ads

Rabu, 15 September 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 26

Ci-peng pikir kepandaian kelima guru dan paman guru cukup lihay sehingga tidak mudah dikurung begitu saja oleh musuh, mungkin sekali semedi mereka lagi memuncak hingga tidak sempat mengurus apa yang terjadi di luar goa. Sekarang Ci-heng berteriak-teriak, jangan-jangan malah akan mengacaukan pikiran orang-orang tua itu, karena itu cepat dia memberi tanda kepada Ong Ci-heng agar jangan bersuara lagi. Ci-heng lantas menyadari hal itu, tanpa berkata ia cepat membangunkan Song Tek-hong yang menggeletak di samping goa sana. Melihat lukanya cukup parah, lekas dia memberi pertolongan seperlunya.

Pertarungan Kim-lun Hoat-ong dan Siao-liong-li masih berlangsung dengan sengit, tapi Hoat-ong tampak lebih banyak berjaga dari pada menyerang, cuma setiap sudah diserang beberapa kali dia pun balas menyerang satu kali, kelima rodanya yang daya tekanannya ber-beda itu memaksa Siao-liong-li tak berani terlalu mendekat.

Melihat pertempuran dahsyat itu, diam-diam Siau-siang-cu bertiga merasa kagum juga iri, mau tidak mau mereka pun mengakui bahwa Kim-lun Hoat-ong memang pantas diangkat menjadi jago nomor satu di negeri Mongol. Semula mereka bermaksud membantu Hoat-ong, tapi demi teringat gelar ‘jago nomor satu’, karena rasa iri hati, seketika mereka tidak jadi membantu Hoat-ong.

Padahal biar pun tampaknya Hoat-ong dapat balas menyerang dengan hebat, akan tetapi sebenarnya dalam hati dia mengeluh. Cara Siao-liong-li seorang memainkan dua pedang ternyata lebih lihay dari pada kalau dia main ganda bersama Yo Ko. Kim-lun Hoat-ong adalah seorang tokoh berbakat ilmu silat yang sulit dicari bandingannya. Semenjak dia dikalahkan oleh gabungan Yo Ko dan Siao-liong-li, senantiasa ia berusaha memecahkan cara mengatasi ilmu pedang kedua muda-mudi itu.

Kebetulan di sini dia pergoki Siao-liong-li datang sendirian tanpa didampingi Yo Ko, tentu saja dia girang. Dia pikir jika Siao-liong-li dibinasakan maka selanjutnya dia takkan ada tandingan lagi, siapa tahu sesudah bergebrak barulah dia merasakan ilmu pedang Siao-liong-li sendirian justru lebih lihay dari pada kalau dia main ganda bersama Yo Ko. Sebab itulah baru beberapa puluh jurus saja keadaan Hoat-ong terdesak dan ber-ulang hampir termakan pedang lawan. Terpaksa dia tak berani main timpuk dengan roda lagi, dia tarik kembali rodanya satu persatu akhirnya dia cuma berjaga diri saja dan tidak menyerang, serupa dengan Siau-siang-cu bertiga tadi.

Pertarungan mereka semakin sengit dan cepat luar biasa, sekali pun tokoh-tokoh macam Siau-siang-cu, In Kik-si dan lain-lain juga sukar mengikutinya. Di tengah bayangan putih dan kelebat cahaya beraneka warna kelima roda Kim-lun Hoat-ong, se-konyong-konyong Nimo Singh merasa mukanya sakit sedikit seperti digigit nyamuk. Ia terkejut dan meraba muka, terasa tidak apa-apa, tapi pada jari tangan yang meraba itu ada setitik darah segar.

Dia melengak. Segera dilihatnya pula di badan ln Kik-si juga terciprat dua-tiga titik darah. Baru sekarang ia tahu di antara kedua orang yang sedang bertempur itu ada yang terluka. Selang tidak lama kemudian pakaian Siao-liong-li yang putih itu tampak penuh oleh bintik merah darah sehingga seperti lukisan di atas kain sutera putih.

“Hah, perempuan siluman itu sudah terluka,” ujar Nimo Singh dengan gembira.

Di antara berkelebatnya cahaya pedang segera terdengar suara geraman Hoat-ong yang tertahan. Siau-siang-cu lantas menanggapi ucapan Nimo Singh tadi:

“Tidak, Hwesio gede itu yang terluka!”

Sesudah berpikir sebentar, Nimo Singh percaya bahwa ucapan Siau-siang-cu tidak salah, darah segar itu terciprat dari tubuh Hoat-ong ke baju Siao-liong-li. Ia menjadi kuatir, kalau Hoat-ong sampai terbunuh, tentu sukar lagi untuk mengatasi Siao-liong-li. Maka cepat ia berseru:

“ln-heng dan Siau-heng, mari kita maju sekalian.”

Sambil memutar senjata ular besi perlahan-lahan dia lantas merunduk ke belakang Siao-liong-li. Melihat gelagat jelek, mau tidak mau Siau-siang-cu dan In Kik-si harus bertindak, segera mereka pun menerjang maju dari kanan dan kiri. Keadaan lantas berubah seketika. Betapa pun tingginya kepandaian Siao-liong-li tak akan dapat menahan serangan serentak keempat tokoh kelas wahid itu. Sekali pun yang menghadapi mereka adalah Ciu Pek-thong, Oey Yok-su atau Kwe Ceng juga sukar kalau satu orang harus melawan empat tokoh sehebat ini.

Hoat-ong sudah terluka dua kali, tetapi tidak mengenai tempat yang mematikan. Apa lagi kini kedatangan bala bantuan, hatinya menjadi lega dan serangannya segera bertambah gencar, bila tadi dia cuma bertahan, sekarang ia berebut menyerang bersama ketiga kawannya. Pertarungan dahsyat ini membuat para Tosu Coan-cin-kau dan kawanan Busu Mongol ikut berdebar, beratus pasang mata tertuju ke tengah kalangan tempur.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara gemuruh yang dahsyat disertai berhamburnya batu pasir dan debu, ber-puluh potong batu besar yang tadinya menyumbat mulut goa Giok-hi-tong itu telah runtuh semua, lima Tosu berjubah kuning tampak melangkah keluar dari goa, mereka adalah Khu Ju-ki berlima. Dengan girang In Ci-peng, Li Ci-siang dan lainnya lantas maju dan berseru:

“Suhu!”

Darba dan Hotu terkejut, mulut goa itu tersumbat batu besar sebanyak itu, mengapa bisa dibobolkan seketika. Cepat mereka menerjang maju dengan senjata masing-masing. Mendadak Khu Ju-ki berlima mengelak ke samping, lalu serentak sepuluh tangan bergerak dan menahan di punggung Darba dan Hotu, begitu terpegang segera didorong. Kontan kedua orang itu dilemparkan ke dalam Giok-hi-tong. Padahal kepandaian Darba dan Hotu seimbang dengan Hek Tay-thong dan Lau Ju-hian, walau pun masih lebih rendah dari pada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, tapi juga tidak mungkin kecundang hanya dalam satu kali gebrak saja.

Rupanya selama lima tokoh Coan-cin-kau itu bertapa di dalam Giok-hi-tong untuk mencari ilmu cara mengalahkan Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay, selama itu pula mereka memeras otak dan merenungkan titik-titik kelemahan ilmu silat Ko-bong-pay. Namun apa yang pernah mereka lihat dari permainan Yo Ko dan Siao-liong-li ternyata teramat hebat, setiap jurus seakan-akan merupakan maut bagi ilmu silat Coan-cin-pay, jadi tak mungkin ditemukan lubang kelemahannya.

Tetapi akhirnya Khu Ju-ki menemukan satu jalan. Kalau kalah dalam hal kebagusan jurus serangan, kelemahan ini harus ditambal dengan tenaga gabungan lima orang. Karena itu langkah pertama yang mereka latih ialah cara menyerang musuh secara serentak dengan tenaga gabungan. Karena menyadari bahwa di antara anak murid Coan-cin-kau sekarang tiada tokoh yang menonjol, hanya dengan tenaga orang banyaklah mungkin dapat bertahan, maka selama lebih sebulan ini mereka berhasil menciptakan satu jurus yang disebut ‘Pek-joan-hui-hay’ (beratus sungai mengalir ke laut).

Pada saat Kim-lun Hoat-ong bersama kawanan Busu Mongol menyumbat goa, jurus Pek-joan-hui-hay ini sedang dilatih pada titik yang menentukan, dalam keadaan begitu sedikit pun pikiran mereka tidak boleh terpencar, karena itulah meski tahu jelas musuh sedang menyerang, terpaksa mereka tidak menggubris. Baru sesudah latihan mereka sampai pada puncaknya, segala sesuatu telah lancar, mendadak barulah mereka membobol mulut goa dan keluar. Tapi sayang, karena terburu-buru menghadapi musuh, kekuatan ilmu mereka itu baru mencapai delapan bagian saja. Meski pun begitu Darba dan Hotu tak dapat menahannya, mereka kena dilemparkan ke dalam goa dan terbanting semaput.

Waktu Khu Ju-ki memandang ke sana, tampaklah Kim-lun Hoat-ong berempat sedang mengerubuti Siao-liong-li. Hanya sebentar saja mereka mengikuti pertarungan, segera mereka saling pandang dengan wajah pucat dan semangat lesu, pikir mereka: “Sungguh celaka, kiranya ilmu silat Ko-bong-pay sedemikian bagusnya, untuk mengalahkannya jelas tiada harapan selama hidup ini.”

Kepandaian Kim-lun Hoat-ong berempat jauh lebih tinggi dibandingkan lima tokoh utama Coan-cin-kau ini. Menurut penilaian Khu Ju-ki, kalau mendiang gurunya masih hidup tentu dapat mengungguli mereka. Barang kali Ciu-susiok (maksudnya Ciu Pek-thong) juga lebih tinggi satu tingkat dari pada mereka, tapi jika sekaligus dikeroyok empat orang ini, besar kemungkinan sukar menandingi mereka.

Dalam pada itu keadaan pertarungan di tengah kalangan telah berubah lagi. Siao-liong-li terus menyerang, tapi Kim-lun Hoat-ong berempat bertahan dengan rapatnya dan jarang balas menyerang, namun setindak demi setindak mereka terus mendesak maju sehingga semakin tidak menguntungkan Siao-liong-li.

Beberapa kali Siao-liong-li bermaksud menjebol kepungan musuh, tetapi penjagaan Hoat-ong berempat sangat rapat, setiap kali selalu dipaksa mundur lagi. Dia menyadari gelagat jelek, terlebih lagi setelah bertempur sekian lama tenaga sendiri juga semakin berkurang. Sedangkan Khu-Ju-ki berlima dilihatnya juga telah berada di samping, kini di sekelilingnya adalah musuh semua, sedangkan dia cuma sendirian, jiwanya mungkin akan melayang di tempat orang Coan-cin-kau ini.

Dalam keadaan demikian mendadak terpikir olehnya: “Begini sudah nasibku, biar pun mati juga tak perlu disayangkan lagi. Cuma... cuma dekat ajalku ini betapa pun aku ingin dapat melihat muka Ko-ji untuk penghabisan kalinya. Di manakah ia saat ini? Ah, kemungkinan besar dia sedang ber-mesraan dengan nona Kwe, mereka tentu sedang dimabuk cinta, bisa jadi mereka telah menikah, sebagai pengantin baru mana dia ingat pada perempuan bernasib malang yang sedang dikerubut orang ini? Akan tetapi...” Sampai di sini tiba-tiba saja pikirannya berubah. “Ahh, tidak, tidak! Ko-ji pasti tak akan begitu, sekali pun dia sudah menikah dengan nona Kwe pasti tak akan melupakan daku. Asalkan aku dapat bertemu sekali lagi dengan dia, ya, asal dapat bertemu sekali lagi dengan dia...”

Ketika dia meninggalkan Siang-yang dahulu, dia sudah bertekad tak akan menemui Yo Ko lagi, tetapi pada detik yang menentukan mati-hidupnya sekarang ini hatinya semakin rindu pada Yo Ko, dan begitu kalbunya membayangkan Yo Ko, seketika daya tempurnya malah menjadi lemah. Mestinya dia dapat memainkan dua pedang dengan cara yang berlainan dengan kedua tangan, sekarang pikirannya terganggu, permainan ilmu pedangnya menjadi kacau.

Melihat perubahan serangan Siao-liong-li, semula Kim-lun Hoat-ong mengira bahwa si nona sengaja hendak menjebaknya. Tapi setelah beberapa jurus dan tampaknya Siao-liong-li tidak menyadari kelemahannya, segera Hoat-ong melangkah maju, roda perak digunakan untuk menjaga diri dan roda emas di tangan kanan menghantam ke batang pedang Siao-liong-li.

“Trangg...!” Terdengar suara yang keras, tahu-tahu pedang kiri si nona mencelat ke udara dan patah menjadi dua.

Sungguh di luar dugaan Hoat-ong bahwa serangan percobaannya ini membawa hasil baik, menyusul roda perak di tangan lain terus mengepruk lagi ke depan. Dalam kagetnya lekas-lekas Siao-liong-li menenangkan diri.

“Sret-sret-sret!” kontan ia balas menusuk tiga kali.

Namun sekarang dia hanya menggunakan pedang tunggal, ilmu pedangnya sudah bukan lagi tandingan Kim-lun Hoat-ong. Tentu saja keadaan ini dapat dilihat oleh Siau-siang-cu bertiga, serentak tiga macam senjata menyerang sekaligus.

Siao-liong-li hanya tersenyum hambar, kini dia tidak berusaha melawan lagi. Sekilas dilihatnya di sebelah sana ada sekumpulan tetumbuhan bunga mawar yang sedang mekar dengan indahnya, tiba-tiba terkenang bersama Yo Ko berlatih Giok-Ii-sim-keng di semak-semak bunga. Katanya dalam hati: “Kalau aku tidak dapat bertemu lagi dengan Ko-ji, biarlah sebelum mati kukenangkan dia dalam hati.”

Karena itu air mukanya mendadak berubah menjadi lembut, seketika ia tenggelam dalam lamunannya dengan tersenyum simpul. Dengan kepungan mereka yang semakin ciut, sekali serang mestinya Hoat-ong berempat dapat membinasakan Siao-liong-li. Tetapi mendadak mereka melihat sikap si nona sangat aneh, seperti lupa sedang menghadapi musuh, keruan Hoat-ong berempat terkesiap heran dan mengira lawan memasang perangkap.

Pada saat itu senjata mereka sudah terangkat dan seketika terhenti di tengah jalan. Tapi sesudah merandek sejenak, segera ular besi Nimo Singh menghantam ke depan. Sekonyong-konyong Nimo Singh merasa ada angin menyambar dari samping, seorang menusukkan pedang. Cepat dia membaliki ular besinya menangkis, tetapi mengenai tempat kosong, tahu-tahu sesosok bayangan menyelinap lewat. Kiranya In Ci-peng telah melompat ke depan Siao-liong-li serta menyodorkan pedangnya yang dipegang terbalik.

Saat itu Siao-liong-li seperti orang linglung yang memandang tapi tak melihat, mendengar tetapi tidak kerungu, pertarungan sengit tadi sudah tak dipedulikan lagi. Ketika mendadak terasa tangannya memegang pedang lagi, sekenanya dia lantas menggenggam. Melihat In Ci-peng mendadak menerobos ke tengah pertempuran di antara kelima tokoh kelas wanid itu, tindakan ini sama saja seperti mencari kematian. Keruan para Tosu Coan-cin-kau menjerit kuatir.

Dari gerakan tubuh Ci-peng segera Hoat-ong tahu ilmu silatnya tidak tinggi. Dia tidak ingin mencelakainya, segera dia sodok bahu orang dengan sikunya sehingga Ci-peng terdorong ke pinggir. Menyusul rodanya meagepruk ke muka Siao-liong-li.

Ci-peng tergetar ke samping, namun dia menjadi kuatir melihat Siao-liong-li yang Iinglung itu terancam oleh hantaman roda Kim-lun Hoat-ong, kalau saja kena pasti nona itu hancur binasa. Tanpa pikir lagi dia lantas menubruk maju dan berseru:

“Awas, nona Liong!”

Ia menghadang cepat di depannya dan menggunakan punggung sendiri untuk menyambut hantaman roda Hoat-ong. Tetapi betapa dahsyatnya hantaman roda Hoat-ong tidak perlu dijelaskan lagi, mana Ci-peng sanggup menahannya?

“Blangg...!” seketika tubuhnya terhuyung ke depan.

Sementara itu Siao-liong-li masih ter-mangu sambil memegangi pedang yang disodorkan Ci-peng tadi, maka Ci-peng yang terhuyung ke depan tepat menubruk ke ujung pedang sehingga menancap di dadanya. Siao-liong-li terkejut, baru sekarang dia sadar bahwa jiwanya sudah diselamatkan oleh Ci-peng. Dilihatnya punggung Ci-peng terkena hantaman roda, dada tertusuk pedang pula, semuanya tempat yang mematikan. Sesaat itu rasa dendam kesumatnya yang memenuhi dada serentak berubah menjadi rasa kasihan, katanya dengan suara lembut:

“Perlu apa kau bertindak begini?”

Jiwa In Ci-peng sudah hampir tamat, dia menjadi girang luar biasa ketika mendengar kata ‘Perlu apa kau bertindak demikian?’ yang diucapkan Siao-liong-li itu. Dengan suara lemah dia menjawab:

“Nona Liong, aku telah bersalah padamu, dosaku tak terampunkan, apakah kau dapat memaafkan diriku?”

Siao-liong-li melenggong sejenak. Dia teringat apa yang dibicarakan antara Ci-peng dan Ci-keng di tempat Kwe Ceng, sekilas timbul pikirannya: “Sebabnya Ko-ji meninggalkan aku dan bertekad menikah dengan nona Kwe, tentu karena dia mengetahui aku pernah dinodai oleh Tosu ini.”

Teringat tentang hal ini, dari rasa kasihannya tadi seketika berubah menjadi dendam dan benci, rasa gusarnya lantas memuncak kembali, tanpa bicara pedangnya terus menikam ke dada Ci-peng.

Khu Ju-ki menyaksikan Ci-peng tertusuk pedang Siao-liong-li, akan tetapi dia tidak sempat menolongnya. Sekarang dilihatnya Siao-liong-li menusuk muridnya untuk yang kedua kalinya, tanpa pikir ia melompat maju, tangan kiri menyampuk pergelangan tangan si nona yang sedang menusuk, tangan lain mencengkeram ke mukanya.

Karena tak menduga maka tangan Siao-liong-li tersampuk sehingga pedangnya mencelat ke samping. Akan tetapi betapa cepatnya, sebelum pedang itu jatuh ke tanah sudah dapat disambarnya kembali, berbareng dia pun dapat mengelakkan serangan Khu Ju-ki dan pada saat lain pedangnya mengancam dada Khu Juki.

Pada saat itu terdengar In Ci-peng menjerit keras, kemudian tubuhnya roboh dengan dada berlumuran darah. Sementara itu pedang Siao-liong-li yang lain juga lantas menusuk ke perut Khu Ju-ki. Sekaligus diserang dengan dua pedang, betapa pun hebatnya kepandaian Khu Ju-ki kerepotan dan sukar menangkisnya. Syukur Ong Ju-it dan lain-lain lantas menubruk maju membantu, dengan demikian Kim-lun Hoat-ong berempat menjadi berbalik terdesak keluar kalangan.

Semula Hoat-ong rada heran melihat tokoh-tokoh Coan-cin-kau itu melabrak Siao-liong-li, tapi mengingat-hal ini sangat menguntungkan pihaknya, segera ia memberi tanda kepada kawan-kawannya, mereka mundur untuk menyaksikan pertarungan sengit itu. Betapa pun hebat kepandaian kelima tokoh Coan-cin-pay itu ternyata tidak lebih lihay dari pada ilmu pedang Siao-liong-li. Jurus ‘Pek-joan-hui-hay’ hasil pemikiran mereka selama satu bulan ternyata tidak sempat dikeluarkan. Sebaliknya dalam sekejap saja Hek Tay-thong dan Lau Ju-hian kena dilukai, tetapi mereka masih terus bertempur mati-matian. Sejenak kemudian,

“Crett!” bahu Sun Put-ji juga terluka oleh pedang Siao-liong-li, habis itu malahan mata kiri Ong Ju-it juga kena dilukai.

Lima tokoh Coan-cin-pay kini sudah terluka empat, kalah menang sudah jelas kelihatan. Dengan tertawa Kim-lun Hoat-ong berseru:

“Para Toheng silakan mundur saja, biar kubereskan Siau-yau-li (perempuan siluman cilik) ini,”

Segera Hoat-ong memberi tanda kepada kawannya, serentak mereka mengerubut maju dengan senjata masing-masing. Maka jadilah kini sembilan tokoh terkemuka mengeroyok seorang nona jelita.

Begitu Hoat-ong berempat maju, Khu Ju-ki berlima lepas dari tekanan pedang Siao-liong-li. Sambil berteriak mereka berdiri berjajar dengan tangan berpegangan, tenaga lima orang dipersatukan untuk menggunakan jurus ‘Pek-joan-hui-hay’. Kekuatan jurus serangan ini memang lain dari pada lain, cepat Siao-liong-li mengegos ke samping.

“Blangg...!”

Debu pasir bertebaran, kiranya serangan Coan-cin-ngo-cu (lima tokoh Coan-cin) itu telah mengenai Nimo Singh sehingga terjungkal. Sebagaimana diketahui, kedua kaki Nimo Singh telah buntung dan berdiri dengan tongkat menyerupai kaki palsu, dengan sendirinya bagian kaki itu tidak kuat dan tidak tahan hantaman keras, Untung dia sempat mengelakkan tenaga pukulan dahsyat itu, meski terbanting jatuh tapi tidak sampai terluka. Segera ia dapat melompat bangun dan berkaok-kaok murka, ular besinya mengepruk kepala Lau Ju-hian, seketika terjadi pula pertempuran sengit.

Melihat Nimo Singh bertempur dengan Coan-cin-ngo-cu, segera kesempatan itu digunakan Siao-liong-li untuk angkat kaki. Tapi sebelum ia melangkah pergi, tiba-tiba Kim-lun Hoat-ong telah menghadangnya sambil berseru:

“Saudara Singh, hadapi Siau-yau-li ini lebih penting!”

Akan tetapi Nimo Singh sudah murka, teriakan Hoat-ong tak digubrisnya, ular besinya berputar lebih kencang, serangannya selalu ditujukan kepada Coan-cin-ngo-cu. Karena perubahan keadaan ini, kedua pedang Siao-liong-li sempat melancarkan beberapa kali serangan kepada Kim-lun Hoat-ong. Sendirian Hoat-ong bukan tandingan, maka terpaksa dia mundur dua-tiga tindak. Pada saat itulah Siao-liong-li menjerit tajam dengan wajah pucat, kedua pedangnya terlepas jatuh ke tanah sambil memandang terkesima ke arah semak-semak bunga mawar di sebelah sana, mulutnya berkomat-kamit:

“Ko-ji! Apakah betul kau, Ko-ji?”

Hampir bersamaan saatnya roda emas Kim-lun Hoat-ong menghantam dari depan, sedangkan jurus ‘Pek-joan-hui-hay’ yang dikerahkan Coan-cin-ngo-cu juga menghantam dari belakang. Serangan tokoh-tokoh Coan-cin-pay ini sebenarnya ditujukan kepada Nimo Singh, tapi si Hindu cebol ini rupanya sudah kapok dan tidak berani menangkis, cepat ia mengelak sehingga tenaga pukulan dahsyat itu hampir seluruhnya mengenai punggung Siao-liong-li.

Namun Siao-liong-li seperti orang linglung. Sama sekali dia tidak berusaha menghindar, punggungnya terkena pukulan dahsyat, dada juga terhantam roda, tubuh pun lemah lunglai. Seorang nona jelita sekaligus menerima gencetan dua tenaga dahsyat, meski pun begitu pandangannya masih saja tetap terarah ke semak-semak bunga mawar, dalam sekejap pikirannya me-layang dan jiwanya terguncang, gencetan kedua tenaga raksasa itu seakan-akan tak dirasakan olehnya.

Karena terpengaruh oleh sorot mata si nona, tanpa terasa semua orang berpaling ke arah semak-semak bunga mawar dan ingin tahu keanehan apa yang menarik perhatian Siao-liong-li sehingga dia tidak menghiraukan jiwanya sendiri. Dan baru saja semua orang berpaling, se-konyong-konyong sesosok bayangan berkelebat dari semak-semak lalu menerobos ke tengah-tengah Kim-lun Hoat-ong dan Coan-cin-ngo-cu.

“Trangg...!”

Pedang dibuang ke tanah, tangan orang itu melayang ke semak-semak dan duduk di bawah pohon, di tepi semak-semak bunga mawar sambil memeluk Siao-liong-li. Orang ini ternyata betul Yo Ko adanya! Siao-liong-li tertawa manis, tetapi air mata berlinang, katanya:

“Oh, Ko-ji, betulkah kau ini? Bukan sedang mimpi?”

Yo Ko menundukkan kepalanya dan mencium pipi si nona, lalu menjawab dengan suara halus:

“Bukan, bukan mimpi! Bukankah kau berada dalam pelukanku?” Ketika melihat baju si nona berlepotan darah, dia menjadi terkejut dan berseru kuatir: “He, lukamu parah tidak?”

Setelah terkena hantaman dahsyat depan belakang, ketika mendadak melihat Yo Ko muncul di situ, Siao-liong-li lupa rasa sakitnya, tetapi sekarang terasa isi perutnya seakan-akan jungkir balik. Dia merangkul kencang leher Yo Ko sambil berkata:

“Aku... aku...” saking sakitnya dia tidak sanggup melanjutkan lagi.

Melihat keadaan begitu, Yo Ko merasa ikut menderita. Dengan suara perlahan ia berkata:

“Kokoh, kedatanganku ini ternyata terlambat sedikit!”

“Tidak, tidak, kau datang tepat pada waktunya!” ujar Siao-liong-li lemah. “Tadinya kukira selama hidup ini tak dapat bertemu lagi dengan engkau.”

Se-konyong-konyong dia merasa menggigil, lapat-lapat terasa sukma seakan-akan meninggalkan raganya, tangannya yang merangkul Yo Ko perlahan-lahan melemah. Katanya dengan lirih:

“Ko-ji, peluklah aku!”

Yo Ko mengencangkan tangan kirinya dan mendekap Siao-liong-li di dadanya, ber-macam pikiran berkecamuk, air mata pun bercucuran dan menetes di atas pipi si nona.

“Aku ingin kau mendekap aku, memeluk aku dengan kedua tanganmu!” pinta Siao-liong-li. Tetapi segera dilihatnya lengan baju kanan anak muda itu kempis tak berisi, keadaannya luar biasa, seketika dia menjerit kaget: “Ko-ji, kenapa lengan kananmu?”

Yo Ko menggeleng sambil tersenyum getir, jawabnya dengan lirih: “Jangan pikirkan diriku, lekas pejamkan matamu dan jangan menggunakan tenaga, biar kubantu menyembuhkan lukamu.”

“Tidak!” jawab Siao-liong-li tegas. “Kenapa lengan kananmu? Mengapa tidak ada lagi? Mengapa?”

Meski jiwanya sendiri sedang bergulat dengan maut, namun sedikit pun Siao-liong-li tidak memikirkannya dan justru ingin tahu apa sebabnya Yo Ko kehilangan sebelah lengan, dalam hati anak muda yang cakap ini betapa pun jauh lebih penting dari pada dirinya sendiri, segenap pikiran dan perhatiannya dicurahkan untuk menjaga kepentingan pemuda itu.

Hal ini sudah terjadi semenjak mereka tinggal bersama di kuburan kuno, cuma waktu itu Siao-liong-li tak menyadari bahwa inilah cinta kasih, Yo Ko sendiri juga tidak mengerti. Mereka merasa kasih sayang antara mereka itu adalah kewajiban yang layak antara guru dan murid. Jadi sesungguhnya keduanya sudah lama cinta mencintai di luar tahu mereka sendiri. Dan sekarang sesudah mereka menyadari betapa cinta kasih antara mereka, betapa pun tak ingin hidup sendirian tanpa didampingi kekasihnya, maka jiwa kekasih menjadi beribu kali lebih penting dari pada jiwa sendiri.

Bagi Siao-liong-li sebelah lengan Yo Ko jauh lebih penting dari pada jiwanya, sebab itulah dia berkeras ingin tahu. Dengan perlahan dia meraba lengan baju anak muda itu, dan benar saja, dalam lengan baju itu memang kosong tak berisi. Seketika dia melupakan keadaan sendiri yang parah, hatinya penuh rasa kasih sayang dan haru, dengan suara lembut dia berkata:

“Oh, Ko-ji yang malang! Apakah sudah lama kehilangan lenganmu? Apakah sekarang masih sakit?”

Yo Ko menggeleng dan menjawab: “Sudah tidak sakit lagi. Asal aku bisa bertemu lagi dengan engkau dan tak akan berpisah selamanya dengan kau, apalah artinya sebelah lengan bagiku? Bukankah dengan lengan kiri aku pun dapat memeluk kau?”

Siao-liong-li tersenyum kecil, dia merasa kata-kata Yo Ko sangat tepat, berbaring dalam pangkuan anak muda itu, biar pun hanya lengan kiri saja yang merangkulnya terasa puas dan bahagia. Tadinya dia cuma berharap sebelum ajalnya dapat bertemu sekali lagi dengan Yo Ko, sekarang keinginannya itu sudah terkabul, bahkan kini saling mendekap, sungguh bahagia melebihi harapannya.

Di sebelah lain Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu, In Kik-si, Nimo Singh, Coan-cin-ngo-cu, para Tosu dan kawanan Busu Mongol, semuanya terdiam melongo memandangi sepasang kekasih ini, sesaat tak ada seorang pun yang ingin menyerang mereka atau boleh dikatakan juga tidak ada seorang pun yang berani menyerang.

Meski dirubung orang sebanyak itu, bagi Yo Ko dan Siao-Iiong-li seakan-akan dunia ini merekalah yang punya dan tiada orang lain di sekitar mereka. Cinta sejati, cinta yang murni, cinta yang mencapai puncaknya, bukan saja kaya miskin, pangkat atau hidup mewah sama sekali tidak terpikir oleh mereka, bahkan mati hidup bukan soal bagi mereka. Kalau Yo Ko dan Siao-liong-li tidak memikirkan soal mati hidup lagi, maka meski pun semua tokoh di sekelilingnya menyerang serentak, bagi mereka tidak lebih hanya mati belaka dan seorang hanya mati satu kali.

Sudah tentu Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain tidak takut pada Yo Ko berdua, mereka cuma merasa heran luar biasa. Jelas Siao-liong-li terluka parah dan sebelah lengan Yo Ko telah buntung, mereka pasti takkan sanggup melawan lagi, tetapi kedua muda-mudi itu asyik-masyuk dibuai asmara, maka dengan sendirinya timbul semacam hawa keangkeran yang membuat orang lain tak berani menindaknya secara sembarangan.

Akhirnya Siao-liong-li bertanya lagi: “Sebab apakah lenganmu buntung? Lekas katakan kepadaku.”

Dengan tersenyum getir Yo Ko menjawab: “Lengan buntung, dengan sendirinya lantaran ditebas orang.”

Siao-liong-li memandanginya dengan perasaan pedih, tiada hasratnya untuk bertanya lagi siapa yang mengutungi tangan sang kekasih. Kalau memang sudah bernasib jelek, siapa pun yang melakukannya sama saja. Dalam pada itu luka di dada dan punggungnya terasa sakit luar biasa, dia tahu jiwanya tidak tahan lama lagi, dengan suara perlahan dia berkata:

“Ko-ji, aku ingin mohon sesuatu padamu.”

“Kokoh, masa kau sudah lupa. Ketika kita berdiam di kuburan kuno sudah pernah kusanggupi bahwa apa yang kau ingin kulakukan bagimu pasti akan kulaksanakan,” jawab Yo Ko.

“Ya, itu sudah lama berselang!” ujar Siao-liong-li sambil menghela napas panjang.

“Tapi bagiku selamanya tetap begitu,” jawab Yo Ko tegas.

Siao-liong-li tersenyum pedih, katanya pula dengan suara lirih: “Hidupku takkan lama lagi, aku ingin kau mendampingi, menunggui aku dan memandangi hingga aku mati, jangan kau tinggal pergi mendampingi nonamu si Kwe Hu itu.”

Hati Yo Ko menjadi berduka dan mendadak merasa gemas, jawabnya: “Kokoh, tentu saja aku akan mendampingi kau. Nona Kwe itu ada sangkut-paut apa denganku? Justru dia yang menebas kutung lenganku ini!”

“Hah, dia... dia yang melakukan?” Siao-liong-li menegas dengan kaget. “Kenapa dia begitu keji? Apakah... apakah disebabkan kau tidak suka padanya?”

“Kita berdua begini baik, mengapa engkau meragukan diriku?” kata Yo Ko. “Selain kau, selamanya belum pernah kucintai gadis lain. Tentang nona Kwe ini, hmm...” tapi sebelum Siao-liong-li mendengar ucapannya, dia sudah pingsan dalam pangkuan Yo Ko.

Lengan kanan Yo Ko memang betul ditabas kutung oleh Kwe Hu. sebagaimana sudah diceritakan waktu kedua orang saling bertengkar selagi Yo Ko masih berbaring di tempat tidur karena belum sembuh dari lukanya, saking gusarnya Kwe Hu menyambar Ci-wi-kiam, pedang lemas yang tergeletak di meja terus ditebaskan tanpa pikir.

Dalam keadaan kepepet, sekenanya Yo Ko rampas Siok-li-kiam yang dibawa ke situ oleh Kwe Hu untuk menangkis. Namun pedang yang dipegang Kwe Hu adalah senjata maha tajam dan sangat berat, yaitu pedang yang pernah digunakan mendiang Tokko Kiu-pay untuk malang melintang di dunia Kangouw tanpa ketemu tandingan. Walau pun Siok-li-kiam juga tergolong pedang mestika, tapi tetap tertebas kutung. Malah saking gemasnya si nona menebas, sulit baginya untuk menahan lajunya pedang, tahu-tahu sebelah lengan Yo Ko ikut tertebas kutung.

GURU YANG KERAS DAN SAHABAT YANG BAIK

Sama sekali tak terduga bahwa serangan itu akan mendatangkan akibat heba. Jika Yo Ko kaget dan marah tak terkatakan, Kwe Hu juga melongo terkesima, dia menyadari telah berbuat kesalahan yang sulit diperbaiki. Dilihatnya darah segar terus merembes dari lengan Yo Ko yang telah buntung, ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Selang sejenak kemudian, tiba-tiba dia menjerit dan menangis terus berlari keluar sambil menutupi mukanya.

Setelah bingung sejenak, segera Yo Ko dapat menenangkan diri. Cepat dia gunakan tangan kiri menotok Ko-cing-hiat pada bahu kanan dan merobek kain seperei untuk membalut lengan buntung supaya darah tidak keluar lebih banyak, kemudian dia bubuhi obat luka. Ia pikir dirinya tidak dapat tinggal lebih lama lagi di situ dan harus lekas pergi. Perlahan ia berjalan beberapa langkah sambil berpegangan dinding, tetapi lantaran terlampau banyak kehilangan darah, mendadak pandangannya gelap dan hampir saja jatuh pingsan. Pada saat itulah terdengar suara Kwe Ceng berteriak:

“Lekas, lekas! Bagaimana keadaannya? Darahnya sudah mampet belum?” Nada suaranya penuh rasa kuatir dan cemas.

Yo Ko tahu sang paman yang belum sehat itu sengaja datang menjenguknya. Tiba-tiba timbul pikiran untuk tidak menemui Kwe Ceng lagi, maka sekuatnya ia mengumpulkan tenaga terus menerjang keluar kamar. Waktu itu Kwe Ceng sendiri belum sehat. Ketika mendadak Kwe Hu datang memberi tahu dengan menangis bahwa nona itu telah mengutungi lengan Yo Ko, Kwe Ceng menjadi kaget. Cepat dia sambar palang pintu untuk digunakan sebagai tongkat, kemudian sambil menahan rasa sakit memburu ke kamar Yo Ko. Tapi sebelum masuk kamar, mendadak Yo Ko berlari keluar dengan berlumuran darah.

Tanpa menoleh Yo Ko terus berlari keluar rumah. Ia cemplak ke atas kuda yang tertambat di depan rumah terus dilarikan ke pintu gerbang benteng. Penjaga pintu benteng pernah menyaksikan Yo Ko dengan begitu tangkasnya menyelamatkan Kwe Ceng dari serangan pasukan Mongol, maka dia tidak berani merintanginya. Biar pun melihat sikap anak muda itu rada aneh, segera dia membukakan pintu gerbang dan membiarkan Yo Ko pergi.

Sementara itu pasukan Mongol sudah mundur beberapa puluh li jauhnya dari benteng kota Siang-yang. Yo Ko tidak mengambil jalan raya melainkan melarikan kudanya di jalan kecil yang sepi. Ia pun membatin.

“Meski sudah lewat batas waktunya, racun bunga cinta yang mengeram dalam diriku ternyata tidak mematikan. Bisa jadi seperti apa yang dikatakan paderi sakti Than-tiok itu bahwa racun bunga cinta mungkin dikalahkan oleh racun jarum berbisa milik Li Bok-chiu yang kuhisap itu hingga jiwaku malah tertolong. Dalam keadaan terluka parah seperti sekarang, kalau kucari Kokoh ke Cong-lam-san yang jauh pasti tidak tahan. Ai, apakah memang sudah ditakdirkan jiwaku harus melayang di tengah perjalanan begini?”

Teringat kepada nasib sendiri yang kenyang duka derita, kecuali hidup tenteram bersama Siao-liong-li di kuburan kuno itu boleh dibilang jarang hidup dalam keadaan gembira, dan sekarang jiwanya sudah dekat ajal, satu-satunya orang yang dikasihi di dunia ini juga sudah pergi, malahan anggota badannya dibikin cacat orang pula, terpikir semua ini, tanpa terasa air matanya bercucuran. Dia mendekam di atas kuda dalam keadaan sadar-tak-sadar, ia terus melarikan kudanya ke depan, yang dia harap asalkan tidak ditemukan Kwe Ceng dan tidak kepergok pasukan Mongol, maka ke mana pun tak menjadi soal baginya. Karena itu tanpa sengaja dia menuju ke lembah sunyi, di mana kemarin malam baru saja terjadi perkelahian dengan kedua saudara Bu.

Sementara itu hari telah gelap, sekeliling sunyi senyap dan semak-semak rumput belaka. Dia pikir di sekitar situ pasti tak ada orang lain, maka dia segera turun dari kudanya terus merebahkan diri. Dia sudah tidak memikirkan mati hidupnya lagi, kemungkinan diserang binatang buas atau digigit ular berbisa tak dihiraukannya, dia tertidur. Akan tetapi sampai tengah malam dia terjaga karena kesakitan pada lukanya dan tak dapat pulas lagi. Paginya waktu dia bangkit terlihat di sisi tempat berbaringnya ada dua ekor kelabang besar menggeletak kaku di situ, badan kelabang loreng merah hitam dan sangat menyeramkan dengan kepala berlepotan darah.

Yo Ko terkejut, dilihatnya di samping kedua bangkai kelabang itu ada bekas lumuran darah. Setelah dipikir sejenak, tahulah dia akan persoalannya. Rupanya darah itu merembes keluar dari lukanya waktu dia tidur, sedangkan dalam darahnya itu mengandung kadar racun bunga cinta, dan kedua ekor kelabang itu mati oleh darah beracun. Yo Ko menyeringai sendiri. Tidak terpikirkan olehnya bahwa darahnya ternyata jauh lebih berbisa dari pada binatang sehingga kelabang pun tidak tahan. Hatinya terasa pedih, duka dan penasaran tak terlampiaskan, dia menengadah dan tertawa keras-keras...

Tiba-tiba terdengar suara burung berkotek di atas bukit. Waktu ia memandang ke sana, terlihat si rajawali raksasa tempo hari berdiri di puncak bukit dengan bersitegang leher dan membusungkan dada. Meski pun tampang burung itu jelek dan menakutkan, tapi juga membawa kegagahan yang berwibawa. Yo-Ko sangat girang, seperti bertemu dengan kenalan lama saja dia lantas berteriak:

“He, kakak rajawali, kita bertemu lagi di sini!”

Rajawali itu berbunyi panjang satu kali terus menerjang turun dari puncak bukit. Karena badannya besar dan kuat, sayapnya pendek, bulunya jarang-jarang, maka rajawali itu tak dapat terbang, tapi larinya amat cepat melebihi kuda, dalam sekejap ia sudah berada di samping Yo Ko. Ketika melihat sebelah lengan anak muda itu buntung, dengan mata tak berkedip burung itu memandanginya se-akan heran.

“Tiau-heng (kakak rajawali), aku sedang tertimpa nasib malang maka sengaja datang ke sini mencari kau,” kata Yo Ko dengan menyeringai.

Entah rajawali itu paham kata-katanya atau tidak, yang jelas burung itu tampak manggut-manggut, lalu memutar tubuh dan melangkah ke sana. Segera Yo Ko menuntun kudanya dan mengintil dari belakang. Tetapi baru beberapa langkah saja, rajawali sakti itu membalik, sekonyong-konyong sebelah sayapnya menjulur.

“Blukk!” dengan keras sayapnya menyabet punggung kuda.

Betapa hebat tenaga hantaman sayapnya, tanpa ampun kuda itu meringkik terus roboh terkulai tak bernyawa lagi.

“Ya, benar, kalau aku sudah berada di tempat Tiau-heng tentu tidak perlu pergi lagi dan apa gunanya kuda ini?” ujar Yo Ko.

BegituIah Yo Ko lantas mengikuti rajawali itu dan tidak lama kemudian sampailah mereka di goa tempat menyepi Tokko Kiu-pay dahulu. Melihat makam batu itu, dia menjadi terharu, tokoh maha sakti yang tiada tandingan semasa hidupnya itu akhirnya meninggal juga di lembah sunyi ini. Kalau melihat tingkah lakunya, tentu ilmu silatnya maha tinggi wataknya nyentrik dan sukar bergaul dengan orang lain, makanya lantas menyepi bersama rajawali sakti ini. Cuma sayang rajawali ini meski cerdik, tetapi tidak dapat bicara sehingga sukar diketahui kisah hidup Tokko Kiu-pay yang pasti sangat menarik itu.

Selagi Yo Ko duduk termenung dalam goa, sementara rajawali datang dari luar goa sambil membawa dua ekor kelinci. Cepat Yo Ko membuat api lalu memanggang kedua kelinci itu dan dimakannya sampai kenyang. Cara begitulah beberapa hari telah berlalu, luka lengan Yo Ko yang buntung itu mulai merapat, kesehatannya pulih. Setiap kali terkenang pada Siao-liong-li dadanya terasa sesak dan sakit, tapi sudah jauh lebih ringan dari pada dulu.

Dasar watak anak muda itu memang suka bergerak, sepanjang hari dia hanya berkawan rajawali di pegunungan yang sunyi, betapa pun ia menjadi iseng dan merasa kesepian. Selang beberapa hari kemudian kesehatan Yo Ko sudah pulih seluruhnya. Dilihatnya di belakang goa banyak pepohonan rindang dan pemandangan indah, dalam isengnya dia lantas melangkah ke sana. Kira-kira satu-dua li jauhnya, sampailah dia di depan sebuah tebing yang sangat curam.

Tebing itu menjulang tinggi sehingga mirip sebuah pintu angin raksasa. Kira-kira tiga puluh meter di bagian tengah tebing mencuat keluar sepotong batu seluas beberapa meter persegi sehingga menyerupai panggung terbuka. Pada batu besar itu samar seperti ada ukiran huruf.

Waktu dia mengamati lebih cermat, agaknya dua huruf itu berbunyi: ‘Kiam-bong’ (makam pedang). Yo Ko menjadi heran, masa pedang juga dimakamkan? Apakah barang kali pedang kesayangan Tokko Kiu-pay itu patah, lalu ditanam di sini? Dia coba mendekati tebing itu, dinding batunya halus licin, sungguh sukar untuk dibayangkan cara bagaimana orang dahulu dapat memanjat ke atas. Sampai lama sekali ia memandangi panggung batu itu dan semakin tertarik. Ia pikir orang itu juga manusia, mengapa dapat memanjat ke atas tebing setinggi itu, tentu ada sesuatu yang aneh dan rahasia.

Sesudah diteliti lagi sejenak, tiba-tiba dilihatnya di dinding tebing itu memang ada sesuatu yang menarik, yaitu tumbuhan lumut hijau yang berjumlah puluhan rumpun tumbuh secara lurus dari bawah ke atas dalam jarak satu-dua meter. Tergerak hati Yo Ko. Ia melompat ke atas, meraba rumput lumut hijau yang paling rendah dan hasilnya tangannya menggenggam secomot tanah. Jelas lumut itu tumbuh pada sebuah dekukan, agaknya dicukil dengan senjata tajam oleh Tokko Kiu-pay dahulu, karena sudah ber-tahun-tahun terkena air hujan dan sinar matahari, dekukan itu tertimbun kotoran dan tumbuhan lumut itu.

Karena iseng, Yo Ko menjadi tertarik dan ingin tahu apa yang terdapat di makam pedang itu, cuma sebelah tangannya buntung, untuk memanjat kurang leluasa. Namun dia anak muda yang berkemauan keras, segera ia kencangkan ikat pinggang, ia kumpulkan tenaga dan melompat setingginya ke atas, begitu sebelah kakinya menginjak dekukan dinding itu segera dia melompat lagi ke atas, sebelah kakinya mendepak tepat pada rumpun lumut tingkat kedua, ternyata tempatnya lunak, kakinya dapat hinggap di situ.

Dan begitulah seterusnya ia melompat lebih 20 kali ke atas dengan menggunakan tangga dekukan dinding. Tetapi akhirnya terasa tenaganya mulai lemas, untuk memanjat lebih tinggi terasa tidak kuat, terpaksa dia merosot ke bawah lagi. Dia lihat sudah tiga perempat anak tangga dekukan dinding dipanjatinya, kalau diulangi satu kali lagi pasti akan mencapai panggung batu itu. Segera dia duduk mengumpulkan tenaga dalam. Setelah cukup kuat, dengan cara seperti tadi dia memanjat lagi ke atas dan sekaligus panggung batu itu dapat dicapainya.

Diam-diam Yo Ko bersyukur bahwa Ginkang sendiri tenyata tidak berkurang dibandingkan semula, meski pun kini tangannya buntung sebelah. Ia lihat di samping kedua huruf besar ‘Makam Pedang’ itu ada pula ukiran dua baris tulisan yang lebih kecil yang berbunyi:

‘Karena tidak menemukan tandingan lagi di dunia ini, maka pedang pun kutanam di sini, Oho, semua pahlawan tidak berdaya, pedang pun tiada gunanya lagi, alangkah sedihnya bagiku’.

Heran dan kagum pada tokoh sakti itu. Ia merasa Locianpwe itu tentu sangat angkuh dan mengagulkan kemampuannya sendiri. Cuma untuk mencapai tingkatan tiada tandingan di seluruh dunia, jelas dirinya tidak mampu, apa lagi sekarang sebelah lengan sudah buntung, hal ini jelas tiada harapan selama-lamanya. Yo Ko duduk termenung di sana. Sesungguhnya dia pingin sekali mengetahui bagaimana macamnya senjata yang dimakamkan itu, tetapi dia tidak berani merusak petilasan tokoh angkatan tua itu.

Tiba-tiba terdengar di bawah sana ada suara barang berkotek. Dia melongok ke bawah, tampak rajawali sakti itu sedang melompat ke atas dengan menggunakan cakarnya yang tajam mencengkeram setiap dekukan dinding tebing. Meski tubuhnya berat tetapi kakinya sangat kuat, sekali lompat dapat mencapai beberapa meter tingginya, hanya sekejap saja dia sudah berada di samping Yo Ko. Setelah celingukan kian kemari sejenak, rajawali itu manggut-manggut pada Yo Ko sambil berbunyi beberapa kali dengan suara yang aneh. Sudah tentu Yo Ko melongo bingung karena tidak paham maksud burung itu.

Setelah berbunyi lagi beberapa kali, rajawali itu menggunakan cakarnya yang kuat untuk mencakar batu-batu di atas makam. Tiba-tiba timbul pikiran Yo Ko, dia menduga di makam pedang itu mungkin tertanam sebangsa kitab ilmu pedang tinggalan Tokko Kiu-pay yang maha sakti. Dilihatnya rajawali itu terus mencakar dengan kedua kakinya, sebentar saja batu itu tersingkir semua dan tertumpuklah tiga batang pedang berjajar, di antara pedang pertama dan kedua terselip pula sepotong lapisan batu yang tipis. Ketiga pedang dan batu tipis itu terletak berjajar di atas batu hijau yang cukup besar.

Yo Ko mengangkat pedang pertama di sebelah kiri. Dilihatnya di atas batu tempat pedang itu tertaruh ada terukir satu baris tulisan. Sesudah dibaca, kiranya cuma catatan belaka yang menerangkan bahwa pedang itu sangat tajam dan semasa mudanya pernah digunakan untuk menempur jago-jago silat. Waktu ia mengamat-amati pedang itu panjangnya satu meteran, cahaya hijau tampak gemeredep dan memang senjata itu sangat tajam.

Ia berjongkok dan memegang batu tipis itu. Di atas batu besar tepat di bawah batu tipis ada ukiran tulisan yang menjelaskan: ‘Pedang lemas Ci-wi-kiam, digunakan semasa usia 30-an, salah membunuh orang baik, sungguh senjata yang beralamat jelek, maka kubuang ke jurang sunyi’.

Tergetar hati Yo Ko! Dia pikir lengan sendiri terkutung oleh pedang Ci-wi-kiam itu. Rupanya pedang itu dibuang di jurang sunyi, lalu ditelan oleh ular raksasa tetapi secara kebetulan diketemukan olehnya. Kalau saja di dunia ini tiada pedang tajam itu, meski dalam keadaan sakit lengannya takkan tertebas kutung oleh Kwe Hu. Sejenak Yo Ko termangu-mangu. Ketika dia angkat pedang kedua, baru saja terangkat sedikit, sekonyong-konyong terjatuh pula di atas batu hingga menerbitkan suara keras dan mencipratkan lelatu api. Keruan dia terkejut.

Padahal pedang itu berwarna gelap kotor dan tiada sesuatu tanda aneh, namun bobotnya tidak kepalang berat, panjangnya tak ada satu meter, tapi beratnya ada 60-70 kati, beberapa kali lebih berat dari pada senjata panjang yang biasa digunakan orang di medan perang. Yo Ko pikir mungkin tadi dirinya sendiri belum siap sehingga kurang kencang memegangi pedang. Segera ia taruh kembali pedang pertama dan batu tipis tadi, lalu ia angkat lagi pedang yang berat itu.

Karena sudah bersiap-siap, pedang yang beratnya 60-70 kati itu bukan soal lagi baginya. Ia lihat kedua mata pedang itu puntul semua, malahan ujung pedang berbentuk setengah bundar dan tidak runcing seperti pedang umumnya. Ia menjadi heran, sudah berat, ujung dan mata pedang tumpul segala, lalu apa gunanya?

Di atas batu di bawah pedang itu pun ada ukiran dua baris huruf yang artinya menjelaskan pedang tumpul dan berat itu dipergunakan Tokko Kiu-pay untuk malang melintang di dunia persilatan waktu berusia sekitar 40-an. Ia menjadi heran cara bagaimana orang menggunakan pedang seberat itu dan tidak tajam pula.

Selang sejenak dia mengambil lagi pedang ke tiga. Sekali ini dia kecele lagi, disangkanya pedang itu pasti lebih berat dari pada pedang tumpul, karena itu sebelumnya dia telah kumpulkan tenaga untuk mengangkatnya. Siapa tahu benda yang diangkatnya ternyata enteng sekali seperti tidak berbobot. Waktu ia mengamati, kiranya pedang itu terbuat dari kayu, lantaran sudah terlampau tua, gagang dan batang pedangnya sudah lapuk. Pada batu di bawah pedang itu juga terukir keterangan:

‘Sesudah berusia 40 tahun, tidak mementingkan senjata lagi, segala benda dapat kugunakan sebagai pedang, sejak itu latihanku makin sempurna, mulai mencapai tingkatan tanpa pedang melebihi memakai pedang’.

Dengan khidmat Yo Ko meletakkan kembali pedang kayu itu ke tempat semula. Ia sangat gegetun dengan ilmu sakti tokoh Tokko Kiu-pay yang sukar dibayangkan. Ia pikir di bawah batu hijau yang besar itu bisa jadi terpendam benda-benda lain lagi, maka sekuatnya dia coba menggeser batu, tetapi di bawah batu hijau itu pun cuma batu gunung saja tanpa sesuatu benda lain, ia menjadi sangat kecewa. Mendadak rajawali raksasa itu berbunyi satu kali, pedang tumpul yang amat berat itu tiba-tiba dipatuknya lalu diangsurkan kepada Yo Ko, habis itu dia berkaok dua kali lagi.

“O, kakak rajawali, apakah kau ingin menjajal kepandaianku?” kata Yo Ko dengan tertawa. “Baiklah, dari pada iseng, bolehlah kita main-main beberapa jurus.”

Akan tetapi ia merasa sulit sekali memainkan pedang tumpul yang berat itu, ia lemparkan pedang dan menjemput pedang tajam yang pertama. Tak terduga, mendadak rajawali sakti menarik sayapnya, lalu membalikkan tubuh ke sana tanpa menggubris Yo Ko lagi, sikapnya seperti mencemoohkan. Sebagai anak muda yang cerdik pandai, segera Yo Ko tahu maksud rajawali itu, katanya dengan tetawa:

“Apakah kau ingin kugunakan pedang berat itu? Tapi kepandaianku terbatas, apa lagi bergebrak di tempat yang berbahaya ini, tentu aku bukan tandinganmu, untuk ini perlu kau mengalah sedikit.”

Habis berkata dia segera menukar pedang, dia coba mengerahkan segenap tenaga pada tangan kiri lalu mulai menyerang, pedang menusuk perlahan ke depan. Rajawali itu tidak memutar tubuh lagi, tapi mendadak sayapnya membentang ke belakang dan tepat menyampuk pedang. Untuk seketika Yo Ko merasakan arus tenaga yang maha dahsyat mendesaknya melalui batang pedang sehingga napasnya terasa sesak. Keruan Yo Ko kaget, cepat ia kumpulkan tenaga untuk melawan.

“Brakk!”

Batang pedangnya bergetar seketika, pandangannya terasa gelap dan ia tak sadarkan diri.

Entah sudah berapa lama barulah dia siuman kembali, dirasakan ada bekas cairan dalam mulutnya yang manis sedap, agaknya dalam keadaan tak sadar dia sudah makan sesuatu. Waktu dia membuka mata, kiranya rajawali sakti itu menggigit biji buah warna merah dan sedang dilolohkannya. Ia coba mengunyah, rasanya persis sisa rasa di dalam mulutnya tadi, agaknya sudah beberapa biji buah telah dimakannya tanpa sadar. Ketika ia coba mengumpulkan tenaga, pernapasannya sangat lancar dan badan juga segar. Cepat ia bangkit mengulur tangan dan gerakkan kaki, rasanya malah lebih kuat dari pada sebeIumnya.

Diam-diam dia heran. Pantasnya setelah berkelahi dan dipukul lawan hingga pingsan, biar pun tidak terluka parah sedikitnya akan pegal linu sekian lama. Apakah barang kali buah merah yang dimakannya berkhasiat sebagai obat penyembuh luka serta pemulih tenaga? Waktu dia jemput lagi pedang tumpul, rasanya lebih ringan dari pada tadi, Pada saat itu kembali si rajawali sakti berkaok sekali lagi, sayapnya menyabet. Ia tidak berani menyambut, cepat ia mengegos, tapi burung itu mendesak maju dan kedua sayapnya menampar sekaligus dengan tenaga dahsyat.

Yo Ko tahu rajawali itu tidak bermaksud jahat padanya, tapi betapa pun baiknya tetap binatang, jika ia tak dapat menahan sabetan sayapnya, bukankah bisa mati konyol? Karena itu cepat dia mundur lagi dua tindak dan rasanya dia sudah berada di tepi panggung batu. Akan tetapi rajawali itu sedikit pun tidak kenal ampun, kepalanya menjulur, paruhnya yang bengkok besar malah terus mematuk kepala Yo Ko. Karena sudah kepepet, tidak ada jalan lain terpaksa Yo Ko mengangkat pedangnya untuk menangkis.

“Prakk!”

Batang pedang terpatuk dengan tepat, Yo Ko merasa tangannya tergetar dan pedang seakan-akan terlepas dari cekalan. Dilihatnya burung rajawali itu pentang sayap kanan lagi terus menyabet dari samping. Keruan Yo Ko terkejut, cepat dia melompat ke atas lantas melayang lewat di atas kepala rajawali. Setiba di bagian dalam panggung batu, karena kuatir burung itu menyusulkan serangan lagi, segera dia memutar pedangnya ke belakang.

“Brekk!” dengan tepat pedang beradu pula dengan paruh rajawali.

Yo Ko berkeringat dingin karena sempat lolos dari bahaya, cepat dia berseru: “Tiau-heng, jangan kau anggap aku seperti Tokko-tayhiap!”

Rajawali sakti itu berkaok dua kali namun tidak menyerang lagi, sebaliknya Yo Ko lantas teringat cara menyerang rajawali tadi. Burung raksasa itu pernah mendampingi Tokko Kiu-pay, besar kemungkinan ketika Tokko Kiu-pay hidup terpencil di pegunungan ini, pada waktu latihan rajawali inilah yang dianggap sebagai lawannya. Kini Tokko Kiu-pay sudah meninggal, ilmu silatnya yang maha sakti itu sudah punah, tapi dari burung ini bisa jadi akan dapat ditemukan bekas-bekas kesaktian tokoh angkatan lalu itu. Berpikir demikian, dia menjadi girang dan segera berseru:

“Tiau-heng, awas seranganku!”

Begitulah ia lantas mendahului menyerang, ke dada rajawali. Tentu saja burung itu tidak tinggal diam, sayapnya balas menyabet. Sehari penuh Yo Ko berkutak-kutik dengan rajawali sakti di atas panggung batu. Tenaga rajawali itu sungguh sangat kuat, sekali sayapnya menyabet, seketika angin keras laksana tenaga pukulan beberapa tokoh terkemuka sekaligus.

Dalam keadaan demikian segala ilmu pedang yang pernah dipelajari Yo Ko sama sekali tidak dapat dikeluarkan, terpaksa dia hanya bertahan dan menghindar secara gesit, kalau balas menyerang juga menusuk begitu saja tanpa perubahan. Sampai hari gelap, keduanya pulang ke goa. Sepanjang hari Yo Ko bertempur, mestinya dia merasa lelah, tetapi aneh, sedikit pun dia tidak merasakannya, sebaliknya terasa lebih segar dari pada biasanya, dia pikir mungkin berkat khasiat buah merah itu.

Esok paginya waktu dia bangun, rajawali sakti sudah membawakan beberapa biji buah merah. Cepat Yo Ko memakannya, habis itu ia duduk semadi mengatur pernapasan, terasa semuanya lancar dan tenaga penuh. Girang sekali anak muda itu. Cepat ia melompat bangun dan membawa pedang berat itu ke panggung batu untuk berlatih dengan si rajawali. Kalau kemarin terasa sukar memanjat ke atas panggung itu, sekarang sambil membawa pedang seberat berpuluh kati malah dengan enteng saja dapat naik, maka tahulah dia bahwa seharian kemarin tenaganya telah banyak lebih kuat hingga latihannya dengan rajawali sekarang menjadi lebih tangkas.

Begitulah dia terus berlatih beberapa hari berturut-turut, pedang yang terasa berat itu sekarang sudah mirip senjata biasa saja, setiap gerak serangan bisa dilakukan sesuka hatinya. Dasarnya memang pintar, beberapa bulan yang lalu ia pun sudah menciptakan aliran ilmu silatnya sendiri, kini tenaganya berlipat ganda, setiap hari dia berlatih dengan rajawali itu dengan menggunakan pedang yang berat, maka semakin dirasakan bahwa ilmu pedang yang dipelajarinya dulu terlalu banyak variasinya, terlalu banyak perubahannya. Sekarang dirasakan setiap jurus serangan yang tampaknya begitu saja tanpa kembangan justru lebih sukar ditangkis oleh pihak lawan.

Misal pedangnya menusuk lurus ke depan. Asalkan tenaganya maha kuat maka daya tekanannya menjadi jauh lebih besar dari pada ilmu pedang Coan-cin-pay atau Ko-bong-pay yang banyak variasinya itu. Meski sekarang dia cuma menggunakan tangan kiri saja, tapi setiap hari dia makan buah merah yang dibawakan si rajawali, maka tanpa terasa tenaga dalamnya bertambah lipat ganda, hanya beberapa hari saja dia telah sanggup melawan tenaga sakti si rajawali yang luar biasa dahsyatnya itu.

Sesudah ilmu silatnya mencapai tingkatan ini, maka dia laksana berada tinggi di puncak gunung memandang bukit-bukit kecil di bawahnya. Sekarang ia merasakan ilmu silat yang pernah dipelajarinya dahulu se-akan sama sekali tiada artinya lagi. Pagi hari ini cuaca mendung, air hujan bagaikan dituang dari langit. Yo Ko bertanya kepada si rajawali:

“Tiau-heng, hujan sehebat ini, apa kita masih harus berlatih?”

Rajawah itu menggigit ujung bajunya dan diseretnya berjalan ke arah timur laut, sesudah itu terus mendahului melangkah ke sana dengan cepat. Yo Ko menjadi heran. Apakah di arah sana ada sesuatu benda aneh lagi? Dengan membawa pedang berat dia lantas mengikutinya di bawah hujan deras. Beberapa li sudah mereka tempuh, terdengar suara gemuruh yang keras, jelas itu suara gemuruhnya air bah.

Setelah membelok ke selat gunung, suara gemuruh air semakin memekak telinga. Terlihat di antara dua puncak gunung mengalir air terjun laksana naga putih raksasa, air terjun itu menggerujuk masuk ke sebuah sungai kecil di bawahnya, di antara air itu terselip tangkai kayu dan batu yang ikut terjun ke sungai kemudian lenyap terbawa arus dalam waktu sekejap saja. Sementara itu hujan semakin lebat, pakaian Yo Ko sudah basah kuyup. Melihat air bah yang semakin gemuruh, diam-diam anak muda itu rada jeri. Rajawali itu menarik baju Yo Ko lagi dan mengajaknya ke pinggir sungai kecil itu. Melihat gelagatnya, burung itu seperti menyuruhnya turun ke sungai.

“Untuk apa turun ke sana?” ujar Yo Ko dengan heran. “Air bah begini dahsyat, bisa-bisa aku terhanyut.”

Mendadak rajawali itu berbunyi satu kali dengan menegakkan lehernya, lalu dia terjun ke tengah sungai, kedua kakinya tepat berdiri di atas sepotong batu karang yang berada di tengah sungai. Pada saat sayap kirinya menyampuk ke depan, sebuah batu besar yang terhanyut air bah dari hulu itu tertolak ke atas. Pada waktu batu itu menerjang tiba lagi terbawa arus, kembali rajawali menyabet dengan sayapnya dan batu itu tertolak balik pula.

Demikianlah terjadi beberapa kali, batu itu tetap tidak dapat lewat di samping si rajawali. Ketika untuk sekali lagi batu itu terhanyut, rajawali menghantam sekuatnya dengan sayap, batu mencelat dan jatuh di tepi sungai. Habis itu si rajawali lantas melompat kembali ke samping Yo Ko. Sekarang Yo Ko dapat menangkap maksud si rajawali. Ia tahu mendiang Tokko Kiu-pay pasti sering berlatih pedang di tengah air bah ini setiap hari hujan. Akan tetapi dia sendiri tidak mempunyai kemampuan sehebat ini, maka tidak berani mencobanya.

Selagi sangsi, mendadak si rajawali mengebas pantat Yo Ko dengan sayapnya. Karena keduanya berdiri sangat dekat, lagi pula tidak terduga, tanpa ampun tubuh Yo Ko mencelat ke tengah sungai. Karena sudah telanjur, terpaksa Yo Ko mengincar baik-baik dan tancapkan kakinya di atas batu karang tempat berdiri si rajawali tadi. Begitu kedua kakinya tergenang air, segera dia diterjang air bah hingga sempoyongan dan serasa mau terhanyut. Tiba-tiba terpikir oleh Yo Ko:

“Tokko-locianpwe adalah manusia, aku pun manusia, kalau dia sanggup berdiri di sini, mengapa aku tidak?”

Karena dorongan semangat ini, sekuatnya dia melawan terjangan air bah, namun untuk menggunakan pedang buat menyingkirkan batu yang terbawa arus benar-benar dia tidak mampu. Cukup lama Yo Ko bertahan di tengah damparan air bah yang kuat sehingga tenaganya terasa mulai lemas. Cepat ia gunakan pedangnya menahan di batu karang itu terus melompat ke tepi sungai.

Belum sempat dia mengaso, tahu-tahu sayap si rajawali sudah menyabet pantatnya lagi. Sekali ini Yo Ko sudah waspada, maka sabetan itu tidak kena, namun terpaksa dia harus melompat sendiri ke dalam sungai. Diam-diam ia mengakui rajawali itu benar-benar merupakan ‘guru yang keras dan sahabat yang baik’. Yo Ko pikir jika dia mau mendesak aku giat berlatih tanpa kendur sedikit pun, masa aku malah tidak punya hasrat ingin maju dan mengabaikan maksud baiknya?

Segera ia perkuat tenaga kakinya dan berdiri tegak, makin lama semakin disadari cara menggunakan tenaganya, biar pun air bah semakin deras hingga batas pinggangnya mulai tergenang, tapi dia malah tambah kuat dan tidak goyah lagi.

KALANG KABUT SEKELUARGA

Selang tak lama, air bah semakin membanjir dan mulai sampai di dadanya, lalu naik lagi dekat muIutnya. Bisa-bisa aku mati tenggelam kalau berdirinya tidak kukuh, pikirnya. Karena pikiran itu, segera Yo Ko melompat ke tepi sungai. Tak terduga si rajawali yang berjaga di tepi sungai sudah bersiap juga. Begitu melihat Yo Ko melompat naik, sebelum kakinya menyentuh tanah, cepat sayapnya menyabet. Terpaksa Yo Ko menahannya dengan pedang dan dengan sendirinya dia terdorong lagi ke dalam sungai.

“Plungg...!” ia kecebur pula ke dalam amukan air bah.

Baru saja sepasang kakinya menginjak batu karang, terasa air sudah menggenangi kepalanya dan air pun masuk mulutnya. Kalau dia menyemburkan air dan mengerahkan tenaga, tentu tenaga kakinya akan berkurang dan bisa terhanyut oleh arus yang deras itu. Cepat ia berdiri sekuatnya dengan menahan napas. Selang sejenak, ia menutulkan kedua kakinya dan meloncat ke atas, ia semburkan air yang sudah ditahannya sekian lama, kemudian dia turun lagi ke bawah, sekali ini ia dapat berdiri dengan kukuh dalam air dan membiarkan dirinya diamuk air bah yang dahsyat.

Sesudah pikirannya tenang, ia pikir kalau pedang tidak kugunakan mencungkil batu, tentu akan dipandang hina oleh si rajawali. Dasar watak Yo Ko memang suka unggul, biar pun terhadap seekor burung dia tidak mau kehilangan muka. Segera dia bersiap, begitu melihat di antara air bah itu ada batang kayu atau batu gunung, segera ia menjungkitnya atau menyampuknya dengan pedang ke bagian hulu.

Dalam air dengan sendirinya batu pun berubah enteng, pedang tumpul itu pun jauh lebih enteng karena tersanggah oleh tekanan air sehingga Yo Ko dapat memainkannya dengan leluasa. Begitulah ia terus menyampuk dan menghantam, ia terus berlatih hingga ototnya lemas dan tenaganya habis, kaki pun terasa lunglai, dengan begitulah baru dia melompat ke atas tepi sungai. Dia kuatir si rajawali akan mendorongnya ke dalam air lagi, padahal dia sudah betul-betul lemas, kalau tidak mengaso dulu tentu takkan sanggup menahan damparan air bah yang dahsyat itu. Benar saja, rajawali itu tak membolehkan dia naik, begitu melihat dia melompat keluar dari air, seketika sayapnya menyabet.

“Tiau-heng, caramu ini bisa bikin mati aku!” seru Yo Ko dan terpaksa menceburkan diri ke dalam sungai lagi. Ia berdiri lagi sejenak dan sungguh-sungguh merasa tidak tahan, tiada jalan lain kecuali melompat lagi ke atas.

Di lihatnya si rajawali menyabetkan sayapnya lagi. Karena kepepet, terpaksa Yo Ko balas menusuk dengan pedangnya, setelah tiga gebrakan rajawali itu ternyata dapat didesaknya mundur setindak.

“Maaf, Tiau-heng!” seru Yo Ko sambil menusukkan pedangnya lagi.

Terdengar suara mendesing dari ujung pedangnya, ternyata daya serangannya telah jauh berbeda dari pada biasanya, malahan rajawali itu pun tidak berani menangkis lagi, begitu tusukan Yo Ko mendekat, cepat burung itu melompat mundur.

Maka tahulah Yo Ko bahwa selama setengah harian berlatih di tengah damparan air bah itu, kini tenaga tangan kirinya bertambah kuat. Keruan dia terkejut girang, dia merasa untuk menumbuhkan tenaganya itu seharusnya diperlukan waktu sepuluh atau dua puluh hari, ternyata cuma digembleng setengah hari dalam air sudah maju sepesat ini. Ia pikir buah merah yang dibawakan si rajawali setiap hari itu pasti berkhasiat memupuk tenaga dan menguatkan otot sehingga tanpa terasa tenaga dalamnya bertambah sehebat ini.

Begitulah sesudah duduk istirahat sejenak di tepi sungai dan terasa tenaga pulih, kini tanpa dipaksa si rajawali lagi ia melompat ke dalam sungai untuk berlatih lagi. Ketika kemudian dia melompat kembali ke atas sungai, rajawali itu sudah tidak nampak di situ dan entah ke mana perginya, sementara hujan sudah mulai mereda. Dia pikir air bah tidak lama lagi pasti akan menyurut, kalau datang lagi besok belum tentu tenaga air akan sekuat ini, mumpung sekarang tidak terasa lelah, ada baiknya kulatih lebih lama lagi. Karena pikiran ini, segera ia melompat lagi ke dalam sungai.

Pada saat untuk ke empat kalinya dia melompat kembali ke tepi sungai, dilihatnya di situ tertaruh beberapa buah merah, sungguh dia sangat berterima kasih atas kebaikan rajawali itu, sekaligus dia habiskan buah itu lalu berlatih pedang lagi ke tengah sungai. Ia terus berlatih hingga jauh malam. Aneh juga, bukannya tambah capek tetapi sebaliknya semakin bersemangat dan semakin kuat. Namun air bah sudah mulai surut.

Semalaman ia tidak tidur, ia terus merenungkan hasil latihannya dalam sungai. Baru sekarang dipahaminya bagaimana cara memainkan pedangnya dengan berbagai gaya dan gerakan dalam air. Kalau dengan cara begini dia memainkan pedangnya, maka benda apa pun juga pasti akan dihancurkan, dan jika sudah begitu, lalu apa gunanya pedang yang tajam?

BegituIah dari amukan air bah itu Yo Ko telah berhasil menyelami teori ilmu pedangnya. Ia tahu bagaimana caranya memainkan pedang tumpul yang berat itu, kini sudah dikuasainya benar-benar dan tidak perlu dilatih lagi. Dia pikir biar pun Tokko Kiu-pay itu hidup kembali, yang dapat diajarkan padanya paling-paling juga cuma begini saja. Tiba-tiba terpikir olehnya apa gunanya dengan ilmu pedang yang telah dipahaminya kalau saja dia tetap tinggal di pegunungan sunyi ini? Kalau racun bunga cinta mendadak kumat dan membinasakannya, bukankah ilmu pedang maha sakti ini akan lenyap pula dari dunia ini? Teringat begini seketika bangkit jiwa ksatriaannya.

“Tidak, aku juga hendak meniru Tokko-locianpwe, ilmu pedang ini harus kugunakan untuk mengalahkan semua jago silat di dunia, dengan begitu barulah aku rela meninggalkan dunia fana ini,” demikian ia menggumam sendiri.

Tanpa terasa ia meraba lengan kanan sendiri yang buntung. Teringat dendamnya pada Kwe Hu, tanpa terasa darahnya bergolak, pikirnya: “Budak ini mengira ayah-ibunya sangat berpengaruh dan disegani, sejak dulu sudah memandang hina padaku. Waktu aku mondok di rumahnya dahulu sudah kenyang aku dihina dan dianiaya olehnya. Bahwa aku berdusta pada kedua saudara Bu sesungguhnya demi kebaikannya, kalau saja salah seorang dari kedua Bu itu binasa karena memperebutkan dia, bukankah dia sendiri yang berdosa? Hm, dia mengutungi lenganku selagi aku sakit dan tak dapat mengelakkannya, kalau tidak kubalas sakit hati ini, aku bukan lagi laki-laki sejati.”

Selamanya Yo Ko paling tegas membedakan antara budi dan sakit hati. Waktu lengannya dibuntungi tempo hari dia terus sembunyi di lembah sunyi ini untuk merawat lukanya, hal ini karena terpaksa. Sekarang luka lengannya sudah sembuh, ilmu silatnya berbalik maju pesat, maka segenap pikirannya sekarang terpusat pada soal menuntut balas. Begitulah sesudah ambil keputusan segera dia pulang ke goa itu lalu mohon diri kepada si rajawali dan menyatakan terima kasihnya atas kebaikan burung itu, bila ada kesempatan dia menyatakan kelak akan datang lagi. Mengenai pedang tumpul yang berat milik Tokko Kiu-pay itu akan dipinjamnya untuk sementara.

Habis itu dia memberi hormat kepada rajawali itu serta menyembah di depan makam batu Tokko Kiu-pay, lalu melangkah pergi. Rajawali itu ikut mengantarkan hingga mulut lembah barulah berpisah dengan perasaan berat. Pedang tumpul itu amat berat, kalau digantungkan pada pinggang tentu tali pinggang akan putus seketika. Yo Ko mencari tiga utas rotan tua dan dipuntir menjadi tali, ia ikat pedang itu lantas digendongnya di punggung dan pergilah dia ke Siang-yang dengan Ginkang-nya yang tinggi.

Setiba di luar kota Siang-yang, hari sudah dekat magrib. Karena semalaman tidak tidur, ia merasa perlu istirahat dulu untuk menghadapi pertempuran dahsyat nanti, terutama kalau kepergok tokoh-tokoh semacam Kwe Ceng dan Oey Yong. Segera ia mencari sebuah tempat sepi di tanah pekuburan, di semak-semak rumput yang lebat ia merebahkan diri untuk tidur.

Waktu ia bangun, ia merasa tenaga cukup segar. Ia mencari buah untuk sekedar isi perut. Menjelang tengah malam barulah dia mendekati benteng kota. Benteng kota Siang-yang amat megah dan tinggi. Tempo hari waktu Kim-lun Hoat-ong dan Li Bok-chiu melompat turun perlu mempergunakan tubuh manusia sebagai batu loncatan, sekarang hendak memanjat ke atas dari luar benteng tentu juga perbuatan yang tidak mudah.

Waktu masih mengaso di tanah pekuburan tadi Yo Ko sudah memikirkan cara melintasi benteng kota. Ia pikir bagaimana Tokko-locianpwe memanjat dinding tebing, dengan cara itu pula aku akan memanjat benteng kota. Begitulah ia mendekati bagian yang sunyi di samping pintu gerbang timur. Dilihatnya prajurit penjaga sedang berjalan jauh ke sana, maka segera ia melompat ke atas, dengan pedang berat ia menusuk dinding benteng. Meski ujung pedang tumpul, tapi tusukannya sangat kuat.

“Brakk!” terdengarlah suara keras, dinding benteng yang tersusun dari batu-batu besar itu pecah seketika dan berlubang.

Yo Ko tidak menduga tusukannya membawa tenaga sekuat itu, diam-diam dia terkejut sendiri dan girang, Waktu ia melompat lagi ke atas untuk kedua kalinya, sebelah kakinya berpijak pada lubang itu lalu dia membuat lubang lagi pada bagian atas, sekali ini dia menusuk dengan perlahan saja agar tidak mengeluarkan suara keras yang akan mengejutkan penjaga.

Dengan begitulah setindak demi setindak dia memanjat ke atas benteng. Kira-kira beberapa meter terakhir, tanpa membuat lubang lagi dia merambat ke atas dengan ‘Pia-hou-yu-jiang-kang’ atau ilmu cecak merayap di dinding, maka dengan enteng saja tahu-tahu ia sudah berada di atas benteng dan sembunyi di tempat yang gelap. Di bagian dalam benteng ada undak-undakan batu. Ia menunggu penjaga berjalan lagi ke sana, lalu cepat menyelinap ke bawah dan berlari ke tempat tinggal Kwe Ceng.

Sejak makan buah merah itu, tenaga dalam Yo Ko banyak bertambah, sekaligus gerak-geriknya lebih lincah dan gesit, Ginkang-nya jauh lebih maju. Tapi ia pun tahu bahwa ilmu silat Kwe Ceng bukan sembarangan. Melulu Hang-liong-sip-pat-ciang (pukulan sakti penakluk naga) saja mungkin tiada tandingannya di seluruh jagat, belum lagi ketambahan Pak-kau-pang-hoat Oey Yong yang hebat itu. Sebab itulah dia tidak berani sembrono. Setibanya di luar rumah kediaman keluarga Kwe, dengan perlahan-lahan dan hati-hati ia melintasi pagar tembok.

Yo Ko pernah cukup lama tinggal di situ, maka seluk-beluk rumah itu amat apal baginya. Begitu mengitari taman bunga, tampaklah kamar yang pernah ditinggalinya tempo hari. Sesudah dekat dia coba pasang kuping, tiada seorang pun di dalam. Perlahan dia menolak pintu, segera dia melangkah ke dalam kamar. Ia bisa memandang di malam gelap seperti di siang hari, maka dilihatnya segala sesuatu dalam kamar itu masih tetap seperti dulu tanpa perubahan, hanya selimut bantal di atas ranjang sudah disingkirkan. Ia duduk di tepi ranjang, teringat lengan sendiri yang baik-baik tertebas di tempat tidur itu, tanpa tertahan ia menjadi berduka dan gemas.

Yo Ko dilahirkan dengan tampang cakap, wataknya rada dugal dan sok romantis, meski cintanya kepada Siao-liong-li amat mendalam dan tak tergoyahkan, namun banyak perempuan cantik jatuh cinta padanya, seperti Thia Eng, Liok Bu-siang, Wanyen Peng, Kongsun Lik-oh dan lain-lain semuanya kesemsem padanya baik secara samar-samar mau pun berterus terang. Sekarang dia meraba tangan sendiri yang sudah buntung. Dia pikir kalau bertemu lagi dengan gadis-gadis jelita itu, dalam pandangan mereka sekarang dirinya pasti akan berubah menjadi manusia yang harus dikasihani dan lucu, sungguh pun ilmu silatnya tinggi, paling-paling juga cuma makhluk hidup yang aneh saja.

Begitulah dalam kegelapan ia duduk termenung, pikirannya timbul tenggelam mengenang kejadian-kejadian di masa lampau. Pada saat itulah mendadak dari sebelah sana samar-samar ada suara orang bertengkar, jelas itulah suaranya Kwe Ceng dan Oey Yong. Yo Ko menjadi heran dan ingin tahu apa yang sedang diributkan suami isteri itu.

Dengan perlahan dia merunduk ke kamar Kwe Ceng, dari luar jendela dapat didengarnya dengan jelas Oey Yong berkata:

“Sudah jelas mereka membawa anak Yang kita ke Coat-ceng-kok untuk menukar obat penawar racunnya, tapi kau masih terus bilang Yo Ko itu adalah anak baik. Belum ada satu jam orok itu lahir jatuh di tangan mereka, saat ini masa jiwanya masih hidup?” Sampai di sini suaranya terdengar tersendat dengan diiringi tangisan.

“Ko-ji pasti bukan manusia begitu,” terdengar Kwe Ceng menjawab. “Lagi pula dia sudah menyelamatkan kita beberapa kali, seandainya kita gunakan anak Yang untuk menukar jiwanya juga rela dan ikhlas bagiku.”

“Kau rela, aku yang tidak rela,” belum habis ucapan Oey Yong, tiba-tiba terdengar suara tangisan anak bayi, suaranya keras dan nyaring.

Yo Ko menjadi heran. Apakah bayi perempuan itu telah direbutnya kembali dari tangan Li Bok-chiu? Tetapi mengapa barusan Oey Yong menyangsikan jiwa bayi itu apakah masih hidup? Ia mengintip ke dalam kamar melalui celah jendela, terlihat Oey Yong memondong seorang bayi, karena muka anak bayi itu menghadap jendela, maka Yo Ko dapat melihat jelas bayi itu bermuka lebar dan bertelinga besar, kulit rada kehitam-hitaman, jelas bukan bayi perempuan yang pernah digendongnya.

Dalam pada itu terdengar Oey Yong sedang menina bobokkan bayi itu, kemudian berkata:

“Sepasang anak sebaik ini, tapi sekarang cuma tinggal adiknya saja, hendaklah kau lekas berusaha menemukan kakaknya kembali.”

Baru sekarang Yo Ko menyadari duduknya perkara. Kiranya Oey Yong melahirkan anak kembar, bayi yang lahir lebih dulu adalah perempuan yang sebelumnya sudah disediakan nama oleh Kwe Ceng, yaitu Kwe Siang, kemudian menyusul lahir bayi laki-laki yang diberi nama Kwe Boh-lo. Ketika bayi lelaki ini lahir, sementara itu bayi perempuan sudah dibawa pergi oleh Siao-liong-li.

Demikianlah Kwe Ceng sedang mondar-mandir di dalam kamar dan berkata kepada sang isteri:

“Yong-ji, biasanya kau sangat bijaksana. Mengapa sekarang kau menjadi berpikiran sesempit ini mengenai urusan kanak-kanak? Sekarang suasana amat genting, mana boleh aku tinggalkan kota ini hanya karena seorang bayi?”

“Aku hendak pergi mencari sendiri, tapi kau pun tidak mengijinkan!” ujar Oey Yong. “Apa kita harus membiarkan jiwa anak itu melayang begitu saja?”

“Kesehatanmu belum pulih, mana boleh pergi?” kata Kwe Ceng.

“Habis bagaimana? Sang ayah tak pedulikan anaknya, ibunya yang harus menderita, apa boleh buat!” seru Oey Yong dengan marah.

Biasanya Yo Ko melihat suami-isteri itu hidup rukun dan saling mencintai, tetapi sekarang keduanya bertengkar dan tidak mau saling mengalah, jelas keduanya sudah bertengkar beberapa kali mengenai urusan ini. Kalau Oey Yong bicara sambil menangis, maka Kwe Ceng terus mondar mandir di dalam kamar dengan muka bersungut. Selang tak lama Kwe Ceng membuka suara pula:

“Sekali pun anak itu berhasil ditemukan kembali, kalau kau tetap memanjakan dia seperti anak Hu hingga bertingkah semaunya, anak perempuan begitu lebih baik tidak ada.”

“Memang anak Hu kurang baik apa?” seru Oey Yong. “Dia amat sayang pada adiknya, maka wajar saja kalau dia menyerang secara gemas. Jika aku, mungkin lengan kiri Yo Ko juga sudah kutebas bila dia tidak mengembalikan anakku.”

“Kau bilang apa Yong-ji?!” Kwe Ceng membentak dengan marah sambil menggebrak meja, seketika ujung meja pun sempal sebagian. Bayi yang tadinya sedang menangis itu lantas berhenti oleh karena bentakan dan suara gebrakan.

Saat itu juga Yo Ko melihat jendela sebelah sana ada berkelebatnya bayangan orang, sambil munduk orang itu lalu menyingkir pergi. Yo Ko jadi ingin tahu siapakah orang itu, dengan Ginkang-nya yang tinggi dia menguntit. Dilihatnya perawakan orang itu tinggi ramping, jelas Kwe Hu adanya. Seketika hati Yo Ko terbakar, dia pikir kebetulan sekali, memang kau yang ingin kucari. Akan tetapi pada saat itu juga cahaya lampu di kamar Oey Yong telah dipadamkan dan terdengar suaranya:

“Kau keluar, membikin kaget anak ini saja.”

Yo Ko tahu Kwe Ceng akan segera keluar dan sukarlah mengelabui mata sang paman, maka cepat dia melompat dan sembunyi di balik gunung-gunungan, lalu berputar menuju ke luar kamar Kwe Hu. Dia melompat ke atas sebuah pohon besar yang terletak di luar kamar, kemudian sembunyi di balik daun pohon yang lebat. Sejenak kemudian terlihat Kwe Hu sudah kembali di kamarnya. Pelayan pribadinya telah membenahi bantal dan selimutnya, akan tetapi tak berani banyak bicara melihat si nona cemberut saja, ia hanya menyilakan si nona tidur, lalu keluar kamar sambil merapatkan pintu. Dari atas pohon Yo Ko dapat melihat keadaan kamar dengan jelas melalui jendela yang masih terbuka. Dilihatnya Kwe Hu sedang menghela napas panjang dan duduk bertopang dagu.

Yo Ko pikir: “Apa yang kau sedihkan? Kau membikin buntung lenganku, aku pun hendak balas membuntungi sebelah lenganmu. Cuma seorang lelaki tak pantas berkelahi dengan seorang perempuan, kalau sekarang aku hendak membereskan kau terlalu mudah bagiku, akan tetapi cara ini bukanlah perbuatan seorang jantan sejati. Rasanya aku harus berteriak-teriak lebih dulu agar paman Kwe memburu ke sini, dia adalah tokoh silat pujaan masa kini, biar kukalahkan dia dahulu baru nanti kubereskan anak perempuannya, dengan perbuatanku yang terang-terangan ini tentu tidak akan ditertawakan orang. Akan tetapi ilmu silat paman Kwe teramat tinggi, apakah aku dapat mengalahkan dia? Ah, mungkin tidak dapat! Lalu bagaimana, aku harus menuntut balas atau tidak?”

BegituIah dia menjadi ragu-ragu, tetapi demi teringat pada lengannya yang sudah buntung, seketika darahnya bergolak kembali dan segera dia nekat hendak melompat ke dalam kamar Kwe Hu. Ketika itulah tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, ternyata bukan lain dari pada Kwe Ceng. Setiba di luar kamar anak perempuannya, Kwe Ceng mengetok perlahan pintu kamar dan memanggil:

“Anak Hu, apa kau sudah tidur?”

Kwe Hu berbangkit dan menjawab: “Kaukah, ayah?” suaranya terdengar rada gemetar.

Yo Ko terkesiap juga. Ia pikir jangan-jangan paman Kwe sengaja datang ke kamar si nona untuk melindunginya karena mengetahui kedatanganku? Baik, biar kulabrak kau lebih duIu! Demikian tekad anak muda itu. Dalam pada itu Kwe Hu sudah membuka pintu kamarnya. Dia memandang sekejap sang ayah, lalu menunduk. Kwe Ceng melangkah ke dalam kamar dan menutup pintu, lalu duduk di kursi di depan tempat tidur dan terdiam untuk sekian lamanya. Sesudah ayah-anak itu sama-sama bungkam agak lama, akhirnya Kwe Ceng membuka suara:

“Selama beberapa hari ini ke mana saja kau?”

Kwe Hu melirik sang ayah sekejap, lalu menjawab dengan tergagap: “Sesudah... sesudah melukai Yo-toako, anak takut... takut didamprat ayah, maka... maka...”

“Maka kau bersembunyi begitu?” sambung Kwe Ceng.

Sambil menggigit bibirnya, terpaksa Kwe-Hu mengangguk. “Jadi maksudmu menunggu setelah kemarahanku mereda barulah kau pulang?”

Kembali Kwe Hu manggut-manggut, mendadak ia menubruk ke pangkuan sang ayah dan berseru dengan terguguk:

“Apakah engkau masih marah pada anak, ayah?”

Dengan penuh rasa kasih sayang Kwe Ceng membelai rambut anak gadisnya, katanya dengan perlahan:

“Tidak, aku tidak marah, selamanya aku tidak pernah marah, aku cuma sedih bagimu.”

“Oh, ayah!” teriak Kwe Hu sambil mendekap sang ayah dan menangis tersendat sendat.

Kwe Ceng menengadah memandangi langit-langit kamar tanpa berbicara lagi. Agak lama setelah tangis Kwe Hu mereda barulah dia berkata pula:

“Kakek Yo Ko, namanya Yo Tiat-sim, dengan kakekmu Kwe Siau-thian, keduanya adalah saudara angkat. Ayahnya dan ayahmu ini juga mengikat saudara, semuanya ini kan sudah kau ketahui.” Kwe Hu mengiyakan. Maka Kwe Ceng segera melanjutkan: “Meski tingkah laku Yo Ko itu kadang-kadang suka dugal, tetapi pembawaannya berbudi luhur, beberapa kali dia menyelamatkan jiwa ayah-bundamu. Usianya masih muda, tapi jasanya cukup besar bagi negara dan bangsa, hal ini pun kau mengetahui.”

Karena nada ucapan sang ayah semakin bengis, Kwe Hu tidak berani menanggapi. Tiba-tiba Kwe Ceng bangkit dan berkata:

“Selain itu ada hal lagi yang tidak diketahui olehmu, biarlah sekarang aku ceritakan kepadamu. Bahwa ayah Ko-ji, yaitu Yo Khong, dahulu perbuatannya memang sangat tercela, sebagai kakak angkatnya aku tidak dapat menasehati dia dan menuntunnya ke jalan yang benar, sehingga dia tewas secara mengerikan di biara Thi-jio-bio di kota Kahin. Sungguh pun kematian paman Yo itu tidak dilakukan oleh ibumu, tapi matinya disebabkan oleh ibumu, jadi sebetulnya keluarga Kwe berutang cukup banyak kepada keluarga Yo.”

Untuk pertama kalinya sekarang Yo Ko mendengar tentang sebab musabab serta tempat kematian ayahnya, seketika dendam kesumat yang terpendam dalam lubuk hatinya berkobar kembali. Dalam pada itu terdengar Kwe Ceng berkata:

“Sebenarnya ada maksudku hendak menjodohkan kau pada Ko-ji sekedar mengurangi penyesalanku dalam hidupku ini, siapa tahu... siapa tahu... Aihh...!”

Tiba-tiba Kwe Hu mendongak dan berkata: “Ayah, dia telah menggondol lari adik dan telah banyak mengucapkan kata kotor yang sangat merendahkan anakmu ini. Coba ayah, biar pun keluarga Yo mereka memiliki hubungan erat dengan keluarga Kwe, apakah anak boleh dihina dan dicerca begitu saja olehnya dan sama sekali tidak boleh membantah dan melawannya?”

Se-konyong-konyong Kwe Ceng membentak: “Sudah jelas kau telah mengutungi lengannya, bagaimana dia dapat menghina dan mencerca kau? Dan di mana pedang itu?”

Kwe Hu tidak berani membantah lagi, dia mengeluarkan Ci-wi-kiam dari bawah kasur. Setelah memegang pedang itu, Kwe Ceng menggetarnya perlahan, seketika terdengar suara mendengung. Katanya dengan suara pedih:

“Anak Hu, manusia hidup harus dapat mawas diri, setiap tindak-tandak harus dilakukan dengan jujur tanpa merugikan siapa pun juga. Biasanya meski ayah sangat bengis padamu, tetapi sayangku padamu tidak kurang dari pada ibumu.” Sampai dengan kalimat-kalimat terakhir ini suaranya berubah menjadi halus dan lunak.

Maka dengan suara perlahan Kwe Hu menanggapi. “Ya, anak juga tahu.”

“Baiklah, sekarang ulurkan lengan kananmu,” kata Kwe Ceng tiba-tiba. “Kau telah memotong sebelah lengan orang, aku pun memotong sebelah lenganmu. Selama hidup ayahmu jujur dan adil, biar pun puteriku sendiri kalau berbuat salah takkan kubela.”

Sebelumnya Kwe Hu juga menyadari dirinya pasti akan dihukum oleh sang ayah, namun sama sekali tak menduga bahwa ayahnya tega menebas lengannya. Keruan ia ketakutan hingga muka pucat seperti mayat dan berteriak:

“Ayah!”

Yo Ko juga tidak menyangka bahwa Kwe Ceng sedemikian tinggi luhur budinya, dia pun berdebar menyaksikan adegan yang luar biasa itu. Terlihat wajah Kwe Ceng yang kereng itu menatap puterinya dengan tajam, mendadak pedangnya bergerak terus menebas. Akan tetapi dengan cepat luar biasa mendadak seorang melompat masuk kamar melalui jendela, belum tiba segera pentungnya menangkis pedang Kwe Ceng, siapa lagi dia kalau bukan Oey Yong.

Tanpa bicara Oey Yong menyerang tiga kali, semuanya tipu serangan lihay dari Pak-kau-pang-hoat. Karena ilmu permainan pentung itu memang amat hebat, pula Kwe Ceng tidak berjaga-jaga, mau tak mau ia terdesak mundur dua tiga tindak oleh sang isteri.

“Lekas lari, anak Hu!” satu Oey Yong.

Namun Kwe Hu tidak secerdik sang ibu, menghadapi peristiwa luar biasa ini, dia menjadi melenggong dan berdiri mematung. Dengan tangan kiri membopong bayi dan tangan kanan memutar pentungnya, segera Oey Yong gunakan pentung untuk menolak tubuh Kwe Hu hingga terjungkal keluar jendela.

“Lekas kembali ke Tho-hoa-to dan mohon Kwa-kongkong (maksudnya Kwa Tin-ok) ke sini untuk mintakan ampun pada ayahmu!” seru Oey Yong sambil memutar lagi pentungnya menghalangi Kwe Ceng, lalu dia berseru: “Lekas pergi, kuda merah tertambat di depan!”

Oey Yong cukup kenal watak sang suami yang amat polos dan jujur, bahkan terkadang kepala batu, tapi juga amat mementingkan setia kawan dan menghormati orang tua. Sekali ini anak perempuannya telah berbuat salah besar, tentu tak terhindar dari hukuman berat, maka sebelumnya dia sudah suruh orang menyiapkan kuda merah di luar pintu, lengkap dengan pelana terpasang serta perbekalan seperlunya. Dia pikir kalau berhasil meredakan amarah suaminya, kalau perlu biar Kwe Hu diomeli dan dipukul sekadarnya, dia pun akan bereskan persoalan. Jika tidak maka terpaksa Kwe Hu disuruh lekas lari ke tempat yang jauh, kelak apa bila amarah sang suami sudah mulai kendur barulah puterinya akan disuruh pulang.

Tadi sehabis ribut mulut di kamar, Kwe Ceng menuju ke kamar anak perempuannya, segera Oey Yong merasakan gelagat kurang enak, maka cepat ia menyusul ke sana dan dapatlah menyelamatkan lengan puterinya. Sebetulnya kepandaian Oey Yong bukan tandingan Kwe Ceng, tetapi biasanya Kwe Ceng rada segan kepada isterinya, pula melihat Oey Yong memondong bayi, betapa pun tidak tega menggunakan pukulan berat untuk menghalau sang isteri. Karena sedikit ragu dan terhalang itulah Kwe Hu sempat kabur keluar rumah.

Sudah tentu semua kejadian itu dapat disaksikan oleh Yo Ko dari tempat sernbunyinya. Ketika Kwe Hu terlempar keluar jendela, bila ia terus melompat turun dan menyerangnya, terang Kwe Hu sudah binasa sejak tadi. Namun mengingat sekeluarga itu sedang kalang kabut dan pokok pangkalnya adalah disebabkan diriku, bila kubinasakan dia selagi orang dalam kesusahan, betapa pun rasanya tidak enak dan tidak tega.

DUA WANITA TERKEMUKA DI DUNIA KANGOUW

Dalam pada itu Oey Yong masih terus memutar pentungnya dan mendesak mundur Kwe Ceng. Sekarang Kwe Ceng sudah kepepet di tepi ranjang dan tak dapat mundur lagi. Mendadak Oey Yong berteriak:

“Terima ini!” Berbareng bayi dalam pondongannya dilemparkan kepada sang suami.

Dengan melengak Kwe Ceng menangkap bayi itu. Oey Yong lantas mendekatinya dan membujuk dengan suara halus:

“Kakak Ceng, harap kau mengampuni anak Hu.”

Akan tetapi Kwe Ceng menggeleng, jawabnya: “Yong ji, masa aku tidak sayang pada puteriku sendiri? Tapi dia telah berbuat kesalahan sebesar itu, kalau tidak diberi hukuman setimpal, betapa pun hati kita tidak akan tenteram. Lagi pula, bagaimana kita akan menghadapi Ko-ji? Aihh, lengannya buntung sebelah, tiada orang yang merawatnya pula, entah bagaimana keadaannya sekarang.”

Mendengar ucapan yang penuh perasaan itu, Yo Ko tahu sang paman selalu memikirkan dirinya, tanpa terasa ia terharu dan hampir meneteskan air mata.

“Sudah sekian hari kita mencari tetapi tidak berhasil menemukan jejaknya, bila terjadi sesuatu tentu kita sudah menemukan bekas-bekasnya,” kata Oey Yong.

“Apa lagi kepandaian Ko-ji sudah tidak di bawah kita, meski pun terluka parah takkan berhalangan.”

“Baiklah, akan kupanggil kembali anak Hu,” kata Kwe Ceng.

“Saat ini dia sudan keluar kota dengan kuda merah, mana dapat menyusulnya lagi?” kata Oey Yong dengan tertawa.

“Saat ini baru lewat tengah malam, tanpa Lengpay (tanda perintah) dariku atau Lu-tayjin, tidak mungkin dia dapat keluar kota,” kata Kwe Ceng pula.

“Baiklah, terserah kau,” jawab Oey Yong sambil menghela napas, lalu dia mendekati sang suami untuk menerima bayinya.

Tanpa sangsi Kwe Ceng mengangsurkan bayi itu, tapi di luar dugaan, baru saja kedua tangan Oey Yong menyentuh gurita si bayi, se-konyong-konyong tangannya nyelonong ke iga Kwe Ceng, lalu dengan ilmu Tiam-hiat yang khas ajaran Oey Yok-su yang terkenal dengan nama ‘Lau-hoa-hut-hiat-jiu’ mendadak ia totok kedua Hiat-to penting di bagian iga sang suami.

Dengan kepandaian Kwe Ceng yang maha sakti, kalau Oey Yong tidak main licik, betapa pun sukar hendak menotok suaminya. Rupanya ketika dia melemparkan Kwe Boh-lo kepada suaminya memang sudah diatur rencananya ini. Menghadapi isterinya yang cerdik pandai ini Kwe Ceng betul-betul mati kutu, seketika tubuhnya kaku pegal dan menggeletak di atas ranjang tanpa bisa berkutik.

Sambil membopong bayinya Oey Yong terus membukakan sepatu dan baju luar suaminya kemudian dibaringkan di tempat tidur serta diberi bantal pula agar dapat tidur dengan baik, lalu dari baju Kwe Ceng diambilnya Lengpay. Tentu saja Kwe Ceng menyaksikan ini, akan tetapi dia tak berdaya. Kemudian Oey Yong merebahkan bayinya pula di samping sang suami agar ayah dan anak itu tidur bersama, lalu mereka diselimuti dan berkata:

“Maafkan, kakak Ceng, nanti kalau anak Hu telah kuantarkan keluar kota, pulangnya akan kubuatkan beberapa macam daharan lezat untuk minta maaf padamu.”

Kwe Ceng hanya menyeringai saja tanpa bisa menjawab, isterinya yang sudah setengah umur ini ternyata masih nakal seperti dahulu. Terlihat Oey Yong melangkah pergi dengan tersenyum. Dalam keadaan tertotok begitu, andaikan menggunakan tenaga dalam sendiri untuk membobol Hiat-to yang tertotok itu paling cepat diperlukan satu jam baru jadi, jelas betapa pun sukar lagi menyusul puterinya. Persoalan ini benar-benar membuatnya serba runyam!

Oey Yong sayang pada anak. Dia kuatir Kwe Hu seorang diri pergi ke Tho-toa-to mungkin akan mengalami kesulitan di tengah jalan, sebab itu dia cepat kembali ke kamarnya untuk mengambil kaos kutang pusaka yang biasa dipakainya, kemudian segera dia memburu ke pintu gerbang selatan. Setiba di sana, tampak Kwe Hu sedang ribut dengan perwira penjaga yang tidak mau membukakan pintu. Perwira itu bicara dengan hormat dan berusaha menjelaskan bahwa tanpa ijin khusus dari Lu-ciangkun dan Kwe-tayhiap, kalau malam-malam membuka pintu gerbang pasti akan dihukum penggal kepala, maka perwira itu menyatakan keberatannya untuk mengeluarkan si nona.

Oey Yong kenal kecerobohan puterinya yang juga kurang pengalaman itu, menghadapi kesukaran bukannya mencari akal, tetapi malahan mengumbar kemarahan dan berteriak-teriak yang tiada gunanya. Cepat ia mendekati mereka dan memperlihatkan Lengpay yang diambilnya dari baju sang suami tadi. Melihat Lengpay itu memang asli, pula dibawa sendiri oleh Kwe-hujin, terpaksa perwira penjaga itu minta maaf lalu membukakan pintu, bahkan ia meminjamkan kudanya kepada nyonya Kwe.

Oey Yong merasa kebetulan dengan kuda pinjaman itu, Kwe Hu juga amat girang melihat kedatangan sang ibu, segera keduanya melarikan kuda mereka keluar kota. Karena merasa berat berpisah dengan puterinya, Oey Yong mengantar hingga cukup jauh dari kota. Karena habis perang, beberapa ratus li di sebelah utara kota Siang-yang boleh dikatakan tandas tanpa penduduk, sebaliknya pada bagian selatan Siang-yang belum mengalami keganasan pasukan Mongol, biar pun suasana juga kurang aman tetapi kehidupan rakyat tetap berlangsung seperti biasa.

Sesudah kira-kira lebih 20 li, pagi pun tiba. Ibu dan anak itu sampai di sebuah kota kecil, beberapa toko telah membuka pasar menanti tamu. Oey Yong lantas mengajak puterinya masuk sebuah rumah makan untuk sarapan dan setelah itu mereka pun terus berpisah. Dengan mengembeng air mata Kwe Hu menuruti ajakan sang ibu. Dalam hati dia sangat sesalkan perbuatan sendiri yang telah mengutungi lengan Yo Ko sehingga mengakibatkan kemarahan ayahnya dan terpaksa harus berpisah dengan ibunda pula. Dia harus kembali ke Tho-hoa-to dan di sana dia hanya akan ditemani seorang kakek buta saja, yaitu Kwe-kongkong. Dia membayangkan dirinya pasti tidak akan betah hidup di pulau terpencil itu.

Demikianlah kedua orang lantas memesan sarapan di rumah makan. Oey Yong menyerahkan kaos pusaka yang kebal senjata itu kepada Kwe Hu dengan pesan supaya dipakai untuk menjaga segala kemungkinan. Banyak pula ia memberi nasihat agar ini dan itu bila di tengah jalan mengalami kesulitan.

Kasih sayang seorang ibu sedemikian besarnya. Pada saat sekilas melihat tidak jauh dari rumah makan itu ada sebuah toko makanan dan menjual buah-buahan, timbullah hasrat Oey Yong memberi bekal beberapa buah apel kepada puterinya untuk dimakan dalam perjalanan. Maka ia pun berkata:

“Anak Hu, hendaklah kau makan sekenyangnya supaya nanti tidak kelaparan. Suasana sedang kacau begini, bisa jadi di depan sukar ditemukan rumah makan lagi. Aku pergi sebentar ke sana membeli sedikit buah.” Habis ini dia lantas menuju ke toko buah.

Setelah memilih belasan buah apel yang merah besar, baru saja mau membayar, tiba-tiba di belakang ada suara seorang perempuan sedang berkata:

“Berikan 20 kati beras, satu kati garam, masukkan ke dalam karung ini.”

Oey Yong merasa tertarik oleh suara yang nyaring itu. Ia coba meliriknya, kiranya seorang To-koh berbaju kuning sedang membeli rangsum di toko beras sebelah. Pada tangan kiri To-koh itu memondong seorang bayi perempuan, tangan kanannya sedang mengeluarkan uang. Popok yang dikenakan bayi itu terbuat dari sutera merah dan tersulam seekor kuda, jelas itulah buah tangan Oey Yong sendiri.

Seketika hati Oey Yong tergetar hebat hingga buah apel yang dipegangnya jatuh kembali ke keranjang penjualnya. Siapa lagi bayi itu kalau bukan Kwe Siang, puteri kandung yang baru beberapa hari dilahirkannya. Dari samping dapat dilihatnya pula ternyata To-koh itu adalah Jik-lian-siancu Li Bok-chiu. Oey Yong sendiri belum pernah bertemu dan bertempur dengan iblis perempuan ini, tetapi melihat di pinggangnya terselip sebuah kebut, matanya buta sebelah serta dandanannya, segera dia yakin pasti Li Bok-chiu adanya.

Sejak melahirkan Kwe Siang, dalam keadaan kacau dan gugup dia pernah melihat beberapa kejap kepada bayi itu. Sekarang mengamat-amati puterinya itu, ternyata mata alisnya sangat indah, dan mukanya molek, meski baru berumur beberapa hari namun jelas kelak adalah calon perempuan cantik. Dilihatnya air muka bayi itu kemerah-merahan dan tampaknya sangat sehat, padahal adiknya, si Kwe Boh-lo, yang disusuinya sendiri tidak sesehat dan semontok ini.

Demikianlah karena kejut dan girangnya, hampir saja Oey Yong meneteskan air mata. Si penjual buah sampai melongo heran karena melihat Oey Yong berdiri kesima dan tidak jadi membawa apel yang dibelinya.

Sementara itu Li Bok-chiu selesai membayar dan kini mengangkat karungnya terus bertindak pergi. Tanpa pikir Oey Yong segera menguntit. Karena keadaan sudah mendesak, dia tidak sempat kembali ke rumah makan memberi-tahukan pada Kwe Hu. Yang dia kuatirkan hanya Kwe Siang saja. Dia pikir orok itu berada di tangan iblis keji, kalau merebutnya kembali dengan kekerasan, bisa jadi akan membikin celaka bayi itu. Karena itu dia tidak segera bertindak melainkan terus mengintil di belakang Li Bok-chiu.

Rada cemas juga Oey Yong setelah melihat Li Bok-chiu terus keluar kota dan menuju ke arah barat, pikirnya: “lblis ini adalah Supek Yo Ko, walau pun kabarnya mereka tidak akur satu sama lain, tapi anak Hu telah mengutungi lengan Yo Ko, Ko-bong-pay telah mengikat permusuhan dengan keluarga Kwe, jika Ko-ji dan nona Liong sedang menunggu iblis ini di depan sana, itu berarti aku harus melawan mereka bertiga dan rasanya sukar untuk mengalahkan mereka. Jalan paling baik adalah selekasnya aku bertindak.”

Sementara itu Li Bok-chiu membelok ke selatan kemudian masuk ke hutan. Cepat Oey Yong mengeluarkan Ginkang-nya dan secepat terbang mengitar ke samping hutan agar mendahului Li Bok-chiu, di situ mendadak dia melompat keluar dan menghadangnya.

Ketika mendadak di depannya muncul seorang nyonya muda cantik, rada terkejut juga Li Bok-chiu, akan tetapi segera ia dapat menenangkan diri.

“Aha, yang kuhadapi sekarang tentulah Jik-lian-sian-cu Li-totiang, selamat bertemu!” sapa Oey Yong dengan tertawa.

Dari gaya lompatan Oey Yong, Li Bok-chiu yakin orang pasti bukan sembarang tokoh. Melihat orang bertangan kosong dengan sebuah pentung bambu hijau terselip di tali pinggangnya, seketika pikirannya tergerak. Dengan tersenyum ia pun menaruh karungnya lalu memberi hormat dan berkata.

“Sudah lama siaumoay (adik) mengagumi nama besar Kwe-hujin dan baru sekarang dapat berjumpa, sungguh beruntung dan menggembirakan.”

Pada jaman ini, tokoh wanita terkemuka di dunia persilatan hanya Oey Yong dan Li Bok-chiu berdua saja yang paling termashur. Meski pun ilmu silat Siao-liong-li lihay, tetapi usianya masih muda, namanya belum begitu terkenal, sedangkan Oey Yong adalah puteri kesayangan Tang-sia (si latah dari timur) Oey Yok-su serta isteri tercinta Kwe Ceng, dan jabatannya juga tinggi, sebagai ketua Kay-pang, organisasi kaum jembel yang paling berpengaruh. Ada pun Li Bok-chiu terkenal dengan kebut mautnya, jarum berbisa serta pukulan ‘panca-bisa’ yang tidak kenal ampun.

Sekarang keduanya saling kepergok, hati keduanya sama-sama terkejut dan heran bahwa pihak lawan ternyata sedemikian cantik. Karena itu dalam hati sama-sama was-was dan tidak berani meremehkan pihak lawan. Dengan tertawa Oey Yong berkata:

“Ah, Li-totiang terhitung kaum Cian-pwe, mengapa bicara begitu sungkan?”

“Kwe-hujin sendiri ketua Kay-pang, tokoh dunia persilatan yang terkemuka, selama ini siaumoay sangat kagum dan hormat,” jawab Li Bok-chiu.

Demikianlah setelah kedua orang sama-sama bicara dengan rendah hati, kemudian Oey Yong menuju sasaran:

”Wah, bayi dalam pondongan Li-totiang ini tampaknya sungguh sangat menyenangkan. Putera siapa ini?”

“Jika kukatakan sungguh amat memalukan, maka harap Kwe-hujin jangan mentertawakan diriku,” kata Bok-chiu.

“Ahh, mana aku berani,” ujar Oey Yong. Diam-diam dia bersiap kalau-kalau harus saling bergebrak. Tetapi sebelum menggunakan kekerasan dia pun berusaha mencari akal untuk bisa merebut kembali puterinya.

Dalam pada itu terdengar Li Bok-chiu menjawab: “Sungguh malang juga perguruan Ko-bong-pay dan mungkin juga aku memang tak becus mengajar Sumoay-ku. Anak ini adalah puteri Liong-sumoayku di luar nikah...”

Tentu saja Oey Yong sangat heran mendengar keterangan ini. Sudah jelas Siao-liong-li tak pernah hamil, dari mana bisa melahirkan di luar nikah? Padahal bayi ini jelas puteriku, apa maksud tujuannya?

Sesungguhnya bukanlah Li Bok-chiu sengaja hendak membohongi Oey Yong, dia memang menyangka bayi itu adalah anak haram hasil hubungan Siao-liong-li dengan Yo Ko. Dia dendam pada mendiang gurunya karena dianggap pilih kasih pada sang Sumoay dan menurunkan pusaka Giok-li-sim-keng padanya. Sekarang kebetulan Oey Yong bertanya tentang bayi, maka dia sengaja hendak merusak nama baik Sumoay-nya.

Begitulah Oey Yong cepat berkata lagi: “Nona Liong tampaknya sopan dan suci, masa berbuat sejauh itu, sungguh sukar dibayangkan Dan siapakah ayah anak ini?”

“Ayah anak ini?” Li Bok-chiu menegas. “Hah, kalau disebut malah akan lebih memalukan lagi, dia murid Sumoay-ku, si Yo Ko.”

Meski Oey Yong pintar berlagak, tak urung mukanya menjadi merah dan merasa gusar. Maklumlah, jika anaknya dianggap anak haram Siao-Iiong-Ii masih mendingan, tapi dikatakan ayah bayi itu Yo Ko, ini berarti menghinanya. Namun rasa gusar itu hanya sekilas saja terlintas di mukanya, segera dia tenang kembali dan berkata:

“Anak ini sungguh amat menyenangkan. Eh, Li-totiang, bolehkah kupondong sebentar?”

Segera dia mendekatinya sambil mulutnya berkecek untuk menimang anak bayi itu. Sejak dapat merebut Kwe Siang, selama beberapa hari Li Bok-chiu tinggal di pegunungan yang sepi dan hidup gembira memomong bayi, tiap hari dia memeras susu macan tutul untuk minuman si bayi. Meski pun sudah banyak berbuat kejahatan, namun pembawaan setiap manusia pada umumnya tidaklah jahat. Soalnya dia patah hati dalam cinta, dia menjadi benci terhadap sesamanya dan sakit hati kepada kehidupan ini, wataknya berubah menjadi nyentrik, dari nyentrik berubah menjadi keji.

Akan tetapi Kwe Siang memang bayi yang cantik menyenangkan sehingga mengetok hati keibuannya. Terkadang kalau dia merenung di tengah malam sunyi, terpikir olehnya andai kata Siao-liong-li akan menukar bayi itu dengan Giok-li-sim-keng juga takkan diterimanya. Sekarang dilihatnya Oey Yong ingin memondong si bayi, dia menjadi senang bukan main sebagaimana layaknya seorang ibu akan merasa gembira dan bangga apa bila puteranya dipuji orang. Maka tanpa pikir dia menyodorkan Kwe Siang.

Begitu tangan Oey Yong menyentuh popok Kwe Siang, tanpa terasa air mukanya menampilkan rasa kasih sayang seorang ibu yang tiada tara. Sekian lama siang dan malam memikirkan keselamatan anak perempuan ini, kini ia dapat menemukannya dan memondongnya, tentu saja girangnya tak terlukiskan.

Li Bok-chiu juga seorang yang maha pintar dan cerdik. Melihat air muka Oey Yong yang luar biasa, seketika hatinya tergerak. “Kalau dia cuma suka pada anak kecil dan ingin memondongnya, mengapa hatinya terguncang sedemikian rupa? Tentu di balik hal ini ada sesuatu yang tidak beres.” Karena itulah mendadak dia menarik kembali Kwe Siang yang sudah disodorkan, terus melompat mundur. Baru saja kakinya menempel tanah dan hendak menegur apa kehendak Oey Yong yang sesungguhnya, tiba-tiba Oey Yong sudah membayanginya melompat maju. Cepat Li Bok-chiu menyambutnya dengan karung yang dipanggulnya, seketika 20 kati beras berikut satu kati garam berhamburan ke muka Oey Yong.

Sudah tentu sulit Oey Yong untuk menghalau hujan beras dan garam itu. Sebisanya dia meloncat ke atas sehingga beras-garam itu menyambar di bawah kakinya. Pada kesempatan itu juga Li Bok-chiu melompat mundur Iagi, kebutnya disiapkan dan berkata dengan tertawa:

“Kwe-hujin, apakah engkau hendak merebut anak ini untuk Yo Ko?”

Pikiran Oey Yong bekerja dengan sangat cepat, sekejap dia sudah mengambil keputusan apa yang harus dilakukan selanjutnya kalau lawan sudah curiga, terpaksa harus memakai kekerasan untuk merebut kembali si Kwe Siang cilik itu. Maka dengan tertawa dia menjawab:

“Ahh, aku cuma tertarik pada anak yang montok ini dan ingin memondongnya, tapi kau tidak sudi dan merendahkan diriku.”

“Kwe-tayhiap dan Kwe-hujin sudah termashur di seluruh jagat, selamanya siaumoay amat kagum, sekarang dapat menyaksikan sedikit gerak tubuhmu dan ternyata memang tidak bernama kosong,” kata Li Bok-chiu, “Tapi siaumoay masih ada urusan lain, maka biarlah aku mohon diri saja.” Rupanya dia kuatir bila Kwe Ceng juga berada di sekitar situ, maka dia menjadi jeri. Setelah bicara begitu segera dia hendak melangkah pergi.

Oey Yong meloncat maju. Selagi tubuhnya masih mengapung di udara, lebih dulu pentung bambu penggebuk anjing sudah dilolosnya dan begitu kakinya menyentuh tanah, dia menutulkan pentungnya ke punggung Li Bok-chiu.

Diam-diam Li Bok-chiu mendongkol. Padahal bicaranya cukup ramah dan sungkan, tetapi kalau orang sudah mulai menyerang, terpaksa ia harus melayani. Cepat kebutnya menyabet ke belakang dan menangkis pentung lawan, menyusul balas menyerang satu kali.

Pak-kau-pang-hoat memang amat hebat dan cepat luar biasa, hanya beberapa jurus saja Li Bok-chiu kewalahan. Dasar ilmu silatnya memang lebih rendah sedikit dari pada Oey Yong, apa lagi sekarang dia memondong bayi, gerak-geriknya tidak leluasa. Dalam pada itu Oey Yong terus bergerak mengitari, pentungnya menyerang lebih kencang, hanya sekejap Li Bok-chiu sudah terdesak hingga kelabakan.

Namun Li Bok-chiu juga cerdik. Melihat serangan pentung Oey Yong selalu menjauhi si bayi, tahulah dia akan kelemahan lawan. Seperti juga waktu menempur Yo Ko, bayi ini malah menjadi perisai yang sangat bagus baginya. Dengan tertawa dia berkata:

“Kwe-hujin, jika engkau ingin menjajal kepandaianku kukira masih banyak kesempatan di lain waktu, mengapa mesti kau paksakan sekarang? Kalau sampai salah seorang antara kita salah tangan, bukankah anak yang menyenangkan ini menjadi korban?”

Melihat Li Bok-chiu mulai menggunakan anak itu sebagai tameng, Oey Yong menjadi ragu apakah orang memang benar-benar tidak tahu bayi itu anakku atau cuma berpura-pura? Karena pikiran ini segera dia sengaja memancing dengan berkata:

“Demi keselamatan anak ini, sudah belasan jurus kuberi kelonggaran padamu, kalau tidak lekas kau taruh anak itu maka terpaksa aku tak pedulikan mati-hidupnya lagi.” Sembari berkata pentungnya terus menotok kaki kiri lawan.

Ketika Li Bok-chiu hendak menangkis dengan kebutnya, namun pentung Oey Yong memutar ke atas menjojoh dadanya. Tikaman ini cukup cepat lagi jitu, dan yang diarah adalah tubuh si Kwe Siang kecil yang berada dalam pondongan Li Bok-chiu. Bila saja serangan ini mengenai sasaran, sekali pun Li Bok-chiu sendiri juga akan ikut terluka parah, apa lagi Kwe Siang kecil itu, pasti jiwanya akan melayang seketika. Namun Oey Yong benar-benar sudah menguasai pentungnya dengan sesuka hati, meski tampaknya ujung pentung menempel popok bayi, tapi sedikit pun bayi itu tak terluka selama pentung itu tidak disodorkan lebih maju lagi.

Tentu saja Li Bok-chiu tidak tahu. Dia amat kuatir keselamatan si bayi, cepat dia melompat ke samping dan sebab itu pula ia sendiri pun tak terjaga, tahu-tahu kaki kirinya keserempet pentung dan hampir terjungkal. Setelah sempoyongan dan bisa berdiri tegak, ia segera berpaling dan berkata:

“Kwe-hujin, percuma saja kau terkenal sebagai pendekar berbudi, mengapa kau tega melukai seorang bayi? Apa kau tidak malu?”

Melihat sikap orang tidaklah pura-pura, diam-diam Oey Yong girang karena orang terjebak oleh akalnya, dengan tertawa dia pun menjawab:

“Anak ini bukan bibit yang baik, buat apa dibiarkan hidup di dunia ini?”

Habis berkata ia terus menyerang lagi dan sengaja mengincar Kwe Siang. Dibawa melompat kian kemari oleh Li Bok-chiu, agaknya Kwe Siang kecil itu merasa tidak enak, mendadak dia menangis keras-keras. Diam-diam Oey Yong merasa kasihan, tetapi serangannya justru bertambah kencang, kalau saja Li Bok-chiu tidak berusaha bertahan sekuatnya, tampaknya setiap jurus serangan Oey Yong bisa menewaskan bayi itu. Li Bok-chiu menjadi serba susah, mendadak ia menangkis dengan kebutnya. lalu berseru:

“Kwe-hujin, sebenarnya apa kehendakmu?”

Dengan tertawa Oey Yong menjawab: “Li-totiang, kata orang, di dunia Kangouw jaman ini hanya Li-totiang dan diriku saja tergolong tokoh wanita terkemuka, kebetulan kita bertemu di sini, bagaimana kalau kita coba-coba menentukan siapa yang lebih unggul?”

Diam-diam Li Bok-chiu menjadi dongkol, dengusnya: “Hm, kalau Kwe-hujin sudi memberi pengajaran, sungguh kebetulan bagiku.”

“Tetapi kau membawa anak kecil, kalau aku menang juga kurang berharga,” ujar Oey Yong. “Sebaiknya kau taruh dulu bayi itu, lalu kita bertanding dengan segenap kemahiran masing-masing.”

Li Bok-chiu pikir ucapan Oey Yong ada betulnya juga, apa lagi melihat cara menyerang Oey Yong tadi yang tampaknya tak kenal ampun sedikit pun terhadap anak sekecil itu. Ia coba memandang sekelilingnya, terlihat di sebelah kanan sana di tengah-tengah beberapa pohon besar ada tanah rumput yang tumbuh lebat, tanah rumput itu cocok sekali sebagai kasur. Cepat ia membawa Kwe Siang ke sana dan ditaruh di atas rumput, lalu memutar balik dan berkata:

“Baiklah, mari kita mulai!”

Setelah saling gebrak belasan jurus tadi Oey Yong tahu kepandaian Li Bok-chiu seimbang dengan dirinya. Jika sekarang puterinya bisa direbut kembali, untuk kabur juga sulit kalau Li Bok-chiu balas menyerang seperti perbuatan dirinya tadi, malahan kalau lengah sedikit saja mungkin Kwe Siang bisa celaka. Jalan paling baik mengalahkan Li Bok-chiu, membinasakan atau melukainya dengan parah, barulah puterinya dapat direbut kembali dengan selamat. Lagi pula iblis ini sudah banyak berbuat kejahatan, bila kubinasakan setimpal dengan perbuatannya. Berpikir begini, seketika timbul hasratnya membunuh Li Bok-chiu.

Sudah biasa Li Bok-chiu menjalankan keganasannya, segala cara keji tidak segan digunakannya, dalam hal ini dia suka mengukur orang lain dengan dirinya sendiri. Ketika ia melihat Oey Yong selalu melirik ke arah si bayi, timbul dugaannya bila Oey Yong sukar mengalahkan dia, bisa jadi ia mulai menyerang bayi itu untuk memencarkan perhatiannya. Sebab itulah ia terus menghadang di depan Oey Yong sehingga sulit bagi Oey Yong merebut kembali puterinya.

Dalam sekejap Oey Yong juga telah memikirkan beberapa macam akal. Ia yakin akalnya dapat membinasakan Li Bok-chiu, tetapi betapa pun juga akan membahayakan Kwe Siang, karena itulah ia menjadi ragu-ragu. Pikirnya: “Melihat sikap iblis ini, tampaknya dia amat sayang pada anak Siang, andaikan sementara ini Siang-ji tak dapat kurebut kembali tetapi keselamatannya juga tidak perlu dikuatirkan, maka sebaiknya aku jangan sembarangan bertindak agar tidak keliru mencelakai Siang-ji.”

Setelah berpikir lagi, Oey Yong berkata. “Li-totiang, kepandaian kita berselisih tidak jauh dan sulit menentukan kalah menang dalam waktu singkat. Dalam pertempuran kita nanti kalau mendadak ada binatang buas hendak makan anak itu, bukankah kita juga akan ikut terganggu? Kukira bayi itu kita bereskan saja dulu kemudian kita dapat bertempur sepuasnya.”

Habis berkata dia memungut sepotong batu kecil lantas diselentikkan ke arah Kwe Siang dengan mengeluarkan suara mendesing. Itulah ilmu silat tenaga jari sakti Tho-hoa-to yang terkenal. Li Bok-chiu sendiri sudah pernah melihat Oey Yok-su memainkan ilmu ini. Ia tahu tenaga selentikan ini luar biasa hebatnya. Maka cepat dia gunakan kebutnya untuk menyampuk sambil membentak:

“Apa halangannya bayi itu bagimu? Mengapa berulang kali kau ingin mencelakainya?”

Diam-diam Oey Yong merasa geli. Walau pun cara menyelentik batu itu tampaknya lihay, namun sebenarnya dia menggunakan gerakan memelintir, umpama kata Li Bok-chiu tidak menyampuknya batu itu akan mencelat ke samping, bila menyentuh tubuh Kwe Siang juga takkan melukainya. Tetapi supaya Li Bok-chiu tidak curiga, Oey Yong malah sengaja mengolok-olok:

“Hah, sedemikian sayangnya Li-totiang kepada bocah ini, orang yang tidak tahu boleh jadi akan... akan mengira kau... ha-ha-ha...”

“Mengira aku apa, mengira dia anakku?” damperat Li Bok-chiu dengan marah, mukanya menjadi merah.

“Kau adalah To-koh (pendeta agama To/Tao, lelaki disebut To-su dan wanita disebut To-koh, lain artinya bila ditulis Tokoh) tidak mungkin melahirkan anak, orang lain tentu mengira bocah ini adalah anak... anak adik perempuanmu,” ujar Oey Yong dengan tertawa.

Ia cukup licin dalam adu mulut, ia pun tidak mau rugi. Bahwasanya Kwe Siang dikatakan sebagai anak adik perempuan Li Bok-chiu, hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa Li Bok-chiu adalah anak Oey Yong dan Kwe Ceng. Dia sengaja mengucap demikian untuk membalas perkataan Li Bok-chiu tadi yang menyebutkan bahwa Yo Ko adalah ayah Kwe Siang. Sudah tentu Li Bok-chiu tidak tahu maksud Oey Yong ini. Ia pun tidak menaruh perhatian melainkan hanya mendengus saja lantas berkata:

“Baiklah, silakan Kwe-hujin mulai maju!”

“Aku tahu kau selalu menguatirkan keselamatan bocah itu, waktu bertempur tentu perhatianmu akan terpencar. Sekali pun kukalahkan juga kurang berharga,” kata Oey Yong. “Begini saja, akan kucari beberapa potong tali rotan untuk mengelilingi anak itu agar binatang buas tidak dapat mendekatinya, habis itu kita boleh bertempur sepuasnya.”

Habis berkata ia lantas mengeluarkan sebuah pisau kecil berangkai emas, ia memotong rotan-rotan yang banyak tumbuh di sekitar sana. Semula Li Bok-chiu merasa sangsi dan berjaga dengan rapat agar Oey Yong tidak menyerobot bayi itu, tetapi kemudian dilihatnya orang melingkari rotan itu pada beberapa pohon di sekeliling Kwe Siang, jaraknya cukup jauh, dengan demikian binatang buas terhalang untuk mendekati bocah itu. Diam-diam dia mengakui akal Oey Yong yang baik itu.
Dilihatnya Oey Yong terus melingkari pohon-pohon itu dengan rotan sebaris demi sebaris, selapis demi selapis, makin lama semakin banyak. Tampak pula wajah Oey Yong tersenyum aneh seperti orang bermaksud buruk, mau tak mau Li Bok-chiu menjadi kuatir, maka cepat dia berseru:

“Sudahlah, cukup!”

“Baiklah kalau kau bilang sudah cukup,” kata Oey Yong tertawa, “Nah, Li-totiang, kau pernah bertemu dengan ayahku, bukan?”

“Benar,” jawab Li Bok-chiu.

“Aku dengar dari Yo Ko, katanya kau pernah menulis empat kalimat olok-olok terhadap ayahku beserta anak muridnya, apakah betul?” tanya Oey Yong.

Li Bok-chtu terkesiap. Ia pikir kiranya untuk urusan inilah Oey Yong sengaja merecokinya sekarang. Dengan nada dingin ia pun menjawab:

“Ketika itu mereka berlima mengerubuti aku seorang, ini juga kenyataan.”

“Hm, kini kita boleh satu lawan satu dan lihat saja nanti siapakah yang akan ditertawakan orang Kangouw,” jengek Oey Yong.

Dengan gusar Li Bok-chiu lantas membentak; “Janganlah kau temberang, ilmu silat Tho-hoa-to sudah banyak kulihat, paling-paling juga begitu-begitu saja dan tiada sesuatu yang istimewa.”

“Huhh, jangankan ilmu silat Tho-hoa-to, sekali pun bukan ilmu silatnya belum tentu kau mampu melayaninya,” jengek Oey Yong, “Lihatlah, kalau kau mampu, coba saja keluarkan orok itu.”

Diam-diam Li Bok-chiu terkejut “Apakah dia telah mencelakai anak itu?”

Segera ia melompat ke sana. Setelah melintasi sebaris lingkaran rotan dan membelok ke kiri, tiba-tiba terlihat pagar rotan menghalang di depan, yang terbuka adalah jalan yang membelok ke kanan. Tanpa pikir dia terus menyusur ke sana. Terdengar suara Kwe Siang menangis, hatinya menjadi lega. Tapi setelah membelok dan memutar lagi beberapa kali, aneh, tahu-tahu dia berputar keluar dari pagar rotan lagi. Keruan dia menjadi bingung, jelas dia terus memutar ke bagian dalam, kenapa sekarang berbalik berputar keluar.?

MENANG BERTARUNG BAYI MELAYANG

Tanpa pikir lagi ia terus melompat ke bagian dalam pagar rotan, namun tali rotan berjari itu melingkar ke sana-sini serabutan.

“Brett!” sedikit lena, ujung jubahnya terobek sebagian tercantol duri rotan.

Maka ia tidak berani gegabah lagi, sekarang ia bertindak dengan lebih hati-hati. Baru saja ia mengamat-amati lingkaran rotan dengan lebih teliti, tiba-tiba saja Oey Yong sudah berada dalam pagar rotan dan sedang memondong si orok. Kejadian ini sungguh membuatnya terkejut luar biasa, segera dia berseru:

“Hei, lepaskan anak itu!”

Segera Li Bok-chiu menyusuri lingkaran pagar rotan dengan lebih cepat lagi, lingkaran seluas beberapa meter persegi di antara beberapa pohon itu ternyata sukar diterobosnya. Dia berlari-lari ke kanan dan ke kiri, setelah maju kemudian memutar mundur lagi, setelah mengitar beberapa kali akhirnya dia berada lagi di luar pagar. Sudah banyak pengalaman Li Bok-chiu, tetapi belum pernah menemukan kejadian seaneh ini. Dia menjadi heran sekali, apakah di dunia ini benar-benar ada ‘lingkaran setan’? Lalu cara bagaimana mengatasinya?

Selagi ia merasa bingung, dilihatnya Oey Yong telah menaruh kembali anak itu, kemudian memutar ke sana dan membelok ke sini, dengan bebas dan seenaknya saja Oey Yong dapat keluar dari lingkaran pagar. Mendadak Li Bok-chiu menyadari duduknya perkara. Teringat olehnya kejadian malam itu ketika melawan Yo Ko, Thia Eng dan Liok Bu-siang, tiga muda-mudi itu telah memasang gundukan tanah di luar gubuk mereka dan ternyata dirinya tidak mampu menyerang dari depan. Sekarang lingkaran rotan yang dibuat Oey Yong ini tentu berdasarkan ilmu hitung Kiu-kiong-pat-kwa khas Tho-hoa-to.

Setelah merenung sejenak, dia dapat mengambil keputusan. Dia harus menghalau musuh dulu, barulah menyingkirkan tali rotan itu satu demi satu. Kalau sekarang menerobos begitu saja dan musuh menyerang dari arah yang lebih menguntungkan, tentu dirinya akan terjebak dan kalah. Karena pikiran ini segera dia melompat pergi beberapa meter jauhnya, dia sengaja menjauhi pagar rotan itu untuk mengawasi setiap gerak-gerik lawan, sementara dia tidak menghiraukan urusan Kwe Siang lagi.

Tadinya Oey Yong girang ketika melihat Li Bok-chiu tersesat di tengah lingkaran rotan, tetapi mendadak terlihat iblis itu melompat pergi, diam-diam dia pun merasa kagum akan keputusan lawan yang cepat dan tegas itu. Karena keselamatan Kwe Siang sekarang sudah terjamin, dia tidak perlu membagi pikiran lagi, segera pentung bambunya bergerak dan dengan jurus ‘An-kau-kek-tau’ (tahan kepala anjing mengangguk ke bawah) segera dia menyabet leher Li Bok-chiu. Akan tetapi kebut Li Bok-chiu lantas melingkar ke batang pentung.

“Srett!” berbareng ujung kebut terus menyabet ke muka Oey Yong.

BegituIah keduanya saling serang dengan cepat dan sama-sama mengeluarkan segenap kemampuan, hanya sekejap mereka sudah bergebrak sepuluh kali. Usia Li Bok-chiu lebih tua dari pada Oey Yong, dengan sendirinya ia pun lebih ulet. Tetapi gerak serangan Pak-kau-pang-hoat sungguh hebat sekali, bahwa ia dapat bertahan berpuluh jurus dari serangan Oey Yong boleh dikatakan jarang terjadi di dunia persilatan. Dia menyadari apa bila berlangsung lebih lama lagi, tidak lebih dari sepuluh gebrakan lagi pasti akan kalah.

Pentung bambu Oey Yong bukan senjata tajam, tetapi setiap Hiat-to di tubuhnya selalu menjadi incaran, kalau tertotok mustahil jiwanya tidak melayang! Setelah berhasil menangkis beberapa jurus lagi, dahi Li Bok-chiu mulai berkeringat. Sebisanya ia menyabet dua-tiga kali dengan kebutnya, lalu melompat mundur dan berseru:

“Pang-hoat Kwe-hujin memang hebat, aku mengaku kalah. Hanya saja ada sesuatu yang aku tidak paham dan perlu minta penjelasanmu.”

“Ahh, masa pakai penjelasan segala?” ujar Oey Yong dengan tertawa.

“Semua orang tahu ilmu permainan pentungmu adalah kepandaian khas Kiu-ci-sin-kay (pengemis sakti berjari sembilan) Ang Chit-kong. Kalau ilmu silat Tho-hoa-to juga hebat, mengapa Kwe-hujin tidak belajar ilmu silat dari ayah sendiri tapi malah belajar kepandaian orang lain?”

Oey Yong tahu maksud Li Bok-chiu, karena tak dapat menandingi permainan pentungnya maka sengaja mengolok-olok supaya dia menggunakan ilmu silat lainnya. Maka dia lantas menjawab dengan tertawa:

“Kalau kau sudah tahu Pang-hoat ini adalah ajaran khas Kiu-ci-sin-kay, tentunya kau pun kenal nama ilmu permainan pentung ini.”

Li Bok-chiu hanya mendengus dengan muka cemberut tanpa menjawab. Dengan tertawa Oey Yong lantas berkata:

“Permainan pentung ini disebut penggebuk anjing, maksudnya asal melihat anjing boleh gebuk saja, hanya inilah soalnya, masa perlu penjelasan lagi?”

Melihat akalnya tak berhasil menipu Oey Yong agar menggunakan ilmu silat lain, jika adu mulut dirinya juga kalah, segera ia selipkan kebutnya pada tali pinggang, lalu menjengek:

“Hmm, dimana-mana pengemis memang pintar me-rengek, nyatanya sang pangcu juga pintar main mulut, baru sekarang aku kenal!” Habis ini ia terus menuju ke sana dan duduk di bawah pohon.

Kalau Li Bok-chiu mau mengaku kalah dan terus pergi, inilah yang diharapkan Oey Yong, tapi iblis itu ternyata cuma duduk saja di sana. Sesudah berpikir segera Oey Yong tahu maksudnya. Jelas iblis itu merasa berat untuk meninggalkan Kwe Siang yang mungil. Maka jika sekarang dirinya mengambil bocah itu, pasti Li Bok-chiu yang akan gantian mengganggunya, dalam keadaan begitu tentu dirinya akan serba susah pula. Tampaknya bila Li Bok-chiu tidak dibinasakan atau dilukai, sekali pun anak Siang berhasil ditemukan juga sukar membawanya pulang dengan selamat.

Segera Oey Yong mendekati Li Bok-chiu dengan langkah Pat-kwa, tampaknya mengarah ke kanan dan membelok lagi ke kiri tanpa sesuatu yang aneh, tapi kalau mendadak Li Bok-chiu berusaha kabur, tak peduli melompat ke arah mana pun pasti sukar terhindar dari cegatan Oey Yong. Begitulah pentung Oey Yong lantas menutul ke muka Li Bok-chiu. Li Bok-chiu menangkis dengan sebelah tangan sambil membentak:

“Hah! Sejak matinya Tan Hian-hong dan Bwe Tiau-hong, Oey Yok-su memang benar tiada ahli waris lagi.”

Kata-kata ini mengolok-olok mendiang murid Oey Yok-su yang berkelakuan jahat itu dan sekaligus juga menyindir Oey Yong yang cuma mampu menggunakan Pak-kau-pang-hoat dari Kay-pang melulu.

Padahal Giok-siau-kiam-hoat, ilmu pedang seruling kemala, kepandaian khas Tho-hoa-to juga sudah dilatih Oey Yong dengan baik, tapi soalnya dia tidak membawa pedang, kalau pentung digunakan sebagai pedang, tak akan cocok, boleh jadi sulit mengalahkan lawan tangguh seperti Li Bok-chiu ini. Karena itu dia hanya menjawab dengan tertawa:

“Ya, memang brengsek juga beberapa murid busuk ayahku, mereka mana dapat dibandingkan dengan Li-totiang dan nona Liong yang sama-sama suci bersih dari suatu perguruan.”

Li Bok-chiu menjadi murka, mukanya yang putih berubah merah padam, begitu lengan bajunya mengebas, dua jarum berbisa menyambar perut Oey Yong.

Perlu diketahui bahwa Li Bok-chiu meski jahat dan sudah membunuh orang tak terhitung banyaknya, tapi dia tetap bertubuh perawan suci bersih. Dia anggap Siao-liong-li berbuat tidak baik, maka dia menjadi marah mendengar Oey Yong menyamakan dia dengan sang Sumoay dan segera menyerang dengan jarum berbisa yang keji.

Berdirinya Oey Yong dengan Li Bok-chiu sangat dekat, untuk mengelak jelas takkan keburu lagi, terpaksa ia memutar pentung bambu sekencangnya untuk menyampuk jatuh jarum-jarum berbisa itu. Syukurlah permainan pentungnya sudah dikuasai sedemikian sempurna sehingga jarum yang kecil itu bisa ditangkisnya, meski pun begitu ketika jarum itu menyambar lewat di mukanya, terendus bau amis yang memuakkan. Selagi Oey Yong terkesiap, dilihatnya dua buah jarum musuh menyambar lagi. Cepat ia melengos ke samping sehingga jarum-jarum itu menyambar lewat di pinggir telinganya. Diam-diam ia menjadi kuatir kalau jarum-jarum yang beterbangan akan nyasar mengenai Kwe Siang, maka cepat ia berlari keluar hutan.

Segera Li Bok-chiu mengudaknya. Ia sangka Oey Yong hanya mahir memainkan pentung bambu saja, ilmu silat jenis lain bukan tandingannya, maka begitu melompat keluar hutan ia lantas membentak:

“Kalah menang belum jelas, kenapa kau hendak pergi begitu saja?”

Oey Yong memutar balik lalu menghadapinya sambil tersenyum. Li Bok-chiu lantas meng-olok lagi:

“Kwe-hujin, caramu menangkis jarumku tadi juga memakai pentungmu?” Berbareng ia menubruk maju lagi.

Oey Yong pikir kalau pentung bambu tidak disimpan kembali, kalah pun Li Bok-chiu tetap merasa penasaran. Maka dia pun lantas menyelipkan pentung bambu pada tali pinggang, lalu menjawab dengan tertawa:

“Baiklah, sudah lama kudengar Ngo-tok-sin-ciang (pukulan sakti panca bisa) Li-totiang telah banyak membunuh orang, sekarang biar kucoba belajar kenal dengan ilmu pukulanmu itu.”

Li Bok-chiu malah menjadi melengak. Dia heran, kalau orang sudah tahu betapa lihay ilmu pukulannya yang berbisa itu justru menantang bertanding pukulan, bukan mustahil di balik ini ada sesuatu yang tidak beres. Namun dia pun tidak menjadi jeri, segera dia menjawab:

“Baik, aku pun ingin belajar Lok-eng-ciang-hoat dari Tho-hoa-to yang hebat.”

Dilihatnya Oey Yong melancarkan pukulan, segera dia memapaknya dengan telapak tangan kiri, menyusul tangan kanannya juga menghantam pundak lawan. Kedua pukulan sekaligus ini cukup keras dan lihay, maka tampaknya tidak mudah bagi Oey Yong untuk menangkis. Tak terduga ketika menghantam dengan tangan kanan, bahkan Li Bok-chiu tambahi pula dengan menyambitkan dua buah jarum berbisa ke bagian perut Oey Yong.

Sungguh lihay luar biasa sambaran pukulan itu yang disertai dengan jarum berbisa. Pada umumnya orang tentu hanya ber-jaga terhadap pukulannya yang berbisa itu, siapa tahu kalau dari jarak sedekat itu menggunakan senjata rahasia, karena itulah banyak tokoh terkenal dirobohkan olehnya.

Akan tetapi Oey Yong tidak menjadi gugup. Cepat ia tarik kembali pukulannya untuk menangkis pukulan tangan kanan Li Bok-chiu, sebelah tangannya merogoh baju seperti hendak mengambil senjata rahasia buat balas menyerang. Tetapi kelihatannya sudah terlambat. Baru saja tangannya mau ditarik keluar dari bajunya, kedua jarum berbisa dari Li Bok-chiu sudah tinggal beberapa senti jauhnya dari perut. Dalam keadaan begitu, walau pun Oey Yong mempunyai kepandaian setinggi langit tak akan sempat menghindar lagi. Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang. Dilihatnya dengan jelas jarum-jarum itu menembus baju dan menancap ke dalam tubuh Oey Yong.

“Aduuhh...!” Oey Yong menjerit sambil memegangi perutnya dan menungging.

Akan tetapi mendadak tangan kirinya memukul ke dada Li Bok-chiu. Pukulan Oey Yong sungguh sangat cepat dan di luar dugaan.

“Bagus!” Li Bok-chiu berseru sambil mendoyongkan tubuhnya ke belakang, berbareng kedua tangannya lantas dipukulkan ke dada Oey Yong.

Dia yakin sesudah Oey Yong terkena jarumnya, dengan cepat racun jarum itu pasti akan bekerja dan menjalar, maka pukulannya ini cuma bertujuan untuk mendorong Oey Yong sejauhnya kemudian biarkan lawan mati keracunan.

Tanpa terduga ternyata Oey Yong tidak berusaha menangkis kedua tangan Li Bok-chiu, melainkan tubuh bagian atasnya kelihatan sedikit bergerak. Li Bok-chiu mengira mungkin badan Oey Yong mulai kaku setelah terkena jarumnya. Tapi ketika kedua tangannya menempel baju di dada lawan, tiba-tiba kedua telapak tangannya terasa kesakitan seperti tercocok benda tajam sebangsa jarum.

Dalam kagetnya cepat Li Bok-chiu melompat mundur. Sewaktu dia memperhatikan kedua tangannya, terlihat di tengah kedua telapak tangan ada luka tusukan yang kecil, sekitar luka itu berwarna hitam, jelas itulah tanda-tanda terkena jarum berbisanya sendiri. Keruan ia terkejut dan gusar, tapi juga bingung dan heran mengapa bisa terjadi begitu? Segera dilihatnya Oey Yong telah mengeluarkan dua buah apel dari bajunya, pada kedua apel itu masing-masing tertancap jarum perak. Baru sekarang Li Bok-chiu tahu duduknya perkara, kiranya dalam baju Oey Yong tersimpan dua buah apel, yakni sebagian apel yang dibelinya dan sempat dibawanya tadi.

Ketika tadi Li Bok-chui menyambitkan jarum, Oey Yong tidak mengelak, tetapi tangannya dimasukkan ke baju untuk menggeser apel ke tempat yang tepat supaya menjadi sasaran jarum musuh. Setelah itu Li Bok-chiu dipancingnya untuk memukul jarum yang menancap di buah apel.

Sebetulnya Li Bok-chiu juga cerdik pandai, tapi sekarang ia mnati kutu menghadapi lawan yang banyak tipu akalnya seperti Oey Yong ini, mau tidak mau dia harus mengaku kalah. Ia merogoh saku dengan maksud mengambil obat penawar, namun segera didengarnya angin keras menyambar, kedua tangan Oey Yong telah menghantam ke mukanya. Cepat dia menangkis dengan tangan kiri. Tiba-tiba dilihatnya kelima jari tangan Oey Yong terbuka dan mengebut ke bagian iganya, kelima jarinya terbuka dengan gaya yang indah seperti bunga anggrek.

Hati Li Bok-chiu tergerak. Dia pikir mungkin inilah Lan-hoa-hut-hiat-to (mengebut Hia-to dengan gaya bunga anggrek) yang terkenal itu. Cepat ia menangkis dan urung mengambil obat, dengan kuku jari ia mencakar jari musuh. Oey Yong lantas menarik kembali tangannya, menyusul tangan lain dengan jari terbuka mengebut ke Hiat-to di pundak lawan, habis itu jari merapat menjadi telapak tangan, segera Oey Yong memukul kembali dengan tangan satunya dan begitu seterusnya secara bergantian.

Muka Li Bok-chiu menjadi pucat sekali, baru sekarang ia mengetahui ilmu sakti Tho-hoa-to memang benar-benar luar biasa. Jangan kata dirinya sudah terkena racun, sekali pun dalam keadaan sehat bukan tandingan Oey Yong. Begitulah dia ingin lekas-lekas meloloskan diri mengambil obat penawar, tetapi Oey Yong terus menyerangnya tanpa kendur sedikit pun, padahal racun jarumnya sangat lihay, sementara itu kadar racun pun telah mulai menjalar dari lengannya ke atas, asalkan menjalar sampai ke ulu hati, maka binasalah dia tanpa tertolong Iagi.

Melihat wajah orang semakin pucat, gerakannya semakin lemah, Oey Yong tahu bila menyerang lagi tentu lawan takkan tahan. Dia pikir kejahatannya sudah lewat takaran, bila sekarang binasa oleh jarumnya sendiri juga pantas dan kebetulan dapat membalas sakit hati kematian ibu kedua Bu cilik. Karena itulah dia menyerang lebih cepat, berbareng dia pun menjaga rapat agar tiada kesempatan bagi lawan melancarkan serangan balasan.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar