ads

Senin, 20 September 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 27

Li Bok-chiu merasa lengannya mulai kaku pegal, sejenak kemudian rasa kaku itu bahkan sudah sampai ketiak, kini kedua tangannya sudah tidak mau menurut perintah lagi. Cepat ia berseru:

“Berhenti dulu!” Berbareng ia melompat ke samping, lalu berkata dengan putus asa.

“Kwe-hujin, selama hidupku membunuh orang tak terhitung banyaknya, memang tidak kuharapkan hidup sampai sekarang. Mengadu tenaga mau pun mengadu akal memang aku bukan tandinganmu, kalau sekarang aku mati di tanganmu tak perlu penasaran. Hanya saja aku ingin memohon sesuatu padamu, entah kau sudi menerima tidak?”

“Urusan apa itu?” tanya Oey Yong sambil mengawasi lawan, ia kuatir Li Bok-chiu sengaja mengulur waktu untuk mengambil obat penawar.

Namun terlihat kedua tangan Li Bok-chiu sudah kaku lurus melambai ke bawah, terdengar dia berkata:

“Kwe-hujin, aku tidak akur dengan sumoay-ku, tapi anak itu sangat menyenangkan, karena itu kumohon kemurahan hatimu agar kau suka merawat dan jangan mencelakai jiwanya.”

Hati Oey Yong tergetar mendengar permohonan Li Bok-chiu yang diucapkan dengan hati tulus. Sungguh tak terduga bahwa iblis yang sudah menggunung kejahatannya itu saat mendekati ajal ternyata bisa juga mengeluarkan kasih sayangnya kepada seorang bayi. Maka dia pun lantas menjawab:

“Ayah dan ibu anak ini bukanlah orang biasa, kalau dibiarkan hidup di dunia bisa jadi akan membikin susah saja padaku, maka lebih baik...”

“Kumohon kemurahan hatimu...” kembali Li Bok-chiu memohon.

Oey Yong sengaja hendak mencoba lagi. Ia mendekati iblis itu dan mengebut Hiat-to yang membuatnya tak bisa berkutik lagi, lalu merogoh bajunya serta mengeluarkan botol obat, lalu bertanya:

“Apakah ini obat penawar racun jarummu?”

Tanpa pikir Li Bok-chiu mengiyakan. Oey Yong lalu berkata: “Dalam satu hari aku tak dapat membunuh dua orang, jika ingin kuampuni jiwamu, maka anak itu harus kubunuh, sebaliknya kalau kau rela mati, jiwa anak itu dapat kuampuni.”

Sama sekali tak terpikir oleh Li Bok-chiu bahwa dia masih diberi kesempatan untuk hidup, tapi kalau minta Oey Yong membunuh anak itu hatinya terasa tidak tega, sebaliknya menggunakan jiwa sendiri untuk menukar jiwa anak itu pun tidak rela. Sementara itu dilihatnya Oey Yong telah menuang sebutir obat dari botol dan diperlihatkan padanya, yang ditunggu hanyalah jawabannya saja. Karena itu dia menjadi nekat:

“Baik, aku...”

Tapi Oey Yong ternyata sudah mempunyai pertimbangannya sendiri. Dia lihat Li Bok-chiu ragu-ragu sekian lama, betapa pun hal ini menandakan ada pertentangan batin dalam hati nurani iblis itu. Bagaimana pun ia akan menjawab, melulu pikiran bajik ini saja sudah cukup pantas untuk mengampuni jiwanya. Bahwa dia sudah berlumuran darah dan penuh dosa, tentu kelak ada orang membinasakannya. Maka dia terus memotong ucapan Li Bok-chiu tadi dengan tertawa:

“Li-totiang, sesungguhnya aku harus berterima kasih atas perhatianmu terhadap anak Siang.”

“Apa katamu? Anak Siang siapa?” tanya Li Bok-chiu dengan bingung.

“Ketahuilah bahwa anak ini she Kwe bernama Siang, ia adalah puteri Kwe-tayhiap dengan diriku. Baru lahir jatuh ke tangan nona Liong, entah cara bagaimana terjadinya sehingga engkau salah paham menyangka dia itu puteri nona Liong. Berkat perawatanmu selama ini anak Siang tampak bertambah sehat dan kuat, sungguh aku merasa berterima kasih.” Selesai berkata dia lantas memberi hormat, kemudian menjejalkan obat yang dipegangnya itu ke mulut Li Bok-chiu sambil bertanya: “Apakah cukup?”

“Racun itu sudah mulai menjalar, harus kuminum tiga biji obat itu,” jawab Bok-chiu dengan cepat.

Segera Oey Yong menyuapi dua biji obat ke mulut Li Bok-chiu. Dia pikir obat penawar ini mungkin ada gunanya kelak, maka tidak dikembalikan kepada iblis itu tetapi dimasukkan ke saku sendiri, lalu berkata dengan tertawa:

“Setelah tiga jam Hiat-to yang kutotok akan punah sendiri dan kau dapat pergi sesukamu.” Habis itu cepat dia berlari ke dalam hutan tempat dia menaruh Kwe Siang tadi. Dia pikir: “Sudah selang sekian lama, entah anak Hu sudah pergi belum, kalau dia sempat melihat adik perempuannya tentu dia akan sangat gembira.”

Cepat dia memutar masuk ke tengah pagar rotan. Akan tetapi sesudah tiba di tempatnya seketika ia melongo kaget, sekujur badan menggigil bagai kejeblos ke dalam liang es. Ternyata lingkaran pagar rotan yang dibuatnya masih utuh tanpa sesuatu tanda yang mencurigakan, tapi bayangan Kwe Siang sudah tak nampak lagi. Keruan jantungnya ber-debar seperti hendak rontok, sekali pun biasanya dia banyak tipu akalnya, sekarang dia menjadi bingung dan kelabakan. Sebisanya dia berusaha menenangkan diri:

“Jangan gugup, tenang, tenang...! Hanya sebentar saja aku bertempur dengan Li Bok-chiu di Iuar sana, tahu-tahu anak Siang digondol orang, tentu orang itu pun belum jauh perginya.”

Segera dia memanjat ke pucuk pohon yang paling tinggi dan memandang ke sekelilingnya. Tanah di luar kota Siang-yang cukup datar, dipandang dari pucuk pohon itu dapat mencapai belasan li jauhnya, akan tetapi ternyata tiada terlihat sesuatu tanda yang mencurigakan. Sementara ini pasukan Mongol sudah mundur jauh ke utara, tanah datar yang luas ini tidak ada orang berlalu lalang, kalau saja ada seseorang dan seekor kuda tentu akan kelihatan meski dalam jarak yang jauh.

Oey Yong pikir kalau pencuIik itu belum pergi jauh tentu masih berada di sekitar sini saja. Segera ia berusaha mencari di sekitar pagar rotan, ia berharap bisa menemukan sesuatu jejak pencuIik itu. Tapi keadaan tali rotan itu sedikit pun tak tergeser atau rusak, hilangnya anak itu pasti bukan digondol oleh binatang buas dan sebagainya. Padahal pagar rotan yang dilingkari menurut perhitungan tai-tong-pat-kwa khas Tho-hoa-to itu, di dunia ini selain anak murid Tho-hoa-to sendiri tiada orang luar yang memahaminya, sekali pun tokoh besar macam Kim-lun Hoat-ong tak dapat bergerak bebas di tengah pagar rotan yang diaturnya ini. Apakah mungkin ayah sendiri yang datang? Begitulah ia menjadi sangsi. Mendadak dia menjerit dalam hati: “Ahh, celaka!”

Tiba-tiba teringat olehnya. Ketika kepergok Kim-lun Hoat-ong beberapa waktu yang lalu, dalam keadaan kepepet ia telah mengatur barisan batu untuk menahan musuh, tatkala itu Yo Ko datang menolong, karenanya ia lantas menguraikan secara ringkas garis besar rahasia barisan batu yang diaturnya itu kepada anak muda itu. Teringat kepada Yo Ko, seketika kepala Oey Yong menjadi pusing dan menambah rasa kuatirnya. Anak muda itu amat pintar, diberi-tahu satu dapat dipahaminya tiga, walau pun hitungan Kiu-kiong-pat-kwa itu tidak mudah dipelajari dalam waktu singkat, tetapi setelah tahu garis besarnya, untuk memecahkan pagar rotan itu tidaklah sulit.

“Anak Hu sudah menebas kutung sebelah lengannya, sakit hatinya kepada keluarga Kwe semakin mendalam, sekali anak Siang jatuh di tangannya, tamatlah jiwanya.”

Begitulah Oey Yong menjadi sedih teringat kepada puteri yang baru lahir beberapa hari itu sudah mengalami nasib seburuk itu, tanpa terasa dia meneteskan air mata. Tetapi Oey Yong sudah banyak pengalaman dan kenyang gemblengan, pintar lagi cerdik, dia bukan perempuan biasa yang tak berdaya bila mana sedang berduka. Setelah berpikir sejenak, cepat dia menghapus air mata, lalu mulai mencari lagi jejak datang perginya Yo Ko.

Akan tetapi sungguh aneh, di sekitar situ ternyata tak ada sesuatu bekas kaki yang dapat ditemukan. Ia menjadi heran, biar pun Ginkang Yo Ko maha tinggi, kalau menginjak tanah pasti akan meninggalkan bekas, memangnya dia datang pergi dengan terbang?

Dugaan Oey Yong cukup mendekati kebenaran, memang Kwe Siang sudah dibawa pergi oleh Yo Ko dan datang perginya anak muda itu juga menyerupai terbang di udara.

Seperti sudah diceritakan, malam itu Yo Ko menyaksikan Oey Yong menotok Kwe Ceng dan menyuruh Kwe Hu pulang ke Tho-hoa-to, maka Yo Ko langsung menguntit dari kejauhan. Lantaran merasa berat harus berpisah dengan puterinya, maka Oey Yong tidak memperhatikan penguntitan Yo Ko. Ketika Oey Yong memergoki Li Bok-chiu, kemudian dua tokoh perempuan itu bertempur keluar hutan, diam-diam Yo Ko sudah merancang tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia memanjat ke atas pohon besar dan meraih seutas rotan tua dan panjang, ujung rotan diikatnya pada dahan pohon, lalu dia menggandul pada tali rotan serta diayun ke tengah lingkaran pagar rotan yang dibuat Oey Yong.

Kuatir kalau Oey Yong dan Li Bok-chiu akan segera kembali, maka Yo Ko menggunakan kedua kakinya mengempit tubuh Kwe Siang dan sekali ayun dia keluar lagi dari pagar rotan itu. Dilihatnya Oey Yong masih bertempur dengan Li Bok-chiu, cepat dia menyelinap keluar hutan dan kabur pergi. Ginkang Yo Ko sekarang boleh dikatakan tiada tandingannya lagi di dunia ini, maka hanya sekejap saja dia telah kembali di kota kecil itu. Dilihatnya Kwe Hu sedang celingukan sambil menuntun kuda merah menunggu kembalinya sang ibu. Setelah dekat, mendadak Yo Ko mencemplak ke atas kuda merah itu dari belakang.

Keruan Kwe Hu terkejut, ia menoleh dan melihat yang menunggang kuda merah ternyata Yo Ko adanya. Ia menjerit kaget ketika melihat Yo Ko menyeringai padanya.

“Srett!” cepat ia melolos pedang.

Ci-wi-kiam yang lemas tajam milik Tokko Kiu-pay sudah dirampas oleh Kwe Ceng, maka yang dibawa Kwe Hu sekarang cuma pedang biasa saja. Jika Yo Ko mau membinasakan dia boleh dikatakan teramat mudah, akan tetapi ketika melihat si nona ketakutan hingga muka pucat, Yo Ko hanya mendengus saja, lengan baju kanannya yang kosong itu terus dikebaskan dan membelit pedang Kwe Hu, tangan kirinya merebut tali kendati kuda, kedua kakinya mengempit kencang, kuda merah membedal cepat ke depan.

Kwe Hu terkesima menyaksikan perginya Yo Ko. Ketika ia memeriksa pedang sendiri, ternyata batang pedangnya bengkok seperti arit. Nyata tindakan Yo Ko tadi hanya sebagai ‘pamer kekuatan’ saja, maksudnya ingin memberi tahu bahwa kalau dia mau, biar pun lengan kanannya telah buntung, hanya dengan sekali kebas lengan baju saja cukup untuk membikin jiwanya melayang!

BegituIah Yo Ko melarikan kuda merah itu cepat ke utara dengan membawa Kwe Siang, hanya dalam waktu sebentar saja berpuluh li sudah dilaluinya, karena itulah ketika Oey Yong memandang dari pucuk pohon tidak melihat bayangannya. Keadaan Yo Ko sekarang benar-benar serba susah dan sukar mengambil keputusan. Mestinya dia pun bermaksud menebas sebelah lengan Kwe Hu untuk membalas dendam, tapi sampai detik terakhir ternyata dia tidak tega turun tangan. Ia coba memandang Kwe Siang, bayi itu sedang tidur dengan lelap dan wajahnya cantik mungil. Mendadak timbul pikiran:

“Paman dan bibi Kwe kehilangan puterinya ini, biar kubawa pergi dan takkan kukembalikan sebagai pembalasan dendamku, penderitaan batin mereka saat ini mungkin jauh melebihiku.”

Sekaligus Yo Ko melarikan kudanya hingga dua tiga ratus li jauhnya, di sepanjang jalan mulai banyak rumah penduduk, dia minta sedikit susu sapi atau susu kambing dari petani yang ditemukan untuk menyuapi Kwe Siang. Kini ia mempunyai kuda bagus, maka ia bertekat akan langsung pulang ke kuburan kuno mencari Siao-liong-li. Hanya beberapa hari saja ia sudah sampai di Cong-lam-san. Teringat kepada masa lalu, terharulah hati Yo Ko. Setiba di depan kuburan kuno, ia lihat batu nisan kuburan besar itu masih berdiri dengan tegaknya. Tetapi pintu kuburan sudah tertutup rapat ketika diserbu oleh Li Bok-chiu dulu, untuk masuk ke dalam kuburan tiada jalan lagi selain melalui jalan di bawah tanah dan harus selulup ke dasar sungai.

Dengan kesaktian Yo Ko sekarang, menyelam air dan menyusuri jalan di bawah tanah bukan soal lagi, namun bagaimana dengan Kwe Siang? Dia menjadi serba susah, kalau orok dibawa menyelam, jelas takkan tahan dan pasti mati. Tapi bila teringat Siao-liong-li berada di dalam kuburan dan segera akan dapat bertemu dengan kekasihnya, ia menjadi tidak sabar.

MENYELAMATKAN KEKASIH DARI KEPUNGAN

Segera dia menaruh Kwe Siang di sebuah goa dekat kuburan itu, dia menguruki mulut goa dengan ranting-ranting kayu dan belukar kering, dia pikir baik Siao-liong-li dapat ditemukan di dalam kuburan kuno atau tidak, yang pasti dia akan segera keluar lagi untuk mengatur Kwe Siang. Selesai memasang perintang di mulut goa, dia lalu memutar ke belakang kuburan, tetapi baru belasan langkah, tiba-tiba terdengar samar-samar beradunya senjata terbawa desiran angin. Ia terkesiap, yakin arahnya tepat dari Tiong-yang-kiong, ia menjadi ragu-ragu.

Pada saat lain mendadak terdengar mendengungnya roda perak yang mencelat ke udara, senjata khas milik Kim-lun Hoat-ong. Sekali ini Yo Ko tidak tahan akan rasa ingin tahunya, cepat mengeluarkan Ginkang dan berlari ke tempat datangnya suara, yaitu Giok-hi-tong di belakang istana Tiong-yang-kiong.

Pada saat itulah Siao-liong-li sedang tergencet pukulan dahsyat kelima tokoh Coan-cin-kau dan roda emas Kim-lun Hoat-ong sehingga terluka parah. Bila saja Yo Ko datang lebih dini sejenak, tentu Siao-liong-li akan terhindar dari mala petaka. Tetapi apa mau dikata, tak dapat seluruhnya memenuhi kehendak manusia. Nasib orang, suka-duka kehidupan manusia dan dengan segala seginya acap kali terjadi hanya karena selisih dalam sedetik itu saja.

Begitulah ketika mendadak Siao-liong-li melihat sebelah lengan Yo Ko buntung, dia lupa pada lukanya sendiri yang parah, dengan penuh perhatian dan kasih sayang menanyakan sebab-sebab buntungnya lengan anak muda itu. Dengan bersemangat Yo Ko berkata:

“Kokoh, memang sudah kuduga, setelah lenganku buntung, kau tentu akan semakin sayang padaku.”

Siao-liong-li hanya tertawa manis dan tidak menjawab. Sesungguhnya ia cuma ingin bertemu sekali lagi dengan Yo Ko sebelum ajalnya, sekarang angan-angannya sudah tercapai, tiada lain lagi yang diharapkan. Kedua muda-mudi itu saling pandang dengan mesranya, perasaan mereka seperti terlebur menjadi satu, biar pun dikelilingi musuh-musuh tangguh namun keduanya sama sekali tak ambil pusing.

Melihat Yo Ko muncul tiba-tiba, Coan-cin-ngo-cu merasa urusan ini makin sukar diselesaikan. Segera Khu Ju-ki berseru:

“Tiong-yang-kiong adalah tempat keramat yang suci, sebenarnya apa maksud kalian mengacau di sini?”

Dengan marah Ong Ju-it juga ikut membentak. “Nona Liong, meski Ko-bong-pay kalian dan Coan-cin-pay kami ada selisih paham, kita dapat menyelesaikannya sendiri, mengapa kau sengaja mengundang orang-orang asing dan kaum perusuh ini sehingga mencelakai anak murid kami sebanyak ini?”

Siao-liong-li terluka parah, mana dia dapat menjelaskan duduknya perkara dan berdebat dengan mereka. Dengan perlahan dan hati2 Yo Ko mendukung pinggang Siao-liong-li, lalu berkata dengan suara halus:

“Kokoh, marilah kita pulang ke kuburan kuno dan jangan urus orang-orang ini.”

“Lenganmu masih sakit tidak?” tanya Siao-liong-li.

Yo Ko menggeleng, jawabnya dengan tertawa: “Tidak, sudah lama sembuh.”

“Apakah racun bunga cinta di tubuhmu tidak kumat?” tanya pula si nona.

“Terkadang kumat, tapi tidak begitu lihay seperti dulu,” ujar Yo Ko.

Sesudah dilukai Siao-liong-li, sejak tadi Ci-keng sembunyi di belakang dan tidak berani nongol, lalu muncullah Coan-cin-ngo-cu yang keluar dari tempat menyepinya, dia menjadi kuatir kalau guru dan paman gurunya mengusut persoalannya, tentu jabatan ketua akan gagal dan bahkan akan dihukum berat. Karena itu dia menjadi nekad. Dia pikir keadaan ini harus dibakar lebih lanjut agar tambah kacau sehingga kelima orang tua itu tidak sempat mengurut persoalan, dengan begitu barulah ada kesempatan baginya untuk menang. Bila Kim-lun Hoat-ong dapat menumpas Coan-cin-ngo-cu akan lebih baik lagi baginya sehingga selamanya dia tak perlu kuatir lagi.

Ci-keng tahu ilmu silat Yo Ko sudah jauh di atas dirinya, tapi kini melihat anak muda itu buntung sebelah lengannya, tangan kiri yang baik itu digunakan memegang Siao-liong-li sehingga keadaannya hampir boleh dikatakan tak bisa berkutik kalau diserang. Selama ini Ci-keng paling benci kepada bekas murid murtad ini, kini ada kesempatan baik, tentu takkan dilewatkan begitu saja. Segera ia mengedipi muridnya, yaitu Ceng-kong, lalu membentak:

“Murid murtad Yo Ko, kedua Cosuya menanyai kau, kenapa kau diam saja?”

Yo Ko menoleh, kemudian memandangnya dengan sorot mata penuh kebencian, pikirnya:

“Kokoh telah dilukai kalian para Tosu busuk, sementara ini tak akan kuurus, kelak saja akan kubikin perhitungan dengan kalian.” Dia memandang sekejap pada pihak Tosu Coan-cin-kau, lalu memayang Siao-liong-li dan melangkah pergi.

“Maju!” bentak Ci-keng, berbareng Ceng-kong terus menubruk maju dan menusuk pedang mereka di iga kanan Yo Ko.

Ci-keng adalah tokoh terkemuka dari angkatan ketiga Coan-cin-kau. Meski ia sendiri telah terluka, namun tidak begitu parah. Sekarang ia menyerang ke bagian lengan Yo Ko yang buntung, dia yakin lawan pasti tidak mampu balas menyerang, tentu saja serangannya sangat berbahaya.

Meski Khu Ju-ki tidak senang atas sikap Yo Ko yang angkuh dan tidak menghormati orang tua, akan tetapi mengingat pesan Kwe Ceng serta teringat pada hubungan baik antara guru dan murid (ayah Yo Ko, Yo Khong dan Kwe Ceng adalah murid Khu Ju-ki), mau tak mau ia harus mencegah serangan Ci-keng yang lihay itu. Cepat ia membentak:

“Berhenti, Ci-keng!”

Sedangkan si dogol Be Kong-co berteriak-teriak memaki: “Huh, Tosu keparat, tidak tahu malu, kenapa kau menusuk bagian lengan orang yang buntung?”

Tetapi di luar dugaan semua orang, mendadak tubuh Ceng-kong yang besar itu mencelat ke udara sambil berkaok-kaok.

“Blang!” dengan tepat Ceng-kong menumbuk tubuh Nimo Singh.

Dengan kepandaian Nimo Singh sebenarnya tubrukan Ceng-kong bukan soal, akan tetapi lantaran kedua kakinya telah buntung dan menggunakan tongkat saja, dengan sendirinya tangannya tak dapat menolak, maka tumbukan itu membuat Nimo Singh jatuh terjungkal. Tetapi begitu punggungnya menempel tanah, seketika ia melompat bangun lagi menegak sebelah tongkatnya mengemplang hingga punggung Ceng-kong terhantam dengan keras dan jatuh semaput.

Dalam pada itu tahu-tahu pedang Ci-keng terinjak kaki Yo Ko. Ci-keng berusaha menarik sekuatnya hingga muka merah padam, tetapi pedangnya bergeming sedikit pun. Semua kejadian ini berlangsung dengan cepat luar biasa, orang yang memiliki kepandaian sedikit rendah hampir tidak tahu cara bagaimana Yo Ko mengatasi kedua penyerang itu. Tetapi Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu, In Kik-si dan Coan-cin-ngo-cu dapat melihatnya dengan jelas.

Waktu kedua pedang penyerang, mendadak lengan baju kanan Yo Ko yang kosong mengebas dengan tenaga dahsyat sehingga tubuh Ceng-kong yang gemuk itu langsung terlempar tinggi dan menumbuk Nimo Singh. Sedangkan Ci-keng tidak dapat disamakan dengan muridnya. Ketika tiba-tiba merasa lengan baju orang menyambar dengan kuat, sebisanya dia menahan tubuh di tempat sehingga kebasan Yo Ko tidak dapat mengguncangnya. Akan tetapi pedangnya yang terjulur itu lantas tertekan ke bawah sehingga kena diinjak.

Karena sudah digembleng oleh arus air bah, tenaga kaki Yo Ko luar biasa kuatnya, injakannya laksana tindihan gunung, meski Ci-keng berusaha menarik pedangnya dengan sepenuh tenaga tetap tak bergoyang sama sekali.

“Thio-totiang,” kata Yo Ko dengan dingin, “dulu di depan Kwe-tayhiap sudah kau katakan bukan lagi guruku, mengapa sekarang kau mengungkap soal guru dan murid? Mengingat pernah kupanggil kau sebagai guru, biar kau kuampuni saja!” Habis berkata mendadak ia tarik kembali tenaga injakannya.

Padahal saat itu Ci-keng sedang menarik sekuatnya, keruan tenaga tarikannya serentak terbetot kembali seluruhnya.

“Blang...!” dengan tepat gagang pedang menyodok dada sendiri, kontan ia muntah darah, pandangannya menjadi gelap dan jatuh terlentang.

Melihat itu, Ong Ju-it dan Lau Ju-hian lantas menyerang dari kanan kiri, tetapi mendadak sesosok bayangan menerjang dari samping.

“Trangg...! Trangg...!” kedua pedang terguncang pergi.

Ternyata yang menerjang adalah Nimo Singh. Dia ditubruk terjungkal oleh Ceng-kong. Walau pun Ceng-kong digebuknya hingga kelengar, rasa marahnya masih belum terlampiaskan. Ia pikir pangkal pokoknya adalah gara-gara Yo Ko, karena itu dia menerjang maju lagi, tongkat kirinya menangkis kedua pedang Tosu itu, sementara tongkat kanan mengemplang kepala Yo Ko dan Siao-liong-li.

Saat itu Siao-liong-li sama sekali tidak bertenaga, dengan lemas ia menggelendot di tubuh Yo Ko, sedangkan Yo Ko juga tahu kepandaian Nimo Singh tak dapat disamakan dengan Ci-keng dan Ceng-kong, bila hanya mengebas dengan lengan baju saja mungkin sukarlah menghalau hantaman tongkat yang hebat itu. Maka cepat dia menggeser sedikit ke kiri, lengan baju kanan digunakan melibat pinggang Siao-liong-li yang ramping agar si nona menggelendot di sisi kanan dadanya, lalu tangan kiri digunakan untuk menarik Hian-tian-po-kiam, pedang pusaka tumpul dan berat terus diangkat ke atas.

“Blukk!”

Terdengar suara keras, tangan Nimo Singh tergetar sakit, tongkat besinya mencelat ke udara dan jatuh ke belakang goa Giok-hi-tong. Yo Ko sendiri juga kaget karena tak mengira pedang tumpul milik Tokko Kiu-pay memiliki kekuatan begitu hebat. Dalam pada itu, meski sebelah tangan Nimo Singh serasa kaku, tapi dasarnya memang tangkas dan nekat, dia mengerang terus meloncat ke atas dengan bantuan sebelah tongkatnya, menyusul tongkat itu menghantam ke bawah.

Kembali Yo Ko menangkis dengan pedang tumpul. Ia pikir tadi sudah mencoba tenaga keras, sekarang biarlah kucoba tenaga lunak, maka begitu menyentuh senjata musuh, pedangnya melengket dengan tongkat. Kalau saja ia mau mengerahkan tenaganya, pasti seketika Nimo Singh dapat dilemparkan, dan jika dibanting ke dinding karang, pasti tubuh Nimo Singh akan hancur.

Sebenarnya Yo Ko juga tak kenal ampun apa bila mengingat Siao-liong-li telah dilukai sedemikian rupa, ia merasa manusia-manusia jahat ini pantas dibinasakan semua. Tetapi baru saja dia hendak mengerahkan tenaga, mendadak dilihatnya tubuh Nimo Singh yang terapung di udara tidak mempunyai kaki lagi, ia menjadi teringat kepada dirinya sendiri yang juga buntung sebelah tangan. Dasar hati nuraninya memang baik, tiba-tiba timbul rasa senasibnya, pedangnya tidak jadi dicungkit ke atas, sebaliknya ditekan ke bawah sehingga tongkat besi Nimo Singh menancap ke dalam tanah hampir separohnya.

Dengan masih memegangi tongkatnya Nimo Singh bermaksud mencabut, akan tetapi tangan kanan yang tergetar tadi masih terasa kaku kesakitan hingga sukar mengeluarkan tenaga.

“Biarlah kuampuni jiwamu sekarang, apakah kau masih ada muka buat tinggal lebih lama di Tionggoan?” jengek Yo Ko.

Muka Nimo Singh merah padam, dia tidak dapat menjawab selain berdiri melongo di tempatnya. Walau pun kekalahan Nimo Singh secara luar biasa itu di luar dugaan Siau-siang-cu dan In Kik-si, tapi mereka tidak mengira bahwa cuma dalam sebulan saja kekuatan Yo Ko maju sepesat ini, mereka malah menyangka Nimo Singh yang tidak becus setelah kedua kakinya buntung. Segera In Kik-si memburu maju dan mencabutkan tongkat serta diserahkan kembali pada Nimo Singh.

Sesudah menerima tongkat, segera Nimo Singh menahan tubuhnya dan bermaksud melompat jauh menyingkir, tapi tak terduga rasa kaku lengannya ternyata belum hilang, baru saja menekan, “bluk”, kembali ia jatuh terjungkal.

Siau-siang-cu adalah manusia yang culas, asalkan orang lain celaka, baik kawan atau pun lawan baginya bukan soal, dia justru merasa senang. Dia pikir sekali ini si cebol Hindu pasti tamat riwayatnya dan selekasnya Yo Ko yang telah cacat badan ini kutangkap lebih dulu, inilah kesempatan baik untuk mencari jasa dan menyohorkan nama. Maka ia lantas melompat maju dan berseru:

“Hai, bocah she Yo, beberapa kali kau mengacaukan pekerjaan Ongya, sekarang lekas kau ikut pergi saja!”

Mengingat luka Siao-liong-Ii yang parah, Yo Ko pikir kalau musuh ini tidak lekas dihalau tentu sebentar akan sukar menyelamatkan sang Kokoh, maka dengan suara perlahan ia coba tanya Siao-liong-li:

“Apakah kau kesakitan, Kokoh?”

“Mendingan, tidak begitu sakit,” jawab Siao- liong-li.

Yo Ko lantas menoleh kepada Siau-siang-cu dan berkata: “Baik, majulah!”

Siau-siang-cu menyeringai seram, katanya: “Kau cuma bertangan satu, kalau kukalahkan kau dengan dua tangan rasanya tidak adil.” Segera dia selipkan tangan kirinya pada tali pinggang, tangan kanan memutar pentungnya dan berkata: “Aku pun menggunakan sebelah tangan agar mati pun kau takkan menyesal.”

Yo Ko ingin lekas menyelesaikan persoalan, ia tidak ingin banyak omong lagi, mendadak pedang tumpul di tangan kiri mengarah lurus pinggang Siau-siang-cu. Melihat pedang yang kasar kehitam-hitaman serta tumpul laksana sepotong besi tua saja, Siau-siang-cu percaya senjata ini tentu ada sesuatu yang istimewa, akan tetapi di mulut ia tetap menghina, katanya,

“Huh, dari mana kau menemukan besi tua ini?” Habis berkata ia menghantarkan pentungnya pada pedang tumpul.

Yo Ko tidak menggoyangkan pedang, hanya mengerahkan tenaga saja ke batang pedang itu.

“Blukk!” terdengar satu kali suara dan tahu-tahu pentung Siau-siang-cu patah menjadi beberapa potong lantas mencelat betebaran.

“Celaka!” keluh Siau-siang-cu sambil mundur dengan cepat.

Akan tetapi Yo Ko tidak tinggal diam, pedangnya menjulur ke depan, dia sodok ke kanan satu kali dan pukul ke kiri satu kali, kontan kedua lengan Siau-siang-cu patah semua. Melihat gelagat jelek, ln Kik-si menubruk maju sambil memutar ruyungnya menghadang di depan Siau-siang-cu.

ln Kik-si adalah seorang saudagar besar batu permata negeri Persia, pandangannya sangat tajam, terutama dalam hal menaksir benda-benda mestika. Ketika menyaksikan pedang Yo Ko dapat menggetar terbang tongkat Nimo Singh tadi, dia yakin bahwa pedang Yo Ko pasti benda mestika, dari warnanya yang aneh ia menaksir pedang itu mungkin terbuat dari besi murni yang jarang ditemukan. Kemudian dilihatnya lagi pentung Siau-siang-cu juga tergetar hingga patah menjadi beberapa potong, ia makin yakin bahwa pedang itu pastilah benda pusaka.

Pada umumnya In Kik-si tidak terlampau jahat, cuma sejak kecil ia telah berdagang intan permata, maka setiap kali melihat benda mestika yang aneh tentu dia tertarik dan dengan segala jalan dia ingin memilikinya, apakah harus dibeli, ditipu atau kalau perlu direbut dan dicuri. Sekarang pedang pusaka Yo Ko sangat menarik perhatiannya, seketika timbul keserakahannya ingin memiliki, segera ia putar ruyungnya yang lemas terus membelit pedang lawan.

Yo Ko sendiri tidak terlalu benci kepada In Kik-si karena sikapnya yang cukup ramah dan sopan. Ketika melihat ruyung orang menyambar datang, di atas ruyung tampak penuh bertahtakan batu permata, maka dia lantas membiarkan pedangnya dibelit, katanya:

“ln-heng, selama ini kita tiada permusuhan apa-apa, sebaiknya lekas tarik kembali ruyungmu dan memberi jalan padaku. Ruyungmu penuh batu mestika, sungguh sayang kalau sampai rusak.”

“Apakah betul begitu?”, ujar In Kik-si tertawa, sekuatnya ia membetot.

Akan tetapi Yo Ko tetap berdiri tegak seperti tonggak bergeming sedikit pun. In Kik-si menjadi penasaran, tapi ia tahu kepandaian lawan sangat lihay, kalau tidak mempergunakan akal tentu pedang mestika itu sukar direbut. Dengan tertawa dia lantas berkata:

“Kepandaian Yo-heng sudah maju sepesat ini, sungguh harus diberi selamat dan menggembirakan, Siaute menyerah kalah.” Sambil mengucap begitu, mendadak tangan lain mengeluarkan sebilah belati terus menikam ke dada Siao-liong-li.

Tujuan In Kik-si sebenarnya tidak hendak mencelakai nyawa Siao-liong-li. Soalnya ia tahu Yo Ko amat memperhatikan si nona, kalau melihat nona itu terancam bahaya tentu akan menolongnya mati-matian. maka tikamannya pada Siao-liong-li sebetulnya cuma gertakan belaka, dengan begitu dia akan berhasil merebut pedang pusaka Yo Ko. Benar juga, Yo Ko menjadi kaget melihat Siao-liong-li diserang. Pada saat itulah In Kik-si membentak:

“Lepaskan pedang!” Sekuatnya dia membetot rayungnya untuk merampas pedang lawan.

Ternyata Yo Ko menuruti kehendaknya dan melepaskan pedang, cuma pedang panjang dan belati pendek sekalian didorong ke depan. Karena dorongan itu, jarak kedua orang bertambah jauh sehingga belati yang pendek itu tidak dapat mencapai tubuh Siao-liong-li. Rupanya karena kuatirnya Yo Ko telah mendorong pedangnya cukup keras hingga membuat In Kik-si ter-huyung ke belakang, pedang yang berat itu berikut ruyung yang masih melibat terus menumbuk ke tubuh In Kik-si.

Meski Yo Ko juga tiada maksud melukai jiwa In Kik-si, tetapi untuk menyelamatkan Siao-liong-li, tenaga dorongan yang dikeluarkan tidak kepalang hebatnya. In Kik-si merasa seperti ditolak oleh tenaga yang maha dahsyat, sekuatnya dia mengerahkan tenaga dan mendorong ke depan namun begitu tetap tergentak mundur lagi beberapa langkah baru kemudian dapat berdiri tegak. Mukanya berubah pucat, tampaknya tetap tersenyum, namun senyuman yang getir.

In Kik-si merasa isi perutnya jungkir balik, seluruh urat nadinya kacau balau, ia tidak berani sembarang bergerak lagi dan juga tak berani menggunakan tenaga. Yo Ko lalu melangkah maju dan mengambil kembali pedangnya. Ketika ia angkat pedang itu, di bawah sinar sang surya, pandangan semua orang menjadi silau, batu permata telah berhamburan berserakan. Rupanya ketika kedua orang sama-sama mengerahkan tenaga, batu permata yang tertata pada ruyung In Kik si tergetar hancur dan rontok.

Dibandingkan Nimo Singh dan Siau-siang-cu, pribadi In Kik-si lebih baik, namun karena keserakahannya, luka yang diderita malah lebih parah dari pada kedua kawannya. Yo Ko gemas karena In Kik-si hendak menikam Siao-liong-li dengan belatinya, maka dia tak pedulikan luka saudagar Persi yang cukup berat itu, segera ia berseru:

“Kim-lun Hoat-ong, utang-piutang kita perlu diselesaikan sekarang atau ditunda lain hari?”

Kim-lun Hoat-ong sangat licik. Dilihatnya Yo Ko berturut-turut mengalahkan Nimo Singh, Siau-siang-cu dan In Kik-si yang semuanya hanya berlangsung dalam sekali dua gebrak saja, betapa tinggi ilmu silat anak muda itu sungguh sukar diukur lagi. Kalau sekarang dia menempurnya, meski tidak sampai kalah seperti tiga kawannya, tapi untuk menang rasanya juga tidak gampang. Namun begitu berada di depan orang sebanyak ini, kalau dirinya kena digertak begitu saja lantas pergi, betapa pun dia ingin menjaga harga diri. Dia pikir: “Bocah ini sudah buntung sebelah lengannya, meski pun tangan kirinya juga lihay, bagian kanan yang buntung pasti lemah, jika kuserang saja bagian kanan. dia tentu juga menguatirkan keadaan Siao-liong-li, kalau berlangsung agak lama, tentu pikirannya akan kacau.”

Setelah mengambil keputusan, dia lantas menyiapkan kelima rodanya. Dia tahu pertarungan sekali ini sebenarnya mengenai mati-hidup dan dipuji atau terhina selamanya, sedikit pun tidak boleh gegabah. Segera ia melangkah maju, dengan tertawa ia berkata:

“Saudara Yo, kuucapkan selamat kepadamu atas penemuan istimewa yang kau dapatkan ini sehingga kau memiliki pedang sakti yang tiada tanding.”

Siao-liong-li menggelendot dalam rangkulan Yo Ko, samar-samar ia melihat Kim-lun Hoat-ong maju dengan rodanya, dia pikir tenaga Yo-Ko seorang pasti tidak dapat menandingi paderi itu, dengan suara perlahan ia berkata:

“Ko-ji, berikanlah pedang padaku, mari kita binasakan dia dengan Giok-li-kiam-hoat kita.”

Yo Ko menjadi terharu, jawabnya: “Jangan kuatir Kokoh, aku sendiri mampu melayani dia.”

Siao-liong-li cepat bergeser sedikit ke kanan agar dapat mengaling lebih banyak di depan Yo Ko. Sungguh terharu dan terima kasih Yo Ko, serunya:

“Kokoh, sekarang kita menempur kawanan iblis ini. andaikan mati pun kita tak akan menyesal.” Segera pedangnya mengacung ke depan.

Hoat-ong tidak berani menghadapi dari depan, cepat ia melompat mundur, menyusul terdengar suara mendengung, roda timahnya telah menyambar. Pada waktu Yo Ko angkat pedangnya menebas, roda itu terus memutar ke belakangnya lalu terbang kembali ke arah Hoat-ong sehingga tebasan Yo Ko mengenai tempat kosong. Setelah itu suara mendengung bergemuruh dengan gemerdapnya sinar perak dan cahaya emas. Lima buah roda Kim-lun Hoat-ong dihamburkan sekaligus dari jurusan yang ber-beda.

Kuatir menambah parah luka Siao-liong-li, Yo Ko tidak berani banyak bergerak, dia terus berdiri saja di tempatnya. Ternyata hamburan kelima roda Kim-lun Hoat-ong Cuma serangan percobaan saja, setelah roda itu berputar sekeliling, lalu terbang kembali lagi ke tangan Hoat-ong. Melihat Yo Ko tak mau bergeser dari tempatnya, tahulah Hoat-ong akan jalan pikiran anak muda itu. Dia menjadi girang dan yakin dirinya pasti akan berada pada pihak yang lebih menguntungkan kalau saja menyerang dari jauh dan terus berpisah tempat, dengan cara ini pun dirinya takkan kalah.

Sesuai kedudukannya, Kim-lun Hoat-ong sebenarnya tidak layak menempur Yo Ko yang cacat badan serta harus melindungi seorang yang terluka parah. Tapi Hoat-ong juga tahu kesempatan baik sekarang ini sulit dicari lagi di kemudian hari. Jika saja luka Siao-liong-li sudah sembuh, dengan gabungan kedua muda-mudi itu jelas dirinya bukan tandingan. Juga andaikan Siao-liong-li tewas oleh lukanya, setelah Yo Ko tidak memiliki tanggungan lagi, dirinya juga bukan tandingan anak muda itu. Karena itulah ia bertekad membinasakan kedua muda-mudi itu sekarang, mumpung ada kesempatan bagus. Bahwa cara bertempur sekarang ini pantas dan adil atau tidak bukan soal baginya.

Keadaan demikian juga cukup dipahami semua orang, mereka pun merasa Kim-lun Hoat-ong kurang terhormat menempur Yo Ko sekarang. Segera si dogol Be Kong-co berteriak:

“Hai, Hwesio gede, kau terhitung ksatria atau bukan? Kau tahu malu tidak?”

Akan tetapi Hoat-ong berlagak pilon saja, kelima rodanya tetap beterbangan pulang pergi dan kian kemari mengitari Yo Ko berdua, begitu roda-roda itu ditangkap kembali segera disambitkan lagi, kadang tinggi, mendadak bisa rendah, lain saat lurus ke depan, tetapi tahu-tahu membelok lagi ke samping, suara yang ditimbulkan juga berbeda, ada yang mendengung keras, ada yang mendenging nyaring.

Sekonyong-konyong terdengar Be Kong-co menjerit kaget. Kiranya sebuah roda tiba-tiba menyambar dari samping terus membelok menyerempet kepalanya hingga sebagian kulit kepalanya terkelupas berikut secomot rambutnya dan berdarah jatuh ke tanah. Roda itu cukup besar dan berat, tetapi ketika mengupas kulit kepalanya seakan-akan sebuah pisau cukur yang tipis saja. Yang hebat adalah serempetan itu demikian tepatnya hingga tiba pas mengupas kulit berikut rambut saja, kalau lebih tinggi sedikit tentu takkan mengupas kulit kepala, sebaliknya kalau kerendahan sedikit tentu jiwa Be Kong-co melayang. Semua orang melongo ngeri melihat kehebatan roda Kim-lun Hoat-ong.

Yo Ko menguatirkan keadaan Siao-liong-li. Makin lama di situ berarti berkurang pula kesempatan menyembuhkannya. Segera kaki kirinya melangkah maju, tubuh Siao-liong-li dibawanya maju sedikit, menyusul kaki kanan melangkah.

“Awas!” tiba-tiba Kim-lun Hoat-ong berseru, tahu-tahu kelima rodanya bergabung menjadi satu dan terbagi menjadi dua baris terus menyambar dari depan kepada Yo Ko berdua.

Namun Yo Ko juga mengerahkan tenaga pada tangan kirinya sehingga ujung pedangnya sedikit bergetar.

“Trang! Trang! Trang!”

Ketiga roda emas, tembaga dan besi kena dicungkit ke samping, menyusul pedangnya terus menghantam ke bawah. Pandangan semua orang terasa silau, menyusul debu pasir mengepul, tahu-tahu roda perak dan roda timah tertebas pecah menjadi dua oleh pedang Yo Ko dan jatuh ke tanah. Pada saat itu pula terdengar Hoat-ong membentak sambil menubruk maju, tangan kirinya memotong miring ke tepi roda tembaga, ada pun roda emas dan besi terus ditangkapnya, menyusul dihantamkan ke kepala Yo Ko.

Yo Ko tidak menangkis, sebaliknya pedang pusakanya menusuk lurus ke dada musuh, Pedang lebih panjang dari pada roda, sebelum roda lawan sempat menghantam kepala Yo Ko, ujung pedang anak muda itu sudah mengancam dan cuma beberapa senti saja di depan dada Hoat-ong. Akan tetapi maju mundurnya Hoat-ong sungguh cepat luar biasa, tidak kelihatan bergerak tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat beberapa meter ke samping. Yo Ko juga bergerak dengan cepat, segera ia menarik pedangnya ke belakang.

“Trangg...!”

Roda tembaga kembali menyambar dari belakang ditebasnya menjadi dua, bahkan sebelum kedua potong roda itu jatuh, pedangnya menyabet dari samping sehingga kedua potong roda tembaga tertebas lagi menjadi empat. Walau pun pedang itu tumpul, tapi digunakan dengan tenaga dalam yang kuat, ternyata tajamnya tidak alang kepalang. Hanya sekejap saja tiga roda Kim-lun Hoat-ong telah dihancurkan, tapi paderi Tibet ini benar-benar tangkas luar biasa, makin kalah semakin bersemangat, ia putar roda emas dan besi kemudian menyerang lagi lebih kencang.

Namun Yo Ko bertahan dengan tenang-tenang saja, betapa Hoat-ong mengitarinya dan menyerang dari arah mana pun tetap tak dapat mendekatinya. Setelah berpuluh jurus lagi, mendadak kedua roda Hoat-ong saling bentur, menyusul terus ditolak ke depan, dihantamkan kepada tubuh Siao-liong-li. Cepat pedang Yo Ko menusuk ke depan.

“Crengg...!”

Dengan tepat pedang itu menahan tepi roda emas, tenaga dalam kedua orang sama-sama dikerahkan pada senjata masing-masing hingga keduanya sama tergetar, seketika kedua orang hanya berdiri saja dan saling bertahan. Yo Ko merasa tenaga lawan terus menerjang tiba secara bergelombang dan tidak putus-putus, makin lama semakin kuat. Diam-diam ia terkejut, tidak disangkanya tenaga dalam lawan ternyata sehebat ini. Meski sebelum ini mereka pernah bertarung beberapa kali, tapi baru sekali ini mereka mengadu Iwekang.

Karena sekarang mereka mengadu tenaga dalam, kehebatan pedang tumpul Yo Ko sukar dipergunakan. Sebaliknya sudah berpuluh tahun Kim-lun Hoat-ong menggembleng diri, tentu saja dia lebih ulet dari pada Yo Ko, apa bila berlangsung lama tentu akhirnya Yo Ko yang kewalahan.

Yo Ko pikir tiada gunanya main ngotot begini. Akan kupancing dia mendekat, lalu kukebut mukanya dengan lengan baju kanan secara mendadak. Karena pikiran ini, perlahan Yo Ko menarik pedangnya ke belakang. Jarak kedua orang tadinya hampir dua meter, lambat laun mengkeret menjadi satu setengah meter, lalu satu meter dan semakin dekat.

PERNIKAHAN DUA MURID MURTAD

Kedua murid Hoat-ong, yaitu Darba dan Hotu, sejak tadi mengawal di samping sang guru. Mereka menjadi girang sekali melihat gurunya berada di atas angin, tapi mereka pun prihatin melihat sang guru mengadu Iwekang dengan Yo Ko. Maklumlah, mengadu tenaga dalam secara begitu tidak mungkin main licik atau bermaksud menghindar, kalau meleng bahkan jiwa bisa melayang.

Darba berhati jujur dan berpikir sederhana, yang dia perhatikan hanya keselamatan sang guru, maka tanpa terasa ia ikut melangkah maju melihat gurunya semakin mepet dengan lawannya. Sedangkan Hotu juga ikut melangkah maju dua-tiga tindak, tetapi yang menjadi tujuannya adalah mencari kesempatan menyerang Yo Ko. Dia main kipas-kipas seperti orang mencari angin, tapi kalau lawan meleng sedikit saja segera senjata rahasia pada kipasnya akan dihamburkan.

Akan tetapi di sebelah sana Khu Ju-ki dan Ong Ju-it tidak tinggal diam, mereka telah berpengalaman. Melihat gelagatnya segera mereka menduga Hotu dan Darba bermaksud ikut menyerang membantu sang guru. Mereka saling pandang sekejap dan berpikir: “Biar pun Yo Ko memusuhi Coan-cin-kau, tetapi seorang laki-laki sejati harus bertindak terang-terangan, baik kalah atau menang harus ditentukan menurut kepandaian sejati, mana boleh kaum durjana berbuat sesukanya di atas Cong-lam-san!”

Begitulah mereka lantas melangkah maju dengan pedang terhunus sambil menatap tajam mengawasi gerak-gerik Hotu. Meski pun sudah ubanan semua, namun wajah kedua Tosu tokoh Coan-cin-kau ini masih merah segar, sorot mata mereka yang tajam membuat Hotu keder dan tidak berani sembarangan bergerak.

Sementara itu tangan Yo Ko sudah semakin mengkeret, sekarang jarak Hoat-ong dengan dia kurang dari satu meter. Dia pikir kalau Hwesio tua mendesak maju lagi sedikit, segera akan kusabet dia dengan lengan baju kanan, andai kata tidak dapat membinasakannya, sedikitnya membikin dia kepala pusing dan mata berkunang-kunang. Hoat-ong terkesiap juga ketika melihat bahu kanan Yo Ko bergerak sedikit. Sebagai orang yang maha cerdik segera ia tahu tujuan si anak muda, pikirnya: “Kebasan lengan bajumu memang hebat, tapi biarlah kutahan disabet oleh lengan bajumu, ketika itu tenaga tangan kirimu tentu akan berkurang, jika aku menyerang sepenuh tenaga secara mendadak tentu kau pun akan terluka parah.”

Selama menggelendot di tubuh Yo Ko, keadaan Siao-liong-li semakin lemah dia hampir tak sadarkan diri. Ketika anak muda itu mengerahkan tenaga dalam hingga jalan darahnya bertambah cepat dan suhu badannya semakin panas, karena rasa panas badan anak muda itu semakin bertambah, Siao-liong-li lantas membuka mata. Dilihatnya dahi Yo Ko ada butiran keringat, ia mengusapnya dengan lengan baju.

Ketika melihat anak muda itu menatap tajam ke depan dengan sikap prihatin ia pun lantas mengikuti arah yang dipandang itu, tapi ia menjadi kaget, dilihatnya sepasang mata Kim-lun Hoat-ong-melotot seperti gundu dengan sorot mata yang buas, jaraknya sangat dekat di depannya. Dengan rada takut Siao-liong-li pejamkan lagi matanya. Pada waktu membuka mata lagi, dilihatnya wajah Hoat-ong dengan mata melotot itu bertambah dekat lagi. Akhirnya ia mendongkol. Ia menggelendot dalam pelukan kekasih, justru orang melototinya secara menjemukan!

Tak terpikir olehnya bahwa saat itu Hoat-ong sedang menempur Yo Ko, ia hanya anggap Hwesio itu adalah musuh dan juga tidak ingin Hwesio itu mengganggu kebahagiaannya di samping sang kekasih, maka ia lantas mengeluarkan sebuah jarum tawon putih, perlahan-lahan ia mencolokkan jarum itu ke mata kiri Hoat-ong. Jangankan jarum itu berbisa, meski hanya jarum biasa, jika bola mata tertusuk pasti buta seketika. Hanya saja tujuan Siao-liong-li cuma hendak menghalau pandangan mata musuh yang menjemukan itu, pula dia terluka parah, maka waktu menjulurkan jarumnya itu menjadi tak bertenaga dan maju dengan sangat perlahan.

Namun saat itu Hoat-ong sedang mengadu tenaga dalam dengan Yo Ko, sedikit bergeser saja pasti akan celaka. Maka ketika jarum Siao-liong-li menusuk dengan perlahan, sama sekali ia tidak dapat mengelak atau melawannya. Tampaklah jarum sudah semakin mendekat dan semakin mendekat, dari belasan senti menjadi beberapa senti di depan matanya dan kini tinggal satu dua senti saja. Tiba-tiba Hoat-ong berteriak keras, kedua rodanya didorong ke depan, ia sendiri lantas berjumpalitan ke belakang, namun begitu tenaga Yo Ko yang terkumpul pada pedangnya sulit dielakkan seluruhnya, maka baru saja Hoat-ong dapat berdiri, tubuhnya tergeliat dan akhirnya jatuh terduduk.

“Suhu!” teriak Darba dan Hotu berbareng, mereka berdua menubruk maju hendak memayang bangun sang guru.

Sementara itu Yo Ko ayunkan pedangnya hingga roda emas dan besi lawan terbelah menjadi dua, dia terus memburu maju, pedangnya memotong ke tubuh Kim-lun Hoat-ong yang terduduk itu. Hoat-ong belum mampu menghimpun kembali tenaganya, dia terduduk dengan lunglai dan tidak sanggup melawan sedikit pun. Cepat Darba angkat gadanya dan Hotu juga angkat kipas bajanya ke atas untuk menahan bacokan pedang Yo Ko.

Namun tenaga bacokan Yo Ko itu sangat hebat, apa lagi bobot pedangnya memang juga berat, seketika Darba dan Hotu merasa kakinya lemas dan tidak tahan, serentak mereka bertekuk lutut. Meski begitu mereka tetap bertahan mati-matian demi menyelamatkan sang guru. Daya tekanan Yo Ko semakin kuat, Darba dan Hotu angkat senjata mereka dan bertahan sepenuh tenaga, tulang punggung mereka serasa mau patah, rasa tulang sekujur badan berbunyi berkeriukan. Mendadak Hotu berkata:

“Suheng, tahanlah sejenak, biar kutolong Suhu, habis itu segera kubantu kau lagi.”

Dengan gabungan tenaga kedua orang saja tidak mampu menahan, apa lagi cuma Darba sendirian, mana dia mampu menahan daya tekanan pedang Yo Ko. Tapi dia memang orang yang polos dan berbudi luhur, demi keselamatan sang guru dia rela mengorbankan segalanya. Segera dia mengiyakan ucapan Hotu dan sekuatnya mengangkat gada ke atas. Hotu dan Darba berbicara dalam bahasa Tibet sehingga Yo Ko tidak paham apa artinya, hanya tiba-tiba dirasakan tenaga gada lawan bertambah. Ketika dia hendak menekan ke bawah lebih kuat, saat itulah Hotu melompat mundur.

Ternyata Hotu adalah manusia licik dan licin. Mana dia bermaksud menyelamatkan sang guru, yang benar adalah ingin menyelamatkan diri sendiri. Begitu lolos segera dia berseru:

“Suheng, siaute akan pulang untuk berlatih lagi, sepuluh tahun lagi akan kucari bocah she Yo ini untuk membalas sakit hati Suhu dan kau!”

Habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang dan menghilang dalam sekejap saja. Merasa diakali Sute-nya, Darba menjadi murka sekali. Dia ingat Yo Ko adalah reinkarnasi (penjelmaan) Toa-suhengnya, ia heran kenapa orang berbuat begini terhadap guru sendiri. Segera dia berseru:

“Toa-suheng, harap kau ampuni jiwaku, nanti sesudah kuantar pulang Suhu dengan selamat, akan kucari Sute yang durhaka itu untuk kucincang hingga hancur lebur, setelah itu akan kuserahkan diriku dan terserah cara bagaimana Toa-suheng akan berbuat padaku, baik mau dibunuh atau dibakar, sedikit pun siaute takkan melawan.”

Dengan sendirinya Yo Ko tidak paham apa arti ocehan Darba itu, tapi dilihatnya Hotu lari meninggalkan Suhu dan Suheng yang sedang terancam bahaya maut, betapa pun ia juga bersimpatik pada Darba yang setia dan jujur. Waktu ia menoleh sedikit, dilihatnya Siao-liong-li memandang padanya dengan penuh rasa kasih mesra. Alangkah bahagia perasaan Yo Ko, seketika rasa ingin membunuh menuntut balas sakit hati terlempar ke awing-awang, terasa segala dendam dan benci di dunia ini bukan apa-apa lagi, segera ia angkat pedangnya dan berkata kepada Darba:

“Baiklah, kau pergi saja!”

Darba segera bangkit, tetapi lantaran terlalu banyak keluar tenaga, seluruh tubuh menjadi lemas, dia tidak kuat memegangi gadanya lagi dan jatuh ke tanah. Cepat dia menyembah beberapa kali pada Yo Ko sebagai tanda terima kasihnya, sementara itu Kim-lun Hoat-ong masih duduk di tanah tak bisa berkutik. Tanpa bicara lagi Darba memanggul sang guru dan dibawa pergi tanpa menjemput kembali gadanya.

Menyaksikan Yo Ko hanya dengan satu tangan saja sanggup mengalahkan semua tokoh terkemuka pihak MongoI, para Busu Mongol menjadi sangat ketakutan. Serentak mereka berteriak, kemudian be-ramai membawa Siau-siang-cu, In Kik-si dan Nimo Singh yang terluka parah, hanya sekejap saja mereka pun kabur. Hanya Be Kong-co saja yang tetap berdiri di situ. Dia mendekati Yo Ko dan mengangkat ibu jarinya, katanya:

“Adik cilik, kau sungguh hebat.”

“Be-toako,” jawab Yo Ko. “Kawan-kawanmu adalah manusia-manusia busuk, kau pasti rugi kalau berkumpul dengan mereka. Kukira lebih baik kau mohon diri pada Kubilai dan pulang saja ke kampung halamanmu.”

“Ucapanmu memang betul,” ujar Be Kong-co. Dia memandang sekejap pada Siao-liong-li yang tetap cantik motek itu meski dalam keadan terluka parah, lalu berkata: “Kapan kau akan menikah dengan nona ini, bagaimana jika aku tinggal di sini untuk meramaikan pestamu?”

Yo Ko tersenyum getir sambil menggeleng kepala, lalu dia memandang sekeliling, melihat beberapa ratus Tosu yang masih merubung di sekitarnya. Segera Be Kong-co berkata:

“Aha, betul, masih ada kawanan Tosu busuk ini. Bagaimana kalau kubantu kau membereskan mereka?”

Sudah tentu Yo Ko tidak ingin orang lain ikut menyerempet bahaya baginya, maka segera ia berseru:

“Kau lekas pergi saja, aku sendiri dapat melayani mereka.”

Be Kong-co melengak, tetapi cepat ia mengerti, serunya sambil bertepuk tangan: “Benar, benar! Bahkan Hwesho gede, mayat hidup dan yang lain-lain bukan tandinganmu, masa kawanan Tosu busuk ini mampu melawan kau? Ehh, adik cilik dan nona cantik, aku Be Kong-co mohon diri!”

Habis itu dia terus melangkah pergi sambil menyeret toyanya hingga menimbulkan bunyi gemerantang ketika toya tembaganya menggesek batu di sepanjang jalan. Be Kong-co tidak tahu bahwa ada ‘perang dingin’ antara Kim-lun Hoat-ong dan kawannya sendiri. Waktu Yo Ko menempur mereka satu per satu, mereka masing-masing sengaja menonton belaka dengan harapan akan dapat menarik keuntungan dari hasil pertarungan itu. Coba kalau mereka mengerubut maju sekaligus. Biar pun kepandaian Yo Ko setinggi langit juga sukar melayani keroyokan lawan sebanyak itu.

Apa lagi sekarang kalau harus menghadapi pihak Coan-cin-kau. Kawanan Tosu itu sudah terlatih dan penuh disiplin, kalau Khu Ju-ki sudah memberi perintah, daya tempur mereka bahkan jauh lebih hebat dari pada Kim-lun Hoat-ong dan begundalnya. Begitulah dengan pedang menahan tanah, Yo Ko memandang kawanan Tosu itu dengan dingin.

Dengan suara lantang Khu Ju-ki kemudian berkata: “Yo Ko, kepandaianmu sudah terlatih sedemikian tinggi dan sudah melebihi kaum kita. Namun begitu, menghadapi Coan-cin-kau yang berjumlah beberapa ratus orang ini, apakah kau kira mampu meloloskan diri?”

Sejauh Yo Ko memandang yang tampak memang gemerdepnya pedang belaka. Setiap tujuh orang Tosu terbentuk menjadi satu regu berderet-deret susun menyusun sehingga dirinya dan Siao-liong-li terkepung di tengah. Biar pun setiap barisan pedang itu terbentuk dari tujuh Tosu yang berkepandaian biasa saja, tetapi daya tempurnya cukup menandingi seorang tokoh kelas satu, dan kini di sekitar Yo Ko sedikitnya ada beberapa puluh barisan pedang. Sudah tentu anak muda itu pantang menyerah, dia melangkah maju. Serentak tujuh Tosu menghadangnya dengan ujung pedang siap menusuk. Waktu Yo Ko menusukkan pedangnya, seketika ketujuh Tosu itu menangkisnya.

Terdengarlah suara gemerantang ramai, ketujuh pedang patah semua, yang terpegang di tangan para Tosu tertinggal garan pedang saja, keruan para Tosu itu kaget dan cepat meloncat ke samping. Cepat Ong Ju-it memberi komando dan segera barisan pedang lainnya menghadang ke depan Yo Ko. Namun sekali pedang anak muda itu menyabet, biar pun kawanan Tosu itu juga bergerak cepat menggeser tempat, tidak urung dua Tosu menjerit, seorang terluka pinggang dan yang lain tertabas pahanya dan keduanya roboh terguling.

Pada saat itu pula Khu Ju-ki telah memberi perintah, empat belas pedang sekaligus mengancam bagian belakang Yo Ko dan Siao-liong-li. Apa bila Yo Ko putar pedangnya ke belakang, andaikan sekaligus dapat mengguncang pergi senjata itu, tapi kalau salah satu pedang itu tertinggal tentu Siao-liong-li akan terluka pula. Karena sedikit ragu-ragu itulah segera tujuh pedang lain kembali mengancam dari samping. Dalam keadaan begini sekali pun Yo Ko berjuang mati-matian sulit untuk menyelamatkan Siao-liong-li. Untunglah Khu Ju-ki lantas berseru memberi perintah sehingga ke-21 pedang yang germerdep itu cuma mengancam di depan tubuh Yo Ko berdua.

“Nona Liong dan Yo Ko, guru kita dahulu mempunyai hubungan yang erat, jika Coan-cin-kau kami sekarang mengalahkan kalian karena jumlah orang banyak, menang pun takkan gemilang rasanya, apa lagi nona Liong dalam keadaan terluka parah,” demikian kata Khu Ju-ki. “Sejak dahulu orang bilang, permusuhan lebih baik dibereskan dari pada diributkan. Bagaimana kalau sekarang juga perselisihan kita anggap selesai tanpa mempersoalkan siapa benar dan siapa salah?”

Sebenarnya antara Yo Ko dan Coan-cin-kau juga tiada sesuatu dendam yang mendalam. Dulu Hek Tay-thong pernah salah mencelakai Sun-popoh, untuk itu Hek Tay-thong sangat menyesal dan rela menebus kesalahan itu dengan jiwanya, jadi persolan itu sudah beres. Sekarang kedatangannya juga untuk mencari Siao-liong-li saja dan tiada maksud hendak memusuhi Coan-cin-kau, karena itu apa yang dikatakan Khu Ju-ki dapat diterimanya. Dia pun berpikir tiada artinya bertempur dengan orang Coan-cin-kau, yang paling penting harus menyelamatkan jiwa sang Kokoh lebih dulu.

Belum ia menjawab, tiba-tiba saja sorot mata Siao-liong-li perlahan memandang sekeliling kawanan Tosu itu, lalu bertanya dengan suara perlahan:

“Mana In Ci-peng?”

Sesudah punggungnya terhantam roda serta dadanya tertusuk pedang, luka In Ci-peng cukup parah, cuma belum mati, ia menggeletak di samping sana dalam keadaan kempas-kempis. Ketika dengan samar-samar dia mendengar namanya disebut oleh suara yang lembut seketika hatinya tergetar hebat, entah dari mana datangnya tenaga, serentak dia bangkit dan menerobos ke tengah barisan pedang sambil berseru:

“Aku berada di sini, nona Liong!”

Sejenak Siao-liong-li menatapnya, tampak jubah Ci-peng penuh berlumuran darah dan bermuka pucat. Putus asa dan remuk redam hati Siao-liong-li. Katanya dengan gemetar kepada Yo Ko:

“Ko-ji, kesucianku sudah dinodai orang ini, biar pun sembuh juga aku tidak dapat hidup bersamamu. Namun dia menyelamatkan aku dengan mati-matian, maka kau tak perlu... tak perlu lagi membuat susah dia. Pendek kata, nasibku sendiri yang buruk.”

Dasar hati Siao-liong-li memang suci bersih, dia tidak pantang omong apa pun di hadapan orang, meski di depan be-ratus orang tetap diucapkan pengalamannya yang pahit itu. Setelah merandek sejenak, ia tersenyum manis dan berkata pula pada Yo Ko dengan lirih:

“Kini, mati di sisimu, hatiku... hatiku terasa sangat bahagia.”

Sampai di sini tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, disambung pula: “Puteri Kwe-tayhiap itu sudah mengutungi lenganmu, dia pasti tidak dapat meladeni kau dengan baik, lalu siapa yang akan menjaga kau kelak?” Teringat pada persoalan ini, ia menjadi sedih, dengan suara lemah ia berkata lagi: “Ko-ji, selanjutnya kau akan hidup sendirian, tiada... tiada seorang pun menemani kau...”

“Jangan kuatir, kau tak akan meninggal,” kata Yo Ko dengan suara halus, “Kita pasti akan berada bersama untuk selamanya.”

Tadi ketika mendengar Siao-liong-li berpesan kepada Yo Ko agar jangan membikin susah padanya, semua dianggap nasibnya sendiri yang buruk, ucapan Siao-liong-li membikin perasaan In Ci-peng sangat terharu, hatinya seperti disayat-sayat, tidak kepalang menyesal atas perbuatannya yang salah itu hingga mengakibatkan si nona menderita batin selama hidup, sungguh mati pun sukar menebus dosanya. Segera ia berseru kepada Coan-cin-ngo-cu:

“Suhu dan para Susiok, semuanya ini adalah karena perbuatanku. Dosaku teramat besar, hendaklah kalian jangan sekali-kali membikin susah nona Liong dan Yo-siauhiap.” Habis berkata dia melompat maju dan menubruk ke ujung barisan pedang para Tosu, seketika tubuhnya tertembus oleh beberapa pedang dan binasa.

Kejadian ini sama sekali di luar dugaan semua orang, keruan para Tosu berteriak kaget, Tapi mereka menjadi paham setelah mendengar ucapan Siao-Hong-li serta pengakuan In Ci-peng tadi, jelas In Ci-peng sudah melanggar kesucian Siao-liong-li dengan cara yang rendah. Karena kesalahan ternyata terletak pada pihaknya sendiri, Coan-cin-ngo-cu menjadi malu, namun serba susah juga untuk menyatakan penyesalan mereka dan minta maaf.

Setelah memandang sekejap kepada para Sute-nya, segera Khu Ju-ki memberi perintah agar barisan pedang membubarkan diri. Seketika terdengar suara gemerincing nyaring pedang dimasukkan ke sarungnya serta terluang sebuah jalan bagi kepergian Siao-liong-li dengan Yo Ko.

Yo Ko masih merangkul pinggang Siao-liong-li dengan lengan bajunya yang tak berlengan. Tiba-tiba teringat olehnya bahwa jiwa sang Kokoh tinggal beberapa saat saja, apakah dapat tertolong sungguh sukar dibayangkan. Dahulu dia pernah tanya padaku apakah aku mau mengambil dia sebagai isteri. Waktu itu aku bingung dan tidak menjawabnya sehingga kemudian timbul macam-macam kejadian yang merisaukan. Kini keadaan sudah mendesak, waktu tidak banyak lagi, harus kubikin Kokoh merasa senang dan puas. Maka dengan suara keras dia lantas bersuara:

“Kokoh, persetan tentang guru dan murid atau soal kebersihan nama segala. Asal kita berdua saling mencintai, masa di dunia ini ada soal nasib buruk segala? Bagaimana orang lain akan berpikir dan berbicara mengenai diri kita, peduli amat, biarkan mereka pusing kepala sendiri.”

Senang sekali hati Siao-liong-li, dia pandangi anak muda itu dan bertanya: “Ucapanmu ini apakah sungguh-sungguh timbul dari lubuk hatimu? Atau demi untuk menyenangkan aku lalu sengaja kau ucapkan kata-kata yang enak didengar ini?”

“Sudah tentu sungguh-sungguh,” jawab Yo Ko. “Tanganku buntung dan kau tambah kasih sayang padaku. Kau mengalami bencana, aku pun semakin kasih sayang padamu.”

“Benar sekali. Di dunia ini kecuali kita berdua sendiri memang tiada orang lain yang mau memperhatikan kita,” ujar Siao-liong-li dengan perlahan.

Beberapa ratus Tosu yang sudah lama tirakat dan jauh dari urusan kehidupan manusia menjadi serba runyam ketika tiba-tiba mendengar ucapan kedua muda mudi yang penuh kasih mesra itu, semuanya saling pandang dengan wajah merah jengah. Segera Sun Put-ji membentak:

“Lekas kalian pergi saja dari sini! Tiong-yang-kiong adalah tempat suci, tidak pantas kalian mengucapkan kata-kata tidak sopan di sini.”

Akan tetapi Yo Ko malah berseru: “Dulu Tiong-yang Cosu dan Lim-cosu sebenarnya adalah suatu pasangan yang setimpal, tapi entah sebab tata adat apa yang menyebabkan gagalnya perjodohan dan meninggalkan penyesalan selama hidup. Kokoh, justru kita menikah di hadapan pemujaan Tiong-yang Cosu untuk melampiaskan rasa dongkol Lim-cosu kita.”

Siao-liong-li tertawa manis, dia menghela napas dan menjawab: “Ko-ji, kau sungguh baik padaku.”

Mengenai hubungan cinta antara mendiang Ong Tiong-yang dengan Lim Tiau-eng, hal ini cukup diketahui oleh Coan-cin-ngo-cu. Maka hati mereka tergetar demi mendengar Yo Ko mengungkit urusan itu. Sun Put-ji lantas membentak lagi:

“Mendiang guru kami mendirikan Coan-cin-kau dengan kepintaran dan keyakinan yang penuh, jika kau berani sembarangan omong dan bertindak di sini, jangan menyesal jika pedangku tidak kenal ampun padamu!”

“Sret!” segera ia melolos pedangnya. Padahal kepandaian Sun Put-ji sendiri sejak dulu juga bukan tandingan Yo Ko, tetapi sekali bergerak, tentu be-ratus Tosu itu takkan tinggal diam.

Yo Ko hanya melirik sekejap saja padanya dan tidak menggubris, ia lalu membatin: “Betapa pun aku harus segera menikah dengan Kokoh. Kalau tidak dilaksanakan di sini, jangan-jangan setelah meninggalkan Tiong-yang-kiong Kokoh lantas tak tertolong lagi, tentu Kokoh akan meninggal dengan menyesal.”

Biasanya Yo Ko memang suka bertindak menuruti kehendaknya. Sekali dia menyatakan hendak menikah di hadapan pemujaan Tiong-yang Cosu, maka apa pun yang akan terjadi pasti akan dilaksanakannya. Dilihatnya sebagian besar kawanan Tosu itu sudah menghunus pedang dan siap tempur. Dia lantas berkata:

“Sun-totiang, jadi kau sengaja mengusir kami?”

Dengan suara ketus Sun Put-ji membentak: “Pergi, lekas pergi! Selanjutnya Coan-cin-kau putus hubungan dengan Ko-bong-pay, paling baik kalau kita tidak bertemu lagi!”

Tadinya Yo Ko berdiri menghadapi Tiong-yang-kiong. Ia menghela napas panjang setelah mendengar ucapan Sun Put-ji yang tegas itu, kemudian membalik tubuh dan melangkah ke kuburan kuno. Baru dua langkah ia berjalan, berbareng ia mengembalikan pedang pada pinggangnya, lengan baju kanan mengebas dan memayang Siao-liong-li. Tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak. Begitu keras suara tawanya hingga mengejutkan semua orang. Baru selesai tertawa, mendadak dia melepaskan Siao-Iiong-Ii dan melompat mundur, tahu-tahu Hiat-to di bagian pergelangan tangan kanan Sun Put-ji kena dipegangnya.

Ketika Siao-liong-li kehilangan sanggahan dan mulai sempoyongan, pada saat itu juga Yo Ko sudah melompat tiba dengan membawa Sun Put-ji. Gerakan melompat mundur dan maju sungguh cepat dan gesit luar biasa, belum lagi para Tosu menyadari apa yang terjadi, Sun Put-ji sudah berada dalam cengkeraman Yo Ko dan tak bisa berkutik.

Sebenarnya tokoh berpengalaman semacam Khu Ju-ki, Ong Ju-it, Sun Put-ji dan lain-lain sudah waspada sebelumnya kalau-kalau mendadak Yo Ko melancarkan serangan dan menawan salah seorang kawannya untuk dijadikan sandera. Mereka menyaksikan Yo Ko menyimpan kembali senjatanya dan melangkah pergi, tangan satunya digunakan untuk memayang Siao-liong-li, siapa tahu anak muda itu sengaja mengacaukan perhatian lawan dengan tawanya, lalu mendadak melakukan sergapan dan berhasil menawan Sun Put-ji.

Serentak para Tosu berteriak-teriak dan merubung maju dengan pedang terhunus, akan tetapi mereka mati kutu dan tidak berani sembarangan bertindak karena Sun Put-ji berada dalam genggaman musuh.

Dengan suara perlahan Yo Ko berkata: “Maaf, Sun-totiang, terpaksa kulakukan begini dan membikin susah kau.”

Yo Ko menggandeng tangan Sun Put-ji dan bersama Siao-liong-li mereka lantas melangkah perlahan ke pendopo Tiong-yang-kiong. Para Tosu mengikuti dari belakang, semuanya gusar dan kuatir, tapi tidak ada yang berani bertindak. Sesudah memasuki pintu halaman dan menyusuri serambi samping, akhirnya Yo Ko dan Siao-liong-li tiba di ruangan induk Tiong-yang-kiong. Dengan Sun Put-ji sebagai sandera, Yo Ko menoleh dan berseru kepada para Tosu:

“Hendaknya kalian menunggu di luar ruangan, siapa pun dilarang masuk. Kami berdua sudah tidak memikirkan jiwa lagi, jika sampai bergebrak, biarlah kami gugur bersama Sun-totiang sekaligus.”

“Bagaimana, Khu-suheng?” tanya Ong Ju-it perlahan.

“Tenang saja dan bertindaklah menurut keadaan,” jawab Khu Ju-ki. “Tampaknya dia tidak bermaksud jahat pada Sun-sumoay.”

Coan-cin-ngo-cu selamanya malang melintang di dunia Kangouw, nama mereka dihormati kawan dan disegani lawan, tak tersangka sekarang mati kutu menghadapi seorang anak muda yang masih hijau, sungguh mereka mendongkol tetapi juga geli sendiri.

Yo Ko lantas mengambil sebuah kasuran bundar sebagai tempat duduk Sun Put-ji sambil menotok Hiat-to bagian punggungnya agar tidak dapat bergerak. Para Tosu ternyata tak berani masuk sebagaimana telah diperingatkannya tadi. Yo Ko memayang Siao-liong-li ke depan lukisan Ong Tiong-yang. Kini mereka berdiri berjajar.

Karena waktu kecilnya pernah belajar di Tiong-yang-kiong, bagi Yo Ko lukisan Ong Tiong-yang itu sudah tidak asing lagi. Sekarang dia coba memandang beberapa kali lukisan itu, terlihat Tojin yang terlukis itu menghunus pedang dengan gagahnya, usianya antara 30-an tahun, di pinggir lukisan ada tiga huruf: ‘Hoat-su-jin’ (orang hidup mati, artinya orang yang hidup ini tiada ubahnya seperti orang sudah mati). Lukisan itu cuma terdiri dari beberapa goresan saja, tapi orang yang terlukis itu tampak gagah perkasa, jelas goresan itu berasal dari tangan pelukis yang mahir.

Tiba-tiba saja Yo Ko teringat bahwa di kuburan kuno juga terdapat sebuah lukisan diri Ong Tiong-yang. Meski pun tokoh yang dilukiskan pada lukisan di Tiong-yang-kiong ini berdiri menghadap ke depan dan lukisan di kuburan itu bagian samping, akan tetapi gaya goresan pelukisnya jelas sama. Segera dia berkata:

“Kokoh, lukisan ini pun buah tangan Lim-cosu.”

Siao-liong-li mengangguk sambil tersenyum manis padanya, katanya dengan suara lirih:

“Kita menikah di depan lukisan Tiong-yang Cosu, sedangkan lukisan ini merupakan buah tangan Lim-cosu, sungguh sangat kebetulan dan baik sekali.”

Yo Ko lantas menggeser dua buah kasuran bundar dan dijajarkan di depan lukisan, lalu ia berseru:

“Tecu Yo Ko dan perempuan she Liong sekarang mengikat menjadi suami-isteri di hadapan Tiong-yang-cosu, beberapa ratus Totiang dari Coan-cin-kau yang hadir di sini adalah saksi semua.” Sembari berkata dia terus berlutut di atas sebuah kasuran. Ketika melihat Siao-liong-li masih berdiri tegak, segera ia berkata: “Kokoh, sekarang juga kita melangsungkan upacara nikah, hendaklah kau pun berlutut di sini!”

Siao-liong-li termenung diam, kedua matanya tampak merah dengan air mata berIinang. Sejenak barulah ia berkata:

“Ko-ji, tubuhku sudah tidak bersih lagi, pula ajalku telah dekat, buat apa kau... kau begini baik padaku?” Sampai di sini tak tertahankan lagi air matanya bercucuran laksana butiran mutiara.

Yo Ko lantas berdiri lagi dan mengusap air mata si nona, katanya sambil tertawa: “Kokoh, masakah kau masih belum memahami hatiku?” Siao-liong-li mengangkat kepalanya memandangi Yo Ko, terdengar anak muda itu berkata lagi: “Sungguh aku berharap kita berdua dapat hidup seratus tahun lagi agar aku sempat membalas budi kebaikanmu dahulu padaku. Seandainya tidak dapat, kalau Thian (Tuhan) cuma berkenan memberi hidup satu hari saja pada kita, maka bolehlah kita menjadi suami isteri satu hari, jika cuma diberi hidup satu jam, biarlah kita pun menjadi suami isteri satu jam.”

Tidak kepalang rasa haru Siao-liong-li melihat kesungguhan hati anak muda itu. Dengan sorot matanya yang penuh kasih mesra, wajahnya yang pedih per-lahan menampilkan senyuman manis. Air mata masih meleleh pada pipinya, namun jelas tak terkatakan rasa bahagianya, perlahan ia pun berlutut di atas kasuran itu. Yo Ko berlutut pula, keduanya menyembah lukisan itu, hati mereka bahagia, segala duka derita di masa lalu serta ajal yang sudah dekat sama sekali tidak berarti apa-apa bagi mereka. BegituIah mereka saling pandang dengan tersenyum.

Dengan suara perlahan Yo Ko pun berdoa: “Tecu Yo Ko dan Siao-liong-li saling mencintai dengan setulus hati, semoga selalu dilahirkan menjadi suami isteri, kekal dan abadi.”

Dengan suara perlahan Siao-liong-li juga mengikuti doa Yo Ko itu dengan khidmat. Sun Put-ji duduk di sebelah mereka. Meski tubuh tak bisa bergerak tapi dia dapat melihat dan mendengar, sikap dan ucapan kedua anak muda itu dapat diikutinya dengan jelas. Semakin melihat semakin dirasakannya tindak tanduk kedua orang muda itu sungguh suci murni, biar pun perbuatan mereka melanggar adat, namun semua itu timbul dari pikiran yang bersih, dari jiwa yang luhur.

“Sekarang kami sudah terikat menjadi suami-isteri, sekali pun harus mati tidak akan menyesal lagi,” demikian pikir Yo Ko.

Semula dia kuatir kawanan Tosu akan menyerbu ke dalam ruangan untuk merintangi perbuatan mereka, sekarang rasa kuatir itu telah lenyap semuanya. Dengan tertawa ia berkata:

“Kokoh, diriku adalah murid Coan-cin-pay yang murtad, hal ini sudah terkenal di dunia persilatan. Engkau sendiri ternyata juga seorang murid maha murtad.”

“Benar,” jawab Siao-liong-li. “Suhu melarang aku memikirkan cinta, melarangku menerima murid laki-laki, lebih-lebih dilarang menikah, tapi sebuah pun aku tidak mematuhinya, jadi penderitaan kita ini memang setimpal.”

“Biarlah, sekali murtad tetaplah murtad!” seru Yo Ko.

“Ong-cosu dan Lim-cosu jauh lebih perkasa, lebih ksatria dari pada kita, namun mereka justru tidak berani menikah. Kalau kedua Cosu itu mengetahui di alam baka, belum tentu beliau akan menyalahkan kita.”

Selagi Yo Ko menyatakan tekadnya itu dengan penuh semangat dan bangga, pada saat itulah se-konyong-konyong terdengar suara gemuruh di atap rumah disertai dengan berhamburnya genting pecah dan kayu patah, menyusul sebuah genta seberat beberapa ratus kati anjlok dari atas tepat di atas kepala Sun Put-ji.

Tergerak hati Yo Ko dan seketika dia pun paham duduknya perkara. Cepat dia melompat maju, tangan kiri pun sudah melolos Hian-tiat-pokiam, pedang tumpul yang berat.

LOLOS DARI TIONG-YANG-KIONG

Kiranya perbuatan Yo Ko dan Siao-liong-li yang melangsungkan upacara nikah di ruangan besar Tiong-yang-kiong menimbulkan rasa marah para Tosu Coan-cin-kau. Di antara Coan-cin-ngo-cu itu, Lau Ju-hian paling banyak tipu akalnya. Dia tahu kalau menyerbu ke dalam mungkin Sun Put-ji menjadi korban lebih dulu. Tiba-tiba ia mendapat akal. Ia bisik-bisik berunding dengan Ong Ju-it, Khu Ju ki dan Hek Tay-thong bertiga, setelah itu ia memberi pesan kepada anak muridnya agar mengambil genta raksasa yang beratnya ribuan kati di belakang istana. Khu Ju-ki berempat kemudian menggotong genta raksasa itu dan meloncat ke atas wuwungan, lalu mendadak genta itu dijatuhkannya ke bawah sehingga atap rumah berlubang.

Genta itu dijatuhkan tepat di atas tubuh Sun Put-ji. Asalkan Sun Put-ji tertutup di dalam genta dan Yo Ko tidak dapat mencelakainya, maka beramai-ramai kawanan Tosu itu akan dapat mengerubut dan menawan Yo Ko berdua. Akal itu sebenarnya sangat bagus, namun Lau Ju-hian tidak tahu bahwa kini ilmu pedang Yo Ko benar-benar sudah maha sakti, tenaga dalamnya juga maju banyak. Sekali pedang tumpul itu ditusukkan ke depan...

“Trang...!” tahu-tahu genta raksasa tergeser menceng sedikit ke samping dan jatuhnya tepat akan menindih tubuh Sun Put-ji.

Peristiwa ini dapat disaksikan dengan jelas oleh Lau Ju-hian berempat dari atas. Mereka menjerit kaget dan berduka, sama sekali mereka tidak mengira tenaga anak muda itu sedemikian hebatnya. Lau Ju-hian memejamkan kedua matanya supaya tidak menyaksikan nasib buruk Sun Put-ji yang akan tertimpa genta itu. Tak terduga segera terdengar Khu Ju-ki berseru:

“Terima kasih atas kemurahan hatimu!”

Waktu Lau Ju-hin membuka kembali matanya, dia menjadi heran, ternyata genta itu telah mengurung rapat Sun Put-ji di dalamnya, di samping genta tidak ada sesuatu tanda bekas tertindihnya Sun Put-ji, bahkan ujung jubahnya juga tidak kelihatan. Rupanya waktu Yo Ko melihat genta yang ditolak oleh pedangnya itu bakal menimpa Sun Put-ji dan pasti akan membuatnya binasa, tiba-tiba teringat olehnya bahwa baru saja menikah, maka tidaklah baik bila mencelakai jiwa orang, apa lagi To-koh tua itu juga tidak jahat, hanya wataknya saja yang rada aneh.

Karena pikiran itulah, secepat kilat ia lalu mengebaskan lengan bajunya untuk mendorong kasur yang diduduki Sun Put ji sehingga tepat tertutup rapat di dalam genta. Kini Khu Ju-ki berempat menjadi serba salah. Mereka merasa tidak pantas lagi memusuhi Yo Ko, namun anak muridnya tadi sudah diberi pesan kalau genta itu sudah dijatuhkan ke bawah, serentak mereka harus menyerbu ke dalam pendopo. Anak murid mereka tentu tidak dapat menyaksikan apa yang terjadi di bagian dalam, maka saat itu kawanan Tosu itu beramai-ramai mulai menyerbu.

Melihat suasana mulai gawat, cepat Yo Ko gantungkan pedang pada pinggangnya, ia rangkul Siao-liong-li terus dibawa lari ke ruangan belakang.

“Perhatian para anak murid, jangan sekali-kali mencelakai jiwa mereka berdua!” seru Khu Ju-ki dengan suara lantang.

Dalam pada itu para Tosu mengudak ke belakang sambil ber-teriak-teriak. Sebelumnya Lau Ju-hian juga sudah menyiapkan 21 murid pilihan di pekarangan belakang pendopo. Baru saja Yo Ko keluar, tampak sinar pedang gemerdapan, mereka telah dipapak oleh barisan pedang.

Tiba-tiba Yo Ko berpikir bahwa lebih baik menerjang keluar melalui lubang atap yang jebol oleh genta raksasa tadi. Meski di atas atap dijaga oleh keempat tokoh utama Coan-cin-pay, tampaknya mereka berempat tak akan melancarkan serangan maut padaku. Karena pikiran ini, segera ia berlari kembali ke ruangan pendopo. Sepasang tangan Siao-liong-li merangkul kencang di leher Yo Ko, katanya dengan suara lembut:

“Kita telah terikat suami-isteri, cita-cita hidup kita telah tercapai. Adalah baik kalau kita dapat menerjang keluar, andaikan tidak dapat juga tidak menjadi soal.”

“Benar,” kata Yo Ko, dan begitu kakinya bekerja...

“Blak! Bluk!” kontan dua Tosu yang menghadang didepaknya hingga terjungkal.

Sementara itu ruangan pendopo sudah penuh berjubel kawanan Tosu, oleh karena itu barisan pedang Coan-cin-pay itu sukar dikerahkan. Namun lengan kiri Yo Ko digunakan untuk memondong Siao-liong-li, hanya dengan kakinya saja dia dapat merobohkan musuh dan dengan sendirinya sukarlah baginya untuk lolos dari kepungan. Diam-diam ia menjadi gemas.

“Blangg...!” kembali seorang Tojin ditendangnya terjungkal dan menumbuk jatuh dua kawannya.

Tengah ribut-ribut sekonyong-konyong dari luar berlari masuk seorang tua berjenggot dan berambut ubanan semua, di belakang si kakek itu ikut gerombolan besar tawon madu, orang itu ternyata Ciu Pek-thong adanya. Pendopo Tiong-yang-kiong itu sedang kacau balau sehingga bertambah seorang Ciu Pek-thong tidak menjadi perhatian orang Coan-cin-kau.

Tetapi begitu tiba, segera kawanan tawon itu mencari sasaran untuk disengat, keruan keadaan tambah gaduh. Kawanan tawon madu itu bukan tawon biasa, tawon putih piaraan Siao-liong-li di kuburan kuno. Begitu tersengat tawon, seketika timbullah rasa sakit dan gatal yang tak tertahankan. Saking tidak tahan, sebagian Tosu ber-guling di lantai sambil berteriak-teriak, keruan suasana tambah kacau.

Kiranya Ciu Pek-thong teramat kagum dan tertarik ketika menyaksikan Siao-liong-li dapat mengundang dan memimpin gerombolan tawon di luar kota Siang-yang tempo hari. Di luar tahu Siao-liong-li dia sudah mencuri botol madu tawon nona itu dengan maksud hendak menirukan kepandaian Siao-liong-li mengumpulkan barisan tawon. Tak terduga, meski pun beberapa puluh ekor tawon dapat dipancing datang, tapi lantaran caranya tidak tepat, gerombolan tawon itu tidak mau tunduk kepada perintahnya. Ketika permainannya itu kemudian kepergok oleh Siao-liong-li, Ciu Pek-thong menjadi malu dan cepat-cepat kabur.

Tadinya dia bermaksud mencari Kwe Ceng, tapi kuatir ketemu Siao-liong-li lagi di sana, ia lalu batalkan maksudnya ke kota itu. Setelah ditimbang akhirnya ia mengambil keputusan mengunjungi Cong-lam-san, tujuan utama untuk dapat bertemu dengan para Sutit (murid keponakan) yang sudah belasan tahun tidak berjumpa, selain itu ia pun ingin mencari Thio Ci-keng untuk ditanyai mengapa berani mengapusi dan mencelakai sang Susiokco? Sepanjang jalan Ciu Pek-thong mempelajari madu tawon yang dicurinya dari Siao-liong-li, lama-lama ia pun dapat meraba sedikit cara-cara memerintah kawanan tawon.

Perlu diketahui pula bahwa sifat Ciu Pek-thong memang kocak, kekanak-kanakan, suka humor, senang gara-gara dan cari perkara serta ugal-ugalan, sebab itulah dia diberi julukan ‘Lo-wan-tong’ atau si anak tua nakal, tetapi sebenarnya dia bukan orang bodoh, bahkan sesungguhnya otaknya sangat cerdas dan pintar, kalau tidak masa ilmu silatnya dapat mencapai setinggi itu?

Begitulah karena hasratnya ingin meniru Siao-liong-li main-main dengan tawon, setibanya di Cong-lam-san ia betul-betul ketemu batunya. Tawon putih itu berbeda dari pada tawon madu biasa, ukuran badannya lebih besar, sengatannya pun berbisa. Begitu mencium bau madu yang dibawa Ciu Pek-thong, serentak datanglah kawanan tawon itu sehingga malah membikin Ciu Pek-thong kewalahan.

Kawanan tawon putih itu sudah biasa mengikuti suara dan gerakan tangan Siao-liong-li, dengan sendirinya sukar bagi Ciu Pek-thong untuk menghalaunya. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan terus mengikutinya. Melihat gelagat jelek, Ciu Pek-thong berlari ke Tiong-yang-kiong dengan tujuan mencari tempat sembunyi yang baik. Kebetulan saat itu Tiong-yang-kiong sedang kacau balau dan ramainya bukan main. Sekilas dia melihat Siao-liong-li berada di situ, dia terkejut sekaligus girang. Cepat dia melemparkan botol madu kepada Siao-liong-li sambil berseru:

“Wah, celaka, aku tidak sanggup melayani tuan-tuan besar tawon ini, lekas kau menolong aku!”

Sekali kebas lengan bajunya dapatlah Yo Ko menangkap botol madu itu, kemudian sambil tersenyum Siao-liong-li menerimanya. Dalam pada itu gerombolan tawon itu sudah beterbangan memenuhi ruangan pendopo, sementara Khu Ju-ki berempat cepat melompat turun dari atap rumah untuk memberi hormat kepada sang Susiok. Segera Hek Tay-thong berseru:

“Lekas ambil obor, ambil obor!”

Para anak murid Coan-cin-kau menjadi sibuk, ada yang memutar pedang untuk mengusir kawanan tawon, ada yang cari selamat dengan menutupi muka dan kepala dengan lengan jubah, ada pula yang berlari pergi mengambil obor.

Ciu Pek-thong tidak pedulikan Khu Ju-ki dan lain-lainnya, batok kepala anak tua nakal itu sendiri sudah benjal-benjol tersengat tawon, yang dia harapkan adalah memperoleh tempat sembunyi yang tak dapat diselundupi tawon. Ketika tiba-tiba melihat sebuah genta besar tergeletak di situ, dia menjadi girang. Cepat dia menyingkap genta itu, tetapi di bawahnya sudah ada seseorang. Tanpa diperhatikan siapa orang itu, dia lantas berkata:

“Maaf, silakan menyingkir dulu.”

Berbareng ia dorong Sun Put-ji keluar, ia sendiri lantas menyusup ke dalam genta, sekali lepas tangan...

“Blangg...!” genta itu segera menutup rapat lagi.

Girang luar biasa Ciu Pek-thong berada dalam genta itu, dia pikir biar pun gerombolan tawon yang ber-laksa jumlahnya tak dapat mengejarnya serta menyengatnya lagi.

Dalam pada itu Yo Ko sudah membisiki Siao-liong-li: “Cepat kau memerintahkan bantuan tawon, kita terjang keluar saja.”

Biasanya yang selalu memberi perintah adalah Siao-liong-li, sekarang baru saja menjadi isterinya, untuk pertama kalinya dia mendengar si Yo Ko bicara seperti memberi perintah padanya, hati Siao-liong-li merasa amat bahagia, pikirnya: “Ternyata dia tidak anggap aku sebagai gurunya lagi dan sungguh-sungguh menganggap diriku sebagai isterinya.”

Segera Siao-liong-li mengiyakan dengan suara lembut dan penurut, ia lantas angkat botol madu dan diguncangkan beberapa kali sembari berseru beberapa kali. Karena bertemu dengan majikannya, dalam waktu sekejap saja kawanan tawon telah bergerombol menjadi satu. Siao-liong-li terus memberi tanda dan membentak, gerombolan tawon itu lantas terbagi menjadi dua barisan, baris pertama mendahului di depan, barisan lain berjaga di belakang. Siao-liong-li dan Yo Ko yang seakan-akan dikawal oleh kedua barisan tawon itu terus saja menerjang ke belakang Tiong-yang-kiong.

Karena gara-gara kedatangan Ciu Pek-thong, Khu Ju-ki dan kawan-kawannya jadi serba runyam. Tampaknya Yo Ko berdua sudah mundur ke belakang istana, segera ia memberi perintah agar anak muridnya tidak mengejar. Ong Ju-it lantas membuka Hiat-to Sun Put-ji yang tertotok, sedang Khu Ju-ki berusaha membuka genta.

Ciu Pek-thong yang bersembunyi dalam genta tidak tahu apa yang terjadi di luar. Ketika merasa genta itu hendak dibuka orang, dia menjadi kuatir sekali dan berteriak:

“Haya, celaka!”

Dengan dua tangannya ia menahan dinding genta dan ditekan ke bawah. Karena tenaga dalam Khu Ju-ki tidak lebih kuat dari pada sang Susiok, baru tersingkap sedikit genta itu segera jatuh lagi ke bawah.

“Trangg...!”

Dengan tertawa Khu Ju-ki berkata kepada para Sute-nya: “Susiok kembali bergurau lagi. Mari kita bekerja sama.”

Segera Khu Ju-ki, Ong Ju-it, Lan Ju-hian dan Hek Tay-thong berempat menggunakan sebelah tangan untuk menahan genta itu, sekali bentak seketika genta itu terangkat ke atas. Namun mereka lantas bersuara heran ketika tidak melihat bayangan seorang pun di bawah genta, Ciu Pek-thong ternyata sudah lenyap entah ke mana.

Selagi mereka melongo heran, mendadak sesosok bayangan menyelinap keluar, Ciu Pek-thong telah berdiri di situ dengan bergelak tertawa. Rupanya tadi dia sengaja pentang kaki dan tangannya menahan di dinding genta bagian dalam sehingga tubuhnya ikut terangkat ke atas, kalau genta itu tidak dijungkir atau orang melongok ke bagian dalam genta tentu takkan melihatnya.

Khu Ju-ki dan lain-lain lantas mengulangi lagi memberi hormat, tetapi Ciu Pek-thong goyang-goyangkan tangannya sambil berseru:

“Sudah, anak-anak tak perlu banyak adat!”

Padahal Khu Ju-ki dan kawan-kawannya telah berusia lanjut, tapi Ciu Pek-thong masih tetap menyebut mereka ‘anak-anak’ saja. Baru saja mereka hendak tanya sang Susiok, sekilas Ciu Pek-thong melihat Thio Ci-keng hendak ngeluyur pergi. Sambil membentak nyaring segera dia melompat ke sana dan membekuknya seraya memaki:

“Ehh, hendak lari kau?! Jangan kau harap, hidung kerbau bangsat!”

Segera dia menyingkap genta raksasa itu, Ci-keng dilemparkan ke dalamnya. Sekali lepas tangan, genta itu menutup rapat lagi, malah mulut Ciu Pek-thong belum lagi berhenti memaki:

“Hidung kerbau bangsat, hidung kerbau maling!”

‘Hidung kerbau’ adalah istilah olok-olok kepada kaum Tosu, padahal sekarang yang hadir di situ, kecuali Ciu Pek-thong sendiri, selebihnya adalah kaum Tosu semua, maka makian Ciu Pek-thong itu sama saja memaki seluruh anggota Coan-cin-kau. Tapi lantaran sudah kenal sifat sang Susiok, Khu Ju-ki berlima hanya saling pandang dengan menyengir saja.

“Susiok,” Ong Ju-it coba bertanya, “entah cara bagaimana Ci-keng bersalah pada Susiok? Tecu pasti akan memberi hukuman setimpal padanya.”

“He-he, hidung kerbau bangsat ini memancing aku ke goa untuk mencuri panji, tapi di sana banyak tersembunyi laba-laba besar, untung ada nona cilik itu, wah mana nona cilik itu? Yo Ko mana pula?” begitulah Ciu Pek-thong menutur dengan tidak teratur

Sudah tentu Ong Ju-it tidak paham apa yang dimaksudkan sang Susiok, hanya kelihatan orang tua itu celingukan kian kemari mencari Siao-liong-li. Pada saat itulah seorang murid datang memberi laporan bahwa Yo Ko dan Siao-liong-li telah mengundurkan diri ke belakang gunung dan masuk ke Cong-keng-kok (ruangan perpustakaan).

Keruan Khu Ju-ki berlima terkejut. Cong-keng-kok adalah tempat penting Coan-cin-kau, di mana tersimpan berbagai kitab pusaka dan dokumen-dokumen rahasia yang menyangkut kepentingan agama mereka. Apa bila terjadi sesuatu akan berarti bahaya besar bagi nasib Coan-cin-kau mereka. Cepat Khu Ju-ki berseru:

“Mari kita menyusul ke sana! Tadi Yo Ko tidak melukai Sun-sumoay, sebaiknya permusuhan ini diubah menjadi persahabatan.”

Sun Put-ji mengiyakan, beramai-ramai mereka lantas berlari ke belakang, hanya Ong Ju-it saja merasa kuatir Ci-keng mati sesak napas di dalam genta. Betapa pun Ci-keng adalah muridnya yang tertua, apa lagi tindak tanduk sang Susiok sudah terkenal angin-anginan, dalam urusan ini belum pasti Ci-keng yang bersalah, maka nanti masih harus ditanyakan lebih jelas. Karena itu dia lantas mengambil sepotong batu, dia singkap sedikit genta itu dan batu diganjalkan di bawahnya sebagai jalan hawa. Sesudah itu barulah dia berlari menyusul ke sana.

Setiba di depan Cong-keng-kok, terlihat ber-ratus anak murid sedang berkaok-kaok, tapi tidak ada satu orang pun yang berani naik ke loteng Cong-keng-kok. Segera Khu Ju-ki berseru:

“Nona Liong dan Yo-siauhiap, segala persoalan biarlah kita anggap selesai dan marilah kita berkawan. Bagaimana?”

Selang sejenak ternyata tidak terdengar jawaban. Khu Ju-ki lantas berkata lagi: “Nona Liong terluka, silakan turun saja dan berdaya untuk menyembuhkannya. Kami berjanji takkan membikin susah kalian.”

Akan tetapi sekian lamanya tetap tiada suara apa pun. Pikiran Lau Ju-hian tergerak, katanya:

“Khu-suko, tampaknya mereka sudah pergi.”

“Mana bisa?” ujar Ju-ki.

“Lihatlah kawanan tawon yang beterbangan serabutan itu,” kata Ju-hian sambil mengambil sebuah obor dari seorang muridnya, lalu ia mendahului berlari ke atas loteng.

Beramai-ramai Khu Ju-ki dan lain-lain juga ikut ke sana. Benar juga ruangan perpustakaan itu ternyata kosong tiada seorang pun, di atas meja di tengah ruangan nampak botol madu tawon. Seperti menemukan jimat saja, cepat Ciu Pek-thong menyambar botol itu lalu dimasukkan bajunya. Semua orang memeriksa sekitar Cong-keng-kok, tapi tetap tak menemukan tanda yang mencurigakan, hanya pada lantai di pojok ruangan sana ada setumpuk kitab, namun tidak ada tanda berkurangnya jumlah kitab, hanya peti tempat kitab-kitab itu lenyap. Tiba-tiba Hek Tay-thong berseru:

“He, mereka kabur melalui sini!”

Semua orang mendekati jendela bagian belakang loteng itu. Tampak seutas tali terikat pada jendela itu, ujung tali yang lain terikat pada pohon di tebing sebelah sana. Antara Cong-keng-kok dan tebing terhalang sebuah jurang yang lebarnya ada belasan meter, sebenarnya buntu tiada jalan tembus, sama sekali tak terduga bahwa Yo Ko dapat menyeberang ke sana melalui seutas tali dengan Ginkang-nya yang hebat.

Yo Ko dan Siao-liong-li melangsungkan upacara pernikahan di pendopo Tiong-yang-kiong, betapa pun juga orang-orang Coan-cin-kau merasa kehilangan muka karena tidak dapat mencegah perbuatan kedua muda-mudi itu. Kini kedua lawan telah pergi, Coan-cin-ngo-cu saling pandang dengan senyum kecut, namun hati terasa lega. Yang paling merasa dongkol dan penasaran sebenarnya adalah Sun Put-ji, tetapi setelah menyaksikan cinta kasih Yo Ko dan Siao-liong-li yang suci murni, pula pada detik yang berbahaya Yo Ko menyelamatkan dia, tanpa terasa Sun Put-ji seperti kehilangan sesuatu dan bungkam saja.

DemikianIah Coan-cin-ngo-cu dan Ciu Pek-thong kembali lagi ke ruangan pendopo untuk menanyakan seluk-beluk datangnya utusan raja Mongol, juga pertengkaran antara golongan In Ci-peng dengan komplotan Thio Ci-keng dan bagaimana mendadak muncul Siao-liong-li sehingga terjadi pertarungan sengit. Dengan sejujurnya Li Ci-siang dan Song Tek-hong lalu memberikan laporan secara jelas. Khu Ju-ki meneteskan air mata dan berkata:

“Meski Ci-peng berbuat salah, tetapi dia juga telah membela Coan-cin-kau dengan mati-matian dan tidak sudi menyerah pada Mongol, jasanya tidak kecil.”

“Benar, kesalahan Ci-peng tidak lebih besar dari pada jasanya, betapa pun juga kita tetap mengakui dia sebagai pejabat ketua lama,” kata Ong Ju-it dan ditunjang oleh Lau Ju-hian dan lain-lain.

Kalau Khu Ju-ki dan lain-lainnya sedang sibuk menanyai Li Ci-siang untuk membereskan persoalan selanjutnya, Ciu Pek-thong ternyata tidak mau ambil pusing, ia malah sibuk memainkan botol madu. Beberapa kali dia ingin membuka botol itu untuk memancing kedatangan kawanan tawon, tetapi dia pun takut kalau sekali tawon sudah datang tak bisa dihalau pergi lagi.

Dalam pada itu seorang murid memberi laporan bahwa ada lima orang murid lain sedang menderita tersengat tawon dan mohon para guru berusaha mengobatinya. Hek Tay-thong lantas teringat pada pemberian madu tawon oleh Sun-popoh dahulu! Ia segera mendekati Ciu Pek-thong dan berkata:

“Kebetulan Susiok membawa sebotol madu tawon ini, mohon kemurahan hati Susiok agar sudi membagikan madu ini untuk para cucu murid yang tersiksa.”

Mendadak Ciu Pek-thong mengangkat kedua tangannya, ternyata botol madu tadi sudah tak kelihatan lagi, katanya:

“Aneh, entah mengapa, botol madu itu lenyap mendadak.”

Padahal dengan jelas Hek Tay-thong melihat barusan saja botol madu itu masih dipegang sang Susiok, mana bisa hilang mendadak, tentu sang Susiok sengaja tak mau memberi. Namun terhadap paman guru dengan sendirinya tidak sopan mendesaknya dengan kata-kata, maka Hek Tay-thong menjadi serba sulit.

Kembali Ciu Pek-thong tepuk-tepuk bajunya dan beberapa kali mengebas lengan bajunya, kemudian berkata:

“Nah, aku kan tidak menyembunyikan botol madu itu. jangan kau anggap aku pelit dan tidak mau memberi!”

Rupanya si ‘anak tua nakal’ ini memang suka jahil dan gemar mainan seperti anak kecil, sampai tua sifatnya ini tetap tak berubah, ia pikir kalau cuma disengat tawon saja, paling-paling cuma kesakitan dan takkan mampus, sebaliknya madu tawon yang sukar dicari ini tidak boleh diberikan begitu saja.

Sebab itulah baru saja Hek Tay-thong membuka mulut segera dia selusupkan botol madu itu ke lengan baju. Ketika dia mengangkat tangannya, botol itu menyusup ke kelek dan menerobos ke dada sampai ke perut. Waktu dia kerutkan perutnya, kembali botol itu menerobos ke dalam celananya dan dari kaki celana botol itu jatuh perlahan di belakang tungkak kaki. Karena Iwekang Ciu Pek-thong sudah sangat tinggi hingga kulit dan daging sekujur tubuhnya bisa dikuasai dengan sesukanya, maka sedikit pun tidak mengeluarkan suara ketika botol madu yang kecil itu diselundupkannya sampai di lantai.

Melihat sang Susiok tidak mau memberi, Ong Ju-it dan lain-lain tidak berani memaksa. Ia pikir tunggu nanti saja kalau sang paman guru memainkan botol madu itu, lalu secara mendadak diminta lagi, tentu tiada alasan baginya untuk menolak. Ia pikir urusan penting sekarang adalah menyelesaikan dulu soal penghianatan Thio Ci-keng. Maka dengan tegas ia lantas menyatakan pendiriannya:

“Hek-sute, urusan lain-lain kita tunda dahulu, kita harus membereskan dulu soal murid khianat Thio Ci-keng.”

Serentak semua orang menyatakan setuju. Semua saudara seperguruannya cukup kenal watak Ong Ju-it yang jujur dan adil, meski pun murid sendiri pasti tidak dibela kalau berbuat kesalahan, apa lagi sekarang melakukan penghianatan yang tak terampunkan. Tetapi pada saat itu juga dari bawah genta tiba-tiba Ci-keng berkata dengan suara lemah:

“Ciu-susiokco, jika engkau menolong jiwaku, akan kukembalikan madu tawon ini, kalau tidak akan kuminum habis, bagaimana pun juga aku akan mati.”

Ciu Pek-thong terkejut, cepat dia membalik ke belakang. Benar juga botol madu itu sudah lenyap. Kiranya dia berdiri tepat di samping genta raksasa. Ci-keng mendekam dalam genta dan botol madu kebetulan jatuh di hadapannya, ia dengar Hek Tay-thong memohon madu kepada Ciu Pek-thong dan tidak berhasil, maka botol itu lantas dicomotnya melalui lubang genta yang diganjal batu itu.

Dengan botol madu itu sebagai alat pemerasan untuk menyelamatkan nyawanya, cara ini sesungguhnya terlalu ke-kanak-kanakan dan tipis harapan, tetapi di antara putus harapan itu sedikitnya masih terdapat setitik harapan untuk hidup, untuk itulah Ci-keng berusaha sebisanya. Ternyata Ciu Pek-thong menjadi kuatir mendengar ancaman Ci-keng itu, cepat ia berseru:

“Hei, hei, jangan kau minum madu itu, segala urusan dapat kita rundingkan.”

“Kalau begitu engkau harus berjanji akan menyelamatkan jiwaku,” kata Ci-keng.

Khu Ju-ki dan lain-lain sangat terkejut. Mereka kenal sang Susiok yang berjuluk ‘Lo-wan-tong’ itu berwatak lain dari pada yang lain. Kalau saja paman guru ini lantas menyanggupi permintaan Ci-keng, maka sukar lagi menghukum murid murtad itu. Cepat Ju-ki bicara:

“Susiok, dosa murid murtad ini tak terampunkan, maka jangan se-kali-kali engkau mengampuninya.”

Ciu Pek-thong berjongkok dan mendekatkan kepalanya ke celah genta, lalu berseru: “Hei jangan kau minum madu itu!"

“Jangan gubris dia, Susiok,” kata Lau Ju-hian. “Apa sulitnya jika Susiok ingin memperoleh madu itu. Kini permusuhan kita dengan nona Liong sudah berakhir, sebentar kita dapat pergi ke tempatnya untuk memohon beberapa botol madu seperti itu. Kalau nona Liong mau memberi sebotol padamu, tentu dia akan memberi sedikitnya sebotol lagi.”

Tapi Ciu Pek-thong menggeleng dan menjawab: “Belum tentu, belum tentu!”

Tentu saja ia tak berani memberi-tahu bahwa madu itu adalah hasil copetannya dari Siao-liong-li dan tadi setelah dikembalikan kepada si nona, rupanya botol itu tertinggal di Cong-keng-kok. Jika harus minta lagi pada Siao-liong-li belum tentu nona itu mau memberi lagi, andaikan diberi juga akan digunakan sebagai obat dan dia takkan mendapatkan bagian. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara mendengung perlahan, ada beberapa ekor tawon putih tampak terbang masuk ke pendopo situ dan mengitari genta. Pikiran Ciu Pek-thong tergerak, cepat ia melongok lagi ke bawah genta dan berseru:

“Ci-keng yang kau ambil itu mungkin bukan madu tawon.”

“Benar, benar madu tulen, mengapa bukan?” ujar Ci-keng gugup.

“Kukira bukan, bisa jadi madu palsu,” ujar Ciu Pek-thong.

“Supaya aku percaya, coba kau buka tutup botol agar aku dapat mencium baunya, tulen atau palsu segera akan terbukti.”

Tanpa pikir Ci-keng membuka sumbat botol dan berkata: “Baiklah, coba kau menciumnya! Wah, harum dan sedap baunya, masa palsu?”

Ciu Pek-thong sengaja menarik napas panjang beberapa kali dengan hidungnya, lalu dia pun berkata:

“Uh, rasanya bukan madu, seperti bau sirup! Coba kucium beberapa kali!”

Ci-keng menggenggam botol madu itu sekencangnya dengan dua tangan, kuatir kalau orang mendadak menyingkap genta terus merampas botolnya, berulang dia menyatakan:

“Harum dan sedap sekali, betul tidak?”

Dalam pada itu bau harum madu tawon itu sudah teruar memenuhi ruangan pendopo. Ciu Pek-thong sengaja bersin satu kali, lantas berkata dengan tertawa:

“Wah, aku sedang pilek, hidungku mampet!” Sembari bicara dia pun kucek hidung dan memicingkan sebelah mata kepada Khu Ju-ki dan lain-lain.

Sudah tentu Ci-keng juga menduga bahwa orang sedang main akal ulur waktu, segera dia mengancam:

“Awas, jangan kau sentuh genta ini, sekali tanganmu memegang genta segera kuminum habis madu ini.”

Sementara itu tawon putih yang berdatangan sudah bertambah menjadi puluhan ekor dan sedang mengitari genta besar dengan suaranya yang mendengung. Tiba-tiba Ciu Pek-thong mengebaskan lengan bajunya sambil membentak:

“Masuk ke sana dan sengat dia!”

Kawanan tawon itu belum tentu mau tunduk pada perintahnya, tetapi saat itu bau harum madu itu semakin keras. Benar saja beberapa ekor tawon menerobos ke dalam genta melalui celah-celah yang diganjal batu. Terdengar Ci-keng menjerit, menyusul suara jatuhnya benda pecah disertai bau harum yang semakin keras. Nyata Ci-keng telah kena disengat tawon, saking kesakitan botol madu yang dipegangnya terjatuh hingga hancur berantakan.

“Bangsat keparat!” bentak Ciu Pek-thong dengan gusar, “Memegang satu botol saja tidak becus!”

Segera dia bermaksud menyingkap genta itu untuk memberi beberapa kali tamparan pada Ci-keng yang dianggapnya tidak becus. Tiba-tiba segerombol tawon putih membanjir tiba karena tertarik oleh bau madu yang harum, beramai-ramai kawanan tawon itu menyusup ke dalam genta.

Ciu Pek-thong sudah merasakan betapa lihay sengatan tawon, dia sudah kapok mendekatinya. Dilihatnya tawon yang menyusup ke dalam genta itu bertambah banyak, sedangkan tempat luang di dalam genta amat terbatas, tubuh Ci-keng berlepotan madu tawon, maka setiap kali bergerak pasti menyenggol kawanan tawon, keruan berpuluh, beratus bahkan beribu sengatan tawon memenuhi badannya.

Semula orang masih mendengar jeritan ngerinya, tidak lama kemudian suaranya menjadi lemah dan akhirnya tidak terdengar lagi, jelas karena terlalu hebat terkena racun sengatan hingga jiwanya melayang.

KEMBALI KE KUBURAN KUNO

Mendadak Ciu Pek-thong memegang baju dada Lau Ju-hian dan berteriak: “Baik, Ju-hian, sekarang kau harus memohon sebotol madu kepada nona Liong bagiku.”

Lau Ju-hian menyeringai serba susah. Tadi dia cuma berharap agar Ciu Pek-thong jangan mudah menyanggupi pemerasan Ci-keng, maka dia menyatakan akan memintakan madu tawon kepada Siao-liong-li bagi sang Susiok, sekarang dia dicengkeram, maka terpaksa ia menjawab:

“Susiok, lepaskan tanganmu, akan kumintakan madunya.”

Lalu ia membetulkan bajunya dan melangkah ke arah kuburan kuno. Khu Ju-ki tahu kepergian Lau Ju-hian ini sungguh berbahaya. Kalau Siao-liong-li selamat tidaklah menjadi soal, tapi bila lukanya parah dan tak bisa sembuh, entah berapa banyak orang Coan-cin-kau yang akan dibunuh lagi oleh Yo Ko. Karena itu dia langsung berseru:

“Marilah kita bersama-sama ikut ke sana!”

Hutan dekat kuburan kuno itu sudah lama dilarang masuk oleh anak murid Coan-cin-kau sesuai ketentuan mendiang Ong Tiong-yang, maka setiba di pinggir hutan, dengan suara lantang Khu Ju-ki berseru:

“Yo-siauhiap, apakah luka nona Liong sudah baikan? Di sini ada beberapa biji obat, silakan ambil!”

Akan tetapi sampai sekian lama tiada terdengar jawaban. Khu Ju-ki mengulangi lagi seruannya dan tetap sunyi senyap saja keadaannya. Hutan tampak rimbun dengan pohon-pohon tua yang tumbuh, di bawah pohon penuh semak belukar. Mereka mencoba menyusuri tepian hutan, namun tidak tampak tanda ada orang menuju ke arah kuburan kuno, tampaknya Yo Ko dan Siao-liong-li tidak pulang ke sana melainkan meninggalkan Cong-Iam-san.

Dengan girang dan kuatir semua orang kembali ke Tiong-yang-kiong. Mereka girang karena Yo Ko dan Siao-liong-li sudah pergi jauh, tapi juga kuatir kalau luka Siao-liong-li tak bisa disembuhkan, tentu Yo Ko akan membalas dendam, maka celakalah Coan-cin-kau. Ternyata si anak tua nakal Ciu Pek-thong tampak senang dan sedih. Ia sedih karena tidak berhasil mendapatkan madu tawon, senangnya karena dia tidak perlu bertemu lagi dengan Siao-liong-li sehingga perbuatannya mencopet madu takkan terbongkar.

Selama berpuluh tahun tinggal di Cong-lam-san ternyata orang-orang Coan-cin-kau sama sekali tidak dapat menerka ke mana perginya Yo Ko dan Siao-liong-li. Kiranya waktu suasana di Tiong-yang-kiong kacau akibat datangnya gerombolan lebah, segera Siao-liong-li memimpin barisan tawon sebagai pengaman dan menerjang ke belakang gunung, dilihatnya ada sebuah bangunan kecil berloteng di atas bukit. Yo Ko tahu itulah Cong-keng-kok yang merupakan salah satu tempat penting di Tiong-yang kiong, segera ia pondong Siao-liong-li ke atas loteng itu.

Baru saja mereka sempat mengaso sejenak, terdengar suara hiruk pikuk di bawah, berpuluh Tosu menyusul, cuma tangga loteng itu rada sempit dan sukar memainkan barisan pedang, maka kawanan Tosu itu tidak berani sembarangan menyerbu ke atas.

Setelah mendudukkan Siao-liong-li di atas kursi, Yo Ko memeriksa keadaan sekitar loteng. Dilihatnya di belakang Cong-keng-kok itu adalah sebuah sungai gunung yang dalam, namun sungai itu tidak begitu lebar. Tiba-tiba dia mendapatkan akal, dia keluarkan tali yang biasanya diikat pada dua batang pohon digunakan tempat tidur, dia ikat ujung tali itu pada tiang Cong-keng-kok dan ujung tali yang lain dibawanya melompat ke seberang sungai kemudian diikat pada sebatang pohon. Sesudah itu dia melompat kembali ke Cong-keng-kok dan bertanya kepada Siao-liong-li:

“Sebaiknya kita pulang ke mana?”

“Kau bilang ke mana, aku hanya ikut saja denganmu,” jawab Siao-liong-li sambil menghela napas.

Dari air muka si nona dapatlah Yo Ko menerka pikirannya, tentu yang diharapkan adalah pulang kembali ke kuburan kuno. Cuma cara bagaimana masuk ke sana, inilah yang menjadi persoalan. Dalam pada itu suara ribut di bawah tambah ramai, rasanya tak dapat tahan lebih lama lagi di sini. Yo Ko dapat memahami pikiran Siao-liong-li, tapi si nona juga dapat meraba pikiran anak muda itu. Dengan suara halus dia berkata:

“Aku tidak harus pulang ke kuburan kuno itu, jangan kau pikirkan hal ini.” ia tersenyum manis, lalu menambahkan. “Asalkan senantiasa berada bersamamu, ke mana pun aku setuju.”

Inilah cita-cita Siao-liong-li yang pertama setelah mereka menikah, maka Yo Ko bertekad akan melaksanakan keinginan si nona, jika tidak ia merasa tidak patut sebagai suaminya. Ia coba memandang ruangan loteng, dilihatnya di belakang rak buku di sudut sana ada sebuah peti kayu. Tiba-tiba tergerak pikirannya, cepat ia mendekati peti itu, ternyata peti itu digembok dengan sebuah gembok besi.

“Dengan mudah saja Yo Ko memuntir patah gembok itu dan membuka tutup peti, ternyata penuh terisi kitab dan sejenisnya. Segera ia angkat peti itu sehingga isi peti itu tertumplek semua di lantai. Peti terbuat dari kayu kamper, tebalnya lima senti dan kukuh sekali. Ia coba melompat dan meraba atas rak buku. Benar juga, penuh tertutup kain minyak, yaitu untuk ber-jaga sehingga kalau kebocoran tidak akan merusak kitab-kitab itu.

Yo Ko menarik dua helai kain minyak dan dimasukkan ke dalam peti, kemudian peti itu diseberangkan lebih dahulu dengan melalui jembatan tali tadi, lalu dia kembali lagi untuk memondong Siao-Iiong-ii.

“Mari kita pulang kerumah asal,” katanya dengan tertawa.

Siao-liong-li girang sekali, jawabnya dengan tersenyum: “Bagus sekali caramu mengatur!”

Karena kuatir si nona berkuatir, Yo Ko lantas menambahkan: “Pedangku ini sangat hebat, apa pun di dasar sungai yang merintangi peti ini tentu dapat kubereskan dengan pedang ini. Aku akan berjalan dengan cepat, engkau pasti takkan sumpek di dalam peti.”

“Cuma ada sesuatu yang tidak baik bagiku.”

“Apa itu?” tanya Yo Ko dengan melengak.

“Untuk waktu tertentu aku tak dapat melihat kau,” jawab si nona.

Sambil bicara mereka pun sampai di seberang. Yo Ko lantas teringat kepada Kwe Siang yang tertinggal di goa, katanya segera:

“Nona keluarga Kwe juga kubawa ke sini. Apa yang harus kulakukan menurut pendapatmu?”

Siao-liong-li melenggong, tanyanya dengan suara rada gemetar: “Apa katamu? Kau.. kau membawa puteri Kwe-tayhiap itu ke sini?”

Melihat sikap si nona yang aneh, Yo Ko melengak juga, tetapi dia cepat paham sebab musababnya. Tentu Siao-liong-li salah paham dan mengira dia membawa Kwe Hu ke sini. Segera dia mencium perlahan pipi si nona dan berkata:

“Ya, puteri Kwe-tayhiap yang aku bawa ke sini, tetapi bukan nona yang membuntungi lenganku melainkan orok yang baru lahir tiada sebulan itu.”

Muka Siao-liong-li menjadi merah jengah. Dia rangkul Yo Ko kencang-kencang dan tidak berani memandangnya, selang sejenak barulah dia berkata:

“Bolehlah kita membawanya serta ke kuburan kuno. Kalau ditinggalkan lebih lama di hutan, boleh jadi jiwanya akan melayang.”

Yo Ko menjadi kuatir juga. Sudah sekian lama dia terhalang di Tiong-yang-kiong, entah bagaimana keadaan Kwe Siang yang disembunyikan dalam goa itu. Cepat dia menuju ke goa, ternyata keadaan sunyi sepi tiada suara tangisan anak kecil. Ia tambah kuatir, lekas dia menyingkirkan belukar kering dan masuk ke goa, dilihatnya Kwe Siang sedang tidur dengan lelapnya, kedua pipi bayi itu kelihatan ke-merahan menyenangkan.

“Biar kubopong dia,” kata Siao-liong-li.

Kuatir si nona kurang tenaga karena belum sehat, Yo Ko mengusulkan supaya anak itu ditaruh saja dalam peti, lalu dia mencari belasan Lamkwa (waluh, sebangsa labu besar warna kuning) hasil tanaman kawanan Tosu Coan-cin-kau, dia memasukkan waluh itu ke dalam peti dan diseret ke tepi sungai.

Sesudah Siao-liong-li juga didudukkan dalam peti sambil memondong Kwe Siang, per-lahan Yo Ko menutup peti itu dan dibungkus dengan kain minyak, setelah itu barulah memasukkan peti itu ke sungai. Yo Ko menarik napas panjang, terus menyelam ke dasar sungai sambil menarik peti melalui jalan waktu keluar dari kuburan kuno itu tempo hari. Sejak digembleng di bawah air terjun, kini tenaga dalam Yo Ko boleh dikatakan tiada taranya, berjalan di bawah sungai kecil itu bukan soal lagi baginya.

Dasar sungai itu tidak rata, terkadang meninggi, lalu merendah lagi. Yo Ko terus menyusuri sungai, kalau terhalang oleh batu karang sehingga peti itu tidak dapat lewat, segera dia menahannya dengan pedang dan segala rintangan dapatlah dibereskannya. Ia kuatir Siap-liong-li sumpek dalam peti, maka jalannya sangat cepat, tak lama kemudian timbul lagi di permukaan sungai dan sampai di jalan rahasia di bawah tanah yang menuju kuburan kuno.

Lekas dia membuka peti. Dilihatnya Siao-liong-li dalam keadaan lemas dan setengah sadar, mungkin karena terluka parah sehingga tidak tahan dikurung dalam peti yang rapat, sebaliknya Kwe Siang terlihat ber-teriak menangis penuh semangat. Rupanya orok itu diberi minum susu macan selama satu bulan sehingga jauh lebih sehat dari pada bayi biasa. Dengan lemah Siao-liong-li tersenyum bahagia dan berkata:

“Akhirnya kita pulang juga ke rumah!” Habis berkata ia tak tahan lagi dan memejamkan mata.

Yo Ko tidak memandangnya lagi dan membiarkannya tetap duduk dalam peti, ia seret peti itu ke tempat tinggal mereka di kuburan kuno. Dilihatnya segala sesuatu di situ masih tetap serupa seperti waktu ditinggalkan dahulu. Sambil memeriksa kamar-kamar batu di sana dan mengamat-amati pula barang-barang yang pernah dipakainya sejak kecil, mendadak anak muda itu timbul semacam perasaan yang sukar dilukiskan, seperti girang rasanya, tapi juga mengandung rasa haru dan duka. Waktu dia menoleh, dilihatnya Siao-liong-li berdiri berpegang pada sandaran kursi dengan air mata berlinang-linang.

Kini kedua orang sudah terikat menjadi suami-isteri, cita-cita yang terkandung selama ini sudah terkabul, bahkan mereka pun sudah pulang di kediaman lama, selanjutnya tak akan tersangkut dengan macam-macam suka-duka dan permusuhan di dunia fana, namun dalam hati keduanya merasa berduka dan sedih tak terkatakan. Keduanya tahu bahwa luka Siao-liong-li teramat parah, sudah terkena hantaman roda Kim-lun Hoat-ong, terkena pula pukulan gabungan Coan-cin-ngo-cu yang hebat itu, dengan tubuhnya yang lemah gemulai itu jelas tidak akan tahan.

Walau pun sebelumnya kedua orang sudah ber-ulang memikirkan, asalkan cita-cita mereka terkabul dan dapat berkumpul kembali, sekali pun harus mati seketika juga rela, namun setelah keduanya benar-benar menikah dan berkumpul menjadi satu, rasanya menjadi berat sekali untuk berpisah dan mati. Mereka sama-sama masih muda dengan kisah hidup yang menderita, selama ini belum pernah merasakan bahagianya orang hidup, kini mendadak mencapai cita-cita paling utama orang hidup, tapi dengan segera mereka akan berpisah puIa.

Yo Ko termangu sejenak. Ia ke kamar Sun-popoh dan membongkar tempat tidurnya untuk dipindahkan ke samping ‘dipan kemala dingin’, ia atur bantal kasurnya dengan baik lantas membaringkan Siao-liong-li di situ. Sisa bahan makanan sudah rusak, namun berbotol-botol madu tawon yang dikumpulkan Siao-liong-li dahulu tetap baik. Yo Ko menuang setengah mangkuk madu yang kental itu dan dicampur dengan air untuk diminumkan pada Siao-liong-li serta Kwe Siang, habis itu ia sendiri juga minum satu mangkuk.

Dia memandang sekeliling kamar batu itu, pikirnya: “Aku harus bersemangat untuk menggirangkan hati Kokoh, kesedihanku tidak boleh kentara sedikit pun pada wajahku.”

Begitulah ia lantas mencari dua batang lilin yang paling besar serta dibungkusnya dengan kain merah, lalu disulutkan dan ditancapkan di atas meja, katanya dengan tertawa:

“lnilah kamar pengantin kita dengan lilin bahagianya.”

Sinar lilin menambah semaraknya kamar batu itu. Siao-liong-li duduk di tempat tidurnya, melihat tubuh sendiri yang penuh kotoran dan noda darah, dengan tersenyum ia berkata:

“Macamku ini mana mirip pengantin baru!” Tiba-tiba ia ingat sesuatu, katanya: “Ko-ji, coba kau ke kamarnya Lim-cosu dan bawa kemari peti berlapis emas itu.”

Meski pernah tinggal beberapa tahun di kuburan ini, tapi kamar bekas tempat tinggal Lim Tiau-eng tidak berani dimasukinya, apa lagi barang-barang tinggalannya, tentu saja tidak berani dijamahnya. Tapi sekarang Siao-liong-li menyuruhnya, segera Yo Ko ke sana dan mengambil peti yang diminta. Peti itu tidak terlalu berat, juga tidak digembok, tetapi tepian peti dilapis emas dan banyak ukiran yang indah.

“Menurut Sun-popoh, katanya peti ini berisi pakaian pengantin Lim-cosu, tetapi kemudian beliau urung menikah, maka barang-barang ini pun tidak jadi dipakai,” kata Siao-liong-li.

Yo Ko mengiyakan saja dan meletakkan peti itu di batu kemala dingin. Sesudah tutup peti dibuka, benarlah di dalamnya tersimpan sebuah kopiah berukir burung Hong dengan hiasan mutiara, juga ada sepotong baju sulaman emas serta gaun sutera merah. Semua terbuat dari bahan pilihan, meski pun sudah selang berpuluh tahun tapi tampaknya masih seperti baru.

“Coba keluarkan isinya, ingin kulihat,” kata Siao-liong-li.

Yo Ko mengeluarkan satu persatu isi peti itu. Di bawah pakaian pengantin ternyata ada sebuah kotak rias dan sebuah kotak perhiasan. Gincu serta pupur di dalam kotak rias itu telah kering, tapi minyak wanginya masih ada sisa setengah botol kecil. Ketika kotak perhiasan dibuka, seketika pandangan mereka menjadi silau. Di situ ada ber-macam perhiasan yang jarang terlihat, ada tusuk konde bermutiara, gelang kemala dan mutu manikam yang lain.

Biasanya Siao-liong-li dan Yo Ko jarang melihat benda-benda mestika seperti itu, mereka pun tidak tahu betapa bernilainya barang-barang perhiasan itu, yang jelas mereka melihat barang-barang itu terbuat dengan sangat halus dan indah sekali, maka mereka sangat tertarik.

“Bagaimana kalau aku bersolek menjadi pengantin baru?” ujar Siao-liong-li tiba-tiba sambil tersenyum.

“Kau sudah terlalu lelah, mengaso saja dahulu, bersoleklah besok,” kata Yo Ko.

Siao-liong-li menggeleng, katanya: “Tidak, justru inilah hari bahagia pernikahan kita. Aku suka menjadi pengantin baru. Tempo hari di Coat-ceng-kok itu Kongsun Ci ingin menikah dengan aku dan aku pun urung berdandan sebagai pengantin baru.”

“Hah? Masa itu bisa dianggap menikah? Itu kan cuma khayalan Kongsun Ci saja!” ujar Yo Ko dengan tersenyum.

Siao-liong-li mencampuri bedak dan gincu dengan sedikit air dan mulailah bersolek menghadap cermin. Selama hidup pertama kali inilah dia memakai pupur dan gincu.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar