Sebenarnya kulit mukanya memang putih bersih dan tidak perlu berbedak lagi, cuma dia habis terluka parah, mukanya pucat pasi, sesudah kedua pipinya diberi pupur dan sedikit gincu, sungguh kecantikannya sukar dilukiskan. Ia berhenti sejenak, lalu menyisir rambut, katanya dengan gegetun:
“Bicara soal menyisir rambut, sama sekali aku tidak bisa. Ko-ji, kau bisa tidak?”
“Aku pun tidak bisa! Kukira engkau lebih cantik jika rambutmu tidak tersisir,” ujar Yo Ko.
“Apa ya?” Siao-liong-li tersenyum.
Dia lantas memakai anting dan gelang serta perhiasan kepala lainnya, di bawah cahaya lilin sungguh cantik molek tak terperikan. Dengan berseri-seri dia menoleh kepada Yo Ko, maksudnya supaya dipuji beberapa patah kata oleh anak muda itu. Namun dilihatnya wajah Yo Ko ada bekas air mata, jelas anak muda itu sedang berduka. Siao-liong-li berusaha menahan perasaan dan anggap tidak tahu saja, dengan tersenyum dia bertanya:
“Ko-ji, bagus tidak dandananku ini?”
“Ba... bagus sekali...!” jawab Yo Ko dengan rada terguguk, “lni kupasangkan kopiahnya.” Segera ia angkat kopiah pengantin ke belakang si nona dan dipasang di atas kepalanya. Dari bayangan cermin dapatlah Siao-liong-li melihat anak muda itu baru saja mengusap air mata dengan lengan baju dan ketika berada di belakangnya anak muda itu sengaja memperlihatkan wajah riangnya dan berkata:
“Untuk selanjutnya kupanggil engkau ‘Niocu’ (isteriku) atau tetap menyebut Kokoh padamu?”
Dalam hati Siao-liong-li membatin: “Masa masih ada ‘selanjutnya’ segala bagi kita?” Namun dia berusaha memperlihatkan rasa gembiranya dan menjawab dengan tersenyum: “Rasanya tidak pantas jika tetap memanggil Kokoh, sebaliknya sebutan Niocu, Hujin dan sebagainya terasa agak ke-tua-an!”
“Baiklah, untuk selanjutnya engkau memanggil Ko-ji padaku dan akan kupanggil Liong-ji padamu, jadinya adil, tidak ada yang rugi,” ujar Yo Ko tertawa, “Kelak kalau sudah punya anak barulah ganti panggilan: He, ayahnya bocah atau ibunya anak dan... dan bila anak itu sudah besar dan beristeri atau bersuami...“
Semula Siao-liong-li hanya ter-senyum mendengarkan ocehan Yo Ko yang ngalor-ngidul itu, akhirnya ia tidak tahan dan mendadak mendekam di atas peti sambil menangis sedih.
Yo Ko tahu perasaan si nona, ia lalu mendekati dan memeluknya, katanya dengan suara halus:
“Liong-ji, kau sedang tidak sehat, tapi buat apa kita pedulikan urusan selanjutnya? Yang jelas saat ini kau takkan mati dan aku pun takkan mati, marilah kita bergembira ria, siapa pun tidak perlu memikirkan urusan esok.”
Siao-liong-li mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan tersenyum.
“Lihatlah betapa indahnya sulaman burung Hong pada gaun pengantin ini, biarlah kubantu kau mengenakannya,” kata Yo Ko pula, lalu ia menegakkan tubuh si nona dan membantu mengenakan pakaian pengantin merah itu.
Siao-liong-li mengusap air matanya lalu pipinya diberi lagi sedikit pupur, sambil tersenyum bahagia ia duduk di samping lilin merah.
Dalam pada itu Kwe Siang yang terbaring di ujung tempat tidur itu pun mementang kedua biji matanya yang hitam dan memandangi dengan penuh keheranan. Mungkin dalam hati kecilnya itu pun merasakan dandanan Siao-liong-li itu sangat cantik dan menarik.
“Aku sudah selesai berdandan, cuma sayangnya dalam peti ini tiada pakaian pengantin laki-laki. Maka terpaksa kau harus begini saja,” ujar Siao-liong-li.
“Coba kucari lagi, mungkin ada barang lain yang indah,” kata Yo Ko sambil membongkar isi peti lain dan dipindahkan ke atas tempat tidur.
Melihat ada sebuah bunga-bungaan terbuat dari emas, Siao-liong-li lantas mengambilnya dan diselipkan di atas rambut Yo Ko.
“Ya, begini barulah mirip pengantin baru,” ujar Yo Ko dengan tertawa.
Dia terus membongkar isi peti itu, sampai di dasar peti, dilihatnya ada satu tumpuk surat yang diikat dengan benang merah. Benang merah itu telah luntur, sampul surat juga telah kekuning-kuningan.
“Aku menemukan surat-surat ini,” seru Yo Ko sambil mengangkat tumpukan surat itu. “Coba dilihat surat apa itu?” kata Siao-liong-li.
Setelah ikatannya dilepas, Yo Ko melihat pada sampul surat pertama itu tertulis: ‘Kepada sayangku Lim Tiau-eng, pribadi!’ dan pada sudut lain ada sebuah huruf ‘Say’. Surat-surat itu berjumlah lebih 20 pucuk, semuanya sama tertulis begitu. Yo Ko tahu sebelum Ong Tiong-yang terikat menjadi Tosu, nama partikelirnya adalah ‘Say’, lengkapnya Ong Say. Dengan tertawa ia berkata:
“Tampaknya surat-surat ini adalah surat cinta Ong-cosu kepada Lim-cosu kita, apakah boleh kita membacanya?”
Sejak kecil Siao-liong-li menghormati sang cikal bakal itu sebagai malaikat dewata, maka cepat ia menjawab:
“Tidak, tidak boleh!”
Yo Ko tertawa dan mengikat kembali bundel surat itu, katanya kemudian: ”Kawanan Tosu Coan-cin-kau itu sungguh terlalu kolot, melihat kita menikah di depan lukisan Tiong-yang Cosu, kita dianggap seperti berdosa dan tidak dapat diampuni. Aku justru tak percaya bahwa Tiong-yang Cosu tidak mencintai Lim-cosu. Kalau saja kita perlihatkan surat-surat cinta Ong-cosu ini pasti kawanan Tosu tua itu akan meringis semua.”
Sembari berkata ia pun memandangi Siao-liong-li dan merasa berduka bagi Lim Tiau-eng. Pikirnya: “Lim-cosu hidup sunyi dalam kuburan ini, tentu beliau ingin sekali dapat memakai baju pengantin ini namun selalu gagal, jadi kami berdua ini ternyata jauh lebih beruntung dari pada beliau.”
Tiba-tiba terdengar Siao-liong-li berkata: “Ya, kita memang lebih beruntung dari pada Lim-cosu, tapi mengapa kau menjadi tidak gembira?”
Yo Ko mengiyakan, tapi mendadak dia pun melengak dan bertanya: “He, aku tidak bicara, mengapa engkau mengetahui pikiranku?”
“Kalau tidak dapat mengetahui jalan pikiranmu mana aku sesuai menjadi isterimu?” jawab Siao-liong-li tertawa.
Yo Ko mendekatinya lalu duduk di tepi tempat tidur, dengan lengan kiri ia merangkul Siao-liong-li, sungguh tak terkatakan rasa gembira dan bahagia mereka, diharapkan semoga saat-saat demikian ini takkan berubah selamanya, kekal abadi. Sampai sekian lama keduanya guling peluk dan terdiam. Selang sebentar lagi keduanya sama memandang pada bundel surat tadi, pandang keduanya menyorotkan sorot mata yang nakal.
Maklumlah, usia mereka masih sama-sama muda sehingga watak kanak-kanak mereka belum hilang. Walau pun tahu tidak pantas membaca surat pribadi mendiang cikal bakal, tapi rasa ingin tahu sukarlah dibendung. Mendadak Yo Ko berkata:
“Bagaimana kalau kita hanya membaca sepucuk saja? Pasti tidak membaca lebih dari itu.”
“Ya, aku pun ingin sekali mengetahui isi surat itu,” jawab Siao-liong-li. “Baiklah, kita hanya membaca sepucuk saja.”
Dengan girang Yo Ko lantas membuka ikatan bundel surat tadi. Siao-liong-li berkata pula:
“Bila isi surat itu membikin orang berduka, hendaknya kau jangan bersuara membacanya bagiku.”
Yo Ko mengiyakan, ia coba mengambil sampul pertama dan dilolos keluar suratnya, lalu mulai membaca:
‘Adik Eng, kemarin dulu pasukan kita bertempur dengan pasukan musuh dan mengalami kekalahan kecil dengan kerugian beberapa ratus orang...’
Ternyata isi surat itu memberi-tahukan-keadaan medan perang dan di bagian akhir surat itu Ong Tiong-yang minta supaya Lim Tiau-eng suka menjual sebagian harta benda untuk dijadikan perbekalan pasukan. Berturut-turut dia membaca lagi dua-tiga pucuk surat lain dan isinya hampir semuanya sama, yakni mengenai situasi medan perang belaka, hampir tidak pernah menyinggung urusan pribadi mereka. Yo Ko menghela napas dan berkata:
“Tiong-yang Cosu betul-betul seorang pahlawan teladan dan ksatria sejati, segenap jiwa raganya dicurahkan bagi perjuangan sehingga melupakan kepentingan pribadi, pantaslah kalau Lim-cosu menjadi dingin hatinya.”
“Tidak!” ujar Siao-liongIi. “Ketika menerima surat-surat ini, justru Lim-cosu merasa sangat senang.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Yo Ko heran.
“Tentu saja aku tidak tahu, aku cuma menafsirkan menurut hati sesama perempuan saja,” jawab Siao-liong-li. ”Coba kau lihat isi surat itu, yang diuraikan selalu situasi medan perang yang makin genting, namun Ong-cosu tetap tidak lupa menulis surat kepada Lim-cosu dalam keadaan yang gawat dan sulit itu, coba katakan, apakah itu tidak berarti Ong-cosu senantiasa terkenang kepada Lim-cosu?”
“Ya, benar, memang betul,” sahut Yo Ko sambil mengangguk, lalu ia membaca lagi surat yang lain.
Surat itu pun mengabarkan pasukan yang dipimpin Ong Tiong-yang mengalami kekalahan lagi karena jumlah pasukan musuh jauh lebih besar. Di samping itu pada akhir surat juga ditanyakan keadaan luka Lim Tiau-eng, meski pun singkat saja tetapi penuh simpatik dan perhatian.
Siao-liong-li hanya tersenyum hambar. Ia menyadari betapa parah lukanya sendiri, namun ia pun tidak ingin membikin kecewa anak muda itu, katanya kemudian:
“Tampaknya surat-surat itu tiada yang menyangkut rahasia pribadi, boleh kau membacanya semua.”
Yo Ko lantas membuka lagi surat-surat yang lain, kebanyakan juga berceritera mengenai pengalaman tempur di medan perang, tapi selanjutnya lebih sering lagi kalahnya sehingga nada Ong Tiong-yang semakin guram dan putus asa.
“Isi surat-surat ini hanya memerosotkan semangat orang saja, biarlah kita bicara urusan lain saja.”
“Ehh, apa ini?” mendadak nada Yo Ko berubah bersemangat, tangan yang memegang surat itu pun rada gemetar, lalu dia membacanya dengan suara lebih keras:
‘Pernah kudengar di kutub utara yang maha dingin sana ada batu dengan nama Han-giok (kemala dingin), khasiatnya bisa menghilangkan penyakit lama dan menyembuhkan luka yang sukar diobati, untuk itu akan kuusahakan mendapatkannya bagi adik Eng...’
“He, Liong-ji. Yang dimaksudkan ini apakah bukan Han-giok-joan (dipan kemala dingin) ini?”
Melihat wajah Yo Ko yang menampilkan rasa girang seperti orang yang tadinya putus asa lalu mendadak menemukan titik sinar harapan itu, dengan suara gemetar Siao-liong-li pun menjawab:
“Apakah... apakah... maksudmu kemala dingin ini bisa menyembuhkan lukaku ini?”
“Aku pun tidak tahu,” jawab Yo Ko. “Tetapi Tiong-yang Cosu berkata demikian, tentu ada alasannya. Dan nyatanya kemala dingin ini kan sudah didapatkannya dan berada di sini? Bukankah beliau memang sudah menjadikannya dipan untuk tempat tidur? Bukankah luka Lim-cosu yang parah itu akhirnya juga sembuh?”
Cepat-cepat Yo Ko membuka lagi surat yang lain dengan harapan kalau-kalau isi surat lain ada yang menguraikan tentang cara penyembuhan dengan kemala dingin itu, namun istilah ‘kemala dingin’ ternyata tidak pernah disebut lagi kecuali dalam surat tadi. Yo Ko mengikat kembali bundel surat itu dan ditaruh ke dalam peti, kemudian dia duduk termenung. Dia pikir kalau dipan kemala dingin itu memang mempunyai khasiat sehebat itu, tentu juga dapat menyembuhkan luka Siao-liong-li, hanya caranya saja yang belum dia ketahui.
“He, apa yang kau renungkan?” tegur Siao-liong-li tertawa.
“Sedang kupikirkan bagaimana caranya menyembuhkan kau dengan dipan ini, apa harus dihancurkan dan dicampur dengan obat lain, entahlah!” gumam Yo Ko.
“Tentunya kau masih ingat pada Sun-popoh? Sekiranya dipan kemala dingin ini memang dapat menyembuhkan Iuka dalam yang parah, masa Sun-popoh tidak tahu?”
Harapan Yo Ko yang tadinya berkobar seketika padam seperti disiram air dingin demi mendengar ucapan Siao-liong-li itu.
Perlahan Siao-liong-li membelai rambut Yo Ko, katanya dengan suara lembut: “Ko-ji, tidak perlu kau memikirkan lukaku, untuk apa kau membikin susah diri sendiri? Sekarang akan kuceritakan sesuatu mengenai guruku.”
Meski cukup lama tinggal bersama Siao-liong-li, tetapi jarang sekali Yo Ko mendengar si nona bercerita mengenai mendiang gurunya, maka cepat ia menanggapi
“Ya, lekaslah ceritakan!”
“Tahukah kau sebab apa meninggalnya Suhu-ku?” tanya Siao-liong-li. Yo Ko menggeleng. Siao-liong-li lalu melanjutkan: “Beliau menyepi di sini dan amat jarang keluar, tapi pada suatu ketika beliau pernah keluar menyelesaikan urusan penting mengenai Suci sehingga kena diperdayai seorang jahat. Suhu tidak mau banyak urusan meski mengalami kesukaran. Siapa tahu orang jahat itu diberi hati justru minta ampela, dan Suci diculiknya. Sebetulnya kepandaian Suhu jauh melebihi orang jahat itu, cuma dalam hal Am-gi (senjata rahasia) saja orang jahat itu lebih lihay.
Suhu-ku adalah pelayan pribadi Lim-cosu, sifatnya ramah dan penurut, hatinya bajik dan jarang marah, tetapi demi membela Suci, beliau terpaksa membuat dua macam senjata rahasia, yakni Giok-hong-kim-ciam (jarum emas tawon putih) dan Peng-pok-gin-ciam (jarum perak inti es) yang berbisa itu, hingga akhirnya Suci dapat direbut kembali setelah mengalahkan musuh.
Tapi dalam pertarungan itu Suhu juga terluka parah, walau pun mampu bertahan sampai beberapa tahun, akhirnya tak dapat disembuhkan. Ilmu pukulan Panca Bisa andalan Suci adalah ajaran orang jahat itu. Suci (Li Bok-chiu) berkumpul sekian lama dengan orang itu sehingga tanpa terasa terpengaruh juga oleh sifat jahatnya. Lantaran ini, sampai meninggalnya Suhu tetap merasa sedih.” Terkenang kepada gurunya yang berbudi itu, tanpa terasa hati Siao-liong-li menjadi amat terharu.
Pikiran Yo Ko sendiri terasa kusut. Tadinya dia merasa sudah menemukan titik harapan dapat menyembuhkan Siao-liong-li, tetapi lantas tenggelam pula dalam kegelapan. Ia pikir memang masuk di akal, andaikan dipan kemala dingin itu dapat menyembuhkan luka dalam yang parah, mengapa Sun-popoh dan guru Siao-liong-li itu tidak menggunakannya untuk menyembuhkan diri mereka.?
Karena urusan sudah begini, ia pikir sebaiknya jangan dirisaukan lagi, akan lebih baik jika bicara hal-hal yang menyenangkan saja dengan si nona agar hatinya gembira. Begitulah ia lantas berkata:
“Jarum emas lebih lembut dan jarum perak lebih panjang, tapi menghadapi musuh ternyata jarum emas lebih berguna dari pada jarum perak. Tampaknya nenek guru memang lebih sayang padamu, makanya jarum emas diajarkan padamu dan jarum perak diturunkan pada Li-supek.”
Siao-liong-li tersenyum, katanya: “Suhu memang sangat baik padaku, ya guru ya seperti ibu. Jika beliau mengetahui aku mendapatkan suami sebaik ini, betapa beliau akan sangat bergirang.”
“Ahh, belum tentu juga. Beliau kan melarang anak muridnya menikah,” ujar Yo Ko.
“Guruku amat baik hati dan sayang padaku. Mulanya mungkin beliau tidak mengijinkan, tapi sesudah melihat keteguhan hatiku, lama-lama beliau tentu akan menuruti permintaanku,” kata Siao-liong-li. “Hanya... hanya Li-suci saja yang berdosa kepada Suhu.”
“Bagaimana?” tanya Yo Ko.
“Waktu Suhu bertarung dengan orang jahat, sebenarnya orang itu sudah tertotok oleh Suhu dan tak bisa berkutik, siapa tahu secara diam-diam Suci membebaskannya. Rupanya Suci teringat kepada budi orang itu yang telah mengajarkan ilmu pukulan berbisa. Setelah orang itu bisa bergerak, secara mendadak dia menyerang Suhu, karena tidak berjaga-jaga, maka Suhu terkena pukulannya.”
“Siapakah nama orang jahat itu? Dia mampu menandingi Suco (kakek guru), tentu dia pun tokoh silat terkemuka.”
“Suhu tidak pernah memberi-tahukan namanya. Dia ingin hatiku bebas dari segala cita rasa, tidak kenal suka duka, budi atau dendam. Menurut Suhu, kalau nama orang ini kuketahui, tentu akan selalu kuingat dan boleh jadi kelak akan kucari untuk menuntut balas.”
“Aih, Suco sungguh orang baik budi,” ujar Yo Ko dengan gegetun.
Lalu Siao-liong-li berkata lagi: “Setelah terluka Suhu berpindah kamar dan menjauhi dipan kemala dingin. Menurut beliau, hawa dingin tak akan menghalangi kemajuan ilmu Ko-bong-pay, maka bagus sekali jika mempergunakan dipan untuk membantu berlatih Iwekang. Tapi orang yang terluka tentu tidak akan tahan.”
Melihat Siao-liong-li ada tanda-tanda lelah, Yo Ko lantas berkata: “Silakan tidur saja, akan kutunggui disini.”
“Tidak, aku tidak lelah, malam ini kita tidak tidur,” jawab Siao-liong-li sambil pentang lebar-lebar matanya.
Sesungguhnya dalam hati kecilnya kuatir akan lukanya yang parah. Jika sampai tertidur dan seterusnya tidak pernah sadar lagi, berarti selamanya tak akan bertemu lagi dengan Yo Ko. Karena itu ia lantas menambahkan:
“Ajaklah aku bicara saja. Ehh, kau sendiri tampaknya lelah?”
“Tidak, aku tidak lelah,” jawab Yo Ko menggeleng, “Kalau pun tidak ingin tidur, bolehlah kau memejamkan mata untuk menghilangkan kantuk.”
Siao-liong-li mengiyakan dan perlahan memejamkan matanya, lalu berkata dengan suara perlahan.
“Sering kali Suhu berkata padaku bahwa ada satu hal yang tidak dipahaminya sampai akhir hayat. Ko-ji, kau sangat pintar, coba ikut memikirkan soal ini.”
“Soal apa?” tanya Yo Ko.
“Ketika orang jahat itu tertotok oleh Suhu dengan ilmu Tiam-hiat khas ciptaan Lim-cosu, entah dengan cara bagaimana Li-suci bisa membuka Hiat-to orang jahat yang tertotok itu. Padahal selama hidupnya Lim-cosu hanya mengajarkannya kepada Suhu-ku dan Suhu-ku tidak mengajarkannya kepada Li-suci.”
“Mungkin pada waktu suco berlatih sendiri, di luar tahu beliau Li-suci telah mengintip dan mempelajarinya diam-diam,” kata Yo Ko.
“Tidak, tidak bisa, kau sendiri pun tahu,” ujar Siao-long-li.
Yo Ko pikir ilmu Tiam-hiat perguruan sendiri memang sangat aneh dan ruwet, betapa pun sukar dipelajari dengan jalan mengintip. Selagi dia hendak bicara !agi, terasa Siao-liong-li yang bersandar di badannya berdiam, napasnya terhembus halus, ternyata sudah tertidur. Sambil ter-mangu memandangi wajah si nona, pikiran Yo Ko bergolak. Selang tak lama, sebuah lilin padam karena sudah habis tersulut, tidak lama kemudian lilin kedua juga padam.
Mendadak Yo Ko membayangkan kedua lilin itu seperti dirinya dan Siao-liong-li, sesudah tersulut habis, akhirnya padam, tamat. Selagi ter-mangu didengarnya Siao-liong-li menghela napas panjang kemudian berkata:
“Tidak, aku tidak mau mati, Ko-ji, aku tidak mau mati! Kita harus hidup terus, hidup untuk selamanya.”
“Benar, kita takkan mati, engkau pasti akan sehat kembali setelah istirahat beberapa hari lagi,” kata Yo Ko. “Bagaimana rasa dadamu sekarang?”
Namun Siao-liong-li tidak menjawab, rupanya tadi hanya mengigau belaka. Yo Ko meraba kening si nona, ternyata panas sekali, dia menjadi kuatir dan sedih. Pikirnya dalam hati:
“Li-Bok-chiu yang jahatnya kelewat takaran sampai saat ini masih hidup segar bugar, sebaliknya Liong-ji selama hidupnya tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan orang lain kini dekat dengan ajalnya. Ohh, Thian yang maha kasih, di manakah letak keadilanmu?”
Selamanya Yo Ko tidak gentar apa pun juga. Dalam keadaan tak berdaya, tanpa terasa ia geser tubuh Siao-liong-li ke sampingnya lantas berlutut dan berdoa dalam batin:
“Thian yang welas asih, semoga memberi berkah selamat kepada Liong-ji, untuk itu aku... aku rela...” Padahal untuk keselamatan Siao-liong-li, tiada sesuatu pun yang dia ragukan untuk dilakukannya guna menebus jiwa si nona.
BegituIah selagi dia berdoa dengan khidmatnya, tiba-tiba terdengar Siao-liong-li berkata:
“Ya, benar Auyang Hong, Sun-popoh bilang pasti Auyang Hong adanya, Ko-ji, ehh, Ko-ji, ke mana kau?” Sambil berseru mendadak dia pun bangun duduk.
Karena itu cepat Yo Ko kembali duduk di samping si nona dan memegangi tangannya sambil berkata:
“Aku berada di sini.”
DaIam tidurnya tiba-tiba merasa kehilangan sandaran, seketika Siao-liong-li terjaga bangun. Tapi ia menjadi girang dan lega setelah melihat Yo Ko masih tetap berada di sampingnya.
“Jangan kuatir, Liong-ji, aku tidak akan meninggalkan kau untuk selama-lamanya,” kata Yo Ko. ”Seumpama kelak kita harus keluar dari kuburan kuno ini, aku akan tetap berjaga di sampingmu tanpa berpisah selangkah pun.”
“Di dunia luar sana sesungguhnya memang jauh lebih bagus dari pada tempat yang sunyi dan seram ini,” ujar Siao Iiong-li. “Cuma aku takut begitu berada di luar sana.”
“Sekarang kita tidak perlu takut lagi,” kata Yo-Ko. “Beberapa bulan lagi bila kesehatanmu sudah pulih kembali, kita berdua akan pergi ke selatan. Konon cuaca di sana selalu cerah dan pemandangannya sangat indah. Di sana kita tidak perlu lagi main senjata segala, kita akan bercocok tanam, berkebun dan beternak, kita juga akan punya anak banyak...”
Siao-liong-li juga ikut membayangkan kehidupan yang indah itu, katanya: “Ya, selamanya kita takkan main senjata, tiada orang memusuhi kita dan kita pun takkan berkelahi dengan orang lain. Kita berkebun dan piara ayam, piara itik. Aih, apa bila aku boleh tetap hidup...”
Begitulah keduanya terdiam sejenak, meski berada di kuburan kuno tapi dua buah hati mereka selalu melayang jauh ke selatan yang alamnya indah permai. Selamanya mereka belum pernah menginjak daerah selatan, tapi hidung serasa sudah mencium bau harum bunga dan telinga mendengar kicauan burung merdu. Siao-liong-li benar-benar tidak tahan lagi, lapat-lapat ia hendak pulas lagi, tetapi sesungguhnya ia tidak ingin tidur, katanya:
“Aku tidak ingin tidur, bicaralah padaku!”
“Tadi dalam tidur kau mengigau tentang Auyang Hong, mengenai urusan apa itu?” tanya Yo Ko.
Seperti diketahui, waktu kecilnya Yo Ko pernah mengakui Auyang Hong sebagai ayah angkat, kemudian didengarnya dari orang Coan-cin-kau bahwa Auyang Hong berjuluk ‘Se-tok’ (si racun barat), namanya sangat busuk di dunia persilatan malahan Tam Ju-toan, salah satu dari tujuh tokoh Coan-cin-pay itu tewas di tangannya. Kemudian Yo Ko masuk perguruan Ko-bong-pay dan tidak berani lagi bicara mengenai Auyang Hong. Sekarang dia telah menikah dengan Siao-liong-li dan segala apa pun boleh dibicarakan, maka dia pun terheran-heran mendengar igauan Siao-liong-li tadi.
“Apakah aku menyebut Auyang Hong?” demikian jawab Siao-liong-li.
“Kau juga mengatakan bahwa Sun-popoh bilang pasti dia,” kata Yo Ko pula.
Baru sekarang Siao-liong-li teringat, katanya: “Ah, ya, menurut Sun-popoh, orang yang melukai Suhu-ku pasti Se-tok Auyang Hong. Katanya di dunia ini orang yang dapat melukai guruku boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari, sedangkan ilmu pukulan keji seperti Ngo-tok-sin-ciang selain Auyang Hong sendiri pasti tiada orang lain yang sudi menggunakannya. Tapi sampai detik terakhir ajalnya guruku tetap tidak mau mengatakan penjahat yang melukainya. Sun-popoh bertanya kepadanya apakah penyerang itu Auyang Hong adanya? Namun Suhu tetap menggeleng dan tersenyum saja, lalu menghembuskan napasnya yang penghabisan.”
“Auyang Hong adalah ayah angkatku,” kata Yo Ko kemudian.
“He, apa betul? Mengapa aku tidak tahu?” seru Siao-liong-li heran.
Yo Ko lantas menceritakan pengalamannya dahulu ketika dia terkena racun jarum berbisa Li Bok-chiu. Berkat pertolongan Auyang Hong dapatlah dia diselamatkan, sebab itulah dia mengakui Auyang Hong sebagai ayah angkat. Akhirnya dia berkata pula:
“Sekarang ayah angkatku sudah meninggal, Suco dan Sun-popoh juga sudah wafat, Tiong-yang Cosu pun sudah tidak ada, segala budi dan dendam, suka dan duka sampai saatnya telah dihapus seluruhnya oleh Thian yang maha kuasa, malahan sampai saat terakhir Suco tetap tidak mau menyebut nama ayah-angkatku. Ahh, kiranya begitu!”
Melihat anak muda itu seperti mendadak menyadari kejadian sesuatu, cepat Siao-liong-li bertanya:
“Kiranya begitu apa?”
“Tentang ayah angkatku tertotok oleh Suco bukan Li-supek yang menolongnya, tetapi dia membebaskan dirinya sendiri,” tutur Yo Ko.
“Membebaskan dirinya sendiri? Bagaimana bisa begitu?”
“Ayah angkatku memiliki semacam kepandaian khas, yaitu dapat memutar balik jalan urat nadi seluruh tubuh, sekali urat nadi terbalik, segenap Hiat-to juga berubah tempat, sekali pun tertotok dapat melepaskan diri.”
“Di dunia ini masa ada kepandaian seaneh ini? Sungguh sukar dibayangkan.”
“lni akan kuperlihatkan padamu,” kata Yo Ko sambil bangkit lalu dia berjungkir dengan kepala di bawah terus berputar beberapa kali sambil mengatur pernapasan. Mendadak dia melompat bangun, ubun-ubun kepalanya segera ditumbukkan pada ujung meja di depan dipan.
“Hai, awas!” seru Siao-liong-li kuatir.
Hiat-to yang berada tepat di ubun-ubun kepala itu disebut ‘Pek-hwe-hiat’ dan merupakan salah satu Hiat-to paling penting di tubuh manusia, Tapi meski tertumbuk ujung meja batu, ternyata sedikit pun Yo Ko tidak terluka dan sakit, malahan anak muda itu tetap berdiri tegak dan berkata dengan tertawa:
“Lihatlah, sekali jalan urat nadi terbalik, seketika Pek-hwe-hiat juga berpindah tempat.”
Kagum sekali Siao-liong-li, katanya dengan heran: “Sungguh aneh, hanya dia yang dapat memikirkan kepandaian ini.”
Meski pun tidak terluka, tetapi lantaran terlalu keras menggunakan tenaga, Yo Ko merasa kepalanya rada pening juga. Akan tetapi dalam keadaan samar-samar itu tiba-tiba dia seperti menemukan sesuatu yang maha penting, cuma sukar dikatakan urusan penting apa yang ditemukan itu. Sampai sekian lama tetap sukar memecahkan persoalannya sehingga dia menjadi kesal, ingin dikesampingkan tapi berat pula urusannya. Akhirnya dia cakar-cakar kepala sendiri dengan perasaan sangat masgul, katanya kemudian:
“Liong-ji, aku teringat sesuatu yang sangat penting, tapi tidak tahu apakah itu. Dapatkah kau membantu?”
Sesungguhnya tidaklah masuk di akal bahwa pikiran seseorang yang kusut dan tak dapat menyimpulkan sesuatu ditanyakan kepada orang lain. Tapi lantaran mereka berdua sudah berkumpul lama, sudah ada kontak batin yang amat mendalam, apa yang dipikirkan pihak lain biasanya dapat diterka sebagian besar. Maka Siao-liong-li lantas bertanya:
“Apakah urusan ini sangat penting?” Yo Ko mengiyakan. Siao-liong-li menegas lagi: “Apakah ada sangkut-pautnya dengan keadaan lukaku?”
“Benar, benar! Apakah itu? Urusan apa yang teringat olehku?”
“Tadi kau bicara tentang ayah-angkatmu Auyang Hong serta caranya memutar balik letak hiat-to. Apakah soal ini ada sangkut pautnya dengan lukaku? Kan bukan dia yang melukai aku...”
Mendadak Yo Ko melonjak dan berteriak: “Aha, benar!”
Begitu keras teriakannya sehingga bergemalah kumandang suaranya dari kamar-kamar batu di kuburan kuno itu. Habis itu Yo Ko terus memegang lengan Siao-liong-li dan berseru:
“Engkau tertolong, Liong-ji! Engkau tertolong...!”
Hanya sekian saja kata-katanya, saking girangnya air mata berlinang-linang dan tidak dapat melanjutkan ucapannya. Melihat anak muda itu sedemikian gembiranya, Siao-liong-li juga ikut senang dan bangkit duduk.
“Coba dengarkan baik-baik, Liong-ji,” kata Yo Ko kemudian, “kau terluka dan tidak dapat menggunakan Iwekang dari perguruan kita sehingga sukar disembuhkan, tetapi engkau dapat memutar balik urat nadi untuk penyembuhanmu dan dipan kemala dingin itu adalah alat pembantu yang ajaib.”
“Tapi... tapi aku masih belum paham!” sahut si nona dengan bingung.
“Bahwa Giok-li-sim-keng aslinya adalah Ci-im (negatip, dingin), kebalikannya adalah Sun-yang (panas, positip),” tutur Yo Ko. “Ketika membicarakan kepandaian membalikkan urat nadi ayahku tadi samar-samar sudah aku rasakan bahwa lukamu ini pasti tertolong, cuma cara bagaimana menyembuhkannya yang masih membingungkanku. Sesudah ingat pada kemala dingin yang disebut dalam surat Tiong-yang Cosu barulah aku dapat memahami persoalannya dengan jelas. Sekarang janganlah kita menunda lebih lama lagi. Marilah... marilah...”
Begitulah dia lantas pergi mencari beberapa ikat kayu bakar, lalu dibakar di pojok kamar, kemudian dia mengajarkan pengantar dasar ilmu membalikkan urat nadi. Si nona dibiarkan duduk di atas dipan kemala dingin, dia sendiri duduk di samping api unggun, tangan kirinya menahan telapak tangan kanan Siao-liong-li.
“Akan kutarik hawa panas ini untuk menerobos ke segenap Hiat-to di tubuhmu, sekuatnya engkau kerahkan tenaga secara terbalik, satu demi satu Hiat-to itu akan diterobos. Bila hawa panas itu sudah sampai ke dipan kemala dingin maka keadaan lukamu menjadi berkurang pula parahnya.”
“Apakah aku pun harus berjungkir balik dan berputar seperti kau tadi?” tanya Siao-liong-li tertawa.
“Sekarang belum perlu, nanti bila sembilan Hiat-to besar sudah diterobos, cara berjungkir dan mengerahkan tenaga akan menjadi jauh lebih mudah.”
Siao-liong-li berkata sambil tertawa: “Untung kedua lenganmu tidak terkutung semua, nona Kwe itu ternyata tidak terlalu jelek.”
Sesudah mengalami detik-detik maut tadi, mengenai buntungnya tangan bagi mereka sudah bukan soal lagi, maka Siao-liong-li menggunakan hal ini untuk bergurau. Dengan tertawa Yo Ko menjawab:
“Kalau tanganku buntung semua, masih ada dua kaki. Hanya kalau membantu menyembuhkan dengan telapak kaki, bau keringat kakiku akan memualkan.”
Sementara itu api unggun sudah mulai berkobar selagi Yo Ko bersiap akan mengerahkan tenaga dalam dan mulai penyembuhannya pada Siao-liong-li. Mendadak dia berteriak:
“Hayaa... hampir saja celaka!”
“Ada apa?” tanya Siao-liong-li.
Yo Ko menuding Kwe Siang yang tertaruh di ujung tempat tidur sana dan berkata: “Kalau latihan kita sedang memuncak pada titik yang paling genting dan mendadak setan cilik ini berkaok, kan segalanya bisa runyam?”
“Ya, sungguh berbahaya, hampir saja!” Siao-liong-li pun bersyukur.
Maklumlah, orang yang sedang asyik berlatih lwekang paling pantang akan gangguan dari luar, seperti dahulu ketika Siao-liong-li dan Yo Ko sedang berlatih Giok-li-sim-keng, tanpa sengaja terganggu oleh kedatangan In Ci-peng dan Thio Ci-keng sehingga akibatnya hampir saja menewaskan Siao-liong-li.
Cepat Yo Ko mengaduk setengah mangkuk madu untuk Kwe Siang, lalu membawa orok itu ke sebuah kamar yang agak jauh, pintu kamar ditutup sehingga jerit tangisnya takkan terdengar. Habis itu barulah dia kembali ke tempat semula dan berkata:
“Kukira dalam waktu tujuh hari sampai setengah bulan, seluruh Hiat-to penting di tubuhmu dapatlah diterobos semuanya, selama itu tentu sukar menghindari gangguan dari luar, tapi tempat ini sama sekali terpisah dengan dunia luar, sungguh sebuah tempat yang sangat bagus.”
“Lukaku akibat dipukul kawanan Tosu Coan-cin-kau, tapi cikal bakal mereka yang membangun kuburan ini serta merta menyediakan dipan kemala dingin bagiku sehingga kesehatanku dapat dipulihkan, rasanya dosa dan jasa mereka dapatlah dianggap sama.”
“Dan bagaimana dengan Kim-lun Hoat-ong? Kita takkan ampuni dia,” kata Yo Ko.
“Asalkan aku tetap hidup, apa lagi yang tidak memuaskan kau?”
“Ya, benar juga kata-katamu,” kata Yo Ko sambil memegang tangan si nona yang putih halus itu, “Setelah kau sembuh, selanjutnya kita takkan berkelahi lagi dengan siapa pun.”
“Kita akan pergi ke selatan dan bercocok tanam di sana, memiara ayam dan itik serta...” dia termenung sejenak. Mendadak terasa suatu hawa panas tersalur tiba melalui telapak tangannya. Hatinya terkesiap, cepat ia melancarkan jalan darah dan mulai berlatih sesuai ajaran Yo Ko.
Penyembuhan dengan cara membalikkan jalan darah yang dibantu dengan khasiat dipan kemala dingin itu ternyata sangat besar manfaatnya. Sudah tentu cara penyembuhan ini tidak dapat segera berhasil melainkan memerlukan ketekunan dan kesabaran.
Kembali bercerita tentang Oey Yong. Sesudah membuat Li Bok-chiu tak dapat berkutik, namun Kwe Siang sudah tidak berada di tempatnya lagi, tentu saja dia kelabakan. Ia coba membentak Li Bok-chiu dan bertanya:
“Kau main tipu muslihat keji apa, ke mana kau sembunyikan anakku?”
“Bukankah nona cilik itu terkurung baik-baik di tengah pagar rotan?” jawab Li Bok-chiu heran.
“Mana ada? Sudah lenyap!” kata Oey Yong, hampir saja ia menangis saking cemasnya.
Karena sudah sekian lama momong Kwe Siang, maka Li Bok-chiu juga sangat menyukai orok itu. Dia pun terkejut demi mendengar anak itu lenyap sehingga tercetus ucapannya:
“Kalau bukan Yo Ko tentu Kim-lun Hoat-ong.”
“Apa maksudmu?” tanya Oey Yong.
Li Bok-chiu lalu menceritakan peristiwa perebutan Kwe Siang antara dia, Yo Ko dan Kim-lun Hoat-ong tempo hari. Dari cara Li Bok-chiu menguraikan itu jelas kelihatan dia sangat menguatirkan anak itu. Kini Oey Yong percaya penuh hilangnya Kwe Siang itu memang di luar tahu Li Bok-chiu. Segera dia membuka Hiat-to yang ditotoknya tadi, cuma perlahan ia ketuk Soan-ki-hiat di dada orang, dengan demikian Li Bok-chiu dapat bergerak seperti biasa, tapi dalam waktu 12 jam dia belum kuat mencelakai orang lain.
Li Bok-chiu bangkit dengan tersenyum getir dan membersihkan debu di bajunya, ialu berkata:
“Kalau jatuh di tangan Yo Ko rasanya tidak berhalangan, kuatirnya kalau digondol lari si bangsat gundul Kim-lun Hoat-ong.”
“Apa sebabnya?” tanya Oey Yong.
“Yo Ko amat baik kepada anak itu, aku yakin dia takkan membikin celaka, sebab itulah tadinya kukira orok itu anaknya.”
Mendadak Li Bok-chiu berhenti, kuatir Oey Yong tersinggung dan marah lagi. Tapi dalam hati Oey Yong justru sedang memikirkan soal lain. Ia sedang membayangkan betapa susah payahnya Yo Ko berusaha menempur Li Bok-chiu dan Kim-lun Hoat-ong demi menyelamatkan Kwe-cilik, tapi dirinya dan Kwe Hu justru menyangka jelek sehingga mengakibatkan sebelah lengan anak muda itu ditebas kutung oleh Kwe Hu.
Teringat itu hati Oey Yong merasa amat menyesal, pikirnya: “Ko-ji pernah menyelamatkan jiwa kakak Ceng, juga menyelamatkan aku dan kedua Bu. Sekarang dia menyelamatkan anak Siang, tetapi lantaran pikiranku sudah menarik kesimpulan keburukan ayahnya dan menganggap ‘kacang tidak meninggalkan Ianjarannya’, ‘serigala tentu beranak serigala’, maka selama ini aku tidak pernah percaya padanya. Meski terkadang agak baik padanya, selang tak lama kemudian aku lantas memakinya lagi. Aih, percumalah diriku maha pintar dan cerdik. Kalau bicara tentang kejujuran dan ketulusan terhadap orang lain, mana aku dapat dibandingkan dengan kakak Ceng?”
Melihat nyonya Kwe termangu-mangu dan mengembeng air mata, Li Bok-chiu menyangka orang sedang menguatirkan keselamatan anaknya, sebab itu dia berusaha menghibur:
“Kwe-hujin, puterimu belum sebulan terlahir tapi sudah mengalami bencana begini, namun tetap selamat tak kurang sesuatu apa pun. Bayi mungil menyenangkan seperti dia, biar pun momok yang ditakuti orang macamku ini juga jatuh hati padanya, maka bisa dipahami kalau bayi itu mempunyai rejeki besar. Hendaknya kau berdoa saja bagi keselamatan dan marilah pergi mencarinya.”
Oey Yong mengusap air mata. Ia pikir ucapan Li Bok-chiu ada benarnya juga, maka ia membuka lagi Hiat-to yang ditotoknya tadi kemudian berkata:
“Terima kasih banyak bahwa kau suka pergi bersamaku untuk mencari puteriku. Tapi kalau engkau ada urusan lain, biarlah kita berpisah di sini, sampai berjumpa kelak.”
“Urusan penting lain apa? Kalau ada urusan penting, kiranya tidak lebih penting dari pada mencari anak itu. Ehh, tunggu sebentar!” Habis ini Li Bok-chiu langsung menyusup ke dalam goa di balik pepohonan sana untuk membuka tali pengikat kaki macan tutul.
Begitu merasa bebas, sambil meraung satu kali macan tutul itu melompat lalu pergi dengan cepatnya. Tentu saja Oey Yong merasa heran.
“Untuk apa kau menawan macan tutul?” tanyanya.
“Dia itulah mak inang puterimu,” tutur Li Bok-chiu tertawa.
Baru sekarang Oey Yong paham, ia tersenyum. Keduanya lantas kembali ke kota kecil itu untuk mencari jejak Yo Ko. Setiba di sana, tampak Kwe Hu sedang celingukan dan bingung. Nona itu menjadi girang melihat datangnya sang ibu, cepat ia berseru:
“lbu, adik dibawa...” belum habis kata-katanya, ia kaget melihat yang mengikut di belakang sang ibu ternyata Li Bok-chiu adanya.
“Bibi Li akan bantu kita mencari adikmu,” tutur Oey Yong kemudian. “Bagaimana dengan adikmu?”
“Adik Siang dibawa lari Yo Ko, malah kuda merah juga dirampasnya,” jawab Kwe Hu. “Lihatlah pedangku ini. Dengan kebasan lengan bajunya yang tidak berlengan itu, pedangku jadi begini.”
“Hanya dengan lengan baju?” tanya Oey Yong dan Li Bok-chiu berbareng.
“Ya, sekali kebas saja pedang ini langsung bengkok. Sungguh aneh, entah ilmu hitam apa yang berhasil dikuasainya,” kata Kwe Hu.
Oey Yong dan Li Bok-chiu saling pandang sekejap dengan terkesiap. Mereka tahu kalau tenaga dalam seseorang sudah terlatih sempurna, maka dengan benda yang lunak pun dapat digunakan menghantam benda lawan yang keras. Untuk dapat mencapai tingkatan itu sedikitnya perlu waktu beberapa puluh tahun, itu pun jika mendapatkan guru yang mahir. Akan tetapi usia Yo Ko masih muda belia, masa Iwekang-nya sudah mencapai puncak seperti ini?
Hati Oey Yong merasa lega ketika mengetahui Kwe Siang memang digondol oleh Yo Ko. Sedangkan Li Bok-chiu berpikir tentang kehebatan Kang-hu anak muda itu. Tentulah berkat ilmu yang diperolehnya dari Giok-li-sim-keng. Jika saja sekarang dirinya membantu Kwe-hujin merebut kembali puterinya, sebagai imbalannya tentu nyonya Kwe itu pun mau membantu merebut kembali kitab pusaka itu.
Begitulah setelah bertanya arah perginya Yo Ko, kemudian Oey Yong berkata kepada Kwe Hu:
“Kau pun tidak perlu lagi pulang ke Tho-hoa-to. Mari ikut pergi mencari Yo-toako.” Tentu saja Kwe Hu kegirangan dan mengiyakan ber-ulang. Tiba-tiba Oey Yong menarik muka dan berkata lagi: “Kau harus bertemu dengan dia, tak peduIi dia mau mengampuni kau atau tidak tapi kaulah yang harus minta maaf kepadanya dengan setulus hati.”
Tapi Kwe Hu tidak bisa menerima, katanya: “Kenapa begitu? Bukankah dia telah mencuik adik?”
Oey Yong lantas menceritakan secara ringkas apa yang didengarnya dari Li Bok-chiu dan menambahkan:
“Kalau dia bermaksud jahat, mana bisa adikmu hidup sampai sekarang? Lagi pula, dengan kebutan lengan bajunya itu, kalau saja yang diincar adalah kepalamu, coba bayangkan, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Ngeri juga hati Kwe Hu mendengar ucapan sang ibu, dia pikir betul juga omongan ibunya. Tetapi apakah benar Yo Ko sengaja bermurah hati padanya? Dasar anak manja, betapa pun mulutnya tidak mau kalah, katanya:
“Dia menggondol adik ke arah utara, tentu dia menuju ke Coat-ceng-kok.”
“Tidak, dia pasti pulang ke Cong-lam-san,” ujar Oey Yong.
Kwe Hu masih merasa penasaran, jawabnya: “lbu selalu membela dia. Padahal kalau dia bertujuan baik, untuk apa dia membawa adik ke Cong-Iam-san?“
Oey Yong menghela napas, katanya: “Kau dibesarkan bersama Yo-toako, tetapi kau masih belum mengenal wataknya. Selamanya dia tinggi hati dan angkuh, tidak tahan dihina orang. Ketika mendadak kau mengutungi lengannya, dia merasa tak sampai hati balas membuntungi lenganmu, tetapi dia pun tidak rela bila menyudahi begitu saja urusan ini, maka dia sengaja membawa pergi adikmu agar kita dibuat kelabakan dan bersedih. Selang sementara waktu, kalau dongkolnya sudah mereda, aku yakin dia pasti akan mengembalikan adikmu. Nah, paham tidak sekarang?” tegasnya. “Karena kau memfitnah dia menculik adikmu, maka ia betul-betul sengaja menculiknya.”
Oey Yong memang sangat cerdas dan pintar. Setelah mendengar cerita Li Bok-chiu, jalan pikiran Yo Ko ternyata dapat diraba dan diukurnya dengan tepat. Padahal Siao-liong-li dan Kwe Ceng menganggap Yo Ko teramat baik, sebaliknya Li Bok-chiu dan Kwe Hu justru menganggap anak muda itu terlampau busuk. Tetapi sampai saat ini satu-satunya yang benar-benar memahami jalan pikiran dan watak Yo Ko ternyata hanya Oey Yong saja.
Demikianlah akhirnya Kwe Hu tidak berani bicara Iagi. Mereka lantas mendatangi warung makan untuk meminjam alat tulis. Oey Yong menulis sebuah surat singkat dan memberi persen kepada pelayan agar segera mengirimkan surat itu kepada Kwe Ceng di Siang-yang. Setelah itu mereka bertiga membeli kuda dan berangkatlah ke Cong-lam-san. Kwe Hu tidak menyukai Li Bok-chiu, di sepanjang jalan sikapnya dingin dan jarang bicara dengannya.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Bicara soal menyisir rambut, sama sekali aku tidak bisa. Ko-ji, kau bisa tidak?”
“Aku pun tidak bisa! Kukira engkau lebih cantik jika rambutmu tidak tersisir,” ujar Yo Ko.
“Apa ya?” Siao-liong-li tersenyum.
Dia lantas memakai anting dan gelang serta perhiasan kepala lainnya, di bawah cahaya lilin sungguh cantik molek tak terperikan. Dengan berseri-seri dia menoleh kepada Yo Ko, maksudnya supaya dipuji beberapa patah kata oleh anak muda itu. Namun dilihatnya wajah Yo Ko ada bekas air mata, jelas anak muda itu sedang berduka. Siao-liong-li berusaha menahan perasaan dan anggap tidak tahu saja, dengan tersenyum dia bertanya:
“Ko-ji, bagus tidak dandananku ini?”
“Ba... bagus sekali...!” jawab Yo Ko dengan rada terguguk, “lni kupasangkan kopiahnya.” Segera ia angkat kopiah pengantin ke belakang si nona dan dipasang di atas kepalanya. Dari bayangan cermin dapatlah Siao-liong-li melihat anak muda itu baru saja mengusap air mata dengan lengan baju dan ketika berada di belakangnya anak muda itu sengaja memperlihatkan wajah riangnya dan berkata:
“Untuk selanjutnya kupanggil engkau ‘Niocu’ (isteriku) atau tetap menyebut Kokoh padamu?”
Dalam hati Siao-liong-li membatin: “Masa masih ada ‘selanjutnya’ segala bagi kita?” Namun dia berusaha memperlihatkan rasa gembiranya dan menjawab dengan tersenyum: “Rasanya tidak pantas jika tetap memanggil Kokoh, sebaliknya sebutan Niocu, Hujin dan sebagainya terasa agak ke-tua-an!”
“Baiklah, untuk selanjutnya engkau memanggil Ko-ji padaku dan akan kupanggil Liong-ji padamu, jadinya adil, tidak ada yang rugi,” ujar Yo Ko tertawa, “Kelak kalau sudah punya anak barulah ganti panggilan: He, ayahnya bocah atau ibunya anak dan... dan bila anak itu sudah besar dan beristeri atau bersuami...“
Semula Siao-liong-li hanya ter-senyum mendengarkan ocehan Yo Ko yang ngalor-ngidul itu, akhirnya ia tidak tahan dan mendadak mendekam di atas peti sambil menangis sedih.
Yo Ko tahu perasaan si nona, ia lalu mendekati dan memeluknya, katanya dengan suara halus:
“Liong-ji, kau sedang tidak sehat, tapi buat apa kita pedulikan urusan selanjutnya? Yang jelas saat ini kau takkan mati dan aku pun takkan mati, marilah kita bergembira ria, siapa pun tidak perlu memikirkan urusan esok.”
Siao-liong-li mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan tersenyum.
“Lihatlah betapa indahnya sulaman burung Hong pada gaun pengantin ini, biarlah kubantu kau mengenakannya,” kata Yo Ko pula, lalu ia menegakkan tubuh si nona dan membantu mengenakan pakaian pengantin merah itu.
Siao-liong-li mengusap air matanya lalu pipinya diberi lagi sedikit pupur, sambil tersenyum bahagia ia duduk di samping lilin merah.
Dalam pada itu Kwe Siang yang terbaring di ujung tempat tidur itu pun mementang kedua biji matanya yang hitam dan memandangi dengan penuh keheranan. Mungkin dalam hati kecilnya itu pun merasakan dandanan Siao-liong-li itu sangat cantik dan menarik.
“Aku sudah selesai berdandan, cuma sayangnya dalam peti ini tiada pakaian pengantin laki-laki. Maka terpaksa kau harus begini saja,” ujar Siao-liong-li.
“Coba kucari lagi, mungkin ada barang lain yang indah,” kata Yo Ko sambil membongkar isi peti lain dan dipindahkan ke atas tempat tidur.
Melihat ada sebuah bunga-bungaan terbuat dari emas, Siao-liong-li lantas mengambilnya dan diselipkan di atas rambut Yo Ko.
“Ya, begini barulah mirip pengantin baru,” ujar Yo Ko dengan tertawa.
Dia terus membongkar isi peti itu, sampai di dasar peti, dilihatnya ada satu tumpuk surat yang diikat dengan benang merah. Benang merah itu telah luntur, sampul surat juga telah kekuning-kuningan.
“Aku menemukan surat-surat ini,” seru Yo Ko sambil mengangkat tumpukan surat itu. “Coba dilihat surat apa itu?” kata Siao-liong-li.
Setelah ikatannya dilepas, Yo Ko melihat pada sampul surat pertama itu tertulis: ‘Kepada sayangku Lim Tiau-eng, pribadi!’ dan pada sudut lain ada sebuah huruf ‘Say’. Surat-surat itu berjumlah lebih 20 pucuk, semuanya sama tertulis begitu. Yo Ko tahu sebelum Ong Tiong-yang terikat menjadi Tosu, nama partikelirnya adalah ‘Say’, lengkapnya Ong Say. Dengan tertawa ia berkata:
“Tampaknya surat-surat ini adalah surat cinta Ong-cosu kepada Lim-cosu kita, apakah boleh kita membacanya?”
Sejak kecil Siao-liong-li menghormati sang cikal bakal itu sebagai malaikat dewata, maka cepat ia menjawab:
“Tidak, tidak boleh!”
Yo Ko tertawa dan mengikat kembali bundel surat itu, katanya kemudian: ”Kawanan Tosu Coan-cin-kau itu sungguh terlalu kolot, melihat kita menikah di depan lukisan Tiong-yang Cosu, kita dianggap seperti berdosa dan tidak dapat diampuni. Aku justru tak percaya bahwa Tiong-yang Cosu tidak mencintai Lim-cosu. Kalau saja kita perlihatkan surat-surat cinta Ong-cosu ini pasti kawanan Tosu tua itu akan meringis semua.”
Sembari berkata ia pun memandangi Siao-liong-li dan merasa berduka bagi Lim Tiau-eng. Pikirnya: “Lim-cosu hidup sunyi dalam kuburan ini, tentu beliau ingin sekali dapat memakai baju pengantin ini namun selalu gagal, jadi kami berdua ini ternyata jauh lebih beruntung dari pada beliau.”
Tiba-tiba terdengar Siao-liong-li berkata: “Ya, kita memang lebih beruntung dari pada Lim-cosu, tapi mengapa kau menjadi tidak gembira?”
Yo Ko mengiyakan, tapi mendadak dia pun melengak dan bertanya: “He, aku tidak bicara, mengapa engkau mengetahui pikiranku?”
“Kalau tidak dapat mengetahui jalan pikiranmu mana aku sesuai menjadi isterimu?” jawab Siao-liong-li tertawa.
Yo Ko mendekatinya lalu duduk di tepi tempat tidur, dengan lengan kiri ia merangkul Siao-liong-li, sungguh tak terkatakan rasa gembira dan bahagia mereka, diharapkan semoga saat-saat demikian ini takkan berubah selamanya, kekal abadi. Sampai sekian lama keduanya guling peluk dan terdiam. Selang sebentar lagi keduanya sama memandang pada bundel surat tadi, pandang keduanya menyorotkan sorot mata yang nakal.
Maklumlah, usia mereka masih sama-sama muda sehingga watak kanak-kanak mereka belum hilang. Walau pun tahu tidak pantas membaca surat pribadi mendiang cikal bakal, tapi rasa ingin tahu sukarlah dibendung. Mendadak Yo Ko berkata:
“Bagaimana kalau kita hanya membaca sepucuk saja? Pasti tidak membaca lebih dari itu.”
“Ya, aku pun ingin sekali mengetahui isi surat itu,” jawab Siao-liong-li. “Baiklah, kita hanya membaca sepucuk saja.”
Dengan girang Yo Ko lantas membuka ikatan bundel surat tadi. Siao-liong-li berkata pula:
“Bila isi surat itu membikin orang berduka, hendaknya kau jangan bersuara membacanya bagiku.”
Yo Ko mengiyakan, ia coba mengambil sampul pertama dan dilolos keluar suratnya, lalu mulai membaca:
‘Adik Eng, kemarin dulu pasukan kita bertempur dengan pasukan musuh dan mengalami kekalahan kecil dengan kerugian beberapa ratus orang...’
Ternyata isi surat itu memberi-tahukan-keadaan medan perang dan di bagian akhir surat itu Ong Tiong-yang minta supaya Lim Tiau-eng suka menjual sebagian harta benda untuk dijadikan perbekalan pasukan. Berturut-turut dia membaca lagi dua-tiga pucuk surat lain dan isinya hampir semuanya sama, yakni mengenai situasi medan perang belaka, hampir tidak pernah menyinggung urusan pribadi mereka. Yo Ko menghela napas dan berkata:
“Tiong-yang Cosu betul-betul seorang pahlawan teladan dan ksatria sejati, segenap jiwa raganya dicurahkan bagi perjuangan sehingga melupakan kepentingan pribadi, pantaslah kalau Lim-cosu menjadi dingin hatinya.”
“Tidak!” ujar Siao-liongIi. “Ketika menerima surat-surat ini, justru Lim-cosu merasa sangat senang.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Yo Ko heran.
“Tentu saja aku tidak tahu, aku cuma menafsirkan menurut hati sesama perempuan saja,” jawab Siao-liong-li. ”Coba kau lihat isi surat itu, yang diuraikan selalu situasi medan perang yang makin genting, namun Ong-cosu tetap tidak lupa menulis surat kepada Lim-cosu dalam keadaan yang gawat dan sulit itu, coba katakan, apakah itu tidak berarti Ong-cosu senantiasa terkenang kepada Lim-cosu?”
“Ya, benar, memang betul,” sahut Yo Ko sambil mengangguk, lalu ia membaca lagi surat yang lain.
Surat itu pun mengabarkan pasukan yang dipimpin Ong Tiong-yang mengalami kekalahan lagi karena jumlah pasukan musuh jauh lebih besar. Di samping itu pada akhir surat juga ditanyakan keadaan luka Lim Tiau-eng, meski pun singkat saja tetapi penuh simpatik dan perhatian.
Siao-liong-li hanya tersenyum hambar. Ia menyadari betapa parah lukanya sendiri, namun ia pun tidak ingin membikin kecewa anak muda itu, katanya kemudian:
“Tampaknya surat-surat itu tiada yang menyangkut rahasia pribadi, boleh kau membacanya semua.”
Yo Ko lantas membuka lagi surat-surat yang lain, kebanyakan juga berceritera mengenai pengalaman tempur di medan perang, tapi selanjutnya lebih sering lagi kalahnya sehingga nada Ong Tiong-yang semakin guram dan putus asa.
“Isi surat-surat ini hanya memerosotkan semangat orang saja, biarlah kita bicara urusan lain saja.”
“Ehh, apa ini?” mendadak nada Yo Ko berubah bersemangat, tangan yang memegang surat itu pun rada gemetar, lalu dia membacanya dengan suara lebih keras:
‘Pernah kudengar di kutub utara yang maha dingin sana ada batu dengan nama Han-giok (kemala dingin), khasiatnya bisa menghilangkan penyakit lama dan menyembuhkan luka yang sukar diobati, untuk itu akan kuusahakan mendapatkannya bagi adik Eng...’
“He, Liong-ji. Yang dimaksudkan ini apakah bukan Han-giok-joan (dipan kemala dingin) ini?”
Melihat wajah Yo Ko yang menampilkan rasa girang seperti orang yang tadinya putus asa lalu mendadak menemukan titik sinar harapan itu, dengan suara gemetar Siao-liong-li pun menjawab:
“Apakah... apakah... maksudmu kemala dingin ini bisa menyembuhkan lukaku ini?”
“Aku pun tidak tahu,” jawab Yo Ko. “Tetapi Tiong-yang Cosu berkata demikian, tentu ada alasannya. Dan nyatanya kemala dingin ini kan sudah didapatkannya dan berada di sini? Bukankah beliau memang sudah menjadikannya dipan untuk tempat tidur? Bukankah luka Lim-cosu yang parah itu akhirnya juga sembuh?”
Cepat-cepat Yo Ko membuka lagi surat yang lain dengan harapan kalau-kalau isi surat lain ada yang menguraikan tentang cara penyembuhan dengan kemala dingin itu, namun istilah ‘kemala dingin’ ternyata tidak pernah disebut lagi kecuali dalam surat tadi. Yo Ko mengikat kembali bundel surat itu dan ditaruh ke dalam peti, kemudian dia duduk termenung. Dia pikir kalau dipan kemala dingin itu memang mempunyai khasiat sehebat itu, tentu juga dapat menyembuhkan luka Siao-liong-li, hanya caranya saja yang belum dia ketahui.
“He, apa yang kau renungkan?” tegur Siao-liong-li tertawa.
“Sedang kupikirkan bagaimana caranya menyembuhkan kau dengan dipan ini, apa harus dihancurkan dan dicampur dengan obat lain, entahlah!” gumam Yo Ko.
“Tentunya kau masih ingat pada Sun-popoh? Sekiranya dipan kemala dingin ini memang dapat menyembuhkan Iuka dalam yang parah, masa Sun-popoh tidak tahu?”
Harapan Yo Ko yang tadinya berkobar seketika padam seperti disiram air dingin demi mendengar ucapan Siao-liong-li itu.
Perlahan Siao-liong-li membelai rambut Yo Ko, katanya dengan suara lembut: “Ko-ji, tidak perlu kau memikirkan lukaku, untuk apa kau membikin susah diri sendiri? Sekarang akan kuceritakan sesuatu mengenai guruku.”
Meski cukup lama tinggal bersama Siao-liong-li, tetapi jarang sekali Yo Ko mendengar si nona bercerita mengenai mendiang gurunya, maka cepat ia menanggapi
“Ya, lekaslah ceritakan!”
“Tahukah kau sebab apa meninggalnya Suhu-ku?” tanya Siao-liong-li. Yo Ko menggeleng. Siao-liong-li lalu melanjutkan: “Beliau menyepi di sini dan amat jarang keluar, tapi pada suatu ketika beliau pernah keluar menyelesaikan urusan penting mengenai Suci sehingga kena diperdayai seorang jahat. Suhu tidak mau banyak urusan meski mengalami kesukaran. Siapa tahu orang jahat itu diberi hati justru minta ampela, dan Suci diculiknya. Sebetulnya kepandaian Suhu jauh melebihi orang jahat itu, cuma dalam hal Am-gi (senjata rahasia) saja orang jahat itu lebih lihay.
Suhu-ku adalah pelayan pribadi Lim-cosu, sifatnya ramah dan penurut, hatinya bajik dan jarang marah, tetapi demi membela Suci, beliau terpaksa membuat dua macam senjata rahasia, yakni Giok-hong-kim-ciam (jarum emas tawon putih) dan Peng-pok-gin-ciam (jarum perak inti es) yang berbisa itu, hingga akhirnya Suci dapat direbut kembali setelah mengalahkan musuh.
Tapi dalam pertarungan itu Suhu juga terluka parah, walau pun mampu bertahan sampai beberapa tahun, akhirnya tak dapat disembuhkan. Ilmu pukulan Panca Bisa andalan Suci adalah ajaran orang jahat itu. Suci (Li Bok-chiu) berkumpul sekian lama dengan orang itu sehingga tanpa terasa terpengaruh juga oleh sifat jahatnya. Lantaran ini, sampai meninggalnya Suhu tetap merasa sedih.” Terkenang kepada gurunya yang berbudi itu, tanpa terasa hati Siao-liong-li menjadi amat terharu.
Pikiran Yo Ko sendiri terasa kusut. Tadinya dia merasa sudah menemukan titik harapan dapat menyembuhkan Siao-liong-li, tetapi lantas tenggelam pula dalam kegelapan. Ia pikir memang masuk di akal, andaikan dipan kemala dingin itu dapat menyembuhkan luka dalam yang parah, mengapa Sun-popoh dan guru Siao-liong-li itu tidak menggunakannya untuk menyembuhkan diri mereka.?
BERUPAYA MENYELAMATKAN JIWA
Karena urusan sudah begini, ia pikir sebaiknya jangan dirisaukan lagi, akan lebih baik jika bicara hal-hal yang menyenangkan saja dengan si nona agar hatinya gembira. Begitulah ia lantas berkata:
“Jarum emas lebih lembut dan jarum perak lebih panjang, tapi menghadapi musuh ternyata jarum emas lebih berguna dari pada jarum perak. Tampaknya nenek guru memang lebih sayang padamu, makanya jarum emas diajarkan padamu dan jarum perak diturunkan pada Li-supek.”
Siao-liong-li tersenyum, katanya: “Suhu memang sangat baik padaku, ya guru ya seperti ibu. Jika beliau mengetahui aku mendapatkan suami sebaik ini, betapa beliau akan sangat bergirang.”
“Ahh, belum tentu juga. Beliau kan melarang anak muridnya menikah,” ujar Yo Ko.
“Guruku amat baik hati dan sayang padaku. Mulanya mungkin beliau tidak mengijinkan, tapi sesudah melihat keteguhan hatiku, lama-lama beliau tentu akan menuruti permintaanku,” kata Siao-liong-li. “Hanya... hanya Li-suci saja yang berdosa kepada Suhu.”
“Bagaimana?” tanya Yo Ko.
“Waktu Suhu bertarung dengan orang jahat, sebenarnya orang itu sudah tertotok oleh Suhu dan tak bisa berkutik, siapa tahu secara diam-diam Suci membebaskannya. Rupanya Suci teringat kepada budi orang itu yang telah mengajarkan ilmu pukulan berbisa. Setelah orang itu bisa bergerak, secara mendadak dia menyerang Suhu, karena tidak berjaga-jaga, maka Suhu terkena pukulannya.”
“Siapakah nama orang jahat itu? Dia mampu menandingi Suco (kakek guru), tentu dia pun tokoh silat terkemuka.”
“Suhu tidak pernah memberi-tahukan namanya. Dia ingin hatiku bebas dari segala cita rasa, tidak kenal suka duka, budi atau dendam. Menurut Suhu, kalau nama orang ini kuketahui, tentu akan selalu kuingat dan boleh jadi kelak akan kucari untuk menuntut balas.”
“Aih, Suco sungguh orang baik budi,” ujar Yo Ko dengan gegetun.
Lalu Siao-liong-li berkata lagi: “Setelah terluka Suhu berpindah kamar dan menjauhi dipan kemala dingin. Menurut beliau, hawa dingin tak akan menghalangi kemajuan ilmu Ko-bong-pay, maka bagus sekali jika mempergunakan dipan untuk membantu berlatih Iwekang. Tapi orang yang terluka tentu tidak akan tahan.”
Melihat Siao-liong-li ada tanda-tanda lelah, Yo Ko lantas berkata: “Silakan tidur saja, akan kutunggui disini.”
“Tidak, aku tidak lelah, malam ini kita tidak tidur,” jawab Siao-liong-li sambil pentang lebar-lebar matanya.
Sesungguhnya dalam hati kecilnya kuatir akan lukanya yang parah. Jika sampai tertidur dan seterusnya tidak pernah sadar lagi, berarti selamanya tak akan bertemu lagi dengan Yo Ko. Karena itu ia lantas menambahkan:
“Ajaklah aku bicara saja. Ehh, kau sendiri tampaknya lelah?”
“Tidak, aku tidak lelah,” jawab Yo Ko menggeleng, “Kalau pun tidak ingin tidur, bolehlah kau memejamkan mata untuk menghilangkan kantuk.”
Siao-liong-li mengiyakan dan perlahan memejamkan matanya, lalu berkata dengan suara perlahan.
“Sering kali Suhu berkata padaku bahwa ada satu hal yang tidak dipahaminya sampai akhir hayat. Ko-ji, kau sangat pintar, coba ikut memikirkan soal ini.”
“Soal apa?” tanya Yo Ko.
“Ketika orang jahat itu tertotok oleh Suhu dengan ilmu Tiam-hiat khas ciptaan Lim-cosu, entah dengan cara bagaimana Li-suci bisa membuka Hiat-to orang jahat yang tertotok itu. Padahal selama hidupnya Lim-cosu hanya mengajarkannya kepada Suhu-ku dan Suhu-ku tidak mengajarkannya kepada Li-suci.”
“Mungkin pada waktu suco berlatih sendiri, di luar tahu beliau Li-suci telah mengintip dan mempelajarinya diam-diam,” kata Yo Ko.
“Tidak, tidak bisa, kau sendiri pun tahu,” ujar Siao-long-li.
Yo Ko pikir ilmu Tiam-hiat perguruan sendiri memang sangat aneh dan ruwet, betapa pun sukar dipelajari dengan jalan mengintip. Selagi dia hendak bicara !agi, terasa Siao-liong-li yang bersandar di badannya berdiam, napasnya terhembus halus, ternyata sudah tertidur. Sambil ter-mangu memandangi wajah si nona, pikiran Yo Ko bergolak. Selang tak lama, sebuah lilin padam karena sudah habis tersulut, tidak lama kemudian lilin kedua juga padam.
Mendadak Yo Ko membayangkan kedua lilin itu seperti dirinya dan Siao-liong-li, sesudah tersulut habis, akhirnya padam, tamat. Selagi ter-mangu didengarnya Siao-liong-li menghela napas panjang kemudian berkata:
“Tidak, aku tidak mau mati, Ko-ji, aku tidak mau mati! Kita harus hidup terus, hidup untuk selamanya.”
“Benar, kita takkan mati, engkau pasti akan sehat kembali setelah istirahat beberapa hari lagi,” kata Yo Ko. “Bagaimana rasa dadamu sekarang?”
Namun Siao-liong-li tidak menjawab, rupanya tadi hanya mengigau belaka. Yo Ko meraba kening si nona, ternyata panas sekali, dia menjadi kuatir dan sedih. Pikirnya dalam hati:
“Li-Bok-chiu yang jahatnya kelewat takaran sampai saat ini masih hidup segar bugar, sebaliknya Liong-ji selama hidupnya tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan orang lain kini dekat dengan ajalnya. Ohh, Thian yang maha kasih, di manakah letak keadilanmu?”
Selamanya Yo Ko tidak gentar apa pun juga. Dalam keadaan tak berdaya, tanpa terasa ia geser tubuh Siao-liong-li ke sampingnya lantas berlutut dan berdoa dalam batin:
“Thian yang welas asih, semoga memberi berkah selamat kepada Liong-ji, untuk itu aku... aku rela...” Padahal untuk keselamatan Siao-liong-li, tiada sesuatu pun yang dia ragukan untuk dilakukannya guna menebus jiwa si nona.
BegituIah selagi dia berdoa dengan khidmatnya, tiba-tiba terdengar Siao-liong-li berkata:
“Ya, benar Auyang Hong, Sun-popoh bilang pasti Auyang Hong adanya, Ko-ji, ehh, Ko-ji, ke mana kau?” Sambil berseru mendadak dia pun bangun duduk.
Karena itu cepat Yo Ko kembali duduk di samping si nona dan memegangi tangannya sambil berkata:
“Aku berada di sini.”
DaIam tidurnya tiba-tiba merasa kehilangan sandaran, seketika Siao-liong-li terjaga bangun. Tapi ia menjadi girang dan lega setelah melihat Yo Ko masih tetap berada di sampingnya.
“Jangan kuatir, Liong-ji, aku tidak akan meninggalkan kau untuk selama-lamanya,” kata Yo Ko. ”Seumpama kelak kita harus keluar dari kuburan kuno ini, aku akan tetap berjaga di sampingmu tanpa berpisah selangkah pun.”
“Di dunia luar sana sesungguhnya memang jauh lebih bagus dari pada tempat yang sunyi dan seram ini,” ujar Siao Iiong-li. “Cuma aku takut begitu berada di luar sana.”
“Sekarang kita tidak perlu takut lagi,” kata Yo-Ko. “Beberapa bulan lagi bila kesehatanmu sudah pulih kembali, kita berdua akan pergi ke selatan. Konon cuaca di sana selalu cerah dan pemandangannya sangat indah. Di sana kita tidak perlu lagi main senjata segala, kita akan bercocok tanam, berkebun dan beternak, kita juga akan punya anak banyak...”
Siao-liong-li juga ikut membayangkan kehidupan yang indah itu, katanya: “Ya, selamanya kita takkan main senjata, tiada orang memusuhi kita dan kita pun takkan berkelahi dengan orang lain. Kita berkebun dan piara ayam, piara itik. Aih, apa bila aku boleh tetap hidup...”
Begitulah keduanya terdiam sejenak, meski berada di kuburan kuno tapi dua buah hati mereka selalu melayang jauh ke selatan yang alamnya indah permai. Selamanya mereka belum pernah menginjak daerah selatan, tapi hidung serasa sudah mencium bau harum bunga dan telinga mendengar kicauan burung merdu. Siao-liong-li benar-benar tidak tahan lagi, lapat-lapat ia hendak pulas lagi, tetapi sesungguhnya ia tidak ingin tidur, katanya:
“Aku tidak ingin tidur, bicaralah padaku!”
“Tadi dalam tidur kau mengigau tentang Auyang Hong, mengenai urusan apa itu?” tanya Yo Ko.
Seperti diketahui, waktu kecilnya Yo Ko pernah mengakui Auyang Hong sebagai ayah angkat, kemudian didengarnya dari orang Coan-cin-kau bahwa Auyang Hong berjuluk ‘Se-tok’ (si racun barat), namanya sangat busuk di dunia persilatan malahan Tam Ju-toan, salah satu dari tujuh tokoh Coan-cin-pay itu tewas di tangannya. Kemudian Yo Ko masuk perguruan Ko-bong-pay dan tidak berani lagi bicara mengenai Auyang Hong. Sekarang dia telah menikah dengan Siao-liong-li dan segala apa pun boleh dibicarakan, maka dia pun terheran-heran mendengar igauan Siao-liong-li tadi.
“Apakah aku menyebut Auyang Hong?” demikian jawab Siao-liong-li.
“Kau juga mengatakan bahwa Sun-popoh bilang pasti dia,” kata Yo Ko pula.
Baru sekarang Siao-liong-li teringat, katanya: “Ah, ya, menurut Sun-popoh, orang yang melukai Suhu-ku pasti Se-tok Auyang Hong. Katanya di dunia ini orang yang dapat melukai guruku boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari, sedangkan ilmu pukulan keji seperti Ngo-tok-sin-ciang selain Auyang Hong sendiri pasti tiada orang lain yang sudi menggunakannya. Tapi sampai detik terakhir ajalnya guruku tetap tidak mau mengatakan penjahat yang melukainya. Sun-popoh bertanya kepadanya apakah penyerang itu Auyang Hong adanya? Namun Suhu tetap menggeleng dan tersenyum saja, lalu menghembuskan napasnya yang penghabisan.”
“Auyang Hong adalah ayah angkatku,” kata Yo Ko kemudian.
“He, apa betul? Mengapa aku tidak tahu?” seru Siao-liong-li heran.
Yo Ko lantas menceritakan pengalamannya dahulu ketika dia terkena racun jarum berbisa Li Bok-chiu. Berkat pertolongan Auyang Hong dapatlah dia diselamatkan, sebab itulah dia mengakui Auyang Hong sebagai ayah angkat. Akhirnya dia berkata pula:
“Sekarang ayah angkatku sudah meninggal, Suco dan Sun-popoh juga sudah wafat, Tiong-yang Cosu pun sudah tidak ada, segala budi dan dendam, suka dan duka sampai saatnya telah dihapus seluruhnya oleh Thian yang maha kuasa, malahan sampai saat terakhir Suco tetap tidak mau menyebut nama ayah-angkatku. Ahh, kiranya begitu!”
Melihat anak muda itu seperti mendadak menyadari kejadian sesuatu, cepat Siao-liong-li bertanya:
“Kiranya begitu apa?”
“Tentang ayah angkatku tertotok oleh Suco bukan Li-supek yang menolongnya, tetapi dia membebaskan dirinya sendiri,” tutur Yo Ko.
“Membebaskan dirinya sendiri? Bagaimana bisa begitu?”
“Ayah angkatku memiliki semacam kepandaian khas, yaitu dapat memutar balik jalan urat nadi seluruh tubuh, sekali urat nadi terbalik, segenap Hiat-to juga berubah tempat, sekali pun tertotok dapat melepaskan diri.”
“Di dunia ini masa ada kepandaian seaneh ini? Sungguh sukar dibayangkan.”
“lni akan kuperlihatkan padamu,” kata Yo Ko sambil bangkit lalu dia berjungkir dengan kepala di bawah terus berputar beberapa kali sambil mengatur pernapasan. Mendadak dia melompat bangun, ubun-ubun kepalanya segera ditumbukkan pada ujung meja di depan dipan.
“Hai, awas!” seru Siao-liong-li kuatir.
Hiat-to yang berada tepat di ubun-ubun kepala itu disebut ‘Pek-hwe-hiat’ dan merupakan salah satu Hiat-to paling penting di tubuh manusia, Tapi meski tertumbuk ujung meja batu, ternyata sedikit pun Yo Ko tidak terluka dan sakit, malahan anak muda itu tetap berdiri tegak dan berkata dengan tertawa:
“Lihatlah, sekali jalan urat nadi terbalik, seketika Pek-hwe-hiat juga berpindah tempat.”
Kagum sekali Siao-liong-li, katanya dengan heran: “Sungguh aneh, hanya dia yang dapat memikirkan kepandaian ini.”
Meski pun tidak terluka, tetapi lantaran terlalu keras menggunakan tenaga, Yo Ko merasa kepalanya rada pening juga. Akan tetapi dalam keadaan samar-samar itu tiba-tiba dia seperti menemukan sesuatu yang maha penting, cuma sukar dikatakan urusan penting apa yang ditemukan itu. Sampai sekian lama tetap sukar memecahkan persoalannya sehingga dia menjadi kesal, ingin dikesampingkan tapi berat pula urusannya. Akhirnya dia cakar-cakar kepala sendiri dengan perasaan sangat masgul, katanya kemudian:
“Liong-ji, aku teringat sesuatu yang sangat penting, tapi tidak tahu apakah itu. Dapatkah kau membantu?”
Sesungguhnya tidaklah masuk di akal bahwa pikiran seseorang yang kusut dan tak dapat menyimpulkan sesuatu ditanyakan kepada orang lain. Tapi lantaran mereka berdua sudah berkumpul lama, sudah ada kontak batin yang amat mendalam, apa yang dipikirkan pihak lain biasanya dapat diterka sebagian besar. Maka Siao-liong-li lantas bertanya:
“Apakah urusan ini sangat penting?” Yo Ko mengiyakan. Siao-liong-li menegas lagi: “Apakah ada sangkut-pautnya dengan keadaan lukaku?”
“Benar, benar! Apakah itu? Urusan apa yang teringat olehku?”
“Tadi kau bicara tentang ayah-angkatmu Auyang Hong serta caranya memutar balik letak hiat-to. Apakah soal ini ada sangkut pautnya dengan lukaku? Kan bukan dia yang melukai aku...”
Mendadak Yo Ko melonjak dan berteriak: “Aha, benar!”
Begitu keras teriakannya sehingga bergemalah kumandang suaranya dari kamar-kamar batu di kuburan kuno itu. Habis itu Yo Ko terus memegang lengan Siao-liong-li dan berseru:
“Engkau tertolong, Liong-ji! Engkau tertolong...!”
Hanya sekian saja kata-katanya, saking girangnya air mata berlinang-linang dan tidak dapat melanjutkan ucapannya. Melihat anak muda itu sedemikian gembiranya, Siao-liong-li juga ikut senang dan bangkit duduk.
“Coba dengarkan baik-baik, Liong-ji,” kata Yo Ko kemudian, “kau terluka dan tidak dapat menggunakan Iwekang dari perguruan kita sehingga sukar disembuhkan, tetapi engkau dapat memutar balik urat nadi untuk penyembuhanmu dan dipan kemala dingin itu adalah alat pembantu yang ajaib.”
“Tapi... tapi aku masih belum paham!” sahut si nona dengan bingung.
“Bahwa Giok-li-sim-keng aslinya adalah Ci-im (negatip, dingin), kebalikannya adalah Sun-yang (panas, positip),” tutur Yo Ko. “Ketika membicarakan kepandaian membalikkan urat nadi ayahku tadi samar-samar sudah aku rasakan bahwa lukamu ini pasti tertolong, cuma cara bagaimana menyembuhkannya yang masih membingungkanku. Sesudah ingat pada kemala dingin yang disebut dalam surat Tiong-yang Cosu barulah aku dapat memahami persoalannya dengan jelas. Sekarang janganlah kita menunda lebih lama lagi. Marilah... marilah...”
Begitulah dia lantas pergi mencari beberapa ikat kayu bakar, lalu dibakar di pojok kamar, kemudian dia mengajarkan pengantar dasar ilmu membalikkan urat nadi. Si nona dibiarkan duduk di atas dipan kemala dingin, dia sendiri duduk di samping api unggun, tangan kirinya menahan telapak tangan kanan Siao-liong-li.
“Akan kutarik hawa panas ini untuk menerobos ke segenap Hiat-to di tubuhmu, sekuatnya engkau kerahkan tenaga secara terbalik, satu demi satu Hiat-to itu akan diterobos. Bila hawa panas itu sudah sampai ke dipan kemala dingin maka keadaan lukamu menjadi berkurang pula parahnya.”
“Apakah aku pun harus berjungkir balik dan berputar seperti kau tadi?” tanya Siao-liong-li tertawa.
“Sekarang belum perlu, nanti bila sembilan Hiat-to besar sudah diterobos, cara berjungkir dan mengerahkan tenaga akan menjadi jauh lebih mudah.”
Siao-liong-li berkata sambil tertawa: “Untung kedua lenganmu tidak terkutung semua, nona Kwe itu ternyata tidak terlalu jelek.”
Sesudah mengalami detik-detik maut tadi, mengenai buntungnya tangan bagi mereka sudah bukan soal lagi, maka Siao-liong-li menggunakan hal ini untuk bergurau. Dengan tertawa Yo Ko menjawab:
“Kalau tanganku buntung semua, masih ada dua kaki. Hanya kalau membantu menyembuhkan dengan telapak kaki, bau keringat kakiku akan memualkan.”
Sementara itu api unggun sudah mulai berkobar selagi Yo Ko bersiap akan mengerahkan tenaga dalam dan mulai penyembuhannya pada Siao-liong-li. Mendadak dia berteriak:
“Hayaa... hampir saja celaka!”
“Ada apa?” tanya Siao-liong-li.
Yo Ko menuding Kwe Siang yang tertaruh di ujung tempat tidur sana dan berkata: “Kalau latihan kita sedang memuncak pada titik yang paling genting dan mendadak setan cilik ini berkaok, kan segalanya bisa runyam?”
“Ya, sungguh berbahaya, hampir saja!” Siao-liong-li pun bersyukur.
Maklumlah, orang yang sedang asyik berlatih lwekang paling pantang akan gangguan dari luar, seperti dahulu ketika Siao-liong-li dan Yo Ko sedang berlatih Giok-li-sim-keng, tanpa sengaja terganggu oleh kedatangan In Ci-peng dan Thio Ci-keng sehingga akibatnya hampir saja menewaskan Siao-liong-li.
Cepat Yo Ko mengaduk setengah mangkuk madu untuk Kwe Siang, lalu membawa orok itu ke sebuah kamar yang agak jauh, pintu kamar ditutup sehingga jerit tangisnya takkan terdengar. Habis itu barulah dia kembali ke tempat semula dan berkata:
“Kukira dalam waktu tujuh hari sampai setengah bulan, seluruh Hiat-to penting di tubuhmu dapatlah diterobos semuanya, selama itu tentu sukar menghindari gangguan dari luar, tapi tempat ini sama sekali terpisah dengan dunia luar, sungguh sebuah tempat yang sangat bagus.”
“Lukaku akibat dipukul kawanan Tosu Coan-cin-kau, tapi cikal bakal mereka yang membangun kuburan ini serta merta menyediakan dipan kemala dingin bagiku sehingga kesehatanku dapat dipulihkan, rasanya dosa dan jasa mereka dapatlah dianggap sama.”
“Dan bagaimana dengan Kim-lun Hoat-ong? Kita takkan ampuni dia,” kata Yo Ko.
“Asalkan aku tetap hidup, apa lagi yang tidak memuaskan kau?”
“Ya, benar juga kata-katamu,” kata Yo Ko sambil memegang tangan si nona yang putih halus itu, “Setelah kau sembuh, selanjutnya kita takkan berkelahi lagi dengan siapa pun.”
“Kita akan pergi ke selatan dan bercocok tanam di sana, memiara ayam dan itik serta...” dia termenung sejenak. Mendadak terasa suatu hawa panas tersalur tiba melalui telapak tangannya. Hatinya terkesiap, cepat ia melancarkan jalan darah dan mulai berlatih sesuai ajaran Yo Ko.
Penyembuhan dengan cara membalikkan jalan darah yang dibantu dengan khasiat dipan kemala dingin itu ternyata sangat besar manfaatnya. Sudah tentu cara penyembuhan ini tidak dapat segera berhasil melainkan memerlukan ketekunan dan kesabaran.
***********
Kembali bercerita tentang Oey Yong. Sesudah membuat Li Bok-chiu tak dapat berkutik, namun Kwe Siang sudah tidak berada di tempatnya lagi, tentu saja dia kelabakan. Ia coba membentak Li Bok-chiu dan bertanya:
“Kau main tipu muslihat keji apa, ke mana kau sembunyikan anakku?”
“Bukankah nona cilik itu terkurung baik-baik di tengah pagar rotan?” jawab Li Bok-chiu heran.
“Mana ada? Sudah lenyap!” kata Oey Yong, hampir saja ia menangis saking cemasnya.
Karena sudah sekian lama momong Kwe Siang, maka Li Bok-chiu juga sangat menyukai orok itu. Dia pun terkejut demi mendengar anak itu lenyap sehingga tercetus ucapannya:
“Kalau bukan Yo Ko tentu Kim-lun Hoat-ong.”
“Apa maksudmu?” tanya Oey Yong.
Li Bok-chiu lalu menceritakan peristiwa perebutan Kwe Siang antara dia, Yo Ko dan Kim-lun Hoat-ong tempo hari. Dari cara Li Bok-chiu menguraikan itu jelas kelihatan dia sangat menguatirkan anak itu. Kini Oey Yong percaya penuh hilangnya Kwe Siang itu memang di luar tahu Li Bok-chiu. Segera dia membuka Hiat-to yang ditotoknya tadi, cuma perlahan ia ketuk Soan-ki-hiat di dada orang, dengan demikian Li Bok-chiu dapat bergerak seperti biasa, tapi dalam waktu 12 jam dia belum kuat mencelakai orang lain.
Li Bok-chiu bangkit dengan tersenyum getir dan membersihkan debu di bajunya, ialu berkata:
“Kalau jatuh di tangan Yo Ko rasanya tidak berhalangan, kuatirnya kalau digondol lari si bangsat gundul Kim-lun Hoat-ong.”
“Apa sebabnya?” tanya Oey Yong.
“Yo Ko amat baik kepada anak itu, aku yakin dia takkan membikin celaka, sebab itulah tadinya kukira orok itu anaknya.”
Mendadak Li Bok-chiu berhenti, kuatir Oey Yong tersinggung dan marah lagi. Tapi dalam hati Oey Yong justru sedang memikirkan soal lain. Ia sedang membayangkan betapa susah payahnya Yo Ko berusaha menempur Li Bok-chiu dan Kim-lun Hoat-ong demi menyelamatkan Kwe-cilik, tapi dirinya dan Kwe Hu justru menyangka jelek sehingga mengakibatkan sebelah lengan anak muda itu ditebas kutung oleh Kwe Hu.
Teringat itu hati Oey Yong merasa amat menyesal, pikirnya: “Ko-ji pernah menyelamatkan jiwa kakak Ceng, juga menyelamatkan aku dan kedua Bu. Sekarang dia menyelamatkan anak Siang, tetapi lantaran pikiranku sudah menarik kesimpulan keburukan ayahnya dan menganggap ‘kacang tidak meninggalkan Ianjarannya’, ‘serigala tentu beranak serigala’, maka selama ini aku tidak pernah percaya padanya. Meski terkadang agak baik padanya, selang tak lama kemudian aku lantas memakinya lagi. Aih, percumalah diriku maha pintar dan cerdik. Kalau bicara tentang kejujuran dan ketulusan terhadap orang lain, mana aku dapat dibandingkan dengan kakak Ceng?”
Melihat nyonya Kwe termangu-mangu dan mengembeng air mata, Li Bok-chiu menyangka orang sedang menguatirkan keselamatan anaknya, sebab itu dia berusaha menghibur:
“Kwe-hujin, puterimu belum sebulan terlahir tapi sudah mengalami bencana begini, namun tetap selamat tak kurang sesuatu apa pun. Bayi mungil menyenangkan seperti dia, biar pun momok yang ditakuti orang macamku ini juga jatuh hati padanya, maka bisa dipahami kalau bayi itu mempunyai rejeki besar. Hendaknya kau berdoa saja bagi keselamatan dan marilah pergi mencarinya.”
Oey Yong mengusap air mata. Ia pikir ucapan Li Bok-chiu ada benarnya juga, maka ia membuka lagi Hiat-to yang ditotoknya tadi kemudian berkata:
“Terima kasih banyak bahwa kau suka pergi bersamaku untuk mencari puteriku. Tapi kalau engkau ada urusan lain, biarlah kita berpisah di sini, sampai berjumpa kelak.”
“Urusan penting lain apa? Kalau ada urusan penting, kiranya tidak lebih penting dari pada mencari anak itu. Ehh, tunggu sebentar!” Habis ini Li Bok-chiu langsung menyusup ke dalam goa di balik pepohonan sana untuk membuka tali pengikat kaki macan tutul.
Begitu merasa bebas, sambil meraung satu kali macan tutul itu melompat lalu pergi dengan cepatnya. Tentu saja Oey Yong merasa heran.
“Untuk apa kau menawan macan tutul?” tanyanya.
“Dia itulah mak inang puterimu,” tutur Li Bok-chiu tertawa.
Baru sekarang Oey Yong paham, ia tersenyum. Keduanya lantas kembali ke kota kecil itu untuk mencari jejak Yo Ko. Setiba di sana, tampak Kwe Hu sedang celingukan dan bingung. Nona itu menjadi girang melihat datangnya sang ibu, cepat ia berseru:
“lbu, adik dibawa...” belum habis kata-katanya, ia kaget melihat yang mengikut di belakang sang ibu ternyata Li Bok-chiu adanya.
“Bibi Li akan bantu kita mencari adikmu,” tutur Oey Yong kemudian. “Bagaimana dengan adikmu?”
“Adik Siang dibawa lari Yo Ko, malah kuda merah juga dirampasnya,” jawab Kwe Hu. “Lihatlah pedangku ini. Dengan kebasan lengan bajunya yang tidak berlengan itu, pedangku jadi begini.”
“Hanya dengan lengan baju?” tanya Oey Yong dan Li Bok-chiu berbareng.
“Ya, sekali kebas saja pedang ini langsung bengkok. Sungguh aneh, entah ilmu hitam apa yang berhasil dikuasainya,” kata Kwe Hu.
Oey Yong dan Li Bok-chiu saling pandang sekejap dengan terkesiap. Mereka tahu kalau tenaga dalam seseorang sudah terlatih sempurna, maka dengan benda yang lunak pun dapat digunakan menghantam benda lawan yang keras. Untuk dapat mencapai tingkatan itu sedikitnya perlu waktu beberapa puluh tahun, itu pun jika mendapatkan guru yang mahir. Akan tetapi usia Yo Ko masih muda belia, masa Iwekang-nya sudah mencapai puncak seperti ini?
Hati Oey Yong merasa lega ketika mengetahui Kwe Siang memang digondol oleh Yo Ko. Sedangkan Li Bok-chiu berpikir tentang kehebatan Kang-hu anak muda itu. Tentulah berkat ilmu yang diperolehnya dari Giok-li-sim-keng. Jika saja sekarang dirinya membantu Kwe-hujin merebut kembali puterinya, sebagai imbalannya tentu nyonya Kwe itu pun mau membantu merebut kembali kitab pusaka itu.
Begitulah setelah bertanya arah perginya Yo Ko, kemudian Oey Yong berkata kepada Kwe Hu:
“Kau pun tidak perlu lagi pulang ke Tho-hoa-to. Mari ikut pergi mencari Yo-toako.” Tentu saja Kwe Hu kegirangan dan mengiyakan ber-ulang. Tiba-tiba Oey Yong menarik muka dan berkata lagi: “Kau harus bertemu dengan dia, tak peduIi dia mau mengampuni kau atau tidak tapi kaulah yang harus minta maaf kepadanya dengan setulus hati.”
Tapi Kwe Hu tidak bisa menerima, katanya: “Kenapa begitu? Bukankah dia telah mencuik adik?”
Oey Yong lantas menceritakan secara ringkas apa yang didengarnya dari Li Bok-chiu dan menambahkan:
“Kalau dia bermaksud jahat, mana bisa adikmu hidup sampai sekarang? Lagi pula, dengan kebutan lengan bajunya itu, kalau saja yang diincar adalah kepalamu, coba bayangkan, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Ngeri juga hati Kwe Hu mendengar ucapan sang ibu, dia pikir betul juga omongan ibunya. Tetapi apakah benar Yo Ko sengaja bermurah hati padanya? Dasar anak manja, betapa pun mulutnya tidak mau kalah, katanya:
“Dia menggondol adik ke arah utara, tentu dia menuju ke Coat-ceng-kok.”
“Tidak, dia pasti pulang ke Cong-lam-san,” ujar Oey Yong.
Kwe Hu masih merasa penasaran, jawabnya: “lbu selalu membela dia. Padahal kalau dia bertujuan baik, untuk apa dia membawa adik ke Cong-Iam-san?“
Oey Yong menghela napas, katanya: “Kau dibesarkan bersama Yo-toako, tetapi kau masih belum mengenal wataknya. Selamanya dia tinggi hati dan angkuh, tidak tahan dihina orang. Ketika mendadak kau mengutungi lengannya, dia merasa tak sampai hati balas membuntungi lenganmu, tetapi dia pun tidak rela bila menyudahi begitu saja urusan ini, maka dia sengaja membawa pergi adikmu agar kita dibuat kelabakan dan bersedih. Selang sementara waktu, kalau dongkolnya sudah mereda, aku yakin dia pasti akan mengembalikan adikmu. Nah, paham tidak sekarang?” tegasnya. “Karena kau memfitnah dia menculik adikmu, maka ia betul-betul sengaja menculiknya.”
Oey Yong memang sangat cerdas dan pintar. Setelah mendengar cerita Li Bok-chiu, jalan pikiran Yo Ko ternyata dapat diraba dan diukurnya dengan tepat. Padahal Siao-liong-li dan Kwe Ceng menganggap Yo Ko teramat baik, sebaliknya Li Bok-chiu dan Kwe Hu justru menganggap anak muda itu terlampau busuk. Tetapi sampai saat ini satu-satunya yang benar-benar memahami jalan pikiran dan watak Yo Ko ternyata hanya Oey Yong saja.
Demikianlah akhirnya Kwe Hu tidak berani bicara Iagi. Mereka lantas mendatangi warung makan untuk meminjam alat tulis. Oey Yong menulis sebuah surat singkat dan memberi persen kepada pelayan agar segera mengirimkan surat itu kepada Kwe Ceng di Siang-yang. Setelah itu mereka bertiga membeli kuda dan berangkatlah ke Cong-lam-san. Kwe Hu tidak menyukai Li Bok-chiu, di sepanjang jalan sikapnya dingin dan jarang bicara dengannya.
PASANGAN-PASANGAN BARU
Hari itu lewat lohor. Tengah mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dari depan seorang penunggang kuda mendatangi secepat terbang.
“Hei, itu kuda merah kita...!” seru Kwe Hu. Belum habis ucapannya, penunggang kuda mendekat dan segera Kwe Hu melompat maju.
Kuda itu memang betul kuda Kwe Hu yang dirampas Yo Ko. Sebelum Kwe Hu meraih tali kendali, kuda merah itu sudah lantas berhenti mendadak kemudian berjingkrak sambil meringkik kegirangan karena mengenali sang majikan. Waktu Kwe Hu mengamati penunggangnya, ternyata seorang nona berbaju hitam yang dahulu pernah berjumpa satu kali waktu bersama mengeroyok Li Bok-chiu, yaitu Wanyen Peng. Rambut nona itu tampak kusut masai, wajahnya pucat, keadaannya mengenaskan.
“He, kenapa kau, Wanyen-taci?” tanya Kwe Hu cepat.
“Di sana, lekas...,” jawab Wanyen Peng dengan suara terputus-putus sambil menuding ke belakang, mendadak tubuhnya tergeliat terus terperosot jatuh.
Segera Kwe Hu melompat turun membangunkan nona itu. Ternyata Wanyen Peng telah pingsan, pundaknya terluka dan merembes darah segar. Cepat Kwe Hu membubuhi obat luka dan merobek kain baju untuk membalut lukanya sambil berkata kepada sang ibu:
“ini Wanyen-cici yang pernah kukatakan itu.” Habis berkata dia melotot sekali pada Li Bok-chiu.
Oey Yong pikir sebelum jatuh pingsan Wanyen Peng sempat menuding ke sana, tentu di sana tengah terjadi sesuatu dan mungkin ada kawannya yang masih perlu ditolong. Cepat ia menyuruh Kwe Hu memondong Wanyen Peng ke atas kuda merah dan memberi pesan supaya mengikutinya dari belakang. Setelah ini ia memberi tanda kepada Li Bok-chiu dan mengajaknya berlari ke utara dengan Ginkang mereka yang tinggi.
Sekaligus mereka berlari belasan li tanpa berhenti. Benar juga, sayup-sayup terdengar suara beradunya senjata di lereng bukit sana. Mereka mempercepat langkah dan setelah melintasi bukit, terlihatlah ada lima orang sedang bertempur sengit di tanah datar. Dua di antara lima orang itu adalah kedua saudara Bu, selain itu ada lagi seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak dikenal. Mereka berempat sedang mengerubuti seorang lelaki setengah umur.
Meski empat mengeroyok satu, tampaknya masih kewalahan, lebih banyak terserang dari pada menyerang. Tampaknya kedua saudara Bu sudah terluka, hanya pemuda itu dengan pedangnya yang berputar cepat menangkis hampir sebagian besar serangan lelaki setengah umur itu. Di samping sana nampak menggeletak seorang berewok dan berlumuran darah, ternyata Bu Sam-thong adanya. Yang aneh adalah senjata lelaki itu. Tangan yang satu menggunakan golok emas, tangan lainnya memainkan pedang panjang lentik warna hitam, gerak serangannya aneh tapi luar biasa.
Oey Yong pikir apa bila tidak lekas turun tangan tentu kedua saudara Bu itu bisa celaka. Segera dia berkata kepada Li Bok-chiu:
“Kedua anak muda itu adalah muridku.”
Li Bok-chiu hanya tersenyum saja. Sudah tentu dia mengenal kedua Bu cilik itu sebab ibu mereka terbunuh olehnya. Dia lihat ilmu silat lelaki setengah umur itu sangat tinggi, diam-diam dia terkejut, segera dia siapkan kebutnya dan berkata:
“Mari kita maju bersama!”
Oey Yong juga keluarkan pentungnya, dua orang segera menerjang maju dari kanan-kiri, kebut Li Bok-chiu melayani pedang hitam dan Oey Yong menghadapi golok emas. Lelaki itu bukan lain dari pada Kongsun Ci. Dia terkejut juga ketika mendadak dua wanita setengah baya dan cantik mengerubutnya sekaligus.
Terdengar Li Bok-chiu berseru: “Satu!”
Ketika kebutnya menyabet lagi segera ia berseru pula: “Dua!”
Rupanya diam-diam dia ingin berlomba dengan Oey Yong untuk mendahului menjatuhkan senjata lawan, Tapi meski pun dia sudah berteriak sampai hitungan ke sepuluh, ternyata Kongsun Ci masih tetap dapat menahan dan balas menyerang juga. Anak muda yang berpedang tadi melihat ada kesempatan, ber-turut ia terus menyerang tiga kali ke punggung Kongsun Ci.
Serangan-serangan lihay ini membuat Kongsun Ci rada kerepotan. Karena dia tidak mau menangkisnya, terpaksa dia melompat maju untuk melepaskan diri dari kerubutan itu. Dia tahu apa bila pertempuran dilanjutkan tentu dirinya akan celaka. Mendadak kedua senjatanya ia adu hingga menguarkan suara mendenging dan bergaya hendak menerjang lagi.
Oey Yong dan Li Bok-chiu juga menyadari kelihayan lawan, mereka tidak berani gegabah dan siap bertahan. Tanpa terduga baru saja tubuh Kongsun Ci terangkat ke atas, ternyata tidak melompat maju melainkan malah menyurut mundur, hanya beberapa kali lompatan dia sudah lari sampai di atas bukit. Diam-diam Oey Yong dan Li Bok-chiu mengakui kelicinan orang dan tinggi pula ilmu silatnya, kalau saja kepergok satu lawan satu mungkin bukan tandingannya. Dalam pada itu kedua saudara Bu lantas memberi hormat kepada sang ibu guru, sesudah itu mereka terus melotot kepada Li Bok-chiu dengan sikap memusuhi.
“Sementara ini kesampingkan dulu dendam Iama,” kata Oey Yong. “Luka ayahmu parah tidak? Ehh, siapakah kedua anak muda ini? Wah, celaka! Lekas ikut aku ke sana, Li-cici!” Habis berseru dia mendahului lari ke arah kedatangannya tadi.
Li Bok-chiu tidak paham maksud seruan Oey Yong, namun ia tetap ikut berlari ke sana sambil berteriak:
“Ada apa?”
“Anak Hu,” jawab Oey Yong sambil lari, “Anak Hu akan kepergok orang tadi.”
Demikianlah mereka berlari sekencangnya. Akan tetapi Kongsun Ci juga tak kurang cepatnya, sementara itu dia sudah meninggalkan satu-dua li jauhnya. Baru saja Oey Yong berdua sampai di atas bukit, Kongsun Ci sendiri telah berada di kaki bukit, tampak Kwe Hu yang membawa Wanyen Peng dengan menunggang kuda merah itu sedang menanjak ke atas dengan perlahan.
“Awas, Hu-ji!” seru Oey Yong dari jauh.
Belum lenyap suaranya, mendadak terlihat Kongsun Ci mencemplak ke atas kuda merah, sekaligus Kwe Hu telah dibekuk olehnya, menyusul tali kendali kuda merah ditarik hendak dibelokkan ke sana. Oey Yong menjadi kuatir, kini harapannya hanya terletak pada kuda merah itu. Cepat dia bersuit untuk memanggil kuda itu. Dasar kuda merah itu memang binatang cerdik, begitu mendengar suara panggilan sang majikan, terus saja kabur ke atas bukit secepat terbang.
Keruan Kongsun Ci terkejut, pikirnya: “Sungguh sial, masa seekor kuda saja tak dapat aku kuasai?” Sekuatnya ia berusaha menarik tali kendali, tapi karena sentakan mendadak itu, kuda merah berjingkrak dan meringkik. Sebisanya Kongsun Ci berusaha memutar kuda itu ke arah lain, namun kuda merah malah mendepak-depak sambil mundur-mundur ke atas bukit. Tentu saja Oey Yong girang, cepat ia memburu maju.
Merasa tidak sanggup mengatasi kebandelan kuda merah, sementara itu kedua lawan tangguh sudah memburu, terpaksa Kongsun Ci menyimpan senjatanya, tangan yang satu ia kempit Kwe Hu dan tangan lain mengempit Wanyen Peng, ia terus melompat turun dari kuda dan kabur dengan cepat. Kongsun Ci sungguh lihay, meski pun membawa dua nona larinya tetap secepat terbang. Tetapi Ginkang Oey Yong dan Li Bok-chiu juga kelas wahid, tidak seberapa lama dapatlah mereka menyusul. jaraknya tinggal belasan meter saja. Sekonyong-konyong Kongsun Ci berhenti lalu membalik tubuh sambil berkata:
“Heh, kalau kupiting sekuatnya, kukira kedua anak perempuan cantik ini akan menghadapi Giam-lo-ong (raja akhirat).”
Oey Yong terkesiap, tanyanya kemudian: “Siapakah kau? Selamanya kita belum pernah saling kenal, mengapa kau menawan puteriku?”
“Oh, ini puterimu? Jadi kau ini nyonya Wanyen?” tanya Kongsun Ci tertawa.
“Yang itu puteriku,” kata Oey Yong sambil menunjuk Kwe Hu.
Kongsun Ci memandang sekejap pada Kwe Hu, lalu memandang Oey Yong, dengan cengar-cengir lalu berkata:
“Wah, sangat cantik, ibu dan anak sama cantiknya, sungguh cantik!”
Tentu saja Oey Yong sangat gusar, tapi apa daya, puterinya berada dalam cengkeraman musuh, terpaksa harus bersabar dan mencari akal. Selagi hendak bicara, mendadak terdengar suara mendesir dari belakang, dua anak panah menyambar lewat di pipi kirinya dan langsung mengarah muka Kongsun Ci. Kekuatan kedua anak panah itu sungguh luar biasa, suara mendesingnya sangat keras. Mendengar suara desingan panah itu, hampir saja Oey Yong berteriak kegirangan sebab disangkanya sang suami (Kwe Ceng) sudah tiba.
Maklumlah, kemahiran memanah amat jarang dimiliki tokoh persilatan daerah Tionggoan, sedangkan jago panah Mongol banyak yang tidak memiliki tenaga dalam yang kuat hingga sukar mencapai jarak jauh, maka dari suara mendesingnya panah yang keras tadi, Oey Yong merasa tiada orang lain lagi kecuali Kwe Ceng yang mampu memanah sehebat itu.
Kongsun Ci juga maha lihay. Kedua tangannya tak dapat digunakan menangkap anak panah yang menyambar, mendadak ia membuka mulut dan menggigit tepat ujung panah pertama menyusul kepalanya sedikit menggeleng hingga panah yang kedua dapat disampuk jatuh dengan panah yang digigitnya itu.
Oey Yong menjadi ragu, apakah sang suami yang memanah? Karena dia yakin apa bila Kwe Ceng yang memanah kemudian musuh berani menggigit dengan mulutnya, mustahil tenggorokannya takkan tembus oleh anak panah itu. Dalam pada itu terdengar suara mendesing berturut-turut, sekaligus sembilan panah menyambar ke muka Kongsun Ci secara susul menyusul. Mau tak mau Kongsun Ci menjadi kelabakan sehingga terpaksa ia lepaskan kedua nona dan meloIos senjata untuk menangkis.
Selagi Oey Yong hendak menubruk maju untuk menyelamatkan puterinya, sesosok bayangan sudah menggelinding ke depan, lalu merangkul Kwe Hu dan terus berguling lagi ke samping, Tapi sebelum orang itu melompat bangun, tangan Kongsun Ci yang lain menghantam kepala orang itu. Dalam kedudukan masih telentang, orang yang menolong Kwe Hu sempat menangkis dengan tangannya.
“Blangg!” debu dan pasir berhamburan.
Kongsun Ci berseru: “Bagus!”
Menyusul pukulan ke dua dilontarkan dengan lebih dahsyat. Tampaknya orang itu sulit menangkis lagi, cepat Oey Yong mengulur pentung bambunya dan menangkiskan pukulan itu. Merasa dirinya pasti takkan mampu menghadapi kerubutan orang banyak, Kongsun Ci tidak menyerang lagi, ia terbahak dan melompat mundur terus melangkah pergi. Gayanya indah, caranya tangkas pula dan ternyata tiada yang berani mengejarnya Iagi.
Setelah bangkit, orang yang merangkul Kwe Hu tadi lantas melepaskan si nona. Pinggang orang itu membawa busur, perawakannya tinggi dan bahunya lebar. Oey Yong langsung mengenalinya sebagai pemuda yang berpedang tadi, ke-11 anak panah yang dibidikkan secara berantai itu tentu dilakukan oleh anak muda ini pula. Meski pun tertawan Kongsun Ci tapi Kwe Hu tidak mengalami luka. Dengan muka merah jengah segera ia menyapa pemuda yang sudah menolongnya itu:
“Eh, kiranya Yalu-toako, terima kasih atas pertolonganmu!“
Dalam pada itu Bu Siu-bun dan nona satunya lagi sudah memburu tiba, hanya Bu Tun-si saja yang tinggal di sana menjaga ayahnya. Patutnya Bu Siu-bun memperkenalkan mereka, tetapi dia tidak dapat menahan marah dan dendamnya, kedua matanya melotot benci kepada Li Bok-chiu dan lupa keadaan sekitarnya, meski dua kali Oey Yong memanggilnya juga tidak mendengar. Kwe Hu lantas bicara kepada sang ibu sambil menunjuk pemuda yang menolongnya:
“Ibu, ini Yalu-toako!” Lalu dia tuding pula nona yang datang bersama Bu Siu-bun dan menambahkan: “Dan ini Yalu-cici.”
“Oh, hebat benar kepandaian kalian berdua!” puji Oey Yong.
Kedua saudara Yalu itu merendah sambil memberi hormat, ada pun Li Bok-chiu berdiri menjauhi di sana tanpa urus orang-orang lain.
“Gaya ilmu silat kalian nampaknya dari Coan-cin-pay, entah kalian ini murid Coan-cin-jit-cu yang mana?” tanya Oey Yong.
Dia menyaksikan kepandaian Yalu Ce yang hebat. Kecuali Yo Ko saja, di antara angkatan muda yang pernah dilihatnya boIeh dikatakan tiada bandingannya lagi, maka ia yakin Yalu Ce pasti bukan anak murid Coan-cin-pay angkatan ketiga atau keempat.
Dengan rendah hati Yalu Yen berkata: “Kepandaianku sih ajaran kakak.”
Oey Yong mengangguk dan memandang Yalu Ce. Agaknya Yalu Ce merasa sungkan untuk menerangkan, jawabnya kemudian:
“Pantasnya Wanpwe harus menjawab pertanyaan Cianpwe, cuma Suhu pernah memberi pesan agar jangan se-kali-kali menyebut nama beliau, sebab itulah mohon Kwe-hujin sudi memaafkan.”
Semula Oey Yong terkesiap, dia heran mulai kapan Coan-cin-jit-cu memakai peraturan aneh yang melarang anak murid menyebut nama gurunya? Tapi cepat pikirannya tergerak, mendadak dia tertawa terpingkal-pingkal seperti teringat sesuatu yang amat lucu.
“Apakah yang menggelikan engkau, ibu?” tanya Kwe Hu heran.
Akan tetapi Oey Yong tidak menjawab dan tetap tertawa. Tapi ternyata Yalu Ce tidak tersinggung, malah dia pun tersenyum dan akhirnya berkata:
“Kiranya Kwe-hujin dapat menerka.”
Kwe Hu tetap bingung, waktu ia pandang Yalu Yen, nona itu pun merasa tidak paham apa yang ditertawakan kedua orang itu. Di samping sana Bu Siu-bun telah membalut luka Wanyen Peng yang menjadi pecah lagi karena ditawan dan dibanting oleh Kongsun Ci tadi.
“Bagaimana keadaan ayahmu Siu-bun?” tanya Oey Yong.
Sebelum Siu-bun menjawab, tiba-tiba Yalu Yen berseru terus berlari ke tempat Bu Sam-thong menggeletak.
“Luka ayah terletak di paha kiri, terkena serangan tua bangka Kongsun itu,” tutur Siu-bun.
Oey Yong mengangguk, lalu dia mendekati kuda merah dan mengelus bulu surinya yang panjang. Katanya dengan suara terharu:
“Kudaku sayang, sungguh besar jasamu terhadap keluarga Kwe.”
Ternyata Bu Siu-bun tidak lagi bersikap akrab terhadap Kwe Hu, sebaliknya tampak amat simpati pada Wanyen Peng, entah sengaja hendak membikin sirik Kwe Hu atau memang pemuda itu benar-benar jatuh hati pada Wanyen Peng. Betapa pun juga Oey Yong tidak sempat urus persoalan anak-anak muda itu, segera dia berlari ke tempat Bu Sam-thong untuk memeriksa keadaannya.
Melihat Oey Yong, Bu Sam-thong bermaksud hendak berdiri, tapi karena kakinya terluka, tubuhnya menjadi sempoyongan, cepat Bu Tun-si dan Yalu Yen memegangi orang tua itu. Ketika jari kedua muda-mudi itu saling sentuh, keduanya saling pandang dan tersenyum penuh arti.
Diam-diam Oey Yong geli, pikirnya: “Rupanya ada satu pasangan lagi, padahal beberapa hari yang lalu kedua saudara Bu cilik itu baru saja berkelahi mati-matian berebut anak Hu tanpa menghiraukan hubungan baik saudara sekandung. Sekarang sesudah menemukan nona cantik lain, seketika segala kejadian yang lalu terlupa sama sekali.”
Bahwasanya kedua saudara Bu jatuh hati kepada Kwe Hu sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh. Soalnya mereka dibesarkan bersama di Tho-hoa-to, di pulau terpencil tiada anak perempuan lain, lama-lama tentu saja menimbulkan bibit cinta antara mereka. Tetapi kemudian, sesudah mengetahui Kwe Hu tidak mencintai mereka, kedua Bu cilik itu sangat kecewa dan putus asa, hidup mereka terasa hampa dan tiada artinya. Tak terduga tidak lama kemudian mereka ketemukan Yalu Yen dan Wanyen Peng, masing-masing ternyata rada cocok dengan kedua saudara Bu itu.
Sekarang mereka saling bertemu lagi, diam-diam kedua Bu cilik membandingkan Kwe Hu dengan buah hati mereka yang baru. Dan pameo ‘cinta itu buta’ juga berlaku di sini, dalam anggapan mereka tentu segala sesuatu kekasihnya jauh lebih baik. Sebenarnya kedua saudara Bu sudah bersumpah tidak akan menemui Kwe Hu lagi, tetapi pertemuan ini terjadi mendadak dan kepergok, jadi bukan sengaja hendak bertemu, maka mereka anggap bukan melanggar sumpah.
Dalam hati Kwe Hu sendiri sedang membayangkan kejadian Yalu Ce menolongnya tadi, beberapa kali dia melirik kepada anak muda yang gagah dan cakap itu, dia menjadi heran ilmu silatnya ternyata begini hebat. Anak muda itu pun saling pandang dengan ibunya dan tertawa geli, entah apa pula yang ditertawakan mereka. Demikianlah sesudah memeriksa luka Bu Sam-thong dan ternyata tidak parah, Oey Yong merasa lega. Mereka lantas ambil tempat duduk di batu karang dan saling menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah.
Kiranya tempo hari ketika Cu Cu-liu ikut paman gurunya, yaitu si paderi Hindu itu mencari obat ke Coat-ceng-kok, secara diam-diam Bu Sam-thong juga ikut ke sana untuk membalas budi kebaikan Yo Ko. Tapi baru saja sampai di luar kota, kedua puteranya juga keluar kota bersama. Ia terkejut dan kuatir jika kedua saudara sekandung itu akan duel lagi, cepat ia menegur dan menanyai kedua puteranya. Akhirnya barulah diketahui bahwa kedua Bu cilik telah bersumpah takkan bertemu lagi dengan Kwe Hu, maka mereka tidak ingin tinggal lagi di Siang-yang. Karena itulah mereka bertiga lantas menuju ke Coat-ceng-kok.
Tapi Coat-ceng-kok itu mirip dunia lain. Meski Yo Ko telah memberi-tahu keadaan tempat itu secara garis besar, tetapi sungguh sukar menemukan jalan masuknya. Setelah ber-putar kian kemari dan beberapa kali kesasar, akhirnya bisa juga mereka menemukan mulut lembah itu. Tak terduga paderi Hindu dan Cu Cu-liu berdua ternyata sudah tertawan oleh Kiu Jian-jio. Beberapa kali Bu Sam-thong bertiga berusaha menolong mereka, tetapi selalu gagal dan terpaksa keluar dari lembah itu dengan maksud pulang ke Siang-yang untuk mencari bala bantuan. Tak tahunya di tengah jalan mereka kepergok pula dengan Kongsun Ci. Mereka dituduh sengaja berkeliaran di lembah itu sehingga terjadilah pertarungan sengit.
Bu Sam-thong bukan tandingan Kongsun Ci, maka kakinya tertusuk pedang. Sebenarnya Kongsun Ci juga tidak bermaksud mencelakai jiwa mereka, ia ingin mengusir mereka saja dan melarang mereka datang lagi ke situ. Justru pada saat itu juga Yalu Ce dan Yalu Yen serta Wanyen Peng lewat di sana. Ketiga muda-mudi itu pernah bertemu satu kali dengan kedua Bu cilik, maka mereka pun lantas berhenti dan sapa menyapa.
Kongsun Ci baru saja gagal menikahi Siao-liong-li dan diusir sang isteri, dia sedang kesepian dan mendongkol. Begitu dilihatnya Wanyen Peng berwajah cantik, seketika timbul napsu jahatnya, mendadak dia turun tangan dan hendak menawan Wanyen Peng. Tentu saja kedua saudara Yalu beserta kedua Bu cilik tidak tinggal diam, serentak mereka mengerubut Kongsun Ci. Kalau saja Bu Sam-thong tidak terluka lebih dulu, dengan gabungan mereka berenam mestinya dapat menandingi Kongsun Ci. Kini yang dapat diandalkan hanya Yalu Ce saja, jadi biar pun mereka main keroyok sukar menandingi musuh yang lihay ini.
Untunglah pada saat itu kuda merah yang tempo hari dibawa Yo Ko dan dilepas di Cong-Iam-san lari pulang. Cepat Siu-bun mencegat kuda itu dan membiarkan Wanyen Peng kabur dengan menunggang kuda merah, lalu Wanyen Peng telah bertemu dengan Oey Yong dan Li Bok-chiu hingga akhirnya Kongsun Ci dihalau pergi. Kemudian Oey Yong juga menceritakan secara ringkas tentang buntungnya lengan Yo Ko serta membawa lari Kwe Siang. Bu Sam-thong terkejut, cepat dia menjelaskan sebabnya Yo Ko mengaku telah bertunangan dengan Kwe Hu adalah karena ingin menolong kedua Bu cilik agar tidak saling membunuh antara saudara sendiri, siapa duga akibatnya malah membikin susah Yo Ko.
Dasar watak Bu Sam-thong memang keras dan pemberang. Mengingat buntungnya Yo Ko adalah gara-gara kedua anaknya, makin dipikir semakin marah, mendadak dia menuding Siu-bun dan Tun-si terus dicaci maki. Kalau saja kakinya tidak terluka, bisa jadi dia mendekati kedua Bu cilik dan menggamparnya. Saat itu Tun-si dan Siu-bun sedang asyik bicara dengan Yalu Yen dan Wanyen Peng, tak lama kemudian Kwe Hu dan Yalu Ce ikut bicara. Usia keenam orang sebaya, mereka baru saja bahu membahu bertempur, maka obrolan mereka menjadi bersemangat.
Siapa tahu tiba-tiba Bu Sam-thong mencaci-maki, keruan Siu-bun dan Tun-si menjadi bingung, mereka tidak tahu apa sebabnya sang ayah mendadak marah. Keduanya sama melirik Yalu Yen dan Wanyen Peng, betapa pun juga mereka merasa malu mendapatkan damperatan begitu di depan si nona jelita. Apa lagi kalau sampai sang ayah membongkar rahasia hubungan mereka dengan Kwe Hu, tentu akan membikin mereka tambah runyam. Melihat keadaan serba kikuk, cepat Oey Yong menyela, katanya:
“Sudahlah, hendaknya Bu-heng jangan marah lagi, buntungnya tangan Yo Ko adalah karena puteriku yang kurang ajar, kakak Ceng juga sangat murka dan hampir saja tangan anak Hu dikutunginya.”
“Bagus, seharusnya begitu!” seru Bu Sam-thong.
Kwe Hu mendelik sekejap kepada orang tua yang sok tahu itu. Kalau saja ibunya tidak di situ, mungkin dia sudah balas mengolok-olok. Oey Yong lantas berkata pula:
“Bu-heng, sekarang sudah jelas, jadi kita telah salah menuduh Yo Ko. Paling penting sekarang kita harus menemukan Yo Ko dan minta maaf kepadanya.”
“Benar, benar!” berulang-ulang Sam-thong menyatakan setuju.
“Selain itu kita harus pergi ke Coat-ceng-kok untuk menolong susiok-mu dan Cu-toako. Berbareng itu kita akan mintakan obat penawar bagi Yo Ko. Cuma tidak diketahui kenapa Cu-toako sampai terkurung musuh dan bagaimana keadaannya sekarang?”
“Susiok dan Sute tertawan oleh barisan jaring musuh dan sekarang terkurung di sebuah kamar batu, tampaknya jiwa mereka tidak begitu menguatirkan.”
“Jika begitu biarlah kita mencari Yo Ko dahulu baru berangkat ke Coat-ceng-kok, dengan kepandaiannya yang tinggi anak muda itu merupakan pembantu yang terkuat, apa lagi begitu obat penawar didapatkan segera bisa diminum olehnya dan tidak perlu membuang waktu lagi,” kata Oey Yong.
“Benar, benar!” seru Sam-thong. “Cuma tidak diketahui sekarang Yo Ko berada di mana?”
Sambil menuding kuda merah Oey Yong menjawab: “Kuda ini baru saja dipinjam oleh Yo Ko, kuda ini akan menjadi petunjuk jalan, kita pasti dapat menemukan tempat tinggalnya.”
Bu Sam-thong sangat girang, serunya: “Untung Kwe-hujin berada di sini, kalau tidak tentu aku akan kelabakan setengah mati tanpa berdaya.”
Oey Yong pikir kalau Bu Sam-thong dan kedua puteranya ikut pergi, besar kemungkinan ketiga muda-mudi yang lainnya juga akan ikut, akan terasa lebih aman jika ada pembantu lebih banyak. Maka segera ia berkata kepada Yalu Ce:
“Bagaimana kalau kalian juga ikut bersama kami?”
Belum lagi Yalu Ce menjawab, cepat Yalu Yen mendahului bersorak: “Baiklah, kakak, kita ikut pergi.”
Tanpa terasa Yalu Ce memandang sekejap kepada Kwe Hu dan terlihat sorot mata nona itu juga memberi dorongan padanya. Ketika dia berpaling ke arah Wanyen Peng, nona itu juga tersenyum, maka dia pun menjawab dengan menghormat.
“Kami tunduk saja kepada pesan Bu-locianpwe dan Kwe-hujin, jika kami bisa selalu mendapat petunjuk kalian, itu yang kami harapkan.”
Oey Yong lantas berkata: “Meski pun jumlah kita tidak banyak, tetapi kita perlu juga seorang komandan sebagai pimpinan. Bu-heng, biarlah kami tunduk kepada pimpinanmu dan takkan membantah perintahmu.”
Namun Bu Sam-thong lantas menggelengkan kepala dan menjawab: “Tidak, jelas seorang Kunsu (juru pikir) wanita seperti kau berada di sini, siapa lagi yang berani main perintah? Sudah tentu mandat penuh kuserahkan kepadamu.”
“Apa sudah betul pilihanmu?” Oey Yong menegas dengan tertawa.
“Masa aku bergurau?” jawab Sam-thong.
“Anak-anak sih tidak menjadi soal, yang kukuatirkan adalah kau si tua ini tak mau tunduk pada perintahku,” kata Oey Yong.
“Apa perintahmu, itu pula yang kulaksanakan,” seru Sam-thong. “Sekali pun masuk lautan api atau terjun ke rawa mendidih takkan kutolak.”
“Di hadapan anak-anak muda ini, apa yang sudah kau katakan harus kau tepati,” ujar Oey Yong.
“Sudah tentu,” jawab Sam-thong dengan muka merah padam “Memang kalau tak ada orang lain aku pernah ingkar janji?”
“Bagus! itulah yang kuinginkan darimu,” kata Oey Yong.
“Keberangkatan kita ini adalah untuk mencari Yo Ko, meminta obat dan menolong kawan, semua harus dilakukan dengan cara gotong royong, maka segala dendam sakit hati pada masa lampau untuk sementara harus dikesampingkan. Jadi maksudku, Bu-heng, untuk sementara ini kalian sekali-kali tidak boleh merecoki Li Bok-chiu, nanti kalau urusan sudah beres, bolehlah kalian melabrak dia untuk menuntut balas.”
Bu Sam-thong melengak. Sekarang barulah ia tahu tujuan kata-kata Oey Yong tadi hanya untuk memancing pernyataannya saja. Padahal Li Bok-chiu adalah pembunuh isterinya, sakit hati ini mana boleh dibiarkan? Belum lagi Sam-thong menjawab, Oey Yong membuka suara lagi dengan lirih:
“Bu-heng, kakimu terluka, sementara ini tentu tak dapat berbuat banyak. Untuk menuntut balas kukira tidak perlu terburu-buru.”
Terpaksa Bu Sam-thong berkata: “Baiklah, apa yang kau katakan, apa yang kulakukan.”
Oey Yong lantas berseru memanggil Li Bok-chiu: “Li-cici mari kita berangkat!”
Begitulah kuda merah itu dibiarkan berjalan di depan dan mereka mengikuti dari belakang. Benar juga, kuda itu ternyata menuju ke arah Cong-lam-san. Lantaran Bu Sam-thong dan Wanyen Peng terluka dan tak dapat jalan cepat, setiap hari mereka cuma menempuh ratusan li saja lantas istirahat. Diam-diam Li Bok-chiu waspada menjaga segala kemungkinan, di waktu istirahat ia sengaja menjauhi semua orang, waktu menempuh perjalanan ia pun mengintil dari kejauhan.
Sepanjang jalan yang paling gembira adalah ke enam muda-mudi itu, mereka bicara dan bergurau dengan akrab sekali. Semenjak kecil kedua saudara Bu saling bersaing mencari muka pada Kwe Hu sehingga hubungan mereka sedikit banyak kurang baik, tapi sekarang masing-masing sudah menemukan gadis idaman, kedua saudara menjadi amat rukun dan sayang menyayang. Tentu saja Bu Sam-thong sangat senang melihat itu dan tambah terima kasihnya kepada Yo Ko yang sudah menyelamatkan kedua Bu cilik itu dari saling bunuh memperebutkan seorang gadis.
Suatu hari sampailah mereka di Cong-lam-san. Oey Yong dan Bu Sam-thong membawa anak-anak muda itu berkunjung kepada Coan-cin-jit-cu di Tiong-yang-kiong. Li Bok-chiu berhenti jauh di luar istana Coan-cin-pay dan menyatakan hendak menunggu di situ. Oey Yong tidak memaksa sebab tahu iblis itu bermusuhan dengan pihak Coan-cin-pay. Rombongan mereka lantas menuju Tiong-yangkiong.
Ketika mendapat laporan, Khu Ju-ki dan lain-lain cepat-cepat menyambut keluar. Sesudah rombongan tamu dipersilakan masuk dan duduk di pendopo agung, baru saja mereka beramah-tamah sejenak, tiba-tiba di ruangan belakang ada suara orang mem-bentak. Seketika Oey Yong mengenali suara orang itu dan segera dia berseru:
“Lo-wan-tong, lihatlah siapakah ini yang datang?”
Selama beberapa hari ini memang Ciu Pek-thong sedang sibuk mempelajari bagaimana cara mengundang dan memimpin kawanan tawon putih. Dasarnya memang pintar, tekun pula, maka sedikit-banyak sudah ada kemajuan. Pada waktu itu dia sedang asyik dengan permainannya itu. Ketika tiba-tiba saja didengar orang memanggil julukannya, segera dia kenal itulah suaranya Oey Yong.
“Ha, kiranya bini adik angkatku yang genit dan jahil telah datang!” sambil berteriak-teriak dia terus berlari ke depan.
Serentak Yalu Ce memapak maju, kemudian menyembah kepada Ciu Pek-thong sambil mengucapkan doa selamat. Dengan tertawa Ciu Pek-thong menjawab:
“Sudahlah, lekas bangun. Kau pun selamat-selamat ya!”
Menyaksikan itu semua orang jadi terheran-heran. Sungguh tak disangka bahwa Yalu Ce adalah muridnya Ciu Pek-thong, padahal tingkah laku Anak Tua Nakal itu sering ugal-ugalan dan angin-anginan, tapi murid didiknya ternyata pintar dan tangkas, jujur dan sopan, sama sekali berbeda antara guru dan murid.
Khu Ju-ki dan lain-lain juga amat senang melihat sang Susiok kini sudah mempunyai ahli waris, mereka lantas mengucapkan selamat kepada Ciu Pek-thong. Baru sekarang Kwe Hu menyadari sebab musababnya tempo hari sang ibu dan Yalu Ce saling pandang bergelak tertawa ketika anak muda itu tidak mau menerangkan siapa gurunya. Rupanya waktu itu Oey Yong sudah dapat menerka bahwa guru Yalu Ce adalah si Anak Tua Nakal Ciu Pek-thong.
Tengah ramai-ramai, mendadak di bawah gunung ada suara terompet, itulah pemberi-tahuan dari para anak murid yang bertugas jaga bahwa musuh datang menyerang secara besar-besaran. Seketika air muka Khu Ju-ki berubah. Dia tahu pasti pasukan Mongol yang datang akibat kegagalan usaha Kim-lun Hoat-ong beserta para begundalnya menaklukkan Coan-cin-kau tempo hari. Biar pun orang-orang Coan-cin-kau mahir ilmu silat, tapi tidak mungkin bertempur terbuka melawan pasukan Mongol, maka sebelumnya mereka sudah mengatur siasat, kalau perlu akan mundur teratur dengan meninggalkan gunung.
Tugas ini sebenarnya adalah tanggung jawab Li Ci-siang yang kini telah diangkat sebagai pejabat ketua menggantikan In Ci-peng. Akan tetapi menghadapi suasana gawat, pimpinan dipegang lagi oleh Coan-cin-ngo-cu. Segera Khu Ju-ki berkata kepada Oey Yong tentang keadaan genting dan menyesal tidak dapat memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah terhadap tamunya.
Dalam pada itu suara gemuruh serbuan pasukan terdengar dari bawah gunung. Rupanya pasukan Mongol menyerbu dari arah utara gunung, sedangkan rombongan Oey Yong tadi datang dari bagian selatan, selisihnya cuma setengah jam saja.
“Oh, jadi ada musuh datang? Hah, sangat kebetulan,” seru Ciu Pek-thong. “Hayolah, anak Ce, inilah kesempatan baik bagimu untuk memperlihatkan kepandaian ajaran gurumu ini kepada para Suheng di sini!”
Seperti anak kecil, apa bila mempunyai barang mainan kesayangannya, tentu suka pamer untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Begitu pula si Anak Tua Nakal, dia mempunyai seorang murid baik, tentu dia pun ingin membikin kagum orang Iain. Kalau dulu dia berpesan pada Yalu Ce agar jangan membocorkan nama gurunya, maksud tujuannya adalah untuk mengejutkan dunia Kangouw saja agar semua orang kaget demi kemudian mengetahui Ciu Pek-thong mempunyai seorang murid lihay.
Begitulah Khu Ju-ki lantas memberi laporan sekedarnya kepada Ciu Pek-thong mengenai siasatnya akan mengundurkan diri demi untuk menjaga keutuhan Coan-cin-kau. Habis itu dia lantas memberi perintah supaya setiap orang membawa barang-barang keperluan dan meninggalkan gunung menurut arah yang sudah ditentukan. Berbondong-bondong anak murid Coan-cin-kau melaksanakan tugas masing-masing secara teratur.
“Khu-totiang,” kata Oey Yong kemudian. “Cara pengaturanmu sungguh hebat, aku yakin sedikit halangan ini pasti takkan menjadi soal bagi kalian. Kelak Coan-cin-kau pasti akan bangkit kembali, bahkan lebih jaya dari pada sekarang. Kedatangan kami ini adalah untuk mencari Yo Ko, maka sekarang juga kami mohon diri.”
“Yo Ko?” Khu Ju-ki meIengak. “Apakah dia masih berada di pegunungan ini?”
“Ada seorang teman mengetahui tempat kediamannya,” ujar Oey Yong dengan tertawa. Sesudah itu dia lantas berangkat dengan rombongannya menuju ke belakang Tiong-yang-kiong dan kemudian menemukan Li Bok-chiu.
“Li-cici, sekarang silakan memberi petunjuk cara masuk ke kuburan itu,” kata Oey Yong.
“Dari mana kau mengetahui dia pasti berada dalam kuburan?” jawab Bok-chiu.
“Seumpama Yo Ko tidak berada di sana, Giok li-sim-keng pasti ada,” ujar Oey Yong.
Diam-diam Li Bok-chiu terkesiap dan mengakui kelihayan nyonya Kwe itu, sampai-sampai isi hatinya ingin mendapatkan kitab pusaka itu pun dapat diterkanya dengan jitu. Karena tujuannya sudah diketahui orang, Li Bok-chiu lantas berkata sekalian secara terang-terangan.
“Baiklah, biar kita bicara di depan, akan kubantu kau menemukan puterimu dan kau harus membantuku merebut kitab pusaka perguruanku. Kau adalah ketua Kay-pang, pendekar wanita yang termashur, kau harus pegang janji.”
“Tetapi Yo Ko adalah putera dari saudara angkat tuan Kwe kami, meski ada sedikit selisih paham, kalau sudah bertemu tentu segalanya dapat dijernihkan dan puteriku pasti akan dikembalikan kepadaku jika memang betul anak itu berada padanya. Jadi tidak dapat dikatakan rebut berebut segala.”
“Oh, kalau begitu baiklah kita menuju ke tujuan masing-masing dan berpisah di sini,” Li Bok-chiu terus putar tubuh hendak pergi.
Oey Yong mengedipi Bu Siu-bun.
“Srett!” si Bu cilik itu segera melolos pedang dan membentak: “Li Bok-chiu, hari ini jangan kau harap dapat meninggalkan Cong-lam-san dalam keadaan hidup!”
Li Bok-chiu menyadari keadaannya yang kepepet, seorang Oey Yong saja sudah sulit dilawan, apa lagi ada Bu Sam-thong dan anak muda yang cukup lihay. Biasanya ia pun banyak tipu akalnya, tetapi menghadapi Oey Yong ia benar-benar menjadi bodoh dan mati kutu. Sedapatnya ia berlaku tenang dan berkata dengan dingin:
“Kwe-hujin maha pintar, kalau berada di sini, masa Kwe-hujin kuatir tidak dapat menemukannya dan masa perlu petunjuk jalan dariku?”
“Untuk mencari jalan masuk ke kuburan kuno, terus terang aku tidak mampu,” jawab Oey Yong. “Tapi kalau kami berdelapan sabar menunggu dan bergilir mengawasi sekitar sini, akhirnya kami pasti akan memergoki mereka apa bila Yo Ko dan nona Liong benar-benar bersembunyi di kuburan kuno. Masa pada suatu hari mereka tidak keluar untuk belanja keperluan hidup?”
Ucapan ini dengan jelas memojokkan Li Bok-chiu agar lebih baik menunjukkan jalannya, kalau tidak segera akan dibunuhnya. Li Bok-chiu menjadi serba susah, apa yang dikatakan Oey Yong memang masuk di akal. Kalau mereka menunggu saja di sekitar sini, akhirnya Yo Ko tentu akan keluar. Untuk bertempur jelas dirinya bukan tandingan mereka yang berjumlah banyak, tapi kalau memancing mereka masuk ke kuburan kuno. di tempat yang sudah dikenalnya benar-benar itu tentu dapat mencari akal untuk membinasakan musuh-musuh ini satu demi satu. Begitulah ia lantas menjawab:
“Baiklah, apa mau dikatakan lagi, aku tidak mampu menandingi kalian. Memang aku juga akan mencari si bocah she Yo itu? Mari. kalian ikut.”
Segera dia menyingkap semak belukar dan menyusup ke tengah pepohonan yang lebat, diikuti Oey Yong dan lain-lainnya dari dekat karena kuatir dia melarikan diri mendadak. Setelah menyusup ke sana dan menyusur sini, tak lama sampailah mereka di tepi sebuah sungai kecil. Sudah lama Li Bok-chiu bertekat hendak merebut Giok-li-sim-keng. Tempo hari ia hampir mampus ketika lolos keluar dari kuburan melalui dasar sungai. Maklumlah, ia memang tidak mahir berenang dan menyelam. Sebab itu akhir-akhir ini dia telah berlatih renang dan kini sudah siap.
Begitu berdiri di tepi sungai, berkatalah dia: “Pintu depan kuburan itu telah tertutup, untuk membukanya secara paksa diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Sedang pintu belakangnya harus selulup melalui sungai ini. Nah, siapa di antara kalian yang akan ikut aku masuk ke sana?”
Kwe Hu dan kedua saudara Bu dibesarkan di Tho-hoa-to, setiap hari hampir selalu berkecimpung di tengah gelombang laut, kepandaian berenang mereka dapat diandalkan, serentak mereka bertiga menyatakan ikut. Bu Sam-thong juga dapat berenang, maka dia pun ingin ikut serta. Oey Yong tahu Li Bok-chiu sangat keji. Kalau mendadak dia menyerang di kuburan kuno, pasti Bu Sam-thong dan lain-lain tidak akan mampu melawannya. Seharusnya dirinya sendiri ikut mengawasi ke sana, tapi kesehatannya yang baru melahirkan terasa tidak sanggup bertahan menyelam lama dalam air yang dingin. Tengah ragu-ragu itu tiba-tiba Yalu Ce berkata:
“Kwe-pekbo boleh tunggu saja di sini, biar siautit ikut paman Bu ke sana.”
“Kau mahir berenang?” tanya Oey Yong girang.
“Berenang sih tidak begitu mahir, tapi kalau menyelam kukira boleh juga,” jawab Yalu Ce.
Dalam pada itu Li Bok-chiu sudah bebenah seperlunya dan siap untuk terjun ke dalam sungai. Oey Yong lantas mendekati Bu Sam-thong dan memberi pesan agar hati-hati dan waspada. Begitulah Yalu Ce dan Bu Sam-thong berlima lantas ikut Li Bok-chiu menyusuri sungai itu. Sungai bawah tanah ini terkadang sempit dan terkadang lebar, arusnya juga kadang-kadang keras tempo-tempo lambat. Ada kalanya dasar sungai sangat dalam hingga tinggi air melebihi kepala dan harus menyelam, tetapi lain saat air sungai berubah menjadi cetek cuma sebatas pinggang.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya mereka sampai di lubang masuk ke kuburan. Li Bok-chiu menarik batu penyumbat dan menerobos ke dalam, yang lain lantas ikut masuk berturut-turut. Meski sekarang tidak terbenam lagi dalam air, tetapi keadaan gelap gulita, semua orang bergandengan tangan supaya tidak terpencar dan mengikuti Li Bok-chiu ke depan secara berliku-liku sehingga sukar lagi membedakan arah. Tidak lama kemudian terasa mulai menanjak, tanah yang terpijak juga kering. Mendadak terdengar suara berkeriutan, sebuah pintu batu didorong oleh Li Bok-chiu, semua orang lantas ikut masuk ke situ.
“Di sini sudah berada di tengah-tengah kuburan kuno. Kita berhenti sebentar, lalu pergi mencari Yo Ko,” kata Li Bok-chiu.
Sejak memasuki kuburan, selangkah pun Bu Sam-thong dan Yalu Ce tidak tertinggal di belakang Li Bok-chiu. Tapi keadaan sangat gelap, terpaksa mereka hanya mengandalkan indera pendengaran untuk menjaga segala kemungkinan. Dalam kegelapan itu semua orang lantas berdiam. Tiba-tiba Li Bok-chiu berkata:
“Eh, kedua tanganku telah menggenggam Peng-pok-gin-ciam, kenapa kalian bertiga she Bu ini tidak mau maju untuk merasakan enaknya jarum ini?”
Bu Sam-thong terkejut. Sebelumnya dia pun tahu orang pasti mengandung maksud jahat, tapi tidak menyangkanya musuh akan mulai bertindak sekarang. Mereka sudah pernah merasakan betapa lihaynya jarum orang, betapa pun mereka tidak berani gegabah. Segera mereka pegang senjata dan siap menangkis bila mendengar suara mendesingnya senjata rahasia. Tetapi tempatnya terlampau sempit, jarum musuh hanya dapat dipukul ke tanah, kalau di sampuk bisa jadi akan mengenai kawan sendiri.
Yalu Ce juga menyadari keadaan sangat berbahaya, kalau sampai musuh sembarangan menyambitkan jarumnya maka pihaknya yang berlima ini pasti ada yang terluka atau binasa, jalan yang paling baik harus melabraknya dari dekat supaya orang tidak sempat menggunakan jarum. Ternyata Kwe Hu juga berpendapat sama seperti dia, maka tanpa berjanji keduanya menubruk bersama ke arah suara Li Bok-chiu.
Padahal setelah bicara tadi, selagi orang-orang terkesiap, Li Bok-chiu telah mundur ke tepi pintu. Maka pada waktu Yalu Ce dan Kwe Hu menubruk hanya mengenai tempat kosong, sebaliknya tangan kedua orang saling berpegang sehingga Kwe Hu menjerit kaget. Kepandaian Yalu Ce lebih tinggi. Begitu memegang tangan yang halus dan mencium bau harum yang disertai suara Kwe Hu, segera dia tahu apa yang terjadi.
Sementara itu terdengar bunyi keriat-keriut bergesernya pintu. Yalu Ce dan Bu Sam-thong cepat melompat ke sana. Terdengar suara mendesing, dua jarum perak menyambar. Mereka cepat mengelak, waktu mereka mendorong pintu, ternyata pintu sudah tertutup rapat dan bergeming lagi. Yalu Ce meraba pintu batu itu, ternyata halus licin tanpa alat pegangan pintu. Ia berjalan merambat dinding sekeliling, dia menaksir ruangan itu kira-kira empat persegi, seluruh dinding terbuat dari batu. Ia coba mengetok dinding dengan pedangnya, terdengar suara keras dan berat, jelas batu dinding itu sangat tebal.
“Wah, bagaimana? Jangan-jangan kita akan mati terkurung di sini,” kata Kwe Hu dengan kuatir dan hampir-hampir menangis.
“Jangan kuatir, kita pasti akan menemukan jalan,” cepat Yalu Ce menghiburnya. “Apa lagi Kwe-hujin menunggu di luar, beliau pasti akan berdaya menolong kita.” Habis berkata ia coba meraba sekeliling kamar untuk mencari jalan keluar.
Li Bok-chiu girang sekali setelah berhasil menyekap Bu Sam-thong berlima di kamar batu itu. Ia pikir setelah lawan-lawan dienyahkan, tentu akan lebih mudah menyergap Siao-liong-li dan Yo Ko.
Ia menyadari bila bertempur secara terang-terangan pasti bukan tandingan sang Sumoay, maka ia harus menyergapnya secara mendadak. Ia lantas menggenggam jarum berbisa, sepatu ditanggalkannya, hanya dengan berkaos kaki ia melangkah ke depan dengan perlahan.
“Hei, itu kuda merah kita...!” seru Kwe Hu. Belum habis ucapannya, penunggang kuda mendekat dan segera Kwe Hu melompat maju.
Kuda itu memang betul kuda Kwe Hu yang dirampas Yo Ko. Sebelum Kwe Hu meraih tali kendali, kuda merah itu sudah lantas berhenti mendadak kemudian berjingkrak sambil meringkik kegirangan karena mengenali sang majikan. Waktu Kwe Hu mengamati penunggangnya, ternyata seorang nona berbaju hitam yang dahulu pernah berjumpa satu kali waktu bersama mengeroyok Li Bok-chiu, yaitu Wanyen Peng. Rambut nona itu tampak kusut masai, wajahnya pucat, keadaannya mengenaskan.
“He, kenapa kau, Wanyen-taci?” tanya Kwe Hu cepat.
“Di sana, lekas...,” jawab Wanyen Peng dengan suara terputus-putus sambil menuding ke belakang, mendadak tubuhnya tergeliat terus terperosot jatuh.
Segera Kwe Hu melompat turun membangunkan nona itu. Ternyata Wanyen Peng telah pingsan, pundaknya terluka dan merembes darah segar. Cepat Kwe Hu membubuhi obat luka dan merobek kain baju untuk membalut lukanya sambil berkata kepada sang ibu:
“ini Wanyen-cici yang pernah kukatakan itu.” Habis berkata dia melotot sekali pada Li Bok-chiu.
Oey Yong pikir sebelum jatuh pingsan Wanyen Peng sempat menuding ke sana, tentu di sana tengah terjadi sesuatu dan mungkin ada kawannya yang masih perlu ditolong. Cepat ia menyuruh Kwe Hu memondong Wanyen Peng ke atas kuda merah dan memberi pesan supaya mengikutinya dari belakang. Setelah ini ia memberi tanda kepada Li Bok-chiu dan mengajaknya berlari ke utara dengan Ginkang mereka yang tinggi.
Sekaligus mereka berlari belasan li tanpa berhenti. Benar juga, sayup-sayup terdengar suara beradunya senjata di lereng bukit sana. Mereka mempercepat langkah dan setelah melintasi bukit, terlihatlah ada lima orang sedang bertempur sengit di tanah datar. Dua di antara lima orang itu adalah kedua saudara Bu, selain itu ada lagi seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak dikenal. Mereka berempat sedang mengerubuti seorang lelaki setengah umur.
Meski empat mengeroyok satu, tampaknya masih kewalahan, lebih banyak terserang dari pada menyerang. Tampaknya kedua saudara Bu sudah terluka, hanya pemuda itu dengan pedangnya yang berputar cepat menangkis hampir sebagian besar serangan lelaki setengah umur itu. Di samping sana nampak menggeletak seorang berewok dan berlumuran darah, ternyata Bu Sam-thong adanya. Yang aneh adalah senjata lelaki itu. Tangan yang satu menggunakan golok emas, tangan lainnya memainkan pedang panjang lentik warna hitam, gerak serangannya aneh tapi luar biasa.
Oey Yong pikir apa bila tidak lekas turun tangan tentu kedua saudara Bu itu bisa celaka. Segera dia berkata kepada Li Bok-chiu:
“Kedua anak muda itu adalah muridku.”
Li Bok-chiu hanya tersenyum saja. Sudah tentu dia mengenal kedua Bu cilik itu sebab ibu mereka terbunuh olehnya. Dia lihat ilmu silat lelaki setengah umur itu sangat tinggi, diam-diam dia terkejut, segera dia siapkan kebutnya dan berkata:
“Mari kita maju bersama!”
Oey Yong juga keluarkan pentungnya, dua orang segera menerjang maju dari kanan-kiri, kebut Li Bok-chiu melayani pedang hitam dan Oey Yong menghadapi golok emas. Lelaki itu bukan lain dari pada Kongsun Ci. Dia terkejut juga ketika mendadak dua wanita setengah baya dan cantik mengerubutnya sekaligus.
Terdengar Li Bok-chiu berseru: “Satu!”
Ketika kebutnya menyabet lagi segera ia berseru pula: “Dua!”
Rupanya diam-diam dia ingin berlomba dengan Oey Yong untuk mendahului menjatuhkan senjata lawan, Tapi meski pun dia sudah berteriak sampai hitungan ke sepuluh, ternyata Kongsun Ci masih tetap dapat menahan dan balas menyerang juga. Anak muda yang berpedang tadi melihat ada kesempatan, ber-turut ia terus menyerang tiga kali ke punggung Kongsun Ci.
Serangan-serangan lihay ini membuat Kongsun Ci rada kerepotan. Karena dia tidak mau menangkisnya, terpaksa dia melompat maju untuk melepaskan diri dari kerubutan itu. Dia tahu apa bila pertempuran dilanjutkan tentu dirinya akan celaka. Mendadak kedua senjatanya ia adu hingga menguarkan suara mendenging dan bergaya hendak menerjang lagi.
Oey Yong dan Li Bok-chiu juga menyadari kelihayan lawan, mereka tidak berani gegabah dan siap bertahan. Tanpa terduga baru saja tubuh Kongsun Ci terangkat ke atas, ternyata tidak melompat maju melainkan malah menyurut mundur, hanya beberapa kali lompatan dia sudah lari sampai di atas bukit. Diam-diam Oey Yong dan Li Bok-chiu mengakui kelicinan orang dan tinggi pula ilmu silatnya, kalau saja kepergok satu lawan satu mungkin bukan tandingannya. Dalam pada itu kedua saudara Bu lantas memberi hormat kepada sang ibu guru, sesudah itu mereka terus melotot kepada Li Bok-chiu dengan sikap memusuhi.
“Sementara ini kesampingkan dulu dendam Iama,” kata Oey Yong. “Luka ayahmu parah tidak? Ehh, siapakah kedua anak muda ini? Wah, celaka! Lekas ikut aku ke sana, Li-cici!” Habis berseru dia mendahului lari ke arah kedatangannya tadi.
Li Bok-chiu tidak paham maksud seruan Oey Yong, namun ia tetap ikut berlari ke sana sambil berteriak:
“Ada apa?”
“Anak Hu,” jawab Oey Yong sambil lari, “Anak Hu akan kepergok orang tadi.”
Demikianlah mereka berlari sekencangnya. Akan tetapi Kongsun Ci juga tak kurang cepatnya, sementara itu dia sudah meninggalkan satu-dua li jauhnya. Baru saja Oey Yong berdua sampai di atas bukit, Kongsun Ci sendiri telah berada di kaki bukit, tampak Kwe Hu yang membawa Wanyen Peng dengan menunggang kuda merah itu sedang menanjak ke atas dengan perlahan.
“Awas, Hu-ji!” seru Oey Yong dari jauh.
Belum lenyap suaranya, mendadak terlihat Kongsun Ci mencemplak ke atas kuda merah, sekaligus Kwe Hu telah dibekuk olehnya, menyusul tali kendali kuda merah ditarik hendak dibelokkan ke sana. Oey Yong menjadi kuatir, kini harapannya hanya terletak pada kuda merah itu. Cepat dia bersuit untuk memanggil kuda itu. Dasar kuda merah itu memang binatang cerdik, begitu mendengar suara panggilan sang majikan, terus saja kabur ke atas bukit secepat terbang.
Keruan Kongsun Ci terkejut, pikirnya: “Sungguh sial, masa seekor kuda saja tak dapat aku kuasai?” Sekuatnya ia berusaha menarik tali kendali, tapi karena sentakan mendadak itu, kuda merah berjingkrak dan meringkik. Sebisanya Kongsun Ci berusaha memutar kuda itu ke arah lain, namun kuda merah malah mendepak-depak sambil mundur-mundur ke atas bukit. Tentu saja Oey Yong girang, cepat ia memburu maju.
Merasa tidak sanggup mengatasi kebandelan kuda merah, sementara itu kedua lawan tangguh sudah memburu, terpaksa Kongsun Ci menyimpan senjatanya, tangan yang satu ia kempit Kwe Hu dan tangan lain mengempit Wanyen Peng, ia terus melompat turun dari kuda dan kabur dengan cepat. Kongsun Ci sungguh lihay, meski pun membawa dua nona larinya tetap secepat terbang. Tetapi Ginkang Oey Yong dan Li Bok-chiu juga kelas wahid, tidak seberapa lama dapatlah mereka menyusul. jaraknya tinggal belasan meter saja. Sekonyong-konyong Kongsun Ci berhenti lalu membalik tubuh sambil berkata:
“Heh, kalau kupiting sekuatnya, kukira kedua anak perempuan cantik ini akan menghadapi Giam-lo-ong (raja akhirat).”
Oey Yong terkesiap, tanyanya kemudian: “Siapakah kau? Selamanya kita belum pernah saling kenal, mengapa kau menawan puteriku?”
“Oh, ini puterimu? Jadi kau ini nyonya Wanyen?” tanya Kongsun Ci tertawa.
“Yang itu puteriku,” kata Oey Yong sambil menunjuk Kwe Hu.
Kongsun Ci memandang sekejap pada Kwe Hu, lalu memandang Oey Yong, dengan cengar-cengir lalu berkata:
“Wah, sangat cantik, ibu dan anak sama cantiknya, sungguh cantik!”
Tentu saja Oey Yong sangat gusar, tapi apa daya, puterinya berada dalam cengkeraman musuh, terpaksa harus bersabar dan mencari akal. Selagi hendak bicara, mendadak terdengar suara mendesir dari belakang, dua anak panah menyambar lewat di pipi kirinya dan langsung mengarah muka Kongsun Ci. Kekuatan kedua anak panah itu sungguh luar biasa, suara mendesingnya sangat keras. Mendengar suara desingan panah itu, hampir saja Oey Yong berteriak kegirangan sebab disangkanya sang suami (Kwe Ceng) sudah tiba.
Maklumlah, kemahiran memanah amat jarang dimiliki tokoh persilatan daerah Tionggoan, sedangkan jago panah Mongol banyak yang tidak memiliki tenaga dalam yang kuat hingga sukar mencapai jarak jauh, maka dari suara mendesingnya panah yang keras tadi, Oey Yong merasa tiada orang lain lagi kecuali Kwe Ceng yang mampu memanah sehebat itu.
Kongsun Ci juga maha lihay. Kedua tangannya tak dapat digunakan menangkap anak panah yang menyambar, mendadak ia membuka mulut dan menggigit tepat ujung panah pertama menyusul kepalanya sedikit menggeleng hingga panah yang kedua dapat disampuk jatuh dengan panah yang digigitnya itu.
Oey Yong menjadi ragu, apakah sang suami yang memanah? Karena dia yakin apa bila Kwe Ceng yang memanah kemudian musuh berani menggigit dengan mulutnya, mustahil tenggorokannya takkan tembus oleh anak panah itu. Dalam pada itu terdengar suara mendesing berturut-turut, sekaligus sembilan panah menyambar ke muka Kongsun Ci secara susul menyusul. Mau tak mau Kongsun Ci menjadi kelabakan sehingga terpaksa ia lepaskan kedua nona dan meloIos senjata untuk menangkis.
Selagi Oey Yong hendak menubruk maju untuk menyelamatkan puterinya, sesosok bayangan sudah menggelinding ke depan, lalu merangkul Kwe Hu dan terus berguling lagi ke samping, Tapi sebelum orang itu melompat bangun, tangan Kongsun Ci yang lain menghantam kepala orang itu. Dalam kedudukan masih telentang, orang yang menolong Kwe Hu sempat menangkis dengan tangannya.
“Blangg!” debu dan pasir berhamburan.
Kongsun Ci berseru: “Bagus!”
Menyusul pukulan ke dua dilontarkan dengan lebih dahsyat. Tampaknya orang itu sulit menangkis lagi, cepat Oey Yong mengulur pentung bambunya dan menangkiskan pukulan itu. Merasa dirinya pasti takkan mampu menghadapi kerubutan orang banyak, Kongsun Ci tidak menyerang lagi, ia terbahak dan melompat mundur terus melangkah pergi. Gayanya indah, caranya tangkas pula dan ternyata tiada yang berani mengejarnya Iagi.
Setelah bangkit, orang yang merangkul Kwe Hu tadi lantas melepaskan si nona. Pinggang orang itu membawa busur, perawakannya tinggi dan bahunya lebar. Oey Yong langsung mengenalinya sebagai pemuda yang berpedang tadi, ke-11 anak panah yang dibidikkan secara berantai itu tentu dilakukan oleh anak muda ini pula. Meski pun tertawan Kongsun Ci tapi Kwe Hu tidak mengalami luka. Dengan muka merah jengah segera ia menyapa pemuda yang sudah menolongnya itu:
“Eh, kiranya Yalu-toako, terima kasih atas pertolonganmu!“
Dalam pada itu Bu Siu-bun dan nona satunya lagi sudah memburu tiba, hanya Bu Tun-si saja yang tinggal di sana menjaga ayahnya. Patutnya Bu Siu-bun memperkenalkan mereka, tetapi dia tidak dapat menahan marah dan dendamnya, kedua matanya melotot benci kepada Li Bok-chiu dan lupa keadaan sekitarnya, meski dua kali Oey Yong memanggilnya juga tidak mendengar. Kwe Hu lantas bicara kepada sang ibu sambil menunjuk pemuda yang menolongnya:
“Ibu, ini Yalu-toako!” Lalu dia tuding pula nona yang datang bersama Bu Siu-bun dan menambahkan: “Dan ini Yalu-cici.”
“Oh, hebat benar kepandaian kalian berdua!” puji Oey Yong.
Kedua saudara Yalu itu merendah sambil memberi hormat, ada pun Li Bok-chiu berdiri menjauhi di sana tanpa urus orang-orang lain.
“Gaya ilmu silat kalian nampaknya dari Coan-cin-pay, entah kalian ini murid Coan-cin-jit-cu yang mana?” tanya Oey Yong.
Dia menyaksikan kepandaian Yalu Ce yang hebat. Kecuali Yo Ko saja, di antara angkatan muda yang pernah dilihatnya boIeh dikatakan tiada bandingannya lagi, maka ia yakin Yalu Ce pasti bukan anak murid Coan-cin-pay angkatan ketiga atau keempat.
Dengan rendah hati Yalu Yen berkata: “Kepandaianku sih ajaran kakak.”
Oey Yong mengangguk dan memandang Yalu Ce. Agaknya Yalu Ce merasa sungkan untuk menerangkan, jawabnya kemudian:
“Pantasnya Wanpwe harus menjawab pertanyaan Cianpwe, cuma Suhu pernah memberi pesan agar jangan se-kali-kali menyebut nama beliau, sebab itulah mohon Kwe-hujin sudi memaafkan.”
Semula Oey Yong terkesiap, dia heran mulai kapan Coan-cin-jit-cu memakai peraturan aneh yang melarang anak murid menyebut nama gurunya? Tapi cepat pikirannya tergerak, mendadak dia tertawa terpingkal-pingkal seperti teringat sesuatu yang amat lucu.
“Apakah yang menggelikan engkau, ibu?” tanya Kwe Hu heran.
Akan tetapi Oey Yong tidak menjawab dan tetap tertawa. Tapi ternyata Yalu Ce tidak tersinggung, malah dia pun tersenyum dan akhirnya berkata:
“Kiranya Kwe-hujin dapat menerka.”
Kwe Hu tetap bingung, waktu ia pandang Yalu Yen, nona itu pun merasa tidak paham apa yang ditertawakan kedua orang itu. Di samping sana Bu Siu-bun telah membalut luka Wanyen Peng yang menjadi pecah lagi karena ditawan dan dibanting oleh Kongsun Ci tadi.
“Bagaimana keadaan ayahmu Siu-bun?” tanya Oey Yong.
Sebelum Siu-bun menjawab, tiba-tiba Yalu Yen berseru terus berlari ke tempat Bu Sam-thong menggeletak.
“Luka ayah terletak di paha kiri, terkena serangan tua bangka Kongsun itu,” tutur Siu-bun.
Oey Yong mengangguk, lalu dia mendekati kuda merah dan mengelus bulu surinya yang panjang. Katanya dengan suara terharu:
“Kudaku sayang, sungguh besar jasamu terhadap keluarga Kwe.”
Ternyata Bu Siu-bun tidak lagi bersikap akrab terhadap Kwe Hu, sebaliknya tampak amat simpati pada Wanyen Peng, entah sengaja hendak membikin sirik Kwe Hu atau memang pemuda itu benar-benar jatuh hati pada Wanyen Peng. Betapa pun juga Oey Yong tidak sempat urus persoalan anak-anak muda itu, segera dia berlari ke tempat Bu Sam-thong untuk memeriksa keadaannya.
Melihat Oey Yong, Bu Sam-thong bermaksud hendak berdiri, tapi karena kakinya terluka, tubuhnya menjadi sempoyongan, cepat Bu Tun-si dan Yalu Yen memegangi orang tua itu. Ketika jari kedua muda-mudi itu saling sentuh, keduanya saling pandang dan tersenyum penuh arti.
Diam-diam Oey Yong geli, pikirnya: “Rupanya ada satu pasangan lagi, padahal beberapa hari yang lalu kedua saudara Bu cilik itu baru saja berkelahi mati-matian berebut anak Hu tanpa menghiraukan hubungan baik saudara sekandung. Sekarang sesudah menemukan nona cantik lain, seketika segala kejadian yang lalu terlupa sama sekali.”
Bahwasanya kedua saudara Bu jatuh hati kepada Kwe Hu sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh. Soalnya mereka dibesarkan bersama di Tho-hoa-to, di pulau terpencil tiada anak perempuan lain, lama-lama tentu saja menimbulkan bibit cinta antara mereka. Tetapi kemudian, sesudah mengetahui Kwe Hu tidak mencintai mereka, kedua Bu cilik itu sangat kecewa dan putus asa, hidup mereka terasa hampa dan tiada artinya. Tak terduga tidak lama kemudian mereka ketemukan Yalu Yen dan Wanyen Peng, masing-masing ternyata rada cocok dengan kedua saudara Bu itu.
Sekarang mereka saling bertemu lagi, diam-diam kedua Bu cilik membandingkan Kwe Hu dengan buah hati mereka yang baru. Dan pameo ‘cinta itu buta’ juga berlaku di sini, dalam anggapan mereka tentu segala sesuatu kekasihnya jauh lebih baik. Sebenarnya kedua saudara Bu sudah bersumpah tidak akan menemui Kwe Hu lagi, tetapi pertemuan ini terjadi mendadak dan kepergok, jadi bukan sengaja hendak bertemu, maka mereka anggap bukan melanggar sumpah.
Dalam hati Kwe Hu sendiri sedang membayangkan kejadian Yalu Ce menolongnya tadi, beberapa kali dia melirik kepada anak muda yang gagah dan cakap itu, dia menjadi heran ilmu silatnya ternyata begini hebat. Anak muda itu pun saling pandang dengan ibunya dan tertawa geli, entah apa pula yang ditertawakan mereka. Demikianlah sesudah memeriksa luka Bu Sam-thong dan ternyata tidak parah, Oey Yong merasa lega. Mereka lantas ambil tempat duduk di batu karang dan saling menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah.
Kiranya tempo hari ketika Cu Cu-liu ikut paman gurunya, yaitu si paderi Hindu itu mencari obat ke Coat-ceng-kok, secara diam-diam Bu Sam-thong juga ikut ke sana untuk membalas budi kebaikan Yo Ko. Tapi baru saja sampai di luar kota, kedua puteranya juga keluar kota bersama. Ia terkejut dan kuatir jika kedua saudara sekandung itu akan duel lagi, cepat ia menegur dan menanyai kedua puteranya. Akhirnya barulah diketahui bahwa kedua Bu cilik telah bersumpah takkan bertemu lagi dengan Kwe Hu, maka mereka tidak ingin tinggal lagi di Siang-yang. Karena itulah mereka bertiga lantas menuju ke Coat-ceng-kok.
Tapi Coat-ceng-kok itu mirip dunia lain. Meski Yo Ko telah memberi-tahu keadaan tempat itu secara garis besar, tetapi sungguh sukar menemukan jalan masuknya. Setelah ber-putar kian kemari dan beberapa kali kesasar, akhirnya bisa juga mereka menemukan mulut lembah itu. Tak terduga paderi Hindu dan Cu Cu-liu berdua ternyata sudah tertawan oleh Kiu Jian-jio. Beberapa kali Bu Sam-thong bertiga berusaha menolong mereka, tetapi selalu gagal dan terpaksa keluar dari lembah itu dengan maksud pulang ke Siang-yang untuk mencari bala bantuan. Tak tahunya di tengah jalan mereka kepergok pula dengan Kongsun Ci. Mereka dituduh sengaja berkeliaran di lembah itu sehingga terjadilah pertarungan sengit.
Bu Sam-thong bukan tandingan Kongsun Ci, maka kakinya tertusuk pedang. Sebenarnya Kongsun Ci juga tidak bermaksud mencelakai jiwa mereka, ia ingin mengusir mereka saja dan melarang mereka datang lagi ke situ. Justru pada saat itu juga Yalu Ce dan Yalu Yen serta Wanyen Peng lewat di sana. Ketiga muda-mudi itu pernah bertemu satu kali dengan kedua Bu cilik, maka mereka pun lantas berhenti dan sapa menyapa.
Kongsun Ci baru saja gagal menikahi Siao-liong-li dan diusir sang isteri, dia sedang kesepian dan mendongkol. Begitu dilihatnya Wanyen Peng berwajah cantik, seketika timbul napsu jahatnya, mendadak dia turun tangan dan hendak menawan Wanyen Peng. Tentu saja kedua saudara Yalu beserta kedua Bu cilik tidak tinggal diam, serentak mereka mengerubut Kongsun Ci. Kalau saja Bu Sam-thong tidak terluka lebih dulu, dengan gabungan mereka berenam mestinya dapat menandingi Kongsun Ci. Kini yang dapat diandalkan hanya Yalu Ce saja, jadi biar pun mereka main keroyok sukar menandingi musuh yang lihay ini.
Untunglah pada saat itu kuda merah yang tempo hari dibawa Yo Ko dan dilepas di Cong-Iam-san lari pulang. Cepat Siu-bun mencegat kuda itu dan membiarkan Wanyen Peng kabur dengan menunggang kuda merah, lalu Wanyen Peng telah bertemu dengan Oey Yong dan Li Bok-chiu hingga akhirnya Kongsun Ci dihalau pergi. Kemudian Oey Yong juga menceritakan secara ringkas tentang buntungnya lengan Yo Ko serta membawa lari Kwe Siang. Bu Sam-thong terkejut, cepat dia menjelaskan sebabnya Yo Ko mengaku telah bertunangan dengan Kwe Hu adalah karena ingin menolong kedua Bu cilik agar tidak saling membunuh antara saudara sendiri, siapa duga akibatnya malah membikin susah Yo Ko.
Dasar watak Bu Sam-thong memang keras dan pemberang. Mengingat buntungnya Yo Ko adalah gara-gara kedua anaknya, makin dipikir semakin marah, mendadak dia menuding Siu-bun dan Tun-si terus dicaci maki. Kalau saja kakinya tidak terluka, bisa jadi dia mendekati kedua Bu cilik dan menggamparnya. Saat itu Tun-si dan Siu-bun sedang asyik bicara dengan Yalu Yen dan Wanyen Peng, tak lama kemudian Kwe Hu dan Yalu Ce ikut bicara. Usia keenam orang sebaya, mereka baru saja bahu membahu bertempur, maka obrolan mereka menjadi bersemangat.
Siapa tahu tiba-tiba Bu Sam-thong mencaci-maki, keruan Siu-bun dan Tun-si menjadi bingung, mereka tidak tahu apa sebabnya sang ayah mendadak marah. Keduanya sama melirik Yalu Yen dan Wanyen Peng, betapa pun juga mereka merasa malu mendapatkan damperatan begitu di depan si nona jelita. Apa lagi kalau sampai sang ayah membongkar rahasia hubungan mereka dengan Kwe Hu, tentu akan membikin mereka tambah runyam. Melihat keadaan serba kikuk, cepat Oey Yong menyela, katanya:
“Sudahlah, hendaknya Bu-heng jangan marah lagi, buntungnya tangan Yo Ko adalah karena puteriku yang kurang ajar, kakak Ceng juga sangat murka dan hampir saja tangan anak Hu dikutunginya.”
“Bagus, seharusnya begitu!” seru Bu Sam-thong.
Kwe Hu mendelik sekejap kepada orang tua yang sok tahu itu. Kalau saja ibunya tidak di situ, mungkin dia sudah balas mengolok-olok. Oey Yong lantas berkata pula:
“Bu-heng, sekarang sudah jelas, jadi kita telah salah menuduh Yo Ko. Paling penting sekarang kita harus menemukan Yo Ko dan minta maaf kepadanya.”
“Benar, benar!” berulang-ulang Sam-thong menyatakan setuju.
“Selain itu kita harus pergi ke Coat-ceng-kok untuk menolong susiok-mu dan Cu-toako. Berbareng itu kita akan mintakan obat penawar bagi Yo Ko. Cuma tidak diketahui kenapa Cu-toako sampai terkurung musuh dan bagaimana keadaannya sekarang?”
“Susiok dan Sute tertawan oleh barisan jaring musuh dan sekarang terkurung di sebuah kamar batu, tampaknya jiwa mereka tidak begitu menguatirkan.”
“Jika begitu biarlah kita mencari Yo Ko dahulu baru berangkat ke Coat-ceng-kok, dengan kepandaiannya yang tinggi anak muda itu merupakan pembantu yang terkuat, apa lagi begitu obat penawar didapatkan segera bisa diminum olehnya dan tidak perlu membuang waktu lagi,” kata Oey Yong.
“Benar, benar!” seru Sam-thong. “Cuma tidak diketahui sekarang Yo Ko berada di mana?”
Sambil menuding kuda merah Oey Yong menjawab: “Kuda ini baru saja dipinjam oleh Yo Ko, kuda ini akan menjadi petunjuk jalan, kita pasti dapat menemukan tempat tinggalnya.”
Bu Sam-thong sangat girang, serunya: “Untung Kwe-hujin berada di sini, kalau tidak tentu aku akan kelabakan setengah mati tanpa berdaya.”
Oey Yong pikir kalau Bu Sam-thong dan kedua puteranya ikut pergi, besar kemungkinan ketiga muda-mudi yang lainnya juga akan ikut, akan terasa lebih aman jika ada pembantu lebih banyak. Maka segera ia berkata kepada Yalu Ce:
“Bagaimana kalau kalian juga ikut bersama kami?”
Belum lagi Yalu Ce menjawab, cepat Yalu Yen mendahului bersorak: “Baiklah, kakak, kita ikut pergi.”
Tanpa terasa Yalu Ce memandang sekejap kepada Kwe Hu dan terlihat sorot mata nona itu juga memberi dorongan padanya. Ketika dia berpaling ke arah Wanyen Peng, nona itu juga tersenyum, maka dia pun menjawab dengan menghormat.
“Kami tunduk saja kepada pesan Bu-locianpwe dan Kwe-hujin, jika kami bisa selalu mendapat petunjuk kalian, itu yang kami harapkan.”
Oey Yong lantas berkata: “Meski pun jumlah kita tidak banyak, tetapi kita perlu juga seorang komandan sebagai pimpinan. Bu-heng, biarlah kami tunduk kepada pimpinanmu dan takkan membantah perintahmu.”
Namun Bu Sam-thong lantas menggelengkan kepala dan menjawab: “Tidak, jelas seorang Kunsu (juru pikir) wanita seperti kau berada di sini, siapa lagi yang berani main perintah? Sudah tentu mandat penuh kuserahkan kepadamu.”
“Apa sudah betul pilihanmu?” Oey Yong menegas dengan tertawa.
“Masa aku bergurau?” jawab Sam-thong.
“Anak-anak sih tidak menjadi soal, yang kukuatirkan adalah kau si tua ini tak mau tunduk pada perintahku,” kata Oey Yong.
“Apa perintahmu, itu pula yang kulaksanakan,” seru Sam-thong. “Sekali pun masuk lautan api atau terjun ke rawa mendidih takkan kutolak.”
“Di hadapan anak-anak muda ini, apa yang sudah kau katakan harus kau tepati,” ujar Oey Yong.
“Sudah tentu,” jawab Sam-thong dengan muka merah padam “Memang kalau tak ada orang lain aku pernah ingkar janji?”
“Bagus! itulah yang kuinginkan darimu,” kata Oey Yong.
“Keberangkatan kita ini adalah untuk mencari Yo Ko, meminta obat dan menolong kawan, semua harus dilakukan dengan cara gotong royong, maka segala dendam sakit hati pada masa lampau untuk sementara harus dikesampingkan. Jadi maksudku, Bu-heng, untuk sementara ini kalian sekali-kali tidak boleh merecoki Li Bok-chiu, nanti kalau urusan sudah beres, bolehlah kalian melabrak dia untuk menuntut balas.”
Bu Sam-thong melengak. Sekarang barulah ia tahu tujuan kata-kata Oey Yong tadi hanya untuk memancing pernyataannya saja. Padahal Li Bok-chiu adalah pembunuh isterinya, sakit hati ini mana boleh dibiarkan? Belum lagi Sam-thong menjawab, Oey Yong membuka suara lagi dengan lirih:
“Bu-heng, kakimu terluka, sementara ini tentu tak dapat berbuat banyak. Untuk menuntut balas kukira tidak perlu terburu-buru.”
Terpaksa Bu Sam-thong berkata: “Baiklah, apa yang kau katakan, apa yang kulakukan.”
Oey Yong lantas berseru memanggil Li Bok-chiu: “Li-cici mari kita berangkat!”
Begitulah kuda merah itu dibiarkan berjalan di depan dan mereka mengikuti dari belakang. Benar juga, kuda itu ternyata menuju ke arah Cong-lam-san. Lantaran Bu Sam-thong dan Wanyen Peng terluka dan tak dapat jalan cepat, setiap hari mereka cuma menempuh ratusan li saja lantas istirahat. Diam-diam Li Bok-chiu waspada menjaga segala kemungkinan, di waktu istirahat ia sengaja menjauhi semua orang, waktu menempuh perjalanan ia pun mengintil dari kejauhan.
Sepanjang jalan yang paling gembira adalah ke enam muda-mudi itu, mereka bicara dan bergurau dengan akrab sekali. Semenjak kecil kedua saudara Bu saling bersaing mencari muka pada Kwe Hu sehingga hubungan mereka sedikit banyak kurang baik, tapi sekarang masing-masing sudah menemukan gadis idaman, kedua saudara menjadi amat rukun dan sayang menyayang. Tentu saja Bu Sam-thong sangat senang melihat itu dan tambah terima kasihnya kepada Yo Ko yang sudah menyelamatkan kedua Bu cilik itu dari saling bunuh memperebutkan seorang gadis.
Suatu hari sampailah mereka di Cong-lam-san. Oey Yong dan Bu Sam-thong membawa anak-anak muda itu berkunjung kepada Coan-cin-jit-cu di Tiong-yang-kiong. Li Bok-chiu berhenti jauh di luar istana Coan-cin-pay dan menyatakan hendak menunggu di situ. Oey Yong tidak memaksa sebab tahu iblis itu bermusuhan dengan pihak Coan-cin-pay. Rombongan mereka lantas menuju Tiong-yangkiong.
Ketika mendapat laporan, Khu Ju-ki dan lain-lain cepat-cepat menyambut keluar. Sesudah rombongan tamu dipersilakan masuk dan duduk di pendopo agung, baru saja mereka beramah-tamah sejenak, tiba-tiba di ruangan belakang ada suara orang mem-bentak. Seketika Oey Yong mengenali suara orang itu dan segera dia berseru:
“Lo-wan-tong, lihatlah siapakah ini yang datang?”
Selama beberapa hari ini memang Ciu Pek-thong sedang sibuk mempelajari bagaimana cara mengundang dan memimpin kawanan tawon putih. Dasarnya memang pintar, tekun pula, maka sedikit-banyak sudah ada kemajuan. Pada waktu itu dia sedang asyik dengan permainannya itu. Ketika tiba-tiba saja didengar orang memanggil julukannya, segera dia kenal itulah suaranya Oey Yong.
“Ha, kiranya bini adik angkatku yang genit dan jahil telah datang!” sambil berteriak-teriak dia terus berlari ke depan.
Serentak Yalu Ce memapak maju, kemudian menyembah kepada Ciu Pek-thong sambil mengucapkan doa selamat. Dengan tertawa Ciu Pek-thong menjawab:
“Sudahlah, lekas bangun. Kau pun selamat-selamat ya!”
Menyaksikan itu semua orang jadi terheran-heran. Sungguh tak disangka bahwa Yalu Ce adalah muridnya Ciu Pek-thong, padahal tingkah laku Anak Tua Nakal itu sering ugal-ugalan dan angin-anginan, tapi murid didiknya ternyata pintar dan tangkas, jujur dan sopan, sama sekali berbeda antara guru dan murid.
Khu Ju-ki dan lain-lain juga amat senang melihat sang Susiok kini sudah mempunyai ahli waris, mereka lantas mengucapkan selamat kepada Ciu Pek-thong. Baru sekarang Kwe Hu menyadari sebab musababnya tempo hari sang ibu dan Yalu Ce saling pandang bergelak tertawa ketika anak muda itu tidak mau menerangkan siapa gurunya. Rupanya waktu itu Oey Yong sudah dapat menerka bahwa guru Yalu Ce adalah si Anak Tua Nakal Ciu Pek-thong.
Tengah ramai-ramai, mendadak di bawah gunung ada suara terompet, itulah pemberi-tahuan dari para anak murid yang bertugas jaga bahwa musuh datang menyerang secara besar-besaran. Seketika air muka Khu Ju-ki berubah. Dia tahu pasti pasukan Mongol yang datang akibat kegagalan usaha Kim-lun Hoat-ong beserta para begundalnya menaklukkan Coan-cin-kau tempo hari. Biar pun orang-orang Coan-cin-kau mahir ilmu silat, tapi tidak mungkin bertempur terbuka melawan pasukan Mongol, maka sebelumnya mereka sudah mengatur siasat, kalau perlu akan mundur teratur dengan meninggalkan gunung.
Tugas ini sebenarnya adalah tanggung jawab Li Ci-siang yang kini telah diangkat sebagai pejabat ketua menggantikan In Ci-peng. Akan tetapi menghadapi suasana gawat, pimpinan dipegang lagi oleh Coan-cin-ngo-cu. Segera Khu Ju-ki berkata kepada Oey Yong tentang keadaan genting dan menyesal tidak dapat memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah terhadap tamunya.
Dalam pada itu suara gemuruh serbuan pasukan terdengar dari bawah gunung. Rupanya pasukan Mongol menyerbu dari arah utara gunung, sedangkan rombongan Oey Yong tadi datang dari bagian selatan, selisihnya cuma setengah jam saja.
GANGGUAN DI SAAT GENTING
“Oh, jadi ada musuh datang? Hah, sangat kebetulan,” seru Ciu Pek-thong. “Hayolah, anak Ce, inilah kesempatan baik bagimu untuk memperlihatkan kepandaian ajaran gurumu ini kepada para Suheng di sini!”
Seperti anak kecil, apa bila mempunyai barang mainan kesayangannya, tentu suka pamer untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Begitu pula si Anak Tua Nakal, dia mempunyai seorang murid baik, tentu dia pun ingin membikin kagum orang Iain. Kalau dulu dia berpesan pada Yalu Ce agar jangan membocorkan nama gurunya, maksud tujuannya adalah untuk mengejutkan dunia Kangouw saja agar semua orang kaget demi kemudian mengetahui Ciu Pek-thong mempunyai seorang murid lihay.
Begitulah Khu Ju-ki lantas memberi laporan sekedarnya kepada Ciu Pek-thong mengenai siasatnya akan mengundurkan diri demi untuk menjaga keutuhan Coan-cin-kau. Habis itu dia lantas memberi perintah supaya setiap orang membawa barang-barang keperluan dan meninggalkan gunung menurut arah yang sudah ditentukan. Berbondong-bondong anak murid Coan-cin-kau melaksanakan tugas masing-masing secara teratur.
“Khu-totiang,” kata Oey Yong kemudian. “Cara pengaturanmu sungguh hebat, aku yakin sedikit halangan ini pasti takkan menjadi soal bagi kalian. Kelak Coan-cin-kau pasti akan bangkit kembali, bahkan lebih jaya dari pada sekarang. Kedatangan kami ini adalah untuk mencari Yo Ko, maka sekarang juga kami mohon diri.”
“Yo Ko?” Khu Ju-ki meIengak. “Apakah dia masih berada di pegunungan ini?”
“Ada seorang teman mengetahui tempat kediamannya,” ujar Oey Yong dengan tertawa. Sesudah itu dia lantas berangkat dengan rombongannya menuju ke belakang Tiong-yang-kiong dan kemudian menemukan Li Bok-chiu.
“Li-cici, sekarang silakan memberi petunjuk cara masuk ke kuburan itu,” kata Oey Yong.
“Dari mana kau mengetahui dia pasti berada dalam kuburan?” jawab Bok-chiu.
“Seumpama Yo Ko tidak berada di sana, Giok li-sim-keng pasti ada,” ujar Oey Yong.
Diam-diam Li Bok-chiu terkesiap dan mengakui kelihayan nyonya Kwe itu, sampai-sampai isi hatinya ingin mendapatkan kitab pusaka itu pun dapat diterkanya dengan jitu. Karena tujuannya sudah diketahui orang, Li Bok-chiu lantas berkata sekalian secara terang-terangan.
“Baiklah, biar kita bicara di depan, akan kubantu kau menemukan puterimu dan kau harus membantuku merebut kitab pusaka perguruanku. Kau adalah ketua Kay-pang, pendekar wanita yang termashur, kau harus pegang janji.”
“Tetapi Yo Ko adalah putera dari saudara angkat tuan Kwe kami, meski ada sedikit selisih paham, kalau sudah bertemu tentu segalanya dapat dijernihkan dan puteriku pasti akan dikembalikan kepadaku jika memang betul anak itu berada padanya. Jadi tidak dapat dikatakan rebut berebut segala.”
“Oh, kalau begitu baiklah kita menuju ke tujuan masing-masing dan berpisah di sini,” Li Bok-chiu terus putar tubuh hendak pergi.
Oey Yong mengedipi Bu Siu-bun.
“Srett!” si Bu cilik itu segera melolos pedang dan membentak: “Li Bok-chiu, hari ini jangan kau harap dapat meninggalkan Cong-lam-san dalam keadaan hidup!”
Li Bok-chiu menyadari keadaannya yang kepepet, seorang Oey Yong saja sudah sulit dilawan, apa lagi ada Bu Sam-thong dan anak muda yang cukup lihay. Biasanya ia pun banyak tipu akalnya, tetapi menghadapi Oey Yong ia benar-benar menjadi bodoh dan mati kutu. Sedapatnya ia berlaku tenang dan berkata dengan dingin:
“Kwe-hujin maha pintar, kalau berada di sini, masa Kwe-hujin kuatir tidak dapat menemukannya dan masa perlu petunjuk jalan dariku?”
“Untuk mencari jalan masuk ke kuburan kuno, terus terang aku tidak mampu,” jawab Oey Yong. “Tapi kalau kami berdelapan sabar menunggu dan bergilir mengawasi sekitar sini, akhirnya kami pasti akan memergoki mereka apa bila Yo Ko dan nona Liong benar-benar bersembunyi di kuburan kuno. Masa pada suatu hari mereka tidak keluar untuk belanja keperluan hidup?”
Ucapan ini dengan jelas memojokkan Li Bok-chiu agar lebih baik menunjukkan jalannya, kalau tidak segera akan dibunuhnya. Li Bok-chiu menjadi serba susah, apa yang dikatakan Oey Yong memang masuk di akal. Kalau mereka menunggu saja di sekitar sini, akhirnya Yo Ko tentu akan keluar. Untuk bertempur jelas dirinya bukan tandingan mereka yang berjumlah banyak, tapi kalau memancing mereka masuk ke kuburan kuno. di tempat yang sudah dikenalnya benar-benar itu tentu dapat mencari akal untuk membinasakan musuh-musuh ini satu demi satu. Begitulah ia lantas menjawab:
“Baiklah, apa mau dikatakan lagi, aku tidak mampu menandingi kalian. Memang aku juga akan mencari si bocah she Yo itu? Mari. kalian ikut.”
Segera dia menyingkap semak belukar dan menyusup ke tengah pepohonan yang lebat, diikuti Oey Yong dan lain-lainnya dari dekat karena kuatir dia melarikan diri mendadak. Setelah menyusup ke sana dan menyusur sini, tak lama sampailah mereka di tepi sebuah sungai kecil. Sudah lama Li Bok-chiu bertekat hendak merebut Giok-li-sim-keng. Tempo hari ia hampir mampus ketika lolos keluar dari kuburan melalui dasar sungai. Maklumlah, ia memang tidak mahir berenang dan menyelam. Sebab itu akhir-akhir ini dia telah berlatih renang dan kini sudah siap.
Begitu berdiri di tepi sungai, berkatalah dia: “Pintu depan kuburan itu telah tertutup, untuk membukanya secara paksa diperlukan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Sedang pintu belakangnya harus selulup melalui sungai ini. Nah, siapa di antara kalian yang akan ikut aku masuk ke sana?”
Kwe Hu dan kedua saudara Bu dibesarkan di Tho-hoa-to, setiap hari hampir selalu berkecimpung di tengah gelombang laut, kepandaian berenang mereka dapat diandalkan, serentak mereka bertiga menyatakan ikut. Bu Sam-thong juga dapat berenang, maka dia pun ingin ikut serta. Oey Yong tahu Li Bok-chiu sangat keji. Kalau mendadak dia menyerang di kuburan kuno, pasti Bu Sam-thong dan lain-lain tidak akan mampu melawannya. Seharusnya dirinya sendiri ikut mengawasi ke sana, tapi kesehatannya yang baru melahirkan terasa tidak sanggup bertahan menyelam lama dalam air yang dingin. Tengah ragu-ragu itu tiba-tiba Yalu Ce berkata:
“Kwe-pekbo boleh tunggu saja di sini, biar siautit ikut paman Bu ke sana.”
“Kau mahir berenang?” tanya Oey Yong girang.
“Berenang sih tidak begitu mahir, tapi kalau menyelam kukira boleh juga,” jawab Yalu Ce.
Dalam pada itu Li Bok-chiu sudah bebenah seperlunya dan siap untuk terjun ke dalam sungai. Oey Yong lantas mendekati Bu Sam-thong dan memberi pesan agar hati-hati dan waspada. Begitulah Yalu Ce dan Bu Sam-thong berlima lantas ikut Li Bok-chiu menyusuri sungai itu. Sungai bawah tanah ini terkadang sempit dan terkadang lebar, arusnya juga kadang-kadang keras tempo-tempo lambat. Ada kalanya dasar sungai sangat dalam hingga tinggi air melebihi kepala dan harus menyelam, tetapi lain saat air sungai berubah menjadi cetek cuma sebatas pinggang.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya mereka sampai di lubang masuk ke kuburan. Li Bok-chiu menarik batu penyumbat dan menerobos ke dalam, yang lain lantas ikut masuk berturut-turut. Meski sekarang tidak terbenam lagi dalam air, tetapi keadaan gelap gulita, semua orang bergandengan tangan supaya tidak terpencar dan mengikuti Li Bok-chiu ke depan secara berliku-liku sehingga sukar lagi membedakan arah. Tidak lama kemudian terasa mulai menanjak, tanah yang terpijak juga kering. Mendadak terdengar suara berkeriutan, sebuah pintu batu didorong oleh Li Bok-chiu, semua orang lantas ikut masuk ke situ.
“Di sini sudah berada di tengah-tengah kuburan kuno. Kita berhenti sebentar, lalu pergi mencari Yo Ko,” kata Li Bok-chiu.
Sejak memasuki kuburan, selangkah pun Bu Sam-thong dan Yalu Ce tidak tertinggal di belakang Li Bok-chiu. Tapi keadaan sangat gelap, terpaksa mereka hanya mengandalkan indera pendengaran untuk menjaga segala kemungkinan. Dalam kegelapan itu semua orang lantas berdiam. Tiba-tiba Li Bok-chiu berkata:
“Eh, kedua tanganku telah menggenggam Peng-pok-gin-ciam, kenapa kalian bertiga she Bu ini tidak mau maju untuk merasakan enaknya jarum ini?”
Bu Sam-thong terkejut. Sebelumnya dia pun tahu orang pasti mengandung maksud jahat, tapi tidak menyangkanya musuh akan mulai bertindak sekarang. Mereka sudah pernah merasakan betapa lihaynya jarum orang, betapa pun mereka tidak berani gegabah. Segera mereka pegang senjata dan siap menangkis bila mendengar suara mendesingnya senjata rahasia. Tetapi tempatnya terlampau sempit, jarum musuh hanya dapat dipukul ke tanah, kalau di sampuk bisa jadi akan mengenai kawan sendiri.
Yalu Ce juga menyadari keadaan sangat berbahaya, kalau sampai musuh sembarangan menyambitkan jarumnya maka pihaknya yang berlima ini pasti ada yang terluka atau binasa, jalan yang paling baik harus melabraknya dari dekat supaya orang tidak sempat menggunakan jarum. Ternyata Kwe Hu juga berpendapat sama seperti dia, maka tanpa berjanji keduanya menubruk bersama ke arah suara Li Bok-chiu.
Padahal setelah bicara tadi, selagi orang-orang terkesiap, Li Bok-chiu telah mundur ke tepi pintu. Maka pada waktu Yalu Ce dan Kwe Hu menubruk hanya mengenai tempat kosong, sebaliknya tangan kedua orang saling berpegang sehingga Kwe Hu menjerit kaget. Kepandaian Yalu Ce lebih tinggi. Begitu memegang tangan yang halus dan mencium bau harum yang disertai suara Kwe Hu, segera dia tahu apa yang terjadi.
Sementara itu terdengar bunyi keriat-keriut bergesernya pintu. Yalu Ce dan Bu Sam-thong cepat melompat ke sana. Terdengar suara mendesing, dua jarum perak menyambar. Mereka cepat mengelak, waktu mereka mendorong pintu, ternyata pintu sudah tertutup rapat dan bergeming lagi. Yalu Ce meraba pintu batu itu, ternyata halus licin tanpa alat pegangan pintu. Ia berjalan merambat dinding sekeliling, dia menaksir ruangan itu kira-kira empat persegi, seluruh dinding terbuat dari batu. Ia coba mengetok dinding dengan pedangnya, terdengar suara keras dan berat, jelas batu dinding itu sangat tebal.
“Wah, bagaimana? Jangan-jangan kita akan mati terkurung di sini,” kata Kwe Hu dengan kuatir dan hampir-hampir menangis.
“Jangan kuatir, kita pasti akan menemukan jalan,” cepat Yalu Ce menghiburnya. “Apa lagi Kwe-hujin menunggu di luar, beliau pasti akan berdaya menolong kita.” Habis berkata ia coba meraba sekeliling kamar untuk mencari jalan keluar.
Li Bok-chiu girang sekali setelah berhasil menyekap Bu Sam-thong berlima di kamar batu itu. Ia pikir setelah lawan-lawan dienyahkan, tentu akan lebih mudah menyergap Siao-liong-li dan Yo Ko.
Ia menyadari bila bertempur secara terang-terangan pasti bukan tandingan sang Sumoay, maka ia harus menyergapnya secara mendadak. Ia lantas menggenggam jarum berbisa, sepatu ditanggalkannya, hanya dengan berkaos kaki ia melangkah ke depan dengan perlahan.
********



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar