BANTUAN BERBUAH PETAKA
Entah berapa lamanya Yo Ko tidak sadarkan diri. Ketika perlahan-lahan merasa ada bayangan orang yang samar-samar bergoyang kian kemari di depannya, dia bermaksud mementangkan mata, tetapi semakin berusaha semakin kabur rasanya. Entah lewat berapa lama lagi barulah Yo Ko membuka matanya, segera dilihatnya Bu Sam-thong sedang memandangi dirinya dengan rasa girang.
“Dia sudah baik, dia sudah baik!” terdengar orang tua itu berseru, mendadak berlutut dan menyembah beberapa kali padanya sambil berkata: “Adik Yo, kau telah menyelamatkan... menyelamatkan kedua puteraku dan juga sudah... sudah menyelamatkan jiwaku yang tua bangka ini.” Kemudian ia merangkak bangun dan segera pula menyembah kepada seorang lagi sambil berseru: “Terima kasih, Susiok, terima kasih!”
Waktu Yo Ko memandang orang itu, nampaklah mukanya yang hitam, hidung besar dan mata cekung, tampak rada mirip dengan Nimo Singh, rambutnya juga keriting, cuma sebagian sudah ubanan, usianya sudah tua. Yo Ko hanya tahu Bu Sam-thong adalah murid It-teng Taysu, tetapi tidak tahu bahwa dia masih mempunyai seorang paman guru dari negeri Thian tok. Ia bermaksud duduk, tapi pinggang terasa lemas pegal, sedikit pun tak bertenaga. Ia coba memandang sekitarnya, ternyata berada di tempat tidur, dalam kamarnya sendiri di kota Siang-yang. Baru sekarang dia benar-benar yakin bahwa dirinya belum mati dan masih bisa berjumpa dengan Siao-liong-li. Tanpa terasa ia terus berseru:
“Kokoh! Mana Kokoh?”
Seseorang lantas mendekatinya kemudian meraba dahinya sambil berkata: “Tenanglah, Ko-ji, Kokoh-mu sedang keluar kota untuk sesuatu urusan.”
Yo Ko melihat orang ini adalah Kwe Ceng. Ia merasa terhibur melihat sang paman sudah sehat kembali. Segera teringat olehnya bahwa untuk memulihkan kesehatan sang paman diperlukan waktu tujuh hari tujuh malam, masa ketidak sadaranku ini sudah berselang sekian hari pula? Jika begitu mengapa racun bunga cinta dalam tubuhku tidak kumat? Ia. menjadi bingung, pikiran menjadi kacau dan kembali ia tak sadarkan diri.
Waktu dia sadar kembali untuk kedua kalinya, hari sudah jauh malam. Di depan tempat tidur tersulut sebatang lilin merah, Bu Sam-thong kelihatan masih menungguinya dengan duduk di depan situ dan memandangnya dengan penuh perhatian.
“Aku tidak apa-apa, paman Bu, kau jangan kuatir,” kata Yo Ko sambil tersenyum hambar, “Dan kedua saudara Bu tentunya baik-baik saja, bukan?”
Air mata Bu Sam-thong bercucuran. Dia tak dapat berbicara saking terharunya, maka dia cuma menjawab dengan manggut-manggut saja.
Selama hidup Yo Ko tak pernah merasakan terima kasih sedemikian dari orang lain, maka ia menjadi rikuh, cepat ia belokkan pembicaraan dan bertanya:
“Cara bagaimana kita dapat pulang ke Siang-yang?”
Bu Sam-thong mengusap air matanya, lalu menutur: “Atas permintaan nona Liong gurumu itu, Cu-sute telah mengantar kuda merah ke lembah sunyi untukmu, ketika melihat kita berempat sama-sama tergeletak, cepat-cepat dia menolong kita pulang ke sini.”
“Dari mana suhu-ku mengetahui aku berada di sana?” ujar Yo Ko dengan terheran. “Dan urusan apa yang membuatnya tidak dapat mencariku sehingga perlu minta pertolongan paman Cu untuk mengantarkan kuda merah?”
“Setibaku lagi di sini, aku pun tidak sempat bertemu dengan nona Liong gurumu itu,” tutur Bu Sam-thong. “Menurut Cu-sute, katanya usia nona Liong masih muda, cantik rupawan pula dan ilmu silatnya juga maha tinggi, sayang aku belum bisa berkenalan dengan beliau, Ai, memang kaum ksatria selalu timbul dari kalangan angkatan muda, kukatakan kepada Cu-sute bahwa seumur kita ini seperti hidup pada tubuh babi belaka.”
Yo Ko sangat senang karena Bu Sam-thong memuji dan mengagumi Siao-liong-li dengan setulus hati. Kalau bicara soal umur, menjadi ayah Siao-liong-li juga pantas bagi Bu Sam-thong, tapi dia ternyata begitu menghormati nona itu, jelas disebabkan dia menghormati si murid dan dengan sendirinya menghormat pula kepada sang guru. Dengan tersenyum Yo Ko lantas berkata.
“Luka siautit ini...”
“Adik Yo,” tiba-tiba Bu Sam-thong memotong. “Menolong sesama di dunia persilatan adalah kejadian yang biasa, tapi menyelamatkan orang lain tanpa memikirkan jiwa sendiri seperti engkau, pula yang kau tolong adalah kedua puteraku yang sebelumnya bersikap kasar padamu, tindakanmu ini selain guruku rasanya tiada orang ketiga lagi yang sanggup melakukannya.”
Berulang-ulang Yo Ko menggeleng kepala, maksudnya minta supaya Bu Sam-thong tidak meneruskan lagi ucapannya. Namun Bu Sam-thong tidak menggubrisnya, dia tetap berucap:
“Kalau kupanggil engkau dengan sebutan ‘ln-kong’ (tuan penolong) tentunya engkau juga tidak mau terima. Tetapi apa bila engkau tetap menyebut aku sebagai paman, itu pun jelas kau teramat menghina kepadaku Bu Sam-thong ini.”
Watak Yo Ko memang suka terus terang dan tidak merecoki urusan tetek bengek. Seperti halnya Siao-liong-li, sekali dia menganggap nona itu sebagai isteri maka soal pelanggaran tata adat umum dan panggilan yang tidak menurut aturan, semuanya suka dilakukan jika ada orang yang minta. Karena itu tanpa pikir ia lantas menjawab:
“Baiklah, aku akan panggil kau Bu-toako saja, cuma kalau ketemu dengan kedua saudara Tun-si dan Siu-bun. kurasa agak kurang enak dan entah cara bagaimana harus kusebut mereka.”
“Sebut apa segala?” ujar Bu Sam-thong. “Jiwa mereka diselamatkan olehmu, jika mereka menjadi kerbau atau kudamu juga pantas.”
“Engkau tidak perlu berterima kasih kepadaku, Bu-toako,” kata Yo Ko, “Memang aku juga sudah terkena racun bunga cinta yang jahat dan jiwaku sukar diselamatkan, maka caraku cucup racun dari luka kedua saudara Bu itu sebenarnya tiada artinya sedikit pun bagiku.” “Soalnya bukan itu, adik Yo,” kata Bu Sam-thong sambil menggeleng. “Jangan kata racun yang mengeram dalam tubuhmu itu belum pasti sukar diobati, seumpama betul tak dapat disembuhkan namun tiap manusia tentu berharap akan tetap hidup biar pun cuma tahan sehari atau dua hari saja, sekali pun cuma sejam dua jam juga tetap ingin hidup. Di dunia ini memang tidak ada manusia dapat hidup abadi, baik nabi mau pun orang biasa akhirnya akan kembali kepada asalnya, namun begitu mengapa setiap orang tetap suka hidup dan enggan mati.”
Yo Ko tertawa tanpa menanggapi jalan pikiran orang tua itu, tanyanya kemudian: “Sudah berapa hari kita pulang ke Siang-yang ini?”
“Sampai sekarang sudah hari ketujuh,” jawab Bu Sam-thong.
Yo Ko menjadi heran dan tak habis mengerti, katanya: “Pantasnya aku sudah mati karena bekerjanya racun di dalam tubuhku, kenapa aku masih hidup sampai sekarang, sungguh aneh dan ajaib.”
Dengan girang Bu Sam-thong bertutur: “Susiok-ku adalah paderi sakti dari negeri Thian-tiok, nomor satu di dunia ini dalam hal mengobati keracunan. Dahulu guruku salah minum racun yang dikirim nyonya Kwe juga sudah disembuhkan oleh beliau, sekarang juga akan kuundang dia ke sini.” Habis berkata ia keluar kamar.
Diam-diam Yo Ko girang. Dia pikir jangan-jangan waktu aku jatuh pingsan, paderi sakti itu sudah meminumkan obat mujarab kepadaku sehingga racun bunga cinta dapat dipunahkan. Aih, entah Kokoh berada di mana saat ini? Kalau dia mengetahui aku takkan mati, entah betapa gembiranya dia. Teringat kepada hal-hal yang meresap dan mesra itu, mendadak dadanya terasa seperti dipalu dengan keras dan sakitnya tidak kepalang, tak tertahankan ia pun menjerit keras.
Sejak minum setengah butir obat pemberian Kiu Jianjio, belum pernah dia mengalami kesakitan sehebat ini, bisa jadi khasiat setengah biji obat itu telah hilang, sedangkan kadar racun dalam tubuhnya belum lagi punah seluruhnya. Sambil memegangi dada, keringat membasahi dahi Yo Ko saking sakitnya. Tengah tersiksa dengan hebatnya, tiba-tiba Yo-Ko mendengar suara seseorang bersabda:
“Namo Budaya!” Lalu sambil merangkap kedua tangan depan dada, paderi Thian-tiok itu tampak masuk ke kamar.
Bu Sam-thong ikut di belakang paderi Hindu itu. Melihat keadaan Yo Ko, dia terkejut dan cepat bertanya:
“Adik Yo, kenapa kau?” Lalu ia berpaling kepada paderi itu dan memohon: “Susiok, racunnya kumat lagi, lekas memberikan obat padanya.”
Paderi Hindu itu tidak paham ucapannya, tapi dia lantas mendekati Yo Ko dan memeriksa nadinya. Bu Sam-thong sendiri lantas keluar kamar untuk mengundang Cu Cu-Iiu. Cu Cu-liu adalah bekas Conggoan (gelar tertinggi bagi ahli sastra), dia paham bahasa dan tulisan Hindu kuno, hanya dia saja yang bisa berbicara dengan paderi itu, maka Bu Sam-thong mengundangnya untuk dijadikan juru bahasa. Setelah tenangkan diri, rasa sakit Yo Ko mulai hilang, lalu dia menceritakan asal-usulnya keracunan bunga cinta itu.
Dengan teliti paderi hindu itu bertanya tentang bentuk bunga cinta, tampak dia terkejut dan terheran-heran, katanya:
“Bunga cinta itu adalah bunga ajaib dari jaman purba, konon telah lama lenyap dari permukaan bumi, siapa kira di daerah Tionggoan masih ada tetumbuhan itu. Aku belum pernah melihat bunga itu, maka sesungguhnya tidak tahu cara bagaimana memunahkan kadar racunnya.”
Setelah Cu Cu-liu menterjemahkan kata-kata paderi Hindu itu, segera Bu Sam-thong berteriak-teriak memohon:
“Kasihanilah Susiok! Tolonglah!”
Paderi itu menyebut nama Budha, lalu memejamkan mata dan menunduk merenung. Suasana dalam kamar menjadi sunyi senyap, siapa pun tiada yang berani buka suara. Selang agak lama baruIah paderi Hindu itu membuka mata dan berkata:
“Yo-kisu sudah mencucup darah berbisa bagi kedua cucu muridku, pada hal racun jarum itu sangat jahat, terhisap sedikit saja akan mengakibatkan jiwa melayang, namun Yo-kisu ternyata masih sehat-sehat saja, sedangkan racun bunga cinta juga tidak bekerja pada waktunya, jangan-jangan terjadi racun menyerang racun sehingga Yo-kisu malah mendapat berkahnya dan sembuh.”
Cu Cu-liu dan Yo Ko adalah orang-orang yang pintar dan cerdik, mereka pikir uraian paderi Hindu memang masuk di akal, maka mereka mengangguk. Paderi itu berkata pula:
“Orang baik tentu mendapatkan pembalasan yang baik pula. Yo-kisu mengorbankan diri demi menolong orang lain, inilah perbuatan bajik yang luhur, racun ini pasti dapat dipunahkan.”
“Jika begitu, mohon Susiok lekas menolongnya,” seru Bu Sam-thong girang.
“Untuk itu perlu kudatangi Coat-ceng-kok dan melihat sendiri bentuk bunga cinta itu, baru dapat mencari obat penyembuhnya yang tepat,” tutur si paderi, “Yang penting selama ini hendaknya Yo-kisu jangan timbul perasaan cinta, kalau tidak maka rasa sakit akan semakin menghebat setiap kali kumat. Akan lebih baik lagi apa bila Yo-kisu dapat memutuskan perasaan cinta itu, maka racun ini pun akan punah dengan sendirinya tanpa diobati.”
Yo Ko pikir jika harus memutuskan cinta kasihnya pada Kokoh, lebih baik aku mati saja. Tapi sebelum dia menanggapi, cepat Bu Sam-thong mengajak Cu Cu-liu ikut paderi Hindu itu ke Coat-ceng-kok. Sudah tentu Cu Cu-liu menerima ajakan itu karena dia pun berutang budi kepada Yo Ko. Lalu Bu Sam-thong berkata kepada Yo Ko:
“Adik Yo, harap engkau beristirahat saja dengan tenang, segala sesuatu pasti akan beres. Besok kami segera berangkat dan kembali selekasnya untuk menyembuhkan penyakitmu, kelak aku masih harus minum arak pesta pernikahanmu dengan nona Kwe.”
Yo Ko melengak! Dia pikir persoalan Kwe Hu sukar dijelaskan dalam waktu singkat, maka tanpa pikir dia hanya mengiyakan saja. Sesudah ketiga orang itu pergi, dia sendiri lantas berbaring untuk tidur. Waktu sadar, terdengar suara burung berkicau, rupanya fajar telah menyingsing. Sudah beberapa hari Yo Ko tidak makan, perut terasa lapar, dilihatnya di atas meja dekat pembaringan ada empat piring penganan, segera ia ambil beberapa gotong kue lantas dimakan. Belum sepotong kue itu termakan habis, terdengar orang mengetuk pintu, masuklah seorang berbaju merah jambon dengan air muka tampak marah, ternyata yang datang adalah Kwe Hu. Yo Ko meIongo sejenak, lalu menyapa:
“Pagi benar, nona Kwe.”
Kwe Hu hanya mendengus perlahan dan tidak menjawab, ia duduk pada kursi di depan tempat tidur dengan alis menegak dan melotot marah kepada Yo Ko, hingga lama sekali masih tetap tidak berbicara. Tentu saja hati Yo Ko merasa tak enak. Dengan tersenyum ia berkata:
“Apa paman Kwe menyuruh kau menyampaikan sesuatu pesan padaku?”
“Tidak!” jawab Kwe Hu singkat dan ketus.
Berulang-ulang Yo Ko mendapatkan sikap dingin begitu, kalau hari-hari biasa tentu dia tak mau menggubris lagi nona itu. Tapi sekarang melihat sikap orang rada aneh, dia menjadi heran dan ingin tahu sebab apakah pagi-pagi nona itu sudah mendatangi kamarnya. Maka dengan mengiring tawa dia bertanya:
“Sesudah melahirkan tentunya Kwe-pekbo sehat, bukan?”
“Sehat atau tidak dia ibuku, tidak perlu kau berkuatir,” jawab Kwe Hu lebih ketus.
Selain Siao-liong-li, tidak pernah Yo Ko mau mengalah terhadap orang lain, tapi sekarang dia sudah diperlakukan kasar oleh Kwe Hu, mau tidak mau timbul juga rasa dongkolnya. Segera dia pun balas mendengus, lalu memejamkan mata dan tak menggubrisnya lagi.
“Kau mendengus apa?” tanya Kwe Hu gemas.
Kembali Yo Ko mendengus lagi dan tetap tidak menggubrisnya.
“Kau dengar tidak? Aku tanya apa yang kau denguskan!” bentak Kwe Hu.
Diam-diam Yo Ko geli melihat si nona menjadi kelabakan, jawabnya kemudian: “Badanku tidak enak, aku mendengus dua kali supaya merasa segar.”
“Kau bohong, lain kata lain perbuatan, sehari-hari hanya mengacau, sungguh kau manusia rendah yang tak tahu malu!” damperat Kwe Hu dengan gusar.
Hati Yo Ko tergerak karena tanpa sebab musabab si nona mendampratnya secara sengit, dia pikir jangan-jangan ucapanku yang kugunakan membohongi kedua saudara Bu telah diketahui nona ini. Melihat dalam keadaan marah wajah Kwe Hu tetap cantik molek, tanpa terasa timbul rasa kasihannya. Dasar watak Yo Ko memang rada dugal, segera dia berkata dengan tertawa:
“Nona Kwe, apakah kau maksudkan yang kukatakan kepada kedua saudara Bu itu?”
“Apa yang kau katakan kepada mereka? Hayo lekas kau mengaku!” bentak Kwe Hu pula dengan suara tertahan.
“Tujuanku adalah demi kebaikan mereka sendiri, agar mereka tidak saling membunuh dan membikin sedih hati ayahnya,” ucap Yo Ko sambil tertawa. “Apa yang kukatakan telah disampaikan oleh paman Bu padamu, bukan?”
“Dia... dia begitu bertemu aku lantas mengucapkan selamat padaku kemudian memuji kau setinggi langit,” tutur Kwe Hu. “Nama baik anak... anak perempuan seperti aku yang putih bersih ini masa boleh sembarangan kau nista?” Sampai di sini suaranya menjadi ter-sendat dan air mata pun berlinang-linang.
Yo Ko sangat menyesal pada diri sendiri yang sembarangan omong tanpa pikir bahwa ucapannya yang bermaksud baik itu justru merusak nama baik Kwe Hu. Apa pun juga perkataannya memang rada keterlaluan, jadi persoalan ini rasanya akan sulit diselesaikan.
Melihat Yo Ko diam saja, hati Kwe menjadi bertambah panas, katanya sambil menangis:
“Menurut paman Bu, katanya kau telah mengalahkan kedua kakak Bu, mereka kau paksa berjanji takkan menemuiku untuk selamanya, apakah hal ini memang betul?”
Diam-diam Yo Ko menyesali Bu Sam-thong yang tidak genah itu. Masa kata-kata itu perlu disampaikan kepada Kwe Hu? Terpaksa ia tidak membantah dan menjawab dengan mengangguk.
“Ya, memang tidak sepatutnya aku sembarangan omong, cuma maksud tujuanku sama sekali tidak jahat, harap kau memaklumi hal ini.”
Kwe Hu mengusap air matanya, lalu bertanya: “Dan apa yang kau katakan semalam, untuk maksud apa pula?”
Yo Ko melengak dan menegas: “Aku bilang apa semalam?”
“Paman Bu bilang setelah kau sembuh, dia berharap akan minum arak pesta pernikahan kau dan aku. Ken... kenapa kau mengiyakan tanpa malu?”
Wah, celaka, jadi ucapanku semalam juga terdengar olehnya, demikian Yo Ko mengeluh dalam hati. Terpaksa dia membantah:
“Semalam aku dalam keadaan setengah sadar dan tidak mendengar jelas apa yang dikatakan paman Bu padaku.”
Kwe Hu dapat melihat anak muda itu sengaja berdusta, dengan suara keras dia berteriak:
“Kau bilang ibuku mengajarkan ilmu silat padamu diam-diam karena beliau penujui kau dan ingin memungut sebagai menantu, betul tidak ucapanmu ini?!”
Muka Yo Ko menjadi merah diberondong pertanyaan itu. Dia pikir kelakarnya mengenai Kwe Hu paling-paling akan dianggap dugal saja oleh orang lain, dasarnya aku juga bukan ksatria yang suci dan alim, tetapi aku berdusta tentang diajari ilmu silat secara diam-diam oleh Kwe-pekbo. persoalan ini bisa kecil bisa besar dan jangan sampai diketahui bibi Kwe. Maka cepat ia meminta:
“Nona Kwe, memang salahku sembarangan omong, harap kau suka menutupi hal ini dan jangan sampai diketahui ayahmu.”
“Hmm, kalau kau takut pada ayahku, mengapa kau berani berdusta dan menghina ibuku?” jengek Kwe Hu.
Cepat Yo Ko menyatakan: “Sedikit pun tiada maksudku untuk menista ibumu. Waktu itu tujuanku cuma ingin membikin kedua Bu putus harapan atas dirimu supaya mereka tidak saling membunuh sehingga bicaraku rada-rada kelewatan.”
Semenjak kecil Kwe Hu dibesarkan bersama kedua saudara Bu. Sekarang mendengar Yo Ko berdusta dan membikin kedua anak muda itu putus asa terhadap dirinya serta berjanji takkan menemuinya keruan rasa gusarnya tak terperikan. Dengan suara keras ia bertanya:
“Baik, urusan ini akan kubereskan nanti dengan kau. sekarang yang penting adalah Moaymoay-ku, ke mana kau membawanya pergi?”
“Ya, lekas undang ayahmu ke sini, aku justru hendak membicarakannya dengan beliau,” seru Yo Ko.
“Ayahku sudah keluar kota mencari adikku,” jawab Kwe Hu. “Kau ini memang... memang manusia yang tidak tahu malu, kau hendak menggunakan adikku untuk menukar obat penawar. Hm, rupanya jiwamu amat berharga dan jiwa adikku tak berharga sepeser pun.”
Sejak tadi Yo Ko memang merasa menyesal dan malu diri karena terlanjur berbuat hal-hal yang merusak nama baik Kwe Hu, tapi dituduh hendak menggunakan anak bayi itu untuk menukar obat baginya, hal ini betapa pun dia tak dapat menerima. Dengan suara lantang ia berkata:
“Dengan tekad bulat aku hendak merebut kembali adik perempuanmu untuk dikembalikan kepada ayah-bundamu, kalau dikatakan bahwa adikmu hendak kugunakan untuk menukar obat, hal ini sekali-sekali tidak pernah timbul dalam pikiranku.”
“Habis ke mana perginya adikku?” tanya Kwe Hu.
“Dia sudah dibawa lari Li Bok-chiu, aku merasa malu karena tidak berhasil merampasnya kembali,” tutur Yo Ko. “Tetapi bila tenagaku sudah pulih dan tidak mati, segera aku akan pergi mencarinya.”
“Hm, Li Bok-chiu itu adalah paman gurumu, betul tidak?” jengek Kwe Hu. “Tadinya kalian sembunyi di satu goa, betul tidak?”
“Benar, meski dia adalah paman guruku, tetapi selamanya dia tidak akur dengan guruku,” jawab Yo Ko.
“Hm, tidak akur apa?” jengek Kwe Hu. “Tetapi mengapa dia mau menuruti permintaanmu dengan membawa adikku pergi menukar obat bagimu?”
Yo Ko melonjak bangun dengan marah, katanya: “Kau jangan sembarangan omong, nona Kwe, meski aku Yo Ko bukan manusia yang terpuji, tapi sama sekali tiada maksud untuk berbuat begitu.”
“Tiada bermaksud berbuat begitu? Hm, enak saja kau bicara,” jawab Kwe Hu. “Gurumu sendiri yang mengatakan hal itu, memangnya aku yang fitnah dan sembarangan omong?”
“Guruku bilang apa lagi?” tanya Yo Ko.
Serentak Kwe Hu berdiri dan menuding hidung Yo Ko, katanya: “Gurumu berkata sendiri kepada paman Cu bahwa kau dan Li Bok-chiu sama-sama berada di lembah sunyi, dia minta agar paman Cu suka mengantarkan kuda merah milik ayah untuk dipinjamkan padamu supaya kau sempat membawa adikku ke Coat-ceng-kok untuk...“
Kaget dan sangsi hati Yo Ko, cepat dia memotong: “Benar, memang guruku mempunyai maksud begitu, supaya aku mengantarkan adikmu ke sana untuk mendapatkan separoh obat yang masih dipegang Kiu Jian-jio, tetapi cara ini hanya untuk sementara saja dan takkan membikin susah adikmu...”
“Adikku baru lahir satu hari tetapi sudah kau serahkan kepada seorang iblis yang kejam, masa kau berani mengatakan takkan membikin susah adikku?” kata Kwe Hu dengan gusar, “Kau ini bangsat keparat, manusia berhati binatang! Waktu kecilmu kau luntang-lantung sebatang kara dan cara bagaimana ayah-ibuku telah memperlakukan kau? Kalau ayah-ibuku tidak memelihara kau hingga besar di Tho-hoa-to, masa kau dapat menjadi seperti sekarang ini? Siapa tahu air susu kau balas dengan air tuba, kau bersekongkol dengan musuh dan ketika ayah-ibuku kurang sehat, kau menculik adikku.”
Semakin mendamperat semakin beringas nona itu sehingga Yo Ko sama sekali tak diberi kesempatan untuk membantah. Keruan tidak kepalang gusar dan dongkoInya Yo Ko.
“Bluk!” saking tak tahan ia terus jatuh pingsan di atas tempat tidur.
Selang agak lama, lambat-laun Yo Ko siuman kembali, diiihatnya Kwe Hu masih menatap kepadanya dengan muka merengut dan segera mengomeli pula:
“Hm, tak tersangka kau masih punya rasa malu, rupanya kau pun tahu kesalahan perbuatanmu yang terkutuk itu.”
Yo Ko menghela napas panjang, katanya: “Kalau aku mempunyai pikiran begitu, mengapa aku tidak membawa adikmu langsung ke Coat-ceng-kok saja?”
“Racun dalam tubuhmu kumat dan tak dapat berjalan, makanya kau minta tolong paman gurumu,” kata Kwe Hu. “He-he, tapi maksud tujuanmu akhirnya gagal. Biar kukatakan terus terang kepadamu. Begitu kudengar permintaan gurumu kepada paman Cu, segera aku sembunyikan kuda merah itu sehingga muslihat jahat kalian guru dan murid gagal total.”
“Baik, baik, apa yang kau suka katakan silakan katakan saja, aku pun tidak ingin membantah,” kata Yo Ko dengan mendongkol. “Dan di mana guruku? Ke mana dia?”
Muka Kwe Hu mendadak rada merah, katanya: ”Huh, ini namanya gurunya begitu dengan sendirinya muridnya juga begitu, gurumu juga bukan manusia baik-baik.”
Dengan marah Yo Ko melonjak bangun lantas berkata: “Kau memaki dan menghina aku, mengingat ayah-bundamu, takkan kupersoalkan. Tetapi mengapa mencerca guruku?”
“Cis, memangnya kenapa kalau gurumu?” semprot Kwe Hu. “Ia sendiri yang bicara tidak senonoh.”
Sudah tentu Yo Ko tidak percaya Siao-liong-li yang dianggapnya suci bersih dan polos itu dapat mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, segera ia balas mendengus:
“Hm, besar kemungkinan pikiranmu sendiri tidak benar, maka ucapan guruku juga kau terima dengan menyimpang.”
Sebenarnya Kwe Hu tak ingin mengulangi perkataan Siao-liong-li, tapi ia tidak tahan oleh olok-olok Yo Ko itu, tanpa pikir ia terus berkata:
“Gurumu bilang padaku: ‘Nona Kwe, hati Ko-ji sangat baik, hidupnya sebatang kara dan menderita, kau harus meladeni dia dengan baik’, lalu katanya pula: ‘Kalian memang pasangan yang setimpal suruhlah ia melupakan diriku, sama sekali aku tak menyalahkan dia’. Kemudian ia memberikan pula pedangnya padaku, katanya pedang ini bernama Siok-Ii-kiam dan merupakan pasangan dengan Kun-cu-kiam milikmu. Apa lagi namanya perkataan ini kalau bukan tidak senonoh?”
Setiap mendengarkan kalimat itu, setiap kali pula perasaan Yo Ko seperti disayat. Pikirannya menjadi bingung, dia tidak tahu mengapa Siao-liong-li mengemukakan ucapan begitu. Selesai Kwe Hu berkata, perlahan-lahan ia angkat kepalanya, mendadak matanya memancarkan cahaya aneh, bentaknya gusar:
“Kau berdusta, kau penipu. Mana mungkin guruku berkata begitu? Mana Siok-li-kiam? Mana? Jika tak dapat kau perlihatkan, maka jelas kau berdusta!”
Kwe Hu mendengus, mendadak sebelah tangannya mengeluarkan sebatang pedang dari belakang punggungnya, pedang itu hitam mulus, jelas itulah Siok-li-kiam yang diperoleh di Coat-ceng-kok. Tidak kepalang rasa kecewa Yo Ko, bicaranya sudah tanpa pikir lagi, segera ia berteriak:
“Siapa yang ingin menjadi pasangan setimpal dengan kau? Kun-cu-kiamku sudah patah, Pedang ini memang betul milik guruku, pasti kau mencurinya, ya, kau mencurinya!”
Sudah semenjak kecil Kwe Hu amat dimanjakan, sekali pun ayah-bundanya juga bersedia mengalah padanya, apa lagi kedua saudara Bu, mereka munduk belaka terhadap sang nona, sekarang Yo Ko bicara sekasar ini padanya, tentu saja ia tidak tahan. Apa lagi nada ucapan Yo Ko itu seakan-akan menuduhnya sengaja mengarang ucapan Siao-liong-li itu agar si Yo Ko mau menjadi pasangannya dan si Yo Ko justru tidak sudi.
BegituIah segera Kwe Hu pegang pedangnya, dia bermaksud melolosnya terus menebas. Tapi segera timbul keinginannya akan membikin panas hati Yo Ko, ia tahu anak muda itu sangat menghormat dan mencintai gurunya, kalau kejadian ini diceritakannya pasti anak muda itu akan marah setengah mati. Dalam keadaan murka sama sekali Kwe Hu tidak menimbang lagi bagaimana akibatnya kalau dia menguraikan apa yang hendak dikatakannya itu. Segera dia masukkan kembali pedang yang sudah hampir dilolosnya tadi, lalu duduk dan berkata dengan tertawa dingin:
“Ya, gurumu memang cantik dan tinggi pula ilmu silatnya, sungguh wanita yang jarang ada bandingannya di dunia ini, cuma saja, ada sesuatu yang tidak beres.”
“Sesuatu apa yang tidak beres?” tanya Yo Ko.
“Cuma kelakuannya yang tidak beres, suka bergaul secara sembunyi dengan kaum Tosu Coan-cin-kau,” tutur Kwe Hu.
Dengan gusar Yo Ko langsung menyanggah: “Guruku bermusuhan dengan Coan-cin-kau, mana mungkin berhubungan secara gelap dengan mereka?”
“Kalimat bergaul secara sembunyi yang kukatakan ini sesungguhnya masih terlalu sopan, malahan ada lainnya lagi yang tidak pantas diucapkan anak perempuan seperti diriku ini,” kata Kwe Hu dengan tertawa dingin.
Yo Ko tambah gusar, teriaknya: “Guruku suci bersih, kalau kau sembarangan omong lagi, awas kalau mulutmu tidak kuremas.”
Akan tetapi Kwe Hu tetap dingin-dingin saja dan berkata: “Ya, dia berani berbuat, dan aku yang berani mengatakan. Huh, bagus amat nona yang suci bersih, tetapi bergaul dengan seorang Tosu busuk.”
“Apa katamu?!” hardik Yo Ko dengan muka merah padam.
“Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri, masa bisa keliru?” kata Kwe Hu pu!a, “Enam orang Tosu Coan-cin-kau berkunjung kepada ayahku, tatkala mana di dalam kota sedang kacau menghadapi serangan musuh. Ayah ibu kurang sehat sehingga tidak dapat menemui mereka, maka akulah yang menyambut tetamunya...”
“Lantas bagaimana?!” bentak Yo Ko dengan gusar.
Melihat mata anak muda itu melotot merah, otot hijau sama menonjol di dahinya, Kwe Hu girang karena tujuannya tercapai, dengan berseri-seri ia berkata:
“Kedua Tosu itu masing-masing bernama Thio Ci-keng dan In Ci-peng, ada tidak Tosu Coan-cin-kau yang bernama begitu?”
“Kalau ada lantas bagaimana?!” bentak Yo Ko pula.
Dengan tersenyum Kwe Hu menyambangi. “Setelah kuatur pondokan untuk mereka, lalu aku tidak mengurus mereka lagi. Siapa duga tengah malam ada seorang murid Kay-pang melapor padaku, katanya kedua Tosu itu sedang bertengkar sendiri dalam kamar.”
Yo Ko mendengus sekali, ia pikir Ci-keng dan Ci-peng memang tidak akur satu sama lain, mereka bertengkar kenapa mesti diherankan?
Dalam pada itu Kwe Hu kembali menutur: “Karena ingin tahu, aku mendekati jendela kamar mereka, kulihat mereka tidak berkelahi lagi, tetapi masih ribut mulut. Orang she Tio bilang orang she In, berbuat begini dan begitu dengan gurumu, sedangkan Tosu she In itu tidak menyangkal hanya menyesalkan temannya itu tak seharusnya gembar-gembor...”
Mendadak Yo Ko bangkit dan duduk di tepi tempat tidur sambil membentak: “Berbuat begini dan begitu apa maksudmu?!”
Muka Kwe Hu tampak merah, sikapnya rada kikuk untuk menjawab, katanya kemudian: “Mana aku tahu? Yang pasti masa perbuatan yang baik? Apa yang dilakukan guru kesayanganmu itu hanya dia sendiri yang tahu.” Nadanya penuh mengandung perasaan jijik dan menghina.
Saking gusar dan gugupnya, pikiran Yo Ko menjadi kacau, tanpa pikir sebelah tangannya terus menampar.
“Plok!” dengan tepat pipi Kwe Hu kena ditempeleng.
Dalam keadaan gusar, pukulan Yo Ko cukup keras, keruan mata Kwe Hu berkunang-kunang dan sebelah pipinya bengkak, kalau saja Yo Ko tidak habis sakit, mungkin giginya rontok digampar oleh anak muda itu.
Selama hidup Kwe Hu mana pernah terhina secara begitu? Sesungguhnya dia tidak tahu bahwa Siao-liong-li adalah satu-satunya orang yang paling dihormati dan dicintai Yo Ko, mencemarkan nama baik Siao-liong-li adalah melebihi dia ditusuk pedang tiga kali. Tapi Kwe Hu juga seorang nona yang tidak banyak pikir, apa lagi jika sudah murka, segera dia melolos Siok-li-kiam terus menusuk ke leher Yo Ko.
Sesudah menampar Kwe Hu, Yo Ko pikir persoalan ini pasti sukar diselesaikan lagi, nona ini adalah puteri kesayangan paman dan bibi Kwe, seumpama mereka tidak menyalahkan dia, rasanya juga tidak akan betah tinggal lebih lama di kota ini. Karena itu ia lantas turun hendak memakai sepatu. Ketika itulah dilihatnya pedang Kwe Hu menusuk tiba. Sambil mendengus sebelah tangan Yo Ko meraih dan tangan yang lain menotok dan memegang, dengan mudah saja Siok-Ii-kiam dapat direbutnya.
Berturut-turut kecundang, Kwe Hu menjadi tambah murka. Dilihatnya di atas ranjang ada sebatang pedang, dia menubruk maju dan merampasnya, segera pedang itu dilolosnya terus ditebaskan ke kepala Yo Ko. Seketika pandangan mata Yo Ko menjadi silau. Tidak kepalang kagetnya melihat nona itu menebasnya dengan Ci-wi-kiam, ia tidak berani merebutnya dengan tangan, sebisanya ia angkat Siok-li-kiam untuk menangkis.
Tanpa terduga, karena dia habis sakit selama tujuh hari, tenaganya belum pulih, baru saja Siok-li-kiam terangkat sedikit segera lengannya tidak sanggup terangkat lebih tinggi lagi. Sementara itu tebasan pedang Kwe Hu sudah tiba.
“Trangg...!” kedua pedang beradu, Siok-li-kiam kutung menjadi dua.
Kwe Hu sendiri terkejut, sama sekali tidak disangkanya bahwa Ci-wi-kiam itu begitu lihay. Dalam keadaan unggul dan dendam atas tamparan Yo Ko tadi, Kwe Hu pikir walau pun kubunuh kau juga rasanya ayah-ibu takkan menyalahkan aku mengingat jiwa adikku juga dicelakai olehmu.
Ketika itu kaki Yo Ko juga terasa lemas dan jatuh terduduk di lantai tanpa bisa melawan lagi, hanya tangan kanan saja yang terangkat di depan dada untuk menjaga diri, tapi sorot matanya sama sekali tiada menampilkan keinginan mohon dikasihani. Kwe Hu menjadi gemas, segera pedangnya ditebaskan lebih ke bawah lagi.
Kuda merah itu teramat cepat larinya, sekejap sudah belasan li jauhnya. Ketika dia putar balik, Yo Ko sudah menghilang di lembah pegunungan itu. Tanpa kenal lelah Siao-liong-li terus mencari di sekitar Siang-yang, sampai tengah malam barulah dia mendengar suara raung tangis Bu Sam-thong di kejauhan. Cepat Siao-liong-li mencari ke arah datangnya suara, dan tidak lama kemudian dapatlah didengarnya suara pertempuran kedua saudara Bu, menyusul terdengar suara bicara Yo Ko.
Tentu saja dia girang bukan main. Dia kuatir Yo Ko ketemu musuh tangguh, maka dia ingin membantunya secara diam-diam saja. Segera ia turun dari kudanya, ia tambat kuda merah itu pada sebatang pohon, lalu merunduk ke sana dan sembunyi di balik sepotong batu padas untuk mengintip cara bagaimana Yo Ko menghadapi musuh.
Celakanya yang terdengar adalah ucapan Yo Ko yang berulang-ulang menyatakan sudah dijodohkan dengan Kwe Hu, nona itu disebutnya sebagai bakal isterinya, Kwe Ceng dan Oey Yong dipanggilnya ayah dan ibu mertua. Didengarnya pula Yo Ko mengaku sudah menerima ajaran ilmu silat secara diam-diam dari Oey Yong, dilihatnya pula Yo Ko sangat marah kepada kedua saudara Bu, serta melarang kedua anak muda itu untuk selanjutnya menyebut nama Kwe Hu. Begitulah setiap Yo Ko mengucapkan hal itu, setiap kali pula Siao-liong-li bagai disambar petir, pikirannya menjadi kacau, dunia mendadak dirasakan sudah kiamat.
Kalau orang lain, tentu akan timbul rasa sangsinya melihat kata dan perbuatan Yo Ko itu sama berbeda. Namun Siao-liong-li memang orang yang lugu, hatinya bersih, pikirannya sederhana, sedikit pun tidak paham seluk beluk kepalsuan kehidupan manusia. Meski pun terhadap orang lain Yo Ko memang suka membual, tetapi biasanya terhadap dirinya tidak pernah membual sedikit pun, sebab itulah Siao-liong-li menaruh kepercayaan penuh terhadap apa yang diucapkan Yo Ko.
Begitulah ketika melihat kedua Bu cilik bukan tandingan Yo Ko, Siao-liong-li yang sedang berduka dan menyesali nasibnya itu tanpa terasa mengeluarkan suara tarikan napas panjang sebagaimana yang didengar Yo Ko itu sehingga pemuda ini hampir saja berseru memanggilnya. Pada saat itu juga Siao-liong-li lantas pergi dengan berlinangan air mata. Sambil menuntun kuda merah Siao-liong-li berkeliaran semalaman di ladang sunyi itu, pikirannya kacau dan bingung.
Usianya sudah lebih 20 tahun, tapi selama hidupnya berdiam di kuburan kuno, seluk-beluk kehidupan manusia sedikit pun tak dipahaminya, hakekatnya jalan pikirannya masih polos dan bersih seperti anak kecil. Dia pikir: “Yo Ko sudah terikat jodoh dengan nona Kwe, dengan sendirinya tidak dapat menikahi diriku lagi. Pantas Kwe-tayhiap suami-isteri ber-ulang merintangi hasrat Ko-ji yang ingin menikahi aku. Bahwa selama ini Ko-ji tidak memberi-tahukan padaku tentang ikatannya dengan nona Kwe, tentu karena dia kuatir aku akan berduka. Ai, dia memang sangat baik padaku.”
Begitulah lantaran dia juga amat mencintai Yo Ko, walaupun dengan mata telinga sendiri mendengar anak muda itu mengatakan hendak menikah dengan Kwe Hu, namun ia tidak dendam sedikit pun, ia hanya berduka sambil menyesali nasibnya sendiri. Malahan lantas terpikir lagi olehnya:
“Sebabnya Ko-ji tidak cepat-cepat membunuh Kwe-tayhiap untuk membalas sakit hati kematian ayahnya, kiranya persoalan nona Kwe inilah yang membuatnya bimbang, jika begitu tampaknya dia juga amat baik kepada nona Kwe. Kalau sekarang kuberikan kuda merah ini padanya, bisa jadi dia akan teringat lagi kepada kebaikanku dan perjodohannya dengan nona Kwe mungkin akan terganggu lagi. Rasanya lebih baik aku pulang sendirian saja ke kuburan kuno, dunia yang fana ini cuma membikin kacau dan membingungkan pikiranku saja.”
Setelah berpikir lagi, akhirnya ia membulatkan tekad. Meski hatinya terasa disayat-sayat, cintanya kepada Yo Ko terasa berat sekali untuk diputuskan, namun terpikir pula olehnya bahwa menyelamatkan jiwa anak muda itu terlebih penting. Karena itu malam itu juga dia pulang ke Siang-yang dan minta pertolongan Cu Cu-liu agar suka mengantarkan kuda merah kepada Yo Ko yang masih berada di lembah sunyi. Waktu itu Siang-yang belum tenang, Kwe Ceng dan Oey Yong belum sehat pula, maka tugas pertahanan kota diurus oleh Loh Yu-kah dibantu oleh Cu Cu-liu.
Di tengah kemelut itulah Siao-liong-li membawa kuda merah datang pada Cu Cu-liu dan minta bantuannya mengantar kuda itu kepada Yo Ko agar anak muda itu bisa lekas pergi ke Coat-ceng-kok dan menukar obat penawar dengan bayi yang baru dilahirkan Oey Yong.
Sudah tentu Cu Cu-liu merasa bingung oleh penuturan yang tak diketahui awal mulanya. Dia coba bertanya lebih jelas, tetapi Siao-liong-li sendiri sedang kesal dan tidak ingin banyak bicara, dia hanya mendesak Cu Cu-liu lekas berangkat, katanya kalau terlambat bisa jadi jiwa Yo Ko akan melayang. Sama sekali Siao-liong-li tidak pedulikan bahwa waktu itu Kwe Hu juga berada di sebelah Cu Cu-liu. Ia pikir adikmu itu dibawa sementara ke Coat-ceng-kok, tentu tak berhalangan, apa lagi demi menyelamatkan jiwa bakal suamimu.
Biasanya Siao-liong-li bisa menguasai perasaannya, suka mau pun duka jarang dipikirkan olehnya, tapi semenjak jatuh cinta pada Yo Ko, segala ilmu menguasai perasaan yang dilatihnya sejak kecil hampir tidak dapat digunakannya lagi, guncangan perasaan bahkan jauh lebih hebat dari pada orang biasa. Maka sesudah memberi pesan kepada Cu Cu-liu, lantaran beberapa kali menyebut nama Yo Ko, tanpa terasa air matanya bercucuran, cepat ia berlari kembali ke kamarnya dan menangis sedih di tempat tidur.
Biar pun Cu Cu-liu adalah seorang cerdik pandai, tapi lantaran tidak tahu seluk-beluknya persoalan, uraian Siao-liong-li yang tidak keruan juntrungannya itu membuatnya bingung. Tapi ingat bahwa kalau terlambat bisa jadi jiwa Yo Ko akan melayang, dia pikir terpaksa harus cepat ke lembah itu dan bertindak menurut keadaan di sana. Akan tetapi, ketika dia mau berangkat, ternyata kuda merah yang dibawakan Siao-liong-li itu sudah hilang, waktu ditanyakan penjaga, katanya nona Kwe yang membawanya pergi. Ketika dia mencari Kwe Hu, ternyata bayangan nona itu pun tak dapat diketemukan.
Karena menguatirkan keselamatan Yo Ko, terpaksa Cu Cu-liu menunggang kuda lain dan membawa belasan anggota Kay-pang menuju ke lembah yang ditunjuk Siao-liong-li. Di situ dilihatnya Yo Ko dan ayah beranak keluarga Bu itu sama-sama menggeletak tak bisa berkutik. Mereka segera dibawa pulang ke Siang-yang. Kebetulan paman gurunya, yaitu si paderi Hindu datang dari negeri Tayli, dan paderi inilah yang menyadarkan Yo Ko dan lain-lain.
Demikianlah Siao-liong-li menangis di kamarnya, makin dipikir makin sedih, air mata pun sukar dibendung lagi sehingga membasahi baju dan tempat tidurnya. Dia bermaksud mengambil sapu tangan untuk mengusap air mata, tiba-tiba tangannya menyentuh Siok-li-kiam yang terselip di tali pinggangnya. Tiba-tiba timbul pikirannya hendak memberikan pedang itu kepada Kwe Hu agar nona itu dan Yo Ko benar-benar menjadi pasangan yang setimpal. Maklumlah, Siao-liong-li teramat cinta kepada Yo Ko, segala apa yang bermanfaat bagi anak muda itu dengan rela dilakukannya. Karena itulah ia lantas menuju ke kamar Kwe Hu.
Tatkala itu sudah lewat tengah malam, Kwe Hu sudah tidur. Tanpa mengetok pintu Siao-liong-li membuka daun jendela kemudian melompat masuk ke kamar. Serta merta dia membangunkan Kwe Hu dan mengatakan ‘kalian memang pasangan setimpal’ sebagaimana diuraikan kembali oleh Kwe Hu kepada Yo Ko. Sesudah menyerahkan Siok-li-kiam kepada Kwe Hu segera Siao-liong-li pergi.
Sudah tentu Kwe Hu terheran-heran dan bertanya apa yang dimaksud, namun Siao-liong-li tidak menjawab melainkan terus melompat keluar jendela.
“Kembalilah, Liong-kokoh!” cepat Kwe Hu berteriak sambil melongok keluar, tetapi terlihat Siao-liong-li sudah melangkah pergi tanpa berpaling lagi.
Dengan menundukkan kepala menahan rasa sedih Siao-liong-li masuk ke taman bunga. Bau bunga mawar yang sedang mekar mewangi mengingatkan dia pada saat bersama Yo Ko berlatih Giok-li-sim-keng diselingi oleh semak-semak bunga dahulu. Untuk berkumpul lagi seperti dahulu rasanya sukar terjadi lagi. Selagi melayang pikirannya, mendadak dari pojok rumah di sebelah kiri ada seseorang sedang berkata:
“Kau sebentar-sebentar mengucap Siao-liong-li, apakah kau tidak dapat berhenti menyebutnya?”
Keruan Siao-liong-li terkejut, ia heran siapakah yang selalu menyebut namaku? Segera ia berhenti di situ untuk mendengarkan lebih cermat. Segera terdengar suara seorang lainnya tertawa mengejek dan berkata:
“Kau sendiri boleh berbuat, masa aku tidak boleh menyebutnya?”
Terdengar orang pertama tadi menjawab: “lni rumah orang lain, mata telinga amat banyak, bila didengar orang lain, ke mana lagi nama baik Coan-cin-kau kita akan ditaruh?”
“He-he, kiranya kau masih ingat kepada nama baik Coan-cin-kau kita,” jengek orang kedua tadi. “He-he, malam itu di tepi semak bunga mawar di Cong-lam-san, rasa nikmat naik surga itu... Wah, ha-ha-ha...!” Sampai di sini ia hanya terkekeh-kekeh saja dan tidak melanjutkan.
Siao-liong-li tambah kaget dan sangat curiga. Dia pikir apakah mungkin malam itu waktu Ko-ji melaksanakan cintanya padaku telah dapat diintip oleh kedua Tosu ini? Dari suara kedua orang itu Siao-liong-li sudah tahu mereka adalah In Ci-peng dan Thio Ci-keng. Maka diam-diam dia mendekati jendela rumah itu kemudian berjongkok di situ untuk mendengarkan lebih Ianjut.
Sementara itu suara bicara kedua orang itu berubah menjadi lirih, tapi jarak Siao-liong-li sekarang sangat dekat, pendengarannya tajam, biar pun kedua orang bisik-bisik cara bicaranya juga dapat didengarnya dengan jelas. Terdengar Ci-peng sedang berkata:
“Tio-suheng, setiap hari siang dan malam kau selalu menyiksa aku, sebenarnya apa tujuanmu?”
“Kau sendiri paham, masa perlu kuterangkan?” jawab Ci-keng.
“Apa yang kau kehendaki dariku telah kusanggupi, aku cuma memohon urusan ini jangan kau sebut lagi, tapi makin lama makin sering kau mengungkitnya, apakah sengaja hendak menyiksa aku sampai mati di depanmu?”
“Hm, aku pun tidak tahu, tapi yang jelas aku tidak tahan dan harus kuucapkan,” jengek Ci-keng.
Mendadak In Ci-peng perkeras suaranya dan berkata: “Hm, memangnya kau sangka aku tidak tahu? Yang benar kau cemburu, kau cemburu kepadaku pada saat menikmati surga dunia itu.”
Ucapan Ci-peng ini amat aneh, tapi Ci-keng ternyata tidak menjawab. Dia seperti hendak mengejek, tapi tak terucapkan. Selang sebentar kembali In Ci-peng berbicara lagi:
“Ya, memang benar, malam itu di balik semak-semak bunga mawar dia tak bisa berkutik karena Hiat-to tertotok oleh Auyang Hong sehingga cita-citaku terpenuhi. Ya, tidak perlu aku menyangkal di depanmu, andaikan tak kukatakan padamu juga kau takkan tahu, betul tidak? Karena telah terlanjur kuberi-tahukan padamu, lalu kau terus menerus menggoda aku dan menyiksa pikiranku. Akan tetapi aku tidak menyesal. Tidak, sedikit pun aku tak menyesal...” sampai akhirnya suaranya berubah menjadi halus dan lembut seakan-akan orang sedang mengingat.
Sambil mendengarkan hati Siao-liong-li serasa mendelung ke bawah, otaknya pun segera mengingat.
“Masa dia dan bukan Ko-ji yang kucintai itu? Tidak, tidak mungkin! Pasti Ko-ji adanya, dia berdusta, dusta!”
Terdengar Ci-keng berkata pula dengan suara kaku dingin: “Ya, dengan sendirinya kau tidak menyesal sedikit pun. Sesungguhnya tidak perlu kau katakan kepadaku, akan tetapi saking senangnya karena kau telah melakukan hal itu, kau merasa perlu diutarakan pada seseorang. Nah, karena itu aku pun membicarakan hal itu padamu setiap hari, setiap saat aku mengingatkanmu, tapi mengapa kau menjadi takut mendengarnya?”
“Blang! Blung!”
Mendadak terdengar suara beberapa kali, kiranya Ci-peng mem-benturkan kepala sendiri pada tembok, lalu berkata:
“Baiklah, bicaralah, bicara lagi supaya setiap orang di dunia ini tahu semua, aku pun tidak takut... tidak... tidak... Oh, Tio-suheng, apa yang kau inginkan dariku sudah kusanggupi, yang kumohon sukalah kau jangan mengungkapnya lagi.”
Dalam waktu yang singkat saja ber-turut Siao-liong-li sudah mendengar dua pertanyaan yang membuat hatinya hancur. Seketika ia berdiri termangu-mangu di luar jendela, meski dapat mendengar jelas pembicaraan Ci-peng dan Ci-keng, tapi arti percakapan mereka itu seketika sukar dipahami. Sementara terdengar Ci-keng lagi berkata dengan tertawa:
“Orang beragama seperti kita ini sekali kejeblos harus dapat mengendalikan diri agar bisa kembali ke arah yang terang. Bahwa senantiasa aku mengingatkanmu akan nama Siao-liong-li agar kau menjadi biasa mendengarnya hingga kemudian menjadi jemu, dan dari jemu akhirnya menjadi benci, ini kan maksud baikku untuk menyelamatkanmu dari jalan tersesat.”
“Dia adalah jelmaan bidadari, mana mungkin aku jemu dan benci padanya?” ujar Ci-peng, Habis ini mendadak suaranya berubah keras: “Hmm, tidak perlu kau bicara muluk-muluk, pikiranmu yang keji dan berbisa itu masa aku tidak tahu? Yang benar adalah kau iri kepadaku, kedua karena kau dendam pada Yo Ko, kau ingin mengungkapkan peristiwa ini untuk menghancurkan kehidupan mereka guru dan murid, menyesal selama hidup.”
Hati Siao-liong-li berdetak keras demi mendengar nama Yo Ko disebut, tanpa terasa dia pun menggumam perlahan nama anak muda itu dan timbul semacam perasaan bahagia yang tidak terhingga. Dia berharap kedua Tosu terus membicarakan si Yo Ko, asal ada orang menyebut nama anak muda itu maka gembiralah hatinya. Terdengar Ci-keng juga memperkeras suaranya dan berkata dengan gemas:
“Hmm, kalau aku tak dapat membikin anak jadah itu sekarat, hm, rasanya tak terlampias dendamku ini. Cuma... cuma...”
“Cuma ilmu silatnya teramat tinggi dan kita bukan tandingannya, begitu bukan?” jengek Ci peng.
“ltu belum pasti,” kata Ci-keng. “Sedikit ilmu silat colongannya yang liar itu mengapa mesti diherankan? In-sute, boleh kau lihat saja, suatu ketika bila dia kepergok olehku, hm, tentu dia akan tahu rasa, tidak kubiarkan dia mati dengan enak, kalau bukan kedua biji matanya tentu akan kukutungi kedua tangannya agar mati tidak hidup pun tidak, tatkala mana nonamu si Siao-liong-li itu boleh menyaksikannya supaya senang hatinya.”
Siao-liong-li bergidik mendengar itu. Kalau waktu biasa tentu dia sudah menerjang dan menghabisi jiwa kedua orang itu, tetapi sekarang pikirannya lagi bingung, kaki tangan terasa lemas tak bertenaga. Sementara itu In Ci-peng sedang mendengus.
“Hm, kau cuma mimpi kosong belaka, ilmu silat golongan kita rasanya sukar menandingi ilmu silat golongan liar macam mereka itu.”
“Keparat, kau ada main dengan Siao-liong-li, lantas ilmu silatnya juga kau puji setinggi langit,” damperat Ci-keng.
Rupanya selama ini Ci-peng sudah kenyang dihina, sekarang dia sudah tidak tahan lagi, segera ia balas membentak:
“Apa katamu? Kau punya perasaan tidak, jadi manusia harus tahu batas-batas tertentu!”
Ci-keng merasa titik kelemahan orang telah tergenggam dalam tangannya, asalkan hal itu diumumkan di Tiong-yang-kiong, akibatnya In Ci-peng pasti akan dijatuhi hukuman mati, sebab itulah dia menghina In Ci-peng dengan segala macam cara dan selama ini Ci-peng tidak berani melawan sedikit pun. Tetapi sekarang Ci-peng ternyata berani melawannya dengan kata-kata kasar, ia menjadi marah, mendadak ia melangkah maju terus menggampar. Ci-peng tidak menduga sang Suheng akan menghantamnya, cepat ia menunduk.
“Plok!” dengan tepat kuduknya kena tampar.
Betapa pun Ci-keng adalah jago kelas satu dari Coan-cin-kau angkatan ketiga, tentu saja pukulannya cukup berat, tubuh Ci-peng sempoyongan dan hampir jatuh terjerungkup. Saking gemasnya ia mencabut pedang dan balas menusuk. Tapi Ci-keng sempat mengegos ke samping dan mengejek:
“Bagus, ternyata kau berani bergebrak denganku.” Segera ia pun mencabut pedangnya dan balas menyerang.
“Setiap hari kau menyiksa aku, paling-paling juga cuma mati, biarlah sekarang kau bunuh aku saja dan bereslah segalanya,” ucap Ci peng dengan geram. Sesudah itu dia segera melancarkan serangan.
Ci-peng adalah murid tertua Khu Ju-ki, kepandaiannya dengan Thio Ci-keng tidak berbeda banyak, apa yang mereka pelajari juga sama, maka sebenarnya sukar dibedakan unggul dan asor. Tapi lantaran dendamnya sudah menumpuk, yang diharapkan sekarang biarlah mati bersama saja. Akan tetapi Ci-keng mempunyai perhitungan lain. Dia tidak mau mencelakai jiwa Ci-peng, sebab itulah setelah dua-tiga puluh gebrakan, akhirnya Ci-keng sendiri malah terdesak ke pojok kamar.
Dengan sendirinya suara pertengkaran kedua Tosu itu diketahui anggota Kay-pang yang sedang dinas jaga dan cepat dilaporkan kepada Kwe Hu. Lekas-lekas nona itu mendatangi tempat itu, dilihatnya Siao-liong-li berdiri di luar jendela. Dia lantas menyapa:
“Liong-Kokoh!”
Siao-liong-li berdiri termangu-mangu di situ seperti tidak mendengar teguran Kwe Hu itu. Tentu saja Kwe Hu heran, ia pun tidak lantas masuk ke rumah itu melainkan ikut berdiri di sana, maka terdengarlah suara olok-olok serta sindiran kasar Ci-keng sambil menangkis serangan Ci-peng, setiap ucapan semuanya menyangkut diri Siao-liong-li. Sebagai nona muda yang sopan, Kwe Hu merasa tak pantas berdiri di situ mendengarkan kata-kata kotor kedua orang yang bertempur di dalam rumah itu, segera ia bermaksud tinggal pergi saja.
Tapi dilihatnya Siao-liong-li tetap berdiri terkesima, kata-kata kotor kedua orang itu seolah-olah tak dihiraukannya sama sekali. Kwe Hu menjadi heran, dia coba tanya dengan suara perlahan:
“Apakah betul apa yang mereka katakan itu?”
“Aku... aku pun tidak tahu,” jawab Siao-liong-li dengan bingung, “tetapi agaknya memang begitu.”
Seketika timbul perasaan menghina dalam hati Kwe Hu, ia mendengus sekali terus tinggal pergi tanpa bicara lagi. Ci-peng dan Ci-keng tergolong jago silat pilihan, meski dalam pertempuran sengit segera mereka mendengar ada suara orang bicara di luar.
“Trangg...!” begitu kedua pedang beradu terus ditariknya kembali bersama dan serentak bertanya: “Siapa itu?”
“Aku,” jawab Siao-liong-li.
Seketika seluruh badan Ci-peng merinding, dia segera menegas dengan suara gemetar.
“Kau? Kau siapa?”
“Siao-liong-li!”
Begitu nama ini diucapkan, bukan saja In Ci-peng terkesima laksana patung, bahkan Ci-keng juga kaget setengah mati dan menggigil ketakutan. Dengan mata kepala sendiri Ci-keng menyaksikan betapa Siao-liong-li pernah mengobrak-abrik Tiong-yang-kiong, sampai paman gurunya yang lihay seperti Hek Tay-thong kalah dan hampir saja mati bunuh diri.
Sama sekali dia tidak menyangka bahwa Siao-liong-li juga berada di Siang-yang. Dia pikir ucapannya sendiri tadi besar kemungkinan telah didengar semua oleh si nona. Seketika ia menjadi ketakutan setengah mati dan entah cara bagaimana harus melarikan diri.
Perasaan In Ci-peng aneh luar biasa sehingga tak terpikir olehnya untuk menyelamatkan diri, sebaliknya dia terus membuka daun jendela, Dilihatnya di situ berdiri seorang wanita jelita berbaju putih, siapa lagi kalau bukan Siao-liong-li yang selalu dirindukannya siang dan malam itu.
“Kau... kau...” Ci-peng menegas dengan melongok.
“Benar, aku.” jawab Siao-liong-li. “Apa yang kalian katakan tadi apakah betul seluruhnya?”
“Be... betul.” Ci-peng mengangguk. “Boleh kau bunuh saja diriku!” Habis berkata dia terus menyodorkan pedangnya keluar jendela.
Sorot mata Siao-liong-li memancarkan sinar aneh, hatinya pedih dan pilu tak terperi, begitu sedih dan begitu gemas, rasanya walau pun membunuh seratus orang atau seribu orang dirinya bukan lagi seorang nona yang suci bersih dan tak dapat lagi mencintai Yo Ko secara mendalam seperti dahulu. Pada waktu Ci-peng menyodorkan pedangnya, Siao-liong-li tidak menerimanya, dia hanya memandang kedua Tosu itu dengan bingung.
Ci-keng melihat kesempatan baik. Dia pikir perempuan ini dalam keadaan kurang waras, mungkin sudah gila, jika sekarang tidak lekas kabur hendak menunggu kapan lagi? Maka cepat ia tarik Ci-peng dan berkata dengan menyeringai:
“Lekas pergi saja, tampaknya dia merasa berat untuk membunuh kau.” Selesai berkata dia menarik Ci-peng sekuatnya dan berlari keluar pintu sana.
Ci-peng menjadi linglung melihat wajah Siao-liong-li, seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, karena tarikan Ci-keng itu ia menjadi terhuyung-huyung dan ikut berlari keluar. Cepat Ci-keng mengeluarkan ginkang-nya untuk berlari cepat. Semula Ci-peng ditarik oleh Ci-keng, tapi segera ia pun dapat mengeluarkan ginkang sendiri. Keduanya adalah jagoan Coan-cin-pay angkatan ke tiga, maka lari mereka ini benar-benar cepat melebihi lari kuda. Mereka menyusur kian kemari di dalam kota, sebentar saja mereka sudah sampai di pintu gerbang sebelah timur.
Di pintu gerbang itu terdapat belasan anggota Kay-pang serta dua regu prajurit penjaga. Anggota Kay-pang yang menjadi pemimpin kenal pada Ci-keng dan Ci-peng sebagai Tosu dari Coan-cin-pay, bicara tentang kedudukan kedua Tosu itu terhitung Suheng Kwe Ceng, maka demi mendengar Ci-keng bilang ada urusan penting sehingga harus keluar benteng, pula waktu itu kebetulan tiada serangan dari pasukan musuh, maka cepat diperintahkan untuk membuka pintu benteng.
Begitu pintu gerbang baru terbuka sedikit, cepat sekali Ci-keng langsung melompat keluar disusul oleh Ci-peng. Selagi orang Kay-pang itu memuji kehebatan Ginkang kedua Tosu itu, mendadak sesosok bayangan putih berkelebat keluar benteng pula. Dengan terkejut ia membentak:
“Siapa itu?!”
Namun bayangan orang itu telah lenyap. Waktu ia melongok keluar benteng, karena fajar baru menyingsing dan belasan meter di depan masih remang-remang tertutup oleh kabut, maka tiada sesuatu pun yang kelihatan. Diam-diam anggota Kay-pang itu mengomel, dia pikir barang kali matanya sendiri yang mulai lamur sehingga pandangannya kabur.
Ci-keng berdua masih terus berlari hingga belasan li jauhnya baru berani melambatkan lari mereka. Dengan kuatir dan bersyukur pula Ci-keng mengusap keringat dingin yang sudah membasahi dahinya sambil menggumam:
“Wah, bahaya, sungguh bahaya!”
Tetapi waktu dia berpaling ke belakang, tanpa terasa kakinya menjadi lemas, hampir saja dia jatuh terjungkal. Kiranya tak jauh di belakangnya sudah berdiri seorang perempuan muda berbaju putih dan sedang memandangnya dengan melenggong, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li. Sungguh kaget Ci-keng tak terperikan, ia menjerit satu kali dan segera menarik tangan Ci-peng untuk diajaknya berlari kembali. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa Siao-liong-li yang dikiranya sudah jauh ditinggalkan di kota Siang-yang tahu-tahu masih mengintil di belakangnya, cuma cara berjalan nona itu tidak bersuara, meski mengintil dalam jarak dekat juga tidak diketahuinya.
Sekaligus dia berlari agak jauh barulah dia coba menoleh ke belakang. Dilihatnya Siao-liong-li menguntit di belakang dalam jarak tetap, seperti tadi. Dengan pikiran bingung dan takut Ci-keng segera ‘tancap gas’ lebih kencang sambil menyeret Ci-peng. Dia tidak berani lagi menoleh, sebab setiap kali memandang ke belakang, setiap kali pula hatinya tambah takut, lambat-laun kakinya mulai lemas, rasanya tangan yang memegangi lengan Ci-peng mulai tak bertenaga.
“ln-sute,” katanya kemudian, “jika sekarang dia mau membunuh kita boleh dikatakan amat mudah, tapi dia tidak melakukan hal ini, kukira dia pasti mempunyai maksud tertentu.”
“Maksud tertentu apa?” tanya Ci-peng.
“Kukira dia ingin menawan kita, lalu membongkar perbuatanmu yang kotor itu di hadapan para ksatria agar nama baik Coan-cin-pay akan runtuh habis-habisan.”
In Ci-peng terkesiap, mati-hidupnya sendiri sebenarnya tak terpikir lagi olehnya. Kalau saja Siao-liong-li akan membunuhnya pasti dia takkan melawan, tapi jika mengenai nama baik Coan-cin-pay, betapa pun juga ia harus membelanya dengan mati-matian, apa lagi jika runtuhnya kehormatan Coan-cin pay itu disebabkan oleh perbuatannya.
Teringat alasan ini dia menjadi kuatir juga, segera larinya bertambah cepat mendampingi Ci-keng. Kedua orang berlari ke daerah yang sunyi dan sulit dicapai orang lain, terkadang mereka menoleh, tetapi Siao-liong-li selalu berada dalam jarak puluhan meter di belakang mereka.
Dengan Ginkang Ko-bong-pay yang tiada tandingannya, kalau mau sebetulnya dengan mudah Siao-liong-li dapat melampaui kedua buruannya. Cuma dia memang masih polos, jalan pikirannya sederhana, menghadapi persoalan maha besar ini dia menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus bertindak. Karena itu terpaksa dia hanya mengintil saja di belakang mereka, selalu dalam jarak sama tapi juga tidak membiarkan lolosnya kedua orang itu.
Memang pikiran Ci-peng dan Ci-keng amat bingung, apa lagi Siao-liong-li terus menguntit dan tidak diketahui apa maksud tujuannya, makin dipikir mereka pun semakin takut. Mereka berlari dari pagi hingga siang, dari siang hingga sore hari. Sudah 6-7 jam mereka berlari-lari kesetanan, betapa pun kuatnya tenaga dalam mereka akhirnya juga terempas-empis, langkah pun mulai sempoyongan dan tidak sanggup berlari cepat lagi.
Dalam pada itu panas matahari yang menyengat sudah membuat mereka mandi keringat, malahan juga lapar dan haus. Ketika di depan tiba-tiba nampak ada sebuah sungai kecil, mereka menjadi nekat. Mereka pikir masa bodohlah andaikan mereka akan tertangkap di situ. Begitulah mereka terus menjatuhkan diri di tepi sungai kecil itu kemudian minum air sekenyangnya.
Dengan perlahan Siao-liong-li juga mendekati sungai bagian hulu, ia pun meraup air untuk diminum. Permukaan air sungai mencerminkan seorang nona jelita berbaju putih dengan ikal rambut hitam dan wajah cantik molek laksana dewi kahyangan. Tapi perasaan Siao-liong-li serasa hampa, dukanya tak kepalang sehingga cermin dirinya itu tidak menariknya melainkan termangu-mangu saja memandangi bayangan sendiri dalam air itu.
Sambil minum air, Ci-keng berdua senantiasa melirik Siao-liong-li. Melihat nona itu hanya termangu-mangu se-olah lupa daratan pada dunia fana ini, cepat mereka saling memberi isyara. Dengan perlahan mereka bangkit dan berjalan ber-jengket menjauh ke sana. Beberapa kali mereka menoleh dan melihat si nona masih terus termenung memandang air sungai, segera mereka percepat langkah terus berlari ke depan. Mereka mengira sekali ini pasti dapat lolos dari kuntitan Siao-liong-li, tetapi siapa duga, ketika kebetulan Ci-peng berpaling, ternyata si nona sudah mengintil lagi di belakang mereka.
Seketika muka Ci-peng menjadi pucat pasi seperti mayat, serunya: “Sudahlah, sudahlah Tio-suheng, kita toh tidak dapat lolos, jadi terserah saja apakah dia akan membunuh atau mencincang kita.” Habis berkata ia terus berhenti dan berdiri di situ.
Ci-keng menjadi gusar dan membentak: “Kau mati juga pantas, tetapi mengapa aku harus mati bersamamu?” Segera ia tarik tangan sang Sute untuk diajak lari lagi.
Akan tetapi Ci-peng telah putus asa dan tidak ingin lari lagi. Dasar Ci-keng memang amat pemberang, tanpa bicara lagi sebelah tangannya menggampar.
“Mengapa kau pukul aku?” teriak Ci-peng dengan marah.
Melihat kedua orang itu saling hantam lagi, Siao-liong-li menjadi heran. Pada saat itulah dari depan sana tampak mendatangi dua penunggadg kuda, rupanya dua kurir Mongol yang bertugas mengirim surat atau berita. Pikiran Ci-keng bergerak, dengan suara tertahan dia berkata kepada Ci-peng:
“Mari kita rebut kuda mereka. Kita pura-pura berkelahi supaya tidak menimbulkan curiga Siao-liong-li.”
Ci-peng menurut, lalu mereka pura-pura berhantam lagi sambil menggeser ke jalan raya. Karena jalan terhalang, kedua prajurit MongoI itu terpaksa menahan kuda mereka sambil membentak-bentak. Namun Ci-keng mendadak melompat ke atas, seorang satu seketika kedua prajurit Mongol itu disodok terjungkal ke bawah, lalu dengan kuda rampasan itulah mereka kabur ke utara. Kedua ekor kuda itu adalah kuda perang piIihan, perawakannya gagah dan larinya cepat. Pada waktu mereka menoleh, ternyata Siao-liong-li tidak mengejar lagi, maka legalah hati mereka. Mereka terus melarikan kuda ke utara, sesudah belasan li kemudian sampailah mereka pada jalan persimpangan tiga.
“Dia melihat kita kabur ke utara, sekarang justru membelok ke timur,” kata Ci-keng sambil membelokkan kuda ke kanan dan diikuti Ci-peng.
Menjelang magrib, sampailah mereka di suatu kota kecil. Sehari suntuk berlari tanpa mengisi perut barang sedikit pun, mereka sangat lelah dan lapar. Segera mencari sebuah warung makan dan pesan satu piring daging berikut beberapa bakpau. Sambil duduk menunggu daharan, hati Ci-keng masih berdebar-debar mengenang bahaya yang dihadapinya tadi. Ia tidak tahu mengapa Siao-liong-li menguntit saja dan tidak segera turun tangan. Dilihatnya Ci-peng juga duduk menunduk dengan muka pucat seperti orang linglung.
Tak lama kemudian makanan yang dipesan telah disuguhkan, segera mereka makan dan minum. Belum seberapa lama, tiba-tiba terdengar ribut di luar, seseorang sedang membentak-bentak dan bertanya:
“Siapa pemilik kedua ekor kuda ini? Mengapa berada di sini?” Dari logat suaranya agaknya orang Mongol.
Ci-keng berdiri dan mendekati pintu. Dilihatnya seorang perwira Mongol dengan beberapa orang anak buah sedang bertanya mengenai kedua ekor kuda rampasan Ci-keng berdua, pelayan rumah makan tampak ketakutan dan menyembah. Lantaran seharian diuber Siao-liong-li dan rasa dongkol Ci-keng belum terlampiaskan, kini ada orang mencari gara-gara, segera dia tampil ke muka dan berteriak:
“Itu kudaku! Ada apa?!”
“Dapat dari mana?” tanya perwira itu.
“Milikku sendiri, peduIi apa denganmu?” jawab Ci-keng.
Tatkala itu di utara Siang-yang sudah berada dalam pendudukan pasukan Mongol, rakyat Song hidup di bawah penindasan kejam, mana ada orang berani bersikap kasar terhadap perwira Mongol? Tapi lantaran melihat perawakan Ci-keng gagah dan kuat, membawa pedang pula, diam-diam perwira itu rada jeri, ia lantas tanya pula:
“Kau dapat beli atau mencuri?”
“Beli atau mencuri apa?” jawab Ci-keng dengan marah. “Kuda ini adalah piaraanku sendiri.”
“Tangkap!” mendadak perwira itu memberi aba-aba. Serentak beberapa prajurit mengerubut maju dengan senjata terhunus.
“Hm, berdasarkan apa kalian hendak menangkap orang?!” bentak Ci keng sambil meraba pedangnya.
“Berani kau melawan, maling kuda?” jengek perwira Mongol itu. “Ha-ha, barang kali kau telah makan hati macan maka berani melawan perwira markas besar. Hayo kau mengaku mencuri tidak?” Berbareng dia menyingkap bulu paha belakang kuda hingga kelihatan cap bakar dua huruf Mongol.
Rupanya setiap kuda perang Mongol pasti ditandai dengan cap bakar untuk menjelaskan kuda itu termasuk pasukan dan kelompok mana. Ci-keng merampas kuda itu di tengah jalan, sudah tentu dia tidak tahu seluk-beluk tanda cap bakar segala. Sebab itu dia tak bisa menjawab. Akan tetapi dia sengaja berdebat:
“Siapa bilang kuda perang Mongol? Di tempat kami banyak juga kuda yang diberi cap bakar seperti ini. Memangnya tidak boleh dan melanggar aturan?”
Perwira itu menjadi marah. Belum pernah ada orang yang berani membantah, masa sekarang ada maling kuda yang malah menantangnya? Segera dia melangkah maju hendak mencengkeram baju dada Ci-keng. Akan tetapi tangan kiri Ci-keng menangkis dan membalik, tangan perwira itu berbalik kena dipegangnya. Menyusul tangan kanan Ci-keng mencengkram punggung perwira itu lalu diangkat ke atas, setelah diputar beberapa kali terus dilemparkan.
Tanpa ampun perwira itu terbanting ke dalam sebuah toko barang pecah belah, seketika terdengarlah suara gemerantang nyaring berturut-turut, rak mangkok piring dan barang-barang porselin lain roboh dan hancur berantakan. Muka perwira itu pun babak belur terluka oleh pecahan beling serta tertindih oleh rak yang ambruk. Para prajurit Mongol cepat-cepat memberi pertolongan sehingga lupa menangkap orang.
Ci-keng terbahak-bahak gembira lalu masuk kembali ke warung makan untuk meneruskan daharannya tadi. Karena ribut-ribut itu, toko yang tadinya buka pasar seketika semua tutup pintu. Tetamu yang sedang makan di warung itu pun segera buyar. Tentara Mongol terkenal ganas dan kejam, tapi sekarang ada orang Han memukuli perwira Mongol, maka akibatnya dapatlah dibayangkan, bukan mustahil seluruh kota akan dibumi-hanguskan.
Belum banyak Ci-keng mengisi perutnya, tiba-tiba kuasa rumah makan itu mendekatinya dan berlutut di hadapannya. Ci-keng tahu maksud orang, pasti kuatir perusahaannya ikut terkena getahnya, maka minta penyelesaian sebaik-baiknya. Sambil tertawa ia lantas berkata:
“Kau jangan kuatir, setelah makan kenyang segera kami angkat kaki dari sini.”
Tapi kuasa rumah makan itu tetap menyembah dengan muka pucat. Ci-peng lantas berkata kepada Ci-keng:
“Rupanya dia takut bila kita pergi, sebentar lagi pasukan Mongol akan datang minta pertanggungan jawabnya.”
Dia memang lebih cerdik dari pada Ci-keng. Sesudah berpikir sejenak, segera dia berkata pula kepada kuasa rumah makan itu.
“Lekas ambilkan lagi daharan yang lezat, apa yang telah kami perbuat adalah tanggung jawab kami sendiri, kenapa mesti takut?”
Kuasa rumah makan itu mengiyakan dengan girang, cepat dia merangkak bangun sambil memerintahkan agar daharan ditambah dan membawakan arak pula. Sementara perwira Mongol yang babak belur itu telah dibangunkan anak buahnya dan dibawa pergi. Dengan tertawa Ci-keng berkata kepada Ci-peng:
“ln-sute, sudah seharian kita kenyang tersiksa, sebentar biarlah kita labrak mereka sepuasnya.”
Ci-peng hanya mendengus tanpa menanggapi, sementara itu pelayan sibuk membawakan daharan. Sesudah makan lagi sekedarnya, mendadak Ci-peng bangkit, pelayan yang meladeni di sebelahnya dihantam hingga terjungkal. Keruan si kuasa rumah makan kaget, cepat ia mendekati dan minta maaf bila mana ada kesalahan pelayanan. Namun kaki Ci-peng lantas melayang pula, dengan tepat dengkul kuasa rumah makan itu didepak sehingga jatuh terguling.
Ci-keng tidak tahu maksud tujuan sang Sute, dikiranya rasa dongkol Ci-peng itu sengaja dilampiaskan atas diri si pelayan. Dia berusaha mencegahnya, tetapi mendadak Ci-peng mendomplangkan meja yang penuh dengan mangkok dan piring, menyusul dua orang pelayan dipukul roboh lagi.
Cara memukul Ci-peng itu disertai dengan totokan Hiat-to, sebab itu setelah jatuh orang-orang itu sama tergeletak tak dapat berkutik. Habis ‘ngamuk’, Ci-peng kebut baju sendiri, lalu berkata:
“Sebentar kalau pasukan Mongol datang kembali dan melihat kalian kulabrak sedemikian rupa, tentu kalian takkan dimarahi, Nah, paham tidak? Bila perlu kalian boleh saling hantam lagi agar kelihatan lebih babak belur.”
Sekarang barulah orang-orang itu mengerti apa maksud tujuan Ci-peng memukuli mereka. Sesudah menyatakan akal bagus, segera mereka saling hantam hingga baju robek dan hidung bengkak. Pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda, ada beberapa orang datang. Serentak orang-orang rumah makan itu merebahkan diri sambil berteriak mengaduh kesakitan serta minta ampun segala.
Setiba di depan rumah makan, benar juga penunggang kuda itu lantas berhenti dan masuklah empat orang perwira Mongol, di belakang mereka ikut pula seorang paderi Tibet yang bertubuh tinggi kurus serta seorang asing yang tubuhnya pendek dan hitam. Kedua kaki orang asing itu sudah buntung dan kedua tangannya memegang tongkat penyanggah ketiak.
Melihat keadaan rumah makan yang porak poranda itu, sambil mengerutkan kering para perwira Mongol itu segera membentak:
“Lekas bawakan santapan enak, kami buru-buru mau berangkat lagi!”
Kuasa rumah makan tadi melengak, baru sekarang ia tahu rombongan ini bukanlah kawan rombongan pertama tadi. Dia menjadi bingung, kalau perwira Mongol yang dilabrak In Ci-peng tadi datang kembali, lalu cara bagaimana akan menghadapinya? Selagi dia bersangsi, perwira Mongol itu menjadi tidak sabar dan menyabetkan cambuk kudanya. Dengan menahan rasa sakit kuasa rumah makan itu terpaksa mengiyakan, tapi celakanya dia tak dapat bangun, syukur ada pegawai lain melayani kawanan Mongol itu dan mengatur meja kursi.
Paderi Tibet itu bukan lain dari pada Kim-lun Hoat-ong dan orang asing hitam pendek dan kaki buntung itu adalah Nimo Singh. Mereka merawat diri beberapa hari di lembah sunyi itu. Sesudah Hoat-ong mengeluarkan sisa racun di dalam tubuh dan luka kaki Nimo Singh mulai sembuh barulah mereka meninggalkan lembah itu hingga bertemu dengan perwira Mongol itu di tengah jalan, lalu bersama-sama pulang ke markas besar Kubilai.
Tentu saja Ci-peng dan Ci-keng terkejut bukan main melihat datangnya Kim-lun Hoat-ong. Mereka pernah menyaksikan kelihayan paderi Tibet itu, malahan kedua muridnya saja, yaitu Darba dan Hotu yang dulu pernah menyatroni Tiong-yang-kiong, sudah sukar ditandingi oleh tokoh-tokoh Coan-cin-pay, apa lagi sekarang kepergok Kim-lun Hoat-ong sendiri, diam-diam mereka kebat-kebit. Mereka saling memberi tanda dan segera mencari jalan meloloskan diri.
Meski Ci-keng berdua kenal Kim-lun Hoat-ong, sebaliknya Hoat-ong tak mengenal kedua Tosu itu. Walau pun keadaan rumah makan berantakan, tapi suasana perang tatkala itu tidak membuatnya heran jika menyaksikan keadaan rusak itu. Karena kepergiannya ke Siang-yang kali ini mengalami kekalahan, dia merasa malu bila nanti bertemu dengan Kubilai, maka yang dia pikirkan sekarang adalah cara bagaimana harus bicara kepada tuannya, sehingga kehadiran dua orang Tosu di rumah makan ini tidak digubris olehnya.
Pada saat itu tiba-tiba terjadi kegaduhan di luar rumah makan, sekawanan prajurit Mongol menyerbu masuk, begitu melihat Ci-keng berdua, sambil membentak-bentak hendak menangkapnya.
“Lari melalui pintu belakang,” demikian kata Ci-peng dengan suara tertahan kepada Ci-keng sembari mendomplangkan sebuah meja hingga mangkuk piring berserakan di lantai, berbareng mereka terus melompat menuju pintu belakang, sebab Kim-lun Hoat-ong duduk dekat pintu depan, kalau lari lewat di sebelahnya bisa jadi dia akan menghalangi mereka.
Ketika hampir sampai di ruang belakang, sekilas Ci-peng menoleh dan melihat Hoat-ong masih asyik minum tanpa gubris kekacauan itu. Diam-diam dia girang, asalkan paderi itu tidak ikut campur tentu tidak sukar untuk kabur. Tak terduga mendadak sesosok bayangan melayang tiba, orang cebol buntung tahu-tahu sudah melompat ke sana, sebelah tongkatnya menghantam sekaligus Ci-peng dan Ci-keng.
Tentu saja Ci-peng berdua belum kenal siapa Nimo Singh, maka cepat mereka mengelak. Heran juga Nimo Singh karena serangannya tak mengenai sasaran, ia merasa kedua Tosu ini ternyata bukan jago lemah. Segera kedua tongkatnya bergantian, yang satu dibuat menyanggah tubuh dan yang lain digunakan menyerang, dari bagian luar dia terus mendesak mundur Ci-peng berdua dan dengan sendirinya Ci-peng berdua balas menyerang sambil berusaha meloloskan diri.
Meski kepandaian Nimo Singh lebih tinggi dari pada Ci-peng berdua, tetapi lantaran kedua kakinya buntung belum lama ini, tenaganya belum pulih seluruhnya, apa lagi belum biasa memakai tongkat begitu, lama-lama dia sendiri menjadi kewalahan dikerubuti Ci-peng dan Ci-keng.
Melihat kawannya rada kerepotan, perlahan Hoat-ong mendekati mereka. Ketika pedang Ci-keng menusuk dada Nimo Singh dan orang Keling ini menangkisnya dengan tongkat, mendadak pedang Ci-peng sekaligus juga mengancam iga kanan Singh yang tak terjaga. Karena tidak ingin tertembus perutnya terpaksa Nimo Singh melompat ke samping. Ketika Hoat-ong melangkah tiba, kebetulan Nimo Singh melompat ke atas. Maka tangan kiri Hoat-ong digunakan mendukung bokong Nimo Singh dan memondongnya, ada pun tangan kanan memegangi lengannya.
Pada saat itu tongkatnya masih menempel pedang Ci-keng. Ketika Hoat-ong menyalurkan tenaga dalamnya melalui tongkat Nimo Singh, seketika Ci-keng merasa tangan kanannya tergetar dan dadanya terasa sesak.
“Trangg...!” pedang terpaksa dilepaskan dan jatuh ke lantai.
Meski tenaganya belum cukup kuat, namun perubahan serangan Nimo Singh amat cepat. Begitu pedang Ci-keng jatuh, segera ia memutar tongkatnya dan menempel pedang Ci-peng. Pada saat Hoat-ong menyalurkan lagi tenaga dalamnya, sekuatnya Ci-peng juga melawan dengan tenaga dalam, akan tetapi cara menguasai tenaga dalam Kim-lun Hoat-ong memang luar biasa, bisa keras bisa lunak.
“Krekk!” tahu-tahu pedang Ci-peng patah, yang terpegang olehnya hanya setengah potong pedang saja.
Dengan perlahan Hoat-ong menurunkan Nimo Singh. Begitu dua tangannya meraih, tahu-tahu pundak kedua Tosu sudah terpegang olehnya, katanya dengan tertawa:
“Kita belum pernah kenal, kenapa saling labrak? Kepandaian kalian boleh dikatakan jago pedang kelas satu di sini. Bagaimana kalau duduk dulu dan kita ngobrol.”
Cara memegang Hoat-ong biasa saja, tetapi ternyata sukar dielakkan Ci-peng berdua, mereka merasa ditindih tenaga yang maha kuat. Cepat mereka mengerahkan tenaga dalam untuk melawan dan tidak berani menjawab.
Sementara itu pasukan Mongol yang menyerbu masuk telah mengepung. Perwira yang memimpin adalah seorang Cian-hu-tiang (komandan seribu orang), dia kenal Kim-lun Hoat-ong sebagai Koksu atau Imam Negara yang sangat dihormati oleh pangeran Kubilai, cepat ia mendekati dan memberi hormat sambil menyapa:
“Koksuya, kedua Tosu ini mencuri kuda perang dan memukul anggota tentara kita, harap Koksuya suka...” baru sampai di sini, tiba-tiba saja dia mengamat-amati In Ci-peng, lalu berkata mendadak: “Hei, bukankah engkau ini In Ci-peng, In-totiang?”
Ci-peng mengangguk dan tidak menjawab, dia merasa tidak kenal dengan perwira Mongol yang menegurnya ini. Pegangan Hoat-ong dikendurkan, diam-diam ia pun mengakui Iwekang kedua Tosu itu ternyata cukup hebat meski usia mereka baru 40-an. Perwira Mongol itu lantas berkata pula dengan tertawa:
“Apakah In-totiang sudah pangling kepadaku? 19 tahun yang lampau kita pernah berkumpul di gurun pasir dan makan panggang kambing, masa sudah lupa? Namaku Sato!”
Sesudah mengamati dan mengingat sejenak, Ci-peng menjadi girang dan berseru: “Aha, betul, betul! Sekarang kau pelihara berewok lebat sehingga aku pangling.”
“Selama ini kami berjuang kian kemari hingga rambut dan jenggot putih semua, tapi wajah Totiang ternyata tak banyak berubah,” ujar Sato dengan tertawa, “Pantas saja Jengis Khan Agung kami mengatakan kaum beragama seperti kalian ini hidup laksana malaikat dewata.” Lalu dia berpaling kepada Hoat-ong dan menutur: “Koksuya, In-totiang ini dahulu pernah berkunjung ke negeri kami atas undangan Jengis Khan Agung, kalau dibicarakan kita adalah orang sendiri.”
Hoat-ong manggut-manggut, lalu melepaskan pundak Ci-peng berdua. Supaya diketahui, dulu waktu Jengis Khan mulai jaya, dia pernah mengundang kaum Tosu dari Coan-cin-kau ke Mongol agar mengajarkan ilmu panjang umur kepadanya. Untuk itu Khu Ju-ki telah berangkat ke sana dengan membawa 18 anak muridnya, In Ci-peng yang merupakan murid tertua dengan sendirinya ikut serta. Untuk mereka, Jengis Khan sudah mengutus 200 prajurit sebagai pengawal rombongan Khu Ju-ki, tatkala itu Sato hanya seorang prajurit biasa saja dan termasuk dalam pasukan pengawal, sebab itulah dia kenal In Ci-peng.
Selama 20 tahun Sato terus naik pangkat sehingga menjadi Cian-hu-tiang dan secara kebetulan bertemu kembali dengan Ci-peng, tentu saja ia amat gembira. Segera ia suruh menyediakan makanan untuk menghormati Ci-peng, urusan kuda serta memukuli prajurit Mongol dengan sendirinya tak diusut lagi. Kim-lun Hoat-ong juga pernah mendengar nama Khu Ju-ki dan mengetahui pula bahwa ia adalah tokoh nomor satu Coan-cin-pay. Sekarang dilihatnya kepandaian Ci-peng berdua juga tidak lemah, dia mengakui ilmu pedang dan Iwekang Coan-cin-pay memang lihay.
Dalam pada itu Sato sibuk menanyai Ci-peng mengenai kesehatan ke-18 murid Coan-cin-kau yang lainnya. Bicara kejadian pada masa lalu, Sato menjadi bersemangat dan sangat gembira. Pada saat itulah tiba-tiba masuk seorang perempuan muda berbaju putih. Serentak Hoat-ong, Nimo Singh, Ci-peng dan Ci-keng terkesiap. Ternyata pendatang ini adalah Siao-liong-li adanya! Di antara orang-orang itu hanya Nimo Singh yang tidak punya rasa dendam, segera dia menegur.
“Hai, pengantin perempuan Cui-sian-kok, baik-baik sajakah kau?”
Siao-liong-li hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Dia pilih meja di pojok sana lantas duduk tanpa menggubris orang lain. Dia memberi pesan seperlunya kepada pelayan agar membuatkan santapan baginya. Air muka Ci-peng berdua menjadi pucat dan hati berdebar. Hoat-ong juga kuatir kalau Yo Ko menyusul tiba. Selamanya dia tidak gentar apa pun kecuali permainan ganda ilmu pedang Yo Ko dan Siao-liong-li. Begitulah ketiga orang memikirkan urusan sendiri dan tidak bicara lagi melainkan makan saja. Ci-peng berdua sebenarnya sudah kenyang makan, tetapi kalau mendadak terdiam bisa jadi akan menimbulkan curiga orang lain, terpaksa mereka makan lagi tanpa berhenti agar mulut tidak menganggur.
Hanya Sato saja yang tetap gembira ria. Dia tanya Ci-peng: “ln-totiang, apakah engkau pernah bertemu dengan Pangeran kami?”
Ci-peng hanya menggeleng saja tanpa bicara. Sato lantas menyambung: “Wah, pangeran kita ini sungguh pintar dan bijaksana, beliau adalah putera keempat pangeran Tulai, setiap prajurit sayang padanya, sekarang aku hendak menghadap beliau untuk memberi laporan keadaan, kalau kedua Totiang tiada urusan lain, bagaimana kalau ikut serta menghadap beliau?”
Ci-peng sedang bingung, maka tanpa pikir ia menggeleng, tapi pikiran Ci-keng lantas tergerak. Dia tanya Hoat-ong:
“Apakah Taysu juga hendak menghadap Ongya?”
“Ya,” jawab Hoat-ong. “Pangeran Kubilai adalah pahlawan yang tidak ada bandingannya di jaman ini, kalian harus berkunjung dan berkenalan dengan beliau.”
“Baiklah,” cepat Ci-keng menanggapi. “Kami akan ikut Taysu dan Sato-ciangkun ke sana.” kakinya menyenggol perlahan kaki Ci-peng serta mengedipinya.
Sesunguhnya Ci-peng lebih cerdik dari pada Ci-keng, cuma saja begitu melihat Siao-liong-li seketika dia menjadi linglung. Selang sejenak barulah dia ingat apa maksud tujuan Ci-keng, rupanya hendak meloloskan diri dari kejaran Siao-liong-li dengan bernaung di bawah lindungan Kim-lun Hoat-ong.
Begitulah setelah makan, berturut-turut semuanya berangkat. Diam-diam Hoat-ong merasa lega karena selama ini Yo Ko tidak kelihatan muncul, pikirnya: “Coan-cin-kau adalah sekte agama berpengaruh di daratan Tionggoan, kalau saja dapat dirangkul tentu akan banyak bermanfaat bagi pihak Mongol. Apa lagi tujuannya ke Siang-yang telah mengalami kegagalan total, jika dapat mengajak pulang kedua Tosu Coau-cin-kau ini kan juga suatu jasa besar. Sementara itu hari sudah mulai gelap, mereka terus melarikan kuda dengan cepat. Ketika di belakang terdengar pula derap kaki binatang, Ci-keng menoleh dan samar-samar kelihatan Siao-liong-li masih mengikuti dari jauh dengan menunggang seekor keledai.
Kim-lun Hoat-ong juga merinding sesudah mengetahui Siao-liong-li membuntuti mereka. Diam-diam dia pun heran mengapa Siao-liong-li berani mengikutinya sendirian, padahal satu lawan satu jelas nona itu pasti bukan tandinganku, jangan-jangan dia membawa bala bantuan tersembunyi? Demikianlah Hoat-ong menjadi sangsi, padahal kalau sekarang dia berani menyongsong kedatangan Siao-liong-li kemudian melabraknya, tentu nona itu akan celaka, kalau tidak terbunuh juga tertawan. Tapi Hoat-ong baru saja berkenalan dengan Ci-peng berdua dari Coan-cin-pay, ia menjadi kuatir jika kebetulan kecundang, hal ini tentu akan menurunkan pamornya, sebab itulah dia lebih suka cari selamat dan pura-pura tidak tahu penguntitan Siao-liong-li.
Setelah menempuh perjalanan setengah malaman, sampai di suatu hutan, Sato memerintahkan pasukan berhenti mengaso, masing-masing duduk istirahat di bawah pohon. Tampaklah Siao-liong-li juga turun dari keledainya lalu duduk di sana dalam jarak beberapa puluh meter jauhnya. Semakin misterius gerak-gerik si nona, semakin menimbulkan curiga Kim-lun Hoat-ong sehingga tak berani sembarangan bertindak. Yang paling ketakutan tentu saja In Ci-peng, memandang saja dia tidak berani. Setelah cukup mengaso, kemudian pasukan berangkat lagi.
Sesudah jauh meninggalkan hutan, terdengar suara “keteplak-keteplak” yang samar-samar, ternyata Siao-liong-li tetap menguntit di belakang dengan keledainya. Sampai pagi mendatang, Siao-liong-li tetap mengintil di belakang dalam jarak tetap.
Sementara itu rombongan sudah tiba di suatu tanah datar yang luas, sepanjang mata memandang tiada tampak suatu bayangan apa pun. Diam-diam timbul pikiran jahat Kim-lun Hoat-ong, ia membatin: “Sejak datang ke Tionggoan belum pernah aku bertemu tanding, tapi akhir-akhir ini berturut-turut dikalahkan oleh ilmu pedang gabungan Yo-Ko dan nona ini. Sekarang dia terus membuntuti aku, tentu dia mempunyai maksud buruk. Sebelum dia bertindak, kenapa tidak kubinasakan dia dahulu secara tak terduga olehnya, seumpama nanti bala bantuan tiba tentu juga tak akan keburu menoIongnya. Dan jika nona ini sudah mati, di dunia ini tiada orang lain lagi yang mampu melebihi aku.”
Setelah mengambil keputusan, baru saja dia mau menahan kudanya untuk menanti datangnya Siao-liong-li, tiba-tiba dari depan ada suara gemuruh datangnya serombongan orang disertai debu mengepul dan suara keleningan kuda atau unta.
“Wah, terlambat! Jika tahu bala bantuannya akan datang sekarang, tentu sejak tadi sudah kubinasakan dia,” demikian Hoat-ong membatin karena tidak sempat lagi menindak Siao-liong-li.
Pada saat lain mendadak terdengar Sato berseru menyatakan herannya. Waktu Hoat-ong melongok jauh ke sana, terlihat rombongan yang datang itu amat aneh, seluruhnya empat ekor unta tanpa penunggang, pada sisi kanan punggung unta pertama terpancang sebuah bendera besar, di ujung tiang bendera itu ikut berkibar pula tujuh ikat bulu putih, itulah panji pengenal Kubilai.
“Barang kali Ongya yang datang?” guman Sato sambil keprak kudanya menyongsong ke depan. Kurang lebih beberapa puluh meter lagi, Sato turun dari kudanya dan berdiri di tepi jalan dengan hormat.
Kim-lun Hoat-ong merasa tidak leluasa lagi untuk membunuh Siao-liong-li jika betul Kubilai yang datang. Dia hendak menjaga harga diri, sebab kalau sampai dilihat Kubilai bahwa dia membunuh seorang perempuan muda, tentu dia akan dipandang hina. Sementara itu keempat unta tadi masih terus berlari cepat mendatangi, namun Hoat-ong tidak turun dari kudanya melainkan perlahan-lahan memapak ke depan. Terlihat di tempat luang antara keempat ekor unta itu ada seseorang yang duduk terapung. Orang itu berjenggot dan beralis putih dengan wajah selalu tersenyum, kiranya adalah Ciu Pek-thong yang baru mengacaukan Cui-sian-kok.
Terdengar Ciu Pek-thong berteriak dari jauh: “Bagus, bagus sekali! Hwesio gede dan si cebol hitam, kita berjumpa kembali di sini, ada lagi nona cilik yang cantik molek itu!”
Hoat-ong sangat heran, ia tidak mengerti mengapa Cui Pek-thong bisa duduk terapung di tengah-tengah keempat unta itu, tetapi sesudah dekat barulah dia tahu duduknya perkara. Kiranya di antara unta-unta itu terbentang beberapa utas tali yang ujungnya terikat pada punuk tiap-tiap unta dan di tengah-tengah persilangan tali itulah Ciu Pek-thong duduk.
Ciu Pek-thong adalah Sute cikal-bakal Coan-cin-kau, yaitu Ong Tiong-yang yang pernah menjalin cinta dengan nenek guru Siao-liong-li. Kalau bicara tentang kedudukan di Coan-cin-kau, dialah yang paling top, tetapi selangkah pun dia tidak pernah menginjak Tiong-yang-kiong dan jarang pula berhubungan dengan Ma Giok, Khu Ju-ki dan lain-lain. Sebab itulah Ci-peng dan Ci-keng tidak mengenalnya.
Meski mereka pernah mendengar cerita dari guru masing-masing bahwa mereka memiliki seorang Susiokco (kakek guru muda), tetapi sudah lama tidak ada kabar beritanya, besar kemungkinan sudah meninggal dunia, maka sekarang mereka pun tidak menduga bahwa tokoh aneh ini adalah sang Susiokco yang maha sakti itu.
BegituIah Hoat-ong mengernyitkan dahinya melihat kelakuan Ciu Pek-thong. Dia pikir ilmu silat orang ini teramat tinggi dan sukar dilawan, maka ia coba menanyainya:
“Apakah Ongya berada di belakang sana?”
“Kira-kira 40 li di belakang sana adalah perkemahannya,” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa sambil menuding ke belakang. “Ehh, Toa-hwesio, kunasehati kau. Sebaiknya kau jangan pergi ke sana.”
“Sebab apa?” tanya Hoat-ong heran.
“Sebab dia sedang marah-marah. Kalau kau ke sana, mungkin kepalamu yang gundul itu akan dipenggal olehnya,” ujar Pek-thong.
“Ngaco-balo!” omel Hoat-ong dengan mendongkoI. “Sebab apa Ongya marah?”
Sambil menuding panji tanda pengenal Kubilai, Ciu Pek-thong berkata dengan tertawa: “Lihat ini, panji kebesaran Ongyamu kucuri, mustahil dia tidak marah-marah.”
Hoat-ong meIengak. Diam-diam ia pun percaya apa yang dikatakan itu, ia yakin Ciu Pek-thong pasti tidak berdusta. Segera ia tanya:
“Untuk apa kau mencuri panji kebesaran Ongya?”
“Kau kenal Kwe Ceng bukan?” tanya Pek-thong.
“Ya, ada apa?” Hoat-ong mengangguk.
“Dia adalah saudara mudaku.” tutur Pek-thong. “Sudah belasan tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku amat kangen padanya, maka aku buru-buru hendak menjenguk ke sana. Kudengar dia sedang berperang dengan orang Mongol di Siang-yang, maka aku sengaja mencuri panji kebesaran pangeran Mongol ini sebagai kado untuk saudara angkatku.”
Hoat-ong terkejut, dia pikir urusan bisa celaka. Sedang Siang-yang belum dapat dibobol, sekarang panji kebesaran panglimanya direbut musuh, hal ini teramat memalukan.
“Hmm, aku harus mencari akal merampas kembali panji ini.”
Mendadak terdengar Ciu Pek-thong membentak, empat ekor unta itu terus bergerak dan berbondong-bondong berlari ke sana, setelah mengitar satu lingkaran, lalu berlari kembali. Panji besar itu berkibar tertiup angin, Ciu Pek-thong berdiri menegak di tengah persilangan tali, dengan tangan memegang tali kendali keempat unta, lagaknya mirip panglima besar saja.
Dengan berseri-seri ia melarikan kawanan unta. Sesudah dekat cambuknya berkelebat dan berbunyi nyaring.
“Tarrr...!”
Serentak unta itu berhenti, entah dengan cara bagaimana Ciu Pek-thong ternyata dapat mengendalikan unta itu menjadi sangat penurut.
“Toa-hwesio, bagus tidak barisan unta pimpinanku ini?” tanya Pek-thong dengan tertawa.
“Bagus sekali!” jawab Hoat-ong sambil mengacungkan ibu jarinya, akan tetapi diam-diam dia sedang memikirkan cara bagaimana merebut kembali panji itu.
Tiba-tiba Ciu Pek-thong mengangkat tangannya dan berseru: “Toa-hwesio, nona cilik, Lo wan-tong mau berangkat!”
Mendengar sebutan ‘Lo-wan-tong’, serentak Ci-peng dan Ci-keng berseru: “Susiokco!” Berbareng mereka pun melompat turun dari kudanya.
“Apakah ini Ciu-locianpwe dari Coan-cin-pay?” tanya Ci-peng.
Biji mata Ciu Pek-thong tampak berputar-putar, lalu menjawab: “Hmm, ada apa? Kalian ini anak murid ‘hidung kerbau’ yang mana?”
Dengan hormat Ci-peng menjawab: “Thio Ci-keng murid Giok-yang-cu Ong-totiang dan Tecu sendiri In Ci-peng murid Tiang-jun-cu Khu-totiang.”
“Huh, Tosu kecil Coan-cin-kau semakin lama semakin tak keruan, tampaknya kalian juga tidak becus,” dengus Pek-thong. Tiba-tiba kedua kakinya memancal ke depan, sepasang sepatunya menyambar ke muka Ci-peng berdua.
Ci-keng terkejut, cepat dia hendak menangkapnya. Tapi Ci-peng sudah yakin orang tua ini pasti Ciu Pek-thong adanya, ia pikir kalau Susiokco mau memberi hukuman, betapa pun tidak boleh menghindar apa lagi tenaga sambaran sepatu itu tampaknya juga tidak keras, kalau kena rasanya tidak terlalu sakit, karena itulah ia tidak ambil pusing sambaran sepatu dan tetap memberi hormat. Di luar dugaan, pada saat sepatu itu menyambar sampai di depan muka Ci-peng berdua, sekonyong-konyong sepatu itu dapat memutar balik. Tangan Ci-keng menangkap tempat kosong, sementara kedua buah sepatu masuk kembali ke kaki Ciu Pek-thong.
Meski pun perbuatan Ciu Pek-thong itu menyerupai permainan jahil, tapi kalau tidak memiliki tenaga dalam yang maha sakti pasti tidak bisa melakukannya. Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh sudah pernah menyaksikan Anak Tua Nakal itu mempermainkan orang di kemah Kubilai dengan pura-pura menimpukkan ujung tombak, maka mereka tidak merasa heran, sebab dasarnya sama saja seperti permainan sepatu terbang ini.
Akan tetapi Ci-keng menjadi amat kaget tak terhingga. Dengan kepandaiannya sekarang, betapa pun lawan menyerangnya dengan senjata rahasia pasti dapat ditangkapnya tanpa meleset, siapa tahu sebuah sepatu butut yang tampaknya menyambar tiba dengan perlahan itu ternyata tidak dapat ditangkapnya. Keruan ia tidak berani ragu lagi, segera ia ikut menyembah dan memperkenalkan namanya.
“Ha-ha-ha,” Ciu Pek-thong tertawa. “Penilaian Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sungguh rendah, mengapa menerima murid-murid tak becus begini? Sudahlah, siapa yang minta disembah kalian?” Setelah itu mendadak dia membentak: “Serbu!” serentak keempat ekor unta membedal cepat ke depan.
Namun secepat burung terbang Hoat-ong sudah melayang ke sana lantas menghadang di depan kawanan unta sambil berseru:
“Nanti dulu!” Kedua tangannya menahan batok kepala dua ekor unta yang di depan, seketika unta yang sedang berlari itu dapat dihentikan dan bahkan didorong mundur beberapa langkah.
Ciu Pek-thong menjadi marah, teriaknya: “Toa-hwesio, apakah kau mengajakku berkelahi? Sudah belasan tahun Lo-wan-tong tidak menemukan tandingan, kini kepalanku memang sedang gatal, mari kita coba-coba beberapa jurus!”
Sifat Ciu Pek-thong memang keranjingan ilmu silat, semakin tua bukannya semakin loyo, tapi kepandaiannya semakin tinggi sehingga tidak ada seorang pun yang berani bergebrak dengannya. Tetapi dia pun tahu bahwa ilmu silat Kim-lunHoat-ong cukup lihay dan dapat diajak berkelahi, maka segera dia menggosok kepalan dan ingin bergebrak. Namun Hoat-ong meng-goyang tangannya sambil berkata:
“Tidak, selamanya aku tidak sudi bergebrak dengan manusia yang tidak tahu malu. Kalau kau memaksa, silakan kau pukul saja dan pasti takkan kubalas.”
Tentu saja Pek-thong menjadi marah, damperatnya: “Mengapa kau berani menganggap aku manusia tidak tahu malu?”
“Habis, sudah jelas kau tahu aku tidak berada di tempat, kau mencuri panji kebesaran ini, apa namanya perbuatanmu ini kalau bukan tidak tahu malu?” jawab Hoat-ong. “Huh, kau merasa bukan tandinganku, maka ketika aku pergi, kesempatan baik lantas kau gunakan. He-he, Ciu Pek-thong, kau benar-benar tidak punya muka.”
“Baik, aku dapat menandingi kau atau tidak mari kita berkelahi saja dan segera dapat diketahui,” tantang Pek-thong.
Hoat-ong sengaja menggeleng dan menjawab. “Sudah kukatakan aku tak sudi bertempur dengan manusia tak tahu malu, kau tidak dapat memaksaku. Kepalanku cukup terhormat, jika menghantam badan manusia tidak tahu malu, kepalanku bisa berbau busuk dan bau busuknya takkan hilang selama 3 tahun 3 bulan.”
Ciu Pek-thong tambah murka, teriaknya: “Habis bagaimana menurut kau?!”
“Kau harus menyerahkan kembali panji itu padaku kemudian malam nanti boleh kau coba-coba mencurinya lagi,” ujar Hoat-ong. “Aku akan berjaga di markas sana, dan kau boleh merebutnya terang-terangan atau mencurinya gelap-gelapan, asalkan kau dapat memegangnya lagi, segera aku menyerah dan mengakui kau memang pahlawan besar dan ksatria terhormat!”
Watak Ciu Pek-thong paling kaku, mudah dibakar, sesuatu urusan, semakin sulit semakin ingin diiakukannya. Segera dia cabut panji besar itu terus dilemparkan kepada Hoat-ong sambil berseru:
“Baik, terimalah, malam nanti akan kucuri kembali.”
Begitu tangan Hoat-ong menangkap panji itu, segera diketahui tenaga lemparan Ciu Pek-thong sangat kuat. Cepat dia bertahan, tetapi tidak urung tergetar mundur dua-tiga tindak. Karena pegangan Hoat-ong pada unta dilepaskan, serentak keempat unta itu berjingkrak terus membedal lagi ke depan. Semua orang mengikuti bayangan Ciu Pek-thong dengan barisan unta yang aneh itu hingga jauh dan menghilang.
Sejenak Hoat-ong tertegun, kemudian dia serahkan panji kebesaran itu kepada Sato dan mengajaknya berangkat Iagi. Diam-diam dia pun merenungkan bagaimana caranya harus menghadapi Lo-wan-tong yang tindak tanduknya aneh dan sukar diraba itu. Tapi dia tak dapat menemukan akal yang bagus. Ketika tanpa sengaja ia menoleh, dilihatnya Ci-peng dan Ci-keng sedang bicara bisik-bisik sambil beberapa kali berpaling dan melirik Siao-liong-li, tampaknya kedua Tosu itu sangat takut. Tergerak hati Hoat-ong, ia pikir jangan-jangan pengintilan nona itu ditujukan kepada kedua Tosu ini. Segera dia coba memancing dengan kata-kata:
“In-toheng, apakah kau memang kenal nona Liong itu?”
Air muka Ci-peng tampak berubah dan mengiakan perlahan. Hoat-ong tambah yakin akan dugaan tadi, segera dia tanya lagi:
“Kalian telah berbuat salah padanya dan dia hendak mencari perkara kepada kalian, begitu bukan? Nona itu memang sangat lihay, jika kalian memusuhi dia, lebih banyak celaka dari pada selamatnya.”
Sudah tentu Hoat-ong tidak tahu menahu mengenai pertengkaran antara kedua Tosu itu, cuma dilihatnya kedua orang itu tampak gelisah dan berbisik-bisik, maka dia pun sengaja memancingnya dan dugaannya memang tidak meleset. Akan tetapi Ci-keng menanggapi:
“Tapi nona itu pun pernah berselisih dengan Taysu, malah Taysu pernah kecundang di tangannya, masa kekalahan itu tidak Taysu balas?”
“Dari mana kau tahu?” dengus Hoat-ong.
“Kejadian itu tersiar di seluruh jagat, siapa yang tidak tahu?” ujar Ci-keng.
Diam-diam Hoat-ong mengakui kelihayan kedua Tosu itu. Ia bermaksud hendak menakuti mereka, ternyata Ci-keng berbalik hendak memperalatnya. Rasanya urusan ini lebih baik dibicarakan terus terang saja. Maka ia pun berkata:
“Nona Liong itu hendak membunuh kalian, akan tetapi kalian merasa bukan tandingannya, karena itu kalian ingin perlindunganku. Begitu, bukan?”
Dengan marah Ci-peng menjawab: “Biar pun mati aku tidak perlu minta perlindungan orang, apa lagi Taysu juga belum tentu bisa mengalahkan dia.”
Melihat sikap Ci-peng yang tegas dan berani, Hoat-ong menjadi sangsi, jangan-jangan perkiraannya tidak betul. Tapi dengan tertawa dia berkata:
“Jika dia main berganda dengan Yo Ko, tentu saja ilmu pedang mereka cukup lihay. Tetapi sekarang dia sendirian, kaIau mau aku dapat membinasakan dia dengan mudah.”
“Belum tentu bisa,” ujar Ci-keng sambil menggeleng. “Setiap orang Kangouw sama tahu bahwa Kim-lun Hoat-ong sudah pernah dikalahkan oleh Siao-liong-li!”
“Ha-ha, sudah lama aku bertapa, tiada gunanya kau membakar aku dengan perkataanmu itu!” jawab Hoat-ong.
Dari kata-kata Ci-keng itu kini dia yakin benar bahwa Tosu itu memang berharap dirinya bergebrak dengan Siao-liong-li. Sebelum Ciu Pek-thong muncul tadi sesungguhnya ada maksud Kim-lun Hoat-ong untuk membinasakan Siao-liong-li, tetapi sekarang dia telah berjanji dengan Ciu Pek-thong agar mencuri lagi panji kebesaran Kubilai, untuk itu tenaga kedua Tosu rasanya ada gunanya, jika Siao-liong-li dibunuh lebih dulu berarti hilanglah alat pemerasnya terhadap kedua Tosu ini. Maka dengan sikap tak acuh dia lantas berkata:
“Kalau begitu baiklah aku berangkat lebih dahulu, nanti kalau kalian sudah selesaikan urusan nona itu, silakan berkunjung ke kemah Ongya.”
Habis berkata dia terus melarikan kudanya ke depan, jelas tujuannya agar kedua Tosu itu tidak mengikuti dia. Tentu saja Ci-keng menjadi gelisah. Kalau paderi Tibet itu pergi dan Siao-liong-li memburu, entah cara bagaimana dirinya akan disiksa oleh nona itu, apa lagi kalau ingat betapa sakitnya sengatan tawon di Cong-lam-san dahulu, tanpa terasa nyalinya menjadi pecah. Tanpa memikirkan harga diri lagi segera ia melarikan kudanya menyusul ke depan sambil berseru:
“Nanti dulu, Taysu! Jalanan di sini kurang kupahami, jika sudi memberi petunjuk tentu budi pertolonganmu takkan kulupakan!”
Hoat-ong tertawa geli mendengar seruan Ci-keng, dia pikir tentu Tosu ini sudah bersalah pada nona Liong itu sehingga ketakutan sedemikian rupa. Ada pun Tosu she In itu tampak adem ayem saja, agaknya tidak tersangkut dalam persoalan mereka. Dengan tertawa dia lantas menjawab:
“Baiklah, bisa jadi nanti aku pun perlu bantuanmu.”
“Jika Taysu memerlukan tenagaku, pasti akan kulakukan,” cepat Ci-keng menanggapi.
Hoat-ong lantas meneruskan perjalanan berjajar dengan Ci-keng sambil menanyai keadaan Coan-cin-kau sekarang yang dijawab seperlunya saja oleh Ci-keng. Dengan pikiran linglung Ci-peng mengikut dari belakang tanpa memperhatikan apa yang dibicarakan kedua orang itu.
Sementara itu Hoat-ong berkata: “Konon Ma-totiang telah mengundurkan diri dari tugasnya dan menyerahkan jabatan ketua kepada Khu-totiang yang kabarnya juga sudah tua, kukira jabatan ketua berikut tentu akan jatuh pada gurumu, Ong-totiang.”
Agaknya perkataan Hoat-ong itu rada menyentuh isi hati Ci-keng, mendadak air mukanya berubah, jawabnya:
“Usia guruku juga sudah lanjut sehingga akhir-akhir ini beliau jarang mengurusi pekerjaan umum, besar kemungkinan jabatan ketua nanti akan dilanjutkan oleh In-sute ini.”
Melihat air muka Ci-keng menampilkan rasa penasaran, dengan suara lirih Hoat-ong coba membakarnya:
“Tampaknya ilmu silat In-toheng juga tak melebihi Thio-toheng sendiri, mengenai kecerdikan dan kecekatan kerja tentu juga selisih jauh dengan dirimu, sebab itu jabatan ketua yang penting itu seharusnya diserahkan kepadamu.”
Hal ini sebenarnya telah terpendam selama beberapa tahun dalam hati Ci-keng, sekarang Hoat-ong yang membeberkan isi hatinya, tentu saja rasa dendam dongkolnya semakin kentara. Sebenarnya secara Iisan In Ci-peng telah ditetapkan sebagai pejabat ketua yang akan datang. Semula Ci-keng hanya penasaran dan iri saja, tetapi sejak dia mengetahui kesalahan Ci-peng, segera dia berdaya upaya hendak merebut kedudukannya.
Ci-keng yakin kalau dia membeberkan rahasia In Ci-peng yang diam-diam jatuh cinta dan bahkan menodai Siao-liong-li, akibatnya Ci-peng pasti akan dihukum mati. Tetapi dia pun menyadari bahwa dirinya kurang disukai para paman gurunya, antar sesama saudara seperguruan juga banyak yang tidak cocok, ia pikir akhirnya jabatan ketua itu takkan jatuh padanya, sebab itulah sampai sekarang ia belum membongkar dosa Ci-peng.
Dari gerak-gerik dan sikap kedua Tosu ini, Hoat-ong dapat menerka jalan pikiran Ci-keng, ia pikir: “Kalau kubantu dia merebut jabatan ketua, tentu kelak dapat kuperalat dengan baik. Pengaruh Coan-cin-kau cukup besar, maka tentu akan bermanfaat bagi penyerbuan Ongya ke selatan, bagiku berarti jasa besar dan mungkin lebih besar dari pada jasa membunuh Kwe Ceng.” Begitulah Hoat-ong merancang tindakan selanjutnya.
Menjelang lohor sampailah rombongan di markas besar Kubilai. Sebelum masuk ke kemah, Hoat-ong coba berpaling, Siao-liong-li dengan keledainya berdiri jauh di sana dan tidak mendekat. Dia pikir dengan adanya nona itu, mustahil kedua Tosu ini takkan masuk perangkapku.
Sesudah berhadapan dengan Kubilai, ternyata pangeran Mongol itu sedang uring-uringan berhubung panji kebesarannya dicuri orang. Padahal panji itu adalah simbol kebesaran dan kepemimpinan, maju mundurnya pasukan selalu mengikuti arah kibaran panji, tapi sekarang dicuri orang tanpa berdaya, hal ini sama saja mengalami kalah perang besar-besaran. Kubilai girang sekali melihat Kim-lun Hoat-ong telah kembali, cepat ia berdiri menyambut. Kubilai memang seorang pemimpin berbakat lagi bijaksana melebihi sang kakek, yakni Jengis Khan. Untuk sementara dia kesampingkan urusan kehilangan panji itu, sebaliknya lantas menerima Ci-peng dan Ci-keng yang diperkenalkan oleh Hoat-ong sebagai tanda simpatiknya terhadap kaum ksatria, Segera ia menyuruh menyediakan perjamuan.
In Ci-peng tetap lesu Iinglung, segenap pikirannya hanya melayang kepada Siao-liong-li. Sebaliknya Ci-keng adalah manusia yang kemaruk kedudukan, melihat raja Mongol sedemikian menghormatinya, dia menjadi kegirangan. Sama sekali Kubilai tidak menyinggung mengenai kegagalan usaha Hoat-ong membunuh Kwe Ceng, dia hanya terus memuji kesetiaan Nimo Singh pada tugasnya sehingga kedua kakinya menjadi korban. Maka dalam perjamuan ini Nimo Singh diberi tempat utama dan berulang-ulang mengajak minum. Dengan demikian bukan saja kesetiaan Nimo Singh menjadi lebih bulat, orang lain juga merasakan budi kebaikan pangeran Mongol itu sungguh sangat luhur.
Selesai perjamuan Hoat-ong mengiringi Ci-peng dan Ci-keng mengaso ke perkemahan di samping sana. Ci-peng sudah lelah lahir batin, maka begitu membaringkan diri dia segera tertidur pulas.
“Thio-toheng, dari pada iseng, marilah kita jalan keluar,” ajak Hoat-ong.
Mereka lantas berjalan keluar kemah. Dari jauh kelihatan Siao-liong-li duduk di bawah pohon dan keledainya juga tertambat di sana, tanpa terasa air muka Ci-keng berubah lagi. Akan tetapi Hoat-ong pura-pura tidak tahu, malahan dia sengaja mengajak ngobrol dan menanyai berbagai keadaan Coan-cin-kau. Lantaran sudah menganggap Hoat-ong sebagai teman karibnya, Ci-keng lantas menjawab dengan terus terang.
Sambil bicara sambil berjalan terus ke depan, lambat-laun mereka sampai di tempat yang sepi. Tiba-tiba Hoat-ong menghela napas dan berkata:
“Thio-toheng, sungguh tak mudah Coan-cin-kau bisa berkembang sebaik ini, tapi terus terang ingin kukatakan bahwa para paman gurumu itu mengapa begitu gegabah untuk menyerahkan jabatan ketua yang penting itu kepada In-toheng?”
Sesungguhnya sudah lama Ci-keng menginginkan kedudukan itu, akan tetapi dia sendiri menyadari harapannya tipis, maka dia pun menghela napas demi mendengar Hoat-ong menyebut hal itu, lalu dia pun memandang sekejap ke arah Siao-liong-li.
“Urusan nona Liong itu adalah soal kecil, asalkan aku turun tangan, dengan mudah saja dapat kubereskan dia dan kau pun tak perlu kuatir lagi,” kata Hoat-ong, “Justru yang terpenting adalah jabatan ketua agama kalian itu tidak boleh jatuh ke tangan orang yang kurang tepat.”
“Apa bila Taysu dapat memberi petunjuk jalan yang baik, selama hidup aku rela menuruti perintahmu,” jawab Ci keng.
Tentu saja janji inilah yang diharap-harapkan oleh Kim-lun Hoat-ong. Segera ia menegas:
“Kata-kata seorang lelaki sejati harus ditepati dan tidak boleh menyesal di belakang hari.”
“Sudah tentu,” jawab Ci-keng.
“Baiklah, dalam waktu tiga bulan akan kuusahakan kau diangkat menjadi ketua Coan-cin-kau,” kata Hoat-ong.
Girang sekali Ci-keng, tapi mengingat urusan ini sesungguhnya sangat suIit, mau tak mau dia menjadi ragu-ragu.
“Apakah kau percaya?” tanya Hoat-ong.
“Percaya, pasti percaya,” jawab Ci-keng. “Kepandaian Taysu maha sakti, tentu engkau mempunyai daya upaya yang bagus.”
“Sebenarnya aku tidak ada sangkut paut apa pun dengan agama kalian, siapa pun yang menjadi ketuanya juga sama saja bagiku, tetapi entah mengapa, baru berkenalan rasanya aku cocok dengan kau dan ingin membantu,” kata Hoat-ong dengan tertawa, “Maka langkah pertama kita harus diusahakan ada seorang kuat di dalam agamamu yang akan menjadi pendukungmu. Saat ini siapakah yang paling tinggi menurut angkatannya di agamamu?”
“Ciu-susiokco yang kita jumpai di tengah jalan tadi,” jawab Ci-keng.
“Benar, kalau dia membantu kau dengan sepenuh tenaga, maka tiada seorang pun yang dapat menandingi kau lagi,” ujar Hoat-ong.
“Betul, apa yang dikatakan Susiokco sudah tentu mempunyai bobot dan harus diturut oleh Ma-supek, Khu-supek dan yang lainnya!” kata Ci-keng dengan girang, “Tapi dengan cara bagaimana Taysu akan membuat Ciu-susiokco memihak diriku?”
“Tadi dia telah berjanji padaku akan datang ke sini untuk mencuri panji kebesaran Ongya,” tutur Hoat-ong, “Nah, menurut pendapatmu, dia akan datang atau tidak?”
“Tentu saja datang,” jawab Ci-keng.
“Tetapi panji ini tidak kita kerek pada tiangnya melainkan kita sembunyikan di tempat yang dirahasiakan. Di tengah perkemahan yang beratus buah ini, walau pun Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian setinggi langit takkan menemukan panji itu hanya dalam semalam saja.”
“Ya, memang,” ujar Ci-keng, tapi dalam hati dia anggap cara bertaruh begitu kurang jujur, andaikan menang juga kurang terhormat.
“Tentunya kau anggap pertaruhan secara demikian kalau menang juga kurang terhormat begitu bukan?” tanya Hoat-ong tiba-tiba. “Tapi semua ini adalah demi kepentinganmu.”
Ci-keng jadi melenggong memandang Hoat-ong, lebih tidak paham seluk beluknya.
Hoat-ong menepuk perlahan pundak Ci-keng, dan berkata: “Begini, akan kukatakan padamu tempat penyimpanan panji itu, lalu dengan diam-diam kau memberi-tahukan kepada Ciu Pek-thong agar dia dapat menemukan panji itu, jadi kau akan berjasa besar baginya.”
“Benar, itu benar sekali, dengan demikian Ciu-susiokco pasti akan senang!” seru Ci-keng dengan girang. tetapi segera terpikir olehnya, katanya lagi: “Namun pertaruhan Taysu itu kan menjadi kalah?”
“Yang penting adalah persahabatan kita, soal kalah menang urusan pribadi bukan apa-apa bagiku,” kata Hoat-ong.
Tentu saja Ci-keng amat berterima kasih, katanya pula: “Budi kebaikan Taysu entah cara bagaimana harus kubalas.”
Hoat-ong tersenyum, katanya: “Asalkan kau sudah mendapatkan bantuan Ciu Pek-thong, lalu kubantu lagi dengan perencanaan yang lebih sempurna, dengan begitu jabatan ketua pasti akan jatuh di tanganmu.” Habis ini dia menuding bukit di sebelah sana dan berkata: “Marilah kita lihat-lihat ke bukit sana.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Dia sudah baik, dia sudah baik!” terdengar orang tua itu berseru, mendadak berlutut dan menyembah beberapa kali padanya sambil berkata: “Adik Yo, kau telah menyelamatkan... menyelamatkan kedua puteraku dan juga sudah... sudah menyelamatkan jiwaku yang tua bangka ini.” Kemudian ia merangkak bangun dan segera pula menyembah kepada seorang lagi sambil berseru: “Terima kasih, Susiok, terima kasih!”
Waktu Yo Ko memandang orang itu, nampaklah mukanya yang hitam, hidung besar dan mata cekung, tampak rada mirip dengan Nimo Singh, rambutnya juga keriting, cuma sebagian sudah ubanan, usianya sudah tua. Yo Ko hanya tahu Bu Sam-thong adalah murid It-teng Taysu, tetapi tidak tahu bahwa dia masih mempunyai seorang paman guru dari negeri Thian tok. Ia bermaksud duduk, tapi pinggang terasa lemas pegal, sedikit pun tak bertenaga. Ia coba memandang sekitarnya, ternyata berada di tempat tidur, dalam kamarnya sendiri di kota Siang-yang. Baru sekarang dia benar-benar yakin bahwa dirinya belum mati dan masih bisa berjumpa dengan Siao-liong-li. Tanpa terasa ia terus berseru:
“Kokoh! Mana Kokoh?”
Seseorang lantas mendekatinya kemudian meraba dahinya sambil berkata: “Tenanglah, Ko-ji, Kokoh-mu sedang keluar kota untuk sesuatu urusan.”
Yo Ko melihat orang ini adalah Kwe Ceng. Ia merasa terhibur melihat sang paman sudah sehat kembali. Segera teringat olehnya bahwa untuk memulihkan kesehatan sang paman diperlukan waktu tujuh hari tujuh malam, masa ketidak sadaranku ini sudah berselang sekian hari pula? Jika begitu mengapa racun bunga cinta dalam tubuhku tidak kumat? Ia. menjadi bingung, pikiran menjadi kacau dan kembali ia tak sadarkan diri.
Waktu dia sadar kembali untuk kedua kalinya, hari sudah jauh malam. Di depan tempat tidur tersulut sebatang lilin merah, Bu Sam-thong kelihatan masih menungguinya dengan duduk di depan situ dan memandangnya dengan penuh perhatian.
“Aku tidak apa-apa, paman Bu, kau jangan kuatir,” kata Yo Ko sambil tersenyum hambar, “Dan kedua saudara Bu tentunya baik-baik saja, bukan?”
Air mata Bu Sam-thong bercucuran. Dia tak dapat berbicara saking terharunya, maka dia cuma menjawab dengan manggut-manggut saja.
Selama hidup Yo Ko tak pernah merasakan terima kasih sedemikian dari orang lain, maka ia menjadi rikuh, cepat ia belokkan pembicaraan dan bertanya:
“Cara bagaimana kita dapat pulang ke Siang-yang?”
Bu Sam-thong mengusap air matanya, lalu menutur: “Atas permintaan nona Liong gurumu itu, Cu-sute telah mengantar kuda merah ke lembah sunyi untukmu, ketika melihat kita berempat sama-sama tergeletak, cepat-cepat dia menolong kita pulang ke sini.”
“Dari mana suhu-ku mengetahui aku berada di sana?” ujar Yo Ko dengan terheran. “Dan urusan apa yang membuatnya tidak dapat mencariku sehingga perlu minta pertolongan paman Cu untuk mengantarkan kuda merah?”
“Setibaku lagi di sini, aku pun tidak sempat bertemu dengan nona Liong gurumu itu,” tutur Bu Sam-thong. “Menurut Cu-sute, katanya usia nona Liong masih muda, cantik rupawan pula dan ilmu silatnya juga maha tinggi, sayang aku belum bisa berkenalan dengan beliau, Ai, memang kaum ksatria selalu timbul dari kalangan angkatan muda, kukatakan kepada Cu-sute bahwa seumur kita ini seperti hidup pada tubuh babi belaka.”
Yo Ko sangat senang karena Bu Sam-thong memuji dan mengagumi Siao-liong-li dengan setulus hati. Kalau bicara soal umur, menjadi ayah Siao-liong-li juga pantas bagi Bu Sam-thong, tapi dia ternyata begitu menghormati nona itu, jelas disebabkan dia menghormati si murid dan dengan sendirinya menghormat pula kepada sang guru. Dengan tersenyum Yo Ko lantas berkata.
“Luka siautit ini...”
“Adik Yo,” tiba-tiba Bu Sam-thong memotong. “Menolong sesama di dunia persilatan adalah kejadian yang biasa, tapi menyelamatkan orang lain tanpa memikirkan jiwa sendiri seperti engkau, pula yang kau tolong adalah kedua puteraku yang sebelumnya bersikap kasar padamu, tindakanmu ini selain guruku rasanya tiada orang ketiga lagi yang sanggup melakukannya.”
Berulang-ulang Yo Ko menggeleng kepala, maksudnya minta supaya Bu Sam-thong tidak meneruskan lagi ucapannya. Namun Bu Sam-thong tidak menggubrisnya, dia tetap berucap:
“Kalau kupanggil engkau dengan sebutan ‘ln-kong’ (tuan penolong) tentunya engkau juga tidak mau terima. Tetapi apa bila engkau tetap menyebut aku sebagai paman, itu pun jelas kau teramat menghina kepadaku Bu Sam-thong ini.”
Watak Yo Ko memang suka terus terang dan tidak merecoki urusan tetek bengek. Seperti halnya Siao-liong-li, sekali dia menganggap nona itu sebagai isteri maka soal pelanggaran tata adat umum dan panggilan yang tidak menurut aturan, semuanya suka dilakukan jika ada orang yang minta. Karena itu tanpa pikir ia lantas menjawab:
“Baiklah, aku akan panggil kau Bu-toako saja, cuma kalau ketemu dengan kedua saudara Tun-si dan Siu-bun. kurasa agak kurang enak dan entah cara bagaimana harus kusebut mereka.”
“Sebut apa segala?” ujar Bu Sam-thong. “Jiwa mereka diselamatkan olehmu, jika mereka menjadi kerbau atau kudamu juga pantas.”
“Engkau tidak perlu berterima kasih kepadaku, Bu-toako,” kata Yo Ko, “Memang aku juga sudah terkena racun bunga cinta yang jahat dan jiwaku sukar diselamatkan, maka caraku cucup racun dari luka kedua saudara Bu itu sebenarnya tiada artinya sedikit pun bagiku.” “Soalnya bukan itu, adik Yo,” kata Bu Sam-thong sambil menggeleng. “Jangan kata racun yang mengeram dalam tubuhmu itu belum pasti sukar diobati, seumpama betul tak dapat disembuhkan namun tiap manusia tentu berharap akan tetap hidup biar pun cuma tahan sehari atau dua hari saja, sekali pun cuma sejam dua jam juga tetap ingin hidup. Di dunia ini memang tidak ada manusia dapat hidup abadi, baik nabi mau pun orang biasa akhirnya akan kembali kepada asalnya, namun begitu mengapa setiap orang tetap suka hidup dan enggan mati.”
Yo Ko tertawa tanpa menanggapi jalan pikiran orang tua itu, tanyanya kemudian: “Sudah berapa hari kita pulang ke Siang-yang ini?”
“Sampai sekarang sudah hari ketujuh,” jawab Bu Sam-thong.
Yo Ko menjadi heran dan tak habis mengerti, katanya: “Pantasnya aku sudah mati karena bekerjanya racun di dalam tubuhku, kenapa aku masih hidup sampai sekarang, sungguh aneh dan ajaib.”
Dengan girang Bu Sam-thong bertutur: “Susiok-ku adalah paderi sakti dari negeri Thian-tiok, nomor satu di dunia ini dalam hal mengobati keracunan. Dahulu guruku salah minum racun yang dikirim nyonya Kwe juga sudah disembuhkan oleh beliau, sekarang juga akan kuundang dia ke sini.” Habis berkata ia keluar kamar.
Diam-diam Yo Ko girang. Dia pikir jangan-jangan waktu aku jatuh pingsan, paderi sakti itu sudah meminumkan obat mujarab kepadaku sehingga racun bunga cinta dapat dipunahkan. Aih, entah Kokoh berada di mana saat ini? Kalau dia mengetahui aku takkan mati, entah betapa gembiranya dia. Teringat kepada hal-hal yang meresap dan mesra itu, mendadak dadanya terasa seperti dipalu dengan keras dan sakitnya tidak kepalang, tak tertahankan ia pun menjerit keras.
Sejak minum setengah butir obat pemberian Kiu Jianjio, belum pernah dia mengalami kesakitan sehebat ini, bisa jadi khasiat setengah biji obat itu telah hilang, sedangkan kadar racun dalam tubuhnya belum lagi punah seluruhnya. Sambil memegangi dada, keringat membasahi dahi Yo Ko saking sakitnya. Tengah tersiksa dengan hebatnya, tiba-tiba Yo-Ko mendengar suara seseorang bersabda:
“Namo Budaya!” Lalu sambil merangkap kedua tangan depan dada, paderi Thian-tiok itu tampak masuk ke kamar.
Bu Sam-thong ikut di belakang paderi Hindu itu. Melihat keadaan Yo Ko, dia terkejut dan cepat bertanya:
“Adik Yo, kenapa kau?” Lalu ia berpaling kepada paderi itu dan memohon: “Susiok, racunnya kumat lagi, lekas memberikan obat padanya.”
Paderi Hindu itu tidak paham ucapannya, tapi dia lantas mendekati Yo Ko dan memeriksa nadinya. Bu Sam-thong sendiri lantas keluar kamar untuk mengundang Cu Cu-Iiu. Cu Cu-liu adalah bekas Conggoan (gelar tertinggi bagi ahli sastra), dia paham bahasa dan tulisan Hindu kuno, hanya dia saja yang bisa berbicara dengan paderi itu, maka Bu Sam-thong mengundangnya untuk dijadikan juru bahasa. Setelah tenangkan diri, rasa sakit Yo Ko mulai hilang, lalu dia menceritakan asal-usulnya keracunan bunga cinta itu.
Dengan teliti paderi hindu itu bertanya tentang bentuk bunga cinta, tampak dia terkejut dan terheran-heran, katanya:
“Bunga cinta itu adalah bunga ajaib dari jaman purba, konon telah lama lenyap dari permukaan bumi, siapa kira di daerah Tionggoan masih ada tetumbuhan itu. Aku belum pernah melihat bunga itu, maka sesungguhnya tidak tahu cara bagaimana memunahkan kadar racunnya.”
Setelah Cu Cu-liu menterjemahkan kata-kata paderi Hindu itu, segera Bu Sam-thong berteriak-teriak memohon:
“Kasihanilah Susiok! Tolonglah!”
Paderi itu menyebut nama Budha, lalu memejamkan mata dan menunduk merenung. Suasana dalam kamar menjadi sunyi senyap, siapa pun tiada yang berani buka suara. Selang agak lama baruIah paderi Hindu itu membuka mata dan berkata:
“Yo-kisu sudah mencucup darah berbisa bagi kedua cucu muridku, pada hal racun jarum itu sangat jahat, terhisap sedikit saja akan mengakibatkan jiwa melayang, namun Yo-kisu ternyata masih sehat-sehat saja, sedangkan racun bunga cinta juga tidak bekerja pada waktunya, jangan-jangan terjadi racun menyerang racun sehingga Yo-kisu malah mendapat berkahnya dan sembuh.”
Cu Cu-liu dan Yo Ko adalah orang-orang yang pintar dan cerdik, mereka pikir uraian paderi Hindu memang masuk di akal, maka mereka mengangguk. Paderi itu berkata pula:
“Orang baik tentu mendapatkan pembalasan yang baik pula. Yo-kisu mengorbankan diri demi menolong orang lain, inilah perbuatan bajik yang luhur, racun ini pasti dapat dipunahkan.”
“Jika begitu, mohon Susiok lekas menolongnya,” seru Bu Sam-thong girang.
“Untuk itu perlu kudatangi Coat-ceng-kok dan melihat sendiri bentuk bunga cinta itu, baru dapat mencari obat penyembuhnya yang tepat,” tutur si paderi, “Yang penting selama ini hendaknya Yo-kisu jangan timbul perasaan cinta, kalau tidak maka rasa sakit akan semakin menghebat setiap kali kumat. Akan lebih baik lagi apa bila Yo-kisu dapat memutuskan perasaan cinta itu, maka racun ini pun akan punah dengan sendirinya tanpa diobati.”
Yo Ko pikir jika harus memutuskan cinta kasihnya pada Kokoh, lebih baik aku mati saja. Tapi sebelum dia menanggapi, cepat Bu Sam-thong mengajak Cu Cu-liu ikut paderi Hindu itu ke Coat-ceng-kok. Sudah tentu Cu Cu-liu menerima ajakan itu karena dia pun berutang budi kepada Yo Ko. Lalu Bu Sam-thong berkata kepada Yo Ko:
“Adik Yo, harap engkau beristirahat saja dengan tenang, segala sesuatu pasti akan beres. Besok kami segera berangkat dan kembali selekasnya untuk menyembuhkan penyakitmu, kelak aku masih harus minum arak pesta pernikahanmu dengan nona Kwe.”
Yo Ko melengak! Dia pikir persoalan Kwe Hu sukar dijelaskan dalam waktu singkat, maka tanpa pikir dia hanya mengiyakan saja. Sesudah ketiga orang itu pergi, dia sendiri lantas berbaring untuk tidur. Waktu sadar, terdengar suara burung berkicau, rupanya fajar telah menyingsing. Sudah beberapa hari Yo Ko tidak makan, perut terasa lapar, dilihatnya di atas meja dekat pembaringan ada empat piring penganan, segera ia ambil beberapa gotong kue lantas dimakan. Belum sepotong kue itu termakan habis, terdengar orang mengetuk pintu, masuklah seorang berbaju merah jambon dengan air muka tampak marah, ternyata yang datang adalah Kwe Hu. Yo Ko meIongo sejenak, lalu menyapa:
“Pagi benar, nona Kwe.”
Kwe Hu hanya mendengus perlahan dan tidak menjawab, ia duduk pada kursi di depan tempat tidur dengan alis menegak dan melotot marah kepada Yo Ko, hingga lama sekali masih tetap tidak berbicara. Tentu saja hati Yo Ko merasa tak enak. Dengan tersenyum ia berkata:
“Apa paman Kwe menyuruh kau menyampaikan sesuatu pesan padaku?”
“Tidak!” jawab Kwe Hu singkat dan ketus.
Berulang-ulang Yo Ko mendapatkan sikap dingin begitu, kalau hari-hari biasa tentu dia tak mau menggubris lagi nona itu. Tapi sekarang melihat sikap orang rada aneh, dia menjadi heran dan ingin tahu sebab apakah pagi-pagi nona itu sudah mendatangi kamarnya. Maka dengan mengiring tawa dia bertanya:
“Sesudah melahirkan tentunya Kwe-pekbo sehat, bukan?”
“Sehat atau tidak dia ibuku, tidak perlu kau berkuatir,” jawab Kwe Hu lebih ketus.
Selain Siao-liong-li, tidak pernah Yo Ko mau mengalah terhadap orang lain, tapi sekarang dia sudah diperlakukan kasar oleh Kwe Hu, mau tidak mau timbul juga rasa dongkolnya. Segera dia pun balas mendengus, lalu memejamkan mata dan tak menggubrisnya lagi.
“Kau mendengus apa?” tanya Kwe Hu gemas.
Kembali Yo Ko mendengus lagi dan tetap tidak menggubrisnya.
“Kau dengar tidak? Aku tanya apa yang kau denguskan!” bentak Kwe Hu.
Diam-diam Yo Ko geli melihat si nona menjadi kelabakan, jawabnya kemudian: “Badanku tidak enak, aku mendengus dua kali supaya merasa segar.”
“Kau bohong, lain kata lain perbuatan, sehari-hari hanya mengacau, sungguh kau manusia rendah yang tak tahu malu!” damperat Kwe Hu dengan gusar.
Hati Yo Ko tergerak karena tanpa sebab musabab si nona mendampratnya secara sengit, dia pikir jangan-jangan ucapanku yang kugunakan membohongi kedua saudara Bu telah diketahui nona ini. Melihat dalam keadaan marah wajah Kwe Hu tetap cantik molek, tanpa terasa timbul rasa kasihannya. Dasar watak Yo Ko memang rada dugal, segera dia berkata dengan tertawa:
“Nona Kwe, apakah kau maksudkan yang kukatakan kepada kedua saudara Bu itu?”
“Apa yang kau katakan kepada mereka? Hayo lekas kau mengaku!” bentak Kwe Hu pula dengan suara tertahan.
“Tujuanku adalah demi kebaikan mereka sendiri, agar mereka tidak saling membunuh dan membikin sedih hati ayahnya,” ucap Yo Ko sambil tertawa. “Apa yang kukatakan telah disampaikan oleh paman Bu padamu, bukan?”
“Dia... dia begitu bertemu aku lantas mengucapkan selamat padaku kemudian memuji kau setinggi langit,” tutur Kwe Hu. “Nama baik anak... anak perempuan seperti aku yang putih bersih ini masa boleh sembarangan kau nista?” Sampai di sini suaranya menjadi ter-sendat dan air mata pun berlinang-linang.
Yo Ko sangat menyesal pada diri sendiri yang sembarangan omong tanpa pikir bahwa ucapannya yang bermaksud baik itu justru merusak nama baik Kwe Hu. Apa pun juga perkataannya memang rada keterlaluan, jadi persoalan ini rasanya akan sulit diselesaikan.
Melihat Yo Ko diam saja, hati Kwe menjadi bertambah panas, katanya sambil menangis:
“Menurut paman Bu, katanya kau telah mengalahkan kedua kakak Bu, mereka kau paksa berjanji takkan menemuiku untuk selamanya, apakah hal ini memang betul?”
Diam-diam Yo Ko menyesali Bu Sam-thong yang tidak genah itu. Masa kata-kata itu perlu disampaikan kepada Kwe Hu? Terpaksa ia tidak membantah dan menjawab dengan mengangguk.
“Ya, memang tidak sepatutnya aku sembarangan omong, cuma maksud tujuanku sama sekali tidak jahat, harap kau memaklumi hal ini.”
Kwe Hu mengusap air matanya, lalu bertanya: “Dan apa yang kau katakan semalam, untuk maksud apa pula?”
Yo Ko melengak dan menegas: “Aku bilang apa semalam?”
“Paman Bu bilang setelah kau sembuh, dia berharap akan minum arak pesta pernikahan kau dan aku. Ken... kenapa kau mengiyakan tanpa malu?”
Wah, celaka, jadi ucapanku semalam juga terdengar olehnya, demikian Yo Ko mengeluh dalam hati. Terpaksa dia membantah:
“Semalam aku dalam keadaan setengah sadar dan tidak mendengar jelas apa yang dikatakan paman Bu padaku.”
Kwe Hu dapat melihat anak muda itu sengaja berdusta, dengan suara keras dia berteriak:
“Kau bilang ibuku mengajarkan ilmu silat padamu diam-diam karena beliau penujui kau dan ingin memungut sebagai menantu, betul tidak ucapanmu ini?!”
Muka Yo Ko menjadi merah diberondong pertanyaan itu. Dia pikir kelakarnya mengenai Kwe Hu paling-paling akan dianggap dugal saja oleh orang lain, dasarnya aku juga bukan ksatria yang suci dan alim, tetapi aku berdusta tentang diajari ilmu silat secara diam-diam oleh Kwe-pekbo. persoalan ini bisa kecil bisa besar dan jangan sampai diketahui bibi Kwe. Maka cepat ia meminta:
“Nona Kwe, memang salahku sembarangan omong, harap kau suka menutupi hal ini dan jangan sampai diketahui ayahmu.”
“Hmm, kalau kau takut pada ayahku, mengapa kau berani berdusta dan menghina ibuku?” jengek Kwe Hu.
Cepat Yo Ko menyatakan: “Sedikit pun tiada maksudku untuk menista ibumu. Waktu itu tujuanku cuma ingin membikin kedua Bu putus harapan atas dirimu supaya mereka tidak saling membunuh sehingga bicaraku rada-rada kelewatan.”
Semenjak kecil Kwe Hu dibesarkan bersama kedua saudara Bu. Sekarang mendengar Yo Ko berdusta dan membikin kedua anak muda itu putus asa terhadap dirinya serta berjanji takkan menemuinya keruan rasa gusarnya tak terperikan. Dengan suara keras ia bertanya:
“Baik, urusan ini akan kubereskan nanti dengan kau. sekarang yang penting adalah Moaymoay-ku, ke mana kau membawanya pergi?”
“Ya, lekas undang ayahmu ke sini, aku justru hendak membicarakannya dengan beliau,” seru Yo Ko.
“Ayahku sudah keluar kota mencari adikku,” jawab Kwe Hu. “Kau ini memang... memang manusia yang tidak tahu malu, kau hendak menggunakan adikku untuk menukar obat penawar. Hm, rupanya jiwamu amat berharga dan jiwa adikku tak berharga sepeser pun.”
Sejak tadi Yo Ko memang merasa menyesal dan malu diri karena terlanjur berbuat hal-hal yang merusak nama baik Kwe Hu, tapi dituduh hendak menggunakan anak bayi itu untuk menukar obat baginya, hal ini betapa pun dia tak dapat menerima. Dengan suara lantang ia berkata:
“Dengan tekad bulat aku hendak merebut kembali adik perempuanmu untuk dikembalikan kepada ayah-bundamu, kalau dikatakan bahwa adikmu hendak kugunakan untuk menukar obat, hal ini sekali-sekali tidak pernah timbul dalam pikiranku.”
“Habis ke mana perginya adikku?” tanya Kwe Hu.
“Dia sudah dibawa lari Li Bok-chiu, aku merasa malu karena tidak berhasil merampasnya kembali,” tutur Yo Ko. “Tetapi bila tenagaku sudah pulih dan tidak mati, segera aku akan pergi mencarinya.”
“Hm, Li Bok-chiu itu adalah paman gurumu, betul tidak?” jengek Kwe Hu. “Tadinya kalian sembunyi di satu goa, betul tidak?”
“Benar, meski dia adalah paman guruku, tetapi selamanya dia tidak akur dengan guruku,” jawab Yo Ko.
“Hm, tidak akur apa?” jengek Kwe Hu. “Tetapi mengapa dia mau menuruti permintaanmu dengan membawa adikku pergi menukar obat bagimu?”
Yo Ko melonjak bangun dengan marah, katanya: “Kau jangan sembarangan omong, nona Kwe, meski aku Yo Ko bukan manusia yang terpuji, tapi sama sekali tiada maksud untuk berbuat begitu.”
“Tiada bermaksud berbuat begitu? Hm, enak saja kau bicara,” jawab Kwe Hu. “Gurumu sendiri yang mengatakan hal itu, memangnya aku yang fitnah dan sembarangan omong?”
“Guruku bilang apa lagi?” tanya Yo Ko.
Serentak Kwe Hu berdiri dan menuding hidung Yo Ko, katanya: “Gurumu berkata sendiri kepada paman Cu bahwa kau dan Li Bok-chiu sama-sama berada di lembah sunyi, dia minta agar paman Cu suka mengantarkan kuda merah milik ayah untuk dipinjamkan padamu supaya kau sempat membawa adikku ke Coat-ceng-kok untuk...“
Kaget dan sangsi hati Yo Ko, cepat dia memotong: “Benar, memang guruku mempunyai maksud begitu, supaya aku mengantarkan adikmu ke sana untuk mendapatkan separoh obat yang masih dipegang Kiu Jian-jio, tetapi cara ini hanya untuk sementara saja dan takkan membikin susah adikmu...”
“Adikku baru lahir satu hari tetapi sudah kau serahkan kepada seorang iblis yang kejam, masa kau berani mengatakan takkan membikin susah adikku?” kata Kwe Hu dengan gusar, “Kau ini bangsat keparat, manusia berhati binatang! Waktu kecilmu kau luntang-lantung sebatang kara dan cara bagaimana ayah-ibuku telah memperlakukan kau? Kalau ayah-ibuku tidak memelihara kau hingga besar di Tho-hoa-to, masa kau dapat menjadi seperti sekarang ini? Siapa tahu air susu kau balas dengan air tuba, kau bersekongkol dengan musuh dan ketika ayah-ibuku kurang sehat, kau menculik adikku.”
Semakin mendamperat semakin beringas nona itu sehingga Yo Ko sama sekali tak diberi kesempatan untuk membantah. Keruan tidak kepalang gusar dan dongkoInya Yo Ko.
“Bluk!” saking tak tahan ia terus jatuh pingsan di atas tempat tidur.
Selang agak lama, lambat-laun Yo Ko siuman kembali, diiihatnya Kwe Hu masih menatap kepadanya dengan muka merengut dan segera mengomeli pula:
“Hm, tak tersangka kau masih punya rasa malu, rupanya kau pun tahu kesalahan perbuatanmu yang terkutuk itu.”
Yo Ko menghela napas panjang, katanya: “Kalau aku mempunyai pikiran begitu, mengapa aku tidak membawa adikmu langsung ke Coat-ceng-kok saja?”
“Racun dalam tubuhmu kumat dan tak dapat berjalan, makanya kau minta tolong paman gurumu,” kata Kwe Hu. “He-he, tapi maksud tujuanmu akhirnya gagal. Biar kukatakan terus terang kepadamu. Begitu kudengar permintaan gurumu kepada paman Cu, segera aku sembunyikan kuda merah itu sehingga muslihat jahat kalian guru dan murid gagal total.”
“Baik, baik, apa yang kau suka katakan silakan katakan saja, aku pun tidak ingin membantah,” kata Yo Ko dengan mendongkol. “Dan di mana guruku? Ke mana dia?”
Muka Kwe Hu mendadak rada merah, katanya: ”Huh, ini namanya gurunya begitu dengan sendirinya muridnya juga begitu, gurumu juga bukan manusia baik-baik.”
Dengan marah Yo Ko melonjak bangun lantas berkata: “Kau memaki dan menghina aku, mengingat ayah-bundamu, takkan kupersoalkan. Tetapi mengapa mencerca guruku?”
“Cis, memangnya kenapa kalau gurumu?” semprot Kwe Hu. “Ia sendiri yang bicara tidak senonoh.”
Sudah tentu Yo Ko tidak percaya Siao-liong-li yang dianggapnya suci bersih dan polos itu dapat mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, segera ia balas mendengus:
“Hm, besar kemungkinan pikiranmu sendiri tidak benar, maka ucapan guruku juga kau terima dengan menyimpang.”
Sebenarnya Kwe Hu tak ingin mengulangi perkataan Siao-liong-li, tapi ia tidak tahan oleh olok-olok Yo Ko itu, tanpa pikir ia terus berkata:
“Gurumu bilang padaku: ‘Nona Kwe, hati Ko-ji sangat baik, hidupnya sebatang kara dan menderita, kau harus meladeni dia dengan baik’, lalu katanya pula: ‘Kalian memang pasangan yang setimpal suruhlah ia melupakan diriku, sama sekali aku tak menyalahkan dia’. Kemudian ia memberikan pula pedangnya padaku, katanya pedang ini bernama Siok-Ii-kiam dan merupakan pasangan dengan Kun-cu-kiam milikmu. Apa lagi namanya perkataan ini kalau bukan tidak senonoh?”
Setiap mendengarkan kalimat itu, setiap kali pula perasaan Yo Ko seperti disayat. Pikirannya menjadi bingung, dia tidak tahu mengapa Siao-liong-li mengemukakan ucapan begitu. Selesai Kwe Hu berkata, perlahan-lahan ia angkat kepalanya, mendadak matanya memancarkan cahaya aneh, bentaknya gusar:
“Kau berdusta, kau penipu. Mana mungkin guruku berkata begitu? Mana Siok-li-kiam? Mana? Jika tak dapat kau perlihatkan, maka jelas kau berdusta!”
Kwe Hu mendengus, mendadak sebelah tangannya mengeluarkan sebatang pedang dari belakang punggungnya, pedang itu hitam mulus, jelas itulah Siok-li-kiam yang diperoleh di Coat-ceng-kok. Tidak kepalang rasa kecewa Yo Ko, bicaranya sudah tanpa pikir lagi, segera ia berteriak:
“Siapa yang ingin menjadi pasangan setimpal dengan kau? Kun-cu-kiamku sudah patah, Pedang ini memang betul milik guruku, pasti kau mencurinya, ya, kau mencurinya!”
Sudah semenjak kecil Kwe Hu amat dimanjakan, sekali pun ayah-bundanya juga bersedia mengalah padanya, apa lagi kedua saudara Bu, mereka munduk belaka terhadap sang nona, sekarang Yo Ko bicara sekasar ini padanya, tentu saja ia tidak tahan. Apa lagi nada ucapan Yo Ko itu seakan-akan menuduhnya sengaja mengarang ucapan Siao-liong-li itu agar si Yo Ko mau menjadi pasangannya dan si Yo Ko justru tidak sudi.
BegituIah segera Kwe Hu pegang pedangnya, dia bermaksud melolosnya terus menebas. Tapi segera timbul keinginannya akan membikin panas hati Yo Ko, ia tahu anak muda itu sangat menghormat dan mencintai gurunya, kalau kejadian ini diceritakannya pasti anak muda itu akan marah setengah mati. Dalam keadaan murka sama sekali Kwe Hu tidak menimbang lagi bagaimana akibatnya kalau dia menguraikan apa yang hendak dikatakannya itu. Segera dia masukkan kembali pedang yang sudah hampir dilolosnya tadi, lalu duduk dan berkata dengan tertawa dingin:
“Ya, gurumu memang cantik dan tinggi pula ilmu silatnya, sungguh wanita yang jarang ada bandingannya di dunia ini, cuma saja, ada sesuatu yang tidak beres.”
“Sesuatu apa yang tidak beres?” tanya Yo Ko.
“Cuma kelakuannya yang tidak beres, suka bergaul secara sembunyi dengan kaum Tosu Coan-cin-kau,” tutur Kwe Hu.
Dengan gusar Yo Ko langsung menyanggah: “Guruku bermusuhan dengan Coan-cin-kau, mana mungkin berhubungan secara gelap dengan mereka?”
“Kalimat bergaul secara sembunyi yang kukatakan ini sesungguhnya masih terlalu sopan, malahan ada lainnya lagi yang tidak pantas diucapkan anak perempuan seperti diriku ini,” kata Kwe Hu dengan tertawa dingin.
Yo Ko tambah gusar, teriaknya: “Guruku suci bersih, kalau kau sembarangan omong lagi, awas kalau mulutmu tidak kuremas.”
Akan tetapi Kwe Hu tetap dingin-dingin saja dan berkata: “Ya, dia berani berbuat, dan aku yang berani mengatakan. Huh, bagus amat nona yang suci bersih, tetapi bergaul dengan seorang Tosu busuk.”
“Apa katamu?!” hardik Yo Ko dengan muka merah padam.
“Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri, masa bisa keliru?” kata Kwe Hu pu!a, “Enam orang Tosu Coan-cin-kau berkunjung kepada ayahku, tatkala mana di dalam kota sedang kacau menghadapi serangan musuh. Ayah ibu kurang sehat sehingga tidak dapat menemui mereka, maka akulah yang menyambut tetamunya...”
“Lantas bagaimana?!” bentak Yo Ko dengan gusar.
Melihat mata anak muda itu melotot merah, otot hijau sama menonjol di dahinya, Kwe Hu girang karena tujuannya tercapai, dengan berseri-seri ia berkata:
“Kedua Tosu itu masing-masing bernama Thio Ci-keng dan In Ci-peng, ada tidak Tosu Coan-cin-kau yang bernama begitu?”
“Kalau ada lantas bagaimana?!” bentak Yo Ko pula.
Dengan tersenyum Kwe Hu menyambangi. “Setelah kuatur pondokan untuk mereka, lalu aku tidak mengurus mereka lagi. Siapa duga tengah malam ada seorang murid Kay-pang melapor padaku, katanya kedua Tosu itu sedang bertengkar sendiri dalam kamar.”
Yo Ko mendengus sekali, ia pikir Ci-keng dan Ci-peng memang tidak akur satu sama lain, mereka bertengkar kenapa mesti diherankan?
Dalam pada itu Kwe Hu kembali menutur: “Karena ingin tahu, aku mendekati jendela kamar mereka, kulihat mereka tidak berkelahi lagi, tetapi masih ribut mulut. Orang she Tio bilang orang she In, berbuat begini dan begitu dengan gurumu, sedangkan Tosu she In itu tidak menyangkal hanya menyesalkan temannya itu tak seharusnya gembar-gembor...”
Mendadak Yo Ko bangkit dan duduk di tepi tempat tidur sambil membentak: “Berbuat begini dan begitu apa maksudmu?!”
Muka Kwe Hu tampak merah, sikapnya rada kikuk untuk menjawab, katanya kemudian: “Mana aku tahu? Yang pasti masa perbuatan yang baik? Apa yang dilakukan guru kesayanganmu itu hanya dia sendiri yang tahu.” Nadanya penuh mengandung perasaan jijik dan menghina.
Saking gusar dan gugupnya, pikiran Yo Ko menjadi kacau, tanpa pikir sebelah tangannya terus menampar.
“Plok!” dengan tepat pipi Kwe Hu kena ditempeleng.
Dalam keadaan gusar, pukulan Yo Ko cukup keras, keruan mata Kwe Hu berkunang-kunang dan sebelah pipinya bengkak, kalau saja Yo Ko tidak habis sakit, mungkin giginya rontok digampar oleh anak muda itu.
Selama hidup Kwe Hu mana pernah terhina secara begitu? Sesungguhnya dia tidak tahu bahwa Siao-liong-li adalah satu-satunya orang yang paling dihormati dan dicintai Yo Ko, mencemarkan nama baik Siao-liong-li adalah melebihi dia ditusuk pedang tiga kali. Tapi Kwe Hu juga seorang nona yang tidak banyak pikir, apa lagi jika sudah murka, segera dia melolos Siok-li-kiam terus menusuk ke leher Yo Ko.
Sesudah menampar Kwe Hu, Yo Ko pikir persoalan ini pasti sukar diselesaikan lagi, nona ini adalah puteri kesayangan paman dan bibi Kwe, seumpama mereka tidak menyalahkan dia, rasanya juga tidak akan betah tinggal lebih lama di kota ini. Karena itu ia lantas turun hendak memakai sepatu. Ketika itulah dilihatnya pedang Kwe Hu menusuk tiba. Sambil mendengus sebelah tangan Yo Ko meraih dan tangan yang lain menotok dan memegang, dengan mudah saja Siok-Ii-kiam dapat direbutnya.
Berturut-turut kecundang, Kwe Hu menjadi tambah murka. Dilihatnya di atas ranjang ada sebatang pedang, dia menubruk maju dan merampasnya, segera pedang itu dilolosnya terus ditebaskan ke kepala Yo Ko. Seketika pandangan mata Yo Ko menjadi silau. Tidak kepalang kagetnya melihat nona itu menebasnya dengan Ci-wi-kiam, ia tidak berani merebutnya dengan tangan, sebisanya ia angkat Siok-li-kiam untuk menangkis.
Tanpa terduga, karena dia habis sakit selama tujuh hari, tenaganya belum pulih, baru saja Siok-li-kiam terangkat sedikit segera lengannya tidak sanggup terangkat lebih tinggi lagi. Sementara itu tebasan pedang Kwe Hu sudah tiba.
“Trangg...!” kedua pedang beradu, Siok-li-kiam kutung menjadi dua.
Kwe Hu sendiri terkejut, sama sekali tidak disangkanya bahwa Ci-wi-kiam itu begitu lihay. Dalam keadaan unggul dan dendam atas tamparan Yo Ko tadi, Kwe Hu pikir walau pun kubunuh kau juga rasanya ayah-ibu takkan menyalahkan aku mengingat jiwa adikku juga dicelakai olehmu.
Ketika itu kaki Yo Ko juga terasa lemas dan jatuh terduduk di lantai tanpa bisa melawan lagi, hanya tangan kanan saja yang terangkat di depan dada untuk menjaga diri, tapi sorot matanya sama sekali tiada menampilkan keinginan mohon dikasihani. Kwe Hu menjadi gemas, segera pedangnya ditebaskan lebih ke bawah lagi.
PENGAKUAN YANG MENYAKITKAN
Kuda merah itu teramat cepat larinya, sekejap sudah belasan li jauhnya. Ketika dia putar balik, Yo Ko sudah menghilang di lembah pegunungan itu. Tanpa kenal lelah Siao-liong-li terus mencari di sekitar Siang-yang, sampai tengah malam barulah dia mendengar suara raung tangis Bu Sam-thong di kejauhan. Cepat Siao-liong-li mencari ke arah datangnya suara, dan tidak lama kemudian dapatlah didengarnya suara pertempuran kedua saudara Bu, menyusul terdengar suara bicara Yo Ko.
Tentu saja dia girang bukan main. Dia kuatir Yo Ko ketemu musuh tangguh, maka dia ingin membantunya secara diam-diam saja. Segera ia turun dari kudanya, ia tambat kuda merah itu pada sebatang pohon, lalu merunduk ke sana dan sembunyi di balik sepotong batu padas untuk mengintip cara bagaimana Yo Ko menghadapi musuh.
Celakanya yang terdengar adalah ucapan Yo Ko yang berulang-ulang menyatakan sudah dijodohkan dengan Kwe Hu, nona itu disebutnya sebagai bakal isterinya, Kwe Ceng dan Oey Yong dipanggilnya ayah dan ibu mertua. Didengarnya pula Yo Ko mengaku sudah menerima ajaran ilmu silat secara diam-diam dari Oey Yong, dilihatnya pula Yo Ko sangat marah kepada kedua saudara Bu, serta melarang kedua anak muda itu untuk selanjutnya menyebut nama Kwe Hu. Begitulah setiap Yo Ko mengucapkan hal itu, setiap kali pula Siao-liong-li bagai disambar petir, pikirannya menjadi kacau, dunia mendadak dirasakan sudah kiamat.
Kalau orang lain, tentu akan timbul rasa sangsinya melihat kata dan perbuatan Yo Ko itu sama berbeda. Namun Siao-liong-li memang orang yang lugu, hatinya bersih, pikirannya sederhana, sedikit pun tidak paham seluk beluk kepalsuan kehidupan manusia. Meski pun terhadap orang lain Yo Ko memang suka membual, tetapi biasanya terhadap dirinya tidak pernah membual sedikit pun, sebab itulah Siao-liong-li menaruh kepercayaan penuh terhadap apa yang diucapkan Yo Ko.
Begitulah ketika melihat kedua Bu cilik bukan tandingan Yo Ko, Siao-liong-li yang sedang berduka dan menyesali nasibnya itu tanpa terasa mengeluarkan suara tarikan napas panjang sebagaimana yang didengar Yo Ko itu sehingga pemuda ini hampir saja berseru memanggilnya. Pada saat itu juga Siao-liong-li lantas pergi dengan berlinangan air mata. Sambil menuntun kuda merah Siao-liong-li berkeliaran semalaman di ladang sunyi itu, pikirannya kacau dan bingung.
Usianya sudah lebih 20 tahun, tapi selama hidupnya berdiam di kuburan kuno, seluk-beluk kehidupan manusia sedikit pun tak dipahaminya, hakekatnya jalan pikirannya masih polos dan bersih seperti anak kecil. Dia pikir: “Yo Ko sudah terikat jodoh dengan nona Kwe, dengan sendirinya tidak dapat menikahi diriku lagi. Pantas Kwe-tayhiap suami-isteri ber-ulang merintangi hasrat Ko-ji yang ingin menikahi aku. Bahwa selama ini Ko-ji tidak memberi-tahukan padaku tentang ikatannya dengan nona Kwe, tentu karena dia kuatir aku akan berduka. Ai, dia memang sangat baik padaku.”
Begitulah lantaran dia juga amat mencintai Yo Ko, walaupun dengan mata telinga sendiri mendengar anak muda itu mengatakan hendak menikah dengan Kwe Hu, namun ia tidak dendam sedikit pun, ia hanya berduka sambil menyesali nasibnya sendiri. Malahan lantas terpikir lagi olehnya:
“Sebabnya Ko-ji tidak cepat-cepat membunuh Kwe-tayhiap untuk membalas sakit hati kematian ayahnya, kiranya persoalan nona Kwe inilah yang membuatnya bimbang, jika begitu tampaknya dia juga amat baik kepada nona Kwe. Kalau sekarang kuberikan kuda merah ini padanya, bisa jadi dia akan teringat lagi kepada kebaikanku dan perjodohannya dengan nona Kwe mungkin akan terganggu lagi. Rasanya lebih baik aku pulang sendirian saja ke kuburan kuno, dunia yang fana ini cuma membikin kacau dan membingungkan pikiranku saja.”
Setelah berpikir lagi, akhirnya ia membulatkan tekad. Meski hatinya terasa disayat-sayat, cintanya kepada Yo Ko terasa berat sekali untuk diputuskan, namun terpikir pula olehnya bahwa menyelamatkan jiwa anak muda itu terlebih penting. Karena itu malam itu juga dia pulang ke Siang-yang dan minta pertolongan Cu Cu-liu agar suka mengantarkan kuda merah kepada Yo Ko yang masih berada di lembah sunyi. Waktu itu Siang-yang belum tenang, Kwe Ceng dan Oey Yong belum sehat pula, maka tugas pertahanan kota diurus oleh Loh Yu-kah dibantu oleh Cu Cu-liu.
Di tengah kemelut itulah Siao-liong-li membawa kuda merah datang pada Cu Cu-liu dan minta bantuannya mengantar kuda itu kepada Yo Ko agar anak muda itu bisa lekas pergi ke Coat-ceng-kok dan menukar obat penawar dengan bayi yang baru dilahirkan Oey Yong.
Sudah tentu Cu Cu-liu merasa bingung oleh penuturan yang tak diketahui awal mulanya. Dia coba bertanya lebih jelas, tetapi Siao-liong-li sendiri sedang kesal dan tidak ingin banyak bicara, dia hanya mendesak Cu Cu-liu lekas berangkat, katanya kalau terlambat bisa jadi jiwa Yo Ko akan melayang. Sama sekali Siao-liong-li tidak pedulikan bahwa waktu itu Kwe Hu juga berada di sebelah Cu Cu-liu. Ia pikir adikmu itu dibawa sementara ke Coat-ceng-kok, tentu tak berhalangan, apa lagi demi menyelamatkan jiwa bakal suamimu.
Biasanya Siao-liong-li bisa menguasai perasaannya, suka mau pun duka jarang dipikirkan olehnya, tapi semenjak jatuh cinta pada Yo Ko, segala ilmu menguasai perasaan yang dilatihnya sejak kecil hampir tidak dapat digunakannya lagi, guncangan perasaan bahkan jauh lebih hebat dari pada orang biasa. Maka sesudah memberi pesan kepada Cu Cu-liu, lantaran beberapa kali menyebut nama Yo Ko, tanpa terasa air matanya bercucuran, cepat ia berlari kembali ke kamarnya dan menangis sedih di tempat tidur.
Biar pun Cu Cu-liu adalah seorang cerdik pandai, tapi lantaran tidak tahu seluk-beluknya persoalan, uraian Siao-liong-li yang tidak keruan juntrungannya itu membuatnya bingung. Tapi ingat bahwa kalau terlambat bisa jadi jiwa Yo Ko akan melayang, dia pikir terpaksa harus cepat ke lembah itu dan bertindak menurut keadaan di sana. Akan tetapi, ketika dia mau berangkat, ternyata kuda merah yang dibawakan Siao-liong-li itu sudah hilang, waktu ditanyakan penjaga, katanya nona Kwe yang membawanya pergi. Ketika dia mencari Kwe Hu, ternyata bayangan nona itu pun tak dapat diketemukan.
Karena menguatirkan keselamatan Yo Ko, terpaksa Cu Cu-liu menunggang kuda lain dan membawa belasan anggota Kay-pang menuju ke lembah yang ditunjuk Siao-liong-li. Di situ dilihatnya Yo Ko dan ayah beranak keluarga Bu itu sama-sama menggeletak tak bisa berkutik. Mereka segera dibawa pulang ke Siang-yang. Kebetulan paman gurunya, yaitu si paderi Hindu datang dari negeri Tayli, dan paderi inilah yang menyadarkan Yo Ko dan lain-lain.
Demikianlah Siao-liong-li menangis di kamarnya, makin dipikir makin sedih, air mata pun sukar dibendung lagi sehingga membasahi baju dan tempat tidurnya. Dia bermaksud mengambil sapu tangan untuk mengusap air mata, tiba-tiba tangannya menyentuh Siok-li-kiam yang terselip di tali pinggangnya. Tiba-tiba timbul pikirannya hendak memberikan pedang itu kepada Kwe Hu agar nona itu dan Yo Ko benar-benar menjadi pasangan yang setimpal. Maklumlah, Siao-liong-li teramat cinta kepada Yo Ko, segala apa yang bermanfaat bagi anak muda itu dengan rela dilakukannya. Karena itulah ia lantas menuju ke kamar Kwe Hu.
Tatkala itu sudah lewat tengah malam, Kwe Hu sudah tidur. Tanpa mengetok pintu Siao-liong-li membuka daun jendela kemudian melompat masuk ke kamar. Serta merta dia membangunkan Kwe Hu dan mengatakan ‘kalian memang pasangan setimpal’ sebagaimana diuraikan kembali oleh Kwe Hu kepada Yo Ko. Sesudah menyerahkan Siok-li-kiam kepada Kwe Hu segera Siao-liong-li pergi.
Sudah tentu Kwe Hu terheran-heran dan bertanya apa yang dimaksud, namun Siao-liong-li tidak menjawab melainkan terus melompat keluar jendela.
“Kembalilah, Liong-kokoh!” cepat Kwe Hu berteriak sambil melongok keluar, tetapi terlihat Siao-liong-li sudah melangkah pergi tanpa berpaling lagi.
Dengan menundukkan kepala menahan rasa sedih Siao-liong-li masuk ke taman bunga. Bau bunga mawar yang sedang mekar mewangi mengingatkan dia pada saat bersama Yo Ko berlatih Giok-li-sim-keng diselingi oleh semak-semak bunga dahulu. Untuk berkumpul lagi seperti dahulu rasanya sukar terjadi lagi. Selagi melayang pikirannya, mendadak dari pojok rumah di sebelah kiri ada seseorang sedang berkata:
“Kau sebentar-sebentar mengucap Siao-liong-li, apakah kau tidak dapat berhenti menyebutnya?”
Keruan Siao-liong-li terkejut, ia heran siapakah yang selalu menyebut namaku? Segera ia berhenti di situ untuk mendengarkan lebih cermat. Segera terdengar suara seorang lainnya tertawa mengejek dan berkata:
“Kau sendiri boleh berbuat, masa aku tidak boleh menyebutnya?”
Terdengar orang pertama tadi menjawab: “lni rumah orang lain, mata telinga amat banyak, bila didengar orang lain, ke mana lagi nama baik Coan-cin-kau kita akan ditaruh?”
“He-he, kiranya kau masih ingat kepada nama baik Coan-cin-kau kita,” jengek orang kedua tadi. “He-he, malam itu di tepi semak bunga mawar di Cong-lam-san, rasa nikmat naik surga itu... Wah, ha-ha-ha...!” Sampai di sini ia hanya terkekeh-kekeh saja dan tidak melanjutkan.
Siao-liong-li tambah kaget dan sangat curiga. Dia pikir apakah mungkin malam itu waktu Ko-ji melaksanakan cintanya padaku telah dapat diintip oleh kedua Tosu ini? Dari suara kedua orang itu Siao-liong-li sudah tahu mereka adalah In Ci-peng dan Thio Ci-keng. Maka diam-diam dia mendekati jendela rumah itu kemudian berjongkok di situ untuk mendengarkan lebih Ianjut.
Sementara itu suara bicara kedua orang itu berubah menjadi lirih, tapi jarak Siao-liong-li sekarang sangat dekat, pendengarannya tajam, biar pun kedua orang bisik-bisik cara bicaranya juga dapat didengarnya dengan jelas. Terdengar Ci-peng sedang berkata:
“Tio-suheng, setiap hari siang dan malam kau selalu menyiksa aku, sebenarnya apa tujuanmu?”
“Kau sendiri paham, masa perlu kuterangkan?” jawab Ci-keng.
“Apa yang kau kehendaki dariku telah kusanggupi, aku cuma memohon urusan ini jangan kau sebut lagi, tapi makin lama makin sering kau mengungkitnya, apakah sengaja hendak menyiksa aku sampai mati di depanmu?”
“Hm, aku pun tidak tahu, tapi yang jelas aku tidak tahan dan harus kuucapkan,” jengek Ci-keng.
Mendadak In Ci-peng perkeras suaranya dan berkata: “Hm, memangnya kau sangka aku tidak tahu? Yang benar kau cemburu, kau cemburu kepadaku pada saat menikmati surga dunia itu.”
Ucapan Ci-peng ini amat aneh, tapi Ci-keng ternyata tidak menjawab. Dia seperti hendak mengejek, tapi tak terucapkan. Selang sebentar kembali In Ci-peng berbicara lagi:
“Ya, memang benar, malam itu di balik semak-semak bunga mawar dia tak bisa berkutik karena Hiat-to tertotok oleh Auyang Hong sehingga cita-citaku terpenuhi. Ya, tidak perlu aku menyangkal di depanmu, andaikan tak kukatakan padamu juga kau takkan tahu, betul tidak? Karena telah terlanjur kuberi-tahukan padamu, lalu kau terus menerus menggoda aku dan menyiksa pikiranku. Akan tetapi aku tidak menyesal. Tidak, sedikit pun aku tak menyesal...” sampai akhirnya suaranya berubah menjadi halus dan lembut seakan-akan orang sedang mengingat.
Sambil mendengarkan hati Siao-liong-li serasa mendelung ke bawah, otaknya pun segera mengingat.
“Masa dia dan bukan Ko-ji yang kucintai itu? Tidak, tidak mungkin! Pasti Ko-ji adanya, dia berdusta, dusta!”
Terdengar Ci-keng berkata pula dengan suara kaku dingin: “Ya, dengan sendirinya kau tidak menyesal sedikit pun. Sesungguhnya tidak perlu kau katakan kepadaku, akan tetapi saking senangnya karena kau telah melakukan hal itu, kau merasa perlu diutarakan pada seseorang. Nah, karena itu aku pun membicarakan hal itu padamu setiap hari, setiap saat aku mengingatkanmu, tapi mengapa kau menjadi takut mendengarnya?”
“Blang! Blung!”
Mendadak terdengar suara beberapa kali, kiranya Ci-peng mem-benturkan kepala sendiri pada tembok, lalu berkata:
“Baiklah, bicaralah, bicara lagi supaya setiap orang di dunia ini tahu semua, aku pun tidak takut... tidak... tidak... Oh, Tio-suheng, apa yang kau inginkan dariku sudah kusanggupi, yang kumohon sukalah kau jangan mengungkapnya lagi.”
Dalam waktu yang singkat saja ber-turut Siao-liong-li sudah mendengar dua pertanyaan yang membuat hatinya hancur. Seketika ia berdiri termangu-mangu di luar jendela, meski dapat mendengar jelas pembicaraan Ci-peng dan Ci-keng, tapi arti percakapan mereka itu seketika sukar dipahami. Sementara terdengar Ci-keng lagi berkata dengan tertawa:
“Orang beragama seperti kita ini sekali kejeblos harus dapat mengendalikan diri agar bisa kembali ke arah yang terang. Bahwa senantiasa aku mengingatkanmu akan nama Siao-liong-li agar kau menjadi biasa mendengarnya hingga kemudian menjadi jemu, dan dari jemu akhirnya menjadi benci, ini kan maksud baikku untuk menyelamatkanmu dari jalan tersesat.”
“Dia adalah jelmaan bidadari, mana mungkin aku jemu dan benci padanya?” ujar Ci-peng, Habis ini mendadak suaranya berubah keras: “Hmm, tidak perlu kau bicara muluk-muluk, pikiranmu yang keji dan berbisa itu masa aku tidak tahu? Yang benar adalah kau iri kepadaku, kedua karena kau dendam pada Yo Ko, kau ingin mengungkapkan peristiwa ini untuk menghancurkan kehidupan mereka guru dan murid, menyesal selama hidup.”
Hati Siao-liong-li berdetak keras demi mendengar nama Yo Ko disebut, tanpa terasa dia pun menggumam perlahan nama anak muda itu dan timbul semacam perasaan bahagia yang tidak terhingga. Dia berharap kedua Tosu terus membicarakan si Yo Ko, asal ada orang menyebut nama anak muda itu maka gembiralah hatinya. Terdengar Ci-keng juga memperkeras suaranya dan berkata dengan gemas:
“Hmm, kalau aku tak dapat membikin anak jadah itu sekarat, hm, rasanya tak terlampias dendamku ini. Cuma... cuma...”
“Cuma ilmu silatnya teramat tinggi dan kita bukan tandingannya, begitu bukan?” jengek Ci peng.
“ltu belum pasti,” kata Ci-keng. “Sedikit ilmu silat colongannya yang liar itu mengapa mesti diherankan? In-sute, boleh kau lihat saja, suatu ketika bila dia kepergok olehku, hm, tentu dia akan tahu rasa, tidak kubiarkan dia mati dengan enak, kalau bukan kedua biji matanya tentu akan kukutungi kedua tangannya agar mati tidak hidup pun tidak, tatkala mana nonamu si Siao-liong-li itu boleh menyaksikannya supaya senang hatinya.”
Siao-liong-li bergidik mendengar itu. Kalau waktu biasa tentu dia sudah menerjang dan menghabisi jiwa kedua orang itu, tetapi sekarang pikirannya lagi bingung, kaki tangan terasa lemas tak bertenaga. Sementara itu In Ci-peng sedang mendengus.
“Hm, kau cuma mimpi kosong belaka, ilmu silat golongan kita rasanya sukar menandingi ilmu silat golongan liar macam mereka itu.”
“Keparat, kau ada main dengan Siao-liong-li, lantas ilmu silatnya juga kau puji setinggi langit,” damperat Ci-keng.
Rupanya selama ini Ci-peng sudah kenyang dihina, sekarang dia sudah tidak tahan lagi, segera ia balas membentak:
“Apa katamu? Kau punya perasaan tidak, jadi manusia harus tahu batas-batas tertentu!”
Ci-keng merasa titik kelemahan orang telah tergenggam dalam tangannya, asalkan hal itu diumumkan di Tiong-yang-kiong, akibatnya In Ci-peng pasti akan dijatuhi hukuman mati, sebab itulah dia menghina In Ci-peng dengan segala macam cara dan selama ini Ci-peng tidak berani melawan sedikit pun. Tetapi sekarang Ci-peng ternyata berani melawannya dengan kata-kata kasar, ia menjadi marah, mendadak ia melangkah maju terus menggampar. Ci-peng tidak menduga sang Suheng akan menghantamnya, cepat ia menunduk.
“Plok!” dengan tepat kuduknya kena tampar.
Betapa pun Ci-keng adalah jago kelas satu dari Coan-cin-kau angkatan ketiga, tentu saja pukulannya cukup berat, tubuh Ci-peng sempoyongan dan hampir jatuh terjerungkup. Saking gemasnya ia mencabut pedang dan balas menusuk. Tapi Ci-keng sempat mengegos ke samping dan mengejek:
“Bagus, ternyata kau berani bergebrak denganku.” Segera ia pun mencabut pedangnya dan balas menyerang.
“Setiap hari kau menyiksa aku, paling-paling juga cuma mati, biarlah sekarang kau bunuh aku saja dan bereslah segalanya,” ucap Ci peng dengan geram. Sesudah itu dia segera melancarkan serangan.
Ci-peng adalah murid tertua Khu Ju-ki, kepandaiannya dengan Thio Ci-keng tidak berbeda banyak, apa yang mereka pelajari juga sama, maka sebenarnya sukar dibedakan unggul dan asor. Tapi lantaran dendamnya sudah menumpuk, yang diharapkan sekarang biarlah mati bersama saja. Akan tetapi Ci-keng mempunyai perhitungan lain. Dia tidak mau mencelakai jiwa Ci-peng, sebab itulah setelah dua-tiga puluh gebrakan, akhirnya Ci-keng sendiri malah terdesak ke pojok kamar.
Dengan sendirinya suara pertengkaran kedua Tosu itu diketahui anggota Kay-pang yang sedang dinas jaga dan cepat dilaporkan kepada Kwe Hu. Lekas-lekas nona itu mendatangi tempat itu, dilihatnya Siao-liong-li berdiri di luar jendela. Dia lantas menyapa:
“Liong-Kokoh!”
Siao-liong-li berdiri termangu-mangu di situ seperti tidak mendengar teguran Kwe Hu itu. Tentu saja Kwe Hu heran, ia pun tidak lantas masuk ke rumah itu melainkan ikut berdiri di sana, maka terdengarlah suara olok-olok serta sindiran kasar Ci-keng sambil menangkis serangan Ci-peng, setiap ucapan semuanya menyangkut diri Siao-liong-li. Sebagai nona muda yang sopan, Kwe Hu merasa tak pantas berdiri di situ mendengarkan kata-kata kotor kedua orang yang bertempur di dalam rumah itu, segera ia bermaksud tinggal pergi saja.
Tapi dilihatnya Siao-liong-li tetap berdiri terkesima, kata-kata kotor kedua orang itu seolah-olah tak dihiraukannya sama sekali. Kwe Hu menjadi heran, dia coba tanya dengan suara perlahan:
“Apakah betul apa yang mereka katakan itu?”
“Aku... aku pun tidak tahu,” jawab Siao-liong-li dengan bingung, “tetapi agaknya memang begitu.”
Seketika timbul perasaan menghina dalam hati Kwe Hu, ia mendengus sekali terus tinggal pergi tanpa bicara lagi. Ci-peng dan Ci-keng tergolong jago silat pilihan, meski dalam pertempuran sengit segera mereka mendengar ada suara orang bicara di luar.
“Trangg...!” begitu kedua pedang beradu terus ditariknya kembali bersama dan serentak bertanya: “Siapa itu?”
“Aku,” jawab Siao-liong-li.
Seketika seluruh badan Ci-peng merinding, dia segera menegas dengan suara gemetar.
“Kau? Kau siapa?”
“Siao-liong-li!”
Begitu nama ini diucapkan, bukan saja In Ci-peng terkesima laksana patung, bahkan Ci-keng juga kaget setengah mati dan menggigil ketakutan. Dengan mata kepala sendiri Ci-keng menyaksikan betapa Siao-liong-li pernah mengobrak-abrik Tiong-yang-kiong, sampai paman gurunya yang lihay seperti Hek Tay-thong kalah dan hampir saja mati bunuh diri.
Sama sekali dia tidak menyangka bahwa Siao-liong-li juga berada di Siang-yang. Dia pikir ucapannya sendiri tadi besar kemungkinan telah didengar semua oleh si nona. Seketika ia menjadi ketakutan setengah mati dan entah cara bagaimana harus melarikan diri.
Perasaan In Ci-peng aneh luar biasa sehingga tak terpikir olehnya untuk menyelamatkan diri, sebaliknya dia terus membuka daun jendela, Dilihatnya di situ berdiri seorang wanita jelita berbaju putih, siapa lagi kalau bukan Siao-liong-li yang selalu dirindukannya siang dan malam itu.
“Kau... kau...” Ci-peng menegas dengan melongok.
“Benar, aku.” jawab Siao-liong-li. “Apa yang kalian katakan tadi apakah betul seluruhnya?”
“Be... betul.” Ci-peng mengangguk. “Boleh kau bunuh saja diriku!” Habis berkata dia terus menyodorkan pedangnya keluar jendela.
Sorot mata Siao-liong-li memancarkan sinar aneh, hatinya pedih dan pilu tak terperi, begitu sedih dan begitu gemas, rasanya walau pun membunuh seratus orang atau seribu orang dirinya bukan lagi seorang nona yang suci bersih dan tak dapat lagi mencintai Yo Ko secara mendalam seperti dahulu. Pada waktu Ci-peng menyodorkan pedangnya, Siao-liong-li tidak menerimanya, dia hanya memandang kedua Tosu itu dengan bingung.
Ci-keng melihat kesempatan baik. Dia pikir perempuan ini dalam keadaan kurang waras, mungkin sudah gila, jika sekarang tidak lekas kabur hendak menunggu kapan lagi? Maka cepat ia tarik Ci-peng dan berkata dengan menyeringai:
“Lekas pergi saja, tampaknya dia merasa berat untuk membunuh kau.” Selesai berkata dia menarik Ci-peng sekuatnya dan berlari keluar pintu sana.
Ci-peng menjadi linglung melihat wajah Siao-liong-li, seluruh badannya terasa lemas tak bertenaga, karena tarikan Ci-keng itu ia menjadi terhuyung-huyung dan ikut berlari keluar. Cepat Ci-keng mengeluarkan ginkang-nya untuk berlari cepat. Semula Ci-peng ditarik oleh Ci-keng, tapi segera ia pun dapat mengeluarkan ginkang sendiri. Keduanya adalah jagoan Coan-cin-pay angkatan ke tiga, maka lari mereka ini benar-benar cepat melebihi lari kuda. Mereka menyusur kian kemari di dalam kota, sebentar saja mereka sudah sampai di pintu gerbang sebelah timur.
Di pintu gerbang itu terdapat belasan anggota Kay-pang serta dua regu prajurit penjaga. Anggota Kay-pang yang menjadi pemimpin kenal pada Ci-keng dan Ci-peng sebagai Tosu dari Coan-cin-pay, bicara tentang kedudukan kedua Tosu itu terhitung Suheng Kwe Ceng, maka demi mendengar Ci-keng bilang ada urusan penting sehingga harus keluar benteng, pula waktu itu kebetulan tiada serangan dari pasukan musuh, maka cepat diperintahkan untuk membuka pintu benteng.
Begitu pintu gerbang baru terbuka sedikit, cepat sekali Ci-keng langsung melompat keluar disusul oleh Ci-peng. Selagi orang Kay-pang itu memuji kehebatan Ginkang kedua Tosu itu, mendadak sesosok bayangan putih berkelebat keluar benteng pula. Dengan terkejut ia membentak:
“Siapa itu?!”
Namun bayangan orang itu telah lenyap. Waktu ia melongok keluar benteng, karena fajar baru menyingsing dan belasan meter di depan masih remang-remang tertutup oleh kabut, maka tiada sesuatu pun yang kelihatan. Diam-diam anggota Kay-pang itu mengomel, dia pikir barang kali matanya sendiri yang mulai lamur sehingga pandangannya kabur.
Ci-keng berdua masih terus berlari hingga belasan li jauhnya baru berani melambatkan lari mereka. Dengan kuatir dan bersyukur pula Ci-keng mengusap keringat dingin yang sudah membasahi dahinya sambil menggumam:
“Wah, bahaya, sungguh bahaya!”
Tetapi waktu dia berpaling ke belakang, tanpa terasa kakinya menjadi lemas, hampir saja dia jatuh terjungkal. Kiranya tak jauh di belakangnya sudah berdiri seorang perempuan muda berbaju putih dan sedang memandangnya dengan melenggong, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li. Sungguh kaget Ci-keng tak terperikan, ia menjerit satu kali dan segera menarik tangan Ci-peng untuk diajaknya berlari kembali. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa Siao-liong-li yang dikiranya sudah jauh ditinggalkan di kota Siang-yang tahu-tahu masih mengintil di belakangnya, cuma cara berjalan nona itu tidak bersuara, meski mengintil dalam jarak dekat juga tidak diketahuinya.
Sekaligus dia berlari agak jauh barulah dia coba menoleh ke belakang. Dilihatnya Siao-liong-li menguntit di belakang dalam jarak tetap, seperti tadi. Dengan pikiran bingung dan takut Ci-keng segera ‘tancap gas’ lebih kencang sambil menyeret Ci-peng. Dia tidak berani lagi menoleh, sebab setiap kali memandang ke belakang, setiap kali pula hatinya tambah takut, lambat-laun kakinya mulai lemas, rasanya tangan yang memegangi lengan Ci-peng mulai tak bertenaga.
“ln-sute,” katanya kemudian, “jika sekarang dia mau membunuh kita boleh dikatakan amat mudah, tapi dia tidak melakukan hal ini, kukira dia pasti mempunyai maksud tertentu.”
“Maksud tertentu apa?” tanya Ci-peng.
“Kukira dia ingin menawan kita, lalu membongkar perbuatanmu yang kotor itu di hadapan para ksatria agar nama baik Coan-cin-pay akan runtuh habis-habisan.”
In Ci-peng terkesiap, mati-hidupnya sendiri sebenarnya tak terpikir lagi olehnya. Kalau saja Siao-liong-li akan membunuhnya pasti dia takkan melawan, tapi jika mengenai nama baik Coan-cin-pay, betapa pun juga ia harus membelanya dengan mati-matian, apa lagi jika runtuhnya kehormatan Coan-cin pay itu disebabkan oleh perbuatannya.
Teringat alasan ini dia menjadi kuatir juga, segera larinya bertambah cepat mendampingi Ci-keng. Kedua orang berlari ke daerah yang sunyi dan sulit dicapai orang lain, terkadang mereka menoleh, tetapi Siao-liong-li selalu berada dalam jarak puluhan meter di belakang mereka.
TERUS MENGINTIL
Dengan Ginkang Ko-bong-pay yang tiada tandingannya, kalau mau sebetulnya dengan mudah Siao-liong-li dapat melampaui kedua buruannya. Cuma dia memang masih polos, jalan pikirannya sederhana, menghadapi persoalan maha besar ini dia menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus bertindak. Karena itu terpaksa dia hanya mengintil saja di belakang mereka, selalu dalam jarak sama tapi juga tidak membiarkan lolosnya kedua orang itu.
Memang pikiran Ci-peng dan Ci-keng amat bingung, apa lagi Siao-liong-li terus menguntit dan tidak diketahui apa maksud tujuannya, makin dipikir mereka pun semakin takut. Mereka berlari dari pagi hingga siang, dari siang hingga sore hari. Sudah 6-7 jam mereka berlari-lari kesetanan, betapa pun kuatnya tenaga dalam mereka akhirnya juga terempas-empis, langkah pun mulai sempoyongan dan tidak sanggup berlari cepat lagi.
Dalam pada itu panas matahari yang menyengat sudah membuat mereka mandi keringat, malahan juga lapar dan haus. Ketika di depan tiba-tiba nampak ada sebuah sungai kecil, mereka menjadi nekat. Mereka pikir masa bodohlah andaikan mereka akan tertangkap di situ. Begitulah mereka terus menjatuhkan diri di tepi sungai kecil itu kemudian minum air sekenyangnya.
Dengan perlahan Siao-liong-li juga mendekati sungai bagian hulu, ia pun meraup air untuk diminum. Permukaan air sungai mencerminkan seorang nona jelita berbaju putih dengan ikal rambut hitam dan wajah cantik molek laksana dewi kahyangan. Tapi perasaan Siao-liong-li serasa hampa, dukanya tak kepalang sehingga cermin dirinya itu tidak menariknya melainkan termangu-mangu saja memandangi bayangan sendiri dalam air itu.
Sambil minum air, Ci-keng berdua senantiasa melirik Siao-liong-li. Melihat nona itu hanya termangu-mangu se-olah lupa daratan pada dunia fana ini, cepat mereka saling memberi isyara. Dengan perlahan mereka bangkit dan berjalan ber-jengket menjauh ke sana. Beberapa kali mereka menoleh dan melihat si nona masih terus termenung memandang air sungai, segera mereka percepat langkah terus berlari ke depan. Mereka mengira sekali ini pasti dapat lolos dari kuntitan Siao-liong-li, tetapi siapa duga, ketika kebetulan Ci-peng berpaling, ternyata si nona sudah mengintil lagi di belakang mereka.
Seketika muka Ci-peng menjadi pucat pasi seperti mayat, serunya: “Sudahlah, sudahlah Tio-suheng, kita toh tidak dapat lolos, jadi terserah saja apakah dia akan membunuh atau mencincang kita.” Habis berkata ia terus berhenti dan berdiri di situ.
Ci-keng menjadi gusar dan membentak: “Kau mati juga pantas, tetapi mengapa aku harus mati bersamamu?” Segera ia tarik tangan sang Sute untuk diajak lari lagi.
Akan tetapi Ci-peng telah putus asa dan tidak ingin lari lagi. Dasar Ci-keng memang amat pemberang, tanpa bicara lagi sebelah tangannya menggampar.
“Mengapa kau pukul aku?” teriak Ci-peng dengan marah.
Melihat kedua orang itu saling hantam lagi, Siao-liong-li menjadi heran. Pada saat itulah dari depan sana tampak mendatangi dua penunggadg kuda, rupanya dua kurir Mongol yang bertugas mengirim surat atau berita. Pikiran Ci-keng bergerak, dengan suara tertahan dia berkata kepada Ci-peng:
“Mari kita rebut kuda mereka. Kita pura-pura berkelahi supaya tidak menimbulkan curiga Siao-liong-li.”
Ci-peng menurut, lalu mereka pura-pura berhantam lagi sambil menggeser ke jalan raya. Karena jalan terhalang, kedua prajurit MongoI itu terpaksa menahan kuda mereka sambil membentak-bentak. Namun Ci-keng mendadak melompat ke atas, seorang satu seketika kedua prajurit Mongol itu disodok terjungkal ke bawah, lalu dengan kuda rampasan itulah mereka kabur ke utara. Kedua ekor kuda itu adalah kuda perang piIihan, perawakannya gagah dan larinya cepat. Pada waktu mereka menoleh, ternyata Siao-liong-li tidak mengejar lagi, maka legalah hati mereka. Mereka terus melarikan kuda ke utara, sesudah belasan li kemudian sampailah mereka pada jalan persimpangan tiga.
“Dia melihat kita kabur ke utara, sekarang justru membelok ke timur,” kata Ci-keng sambil membelokkan kuda ke kanan dan diikuti Ci-peng.
Menjelang magrib, sampailah mereka di suatu kota kecil. Sehari suntuk berlari tanpa mengisi perut barang sedikit pun, mereka sangat lelah dan lapar. Segera mencari sebuah warung makan dan pesan satu piring daging berikut beberapa bakpau. Sambil duduk menunggu daharan, hati Ci-keng masih berdebar-debar mengenang bahaya yang dihadapinya tadi. Ia tidak tahu mengapa Siao-liong-li menguntit saja dan tidak segera turun tangan. Dilihatnya Ci-peng juga duduk menunduk dengan muka pucat seperti orang linglung.
Tak lama kemudian makanan yang dipesan telah disuguhkan, segera mereka makan dan minum. Belum seberapa lama, tiba-tiba terdengar ribut di luar, seseorang sedang membentak-bentak dan bertanya:
“Siapa pemilik kedua ekor kuda ini? Mengapa berada di sini?” Dari logat suaranya agaknya orang Mongol.
Ci-keng berdiri dan mendekati pintu. Dilihatnya seorang perwira Mongol dengan beberapa orang anak buah sedang bertanya mengenai kedua ekor kuda rampasan Ci-keng berdua, pelayan rumah makan tampak ketakutan dan menyembah. Lantaran seharian diuber Siao-liong-li dan rasa dongkol Ci-keng belum terlampiaskan, kini ada orang mencari gara-gara, segera dia tampil ke muka dan berteriak:
“Itu kudaku! Ada apa?!”
“Dapat dari mana?” tanya perwira itu.
“Milikku sendiri, peduIi apa denganmu?” jawab Ci-keng.
Tatkala itu di utara Siang-yang sudah berada dalam pendudukan pasukan Mongol, rakyat Song hidup di bawah penindasan kejam, mana ada orang berani bersikap kasar terhadap perwira Mongol? Tapi lantaran melihat perawakan Ci-keng gagah dan kuat, membawa pedang pula, diam-diam perwira itu rada jeri, ia lantas tanya pula:
“Kau dapat beli atau mencuri?”
“Beli atau mencuri apa?” jawab Ci-keng dengan marah. “Kuda ini adalah piaraanku sendiri.”
“Tangkap!” mendadak perwira itu memberi aba-aba. Serentak beberapa prajurit mengerubut maju dengan senjata terhunus.
“Hm, berdasarkan apa kalian hendak menangkap orang?!” bentak Ci keng sambil meraba pedangnya.
“Berani kau melawan, maling kuda?” jengek perwira Mongol itu. “Ha-ha, barang kali kau telah makan hati macan maka berani melawan perwira markas besar. Hayo kau mengaku mencuri tidak?” Berbareng dia menyingkap bulu paha belakang kuda hingga kelihatan cap bakar dua huruf Mongol.
Rupanya setiap kuda perang Mongol pasti ditandai dengan cap bakar untuk menjelaskan kuda itu termasuk pasukan dan kelompok mana. Ci-keng merampas kuda itu di tengah jalan, sudah tentu dia tidak tahu seluk-beluk tanda cap bakar segala. Sebab itu dia tak bisa menjawab. Akan tetapi dia sengaja berdebat:
“Siapa bilang kuda perang Mongol? Di tempat kami banyak juga kuda yang diberi cap bakar seperti ini. Memangnya tidak boleh dan melanggar aturan?”
Perwira itu menjadi marah. Belum pernah ada orang yang berani membantah, masa sekarang ada maling kuda yang malah menantangnya? Segera dia melangkah maju hendak mencengkeram baju dada Ci-keng. Akan tetapi tangan kiri Ci-keng menangkis dan membalik, tangan perwira itu berbalik kena dipegangnya. Menyusul tangan kanan Ci-keng mencengkram punggung perwira itu lalu diangkat ke atas, setelah diputar beberapa kali terus dilemparkan.
Tanpa ampun perwira itu terbanting ke dalam sebuah toko barang pecah belah, seketika terdengarlah suara gemerantang nyaring berturut-turut, rak mangkok piring dan barang-barang porselin lain roboh dan hancur berantakan. Muka perwira itu pun babak belur terluka oleh pecahan beling serta tertindih oleh rak yang ambruk. Para prajurit Mongol cepat-cepat memberi pertolongan sehingga lupa menangkap orang.
Ci-keng terbahak-bahak gembira lalu masuk kembali ke warung makan untuk meneruskan daharannya tadi. Karena ribut-ribut itu, toko yang tadinya buka pasar seketika semua tutup pintu. Tetamu yang sedang makan di warung itu pun segera buyar. Tentara Mongol terkenal ganas dan kejam, tapi sekarang ada orang Han memukuli perwira Mongol, maka akibatnya dapatlah dibayangkan, bukan mustahil seluruh kota akan dibumi-hanguskan.
Belum banyak Ci-keng mengisi perutnya, tiba-tiba kuasa rumah makan itu mendekatinya dan berlutut di hadapannya. Ci-keng tahu maksud orang, pasti kuatir perusahaannya ikut terkena getahnya, maka minta penyelesaian sebaik-baiknya. Sambil tertawa ia lantas berkata:
“Kau jangan kuatir, setelah makan kenyang segera kami angkat kaki dari sini.”
Tapi kuasa rumah makan itu tetap menyembah dengan muka pucat. Ci-peng lantas berkata kepada Ci-keng:
“Rupanya dia takut bila kita pergi, sebentar lagi pasukan Mongol akan datang minta pertanggungan jawabnya.”
Dia memang lebih cerdik dari pada Ci-keng. Sesudah berpikir sejenak, segera dia berkata pula kepada kuasa rumah makan itu.
“Lekas ambilkan lagi daharan yang lezat, apa yang telah kami perbuat adalah tanggung jawab kami sendiri, kenapa mesti takut?”
Kuasa rumah makan itu mengiyakan dengan girang, cepat dia merangkak bangun sambil memerintahkan agar daharan ditambah dan membawakan arak pula. Sementara perwira Mongol yang babak belur itu telah dibangunkan anak buahnya dan dibawa pergi. Dengan tertawa Ci-keng berkata kepada Ci-peng:
“ln-sute, sudah seharian kita kenyang tersiksa, sebentar biarlah kita labrak mereka sepuasnya.”
Ci-peng hanya mendengus tanpa menanggapi, sementara itu pelayan sibuk membawakan daharan. Sesudah makan lagi sekedarnya, mendadak Ci-peng bangkit, pelayan yang meladeni di sebelahnya dihantam hingga terjungkal. Keruan si kuasa rumah makan kaget, cepat ia mendekati dan minta maaf bila mana ada kesalahan pelayanan. Namun kaki Ci-peng lantas melayang pula, dengan tepat dengkul kuasa rumah makan itu didepak sehingga jatuh terguling.
Ci-keng tidak tahu maksud tujuan sang Sute, dikiranya rasa dongkol Ci-peng itu sengaja dilampiaskan atas diri si pelayan. Dia berusaha mencegahnya, tetapi mendadak Ci-peng mendomplangkan meja yang penuh dengan mangkok dan piring, menyusul dua orang pelayan dipukul roboh lagi.
Cara memukul Ci-peng itu disertai dengan totokan Hiat-to, sebab itu setelah jatuh orang-orang itu sama tergeletak tak dapat berkutik. Habis ‘ngamuk’, Ci-peng kebut baju sendiri, lalu berkata:
“Sebentar kalau pasukan Mongol datang kembali dan melihat kalian kulabrak sedemikian rupa, tentu kalian takkan dimarahi, Nah, paham tidak? Bila perlu kalian boleh saling hantam lagi agar kelihatan lebih babak belur.”
Sekarang barulah orang-orang itu mengerti apa maksud tujuan Ci-peng memukuli mereka. Sesudah menyatakan akal bagus, segera mereka saling hantam hingga baju robek dan hidung bengkak. Pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda, ada beberapa orang datang. Serentak orang-orang rumah makan itu merebahkan diri sambil berteriak mengaduh kesakitan serta minta ampun segala.
Setiba di depan rumah makan, benar juga penunggang kuda itu lantas berhenti dan masuklah empat orang perwira Mongol, di belakang mereka ikut pula seorang paderi Tibet yang bertubuh tinggi kurus serta seorang asing yang tubuhnya pendek dan hitam. Kedua kaki orang asing itu sudah buntung dan kedua tangannya memegang tongkat penyanggah ketiak.
Melihat keadaan rumah makan yang porak poranda itu, sambil mengerutkan kering para perwira Mongol itu segera membentak:
“Lekas bawakan santapan enak, kami buru-buru mau berangkat lagi!”
Kuasa rumah makan tadi melengak, baru sekarang ia tahu rombongan ini bukanlah kawan rombongan pertama tadi. Dia menjadi bingung, kalau perwira Mongol yang dilabrak In Ci-peng tadi datang kembali, lalu cara bagaimana akan menghadapinya? Selagi dia bersangsi, perwira Mongol itu menjadi tidak sabar dan menyabetkan cambuk kudanya. Dengan menahan rasa sakit kuasa rumah makan itu terpaksa mengiyakan, tapi celakanya dia tak dapat bangun, syukur ada pegawai lain melayani kawanan Mongol itu dan mengatur meja kursi.
Paderi Tibet itu bukan lain dari pada Kim-lun Hoat-ong dan orang asing hitam pendek dan kaki buntung itu adalah Nimo Singh. Mereka merawat diri beberapa hari di lembah sunyi itu. Sesudah Hoat-ong mengeluarkan sisa racun di dalam tubuh dan luka kaki Nimo Singh mulai sembuh barulah mereka meninggalkan lembah itu hingga bertemu dengan perwira Mongol itu di tengah jalan, lalu bersama-sama pulang ke markas besar Kubilai.
Tentu saja Ci-peng dan Ci-keng terkejut bukan main melihat datangnya Kim-lun Hoat-ong. Mereka pernah menyaksikan kelihayan paderi Tibet itu, malahan kedua muridnya saja, yaitu Darba dan Hotu yang dulu pernah menyatroni Tiong-yang-kiong, sudah sukar ditandingi oleh tokoh-tokoh Coan-cin-pay, apa lagi sekarang kepergok Kim-lun Hoat-ong sendiri, diam-diam mereka kebat-kebit. Mereka saling memberi tanda dan segera mencari jalan meloloskan diri.
Meski Ci-keng berdua kenal Kim-lun Hoat-ong, sebaliknya Hoat-ong tak mengenal kedua Tosu itu. Walau pun keadaan rumah makan berantakan, tapi suasana perang tatkala itu tidak membuatnya heran jika menyaksikan keadaan rusak itu. Karena kepergiannya ke Siang-yang kali ini mengalami kekalahan, dia merasa malu bila nanti bertemu dengan Kubilai, maka yang dia pikirkan sekarang adalah cara bagaimana harus bicara kepada tuannya, sehingga kehadiran dua orang Tosu di rumah makan ini tidak digubris olehnya.
Pada saat itu tiba-tiba terjadi kegaduhan di luar rumah makan, sekawanan prajurit Mongol menyerbu masuk, begitu melihat Ci-keng berdua, sambil membentak-bentak hendak menangkapnya.
“Lari melalui pintu belakang,” demikian kata Ci-peng dengan suara tertahan kepada Ci-keng sembari mendomplangkan sebuah meja hingga mangkuk piring berserakan di lantai, berbareng mereka terus melompat menuju pintu belakang, sebab Kim-lun Hoat-ong duduk dekat pintu depan, kalau lari lewat di sebelahnya bisa jadi dia akan menghalangi mereka.
Ketika hampir sampai di ruang belakang, sekilas Ci-peng menoleh dan melihat Hoat-ong masih asyik minum tanpa gubris kekacauan itu. Diam-diam dia girang, asalkan paderi itu tidak ikut campur tentu tidak sukar untuk kabur. Tak terduga mendadak sesosok bayangan melayang tiba, orang cebol buntung tahu-tahu sudah melompat ke sana, sebelah tongkatnya menghantam sekaligus Ci-peng dan Ci-keng.
Tentu saja Ci-peng berdua belum kenal siapa Nimo Singh, maka cepat mereka mengelak. Heran juga Nimo Singh karena serangannya tak mengenai sasaran, ia merasa kedua Tosu ini ternyata bukan jago lemah. Segera kedua tongkatnya bergantian, yang satu dibuat menyanggah tubuh dan yang lain digunakan menyerang, dari bagian luar dia terus mendesak mundur Ci-peng berdua dan dengan sendirinya Ci-peng berdua balas menyerang sambil berusaha meloloskan diri.
Meski kepandaian Nimo Singh lebih tinggi dari pada Ci-peng berdua, tetapi lantaran kedua kakinya buntung belum lama ini, tenaganya belum pulih seluruhnya, apa lagi belum biasa memakai tongkat begitu, lama-lama dia sendiri menjadi kewalahan dikerubuti Ci-peng dan Ci-keng.
Melihat kawannya rada kerepotan, perlahan Hoat-ong mendekati mereka. Ketika pedang Ci-keng menusuk dada Nimo Singh dan orang Keling ini menangkisnya dengan tongkat, mendadak pedang Ci-peng sekaligus juga mengancam iga kanan Singh yang tak terjaga. Karena tidak ingin tertembus perutnya terpaksa Nimo Singh melompat ke samping. Ketika Hoat-ong melangkah tiba, kebetulan Nimo Singh melompat ke atas. Maka tangan kiri Hoat-ong digunakan mendukung bokong Nimo Singh dan memondongnya, ada pun tangan kanan memegangi lengannya.
Pada saat itu tongkatnya masih menempel pedang Ci-keng. Ketika Hoat-ong menyalurkan tenaga dalamnya melalui tongkat Nimo Singh, seketika Ci-keng merasa tangan kanannya tergetar dan dadanya terasa sesak.
“Trangg...!” pedang terpaksa dilepaskan dan jatuh ke lantai.
Meski tenaganya belum cukup kuat, namun perubahan serangan Nimo Singh amat cepat. Begitu pedang Ci-keng jatuh, segera ia memutar tongkatnya dan menempel pedang Ci-peng. Pada saat Hoat-ong menyalurkan lagi tenaga dalamnya, sekuatnya Ci-peng juga melawan dengan tenaga dalam, akan tetapi cara menguasai tenaga dalam Kim-lun Hoat-ong memang luar biasa, bisa keras bisa lunak.
“Krekk!” tahu-tahu pedang Ci-peng patah, yang terpegang olehnya hanya setengah potong pedang saja.
Dengan perlahan Hoat-ong menurunkan Nimo Singh. Begitu dua tangannya meraih, tahu-tahu pundak kedua Tosu sudah terpegang olehnya, katanya dengan tertawa:
“Kita belum pernah kenal, kenapa saling labrak? Kepandaian kalian boleh dikatakan jago pedang kelas satu di sini. Bagaimana kalau duduk dulu dan kita ngobrol.”
Cara memegang Hoat-ong biasa saja, tetapi ternyata sukar dielakkan Ci-peng berdua, mereka merasa ditindih tenaga yang maha kuat. Cepat mereka mengerahkan tenaga dalam untuk melawan dan tidak berani menjawab.
Sementara itu pasukan Mongol yang menyerbu masuk telah mengepung. Perwira yang memimpin adalah seorang Cian-hu-tiang (komandan seribu orang), dia kenal Kim-lun Hoat-ong sebagai Koksu atau Imam Negara yang sangat dihormati oleh pangeran Kubilai, cepat ia mendekati dan memberi hormat sambil menyapa:
“Koksuya, kedua Tosu ini mencuri kuda perang dan memukul anggota tentara kita, harap Koksuya suka...” baru sampai di sini, tiba-tiba saja dia mengamat-amati In Ci-peng, lalu berkata mendadak: “Hei, bukankah engkau ini In Ci-peng, In-totiang?”
Ci-peng mengangguk dan tidak menjawab, dia merasa tidak kenal dengan perwira Mongol yang menegurnya ini. Pegangan Hoat-ong dikendurkan, diam-diam ia pun mengakui Iwekang kedua Tosu itu ternyata cukup hebat meski usia mereka baru 40-an. Perwira Mongol itu lantas berkata pula dengan tertawa:
“Apakah In-totiang sudah pangling kepadaku? 19 tahun yang lampau kita pernah berkumpul di gurun pasir dan makan panggang kambing, masa sudah lupa? Namaku Sato!”
Sesudah mengamati dan mengingat sejenak, Ci-peng menjadi girang dan berseru: “Aha, betul, betul! Sekarang kau pelihara berewok lebat sehingga aku pangling.”
“Selama ini kami berjuang kian kemari hingga rambut dan jenggot putih semua, tapi wajah Totiang ternyata tak banyak berubah,” ujar Sato dengan tertawa, “Pantas saja Jengis Khan Agung kami mengatakan kaum beragama seperti kalian ini hidup laksana malaikat dewata.” Lalu dia berpaling kepada Hoat-ong dan menutur: “Koksuya, In-totiang ini dahulu pernah berkunjung ke negeri kami atas undangan Jengis Khan Agung, kalau dibicarakan kita adalah orang sendiri.”
Hoat-ong manggut-manggut, lalu melepaskan pundak Ci-peng berdua. Supaya diketahui, dulu waktu Jengis Khan mulai jaya, dia pernah mengundang kaum Tosu dari Coan-cin-kau ke Mongol agar mengajarkan ilmu panjang umur kepadanya. Untuk itu Khu Ju-ki telah berangkat ke sana dengan membawa 18 anak muridnya, In Ci-peng yang merupakan murid tertua dengan sendirinya ikut serta. Untuk mereka, Jengis Khan sudah mengutus 200 prajurit sebagai pengawal rombongan Khu Ju-ki, tatkala itu Sato hanya seorang prajurit biasa saja dan termasuk dalam pasukan pengawal, sebab itulah dia kenal In Ci-peng.
Selama 20 tahun Sato terus naik pangkat sehingga menjadi Cian-hu-tiang dan secara kebetulan bertemu kembali dengan Ci-peng, tentu saja ia amat gembira. Segera ia suruh menyediakan makanan untuk menghormati Ci-peng, urusan kuda serta memukuli prajurit Mongol dengan sendirinya tak diusut lagi. Kim-lun Hoat-ong juga pernah mendengar nama Khu Ju-ki dan mengetahui pula bahwa ia adalah tokoh nomor satu Coan-cin-pay. Sekarang dilihatnya kepandaian Ci-peng berdua juga tidak lemah, dia mengakui ilmu pedang dan Iwekang Coan-cin-pay memang lihay.
Dalam pada itu Sato sibuk menanyai Ci-peng mengenai kesehatan ke-18 murid Coan-cin-kau yang lainnya. Bicara kejadian pada masa lalu, Sato menjadi bersemangat dan sangat gembira. Pada saat itulah tiba-tiba masuk seorang perempuan muda berbaju putih. Serentak Hoat-ong, Nimo Singh, Ci-peng dan Ci-keng terkesiap. Ternyata pendatang ini adalah Siao-liong-li adanya! Di antara orang-orang itu hanya Nimo Singh yang tidak punya rasa dendam, segera dia menegur.
“Hai, pengantin perempuan Cui-sian-kok, baik-baik sajakah kau?”
Siao-liong-li hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Dia pilih meja di pojok sana lantas duduk tanpa menggubris orang lain. Dia memberi pesan seperlunya kepada pelayan agar membuatkan santapan baginya. Air muka Ci-peng berdua menjadi pucat dan hati berdebar. Hoat-ong juga kuatir kalau Yo Ko menyusul tiba. Selamanya dia tidak gentar apa pun kecuali permainan ganda ilmu pedang Yo Ko dan Siao-liong-li. Begitulah ketiga orang memikirkan urusan sendiri dan tidak bicara lagi melainkan makan saja. Ci-peng berdua sebenarnya sudah kenyang makan, tetapi kalau mendadak terdiam bisa jadi akan menimbulkan curiga orang lain, terpaksa mereka makan lagi tanpa berhenti agar mulut tidak menganggur.
Hanya Sato saja yang tetap gembira ria. Dia tanya Ci-peng: “ln-totiang, apakah engkau pernah bertemu dengan Pangeran kami?”
Ci-peng hanya menggeleng saja tanpa bicara. Sato lantas menyambung: “Wah, pangeran kita ini sungguh pintar dan bijaksana, beliau adalah putera keempat pangeran Tulai, setiap prajurit sayang padanya, sekarang aku hendak menghadap beliau untuk memberi laporan keadaan, kalau kedua Totiang tiada urusan lain, bagaimana kalau ikut serta menghadap beliau?”
Ci-peng sedang bingung, maka tanpa pikir ia menggeleng, tapi pikiran Ci-keng lantas tergerak. Dia tanya Hoat-ong:
“Apakah Taysu juga hendak menghadap Ongya?”
“Ya,” jawab Hoat-ong. “Pangeran Kubilai adalah pahlawan yang tidak ada bandingannya di jaman ini, kalian harus berkunjung dan berkenalan dengan beliau.”
“Baiklah,” cepat Ci-keng menanggapi. “Kami akan ikut Taysu dan Sato-ciangkun ke sana.” kakinya menyenggol perlahan kaki Ci-peng serta mengedipinya.
Sesunguhnya Ci-peng lebih cerdik dari pada Ci-keng, cuma saja begitu melihat Siao-liong-li seketika dia menjadi linglung. Selang sejenak barulah dia ingat apa maksud tujuan Ci-keng, rupanya hendak meloloskan diri dari kejaran Siao-liong-li dengan bernaung di bawah lindungan Kim-lun Hoat-ong.
Begitulah setelah makan, berturut-turut semuanya berangkat. Diam-diam Hoat-ong merasa lega karena selama ini Yo Ko tidak kelihatan muncul, pikirnya: “Coan-cin-kau adalah sekte agama berpengaruh di daratan Tionggoan, kalau saja dapat dirangkul tentu akan banyak bermanfaat bagi pihak Mongol. Apa lagi tujuannya ke Siang-yang telah mengalami kegagalan total, jika dapat mengajak pulang kedua Tosu Coau-cin-kau ini kan juga suatu jasa besar. Sementara itu hari sudah mulai gelap, mereka terus melarikan kuda dengan cepat. Ketika di belakang terdengar pula derap kaki binatang, Ci-keng menoleh dan samar-samar kelihatan Siao-liong-li masih mengikuti dari jauh dengan menunggang seekor keledai.
Kim-lun Hoat-ong juga merinding sesudah mengetahui Siao-liong-li membuntuti mereka. Diam-diam dia pun heran mengapa Siao-liong-li berani mengikutinya sendirian, padahal satu lawan satu jelas nona itu pasti bukan tandinganku, jangan-jangan dia membawa bala bantuan tersembunyi? Demikianlah Hoat-ong menjadi sangsi, padahal kalau sekarang dia berani menyongsong kedatangan Siao-liong-li kemudian melabraknya, tentu nona itu akan celaka, kalau tidak terbunuh juga tertawan. Tapi Hoat-ong baru saja berkenalan dengan Ci-peng berdua dari Coan-cin-pay, ia menjadi kuatir jika kebetulan kecundang, hal ini tentu akan menurunkan pamornya, sebab itulah dia lebih suka cari selamat dan pura-pura tidak tahu penguntitan Siao-liong-li.
Setelah menempuh perjalanan setengah malaman, sampai di suatu hutan, Sato memerintahkan pasukan berhenti mengaso, masing-masing duduk istirahat di bawah pohon. Tampaklah Siao-liong-li juga turun dari keledainya lalu duduk di sana dalam jarak beberapa puluh meter jauhnya. Semakin misterius gerak-gerik si nona, semakin menimbulkan curiga Kim-lun Hoat-ong sehingga tak berani sembarangan bertindak. Yang paling ketakutan tentu saja In Ci-peng, memandang saja dia tidak berani. Setelah cukup mengaso, kemudian pasukan berangkat lagi.
Sesudah jauh meninggalkan hutan, terdengar suara “keteplak-keteplak” yang samar-samar, ternyata Siao-liong-li tetap menguntit di belakang dengan keledainya. Sampai pagi mendatang, Siao-liong-li tetap mengintil di belakang dalam jarak tetap.
Sementara itu rombongan sudah tiba di suatu tanah datar yang luas, sepanjang mata memandang tiada tampak suatu bayangan apa pun. Diam-diam timbul pikiran jahat Kim-lun Hoat-ong, ia membatin: “Sejak datang ke Tionggoan belum pernah aku bertemu tanding, tapi akhir-akhir ini berturut-turut dikalahkan oleh ilmu pedang gabungan Yo-Ko dan nona ini. Sekarang dia terus membuntuti aku, tentu dia mempunyai maksud buruk. Sebelum dia bertindak, kenapa tidak kubinasakan dia dahulu secara tak terduga olehnya, seumpama nanti bala bantuan tiba tentu juga tak akan keburu menoIongnya. Dan jika nona ini sudah mati, di dunia ini tiada orang lain lagi yang mampu melebihi aku.”
Setelah mengambil keputusan, baru saja dia mau menahan kudanya untuk menanti datangnya Siao-liong-li, tiba-tiba dari depan ada suara gemuruh datangnya serombongan orang disertai debu mengepul dan suara keleningan kuda atau unta.
“Wah, terlambat! Jika tahu bala bantuannya akan datang sekarang, tentu sejak tadi sudah kubinasakan dia,” demikian Hoat-ong membatin karena tidak sempat lagi menindak Siao-liong-li.
Pada saat lain mendadak terdengar Sato berseru menyatakan herannya. Waktu Hoat-ong melongok jauh ke sana, terlihat rombongan yang datang itu amat aneh, seluruhnya empat ekor unta tanpa penunggang, pada sisi kanan punggung unta pertama terpancang sebuah bendera besar, di ujung tiang bendera itu ikut berkibar pula tujuh ikat bulu putih, itulah panji pengenal Kubilai.
“Barang kali Ongya yang datang?” guman Sato sambil keprak kudanya menyongsong ke depan. Kurang lebih beberapa puluh meter lagi, Sato turun dari kudanya dan berdiri di tepi jalan dengan hormat.
Kim-lun Hoat-ong merasa tidak leluasa lagi untuk membunuh Siao-liong-li jika betul Kubilai yang datang. Dia hendak menjaga harga diri, sebab kalau sampai dilihat Kubilai bahwa dia membunuh seorang perempuan muda, tentu dia akan dipandang hina. Sementara itu keempat unta tadi masih terus berlari cepat mendatangi, namun Hoat-ong tidak turun dari kudanya melainkan perlahan-lahan memapak ke depan. Terlihat di tempat luang antara keempat ekor unta itu ada seseorang yang duduk terapung. Orang itu berjenggot dan beralis putih dengan wajah selalu tersenyum, kiranya adalah Ciu Pek-thong yang baru mengacaukan Cui-sian-kok.
Terdengar Ciu Pek-thong berteriak dari jauh: “Bagus, bagus sekali! Hwesio gede dan si cebol hitam, kita berjumpa kembali di sini, ada lagi nona cilik yang cantik molek itu!”
Hoat-ong sangat heran, ia tidak mengerti mengapa Cui Pek-thong bisa duduk terapung di tengah-tengah keempat unta itu, tetapi sesudah dekat barulah dia tahu duduknya perkara. Kiranya di antara unta-unta itu terbentang beberapa utas tali yang ujungnya terikat pada punuk tiap-tiap unta dan di tengah-tengah persilangan tali itulah Ciu Pek-thong duduk.
Ciu Pek-thong adalah Sute cikal-bakal Coan-cin-kau, yaitu Ong Tiong-yang yang pernah menjalin cinta dengan nenek guru Siao-liong-li. Kalau bicara tentang kedudukan di Coan-cin-kau, dialah yang paling top, tetapi selangkah pun dia tidak pernah menginjak Tiong-yang-kiong dan jarang pula berhubungan dengan Ma Giok, Khu Ju-ki dan lain-lain. Sebab itulah Ci-peng dan Ci-keng tidak mengenalnya.
Meski mereka pernah mendengar cerita dari guru masing-masing bahwa mereka memiliki seorang Susiokco (kakek guru muda), tetapi sudah lama tidak ada kabar beritanya, besar kemungkinan sudah meninggal dunia, maka sekarang mereka pun tidak menduga bahwa tokoh aneh ini adalah sang Susiokco yang maha sakti itu.
BegituIah Hoat-ong mengernyitkan dahinya melihat kelakuan Ciu Pek-thong. Dia pikir ilmu silat orang ini teramat tinggi dan sukar dilawan, maka ia coba menanyainya:
“Apakah Ongya berada di belakang sana?”
“Kira-kira 40 li di belakang sana adalah perkemahannya,” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa sambil menuding ke belakang. “Ehh, Toa-hwesio, kunasehati kau. Sebaiknya kau jangan pergi ke sana.”
“Sebab apa?” tanya Hoat-ong heran.
“Sebab dia sedang marah-marah. Kalau kau ke sana, mungkin kepalamu yang gundul itu akan dipenggal olehnya,” ujar Pek-thong.
“Ngaco-balo!” omel Hoat-ong dengan mendongkoI. “Sebab apa Ongya marah?”
Sambil menuding panji tanda pengenal Kubilai, Ciu Pek-thong berkata dengan tertawa: “Lihat ini, panji kebesaran Ongyamu kucuri, mustahil dia tidak marah-marah.”
Hoat-ong meIengak. Diam-diam ia pun percaya apa yang dikatakan itu, ia yakin Ciu Pek-thong pasti tidak berdusta. Segera ia tanya:
“Untuk apa kau mencuri panji kebesaran Ongya?”
“Kau kenal Kwe Ceng bukan?” tanya Pek-thong.
“Ya, ada apa?” Hoat-ong mengangguk.
“Dia adalah saudara mudaku.” tutur Pek-thong. “Sudah belasan tahun aku tidak bertemu dengannya. Aku amat kangen padanya, maka aku buru-buru hendak menjenguk ke sana. Kudengar dia sedang berperang dengan orang Mongol di Siang-yang, maka aku sengaja mencuri panji kebesaran pangeran Mongol ini sebagai kado untuk saudara angkatku.”
Hoat-ong terkejut, dia pikir urusan bisa celaka. Sedang Siang-yang belum dapat dibobol, sekarang panji kebesaran panglimanya direbut musuh, hal ini teramat memalukan.
“Hmm, aku harus mencari akal merampas kembali panji ini.”
Mendadak terdengar Ciu Pek-thong membentak, empat ekor unta itu terus bergerak dan berbondong-bondong berlari ke sana, setelah mengitar satu lingkaran, lalu berlari kembali. Panji besar itu berkibar tertiup angin, Ciu Pek-thong berdiri menegak di tengah persilangan tali, dengan tangan memegang tali kendali keempat unta, lagaknya mirip panglima besar saja.
TARUHAN JEBAKAN
Dengan berseri-seri ia melarikan kawanan unta. Sesudah dekat cambuknya berkelebat dan berbunyi nyaring.
“Tarrr...!”
Serentak unta itu berhenti, entah dengan cara bagaimana Ciu Pek-thong ternyata dapat mengendalikan unta itu menjadi sangat penurut.
“Toa-hwesio, bagus tidak barisan unta pimpinanku ini?” tanya Pek-thong dengan tertawa.
“Bagus sekali!” jawab Hoat-ong sambil mengacungkan ibu jarinya, akan tetapi diam-diam dia sedang memikirkan cara bagaimana merebut kembali panji itu.
Tiba-tiba Ciu Pek-thong mengangkat tangannya dan berseru: “Toa-hwesio, nona cilik, Lo wan-tong mau berangkat!”
Mendengar sebutan ‘Lo-wan-tong’, serentak Ci-peng dan Ci-keng berseru: “Susiokco!” Berbareng mereka pun melompat turun dari kudanya.
“Apakah ini Ciu-locianpwe dari Coan-cin-pay?” tanya Ci-peng.
Biji mata Ciu Pek-thong tampak berputar-putar, lalu menjawab: “Hmm, ada apa? Kalian ini anak murid ‘hidung kerbau’ yang mana?”
Dengan hormat Ci-peng menjawab: “Thio Ci-keng murid Giok-yang-cu Ong-totiang dan Tecu sendiri In Ci-peng murid Tiang-jun-cu Khu-totiang.”
“Huh, Tosu kecil Coan-cin-kau semakin lama semakin tak keruan, tampaknya kalian juga tidak becus,” dengus Pek-thong. Tiba-tiba kedua kakinya memancal ke depan, sepasang sepatunya menyambar ke muka Ci-peng berdua.
Ci-keng terkejut, cepat dia hendak menangkapnya. Tapi Ci-peng sudah yakin orang tua ini pasti Ciu Pek-thong adanya, ia pikir kalau Susiokco mau memberi hukuman, betapa pun tidak boleh menghindar apa lagi tenaga sambaran sepatu itu tampaknya juga tidak keras, kalau kena rasanya tidak terlalu sakit, karena itulah ia tidak ambil pusing sambaran sepatu dan tetap memberi hormat. Di luar dugaan, pada saat sepatu itu menyambar sampai di depan muka Ci-peng berdua, sekonyong-konyong sepatu itu dapat memutar balik. Tangan Ci-keng menangkap tempat kosong, sementara kedua buah sepatu masuk kembali ke kaki Ciu Pek-thong.
Meski pun perbuatan Ciu Pek-thong itu menyerupai permainan jahil, tapi kalau tidak memiliki tenaga dalam yang maha sakti pasti tidak bisa melakukannya. Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh sudah pernah menyaksikan Anak Tua Nakal itu mempermainkan orang di kemah Kubilai dengan pura-pura menimpukkan ujung tombak, maka mereka tidak merasa heran, sebab dasarnya sama saja seperti permainan sepatu terbang ini.
Akan tetapi Ci-keng menjadi amat kaget tak terhingga. Dengan kepandaiannya sekarang, betapa pun lawan menyerangnya dengan senjata rahasia pasti dapat ditangkapnya tanpa meleset, siapa tahu sebuah sepatu butut yang tampaknya menyambar tiba dengan perlahan itu ternyata tidak dapat ditangkapnya. Keruan ia tidak berani ragu lagi, segera ia ikut menyembah dan memperkenalkan namanya.
“Ha-ha-ha,” Ciu Pek-thong tertawa. “Penilaian Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sungguh rendah, mengapa menerima murid-murid tak becus begini? Sudahlah, siapa yang minta disembah kalian?” Setelah itu mendadak dia membentak: “Serbu!” serentak keempat ekor unta membedal cepat ke depan.
Namun secepat burung terbang Hoat-ong sudah melayang ke sana lantas menghadang di depan kawanan unta sambil berseru:
“Nanti dulu!” Kedua tangannya menahan batok kepala dua ekor unta yang di depan, seketika unta yang sedang berlari itu dapat dihentikan dan bahkan didorong mundur beberapa langkah.
Ciu Pek-thong menjadi marah, teriaknya: “Toa-hwesio, apakah kau mengajakku berkelahi? Sudah belasan tahun Lo-wan-tong tidak menemukan tandingan, kini kepalanku memang sedang gatal, mari kita coba-coba beberapa jurus!”
Sifat Ciu Pek-thong memang keranjingan ilmu silat, semakin tua bukannya semakin loyo, tapi kepandaiannya semakin tinggi sehingga tidak ada seorang pun yang berani bergebrak dengannya. Tetapi dia pun tahu bahwa ilmu silat Kim-lunHoat-ong cukup lihay dan dapat diajak berkelahi, maka segera dia menggosok kepalan dan ingin bergebrak. Namun Hoat-ong meng-goyang tangannya sambil berkata:
“Tidak, selamanya aku tidak sudi bergebrak dengan manusia yang tidak tahu malu. Kalau kau memaksa, silakan kau pukul saja dan pasti takkan kubalas.”
Tentu saja Pek-thong menjadi marah, damperatnya: “Mengapa kau berani menganggap aku manusia tidak tahu malu?”
“Habis, sudah jelas kau tahu aku tidak berada di tempat, kau mencuri panji kebesaran ini, apa namanya perbuatanmu ini kalau bukan tidak tahu malu?” jawab Hoat-ong. “Huh, kau merasa bukan tandinganku, maka ketika aku pergi, kesempatan baik lantas kau gunakan. He-he, Ciu Pek-thong, kau benar-benar tidak punya muka.”
“Baik, aku dapat menandingi kau atau tidak mari kita berkelahi saja dan segera dapat diketahui,” tantang Pek-thong.
Hoat-ong sengaja menggeleng dan menjawab. “Sudah kukatakan aku tak sudi bertempur dengan manusia tak tahu malu, kau tidak dapat memaksaku. Kepalanku cukup terhormat, jika menghantam badan manusia tidak tahu malu, kepalanku bisa berbau busuk dan bau busuknya takkan hilang selama 3 tahun 3 bulan.”
Ciu Pek-thong tambah murka, teriaknya: “Habis bagaimana menurut kau?!”
“Kau harus menyerahkan kembali panji itu padaku kemudian malam nanti boleh kau coba-coba mencurinya lagi,” ujar Hoat-ong. “Aku akan berjaga di markas sana, dan kau boleh merebutnya terang-terangan atau mencurinya gelap-gelapan, asalkan kau dapat memegangnya lagi, segera aku menyerah dan mengakui kau memang pahlawan besar dan ksatria terhormat!”
Watak Ciu Pek-thong paling kaku, mudah dibakar, sesuatu urusan, semakin sulit semakin ingin diiakukannya. Segera dia cabut panji besar itu terus dilemparkan kepada Hoat-ong sambil berseru:
“Baik, terimalah, malam nanti akan kucuri kembali.”
Begitu tangan Hoat-ong menangkap panji itu, segera diketahui tenaga lemparan Ciu Pek-thong sangat kuat. Cepat dia bertahan, tetapi tidak urung tergetar mundur dua-tiga tindak. Karena pegangan Hoat-ong pada unta dilepaskan, serentak keempat unta itu berjingkrak terus membedal lagi ke depan. Semua orang mengikuti bayangan Ciu Pek-thong dengan barisan unta yang aneh itu hingga jauh dan menghilang.
Sejenak Hoat-ong tertegun, kemudian dia serahkan panji kebesaran itu kepada Sato dan mengajaknya berangkat Iagi. Diam-diam dia pun merenungkan bagaimana caranya harus menghadapi Lo-wan-tong yang tindak tanduknya aneh dan sukar diraba itu. Tapi dia tak dapat menemukan akal yang bagus. Ketika tanpa sengaja ia menoleh, dilihatnya Ci-peng dan Ci-keng sedang bicara bisik-bisik sambil beberapa kali berpaling dan melirik Siao-liong-li, tampaknya kedua Tosu itu sangat takut. Tergerak hati Hoat-ong, ia pikir jangan-jangan pengintilan nona itu ditujukan kepada kedua Tosu ini. Segera dia coba memancing dengan kata-kata:
“In-toheng, apakah kau memang kenal nona Liong itu?”
Air muka Ci-peng tampak berubah dan mengiakan perlahan. Hoat-ong tambah yakin akan dugaan tadi, segera dia tanya lagi:
“Kalian telah berbuat salah padanya dan dia hendak mencari perkara kepada kalian, begitu bukan? Nona itu memang sangat lihay, jika kalian memusuhi dia, lebih banyak celaka dari pada selamatnya.”
Sudah tentu Hoat-ong tidak tahu menahu mengenai pertengkaran antara kedua Tosu itu, cuma dilihatnya kedua orang itu tampak gelisah dan berbisik-bisik, maka dia pun sengaja memancingnya dan dugaannya memang tidak meleset. Akan tetapi Ci-keng menanggapi:
“Tapi nona itu pun pernah berselisih dengan Taysu, malah Taysu pernah kecundang di tangannya, masa kekalahan itu tidak Taysu balas?”
“Dari mana kau tahu?” dengus Hoat-ong.
“Kejadian itu tersiar di seluruh jagat, siapa yang tidak tahu?” ujar Ci-keng.
Diam-diam Hoat-ong mengakui kelihayan kedua Tosu itu. Ia bermaksud hendak menakuti mereka, ternyata Ci-keng berbalik hendak memperalatnya. Rasanya urusan ini lebih baik dibicarakan terus terang saja. Maka ia pun berkata:
“Nona Liong itu hendak membunuh kalian, akan tetapi kalian merasa bukan tandingannya, karena itu kalian ingin perlindunganku. Begitu, bukan?”
Dengan marah Ci-peng menjawab: “Biar pun mati aku tidak perlu minta perlindungan orang, apa lagi Taysu juga belum tentu bisa mengalahkan dia.”
Melihat sikap Ci-peng yang tegas dan berani, Hoat-ong menjadi sangsi, jangan-jangan perkiraannya tidak betul. Tapi dengan tertawa dia berkata:
“Jika dia main berganda dengan Yo Ko, tentu saja ilmu pedang mereka cukup lihay. Tetapi sekarang dia sendirian, kaIau mau aku dapat membinasakan dia dengan mudah.”
“Belum tentu bisa,” ujar Ci-keng sambil menggeleng. “Setiap orang Kangouw sama tahu bahwa Kim-lun Hoat-ong sudah pernah dikalahkan oleh Siao-liong-li!”
“Ha-ha, sudah lama aku bertapa, tiada gunanya kau membakar aku dengan perkataanmu itu!” jawab Hoat-ong.
Dari kata-kata Ci-keng itu kini dia yakin benar bahwa Tosu itu memang berharap dirinya bergebrak dengan Siao-liong-li. Sebelum Ciu Pek-thong muncul tadi sesungguhnya ada maksud Kim-lun Hoat-ong untuk membinasakan Siao-liong-li, tetapi sekarang dia telah berjanji dengan Ciu Pek-thong agar mencuri lagi panji kebesaran Kubilai, untuk itu tenaga kedua Tosu rasanya ada gunanya, jika Siao-liong-li dibunuh lebih dulu berarti hilanglah alat pemerasnya terhadap kedua Tosu ini. Maka dengan sikap tak acuh dia lantas berkata:
“Kalau begitu baiklah aku berangkat lebih dahulu, nanti kalau kalian sudah selesaikan urusan nona itu, silakan berkunjung ke kemah Ongya.”
Habis berkata dia terus melarikan kudanya ke depan, jelas tujuannya agar kedua Tosu itu tidak mengikuti dia. Tentu saja Ci-keng menjadi gelisah. Kalau paderi Tibet itu pergi dan Siao-liong-li memburu, entah cara bagaimana dirinya akan disiksa oleh nona itu, apa lagi kalau ingat betapa sakitnya sengatan tawon di Cong-lam-san dahulu, tanpa terasa nyalinya menjadi pecah. Tanpa memikirkan harga diri lagi segera ia melarikan kudanya menyusul ke depan sambil berseru:
“Nanti dulu, Taysu! Jalanan di sini kurang kupahami, jika sudi memberi petunjuk tentu budi pertolonganmu takkan kulupakan!”
Hoat-ong tertawa geli mendengar seruan Ci-keng, dia pikir tentu Tosu ini sudah bersalah pada nona Liong itu sehingga ketakutan sedemikian rupa. Ada pun Tosu she In itu tampak adem ayem saja, agaknya tidak tersangkut dalam persoalan mereka. Dengan tertawa dia lantas menjawab:
“Baiklah, bisa jadi nanti aku pun perlu bantuanmu.”
“Jika Taysu memerlukan tenagaku, pasti akan kulakukan,” cepat Ci-keng menanggapi.
Hoat-ong lantas meneruskan perjalanan berjajar dengan Ci-keng sambil menanyai keadaan Coan-cin-kau sekarang yang dijawab seperlunya saja oleh Ci-keng. Dengan pikiran linglung Ci-peng mengikut dari belakang tanpa memperhatikan apa yang dibicarakan kedua orang itu.
Sementara itu Hoat-ong berkata: “Konon Ma-totiang telah mengundurkan diri dari tugasnya dan menyerahkan jabatan ketua kepada Khu-totiang yang kabarnya juga sudah tua, kukira jabatan ketua berikut tentu akan jatuh pada gurumu, Ong-totiang.”
Agaknya perkataan Hoat-ong itu rada menyentuh isi hati Ci-keng, mendadak air mukanya berubah, jawabnya:
“Usia guruku juga sudah lanjut sehingga akhir-akhir ini beliau jarang mengurusi pekerjaan umum, besar kemungkinan jabatan ketua nanti akan dilanjutkan oleh In-sute ini.”
Melihat air muka Ci-keng menampilkan rasa penasaran, dengan suara lirih Hoat-ong coba membakarnya:
“Tampaknya ilmu silat In-toheng juga tak melebihi Thio-toheng sendiri, mengenai kecerdikan dan kecekatan kerja tentu juga selisih jauh dengan dirimu, sebab itu jabatan ketua yang penting itu seharusnya diserahkan kepadamu.”
Hal ini sebenarnya telah terpendam selama beberapa tahun dalam hati Ci-keng, sekarang Hoat-ong yang membeberkan isi hatinya, tentu saja rasa dendam dongkolnya semakin kentara. Sebenarnya secara Iisan In Ci-peng telah ditetapkan sebagai pejabat ketua yang akan datang. Semula Ci-keng hanya penasaran dan iri saja, tetapi sejak dia mengetahui kesalahan Ci-peng, segera dia berdaya upaya hendak merebut kedudukannya.
Ci-keng yakin kalau dia membeberkan rahasia In Ci-peng yang diam-diam jatuh cinta dan bahkan menodai Siao-liong-li, akibatnya Ci-peng pasti akan dihukum mati. Tetapi dia pun menyadari bahwa dirinya kurang disukai para paman gurunya, antar sesama saudara seperguruan juga banyak yang tidak cocok, ia pikir akhirnya jabatan ketua itu takkan jatuh padanya, sebab itulah sampai sekarang ia belum membongkar dosa Ci-peng.
Dari gerak-gerik dan sikap kedua Tosu ini, Hoat-ong dapat menerka jalan pikiran Ci-keng, ia pikir: “Kalau kubantu dia merebut jabatan ketua, tentu kelak dapat kuperalat dengan baik. Pengaruh Coan-cin-kau cukup besar, maka tentu akan bermanfaat bagi penyerbuan Ongya ke selatan, bagiku berarti jasa besar dan mungkin lebih besar dari pada jasa membunuh Kwe Ceng.” Begitulah Hoat-ong merancang tindakan selanjutnya.
Menjelang lohor sampailah rombongan di markas besar Kubilai. Sebelum masuk ke kemah, Hoat-ong coba berpaling, Siao-liong-li dengan keledainya berdiri jauh di sana dan tidak mendekat. Dia pikir dengan adanya nona itu, mustahil kedua Tosu ini takkan masuk perangkapku.
Sesudah berhadapan dengan Kubilai, ternyata pangeran Mongol itu sedang uring-uringan berhubung panji kebesarannya dicuri orang. Padahal panji itu adalah simbol kebesaran dan kepemimpinan, maju mundurnya pasukan selalu mengikuti arah kibaran panji, tapi sekarang dicuri orang tanpa berdaya, hal ini sama saja mengalami kalah perang besar-besaran. Kubilai girang sekali melihat Kim-lun Hoat-ong telah kembali, cepat ia berdiri menyambut. Kubilai memang seorang pemimpin berbakat lagi bijaksana melebihi sang kakek, yakni Jengis Khan. Untuk sementara dia kesampingkan urusan kehilangan panji itu, sebaliknya lantas menerima Ci-peng dan Ci-keng yang diperkenalkan oleh Hoat-ong sebagai tanda simpatiknya terhadap kaum ksatria, Segera ia menyuruh menyediakan perjamuan.
In Ci-peng tetap lesu Iinglung, segenap pikirannya hanya melayang kepada Siao-liong-li. Sebaliknya Ci-keng adalah manusia yang kemaruk kedudukan, melihat raja Mongol sedemikian menghormatinya, dia menjadi kegirangan. Sama sekali Kubilai tidak menyinggung mengenai kegagalan usaha Hoat-ong membunuh Kwe Ceng, dia hanya terus memuji kesetiaan Nimo Singh pada tugasnya sehingga kedua kakinya menjadi korban. Maka dalam perjamuan ini Nimo Singh diberi tempat utama dan berulang-ulang mengajak minum. Dengan demikian bukan saja kesetiaan Nimo Singh menjadi lebih bulat, orang lain juga merasakan budi kebaikan pangeran Mongol itu sungguh sangat luhur.
Selesai perjamuan Hoat-ong mengiringi Ci-peng dan Ci-keng mengaso ke perkemahan di samping sana. Ci-peng sudah lelah lahir batin, maka begitu membaringkan diri dia segera tertidur pulas.
“Thio-toheng, dari pada iseng, marilah kita jalan keluar,” ajak Hoat-ong.
Mereka lantas berjalan keluar kemah. Dari jauh kelihatan Siao-liong-li duduk di bawah pohon dan keledainya juga tertambat di sana, tanpa terasa air muka Ci-keng berubah lagi. Akan tetapi Hoat-ong pura-pura tidak tahu, malahan dia sengaja mengajak ngobrol dan menanyai berbagai keadaan Coan-cin-kau. Lantaran sudah menganggap Hoat-ong sebagai teman karibnya, Ci-keng lantas menjawab dengan terus terang.
Sambil bicara sambil berjalan terus ke depan, lambat-laun mereka sampai di tempat yang sepi. Tiba-tiba Hoat-ong menghela napas dan berkata:
“Thio-toheng, sungguh tak mudah Coan-cin-kau bisa berkembang sebaik ini, tapi terus terang ingin kukatakan bahwa para paman gurumu itu mengapa begitu gegabah untuk menyerahkan jabatan ketua yang penting itu kepada In-toheng?”
Sesungguhnya sudah lama Ci-keng menginginkan kedudukan itu, akan tetapi dia sendiri menyadari harapannya tipis, maka dia pun menghela napas demi mendengar Hoat-ong menyebut hal itu, lalu dia pun memandang sekejap ke arah Siao-liong-li.
“Urusan nona Liong itu adalah soal kecil, asalkan aku turun tangan, dengan mudah saja dapat kubereskan dia dan kau pun tak perlu kuatir lagi,” kata Hoat-ong, “Justru yang terpenting adalah jabatan ketua agama kalian itu tidak boleh jatuh ke tangan orang yang kurang tepat.”
“Apa bila Taysu dapat memberi petunjuk jalan yang baik, selama hidup aku rela menuruti perintahmu,” jawab Ci keng.
Tentu saja janji inilah yang diharap-harapkan oleh Kim-lun Hoat-ong. Segera ia menegas:
“Kata-kata seorang lelaki sejati harus ditepati dan tidak boleh menyesal di belakang hari.”
“Sudah tentu,” jawab Ci-keng.
“Baiklah, dalam waktu tiga bulan akan kuusahakan kau diangkat menjadi ketua Coan-cin-kau,” kata Hoat-ong.
Girang sekali Ci-keng, tapi mengingat urusan ini sesungguhnya sangat suIit, mau tak mau dia menjadi ragu-ragu.
“Apakah kau percaya?” tanya Hoat-ong.
“Percaya, pasti percaya,” jawab Ci-keng. “Kepandaian Taysu maha sakti, tentu engkau mempunyai daya upaya yang bagus.”
“Sebenarnya aku tidak ada sangkut paut apa pun dengan agama kalian, siapa pun yang menjadi ketuanya juga sama saja bagiku, tetapi entah mengapa, baru berkenalan rasanya aku cocok dengan kau dan ingin membantu,” kata Hoat-ong dengan tertawa, “Maka langkah pertama kita harus diusahakan ada seorang kuat di dalam agamamu yang akan menjadi pendukungmu. Saat ini siapakah yang paling tinggi menurut angkatannya di agamamu?”
“Ciu-susiokco yang kita jumpai di tengah jalan tadi,” jawab Ci-keng.
“Benar, kalau dia membantu kau dengan sepenuh tenaga, maka tiada seorang pun yang dapat menandingi kau lagi,” ujar Hoat-ong.
“Betul, apa yang dikatakan Susiokco sudah tentu mempunyai bobot dan harus diturut oleh Ma-supek, Khu-supek dan yang lainnya!” kata Ci-keng dengan girang, “Tapi dengan cara bagaimana Taysu akan membuat Ciu-susiokco memihak diriku?”
“Tadi dia telah berjanji padaku akan datang ke sini untuk mencuri panji kebesaran Ongya,” tutur Hoat-ong, “Nah, menurut pendapatmu, dia akan datang atau tidak?”
“Tentu saja datang,” jawab Ci-keng.
“Tetapi panji ini tidak kita kerek pada tiangnya melainkan kita sembunyikan di tempat yang dirahasiakan. Di tengah perkemahan yang beratus buah ini, walau pun Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian setinggi langit takkan menemukan panji itu hanya dalam semalam saja.”
“Ya, memang,” ujar Ci-keng, tapi dalam hati dia anggap cara bertaruh begitu kurang jujur, andaikan menang juga kurang terhormat.
“Tentunya kau anggap pertaruhan secara demikian kalau menang juga kurang terhormat begitu bukan?” tanya Hoat-ong tiba-tiba. “Tapi semua ini adalah demi kepentinganmu.”
Ci-keng jadi melenggong memandang Hoat-ong, lebih tidak paham seluk beluknya.
Hoat-ong menepuk perlahan pundak Ci-keng, dan berkata: “Begini, akan kukatakan padamu tempat penyimpanan panji itu, lalu dengan diam-diam kau memberi-tahukan kepada Ciu Pek-thong agar dia dapat menemukan panji itu, jadi kau akan berjasa besar baginya.”
“Benar, itu benar sekali, dengan demikian Ciu-susiokco pasti akan senang!” seru Ci-keng dengan girang. tetapi segera terpikir olehnya, katanya lagi: “Namun pertaruhan Taysu itu kan menjadi kalah?”
“Yang penting adalah persahabatan kita, soal kalah menang urusan pribadi bukan apa-apa bagiku,” kata Hoat-ong.
Tentu saja Ci-keng amat berterima kasih, katanya pula: “Budi kebaikan Taysu entah cara bagaimana harus kubalas.”
Hoat-ong tersenyum, katanya: “Asalkan kau sudah mendapatkan bantuan Ciu Pek-thong, lalu kubantu lagi dengan perencanaan yang lebih sempurna, dengan begitu jabatan ketua pasti akan jatuh di tanganmu.” Habis ini dia menuding bukit di sebelah sana dan berkata: “Marilah kita lihat-lihat ke bukit sana.”



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar