ads

Senin, 18 Oktober 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 35

It-teng menuding Cu-in yang menggeletak di tanah sambil berkata: “lni pembunuh anakmu, sekali hantam boleh kau binasakan dia!”

Pek-thong memandang sekejap ke arah Cu-in, lalu berkata: “Kau saja yang turun tangan, Eng-koh!”

Sekejap Eng-koh memandang Cu-in, lalu berkata dengan lirih: “Kalau bukan lantaran dia, selama hidup ini mungkin aku tidak dapat berjumpa dengan kau, apa lagi orang mati tidak dapat dihidupkan kembali, biarlah kita merayakan pertemuan kita ini dan melupakan dendam masa lalu.”

“Betul juga ucapanmu, baiklah kita mengampuni dia,” ujar Pek-thong.

Keadaan Cu-in sangat parah, dia bertahan dengan sisa tenaganya dengan harapan mendapat pengampunan dari Eng-koh. Sekarang mendengar sendiri Ciu Pek-thong dan Eng-koh bersedia mengampuni dosanya, hatinya amat terhibur, katanya dengan lemah kepada It-teng:

“Banyak terima kasih atas penyempurnaan Suhu!”

Lalu ia pun mengucapkan terima kasih pada Yo Ko, sesudah itu ia lantas menutup mata untuk selamanya. It-teng menunduk dan membacakan doa bagi kepergian Cu-in, sesudah itu bersama Yo Ko dan Kwe Siang mengubur Cu-in di situ. Ketika memandangi kuburan Cu-in, Yo Ko menjadi terharu, teringat olehnya ketika dia dan Siao-liong-li baru saja menikah dan memergoki Cu-in yang sedang kumat di puncak gunung bersalju itu. Tak tersangka tokoh yang termashur dengan telapak tangan besi itu kini sudah kembali ke asalnya.

TIGA JANJI

Eng-koh dan Ciu Pek-thong saling pandang dengan penuh rasa haru, banyak sekali yang ingin mereka bicarakan, tapi entah cara bagaimana harus memulainya. Eng-koh mengeluarkan kedua ekor rase kecil itu, kemudian dia berkata:

“Yo-kongcu, budi pertolonganmu sukar kubalas, kedua ekor binatang ini boleh kau ambil saja.”

Tapi Yo Ko hanya menerima seekor saja, katanya: “Cukup seekor saja dan terima kasih!”

Tiba-tiba It-teng berkata: “Yo-kongcu, boleh kau bawa kedua ekor rase itu, tidak perlu kau membunuhnya, cukup menyayat pahanya dan ambil darahnya secangkir kecil setiap hari, kukira luka kawanmu dengan cepat dapat disembuhkan.”

Yo Ko dan Eng-koh sangat girang, kata mereka: “Jika jiwa rase dapat diselamatkan itu paling baik.”

Segera Yo Ko terima kedua ekor rase itu lalu mohon diri kepada It-teng, Eng-koh dan Ciu Pek-thong.

“Sehabis ambil darahnya, lepaskan saja di sana, tentu kedua rase itu akan pulang sendiri ke sini,” pesan Eng-koh.

Mendadak Ciu Pek-thong menyela: “Eh, Toan-hongya dan Eng-koh, silakan kalian tinggal beberapa hari di Pek-hoa-kok sana. Adik Yo juga, setelah menyembuhkan luka kawanmu, silakan bersama adik kecil bermain ke tempatku.”

Yo Ko menerima undangan itu dengan baik, ia berjanji kalau urusannya sudah beres tentu akan berkunjung ke sana. Ia lantas melangkah pergi bersama Kwe Siang. Dia merasa sangat gembira karena sekaligus dapat membuat Ciu Pek-thong dan Eng-koh berkumpul kembali sehingga Cu-in juga dapat mati dengan tenteram, pula dengan mudah mendapatkan kedua ekor rase kecil ini. Setibanya kembali di Ban-siu-san-ceng, kelima saudara Su sangat girang melihat Yo Ko berhasil membawa pulang kedua ekor rase yang diharapkan itu, berulang-ulang mereka mengucapkan terima kasih kepada Yo Ko. Segera mereka mulai mengambil darah rase dan diminumkan kepada Su Siok-kang.

Malam harinya diadakan perjamuan besar dan Yo Ko diangkat sebagai tamu kehormatan utama. Macam-macam santapan lezat dihidangkan, terutama yang sukar diperoleh dan biasanya dianggap santapan yang mewah di restoran jaman kini, seperti bibir singa, paha harimau, telapak kaki beruang dan belalai gajah. Biasanya satu jenis makanan seperti itu saja sukar diperoleh, dan sekarang sekaligus ada belasan macam yang dihidangkan. Su-si-hengte dan Gerombolan Setan Se-san tidak mengutarakan terima kasih mereka lagi kepada Yo Ko, yang pasti di dalam hati sudah menganggap Yo Ko sebagai tuan penolong mereka, kelak bila ada urusan dan memerlukan tenaga mereka, biar pun disuruh terjun ke jurang mereka takkan menolak.

Di tengah perjamuan yang meriah itu, semua asyik bicara mengenai pengalaman masing-masing dan kejadian-kejadian menarik di dunia Kangouw, hanya Kwe Siang seorang saja yang duduk termenung tanpa bicara, padahal anak dara ini biasanya sangat gembira ria. Rupanya ia sedang bersedih mengingat dalam waktu tak lama lagi harus berpisah dengan Yo Ko.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba di sebelah sana berkumandang suara melengking seekor kera, menyusul suara kera yang lain juga lantas membalas sehingga ributlah suasana. Air muka Su-si-hengte tampak berubah. Su Beng-ciat lantas minta maaf dan mohon diri sebentar untuk memeriksa keadaan di sana. Semua orang tahu tentu di luar hutan sana ada musuh yang datang. Segera Toa-thau-kui berkata:

“Paling baik jika yang datang itu adalah pangeran Hotu, biar kita labrak dia untuk membalas sakit hati Su-samko.” Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar Su Beng-ciat membentak di luar sana: “Siapa itu malam-malam berkunjung ke sini? Silakan berhenti!”

Lalu terdengar suara seorang perempuan menjawab: “Adakah seorang cebol berkepala besar di sini? Ingin kutanya dia ke mana dia membawa adik perempuanku?”

Kejut dan girang Kwe Siang mendengar suara Kwe Hu. Ia mencoba melirik Yo Ko dan melihat sorot matanya berkedip aneh, diam-diam dia merasa heran dan seketika dia tidak jadi berseru memanggil “Cici”.

“Hei, kau tahu aturan tidak, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, sebaliknya malah terobosan sesukamu?” demikian terdengar Su Beng-ciat mendamperat.

Segera terdengar Kwe Hu membentak: “Menyingkir!”

Menyusul terdengar suara nyaring beradunya senjata. Tampaknya nona itu hendak menerjang masuk, tapi dirintangi Beng-ciat sehingga kedua orang itu lantas bergebrak. Sejak berpisah dengan Kwe Hu di Coat-ceng-kok dulu, sudah belasan tahun Yo Ko tidak pernah berjumpa dengan nona itu, kini mendadak mendengar suaranya, seketika macam-macam perasaan berkecamuk dalam benaknya. Didengarnya suara benturan senjata sudah mulai menjauh, agaknya Su Beng-ciat berhasil memancing Kwe Hu ke tempat lain.

“Yang dicarinya adalah diriku, biarlah kutemui dia,” seru Toa-thau-kui sambil berlari keluar, menyusul Su Ki-kiang dan Hoan It-ong juga ikut ke sana.

Tiba-tiba Kwe Siang bangkit dan berkata kepada Yo Ko: “Toakoko, cici-ku datang mencari diriku, kini aku harus pulang.”

Yo Ko terkejut: “Jadi dia... dia itu cici-mu?”

“Ya,” jawab Kwe Siang, “Aku ingin melihat Sin-tiau-tayhiap dan paman Toa-thau-kui lantas membawaku ke sini menemuimu. Aku... aku sangat senang...” belum habis kata-katanya, mendadak kepalanya menunduk terus berlari pergi.

Sekilas Yo Ko melihat dua tetes air mata meleleh di pipi anak dara itu, mendadak terpikir olehnya, “Dia ingin menemui aku, tentu ada urusan penting, kenapa sekarang pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa?” Segera ia menyusul ke sana dan berseru: “Adik cilik, jika kau ada kesulitan, boleh katakan saja padaku.”

Kwe Siang tersenyum dan menjawab: “Ah, tidak, aku tiada kesulitan apa-apa.”

Di bawah sinar bulan muda yang remang-remang Yo Ko dapat melihat wajah si nona yang putih bersih itu masih basah air mata. Dengan suara lembut dia lantas berkata pula:

“Kiranya kau adalah anak dara Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, apakah Toaci-mu suka nakal padamu?”

Menurut perkiraan Yo Ko, tak mungkin puteri Kwe-tayhiap yang termashur itu mengalami kesulitan. Besar kemungkinan Kwe Hu yang suka sewenang-wenang itu menghina atau memukuli adik perempuannya ini.

Ternyata Kwe Siang menjawab dengan tertawa: “Sekali pun Cici nakal padaku aku tidak takut padanya. Jika dia mengomel aku lantas adu muIut dengan dia, betapa pun dia juga tak berani memukuli aku.”

”Habis untuk apa kau mencari aku? Silakan bicara terus terang saja.”

“Di tempat penyeberangan sana kudengar orang bercerita tentang tindakanmu yang baik budi dan yang sangat terpuji, hatiku menjadi sangat kagum hingga ingin sekali melihat wajahmu, selain itu tidak ada sesuatu maksudku yang lain lagi. Dalam perjamuan tadi aku teringat pada pameo yang mengatakan: ‘Tiada pesta yang tidak bubar di dunia ini’. Hatiku menjadi sedih, siapa tahu pesta tadi belum lagi bubar dan aku... aku harus segera pergi,” sampai di sini suara Kwe Siang rada tersendat.

Tergetar hati Yo Ko. Teringat olehnya pada waktu anak dara ini dilahirkan, beberapa saat kemudian dirinya lantas memondong dan membawanya. Ketika dikejar oleh Kim-lun Hoat-ong, malahan kemudian terjadi beberapa kali perebutan antara dirinya dengan Kim-lun Hoat-ong dan Li Bok-chiu, juga pernah menangkap induk harimau tutul untuk dijadikan ibu inang yang menyusuinya, akhirnya dibawanya lagi ke kuburan kuno dan dipelihara sekian lamanya di sana. Tak tersangka sekarang dapat bertemu di sini dan jabang bayi dahulu itu kini sudah berubah menjadi gadis remaja yang molek.

Tanpa terasa Yo Ko berdiri termangu-mangu mengenangkan kejadian di masa lampau di bawah sinar bulan yang remang-remang itu. Selang sejenak Kwe Siang berkata puIa:

“Toakoko, sekarang aku harus pergi. Aku hanya ingin minta tolong sesuatu padamu.”

“Katakan saja,” ujar Yo Ko.

“Bilakah engkau akan bertemu dengan isterimu?”

“Antara musim dingin tahun ini.”

“Sesudah engkau berjumpa dengan isterimu, sukalah engkau mengirim kabar kepadaku di Siang-yang agar aku ikut bergirang bagimu.”

Yo Ko sangat berterima kasth. Ia pikir meski pun anak dara ini dilahirkan dari ibu kandung yang sama dengan Kwe Hu, namun tabiat keduanya ternyata sangat berbeda. Segera ia bertanya:

“Apakah ayah-ibumu sehat-sehat?”

“Ayah dan ibu semua baik-baik saja,” jawab Kwe Siang.

Tiba-tiba timbul suatu pikiran, cepat ia memyambung lagi: “Toakoko, setelah engkau berjumpa dengan isterimu, maukah kalian datang ke Siang-yang dan menjadi tamu kami? Ayah-ibu dan kalian suami-isteri sama-sama ksatria besar di jaman ini, tentu kalian akan cocok satu sama lain.”

“Hal ini biarlah kita lihat dahulu keadaannya nanti,” jawab Yo Ko. “Eh, adik cilik, mengenai pertemuan kita ini sebaiknya jangan kau ceritakan kepada Cici-mu, kukira tidak perlu diceritakan kepada ayah-ibumu.”

“Sebab apa?” Kwe Siang menjadi heran.

Tiba-tiba saja teringat olehnya ketika orang-orang mengobrol di kota tambangan itu, tampaknya Cici kurang senang dengan Sin-tiau-hiap yang disebut-sebut itu, boleh jadi di antara mereka pernah terjadi sengketa. Maka ia lantas menambahkan:

“Baiklah, takkan kuceritakan kepada mereka.”

Dengan mata tak berkedip Yo Ko memandangi anak dara itu, dalam benaknya terbayang wajah kecil si orok yang pernah dipondongnya 15 tahun yang lalu itu. Karena dipandangi sedemikian rupa, Kwe Siang menjadi rada malu dan menunduk. Timbul pikiran Yo Ko ingin membela dan melindungi anak dara di depannya sekarang ini sama halnya seperti perlindungannya kepada jabang bayi yang lemah pada masa belasan tahun yang lalu itu. Segera dia berkata pula:

“Siaumoaycu, (adik perempuan cilik), ayah-ibumu adalah pendekar besar masa kini dan dihormati oleh siapa pun juga, kalau kau ada kesulitan kiranya tidak perlu bantuanku. Tapi kejadian di dunia ini sering kali berubah-ubah, suka duka sukar diduga. Andai kata kau mempunyai sesuatu persoalan yang tidak ingin dikatakan kepada ayah-ibumu dan perlu bala bantuan, maka bolehlah kau mengirim berita padaku, aku berjanji akan membereskannya bagimu dengan sebaik-baiknya.”

Kwe Siang tertawa manis, katanya: “Engkau sungguh amat baik padaku. Cici suka pamer di depan umum bahwa dia adalah puteri Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin, kadang-kadang aku merasa risi dan kikuk karena ucapannya itu. Betapa pun termasyhurnya ayah dan ibu tidak pantas bila hal itu selalu ditonjolkan. Tapi nanti jika kukatakan kepada orang bahwa Sin-tiau-tayhiap adalah Toakoko-ku, maka Cici pasti tidak dapat menirukannya.”

Meski pun ucapan Kwe Siang ini setengah bergurau, namun jelas tampak rasa bangganya karena dapat berkenalan dengan Yo Ko.

“Ahh, cici-mu mana menghargai orang macam diriku ini?” ujar Yo Ko dengan tersenyum. Setelah merandek sejenak sambil menghitung-hitung dengan menekuk jari, lalu ia berkata pula: “Tahun ini kau sudah berusia 15. Ya, bulan sepuluh, tanggal 22, 23, 24. Ya, kau lahir pada tanggal 24 bulan sepuluh, betul tidak?”

Kwe Siang terheran-heran, serunya: “He! Memang benar, dari mana kau tahu?”

Yo Ko tersenyum dan tidak menjawab, katanya pula: “Kau dilahirkan di kota Siang-yang, makanya kau diberi nama Siang, betul tidak?”

“He, jadi kau sudah tahu semuanya, tadi pura-pura tidak kenal padaku,” seru Kwe Siang, “Engkau pasti sahabat baik ayahku.”

Seperti melamun Yo Ko tidak menjawabnya, tapi berkata pula sambil menengadah: “Pada hari itu pertarungan hebat melawan Kim-lun Hoat-ong, Liong-ji memondong anak itu...”

Kwe Siang tidak paham apa yang digumamkan oleh Yo Ko. Sayup-sayup ia dengar suara benturan senjata di sebelah sana, ia menjadi kuatir kalau cici-nya sampai dilukai Su Beng-ciat, maka segera ia berkata:

“Toakoko, sekarang aku benar-benar akan pergi.”

Yo Ko masih bergumam: “Tanggal 24 bulan sepuluh, sungguh cepat sekali, 16 tahun hampir lalu.” Mendadak ia tersadar karena teguran Kwe Siang tadi dan berkata: “Ahh, kau hendak pergi... Ehm, pada tanggal 24 bulan sepuluh nanti, katamu akan sembahyang dan berdoa untuk mengemukakan tiga buah nazar pada Thian.”

Rupanya dia jadi teringat pada ucapan Kwe Siang bahwa waktu sembayang dan berdoa, anak dara itu akan memohon Thian memberi berkah supaya dia lekas berjumpa kembali dengan Siao-liong-li.

Mendadak Kwe Siang berkata: “Ehh, Toakoko, kalau kelak aku pun mohon tiga soal padamu, apakah engkau dapat menyanggupi?”

“Asal dapat kukerjakan, tentu akan kulaksanakan sekuat tenaga,” jawab Yo Ko tegas, lalu dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, dikeluarkannya tiga buah jarum lembut yang biasa digunakan Siao-liong-li sebagai senjata rahasia dan diberikannya kepada Kwe Siang, katanya:

“Jika kulihat jarum ini nanti, sama saja seperti kulihat wajahmu. Jika kau tidak dapat menemui aku, boleh kau suruh orang membawa jarum ini untuk menyampaikan keinginanmu kepadaku dan tentu akan kulaksanakan.”

“Terima kasih,” ujar Kwe Siang sambil menerima jarum-jarum itu, kemudian berkata puIa: “Sekarang akan kukemukakan keinginanku yang pertama.” Segera ia kembalikan sebuah jarum itu kepada Yo Ko sambil menambahkan: “Kuminta engkau menanggalkan kedokmu agar aku dapat melihat wajah aslimu.“

“Soal ini terlalu kecil dan mudah dilaksanakan. Karena aku tak ingin dikenali kawan lama, maka sengaja memakai kedok,” kata Yo Ko tertawa. “Tapi caramu sembarangan menggunakan sebuah jarum emas ini, apakah tidak sayang?”

“Jika muka aslimu saja tidak kuketahui, mana bisa dikatakan aku mengenal kau? Sekali-sekali ini bukan soal kecil,” ujar Kwe Siang.

Harus diketahui bahwa kaum pendekar jaman dahulu paling taat pada janji yang pernah diucapkan. Karena sudah menyanggupi, dengan menyerahkan jarum itu, sekali pun Kwe Siang minta Yo Ko berbuat sesuatu yang maha sulit akan dilakukannya tanpa pikir. Karena itu pula ia pun tak dapat menolak permintaan si nona yang pertama ini.

“Baiklah,” katanya sambil menanggalkan kedoknya.
Seketika pandangan Kwe Siang terbeliak, di depannya muncul seraut wajah yang cakap dengan alis panjang tebal dan mata besar bercahaya, cuma karena sudah lama memakai kedok, air mukanya agak pucat dan kekurus-kurusan.

“Ahhh...!” tak terasa Kwe Siang berteriak.

“Kenapa?” tanya Yo Ko.

Muka Kwe Siang menjadi merah, “Oh, tidak apa-apa,” jawabnya, namun di dalam hatinya berkata: “Sungguh tidak nyana engkau begini cakap.”

Sesudah tenangkan diri, kembali Kwe Siang menyerahkan pula jarum kedua dan berkata: “Sekarang ini kukatakan cita-citaku yang kedua.”

Yo Ko tersenyum dan berkata: “Katakan saja beberapa tahun lagi juga belum terlambat. Anak gadis belum tahu urusan, yang kau ucapkan hanya cita-cita kanak-kanak saja.”

Karena itulah ia tidak lantas menerima jarum kedua itu. Tetapi Kwe Siang menaruh jarum di genggaman tangan Yo Ko dan berkata:

“Cita-citaku yang kedua ini adalah pada tanggal 24 bulan sepuluh yang akan datang, yakni tepat pada hari ulang tahunku nanti, hendaklah kau datang ke Siang-yang dan menemui aku untuk bercakap-cakap sebentar.”

Meski pun permintaannya yang kedua ini lebih repot dari pada permintaan yang pertama, namun tetap bersifat kekanak-kanakan. Maka dengan tertawa Yo Ko menjawab:

“Baiklah, kusanggupi, apa susahnya? Tapi aku hanya akan menemui kau sendiri saja, ayah-ibu dan Cici-mu takkan kutemui.”

“Terserah padamu,” ujar Kwe Siang dengan tertawa, jari tangannya yang lentik dan putih halus itu memegangi jarum ketiga yang berkilauan di bawah cahaya bulan, katanya pula:

“Tentang permintaanku yang ketiga ini...”

Yo Ko menggeleng-geleng kepala, pikirnya: “Busyet! Memangnya si Yo Ko begini mudah memberikan janjinya kepada orang? Sungguh nona cilik yang tidak paham urusan, janjiku dianggapnya seperti permainan anak kecil saja.”

Mendadak wajah Kwe Siang tampak merah jengah, katanya dengan tertawa: “Cita-citaku yang ketiga ini sementara belum terpikir olehku, biarlah kelak akan kukatakan padamu.” dia membalik dan lari ke sana sambil berteriak-teriak: “Cici! Cici!”

Kwe Siang lari menuju ke arah datangnya pertempuran. Dilihatnya Kwe Hu sedang bertempur sengit melawan Su Beng-ciat dan Toa-thau-kui. Hoan It-ong dan Su Ki-kiang mengikuti pertarungan itu dari samping dengan siap siaga.

“Cici, ini aku,” seru Kwe Siang. “Mereka adalah teman sendiri.”

Selama ini Kwe Hu banyak mendapat petunjuk dari ayah-ibunya. Suaminya, yaitu Yalu Ce juga tokoh silat pilihan. Maka kepandaiannya sekarang sudah berbeda jauh dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu. Cuma wataknya berangasan dan tidak telaten berlatih, karena itulah tingkat ilmu silatnya selalu berkisar antara kelas dua atau tiga saja meski ayah-bunda dan suaminya terhitung tokoh terkemuka. Kini meski pun ia sanggup menempur kerubutan Su Beng-ciat dan Toa-thau-kui dengan sama kuatnya, tapi lama-lama tentu dia akan kewalahan juga. Selagi gelisah karena tidak dapat mengalahkan lawan dengan cepat, tiba-tiba saja Kwe Hu mendengar seruan sang adik. Segera ia membentak

“Lekas kemari, Moaymoay!”

Su Beng-ciat mendengar sendiri Kwe Siang memanggil Yo Ko sebagai Toakoko, dan kini didengarnya pula Kwe Hu menyebut Kwe Siang sebagai Moaymoay atau adik perempuan, seketika ia pun terkesiap dan ragu-ragu. Apakah wanita ini isteri atau adik Sin-tiau-tayhiap? Karena itu serangannya yang sedang dilontarkan pada saat itu segera ditarik kembali, berbareng ia pun melompat mundur. Kwe Hu sendiri tahu lawan sengaja mengalah, namun hatinya sudah kadung mendongkol, tanpa pikir pedangnya menasuk.

“Srett...!” dengan tepat dada Su Beng-ciat tertusuk.

Keruan Toa-thau-kui terkejut dan berseru: “Hei, mengapa kau...”

Tapi sekali pedang Kwe Hu berkelebat, tahu-tahu lengan Toa-thau-kui juga terluka. Dengan pongahnya Kwe Hu lantas membentak:

“Nah, rasakan lihaynya nyonyamu ini!”

“Cici, kubilang orang-orang ini teman sendiri!” seru Kwe Siang.

Kwe Hu menjadi gusar dan membentak: “Lekas pulang bersamaku! Siapa kenal temanmu yang tidak keruan ini?”

Luka di dada Su Beng-ciat itu ternyata tidak ringan. Dia terhuyung-huyung kemudian jatuh tersungkur. Cepat Kwe Siang memburu ke sana dan membangunkannya sambil bertanya:

“Su-goko, bagaimana lukamu?”

Darah segera mengucur dari dada Su Beng-ciat hingga baju Kwe Siang berlepotan darah. Lekas anak dara itu merobek ujung bajunya untuk membalut luka orang. Sementara itu Kwe Hu mendesak lagi:

“Hayo lekas berangkat, lekas! Setibanya di rumah nanti kulaporkan kepada ayah dan ibu, mustahil kau takkan dipukuli hingga minta-minta ampun.”

Dengan marah Kwe Siang menjawab: “Kau sembarangan melukai orang, akan kulaporkan juga kepada ayah dan ibu.”

Melihat muka Kwe Siang merah padam dan mengembang air mata, Su Beng-ciat segera menghiburnya dengan tertawa yang dipaksakan:

“Jangan kuatir, nona cilik, lukaku ini tidak akan membuatku mati.”

Di samping Su Ki-kiang memegangi gadanya dengan napas terengah-engah, seketika dia menjadi ragu-ragu apa mesti melabrak Kwe Hu atau menolong adiknya dahulu. Tiba-tiba saja Kwe Hu menjerit kaget. Ternyata dari depan dua ekor harimau loreng mendekatinya diam-diam. Segera dia hendak menyingkir ke kiri, tetapi terlihat pula dua ekor singa jantan sudah mendekam di situ, dan ketika ia menoleh, di sebelah kanan bahkan berdiri empat ekor macan tutul. Rupanya dalam sekejap itu Su Tiong-beng sudah memimpin kawanan binatang buas itu dan mengepung rapat Kwe Hu. Keruan muka Kwe Hu menjadi pucat dan hampir-hampir jatuh kelengar. Syukur pada saat itu juga suara seseorang dari dalam hutan berseru:

“Gote, bagaimana lukamu?”

“Mendingan, tidak begitu parah!” sahut Su Beng-ciat.

“Oh, perintah Sin-tiau-hiap agar kedua nona ini dibiarkan pergi saja,” kata orang itu.

Segera Su Ki-kiang bersuit beberapa kali. Kawanan binatang buas itu langsung memutar tubuh dan menghilang ke dalam semak-semak.

“Su-goko, atas nama Cici-ku aku minta maaf padamu,” kata Kwe Siang.

Sesungguhnya luka Su Beng-ciat itu membuatnya sangat kesakitan. Dengan meringis dia menjawab:

“Mengingat Sin-tiau-tayhiap, sekali pun Cici-mu membunuh aku juga tidak jadi soal.”

Kwe Siang hendak bicara, tapi Kwe Hu lantas menariknya sambil membentak: “Hayo pulang!” anak dara itu diseret berlari keluar hutan.

Melihat kedua kakak beradik sudah pergi, Su-si-hengte dan Gerombolan Setan lantas berlari keluar untuk memeriksa keadaan Su Beng-ciat dan Toa-thau-kui. Mereka mencela tindakan Kwe Hu yang tidak pantas itu, cuma ucapan mereka pun tidak berani kasar kerena belum mengetahui ada hubungan apa antara Kwe Hu dan Yo Ko. Dengan gemas Su Ki-kiang berkata:

“Nona cilik itu amat baik hati, tapi kakaknya ternyata begitu galak. Sudah jelas adik Ciat mengalah, tapi dia malah melukainya secara keji. Coba kalau tusukannya masuk sedikit lagi, jiwa adik Ciat sudah melayang.”

“Mari kita tanya kepada Sin-tiau-hiap tentang asal usul perempuan itu,” kata Toa-thau-kui. “Di tempat penyeberangan sana dia juga ber-ulang mengeluarkan kata yang tidak baik terhadap Sin-tiau-hiap.”

Pada saat itulah dari balik pohon muncul seseorang dan berkata, “Syukurlah luka Su-goko tidak terlalu parah. Tindak-tanduk perempuan itu memang semberono dan ceroboh. Ketahuilah bahwa lenganku ini ditebas kutung olehnya.”

Melihat yang bicara adalah Yo Ko, semua orang melengak dan tak dapat bicara lagi, mereka sangsi dan ingin tahu, tetapi tidak berani bertanya.

**********

Demikianlah Kwe Hu telah membawa Kwe Siang kembali lagi ke tempat penyeberangan. Sementara itu air sungai Kuning yang membeku itu sudah mencair, kakak beradik bertiga bisa menyeberang dan pulang ke Siang-yang. Sepanjang jalan Kwe Hu terus mengomeli Kwe Siang yang dianggap suka berkeluyuran dengan orang-orang yang tidak keruan. Tetapi Kwe Siang berlagak tuli saja dan tidak menggubris omelan sang Toaci, mengenai pertemuannya dengan Yo Ko juga sama sekali tak disinggungnya.

Setiba di Sian-yang, pertama-tama Kwe Hu melapor kepada ayah-bundanya bahwa selama dalam perjalanan Kwe Siang tidak mau tunduk padanya dan banyak menimbulkan keonaran, lalu dia pun menceritakan apa yang terjadi selama Kwe Siang menghilang dua hari dua malam, tentu saja ia bumbui-bumbui pula, ditambahi kecap dan diimbuhi sambel. Kwe Ceng sendiri sedang pusing kepala dengan situasi militer beberapa hari terakhir ini, maka ia tambah marah demi mendengar laporan Kwe Hu, segera ia bertanya:

“Siang-ji, benar tidak laporan cici ini?”

Kwe Siang mengikik tawa, katanya: “Ah, cici memang suka geger, aku cuma ikut seorang teman pergi melihat keramaian, kenapa mesti diributkan?”

“Teman apa? Siapa namanya?” tanya Kwe Ceng.

Kwe Siang melelet lidah, lalu menjawab: “Ahh, lupa kutanyakan namanya, cuma kudengar orang memanggil dia Toa-thau-kui begitu.”

“Seperti orang dari Gerombolan Setan Se-san,” tukas Kwe Hu.

Kwe Ceng juga pernah mendengar nama ‘Gerombolan Setan Se-san’ itu. Meski tak dapat dikatakan gerombolan penjahat, tapi juga bukan kaum ksatria yang baik, maka dia tambah marah demi mendengar anak perempuannya bergaul dengan orang-orang macam begitu. Cuma perangainya memang sabar dan pendiam, walau pun marah dia hanya mendengus geram saja dan tidak berkata lagi, sedangkan Oey Yong lantas mengomeli Kwe Siang.

Malam harinya Kwe Ceng suami-isteri mengadakan perjamuan keluarga untuk menghibur pulangnya Kwe Hu dan Kwe Boh-Io, tetapi sengaja tidak menyediakan tempat duduk bagi Kwe Siang. Yalu Ce berusaha membujuk kedua mertuanya, tapi malah diomeli Kwe Ceng agar sebagai kakak ipar seharusnya ikut mendidik adiknya. Terpaksa Yalu Ce tak berani mengusik lagi. Kiranya Kwe Ceng dan Oey Yong merasa pernah terlalu memanjakan Kwe Hu sehingga banyak menimbulkan petaka, maka sekarang caranya mendidik Kwe Siang dan Kwe Boh-lo berubah sama sekali. Sejak kecil diawasi dengan keras.

Sifat Kwe Boh-lo pendiam seperti sang ayah sehingga tidak menjadi soal. Tapi Kwe Siang semenjak kecil sudah suka berbuat hal-hal yang aneh dan sukar dijajaki jalan pikirannya, lahirnya ia menurut, tetapi dalam hati ia memberontak. Pada waktu ia diberi-tahu oleh pelayan bahwa Tuan dan Nyonya mengadakan perjamuan keluarga dan Ji siocia (puteri kedua) sengaja tidak diundang, keruan Kwe Siang menjadi marah, bahkan ia lantas mogok makan sekalian selama dua hari.

Sampai hari ketiga, Oey Yong jadi kasihan sendiri. Di luar tahu sang suami, dia membuat beberapa macam daharan lezat, disertai kata-kata menghibur dan membujuk barulah anak perempuan bungsu itu mau makan dan gembira lagi. Namun dengan demikian, maksud orang tua mendidik anaknya dengan keras kembali luntur dan sia-sia.

**********

Sementara itu pasukan Mongol telah berhasil menyerbu ke negeri Tayli di daerah Hunlam (Yu-nan). Sesudah menduduki kerajaan kecil di selatan itu, pasukan induk beralih ke utara, ada pun pasukan Mongol yang lain dari utara menerobos ke selatan sehingga kedua induk pasukan bergabung hendak menggempur Siang-yang untuk akhirnya melalap kerajaan Song sekaligus.

Pada waktu pasukan Mongol mulai menyerbu Tayli, Kwe Ceng menyeba Eng-hiong-tiap (kartu undangan para ksatria) supaya para pahlawan berkumpul di Siang-yang untuk merundingkan siasat menghadapi musuh. Keberangkatan Kwe Hu dan kedua adiknya ke utara itu adalah mengemban tugas yang diberikan sang ayah itu. Tak terduga gerak cepat pasukan Mongol ternyata sangat luar biasa, dalam waktu singkat Tayli sudah ditumpas. Karena itulah ketika para pahlawan mulai berkumpul di Siang-yang, sementara itu kekuatan pasukan Mongol juga mulai mendekati kota.

Eng-hiong-tay-hwe atau musyawarah besar para pahlawan sudah ditetapkan pada tanggal 15 bulan sepuluh dan direncanakan berlangsung selama 10 hari. Hari ini baru tanggal 13, jadi masih dua hari lagi sebelum hari rapat, sementara itu para pahlawan dan ksatria dari segenap penjuru berbondong-bondong tiba di Siang-yang. Kwe Ceng dan Oey Yong sibuk mengurusi tugas pertahanan, maka urusan menyambut tamu diserahkan kepada Loh Yu-ka dan Yalu Ce. Di antara tamu-tamu yang sudah tiba itu ada Cu Cu-liu, Su-sui Hi-un dan Bu Sam-thong, kedua Bu cilik bersama Yalu Yen dan Wanyen Peng juga sudah datang, begitu pula Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok.

Pejabat ketua Coan-cin-kau waktu itu, Li Ci-siang, bersama 16 murid utama Coan-cin-pay juga sudah tiba, demikian pula para tertua Kay-pang beserta tokoh-tokoh pengemis yang berkantong tujuh dan delapan. Seketika itu kota Siang-yang penuh dengan jago-jago silat terkemuka. Banyak di antara tokoh-tokoh persilatan yang jarang muncul di dunia Kangouw kini juga datang mengingat pertemuan Siang-yang sekali ini menyangkut nasib negara dan bangsa, lagi pula mereka sangat kagum pada budi pekerti Kwe Ceng suami isteri, maka hampir semua orang yang menerima kartu undangan pasti hadir.

Pada malam tanggal 13 bulan sepuluh, Kwe Ceng suami-isteri mengadakan perjamuan kecil pribadi di kediamannya dan mengundang Cu Cu-liu, Bu Sam-thong dan beberapa kenalan lama untuk beramah tamah. Sebetulnya Loh Yu-ka juga diundang, tapi sampai malam ketua Pangcu itu belum tampak hadir. Semua mengira dia sibuk oleh pekerjaan sehingga tidak menyangka sesuatu. Tengah mereka bersuka ria sambil berbincang mengenai macam-macam kejadian Bu-lim selama belasan tahun terakhir ini, sementara Yalu Ce, Kwe Hu dan anak-anak muda yang bersatu meja tersendiri juga asyik bercengkerama, tiba-tiba datang seorang murid Kay-pang berkantong delapan dan berbisik-bisik kepada Oey Yong. Seketika air muka Oey Yong nampak berubah dan berkata dengan suara gemetar:

“Bisa terjadi demikian?”

Semua orang berpaling memandang nyonya rumah. Terdengar Oey Yong berkata pula kepada anggota Kay-pang itu:

“Semua yang hadir di sini adalah orang kita sendiri, boleh kau bicara saja, bagaimana awal mula kejadian ini?”

Anggota Kay-pang itu lalu menutur. “Lewat lohor tadi, Loh-pangcu membawa tujuh murid kantong tujuh patroli ke utara kota, siapa tahu sampai malam beliau belum pulang. Tecu menjadi kuatir dan bersama teman lain terbagi dalam beberapa kelompok keluar kota untuk mencarinya. Akhirnya di kelenteng Yo-tay-hu di kaki gunung Hian dapat diketemukan jenazah Loh-pangcu.”

Mendengar kata-kata ‘jenazah’, tanpa terasa semua orang menjerit kaget.

SANG PELINDUNG

Sampai di sini suara anggota Kay-pang itu pun ter-sendat. Maklumlah, meski ilmu silat Loh Yu-ka tidak terlampau tinggi, tapi orangnya berbudi dan bijaksana sehingga mendapat dukungan luas di kalangan anggota. Murid Kay-pang tadi lantas melanjutkan penuturannya:

“Kedua murid tujuh kantong yang mengiringi pangcu itu pun menggeletak di samping beliau, seorang sudah tewas tapi yang lain belum putus napasnya sehingga masih sempat memberi keterangan bahwa mereka kepergok pangeran MongoI yang bernama Hotu. Pangcu yang kena sergap lebih dahulu, lalu kedua murid kantong tujuh bertempur mati-matian dan akhirnya dicelakainya juga.”

“He-he, jadi Hotu, Hotu!” demikian gumam Kwe Ceng saking menahan marahnya. ia menyesal dahulu telah memberi ampun kepada pangeran Mongol itu di Cong-lam-san. Tahu begini tentu waktu itu sudah dibinasakan.

“Apakah Hotu itu meninggalkan sesuatu ucapan?” tanya Oey Yong.

“Tecu tidak berani omong,” kata anggota Kay-pang itu.

“Mengapa tidak berani omong?” tukas Oey Yong. “Tentu dia bilang supaya Kwe Ceng menyerah kepada pihak mongol, kalau tidak, maka contohnya Loh Yu-ka itu, begitu bukan?”

“Hujin sungguh hebat, memang begitulah ucapan keparat Hotu itu,” jawab si anggota Kay-pang.

Semua orang lantas pergi memeriksa jenazah Loh Yu-ka, terlihat punggungnya terkena sebatang tulang kipas yang terbuat dari baja, tulang iganya juga patah, jelas lebih dulu Hotu menyergapnya dengan senjata rahasia, habis itu menghantamnya dengan tenaga dahsyat hingga binasa. Menyaksikan itu, semua orang menjadi marah dan berduka. Ketika itu di Siang-yang berkumpul beribu-ribu anggota Kay-pang, maka suasana menjadi sedih ketika kabar tewasnya Loh Yu-ka disiarkan.

Kwe Siang amat akrab dengan Loh Yu-ka. Sering dia menyeret orang tua itu diajak ke tempat sepi seperti kelenteng Yo-tayhu itu untuk minum arak sambil merecoki orang itu menceritakan kejadian-kejadian menarik di dunia Kangouw. Kalau sudah begitu maka acap kali berlangsung hingga hampir sehari suntuk dan kedua orang tua dan muda itu sama-sama bergembira.

Kelenteng Yo-tayhu itu tidak jauh di luar kota. Ketika mendengar kawan tua itu meninggal di kelenteng itu, Kwe Siang ikut berduka. Segera dia membawa satu Holo (buli-buli) berisi arak penuh serta menjinjing sebuah keranjang sayur, seperti biasanya dia terus menuju ke kelenteng itu. Ketika itu sudah hampir tengah malam. Kwe Siang mengeluarkan dua pasang sumpit dari keranjangnya yang diatur berhadapan, dituangnya dua cawan arak, kemudian berkata:

“Paman Loh, setengah bulan yang lalu kita baru saja makan-minum dan ngobrol di sini, siapa sangka sekarang engkau sudah mengalami mala petaka. Apa bila arwahmu mengetahui, silakan kemari minum arak lagi bersamaku.”

Dia siramkan secawan arak di lantai, dia sendiri menenggak habis secawan. Teringat kepada teman karib yang sekarang telah tiada, ia menjadi berduka, katanya sambil mencucurkan air mata:

“Paman Loh, marilah kita habiskan pula secawan!” Ia menyiram lagi secawan arak di lantai dan ia sendiri kembali menghabiskan secawan.

Sebetulnya kemampuan minum arak Kwe Siang amat sedikit, cuma karena sifatnya yang terbuka dan suka bergaul dengan orang-orang Kangouw, maka dia pun ikut-ikutan minum arak dan bicara seperti orang dewasa. Kini setelah menghabiskan dua cawan, mau tidak mau mukanya menjadi merah, kepala rada pening. Dalam kegelapan tiba-tiba seperti ada bayangan orang berkelebat di luar pintu kelenteng sana. Dia terkejut dan girang, disangkanya arwah Loh Yu-ka benar-benar telah datang, segera dia berseru:

“Apakah paman Loh? Mari kita minum dan mengobrol.”

Hatinya berdebar-debar, tapi juga sangat ingin melihat arwah halus Loh Yu-ka. Tapi segera didengarnya seseorang menegur:

“Tengah malam buta kau main gila apa di sini? Ibu mencari kau, lekas pulang!” secepat itu pula seseorang nyelinap masuk, kiranya Kwe Hu adanya.

Kwe Siang kecewa bukan kepalang, katanya: “Aku sedang memanggil arwah paman Loh untuk bertemu di sini, dengan gangguanmu ini mana mungkin dia mau datang lagi? Cici, silakan kau pulang dahulu, segera aku menyusul.”

“Kembali kau mengaco belo lagi, dalam benakmu yang kecil itu selalu berpikir hal-hal yang tidak keruan. Mana bisa arwah Loh Yu-ka mau menemui kau?”

“Biasanya dia sangat akrab denganku, apa lagi sudah kusanggupi akan memberi-tahukan sesuatu padanya, sudah kujanjikan akan kuberi-tahu pada hari ulang tahunku. Siapa tahu dia tidak dapat menunggu lagi,” sampai di sini, anak dara itu menjadi berduka lagi.

“Baru sekejap saja kau menghilang, segera ibu menduga kau datang ke sini dan ternyata tepat dugaan ibu,” kata Kwe Hu. “Hm, se-nakal-nakalnya monyet kecil macammu ini masa dapat mengelabui perhitungan ibu? Kau ini benar-benar teramat bandel, ibu marah sekali. Coba jika Hotu itu bersembunyi di sekitar sini, sedangkan tengah malam buta kau berada di sini sendirian, kan sangat berbahaya?”

Kwe Siang menghela napas, katanya “Aku terkenang kepada paman Loh sehingga tidak memikirkan bahaya lagi, Oh, Cici yang baik, temanilah duduk sebentar di sini, boleh jadi arwah paman Loh benar-benar akan datang menemui aku. Cuma engkau jangan bersuara agar tidak mengejutkannya.”

Kwe Hu kurang menghormati Loh Yu-ka. Menurut anggapannya, Loh Yu-ka bisa diangkat menjadi Pangcu adalah karena dukungan ibunya, maka ia pikir kalau betul arwah Loh Yu-ka akan datang juga tak perlu ditakuti. Dan ia pun tahu watak kepala batu adiknya itu, sekali sudah menyatakan hendak menunggu di situ, maka sukarlah disuruhnya pulang begitu saja kecuali kalau ayah-ibu datang sendiri dan mengomelinya. Maka ia lantas duduk, katanya dengan gegetun:

“Ji-moay, usiamu semakin menanjak, tapi tampaknya kau semakin ke-kanakan. Tahun ini kau sudah 16 tahun, dua-tiga tahun lagi akan punya mertua, memangnya sesudah di rumah mertua kau juga akan angin-anginan seperti ini?”

“Memang apa bedanya?” ujar Kwe Siang. “Sesudah kau menikah dengan Cihu (kakak ipar, suami kakak), bukankah kau pun tetap bebas merdeka seperti waktu masih gadis?”

“He, mana boleh kau membandingkan Cihu-mu dengan orang Iain?” jawab Kwe Hu dengan bangga, “Dia adalah ksatria sejati jaman kini, tentu saja pengetahuan dan pandangannya jauh lebih dari pada orang lain, dia tak akan mengekang kebebasanku. Bakat seperti Cihu-mu itu rasanya jarang ada bandingannya di antara jago-jago angkatan muda sekarang. Kelak kalau bakal suamimu punya setengah kepandaian saja, kukira ayah-ibu sudah cukup merasa puas.”

Mendengar kata-kata sang Toaci yang terdengar sombong itu, Kwe Siang balas mencibir, katanya:

“Sudah tentu Cihu adalah tokoh yang hebat, cuma aku tidak percaya bahwa di dunia ini tiada orang lain yang melebihi dia.”

“BoIeh lihat saja nanti kalau kau tidak percaya,” ujar Kwe Hu.

“Aku justru mempunyai seorang kenalan yang berpuluh kali lebih hebat dari pada Cihu,” kata Kwe Siang.

Keruan Kwe Hu menjadi marah, teriaknya: “Siapa dia? Hayo lekas katakan!”

“Untuk apa aku katakan? Asalkan aku sendiri tahu, di dalam hati saja, kan cukup?” jawab Kwe Siang.

“Huh, apakah kau maksudkan Li-samte? Atau Ong Kiam-bu? Atau Thio Si-kong?” jengek Kwe Hu. Yang disebutnya itu adalah beberapa ksatria muda ganteng kenalan mereka.

Tetapi Kwe Siang menggeleng, katanya: “Bukan, bukan! Memadai Cihu saja mereka tidak dapat, mana bisa dikatakan lebih hebat berpuluh kali dari padanya?”

“Habis siapa?” Kwe Hu menegas, “Ya, kecuali Gwakong kita, atau ayah dan ibu atau paman Cu Cu-liu dan beberapa ksatria angkatan tua.”

“Tidak, orang yang kumaksudkan ini justru lebih muda dari pada Cihu, wajahnya pun lebih cakap, sedangkan ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari pada Cihu, bedanya seperti langit dan bumi, sama sekali tak dapat dibandingkan...”

Setiap kalimat diucapkan Kwe Siang, setiap kali pula langsung disambut Kwe Hu dengan mencemoohkan:

“Cis, cis, cis!”

Akan tetapi Kwe Siang tak peduli, ia menyambung pula: “Jika kau tidak mau percaya, ya terserah. Pokoknya orang itu sangat baik budi, siapa pun yang ada kesukaran, tak peduli kenal atau tidak dia suka memberi pertolongan.” Wajahnya yang cantik itu tampak menerawang ke depan mengenangkan sesuatu yang sukar dilupakan.

Dengan gusar Kwe Hu berkata: “Dalam benakmu yang kecil ini berkhayal saja. Baiklah, sesudah kematian Loh Yu-ka, kini jabatan Pangcu menjadi lowong. Tadi ibu mengatakan, mumpung para pahlawan berkumpul di sini, maka kesempatan ini sebaiknya digunakan untuk mengadakan pemilihan Pangcu. Biarlah orang banyak ikut bertanding, siapa yang berkepandaian paling tinggi, dia yang diangkat menjadi Pangcu, dengan begitu persengketaan antara Ut-ih-pay (aliran baju kotor) dengan Ceng-ih-pay (aliran baju bersih) dalam Kay-pang dapat dihindarkan. Kalau orang yang kau anggap hebat itu benar-benar lihay, bolehlah kau suruh dia maju dan bertanding dengan Cihu-mu untuk memperebutkan kedudukan Pangcu.”

“Hi-hi-hi, belum tentu dia kepingin menjadi Pangcu kaum jembel begitu,” ujar Kwe Siang tertawa.

“Hmm, kau berani meremehkan kedudukan Kay-pang Pangcu?” semprot Kwe Hu dengan marah. “Dahulu kedudukan itu pernah dijabat Ang Chit-kong, bahkan ibu kita juga pernah menjabatnya, masa kau berani menghina Ang-lokongkong dan ibu?”

“Kapan aku menghina beliau-beliau? Kau sendiri yang bilang? Kau sendiri pun tahu aku sangat akrab dengan paman Loh dan bergaul baik dengan kaum jembel lain.”

“Baiklah, boleh kau suruh pahlawanmu itu bertanding dengan Cihu-mu,” kata Kwe Hu. “Sementara ini para ksatria sudah berkumpul di Siang-yang, lihat saja nanti, siapa pahlawan dan siapa kerbau, sekali gebrak akan ketahuan.”

“Cici, bicaramu memang suka melantur tak genah. Kapan kubilang Cihu kerbau? Kalau dia kerbau, bukankah engkau pun menjadi hewan? Padahal kita dilahirkan dari satu ibu, aku ikut kurang terhormat?”

Kwe Hu menjadi serba runyam, ya dongkol ya geli. Dia segera bangkit dan berkata: “Aku tidak ada waktu buat ribut dengan kau. Hayolah pulang, jangan-jangan nanti aku ikut didamprat.”

Kwe Siang lincah dan pintar bicara, biasanya dia memang suka adu mulut dengan sang Toaci, ia ber-olok lagi:

“Ai, engkau kan nyonya muda yang sudah menikah. Biasanya ayah dan ibu paling sayang padamu, engkau juga isteri calon pangcu, siapakah gerangan yang sudah makan ‘hati harimau’ sehingga berani mendamperat kau?”

Mendengar sang adik menyebutnya ‘isteri calon Pangcu’, Kwe Hu menjadi senang sekali, katanya:

“Sekian banyak kaum ksatria berkumpul di sini, siapa orangnya yang tidak ingin menjadi Pangcu? Cihu-mu juga belum tentu akan terpilih, sebaiknya kau jangan bicara muluk-muluk dahulu agar tidak ditertawakan orang.”

Kwe Siang termangu-mangu sejenak, dilihatnya bulan setengah bulat itu menghiasi angkasa yang kelam, suasana sunyi sepi, katanya kemudian dengan gegetun:

“Agaknya arwah paman Loh takkan datang. Cici, mengapa harus begini cepat mengangkat Pangcu pengganti paman Loh? Kan dapat ditunda sementara waktu agar kita dapat lebih lama lagi mengenangkan jasa beliau.”

“Kembali kau bicara seperti anak kecil,” ujar Kwe Hu. “Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia Kangouw, naga tanpa kepala, mana boleh jadi?”

“Ibu bilang kapan akan diadakan pemilihan Pangcu?” tanya Kwe Siang.

“Tanggal 15 adalah hari pembukaan Eng-hiong-tay-hwe dengan acara utama bagaimana menghimpun para pahlawan dari segenap penjuru untuk bersama-sama melawan Mongol. Musyawarah itu bisa berlangsung hingga lima-enam hari atau bisa juga delapan-sembilan hari. Jadi pemilihan ketua Kay-pang kukira baru bisa diselenggarakan pada tanggal 23 atau 24 nanti.”

“Ahhh...!” Kwe Siang bersuara tertahan.

“Ada apa?” tanya Kwe Hu.

“Tidak apa-apa,” jawab Kwe Siang, “Soalnya tanggal 24 adalah bertepatan dengan hari ulang tahunku. Karena kesibukan kalian dalam pemilihan pangcu, tentunya ibu tidak sempat merayakan hari ulang tahunku nanti.”

“Ha-ha-ha!” Kwe Hu tertawa bergelak, “Cuma hari ulang tahun anak dara seperti kau ini memangnya begitu penting? Mana boleh kau anggap urusan penting pemilihan pangcu justru mengganggu hari ulang tahunmu? Ha-ha-ha…., kalau didengar orang bisa jadi gigi orang akan rontok menertawakanmu. Aih, mungkin di dunia ini hanya kau saja yang selalu ingat kepada urusan tetek bengek begitu.”

Dengan muka merah padam Kwe Siang menjawab: “Umpama ayah tidak ingat, ibu pasti ingat. Kau bilang urusan tetek bengek, aku justru bilang ini urusan penting. Sekali ini ulang tahunku genap berusia 16, kau tahu tidak?”

Kwe Hu semakin geli dan beroIok-olok: “Ya, ya! Pada hari itu nanti, berpuluh ksatria dan pahlawan yang berada di Siang-yang akan hadir memberi selamat kepada Kwe-jisiocia, setiap orang akan menyumbangkan kado padamu, sebab tahun ini Kwe-jisiocia genap berusia 16 dan bukan lagi anak dara melainkan sudah nona besar. Ha-ha-ha-ha……!”

“Orang lain mungkin takkan ambil pusing, tapi paling sedikit ada seorang pahlawan besar ingat kepada hari ulang tahunku, dia sudah berjanji akan datang menemuiku,” kata Kwe Siang dengan bangga.

“Pahlawan besar apa? Oh ya, tahulah aku, tentu pahlawan yang jauh lebih hebat dari pada Cihu-mu itu,” ujar Kwe Hu. “Sekarang ingin kukatakan padamu. Pertama, di dunia ini hakikatnya tidak ada tokoh nomor satu begituan, hanya benakmu sendiri yang berkhayal seperti itu. Kedua, seumpama ada orang begitu, betapa banyaknya urusan penting yang harus dilakukannya, mana ia mau datang memberi selamat kepada anak dara seperti kau ini? Kecuali dia juga menghadiri Eng-hiong-tay-hwe, kalau tidak, masa dia datang ke Siang-yang?”

Hampir-hampir Kwe Siang menangis oleh olok-olok sang Toaci. Sambil banting kaki dia berseru:

“Dia sudah berjanji padaku, dia sudah berjanji. Dia takkan menghadiri Eng-hiong-tay-hwe dan juga tidak ikut berebut pangcu segala.”

“Dia bukan Enghiong, ayah takkan mengirim Eng-hiong-hiap padanya,” kata Kwe Hu. “Sekali pun dia ingin menghadiri pertemuan besar ini kukira belum bisa memenuhi syarat.”

Kwe Siang mengusap air matanya dengan sapu tangan kecil, katanya. “Kalau begitu aku juga tidak akan hadir pada pertemuan kalian. Masa bodoh kalian hendak mengangkat Pangcu segala, betapa pun ramainya juga aku takkan meiihatnya.”

“Aduhh... kalau Kwe-jisiocia kita tidak hadir, lalu bagaimana jadinya Eng-hiong-tay-hwe itu nanti?” demikian Kwe Hu ber-olok pula. “Yang terpilih menjadi Pangcu nanti juga kurang gemilang, mana boleh kau tidak hadir.”

Sambil menutupi kedua telinganya Kwe Siang berlari keluar kelenteng. Tapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu di ambang pintu kelenteng sudah berdiri seseorang menghalangi jalan keluarnya. Keruan Kwe Siang kaget, cepat dia melompat mundur sehingga tidak bertubrukan dengan penghadangnya.

Di bawah cahaya bulan tampak perawakan orang sangat jangkung, mukanya hitam, anehnya tubuh bagian atas ternyata sangat cekak, hanya bagian pinggang ke bawah yang teramat panjang. Setelah diawasi lebih teliti baru jelas, rupanya kedua kaki orang itu buntung, kedua ketiaknya disanggah sepasang tongkat yang panjangnya hampir dua meter, karena itulah lengan celananya menjadi bergoyang-gontai pada bagian bawah. Orang pendek memakai egrang sehingga menjadi orang jangkung.

“He, kau, Nimo Singh!” seru Kwe Hu terkejut.

Orang ini memang Nimo Singh adanya. Sekali ini raja Mongol memimpin sendiri pasukannya ke selatan, maka seluruh jago silat dari benua barat dan Mongol dikerahkan. Setiap orang berharap dapat memamerkan kemahirannya dalam pertempuran nanti agar mendapatkan pahala dan kedudukan. Meski pun kedua kaki Nimo Singh telah buntung, tapi ilmu silatnya belum punah. Selama menggembleng diri belasan tahun, sepasang tongkat penyanggah tubuhnya dapat dimainkan lebih lihay dari pada sebelum kakinya buntung.

Sementara ini pasukan Mongol masih ratusan li di utara Siang-yang, tetapi para pengintai yang terdiri dari jago-jago silat pilihan seperti Nimo Singh dan lain-lainnya sudah tiba lebih dulu di sekitar Siang-yang. Malam ini Nimo Singh bermaksud hendak menginap di kelenteng Yo-tayhu. Tak terduga didengarnya percakapan Kwe Hu berdua, keruan dia menjadi girangan bukan main. Dia tahu berhasilnya Siang-yang dipertahankan sekian lama oleh kerajaan Song adalah berkat perjuangan Kwe Ceng. Kalau sekarang kedua puteri kesayangannya ditawan, andaikan tak dapat memaksa Kwe Ceng menyerah, sedikitnya dapat mengacaukan semangat pendekar itu dan sungguh suatu jasa besar baginya bila dilaporkan kepada raja Mongol. Karena itulah ia lantas menjawab:

“Eh, nona Kwe, sungguh bagus daya ingatmu, ternyata kau tidak pangling padaku. Baiklah, supaya tidak bikin susah kedua pihak, silakan kalian ikut aku saja.”

Gusar dan kuatir pula Kwe Hu. Dia tahu ilmu silat orang Hindu ini sangat lihay, sekali pun dirinya kakak beradik maju sekaligus bukan tandingannya. Tanpa terasa dia melotot marah kepada Kwe Siang. Pikirnya: “Semua ini gara-garamu, coba cara bagaimana harus menghadapi bahaya di depan mata sekarang?”

Sebaliknya Kwe Siang sudah berkata kepada Nimo Singh: “Ehh, kenapa kedua kakimu begitu aneh? Sebelum buntung apakah dahulu juga sepanjang itu?”

Nimo Singh hanya mendengus tanpa menggubris, tetapi lantas berkata pula kepada Kwe Hu:

“Kalian berjalan di depan, jangan sekali-kali timbul pikiran hendak melarikan diri.” Nyata dia telah menganggap kakak beradik itu sebagai tawanan yang sudah berada dalam genggaman.

Kwe Siang lantas berkata: “He, cara bicaramu ini sungguh aneh, tengah malam buta kau suruh kami kakak beradik pergi ke mana?”

“Jangan banyak bicara, lekas ikut pergi!” bentak Nimo Singh. Ia kuatir kedatangan musuh yang kini banyak berkumpul di Siang-yang dan usahanya ini mungkin bisa gagal, maka ingin lekas-lekas pergi.

“Ji-moay, si cebol ini adalah jagoan pihak Mongol, kepandaiannya cukup lihay, mari kita mengeroyoknya dari kanan kiri,” bisik Kwe Hu kepada adiknya.

“Srett!...!” ia melolos pedang terus menusuk ke pinggang musuh.

Kwe Siang tidak membawa senjata. Ia melihat Nimo Singh tidak mempunyai kaki, bisanya berdiri adalah berkat tongkatnya. Sekarang sang Toaci telah menyerangnya, apakah dia bisa menangkisnya? Dasar hati Kwe Siang memang welas asih, maka dia berbalik berseru:

“Cici, orang ini harus dikasihani, jangan dilukai!”

Tak terduga, belum lenyap suaranya, tiba-tiba Nimo Singh menyangga tubuhnya dengan tongkat kiri, tongkat kanan terus menyabet.

“Trangg...!”

Tongkat Nimo Singh membentur pedang Kwe Hu sehingga memercikkan lelatu api dalam kegelapan, pedang Kwe Hu hampir saja terlepas dari cekalan. Kwe Hu merasa tangannya kesemutan dan dada sakit. Cepat dia menggeser ke samping dan menyerang lagi, dia mainkan ‘Wat-li-kiam-hoat’ dan menempur Nimo Singh dengan sengit. Wat-li-kiam-hoat atau ilmu pedang gadis cantik diajarkan Kwe Ceng kepada puterinya untuk mengenang salah seorang gurunya dari Kang-lam-jit-koay, yaitu Han Siao-eng yang tewas secara mengenaskan di Mongol. Ilmu pedang ini mengutamakan kelincahan serta kegesitan, akan tetapi karena terbatas tenaga, betapa pun Kwe Hu memang bukan tandingan Nimo Singh.

Melihat cara Nimo Singh menggunakan kedua tongkatnya dengan bergantian, yang satu digunakan menyangga tubuh dan yang lain digunakan menyerang, gerak geriknya cepat dan gesit tiada ubahnya seperti orang berkaki, apa lagi kedua tongkatnya sangat panjang, dari atas menggempur ke bawah, daya serangannya menjadi lebih hebat, jelas sang Toaci tidak sanggup melawannya, baru sekarang Kwe Siang merasa kuatir.

Sebenarnya kepandaian Nimo Singh memang jauh lebih tinggi dari pada Kwe Hu, hanya kepandaian nona itu adalah ajaran Kwe Ceng dan Oey Yong yang lihay, maka dapatlah Kwe Hu bertahan sekian lama. Tapi dirasakannya tekanan tongkat musuh semakin berat sehingga sukar ditangkis lagi. Melihat kakaknya terdesak, tanpa pikir lagi Kwe Siang menubruk maju dengan tangan kosong.

“Kena!” tiba-tiba saja Nimo Singh berteriak, tongkat kiri menutul lantai sehingga tubuhnya melayang, kedua tongkat digunakan sekaligus untuk menyerang, tongkat yang satu kena menotok bahu kiri Kwe Siang, tongkat lain tepat menotok Hiat-to di dada Kwe Hu. Kwe Siang tergeliat sempoyongan sambil melangkah mundur beberapa tindak, sedangkan Kwe Hu cukup berat ditotok oleh tongkat lawan sehingga tidak tahan.

“Blukk!” dia jatuh terduduk.

Gesit luar biasa Nimo Singh, cepat lagi keji. Begitu tongkatnya menutul perlahan, segera dia mendesak maju ke depan Kwe Hu sambil menjengek:

“Nah, sudah kukatakan ikut saja denganku...”

Di luar dugaan, mendadak Kwe Hu berseru: “Ji-moay, lekas lari ke belakang!”

Nimo Singh sangat terkejut. Sudah jelas Hiat-to di dada Kwe Hu kena ditotoknya dengan ujung tongkat, kenapa nona itu masih dapat bergerak dengan bebas? Ia tidak tahu bahwa Kwe Hu memakai baju wasiat berduri landak (Nui-wi-kah) pemberian sang ibu, dikiranya keluarga Kwe punya ilmu kekebalan yang tidak mampu ditotok dan tidak mempan dilukai. Padahal sesudah terkena totokan tongkat tadi, meski tidak berhalangan apa-apa, namun rasa sakitnya tidak kepalang, dan kurang leluasa lagi buat bergerak. Tetapi Kwe Siang lantas memainkan ilmu pukulan ‘Lok-eng-ciang-hoat’ dan melindungi di belakang sang Toaci sambil berseru:

“Cici, engkau saja lari lebih dulu!”

Tapi sebelum mereka angkat kaki, tahu-tahu Nimo Singh melayang lewat di atas mereka lalu menghadang di depan Kwe Hu sambil membentak:

“Jangan bergerak!”

Kwe Siang menjadi marah dan mendamperat: “Tadinya kau harus dikasihani, tak tahunya kau begini jahat!”

“Ha-ha-ha…..!” Nimo Singh bergelak tertawa. “Anak dara, rupanya kau belum kenal kelihayan kakek sebelum tahu rasa.”

Kedua tongkatnya bergantian melangkah maju sehingga menerbitkan suara ‘tok-tok-tok’ yang keras. Dengan muka menyeringai selangkah demi selangkah dia mendesak maju. Keruan Kwe Hu dan Kwe Siang melangkah mundur dengan ketakutan. Selama hidup Kwe Siang belum pernah melihat wajah orang sebengis ini, dilihatnya kedua mata Nimo Singh melotot, mukanya beringas, ada pun muIutnya menyeringai seperti iblis, tampak pula taringnya yang runcing putih seakan-akan drakula yang akan menerkam dan menggigit lehernya. Saking takutnya dia menjerit ngeri. Pada saat itulah tiba-tiba saja Kwe Siang mendengar suara halus berkata di belakangnya:

“Jangan takut, serang dia dengan Am-gi (senjata rahasia)!”

Dalam keadaan gawat begitu, tidak terpikirkan lagi oleh Kwe Siang siapa yang bicara itu. Segera dia meraba bajunya, tetapi disadarinya dia tidak membawa senjata apa pun juga, katanya dengan cemas:

“Aku tidak membawa Am-gi.”

Sementara itu Nimo Singh sudah mendesak maju Iagi. Dia menjadi bingung dan terpaksa kedua tangannya disodorkan ke depan dengan gaya membela diri. Tak terduga baru saja tangannya menjulur ke depan, sekonyong-konyong dari belakang seakan-akan ditiup serangkum angin sehingga lengannya terasa tergetar perlahan, sepasang gelang untiran emas yang dipakainya tahu-tahu terlepas dari pergelangan tangan lantas melayang ke depan.

“Tring-tringg...!” sepasang gelang emas itu membentur kedua tangan Nimo Singh.

Tampaknya benturan itu sangat perlahan, tapi entah mengapa Nimo Singh ternyata tidak mampu memegangi kedua tongkatnya dan mendadak ia terlempar keras ke belakang.

“Blangg...! Blangg...!”

Dua kali kedua tongkat membentur dinding dan membikin debu pasir pada rontok. Karena tongkat penyangganya terlepas dari cekalan, tubuh Nimo Singh lantas jatuh. Tapi si cebol ini memang lihay juga, baru punggungnya menempel lantai, sekali melejit, tahu-tahu dia telah meloncat lagi ke atas, sepuluh jarinya yang berkuku panjang tajam itu menubruk ke arah Kwe Siang.

Dalam kagetnya, tanpa pikir Kwe Siang mencabut tusuk konde kemala hijau yang dipakainya itu lantas disambitkan ke depan. Terasa angin meniup pula dari belakangnya, tusuk konde itu terdorong cepat ke depan. Melihat sambaran tusuk konde itu sangat aneh, cepat kedua telapak tangan Nimo Singh memapak ke depan. Tapi terdengarlah dia bersuara tertahan, lalu jatuh terduduk dan tidak bergerak lagi. Kuatir musuh main akal licik, cepat Kwe Siang melompat ke samping Kwe Hu dan berseru dengan-suara gemetar:

“Cici, le... lekas lari!”

Tapi mereka melihat Nimo Singh tetap diam saja tanpa bergerak sedikit pun, ditunggu lagi sejenak tetap begitu. Kwe Hu menjadi berani, katanya:

“Apakah dia terkena penyakit angin duduk dan mati mendadak?” Segera ia membentak: “Nimo Singh, kau sedang main gila apa?!”

Kwe Hu pikir musuh sudah kehilangan tongkat dan tidak leluasa bergerak, tentu tidak perlu ditakuti lagi, dengan pedang terhunus dia mendekati. Dilihatnya sepasang mata Ntmo Singh mendelik dengan penuh rasa ketakutan, mulut ternganga lebar, ternyata sudah mati sejak tadi. Kejut, heran dan girang pula Kwe Hu. Cepat dia menyulut lilin pada altar sembahyangan. Belum lagi dia sempat memeriksa lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari luar kelenteng.

“Hu-moay! Ji-moay! Apakah kalian berada di dalam kelenteng?”

Nyata itulah suaranya Yalu Ce. Dengan girang Kwe Hu menjawab: “Lekas kemari, kakak Ce, benar-benar kejadian yang sangat aneh!”

Sejenak kemudian Yalu Ce telah berlari masuk dengan dua anggota Kay-pang berkantong enam. Dia pun terkejut melihat Nimo Singh tewas menggeletak di situ. Dia tahu ilmu silat Nimo Singh sangat tinggi, sekali pun dirinya bukan tandingannya, tetapi jagoan Hindu itu kini ternyata bisa dibunuh oleh isterinya, sungguh sangat di luar dugaan! Segera ia mengambil tempat lilin dari tangan Kwe Hu dan mendekati Nimo Singh. Setelah diperiksa, ia menjadi tambah heran. Ternyata kedua telapak tangan Nimo Singh berlubang, sebuah tusuk konde kemala hijau tepat menancap Sin-ting-hiat di batok kepalanya.

Padahal tusuk konde kemala itu mudah sekali patah, akan tetapi bisa menembus telapak tangan seorang jago silat kenamaan dan sekaligus membinasakannya, maka betapa lihay kepandaian pemakai tusuk konde ini sungguh sukar diukur dan dibayangkan. Yalu Ce lantas berpaling dan bertanya kepada Kwe Hu:

“Apakah Gwakong datang ke sini? Lekas pertemukan aku dengan beliau.”

Kwe Hu menjadi heran, jawabnya: “Siapa yang bilang Gwakong datang ke sini?”

“Bukan Gwakong?” Yalu Ce menegas. Mendadak dia menjadi girang dan menambahkan “Aha, jika begitu Guruku yang datang!”

Dia lalu memandang sekelilingnya, namun tidak dilihat jejak Ciu Pek-thong. Gurunya itu jenaka dan senang bergurau, bisa jadi sengaja sembunyi untuk membuatnya kaget. Cepat dia berlari keluar kelenteng lantas melompat ke wuwungan untuk memeriksa sekitar, akan tetapi tiada sesuatu pun yang ditemukannya. Maka terpaksa dia melompat turun kembali.

“He, apa-apaan kau bilang Gwakong dan Suhu segala?” tegur Kwe Hu dengan bingung.

Yalu Ce lantas bertanya cara bagaimana mereka bisa kepergok Nimo Singh dan mengapa orang itu bisa tewas begitu saja? Kwe Hu lantas menceritakan apa yang terjadi tadi, tetapi tentang tusuk konde adiknya itu dapat menancap mati Nimo Singh, ia sendiri pun tidak dapat menjelaskan.

“Di belakang Ji-moay pasti ada orang kosen yang membantu secara diam-diam,” ujar Yalu Ce. “Kukira orang yang memiliki kepandaian setinggi ini di jaman kini selain ayah mertua hanyalah Gwakong Oey-tocu, lalu guruku, It-teng Taysu serta Kim-lun Hoat-ong saja berlima. Kim-lun Hoat-ong adalah Koksu Mongol, tentunya dia tak akan membunuh kawan sendiri, sedangkan It-teng Taysu tak mau sembarangan melanggar pantangan membunuh, maka kukira kalau bukan Gwakong tentulah guruku, Ji-moay, coba kau jelaskan, siapakah gerangan orang yang membantumu?”

Kelika menyambitkan tusuk kondenya tadi dan membinasakan Nimo Singh, Kwe Siang segera menoleh dan tidak melihat bayangan seorang pun, maka diam-diam dia meresapi ucapan ‘jangan takut, serang dia dengan Am-gi’. Ia merasa suara itu sudah dikenalnya, ia menjadi sangsi apakah Yo Ko adanya? Maka waktu ditanya Yalu Ce, seketika ia tak dapat menjawab karena dia masih kesima merenungkan suara itu.

“He, kenapa kau, Ji-moay?” seru Kwe Hu sambil menarik lengan adiknya. Ia kuatir jangan-jangan adiknya menjadi linglung karena kejadian yang menakutkan tadi.

Tiba-tiba air muka Kwe Siang berubah menjadi merah dan menjawab: “O, tidak apa-apa.”

“Cihu bertanya padamu, siapakah yang membantu tadi, kau dengar tidak?” kata Kwe Hu mendongkol.

“Oh ya, siapakah yang membantuku membinasakan orang jahat ini? Ahh, sudah tentu dia! Kecuali dia siapa lagi yang memiliki kepandaian setinggi ini?” kata Kwe Siang.

“Dia? Dia siapa?” Kwe Hu menegas. “Apakah pahlawan besar yang kau katakan itu?”

“O, tidak, tidak! Kumaksudkan arwah halus paman Loh,” jawab Kwe Siang cepat.

“Cis!” semprot Kwe Hu sambil mengipatkan tangan adiknya.

“Memang apakah kau melihat sesuatu bayangan orang?” kata Kwe Siang pula. “Pasti paman Loh yang melindungi aku secara diam-diam. Kau tahu, semasa hidupnya paman Loh sangat karib denganku.”

Sudah tentu Kwe Hu menyangsikan cerita Kwe Siang itu, tapi memang nyata tadi dirinya tidak melihat sesuatu bayangan orang dan tahu-tahu Nimo Singh mati.

PESTA YANG MERIAH

Sementara itu Yalu Ce sedang memeriksa kedua tongkat Nimo Singh, katanya kemudian dengan gegetun:

“Kepandaian sehebat ini, sungguh sangat mengagumkan.”

Waktu Kwe Hu dan Kwe Siang ikut meneliti, tampak setiap tongkat itu terbingkai sebuah gelang emas untiran. Padahal gelang itu hanya terbuat dari untiran emas yang halus, akan tetapi orang dapat mendorongnya dengan tenaga dalam yang dahsyat dan membentur jatuh kedua tongkat Nimo Singh, maka pantasIah kalau Yalu Ce merasa gegetun dan kagum tidak kepalang.

“Marilah kita perlihatkan kepada ibu, siapakah sebenarnya orang yang membantu Ji-moay secara diam-diam, tentu ibu mengenalnya,” ujar Kwe Hu.

Nimo Singh berikut sepasang tongkatnya segera dibawa kedua anak murid Kay-pang dan ikut Yalu Ce pulang ke kota. Ketika Kwe Ceng dan Oey Yong mendengar cerita Kwe Hu dan membayangkan betapa berbahaya kejadian itu, mau tak mau Kwe Ceng terperanjat.

Semula Kwe Siang mengira keonaran yang diterbitkannya ini pasti akan mendapat persen damperatan. Namun Kwe Ceng justru gembira oleh keberanian dan tinggi budi puteri kecil yang menuruni gaya sang ayah itu. Dia tidak mendamperat, malah menghiburnya. Begitu pula demi nampak sang suami tidak gusar, maka Oey Yong segera merangkul puteri kecil itu dengan penuh sayangnya. Tetapi kemudian, sesudah dilihatnya mayat Nimo Singh serta keadaan kedua tongkatnya, Oey Yong lantas ter-menung, kemudian barulah dia bertanya kepada Kwe Ceng:

“Ceng-koko, siapakah orangnya menurut kau?”

“Tenaga dalam orang ini mengutamakan keras dan kuat, setahuku selama ini hanya ada dua orang,” sahut Kwe Ceng.

“Ya, tapi guru berbudi kita Ang Chit-kong sudah lama wafat, juga bukan kau sendiri,” ujar Oey Yong.

Ia mencoba bertanya lebih jelas tentang kejadian di kelenteng itu, namun tetap tidak bisa diterkanya. Sesudah Kwe Hu dan Kwe Siang kembali ke kamarnya masing-masing, segera Oey Yong berkata lagi pada sang suami:

“Ceng-koko, kau tahu tidak puteri ke dua kita ada apa-apa membohongi kita.”

“Membohong? Membohong apa?” tanya Kwe Ceng heran. Nyata wataknya amat jujur dan sederhana, maka tidak pernah dia mencurigai orang lain.

“Sejak kembali dari utara mengantar kartu undangan,” demikian tutur Oey Yong, “ia selalu termenung-menung seorang diri, cara bicaranya malam ini juga sangat aneh.”

“Ia terkejut, sudah tentu pikirannya tidak tenang,” ujar Kwe Ceng.

“Bukan, bukan,” sahut Oey Yong, “Dia sebentar malu-malu kucing, di lain saat tersenyum kecil, itu sekali-sekali bukan karena terkejut, tapi dalam hatinya justru merasa senang tak terkatakan.”

“Anak kecil mendadak mendapat bantuan dari orang kosen, sudah tentu akan terkejut dan kegirangan, betapa pun juga tak perlu dibuat heran,” kata Kwe Ceng Iagi.

Oey Yong tersenyum, ia tidak buka suara lagi, tapi dalam hati ia berkata: “Perasaan anak perempuan yang dirundung asmara, waktu mudamu saja kau tak paham, sampai tua juga kau tetap tak mengerti!”

Karena itu dia lantas membelokkan pokok percakapan tentang siasat yang harus digunakan untuk menghadapi musuh serta acara-acara penyambutan tamu dalam perjamuan ksatria besok. Habis itu semua pergi mengaso. Namun di atas ranjang Oey Yong sukar pulas, sebentar-sebentar dia terbayang sikap puteri kecil yang aneh itu, pikirnya: “Pada saat anak perempuan ini baru lahir mengalami kesulitan sehingga selama ini aku selalu berkuatir hidupnya akan banyak terjadi halangan. Tetapi syukurlah selama 16 tahun ini sudah dilewatinya dengan selamat. Apakah mungkin sekarang inilah bakal terjadi sesuatu atas dirinya?”

Kalau teringat olehnya bahwa musuh sudah dekat, mala petaka yang akan datang bakal dihadapi oleh setiap penduduk kota, jika sebelumnya bisa diketahui, sedikit apa-apa yang bakal terjadi juga ada gunanya untuk ber-jaga-jaga. Namun tabiat puteri kecil ini sangat aneh, apa yang tak ingin dikatakannya tetap tak akan dikatakan. Bagaimana pun orang tua membujuk dan mendamperatnya, ia tetap bungkam dalam seribut basa. Dalam keadaan begitu orang tua menjadi kewalahan. BegituIah makin dipikir perasaan Oey Yong semakin tidak enak. Diam-diam ia bangkit dan menuju ke pintu kota, ia suruh penjaga benteng membukakan pintu terus menuju ke kelenteng Yo-tayhu di barat kota.

Kala itu sudah jauh lewat tengah malam, bintang guram dan rembulan suram. Oey Yong keluarkan ilmu meringankan tubuh yang tinggi dan berlari ke sana. Ketika sudah dekat kelenteng Yo-tayhu, mendadak terdengar di belakang tugu ‘Tui-lui-pi’ ada suara percakapan orang. Lekas Oey Yong mendekam ke tanah dan merunduk maju perlahan, setelah beberapa tombak dari tugu, ia sembunyi di belakang pohon besar. Terdengar seseorang berkata:

“Sun-toako, Inkong (tuan penolong) menyuruh kita menunggu di belakang Tui-lui-pi (tugu mencucurkan air mata) ini. Sebab apakah tugu ini diberi nama begini menyedihkan, bukankah ini alamat jelek?”

“lnkong agaknya selalu hidup kurang senang, sebab itu bila mendengar nama-nama tentang Tui-pi (mengucurkan air mata), ‘Yu-jiu’ (bersedih) dan lain-lain yang menyedihkan lantas mudah teringat akan nasibnya,” demikian sahut orang she Sun itu.

“Ah, orang berkepandaian tinggi seperti Inkong, seharusnya tak ada urusan sulit baginya,” ujar orang yang duluan. “Tetapi kulihat wajahnya senantiasa bermuram durja. ‘Tui-lui-pi’ ini mungkin sekali dia sendiri yang menamakannya.”

“ltu jelas bukan,” sahut orang she Sun, “Dahulu aku pernah mendengar cerita kuno bahwa kelenteng Yo-tayhu ini didirikan orang di kaki bukit Hian, ini untuk memperingati seorang menteri bernama Yo Koh yang sangat cinta pada rakyat di daerah sekitar sini, maka didirikan pilar (atau tugu) sebagai tanda jasanya. Rakyat yang melihat pilar ini lantas ingat pada kebaikannya dan saking terharu banyak yang menangis, karena itu pilar ini disebut Tui-lui-pi (tugu mencucurkan air mata). Tan-lakte, hidup manusia kalau dapat seperti Yo-tayhu barulah boleh dikata seorang laki-laki sejati.”

“lnkong selamanya membela keadilan di Kangouw sehingga banyak dipuji orang. Bila dia menjadi pembesar negeri di Siang-yang, boleh jadi namanya akan lebih cemerlang dari pada Yo-tayhu-nya orang she Tao.”

“Benar,” sahut si orang she Su. “Malahan Kwe-tayhiap yang namanya terkenal di seluruh jagat memiliki kebaikan yang meliputi apa yang dipunyai Yo-tayhu dan Inkong kita.”

Mendengar kedua orang itu memuji suaminya, diam-diam Oey Yong merasa senang, tapi dia lantas berpikir: “Siapakah gerangan Inkong (tuan penolong) yang mereka maksudkan itu? Apakah mungkin orang yang diam-diam menolong Siang-ji?”

Sementara itu terdengar si orang she Sun berkata pula. “Kita berdua dahulu bermusuhan dengan Inkong, tetapi kemudian jiwa kita malah dia yang menolong. Cara menghadapi musuh seperti kawan sendiri. sungguh boleh dikata melebihi Yo Koh, Yo-tayhu. Menurut cerita kuno, pada jaman Sam Kok, waktu itu Yo Koh menjaga Siang-yang dan bertempur melawan panglima Tang Go yang bernama Liok Gong. Waktu Yo Koh menyerbu daerah Tang Go, waktu perlu memotong tanaman rakyat untuk rangsum pasukannya, ia berkeras mengganti kerugian penduduk setempat. Waktu Liok Gong sakit dia malah mengirim obat untuknya dan Liok Gong pun sama sekali tidak curiga terus meminumnya, setelah minum obat ternyata sakitnya sembuh. Begitulah betapa tinggi martabat Yo Koh sebagai manusia, sampai musuh sekali pun sangat menghormati dan segan padanya. Sewaktu Yo Koh meninggal, perwira dan tentara Tang Go yang menjadi musuhnya ikut menangis sedih. Caranya menaklukkan hati manusia berdasarkan kebajikan itulah baru benar-benar disebut Enghiong (pahlawan sejati).”

“He, Sun-samko,” tiba-tiba si orang she Tan berseru, “kau sebut-sebut Yo Koh, bukankah nama ini sama suaranya dengan nama Inkong kita...”

“Sssst, diam, ada orang datang!” mendadak orang she Sun itu mendesis.

Oey Yong terkejut. Benar saja segera terdengar dari bawah bukit ada suara orang berlari mendatangi. Dalam hati ia pun berpikir: “Nama yang sama suaranya dengan ‘Yo Koh’, apakah mungkin Yo Ko? Ah, tidak, itu tidak mungkin. Sungguh pun ilmu silat Ko-ji banyak maju tak mungkin meningkat sampai taraf yang susah diukur.”

Selang tak lama orang yang datang itu tepuk-tepuk tangan tiga kali, orang she Sun itu membalas tepuk tangan. Orang yang datang itu mendekati tugu Tui-lui-pi, lalu katanya:

“Sun dan Tan dua bersaudara, Inkong menyuruh kalian tak usah menunggunya lagi. Tapi di sini ada dua kartu nama Inkong agar kalian berdua lekas mengirimkannya. Sun-samte mengirim kartu ini kepada Tio-lokunsu di Sin-yang, HoIam, ada pun Tan-lakte hendaklah mengirimkan kartu yang ini kepada Liong-ah Thauto di Oh-ah-san. Katakan pada mereka bahwa mereka berdua diminta berkumpul di sini dalam waktu sepuluh hari.”

Maka terdengarlah orang she Sun dan Tan itu menyahut dengan hormat dan menerima kartu undangan itu. Percakapan orang-orang itu membikin Oey Yong semakin heran dan terkejut. Kiranya Tio-lokunsu atau si guru silat tua she Tio yang disebut-sebut itu adalah keturunan lurus dari kerajaan Song, ilmu pukulan 32 jurus Tiang-kun dan 18 jurus permainan toyanya sangatlah terkenal. Sedang Liong-ah Thauto atau si paderi berambut bisu dan tuli dari Oh-ah-san adalah jago silat pendaman yang sangat tersohor di daerah Ohlam. Cuma sejak kecilnya bisu dan tuli, meski ilmu silatnya amat tinggi namun selamanya tiada hubungan dengan orang luar.

Karena adanya Eng-hiong-tay-hwe atau perjamuan besar kaum ksatria, meski Kwe Ceng dan Oey Yong tahu kedua orang itu suka menyepi dan pasti takkan suka tampil ke dunia ramai, tapi untuk menghormati nama mereka toh kartu undangan tetap dikirim. Dan betul juga, dua orang itu membalas dengan surat, dengan alasan halus mereka menolak untuk hadir. Tapi sekarang ‘lnkong’ yang disebut itu apakah benar-benar begitu hebat sehingga hanya berdasarkan secarik kartu namanya lantas kedua tokoh terpendam itu sudi datang dalam waktu 10 hari yang ditentukan? Demikian Oey Yong berpikir penuh tanda tanya.

Tapi bila ia pikir lagi, tiba-tiba saja ia menjadi kuatir. Besok perjamuan besar kaum ksatria akan dibuka, kini ada orang sedang mengumpulkan tokoh-tokoh Kangouw ternama ke Siang-yang, apakah tujuannya? Jangan-jangan hendak membantu pihak Mongol? Tapi bila mengingat watak Tio-lokunsu dan Liong-ah Thauto yang khas, agaknya mereka bukanlah sebangsa manusia khianat, pula ‘lnkong’ yang disebut itu bila benar orang yang membantu Siang-ji membunuh Nimo Singh, maka jelas orang itu adalah kawan di pihak sendiri.

Begitulah selagi Oey Yong mengasah otak sendiri, terdengar ketiga orang tadi berbisik-bisik sebentar, namun jaraknya sudah jauh, maka tak terdengar jelas, hanya sayup-sayup terdengar si orang she Tan itu bilang:

“Selamanya Inkong tidak pernah memberi tugas kepada kita, sekali ini kita harus melakukannya dengan baik... kita harus menaikkan pamornya... kado kita esok...” dan kata-kata lain tak jelas.

“Baiklah, sekarang juga kita berangkat. Kau jangan kuatir, rencana Inkong pasti tak akan kapiran,” demikian lantas terdengar si orang she Sun mengiyakan. Habis itu ketiga orang lantas turun bukit dengan cepat.

Sesudah orang pergi jauh, Oey Yong masuk kelenteng dan memeriksanya, tetapi tiada sesuatu tanda-tanda aneh yang dilihatnya. Bangunan kelenteng itu amat megah dan kuat, tetapi karena pasukan musuh telah mendekat, maka penghuninya sudah lama lari ke kota sehingga tiada seorangpun. Sungguh pun Oey Yong orang pintar, tapi seketika juga bingung oleh orang yang disebut ‘lnkong’ atau tuan penolong itu. Dia pun tidak ingin ‘menggeprak rumput mengejutkan ular’ dengan menangkap tiga orang itu untuk ditanyai, maka sampai fajar menyingsing barulah ia kembali ke kota.

Ketika Oey Yong sampai di simpang jalan dekat pintu barat kota, tiba-tiba dilihatnya ada dua penunggang kuda secepat terbang menyerempet lewat. Cepat Oey Yong menyingkir ke pinggir jalan. Waktu diawasinya, ternyata kedua penunggang itu adalah laki-laki kekar semua. Setiba di samping jalan, seorang memutar kuda ke barat-laut dan yang lain membalik ke barat-daya. Ketika mereka hendak berpisah, terdengar seorang di antaranya berseru:

“lnsat, jangan lupa bilang kepada Thio-toagocu bahwa dalang, pesinden dan penabuhnya harus dia sendiri yang membawanya dan jangan lupa membawa tukang pembuat bunga api!”

“Ah, tak perlu kau mengingatkan aku terus menerus, kau sendiri disuruh pergi memanggil tukang masak yang kesohor itu, jika terlambat satu hari, kau akan diomeli orang banyak,” sahut kawannya. Habis itu, cepat sekali kedua orang itu lantas berpisah.

Perlahan Oey Yong masuk kota, dalam hati dia tambah heran. Nama Thio-toagocu (si selendang besar she Thio) sudah dikenalnya sebagai seorang berpengaruh di Hang-gau. Masa ada seorang secara begitu mudah bisa memanggilnya datang? Apakah ini juga suruhan ‘lnkong’ yang disebut itu? Mereka bermain besar-besaran, sebetulnya apakah maksudnya? BegituIah dalam hati Oey Yong penuh tanda tanya. Tiba-tiba hatinya terkesiap, pikirnya: “Ya... ya, sekarang tahulah aku, pasti ini sebabnya.”

Cepat dia kembali ke rumah serta menanyai sang suami: “Ceng-koko, apakah ada tamu undangan kita yang ketinggalan dikirimi kartu?”

“Ketinggalan mengirimkan undangan?” tanya Kwe Ceng heran. “Tapi kita telah memeriksa beruIang kali, rasanya tiada yang ketinggalan.”

“Memang aku pun berpikir begitu,” ujar Oey Yong, “Karena kuatir ada yang ketinggalan tidak diundang, maka orang gagah mana saja, walau pun tidak terlampau dikenal juga kita kirimkan kartunya. Tetapi apa yang kulihat tadi jelas sekali ada seorang tokoh besar yang merasa sakit hati sehingga mengadakan perjamuan besar kaum ksatria untuk menyaingi kita.”

Tetapi Kwe Ceng yang berjiwa luhur dan berhati terbuka, bukannya iri sebaliknya ia malah girang, katanya:

“Aha, kebetulan! Kalau ada seorang Enghiong yang bercita-cita sama, itu paling baik. Kita akan mendukung dia sebagai Bengcu (ketua perserikatan) dan biar dia memimpin para ksatria untuk melawan MongoI, kita sendiri tunduk pada perintahnya saja.”

Namun Oey Yong berkerut kening, katanya: “Tapi kalau melihat tindak-tanduknya tidak mirip hendak melawan musuh. Dia telah mengirim undangan kepada Tio-lokunsu di Sin-yang, Liong-ah Thauto di Oh-ah-san, Thio-toagocu dan lain-lain lagi.”

Tapi Kwe Ceng malahan bertambah girang, dia tepuk meja serta berseru: “Ha, jika orang ini sanggup mengundang Tio-lokunsu, Liong-ah Thauto dan Thio-toagocu ke Siang-yang, pasti kekuatan kita akan bertambah besar. Yong-ji, terhadap tokoh-tokoh seperti itu, kita harus bersahabat baik-baik.”

Tetapi Oey Yong tidak menyahut lagi. Sementara petugas memberitahu bahwa tamu-tamu telah datang sehingga terpaksa Kwe Ceng dan Oey Yong sibuk menyambut. Saking sibuknya harus menyambut tetamu yang datang ber-bondong-bondong dari segala pelosok, terhadap pengalamannya semalam sementara tak sempat dipikirkan lagi oleh Oey Yong. Esok harinya adalah Eng-hiong-tay-hwe, pertemuan besar kaum ksatria. Tidak kurang disediakan 400 meja perjamuan, komandan militer kota pemerintah Song, Lu Bun-hwan, telah menyuguhkan sendiri arak kehormatan kepada para ksatria atau pahlawan itu.

Dalam perjamuan, ketika semua orang sedang berbicara mengenai keganasan serdadu Mongol yang membunuh rakyat dan merebut tanah airnya, semua orang merasa murka sekali, beramai-ramai mereka akan bertempur mati-matian melawan musuh. Dan pada malam itu juga dengan suara bulat Kwe Ceng dipilih sebagai Bengcu atau ketua perserikatan, semua orang bersumpah dengan darah dan berjanji melawan musuh hingga titik darah penghabisan.

Di lain pihak, sesudah hari itu Kwe Siang bertengkar dengan sang Toaci di kelenteng Yo-taybu serta menyatakan tidak akan ikut menghadiri perjamuan besar ksatria itu, betul juga ia tidak menampakkan diri melainkan makan-minum sendirian di kamarnya. Katanya pada dayang yang melayaninya:

“Toaci pergi menghadiri perjamuan ksatria itu, sedangkan aku sendirian enak-enak makan-minum, masa kalah gembiranya dari pada dia?”

Kwe Ceng dan Oey Yong sendiri sedang memusatkan pikiran menghadapi musuh, mereka tidak sempat melihat kelakuan anak dara yang lagi ngambek itu, Kwe Ceng boleh dikatakan sama sekali tak tahu menahu. Oey Yong pernah juga menanyakan, tapi dia pun tahu adat puteri kecil itu memang aneh, maka dia hanya ganda tersenyum saja.

Dalam perjamuan besar itu kebanyakan para pahlawan adalah jago-jago minum. Sesudah banyak minum pengaruh alkhohol bekerja, lantas saja banyak yang lupa daratan, ada juga yang lantas memamerkan ilmu silat sebagai selingan. Betapa pun juga akhirnya Oey Yong terkenang kepada puteri kecilnya, maka katanya pada Kwe Hu:

“Coba kau pergi memanggil adikmu keluar untuk melihat keramaian ini. Perjamuan seperti ini, selama hidup orang belum tentu dapat menyaksikannya satu kali.”

“Ahh, aku justru tidak mau mengundangnya,” sahut Kwe Hu. “Adik lagi ngambek dan ingin mencari gara-gara padaku, bukankah aku cari penyakit bila pergi ke sana?”

“Biar aku saja yang menyeret Ji-ci kemari,” ujar Kwe Boh-lo.

Lalu ia pun bangkit dan menuju ke belakang, tapi tak lama Boh-lo telah kembali sendirian. Belum lagi ia buka suara, Kwe Hu sudah mendahului berkata:

“Bagaimana? Aku kan sudah bilang dia takkan datang. Sekarang betul tidak?”

Melihat wajah puteranya penuh rasa keheranan segera Oey Yong bertanya: “Apa yang dikatakan Ji-ci?”

“Sungguh aneh, ibu!” sahut Boh-lo.

“Sebab apa?” tanya sang ibu.

“Kata Ji-ci, di kamarnya sedang diadakan perjamuan kecil kaum ksatria, maka tidak akan menghadiri perjamuan besar ksatria ini!” demikian Boh-lo menerangkan.

Tapi Oey Yong hanya tersenyum, katanya: “Ji-cimu itu memang suka berpikir yang tidak-tidak, biarkan sajalah.”

“Ibu, tapi di kamar Ji-ci benar-benar ada tetamunya,” kata Kwe Boh-lo lagi. “Di antaranya lima laki-laki dan dua wanita, semuanya lagi minum arak bersama Ji-ci.”

Mendengar itu, mau tidak mau Oey Yong mengkerut kening. Dia pikir anak dara ini makin lama semakin berani saja. Masa kamar seorang perawan boleh dimasuki laki-laki untuk makan-minum sesukanya? Sungguh nama julukan Siau-tong-sia yang diberikan orang benar-benar tidak salah. Tapi hari ini semua orang sedang bergembira, tidak pantas untuk soal sekecil ini puteri itu harus didamperat hingga menghilangkan kegembiraan semua orang.

“Cobalah kau pergi mengundang teman-teman adikmu itu agar minum arak di ruangan besar ini, biar bergembira bersama,” demikian katanya kepada Kwe Hu. Nyata dia mengira Boh-lo tak pandai menghadapi tamu, maka sekarang dia menyuruh puteri sulung ini.

Kwe Hu sendiri memang heran dan ingin mengetahui kamar adiknya kedatangan tamu siapakah. Dia cukup kenal watak sang adik yang tak pedulikan adat perbedaan laki-laki perempuan segala macam dan suka bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Dia pikir teman yang lagi minum arak bersamanya itu tentu sebangsa orang-orang tak keruan. Kini mendengar perintah sang ibu segera dia bangkit menuju kamar Kwe Siang. Ketika hampir dekat kamar adiknya itu, terdengarlah suara anak dara itu sedang berseru:

“Hai, Gin-koh, suruhlah koki membawakan lagi dua guci arak!”

Pelayan yang disebut itu menyahut sekali, lalu terdengar Kwe Siang menambahkan: “Dan pesan pula kepada koki supaya lekas masak dua paha kambing serta memotong 20 kati daging rebus yang hangat.”

Maka pergilah pelayan menerima perintah itu. Kemudian terdengar suara seseorang seperti bunyi gembreng pecah berkata pula:

“Kwe-jikohnio (nona Kwe kedua) benar-benar bertangan terbuka, sayang aku Jin-tu-cu tidak kenal sejak dulu, kalau tahu, sudah lama aku berkawan dengan kau.”

“Berkawan sekarang juga belum terlambat,” sahut Kwe Siang tertawa.

Mendengar percakapan itu, Kwe Hu mengkerut kening. Waktu dia mengintip melalui sela-sela jendela, terlihatlah dalam kamar adiknya tergeletak sebuah meja pendek, delapan orang duduk di lantai, di atas meja sendok-piring simpang siur tidak teratur, perjamuan sedang berlangsung dengan meriahnya. Yang duduk menghadap kemari terlihat adalah seorang gemuk gede, simbar dada hingga bulu dadanya yang hitam lebat kelihatan. Di sebelah kirinya seorang sastrawan berjenggot cabang tiga, pakaiannya rajin bersih. Di sebelahnya lagi adalah seorang wanita setengah umur, cuma mukanya penuh codet bekas luka, sedikitnya berpuluh tempat.

Dan yang duduk di sebelahnya lagi adalah seorang thauto berambut memakai sebuah ikat rambut emas yang berkilau. Dia sedang menggerogoti sepotong ayam panggang dengan lahapnya: Sedangkan tiga orang lainnya duduk mungkur, maka muka mereka tidak jelas, agaknya yang dua adalah kakek rambutnya beruban dan seorang lagi adalah Nikoh (paderi wanita) berbaju hitam. Kwe Siang sendiri duduk di antara orang-orang itu, wajahnya yang cantik itu sudah mulai bersemu merah, tanda pengaruh alkohol, namun anak dara ini asyik omong tak pernah diam, nyata sekali hatinya sangat gembira.

Tidak lama kemudian koki mengantarkan masakan yang diminta tadi, maka semua orang makan sepuas-puasnya, malah yang minum dan makan paling banyak adalah si Nikoh berbaju hitam itu. Diam-diam Kwe Hu berpikir. Melihat betapa gembiranya mereka, seumpama diundang ke ruangan besar di depan sana mereka tak mau pergi. Dalam pada itu terlihat seorang kakek beruban di antaranya telah berdiri, lalu berkata:

“Perjamuan ini rasanya sudah mencukupi delapan bagian, jadi biarlah hari ini kita sampai di sini saja, kelak kalau hari ulang tahun nona, pasti kami akan makan minum lebih besar lagi. Kini orang tua ada sedikit hadiah. harap saja nona Kwe jangan mencela!” dikeluarkannya sebuah kotak terbungkus sutera lalu diletakkan di meja.

“Pek-cau-sian, hadiah apakah yang kau berikan, hayo perlihatkan.” Kakek yang lain berteriak. Sambil berkata dia pun ulurkan tangan membuka kotak itu sendiri, tapi segera dia berseru tertahan: “Aihh, ini adalah ‘Jian-lian-swat-som’ (Kolesom salju berumur ribuan tahun). Dari mana kau memperolehnya?” Lalu benda mestika itu pun dijemputnya dan di-amati.

Dari sela-sela jendela Kwe Hu melihat jelas kakek itu memegangi sebatang Jin-som seputih salju yang panjangnya kira-kira satu kaki, bentuknya menyerupai anak orok, kepala, tubuh dan anggota badan semuanya lengkap, bahkan kulitnya pun bersemu merah, sungguh semacam benda mestika yang sukar diperoleh. Saking kagumnya semua orang ber-keplok memuji.

Tampaknya kakek yang dipanggil Pek-cau-sian atau Dewa Seratus Rumput itu menjadi senang, katanya:

“Jian-lian-swat-som ini manjur untuk menyembuhkan penyakit yang paling berat dan untuk memunahkan segala racun, boleh dibilang khasiatnya dapat menghidupkan yang mati dan menyambung umur yang hidup. Meski nona hidup bahagia hingga berumur satu abad, memang tidak memerlukannya? Tunggu saja sampai hari ulang tahun seabad, ambil Jim-som ini dan meminumnya supaya nona panjang umur lagi seratus tahun, bukankah sangat bagus?”

Semua orang bertepuk tangan sambil tertawa, mereka memuji sang kakek yang pandai sekali mengucapkan kata-kata pujian. Dalam pada itu orang gemuk gede yang bernama Jin-tu-cu (si jagal orang) mengeluarkan sebuah kotak besi juga. Katanya dengan tertawa:

“Nah, aku menghadiahi nona semacam mainan, hanya untuk bikin tertawa nona saja, tapi tak bisa dibandingkan dengan benda mestika hadiah Pek Cau-sian-ong tadi.”

Dan ketika kotak besi itu dijeplakkan, tiba-tiba saja dari dalam kotak meloncat keluar dua Hwesio gemuk terbuat dari besi, panjangnya masing-masing kira-kira tujuh dim, lalu yang satu memukul dan yang lain menendang terus saling serang-menyerang. Betapa lucunya boneka besi itu sehingga semua orang tertawa geli. Ternyata gerak gerik pukulan-pukulan kedua boneka besi itu adalah ilmu pukulan ‘Siau-lim-lo-han-kun’ yang sangat terkenal. Tak lama kemudian, sesudah alat putaran (pegas) dalam boneka besi itu habis barulah mendadak kedua boneka itu berhenti dengan berdiri tegak, gayanya mirip jago silat kelas satu. Melihat ini semua orang tidak sanggup tertawa lagi, sebaliknya mereka berwajah kuatir.

“Jin-tu-cu,” tiba-tiba wanita yang bermuka codet itu berkata, “jangan karena kau menjaga mukamu tetapi malah mendatangkan penyakit bagi nona Kwe. ‘Thi-lo-han’ (orang-orangan besi) ini adalah milik Siau-lim-si, dari mana kau dapat mencurinya?”

“He-he...” sahut Jin-tu-cu tertawa, “sungguh pun aku Jin-tu-cu bernyali sebesar langit juga tak berani coba-coba gerayangi Siau-lim-si. Tapi ini justru adalah Bu-sik Siansu, paderi utama ruangan Lo-han-tong dari Siau-lim-si yang menyuruh aku membawanya kemari, ia bilang tepat pada hari ulang tahun nona pasti akan sampai di Siang-yang untuk memberi selamat. Nah, yang inilah baru benar-benar hadiahku sendiri yang tak berarti!” ia buka lapisan bawah kotak besi itu tampaklah sepasang gelang kemala hitam. Gelang hitam itu ber-kilat, bentuknya tidak menarik. Mendadak Jin-tu-cu melolos sebilah golok terus membacok gelang kemala itu.

“Trangg...!”

Terdengarlah suara nyaring dan golok itulah yang membal ke atas, sebaliknya gelang kemala tak kurang apa pun. Maka bersoraklah memuji semua orang. Menyusul si sastrawan, Nikoh, Thauto dan si wanita muka codet, semua memberikan kado kepada Kwe Siang, semuanya barang aneh dan mestika yang jarang dilihat. Tentu saja Kwe Siang kegirangan, dengan senyum simpul semua kado itu diterimanya.

Menyaksikan itu Kwe Hu semakin terperangah. Sekali putar tubuh, ia lari kembali ke ruangan depan dan menceritakan semua apa yang dilihatnya kepada sang ibu.

MENCARI PANGCU BARU

Mendengar itu kejut Oey Yong melebihi Kwe Hu. Segera ia mengajak Cu Cu-liu dan bertiga mereka masuk ke ruangan dalam. Lalu Oey Yong tuturkan apa yang dilihat Kwe Hu tadi kepada Cu-liu, murid tertua dari It-teng Taysu. Cu Cu-liu heran, katanya:

“Jin-tu-cu dan Pek-cau-sian? Mengapa mereka bisa datang ke Siang-yang? si Nikoh berbaju hitam itu mungkin sekali adalah Coat-hou-jiu Seng-in Suthay yang membunuh orang tak berkesip, sedang kipas lempit si sastrawan itu terlukis satu setan Bu-siang (setan gentayangan), ehm, apakah mungkin Coan-lun-ong Thio It-bin?”

Sembari berkata Oey Yong berulang-ulang mengangguk, sebaliknya Cu-liu sendiri geleng-geleng kepala, katanya:

“Tapi hal ini teranglah tidak mungkin. Berapakah usia nona Kwe? Kecuali akhir-akhir ini pernah keluar sekali, selain itu belum pernah kakinya menginjak tempat lebih jauh 10 li di luar Siang-yang, mana bisa dia mengenal orang-orang kosen dari segala pelosok? Pula, Bu-sik Siansu dari Siau-lim-si itu telah berpuluh tahun tak pernah turun gunung, orang lain sengaja mohon bertemu saja ditolaknya, mana mungkin sekarang dia malah datang ke Siang-yang hanya untuk memberi selamat ulang tahun kepada seorang nona? Menurut pendapatku, tentu nona cilik ini sengaja bersekongkol dengan kawannya dan membesarkan segalanya untuk menggoda enci-nya.”

“Tapi nama-nama seperti Seng-in Suthay, Thio It-bin dan lain-lain jarang kita sebut-sebut, dari mana Siang-ji bisa kenal mereka? Kalau hendak main-main juga tidak selengkap itu,” ujar Oey Yong termangu-mangu.

“Mari kita coba menemui mereka menurut aturan. Kalau mereka adalah teman-teman Kwe-jikohnio, kedatangan mereka ke Siang-yang ini pasti tiada maksud jahat,” kata Cu-liu kemudian.

“Aku pun berpikir begitu,” sahut Oey Yong. “Cuma Seng-in Suthay, Coan-lun-ong Thio It-bin dan lain-lain biasanya lurus serong tak tertentu, walau pun kita tak jeri, tapi kalau terlibat permusuhan, rasanya cukup akan bikin kepala pusing. Kini pasukan musuh sudah dekat di depan mata, betapa pun tidak boleh lagi memencarkan perhatian untuk melayani manusia-manusia aneh ini...”

Sampai di sini mendadak terdengar suara seseorang bergelak ketawa di luar jendela dan berkata.

“Kwe-hujin, kami datang ke Siang-yang ini hanya untuk memberi selamat ulang tahun dan tiada maksud jahat lain, kenapa harus menjadi pusing kepala?”

Ketika mengucapkan ‘tiada maksud jahat, kenapa harus pusing kepala’, ternyata suara itu sudah menjauh. Cepat Oey Yong, Cu Cu-liu dan Kwe Hu memburu ke pinggir jendeia. Tampaklah satu bayangan berkelebat di atas pagar sana, gerak tubuh itu cepat luar biasa, sekejap saja sudah menghilang. Sedianya Kwe Hu hendak mengejar, tetapi Oey Yong cepat menariknya.

“Jangan sembrono, tak mungkin kau bisa menyandaknya!”

Ketika dia mendongak, tiba-tiba terlihat di atas dahan pohon di luar itu tertancap sebuah kipas putih yang terpentang. Kipas itu tingginya empat tombak lebih, Kwe Hu menduga dirinya tak akan mampu sekali loncat meraihnya, maka serunya:

“Ibu!”

Oey Yong mengangguk, dengan enteng saja ia meloncat, tangan kirinya menahan perlahan pada dahan terus mencelat naik lagi ke atas sehingga kipas itu pun dapat dicabut dan dibawanya turun. Ketika mereka memeriksa kipas itu di bawah cahaya lampu di dalam rumah, terlihatlah di salah satu sisi kipas terlukis setan Bu-siang putih yang lidahnya melelet panjang dengan muka berseri-seri, kedua tangannya terangkap mengunjuk hormat, di sampingnya tertulis 14 huruf besar yang berbunyi:

‘Selamat hari ulang tahun nona Kwe kedua, semoga hidup seabad dan berumur panjang’.

Waktu Oey Yong membalik kipas itu, di sebelahnya juga tertulis kata-kata. ‘Hek-ih-ni Seng-in, Pek-cau-sian, Jin-tu-cu Kiu-su-sing, Kau-bak Thauto, Han Bu-hou dan Thio It-bin, menyampaikan salam hormat kepada Kwe-thayhiap serta Kwe-hujin, selamat hari ulang tahun puteri kesayangan kalian, kedatangan kami yang lancang ini tak berani lagi tinggal lebih lama, haraplah maaf, maaf’.

Beberapa baris tulisan itu belum kering tintanya, tulisannya kuat dan bergaya. Cu Cu-liu adalah ahli seni-tulis, maka segera ia memuji:

“Tulisan bagus, tulisan bagus!”

“Nah, teranglah sekarang, mari kita pergi melihat Siang-ji,” kata Oey Yong kemudian.

Waktu mereka sampai di kamar anak dara itu, pelayan sedang membersihkan sisa-sisa daharan dan mangkok piring kotor.

“Ibu, Cu-pepek, Cici, lihatlah ini kado yang kuterima dari tetamu,” demikian kata Kwe Siang segera.

Menyaksikan benda-benda seperti Jin-lian-swat-som, Tiat-lo-han kembar, gelang kemala hitam serta kado lain hadiah Coat-hou-jiu Seng-in Suthay dan Coan-lun-ong Thio It-bin dan kawan-kawan, tentu saja Oey Yong dan Cu-liu merasa heran sekali. Ketika Kwe Siang menjeplak alat penggerak sehingga sepasang boneka besi itu bersilat saling pukul, tampaklah anak dara itu amat girangnya. Oey Yong menunggu kedua boneka itu selesai memainkan ‘Lo-han-kun’ dari Siau-lim-si, lalu tanyanya:

“Siang-ji, sebenarnya apa yang terjadi, ceritakanlah pada ibu.”

“Ahh, biasa saja. Beberapa kawan baru mengetahui aku She-jit (hari ulang tahun), maka mereka memberikan kado padaku,” sahut Kwe Siang tertawa.

“Dari mana kau kenal orang-orang ini?” tanya sang ibu.

“Baru hari ini kukenal,” sahut Kwe Siang. “Tadi pada waktu aku seorang diri sedang minum arak dalam kamar, tiba-tiba terdengar Han-cici, itu enci yang bernama Han Bu-hou, menyapa di luar jendela, katanya: ‘Adik cilik, jika kami be-ramai mengiringi kau minum, mau tidak?’ Aku menyahut: ‘Baik sekali! Marilah masuk, marilah masuk!’ Dan mereka pun melompat masuk, malahan mereka menyatakan pada tanggal 24, tepat pada hari ulang tahunku nanti, mereka akan datang lagi memberi selamat. Ya, entah dari mana mereka tahu saat hari ulang tahunku. Ibu, apakah mereka kenalanmu dan ayah? Bila tidak, kenapa mereka memberi kado begini banyak padaku?”

“Ayahmu dan aku tidak kenal mereka,” sahut Oey Yong. “Tentunya mereka datang atas undangan seorang sobatmu yang aneh, bukan?”

“Aku tidak punya sobat yang aneh, kecuali Cihu,” sahut Kwe Siang tertawa.

“Ngaco, Cihu-mu kenapa kau katakan aneh?” semprot Kwe Hu.

Kwe Siang me-Ielet lidah, sahutnya tertawa. “Setelah menikahi kau, tidak aneh pun Cihu berubah aneh.”

Segera Kwe Hu mengangkat tangannya hendak memukul, tapi sambil terkikik Kwe Siang bersembunyi di belakang sang ibu.

“Sudahlah, jangan bergurau Iagi,” ujar Oey Yong,

“Siang-ji, jawablah, tadi Coan-lun-ong dan Pek-cau-sian me-nyebut tentang Eng-hiong-tay-hwe yang akan kita adakan itu tidak?”

“Tidak,” sahut Kwe Siang. “Hanya kedua kakek yang bernama Pek-cau-sian dan Kiu-su-sing itu bilang sangat mengagumi ayah.”

Sesudah Oey Yong bertanya lagi dan melihat Kwe Siang benar-benar tidak membohongi apa-apa, lalu katanya:

“Baiklah, lekas tidur!” Bersama Cu Cu-liu dan Kwe Hu mereka pun keluar dari kamar anak dara itu.

“Ibu,” tiba-tiba Kwe Siang menyusul keluar kamar. “lni Jian-lian-swat-som agaknya sangat berfaedah, harap ibu memakannya separoh dan ayah separoh.”

“Bukankah itu kado Pek-cau-sian untuk ulang tahunmu?” sahut Oey Yong.

“Aku sudah dilahirkan dan juga sudah besar, tapi tiada sedikit jasa pun. Ibulah yang selama ini benar-benar terlalu capek,” ujar Kwe Siang.

Oey Yong pikir janganlah mengecewakan maksud baik puteri kecil ini, maka Jin-som itu diterimanya. Bila mana terkenang olehnya pada hari Kwe Siang dilahirkan lantas banyak mengalami hal-hal yang berbahaya, tanpa terasa dia pun menghela napas.

Ketika Kwe Ceng kembali ke kamar dan bercerita kepada sang isteri tentang semangat para ksatria yang bersatu padu dan siap berjuang dengan sepenuh tenaga untuk melawan musuh, tampaknya ia menjadi luar biasa girangnya. Oey Yong menceritakan juga tentang kehadiran Seng-in Suthay serta Pek-cau-sian dan lain-lain dalam perjamuan Kwe Siang. Seketika Kwe Ceng melengak.

“Bisa terjadi hal begitu?” demikian ia menegas.

Ketika dia periksa Jian-lian-swat-som itu, ternyata memang sebuah benda mustika yang sukar diperoleh.

“Ha, nona cilik kita agaknya memiliki pengaruh yang jauh melebihi orang tuanya,” ujar Oey Yong tertawa.

Akan tetapi Kwe Ceng tak bersuara, dia menunduk memikirkan tindak-tanduk orang-orang sebangsa Seng-in Suthay, Coan-lun-ong dan Han Bu-hou itu.

“Ceng-koko,” kata Oey Yong lagi, “apakah urusan pemilihan Pangcu lebih baik dimajukan beberapa hari? Bila tidak, sampai hari ulang tahun Siang-ji lalu Bu-sik Siansu dan kawan-kawannya benar-benar datang, maka rasanya terlalu banyak campur aduk orang-orang luar sehingga mungkin akan terjadi hal-hal di luar dugaan.”

“Tapi aku malah ada suatu pikiran,” ujar Kwe Ceng, “Kita justru tunggu sampai tanggal 24 baru mulai memilih pangcu supaya suasana bertambah semarak. Apa bila Bu-sik Siansu dan Liong-ah Thauto benar-benar hadir, kita lantas minta mereka agar suka bersatu padu melawan musuh penjajah, bukankah demikian ini menjadi lebih baik?”

“Tetapi aku kuatir kalau-kalau mereka hanya pura-pura datang memberi selamat saja, tapi tujuannya hendak mengacau,” sahut sang isteri, “Coba kau pikir, ada hubungan apakah antara mereka dengan Siang-ji yang masih kecil? Masa mereka datang hanya untuk memberi selamat She-jit? Sejak dahulu kala yang lurus dan yang serong tidak pernah berdiri sejajar, mungkin masih ada sebagian besar ahli silat di dunia ini yang tidak suka engkau diangkat menjadi Bu-lim Bengcu (ketua himpunan persilatan).”

Mendadak Kwe Ceng berdiri dan terbahak-bahak. “Yong-ji,” katanya. “Asal perbuatan kita tidak merugikan negara dan bangsa, tentang Bu-lim Bengcu ini siapa pun yang menjabat bagiku sama saja. Apa lagi yang serong tidak akan menangkan yang lurus, jika mereka benar-benar bermaksud jahat, biar kita melayani mereka. Kau punya ‘Pak-kau-pang-hoat’ (ilmu permainan pentung penggebuk anjing) dan aku punya “Hang-liong-sip-pat-ciang” (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) sudah ada belasan tahun tidak pernah dipertunjukkan dan agaknya tidaklah perlu jeri pada orang.”

Melihat semangat sang suami masih menyala-nyala tidak kurang dari pada masa dahulu, maka Oey Yong lalu berkata dengan tertawa:

“Baiklah aku menurut saja pada keputusan pimpinan. Sekarang minumlah Jin-som salju dari Siang-ji ini, agaknya khasiatnya cukup membandingi latihan selama lima-enam tahun.”

“Ahh, tidak,” sahut Kwe Ceng. “Engkau telah melahirkan tiga anak, kekuatanmu banyak berkurang, kaulah yang perlu tambah jamu kuat.”

Nyata cinta kasih antara suami isteri itu benar-benar kekal abadi. Sesudah tolak menolak akhirnya Kwe Ceng berkata:

“Sudanlah, biar Jin-som ini kita simpan saja. Beberapa hari lagi dalam pertarungan ksatria tentu ada kawan kita yang terluka, sebaiknya benda ini kita simpan untuk menolong jiwa mereka.”

Besok paginya perjamuan besar kaum ksatria itu masih terus dilangsungkan dan di kamar Kwe Siang perjamuan kecil kaum ksatria juga tetap diadakan. Sudah sejak siang-siang Oey Yong pesan koki agar memasak sebaik-baiknya untuk tetamu puteri kecilnya itu. Kwe Hu sendiri sedang mencurahkan seluruh perhatiannya untuk persiapan kemungkinan sang suami, Yalu Ce yang bakal ikut merebut kedudukan Pangcu Kay-pang. Maka terhadap urusan tamu-tamu aneh sang adik sama sekali tak dihiraukannya.

Keadaan demikian telah berlangsung beberapa hari. Dalam pertemuan para ksatria itu telah selesai dirundingkan dan ditetapkan siasat bagaimana cara menggalang seluruh kekuatan kaum patriot dan cara mengacaukan bala bantuan Mongol serta pertahanan di dalam kota. Para pahlawan menggosok-gosok kepalan penuh semangat menunggu datangnya musuh untuk bertempur.

Akhirnya tibalah tanggal 24. Kini pertemuan besar telah selesai, acara selanjutnya adalah pemilihan pangcu atau ketua Kay-pang, persatuan kaum jembel. Sehabis makan siang, beramai-ramai para ksatria menuju alun-alun di selatan kota. Di tengah alun-alun itu terlihat sudah dipasang panggung tinggi yang megah, di atas panggung itu kosong bersih tanpa sebuah bangku pun. Hal ini memang sudah menjadi peraturan Kay-pang turun temurun. Tak peduli pertemuan besar atau rapat kecil, selamanya mereka selalu duduk di atas tanah sebagai tanda tidak meninggalkan adat asli kaum jembel atau pengemis. Hanya pada sebelah timur panggung teratur beberapa ratus kursi, semuanya hanya disediakan untuk para tamu undangan yang tidak termasuk anggota Kay-pang.

Belum lagi lohor, di sekitar panggung sudah berjubel lebih dua ribu anggota Kay-pang, semuanya adalah anggota lama dan tergolong tokoh, paling rendah tingkatannya adalah anak murid berkantong empat. Kedua ribu anggota Kay-pang itu tadinya berada di bawah pimpinan empat orang Tianglo atau tertua, yakni yang mula-mula terdiri dari Loh-tianglo, yaitu Loh Yu-ka, lalu Kan-tianglo, Kho-tianglo dan Peng-tianglo. Kemudian Loh-tianglo naik pangkat menjadi Pangcu, namun sekarang sudah mati karena dibokong musuh. Peng-tianglo telah berkhianat lalu terbunuh oleh Cu-in, Kan-tianglo mati tua sehingga kini tinggal seorang Nio-tianglo saja yang merupakan satu-satunya tertua, sementara lowongan ketiga Tianglo yang lain itu telah diisi oleh murid berkantong delapan yang pangkatnya dinaikkan.

DemikianIah anggota Kay-pang itu semua duduk di tanah mengitari panggung menurut daerah masing-masing, sedangkan beribu ksatria duduk di kursi tempat peninjau. Yalu Ce suami-isteri, Bu Tun-si dan Yalu Yen, Bu Siu-bun dan Wanyen Peng, karena termasuk angkatan muda, mereka duduk di barisan kursi yang paling belakang. Sesudah berlatih giat selama belasan tahun ini, mereka merasa sudah mendapat banyak kemajuan, maka diam-diam sama memikirkan cara bagaimana nanti akan unjuk kepandaian di hadapan orang banyak.

Saat itu Kwe Boh-lo duduk di samping sang Cici, Kwe Hu. Pemuda ini menjadi girang melihat suasana yang begitu ramai, katanya:

“Ji-ci benar-benar aneh, suasana seramai ini tak mau menonton.”

“Ahh, hati si kecil aneh itu memang sukar menerkanya,” sahut Kwe Hu menjengek.

Dalam pada itu terlihatlah di sebelah timur sana seorang anak murid Kay-pang berkantong delapan berdiri dan menempelkan sebuah kulit keong besar ke mulutnya kemudian ditiupnya sehingga mengeluarkan suara “hauk-hauk”. Kiranya sudah tiba waktunya antara pukul satu lewat Iohor. Segera Oey Yong melompat ke atas panggung. Dia memberi hormat kepada hadirin, lalu dengan suara lantang berkata:

“Pada hari ini perkumpulan kami mengadakan rapat besar. Berkat para pahlawan dan ksatria angkatan tua sudi mengunjungi, juga banyak kawan dari angkatan muda yang sudi hadir sebagai peninjau, sungguh segenap anggota perkumpulan kami merasa bangga dan berterima kasih.” dia memberi hormat lagi sehingga para ksatria di bawah panggung semua berdiri membalas hormatnya.

“Mendiang Loh-pangcu kami,” demikian Oey Yong melanjutkan kata pembukaannya, “selama hidupnya selalu berbudi dan berjuang demi kepentingan rakyat dan negara secara tak kenal lelah. Sayang dicelakai bangsat Hotu di kelenteng Yo-tayhu di bukit Hian-san. Kalau dendam ini tidak terbalas, sungguh merupakan suatu noda yang memalukan bagi perkumpulan kita...”

Sampai di sini para anggota Kay-pang yang ingat pada kejujuran dan kebaikan budi Loh Yu-ka banyak yang terguguk-guguk menangis dan ada pula yang mengertak gigi mengumpat si bangsat Hotu.

“Tetapi pasukan Mongol yang mengarah ke kota Siang-yang dalam waktu singkat akan datang.” Demikian Oey Yong melanjutkan. “Maka persoalan pribadi jangan dipikir, urusan perkumpulan untuk sementara ditangguhkan, kelak dibicarakan lagi setelah musuh mundur.”

Seketika bersoraklah para hadirin memuji kebijaksanaan Oey Yong yang mengutamakan kepentingan umum dari pada urusan pribadi.

“Cuma saja anggota perkumpulan kami yang beratus ribu banyaknya tersebar luas di segenap pelosok...” demikian Oey Yong menyambung. “ibarat naga tanpa kepala, maka perlu diangkat seorang pangcu baru. Dan pada kesempatan inilah kita memilih yang memenuhi syarat, seorang patriot komplit sebagai Pangcu perkumpulan kita. Ada pun caranya memilih silakan Nio-tianglo untuk menerangkannya.”

Segera Nio-tianglo melompat ke atas panggung. Meski Nio-tianglo sudah tua, rambutnya beruban, tapi dadanya membusung, semangatnya menyala-nyala, gaya lompatnya juga gesit dan cekatan, suatu tanda betapa tinggi ilmu silatnya. Maka semua orang bersorak memuji. Menunggu setelah suara sorak sorai itu mereda barulah kemudian Nio-tianglo buka suara keras-keras:

“Kepintaran Oey-pangcu tiada bandingannya, semua yang dia katakan barusan pasti tidak salah. Tapi beliau sendiri merasa sungkan sehingga kami yang terdiri dari empat Tianglo serta delapan murid berkantong delapan disuruh berunding untuk memutuskan. Sesudah kami berunding selama setengah harian, akhirnya sekarang dapat juga dikemukakan suatu usuI.”

Suasana di bawah panggung menjadi sunyi senyap, semua orang ingin mendengarkan apa yang akan diumumkan tertua Kay-pang itu.

“Menurut pendapat kami yang bodoh,” demikian Ni-tianglo melanjutkan, “anak-anak murid Kay-pang tersebar di seluruh jagat, sungguh pun bukan orang pandai dan tiada berguna, tapi jumlahnya tidak sedikit, jika hendak memimpin sejumlah orang ini, tepat seperti apa yang dikatakan Oey-pangcu tadi bahwa harus dipilih seorang ‘patriot-komplit’. Yang hadir disini adalah orang gagah dan terkenal di Kangouw, siapa yang sudi menjadi pemimpin perkumpulan kami pasti akan kami sambut dengan gembira. Cuma para ksatria terlalu banyak, untuk memilih juga susah, karena itulah kami 12 orang menentukan suatu cara yang bodoh, yakni silakan para ksatria unjuk kepandaian di atas panggung, siapa lebih kuat dan mana yang lemah biar kita saksikan bersama.

Cuma harus dijelaskan lebih dulu bahwa pertandingan nanti hendaklah berakhir asal salah satu pihak sudah tertotok saja, sebab kalau sampai ada orang terluka atau jiwa melayang sungguh perkumpulan kami yang akan berdosa dan bikin perasaan tak enak. Oleh sebab itulah, bila di antara saudara ada yang dendam, tak boleh diselesaikan di atas panggung ini. Kalau ketentuan ini tidak diturut, berarti sengaja hendak mengacau perkumpulan kami, tatkala itu hendaklah jangan menyalahkan kami jika terpaksa diambil tindakan.”

Ketika berkata sampai yang terakhir ini, sinar mata Nio-tianglo menyorot tajam ke sekitar hadirin sekalian. Nio-tianglo maklum bahwa dalam keadaan bertanding dan saling unjuk kemahiran masing-masing tentu tak mau saling mengalah hingga bakal ada yang terluka atau mati. Namun kini saatnya sedang genting menghadapi musuh dari luar, bukankah jadi berbalik apa bila terjadi saling bunuh dulu di antara bangsa sendiri? Sebab itulah Nio-tianglo memperingatkan sungguh-sungguh dengan maksud agar orang jangan ambil kesempatan itu untuk dendam pribadi. Bila terjadi, tentu beramai-ramai akan mengeroyok.

Mendengar uraian Nio-tianglo, keadaan di bawah panggung menjadi sunyi. Umumnya jago tua tentu sudah lama punya kedudukan ketua atau pemimpin aliran masing-masing dan tak mungkin tampil ke muka untuk berebut jabatan Pangcu dari Kay-pang, hanya orang-orang muda berusia di bawah umur 40 yang berdebar-debar ingin sekali coba-coba mengadu tenaga di atas panggung. Namun mengingat harus bertanding di hadapan beribu orang dan harus menundukkan anggota Kay-pang yang beribu banyaknya, bukanlah suatu hal yang mudah. Sebab itu sehabis Nio-tianglo bicara tiada seorang pun tampak melompat ke atas panggung.

“Kecuali beberapa tokoh Locianpwe, ksatria dan orang kosen di seluruh jagat semuanya berada di sini, asal ada yang berminat terhadap perkumpulan kami, boleh silakan naik panggung,” demikian Nio-tianglo berseru lagi dengan suara lantang. “Dan di antara enam murid perkumpulan kita sendiri bila ada yang merasa yakin kepandaiannya tahan diuji, beleh juga naik panggung, sekali pun seorang murid berkantong empat, boleh jadi selama ini dia sengaja menyembunyikan diri sehingga tiada yang mengetahui kegagahannya.”

Setelah Nio-tianglo mengulangi beberapa kali undangan, kemudian barulah terdengar suara bentakan yang keras bagai guntur.

“Akulah yang datang!” cepat sekali seseorang melompat ke atas panggung.

Setelah melihat jelas orang itu, para hadirin terkejut. Orang ini bertubuh kekar tegap luar biasa, berat badannya sedikitnya ada 300 kati. Saking beratnya ketika naik ke atas panggung, papan panggung yang dipasang sangat kuat itu pun tergetar. Orang itu berjalan ke depan panggung. Tanpa pakai menghormat segala, sebaliknya dua tangannya bertolak pinggang dia langsung berkata:

“Aku Tong Tay-hai, berjuluk Jian-kio-tong (wajan seribu kati), jabatan pangcu aku tidak kepingin, tapi siapa yang ingin bergebrak denganku boleh silakan naik.”

Mendengar itu, semua orang menjadi senang. Dari lagak-lagunya teranglah seorang tolol atau dogol.

“Tong-toako,” Nio-tianglo menyapa, “Panggung yang kita buka hari ini bukanlah panggung Lui-tay (panggung bertanding silat). Jika sekiranya Tong-toako tidak suka menjadi pangcu perkumpulan kami, harap turun.”

“Tidak! Sudah terang ini adalah Lui-tay, kenapa bilang bukan?” sahut Tong Tay-hai sambil menggeleng kepala, “Jika kau melarang berkelahi mengapa kau tadi ber-kaok menyuruh orang naik panggung?”

Selagi Nio-tianglo hendak menjelaskannya, tiba-tiba Tong Tay-hai berkata lagi: “Baiklah, jika kau yang hendak berkelahi dengan aku juga boleh.”

Habis ini kepalannya segera menjotos ke muka Nio-tianglo. Lekas Nio-tiangto melompat mundur menghindarkan serangan itu. Dengan tertawa katanya:

“Ahh, beberapa tulangku yang tua ini mana sanggup menahan sekali hantaman Tong-toako?”

“Memang aku sudah menduga kau tidak berguna, maka lebih baik lekas menyingkir,” ujar Tong Tay-hai tertawa.

Namun belum habis suaranya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat ke atas panggung dan tahu-tahu sudah berdiri seorang pengemis yang berbaju compang-camping. Pengemis ini berusia 30-an, di belakang punggungnya menggemblok enam buah kantong kain, ialah cucu murid Nio-tianglo. Biasanya si jembel ini sangat menghormat pada kakek-gurunya, melihat Jian-kin-teng Tong Tay-hai berani kurang ajar, tak tahan lagi rasa marahnya dan segera melompat ke atas panggung. Ia berkata dengan dingin:

“Kakek-guruku tak sudi bergebrak dengan seorang angkatan muda, Tong-toako, lebih baik aku menjajal kau tiga kali jotosan saja!”

“Bagus!” sambut Tong Tay-hai. Dan tanpa bertanya nama orang lagi, kepalannya sebesar mangkok itu menghantam ke dada sambil membentak: “Awas, pukulan!”

Tak terduga mendadak pengemis itu memutar tubuh kemudian melangkah satu tindak ke depan, pukulan Tong Tay-hai tepat mengenai kantong kain yang berada di punggungnya sehingga mengeluarkan suara.

“Blukk!”

Ketika pukulannya mengenai isi kantong hingga rasa kepalannya mengenai barang licin dan lunak, Tong Tay-hai menjadi heran.

“Barang apakah yang kau simpan di dalam kantongmu itu?” membentaknya.

“Biasanya kaum pengemis suka menangkap apa?” sahut si jembel itu dingin.

Seketika Tong Tay-hai terkejut dan berseru: “Hah! Ular...! Ular...!”

“Ya, memang benar ular!” sahut pengemis itu.

Membayangkan kepalannya tadi mengenai kantong berisi ular, tanpa terasa Tong Tay-hai menjadi ngeri, maka waktu pukulan kedua dilontarkan mengarah muka orang. Siapa tahu pengemis itu melompat ke atas dan memutar tubuh sedikit, turunnya ke bawah kembali ia sodorkan punggung ke depan orang. Karena kuatir kepalannya kena digigit ular yang berada dalam kantong lawan atau tangannya mengenai taring ular yang berbisa, Tong Tay-hai cepat menarik kembali pukulannya. Kini ia berganti tipu dan mendadak menendang ke selangkangan lawan.

Melihat orang jeri, si jembel itu diam-diam merasa geli. Sengaja ia menjatuhkan diri sambil sedikit membalik sehingga kembali kantongnya yang disodorkan pada kaki orang. Keruan Tong Tay-hai ketakutan, dia berseru kaget sambil berjingkrak. Padahal ular yang berada dalam kantong itu sangat jinak, taringnya sudah dicabut. Dan pada saat itulah mendadak pengemis itu melompat maju dan secepat kilat dada Tong Tay-hai dicengkeram kemudian diangkat tinggi-tinggi ke atas sambil berteriak:

“Nah, ini namanya Coh-pa-ong (nama seorang raja yang kuat) mengangkat Jian-kie-teng!”

Dalam keadaan gugup ‘ci-kiong-hiat’ di dada Tong Tay-hai kena dicengkeram, maka seketika tubuhnya menjadi lemas tidak dapat berkutik, sungguh pun rasa marahnya tidak kepalang, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Tong Tay-hai berjuluk Jian-kin-teng (wajan seribu kati), tapi ‘wajan’ itu kini diangkat tinggi, maka seketika pecahlah gelak-tawa penonton.

“Lekas lepaskan, jangan kurang sopan!” cepat Nio-tianglo membentak cucu-muridnya.

Cepat si jembel meletakkan Tong Tay-hai ke atas panggung, lalu melompat turun ke bawah dan menghilang di antara orang banyak. Dasar Tong Tay-hai ini memang dogoI, dengan muka merah padam ia lalu menuding ke bawah panggung sambil mencaci-maki:

“Pengemis bangsat, jika berani hayolah maju lagi! Main sembunyi-sembunyi, termasuk orang gagah macam apa? Hayolah maju, pengemis busuk! Pengemis sialan!”

Terus menerus ia memaki pengemis, padahal di bawah panggung beribu-ribu anggota Kay-pang, tapi karena merasa lucu, tiada orang menggubrisnya. Pada saat itulah tiba-tiba bayangan melayang ke atas panggung dengan enteng sekali. Ketika kaki kirinya mendarat di tepi panggung, tiba-tiba tubuh orang itu terhuyung-huyung seakan-akan merosot jatuh. Sungguh pun orangnya dogol tetapi hati Tong Tay-hai ternyata baik. Dia segera berseru:

”Eh, hati-hati...!”

Dia berlari maju hendak menarik orang, tapi ternyata melesetlah dugaannya. Ia tidak tahu bahwa orang itu sengaja hendak memamerkan ilmu silatnya yang tinggi di hadapan orang banyak. Ketika tangan Tong Tay-hay memegang lengan kiri orang itu, mendadak orang itu membalikkan tangan terus diayun dengan gerakan Kim-na-jiu-hoat (ilmu mencekal dan menawan) hingga tanpa kuasa lagi tubuh Tong Tay-hai yang segede kerbau itu melayang keluar panggung lalu jatuh terbanting di tanah.

Pada waktu semua orang mengamati orang itu, ternyata pakaiannya rajin bersih, alisnya panjang dan matanya jeli. Kiranya dia adalah murid Kwe Ceng, Bu Siu-bun adanya. Menyaksikan muridnya mengunjukkan tipu gerakan yang meski pun gayanya amat indah, tetapi terlalu sombong, sekali-kali bukan perbuatan seorang jujur, maka dalam hati Kwe Ceng menjadi kurang senang. Betul saja, di bawah panggung segera banyak suara gerondelan orang yang tidak setuju, berbareng dari kanan-kiri bergema tiga suara orang:

“Kepandaian bagus! Mari kita belajar kenal beberapa jurus!”

“Macam apakah cara itu?”

“Orang bermaksud baik menarik kau tapi kau malah membantingnya, benar-benar kurang pantas!”

Dan berbareng tiga orang melompat ke atas panggung. Ilmu silat Bu Siu-bun adalah ajaran Kwe Ceng dan Oey Yong, lagi pula dia memiliki dasar kepandaian, yaitu mendapat pelajaran dari sang ayah, Bu Samthong serta ‘It-yangci’ yang diperolehnya dari sang Susiok, Cu Cu-liu, sekarang kepandaiannya dalam angkatan muda boleh dikatakan kelas terkemuka. Melihat tiga lawan datang sekaligus, diam-diam ia girang, pikirnya: “Ha, kebetulan aku kalahkan tiga orang ini barulah dapat menunjukkan betapa lihay ilmu silatku.”

Kuatir kalau ketiga orang itu akan menempurnya bergiliran, maka tanpa berkata lagi segera dia mendahului bergerak, dalam sekejap saja dia telah melontarkan serangan masing-masing satu kali ke arah tiga lawan itu.

IBU ANAK SAMA GELISAH

Kuatir kalau ketiga orang itu menempurnya bergiliran, maka tanpa berkata lagi dia mendahului bergerak, dalam sekejap saja dia telah melontarkan serangan masing-masing satu kali ke arah tiga lawan itu. Ketiganya belum lagi berdiri tegap di atas panggung, dating-datang lantas diserang, dalam gugupnya lekas-lekas mereka menangkis, namun kerepotan juga.

Bu Siu-bun tidak menunggu lawan mendapat kesempatan berpikir, cepat kedua tangannya susul-menyusul menyerang hingga satu mengurung tiga di tengah-tengah. Dia sendiri berada di lingkaran luar mengitar kian kemari secepat terbang, sebaliknya tiga orang yang tergencet di tengah menjadi saling desak sehingga gerak-gerik mereka kurang leluasa. Menyaksikan itu, para pahlawan di bawah panggung terkejut, semuanya berpikir: “Nyata nama Kwe-tayhiap yang menggetarkan kolong langit ini memang bukanlah omong kosong belaka, muridnya saja sudah sedemikian lihay.”

Tiga orang yang terkurung di tengah ini saling tidak kenal satu sama lain, lebih-lebih tidak paham aliran mana ilmu silat masing-masing. Kini kena dikurung Siu-bun, mereka susah bergerak dan tidak dapat saling membantu, sebaliknya malah terasa saling merintangi. Berapa kali ketiga orang itu hendak menerjang keluar, selalu tertahan oleh pukulan-pukulan Siu-bun yang bertubi bagai hujan. Melihat sang suami sudah berada di atas angin, hati Wanyen Peng amat girang, sebaliknya Kwe Hu berkata:

“Ahh, tiga orang goblok ini bukan tandingan engkoh Bu. Buat apa dia pamer kegagahan membuang tenaga saja. Kalau ada jago kuat naik panggung, bukankah akan susah menandinginya?”

Wanyen Peng berperangai halus, ia hanya tersenyum tanpa menjawab. Tetapi sebaliknya Yalu Yen seorang berhati lugu dan tidak pantang omong, biar pun Kwe Hu enso (isteri kakaknya) tapi kedua orang sering adu mulut. Kini mendengar kata-kata sang enso, dia menduga maksud hati orang, maka katanya:

“Kalau adik ipar sudah membereskan sebagaian lawan dan nanti Tun-si juga maju membereskan sebagian lawan Iagi, paling akhir barulah Koko sendiri naik panggung mengalahkan semua pahlawan, maka kau akan menjadi nyonya Pangcu secara aman. Bukankah lebih baik begitu?”

Wajah Kwe Hu menjadi merah, jawabnya: “Ahh, begini banyak orang gagah yang hadir di sini. Siapa yang tidak ingin menjadi Pangcu? Mana bisa dikatakan ‘aman’ segala?”

“Ya, sebenarnya Koko-ku juga tak perlu naik panggung,” kata Yalu Yen lagi.

“Maksudmu?” tanya Kwe Hu heran.

“Bukankah tadi Nio-tianglo bercerita bahwa dulu dalam usia belasan tahun Subo (ibu guru) sudah menjadi Pangcu dengan mengandalkan sebatang pentung bambu. Kata pribahasa, ada sang ibu pasti ada sang puteri, Maka menurutku, Enso, paling baik kalau kau yang naik panggung dari pada Koko-ku.”

“Bagus, kau sengaja meng-olok diriku, ya?” omel Kwe Hu sembari mengulurkan tangan hendak mengitik-itik ketiak orang.

Tetapi cepat Yalu Yen ngumpet di belakang Yalu Ce sambil berseru tertawa: “Tolong Pangcu, nyonya Pangcu akan membunuh orang!”

Begitulah, meski pun waktu itu usia Kwe Hu dan Bu-si-hengte sudah lebih tiga puluh, tapi sejak kecil sudah biasa bergurau, sungguh pun Yalu Yen dan Wanyen Peng juga sudah punya putra-putri, namun bila bertemu masih suka berkelakar seperti waktu muda.

Tatkala itu Oey Yong duduk di samping Kwe Ceng sambil kadang-kadang memandang jauh ke sekelilingnya, ia ingin mengamat-amati kalau-kalau ada orang asing menyelundup masuk. Di sekitar alun-alun itu sudah diatur penjagaan oleh anak murid Kay-pang agar bila ada sesuatu yang mencurigakan segera melapor. Betapa pun juga ia kuatir kalau-kalau Seng-in Suthay, Han Bu-hou, Thio It-bin dan lainnya datang mengacau. Namun tampaknya kini sudah mendekati sore, keadaan masih tenang-tenang saja seperti biasa, diam-diam ia pikir: “Ada apakah kedatangan mereka ke Siang-yang? Kalau dibilang ada sesuatu tujuan, kenapa belum kelihatan sesuatu tanda? Jika hanya memberi selamat pada Siang-ji, rasanya tidak masuk akal.”

Ketika ia memandang ke atas panggung, ternyata dengan sekali pukul Bu Siu-bun menjatuhkan dua lawannya ke bawah. Kini tinggal seorang lagi yang masih bertahan mati-matian, tapi dapat diduga dalam lima jurus pasti akan dikalahkan.

“Hari ini para pahlawan dari segenap pelosok berada di sini untuk berebut jabatan Pangcu dari Kay-pang, pada akhirnya nanti entah siapa yang unggul dan menduduki jabatan?” demikian diam-diam Oey Yong membatin.

Demikian pula hati beratus pahlawan di bawah panggung saat itu pun mempunyai pikiran seperti itu. Tapi di taman bunga di belakang rumah keluarga Kwe itu ternyata ada seseorang yang sama sekali tidak memikirkan kejadian luar biasa ini. Yang sedang dipikirkan adalah: “Hari itu telah kuserahkan sebuah jarum emas padanya dan kukatakan agar hari ini ia datang menemuiku karena hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 16. Tatkala itu ia sendiri sudah menyanggupi akan datang, tapi kenapa sampai saat ini masih belum datang?”

Demikianlah anak dara itu sedang duduk di tengah gardu di dalam taman yang dilingkungi bunga beraneka warna. Anak dara itu bersandar pada hek gardu dan termenung-menung sambil menyaksikan sang betara surya lambat-laun menggeser ke barat. Dalam hatinya dia berpikir pula: “Hari telah larut, sekali pun sekarang juga ia datang, hanya tinggal waktu tiada setengah hari saja untuk berkumpul.”

Sambil memandangi bayang tetumbuhan di tanah, tangannya memegangi sebuah jarum emas satu-satunya itu sambil bergumam perlahan lagi: “Ya, aku masih dapat mengharap sesuatu darinya, tapi boleh jadi sama sekali ia telah melupakan diriku hingga lupa datang menjengukku, lalu harapan ketiga ini apa bisa kuutarakan lagi?” Kemudian gumamnya pula: “Ah, tidak mungkin, pasti tidak mungkin. Dia adalah pendekar besar, tentu pegang janji, mana bisa menjilat kembali apa yang sudah pernah dikatakannya? Lewat sebentar lagi, ya, sebentar lagi tentu dia akan datang menyambangiku.”

Teringat segera akan bertemu, tanpa terasa pipinya lantas bersemu merah, jarinya yang memegangi jarum emas rada gemetar. Begitulah kalau di taman bunga, si cilik Kwe Siang lagi dirundung rindu, di tengah alun-alun Oey Yong justru sedang mencoba menyelami perasaan puteri kecilnya itu. Dia pikir,

“Menurut apa yang dialami kedua puteriku di kelenteng Yo-tayhu, di mana ada orang kosen diam-diam menolongnya. Kata Ceng-koko, selamanya hanya ada dua orang yang memiliki tenaga dalam sekuat itu, yaitu kalau bukan Ang Chit-kong almarhum, tentunya Ceng-koko sendiri. Tapi guru berbudi luhur itu telah wafat, Ceng-koko lebih-lebih tidak mungkin. Kalau begitu apakah orang yang mengundang manusia-manusia aneh dari segala tempat untuk memberi selamat kepada Siang-ji itu adalah seorang kosen lain lagi? Kalau Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, si tua nakal itu tabiatnya memang suka main gila, tindak-tanduknya tidak begitu rapi. It-teng Taysu orangnya prihatin, tidak suka buang waktu percuma, sedangkan Se-tok Auyang Hong dan Cu-in Hwesio alias Kiu-Jian-yim telah mati semua, lalu apakah mungkin dia adalah Ayah?”

Memang tindak tanduk Oey Yok-su yang aneh-aneh dan sukar diraba itu rada-rada mirip dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Lagi pula Oey Yok-su memang terkenal dengan julukan ‘Tang-sia’ atau manusia aneh dari timur yang namanya menggetarkan Kangouw beberapa puluh tahun yang lalu. Kalau dia yang tampil ke muka mengundang tokoh-tokoh silat itu, rasanya orang pasti akan memenuhinya. Walau pun tidaklah patut orang tua itu main-main dengan puteri dan cucunya, tetapi siapa bisa menduga akan kelakuannya yang terkenal aneh, atau bukan mustahil di dalamnya ada pula maksud tujuan lain? Berpikir sampai di sini, segera Oey Yong menggapai Kwe Hu supaya mendekatinya, lalu dengan berbisik ia bertanya:

“Adikmu menghilang sehari semalam di kota tambangan Hong-leng, ketika kembali pernah tidak dia bicara tentang Gwakong?”

Kwe Hu tercengang oleh pertanyaan tiada ujung pangkalnya ini. “Gwakong?” ia menegas, “Oh tidak. Bahkan muka Gwakong saja adik belum pernah kenal.”

“Coba kau mengingat-ingatnya, ketika dia ikut pergi si setan Se-san di tambangan Hong-leng itu, dia pernah menyebut siapa lagi?” desak Oey Yong.

“Tidak, tak pernah dia sebut-sebut,” sahut Kwe Hu.

Dia tahu kepergian adiknya tempo hari ingin melihat Yo Ko, tetapi di hadapan ayah-bundanya paling ditakutinya bila bicara menyangkut nama Yo Ko, sebab bila mendengar nama itu, sang ibu masih mendingan, tapi sang ayah akan menarik muka hingga beberapa hari tidak bicara padanya. Sebab itulah, kalau adiknya tidak sebut, dia pun lebih suka tutup mulut. Apa lagi urusan sudah lalu, untuk apa nama orang itu diungkat-ungkat buat cari penyakit sendiri?

Tapi Oey Yong adalah wanita cerdik dan pandai, sedikit melihat air muka puteri sulung itu berubah, segera ia menduga pasti tersembunyi sesuatu. Maka dengan sungguh-sungguh segera ia mendesak lagi.

“Apa yang bakal terjadi di depan mata ini bukanlah main-main, coba katakan, apa yang pernah kau dengar, lekas kau katakan terus terang padaku.”

Melihat wajah sang ibu bersungguh-sungguh, Kwe Hu tak berani lagi membohongi, maka katanya:

“Ketika dalam perjalanan mendengar orang mengobrol tentang apa yang disebut Sin-tiau-tayhiap, ialah... ialah Yo... Yo Ko, adik lantas bilang ingin pergi melihatnya.”

Terkesiap hati Oey Yong, “Lalu dapat dilihatnya tidak?” tanyanya.

“Pasti tidak,” kata Kwe Hu. “Kalau sudah, menurut watak adik masa tidak terus dibuat bahan cerita?”

“Ah, Ko ji, benar-benar Ko-ji, benar-benar dia!” demikian diam-diam Oey Yong berkata dalam hati. Segera ia tanya lagi.

“Dan menurut pendapatmu, orang yang diam-diam membantu kalian membunuh Nimo Singh di kelenteng Yo-tayhu itu, dia atau bukan?”

“Mana mungkin?” sahut Kwe Hu. “Yo... Yo-toako mana bisa mempunyai ilmu silat begitu bagus?”

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar