Akan tetapi cepatnya Thia Eng ternyata masih kalah cepat dari pada Yo Ko. Tiba-tiba saja Thia Eng merasa pinggangnya mengencang, Yo Ko sudah membelit pinggangnya dengan lengan baju yang kosong serta ditariknya kembali, malahan terdengar Yo Ko berbisik di telinganya:
“Apa artinya diriku ini, kenapa engkau perlu berbuat begini?”
Wajah Thia Eng menjadi merah dan tidak sanggup bicara. Pada saat itulah suara Siao-liong-li berkata:
“Tolong pinjam sebentar pedangmu!”
Tiba-tiba sesosok bayangan melayang lewat di samping Bu Tun-si dan Wanyen Peng dan tahu-tahu pedang mereka sudah dilolos orang. Gerakan itu sungguh secepat kilat. Ketika Bu Tun-si dan Wanyen Peng masih melengak bingung, Siao-liong-li sudah melayang ke atas jembatan batu dan mendekati Kongsun Ci. Terkejut juga Kongsun Ci melihat Siao-liong-li berani mendekat ke tempat berbahaya itu. Segera ia melangkah maju dan menghadang di ujung jembatan batu sebelum Siao-liong-li menyeberang ke tempatnya. Bentaknya:
“Apakah kau ingin mampus?!”
Sambil menghunus sepasang pedang, Siao-liong-li berdoa dalam hati semoga berhasil merebut kembali Coat-ceng-tan, untuk ini mati pun ia rela. Dengan suara lembut ia lantas berkata:
“Kongsun-siansing, engkau pernah menyelamatkan jiwaku, lantaran perempuan yang bernasib malang seperti diriku ini kau telah ikut menderita, sungguh aku amat sedih dan menyesal. Kedatanganku sekarang ini sama sekali bukan ingin mengadu jiwa dengan kau.”
“Habis kau mau apa?” tanya Kongcun Ci.
“Kumohon engkau suka memberi obat untuk menolong suamiku, obat itu tak ada gunanya bagimu, kalau suka dihadiahkan kepadaku, sungguh takkan kulupakan budi kebaikanmu,” tutur Siao-liong-li.
“Lekas kembali, Liong-ji!” demikian Yo Ko berseru di seberang sana, “Setengah biji obat takkan menolong jiwa kita berdua, apa guna kau memintanya?”
Melihat perawakan Siao-liong-li yang cantik dan lemah gemulai menggiurkan, mana Li Bok-chiu dapat menandinginya biar pun cuma tiga bagiannya? Matanya yang tinggal satu mengincar dengan terkesima. Tiba-tiba timbul lagi pikiran jahat Kongsun Ci, dia bertanya:
“Kau panggil bocah she Yo itu suamiku?”
“Ya, kan dia sudah menikah dengan aku,” jawab Siao-liong-li.
“Asalkan kau menyanggupi permintaanku, segera obat ini kuberikan,” kata Kongsun Ci.
Melihat sorot mata tunggal orang yang licin itu, Siao-liong-li tahu maksudnya, katanya sambil menggeleng: “Sekarang aku sudah bersuami, mana boleh kunikahi kau lagi? Kongsun-siansing, kau tetap kesemsem padaku, namun aku sudah ada yang punya, terpaksa mengecewakan maksud baikmu.”
Mata Kongsun Ci yang aneh itu mendelik, bentaknya: “Kalau begitu lekas kau mundur ke sana. Kalau kau tetap memusuhiku, terpaksa aku tidak kenal ampun lagi.”
“Kan sia-sia belaka perkenalan kita ini jika sampai bergebrak dan bermusuhan?” ujar Siao-liong-li, suaranya sangat halus, dalam hati ia benar-benar masih merasa utang budi kepada Kongsun Ci.
“Hm,” jengek Kongsun Ci. “Aku justru ingin menyaksikan bocah she Yo itu merintih-rintih akibat racun dalam tubuhnya, ingin melihat ia sekarat menghadapi elmaut, ingin tahu betapa cantiknya isteri setia seperti kau ini akhirnya menjadi janda muda belia yang berkabung.” Makin bicara makin keji kata-katanya dengan menyeringai dan mengertak gigi.
Siao-liong-li menyambut dengan tersenyum pedih, jawabnya: “Coba kau dengar, bukankah dia sedang memanggilku kembali? Begitu kasih sayangnya padaku, betapa pun dia tak menghiraukan apakah racun dalam tubuhnya akan kumat atau tidak.”
Benar juga terdengar Yo Ko berseru, katanya: “Liong-ji, lekas kembali, buat apa banyak bicara dengan orang macam begitu?” Kalau saja jembatan batu itu tak terlalu sempit dan sukar dipijak dua orang, tentu sejak tadi dia telah berlari dan menarik kembali isterinya.
Pada saat itu jarak Kongsun Ci dengan Siao-liong-li hanya satu-dua meter saja, asalkan melangkah maju satu tindak pasti sudah dapat meraihnya. Cuma tempatnya teramat berbahaya, apa bila nona itu sedikit meronta saja maka keduanya pasti akan tergelincir ke dalam jurang dan hancur lebur. Kongsun Ci menjadi serba susah. Kalau tidak menawan Siao-liong-li sebagai sandera, lalu cara bagaimana dirinya dapat lolos dari tebing yang buntu ini. Pihak lawan hanya Yo Ko seorang saja yang lihay, apa bila dirinya menerjang mati-matian mungkin anak muda itu pun tak dapat menghalanginya, tapi paling baik kalau Siao-liong-li mau mundur sesuai seruan Yo Ko, lalu dirinya ikut menyeberang ke sana dan menawannya, kemudian bergabung dengan Li Bok-chiu. Sesudah ambil keputusan demikian, segera Kongsun Ci membentur pedang dan goloknya hingga menerbitkan suara mendering, bentaknya:
“Lekas mundur!” Berbareng pedangnya menusuk.
Di luar dugaan, sejak Siao-liong-li belajar ilmu berkelahi dua tangan dengan dua cara dari Ciu Pek-thong, kepandaiannya bertambah satu kali lipat, kalau pun tubuh mengidap racun dan tenaga dalamnya banyak berkurang, tapi betapa hebat Giok-li-kiam-hoat yang dimainkannya dengan kedua tangan sekaligus mana bisa ditandingi golok dan pedang Kongsun Ci. Dalam sekejap sepasang pedang yang diputar Siao-liong-li berubah menjadi dua gulung sinar putih, bila yang kiri bertahan, yang kanan menyerang dan begitu seterusnya secara bergantian. Keruan Kongsun Ci menjadi kelabakan dan terdesak. Makin lama makin heran dan gelisah hati Kongsun Ci. Diam-diam dia menyesal, kalau tadi mengetahui orang telah berhasil meyakinkan ilmu pedang selihay ini, tentu dia tidak akan bergebrak. Masih untung baginya karena sedikit pun Siao-liong-li tidak berniat membunuhnya, maka untuk sekian lama Kongsun Ci masih sanggup bertahan. Begitulah mereka bertempur dengan sengitnya di tebing yang curam, tidak lama It-teng Taysu, Oey Yong, Kwe Hu, Yalu Ce dan Yalu Yen tiba dan semua terperanjat menyaksikan pertarungan sengit mereka di tempat yang amat berbahaya itu. Kwe Hu berkata kepada Yalu Ce: “Lekas kita maju membantu, sendirian mana Liong-cici mampu mengalahkan dia?”
Biar pun watak Kwe Hu rada sembrono dan sejak kecil selalu dimanjakan sang ibu, tetapi pada dasarnya berhati bajik. Ia sendiri pun pernah bergebrak dengan Kongsun Ci dan diketahuinya kepandaian kakek bermata satu itu sangat lihay, bahkan ibunya juga bukan tandingannya, apa lagi sekarang Siao-liong-li menempurnya sendirian. Ketika menyaksikan keadaan Siao-liong-li sangat berbahaya, saking cemasnya terpaksa ia berseru:
“Lekas mencari akal untuk membantu Liong-cici, ibu!”
Tapi Yalu Ce mengatakan jembatan batu itu tak muat lagi untuk orang lain, hal ini memang nyata. Padahal tanpa seruan Kwe Hu, setiap orang juga berharap bisa membantu Siao-liong-li meninggalkan tempat berbahaya itu, tapi apa daya, andai kata bisa terbang ke sana juga tiada tempat untuk berpijak.
Terdengar suara bentakan Kongsun Ci, golok dan pedangnya menyerang serabutan. Kedua pedang Siao-liong-li menyambar kian kemari dengan lemasnya seperti kekurangan tenaga, kalau berlangsung lama tampaknya dia pasti akan celaka di tangan Kongsun Ci. Hanya Yo Ko, Oey Yong dan It-teng Taysu saja yang dapat melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya Siao-liong-li yang lebih unggul. Sejenak puIa, dapatlah Oey Yong melihat cara bertempur Siao-liong-li itu ternyata adalah ilmu berkelahi dengan dua tangan dan dua cara. Kepandaian ini di seluruh jagat tidak ada orang ketiga yang paham selain Ciu Pek-thong dan Kwe Ceng, maka jelaslah kepandaian Siao-liong-li ini pasti ajaran Ciu Pek-thong.
Dilihatnya Kungfu yang dimainkan Kongsun Ci sesungguhnya teramat lihay, sedangkan Siao-liong-li habis luka berat dan keracunan, tenaga dalamnya banyak susut, meski jurus serangannya lebih unggul tapi dalam waktu ratusan jurus masih sukar menundukkan Kongsun Ci. Tiba-tiba teringat satu akal oleh Oey Yong, maka segera dia berkata:
“Ko-ji, kau dan aku berbareng bicara pada Kongsun Ci, kau menggertak dan me-nakuti dia, sebaliknya aku membuatnya gembira, supaya dia lengah dan perhatiannya terpencar.” dia lantas mendahului berteriak: “Hai, Kongsun-siansing, ini kabar baik bagimu, perempuan jahat Kiu Jian-jio sudah kubunuh!”
Tergetar juga hati Kongsun Ci mendengar kata-kata itu. Dia menjadi ragu-ragu, setengah percaya setengah sangsi. Segera Yo Ko ikut berseru:
“Kongsun Ci, Li Bok-chiu menganggap kau ingkar janji karena tidak membawakan obat padanya, maka dia datang hendak membikin perhitungan dengan kau.”
“Tidak, tidak!” cepat Oey Yong menambahkan. “Kata Li Bok-chiu, asalkan kau sanggup menyembuhkan racun dalam tubuhnya, maka dia rela menjadi isterimu.”
“Ahh, mustahil kami mau tinggal diam saja!” seru Yo Ko pula. “Kami pasti akan berusaha menggagalkan angan-anganmu. Jika kau tertangkap kami, kami juga akan menyiksa kau dengan duri bunga cinta supaya kau juga tahu rasa.”
“Persengketaan kita dapat didamaikan, tidak perlu kau kuatir, bagaimana kalau sekarang juga kita mulai berunding?” seru Oey Yong.
“He, celaka! Pelayanmu yang kau bunuh dahulu itu sudah menjadi hantu dan kini muncul hendak menagih jiwa padamu!” teriak Yo Ko. “Nah, nah, itu dia! Awas, dia berdiri tepat di belakangmu, wah, kukunya panjang dan tampaknya kau akan diterkam.”
Demikianlah Oey Yong dan Yo Ko berseru bergantian, kata-kata mereka sebentar membikin takut hati Kongsun Ci dan lain saat membuatnya senang. Tentu saja Siao-liong-li juga dapat mendengar semua perkataan itu, cuma lantaran urusan ini tidak menyangkut kepentingannya, pula dia dapat membagi pikirannya dan dilakukan dengan dua tangan, serangannya sedikit pun tidak menjadi kendur. Sebaliknya Kongsun Ci memang sudah terdesak, karena pengacauan ucapan Yo Ko dan Oey Yong, pikirannya semakin kacau. Akhirnya ia menjadi gemas dan membentak:
“Kalian mengoceh apa? Lekas tutup mulut!”
“He, awas, Kongsun Ci!” teriak Yo Ko, “Siapa itu nona yang berambut semerawut di belakang? Lidahnya menjulur panjang sekali, mukanya penuh darah. Ahh, dia hendak mencengkeram lehermu, awas! Wah, celaka!”
Meski Kongsun Ci tahu anak muda itu sengaja hendak mengacaukan pikirannya, namun teriakan-teriakan ngeri itu membuatnya merinding juga dan tanpa terasa ia melirik sekejap ke belakang. Kesempatan itu tidak disia-siakan Siao-Iiongli, pedangnya menyambar, dengan tepat pergelangan tangan kiri Kongsun Ci tertusuk. Dengan sendirinya pegangan Kongsun Ci menjadi kendur, golok emasnya mencelat jatuh ke jurang, sampai lama sekali barulah terdengar kumandang suara perlahan seperti suara tercebur dalam air, agaknya di bawah jurang itu adalah sebuah kolam atau sungai.
Semua orang saling pandang dengan melongo, begitu lama golok itu terjatuh ke bawah barulah menerbitkan suara, maka betapa dalamnya jurang itu sungguh sukar diukur. Begitu kehilangan goloknya, jangankan menyerang lagi, bahkan untuk bertahan saja sulit bagi Kongsun Ci. Sebaliknya serangan Siao-liong-li semakin lancar dan gencar, berturut-turut ia menusuk lagi empat kali ke kanan dan ke kiri. Tubuh Kongsun Ci tergeliat, pedang hitamnya kembali terjatuh lagi ke jurang dan mati kutulah dia. Sambil mengancam dada dan perut lawan dengan sepasang pedangnya, Siao-liong-li lalu berkata:
“Kongsun-siansing, silakan kau menyerahkan Coat-ceng-tan dan jiwamu takkan kuganggu.”
“Tapi bagaimana dengan orang-orang itu?” tanya Kongsun Ci dengan suara gemetar.
“Kujamin takkan membikin susah kau,” jawab Siao-liong-li.
Dalam keadaan demikian yang dipikir Kongsun Ci hanya menyelamatkan jiwanya belaka. Segera ia mengeluarkan botol kecil itu dan disodorkan. Sambil tetap mengancam dada lawan dengan satu pedang, tangan Siao-liong-Ii yang lain menerima botol itu dengan perasaan girang dan pedih pula, pikirnya: “Meski pun aku sendiri tak dapat hidup lama, akhirnya Coat-ceng-tan ini dapat kurampas untuk menolong Ko-ji.” Segera ia berlari balik.
Meski sebelumnya Bu Sam-thong, Cu Cu-liu dan lain-lain sudah tahu ilmu silat Siao-liong-li sangat lihay, tapi sama sekali tidak menduga dia memiliki kepandaian sesakti ini, dapat sekaligus memainkan dua pedang dengan cara yang berlainan. Mereka pernah mendengar bahwa Ciu Pek-thong dan Kwe Ceng mahir memainkan dua cara bertempur yang berbeda dengan kedua tangan, tetapi mereka cuma mendengar saja dan belum pernah menyaksikan sendiri. Sekarang mereka dapat melihat betapa lihaynya kepandaian Siao-liong-li, mereka menjadi kagum tak terhingga.
Tentu saja Yalu Ce, Yalu Yen, Thia Eng, Kwe Hu dan yang lain-lainnya tak kepalang kagumnya menyaksikan betapa lihay ilmu silat Siao-liong-li, padahal usianya sebaya dengan mereka, malahan kelihatan lemah gemulai, kalau tidak menyaksikan sendiri tentu orang takkan percaya.
Sementara itu dengan gaya indah laksana bidadari turun dari kahyangan Siao-liong-li melayang balik dari jembatan batu. Serentak semua orang bersorak gembira dan memuji. Segera Yo Ko memburu maju dan memegangi tangan sang isteri, semua orang juga lantas merubungnya untuk bertanya. Cepat Siao-liong-li membuka botol porselen itu dan menuang keluar setengah butir pil, katanya dengan tersenyum simpul:
“Ko-ji, obat ini tulen, bukan?”
Tetapi Yo Ko memandang obat itu dengan tak acuh, jawabnya: “Memang tulen, Liong-ji, bagaimana keadaanmu? Kenapa kau begini pucat? Coba kau mengatur pernapasanmu.”
Tapi Siao-liong-li hanya tersenyum saja. Pada waktu berlari balik tadi memang dia sudah merasakan darahnya se-olah bergolak dalam rongga dadanya, rasanya muak dan ingin muntah, tetapi sekuatnya ia bertahan. Ia tahu racun yang diidapnya itu terlalu dalam, untunglah dia sudah berhasil merebut setengah biji Coat-ceng-tan, lebih dari itu tak terpikir lagi olehnya.
Sambil menggenggam tangan Siao-liong-li yang terasa semakin dingin, dengan cemas Yo Ko bertanya:
“He, Liong-ji, bagaimana perasaanmu?”
“Ahh, tidak apa-apa, lekas kau minum obat ini,” ujar Siao-liong-li.
“Liong-ji,” kata Yo Ko dengan suara gemetar, “setengah biji obat ini sukar menyelamatkan jiwa dua orang, untuk apa lagi? Oh, Liong-ji, masa kau belum tahu perasaanku? Kalau engkau mati, masa aku dapat hidup sendirian?” Berkata sampai di sini, rasa dukanya tak tertahan lagi, mendadak ia rampas botol beserta obatnya terus dilemparkan. Ternyata setengah biji obat, satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan racun yang diidapnya dibuang ke jurang yang tak terhingga dalamnya. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan siapa pun, serentak semua orang melengak dan berseru kaget.
Siao-liong-li tahu bahwa Yo Ko bertekad hendak sehidup semati dengannya, hatinya menjadi pedih, duka tercampur terima kasih. Sehabis bertempur sengit, racun di dalam tubuhnya kembali bekerja. Ia tidak tahan lagi, ia tergeliat terus jatuh pingsan dalam pelukan Yo Ko.
Dua saudara Bu, Kwe Hu, Wanyen Peng dan anak-anak muda lain tidak paham duduknya perkara, maka beramai-ramai mereka bertanya dan membicarakan kejadian ini. Tiba-tiba Bu Sam-thong membentak:
“Li Bok-chiu, sekali ini jangan kau harap dapat lolos lagi!” Ia memburu ke lereng gunung sebelah sana.
Waktu semua orang memandang ke sana, tampaklah Kongsun Ci sedang berlari secepat terbang dengan Ginkang-nya yang sangat tinggi. Di tanjakan lereng gunung sana tiba-tiba berkumandang suara tertawa orang tua, menyusul seseorang muncul dengan memanggul sebuah peti besar, kiranya Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, si Anak Tua Nakal.
“He, Lo-wan-tong, lekas giring To-koh jubah kuning itu ke sini!” seru Oey Yong.
“Baik, boleh kalian saksikan kepandaian Lo-wan-tong!” seru Ciu Pek-thong lalu membuka tutup peti, kedua tangannya ber-gerak, seketika segerombolan tawon madu menyambar keluar terus menerjang ke arah Li Bok-chiu.
Ketika pasukan Mongol membumi-hanguskan Cong-lam-san, kawanan Tosu dari Coan-cin-kau sempat meninggalkan gunung dengan membawa kitab agama dan benda-benda berharga lain, tapi yang dibawa Cui Pek-thong adalah sebuah peti yang berisi sekawanan tawon putih piaraan Siao-liong-li dahulu. Meski sifatnya jenaka dan tingkah lakunya ugal-ugalan, tapi bakat Ciu Pek-thong sebenarnya amat pintar. Tanpa kenal lelah ia terus mempelajari cara memimpin kawanan tawon putih itu, akhirnya dia berhasil juga menemukan kuncinya. Sekarang dia diminta Oey Yong menggiring Li Bok-chiu, kebetulan baginya untuk pamer kepandaian yang baru berhasil dipelajarinya itu.
Begitulah Kongsun Ci menjadi kaget melihat kawanan tawon itu. Ia tidak berani mendekati Li Bok-chiu melainkan terus menyelusup ke semak-semak. Li Bok-chiu juga kelabakan melihat terjangan kawanan tawon itu, terpaksa dia berlari mengikuti jalanan pegunungan itu. Segera Bu Sam-thong didahului kedua puteranya serta Liok Bu-siang dan Thia Eng memapak dengan senjata terhunus. Mendadak Yalu Ce berteriak:
“Lihay benar engkau, Suhu! Lekas engkau simpan kembali kawanan tawon itu ke dalam kandang!”
Segera Ciu Pek-thong ber-kaok-kaok menggiring kawanan tawon itu kembali ke dalam peti. Tetapi di tengah ribut-ribut, mana kawanan tawon mau menuruti perintahnya? Sambil tetap men-dengung gerombolan tawon putih itu tetap mengejar ke arah Li Bok-chiu. Kuatir Li Bok-chiu kabur lagi, tanpa menghiraukan sengatan tawon, segera Bu Sam-thong mengudak ke sana.
“Liong-ji...! Liong-ji...!” Yo Ko merangkul Siao-liong-li dan memanggilnya perlahan.
Siao-liong-li membuka matanya sedikit, telinganya mendengar suara mendengung tawon hingga rasanya seperti sudah berada di kediaman lama di Cong-lam-san, hatinya menjadi girang dan bertanya:
“Apakah kita sudah berada di rumah?” Tetapi setelah tenangkan diri baru ingat apa yang terjadi tadi.
Segera dia bersiul perlahan beberapa kali, lantas membentak pula beberapa kali. Seketika kawanan tawon putih itu ber-putar di sekeliling Li-Bok-chiu dan tidak terbang serabutan lagi.
“Suci,” katanya, “selama hidupmu engkau telah banyak dosa, apakah sekarang kau tidak menyesal?”
Wajah Li Bok-chiu pucat seperti mayat, jawabnya: “Mana Coat-ceng-tan?”
Siao-liong-li tersenyum pedih, lalu berkata: “Coat-ceng-tan sudah dilempar ke dalam jurang. Kenapa kau membunuh paderi Hindu itu? Kalau dia tidak mati, bisa jadi jiwaku dan jiwa Ko-ji dapat tertolong, bahkan kau pun dapat diselamatkan.”
Mendelong perasaan Li Bok-chiu. Dia tahu Sumoay-nya ini selamanya tidak suka omong kosong. Diam-diam ia merasa menyesal bahwa jarumnya telah menewaskan paderi Hindu itu sehingga dirinya sendiri juga ikut celaka. Sementara itu Bu Sam-thong dan lain-lainnya sudah merubung maju, sedangkan Ciu Pek-thong masih sibuk berteriak-teriak dan berjingkrakan ingin memanggil kawanan tawon.
“Kakek Ciu, begini caranya,” seru Siao-liong-li, lalu ia bersuit dan membentak seperti tadi.
Ciu Pek-thong menirukan bersuit dan membentak. Benar juga, beribu-ribu tawon putih itu terbang menyusul kembali ke dalam peti. Keruan ia girang sekali, serunya:
“Terima kasih, nona Liong.”
“Saudara Pek-thong, sudah lama tidak berjumpa, kau ternyata sehat-sehat saja seperti dulu,” dengan tersenyum It-teng Taysu menyapa.
Untuk sejenak Ciu Pek-thong melengak karena tak disangkanya It-teng Taysu juga berada di situ. Cepat dia menutup peti dan berkata:
“Ya, aku sehat, kau pun sehat, semua juga sehat!” Dia panggul petinya terus mengeluyur pergi tanpa berpaling lagi.
Melihat keadaan di sekelilingnya, Li Bok-chiu menyadari kedudukannya yang sulit. Oey Yong, Yo Ko atau Siao-liong-li salah seorang saja sudah sukar dilawan, apa lagi jika sekarang main kerubut. Dia menjadi nekat, teriaknya:
“Hm, percuma kalian menganggap diri sebagai kaum pendekar, tahunya, he-he, kalian pun suka main keroyok. Siau-sumoay, sebagai anak murid Ko-bong-pay, betapa pun aku tidak boleh mati di tangan orang luar, Nah, silakan kau maju saja!” dia menyodorkan gagang pedang ke depan dan ujung pedang mengarah ke dadanya sendiri.
Tetapi Siao-liong-li hanya menggeleng, katanya: “Urusan sudah terlanjur begini, untuk apa kubunuh kau?”
“Li Bok-chiu!” bentak Sam-thong mendadak. “Sekarang hendak kutanya kau, jenazah Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun telah kau bawa ke mana?”
Mendengar nama Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun mendadak disebut, tubuh Li Bok-chiu gemetar, mukanya ber kerut, lalu menjawab:
“Sudah kubakar menjadi abu. Abu tulang yang seorang kutebarkan di puncak Hoa-san, abu tulang yang Iainnya kubuang ke lautan timur, supaya mereka berdua takkan menjelma kembali dan tak pernah berkumpul lagi.”
Melihat cara mengucap Li Bok-chiu yang geregetan dan penuh dendam itu, semua orang terkesiap dan gegetun. Segera Bu-siang berkata:
“Liong-cici adalah orang baik dan dia tidak tega membunuh kau. Tapi segenap keluargaku sudah kau bunuh semua, hanya tersisa aku saja seorang, maka hari ini aku harus menuntut balas. Piauci, hayo kita maju!”
“Kau sudah membunuh ibuku, betapa pun kami tidak dapat mengampuni kau!” seru kedua saudara Bu.
“Orang yang tewas di bawah kebut dan jarumku tak terhitung banyaknya, jika semua ingin menuntut balas padaku, dari mana aku mempunyai nyawa cadangan sebanyak itu? Bagaimana pun juga jiwaku cuma satu,” ujar Li Bok-chiu tak acuh.
“Jika begitu terlampau murah bagimu,” seru Bu-siang dan Siu-bun berbareng, dan segera menubruk maju dengan senjata masing-masing. Mendadak Li Bok-chiu mengangkat pedangnya.
“Pletak!” tahu-tahu pedangnya tergetar patah.
Sambil tersenyum mengejek Li Bok-chiu bersikap menghina. Ia hanya berdiri diam tanpa melawan. Ia tunggu serangan kedua anak muda itu dan tamatlah riwayatnya. Pada saat itulah mendadak di sebelah timur nampak ada asap tebal mengepul dan api berkobar dengan hebatnya.
“Hah, perkampungan disana terbakar!” seru Oey Yong.
“Tunda dulu membunuhnya, lebih penting menyelamatkan jenazah Susiok,” kata Cu Cu-liu sambil melompat maju, sekaligus dia totok tiga Hiat-to penting di tubuh Li Bok-chiu agar tidak dapat kabur lagi.
“Juga jenazah nona Kongsun,” demikian Thia Eng menambahkan.
Semua orang membenarkan dan mereka berlari ke arah datangnya tadi. Kedua saudara Bu cilik menggiring Li Bok-chiu, sedangkan Yo Ko, Siao-liong-li, Oey Yong dan It-teng Taysu menyusul dari belakang dengan perlahan.
Walau pun masih cukup jauh dari perkampungan kediaman Kongsun Ci, hawa panas sudah menyerang dengan ganasnya. Terdengar suara jeritan dan teriakan ngeri disertai suara gemuruh ambruknya atap dan belandar rumah.
“Keparat Kongsun Ci benar-benar terlalu jahat, nona Liong seharusnya membinasakan dia saja,” ujar Bu Sam-thong.
“Besar kemungkinan api ini bukan dikobarkan oleh Kongsun Ci, kukira ini perbuatan nenek gundul Kiu Jian-jio itu,” kata Cu Cu-liu.
“Perbuatan Kiu Jian-jio katamu?” Segera Bu Sam-thong melengong bingung. “Untuk apa dia membakar kediaman sendiri yang sukar dibangun ini?”
Sembari berlari ke depan Cu Cu-liu menjawab: “Sebagian besar anak murid Kongsun Ci tidak mau tunduk padanya, sekali pun kita membunuh Kongsun Ci nenek gundul itu tidak dapat berdiam aman tenteram. Kulihat nenek itu berjiwa sempit dan...” tengah berkata tibalah mereka di dekat semak-semak bunga cinta yang rada jauh dari kobaran api.
Tampaklah jenazah paderi Hindu itu masih menggeletak di sana dengan wajah tersenyum simpul seperti orang hidup, agaknya sebelum ajalnya paderi itu menemukan sesuatu yang membuatnya kegirangan.
“Tampaknya Susiok mendadak meninggal sehingga sama sekali tidak menderita,” ujar Bu Sam-thong.
Cu Cu-liu berpikir sejenak, lalu berkata, “Waktu itu Susiok sedang mencari rumput yang dapat memunahkan racun bunga cinta.”
Sementara itu Oey Yong dan It-teng Taysu juga sudah menyusul tiba. Demi mendengar ucapan Cu Cu-liu itu, Oey Yong memeriksa sekitar jenazah paderi Hindu, tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh. Dia coba meraba baju paderi itu namun tetap tiada menemukan sesuatu benda.
“Apakah susiok-mu tidak meninggalkan sesuatu pesan?” tanyanya kepada Cu-liu.
“Tidak,” jawab Cu-Jiu, “Kami keluar dari rumah omprongan dan tidak menyangka akan disergap musuh secara mendadak.”
Tiba-tiba Oey Yong melihat air muka paderi Hindu yang mengulum senyum. Pikirannya tergerak, cepat dia memeriksa tangan paderi itu. Tampaklah kedua jari tangan kanannya memegang setangkai kecil rumput warna ungu. Perlahan Oey Yong mementang jarinya dan rumput kecil itu diambilnya, lalu bertanya:
“Rumput apa ini?”
Cu-liu menggeleng karena tidak tahu. Oey Yong coba mengendus rumput itu, terasa bau busuk dan memuakkan.
“Awas, Kwe-hujin, itu Toan-jong-cau (rumput perantas usus) yang mengandung racun hebat,” cepat It-teng berseru.
Oey Yong melengak dan sangat kecewa oleh keterangan itu. Sementara dua saudara Bu sudah tiba sambil menggiring Li Bok-chiu. Mendengar rumput itu beracun, Bu Siu-bun berkata kepada Oey Yong:
“Sunio (ibu guru), suruh iblis maha jahat ini makan rumput itu saja.”
“Aih, anak kecil jangan berpikiran buruk begitu,” ujar It-teng.
“Cosu-yaya (kakek guru), terhadap manusia jahat seperti ini kenapa kasihan?” ujar Siu-bun.
Dalam pada itu pepohonan di sebelah sana sudah terjilat api dan menerbitkan suara pletak pletok yang keras, hawa panas juga semakin hebat. Cepat Oey Yong berkata:
“Marilah kita mundur ke atas bukit bukit di sebelah timur sana.”
Mereka berlari ke lereng bukit, terlihatlah bangunan yang ber-deret itu dalam waktu singkat musnah ditelan lautan api. Karena Hiat-to-nya tertotok, meski pun dapat berjalan tapi ilmu silat Li Bok-chiu tak dapat digunakan sama sekali. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalam, maksudnya hendak melancarkan Hiat-to yang tertotok itu supaya dapat meloloskan diri kalau penjagaan agak lengah. Tak terduga begitu ia mengerahkan tenaga, seketika dada dan perutnya kesakitan bukan main, tak tahan lagi ia menjerit. Rupanya racun bunga cinta yang mengeram dalam tubuhnya semula terbendung oleh tenaga murninya. Kini tenaga murninya dipergunakan untuk menembus Hiat-to yang tertotok hingga tenaganya terpencar, maka racun lantas bekerja dengan ganasnya.
Dalam keadaan dada dan perut kesakitan hebat, dari jauh dilihatnya Yo Ko dan Siao-liong-li berjalan mendatangi, yang satu pemuda cakap ganteng, yang lain nona cantik molek. Pandangannya seketika menjadi kabur, samar-samar kedua muda-mudi yang dilihatnya seakan-akan Liok Tian-goan yang dirindukannya selama hidup ini beserta isterinya, yaitu Ho Wan-kun, tanpa terasa ia berteriak:
“Tian-goan, kejam benar kau! Dalam keadaan begini tega benar kau menemui aku?”
Karena rangsangan cintanya itu, racun bunga semakin hebat menyiksanya hingga sekujur badan gemetar, kulit daging mukanya berkerut-kerut kejang. Melihat sikapnya yang menakutkan seperti orang gila, tanpa terasa semua orang melangkah mundur. Selamanya Li Bok-chiu berwatak angkuh dan tidak pernah mau tunduk kepada orang lain. Kini hatinya terasa pedih dan tubuhnya menderita, saking tidak tahan dia berteriak-teriak:
“Aduh, sakit! Tolong...! Lekas tolong...!”
“Sebenarnya Susiok-ku dapat menolong kau, namun kau sudah membunuhnya,” kata Cu Cu-liu sambil menunjuk jenazah paderi Hindu.
Sambil mengertak gigi Li Bok-chiu menjawab: “Benar, memang akulah yang membunuh dia. Setiap manusia di dunia ini, baik atau buruk pasti akan kubunuh. Aku akan mati, ya, aku akan mati! Untuk apa kalian hidup? Aku ingin mati bersama kalian.”
Saking tidak tahan sakitnya, mendadak dia menubruk ke ujung pedang yang dipegang Bu Tun-si. Setiap hari Bu Tun-si berusaha menuntut balas dan ingin membunuh musuh besar ini, tapi sekarang mendadak musuh menubruk ke ujung pedangnya, ia malah menjadi terkejut dan tanpa terasa ia menarik kembali pedangnya, Li Bok-chiu menubruk tempat kosong, ia tergelincir ke bawah bukit terus terguling ke tengah lautan api.
Semua orang menjerit kaget. Dari atas mereka dapat melihat dalam sekejap saja Li Bok-chiu terbungkus kobaran api, tapi dia merangkak bangun lalu berdiri tegak tanpa bergerak lagi dan sama sekali tak menghiraukan tubuhnya yang terbakar. Teringat hubungan saudara seperguruan, Siao-liong-li merasa tidak tega, cepat ia berseru:
“Suci, lekas lari keluar, lekas!”
Namun Li Bok-chiu tetap berdiri tegak di tengah api yang berkobar-kobar itu, dalam waktu singkat saja tubuhnya berubah menjadi sepotong tonggak hitam dan akhirnya roboh. Siao-liong-li memegangi lengan Yo Ko sambil menutupi mukanya serta meneteskan air mata. Selama ini Thia Eng dan Liok Bu-siang tak pernah melupakan sakit hati atas terbunuhnya ayah bunda mereka dan segenap anggota keluarga. Tetapi melihat nasib Li Bok-chiu yang berakhir mengenaskan, meski pun sekarang dendam itu sudah terbalas, namun sedikit pun mereka tidak gembira menyaksikan kematian Li Bok-chiu.
Oey Yong memondong Kwe Siang. Teringat kepada kejahatan yang pernah diperbuat Li Bok-chiu, iblis itu juga pernah melakukan kebaikan, merawat Kwe Siang selama beberapa hari. Oey Yong lantas pegang kedua tangan Kwe Siang dan memberi hormat ke arah api sebagai tanda terima kasih kepada Li Bok-chiu.
Semula Yo Ko bermaksud menyelamatkan jenazah Kongsun Lik-oh juga. Tapi api terlihat berkobar dengan amat hebatnya, segenap bangunan telah tenggelam di tengah lautan api sehingga tidak berdaya lagi. Diam-diam Yo Ko merasa sedih, ia menghela napas panjang sambil memandang kobaran api dengan kesima. Pada saat itu se-konyong-konyong di atas gunung sebelah timur-laut ada suara tertawa melengking aneh laksana bunyi burung hantu, suaranya amat menusuk telinga walau pun berkumandang dari jarak yang cukup jauh, maka dapat dibayangkan tenaga dalamnya sangat hebat.
“ltu suara Kiu Jian-jio!” kata Yo Ko. “Kenapa dia bisa berada di puncak gunung sana?”
Tergerak hati Siao-liong-li, katanya: “Coba kita ke sana untuk menanyai dia apakah masih menyimpan Coat-ceng-tan.”
“Liong-ji, masa sampai sekarang kau masih memikirkan hal itu?” ujar Yo Ko tersenyum getir.
Maksud kedatangan Oey Yong, Bu Sam-thong, Thia Eng dan lain-lain ke Coat-ceng-kok mencarikan obat bagi Yo Ko, maka mereka menyetujui usul Siao-liong-li. Mereka pikir kalau dari Kiu Jian-jio bisa dimintakan Coat-ceng-tan lagi pasti Yo Ko akan dipaksa meminumnya dan takkan membiarkan pemuda itu membuang obatnya lagi secara sia-sia. Karena pikiran mereka sama, berbareng mereka berseru:
“Mari kita pergi ke sana.” Segera Bu Sam-thong bersama kedua puteranya serta Yalu Ce dan Wanyen Peng mendahului berlari ke sana.
Yo Ko menghela napas dan menggeleng kepala, pikirnya: “Apa gunanya usaha kalian ini kecuali kalian dapat mencarikan obat mujijat yang mampu menghidupkan jiwa kami suami isteri sekaligus?”
Sejak tadi Thia Eng hanya memandangi Yo Ko dengan diam-diam, kini mendadak berkata:
“Yo-toako, janganlah engkau mengecewakan maksud baik orang banyak, Mari kita juga pergi ke sana.”
Selama ini Thia Eng sangat baik kepada Yo Ko, dalam hati anak muda ini pun sangat berterima kasih. Walau pun cintanya sudah dicurahkan kepada Siao-liong-li dan tidak mungkin bergeser lagi, tapi terhadap nona yang berpribadi halus budi ini biasanya ia sangat menghormat. Sejak kenal Yo Ko juga Thia Eng tidak pernah memohon sesuatu, kini mendadak mengutarakan itu, betapa pun Yo Ko sukar menolaknya. Terpaksa ia mengangguk dan berkata:
“Baiklah, kita lihat nenek itu main gila apa lagi di puncak gunung sana.”
Begitulah mereka berlari ke atas gunung menurut arah datangnya suara tawa Kiu Jian-jio tadi. Yo Ko sudah pernah melihat pepohonan di atas gunung ini, jelas ini adalah tempat yang pernah dilaluinya ketika dia dan Kongsun Lik-oh serta Kiu Jian-jio lolos dari goa di bawah tanah. Sekarang pemandangan alam masih tetap begitu, tetapi Kongsun Lik-oh sudah tidak ada, dirinya sendiri juga tidak lama lagi tinggal di dunia fana ini. Teringat semua itu, ia menjadi terharu.
Kira-kira beberapa ratus meter di bawah puncak gunung, rombongan melihat jelas Kiu Jian-jio duduk sendirian di kursi dan sedang tertawa menengadah seperti orang gila.
“Dia tertawa sendirian di situ, mungkin otaknya kurang waras,” ujar Bu-siang.
“Kita jangan mendekatinya,” kata Oey Yong “Orang ini sangat kejam dan keji, kita harus waspada kalau-kalau dia mengatur tipu muslihat untuk menjebak kita. Kukira dia tidak gila sungguhan.”
Karena jeri terhadap senjata rahasia nenek gundul yang amat lihay, mereka berhenti di kejauhan. Oey Yong hendak menegur, tiba-tiba terlihat seseorang muncul dari balik karang di depan sana, siapa lagi kalau bukan Kongsun Ci. Mendadak Kongsun Ci menanggalkan jubahnya terus diputar dan dikebaskan hingga lurus dan mengencang. Begitu indah dan kuat gerakannya, sungguh lihay luar biasa. Diam-diam semua orang memuji kehebatan tenaga dalam Kongsun Ci itu. Terdengar dia membentak sambil menyeringai:
“Hm, nenek jahat dan keji, dengan apimu sekaligus kau sudah memusnahkan perkampunganku yang dibangun leluhur kami. Hari ini jiwamu tidak mungkin dapat lolos dari tanganku!” ia berlari ke arah Kiu-Jian-jio sambil memutar jubahnya.
“Serrr...!”
Terdengar suara mendesir keras satu kali, dari mulut Kiu Jian-jio tersembur satu biji buah kurma ke arah Kongsun Ci. Suara desiran itu berkumandang dari puncak gunung, jarak sambaran senjata rahasia itu pun cukup jauh, suaranya menjadi lebih nyaring dan tajam. Kelihatan Kongsun Ci mengebaskan jubahnya, buah kurma itu kena dilibatnya. Tadinya Kongsun Ci tidak yakin jubahnya dapat menahan senjata rahasia yang lihay. Akan tetapi dia amat murka, pula melihat Kiu Jian-jio duduk sendirian di puncak gunung tanpa bala bantuan, ia pikir inilah kesempatan bagus untuk membinasakan bekas isterinya itu. Dengan menyerempet bahaya dia terus menerjang ke situ, apa lagi setelah jelas senjata rahasia isterinya tak dapat melukainya, segera dia menerjang lebih cepat lagi ke depan. Melihat Kongsun Ci sudah dekat sekali, Kiu Jian-jio terlihat ketakutan dan berteriak-teriak:
“Wah, celaka! Tolong...! Tolong...!”
“Nenek itu hendak dibunuhnya, ibu,” kata Kwe Hu kepada Oey Yong.
Oey Yong merasa tidak paham, sebab jelas dilihatnya Kiu Jian-jio masih waras dan segar bugar, mengapa sengaja bergelak tertawa dan memancing kedatangan bekas sang suami itu? Dalam pada itu Kiu Jian-jio telah menyemprotkan dua biji paku buah kurma lagi. Karena jaraknya sudah dekat, daya sambaran senjata rahasia itu lebih keras. Cepat Kongsun Ci putar jubahnya untuk menghalau. Tapi mendadak ia menjerit satu kali, tubuhnya menghilang kejeblos ke bawah tanah dan Kiu Jian-jio bergelak tertawa pula. Namun suara tawanya cuma terdengar “ha-ha...” dua kali saja, sekejap itu dari bawah tanah menyambar keluar kain panjang yang melibat kaki kursi yang diduduki Kiu Jian-jio itu sehingga kursi dan orangnya ikut terseret ke dalam tanah.
Suara tawa Kiu Jian-jio mendadak berubah menjadi jeritan melengking tercampur teriakan ngeri Kongsun Ci berkumandang dari bawah tanah. Suara itu berkumandang sampai lama untuk kemudian mendadak lenyap, lalu keadaan menjadi sunyi kembali. Dari kejauhan semua orang dapat menyaksikan dan mendengar kejadian itu dengan jelas. Mereka saling pandang karena tidak paham sebab musababnya, hanya Yo Ko saja yang tahu jelas seluk-beluk kedua suami isteri itu. Segera mereka berlari ke atas puncak, nampaklah empat pelayan perempuan tergeletak tak bernyawa di situ. Di samping ada sebuah lubang besar, waktu mereka melongok ke bawah, keadaan gelap gulita dan tidak kelihatan apa pun.
Kiranya Kiu Jian-jio yang pernah tersiksa begitu lamanya di goa bawah tanah itu kadung teramat sakit hati dan benci kepada Kongsun Ci. Lebih dulu perkampungan keluarga Kongsun yang bersejarah be-ratus tahun itu dibakarnya habis, kemudian dia menyuruh empat pelayan menggotongnya ke puncak gunung. Melalui lubang goa di puncak inilah tempo hari dia diselamatkan dari goa bawah tanah oleh Yo Ko dan Kongsun Lik-oh. Ia perintahkan pelayan itu mengumpulkan ranting kayu, rumput kering dan sebagainya untuk menutup lubang goa, lalu pelayan-pelayan itu dibinasakannya. Kemudian ia sengaja bergelak tertawa untuk memancing kedatangan Konsun Ci. Ia menyemprotkan paku buah kurma serta menjerit minta tolong, semua ini cuma pura-pura saja agar Kongsun Ci tidak curiga.
Kongsun Ci tidak tahu bahwa di puncak gunung terpencil ini ada lubang goa sedalam itu, tanpa pikir ia menerjang ke arah Kiu Jian-jio dan akhirnya kejeblos. Akan tetapi pada detik terakhir ia masih berusaha mencari hidup, maka sekuatnya ia ayunkan jubahnya untuk membelit kaki kursi Kiu Jian-jio agar dia dapat meloncat ke atas kembali, siapa tahu sekali tarik justru keduanya malah terjerumus ke bawah. Lubang di bawah tanah itu dalamnya ber-puluh meter, keruan tubuh sepasang suami-isteri itu hancur lebur menjadi bakso dan saling lengket tak terpisahkan lagi. Tak disangka semasa hidupnya pasangan yang saling dendam dan benci itu akhirnya mati berbareng pada hari dan detik yang sama, terkubur pada tempat dan liang yang sama pula.
Sesudah Yo Ko menceritakan seluk-beluk kehidupan Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio, semua orang menghela napas gegetun. Yalu Ce dan anak-anak muda lain lantas menggali liang untuk mengubur keempat pelayan itu. Melihat api masih berkobar dengan hebatnya di lembah sana dan jelas tidak ada tempat tinggal lagi, apa lagi setelah menyaksikan korban sebanyak ini, semua orang berharap selekasnya dapat meninggalkan Coat-ceng-kok.
“Penyakit adik Yo Ko masih perlu disembuhkan. Kita harus lekas mencarikan tabib sakti untuk mengobatinya,” ujar Cu Cu-liu.
Semua orang membenarkan usul itu. Tetapi Oey Yong berkata: “Tidak, hari ini kita belum boleh berangkat.”
“Apa Kwe-hujin ada usul lain?” tanya Cu Cu-liu.
Oey Yong mengerutkan kening, jawabnya. “Bahuku terluka dan terasa kesakitan. Kuharap malam ini kalian sudi tinggal lagi di sini, kita berangkat besok saja.”
Bahwa kesehatan Oey Yong terganggu, semua orang menurut untuk bermalam di situ. Mereka lantas pergi mencari goa dan tempat meneduh lain dan sebagainya. Siao-liong-li dan Yo Ko hendak melangkah pergi. Tiba-tiba Oey Yong berseru:
“Liong-moaymoay, coba kemari, ingin kubicarakan sesuatu padamu.” Lalu ia menyerahkan Kwe Siang kepada Kwe Hu dan mendekati Siao-liong-li, katanya kepada Yo Ko dengan tersenyum. “Jangan kuatir, Ko-ji, dia sudah menikah dengan kau, takkan kuhasut untuk minta cerai.”
Yo Ko tersenyum, jawabnya: “Boleh saja kau coba menghasutnya.” Dalam hati ia sangat heran apakah yang hendak dibicarakan sang bibi dengan Siao-liong-li.
Terlihat mereka menuju ke sana lalu duduk di bawah sebatang pohon besar. Meski penuh rasa ingin tahu, namun tidak enak untuk mendekati mereka. Segera terpikir pula olehnya: ”Betapa pun Liong-ji pasti takkan merahasiakan padaku, dia akan memberi-tahukan apa yang dikatakan bibi Kwe.”
Setelah duduk di bawah pohon, Oey Yong berkata: “Adik Liong, sungguh aku sangat menyesal puteriku yang ceroboh dan sembrono itu banyak membikin susah kau dan Ko-ji.”
“Ahh, tidak apa-apa,” ujar Siao-liong-li dengan tersenyum. Tapi dalam hati dia pikir dengan sebuah jarum berbisa puterimu telah mencelakai aku hingga tak dapat disembuhkan lagi, sekali pun kau menyesal seribu kali juga tiada gunanya.
Oey Yong melihat Siao-liong-li bertambah muram. Ia belum tahu bahwa sebuah jarum yang disambitkan Kwe Hu itu sesungguhnya telah menamatkan riwayat Siao-liong-li. Disangkanya racun jarum itu tidaklah sukar disembuhkan seperti Bu Sam-thong dahulu. Yo Ko dan lain-lainnya juga pernah terkena jarum berbisa itu akan tetapi semuanya dapat disembuhkan. Dia tidak tahu bahwa ketika terkena jarum berbisa itu, Siao-liong-li sedang memutar balik jalan darahnya menurut ajaran Yo Ko sehingga keadaannya sama sekali berbeda.
Tetapi karena waktu itu Oey Yong sendiri tidak ikut masuk ke kuburan kuno, maka dia tidak tahu duduknya perkara. Segera ia berkata lagi:
“Ada sesuatu yang ingin kumintakan penjelasanmu. Dengan susah payah adik berhasil merebut Coat-ceng-tan, tapi Ko-ji tidak mau meminumnya, bahkan dibuang ke jurang, Apa sebabnya dia berbuat begitu?”
Siao-liong-li menghela napas perlahan. Dia tahu betapa cintanya Yo Ko dan tidak mau hidup sendiri, tetapi urusan sudah kadung begini, buat apa dibicarakan lagi sehingga menimbulkan gara? Maka dia menjawab:
“Mungkin sifatnya memang aneh.”
“Ko-ji adalah seorang yang berperasaan dan berbudi, mungkin dia melihat nona Kongsun rela mengorbankan jiwa sendiri demi mendapatkan obat itu, maka dia pun tidak tega dan tidak ingin minum obat untuk membalas kebaikan nona cantik itu. Adik Liong, memang jalan pikiran Ko-ji itu harus dipuji, orang mati tidak dapat hidup kembali, pendiriannya yang kepala batu itu justru malah berlawanan dengan tujuan pengorbanan nona Kongsun.”
Siao-liong-li mengangguk dan tidak mau menanggapi. Lalu Oey Yong beikata lagi: “Padahal dengan mati-matian adik Liong menempur Kongsun Ci di tebing curam tidak menghiraukan mati hidupnya sendiri? Di dunia ini Ko-ji hanya menurut pada perkataanmu, kuharap engkau suka menasehati dia agar berpikir panjang.”
“Seumpama dia mau menurut perkataanku, tetapi di dunia ini mana ada Coat-ceng-tan lagi?” ujar Siao-Liong-li dengan pilu.
“Meski pun Coat-ceng-tan tidak ada lagi, namun racun dalam tubuhnya bisa jadi dapat disembuhkan, yang sulit adalah karena dia tidak mau minum obat,” kata Oey Yong.
Siao-liong-li terkejut girang, cepat ia berdiri dan bertanya: “Setiap orang suka memuji Kwe-hujin banyak akalnya, nyatanya memang bukan omong kosong. Jadi engkau maksudkan ada obat lain yang dapat menyembuhkan Ko-ji?”
Oey Yong memegang tangan Siao-liong-li, katanya: “Duduklah kau.” Lalu ia mengeluarkan setangkai kecil rumput warna ungu dan berkata: “Rumput ini disebut Toan-jong-cau. Sebelum menghembuskan napasnya, paderi Hindu itu memegangi rumput kecil ini. Dari Cu-susiok kudengar waktu itu mereka sedang mencari obat penawar racun bunga cinta dan mendadak disergap hingga binasa oleh jarum berbisa Li Bok-chiu. Bukankah engkau melihat air muka paderi itu menguIum senyum meski pun orangnya telah meninggal? Aku yakin waktu itu beliau sedang girang karena berhasil menemukan rumput ini. Guruku Ang Chit-kong juga pernah bercerita padaku, katanya di mana ular berbisa suka berkeliaran di situ pula pasti tumbuh obatnya yang dapat memunahkan racun ular, demikian pula dengan makhluk-makhluk berbisa lainnya, itu hukum alam, sedangkan Toan-jong-cau ini kebetulan ditemukan di bawah semak-semak bunga cinta. Biar pun rumput ini terkenal berbisa, namun setelah kurenungkan berulang-ulang, aku yakin dengan rumput ini dapat digunakan sebagai obat racun menyerang racun. Jadi rumput ini adalah obat anti racun dari bunga cinta itu.”
Uraian Oey Yong ini membuat Siao-liong-li manggut-manggut berulang-ulang. Kemudian Oey Yong menyambung kembali:
“Sudah tentu minum rumput berbisa ini harus menyerempet bahaya, tetapi mau apa lagi? Tiada obat lain yang dapat menolongnya. Betapa pun juga kita harus mencoba. Menurut pikiranku, besar kemungkinan khasiat rumput ini dapat menyembuhkannya.”
Siao-liong-li tahu Oey Yong memang pintar dan banyak tipu dayanya. Kalau dia berkata secara begitu meyakinkan, maka urusannya pasti tak akan salah, apa lagi memang tiada jalan lain kecuali itu. Setelah membulatkan tekad, kemudian ia menjawab:
“Baiklah, akan kuminta dia minum obat ini.”
Segera Oey Yong mengeluarkan lagi segenggam Toan-jong-cau dan diserahkan kepada Siao-liong-li. Katanya:
“Sepanjang jalan kupetik sebanyak ini, kukira sudah cukup. Untuk permulaan boleh kau suruh dia makan sedikit saja. Suruh dia mengerahkan hawa murni untuk melindungi jantung dan lihat dulu bagaimana kerjanya rumput ini, kemudian barulah ditambah atau dikurangi.”
Siao-liong-li simpan rumput itu dan menyembah kepada Oey Yong, katanya dengan suara rada tersendat:
“Kwe-hujin, selama hidupnya Ko-ji kenyang duka derita, tindak-tanduknya memang rada kepala batu, tapi sudilah engkau suka menjaganya dengan baik.”
Cepat Oey Yong membangunkan Siao-liong-li, katanya dengan tertawa: “Kalau kau yang menjaganya akan berpuluh kali lebih baik dari padaku. Kelak kalau kepungan musuh atas Siang-yang sudah reda, biarlah kita berkunjung ke Tho-hoa-to untuk beristirahat beberapa lamanya di sana.”
Betapa pun pintarnya Oey Yong juga tidak menduga bahwa jiwa Siao-liong-li tidak lama lagi. Ucapannya tentang menjaga Yo Ko tadi benar-benar permohonannya dengan setulus hati. Waktu ia berpaling, dilihatnya Yo Ko berdiri jauh di situ sedang memandangi Siao-liong-li walau pun apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak dapat didengarnya.
Sementara itu semua orang telah mengatur tempat bermalam masing-masing, ada yang menemukan goa, ada yang di bawah pohon. Melihat Oey Yong pergi setelah bicara, Yo Ko cepat-cepat mendekati Siao-liong-li. Dengan tersenyum Siao-liong-li berdiri memapaknya dan berkata:
“Sesudah kita melihat kejadian yang mengenaskan tadi, hari kita sendiri pun bersisa tidak banyak lagi, Ko-ji, kini urusan orang lain sama sekali tidak akan kita urus. Marilah kau mengawani aku berjalan-jalan.”
“Benar, aku pun berpikir demikian,” jawab Yo Ko.
Keduanya lantas bergandengan tangan dan berjalan melintasi lereng. Tidak lama kemudian tampaklah sepasang muda-mudi duduk berdampingan di atas batu sedang asyik bicara dengan perlahan, mereka adalah Bu Tun-si dan Yalu Yen. Yo Ko tersenyum saja dan mempercepat langkah melewati kedua anak muda itu. Belum jauh, tiba-tiba di tengah semak-semak pohon sana ada suara orang mengikik tawa. Wanyen Peng kelihatan berlari keluar dan di belakangnya mengejar seseorang sambil berseru:
“Hayo, hendak lari ke mana kau?”
Kepergok oleh Yo Ko dan Siao-liong-li, air muka Wanyen Peng menjadi merah dan cepat menyapa:
“Yo-toako dan Liong-cici.”
Cepat dia berlari masuk ke dalam hutan, menyusul Bu Siu-bun muncul dari semak-semak pohon terus mengejar ke dalam hutan.
“Oh, dunia, apakah cinta itu?” demikian Yo Ko berguman perlahan. Sejenak kemudian dia pun berkata: “Belum lama berselang kedua saudara Bu itu saling labrak mati-matian demi memperebutkan nona Kwe, tetapi hanya sekejap saja cinta keduanya sudah berganti sasaran. Ada orang yang selama hidupnya cuma mencintai satu orang, tapi juga ada orang yang sukar diketahui cintanya murni atau palsu. Oh dunia, apakah cinta itu? Pertanyaan ini memang pantas dikemukakan.”
Sejak tadi Siao-liong-li hanya menunduk termenung tanpa bersuara. Keduanya berjalan perlahan hingga di kaki gunung. Waktu menengadah, sang surya di waktu senja sedang memancarkan sinarnya yang cemerlang, salju di puncak gunung kemilauan oleh cahaya matahari menambah keindahan alam yang sulit dilukiskan. Teringat bahwa hidup mereka bersisa tidak lama lagi, kedua orang menjadi tambah kesemsem dengan pemandangan permai itu. Setelah termangu-mangu sekian lama, tiba-tiba Siao-liong-li berkata:
“Ko-ji, konon orang mati akan menuju ke akhirat, apakah benar ada akhirat dan rajanya?”
“Semoga begitu hendaknya. Kalau tiada akhirat, ke mana kita akan menuju dan tentu tak akan berkumpul dan bertemu lagi,” ujar Yo Ko.
Siao-liong-li sudah biasa mengekang perasaan sendiri, walau pun sedih akan tetapi nada ucapannya tetap tenang dan biasa saja. Sebaliknya Yo Ko tidak tahan lagi, ia berpaling ke sana dan meneteskan air mata.
“Ah, soal akhirat masih tanda tanya, jika bisa terhindar dari mati, tentunya lebih baik,” kata Siao-liong-li sambil menghela napas. “Eh, Ko-ji, lihatlah betapa indahnya bunga itu!”
Yo Ko memandang ke arah yang ditunjuk. Tampak di tepi jalan sana tumbuh setangkai bunga warna merah tua, kelopak bunganya amat lebar hingga hampir sebesar mangkuk, bentuknya seperti bunga mawar dan juga mirip bunga peoni.
“Sungguh jarang sekali ada bunga semacam ini, entah apa namanya bunga yang mekar di musim dingin ini? Biarlah kuberi nama Liong-li-hoa (bunga puteri Liong) saja,” kata Yo Ko sambil mendekat dan memetik bunga itu serta menyuntingkannya di belakang telinga Siao-liong-li.
“Terima kasih, sudah kau hadiahi bunga bagus, diberi nama bagus pula,” kata Siao-liong-li tertawa.
Mereka melanjutkan perjalanan sejenak lagi, kemudian mereka duduk di tanah berumput.
“Apakah kau masih ingat waktu kau menyembah dan mengangkat guru padaku dahulu?” tanya Siao-liong-li tiba-tiba.
“Tentu saja ingat,” jawab Yo Ko.
“Kau pernah bersumpah bahwa selama hidupmu kau akan tunduk pada perkataanku, apa pun yang kukatakan tak akan kau bantah. Sekarang aku sudah menjadi isterimu, menurut pendapatmu sepantasnya aku harus ‘setelah menikah tunduk kepada suami’ ataukah kau yang harus ‘tetap tunduk kepada perintah guru’?”
“Ahh, apa pun yang kau katakan, itu pula yang kukerjakan,” jawab Yo Ko tertawa “Perintah guru tak berani kubantah, perintah isteri lebih-lebih tak berani kubangkang.”
“Bagus, asal kau ingat saja,” kata Siao-liong-li.
Mereka duduk bersandar. Pemandangan sekeliling sungguh indah permai sehingga rasanya berat untuk berpisah. Dari jauh mereka mendengar suara Bu Sam-thong memanggil mereka bersantap. Mereka saling pandang dengan tersenyum dan sama-sama berpendapat untuk apa bersantap dengan meninggalkan pemandangan indah yang sukar dicari ini?
Sementara hari sudah mulai gelap, mereka sudah teramat lelah sehari semalam, apa lagi mereka pun sama-sama terluka, selang tak lama, tanpa terasa mereka tertidur. Sampai tengah malam, layap-layap Yo Ko memanggil:
“Apakah kau kedinginan, Liong-ji?” Berbareng ia hendak merangkulnya, tapi siapa tahu rangkulannya telah merangkul tempat kosong.
Keruan dia terkejut dan cepat membuka mata, ternyata Siao-liong-li telah menghilang entah ke mana. Segera dia melompat bangun. Dia memandang sekitarnya. Bulan sabit menghias di angkasa menyinari bumi, suasana sunyi senyap, mana ada bayangan Siao-liong-li? Yo Ko berlari-lari ke atas gunung sambil berteriak-teriak:
“Liong-ji...! Liong-ji...!”
Seketika suaranya bergema, kata-kata ‘Liong-ji’ itu berkumandang dari lembah pegunungan, namun tetap tiada jawaban.
“Ke mana perginya?” tidak kepalang cemasnya Yo Ko.
Dia tidak menguatirkan Siao-liong-li dicelakai binatang buas, sebab diketahuinya bahwa di pegunungan ini tidak ada sesuatu binatang buas yang menakutkan, andaikan ada juga tak dapat mengganggu Siao-liong-li. Kalau bertemu dengan musuh tangguh, mustahil dirinya tidak mengetahuinya mengingat mereka berdua tidur berdampingan.
Karena teriakan Yo Ko inilah serentak It-teng Taysu, Oey Yong, Cu Cu-liu dan lain-lainnya terjaga bangun. Ketika mendengar Siao-liong-li menghilang entah ke mana, semua orang merasa heran, beramai-ramai mereka ikut mencari di segenap pelosok lembah pegunungan itu, namun tetap tidak ditemukan jejaknya.
“Tentu dia sengaja tinggal pergi sehingga aku sama sekali tidak mengetahuinya,” begitu pikir Yo Ko, “Tetapi mengapa dia pergi begitu saja tanpa pamit? Hal ini pasti ada sangkut-pautnya dengan pembicaraannya dengan bibi Kwe siang tadi. Ketika itu dia tampak sedih dan mengajak aku ke sini, tentu disebabkan setelah berbicara dengan bibi Kwe.”
Karena pikiran ini, segera ia tanya Oey Yong dengan suara keras: “Kwe-pekbo, apa yang kau bicarakan dengan Liong-ji siang tadi?”
Oey Yong sendiri tidak habis mengerti mengapa mendadak Siao-liong-li menghilang. Dia lihat urat hijau di dahi Yo Ko menonjol, cara bicaranya rada kasar, segera dia tahu gelagat tidak enak. Cepat dia menjawab:
“Aku minta dia agar suka membujuk kau minum Toan-jong-cau itu agar racun dalam tubuhmu bisa dipunahkan.”
Tanpa pikir Yo Ko berteriak lagi: “Jika dia tak dapat hidup lama lagi, untuk apa aku hidup sendirian di dunia ini?”
“Jangan kuatir, Ko ji,” Oey Yong berusaha menghibur. “Seketika nona Liong entah pergi ke mana, tapi mengingat ilmu silatnya yang maha tinggi kukira dia takkan berhalangan apa pun, masa kau bilang dia tak dapat hidup lama lagi?”
Saking cemasnya Yo Ko tak dapat menguasai perasaannya lagi, teriaknya gemas: “Puteri kesayanganmu telah menyarangkan jarum berbisa di tubuhnya, waktu itu dia sedang mengatur jalan darah secara terbalik untuk menyembuhkan lukanya, maka seluruh racun jarum itu sudah tersedot ke jantungnya, dalam keadaan begitu mana dia dapat hidup lama lagi, dia kan bukan dewa?”
Tentu saja Oey Yong tidak pernah menyangka akan kejadian itu. Biar pun dia mendengar dari Kwe Hu bahwa Yo Ko dan Siao-liong-li telah keliru dilukainya dengan jarum berbisa di kuburan kuno, tetapi dia pikir Yo Ko berdua adalah ahli waris Ko-bong-pay, satu aliran dengan Li Bok-chiu, maka tentu saja mereka memiliki obat penawar perguruannya untuk menyembuhkannya. Sekarang mendengar ucapan Yo Ko ini, seketika mukanya menjadi pucat terkejut. Cepat sekali Oey Yong menggunakan otaknya, segera terpikir olehnya: “Kiranya Ko-ji tak mau minum Coat-ceng-tan itu adalah karena jiwa isterinya sudah pasti takkan tahan lama lagi, makanya dia tak ingin hidup sendiri. Lantas ke mana perginya nona Liong sekarang?”
Ia memandang ke puncak gunung yang bergoa dan telah menelan Kiu Jian-jio serta Kongsun Ci. Tanpa terasa ia merinding sendiri. Tanpa berkedip Yo Ko memandangi Oey Yong, dengan sendirinya dia pun dapat meraba jalan pikiran nyonya cerdik yang gemetar memandangi puncak gunung. Seketika dia kuatir dan marah, katanya:
“Sudah jelas jiwanya sukar dipertahankan, lalu kau membujuk dia supaya membunuh diri untuk menyelamatkan jiwaku, begitu bukan? Mungkin kau kira tindakanmu ini ada baiknya bagiku, tapi aku... aku... Oh, betapa benciku padamu...”
Sampai di sini dadanya menjadi sesak, ia roboh pingsan. Cepat It-teng mengurut gitok anak muda itu sejenak dan per-lahan Yo Ko siuman kembali, Oey Yong lantas berkata:
“Aku hanya membujuk dia supaya menyelamatkan jiwamu dan sama sekali tidak meminta dia bunuh diri. Kalau kau tidak percaya, terserah padamu!”
Semua orang saling pandang dengan bingung. Mendadak Thia Eng berkata: “Lekas kita membuat tali panjang dari kulit pohon, biar aku turun ke dalam goa untuk mencari Liong-cici, barang kali... barang kali dia tergelincir...”
“Ya, betapa pun kita harus mencarinya hingga jelas persoalannya,” ujar Oey Yong.
Segera mereka bekerja keras mengupas kulit pohon untuk dipintal menjadi tali besar. Di situ banyak orang bertenaga kuat, maka tak lama kemudian tali yang panjangnya ratusan meter sudah jadi. Beramai-ramai para anak muda itu mengajukan diri untuk menyelidiki goa di bawah tanah itu.
“Biar aku sendiri yang turun ke sana,” kata Yo Ko.
Semua orang memandang Oey Yong untuk menunggu keputusan darinya. Oey Yong tahu dirinya dicurigai Yo Ko, kalau keinginan anak muda itu dicegah pasti takkan digugu. Sebaliknya kalau dibiarkan turun ke bawah, kemudian ternyata Siao-liong-li betul terjatuh dan meninggal di sana, maka pastilah anak muda itu takkan mau naik lagi. Selagi Oey Yong ragu-ragu, tiba-tiba Thia Eng berkata dengan ikhlas:
“Yo-toako, aku saja yang turun ke sana. Dapatkah engkau mempercayaiku?”
Kecuali Siao-liong-li, hanya Thia Eng saja yang paling digugu Yo Ko. Apa lagi dia sendiri pun sedih dan bingung, kaki tangan terasa lemas, maka terpaksa dia mengangguk setuju. Segera Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain-lain yang bertenaga kuat memegangi tali panjang itu untuk menurunkan Thia Eng ke dalam goa di bawah tanah. Karena lubang goa di bawah tanah itu terletak di puncak bukit, maka dalamnya juga sama tinggi dengan puncak itu. Tali panjang itu terus diulur hingga tertinggal beberapa meter saja barulah Thia Eng mencapai tanah. Beramai-ramai semua orang berdiri mengelilingi lubang goa dan tidak ada seorang pun yang bicara.
Oey Yong hanya saling pandang dengan Cu Cu-liu, apa yang mereka pikir adalah sama, yakni kalau Siao-liong-li benar-benar meninggal di bawah sana, pasti Yo Ko akan terjun juga ke dalam goa, hal ini harus dicegah sebisanya. Begitulah dengan perasaan cemas dan gelisah semua orang memandangi lubang goa itu sambil menantikan berita yang akan dibawa oleh Thia Eng. Sekian lama mereka menanti dengan tidak sabar, sedangkan Thia Eng masih belum nampak memberi tanda untuk naik kembali ke atas. Tidak lama kemudian, mendadak tali yang dipegang Bu Sam-thong itu bergoyang-goyang beberapa kali. Kwe Hu dan lain-lain lantas berteriak:
“Lekas kerek dia ke atas!”
Mereka lantas menarik sekuatnya sehingga Thia Eng bisa dikerek ke atas. Sebelum keluar dari lubang goa Thia Eng sudah berteriak-teriak :
”Tidak ada, tidak ada Liong-cici di bawah sana!”
Semua orang menjadi girang dan segera menarik napas lega. Sejenak kemudian Thia Eng menongol keluar, lalu berkata:
“Yo-toako, sudah kuperiksa dengan teliti, di bawah sana hanya ada mayat Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio yang sudah hancur dan tiada terdapat benda lain.”
“Kita sudah mencari rata segenap pelosok dan tidak menemukannya, kukira saat ini nona Liong pasti sudah meninggalkan lembah ini,” kata Cu Cu-liu setelah berpikir sejenak.
Tiba-tiba Bu-siang berseru: “He, masih ada tempat yang belum kita longok, bisa jadi Liong-cici sedang berusaha menemukan Coat-ceng-tan yang terbuang...”
Tidak sampai habis ucapan Bu-siang, hati Yo Ko tergetar dan segera dia berlari ke tebing curam kemarin itu, sembari berlari dia pun berteriak-teriak:
“Liong-ji...! Liong-ji...!”
Setiba di tebing itu, tampak kabut membungkus permukaan jurang, awan mengapung di udara, kicau burung saja tak terdengar apa lagi bayangan manusia. Yo Ko pikir Siao-liong-li adalah orang yang berhati polos dan lugu, apa pun yang dia pikir pasti dikatakan padaku. Ketika berbaring di tanah rumput itu dia hanya mengatakan agar aku ingat saja sumpahku akan patuh pada perkataannya. “Sudah tentu aku tidak pernah membantah kehendaknya, mengapa perlu ditegaskan lagi? Namun dia kan tidak pernah memberi pesan apa-apa padaku?” Begitulah dia menengadah dan bergumam pelan.
“Liong-ji... Oh, Liong-ji, ke manakah kau sesungguhnya? Sebenarnya kau ingin aku mematuhi perkataanku tentang apa?”
Ia memandang ke tebing di depan sana, samar-samar tampak bayangan nona berbaju putih dengan bunga merah tersunting di sanggulnya, bayangannya yang mengambang itu seperti saling bertempur melawan Kongsun Ci.
“Liong-ji!” Yo Ko berteriak lagi, tetapi setelah diperhatikan lagi, mana ada bayangan Siao-liong-li? Hanya bunga salju belaka yang bertebaran tertiup angin, tapi bunga merah yang dipetiknya kemarin itu memang benar berada di bawah tebing sana.
Yo Ko menjadi heran, padahal waktu Siao-liong-li menempur Kongsun Ci di situ kemarin belum ada bunga merah itu. Tebing hanya batu karang belaka tanpa tetumbuhan apa pun, mengapa ada bunga di situ? Kalau bunga itu jatuh ke situ tertiup angin, mana bisa terjadi secara kebetulan begitu? Segera dia menarik napas panjang dan berlari ke tebing sana melalui jembatan batu yang sempit itu. Sesudah dekat, seketika hatinya tergetar hebat. Jelas itu adalah bunga merah yang dipetiknya untuk Siao-liong-li. Kelopak bunga kelihatan sudah layu namun dapat dikenalnya dengan jelas, bahkan waktu itu dia sendiri memberi nama ‘Liong-li-hoa’ untuk bunga merah ini. Kalau bunga ini terjatuh di sini, maka Siao-liong-li pasti juga pernah datang ke sini.
Dia jemput bunga itu dan dilihatnya di bawah bunga ada satu bungkusan kertas. Cepat dia membuka bungkusan itu, isinya adalah setangkai rumput warna ungu, yaitu Toan-jong-cau yang tumbuh di bawah semak-semak bunga cinta. Hati Yo Ko berdebar-debar keras. Ia coba meneliti kertas pembungkus rumput itu, namun tiada sesuatu tulisan apa-apa.
“Yo-toako!” terdengar Bu-siang memanggil di seberang, “apa yang kau lakukan di sana?”
Waktu Yo Ko menoleh, terlihat di dinding tebing terukir dua baris huruf dengan ujung pedang, huruf yang satu baris lebih besar dan tertulis:
‘16 tahun lagi berjumpa di sini, cinta murni suami isteri, jangan sekali-sekali ingkar janji’.
Sedang baris huruf yang lebih kecil tertulis: ‘Dengan sangat Siao-liong-li menyampaikan pesan kepada suamiku Yo Ko supaya menjaga diri baik-baik dan harus berusaha untuk berkumpul kembali’.
Yo Ko terus memandangi dua baris tulisan itu dengan termangu-mangu, ia tidak paham apa maksud Siao-liong-li. Pikirnya: “Dia berjanji padaku untuk berjumpa lagi di sini 16 tahun kemudian, lalu ke mana perginya sekarang? Dia mengidap racun jahat dan sukar disembuhkan, mungkin sepuluh hari atau setengah bulan saja tidak tahan, mana bisa dia mengadakan janji bertemu 16 tahun lagi? Sudah jelas dia mengetahui Coat-ceng-tan yang dapat menyelamatkan jiwaku telah kubuang ke jurang, mana bisa pula dia menunggu aku sampai 16 tahun lamanya?”
Begitulah makin dipikir semakin ruwet sehingga tubuhnya sempoyongan. Melihat keadaan Yo Ko yang linglung, semua orang menjadi kuatir kalau-kalau anak muda itu tergelincir ke dalam jurang. Tapi untuk menyeberang ke sana dan membujuknya juga sulit karena jembatan itu sangat sempit. Kalau mendadak dia menjadi kalap, apa lagi ilmu silatnya sedemikian tinggi, siapa yang mampu mengatasinya dan pasti akan ikut terjeblos ke dalam jurang. Oey Yong mengerut kening, katanya kemudian kepada Thia Eng:
“Sumoay, tampaknya dia masih mau menurut perkataanmu.”
“Baiklah, coba kupergi ke sana,” jawab Thia Eng dan segera melompat ke atas jembatan batu lalu melangkah ke sana.
Mendengar suara tindakan orang dari belakang, segera Yo Ko membentak: “Siapa pun tak boleh ke sini!” Cepat ia pun membalik tubuh dengan mata mendelik.
“Akulah, Yo-toako!” seru Thia Eng dengan suara lembut. “Aku hanya ingin membantu kau mencari Liong-cici dan tiada maksud lain.”
Sejenak Yo Ko mengawasi Thia Eng dengan termenung, kemudian sorot matanya mulai berubah halus. Thia Eng melangkah maju dan bertanya:
“Apakah bunga merah ini tinggalan Liong-cici?”
“Ya,” Yo Ko menjawab. “Mengapa harus 16 tahun? Mengapa?”
Sudah tentu Thia Eng tidak paham dengan apa yang dikatakan Yo Ko. Setelah berada di seberang dapatlah ia membaca tulisan yang terukir di dinding tebing itu. Ia pun merasa heran. Katanya kemudian:
“Kwe-hujin banyak tipu daya, cara memecahkan persoalan juga sangat jitu, mari kita kembali ke sana dan tanya beliau, tentu akan mendapatkan keterangan yang memuaskan.”
“Benar,” ujar Yo Ko. “Awas, jembatan itu sangat licin, kau harus hati-hati!”
Segera ia mendahului melompat ke seberang sana serta menceritakan kedua baris tulisan itu kepada Oey Yong. Untuk sekian lamanya Oey Yong merenungkan arti tulisan itu, tiba-tiba matanya bercahaya dan berkeplok tangan, katanya dengan tertawa:
“Wah, selamat, Ko-ji, selamat!”
Kejut dan girang Yo Ko, cepat dia bertanya: “Maksudmu... maksudmu itu berita baik?”
“Ya, tentu saja,” jawab Oey Yong, “Rupanya adik Liong sudah bertemu dengan Lam-hay Sin-ni (Rahib sakti dari lautan selatan), sungguh penemuan yang sukar dicari.”
“Lam-hay Sin-ni?” Yo Ko mengulang nama ini dengan bingung. “Siapakah dia?”
“Lam-hay Sin-ni adalah nabi besar agama Buddha jaman kini,” tutur Oey Yong, “Agama beliau sukar dijajaki, tingkatannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada It-teng Taysu. Tapi lantaran dia jarang ke Tionggoan, maka jarang ada tokoh dunia persilatan yang kenal namanya, Dulu ayahku pernah bertemu satu kali dengan beliau dan beruntung mendapat ajaran sejurus ilmu pukulan dari beliau. Yah, 16, 32, 48, ya benar, kejadian itu sudah 48 tahun yang lalu.”
Yo Ko merasa sangsi. “48 tahun yang lalu?“ Dia menegas.
“Benar,” jawab Oey Yong, “Usia Sin-ni itu mungkin kini sudah dekat satu abad. Menurut cerita ayahku, tiap 16 tahun sekali ia datang ke Tionggoan. Celakalah orang jahat yang kepergok olehnya, tapi beruntunglah orang baik yang bertemu dengan beliau. Nona cantik seperti adik Liong itu pasti sangat disukai oleh Sin-ni, maka bisa jadi sudah menerimanya sebagai murid dan dibawa ke Lam-hay.”
“Setiap 16 tahun satu kali?” Yo Ko menggumam. Mendadak dia berpaling kepada It-teng Taysu dan bertanya: “Apakah betul begitu, Taysu?”
Belum lagi It-teng menjawab, cepat Oey Yong menimbrung: “Meski agamanya tinggi, tapi tabiat Sin-ni ini rada aneh. Apakah Taysu juga pernah bertemu dengan beliau?”
“Oh, sayang, belum pernah kulihat dia,” jawab It-teng singkat.
“Sungguh orang tua yang agak kurang bijaksana,” kata Oey Youg pula. “Masa orang muda yang baru bersuami isteri diharuskan berpisah 16 tahun lamanya, bukankah terlalu kejam? Padahal ilmu silat adik Liong sudah sedemikian tinggi, kalau belajar lagi 16 tahun, supaya dia dapat mengatasi dan menundukkan sang suami? Ha-ha-ha!”
“Ahh, kukira bukan begitu, Kwe-pekbo,” kata Yo Ko.
“Bagaimana?” tanya Oey Yong.
Yo Ko lantas mengulangi kembali cerita mengenai Siao-liong-li yang sedang mengadakan penyembuhan luka dalamnya dan mendadak terkena jarum berbisa yang disambitkan Kwe Hu sehingga racun terseret ke dalam jantung, akhirnya ia berkata:
“Jika benar Liong-ji mendapatkan perhatian Sin-ni, maka dalam 16 tahun ini Sin-ni pasti akan menggunakan kesaktiannya untuk menguras racun yang terkumpul dalam tubuh Liong-ji. Tadinya kukira dia... dia pasti tak dapat disembuhkan lagi.”
“Tentang secara semberono anak Hu mencelakai adik Liong juga baru kudengar dari anak Hu semalam,” tutur Oey Yong. “Ko-ji, apa yang kau duga barusan ini memang masuk di akal. Kukira untuk menyembuhkan adik Liong memang sukar dilaksanakan dalam waktu singkat biar pun Sin-ni memiliki obat mujarab. Jadi kita berharap saja semoga Sin-ni menaruh belas kasihan dan dapat mengirim kembali adik Liong padamu sebelum waktu yang ditentukan.”
Selamanya Yo Ko belum penuh mendengar tokoh sakti bernama ‘Lam-hay Sin-ni’ segala, hatinya menjadi ragu-ragu. Hendak tidak percaya, tetapi bunga ditemukannya dan tulisan juga terukir jelas, semua itu adalah bukti nyata yang tak dapat dibantah. Jika Siao-liong-li mengalami sesuatu, mengapa dia menjanjikan pertemuan 16 tahun kelak? Sesudah berpikir sejenak, tiba-tiba dia tanya Oey Yong:
“Kwe-pekbo, dari mana engkau mengetahui Liong-ji dibawa pergi Lam-hay Sin-ni? Sebab apa pula dia tidak menuliskan kejadian yang sebenarnya agar aku tidak kuatir baginya?”
“KesimpuIanku ini kutarik dari kalimat ‘16 tahun lagi’ itu,” tutur Oey Yong, “Kutahu setiap 16 tahun sekali Lam-hay Sin-ni pasti datang ke Tionggoan, kecuali dia rasanya tiada orang kosen lain yang mempunyai kebiasaan aneh begitu. It-teng Taysu, apakah engkau teringat ada orang kosen lain lagi?”
It-teng menggeleng dan menyatakan tidak ada. Maka Oey Yong berkata pula: “Malahan Nikoh sakti itu pun merasa sungkan namanya disebut-sebut orang, dengan sendirinya dia tidak mengijinkan adik Liong menulis namanya di atas batu. Cuma sayang Toan-jong-cau ini entah dapat menawarkan racun dalam tubuh atau tidak. Jika... jika tidak, aih, 16 tahun kemudian adik Liong akan pulang dan bila tidak dapat bertemu lagi dengan kau, mungkin dia pun tidak ingin hidup lagi.”
Air mata Yo Ko berlinang-linang pada kelopak matanya sehingga pandangannya menjadi samar-samar. Lapat-lapat seperti dilihatnya ada bayangan putih di seberang sana, seolah-olah 16 tahun sudah lewat dan Siao-liong-li sedang mencarinya di situ, tapi tidak bertemu sehingga sangat kecewa dan berduka.
Angin dingin bertiup membuat Yo Ko menggigil. Segera ia berkata dengan tegas: “Kwe-pekbo, biarlah aku pergi ke Lam-hay untuk mencari Liong-ji, entah Sin-ni berdiam di mana?”
“Ko-ji,” jawab Oey Yong dengan suara lembut. “Kau jangan berpikir begitu. Tay-ti-to yang menjadi pulau kediaman Lam-hay Sin-ni itu mana boleh diinjak orang luar. Bahkan setiap lelaki yang berani mendekati pulau itu akibatnya akan binasa. Dahulu ayahku sudah mendapat anugerah beliau, tetapi ayah juga belum pernah berkunjung ke sana. Kalau adik Liong sudah diterima oleh Sin-ni, janji bertemu 16 tahun kelak dengan cepat akan berlalu, mengapa engkau mesti tergesa-gesa mencarinya?”
Dengan mata membelalak Yo Ko menatap tajam Oey Yong dan menegas: “Ucapan Kwe- pekbo ini sesungguhnya betul atau tidak?”
“Terserah kau mau percaya atau tidak,” jawab Oey Yong.
“Boleh kau periksa lagi ukiran tulisan di dinding sana, kalau bukan tulisan tangan adik Liong, maka apa yang kukatakan mungkin juga tidak betul.”
“Gaya tulisan itu memang benar tulisan tangan Liong-ji,” ujar Yo Ko. “Setiap kali menulis huruf Yo, pada titik kanan itu selalu dia tarik agak panjang, hal ini tak mungkin dipalsukan orang.”
“Bagus kalau begitu,” seru Oey Yong sambil keplok. “Terus terang kukatakan, aku sendiri merasa kejadian ini teramat kebetulan dan semula aku pun mencurigai Cu-toako yang sengaja mengatur sandiwara ini untuk mengelabui kau.”
Yo Ko termenung sejenak, katanya kemudian: “Baiklah aku akan coba-coba minum Toan-jong-cau ini. Jika tidak berhasil, 16 tahun yang akan datang tolong Kwe-pekbo memberi-tahukan kejadian ini kepada isteriku yang bernasib buruk.” Lalu ia berpaling dan tanya Cu Cu-liu: “Cu-toasiok, bagaimana caranya minum obat rumput ini?”
Cu Cu-liu sendiri hanya tahu Toan-jong-cau itu mengandung racun yang keras, akan tetapi dia belum pernah mendengar bagaimana cara menggunakan racunnya untuk mengobati racun. Terpaksa ia bertanya kepada It-teng:
“Suhu, soal ini harus minta petunjuk engkau.”
It-teng Taysu segera menggunakan It-yang-ci dan menotok empat Hiat-to di bagian yang berhubungan dengan ulu hati, serentak Yo Ko merasakan hawa hangat menyalur ke dada, rasa sesak tadi lantas longgar.
“Karena racun bunga cinta ini berhubungan dengan hati dan perasaan, maka waktu Toan-jong-cau menawarkan racunnya pasti juga akan menyerang bagian hati, sebab itulah aku menotok empat Hiat-to untuk melindungi urat nadi jantung hati. Sekarang kau boleh coba minum satu tangkai dulu rumput rantas usus itu,” demikian kata It-teng.
Yo Ko lantas mengucapkan terima kasih. Pada waktu mendengar paderi Hindu itu dibinasakan oleh Li Bok-chiu, ia merasa putuslah harapannya dalam usaha menyembuhkan Siao-liong-li, maka ia sendiri pun bertekad akan mati saja bersama sang isteri. Kini dia dijanjikan bertemu lagi 16 tahun kemudian, segera hasrat ingin hidupnya berkobar kembali. Cepat ia keluarkan setangkai Toan-jong-cau atau rumput rantas usus itu dan terus saja dikunyahnya.
Ia merasa pahitnya luar biasa melebihi bratawali. Tapi baik airnya mau pun ampasnya Yo Ko telan mentah-mentah. Kalau sebelum ini ia tidak ingin hidup sendirian tanpa Siao-liong-li, sekarang dia kuatir akan mati lebih dulu sehingga 16 tahun kemudian Siao-liong-li tak dapat menemukannya di puncak gunung ini. Ia lantas duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi urat nadi jantung hati. Selang tak lama mendadak perutnya mulas, menyusul kesakitan seperti di-iris-iris dan laksana dicocok beribu-ribu jarum sekaligus, tetapi dia bertahan sekuatnya tanpa merintih sedikit pun. Selang tak lama rasa sakit itu hampir merata di seluruh badan, ruas tulang se-akan terlepas semuanya.
Rasa sakit itu berlangsung lama, kemudian mulai berkurang dan hanya di bagian perut saja yang masih mulas. Mendadak Yo Ko menumpahkan darah merah segar seperti darah orang sehat. Thia Eng dan Bu-siang menjerit kaget melihat anak muda ini tumpah darah. Tapi It-teng tampak girang dan menggumam perlahan:
“Wah Sute, meski sudah wafat engkau tetap meninggalkan pahala.”
Serentak Yo Ko melompat bangun dan berseru: “Jiwaku ini adalah pertolongan dari paderi Thian-tiok, It-teng Taysu dan Kwe-pekbo bertiga.”
“He, apakah kadar racun dalam tubuhmu sudah punah seluruhnya?” Bu-siang bertanya dengan girang.
“Mana bisa begitu cepat?” ujar Yo Ko. “Cuma sekarang sudah jelas kemanjuran obat ini, asalkan setiap hari minum satu tangkai tentu kadar racun akan semakin berkurang.”
“Tetapi kalau tidak dapat diketahui kapan lenyapnya racun dalam tubuhmu, kalau engkau masih terus makan rumput rantas usus itu, jangan-jangan isi perutmu ikut hancur,” kata Bu-siang.
“Hal ini tentu dapat kurasakan sendiri,” kata Yo Ko. “Jika kadar racun belum bersih, bila timbul... timbul rasa cintaku, segera dadaku akan kesakitan.”
“Semoga engkau jangan banyak pikir dulu,” ujar Bu-siang.
Sejak tadi Kwe Hu hanya mendengarkan saja, sekarang mendadak ia menimbrung: “Hm, yang dipikirkan Yo-toako tentulah Liong-cici, masa dia memikirkan dirimu?”
Cepat Oey Yong membentaknya: “Kau mengoceh apa, anak Hu?!”
Muka Bu-siang menjadi merah. Malahan Kwe Hu terus menambahkan lagi: “16 tahun lagi Liong-cici pasti akan pulang, sebaiknya kau jangan sembarang mimpi.”
Bu-siang tidak tahan lagi. “Srettt...!”
Mendadak dia melolos goloknya terus membentak sambil menuding Kwe Hu: “Jika bukan gara-garamu, masa Yo-toako sampai harus terpisah selama 16 tahun dengan Liong-cici? Coba renungkan, betapa hebat kau membikin susah Yo-toako!”
Kwe Hu hendak membantah, tetapi Oey Yong lantas membentaknya: “Hu-ji, jika kau bersikap kurang adat lagi kepada orang, lekas kau pulang saja ke Tho-hoa-to dan jangan kembali ke Siang-yang.”
Kwe Hu tidak berani bersuara lagi, dia hanya mendelik kepada Liok Bu-siang. Yo Ko menghela napas panjang, katanya kepada Bu-siang:
“Kejadian itu amat kebetulan dan nona Kwe tak sengaja hendak mencelakai Liong-ji, maka urusan ini selanjutnya tidak usah diungkit lagi, adik Liok.”
Mendengar dirinya dipanggil ‘adik’, sebaliknya menyebut Kwe Hu sebagai ‘nona’, jelas sekali bedanya antara orang sendiri dan orang luar. Hati Bu-siang menjadi girang, segera dia masukkan golok ke sarungnya sambil mencibir pada Kwe Hu.
“Yo-sicu telah makan Toan-jong-cau dan tidak terganggu apa pun, tampaknya rumput ini amat mujarab untuk menawarkan racun bunga cinta,” kata It-teng kemudian, “Tapi sebaiknya jangan diminum terus menerus, bolehlah tujuh hari kemudian baru minum untuk kedua kalinya.”
Yo Ko menerima saran itu sambil memberi hormat. Melihat hari sudah terang benderang, Oey Yong berkata:
“Sudah cukup Iama kita meninggalkan kota Siang-yang, entah bagaimana situasi di sana. Aku menjadi sangat kuatir. Ko-ji kau pun ikut pulang saja ke sana, paman Kwe tentu amat kangen padamu.”
“Aku tinggal di sini saja menunggu... menunggu dia,” jawab Yo Ko.
“He, kau hendak menunggu dia selama 16 tahun di sini?” tanya Kwe Hu heran.
“Entahlah,” jawab Yo Ko. “Rasanya aku tidak tahu harus pergi ke mana.”
“Baiklah, kau menunggu dulu sepuluh hari atau setengah bulan di sini,” ujar Oey Yong, “Andai kata adik Liong benar-benar tak ada kabar berita, hendaklah segera kau pergi ke Siang-yang saja.”
Dengan termangu-mangu Yo Ko memandangi tebing curam di seberang sana tanpa menjawabnya lagi. Semua orang lantas mohon diri untuk berangkat. Melihat Liok Bu-siang tiada tanda-tanda mau ikut pergi, Kwe Hu tidak tahan dan bertanya:
“Liok Bu-siang, apakah kau hendak tinggal di sini menemani Yo-toako?”
“Peduli apa dengan kau?” semprot Bu-siang dengan muka merah.
Tiba-tiba Thia Eng berkata: “Yo-toako belum sehat, biarlah aku dan Piaumoay merawatnya beberapa hari lagi di sini.”
Oey Yong tahu Sumoay cilik ini berwatak lembut di luar dan keras di dalam, jika puterinya sampai membikin sakit hati dia, kelak pasti akan banyak mendatangkan kesulitan, maka cepat ia pelototi Kwe Hu supaya jangan banyak bicara lagi. Lalu berkata:
”Ko-ji mendapat perawatan Sumoay, tentu takkan berhalangan apa pun. Nanti bila mana sudah sembuh, hendaklah kalian bertiga datang ke Siang-yang.”
Begitulah Yo Ko, Thia Eng dan Liok Bu-siang memandangi kepergian It-teng Taysu, Oey Yong dan rombongannya hingga makin jauh dan akhirnya menghilang di balik pepohonan sana. Api yang berkobar semalaman kini sudah mulai padam. Yo Ko lalu berkata:
“Kedua adik, ada suatu pikiranku yang kurang pantas, jika kukatakan hendaklah kalian jangan marah.”
“Katakan saja, siapa yang akan marah padamu?” ujar Bu-siang.
“Sejak berkenalan rasanya kita bertiga sangat cocok satu sama lain,” tutur Yo Ko. “Aku sendiri tidak mempunyai saudara, maka aku ingin mengikat saudara angkat dengan kalian berdua sehingga untuk selanjutnya kita benar-benar menjadi kakak beradik. Entah bagaimana pendapat kalian dengan usulku ini?”
Pilu rasa hati Thia Eng. Dia tahu cinta Yo Ko kepada Siao-liong-li tak akan pernah buyar, lantaran ada janji bertemu 16 tahun lagi maka dia mengajak mengangkat saudara supaya hubungan mereka tidak menjadi kikuk. Melihat Bu-siang menunduk dengan mengembeng air mata, cepat dia berkata:
“Jika begitu kehendak Toako, tentu saja kami setuju. Punya Toako sebaik engkau, apa lagi yang kami harapkan?”
Bu-siang mencabut tiga tangkai rumput dan ditancapkan di tanah serta berkata: “Di sini tidak ada Hiosoa (dupa sembayang), biarlah kita gunakan rumput sebagai gantinya,” ia berkata dengan tersenyum, tapi kemudian suaranya menjadi ter-sendat dan sebelum Yo Ko menjawab ia sudah mendahului berlutut dan memberi hormat.
Cepat Yo Ko dan Thia Eng ikut berlutut dan saling memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengikatan kakak beradik secara resmi. Kata Yo Ko kemudian:
“Ji-moay dan Sam-moay, kukira barang yang paling jahat di dunia ini tak lebih dari pada pohon bunga cinta ini. Bagaimana kalau kita membabat hingga akarnya supaya hancur dan lenyap seluruhnya?”
Tanpa pikir Thia Eng dan Bu-siang menyatakan setuju. Mereka lantas mencari cangkul dan sekop di perkampungan yang sudah menjadi tumpukan puing, dengan bersemangat mereka membabati dan mendongkel setiap pohon bunga cinta yang mereka lihat. Karena tumbuhan bunga itu cukup banyak, pula berduri, mereka harus hati-hati bekerja. Setelah sibuk enam hari barulah tumbuhan berbisa itu dibasmi habis. Sejak itu tumbuhan aneh yang membikin celaka manusia itu pun tidak pernah bersemi lagi dan lenyap dari permukaan bumi. Besoknya pagi-pagi Bu-siang sudah memberi setangkai rumput rantas usus kepada Yo Ko dan berkata:
“Toako, hari ini kau harus minum lagi rumput berbisa ini.”
Karena sudah berpengalaman tujuh hari yang lampau, Yo Ko tahu rumput rantas usus itu berbisa, tapi dirinya mampu bertahan, maka begitu dia minum segera mengerahkan tenaga dalam. Karena sekarang kadar racun dalam tubuhnya sudah berkurang, rasa sakitnya tidak sehebat tempo hari. Selang agak lama, ia muntahkan darah segar, lalu hilanglah rasa sakitnya. Yo Ko berdiri melemaskan kaki tangannya. Dilihatnya Thia Eng dan Bu-siang ikut girang bagi kemajuan penyakitnya itu. Pikirnya: “Kedua adik angkat ini sungguh baik sekali padaku, cuma sayang aku tidak dapat membalas kebaikan mereka.” Sesudah berpikir sejenak, timbul lagi pikirannya: “Ji-moay memiliki guru kosen, asal berlatih lebih lama lagi tentu ia akan mencapai tokoh tingkatan atas, sedangkan nasib Sam-moay jelas kurang beruntung dari pada Ji-moay.” Karena itu ia lantas berkata kepada Bu-siang:
“Sam-moay, gurumu dan guruku adalah saudara seperguruan, jadi kita berdua sesungguhnya masih sesama saudara seperguruan juga. Ilmu silat tertinggi dari Ko-bong-pay tercantum semua dalam Giok-li-sim-keng, sedangkan kitab itu sudah direbut Li Bok-chiu dan ikut terkubur di lautan api. Untung aku masih ingat isi kitabnya, dari pada iseng biarlah kuajarkan sedikit ilmu silat perguruan kita, bagaimana pikiranmu?”
Tentu saja Bu-siang kegirangan, jawabnya: “Terima kasih, Toako, lain kali kalau bertemu Kwe Hu aku tidak takut dia bertindak kasar lagi.”
Yo Ko tersenyum. Segera dia mulai menuturkan dasar-dasar dari ajaran Giok-li-sim-keng beserta kunci-kuncinya, dimulai dari yang cetek kemudian makin mendalam. Lalu dia memberi pesan:
“Hendaklah kau hafalkan dulu kuncinya, waktu latihan bila perlu boleh minta bantuan Ji-moay, di lembah ini sangat tenang, tempat latihan yang baik.”
Begitulah selama beberapa hari Bu-siang tekun menghafalkan ajaran Yo Ko. Memang ilmu yang pernah dipelajarinya adalah aliran Ko-bong-pay, maka dengan mudah baginya menerima dan memaham. Kalau ada bagian-bagian sulit yang sukar dipecahkan, Yo Ko menyuruh Bu-siang menghafalkannya saja untuk diulangi lagi lain hari. Dengan begitu selama hampir satu bulan dapatlah Bu-siang mengingat seluruh isi Giok-li-sim-keng di luar kepala. Suatu hari, pagi-pagi dia dan Thia Eng sudah menyiapkan sarapan, tapi ditunggu sampai lama sekali tidak tampak munculnya Yo Ko. Mereka lantas mendatangi goa tempat tinggal Yo Ko. Terlihat di tanah sana tertulis huruf-huruf besar yang berbunyi:
‘Berpisah untuk sementara, biarlah kelak bertemu lagi. Hubungan baik kakak beradik tetap kekal dan abadi’.
Bu-siang melenggong dan bergumam: “Akhirnya dia... dia sudah pergi.” Dia berlari-lari ke puncak gunung dan memandang jauh ke selatan.
Thia Eng menyusulnya. Mereka memandang jauh ke sana, tetapi yang kelihatan hanya awan mengambang di udara, pepohonan menghijau permai, mana ada bayangan Yo Ko? Dengan rasa pilu Bu-siang berkata terguguk-guguk:
“Ji-ci, kau kira dia... dia pergi ke mana? Apakah kelak kita dapat... dapat berjumpa lagi dengan dia?”
“Sam-moay,” jawab Thia Eng, “lihatlah gumpalan awan itu yang bergerombol menjadi satu untuk kemudian terpancar. Hidup manusia juga begitu, buat apa kau merasa susah?” Meski begitu ucapannya, tapi dalam hatinya dia pun bersedih.
Kiranya selama hampir sebulan Yo Ko merasa sudah cukup mengajarkan isi Giok-li-sim-keng kepada Bu-siang. Tapi selama itu tiada kabar berita Siao-liong-li. Ia tahu menunggu lebih lama juga tak ada gunanya, maka dia meninggalkan tulisan di tanah dan pergi. Ia pikir bila pulang ke Cong-lam-san tentu akan menambah rasa duka, maka seorang diri ia mengembara di Kangouw.
Dengan cepat beberapa bulan berlalu, dari musim dingin datang musim semi. Suatu hari dia sampai di dekat Siang-yang, dilihatnya bangunan di tepi jalan yang dahulu dibakar oleh pasukan Mongol kini sudah banyak yang dibangun kembali dalam bentuk rumah-rumah gubuk. Meski tidak semakmur dahulu, namun penduduk sudah mulai ramai lagi. Agaknya selama ini pasukan Mongol tidak pernah menyerbu lagi. Sungguh pun Yo Ko terkenang kepada Kwe Ceng, tetapi ia tidak ingin bertemu lagi dengan Kwe Hu, maka ia sungkan mampir ke Siang-yang, pikirnya: “Sudah lama berpisah dengan Tiau-heng (kakak rajawali), biarlah aku menjenguknya ke sana.”
Segera ia mencari jalan menuju ke arah lembah pegunungan dahulu itu. Hampir seharian, akhirnya dekatlah dia dengan tempat pengasingan Tok-ko Kiu-pay. Segera ia bersuit panjang sembari berjalan ke depan. Tidak lama kemudian di lereng bukit di depan sana berkumandang suara kaokan burung. Waktu Yo Ko memandang, tampak rajawali sakti itu mendekam di bawah pohon besar, kedua cakarnya mencengkeram seekor macan tutul. Berada dalam cengkeraman cakar rajawali yang hebat itu, sama sekali macan tutul tidak dapat berkutik dan hanya mengeluarkan suara raungan belaka.
Melihat kedatangan Yo Ko, rajawali itu melepaskan macan tutul. Keruan cepat sekali binatang buas itu memberosot ke semak pohon dengan mencawat ekor. Segera Yo Ko merangkul leher rajawali dengan mesra dan gembira. Mereka, seorang manusia dan seekor burung, kembali ke goa itu. Segera teringat pengalaman sendiri selama beberapa bulan yang penuh duka derita, sayang rajawali tidak dapat bicara diajaknya berbincang sekedar pelipur lara.
DemikianIah selama beberapa hari Yo Ko berdiam di lembah pegunungan sunyi itu bersama rajawali sakti. Suatu hari, saking isengnya Yo Ko mendatangi pula tebing tempat makam pedang Tokko Kiu-pay. Hian-tiat-pokiam, yaitu pedang maha berat yang diambilnya dari sini, sudah dibuangnya di Coat-ceng-kok. Segera dia melompat lagi ke atas tebing dan membaca kembali tulisan Tokko Kiu-pay yang terukir di batu kuburan pedang kayu yang sudah lapuk dan tertulis keterangan:
‘Sesudah berusia 40 tahun, tidak mementingkan senjata lagi, segala benda dapat kugunakan sebagai pedang, sejak itu latihanku semakin sempurna, mulai mencapai tingkatan tanpa pedang melebihi memakai pedang’.
Yo Ko coba merenungkan maksud tulisan itu, pikirnya: “Waktu aku membawa Hian-tiat-pokiam, boleh dikatakan hampir tiada tandingannya di seluruh jagat. Tapi menurut pesan Tokko Kiu-pay ini jelas pedang kayu lebih hebat dari pada waktu dia memakai Hian-tiat-pokiam itu, malahan akhirnya tanpa menggunakan pedang menjadi lebih lihay dari pada memakai pedang kayu. Kalau Liong-ji berjanji akan bertemu lagi 16 tahun kelak, selama belasan tahun ini biarlah kugunakan untuk mempelajari dan meyakini ilmu pedang kayu melebihi pedang berat dan akhirnya tanpa pedang melebihi menggunakan pedang kayu sesuai ajaran Tok ko Kiu-pay.”
BegituIah dia lantas memotong setangkai kayu dan dibikin menyerupai pedang. Dia pikir: “Hian-tiat-pokiam itu beratnya hampir 70 kati, bahwa pedang kayu yang enteng ini dapat mengungkulinya hanya ada dua jalan. Pertama dengan kebagusan ilmu pedang, dengan kecepatan mengalahkan kelambanan. Cara kedua adalah menang kuat dalam hal tenaga dalam, dengan kekerasan mengatasi kelemahan.” ia pun memupuk Iwekang dan meyakinkan ilmu pedang. Setiap habis hujan deras ia lantas menggembleng diri di bawah air terjun untuk menambah kekuatan serangannya. Tanpa terasa musim berganti musim dan kembali datang lagi musim dingin, perpisahannya dengan Siao-liong-li sudah hampir satu tahun.
Yo Ko merasa kemajuan tenaga dalam dan ilmu pedangnya selama satu tahun ini sangat lambat, mau tak mau ia menjadi kesal. Sementara itu bunga salju mulai bertebaran. Tiba-tiba rajawali berkaok kegirangan dan melompat ke tanah lapang lantas pentang sayap sehingga membangkitkan angin keras. Bunga salju tersapu berhamburan. Tergerak hati Yo Ko melihat kelakuan burung itu, pikirnya: “Musim semi tidak ada air bah, kalau kulatih ilmu pedang di tanah bersalju, rasanya juga suatu cara yang bagus.”
Sementara itu dilihatnya si rajawali masih terus menyabet-nyabetkan sepasang sayapnya sehingga membawa tenaga semakin keras. Biar pun hujan salju lebat, namun tiada sepotong bunga salju yang jatuh di atas badannya. Semangat Yo Ko terangsang juga. Segera ia pegang pedang kayu dan dimainkan di bawah hujan salju, berbareng lengan baju tangan kanannya juga dikebaskan, setiap ada bunga salju yang melayang turun, segera ia menyambutnya dengan angin putaran pedang atau tenaga kebasan lengan baju. Dengan begitu tanpa terasa hampir setengah hari berlalu, ia merasa tenaga dari pedang kayu dan lengan bajunya bertambah banyak sekali.
Hujan salju itu terus berlangsung hingga tiga hari lamanya, dan setiap hari Yo Ko menari pedang di bawah hujan salju bersama si rajawali sakti. Sampai petang hari ke tiga, salju turun semakin lebat. Selagi Yo Ko mencurahkan segenap perhatiannya pada pedang kayu untuk menggempur bunga salju, tiba-tiba saja sebelah sayap rajawali disabetkan ke arahnya. Karena tidak berjaga-jaga, hampir saja Yo Ko tersabet. Cepat dia melompat minggir sehingga sabetan itu dapat dihindari, walau pun begitu dahinya ketetesan dua biji bunga salju.
Segera teringat dahulu rajawali sakti ini juga pernah main gempuran denganku di atas tebing itu sehingga ilmu pedangku maju pesat. Sekarang jelas rajawali ini mengajak latihan bersama lagi! Karena itu ia lantas putar pedang kayu dan balas menusuk satu kali, tapi lantas terdengar suara.
“Krakk!” begitu kebentur sayap rajawali, pedang kayu itu patah.
Rajawali itu pun tidak menyerang lagi, tetapi berdiri tegak sambil mengeluarkan suara ber-cicit, sikapnya seakan-akan sedang mengomeli kecerobohan si Yo Ko. Diam-diam Yo Ko merenungkan bagaimana caranya harus menghadapi rajawali sakti itu. Pikirnya: “Kalau kugunakan pedang kayu melawan tenagamu yang maha kuat, jalan satu-satunya hanya mengelak dan menghindar, kemudian balas menyerang pada setiap ada peluang.”
Setelah menentukan siasat, segera ia membuat lagi sebatang pedang kayu, lalu mulai menempur si rajawali. Sekali ini ia mampu bertahan hingga belasan gebrakan barulah pedang kayu terpatah. BegituIah ia terus berlatih dengan tekun tanpa berhenti. Diam-diam Yo Ko amat berterima kasih kepada si rajawali sakti yang telah menjadi teman berlatihnya tanpa mengenal lelah serta penuh disiplin itu. Pikirnya: “Kalau aku tidak berhasil meyakinkan ilmu pedang kayu ini tentu akan mengecewakan harapan Tiau-heng. Lagi pula kesempatan bagus yang sukar dicari ini mana boleh kusia-siakan.”
Dengan tekad itulah, meski dalam mimpi juga dia mengeraskan otak memikirkan gerak-gerik setiap jurus serangan, bagaimana cara menyerang dan mengelak serta bagaimana cara memperkuat tenaga. Karena kegiatan latihan ilmu silatnya, rasa rindunya pada Siao-liong-li rada berkurang, sementara itu racun bunga cinta dalam tubuhnya sudah punah seluruhnya, tenaga dalamnya bertambah kuat, badan tampak sehat, kelesuan dan wajahnya yang pucat kurus dahulu kini pun sudah tidak kentara lagi.
Hawa semakin dingin, salju turun tiada henti-hentinya, perpisahan dengan Siao-liong-li sudah genap satu tahun. Maka berkatalah Yo Ko kepada rajawali sakti itu:
“Oh, Tiau-heng, biar kita berpisah untuk sementara, aku ingin pergi dulu ke Coat-ceng-kok.” Lalu dengan membawa pedang kayu ia meninggalkan pegunungan itu.
Dengan rasa berat rajawali mengikuti di belakang Yo Ko. Setiba di persimpangan jalan Yo Ko memberi hormat untuk mohon diri, lalu hendak melangkah pergi ke arah utara. Tak terduga mendadak rajawali itu menggigit ujung bajunya kemudian menyeretnya menuju ke selatan. Tentu saja Yo Ko heran, tapi sayangnya di antara dia dan rajawali itu tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Tapi dia tahu burung itu sangat cerdik dan tiada ubahnya seperti manusia, maka tanpa rewel lagi dia mengikutinya ke arah selatan.
Melihat Yo Ko menuruti kehendaknya, rajawali itu tidak menggigit lagi ujung bajunya dan membiarkannya berjalan sendiri. Tetapi setiap kali kelihatan Yo Ko ragu-ragu dan hendak memutar balik, segera dia menggendoli lagi ujung bajunya. Yo Ko pikir bila rajawali sakti ini ngotot mengajaknya ke selatan, tentu ada maksud tujuan tertentu. Maka ia pun membatalkan niatnya ke Coat-ceng-kok dan ikut burung itu terus ke selatan. Tiba-tiba hati Yo Ko tergerak, pikirnya: “Burung ini sangat pintar, jangan-jangan dia memberi petunjuk jalan padaku ke lautan selatan untuk menemui Liong-ji.”
Teringat kepada Siao-liong-li, seketika dia bersemangat, segera dia melangkah lebar dan ikut rajawali berlari cepat ke tenggara. Tiada sebulan kemudian sampailah mereka di pantai laut. Yo Ko berdiri di atas batu karang dan memandang jauh ke lautan bebas sana, tampak ombak men-dampar dengan hebatnya, sedih dan girang bercampur aduk dalam benaknya. Selang tak lama, terdengar suara gemuruh di kejauhan seperti bunyi guntur meru. Karena waktu kecilnya dahulu ia pernah tinggal di Tho hoa-to, ia tahu itulah suara gelombang laut pasang. Setiap hari antara lohor dan tengah malam air laut pasang dua kali. Dan kini sang surya memancarkan sinarnya di tengah cakrawala, tentu tiba waktunya laut naik pasang.
Suara gemuruh air pasang semakin lama semakin keras dan berkumandang laksana beribu-ribu ekor kuda berderap serentak. Tampaklah dari kejauhan selarik garis putih menerjang ke arah pantai, suara gemuruh itu jauh lebih hebat dari pada bunyi geledek dan sambaran kilat. Menyaksikan kedahsyatan alam itu, tanpa terasa air muka Yo Ko berubah pucat. Hanya sekejap mata saja gelombang air pasang menerjang tiba dan mendampar ke batu karang tempat berdiri Yo Ko. Cepat dia melompat ke belakang, tetapi mendadak punggungnya seperti ditubruk oleh sebuah tenaga yang maha dahsyat. Maka tanpa kuasa tubuhnya yang terapung di udara itu kecemplung ke laut, jatuh di tengah gelombang laut yang bergulung, mulutnya terasa asin, tanpa kuasa ia telah minum dua ceguk air laut.
Ia menyadari keadaannya yang berbahaya. Syukur ia sudah pernah digembleng di bawah gerujukan air bah, maka sekuatnya ia tancapkan kaki di dasar laut dengan ‘Jian-kin-tui’, ilmu membikin tubuh menjadi berat. Di permukaan air laut berombak, bergemuruh dengan hebatnya, namun di dasar laut jauh lebih tenang. Setelah merenungkan sejenak ia paham maksud rajawali itu mengajaknya ke pantai laut ini, yakni agar dia berlatih pedang di tengah damparan gelombang laut. Segera ia meloncat ke permukaan air, akan tetapi segera segulung ombak laksana bukit menghantam kepalanya. Tiada jalan lain, terpaksa dia menarik napas, lalu selulup lagi menghindar ke dasar laut.
Begitulah berulang-ulang Yo Ko timbul dan selulup lagi. Pada waktu air laut mulai surut, sementara itu Yo Ko sudah lelah, mukanya juga pucat namun dia tambah bersemangat. Pada tengah malam, sewaktu pasang naik lagi, kembali dia membawa pedang kayu dan menceburkan diri ke tengah amukan ombak samudera yang hebat. Dia memutar pedangnya di dalam air, terasa berat sekali karena damparan ombak yang membukit itu. Jika terasa payah dan tidak mampu bertahan, cepat ia menyelam ke dasar laut untuk menghindar.
Ia terus berlatih dengan cara begitu dua kali sehari. Tak sampai sebulan ia merasa tenaga dalamnya bertambah banyak, kalau pedang kayu diputar di daratan sayup-sayup menerbitkan suara seperti ombak mendampar. Setiap kalau berlatih dengan rajawali itu, kini burung itu tidak berani lagi menyambut serangannya dari depan. Suatu kali, saking bersemangatnya Yo Ko menusukkan pedang kayunya dengan sepenuh tenaga. Rajawali itu berkaok karena kaget dan melompat ke samping. Karena tak keburu menahan tenaga serangannya, pedang kayu itu menebas batang pohon di samping. Pedang itu patah, batang pohon juga terkutung menjadi dua.
Yo Ko melenggong sambil memegangi kutungan pedang kayu itu, pikirnya: “Pedang kayu ini adalah benda yang lemah, tetapi dapat mengutungi pohon, sudah tentu karena tenaga seranganku yang hebat. Kalau nanti pohon patah sedangkan pedang tidak patah, itu baru mendekati ilmu sakti yang dicapai Tokko-Iocianpwe dahulu.” Musim semi berlalu, musim rontok tiba, sang waktu lewat dengan cepatnya.
Setiap hari Yo Ko berlatih pedang di tengah gelombang laut tanpa mengena lelah dan membedakan musim. Suara gemuruh yang dterbitkan oleh pedangnya setiap kali dia menyerang menjadi semakin keras, sampai akhirnya telinga serasa pekak tergetar. Tetapi setelah beberapa bulan lagi, suara pedangnya mulai berkurang dan akhirnya lenyap tanpa suara lagi. Yo Ko berlatih beberapa bulan lagi dan ternyata suara pedang kembali mendengung. BegituIah terjadi perubahan hingga tujuh kali, akhirnya dapatlah ia menguasai pedangnya, ingin berbunyi lantas mengeluarkan suara, ingin tak bersuara lantas tanpa suara.
Pada saat mencapai tingkatan yang setinggi ini, hitung punya hitung ternyata sudah enam tahun lamanya dia berdiam di pantai laut itu. Kini dengan pedang terhunus dapatlah Yo Ko bergerak bebas di tengah gelombang laut yang maha dahsyat, kekuatan yang timbul dari gerakan pedangnya mampu menyampuk ombak laut yang mendampar dari depan.
Meski pun hidup terpencil di pantai laut dan selama itu tak pernah bergebrak dengan jago silat, tapi tenaga si rajawali sakti yang luar biasa itu sudah tak mampu menahan dua-tiga kali gebrakan pedang kayunya lagi. Sekarang barulah ia memahami perasaan Tokko Kiu-pay yang tidak pernah menemukan tanding itu. Waktu usianya sudah lanjut, pantas Tokko Kiu-pay bertambah terharu dan kesepian karena tiada seorang pun yang sanggup melawan ilmu pedangnya, akhirnya orang dan ilmu pedangnya terkubur semua di lembah sunyi.
Terpikir oleh Yo Ko. “Jika dulu Tiau-heng tidak menyaksikan sendiri cara Tokko-locianpwe meyakinkan ilmu pedangnya yang maha sakti, mana bisa Tiau-heng mengajarkan lagi ilmu sakti ini padaku? Meski pun burung itu kusebut Tiau-heng tapi sebenarnya dia adalah guruku. Kalau bicara tentang umur, entah sudah berapa puluh tahun atau mungkin sudah ratusan tahun usianya, jadi umpama aku menyebut dia kakek atau buyut rasanya juga pantas.”
Begitulah sembari berlatih ilmu pedang di pantai Iaut, ia pun tiada hentinya mencari kabar berita tentang Nikoh sakti yang berdiam di laut selatan. Namun selama beberapa tahun ternyata tidak ada seorang pun pelaut atau pedagang seberang yang ditanyai dapat memberi keterangan sesuatu. Lambat laun ia pun putus harapan. Ia pikir kalau belum tiba waktunya 16 tahun tentu sulit bertemu dengan Siao-liong-li.
Pada suatu hari, hujan rintik-rintik, angin meniup keras. Timbul perasaan Yo Ko, segera ia membawa pedang kayu dan pakai mantel, kemudian bersama si rajawali sakti ditinggalkanlah pantai laut itu dan mulai mengembara menjelajahi setiap pelosok daerah Tionggoan dan terutama daerah Kanglam yang terkenal indah permai.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Apa artinya diriku ini, kenapa engkau perlu berbuat begini?”
Wajah Thia Eng menjadi merah dan tidak sanggup bicara. Pada saat itulah suara Siao-liong-li berkata:
“Tolong pinjam sebentar pedangmu!”
Tiba-tiba sesosok bayangan melayang lewat di samping Bu Tun-si dan Wanyen Peng dan tahu-tahu pedang mereka sudah dilolos orang. Gerakan itu sungguh secepat kilat. Ketika Bu Tun-si dan Wanyen Peng masih melengak bingung, Siao-liong-li sudah melayang ke atas jembatan batu dan mendekati Kongsun Ci. Terkejut juga Kongsun Ci melihat Siao-liong-li berani mendekat ke tempat berbahaya itu. Segera ia melangkah maju dan menghadang di ujung jembatan batu sebelum Siao-liong-li menyeberang ke tempatnya. Bentaknya:
“Apakah kau ingin mampus?!”
Sambil menghunus sepasang pedang, Siao-liong-li berdoa dalam hati semoga berhasil merebut kembali Coat-ceng-tan, untuk ini mati pun ia rela. Dengan suara lembut ia lantas berkata:
“Kongsun-siansing, engkau pernah menyelamatkan jiwaku, lantaran perempuan yang bernasib malang seperti diriku ini kau telah ikut menderita, sungguh aku amat sedih dan menyesal. Kedatanganku sekarang ini sama sekali bukan ingin mengadu jiwa dengan kau.”
“Habis kau mau apa?” tanya Kongcun Ci.
“Kumohon engkau suka memberi obat untuk menolong suamiku, obat itu tak ada gunanya bagimu, kalau suka dihadiahkan kepadaku, sungguh takkan kulupakan budi kebaikanmu,” tutur Siao-liong-li.
“Lekas kembali, Liong-ji!” demikian Yo Ko berseru di seberang sana, “Setengah biji obat takkan menolong jiwa kita berdua, apa guna kau memintanya?”
Melihat perawakan Siao-liong-li yang cantik dan lemah gemulai menggiurkan, mana Li Bok-chiu dapat menandinginya biar pun cuma tiga bagiannya? Matanya yang tinggal satu mengincar dengan terkesima. Tiba-tiba timbul lagi pikiran jahat Kongsun Ci, dia bertanya:
“Kau panggil bocah she Yo itu suamiku?”
“Ya, kan dia sudah menikah dengan aku,” jawab Siao-liong-li.
“Asalkan kau menyanggupi permintaanku, segera obat ini kuberikan,” kata Kongsun Ci.
Melihat sorot mata tunggal orang yang licin itu, Siao-liong-li tahu maksudnya, katanya sambil menggeleng: “Sekarang aku sudah bersuami, mana boleh kunikahi kau lagi? Kongsun-siansing, kau tetap kesemsem padaku, namun aku sudah ada yang punya, terpaksa mengecewakan maksud baikmu.”
Mata Kongsun Ci yang aneh itu mendelik, bentaknya: “Kalau begitu lekas kau mundur ke sana. Kalau kau tetap memusuhiku, terpaksa aku tidak kenal ampun lagi.”
“Kan sia-sia belaka perkenalan kita ini jika sampai bergebrak dan bermusuhan?” ujar Siao-liong-li, suaranya sangat halus, dalam hati ia benar-benar masih merasa utang budi kepada Kongsun Ci.
“Hm,” jengek Kongsun Ci. “Aku justru ingin menyaksikan bocah she Yo itu merintih-rintih akibat racun dalam tubuhnya, ingin melihat ia sekarat menghadapi elmaut, ingin tahu betapa cantiknya isteri setia seperti kau ini akhirnya menjadi janda muda belia yang berkabung.” Makin bicara makin keji kata-katanya dengan menyeringai dan mengertak gigi.
Siao-liong-li menyambut dengan tersenyum pedih, jawabnya: “Coba kau dengar, bukankah dia sedang memanggilku kembali? Begitu kasih sayangnya padaku, betapa pun dia tak menghiraukan apakah racun dalam tubuhnya akan kumat atau tidak.”
Benar juga terdengar Yo Ko berseru, katanya: “Liong-ji, lekas kembali, buat apa banyak bicara dengan orang macam begitu?” Kalau saja jembatan batu itu tak terlalu sempit dan sukar dipijak dua orang, tentu sejak tadi dia telah berlari dan menarik kembali isterinya.
Pada saat itu jarak Kongsun Ci dengan Siao-liong-li hanya satu-dua meter saja, asalkan melangkah maju satu tindak pasti sudah dapat meraihnya. Cuma tempatnya teramat berbahaya, apa bila nona itu sedikit meronta saja maka keduanya pasti akan tergelincir ke dalam jurang dan hancur lebur. Kongsun Ci menjadi serba susah. Kalau tidak menawan Siao-liong-li sebagai sandera, lalu cara bagaimana dirinya dapat lolos dari tebing yang buntu ini. Pihak lawan hanya Yo Ko seorang saja yang lihay, apa bila dirinya menerjang mati-matian mungkin anak muda itu pun tak dapat menghalanginya, tapi paling baik kalau Siao-liong-li mau mundur sesuai seruan Yo Ko, lalu dirinya ikut menyeberang ke sana dan menawannya, kemudian bergabung dengan Li Bok-chiu. Sesudah ambil keputusan demikian, segera Kongsun Ci membentur pedang dan goloknya hingga menerbitkan suara mendering, bentaknya:
“Lekas mundur!” Berbareng pedangnya menusuk.
Di luar dugaan, sejak Siao-liong-li belajar ilmu berkelahi dua tangan dengan dua cara dari Ciu Pek-thong, kepandaiannya bertambah satu kali lipat, kalau pun tubuh mengidap racun dan tenaga dalamnya banyak berkurang, tapi betapa hebat Giok-li-kiam-hoat yang dimainkannya dengan kedua tangan sekaligus mana bisa ditandingi golok dan pedang Kongsun Ci. Dalam sekejap sepasang pedang yang diputar Siao-liong-li berubah menjadi dua gulung sinar putih, bila yang kiri bertahan, yang kanan menyerang dan begitu seterusnya secara bergantian. Keruan Kongsun Ci menjadi kelabakan dan terdesak. Makin lama makin heran dan gelisah hati Kongsun Ci. Diam-diam dia menyesal, kalau tadi mengetahui orang telah berhasil meyakinkan ilmu pedang selihay ini, tentu dia tidak akan bergebrak. Masih untung baginya karena sedikit pun Siao-liong-li tidak berniat membunuhnya, maka untuk sekian lama Kongsun Ci masih sanggup bertahan. Begitulah mereka bertempur dengan sengitnya di tebing yang curam, tidak lama It-teng Taysu, Oey Yong, Kwe Hu, Yalu Ce dan Yalu Yen tiba dan semua terperanjat menyaksikan pertarungan sengit mereka di tempat yang amat berbahaya itu. Kwe Hu berkata kepada Yalu Ce: “Lekas kita maju membantu, sendirian mana Liong-cici mampu mengalahkan dia?”
Biar pun watak Kwe Hu rada sembrono dan sejak kecil selalu dimanjakan sang ibu, tetapi pada dasarnya berhati bajik. Ia sendiri pun pernah bergebrak dengan Kongsun Ci dan diketahuinya kepandaian kakek bermata satu itu sangat lihay, bahkan ibunya juga bukan tandingannya, apa lagi sekarang Siao-liong-li menempurnya sendirian. Ketika menyaksikan keadaan Siao-liong-li sangat berbahaya, saking cemasnya terpaksa ia berseru:
“Lekas mencari akal untuk membantu Liong-cici, ibu!”
Tapi Yalu Ce mengatakan jembatan batu itu tak muat lagi untuk orang lain, hal ini memang nyata. Padahal tanpa seruan Kwe Hu, setiap orang juga berharap bisa membantu Siao-liong-li meninggalkan tempat berbahaya itu, tapi apa daya, andai kata bisa terbang ke sana juga tiada tempat untuk berpijak.
Terdengar suara bentakan Kongsun Ci, golok dan pedangnya menyerang serabutan. Kedua pedang Siao-liong-li menyambar kian kemari dengan lemasnya seperti kekurangan tenaga, kalau berlangsung lama tampaknya dia pasti akan celaka di tangan Kongsun Ci. Hanya Yo Ko, Oey Yong dan It-teng Taysu saja yang dapat melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya Siao-liong-li yang lebih unggul. Sejenak puIa, dapatlah Oey Yong melihat cara bertempur Siao-liong-li itu ternyata adalah ilmu berkelahi dengan dua tangan dan dua cara. Kepandaian ini di seluruh jagat tidak ada orang ketiga yang paham selain Ciu Pek-thong dan Kwe Ceng, maka jelaslah kepandaian Siao-liong-li ini pasti ajaran Ciu Pek-thong.
Dilihatnya Kungfu yang dimainkan Kongsun Ci sesungguhnya teramat lihay, sedangkan Siao-liong-li habis luka berat dan keracunan, tenaga dalamnya banyak susut, meski jurus serangannya lebih unggul tapi dalam waktu ratusan jurus masih sukar menundukkan Kongsun Ci. Tiba-tiba teringat satu akal oleh Oey Yong, maka segera dia berkata:
“Ko-ji, kau dan aku berbareng bicara pada Kongsun Ci, kau menggertak dan me-nakuti dia, sebaliknya aku membuatnya gembira, supaya dia lengah dan perhatiannya terpencar.” dia lantas mendahului berteriak: “Hai, Kongsun-siansing, ini kabar baik bagimu, perempuan jahat Kiu Jian-jio sudah kubunuh!”
Tergetar juga hati Kongsun Ci mendengar kata-kata itu. Dia menjadi ragu-ragu, setengah percaya setengah sangsi. Segera Yo Ko ikut berseru:
“Kongsun Ci, Li Bok-chiu menganggap kau ingkar janji karena tidak membawakan obat padanya, maka dia datang hendak membikin perhitungan dengan kau.”
“Tidak, tidak!” cepat Oey Yong menambahkan. “Kata Li Bok-chiu, asalkan kau sanggup menyembuhkan racun dalam tubuhnya, maka dia rela menjadi isterimu.”
“Ahh, mustahil kami mau tinggal diam saja!” seru Yo Ko pula. “Kami pasti akan berusaha menggagalkan angan-anganmu. Jika kau tertangkap kami, kami juga akan menyiksa kau dengan duri bunga cinta supaya kau juga tahu rasa.”
“Persengketaan kita dapat didamaikan, tidak perlu kau kuatir, bagaimana kalau sekarang juga kita mulai berunding?” seru Oey Yong.
“He, celaka! Pelayanmu yang kau bunuh dahulu itu sudah menjadi hantu dan kini muncul hendak menagih jiwa padamu!” teriak Yo Ko. “Nah, nah, itu dia! Awas, dia berdiri tepat di belakangmu, wah, kukunya panjang dan tampaknya kau akan diterkam.”
Demikianlah Oey Yong dan Yo Ko berseru bergantian, kata-kata mereka sebentar membikin takut hati Kongsun Ci dan lain saat membuatnya senang. Tentu saja Siao-liong-li juga dapat mendengar semua perkataan itu, cuma lantaran urusan ini tidak menyangkut kepentingannya, pula dia dapat membagi pikirannya dan dilakukan dengan dua tangan, serangannya sedikit pun tidak menjadi kendur. Sebaliknya Kongsun Ci memang sudah terdesak, karena pengacauan ucapan Yo Ko dan Oey Yong, pikirannya semakin kacau. Akhirnya ia menjadi gemas dan membentak:
“Kalian mengoceh apa? Lekas tutup mulut!”
“He, awas, Kongsun Ci!” teriak Yo Ko, “Siapa itu nona yang berambut semerawut di belakang? Lidahnya menjulur panjang sekali, mukanya penuh darah. Ahh, dia hendak mencengkeram lehermu, awas! Wah, celaka!”
Meski Kongsun Ci tahu anak muda itu sengaja hendak mengacaukan pikirannya, namun teriakan-teriakan ngeri itu membuatnya merinding juga dan tanpa terasa ia melirik sekejap ke belakang. Kesempatan itu tidak disia-siakan Siao-Iiongli, pedangnya menyambar, dengan tepat pergelangan tangan kiri Kongsun Ci tertusuk. Dengan sendirinya pegangan Kongsun Ci menjadi kendur, golok emasnya mencelat jatuh ke jurang, sampai lama sekali barulah terdengar kumandang suara perlahan seperti suara tercebur dalam air, agaknya di bawah jurang itu adalah sebuah kolam atau sungai.
Semua orang saling pandang dengan melongo, begitu lama golok itu terjatuh ke bawah barulah menerbitkan suara, maka betapa dalamnya jurang itu sungguh sukar diukur. Begitu kehilangan goloknya, jangankan menyerang lagi, bahkan untuk bertahan saja sulit bagi Kongsun Ci. Sebaliknya serangan Siao-liong-li semakin lancar dan gencar, berturut-turut ia menusuk lagi empat kali ke kanan dan ke kiri. Tubuh Kongsun Ci tergeliat, pedang hitamnya kembali terjatuh lagi ke jurang dan mati kutulah dia. Sambil mengancam dada dan perut lawan dengan sepasang pedangnya, Siao-liong-li lalu berkata:
“Kongsun-siansing, silakan kau menyerahkan Coat-ceng-tan dan jiwamu takkan kuganggu.”
“Tapi bagaimana dengan orang-orang itu?” tanya Kongsun Ci dengan suara gemetar.
“Kujamin takkan membikin susah kau,” jawab Siao-liong-li.
Dalam keadaan demikian yang dipikir Kongsun Ci hanya menyelamatkan jiwanya belaka. Segera ia mengeluarkan botol kecil itu dan disodorkan. Sambil tetap mengancam dada lawan dengan satu pedang, tangan Siao-liong-Ii yang lain menerima botol itu dengan perasaan girang dan pedih pula, pikirnya: “Meski pun aku sendiri tak dapat hidup lama, akhirnya Coat-ceng-tan ini dapat kurampas untuk menolong Ko-ji.” Segera ia berlari balik.
Meski sebelumnya Bu Sam-thong, Cu Cu-liu dan lain-lain sudah tahu ilmu silat Siao-liong-li sangat lihay, tapi sama sekali tidak menduga dia memiliki kepandaian sesakti ini, dapat sekaligus memainkan dua pedang dengan cara yang berlainan. Mereka pernah mendengar bahwa Ciu Pek-thong dan Kwe Ceng mahir memainkan dua cara bertempur yang berbeda dengan kedua tangan, tetapi mereka cuma mendengar saja dan belum pernah menyaksikan sendiri. Sekarang mereka dapat melihat betapa lihaynya kepandaian Siao-liong-li, mereka menjadi kagum tak terhingga.
Tentu saja Yalu Ce, Yalu Yen, Thia Eng, Kwe Hu dan yang lain-lainnya tak kepalang kagumnya menyaksikan betapa lihay ilmu silat Siao-liong-li, padahal usianya sebaya dengan mereka, malahan kelihatan lemah gemulai, kalau tidak menyaksikan sendiri tentu orang takkan percaya.
Sementara itu dengan gaya indah laksana bidadari turun dari kahyangan Siao-liong-li melayang balik dari jembatan batu. Serentak semua orang bersorak gembira dan memuji. Segera Yo Ko memburu maju dan memegangi tangan sang isteri, semua orang juga lantas merubungnya untuk bertanya. Cepat Siao-liong-li membuka botol porselen itu dan menuang keluar setengah butir pil, katanya dengan tersenyum simpul:
“Ko-ji, obat ini tulen, bukan?”
Tetapi Yo Ko memandang obat itu dengan tak acuh, jawabnya: “Memang tulen, Liong-ji, bagaimana keadaanmu? Kenapa kau begini pucat? Coba kau mengatur pernapasanmu.”
Tapi Siao-liong-li hanya tersenyum saja. Pada waktu berlari balik tadi memang dia sudah merasakan darahnya se-olah bergolak dalam rongga dadanya, rasanya muak dan ingin muntah, tetapi sekuatnya ia bertahan. Ia tahu racun yang diidapnya itu terlalu dalam, untunglah dia sudah berhasil merebut setengah biji Coat-ceng-tan, lebih dari itu tak terpikir lagi olehnya.
Sambil menggenggam tangan Siao-liong-li yang terasa semakin dingin, dengan cemas Yo Ko bertanya:
“He, Liong-ji, bagaimana perasaanmu?”
“Ahh, tidak apa-apa, lekas kau minum obat ini,” ujar Siao-liong-li.
“Liong-ji,” kata Yo Ko dengan suara gemetar, “setengah biji obat ini sukar menyelamatkan jiwa dua orang, untuk apa lagi? Oh, Liong-ji, masa kau belum tahu perasaanku? Kalau engkau mati, masa aku dapat hidup sendirian?” Berkata sampai di sini, rasa dukanya tak tertahan lagi, mendadak ia rampas botol beserta obatnya terus dilemparkan. Ternyata setengah biji obat, satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan racun yang diidapnya dibuang ke jurang yang tak terhingga dalamnya. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan siapa pun, serentak semua orang melengak dan berseru kaget.
Siao-liong-li tahu bahwa Yo Ko bertekad hendak sehidup semati dengannya, hatinya menjadi pedih, duka tercampur terima kasih. Sehabis bertempur sengit, racun di dalam tubuhnya kembali bekerja. Ia tidak tahan lagi, ia tergeliat terus jatuh pingsan dalam pelukan Yo Ko.
TAMATNYA RIWAYAT COAT-CENG-KOK
Dua saudara Bu, Kwe Hu, Wanyen Peng dan anak-anak muda lain tidak paham duduknya perkara, maka beramai-ramai mereka bertanya dan membicarakan kejadian ini. Tiba-tiba Bu Sam-thong membentak:
“Li Bok-chiu, sekali ini jangan kau harap dapat lolos lagi!” Ia memburu ke lereng gunung sebelah sana.
Waktu semua orang memandang ke sana, tampaklah Kongsun Ci sedang berlari secepat terbang dengan Ginkang-nya yang sangat tinggi. Di tanjakan lereng gunung sana tiba-tiba berkumandang suara tertawa orang tua, menyusul seseorang muncul dengan memanggul sebuah peti besar, kiranya Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, si Anak Tua Nakal.
“He, Lo-wan-tong, lekas giring To-koh jubah kuning itu ke sini!” seru Oey Yong.
“Baik, boleh kalian saksikan kepandaian Lo-wan-tong!” seru Ciu Pek-thong lalu membuka tutup peti, kedua tangannya ber-gerak, seketika segerombolan tawon madu menyambar keluar terus menerjang ke arah Li Bok-chiu.
Ketika pasukan Mongol membumi-hanguskan Cong-lam-san, kawanan Tosu dari Coan-cin-kau sempat meninggalkan gunung dengan membawa kitab agama dan benda-benda berharga lain, tapi yang dibawa Cui Pek-thong adalah sebuah peti yang berisi sekawanan tawon putih piaraan Siao-liong-li dahulu. Meski sifatnya jenaka dan tingkah lakunya ugal-ugalan, tapi bakat Ciu Pek-thong sebenarnya amat pintar. Tanpa kenal lelah ia terus mempelajari cara memimpin kawanan tawon putih itu, akhirnya dia berhasil juga menemukan kuncinya. Sekarang dia diminta Oey Yong menggiring Li Bok-chiu, kebetulan baginya untuk pamer kepandaian yang baru berhasil dipelajarinya itu.
Begitulah Kongsun Ci menjadi kaget melihat kawanan tawon itu. Ia tidak berani mendekati Li Bok-chiu melainkan terus menyelusup ke semak-semak. Li Bok-chiu juga kelabakan melihat terjangan kawanan tawon itu, terpaksa dia berlari mengikuti jalanan pegunungan itu. Segera Bu Sam-thong didahului kedua puteranya serta Liok Bu-siang dan Thia Eng memapak dengan senjata terhunus. Mendadak Yalu Ce berteriak:
“Lihay benar engkau, Suhu! Lekas engkau simpan kembali kawanan tawon itu ke dalam kandang!”
Segera Ciu Pek-thong ber-kaok-kaok menggiring kawanan tawon itu kembali ke dalam peti. Tetapi di tengah ribut-ribut, mana kawanan tawon mau menuruti perintahnya? Sambil tetap men-dengung gerombolan tawon putih itu tetap mengejar ke arah Li Bok-chiu. Kuatir Li Bok-chiu kabur lagi, tanpa menghiraukan sengatan tawon, segera Bu Sam-thong mengudak ke sana.
“Liong-ji...! Liong-ji...!” Yo Ko merangkul Siao-liong-li dan memanggilnya perlahan.
Siao-liong-li membuka matanya sedikit, telinganya mendengar suara mendengung tawon hingga rasanya seperti sudah berada di kediaman lama di Cong-lam-san, hatinya menjadi girang dan bertanya:
“Apakah kita sudah berada di rumah?” Tetapi setelah tenangkan diri baru ingat apa yang terjadi tadi.
Segera dia bersiul perlahan beberapa kali, lantas membentak pula beberapa kali. Seketika kawanan tawon putih itu ber-putar di sekeliling Li-Bok-chiu dan tidak terbang serabutan lagi.
“Suci,” katanya, “selama hidupmu engkau telah banyak dosa, apakah sekarang kau tidak menyesal?”
Wajah Li Bok-chiu pucat seperti mayat, jawabnya: “Mana Coat-ceng-tan?”
Siao-liong-li tersenyum pedih, lalu berkata: “Coat-ceng-tan sudah dilempar ke dalam jurang. Kenapa kau membunuh paderi Hindu itu? Kalau dia tidak mati, bisa jadi jiwaku dan jiwa Ko-ji dapat tertolong, bahkan kau pun dapat diselamatkan.”
Mendelong perasaan Li Bok-chiu. Dia tahu Sumoay-nya ini selamanya tidak suka omong kosong. Diam-diam ia merasa menyesal bahwa jarumnya telah menewaskan paderi Hindu itu sehingga dirinya sendiri juga ikut celaka. Sementara itu Bu Sam-thong dan lain-lainnya sudah merubung maju, sedangkan Ciu Pek-thong masih sibuk berteriak-teriak dan berjingkrakan ingin memanggil kawanan tawon.
“Kakek Ciu, begini caranya,” seru Siao-liong-li, lalu ia bersuit dan membentak seperti tadi.
Ciu Pek-thong menirukan bersuit dan membentak. Benar juga, beribu-ribu tawon putih itu terbang menyusul kembali ke dalam peti. Keruan ia girang sekali, serunya:
“Terima kasih, nona Liong.”
“Saudara Pek-thong, sudah lama tidak berjumpa, kau ternyata sehat-sehat saja seperti dulu,” dengan tersenyum It-teng Taysu menyapa.
Untuk sejenak Ciu Pek-thong melengak karena tak disangkanya It-teng Taysu juga berada di situ. Cepat dia menutup peti dan berkata:
“Ya, aku sehat, kau pun sehat, semua juga sehat!” Dia panggul petinya terus mengeluyur pergi tanpa berpaling lagi.
Melihat keadaan di sekelilingnya, Li Bok-chiu menyadari kedudukannya yang sulit. Oey Yong, Yo Ko atau Siao-liong-li salah seorang saja sudah sukar dilawan, apa lagi jika sekarang main kerubut. Dia menjadi nekat, teriaknya:
“Hm, percuma kalian menganggap diri sebagai kaum pendekar, tahunya, he-he, kalian pun suka main keroyok. Siau-sumoay, sebagai anak murid Ko-bong-pay, betapa pun aku tidak boleh mati di tangan orang luar, Nah, silakan kau maju saja!” dia menyodorkan gagang pedang ke depan dan ujung pedang mengarah ke dadanya sendiri.
Tetapi Siao-liong-li hanya menggeleng, katanya: “Urusan sudah terlanjur begini, untuk apa kubunuh kau?”
“Li Bok-chiu!” bentak Sam-thong mendadak. “Sekarang hendak kutanya kau, jenazah Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun telah kau bawa ke mana?”
Mendengar nama Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun mendadak disebut, tubuh Li Bok-chiu gemetar, mukanya ber kerut, lalu menjawab:
“Sudah kubakar menjadi abu. Abu tulang yang seorang kutebarkan di puncak Hoa-san, abu tulang yang Iainnya kubuang ke lautan timur, supaya mereka berdua takkan menjelma kembali dan tak pernah berkumpul lagi.”
Melihat cara mengucap Li Bok-chiu yang geregetan dan penuh dendam itu, semua orang terkesiap dan gegetun. Segera Bu-siang berkata:
“Liong-cici adalah orang baik dan dia tidak tega membunuh kau. Tapi segenap keluargaku sudah kau bunuh semua, hanya tersisa aku saja seorang, maka hari ini aku harus menuntut balas. Piauci, hayo kita maju!”
“Kau sudah membunuh ibuku, betapa pun kami tidak dapat mengampuni kau!” seru kedua saudara Bu.
“Orang yang tewas di bawah kebut dan jarumku tak terhitung banyaknya, jika semua ingin menuntut balas padaku, dari mana aku mempunyai nyawa cadangan sebanyak itu? Bagaimana pun juga jiwaku cuma satu,” ujar Li Bok-chiu tak acuh.
“Jika begitu terlampau murah bagimu,” seru Bu-siang dan Siu-bun berbareng, dan segera menubruk maju dengan senjata masing-masing. Mendadak Li Bok-chiu mengangkat pedangnya.
“Pletak!” tahu-tahu pedangnya tergetar patah.
Sambil tersenyum mengejek Li Bok-chiu bersikap menghina. Ia hanya berdiri diam tanpa melawan. Ia tunggu serangan kedua anak muda itu dan tamatlah riwayatnya. Pada saat itulah mendadak di sebelah timur nampak ada asap tebal mengepul dan api berkobar dengan hebatnya.
“Hah, perkampungan disana terbakar!” seru Oey Yong.
“Tunda dulu membunuhnya, lebih penting menyelamatkan jenazah Susiok,” kata Cu Cu-liu sambil melompat maju, sekaligus dia totok tiga Hiat-to penting di tubuh Li Bok-chiu agar tidak dapat kabur lagi.
“Juga jenazah nona Kongsun,” demikian Thia Eng menambahkan.
Semua orang membenarkan dan mereka berlari ke arah datangnya tadi. Kedua saudara Bu cilik menggiring Li Bok-chiu, sedangkan Yo Ko, Siao-liong-li, Oey Yong dan It-teng Taysu menyusul dari belakang dengan perlahan.
Walau pun masih cukup jauh dari perkampungan kediaman Kongsun Ci, hawa panas sudah menyerang dengan ganasnya. Terdengar suara jeritan dan teriakan ngeri disertai suara gemuruh ambruknya atap dan belandar rumah.
“Keparat Kongsun Ci benar-benar terlalu jahat, nona Liong seharusnya membinasakan dia saja,” ujar Bu Sam-thong.
“Besar kemungkinan api ini bukan dikobarkan oleh Kongsun Ci, kukira ini perbuatan nenek gundul Kiu Jian-jio itu,” kata Cu Cu-liu.
“Perbuatan Kiu Jian-jio katamu?” Segera Bu Sam-thong melengong bingung. “Untuk apa dia membakar kediaman sendiri yang sukar dibangun ini?”
Sembari berlari ke depan Cu Cu-liu menjawab: “Sebagian besar anak murid Kongsun Ci tidak mau tunduk padanya, sekali pun kita membunuh Kongsun Ci nenek gundul itu tidak dapat berdiam aman tenteram. Kulihat nenek itu berjiwa sempit dan...” tengah berkata tibalah mereka di dekat semak-semak bunga cinta yang rada jauh dari kobaran api.
Tampaklah jenazah paderi Hindu itu masih menggeletak di sana dengan wajah tersenyum simpul seperti orang hidup, agaknya sebelum ajalnya paderi itu menemukan sesuatu yang membuatnya kegirangan.
“Tampaknya Susiok mendadak meninggal sehingga sama sekali tidak menderita,” ujar Bu Sam-thong.
Cu Cu-liu berpikir sejenak, lalu berkata, “Waktu itu Susiok sedang mencari rumput yang dapat memunahkan racun bunga cinta.”
Sementara itu Oey Yong dan It-teng Taysu juga sudah menyusul tiba. Demi mendengar ucapan Cu Cu-liu itu, Oey Yong memeriksa sekitar jenazah paderi Hindu, tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh. Dia coba meraba baju paderi itu namun tetap tiada menemukan sesuatu benda.
“Apakah susiok-mu tidak meninggalkan sesuatu pesan?” tanyanya kepada Cu-liu.
“Tidak,” jawab Cu-Jiu, “Kami keluar dari rumah omprongan dan tidak menyangka akan disergap musuh secara mendadak.”
Tiba-tiba Oey Yong melihat air muka paderi Hindu yang mengulum senyum. Pikirannya tergerak, cepat dia memeriksa tangan paderi itu. Tampaklah kedua jari tangan kanannya memegang setangkai kecil rumput warna ungu. Perlahan Oey Yong mementang jarinya dan rumput kecil itu diambilnya, lalu bertanya:
“Rumput apa ini?”
Cu-liu menggeleng karena tidak tahu. Oey Yong coba mengendus rumput itu, terasa bau busuk dan memuakkan.
“Awas, Kwe-hujin, itu Toan-jong-cau (rumput perantas usus) yang mengandung racun hebat,” cepat It-teng berseru.
Oey Yong melengak dan sangat kecewa oleh keterangan itu. Sementara dua saudara Bu sudah tiba sambil menggiring Li Bok-chiu. Mendengar rumput itu beracun, Bu Siu-bun berkata kepada Oey Yong:
“Sunio (ibu guru), suruh iblis maha jahat ini makan rumput itu saja.”
“Aih, anak kecil jangan berpikiran buruk begitu,” ujar It-teng.
“Cosu-yaya (kakek guru), terhadap manusia jahat seperti ini kenapa kasihan?” ujar Siu-bun.
Dalam pada itu pepohonan di sebelah sana sudah terjilat api dan menerbitkan suara pletak pletok yang keras, hawa panas juga semakin hebat. Cepat Oey Yong berkata:
“Marilah kita mundur ke atas bukit bukit di sebelah timur sana.”
Mereka berlari ke lereng bukit, terlihatlah bangunan yang ber-deret itu dalam waktu singkat musnah ditelan lautan api. Karena Hiat-to-nya tertotok, meski pun dapat berjalan tapi ilmu silat Li Bok-chiu tak dapat digunakan sama sekali. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalam, maksudnya hendak melancarkan Hiat-to yang tertotok itu supaya dapat meloloskan diri kalau penjagaan agak lengah. Tak terduga begitu ia mengerahkan tenaga, seketika dada dan perutnya kesakitan bukan main, tak tahan lagi ia menjerit. Rupanya racun bunga cinta yang mengeram dalam tubuhnya semula terbendung oleh tenaga murninya. Kini tenaga murninya dipergunakan untuk menembus Hiat-to yang tertotok hingga tenaganya terpencar, maka racun lantas bekerja dengan ganasnya.
Dalam keadaan dada dan perut kesakitan hebat, dari jauh dilihatnya Yo Ko dan Siao-liong-li berjalan mendatangi, yang satu pemuda cakap ganteng, yang lain nona cantik molek. Pandangannya seketika menjadi kabur, samar-samar kedua muda-mudi yang dilihatnya seakan-akan Liok Tian-goan yang dirindukannya selama hidup ini beserta isterinya, yaitu Ho Wan-kun, tanpa terasa ia berteriak:
“Tian-goan, kejam benar kau! Dalam keadaan begini tega benar kau menemui aku?”
Karena rangsangan cintanya itu, racun bunga semakin hebat menyiksanya hingga sekujur badan gemetar, kulit daging mukanya berkerut-kerut kejang. Melihat sikapnya yang menakutkan seperti orang gila, tanpa terasa semua orang melangkah mundur. Selamanya Li Bok-chiu berwatak angkuh dan tidak pernah mau tunduk kepada orang lain. Kini hatinya terasa pedih dan tubuhnya menderita, saking tidak tahan dia berteriak-teriak:
“Aduh, sakit! Tolong...! Lekas tolong...!”
“Sebenarnya Susiok-ku dapat menolong kau, namun kau sudah membunuhnya,” kata Cu Cu-liu sambil menunjuk jenazah paderi Hindu.
Sambil mengertak gigi Li Bok-chiu menjawab: “Benar, memang akulah yang membunuh dia. Setiap manusia di dunia ini, baik atau buruk pasti akan kubunuh. Aku akan mati, ya, aku akan mati! Untuk apa kalian hidup? Aku ingin mati bersama kalian.”
Saking tidak tahan sakitnya, mendadak dia menubruk ke ujung pedang yang dipegang Bu Tun-si. Setiap hari Bu Tun-si berusaha menuntut balas dan ingin membunuh musuh besar ini, tapi sekarang mendadak musuh menubruk ke ujung pedangnya, ia malah menjadi terkejut dan tanpa terasa ia menarik kembali pedangnya, Li Bok-chiu menubruk tempat kosong, ia tergelincir ke bawah bukit terus terguling ke tengah lautan api.
Semua orang menjerit kaget. Dari atas mereka dapat melihat dalam sekejap saja Li Bok-chiu terbungkus kobaran api, tapi dia merangkak bangun lalu berdiri tegak tanpa bergerak lagi dan sama sekali tak menghiraukan tubuhnya yang terbakar. Teringat hubungan saudara seperguruan, Siao-liong-li merasa tidak tega, cepat ia berseru:
“Suci, lekas lari keluar, lekas!”
Namun Li Bok-chiu tetap berdiri tegak di tengah api yang berkobar-kobar itu, dalam waktu singkat saja tubuhnya berubah menjadi sepotong tonggak hitam dan akhirnya roboh. Siao-liong-li memegangi lengan Yo Ko sambil menutupi mukanya serta meneteskan air mata. Selama ini Thia Eng dan Liok Bu-siang tak pernah melupakan sakit hati atas terbunuhnya ayah bunda mereka dan segenap anggota keluarga. Tetapi melihat nasib Li Bok-chiu yang berakhir mengenaskan, meski pun sekarang dendam itu sudah terbalas, namun sedikit pun mereka tidak gembira menyaksikan kematian Li Bok-chiu.
Oey Yong memondong Kwe Siang. Teringat kepada kejahatan yang pernah diperbuat Li Bok-chiu, iblis itu juga pernah melakukan kebaikan, merawat Kwe Siang selama beberapa hari. Oey Yong lantas pegang kedua tangan Kwe Siang dan memberi hormat ke arah api sebagai tanda terima kasih kepada Li Bok-chiu.
Semula Yo Ko bermaksud menyelamatkan jenazah Kongsun Lik-oh juga. Tapi api terlihat berkobar dengan amat hebatnya, segenap bangunan telah tenggelam di tengah lautan api sehingga tidak berdaya lagi. Diam-diam Yo Ko merasa sedih, ia menghela napas panjang sambil memandang kobaran api dengan kesima. Pada saat itu se-konyong-konyong di atas gunung sebelah timur-laut ada suara tertawa melengking aneh laksana bunyi burung hantu, suaranya amat menusuk telinga walau pun berkumandang dari jarak yang cukup jauh, maka dapat dibayangkan tenaga dalamnya sangat hebat.
“ltu suara Kiu Jian-jio!” kata Yo Ko. “Kenapa dia bisa berada di puncak gunung sana?”
Tergerak hati Siao-liong-li, katanya: “Coba kita ke sana untuk menanyai dia apakah masih menyimpan Coat-ceng-tan.”
“Liong-ji, masa sampai sekarang kau masih memikirkan hal itu?” ujar Yo Ko tersenyum getir.
Maksud kedatangan Oey Yong, Bu Sam-thong, Thia Eng dan lain-lain ke Coat-ceng-kok mencarikan obat bagi Yo Ko, maka mereka menyetujui usul Siao-liong-li. Mereka pikir kalau dari Kiu Jian-jio bisa dimintakan Coat-ceng-tan lagi pasti Yo Ko akan dipaksa meminumnya dan takkan membiarkan pemuda itu membuang obatnya lagi secara sia-sia. Karena pikiran mereka sama, berbareng mereka berseru:
“Mari kita pergi ke sana.” Segera Bu Sam-thong bersama kedua puteranya serta Yalu Ce dan Wanyen Peng mendahului berlari ke sana.
Yo Ko menghela napas dan menggeleng kepala, pikirnya: “Apa gunanya usaha kalian ini kecuali kalian dapat mencarikan obat mujijat yang mampu menghidupkan jiwa kami suami isteri sekaligus?”
Sejak tadi Thia Eng hanya memandangi Yo Ko dengan diam-diam, kini mendadak berkata:
“Yo-toako, janganlah engkau mengecewakan maksud baik orang banyak, Mari kita juga pergi ke sana.”
Selama ini Thia Eng sangat baik kepada Yo Ko, dalam hati anak muda ini pun sangat berterima kasih. Walau pun cintanya sudah dicurahkan kepada Siao-liong-li dan tidak mungkin bergeser lagi, tapi terhadap nona yang berpribadi halus budi ini biasanya ia sangat menghormat. Sejak kenal Yo Ko juga Thia Eng tidak pernah memohon sesuatu, kini mendadak mengutarakan itu, betapa pun Yo Ko sukar menolaknya. Terpaksa ia mengangguk dan berkata:
“Baiklah, kita lihat nenek itu main gila apa lagi di puncak gunung sana.”
Begitulah mereka berlari ke atas gunung menurut arah datangnya suara tawa Kiu Jian-jio tadi. Yo Ko sudah pernah melihat pepohonan di atas gunung ini, jelas ini adalah tempat yang pernah dilaluinya ketika dia dan Kongsun Lik-oh serta Kiu Jian-jio lolos dari goa di bawah tanah. Sekarang pemandangan alam masih tetap begitu, tetapi Kongsun Lik-oh sudah tidak ada, dirinya sendiri juga tidak lama lagi tinggal di dunia fana ini. Teringat semua itu, ia menjadi terharu.
Kira-kira beberapa ratus meter di bawah puncak gunung, rombongan melihat jelas Kiu Jian-jio duduk sendirian di kursi dan sedang tertawa menengadah seperti orang gila.
“Dia tertawa sendirian di situ, mungkin otaknya kurang waras,” ujar Bu-siang.
“Kita jangan mendekatinya,” kata Oey Yong “Orang ini sangat kejam dan keji, kita harus waspada kalau-kalau dia mengatur tipu muslihat untuk menjebak kita. Kukira dia tidak gila sungguhan.”
Karena jeri terhadap senjata rahasia nenek gundul yang amat lihay, mereka berhenti di kejauhan. Oey Yong hendak menegur, tiba-tiba terlihat seseorang muncul dari balik karang di depan sana, siapa lagi kalau bukan Kongsun Ci. Mendadak Kongsun Ci menanggalkan jubahnya terus diputar dan dikebaskan hingga lurus dan mengencang. Begitu indah dan kuat gerakannya, sungguh lihay luar biasa. Diam-diam semua orang memuji kehebatan tenaga dalam Kongsun Ci itu. Terdengar dia membentak sambil menyeringai:
“Hm, nenek jahat dan keji, dengan apimu sekaligus kau sudah memusnahkan perkampunganku yang dibangun leluhur kami. Hari ini jiwamu tidak mungkin dapat lolos dari tanganku!” ia berlari ke arah Kiu-Jian-jio sambil memutar jubahnya.
“Serrr...!”
Terdengar suara mendesir keras satu kali, dari mulut Kiu Jian-jio tersembur satu biji buah kurma ke arah Kongsun Ci. Suara desiran itu berkumandang dari puncak gunung, jarak sambaran senjata rahasia itu pun cukup jauh, suaranya menjadi lebih nyaring dan tajam. Kelihatan Kongsun Ci mengebaskan jubahnya, buah kurma itu kena dilibatnya. Tadinya Kongsun Ci tidak yakin jubahnya dapat menahan senjata rahasia yang lihay. Akan tetapi dia amat murka, pula melihat Kiu Jian-jio duduk sendirian di puncak gunung tanpa bala bantuan, ia pikir inilah kesempatan bagus untuk membinasakan bekas isterinya itu. Dengan menyerempet bahaya dia terus menerjang ke situ, apa lagi setelah jelas senjata rahasia isterinya tak dapat melukainya, segera dia menerjang lebih cepat lagi ke depan. Melihat Kongsun Ci sudah dekat sekali, Kiu Jian-jio terlihat ketakutan dan berteriak-teriak:
“Wah, celaka! Tolong...! Tolong...!”
“Nenek itu hendak dibunuhnya, ibu,” kata Kwe Hu kepada Oey Yong.
Oey Yong merasa tidak paham, sebab jelas dilihatnya Kiu Jian-jio masih waras dan segar bugar, mengapa sengaja bergelak tertawa dan memancing kedatangan bekas sang suami itu? Dalam pada itu Kiu Jian-jio telah menyemprotkan dua biji paku buah kurma lagi. Karena jaraknya sudah dekat, daya sambaran senjata rahasia itu lebih keras. Cepat Kongsun Ci putar jubahnya untuk menghalau. Tapi mendadak ia menjerit satu kali, tubuhnya menghilang kejeblos ke bawah tanah dan Kiu Jian-jio bergelak tertawa pula. Namun suara tawanya cuma terdengar “ha-ha...” dua kali saja, sekejap itu dari bawah tanah menyambar keluar kain panjang yang melibat kaki kursi yang diduduki Kiu Jian-jio itu sehingga kursi dan orangnya ikut terseret ke dalam tanah.
Suara tawa Kiu Jian-jio mendadak berubah menjadi jeritan melengking tercampur teriakan ngeri Kongsun Ci berkumandang dari bawah tanah. Suara itu berkumandang sampai lama untuk kemudian mendadak lenyap, lalu keadaan menjadi sunyi kembali. Dari kejauhan semua orang dapat menyaksikan dan mendengar kejadian itu dengan jelas. Mereka saling pandang karena tidak paham sebab musababnya, hanya Yo Ko saja yang tahu jelas seluk-beluk kedua suami isteri itu. Segera mereka berlari ke atas puncak, nampaklah empat pelayan perempuan tergeletak tak bernyawa di situ. Di samping ada sebuah lubang besar, waktu mereka melongok ke bawah, keadaan gelap gulita dan tidak kelihatan apa pun.
Kiranya Kiu Jian-jio yang pernah tersiksa begitu lamanya di goa bawah tanah itu kadung teramat sakit hati dan benci kepada Kongsun Ci. Lebih dulu perkampungan keluarga Kongsun yang bersejarah be-ratus tahun itu dibakarnya habis, kemudian dia menyuruh empat pelayan menggotongnya ke puncak gunung. Melalui lubang goa di puncak inilah tempo hari dia diselamatkan dari goa bawah tanah oleh Yo Ko dan Kongsun Lik-oh. Ia perintahkan pelayan itu mengumpulkan ranting kayu, rumput kering dan sebagainya untuk menutup lubang goa, lalu pelayan-pelayan itu dibinasakannya. Kemudian ia sengaja bergelak tertawa untuk memancing kedatangan Konsun Ci. Ia menyemprotkan paku buah kurma serta menjerit minta tolong, semua ini cuma pura-pura saja agar Kongsun Ci tidak curiga.
Kongsun Ci tidak tahu bahwa di puncak gunung terpencil ini ada lubang goa sedalam itu, tanpa pikir ia menerjang ke arah Kiu Jian-jio dan akhirnya kejeblos. Akan tetapi pada detik terakhir ia masih berusaha mencari hidup, maka sekuatnya ia ayunkan jubahnya untuk membelit kaki kursi Kiu Jian-jio agar dia dapat meloncat ke atas kembali, siapa tahu sekali tarik justru keduanya malah terjerumus ke bawah. Lubang di bawah tanah itu dalamnya ber-puluh meter, keruan tubuh sepasang suami-isteri itu hancur lebur menjadi bakso dan saling lengket tak terpisahkan lagi. Tak disangka semasa hidupnya pasangan yang saling dendam dan benci itu akhirnya mati berbareng pada hari dan detik yang sama, terkubur pada tempat dan liang yang sama pula.
Sesudah Yo Ko menceritakan seluk-beluk kehidupan Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio, semua orang menghela napas gegetun. Yalu Ce dan anak-anak muda lain lantas menggali liang untuk mengubur keempat pelayan itu. Melihat api masih berkobar dengan hebatnya di lembah sana dan jelas tidak ada tempat tinggal lagi, apa lagi setelah menyaksikan korban sebanyak ini, semua orang berharap selekasnya dapat meninggalkan Coat-ceng-kok.
“Penyakit adik Yo Ko masih perlu disembuhkan. Kita harus lekas mencarikan tabib sakti untuk mengobatinya,” ujar Cu Cu-liu.
Semua orang membenarkan usul itu. Tetapi Oey Yong berkata: “Tidak, hari ini kita belum boleh berangkat.”
“Apa Kwe-hujin ada usul lain?” tanya Cu Cu-liu.
Oey Yong mengerutkan kening, jawabnya. “Bahuku terluka dan terasa kesakitan. Kuharap malam ini kalian sudi tinggal lagi di sini, kita berangkat besok saja.”
Bahwa kesehatan Oey Yong terganggu, semua orang menurut untuk bermalam di situ. Mereka lantas pergi mencari goa dan tempat meneduh lain dan sebagainya. Siao-liong-li dan Yo Ko hendak melangkah pergi. Tiba-tiba Oey Yong berseru:
“Liong-moaymoay, coba kemari, ingin kubicarakan sesuatu padamu.” Lalu ia menyerahkan Kwe Siang kepada Kwe Hu dan mendekati Siao-liong-li, katanya kepada Yo Ko dengan tersenyum. “Jangan kuatir, Ko-ji, dia sudah menikah dengan kau, takkan kuhasut untuk minta cerai.”
Yo Ko tersenyum, jawabnya: “Boleh saja kau coba menghasutnya.” Dalam hati ia sangat heran apakah yang hendak dibicarakan sang bibi dengan Siao-liong-li.
Terlihat mereka menuju ke sana lalu duduk di bawah sebatang pohon besar. Meski penuh rasa ingin tahu, namun tidak enak untuk mendekati mereka. Segera terpikir pula olehnya: ”Betapa pun Liong-ji pasti takkan merahasiakan padaku, dia akan memberi-tahukan apa yang dikatakan bibi Kwe.”
Setelah duduk di bawah pohon, Oey Yong berkata: “Adik Liong, sungguh aku sangat menyesal puteriku yang ceroboh dan sembrono itu banyak membikin susah kau dan Ko-ji.”
“Ahh, tidak apa-apa,” ujar Siao-liong-li dengan tersenyum. Tapi dalam hati dia pikir dengan sebuah jarum berbisa puterimu telah mencelakai aku hingga tak dapat disembuhkan lagi, sekali pun kau menyesal seribu kali juga tiada gunanya.
Oey Yong melihat Siao-liong-li bertambah muram. Ia belum tahu bahwa sebuah jarum yang disambitkan Kwe Hu itu sesungguhnya telah menamatkan riwayat Siao-liong-li. Disangkanya racun jarum itu tidaklah sukar disembuhkan seperti Bu Sam-thong dahulu. Yo Ko dan lain-lainnya juga pernah terkena jarum berbisa itu akan tetapi semuanya dapat disembuhkan. Dia tidak tahu bahwa ketika terkena jarum berbisa itu, Siao-liong-li sedang memutar balik jalan darahnya menurut ajaran Yo Ko sehingga keadaannya sama sekali berbeda.
JANJI ENAM BELAS TAHUN
Tetapi karena waktu itu Oey Yong sendiri tidak ikut masuk ke kuburan kuno, maka dia tidak tahu duduknya perkara. Segera ia berkata lagi:
“Ada sesuatu yang ingin kumintakan penjelasanmu. Dengan susah payah adik berhasil merebut Coat-ceng-tan, tapi Ko-ji tidak mau meminumnya, bahkan dibuang ke jurang, Apa sebabnya dia berbuat begitu?”
Siao-liong-li menghela napas perlahan. Dia tahu betapa cintanya Yo Ko dan tidak mau hidup sendiri, tetapi urusan sudah kadung begini, buat apa dibicarakan lagi sehingga menimbulkan gara? Maka dia menjawab:
“Mungkin sifatnya memang aneh.”
“Ko-ji adalah seorang yang berperasaan dan berbudi, mungkin dia melihat nona Kongsun rela mengorbankan jiwa sendiri demi mendapatkan obat itu, maka dia pun tidak tega dan tidak ingin minum obat untuk membalas kebaikan nona cantik itu. Adik Liong, memang jalan pikiran Ko-ji itu harus dipuji, orang mati tidak dapat hidup kembali, pendiriannya yang kepala batu itu justru malah berlawanan dengan tujuan pengorbanan nona Kongsun.”
Siao-liong-li mengangguk dan tidak mau menanggapi. Lalu Oey Yong beikata lagi: “Padahal dengan mati-matian adik Liong menempur Kongsun Ci di tebing curam tidak menghiraukan mati hidupnya sendiri? Di dunia ini Ko-ji hanya menurut pada perkataanmu, kuharap engkau suka menasehati dia agar berpikir panjang.”
“Seumpama dia mau menurut perkataanku, tetapi di dunia ini mana ada Coat-ceng-tan lagi?” ujar Siao-Liong-li dengan pilu.
“Meski pun Coat-ceng-tan tidak ada lagi, namun racun dalam tubuhnya bisa jadi dapat disembuhkan, yang sulit adalah karena dia tidak mau minum obat,” kata Oey Yong.
Siao-liong-li terkejut girang, cepat ia berdiri dan bertanya: “Setiap orang suka memuji Kwe-hujin banyak akalnya, nyatanya memang bukan omong kosong. Jadi engkau maksudkan ada obat lain yang dapat menyembuhkan Ko-ji?”
Oey Yong memegang tangan Siao-liong-li, katanya: “Duduklah kau.” Lalu ia mengeluarkan setangkai kecil rumput warna ungu dan berkata: “Rumput ini disebut Toan-jong-cau. Sebelum menghembuskan napasnya, paderi Hindu itu memegangi rumput kecil ini. Dari Cu-susiok kudengar waktu itu mereka sedang mencari obat penawar racun bunga cinta dan mendadak disergap hingga binasa oleh jarum berbisa Li Bok-chiu. Bukankah engkau melihat air muka paderi itu menguIum senyum meski pun orangnya telah meninggal? Aku yakin waktu itu beliau sedang girang karena berhasil menemukan rumput ini. Guruku Ang Chit-kong juga pernah bercerita padaku, katanya di mana ular berbisa suka berkeliaran di situ pula pasti tumbuh obatnya yang dapat memunahkan racun ular, demikian pula dengan makhluk-makhluk berbisa lainnya, itu hukum alam, sedangkan Toan-jong-cau ini kebetulan ditemukan di bawah semak-semak bunga cinta. Biar pun rumput ini terkenal berbisa, namun setelah kurenungkan berulang-ulang, aku yakin dengan rumput ini dapat digunakan sebagai obat racun menyerang racun. Jadi rumput ini adalah obat anti racun dari bunga cinta itu.”
Uraian Oey Yong ini membuat Siao-liong-li manggut-manggut berulang-ulang. Kemudian Oey Yong menyambung kembali:
“Sudah tentu minum rumput berbisa ini harus menyerempet bahaya, tetapi mau apa lagi? Tiada obat lain yang dapat menolongnya. Betapa pun juga kita harus mencoba. Menurut pikiranku, besar kemungkinan khasiat rumput ini dapat menyembuhkannya.”
Siao-liong-li tahu Oey Yong memang pintar dan banyak tipu dayanya. Kalau dia berkata secara begitu meyakinkan, maka urusannya pasti tak akan salah, apa lagi memang tiada jalan lain kecuali itu. Setelah membulatkan tekad, kemudian ia menjawab:
“Baiklah, akan kuminta dia minum obat ini.”
Segera Oey Yong mengeluarkan lagi segenggam Toan-jong-cau dan diserahkan kepada Siao-liong-li. Katanya:
“Sepanjang jalan kupetik sebanyak ini, kukira sudah cukup. Untuk permulaan boleh kau suruh dia makan sedikit saja. Suruh dia mengerahkan hawa murni untuk melindungi jantung dan lihat dulu bagaimana kerjanya rumput ini, kemudian barulah ditambah atau dikurangi.”
Siao-liong-li simpan rumput itu dan menyembah kepada Oey Yong, katanya dengan suara rada tersendat:
“Kwe-hujin, selama hidupnya Ko-ji kenyang duka derita, tindak-tanduknya memang rada kepala batu, tapi sudilah engkau suka menjaganya dengan baik.”
Cepat Oey Yong membangunkan Siao-liong-li, katanya dengan tertawa: “Kalau kau yang menjaganya akan berpuluh kali lebih baik dari padaku. Kelak kalau kepungan musuh atas Siang-yang sudah reda, biarlah kita berkunjung ke Tho-hoa-to untuk beristirahat beberapa lamanya di sana.”
Betapa pun pintarnya Oey Yong juga tidak menduga bahwa jiwa Siao-liong-li tidak lama lagi. Ucapannya tentang menjaga Yo Ko tadi benar-benar permohonannya dengan setulus hati. Waktu ia berpaling, dilihatnya Yo Ko berdiri jauh di situ sedang memandangi Siao-liong-li walau pun apa yang mereka bicarakan sama sekali tidak dapat didengarnya.
Sementara itu semua orang telah mengatur tempat bermalam masing-masing, ada yang menemukan goa, ada yang di bawah pohon. Melihat Oey Yong pergi setelah bicara, Yo Ko cepat-cepat mendekati Siao-liong-li. Dengan tersenyum Siao-liong-li berdiri memapaknya dan berkata:
“Sesudah kita melihat kejadian yang mengenaskan tadi, hari kita sendiri pun bersisa tidak banyak lagi, Ko-ji, kini urusan orang lain sama sekali tidak akan kita urus. Marilah kau mengawani aku berjalan-jalan.”
“Benar, aku pun berpikir demikian,” jawab Yo Ko.
Keduanya lantas bergandengan tangan dan berjalan melintasi lereng. Tidak lama kemudian tampaklah sepasang muda-mudi duduk berdampingan di atas batu sedang asyik bicara dengan perlahan, mereka adalah Bu Tun-si dan Yalu Yen. Yo Ko tersenyum saja dan mempercepat langkah melewati kedua anak muda itu. Belum jauh, tiba-tiba di tengah semak-semak pohon sana ada suara orang mengikik tawa. Wanyen Peng kelihatan berlari keluar dan di belakangnya mengejar seseorang sambil berseru:
“Hayo, hendak lari ke mana kau?”
Kepergok oleh Yo Ko dan Siao-liong-li, air muka Wanyen Peng menjadi merah dan cepat menyapa:
“Yo-toako dan Liong-cici.”
Cepat dia berlari masuk ke dalam hutan, menyusul Bu Siu-bun muncul dari semak-semak pohon terus mengejar ke dalam hutan.
“Oh, dunia, apakah cinta itu?” demikian Yo Ko berguman perlahan. Sejenak kemudian dia pun berkata: “Belum lama berselang kedua saudara Bu itu saling labrak mati-matian demi memperebutkan nona Kwe, tetapi hanya sekejap saja cinta keduanya sudah berganti sasaran. Ada orang yang selama hidupnya cuma mencintai satu orang, tapi juga ada orang yang sukar diketahui cintanya murni atau palsu. Oh dunia, apakah cinta itu? Pertanyaan ini memang pantas dikemukakan.”
Sejak tadi Siao-liong-li hanya menunduk termenung tanpa bersuara. Keduanya berjalan perlahan hingga di kaki gunung. Waktu menengadah, sang surya di waktu senja sedang memancarkan sinarnya yang cemerlang, salju di puncak gunung kemilauan oleh cahaya matahari menambah keindahan alam yang sulit dilukiskan. Teringat bahwa hidup mereka bersisa tidak lama lagi, kedua orang menjadi tambah kesemsem dengan pemandangan permai itu. Setelah termangu-mangu sekian lama, tiba-tiba Siao-liong-li berkata:
“Ko-ji, konon orang mati akan menuju ke akhirat, apakah benar ada akhirat dan rajanya?”
“Semoga begitu hendaknya. Kalau tiada akhirat, ke mana kita akan menuju dan tentu tak akan berkumpul dan bertemu lagi,” ujar Yo Ko.
Siao-liong-li sudah biasa mengekang perasaan sendiri, walau pun sedih akan tetapi nada ucapannya tetap tenang dan biasa saja. Sebaliknya Yo Ko tidak tahan lagi, ia berpaling ke sana dan meneteskan air mata.
“Ah, soal akhirat masih tanda tanya, jika bisa terhindar dari mati, tentunya lebih baik,” kata Siao-liong-li sambil menghela napas. “Eh, Ko-ji, lihatlah betapa indahnya bunga itu!”
Yo Ko memandang ke arah yang ditunjuk. Tampak di tepi jalan sana tumbuh setangkai bunga warna merah tua, kelopak bunganya amat lebar hingga hampir sebesar mangkuk, bentuknya seperti bunga mawar dan juga mirip bunga peoni.
“Sungguh jarang sekali ada bunga semacam ini, entah apa namanya bunga yang mekar di musim dingin ini? Biarlah kuberi nama Liong-li-hoa (bunga puteri Liong) saja,” kata Yo Ko sambil mendekat dan memetik bunga itu serta menyuntingkannya di belakang telinga Siao-liong-li.
“Terima kasih, sudah kau hadiahi bunga bagus, diberi nama bagus pula,” kata Siao-liong-li tertawa.
Mereka melanjutkan perjalanan sejenak lagi, kemudian mereka duduk di tanah berumput.
“Apakah kau masih ingat waktu kau menyembah dan mengangkat guru padaku dahulu?” tanya Siao-liong-li tiba-tiba.
“Tentu saja ingat,” jawab Yo Ko.
“Kau pernah bersumpah bahwa selama hidupmu kau akan tunduk pada perkataanku, apa pun yang kukatakan tak akan kau bantah. Sekarang aku sudah menjadi isterimu, menurut pendapatmu sepantasnya aku harus ‘setelah menikah tunduk kepada suami’ ataukah kau yang harus ‘tetap tunduk kepada perintah guru’?”
“Ahh, apa pun yang kau katakan, itu pula yang kukerjakan,” jawab Yo Ko tertawa “Perintah guru tak berani kubantah, perintah isteri lebih-lebih tak berani kubangkang.”
“Bagus, asal kau ingat saja,” kata Siao-liong-li.
Mereka duduk bersandar. Pemandangan sekeliling sungguh indah permai sehingga rasanya berat untuk berpisah. Dari jauh mereka mendengar suara Bu Sam-thong memanggil mereka bersantap. Mereka saling pandang dengan tersenyum dan sama-sama berpendapat untuk apa bersantap dengan meninggalkan pemandangan indah yang sukar dicari ini?
Sementara hari sudah mulai gelap, mereka sudah teramat lelah sehari semalam, apa lagi mereka pun sama-sama terluka, selang tak lama, tanpa terasa mereka tertidur. Sampai tengah malam, layap-layap Yo Ko memanggil:
“Apakah kau kedinginan, Liong-ji?” Berbareng ia hendak merangkulnya, tapi siapa tahu rangkulannya telah merangkul tempat kosong.
Keruan dia terkejut dan cepat membuka mata, ternyata Siao-liong-li telah menghilang entah ke mana. Segera dia melompat bangun. Dia memandang sekitarnya. Bulan sabit menghias di angkasa menyinari bumi, suasana sunyi senyap, mana ada bayangan Siao-liong-li? Yo Ko berlari-lari ke atas gunung sambil berteriak-teriak:
“Liong-ji...! Liong-ji...!”
Seketika suaranya bergema, kata-kata ‘Liong-ji’ itu berkumandang dari lembah pegunungan, namun tetap tiada jawaban.
“Ke mana perginya?” tidak kepalang cemasnya Yo Ko.
Dia tidak menguatirkan Siao-liong-li dicelakai binatang buas, sebab diketahuinya bahwa di pegunungan ini tidak ada sesuatu binatang buas yang menakutkan, andaikan ada juga tak dapat mengganggu Siao-liong-li. Kalau bertemu dengan musuh tangguh, mustahil dirinya tidak mengetahuinya mengingat mereka berdua tidur berdampingan.
Karena teriakan Yo Ko inilah serentak It-teng Taysu, Oey Yong, Cu Cu-liu dan lain-lainnya terjaga bangun. Ketika mendengar Siao-liong-li menghilang entah ke mana, semua orang merasa heran, beramai-ramai mereka ikut mencari di segenap pelosok lembah pegunungan itu, namun tetap tidak ditemukan jejaknya.
“Tentu dia sengaja tinggal pergi sehingga aku sama sekali tidak mengetahuinya,” begitu pikir Yo Ko, “Tetapi mengapa dia pergi begitu saja tanpa pamit? Hal ini pasti ada sangkut-pautnya dengan pembicaraannya dengan bibi Kwe siang tadi. Ketika itu dia tampak sedih dan mengajak aku ke sini, tentu disebabkan setelah berbicara dengan bibi Kwe.”
Karena pikiran ini, segera ia tanya Oey Yong dengan suara keras: “Kwe-pekbo, apa yang kau bicarakan dengan Liong-ji siang tadi?”
Oey Yong sendiri tidak habis mengerti mengapa mendadak Siao-liong-li menghilang. Dia lihat urat hijau di dahi Yo Ko menonjol, cara bicaranya rada kasar, segera dia tahu gelagat tidak enak. Cepat dia menjawab:
“Aku minta dia agar suka membujuk kau minum Toan-jong-cau itu agar racun dalam tubuhmu bisa dipunahkan.”
Tanpa pikir Yo Ko berteriak lagi: “Jika dia tak dapat hidup lama lagi, untuk apa aku hidup sendirian di dunia ini?”
“Jangan kuatir, Ko ji,” Oey Yong berusaha menghibur. “Seketika nona Liong entah pergi ke mana, tapi mengingat ilmu silatnya yang maha tinggi kukira dia takkan berhalangan apa pun, masa kau bilang dia tak dapat hidup lama lagi?”
Saking cemasnya Yo Ko tak dapat menguasai perasaannya lagi, teriaknya gemas: “Puteri kesayanganmu telah menyarangkan jarum berbisa di tubuhnya, waktu itu dia sedang mengatur jalan darah secara terbalik untuk menyembuhkan lukanya, maka seluruh racun jarum itu sudah tersedot ke jantungnya, dalam keadaan begitu mana dia dapat hidup lama lagi, dia kan bukan dewa?”
Tentu saja Oey Yong tidak pernah menyangka akan kejadian itu. Biar pun dia mendengar dari Kwe Hu bahwa Yo Ko dan Siao-liong-li telah keliru dilukainya dengan jarum berbisa di kuburan kuno, tetapi dia pikir Yo Ko berdua adalah ahli waris Ko-bong-pay, satu aliran dengan Li Bok-chiu, maka tentu saja mereka memiliki obat penawar perguruannya untuk menyembuhkannya. Sekarang mendengar ucapan Yo Ko ini, seketika mukanya menjadi pucat terkejut. Cepat sekali Oey Yong menggunakan otaknya, segera terpikir olehnya: “Kiranya Ko-ji tak mau minum Coat-ceng-tan itu adalah karena jiwa isterinya sudah pasti takkan tahan lama lagi, makanya dia tak ingin hidup sendiri. Lantas ke mana perginya nona Liong sekarang?”
Ia memandang ke puncak gunung yang bergoa dan telah menelan Kiu Jian-jio serta Kongsun Ci. Tanpa terasa ia merinding sendiri. Tanpa berkedip Yo Ko memandangi Oey Yong, dengan sendirinya dia pun dapat meraba jalan pikiran nyonya cerdik yang gemetar memandangi puncak gunung. Seketika dia kuatir dan marah, katanya:
“Sudah jelas jiwanya sukar dipertahankan, lalu kau membujuk dia supaya membunuh diri untuk menyelamatkan jiwaku, begitu bukan? Mungkin kau kira tindakanmu ini ada baiknya bagiku, tapi aku... aku... Oh, betapa benciku padamu...”
Sampai di sini dadanya menjadi sesak, ia roboh pingsan. Cepat It-teng mengurut gitok anak muda itu sejenak dan per-lahan Yo Ko siuman kembali, Oey Yong lantas berkata:
“Aku hanya membujuk dia supaya menyelamatkan jiwamu dan sama sekali tidak meminta dia bunuh diri. Kalau kau tidak percaya, terserah padamu!”
Semua orang saling pandang dengan bingung. Mendadak Thia Eng berkata: “Lekas kita membuat tali panjang dari kulit pohon, biar aku turun ke dalam goa untuk mencari Liong-cici, barang kali... barang kali dia tergelincir...”
“Ya, betapa pun kita harus mencarinya hingga jelas persoalannya,” ujar Oey Yong.
Segera mereka bekerja keras mengupas kulit pohon untuk dipintal menjadi tali besar. Di situ banyak orang bertenaga kuat, maka tak lama kemudian tali yang panjangnya ratusan meter sudah jadi. Beramai-ramai para anak muda itu mengajukan diri untuk menyelidiki goa di bawah tanah itu.
“Biar aku sendiri yang turun ke sana,” kata Yo Ko.
Semua orang memandang Oey Yong untuk menunggu keputusan darinya. Oey Yong tahu dirinya dicurigai Yo Ko, kalau keinginan anak muda itu dicegah pasti takkan digugu. Sebaliknya kalau dibiarkan turun ke bawah, kemudian ternyata Siao-liong-li betul terjatuh dan meninggal di sana, maka pastilah anak muda itu takkan mau naik lagi. Selagi Oey Yong ragu-ragu, tiba-tiba Thia Eng berkata dengan ikhlas:
“Yo-toako, aku saja yang turun ke sana. Dapatkah engkau mempercayaiku?”
Kecuali Siao-liong-li, hanya Thia Eng saja yang paling digugu Yo Ko. Apa lagi dia sendiri pun sedih dan bingung, kaki tangan terasa lemas, maka terpaksa dia mengangguk setuju. Segera Bu Sam-thong, Yalu Ce dan lain-lain yang bertenaga kuat memegangi tali panjang itu untuk menurunkan Thia Eng ke dalam goa di bawah tanah. Karena lubang goa di bawah tanah itu terletak di puncak bukit, maka dalamnya juga sama tinggi dengan puncak itu. Tali panjang itu terus diulur hingga tertinggal beberapa meter saja barulah Thia Eng mencapai tanah. Beramai-ramai semua orang berdiri mengelilingi lubang goa dan tidak ada seorang pun yang bicara.
Oey Yong hanya saling pandang dengan Cu Cu-liu, apa yang mereka pikir adalah sama, yakni kalau Siao-liong-li benar-benar meninggal di bawah sana, pasti Yo Ko akan terjun juga ke dalam goa, hal ini harus dicegah sebisanya. Begitulah dengan perasaan cemas dan gelisah semua orang memandangi lubang goa itu sambil menantikan berita yang akan dibawa oleh Thia Eng. Sekian lama mereka menanti dengan tidak sabar, sedangkan Thia Eng masih belum nampak memberi tanda untuk naik kembali ke atas. Tidak lama kemudian, mendadak tali yang dipegang Bu Sam-thong itu bergoyang-goyang beberapa kali. Kwe Hu dan lain-lain lantas berteriak:
“Lekas kerek dia ke atas!”
Mereka lantas menarik sekuatnya sehingga Thia Eng bisa dikerek ke atas. Sebelum keluar dari lubang goa Thia Eng sudah berteriak-teriak :
”Tidak ada, tidak ada Liong-cici di bawah sana!”
Semua orang menjadi girang dan segera menarik napas lega. Sejenak kemudian Thia Eng menongol keluar, lalu berkata:
“Yo-toako, sudah kuperiksa dengan teliti, di bawah sana hanya ada mayat Kongsun Ci dan Kiu Jian-jio yang sudah hancur dan tiada terdapat benda lain.”
“Kita sudah mencari rata segenap pelosok dan tidak menemukannya, kukira saat ini nona Liong pasti sudah meninggalkan lembah ini,” kata Cu Cu-liu setelah berpikir sejenak.
Tiba-tiba Bu-siang berseru: “He, masih ada tempat yang belum kita longok, bisa jadi Liong-cici sedang berusaha menemukan Coat-ceng-tan yang terbuang...”
Tidak sampai habis ucapan Bu-siang, hati Yo Ko tergetar dan segera dia berlari ke tebing curam kemarin itu, sembari berlari dia pun berteriak-teriak:
“Liong-ji...! Liong-ji...!”
Setiba di tebing itu, tampak kabut membungkus permukaan jurang, awan mengapung di udara, kicau burung saja tak terdengar apa lagi bayangan manusia. Yo Ko pikir Siao-liong-li adalah orang yang berhati polos dan lugu, apa pun yang dia pikir pasti dikatakan padaku. Ketika berbaring di tanah rumput itu dia hanya mengatakan agar aku ingat saja sumpahku akan patuh pada perkataannya. “Sudah tentu aku tidak pernah membantah kehendaknya, mengapa perlu ditegaskan lagi? Namun dia kan tidak pernah memberi pesan apa-apa padaku?” Begitulah dia menengadah dan bergumam pelan.
“Liong-ji... Oh, Liong-ji, ke manakah kau sesungguhnya? Sebenarnya kau ingin aku mematuhi perkataanku tentang apa?”
Ia memandang ke tebing di depan sana, samar-samar tampak bayangan nona berbaju putih dengan bunga merah tersunting di sanggulnya, bayangannya yang mengambang itu seperti saling bertempur melawan Kongsun Ci.
“Liong-ji!” Yo Ko berteriak lagi, tetapi setelah diperhatikan lagi, mana ada bayangan Siao-liong-li? Hanya bunga salju belaka yang bertebaran tertiup angin, tapi bunga merah yang dipetiknya kemarin itu memang benar berada di bawah tebing sana.
Yo Ko menjadi heran, padahal waktu Siao-liong-li menempur Kongsun Ci di situ kemarin belum ada bunga merah itu. Tebing hanya batu karang belaka tanpa tetumbuhan apa pun, mengapa ada bunga di situ? Kalau bunga itu jatuh ke situ tertiup angin, mana bisa terjadi secara kebetulan begitu? Segera dia menarik napas panjang dan berlari ke tebing sana melalui jembatan batu yang sempit itu. Sesudah dekat, seketika hatinya tergetar hebat. Jelas itu adalah bunga merah yang dipetiknya untuk Siao-liong-li. Kelopak bunga kelihatan sudah layu namun dapat dikenalnya dengan jelas, bahkan waktu itu dia sendiri memberi nama ‘Liong-li-hoa’ untuk bunga merah ini. Kalau bunga ini terjatuh di sini, maka Siao-liong-li pasti juga pernah datang ke sini.
Dia jemput bunga itu dan dilihatnya di bawah bunga ada satu bungkusan kertas. Cepat dia membuka bungkusan itu, isinya adalah setangkai rumput warna ungu, yaitu Toan-jong-cau yang tumbuh di bawah semak-semak bunga cinta. Hati Yo Ko berdebar-debar keras. Ia coba meneliti kertas pembungkus rumput itu, namun tiada sesuatu tulisan apa-apa.
“Yo-toako!” terdengar Bu-siang memanggil di seberang, “apa yang kau lakukan di sana?”
Waktu Yo Ko menoleh, terlihat di dinding tebing terukir dua baris huruf dengan ujung pedang, huruf yang satu baris lebih besar dan tertulis:
‘16 tahun lagi berjumpa di sini, cinta murni suami isteri, jangan sekali-sekali ingkar janji’.
Sedang baris huruf yang lebih kecil tertulis: ‘Dengan sangat Siao-liong-li menyampaikan pesan kepada suamiku Yo Ko supaya menjaga diri baik-baik dan harus berusaha untuk berkumpul kembali’.
Yo Ko terus memandangi dua baris tulisan itu dengan termangu-mangu, ia tidak paham apa maksud Siao-liong-li. Pikirnya: “Dia berjanji padaku untuk berjumpa lagi di sini 16 tahun kemudian, lalu ke mana perginya sekarang? Dia mengidap racun jahat dan sukar disembuhkan, mungkin sepuluh hari atau setengah bulan saja tidak tahan, mana bisa dia mengadakan janji bertemu 16 tahun lagi? Sudah jelas dia mengetahui Coat-ceng-tan yang dapat menyelamatkan jiwaku telah kubuang ke jurang, mana bisa pula dia menunggu aku sampai 16 tahun lamanya?”
Begitulah makin dipikir semakin ruwet sehingga tubuhnya sempoyongan. Melihat keadaan Yo Ko yang linglung, semua orang menjadi kuatir kalau-kalau anak muda itu tergelincir ke dalam jurang. Tapi untuk menyeberang ke sana dan membujuknya juga sulit karena jembatan itu sangat sempit. Kalau mendadak dia menjadi kalap, apa lagi ilmu silatnya sedemikian tinggi, siapa yang mampu mengatasinya dan pasti akan ikut terjeblos ke dalam jurang. Oey Yong mengerut kening, katanya kemudian kepada Thia Eng:
“Sumoay, tampaknya dia masih mau menurut perkataanmu.”
“Baiklah, coba kupergi ke sana,” jawab Thia Eng dan segera melompat ke atas jembatan batu lalu melangkah ke sana.
Mendengar suara tindakan orang dari belakang, segera Yo Ko membentak: “Siapa pun tak boleh ke sini!” Cepat ia pun membalik tubuh dengan mata mendelik.
“Akulah, Yo-toako!” seru Thia Eng dengan suara lembut. “Aku hanya ingin membantu kau mencari Liong-cici dan tiada maksud lain.”
Sejenak Yo Ko mengawasi Thia Eng dengan termenung, kemudian sorot matanya mulai berubah halus. Thia Eng melangkah maju dan bertanya:
“Apakah bunga merah ini tinggalan Liong-cici?”
“Ya,” Yo Ko menjawab. “Mengapa harus 16 tahun? Mengapa?”
Sudah tentu Thia Eng tidak paham dengan apa yang dikatakan Yo Ko. Setelah berada di seberang dapatlah ia membaca tulisan yang terukir di dinding tebing itu. Ia pun merasa heran. Katanya kemudian:
“Kwe-hujin banyak tipu daya, cara memecahkan persoalan juga sangat jitu, mari kita kembali ke sana dan tanya beliau, tentu akan mendapatkan keterangan yang memuaskan.”
“Benar,” ujar Yo Ko. “Awas, jembatan itu sangat licin, kau harus hati-hati!”
Segera ia mendahului melompat ke seberang sana serta menceritakan kedua baris tulisan itu kepada Oey Yong. Untuk sekian lamanya Oey Yong merenungkan arti tulisan itu, tiba-tiba matanya bercahaya dan berkeplok tangan, katanya dengan tertawa:
“Wah, selamat, Ko-ji, selamat!”
Kejut dan girang Yo Ko, cepat dia bertanya: “Maksudmu... maksudmu itu berita baik?”
“Ya, tentu saja,” jawab Oey Yong, “Rupanya adik Liong sudah bertemu dengan Lam-hay Sin-ni (Rahib sakti dari lautan selatan), sungguh penemuan yang sukar dicari.”
“Lam-hay Sin-ni?” Yo Ko mengulang nama ini dengan bingung. “Siapakah dia?”
“Lam-hay Sin-ni adalah nabi besar agama Buddha jaman kini,” tutur Oey Yong, “Agama beliau sukar dijajaki, tingkatannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada It-teng Taysu. Tapi lantaran dia jarang ke Tionggoan, maka jarang ada tokoh dunia persilatan yang kenal namanya, Dulu ayahku pernah bertemu satu kali dengan beliau dan beruntung mendapat ajaran sejurus ilmu pukulan dari beliau. Yah, 16, 32, 48, ya benar, kejadian itu sudah 48 tahun yang lalu.”
Yo Ko merasa sangsi. “48 tahun yang lalu?“ Dia menegas.
“Benar,” jawab Oey Yong, “Usia Sin-ni itu mungkin kini sudah dekat satu abad. Menurut cerita ayahku, tiap 16 tahun sekali ia datang ke Tionggoan. Celakalah orang jahat yang kepergok olehnya, tapi beruntunglah orang baik yang bertemu dengan beliau. Nona cantik seperti adik Liong itu pasti sangat disukai oleh Sin-ni, maka bisa jadi sudah menerimanya sebagai murid dan dibawa ke Lam-hay.”
“Setiap 16 tahun satu kali?” Yo Ko menggumam. Mendadak dia berpaling kepada It-teng Taysu dan bertanya: “Apakah betul begitu, Taysu?”
Belum lagi It-teng menjawab, cepat Oey Yong menimbrung: “Meski agamanya tinggi, tapi tabiat Sin-ni ini rada aneh. Apakah Taysu juga pernah bertemu dengan beliau?”
“Oh, sayang, belum pernah kulihat dia,” jawab It-teng singkat.
“Sungguh orang tua yang agak kurang bijaksana,” kata Oey Youg pula. “Masa orang muda yang baru bersuami isteri diharuskan berpisah 16 tahun lamanya, bukankah terlalu kejam? Padahal ilmu silat adik Liong sudah sedemikian tinggi, kalau belajar lagi 16 tahun, supaya dia dapat mengatasi dan menundukkan sang suami? Ha-ha-ha!”
“Ahh, kukira bukan begitu, Kwe-pekbo,” kata Yo Ko.
“Bagaimana?” tanya Oey Yong.
Yo Ko lantas mengulangi kembali cerita mengenai Siao-liong-li yang sedang mengadakan penyembuhan luka dalamnya dan mendadak terkena jarum berbisa yang disambitkan Kwe Hu sehingga racun terseret ke dalam jantung, akhirnya ia berkata:
“Jika benar Liong-ji mendapatkan perhatian Sin-ni, maka dalam 16 tahun ini Sin-ni pasti akan menggunakan kesaktiannya untuk menguras racun yang terkumpul dalam tubuh Liong-ji. Tadinya kukira dia... dia pasti tak dapat disembuhkan lagi.”
“Tentang secara semberono anak Hu mencelakai adik Liong juga baru kudengar dari anak Hu semalam,” tutur Oey Yong. “Ko-ji, apa yang kau duga barusan ini memang masuk di akal. Kukira untuk menyembuhkan adik Liong memang sukar dilaksanakan dalam waktu singkat biar pun Sin-ni memiliki obat mujarab. Jadi kita berharap saja semoga Sin-ni menaruh belas kasihan dan dapat mengirim kembali adik Liong padamu sebelum waktu yang ditentukan.”
Selamanya Yo Ko belum penuh mendengar tokoh sakti bernama ‘Lam-hay Sin-ni’ segala, hatinya menjadi ragu-ragu. Hendak tidak percaya, tetapi bunga ditemukannya dan tulisan juga terukir jelas, semua itu adalah bukti nyata yang tak dapat dibantah. Jika Siao-liong-li mengalami sesuatu, mengapa dia menjanjikan pertemuan 16 tahun kelak? Sesudah berpikir sejenak, tiba-tiba dia tanya Oey Yong:
“Kwe-pekbo, dari mana engkau mengetahui Liong-ji dibawa pergi Lam-hay Sin-ni? Sebab apa pula dia tidak menuliskan kejadian yang sebenarnya agar aku tidak kuatir baginya?”
“KesimpuIanku ini kutarik dari kalimat ‘16 tahun lagi’ itu,” tutur Oey Yong, “Kutahu setiap 16 tahun sekali Lam-hay Sin-ni pasti datang ke Tionggoan, kecuali dia rasanya tiada orang kosen lain yang mempunyai kebiasaan aneh begitu. It-teng Taysu, apakah engkau teringat ada orang kosen lain lagi?”
It-teng menggeleng dan menyatakan tidak ada. Maka Oey Yong berkata pula: “Malahan Nikoh sakti itu pun merasa sungkan namanya disebut-sebut orang, dengan sendirinya dia tidak mengijinkan adik Liong menulis namanya di atas batu. Cuma sayang Toan-jong-cau ini entah dapat menawarkan racun dalam tubuh atau tidak. Jika... jika tidak, aih, 16 tahun kemudian adik Liong akan pulang dan bila tidak dapat bertemu lagi dengan kau, mungkin dia pun tidak ingin hidup lagi.”
Air mata Yo Ko berlinang-linang pada kelopak matanya sehingga pandangannya menjadi samar-samar. Lapat-lapat seperti dilihatnya ada bayangan putih di seberang sana, seolah-olah 16 tahun sudah lewat dan Siao-liong-li sedang mencarinya di situ, tapi tidak bertemu sehingga sangat kecewa dan berduka.
KEMBALI KEPADA RAJAWALI SAKTI
Angin dingin bertiup membuat Yo Ko menggigil. Segera ia berkata dengan tegas: “Kwe-pekbo, biarlah aku pergi ke Lam-hay untuk mencari Liong-ji, entah Sin-ni berdiam di mana?”
“Ko-ji,” jawab Oey Yong dengan suara lembut. “Kau jangan berpikir begitu. Tay-ti-to yang menjadi pulau kediaman Lam-hay Sin-ni itu mana boleh diinjak orang luar. Bahkan setiap lelaki yang berani mendekati pulau itu akibatnya akan binasa. Dahulu ayahku sudah mendapat anugerah beliau, tetapi ayah juga belum pernah berkunjung ke sana. Kalau adik Liong sudah diterima oleh Sin-ni, janji bertemu 16 tahun kelak dengan cepat akan berlalu, mengapa engkau mesti tergesa-gesa mencarinya?”
Dengan mata membelalak Yo Ko menatap tajam Oey Yong dan menegas: “Ucapan Kwe- pekbo ini sesungguhnya betul atau tidak?”
“Terserah kau mau percaya atau tidak,” jawab Oey Yong.
“Boleh kau periksa lagi ukiran tulisan di dinding sana, kalau bukan tulisan tangan adik Liong, maka apa yang kukatakan mungkin juga tidak betul.”
“Gaya tulisan itu memang benar tulisan tangan Liong-ji,” ujar Yo Ko. “Setiap kali menulis huruf Yo, pada titik kanan itu selalu dia tarik agak panjang, hal ini tak mungkin dipalsukan orang.”
“Bagus kalau begitu,” seru Oey Yong sambil keplok. “Terus terang kukatakan, aku sendiri merasa kejadian ini teramat kebetulan dan semula aku pun mencurigai Cu-toako yang sengaja mengatur sandiwara ini untuk mengelabui kau.”
Yo Ko termenung sejenak, katanya kemudian: “Baiklah aku akan coba-coba minum Toan-jong-cau ini. Jika tidak berhasil, 16 tahun yang akan datang tolong Kwe-pekbo memberi-tahukan kejadian ini kepada isteriku yang bernasib buruk.” Lalu ia berpaling dan tanya Cu Cu-liu: “Cu-toasiok, bagaimana caranya minum obat rumput ini?”
Cu Cu-liu sendiri hanya tahu Toan-jong-cau itu mengandung racun yang keras, akan tetapi dia belum pernah mendengar bagaimana cara menggunakan racunnya untuk mengobati racun. Terpaksa ia bertanya kepada It-teng:
“Suhu, soal ini harus minta petunjuk engkau.”
It-teng Taysu segera menggunakan It-yang-ci dan menotok empat Hiat-to di bagian yang berhubungan dengan ulu hati, serentak Yo Ko merasakan hawa hangat menyalur ke dada, rasa sesak tadi lantas longgar.
“Karena racun bunga cinta ini berhubungan dengan hati dan perasaan, maka waktu Toan-jong-cau menawarkan racunnya pasti juga akan menyerang bagian hati, sebab itulah aku menotok empat Hiat-to untuk melindungi urat nadi jantung hati. Sekarang kau boleh coba minum satu tangkai dulu rumput rantas usus itu,” demikian kata It-teng.
Yo Ko lantas mengucapkan terima kasih. Pada waktu mendengar paderi Hindu itu dibinasakan oleh Li Bok-chiu, ia merasa putuslah harapannya dalam usaha menyembuhkan Siao-liong-li, maka ia sendiri pun bertekad akan mati saja bersama sang isteri. Kini dia dijanjikan bertemu lagi 16 tahun kemudian, segera hasrat ingin hidupnya berkobar kembali. Cepat ia keluarkan setangkai Toan-jong-cau atau rumput rantas usus itu dan terus saja dikunyahnya.
Ia merasa pahitnya luar biasa melebihi bratawali. Tapi baik airnya mau pun ampasnya Yo Ko telan mentah-mentah. Kalau sebelum ini ia tidak ingin hidup sendirian tanpa Siao-liong-li, sekarang dia kuatir akan mati lebih dulu sehingga 16 tahun kemudian Siao-liong-li tak dapat menemukannya di puncak gunung ini. Ia lantas duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi urat nadi jantung hati. Selang tak lama mendadak perutnya mulas, menyusul kesakitan seperti di-iris-iris dan laksana dicocok beribu-ribu jarum sekaligus, tetapi dia bertahan sekuatnya tanpa merintih sedikit pun. Selang tak lama rasa sakit itu hampir merata di seluruh badan, ruas tulang se-akan terlepas semuanya.
Rasa sakit itu berlangsung lama, kemudian mulai berkurang dan hanya di bagian perut saja yang masih mulas. Mendadak Yo Ko menumpahkan darah merah segar seperti darah orang sehat. Thia Eng dan Bu-siang menjerit kaget melihat anak muda ini tumpah darah. Tapi It-teng tampak girang dan menggumam perlahan:
“Wah Sute, meski sudah wafat engkau tetap meninggalkan pahala.”
Serentak Yo Ko melompat bangun dan berseru: “Jiwaku ini adalah pertolongan dari paderi Thian-tiok, It-teng Taysu dan Kwe-pekbo bertiga.”
“He, apakah kadar racun dalam tubuhmu sudah punah seluruhnya?” Bu-siang bertanya dengan girang.
“Mana bisa begitu cepat?” ujar Yo Ko. “Cuma sekarang sudah jelas kemanjuran obat ini, asalkan setiap hari minum satu tangkai tentu kadar racun akan semakin berkurang.”
“Tetapi kalau tidak dapat diketahui kapan lenyapnya racun dalam tubuhmu, kalau engkau masih terus makan rumput rantas usus itu, jangan-jangan isi perutmu ikut hancur,” kata Bu-siang.
“Hal ini tentu dapat kurasakan sendiri,” kata Yo Ko. “Jika kadar racun belum bersih, bila timbul... timbul rasa cintaku, segera dadaku akan kesakitan.”
“Semoga engkau jangan banyak pikir dulu,” ujar Bu-siang.
Sejak tadi Kwe Hu hanya mendengarkan saja, sekarang mendadak ia menimbrung: “Hm, yang dipikirkan Yo-toako tentulah Liong-cici, masa dia memikirkan dirimu?”
Cepat Oey Yong membentaknya: “Kau mengoceh apa, anak Hu?!”
Muka Bu-siang menjadi merah. Malahan Kwe Hu terus menambahkan lagi: “16 tahun lagi Liong-cici pasti akan pulang, sebaiknya kau jangan sembarang mimpi.”
Bu-siang tidak tahan lagi. “Srettt...!”
Mendadak dia melolos goloknya terus membentak sambil menuding Kwe Hu: “Jika bukan gara-garamu, masa Yo-toako sampai harus terpisah selama 16 tahun dengan Liong-cici? Coba renungkan, betapa hebat kau membikin susah Yo-toako!”
Kwe Hu hendak membantah, tetapi Oey Yong lantas membentaknya: “Hu-ji, jika kau bersikap kurang adat lagi kepada orang, lekas kau pulang saja ke Tho-hoa-to dan jangan kembali ke Siang-yang.”
Kwe Hu tidak berani bersuara lagi, dia hanya mendelik kepada Liok Bu-siang. Yo Ko menghela napas panjang, katanya kepada Bu-siang:
“Kejadian itu amat kebetulan dan nona Kwe tak sengaja hendak mencelakai Liong-ji, maka urusan ini selanjutnya tidak usah diungkit lagi, adik Liok.”
Mendengar dirinya dipanggil ‘adik’, sebaliknya menyebut Kwe Hu sebagai ‘nona’, jelas sekali bedanya antara orang sendiri dan orang luar. Hati Bu-siang menjadi girang, segera dia masukkan golok ke sarungnya sambil mencibir pada Kwe Hu.
“Yo-sicu telah makan Toan-jong-cau dan tidak terganggu apa pun, tampaknya rumput ini amat mujarab untuk menawarkan racun bunga cinta,” kata It-teng kemudian, “Tapi sebaiknya jangan diminum terus menerus, bolehlah tujuh hari kemudian baru minum untuk kedua kalinya.”
Yo Ko menerima saran itu sambil memberi hormat. Melihat hari sudah terang benderang, Oey Yong berkata:
“Sudah cukup Iama kita meninggalkan kota Siang-yang, entah bagaimana situasi di sana. Aku menjadi sangat kuatir. Ko-ji kau pun ikut pulang saja ke sana, paman Kwe tentu amat kangen padamu.”
“Aku tinggal di sini saja menunggu... menunggu dia,” jawab Yo Ko.
“He, kau hendak menunggu dia selama 16 tahun di sini?” tanya Kwe Hu heran.
“Entahlah,” jawab Yo Ko. “Rasanya aku tidak tahu harus pergi ke mana.”
“Baiklah, kau menunggu dulu sepuluh hari atau setengah bulan di sini,” ujar Oey Yong, “Andai kata adik Liong benar-benar tak ada kabar berita, hendaklah segera kau pergi ke Siang-yang saja.”
Dengan termangu-mangu Yo Ko memandangi tebing curam di seberang sana tanpa menjawabnya lagi. Semua orang lantas mohon diri untuk berangkat. Melihat Liok Bu-siang tiada tanda-tanda mau ikut pergi, Kwe Hu tidak tahan dan bertanya:
“Liok Bu-siang, apakah kau hendak tinggal di sini menemani Yo-toako?”
“Peduli apa dengan kau?” semprot Bu-siang dengan muka merah.
Tiba-tiba Thia Eng berkata: “Yo-toako belum sehat, biarlah aku dan Piaumoay merawatnya beberapa hari lagi di sini.”
Oey Yong tahu Sumoay cilik ini berwatak lembut di luar dan keras di dalam, jika puterinya sampai membikin sakit hati dia, kelak pasti akan banyak mendatangkan kesulitan, maka cepat ia pelototi Kwe Hu supaya jangan banyak bicara lagi. Lalu berkata:
”Ko-ji mendapat perawatan Sumoay, tentu takkan berhalangan apa pun. Nanti bila mana sudah sembuh, hendaklah kalian bertiga datang ke Siang-yang.”
Begitulah Yo Ko, Thia Eng dan Liok Bu-siang memandangi kepergian It-teng Taysu, Oey Yong dan rombongannya hingga makin jauh dan akhirnya menghilang di balik pepohonan sana. Api yang berkobar semalaman kini sudah mulai padam. Yo Ko lalu berkata:
“Kedua adik, ada suatu pikiranku yang kurang pantas, jika kukatakan hendaklah kalian jangan marah.”
“Katakan saja, siapa yang akan marah padamu?” ujar Bu-siang.
“Sejak berkenalan rasanya kita bertiga sangat cocok satu sama lain,” tutur Yo Ko. “Aku sendiri tidak mempunyai saudara, maka aku ingin mengikat saudara angkat dengan kalian berdua sehingga untuk selanjutnya kita benar-benar menjadi kakak beradik. Entah bagaimana pendapat kalian dengan usulku ini?”
Pilu rasa hati Thia Eng. Dia tahu cinta Yo Ko kepada Siao-liong-li tak akan pernah buyar, lantaran ada janji bertemu 16 tahun lagi maka dia mengajak mengangkat saudara supaya hubungan mereka tidak menjadi kikuk. Melihat Bu-siang menunduk dengan mengembeng air mata, cepat dia berkata:
“Jika begitu kehendak Toako, tentu saja kami setuju. Punya Toako sebaik engkau, apa lagi yang kami harapkan?”
Bu-siang mencabut tiga tangkai rumput dan ditancapkan di tanah serta berkata: “Di sini tidak ada Hiosoa (dupa sembayang), biarlah kita gunakan rumput sebagai gantinya,” ia berkata dengan tersenyum, tapi kemudian suaranya menjadi ter-sendat dan sebelum Yo Ko menjawab ia sudah mendahului berlutut dan memberi hormat.
Cepat Yo Ko dan Thia Eng ikut berlutut dan saling memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengikatan kakak beradik secara resmi. Kata Yo Ko kemudian:
“Ji-moay dan Sam-moay, kukira barang yang paling jahat di dunia ini tak lebih dari pada pohon bunga cinta ini. Bagaimana kalau kita membabat hingga akarnya supaya hancur dan lenyap seluruhnya?”
Tanpa pikir Thia Eng dan Bu-siang menyatakan setuju. Mereka lantas mencari cangkul dan sekop di perkampungan yang sudah menjadi tumpukan puing, dengan bersemangat mereka membabati dan mendongkel setiap pohon bunga cinta yang mereka lihat. Karena tumbuhan bunga itu cukup banyak, pula berduri, mereka harus hati-hati bekerja. Setelah sibuk enam hari barulah tumbuhan berbisa itu dibasmi habis. Sejak itu tumbuhan aneh yang membikin celaka manusia itu pun tidak pernah bersemi lagi dan lenyap dari permukaan bumi. Besoknya pagi-pagi Bu-siang sudah memberi setangkai rumput rantas usus kepada Yo Ko dan berkata:
“Toako, hari ini kau harus minum lagi rumput berbisa ini.”
Karena sudah berpengalaman tujuh hari yang lampau, Yo Ko tahu rumput rantas usus itu berbisa, tapi dirinya mampu bertahan, maka begitu dia minum segera mengerahkan tenaga dalam. Karena sekarang kadar racun dalam tubuhnya sudah berkurang, rasa sakitnya tidak sehebat tempo hari. Selang agak lama, ia muntahkan darah segar, lalu hilanglah rasa sakitnya. Yo Ko berdiri melemaskan kaki tangannya. Dilihatnya Thia Eng dan Bu-siang ikut girang bagi kemajuan penyakitnya itu. Pikirnya: “Kedua adik angkat ini sungguh baik sekali padaku, cuma sayang aku tidak dapat membalas kebaikan mereka.” Sesudah berpikir sejenak, timbul lagi pikirannya: “Ji-moay memiliki guru kosen, asal berlatih lebih lama lagi tentu ia akan mencapai tokoh tingkatan atas, sedangkan nasib Sam-moay jelas kurang beruntung dari pada Ji-moay.” Karena itu ia lantas berkata kepada Bu-siang:
“Sam-moay, gurumu dan guruku adalah saudara seperguruan, jadi kita berdua sesungguhnya masih sesama saudara seperguruan juga. Ilmu silat tertinggi dari Ko-bong-pay tercantum semua dalam Giok-li-sim-keng, sedangkan kitab itu sudah direbut Li Bok-chiu dan ikut terkubur di lautan api. Untung aku masih ingat isi kitabnya, dari pada iseng biarlah kuajarkan sedikit ilmu silat perguruan kita, bagaimana pikiranmu?”
Tentu saja Bu-siang kegirangan, jawabnya: “Terima kasih, Toako, lain kali kalau bertemu Kwe Hu aku tidak takut dia bertindak kasar lagi.”
Yo Ko tersenyum. Segera dia mulai menuturkan dasar-dasar dari ajaran Giok-li-sim-keng beserta kunci-kuncinya, dimulai dari yang cetek kemudian makin mendalam. Lalu dia memberi pesan:
“Hendaklah kau hafalkan dulu kuncinya, waktu latihan bila perlu boleh minta bantuan Ji-moay, di lembah ini sangat tenang, tempat latihan yang baik.”
Begitulah selama beberapa hari Bu-siang tekun menghafalkan ajaran Yo Ko. Memang ilmu yang pernah dipelajarinya adalah aliran Ko-bong-pay, maka dengan mudah baginya menerima dan memaham. Kalau ada bagian-bagian sulit yang sukar dipecahkan, Yo Ko menyuruh Bu-siang menghafalkannya saja untuk diulangi lagi lain hari. Dengan begitu selama hampir satu bulan dapatlah Bu-siang mengingat seluruh isi Giok-li-sim-keng di luar kepala. Suatu hari, pagi-pagi dia dan Thia Eng sudah menyiapkan sarapan, tapi ditunggu sampai lama sekali tidak tampak munculnya Yo Ko. Mereka lantas mendatangi goa tempat tinggal Yo Ko. Terlihat di tanah sana tertulis huruf-huruf besar yang berbunyi:
‘Berpisah untuk sementara, biarlah kelak bertemu lagi. Hubungan baik kakak beradik tetap kekal dan abadi’.
Bu-siang melenggong dan bergumam: “Akhirnya dia... dia sudah pergi.” Dia berlari-lari ke puncak gunung dan memandang jauh ke selatan.
Thia Eng menyusulnya. Mereka memandang jauh ke sana, tetapi yang kelihatan hanya awan mengambang di udara, pepohonan menghijau permai, mana ada bayangan Yo Ko? Dengan rasa pilu Bu-siang berkata terguguk-guguk:
“Ji-ci, kau kira dia... dia pergi ke mana? Apakah kelak kita dapat... dapat berjumpa lagi dengan dia?”
“Sam-moay,” jawab Thia Eng, “lihatlah gumpalan awan itu yang bergerombol menjadi satu untuk kemudian terpancar. Hidup manusia juga begitu, buat apa kau merasa susah?” Meski begitu ucapannya, tapi dalam hatinya dia pun bersedih.
Kiranya selama hampir sebulan Yo Ko merasa sudah cukup mengajarkan isi Giok-li-sim-keng kepada Bu-siang. Tapi selama itu tiada kabar berita Siao-liong-li. Ia tahu menunggu lebih lama juga tak ada gunanya, maka dia meninggalkan tulisan di tanah dan pergi. Ia pikir bila pulang ke Cong-lam-san tentu akan menambah rasa duka, maka seorang diri ia mengembara di Kangouw.
********
Dengan cepat beberapa bulan berlalu, dari musim dingin datang musim semi. Suatu hari dia sampai di dekat Siang-yang, dilihatnya bangunan di tepi jalan yang dahulu dibakar oleh pasukan Mongol kini sudah banyak yang dibangun kembali dalam bentuk rumah-rumah gubuk. Meski tidak semakmur dahulu, namun penduduk sudah mulai ramai lagi. Agaknya selama ini pasukan Mongol tidak pernah menyerbu lagi. Sungguh pun Yo Ko terkenang kepada Kwe Ceng, tetapi ia tidak ingin bertemu lagi dengan Kwe Hu, maka ia sungkan mampir ke Siang-yang, pikirnya: “Sudah lama berpisah dengan Tiau-heng (kakak rajawali), biarlah aku menjenguknya ke sana.”
Segera ia mencari jalan menuju ke arah lembah pegunungan dahulu itu. Hampir seharian, akhirnya dekatlah dia dengan tempat pengasingan Tok-ko Kiu-pay. Segera ia bersuit panjang sembari berjalan ke depan. Tidak lama kemudian di lereng bukit di depan sana berkumandang suara kaokan burung. Waktu Yo Ko memandang, tampak rajawali sakti itu mendekam di bawah pohon besar, kedua cakarnya mencengkeram seekor macan tutul. Berada dalam cengkeraman cakar rajawali yang hebat itu, sama sekali macan tutul tidak dapat berkutik dan hanya mengeluarkan suara raungan belaka.
Melihat kedatangan Yo Ko, rajawali itu melepaskan macan tutul. Keruan cepat sekali binatang buas itu memberosot ke semak pohon dengan mencawat ekor. Segera Yo Ko merangkul leher rajawali dengan mesra dan gembira. Mereka, seorang manusia dan seekor burung, kembali ke goa itu. Segera teringat pengalaman sendiri selama beberapa bulan yang penuh duka derita, sayang rajawali tidak dapat bicara diajaknya berbincang sekedar pelipur lara.
DemikianIah selama beberapa hari Yo Ko berdiam di lembah pegunungan sunyi itu bersama rajawali sakti. Suatu hari, saking isengnya Yo Ko mendatangi pula tebing tempat makam pedang Tokko Kiu-pay. Hian-tiat-pokiam, yaitu pedang maha berat yang diambilnya dari sini, sudah dibuangnya di Coat-ceng-kok. Segera dia melompat lagi ke atas tebing dan membaca kembali tulisan Tokko Kiu-pay yang terukir di batu kuburan pedang kayu yang sudah lapuk dan tertulis keterangan:
‘Sesudah berusia 40 tahun, tidak mementingkan senjata lagi, segala benda dapat kugunakan sebagai pedang, sejak itu latihanku semakin sempurna, mulai mencapai tingkatan tanpa pedang melebihi memakai pedang’.
Yo Ko coba merenungkan maksud tulisan itu, pikirnya: “Waktu aku membawa Hian-tiat-pokiam, boleh dikatakan hampir tiada tandingannya di seluruh jagat. Tapi menurut pesan Tokko Kiu-pay ini jelas pedang kayu lebih hebat dari pada waktu dia memakai Hian-tiat-pokiam itu, malahan akhirnya tanpa menggunakan pedang menjadi lebih lihay dari pada memakai pedang kayu. Kalau Liong-ji berjanji akan bertemu lagi 16 tahun kelak, selama belasan tahun ini biarlah kugunakan untuk mempelajari dan meyakini ilmu pedang kayu melebihi pedang berat dan akhirnya tanpa pedang melebihi menggunakan pedang kayu sesuai ajaran Tok ko Kiu-pay.”
BegituIah dia lantas memotong setangkai kayu dan dibikin menyerupai pedang. Dia pikir: “Hian-tiat-pokiam itu beratnya hampir 70 kati, bahwa pedang kayu yang enteng ini dapat mengungkulinya hanya ada dua jalan. Pertama dengan kebagusan ilmu pedang, dengan kecepatan mengalahkan kelambanan. Cara kedua adalah menang kuat dalam hal tenaga dalam, dengan kekerasan mengatasi kelemahan.” ia pun memupuk Iwekang dan meyakinkan ilmu pedang. Setiap habis hujan deras ia lantas menggembleng diri di bawah air terjun untuk menambah kekuatan serangannya. Tanpa terasa musim berganti musim dan kembali datang lagi musim dingin, perpisahannya dengan Siao-liong-li sudah hampir satu tahun.
Yo Ko merasa kemajuan tenaga dalam dan ilmu pedangnya selama satu tahun ini sangat lambat, mau tak mau ia menjadi kesal. Sementara itu bunga salju mulai bertebaran. Tiba-tiba rajawali berkaok kegirangan dan melompat ke tanah lapang lantas pentang sayap sehingga membangkitkan angin keras. Bunga salju tersapu berhamburan. Tergerak hati Yo Ko melihat kelakuan burung itu, pikirnya: “Musim semi tidak ada air bah, kalau kulatih ilmu pedang di tanah bersalju, rasanya juga suatu cara yang bagus.”
Sementara itu dilihatnya si rajawali masih terus menyabet-nyabetkan sepasang sayapnya sehingga membawa tenaga semakin keras. Biar pun hujan salju lebat, namun tiada sepotong bunga salju yang jatuh di atas badannya. Semangat Yo Ko terangsang juga. Segera ia pegang pedang kayu dan dimainkan di bawah hujan salju, berbareng lengan baju tangan kanannya juga dikebaskan, setiap ada bunga salju yang melayang turun, segera ia menyambutnya dengan angin putaran pedang atau tenaga kebasan lengan baju. Dengan begitu tanpa terasa hampir setengah hari berlalu, ia merasa tenaga dari pedang kayu dan lengan bajunya bertambah banyak sekali.
Hujan salju itu terus berlangsung hingga tiga hari lamanya, dan setiap hari Yo Ko menari pedang di bawah hujan salju bersama si rajawali sakti. Sampai petang hari ke tiga, salju turun semakin lebat. Selagi Yo Ko mencurahkan segenap perhatiannya pada pedang kayu untuk menggempur bunga salju, tiba-tiba saja sebelah sayap rajawali disabetkan ke arahnya. Karena tidak berjaga-jaga, hampir saja Yo Ko tersabet. Cepat dia melompat minggir sehingga sabetan itu dapat dihindari, walau pun begitu dahinya ketetesan dua biji bunga salju.
Segera teringat dahulu rajawali sakti ini juga pernah main gempuran denganku di atas tebing itu sehingga ilmu pedangku maju pesat. Sekarang jelas rajawali ini mengajak latihan bersama lagi! Karena itu ia lantas putar pedang kayu dan balas menusuk satu kali, tapi lantas terdengar suara.
“Krakk!” begitu kebentur sayap rajawali, pedang kayu itu patah.
Rajawali itu pun tidak menyerang lagi, tetapi berdiri tegak sambil mengeluarkan suara ber-cicit, sikapnya seakan-akan sedang mengomeli kecerobohan si Yo Ko. Diam-diam Yo Ko merenungkan bagaimana caranya harus menghadapi rajawali sakti itu. Pikirnya: “Kalau kugunakan pedang kayu melawan tenagamu yang maha kuat, jalan satu-satunya hanya mengelak dan menghindar, kemudian balas menyerang pada setiap ada peluang.”
Setelah menentukan siasat, segera ia membuat lagi sebatang pedang kayu, lalu mulai menempur si rajawali. Sekali ini ia mampu bertahan hingga belasan gebrakan barulah pedang kayu terpatah. BegituIah ia terus berlatih dengan tekun tanpa berhenti. Diam-diam Yo Ko amat berterima kasih kepada si rajawali sakti yang telah menjadi teman berlatihnya tanpa mengenal lelah serta penuh disiplin itu. Pikirnya: “Kalau aku tidak berhasil meyakinkan ilmu pedang kayu ini tentu akan mengecewakan harapan Tiau-heng. Lagi pula kesempatan bagus yang sukar dicari ini mana boleh kusia-siakan.”
Dengan tekad itulah, meski dalam mimpi juga dia mengeraskan otak memikirkan gerak-gerik setiap jurus serangan, bagaimana cara menyerang dan mengelak serta bagaimana cara memperkuat tenaga. Karena kegiatan latihan ilmu silatnya, rasa rindunya pada Siao-liong-li rada berkurang, sementara itu racun bunga cinta dalam tubuhnya sudah punah seluruhnya, tenaga dalamnya bertambah kuat, badan tampak sehat, kelesuan dan wajahnya yang pucat kurus dahulu kini pun sudah tidak kentara lagi.
Hawa semakin dingin, salju turun tiada henti-hentinya, perpisahan dengan Siao-liong-li sudah genap satu tahun. Maka berkatalah Yo Ko kepada rajawali sakti itu:
“Oh, Tiau-heng, biar kita berpisah untuk sementara, aku ingin pergi dulu ke Coat-ceng-kok.” Lalu dengan membawa pedang kayu ia meninggalkan pegunungan itu.
Dengan rasa berat rajawali mengikuti di belakang Yo Ko. Setiba di persimpangan jalan Yo Ko memberi hormat untuk mohon diri, lalu hendak melangkah pergi ke arah utara. Tak terduga mendadak rajawali itu menggigit ujung bajunya kemudian menyeretnya menuju ke selatan. Tentu saja Yo Ko heran, tapi sayangnya di antara dia dan rajawali itu tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Tapi dia tahu burung itu sangat cerdik dan tiada ubahnya seperti manusia, maka tanpa rewel lagi dia mengikutinya ke arah selatan.
Melihat Yo Ko menuruti kehendaknya, rajawali itu tidak menggigit lagi ujung bajunya dan membiarkannya berjalan sendiri. Tetapi setiap kali kelihatan Yo Ko ragu-ragu dan hendak memutar balik, segera dia menggendoli lagi ujung bajunya. Yo Ko pikir bila rajawali sakti ini ngotot mengajaknya ke selatan, tentu ada maksud tujuan tertentu. Maka ia pun membatalkan niatnya ke Coat-ceng-kok dan ikut burung itu terus ke selatan. Tiba-tiba hati Yo Ko tergerak, pikirnya: “Burung ini sangat pintar, jangan-jangan dia memberi petunjuk jalan padaku ke lautan selatan untuk menemui Liong-ji.”
Teringat kepada Siao-liong-li, seketika dia bersemangat, segera dia melangkah lebar dan ikut rajawali berlari cepat ke tenggara. Tiada sebulan kemudian sampailah mereka di pantai laut. Yo Ko berdiri di atas batu karang dan memandang jauh ke lautan bebas sana, tampak ombak men-dampar dengan hebatnya, sedih dan girang bercampur aduk dalam benaknya. Selang tak lama, terdengar suara gemuruh di kejauhan seperti bunyi guntur meru. Karena waktu kecilnya dahulu ia pernah tinggal di Tho hoa-to, ia tahu itulah suara gelombang laut pasang. Setiap hari antara lohor dan tengah malam air laut pasang dua kali. Dan kini sang surya memancarkan sinarnya di tengah cakrawala, tentu tiba waktunya laut naik pasang.
Suara gemuruh air pasang semakin lama semakin keras dan berkumandang laksana beribu-ribu ekor kuda berderap serentak. Tampaklah dari kejauhan selarik garis putih menerjang ke arah pantai, suara gemuruh itu jauh lebih hebat dari pada bunyi geledek dan sambaran kilat. Menyaksikan kedahsyatan alam itu, tanpa terasa air muka Yo Ko berubah pucat. Hanya sekejap mata saja gelombang air pasang menerjang tiba dan mendampar ke batu karang tempat berdiri Yo Ko. Cepat dia melompat ke belakang, tetapi mendadak punggungnya seperti ditubruk oleh sebuah tenaga yang maha dahsyat. Maka tanpa kuasa tubuhnya yang terapung di udara itu kecemplung ke laut, jatuh di tengah gelombang laut yang bergulung, mulutnya terasa asin, tanpa kuasa ia telah minum dua ceguk air laut.
Ia menyadari keadaannya yang berbahaya. Syukur ia sudah pernah digembleng di bawah gerujukan air bah, maka sekuatnya ia tancapkan kaki di dasar laut dengan ‘Jian-kin-tui’, ilmu membikin tubuh menjadi berat. Di permukaan air laut berombak, bergemuruh dengan hebatnya, namun di dasar laut jauh lebih tenang. Setelah merenungkan sejenak ia paham maksud rajawali itu mengajaknya ke pantai laut ini, yakni agar dia berlatih pedang di tengah damparan gelombang laut. Segera ia meloncat ke permukaan air, akan tetapi segera segulung ombak laksana bukit menghantam kepalanya. Tiada jalan lain, terpaksa dia menarik napas, lalu selulup lagi menghindar ke dasar laut.
Begitulah berulang-ulang Yo Ko timbul dan selulup lagi. Pada waktu air laut mulai surut, sementara itu Yo Ko sudah lelah, mukanya juga pucat namun dia tambah bersemangat. Pada tengah malam, sewaktu pasang naik lagi, kembali dia membawa pedang kayu dan menceburkan diri ke tengah amukan ombak samudera yang hebat. Dia memutar pedangnya di dalam air, terasa berat sekali karena damparan ombak yang membukit itu. Jika terasa payah dan tidak mampu bertahan, cepat ia menyelam ke dasar laut untuk menghindar.
Ia terus berlatih dengan cara begitu dua kali sehari. Tak sampai sebulan ia merasa tenaga dalamnya bertambah banyak, kalau pedang kayu diputar di daratan sayup-sayup menerbitkan suara seperti ombak mendampar. Setiap kalau berlatih dengan rajawali itu, kini burung itu tidak berani lagi menyambut serangannya dari depan. Suatu kali, saking bersemangatnya Yo Ko menusukkan pedang kayunya dengan sepenuh tenaga. Rajawali itu berkaok karena kaget dan melompat ke samping. Karena tak keburu menahan tenaga serangannya, pedang kayu itu menebas batang pohon di samping. Pedang itu patah, batang pohon juga terkutung menjadi dua.
Yo Ko melenggong sambil memegangi kutungan pedang kayu itu, pikirnya: “Pedang kayu ini adalah benda yang lemah, tetapi dapat mengutungi pohon, sudah tentu karena tenaga seranganku yang hebat. Kalau nanti pohon patah sedangkan pedang tidak patah, itu baru mendekati ilmu sakti yang dicapai Tokko-Iocianpwe dahulu.” Musim semi berlalu, musim rontok tiba, sang waktu lewat dengan cepatnya.
SIN-TIAUW-HIAP ( Pendekar Rajawali Sakti )
Setiap hari Yo Ko berlatih pedang di tengah gelombang laut tanpa mengena lelah dan membedakan musim. Suara gemuruh yang dterbitkan oleh pedangnya setiap kali dia menyerang menjadi semakin keras, sampai akhirnya telinga serasa pekak tergetar. Tetapi setelah beberapa bulan lagi, suara pedangnya mulai berkurang dan akhirnya lenyap tanpa suara lagi. Yo Ko berlatih beberapa bulan lagi dan ternyata suara pedang kembali mendengung. BegituIah terjadi perubahan hingga tujuh kali, akhirnya dapatlah ia menguasai pedangnya, ingin berbunyi lantas mengeluarkan suara, ingin tak bersuara lantas tanpa suara.
Pada saat mencapai tingkatan yang setinggi ini, hitung punya hitung ternyata sudah enam tahun lamanya dia berdiam di pantai laut itu. Kini dengan pedang terhunus dapatlah Yo Ko bergerak bebas di tengah gelombang laut yang maha dahsyat, kekuatan yang timbul dari gerakan pedangnya mampu menyampuk ombak laut yang mendampar dari depan.
Meski pun hidup terpencil di pantai laut dan selama itu tak pernah bergebrak dengan jago silat, tapi tenaga si rajawali sakti yang luar biasa itu sudah tak mampu menahan dua-tiga kali gebrakan pedang kayunya lagi. Sekarang barulah ia memahami perasaan Tokko Kiu-pay yang tidak pernah menemukan tanding itu. Waktu usianya sudah lanjut, pantas Tokko Kiu-pay bertambah terharu dan kesepian karena tiada seorang pun yang sanggup melawan ilmu pedangnya, akhirnya orang dan ilmu pedangnya terkubur semua di lembah sunyi.
Terpikir oleh Yo Ko. “Jika dulu Tiau-heng tidak menyaksikan sendiri cara Tokko-locianpwe meyakinkan ilmu pedangnya yang maha sakti, mana bisa Tiau-heng mengajarkan lagi ilmu sakti ini padaku? Meski pun burung itu kusebut Tiau-heng tapi sebenarnya dia adalah guruku. Kalau bicara tentang umur, entah sudah berapa puluh tahun atau mungkin sudah ratusan tahun usianya, jadi umpama aku menyebut dia kakek atau buyut rasanya juga pantas.”
Begitulah sembari berlatih ilmu pedang di pantai Iaut, ia pun tiada hentinya mencari kabar berita tentang Nikoh sakti yang berdiam di laut selatan. Namun selama beberapa tahun ternyata tidak ada seorang pun pelaut atau pedagang seberang yang ditanyai dapat memberi keterangan sesuatu. Lambat laun ia pun putus harapan. Ia pikir kalau belum tiba waktunya 16 tahun tentu sulit bertemu dengan Siao-liong-li.
Pada suatu hari, hujan rintik-rintik, angin meniup keras. Timbul perasaan Yo Ko, segera ia membawa pedang kayu dan pakai mantel, kemudian bersama si rajawali sakti ditinggalkanlah pantai laut itu dan mulai mengembara menjelajahi setiap pelosok daerah Tionggoan dan terutama daerah Kanglam yang terkenal indah permai.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar