Sang waktu berlalu dengan cepat, beberapa tahun sudah lampau pula. Waktu itu adalah tahun pertama kaisar Song-li-cong bertahta di kerajaan Song Selatan dan terhitung tahun ke sembilan kaisar Goan-hian-cong (dinasti Yuan) dari kerajaan Mongol atau lebih terkenal dengan Kubilai Khan. Ketika itu baru permulaan musim semi. Pada Hong-leng-toh, sebuah kota tambang di tepi utara Hong-ho (Sungai Kuning) tampak sangat ramai dengan suara orang diseling ringkik kuda dan gemuruh roda kereta.
Rupanya selama beberapa hari ini cuaca berubah tidak menentu, terkadang dingin dan kemudian menjadi hangat. Mula-mula air sungai Kuning mencair, tapi sejak semalam turun salju dengan lebatnya sehingga air sungai membeku kembali, sebab itulah kapal tambang tidak dapat berjalan, kereta pun tidak berani menyeberangi permukaan sungai yang beku.
Karena itulah banyak saudagar yang hendak menyeberang ke selatan tertahan di kota tambangan kecil ini. Meski pun di Hong-leng-toh ada beberapa buah rumah penginapan, tapi karena pendatang dari utara masih mengalir tak putus-putusnya, tiada setengah hari semua rumah penginapan penuh sehingga banyak tetamu yang tidak mendapatkan pondokan dan tidak sedikit timbul ribut mulut antara tamu dan pemilik hotel.
Hotel yang paling besar di kota itu bernama ‘An-toh-Io-tiam’ yang artinya ‘Hotel selamat menyeberang’. Lantaran pekarangan hotel ini dan kamarnya lebih luas dari pada hotel-hotel lainnya, maka tetamu yang tidak mendapatkan tempat pondokan membanjiri An-toh-lo-tiam ini. Suasana menjadi ramai dan berjubel.
Banyak kamar buat dua orang terpaksa diisi tiga orang, itu pun masih juga kelebihan belasan tamu yang tidak mendapat kamar hingga terpaksa duduk berkerumun di ruangan tengah. Para pelayan menyingkirkan meja kursi dan membuat api unggun di tengah-tengah ruangan untuk menghangatkan badan tetamu. Menyaksikan bunga salju yang beterbangan dengan lebatnya di luar, para tetamu sedih karena besok belum tentu dapat melanjutkan perjalanan. Cuaca mulai gelap, hujan salju semakin lebat. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, tiga penunggangnya datang secepat terbang dan berhenti di depan An-toh-lo-tiam.
“Kembali ada tamu lagi!” gumam seorang tamu yang duduk di tepi api unggun.
Benar juga segera terdengar suara seorang perempuan berseru: “He, pengurus! Berikan dua kamar kelas satu!”
Kuasa hotel menjawab dengan mengiring tawa: “Maaf, sudah sejak pagi kamar hotel kami terhuni penuh, sama sekali tiada kamar kosong lagi.”
“Kalau begitu boleh satu kamar saja,” ujar perempuan tadi.
“Be-ribu maaf, nyonya, sungguh sudah penuh semua,” jawab pengurus hotel.
Tiba-tiba perempuan itu ayunkan cambuknya ke udara hingga menerbitkan suara.
“Tarrrrr...!”
Lalu terdengar ia mengomel: “Omong kosong! Memangnya kau tak bisa menyuruh orang mengalah sebuah kamar? Biar kutambahi sewanya.” Sembari bicara dia terus menerobos ke dalam hotel.
Pandangan para tamu terbeliak melihat perempuan itu. Usianya kira-kira 30 tahun lebih, matanya jeli, pipinya merah, mukanya cantik, perawakannya montok, berjaket kulit warna biru, bagian leher baju berlapiskan kulit berbulu halus, dan pembawaannya sangat perlente. Di belakang nyonya muda itu ikut seorang lelaki dan seorang perempuan lagi, kedua-nya masih remaja, usia mereka antara 16-17 tahun, yang lelaki beralis tebal dan bermata besar, sikapnya kasar gagah, sebaliknya perempuan muda itu sangat cantik. Keduanya mengenakan jaket satin hijau pupus. Leher si anak dara memakai sebuah kalung mutiara, setiap biji mutiara sebesar jari dan bercahaya.
Para tamu terpengaruh lagak lagu ketiga tamu baru, orang-orang yang tadinya sedang bicara semua berhenti dan memandangi ketiga orang ini. Dengan sigap pelayan hotel memberi hormat dan menjelaskan kepada si nyonya muda:
“Lihatlah, nyonya, para tamu ini pun tidak mendapatkan kamar. Kalau kalian tidak merasa kotor, silakan ikut duduk di sini sekedar menghangatkan badan dan melewatkan malam. Besok kalau air sungai tambah keras membeku mungkin sudah cukup kuat untuk diseberangi.”
Tampaknya nyonya muda itu tidak sabar, tapi keadaan memang begitu, terpaksa ia hanya mengerut kening dan tidak bersuara lagi.
Seorang perempuan setengah baya yang ikut duduk mengelilingi api unggun berkata: “Silakan duduk di sini, nyonya, hangatkan badan dulu, hawa sungguh dingin.”
“Terima kasih,” jawab nyonya cantik itu.
Segera tamu lelaki yang duduk di sampingnya bergeser memberi tempat kepada si nyonya muda. Belum lama duduk, pelayan lantas mengantarkan daharan yang dipesan, ada daging ada ayam, bahkan arak pun tersedia. Nyonya muda itu sangat kuat minum arak, semangkok demi semangkok ditenggaknya hingga habis. Lelaki muda itu pun ikut mengiringi minum, hanya si anak dara cantik saja setitik pun tidak minum arak. Dari cara sapa menyapa mereka dapatlah diketahui bahwa mereka adalah kakak beradik. Usia pemuda itu tampaknya lebih tua dari pada si anak dara, tapi ternyata memanggilnya “Cici”. Sehabis makan semua orang berkerumun di sekitar api unggun. Suara angin yang men-deru di luar membuyarkan rasa kantuk.
“Cuaca begini sungguh membikin susah orang,” demikian seorang lelaki berkata dengan logat daerah Soa-say, “Sebentar hujan salju, sebentar membeku jadi es, lain saat mencair lagi, Thian benar-benar ingin menyiksa orang.”
“Sebaiknya jangan mengomeli Thian dan Te (langit dan bumi),” ujar seorang laki-laki pendek dengan logat Ouwpak.
“Masih beruntung kita dapat menghangatkan badan dengan api dan makan enak di sini, Coba kalau kau pernah di kota terkepung Siang-yang, kukira tempat yang paling sengsara di dunia ini akan berubah menjadi sorga bagimu.” Mendengar ‘kota terkepung Siang-yang’, nyonya cantik tadi memandang sekejap kepada kedua saudaranya. Lalu terdengar seorang tamu yang berlogat Kwitang bertanya:
“Numpang tanya saudara, bagaimana keadaan di kota Siang-yang yang terkepung itu?”
“Keganasan orang MongoI kiranya sudah kalian dengar sehingga tidak perlu aku jelaskan lagi,” tutur tamu Ouwpak tadi. “Tahun itu pasukan Mongol menyerang Siang-yang secara besar-besaran. Panglima yang menjaga kota, Lu-tayjin, adalah manusia yang tidak ada gunanya. Syukurluh Kwe-tayhiap dan isterinya membantu dengan sepenuh tenaga.”
Mendengar nama Kwe-tayhiap dan isterinya disebut, air muka nyonya cantik tadi berubah riang. Sementara itu tamu berlogat Ouwpak tadi menyambung ceritanya:
“Beratus ribu penduduk Siang-yang bersatu padu menghadapi musuh dan bertahan dengan mati-matian, seperti diriku ini, aku hanya pedagang gerobak dorong, tapi aku pun ikut berjuang dengan mengangkut pasir dan mengangkat batu untuk memperkokoh benteng kota. Lihat ini, codet pada mukaku adalah bekas luka kena panah orang Mongol.”
Waktu semua orang mengawasi, terlihat di pipi kirinya ada bekas luka panah sebesar gobang. Tanpa terasa semua orang menaruh hormat padanya.
“Negeri Song kita sedemikian luas dengan penduduknya yang begini banyak. Jika setiap orang berjiwa patriot seperti saudara, hah, biar pun Tartar Mongol lebih ganas sepuluh kali lipat takkan dapat menginjak tanah air kita,” demikian kata si orang Kwitang dengan bersemangat.
“Tepat!” ujar si orang Ouwpak, “Lihat, sudah belasan tahun pasukan Mongol menggempur Siang-yang, selalu gagal, sebaliknya tempat-tempat lain dibobolnya dengan mudah. Kabarnya belasan negeri di benua barat ditumpas oleh orang Mongol, sedangkan Siang-yang masih tetap berdiri dengan tegaknya, biar pun raja mongoI Kubilai sendiri yang memimpin penggempuran tetap tidak berhasil.”
“Ya, kalau saja Siang-yang jatuh, tentu tanah air Song Raya kita sudah lama dicaplok orang Mongol,” kata orang Kwitang.
Begitulah semua orang bicara penuh semangat tentang pertahanan benteng Siang-yang. Orang Ouwpak itu menjunjung Kwe Ceng dan Oey Yong setinggi langit seakan-akan malaikat dewata dan semua orang juga tiada hentinya memberi pujian. Mendadak seorang tamu berlogat Sucoan ikut berbicara dengan gegetun:
“Sesungguhnya pembesar yang menjaga benteng di-mana-mana juga ada. Soalnya pemerintah kerajaan tidak dapat membedakan antara yang baik dan jahat, sering kali kaum dorna justru menikmati segala kejayaannya, sedangkan pembesar setia malahan mati penasaran seperti Gak Hui pujaan kita yang sudah almarhum itu tidak perlu dibicarakan lagi, sekarang saja di daerah Sucoan ada beberapa pembesar pembela rakyat menjadi kaum dorna.”
“Hei pembesar siapakah itu? Mohon penjelasan,” tanya orang Ouwpak tadi.
“Sudah belasan tahun pasukan Mongol menggempur wilayah Sucoan, berkat perlawanan Sia Kay yang amat bijaksana, segenap rakyat jelata di Sucoan sama tunduk di bawah pimpinannya dan memujanya seakan-akan Budha penolong,” demikian si orang Sucoan mulai menutur.
“Siapa tahu raja kita yang berkuasa mempercayai laporan si dorna Ting Tay-coan. Katanya Sia-tayjin menyalah-gunakan kekuasaan dan membangkang perintah pusat, maka perlu diambil tindakan dan dikirimlah racun untuk memaksa Sia-tayjin bunuh diri kemudian kedudukannya diganti seorang pembesar tidak becus yang menjadi komplotan kaum dorna itu. Ketika kemudian pasukan Mongol menyerbu, hanya sekejap saja Sucoan lantas jatuh. Pihak kerajaan tidak menyesali dirinya sendiri yang salah membunuh pembesar baik, sebaliknya malah menuduh panglima tentara Ong Wi-tiong Ciangkun yang bertahan mati-matian itu bersekongkol dengan musuh lalu menangkap dan membawanya bersama segenap anggota keluarganya ke ibukota. Di sana Ong-ciangkun dihukum penggal kepala.” Bicara sampai di sini suaranya rada tersendat.
Semua orang menghela napas terharu mendengar kisah sedih itu. Orang Kwitang tadi berkata dengan gusar:
“Hancurnya negara selalu menjadi korban kaum dorna begitu, Kabarnya kerajaan selatan sekarang ada tiga ekor anjing, dan pembesar dorna Ting Tay-coan itu adalah salah seekor di antaranya.”
Seorang pemuda berwajah putih yang sejak tadi hanya mendengarkan saja tiba-tiba menimbrung:
“Betul, kaum dorna kerajaan selatan dikepalai Ting Tay-coan, Tan Tay-hong dan Oh Tay-jiang. Karena nama mereka semuanya memakai ‘Tay’, maka orang-orang di Lim-an (ibukota Song Selatan) menambahkan nama dengan satu coretan sehingga menjadi ‘Khian’ (anjing) dan mereka bertiga dianggap tiga ekor anjing.”
Sampai di sini semua orang tertawa puas. Orang Sucoan tadi lantas bertanya: “Dari logat saudara cilik ini, tampaknya engkau orang dari Lim-an?”
“Benar,” jawab si pemuda.
“Jika begitu, waktu Ong Wi-tiong Ciangkun menjalani hukuman mati, apakah saudara juga mengetahuinya?”
“Ya, malah aku ikut menyaksikan sendiri,” jawab pemuda itu. “Ong-ciangkun menghadapi ajalnya tanpa gentar, dengan gagah berani beliau malah mencaci maki Ting Tay-coan dan Tan Tay-hong sebagai pembesar dorna penjual negara dan bangsa, bahkan terjadi pula sesuatu yang aneh.”
“Kejadian aneh apa?” tanya orang banyak.
“Yang memfitnah Ong-ciangkun jelas adalah Tan Tay-hong,” tutur si pemuda. “Waktu menuju ke lapangan hukuman, di tengah jalan Ong-ciangkun berteriak-teriak dan mencaci maki Tan Tay-hong, katanya setelah mati pasti akan mengadu kepada Giam-lo-ong untuk merenggut nyawa dorna she Tan itu. Anehnya, tiga hari sesudah Ong-ciangkun menjalani hukuman, Tan Tay-hong benar-benar mati mendadak di rumahnya dan kepalanya dipenggal dan tergantung tinggi di menara lonceng di pintu gerbang timur Lim-an. Menara itu begitu tinggi, jangankan manusia, monyet sekali pun sukar merambat ke sana. Coba pikir, jika bukan Giam-lo-ong yang merenggut jiwa menteri dorna itu, lalu perbuatan siapa lagi? Peristiwa itu diketahui setiap penduduk Lim-an dan sekali-kali bukan dongeng belaka.”
Semua orang merasa heran. Orang Sucoan itu berkata: “Kejadian itu memang bukan dongeng, cuma yang membunuh Tan Tay-hong itu bukanlah Giam-lo-ong melainkan perbuatan seorang ksatria sejati.”
“Jumlah pengawal di rumah menteri doma itu tidak sedikit, penjagaan sangat ketat, orang biasa mana bisa membunuhnya? Bahkan menggantung kepalanya di tempat yang setinggi itu, memangnya orang itu bersayap?” ujar si pemuda sambil menggeleng.
“Di dunia ini tidak kurang orang kosen, tapi kalau aku tidak menyaksikan sendiri memang tidak percaya,” kata orang Sucoan itu.
“Kau menyaksikan sendiri ia memanjat ke tempat setinggi itu? Cara bagaimana kau dapat menyaksikannya?” tanya si pemuda.
Orang Sucoan itu ragu-ragu sejenak, akhirnya dia menutur: “Ong-ciangkun memiliki seorang anak lelaki yang berhasil kabur sewaktu keluarganya ditangkap. Demi membabat sampai akarnya, kawanan dorna mengirim begundalnya mencari putera Ong-ciangkun. Meski pun putera Ong-ciangkun mahir ilmu silat, namun dia cuma sendirian. Ketika dia dikejar dan hampir tertangkap tiba-tiba datang seorang penolong yang berhasil mengkocar-kacirkan pasukan pengejar. Lalu putera Ong-ciangkun menuturkan apa yang terjadi atas keluarganya. Tentu saja Tayhiap (pendekar besar) yang menolongnya tidak tinggal diam dan menyusul ke Lim-an dengan maksud hendak menolong Ong-ciangkun, tapi sayang, beliau terlambat satu hari, Ong-ciangkun sudah dipenggal kepalanya. Dalam marahnya Tayhiap itu mendatangi kediaman Tan Tay-hong serta memotong kepalanya. Meski pun menara lonceng itu amat tinggi dan sukar dicapai manusia, namun bukan soal bagi Tayhiap itu, hanya sekali loncat saja beliau naik ke situ.”
“Siapakah Tayhiap itu? Bagaimana bentuknya?” tanya si orang Kwitang.
“Aku tidak tahu nama pendekar besar itu, yang jelas dia tidak mempunyai lengan kanan, wajahnya cakap, sikapnya gagah, dan dia selalu membawa seekor burung raksasa yang aneh dan buruk.”
Belum habis ceritanya, seorang lelaki lain menanggapi. “Betul, itulah ‘Sin-tiau-hiap’ yang termashur di dunia Kangouw.” “Ya, pendekar besar itu suka membantu yang lemah dan menolong yang miskin, tetapi selamanya tidak mau menyebutkan namanya sendiri,” tutur laki-laki itu. “Karena dia selalu membawa burung yang aneh itu, kawan-kawan Kangouw memberi nama julukan ‘Sin-tiau-tayhiap’ (pendekar besar rajawali sakti) kepadanya. Tapi beliau mengatakan arti ‘Tayhiap’ terlampau berat baginya, maka ia tidak berani menerimanya dan terpaksa orang hanya menyebutnya ‘Sin-tiau-hiap’ saja, padahal berdasarkan perbuatannya yang luhur budi itu, sebutan Tayhiap pantas diterima olehnya. Kalau dia tidak bisa disebut pendekar besar, lalu siapa lagi yang bisa?”
“Huh, di sini Tayhiap, di sana juga Tayhiap, kan bisa kebanjiran Tayhiap nanti,” tiba-tiba si nyonya cantik tadi menimbrung.
“Ahh, mengapa nyonya ini bilang begitu?” bantah orang Sucoan dengan tegas. “Meski urusan Kangouw kurang kupahami, tapi demi menolong Ong-ciangkun, Sin-tiau-tayhiap segera berangkat dari Hopak ke Lim-an, selama empat hari empat malam tanpa berhenti, padahal beliau tidak pernah kenal siapa Ong-ciangkun, hanya karena kasihan kepadanya panglima yang difitnah menteri dorna, maka beliau bertindak tanpa menghiraukan bahaya sendiri. Coba, perbuatan begitu apakah tidak pantas disebut Tayhiap?”
Nyonya cantik itu mendengus dan baru saja dia hendak mendebat, tiba-tiba anak dara di sampingnya menyela:
“Cici, perbuatan ksatria yang terpuji itu tidak salah kalau diberi gelaran Tayhiap?” Suara anak dara itu sangat nyaring dan merdu, terdengar enak, segar rasanya bagi pendengaran setiap orang.
Nyonya cantik itu mengomeli adiknya: “Huh, kau tahu apa?” Kemudian ia berpaling kepada orang Sucoan tadi dan berkata lagi: “Dari mana kau bisa mengetahui sejelas itu? Bukankah kau pun mendengar dari obrolan orang di tepi jalan atau berita angin di dunia Kangouw? Huh, sembilan bagian pasti tidak dapat dipercaya.”
Orang Sucoan itu termenung sejenak. Akhirnya dia berkata dengan sungguh-sungguh: “Aku she Ong. Ong Wi-tiong Ciangkun itu adalah ayahku almarhum, nyawaku sendiri diselamatkan oleh Sin-tiau-tayhiap. Walau pun saat ini diriku menjadi buronan pemerintah, tetapi karena menyangkut nama baik tuan penolongku, terpaksa kujelaskan asal usul diriku ini.”
Semua orang melengak mendengar ucapan orang Sucoan ini, serentak orang Kwitang tadi mengacungkan ibu-jarinya sambil berseru:
“Ong-ciangkun cilik, kau memang seorang laki-laki sejati. Kalau di sini ada manusia rendah yang berani melaporkan dirimu kepada yang berwajib, biarlah kita beramai-ramai menghadapinya.”
Maka bergemuruhlah semua orang menyatakan setuju. Terpaksa nyonya cantik tadi tidak dapat membantah lagi. Dalam pada itu si anak dara jelita sedang termangu-mangu memandangi salju yang bertebaran di luar sambil bergumam perlahan: “Sin-tiau-tayhiap... Sin-tiau-tayhiap...“ Mendadak ia berpaling kepada si orang Sucoan dan bertanya:
“Ong-toako, kalau Sin-tiau-tayhiap memiliki kepandaian setinggi itu, kenapa pula sebelah lengannya buntung?”
Air muka si nyonya muda tampak berubah demi mendengar soal lengan buntung Sin-tiau-tayhiap disinggung, bibirnya tampak ber-gerak ingin bicara, tetapi urung. Orang Sucoan she Ong itu menjawab sambil menggeleng:
“Entahlah, nama asli Sin-tiau-tayhiap saja tidak dapat kuketahui, seluk-beluk pribadi beliau tentu saja lebih-lebih tidak kuketahui.”
“Tentu saja kau tidak tahu,” jengek si nyonya muda.
Tiba-tiba saja si pemuda Lim-an berkata pu!a: “Tentang menteri dorna Ting Tay-coan, sekarang mukanya mendadak berubah hijau gosong dalam satu malam, tentu kejadian ini karena hukuman Allah.”
“Aneh, mengapa dalam semalam mukanya bisa berubah menjadi gosong?” tanya si orang Kwitang.
“Memang aneh. Karena kulit mukanya berubah mendadak, sekarang penduduk Lim-an memberi nama Ting Je-bwe (Ting si kulit hijau),” tutur pemuda Lim-an. “Asalnya kulit muka Ting Tay-coan itu putih mulus, maklum, hidupnya mewah dan makannya enak. Tapi dalam semalam mendadak kulit mukanya berubah jadi hijau gosong, biar pun sudah diobati oleh tabib paling pandai tidak dapat menghilangkan warna kulitnya yang lucu itu. Konon Sri Baginda pernah menanyakan hal ini, tapi menteri dorna itu malah melapor, katanya lantaran sibuk mengurusi pekerjaan sehingga beberapa malam tidak tidur, maka kulit mukanya berubah menjadi hijau. Tetapi setiap penduduk Lim-an menganggap perubahan kulit muka menteri dorna itu adalah karena kutukan Allah.”
“Sungguh aneh kejadian itu,” ujar si orang Kwitang.
“Ha-ha-ha!” mendadak si lelaki kekar tadi bergelak tertawa dan berseru: “Ketahuilah bahwa kejadian itu pun atas tindakan Sin-tiau-tayhiap. Sungguh menyenangkan sekali... sungguh menarik.”
“He, bagaimana bisa jadi perbuatan Sin-tiau tayhiap lagi?” tanya semua orang.
Laki-laki kekar itu hanya bergelak tawa saja dan tidak bercerita lebih lanjut, tampaknya ia sengaja tahan harga, ingin jual mahal. Lantaran ingin sekali tahu duduk perkaranya lebih jelas, si orang Kwitang lalu memanggil pelayan agar membawakan dua kati arak Ko-tiang yang paling enak untuk lelaki kekar itu. Setelah dicekoki arak, semangat orang itu lantas bangkit, dan segera ia bercerita:
“Tentang peristiwa ini, bukan aku sengaja membual, tapi aku sendiri ikut berjasa. Malam hari itu Sin-tiau-hiap tiba-tiba datang ke Lim-an dan menyuruh aku memimpin para kawan meringkus semua opas yang dinas jaga di kantor walikota. Seragam mereka lalu dicopot dan disuruh pakai para kawan. Kami merasa tertarik dan juga heran. Entah apa yang akan dilakukan Sin-tiau-hiap, tetapi kami yakin permainan menarik pasti sedang menanti, maka segala perintah beliau selalu kami laksanakan. Kira-kira lewat tengah malam, Sin-tiau-hiap tiba di kantor walikota. Beliau memakai jubah kebesaran walikota dan duduk di meja sidang. Sekali palu diketok, beliau membentak: ‘Bawa hadir menteri berdosa Ting Tay-coan!’” Sampai di sini ia lantas angkat mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis.
“Tatkala itu saudara kerja apa di Lim-an sana?” tanya si orang Kwitang.
“Kerja apa?” lelaki itu menegas dengan mata mendelik “Memangnya apa lagi? Minum arak pakai mangkuk besar, makan daging enak, bagi rejeki dengan timbangan, itulah kerjaku, berusaha tanpa pakai modal.”
Orang Kwitang itu terkejut dan tidak berani bertanya lagi. Dia tahu apa artinya berusaha tanpa pakai modal, yakni merampok, membegal dan sebagainya.
Orang itu lantas bercerita lagi: “Aku melenggong ketika mendengar nama Ting Tay-coan disebut. Bukankah pembesar anjing ini adalah perdana menteri sekarang? Mengapa Sin-tiau-hiap dapat menyeretnya ke sini? Terdengar palu diketok lagi, dua petugas benar-benar menggiring seseorang ke depan sidang. Mungkin saking ketakutan, orang itu gemetar, ingin berlutut, tetapi enggan. Seorang kawan lantas mendepak belakang dengkulnya sehingga dia jatuh bertekuk lutut. Ha-ha-ha, sungguh lucu dan menarik! Sin-tiau-hiap lantas menanyai dia: ‘Ting Tay-coan, apakah kau mengetahui dosamu?’”
“Ting Tay-coan menjawab: ‘Tidak tahu’. Sin-tiau-hiap membentak: ‘Kau korupsi dan main kekuasaan, memfitnah dan membunuh menteri setia serta membikin sengsara rakyat. Kau bersekongkol dengan negara musuh. Lekas kau mengakui semua perbuatanmu yang jahat!’ Ting Tay-coan menjawab: ‘Engkau ini siapa? Berani menculik pembesar negeri, apakah kau tidak tahu undang-undang kerajaan?’”
“Sin-tiau-hiap menjadi marah dan membentak pula: ‘Hah, kau juga tahu undang-undang segala? Bagus! Hayo anak buah, rangket dia 40 kali lebih dulu!’ Setiap orang sangat benci kepada menteri dorna ini. Sekarang diperintahkan merangketnya, keruan mereka sangat bersemangat, cara merangketnya juga diperkeras. Tentu saja menteri dorna itu berkaok-kaok minta ampun dan jatuh pingsan beberapa kali. Ia tidak berani kepala batu lagi, apa yang ditanya Sin-tiau-hiap diakuinya semua. Sin-tiau-hiap lantas menyuruhnya menulis sendiri pengakuan dosanya. Jika dia ragu-ragu menulisnya, segera Sin-tiau-hiap menyuruh menggebuk pantatnya atau menempeleng.”
Si anak dara cantik tadi mengikik senang, desisnya: “Hi-hi-hi, sungguh menarik!”
Lelaki itu menenggak habis semangkok arak, katanya dengan tertawa: “Ya, memang sangat menarik. Ting Tay-coan itu sangat ketakutan, apa lagi Sin-tiau-hiap ber-ulang mendesak agar cepat menulisnya, sedikit merandek saja segera para kawan disuruh menggebuknya. Akhirnya Ting Tay-coan terkencing-kencing dan ter-berak-berak. Untung baginya, tidak lama kemudian fajar pun menyingsing dan di luar kantor walikota sudah ramai dengan petugas yang datang dinas pagi, malah menyusul ada pasukan yang datang pula, mungkin kebocoran berita dan ada orang yang melapor.
Sin-tiau-hiap menjadi marah dan berteriak: ‘Penggal saja kepalanya!’
Aku tahu Sin-tiau-hiap tak suka sembarangan membunuh orang, tapi kulolos juga golokku terus kuayunkan ke batang leher Ting Tay-coan. Ketika golok terangkat ke atas aku putar sekali, lalu dengan tepat mengetuk kuduk Ting Tay-coan, kontan menteri dorna itu roboh terguling, tapi tidak mati melainkan jatuh pingsan. Rupanya yang mengenai kuduknya adalah punggung golok yang tidak tajam, tapi sudah cukup membuatnya ketakutan setengah mati. Sin-tiau-hiap bergelak tawa dan menyuruh kami mengundurkan diri melalui pintu belakang supaya tidak bentrok dengan pasukan pemerintah.
Konon besoknya Sin-tiau-hiap mengirim sendiri pengakuan dosa Ting Tay-coan itu kepada si kaisar tua, tapi entah ocehan apa Ting Tay-coan membuat si kaisar tetap percaya penuh kepadanya dan tetap menyuruhnya menjabat perdana menteri hingga saat ini.”
“Kalau saja Sri Baginda tidak ngawur dan lemah, tentu kaum dorna tidak akan berkuasa. Tampaknya tanah air kita yang jaya ini sukar dipertahankan lagi,” ujar Ong-ciangkun cilik.
“Ya, kecuali Sin-tiau-hiap yang menjadi perdana menteri barulah pasukan musuh dapat dikalahkan dan dunia ini pun menjadi aman,” kata lelaki tadi.
“Huh, dia sesuai menjadi perdana menteri?” tiba-tiba si nyonya cantik nyeletuk.
Laki-laki tadi menjadi gusar dan menjawab: “Kalau dia tidak sesuai, memangnya kau yang sesuai?”
Nyonya cantik itu naik pitam dan langsung membentak: “Kau ini kutu macam apa, berani kasar padaku?”
Dilihatnya laki-laki itu sedang memegang sepotong besi pengaduk api dan lagi menyorong kayu bakar ke onggokan api unggun supaya berkobar lebih keras. Sekenanya dia jemput sepotong kayu dan menyeruk ke besi pengaduk api itu. Seketika tangan lelaki itu tergetar kesemutan.
“Trangg...!” Pengaduk api itu jatuh ke lantai dan memercikkan lelatu sehingga beberapa jenggotnya terbakar hangus.
Semua orang berseru kaget. Waktu mereka memandang, kiranya besi pengaduk itu telah bengkok. Sungguh pun watak lelaki tadi rada berangasan, tetapi demi melihat kelihayan si nyonya cantik, ia menjadi mengkeret dan tidak berani bersuara lagi, bahkan arak pun lupa diminum lagi. Si anak dara cantik lantas ikut bicara:
“Cici, orang sedang bercerita tentang Sin-tiau-hiap yang baik budi, mengapa kau seperti tidak suka mendengarkannya?” Lalu dia berpaling pada lelaki tadi dan berkata dengan tersenyum manis: “Toasiok, jangan kau marah ya!”
Sebenarnya laki-laki tua itu sangat mendongkol, tetapi karena senyuman manis anak dara ini seketika api amarahnya sirna tanpa bekas, dan ia pun membalasnya dengan tertawa, mestinya ingin mengucapkan beberapa patah kata merendah, tetapi urung.
“Toasiok,” demikian si anak dara berkata lagi. “Silakan engkau berkisah lagi mengenai Sin-tiau-hiap itu. Apakah engkau kenal dia?”
Laki-laki itu memandang sekejap ke arah si nyonya cantik dan ragu-ragu untuk bicara. Anak dara itu lantas berkata:
“Silakan bercerita saja, asalkan engkau tidak membikin marah Cici-ku tentu takkan terjadi apa-apa. Cara bagaimana engkau kenal Sin-tiau-hiap? Berapa umurnya kira-kira? Apakah burungnya rajawali itu amat bagus?” Tanpa menunggu jawaban lelaki itu, ia berpaling kepada si nyonya muda dan bertanya: “Cici, entah bagaimana kalau rajawalinya itu dibandingkan dengan sepasang rajawali kita?”
“Dibandingkan sepasang rajawali kita?” tukas si nyonya muda, “Huhh! Di dunia ini mana ada burung lain yang dapat menandingi kedua rajawali kita?”
“Ahh, itu juga belum tentu,” ujar si anak dara. “Ayah sering mengatakan bahwa orang belajar silat harus tahu bahwa di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai, sekali-kali tak boleh bangga dan puas. Kalau manusia saja begitu, kukira burung yang lebih dari pada rajawali kita itu pasti juga ada.”
“Huh, anak kecil tahu apa?” Omel si nyonya muda, “Waktu berangkat, ayah ibu menyuruh kau menurut pada perkataanku, apakah kau sudah lupa?”
“Menurut ya menurut, tetapi kan harus tahu apa yang kau katakan itu benar atau tidak?” jawab si anak dara. “Eh, adik, coba katakan, ucapanku yang betul atau ucapan Cici yang betul?”
Pemuda di samping anak dara itu ragu-ragu sejenak, kemudian menjawab: “Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas ayah bilang kita harus menurut perkataan Toaci dan menyuruh kau jangan adu mulut dengan Toaci.”
“Nah, benar tidak?” kata si nyonya muda dengan senang.
Tapi si anak dara juga tidak marah meski adiknya mengeloni sang Toaci. Dengan tertawa ia berkata:
“Ah, adik memang tidak paham apa-apa.” Lalu ia berpaling dan tanya laki-laki kekar tadi: “Toasiok, silakan kau bercerita lagi tentang Sin-tiau-hiap.”
Lelaki itu menjawab: “Baiklah, kalau nona senang mendengarkan, tentu akan kuceritakan. Meski kepandaian orang she Song ini rendah, paling tidak aku pun seorang laki-laki, satu bilang satu dua ya bilang dua, satu patah kata pun tidak berdusta. Tetapi kalau nona tidak percaya, ya lebih baik tidak kuceritakan saja.”
“Mana aku tidak percaya? Lekas engkau bercerita lagi,” kata si anak dara sambil angkat poci arak dan menuangkan satu mangkok lagi bagi orang itu, malahan ia terus memanggil pelayan: “Heii, pelayan, tambah lagi sepuluh kati arak dan 20 kati daging rebus. Toaci-ku menjamu para paman dan bibi ini minum arak sekadar menolak hawa dingin.”
Pelayan mengiyakan dan cepat berteriak menyampaikan pesanan itu. Semua orang tertawa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada si anak dara.
Tidak lama kemudian, tiga pelayan mengantarkan arak dan daging yang dipesan. Tapi si nyonya cantik tadi menjadi tidak senang, katanya dengan mulut cemberut:
“Hmm, umpama aku ingin menjamu tamu juga takkan menjamu orang yang suka mengaco belo ini. He, pelayan, rekening arak dan daging itu tidak boleh diperhitungkan padaku.”
Si pelayan melengak bingung. Ia pandang si nyonya cantik sebentar, lalu pandang si anak dara lagi. Anak dara yang cantik itu lalu mengambil tusuk konde emasnya dan disodorkan kepada pelayan, katanya:
“Tusuk konde ini terbuat dari emas murni, sedikitnya bernilai beberapa puluh tahil perak, Nah, tukarkan saja bagiku, lalu bawakan lagi sepuluh kati arak dan 20 kati daging kambing rebus.”
Nyonya cantik tadi menjadi marah, omelnya: “Ji-moay, kau sengaja membikin keki aku, bukan? Mutiara yang terbingkai di tusuk konde itu saja bernilai beberapa ratus tahil perak, tapi benda berharga begitu sembarangan kau berikan untuk mentraktir minum arak sembarang orang. Nanti kalau pulang dan ditanyakan ibu, coba bagaimana kau akan menjawab?”
Anak dara itu melelet lidah, lalu berkata sambil tertawa: “Akan kukatakan hilang di tengah jalan, sudah kucari tapi tidak ketemu.”
“Huh, masa aku mau berdusta bagimu?” omel si nyonya muda.
Si anak dara lantas mendahului menyumpit sepotong daging rebus dan dimakan, lalu dia berkata:
“Nah, barang sudah dimakan, masa boleh dikembalikan? Ehh, hayolah para paman dan bibi, jangan sungkan-sungkan, silakan minum dan makan!”
Melihat dua kakak beradik itu beradu mulut, semua orang merasa tertarik sekali. Mereka semua menyukai si anak dara yang polos ke-kanakan, maka dalam hati mereka memihak si anak dara. Rupanya nyonya muda cantik itu mendongkol, dia terus memejamkan mata dan menutupi telinganya.
“Nah, Song-toasiok, sekarang Toaci-ku sudah tidur, silakan kau bercerita lagi, tentu tidak akan mengganggunya,” kata si anak dara tertawa.
“Bilakah aku tidur?” semprot si nyonya muda dengan marah.
“Ahh, bagus, tentunya engkau menjadi lebih tidak terganggu,” jawab si anak dara dengan tertawa.
Dengan suara keras si nyonya muda berkata; “Siang-ji, dengarkan kataku, jika kau selalu ngotot dengan aku, besok aku takkan berangkat bersama kau.”
“Ah, tak jadi soal, aku berangkat bersama Samte (adik ketiga),” ujar si nona cilik.
“Tidak, Samte akan ikut aku,” kata si nyonya.
”Eh, Samte, kau akan berangkat bersama siapa?” tanya anak dara itu.
Anak muda tadi menjadi serba susah. Apa bila membantu sang Toaci, tentu Jici kurang senang, jika mengeloni Jici, sang Toaci yang akan marah. Dengan ter-gagap kemudian ia menjawab:
“Kata ibu, kita bertiga harus selalu bersama, tidak boleh terpencar.”
“Nah, betul tidak? Jika Toaci tidak membawa serta diriku, nanti kalau pulang dan ditanyai ibu, tentu Toaci tak bebas dari tanggung jawab,” jawab si nona cilik dengan tertawa.
Dengan mendongkol si nyonya menjawab: “Tahu kau selalu bandel begini, dulu waktu kau masih kecil dan diculik orang jahat, tentu aku tidak perlu kuatir dan ikut mencari kau.”
Mendengar ucapan itu, nona cilik itu menjadi lunak hatinya, ia terus merangkul bahu sang Toaci dan memohon:
“Oh, Toaci yang baik, jangan marah ya! Anggaplah aku yang salah.”
Si nyonya muda sengaja bermuka merengut dan tidak menggubris.
“Jika Toaci tidak mau tertawa, akan ku-kitik kau,” kata si anak dara.
Tetapi nyonya muda itu malah melengos ke sana. Mendadak anak dara itu menggunakan tangan kanan mengelitik ketiak sang Toaci dari belakang. Tanpa menoleh nyonya muda itu menggunakan siku kiri untuk menyikut ke belakang, Tapi tangan kiri si anak dara sempat menangkap sang Toaci dan tangan lain tetap hendak mengelitik. Segera si nyonya muda sedikit memutar tubuh dan sikutnya menyodok untuk memaksa si anak dara menarik kembali tangannya, keduanya bergerak dengan lemah gemulai dan bergaya menarik.
Hanya sekejap saja keduanya sudah saling gebrak beberapa jurus. Si anak dara tetap tak mampu mengelitik sang Toaci, tetapi si nyonya muda juga tidak dapat menangkap tangan adiknya.
“Kepandaian bagus!” tiba-tiba seseorang berseru tertahan di pojok ruangan sana.
Kedua kakak beradik serentak berhenti dan memandang ke pojok sana, tampak seseorang duduk meringkuk menjadi satu gulungan, kepalanya terbenam di antara kedua lututnya, agaknya sedari tadi tidur nyenyak.
Sejak duduk di tepi api unggun, kedua kakak beradik itu sudah melihat cara orang tidur meringkuk begitu tanpa bergerak. Orang lain sedikit pun tidak dapat melihat bagaimana cara kedua kakak beradik itu bercanda, jadi agaknya suara sorakan itu bukan dilakukan olehnya. Tiba-tiba saja si pemuda berkata,
“Toaci dan Jici, ayah sudah berpesan jangan sembarangan memperlihatkan kungfu kita.”
“Ahh, sok kemaki (belagu)!” si anak dara berseloroh. “Tapi benar juga kau.” Kemudian dia berpaling kepada lelaki kekar tadi: “Maaf, Song-toasiok, kami kakak beradik ribut sendiri sehingga lupa mendengar ceritamu. Hayolah lekas mulai!”
LeIaki she Song itu menjawab: “Tapi sekali-sekali aku bukan mendongeng, apa yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata.”
“Tentu saja cerita Song-toasiok adalah kejadian nyata,” ujar si anak dara dengan tertawa.
Lelaki itu menenggak araknya, lalu berkata: “Aku sudah minum dan makan suguhan nona, andaikan tidak bercerita juga rikuh rasanya. Jika saja semalam duitku tidak amblas di meja dadu, tentu akan kujamu kembali engkau nona manis, panggilan Toasiok berulang-ulang hanya panggilan percuma saja? Eh, bicara tentang perkenalanku dengan Sin-tiau-hiap, kejadiannya hampir sama dengan pengalaman Ong-ciangkun cilik, jiwaku juga telah diselamatkan oleh Sin-tiau-hiap, cuma kali ini beliau tidak menggunakan kekerasan melainkan dibeli dengan uang.”
“Sungguh aneh sekali, masa dia membeli kau dengan uang?” si anak dara menegas, “Memangnya berapa sih harganya satu kilo dirimu ini?”
Lelaki itu terbahak-bahak, katanya: “Ha-ha-ha, daging orang macamku yang berbau tengik ini ternyata jauh lebih mahal dari pada daging sapi mau pun babi. Kau tahu berapa Sin-tiau-hiap menghargai diriku ini? Hah, 4000 tahil perak, tidak kurang. Begini kejadiannya. Lima tahun yang lalu pada waktu membela urusan di Celam, Soatang, aku membunuh mati seorang bicokok setempat. Bunuh orang ganti nyawa bukan soal bagiku. Pada suatu hari aku harus menjalani hukuman mati. Yang mendongkolkan aku adalah aku diharuskan mati berbarengan dengan seorang buaya darat setempat yang sangat jahat. Sungguh brengsek, masa seorang laki-laki sejati macamku harus mati di tempat yang sama dengan seorang penjahat? Wah, betapa pun aku sangat penasaran...”
“Tak terduga, selang beberapa hari buaya darat itu menyogok walikotanya sehingga tuduhan menculik orang, memeras, sampai membuka rumah perjudian dan rumah pelacuran, semuanya ditumpukkan atas diriku dan buaya darat itu dibebaskan. Dari kepala penjara aku mendengar bahwa buaya darat itu telah menyogok dua ribu tahil perak kepada walikota sehingga segenap kesalahannya ditambahkan seluruhnya atas namaku. Katanya toh sama saja, satu pelanggaran dihukum mati, sepuluh pelanggaran dihukum mati juga, dari pada mati dua orang biarlah mati satu orang saja.“
“Keruan aku merasa difitnah dan sangat penasaran. Aku ber-teriak mencaci maki pembesar durjana itu, tetapi apa dayaku? Lewat beberapa hari lagi aku dibawa ke sidang, tetapi sungguh aneh bin ajaib, buaya darat itu dihadapkan sidang pula bersamaku. Kontan saja aku mengumpat habis-habisan. Tapi pembesar korup itu berkata dengan tertawa: ‘He, Song Ngo, tidak perlu kau mencak-mencak begitu, persoalannya sudah kuselidiki dengan jelas bahwa kau memang tak bersalah, bicokok itu bukan dibunuh olehmu, tapi dia pembunuhnya!’ sembari bicara ditudingnya pula buaya darat tadi, lalu aku pun dibebaskan. Tentu saja aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini. Sudah jelas akulah yang membunuh bicokok itu, mengapa sekarang kesalahan ini ditimpakan kepada orang lain?”
“Hi-hi-hi, sungguh pembesar yang konyol dan linglung,” ujar si anak dara mengikik tawa.
“Mana dia linglung,” ujar lelaki she Song itu. “Setibanya di rumah, ibuku memberi-tahu bahwa ketika aku diputus hukuman mati, setiap hari ibu menangis di jalan raya, suatu hari kebetulan dilihat Sin-tiau-hiap dan ditanya sebab-sebabnya. Beliau menyatakan sedang ada urusan penting sehingga tidak dapat membereskan perkara itu, lalu ibu diberi uang empat ribu tahil perak untuk menebus diriku. Selang tiga bulan kemudian tersiarlah berita yang menggegerkan, katanya bapak walikota marah-marah lantaran habis kecurian delapan ribu tahil perak. Aku yakin kejadian itu pasti perbuatan Sin-tiauhiap, sebab itu kami tak berani tinggal lagi di tempat asal dan terpaksa pindah ke Lim-an. Lewat setahun lagi aku mendengar ada seorang tuan bertangan buntung sebelah bersama seekor burung raksasa selalu berada di pantai laut sambil memandangi ombak samudera dengan termangu-mangu. Cepat aku memburu ke sana dan dapatlah menemui beliau, di situlah dapat kuhaturkan terima kasih kepadanya.”
“Apa yang kau terima kasihkan?” mendadak si nyonya muda menyela, “dia mengeluarkan empat ribu tahil perak dan masuk delapan ribu tahil perak, jadi masih untung empat ribu tahil bersih. Memangnya orang she Yo itu mau berbuat sesuatu yang membuatnya rugi?”
“She Yo? Sin-tiau-hiap itu she Yo maksudmu?” tanya si anak dara.
“Entahlah, siapa yang bilang dia she Yo?” jawab si nyonya muda.
“Jelas baru saja Toaci menyebutnya she Yo,” kata anak dara itu.
“Ahh, kau sendiri yang salah dengar,” bantah si nyonya.
“Baiklah, tidak perlu aku ribut dengan kau,” ujar si anak dara. “Seumpama benar Sin-tiau-hiap untung bersih empat ribu tahil perak, pasti juga akan dipergunakan untuk membantu kaum miskin dan menolong orang sengsara.”
Serentak semua orang bersorak merauji: “Bagus! Memang tepat ucapan nona!”
“Eh, Song-toasiok, Sin-tiau-hiap itu memandangi ombak laut? Apakah dia sedang menanti sesuatu di sana?” Tanya si anak dara pula.
“Entahlah, aku pun tidak tahu,” jawab lelaki She Ong sambil menggeleng.
Si anak dara mengambil dua potong kayu bakar kemudian dilemparkan ke gundukan api unggun. Dia termenung-menung memandangi api yang berkobar itu, lalu dia menggumam perlahan:
“Meski Sin-tiau-hiap suka menolong orang lain, bisa jadi dia sendiri pun justru menyimpan sesuatu persoalan pelik. Sebab apakah dia termenung memandangi laut? Ya, sebab apakah memandangi laut dengan termangu-mangu?”
Seorang wanita setengah umur yang duduk di sudut kiri sana tiba-tiba menyeletuk: “Aku mempunyai seorang adik misan dan beruntung dapat bertemu dengan Sin-tiau-hiap yang sedang memandangi laut dengan termangu-mangu itu. Karena heran, adik misan pernah bertanya kepada beliau dan menurut keterangan Sin-tiau-hiap, katanya isterinya berada di seberang lautan sana dan tidak dapat berjumpa.”
“Ahhh...!” semua orang bersuara heran.
“Kiranya Sin-tiau-hiap juga punya isteri,” kata si anak dara cantik, “Entah sebab apakah isterinya berada di seberang lautan sana? Dia memiliki kepandaian setinggi itu, mengapa dia tidak menyeberang ke sana untuk mencari isterinya?”
“Adik misanku juga pernah bertanya begitu,” tutur si wanita setengah umur tadi, “Tetapi beliau menjawab bahwa lautan seluas itu, entah ke mana baru dapat menemukan isterinya?”
“Aih, kupikir tokoh demikian pasti seorang yang berbudi dan berperasaan halus, ternyata memang benar,” kata si anak dara dengan menghela napas perlahan. Lalu ia Tanya lagi: “Adik misanmu itu tentu amat cantik, bukan? Diam-diam dia menyukai Sin-tiau-hiap, betul tidak?”
“Hush! Ji-moay, kau bicara yang aneh-aneh lagi!” bentak si nyonya cantik tadi.
Tapi wanita setengah umur itu berkata pula: “Ya, adik misanku memang tergolong cantik. Sin-tiau-hiap sudah menyelamatkan jiwa ibunya dan membunuh ayahnya, apakah diam-diam adik misan menyukai Sin-tiau-hiap sukar diketahui orang lain, cuma sekarang ia sudah menikah dengan seorang petani yang baik. Sin-tiau-hiap telah memberi sejumlah uang, penghidupannya cukup lumayan.”
“Sin-tiau-hiap menyelamatkan jiwa ibunya, tetapi membunuh ayahnya. Sungguh kejadian aneh, aku menjadi rada sangsi apakah betul bisa terjadi begitu?” ujar si anak dara tadi.
“Kenapa mesti sangsi?” kata sang Toaci, si nyonya cantik, “watak orang itu memang aneh dan sebentar berubah. Kalau senang dia menolong jiwa orang, kalau tidak suka lantas dia membunuh. Ya, memang sudah begitu sejak kecilnya.”
“Sudah begitu sejak kecilnya? Toaci tahu dari mana?” tanya si anak dara.
“Tentu saja aku tahu,” jawab si nyonya muda, tetapi meski telah ditanya dan didesak lagi oleh si anak dara, tetap dia tidak mau menjelaskan.
“Baik, kau tidak mau bercerita ya sudahlah, memangnya siapa pingin tahu?” kata si anak dara dengan rada dongkol. “Rasanya seumpama kau mau bercerita juga cuma membual belaka.” Lalu ia berpaling kepada si wanita setengah umur dan berkata pula: “Eh, Toasoh, maukah kau bercerita mengenai pengalaman adik misanmu?”
“Baiklah, akan kuceritakan,” jawab wanita itu.
“Usiaku dengan adik misan sebaya, rumah adik berada di Holam. Tahun itu orang Mongol menyerbu sampai di wilayah sana dan Kohtio (paman) diculik pasukan musuh untuk dijadikan kuli kerja paksa. Lalu bibi membawa adik misan mencari paman ke utara dengan cara minta-minta di sepanjang jalan. Susah payah juga perjalanan mereka itu, terutama jika mengingat bahwa wajah bibi dan adik tidaklah jelek, tentu banyak juga mendatangkan kesuIitan. Sebab itulah bibi dan adik telah memoles muka mereka dengan hangus supaya tidak merangsang pikiran orang jahat.”
“Mengapa jika muka mereka diberi hangus menjadi tidak merangsang orang jahat?” tanya si anak dara.
Karena pertanyaan ini, sebagian orang-orang itu, terutama kaum lelakinya, tertawa geli.
“Ji-moay!” omel si nyonya muda, “jika engkau tidak tahu hendaklah jangan sembarangan bertanya. Nona sebesar ini hanya menimbulkan tawa orang saja!”
“Justru lantaran aku tidak tahu, makanya aku bertanya, kalau sudah tahu buat apa tanya,” gerundel si anak dara.
“Ahh, urusan kurang pantas diceritakan itu lebih baik nona tidak paham saja,” ujar wanita setengah umur tadi. “Selama empat tahun bibi dan adik misan menjelajahi Mongol hingga kemudian sampai ke Soasay. Akhirnya dapatlah paman diketemukan, ia menjadi budak di bawah seorang Mongol berpangkat Jian-hou-tiang (kepala seribu jiwa). Jian-hou-tiang itu sangat jahat. Ketika paman diketemukan kebetulan bibi menyaksikan sebelah kakinya baru saja dipukul patah oleh orang Mongol itu. Tentu saja bibi sangat berduka dan mohon agar suaminya dibebaskan, Orang Mongol itu bersedia melepaskan paman apa bila ditebus dengan seribu tahil perak, sebab katanya dia beli paman dengan harga seratus tahil. Sedangkan sepuluh tahil saja bibi tidak punya, dari mana seribu tahil perak diperoleh? Setelah putus asa dan menghadapi jalan buntu, bibi menjadi nekat, terjunlah dia ke dunia gelap, bersama adik misan dan dia sendiri dijual ke Ca-bo-keng (rumah pelacuran)”
Karena tidak tahu apa artinya ‘Ca-bo-keng’, si anak dara cantik itu hendak bertanya lagi, tapi karena tadi pertanyaannya telah menimbulkan tawa orang, tiba-tiba saja dia urungkan niatnya bertanya. Terdengar wanita setengah baya itu melanjutkan ceritanya:
“Begitulah bibi dan adik misan hidup menderita setengah tahun. Sedikit-sedikit mereka sudah ada tabungan, tetapi untuk mencukupi seribu tahil perak sungguh tidak mudah. Untunglah para tetamu mengetahui cita-cita luhur ibu beranak yang ingin menolong suaminya itu, maka waktu memberi uang sengaja dilebihkan dari pada tarip umum. Dengan susah payah dan kenyang hina derita, pada malam tahun baru dapatlah mereka menabung cukup seribu tahil perak. Dengan riang gembira mereka membawa uang tabungan itu ke rumah Jian-hou-tiang untuk diserahkan sebagai harga tebusan paman. Mereka pikir malam itu juga suami isteri dan anak dapat berkumpul lagi sehingga dapat merayakan tahun baru dengan gembira.”
Sampai di sini si anak dara ikut bergembira juga bagi ibu beranak yang beruntung itu. Tapi si wanita setengah baya lantas berkata:
“Namun kenyataan ternyata berlainan dari pada harapan. Sesudah menerima seribu tahil perak, Jian-hou-tiang memang benar-benar mengeluarkan paman untuk bertemu bibi dan adik, tapi ketika mereka bertiga menghadap Jian-hou-tiang itu untuk mohon diri, mendadak timbul lagi pikiran jahat orang MongoI itu karena melihat adik misanku yang cantik, katanya:
‘Bagus sekali kalian mau menebus budak ini, nah, boleh serahkan uang tebusannya!’”
“Keruan bibi terkejut, padahal seribu tahil perak itu semenjak tadi telah diserahkan kepada kasir Jian-hou-tiang, mengapa sekarang menagih lagi? Namun Jian-kou-tiang itu tidak mau menerima alasan bibi, dengan marah ia malah membentak:
‘Huh, masa seorang berpangkat seperti aku ini sudi anglap duit kaum budak? Apakah kalian sengaja hendak mencemarkan nama baikku?’”
“Tentu saja bibi menjadi takut dan berduka, tanpa tahan lagi ia menangis ter-gerung di tempat. Jian-hou-tiang itu lalu berkata:
‘Baiklah, mengingat malam ini adalah malam tahun baru, biarlah kuberi kesempatan berkumpul kalian suami-isteri. Tetapi budak ini mungkin akan kabur, maka sebagai jaminan anak gadis kalian harus ditinggalkan di sini.’
Sudah tentu bibi tahu niat busuknya dan tidak dapat menerima kehendak orang. Segera Jian-hou-tiang membentak-bentak marah dan memerintahkan anak buahnya mengusir bibi dan paman...”
“Karena tidak tega meninggalkan anak perempuannya, bibi lalu menangis sesambatan di depan rumah Jian-hou-tiang. Walau pun setiap orang mengetahui kesusahan bibi, tapi di bawah kekuasaan orang Mongol, membunuh seorang Han ibarat kata memites seekor semut, siapa yang berani membela keadilan? Tetapi yang paling celaka adalah pamanku, dia malah bilang:
‘Kalau tuan besar Jian-hou-tiang penujui anak gadis kita, ini rejeki yang sukar dicari bagi orang lain, kenapa kau malah menangis?’
Rupanya paman sudah terlalu lama menjadi budak sehingga jiwa raganya sampai tulang sumsumnya benar-benar sudah berbau budak. Kemudian dia pun menanyakan bibi dari mana mendapatkan seribu tahil perak untuk menebusnya. Semula bibi tak mau menjelaskan, karena didesak akhirnya diceritakan juga. Tak tahunya paman menjadi marah bukan main dan menuduh bibi telah mencemarkan nama baiknya, katanya perempuan yang tidak dapat menjaga kepribadian dan suka melacurkan diri, bibi dianggapnya terlalu hina dina. Segera paman membuat surat cerai dan menceraikan bibi.”
Sampai di sini semua orang menggerutu dan menganggap nasib bibinya itu benar-benar malang dan pamannya itu terlalu kejam.
“Bibi menjadi putus asa,” demikian tutur wanita lebih lanjut, “maka diam-diam beliau pergi ke hutan dan hendak menggantung diri dengan tali pinggangnya. Untunglah Sin-tiau-hiap kebetulan lewat dan bisa menyelamatkan jiwanya. Setelah mengetahui duduknya perkara, Sin-tiau-hiap sangat marah. Malam itu juga beliau masuk ke tempat Jian-hou-tiang dan melihat adik misan sedang dipaksa agar menuruti kehendaknya. Celakanya paman juga di situ dan malah membujuk agar adik misan menuruti saja. Kontan Sin-tiau-hiap memukul mati pamanku kemudian menyeret Jian-hou-tiang dan melemparkan ke sungai, juga adik misan ditolong keluar. Begitulah kisahnya Sin-tiau-hiap menyelamatkan bibi dan membunuh pamanku. Menurut Sin-tiau-hiap, selama hidupnya paling benci pada manusia yang tak berbudi dan tidak memiliki perasaan, apa lagi rela diperbudak musuh segala. Paman telah melanggar pantangan Sin-tiau-hiap, maka tanpa sungkan-sungkan lantas dibunuhnya.”
Saking kesemsemnya mendengar cerita yang menarik itu, tanpa terasa anak dara cilik itu mengangkat mangkok arak dan minum seceguk.
“Ah, pedas!” katanya sambil meringis. Karena tidak biasa minum arak, seceguk saja telah membuat mukanya menjadi merah sehingga semakin menambah kecantikannya. Dengan perlahan dia berkata: “Kalian beruntung sudah pernah melihat Sin-tiau-hiap. Jika aku pun dapat berjumpa dan bicara sejenak dengan dia, andai kata umurku harus berkurang tiga tahun juga aku rela.”
“Ji-moay, kenapa kau sembarangan percaya pada obrolan orang?” seru si nyonya cantik. “llmu silat orang itu memang tinggi, tapi kalau dibandingkan dengan ayah masih terlampau jauh. Padahal orang itu pun sudah pernah kau lihat, malah dia pernah memondong kau.”
Air muka si anak dara menjadi merah jengah, semprotnya: “Cis, mengapa Toaci juga sembarangan omong? Siapa mau percaya?”
“Kalau tidak percaya, setelah pulang nanti boleh kau tanya ayah dan ibu,” kata si nyonya cantik.
“Apa yang disebut Sin-tiau-hiap itu sebenarnya she Yo bernama Ko, waktu kecilnya juga pernah tinggal di Tho-hoa-to. Lengannya yang buntung itu justru... justru... Waktu kau baru lahir dia sudah lantas memondong kau.”
Kiranya nyonya cantik ini bukan lain dari pada Kwe Hu, ada pun anak dara itu adalah Kwe Siang, sedangkan pemuda itu adalah adik kembar Kwe Siang, Kwe Boh-lo. Tiga kakak beradik ini disuruh ayah-bundanya pergi ke Cin-yang untuk mengundang Khu Ju-ki, tokoh tertinggi Coan-cin-kau pada masa itu, untuk memimpin Eng-hiong-tay-hwe (pertemuan besar para pahlawan) yang hendak diadakan di Siang-yang. Hari itu mereka baru pulang dari Cin-yang, setiba di tempat penyeberangan mereka pun terhalang oleh cuaca yang buruk lantas masuk ke hotel ini sehingga dapat mendengarkan cerita orang-orang tadi mengenai Sin-tiau-hiap, si pendekar sakti rajawali alias Yo Ko.
Dengan cepat 16 tahun telah berlalu. Sementara itu Kwe Hu sudah menikah dengan Yalu Ce, Kwe Siang dan Kwe Boh-lo juga sudah besar. Kwe Siang berseri-seri mendengar ucapan Kwe Hu tadi. Ia bergumam sendiri:
“Begitu aku lahir sudah pernah dipondong olehnya,” lalu ia berpaling dan bertanya kepada sang Toaci: “Cici bilang waktu kecilnya Sin-tiau-hiap pernah tinggal di Tho-hoa-to, mengapa hal ini belum pernah kudengar dari ayah dan ibu?”
“Kau tahu apa?” sahut Kwe Hu. “Masih banyak soal lain yang tidak diceritakan kepadamu oleh ayah ibu.”
Kiranya tentang buntungnya lengan kanan Yo Ko serta keracunannya Siao-liong-li, karena semua itu akibat tindakan Kwe Hu yang ceroboh, setiap kali kejadian itu disinggung selalu menimbulkan amarah Kwe Ceng, meski Kwe Hu sudah dewasa dan sudah menikah, tetap Kwe Ceng mendamperatnya tanpa kenal ampun. Karena itu setiap anggota keluarga tidak suka menyinggung lagi selama beberapa tahun ini sehingga Kwe Siang dan Kwe Boh-lo tidak pernah mendengar orang bercerita kisah si Yo Ko.
“Kalau begitu, dia mempunyai hubungan erat dengan keluarga kita, mengapa selama ini dia tidak pernah datang ke rumah kita?” kata Kwe Siang. “Ah, pada Eng-hiong-tay-hwe yang akan diadakan di Siang-yang tangggal 15 bulan tiga nanti Sin-tiau-hiap pasti akan hadir.”
“Tindak tanduk orang itu sangat aneh dan wataknya juga angkuh sekali, belum tentu dia mau datang,” ujar Kwe Hu.
“Cici, kita harus berusaha mencari jalan untuk menyampaikan kartu undangan padanya,” kata Kwe Siang. Lalu dia berpaling kepada lelaki kekar tadi: “Song-toasiok, dapatkah kau menyampaikan surat kepada Sin-tiau-hiap?”
Orang she Song itu menggeleng dan menjawab: “Sin-tiau-hiap menjelajahi seluruh jagat, jejaknya sukar diketemukan, untuk mencarinya tidaklah mudah.”
Kwe Siang sangat kecewa. Dia benar-benar sangat tertarik oleh kisah keluhuran budi dan kepahlawanan Sin-tiau-hiap, sungguh ia ingin bisa bertemu dengan pendekar rajawali sakti itu. Dia merasa gegetun bahwa Sin-tiau-hiap yang dikaguminya itu tidak dapat hadir pada Eng-hiong-tay-hwe nanti. Katanya kemudian sambil menghela napas:
“Aihh... orang yang hadir nanti belum tentu semuanya ksatria sejati, sebaliknya ksatria sejati belum tentu mau hadir ke sana.”
“Blukk!”
Mendadak terdengar suara gedebuk yang keras, seseorang mendadak melompat berdiri dari pojok ruangan sana, rupanya orang yang sejak tadi tidur meringkuk itulah. Segera semua orang merasa ada suara gemuruh laksana bunyi guruh, kiranya orang itu sedang berkata.
“Apa sulitnya jika nona ingin menemui Sin-tiau-hiap? Biarlah malam ini juga akan kubawa kau untuk menjumpai beliau.”
Semua orang kaget oleh suara orang yang gemuruh keras itu, apa lagi setelah melihat jelas bentuk tubuh dan wajahnya, semua orang tampak heran. Kiranya perawakan orang itu tidak lebih dari satu meter saja, tubuhnya juga kurus kecil tetapi kepalanya amat besar, telapak tangannya serta telapak kakinya ternyata jauh lebih besar dari pada orang biasa. Sejak tadi ia meringkuk di pojok ruangan sehingga tidak diperhatikan oleh siapa pun. Siapa tahu begitu dia berdiri ternyata bentuknya begini aneh dan lucu. Dengan girang Kwe Siang menanggapi ajakan orang aneh itu:
“Bagus jika engkau mau membawaku ke sana. Cuma selamanya aku tidak kenal Sin-tiau-hiap, entah beliau mau menemui aku atau tidak?”
“Tapi kalau malam nanti kau tidak menemui dia, selanjutnya mungkin kau tak akan dapat melihat dia lagi,” kata orang cebol itu dengan suaranya yang mengguruh.
“Sebab apa?” tanya Kwe Siang heran.
Kwe Hu lantas berdiri dan bertanya pada si cebol: “Mohon tanya, siapakah namamu yang terhormat?”
“He-he-he-he!” orang pendek itu terkekeh-kekeh, katanya: “Orang buruk rupa macamku ini masakah di dunia ini ada keduanya? Kalau kau tidak kenal diriku, pulang saja tanyakan kepada ayah-ibumu.”
Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara seruan berkumandang dari jauh. “Komplotan setan dari Se-san, sepuluh sudah datang sembilan. Wahai Hong-thian-lui, kau tidak datang sekarang, mau tunggu sampai kapan?”
Suara sayup itu seperti terputus, lalu bersambung pula, lirih dan seram kedengarannya, tapi sekata demi sekata dapat terdengar dengan jelas.
Si cebol melongo sejenak, tiba-tiba ia menggertak keras, debu pasir lantas berhamburan disertai percikan pecahan batu dan genting. Semua orang memejamkan mata dan waktu membuka mata lagi ternyata si cebol sudah menghilang entah ke mana. Semua orang terkejut, waktu menengadah, tampak atap rumah berlubang besar. Kiranya orang cebol itu menerjang keluar dengan kepala menjebol atap.
“Lihay benar orang itu, cici,” kata Kwe Boh-lo.
Kwe Hu sudah cukup berpengalaman dan banyak tokoh persilatan yang dikenalnya, tetapi betapa lihay kepala si cebol ini belum pernah dia dengar dari ayah-ibunya. Seketika ia pun melenggong dan tak dapat menanggapi ucapan adiknya itu. Kwe Siang lantas nyeletuk:
“Di antara guru yang pernah mengajar ayah juga ada seorang pendek bernama Ma-ong-sin Han Pok-ki. Samte sembarangan menyebut orang sebagai si cebol, kalau didengar ayah tentu beliau akan marah. Kau harus menyebutnya Locianpwe.”
Belum lagi Kwe Boh-lo menjawab, tiba-tiba.
“Blangg...!”
Terdengar suara yang keras, seketika debu pasir kembali bertebaran, malahan muka beberapa orang terkena cipratan batu kerikil sehingga menjerit kesakitan. Di tengah suara ribut itulah tahu-tahu terlihat si cebol tadi sudah berdiri kembali di tengah ruangan, dinding sebelah timur bobol sebuah lubang setinggi satu meteran dan lebarnya lebih dari setengah meter. Kiranya orang cebol ini tadi menerjang masuk dengan menjebol dinding.
Ilmu silat Kwe Hu sekarang sudah tentu jauh lebih tinggi dibandingkan belasan tahun yang lalu, tetapi tidak urung ia pun terkejut melihat kelihayan Nge-kang (kekuatan luar) si cebol. Cepat ia melompat maju menghadang di depan kedua adiknya untuk menjaga kalau-kalau si cebol mendadak menyerang. Orang cebol itu menjulurkan kepalanya yang sebesar gentong dan melongok ke belakang Kwe Hu, katanya kepada Kwe Siang:
“Eh, nona cilik, kalau kau ingin bertemu dengan Sin-tiau-hiap, mari ikut denganku.”
“Baiklah!” jawab Kwe Siang tanpa pikir, “Hayo Toaci dan Samte, kita pergi bersama.”
“Ah, untuk apa menemui dia? Kau jangan pergi, apa lagi kita belum pernah kenal tuan ini,” ujar Kwe Hu.
“Aku pergi sebentar dan segera kembali, kalian tunggu saja di sini,” kata Kwe Siang.
Mendadak orang she Song tadi bangkit dan berseru: “Nona cilik, sekali-kali kau jangan pergi. Orang ini... orang ini adalah tokoh gerombolan setan dari Se-san, apa bila kau ikut pergi, besar... besar kemungkinan akan celaka!”
“He-he-he-he..., kau juga tahu gerombolan setan dari Se-san?” Si cebol mengekek tawa, “Maksudmu kami adalah orang jahat?”
Habis itu sebelah tangannya tiba-tiba menyodok ke depan. Belum tangannya menyentuh tubuh Song Ngo, tahu-tahu tubuh Song Ngo sudah tergetar mundur kemudian menumbuk dinding, seketika mukanya pucat, kedua kakinya lemas dan terkulai ke lantai, kepalanya bergelantungan lemas di depan dada, entah sudah mati atau masih hidup. Kwe Hu menjadi gusar. Walau pun tahu kepandaian si cebol lebih tinggi juga tidak boleh kena digertak hingga diam saja. Segera dia berteriak:
“Engkau silakan pergi saja. Adikku masih kecil, mana boleh mengikuti kau kian kemari di tengah malam buta?”
Pada saat itu pula suara sayup ter-putus tadi sudah berkumandang lagi: “Gerombolan setan dari Se-san sepuluh sudah datang sembilan, Hong-thian-lui... wahai Hong-thian-lui, arwahmu tidak muncul, orang sudah Iama menunggu!”
Suara itu kedengaran sangat jauh, tiba-tiba seperti sangat dekat dan mengiang di kanan-kiri sehingga membuat merinding orang. Kwe Siang sudah bertekad harus bertemu dengan Sin-tiau-hiap sekali pun nanti dia akan kepergok setan iblis, maka segera dia menjawab:
“Baiklah, Cianpwe, bawalah aku!”
Berbareng dia terus melompat ke sana dan menerobos keluar melalui lubang dinding yang dibobol si cebol tadi.
“He, kau!” seru Kwe Hu meraih tangan sang adik, tetapi luput. Maka dia pun cepat melompat ke sana hendak mengejar keluar melalui lubang dinding.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak menerobos keluar, tiba-tiba lubang dinding itu menghilang. Untung kepandaian Kwe Hu sekarang sudah cukup sempurna sehingga bisa mengendalikan tubuh sendiri sesuka hati. Cepat ia anjlok ke bawah sehingga seketika itu pula daya terobosnya dihentikan. Begitu kakinya menyentuh lantai, ternyata tubuhnya tepat berdiri di depan dinding, jaraknya cuma belasan senti saja. Waktu dia dapat melihat jelas, hampir saja dia menjerit kaget. Ternyata tubuh si cebol tadi dengan tepat terisi pada lubang dinding itu, kepalanya yang besar dan bahunya yang lebar itu persis seperti dicetak pada dinding.
Kwe Hu berdiri berhadapan dengan makhluk aneh bermuka buruk itu, malah tadi mukanya hampir mencium muka si cebol, keruan saja dia terkejut, cepat dia melompat mundur. Segera terasa angin dingin meniup, dinding itu kembali berlubang bentuk tubuh manusia cebol lagi, tapi si cebol sendiri sudah menghilang.
“Ji-moay, kembali!” seru Kwe Hu sambil menerobos keluar. Didengarnya suara tertawa keras di kejauhan, mana ada bayangan si Kwe Siang?
Rupanya sesudah si cebol menggertak mundur Kwe Hu, segera dia melompat keluar dan mendekati Kwe Siang, katanya:
“Bagus, nona cilik sungguh pemberani!”
Segera dia pegang tangan Kwe Siang kemudian diajak melompat ke depan, sekali lompat dua-tiga meter jauhnya. Jangan disangka orang cebol itu kakinya cekak maka tidak dapat melompat. Lompatannya ternyata sangat jauh dan cepat lagi, yang dia gunakan ternyata adalah Ginkang yang lain dari pada yang lain. Seperti katak saja dia terus melompat-lompat ke depan, walau pun membawa serta Kwe Siang namun gerak-geriknya sangat lincah dan enteng.
Tangan Kwe Siang yang digenggam oleh si cebol itu rasanya seperti dijepit oleh tanggem sehingga terasa sakit. Hatinya menjadi berdebar kuatir, entah dirinya hendak dibawa ke mana oleh orang cebol ini? Sejak kecil Kwe Siang langsung mendapat didikan dari Kwe Ceng dan Oey Yong, pada dasarnya anak dara itu pintar dan cerdik. Semula dia masih sanggup mengikuti lompatan orang cebol itu, tapi lama-lama dia menjadi lelah dan perlu ditarik dan diangkat baru dia dapat sama naik dan sama turun dengan si cebol. Sesudah berlompatan beberapa li jauhnya, tiba-tiba dari balik bukit sana ada orang tertawa kemudian berkata dengan suara halus:
“Hai, Hong-thian-lui, mengapa kau datang terlambat? Ehh, malahan kau membawa anak dara secantik ini!”
“Nona cilik ini adalah puteri Kwe Ceng dan Oey Yong. Ia ingin melihat Sin-tiau-hiap, maka aku membawanya kemari,” kata si cebol.
“Puteri Kwe Ceng?” orang tadi menegas dengan melengak.
Dari bukit sana seseorang lagi berkata: “Sekarang sudah lewat tengah malam, lekas berangkat!” Menyusul terdengarlah suara derap kuda berlari yang riuh, dari balik bukit muncul belasan ekor kuda.
Sementara itu salju masih turun dengan sangat lebatnya. Dari pantulan cahaya salju dapatlah Kwe Siang melihat belasan ekor kuda itu seluruhnya ada sembilan penunggang kuda yang berlainan bangun tubuh masing-masing. Ada yang tinggi dan ada yang pendek, ada lelaki dan juga ada perempuan, sebagian besar kuda itu malah tanpa penunggang. Si cebol tadi mendekat ke sana lalu menuntun dua ekor kuda, yang seekor diserahkannya kepada Kwe Siang, dia sendiri menunggang seekor, lalu membentak:
“Hayo berangkat!”
Sekali bersuit, berbondong-bondong belasan ekor kuda itu terus membedal cepat ke arah barat laut. Dari bentuk tubuh kesembilan orang itu Kwe Siang melihat jelas bahwa dua di antaranya adalah perempuan, yang satu kelihatan sudah tua renta, seorang lagi berpakaian merah membara sehingga sangat menyolok di tanah salju yang putih bersih. Wajah ketujuh orang lainnya tidak jelas, hanya perawakan salah seorang di antaranya sangat tinggi dan kurus sehingga mirip tiang bendera terpancang di atas pelana kuda. Rombongan mereka terus mengaburkan kuda dengan cepat. Sesudah belasan li mereka berganti kuda tunggangan agar kuda yang pertama dapat mengaso.
Kwe Siang membatin: “Dari suara sayup yang terdengar tadi katanya gerombolan setan Se-san sepuluh sudah datang sembilan, kini termasuk si cebol tadi jumlah mereka memang sepuluh. Tampaknya mereka inilah yang disebut gerombolan setan dari Se-san. Menurut Song-toasiok tadi, katanya besar bahayanya kalau aku ikut mereka, dan si cebol langsung menghantam paman Song itu hingga sekarat, kelihatannya orang-orang ini amat kejam. Namun orang cebol itu mengatakan hendak membawaku menemui Sin-tiau-hiap, agaknya kata-katanya juga bukan dusta. Kalau mereka kenal Sin-tiau-hiap, kukira mereka pasti bukan orang jahat.”
Dalam sekejap saja belasan li sudah berlalu. Orang yang paling depan tiba-tiba bersuara dan belasan ekor kuda itu serentak berhenti. Orang di depan itu melarikan kudanya ke tempat yang tinggi, lalu memutar balik. Kwe Siang menjadi sangat terkejut dan geli pula melihat wajahnya. Kiranya orang ini juga seorang cebol, tubuh yang berada di atas kuda tidak lebih dari pada setengah meter, tapi jenggotnya yang panjang itu ada satu meteran sehingga melambai ke bawah perut kuda, mukanya berkeriput dengan kedua alis terkerut seperti orang yang selalu bersedih.
“Dari sini ke To-ma-peng tak lebih 30 li saja,” terdengar orang tua itu berkata, “konon ilmu silat Sin-tiau-hiap itu amat tinggi, sebaiknya kita berunding dahulu agar gerombolan setan dari Se-san tidak kehilangan pamor.”
“Silakan Toako memberi petunjuk saja,” ujar si perempuan tua tadi.
“Apakah kita harus bertempur secara bergiliran dengan dia atau kita akan mengerubutnya sekaligus?” tanya orang tua cebol berjenggot panjang itu.
Kwe Siang terkejut sekali. Dari nada pembicaraan orang-orang ini jelas mereka hendak memusuhi Sin-tiau-hiap. Terdengar perempuan tua tadi berkata:
“Sebetulnya Sin-tiau-hiap itu mempunyai kepandaian sejati atau cuma bernama kosong belaka? Jit-te, dalam hal ini hanya kaulah yang pernah berjumpa dengan dia. Coba kau memberi keterangan sekedarnya!”
Seorang laki-laki tinggi besar lantas berkata: “Meski aku pernah melihat dia, tapi aku tidak sampai bergebrak dengannya. Kukira... kukira dia memang rada-rada...”
“Jit-ko,” wanita berpakaian merah turut bicara, “Sebab apa kau sampai bermusuhan dengan Sin-tiau-hiap? Hendaklah kau jelaskan lebih dulu agar nanti kalau bertarung kita sudah mempunyai pegangan.”
“Gerombolan setan dari Se-san selamanya sehidup-semati, kalau Sin-tiau-hiap itu sudah mengeluruk ke sini, apakah kita harus mengkeret dan menyingkir?”
Lelaki yang bertubuh tinggi kurus seperti lidi itu berkata: “Siapa yang bilang menyingkir? Andaikan Kiu-moay (adik kesembilan) tidak tanya, aku pun ingin tahu apa sebabnya kau bermusuhan dengan dia. Soalnya kita kan tidak merasa bersalah, lalu mengapa dia sesumbar hendak mengusir gerombolan setan Se-san keluar wilayah Soasay ini?”
“lni, coba lihatlah, dia sudah memotong sepasang daun telingaku. Kalau sakit hati ini tidak dibalas, lalu persaudaraan apa lagi di antara kita?” teriak laki-laki besar tadi dengan gusar, berbareng dia terus menarik kopiahnya sehingga kelihatan kedua sisi kepalanya halus licin tanpa kuping.
Kesembilan orang yang lain dari ‘Gerombolan setan Se-san’ itu menjadi marah, beberapa di antara mereka lantas mengumpat, ada pula yang berjingkrak murka dan menyatakan hendak melabrak Sin-tiau-hiap dengan mati-matian.
“Jit-ko,” perempuan baju merah berkata, “Sebab apa dia memotong daun telingamu? Apa kesalahanmu? Tentu kau menggoda wanita keluarga baik-baik lagi, bukan?”
Seorang yang berwajah selalu tertawa berkata dengan marah: “Sekali pun Jit-ko memang menggoda wanita keluarga baik-baik juga tidak perlu diurusi orang lain.”
Wajah orang ini sangat aneh, meski sedang marah air mukanya yang tertawa itu tidak menjadi berubah. Waktu Kwe Siang mengamati dengan lebih teliti, kiranya bibir orang itu menjengkit ke atas, sepasang matanya kecil, maka biar pun sedang sedih atau menangis tampaknya sedang tertawa riang. Lelaki tadi menjawab:
“Tidak, tidak! Soalnya waktu itu isteriku cekcok dengan keempat gundikku mengenai urusan tetek-bengek, dari ribut mulut akhirnya saling cakar-cakaran dan main pisau segala. Kebetulan Sin-tiau-hiap lewat, dasar orang itu memang suka ikut campur urusan orang lain, dia lalu berusaha melerai pertengkaran itu. Sungguh brengsek, gundikku yang ketiga tersenyum padanya.”
“O, tahulah aku, Jit-ko lantas cemburu, bukan?” tukas si perempuan baju merah.
“Cemburu bagaimana? Soalnya aku tidak ingin urusan rumah-tanggaku dicampur-tangani orang luar,” kata lelaki itu. “Sekali jotos tiga gigi gundikku kurontokkan, lalu si buntung sialan itu kusuruh enyah.”
Sampai di sini, Kwe Siang tak dapat menahan rasa dongkolnya, segera dia menanggapi:
“He, maksudnya kan baik, mengapa kau malah berlaku kasar padanya? Dalam urusan ini jelas kau yang salah.”
Semua orang berpaling memandang anak dara itu, sama sekali mereka tidak menyangka nona secilik itu berani ikut bicara. Lelaki itu menjadi marah dan membentak.
“Sialan! Kau anak sekecil ini berani menggurui aku? Go-ko, anak dara ini apamu?”
“Dia ingin melihat Sin-tiau-hiap, maka aku hendak membawanya ke sana. Urusan lain aku tidak peduli,” jawab si cebol kepala besar tadi.
“Baik, jika begitu akan kuajar adat padanya,” kata lelaki kekar itu.
“Tarrrr...!” segera cambuknya menyabet kepala Kwe Siang.
Cepat Kwe Siang menangkis dengan cambuknya sehingga kedua cambuk terlibat menjadi satu. Waktu lelaki itu membetot sekuatnya, seketika Kwe Siang merasa ditarik oleh satu tenaga dahsyat dan terpaksa melepaskan pegangannya. Setelah berhasil merampas cambuk Kwe Siang, segera cambuk lelaki tadi hendak disabetkan lagi. Syukur si cebol berjenggot panjang tadi berseru:
“Jit-te, kita harus cepat berangkat, untuk apa mengurusi anak kecil?”
Lelaki itu merandek, cambuk yang sudah terangkat ke atas itu tidak jadi dihantamkan. Si kakek jenggot panjang lantas menjengek:
“Hmm, gerombolan setan dari Se-san adalah tokoh yang tidak gentar pada langit dan takut pada bumi, betapa pun nyaring tersohornya Kwe Ceng dan Oey Yong tak dapat menggertak kami. He, anak dara, jika kau berani banyak omong lagi kami sembelih kau.” Lalu dia berpaling dan berkata pula, “Jit-te, laki-laki sejati berani berbuat berani tanggung jawab, kalau jatuh harus cepat merangkak bangun. Jenggotku yang panjang ini dulu juga pernah dipotong orang, Kedua kupingmu itu cara bagaimana dipotong orang?”
“Ketika kusuruh Sin-tiau-hiap itu enyah, dia juga tidak membantah. Dia malah tertawa saja terus melangkah pergi,” demikian tutur lelaki kekar tadi, “Tetapi sungguh sialan, tiba-tiba gundikku yang keempat ber-teriak dan menangis, katanya dia kupaksa menjadi gundik dan hidup tersiksa, kini dianiaya pula oleh isteri tua. Mendengar itu tiba-tiba Sin-tiau-hiap memutar balik dan tanya padaku: ‘Apakah benar perkataannya itu?’ Dengan mendongkol segera kujawab: ‘Kalau benar mau apa dan kalau tidak benar lantas bagaimana? Aku berjuluk Sat-sin-kui (setan elmaut), selamanya membunuh orang tanpa kenal ampun, tahu tidak kau?!’
Dengan kurang senang dia berkata: ‘Jika kau suka padanya, mengapa mengawini dia lalu mengambil lagi perempuan lain? Kalau tidak suka padanya, mengapa tadinya kau menikahi dia?’
Aku bergelak tertawa dan berkata: ‘Semula aku memang suka padanya, sesudah bosan lantas tidak suka lagi, Laki-laki mempunyai tiga isteri atau empat gundik adalah kejadian biasa, kenapa mesti heran? Ha-ha-ha, malahan aku hendak mengambil tiga gundik lagi.’
Dia lantas mengomel: ‘Jika manusia tak berbudi dan tidak setia macam kau bertambah banyak lagi di dunia ini, bukankah semua perempuan akan kecewa terhadap kaum lelaki?’
Habis berkata tiba-tiba ia menubruk maju dan melolos belatiku, sekaligus kedua kupingku dipotong, kemudian belati mengancam di depan dadaku dan membentak: ‘Akan kukorek hatimu, ingin kulihat warna apakah hatimu ini!’
Tentu saja aku mati kutu. Untunglah isteri dan para gundikku berlutut dan memohonkan ampun padanya, malah gundik ketiga dan keempat menangis me-raung. Hmm, sungguh memalukan! Benar-benar memalukan! Aku menjadi marah dan berteriak: ===================‘Lekas kau turun tangan. Jika kau membunuh aku, arwah gerombolan setan Se-san pasti senantiasa akan mengitari kau.’
Dia mengerut kening dan berkata kepada perempuanku: ‘Manusia tak berbudi begini, masa kalian malah mintakan ampun baginya?’
Perempuanku tidak msnjawab melainkan terus menyembah, Dia lantas berkata lagi: ‘Baiklah! Sekarang kuampuni kau. Tapi aku pun tidak gentar terhadap gerombolan setan dari Se-san itu. Pada akhir bulan ini akan kunantikan kalian di To-ma-peng, boleh kau undang seluruh gerombolanmu untuk menemui aku di sana. Kalau tidak berani datang, sekaligus kalian harus enyah dari wilayah Soasay dan selamanya tidak boleh kembali ke sini.’”
Selesai laki-laki kekar itu menutur, semua orang terdiam. Selang sebentar barulah perempuan tua tadi bertanya:
“Senjata apa yang digunakannya? Dari aliran manakah ilmu silatnya?”
“Lengannya buntung sebelah dan dia tidak memakai senjata apa-apa,” tutur si lelaki tadi, “Mengenai aliran ilmu silatnya, tampaknya... tampaknya sukar diketahui.”
Perempuan tua tadi berkata pula: “Toako, sekali gebrak saja orang itu lantas membikin jit-te tidak dapat berkutik, tentu kepandaiannya sangat lihay. Sebaiknya kita mengerubutnya saja. Toako menghadapi dari depan, biar aku dan Go-te menyerang dari samping, dengan tiga lawan satu masa kita akan kalah? Sebaiknya kita harus menyerang dengan cepat sekaligus membinasakan dia.”
Kakek jenggot panjang merenung sejenak, katanya kemudian: “Nama Sin-tiau-hiap sangat termashyur, pertarungan nanti benar-benar luar biasa. Biarlah kita mengerubutnya secara beramai-ramai dan mengerahkan segenap tenaga dan senjata yang kita punyai. Selama gerombolan kita bersatu, belum pernah kita melabrak orang dengan maju sepuluh orang sekaligus dan baru sekarang terjadi untuk pertama kalinya. Kalau sudah begitu kita masih belum sanggup membinasakan dia, maka biarlah kita bersepuluh ini dari setan bayangan menjadi setan sungguhan saja.”
Tiba-tiba si kakek cebol kepala besar tadi ikut bicara: “Toako, kita bersepuluh mengeroyok dia seorang, kalau menang rasanya juga kurang terhormat, bahkan jika tersiar juga akan ditertawakan orang-orang Kangouw.”
“Kalau Sin-tiau-hiap itu dapat kita bunuh, kecuali anak dara ini kukira tiada orang lain lagi yang tahu,” ujar si nenek tadi.
Baru selesai ucapannya, dengan perlahan ia pun mengangkat tangannya. Cepat si cebol kepala besar menghadang di depan Kwe Siang sambil mengebaskan lengan bajunya, menyusul dari lengan bajunya dicabut sebuah jarum lembut, katanya:
“Jici, aku yang membawa anak dara ini kemari, janganlah mencelakai dia.” Kemudian dia berpaling dan berkata kepada Kwe Siang. “Nona Kwe, jika kau ingin melihat Sin-tiau-hiap, kejadian malam ini jangan sekali-sekali kau ceritakan kepada orang lain, kalau tidak, boleh kau pulang sekarang saja.”
Ngeri dan gusar pula Kwe Siang. Ia pikir nenek itu sungguh amat keji, kalau bukan paman cebol itu menoIongnya, mungkin dirinya telah binasa tertusuk oleh jarum yang lembut dan tanpa suara itu. Segera ia pun menjawab:
“Baiklah, takkan kuceritakan kepada siapa pun juga.“ Lalu ditambahkannya: “Kalian bersepuluh, masa Sin-tiau-hiap sendiri tidak mempunyai pembantu?”
Si cebol kepala besar bergelak tertawa, katanya: “Sudah belasan tahun Sin-tiau-hiap itu berkecimpung di Kangouw dan tidak pernah terdengar dia membawa pembantu, yang ada cuma seekor rajawali yang senantiasa mendampinginya.”
Habis berkata “Tarrr...!” cambuknya menggeletar di udara dan dia membentak: “Hayolah berangkat!”
Setelah berlari sekian jauhnya, orang cebol itu berkata kepada Kwe Siang: “Sebentar kalau sudah saling gebrak, jangan sekali-sekali kau menjauhi aku.”
Kwe Siang mengangguk. Dia tahu gerombolan setan dari Se-san ini ada sebagian sangat jahat dan tidak kenal ampun, bisa jadi mendadak dirinya diserang hingga si cebol kepala besar ini tidak sempat menolongnya. Diam-diam dia pun kuatir bagi Sin-tiau-hiap yang akan dikerubut kesembilan orang ini. Betapa pun tingginya kepandaian pendekar rajawali sakti itu, apakah sanggup satu lawan sepuIuh? Dia pikir kalau ayah-ibunya berada di sini tentu segalanya akan beres, beliau pasti takkan tinggal diam saja menyaksikan pertarungan yang tidak adil ini.
Selagi mereka melarikan kuda dengan cepat, dari dalam hutan di depan yang gelap gulita berkumandang suara auman harimau. Beberapa ekor kuda berjingkrak kaget dan takut, ada yang terus berdiri diam dan ada pula yang putar haluan hendak kabur. Si jangkung tadi segera mengayun cambuknya beberapa kali dan mendahului menerjang ke dalam hutan. Si nenek juga mengomeli kudanya:
“Binatang tak berguna, takut dicaplok kucing liar begitu?“
Beramai-ramai mereka menghalau kawanan kuda itu dan ikut menerobos ke dalam hutan. Setelah membedal lagi beberapa puluh meter jauhnya, tiba-tiba seseorang membentak di depan:
“Siapa berani terobos Ban-siu-san-ceng malam-malam begini?!”
Serentak gerombolan setan Se-san itu menahan kuda. Tampaklah seseorang menghadang di tengah jalan, di kedua sisinya masing-masing mendekam seekor harimau loreng. Mendengar suara raungan harimau yang kereng itu, kembali kawanan kuda ber-jingkrak ketakutan. Setelah berhasil menguasai kudanya, si kakek cebol jenggot panjang memberi hormat dan berkata
“GeromboIan Setan Se-san kebetulan lewat di sini dan tidak sempat berkunjung, harap memaafkan.”
Orang yang menghadang di depan itu menjawab: “O, kalian inikah Gerombolan Setan dari Se-san? Jadi saudara ini Tiang-si-kui (setan jenggot panjang) Hoan-ya (tuan Hoan)?”
“Betul,” jawab si kakek jenggot panjang, “Ada urusan penting sehingga kami harus menuju To-ma-peng, kembalinya nanti kami akan mampir untuk mohon maaf lagi.”
Rupanya dia pun tahu orang Ban-siu-san-ceng (perkampungan berlaksa binatang) sukar dilawan, pula mereka sekarang harus mencurahkan segenap perhatian menghadapi Sin-tiau-hiap, maka bicaranya sangatlah rendah hati.
“Coba kalian tunggu sebentar,” kata orang itu, lalu ia berteriak: “Toako, ini Gerombolan Setan Se-san yang hendak pergi ke To-ma-peng. Katanya kembalinya nanti akan datang untuk minta maaf.”
Kawanan ‘Setan’ itu merasa kurang senang mendengar ucapan itu. Mereka mengatakan kembalinya nanti akan mampir untuk minta maaf, kata-kata ini tidak lebih hanya sebagai basa-basi saja, masa dianggapnya Gerombolan Setan Se-san benar gentar terhadap pihak Ban-siu-san-ceng? Maka terdengarlah suara seseorang menjawab dengan lagak tuan besar dari dalam hutan:
“Minta maaf sih tidak perlu, suruh mereka pergi mengitari hutan.”
Kawanan setan itu menjadi marah. Si jangkung mendengus: “Hm, selamanya Gerombolan Setan Se-san kalau berjalan tidak pernah main mengitari.” Habis berkata segera dia melarikan kudanya menerjang ke depan.
Namun sekali orang yang menghadang itu memberi aba-aba, serentak kedua harimau di sampingnya menubruk maju. Karena kaget dan takut, kuda si jangkung berjingkrak berdiri. Tetapi agaknya si jangkung sangat menguasai kuda tunggangannya.
“Srett!”
Sambil tetap menempel di atas pelana, kedua tangannya mengeluarkan senjatanya yang berbentuk sepasang tombak pendek dan menikam ke arah kedua ekor harimau. Harimau yang sebelah kiri cepat melompat ke pinggir, sedangkan cakar harimau sebelah kanan sempat merobek perut kuda si jangkung, tetapi binatang buasnya itu pun meraung keras, rupanya juga terluka oleh tikaman tombak. Segera si jangkung melompat turun kemudian membentak:
“Hayo keluarkan senjatamu!” dia pasang kuda-kuda dan siap tempur.
Orang di depan sana menjengek: “Hmm, kau berani melukai kucing piaraanku, andaikan kini mau mengitar hutan juga tidak dapat kuijinkan lagi. Bu-siang-kui (setan gentayangan), tinggalkan saja tombakmu!”
Seketika si jangkung melengak karena julukannya dengan tepat disebut lawan, jawabnya:
“Siapakah kau? Selama ini Ban-siu-san-ceng berada di Se-keng, kenapa sekarang pindah ke sini? Kau ingin kutinggalkan tombakku, hah, memangnya gampang?”
“Kediaman Ban-siu-san-ceng memang berada di Se-keng, tetapi kalau kami ingin pindah tempat tidak perlu lapor dulu kepada kawanan setan macam kalian?” ujar orang itu. “Bahwa Toako kami menyuruh kalian lewat mengitar hutan sudah cukup ramah, soalnya Samko kami sedang sakit dan tidak suka diganggu orang, kau tahu tidak?”
Berkata sampai di sini, mendadak tangan kirinya meraih ke depan, gagang tombak yang dekat dengan ujung tombak si Bu-siang-kui kena dipegang olehnya. Sama sekali Bu-siang-kui tidak menyangka gerakan tangan lawan sedemikian cepatnya. Cepat dia menarik sekuatnya, namun orang itu pun membetot dan ditekuk.
“Pletakk!”
Terdengar suara dua kali, sepasang tombak pendek itu patah semua, padahal tombak terbuat dari besi, karena tenaga kedua orang sama kerasnya tombak itu tak dapat menahan tenaga tarikan mereka dan akhirnya patah. Kejadian ini membuat Gerombolan Setan Se-san melengak. Si kakek jenggot panjang yang berjuluk ‘Setan jengot panjang’ lantas berkata:
“Rupanya saudara ini Pat-jiu-sian-kau (Kera sakti bertangan delapan). Apakah Kim-kah-say-ong (raja singa bersisik emas) kurang sehat? Saat ini kami ada urusan lain, biarlah kita bertemu lagi di sini besok pada saat yang sama.”
Kiranya Ban-siu-san-ceng itu dipimpin oleh lima bersaudara. Toako atau kakak tertua Pek-hia-san-kun (raja gunung dahi putih) Su Pek-wi, Jiko atau kakak kedua Koan-kian-cu (si bumbung perak) Su Tiong-beng, Samko (kakak ke tiga) Kim-kah-say-ong Su Siok-kang, Suko (kakak ke empat) Tay-lik-sin (malaikat bertenaga raksasa) Su Ki-kiang dan saudara yang terkecil Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat ini. Turun temurun keluarga Bu itu hidup sebagai penjinak binatang. Sampai di tangan kelima bersaudara ini bahkan kepandaian mereka bertambah maju, bukan saja cara menjinakkan binatang jadi lebih lihay, bahkan dari gerak-gerik setiap binatang buas yang mereka lihat setiap hari itu dipelajari dan dipahami menjadi gerakan ilmu silat yang khas, jadi binatang-binatang buas seakan-akan menjadi guru kelima bersaudara itu sehingga jadilah mereka memiliki ilmu silat yang tinggi.
Waktu Su Siok-kang, yaitu kakak ke tiga yang berjuluk Kim-kah-say-ong berumur 20-an, suatu hari ketika sedang berburu, secara kebetulan dia bertemu dengan orang kosen dan berhasil meyakinkan Iwekang tingkat tinggi. Kemudian, sepulangnya di rumah ia segera mengajarkan Iwekang itu kepada saudaranya. Begitulah semakin banyak mereka memiara binatang buas semakin tinggi ilmu silat yang mereka yakinkan. Nama Ban-siu-san-ceng juga mulai terkenal di dunia Kanguow, maka orang Bu-lim memberikan julukan kepada kelima bersaudara itu sebagai ‘Hou-pa-say-jio-kau’ (harimau, macan tutul, singa, gajah dan kera). Di antara mereka berlima Kim-kah-say-ong. si singa berbaju emas, terkenal paling lihay.
Maka Tiang-si-kui merasa lega demi mendengar Su Siok-kang sedang sakit. Betapa pun lihaynya musuh, kawanan ‘Setan’ mereka juga tak gentar, apa lagi sekarang pihak lawan berkurang tokoh utamanya, maka dia lantas menetapkan malam besok untuk pertarungan yang menentukan.
“Baik,” segera Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat menjawab. “Besok malam kami bersaudara akan menunggu kalian di sini.”
Habis berkata, sekali tangan bergerak...
“PIok! Plok!”
Kedua potong tombak patah yang dirampasnya tadi menyambar dan menancap di batang pohon di sebelah Tiang-si-kui. Diam-diam Tiang Si-kui terkesiap. Ia merasa amat heran mengapa pihak lawan tetap tidak memperbolehkan mereka lewat menerobos hutan. Ada pekerjaan apa kelima saudara Su itu di sini? Segera ia memberi salam:
“Baiklah kami mohon diri!”
Kedua kakinya mengempit kencang, segera ia melarikan kudanya ke depan. “He, tunggu dulu!” kembali Su Beng-ciat berteriak mencegah, “Tadi Toako kami menyuruh kalian lewat mengitar hutan. Apakah kalian tidak berkuping atau memang tuli?”
Tiang-si-kui menahan kudanya dan baru saja ia mau menjawab, terdengar di kanan kiri depan sana dua orang tertawa terbahak-bahak, menyusul asap tebal mengepul dan terdengar dua orang berteriak berbareng.
“Main gila apa di dalam hutan? Mana Gerombolan Setan Se-san dapat dikelabui?”
Rupanya secara diam-diam Song-bun-kui dan Siau-bin-kui, ‘setan sialan’ dan ‘setan muka ketawa’, yaitu setan ke-8 dan ke-10 menurut urut-an mereka, telah memutar ke belakang sana untuk menyalakan api ketika Su Beng-ciat sedang bicara dengan Tiang-si-kui. Tapi baru saja api mulai berkobar, menyusul terdengar Song-bun-kui dan Siau-bin-kui menjerit kaget dan berlari kembali seperti memergoki sesuatu makhluk yang mengerikan.
“Ada apa?” tanya Tiang-si-kui.
“Macan! Harimau! Ada seratus, dua ratus ekor...” seru Song-bun-kui.
Su Beng-ciat kelihatan sangat murka melihat api mulai menjilat pepohonan, dia berteriak sekerasnya:
“Toako, Jiko, yang penting padamkan api dulu, biarkan gerombolan setan ini pergi saja, masa kelak kita tak dapat menemukan mereka?”
Pada saat itu pula se-konyong pandangan semua orang serasa bureng, seekor binatang sebesar anjing kecil mendadak menerobos keluar dari hutan dan sekejap saja kabur ke sana. Tubuh binatang itu tidak besar, namun keempat kakinya sangat panjang. Warna bulunya putih mulus, hanya bagian ekor saja berwarna hitam, bentuknya mirip kucing dan memper anjing.
“Hmm, Kiu-bwe-leng-hou kabur!” seru Su Beng-ciat dan segera dia mengudak ke sana. Suara teriakannya penuh mengunjuk rasa kaget, cemas dan kuatir.
Mendadak terdengar suara raungan yang keras di dalam hutan, suara raungan yang menyerupai raungan harimau dan mirip pula auman singa, malahan seperti suara teriakan orang namun suara manusia seyogianya tidak sekeras dan senyaring itu. Mendengar suara raungan itu, Kwe Siang rada merinding. Setelah terdengar suara raungan itu, serentak be-ratus binatang buas mengaum di segenap penjuru, suara singa, harimau, macan tutul, serigala, gajah, kera, gorilla dan entah binatang buas apa lagi karena sulit dibedakan. Menyusul terdengarlah suara gemuruh, be-ratus bahkan beribu-ribu binatang buas itu berbondong-bondong lari keluar hutan. Seseorang lantas berseru:
“Toako ke sebelah timur, Jiko sebelah barat, Site (adik keempat) ke tenggara...” jelas ada suara orang ini sama dengan suara raungan tadi.
Sekilas Kwe Siang melihat beberapa sosok bayangan orang berkelebat keluar hutan lebat itu. Walau pun tahu bahaya tetapi ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Cepat ia pun melarikan kudanya menyusul keluar hutan. Cepat si cebol kepala besar yang berjuluk Toa-thau-kui (setan kepala besar) itu berteriak:
“He, nona Kwe, jangan pergi!” Segera ia pun mengeprak kudanya menyusul.
Begitu berada di luar hutan, seketika Kwe Siang menyaksikan pemandangan yang aneh. Dilihatnya lima orang memimpin segerombolan binatang sedang mengurung bagian tengah di tanah datar yang berselimutkan salju. Tampaknya kawanan binatang buas itu sudah sangat terlatih, mereka tidak saling cakar dan bertengkar sendiri, tetapi ke sana kemari, cara lari mereka sangat teratur. Kwe Siang merasa takut tetapi juga sangat tertarik untuk menonton. Dilihatnya lingkaran kelima barisan binatang buas itu makin menciut sehingga di tengah-tengah kelihatan sebuah bundaran. Tapi tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat, binatang kecil yang menyerupai anjing tadi lari menerobos keluar dari kepungan binatang buas, secepat angin binatang kecil itu melayang lewat di depan Kwe Siang.
“Kiu-bwe-leng-hou! Di sana, dia lari ke sana!” terdengar kelima bersaudara she Su itu ber-teriak-teriak, menyusul gerombolan binatang buas itu lantas menerjang seperti gugur gunung dahsyatnya.
Cepat Kwe Siang menarik kudanya menyingkir ke pinggir, tapi kuda itu menjadi ketakutan melihat binatang buas sebanyak itu, saking takutnya kaki lemas lantas jatuh mendeprok. Keruan Kwe Siang terkejut sekali. Kalau gerombolan binatang itu menerjang ke arahnya, tentu tubuhnya akan ter-injak hancur lebur. Lekas-lekas dia melompat turun dari pelana kudanya kemudian berlari ke samping sana. Terendus olehnya bau yang amat amis, kawanan binatang buas itu terus mengalir lewat di sebelahnya laksana air bah dan sejenak saja sudah menjauh. Sementara itu Gerombolan Setan Se-san juga berada di luar hutan. Si kakek jenggot panjang berkata:
“Betapa pun tinggi kepandaian keluarga Su kita tidak gentar, hanya kawanan binatang itulah yang sukar dihalau. Malam ini kita tidak perlu cari perkara, kita harus menjaga tenaga menghadapi Sin-tiau-hiap. Mari kita berangkat!”
Si nenek juga berkata: “Ya, malam ini kita bunuh Sin-tiau-hiap, besok kita pesta panggang daging harimau dan singa!” dia terus menarik kudanya dan hendak meneruskan perjalanan dengan mengitari hutan.
Pada saat itulah mendadak suara raungan binatang buas terdengar bergemuruh lagi, gerombolan binatang itu datang lagi dari berbagai arah. Sekali ini suara raungan binatang tidak begitu buas, larinya juga tidak cepat. Namun Tiang-si-kui menjadi kuatir, katanya:
“CeIaka! Lekas kita pergi!”
Namun sudah terlambat, di sekeliling mereka sudah terkepung. Cepat Tiang-si-kui bersuit, sepuluh orang lantas melompat turun dan berdiri pada lima sudut dengan senjata terhunus menanti serangan musuh.
“Nona Kwe,” kata Toa-thau-kui, si setan kepala besar. “Lekas pulang saja kau, tidak perlu ikut menyerempet bahaya di sini.”
“Tapi mana Sin-tiau-hiap? Kau sudah berjanji akan membawaku menemuinya,” kata Kwe Siang.
“Apakah kau tidak dapat melihat binatang buas sebanyak ini?” ujar Toa-thau-kui dengan mengernyitkan kening.
“Bicaralah secara baik-baik dengan majikan gerombolan binatang itu, katakan kalian ada janji dengan Sin-tiau-hiap dan tiada waktu,” ujar Kwe Siang.
“Hmm, Gerombolan Setan Se-san tidak pernah bicara baik-baik dengan siapa pun juga,” kata Toa-thau-kui.
Tengah bicara, kelima bersaudara Su sudah muncul di sana, mereka semua memakai jubah kulit binatang. Sesudah berhadapan dengan Gerombolan Setan, tetap Su Beng-ciat yang menjadi juru bicara, katanya:
“Selamanya Ban-siu-san-ceng tidak pernah bermusuhan dengan Kawanan Setan, mengapa kalian membakar hutan dan menghalau lari Kiu-bwe-leng-hou (rase cerdik berekor sembilan)?”
Dari nada ucapan orang, Kwe Siang merasakan orang she Su itu amat marah dan gemas sekali. Pikirnya: “Walau pun binatang kecil tadi sangat menyenangkan, tetapi tampaknya juga tiada sesuatu yang istimewa, kenapa mesti marah-marah begitu rupa? Jelas binatang itu cuma punya sebuah ekor, mengapa disebut rase berekor sembilan?”
Maka terdengar perempuan yang berpakaian serba merah dari pihak Gerombolan Setan menjawab:
“Peristiwa ini awal mulanya adalah gara-gara tindakan kalian sendiri. Selamanya Ban-siu-san-ceng berdiam di wilayah Sa-keng, mengapa sekarang tiba-tiba saja muncul di daerah Soasay sini dan di tengah malam buta melarang orang lain lewat di jalan umum ini? Sikap kalian yang semena-mena ini masa kalian malah menyalahkan pihak lain?”
“Persoalan sekarang ini tidak perlu dibicarakan, pokoknya tidak ada seorang pun di antara kalian yang dapat hidup lagi!” mendadak Pek-hia-san-kun Su Pek-wi membentak.
Sekali mengaum murka, dengan bertangan kosong dia terus menubruk ke arah Tiang-si-kui, kedua telapak tangannya tergenggam laksana cakar harimau segera mencengkeram begitu hebat dan dahsyat, sekali pun harimau benar-benar juga tidak seganas itu. Cepat Tiang-si-kui melangkah mundur terus menggeser.
“Serrr...!” senjatanya yang panjang menyapu pinggang lawan.
Tanpa menghindar, cakar harimau Su Pek-wi mencengkeram ujung senjata lawan. Tapi senjata Tiang-si-kui itu kiranya adalah sebatang tongkat baja yang besar dan berat, belum lagi cengkeraman Su Pek-wi mengencang, mendadak tangan terasa panas. Cepat ia lepaskan kembali tangannya sambil disampuk ke samping. Untung dia dapat bergerak dengan cepat sehingga dadanya terhindar dari sodokan tongkat. Diam-diam Su Pek-wi terkesiap. Sekarang barulah dia tahu Gerombolan Setan Se-san itu memang bukan orang sembarangan, pantas nama mereka akhir-akhir ini semakin menanjak. Dia tidak berani gegabah lagi.
“Crengg...!”
Segera ia pun mengeluarkan senjatanya, Hoa-thau-kau (kaitan dengan ujung berukir kepala harimau). Sepasang kaitan baja itu beratnya 30 kati dan merupakan senjata yang tajam dan lihay. Demikianlah dua larik sinar kuning berkelebat, kaitan itu lantas menempur sengit tongkat baja si setan jenggot panjang.
Dalam pada itu, Koan-kian-cu Su Tiong-beng dengan senjatanya sepasang bumbung atau pipa perak sudah melabrak Jui-beng-kui, setan pencabut nyawa yang bersenjatakan golok, juga menerjang tombak si Song-bun-kui. Ada pun Tay-lik-sin Su Ki-kiang menempur Tiau-si-kui (setan gantung) yaitu si nenek yang bersenjatakan seutas tali panjang lagi lemas sehingga sukar diraba. Ia hanya meraung murka saja karena sukar mengembangkan tenaga raksasa yang dimilikinya.
Di sebelah sana Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat juga sedang menghadapi Toa-thau-kui, si setan kepala besar dengan senjatanya yang berwujud godam persegi delapan. Su Beng-ciat bersenjata sepasang Boan-koan-pit, potlot baja berujung runcing, serangannya hebat tenaganya kuat. Toa-thau-kui rada kewalahan, maka cepat Siau-yau-kui, si setan cantik, perempuan berbaju serba merah, segera menubruk maju membantu dengan senjata golok.
Di tanah salju itu terjadilah pertarungan yang sengit, sepuluh orang terbagi menjadi empat. Bunga salju bertebaran. namun pertempuran belum dapat menentukan kalah dan menang. Di pihak Gerombolan Setan masih ada empat orang belum ikut turun tangan, sebaliknya di pihak lawan hanya Kim-kah-say-ong saja yang belum bergerak. Terlihat dia bersandar pada tubuh seekor singa jantan, tampaknya menderita sesuatu penyakit hingga tubuhnya lemas lunglai.
Melihat keadaan pertarungan ini, jelas pihak Gerombolan Setan lebih diuntungkan karena berjumlah lebih banyak, tetapi kalau Su bersaudara itu berseru memberi komando, maka seketika kawanan binatang buas pasti akan menerjang dan Gerombolan Setan pasti akan celaka. Siau-bin-kui, si setan muka tertawa juga merasa kebat-kebit bila menyaksikan kawanan binatang buas yang siap menunggu perintah itu. Dia pikir nanti harus menggunakan kabut racun untuk merobohkan sebagian binatang itu baru dapat menerjang keluar kepungan.
Sementara itu pertarungan sengit sudah berlangsung sekian lamanya, Tiau-si-kui dan Su Pek-wi sama kuatnya. Si nenek Tiau-si-kui mainkan talinya yang panjang itu dengan cara yang aneh dan ujung tali selalu berubah menjadi lingkaran jiratan, kalau Su Ki-kiang meleng, mungkin lehernya bisa terjirat. Tapi karena dia memiliki tenaga raksasa, mau tak mau Tiau-si-kui juga rada jeri. Toa-thau-kui dan Siau-yau-kui bahu-membahu menghadapi Su Beng-ciat. Mereka dapat bekerja sama dengan baik, namun gerak serangan Su Beng-ciat cepat lagi aneh. Mereka terus berputar, terdengar suara Toa-thau-kui mengguruh-guruh, sedangkan si setan cantik tertawa ngikik, tujuan mereka memencarkan perhatian musuh, tetapi Su Beng-ciat anggap tidak mendengar dan terus menempur dengan sengit.
Di sebelah sana Jui-beng-kui dan Song-bun-kui ternyata tidak sanggup menandingi pipa perak Su Tiong-beng. Pipa perak yang dipergunakan sebagai senjata itu lebih pendek dari pada toya dan kosong bagian tengah, gaya serangannya juga aneh. Suatu ketika Song-bun-kui menusuk dengan tombaknya, akan tetapi Su Tiong-beng justru mengincar ujung tombak lawan dan pipanya ditusukkan ke depan. Pipa itu terus saja menyelongsong ke bawah sehingga gagang tombak terkunci di dalam pipa. Keruan Song-bun-kui terkejut dan cepat menarik tombak kirinya, tombak terus diputar untuk menjaga diri.
Melihat kawannya terancam bahaya, cepat To-ceh-kui, si setan penagih utang, menubruk membantu. Senjatanya yang berbentuk sepotong pelat besi segera memotong ke arah pipa Su Tiong-beng. Kiranya senjata To-ceh-kui itu terdiri dari lima potong pelat besi sehingga berbentuk buku utang-piutang sesuai namanya sebagai tukang tagih utang. Tepi pelat besi itu tajam merupakan senjata aneh dan lihay.
Sebenarnya GeromboIan Setan Se-san itu masing-masing mempunyai nama asli sendiri-sendiri, tetapi sejak nama ‘Gerombolan Setan Se-san’ terkenal di dunia Kangouw, mereka lantas membuang nama aslinya masing-masing dan menggunakan julukan Setan sebagai tanda pengenal. Apa lagi tindak tanduk dan bentuk tubuh serta wajah mereka bersepuIuh memang juga aneh dan ber-beda. Misalnya si To-ceh-kui, setan penagih utang, dia mempergunakan senjata lima helai pelat besi sehingga menyerupai buku utang piutang, dia memang sangat pendendam, sakit hati sekecil apa pun pasti akan dituntut-balasnya, tiada seorang pun dapat lolos jika pernah menyakiti hatinya. Sebab itulah dia diberi julukan setan tukang tagih utang.
Tetapi dia malah senang dengan nama poyokan itu. Senjata pelat besi diubahnya menjadi seperti halaman buku, tipis dengan tepinya yang sangat tajam, bahkan pelat besi itu diukir nama-nama musuhnya dengan kesalahannya, bila sakit hati itu sudah dibereskan barulah nama musuh itu dicoret. Pipa perak adalah senjata aneh, namun buku besi itu lebih aneh, lima halaman besi itu saling bergesek dan mengeluarkan suara nyaring. Sesudah setan itu menempur Su Tiong-beng dengan bertiga, barulah keadaan rada mendingan.
Kwe Siang mengikuti pertempuran itu dari pinggiran. Dilihatnya cuaca mulai remang-remang, fajar sudah hampir tiba, tapi pertarungan masih berlangsung dengan sengitnya. Dia pikir janji pertemuan kesepuluh setan itu dengan Sin-tiau-hiap sudah lewat waktunya, mungkin tidak sabar menunggu dan pendekar sakti itu sudah pergi sendiri. Dia menjadi gelisah dan kecewa karena maksudnya melihat Sin-tiau-hiap tak tersampai, untuk melerai pertempuran orang-orang itu pun dia tidak mampu. Dilihatnya kawanan binatang buas itu semua mendekam di tanah berbentuk satu lingkaran yang rapat, seumpama Gerombolan Setan itu mampu membinasakan kelima saudara Su juga sukar menerjang keluar kepungan kawanan binatang buas itu.
Keadaan demikian juga disadari oleh GeromboIan Setan itu. Maka si nenek, yaitu si setan gantung, berhasrat menangkap Tay-lik-sin Su Ki-kiang dengan tali jiratannya yang panjang. Asalkan lawan dapat ditawan tentu bisa digunakan sebagai sandera untuk memaksa Su-si-hengte (saudara keluarga Su) membubarkan kepungan binatang buasnya. Namun kepandaian Su Ki-kiang sendiri lebih tinggi dari pada Tiau-si-kui si setan gantung, hanya saja senjata tali memang aneh dan sukar dilayani, makanya kedudukan mereka menjadi sama kuat, tapi untuk menangkapnya jelas tidaklah mudah.
Siau-bin-kui, si setan muka tertawa tahu keadaan sangat berbahaya, dia pikir tiada jalan lain terpaksa harus menggunakan akal licik. Segera dia berseru:
“Jici, biar kubantu kau!” Segera dia melolos senjatanya dan menerjang ke arah Su Ki-kiang.
Su Ki-kiang tidak gentar ketambahan seorang lawan. “Bagus!” serunya menyambut terjangan musuh, berbareng itu senjata gada bajanya mengepruk kepala orang. Cepat Siau-bin-kui mengegos sambil menangkis dengan sepasang ruyung.
“Prak! Krek!”
Senjata saling beradu dan kedua ruyung patah seketika, tetapi dari bagian yang patah itu mengepul asap putih kemerahan. Su Ki-kiang melengak, langkahnya rada sempoyongan terus roboh terjungkal. Tanpa ayal tali jirat si setan gantung dilempar ke depan dan tepat menjirat kedua kaki musuh. Kiranya gagang ruyung Siau-bin-kui itu kopong dan tersimpan bubuk racun, pada gagang ruyungnya terpasang pesawat rahasia, sekali ditekan segera bubuk racun tersembur mencelakai musuh. Tapi tenaga Su Ki-kiang teramat besar, dengan sekali hantam dia patahkan ruyung lawan. Meski pun senjatanya patah tetapi Siau-bin-kui dan Tiau-si-kui berhasil menawan Su Ki-kiang.
“Heii! Apa-apaan kalian ini?! Merobohkan lawan dengan cara licik, terhitung orang gagah macam apa?” seru Kwe Siang.
Melihat saudaranya tertawan musuh, Su Pek-wi, Su Tiong-beng dan Su Beng-ciat sangat terkejut dan murka, tapi apa daya, mereka sendiri terlibat dalam pertempuran dan sukar memberi bantuan.
Kwe Siang sendiri sebenarnya tidak membela mana pun, cuma dilihatnya cara Siau-bian-kui merobohkan Su Ki-kiang itu kurang ‘sportif’, maka dia berseru mencelanya. Pada saat itu juga mendadak terdengar suara raungan di sebelah sana. Tampaklah Kim-kah-say-ong Su Siok-kang bangkit perlahan, kemudian membentak dengan suara berat:
“Lepaskan saudaraku!”
Su Ki-kiang tidak sadarkan diri. Tiau-si-kui segera meringkusnya dengan tali, bahkan menambahkan beberapa kali totokan pada Hiat-to yang penting agar tidak dapat berkutik bila nanti sudah siuman. Dia menjawab:
“Silakan kau menyingkirkan kawanan binatang ini dan memberi jalan, maka segera kami membebaskan saudaramu.”
Dilihatnya kedua mata Su Siok-kang tampak cekung, mukanya amat pucat, jalannya pun sempoyongan, jelas sedang sakit parah, maka kawanan setan itu tidak merasa gentar. Simpati Kwe Siang berada pada Su Siok-kang, karena melihat orang dalam keadaan sakit toh tetap hendak menolong saudaranya. Cepat dia berseru:
“He, engkau lagi sakit, jangan ikut bertempur.”
Su Siok-kang mengangguk kepadanya dan mengucapkan terima kasih, tetapi langkahnya tidak berhenti, dia masih terus mendekati Su Ki-kiang yang menggeletak teringkus musuh itu. Siau-bin-kui mengedipi Tiau-si-kui, dengan berbareng kedua orang menubruk dari kanan kiri, mereka hendak menangkap sekaligus lawan yang tampaknya sakit tebese ini. Begitu sudah dekat, keempat tangan mereka mencengkeram.
Tetapi mendadak Su Siok-kang meraung laksana singa, tangan kirinya menabok pundak Tiau-si-kui dan tangan kanan menyodok dada Siau-bin-kui. Seketika kedua ‘setan’ itu merasa ditekan tenaga maha dahsyat, langkah mereka terhuyung dan hampir saja terperosot jatuh. Cepat mereka melompat mundur, untung saja Su Siok-kang tidak mengejar maju. Keruan mereka saling pandang dengan kaget dan berkeringat dingin, sama sekali mereka tak mengira bahwa orang yang tampaknya sakit tebese itu ternyata sedemikian lihaynya. Su Siok-kang lantas melepaskan Hiat-to saudaranya yang tertotok itu. Dengan sekali tarik tali Tiau-si-kui yang meringkus Su Ki-kiang putus menjadi beberapa potong. Tapi Su Ki-kiang belum sadar karena dia kena asap beracun. Sambil mengerut kening Su Siok-kang membentak:
“Berikan obat penawarnya!”
“Bubarkan dulu kepungan binatang buas kalian dan segera kuberikan obat penawarnya,” jawab Siau-bin-kui.
Su Siok-kang mendengus, lalu melangkah ke arah Siau-bin-kui dengan sempoyongan. Siau-bin kui tidak berani melawannya, cepat dia mengelak ke samping. Rupanya karena sakit sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, namun Su Siok-kang masih terus melangkah ke arah Siau-bin-kui. Sudah tentu sisa keempat ‘setan’ yang masih menganggur tidak tinggal diam, mereka mengerubut maju, Siau-bin-kui juga lantas memutar balik untuk ikut mengeroyok. Gerak serangan Su Siok-kang sangat lamban, tapi tenaga pukulannya amat kuat. Kelima setan itu mengepungnya di tengah sambil terus melancarkan serangan dengan golok dan tombak, namun tidak berani terlalu mendekat.
Kwe Siang menaruh kasihan terhadap Su Ki-kiang yang dirobohkan lawan dengan akal licik dan belum sadar itu. Segera dia mencomot sepotong salju dan diusap-usapkan di dahi Su Ki-kiang, lalu secomot kecil bunga salju dijejalkan ke mulutnya. Rupanya asap racun tadi tidak dapat bertahan terlalu lama. Su Ki-kiang sendiri sehat dan kuat, begitu kepala terasa dingin dan mulutnya dicekoki es batu, segera pikirannya jernih kembali. Perlahan ia merangkak bangun dan mengucek-ucek matanya, ia menjadi murka demi melihat kakak ketiganya dikerubut lima orang. Segera ia berteriak:
“Mundur dulu, Samko!” Ia terus menubruk maju dan merangkul pinggang Siau-bin-kui.
Di sebelah Iain, Su Pek-wi yang sedang menempur sengit Tiang-si-kui menjadi girang melihat Su Ki-kiang sudah siuman kembali. Segera ia bersuit panjang, serentak kawanan binatang buas yang semenjak tadi hanya mendekam di atas tanah itu berdiri semua dan bersiap-siap hendak menubruk musuh.
Ketika Su Pek-wi menggertak lagi dengan suara keras, serentak kawanan binatang itu pun mengaum buas. Meski GoromboIan Setan Se-san itu sudah banyak berpengalaman di medan pertempuran, tetapi begitu menyaksikan suasana yang mengerikan ini mau tak mau mereka menjadi kuatir. Benar saja, belum lenyap suara raungan kawanan binatang itu, di sana sini berbagai jenis binatang buas sudah lantas menerjang maju dan menerkam ke sepuluh ‘setan’ itu.
Kwe Siang menjerit kaget dengan muka pucat. Syukurlah Su Siok-kang lantas menyadari keadaan anak dara itu. Cepat dia mendorong seekor harimau yang sedang menubruk ke arah Kwe Siang, menyusul dia tanggalkan kopiah kulit sendiri lalu dipasangkan di kepala si anak dara. Tampaknya kawanan binatang buas itu sudah terlatih. Begitu melihat Kwe Siang memakai kopiah kulit, mereka tidak mau menubruknya lagi melainkan terus membelok ke sana dan menyerang Gerombolan Setan.
Macam-macam binatang buas, ada harimau, singa, serigala, macan tutul, gorila, beruang dan sebagainya serentak menerjang ke sepuluh ‘setan’. Namun Gerombolan Setan itu juga bertahan mati-matian, belasan ekor binatang buas itu pun dapat mereka binasakan. Tetapi lantaran Su-si-hengte terus memberi aba di samping sana, pula jumlah binatang buas itu teramat banyak, hanya sekejap saja Gerombolan Setan itu sudah terluka semua, baju robek dan darah mengucur, tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti akan dilalap habis oleh kawanan binatang buas itu.
Ketika itu Kwe Siang melihat tiga ekor singa jantan sedang mengkerubuti Toa-thau-kui, si setan kepala besar, godam besar yang merupakan senjata andalannya sudah terjatuh, lengan kanannya tergigit seekor singa dan tak dilepaskan. Hanya tangan kirinya yang masih terus menghantam serabutan untuk sekedar bertahan terhadap terkaman kedua ekor singa yang lain. Teringat oleh Kwe Siang bahwa Toa-thau-kui itulah yang membawanya ke sini. Sekarang orang terancam bahaya, ia menjadi tidak tega, tanpa pikir ia menanggalkan kopiah kulit yang dipakainya serta dilemparkan ke atas kepala Toa-thau-kui. Kopiah kecil di atas kepala besar, tentunya tampak amat menggelikan, bahkan kopiah itu bergoyang-goyang hendak jatuh ke bawah.
Rupanya pada waktu melatih kawanan binatang itu kelima saudara Su itu selalu memakai kopiah kulit. Serentak tiga ekor singa itu tidak menubruk dan menggigitnya lagi dan terus menyingkir pergi. Dalam pada itu Kwe Siang sendiri telah terkepung oleh empat ekor macan tutul. Keruan ia ketakutan dan menjerit-jerit. Saat itu Su Siok-kang sedang berusaha merampas tongkat baja Tiang-si-kui agar tongkat itu tidak banyak mengambil korban kawanan binatang buas. Demi mendengar jeritan Kwe Siang dia menoleh dan terkejut, tetapi jaraknya dengan anak dara itu agak jauh sehingga sukar memberi pertolongan.
Aneh juga. Begitu empat ekor macan tutul itu mendekati Kwe Siang, mereka tidak lantas menerkam dan mencakarnya, sebaliknya seperti anjing piaraan saja mereka mengitari Kwe Siang sambil mengendusnya disertai meng-gesekkan tubuhnya pada anak dara itu, tampaknya seperti sudah kenal dengan akrab sekali. Sesungguhnya Kwe Siang sudah ketakutan dan pasrah nasib. Ia menjadi terkesiap ketika melihat macan tutul itu tidak bermaksud jahat padanya. Segera ia teringat pada cerita ibu dan kakaknya bahwa waktu bayinya dahulu dirinya pernah menetek pada induk harimau tutul. Agaknya keempat macan tutul itu mencium bau aneh pada tubuhnya sehingga menganggap sebagai kaum sejenisnya.
Dengan takut-takut bercampur girang Kwe Siang lantas berjongkok dan merangkul leher dua ekor macan tutul, dua ekor yang lain menjilati tangannya dan mukanya. Keruan Kwe Siang merasa geli dan tertawa terkikik. Selama menjadi pelatih dan penjinak binatang buas, belum pernah kelima saudara Su itu menyaksikan adegan seaneh itu, keruan mereka melongo heran.
Meski Toa-thau-kui sendiri dapat terhindar dari bahaya berkat kopiah kulit, namun melihat kesembilan saudara angkatnya sukar lolos dari renggutan elmaut, betapa pun ia tak dapat mencari selamat sendiri. Tanpa pikir lagi ia terus memegang kopiah kulit dan dilemparkan kepada Siau-kui, si perempuan berbaju serba merah, sambil berseru:
“Kiu-moay, pakailah kopiah ini dan lekas menyelamatkan diri!”
Siau-kui menangkap kopiah itu lantas dilemparkan kepada Tiang-si-kui, serunya: “Toako, engkau saja menerjang keluar dahulu, kelak berusaha lagi menuntut balas bagi kita!”
Tetapi Tiang-si-kui juga lantas melangsir kopiah itu kepada Siau-bin-kui sembari berteriak:
“Capte (adik kesepuluh), menuntut balas walau pun sepuluh tahun lagi juga belum kasip. Engkau saja lekas lari, kakakmu ini sudah cukup umur dan sudah bosan hidup!”
Ternyata di antara mereka amat setia satu sama lain, siapa pun tidak mau meninggalkan kawannya untuk menyelamatkan diri sendiri. Karena dikerubuti lima ekor serigala, Siau-bin-kui tidak dapat mengoper kopiahnya kepada saudara yang lain. Sedangkan serigala terkenal rakus dan buas, sekali merasakan darah betapa pun tidak mau tinggal pergi, meski Siau-bin-kui memegang kopiah itu, serigala itu tetap saja tidak mau meninggalkan mangsanya. Tentu saja Siau-bin-kui mencaci maki dengan marah, namun wajahnya tetap tersenyum simpul. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring di atas, seorang berseru lantang:
“Gerombolan Setan Se-san ingkar janji, aku menunggu semalaman sia-sia, kiranya kalian sedang ribut dengan kawanan binatang di sini!”
Girang bukan main Kwe Siang mendengar seruan itu, pikirnya: “Aha, Sin-tiau-hiap sudah datang.”
Waktu Kwe Siang mendongak, terlihat seorang duduk di atas dahan pohon, di sebelahnya nangkring seekor rajawali besar dan buruk rupa. Orang itu memakai jubah panjang warna putih, lengan baju kanannya terselip pada ikat pinggang, nyata memang lengannya buntung. Waktu memandang wajahnya, seketika Kwe Siang bergidik. Air mukanya ternyata pucat kaku seperti mayat, hakikatnya bukan air muka manusia hidup. Banyak juga orang bermuka buruk dan menakutkan, misalnya para anggota Gerombolan Setan Se-san itu juga semuanya berwajah penjahat, tapi tidak seburuk dan menyeramkan seperti ini.
Sebelum ini dalam hati kecilnya Kwe Siang membayangkan wajah Sin-tiau-hiap pasti cakap ganteng, ia menjadi amat kecewa melihat kejelekan mukanya itu. Tanpa terasa ia memandang sekejap lagi kepadanya, terlihat sorot matanya memancarkan sinar tajam. Sinar mata tajam itu sekilas mengerling ke arahnya dan tiba-tiba terhenti sejenak seperti rada menimbulkan rasa herannya.
Tanpa terasa wajah Kwe Siang menjadi merah jengah dan tanpa kuasa menunduk malu, samar-samar ia merasa sang Sin-tiau-hiap tidak terlalu buruk. Sin-tiau-hiap di hadapan Kwe Siang ini memang betul Yo Ko adanya. Selama 16 tahun ini dia menunggu dengan hati menderita untuk bertemu kembali dengan Siao-liong-li. Ia telah berkelana ke segenap penjuru dan memberikan darma baktinya bagi sesama, karena dia selalu ditemani rajawali sakti itu, maka didapatkanlah nama julukan ‘Sin-tiau-hiap’.
Ia merasa berdosa waktu mukanya banyak digilai anak perempuan seperti Kongsun Lik-oh yang binasa demi menolong jiwanya, juga Thia Eng dan Liok Bu-siang hidup merana karena patah hati. Ia pikir kalau mukanya buruk, tentu takkan menarik perhatian anak perempuan. Sebab itulah sekarang ia memakai kedok muka pemberian Oey Yok-su dahulu untuk menutupi wajah aslinya. Malam ini mestinya dia punya janji bertemu dengan Gerombolan Setan Se-san di Te-ma-peng, tapi pihak lawan ternyata ingkar janji dan tidak datang, sebab itulah ia lantas mencarinya dan kebetulan dilihatnya apa yang terjadi di hutan ini.
Jiwa kesepuluh setan itu sudah amat terancam di tengah kerubutan kawanan binatang buas sebanyak itu, dan sekarang tiba-tiba Yo Ko membuka suara sehingga bertambah lagi satu musuh tangguh bagi mereka. Keruan mereka menjadi putus asa dan yakin sekali ini jiwa pasti akan melayang semuanya. Dalam pada itu terdengar Yo Ko berkata dengan suara lantang:
“Beberapa saudara ini mungkin adalah Su-si-hengte dari Ban-siu-san-ceng? Silakan kalian berhenti dulu dan dengarkanlah perkataanku.”
“Kami memang she Su,” jawab Su Pek-wi, “Dan siapakah tuan?” Akan tetapi segera dia menambahkan: “Ahh, maaf, agaknya tuan inilah Sin-tiau-hiap.”
“Terima kasih, memang betul Cayhe adanya,” sahut Yo Ko. “Harap kalian lekas hentikan amukan kawanan binatang buas itu. Apa bila terlambat maka sebentar lagi mungkin para setan gadungan ini akan berubah menjadi setan sungguhan.”
“Ya, biar jadi setan sungguhan dulu barulah kami bicara denganmu,” ujar Su Pek-wi.
Yo Ko mengernyitkan keningnya, katanya: “Tetapi Gerombolan Setan itu sudah ada janji pertemuan denganku lebih dulu. Jika binatang kalian membinasakan mereka, lalu kepada siapa aku harus bicara lagi?”
Mendengar ucapan Yo Ko mulai kasar, Su Pek-wi menjengek, kemudian malah memberi aba agar kawanan binatang menyerang lebih ganas.
“Kalau kau sudah tahu aku adalah Sin-tiau-hiap, mengapa kau tidak ambil pusing kepada perkataanku?” bentak Yo Ko.
“Memang kalau Sin-tiau-hiap lantas bagaimana?” jawab Su Pek-wi dengan tertawa, “Kalau mampu boleh kau menghentikan serangan kawanan binatang kami ini.”
“Baik,” kata Yo Ko. “Mari, Tiau-heng, kita turun!”
Habis berkata, bersama rajawali raksasa itu mereka melompat ke bawah. Sebelum Yo Ko dan rajawali itu menyentuh tanah, kawanan binatang sudah meraung sambil menubruk maju. Tetapi sekali sayap rajawali itu menyabet ke kanan dan menyampuk ke kiri, kontan beberapa ekor binatang yang lebih kecil seperti serigala dan sebagainya terjungkal. Seekor singa dan seekor harimau mengaum murka lantas menubruk. Kembali sayap rajawali itu menyabet, bukan main kekuatannya, singa dan harimau itu terguling dan tidak mampu mendekat lagi. Menyusul sayap yang lainnya menyabet pula, kontan kepala seekor macan tutul hancur berantakan.
Melihat kesaktian rajawali itu, kawanan binatang buas yang lain menjadi ketakutan dan tak berani menyerang. Kini semuanya mendekam di kejauhan sambil mengeluarkan suara menggereng. Su Pek-wi menjadi marah. Segera ia memapaki Yo Ko, tangannya yang kaku seperti cakar macan itu mencengkeram ke dada lawan. Akan tetapi Yo Ko sedikit mengebas lengan baju kanan yang kopong itu.
“Blukk!”
Dengan tepat kedua pergelangan tangan Su Pek-wi tersabet sehingga menimbulkan rasa sakit tidak kepalang seperti dipotong pisau. Tanpa tertahan dia menjerit. Dengan langkah tertahan Su Siok-kang mendekati Yo Ko, sepasang tangannya menyodok lurus ke depan.
“Bagus!” sambut Yo Ko sambil tersenyum dan menjulurkan telapak tangan kirinya untuk memapak serangan lawan. Dia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja.
Maklumlah, selama belasan tahun dia telah menggembleng diri di tengah amukan ombak samudera. Kalau dia mengeluarkan tenaga penuh, jangankan tubuh manusia, sekali pun batang pohon dan dinding tembok akan runtuh dihantamnya. Namun Su Siok-kang juga pernah mendapat ajaran orang kosen, maka tenaga dalamnya juga lain dari pada yang lain. Begitu beradu tangan, tubuhnya tergeliat tetapi tidak tergetar mundur.
“Awas!” seru Yo Ko memperingatkan sambil mengerahkan tenaga.
Seketika pandangan Su Siok-kang menjadi gelap dan mengeluh, sekali ini nyawanya pasti melayang. Untung pada saat gawat itu mendadak Yo Ko berkata:
“Ahh, ternyata kau sedang sakit!” Berbareng itu tenaga yang maha dahsyat seketika hilang sirna.
Lolos dari renggutan elmaut, Su Siok-kang menjadi melenggong dan tidak dapat berkata apa-apa. Su Pek-wi, Su Tiong-beng dan lain-lain menyangka Su Siok-kang terluka dan tidak dapat bergerak, maka mereka menjadi cemas dan marah sekali. Serentak mereka menerjang Yo Ko. Tepat pada waktu yang sama seekor harimau juga menubruk dari sebelah sana. Tapi sekali meraih, Yo Ko mencengkeram leher raja hutan itu. Binatang buas ini lantas digunakan sebagai senjata menangkis serangan pipa perak Su Tiong-beng dan gada baja Su Ki-kiang, sedangkan cakar macan malahan terus mencakar muka Su Pek-wi dan Su Beng-ciat.
Belasan tahun yang lalu Yo Ko sudah pernah menggunakan pedang yang beratnya lebih dari 70 kati. Sekarang memegangi tubuh harimau yang besar, beratnya paling-paling juga cuma seratusan kati, maka enteng saja baginya. Karena lehernya terpegang, harimau itu menjadi rnurka dan tidak kenal sang majikan lagi, cakarnya terus menggaruk dan mulutnya menggigit, Dalam keadaan demikian Su Pek-wi dan Su Beng-ciat menjadi kelabakan juga walau pun biasanya mereka selalu berkawan dengan binatang buas.
Menyaksikan pertarungan itu, Kwe Siang bersorak gembira, teriaknya. “Hebat sekali Sin-tiau-hiap! Nah, kalian mengaku kalah tidak, Su-keh-hengte?”
Yo Ko memandang sekejap kepada anak dara itu, dia tidak tahu siapakah Kwe Siang ini. Anehnya anak dara itu berkawan dengan macan tutul, akan tetapi sekarang mengolok dan mengejek kelima saudara Su.
Sementara itu Su Siok-kang mengatur pernapasannya dan terasa lancar tanpa ada gangguan apa pun. Dia tahu bahwa tadi Sin-tiau-hiap sengaja bermurah hati dan tidak ingin melukainya. Diam-diam dia pun mengakui, kalau berdasarkan kepandaian sejati biar pun mereka berlima mengerubutnya sekaligus bukan tandingannya. Saat itu tampak keempat saudaranya sedang mengerubuti Yo Ko, maka segera ia berseru:
“Para kakak dan adik, lekas berhenti, kita harus tahu diri.”
Mendengar itu Koan-kian-cu Su Tiong-beng segera mendahului menarik kembali pipanya dan melompat mundur. Tetapi Tay-Iik-sin Su Ki-kiang adalah orang yang sembrono, maka seruan saudaranya dia anggap sepele.
“Tahu diri apa? Rasakan dulu gadaku ini!” demikian ia pikir.
Segera kedua tangan memegang gada terus mengepruk kepala Yo Ko dengan gaya ‘Ki-siang-kay-san’ atau gajah raksasa menggugur gunung. Jurus ini ditirunya dari gajah menggunakan belalai menghantam benda, maka pukulan dahsyatnya dapatlah dibayangkan. Namun Yo Ko tidak menghindar. Ia lemparkan harimau yang dipegangnya, tangan kiri membalik ke atas, sekali meraih ujung gada belalai gajah lawan ditangkapnya, katanya:
“Marilah kita coba-coba tenaga siapa lebih kuat!”
Sekuatnya Su Ki-kiang berusaha menekan ke bawah, tapi gada itu berhenti di atas kepala Yo Ko dan tidak dapat menurun lagi.
“Berhenti, Site! Jangan kurang adat!” seru Su Siok-kang pula.
Sekuatnya Su Ki-kiang membetot dengan maksud ingin menarik kembali gadanya. Namun gada itu seperti lengket di tangan Yo Ko, sedikit pun tak dapat bergerak. Berulang-ulang Su Ki-kiang membetot dan tetap tidak berhasil. Yo Ko merasa tenaga tarikan lawan amat kuat, pikirnya, “Jika tidak kuperlihatkan tenaga sakti, orang dogol ini tentu tidak mau takluk.” Dia kerahkan tenaga dan dipelintir ke atas, tetapi Su Ki-kiang tetap memegangi gadanya sekuat-kuatnya, keruan gada yang menyerupai belalai gajah itu bengkok.
“Bagus!” bentak Yo Ko lalu ditekuk balik ke bawah. Karena ditekuk ke atas dan ke bawah, gada itu tidak tahan.
“Pletak!”
Gada patah menjadi dua dan tangan Su Ki-kiang tergetar hingga lecet berdarah. Tapi dia benar-benar kuat dan kepala batu, gada patah itu masih dipegangnya dengan kencang. Yo Ko bergelak tawa sambil melempar bagian gada patah yang dirampasnya. Kontan setengah gada itu ambles ke dalam tanah bersalju, padahal tebal salju tiada satu kaki, sedangkan gada patah itu panjangnya lebih tiga kaki, namun menghilang tanpa bekas ke dalam tanah, betapa hebat tenaga sakti Yo Ko sungguh sangat mengejutkan.
Dilihatnya Su Siok-kang, Su Beng-ciat dan lain-lain sedang membentak menghentikan serangan kawanan binatang buas, akan tetapi sekali kawanan binatang itu mengamuk dan melihat darah, sukarlah dikendalikan begitu saja. Cepat Yo Ko memberi tanda kepada Kwe Siang supaya nona cilik itu menutup telinganya dengan tangan. Meski pun tidak tahu apa tujuannya tapi Kwe Siang menurut, segera ia mendekap rapat kedua kupingnya. Segera Yo Ko berteriak dengan keras, demikian nyaring suaranya sehingga laksana bunyi guntur yang menggelegar.
Meski telinganya sudah ditutup, tergetar juga jantung Kwe Siang hingga berdebar-debar dan rada pening. Untung sejak kecil Iwekang-nya tertumpuk cukup kuat sehingga suara Yo Ko itu tidak sampai membuatnya roboh. Suara Yo Ko masih menggelegar hingga lama sekali. Air muka semua orang berubah, kawanan binatang buas juga roboh, menyusul Gerombolan Setan Se-san dan Su-si-hengte terguling, hanya tersisa belasan ekor gajah serta Su Siok-kang dan Kwe Siang saja yang masih tetap tegak berdiri, sedangkan si rajawali sakti tampak berdiri dengan bersitegang leher, kelihatannya sangat umuk, sombong. Melihat Su Siok-kang mampu berdiri, Yo Ko pikir tenaga dalam orang sakit ini hebat juga, tetapi kalau suaranya dikeraskan lagi sedikit sehingga Su Siok-kang dirobohkan, mungkin dia akan terluka dalam dengan parah. Maka dia lantas menghentikan suara suitannya. Selang tak lama, semua orang dan kawanan binatang itu baru dapat berdiri kembali, tapi sebagian binatang kecil sebangsa serigala dan sebagainya ada yang pingsan dan belum sadar, malahan di mana-mana banyak terdapat kotoran binatang, rupanya saking ketakutan, kawanan binatang itu banyak yang ter-kencing dan terberak-berak, dan begitu bangun, kawanan binatang itu lari ke dalam hutan dengan mencawat ekor tanpa menunggu komando Su-si-hengte lagi.
Sudah tentu Su-si-hengte dan gerombolan Setan Se-san itu belum pernah menyaksikan perbawa yang sehebat ini. Mereka semua berdiri terkesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka berkatalah Yo Ko:
“Maaf kalau Cayhe sudah mengganggu. Cayhe ada janji dengan Gerombolan Setan Se-san, terpaksa harus kuhentikan pertarungan kedua pihak ini, nanti apa bila persoalan Cayhe sudah selesai, bolehlah silakan melanjutkan pertikaian kalian ini dan Cayhe takkan membantu pihak mana pun selain menonton saja di pinggir.” Lalu dia berpaling kepada Sat-sin-kui, si setan elmaut: “Nah, bagaimana kalian? Ingin satu persatu bergiliran menempur aku atau sepuluh orang maju bersama sekaligus?”
Karena pengaruh suitan Yo Ko tadi, sampai sekarang perasaan Sat-sin-kui belum kembali tenang, dia tak dapat menjawab pertanyaan Yo Ko. Segera Tiang-si-kui memberi hormat dan berkata:
“Sin-tiau-tayhiap, kepandaianmu dengan kami seperti langit dan bumi, mana Gerombolan Setan Se-san berani bermusuhan lagi dengan engkau? Jiwa kami tadi telah diselamatkan olehmu, selanjutnya engkau ada perintah apa pun pasti akan kami laksanakan. Jika engkau menyuruh kami harus keluar dari wilayah Soasay ini, maka segera kami akan pergi, sedetik pun tak berani bertahan di sini.”
Dari bentuk tubuhnya serta jenggotnya yang panjang itu, sejak tadi Yo Ko merasa kakek cebol ini seperti pernah dikenalnya. Sesudah mendengar suaranya, segera dia bertanya:
“Bukankah kau ini she Hoan bernama It-ong?”
Kiranya Tiang-si-kui ini memang betul adalah Hoan It-ong, yaitu murid tertua Kongsun Ci di Coat-ceng-kok. Setelah jiwanya diampuni Yo Ko, dia mengasingkan diri, sepuluh tahun kemudian baru berkecimpung lagi di dunia Kangouw. Berkat kepandaiannya yang lumayan dia berhasil mengepalai Gerombolan Setan Se-san. Dulu Yo Ko dikenalnya sebagai pemuda yang cakap dan berkepandaian tinggi, sekarang tangan Yo Ko buntung sebelah, pakai kedok lagi, dengan sendirinya Hoan It-ong pangling padanya.
“Benar, hamba memang Hoan It-ong adanya dan siap menerima pesan Sin-tiau-tayhiap,” demikian jawab Tiang-si-kui dengan munduk-munduk.
Yo Ko tersenyum, katanya: “Jika kalian mau tunduk pada perkataanku, maka kalian juga tidak perlu keluar dari wilayah Soasay. Sat-sin-kui, cukuplah kau membebaskan keempat gundikmu itu.”
Sat-sin-kui mengiyakan setelah terdiam sejenak, katanya: “Jika keempat perempuan hina itu tidak mau angkat kaki, biar kuhalau mereka dengan pentung.”
Yo Ko malah jadi melengak. Teringat olehnya ketika kelima isteri serta gundik Sat-sin-kui menyembah kepadanya dan mintakan ampun bagi sang suami, sikap mereka yang sungguh-sungguh itu tampaknya memang setia dan mencintai suaminya. Kalau perempuan-perempuan itu mau ikut dia, sekarang dia malah diharuskan mengusir keempat gundiknya, bisa jadi tindakan ini malah akan melukai hati mereka. Maka sambil tertawa Yo Ko menambahkan:
“Usir sih tidak perlu. Jika mereka ingin pergi, maka kau tidak boleh menahan mereka, sebaliknya kalau mereka suka ikut kau, ya, apa mau dikatakan lagi? Tapi kau bilang mau ambil lagi empat orang gundik, apakah betul ucapanmu ini?”
“Ahh, persoalan perempuan itu sudah membikin repot Sin-tiau-tayhiap, malahan jiwa para saudaraku ini hampir ikut melayang. Masa hamba berani mengambil isteri lagi? Andai kata berani, rasanya Toako kami ini juga takkan mengijinkan.” Serentak ‘Setan” yang lain tertawa geli mendengar ucapan Sat-sin-kui itu.
“Baiklah, sekarang urusanku telah selesai, kalian boleh mulai bertempur lagi,” kata Yo Ko, kemudian dia mundur bersama rajawali sakti dan membiarkan Su-si-hengte dan Gerombolan Setan bertarung lagi.
Segera Hoan It-ong melangkah maju dan berkata kepada Su Pek-wi: “Gerombolan Setan Se-san sudah babak belur, sementara ini kami mohon diri saja. Kami hanya ingin tahu, selanjutnya Ban-siu-san-ceng tetap bercokol di sini atau akan kembali ke Se-keng? Harap dijelaskan agar kelak kami dapat menemukan alamat kalian secara tepat.”
Dari nada ucapan itu, Su Pek-wi paham bahwa kelak orang bermaksud mencarinya untuk menuntut balas, maka dengan angkuh ia pun menjawab:
“Kami akan menanti kedatangan kalian di Se-keng. Jika Samte kami akhirnya tidak... tidak dapat disembuhkan, maka tanpa kunjungan kalian juga kami berempat saudara akan mendahului berkunjung kepada kalian.”
Hoan It-ong melengak, katanya: “Memangnya Su-samko sedang sakit, apa sangkut-paut sakitnya dengan kami? Untuk ini mohon diberi penjelasan.”
Su Pek-wi menjadi murka, dengan muka merah padam ia berteriak: “Samte...!”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Rupanya selama beberapa hari ini cuaca berubah tidak menentu, terkadang dingin dan kemudian menjadi hangat. Mula-mula air sungai Kuning mencair, tapi sejak semalam turun salju dengan lebatnya sehingga air sungai membeku kembali, sebab itulah kapal tambang tidak dapat berjalan, kereta pun tidak berani menyeberangi permukaan sungai yang beku.
Karena itulah banyak saudagar yang hendak menyeberang ke selatan tertahan di kota tambangan kecil ini. Meski pun di Hong-leng-toh ada beberapa buah rumah penginapan, tapi karena pendatang dari utara masih mengalir tak putus-putusnya, tiada setengah hari semua rumah penginapan penuh sehingga banyak tetamu yang tidak mendapatkan pondokan dan tidak sedikit timbul ribut mulut antara tamu dan pemilik hotel.
Hotel yang paling besar di kota itu bernama ‘An-toh-Io-tiam’ yang artinya ‘Hotel selamat menyeberang’. Lantaran pekarangan hotel ini dan kamarnya lebih luas dari pada hotel-hotel lainnya, maka tetamu yang tidak mendapatkan tempat pondokan membanjiri An-toh-lo-tiam ini. Suasana menjadi ramai dan berjubel.
Banyak kamar buat dua orang terpaksa diisi tiga orang, itu pun masih juga kelebihan belasan tamu yang tidak mendapat kamar hingga terpaksa duduk berkerumun di ruangan tengah. Para pelayan menyingkirkan meja kursi dan membuat api unggun di tengah-tengah ruangan untuk menghangatkan badan tetamu. Menyaksikan bunga salju yang beterbangan dengan lebatnya di luar, para tetamu sedih karena besok belum tentu dapat melanjutkan perjalanan. Cuaca mulai gelap, hujan salju semakin lebat. Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, tiga penunggangnya datang secepat terbang dan berhenti di depan An-toh-lo-tiam.
“Kembali ada tamu lagi!” gumam seorang tamu yang duduk di tepi api unggun.
Benar juga segera terdengar suara seorang perempuan berseru: “He, pengurus! Berikan dua kamar kelas satu!”
Kuasa hotel menjawab dengan mengiring tawa: “Maaf, sudah sejak pagi kamar hotel kami terhuni penuh, sama sekali tiada kamar kosong lagi.”
“Kalau begitu boleh satu kamar saja,” ujar perempuan tadi.
“Be-ribu maaf, nyonya, sungguh sudah penuh semua,” jawab pengurus hotel.
Tiba-tiba perempuan itu ayunkan cambuknya ke udara hingga menerbitkan suara.
“Tarrrrr...!”
Lalu terdengar ia mengomel: “Omong kosong! Memangnya kau tak bisa menyuruh orang mengalah sebuah kamar? Biar kutambahi sewanya.” Sembari bicara dia terus menerobos ke dalam hotel.
Pandangan para tamu terbeliak melihat perempuan itu. Usianya kira-kira 30 tahun lebih, matanya jeli, pipinya merah, mukanya cantik, perawakannya montok, berjaket kulit warna biru, bagian leher baju berlapiskan kulit berbulu halus, dan pembawaannya sangat perlente. Di belakang nyonya muda itu ikut seorang lelaki dan seorang perempuan lagi, kedua-nya masih remaja, usia mereka antara 16-17 tahun, yang lelaki beralis tebal dan bermata besar, sikapnya kasar gagah, sebaliknya perempuan muda itu sangat cantik. Keduanya mengenakan jaket satin hijau pupus. Leher si anak dara memakai sebuah kalung mutiara, setiap biji mutiara sebesar jari dan bercahaya.
Para tamu terpengaruh lagak lagu ketiga tamu baru, orang-orang yang tadinya sedang bicara semua berhenti dan memandangi ketiga orang ini. Dengan sigap pelayan hotel memberi hormat dan menjelaskan kepada si nyonya muda:
“Lihatlah, nyonya, para tamu ini pun tidak mendapatkan kamar. Kalau kalian tidak merasa kotor, silakan ikut duduk di sini sekedar menghangatkan badan dan melewatkan malam. Besok kalau air sungai tambah keras membeku mungkin sudah cukup kuat untuk diseberangi.”
Tampaknya nyonya muda itu tidak sabar, tapi keadaan memang begitu, terpaksa ia hanya mengerut kening dan tidak bersuara lagi.
Seorang perempuan setengah baya yang ikut duduk mengelilingi api unggun berkata: “Silakan duduk di sini, nyonya, hangatkan badan dulu, hawa sungguh dingin.”
“Terima kasih,” jawab nyonya cantik itu.
Segera tamu lelaki yang duduk di sampingnya bergeser memberi tempat kepada si nyonya muda. Belum lama duduk, pelayan lantas mengantarkan daharan yang dipesan, ada daging ada ayam, bahkan arak pun tersedia. Nyonya muda itu sangat kuat minum arak, semangkok demi semangkok ditenggaknya hingga habis. Lelaki muda itu pun ikut mengiringi minum, hanya si anak dara cantik saja setitik pun tidak minum arak. Dari cara sapa menyapa mereka dapatlah diketahui bahwa mereka adalah kakak beradik. Usia pemuda itu tampaknya lebih tua dari pada si anak dara, tapi ternyata memanggilnya “Cici”. Sehabis makan semua orang berkerumun di sekitar api unggun. Suara angin yang men-deru di luar membuyarkan rasa kantuk.
“Cuaca begini sungguh membikin susah orang,” demikian seorang lelaki berkata dengan logat daerah Soa-say, “Sebentar hujan salju, sebentar membeku jadi es, lain saat mencair lagi, Thian benar-benar ingin menyiksa orang.”
“Sebaiknya jangan mengomeli Thian dan Te (langit dan bumi),” ujar seorang laki-laki pendek dengan logat Ouwpak.
“Masih beruntung kita dapat menghangatkan badan dengan api dan makan enak di sini, Coba kalau kau pernah di kota terkepung Siang-yang, kukira tempat yang paling sengsara di dunia ini akan berubah menjadi sorga bagimu.” Mendengar ‘kota terkepung Siang-yang’, nyonya cantik tadi memandang sekejap kepada kedua saudaranya. Lalu terdengar seorang tamu yang berlogat Kwitang bertanya:
“Numpang tanya saudara, bagaimana keadaan di kota Siang-yang yang terkepung itu?”
“Keganasan orang MongoI kiranya sudah kalian dengar sehingga tidak perlu aku jelaskan lagi,” tutur tamu Ouwpak tadi. “Tahun itu pasukan Mongol menyerang Siang-yang secara besar-besaran. Panglima yang menjaga kota, Lu-tayjin, adalah manusia yang tidak ada gunanya. Syukurluh Kwe-tayhiap dan isterinya membantu dengan sepenuh tenaga.”
Mendengar nama Kwe-tayhiap dan isterinya disebut, air muka nyonya cantik tadi berubah riang. Sementara itu tamu berlogat Ouwpak tadi menyambung ceritanya:
“Beratus ribu penduduk Siang-yang bersatu padu menghadapi musuh dan bertahan dengan mati-matian, seperti diriku ini, aku hanya pedagang gerobak dorong, tapi aku pun ikut berjuang dengan mengangkut pasir dan mengangkat batu untuk memperkokoh benteng kota. Lihat ini, codet pada mukaku adalah bekas luka kena panah orang Mongol.”
Waktu semua orang mengawasi, terlihat di pipi kirinya ada bekas luka panah sebesar gobang. Tanpa terasa semua orang menaruh hormat padanya.
“Negeri Song kita sedemikian luas dengan penduduknya yang begini banyak. Jika setiap orang berjiwa patriot seperti saudara, hah, biar pun Tartar Mongol lebih ganas sepuluh kali lipat takkan dapat menginjak tanah air kita,” demikian kata si orang Kwitang dengan bersemangat.
“Tepat!” ujar si orang Ouwpak, “Lihat, sudah belasan tahun pasukan Mongol menggempur Siang-yang, selalu gagal, sebaliknya tempat-tempat lain dibobolnya dengan mudah. Kabarnya belasan negeri di benua barat ditumpas oleh orang Mongol, sedangkan Siang-yang masih tetap berdiri dengan tegaknya, biar pun raja mongoI Kubilai sendiri yang memimpin penggempuran tetap tidak berhasil.”
“Ya, kalau saja Siang-yang jatuh, tentu tanah air Song Raya kita sudah lama dicaplok orang Mongol,” kata orang Kwitang.
Begitulah semua orang bicara penuh semangat tentang pertahanan benteng Siang-yang. Orang Ouwpak itu menjunjung Kwe Ceng dan Oey Yong setinggi langit seakan-akan malaikat dewata dan semua orang juga tiada hentinya memberi pujian. Mendadak seorang tamu berlogat Sucoan ikut berbicara dengan gegetun:
“Sesungguhnya pembesar yang menjaga benteng di-mana-mana juga ada. Soalnya pemerintah kerajaan tidak dapat membedakan antara yang baik dan jahat, sering kali kaum dorna justru menikmati segala kejayaannya, sedangkan pembesar setia malahan mati penasaran seperti Gak Hui pujaan kita yang sudah almarhum itu tidak perlu dibicarakan lagi, sekarang saja di daerah Sucoan ada beberapa pembesar pembela rakyat menjadi kaum dorna.”
“Hei pembesar siapakah itu? Mohon penjelasan,” tanya orang Ouwpak tadi.
“Sudah belasan tahun pasukan Mongol menggempur wilayah Sucoan, berkat perlawanan Sia Kay yang amat bijaksana, segenap rakyat jelata di Sucoan sama tunduk di bawah pimpinannya dan memujanya seakan-akan Budha penolong,” demikian si orang Sucoan mulai menutur.
“Siapa tahu raja kita yang berkuasa mempercayai laporan si dorna Ting Tay-coan. Katanya Sia-tayjin menyalah-gunakan kekuasaan dan membangkang perintah pusat, maka perlu diambil tindakan dan dikirimlah racun untuk memaksa Sia-tayjin bunuh diri kemudian kedudukannya diganti seorang pembesar tidak becus yang menjadi komplotan kaum dorna itu. Ketika kemudian pasukan Mongol menyerbu, hanya sekejap saja Sucoan lantas jatuh. Pihak kerajaan tidak menyesali dirinya sendiri yang salah membunuh pembesar baik, sebaliknya malah menuduh panglima tentara Ong Wi-tiong Ciangkun yang bertahan mati-matian itu bersekongkol dengan musuh lalu menangkap dan membawanya bersama segenap anggota keluarganya ke ibukota. Di sana Ong-ciangkun dihukum penggal kepala.” Bicara sampai di sini suaranya rada tersendat.
Semua orang menghela napas terharu mendengar kisah sedih itu. Orang Kwitang tadi berkata dengan gusar:
“Hancurnya negara selalu menjadi korban kaum dorna begitu, Kabarnya kerajaan selatan sekarang ada tiga ekor anjing, dan pembesar dorna Ting Tay-coan itu adalah salah seekor di antaranya.”
Seorang pemuda berwajah putih yang sejak tadi hanya mendengarkan saja tiba-tiba menimbrung:
“Betul, kaum dorna kerajaan selatan dikepalai Ting Tay-coan, Tan Tay-hong dan Oh Tay-jiang. Karena nama mereka semuanya memakai ‘Tay’, maka orang-orang di Lim-an (ibukota Song Selatan) menambahkan nama dengan satu coretan sehingga menjadi ‘Khian’ (anjing) dan mereka bertiga dianggap tiga ekor anjing.”
Sampai di sini semua orang tertawa puas. Orang Sucoan tadi lantas bertanya: “Dari logat saudara cilik ini, tampaknya engkau orang dari Lim-an?”
“Benar,” jawab si pemuda.
“Jika begitu, waktu Ong Wi-tiong Ciangkun menjalani hukuman mati, apakah saudara juga mengetahuinya?”
“Ya, malah aku ikut menyaksikan sendiri,” jawab pemuda itu. “Ong-ciangkun menghadapi ajalnya tanpa gentar, dengan gagah berani beliau malah mencaci maki Ting Tay-coan dan Tan Tay-hong sebagai pembesar dorna penjual negara dan bangsa, bahkan terjadi pula sesuatu yang aneh.”
“Kejadian aneh apa?” tanya orang banyak.
“Yang memfitnah Ong-ciangkun jelas adalah Tan Tay-hong,” tutur si pemuda. “Waktu menuju ke lapangan hukuman, di tengah jalan Ong-ciangkun berteriak-teriak dan mencaci maki Tan Tay-hong, katanya setelah mati pasti akan mengadu kepada Giam-lo-ong untuk merenggut nyawa dorna she Tan itu. Anehnya, tiga hari sesudah Ong-ciangkun menjalani hukuman, Tan Tay-hong benar-benar mati mendadak di rumahnya dan kepalanya dipenggal dan tergantung tinggi di menara lonceng di pintu gerbang timur Lim-an. Menara itu begitu tinggi, jangankan manusia, monyet sekali pun sukar merambat ke sana. Coba pikir, jika bukan Giam-lo-ong yang merenggut jiwa menteri dorna itu, lalu perbuatan siapa lagi? Peristiwa itu diketahui setiap penduduk Lim-an dan sekali-kali bukan dongeng belaka.”
Semua orang merasa heran. Orang Sucoan itu berkata: “Kejadian itu memang bukan dongeng, cuma yang membunuh Tan Tay-hong itu bukanlah Giam-lo-ong melainkan perbuatan seorang ksatria sejati.”
“Jumlah pengawal di rumah menteri doma itu tidak sedikit, penjagaan sangat ketat, orang biasa mana bisa membunuhnya? Bahkan menggantung kepalanya di tempat yang setinggi itu, memangnya orang itu bersayap?” ujar si pemuda sambil menggeleng.
“Di dunia ini tidak kurang orang kosen, tapi kalau aku tidak menyaksikan sendiri memang tidak percaya,” kata orang Sucoan itu.
“Kau menyaksikan sendiri ia memanjat ke tempat setinggi itu? Cara bagaimana kau dapat menyaksikannya?” tanya si pemuda.
Orang Sucoan itu ragu-ragu sejenak, akhirnya dia menutur: “Ong-ciangkun memiliki seorang anak lelaki yang berhasil kabur sewaktu keluarganya ditangkap. Demi membabat sampai akarnya, kawanan dorna mengirim begundalnya mencari putera Ong-ciangkun. Meski pun putera Ong-ciangkun mahir ilmu silat, namun dia cuma sendirian. Ketika dia dikejar dan hampir tertangkap tiba-tiba datang seorang penolong yang berhasil mengkocar-kacirkan pasukan pengejar. Lalu putera Ong-ciangkun menuturkan apa yang terjadi atas keluarganya. Tentu saja Tayhiap (pendekar besar) yang menolongnya tidak tinggal diam dan menyusul ke Lim-an dengan maksud hendak menolong Ong-ciangkun, tapi sayang, beliau terlambat satu hari, Ong-ciangkun sudah dipenggal kepalanya. Dalam marahnya Tayhiap itu mendatangi kediaman Tan Tay-hong serta memotong kepalanya. Meski pun menara lonceng itu amat tinggi dan sukar dicapai manusia, namun bukan soal bagi Tayhiap itu, hanya sekali loncat saja beliau naik ke situ.”
“Siapakah Tayhiap itu? Bagaimana bentuknya?” tanya si orang Kwitang.
“Aku tidak tahu nama pendekar besar itu, yang jelas dia tidak mempunyai lengan kanan, wajahnya cakap, sikapnya gagah, dan dia selalu membawa seekor burung raksasa yang aneh dan buruk.”
Belum habis ceritanya, seorang lelaki lain menanggapi. “Betul, itulah ‘Sin-tiau-hiap’ yang termashur di dunia Kangouw.” “Ya, pendekar besar itu suka membantu yang lemah dan menolong yang miskin, tetapi selamanya tidak mau menyebutkan namanya sendiri,” tutur laki-laki itu. “Karena dia selalu membawa burung yang aneh itu, kawan-kawan Kangouw memberi nama julukan ‘Sin-tiau-tayhiap’ (pendekar besar rajawali sakti) kepadanya. Tapi beliau mengatakan arti ‘Tayhiap’ terlampau berat baginya, maka ia tidak berani menerimanya dan terpaksa orang hanya menyebutnya ‘Sin-tiau-hiap’ saja, padahal berdasarkan perbuatannya yang luhur budi itu, sebutan Tayhiap pantas diterima olehnya. Kalau dia tidak bisa disebut pendekar besar, lalu siapa lagi yang bisa?”
“Huh, di sini Tayhiap, di sana juga Tayhiap, kan bisa kebanjiran Tayhiap nanti,” tiba-tiba si nyonya cantik tadi menimbrung.
“Ahh, mengapa nyonya ini bilang begitu?” bantah orang Sucoan dengan tegas. “Meski urusan Kangouw kurang kupahami, tapi demi menolong Ong-ciangkun, Sin-tiau-tayhiap segera berangkat dari Hopak ke Lim-an, selama empat hari empat malam tanpa berhenti, padahal beliau tidak pernah kenal siapa Ong-ciangkun, hanya karena kasihan kepadanya panglima yang difitnah menteri dorna, maka beliau bertindak tanpa menghiraukan bahaya sendiri. Coba, perbuatan begitu apakah tidak pantas disebut Tayhiap?”
Nyonya cantik itu mendengus dan baru saja dia hendak mendebat, tiba-tiba anak dara di sampingnya menyela:
“Cici, perbuatan ksatria yang terpuji itu tidak salah kalau diberi gelaran Tayhiap?” Suara anak dara itu sangat nyaring dan merdu, terdengar enak, segar rasanya bagi pendengaran setiap orang.
Nyonya cantik itu mengomeli adiknya: “Huh, kau tahu apa?” Kemudian ia berpaling kepada orang Sucoan tadi dan berkata lagi: “Dari mana kau bisa mengetahui sejelas itu? Bukankah kau pun mendengar dari obrolan orang di tepi jalan atau berita angin di dunia Kangouw? Huh, sembilan bagian pasti tidak dapat dipercaya.”
Orang Sucoan itu termenung sejenak. Akhirnya dia berkata dengan sungguh-sungguh: “Aku she Ong. Ong Wi-tiong Ciangkun itu adalah ayahku almarhum, nyawaku sendiri diselamatkan oleh Sin-tiau-tayhiap. Walau pun saat ini diriku menjadi buronan pemerintah, tetapi karena menyangkut nama baik tuan penolongku, terpaksa kujelaskan asal usul diriku ini.”
Semua orang melengak mendengar ucapan orang Sucoan ini, serentak orang Kwitang tadi mengacungkan ibu-jarinya sambil berseru:
“Ong-ciangkun cilik, kau memang seorang laki-laki sejati. Kalau di sini ada manusia rendah yang berani melaporkan dirimu kepada yang berwajib, biarlah kita beramai-ramai menghadapinya.”
Maka bergemuruhlah semua orang menyatakan setuju. Terpaksa nyonya cantik tadi tidak dapat membantah lagi. Dalam pada itu si anak dara jelita sedang termangu-mangu memandangi salju yang bertebaran di luar sambil bergumam perlahan: “Sin-tiau-tayhiap... Sin-tiau-tayhiap...“ Mendadak ia berpaling kepada si orang Sucoan dan bertanya:
“Ong-toako, kalau Sin-tiau-tayhiap memiliki kepandaian setinggi itu, kenapa pula sebelah lengannya buntung?”
Air muka si nyonya muda tampak berubah demi mendengar soal lengan buntung Sin-tiau-tayhiap disinggung, bibirnya tampak ber-gerak ingin bicara, tetapi urung. Orang Sucoan she Ong itu menjawab sambil menggeleng:
“Entahlah, nama asli Sin-tiau-tayhiap saja tidak dapat kuketahui, seluk-beluk pribadi beliau tentu saja lebih-lebih tidak kuketahui.”
“Tentu saja kau tidak tahu,” jengek si nyonya muda.
Tiba-tiba saja si pemuda Lim-an berkata pu!a: “Tentang menteri dorna Ting Tay-coan, sekarang mukanya mendadak berubah hijau gosong dalam satu malam, tentu kejadian ini karena hukuman Allah.”
“Aneh, mengapa dalam semalam mukanya bisa berubah menjadi gosong?” tanya si orang Kwitang.
“Memang aneh. Karena kulit mukanya berubah mendadak, sekarang penduduk Lim-an memberi nama Ting Je-bwe (Ting si kulit hijau),” tutur pemuda Lim-an. “Asalnya kulit muka Ting Tay-coan itu putih mulus, maklum, hidupnya mewah dan makannya enak. Tapi dalam semalam mendadak kulit mukanya berubah jadi hijau gosong, biar pun sudah diobati oleh tabib paling pandai tidak dapat menghilangkan warna kulitnya yang lucu itu. Konon Sri Baginda pernah menanyakan hal ini, tapi menteri dorna itu malah melapor, katanya lantaran sibuk mengurusi pekerjaan sehingga beberapa malam tidak tidur, maka kulit mukanya berubah menjadi hijau. Tetapi setiap penduduk Lim-an menganggap perubahan kulit muka menteri dorna itu adalah karena kutukan Allah.”
“Sungguh aneh kejadian itu,” ujar si orang Kwitang.
“Ha-ha-ha!” mendadak si lelaki kekar tadi bergelak tertawa dan berseru: “Ketahuilah bahwa kejadian itu pun atas tindakan Sin-tiau-tayhiap. Sungguh menyenangkan sekali... sungguh menarik.”
“He, bagaimana bisa jadi perbuatan Sin-tiau tayhiap lagi?” tanya semua orang.
Laki-laki kekar itu hanya bergelak tawa saja dan tidak bercerita lebih lanjut, tampaknya ia sengaja tahan harga, ingin jual mahal. Lantaran ingin sekali tahu duduk perkaranya lebih jelas, si orang Kwitang lalu memanggil pelayan agar membawakan dua kati arak Ko-tiang yang paling enak untuk lelaki kekar itu. Setelah dicekoki arak, semangat orang itu lantas bangkit, dan segera ia bercerita:
“Tentang peristiwa ini, bukan aku sengaja membual, tapi aku sendiri ikut berjasa. Malam hari itu Sin-tiau-hiap tiba-tiba datang ke Lim-an dan menyuruh aku memimpin para kawan meringkus semua opas yang dinas jaga di kantor walikota. Seragam mereka lalu dicopot dan disuruh pakai para kawan. Kami merasa tertarik dan juga heran. Entah apa yang akan dilakukan Sin-tiau-hiap, tetapi kami yakin permainan menarik pasti sedang menanti, maka segala perintah beliau selalu kami laksanakan. Kira-kira lewat tengah malam, Sin-tiau-hiap tiba di kantor walikota. Beliau memakai jubah kebesaran walikota dan duduk di meja sidang. Sekali palu diketok, beliau membentak: ‘Bawa hadir menteri berdosa Ting Tay-coan!’” Sampai di sini ia lantas angkat mangkuk arak dan menenggaknya hingga habis.
“Tatkala itu saudara kerja apa di Lim-an sana?” tanya si orang Kwitang.
“Kerja apa?” lelaki itu menegas dengan mata mendelik “Memangnya apa lagi? Minum arak pakai mangkuk besar, makan daging enak, bagi rejeki dengan timbangan, itulah kerjaku, berusaha tanpa pakai modal.”
Orang Kwitang itu terkejut dan tidak berani bertanya lagi. Dia tahu apa artinya berusaha tanpa pakai modal, yakni merampok, membegal dan sebagainya.
Orang itu lantas bercerita lagi: “Aku melenggong ketika mendengar nama Ting Tay-coan disebut. Bukankah pembesar anjing ini adalah perdana menteri sekarang? Mengapa Sin-tiau-hiap dapat menyeretnya ke sini? Terdengar palu diketok lagi, dua petugas benar-benar menggiring seseorang ke depan sidang. Mungkin saking ketakutan, orang itu gemetar, ingin berlutut, tetapi enggan. Seorang kawan lantas mendepak belakang dengkulnya sehingga dia jatuh bertekuk lutut. Ha-ha-ha, sungguh lucu dan menarik! Sin-tiau-hiap lantas menanyai dia: ‘Ting Tay-coan, apakah kau mengetahui dosamu?’”
“Ting Tay-coan menjawab: ‘Tidak tahu’. Sin-tiau-hiap membentak: ‘Kau korupsi dan main kekuasaan, memfitnah dan membunuh menteri setia serta membikin sengsara rakyat. Kau bersekongkol dengan negara musuh. Lekas kau mengakui semua perbuatanmu yang jahat!’ Ting Tay-coan menjawab: ‘Engkau ini siapa? Berani menculik pembesar negeri, apakah kau tidak tahu undang-undang kerajaan?’”
“Sin-tiau-hiap menjadi marah dan membentak pula: ‘Hah, kau juga tahu undang-undang segala? Bagus! Hayo anak buah, rangket dia 40 kali lebih dulu!’ Setiap orang sangat benci kepada menteri dorna ini. Sekarang diperintahkan merangketnya, keruan mereka sangat bersemangat, cara merangketnya juga diperkeras. Tentu saja menteri dorna itu berkaok-kaok minta ampun dan jatuh pingsan beberapa kali. Ia tidak berani kepala batu lagi, apa yang ditanya Sin-tiau-hiap diakuinya semua. Sin-tiau-hiap lantas menyuruhnya menulis sendiri pengakuan dosanya. Jika dia ragu-ragu menulisnya, segera Sin-tiau-hiap menyuruh menggebuk pantatnya atau menempeleng.”
Si anak dara cantik tadi mengikik senang, desisnya: “Hi-hi-hi, sungguh menarik!”
Lelaki itu menenggak habis semangkok arak, katanya dengan tertawa: “Ya, memang sangat menarik. Ting Tay-coan itu sangat ketakutan, apa lagi Sin-tiau-hiap ber-ulang mendesak agar cepat menulisnya, sedikit merandek saja segera para kawan disuruh menggebuknya. Akhirnya Ting Tay-coan terkencing-kencing dan ter-berak-berak. Untung baginya, tidak lama kemudian fajar pun menyingsing dan di luar kantor walikota sudah ramai dengan petugas yang datang dinas pagi, malah menyusul ada pasukan yang datang pula, mungkin kebocoran berita dan ada orang yang melapor.
Sin-tiau-hiap menjadi marah dan berteriak: ‘Penggal saja kepalanya!’
Aku tahu Sin-tiau-hiap tak suka sembarangan membunuh orang, tapi kulolos juga golokku terus kuayunkan ke batang leher Ting Tay-coan. Ketika golok terangkat ke atas aku putar sekali, lalu dengan tepat mengetuk kuduk Ting Tay-coan, kontan menteri dorna itu roboh terguling, tapi tidak mati melainkan jatuh pingsan. Rupanya yang mengenai kuduknya adalah punggung golok yang tidak tajam, tapi sudah cukup membuatnya ketakutan setengah mati. Sin-tiau-hiap bergelak tawa dan menyuruh kami mengundurkan diri melalui pintu belakang supaya tidak bentrok dengan pasukan pemerintah.
Konon besoknya Sin-tiau-hiap mengirim sendiri pengakuan dosa Ting Tay-coan itu kepada si kaisar tua, tapi entah ocehan apa Ting Tay-coan membuat si kaisar tetap percaya penuh kepadanya dan tetap menyuruhnya menjabat perdana menteri hingga saat ini.”
“Kalau saja Sri Baginda tidak ngawur dan lemah, tentu kaum dorna tidak akan berkuasa. Tampaknya tanah air kita yang jaya ini sukar dipertahankan lagi,” ujar Ong-ciangkun cilik.
“Ya, kecuali Sin-tiau-hiap yang menjadi perdana menteri barulah pasukan musuh dapat dikalahkan dan dunia ini pun menjadi aman,” kata lelaki tadi.
“Huh, dia sesuai menjadi perdana menteri?” tiba-tiba si nyonya cantik nyeletuk.
Laki-laki tadi menjadi gusar dan menjawab: “Kalau dia tidak sesuai, memangnya kau yang sesuai?”
Nyonya cantik itu naik pitam dan langsung membentak: “Kau ini kutu macam apa, berani kasar padaku?”
Dilihatnya laki-laki itu sedang memegang sepotong besi pengaduk api dan lagi menyorong kayu bakar ke onggokan api unggun supaya berkobar lebih keras. Sekenanya dia jemput sepotong kayu dan menyeruk ke besi pengaduk api itu. Seketika tangan lelaki itu tergetar kesemutan.
“Trangg...!” Pengaduk api itu jatuh ke lantai dan memercikkan lelatu sehingga beberapa jenggotnya terbakar hangus.
Semua orang berseru kaget. Waktu mereka memandang, kiranya besi pengaduk itu telah bengkok. Sungguh pun watak lelaki tadi rada berangasan, tetapi demi melihat kelihayan si nyonya cantik, ia menjadi mengkeret dan tidak berani bersuara lagi, bahkan arak pun lupa diminum lagi. Si anak dara cantik lantas ikut bicara:
“Cici, orang sedang bercerita tentang Sin-tiau-hiap yang baik budi, mengapa kau seperti tidak suka mendengarkannya?” Lalu dia berpaling pada lelaki tadi dan berkata dengan tersenyum manis: “Toasiok, jangan kau marah ya!”
Sebenarnya laki-laki tua itu sangat mendongkol, tetapi karena senyuman manis anak dara ini seketika api amarahnya sirna tanpa bekas, dan ia pun membalasnya dengan tertawa, mestinya ingin mengucapkan beberapa patah kata merendah, tetapi urung.
“Toasiok,” demikian si anak dara berkata lagi. “Silakan engkau berkisah lagi mengenai Sin-tiau-hiap itu. Apakah engkau kenal dia?”
Laki-laki itu memandang sekejap ke arah si nyonya cantik dan ragu-ragu untuk bicara. Anak dara itu lantas berkata:
“Silakan bercerita saja, asalkan engkau tidak membikin marah Cici-ku tentu takkan terjadi apa-apa. Cara bagaimana engkau kenal Sin-tiau-hiap? Berapa umurnya kira-kira? Apakah burungnya rajawali itu amat bagus?” Tanpa menunggu jawaban lelaki itu, ia berpaling kepada si nyonya muda dan bertanya: “Cici, entah bagaimana kalau rajawalinya itu dibandingkan dengan sepasang rajawali kita?”
“Dibandingkan sepasang rajawali kita?” tukas si nyonya muda, “Huhh! Di dunia ini mana ada burung lain yang dapat menandingi kedua rajawali kita?”
“Ahh, itu juga belum tentu,” ujar si anak dara. “Ayah sering mengatakan bahwa orang belajar silat harus tahu bahwa di atas langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai, sekali-kali tak boleh bangga dan puas. Kalau manusia saja begitu, kukira burung yang lebih dari pada rajawali kita itu pasti juga ada.”
“Huh, anak kecil tahu apa?” Omel si nyonya muda, “Waktu berangkat, ayah ibu menyuruh kau menurut pada perkataanku, apakah kau sudah lupa?”
“Menurut ya menurut, tetapi kan harus tahu apa yang kau katakan itu benar atau tidak?” jawab si anak dara. “Eh, adik, coba katakan, ucapanku yang betul atau ucapan Cici yang betul?”
Pemuda di samping anak dara itu ragu-ragu sejenak, kemudian menjawab: “Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas ayah bilang kita harus menurut perkataan Toaci dan menyuruh kau jangan adu mulut dengan Toaci.”
“Nah, benar tidak?” kata si nyonya muda dengan senang.
Tapi si anak dara juga tidak marah meski adiknya mengeloni sang Toaci. Dengan tertawa ia berkata:
“Ah, adik memang tidak paham apa-apa.” Lalu ia berpaling dan tanya laki-laki kekar tadi: “Toasiok, silakan kau bercerita lagi tentang Sin-tiau-hiap.”
Lelaki itu menjawab: “Baiklah, kalau nona senang mendengarkan, tentu akan kuceritakan. Meski kepandaian orang she Song ini rendah, paling tidak aku pun seorang laki-laki, satu bilang satu dua ya bilang dua, satu patah kata pun tidak berdusta. Tetapi kalau nona tidak percaya, ya lebih baik tidak kuceritakan saja.”
“Mana aku tidak percaya? Lekas engkau bercerita lagi,” kata si anak dara sambil angkat poci arak dan menuangkan satu mangkok lagi bagi orang itu, malahan ia terus memanggil pelayan: “Heii, pelayan, tambah lagi sepuluh kati arak dan 20 kati daging rebus. Toaci-ku menjamu para paman dan bibi ini minum arak sekadar menolak hawa dingin.”
Pelayan mengiyakan dan cepat berteriak menyampaikan pesanan itu. Semua orang tertawa gembira dan mengucapkan terima kasih kepada si anak dara.
KISAH KEPAHLAWANAN SIN-TIAUW-HIAP
Tidak lama kemudian, tiga pelayan mengantarkan arak dan daging yang dipesan. Tapi si nyonya cantik tadi menjadi tidak senang, katanya dengan mulut cemberut:
“Hmm, umpama aku ingin menjamu tamu juga takkan menjamu orang yang suka mengaco belo ini. He, pelayan, rekening arak dan daging itu tidak boleh diperhitungkan padaku.”
Si pelayan melengak bingung. Ia pandang si nyonya cantik sebentar, lalu pandang si anak dara lagi. Anak dara yang cantik itu lalu mengambil tusuk konde emasnya dan disodorkan kepada pelayan, katanya:
“Tusuk konde ini terbuat dari emas murni, sedikitnya bernilai beberapa puluh tahil perak, Nah, tukarkan saja bagiku, lalu bawakan lagi sepuluh kati arak dan 20 kati daging kambing rebus.”
Nyonya cantik tadi menjadi marah, omelnya: “Ji-moay, kau sengaja membikin keki aku, bukan? Mutiara yang terbingkai di tusuk konde itu saja bernilai beberapa ratus tahil perak, tapi benda berharga begitu sembarangan kau berikan untuk mentraktir minum arak sembarang orang. Nanti kalau pulang dan ditanyakan ibu, coba bagaimana kau akan menjawab?”
Anak dara itu melelet lidah, lalu berkata sambil tertawa: “Akan kukatakan hilang di tengah jalan, sudah kucari tapi tidak ketemu.”
“Huh, masa aku mau berdusta bagimu?” omel si nyonya muda.
Si anak dara lantas mendahului menyumpit sepotong daging rebus dan dimakan, lalu dia berkata:
“Nah, barang sudah dimakan, masa boleh dikembalikan? Ehh, hayolah para paman dan bibi, jangan sungkan-sungkan, silakan minum dan makan!”
Melihat dua kakak beradik itu beradu mulut, semua orang merasa tertarik sekali. Mereka semua menyukai si anak dara yang polos ke-kanakan, maka dalam hati mereka memihak si anak dara. Rupanya nyonya muda cantik itu mendongkol, dia terus memejamkan mata dan menutupi telinganya.
“Nah, Song-toasiok, sekarang Toaci-ku sudah tidur, silakan kau bercerita lagi, tentu tidak akan mengganggunya,” kata si anak dara tertawa.
“Bilakah aku tidur?” semprot si nyonya muda dengan marah.
“Ahh, bagus, tentunya engkau menjadi lebih tidak terganggu,” jawab si anak dara dengan tertawa.
Dengan suara keras si nyonya muda berkata; “Siang-ji, dengarkan kataku, jika kau selalu ngotot dengan aku, besok aku takkan berangkat bersama kau.”
“Ah, tak jadi soal, aku berangkat bersama Samte (adik ketiga),” ujar si nona cilik.
“Tidak, Samte akan ikut aku,” kata si nyonya.
”Eh, Samte, kau akan berangkat bersama siapa?” tanya anak dara itu.
Anak muda tadi menjadi serba susah. Apa bila membantu sang Toaci, tentu Jici kurang senang, jika mengeloni Jici, sang Toaci yang akan marah. Dengan ter-gagap kemudian ia menjawab:
“Kata ibu, kita bertiga harus selalu bersama, tidak boleh terpencar.”
“Nah, betul tidak? Jika Toaci tidak membawa serta diriku, nanti kalau pulang dan ditanyai ibu, tentu Toaci tak bebas dari tanggung jawab,” jawab si nona cilik dengan tertawa.
Dengan mendongkol si nyonya menjawab: “Tahu kau selalu bandel begini, dulu waktu kau masih kecil dan diculik orang jahat, tentu aku tidak perlu kuatir dan ikut mencari kau.”
Mendengar ucapan itu, nona cilik itu menjadi lunak hatinya, ia terus merangkul bahu sang Toaci dan memohon:
“Oh, Toaci yang baik, jangan marah ya! Anggaplah aku yang salah.”
Si nyonya muda sengaja bermuka merengut dan tidak menggubris.
“Jika Toaci tidak mau tertawa, akan ku-kitik kau,” kata si anak dara.
Tetapi nyonya muda itu malah melengos ke sana. Mendadak anak dara itu menggunakan tangan kanan mengelitik ketiak sang Toaci dari belakang. Tanpa menoleh nyonya muda itu menggunakan siku kiri untuk menyikut ke belakang, Tapi tangan kiri si anak dara sempat menangkap sang Toaci dan tangan lain tetap hendak mengelitik. Segera si nyonya muda sedikit memutar tubuh dan sikutnya menyodok untuk memaksa si anak dara menarik kembali tangannya, keduanya bergerak dengan lemah gemulai dan bergaya menarik.
Hanya sekejap saja keduanya sudah saling gebrak beberapa jurus. Si anak dara tetap tak mampu mengelitik sang Toaci, tetapi si nyonya muda juga tidak dapat menangkap tangan adiknya.
“Kepandaian bagus!” tiba-tiba seseorang berseru tertahan di pojok ruangan sana.
Kedua kakak beradik serentak berhenti dan memandang ke pojok sana, tampak seseorang duduk meringkuk menjadi satu gulungan, kepalanya terbenam di antara kedua lututnya, agaknya sedari tadi tidur nyenyak.
Sejak duduk di tepi api unggun, kedua kakak beradik itu sudah melihat cara orang tidur meringkuk begitu tanpa bergerak. Orang lain sedikit pun tidak dapat melihat bagaimana cara kedua kakak beradik itu bercanda, jadi agaknya suara sorakan itu bukan dilakukan olehnya. Tiba-tiba saja si pemuda berkata,
“Toaci dan Jici, ayah sudah berpesan jangan sembarangan memperlihatkan kungfu kita.”
“Ahh, sok kemaki (belagu)!” si anak dara berseloroh. “Tapi benar juga kau.” Kemudian dia berpaling kepada lelaki kekar tadi: “Maaf, Song-toasiok, kami kakak beradik ribut sendiri sehingga lupa mendengar ceritamu. Hayolah lekas mulai!”
LeIaki she Song itu menjawab: “Tapi sekali-sekali aku bukan mendongeng, apa yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata.”
“Tentu saja cerita Song-toasiok adalah kejadian nyata,” ujar si anak dara dengan tertawa.
Lelaki itu menenggak araknya, lalu berkata: “Aku sudah minum dan makan suguhan nona, andaikan tidak bercerita juga rikuh rasanya. Jika saja semalam duitku tidak amblas di meja dadu, tentu akan kujamu kembali engkau nona manis, panggilan Toasiok berulang-ulang hanya panggilan percuma saja? Eh, bicara tentang perkenalanku dengan Sin-tiau-hiap, kejadiannya hampir sama dengan pengalaman Ong-ciangkun cilik, jiwaku juga telah diselamatkan oleh Sin-tiau-hiap, cuma kali ini beliau tidak menggunakan kekerasan melainkan dibeli dengan uang.”
“Sungguh aneh sekali, masa dia membeli kau dengan uang?” si anak dara menegas, “Memangnya berapa sih harganya satu kilo dirimu ini?”
Lelaki itu terbahak-bahak, katanya: “Ha-ha-ha, daging orang macamku yang berbau tengik ini ternyata jauh lebih mahal dari pada daging sapi mau pun babi. Kau tahu berapa Sin-tiau-hiap menghargai diriku ini? Hah, 4000 tahil perak, tidak kurang. Begini kejadiannya. Lima tahun yang lalu pada waktu membela urusan di Celam, Soatang, aku membunuh mati seorang bicokok setempat. Bunuh orang ganti nyawa bukan soal bagiku. Pada suatu hari aku harus menjalani hukuman mati. Yang mendongkolkan aku adalah aku diharuskan mati berbarengan dengan seorang buaya darat setempat yang sangat jahat. Sungguh brengsek, masa seorang laki-laki sejati macamku harus mati di tempat yang sama dengan seorang penjahat? Wah, betapa pun aku sangat penasaran...”
“Tak terduga, selang beberapa hari buaya darat itu menyogok walikotanya sehingga tuduhan menculik orang, memeras, sampai membuka rumah perjudian dan rumah pelacuran, semuanya ditumpukkan atas diriku dan buaya darat itu dibebaskan. Dari kepala penjara aku mendengar bahwa buaya darat itu telah menyogok dua ribu tahil perak kepada walikota sehingga segenap kesalahannya ditambahkan seluruhnya atas namaku. Katanya toh sama saja, satu pelanggaran dihukum mati, sepuluh pelanggaran dihukum mati juga, dari pada mati dua orang biarlah mati satu orang saja.“
“Keruan aku merasa difitnah dan sangat penasaran. Aku ber-teriak mencaci maki pembesar durjana itu, tetapi apa dayaku? Lewat beberapa hari lagi aku dibawa ke sidang, tetapi sungguh aneh bin ajaib, buaya darat itu dihadapkan sidang pula bersamaku. Kontan saja aku mengumpat habis-habisan. Tapi pembesar korup itu berkata dengan tertawa: ‘He, Song Ngo, tidak perlu kau mencak-mencak begitu, persoalannya sudah kuselidiki dengan jelas bahwa kau memang tak bersalah, bicokok itu bukan dibunuh olehmu, tapi dia pembunuhnya!’ sembari bicara ditudingnya pula buaya darat tadi, lalu aku pun dibebaskan. Tentu saja aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini. Sudah jelas akulah yang membunuh bicokok itu, mengapa sekarang kesalahan ini ditimpakan kepada orang lain?”
“Hi-hi-hi, sungguh pembesar yang konyol dan linglung,” ujar si anak dara mengikik tawa.
“Mana dia linglung,” ujar lelaki she Song itu. “Setibanya di rumah, ibuku memberi-tahu bahwa ketika aku diputus hukuman mati, setiap hari ibu menangis di jalan raya, suatu hari kebetulan dilihat Sin-tiau-hiap dan ditanya sebab-sebabnya. Beliau menyatakan sedang ada urusan penting sehingga tidak dapat membereskan perkara itu, lalu ibu diberi uang empat ribu tahil perak untuk menebus diriku. Selang tiga bulan kemudian tersiarlah berita yang menggegerkan, katanya bapak walikota marah-marah lantaran habis kecurian delapan ribu tahil perak. Aku yakin kejadian itu pasti perbuatan Sin-tiauhiap, sebab itu kami tak berani tinggal lagi di tempat asal dan terpaksa pindah ke Lim-an. Lewat setahun lagi aku mendengar ada seorang tuan bertangan buntung sebelah bersama seekor burung raksasa selalu berada di pantai laut sambil memandangi ombak samudera dengan termangu-mangu. Cepat aku memburu ke sana dan dapatlah menemui beliau, di situlah dapat kuhaturkan terima kasih kepadanya.”
“Apa yang kau terima kasihkan?” mendadak si nyonya muda menyela, “dia mengeluarkan empat ribu tahil perak dan masuk delapan ribu tahil perak, jadi masih untung empat ribu tahil bersih. Memangnya orang she Yo itu mau berbuat sesuatu yang membuatnya rugi?”
“She Yo? Sin-tiau-hiap itu she Yo maksudmu?” tanya si anak dara.
“Entahlah, siapa yang bilang dia she Yo?” jawab si nyonya muda.
“Jelas baru saja Toaci menyebutnya she Yo,” kata anak dara itu.
“Ahh, kau sendiri yang salah dengar,” bantah si nyonya.
“Baiklah, tidak perlu aku ribut dengan kau,” ujar si anak dara. “Seumpama benar Sin-tiau-hiap untung bersih empat ribu tahil perak, pasti juga akan dipergunakan untuk membantu kaum miskin dan menolong orang sengsara.”
Serentak semua orang bersorak merauji: “Bagus! Memang tepat ucapan nona!”
“Eh, Song-toasiok, Sin-tiau-hiap itu memandangi ombak laut? Apakah dia sedang menanti sesuatu di sana?” Tanya si anak dara pula.
“Entahlah, aku pun tidak tahu,” jawab lelaki She Ong sambil menggeleng.
Si anak dara mengambil dua potong kayu bakar kemudian dilemparkan ke gundukan api unggun. Dia termenung-menung memandangi api yang berkobar itu, lalu dia menggumam perlahan:
“Meski Sin-tiau-hiap suka menolong orang lain, bisa jadi dia sendiri pun justru menyimpan sesuatu persoalan pelik. Sebab apakah dia termenung memandangi laut? Ya, sebab apakah memandangi laut dengan termangu-mangu?”
Seorang wanita setengah umur yang duduk di sudut kiri sana tiba-tiba menyeletuk: “Aku mempunyai seorang adik misan dan beruntung dapat bertemu dengan Sin-tiau-hiap yang sedang memandangi laut dengan termangu-mangu itu. Karena heran, adik misan pernah bertanya kepada beliau dan menurut keterangan Sin-tiau-hiap, katanya isterinya berada di seberang lautan sana dan tidak dapat berjumpa.”
“Ahhh...!” semua orang bersuara heran.
“Kiranya Sin-tiau-hiap juga punya isteri,” kata si anak dara cantik, “Entah sebab apakah isterinya berada di seberang lautan sana? Dia memiliki kepandaian setinggi itu, mengapa dia tidak menyeberang ke sana untuk mencari isterinya?”
“Adik misanku juga pernah bertanya begitu,” tutur si wanita setengah umur tadi, “Tetapi beliau menjawab bahwa lautan seluas itu, entah ke mana baru dapat menemukan isterinya?”
“Aih, kupikir tokoh demikian pasti seorang yang berbudi dan berperasaan halus, ternyata memang benar,” kata si anak dara dengan menghela napas perlahan. Lalu ia Tanya lagi: “Adik misanmu itu tentu amat cantik, bukan? Diam-diam dia menyukai Sin-tiau-hiap, betul tidak?”
“Hush! Ji-moay, kau bicara yang aneh-aneh lagi!” bentak si nyonya cantik tadi.
Tapi wanita setengah umur itu berkata pula: “Ya, adik misanku memang tergolong cantik. Sin-tiau-hiap sudah menyelamatkan jiwa ibunya dan membunuh ayahnya, apakah diam-diam adik misan menyukai Sin-tiau-hiap sukar diketahui orang lain, cuma sekarang ia sudah menikah dengan seorang petani yang baik. Sin-tiau-hiap telah memberi sejumlah uang, penghidupannya cukup lumayan.”
“Sin-tiau-hiap menyelamatkan jiwa ibunya, tetapi membunuh ayahnya. Sungguh kejadian aneh, aku menjadi rada sangsi apakah betul bisa terjadi begitu?” ujar si anak dara tadi.
“Kenapa mesti sangsi?” kata sang Toaci, si nyonya cantik, “watak orang itu memang aneh dan sebentar berubah. Kalau senang dia menolong jiwa orang, kalau tidak suka lantas dia membunuh. Ya, memang sudah begitu sejak kecilnya.”
“Sudah begitu sejak kecilnya? Toaci tahu dari mana?” tanya si anak dara.
“Tentu saja aku tahu,” jawab si nyonya muda, tetapi meski telah ditanya dan didesak lagi oleh si anak dara, tetap dia tidak mau menjelaskan.
“Baik, kau tidak mau bercerita ya sudahlah, memangnya siapa pingin tahu?” kata si anak dara dengan rada dongkol. “Rasanya seumpama kau mau bercerita juga cuma membual belaka.” Lalu ia berpaling kepada si wanita setengah umur dan berkata pula: “Eh, Toasoh, maukah kau bercerita mengenai pengalaman adik misanmu?”
“Baiklah, akan kuceritakan,” jawab wanita itu.
“Usiaku dengan adik misan sebaya, rumah adik berada di Holam. Tahun itu orang Mongol menyerbu sampai di wilayah sana dan Kohtio (paman) diculik pasukan musuh untuk dijadikan kuli kerja paksa. Lalu bibi membawa adik misan mencari paman ke utara dengan cara minta-minta di sepanjang jalan. Susah payah juga perjalanan mereka itu, terutama jika mengingat bahwa wajah bibi dan adik tidaklah jelek, tentu banyak juga mendatangkan kesuIitan. Sebab itulah bibi dan adik telah memoles muka mereka dengan hangus supaya tidak merangsang pikiran orang jahat.”
“Mengapa jika muka mereka diberi hangus menjadi tidak merangsang orang jahat?” tanya si anak dara.
Karena pertanyaan ini, sebagian orang-orang itu, terutama kaum lelakinya, tertawa geli.
“Ji-moay!” omel si nyonya muda, “jika engkau tidak tahu hendaklah jangan sembarangan bertanya. Nona sebesar ini hanya menimbulkan tawa orang saja!”
“Justru lantaran aku tidak tahu, makanya aku bertanya, kalau sudah tahu buat apa tanya,” gerundel si anak dara.
“Ahh, urusan kurang pantas diceritakan itu lebih baik nona tidak paham saja,” ujar wanita setengah umur tadi. “Selama empat tahun bibi dan adik misan menjelajahi Mongol hingga kemudian sampai ke Soasay. Akhirnya dapatlah paman diketemukan, ia menjadi budak di bawah seorang Mongol berpangkat Jian-hou-tiang (kepala seribu jiwa). Jian-hou-tiang itu sangat jahat. Ketika paman diketemukan kebetulan bibi menyaksikan sebelah kakinya baru saja dipukul patah oleh orang Mongol itu. Tentu saja bibi sangat berduka dan mohon agar suaminya dibebaskan, Orang Mongol itu bersedia melepaskan paman apa bila ditebus dengan seribu tahil perak, sebab katanya dia beli paman dengan harga seratus tahil. Sedangkan sepuluh tahil saja bibi tidak punya, dari mana seribu tahil perak diperoleh? Setelah putus asa dan menghadapi jalan buntu, bibi menjadi nekat, terjunlah dia ke dunia gelap, bersama adik misan dan dia sendiri dijual ke Ca-bo-keng (rumah pelacuran)”
Karena tidak tahu apa artinya ‘Ca-bo-keng’, si anak dara cantik itu hendak bertanya lagi, tapi karena tadi pertanyaannya telah menimbulkan tawa orang, tiba-tiba saja dia urungkan niatnya bertanya. Terdengar wanita setengah baya itu melanjutkan ceritanya:
“Begitulah bibi dan adik misan hidup menderita setengah tahun. Sedikit-sedikit mereka sudah ada tabungan, tetapi untuk mencukupi seribu tahil perak sungguh tidak mudah. Untunglah para tetamu mengetahui cita-cita luhur ibu beranak yang ingin menolong suaminya itu, maka waktu memberi uang sengaja dilebihkan dari pada tarip umum. Dengan susah payah dan kenyang hina derita, pada malam tahun baru dapatlah mereka menabung cukup seribu tahil perak. Dengan riang gembira mereka membawa uang tabungan itu ke rumah Jian-hou-tiang untuk diserahkan sebagai harga tebusan paman. Mereka pikir malam itu juga suami isteri dan anak dapat berkumpul lagi sehingga dapat merayakan tahun baru dengan gembira.”
Sampai di sini si anak dara ikut bergembira juga bagi ibu beranak yang beruntung itu. Tapi si wanita setengah baya lantas berkata:
“Namun kenyataan ternyata berlainan dari pada harapan. Sesudah menerima seribu tahil perak, Jian-hou-tiang memang benar-benar mengeluarkan paman untuk bertemu bibi dan adik, tapi ketika mereka bertiga menghadap Jian-hou-tiang itu untuk mohon diri, mendadak timbul lagi pikiran jahat orang MongoI itu karena melihat adik misanku yang cantik, katanya:
‘Bagus sekali kalian mau menebus budak ini, nah, boleh serahkan uang tebusannya!’”
“Keruan bibi terkejut, padahal seribu tahil perak itu semenjak tadi telah diserahkan kepada kasir Jian-hou-tiang, mengapa sekarang menagih lagi? Namun Jian-kou-tiang itu tidak mau menerima alasan bibi, dengan marah ia malah membentak:
‘Huh, masa seorang berpangkat seperti aku ini sudi anglap duit kaum budak? Apakah kalian sengaja hendak mencemarkan nama baikku?’”
“Tentu saja bibi menjadi takut dan berduka, tanpa tahan lagi ia menangis ter-gerung di tempat. Jian-hou-tiang itu lalu berkata:
‘Baiklah, mengingat malam ini adalah malam tahun baru, biarlah kuberi kesempatan berkumpul kalian suami-isteri. Tetapi budak ini mungkin akan kabur, maka sebagai jaminan anak gadis kalian harus ditinggalkan di sini.’
Sudah tentu bibi tahu niat busuknya dan tidak dapat menerima kehendak orang. Segera Jian-hou-tiang membentak-bentak marah dan memerintahkan anak buahnya mengusir bibi dan paman...”
“Karena tidak tega meninggalkan anak perempuannya, bibi lalu menangis sesambatan di depan rumah Jian-hou-tiang. Walau pun setiap orang mengetahui kesusahan bibi, tapi di bawah kekuasaan orang Mongol, membunuh seorang Han ibarat kata memites seekor semut, siapa yang berani membela keadilan? Tetapi yang paling celaka adalah pamanku, dia malah bilang:
‘Kalau tuan besar Jian-hou-tiang penujui anak gadis kita, ini rejeki yang sukar dicari bagi orang lain, kenapa kau malah menangis?’
Rupanya paman sudah terlalu lama menjadi budak sehingga jiwa raganya sampai tulang sumsumnya benar-benar sudah berbau budak. Kemudian dia pun menanyakan bibi dari mana mendapatkan seribu tahil perak untuk menebusnya. Semula bibi tak mau menjelaskan, karena didesak akhirnya diceritakan juga. Tak tahunya paman menjadi marah bukan main dan menuduh bibi telah mencemarkan nama baiknya, katanya perempuan yang tidak dapat menjaga kepribadian dan suka melacurkan diri, bibi dianggapnya terlalu hina dina. Segera paman membuat surat cerai dan menceraikan bibi.”
Sampai di sini semua orang menggerutu dan menganggap nasib bibinya itu benar-benar malang dan pamannya itu terlalu kejam.
“Bibi menjadi putus asa,” demikian tutur wanita lebih lanjut, “maka diam-diam beliau pergi ke hutan dan hendak menggantung diri dengan tali pinggangnya. Untunglah Sin-tiau-hiap kebetulan lewat dan bisa menyelamatkan jiwanya. Setelah mengetahui duduknya perkara, Sin-tiau-hiap sangat marah. Malam itu juga beliau masuk ke tempat Jian-hou-tiang dan melihat adik misan sedang dipaksa agar menuruti kehendaknya. Celakanya paman juga di situ dan malah membujuk agar adik misan menuruti saja. Kontan Sin-tiau-hiap memukul mati pamanku kemudian menyeret Jian-hou-tiang dan melemparkan ke sungai, juga adik misan ditolong keluar. Begitulah kisahnya Sin-tiau-hiap menyelamatkan bibi dan membunuh pamanku. Menurut Sin-tiau-hiap, selama hidupnya paling benci pada manusia yang tak berbudi dan tidak memiliki perasaan, apa lagi rela diperbudak musuh segala. Paman telah melanggar pantangan Sin-tiau-hiap, maka tanpa sungkan-sungkan lantas dibunuhnya.”
Saking kesemsemnya mendengar cerita yang menarik itu, tanpa terasa anak dara cilik itu mengangkat mangkok arak dan minum seceguk.
“Ah, pedas!” katanya sambil meringis. Karena tidak biasa minum arak, seceguk saja telah membuat mukanya menjadi merah sehingga semakin menambah kecantikannya. Dengan perlahan dia berkata: “Kalian beruntung sudah pernah melihat Sin-tiau-hiap. Jika aku pun dapat berjumpa dan bicara sejenak dengan dia, andai kata umurku harus berkurang tiga tahun juga aku rela.”
“Ji-moay, kenapa kau sembarangan percaya pada obrolan orang?” seru si nyonya cantik. “llmu silat orang itu memang tinggi, tapi kalau dibandingkan dengan ayah masih terlampau jauh. Padahal orang itu pun sudah pernah kau lihat, malah dia pernah memondong kau.”
Air muka si anak dara menjadi merah jengah, semprotnya: “Cis, mengapa Toaci juga sembarangan omong? Siapa mau percaya?”
“Kalau tidak percaya, setelah pulang nanti boleh kau tanya ayah dan ibu,” kata si nyonya cantik.
“Apa yang disebut Sin-tiau-hiap itu sebenarnya she Yo bernama Ko, waktu kecilnya juga pernah tinggal di Tho-hoa-to. Lengannya yang buntung itu justru... justru... Waktu kau baru lahir dia sudah lantas memondong kau.”
Kiranya nyonya cantik ini bukan lain dari pada Kwe Hu, ada pun anak dara itu adalah Kwe Siang, sedangkan pemuda itu adalah adik kembar Kwe Siang, Kwe Boh-lo. Tiga kakak beradik ini disuruh ayah-bundanya pergi ke Cin-yang untuk mengundang Khu Ju-ki, tokoh tertinggi Coan-cin-kau pada masa itu, untuk memimpin Eng-hiong-tay-hwe (pertemuan besar para pahlawan) yang hendak diadakan di Siang-yang. Hari itu mereka baru pulang dari Cin-yang, setiba di tempat penyeberangan mereka pun terhalang oleh cuaca yang buruk lantas masuk ke hotel ini sehingga dapat mendengarkan cerita orang-orang tadi mengenai Sin-tiau-hiap, si pendekar sakti rajawali alias Yo Ko.
Dengan cepat 16 tahun telah berlalu. Sementara itu Kwe Hu sudah menikah dengan Yalu Ce, Kwe Siang dan Kwe Boh-lo juga sudah besar. Kwe Siang berseri-seri mendengar ucapan Kwe Hu tadi. Ia bergumam sendiri:
“Begitu aku lahir sudah pernah dipondong olehnya,” lalu ia berpaling dan bertanya kepada sang Toaci: “Cici bilang waktu kecilnya Sin-tiau-hiap pernah tinggal di Tho-hoa-to, mengapa hal ini belum pernah kudengar dari ayah dan ibu?”
“Kau tahu apa?” sahut Kwe Hu. “Masih banyak soal lain yang tidak diceritakan kepadamu oleh ayah ibu.”
Kiranya tentang buntungnya lengan kanan Yo Ko serta keracunannya Siao-liong-li, karena semua itu akibat tindakan Kwe Hu yang ceroboh, setiap kali kejadian itu disinggung selalu menimbulkan amarah Kwe Ceng, meski Kwe Hu sudah dewasa dan sudah menikah, tetap Kwe Ceng mendamperatnya tanpa kenal ampun. Karena itu setiap anggota keluarga tidak suka menyinggung lagi selama beberapa tahun ini sehingga Kwe Siang dan Kwe Boh-lo tidak pernah mendengar orang bercerita kisah si Yo Ko.
“Kalau begitu, dia mempunyai hubungan erat dengan keluarga kita, mengapa selama ini dia tidak pernah datang ke rumah kita?” kata Kwe Siang. “Ah, pada Eng-hiong-tay-hwe yang akan diadakan di Siang-yang tangggal 15 bulan tiga nanti Sin-tiau-hiap pasti akan hadir.”
“Tindak tanduk orang itu sangat aneh dan wataknya juga angkuh sekali, belum tentu dia mau datang,” ujar Kwe Hu.
“Cici, kita harus berusaha mencari jalan untuk menyampaikan kartu undangan padanya,” kata Kwe Siang. Lalu dia berpaling kepada lelaki kekar tadi: “Song-toasiok, dapatkah kau menyampaikan surat kepada Sin-tiau-hiap?”
Orang she Song itu menggeleng dan menjawab: “Sin-tiau-hiap menjelajahi seluruh jagat, jejaknya sukar diketemukan, untuk mencarinya tidaklah mudah.”
Kwe Siang sangat kecewa. Dia benar-benar sangat tertarik oleh kisah keluhuran budi dan kepahlawanan Sin-tiau-hiap, sungguh ia ingin bisa bertemu dengan pendekar rajawali sakti itu. Dia merasa gegetun bahwa Sin-tiau-hiap yang dikaguminya itu tidak dapat hadir pada Eng-hiong-tay-hwe nanti. Katanya kemudian sambil menghela napas:
“Aihh... orang yang hadir nanti belum tentu semuanya ksatria sejati, sebaliknya ksatria sejati belum tentu mau hadir ke sana.”
“Blukk!”
Mendadak terdengar suara gedebuk yang keras, seseorang mendadak melompat berdiri dari pojok ruangan sana, rupanya orang yang sejak tadi tidur meringkuk itulah. Segera semua orang merasa ada suara gemuruh laksana bunyi guruh, kiranya orang itu sedang berkata.
“Apa sulitnya jika nona ingin menemui Sin-tiau-hiap? Biarlah malam ini juga akan kubawa kau untuk menjumpai beliau.”
Semua orang kaget oleh suara orang yang gemuruh keras itu, apa lagi setelah melihat jelas bentuk tubuh dan wajahnya, semua orang tampak heran. Kiranya perawakan orang itu tidak lebih dari satu meter saja, tubuhnya juga kurus kecil tetapi kepalanya amat besar, telapak tangannya serta telapak kakinya ternyata jauh lebih besar dari pada orang biasa. Sejak tadi ia meringkuk di pojok ruangan sehingga tidak diperhatikan oleh siapa pun. Siapa tahu begitu dia berdiri ternyata bentuknya begini aneh dan lucu. Dengan girang Kwe Siang menanggapi ajakan orang aneh itu:
“Bagus jika engkau mau membawaku ke sana. Cuma selamanya aku tidak kenal Sin-tiau-hiap, entah beliau mau menemui aku atau tidak?”
“Tapi kalau malam nanti kau tidak menemui dia, selanjutnya mungkin kau tak akan dapat melihat dia lagi,” kata orang cebol itu dengan suaranya yang mengguruh.
“Sebab apa?” tanya Kwe Siang heran.
Kwe Hu lantas berdiri dan bertanya pada si cebol: “Mohon tanya, siapakah namamu yang terhormat?”
“He-he-he-he!” orang pendek itu terkekeh-kekeh, katanya: “Orang buruk rupa macamku ini masakah di dunia ini ada keduanya? Kalau kau tidak kenal diriku, pulang saja tanyakan kepada ayah-ibumu.”
Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara seruan berkumandang dari jauh. “Komplotan setan dari Se-san, sepuluh sudah datang sembilan. Wahai Hong-thian-lui, kau tidak datang sekarang, mau tunggu sampai kapan?”
Suara sayup itu seperti terputus, lalu bersambung pula, lirih dan seram kedengarannya, tapi sekata demi sekata dapat terdengar dengan jelas.
PETUALANGAN KWE-SIANG
Si cebol melongo sejenak, tiba-tiba ia menggertak keras, debu pasir lantas berhamburan disertai percikan pecahan batu dan genting. Semua orang memejamkan mata dan waktu membuka mata lagi ternyata si cebol sudah menghilang entah ke mana. Semua orang terkejut, waktu menengadah, tampak atap rumah berlubang besar. Kiranya orang cebol itu menerjang keluar dengan kepala menjebol atap.
“Lihay benar orang itu, cici,” kata Kwe Boh-lo.
Kwe Hu sudah cukup berpengalaman dan banyak tokoh persilatan yang dikenalnya, tetapi betapa lihay kepala si cebol ini belum pernah dia dengar dari ayah-ibunya. Seketika ia pun melenggong dan tak dapat menanggapi ucapan adiknya itu. Kwe Siang lantas nyeletuk:
“Di antara guru yang pernah mengajar ayah juga ada seorang pendek bernama Ma-ong-sin Han Pok-ki. Samte sembarangan menyebut orang sebagai si cebol, kalau didengar ayah tentu beliau akan marah. Kau harus menyebutnya Locianpwe.”
Belum lagi Kwe Boh-lo menjawab, tiba-tiba.
“Blangg...!”
Terdengar suara yang keras, seketika debu pasir kembali bertebaran, malahan muka beberapa orang terkena cipratan batu kerikil sehingga menjerit kesakitan. Di tengah suara ribut itulah tahu-tahu terlihat si cebol tadi sudah berdiri kembali di tengah ruangan, dinding sebelah timur bobol sebuah lubang setinggi satu meteran dan lebarnya lebih dari setengah meter. Kiranya orang cebol ini tadi menerjang masuk dengan menjebol dinding.
Ilmu silat Kwe Hu sekarang sudah tentu jauh lebih tinggi dibandingkan belasan tahun yang lalu, tetapi tidak urung ia pun terkejut melihat kelihayan Nge-kang (kekuatan luar) si cebol. Cepat ia melompat maju menghadang di depan kedua adiknya untuk menjaga kalau-kalau si cebol mendadak menyerang. Orang cebol itu menjulurkan kepalanya yang sebesar gentong dan melongok ke belakang Kwe Hu, katanya kepada Kwe Siang:
“Eh, nona cilik, kalau kau ingin bertemu dengan Sin-tiau-hiap, mari ikut denganku.”
“Baiklah!” jawab Kwe Siang tanpa pikir, “Hayo Toaci dan Samte, kita pergi bersama.”
“Ah, untuk apa menemui dia? Kau jangan pergi, apa lagi kita belum pernah kenal tuan ini,” ujar Kwe Hu.
“Aku pergi sebentar dan segera kembali, kalian tunggu saja di sini,” kata Kwe Siang.
Mendadak orang she Song tadi bangkit dan berseru: “Nona cilik, sekali-kali kau jangan pergi. Orang ini... orang ini adalah tokoh gerombolan setan dari Se-san, apa bila kau ikut pergi, besar... besar kemungkinan akan celaka!”
“He-he-he-he..., kau juga tahu gerombolan setan dari Se-san?” Si cebol mengekek tawa, “Maksudmu kami adalah orang jahat?”
Habis itu sebelah tangannya tiba-tiba menyodok ke depan. Belum tangannya menyentuh tubuh Song Ngo, tahu-tahu tubuh Song Ngo sudah tergetar mundur kemudian menumbuk dinding, seketika mukanya pucat, kedua kakinya lemas dan terkulai ke lantai, kepalanya bergelantungan lemas di depan dada, entah sudah mati atau masih hidup. Kwe Hu menjadi gusar. Walau pun tahu kepandaian si cebol lebih tinggi juga tidak boleh kena digertak hingga diam saja. Segera dia berteriak:
“Engkau silakan pergi saja. Adikku masih kecil, mana boleh mengikuti kau kian kemari di tengah malam buta?”
Pada saat itu pula suara sayup ter-putus tadi sudah berkumandang lagi: “Gerombolan setan dari Se-san sepuluh sudah datang sembilan, Hong-thian-lui... wahai Hong-thian-lui, arwahmu tidak muncul, orang sudah Iama menunggu!”
Suara itu kedengaran sangat jauh, tiba-tiba seperti sangat dekat dan mengiang di kanan-kiri sehingga membuat merinding orang. Kwe Siang sudah bertekad harus bertemu dengan Sin-tiau-hiap sekali pun nanti dia akan kepergok setan iblis, maka segera dia menjawab:
“Baiklah, Cianpwe, bawalah aku!”
Berbareng dia terus melompat ke sana dan menerobos keluar melalui lubang dinding yang dibobol si cebol tadi.
“He, kau!” seru Kwe Hu meraih tangan sang adik, tetapi luput. Maka dia pun cepat melompat ke sana hendak mengejar keluar melalui lubang dinding.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hendak menerobos keluar, tiba-tiba lubang dinding itu menghilang. Untung kepandaian Kwe Hu sekarang sudah cukup sempurna sehingga bisa mengendalikan tubuh sendiri sesuka hati. Cepat ia anjlok ke bawah sehingga seketika itu pula daya terobosnya dihentikan. Begitu kakinya menyentuh lantai, ternyata tubuhnya tepat berdiri di depan dinding, jaraknya cuma belasan senti saja. Waktu dia dapat melihat jelas, hampir saja dia menjerit kaget. Ternyata tubuh si cebol tadi dengan tepat terisi pada lubang dinding itu, kepalanya yang besar dan bahunya yang lebar itu persis seperti dicetak pada dinding.
Kwe Hu berdiri berhadapan dengan makhluk aneh bermuka buruk itu, malah tadi mukanya hampir mencium muka si cebol, keruan saja dia terkejut, cepat dia melompat mundur. Segera terasa angin dingin meniup, dinding itu kembali berlubang bentuk tubuh manusia cebol lagi, tapi si cebol sendiri sudah menghilang.
“Ji-moay, kembali!” seru Kwe Hu sambil menerobos keluar. Didengarnya suara tertawa keras di kejauhan, mana ada bayangan si Kwe Siang?
Rupanya sesudah si cebol menggertak mundur Kwe Hu, segera dia melompat keluar dan mendekati Kwe Siang, katanya:
“Bagus, nona cilik sungguh pemberani!”
Segera dia pegang tangan Kwe Siang kemudian diajak melompat ke depan, sekali lompat dua-tiga meter jauhnya. Jangan disangka orang cebol itu kakinya cekak maka tidak dapat melompat. Lompatannya ternyata sangat jauh dan cepat lagi, yang dia gunakan ternyata adalah Ginkang yang lain dari pada yang lain. Seperti katak saja dia terus melompat-lompat ke depan, walau pun membawa serta Kwe Siang namun gerak-geriknya sangat lincah dan enteng.
Tangan Kwe Siang yang digenggam oleh si cebol itu rasanya seperti dijepit oleh tanggem sehingga terasa sakit. Hatinya menjadi berdebar kuatir, entah dirinya hendak dibawa ke mana oleh orang cebol ini? Sejak kecil Kwe Siang langsung mendapat didikan dari Kwe Ceng dan Oey Yong, pada dasarnya anak dara itu pintar dan cerdik. Semula dia masih sanggup mengikuti lompatan orang cebol itu, tapi lama-lama dia menjadi lelah dan perlu ditarik dan diangkat baru dia dapat sama naik dan sama turun dengan si cebol. Sesudah berlompatan beberapa li jauhnya, tiba-tiba dari balik bukit sana ada orang tertawa kemudian berkata dengan suara halus:
“Hai, Hong-thian-lui, mengapa kau datang terlambat? Ehh, malahan kau membawa anak dara secantik ini!”
“Nona cilik ini adalah puteri Kwe Ceng dan Oey Yong. Ia ingin melihat Sin-tiau-hiap, maka aku membawanya kemari,” kata si cebol.
“Puteri Kwe Ceng?” orang tadi menegas dengan melengak.
Dari bukit sana seseorang lagi berkata: “Sekarang sudah lewat tengah malam, lekas berangkat!” Menyusul terdengarlah suara derap kuda berlari yang riuh, dari balik bukit muncul belasan ekor kuda.
Sementara itu salju masih turun dengan sangat lebatnya. Dari pantulan cahaya salju dapatlah Kwe Siang melihat belasan ekor kuda itu seluruhnya ada sembilan penunggang kuda yang berlainan bangun tubuh masing-masing. Ada yang tinggi dan ada yang pendek, ada lelaki dan juga ada perempuan, sebagian besar kuda itu malah tanpa penunggang. Si cebol tadi mendekat ke sana lalu menuntun dua ekor kuda, yang seekor diserahkannya kepada Kwe Siang, dia sendiri menunggang seekor, lalu membentak:
“Hayo berangkat!”
Sekali bersuit, berbondong-bondong belasan ekor kuda itu terus membedal cepat ke arah barat laut. Dari bentuk tubuh kesembilan orang itu Kwe Siang melihat jelas bahwa dua di antaranya adalah perempuan, yang satu kelihatan sudah tua renta, seorang lagi berpakaian merah membara sehingga sangat menyolok di tanah salju yang putih bersih. Wajah ketujuh orang lainnya tidak jelas, hanya perawakan salah seorang di antaranya sangat tinggi dan kurus sehingga mirip tiang bendera terpancang di atas pelana kuda. Rombongan mereka terus mengaburkan kuda dengan cepat. Sesudah belasan li mereka berganti kuda tunggangan agar kuda yang pertama dapat mengaso.
Kwe Siang membatin: “Dari suara sayup yang terdengar tadi katanya gerombolan setan Se-san sepuluh sudah datang sembilan, kini termasuk si cebol tadi jumlah mereka memang sepuluh. Tampaknya mereka inilah yang disebut gerombolan setan dari Se-san. Menurut Song-toasiok tadi, katanya besar bahayanya kalau aku ikut mereka, dan si cebol langsung menghantam paman Song itu hingga sekarat, kelihatannya orang-orang ini amat kejam. Namun orang cebol itu mengatakan hendak membawaku menemui Sin-tiau-hiap, agaknya kata-katanya juga bukan dusta. Kalau mereka kenal Sin-tiau-hiap, kukira mereka pasti bukan orang jahat.”
Dalam sekejap saja belasan li sudah berlalu. Orang yang paling depan tiba-tiba bersuara dan belasan ekor kuda itu serentak berhenti. Orang di depan itu melarikan kudanya ke tempat yang tinggi, lalu memutar balik. Kwe Siang menjadi sangat terkejut dan geli pula melihat wajahnya. Kiranya orang ini juga seorang cebol, tubuh yang berada di atas kuda tidak lebih dari pada setengah meter, tapi jenggotnya yang panjang itu ada satu meteran sehingga melambai ke bawah perut kuda, mukanya berkeriput dengan kedua alis terkerut seperti orang yang selalu bersedih.
“Dari sini ke To-ma-peng tak lebih 30 li saja,” terdengar orang tua itu berkata, “konon ilmu silat Sin-tiau-hiap itu amat tinggi, sebaiknya kita berunding dahulu agar gerombolan setan dari Se-san tidak kehilangan pamor.”
“Silakan Toako memberi petunjuk saja,” ujar si perempuan tua tadi.
“Apakah kita harus bertempur secara bergiliran dengan dia atau kita akan mengerubutnya sekaligus?” tanya orang tua cebol berjenggot panjang itu.
Kwe Siang terkejut sekali. Dari nada pembicaraan orang-orang ini jelas mereka hendak memusuhi Sin-tiau-hiap. Terdengar perempuan tua tadi berkata:
“Sebetulnya Sin-tiau-hiap itu mempunyai kepandaian sejati atau cuma bernama kosong belaka? Jit-te, dalam hal ini hanya kaulah yang pernah berjumpa dengan dia. Coba kau memberi keterangan sekedarnya!”
Seorang laki-laki tinggi besar lantas berkata: “Meski aku pernah melihat dia, tapi aku tidak sampai bergebrak dengannya. Kukira... kukira dia memang rada-rada...”
“Jit-ko,” wanita berpakaian merah turut bicara, “Sebab apa kau sampai bermusuhan dengan Sin-tiau-hiap? Hendaklah kau jelaskan lebih dulu agar nanti kalau bertarung kita sudah mempunyai pegangan.”
“Gerombolan setan dari Se-san selamanya sehidup-semati, kalau Sin-tiau-hiap itu sudah mengeluruk ke sini, apakah kita harus mengkeret dan menyingkir?”
Lelaki yang bertubuh tinggi kurus seperti lidi itu berkata: “Siapa yang bilang menyingkir? Andaikan Kiu-moay (adik kesembilan) tidak tanya, aku pun ingin tahu apa sebabnya kau bermusuhan dengan dia. Soalnya kita kan tidak merasa bersalah, lalu mengapa dia sesumbar hendak mengusir gerombolan setan Se-san keluar wilayah Soasay ini?”
“lni, coba lihatlah, dia sudah memotong sepasang daun telingaku. Kalau sakit hati ini tidak dibalas, lalu persaudaraan apa lagi di antara kita?” teriak laki-laki besar tadi dengan gusar, berbareng dia terus menarik kopiahnya sehingga kelihatan kedua sisi kepalanya halus licin tanpa kuping.
Kesembilan orang yang lain dari ‘Gerombolan setan Se-san’ itu menjadi marah, beberapa di antara mereka lantas mengumpat, ada pula yang berjingkrak murka dan menyatakan hendak melabrak Sin-tiau-hiap dengan mati-matian.
“Jit-ko,” perempuan baju merah berkata, “Sebab apa dia memotong daun telingamu? Apa kesalahanmu? Tentu kau menggoda wanita keluarga baik-baik lagi, bukan?”
Seorang yang berwajah selalu tertawa berkata dengan marah: “Sekali pun Jit-ko memang menggoda wanita keluarga baik-baik juga tidak perlu diurusi orang lain.”
Wajah orang ini sangat aneh, meski sedang marah air mukanya yang tertawa itu tidak menjadi berubah. Waktu Kwe Siang mengamati dengan lebih teliti, kiranya bibir orang itu menjengkit ke atas, sepasang matanya kecil, maka biar pun sedang sedih atau menangis tampaknya sedang tertawa riang. Lelaki tadi menjawab:
“Tidak, tidak! Soalnya waktu itu isteriku cekcok dengan keempat gundikku mengenai urusan tetek-bengek, dari ribut mulut akhirnya saling cakar-cakaran dan main pisau segala. Kebetulan Sin-tiau-hiap lewat, dasar orang itu memang suka ikut campur urusan orang lain, dia lalu berusaha melerai pertengkaran itu. Sungguh brengsek, gundikku yang ketiga tersenyum padanya.”
“O, tahulah aku, Jit-ko lantas cemburu, bukan?” tukas si perempuan baju merah.
“Cemburu bagaimana? Soalnya aku tidak ingin urusan rumah-tanggaku dicampur-tangani orang luar,” kata lelaki itu. “Sekali jotos tiga gigi gundikku kurontokkan, lalu si buntung sialan itu kusuruh enyah.”
Sampai di sini, Kwe Siang tak dapat menahan rasa dongkolnya, segera dia menanggapi:
“He, maksudnya kan baik, mengapa kau malah berlaku kasar padanya? Dalam urusan ini jelas kau yang salah.”
Semua orang berpaling memandang anak dara itu, sama sekali mereka tidak menyangka nona secilik itu berani ikut bicara. Lelaki itu menjadi marah dan membentak.
“Sialan! Kau anak sekecil ini berani menggurui aku? Go-ko, anak dara ini apamu?”
“Dia ingin melihat Sin-tiau-hiap, maka aku hendak membawanya ke sana. Urusan lain aku tidak peduli,” jawab si cebol kepala besar tadi.
“Baik, jika begitu akan kuajar adat padanya,” kata lelaki kekar itu.
“Tarrrr...!” segera cambuknya menyabet kepala Kwe Siang.
Cepat Kwe Siang menangkis dengan cambuknya sehingga kedua cambuk terlibat menjadi satu. Waktu lelaki itu membetot sekuatnya, seketika Kwe Siang merasa ditarik oleh satu tenaga dahsyat dan terpaksa melepaskan pegangannya. Setelah berhasil merampas cambuk Kwe Siang, segera cambuk lelaki tadi hendak disabetkan lagi. Syukur si cebol berjenggot panjang tadi berseru:
“Jit-te, kita harus cepat berangkat, untuk apa mengurusi anak kecil?”
Lelaki itu merandek, cambuk yang sudah terangkat ke atas itu tidak jadi dihantamkan. Si kakek jenggot panjang lantas menjengek:
“Hmm, gerombolan setan dari Se-san adalah tokoh yang tidak gentar pada langit dan takut pada bumi, betapa pun nyaring tersohornya Kwe Ceng dan Oey Yong tak dapat menggertak kami. He, anak dara, jika kau berani banyak omong lagi kami sembelih kau.” Lalu dia berpaling dan berkata pula, “Jit-te, laki-laki sejati berani berbuat berani tanggung jawab, kalau jatuh harus cepat merangkak bangun. Jenggotku yang panjang ini dulu juga pernah dipotong orang, Kedua kupingmu itu cara bagaimana dipotong orang?”
“Ketika kusuruh Sin-tiau-hiap itu enyah, dia juga tidak membantah. Dia malah tertawa saja terus melangkah pergi,” demikian tutur lelaki kekar tadi, “Tetapi sungguh sialan, tiba-tiba gundikku yang keempat ber-teriak dan menangis, katanya dia kupaksa menjadi gundik dan hidup tersiksa, kini dianiaya pula oleh isteri tua. Mendengar itu tiba-tiba Sin-tiau-hiap memutar balik dan tanya padaku: ‘Apakah benar perkataannya itu?’ Dengan mendongkol segera kujawab: ‘Kalau benar mau apa dan kalau tidak benar lantas bagaimana? Aku berjuluk Sat-sin-kui (setan elmaut), selamanya membunuh orang tanpa kenal ampun, tahu tidak kau?!’
Dengan kurang senang dia berkata: ‘Jika kau suka padanya, mengapa mengawini dia lalu mengambil lagi perempuan lain? Kalau tidak suka padanya, mengapa tadinya kau menikahi dia?’
Aku bergelak tertawa dan berkata: ‘Semula aku memang suka padanya, sesudah bosan lantas tidak suka lagi, Laki-laki mempunyai tiga isteri atau empat gundik adalah kejadian biasa, kenapa mesti heran? Ha-ha-ha, malahan aku hendak mengambil tiga gundik lagi.’
Dia lantas mengomel: ‘Jika manusia tak berbudi dan tidak setia macam kau bertambah banyak lagi di dunia ini, bukankah semua perempuan akan kecewa terhadap kaum lelaki?’
Habis berkata tiba-tiba ia menubruk maju dan melolos belatiku, sekaligus kedua kupingku dipotong, kemudian belati mengancam di depan dadaku dan membentak: ‘Akan kukorek hatimu, ingin kulihat warna apakah hatimu ini!’
Tentu saja aku mati kutu. Untunglah isteri dan para gundikku berlutut dan memohonkan ampun padanya, malah gundik ketiga dan keempat menangis me-raung. Hmm, sungguh memalukan! Benar-benar memalukan! Aku menjadi marah dan berteriak: ===================‘Lekas kau turun tangan. Jika kau membunuh aku, arwah gerombolan setan Se-san pasti senantiasa akan mengitari kau.’
Dia mengerut kening dan berkata kepada perempuanku: ‘Manusia tak berbudi begini, masa kalian malah mintakan ampun baginya?’
Perempuanku tidak msnjawab melainkan terus menyembah, Dia lantas berkata lagi: ‘Baiklah! Sekarang kuampuni kau. Tapi aku pun tidak gentar terhadap gerombolan setan dari Se-san itu. Pada akhir bulan ini akan kunantikan kalian di To-ma-peng, boleh kau undang seluruh gerombolanmu untuk menemui aku di sana. Kalau tidak berani datang, sekaligus kalian harus enyah dari wilayah Soasay dan selamanya tidak boleh kembali ke sini.’”
Selesai laki-laki kekar itu menutur, semua orang terdiam. Selang sebentar barulah perempuan tua tadi bertanya:
“Senjata apa yang digunakannya? Dari aliran manakah ilmu silatnya?”
“Lengannya buntung sebelah dan dia tidak memakai senjata apa-apa,” tutur si lelaki tadi, “Mengenai aliran ilmu silatnya, tampaknya... tampaknya sukar diketahui.”
Perempuan tua tadi berkata pula: “Toako, sekali gebrak saja orang itu lantas membikin jit-te tidak dapat berkutik, tentu kepandaiannya sangat lihay. Sebaiknya kita mengerubutnya saja. Toako menghadapi dari depan, biar aku dan Go-te menyerang dari samping, dengan tiga lawan satu masa kita akan kalah? Sebaiknya kita harus menyerang dengan cepat sekaligus membinasakan dia.”
Kakek jenggot panjang merenung sejenak, katanya kemudian: “Nama Sin-tiau-hiap sangat termashyur, pertarungan nanti benar-benar luar biasa. Biarlah kita mengerubutnya secara beramai-ramai dan mengerahkan segenap tenaga dan senjata yang kita punyai. Selama gerombolan kita bersatu, belum pernah kita melabrak orang dengan maju sepuluh orang sekaligus dan baru sekarang terjadi untuk pertama kalinya. Kalau sudah begitu kita masih belum sanggup membinasakan dia, maka biarlah kita bersepuluh ini dari setan bayangan menjadi setan sungguhan saja.”
Tiba-tiba si kakek cebol kepala besar tadi ikut bicara: “Toako, kita bersepuluh mengeroyok dia seorang, kalau menang rasanya juga kurang terhormat, bahkan jika tersiar juga akan ditertawakan orang-orang Kangouw.”
“Kalau Sin-tiau-hiap itu dapat kita bunuh, kecuali anak dara ini kukira tiada orang lain lagi yang tahu,” ujar si nenek tadi.
Baru selesai ucapannya, dengan perlahan ia pun mengangkat tangannya. Cepat si cebol kepala besar menghadang di depan Kwe Siang sambil mengebaskan lengan bajunya, menyusul dari lengan bajunya dicabut sebuah jarum lembut, katanya:
“Jici, aku yang membawa anak dara ini kemari, janganlah mencelakai dia.” Kemudian dia berpaling dan berkata kepada Kwe Siang. “Nona Kwe, jika kau ingin melihat Sin-tiau-hiap, kejadian malam ini jangan sekali-sekali kau ceritakan kepada orang lain, kalau tidak, boleh kau pulang sekarang saja.”
Ngeri dan gusar pula Kwe Siang. Ia pikir nenek itu sungguh amat keji, kalau bukan paman cebol itu menoIongnya, mungkin dirinya telah binasa tertusuk oleh jarum yang lembut dan tanpa suara itu. Segera ia pun menjawab:
“Baiklah, takkan kuceritakan kepada siapa pun juga.“ Lalu ditambahkannya: “Kalian bersepuluh, masa Sin-tiau-hiap sendiri tidak mempunyai pembantu?”
Si cebol kepala besar bergelak tertawa, katanya: “Sudah belasan tahun Sin-tiau-hiap itu berkecimpung di Kangouw dan tidak pernah terdengar dia membawa pembantu, yang ada cuma seekor rajawali yang senantiasa mendampinginya.”
Habis berkata “Tarrr...!” cambuknya menggeletar di udara dan dia membentak: “Hayolah berangkat!”
Setelah berlari sekian jauhnya, orang cebol itu berkata kepada Kwe Siang: “Sebentar kalau sudah saling gebrak, jangan sekali-sekali kau menjauhi aku.”
Kwe Siang mengangguk. Dia tahu gerombolan setan dari Se-san ini ada sebagian sangat jahat dan tidak kenal ampun, bisa jadi mendadak dirinya diserang hingga si cebol kepala besar ini tidak sempat menolongnya. Diam-diam dia pun kuatir bagi Sin-tiau-hiap yang akan dikerubut kesembilan orang ini. Betapa pun tingginya kepandaian pendekar rajawali sakti itu, apakah sanggup satu lawan sepuIuh? Dia pikir kalau ayah-ibunya berada di sini tentu segalanya akan beres, beliau pasti takkan tinggal diam saja menyaksikan pertarungan yang tidak adil ini.
Selagi mereka melarikan kuda dengan cepat, dari dalam hutan di depan yang gelap gulita berkumandang suara auman harimau. Beberapa ekor kuda berjingkrak kaget dan takut, ada yang terus berdiri diam dan ada pula yang putar haluan hendak kabur. Si jangkung tadi segera mengayun cambuknya beberapa kali dan mendahului menerjang ke dalam hutan. Si nenek juga mengomeli kudanya:
“Binatang tak berguna, takut dicaplok kucing liar begitu?“
Beramai-ramai mereka menghalau kawanan kuda itu dan ikut menerobos ke dalam hutan. Setelah membedal lagi beberapa puluh meter jauhnya, tiba-tiba seseorang membentak di depan:
“Siapa berani terobos Ban-siu-san-ceng malam-malam begini?!”
Serentak gerombolan setan Se-san itu menahan kuda. Tampaklah seseorang menghadang di tengah jalan, di kedua sisinya masing-masing mendekam seekor harimau loreng. Mendengar suara raungan harimau yang kereng itu, kembali kawanan kuda ber-jingkrak ketakutan. Setelah berhasil menguasai kudanya, si kakek cebol jenggot panjang memberi hormat dan berkata
“GeromboIan Setan Se-san kebetulan lewat di sini dan tidak sempat berkunjung, harap memaafkan.”
Orang yang menghadang di depan itu menjawab: “O, kalian inikah Gerombolan Setan dari Se-san? Jadi saudara ini Tiang-si-kui (setan jenggot panjang) Hoan-ya (tuan Hoan)?”
“Betul,” jawab si kakek jenggot panjang, “Ada urusan penting sehingga kami harus menuju To-ma-peng, kembalinya nanti kami akan mampir untuk mohon maaf lagi.”
Rupanya dia pun tahu orang Ban-siu-san-ceng (perkampungan berlaksa binatang) sukar dilawan, pula mereka sekarang harus mencurahkan segenap perhatian menghadapi Sin-tiau-hiap, maka bicaranya sangatlah rendah hati.
“Coba kalian tunggu sebentar,” kata orang itu, lalu ia berteriak: “Toako, ini Gerombolan Setan Se-san yang hendak pergi ke To-ma-peng. Katanya kembalinya nanti akan datang untuk minta maaf.”
Kawanan ‘Setan’ itu merasa kurang senang mendengar ucapan itu. Mereka mengatakan kembalinya nanti akan mampir untuk minta maaf, kata-kata ini tidak lebih hanya sebagai basa-basi saja, masa dianggapnya Gerombolan Setan Se-san benar gentar terhadap pihak Ban-siu-san-ceng? Maka terdengarlah suara seseorang menjawab dengan lagak tuan besar dari dalam hutan:
“Minta maaf sih tidak perlu, suruh mereka pergi mengitari hutan.”
Kawanan setan itu menjadi marah. Si jangkung mendengus: “Hm, selamanya Gerombolan Setan Se-san kalau berjalan tidak pernah main mengitari.” Habis berkata segera dia melarikan kudanya menerjang ke depan.
Namun sekali orang yang menghadang itu memberi aba-aba, serentak kedua harimau di sampingnya menubruk maju. Karena kaget dan takut, kuda si jangkung berjingkrak berdiri. Tetapi agaknya si jangkung sangat menguasai kuda tunggangannya.
“Srett!”
Sambil tetap menempel di atas pelana, kedua tangannya mengeluarkan senjatanya yang berbentuk sepasang tombak pendek dan menikam ke arah kedua ekor harimau. Harimau yang sebelah kiri cepat melompat ke pinggir, sedangkan cakar harimau sebelah kanan sempat merobek perut kuda si jangkung, tetapi binatang buasnya itu pun meraung keras, rupanya juga terluka oleh tikaman tombak. Segera si jangkung melompat turun kemudian membentak:
“Hayo keluarkan senjatamu!” dia pasang kuda-kuda dan siap tempur.
Orang di depan sana menjengek: “Hmm, kau berani melukai kucing piaraanku, andaikan kini mau mengitar hutan juga tidak dapat kuijinkan lagi. Bu-siang-kui (setan gentayangan), tinggalkan saja tombakmu!”
Seketika si jangkung melengak karena julukannya dengan tepat disebut lawan, jawabnya:
“Siapakah kau? Selama ini Ban-siu-san-ceng berada di Se-keng, kenapa sekarang pindah ke sini? Kau ingin kutinggalkan tombakku, hah, memangnya gampang?”
“Kediaman Ban-siu-san-ceng memang berada di Se-keng, tetapi kalau kami ingin pindah tempat tidak perlu lapor dulu kepada kawanan setan macam kalian?” ujar orang itu. “Bahwa Toako kami menyuruh kalian lewat mengitar hutan sudah cukup ramah, soalnya Samko kami sedang sakit dan tidak suka diganggu orang, kau tahu tidak?”
Berkata sampai di sini, mendadak tangan kirinya meraih ke depan, gagang tombak yang dekat dengan ujung tombak si Bu-siang-kui kena dipegang olehnya. Sama sekali Bu-siang-kui tidak menyangka gerakan tangan lawan sedemikian cepatnya. Cepat dia menarik sekuatnya, namun orang itu pun membetot dan ditekuk.
“Pletakk!”
Terdengar suara dua kali, sepasang tombak pendek itu patah semua, padahal tombak terbuat dari besi, karena tenaga kedua orang sama kerasnya tombak itu tak dapat menahan tenaga tarikan mereka dan akhirnya patah. Kejadian ini membuat Gerombolan Setan Se-san melengak. Si kakek jenggot panjang yang berjuluk ‘Setan jengot panjang’ lantas berkata:
“Rupanya saudara ini Pat-jiu-sian-kau (Kera sakti bertangan delapan). Apakah Kim-kah-say-ong (raja singa bersisik emas) kurang sehat? Saat ini kami ada urusan lain, biarlah kita bertemu lagi di sini besok pada saat yang sama.”
Kiranya Ban-siu-san-ceng itu dipimpin oleh lima bersaudara. Toako atau kakak tertua Pek-hia-san-kun (raja gunung dahi putih) Su Pek-wi, Jiko atau kakak kedua Koan-kian-cu (si bumbung perak) Su Tiong-beng, Samko (kakak ke tiga) Kim-kah-say-ong Su Siok-kang, Suko (kakak ke empat) Tay-lik-sin (malaikat bertenaga raksasa) Su Ki-kiang dan saudara yang terkecil Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat ini. Turun temurun keluarga Bu itu hidup sebagai penjinak binatang. Sampai di tangan kelima bersaudara ini bahkan kepandaian mereka bertambah maju, bukan saja cara menjinakkan binatang jadi lebih lihay, bahkan dari gerak-gerik setiap binatang buas yang mereka lihat setiap hari itu dipelajari dan dipahami menjadi gerakan ilmu silat yang khas, jadi binatang-binatang buas seakan-akan menjadi guru kelima bersaudara itu sehingga jadilah mereka memiliki ilmu silat yang tinggi.
Waktu Su Siok-kang, yaitu kakak ke tiga yang berjuluk Kim-kah-say-ong berumur 20-an, suatu hari ketika sedang berburu, secara kebetulan dia bertemu dengan orang kosen dan berhasil meyakinkan Iwekang tingkat tinggi. Kemudian, sepulangnya di rumah ia segera mengajarkan Iwekang itu kepada saudaranya. Begitulah semakin banyak mereka memiara binatang buas semakin tinggi ilmu silat yang mereka yakinkan. Nama Ban-siu-san-ceng juga mulai terkenal di dunia Kanguow, maka orang Bu-lim memberikan julukan kepada kelima bersaudara itu sebagai ‘Hou-pa-say-jio-kau’ (harimau, macan tutul, singa, gajah dan kera). Di antara mereka berlima Kim-kah-say-ong. si singa berbaju emas, terkenal paling lihay.
Maka Tiang-si-kui merasa lega demi mendengar Su Siok-kang sedang sakit. Betapa pun lihaynya musuh, kawanan ‘Setan’ mereka juga tak gentar, apa lagi sekarang pihak lawan berkurang tokoh utamanya, maka dia lantas menetapkan malam besok untuk pertarungan yang menentukan.
BAN-SIU-SAN-CENG ( Perkampungan Berlaksa Binatang )
“Baik,” segera Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat menjawab. “Besok malam kami bersaudara akan menunggu kalian di sini.”
Habis berkata, sekali tangan bergerak...
“PIok! Plok!”
Kedua potong tombak patah yang dirampasnya tadi menyambar dan menancap di batang pohon di sebelah Tiang-si-kui. Diam-diam Tiang Si-kui terkesiap. Ia merasa amat heran mengapa pihak lawan tetap tidak memperbolehkan mereka lewat menerobos hutan. Ada pekerjaan apa kelima saudara Su itu di sini? Segera ia memberi salam:
“Baiklah kami mohon diri!”
Kedua kakinya mengempit kencang, segera ia melarikan kudanya ke depan. “He, tunggu dulu!” kembali Su Beng-ciat berteriak mencegah, “Tadi Toako kami menyuruh kalian lewat mengitar hutan. Apakah kalian tidak berkuping atau memang tuli?”
Tiang-si-kui menahan kudanya dan baru saja ia mau menjawab, terdengar di kanan kiri depan sana dua orang tertawa terbahak-bahak, menyusul asap tebal mengepul dan terdengar dua orang berteriak berbareng.
“Main gila apa di dalam hutan? Mana Gerombolan Setan Se-san dapat dikelabui?”
Rupanya secara diam-diam Song-bun-kui dan Siau-bin-kui, ‘setan sialan’ dan ‘setan muka ketawa’, yaitu setan ke-8 dan ke-10 menurut urut-an mereka, telah memutar ke belakang sana untuk menyalakan api ketika Su Beng-ciat sedang bicara dengan Tiang-si-kui. Tapi baru saja api mulai berkobar, menyusul terdengar Song-bun-kui dan Siau-bin-kui menjerit kaget dan berlari kembali seperti memergoki sesuatu makhluk yang mengerikan.
“Ada apa?” tanya Tiang-si-kui.
“Macan! Harimau! Ada seratus, dua ratus ekor...” seru Song-bun-kui.
Su Beng-ciat kelihatan sangat murka melihat api mulai menjilat pepohonan, dia berteriak sekerasnya:
“Toako, Jiko, yang penting padamkan api dulu, biarkan gerombolan setan ini pergi saja, masa kelak kita tak dapat menemukan mereka?”
Pada saat itu pula se-konyong pandangan semua orang serasa bureng, seekor binatang sebesar anjing kecil mendadak menerobos keluar dari hutan dan sekejap saja kabur ke sana. Tubuh binatang itu tidak besar, namun keempat kakinya sangat panjang. Warna bulunya putih mulus, hanya bagian ekor saja berwarna hitam, bentuknya mirip kucing dan memper anjing.
“Hmm, Kiu-bwe-leng-hou kabur!” seru Su Beng-ciat dan segera dia mengudak ke sana. Suara teriakannya penuh mengunjuk rasa kaget, cemas dan kuatir.
Mendadak terdengar suara raungan yang keras di dalam hutan, suara raungan yang menyerupai raungan harimau dan mirip pula auman singa, malahan seperti suara teriakan orang namun suara manusia seyogianya tidak sekeras dan senyaring itu. Mendengar suara raungan itu, Kwe Siang rada merinding. Setelah terdengar suara raungan itu, serentak be-ratus binatang buas mengaum di segenap penjuru, suara singa, harimau, macan tutul, serigala, gajah, kera, gorilla dan entah binatang buas apa lagi karena sulit dibedakan. Menyusul terdengarlah suara gemuruh, be-ratus bahkan beribu-ribu binatang buas itu berbondong-bondong lari keluar hutan. Seseorang lantas berseru:
“Toako ke sebelah timur, Jiko sebelah barat, Site (adik keempat) ke tenggara...” jelas ada suara orang ini sama dengan suara raungan tadi.
Sekilas Kwe Siang melihat beberapa sosok bayangan orang berkelebat keluar hutan lebat itu. Walau pun tahu bahaya tetapi ia tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Cepat ia pun melarikan kudanya menyusul keluar hutan. Cepat si cebol kepala besar yang berjuluk Toa-thau-kui (setan kepala besar) itu berteriak:
“He, nona Kwe, jangan pergi!” Segera ia pun mengeprak kudanya menyusul.
Begitu berada di luar hutan, seketika Kwe Siang menyaksikan pemandangan yang aneh. Dilihatnya lima orang memimpin segerombolan binatang sedang mengurung bagian tengah di tanah datar yang berselimutkan salju. Tampaknya kawanan binatang buas itu sudah sangat terlatih, mereka tidak saling cakar dan bertengkar sendiri, tetapi ke sana kemari, cara lari mereka sangat teratur. Kwe Siang merasa takut tetapi juga sangat tertarik untuk menonton. Dilihatnya lingkaran kelima barisan binatang buas itu makin menciut sehingga di tengah-tengah kelihatan sebuah bundaran. Tapi tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat, binatang kecil yang menyerupai anjing tadi lari menerobos keluar dari kepungan binatang buas, secepat angin binatang kecil itu melayang lewat di depan Kwe Siang.
“Kiu-bwe-leng-hou! Di sana, dia lari ke sana!” terdengar kelima bersaudara she Su itu ber-teriak-teriak, menyusul gerombolan binatang buas itu lantas menerjang seperti gugur gunung dahsyatnya.
Cepat Kwe Siang menarik kudanya menyingkir ke pinggir, tapi kuda itu menjadi ketakutan melihat binatang buas sebanyak itu, saking takutnya kaki lemas lantas jatuh mendeprok. Keruan Kwe Siang terkejut sekali. Kalau gerombolan binatang itu menerjang ke arahnya, tentu tubuhnya akan ter-injak hancur lebur. Lekas-lekas dia melompat turun dari pelana kudanya kemudian berlari ke samping sana. Terendus olehnya bau yang amat amis, kawanan binatang buas itu terus mengalir lewat di sebelahnya laksana air bah dan sejenak saja sudah menjauh. Sementara itu Gerombolan Setan Se-san juga berada di luar hutan. Si kakek jenggot panjang berkata:
“Betapa pun tinggi kepandaian keluarga Su kita tidak gentar, hanya kawanan binatang itulah yang sukar dihalau. Malam ini kita tidak perlu cari perkara, kita harus menjaga tenaga menghadapi Sin-tiau-hiap. Mari kita berangkat!”
Si nenek juga berkata: “Ya, malam ini kita bunuh Sin-tiau-hiap, besok kita pesta panggang daging harimau dan singa!” dia terus menarik kudanya dan hendak meneruskan perjalanan dengan mengitari hutan.
Pada saat itulah mendadak suara raungan binatang buas terdengar bergemuruh lagi, gerombolan binatang itu datang lagi dari berbagai arah. Sekali ini suara raungan binatang tidak begitu buas, larinya juga tidak cepat. Namun Tiang-si-kui menjadi kuatir, katanya:
“CeIaka! Lekas kita pergi!”
Namun sudah terlambat, di sekeliling mereka sudah terkepung. Cepat Tiang-si-kui bersuit, sepuluh orang lantas melompat turun dan berdiri pada lima sudut dengan senjata terhunus menanti serangan musuh.
“Nona Kwe,” kata Toa-thau-kui, si setan kepala besar. “Lekas pulang saja kau, tidak perlu ikut menyerempet bahaya di sini.”
“Tapi mana Sin-tiau-hiap? Kau sudah berjanji akan membawaku menemuinya,” kata Kwe Siang.
“Apakah kau tidak dapat melihat binatang buas sebanyak ini?” ujar Toa-thau-kui dengan mengernyitkan kening.
“Bicaralah secara baik-baik dengan majikan gerombolan binatang itu, katakan kalian ada janji dengan Sin-tiau-hiap dan tiada waktu,” ujar Kwe Siang.
“Hmm, Gerombolan Setan Se-san tidak pernah bicara baik-baik dengan siapa pun juga,” kata Toa-thau-kui.
Tengah bicara, kelima bersaudara Su sudah muncul di sana, mereka semua memakai jubah kulit binatang. Sesudah berhadapan dengan Gerombolan Setan, tetap Su Beng-ciat yang menjadi juru bicara, katanya:
“Selamanya Ban-siu-san-ceng tidak pernah bermusuhan dengan Kawanan Setan, mengapa kalian membakar hutan dan menghalau lari Kiu-bwe-leng-hou (rase cerdik berekor sembilan)?”
Dari nada ucapan orang, Kwe Siang merasakan orang she Su itu amat marah dan gemas sekali. Pikirnya: “Walau pun binatang kecil tadi sangat menyenangkan, tetapi tampaknya juga tiada sesuatu yang istimewa, kenapa mesti marah-marah begitu rupa? Jelas binatang itu cuma punya sebuah ekor, mengapa disebut rase berekor sembilan?”
Maka terdengar perempuan yang berpakaian serba merah dari pihak Gerombolan Setan menjawab:
“Peristiwa ini awal mulanya adalah gara-gara tindakan kalian sendiri. Selamanya Ban-siu-san-ceng berdiam di wilayah Sa-keng, mengapa sekarang tiba-tiba saja muncul di daerah Soasay sini dan di tengah malam buta melarang orang lain lewat di jalan umum ini? Sikap kalian yang semena-mena ini masa kalian malah menyalahkan pihak lain?”
“Persoalan sekarang ini tidak perlu dibicarakan, pokoknya tidak ada seorang pun di antara kalian yang dapat hidup lagi!” mendadak Pek-hia-san-kun Su Pek-wi membentak.
Sekali mengaum murka, dengan bertangan kosong dia terus menubruk ke arah Tiang-si-kui, kedua telapak tangannya tergenggam laksana cakar harimau segera mencengkeram begitu hebat dan dahsyat, sekali pun harimau benar-benar juga tidak seganas itu. Cepat Tiang-si-kui melangkah mundur terus menggeser.
“Serrr...!” senjatanya yang panjang menyapu pinggang lawan.
Tanpa menghindar, cakar harimau Su Pek-wi mencengkeram ujung senjata lawan. Tapi senjata Tiang-si-kui itu kiranya adalah sebatang tongkat baja yang besar dan berat, belum lagi cengkeraman Su Pek-wi mengencang, mendadak tangan terasa panas. Cepat ia lepaskan kembali tangannya sambil disampuk ke samping. Untung dia dapat bergerak dengan cepat sehingga dadanya terhindar dari sodokan tongkat. Diam-diam Su Pek-wi terkesiap. Sekarang barulah dia tahu Gerombolan Setan Se-san itu memang bukan orang sembarangan, pantas nama mereka akhir-akhir ini semakin menanjak. Dia tidak berani gegabah lagi.
“Crengg...!”
Segera ia pun mengeluarkan senjatanya, Hoa-thau-kau (kaitan dengan ujung berukir kepala harimau). Sepasang kaitan baja itu beratnya 30 kati dan merupakan senjata yang tajam dan lihay. Demikianlah dua larik sinar kuning berkelebat, kaitan itu lantas menempur sengit tongkat baja si setan jenggot panjang.
Dalam pada itu, Koan-kian-cu Su Tiong-beng dengan senjatanya sepasang bumbung atau pipa perak sudah melabrak Jui-beng-kui, setan pencabut nyawa yang bersenjatakan golok, juga menerjang tombak si Song-bun-kui. Ada pun Tay-lik-sin Su Ki-kiang menempur Tiau-si-kui (setan gantung) yaitu si nenek yang bersenjatakan seutas tali panjang lagi lemas sehingga sukar diraba. Ia hanya meraung murka saja karena sukar mengembangkan tenaga raksasa yang dimilikinya.
Di sebelah sana Pat-jiu-sian-kau Su Beng-ciat juga sedang menghadapi Toa-thau-kui, si setan kepala besar dengan senjatanya yang berwujud godam persegi delapan. Su Beng-ciat bersenjata sepasang Boan-koan-pit, potlot baja berujung runcing, serangannya hebat tenaganya kuat. Toa-thau-kui rada kewalahan, maka cepat Siau-yau-kui, si setan cantik, perempuan berbaju serba merah, segera menubruk maju membantu dengan senjata golok.
Di tanah salju itu terjadilah pertarungan yang sengit, sepuluh orang terbagi menjadi empat. Bunga salju bertebaran. namun pertempuran belum dapat menentukan kalah dan menang. Di pihak Gerombolan Setan masih ada empat orang belum ikut turun tangan, sebaliknya di pihak lawan hanya Kim-kah-say-ong saja yang belum bergerak. Terlihat dia bersandar pada tubuh seekor singa jantan, tampaknya menderita sesuatu penyakit hingga tubuhnya lemas lunglai.
Melihat keadaan pertarungan ini, jelas pihak Gerombolan Setan lebih diuntungkan karena berjumlah lebih banyak, tetapi kalau Su bersaudara itu berseru memberi komando, maka seketika kawanan binatang buas pasti akan menerjang dan Gerombolan Setan pasti akan celaka. Siau-bin-kui, si setan muka tertawa juga merasa kebat-kebit bila menyaksikan kawanan binatang buas yang siap menunggu perintah itu. Dia pikir nanti harus menggunakan kabut racun untuk merobohkan sebagian binatang itu baru dapat menerjang keluar kepungan.
Sementara itu pertarungan sengit sudah berlangsung sekian lamanya, Tiau-si-kui dan Su Pek-wi sama kuatnya. Si nenek Tiau-si-kui mainkan talinya yang panjang itu dengan cara yang aneh dan ujung tali selalu berubah menjadi lingkaran jiratan, kalau Su Ki-kiang meleng, mungkin lehernya bisa terjirat. Tapi karena dia memiliki tenaga raksasa, mau tak mau Tiau-si-kui juga rada jeri. Toa-thau-kui dan Siau-yau-kui bahu-membahu menghadapi Su Beng-ciat. Mereka dapat bekerja sama dengan baik, namun gerak serangan Su Beng-ciat cepat lagi aneh. Mereka terus berputar, terdengar suara Toa-thau-kui mengguruh-guruh, sedangkan si setan cantik tertawa ngikik, tujuan mereka memencarkan perhatian musuh, tetapi Su Beng-ciat anggap tidak mendengar dan terus menempur dengan sengit.
Di sebelah sana Jui-beng-kui dan Song-bun-kui ternyata tidak sanggup menandingi pipa perak Su Tiong-beng. Pipa perak yang dipergunakan sebagai senjata itu lebih pendek dari pada toya dan kosong bagian tengah, gaya serangannya juga aneh. Suatu ketika Song-bun-kui menusuk dengan tombaknya, akan tetapi Su Tiong-beng justru mengincar ujung tombak lawan dan pipanya ditusukkan ke depan. Pipa itu terus saja menyelongsong ke bawah sehingga gagang tombak terkunci di dalam pipa. Keruan Song-bun-kui terkejut dan cepat menarik tombak kirinya, tombak terus diputar untuk menjaga diri.
Melihat kawannya terancam bahaya, cepat To-ceh-kui, si setan penagih utang, menubruk membantu. Senjatanya yang berbentuk sepotong pelat besi segera memotong ke arah pipa Su Tiong-beng. Kiranya senjata To-ceh-kui itu terdiri dari lima potong pelat besi sehingga berbentuk buku utang-piutang sesuai namanya sebagai tukang tagih utang. Tepi pelat besi itu tajam merupakan senjata aneh dan lihay.
Sebenarnya GeromboIan Setan Se-san itu masing-masing mempunyai nama asli sendiri-sendiri, tetapi sejak nama ‘Gerombolan Setan Se-san’ terkenal di dunia Kangouw, mereka lantas membuang nama aslinya masing-masing dan menggunakan julukan Setan sebagai tanda pengenal. Apa lagi tindak tanduk dan bentuk tubuh serta wajah mereka bersepuIuh memang juga aneh dan ber-beda. Misalnya si To-ceh-kui, setan penagih utang, dia mempergunakan senjata lima helai pelat besi sehingga menyerupai buku utang piutang, dia memang sangat pendendam, sakit hati sekecil apa pun pasti akan dituntut-balasnya, tiada seorang pun dapat lolos jika pernah menyakiti hatinya. Sebab itulah dia diberi julukan setan tukang tagih utang.
Tetapi dia malah senang dengan nama poyokan itu. Senjata pelat besi diubahnya menjadi seperti halaman buku, tipis dengan tepinya yang sangat tajam, bahkan pelat besi itu diukir nama-nama musuhnya dengan kesalahannya, bila sakit hati itu sudah dibereskan barulah nama musuh itu dicoret. Pipa perak adalah senjata aneh, namun buku besi itu lebih aneh, lima halaman besi itu saling bergesek dan mengeluarkan suara nyaring. Sesudah setan itu menempur Su Tiong-beng dengan bertiga, barulah keadaan rada mendingan.
Kwe Siang mengikuti pertempuran itu dari pinggiran. Dilihatnya cuaca mulai remang-remang, fajar sudah hampir tiba, tapi pertarungan masih berlangsung dengan sengitnya. Dia pikir janji pertemuan kesepuluh setan itu dengan Sin-tiau-hiap sudah lewat waktunya, mungkin tidak sabar menunggu dan pendekar sakti itu sudah pergi sendiri. Dia menjadi gelisah dan kecewa karena maksudnya melihat Sin-tiau-hiap tak tersampai, untuk melerai pertempuran orang-orang itu pun dia tidak mampu. Dilihatnya kawanan binatang buas itu semua mendekam di tanah berbentuk satu lingkaran yang rapat, seumpama Gerombolan Setan itu mampu membinasakan kelima saudara Su juga sukar menerjang keluar kepungan kawanan binatang buas itu.
Keadaan demikian juga disadari oleh GeromboIan Setan itu. Maka si nenek, yaitu si setan gantung, berhasrat menangkap Tay-lik-sin Su Ki-kiang dengan tali jiratannya yang panjang. Asalkan lawan dapat ditawan tentu bisa digunakan sebagai sandera untuk memaksa Su-si-hengte (saudara keluarga Su) membubarkan kepungan binatang buasnya. Namun kepandaian Su Ki-kiang sendiri lebih tinggi dari pada Tiau-si-kui si setan gantung, hanya saja senjata tali memang aneh dan sukar dilayani, makanya kedudukan mereka menjadi sama kuat, tapi untuk menangkapnya jelas tidaklah mudah.
Siau-bin-kui, si setan muka tertawa tahu keadaan sangat berbahaya, dia pikir tiada jalan lain terpaksa harus menggunakan akal licik. Segera dia berseru:
“Jici, biar kubantu kau!” Segera dia melolos senjatanya dan menerjang ke arah Su Ki-kiang.
Su Ki-kiang tidak gentar ketambahan seorang lawan. “Bagus!” serunya menyambut terjangan musuh, berbareng itu senjata gada bajanya mengepruk kepala orang. Cepat Siau-bin-kui mengegos sambil menangkis dengan sepasang ruyung.
“Prak! Krek!”
Senjata saling beradu dan kedua ruyung patah seketika, tetapi dari bagian yang patah itu mengepul asap putih kemerahan. Su Ki-kiang melengak, langkahnya rada sempoyongan terus roboh terjungkal. Tanpa ayal tali jirat si setan gantung dilempar ke depan dan tepat menjirat kedua kaki musuh. Kiranya gagang ruyung Siau-bin-kui itu kopong dan tersimpan bubuk racun, pada gagang ruyungnya terpasang pesawat rahasia, sekali ditekan segera bubuk racun tersembur mencelakai musuh. Tapi tenaga Su Ki-kiang teramat besar, dengan sekali hantam dia patahkan ruyung lawan. Meski pun senjatanya patah tetapi Siau-bin-kui dan Tiau-si-kui berhasil menawan Su Ki-kiang.
“Heii! Apa-apaan kalian ini?! Merobohkan lawan dengan cara licik, terhitung orang gagah macam apa?” seru Kwe Siang.
Melihat saudaranya tertawan musuh, Su Pek-wi, Su Tiong-beng dan Su Beng-ciat sangat terkejut dan murka, tapi apa daya, mereka sendiri terlibat dalam pertempuran dan sukar memberi bantuan.
Kwe Siang sendiri sebenarnya tidak membela mana pun, cuma dilihatnya cara Siau-bian-kui merobohkan Su Ki-kiang itu kurang ‘sportif’, maka dia berseru mencelanya. Pada saat itu juga mendadak terdengar suara raungan di sebelah sana. Tampaklah Kim-kah-say-ong Su Siok-kang bangkit perlahan, kemudian membentak dengan suara berat:
“Lepaskan saudaraku!”
Su Ki-kiang tidak sadarkan diri. Tiau-si-kui segera meringkusnya dengan tali, bahkan menambahkan beberapa kali totokan pada Hiat-to yang penting agar tidak dapat berkutik bila nanti sudah siuman. Dia menjawab:
“Silakan kau menyingkirkan kawanan binatang ini dan memberi jalan, maka segera kami membebaskan saudaramu.”
Dilihatnya kedua mata Su Siok-kang tampak cekung, mukanya amat pucat, jalannya pun sempoyongan, jelas sedang sakit parah, maka kawanan setan itu tidak merasa gentar. Simpati Kwe Siang berada pada Su Siok-kang, karena melihat orang dalam keadaan sakit toh tetap hendak menolong saudaranya. Cepat dia berseru:
“He, engkau lagi sakit, jangan ikut bertempur.”
Su Siok-kang mengangguk kepadanya dan mengucapkan terima kasih, tetapi langkahnya tidak berhenti, dia masih terus mendekati Su Ki-kiang yang menggeletak teringkus musuh itu. Siau-bin-kui mengedipi Tiau-si-kui, dengan berbareng kedua orang menubruk dari kanan kiri, mereka hendak menangkap sekaligus lawan yang tampaknya sakit tebese ini. Begitu sudah dekat, keempat tangan mereka mencengkeram.
Tetapi mendadak Su Siok-kang meraung laksana singa, tangan kirinya menabok pundak Tiau-si-kui dan tangan kanan menyodok dada Siau-bin-kui. Seketika kedua ‘setan’ itu merasa ditekan tenaga maha dahsyat, langkah mereka terhuyung dan hampir saja terperosot jatuh. Cepat mereka melompat mundur, untung saja Su Siok-kang tidak mengejar maju. Keruan mereka saling pandang dengan kaget dan berkeringat dingin, sama sekali mereka tak mengira bahwa orang yang tampaknya sakit tebese itu ternyata sedemikian lihaynya. Su Siok-kang lantas melepaskan Hiat-to saudaranya yang tertotok itu. Dengan sekali tarik tali Tiau-si-kui yang meringkus Su Ki-kiang putus menjadi beberapa potong. Tapi Su Ki-kiang belum sadar karena dia kena asap beracun. Sambil mengerut kening Su Siok-kang membentak:
“Berikan obat penawarnya!”
“Bubarkan dulu kepungan binatang buas kalian dan segera kuberikan obat penawarnya,” jawab Siau-bin-kui.
Su Siok-kang mendengus, lalu melangkah ke arah Siau-bin-kui dengan sempoyongan. Siau-bin kui tidak berani melawannya, cepat dia mengelak ke samping. Rupanya karena sakit sehingga gerak-geriknya tidak leluasa, namun Su Siok-kang masih terus melangkah ke arah Siau-bin-kui. Sudah tentu sisa keempat ‘setan’ yang masih menganggur tidak tinggal diam, mereka mengerubut maju, Siau-bin-kui juga lantas memutar balik untuk ikut mengeroyok. Gerak serangan Su Siok-kang sangat lamban, tapi tenaga pukulannya amat kuat. Kelima setan itu mengepungnya di tengah sambil terus melancarkan serangan dengan golok dan tombak, namun tidak berani terlalu mendekat.
Kwe Siang menaruh kasihan terhadap Su Ki-kiang yang dirobohkan lawan dengan akal licik dan belum sadar itu. Segera dia mencomot sepotong salju dan diusap-usapkan di dahi Su Ki-kiang, lalu secomot kecil bunga salju dijejalkan ke mulutnya. Rupanya asap racun tadi tidak dapat bertahan terlalu lama. Su Ki-kiang sendiri sehat dan kuat, begitu kepala terasa dingin dan mulutnya dicekoki es batu, segera pikirannya jernih kembali. Perlahan ia merangkak bangun dan mengucek-ucek matanya, ia menjadi murka demi melihat kakak ketiganya dikerubut lima orang. Segera ia berteriak:
“Mundur dulu, Samko!” Ia terus menubruk maju dan merangkul pinggang Siau-bin-kui.
Di sebelah Iain, Su Pek-wi yang sedang menempur sengit Tiang-si-kui menjadi girang melihat Su Ki-kiang sudah siuman kembali. Segera ia bersuit panjang, serentak kawanan binatang buas yang semenjak tadi hanya mendekam di atas tanah itu berdiri semua dan bersiap-siap hendak menubruk musuh.
Ketika Su Pek-wi menggertak lagi dengan suara keras, serentak kawanan binatang itu pun mengaum buas. Meski GoromboIan Setan Se-san itu sudah banyak berpengalaman di medan pertempuran, tetapi begitu menyaksikan suasana yang mengerikan ini mau tak mau mereka menjadi kuatir. Benar saja, belum lenyap suara raungan kawanan binatang itu, di sana sini berbagai jenis binatang buas sudah lantas menerjang maju dan menerkam ke sepuluh ‘setan’ itu.
Kwe Siang menjerit kaget dengan muka pucat. Syukurlah Su Siok-kang lantas menyadari keadaan anak dara itu. Cepat dia mendorong seekor harimau yang sedang menubruk ke arah Kwe Siang, menyusul dia tanggalkan kopiah kulit sendiri lalu dipasangkan di kepala si anak dara. Tampaknya kawanan binatang buas itu sudah terlatih. Begitu melihat Kwe Siang memakai kopiah kulit, mereka tidak mau menubruknya lagi melainkan terus membelok ke sana dan menyerang Gerombolan Setan.
Macam-macam binatang buas, ada harimau, singa, serigala, macan tutul, gorila, beruang dan sebagainya serentak menerjang ke sepuluh ‘setan’. Namun Gerombolan Setan itu juga bertahan mati-matian, belasan ekor binatang buas itu pun dapat mereka binasakan. Tetapi lantaran Su-si-hengte terus memberi aba di samping sana, pula jumlah binatang buas itu teramat banyak, hanya sekejap saja Gerombolan Setan itu sudah terluka semua, baju robek dan darah mengucur, tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti akan dilalap habis oleh kawanan binatang buas itu.
Ketika itu Kwe Siang melihat tiga ekor singa jantan sedang mengkerubuti Toa-thau-kui, si setan kepala besar, godam besar yang merupakan senjata andalannya sudah terjatuh, lengan kanannya tergigit seekor singa dan tak dilepaskan. Hanya tangan kirinya yang masih terus menghantam serabutan untuk sekedar bertahan terhadap terkaman kedua ekor singa yang lain. Teringat oleh Kwe Siang bahwa Toa-thau-kui itulah yang membawanya ke sini. Sekarang orang terancam bahaya, ia menjadi tidak tega, tanpa pikir ia menanggalkan kopiah kulit yang dipakainya serta dilemparkan ke atas kepala Toa-thau-kui. Kopiah kecil di atas kepala besar, tentunya tampak amat menggelikan, bahkan kopiah itu bergoyang-goyang hendak jatuh ke bawah.
Rupanya pada waktu melatih kawanan binatang itu kelima saudara Su itu selalu memakai kopiah kulit. Serentak tiga ekor singa itu tidak menubruk dan menggigitnya lagi dan terus menyingkir pergi. Dalam pada itu Kwe Siang sendiri telah terkepung oleh empat ekor macan tutul. Keruan ia ketakutan dan menjerit-jerit. Saat itu Su Siok-kang sedang berusaha merampas tongkat baja Tiang-si-kui agar tongkat itu tidak banyak mengambil korban kawanan binatang buas. Demi mendengar jeritan Kwe Siang dia menoleh dan terkejut, tetapi jaraknya dengan anak dara itu agak jauh sehingga sukar memberi pertolongan.
Aneh juga. Begitu empat ekor macan tutul itu mendekati Kwe Siang, mereka tidak lantas menerkam dan mencakarnya, sebaliknya seperti anjing piaraan saja mereka mengitari Kwe Siang sambil mengendusnya disertai meng-gesekkan tubuhnya pada anak dara itu, tampaknya seperti sudah kenal dengan akrab sekali. Sesungguhnya Kwe Siang sudah ketakutan dan pasrah nasib. Ia menjadi terkesiap ketika melihat macan tutul itu tidak bermaksud jahat padanya. Segera ia teringat pada cerita ibu dan kakaknya bahwa waktu bayinya dahulu dirinya pernah menetek pada induk harimau tutul. Agaknya keempat macan tutul itu mencium bau aneh pada tubuhnya sehingga menganggap sebagai kaum sejenisnya.
Dengan takut-takut bercampur girang Kwe Siang lantas berjongkok dan merangkul leher dua ekor macan tutul, dua ekor yang lain menjilati tangannya dan mukanya. Keruan Kwe Siang merasa geli dan tertawa terkikik. Selama menjadi pelatih dan penjinak binatang buas, belum pernah kelima saudara Su itu menyaksikan adegan seaneh itu, keruan mereka melongo heran.
Meski Toa-thau-kui sendiri dapat terhindar dari bahaya berkat kopiah kulit, namun melihat kesembilan saudara angkatnya sukar lolos dari renggutan elmaut, betapa pun ia tak dapat mencari selamat sendiri. Tanpa pikir lagi ia terus memegang kopiah kulit dan dilemparkan kepada Siau-kui, si perempuan berbaju serba merah, sambil berseru:
“Kiu-moay, pakailah kopiah ini dan lekas menyelamatkan diri!”
Siau-kui menangkap kopiah itu lantas dilemparkan kepada Tiang-si-kui, serunya: “Toako, engkau saja menerjang keluar dahulu, kelak berusaha lagi menuntut balas bagi kita!”
Tetapi Tiang-si-kui juga lantas melangsir kopiah itu kepada Siau-bin-kui sembari berteriak:
“Capte (adik kesepuluh), menuntut balas walau pun sepuluh tahun lagi juga belum kasip. Engkau saja lekas lari, kakakmu ini sudah cukup umur dan sudah bosan hidup!”
Ternyata di antara mereka amat setia satu sama lain, siapa pun tidak mau meninggalkan kawannya untuk menyelamatkan diri sendiri. Karena dikerubuti lima ekor serigala, Siau-bin-kui tidak dapat mengoper kopiahnya kepada saudara yang lain. Sedangkan serigala terkenal rakus dan buas, sekali merasakan darah betapa pun tidak mau tinggal pergi, meski Siau-bin-kui memegang kopiah itu, serigala itu tetap saja tidak mau meninggalkan mangsanya. Tentu saja Siau-bin-kui mencaci maki dengan marah, namun wajahnya tetap tersenyum simpul. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring di atas, seorang berseru lantang:
“Gerombolan Setan Se-san ingkar janji, aku menunggu semalaman sia-sia, kiranya kalian sedang ribut dengan kawanan binatang di sini!”
Girang bukan main Kwe Siang mendengar seruan itu, pikirnya: “Aha, Sin-tiau-hiap sudah datang.”
Waktu Kwe Siang mendongak, terlihat seorang duduk di atas dahan pohon, di sebelahnya nangkring seekor rajawali besar dan buruk rupa. Orang itu memakai jubah panjang warna putih, lengan baju kanannya terselip pada ikat pinggang, nyata memang lengannya buntung. Waktu memandang wajahnya, seketika Kwe Siang bergidik. Air mukanya ternyata pucat kaku seperti mayat, hakikatnya bukan air muka manusia hidup. Banyak juga orang bermuka buruk dan menakutkan, misalnya para anggota Gerombolan Setan Se-san itu juga semuanya berwajah penjahat, tapi tidak seburuk dan menyeramkan seperti ini.
Sebelum ini dalam hati kecilnya Kwe Siang membayangkan wajah Sin-tiau-hiap pasti cakap ganteng, ia menjadi amat kecewa melihat kejelekan mukanya itu. Tanpa terasa ia memandang sekejap lagi kepadanya, terlihat sorot matanya memancarkan sinar tajam. Sinar mata tajam itu sekilas mengerling ke arahnya dan tiba-tiba terhenti sejenak seperti rada menimbulkan rasa herannya.
Tanpa terasa wajah Kwe Siang menjadi merah jengah dan tanpa kuasa menunduk malu, samar-samar ia merasa sang Sin-tiau-hiap tidak terlalu buruk. Sin-tiau-hiap di hadapan Kwe Siang ini memang betul Yo Ko adanya. Selama 16 tahun ini dia menunggu dengan hati menderita untuk bertemu kembali dengan Siao-liong-li. Ia telah berkelana ke segenap penjuru dan memberikan darma baktinya bagi sesama, karena dia selalu ditemani rajawali sakti itu, maka didapatkanlah nama julukan ‘Sin-tiau-hiap’.
Ia merasa berdosa waktu mukanya banyak digilai anak perempuan seperti Kongsun Lik-oh yang binasa demi menolong jiwanya, juga Thia Eng dan Liok Bu-siang hidup merana karena patah hati. Ia pikir kalau mukanya buruk, tentu takkan menarik perhatian anak perempuan. Sebab itulah sekarang ia memakai kedok muka pemberian Oey Yok-su dahulu untuk menutupi wajah aslinya. Malam ini mestinya dia punya janji bertemu dengan Gerombolan Setan Se-san di Te-ma-peng, tapi pihak lawan ternyata ingkar janji dan tidak datang, sebab itulah ia lantas mencarinya dan kebetulan dilihatnya apa yang terjadi di hutan ini.
KIU-BWE-LENG-HOU ( Rase Cerdik Berekor Sembilan )
Jiwa kesepuluh setan itu sudah amat terancam di tengah kerubutan kawanan binatang buas sebanyak itu, dan sekarang tiba-tiba Yo Ko membuka suara sehingga bertambah lagi satu musuh tangguh bagi mereka. Keruan mereka menjadi putus asa dan yakin sekali ini jiwa pasti akan melayang semuanya. Dalam pada itu terdengar Yo Ko berkata dengan suara lantang:
“Beberapa saudara ini mungkin adalah Su-si-hengte dari Ban-siu-san-ceng? Silakan kalian berhenti dulu dan dengarkanlah perkataanku.”
“Kami memang she Su,” jawab Su Pek-wi, “Dan siapakah tuan?” Akan tetapi segera dia menambahkan: “Ahh, maaf, agaknya tuan inilah Sin-tiau-hiap.”
“Terima kasih, memang betul Cayhe adanya,” sahut Yo Ko. “Harap kalian lekas hentikan amukan kawanan binatang buas itu. Apa bila terlambat maka sebentar lagi mungkin para setan gadungan ini akan berubah menjadi setan sungguhan.”
“Ya, biar jadi setan sungguhan dulu barulah kami bicara denganmu,” ujar Su Pek-wi.
Yo Ko mengernyitkan keningnya, katanya: “Tetapi Gerombolan Setan itu sudah ada janji pertemuan denganku lebih dulu. Jika binatang kalian membinasakan mereka, lalu kepada siapa aku harus bicara lagi?”
Mendengar ucapan Yo Ko mulai kasar, Su Pek-wi menjengek, kemudian malah memberi aba agar kawanan binatang menyerang lebih ganas.
“Kalau kau sudah tahu aku adalah Sin-tiau-hiap, mengapa kau tidak ambil pusing kepada perkataanku?” bentak Yo Ko.
“Memang kalau Sin-tiau-hiap lantas bagaimana?” jawab Su Pek-wi dengan tertawa, “Kalau mampu boleh kau menghentikan serangan kawanan binatang kami ini.”
“Baik,” kata Yo Ko. “Mari, Tiau-heng, kita turun!”
Habis berkata, bersama rajawali raksasa itu mereka melompat ke bawah. Sebelum Yo Ko dan rajawali itu menyentuh tanah, kawanan binatang sudah meraung sambil menubruk maju. Tetapi sekali sayap rajawali itu menyabet ke kanan dan menyampuk ke kiri, kontan beberapa ekor binatang yang lebih kecil seperti serigala dan sebagainya terjungkal. Seekor singa dan seekor harimau mengaum murka lantas menubruk. Kembali sayap rajawali itu menyabet, bukan main kekuatannya, singa dan harimau itu terguling dan tidak mampu mendekat lagi. Menyusul sayap yang lainnya menyabet pula, kontan kepala seekor macan tutul hancur berantakan.
Melihat kesaktian rajawali itu, kawanan binatang buas yang lain menjadi ketakutan dan tak berani menyerang. Kini semuanya mendekam di kejauhan sambil mengeluarkan suara menggereng. Su Pek-wi menjadi marah. Segera ia memapaki Yo Ko, tangannya yang kaku seperti cakar macan itu mencengkeram ke dada lawan. Akan tetapi Yo Ko sedikit mengebas lengan baju kanan yang kopong itu.
“Blukk!”
Dengan tepat kedua pergelangan tangan Su Pek-wi tersabet sehingga menimbulkan rasa sakit tidak kepalang seperti dipotong pisau. Tanpa tertahan dia menjerit. Dengan langkah tertahan Su Siok-kang mendekati Yo Ko, sepasang tangannya menyodok lurus ke depan.
“Bagus!” sambut Yo Ko sambil tersenyum dan menjulurkan telapak tangan kirinya untuk memapak serangan lawan. Dia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja.
Maklumlah, selama belasan tahun dia telah menggembleng diri di tengah amukan ombak samudera. Kalau dia mengeluarkan tenaga penuh, jangankan tubuh manusia, sekali pun batang pohon dan dinding tembok akan runtuh dihantamnya. Namun Su Siok-kang juga pernah mendapat ajaran orang kosen, maka tenaga dalamnya juga lain dari pada yang lain. Begitu beradu tangan, tubuhnya tergeliat tetapi tidak tergetar mundur.
“Awas!” seru Yo Ko memperingatkan sambil mengerahkan tenaga.
Seketika pandangan Su Siok-kang menjadi gelap dan mengeluh, sekali ini nyawanya pasti melayang. Untung pada saat gawat itu mendadak Yo Ko berkata:
“Ahh, ternyata kau sedang sakit!” Berbareng itu tenaga yang maha dahsyat seketika hilang sirna.
Lolos dari renggutan elmaut, Su Siok-kang menjadi melenggong dan tidak dapat berkata apa-apa. Su Pek-wi, Su Tiong-beng dan lain-lain menyangka Su Siok-kang terluka dan tidak dapat bergerak, maka mereka menjadi cemas dan marah sekali. Serentak mereka menerjang Yo Ko. Tepat pada waktu yang sama seekor harimau juga menubruk dari sebelah sana. Tapi sekali meraih, Yo Ko mencengkeram leher raja hutan itu. Binatang buas ini lantas digunakan sebagai senjata menangkis serangan pipa perak Su Tiong-beng dan gada baja Su Ki-kiang, sedangkan cakar macan malahan terus mencakar muka Su Pek-wi dan Su Beng-ciat.
Belasan tahun yang lalu Yo Ko sudah pernah menggunakan pedang yang beratnya lebih dari 70 kati. Sekarang memegangi tubuh harimau yang besar, beratnya paling-paling juga cuma seratusan kati, maka enteng saja baginya. Karena lehernya terpegang, harimau itu menjadi rnurka dan tidak kenal sang majikan lagi, cakarnya terus menggaruk dan mulutnya menggigit, Dalam keadaan demikian Su Pek-wi dan Su Beng-ciat menjadi kelabakan juga walau pun biasanya mereka selalu berkawan dengan binatang buas.
Menyaksikan pertarungan itu, Kwe Siang bersorak gembira, teriaknya. “Hebat sekali Sin-tiau-hiap! Nah, kalian mengaku kalah tidak, Su-keh-hengte?”
Yo Ko memandang sekejap kepada anak dara itu, dia tidak tahu siapakah Kwe Siang ini. Anehnya anak dara itu berkawan dengan macan tutul, akan tetapi sekarang mengolok dan mengejek kelima saudara Su.
Sementara itu Su Siok-kang mengatur pernapasannya dan terasa lancar tanpa ada gangguan apa pun. Dia tahu bahwa tadi Sin-tiau-hiap sengaja bermurah hati dan tidak ingin melukainya. Diam-diam dia pun mengakui, kalau berdasarkan kepandaian sejati biar pun mereka berlima mengerubutnya sekaligus bukan tandingannya. Saat itu tampak keempat saudaranya sedang mengerubuti Yo Ko, maka segera ia berseru:
“Para kakak dan adik, lekas berhenti, kita harus tahu diri.”
Mendengar itu Koan-kian-cu Su Tiong-beng segera mendahului menarik kembali pipanya dan melompat mundur. Tetapi Tay-Iik-sin Su Ki-kiang adalah orang yang sembrono, maka seruan saudaranya dia anggap sepele.
“Tahu diri apa? Rasakan dulu gadaku ini!” demikian ia pikir.
Segera kedua tangan memegang gada terus mengepruk kepala Yo Ko dengan gaya ‘Ki-siang-kay-san’ atau gajah raksasa menggugur gunung. Jurus ini ditirunya dari gajah menggunakan belalai menghantam benda, maka pukulan dahsyatnya dapatlah dibayangkan. Namun Yo Ko tidak menghindar. Ia lemparkan harimau yang dipegangnya, tangan kiri membalik ke atas, sekali meraih ujung gada belalai gajah lawan ditangkapnya, katanya:
“Marilah kita coba-coba tenaga siapa lebih kuat!”
Sekuatnya Su Ki-kiang berusaha menekan ke bawah, tapi gada itu berhenti di atas kepala Yo Ko dan tidak dapat menurun lagi.
“Berhenti, Site! Jangan kurang adat!” seru Su Siok-kang pula.
Sekuatnya Su Ki-kiang membetot dengan maksud ingin menarik kembali gadanya. Namun gada itu seperti lengket di tangan Yo Ko, sedikit pun tak dapat bergerak. Berulang-ulang Su Ki-kiang membetot dan tetap tidak berhasil. Yo Ko merasa tenaga tarikan lawan amat kuat, pikirnya, “Jika tidak kuperlihatkan tenaga sakti, orang dogol ini tentu tidak mau takluk.” Dia kerahkan tenaga dan dipelintir ke atas, tetapi Su Ki-kiang tetap memegangi gadanya sekuat-kuatnya, keruan gada yang menyerupai belalai gajah itu bengkok.
“Bagus!” bentak Yo Ko lalu ditekuk balik ke bawah. Karena ditekuk ke atas dan ke bawah, gada itu tidak tahan.
“Pletak!”
Gada patah menjadi dua dan tangan Su Ki-kiang tergetar hingga lecet berdarah. Tapi dia benar-benar kuat dan kepala batu, gada patah itu masih dipegangnya dengan kencang. Yo Ko bergelak tawa sambil melempar bagian gada patah yang dirampasnya. Kontan setengah gada itu ambles ke dalam tanah bersalju, padahal tebal salju tiada satu kaki, sedangkan gada patah itu panjangnya lebih tiga kaki, namun menghilang tanpa bekas ke dalam tanah, betapa hebat tenaga sakti Yo Ko sungguh sangat mengejutkan.
Dilihatnya Su Siok-kang, Su Beng-ciat dan lain-lain sedang membentak menghentikan serangan kawanan binatang buas, akan tetapi sekali kawanan binatang itu mengamuk dan melihat darah, sukarlah dikendalikan begitu saja. Cepat Yo Ko memberi tanda kepada Kwe Siang supaya nona cilik itu menutup telinganya dengan tangan. Meski pun tidak tahu apa tujuannya tapi Kwe Siang menurut, segera ia mendekap rapat kedua kupingnya. Segera Yo Ko berteriak dengan keras, demikian nyaring suaranya sehingga laksana bunyi guntur yang menggelegar.
Meski telinganya sudah ditutup, tergetar juga jantung Kwe Siang hingga berdebar-debar dan rada pening. Untung sejak kecil Iwekang-nya tertumpuk cukup kuat sehingga suara Yo Ko itu tidak sampai membuatnya roboh. Suara Yo Ko masih menggelegar hingga lama sekali. Air muka semua orang berubah, kawanan binatang buas juga roboh, menyusul Gerombolan Setan Se-san dan Su-si-hengte terguling, hanya tersisa belasan ekor gajah serta Su Siok-kang dan Kwe Siang saja yang masih tetap tegak berdiri, sedangkan si rajawali sakti tampak berdiri dengan bersitegang leher, kelihatannya sangat umuk, sombong. Melihat Su Siok-kang mampu berdiri, Yo Ko pikir tenaga dalam orang sakit ini hebat juga, tetapi kalau suaranya dikeraskan lagi sedikit sehingga Su Siok-kang dirobohkan, mungkin dia akan terluka dalam dengan parah. Maka dia lantas menghentikan suara suitannya. Selang tak lama, semua orang dan kawanan binatang itu baru dapat berdiri kembali, tapi sebagian binatang kecil sebangsa serigala dan sebagainya ada yang pingsan dan belum sadar, malahan di mana-mana banyak terdapat kotoran binatang, rupanya saking ketakutan, kawanan binatang itu banyak yang ter-kencing dan terberak-berak, dan begitu bangun, kawanan binatang itu lari ke dalam hutan dengan mencawat ekor tanpa menunggu komando Su-si-hengte lagi.
Sudah tentu Su-si-hengte dan gerombolan Setan Se-san itu belum pernah menyaksikan perbawa yang sehebat ini. Mereka semua berdiri terkesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka berkatalah Yo Ko:
“Maaf kalau Cayhe sudah mengganggu. Cayhe ada janji dengan Gerombolan Setan Se-san, terpaksa harus kuhentikan pertarungan kedua pihak ini, nanti apa bila persoalan Cayhe sudah selesai, bolehlah silakan melanjutkan pertikaian kalian ini dan Cayhe takkan membantu pihak mana pun selain menonton saja di pinggir.” Lalu dia berpaling kepada Sat-sin-kui, si setan elmaut: “Nah, bagaimana kalian? Ingin satu persatu bergiliran menempur aku atau sepuluh orang maju bersama sekaligus?”
Karena pengaruh suitan Yo Ko tadi, sampai sekarang perasaan Sat-sin-kui belum kembali tenang, dia tak dapat menjawab pertanyaan Yo Ko. Segera Tiang-si-kui memberi hormat dan berkata:
“Sin-tiau-tayhiap, kepandaianmu dengan kami seperti langit dan bumi, mana Gerombolan Setan Se-san berani bermusuhan lagi dengan engkau? Jiwa kami tadi telah diselamatkan olehmu, selanjutnya engkau ada perintah apa pun pasti akan kami laksanakan. Jika engkau menyuruh kami harus keluar dari wilayah Soasay ini, maka segera kami akan pergi, sedetik pun tak berani bertahan di sini.”
Dari bentuk tubuhnya serta jenggotnya yang panjang itu, sejak tadi Yo Ko merasa kakek cebol ini seperti pernah dikenalnya. Sesudah mendengar suaranya, segera dia bertanya:
“Bukankah kau ini she Hoan bernama It-ong?”
Kiranya Tiang-si-kui ini memang betul adalah Hoan It-ong, yaitu murid tertua Kongsun Ci di Coat-ceng-kok. Setelah jiwanya diampuni Yo Ko, dia mengasingkan diri, sepuluh tahun kemudian baru berkecimpung lagi di dunia Kangouw. Berkat kepandaiannya yang lumayan dia berhasil mengepalai Gerombolan Setan Se-san. Dulu Yo Ko dikenalnya sebagai pemuda yang cakap dan berkepandaian tinggi, sekarang tangan Yo Ko buntung sebelah, pakai kedok lagi, dengan sendirinya Hoan It-ong pangling padanya.
“Benar, hamba memang Hoan It-ong adanya dan siap menerima pesan Sin-tiau-tayhiap,” demikian jawab Tiang-si-kui dengan munduk-munduk.
Yo Ko tersenyum, katanya: “Jika kalian mau tunduk pada perkataanku, maka kalian juga tidak perlu keluar dari wilayah Soasay. Sat-sin-kui, cukuplah kau membebaskan keempat gundikmu itu.”
Sat-sin-kui mengiyakan setelah terdiam sejenak, katanya: “Jika keempat perempuan hina itu tidak mau angkat kaki, biar kuhalau mereka dengan pentung.”
Yo Ko malah jadi melengak. Teringat olehnya ketika kelima isteri serta gundik Sat-sin-kui menyembah kepadanya dan mintakan ampun bagi sang suami, sikap mereka yang sungguh-sungguh itu tampaknya memang setia dan mencintai suaminya. Kalau perempuan-perempuan itu mau ikut dia, sekarang dia malah diharuskan mengusir keempat gundiknya, bisa jadi tindakan ini malah akan melukai hati mereka. Maka sambil tertawa Yo Ko menambahkan:
“Usir sih tidak perlu. Jika mereka ingin pergi, maka kau tidak boleh menahan mereka, sebaliknya kalau mereka suka ikut kau, ya, apa mau dikatakan lagi? Tapi kau bilang mau ambil lagi empat orang gundik, apakah betul ucapanmu ini?”
“Ahh, persoalan perempuan itu sudah membikin repot Sin-tiau-tayhiap, malahan jiwa para saudaraku ini hampir ikut melayang. Masa hamba berani mengambil isteri lagi? Andai kata berani, rasanya Toako kami ini juga takkan mengijinkan.” Serentak ‘Setan” yang lain tertawa geli mendengar ucapan Sat-sin-kui itu.
“Baiklah, sekarang urusanku telah selesai, kalian boleh mulai bertempur lagi,” kata Yo Ko, kemudian dia mundur bersama rajawali sakti dan membiarkan Su-si-hengte dan Gerombolan Setan bertarung lagi.
Segera Hoan It-ong melangkah maju dan berkata kepada Su Pek-wi: “Gerombolan Setan Se-san sudah babak belur, sementara ini kami mohon diri saja. Kami hanya ingin tahu, selanjutnya Ban-siu-san-ceng tetap bercokol di sini atau akan kembali ke Se-keng? Harap dijelaskan agar kelak kami dapat menemukan alamat kalian secara tepat.”
Dari nada ucapan itu, Su Pek-wi paham bahwa kelak orang bermaksud mencarinya untuk menuntut balas, maka dengan angkuh ia pun menjawab:
“Kami akan menanti kedatangan kalian di Se-keng. Jika Samte kami akhirnya tidak... tidak dapat disembuhkan, maka tanpa kunjungan kalian juga kami berempat saudara akan mendahului berkunjung kepada kalian.”
Hoan It-ong melengak, katanya: “Memangnya Su-samko sedang sakit, apa sangkut-paut sakitnya dengan kami? Untuk ini mohon diberi penjelasan.”
Su Pek-wi menjadi murka, dengan muka merah padam ia berteriak: “Samte...!”


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar