Selama beberapa hari ini Siao-Iiong-Ii duduk di dipan kemala dingin untuk menerima penyembuhan dari Yo Ko dengan menerobos Hiat-to secara terbalik. Ketika itu mereka sedang mengerahkan segenap tenaga untuk menerobos Tam-tiong-hiat, Hiat-to penting yang terletak di bagian dada. Bila Hiat-to ini sudah diterobos dengan lancar, maka berarti delapan bagian lukanya sudah tersembuhkan, akan tetapi Hiat-to ini memang amat gawat, salah sedikit saja akan menyebabkan kelumpuhan total, sebab itu harus dilakukan secara hati-hati dan sabar, sedikit pun tidak boleh gegabah.
Watak Siao-liong-li memang sangat sabar, baginya bukan soal apakah penyembuhan itu dapat dirampungkan secepatnya atau beberapa lama Iagi. Sebaliknya Yo Ko berwatak tidak sabaran, dia berharap Siao-liong-li dapat lekas sembuh. Akan tetapi dia pun maklum bahayanya penyembuhan begitu, kalau terburu napsu, bisa jadi malah runyam. Begitulah Yo Ko merasa denyut nadi Siao-liong-li terkadang keras dan di lain saat lemah, meski tidak stabil tetapi tiada tanda-tanda buruk. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dan mempercepat usahanya menyembuhkan si nona. Dalam keadaan sunyi senyap itulah tiba-tiba dari jauh ada suara satu kali.
“Tek!” suara itu sangat lirih.
Kalau saja Yo Ko tidak sedang memusatkan pikiran tentu tak akan mendengar suara itu. Apa lagi kuburan kuno itu terletak jauh di bawah tanah, kecuali suara pernapasan mereka bertiga (termasuk Kwe Siang), sedikit kelainan suara tentu akan ketahuan. Selang tak lama.
“Tek!” suara itu kembali terdengar lagi sekali, kini jaraknya bertambah dekat.
Yo Ko tahu pasti ada sesuatu yang tak beres, tapi kuatir perhatian Siao-liong-li terganggu dan membahayakan nona itu, maka ia sengaja berlagak tidak tahu. Tak lama, lagi-lagi suara itu berbunyi, kini lebih dekat lagi, maka yakinlah Yo Ko bahwa ada orang yang menyusup. Agaknya orang itu tak berani menerobos datang begitu saja, melainkan sengaja merunduk maju dengan perlahan, dia pikir maksud kedatangan orang ini pasti tidak baik. Jika orang mampu masuk ke situ, tentu bukan sembarangan orang. Tapi celakanya keadaan Siao-liong-li tidak boleh terganggu, maka dia menjadi serba susah.
“Tek!” ternyata suara itu semakin mendekat.
Yo Ko menjadi bingung dan sukar menahan pikirannya. Tiba-tiba saja tangannya tergetar, suatu arus hawa panas tertolak balik, kiranya Siao-liong-li juga terkejut oleh suara itu. Yo Ko lekas-lekas menghimpun tenaga lantas mendorong kembali tenaga dalam Siao-liong-li sambil memberi isyarat agar si nona tenangkan diri.
Tatkala itu di luar kuburan adalah siang hari, meski musim dingin tapi sang surya sedang memancarkan cahayanya di tengah cakrawala, sebaliknya di dalam kuburan gelap gulita seperti tengah malam belaka.
Terdengar suara tadi semakin dekat lagi. Diam-diam Yo Ko mengeluh, dia pikir sejak jalan masuk kuburan tertutup rapat, di dunia ini cuma Li Bok-chiu dan Ang Ling-po saja yang tahu jalan masuk melalui dasar sungai, maka dapat dipastikan yang datang tentu salah satu di antara mereka. Dengan kepandaian Yo Ko sekarang sedikit pun tidak perlu takut biar pun Li Bok-chiu dan muridnya itu datang semua sekaligus. Celakanya kedatangannya tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat, tetapi justru pada saat penting bagi keselamatan Siao-liong-li. Seketika Yo Ko menjadi bingung dan serba susah.
Selang sejenak, dengan jelas Siao-liong-li juga bisa mendengar suara kedatangan musuh. Dia pun buru-buru ingin menerobos Hiat-to-nya yang penting itu, tetapi karena bingung, tenaganya menjadi kacau, kadang lancar terkadang berontak, dada sendiri malah menjadi sesak. Pada saat itulah suara tindakan seseorang yang sangat halus dan cepat menerobos masuk, menyusul terdengar suara mendesirnya benda kecil, beberapa jarum menyambar tiba.
Pada waktu itu keadaan Siao-liong-li dan Yo Ko mirip orang yang tak bisa ilmu silat saja. Untungnya mereka telah siap sedia sebelumnya, begitu melihat jarum musuh menyambar, serentak mereka mendoyong ke belakang tanpa melepaskan tangan mereka yang saling menempel sehingga jarum-jarum itu menyambar lewat.
Li Bok-chiu sendiri tak menyangka kedua orang sedang mencurahkan segenap perhatian untuk penyembuhkan Siao-liong-li. Karena kuatir kedua lawannya balas menyerang, maka begitu jarum disambitkan segera ia melompat ke samping. Kalau saja dia tidak jeri kepada lawannya dan segera menyusulkan lagi jarum-jarum lain, maka Yo Ko berdua pasti celaka.
Ketajaman mata Li Bok-chiu di tempat gelap jauh di bawah Yo Ko berdua. Samar-samar dia cuma melihat dua muda-mudi itu duduk berjajar di Han-giok-jeng dipan kemala dingin. Ia menjadi kebat-kebit ketika sergapannya tidak mengenai sasaran, tetapi dia menjadi ragu-ragu pula ketika melihat lawan tidak bangkit dan balas menyerang. Cepat dia menggeser ke samping pintu dengan kebut siap di tangan, kemudian menegur:
“Hm, baik-baikkah kalian selama berpisah?”
“Apa kehendakmu?” tanya Yo Ko.
“Masa perlu tanya lagi kehendakku di saat ini?” jawab Bok-chiu.
“Ahh, Giok-Ii-sim-keng yang kau inginkan, bukan?” ujar Yo Ko. “Baiklah, memang kitab itu pun tidak berguna bagi kami yang hendak hidup tirakat di tempat ini. Nah, boleh kau ambil saja.”
Sudah tentu Li Bok-chiu setengah percaya setengah sangsi, katanya: “Mana? Bawa ke sini!”
Giok-li-sim-keng tersimpan dalam buntalan Siao-liong-li, mereka tidak dapat menyodorkannya.
“ltu dalam bungkusan di atas meja, ambil saja sendiri,” demikian jawab Yo Ko.
Li Bok-chiu tambah curiga, pikirnya: “Aneh, mengapa mereka berubah penurut begini? Dalam bungkusan itu tentu ada sesuatu yang tidak beres. Apakah barang kali dia sengaja memancing aku lebih dekat, lalu mendadak menyerang dan mencegat jalan lariku...?”
Ia menyadari bukan tandingan Siao-liong-li, karena itu segala sesuatu harus ditimbangnya dengan masak. Ia coba mengawasi sang Sumoay, terlihat sebelah tangannya menempel dengan telapak tangan Yo Ko. Seketika tergerak pikirannya: “Ah, rupanya tangan Yo Ko buntung dan parah, maka perempuan hina ini sedang membantu menyembuhkan pemuda itu dengan tenaga dalamnya. Saat ini mereka sedang menghadapi detik genting, inilah kesempatan baik bagiku untuk membinasakan mereka.”
Meski pun terkaannya cuma betul separoh, tapi rasa jerinya seketika lenyap. Segera ia menubruk maju, kebutnya menyabet kepala Siao-liong-li. Dalam keadaan demikian, kalau Siao-liong-li mengangkat tangan untuk menangkis maka serentak tenaga dalamnya akan terguncang sehingga bisa binasa seketika akibat muntah darah. Tapi sebaliknya bila serangan itu tidak ditangkis, maka batok kepalanya juga pasti akan hancur.
Syukurlah pada saat itulah mendadak Yo Ko membuka mulut dan meniup hawa ke muka Li Bok-chiu. Sebetulnya tiupan hawa ini sama sekali tidak bertenaga, tapi Li Bok-chiu tahu si Yo Ko banyak tipu akalnya. Ketika mendadak mukanya terasa hangat oleh hawa yang ditiup anak muda itu, dia menjadi kaget dan lekas melompat mundur. Ketika merasa muka tiada sesuatu kelainan barulah ia tahu tertipu. Segera ia membentak: “Kau cari mampus, ya!”
”Ehh, baju yang kupinjamkan kepadamu tempo hari, apakah sekarang kau bawa untuk dikembalikan padaku?” tanya Yo Ko tertawa.
Li Bok-chiu jadi teringat. Waktu bertempur melawan Pang Bik-hong, pakaiannya terbakar oleh palu si pandai-besi tua yang berapi. Apa bila Yo Ko tidak menanggalkan jubahnya untuk dia, maka pasti akan telanjang dan malu. Sepantasnya kalau mengingat pemberian jubah itu dahulu tidak seharusnya dia mencelakai jiwa Yo Ko sekarang, tetapi jika hatinya sedikit lunak, bahaya di kemudian hari tentu sukar dibayangkan. Segera ia menubruk maju, tangan kirinya menghantam lagi.
Dalam keadaan kepepet tiba-tiba Yo Ko mendapat akal. Sekonyong-konyong dia berjungkir dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, sekali kakinya memancal, sepatu dan kaos kaki terlepas. Serunya:
“Liong-ji, pegang kakiku!”
Berbareng itu sebelah tangannya terus dipukulkan untuk memapak hantaman Li Bok-chiu tadi. Dalam pada itu Siao-liong-li juga telah memegang kaki Yo Ko. Meski Ngo-tok-sin-ciang yang lihay itu diperoleh dari Auyang Hong, tetapi ilmu menjungkir berasal dari Kiu-im-cin-keng. Ilmu menjungkir yang merupakan kepandaian khas Auyang Hong ini belum pernah dilihat Li-Bok-chiu. Ia terkejut menyaksikan perbuatan Yo Ko yang aneh itu, ia mengerahkan tenaga sekuatnya dan ingin membinasakan lawan selekasnya.
Seketika Yo Ko merasakan ada arus hawa panas menerjang dari telapak tangan musuh. Pikirannya tergerak, sama sekali dia tidak menahan tenaga lawan itu, sebaliknya tenaga sendiri malah ditambahkan pada tenaga musuh dan disalurkan seluruhnya ke tubuh Siao-liong-li. Dengan begitu jadinya Li Bok-chiu seakan-akan membantu Yo Ko menerobos Hiat-to dan urat nadi Siao-liong-li. Biar pun apa yang dipelajari Li Bok-chiu tidak seluas Yo Ko berdua, tapi bicara tentang kekuatan sendiri, karena sudah berlatih berpuluh tahun lamanya, maka dengan sendirinya bukan main lihaynya.
Tiba-tiba Siao-liong-li merasakan satu arus tenaga maha kuat menerjang tiba, Tam-tiong-hiat seketika diterobos tembus, napas terasa lancar, hawa panas yang tadinya macet di dada seketika tersalur ke bagian perut, semangat terasa segar. Serentak dia bersorak:
“Aha, terima kasih, Suci!” Segera dia melepaskan kaki Yo Ko dan melompat turun dari dipan kemala dingin.
Tentu saja Li Bok-chiu melengak. Tadinya ia mengira Siao-liong-li yang sedang membantu menyembuhkan Yo Ko, sebab ituIah dia mengerahkan tenaga sekuatnya dengan maksud merontokkan urat nadi Yo Ko, tapi siapa tahu tanpa sengaja malah telah membantu pihak lawan. Yo Ko juga sangat girang, sekuatnya ia menolak mundur musuh, lalu ia melompat bangun dan berdiri dengan sepasang kaki telanjang, katanya dengan tertawa:
“Kalau engkau tidak keburu datang membantuku, sungguh sulit menerobos Tam-Tiong-hiat Sumoay-mu.”
Belum lagi Li Bok-chiu menjawab, mendadak Siao-liong-li menjerit sambil memegangi ulu hatinya terus jatuh ke atas dipan.
“He, ada apa?” tanya Yo Ko kuatir.
“Dia... dia... tangannya beracun!” ucap Siao-liong-li dengan ter putus-putus.
Yo Ko sendiri juga lantas merasakan kepalanya rada pusing. Rupanya tanpa disadari, ketika tangan beradu tangan tadi, racun pukulan berbisa Li Bok-chiu menyalur ke tubuh anak muda itu dan terus merembes ke tubuh Siao-liong-li.
“Serahkan obat penawarnya!” bentak Yo Ko segera sambil mengangkat Hian-tiat-pokiam, pedang pusaka yang maha berat itu. Habis itu pedangnya terus membacok.
“Trangg...!”
Li Bok-chiu menangkis dengan kebutnya, akan tetapi batang kebutnya yang terbuat dari baja itu kontan terkutung mendjadi dua, tangan juga tergetar hingga lecet dan sakit. Kebut yang pernah merontokkan nyali tokoh dunia persilatan itu ternyata sekali tebas saja telah dihancurkan lawan, sungguh kejadian ini membuatnya terkejut luar biasa, lekas-lekas dia melompat keluar. Segera Yo Ko mengejar, tampaknya sudah dekat dan baru saja pedangnya disodorkan ke depan sehingga Li Bok-chiu pasti tidak dapat menangkisnya, siapa tahu racun yang sudah bersarang dalam tubuhnya mendadak bekerja. Matanya menjadi berkunang-kunang dan tangannya terasa lemas.
“Trangg...!” pedang Hian-tiat-pokiam jatuh ke tanah.
Li Bok-chiu tidak berani berhenti, dia melompat jauh ke depan, barulah menoleh. Dilihatnya Yo Ko terhuyung-huyung sambil berpegangan dinding, tampak sekuatnya sedang menahan serangan racun di dalam tubuhnya. Merasa bukan tandingan anak muda ini, Li-Bok-chiu tidak berani mendekatinya. Dia pikir tunggu saja sementara, nanti kalau anak muda ini sudah roboh, barulah kudekati dia.
Tenggorokan Yo Ko terasa kering, kepalanya serasa mau pecah, sekuatnya ia kumpulkan tenaga pada tangan kiri, bila Li Bok-chiu mendekat segera dia hendak membinasakannya dengan sekali hantam. Tapi lawan sungguh licik dan tetap berdiri di sana. Akhirnya Yo Ko harus ambil keputusan. Ia pikir semakin lama tentu semakin meluas racun yang mengeram di tubuhnya dan tambah menguntungkan pihak musuh. Sekuatnya dia menarik napas segar, mendadak dia melompat balik ke sana dan merangkul pinggang Siao-liong-li, dengan ujung pedang ia cungkit bungkusan di atas meja kemudian melangkah keluar sambil membentak:
“Minggir!”
Melihat perbawa Yo Ko itu, ternyata Li Bok-chiu tidak berani menghadangnya. Sekarang yang diharapkan Yo Ko adalah mencari satu kamar batu yang bisa ditutup rapat sehingga untuk sementara Li Bok-chiu tak mampu masuk mengganggunya, dengan begitu mereka dapat berusaha mendesak keluar kadar racun yang berada di dalam tubuhnya. Cara mengusir racun ini jauh lebih mudah dari pada cara penyembuhan Siao-liong-li tadi. Waktu kecil Yo Ko pernah kena racun jarum Li Bok-chiu kemudian mendapat pertolongan Auyang Hong. Sekarang kepandaiannya sedemikian tinggi, begitu pula Hiat-to Siao-liong-li juga sudah lancar, tentu tidak sulit mengeluarkan racun dalam tubuh asalkan tidak direcoki Li Bok-chiu.
Li Bok-chiu juga tahu maksud dan tujuan Yo Ko ketika melihat anak muda itu menerjang keluar dengan membopong Siao-liong-li. Dia tidak membiarkan Yo Ko mencapai tujuannya, cuma dia tidak berani mendekat dan menyerang, dia terus menguntit saja dari belakang dalam jarak dua-tiga meter jauhnya. Bila Yo Ko berhenti dan menunggu, diapun berhenti.
Yo Ko merasa debar jantungnya semakin keras dan tidak sanggup bertahan lagi. Dengan sempoyongan ia berlari masuk sebuah kamar lalu mendudukkan Siao-liong-li di atas meja batu. Ia sendiri terengah-engah sambil berpegang tepi meja tanpa menghiraukan Li Bok-chiu yang tetap mengintil di belakang. Karena Li Bok-chiu juga pernah tinggal di dalam kuburan kuno ini, meski ketajamannya memandang di tempat gelap tidak sebaik Yo Ko berdua, tetapi dia pun dapat melihat jelas bahwa di kamar itu berjajar lima buah peti mati.
“Suhu benar-benar telah pilih kasih, selamanya aku tak pernah diberi-tahu tempat-tempat rahasia seperti ini, kiranya di sini ada lima buah peti mati,” demikian Li Bok-chiu berpikir. Dia tidak tahu bahwa kamar ini adalah makam guru dan kakek gurunya.
Selama hidup Li Bok-chiu sudah membunuh orang tak terbilang jumlahnya, maka tentang peti mati, mayat dan sebagainya tidak membuatnya heran. Diam-diam ia pun amat girang melihat keadaan Yo Ko yang sudah payah sekali itu. Dia lantas menyindir:
“He-he, tempat pilihanmu ini sungguh bagus sekali sebagai kuburanmu.”
Pandangan Yo Ko sebenarnya sudah samar-samar. Mendengar ucapan Li Bok-chiu, ia coba meng-amat-amati kamar itu. Ternyata tangannya bukan menahan di atas meja batu melainkan sebuah peti mati batu, jadi Siao-liong-li juga duduk di atas peti batu. Tanpa terasa ia merasa ngeri, pikirnya: “Tempo hari Liong-ji ingin aku mati bersamanya di sini, tapi sekuatnya aku lantas melarikan diri, siapa tahu akhirnya kami mati juga di sini, mungkin memang sudah suratan nasib dan takdir Ilahi.”
Keadaan Siao-liong-li juga sangat lemah dan setengah sadar, tetapi samar-samar dia pun mengetahui dirinya berada di samping peti mati sang guru. Teringat bahwa dirinya sudah berdekatan dengan gurunya, hatinya terasa lega. Dia menghela napas panjang se-akan orang yang sudah lama pergi jauh dan baru pulang kampung halaman dengan aman. Begitulah mereka bertiga hanya terdiam, seorang berdiri dan seorang duduk, seorang lagi setengah bersandar, kecuali suara hembusan napas tidak ada terdengar suara lain di dalam kamar batu itu.
“Andai kata aku dan Liong-ji harus mati sekarang, sebisanya harus kucegah agar iblis ini tidak mendapatkan kitab pusaka ini dan berbuat lebih jahat lagi di dunia luar,” demikian pikir Yo Ko.
Tiba-tiba ia mendapat satu akal. Ia tahu di antara lima buah peti mati batu itu tiga di antaranya sudah terisi, yakni jenazah Lim Tiau-eng dan muridnya serta Sun-popoh, ada pun dua peti lainnya masih kosong dan tersedia bagi Siao-liong-li dan Li Bok-chiu. Tutup kedua peti mati yang kosong itu belum dirapatkan dan masih terlihat celah selebar sekitar satu meteran.
Tiba-tiba Yo Ko angkat pedangnya lantas mencukil bungkusan berisi Giok-li-sim-keng sehingga mencelat ke dalam satu peti yang kosong, berbareng itu dia pun membentak:
“Hm, keparat! Betapa pun kitab pusaka ini takkan kuserahkan padamu, aduuh...!” tiba-tiba ia menjerit terus roboh.
Li Bok-chiu terkejut dan girang. Ia kuatir jangan-jangan Yo Ko hendak memancingnya, maka ia menunggu sejenak. Ketika melihat anak muda itu sama sekali tidak bergerak lagi barulah ia mendekatinya dan coba meraba mukanya, rasanya dingin dan jelas telah mati.
“Ha-ha-ha, betapa pun licik dan licinmu, akhirnya kau mampus juga!” serunya kemudian sambil terbahak, lalu ia mendekati peti batu dan menjulurkan tangan dengan maksud mengambil bungkusan yang terlempar ke dalam peti tadi. Namun bungkusan itu oleh Yo Ko ternyata dilemparkan ke ujung peti yang tertutup sana.
Kebut Li Bok-chiu telah putus, jika tidak tentu ujung kebut dapat digunakan untuk meraih. Sebisanya ia mengulur tangan dan meraba-raba, namun hasilnya tetap nihil. Akhirnya ia tidak sabar, ia menyusup ke dalam peti, dengan begitu barulah bungkusan itu dapat dipegangnya.
Akan tetapi pada saat itulah Yo Ko bangkit, tangan kirinya mendorong sekuatnya, kontan tutup peti merapat, seketika Li Bok-chiu terkurung dalam peti batu. Kiranya jatuh dan jeritan Yo Ko tadi hanya pura-pura belaka, serentak dia membikin ruwet denyut nadinya sehingga mukanya menjadi dingin seperti orang mati. Padahal orang mati tak mungkin jasadnya lantas kaku dingin seketika, untuk itu sedikitnya makan waktu setengah jam. Tetapi rupanya saking girangnya Li Bok-chiu menjadi kurang teliti dan terjebak oleh akal Yo Ko.
Begitu Li Bok-chiu sudah terpancing masuk ke dalam peti dan ditutup rapat, segera Yo Ko menggunakan pedangnya untuk menjungkit sekuatnya peti mati kosong yang satunya lagi untuk ditindihkan di atasnya, dengan demikian berat tutup ditambah peti batu sedikitnya setengah ton, betapa pun tak bisa keluar biar pun memiliki kepandaian setinggi langit.
Yo Ko sendiri sebenarnya dalam keadaan amat payah. Hanya terdorong oleh tekad ingin bertahan sampai detik terakhir maka sekuatnya dia menjungkit peti batu tadi. Habis itu dia benar-benar kehabisan tenaga, pedang dilemparkan ke lantai, dengan sempoyongan mendekati Siao-liong-li. Lebih dulu ia menggunakan ilmu ajaran Auyang Hong yang dahulu pernah dipelajarinya untuk menguras keluar sebagian racun dalam tubuhnya, habis itu baru ia menempelkan tangannya pada tangan Siao-liong-li untuk bantu penyembuhan.
Sementara itu Kwe Hu dan Yalu Ce berlima sedang kelabakan terkurung di kamar batu itu. Mereka duduk di lantai tanpa berdaya, semakin dipikir semakin mendongkol dan penasaran, tiada hentinya Bu Sam-thong mencaci maki Li Bok-chiu yang kejam itu. Dalam keadaan gelisah Kwe Hu menjadi sebal mendengar caci maki Bu Sam-thong yang tiada henti, tanpa pikir dia berkata padanya:
“Bu-pepek kekejian perempuan she Li itu kan sudah lama kau ketahui, apa gunanya sekarang kau mencaci makinya?”
Bu Sam-thong melengak dan tidak bisa menjawab, sebaliknya Bu Siu-bun menjadi marah karena ayahnya diomeli si nona, segera dia menanggapi:
“Kedatangan kita ke kuburan ini demi menolong adikmu, kalau tidak beruntung mengalami kesukaran, biarlah kita mati bersama saja, kenapa kau marah-marah segala...”
“Diam, adik Bun!” cepat Bu Tun-si menghardik sehingga Siu-bun tidak melanjutkan kata-katanya.
Ucapan Siu-bun itu sesungguhnya hanya terdorong oleh rasa ingin membela sang ayah saja, begitu tercetus katanya, ia sendiri pun merasa heran. Padahal biasanya ia sangat penurut kepada Kwe Hu, malah se-dapatnya ia ingin mengerjakan apa pun bagi si nona, mana berani ia berbantah dengan Kwe Hu. Tapi siapa tahu sekarang berani menjawab dengan sama kerasnya.
Kwe Hu juga melenggong karena tidak pernah menyangka si Bu cilik itu berani berbantah dengan dia. Ingin dia bicara lagi, tetapi rasanya tidak ada sesuatu kuat yang dapat diketemukannya. Teringat bahwa dirinya akan mati terkurung di kuburan kuno ini dan tak akan bertemu selamanya dengan ayah bunda, ia menjadi sedih dan menangis. Dalam kegelapan dan tidak dapat memandang keadaan sekitarnya, tanpa terasa ia mendekap di atas sesuatu dan menangislah terguguk-guguk.
Melihat si nona mendadak menangis, Siu-bun merasa tidak enak, katanya: “Baiklah, aku mengaku salah, biarlah aku minta maaf padamu.”
“Apa gunanya minta maaf?” jawab Kwe Hu dan tangisnya semakin menjadi. Sekenanya ia tarik sepotong kain untuk mengusap ingusnya, tetapi mendadak disadarinya ternyata dia mendekap di atas paha seseorang dan kain yang dibuat mengusap ingus itu kiranya ujung baju orang itu.
Dengan terkejut cepat Kwe Hu menegakkan tubuhnya. Dari persiapan Bu Sam-thong dan kedua anaknya tadi, jelas mereka bertiga duduk di sebelah sana, cuma Yalu Ce saja yang berdiam tanpa bersuara, jelas orang ini adalah dia. Keruan Kwe Hu menjadi malu.
“Aku... aku...,” katanya dengan tersipu-sipu.
Pada saat itulah tiba-tiba Yalu Ce berkata: “He, dengarkan, suara apakah itu?”
Waktu mereka pasang kuping, tiada mendengar sesuatu. Tapi Yalu Ce berkata lagi: “Ehm, itu suara tangisan anak kecil. Nona Kwe, pasti suara adikmu.”
Karena teraling oleh dinding batu, suara itu amat halus. Kalau bukan indera pendengaran Yalu Ce sangat tajam pasti tidak mendengarnya. Cepat dia bangkit dan melangkah ke sana, suara itu terdengar Iemah. Dia coba membalik ke sebelah lain, ternyata suara itu tambah jelas, maka segera dia menuju ke ujung sana, dia gunakan pedangnya untuk menusuk dan mencungkil perlahan.
Terdengar suaranya agak lain, agaknya dinding di situ rada tipis. Segera dia menyimpan pedangnya, kedua tangan coba menahan dinding batu itu dan didorongnya, namun bergeming sedikit pun. Ia coba ganti haluan, menarik napas kuat-kuat, lalu kedua tangan menolak, menyusul terus dibalik menjadi daya tarik dengan gaya ‘lengket’.
“Blangg...!” mendadak terdengar suara satu kali. sepotong batu kena ditarik lepas oleh tenaga sedotan tangannya dan jatuh ke lantai.
Tentu saja Kwe Hu dan lain sangat girang. Sambil bersorak mereka terus memburu maju ikut menarik dan membongkar, sebentar saja beberapa potong batu kena dilepaskan dan kini sebuah lubang sudah cukup digunakan untuk menerobos. Berturut-turut mereka lantas menerobos ke sana, Kwe Hu lalu mencari dengan mengikuti arah suara. Akhirnya mereka sampai di sebuah kamar batu yang kecil, dalam kegelapan suara tangisan anak itu terdengar sangat keras, cepat Kwe Hu mendorongnya.
Bayi itu memang betul Kwe Siang adanya. Demi menyembuhkan Siao-liong-li, pula harus menempur Li Bok-chiu, maka Yo Ko tidak sempat menyuapi orok itu. Karena lapar, anak itu menangis sejadinya. Kwe Hu berusaha menimang sambil membujuk, tetapi saking kelaparan, bukannya diam, sebaliknya tangis Kwe Siang semakin keras. Akhirnya Kwe Hu menjadi tidak sabar dan menyodorkan kepada Bu Sam-thong, katanya:
“Paman Bu, coba kau memeriksanya apakah ada sesuatu yang tidak beres.”
Dalam pada itu Yalu Ce sedang meraba-raba ke sana kemari, akhirnya di atas meja dapat ditemukan sebuah cek-tay (tatakan lilin), menyusul teraba pula batu api dan alat ketiknya. Setelah membuat api dan bisa menyulut lilin, seketika pandangan semua orang terbeliak. Sesudah terkurung di tempat gelap sekian lamanya, baru sekarang dada mereka merasa lapang oleh cahaya terang.
Betapa pun Bu Sam-thong adalah orang tua yang berpengalaman. Dari suara tangisan Kwe Siang itu, dia tahu anak ini pasti lapar. Dilihatnya di atas meja ada setengah mangkuk air madu, juga sebuah sendok kayu kecil, segera dia menyuapi anak itu dengan air madu sedikit-sedikit. Betul saja, begitu ada air madu memasuki mulutnya, Kwe Siang berhenti menangis.
“Kalau nona Kwe cilik ini tidak menangis kelaparan, mungkin kita semua akan mati dalam kamar batu itu,” ujar Yalu Ce tertawa.
“Segera kita pergi mencari jahanam Li Bok-chiu,” Bu Sam-thong berkata dengan penuh dendam.
Mereka masing-masing lantas memotong kaki kursi untuk dipergunakan sebagai obor, lalu menyusuri Iorong. Setiap ada pengkolan Bu Tun-si memberi tanda dengan ujung pedang supaya nanti kembalinya tidak tersesat. Begitulah mereka terus mencari jejak Li Bok-chiu dari sebuah ruangan ke ruangan yang lain. Rupanya dulu Ong Tiong-yang telah gagal memimpin pasukannya melawan pasukan Kim, kemudian dia dan anak buahnya membangun kuburan raksasa ini di lereng Cong-Iam-san sebagai tempat tirakat.
Yalu Ce dan lain-lain sama terheran-heran melihat betapa luasnya kuburan ini, sungguh tak tersangka bahwa di bawah sungai kecil terdapat bangunan raksasa. Ketika mereka sampai di kamar Siao-liong-li, tampak kebut Li Bok-chiu yang putus berserakan di lantai, di samping sana ada pula dua jarum perak milik Li Bok-chiu. Kwe Hu membungkus tangannya lantas menjemput jarum itu.
“Sebentar aku pun akan gunakan jarum berbisa ini untuk balas menusuk iblis keparat itu,” katanya dengan tertawa.
Sementara itu Yo Ko sedang membantu mendesak keluar racun dalam tubuh Siao-liong-li. Dari ujung jari si nona telah merembes keluar air hitam, asal setanakan nasi lagi mungkin usahanya akan berhasil. Pada saat itulah mendadak dari lorong sana ada suara tindakan orang, seluruhnya ada lima orang. Diam-diam Yo Ko terkejut. Dalam keadaan genting begitu, andaikan diserang seorang Li Bok-chiu saja sukar melawannya, apa lagi sekarang musuh berjumlah lima orang. Selagi bingung dan gelisah, mendadak terlihat cahaya api berkelebat di kejauhan, kelima orang itu semakin dekat.
Tanpa pikir Yo Ko merangkul Siao-liong-li dan melompat masuk ke dalam peti batu yang menindih di atas Li Bok-chiu, lalu ia menggeser sekuatnya tutup peti, hanya saja tidak dirapatkan agar nanti tidak mengalami kesukaran jika hendak keluar. Baru saja mereka sembunyi, serentak Yalu Ce berlima masuk ke kamar itu. Mereka terkesiap melihat lima buah peti mati, samar-samar merasakan hal ini sungguh teramat kebetulan, mereka berlima dan jumlah peti mati di situ juga lima, sungguh alamat jelek. Tanpa terasa Kwe Hu bergumam:
“Hm, kita berlima, peti mati ini pun ada lima!”
Yo Ko dan Siao-liong-li dapat mendengar suara Kwe Hu, mereka sama heran bahwa yang datang ini di antaranya ternyata nona Kwe ini. Yalu Ce juga mendengar dalam peti itu ada suara napas orang. Ia pikir pasti Li Bok-chiu yang sembunyi di situ, segera ia memberi tanda agar kawannya mengelilingi peti itu. Dari sela-sela peti yang belum tertutup rapat samar-samar Kwe Hu dapat melihat ujung baju, dia yakin orang itu pasti Li Bok-chiu adanya. Dengan tertawa ia lantas membentak:
“lnilah senjata makan tuan!”
Sekali ia dorong tutup peti, berbareng dua buah jarum berbisa yang dijemputnya tadi disambitkan ke dalam.
Meski Yo Ko sembunyi di dalam peti dengan merangkul Siao-liong-li, tetapi tangan kirinya tetap menempel pada tangan kanan nona itu dan berusaha menguras bersih racun melalui tubuhnya dalam waktu singkat yang menentukan mati-hidup mereka itu. Walau pun heran ketika mendengar di antara pendatang itu juga terdapat Kwe Hu, tetapi hatinya merasa lega karena yang datang bukan musuh. Sudah tentu Yo Ko tidak pernah menduga bahwa mendadak Kwe Hu akan menyerangnya, maka dengan diam saja meneruskan penyembuhannya pada Siao liong-li dengan tekun. Siapa tahu Kwe Hu justru menyangka mereka sebagai Li Bok-chiu dan menyerang dengan jarum berbisa.
Karena jaraknya amat dekat, dalam peti itu pun sukar bergerak sehingga tiada peluang untuk menghindar, seketika Yo Ko berdua menjerit. Jarum yang satu sudah menancap di paha kanan anak muda itu dan jarum lain mengenai bahu kiri Siao-liong-li.
Setelah menyambitkan jarum, hati Kwe Hu amat senang, tapi mendadak terdengar suara jeritan lelaki dan perempuan dalam peti, seketika ia pun menjerit kaget. Segera Yalu Ce mendepak tutup peti itu hingga terjatuh ke lantai. Dengan perlahan Yo Ko dan Siao-liong-li berdiri. Di bawah cahaya obor tampak muka mereka pucat pasi dan saling pandang dengan pedih.
Kwe Hu sendiri belum menyadari kesalahan yang diperbuatnya sekali ini jauh lebih hebat dari pada mengutungi sebelah lengan Yo Ko. Dia cuma merasa menyesal saja dan coba meminta maaf, katanya:
“Yo-toako dan Liong-cici, ternyata kalian berdua yang berada di situ hingga aku salah melukai kalian. Untunglah ibuku menyimpan obat mujarab penawar racun jarum ini. Dahulu dua ekor rajawaliku juga pernah terluka oleh jarum ini dan mereka dapat disembuhkan oleh ibuku. Aneh juga, mengapa kalian bersembunyi dalam peti? Tentu saja aku tidak menyangka akan kalian.”
Kiranya urusan membuntungi lengan kanan Yo Ko dianggapnya sudah selesai dengan dibengkokkan pedangnya oleh anak muda itu tempo hari, terlebih lagi ayah bundanya juga sudah cukup mencaci-makinya habis-habisan, maka dalam anggapan Kwe Hu: “Biarlah takkan kusalahkan kau dan anggap beres persoalan ini.”
Begitulah jalan pikiran nona manja macam Kwe Hu ini, selama hidupnya selalu disanjung orang lantaran menghormati ayah-ibunya, sebab itu orang lain juga suka menghormat dan mengalah padanya, maka segala urusan yg terpikir selalu dirinya sendiri yang diutamakan dan jarang memikirkan kepentingan orang lain.
Dari nada ucapannya tadi malah akhirnya seakan-akan menganggap salah sendiri Yo Ko berdua yang sembunyi dalam peti batu itu sehingga bahkan membuatnya kaget. Mana dia mau tahu bahwa tatkala terkena sambitan jarumnya itu, ketika itu kadar racun dalam tubuh Siao-liong-li justru tengah mengalir keluar, tapi mendadak terguncang oleh serangan dari luar sehingga seluruh racun itu mengalir balik merasuk segenap Hiat-to di tubuh nona itu, dengan begitu sekali pun ada obat mujarab malaikat dewata juga sukar menolongnya lagi.
Sesaat Siao-liong-li merasa dadanya seperti kosong melompong, hampa dan linglung. Dia menoleh dan melihat sorot mata si Yo Ko penuh rasa duka, gemas dan penasaran, tubuhnya juga gemetar seakan-akan segenap siksa derita yang pernah dialaminya hendak dilampiaskannya sekarang juga. Siao-liong-li tidak tega melihat kepedihan hati anak muda itu dan kuatir ia bertindak nekad, cepat dia menghiburnya:
“Ko-ji, agaknya sudah suratan nasib kita harus begini, janganlah kau salahkan orang lain dan bersedih.”
Lebih dahulu dia mencabut jarum di paha anak muda itu, kemudian mencabut jarum yang menancap di bahu sendiri. Jarum berbisa itu berasal dari perguruannya dan berbeda dari pada racun pukulan berbisa ajaran Auyang Hong, maka dapat disembuhkan dengan obat perguruan yang selalu dibawanya. Segera dia mengeluarkan satu biji obat kepada Yo Ko, lalu dia sendiri pun minum satu biji. Hati Yo Ko tak terperikan pedih dan gemasnya.
“Berrrr...” dia menyemburkan obat penawar itu ke tanah.
Kwe Hu menjadi gusar, serunya: “Aduh, besar amat lagakmu! Memangnya aku sengaja membikin celaka kalian? Kan aku sudah minta maaf padamu, kenapa kau masih marah-marah saja?”
Dari air muka Yo Ko yang penuh rasa duka nestapa itu, juga rasa marahnya yang semakin memuncak, apa lagi dia sudah menjemput kembali pedangnya yang kehitam-hitaman itu, Bu Sam-thong tahu gelagat bisa runyam, maka cepat-cepat ia menghibur anak muda itu:
“Janganlah marah adik Yo, soalnya kami berlima terkurung oleh iblis she Li itu di kamar batu sana dan dengan susah payah akhirnya berhasil lolos, tapi karena kecerobohan nona Kwe sehingga dia...”
“Mengapa kau anggap aku yang ceroboh?” sela Kwe Hu mendadak, “Salah siapa jika dia sembunyi di situ dan diam saja, malahan kau sendiri pun mengira dia Li Bok-chiu.”
Bu Sam-thong menjadi serba salah. Ia pandang YoKo dan pandang pula Kwe Hu dengan bingung. Siao-liong-li lantas mengeluarkan lagi satu butir obatnya, katanya dengan suara lembut:
“Ko-ji, minumlah obat ini. Masa perkataanku juga takkan kau turut?”
Tanpa pikir Yo Ko lantas minum obat itu. Suara Siao-liong-li yang lembut dan penuh kasih sayang telah mengingatkannya bahwa selama ber-hari-hari ini mereka berdua senantiasa bergulat antara mati dan hidup, namun akhirnya semua harapannya buyar, sungguh sedihnya tak terkatakan. Ia tidak tahan lagi, ia mendekap di atas peti batu itu kemudian menangis keras-keras.
Bu Sam-thong dan lain-lain saling pandang dengan bingung. Biasanya hati Yo Ko sangat terbuka, menghadapi urusan apa pun tidak mudah menyerah, mengapa sekarang hanya terkena sebuah jarum saja lantas menangis sedih begitu? Dengan per-lahan Siao-liong-li membelai rambut Yo Ko, katanya:
“Ko-ji, boleh kau suruh mereka itu pergi saja, aku tidak suka kumpul bersama mereka.”
Selamanya Siao-liong-li tak pernah bicara keras, kalimat ‘aku tidak suka kumpul bersama mereka’ sudah cukup menunjukkan rasa jemu dan marahnya. Segera Yo Ko bangkit. Dimulai dari Kwe Hu, sorot matanya terus menyapu setiap orang itu. Biar pun marah dan gemas, tapi ia pun tahu bahwa serangan Kwe Hu tadi sebenarnya tidaklah sengaja, kecuali ceroboh, rasanya tiada kesalahan lain, apa lagi seumpama nona itu dibunuh juga tak dapat lagi menyelamatkan jiwa Siao-liong-li. Begitulah Yo Ko berdiri dengan sinar mata berapi-api dan menghunus pedang, mendadak pedangnya membacok sekuatnya.
“Trangg...!”
Tahu-tahu peti batu yang dibuatnya sembunyi tadi telah ditebasnya menjadi dua potong, bukan saja tenaga bacokannya itu maha kuat, bahkan mengandung penuh rasa duka dan marah. Yalu Ce dan lain-lainnya sama melenggong melihat betapa dahsyatnya pedang Yo Ko. Padahal peti batu itu amat tebal dan kuat, tapi sekali bacok saja pedang kehitam-hitaman itu mampu memotongnya, bahkan jauh lebih mudah dari pada memotong sebuah peti mati kayu. Melihat kelima orang itu saling pandang dengan bingung Yo Ko lantas membentak dengan bengis:
“Untuk apa kalian datang ke sini?!”
“Adik Yo, kami ikut Kwe-hujin ke sini untuk mencari kau,” jawab Sam-thong.
“Hmm, kalian hendak merebut kembali puterinya, betul tidak?!” bentak Yo Ko pula dengan marah. “Demi anak kecil ini, kalian tega menewaskan isteri kesayanganku.”
“lsteri kesayanganmu?” Bu Sam-thong menegas, “O ya, nona Liong ini! Dia terkena racun jarum, untunglah Kwe-hujin mempunyai obat penawarnya, beliau sedang menunggu di luar sana.”
“Huh, kalau pun ada Kwe-hujin lantas bisa apa? Memangnya dia mempunyai kepandaian menghidupkan orang yang jelas-jelas pasti akan mati?” jengek Yo Ko dengan marah. “Justru karena gangguan kedatangan kalian serta jarum berbisa tadi telah membuat kadar racun mengeram di segenap Hiat-to penting tubuhnya,”
Lantaran utang budi, maka Bu Sam-thong sangat hormat dan segan kepada Yo Ko, biar pun didamperat diterimanya, ia menggumam kaget:
“Kadar racun telah mengeram di tubuhnya? Wah lantas bagaimana baiknya?”
Ternyata Kwe Hu belum menyadari kesalahannya, sebaliknya dia menjadi marah karena ucapan Yo Ko tadi kurang menghormat pada ibunya, dengan marah lantas membentak:
“Memangnya salah apa ibuku padamu? Waktu kecil kau terluntang Iantung seperti orang gelandangan, bukankah ibu yang membawa kau ke rumah, diberi makan dan diberi baju, tapi kau justru lupa budi dan tak tahu diri, malah kau menculik adik perempuanku.”
Padahal sekarang dia pun sudah tahu jelas sebabnya Kwe Siang berada di tangan Yo Ko bukanlah karena anak muda itu berniat jahat. Soalnya dia telah telanjur mengomel, maka segala apa yang dapat mencemoohkan Yo Ko lantas diucapkannya.
Yo Ko lantas mendengus pula: “Hmm, memang aku sengaja lupa budi dan tidak tahu diri. Kau menuduh aku menculik adikmu, maka benar-benar akan kuculik anak ini dan takkan kukembalikan selamanya, ingin kulihat kau dapat mengapakan diriku?”
Karena ancaman itu, segera Kwe Hu memondong adiknya dengan kencang, tangan lain memegang obor dan diacungkan ke depan. Bu Sam-thong berseru:
“Adik Yo, jika isterimu keracunan, sebaiknya lekas berusaha menolong.“
“Tiada gunanya lagi, Bu-heng,” kata Yo Ko dengan pedih. Mendadak dia bersuit panjang, lengan baju kanannya terus mengebas.
Seketika itu Kwe Hu dan kedua saudara Bu merasakan ada angin keras menyambar, muka mereka panas pedas seperti tersayat, lima buah obor padam serentak dan keadaan menjadi gelap gulita.
“Celaka!” jerit Kwe Hu.
Kuatir nona itu dicelakai Yo Ko, cepat Yalu Ce menubruk maju. Namun lantas terdengar pekik tangis Kwe Siang, suaranya sudah berada di luar kamar. Keruan semua orang terkejut sekali. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu suara tangisan tadi sudah berada sejauh ratusan meter, betapa cepat gerakan Yo Ko itu sungguh laksana hantu saja.
“Adik telah dirampas lagi olehnya,” seru Kwe Hu cemas.
“Adik Yo...! Nona Liong...!” berulang kali Bu Sam-thong memanggil, namun tiada sesuatu jawaban.
“Lekas keluar, jangan sampai kita terkurung di sini!” seru Yalu Ce.
Dengan gusar Bu Sam-thong berkata: “Adik Yo adalah orang yang berbudi, mana bisa dia berbuat demikian?”
“Lebih baik lekas keluar, buat apa tinggal di sini?” ujar Kwe Hu. Baru habis kata-katanya, tiba-tiba...
“Krek-krek!” terdengar suara beberapa kali, suara itu timbul dari peti mati, cuma teraling oleh tutup peti sehingga suaranya kedengaran agak tersumbat dan seram.
“Ada setan!” teriak Kwe Hu sambil memegangi tangan Yalu Ce.
Dengan jelas Bu Sam-thong dan lain-lain juga mendengar suara itu keluar dari peti mati itu seakan ada mayat hidup akan merangkak keluar, keruan mereka sama merinding. Yalu Ce berbisik kepada Bu Sam-thong:
“Bu-sioksiok, kau jaga di situ dan aku di sini, jika mayat hidup itu keluar, serentak kita menghantamnya, mustahil dia takkan hancur luluh.”
Berbareng itu dia tarik Kwe Hu ke belakangnya agar tidak dicelakai setan yang mendadak muncul. Pada saat itulah...
“Blangg...!” terdengar suara keras, dari dalam peti mati tiba-tiba melayang keluar sesuatu.
Serentak Yalu Ce dan Bu Sam-thong memukulkan tangan-tangan mereka. Tetapi begitu tangan menyentuh benda itu, berbareng mereka berseru:
“Celaka!”
Kiranya benda yang kena hantam itu adalah sepotong batu, yaitu bantalan batu di dalam peti mati. Kontan bantal batu itu hancur membentur peti batu. Hampir pada saat yang sama sesuatu benda melayang lewat puIa, baru saja Yalu Ce dan Bu Sam-thong hendak memukuI, namun benda itu sudah melayang jauh ke sana, terdengar suara tertawa orang mengekek, lalu lenyap dan sunyi kembali.
“He, itu Li Bok-chiu!” seru Sam-thong kaget.
“Bukan, tapi mayat hidup!” ujar Kwe Hu. “Mana bisa Li Bok-chiu berada dalam peti mati ini.”
Yalu Ce tidak ikut menanggapi. Ia tidak percaya di dunia ini ada setan segala, tapi bilang Li Bok-chiu rasanya juga tidak masuk di akal. Jelas Li Bok-chiu datang bersama mereka, sedangkan Yo Ko dan Siao-liong-li sudah tinggal sekian lama di kuburan kuno ini, mana mungkin terjadi Li Bok-chiu bersembunyi dalam peti mati yang terletak di bawah tempat sembunyi Yo Ko tadi?
“Habis ke mana perginya Li Bok-chiu?” tanya Bu Sam-thong.
“Banyak keanehan di kuburan ini, sebaiknya lekas kita keluar saja,” ajak Yalu Ce.
“Bagaimana dengan adikku?” tanya Kwe Hu.
“lbumu banyak tipu dayanya, tentu dia mempunyai akal yang baik, marilah kita keluar ke sana dan minta petunjuknya,” ujar Sam-thong.
Begitulah mereka lantas mencari jalan keluar melalui sungai. Akan tetapi baru saja mereka muncul di permukaan air, pemandangan yang mereka lihat adalah merah membara semata, pepohonan di kanan kiri sungai ternyata sudah terbakar semua, hawa panas serasa membakar muka mereka.
“lbu...! Ibu...!” teriak Kwe Hu kuatir, tapi tidak mendapatkan jawaban.
Sekonyong-konyong sebatang pohon yang sudah terbakar roboh dan mengeluarkan suara gemuruh. Melihat keadaan sangat berbahaya, cepat-cepat Yalu Ce menarik Kwe Hu dan berenang ke hulu menjauhi tempat pohon roboh itu. Tatkala itu adalah musim kering, pepohonan dan rerumputan mudah terbakar, di manamana api mengamuk, seluruh gunung menjadi lautan api. Meski pun mereka terendam di dalam air sungai, muka mereka pun terasa amat panas tergarang oleh api yang berkobar dengan hebat.
“Pasti pasukan Mongol yang gagal menyerang Tiong-yang-kiong itu yang melampiaskan dendam dengan membakar Cong-lam-san,” kata Bu Sam-thong.
“lbu...! Ibu...! Di mana kau?” teriak Kwe Hu kuatir.
Tiba-tiba di kiri sungai ada bayangan seorang perempuan sedang ber-lompat kian kemari menghindari api. Kwe Hu menjadi girang sekali dan berseru:
“lbu!” Tanpa pikir ia melompat keluar dari sungai dan memburu ke sana.
“He, awas!” seru Sam-thong. Mendadak dua pohon besar roboh dan mengalingi pemandangan Bu Sam-thong.
Kwe Hu terus berlari ke sana, di bawah gumpalan asap dan menerjang api. Karena ingin menemukan ibunya, maka tanpa pikir ia memburu maju, sesudah dekat barulah ia merasa bayangan orang itu menoleh dan ternyata Li Bok-chiu adanya. Keruan kejut Kwe Hu tak terkatakan. Sebenarnya Li Bok-chiu benar-benar sudah putus asa setelah tertutup di dalam peti batu itu dan ditindih lagi dengan peti lainnya oleh Yo Ko. Tapi kemudian dalam marahnya tanpa sengaja Yo Ko telah membacok peti batu sehingga tutup peti bagian bawah juga ikut retak terbacok.
Li Bok-chiu benar-benar lolos dari renggutan maut, kesempatan baik itu tidak disia-siakan olehnya. Lebih dulu ia melemparkan keluar bantal batu, habis itu ia pun melompat keluar. Meski belum lama ia terkurung dalam peti mati, tapi rasanya orang yang akan mati sesak napas itu benar-benar keadaan yang paling menderita dan paling mengenaskan. Dalam waktu yang singkat pikirannya diliputi penuh rasa dendam, ia benci pada setiap orang yang hidup di dunia ini, pikirnya:
“Setelah mati aku pasti menjadi hantu yang jahat, akan kubinasakan Yo Ko, bunuh Siao-liong-li, Bu Sam-thong, Oey Yong dan lain-lain...”
Begitulah setiap orang akan dibunuhnya untuk membalas sakit hatinya. Meski pun secara kebetulan kemudian dia berhasil lolos dengan selamat, namun rasa dendam dan bencinya tidak menjadi berkurang. Kini mendadak Kwe Hu muncul sendiri di depannya, ia menjadi girang. Dengan tersenyum ia menegurnya:
“Ehh... kiranya kau, nona Kwe! Api berkobar dengan hebatnya, kau harus hati-hati.”
Kwe Hu tidak menyangka orang akan bersikap begini ramah padanya, segera ia bertanya:
“Apakah engkau melihat ibuku?”
“Tadi kulihat ibumu ada di sana,” jawab Li Bok-chiu sambil menunjuk ke samping.
Waktu Kwe Hu memandang ke arah yang ditunjuk, mendadak Li Bok-chiu menubruk, sekali tangannya bekerja, Hiat-to pada pinggang Kwe Hu tertotok. Sambil tertawa Li Bok-chiu berkata:
“Sabarlah, kau tunggu saja di sini, segera ibumu akan datang.”
Sementara itu api berkobar semakin hebat dan mendesak dari berbagai jurusan, jika lebih lama di situ mungkin jiwanya pun akan melayang. Oleh karena itu Li Bok-chiu segera melompat ke sana dan berlari cepat ke arah yang belum terjilat api. Kwe Hu tergeletak tak bisa berkutik menyaksikan kepergian Li Bok-chiu. Tiba-tiba segumpal asap menyambar, napasnya menjadi sesak, ia terbatuk-batuk hebat.
Bu Sam-thong dan Yalu Ce berempat masih berdiri di tengah sungai, muka dan kepala mereka penuh hangus. Antara Kwe Hu dan sungai kecil itu terhalang oleh api yang berkobar dengan hebatnya. Meski mereka mengetahui si nona berada dalam bahaya, tapi jiwa mereka pasti akan ikut melayang kalau mereka memburu maju untuk menoIongnya.
Dalam keadaan sesak napas dan rasa panas seperti dipanggang, Kwe Hu hampir-hampir tak sadarkan diri. Pada saat itulah dari jurusan timur ada suara menderu-deru. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesosok bayangan seperti angin lesus bergulung-gulung menyambar. Pada waktu Kwe Hu mengawasi, kiranya bayangan itu adalah Yo Ko. Pemuda itu sudah menanggalkan jubahnya yang basah kuyup untuk membungkus Hian-tiat-pokiam, dengan tenaga dalam yang kuat dia ayun-ayunkan pedang itu untuk menyingkirkan kobaran api.
Tadinya Kwe Hu girang sekali karena ada orang datang menolongnya, tetapi sesudah mengetahui orang itu adalah Yo Ko, seketika perasaannya seperti disiram air dingin meski di luar tubuh panas seperti dipanggang. Pikirnya: “Ajalku sudah dekat dia sengaja datang buat menghina diriku.”
Betapa pun dia adalah anak Kwe Ceng, dengan gemas ia memelototi Yo Ko tanpa gentar. Tak terduga, begitu sampai di samping Kwe Hu, segera Yo Ko membuka Hiat-to si nona yang tertotok, pedangnya terus menusuk, tapi bukan menembus tubuhnya melainkan menerobos lewat di pinggangnya, sekali bentak:
“Awas!” Tangan kirinya terus mengayun sekuatnya ke sana.
Dengan bobot pedang pusaka yang amat berat ditambah tenaga dalamnya yang maha kuat, seketika Kwe Hu melayang ke udara seperti terbang di awang-awang dan melintasi belasan pohon besar yang terbakar.
“Plung...!” akhirnya ia jatuh ke dalam sungai.
Lekas-lekas Yalu Ce memburu maju untuk membangunkan Kwe Hu, tetapi nona itu masih merasa pusing kepala dan mata berkunang-kunang. Ia serba runyam, entah senang entah sedih.
Kiranya sesudah Yo Ko dan Siao-liong-li keluar dari kuburan kuno dengan membawa Kwe Siang, terlihat pasukan Mongol sedang membakar hutan di lereng Cong-lam-san itu. Sudah ber-tahun lamanya mereka hidup di sekitar hutan yang rindang itu, mereka amat menyesal dan merasa sayang menyaksikan kebakaran hebat itu, tetapi pasukan Mongol terlalu kuat dan sukar dilawan, terpaksa mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Yo Ko tidak tahu Siao-liong-li sanggup bertahan berapa lama lagi setelah racun bersarang di segenap Hiat-to penting. Segera ia mencari satu goa yang jauh dari tetumbuhan untuk bersembunyi sementara.
Dari kejauhan mereka menyaksikan Kwe Hu dirobohkan oleh Li Bok-chiu dan tampaknya segera akan terbakar mati. Dengan gegetun Yo Ko berkata kepada Siao-liong-li:
“Liong-ji, nona Kwe telah membikin sengsara padaku dan mencelakai kau pula, dan akhirnya dia mendapatkan ganjaran yang setimpal.”
Dengan heran Siao-liong-li memandang Yo Ko dengan sorot matanya yang tajam: “Ko-ji, masa kau tidak pergi menolongnya?”
“Orang telah membikin susah hingga begini, kalau dia tidak kubunuh sudah sangat bagus baginya,” ujar Yo Ko dengan gemas.
“Ah, kita sendiri yang tidak beruntung, semua itu disebabkan suratan nasib, biarkan orang lain gembira dan bahagia, kan lebih baik begitu?” ujar Siao-liong-li.
Walau pun di mulutnya Yo Ko berkata begitu, namun dalam hatinya merasa tidak tega ketika menyaksikan api sudah menjalar sampai di dekat Kwe Hu. Akhirnya ia pun berkata dengan pedih:
“Baiklah, nasib kita yang buruk, nasib orang lain yang beruntung!”
Segera dia membungkus pedang pusaka dengan jubahnya yang basah, lantas berlari cepat untuk menolong Kwe Hu yang terjebak api dalam keadaan tak berdaya.
Setelah melemparkan Kwe Hu ke sungai, dia berlari kembali ke dekat Siao-liong-li dengan baju dan rambut hangus, celananya juga terbakar sebagian, malahan pada pahanya timbul gelembung air akibat terbakar.
Siao-liong-li membawa Kwe Siang mundur ke tempat yang lebih jauh dari hawa panas, kemudian ia membelai rambut Yo Ko dan membetulkan pakaiannya. Tidak kepalang rasa bangganya mendapatkan seorang suami ksatria dan gagah perkasa. Dia pun bersandar pada tubuh Yo Ko dengan perasaan gembira dan bahagia. Yo Ko merangkul pinggang Siao-liong-li dan memandanginya dengan terkesima, si nona yang tersorot cahaya api itu bertambah molek. Sesaat mereka sama sekali melupakan segala duka derita di dunia ini.
Mereka berdua berada di tempat lebih tinggi. Bu Sam-thong, Kwe Hu dan Yalu Ce berlima yang berada di sungai itu memandang dari balik api yang ber-kobar. Tampak pakaian kedua suami isteri itu berkibar tertiup angin, sikapnya agung berwibawa laksana malaikat dewata. Biasanya Kwe Hu suka memandang hina si Yo Ko, tapi sekarang ia menjadi malu sendiri.
Sejenak Yo Ko berdua berdiri. Sambil memandangi api yang mengamuk itu, Siao-liong-li berkata dengan gegetun:
“Sesudah terbakar habis bersih, kelak kalau pepohonan tumbuh lagi di sini, entah bagaimana wujudnya nanti?”
“Api yang dinyalakan pasukan Mongol ini mungkin merupakan pesta bagi pernikahan kita,” ujar Yo Ko tertawa. “Marilah kita mengaso di goa sebelah sana.”
Siao-liong-li mengiyakan. Keduanya lantas berjalan ke balik gunung sana. Tiba-tiba saja Bu Sam-thong ingat sesuatu, cepat dia berteriak:
“Adik Yo, Susiok dan Cu-sute terkurung di Coat-ceng-kok, engkau mau menolong mereka tidak?”
Yo Ko rada melengak, dia menggumam sendiri: “Peduli amat urusan orang lain.” Sambii berkata begitu dia terus melangkah ke sana.
Meski racun mengeram hebat dalam tubuhnya, akan tetapi sementara ini belum bekerja, sebaliknya ilmu silatnya sudah mulai pulih karena Hiat-to yang tadinya terganggu telah berhasil diterobos semuanya. Dengan memondong Kwe Siang dia dapat melangkah cepat ke depan. Sudah lebih satu jam mereka berjalan dan semakin jauh meninggalkan Tiong-yang-kiong, dipandang dari jauh api masih berkobar di pegunungan itu. Angin utara meniup semakin kencang sehingga muka Kwe Siang kedinginan.
“Mari kita mencari sesuatu makanan, anak ini kedinginan dan lapar, mungkin tidak tahan,” kata Siao-liong-li.
“Ya, aku ini sungguh tolol, entah untuk apa kurebut anak ini, ternyata hanya menambah beban saja,” ujar Yo Ko.
Siao-liong-li mencium muka Kwe Siang yang merah apel itu, katanya kemudian: “Adik cilik ini sangat menyenangkan, apakah kau tidak suka padanya?”
“Anak orang lain, tetap saja anak orang Iain. Paling baik kalau kita dapat melahirkan anak sendiri,” kata Yo Ko tertawa.
Wajah Siao-liong-li menjadi kemerahan, ucapan Yo Ko ini menyentuh sifat keibuan di lubuk hatinya, pikirnya: “Ya, alangkah baiknya kalau aku dapat melahirkan anak bagimu, akan tetapi aihh...”
Kuatir si nona berduka, Yo Ko tak berani mengadu pandang, ia menengadah memandangi langit. Tampak awan tebal menggumpal bergeser dari sebelah barat-laut, begitu tebal dan luas gumpalan awan itu se-akan jatuh menimpa kepala. Katanya:
“Jika melihat gelagatnya, mungkin segera akan turun salju, kita perlu mencari rumah penduduk untuk mondok.”
Namun arah yang mereka tempuh adalah lereng pegunungan yang sunyi, di mana-mana hanya batu padat dan semak belukar belaka, mana ada rumah penduduk.
“Wah, tampaknya salju yang turun nanti pasti sangat lebat. Agar jalan kita tidak tertutup, sebaiknya kita memburu waktu dan turun gunung sekarang juga,” Yo Ko berkata sambil mempercepat langkahnya.
“Paman Bu dan nona Kwe akan kepergok pasukan Mongol tidak? Para Tosu Coan-cin-kau itu entah dapat lolos dengan selamat tidak?” Demikian Siao-liong-li berucap dengan nada yang simpatik.
“Kau benar-benar mempunyai Liangsim (hati nurani). Orang-orang itu sudah berbuat jahat padamu, tapi kau tetap tidak melupakan keselamatan mereka, pantas dahulu kakek guru mengharuskan kau berlatih ilmu yang bebas dari segala cinta rasa, urusan apa pun tidak peduli dan tidak ambil pusing. Akan tetapi karena kau menaruh perhatian kepadaku, hasil latihanmu selama 20 tahun telah hanyut seluruhnya dan mulailah kau menaruh perhatian terhadap siapa pun.”
Siao-liong-li tersenyum, katanya: “Sesungguhnya, pahit getir penderitaanku bagimu juga mendatangkan rasa manis, yang aku kuatirkan adalah kau tidak mau terima perhatianku kepadamu.”
“Ya, merasakan pahit dan manis jauh lebih baik dari pada tidak merasakan apa-apa!” kata Yo Ko. “Aku sendiri hanya suka ugal-ugalan dan angin-anginan, tidak pernah hidup tenang dan aman tenteram.”
“Bukankah kau mengatakan kita akan pergi ke selatan, di sana kita akan bercocok tanam dan beternak?” tanya si nona dengan tersenyum.
“Benar, semoga terkabul harapan kita,” ujar Yo Ko menghela napas.
Sampai di sini tampaklah kapas tipis mulai beterbangan dari angkasa, bunga salju telah mulai turun. Dengan Iwekang mereka yang tinggi, hawa dingin itu tidak menjadi soal, segera mereka melangkah dengan cepat.
“Eh, Ko-ji, coba kau terka ke mana perginya Suci-ku sekarang?”
“Kembali kau memperhatikan dia lagi. Akhirnya Giok-li-sim-keng dibawa lari olehnya dan terkabul cita-citanya. Kuatirnya kalau isi kitab itu berhasil diyakinkan dan ilmu silatnya maju pesat, bisa jadi kejahatannya akan bertambah hebat.”
“Sebenarnya suci juga harus dikasihani,” ujar Siao-liong-li.
“Tapi dia sendiri tidak rela dan ingin membikin setiap orang di dunia ini berduka dan merana seperti dia,“ kata Yo Ko.
Tengah bicara, cuaca semakin gelap. Setelah membelok ke lereng sana, tiba-tiba terlihat di antara dua pohon Siong tua terdapat dua buah rumah gubuk, atapnya sudah tertimbun salju setebal jari manusia.
“Aha, di sinilah kita lewatkan malam,” seru Yo Ko kegirangan.
Setiba di depan gubuk, tampak daun pintunya setengah tertutup. Tanah salju di situ tiada tanda-tanda bekas kaki. Ia coba berseru:
“Permisi! Karena hujan salju, kami mohon mondok satu malam saja.”
Tapi sampai sekian lama ternyata tiada suara jawaban. Yo Ko lantas mendorong pintu. Di dalam tidak ada seorang pun. Di atas meja kursi penuh debu, agaknya sudah lama tiada penghuninya. Segera dia memanggil Siao-liong-li masuk dan setelah menutup pintu, mereka lantas membuat api unggun. Pada dinding papan rumah itu tergantung busur dan anak panah, di pojok rumah sana terdapat sebuah alat perangkap kelinci. Agaknya rumah ini adalah pondok darurat kaum pemburu. Dengan busur dan anak panah itu Yo Ko keluar berburu dan mendapatkan buruan, maka mulailah mereka berpesta rusa panggang.
Sementara itu salju turun semakin lebat, namun hawa di dalam rumah cukup hangat oleh api unggun. Siao-liong-li mengunyah sedikit daging rusa dan menyuapi Kwe Siang. Sambil menikmati daging rusa panggang itu Yo Ko memandangi mereka berdua dengan tersenyum simpuI, suasana terasa hangat dan mesra laksana pengantin baru yang tengah bertamasya.
Sekonyong-konyong dari arah timur tanah salju itu berkumandang suara tindakan orang yang cepat, jelas itulah ginkang orang yang mahir ilmu silat. Yo Ko berdiri dan melongok ke sana melalui jendela. Dilihatnya dua kakek datang ke arah gubuk ini, seorang gemuk dan yang lain kurus, pakaian mereka rombeng. Kakek kurus itu memanggul sebuah HoIo (buli-buli dari sejenis labu besar) besar warna merah. Hati Yo Ko tergetar, teringat olehnya bahwa benda itu adalah milik Ang Chit-kong.
Dahulu Ang Chit-kong, ketua Kay-pang yang berjuluk pengemis sakti berjari sembilan, bertempur mati-matian dengan Auyang Hong di puncak tertinggi Hoa-san, akhirnya kedua orang sama-sama kehabisan tenaga dan gugur bersama. Yo Ko yang mengubur kedua orang tua itu dan Holo besar merah itu pun ditanam di samping jasad Ang Chit-kong. Kemudian dalam pertemuan besar para ksatria, seorang pengemis tua pernah membawa Holo merah itu sebagai tanda perintah Ang Chit-kong, katanya ketua itu belum meninggal, bahkan menganjurkan kaum jembel bangkit membela tanah air dan mengusir musuh.
Tatkala itu Yo Ko sangat heran dari mana munculnya Holo merah itu? Akan tetapi dalam pertemuan besar itu banyak terjadi persoalan sehingga tidak sempat mengusut urusan itu, kemudian juga tidak bertemu lagi dengan orang Kay-pang sehingga urusan itu pun sudah terlupa, dan sekarang dandanan kedua kakek ini jelas juga anggota Kay-pang. Yo Ko jadi tertarik demi ingat kejadian dahulu, segera ia membisiki Siao-liong-li:
“Di luar ada orang, kau rebah saja di pembaringan dan pura-pura sedang sakit.”
Siao-liong-li menurut. Dia pondong Kwe Siang lantas berbaring di atas ranjang, ditariknya selimut butut yang terletak di ujung tempat tidur. Yo Ko lantas memolesi mukanya dengan hangus, topinya ditarik hingga hampir menutupi mukanya, pedang pusakanya disembunyikan.
Dalam pada itu kedua orang tadi sudah mengetok pintu. Cepat Yo Ko menggosok-gosok tangannya yang berlepotan minyak daging rusa sehingga lebih mirip seorang pemburu yang kotor, habis itu pintu dibukanya.
Dengan tertawa si kakek gemuk lantas berkata: “Hujan salju ini amat hebat hingga sukar meneruskan perjalanan, mohon kemurahan hati tuan agar sudi menerima pengemis untuk mondok satu malam.”
“Ahh, pemburu macamku tidak perlu dipanggil tuan segala, silakan Lotiang (bapak) masuk dan bermalam di sini,” jawab Yo Ko.
Berulang-ulang pengemis gemuk itu mengucapkan terima kasih. Segera Yo Ko mengenali juga si pengemis kurus itu, jelas dia orang yang pernah menyampaikan perintah Ang Chit-kong dulu dengan membawa Holo besar merah. Diam-diam ia menjadi kuatir kalau-kalau dirinya akan dikenali pengemis kurus itu, cepat ia merobek dua potong daging panggang dan diberikan kepada kedua orang itu, katanya:
“Mumpung masih hangat, silakan makan seadanya. Hujan salju begini kebetulan bagiku untuk menambah penghasilan. Besok pagi aku harus pergi memasang perangkap untuk menangkap rase. Maafkan, aku tidak bisa menemani kalian lebih lama.”
“Oh, jangan sungkan-sungkan, silakan saja,” jawab si pengemis gemuk tadi.
Segera Yo Ko sengaja berseru dengan suara keras: “Ibunya bocah, apakah batukmu sudah baikan?”
“Wah, pergantian musim makin menambah sesak dadaku saja,” jawab Siao-liong-li sambil batuk lebih keras, berbareng ia sengaja menggoyangi Kwe Siang sehingga anak itu terjaga bangun, maka di antara suara batuk segera terseling dengan suara tangisan anak bayi, sandiwara keluarga pemburu benar-benar dimainkan mereka dengan sangat hidup.
Yo Ko lantas masuk ke ruangan dalam serta menutup pintu, lalu dia berbaring di samping Siao-liong-li. Diam-diam dia sedang mengingat-ingat muka si pengemis gemuk tadi seperti sudah pernah dikenalnya, cuma di mana, dia tidak ingat.
Kedua pengemis gemuk kurus itu menyangka Yo Ko betul-betul seorang pemburu miskin, maka mereka tidak menaruh perhatian kepadanya. Sembari makan daging rusa panggang mereka lantas mulai mengobrol. Si pengemis kurus berkata:
“Melihat api yang berkobar di Cong-lam-san itu, agaknya sudah berhasil.”
“Di mana tiba pasukan Mongol, di situ lantas ditaklukkan. Kalau hanya sekawanan Tosu Coan-cin-kau saja, apa artinya lagi?” ujar si pengemis gemuk tertawa.
“Tetapi beberapa hari yang lalu Kim-lun Hoat-ong dan begundalnya sudah pulang dengan mengalami kekalahan yang mengenaskan,” kata si kurus.
“Itu pun baik, biar Sri Baginda tahu bahwa untuk menduduki tanah air bangsa Han ini diperlukan tenaga bangsa Han sendiri, jika melulu mengandalkan orang Mongol dan orang asing lainnya jelas tidak akan jadi.”
Sampai di sini mendadak Yo Ko teringat bahwa si gemuk ini juga pernah dilihatnya dalam pertemuan besar kaum ksatria dahulu, cuma waktu itu si gemuk ini memakai mantel kulit dan berdandan sebagai orang Mongol serta selalu berbisik-bisik di samping Kim-lun Hoat-ong, jelas inilah orangnya. Diam-diam dia merasa gemas, pikirnya:
“Apa yang mereka bicarakan urusan pengkhianatan belaka. Sekarang kebetulan kepergok olehku, maka tidak dapat kuampuni.”
Ternyata pengemis gemuk ini adalah satu di antara su-tay-tianglo (empat tertua) dalam Kay-pang, yaitu Peng-tiangIo. Perbuatannya memang khianat, sudah lama dia menyerah kepada pihak Mongol. Begitulah terdengar si pengemis kurus berkata lagi:
“Peng-tianglo, sekali ini apa bila Kay-pang aliran selatan jadi didirikan, entah pangkat apa yang akan kau peroleh dari raja Mongol?”
“Raja menjanjikan pangkat ‘panglima besar wilayah selatan’ padaku,” jawab Peng-tianglo. “Akan tetapi seperti kata peribahasa kita, mengemis tiga tahun lebih bebas dari pada jadi raja tiga hari. Kaum pengemis seperti kita masa ingin menjadi pembesar segala?”
Biar pun demikian katanya, namun dari balik ruangan sana Yo Ko dapat menangkap nada ucapannya yang penuh ambisi dan harapan.
“Wah, untuk itu terimalah lebih dulu ucapan selamat dariku,” kata si kurus.
“Selama beberapa tahun terakhir ini jasamu juga tidak kecil, maka kelak tentu kau akan mendapat bagian yang sesuai juga.”
“Soal kedudukan tidak berani kuharapkan, cuma engkau pernah menjanjikan Liap-hun-tay-hoat (ilmu pengikat sukma, serupa hipnotisme pada masa sekarang), bilakah engkau akan mengajarkannya kepadaku?”
“Nanti kalau Kay-pang selatan sudah berdiri dengan resmi, sesudah aku menjadi Pangcu dan begitu ada waktu luang segera akan kuajarkan padamu.”
“Sesudah engkau menjadi Pangcu serta diangkat menjadi panglima, kukira pekerjaanmu semakin banyak dan sibuk, mana ada waktu luang?”
“Ahh, masa kau tidak percaya padaku?” ujar Peng-tianglo tertawa.
Si kurus tidak bicara lagi, hanya hidungnya mendengus perlahan, tampaknya dia masih ragu. Yo Ko membatin: “Di seluruh dunia hanya ada satu perkumpulan Kay-pang tanpa membedakan utara dan selatan, buat apa dia hendak mendirikan Kay-pang aliran selatan segala? Ini pasti permainan gila orang Mongol!”
Terdengar Peng-tianglo berkata dengan tertawa: “Sesudah berkeliling hendaklah kau menyebarkan perintah si setan tua she Ang, katakan utara dan selatan terhalang dan sukar mengadakan kontak, maka utara dan selatan perlu dipisahkan menjadi dua.”
“Dan para anggota bagian selatan dengan sendirinya berada di bawah pimpinanmu,” kata si kurus dengan suara dingin.
“Juga tidak perlu begitu. Biarlah kita mengangkat dulu Kan-tianglo sebagai ketua, usianya lebih tua, anak muridnya juga banyak, orang lain tentu tidak akan curiga. Nanti kalau dia telah kupengaruhi dengan Liap-hun-tay-hoat, tentu dia akan menyerahkan kedudukannya padaku, tatkala itu segalanya akan menjadi beres.”
“Sebenarnya Ang-lopangcu sudah lama wafat, kalau kusiarkan lagi perintah palsu beliau, mungkin akan lebih menimbulkan curiga orang. Kalau melulu mengandalkan Holo palsu ini rasanya sukar mendustai orang terus menerus. Jika kepungan terhadap Siang-yang telah mereda dan Oey-pangcu datang mengusut persoalan ini, wah, biar pun jiwaku pakai serep juga akan melayang semuanya.”
“Ha-ha-ha!” Peng-tianglo tertawa, “Asalkan kau bertindak cepat maka urusan akan cepat beres. Mengenai perempuan hina she Oey itu, sekarang dia terkepung di kota, jiwanya pasti sukar tertolong.”
Sampai di sini barulah Yo Ko paham duduknya perkara. Ternyata Holo merah itu adalah tiruan. Lantaran tidak ada orang yang menyaksikan meninggalnya Ang Chit-kong, mereka berdua lantas membawa Holo palsu untuk mempengaruhi murid-murid Kay-pang, dan karena seruan yang mereka sebar itu mengenai tugas suci kaum pahlawan, demi negara dan bangsa, maka anggota Kay-pang tidak menaruh curiga. Kalau semua anggota sudah percaya penuh barulah Peng-tianglo itu akan berusaha mendirikan aliran cabang selatan untuk memecah belah Kay-pang, organisasi terbesar pada jaman itu.
Meski Yo Ko hanya berkumpul beberapa hari saja dengan Ang Chit-kong, tapi dia benar-benar kagum dan hormat terhadap sifat ksatria tokoh tua itu, pikirnya: “Ang-locianpwe sedemikian perkasa, nama baiknya sesudah meninggal tak boleh dirusak oleh kaum tikus celurut begini.”
Apa lagi dia pun teringat kepada keganasan pasukan Mongol yang dilihatnya di sepanjang jalan, maka diam-diam dia bertekat akan membunuh kedua jahanam ini.
Demikianah terdengar si pengemis kurus tadi berkata lagi: “Peng-tianglo, barang yang sudah kau janjikan, harus kau berikan, cuma kulihat engkau rada-rada lain di mulut lain di hati.”
“Habis kau mau apa?” tanya Peng-tianglo dengan tak senang.
“Aku berani apa?” jawab si kurus, “Hanya aku ini memang penakut, selanjutnya aku tidak berani lagi menyiarkan perintah palsu Ang-pangcu.”
Yo Ko anggap ucapan si kurus itu benar-benar goblok, barang kali ingin mampus makanya berani berkata begitu.
Terdengar Peng-tianglo bergelak tertawa, katanya: “Baiklah, urusan ini masih dapat kita rundingkan lagi, jangan kau sangsi.”
Setelah berhenti sejenak si kurus lantas berkata pula: “Sisa daging rusa ini tidak kenyang kita makan, biar aku pergi mencari buruan lain.” Habis itu dia lantas membawa busur dan anak panah lalu melangkah keluar.
Segera Yo Ko mengintip dari sela-sela dinding papan. Dilihatnya begitu si kurus itu pergi, Peng-tiango juga bangkit dan melolos belati serta mendengarkan gerak-gerik kawannya dari balik pintu. Sesudah mendengar suara tindakan si kurus sudah pergi jauh, dengan ber-jengkit ia menyelinap keluar. Dengan tertawa Yo Ko membisiki Siao-liong-li:
“Jelas dua jahanam ini akan saling bunuh. Malah kebetulan bagiku, aku dapat mengirit tenaga. Kulihat si gemuk itu jauh lebih lihay dan si kurus bukan tandingannya.”
“Paling baik kalau keduanya tidak kembali sehingga gubuk ini akan tenang dan tenteram,” ujar Siao-liong-li.
Yo Ko mengiyakan. Tiba-tiba ia mendesis pula dengan suara tertahan: “Dengarkan suara tindakan orang.”
Terdengar ada orang berjalan dengan ber-jinjit di lereng sebelah barat terus memutar ke belakang gubuk.
“Agaknya si kurus tadi menyusup kembali hendak menyergap si gemuk,” bisik Yo Ko pula dengan tersenyum. Segera dia menolak daun jendela kemudian melompat keluar dengan enteng tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Benar juga dilihatnya si pengemis kurus tengah mengintip dari sela-sela dinding. Rupanya ia menjadi ragu-ragu karena tidak menemukan bayangan si gemuk. Pada saat itulah Yo-Ko telah berada di belakangnya dan mendadak mengikik tawa. Sudah tentu si kurus terkejut, cepat dia berpaling dengan air muka ketakutan karena menyangka Peng-tianglo yang berada di belakangnya.
Tetapi Yo Ko lantas berkata dengan tertawa: “Jangan takut, jangan takut!” Berbareng itu cepat sekali dia menotok tiga Hiat-to penting di bagian dada, iga dan kaki orang, lalu dia menjinjing tubuh si kurus ke depan gubuk.
Ia memandang sekelilingnya yang sunyi dan salju belaka itu. Tiba-tiba timbul sifat kanak-kanaknya, serunya:
“Liong-ji, lekas kemari, bantulah aku membikin orang-orangan salju,” Habis itu dia terus mengeduk salju yang memenuhi bumi itu lantas diurukkan pada tubuh si pengemis kurus.
Siao-liong-li segera keluar dari gubuk lantas membantunya. Dengan tertawa cekakak dan cekikik Yo Ko dan Siao-liong-li benar-benar seperti anak kecil, hanya sebentar saja seluruh badan pengemis kurus itu penuh diuruki salju. Selain sepasang biji mata saja yang masih dapat bergerak, kini pengemis kurus itu sudah berubah menjadi orang-orangan salju yang gemuk laksana ‘gajah bengkak’, malahan pada punggungnya masih menggendong Holo besar yang juga berlapiskan bunga salju.
“Ha-ha-ha, kakek kurus kering ini hanya sekejap saja sudah berubah menjadi gemuk dan putih,” kata Yo Ko sambil tertawa.
“Dan kakek yang aslinya memang gemuk dan putih itu nanti hendak kau permak menjadi apa?” ujar Siao-liong-li dengan riang.
Belum lagi Yo Ko menjawab, terdengarlah Iangkah orang dari jauh. Cepat anak muda itu mendesis:
“Ssssst, si gemuk sudah kembali, lekas kita sembunyi dulu.”
Cepat mereka masuk lagi ke dalam rumah kemudian merapatkan pintu kamar. Siao-liong-li sengaja menggoyangkan Kwe Siang agar anak itu menangis, tapi niatnya tiada berhenti menimangnya agar lekas tidur. Selama hidupnya tidak pernah Siao-liong-li berdusta dan berbuat munafik, perbuatan yang aneh dan licik ini malah belum terbayang olehnya. Soalnya ia melihat Yo Ko suka berbuat begitu, maka ia pun ikut ramai-ramai saja.
Dalam pada itu Peng-tianglo telah kembali. Sepanjang jalan ia terus mengikuti jejak kaki, dilihatnya jejak kaki si kurus memutar balik dan sembunyi di kiri belakang rumah, maka ia pun mengikuti jejak itu ke belakang, hingga akhirnya sampai pula di depan rumah. Dari sela-sela dinding Yo Ko dan Siao-liong-li bisa melihat si gemuk sedang mengintip ke dalam rumah sambil menggenggam belati dan siap siaga. Biar pun pengemis kurus yang diuruki salju itu merasa kedinginan setengah mati, tapi dia masih sadar. Dilihatnya Peng-tianglo justru berada di sampingnya, tapi sedikit pun pengemis gemuk itu tidak menyadari hal ini, asal si kurus ayunkan tangannya ke bawah pasti dapat membinasakan si gemuk, celakanya tiga tempat Hiat-to si kurus tertotok sehingga tak bisa berkutik.
Tampaknya Peng-tianglo sangat heran ketika mengetahui si kurus tidak berada di dalam rumah. Dia lantas mendorong pintu dan sedang memikirkan ke mana perginya pengemis kurus itu. Pada saat itulah mendadak terdengar suara orang berjalan mendatangi. Muka Peng-tianglo tampak berkerut lalu dia sembunyi di balik pintu untuk menanti pulangnya si kurus.
Siao-liong-li dan Yo Ko juga sangat heran. Jelas pengemis kurus itu sudah menjadi orang salju, kenapa ada orang datang lagi? Baru saja mereka berpikir, segera terdengar bahwa yang datang itu seluruhnya dua orang, jelas pendatang baru dan bukan si kurus.
Karena Peng-tianglo itu bertujuan jahat dan bertekad hendak membinasakan si kurus, lagi pula daya pendengarannya memang kalah tajam dari pada Yo Ko dan Siao-liong-li, maka dia tidak mendengarnya dan baru tahu dugaannya meleset sesudah kedua pendatang itu berada di depan rumah.
“O-mi-to-hud: (Adhi Budaya)!” terdengar seorang di antaranya menyebut Budha, “Karena kehujanan salju, kami mohon Sicu suka memberi ijin mondok semalam di sini.”
Peng-tianglo menyelinap keluar. Dilihatnya di tanah salju sana berdiri dua Hwesio tua, seorang alis jenggotnya sudah putih, wajahnya welas asih, seorang lagi jenggot hitam kaku dan memakai jubah hitam. Walau pun di musim dingin tetapi pakaian kedua pendeta itu sangat tipis. Selagi Peng-tianglo masih melengak dan belum menjawab, tahu-tahu Yo Ko sudah keluar dan berseru:
“Silakan masuk, Toa-hwesio! Orang dalam perjalanan memang membawa rumah sendiri?”
Pada saat itu juga mendadak Peng-tianglo melihat Holo besar di punggung si pengemis kurus yang sudah berubah orang salju gemuk itu. Dia terkejut dan heran melihat keadaan kawannya yang aneh itu. Waktu dia menoleh pada Yo Ko, dilihatnya sikap anak muda ini biasa saja seperti tidak mengetahui sesuatu.
Dalam pada itu Yo Ko telah menyilakan kedua Hwesio tua itu ke dalam rumah, dari gerak-gerik kedua Hwesio itu ia yakin mereka pasti bukan sembarangan pendeta agama Budha, terlebih Hwesio jubah hitam yang berwajah bengis dan bersorot mata aneh itu. Ia menjadi sangsi jangan-jangan mereka adalah segolongan Peng-tianglo.
“Silakan tinggal saja di sini, Toa-hwesio,” kata Yo Ko kemudian, “cuma sayangnya orang gunung miskin seperti kami ini tidak punya alat perlengkapan tidur. Eh, apa kalian suka makan daging panggang?”
Padahal dia tahu umumnya kaum Budha tidak makan barang berjiwa. Maka si Hwesio alis putih sudah cepat menjawab:
“Ampun, ampun! Kami sendiri membawa sekedar rangsum kering, Sicu tidak perlu repot″
“Baiklah, kalau begitu,” kata Yo Ko, lalu dia pun masuk ke kamarnya dan membisiki Siao-liong-li: “Kedua Hwesio tua ini tampaknya adalah tokoh yang amat tangguh, sebentar kita harus dua lawan tiga.”
Siao-liong-li mengernyitkan keningnya, katanya kemudian dengan suara tertahan. “Orang jahat di dunia ini sungguh banyak sekali. Orang ingin hidup tenang di pegunungan sunyi tetap terganggu.”
Yo Ko coba mengintip gerak-gerik kedua Hwesio tua, dilihatnya si Hwesio alis putih telah mengeluarkan empat potong kue tawar, dua potong diberikan pada si Hwesio baju hitam, dia sendiri makan dua biji.
Dari wajah serta sikap Hwesio alis putih itu Yo Ko percaya pendeta itu pasti tinggi ibadat agamanya, cuma di dunia ini juga tidak kurang manusia jahat yang berwajah alim. Contoh di depan mata juga ada, yaitu Peng-tianglo. Bukankah sikapnya juga ramah tamah dan wajahnya selalu berseri, tetapi hatinya ternyata busuk? Yang aneh adalah Hwesio jubah hitam itu, mengapa sinar matanya begitu bengis buas.
Tengah berpikir, sekonyong-konyong terdengar suara gemerincing, si Hwesio jubah hitam mendadak mengeluarkan dua potong benda kehitam-hitaman terbuat dari besi.
Tadinya Peng-tianglo duduk di bangku, tiba-tiba dia melompat bangun sambil siap melolos senjata. Tapi Hwesio jubah hitam tidak menggubrisnya.
“Krek...! Krek...!” benda hitam itu telah digembokkan pada kakinya sendiri, kiranya benda itu adalah sepasang belenggu besi. Sepasang belenggu lainnya lantas dipasangkan pula pada kedua tangannya.
Tentu saja Yo Ko dan Peng-tianglo amat heran dan tidak dapat menerka apa maksud dan artinya perbuatan Hwesio itu membelenggu kaki dan tangan sendiri Tapi dengan demikian rasa was-was mereka berkurang beberapa bagian.
Paderi alis putih tampaknya menaruh perhatian kepada kawannya, dengan suara perlahan ia bertanya:
“Apakah hari ini waktunya?”
“Di sepanjang jalan Tecu sudah merasakan gelagat tidak enak, bisa jadi hari ini,” jawab si Hwesio jubah hitam. Mendadak dia terus berlutut, kedua tangan terangkap di depan dada serta berdoa: “Mohon pertolongan Budha yang maha welas asih.”
Habis berkata begitu, Hwesio baju hitam itu lantas menunduk dan meringkukkan tubuhnya tanpa bergerak. Selang sejenak kemudian bagian atas tubuhnya rada gemetar, napasnya pun mulai terengah-engah, makin lama makin ngos-ngosan, akhirnya suara napasnya menjadi seperti raungan kerbau yang sekarat, hingga rumah papan itu bergetar oleh suara raungannya dan bunga salju di atas atap rontok.
Tidak hanya Peng-tianglo saja yang terkejut dan kebat-kebit hatinya, tapi Yo Ko dan Siao-liong-li juga saling pandang dengan hati bingung, mereka tidak paham apa yang dilakukan Hwesio baju hitam itu. Dari suara raungannya tampak dia sedang menderita siksaan yang maha hebat.
Tadinya Yo Ko berprasangka buruk terhadap Hwesio baju hitam itu, sekarang mau tidak mau timbul rasa kasihan, pikirnya:
“Entah penyakit aneh apa yang dideritanya, kenapa Hwesio alis putih itu tidak ambil pusing, bahkan anggap tidak tahu dan tidak melihat suara napasnya yang keras itu?”
Selang sebentar kemudian, suara napas Hwesio baju hitam semakin memburu. Dengan suara perlahan Hwesio alis putih berkata:
“Yang tidak seharusnya diperbuat tapi telah diperbuatnya,
yang seharusnya diperbuat malah tidak diperbuatnya,
terbakar oleh mengamuknya api penyesalan,
terjerumuslah ke jalan sesat di jelmaan mendatang...”
Kalimat sabda Budha itu diucapkan Hwesio itu dengan suara perlahan, tapi ternyata dapat terdengar dengan jelas di tengah suara napas Hwesio baju hitam yang gemuruh. Yo Ko terkejut akan Iwekang si Hwesio tua yang hebat itu, rasanya pada jaman ini jarang ada bandingannya. Terdengar Hwesio alis putih meneruskan membaca weda Budha:
“Kalau orang berdosa mau menyadari dosanya,
sesudah sadar tidak lagi meresahkannya,
dengan begitu hati pun tenteram,
tidak perlu lagi memikirkannya pula,
jangan karena rasa penyesalannya itu,
tidak melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukannya,
kejahatan yang sudah diperbuatnya,
tidak mungkin ditariknya kembali.”
Lambat laun napas Hwesio baju hitam menjadi perlahan hingga akhirnya berhenti. Sambil merenung ia pun menggumam:
“Kalau orang berdosa mau menyadari dosanya, sesudah sadar tidak lagi meresahkannya. Suhu, Tecu menyadari macam perbuatan di masa lalu itu berdosa, Tecu sangat menyesal dan hampir tidak dapat mengatasi perasaan berdosa sendiri ini. Yang Tecu pikirkan adalah, kejahatan yang sudah diperbuatnya, tidak dapat ditarik kembali. Karena itu hati Tecu jadi tidak tenang dan gembira, bagaimana sebaiknya ini?”
“Berbuat salah kemudian mau menyesalinya, biasanya sangat sukar terjadi,” ujar Hwesio alis putih, “Manusia bukan Nabi, mana bisa tanpa berbuat salah. Berbuat salah dan mau memperbaikinya, itulah yang maha muIia.”
Sampai di sini tiba-tiba saja Yo Ko teringat kepada namanya sendiri, yakni ‘Ko’ (salah). Menurut ibunya dia juga mempunyai nama alias ‘Kay-ci’ (perbaikilah), jadi persis seperti apa yang diucapkan Hwesio alis pulih tadi. Ia menjadi ragu apakah pendeta tua ini seorang maha sakti yang sengaja datang buat membuka pikirannya? Mau tak mau timbul rasa kagum dan hormatnya kepada pendeta yang ucapannya penuh filsafat hidup ini. Terdengar Hwesio baju hitam berkata pula:
“Akar kejahatan Tecu sulit dilenyapkan. Pada sepuluh tahun yang lalu Tecu sudah lama mengikuti ajaran Suhu, namun tetap saja Tecu menewaskan jiwa tiga orang. Sekarang darah Tecu terasa bergolak hingga sukar diatasi, mungkin sekali Tecu akan berbuat dosa lagi, Untuk ini mohon welas asih Suhu, sukalah potong saja kedua tangan Tecu ini.”
“Syahdu! Syahdu! Biar pun aku dapat memotong kedua tanganmu, tetapi pikiran jahat di dalam hatimu harus kau babat sendiri. Apa bila pikiran jahat belum lenyap, meski kaki dan tanganmu putus juga percuma saja, Coba kau dengarkan, akan kuceritakan sebuah kisah ‘Induk menjangan dan si pemburu’, bagimu.”
“Tecu siap mendengarkan,” jawab si baju hitam sambil duduk bersila.
Di balik kamar sana Yo Ko dan Siao-liong-li juga lantas duduk tenang ikut mendengarkan cerita pendeta itu.
“Ada seekor induk menjangan dengan dua ekor anak menjangan...” demikian Hwesio alis putih mulai berkisah.
“Malang bagi induk menjangan itu karena dia tertangkap oleh seorang pemburu. Pemburu akan membunuh induk menjangan, dan dengan sangat induk menjangan minta dikasihani, katanya: ‘Aku memiliki dua anak, masih kecil dan lemah, belum mahir mencari makan dan minum. Mohon diberi kelonggaran sementara waktu supaya dapat mengajarkan cara mencari makan bagi anakku, habis itu pasti aku datang kembali buat menyerahkan diri’. Pemburu tidak mengijinkan, induk menjangan memohon pula dengan memelas.
Akhirnya hati pemburu terharu dan meluluskannya. Induk menjangan menemui kedua anaknya, lalu saling bermesraan dengan girang dan sedih pula induk menjangan menceritakan nasibnya yang malang dan berharap kedua anaknya menjaga diri. Tentu saja anak menjangan yang masih kecil itu tidak paham maksud sang induk. Lalu induk menjangan membawa kedua anaknya ke tempat yang banyak rumput dan sumber air. Setelah memberi petunjuk cara-cara mencari hidup, dengan berlinang air mata kemudian induk menjangan lantas mohon diri.”
Mendengar sampai di sini, Siao-liong-li jadi teringat kepada jiwa sendiri yang sudah dekat ajalnya, tanpa terasa ia pun mencucurkan air mata. Biar pun tahu cerita Hwesio itu cuma dongeng belaka, tapi cinta kasih ibu dan anak dalam cerita itu sangat mengharukan hati Yo Ko.
Dalam pada itu Hwesio alis putih melanjutkan ceritanya: “Sehabis memberi pesan, induk menjangan segera melangkah pergi. Kedua anak menjangan menangis sedih dan terus mengikutinya dari belakang. Walau pun masih kecil dan lemah, larinya lambat dan jatuh bangun, namun tetap tidak mau berpisah dengan sang induk. Induk menjangan lantas berhenti dan menoleh, katanya:
‘Oh, anakku, janganlah kalian ikut. Kalau dilihat pemburu itu, tentu jiwa kita akan tamat semuanya. Ibu rela mati, cuma kalian yang masih kecil dan lemah tidak boleh ikut mati. Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang abadi, setelah berkumpul akhirnya juga akan berpisah. Nasibku yang jelek sehingga membuat kalian kehilangan ibu semenjak kecil’. Habis berkata ia terus berlari ke tempat si pemburu.
Kedua anak menjangan itu sangat menginginkan kasih sang induk, tanpa gentar kepada panah si pemburu mereka pun mencari sampai di sana. Melihat induk menjangan benar menepati janji dan rela untuk mati, kejujuran dan kesetiaannya sukar dibandingi manusia, dilihatnya pula antara induk dengan anak menjangan itu merasa berduka dan berat untuk berpisah, si pemburu merasa tidak tega dan akhirnya membebaskan induk menjangan.”
Habis mendengar cerita itu, air mata bercucuran memenuhi muka si Hwesio jubah hitam, katanya:
“Menjangan saja mengutamakan janji, induknya baik hati dan anaknya berbakti, betapa pun Tecu tak dapat meniru mereka.”
“Asal timbul perasaan kasih, seketika napsu membunuh akan lenyap,” kata Hwesio alis putih sembari memandang sekejap ke arah Peng-tianglo.
Sambil bersujud Hwesio baju hitam mengiyakan. Lalu Hwesio alis putih berkata pula: “Jika ingin menebus kesalahan, jalan satu-satunya adalah berbuat amal. Dari pada menyesali perbuatan masa lalu, lebih baik kalau selanjutnya lebih banyak berbuat sesuatu yang harus dikerjakan.”
Habis ini dia menghela napas perlahan lantas menambahkan: “Sekali pun aku sendiri selama ini juga banyak berbuat kesalahan.” Lalu dia memejamkankan mata seperti orang semedi.
Sesudah mendengarkan cerita sang guru, Hwesio baju hitam seperti mulai sadar, namun gejolak perasaannya selalu di atasi. Sewaktu dia mengangkat kepalanya, dilihat Peng-tianglo sedang memandangnya dengan tersenyum simpul, ada pun kedua matanya menyorotkan cahaya yang sangat tajam dan kuat. Hwesio baju hitam terkesiap. Dia merasa sudah pernah bertemu dengan orang ini, terasa pula sorot mata orang menimbulkan perasaan sangat tidak enak, cepat dia berpaling ke arah lain, tapi hanya sejenak kembali dia menoleh ke sana.
“Wah, lebat sekali salju yang turun ini,” kata Peng-tianglo dengan tertawa.
“Ya, ya, lebat sekali,” jawab Hwesio baju hitam.
“Mari kita pergi melihat pemandangan hujan salju ini,” Peng-tianglo berkata sambil membuka pintu.
“Baiklah, kita pergi melihat pemandangan hujan salju,” jawab si Hwesio sambil bangkit dan berdiri di luar pintu di samping Peng-tianglo.
Dari balik dinding Yo Ko juga merasakan sorot mata Peng-tianglo yang aneh itu, samar-samar dia merasakan sesuatu alamat yang tidak enak.
“Ucapan gurumu sangat tepat, jangan sekali-kali membunuh orang, tapi seluruh tubuhmu penuh tenaga yang meluap, apa bila tidak bergebrak dengan orang rasanya tidak tahan, begitu bukan?” demikian Peng-tianglo berkata dengan tertawa.
Secara samar-samar si Hwesio baju hitam mengiyakan. Peng-tianglo lantas berkata pula: “Boleh coba kau hantam orang salju ini, pukul saja, kan tidak berdosa.”
Hwesio baju hitam memandang orang salju itu lantas mengangkat tangannya, hasratnya ingin sekali melancarkan pukulan. Sementara itu tubuh si pengemis kurus sudah teruruk lagi oleh bunga-bunga salju yang bertebaran sejak tadi, maka kedua matanya tertutup oleh salju.
“HayoIah, pukul saja dengan kedua tanganmu, hantam orang salju ini! Pukul, hayo pukul!” demikian Peng-tiangIo menganjurkan, suaranya halus tapi penuh daya memikat.
“Baiklah, akan kupukul dia,” kata si Hwesio baju hitam sambil mengumpulkan tenaga pada tangannya.
Si Hwesio alis putih mengangkat kepala dan menghela napas panjang, dengan perlahan ia menggumam:
“Sekali napsu membunuh timbul, seketika terjadi mala petaka.”
“Blangg...!”
Segera terdengar suara yang keras, kedua tangan Hek-ih-ceng (Hwesio baju hitam) telah menghantam sekaligus. Salju berhamburan diiringi jeritan mengerikan pengemis kurus. Rupanya Hiat-to yang tertutup tergetar lantas terbuka akibat terkena pukulan Hek-ih-ceng. Jeritan itu sangat ngeri dan menyeramkan, juga berkumandang hingga jauh menggema angkasa pegunungan itu. Siao-liong-li juga bersuara kaget dan memegangi tangan Yo Ko dengan erat.
“Ha, di dalam salju ada orang!” teriak Hek-ih-ceng kaget.
Cepat Pek-bi-ceng (Hwesio alis putih) berlari keluar lalu memeriksa keadaan sang korban. Ternyata pengemis kurus itu telah binasa terkena pukulan tangan besi yang maha sakti si Hek-ih-ceng. Seketika Hwesio baju hitam ini melongo dengan bingung, sedangkan Peng-tianglo berlagak kaget dan berseru:
“He, benar-benar aneh, untuk apa orang ini sembunyi di gundukan salju? Ehh, mengapa dia membawa senjata?”
Karena dengan Liap-hun-tay-hoat-nya dia telah berhasil mempengaruhi Hek-ih-ceng untuk membinasakan si pengemis kurus, sudah tentu dia sangat senang, tetapi dia pun merasa heran pula kenapa si kurus sanggup bertahan tanpa bergerak selama sembunyi di gundukan salju dan tidak mendengar suaraku menyuruh orang menghantamnya?
“Suhu... Suhu!” dengan melongo bingung ber-ulang Hek-ih-ceng memanggil sang guru.
“Karma! karma!” ucap Pek-bi-ceng, “Orang ini tidak dibunuh olehmu, tetapi juga kau yang membunuhnya.”
Hek-ih-ceng mendekam di atas tanah salju dan bertanya dengan suara gemetar: “Tecu tidak paham artinya.”
“Kau mengira hanya orang salju belaka dan hatimu tiada bermaksud mencelakai orang,” kata Pek-bi-ceng. “Tetapi tenaga pukulanmu maha dahsyat waktu melancarkan serangan, masa sama sekali tiada pikiranmu hendak membunuh orang?”
“Sesungguhnya Tecu memang berkehendak membunuh orang,” jawab Hek-ih-ceng.
Pek-bi-ceng lantas memandangi Peng-tianglo, sorot matanya halus penuh welas asih. Namun hanya sekali pandang saja, Liap-hun-tay-hoat yang menggetar sukma orang, ilmu andalan Peng-tianglo lantas sirna tanpa bekas.
Mendadak Hek-ih ceng berteriak: “He... kau... kau adalah Tianglo di Kay-pang dahulu itu, ya, ya, betul ingatlah aku sekarang!”
Seketika wajah asli Peng-tianglo timbul dari balik sikapnya yang selalu ramah tamah dan tersenyum simpul itu, air mukanya lantas penuh rasa pertentangan batin, katanya:
“Ahh, engkau adalah Kiu-pangcu dari Tiat-ciang-pang, mengapa engkau menjadi Hwesio?”
Kiranya Hwesio baju hitam ini memang betul adalah Kiu Jian-yim, ketua Tiat-ciang-pang. Setelah terjadi pertandingan di puncak Hoa-san dulu, dia telah menyadari segala dosanya di masa lampau, lalu mengangkat It-teng Taysu sebagai guru dan ia pun menjadi Hwesio. Dan Pek-bi-ceng atau Hwesio alis putih ini bukan lain adalah It-teng Taysu yang namanya sejajar dengan Ong Tiang-yang, Oey Yok-su, Auyang Hong dan Ang Chit-kong.
Sesudah menerima agama Budha, Kiu Jian-yim mendapatkan nama agama sebagai Cu-in. Dengan giat dia mempelajari agamanya dan telah memperoleh kemajuan pesat. Cuma dulu dia sudah terlampau banyak berdosa, akar kejahatannya sukar dibasmi seluruhnya, apa bila menemukan daya pikat yang kuat dari luar terkadang dia masih suka mengumbar kemurkaannya dan mencelakai orang. Oleh karena itulah dia telah membuat dua pasang belenggu besi. Bila pikirannya sedang judek dia lantas membelenggu kaki tangannya untuk mengekang tindak jahatnya.
Pada suatu hari It-teng Taysu menerima berita minta tolong dari muridnya, yaitu Cu Cu-liu, maka dari negeri Tayli It-teng Taysu lantas membawa Cu-in berangkat ke Coat-ceng-kok. Tak disangka-sangka di pegunungan sunyi ini mereka berjumpa dengan Peng-tianglo dan tanpa sengaja Cu-in telah membunuh satu orang pula. Sejak menjadi Hwesio, selama belasan tahun baru pertama kali ini dia membunuh orang meski ada juga pelanggaran lain yang diperbuatnya. Seketika hatinya menjadi bimbang, ia merasa latihannya selama belasan tahun sudah hanyut ke laut seluruhnya. Dengan per-lahan ia menoleh dan memandang Peng-tianglo dengan mata berapi.
It-teng Taysu tahu saatnya sangat gawat. Kalau menghalangi dia dengan kekerasan tentu pikiran jahatnya akan semakin menumpuk dan pada suatu hari pasti akan meluap laksana air bah yang tidak terbendung. Hanya dengan jalan menimbulkan rasa welas-asih kepada sesamanya barulah pikiran jahatnya dapat dilenyapkan dan menuju ke jalan yang bersih. Begitulah sambil berdiri di samping Cu-in, perlahan It-teng Taysu menyebut:
“O-mi-to-hud!”
Sampai hampir ratusan kali ia menyebut nama Budha barulah sorot mata Cu-in perlahan-lahan mulai meninggalkan tubuh Peng-tianglo, kemudian duduk di tanah dan napasnya terengah-engah.
Sudah sejak dulu Peng-tianglo tahu ilmu silat Kiu Jian-yim maha hebat, tapi jika ia dapat dipengaruhi dengan Liap-hun-tay-hoat, maka dapatlah dia peralat sesukanya. Siapa tahu ketika sinar mata It-teng Taysu menyorot, perasaannya seperti tertekan oleh sesuatu yang maha berat sehingga sukar lagi mengeluarkan ilmunya.
Maklumlah, Liap-hun-tay-hoat ini kira-kira serupa dengan sebangsa ilmu hipnotis atau telepati pada jaman kini, dengan kekuatan batin untuk mengendalikan pihak lawan, tetapi apa bila kekuatan batin lawan lebih kuat dari pada dirinya maka ilmu itu tidak akan berhasil sama sekali. Dalam hal ini pikiran It-teng ternyata lebih kuat dari pada Peng-tianglo sehingga sukarlah dipengaruhinya.
Kini Peng-tianglo telah menginsyafi keadaannya yang berbahaya. ia pikir Hwesio tua yang senantiasa menganjurkan orang berbuat bajik ini semoga dapat mempengaruhi Kiu Jian-yim. Kalau dirinya melarikan diri sekarang, betapa pun juga pasti sukar lolos dari kejaran Kiu Jian-yim yang Ginkang-nya terkenal maha hebat. Terpaksa dia meringkuk di pojok rumah dengan hati kebat-kebit, pandangannya sekejap saja tidak berani meninggalkan gerak-gerik Kiu Jian-yim.
Tidak lama kemudian suara napas Cu-in semakin memburu, mendadak dia berseru: “Suhu, pembawaanku memang orang jahat, dan agaknya Thian tidak berkenan menerima penyesalanku, meski aku tidak sengaja membunuh orang, akhirnya mencelakai juga jiwa orang. Aku tidak mau menjadi Hwesio lagi.”
“Ampun! Ampun...! Akan kuceritakan pula sebuah kisah padamu,” kata It-teng.
Mendadak Cu-in berteriak dengan suara keras: “Kisah apa lagi? Sudah belasan tahun kau menipu diriku, aku tak percaya lagi padamu.”
“Krak! Krek!” tahu-tahu belenggu pada kaki dan tangannya retak dan terlepas.
Dengan suara halus It-teng berkata pula: “Jika perbuatan yang sudah terlanjur terjadi tidak perlu dirisaukan, jangan kau sesalkan lagi.”
Tetapi Cu-in lantas bangkit, ia menggeleng-geleng kepada It-teng, habis itu ia memutar tubuh dan menghantamkan kedua tangannya.
“Blam...!”
Tahu-tahu tubuh Peng-tianglo mencelat dan menumbuk dinding gubuk terus melayang keluar. Di bawah pukulan telapak tangan besi yang maha dahsyat itu jelas otot tulangnya pasti hancur, biar pun jiwanya rangkap sepuluh pasti tamat riwayatnya.
Yo Ko dan Siao-liong-li juga kaget mendengar suara gedubrakan yang keras itu. Mereka cepat memburu keluar dari ruangan dalam, terlihat kedua tangan Cu-in terangkat ke atas, dengan sorot mata bengis dia membentak mereka berdua:
“Apa yang kalian pandang? Satu tidak berbuat, dua tidak berhenti (artinya apa bila sudah telanjur berbuat, ya sekalian kerjakan saja), hari ini sengaja kuIanggar pantangan membunuh!” Habis berkata, tenaga yang sudah terkumpul pada kedua tangannya segera akan dihantamkan.
Dengan tenang It-teng Taysu melangkah maju dan menghadang di depan Yo Ko berdua, di situ dia duduk dan mengucap Budha, air mukanya kereng, katanya:
“Belum jauh kau tersesat, masih sempat kembali jika kau mau. Cu-in, apakah benar kau ingin terjerumus ke alam yang tak tertolong lagi?”
Wajah Cu-in sebentar merah sebentar pucat, pikirannya kusut bukan main, dan terjadilah pertentangan batin antara baik dengan jahat. Rupanya pikiran jahatnya akhirnya berkobar lebih hebat, mendadak sebelah tangannya menghantam ke arah It-teng Taysu. Dengan satu tangan terangkat di depan dada It-teng menahan serangan itu dengan tubuh rada tergeliat.
“Bagus, jadi kau benar-benar ingin memusuhi aku?” teriak Cu-in dengan gusar, menyusul tangan kiri lantas menghantam lagi.
It-teng Taysu tetap menangkis saja tanpa balas menyerang. Dengan marah Cu-in lantas mendamperat:
“Hmm, untuk apa kau mengalah? Hayolah membalas! Mengapa kau tidak balas seranganku? Huh apanya yang hebat antara kalian Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong? Belum tentu kalian mampu menandingi telapak tangan besi orang she Kiu ini. Hayolah balas, kalau kau tidak balas menyerang maka jangan kau penasaran jika jiwamu melayang percuma.”
Meski pikiran Cu-in dalam keadaan kacau tapi kata-katanya juga tidak salah, ilmu pukulan telapak tangan besinya boleh dikatakan mempunyai keunggulannya sendiri dibandingkan It-yang-ci yang menjadi andalan It-teng Taysu. Dalam hal ajaran agama memang It-teng jauh lebih dari pada cukup untuk menjadi guru Cu-in, tapi bicara tentang ilmu silat, kalau bertempur sekuat tenaga mungkin It-teng lebih unggul setingkat, tapi kalau melulu dihantam tanpa membalas, lama-lama juga pasti akan terluka parah sekali pun jiwanya tidak melayang.
Akan tetapi It-teng sudah bertekad lebih suka mengorbankan diri untuk menolong orang lain, lebih suka binasa kena pukulan tangan besi itu dari pada balas menyerang dengan harapan Cu-in akhirnya dapat diinsafkan. Jadinya sekarang mereka tidak lagi bertanding iimu silat atau tenaga dalam, tetapi lebih tepat dikatakan pertarungan antara pikiran bajik dan pikiran jahat.
Yo Ko dan Siao-liong-li menyaksikan pukulan sakti Cu-in itu terus menerus dilontarkan ke arah It-teng, sampai pada pukulan ke-14, tumpahlah darah segar dari mulut It-teng.
“Apakah kau tetap tak mau membalas?” bentak Cu-in melengak demi melihat darah yang mengucur dari mulut It-teng.
Dengan tersenyum It-teng menjawab: “Untuk apa aku membalas? Apa gunanya jika aku mengalahkan kau? Apa pula faedahnya kalau kau mengaIahkan diriku? Yang paling sukar adalah mengalahkan diri sendiri, mengekang perasaan sendiri.”
Cu-in tampak tertegun, lalu menggumam: “Mengalahkan diri sendiri, mengekang perasaan sendiri inilah yang sukar...?”
Beberapa kalimat ucapan It-teng itu laksana bunyi geledek yang menggetar hati Yo Ko. Pikirnya: “Untuk mengalahkan kehendak diri sendiri dan mengekang hasrat buruk sendiri memang jauh lebih sukar dari pada mengalahkan musuh yang tangguh.”
Ucapan pendeta agung ini benar-benar sangat tepat dan bernilai. Dalam pada itu dilihatnya kedua tangan Cu-in berhenti sejenak di atas, sesudah itu terus menghantam pula ke depan.
“Brakk!” tubuh It-teng terhuyung, darah segar kembali tersembur keluar, jenggotnya yang putih dan jubahnya berlepotan darah.
Dari caranya menerima serangan lawan serta daya tahannya, Yo Ko tahu ilmu silat It-teng sebenarnya lebih tinggi dari pada Hek-ih-ceng, tapi kalau menerima pukulan saja, biar pun tubuh terbuat dari besi akhirnya akan meleyot.
Kini Yo Ko luar biasa kagum dan hormatnya kepada It-teng Taysu, ia tahu It-teng sengaja mengorbankan diri untuk menginsafkan orang jahat. Tapi ia pun tidak dapat menyaksikan orang baik seperti It-teng tewas begitu saja, ia lantas mengangkat pedangnya dan mengitar ke samping It-teng. Waktu Cu-in melancarkan pukulan lagi...
“Srett!” ia pun membarengi dengan tusukan pedang.
Guncangan angin pukulan yang dahsyat itu menumbuk angin pukulan Cu-in, tubuh keduanya tergetar. Cu-in bersuara heran, tak tersangka olehnya bahwa di pegunungan sunyi ini ada seorang pemburu muda yang mempunyai ilmu silat setinggi ini. Sekejap It-teng memandang Yo Ko, hatinya juga heran luar biasa.
“Siapa kau?! Apa kehendakmu?!” bentak Cu-in dengan bengis.
“Gurumu memberi nasihat baik-baik, mengapa Taysu tidak mau sadar?” jawab Yo Ko. “Tidak mau menerima nasihat sudah keliru, malahan kau membalas kebaikan dengan kebencian dan melancarkan pukulan keji kepada gurumu. Bukankah manusia macam ini jauh lebih rendah dari pada binatang?”
Dengan marah Cu-in membentak: “Apakah kau pun orang Kay-pang? Begundal si Tianglo konyol tadi?”
“Kedua orang ini memang orang busuk Kay-pang,” jawab Yo Ko dengan tertawa, “Bahwa Taysu telah membinasakan mereka, padahal menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan, lalu mengapa engkau harus merasa menyesal?”
Untuk sejenak Cu-in melengak, lalu ia menggumam: “Menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan... menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan...”
Sesudah mengikuti percakapan It-teng dan Cu-in tadi, lapat-lapat Yo Ko paham isi hati mereka, yakni lantaran Cu-in merasa menyesal sehingga timbul rasa benci, dari benci timbul pikiran jahat. Maka dia berkata pula:
“Kedua orang itu adalah anggota khianat Kay-pang yang berkomplot dengan pihak musuh dan bermaksud menjual tanah air kita kepada bangsa lain. Dan sekarang Taysu membunuh mereka, ini adalah pahala yang maha besar. Kalau kedua orang ini tidak mati, entah berapa banyak orang baik-baik akan menjadi korban kejahatan mereka.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Watak Siao-liong-li memang sangat sabar, baginya bukan soal apakah penyembuhan itu dapat dirampungkan secepatnya atau beberapa lama Iagi. Sebaliknya Yo Ko berwatak tidak sabaran, dia berharap Siao-liong-li dapat lekas sembuh. Akan tetapi dia pun maklum bahayanya penyembuhan begitu, kalau terburu napsu, bisa jadi malah runyam. Begitulah Yo Ko merasa denyut nadi Siao-liong-li terkadang keras dan di lain saat lemah, meski tidak stabil tetapi tiada tanda-tanda buruk. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dan mempercepat usahanya menyembuhkan si nona. Dalam keadaan sunyi senyap itulah tiba-tiba dari jauh ada suara satu kali.
“Tek!” suara itu sangat lirih.
Kalau saja Yo Ko tidak sedang memusatkan pikiran tentu tak akan mendengar suara itu. Apa lagi kuburan kuno itu terletak jauh di bawah tanah, kecuali suara pernapasan mereka bertiga (termasuk Kwe Siang), sedikit kelainan suara tentu akan ketahuan. Selang tak lama.
“Tek!” suara itu kembali terdengar lagi sekali, kini jaraknya bertambah dekat.
Yo Ko tahu pasti ada sesuatu yang tak beres, tapi kuatir perhatian Siao-liong-li terganggu dan membahayakan nona itu, maka ia sengaja berlagak tidak tahu. Tak lama, lagi-lagi suara itu berbunyi, kini lebih dekat lagi, maka yakinlah Yo Ko bahwa ada orang yang menyusup. Agaknya orang itu tak berani menerobos datang begitu saja, melainkan sengaja merunduk maju dengan perlahan, dia pikir maksud kedatangan orang ini pasti tidak baik. Jika orang mampu masuk ke situ, tentu bukan sembarangan orang. Tapi celakanya keadaan Siao-liong-li tidak boleh terganggu, maka dia menjadi serba susah.
“Tek!” ternyata suara itu semakin mendekat.
Yo Ko menjadi bingung dan sukar menahan pikirannya. Tiba-tiba saja tangannya tergetar, suatu arus hawa panas tertolak balik, kiranya Siao-liong-li juga terkejut oleh suara itu. Yo Ko lekas-lekas menghimpun tenaga lantas mendorong kembali tenaga dalam Siao-liong-li sambil memberi isyarat agar si nona tenangkan diri.
Tatkala itu di luar kuburan adalah siang hari, meski musim dingin tapi sang surya sedang memancarkan cahayanya di tengah cakrawala, sebaliknya di dalam kuburan gelap gulita seperti tengah malam belaka.
Terdengar suara tadi semakin dekat lagi. Diam-diam Yo Ko mengeluh, dia pikir sejak jalan masuk kuburan tertutup rapat, di dunia ini cuma Li Bok-chiu dan Ang Ling-po saja yang tahu jalan masuk melalui dasar sungai, maka dapat dipastikan yang datang tentu salah satu di antara mereka. Dengan kepandaian Yo Ko sekarang sedikit pun tidak perlu takut biar pun Li Bok-chiu dan muridnya itu datang semua sekaligus. Celakanya kedatangannya tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat, tetapi justru pada saat penting bagi keselamatan Siao-liong-li. Seketika Yo Ko menjadi bingung dan serba susah.
Selang sejenak, dengan jelas Siao-liong-li juga bisa mendengar suara kedatangan musuh. Dia pun buru-buru ingin menerobos Hiat-to-nya yang penting itu, tetapi karena bingung, tenaganya menjadi kacau, kadang lancar terkadang berontak, dada sendiri malah menjadi sesak. Pada saat itulah suara tindakan seseorang yang sangat halus dan cepat menerobos masuk, menyusul terdengar suara mendesirnya benda kecil, beberapa jarum menyambar tiba.
Pada waktu itu keadaan Siao-liong-li dan Yo Ko mirip orang yang tak bisa ilmu silat saja. Untungnya mereka telah siap sedia sebelumnya, begitu melihat jarum musuh menyambar, serentak mereka mendoyong ke belakang tanpa melepaskan tangan mereka yang saling menempel sehingga jarum-jarum itu menyambar lewat.
Li Bok-chiu sendiri tak menyangka kedua orang sedang mencurahkan segenap perhatian untuk penyembuhkan Siao-liong-li. Karena kuatir kedua lawannya balas menyerang, maka begitu jarum disambitkan segera ia melompat ke samping. Kalau saja dia tidak jeri kepada lawannya dan segera menyusulkan lagi jarum-jarum lain, maka Yo Ko berdua pasti celaka.
Ketajaman mata Li Bok-chiu di tempat gelap jauh di bawah Yo Ko berdua. Samar-samar dia cuma melihat dua muda-mudi itu duduk berjajar di Han-giok-jeng dipan kemala dingin. Ia menjadi kebat-kebit ketika sergapannya tidak mengenai sasaran, tetapi dia menjadi ragu-ragu pula ketika melihat lawan tidak bangkit dan balas menyerang. Cepat dia menggeser ke samping pintu dengan kebut siap di tangan, kemudian menegur:
“Hm, baik-baikkah kalian selama berpisah?”
“Apa kehendakmu?” tanya Yo Ko.
“Masa perlu tanya lagi kehendakku di saat ini?” jawab Bok-chiu.
“Ahh, Giok-Ii-sim-keng yang kau inginkan, bukan?” ujar Yo Ko. “Baiklah, memang kitab itu pun tidak berguna bagi kami yang hendak hidup tirakat di tempat ini. Nah, boleh kau ambil saja.”
Sudah tentu Li Bok-chiu setengah percaya setengah sangsi, katanya: “Mana? Bawa ke sini!”
Giok-li-sim-keng tersimpan dalam buntalan Siao-liong-li, mereka tidak dapat menyodorkannya.
“ltu dalam bungkusan di atas meja, ambil saja sendiri,” demikian jawab Yo Ko.
Li Bok-chiu tambah curiga, pikirnya: “Aneh, mengapa mereka berubah penurut begini? Dalam bungkusan itu tentu ada sesuatu yang tidak beres. Apakah barang kali dia sengaja memancing aku lebih dekat, lalu mendadak menyerang dan mencegat jalan lariku...?”
Ia menyadari bukan tandingan Siao-liong-li, karena itu segala sesuatu harus ditimbangnya dengan masak. Ia coba mengawasi sang Sumoay, terlihat sebelah tangannya menempel dengan telapak tangan Yo Ko. Seketika tergerak pikirannya: “Ah, rupanya tangan Yo Ko buntung dan parah, maka perempuan hina ini sedang membantu menyembuhkan pemuda itu dengan tenaga dalamnya. Saat ini mereka sedang menghadapi detik genting, inilah kesempatan baik bagiku untuk membinasakan mereka.”
Meski pun terkaannya cuma betul separoh, tapi rasa jerinya seketika lenyap. Segera ia menubruk maju, kebutnya menyabet kepala Siao-liong-li. Dalam keadaan demikian, kalau Siao-liong-li mengangkat tangan untuk menangkis maka serentak tenaga dalamnya akan terguncang sehingga bisa binasa seketika akibat muntah darah. Tapi sebaliknya bila serangan itu tidak ditangkis, maka batok kepalanya juga pasti akan hancur.
Syukurlah pada saat itulah mendadak Yo Ko membuka mulut dan meniup hawa ke muka Li Bok-chiu. Sebetulnya tiupan hawa ini sama sekali tidak bertenaga, tapi Li Bok-chiu tahu si Yo Ko banyak tipu akalnya. Ketika mendadak mukanya terasa hangat oleh hawa yang ditiup anak muda itu, dia menjadi kaget dan lekas melompat mundur. Ketika merasa muka tiada sesuatu kelainan barulah ia tahu tertipu. Segera ia membentak: “Kau cari mampus, ya!”
”Ehh, baju yang kupinjamkan kepadamu tempo hari, apakah sekarang kau bawa untuk dikembalikan padaku?” tanya Yo Ko tertawa.
Li Bok-chiu jadi teringat. Waktu bertempur melawan Pang Bik-hong, pakaiannya terbakar oleh palu si pandai-besi tua yang berapi. Apa bila Yo Ko tidak menanggalkan jubahnya untuk dia, maka pasti akan telanjang dan malu. Sepantasnya kalau mengingat pemberian jubah itu dahulu tidak seharusnya dia mencelakai jiwa Yo Ko sekarang, tetapi jika hatinya sedikit lunak, bahaya di kemudian hari tentu sukar dibayangkan. Segera ia menubruk maju, tangan kirinya menghantam lagi.
Dalam keadaan kepepet tiba-tiba Yo Ko mendapat akal. Sekonyong-konyong dia berjungkir dengan kedua kaki di atas dan kepala di bawah, sekali kakinya memancal, sepatu dan kaos kaki terlepas. Serunya:
“Liong-ji, pegang kakiku!”
Berbareng itu sebelah tangannya terus dipukulkan untuk memapak hantaman Li Bok-chiu tadi. Dalam pada itu Siao-liong-li juga telah memegang kaki Yo Ko. Meski Ngo-tok-sin-ciang yang lihay itu diperoleh dari Auyang Hong, tetapi ilmu menjungkir berasal dari Kiu-im-cin-keng. Ilmu menjungkir yang merupakan kepandaian khas Auyang Hong ini belum pernah dilihat Li-Bok-chiu. Ia terkejut menyaksikan perbuatan Yo Ko yang aneh itu, ia mengerahkan tenaga sekuatnya dan ingin membinasakan lawan selekasnya.
Seketika Yo Ko merasakan ada arus hawa panas menerjang dari telapak tangan musuh. Pikirannya tergerak, sama sekali dia tidak menahan tenaga lawan itu, sebaliknya tenaga sendiri malah ditambahkan pada tenaga musuh dan disalurkan seluruhnya ke tubuh Siao-liong-li. Dengan begitu jadinya Li Bok-chiu seakan-akan membantu Yo Ko menerobos Hiat-to dan urat nadi Siao-liong-li. Biar pun apa yang dipelajari Li Bok-chiu tidak seluas Yo Ko berdua, tapi bicara tentang kekuatan sendiri, karena sudah berlatih berpuluh tahun lamanya, maka dengan sendirinya bukan main lihaynya.
Tiba-tiba Siao-liong-li merasakan satu arus tenaga maha kuat menerjang tiba, Tam-tiong-hiat seketika diterobos tembus, napas terasa lancar, hawa panas yang tadinya macet di dada seketika tersalur ke bagian perut, semangat terasa segar. Serentak dia bersorak:
“Aha, terima kasih, Suci!” Segera dia melepaskan kaki Yo Ko dan melompat turun dari dipan kemala dingin.
Tentu saja Li Bok-chiu melengak. Tadinya ia mengira Siao-liong-li yang sedang membantu menyembuhkan Yo Ko, sebab ituIah dia mengerahkan tenaga sekuatnya dengan maksud merontokkan urat nadi Yo Ko, tapi siapa tahu tanpa sengaja malah telah membantu pihak lawan. Yo Ko juga sangat girang, sekuatnya ia menolak mundur musuh, lalu ia melompat bangun dan berdiri dengan sepasang kaki telanjang, katanya dengan tertawa:
“Kalau engkau tidak keburu datang membantuku, sungguh sulit menerobos Tam-Tiong-hiat Sumoay-mu.”
Belum lagi Li Bok-chiu menjawab, mendadak Siao-liong-li menjerit sambil memegangi ulu hatinya terus jatuh ke atas dipan.
“He, ada apa?” tanya Yo Ko kuatir.
“Dia... dia... tangannya beracun!” ucap Siao-liong-li dengan ter putus-putus.
Yo Ko sendiri juga lantas merasakan kepalanya rada pusing. Rupanya tanpa disadari, ketika tangan beradu tangan tadi, racun pukulan berbisa Li Bok-chiu menyalur ke tubuh anak muda itu dan terus merembes ke tubuh Siao-liong-li.
“Serahkan obat penawarnya!” bentak Yo Ko segera sambil mengangkat Hian-tiat-pokiam, pedang pusaka yang maha berat itu. Habis itu pedangnya terus membacok.
“Trangg...!”
Li Bok-chiu menangkis dengan kebutnya, akan tetapi batang kebutnya yang terbuat dari baja itu kontan terkutung mendjadi dua, tangan juga tergetar hingga lecet dan sakit. Kebut yang pernah merontokkan nyali tokoh dunia persilatan itu ternyata sekali tebas saja telah dihancurkan lawan, sungguh kejadian ini membuatnya terkejut luar biasa, lekas-lekas dia melompat keluar. Segera Yo Ko mengejar, tampaknya sudah dekat dan baru saja pedangnya disodorkan ke depan sehingga Li Bok-chiu pasti tidak dapat menangkisnya, siapa tahu racun yang sudah bersarang dalam tubuhnya mendadak bekerja. Matanya menjadi berkunang-kunang dan tangannya terasa lemas.
“Trangg...!” pedang Hian-tiat-pokiam jatuh ke tanah.
Li Bok-chiu tidak berani berhenti, dia melompat jauh ke depan, barulah menoleh. Dilihatnya Yo Ko terhuyung-huyung sambil berpegangan dinding, tampak sekuatnya sedang menahan serangan racun di dalam tubuhnya. Merasa bukan tandingan anak muda ini, Li-Bok-chiu tidak berani mendekatinya. Dia pikir tunggu saja sementara, nanti kalau anak muda ini sudah roboh, barulah kudekati dia.
Tenggorokan Yo Ko terasa kering, kepalanya serasa mau pecah, sekuatnya ia kumpulkan tenaga pada tangan kiri, bila Li Bok-chiu mendekat segera dia hendak membinasakannya dengan sekali hantam. Tapi lawan sungguh licik dan tetap berdiri di sana. Akhirnya Yo Ko harus ambil keputusan. Ia pikir semakin lama tentu semakin meluas racun yang mengeram di tubuhnya dan tambah menguntungkan pihak musuh. Sekuatnya dia menarik napas segar, mendadak dia melompat balik ke sana dan merangkul pinggang Siao-liong-li, dengan ujung pedang ia cungkit bungkusan di atas meja kemudian melangkah keluar sambil membentak:
“Minggir!”
Melihat perbawa Yo Ko itu, ternyata Li Bok-chiu tidak berani menghadangnya. Sekarang yang diharapkan Yo Ko adalah mencari satu kamar batu yang bisa ditutup rapat sehingga untuk sementara Li Bok-chiu tak mampu masuk mengganggunya, dengan begitu mereka dapat berusaha mendesak keluar kadar racun yang berada di dalam tubuhnya. Cara mengusir racun ini jauh lebih mudah dari pada cara penyembuhan Siao-liong-li tadi. Waktu kecil Yo Ko pernah kena racun jarum Li Bok-chiu kemudian mendapat pertolongan Auyang Hong. Sekarang kepandaiannya sedemikian tinggi, begitu pula Hiat-to Siao-liong-li juga sudah lancar, tentu tidak sulit mengeluarkan racun dalam tubuh asalkan tidak direcoki Li Bok-chiu.
Li Bok-chiu juga tahu maksud dan tujuan Yo Ko ketika melihat anak muda itu menerjang keluar dengan membopong Siao-liong-li. Dia tidak membiarkan Yo Ko mencapai tujuannya, cuma dia tidak berani mendekat dan menyerang, dia terus menguntit saja dari belakang dalam jarak dua-tiga meter jauhnya. Bila Yo Ko berhenti dan menunggu, diapun berhenti.
Yo Ko merasa debar jantungnya semakin keras dan tidak sanggup bertahan lagi. Dengan sempoyongan ia berlari masuk sebuah kamar lalu mendudukkan Siao-liong-li di atas meja batu. Ia sendiri terengah-engah sambil berpegang tepi meja tanpa menghiraukan Li Bok-chiu yang tetap mengintil di belakang. Karena Li Bok-chiu juga pernah tinggal di dalam kuburan kuno ini, meski ketajamannya memandang di tempat gelap tidak sebaik Yo Ko berdua, tetapi dia pun dapat melihat jelas bahwa di kamar itu berjajar lima buah peti mati.
“Suhu benar-benar telah pilih kasih, selamanya aku tak pernah diberi-tahu tempat-tempat rahasia seperti ini, kiranya di sini ada lima buah peti mati,” demikian Li Bok-chiu berpikir. Dia tidak tahu bahwa kamar ini adalah makam guru dan kakek gurunya.
Selama hidup Li Bok-chiu sudah membunuh orang tak terbilang jumlahnya, maka tentang peti mati, mayat dan sebagainya tidak membuatnya heran. Diam-diam ia pun amat girang melihat keadaan Yo Ko yang sudah payah sekali itu. Dia lantas menyindir:
“He-he, tempat pilihanmu ini sungguh bagus sekali sebagai kuburanmu.”
Pandangan Yo Ko sebenarnya sudah samar-samar. Mendengar ucapan Li Bok-chiu, ia coba meng-amat-amati kamar itu. Ternyata tangannya bukan menahan di atas meja batu melainkan sebuah peti mati batu, jadi Siao-liong-li juga duduk di atas peti batu. Tanpa terasa ia merasa ngeri, pikirnya: “Tempo hari Liong-ji ingin aku mati bersamanya di sini, tapi sekuatnya aku lantas melarikan diri, siapa tahu akhirnya kami mati juga di sini, mungkin memang sudah suratan nasib dan takdir Ilahi.”
Keadaan Siao-liong-li juga sangat lemah dan setengah sadar, tetapi samar-samar dia pun mengetahui dirinya berada di samping peti mati sang guru. Teringat bahwa dirinya sudah berdekatan dengan gurunya, hatinya terasa lega. Dia menghela napas panjang se-akan orang yang sudah lama pergi jauh dan baru pulang kampung halaman dengan aman. Begitulah mereka bertiga hanya terdiam, seorang berdiri dan seorang duduk, seorang lagi setengah bersandar, kecuali suara hembusan napas tidak ada terdengar suara lain di dalam kamar batu itu.
“Andai kata aku dan Liong-ji harus mati sekarang, sebisanya harus kucegah agar iblis ini tidak mendapatkan kitab pusaka ini dan berbuat lebih jahat lagi di dunia luar,” demikian pikir Yo Ko.
Tiba-tiba ia mendapat satu akal. Ia tahu di antara lima buah peti mati batu itu tiga di antaranya sudah terisi, yakni jenazah Lim Tiau-eng dan muridnya serta Sun-popoh, ada pun dua peti lainnya masih kosong dan tersedia bagi Siao-liong-li dan Li Bok-chiu. Tutup kedua peti mati yang kosong itu belum dirapatkan dan masih terlihat celah selebar sekitar satu meteran.
Tiba-tiba Yo Ko angkat pedangnya lantas mencukil bungkusan berisi Giok-li-sim-keng sehingga mencelat ke dalam satu peti yang kosong, berbareng itu dia pun membentak:
“Hm, keparat! Betapa pun kitab pusaka ini takkan kuserahkan padamu, aduuh...!” tiba-tiba ia menjerit terus roboh.
Li Bok-chiu terkejut dan girang. Ia kuatir jangan-jangan Yo Ko hendak memancingnya, maka ia menunggu sejenak. Ketika melihat anak muda itu sama sekali tidak bergerak lagi barulah ia mendekatinya dan coba meraba mukanya, rasanya dingin dan jelas telah mati.
“Ha-ha-ha, betapa pun licik dan licinmu, akhirnya kau mampus juga!” serunya kemudian sambil terbahak, lalu ia mendekati peti batu dan menjulurkan tangan dengan maksud mengambil bungkusan yang terlempar ke dalam peti tadi. Namun bungkusan itu oleh Yo Ko ternyata dilemparkan ke ujung peti yang tertutup sana.
Kebut Li Bok-chiu telah putus, jika tidak tentu ujung kebut dapat digunakan untuk meraih. Sebisanya ia mengulur tangan dan meraba-raba, namun hasilnya tetap nihil. Akhirnya ia tidak sabar, ia menyusup ke dalam peti, dengan begitu barulah bungkusan itu dapat dipegangnya.
KEBURUKAN DIBALAS KEBAJIKAN
Akan tetapi pada saat itulah Yo Ko bangkit, tangan kirinya mendorong sekuatnya, kontan tutup peti merapat, seketika Li Bok-chiu terkurung dalam peti batu. Kiranya jatuh dan jeritan Yo Ko tadi hanya pura-pura belaka, serentak dia membikin ruwet denyut nadinya sehingga mukanya menjadi dingin seperti orang mati. Padahal orang mati tak mungkin jasadnya lantas kaku dingin seketika, untuk itu sedikitnya makan waktu setengah jam. Tetapi rupanya saking girangnya Li Bok-chiu menjadi kurang teliti dan terjebak oleh akal Yo Ko.
Begitu Li Bok-chiu sudah terpancing masuk ke dalam peti dan ditutup rapat, segera Yo Ko menggunakan pedangnya untuk menjungkit sekuatnya peti mati kosong yang satunya lagi untuk ditindihkan di atasnya, dengan demikian berat tutup ditambah peti batu sedikitnya setengah ton, betapa pun tak bisa keluar biar pun memiliki kepandaian setinggi langit.
Yo Ko sendiri sebenarnya dalam keadaan amat payah. Hanya terdorong oleh tekad ingin bertahan sampai detik terakhir maka sekuatnya dia menjungkit peti batu tadi. Habis itu dia benar-benar kehabisan tenaga, pedang dilemparkan ke lantai, dengan sempoyongan mendekati Siao-liong-li. Lebih dulu ia menggunakan ilmu ajaran Auyang Hong yang dahulu pernah dipelajarinya untuk menguras keluar sebagian racun dalam tubuhnya, habis itu baru ia menempelkan tangannya pada tangan Siao-liong-li untuk bantu penyembuhan.
Sementara itu Kwe Hu dan Yalu Ce berlima sedang kelabakan terkurung di kamar batu itu. Mereka duduk di lantai tanpa berdaya, semakin dipikir semakin mendongkol dan penasaran, tiada hentinya Bu Sam-thong mencaci maki Li Bok-chiu yang kejam itu. Dalam keadaan gelisah Kwe Hu menjadi sebal mendengar caci maki Bu Sam-thong yang tiada henti, tanpa pikir dia berkata padanya:
“Bu-pepek kekejian perempuan she Li itu kan sudah lama kau ketahui, apa gunanya sekarang kau mencaci makinya?”
Bu Sam-thong melengak dan tidak bisa menjawab, sebaliknya Bu Siu-bun menjadi marah karena ayahnya diomeli si nona, segera dia menanggapi:
“Kedatangan kita ke kuburan ini demi menolong adikmu, kalau tidak beruntung mengalami kesukaran, biarlah kita mati bersama saja, kenapa kau marah-marah segala...”
“Diam, adik Bun!” cepat Bu Tun-si menghardik sehingga Siu-bun tidak melanjutkan kata-katanya.
Ucapan Siu-bun itu sesungguhnya hanya terdorong oleh rasa ingin membela sang ayah saja, begitu tercetus katanya, ia sendiri pun merasa heran. Padahal biasanya ia sangat penurut kepada Kwe Hu, malah se-dapatnya ia ingin mengerjakan apa pun bagi si nona, mana berani ia berbantah dengan Kwe Hu. Tapi siapa tahu sekarang berani menjawab dengan sama kerasnya.
Kwe Hu juga melenggong karena tidak pernah menyangka si Bu cilik itu berani berbantah dengan dia. Ingin dia bicara lagi, tetapi rasanya tidak ada sesuatu kuat yang dapat diketemukannya. Teringat bahwa dirinya akan mati terkurung di kuburan kuno ini dan tak akan bertemu selamanya dengan ayah bunda, ia menjadi sedih dan menangis. Dalam kegelapan dan tidak dapat memandang keadaan sekitarnya, tanpa terasa ia mendekap di atas sesuatu dan menangislah terguguk-guguk.
Melihat si nona mendadak menangis, Siu-bun merasa tidak enak, katanya: “Baiklah, aku mengaku salah, biarlah aku minta maaf padamu.”
“Apa gunanya minta maaf?” jawab Kwe Hu dan tangisnya semakin menjadi. Sekenanya ia tarik sepotong kain untuk mengusap ingusnya, tetapi mendadak disadarinya ternyata dia mendekap di atas paha seseorang dan kain yang dibuat mengusap ingus itu kiranya ujung baju orang itu.
Dengan terkejut cepat Kwe Hu menegakkan tubuhnya. Dari persiapan Bu Sam-thong dan kedua anaknya tadi, jelas mereka bertiga duduk di sebelah sana, cuma Yalu Ce saja yang berdiam tanpa bersuara, jelas orang ini adalah dia. Keruan Kwe Hu menjadi malu.
“Aku... aku...,” katanya dengan tersipu-sipu.
Pada saat itulah tiba-tiba Yalu Ce berkata: “He, dengarkan, suara apakah itu?”
Waktu mereka pasang kuping, tiada mendengar sesuatu. Tapi Yalu Ce berkata lagi: “Ehm, itu suara tangisan anak kecil. Nona Kwe, pasti suara adikmu.”
Karena teraling oleh dinding batu, suara itu amat halus. Kalau bukan indera pendengaran Yalu Ce sangat tajam pasti tidak mendengarnya. Cepat dia bangkit dan melangkah ke sana, suara itu terdengar Iemah. Dia coba membalik ke sebelah lain, ternyata suara itu tambah jelas, maka segera dia menuju ke ujung sana, dia gunakan pedangnya untuk menusuk dan mencungkil perlahan.
Terdengar suaranya agak lain, agaknya dinding di situ rada tipis. Segera dia menyimpan pedangnya, kedua tangan coba menahan dinding batu itu dan didorongnya, namun bergeming sedikit pun. Ia coba ganti haluan, menarik napas kuat-kuat, lalu kedua tangan menolak, menyusul terus dibalik menjadi daya tarik dengan gaya ‘lengket’.
“Blangg...!” mendadak terdengar suara satu kali. sepotong batu kena ditarik lepas oleh tenaga sedotan tangannya dan jatuh ke lantai.
Tentu saja Kwe Hu dan lain sangat girang. Sambil bersorak mereka terus memburu maju ikut menarik dan membongkar, sebentar saja beberapa potong batu kena dilepaskan dan kini sebuah lubang sudah cukup digunakan untuk menerobos. Berturut-turut mereka lantas menerobos ke sana, Kwe Hu lalu mencari dengan mengikuti arah suara. Akhirnya mereka sampai di sebuah kamar batu yang kecil, dalam kegelapan suara tangisan anak itu terdengar sangat keras, cepat Kwe Hu mendorongnya.
Bayi itu memang betul Kwe Siang adanya. Demi menyembuhkan Siao-liong-li, pula harus menempur Li Bok-chiu, maka Yo Ko tidak sempat menyuapi orok itu. Karena lapar, anak itu menangis sejadinya. Kwe Hu berusaha menimang sambil membujuk, tetapi saking kelaparan, bukannya diam, sebaliknya tangis Kwe Siang semakin keras. Akhirnya Kwe Hu menjadi tidak sabar dan menyodorkan kepada Bu Sam-thong, katanya:
“Paman Bu, coba kau memeriksanya apakah ada sesuatu yang tidak beres.”
Dalam pada itu Yalu Ce sedang meraba-raba ke sana kemari, akhirnya di atas meja dapat ditemukan sebuah cek-tay (tatakan lilin), menyusul teraba pula batu api dan alat ketiknya. Setelah membuat api dan bisa menyulut lilin, seketika pandangan semua orang terbeliak. Sesudah terkurung di tempat gelap sekian lamanya, baru sekarang dada mereka merasa lapang oleh cahaya terang.
Betapa pun Bu Sam-thong adalah orang tua yang berpengalaman. Dari suara tangisan Kwe Siang itu, dia tahu anak ini pasti lapar. Dilihatnya di atas meja ada setengah mangkuk air madu, juga sebuah sendok kayu kecil, segera dia menyuapi anak itu dengan air madu sedikit-sedikit. Betul saja, begitu ada air madu memasuki mulutnya, Kwe Siang berhenti menangis.
“Kalau nona Kwe cilik ini tidak menangis kelaparan, mungkin kita semua akan mati dalam kamar batu itu,” ujar Yalu Ce tertawa.
“Segera kita pergi mencari jahanam Li Bok-chiu,” Bu Sam-thong berkata dengan penuh dendam.
Mereka masing-masing lantas memotong kaki kursi untuk dipergunakan sebagai obor, lalu menyusuri Iorong. Setiap ada pengkolan Bu Tun-si memberi tanda dengan ujung pedang supaya nanti kembalinya tidak tersesat. Begitulah mereka terus mencari jejak Li Bok-chiu dari sebuah ruangan ke ruangan yang lain. Rupanya dulu Ong Tiong-yang telah gagal memimpin pasukannya melawan pasukan Kim, kemudian dia dan anak buahnya membangun kuburan raksasa ini di lereng Cong-Iam-san sebagai tempat tirakat.
Yalu Ce dan lain-lain sama terheran-heran melihat betapa luasnya kuburan ini, sungguh tak tersangka bahwa di bawah sungai kecil terdapat bangunan raksasa. Ketika mereka sampai di kamar Siao-liong-li, tampak kebut Li Bok-chiu yang putus berserakan di lantai, di samping sana ada pula dua jarum perak milik Li Bok-chiu. Kwe Hu membungkus tangannya lantas menjemput jarum itu.
“Sebentar aku pun akan gunakan jarum berbisa ini untuk balas menusuk iblis keparat itu,” katanya dengan tertawa.
Sementara itu Yo Ko sedang membantu mendesak keluar racun dalam tubuh Siao-liong-li. Dari ujung jari si nona telah merembes keluar air hitam, asal setanakan nasi lagi mungkin usahanya akan berhasil. Pada saat itulah mendadak dari lorong sana ada suara tindakan orang, seluruhnya ada lima orang. Diam-diam Yo Ko terkejut. Dalam keadaan genting begitu, andaikan diserang seorang Li Bok-chiu saja sukar melawannya, apa lagi sekarang musuh berjumlah lima orang. Selagi bingung dan gelisah, mendadak terlihat cahaya api berkelebat di kejauhan, kelima orang itu semakin dekat.
Tanpa pikir Yo Ko merangkul Siao-liong-li dan melompat masuk ke dalam peti batu yang menindih di atas Li Bok-chiu, lalu ia menggeser sekuatnya tutup peti, hanya saja tidak dirapatkan agar nanti tidak mengalami kesukaran jika hendak keluar. Baru saja mereka sembunyi, serentak Yalu Ce berlima masuk ke kamar itu. Mereka terkesiap melihat lima buah peti mati, samar-samar merasakan hal ini sungguh teramat kebetulan, mereka berlima dan jumlah peti mati di situ juga lima, sungguh alamat jelek. Tanpa terasa Kwe Hu bergumam:
“Hm, kita berlima, peti mati ini pun ada lima!”
Yo Ko dan Siao-liong-li dapat mendengar suara Kwe Hu, mereka sama heran bahwa yang datang ini di antaranya ternyata nona Kwe ini. Yalu Ce juga mendengar dalam peti itu ada suara napas orang. Ia pikir pasti Li Bok-chiu yang sembunyi di situ, segera ia memberi tanda agar kawannya mengelilingi peti itu. Dari sela-sela peti yang belum tertutup rapat samar-samar Kwe Hu dapat melihat ujung baju, dia yakin orang itu pasti Li Bok-chiu adanya. Dengan tertawa ia lantas membentak:
“lnilah senjata makan tuan!”
Sekali ia dorong tutup peti, berbareng dua buah jarum berbisa yang dijemputnya tadi disambitkan ke dalam.
Meski Yo Ko sembunyi di dalam peti dengan merangkul Siao-liong-li, tetapi tangan kirinya tetap menempel pada tangan kanan nona itu dan berusaha menguras bersih racun melalui tubuhnya dalam waktu singkat yang menentukan mati-hidup mereka itu. Walau pun heran ketika mendengar di antara pendatang itu juga terdapat Kwe Hu, tetapi hatinya merasa lega karena yang datang bukan musuh. Sudah tentu Yo Ko tidak pernah menduga bahwa mendadak Kwe Hu akan menyerangnya, maka dengan diam saja meneruskan penyembuhannya pada Siao liong-li dengan tekun. Siapa tahu Kwe Hu justru menyangka mereka sebagai Li Bok-chiu dan menyerang dengan jarum berbisa.
Karena jaraknya amat dekat, dalam peti itu pun sukar bergerak sehingga tiada peluang untuk menghindar, seketika Yo Ko berdua menjerit. Jarum yang satu sudah menancap di paha kanan anak muda itu dan jarum lain mengenai bahu kiri Siao-liong-li.
Setelah menyambitkan jarum, hati Kwe Hu amat senang, tapi mendadak terdengar suara jeritan lelaki dan perempuan dalam peti, seketika ia pun menjerit kaget. Segera Yalu Ce mendepak tutup peti itu hingga terjatuh ke lantai. Dengan perlahan Yo Ko dan Siao-liong-li berdiri. Di bawah cahaya obor tampak muka mereka pucat pasi dan saling pandang dengan pedih.
Kwe Hu sendiri belum menyadari kesalahan yang diperbuatnya sekali ini jauh lebih hebat dari pada mengutungi sebelah lengan Yo Ko. Dia cuma merasa menyesal saja dan coba meminta maaf, katanya:
“Yo-toako dan Liong-cici, ternyata kalian berdua yang berada di situ hingga aku salah melukai kalian. Untunglah ibuku menyimpan obat mujarab penawar racun jarum ini. Dahulu dua ekor rajawaliku juga pernah terluka oleh jarum ini dan mereka dapat disembuhkan oleh ibuku. Aneh juga, mengapa kalian bersembunyi dalam peti? Tentu saja aku tidak menyangka akan kalian.”
Kiranya urusan membuntungi lengan kanan Yo Ko dianggapnya sudah selesai dengan dibengkokkan pedangnya oleh anak muda itu tempo hari, terlebih lagi ayah bundanya juga sudah cukup mencaci-makinya habis-habisan, maka dalam anggapan Kwe Hu: “Biarlah takkan kusalahkan kau dan anggap beres persoalan ini.”
Begitulah jalan pikiran nona manja macam Kwe Hu ini, selama hidupnya selalu disanjung orang lantaran menghormati ayah-ibunya, sebab itu orang lain juga suka menghormat dan mengalah padanya, maka segala urusan yg terpikir selalu dirinya sendiri yang diutamakan dan jarang memikirkan kepentingan orang lain.
Dari nada ucapannya tadi malah akhirnya seakan-akan menganggap salah sendiri Yo Ko berdua yang sembunyi dalam peti batu itu sehingga bahkan membuatnya kaget. Mana dia mau tahu bahwa tatkala terkena sambitan jarumnya itu, ketika itu kadar racun dalam tubuh Siao-liong-li justru tengah mengalir keluar, tapi mendadak terguncang oleh serangan dari luar sehingga seluruh racun itu mengalir balik merasuk segenap Hiat-to di tubuh nona itu, dengan begitu sekali pun ada obat mujarab malaikat dewata juga sukar menolongnya lagi.
Sesaat Siao-liong-li merasa dadanya seperti kosong melompong, hampa dan linglung. Dia menoleh dan melihat sorot mata si Yo Ko penuh rasa duka, gemas dan penasaran, tubuhnya juga gemetar seakan-akan segenap siksa derita yang pernah dialaminya hendak dilampiaskannya sekarang juga. Siao-liong-li tidak tega melihat kepedihan hati anak muda itu dan kuatir ia bertindak nekad, cepat dia menghiburnya:
“Ko-ji, agaknya sudah suratan nasib kita harus begini, janganlah kau salahkan orang lain dan bersedih.”
Lebih dahulu dia mencabut jarum di paha anak muda itu, kemudian mencabut jarum yang menancap di bahu sendiri. Jarum berbisa itu berasal dari perguruannya dan berbeda dari pada racun pukulan berbisa ajaran Auyang Hong, maka dapat disembuhkan dengan obat perguruan yang selalu dibawanya. Segera dia mengeluarkan satu biji obat kepada Yo Ko, lalu dia sendiri pun minum satu biji. Hati Yo Ko tak terperikan pedih dan gemasnya.
“Berrrr...” dia menyemburkan obat penawar itu ke tanah.
Kwe Hu menjadi gusar, serunya: “Aduh, besar amat lagakmu! Memangnya aku sengaja membikin celaka kalian? Kan aku sudah minta maaf padamu, kenapa kau masih marah-marah saja?”
Dari air muka Yo Ko yang penuh rasa duka nestapa itu, juga rasa marahnya yang semakin memuncak, apa lagi dia sudah menjemput kembali pedangnya yang kehitam-hitaman itu, Bu Sam-thong tahu gelagat bisa runyam, maka cepat-cepat ia menghibur anak muda itu:
“Janganlah marah adik Yo, soalnya kami berlima terkurung oleh iblis she Li itu di kamar batu sana dan dengan susah payah akhirnya berhasil lolos, tapi karena kecerobohan nona Kwe sehingga dia...”
“Mengapa kau anggap aku yang ceroboh?” sela Kwe Hu mendadak, “Salah siapa jika dia sembunyi di situ dan diam saja, malahan kau sendiri pun mengira dia Li Bok-chiu.”
Bu Sam-thong menjadi serba salah. Ia pandang YoKo dan pandang pula Kwe Hu dengan bingung. Siao-liong-li lantas mengeluarkan lagi satu butir obatnya, katanya dengan suara lembut:
“Ko-ji, minumlah obat ini. Masa perkataanku juga takkan kau turut?”
Tanpa pikir Yo Ko lantas minum obat itu. Suara Siao-liong-li yang lembut dan penuh kasih sayang telah mengingatkannya bahwa selama ber-hari-hari ini mereka berdua senantiasa bergulat antara mati dan hidup, namun akhirnya semua harapannya buyar, sungguh sedihnya tak terkatakan. Ia tidak tahan lagi, ia mendekap di atas peti batu itu kemudian menangis keras-keras.
Bu Sam-thong dan lain-lain saling pandang dengan bingung. Biasanya hati Yo Ko sangat terbuka, menghadapi urusan apa pun tidak mudah menyerah, mengapa sekarang hanya terkena sebuah jarum saja lantas menangis sedih begitu? Dengan per-lahan Siao-liong-li membelai rambut Yo Ko, katanya:
“Ko-ji, boleh kau suruh mereka itu pergi saja, aku tidak suka kumpul bersama mereka.”
Selamanya Siao-liong-li tak pernah bicara keras, kalimat ‘aku tidak suka kumpul bersama mereka’ sudah cukup menunjukkan rasa jemu dan marahnya. Segera Yo Ko bangkit. Dimulai dari Kwe Hu, sorot matanya terus menyapu setiap orang itu. Biar pun marah dan gemas, tapi ia pun tahu bahwa serangan Kwe Hu tadi sebenarnya tidaklah sengaja, kecuali ceroboh, rasanya tiada kesalahan lain, apa lagi seumpama nona itu dibunuh juga tak dapat lagi menyelamatkan jiwa Siao-liong-li. Begitulah Yo Ko berdiri dengan sinar mata berapi-api dan menghunus pedang, mendadak pedangnya membacok sekuatnya.
“Trangg...!”
Tahu-tahu peti batu yang dibuatnya sembunyi tadi telah ditebasnya menjadi dua potong, bukan saja tenaga bacokannya itu maha kuat, bahkan mengandung penuh rasa duka dan marah. Yalu Ce dan lain-lainnya sama melenggong melihat betapa dahsyatnya pedang Yo Ko. Padahal peti batu itu amat tebal dan kuat, tapi sekali bacok saja pedang kehitam-hitaman itu mampu memotongnya, bahkan jauh lebih mudah dari pada memotong sebuah peti mati kayu. Melihat kelima orang itu saling pandang dengan bingung Yo Ko lantas membentak dengan bengis:
“Untuk apa kalian datang ke sini?!”
“Adik Yo, kami ikut Kwe-hujin ke sini untuk mencari kau,” jawab Sam-thong.
“Hmm, kalian hendak merebut kembali puterinya, betul tidak?!” bentak Yo Ko pula dengan marah. “Demi anak kecil ini, kalian tega menewaskan isteri kesayanganku.”
“lsteri kesayanganmu?” Bu Sam-thong menegas, “O ya, nona Liong ini! Dia terkena racun jarum, untunglah Kwe-hujin mempunyai obat penawarnya, beliau sedang menunggu di luar sana.”
“Huh, kalau pun ada Kwe-hujin lantas bisa apa? Memangnya dia mempunyai kepandaian menghidupkan orang yang jelas-jelas pasti akan mati?” jengek Yo Ko dengan marah. “Justru karena gangguan kedatangan kalian serta jarum berbisa tadi telah membuat kadar racun mengeram di segenap Hiat-to penting tubuhnya,”
Lantaran utang budi, maka Bu Sam-thong sangat hormat dan segan kepada Yo Ko, biar pun didamperat diterimanya, ia menggumam kaget:
“Kadar racun telah mengeram di tubuhnya? Wah lantas bagaimana baiknya?”
Ternyata Kwe Hu belum menyadari kesalahannya, sebaliknya dia menjadi marah karena ucapan Yo Ko tadi kurang menghormat pada ibunya, dengan marah lantas membentak:
“Memangnya salah apa ibuku padamu? Waktu kecil kau terluntang Iantung seperti orang gelandangan, bukankah ibu yang membawa kau ke rumah, diberi makan dan diberi baju, tapi kau justru lupa budi dan tak tahu diri, malah kau menculik adik perempuanku.”
Padahal sekarang dia pun sudah tahu jelas sebabnya Kwe Siang berada di tangan Yo Ko bukanlah karena anak muda itu berniat jahat. Soalnya dia telah telanjur mengomel, maka segala apa yang dapat mencemoohkan Yo Ko lantas diucapkannya.
Yo Ko lantas mendengus pula: “Hmm, memang aku sengaja lupa budi dan tidak tahu diri. Kau menuduh aku menculik adikmu, maka benar-benar akan kuculik anak ini dan takkan kukembalikan selamanya, ingin kulihat kau dapat mengapakan diriku?”
Karena ancaman itu, segera Kwe Hu memondong adiknya dengan kencang, tangan lain memegang obor dan diacungkan ke depan. Bu Sam-thong berseru:
“Adik Yo, jika isterimu keracunan, sebaiknya lekas berusaha menolong.“
“Tiada gunanya lagi, Bu-heng,” kata Yo Ko dengan pedih. Mendadak dia bersuit panjang, lengan baju kanannya terus mengebas.
Seketika itu Kwe Hu dan kedua saudara Bu merasakan ada angin keras menyambar, muka mereka panas pedas seperti tersayat, lima buah obor padam serentak dan keadaan menjadi gelap gulita.
“Celaka!” jerit Kwe Hu.
Kuatir nona itu dicelakai Yo Ko, cepat Yalu Ce menubruk maju. Namun lantas terdengar pekik tangis Kwe Siang, suaranya sudah berada di luar kamar. Keruan semua orang terkejut sekali. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu suara tangisan tadi sudah berada sejauh ratusan meter, betapa cepat gerakan Yo Ko itu sungguh laksana hantu saja.
“Adik telah dirampas lagi olehnya,” seru Kwe Hu cemas.
“Adik Yo...! Nona Liong...!” berulang kali Bu Sam-thong memanggil, namun tiada sesuatu jawaban.
“Lekas keluar, jangan sampai kita terkurung di sini!” seru Yalu Ce.
Dengan gusar Bu Sam-thong berkata: “Adik Yo adalah orang yang berbudi, mana bisa dia berbuat demikian?”
“Lebih baik lekas keluar, buat apa tinggal di sini?” ujar Kwe Hu. Baru habis kata-katanya, tiba-tiba...
“Krek-krek!” terdengar suara beberapa kali, suara itu timbul dari peti mati, cuma teraling oleh tutup peti sehingga suaranya kedengaran agak tersumbat dan seram.
“Ada setan!” teriak Kwe Hu sambil memegangi tangan Yalu Ce.
Dengan jelas Bu Sam-thong dan lain-lain juga mendengar suara itu keluar dari peti mati itu seakan ada mayat hidup akan merangkak keluar, keruan mereka sama merinding. Yalu Ce berbisik kepada Bu Sam-thong:
“Bu-sioksiok, kau jaga di situ dan aku di sini, jika mayat hidup itu keluar, serentak kita menghantamnya, mustahil dia takkan hancur luluh.”
Berbareng itu dia tarik Kwe Hu ke belakangnya agar tidak dicelakai setan yang mendadak muncul. Pada saat itulah...
“Blangg...!” terdengar suara keras, dari dalam peti mati tiba-tiba melayang keluar sesuatu.
Serentak Yalu Ce dan Bu Sam-thong memukulkan tangan-tangan mereka. Tetapi begitu tangan menyentuh benda itu, berbareng mereka berseru:
“Celaka!”
Kiranya benda yang kena hantam itu adalah sepotong batu, yaitu bantalan batu di dalam peti mati. Kontan bantal batu itu hancur membentur peti batu. Hampir pada saat yang sama sesuatu benda melayang lewat puIa, baru saja Yalu Ce dan Bu Sam-thong hendak memukuI, namun benda itu sudah melayang jauh ke sana, terdengar suara tertawa orang mengekek, lalu lenyap dan sunyi kembali.
“He, itu Li Bok-chiu!” seru Sam-thong kaget.
“Bukan, tapi mayat hidup!” ujar Kwe Hu. “Mana bisa Li Bok-chiu berada dalam peti mati ini.”
Yalu Ce tidak ikut menanggapi. Ia tidak percaya di dunia ini ada setan segala, tapi bilang Li Bok-chiu rasanya juga tidak masuk di akal. Jelas Li Bok-chiu datang bersama mereka, sedangkan Yo Ko dan Siao-liong-li sudah tinggal sekian lama di kuburan kuno ini, mana mungkin terjadi Li Bok-chiu bersembunyi dalam peti mati yang terletak di bawah tempat sembunyi Yo Ko tadi?
“Habis ke mana perginya Li Bok-chiu?” tanya Bu Sam-thong.
“Banyak keanehan di kuburan ini, sebaiknya lekas kita keluar saja,” ajak Yalu Ce.
“Bagaimana dengan adikku?” tanya Kwe Hu.
“lbumu banyak tipu dayanya, tentu dia mempunyai akal yang baik, marilah kita keluar ke sana dan minta petunjuknya,” ujar Sam-thong.
Begitulah mereka lantas mencari jalan keluar melalui sungai. Akan tetapi baru saja mereka muncul di permukaan air, pemandangan yang mereka lihat adalah merah membara semata, pepohonan di kanan kiri sungai ternyata sudah terbakar semua, hawa panas serasa membakar muka mereka.
“lbu...! Ibu...!” teriak Kwe Hu kuatir, tapi tidak mendapatkan jawaban.
Sekonyong-konyong sebatang pohon yang sudah terbakar roboh dan mengeluarkan suara gemuruh. Melihat keadaan sangat berbahaya, cepat-cepat Yalu Ce menarik Kwe Hu dan berenang ke hulu menjauhi tempat pohon roboh itu. Tatkala itu adalah musim kering, pepohonan dan rerumputan mudah terbakar, di manamana api mengamuk, seluruh gunung menjadi lautan api. Meski pun mereka terendam di dalam air sungai, muka mereka pun terasa amat panas tergarang oleh api yang berkobar dengan hebat.
“Pasti pasukan Mongol yang gagal menyerang Tiong-yang-kiong itu yang melampiaskan dendam dengan membakar Cong-lam-san,” kata Bu Sam-thong.
“lbu...! Ibu...! Di mana kau?” teriak Kwe Hu kuatir.
Tiba-tiba di kiri sungai ada bayangan seorang perempuan sedang ber-lompat kian kemari menghindari api. Kwe Hu menjadi girang sekali dan berseru:
“lbu!” Tanpa pikir ia melompat keluar dari sungai dan memburu ke sana.
“He, awas!” seru Sam-thong. Mendadak dua pohon besar roboh dan mengalingi pemandangan Bu Sam-thong.
Kwe Hu terus berlari ke sana, di bawah gumpalan asap dan menerjang api. Karena ingin menemukan ibunya, maka tanpa pikir ia memburu maju, sesudah dekat barulah ia merasa bayangan orang itu menoleh dan ternyata Li Bok-chiu adanya. Keruan kejut Kwe Hu tak terkatakan. Sebenarnya Li Bok-chiu benar-benar sudah putus asa setelah tertutup di dalam peti batu itu dan ditindih lagi dengan peti lainnya oleh Yo Ko. Tapi kemudian dalam marahnya tanpa sengaja Yo Ko telah membacok peti batu sehingga tutup peti bagian bawah juga ikut retak terbacok.
Li Bok-chiu benar-benar lolos dari renggutan maut, kesempatan baik itu tidak disia-siakan olehnya. Lebih dulu ia melemparkan keluar bantal batu, habis itu ia pun melompat keluar. Meski belum lama ia terkurung dalam peti mati, tapi rasanya orang yang akan mati sesak napas itu benar-benar keadaan yang paling menderita dan paling mengenaskan. Dalam waktu yang singkat pikirannya diliputi penuh rasa dendam, ia benci pada setiap orang yang hidup di dunia ini, pikirnya:
“Setelah mati aku pasti menjadi hantu yang jahat, akan kubinasakan Yo Ko, bunuh Siao-liong-li, Bu Sam-thong, Oey Yong dan lain-lain...”
Begitulah setiap orang akan dibunuhnya untuk membalas sakit hatinya. Meski pun secara kebetulan kemudian dia berhasil lolos dengan selamat, namun rasa dendam dan bencinya tidak menjadi berkurang. Kini mendadak Kwe Hu muncul sendiri di depannya, ia menjadi girang. Dengan tersenyum ia menegurnya:
“Ehh... kiranya kau, nona Kwe! Api berkobar dengan hebatnya, kau harus hati-hati.”
Kwe Hu tidak menyangka orang akan bersikap begini ramah padanya, segera ia bertanya:
“Apakah engkau melihat ibuku?”
“Tadi kulihat ibumu ada di sana,” jawab Li Bok-chiu sambil menunjuk ke samping.
Waktu Kwe Hu memandang ke arah yang ditunjuk, mendadak Li Bok-chiu menubruk, sekali tangannya bekerja, Hiat-to pada pinggang Kwe Hu tertotok. Sambil tertawa Li Bok-chiu berkata:
“Sabarlah, kau tunggu saja di sini, segera ibumu akan datang.”
Sementara itu api berkobar semakin hebat dan mendesak dari berbagai jurusan, jika lebih lama di situ mungkin jiwanya pun akan melayang. Oleh karena itu Li Bok-chiu segera melompat ke sana dan berlari cepat ke arah yang belum terjilat api. Kwe Hu tergeletak tak bisa berkutik menyaksikan kepergian Li Bok-chiu. Tiba-tiba segumpal asap menyambar, napasnya menjadi sesak, ia terbatuk-batuk hebat.
Bu Sam-thong dan Yalu Ce berempat masih berdiri di tengah sungai, muka dan kepala mereka penuh hangus. Antara Kwe Hu dan sungai kecil itu terhalang oleh api yang berkobar dengan hebatnya. Meski mereka mengetahui si nona berada dalam bahaya, tapi jiwa mereka pasti akan ikut melayang kalau mereka memburu maju untuk menoIongnya.
Dalam keadaan sesak napas dan rasa panas seperti dipanggang, Kwe Hu hampir-hampir tak sadarkan diri. Pada saat itulah dari jurusan timur ada suara menderu-deru. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesosok bayangan seperti angin lesus bergulung-gulung menyambar. Pada waktu Kwe Hu mengawasi, kiranya bayangan itu adalah Yo Ko. Pemuda itu sudah menanggalkan jubahnya yang basah kuyup untuk membungkus Hian-tiat-pokiam, dengan tenaga dalam yang kuat dia ayun-ayunkan pedang itu untuk menyingkirkan kobaran api.
Tadinya Kwe Hu girang sekali karena ada orang datang menolongnya, tetapi sesudah mengetahui orang itu adalah Yo Ko, seketika perasaannya seperti disiram air dingin meski di luar tubuh panas seperti dipanggang. Pikirnya: “Ajalku sudah dekat dia sengaja datang buat menghina diriku.”
Betapa pun dia adalah anak Kwe Ceng, dengan gemas ia memelototi Yo Ko tanpa gentar. Tak terduga, begitu sampai di samping Kwe Hu, segera Yo Ko membuka Hiat-to si nona yang tertotok, pedangnya terus menusuk, tapi bukan menembus tubuhnya melainkan menerobos lewat di pinggangnya, sekali bentak:
“Awas!” Tangan kirinya terus mengayun sekuatnya ke sana.
Dengan bobot pedang pusaka yang amat berat ditambah tenaga dalamnya yang maha kuat, seketika Kwe Hu melayang ke udara seperti terbang di awang-awang dan melintasi belasan pohon besar yang terbakar.
“Plung...!” akhirnya ia jatuh ke dalam sungai.
Lekas-lekas Yalu Ce memburu maju untuk membangunkan Kwe Hu, tetapi nona itu masih merasa pusing kepala dan mata berkunang-kunang. Ia serba runyam, entah senang entah sedih.
Kiranya sesudah Yo Ko dan Siao-liong-li keluar dari kuburan kuno dengan membawa Kwe Siang, terlihat pasukan Mongol sedang membakar hutan di lereng Cong-lam-san itu. Sudah ber-tahun lamanya mereka hidup di sekitar hutan yang rindang itu, mereka amat menyesal dan merasa sayang menyaksikan kebakaran hebat itu, tetapi pasukan Mongol terlalu kuat dan sukar dilawan, terpaksa mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Yo Ko tidak tahu Siao-liong-li sanggup bertahan berapa lama lagi setelah racun bersarang di segenap Hiat-to penting. Segera ia mencari satu goa yang jauh dari tetumbuhan untuk bersembunyi sementara.
Dari kejauhan mereka menyaksikan Kwe Hu dirobohkan oleh Li Bok-chiu dan tampaknya segera akan terbakar mati. Dengan gegetun Yo Ko berkata kepada Siao-liong-li:
“Liong-ji, nona Kwe telah membikin sengsara padaku dan mencelakai kau pula, dan akhirnya dia mendapatkan ganjaran yang setimpal.”
Dengan heran Siao-liong-li memandang Yo Ko dengan sorot matanya yang tajam: “Ko-ji, masa kau tidak pergi menolongnya?”
“Orang telah membikin susah hingga begini, kalau dia tidak kubunuh sudah sangat bagus baginya,” ujar Yo Ko dengan gemas.
“Ah, kita sendiri yang tidak beruntung, semua itu disebabkan suratan nasib, biarkan orang lain gembira dan bahagia, kan lebih baik begitu?” ujar Siao-liong-li.
Walau pun di mulutnya Yo Ko berkata begitu, namun dalam hatinya merasa tidak tega ketika menyaksikan api sudah menjalar sampai di dekat Kwe Hu. Akhirnya ia pun berkata dengan pedih:
“Baiklah, nasib kita yang buruk, nasib orang lain yang beruntung!”
Segera dia membungkus pedang pusaka dengan jubahnya yang basah, lantas berlari cepat untuk menolong Kwe Hu yang terjebak api dalam keadaan tak berdaya.
TERPAKSA MENGUNGSI
Setelah melemparkan Kwe Hu ke sungai, dia berlari kembali ke dekat Siao-liong-li dengan baju dan rambut hangus, celananya juga terbakar sebagian, malahan pada pahanya timbul gelembung air akibat terbakar.
Siao-liong-li membawa Kwe Siang mundur ke tempat yang lebih jauh dari hawa panas, kemudian ia membelai rambut Yo Ko dan membetulkan pakaiannya. Tidak kepalang rasa bangganya mendapatkan seorang suami ksatria dan gagah perkasa. Dia pun bersandar pada tubuh Yo Ko dengan perasaan gembira dan bahagia. Yo Ko merangkul pinggang Siao-liong-li dan memandanginya dengan terkesima, si nona yang tersorot cahaya api itu bertambah molek. Sesaat mereka sama sekali melupakan segala duka derita di dunia ini.
Mereka berdua berada di tempat lebih tinggi. Bu Sam-thong, Kwe Hu dan Yalu Ce berlima yang berada di sungai itu memandang dari balik api yang ber-kobar. Tampak pakaian kedua suami isteri itu berkibar tertiup angin, sikapnya agung berwibawa laksana malaikat dewata. Biasanya Kwe Hu suka memandang hina si Yo Ko, tapi sekarang ia menjadi malu sendiri.
Sejenak Yo Ko berdua berdiri. Sambil memandangi api yang mengamuk itu, Siao-liong-li berkata dengan gegetun:
“Sesudah terbakar habis bersih, kelak kalau pepohonan tumbuh lagi di sini, entah bagaimana wujudnya nanti?”
“Api yang dinyalakan pasukan Mongol ini mungkin merupakan pesta bagi pernikahan kita,” ujar Yo Ko tertawa. “Marilah kita mengaso di goa sebelah sana.”
Siao-liong-li mengiyakan. Keduanya lantas berjalan ke balik gunung sana. Tiba-tiba saja Bu Sam-thong ingat sesuatu, cepat dia berteriak:
“Adik Yo, Susiok dan Cu-sute terkurung di Coat-ceng-kok, engkau mau menolong mereka tidak?”
Yo Ko rada melengak, dia menggumam sendiri: “Peduli amat urusan orang lain.” Sambii berkata begitu dia terus melangkah ke sana.
Meski racun mengeram hebat dalam tubuhnya, akan tetapi sementara ini belum bekerja, sebaliknya ilmu silatnya sudah mulai pulih karena Hiat-to yang tadinya terganggu telah berhasil diterobos semuanya. Dengan memondong Kwe Siang dia dapat melangkah cepat ke depan. Sudah lebih satu jam mereka berjalan dan semakin jauh meninggalkan Tiong-yang-kiong, dipandang dari jauh api masih berkobar di pegunungan itu. Angin utara meniup semakin kencang sehingga muka Kwe Siang kedinginan.
“Mari kita mencari sesuatu makanan, anak ini kedinginan dan lapar, mungkin tidak tahan,” kata Siao-liong-li.
“Ya, aku ini sungguh tolol, entah untuk apa kurebut anak ini, ternyata hanya menambah beban saja,” ujar Yo Ko.
Siao-liong-li mencium muka Kwe Siang yang merah apel itu, katanya kemudian: “Adik cilik ini sangat menyenangkan, apakah kau tidak suka padanya?”
“Anak orang lain, tetap saja anak orang Iain. Paling baik kalau kita dapat melahirkan anak sendiri,” kata Yo Ko tertawa.
Wajah Siao-liong-li menjadi kemerahan, ucapan Yo Ko ini menyentuh sifat keibuan di lubuk hatinya, pikirnya: “Ya, alangkah baiknya kalau aku dapat melahirkan anak bagimu, akan tetapi aihh...”
Kuatir si nona berduka, Yo Ko tak berani mengadu pandang, ia menengadah memandangi langit. Tampak awan tebal menggumpal bergeser dari sebelah barat-laut, begitu tebal dan luas gumpalan awan itu se-akan jatuh menimpa kepala. Katanya:
“Jika melihat gelagatnya, mungkin segera akan turun salju, kita perlu mencari rumah penduduk untuk mondok.”
Namun arah yang mereka tempuh adalah lereng pegunungan yang sunyi, di mana-mana hanya batu padat dan semak belukar belaka, mana ada rumah penduduk.
“Wah, tampaknya salju yang turun nanti pasti sangat lebat. Agar jalan kita tidak tertutup, sebaiknya kita memburu waktu dan turun gunung sekarang juga,” Yo Ko berkata sambil mempercepat langkahnya.
“Paman Bu dan nona Kwe akan kepergok pasukan Mongol tidak? Para Tosu Coan-cin-kau itu entah dapat lolos dengan selamat tidak?” Demikian Siao-liong-li berucap dengan nada yang simpatik.
“Kau benar-benar mempunyai Liangsim (hati nurani). Orang-orang itu sudah berbuat jahat padamu, tapi kau tetap tidak melupakan keselamatan mereka, pantas dahulu kakek guru mengharuskan kau berlatih ilmu yang bebas dari segala cinta rasa, urusan apa pun tidak peduli dan tidak ambil pusing. Akan tetapi karena kau menaruh perhatian kepadaku, hasil latihanmu selama 20 tahun telah hanyut seluruhnya dan mulailah kau menaruh perhatian terhadap siapa pun.”
Siao-liong-li tersenyum, katanya: “Sesungguhnya, pahit getir penderitaanku bagimu juga mendatangkan rasa manis, yang aku kuatirkan adalah kau tidak mau terima perhatianku kepadamu.”
“Ya, merasakan pahit dan manis jauh lebih baik dari pada tidak merasakan apa-apa!” kata Yo Ko. “Aku sendiri hanya suka ugal-ugalan dan angin-anginan, tidak pernah hidup tenang dan aman tenteram.”
“Bukankah kau mengatakan kita akan pergi ke selatan, di sana kita akan bercocok tanam dan beternak?” tanya si nona dengan tersenyum.
“Benar, semoga terkabul harapan kita,” ujar Yo Ko menghela napas.
Sampai di sini tampaklah kapas tipis mulai beterbangan dari angkasa, bunga salju telah mulai turun. Dengan Iwekang mereka yang tinggi, hawa dingin itu tidak menjadi soal, segera mereka melangkah dengan cepat.
“Eh, Ko-ji, coba kau terka ke mana perginya Suci-ku sekarang?”
“Kembali kau memperhatikan dia lagi. Akhirnya Giok-li-sim-keng dibawa lari olehnya dan terkabul cita-citanya. Kuatirnya kalau isi kitab itu berhasil diyakinkan dan ilmu silatnya maju pesat, bisa jadi kejahatannya akan bertambah hebat.”
“Sebenarnya suci juga harus dikasihani,” ujar Siao-liong-li.
“Tapi dia sendiri tidak rela dan ingin membikin setiap orang di dunia ini berduka dan merana seperti dia,“ kata Yo Ko.
Tengah bicara, cuaca semakin gelap. Setelah membelok ke lereng sana, tiba-tiba terlihat di antara dua pohon Siong tua terdapat dua buah rumah gubuk, atapnya sudah tertimbun salju setebal jari manusia.
“Aha, di sinilah kita lewatkan malam,” seru Yo Ko kegirangan.
Setiba di depan gubuk, tampak daun pintunya setengah tertutup. Tanah salju di situ tiada tanda-tanda bekas kaki. Ia coba berseru:
“Permisi! Karena hujan salju, kami mohon mondok satu malam saja.”
Tapi sampai sekian lama ternyata tiada suara jawaban. Yo Ko lantas mendorong pintu. Di dalam tidak ada seorang pun. Di atas meja kursi penuh debu, agaknya sudah lama tiada penghuninya. Segera dia memanggil Siao-liong-li masuk dan setelah menutup pintu, mereka lantas membuat api unggun. Pada dinding papan rumah itu tergantung busur dan anak panah, di pojok rumah sana terdapat sebuah alat perangkap kelinci. Agaknya rumah ini adalah pondok darurat kaum pemburu. Dengan busur dan anak panah itu Yo Ko keluar berburu dan mendapatkan buruan, maka mulailah mereka berpesta rusa panggang.
Sementara itu salju turun semakin lebat, namun hawa di dalam rumah cukup hangat oleh api unggun. Siao-liong-li mengunyah sedikit daging rusa dan menyuapi Kwe Siang. Sambil menikmati daging rusa panggang itu Yo Ko memandangi mereka berdua dengan tersenyum simpuI, suasana terasa hangat dan mesra laksana pengantin baru yang tengah bertamasya.
Sekonyong-konyong dari arah timur tanah salju itu berkumandang suara tindakan orang yang cepat, jelas itulah ginkang orang yang mahir ilmu silat. Yo Ko berdiri dan melongok ke sana melalui jendela. Dilihatnya dua kakek datang ke arah gubuk ini, seorang gemuk dan yang lain kurus, pakaian mereka rombeng. Kakek kurus itu memanggul sebuah HoIo (buli-buli dari sejenis labu besar) besar warna merah. Hati Yo Ko tergetar, teringat olehnya bahwa benda itu adalah milik Ang Chit-kong.
Dahulu Ang Chit-kong, ketua Kay-pang yang berjuluk pengemis sakti berjari sembilan, bertempur mati-matian dengan Auyang Hong di puncak tertinggi Hoa-san, akhirnya kedua orang sama-sama kehabisan tenaga dan gugur bersama. Yo Ko yang mengubur kedua orang tua itu dan Holo besar merah itu pun ditanam di samping jasad Ang Chit-kong. Kemudian dalam pertemuan besar para ksatria, seorang pengemis tua pernah membawa Holo merah itu sebagai tanda perintah Ang Chit-kong, katanya ketua itu belum meninggal, bahkan menganjurkan kaum jembel bangkit membela tanah air dan mengusir musuh.
Tatkala itu Yo Ko sangat heran dari mana munculnya Holo merah itu? Akan tetapi dalam pertemuan besar itu banyak terjadi persoalan sehingga tidak sempat mengusut urusan itu, kemudian juga tidak bertemu lagi dengan orang Kay-pang sehingga urusan itu pun sudah terlupa, dan sekarang dandanan kedua kakek ini jelas juga anggota Kay-pang. Yo Ko jadi tertarik demi ingat kejadian dahulu, segera ia membisiki Siao-liong-li:
“Di luar ada orang, kau rebah saja di pembaringan dan pura-pura sedang sakit.”
Siao-liong-li menurut. Dia pondong Kwe Siang lantas berbaring di atas ranjang, ditariknya selimut butut yang terletak di ujung tempat tidur. Yo Ko lantas memolesi mukanya dengan hangus, topinya ditarik hingga hampir menutupi mukanya, pedang pusakanya disembunyikan.
Dalam pada itu kedua orang tadi sudah mengetok pintu. Cepat Yo Ko menggosok-gosok tangannya yang berlepotan minyak daging rusa sehingga lebih mirip seorang pemburu yang kotor, habis itu pintu dibukanya.
Dengan tertawa si kakek gemuk lantas berkata: “Hujan salju ini amat hebat hingga sukar meneruskan perjalanan, mohon kemurahan hati tuan agar sudi menerima pengemis untuk mondok satu malam.”
“Ahh, pemburu macamku tidak perlu dipanggil tuan segala, silakan Lotiang (bapak) masuk dan bermalam di sini,” jawab Yo Ko.
Berulang-ulang pengemis gemuk itu mengucapkan terima kasih. Segera Yo Ko mengenali juga si pengemis kurus itu, jelas dia orang yang pernah menyampaikan perintah Ang Chit-kong dulu dengan membawa Holo besar merah. Diam-diam ia menjadi kuatir kalau-kalau dirinya akan dikenali pengemis kurus itu, cepat ia merobek dua potong daging panggang dan diberikan kepada kedua orang itu, katanya:
“Mumpung masih hangat, silakan makan seadanya. Hujan salju begini kebetulan bagiku untuk menambah penghasilan. Besok pagi aku harus pergi memasang perangkap untuk menangkap rase. Maafkan, aku tidak bisa menemani kalian lebih lama.”
“Oh, jangan sungkan-sungkan, silakan saja,” jawab si pengemis gemuk tadi.
Segera Yo Ko sengaja berseru dengan suara keras: “Ibunya bocah, apakah batukmu sudah baikan?”
“Wah, pergantian musim makin menambah sesak dadaku saja,” jawab Siao-liong-li sambil batuk lebih keras, berbareng ia sengaja menggoyangi Kwe Siang sehingga anak itu terjaga bangun, maka di antara suara batuk segera terseling dengan suara tangisan anak bayi, sandiwara keluarga pemburu benar-benar dimainkan mereka dengan sangat hidup.
Yo Ko lantas masuk ke ruangan dalam serta menutup pintu, lalu dia berbaring di samping Siao-liong-li. Diam-diam dia sedang mengingat-ingat muka si pengemis gemuk tadi seperti sudah pernah dikenalnya, cuma di mana, dia tidak ingat.
Kedua pengemis gemuk kurus itu menyangka Yo Ko betul-betul seorang pemburu miskin, maka mereka tidak menaruh perhatian kepadanya. Sembari makan daging rusa panggang mereka lantas mulai mengobrol. Si pengemis kurus berkata:
“Melihat api yang berkobar di Cong-lam-san itu, agaknya sudah berhasil.”
“Di mana tiba pasukan Mongol, di situ lantas ditaklukkan. Kalau hanya sekawanan Tosu Coan-cin-kau saja, apa artinya lagi?” ujar si pengemis gemuk tertawa.
“Tetapi beberapa hari yang lalu Kim-lun Hoat-ong dan begundalnya sudah pulang dengan mengalami kekalahan yang mengenaskan,” kata si kurus.
“Itu pun baik, biar Sri Baginda tahu bahwa untuk menduduki tanah air bangsa Han ini diperlukan tenaga bangsa Han sendiri, jika melulu mengandalkan orang Mongol dan orang asing lainnya jelas tidak akan jadi.”
Sampai di sini mendadak Yo Ko teringat bahwa si gemuk ini juga pernah dilihatnya dalam pertemuan besar kaum ksatria dahulu, cuma waktu itu si gemuk ini memakai mantel kulit dan berdandan sebagai orang Mongol serta selalu berbisik-bisik di samping Kim-lun Hoat-ong, jelas inilah orangnya. Diam-diam dia merasa gemas, pikirnya:
“Apa yang mereka bicarakan urusan pengkhianatan belaka. Sekarang kebetulan kepergok olehku, maka tidak dapat kuampuni.”
Ternyata pengemis gemuk ini adalah satu di antara su-tay-tianglo (empat tertua) dalam Kay-pang, yaitu Peng-tiangIo. Perbuatannya memang khianat, sudah lama dia menyerah kepada pihak Mongol. Begitulah terdengar si pengemis kurus berkata lagi:
“Peng-tianglo, sekali ini apa bila Kay-pang aliran selatan jadi didirikan, entah pangkat apa yang akan kau peroleh dari raja Mongol?”
“Raja menjanjikan pangkat ‘panglima besar wilayah selatan’ padaku,” jawab Peng-tianglo. “Akan tetapi seperti kata peribahasa kita, mengemis tiga tahun lebih bebas dari pada jadi raja tiga hari. Kaum pengemis seperti kita masa ingin menjadi pembesar segala?”
Biar pun demikian katanya, namun dari balik ruangan sana Yo Ko dapat menangkap nada ucapannya yang penuh ambisi dan harapan.
“Wah, untuk itu terimalah lebih dulu ucapan selamat dariku,” kata si kurus.
“Selama beberapa tahun terakhir ini jasamu juga tidak kecil, maka kelak tentu kau akan mendapat bagian yang sesuai juga.”
“Soal kedudukan tidak berani kuharapkan, cuma engkau pernah menjanjikan Liap-hun-tay-hoat (ilmu pengikat sukma, serupa hipnotisme pada masa sekarang), bilakah engkau akan mengajarkannya kepadaku?”
“Nanti kalau Kay-pang selatan sudah berdiri dengan resmi, sesudah aku menjadi Pangcu dan begitu ada waktu luang segera akan kuajarkan padamu.”
“Sesudah engkau menjadi Pangcu serta diangkat menjadi panglima, kukira pekerjaanmu semakin banyak dan sibuk, mana ada waktu luang?”
“Ahh, masa kau tidak percaya padaku?” ujar Peng-tianglo tertawa.
Si kurus tidak bicara lagi, hanya hidungnya mendengus perlahan, tampaknya dia masih ragu. Yo Ko membatin: “Di seluruh dunia hanya ada satu perkumpulan Kay-pang tanpa membedakan utara dan selatan, buat apa dia hendak mendirikan Kay-pang aliran selatan segala? Ini pasti permainan gila orang Mongol!”
Terdengar Peng-tianglo berkata dengan tertawa: “Sesudah berkeliling hendaklah kau menyebarkan perintah si setan tua she Ang, katakan utara dan selatan terhalang dan sukar mengadakan kontak, maka utara dan selatan perlu dipisahkan menjadi dua.”
“Dan para anggota bagian selatan dengan sendirinya berada di bawah pimpinanmu,” kata si kurus dengan suara dingin.
“Juga tidak perlu begitu. Biarlah kita mengangkat dulu Kan-tianglo sebagai ketua, usianya lebih tua, anak muridnya juga banyak, orang lain tentu tidak akan curiga. Nanti kalau dia telah kupengaruhi dengan Liap-hun-tay-hoat, tentu dia akan menyerahkan kedudukannya padaku, tatkala itu segalanya akan menjadi beres.”
“Sebenarnya Ang-lopangcu sudah lama wafat, kalau kusiarkan lagi perintah palsu beliau, mungkin akan lebih menimbulkan curiga orang. Kalau melulu mengandalkan Holo palsu ini rasanya sukar mendustai orang terus menerus. Jika kepungan terhadap Siang-yang telah mereda dan Oey-pangcu datang mengusut persoalan ini, wah, biar pun jiwaku pakai serep juga akan melayang semuanya.”
“Ha-ha-ha!” Peng-tianglo tertawa, “Asalkan kau bertindak cepat maka urusan akan cepat beres. Mengenai perempuan hina she Oey itu, sekarang dia terkepung di kota, jiwanya pasti sukar tertolong.”
Sampai di sini barulah Yo Ko paham duduknya perkara. Ternyata Holo merah itu adalah tiruan. Lantaran tidak ada orang yang menyaksikan meninggalnya Ang Chit-kong, mereka berdua lantas membawa Holo palsu untuk mempengaruhi murid-murid Kay-pang, dan karena seruan yang mereka sebar itu mengenai tugas suci kaum pahlawan, demi negara dan bangsa, maka anggota Kay-pang tidak menaruh curiga. Kalau semua anggota sudah percaya penuh barulah Peng-tianglo itu akan berusaha mendirikan aliran cabang selatan untuk memecah belah Kay-pang, organisasi terbesar pada jaman itu.
Meski Yo Ko hanya berkumpul beberapa hari saja dengan Ang Chit-kong, tapi dia benar-benar kagum dan hormat terhadap sifat ksatria tokoh tua itu, pikirnya: “Ang-locianpwe sedemikian perkasa, nama baiknya sesudah meninggal tak boleh dirusak oleh kaum tikus celurut begini.”
Apa lagi dia pun teringat kepada keganasan pasukan Mongol yang dilihatnya di sepanjang jalan, maka diam-diam dia bertekat akan membunuh kedua jahanam ini.
Demikianah terdengar si pengemis kurus tadi berkata lagi: “Peng-tianglo, barang yang sudah kau janjikan, harus kau berikan, cuma kulihat engkau rada-rada lain di mulut lain di hati.”
“Habis kau mau apa?” tanya Peng-tianglo dengan tak senang.
“Aku berani apa?” jawab si kurus, “Hanya aku ini memang penakut, selanjutnya aku tidak berani lagi menyiarkan perintah palsu Ang-pangcu.”
Yo Ko anggap ucapan si kurus itu benar-benar goblok, barang kali ingin mampus makanya berani berkata begitu.
Terdengar Peng-tianglo bergelak tertawa, katanya: “Baiklah, urusan ini masih dapat kita rundingkan lagi, jangan kau sangsi.”
Setelah berhenti sejenak si kurus lantas berkata pula: “Sisa daging rusa ini tidak kenyang kita makan, biar aku pergi mencari buruan lain.” Habis itu dia lantas membawa busur dan anak panah lalu melangkah keluar.
Segera Yo Ko mengintip dari sela-sela dinding papan. Dilihatnya begitu si kurus itu pergi, Peng-tiango juga bangkit dan melolos belati serta mendengarkan gerak-gerik kawannya dari balik pintu. Sesudah mendengar suara tindakan si kurus sudah pergi jauh, dengan ber-jengkit ia menyelinap keluar. Dengan tertawa Yo Ko membisiki Siao-liong-li:
“Jelas dua jahanam ini akan saling bunuh. Malah kebetulan bagiku, aku dapat mengirit tenaga. Kulihat si gemuk itu jauh lebih lihay dan si kurus bukan tandingannya.”
“Paling baik kalau keduanya tidak kembali sehingga gubuk ini akan tenang dan tenteram,” ujar Siao-liong-li.
Yo Ko mengiyakan. Tiba-tiba ia mendesis pula dengan suara tertahan: “Dengarkan suara tindakan orang.”
Terdengar ada orang berjalan dengan ber-jinjit di lereng sebelah barat terus memutar ke belakang gubuk.
“Agaknya si kurus tadi menyusup kembali hendak menyergap si gemuk,” bisik Yo Ko pula dengan tersenyum. Segera dia menolak daun jendela kemudian melompat keluar dengan enteng tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Benar juga dilihatnya si pengemis kurus tengah mengintip dari sela-sela dinding. Rupanya ia menjadi ragu-ragu karena tidak menemukan bayangan si gemuk. Pada saat itulah Yo-Ko telah berada di belakangnya dan mendadak mengikik tawa. Sudah tentu si kurus terkejut, cepat dia berpaling dengan air muka ketakutan karena menyangka Peng-tianglo yang berada di belakangnya.
Tetapi Yo Ko lantas berkata dengan tertawa: “Jangan takut, jangan takut!” Berbareng itu cepat sekali dia menotok tiga Hiat-to penting di bagian dada, iga dan kaki orang, lalu dia menjinjing tubuh si kurus ke depan gubuk.
Ia memandang sekelilingnya yang sunyi dan salju belaka itu. Tiba-tiba timbul sifat kanak-kanaknya, serunya:
“Liong-ji, lekas kemari, bantulah aku membikin orang-orangan salju,” Habis itu dia terus mengeduk salju yang memenuhi bumi itu lantas diurukkan pada tubuh si pengemis kurus.
Siao-liong-li segera keluar dari gubuk lantas membantunya. Dengan tertawa cekakak dan cekikik Yo Ko dan Siao-liong-li benar-benar seperti anak kecil, hanya sebentar saja seluruh badan pengemis kurus itu penuh diuruki salju. Selain sepasang biji mata saja yang masih dapat bergerak, kini pengemis kurus itu sudah berubah menjadi orang-orangan salju yang gemuk laksana ‘gajah bengkak’, malahan pada punggungnya masih menggendong Holo besar yang juga berlapiskan bunga salju.
“Ha-ha-ha, kakek kurus kering ini hanya sekejap saja sudah berubah menjadi gemuk dan putih,” kata Yo Ko sambil tertawa.
“Dan kakek yang aslinya memang gemuk dan putih itu nanti hendak kau permak menjadi apa?” ujar Siao-liong-li dengan riang.
Belum lagi Yo Ko menjawab, terdengarlah Iangkah orang dari jauh. Cepat anak muda itu mendesis:
“Ssssst, si gemuk sudah kembali, lekas kita sembunyi dulu.”
Cepat mereka masuk lagi ke dalam rumah kemudian merapatkan pintu kamar. Siao-liong-li sengaja menggoyangkan Kwe Siang agar anak itu menangis, tapi niatnya tiada berhenti menimangnya agar lekas tidur. Selama hidupnya tidak pernah Siao-liong-li berdusta dan berbuat munafik, perbuatan yang aneh dan licik ini malah belum terbayang olehnya. Soalnya ia melihat Yo Ko suka berbuat begitu, maka ia pun ikut ramai-ramai saja.
Dalam pada itu Peng-tianglo telah kembali. Sepanjang jalan ia terus mengikuti jejak kaki, dilihatnya jejak kaki si kurus memutar balik dan sembunyi di kiri belakang rumah, maka ia pun mengikuti jejak itu ke belakang, hingga akhirnya sampai pula di depan rumah. Dari sela-sela dinding Yo Ko dan Siao-liong-li bisa melihat si gemuk sedang mengintip ke dalam rumah sambil menggenggam belati dan siap siaga. Biar pun pengemis kurus yang diuruki salju itu merasa kedinginan setengah mati, tapi dia masih sadar. Dilihatnya Peng-tianglo justru berada di sampingnya, tapi sedikit pun pengemis gemuk itu tidak menyadari hal ini, asal si kurus ayunkan tangannya ke bawah pasti dapat membinasakan si gemuk, celakanya tiga tempat Hiat-to si kurus tertotok sehingga tak bisa berkutik.
Tampaknya Peng-tianglo sangat heran ketika mengetahui si kurus tidak berada di dalam rumah. Dia lantas mendorong pintu dan sedang memikirkan ke mana perginya pengemis kurus itu. Pada saat itulah mendadak terdengar suara orang berjalan mendatangi. Muka Peng-tianglo tampak berkerut lalu dia sembunyi di balik pintu untuk menanti pulangnya si kurus.
Siao-liong-li dan Yo Ko juga sangat heran. Jelas pengemis kurus itu sudah menjadi orang salju, kenapa ada orang datang lagi? Baru saja mereka berpikir, segera terdengar bahwa yang datang itu seluruhnya dua orang, jelas pendatang baru dan bukan si kurus.
Karena Peng-tianglo itu bertujuan jahat dan bertekad hendak membinasakan si kurus, lagi pula daya pendengarannya memang kalah tajam dari pada Yo Ko dan Siao-liong-li, maka dia tidak mendengarnya dan baru tahu dugaannya meleset sesudah kedua pendatang itu berada di depan rumah.
“O-mi-to-hud: (Adhi Budaya)!” terdengar seorang di antaranya menyebut Budha, “Karena kehujanan salju, kami mohon Sicu suka memberi ijin mondok semalam di sini.”
Peng-tianglo menyelinap keluar. Dilihatnya di tanah salju sana berdiri dua Hwesio tua, seorang alis jenggotnya sudah putih, wajahnya welas asih, seorang lagi jenggot hitam kaku dan memakai jubah hitam. Walau pun di musim dingin tetapi pakaian kedua pendeta itu sangat tipis. Selagi Peng-tianglo masih melengak dan belum menjawab, tahu-tahu Yo Ko sudah keluar dan berseru:
“Silakan masuk, Toa-hwesio! Orang dalam perjalanan memang membawa rumah sendiri?”
Pada saat itu juga mendadak Peng-tianglo melihat Holo besar di punggung si pengemis kurus yang sudah berubah orang salju gemuk itu. Dia terkejut dan heran melihat keadaan kawannya yang aneh itu. Waktu dia menoleh pada Yo Ko, dilihatnya sikap anak muda ini biasa saja seperti tidak mengetahui sesuatu.
Dalam pada itu Yo Ko telah menyilakan kedua Hwesio tua itu ke dalam rumah, dari gerak-gerik kedua Hwesio itu ia yakin mereka pasti bukan sembarangan pendeta agama Budha, terlebih Hwesio jubah hitam yang berwajah bengis dan bersorot mata aneh itu. Ia menjadi sangsi jangan-jangan mereka adalah segolongan Peng-tianglo.
“Silakan tinggal saja di sini, Toa-hwesio,” kata Yo Ko kemudian, “cuma sayangnya orang gunung miskin seperti kami ini tidak punya alat perlengkapan tidur. Eh, apa kalian suka makan daging panggang?”
Padahal dia tahu umumnya kaum Budha tidak makan barang berjiwa. Maka si Hwesio alis putih sudah cepat menjawab:
“Ampun, ampun! Kami sendiri membawa sekedar rangsum kering, Sicu tidak perlu repot″
“Baiklah, kalau begitu,” kata Yo Ko, lalu dia pun masuk ke kamarnya dan membisiki Siao-liong-li: “Kedua Hwesio tua ini tampaknya adalah tokoh yang amat tangguh, sebentar kita harus dua lawan tiga.”
Siao-liong-li mengernyitkan keningnya, katanya kemudian dengan suara tertahan. “Orang jahat di dunia ini sungguh banyak sekali. Orang ingin hidup tenang di pegunungan sunyi tetap terganggu.”
Yo Ko coba mengintip gerak-gerik kedua Hwesio tua, dilihatnya si Hwesio alis putih telah mengeluarkan empat potong kue tawar, dua potong diberikan pada si Hwesio baju hitam, dia sendiri makan dua biji.
Dari wajah serta sikap Hwesio alis putih itu Yo Ko percaya pendeta itu pasti tinggi ibadat agamanya, cuma di dunia ini juga tidak kurang manusia jahat yang berwajah alim. Contoh di depan mata juga ada, yaitu Peng-tianglo. Bukankah sikapnya juga ramah tamah dan wajahnya selalu berseri, tetapi hatinya ternyata busuk? Yang aneh adalah Hwesio jubah hitam itu, mengapa sinar matanya begitu bengis buas.
Tengah berpikir, sekonyong-konyong terdengar suara gemerincing, si Hwesio jubah hitam mendadak mengeluarkan dua potong benda kehitam-hitaman terbuat dari besi.
PEK-BI-CENG DAN HEK-IH-CENG
Tadinya Peng-tianglo duduk di bangku, tiba-tiba dia melompat bangun sambil siap melolos senjata. Tapi Hwesio jubah hitam tidak menggubrisnya.
“Krek...! Krek...!” benda hitam itu telah digembokkan pada kakinya sendiri, kiranya benda itu adalah sepasang belenggu besi. Sepasang belenggu lainnya lantas dipasangkan pula pada kedua tangannya.
Tentu saja Yo Ko dan Peng-tianglo amat heran dan tidak dapat menerka apa maksud dan artinya perbuatan Hwesio itu membelenggu kaki dan tangan sendiri Tapi dengan demikian rasa was-was mereka berkurang beberapa bagian.
Paderi alis putih tampaknya menaruh perhatian kepada kawannya, dengan suara perlahan ia bertanya:
“Apakah hari ini waktunya?”
“Di sepanjang jalan Tecu sudah merasakan gelagat tidak enak, bisa jadi hari ini,” jawab si Hwesio jubah hitam. Mendadak dia terus berlutut, kedua tangan terangkap di depan dada serta berdoa: “Mohon pertolongan Budha yang maha welas asih.”
Habis berkata begitu, Hwesio baju hitam itu lantas menunduk dan meringkukkan tubuhnya tanpa bergerak. Selang sejenak kemudian bagian atas tubuhnya rada gemetar, napasnya pun mulai terengah-engah, makin lama makin ngos-ngosan, akhirnya suara napasnya menjadi seperti raungan kerbau yang sekarat, hingga rumah papan itu bergetar oleh suara raungannya dan bunga salju di atas atap rontok.
Tidak hanya Peng-tianglo saja yang terkejut dan kebat-kebit hatinya, tapi Yo Ko dan Siao-liong-li juga saling pandang dengan hati bingung, mereka tidak paham apa yang dilakukan Hwesio baju hitam itu. Dari suara raungannya tampak dia sedang menderita siksaan yang maha hebat.
Tadinya Yo Ko berprasangka buruk terhadap Hwesio baju hitam itu, sekarang mau tidak mau timbul rasa kasihan, pikirnya:
“Entah penyakit aneh apa yang dideritanya, kenapa Hwesio alis putih itu tidak ambil pusing, bahkan anggap tidak tahu dan tidak melihat suara napasnya yang keras itu?”
Selang sebentar kemudian, suara napas Hwesio baju hitam semakin memburu. Dengan suara perlahan Hwesio alis putih berkata:
“Yang tidak seharusnya diperbuat tapi telah diperbuatnya,
yang seharusnya diperbuat malah tidak diperbuatnya,
terbakar oleh mengamuknya api penyesalan,
terjerumuslah ke jalan sesat di jelmaan mendatang...”
Kalimat sabda Budha itu diucapkan Hwesio itu dengan suara perlahan, tapi ternyata dapat terdengar dengan jelas di tengah suara napas Hwesio baju hitam yang gemuruh. Yo Ko terkejut akan Iwekang si Hwesio tua yang hebat itu, rasanya pada jaman ini jarang ada bandingannya. Terdengar Hwesio alis putih meneruskan membaca weda Budha:
“Kalau orang berdosa mau menyadari dosanya,
sesudah sadar tidak lagi meresahkannya,
dengan begitu hati pun tenteram,
tidak perlu lagi memikirkannya pula,
jangan karena rasa penyesalannya itu,
tidak melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukannya,
kejahatan yang sudah diperbuatnya,
tidak mungkin ditariknya kembali.”
Lambat laun napas Hwesio baju hitam menjadi perlahan hingga akhirnya berhenti. Sambil merenung ia pun menggumam:
“Kalau orang berdosa mau menyadari dosanya, sesudah sadar tidak lagi meresahkannya. Suhu, Tecu menyadari macam perbuatan di masa lalu itu berdosa, Tecu sangat menyesal dan hampir tidak dapat mengatasi perasaan berdosa sendiri ini. Yang Tecu pikirkan adalah, kejahatan yang sudah diperbuatnya, tidak dapat ditarik kembali. Karena itu hati Tecu jadi tidak tenang dan gembira, bagaimana sebaiknya ini?”
“Berbuat salah kemudian mau menyesalinya, biasanya sangat sukar terjadi,” ujar Hwesio alis putih, “Manusia bukan Nabi, mana bisa tanpa berbuat salah. Berbuat salah dan mau memperbaikinya, itulah yang maha muIia.”
Sampai di sini tiba-tiba saja Yo Ko teringat kepada namanya sendiri, yakni ‘Ko’ (salah). Menurut ibunya dia juga mempunyai nama alias ‘Kay-ci’ (perbaikilah), jadi persis seperti apa yang diucapkan Hwesio alis pulih tadi. Ia menjadi ragu apakah pendeta tua ini seorang maha sakti yang sengaja datang buat membuka pikirannya? Mau tak mau timbul rasa kagum dan hormatnya kepada pendeta yang ucapannya penuh filsafat hidup ini. Terdengar Hwesio baju hitam berkata pula:
“Akar kejahatan Tecu sulit dilenyapkan. Pada sepuluh tahun yang lalu Tecu sudah lama mengikuti ajaran Suhu, namun tetap saja Tecu menewaskan jiwa tiga orang. Sekarang darah Tecu terasa bergolak hingga sukar diatasi, mungkin sekali Tecu akan berbuat dosa lagi, Untuk ini mohon welas asih Suhu, sukalah potong saja kedua tangan Tecu ini.”
“Syahdu! Syahdu! Biar pun aku dapat memotong kedua tanganmu, tetapi pikiran jahat di dalam hatimu harus kau babat sendiri. Apa bila pikiran jahat belum lenyap, meski kaki dan tanganmu putus juga percuma saja, Coba kau dengarkan, akan kuceritakan sebuah kisah ‘Induk menjangan dan si pemburu’, bagimu.”
“Tecu siap mendengarkan,” jawab si baju hitam sambil duduk bersila.
Di balik kamar sana Yo Ko dan Siao-liong-li juga lantas duduk tenang ikut mendengarkan cerita pendeta itu.
“Ada seekor induk menjangan dengan dua ekor anak menjangan...” demikian Hwesio alis putih mulai berkisah.
“Malang bagi induk menjangan itu karena dia tertangkap oleh seorang pemburu. Pemburu akan membunuh induk menjangan, dan dengan sangat induk menjangan minta dikasihani, katanya: ‘Aku memiliki dua anak, masih kecil dan lemah, belum mahir mencari makan dan minum. Mohon diberi kelonggaran sementara waktu supaya dapat mengajarkan cara mencari makan bagi anakku, habis itu pasti aku datang kembali buat menyerahkan diri’. Pemburu tidak mengijinkan, induk menjangan memohon pula dengan memelas.
Akhirnya hati pemburu terharu dan meluluskannya. Induk menjangan menemui kedua anaknya, lalu saling bermesraan dengan girang dan sedih pula induk menjangan menceritakan nasibnya yang malang dan berharap kedua anaknya menjaga diri. Tentu saja anak menjangan yang masih kecil itu tidak paham maksud sang induk. Lalu induk menjangan membawa kedua anaknya ke tempat yang banyak rumput dan sumber air. Setelah memberi petunjuk cara-cara mencari hidup, dengan berlinang air mata kemudian induk menjangan lantas mohon diri.”
Mendengar sampai di sini, Siao-liong-li jadi teringat kepada jiwa sendiri yang sudah dekat ajalnya, tanpa terasa ia pun mencucurkan air mata. Biar pun tahu cerita Hwesio itu cuma dongeng belaka, tapi cinta kasih ibu dan anak dalam cerita itu sangat mengharukan hati Yo Ko.
Dalam pada itu Hwesio alis putih melanjutkan ceritanya: “Sehabis memberi pesan, induk menjangan segera melangkah pergi. Kedua anak menjangan menangis sedih dan terus mengikutinya dari belakang. Walau pun masih kecil dan lemah, larinya lambat dan jatuh bangun, namun tetap tidak mau berpisah dengan sang induk. Induk menjangan lantas berhenti dan menoleh, katanya:
‘Oh, anakku, janganlah kalian ikut. Kalau dilihat pemburu itu, tentu jiwa kita akan tamat semuanya. Ibu rela mati, cuma kalian yang masih kecil dan lemah tidak boleh ikut mati. Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang abadi, setelah berkumpul akhirnya juga akan berpisah. Nasibku yang jelek sehingga membuat kalian kehilangan ibu semenjak kecil’. Habis berkata ia terus berlari ke tempat si pemburu.
Kedua anak menjangan itu sangat menginginkan kasih sang induk, tanpa gentar kepada panah si pemburu mereka pun mencari sampai di sana. Melihat induk menjangan benar menepati janji dan rela untuk mati, kejujuran dan kesetiaannya sukar dibandingi manusia, dilihatnya pula antara induk dengan anak menjangan itu merasa berduka dan berat untuk berpisah, si pemburu merasa tidak tega dan akhirnya membebaskan induk menjangan.”
Habis mendengar cerita itu, air mata bercucuran memenuhi muka si Hwesio jubah hitam, katanya:
“Menjangan saja mengutamakan janji, induknya baik hati dan anaknya berbakti, betapa pun Tecu tak dapat meniru mereka.”
“Asal timbul perasaan kasih, seketika napsu membunuh akan lenyap,” kata Hwesio alis putih sembari memandang sekejap ke arah Peng-tianglo.
Sambil bersujud Hwesio baju hitam mengiyakan. Lalu Hwesio alis putih berkata pula: “Jika ingin menebus kesalahan, jalan satu-satunya adalah berbuat amal. Dari pada menyesali perbuatan masa lalu, lebih baik kalau selanjutnya lebih banyak berbuat sesuatu yang harus dikerjakan.”
Habis ini dia menghela napas perlahan lantas menambahkan: “Sekali pun aku sendiri selama ini juga banyak berbuat kesalahan.” Lalu dia memejamkankan mata seperti orang semedi.
Sesudah mendengarkan cerita sang guru, Hwesio baju hitam seperti mulai sadar, namun gejolak perasaannya selalu di atasi. Sewaktu dia mengangkat kepalanya, dilihat Peng-tianglo sedang memandangnya dengan tersenyum simpul, ada pun kedua matanya menyorotkan cahaya yang sangat tajam dan kuat. Hwesio baju hitam terkesiap. Dia merasa sudah pernah bertemu dengan orang ini, terasa pula sorot mata orang menimbulkan perasaan sangat tidak enak, cepat dia berpaling ke arah lain, tapi hanya sejenak kembali dia menoleh ke sana.
“Wah, lebat sekali salju yang turun ini,” kata Peng-tianglo dengan tertawa.
“Ya, ya, lebat sekali,” jawab Hwesio baju hitam.
“Mari kita pergi melihat pemandangan hujan salju ini,” Peng-tianglo berkata sambil membuka pintu.
“Baiklah, kita pergi melihat pemandangan hujan salju,” jawab si Hwesio sambil bangkit dan berdiri di luar pintu di samping Peng-tianglo.
Dari balik dinding Yo Ko juga merasakan sorot mata Peng-tianglo yang aneh itu, samar-samar dia merasakan sesuatu alamat yang tidak enak.
“Ucapan gurumu sangat tepat, jangan sekali-kali membunuh orang, tapi seluruh tubuhmu penuh tenaga yang meluap, apa bila tidak bergebrak dengan orang rasanya tidak tahan, begitu bukan?” demikian Peng-tianglo berkata dengan tertawa.
Secara samar-samar si Hwesio baju hitam mengiyakan. Peng-tianglo lantas berkata pula: “Boleh coba kau hantam orang salju ini, pukul saja, kan tidak berdosa.”
Hwesio baju hitam memandang orang salju itu lantas mengangkat tangannya, hasratnya ingin sekali melancarkan pukulan. Sementara itu tubuh si pengemis kurus sudah teruruk lagi oleh bunga-bunga salju yang bertebaran sejak tadi, maka kedua matanya tertutup oleh salju.
“HayoIah, pukul saja dengan kedua tanganmu, hantam orang salju ini! Pukul, hayo pukul!” demikian Peng-tiangIo menganjurkan, suaranya halus tapi penuh daya memikat.
“Baiklah, akan kupukul dia,” kata si Hwesio baju hitam sambil mengumpulkan tenaga pada tangannya.
Si Hwesio alis putih mengangkat kepala dan menghela napas panjang, dengan perlahan ia menggumam:
“Sekali napsu membunuh timbul, seketika terjadi mala petaka.”
“Blangg...!”
Segera terdengar suara yang keras, kedua tangan Hek-ih-ceng (Hwesio baju hitam) telah menghantam sekaligus. Salju berhamburan diiringi jeritan mengerikan pengemis kurus. Rupanya Hiat-to yang tertutup tergetar lantas terbuka akibat terkena pukulan Hek-ih-ceng. Jeritan itu sangat ngeri dan menyeramkan, juga berkumandang hingga jauh menggema angkasa pegunungan itu. Siao-liong-li juga bersuara kaget dan memegangi tangan Yo Ko dengan erat.
“Ha, di dalam salju ada orang!” teriak Hek-ih-ceng kaget.
Cepat Pek-bi-ceng (Hwesio alis putih) berlari keluar lalu memeriksa keadaan sang korban. Ternyata pengemis kurus itu telah binasa terkena pukulan tangan besi yang maha sakti si Hek-ih-ceng. Seketika Hwesio baju hitam ini melongo dengan bingung, sedangkan Peng-tianglo berlagak kaget dan berseru:
“He, benar-benar aneh, untuk apa orang ini sembunyi di gundukan salju? Ehh, mengapa dia membawa senjata?”
Karena dengan Liap-hun-tay-hoat-nya dia telah berhasil mempengaruhi Hek-ih-ceng untuk membinasakan si pengemis kurus, sudah tentu dia sangat senang, tetapi dia pun merasa heran pula kenapa si kurus sanggup bertahan tanpa bergerak selama sembunyi di gundukan salju dan tidak mendengar suaraku menyuruh orang menghantamnya?
“Suhu... Suhu!” dengan melongo bingung ber-ulang Hek-ih-ceng memanggil sang guru.
“Karma! karma!” ucap Pek-bi-ceng, “Orang ini tidak dibunuh olehmu, tetapi juga kau yang membunuhnya.”
Hek-ih-ceng mendekam di atas tanah salju dan bertanya dengan suara gemetar: “Tecu tidak paham artinya.”
“Kau mengira hanya orang salju belaka dan hatimu tiada bermaksud mencelakai orang,” kata Pek-bi-ceng. “Tetapi tenaga pukulanmu maha dahsyat waktu melancarkan serangan, masa sama sekali tiada pikiranmu hendak membunuh orang?”
“Sesungguhnya Tecu memang berkehendak membunuh orang,” jawab Hek-ih-ceng.
Pek-bi-ceng lantas memandangi Peng-tianglo, sorot matanya halus penuh welas asih. Namun hanya sekali pandang saja, Liap-hun-tay-hoat yang menggetar sukma orang, ilmu andalan Peng-tianglo lantas sirna tanpa bekas.
Mendadak Hek-ih ceng berteriak: “He... kau... kau adalah Tianglo di Kay-pang dahulu itu, ya, ya, betul ingatlah aku sekarang!”
Seketika wajah asli Peng-tianglo timbul dari balik sikapnya yang selalu ramah tamah dan tersenyum simpul itu, air mukanya lantas penuh rasa pertentangan batin, katanya:
“Ahh, engkau adalah Kiu-pangcu dari Tiat-ciang-pang, mengapa engkau menjadi Hwesio?”
Kiranya Hwesio baju hitam ini memang betul adalah Kiu Jian-yim, ketua Tiat-ciang-pang. Setelah terjadi pertandingan di puncak Hoa-san dulu, dia telah menyadari segala dosanya di masa lampau, lalu mengangkat It-teng Taysu sebagai guru dan ia pun menjadi Hwesio. Dan Pek-bi-ceng atau Hwesio alis putih ini bukan lain adalah It-teng Taysu yang namanya sejajar dengan Ong Tiang-yang, Oey Yok-su, Auyang Hong dan Ang Chit-kong.
Sesudah menerima agama Budha, Kiu Jian-yim mendapatkan nama agama sebagai Cu-in. Dengan giat dia mempelajari agamanya dan telah memperoleh kemajuan pesat. Cuma dulu dia sudah terlampau banyak berdosa, akar kejahatannya sukar dibasmi seluruhnya, apa bila menemukan daya pikat yang kuat dari luar terkadang dia masih suka mengumbar kemurkaannya dan mencelakai orang. Oleh karena itulah dia telah membuat dua pasang belenggu besi. Bila pikirannya sedang judek dia lantas membelenggu kaki tangannya untuk mengekang tindak jahatnya.
Pada suatu hari It-teng Taysu menerima berita minta tolong dari muridnya, yaitu Cu Cu-liu, maka dari negeri Tayli It-teng Taysu lantas membawa Cu-in berangkat ke Coat-ceng-kok. Tak disangka-sangka di pegunungan sunyi ini mereka berjumpa dengan Peng-tianglo dan tanpa sengaja Cu-in telah membunuh satu orang pula. Sejak menjadi Hwesio, selama belasan tahun baru pertama kali ini dia membunuh orang meski ada juga pelanggaran lain yang diperbuatnya. Seketika hatinya menjadi bimbang, ia merasa latihannya selama belasan tahun sudah hanyut ke laut seluruhnya. Dengan per-lahan ia menoleh dan memandang Peng-tianglo dengan mata berapi.
It-teng Taysu tahu saatnya sangat gawat. Kalau menghalangi dia dengan kekerasan tentu pikiran jahatnya akan semakin menumpuk dan pada suatu hari pasti akan meluap laksana air bah yang tidak terbendung. Hanya dengan jalan menimbulkan rasa welas-asih kepada sesamanya barulah pikiran jahatnya dapat dilenyapkan dan menuju ke jalan yang bersih. Begitulah sambil berdiri di samping Cu-in, perlahan It-teng Taysu menyebut:
“O-mi-to-hud!”
Sampai hampir ratusan kali ia menyebut nama Budha barulah sorot mata Cu-in perlahan-lahan mulai meninggalkan tubuh Peng-tianglo, kemudian duduk di tanah dan napasnya terengah-engah.
Sudah sejak dulu Peng-tianglo tahu ilmu silat Kiu Jian-yim maha hebat, tapi jika ia dapat dipengaruhi dengan Liap-hun-tay-hoat, maka dapatlah dia peralat sesukanya. Siapa tahu ketika sinar mata It-teng Taysu menyorot, perasaannya seperti tertekan oleh sesuatu yang maha berat sehingga sukar lagi mengeluarkan ilmunya.
Maklumlah, Liap-hun-tay-hoat ini kira-kira serupa dengan sebangsa ilmu hipnotis atau telepati pada jaman kini, dengan kekuatan batin untuk mengendalikan pihak lawan, tetapi apa bila kekuatan batin lawan lebih kuat dari pada dirinya maka ilmu itu tidak akan berhasil sama sekali. Dalam hal ini pikiran It-teng ternyata lebih kuat dari pada Peng-tianglo sehingga sukarlah dipengaruhinya.
Kini Peng-tianglo telah menginsyafi keadaannya yang berbahaya. ia pikir Hwesio tua yang senantiasa menganjurkan orang berbuat bajik ini semoga dapat mempengaruhi Kiu Jian-yim. Kalau dirinya melarikan diri sekarang, betapa pun juga pasti sukar lolos dari kejaran Kiu Jian-yim yang Ginkang-nya terkenal maha hebat. Terpaksa dia meringkuk di pojok rumah dengan hati kebat-kebit, pandangannya sekejap saja tidak berani meninggalkan gerak-gerik Kiu Jian-yim.
Tidak lama kemudian suara napas Cu-in semakin memburu, mendadak dia berseru: “Suhu, pembawaanku memang orang jahat, dan agaknya Thian tidak berkenan menerima penyesalanku, meski aku tidak sengaja membunuh orang, akhirnya mencelakai juga jiwa orang. Aku tidak mau menjadi Hwesio lagi.”
“Ampun! Ampun...! Akan kuceritakan pula sebuah kisah padamu,” kata It-teng.
Mendadak Cu-in berteriak dengan suara keras: “Kisah apa lagi? Sudah belasan tahun kau menipu diriku, aku tak percaya lagi padamu.”
“Krak! Krek!” tahu-tahu belenggu pada kaki dan tangannya retak dan terlepas.
Dengan suara halus It-teng berkata pula: “Jika perbuatan yang sudah terlanjur terjadi tidak perlu dirisaukan, jangan kau sesalkan lagi.”
Tetapi Cu-in lantas bangkit, ia menggeleng-geleng kepada It-teng, habis itu ia memutar tubuh dan menghantamkan kedua tangannya.
“Blam...!”
Tahu-tahu tubuh Peng-tianglo mencelat dan menumbuk dinding gubuk terus melayang keluar. Di bawah pukulan telapak tangan besi yang maha dahsyat itu jelas otot tulangnya pasti hancur, biar pun jiwanya rangkap sepuluh pasti tamat riwayatnya.
Yo Ko dan Siao-liong-li juga kaget mendengar suara gedubrakan yang keras itu. Mereka cepat memburu keluar dari ruangan dalam, terlihat kedua tangan Cu-in terangkat ke atas, dengan sorot mata bengis dia membentak mereka berdua:
“Apa yang kalian pandang? Satu tidak berbuat, dua tidak berhenti (artinya apa bila sudah telanjur berbuat, ya sekalian kerjakan saja), hari ini sengaja kuIanggar pantangan membunuh!” Habis berkata, tenaga yang sudah terkumpul pada kedua tangannya segera akan dihantamkan.
Dengan tenang It-teng Taysu melangkah maju dan menghadang di depan Yo Ko berdua, di situ dia duduk dan mengucap Budha, air mukanya kereng, katanya:
“Belum jauh kau tersesat, masih sempat kembali jika kau mau. Cu-in, apakah benar kau ingin terjerumus ke alam yang tak tertolong lagi?”
Wajah Cu-in sebentar merah sebentar pucat, pikirannya kusut bukan main, dan terjadilah pertentangan batin antara baik dengan jahat. Rupanya pikiran jahatnya akhirnya berkobar lebih hebat, mendadak sebelah tangannya menghantam ke arah It-teng Taysu. Dengan satu tangan terangkat di depan dada It-teng menahan serangan itu dengan tubuh rada tergeliat.
“Bagus, jadi kau benar-benar ingin memusuhi aku?” teriak Cu-in dengan gusar, menyusul tangan kiri lantas menghantam lagi.
It-teng Taysu tetap menangkis saja tanpa balas menyerang. Dengan marah Cu-in lantas mendamperat:
“Hmm, untuk apa kau mengalah? Hayolah membalas! Mengapa kau tidak balas seranganku? Huh apanya yang hebat antara kalian Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong? Belum tentu kalian mampu menandingi telapak tangan besi orang she Kiu ini. Hayolah balas, kalau kau tidak balas menyerang maka jangan kau penasaran jika jiwamu melayang percuma.”
Meski pikiran Cu-in dalam keadaan kacau tapi kata-katanya juga tidak salah, ilmu pukulan telapak tangan besinya boleh dikatakan mempunyai keunggulannya sendiri dibandingkan It-yang-ci yang menjadi andalan It-teng Taysu. Dalam hal ajaran agama memang It-teng jauh lebih dari pada cukup untuk menjadi guru Cu-in, tapi bicara tentang ilmu silat, kalau bertempur sekuat tenaga mungkin It-teng lebih unggul setingkat, tapi kalau melulu dihantam tanpa membalas, lama-lama juga pasti akan terluka parah sekali pun jiwanya tidak melayang.
Akan tetapi It-teng sudah bertekad lebih suka mengorbankan diri untuk menolong orang lain, lebih suka binasa kena pukulan tangan besi itu dari pada balas menyerang dengan harapan Cu-in akhirnya dapat diinsafkan. Jadinya sekarang mereka tidak lagi bertanding iimu silat atau tenaga dalam, tetapi lebih tepat dikatakan pertarungan antara pikiran bajik dan pikiran jahat.
Yo Ko dan Siao-liong-li menyaksikan pukulan sakti Cu-in itu terus menerus dilontarkan ke arah It-teng, sampai pada pukulan ke-14, tumpahlah darah segar dari mulut It-teng.
“Apakah kau tetap tak mau membalas?” bentak Cu-in melengak demi melihat darah yang mengucur dari mulut It-teng.
Dengan tersenyum It-teng menjawab: “Untuk apa aku membalas? Apa gunanya jika aku mengalahkan kau? Apa pula faedahnya kalau kau mengaIahkan diriku? Yang paling sukar adalah mengalahkan diri sendiri, mengekang perasaan sendiri.”
Cu-in tampak tertegun, lalu menggumam: “Mengalahkan diri sendiri, mengekang perasaan sendiri inilah yang sukar...?”
Beberapa kalimat ucapan It-teng itu laksana bunyi geledek yang menggetar hati Yo Ko. Pikirnya: “Untuk mengalahkan kehendak diri sendiri dan mengekang hasrat buruk sendiri memang jauh lebih sukar dari pada mengalahkan musuh yang tangguh.”
Ucapan pendeta agung ini benar-benar sangat tepat dan bernilai. Dalam pada itu dilihatnya kedua tangan Cu-in berhenti sejenak di atas, sesudah itu terus menghantam pula ke depan.
“Brakk!” tubuh It-teng terhuyung, darah segar kembali tersembur keluar, jenggotnya yang putih dan jubahnya berlepotan darah.
Dari caranya menerima serangan lawan serta daya tahannya, Yo Ko tahu ilmu silat It-teng sebenarnya lebih tinggi dari pada Hek-ih-ceng, tapi kalau menerima pukulan saja, biar pun tubuh terbuat dari besi akhirnya akan meleyot.
Kini Yo Ko luar biasa kagum dan hormatnya kepada It-teng Taysu, ia tahu It-teng sengaja mengorbankan diri untuk menginsafkan orang jahat. Tapi ia pun tidak dapat menyaksikan orang baik seperti It-teng tewas begitu saja, ia lantas mengangkat pedangnya dan mengitar ke samping It-teng. Waktu Cu-in melancarkan pukulan lagi...
“Srett!” ia pun membarengi dengan tusukan pedang.
Guncangan angin pukulan yang dahsyat itu menumbuk angin pukulan Cu-in, tubuh keduanya tergetar. Cu-in bersuara heran, tak tersangka olehnya bahwa di pegunungan sunyi ini ada seorang pemburu muda yang mempunyai ilmu silat setinggi ini. Sekejap It-teng memandang Yo Ko, hatinya juga heran luar biasa.
“Siapa kau?! Apa kehendakmu?!” bentak Cu-in dengan bengis.
“Gurumu memberi nasihat baik-baik, mengapa Taysu tidak mau sadar?” jawab Yo Ko. “Tidak mau menerima nasihat sudah keliru, malahan kau membalas kebaikan dengan kebencian dan melancarkan pukulan keji kepada gurumu. Bukankah manusia macam ini jauh lebih rendah dari pada binatang?”
Dengan marah Cu-in membentak: “Apakah kau pun orang Kay-pang? Begundal si Tianglo konyol tadi?”
“Kedua orang ini memang orang busuk Kay-pang,” jawab Yo Ko dengan tertawa, “Bahwa Taysu telah membinasakan mereka, padahal menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan, lalu mengapa engkau harus merasa menyesal?”
Untuk sejenak Cu-in melengak, lalu ia menggumam: “Menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan... menumpas kejahatan sama dengan berbuat kebajikan...”
Sesudah mengikuti percakapan It-teng dan Cu-in tadi, lapat-lapat Yo Ko paham isi hati mereka, yakni lantaran Cu-in merasa menyesal sehingga timbul rasa benci, dari benci timbul pikiran jahat. Maka dia berkata pula:
“Kedua orang itu adalah anggota khianat Kay-pang yang berkomplot dengan pihak musuh dan bermaksud menjual tanah air kita kepada bangsa lain. Dan sekarang Taysu membunuh mereka, ini adalah pahala yang maha besar. Kalau kedua orang ini tidak mati, entah berapa banyak orang baik-baik akan menjadi korban kejahatan mereka.”



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar