesat sekali dari kanan-kiri dan sekaligus mengenai dada Hotu. Kedua senjata rahasia itu bentuknya sangat lembut, tetapi tenaga lontarannya luar biasa besar. Tanpa ampun lagi tubuh Hotu terjengkang merosot ke bawah panggung, mulutnya muntahkan darah dan benar-benar binasalah sekarang.

Dengan ternganga kaget semua orang segera memandang ke arah dari mana datangnya senjata rahasia itu, tapi tertampak bintang suram, bulan guram, langit gelap, lebih dari itu suasana sunyi senyap saja. Di depan panggung tegak berdiri dua tiang bendera yang besar dan tingginya beberapa tombak. Agaknya senjata rahasia itu disambitkan masing-masing dari kedua talang tiang bendera yang tinggi itu.

Mendengar suara menyambarnya senjata rahasia tadi, Oey Yong menduga bahwa selain kepandaian ‘Sian-ci sin-thong’ atau ilmu jari maha sakti milik ayahnya, Oey Yok-su, rasanya tiada orang lain lagi yang mempunyai kepandaian setinggi itu. Cuma kedua tiang bendera jaraknya ada belasan tombak, mengapa dari kedua tiang bendera itu berbareng ditimpukkan senjata rahasia? Masa ada dua orang? Akan tetapi saking girangnya ia pun tidak banyak pikir lagi, segera ia berseru memanggil:

“Apakah ayah yang datang?”

Maka terdengarlah dari talang tiang bendera di sebelah kiri ada suara seorang tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

“Kawan cilik Yo Ko, mari kita turun berbareng!”

“Baik,” sahut seorang dari talang sebelah kanan.

Menyusul itu dari dalam talang tiang bendera masing-masing melompat turun satu orang. Di bawah cahaya bintang dan bulan yang guram, baju kedua orang itu melambai, seorang berjubah hijau berambut putih, yang lain berbaju biru berlengan tunggal, nyatalah mereka memang Oey Yok-su dan Yo Ko. Kedua orang itu melompat turun ke arah panggung. Selagi masih terapung di udara, Oey Yok-su menarik tangan kiri Yo Ko, kemudian keduanya turun berbareng di atas panggung, Betapa mengagumkan cara melayang turunnya. Bila semua orang tidak mendengar suaranya lebih dulu, boleh jadi akan menyangka mereka adalah malaikat yang turun dari khayangan.

Lekas Kwe Ceng dan Oey Yong melompat ke atas panggung dan memberi hormat pada Oey Yok-su. Begitu pula Yo Ko segera menyembah di hadapan Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri sambil menyapa:

“Tit-ji (keponakan) Yo Ko memberi hormat kepada Kwe-pepek dan Kwe-pekbo.”

Cepat Kwe Ceng membangunkannya dan katanya dengan tertawa: “Ko-ji, ketiga macam hadiahmu ini sungguh... sungguh...” tapi saking terharunya, lagi pula memang tak pandai bicara muluk-muluk, maka “sungguh” apa, tak bisa dikatakannya.

Sebaliknya Kwe Hu yang dengki, karena kuatir kalau dirinya disuruh menghaturkan terima kasih atas pertolongan Yo Ko tadi, lekas-lekas mendekati Oey Yok-su sambil memanggil:

“Engkong!”

Yo Ko tersenyum, ia kenal watak orang, ia melompat ke hadapan Kwe Siang dan sapanya dengan tertawa:

“Adik cilik, aku datang terlambat.”

Berdebar hati Kwe Siang ketika itu, wajahnya jengah. Jawabnya dengan suara lirih: “Ah, kau telah membawakan tiga macam hadiah besar ini, sungguh... sungguh bikin capek kau saja.”

”Hanya sekedar meramaikan hari ulang tahun adik cilik saja, tidak ada yang perlu dipuji,” sahut Yo Ko tertawa.

Habis itu, ketika ia memberi tanda, segera terdengar Toa-thau-kui berteriak: “Bawa semua ke sini!”

Segera ula di pintu masuk lapangan sana ada orang meneruskan perintah itu. “Bawa semua ke mari!” dan begitu pula seterusnya suara itu dilanjutkan hingga jauh.

Selang tidak lama kemudian dari Iuar lapangan membanjir serombongan orang, ada yang membawa leng-long dan obor, ada yang memikul dan menjinjing tenggok, terus tersebar di sekitar lapangan dan mematok cagak mendirikan panggung. Sementara itu orang yang datang semakin banyak tak terputus-putus, namun secara beraturan, tiada seorang pun yang bicara, hanya bekerja keras. Semua orang sudah menyaksikan tiga hadiah besar yang dibawa Yo Ko tadi, maka siapa pun merasa kagum padanya. Mereka pikir orang-orang yang dibawanya kemari ini tentu ada gunanya.

Tidak lama kemudian, di sebelah barat daya lapangan itu sudah berdiri sebuah panggung, gembreng berbunyi dan genderang ditabuh, nyata itulah sebuah panggung wayang ‘po-te-hi’ yang melakonkan ‘Pat-sian-cok-siu’ atau delapan dewa memberi selamat ulang tahun. Menyusul satu panggung yang di sudut lain mempertunjukkan opera dengan lakon cerita Kwe Cu-gi berulang tahun, dewa-dewi datang memberi selamat kepadanya. Dalam sekejap saja di ujung lain pun ada wayang orang yang telah memulai pertunjukan hingga seketika suasana meriah sekali.

Sungguh hebat usaha Yo Ko, sekali pun keluarga bangsawan yang paling mampu juga tidak selengkap dan seramai sekarang ini. Betapa girang Kwe Siang atas kebaikan Yo Ko, saking terharu matanya mengembeng air mata dan tak sanggup bersuara. Kwe Hu jadi teringat apa yang dikatakan adiknya tempo hari bahwa ada seorang ksatria besar yang akan datang memberi selamat ulang tahun padanya. Kini ternyata betul-betul terjadi, dia menjadi gusar dan dongkol. Dalam keadaan serba kikuk dia pura-pura menarik tangan Oey Yok-su menanyakan ini dan itu, terhadap keramaian di sekitarnya ia berlagak tidak tahu.

“Ayah, apakah sebelumnya kau telah berjanji dengan Ko-ji akan sembunyi di dalam talang tiang bendera itu?” tanya Oey Yong kemudian pada ayahnya.

“Bukan, bukan,” sahut Oey Yok-su tertawa. “Suatu hari, ketika aku pesiar di Tong-teng-oh pada malam bulan purnama, tiba-tiba saja aku mendengar suara orang berseru mencari Yan-po Tio-so (si kakek tukang memancing), katanya ada seorang bernama Sin-tiau-hiap mengundangnya ke Siang-yang. Kepandaian Yan-po Tio-so itu tidaklah rendah, cuma tabiatnya aneh luar biasa, maka aku menjadi kuatir kalau mereka akan melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan puteri dan menantuku sayang. Diam-diam aku lantas datang kemari, siapa tahu kalau Sin-tiau-hiap ini ternyata adalah kawan cilik Yo Ko, bila sebelumnya sudah tahu, tak perlu lagi aku ikut-ikut capekkan diri.”

Dari lagu perkataan orang, Oey Yong tahu meski sang ayah mengembara ke mana-mana, tetapi dalam hati senantiasa masih merindukannya. maka dengan tertawa ia berkata:

“Tia (ayah), sekali ini janganlah kau pergi lagi, mari kita hidup berkumpul dengan bahagia.”

Namun Oey Yok-su tidak menjawabnya, malah tiba-tiba Kwe Siang dipanggil ke dekatnya.

“Marilah, nak, biar Gwakong melihat kau,” demikian katanya.

Kwe Siang selama ini belum kenal sang Gwakong atau kakek luar (ayah dari ibu), maka lekas-lekas ia mendekatinya dan memberi hormat. Segera Oey Yok-su memegangi tangan anak dara itu sambil meng-amati raut mukanya. Tiba-tiba dengan muram ia berkata:

“Sungguh persis, sungguh persis!”

Oey Yong tahu ayahnya menjadi terkenang kepada mendiang ibunya, maksudnya muka Kwe Siang amat mirip dengan nenek sewaktu mudanya. Karena kuatir membuat ayahnya tambah berduka, maka ia tidak buka suara.

“Sudah tentu persis,” sela Kwe Hu tiba-tiba sambil tertawa. “Engkau berjuIuk ‘Lo-tang-sia’ dan dia dipanggil orang ‘Siau-tang-sia’.”

“Hu-ji!” cepat Kwe Ceng membentak. “Di hadapan Gwakong berani tak beraturan?”

Sebaliknya Oey Yok-su menjadi girang. Dia tanya Kwe Siang: “ Apakah benar kau berjuluk ‘Siau-tang-sia’, Siang-ji?”

Kwe Siang menjadi jengah, jawabnya: ”Mula-mula Cici yang menyebut aku demikian, tapi lama-lama orang menyebut aku begitu.”

Dalam pada itu empat tertua dari Kay-pang sedang merubung Yo Ko sambil tiada hentinya mengaturkan terima kasih, dalam hati mereka berpikir. “Ia telah menemukan kembali Pak-kau-pang dan membongkar kedok muslihat Hotu, kalau ia sudi menjadi pangcu kita, itulah paling baik.”

Sebab ituIah, segera Nio-tianglo berkata: “Yo-toaya, sungguh tidak beruntung Loh-pangcu kami telah wafat…”

Yo Ko tahu akan maksud hati orang. Tanpa menunggu ucapan orang lebih lanjut, segera ia memotong:

“Kepandaian Yalu-toaya serba pintar, bijaksana dan berbudi. Ia juga adalah kawanku sejak duIu, jika dia yang menjadi Pangcu perkumpulan kalian, pasti akan dapat meneruskan usaha Ang, Oey dan Loh bertiga Pangcu dahulu.”

Sesudah Oey Yok-su menanya sekedar ilmu silat Kwe Siang, ia lalu berpaling dan hendak memanggil Yo Ko, tetapi begitu menoleh, Yo Ko sudah berjalan keluar lapangan. Ia tahu sekali Yo Ko pergi susah bertemu pula, maka cepat serunya:

“Kawan cilik Yo Ko, nanti dulu, aku pun hendak pergi!”

Ketika lengan bajunya mengebas, sekejap saja ia sudah menyusul sampai di samping Yo Ko, seorang tua dan yang lain muda bergandengan tangan menghilang di malam gelap. Sesungguhnya ada sesuatu yang hendak dibicarakan Oey Yong kepada ayahnya, cuma di hadapan orang banyak tidak IeIuasa diutarakan. Kini orang tua itu ternyata pergi begitu saja, ia menjadi gelisah dan lekas mengejar. Namun betapa cepat jalannya Oey Yok-su dan Yo Ko, waktu Oey Yong mengejar keluar, jarak mereka sudah beberapa puluh tombak jauhnya.

“Ayah, Ko-ji, mari tinggal dulu dan berkumpul beberapa hari saja!” teriak Oey Yong.

“Ahh, watak kami berdua suka bebas tak mau dikekang, maka biarkan kami pergi dengan merdeka!” demikian Oey Yok-su menyahut sambil tertawa. Nyata suaranya itu sudah jauh sekali.

Oey Yong mengeluh, tapi apa daya, terang tak dapat menyusul. Terpaksa ia kembali pulang, sementara di lapangan itu suasana masih ramai sekali. Se-san It-khut-kui, Su-si-hengte, Jing-ling-cu dan kawannya juga sudah pergi. Sesudah dirundingkan antara tertua Kay-pang, bila tidak dikacau Hotu tentu semenjak tadi Yalu Ce sudah diangkat menjadi Pungcu. Yo Ko ada budi kepada Kay-pang, ia juga mengusulkan Yalu Ce, maka sesuai benar dengan pilihan suara orang banyak. Oleh karena itu keempat tertua Kay-pang melaporkan kepada Oey Yong, lalu naik panggung mengumumkan tentang pengangkatan Yalu Ce sebagai Pangcu baru.

Menurut aturan, para anggota ber-turut harus meludahi tubuh Yalu Ce, sedangkan para pahlawan di luar Kay-pang bergilirian naik ke panggung memberi selamat, maka suasana menjadi tambah riang gembira. Oey Yong menyuruh orang memberi hadiah seperlunya kepada anak wayang dan seniman seniwati. Pementasan itu terus berlangsung hingga terang tanah barulah bubar.

Melihat kedatangan Yo Ko sekali ini hanya bicara sejenak dan tersenyum sebentar lantas berpisah, dalam hati Kwe Siang merasa kesal tak terkatakan, semakin dipikir semakin masgul. Ia lihat enci-nya suka ria berdiri di samping sang suami menerima ucapan selamat dari semua orang, ia sendiri menjadi sunyi rasanya, maka ia putar tubuh hendak meninggalkan lapangan itu. Tapi belum beberapa langkah dia bertindak, Oey Yong menyusulnya, tangan si anak dara dipegangnya dan dengan suara lembut Oey Yong bertanya:

“Siang-ji, ada apakah? Apakah merasa kurang gembira?”

“Ah, tidak, aku justru sangat gembira,” sahut Kwe Siang. Habis berkata, segera ia pun menunduk, air matanya ber-linang hampir menetes.

Oey Yong mengerti perasaan puterinya, maka dia sengaja bicara tentang cerita lucu yang dilihatnya di panggung sandiwara dengan tujuan memancing Kwe Siang agar tertawa. Perlahan-lahan ibu dan anak itu pulang ke rumah. Oey Yong mengantar puteri kecilnya kembali ke kamar.

“Siang-ji, apa kau lelah?” tanyanya penuh rasa kasih sayang.

“Tidak, Ibu. Kau sendiri semalam suntuk tidak tidur, haraplah pergi mengaso,” sahut Kwe Siang.

Namun Oey Yong menarik tangan anak dara itu lantas duduk sejajar di tepi ranjang, rambut puterinya dibelai-belai, katanya dengan suara lembut:

“Siang-ji, urusan Yo-toako selamanya tak pernah kuceritakan padamu, ceritanya memang terlalu panjang, apa bila kau tidak letih, biarlah ku ceritakan padamu sekarang.”

Seketika semangat Kwe Siang bangkit, “Ceritakanlah, Ibu,” pintanya cepat.

“Kisah ini dimulai dari engkong-nya,” tutur Oey Yong.

Laiu dia menceritakan bagaimana dahulu Kwe Siau-thian (ayah Kwe Ceng) dan Yo Tiat-sim (engkong-nya Yo Ko) mengangkat saudara dan saling mengikat janji berbesan selagi isteri kedua orang masih mengandung. Kemudian Yo Khong (ayah Yo Ko) mengaku musuh (Wanyen Lieh) sebagai ayah hingga akhirnya mati secara mengenaskan, Tentang waktu keciInya Yo Ko pernah tinggal di Tho-hoa-to sampai Kwe Hu menebas buntung lengannya, bagaimana berpisah dengan Siao-liong-li di Coat-ceng-kok, semua dituturkannya.

Sungguh sama sekali Kwe Siang tidak menduga bahwa ‘Toakoko’ yang siang dan malam dirindukannya itu ternyata mempunyai hubungan begitu rapat dengan keluarganya sendiri, lebih-lebih tidak menduga bahwa lengannya yang buntung itu justru enci-nya sendiri yang mengutunginya, sedang menghilangnya Siao-liong-li juga disebabkan akibat terkena jarum berbisa yang disambitkan cici-nya. Awalnya dia menyangka bahwa Yo Ko hanya seorang ksatria muda yang dikenalnya secara kebetulan, karena orangnya cakap ganteng hingga hati kecilnya kesemsem, siapa tahu di dalamnya terdapat suka duka yang demikian panjang meliputi tiga turunan. Maka ketika ibunya mengakhiri ceritanya, rasa anak dara ini se-olah mabuk, pikirannya kacau.

“Semula aku telah salah duga,” demikian kata Oey Yong sesudah menghela napas, “kusangka perkenalannya dengan kau mengandung maksud jahat. Aih, tapi melihat ketiga hal yang dilakukan Yo-toakomu semalam, jangankan dia sebenarnya tiada pikiran serong, sekali pun memang tiada maksud baik, sesudah kita terima budi yang tak sedikit, kita pun sesungguhnya harus berterima kasih tak habis-habis padanya.”

“Ibu, kau bilang Yo-toako tidak bermaksud baik apa, mengapa berpikiran serong?” tanya Kwe Siang heran.

“Ya, aku salah duga,” sahut Oey Yong, “Aku kira saking bencinya kepada keluarga Kwe, maka ia hendak membalas dendam melalui dirimu.”

“Mana bisa?” ujar Kwe Siang sambil menggeleng kepala. “Jika dia mau bunuh aku untuk membalas dendam, hal itu mudah sekali seperti membalikkan tangan. Ketika di daerah Soasay, asal sekali jarinya menotok saja aku bisa dibinasakannya.”

“Kau masih kanak-kanak, tidak paham,” kata Oey Yong, “Jika dia sengaja bikin kau menderita dan membuat kita selalu berduka dan masgul, sudah tentu dia mempunyai caranya yang lebih keji dari pada membunuh orang. Aih, biarlah jangan dibicarakan lagi, saat ini aku pun sudah tahu tak akan hal itu diperbuatnya. Cuma dalam hatiku masih tetap menguatirkan sesuatu sehingga merasa tidak enak.”

“Kau kuatirkan apa, Ibu?” tanya si gadis, “Tampaknya kejadian-kejadian dulu yang harus disesalkan itu, Yo-toako sudah tidak mengingatnya lagi dalam hati, tidak lama ia pun akan bersua kembali dengan Toaso (kakak ipar), tatkala itu saking senangnya segala kejadian dahulu pasti akan lenyap dari ingatannya.”

“Tapi yang kukuatirkan justru kalau dia takkan bisa bersua lagi dengan Siao-liong-li,” kata Oey Yong gegetun.

Kwe Siang melengak. “Apa? Mana bisa? Toakoko sendiri berkata kepadaku bahwa karena lukanya, Liong-cici telah ditolong pergi Lam-hay Sin-ni dan berjanji 16 tahun kemudian akan berjumpa pula. Betapa pun cinta kasih mereka, sudah sekian lamanya saling tunggu masa takkan bersua kembali?” Namun Oey Yong mengkerut kening sambil bersuara tak acuh.

“Kata Toakoko,” sambung Kwe Siang pula. “Liong-cici telah mengukir tulisan pada tebing gunung yang berbunyi: ‘16 tahun kemudian bertemu lagi di sini, cinta kasih suami isteri, harap jangan salah janji’, Apakah mungkin ukiran tulisan itu palsu belaka?”

“Tulisan itu memang tulen, sedikit pun bukan palsu,” sahut Oey Yong. “Cuma yang aku kuatirkan justru karena cinta Siao-liong-li terhadap Yo Ko terlalu mendalam, hingga sebab itu Yo Ko takkan bisa melihat dia lagi untuk selamanya.”

Kwe Siang menjadi bingung, dengan tercengang ia pandang sang ibu penuh tanda tanya.

“16 tahun yang lampau,” demikian tutur Oey Yong, “Yo-toakomu suami-isteri terluka parah. Yo-toako masih ada obat yang bisa menyembuhkannya, tetapi racun jarum yang mengenai Siao-liong-li telah meresap sampai ke tulang. Menyaksikan isteri tercintanya itu sukar disembuhkan lagi, Yo-toakomu itu pun tidak ingin hidup sendirian, maka sekali pun dia diberi obat dewa dia takkan mau meminumnya.” berkata sampai di sini suaranya berubah halus, katanya pula: “Aih, masih banyak hal lain, tapi karena usiamu masih kecil, sementara ini kau takkan paham.”

Kwe Siang ter-mangu oleh cerita itu, selang sejenak barulah dia menjungat dan berkata:

“Ibu, kalau aku jadi Liong-cici, aku akan pura-pura sehat dan minta dia minum obat untuk menyembuhkan lukanya.”

Sungguh Oey Yong tak menyangka puterinya yang masih kecil itu bisa berpikir demikian untuk orang lain, maka sesaat itu dia tertegun,

“Ya, benar, makanya aku kuatir tatkala itu Siao-liong-li juga berpikir seperti pendapatmu ini dan sengaja meninggalkan Yo Ko,” kata Oey Yong kemudian. “la mengukir tulisan di tebing batu dan berjanji akan bertemu 16 tahun lagi, waktu itu aku lantas menduga menghilangnya Siao-liong-li secara mendadak boleh jadi demi kepentingan Yo-toakomu agar mau bertahan hidup selama 16 tahun untuk menantikannya. Aih, rupanya dia mengira setelah lewat 16 tahun yang Iama itu, cinta Yo-toakomu padanya tentu akan mendingin, dengan begitu sekali pun dalam hati masih berduka, tapi pasti akan sayang juga pada badan sendiri dan takkan membunuh diri lagi.”

“Jika begitu, bagaimanakah tentang cerita Lam-hay Sin-ni?” tanya Kwe Siang.

“Lam-hay Sin-ni itu justru adalah karanganku. Maka hakikatnya tidak pernah ada seorang tokoh seperti itu,” sahut Oey Yong.

“Hah? Tidak ada tokoh Lam-hay Sin-ni?” Kwe Siang menegas terkejut.

“Ya, sebab waktu itu aku melihat keadaan Yo Ko yang sedih dan merana, hatiku tak tega, lalu aku mengarang nama Lam-hay Sin-ni untuk menghiburnya agar suka menanti selama 16 tahun ini,” sahut Oey Yong. “Aku katakan kepadanya bahwa Lam-hay Sin-ni tinggal di pulau Tati, padahal di jagad ini hakikatnya tak pernah ada pulau itu. Aku pun bilang Lam-hay Sin-ni pernah mengajarkan sejurus ilmu pukulan kepada Gwakong-mu, dengan begitu supaya dia bertambah percaya. Sebab si Yo Ko ini sangat cerdik, kalau aku tidak bicara seakan-akan benar dan hidup, tidak bakalan dia mau percaya. Dan kalau dia tak percaya, maka maksud baik Siao-liong-li pun akan sia-sia.”

“Apakah ibu maksudkan Liong-cici sudah meninggal dan janji 16 tahun bertemu lagi hanya untuk membohonginya saja?” tanya Kwe Siang.

“Tidak, tidak, boleh jadi Siao-liong-li masih hidup. Sampai hari yang dijanjikan nanti, kalau dia betul-betul datang berkumpul kembali dengan Yo Ko, maka kita harus berterima kasih pada yang maha kuasa,” sahut Oey Yong cepat. “Dia adalah ahli waris Ko-bong-pay satu-satunya. Cikal bakal Ko-bong-pay, Lim Tiau-eng, telah menurunkan ilmu kepandaian yang maha hebat kepadanya, rasanya Siao-liong-li takkan meninggal begitu saja.”

“Ya, memang aku pun berpikir, Liong-cici adalah orang yang begitu baik, Yo-toako juga sedemikian cinta padanya, pasti dia takkan mati selagi muda,” demikian kata Kwe Siang dengan hati rada lega. “Akan tetapi bila sampai hari yang dijanjikan itu Yo-toako tak bisa menjumpainya kembali, bukankah pukulan ini akan membuatnya menjadi gila?”

“Makanya kedatangan Gwakong-mu tadi sebenarnya akan kuminta agar suka membantu membulatkan bualanku tentang Lam-hay Sin-ni,” kata Oey Yong.

Kwe Siang menjadi kuatir “Ya, saat ini tentu Yo-toako berada bersama dengan Gwakong dan ia akan bertanya tentang Lam-hay Sin-ni. Tapi Gwakong tak tahu duduknya perkara, tentu Gwakong akan bilang tidak kenal, dengan demikian terbongkarlah rahasia itu, lalu bagaimana baiknya?”

“Jika benar-benar Siao-liong-li dapat bersua kembali dengan dia, itu yang kita harapkan dan segalanya akan beres,” kata Oey Yong “Tetapi bila sampai saatnya dia tidak melihat Siao-liong-li, menurut wataknya yang tak terkendali itu, entah keonaran apa yang akan diperbuatnya. Tentu dia akan dendam karena aku membohonginya dan bikin susah dia menunggu selama 16 tahun ini!”

“Ibu, hal itu tak perlu kau kuatirkan,” ujar Kwe Siang. “Kau membohongi dia demi kebaikannya. Kau bermaksud menolong jiwanya.”

“Hubungan kekeluargaan selama tiga keturunan tidaklah perlu dibicarakan, hanya diri Ko-ji saja, beberapa kali ia telah menolong jiwa ayahmu, ibumu dan enci-mu, bahkan hari ini dia kembali berjasa begitu besar untuk kota Siang-yang. Seandainya kita ada sedikit budi padanya juga tidak cukup untuk membalasnya,” kata Oey Yong. “Aih, hidup Ko-ji selama ini menderita sebatang kara, kini umurnya sudah 30 tahun lebih, tetapi saat bahagia yang pernah ia kenyam rasanya juga tiada beberapa hari saja.”

Kwe Siang menjadi muram. Ia menunduk, dalam hati berpikir: “Kalau Toakoko tak bisa berjumpa kembali dengan Liong-cici, mungkin ia bisa gila benar!”

“Yo-toakomu itu adalah seorang perasa dan beradab, cuma semenjak kecil banyak mengalami pukulan hidup, maka wataknya menjadi rada aneh, tindak tanduknya selalu di luar dugaan orang,” ujar Oey Yong.

“Ya. Dia, Gwakong dan aku, semuanya golongan aneh,” kata Kwe Siang tertawa tawar.

“Betul, ia adalah orang baik, hanya bersifat rada latah,” kata Oey Yong sungguh-sungguh. “Makanya, bila tak beruntung Siao-liong-li meninggal, selanjutnya sekali-kali jangan kau bertemu dia lagi.”

Terkejut sekali anak dara itu, sama sekali tidak diduganya ibunya dapat berkata begitu. “Sebab apa? Kenapa tak boleh bertemu dengan Yo-toako lagi?” tanyanya cepat.

Oey Yong menggenggam tangan puterinya dan berkata: “Jika akhirnya dia dapat bertemu kembali dengan Siao-liong-li, biar kau ikut mengembara ke ujung langit sekali pun aku tak akan keberatan. Tapi kalau Siao-liong-li tak bersua lagi dengan dia... Siang-ji, kau belum kenal sifat Yo-toakomu, bila ia sudah gila, segala apa dapat diperbuatnya.”

“Ibu,” tanya Kwe Siang gemetar, “jika Liong-cici tidak dapat dijumpainya lagi, tentu ia akan sangat berduka, kita harus menghiburnya baik-baik.”

“Dia takkan mendengar hiburan orang,” kata Oey Yong menggeleng kepala.

“Ibu, setelah menunggu 16 tahun dengan sia-sia, dalam berdukanya nanti apakah ia akan membunuh diri?” tanya Kwe Siang lagi sesudah merandek sejenak,

Oey Yong merenung sejenak, kemudian baru menjawabnya: “Pikiran orang lain dapat aku menerkanya, tapi Yo-toakomu itu semenjak kecil aku tidak dapat meraba pikiran apa yang terkandung di dalam otaknya, justru karena itulah maka aku melarang kau bertemu lagi dengannya, kecuali kalau dia datang bersama Siao-liong-li, itu lain perkara.”

Kwe Siang termenung dan tidak bertanya lebih jauh.

“Siang-ji,” kata Oey Yong pula, “Ibu hanya berpikir demi kebaikanmu, jika kau tak menurut nasihat ibu, kelak pasti akan menyesal.”

Setelah itu ia lantas menceritakan kejadian dulu, di mana puteri angkat Yo Tiat-sim yang bernama Bok Liam-cu, dalam suatu pertandingan sayembara Bok Liam-cu dikalahkan Yo Khong. Meski Yo Khong banyak melakukan kejahatan, tetapi cinta Bok Liam-cu padanya tetap kekal hingga kemudian Bok Liam-cu gugur menyusul kekasihnya di kelenteng Ong-tiat-jiang.

KEMBALI BERTUALANG

“Bok Liam-cu sebenarnya wanita baik yang sukar dicari, tapi karena salah menyerahkan cintanya hingga berakhir mengenaskan demikian,” kata Oey Yong.

“Ibu,” kata Kwe Siang tiba-tiba. “Ia menyukai Yo-sioksiok, betapa pun Yo-sioksiok berbuat salah, ia tetap akan suka padanya sampai akhir jaman.”

Oey Yong terkesima memandangi muka sang puteri yang mungil itu, dalam hati ia pikir: “Usia sekecil ini, dari manakah bisa paham begini banyak?”

Dilihatnya anak dara itu sudah letih dan mengantuk, maka segera ia menarik selimut dan menyuruhnya tidur sambil dinina-bobokannya. Memang semalam suntuk Kwe Siang tidak tidur, maka sebentar saja ia sudah pulas.

Oey Yong lantas kembali ke kamarnya sendiri.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar