ads

Rabu, 13 Oktober 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 34

Belum lanjut ucapannya, mendadak Su Siok-kang menghela napas panjang dan menyela:

“Toako, urusan ini tidak perlu disebut-sebut lagi. Kukira Gerombolan Setan Se-san juga tidak sengaja, mungkin sudah ditakdirkan nasibku harus begini, maka tidak perlu banyak mengikat permusuhan lagi.”

“Baiklah!” seru Su Pek-wi dengan menahan amarahnya, lalu dia memberi salam kepada Hoan It-ong dan berkata. “Selama gunung tetap menghijau dan air tetap mengalir, kelak kita pasti berjumpa lagi.” Lalu dia berpaling dan berkata kepada Yo Ko: “Sin-tiau-tayhiap, kami bersaudara terjungkal di tanganmu, sungguh kami merasa sangat kagum. Rasanya biar pun kami berlatih 20 tahun lagi tetap bukan tandinganmu, sengketa ini jelas kami tidak berharap dapat membalasnya. Kami pun tidak berani lagi bertemu dengan engkau, pokoknya ke mana engkau datang di sana pula kami lantas mendahului menyingkir.”

“Ahh, ucapan Su-toako teramat berlebihan,” ujar Yo Ko dengan tertawa.

“Hayolah, kita berangkat!” kata Su Pek-wi sambil mendekati Su Siok-kang. Dia memapah saudaranya yang sakit dan diajak pergi.

Hoan It-ong merasa ucapan Su Pek-wi itu banyak yang sukar dipahami, cepat dia berseru:

“Tunggu dulu, Su-toako. Tadi Su-samko mengatakan tindakan kami tidak disengaja, padahal seingat kami kecuali terobosan di tempat kediaman kalian ini, rasanya tak pernah berbuat kesalahan lain. Apa bila memang benar kami berbuat kesalahan di luar sadar kami, sedangkan kepala dipenggal saja Gerombolan Setan Se-san tak gentar, apa lagi hanya menyembah dan mohon maaf kepada kalian bersaudara.”

Tadi Su Pek-wi sudah menyaksikan cara Gerombolan Setan Se-san itu saling melempar kopiah kulit milik Su Siok-kang dan tidak ada satu pun yang ingin menyelamatkan diri sendiri, rata-rata adalah ksatria yang tidak takut mati, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Maka dengan rasa pedih dia menjawab:

“Kalian telah menyebabkan larinya Kiu-bwe-leng-hou sehingga luka dalam Samte kami tidak dapat diobati lagi, sekali pun kau menyembah seratus kali atau seribu kali kepada kami tiada gunanya.”

Hoan It-ong terkejut. Baru teringat olehnya tadi kelima saudara Su memimpin kawanan binatang menguber seekor binatang kecil mirip kucing dan anjing, kiranya itu yang disebut Kiu-bwe-leng-hou (rase atau musang cerdik berekor sembilan). Masa binatang kecil itu mempunyai kegunaan yang sangat penting? Tiba-tiba Sat-sin-kui menimbrung:

“Memang untuk apa rase kecil itu? Tetapi kalau binatang kecil itu memang menyangkut kesehatan Su-samko, maka marilah kita beramai-ramai memburu dan menangkapnya lagi. Hanya seekor rase kecil begitu apa sih artinya?”

“Apa artinya katamu, hah?” teriak Su Ki-kiang, “Kalau kau mampu menangkap rase kecil itu, biarlah nanti aku menyembah padamu seratus kali, bahkan seribu kali juga aku rela.”

Hoan It-ong terkesiap, pikirnya: “Keluarga Su terkenal mahir menjinakkan para binatang, rasanya di dunia ini tiada yang lebih pandai dari pada mereka, kalau mereka menyatakan alangkah sukarnya menangkap rase itu, lalu siapa lagi yang sanggup?” Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia memandang Yo Ko.

Kwe Siang tidak tahan, segera dia nyelutuk: “Semenjak tadi kalian hanya bicara saja, mengapa kalian tidak mohon bantuan Sin-tiau-hiap?”

Su Tiong-beng terhitung paling banyak tipu akalnya, dia adalah motor penggerak di antara kelima saudara Su itu. Dia pikir ilmu silat Sin-tiau-hiap ini memang sukar diukur, bisa jadi beliau mau memberi pertolongan. Maka dia lantas berkata:

“Ahh, nona cilik tahu apa? Kukira selain malaikat dewata yang turun ke bumi ini tiada lagi yang sanggup menangkap Kiu-bwe-long-hou itu.”

Yo Ko hanya tersenyum saja. Ia tahu orang sengaja hendak memancing reaksinya, tetapi dia tidak menanggapi.

“Sebenarnya rase kecil itu mempunyai kemujijatan apa? Coba ceritakan,” kata Kwe Siang.

Su Tiong-beng menghela napas sedih, katanya kemudian: “Akhir tahun yang lalu, karena membela keadilan di daerah Hengciu, samte bergebrak dengan orang. Namun pihak lawan memakai akal licik sehingga Samte kena diselomoti musuh dan terluka parah.”

“Aneh, Su-samsiok ini jelas sangat tinggi kepandaiannya, siapa lagi yang begitu lihay dan mampu melukainya?” ujar Kwe Siang heran.

“Ah, nona memuji sedikit kepandaianku yang tak berarti ini, bukankah akan ditertawai Sin-tiau-hiap?” kata Su Siok-kang dengan suara lemah.

Kwe Siang melirik Yo Ko sekejap katanya: “Dia?! Sudah tentu dia di luar hitungan. Yang kumaksud adalah orang lain.”

“Yang melukai Samte adalah orang Mongol,” tutur Su Tiong-beng lebih lanjut, “kalau tidak salah namanya Hotu. Konon dia adalah murid Kim-lun Hoat-ong, Koksu kerajaan Mongol.”

Mendadak Kwe Siang berkata kepada Yo Ko: “Sin-tiau-hiap, kumohon engkau suka pergi mencari pangeran Mongol itu dan memberi hajaran setimpal padanya untuk membalaskan sakit hati Su-samsiok ini.“ “Untuk ini kami tidak berani membikin repot Sin-tiau-hiap,” kata Su Tiong-beng, “Asalkan luka Samte sembuh, kami akan mencari dia dan pasti dapat menuntut balas. Hanya saja Iwekang kami ini lain dari pada yang lain sehingga luka yang diderita Samte sangat sukar disembuhkan, untuk ini harus minum darah segar Kiu-bwe-leng-hou itu.”

“Ahh, kiranya demikian,” Kwe Siang dan Gerombolan Setan Se-san bersuara.

“Rase kecil itu adalah binatang yang sangat jarang, makhluk yang amat cerdik,” tutur Su Tiong-beng, “Sudah lebih setahun kami bersaudara mencari ke mana-mana dan baru kami temukan jejaknya di daerah Cin-lam. Tempat sembunyi rase itu pun sangat aneh, yaitu di tengah sebuah kolam lumpur yang sangat luas yang terletak kurang lebih 30 li dari sini.”

“Kolam lumpur besar? Maksudmu Hek-liong-tam (tambak naga hitam)?” tegas Sat-sin-kui dengan heran.

“Betul,” sahut Su Tiong-beng. “Kalian sudah lama berdiam di sini, tentu mengetahui bahwa beberapa li di sekeliling Hek-liong-tam hanya lumpur belaka, baik manusia mau pun hewan sukar berdiam di tempat seperti itu, tapi rase kecil itu justru bersarang di sana. Dengan susah payah akhirnya kami berhasil memancingnya ke tengah hutan ini.”

“Ahh, pantas kalian marah dan melarang kami memasuki hutan ini,” kata Sat-sin-kui yang mulai menyadari kejadian tadi.

“Begitulah,” kata Su Tiong-beng pula, “Bahwasanya kedatangan kami ke sini adalah tamu, jadi betapa pun kasarnya juga tak pantas kami mengangkangi tempat orang lain, soalnya cuma terpaksa saja. Harus dimaklumi bahwa rase itu amat gesit dan larinya cepat sekali, sekejap saja lantas menghilang, hal ini telah kalian saksikan tadi.

Karena itulah kami mengerahkan segenap binatang buas piaraan kami untuk mengepung rapat hutan itu. Tampaknya dengan segera rase itu dapat kami tangkap, siapa tahu kalian justru membakar hutan hingga kawanan binatang terkejut dan memberi kesempatan lo!osnya rase itu. Memalukan juga jika diceritakan meski kami sudah berusaha sepenuh tenaga tetap tidak mampu menangkapnya, tapi luka Samte kami semakin hari semakin berat, kami menjadi sedih sehingga tindak-tanduk kami pun jadi berangasan, untuk ini hendaklah kalian dapat memaklumi.” Habis berkata dia terus memberi hormat sekeliling, tapi pandangannya justru menatap Yo Ko.

“Urusan rase ini adalah akibat kecerobohan kami dan Gerombolan Setan kami sekali lagi minta maaf,” kata Hoan It-ong. “Tentang rase itu entah dengan cara bagaimana Su-toako berlima memancingnya ke sini? Mengapa cara itu sekarang tidak dapat digunakan lagi?”

“Sifat rase suka curiga di samping cerdik, sukar sekali hendak menjebaknya, apa lagi Kiu-bwe-leng-hou ini, jauh lebih cerdik dan licin dari pada rase biasa,” demikian tutur Su Tiong-beng.

“Kami sudah mengorbankan ribuan ekor ayam jantan, dalam jarak sekian tombak jauhnya kami panggang seekor kemudian berturut-turut kami pancing dia dengan bau sedap ayam panggang. Kami tidak mau mengusiknya dan membiarkan dia makan. Setelah setiap hari berhasil makan ayam panggang tanpa gangguan, sampai dua-tiga bulan lamanya barulah kecurigaan rase itu berkurang. Habis itu barulah kami pancing dia ke hutan ini, tapi sekali ini dia telah mengalami kaget luar biasa, biar pun seratus tahun lagi tidak mau tertipu pula.”

“Ya, memang betul sulit,” kata Hoan It-ong. “Tapi kalau kita langsung masuk ke Hek-liong-tam dan menangkapnya, apakah tidak bisa?”

“Seluas beberapa li Hek-liong-tam itu hanya lumpur belaka yang kedalamannya beberapa meter, betapa pun tinggi Ginkang-mu sukar berpijak di atas lumpur,” tutup Su Tiong-beng. “Juga perahu, rakit atau getek dan sebagainya sukar berjalan di sana. Namun tubuh Kiu-bwe-leng-hou itu amat kecil dan enteng, telapak kakinya tebal lagi, larinya juga cepat, maka dia mampu meluncur di permukaan lumpur itu dengan cepat.”

Kwe Siang tiba-tiba ingat kedua rajawalinya di rumah. Mereka kakak beradik sering naik rajawali itu dan dibawa terbang ke udara. Kini dilihatnya rajawali sakti jauh lebih besar dari pada rajawali di rumahnya, bukan mustahil dua orang juga dapat dibawanya terbang. Karena itu dengan tertawa ia berkata:

“Sin-tiau-hiap, asalkan engkau sudi membantu aku yakin pasti ada jalannya.”

Yo Ko tersenyum, jawabnya: “Su-si-hengte adalah ahli penjinak binatang. Kalau mereka saja angkat tangan tak berdaya, maka apa yang dapat aku lakukan seumpama aku ingin membantu?”

Mendengar nada ucapan orang, ternyata bersedia menolong, urusan ini menyangkut mati-hidup saudaranya, maka tanpa pikir lagi Su Tiong-beng segera bertekuk lutut di hadapan Yo Ko dan memohon:

“Sin-tiau-tayhiap, jiwa adik kami hanya menanti ajal, mohon engkau kasihan padanya.”

Sorot mata Yo Ko mengerling sekilas ke muka Kwe Siang, katanya kemudian: “Kau bilang aku pasti dapat menolongnya, coba aku ingin tahu bagaimana pendapat adik cilik ini.”

“Asalkan engkau naik rajawali raksasa itu, bukankah dapat terbang masuk ke Hek-liong-tam?” jawab Kwe Siang.

“Ha-ha-ha! Menarik juga saranmu ini,” kata Yo Ko sambil tertawa. “Sayangnya Tiau-heng berlainan dengan burung umumnya. Karena tubuhnya teramat berat maka sejak kecil beliau tidak dapat terbang. Memang sekali sabet sayapnya mampu membinasakan singa atau harimau, tapi tidak dapat digunakan untuk terbang.”

Sementara itu, kecuali Su Siok-kang saja, keempat saudara she Su lainnya sudah berlutut di depan Yo Ko. Segera Yo Ko membangunkan mereka dan berkata:

“Apa boleh buat, biarlah kukerjakan sekuat tenagaku, akan tetapi jika tidak berhasil ya kalian jangan menyesal.”

Su-si-hengte menjadi girang. Mereka pikir nama pendekar besar itu termashur, sekali dia sudah menyanggupi pasti akan dilaksanakannya. Jika beliau juga gagal, terpaksa pasrah nasib saja. Begitulah Su Pek-wi menyembah beberapa kali lagi dan berkata:

“Jika demikian, silakan Tayhiap dan para saudara dari Se-san mengaso di tempat kediaman kami untuk berunding lebih lanjut.”

“Urusan ini berpangkal pada kesalahan kami, sudah tentu kami siap menerima tugas apa pun,” kata Hoan It-ong.

“Ahh, tidak perlu begitu,” ujar Su Pek-wi, “Tidak berkelahi takkan kenal. Kalau kalian tidak menoIak, marilah mulai sekarang kita berkawan.”

Dari pertarungan tadi sudah sama-sama tahu mengenai kelihayan pihak lawan. Memang kedua pihak tidak ada permusuhan apa-apa, soalnya cuma bertengkar mulut saja kemudian berkelahi. Maka setelah beramah tamah sejenak, dua pihak lantas seperti kenalan lama saja dan bersahabat baik.

“Sekarang juga biarlah aku pergi ke Hek-liong-tam, apakah berhasil atau tidak pasti aku akan kembali lagi ke sini,” kata Yo Ko tiba-tiba.

Walau pun GeromboIan Setan dan Su-si-hengte ingin turut mencurahkan tenaga, namun mereka tidak mendengar Yo Ko menghendaki pembantu, terpaksa mereka diam saja dan tidak berani mencalonkan diri. Sesudah memberi salam kepada para hadirin, Yo Ko lantas melangkah pergi.

Maksud kedatangan Kwe Siang adalah ingin melihat Sin-tiau-hiap. Kini tokoh tersebut sudah dilihatnya. Meski berwajah jelek tetapi ilmu silatnya mengejutkan, suka membantu yang lemah dan menolong yang susah, nyata memang setimpal mendapatkan sebutan ‘Tayhiap’. Jadi tujuan kedatangannya ini tidaklah percuma, Tapi demi teringat Sin-tiau-hiap hendak pergi menangkap Kiu-bwe-leng-hou, caranya pasti amat menarik, dasar anak muda pula, rasa ingin tahunya menggelitik lubuk hati. Maka tanpa terasa dia pun melangkah ke sana mengintil di belakang Yo Ko.

Melihat itu segera Toa-thau-kui bermaksud memanggilnya kembali, namun lantas terpikir olehnya: “Dia bertekad ingin menemui Sin-tiau-hiap, tentu ada sesuatu hendak dikatakan kepadanya.”

Sedangkan Su-si-hengte tidak tahu asal usul Kwe Siang, mereka tidak dapat ikut campur urusan nona cilik itu.

HEK-LIONG-TAM ( Tambak Naga Hitam )

Kwe Siang terus mengintil di belakang Yo Ko, jaraknya kira-kira belasan meter, tujuannya hanya ingin tahu cara bagaimana pendekar besar itu menangkap rase. Dilihatnya jalan Yo Ko semakin lama semakin cepat, sedangkan rajawali raksasa itu jalan berjajar dengan dia dengan langkah lebar, cepatnya ternyata tak kalah dengan kuda lari. Hanya sekejap saja Kwe Siang jauh tertinggal di belakang. Dengan sekuatnya Kwe Siang mengeluarkan Ginkang ajaran ibunya. Tampaknya Yo Ko hanya berlenggang seenaknya, tetapi jaraknya ternyata semakin jauh, tak lama kemudian bayangan Yo Ko dan si rajawali raksasa itu telah mengecil menjadi dua titik hitam saja. Kwe Siang menjadi cemas, serunya.

“Hei, tunggu!”

Karena sedikit meleng itu mendadak dia terpeleset di tanah salju yang licin sehingga jatuh terduduk. Ya malu ya gelisah, maka menangislah dia. Tiba-tiba sebuah suara yang halus mendenging di pinggir telinganya:

“Kenapa menangis? Siapa yang nakal?”

Waktu Kwe Siang mendongak, ternyata Yo Ko adanya, entah bagaimana dia dapat putar balik secepat ini. Kejut dan girang pula si nona, segera dia pun merasa likat dan cepat menunduk. Dia bermaksud mengambil sapu tangan untuk mengusap air mata, tapi karena berlari-lari tadi, sapu tangan itu ternyata sudah hilang.

“lnikah yang kau cari?” tanya Yo Ko tiba-tiba sambil menyodorkan sebuah sapu tangan.

Segera Kwe Siang mengenali sapu tangan yang ujungnya bersulam setangkai bunga kecil itu adalah miliknya sendiri. Mendadak ia menjawab pertanyaan Yo Ko:

“Ya, kau inilah yang nakal!”

“He, bilakah aku nakal?” ujar Yo Ko heran.

“Kau telah merampas sapu tanganku, apakah perbuatan ini tidak nakal?”

“Sapu tanganmu jatuh di sana, dengan maksud baik kupungut lantas mengembalikannya kepadamu, masa kau tuduh aku merampasnya?” kata Yo Ko dengan tertawa.

“Aku berada di belakangmu, andai kata benar sapu tanganku jatuh, bagaimana pula kau memungutnya? Hm, jelas kau menyolongnya dariku,” kata Kwe Siang.

Padahal semenjak tadi Yo Ko sudah tahu Kwe Siang mengintil di belakangnya. Ia sengaja mempercepat langkahnya untuk menjajal Ginkang si nona, ia merasa biar pun usia nona cilik ini masih amat muda, tapi ilmu silatnya sudah mempunyai dasar yang kuat dan jelas mendapatkan ajaran dari tokoh ternama. Maka begitu mengetahui Kwe Siang terpeleset jatuh, cepat dia meluncur balik. Dilihatnya sebuah sapu tangan jatuh tak jauh di sebelah sana, maka segera ia memungutnya. Cuma gerakannya teramat gesit, pergi datang secepat terbang, walau pun berada di depan, tapi dapat memungut sapu tangan yang jatuh di bagian belakang, hal ini memang tidak masuk di akal. Dengan tersenyum Yo Ko lantas bertanya:

“Kau she apa dan siapa namamu? Siapa pula gurumu? Mengapa kau mengikuti aku?”

“She dan namamu yang terhormat harap diberi-tahukan lebih dulu padaku baru nanti aku pun memberi-tahukan namaku,” jawab Kwe Siang.

Selama belasan tahun ini Yo Ko selalu menutupi wajah aslinya bagi umum, maka dengan sendirinya juga tidak suka memberi-tahukan namanya kepada seorang nona cilik yang tak dikenalnya. Katanya:

“Nona cilik ini benar-benar amat aneh. Jika kau tidak mau menerangkan ya sudahlah, ini sapu tanganmu kukembalikan.”

Habis bicara dengan perlahan tangannya mengebas. Sapu tangan itu lantas mekar merata dan mengembang di udara terus melayang enteng ke depan Kwe Siang. Kwe Siang sangat tertarik. Cepat dia tangkap sapu tangan itu dan berkata:

“Sin-tiau-hiap, ilmu kepandaian apakah ini? Maukah kau mengajarkan kepadaku?”

Melihat si nona yang lincah kekanak-kanakan ini sama sekali tidak takut kepada wajahnya yang seram, tiba-tiba timbul pikiran Yo Ko untuk coba menakutinya. Mendadak ia membentak bengis:

“Berani benar kau! Kenapa kau tidak takut padaku, hm? Akan kuhantam kaul” Berbareng dia melangkah maju dan berlagak hendak menyerang.

Kwe Siang terkejut, tapi cepat ia pun mengikik tawa, katanya: “Mana aku takut. Jika betul kau ingin mencelakakan aku, masa kau sendiri mau mengatakan lebih dulu? Sin-tiau-tayhiap terkenal sangat berbudi dan baik hati, mana mungkin mencelakai seorang anak perempuan kecil seperti diriku ini?”

Di dunia ini tak ada seorang pun yang tidak suka dipuji, apakah mendengar orang memuji dengan setulus hati atau pun hanya sekedar basa-basi. Meski Yo Ko tidak suka disanjung puji orang, tetapi mendengar ucapan Kwe Siang benar-benar mengaguminya, mau tak mau ia tersenyum dan berkata:

“Kau baru kenal diriku, dari mana mengetahui aku takkan mencelakai kau?”

“Meski sebelumnya aku tidak kenal kau, tetapi semalam kudengar orang banyak bercerita mengenai tindak-tandukmu yang terpuji. Maka dalam hati aku bertekad hendak melihat tokoh ksatria besar ini, karena itulah aku ikut Toa-thau-kui ke sini untuk menemui engkau.”

“Ah, aku ini terhitung ksatria apa?” ujar Yo Ko sambil menggeleng, “Dan setelah sekarang bertemu, kau pasti kecewa bukan?”

“Tidak, tidak!” jawab Kwe Siang cepat. “Kalau engkau bukan pahlawan dan ksatria besar, siapa lagi yang dapat dianggap pahlawan?” Habis berkata demikian segera ia merasa tak pantas bila ayahnya sendiri tidak disebut, maka cepat ia menambahkan. “Tentu saja selain engkau, di dunia ini juga masih ada beberapa pahlawan dan ksatria besar lagi, tapi engkau adalah satu di antaranya.”

Yo Ko pikir anak dara sekecil ini masa tahu tokoh-tokoh dunia segala. Dengan tersenyum dia lantas bertanya:

“Coba katakan, siapa saja yang kau anggap pahlawan dan ksatria besar?”

Karena nada ucapan orang terasa meremehkan dirinya, tiba-tiba terpikir sesuatu oleh Kwe Siang, katanya:

“Akan kukatakan, tapi kalau tepat, engkau harus berjanji akan membawa serta diriku pergi menangkap Kiu-bwe-leng-hou, jadi?”

“Baiklah, coba katakan,” jawab Yo Ko.

“Nah, ada seorang pahlawan yang bertahan di benteng Siang-yang, gagah perkasa tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, sekuat tenaga melawan serbuan pasukan Mongol, membela negara dan melindungi rakyat. Tokoh demikian terhitung pahlawan atau tidak?”

“Bagus!” ujar Yo Ko sambil mengacungkan ibu jarinya. “Yang kau maksudkan Kwe Ceng, Kwe-tayhiap. Jelas beliau terhitung pahlawan besar.”

“Ada lagi seorang pahlawan wanita, ia senantiasa membantu suaminya mempertahankan Siang-yang, tipu akalnya tiada bandingan, dia terhitung pahlawan besar atau tidak?”

“O, maksudmu Kwe-hujin Oey Yong? Ya, beliau juga terhitung pahlawan.”

“Masih ada seorang pahlawan tua, beliau mahir ilmu falak dan macam-macam ilmu gaib, baik ilmu silat mau pun sastra jarang ada bandingannya. Beliau dapat dianggap pahlawan besar tidak?”

“ltulah Tho-hoa-tocu Oey Yok-su. Beliau adalah angkatan tua di dunia persilatan dan juga tokoh yang kukagumi.”

“Ada lagi satu pahlawan. Beliau memimpin kawanan orang jembel, menumpas orang lalim dan menyerbu musuh, membela negara dan rakyat tanpa kenal lelah, dia boleh terhitung pahlawan besar tidak?”

“Maksudmu Loh-pangcu, Loh Yu-kah? Ilmu silat orang ini tidak terlalu menonjol dan juga tidak ada sesuatu tindakannya yang luar biasa, tapi mengingat semangat perjuangannya membela negara dan rakyat serta menumpas penjahat dan menyerbu musuh, dapatlah ia dianggap tokoh kelas satu.”

Kwe Siang pikir Sin-tiau-tayhiap sendiri sedemikian hebatnya, sudah tentu penilaiannya terhadap orang lain juga tinggi, kalau kukatakan lagi mungkin akan dibantah olehnya. Apa lagi selain ayah-ibu, kakek dan paman Loh, rasanya juga tiada tokoh lainnya yang dapat ditonjolkan.

Melihat air muka si nona mengunjuk rasa ragu untuk bicara lagi, Yo Ko lantas berkata: “Asalkan kau dapat menyebut lagi seorang pahlawan lain dan tepat, segera kubawa kau ke Hek-liong-tam untuk menangkap Kiu-bwe-leng-hou.”

Yo Ko pikir nama paman dan bibi Kwe serta Oey-tocu dan Loh-pangcu sangat terkenal di dunia Kangouw, maka tidaklah heran jika nona cilik ini dapat menyebut nama mereka.

Segera Kwe Siang bermaksud menyebut kakak iparnya, yaitu Yalu Ce, tapi rasanya kurang cocok untuk dianggap sebagai ‘pahlawan besar’ meski ilmu silatnya cukup tinggi. Selagi serba susah, tiba-tiba saja timbul kecerdikannya, cepatlah ia berkata:

“Baik, ada seorang lagi, beliau suka membantu kaum lemah, menolong yang sengsara, setiap orang selalu memujinya, itulah dia Sin-tiau-tayhiapl Nah, jika beliau tak dapat dianggap sebagai pahlawan besar, jelas kau sendiri yang bohong.”

Yo Ko bergelak tertawa, katanya: “Ha-ha-ha, cara bicara nona cilik sungguh lucu.”

“Jadi tidak kau membawaku ke Hek-liong-tam?” tanya Kwe Siang.

“Karena kau sudah mengatakan diriku ini adalah pahlawan besar, maka pahlawan besar tidak boleh mungkir janji kepada seorang nona cilik. Marilah kita berangkat!”

Senang sekali hati Kwe Siang, segera tangan kanannya menggandeng tangan kiri Yo Ko. Sejak kecil dia berkawan dengan para ksatria di Siang-yang dan semua menganggap dia sebagai adik kecil, maka sekarang saking senangnya ia pun menganggap Yo Ko sebagai kenalan lama.

Yo Ko sendiri menjadi rikuh. Dia merasa tangan si nona lunak dan halus, tetapi kalau dia melepaskan pegangan Kwe Siang, rasanya kurang sopan. Dia coba melirik nona cilik ini, terlihat dia meloncat-loncat kegirangan dan sama sekali tiada pikiran Iain. Dengan tersenyum dia lantas menuding ke arah utara:

“Hek-liong-tam terletak tidak jauh di sana.” Dengan alasan menuding inilah dia dapat menarik tangannya dari pegangan Kwe Siang.

Kiranya Yo Ko merasa waktu mudanya sudah terlalu banyak membikin anak perempuan tergila-gila padanya, tapi sejak matinya Kongsun Lik-oh dan menghilangnya Siao-liong-li, diam-diam dia sangat menyesalkan tindakannya di masa lampau. Selama belasan tahun ini dia menjadi sangat alim sehingga tangan anak perempuan kecil seperti Kwe Siang ini juga enggan disentuhnya lagi. Sama sekali Kwe Siang tidak merasakan perubahan pikiran Yo Ko, dia jalan berjajar dengan Yo Ko. Ketika melihat muka rajawali sakti itu sangat jelek, tetapi tubuhnya kekar, tanpa pikir dia tepuk punggungnya sebagai tanda simpatik.

Sejak kecil dia sudah biasa bermain dengan sepasang rajawali di rumahnya, siapa tahu rajawali ini ternyata tidak suka ditepuk, mendadak sayapnya terbentang.

“Brett!” tangan Kwe Siang didorong pergi.

Keruan Kwe Siang menjerit kaget. Dengan tertawa Yo Ko berkata: “Jangan marah, Tiau-heng! Buat apa mengurusi anak kecil?”

Kwe Siang melelet-lelet lidah dan menyingkir ke sisi Yo Ko yang lain, dia tidak berani lagi berdekatan dengan si rajawali sakti. Dia tidak tahu bahwa sepasang rajawali di rumahnya itu termasuk burung piaraan, sedangkan hubungan rajawali sakti ini dengan Yo Ko boleh dikatakan setengah guru dan setengah kawan, kalau bicara tentang usia bahkan terhitung angkatan tua, jelas kedudukannya tidak sama.

Begitulah mereka terus ke Hek-liong-tam. Tempat itu sangat mudah dikenali, beberapa li sekelilingnya sama sekali tiada tetumbuhan. Sebenarnya Hek-liong-tam itu adalah sebuah danau, mungkin karena sumber airnya kering, lama-lama dasar danau mendangkal sehingga akhirnya berubah menjadi tambak besar dengan lumpur melulu.

Tidak lama kemudian Yo Ko dan Kwe Siang sudah berada di pinggir tambak. Sejauh mata memandang, suasana sepi senyap dan menyeramkan. Hanya di tengah-tengah tambak sana kelihatan tertimbun seongokan kayu dan rumput kering. Bisa jadi tempat sembunyi Kiu-bwe-leng-hou adalah di bawah onggokan kayu dan rumput kering itu. Yo Ko ambil sepotong tangkai kayu dan dilemparkan ke tengah tambak. Tangkai kayu itu mula-mula melintang di atas salju, namun tidak lama kemudian kelihatan mulai ambles ke bawah, meski tenggelamnya sangat perlahan tetapi berjalan terus tanpa berhenti, sedikit demi sedikit dan akhirnya timbunan salju di kedua sisinya merapat sehingga tangkai kayu itu teruruk hilang tanpa bekas.

Tak kepalang kejut Kwe Siang. Tangkai kayu seenteng itu saja amblas ke dalam lumpur, lalu cara bagaimana manusia dapat berpijak di sana? Dengan melenggong ia pandang Yo Ko dan ingin tahu orang mempunyai tipu daya apa? Sejenak Yo Ko berpikir, lalu dia cari lagi dua potong tangkai kayu yang agak licin, masing-masing panjangnya sekitar satu meteran. Tangkai kayu itu lantas diikat di bawah telapak kaki, lalu katanya:

“Akan kucoba, entah bisa tidak?”

Selesai berkata segera tubuhnya melayang ke tengah tambak, secepat anak panah yang melesat dari busurnya ia meluncur di permukaan salju yang menutupi tambak itu. Dengan melenggak-lenggok ke sana dan ke sini, sama sekali dia tidak berhenti sedetik pun, ia terus meluncur sekeliling tambak, seperti orang main ski jaman kini, kemudian dia meluncur balik ke tempat semula.

“Kepandaian hebat, kecakapan yang luar biasa!” sorak Kwe Siang memuji.

Dari sorot mata Kwe Siang yang penuh rasa kagum itu, Yo Ko tahu bahwa nona itu amat berharap dapat ikut menangkap rase ke tengah tambak, namun nona itu menyadari tidak memiliki kepandaian Ginkang setinggi itu. Maka Yo Ko berkata dengan tertawa:

“Aku sudah berjanji padamu akan membawa kau ke Hek-liong-tam menangkap Kiu-bwe-leng-hou. Soalnya kau berani tidak?”

“Aku tidak memiliki kepandaian setinggi kau, walau pun berani juga percuma,” sahut Kwe Siang sambil menghela napas perlahan.

Yo Ko tersenyum dan tidak menanggapi. Ia mencari lagi dua potong kayu yang lebih pendek sedikit lalu disodorkan kepada si nona. Katanya:

“lkatlah di bawah telapak kakimu!”

Gugup dan girang pula Kwe Siang. Ia menurut dan mengikat kencang kedua potong kayu itu di bawah telapak kakinya.

“Tubuhmu mendoyong sedikit ke depan, kaki jangan memakai tenaga, biar mengimbangi saja,” pesan Yo Ko. Kemudian tangan kirinya memegangi tangan kanan Kwe Siang terus berseru tertahan: “Awas!”

Sekali angkat dan tarik, tanpa kuasa tubuh Kwe Siang melayang dan meluncur ke tengah tambak. Semula dia rada gugup dan takut-takut, tetapi setelah meluncur beberapa meter jauhnya, terasa badan enteng dan melayang seperti terbang, kaki meluncur tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun. Kwe Siang menjadi cekikikan senang, rasanya lebih enak dari pada terbang menumpang rajawali di rumah.

Sesudah main ski sekian lama mengelilingi tambak itu, mendadak Yo Ko berseru heran: “He?!”

“Ada apa?” tanya Kwe Siang, “Apakah kau melihat rase kecil itu?”

“Bukan,” jawab Yo Ko. “Kukira di tengah tambak sana ada penghuninya!”

Kwe Siang menjadi heran juga, katanya: “Di tempat begini mana mungkin dihuni orang?”

“Aku pun tidak mengerti,” kata Yo Ko. “Tampaknya susunan onggokan kayu dan rumput kering ini ada kelainan dan bukan barang yang tumbuh sendiri.”

Sementara itu mereka sudah dekat dengan onggokan kayu dan rumput itu. Kwe Siang mengamati dengan teliti, lalu berkata:

“Ya, memang benar. Sebelah timur diatur dalam hitungan Bok (kayu), sebelah selatan menurut Hwe (api), sebelah utara menurut Sui (air) dan bagian tengah adalah Tho (bumi).”

Rupanya sejak kecil Kwe Siang juga ikut belajar hitungan Im-yang-ngo-heng, yaitu falsafat Tiong-hoa kuno mengenai unsur-unsur laki-perempuan di jagat raya ini. Walau pun belum banyak yang dipahaminya, namun karena dasarnya dia memang pintar, maka apa yang dapat diketahuinya jauh lebih banyak dari pada kakaknya, yaitu Kwe Hu. Sifat Kwe Siang serba ingin tahu, maka jalan pikirannya dan tindak-tanduknya acap kali di luar dugaan orang. Kelakuannya rada-rada mirip dengan sang kakek luar, yaitu Oey Yok-su, sebab itulah di rumah dia diberi julukan ‘Siau Tang-sia’ atau si Tang-sia kecil.

Misalnya tindakannya ketika menukar tusuk konde untuk menjamu orang-orang yang baru dikenalnya, lalu ikut Toa-thau-kui yang menakutkan itu hanya karena dia ingin melihat Sin-tiau-hiap, kemudian ikut lagi dengan Sin-tiau-hiap yang baru dikenalnya pergi menangkap rase. Keberanian ini jeias sangat berbeda dari pada Oey Yong dan Kwe Hu dahulu. Begitulah Yo Ko menjadi heran mendengar nona cilik ini bisa menyebut bentuk bangunan onggokan kayu-rumput itu. Dia bertanya:

“Dari mana kau tahu bentuk Im-yang-ngo-heng itu? Siapa yang mengajarkan kau?”

“Kubaca dari buku, entah tepat atau tidak ucapanku,” jawab Kwe Siang dengan tertawa, “Kulihat pengaturan kayu-rumput itu pun tidak ada sesuatu yang luar biasa, agaknya juga bukan orang kosen yang hebat.”

“Ya, anehnya cara bagaimana orang itu dapat tinggal di atas lumpur dan tidak tenggelam ke bawah?” kata Yo Ko. Segera ia berseru lantang: “Sahabat di tengah Hek-liong-tam, ini ada tamu datang!”

Selang sekian lama, keadaan tetap sunyi. Yo Ko berseru sekali lagi dan tetap tiada jawaban orang.

“Tampaknya orang sengaja menumpuk onggokan kayu rumput di sini tapi tidak menghuninya. Mari kita melihat ke sana,” kata Yo Ko sambil meluncur ke tempat onggokan rumput itu.

Se-konyong-konyong kaki Kwe Siang merasa berpijak pada tempat yang keras, agaknya di bawah mereka adalah tanah datar. Rupanya Yo Ko sudah mengetahui lebih dulu, dengan tertawa ia berkata:

“Tidak mengherankan, kiranya di tengah tambak ini ada sebuah pulau kecil.”

Baru habis ucapannya, mendadak ada bayangan putih berkelebat. Dari bawah onggokan itu menerobos keluar dua ekor binatang kecil, ternyata sepasang ‘Kiu-bwe-leng-hou’ yang dicarinya. Yang seekor lari ke timur dan yang lain kabur ke selatan dengan cepat luar biasa.

“Kau tunggu di sini, nona cilik, dan jangan sembarangan bergerak,” pesan Yo Ko. Dia terus meluncur dan menguber rase sebelah timur.

Sekarang dia tidak perlu menjaga Kwe Siang lagi sehingga dapat mengeluarkan segenap Ginkang-nya untuk meluncur, sungguh cepatnya melebihi burung terbang. Akan tetapi lari rase itu pun cepat dan gesit luar biasa, bagai angin saja binatang kecil itu memutar balik dan menyambar lewat di samping Kwe Siang. Tetapi Yo Ko terus membayanginya, sekali lengan bajunya mengebas tampaknya rase kecil itu pasti akan tersampuk jatuh. Tak terduga binatang itu benar-benar sangat cerdik. Mendadak dia meloncat ke atas dan berjumpalitan di udara, dengan demikian sabetan lengan baju Yo Ko itu menjadi luput. Berulang-ulang Kwe Siang menyatakan:

“Sayang! Sayang!”

Begitulah satu orang dan satu hewan terus uber menguber di atas salju. Kwe Siang amat senang menyaksikan tontonan menarik itu, berulang-ulang dia berseru memberi semangat kepada Yo Ko agar mengudak lebih kencang. Dalam pada itu rase yang lain terus berlari kian kemari, terkadang sengaja mendekati Yo Ko. Tapi Yo Ko tahu bahwa binatang kecil itu sengaja mengacau untuk membelokkan perhatiannya, maka dia tak ambil pusing, yang terus diudak rase yang satu itu. Ia sengaja hendak berlomba lari dengan rase itu agar binatang kecil itu akhirnya kehabisan tenaga. Tak tahunya rase yang kecil itu ternyata memiliki tenaga yang besar, rupanya ia pun tahu sedang menghadapi bencana, maka larinya bagaikan kesurupan setan tanpa ada tanda-tanda lelah.

Semakin lari Yo Ko makin bersemangat. Ketika dilihatnya rase yang lain ingin menolong kawannya dan mendekat lagi untuk mengacau, diam-diam dia mengomel akan kenakalan binatang kecil itu. Sekenanya dia meraup segenggam salju lantas diremas hingga keras menyerupai batu, terus ditimpukkan dan tepat mengenai kepala rase pengacau itu. Kontan binatang itu roboh terjungkal, tetapi sesudah ber-guling beberapa kali rase itu berdiri lagi lalu lari masuk onggokan kayu rumput tadi dan tidak berani keluar lagi.

Rupanya Yo Ko tidak bermaksud membinasakan rase itu, maka timpukannya tidak keras. Sebenarnya dengan cara yang sama Yo Ko dapat merobohkan dan menawan rase yang diudaknya, tapi dia sengaja hendak balapan lari, katanya,

“Rase cilik, bila kurobohkan kau dengan batu salju, mati pun kau penasaran. Seorang laki-laki sejati harus bertindak ksatria, jika aku tidak mampu menyusul kau, maka jiwamu biar kuampuni.”

Segera ia ‘tancap gas’ dan meluncur lebih kencang, tahu-tahu dia telah berada di depan si rase dan mendadak tangannya meraih untuk menangkapnya. Keruan rase itu terkejut dan melompat ke kanan. Namun Yo Ko sudah siap, lengan bajunya mengebas sehingga rase itu tergulung, tangan kiri lantas pegang kuduk rase itu dan diangkat ke atas, saking gembiranya ia bergelak tertawa. Tetapi belum lenyap suara tawanya, tiba-tiba rase itu menjadi kaku, ternyata sudah mati.

“Wah, celaka!” keluh Yo Ko. “Mungkin tenaga kebasanku terlalu keras, rupanya binatang ini sedemikian lemah dan tidak tahan. Entah rase mati dapat digunakan menyembuhkan luka si Su-losam atau tidak?”

Dengan menjinjing rase mati ia meluncur kembali ke samping Kwe Siang dan berkata: “Rase ini sudah mati, mungkin tidak berguna lagi. Kita harus menangkap rase yang satunya lagi.”

Ia pun melemparkan rase mati itu ke tanah. Tapi ia pun tahu sifat rase sangat licik, bisa jadi pura-pura mati, maka diam-diam ia telah bersiap, bila rase itu bergerak segera akan digulungnya kembali dengan lengan baju. Tapi rase itu ternyata tak bergerak sedikit pun, tampaknya memang betul-betul sudah mati.

“Menyenangkan juga bentuk rase kecil ini, matinya mungkin akibat terlampau lelah diuber-uber,” ujar Kwe Siang. Lalu ia jemput sepotong kayu dan berkata pula: “Biar kuhalau rase lain itu supaya ke luar, engkau jaga saja di sini.”

Kwe Siang lantas mendekati onggokan kayu rumput itu. Kemudian kayunya dihantamkan, tapi sekali pukul, untuk menghantam kedua kalinya ternyata tidak mampu lagi. Sungguh aneh, kayu yang dipegang Kwe Siang itu seperti melekat dan tidak dapat ditarik kembali. Keruan Kwe Siang berseru kaget dan berusaha membetot sekuatnya, tetapi tangkai kayu itu malah terlepas kemudian jatuh ke dalam onggokan kayu dan rumput kering itu. Tiba-tiba onggokan kayu-rumput itu tersiak dan tahu-tahu menerobos keluar seorang nenek beruban dengan muka penuh keriput dan pakaiannya compang-camping. Dengan bengis nenek itu memandang Kwe Siang dan tangkai kayu yang dirampasnya diangkat dengan lagak hendak memukul si nona.

Kwe Siang terkejut dan cepat melompat mundur ke samping Yo Ko. Pada saat itulah rase yang menggeletak di tanah mendadak melompat ke atas dan masuk pelukan si nenek, sepasang matanya yang bundar kecil ber-kilat memandangi Yo Ko.

Ternyata binatang kecil itu memang benar-benar cuma pura-pura mati saja. Melihat itu Yo Ko mendongkol sekaligus geli, pikirnya: “Kali ini ternyata aku dikalahkan oleh seekor hewan kecil. Tampaknya rase kecil ini adalah piaraan nenek ini, entah siapakah gerangan, rasanya di dunia Kangouw tidak pernah terdengar ada seorang tokoh macam begini. Rasanya akan sulit jika menghendaki rase kecil itu.” Segera Yo Ko memberi hormat dan menyapa:

“Maafkan kelancangan Wanpwe masuk ke sini tanpa permisi.”

Nenek itu memandang tangkai kayu di telapak kaki Yo Ko berdua, mukanya menampilkan rasa kejut dan heran, akan tetapi hanya sekilas saja perasaan itu lantas menghilang. Dia melambaikan tangannya dan berkata:

“Orang tua mengasingkan diri di tempat terpencil ini dan tidak suka menemui tamu, kalian boleh pergi saja!” suaranya terdengar lembut tetapi sangat menyeramkan, di antara mata-alisnya menampilkan rasa yang benci kepada sesamanya.

Meski wajah nenek itu tampak seram, namun raut mukanya bersih, pada waktu mudanya jelas seorang wanita cantik, sungguh ia tidak ingat tokoh Kangouw siapakah nenek ini. Segera ia memberi hormat pula dan berkata:

“Cayhe mempunyai seorang kawan terluka parah dan harus disembuhkan dengan darah Kiu-bwe-leng-hou, maka mohon locianpwe sudi memberi bantuan.”

“Ha-ha-ha-ha-ha, he-he-hee...!” mendadak nenek itu terbahak-bahak sambil menengadah. Sampai lama sekali dia terkakah dan terkekeh, namun suara tawanya itu ternyata penuh mengandung rasa pedih. Sesudah tertawa sekian lama barulah ia berkata: “Terluka parah dan harus menolongnya, hmm? Bagus, tapi mengapa anakku terluka parah dan orang lain sama sekali tidak sudi menolongnya?”

Yo Ko terkejut, jawabnya: “Entah siapakah putera Locianpwe? Apakah sekarang masih keburu ditolong?”

Kembali nenek itu terbahak-bahak, katanya: “Apakah masih keburu ditolong? Dia sudah mati berpuluh tahun, mungkin tulang belulangnya juga sudah menjadi abu, masa kau bertanya apakah masih keburu ditolong segala?”

Yo Ko tahu si nenek jadi terkenang kepada kejadian masa lampau sehingga merangsang emosinya, sebab itu dia tidak berani bertanya lagi, terpaksa berkata pula:

“Memang tidak pantas kami datang begini saja untuk memohon bantuan rase kecil ini. Sudah tentu kami tidak ingin menerimanya dengan cuma-cuma, apa bila Locianpwe menghendaki sesuatu, asalkan tenagaku mampu mengerjakannya, pasti akan kulaksanakan dengan baik.”

Nenek itu mengerling sekejap ke arah Kwe Siang, lalu berkata: “Perempuan tua berdiam terpencil di kolam lumpur ini tanpa sanak dan tanpa kadang, hanya sepasang rase inilah teman hidupku. Boleh juga jika kau ingin mengambilnya, tapi nona itu harus ditinggalkan di sini untuk mengawani aku selama sepuluh tahun.”

Yo Ko mengerutkan kening, belum lagi menjawab, mendadak Kwe Siang mendahului berkata dengan tertawa:

“Di sini hanya lumpur melulu, kurasa tidak enak hidup di sini. Jika engkau merasa kesepian, mari tinggal saja di rumahku, apakah kau ingin tinggal selama satu tahun atau sepuluh tahun, ayah-ibuku pasti akan menghormati engkau sebagai kaum locianpwe. Lebih baik begitu, bukan?”

Mendadak nenek itu menarik muka kemudian mendamperat: “Ayah-ibumu itu orang apa? Memangnya begitu saja aku dapat diundang ke sana?”

Watak Kwe Siang memang periang dan sabar, sekali pun orang lain bersikap kasar dihadapinya dengan tertawa saja dan jarang sekali marah. Apa bila ucapan si nenek yang menyinggung kehormatan Kwe Ceng dan Oey Yong ini didengar Kwe Hu, pasti seketika akan terjadi pertengkaran. Tapi Kwe Siang hanya tersenyum dan meleletkan lidahnya pada Yo Ko, lalu tidak bersuara lagi.

Betapa pun Yo Ko memuji keramahan nona cilik ini, sedikit pun tidak menimbulkan kesulitan baginya, maka ia balas mengangguk kepada Kwe Siang sebagai tanda memuji, lalu berpaling dan berkata kepada si nenek:

“Bahwasanya Locianpwe menyukai adik cilik ini, sebenarnya ini adalah kesempatan bagus yang sukar dicari, cuma sebelum mendapat ijin ayah-bundanya, betapa pun Cayhe tak berani mengambil keputusan sendiri.”

“Siapa ayah-ibunya? Kau sendiri siapa?” tanya si nenek dengan bengis.

Yo Ko menjadi gelagapan dan tidak dapat menjawab, akan tetapi Kwe Siang menanggapinya:

“Ayah ibuku adalah orang kampung, biar kukatakan juga Locianpwe tidak kenal, sedangkan dia ini, dia... dia adalah Toakoko-ku!”

Sembari berkata nona itu memandang kepada Yo Ko. Kebetulan saat itu Yo Ko juga memandang padanya, sorot mata kedua orang bentrok. Namun Yo Ko memakai kedok, air mukanya kaku tanpa emosi, hanya sorot matanya jelas menunjukkan rasa akrab yang menghangatkan perasaan. Tergerak hati Kwe Siang, terpikir olehnya: “Jika benar aku mempunyai seorang toakoko (kakak tertua) seperti ini, tentu dia akan menjaga dan membantu diriku, pasti tidak rewel dan selalu mengomeli aku seperti kakak Hu, begini salah, begitu salah, ini dilarang, itu tak boleh.” Berpikir sampai di sini, air mukanya lantas penuh rasa hormat dan kagum kepada Yo Ko.

Yo Ko berkata: “Ya, adikku yang kecil ini tidak tahu urusan, maka aku membawa dia keluar mencari pengalaman. Ketika dilihatnya Kiu-bwe-leng-hou ini sangat aneh dan menarik, dia tahu pasti binatang piaraan orang kosen angkatan tua, sebab itulah dia minta Wanpwe membawanya berkunjung ke sini dan sungguh beruntung sekali dapat bertemu dengan Locianpwe.”

“Hmm, kalian menguber-uber dan memukuli rase piaraanku, apakah begini caranya kalian menghormati kaum Cianpwe?” jengek nenek itu, “Hayo, lekas enyah dari sini dan jangan menemui aku lagi selamanya!”

Setelah itu kedua tangannya terus mengebas ke depan, tangan yang satu mendorong ke arah Yo Ko dan tangan lain mendorong Kwe Siang. Jarak mereka ada dua-tiga meter jauhnya, maka sodokan tangan nenek itu jelas tak dapat mencapai tubuh Yo Ko berdua, tapi tenaga pukulannya ternyata keras dan keji. Serentak Kwe Siang merasakan angin dingin menyampuk tiba.

Penghuni HEK-LIONG-TIM

Akan tetapi lengan baju Yo Ko sempat bergerak sehingga angin pukulan si nenek berhasil dipatahkan, sedangkan tenaga pukulan yang ditujukan kepadanya sama sekali tidak dielakkannya. Sebenarnya nenek itu pun tidak bermaksud mencelakai Yo Ko berdua, tetapi hanya ingin mengusir mereka saja, sebab itulah hanya separoh tenaganya yang digunakan. Tapi dilihatnya kedua orang itu ternyala bergeming sama sekali, mau tak mau dia terkejut dan gusar. Segera dia menghimpun tenaga, kembali kedua tangan menyodok ke depan dengan lebih kuat, kini dia tidak pedulikan lagi mati-hidup pihak lawan.

Pada waktu merasakan angin pukulan nenek itu menyambar tiba, dada Kwe Siang terasa sesak, namun lengan baju Yo Ko mengebas lagi sehingga serangan si nenek dipatahkan lagi. Dia tahu bahwa Yo Ko dan nenek itu sedang mengadu tenaga dalam, tampaknya si nenek menjadi sangat beringas dan menakutkan, sebaliknya Yo Ko berdiri tenang-tenang saja, jelas berada di atas angin alias lebih unggul. Sekonyong-konyong si nenek berkelebat maju, gerakannya cepat luar biasa.

“BIangg!”

Dengan tepat dan keras kedua tangannya menghantam dada Yo Ko. Sekali menyerang segera nenek itu melompat mundur lagi tanpa memberi kesempatan Yo Ko untuk balas menyerang. Keruan Kwe Siang terkejut. Cepat dia menarik tangan Yo Ko dan bertanya:

“Ap... apakah engkau terluka?”

Si nenek lantas berteriak bengis: “Dia sudah terkena pukulan ‘Han-im-cian’ (tenaga panas dingin), ajalnya tidak akan lebih lama dari pada satu hari saja. Dia menerima ganjaran karena perbuatannya sendiri dan tidak dapat menyalahkan orang lain.”

Dengan ilmu silat Yo Ko 15 tahun yang lalu saja tidak dapat ditandingi oleh si nenek, apa lagi sekarang luar-dalamnya sudah tergembleng demikian sempurna, betapa pun lihaynya tenaga pukulan si nenek tak dapat melukainya. Soalnya Yo Ko tiada permusuhan apa pun dengan si nenek, kedatangannya ini ingin memohon barang kesayangan orang tua itu, karenanya dia sengaja membiarkan si nenek menyerang tiga kali tanpa balas menyerang.

Selama likuran tahun nenek itu giat berlatih ilmu pukulan ‘Han-im-cian’ sekaligus sudah dapat menghancurkan 17 potong bata dalam keadaan luar utuh dan dalam remuk. Dan kini jelas Yo Ko terkena pukulannya dengan telak, ia yakin isi perut orang akan remuk, tetapi lawan justru tetap berdiri tenang dan tertawa seperti tidak terjadi sesuatu, ia pikir bocah ini benar-benar kepala batu, sudah dekat ajal masih berlagak gagah. Segera dia berkata:

“Mumpung belum roboh binasa, lekas kau pergi membawa anak dara ini dan jangan sampai mampus di tengah tambakku ini.”

Yo Ko mendongak sambil berseru lantang. “Ha-ha-ha-ha, rupanya sudah lama Locianpwe menyepi di tempat terpencil begini, tentu Locianpwe tak dapat membayangkan betapa hebat kemajuan ilmu silat di dunia ini.” Habis berkata dia sengaja bergelak tertawa, suara keras menggelegar dengan tenaga dalam yang kuat.

Mendengar suara Yo Ko, si nenek tahu bahwa orang ternyata tidak mengalami luka sedikit pun. Mukanya menjadi pucat, tubuhnya sempoyongan. Baru kini dia menyadari bahwa Yo Ko sengaja membiarkan diserang tiga kali, kalau bicara kepandaian sejati, jelas dirinya bukan tandingannya. Tiba-tiba si nenek mengangkat rase kecil dalam pelukannya, lalu ia bersuit. Rase yang satunya langsung menerobos keluar dari onggokan rumput kemudian melompat ke dalam pangkuan si nenek. Lalu ia berkata:

“Kepandaianmu memang hebat, aku sangat kagum padamu. Tetapi kalau engkau ingin merebut rase ini secara kekerasan, hm, jangan kau harap. Asalkan kau melangkah maju setindak, seketika kucekik mati kedua ekor rase ini agar kau datang dan pergi dengan tangan hampa.”

Melihat sikap dan ucapan si nenek yang tegas dan pasti itu, Yo Ko tahu watak orang tua itu amat keras dan kaku, biar pun mati tidak mau menyerah. Mau tak mau ia menjadi serba susah. Jika mendadak menubruk maju dan menotok Hiat-to si nenek, lalu merebut rase, rasanya si nenek bisa membunuh diri saking marahnya. Jika demikian jadinya, maka biar pun Su Siok-kang dapat diselamatkan tapi harus mengorbankan jiwa orang lain. Selagi Yo Ko ragu-ragu, tiba-tiba saja dari jauh berkumandang suara orang menyebut: “Omitohud...!” Menyusul orang itu berkata:

“Loceng (paderi tua) It-teng mohon berjumpa, sudilah kiranya Eng-koh menemui!”

Kwe Siang memandang sekeliling tambak, tapi tidak tampak seorang pun. Padahal suara orang itu tidak begitu keras, jelas datang dari tempat dekat saja, namun sekitar situ jelas tiada tempat bersembunyi, lalu berada di manakah orang yang bersuara itu? Dia pernah mendengar cerita dari ibunya bahwa Ii-teng Taysu adalah tokoh angkatan tua, pernah menolong jiwa ibunya, juga terhitung kakek guru kedua saudara Bu, hanya selama ini paderi sakti itu belum pernah dilihatnya. Kini tiba-tiba didengarnya ada orang menyebut ‘It-teng’, tentu saja dia terkejut dan girang.

Yo Ko gembira sekali mendengar suara It-teng. Ia tahu yang digunakan It-teng Taysu adalah lwekang maha sakti, ilmu menyiarkan gelombang suara dari tempat beberapa li jauhnya. Makin tinggi lwekang-nya, semakin halus suaranya sehingga mirip orang bicara dari dekat saja. Yo Ko kagum sekali mendengar suara It-teng Taysu yang luar biasa itu, betapa pun dia merasa tenaga dalam sendiri tak dapat menandingi paderi sakti itu, pikirnya pula: “Kiranya nenek ini bernama Eng-koh. Entah ada urusan apa It-teng Taysu ingin menemuinya? Jika paderi itu suka tampil ke muka, mungkin sekali rase ini akan bisa diperoleh.”

Kiranya nenek penghuni Hek-liong-tam ini memang betul bernama Eng-koh. Ketika masih menjadi raja negeri Tayli, aslinya It-teng Taysu she Toan dan terkenal sebagai tokoh Raja Selatan di dunia Kangouw. Sebagai raja sudah tentu cukup banyak selir-nya, Eng-koh adalah salah satu selir kesayangannya ketika itu. Tapi pada suatu hari Toan-hongya (raja Toan) kedatangan tamu yang terkenal, yaitu Ong Tiong-yang dari Coan-cin-kau beserta Sute-nya, yakni si Anak Tua Nakal Ciu Pek-thong. Mungkin sudah suratan nasib, selama tinggal beberapa lama di negeri Tayli, dasar watak Ciu Pek-thong memang suka keluyuran, secara kebetulan dia memergoki Eng-koh sedang berlatih silat (ajaran Toan-hongya).

Karena sifatnya yang jahil dan tidak peduli mengenai adat lelaki dan perempuan, Ciu Pek-thong mendekati Eng-koh kemudian mengajaknya ngobrol mengenai ilmu silat (Ciu Pek-thong itu memang orang yang keranjingan ilmu silat). Bicara punya bicara, akhirnya keduanya jatuh cinta dan ‘ada main’ hingga membuahkan seorang anak laki-laki. Pada waktu Toan-Hongya kedatangan musuh, yaitu Kiu Jian-yim yang kemudian terkenal sebagai Cu-in Hwesio, secara licik Kiu Jian-yim melukai anak haram hasil ‘semokel’ antara Ciu Pek-thong dan Eng-koh itu, tujuannya memaksa Toan-hongya menyelamatkan orok itu dengan menggunakan It-yang-ci, dengan begitu tenaga dalamnya terpaksa harus dikorbankan dan sukarlah dipulihkan dalam waktu singkat, dalam keadaan demikian Kiu Jian-yim yakin pasti dapat mengalahkan Toan-hongya.

Tak terduga tipu muslihatnya ini ternyata diketahui Toan-hongya. Lagi pula dia cemburu karena hubungan gelap Eng-koh dengan Ciu Pek-thong, maka dia bertekad tidak mau menolongnya sehingga anak itu mati. Toan-hongya sangat menyesal. Akibatnya dia cukur rambut dan menjadi Hwesio dengan gelar It-teng.

Kematian anaknya tentu saja membuat Eng-koh menjadi sakit hati dan merana, maka dia lantas minggat dari negeri Tayli. Suatu ketika dia memergoki Kiu Jian-yim di puncak Hoa-san, tetapi tidak berhasil membunuhnya. Ia pun bertemu dengan Ciu Pek-thong dan ingin bicara, tetapi si Anak Tua Nakal itu kabur. Soalnya dia merasa malu dan berdosa, maka tidak berani menemui bekas kekasihnya. Kemudian Eng-koh mengembara tanpa tujuan dan akhirnya menetap di Hek-liong-tam ini.

Sebenarnya sudah belasan hari It-teng Taysu berada di tepi Hek-liong-tam dan setiap hari selalu berseru mohon bertemu, akan tetapi Eng-koh masih sakit hati karena dahulu bekas raja Tayli itu sungguh tega tidak mau menolong jiwa anaknya, maka dia tetap tidak mau menemuinya. Begitulah Eng-koh tampak lesu kemudian mundur duduk di atas onggokan kayu, sorot matanya kelihatan dendam dan benci. Selang tidak lama, terdengar It-teng berseru lagi:

“Dari jauh It-teng datang ke sini, hanya untuk mohon bertemu sejenak dengan Eng-koh.”

Namun Eng-koh tetap tidak menggubrisnya. Yo Ko menjadi heran. Dia pikir kepandaian It-teng jauh lebih tinggi dari pada Eng-koh, jika dia mau menemuinya ke sini nenek ini takkan dapat menolaknya, mengapa dia mesti memohon dari kejauhan? Dalam pada itu terdengar It-teng kembali berseru memohon. Setelah Eng-koh tetap tidak memberi jawaban, lalu tidak diulangi lagi, suasana kembali sunyi.

“Toakoko,” kata Kwe Siang. “It-teng Taysu itu adalah tokoh yang luar biasa, maukah kita ke sana menemuinya?”

“Baik, memang aku juga ingin menemui beliau,” jawab Yo Ko.

Terlihat Eng-koh bangkit perlahan dengan sorot mata bengis. Meski pun Yo Ko tidak gentar, tapi tidak enak juga perasaannya melihat sikap orang ini. Segera ia pegang tangan Kwe Siang dan berkata:

“Mari pergi!”

Sekali melayang, segera kedua orang meluncur ke tengah tambak. Setelah berpuluh meter dibawa Yo Ko meluncur, akhirnya Kwe Siang bertanya:

“Toakoko, berada di manakah Taysu? Suaranya seperti berada di sebelah sini saja.”

Dua kali Yo Ko dipanggil ‘Toakoko’ dengan suara yang halus dan mesra, hatinya menjadi terkesiap juga. Pikirnya: “Cintaku kepada Liong-ji suci murni dan tidak mungkin bergoyah, betapa pun aku tak boleh terjerumus lagi ke jaringan asmara. Nona cilik ini usianya masih amat muda dan kekanak-kanakan, lebih baik selekasnya berpisah supaya tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan.”

Akan tetapi berada di atas lumpur berselimutkan salju itu, sedetik pun tak boleh berhenti, lebih-lebih tidak mungkin mengendurkan pegangannya pada tangan si nona.

“Toakoko,” kembali Kwe Siang berkata, “Kutanya kau, apakah engkau tidak mendengar?”

“It-teng Taysu berada di timur laut, kira-kira dua-tiga li dari sini,” jawab Yo Ko. “Meski suaranya kedengaran dekat, tetapi sebenarnya berada cukup jauh. Dia menggunakan ilmu ‘jian-li-toan-im’ (mengirim gelombang suara dari jauh).”

“He, apakah engkau juga mahir ilmu itu?” tanya Kwe Siang. “Maukah engkau mengajarkan padaku? Agar aku pun dapat bicara denganmu dengan ilmu itu kalau kelak kita berpisah di tempat jauh, menyenangkan bukan?”

“Namanya saja mengirim gelombang suara dari jauh, sesungguhnya kalau bisa mencapai dua-tiga li saja sudah luar biasa,” ujar Yo Ko sambil tertawa. “Untuk mencapai kepandaian setingkat It-teng Taysu, biar pun secerdas kau harus berlatih hingga rambut ubanan.”

Kwe Siang sangat senang karena orang memujinya cerdas, lalu katanya pula: “Ah, aku ini cerdas apa? Kalau aku mempunyai dua bagian kecerdasan ibuku saja aku sudah merasa puas.”

Hati Yo Ko tergerak. Dari raut muka si nona ia melihat samar-samar ada beberapa bagian menyerupai Oey Yong. Pikirnya: “Tokoh-tokoh yang kukenal selama hidup baik lelaki mau pun perempuan, kalau bicara tentang kepintaran dan kecerdasan rasanya tiada orang lain yang bisa menandingi Kwe-pekbo. Apakah mungkin nona cilik ini puteri bibi Kwe?”

Tetapi segera dia tertawa geli sendiri dan anggap jalan pikirannya itu terlalu mengada-ada. Masa di dunia ini bisa terjadi sedemikian kebetulan? Kalau benar nona ini puteri Kwe-pekbo, mana mungkin paman dan bibi Kwe membiarkannya berkeliaran di Iuar? Maka ia coba bertanya kepada Kwe Siang:

“Siapakah ibumu?”

“lbu ya ibu, meski kukatakan juga kau tidak kenal,” jawab Kwe Siang dengan tertawa. “Eh, Toakoko, kepandaianmu lebih tinggi atau kepandaian It-teng Taysu lebih tinggi?”

Usia Yo Ko sekarang sudah mendekati setengah baya, kenyang mengalami gemblengan kehidupan dan merasakan betapa pahit getirnya sejak berpisah dengan Siao-liong-Ii. Meski pun semangat ksatrianya tak berkurang, tapi sifat dugalnya di masa muda hampir lenyap seluruhnya. Maka dia menjawab:

“It-teng Taysu sangat terhormat di dunia persilatan. Berpuluh tahun yang silam namanya sudah sama tinggi dengan Tho-hoa-tocu dan lain-lainnya. Beliau adalah Lam-te (raja di selatan), yaitu satu di antara lima tokoh terkemuka di jaman itu. Mana aku dapat dibandingkan beliau?”

“Wah, jika begitu, kalau engkau dilahirkan lebih dini beberapa puluh tahun yang lalu, tentu tokoh tertinggi waktu itu bukan lagi lima orang, tapi enam. Konon mereka disebut Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, lalu engkau sendiri berjuluk apa? Ahh, pasti juga Sin-tiau-tayhiap. Oya, masih ada lagi Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin.”

Yo Ko bertanya pula: “Apakah kau pernah melihat Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin?”

“Sudah tentu aku pernah melihat mereka, malahan mereka sangat sayang padaku,” sahut Kwe Siang. “Ehh, Toakoko, apakah engkau juga kenal beliau-beliau itu? Nanti kalau urusan di sini sudah beres, maukah kita pergi menyambangi mereka?”

Yo Ko benci pada Kwe Hu yang telah membuntungi lengannya, tapi setelah lewat sekian tahun, rasa benci itu menipis. Tapi Siao-liong-li mengidap racun sehingga terpaksa harus berpisah 16 tahun, persoalan ini tak dapat tidak membuatnya amat dendam kepada Kwe Hu. Maka dengan hambar saja dia menjawab:

“Pada tahun depan bisa jadi aku akan berkunjung kepada Kwe-tayhiap dan isterinya, tapi harus tunggu dulu setelah aku bertemu dengan isteriku dan kami berdua akan pergi ke sana bersama.” Begitu menyebut Siao-liong-li, tanpa terasa timbul hasratnya yang menyala.

Kwe Siang dapat merasakan telapak tangan Yo Ko yang tiba-tiba menjadi panas. Segera ia bertanya pula.

“lsterimu tentu sangat cantik dan ilmu silatnya pasti sangat tinggi pula.”

“Kukira di dunia ini tak ada orang lain yang lebih cantik dari pada dia,” kata Yo Ko. “Kalau bicara tentang ilmu silat, saat ini dia tentu juga melebihi diriku.”

Kwe Siang menjadi sangat hormat dan kagum sekali, katanya: “Toakoko, engkau harus membawa diriku menemui isterimu, maukah kau berjanji?”

“Kenapa tidak?” ujar Yo Ko sambil tertawa. “Aku yakin nyonyaku juga pasti suka padamu. Saat itu barulah kau benar-benar memanggil aku Toakoko.”

“Apakah sekarang aku tidak boleh memanggil begitu padamu?” tanya Kwe Siang dengan melengak.

Karena sedikit merandek, sebelah kakinya kejeblos ke dalam lumpur. Untung Yo Ko menariknya melompat jauh ke depan. Tampaklah di kejauhan sana berdiri seseorang dengan jenggot panjang dan memakai jubah paderi berwarna kelabu, siapa lagi kalau bukan It-teng Taysu.

Cepat Yo Ko berseru: “Tecu Yo Ko memberi hormat kepada Taysu!” Sambil menarik Kwe Siang sekaligus dia meluncur ke depan paderi sakti itu.

Tempat berada It-teng di tepi kolam lumpur Hek-liong-tam. Ia menjadi girang sekali ketika mendengar nama Yo Ko, maka dia membangunkannya ketika Yo Ko datang menyembah. Katanya dengan tertawa:

“Apakah selama ini baik-baik, saudara Yo? Pesat amat kemajuan ilmu saktimu, sungguh menggembirakan dan mengagumkan.”

Waktu Yo Ko bangkit dilihatnya di belakang It-teng sana menggeletak seseorang dengan muka pucat lesi mirip mayat. Ia melengak, ketika ia awasi, kiranya Cu-in Hwesio adanya.

“Kenapakah Cu-in Taysu?” tanya Yo Ko terkejut.

“Dia dilukai orang, meski pun sudah kutolong sepenuh tenaga tetap sukar menyembuhkannya,” tutur It-teng menyesal.

Yo Ko mendekati Cu-in lantas memeriksa nadinya. Terasa denyutnya sangat Iemah, sesudah lama sekali barulah kembali berdenyut perlahan. Kalau saja Iwekang Cu-in tidak kuat, mungkin sudah lama dia menghembuskan napas penghabisan.

“Kepandaian Cu-in Taysu sedemikian tinggi, entah siapakah yang sanggup melukainya?” tanya Yo Ko heran.

“Ketika itu kami bermaksud pulang ke Tayli karena ada kabar bahwa pasukan Mongol maksud menyerbu ke daerah selatan,” tutur It-teng. “Sebelum berangkat Cu-in telah keluar mencari keterangan mengenai keadaan, tapi di tengah jalan kepergok seseorang dan mereka bertempur selama tiga hari tiga malam. Akhirnya Cu-in terluka parah.”

“Ah, kiranya keparat Kim-lun Hoat-ong telah datang ke Tionggoan lagi,” ujar Yo Ko sambil membanting kaki ke tanah.

“He, Toakoko, dari mana engkau mengetahui orang itu Kim-lun Hoat-ong?” tanya Kwe Siang heran, “padahal It-teng Taysu tidak menyebutkannya.”

“It-teng Taysu bilang mereka bertempur selama tiga hari tiga malam, maka jelas luka Cu-in Taysu bukan disergap musuh yang licik,” jawab Yo Ko. “Di dunia ini orang yang mampu melukai Cu-in Taysu jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan di antara beberapa orang ini hanya Kim-lun Hoat-ong saja tergolong orang jahat.”

“Toakoko, lekaslah engkau mencari bangsat itu dan hantam dia untuk membalaskan sakit hati Toa-hwesio ini,” ujar Kwe Siang.

Tiba-tiba Cu-in yang menggeletak dengan kempas-kempis di tanah itu membuka matanya sedikit dan menggeleng perlahan kepada Kwe Siang.

“Kenapa? Memangnya kau tidak ingin membalas dendam?” tanya Kwe Siang heran, “Ahh, barang kali maksudmu Kim-lun Hoat-ong itu terlampau lihay dan kuatir Toakoko tak dapat menandinginya?”

“Kau salah duga, nona cilik,” sela It-teng. “Muridku ini telah banyak berbuat dosa. Selama belasan tahun berusaha menebus dosanya tetapi ternyata tidak pernah tercapai, hal ini yang selalu mengganjal hatinya dan membuatnya mati pun tak tenteram. Jadi bukan maksudnya ingin orang membalaskan sakit hatinya, tapi justru mengharapkan pengampunan dari seseorang agar dia dapat mangkat dengan hati tenteram.”

“Apakah nenek di kolam lumpur ini yang dia inginkan?” tanya Kwe Siang, “Hati nenek itu sangat keras, jika bersalah padanya, tidak akan dia mengampuni orang begitu saja.”

“Justru begitulah,” kata It-teng dengan menghela napas, “Kami sudah memohonnya di sini selama tujuh hari tujuh malam sama sekali dia tidak mau menemui kami.”

Tiba-tiba hati Yo Ko tergerak. Teringat olehnya kata-kata si nenek tentang anaknya yang terluka dan orang yang dimintai pertolongan tidak mau menyembuhkannya. Segera dia bertanya:

“Apakah berhubungan dengan anaknya yang terluka dan tak tertolong itu?”

Badan It-teng bergetar, sahutnya sambil mengangguk: “Ya, kiranya kau pun sudah tahu?”

“Sesungguhnya Tecu tidak tahu,” jawab Yo Ko. “Cuma tadi Locianpwe di tengah kolam itu menyinggungnya sedikit.” Lalu dia pun mengisahkan pengalamannya bertemu dengan si nenek tadi.

“Dia bernama Eng-koh,” tutur It-teng pula, “dahulu dia adalah isteriku. Wataknya memang keras. Aih, kalau tertunda lebih lama lagi mungkin Cu-in tidak tahan.”

Seketika timbul macam-macam tanda tanya dalam benak Kwe Siang, tetapi dia tak berani bertanya. Dengan gegetun Yo Ko lantas berkata:

“Setiap orang tentu pernah berbuat salah, apa bila menyadari salahnya, maka apa yang sudah lampau dapatlah dianggap selesai. Rasanya jiwa Eng-koh ini juga teramat sempit.” Dilihatnya ajal Cu-in sudah dekat, timbul jiwa ksatrianya yang ingin menolong, segera ia menambahkan: “Taysu, maafkan jika Tecu memberanikan diri memaksa Eng-koh ke sini.”

It-teng Taysu termenung sejenak. Dia pikir kedatangannya dengan Cu-in ini adalah untuk minta ampun kepada Eng-koh, rasanya tak pantas memakai kekerasan. Tapi permohonan dengan sopan sudah sekian lamanya dan Eng-koh tetap tidak mau menemuinya, agaknya kalau tetap memohon begitu saja juga percuma. Jika Yo Ko mempunyai caranya sendiri, rasanya boleh juga dicoba, umpama tidak berhasil, paling juga cuma gagal bertemu saja. Maka ia lantas menjawab:

“Kalau Yo-heng dapat membujuknya keluar, tentu segala persoalan menjadi beres. Cuma sedapatnya jangan sampai menimbulkan sengketa baru sehingga malah menambah dosa mereka.”

Yo Ko mengiyakan, kemudian ia merobek sapu tangan menjadi empat potong, dua potong digunakan menyumbat telinga Cu-in, dua potong lainnya diberikan kepada si nona. Setelah itu ia lantas menghimpun tenaga dalam dan minta maaf dulu kepada It-teng, lalu ia menengadah dan mengeluarkan suara nyaring panjang. Suara suitannya ini mula-mula nyaring bening dan berkumandang jauh, lama-lama suaranya berubah melengking tajam, lalu berubah keras bergemuruh laksana bunyi guntur.

Meski kupingnya sudah disumbat kain, tak urung muka Kwe Siang berubah pucat karena getaran suara yang membuat jantungnya berdebar-debar. Suara gemuruh itu terus berlangsung bergelombang hingga mirip deburan ombak samudera. Kwe Siang merasa dirinya seolah-olah berdiri di tanah lapang dan guntur terus berbunyi mengelilinginya. Ia menjadi takut dan gelisah.

“Toakoko, lekas berhenti, aku tidak tahan!” teriaknya.

Akan tetapi suaranya ternyata tenggelam di tengah suitan Yo Ko yang hebat itu, bahkan ia sendiri tidak mendengar apa-apa, terasa pikiran menjadi linglung dan pandangan kabur. Untung pada saat itu It-teng sudah mengulurkan tangannya memegangi telapak tangan Kwe Siang. Segera terasalah hawa hangat tersalur dari tangan paderi sakti itu. Tahulah dia paderi sakti itu sedang membantunya dengan tenaga dalamnya yang sangat kuat, Segera ia pun memejamkan mata dan mengerahkan tenaga dalam sendiri. Sejenak kemudian, meski pun suara gemuruh tadi masih tetap memekak telinga, tetapi pikirannya sudah tidak bergolak lagi.

Sesudah bersuit panjang sekian lamanya, ternyata Yo Ko tetap bersemangat dan kuat, sedikit pun tiada tanda-tanda lelah. Diam-diam It-teng merasa kagum. Ia merasa semasa mudanya dahulu juga tidak sekuat Yo Ko sekarang ini, apa lagi kini usianya sudah lanjut, jelas tak dapat dibandingkan anak muda ini.

Selang tak lama kemudian, tampaklah sesosok bayangan meluncur dari Hek-liong-tam. Sekali Yo Ko mengebaskan lengan bajunya, suara suitan berhenti. Baru saja Kwe Siang menghela napas lega dan belum lagi pulih air mukanya, terdengar bayangan orang tadi berseru melengking dan jauh:

“Toan-hongya, caramu malang melintang memaksa aku keluar, sebenarnya ada urusan apa?”

“Adik Yo inilah yang mengundang kau,” jawab It-teng.

Tengah bicara, tahu-tahu bayangan orang tadi sudah mendekat. Siapa lagi kalau bukan Eng-koh. Eng-koh menjadi ragu-ragu mendengar jawaban It-teng. Dia heran di dunia ini kecuali Toan-hongya ternyata masih ada lagi yang memiliki kekuatan sehebat ini. Padahal orang yang mukanya sukar diketahui dengan pasti ini berambut hitam, umurnya paling banyak juga belum ada 40 tahun, tetapi Iwekang-nya ternyata selihay ini, sungguh luar biasa dan mengagumkan!

Sebenarnya Eng-koh bertekad tidak mau menemui Toan-hongya alias It-teng Taysu, tapi suara Yo Ko tadi membuatnya gelisah. Ia tahu jika dirinya tidak keluar, sekali tenaga dalam orang dikerahkan, maka pikirannya akan terguncang dan mungkin sekali akan roboh dan terluka dalam. Karena itulah terpaksa ia keluar walau pun dengan sikap ogah-ogahan.

“lni, rase ini kuberikan kepadamu, anggaplah aku menyerah padamu dan lekas pergi dari sini,” kata Eng-koh kepada Yo Ko dengan rasa dongkol. Habis itu dia pegang leher seekor rasenya terus hendak dilemparkan ke arah Yo Ko.

“Nanti dulu,” seru Yo Ko, “urusan rase soal kecil, ada urusan penting yang hendak dibicarakan It-teng Taysu, harap engkau suka mendengarkannya.”

Eng-koh memandang It-teng dengan sikap dingin, lalu katanya: “Baiklah, silakan Hongya memberi-tahu.”

“Kejadian masa lampau laksana impian belaka, sebutan di waktu dahulu untuk apa digunakan lagi?” ujar It-teng Taysu dengan gegetun. “Eng-koh, apakah kau masih kenal dia?” Ia menuding Cu-in yang menggeletak di tanah.

Sekarang Cu-in memakai jubah Hwesio, bahkan mukanya telah banyak berbeda dari pada pertemuan di Hoa-san lebih 30 tahun yang lalu, Maka hakikatnya Eng-koh telah pangling. Katanya sesudah memandang sekejap ke arah Cu-in:

“Mana aku kenal Hwesio ini?”

“Dahulu siapakah yang menyerang anakmu dengan cara keji?” tanya It-teng.

Seketika tubuh Eng-koh gemetar, air mukanya berubah pucat kemudian berubah menjadi merah, katanya dengan suara terputus-putus:

“Jadi... jadi dia ini bangsat Kiu Jian-yim itu? Biar pun... biar pun tulang belulangnya menjadi abu tetap kukenali.”

“Kejadian itu sudah berpuluh tahun yang lalu dan kau masih tetap mendendam dan tidak melupakannya,” ujar It-teng dengan menghela napas. “Orang ini memang betul Kiu Jian-yim adanya. Sedangkan mukanya saja kau pangling, tapi dendam lama itu belum pernah kau lupakan.”

Tiba-tiba saja Eng-koh menubruk ke sana, kesepuluh jarinya laksana kaitan hendak ditancapkan ke dada Cu-in. Ia coba mengamat-amati wajahnya, samar-samar dia merasa rada mirip Kiu Jian-yim, tapi setelah diawasi lebih teliti, rasanya seperti bukan. Kedua pipi paderi ini cekung dan menggeletak tak bergerak, tampaknya sudah tiga perempat mati.

“Apakah orang ini benar-benar Kiu Jian-yim?!” teriak Eng-koh bengis, “Buat apa dia ke sini menemui aku?”

“Dia memang betul Kiu Jian-yim,” kata It-teng. “Dia merasa dosanya terlampau besar dan sudah memeluk agama Budha serta menjadi muridku, nama agamanya Cu-in.”

“Hm, sesudah berbuat dosa, dengan menjadi Hwesio lantas segala dosanya akan punah? Pantas di dunia ini tambah banyak orang yang menjadi Hwesio,” jengek Eng-koh.

“Dosa tetap dosa, mana mungkin ditebus dengan menjadi Hwesio?” ujar It-teng. “Kini Cu-in terluka parah, ajalnya tinggal beberapa saat saja. Teringat olehnya dosa mencelakai anakmu, maka dia merasa tidak tenteram dan sekuatnya dia bertahan, dan dari jauh datang ke sini untuk memohon ampun padamu atas dosanya.”

Dengan mata melotot Eng-koh memandangi It-teng Taysu hingga lama sekali, wajahnya mengunjuk penuh rasa dendam dan benci, seakan seluruh duka derita selama hidupnya ingin dilampiaskan dalam sekejap ini.

Melihat air muka Eng-koh yang benar-benar menyeramkan itu, Kwe Siang menjadi takut. Terlihat kedua tangan Eng-koh diangkat dan segera akan dijatuhkan atas tubuh Cu-in. Meski pun merasa takut tapi dasar pembawaan Kwe Siang memang berbudi luhur, segera ia membentak:

“Nanti dulu! Dia sudah tidak bisa berkutik, tapi kau hendak menyerangnya pula, sebab apa kau tega berbuat demikian?”

“Hm, dia membunuh anakku, selama berpuluh tahun aku menanti dengan menderita dan akhirnya aku dapat mencabut jiwanya dengan tanganku sendiri walau pun rasanya sudah agak terlambat, tapi kau masih bertanya sebab-sebabnya?” jengek Eng-koh.

“Kalau dia sudah menyadari kesalahannya dan mengaku berdosa, buat apa kejadian yang lampau diungkat-ungkat lagi?” ujar Kwe Siang.

“He-he-he-he!” Eng-koh terkekeh sambil menengadah. “Enak saja kau bicara, anak dara. Coba jawab. Andaikan yang dibunuh adalah anakmu, bagaimana?”

“Dari... dari mana aku mempunyai anak?” jawab Kwe Siang gelagapan.

“Atau yang dibunuh suamimu, kekasihmu, atau Toakoko-mu ini?” jengek Eng-koh pula.

Muka Kwe Siang menjadi merah, katanya: “Kau ngaco-be!o! Dari... dari mana datangnya suami atau kekasihku?”

Makin bicara makin meluap rasa marah Eng-koh, dia tidak mau banyak omong lagi, sambil menatap Cu-in segera tangannya hendak menghantam ke bawah.

SATU LAWAN DUA

Tapi mendadak terlihat Cu-in menghela napas dengan menyungging senyum dan berkata dengan perlahan:

“Terima kasih Eng-koh sudi menyempurnakan diriku.”

Eng-koh melengak dan pukulannya tidak jadi diteruskan, bentaknya: “Menyempurnakan apa katamu?!”

Tetapi segera dia paham maksud orang. Rupanya Cu-in yakin pasti dirinya mati, maka dia ingin diberi satu pukulan supaya dapat mati di tangannya, jadi pukulan yang dulu pernah menewaskan anaknya sudah dibalas dengan pukulan maut pula, dengan begitu dosanya tertebus. Dengan tertawa dingin Eng-koh lantas berkata.

“Masa begini enak bagimu? Aku tidak akan membunuh kau, tapi aku pun tak pernah mengampuni kau!” Kalimat ini diucapkan dengan tegas dan seram sehingga membuat orang mengkirik.

Yo Ko tahu watak It-teng Taysu welas asih dan tidak mungkin bersitegang dengan bekas selirnya itu, sedangkan Kwe Siang adalah seorang anak kecil, apa yang dikatakan tentu tidak mendapat perhatian Eng-koh, kalau dirinya tidak ikut campur tentu urusan ini takkan beres. Maka dengan ketus ia berkata:

“Eng-locianpwe, persoalan suka-duka di antara kalian sebetulnya tidak jelas bagiku, cuma saja ucapan dan tindak-tanduk cianpwe terasa agak keterlaluan bagiku, maka betapa pun juga aku menjadi ingin ikut campur tangan urusan ini.”

Eng-koh berpaling dengan hati terkesiap. Dia sudah pernah bergebrak dengan Yo Ko, dari suara suitan-nya tadi ia pun tahu kepandaian orang ini jauh di atasnya dan tidak mungkin ditandingi. Sungguh tak terduga dalam keadaan demikian ada orang tampil ke muka dan main kekerasan. Setelah dipikir dan pikir lagi, tanpa terasa ia menjadi sedih dan merasa nasibnya teramat tidak beruntung, ia duduk mendeprok dan menangis tergerung-gerung. Tangisnya Eng-koh ini tidak saja membuat bingung Yo Ko dan Kwe Siang, bahkan di luar dugaan juga It-teng Taysu. Terdengar Eng-koh menangis sambil mengomel:

“Kalian ini hendak bertemu dengan aku, cara halus tidak dapat lantas memakai kekerasan, tapi orang itu tidak mau menemui aku, kenapa kalian tidak ambil pusing?”

“He, Locianpwe, siapakah yang tidak mau bertemu dengan kau?” tanya Kwe Siang cepat “Bagaimana jika kami membantu kau?”

Tanpa menjawab Eng-koh melanjutkan keluhannya: “Kalian hanya bisa menganiaya kaum wanita macam diriku, kalau ketemu tokoh yang benar-benar lihay, masa kalian berani mengutiknya?”

Kwe Siang lantas menanggapi lagi: “Anak kecil seperti diriku tentu saja tak berguna, tapi sekarang di sini kan ada It-teng Taysu dan Toakoko-ku, memangnya kita takut kepada siapa?”

Eng-koh termenung sejenak, mendadak ia bangkit dan berseru: “Baik, asalkan kalian mencari dia dan membawanya ke sini menemui aku dan biarkan dia bicara sebentar dengan aku, maka apa pun kehendak kalian, ingin rase atau minta aku berdamai dengan Kiu Jian-yim, semuanya kuterima.”

“Eh, Toakoko, apakah transaksi ini dapat diterima?” tanya Kwe Siang kepada Yo Ko.

“Siapakah yang ingin cianpwe temui, masa begitu sulit?” tanya Yo Ko.

“Boleh kau tanya dia,” jawab Eng-koh sambil menuding It-teng Taysu.

Sekilas melihat air muka bersemu merah, Kwe Siang menjadi heran, masa sudah tua begitu masih bisa malu-malu seperti anak perawan? Melihat Yo Ko dan Kwe Siang menatap ke arahnya, dengan perlahan It-teng lantas menutur:

“Yang dia maksudkan adalah Ciu-suheng, Lo-wan-tong Ciu Pek-thong.”

“Ah, kiranya Lowantong yang dimaksudkan,” seru Yo Ko girang. “Dia sangat baik padaku, biarlah aku pergi mencari dan membawanya ke sini untuk menemuimu.”

“Namaku Eng-koh, kau harus katakan jelas-jelas kepadanya bahwa dia akan dibawa ke sini menemui aku,” kata Eng-koh. “Jika tidak, begitu melihat bayanganku segera dia kabur dan sukar lagi mencarinya. Asalkan ia mau datang ke sini maka setiap permintaan kalian pasti akan kupenuhi.”

Yo Ko melirik It-teng, nampak paderi itu menggeleng perlahan. Maka diduganya di antara Ciu Pek-thong dan Eng-koh pasti ada persengketaan berat hingga keduanya tidak mungkin dipertemukan. Tetapi lantas teringat olehnya bahwa Ciu Pek-thong itu berpikiran seperti anak kecil, bukan mustahil akan dapat memancingnya ke sini dengan akal aneh, Maka ia lantas berkata:

“Lo-wan-tong itu berada di mana sekarang? Pasti akan aku usahakan untuk mengajaknya ke sini.”

“Kira-kira lebih 200 li dari sini ke utara ada sebuah lembah Pek-hoa-kok (lembah seratus bunga), dia mengasingkan diri di sana dan mencari kesenangan dengan beternak lebah,” tutur Eng-koh.

Mendengar kata-kata ‘beternak lebah’, Yo Ko terkenang kepada Siao-liong-li. Teringat olehnya dahulu Ciu Pek-thong diajari oleh Siao-liong-li cara memiara tawon dan menguasainya, tanpa terasa hatinya menjadi sedih dan mata merah. Katanya kemudian:

“Baiklah, sekarang juga Wanpwe akan mencari Lo-wan-tong, harap kalian tunggu di sini.” Dia tanya letak Pek-hoa-kok lebih jelas, lalu melangkah pergi.

Tanpa bicara Kwe Siang ikut di belakangnya. Yo Ko lantas mengisiki anak dara itu: “Ilmu silat It-teng Taysu maha tinggi, orangnya juga welas asih, kau tinggal sementara di sini dan mohon belajar sedikit kepandaian padanya. Asal beliau mau memberi petunjuk, maka beruntunglah bagimu.”

“Tidak, aku ingin ikut kau pergi menemui Lo-wan-tong,” kata Kwe Siang.

Yo Ko mengernyitkan kening, katanya: “Sesungguhnya inilah kesempatan yang sukar dicari, mengapa malah kau sia-siakan?”

“Aku tidak ingin belajar ilmu apa pun,” ujar Kwe Siang. “Setelah ketemu Lo-wan-tong tentu kau akan pergi, aku pun harus pulang, maka biarlah aku ikut pergi saja dengan kau.”

Arti kata-kata ini adalah merasa waktu berkumpul sudah tidak banyak lagi, apa bila dapat berdampingan dengan sang toakoko lebih lama lagi ini yang diharapkan. Melihat anak dara itu merasa berat untuk berpisah dengan dirinya, Yo Ko merasa sangat terharu. Dengan tersenyum ia lantas berkata:

“Semalaman kau tidak tidur, apakah kau tidak letih dan mengantuk?”

“Ngantuk sih memang ngantuk, tapi aku tetap ingin ikut kau,” kata Kwe Siang.

“Baiklah,” Yo Ko gandeng tangan anak dara itu dan melayang ke depan secepat terbang dengan Ginkang yang tinggi.

Karena tarikan Yo Ko ini, tubuh Kwe Siang terasa enteng, langkahnya tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun, dengan tertawa dia berkata:

“Apa bila tanpa digandeng olehmu aku sanggup berlari secepat ini, puaslah aku.”

“Ginkang-mu sudah mempunyai dasar yang baik, kalau berlatih terus akhirnya kau pasti mencapai tingkatan seperti ini,” ujar Yo Ko. Mendadak ia menengadah dan bersuit.

Kwe Siang kaget dan cepat mendekap kupingnya, tetapi Yo Ko sudah tidak bersuit lagi, maka tampaklah si rajawali raksasa itu muncul dari balik semak-semak pohon.

“Tiau-heng, ada sesuatu urusan kita harus ke utara, mari engkau pun ikut,” kata Yo Ko.

Rajawali itu lantas tegakkan leher dan berkaok beberapa kali, entah paham entah tidak, yang jelas dia lantas ikut berangkat bersama Yo Ko. Kira-kira dua tiga li jauhnya, lari rajawali itu semakin cepat, meski Kwe Siang mengganduI Yo Ko masih juga tidak mampu menyusul burung itu. Rupanya rajawali itu menjadi tidak sabar lagi, tiba-tiba ia berhenti dan mendakkan tubuh di depan Kwe Siang.

“Tiau-heng bersedia menggendong kau,” kata Yo Ko sambil tertawa, “Kau harus berterima kasih padanya.”

Kwe Siang tidak berani kasar lagi kepada rajawali itu, lebih dulu dia memberi hormat, lalu mencemplak ke atas punggungnya. Segera rajawali itu mengayunkan langkahnya yang lebar. Seketika Kwe Siang merasa seperti dibawa terbang, pepohonan di kedua samping melayang ke belakang, meski belum secepat terbang kedua ekor rajawali di rumahnya, tapi sudah lebih cepat dari pada kuda lari. Yo Ko kelihatan mengintil di sebelah burung itu tanpa ketinggalan sedikit pun, terkadang dia malah mengajak bicara dan bergurau. Hati si nona senang bukan main. Ia merasa pengalamannya sekali ini jauh lebih aneh dan menggembirakan dari pada pengalaman sebelumnya.

Menjelang lohor, sudah lebih dari 200 li mereka lalui. Yo Ko terus melintasi bukit menurut petunjuk Eng-koh hingga akhirnya pandangannya terbeliak, di depan sana sebuah lembah menghijau permai dengan aneka macam bunga mekar mewangi. Sepanjang jalan mereka menyelusuri tanah salju melulu, sampai di sini seakan-akan memasuki suatu dunia lain. Serentak Kwe Siang bersorak gembira dan melompat turun dan punggung rajawali sambil berteriak:

“Wah, pintar sekali Lo-wan-thong menikmati hidup, sungguh suatu tempat ajaib yang sukar dicari. Eh, Toakoko, coba katakan, kenapa tempat ini sedemikian indahnya?”

“Lembah ini menghadap ke selatan, gunung di belakangnya menghalangi angin dari utara, mungkin di bawah tanah sini banyak tambang batu bara dan belerang atau sebangsanya, makanya suhu tanah di sini cukup hangat, pula suasana selalu semarak seperti di musim semi dan bunga mekar serentak.”

BegituIah sambil bicara mereka terus memasuki lembah gunung itu. Sesudah membelok lagi beberapa kali, terlihatlah di depan sana sebuah selat diapit tebing gunung di kanan kiri, di tengahnya tumbuh tiga pohon Siong tua menjulang tinggi laksana malaikat penjaga pintu selat. Menyusul lantas terdengar suara mendengung yang riuh ramai, banyak sekali tawon putih beterbangan di sekitar pohon. Yo Ko tahu Ciu Pek-thong pasti berada di situ, maka segera ia berseru lantang:

“Hai, Lo-wan-tong, adik Yo Ko membawa kawan cilik ingin bermain dengan kau!”

Sebenarnya tingkatan Yo Ko selisih jauh dengan Ciu Pek-thong, menyebutnya kakek juga belum cukup, tetapi ia tahu Ciu Pek-thong itu tua nakal, kocak dan suka bermain seperti anak kecil, semakin blak-blakan dengan dia tanpa membedakan tua dan muda, semakin senanglah dia. Dan betul saja, baru lenyap suaranya, segera dari balik pohon sana nongol satu orang. Sekali pandang, Yo Ko berjingkat kaget.

Belasan tahun yang lalu ketika Yo Ko pertama kali kenal Ciu Pek-thong, rambut alis Anak Tua Nakal itu sudah putih seperti perak. Sekarang wajahnya memang tak berubah sedikit pun, tapi baik rambut, jenggot mau pun alisnya malahan berubah menjadi sebagian putih dan sebagian hitam sehingga tampaknya jauh lebih muda dari pada dulu.

“Ha-ha-ha... adik Yo, kenapa baru sekarang kau datang mencari aku?” demikian Ciu Pek-thong lantas menyambut sambil bergelak tawa. “Aha, kau memakai kedok segala! Untuk me-nakuti siapa sih?”

Berbareng itu sebelah tangannya terjulur hendak meraih kedok tipis yang dipakai Yo Ko. Cengkeraman Ciu Pek-thong itu mengarah ke sebelah kiri, tetapi sedikit menarik pundak kanan, kepala Yo Ko malahan berbalik miring ke kiri dan anehnya cengkeraman Ciu Pek-thong mengenai tempat kosong, kelima jarinya yang terpentang itu berhenti di sisi leher Yo Ko. Lo-wan-tong rada melengak, sesudah itu lantas terbahak dan memuji:

“Adik Yo, hebat benar kepandaianmu Mungkin sudah jauh melebihi waktu muda Lo-wan-tong dulu.”

Rupanya dalam satu kali cengkeram dan sekali mengegos, keduanya sama-sama memperlihatkan ilmu silat yang tinggi luar biasa. Sebenarnya cengkeraman Ciu Pek-thong mencakup sasaran cukup luas sehingga jangankan Yo Ko menghindar dengan miringkan kepala, sekali pun melompat juga sukar menghindari cengkeramannya itu, dalam keadaan terpaksa bisa jadi Yo Ko harus menangkis dengan keras lawan keras barulah dapat mematahkannya. Tapi sedikit angkat pundak kanan tadi Yo Ko lantas siap dengan lengan bajunya. Rupanya Ciu Pek-thong juga tahu kemungkinan itu, terpaksa ia bersiap menangkis dan karena itu raihan tangannya menjadi kendur sehingga Yo Ko dapat miringkan kepalanya dan bebas dari cengkeraman itu.

Sudah tentu Kwe Siang tidak tahu seluk-beluk gebrakan itu. Ia merasa senang mendengar Ciu Pek-thong memuji Yo Ko, segera ia berkata:

“Eh, Ciu-loyacu, kepandaianmu sekarang lebih tinggi atau lebih tinggi waktu masih muda?”

“Waktu muda rambutku putih, kini rambutku hitam, jadi dengan sendirinya sekarang lebih hebat dari pada dulu,” jawab Ciu Pek-thong.

“Tetapi sekarang engkau tak dapat mengalahkan Toakoko-ku, dengan sendirinya dahulu lebih-lebih bukan tandingannya,” ujar Kwe Siang.

Ciu Pek-thong tidak marah, dia hanya tertawa kemudian berkata: “Ha-ha-ha-ha, nona cilik sembarangan omong!”

Mendadak kedua tangannya bekerja sekaligus, satu memegang bagian kuduk dan lainnya mencengkeram punggung. Tubuh Kwe Siang diangkat tinggi-tinggi dan diputar tiga kali, dilemparkannya perlahan ke atas untuk kemudian ditangkap kembali, lalu diturunkan perlahan ke tanah. Kwe Siang datang bersama Yo Ko, rajawali sakti itu tahu si nona adalah teman Yo Ko. Ia menjadi marah melihat Lo-wan-tong mempermainkan Kwe Siang.

“Brettt...!” mendadak sebelah sayapnya menyabet ke arah Lo-wan-tong.

Seketika Ciu Pek-thong merasakan angin keras menyambar tiba. Dia pikir: “Akan kucoba betapa hebat kekuatan binatang ini.”

Segera dia mengerahkan tenaga, kedua tangannya menghantam ke depan. Rajawali sakti itu memang makhluk luar biasa, sayapnya yang terpentang itu ada dua-tiga meter lebarnya.

“Blangg...!”

Maka terdengarlah suara keras ketika kedua tenaga saling bentur. Ciu Pek-thong tetap berdiri bergeming, tenaga sabetan sayap rajawali yang dahsyat itu pun menyambar lewat ke samping. Segera rajawali itu hendak menyusuIkan serangan lain, Yo Ko cepat membentaknya:

“Jangan, Tiau-heng! Kawan kita ini adalah orang kosen angkatan tua!”

Rajawali itu mengurungkan serangannya, tapi tetap bersikap angkuh.

“Besar juga tenaga hewan ini, pantas berani berlagak,” ujar Ciu Pek-thong sambil tertawa.

“Usia Tiau-heng ini entah sudah berapa ratus tahun, jauh lebih tua dari padamu,” ujar Yo Ko. “He, Lo-wan tong, kenapa dari tua kau kembali muda, rambutmu yang dulu sudah ubanan semuanya kini malah berubah hitam?”

“Habis apa hendak dikata?” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa. “Rambut dan jenggot ini tidak mau dipimpin, dahulu dia lebih suka dari hitam menjadi putih, terpaksa aku biarkan, sekarang dia ingin dari putih menjadi hitam, ya, aku pun tak berdaya dan masa bodoh.”

“Tapi kelak kalau kau semakin lama semakin muda, setiap orang yang ketemu kau suka meraba-raba kepalamu dan memanggil kau adik kecil. Nah, jika begitu barulah menarik,” ujar Kwe Siang.

Ciu Pek-thong benar-benar merasa kuatir, ia berdiri menjublek tanpa bicara lagi. Padahal di dunia ini tidak mungkin terjadi orang tua kembali muda, soalnya sifat Ciu Pek-thong itu lugu, polos, selama hidup tidak kenal kuatir dan sedih. Iwekang-nya juga sangat tinggi, ditambah lagi dia suka makan tumbuh-tumbuhan pegunungan sebangsa Ho-siu-oh, Hok-leng (bahan obat, kuat) dan madu tawon, semua itu bermanfaat besar bagi kesehatan, sebab itulah rambut, alis dan jenggotnya yang tadinya putih malah kembali menjadi hitam.

Malahan juga sering terjadi orang tua yang sudah ompong tumbuh gigi lagi, tulang yang sudah lapuk berubah menjadi kuat. Apa lagi Ciu Pek-thong memang paham cara merawat diri sehingga meski umurnya sudah dekat satu abad masih tetap segar dan bersemangat. Mendengar ucapan Kwe Siang yang membuat kuatir Ciu Pek-thong itu, Yo Ko merasa geli. Segera dia berkata:

“Ciu-heng, asalkan kau mau menemui satu orang, kujamin kau takkan berubah menjadi kecil.”

“Menemui siapa?” tanya Ciu Pek-thong.

“Jika kusebut nama orang ini, jangan kau terus pergi begitu saja,” kata Yo Ko.

Watak Ciu Pek-thong hanya lugu saja, tapi sekali-sekali bukan orang bodoh. Kalau tidak masa dia mampu meyakinkan ilmu silat setinggi ini? Maka dia telah dapat menangkap maksud kedatangan Yo Ko, segera ia menjawab:

“Di dunia ini ada dua orang yang tak dapat kutemui, Toan-hongya dan bekas selirnya, Eng-koh. Kecuali mereka berdua, siapa pun aku mau menemuinya.”

Yo Ko pikir harus menggunakan akal pancingan, segera dia berkata lagi: “Ah, kutahu, tentu kau pernah dikalahkan mereka, ilmu silatmu lebih rendah dari pada mereka, makanya kau kapok dan takut bertemu dengan mereka.”

“Tidak, tidak,” ujar Lo-wan-tong sambil meng-geleng. “Soalnya perbuatanku terlalu kotor dan rendah, aku merasa bersalah kepada mereka, maka aku malu untuk bertemu dengan mereka.”

Yo Ko melengak, sama sekali tak terduga olehnya bahwa kiranya begitulah sebabnya Cui Pek-thong tidak berani bertemu dengan Eng-koh. Tapi dia dapat berpikir cepat, segera ia menambahkan:

“Kalau kedua orang itu terancam bahaya dan nyawa mereka sudah dekat ajalnya, apakah kau pun tidak sudi memberi pertolongan?”

Melenggong juga Ciu Pek-thong. Di dalam hati dia sangat menyesal dan merasa berdosa terhadap It-teng dan Eng-koh, bila kedua orang itu ada kesukaran, biar pun mengorbankan jiwanya dia akan menolong mereka tanpa ragu sedikit pun. Tapi sekilas dia melihat Kwe Siang tersenyum simpul, sama sekali tiada rasa cemas dan kuatir. Segera dia menjawab dengan tertawa:

“Aha, kau ingin menipuku ya? Kepandaian Toan-hongya maha sakti, mana mungkin dia terancam bahaya? Andaikan benar dia telah bertemu dengan lawan yang maha lihay, jika dia tidak sanggup menandinginya, maka aku pun tidak mampu.”

“Terus terang kukatakan, sesungguhnya Eng-koh sangat rindu padamu, kau diminta ke sana menemuinya.”

Seketika air muka Ciu Pek-thong berubah. Sambil menggoyang-goyang kedua tangannya, dia berkata:

“Adik Yo, jika kau mengungkit urusan ini sepatah kata lagi, segera kusilakan kau keluar dari Pek-hoa-kok ini dan jangan menyalahkan aku jika aku tidak kenal sahabat lagi.”

Sesudah mengalami gemblengan selama belasan tahun, sifat latah Yo Ko sudah lenyap, namun semangat jantannya tidak berkurang. Sekali bajunya mengebas, segera ia menjawab:

“Ciu-Ioheng seumpama kau ingin mengusirku pergi dari sini, kukira juga tidak begitu mudah.”

“He-he-he…, kau ingin berkelahi denganku?” kata Lo-wan-tong dengan tertawa.

“Boleh juga jika kau ingin berkelahi,” jawab Yo Ko. “Kalau aku kalah, segera aku pergi dari sini dan takkan menginjak tempatmu lagi, tetapi kalau kau kalah, kau harus ikut aku pergi menemui Eng-koh.”

“Tidak, tidak, salah!” seru Ciu Pek-thong. “Pertama, mana bisa aku kalah dari anak muda seperti kau ini. Kedua, seumpama aku kalah juga aku takkan menemui Lau-kuihui (Lau adalah she-nya Eng-koh).”

Yo Ko menjadi marah, katanya: “Kalau kau menang adalah hakmu untuk tidak menemui dia, tapi kalau kau kalah tetap tidak mau, lalu apa taruhan kita?”

“Sekali aku bilang tidak mau menemui dia, ya tetap tidak mau. Tidak perlu banyak omong lagi, hayolah mulai!” seru Ciu Pek-thong sambil menyingsing lengan baju dan menggosok-gosok kepalan.

Yo Ko pikir Lo-wan-tong ini agaknya sukar dipancing dan ditipu, terpaksa harus memakai kekerasan. Bila benar harus bergebrak rasanya juga tidak yakin pasti akan menang, tapi tiada jalan lain, terpaksa harus melihat gelagat saja nanti.

Watak Ciu Pek-thong memang keranjingan ilmu silat, meski tinggal terpencil di Pek-hoa-kok masih tetap berlatih setiap hari, kepandaiannya sudah maha tinggi, maka dengan sendirinya sukar mencari partner berlatih. Kini melihat Yo Ko mau bertanding dengan dirinya, tentu saja ia menjadi gatal tangan dan ingin coba-coba selekasnya. Dia pikir kalau tertunda, nanti Yo Ko mencari alasan dan membatalkan niatnya, kan hilanglah kesempatan bagus ini? Karena itu segera dia mendahului membentak sambil menjotos ke depan, yang dimainkan adalah 72 jurus ‘Khong-beng-kun-hoat’, ilmu pukulan sakti.

Cepat Yo Ko angkat tangan kiri dan balas menghantam satu kali. Mendadak dia merasa tenaga pukulan orang seperti ada tetapi juga seperti tidak ada, kalau dirinya menghantam betul-betul terasa percuma, sebaliknya jika tidak jadi diteruskan rasanya juga berbahaya. Diam-diam dia terkejut dan menyadari benar-benar ketemu tandingan berat yang belum pernah ditemukannya. Segera dia memainkan ilmu pukulan yang dilatihnya secara giat selama belasan tahun di bawah damparan ombak samudera itu, dia balas menyerang dengan dahsyat. Terdengar suara gemuruh, tiga kali dia melancarkan pukulan keras hingga pepohonan di sekitarnya tergetar, seketika terjadilah hujan kelopak bunga beraneka warna.

Semula Yo Ko rada kuatir kalau usia Ciu Pek-thong sudah lanjut dan tidak tahan tenaga pukulannya yang makin dahsyat ini, maka setiap pukulannya selalu ditahan sedikit. Tapi setelah beberapa kali bergebrak dan melihat tenaga serta ilmu pukulan lawan bahkan di atasnya, kalau dirinya meleng sedikit saja mungkin malah dapat dirobohkan oleh si Anak Tua Nakal, maka dia pun tidak sungkan-sungkan lagi dan melayaninya dengan sepenuh tenaga. Ciu Pek-thong menjadi semakin bersemangat, teriaknya:

“Kepandaian hebat, ilmu pukulan lihay! Wah, perkelahian ini benar-benar menarik dan memuaskan!”

Lingkaran yang dicapai tenaga pukulan mereka makin meluas, selangkah demi selangkah Kwe Siang terpaksa mundur terus, ada pun si rajawali tetap berdiri di tempatnya dengan sayap setengah terpentang dan siap membela Yo Ko bila perlu. Rupanya burung itu pun tahu lawan yang dihadapi Yo Ko teramat lihay.

Melihat ilmu pukulan yang dilatihnya selama berpuluh tahun itu tidak dapat mengalahkan Yo Ko, diam-diam Ciu Pek-thong memuji kehebatan Iawan, Mendadak ia ganti siasat, sekarang tangan kiri mengepal dan tangan kanan memakai telapak tangan, kedua tangan menyerang dengan cara yang berbeda. Inilah ilmu silat ciptaan Ciu Pek-thong-sendiri yang pernah diajarkan kepada Kwe Ceng dan Siao-liong-li, yakni kedua tangan menyerang dengan cara yang berbeda, dengan demikian seorang Lo-wan-tong seperti berubah menjadi dua orang, ia menggempur Yo Ko dari kiri dan kanan.

Dengan cuma sebelah tangannya melawan serangan Ciu Pek-thong yang amat hebat tadi Yo Ko merasa tidak dapat menang, apa lagi sekarang satu lawan dua serangan berlainan, tentu saja ia tambah kewalahan. Diam-diam ia terkejut dan terpaksa lengan baju yang kosong itu pun digunakan menyambut sebagian serangan orang tua itu.

Biar pun Kwe Siang tidak dapat memahami di mana letak kehebatan tipu serangan kedua orang itu, tapi dari sama kuat berubah menjadi Yo Ko yang terdesak, betapa pun ia dapat melihat keadaan itu. Tentu saja ia terkejut dan heran. Tiba-tiba saja teringat olehnya, waktu ayahnya mengajar pernah menggunakan kedua tangan untuk melayani dirinya dan adik lelakinya sekaligus dengan jurus yang berbeda, tampaknya apa yang dimainkan Ciu Pek-thong sekarang adalah kepandaian yang sama seperti ayahnya itu.

Tentu saja Kwe Siang tidak tahu bahwa ilmu silat yang aneh ini justru Ciu Pek-thong yang mengajarkan kepada Kwe Ceng, dia malah mengira bahwa mungkin si anak Tua ini telah mencuri belajar kepandaian khas sang ayah. Karena itulah dia lantas berteriak-teriak:

“He, berhenti, berhenti! Tidak adil, tidak adil, Lo-wan-tong! Toakoko, jangan mau lagi bertanding dengan dia!”

Ciu Pek-thong melengak sambil melompat mundur, bentaknya: “Tidak adil bagaimana?”

“Seranganmu yang aneh ini tentu kau curi dari ayahku, sekarang kau gunakan berkelahi dengan toakoko-ku, huh, apa kau tidak malu?” omel Kwe Siang.

Berulang-ulang mendengar Kwe Siang menyebut Yo Ko sebagai ‘toakoko’, Ciu Pek-thong menyangka anak dara itu benar-benar adik perempuan Yo Ko, ia tidak ingat siapakah ayah Yo Ko.

“Ahh, nona cilik sembarangan omong,” katanya kemudian dengan tertawa. “Ilmu aneh ini adalah hasil renunganku di dalam goa dulu, masa kau tuduh aku mencuri belajar dari ayahmu?”

“Baiklah, seumpama kau tidak mencuri belajar, tapi kau memiliki dua tangan, sedangkan Toakoko-ku hanya sebelah tangan, perkelahian sudah berlangsung sekian lama, apa lagi yang dipertandingkan? Coba kalau Toakoko juga punya dua tangan, tentu sejak tadi kau sudah kalah.”

Ciu Pek-thong melengak, katanya kemudian: “Ya, beralasan juga ucapanmu, tapi biar pun dia mempunyai dua tangan juga tidak dapat sekaligus memainkan dua macam ilmu silat.” Habis berkata ia lantas bergelak tertawa.

“Huh, jelas kau tahu lengan Toakokoku takkan tumbuh lagi, makanya kau dapat berbicara seenaknya, kalau kau benar-benar laki-laki sejati dan pahlawan tulen, cara bertanding ini harus dilakukan dengan adil, dengan demikian barulah bisa dibedakan benar-benar siapa yang lebih unggul atau asor.”

“Baik, kalau begitu kedua tanganku akan memainkan semacam ilmu pukulan saja,” kata Ciu Pek-thong.

“He-he-he…., masa ada cara begitu? Kau benar-benar tidak tahu malu,” ejek Kwe Siang.

Ciu Pek-thong menjadi kurang senang, omeInya: “Habis apakah aku harus meniru dia dan membiarkan sebelah lenganku dikutungi perempuan?”

Kwe Siang melengak dan memandang sekejap ke arah Yo Ko, pikimya: “Kiranya sungguh kejam dia!” Segera dia menjawab:

“Tidak pertu lenganmu dibikin buntung, cukup asalkan sebelah tangan diikat di pinggangmu, kemudian kalian bertanding lagi sama-sama menggunakan satu tangan, adil bukan?”

Karena merasa bertanding yang diusulkan Kwe Siang ini cukup menarik, pula yakin kepandaian sendiri cukup dikuasai dengan satu tangan, maka tanpa tawar menawar lagi segera ia menyelipkan lengan kanan ke ikat pinggang, lalu berkata pada Yo Ko:

“Baiklah, kita mulai lagi, supaya kau kalah tanpa menyesal.”

Yo Ko diam-diam saja selama Kwe Siang bicara dengan Ciu Pek-thong. Dia tidak pantang orang menyebut lengannya buntung, tapi ia percaya pada dirinya sendiri dan merasa tidak lebih lemah dari pada orang yang bertangan lengkap, maka demi nampak Ciu Pek-thong mengikat tangan sendiri untuk menghadapinya, jelas sikap ini terlalu meremehkannya, segera ia berkata dengan tegas:

“Lo-wan-tong, caramu ini bukankah memandang rendah diriku? Jika dengan lengan tunggal aku tidak mampu menandingi kau, biarlah nanti aku... aku...”

Menuruti wataknya ia hendak mengatakan ‘aku membunuh diri di Pek-hoa-kok ini’, tetapi mendadak ia teringat janjinya bertemu dengan Siao–liong-li sudah dekat waktunya, mana boleh dirinya berpikiran pendek begini. Maka ia tidak meneruskan ucapannya itu. Kwe Siang menyesal bukan main. Maksudnya ingin membela Yo Ko, tetapi tidak tahunya malah menimbulkan suasana yang tidak mengenakkan ini. Cepat ia mendekati Yo Ko dan berkata:

“Toakoko, akulah yang salah...”

Lalu dia mendekati Ciu Pek-thong dan menarik tangannya yang terselip di ikat pinggang itu, bahkan tali pinggangnya dibetot putus, kemudian katanya:

“Meski dengan satu tangan saja pasti toakoko-ku mampu menandingi dua tanganmu, kalau tak percaya boleh kau mencobanya.”

Tanpa menunggu Ciu Pek-thong bicara lagi, sedikit melangkah ke samping, Yo Ko mendahului menghantam. Cepat Ciu Pek-thong membalas dengan tangan kiri. Meski tangan kanannya tidak terikat lagi, tetapi dia pikir takkan melayani Yo Ko dengan dua tangan, maka tangan kanan tetap dijulurkan ke bawah tanpa digunakan. Walau pun begitu, karena tipu serangannya tetap lihay, Yo Ko masih juga kewalahan.

Diam-diam Yo Ko penasaran, masa dirinya yang lebih muda tidak dapat mengalahkan seorang kakek yang usianya sudah dekat seabad? Lalu kepandaian yang terlatih selama belasan tahun ini kemana perginya.?

ILMU PUKULAN PENGIKAT SUKMA

Ia merasakan daya pukulan Ciu Pek-thong semakin keras dan kuat, sama sekali tidak sama dengan ‘Khong-beng-kun-hoat’ yang mengutamakan lunak tadi. Tiba-tiba pikirannya tergerak. Teringat olehnya ‘Kiu-im-cin-keng’ yang pernah dibaca di dinding kuburan kuno dahulu itu, rasanya gerak serangan Ciu Pek-thong sekarang adalah bagian dari pada ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka yang terukir itu, kalau dia tidak salah ingat namanya Hok-mo-kun-hoat (ilmu pukulan penakluk iblis). Mendadak Yo Ko membentak:

“Apa artinya Hok-mo-kun-hoatmu ini? Silakan kau gunakan kedua tanganmu dan sambut aku punya ‘Im-jian-soh-hun-kun’!”

Ciu Pek-thong melengak sebab nama ilmu pukulannya sendiri dengan tepat dapat disebut oleh Yo Ko. Ia tambah melongo demi mendengar lawan hendak memainkan ‘lm-jian-soh-hun-kun’ (ilmu pukulan pengikat sukma). Sejak kecil Ciu Pek-thong sudah ‘gila silat’. Ilmu silat dari golongan dan aliran mana pun sudah hampir seluruhnya diketahui, tapi nama ‘lm-jian-soh-hun-kun’ baru pertama kali ini didengarnya. Dilihatnya lengan tunggal Yo Ko terpanggul pada punggungnya, matanya memandang jauh, langkahnya mengambang dan bagian dada tidak terjaga, gayanya itu sangat berlawanan dengan teori ilmu silat mana pun juga. Segera Ciu Pek-thong melangkah maju satu tindak, tangan kiri berlagak siap menyergap, maksudnya ingin memancing reaksi lawan. Tetapi Yo Ko seperti tidak tahu saja dan tidak menggubrisnya.

“Awas!” seru Ciu Pek-thong terus menghantam ke perut Yo Ko. Dia kuatir melukai lawan, maka pukulan ini hanya memakai tiga bagian tenaga saja.

Tak terduga baru saja kepalan hampir mengenai tubuh Yo Ko, mendadak terasa perutnya bergetar, dada mendekuk terus mental keluar lagi. Keruan Ciu Pek-thong terkejut dan cepat melompat mundur. Jika orang mendekukkan perut untuk menghindari serangan adalah kejadian biasa saja, tapi menggunakan kulit daging dada untuk menyerang musuh, sungguh belum pernah terlihat dan terdengar. Tentu saja Ciu Pek-thong ingin tahu, segera ia membentak:

“Ilmu silat apa ini namanya?!”

“lnilah jurus ke-13 dari ‘Im-jian-soh-hun-ciang’, namanya ‘Sim-keng-bak-tiau’ (hati terkejut daging kedutan)!”

Ciu Pek-thong menggumam mengulang nama jurus itu: “Sim-keng-bak-tiau? Tak pernah dengar! Tak pernah dengar!”

“Sudah tentu kau tidak pernah dengar,” ujar Yo Ko, “Im-jian-soh-hun-ciang adalah 17 jurus ilmu pukulan ciptaanku sendiri.”

Kiranya sejak ditinggal menghilang oleh Siao-liong-li, kemudian Yo Ko bersama si rajawali sakti menggembleng diri di bawah damparan ombak samudera yang dahsyat, beberapa tahun kemudian, kecuali Iwekang-nya bertambah kuat rasanya tiada lagi yang dapat dilatihnya, akan tetapi rindunya kepada Siao-liong-Ii tidak pernah pudar, bahkan semakin hari semakin menjadi sehingga tambah kurus dan kehilangan gairah hidup. Suatu hari dia gerak badan bebas di tepi pantai, saking isengnya ia ayunkan tangan dan gerakkan kaki untuk melemaskan otot. Mungkin karena tenaga dalamnya telah mencapai tingkat yang sempurna sehingga sekali hantam saja dia telah menghancurkan tempurung punggung seekor penyu raksasa.

Dari sinilah ia mulai merenung dan akhirnya menciptakan Im-jian-soh-hun-ciang-hoat yang meliputi 17 jurus dan mengutamakan tenaga dalam yang kuat. Bahwa Yo Ko dapat berpikir untuk menciptakan ilmu silat baru tidaklah perlu diherankan. SeIama hidupnya telah mendapat ajaran maha guru ilmu silat berbagai aliran, seperti ilmu silat Coan-cin-kau, Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay serta Kiu-im-cin-keng yang sudah dihafalkannya di luar kepala. Dari Auyang Hong diperoleh ajaran Ha-mo-kang, ilmu weduk katak, Ang Chit-kong juga sudah mengajarkan Pak-kau-pang hoat, Oey Yok-su menurunkan Giok-siau-kiam-hoat dan Sian-ci-sin-thong. Kecuali It-yang-ci dari It-teng Taysu, hampir seluruh ilmu silat paling disegani di dunia ini telah dipelajari, maka tidaklah sulit baginya untuk meleburnya lalu menciptakan yang baru.

Hanya saja lengannya buntung sebelah, sebab itu dia tidak mengutamakan tipu serangan melainkan terletak pada tenaganya, bahkan sengaja dimainkan secara berlawanan dari pada teori ilmu silat umumnya. Ilmu pukulannya diberi nama ‘Im-jian-soh-hun-ciang’ dan selama ini belum pernah digunakan, baru sekarang dia keluarkan setelah bertemu dengan lawan maha tangguh seperti Ciu Pek-thong yang keranjingan ilmu silat ini.

Keruan Anak Tua Nakal ini sangat senang demi mendengar Yo Ko berhasil menciptakan ilmu pukulan sendiri. Segera dia berseru gembira:

“Aha, kebetulan, aku ingin belajar kenal dengan ilmu ciptaanmu ini.” Segera dia melangkah maju lantas menyerang, yang digunakan tetap tangan kiri saja.

Yo Ko masih tetap anggap tidak tahu saja.

“Brakk!”

Ia memukul ke atas, tapi tenaga pukulannya itu dapat menyebar ke bawah dalam lingkup yang cukup luas. Ciu Pek-thong merasa sulit untuk menghindar, segera ia angkat tangan menangkis.

“Plakk!”

Kedua tangan saling bentur, tanpa terasa Ciu Pek-thong tergeliat oleh getaran itu. Kalau orang lain pasti sudah sesak napas dan roboh binasa karena tenaga pukulan Yo Ko yang dahsyat, tetapi cepat Lo-wan-tong dapat mengatur pernapasannya, kemudian bersorak memuji:

“Bagus! Apakah namanya jurus ini?”

“Ki-jin-yu-thian (si tolol menguatirkan runtuhnya langit)!” jawab Yo Ko. “Dan awas, jurus berikutnya adalah ‘Bu-tiong-seng-yu’ (tidak ada tapi meng-ada-ada)!”

Ciu Pek-thong melengak sambil mengulang nama jurus itu, segera dia mengikik geli. “Bu-tiong-seng-yu, nama ini sungguh aneh dan jenaka, bisa saja bocah ini memberi nama jurus serangan ini,” demikian pikirnya.

Segera dia menggosok-gosok kepalan dan menubruk maju lagi. Dilihatnya tangan Yo Ko melambai ke bawah, sedikit pun tidak pasang kuda-kuda dan siap bertempur, tetapi begitu serangan Ciu Pek-thong dilontarkan mendadak kaki dan tangan Yo Ko bergerak serentak, telapak tangan kiri, lengan baju kanan, kedua kakinya dan juga gerak kepalanya, bahkan punggung dan perut, hampir semua tempat di sekujur badannya dapat digunakan untuk melukai musuh.

Meski pun sebelumnya Ciu Pek-thong sudah menduga lawannya pasti mempunyai jurus simpanan yang hebat, tapi dia tak menduga bahwa sekujur badan lawan dapat dikerahkan untuk menyerang, hanya sekejap saja belasan macam gaya serangan sudah dilontarkan sekaligus. Keruan Ciu Pek-thong kerepotan juga menghadapi serangan aneh itu, tangan kirinya yang tidak digunakan mau tidak mau terpaksa diangkat untuk menangkis dan dengan sepenuh tenaga barulah serangan Yo Ko dapat dipatahkan.

“He, Ciu-loyacu, tampaknya dua tangan tidak cukup bagimu, paling baik kalau kau punya satu tangan lagi!” seru Kwe Siang.

Sama sekali Ciu Pek-thong tidak marah, ia hanya mengomel: “Brengsek! Memangnya kau kira namaku si tangan tiga?”

Diam-diam Yo Ko kagum terhadap kelihayan Ciu Pek-thong yang dapat mematahkan setiap serangannya dengan baik, segera ia berseru:

“Awas, jurus selanjutnya bernama ‘Do-ni-tay-sui’ (basah kuyup dan berlumpur)!”

Ciu Pek-thong dan Kwe Siang tertawa dan bersorak: “Ha-ha-ha, nama bagus!”

“Jangan memuji dahulu, rasakan saja serangan ini!” seru Yo Ko, lengan baju kanan bergerak enteng, sedangkan telapak tangan kiri menyodok ke depan dengan kuat.

Tentu saja Ciu Pek-thong tak berani ayal, segera ia pun mengeluarkan Hok-mo-kun-hoat dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri menggunakan Khong-beng-kun yang enteng, jadinya keras lawan keras dan enteng lawan enteng, keduanya membentak sekali, lalu sama-sama mundur beberapa tindak. Sesudah mengadu pukulan lagi, kedua orang sama-sama mengagumi pihak lawan. Diam-diam Yo Ko merasa tidak akan mudah mengalahkan si Tua Nakal ini. Kalau mesti mengadu tenaga dalam bukan mustahil akibatnya akan mati konyol bersama seperti yang dialami oleh Ang Chit-kong dan Auyang Hong dahulu, jadi kiranya tidak perlu juga sampai berakhir demikian. Maka ia lantas menghentikan serangannya, dengan sikap rendah hati ia memberi hormat dan berkata:

“Ciu-locianpwe, sungguh aku sangat kagum kepadamu dan terima mengaku kalah.” Lalu dia berpaling dan berkata kepada Kwe Siang: “Adik cilik, Ciu-locianpwe tidak terima undangan kita, mari kita pergi saja.”

“Nanti dulu!” tiba-tiba Ciu Pek-thong malah mencegah.

“Tadi kau bilang ilmu pukulanmu ini meliputi 17 jurus, sedangkan kau baru mengeluarkan empat jurus, itu berarti masih ada 13 jurus yang belum kau mainkan. Mengapa sekarang kau mau pergi begini saja?”

“Selamanya kita tidak bermusuhan dan tidak punya dendam apa pun, buat apa kita mengadu jiwa? Biarlah Wanpwe mengaku kalah saja,” kata Yo Ko.

“Tidak, tidak bisa,” seru Ciu Pek-thong sambil goyang-goyangkan kedua tangannya. “Kau belum kalah, aku pun tidak menang. Apa bila kau ingin keluar Pek-hoa-kok ini, kau harus memainkan ke-17 jurus ilmu pukulanmu secara lengkap.”

Rupa-rupanya Ciu Pek-thong menjadi sangat terpikat dengan nama-nama jurus serangan seperti ‘Sim-keng-bak-tiau’, ‘Ki-jin-yu-thian’, ‘Bu-tiong-seng-yu’ dan ‘Do-ni-tay-sui’, ia merasa namanya menarik dan permainannya juga aneh, biar pun orang biasa juga ingin tahu permainan selengkapnya, apa lagi pembawaan si Tua Nakal ini memang ‘gila silat’, tentu saja ia ingin tahu ilmu pukulan ciptaan Yo Ko itu.

Tapi Yo Ko sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia sengaja jual mahal, jawabnya: “Hah, sungguh aneh. Engkau menolak undanganku, terpaksa aku pergi saja dan habis perkara. Orang mengundang tamu malah hendak ditahan di sini?”

Dengan sikap memelas Ciu Pek-thong berbalik memohon: “O, adik yang baik, betapa pun sukar kubayangkan ke-13 jurus ilmu pukulanmu itu. Mohon belas kasihanmu, sudilah kau menguraikan namanya padaku, sebagai imbalannya, kepandaian apa yang kau inginkan, tentu kuajarkan kepadamu.”

Hati Yo Ko tergerak, segera ia berkata: “Kukira tidak sulit jika kau ingin tahu lengkap ilmu pukulanku ini. Aku pun tidak ingin minta belajar kepandaianmu sebagai imbalan, cukup asalkan kau berjanji ikut pergi menemui Eng-koh.”

“Walau pun kau potong kepalaku aku tidak mau menemuinya,” jawab Ciu Pek-thong dengan serba susah.

“Kalau begitu aku mohon diri,” segera Yo Ko hendak melangkah pergi.

Ciu Pek-thong melompat maju mencegatnya, tangannya bergerak, segera dia menghadang sambil berkata:

“Adik yang baik, coba kau mainkan lagi jurus seranganmu selanjutnya!”

Yo Ko menangkis serangan Lo-wan-tong, namun yang digunakan adalah ilmu pukulan Coan-cin-pay. Beberapa kali Ciu Pek-thong menyerang dengan pukulan lain, Yo Ko tetap dengan ilmu silat Coan-cin-pay dan apa yang pernah dipelajari dari Kiu-im-cin-keng, dengan demikian serangan Ciu Pek-thong selalu gagal mencapai sasaran.

Untuk mengalahkan Ciu Pek-thong juga tidak mudah bagi Yo Ko, tapi jika cuma untuk mempertahankan diri saja, betapa pun Anak Tua itu tak dapat berbuat apa-apa. Yo Ko tidak ambil pusing orang menyerangnya dengan cara-cara memancing, dia justru tidak memperlihatkan lagi jurus serangan baru dari Im-jian-soh-hun-ciang, hanya terkadang dia mengulangi keempat jurus yang telah diperlihatkannya tadi dan hal ini tentu saja semakin mengitik-ngitik rasa ingin tahu si Anak Tua Nakal.

Sampai lama sekali Ciu Pek-thong tetap tidak berdaya memaksa Yo Ko memenuhi harapannya. Betapa pun usianya telah lanjut, tenaga terbatas, ia pun merasa lelah. Ia tahu sukar lagi memancing dan memaksanya, maka tiba-tiba ia melompat mundur dan berseru:

“Sudahlah, sudahlah! Biar aku menyembah delapan kali padamu dan memanggil guru padamu, dengan begitu sukalah kau mengajari aku.”

Yo Ko merasa geli bahwa di dunia ini ada orang yang ‘gila silat’ sampai sedemikian rupa. Cepat ia menjawab:

”Ah, mana berani kuterima. Biarlah kuberi-tahu saja nama ke-13 jurus sisanya dari Im jian-soh-hun ciang itu.”

Seketika Ciu Pek-thong berjingkrak kegirangan, serunya; “Aha, sungguh adik yang baik!”

Tetapi Kwe Siang menyela: “Nanti dulu, dia kan tidak mau ikut kita ke sana, jangan kau mengajarkan dia.”

Namun Yo Ko justru sengaja hendak membikin si Anak Tua itu kepingin tahu. Jika sudah tahu nama jurusnya, tentu akan semakin tertarik. Maka dengan tersenyum dia menjawab:

“Kukira kalau cuma mengetahui namanya saja tidaklah menjadi soal.”

“Ya, hanya nama jurusnya saja, kan tidak soal?” cepat Ciu Pek-thong menukas.

Yo Ko lantas duduk di bawah pohon, lalu berkata: “Dengarkan yang betul, Ciu-heng, sisa ke-13 jurus itu disebut: Bok-beng-ki-miau (bingung tidak paham), Yok-yu-soh-sit (seperti kehilangan sesuatu), To-heng-gik-si (bertindak terbalik dan berbuat berlawanan), Keh-hoa-soh-yang (menggaruk gatal dari balik sepatu), Lik-put-ciong-sim (keinginan besar tenaga kurang), Bin-bu-jin-sik (muka pucat tanpa perasaan).”

Begitulah Kwe Siang sampai terpingkal-pingkal geli mendengar nama-nama yang aneh itu, sebaliknya Ciu Pek-thong mengikuti dengan penuh perhatian sambil terus menggumam dan mengulang nama-nama jurus itu. Ciu Pek-thong menjadi seperti orang linglung saking kesemsemnya pada nama-nama ke-13 jurus itu, sampai lama sekali ia merenung, lalu berkata:

“Coba, jurus ‘Bin-bu-jin-sik’ itu cara bagaimana menggunakannya menghadapi musuh?”

“Jurus ini memang banyak perubahannya,” tutur Yo Ko, “tapi intinya terletak pada mimik muka yang ber-ubah-ubah, sebentar gembira, di lain saat gusar, mendadak sedih, tiba-tiba girang pula membuat perasaan musuh tidak tenteram dan terpengaruh, akibatnya kalau kita gembira musuh pun ikut gembira, kita sedih musuh juga sedih, dalam keadaan begitu musuh pun tunduk sama sekali di bawah perintah kita, inilah caranya mengalahkan musuh tanpa tenaga dan tanpa suara, lebih tinggi satu tingkat dari pada cara mengatasi musuh dengan suara suitan dan lain sebagainya.”

“Ahh, agaknya jurus itu perubahan dari ‘Liap-sim-tay-hoat’ (ilmu pengaruhi pikiran, sejenis ilmu hipnotis) yang terdapat dalam Kiu-im-cin-keng.”

“Benar,” jawab Yo Ko.

“Lantas bagaimana dengan jurus ‘To-heng-gik-si’?”

Tiba-tiba Yo Ko menjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kemudian tubuhnya berputaran tangan menghantam, katanya:

“lnilah To-heng-gik-si yang juga banyak gerak perubahannya.”

Ciu Pek-thong mengangguk, “Tentu ilmu ini bersumber dari ilmu silat Se-tok Auyang Hong.”

“Betul!” kata Yo Ko setelah bangkit kembali. “Semua ilmu pukulan ini masih banyak corak perobahannya, sering kali saling bertentangan dan sukar dijelaskan.”

Ciu Pek-thong tetap tidak paham, tapi dia tidak berani tanya lagi. Ia tahu biar pun ditanyai juga Yo Ko takkan menerangkan. Melihat Anak Tua Nakal itu menggaruk-garuk kepalanya dan tampaknya kelabakan ingin tahu, diam-diam Kwe Siang merasa kasihan. Ia mendekatinya dan berbisik padanya:

“Ciu-loyacu, sebenarnya apa sebabnya engkau tidak mau menemui Eng-koh? Ehh, bagaimana kalau kita mencari akal baik untuk memohon Toakoko mengajarkan kepandaiannya ini padamu?”

Ciu Pek-thong menarik napas panjang, katanya: “Tentang Eng-koh, memang akulah yang bersalah karena perbuatanku waktu masih muda, kalau kuceritakan rasanya tidak enak.”

“Tidak apa-apa,” ujar Kwe Siang. “Kalau sudah kau ceritakan tentu terasa lebih enak dari pada selalu disimpan dalam hati. Umpamanya aku juga pernah berbuat salah, tapi bila ditanya oleh ayah dan ibu, tentu aku bicara terus terang dan selesailah persoalannya bila sudah diomeli ayah-ibu. Kalau tidak, misalnya kita berdusta atas perbuatan sendiri, tentu rasanya tidak tenteram.”

Melihat wajah si nona yang kekanak-anakan itu, Ciu Pek-thong memandang sekejap pada Yo Ko, lalu berkata:

“Baiklah, akan kuceritakan perbuatanku yang tidak senonoh di waktu muda itu, tapi jangan kau tertawakan diriku.”

“Tidak, tak ada yang akan menertawai kau, anggaplah kau sedang berkisah mengenai diri orang lain. Nanti aku pun akan bercerita kesalahan yang pernah kulakukan,” habis berkata Kwe Siang lantas bergeser lebih mendekati si Tua Nakal dengan sikap yang akrab sekali.

“Kau juga pernah berbuat salah?” Pek-thong memandangi wajah yang halus cantik itu.

“Tentu saja, kau kira aku tidak dapat berbuat salah?”

“Baiklah, coba kau ceritakan dulu perbuatanmu itu.”

“Hah, tidak cuma sekali saja, bahkan aku pernah beberapa kali berbuat salah,” tutur Kwe Siang. “Misalnya pernah satu kali ada seorang prajurit penjaga benteng tertidur di dalam tugasnya. Ayah memerintahkan meringkus prajurit itu dan akan kami penggal kepala, tapi aku merasa kasihan padanya dan tengah malam kubebaskan prajurit itu. Tentu saja ayah sangat marah, tapi aku mengaku terus terang dan dipukul ayah, tapi lantas habis perkara, dan masih banyak lagi kejadian lainnya.”

Ciu Pek-thong menghela napas, katanya. “Masalah itu belum apa-apa kalau dibandingkan dengan perbuatanku ini.” Lalu berceritalah dia hubungannya dengan Lau-kuihui alias Eng-koh sehingga mengakibatkan kemarahan Toan-hongya dan meninggalkan tahtanya untuk menjadi Hwesio, sebab itulah dia merasa malu untuk bertemu muka dengan kedua orang itu.

Kwe Siang terus mendengarkan cerita itu dengan asyiknya, sampai Ciu Pek-thong habis berkisah dan wajahnya tampak merasa malu, lalu Kwe Siang bertanya.

“Selain Lau-kuihui itu, Toan-hongya masih mempunyai beberapa orang selir lagi?”

“Kerajaan Tayli tidak besar, dengan sendirinya tidak mempunyai ratusan atau ribuan selir seperti raja Song kita, tapi puluhan selir kukira pasti ada,” jawab Ciu Pek-thong.

“Nah, kalau dia mempunyai berpuluh orang selir, sedangkan kau seorang isteri saja tidak punya, sebagai sahabat sepantasnya dia hadiahkan Lau-kuihui untukmu, kan?” ujar Kwe Siang.

Yo Ko mengangguk tanda setuju atas ucapan Kwe Siang itu, diam2 ia pikir jalan pikiran si nona yang tidak suka terikat dengan adat kebiasaan umum itu benar-benar cocok dengan seleranya.

Ciu Pek-thong lantas menjawab: “Waktu itu Toan-hongya juga berucap begitu, akan tetapi Lau-kuihui adalah selir kesayangannya, untuk ini dia sampai meninggalkan tahta dan rela menjadi Hwesio, suatu tanda perbuatanku itu sesungguhnya sangat berdosa padanya.”

“Keliru kau,” mendadak Yo Ko menyela, “sebabnya Toan-hongya menjadi Hwesio adalah karena dia merasa bersalah kepadamu dan bukan kau yang bersalah padanya, masa kau belum tahu persoalan ini?”

“Aneh, dia berbuat salah apa padaku?” tanya Ciu Pek-thong terheran-heran.

“Soalnya ada orang mencelakai anakmu dan dia sengaja tak mau menolongnya sehingga bocah itu akhirnya meninggal,” tutur Yo Ko.

Selama berpuluh tahun ini Ciu Pek-thong tidak tahu bahwa hubungan gelapnya dengan Eng-koh menghasilkan seorang anak laki-laki, maka dia tambah heran mendengar ucapan Yo Ko, cepat dia menegas:

“Anakku apa maksudmu?”

“Aku pun tidak tahu seluk-beluknya, hanya kudengar dari It-teng Taysu,” jawab Yo Ko. Lalu ia pun menguraikan kembali apa yang didengarkan dari It-teng di tepi Hek-liong-tam itu.

Mendadak mengetahui dirinya pernah mempunyai seorang anak laki-laki, seketika kepala Ciu Pek-thong terasa seperti disambar geledek. Ia melenggong kaget hingga lama sekali, hatinya sebentar sedih sebentar girang. Teringat kepada nasib Eng-koh yang malang dan menderita selama puluhan tahun ini, dia menjadi tambah menyesal dan merasa kasihan padanya.

Melihat keadaan Ciu Pek-thong itu, diam-diam Yo Ko merasa si Tua Nakal ini sebenarnya juga seorang yang berperasaan dan mengapa dirinya mesti sayang menjelaskan 17 jurus Im-jian-soh-hun-ciang itu. Segera dia berkata:

“Ciu-locianpwe, baiklah aku perlihatkan secara lengkap ilmu pukulan ini, kalau ada kekurangan diharapkan petunjukmu.” ia memainkan ilmu pukulan ciptaannya sambil mulut mengucapkan nama-nama jurus yang bersangkutan.

Ciu Pek-thong paham isi Kiu-im-cin-keng, maka uraian Yo Ko dengan mudah saja dapat diterima dan dimengerti dengan baik, hanya dua-tiga jurus yang tetap sulit dipahami letak intisarinya, meski pun sudah diulangi dan dijelaskan lagi oleh Yo Ko namun Ciu Pek-thong tetap tidak paham. Rupanya ilmu pukulan itu adalah hasil ciptaan Yo Ko setelah berpisah dengan Siao-liong-li sehingga setiap jurus seakan-akan menggambarkan kisah cintanya. Dengan menghela napas ia lantas berkata:

“Ciu-locianpwe, 15 tahun yang lalu isteriku berpisah dengan aku, karena rindu timbullah ilham dan terciptalah jurus ilmu pukulan ini. Locianpwe sendiri tidak kenal apa artinya sedih dan duka, engkau senantiasa riang gembira, dengan sendirinya engkau tidak dapat mengerti apa rasanya orang yang sedih dan duka.”

“Ahh, mengapa isterimu berpisah dengan kau?” tanya Ciu Pek-thong. “Dia sangat cantik, hatinya juga baik, jika kau cinta dan merindukan dia adalah pantas.”

Yo Ko tidak ingin mengungkat mengenai kecerobohan Kwe Hu yang melukai Siao-liong-li dengan jarum berbisa, dia cuma sekedarnya mengatakan isterinya keracunan dan dibawa pergi Lam-hay-sin-ni dan baru dapat sehat lagi 16 tahun kemudian. Habis itu ia lantas menceritakan rasa rindu sendiri dan berdoa siang dan malam agar Siao-liong-li dapat pulang dengan selamat. Akhirnya ia menambahkan:

“Kuharap dapat bertemu sekali lagi dengan dia, untuk itu biar pun tubuhku ini harus hancur lebur juga aku rela.”

Sebegitu jauh Kwe Siang tidak tahu rasa rindu Yo Ko kepada isterinya ternyata demikian mendalam. Dia menjadi terharu dan mencucurkan air mata, dia pegang tangan Yo Ko lalu berkata dengan suara lembut:

“Semoga Thian memberkahi hingga akhirnya kalian dapat berjumpa dan berkumpul kembali.”

Sejak berpisah dengan Siao-liong-li, untuk pertama kalinya Yo Ko mendengar ucapan orang yang simpatik dan tulus, ia merasa sangat berterima kasih dan selama hidup ini tak akan pernah melupakan. Ia lantas bangkit sambil menghela napas, ia memberi hormat kepada Ciu Pek-thong dan berkata:

“Sekarang kumohon diri, Ciu-locianpwe!” dia ajak Kwe Siang dan melangkah pergi.

Setelah berjalan belasan langkah, Kwe Siang menoleh dan berseru kepada si Tua Nakal: “Ciu-locianpwe, Toakoko-ku sedemikian rindunya kepada isterinya. Eng-koh juga sangat merindukan engkau, tapi engkau tetap tidak mau menemui Eng-koh. Tega benar kau ini!”

Ciu Pek-thong terkesiap, air mukanya berubah hebat. Yo Ko lantas membisiki Kwe Siang: “Adik cilik, jangan kau singgung lagi soal itu, setiap orang mempunyai cita-cita sendiri, tiada gunanya banyak bicara.”

Begitulah mereka lantas melangkah ke arah datangnya tadi.

“Toakoko,” tiba-tiba Kwe Siang berkata. “Kalau kutanya tentang isterimu, apakah kau akan berduka lagi?”

“Tidak,” jawab Yo Ko, “Toh beberapa bulan lagi dapatlah aku berjumpa dengannya.”

“Cara bagaimana engkau berkenalan dengan beliau?” tanya Kwe Siang.

Yo Ko pun bercerita kisah hidupnya sejak kecil sebatang kara, lalu diantar Kwe Ceng ke Coan-cin-pay untuk belajar sjlat, di sana dianiaya sesama saudara seperguruan sehingga minggat dan masuk ke kuburan kuno, di sanalah dia berkumpul dengan Siao-liong-li dan lama-lama timbul rasa cinta antara mereka. Setelah mengalami bermacam-macam suka duka akhirnya terikat menjadi suami isteri. Kwe Siang mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian, diam-diam ia sangat terharu terhadap cinta murni Yo Ko yang suci dan mendalam itu. Akhirnya ia berkata:

“Semoga Thian memberkahi pertemuan kembali kalian berdua dengan selamat!”

“Terima kasih, adik cilik, kebaikan hatimu akan selalu kuingat, jika aku sudah bertemu dengan isteriku kelak tentu akan kuberi-tahukan tentang dirimu,” ujar Yo Ko.

“Setiap hari ulang tahunku, ibu dan aku suka bersembahyang dan berdoa, ibu menyuruh aku menyebut tiga buah nazar, tetapi sesudah kupikirkan hingga lama, tak pernah kutahu nazar apa yang harus kusebutkan. Tetapi pada hari ulang tahun yang akan datang sudah kusiapkan nazarku, akan kukatakan harapanku semoga Toakoko dapat segera berjumpa dan hidup bahagia dengan isterinya yang cantik.”

“Lalu apa kedua nazarmu yang lain?” tanya Yo Ko.

Kwe Siang tersenyum, katanya: “Takkan kukatakan padamu.”

Pada saat itulah, tiba-tiba di belakang sana ada orang berteriak-teriak, “Hai, adik Yo, tunggu! Yo Ko, tunggu!” Dari suaranya dapat dikenali suara Ciu Pek-thong.

Yo Ko amat girang, cepat ia berpaling. Benar saja, dilihatnya Ciu Pek-thong berlari datang secepat terbang sambil berseru:

“Adik Yo, sudah kupikirkan dengan baik, kuharap engkau lekas mambawaku menemui Eng-koh!”

“Nah, memang seharusnya begitu,” ujar Kwe Siang, “Kau tahu betapa orang merindukan dirimu.”

“Ya, setelah kalian berangkat, kupikirkan ucapan adik Yo tadi dan makin kupikir semakin tidak enak rasa hatiku,” tutur Ciu Pek-thong. “Kurasa kalau aku tidak menemuinya, maka selama hidupku ini pasti aku tak dapat tidur nyenyak, aku ingin bertanya sesuatu padanya.”

Yo Ko dan Kwe Siang tidak bertanya soal apa yang hendak ditanyakan oleh si Tua Nakal itu kepada Eng-koh, yang jelas perjalanan mereka tidak sia-sia, maka mereka sangat gembira. Jika menuruti watak Ciu Pek-thong yang tidak sabar, seketika juga ingin bertemu dengan Eng-koh. Namun malam sudah tiba, Kwe Siang merasa lelah dan lapar serta kantuk pula, maka tiga orang dan satu rajawali lantas bermalam di bawah pohon. Besoknya pagi-pagi mereka sudah melanjutkan perjalanan dan sebelum lohor mereka sudah sampai di pinggir Hek-liong-tam.

Melihat Yo Ko ternyata benar-benar dapat mengundang datang Ciu Pek-thong, sungguh girang Eng-koh tak terlukiskan, hatinya berdebar-debar dan mulut melongo, seketika tidak dapat mengucapkan sekata pun.

Ciu Pek-thong mendekati Eng-koh, dengan suara keras dia bertanya: “Eng-koh, anak kita itu punya satu atau dua pusar kepala?”

Eng-koh melengak. Sama sekali tidak terduga olehnya bahwa kekasih yang terpisah sejak muda dan sekarang bisa berjumpa kembali setelah sama-sama tua, tapi pertanyaan yang diucapkan per-tama justru adalah urusan yang tidak penting. Tapi ia lantas menjawab:

“Pusar kepalanya ada dua.”

“Ha-ha-ha-ha, jadi sama seperti aku, benar-benar anak yang pintar,” seru Ciu Pek-thong kegirangan. Tapi ia lantas menghela napas dan menambahkan: “Tapi... tapi sayang sudah mati, sayang sudah mati!”

Rasa suka-duka Eng-koh tak tertahan Iagi, segera ia menangis keras-keras.

“Jangan menangis, jangan menangis...!” demikian Pek-thong menghiburnya sambil menggabloki punggungnya dengan keras. Lalu dia berkata kepada It-teng: “Toan-hongya, kupikat isterimu, tapi kau pun tak mau menolong jiwa anakku, jadi kita anggap saja seri, urusan di masa lampau tidak perlu diungkap lagi.”

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar