ads

Senin, 06 September 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 23

Watak Nimo Singh tidak sabaran, tanpa pikir dia terus berlari memutar ke belakang goa, maksudnya hendak mencegat musuh. Namun pikiran Hoat-ong lebih cermat, sesudah mendengarkan dengan teliti, dia merasa suara tangisan bayi cuma lirih tertahan saja dan tiada tanda-tanda semakin menjauh. Dia tahu pasti si Yo Ko sedang main gila hendak menipunya ke belakang goa, lalu anak muda itu akan menerjang keluar. Diam-diam ia mentertawai akal Yo Ko yang dangkal, ia pikir biar aku sembunyi saja di samping mulut goa, begitu keluar segera kumampuskan kalian.

Namun Yo Ko juga tidak kalah cerdiknya, kembali dia berteriak: “He, cepat Li-supek, bangsat gundul itu sudah pergi, mari kita lari keluar!” Setelah itu ia membisiki pula: “Marilah kita menjerit bersama untuk memancing dia masuk ke sini.”

Li Bok-chiu tidak tahu akal bulus apa yang sedang diatur oleh Yo Ko, tetapi dia tahu anak muda ini sangat licin, dia sendiri beberapa kali pernah dikibuli. Kalau dia sudah mengatur perangkap, rasanya pasti akan berhasil. Betapa pun ia mempunyai sandera bayi, asalkan Hoat-ong telah dihalau pergi akhirnya Yo Ko harus menukar si bayi dengan Giok-li-sim-keng. Maka ia lantas mengangguk tanda setuju, kedua orang segera menjerit berbareng:

“Aduh!”

Yo Ko pura-pura terluka parah dan merintih keras-keras, teriaknya: “Keparat, kenapa kau bertindak sekeji ini padaku?” Lalu ia mendesis dengan suara tertahan: “Lekas engkau berlagak jiwamu sedang terancam!”

Segera Li Bok-chiu melakukan permintaan Yo Ko, dia pun berteriak dengan nada murka:

“Bagus, biar aku mati di... di tanganmu, tetapi betapa pun kau bangsat kecil ini juga... juga harus mampus di tanganku,” ia membikin suaranya semakin lemah sehingga kalimat terakhir seakan diucapkan dengan napas terengah-engah.

Mendengar itu Hoat-ong girang, dia pikir kedua orang sedang berebut bayi dan mulai saling bunuh, tampaknya keduanya terluka parah. Dia menjadi kuatir si bayi ikut tewas, kalau terjadi begini berarti akan kehilangan alat pemeras terhadap Kwe Ceng. Tanpa pikir lagi ia menyingkirkan onggokan kayu dan rumput kering yang terbakar lalu menerjang ke dalam goa, tetapi baru dua-tiga langkah, mendadak telapak kaki kiri terasa sakit. Untunglah ilmu silatnya memang tinggi dan dapat bereaksi dengan cepat. Sebelum kaki menginjak sepenuhnya ke bawah, cepat kaki yang lain mengerahkan tenaga lantas melompat mundur lagi keluar goa. Waktu kaki menginjak tanah, terasa kaku kesemutan dan hampir saja jatuh terjungkal.

Dengan Iwekang-nya yang tinggi, biar pun kakinya dibacok beberapa kali takkan sempoyongah berdirinya, karena itu segera ia menyadari apa yang sudah terjadi, ia tahu telapak kakinya pasti tertusuk benda berbisa. Baru dia hendak membuka sepatu dan kaos kaki untuk memeriksa, dilihatnya Nimo Singh sudah putar balik dari belakang goa dan mengomel.

“Kurang ajar! Bangsat kecil itu berdusta, di belakang goa tiada lubang tembusan apa pun, Kwe Ceng dan isterinya masih di dalam goa.”

Hoat-ong tidak menanggapi apa pun, dia pun urung membuka sepatu, katanya: “Memang dugaanmu tidak salah, sudah sekian lama tidak ada suara, bisa jadi mereka pingsan semua oleh asap tebal tadi.”

Diam-diam Nimo Singh girang, ia pikir jasa menangkap Kwe Ceng sekali ini pasti akan jatuh di tangannya, ia pun tidak berpikir mengapa Kim-lun Hoat-ong tidak merebut jasa itu, tanpa bicara lagi ia putar senjata ular bajanya untuk menjaga diri, ia terus menerobos ke dalam goa. Ketiga buah jarum berbisa itu diatur oleh Yo Ko tepat di tengah jalan yang harus dilalui, tak peduli langkah orang yang akan masuk itu lebar atau cekak, salah satu jarum pasti akan diinjaknya.

Perawakan Nimo Singh sangat pendek dan langkahnya cekak, tetapi ia bertindak dengan cepat. Ketika kaki kanannya menginjak sebuah jarum, begitu terasa sakit dan belum sempat menarik kakinya, tahu-tahu kaki kiri sudah menginjak lagi pada jarum yang lain.

Negeri Thian-tiok (lndia) terkenal negeri berhawa panas, rakyat umumnya suka telanjang kaki, maka Nimo Singh juga tidak bersepatu, biar pun kulit telapak kakinya terlatih dan tebalnya seperti kulit banteng, tapi betapa tajamnya Peng-pok-sin-ciam, sedikitnya dua senti menancap ke dalam telapak kakinya.

Nimo Singh memang kuat dan perkasa, sedikit luka itu sama sekali tak diperhatikan olehnya, ia ayun senjata ular baja dan menyapu ke tanah, ia yakin di depan pasti tak ada jarum lagi dan baru saja hendak menerjang masuk untuk menangkap Kwe Ceng, tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas dan tak sanggup berdiri tegak lagi, kontan ia jatuh terguling. Baru sekarang ia tahu racun pada jarum yang tertancap kakinya sangat lihay, lekas-lekas ia berguling disertai merangkak keluar goa, dilihatnya Hoat-ong sedang memegangi sebelah kakinya yang hitam bengkak. Segera Nimo Singh tahu duduknya perkara, dengan marah ia lantas membentak:

“Bangsat gunduI, sudah tahu kau sendiri terluka oleh jarum berbisa, mengapa kau tidak memberi tahu, sebaliknya sengaja membiarkan aku ikut terperangkap?”

“Aku terjebak, kau pun terperangkap, ini namanya seri, satu-satu!” jawab Hoat-ong sambil tertawa.

Tidak kepalang marahnya Nimo Singh, dia kembali memaki: “Keparat, menangkap Kwe Ceng tak berarti lagi bagiku, biarlah aku mengadu jiwa dengan kau.”

Sebenarnya kakinya sudah tak bertenaga lagi, tapi tangannya menahan tanah, sekaligus ia menubruk ke arah Hoat-ong, senjata ular baja mengetok kepala lawan. Hoat-ong mengangkat roda tembaganya untuk menangkis, menyusul tangannya yang lain menyikut. Tubuh Nimo Singh lagi menubruk maju sehingga sukar menghindar, apa lagi serangan Hoat-ong sangat cepat, seketika bahu Nimo Singh kena disikut dengan keras. Walau pun otot dan daging Nimo Singh sangat kuat, tidak urung ia pun kesakitan setengah mati.

Saking murkanya Nimo Singh tidak lagi memikirkan mati-hidupnya sendiri, dia menubruk ke depan lantas merangkul tubuh Hoat-ong sekencang-kencangnya, malah mulutnya menggigit dan kebetulan Hiat-to pada bagian leher kena dikertaknya.

Jika dalam keadaan biasa, betapa pun tidak mungkin Nimo Singh dapat mendekati Hoat-ong yang berkepandaian setinggi itu, apa lagi hendak merangkul tubuhnya dan menggigit lehernya. Tapi sekarang Hoat-ong sedang mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menahan menjalarnya racun yang mengenai telapak kakinya, sebab itulah waktu Nimo Singh menubruk maju, tenaga dalam Hoat-ong sendiri sudah tidak cukup sehingga hanya dapat melawannya dengan kekuatan luar.

SIN-TIAUW (Rajawali Sakti)

Sebaliknya Nimo Singh menyerang dengan sepenuh tenaga, begitu berhasil menggigit maka giginya tidak mau kendur lagi. Cepat Hoat-ong menggunakan kaki kanan untuk menjegal karena kedua kaki Nimo Singh telah lemas. Nimo Singh tidak tahan dan terjerembab ke depan sambil menarik Hoat-ong, keduanya terguling di tanah.

Hoat-ong bermaksud menarik orang, namun hiat-to pentingnya tergigit, tenaga tangannya juga berkurang, maka sulit baginya untuk melepaskan diri, terpaksa tangannya digunakan mencengkeram Tay-hi-hiat di kuduk Nimo Singh. Tempat ini pun merupakan Hiat-to yang penting di tubuh manusia, dengan cengkeraman ini dapatlah ia berjaga agar tidak dikerjai lebih lanjut oleh Nimo Singh. Sesungguhnya kedua orang sama-sama jago kelas wahid dalam dunia persilatan, tapi mereka sedang sama-sama keracunan dan sekarang berkelahi dari jarak dekat secara bergumul, keadaan menjadi seperti tukang berkelahi kampungan tanpa harga diri, keduanya ber-gulingan dan lambat laun mendekati tepi jurang. Hal ini dapat dirasakan oleh Hoat-ong, maka cepat ia berteriak:

“Lepaskan tanganmu, jika terguling ke sana, kita berdua hancur terjerumus!”

Akan tetapi Nimo Singh sudah sangat kalap, ia pun tidak berusaha menolak racun dalam tubuhnya maka tenaganya menjadi lebih kuat dari pada Hoat-ong, ia terus mendorong ke depan sehingga Hoat-ong tidak dapat menahannya. Tampaknya sedikit lagi mereka pasti tergelincir ke dalam jurang. Dalam keadaan kuatir mendadak Hoat-ong mendapat akal, cepat dia berteriak:

“He, Kwe Ceng datang!”

“Di mana?” tanya Nimo Singh melengak kaget. Karena ucapannya ini mulutnya terbuka sehingga gigitan pada Hiat-to Kim-lun Hoat-ong dilepaskan.

Kesempatan itu langsung digunakan Hoat-ong untuk menghantam. Baru sekarang Nimo Singh menyadari bahwa ia tertipu, cepat ia mengelak dan kembali menyeruduk lagi. Hantaman Hoat-ong sebenarnya hendak memaksa Nimo Singh melompat mundur, tapi dia lupa kedua kaki Nimo Singh sudah tidak dapat digunakan lagi karena keracunan sehingga tidak mampu bergerak, jadinya bukan melompat mundur sebaliknya bahkan menyeruduk maju. Keruan Hoat-ong kaget bukan main dan kedua orang kembali bergumul menjadi satu, sekonyong-konyong di bawah tubuh terasa hampa, tanpa ampun kedua orang terjerumus ke dalam jurang.

Melihat akal si Yo Ko berhasil dengan baik, diam-diam Li Bok-chiu mengakui kehebatan anak muda ini. Waktu mendengar suara perkelahian kedua orang di luar, segera Li Bok-chiu bermaksud pergi, namun mendadak terdengar suara jeritan kaget kedua orang, suaranya amat aneh. Itu suara jeritan waktu kedua orang terjatuh ke dalam jurang, tetapi lantaran jarak tepi jurang dengan goa agak jauh, pula teraling oleh batu-batu dan semak-semak sehingga apa yang terjadi di luar tidaklah jelas.

“He, apa yang mereka lakukan?” tanya Li Bok-chiu.

Yo Ko juga tidak menyangka Hoat-ong dan Nimo Singh bisa terjerumus ke dalam jurang, setelah termenung sejenak lalu menjawab:

“Bangsat gundul itu licin sekali, jangan-jangan ia pun menirukan cara kita berpura-pura saling melukai, maksudnya supaya kita bisa terpancing keluar.”

“Ya, benar, tentu dia ingin memancing aku keluar untuk merampas obat penawar,” ujar Li-Bok-chiu. Perlahan-lahan dia mendekati mulut goa dan bermaksud melongok keadaan di luar.

“Awas jarum di atas tanah itu!” seru Yo Ko.

Li Bok-chiu terkejut dan cepat menarik kembali langkahnya. Sementara itu api di mulut goa sudah padam, asap sudah buyar sehingga di dalam goa kembali gelap gulita. Ia tidak dapat memandang di dalam kegelapan seperti Yo Ko sehingga tidak tahu ketiga jarum itu ditancapkan di bagian mana, apa bila sembarangan bertindak bukan mustahil ia pun akan menginjaknya!

Meski pun dia sendiri mempunyai obat penawarnya, tetapi bila kesempatan itu digunakan Yo Ko untuk menyerang, maka sukarlah melawannya andaikan jiwa sendiri tidak melayang oleh racun jarumnya sendiri. Karena itulah dia lantas berkata:

“Lekas kau cabut jarum-jarum itu, buat apa kita berdiam terus di sini?”

“Tunggu sebentar lagi, biar mereka mati keracunan barulah kita keluar,” ujar Yo Ko.

Li Bok-chiu mendengus satu kali, dalam hati ia seperti jeri kepada Yo Ko sama-sama berdiam di dalam goa yang gelap, sedangkan ilmu silat sendiri belum tentu bisa mengalahkan anak muda ini, bicara tentang tipu akal malahan sudah jelas bukan tandingannya. Karena itulah ia merenungkan akal baik untuk meloloskan diri.

Sementara itu keadaan di luar goa sudah sunyi senyap, kedua orang di dalam goa juga sedang merenungkan kepentingan masing-masing dan sama-sama tidak bersuara. Pada saat itulah bayi menangis keras. Agaknya bayi itu kelaparan, maklumlah, sejak lahir sama sekali belum pernah disusui. Tiba-tiba Li Bok-chiu menjengek:

“Di mana Sumoay? Kenapa dia tidak ambil pusing pada anaknya sendiri yang mungkin mati kelaparan.”

“Siapa bilang bayi ini anak Kokoh?” jawab Yo Ko, “anak ini adalah puteri Kwe Ceng, Kwe-tayhiap, tahu?”

“Hm, kau tak perlu menggertak aku dengan nama Kwe-tayhiap, memangnya kau kira aku takut?” kata Li Bok-chiu. “Jika bayi ini anak orang lain, betapa pun kau takkan berusaha merebutnya mati-matian, pasti anak ini adalah hasil dari hubungan kalian berdua.”

“Ya, aku memang bertekad akan memperisteri Kokoh,” teriak Yo Ko dengan gusar. “Tapi kami belum menikah, lalu bagaimana bisa mendapatkan anak? Hm, mulutmu harus dicuci bersih.”

Kembali Li Bok-chiu mengejek: “Huh, kau suruh mulutku bersih, kan seharusnya perbuatan kalian berdua diherankan lebih dulu.”

Selama hidup Yo Ko menghormati Siao-liong-li sebagai malaikat dewata, mana dia tahan sang Kokoh difitnah dan dinista secara kotor? Dengan murka dia pun membentak:

“Suhu-ku suci bersih, kau perempuan buta janganlah mengoceh semaunya.”

“Hah, suci bersih, sayang Siu-kiong-seh (andeng-andeng cecak merah) di lengannya sudah punah,” jengek Li Bok-chiu.

“Srettt!” pedang Yo Ko menusuk ke dada orang sambil membentak: “Tidak soal jika kau memaki aku, akan tetapi kata-katamu itu justru menghina Suhu-ku, biar aku mengadu jiwa dengan kau.”

“Sret! Sret! Sret!” berturut-turut ia menyerang lagi tiga kali.

ilmu pedang Yo Ko memang hebat, lagi pula dapat melihat dalam kegelapan. Sebaliknya Li Bok-chiu hanya dapat menangkis berdasarkan kepandaian ‘mendegarkan suara angin dan membedakan arah’, meski tangkisannya tidak meleset, tapi beberapa jurus kemudian ia pun mulai kewalahan. Untung Yo Ko memikirkan keselamatan anak bayi itu. Dia kuatir bila serangannya terlalu gencar, dalam keadaan kepepet bukan mustahil jika Li Bok-chiu akan mencelakai bayi, sebab itulah dia tidak melancarkan serangan maut.

Begitulah sampai belasan jurus mereka bergebrak dalam goa. Se-konyong-konyong bayi itu menangis satu kali, lantas diam, sampai lama tak bersuara Iagi.

“Bagaimana bayi itu, kau mencelakainya?” kata Yo Ko dengan suara kuatir.

Melihat Yo Ko begitu memperhatikan si bayi, ia tambah yakin pasti anak kandung Siao-liong-li. Ia tangkis pedang Yo Ko dengan kebutnya sambil berkata:

“Sekarang belum mati, tetapi kalau kau membantah perkataanku, memangnya kau sangka aku tidak berani mencekik mampus setan cilik ini?”

Yo Ko bergidik. Ia kenal watak Li Bok-chiu yang kejam, jangankan membunuh seorang bayi, malah membunuh segenap keluarga juga perbuatan biasa baginya. Cepat ia menarik kembali pedangnya dan berkata:

“Jelek2 kau adalah Supek-ku, asal kau tidak memaki Suhu-ku, aku akan menurut padamu.”

“Baiklah, aku takkan memaki gurumu lagi dan kau harus turut perkataanku,” kata Li Bok-chiu. “Nah, sekarang kau melongok keluar, coba lihat bagaimana dua bangsat itu.”

Yo Ko menurut, ia memeriksa sekeliling luar goa, tapi tidak nampak bayangan Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh. Ia kuatir Hoat-ong menjebaknya, maka ia coba menggunakan pedangnya dan membabati semak-semak rumput yang mungkin dibuat sembunyi musuh, tapi ternyata tiada sesuatu jejak apa-apa. Segera ia masuk goa lagi dan berkata:

“Kedua orang itu menghilang, mungkin mereka sudah kabur.”

“Hmm, sesudah terkena jarumku, seumpama kabur juga tak akan mencapai jauh,” jengek Li-Bok-chiu, “sekarang cabutlah semua jarum yang kau tancapkan di mulut goa tadi dan taruh di depanku sini.”

Karena bayi itu masih terus menangis, Yo Ko pikir harus lekas mencari sesuatu makanan baginya, maka dia turut perintah Li Bok-chiu, dengan tangan terbalut dia cabuti jarum-jarum itu lalu dikembalikan kepada yang empunya.

Setelah memasukkan jarum berbisa itu ke kantungnya, segera Li Bok-chiu melangkah ke luar. Yo Ko mengintilnya dengan cepat dan bertanya:

“Hendak kau bawa ke mana bayi itu?”

“Pulang ke rumahku,” jawab Bok-chiu.

“Untuk apa kau membawa pulang anak ini? Kan bukan kau yang melahirkannya!” seru Yo Ko tanpa pikir.

Muka Li Bok-chiu menjadi merah dan mendamperat: “Ngaco-belo tak keruan! Asal kau mengantar Giok-li-sim-keng dari Ko-bong pay kepadaku segera kukembalikan anak ini padamu, kujamin takkan mengganggu seujung rambutpun.” Habis berkata ia terus berlari secepat terbang ke utara dengan Ginkang yang tinggi.

“He, harus kau susui dia dulu!” seru Yo Ko sambil mengikutinya lari.

Dengan muka merah padam Li Bok-chiu berpaling dan membentak: “Keparat, kau bicara tidak keruan dan selalu mengolok-olok saja.”

“Hm, mengolok-olok bagaimana?” ujar Yo Ko dengan heran, “Bukankah anak ini akan mati kelaparan jika tidak disusui?”

“Aku masih gadis suci bersih, bagaimana bisa menyusui setan cilik ini?” omel Li Bok-chiu.

Baru sekarang Yo Ko tahu apa sebabnya muka orang menjadi merah, dengan tersenyum ia menjawab:

“Li-supek, bukan maksudku menyuruh engkau menyusui bocah ini, tapi aku minta engkau berusaha mencarikan susu baginya.”

Li Bok-chiu menjaga diri dengan suci bersih dan tidak pernah menikah, selama hidupnya berkecimpung di dunia Kangouw, mengenai urusan merawat bayi sedikit pun ia tak paham. la menjadi bingung, setelah berpikir sejenak, kemudian ia tanya:

“Mencari susu ke mana? Makan nasi saja, bagaimana?”

“Boleh kau periksa dia bergigi atau tidak?” katanya.

Li Bok-chiu coba pentang mulut si orok yang mungil itu, lantas menggeleng dan berkata:

“Tidak ada, satu biji pun tidak ada.”

“Hei, kita dapat mencari seorang perempuan yang sedang menyusui anaknya di kampung sana, kita suruh perempuan itu menyusui, bagus tidak?”

“Ya, kau memang cerdik dan banyak akal,” kata Bok-chiu dengan girang.

Ia memandang jauh ke sana dari tempat tinggi, kelihatan di sebelah barat ada asap mengepul. Segera mereka berlari ke sana, hanya dalam waktu singkat tibalah di kampung kecil. Sudah lama peperangan melanda kota Siang-yang, maka kota-kota kecil sekitarnya juga menjadi korban api peperangan dan sudah dihancurkan oleh keganasan pasukan Mongol, hanya di tempat pegunungan yang sunyi ini masih ada sedikit rumah penduduk.

Dari rumah ke rumah Li Bok-chiu memeriksa dengan teliti, sampai rumah petani ke empat barulah dia melihat seorang perempuan muda sedang menyusui anaknya yang berumur satu tahunan. Bok-chiu sangat girang, tanpa permisi ia tarik anak perempuan muda itu lalu dilemparkan ke atas dipan, sesudah itu bayi yang dipondongnya ditaruh di pangkuan perempuan itu sambil berkata:

“Anak ini lapar, lekas kau menyusuinya.”

Anak kecil yang dilemparkan ke atas dipan itu terbanting cukup keras, karena kesakitan seketika terdengarlah jerit tangis. Adalah lazim seorang ibu sayang pada anaknya sendiri, lekas-lekas ia menggendong kembali anaknya. Melihat bagian dada perempuan muda itu terbuka, Yo Ko berpaling keluar rumah. Segera didengarnya bentakan Li Bok-chiu:

“Kusuruh kau menyusui anakku, apa kau tidak dengar? Siapa suruh kau memondong anakmu sendiri?”

Menyusul terdengar kebut menyabet, lalu terdengar suara “Blang” sekali.

Yo Ko terkejut dan menoleh, dilihatnya anak perempuan petani itu sudah dibanting oleh Li Bok-chiu ke dekat kaki tembok sana, kepalanya berlumuran darah, entah mati atau masih hidup. Tentu saja tidak kepalang pedih hati si perempuan petani, cepat ia meletakkan anak Kwe Ceng di atas dipan dan segera menubruk maju memondong anaknya sendiri sambil menjerit dan menagis.

Li Bok-chiu tambah marah, dia angkat kebutnya hendak menyabet kepala perempuan itu. Syukur Yo Ko sempat menangkis dengan pedangnya, dalam hati ia pikir Li Bok-chiu ini sungguh wanita yang paling kejam dan se-wenang-wenang, tetapi di mulut ia berkata:

“Li-supek, kalau mau membinasakan dia, orang mati tak dapat lagi menyusui.”

“Persetan!” omel Bok-chiu dengan marah, “Apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikan anakmu, mengapa kau malah ikut campur urusan tetek bengek?”

Yo Ko mendongkol. Sudah jelas bukan anaknya, tetapi Li Bok-chiu terus menerus mengatakan bayi itu anaknya. Tapi kalau benar anaknya, mengapa dikatakan pula Yo Ko ikut campur urusan tetek bengek.

Namun Yo Ko tidak membantah, katanya dengan tersenyum: “Anak ini sudah kelaparan, paling penting disusui dulu.” Berbareng ia terus hendak membopong bayi di atas dipan itu.

Tapi Li Bok-chiu telah menghadangnya dengan ancaman kebut dan berseru: “Kau berani merebut anak itu?!”

Terpaksa Yo Ko melangkah mundur lagi dan berkata: “Baik, takkan kupondong dia.”

Li Bok-chiu sendiri lantas pondong bayi itu, tetapi baru saja akan disodorkan kepada perempuan petani tadi, ternyata perempuan itu telah menghilang entah ke mana. Rupanya selagi mereka berdua tadi bertengkar, perempuan itu terus kabur melalui pintu belakang dengan membawa puteranya yang terluka.

Dengan murka Li Bok-chiu menerjang keluar pintu, dilihatnya perempuan tadi sedang lari kesetanan dengan anaknya. Sekali Li Bok-chiu menjengek, dia melompat ke sana, kebutnya menyabet, tahu-tahu perempuan petani bersama anaknya menggeletak tak bernyawa dengan tulang kepala pecah berantakan. Masih belum puas dengan itu, Li Bok-chiu terus menyalakan api lantas membakar rumah petani itu hingga habis menjadi abu, setelah itu barulah ia melangkah pergi.

Yo Ko menyesali Li Bok-chiu yang teramat kejam dan keji itu, ia terus mengintil di belakangnya. Keduanya sama-sama diam dan berjalan di ladang pegunungan sampai berpuluh li jauhnya. Rupanya saking lelahnya bayi itu sudah pulas dalam pondongan Li Bok-chiu. Tengah berjalan, mendadak Li Bok-chiu bersuara heran dan berhenti, dilihatnya dua ekor anakan macan tutul sedang bersenda gurau di bawah sinar matahari. Ia melangkah maju dan baru hendak mendepak minggir kedua ekor macan tutul kecil itu, sekonyong-konyong terdengar suara meraung dari semak-semak di samping sana, seekor induk macan tutul yang besar menubruk.

Meski pun tinggi ilmu silat Li Bok-chiu juga kaget melihat betapa besarnya macan tutul itu. Cepat ia melompat ke samping untuk menghindar. Macan tutul kelihatan sangat buas, sekali tubruk tidak kena, segera dia memutar balik hendak mencakar, gerakannya sangat gesit bagaikan jago silat saja. Segera Li Bok-chiu angkat kebutnya dan menyabet, namun mengenai batok kepala macan tutul itu sehingga binatang itu menjadi marah dan makin buas. Macan tutul itu mendekam di tanah dengan menyeringai hingga kelihatan kedua baris giginya yang putih tajam, kedua matanya mengincar mangsanya dan siap menerkam.

Cepat Li Bok-chiu menyambitkan dua buah jarum untuk menyerang kedua mata harimau itu. Mendadak Yo Ko berseru:

“Nanti dulu!” Berbareng kedua jarum itu disampuknya dengan pedang.

Pada saat itu juga macan tutul sudah melompat ke atas dan menubruk, tetapi pada saat yang sama Yo Ko melompat ke atas. Lebih dulu ia sampok dua jarum yang sementara itu sudah disambitkan lagi oleh Li Bok-chiu, menyusul kepalan kanannya dengan cepat menghantam tulang punggung di dekat tengkuk macan itu.

Macan tutul mengaung kesakitan dan terjatuh, tetapi segera menubruk lagi ke arah Yo Ko. Cepat anak muda ini mengegos sambil menghantamkan sebelah tangannya, betapa pun kuatnya binatang itu tidak tahan oleh genjotan Yo Ko dan jatuh terjungkal.

Li Bok-chiu menjadi heran mengapa Yo Ko menolong harimau itu dari serangan jarumnya, sebaliknya kini anak muda itu berkelahi dengan binatang itu. Dilihatnya susul menyusul Yo Ko memukul macan tutul yang jatuh bangun, hanya tempat yang dihantamnya bukan tempat mematikan melainkan tempat yang membuat binatang itu hanya jatuh dan kesakitan saja.

Suara macan tutul makin Iama makin perlahan, meski tidak terluka tapi sudah belasan kali dia dipukul oleh Yo Ko dan tidak tahan lagi. Segera ia melompat ke atas lereng bukit. Tapi Yo Ko sudah menduga akan hal itu, segera ekor harimau itu hendak ditariknya. Tak terduga macan tutul mendadak mencawat ekornya di sela-sela kaki sehingga tarikan Yo Ko tidak kena.

Selagi Yo Ko hendak mengejar, mendadak macan tutul itu berpaling dan meraung seperti memanggil kedua ekor anaknya supaya ikut lari. Pikiran Yo Ko tergerak, cepat ia pegang kuduk kedua anakan macan tutul dan diangkat tinggi ke atas. Tampaknya induk macan juga sayang kepada anaknya, tanpa menghiraukan keselamatan sendiri kembali macan tutul besar itu menubruk ke arah Yo Ko. Cepat Yo Ko melempar kedua anak harimau itu kepada Li Bok-chiu sambil berseru:

“Peganglah ini, tapi jangan dimatikan!”

Berbareng itu ia terus meloncat ke atas, bahkan lebih tinggi dari pada macan tutul itu. Dia incar dengan tepatnya, lalu melayang ke bawah dan persis dapat menunggangi punggung macan tutul, kedua tangannya mencengkeram kencang kedua telinga binatang itu dan ditahan ke bawah sekuatnya. Macan tutul meronta sekuatnya, tapi seluruh badannya sudah diatasi lawan, mulutnya yang terpentang lebar juga ambles terbenam ke dalam tanah.

“Li-supek, lekas membuat tali dengan kulit pohon dan mengikat keempat kakinya,” seru Yo Ko.

“Hm, aku tiada tempo main-main dengan kau,” jengek Li Bok-chiu, habis itu segera ia hendak melangkah pergi.

Yo Ko menjadi ribut, teriaknya: “Hei, memangnya siapa mengajak kau main-main? Maksudku macan tutul ini punya susu!”

Baru sekarang Li Bok-chiu paham maksud Yo Ko, dengan girang dia berkata: “He, betul! Hanya kau yang dapat memikirkan hal ini.”

Cepat dia mengambil belasan lempeng kulit pohon lantas dipelintir menjadi tali yang kuat. Lebih dulu dia ikat moncong macan tutul itu dengan kencang, barulah meringkus keempat kakinya. Dengan tersenyum barulah Yo Ko melepaskan pegangan pada harimau itu, ia bangkit sambil mengebut debu pasir di tubuhnya.

Kini harimau itu tidak dapat berkutik lagi, sinar matanya memancarkan rasa takut. Yo Ko meraba-raba kepalanya dan berkata dengan tertawa:

“Jangan kuatir, jiwamu takkan kami ganggu, kami cuma minta kau menjadi ibu inang sementara.”

Segera Li Bok-chiu mendekatkan mulut si bayi pada puting susu harimau. Bayi itu sudah sangat kelaparan, maka begitu puting susu harimau masuk mulutnya, sekuatnya ia lantas menyedot. Air susu harimau tutul itu beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan air susu manusia. Tidak berapa lama kenyanglah bayi itu dan terpulas dengan nyenyaknya.

Selama bayi itu menyusu hingga tertidur, pandangan Yo Ko dan Li Bok-chiu tak pernah meninggalkan wajah si kecil yang molek itu. Setelah menyaksikan bayi kenyang menyusu dan terpulas, dan air mukanya yang lembut itu tersenyum simpuI, hati kedua orang menjadi girang dan tanpa terasa mereka saling pandang dan tertawa.

Saling tertawa ini banyak membawa kedamaian bagi mereka, rasa waswas yang tadinya meliputi perasaan seketika lenyap sebagian. Dengan wajah yang penuh perasaan lembut Li Bok-chiu memondong kembali bayi itu sambil ber-nyanyi kecil dengan suara perlahan. Yo Ko lantas mencari rumput yang lunak dan membuat sebuah ‘kasur’ kecil di bawah pohon. Katanya:

“Rebahkan di sini biar dia tidur lebih lelap.”

“Sssst!” tiba-tiba Li Bok-chiu mendesis sambil memberi tanda agar anak muda itu jangan berisik.

Yo Ko melelet lidah dengan muka jenaka, Terlihat si bayi telah tertidur dengan tenteram, baru sekarang ia dapat menghela napas lega. Sementara itu dua ekor anakan macan tutul juga sedang sibuk menyusu pada induknya. Suasana di sekeliling aman tenteram, angin meniup sepoi-sepoi, manusia dan binatang berdampingan dengan damai. Setelah mengalami banyak peristiwa selama beberapa hari ini, baru sekarang Yo Ko merasakan longgar.

Li Bok-chiu duduk menunggui anak bayi itu, kebutnya mengebas perlahan mengusir lalat dan nyamuk yang menghinggapi si kecil. Di bawah kebut ini entah sudah berapa banyak jiwa manusia melayang, untuk pertama kalinya sekarang kebut itu digunakan untuk yang baik dengan perasaan kasih.

Yo Ko melihat Li Bok-chiu memandangi si kecil dengan terkesima, kadang-kadang mengulum senyum, lain saat tampak sedih, mendadak kelihatan terangsang, tapi segera terlihat tenteram lagi. Mungkin batin iblis perempuan ini sedang bergolak dengan hebatnya dan teringat kepada pengalamannya selama ini. Memang Yo Ko tidak jelas kisah hidup Li Bok-chiu, cuma sekedarnya pernah didengarnya dari Thia Eng dan Liok Bu-siang, bahwa tindak-tanduknya sangat keji dan benci kepada sesamanya, tentu dia pernah mengalami kedukaan yang luar biasa. Selama ini Yo Ko benci padanya, sekarang terasa timbul juga rasa kasihannya.

Selang agak lama, Li Bok-chiu angkat kepala, beradu pandang dengan Yo Ko. Melihat air muka anak muda itu tenang ramah, hati Li Bok-chiu agak tercengang, dengan suara perlahan ia berkata:

“Hari hampir gelap, bagaimana baiknya malam nanti?”

Yo Ko memandang sekeliling situ, katanya kemudian: “Kita juga tak bisa membawa ‘mak inang’ raksasa ini dalam perjalanan, sebaiknya kita mencari sebuah goa untuk bermalam, segala persoalan kita tentukan besok saja.”

Li Bok-chiu mengangguk setuju. Yo Ko memeriksa sekitar tempat itu, lantas menemukan sebuah goa yang cukup untuk berteduh sekedarnya. Ia mengumpulkan sedikit rerumputan lalu dijereng menjadi dua kasuran besar dan kecil di dalam goa itu lalu berkata:

“Li-supek, silakan mengaso dulu, aku pergi mencari makanan.”

Tak lama kemudian Yo Ko sudah kembali dengan membawa tiga ekor kelinci dan belasan buah-buahan. Ia melepaskan tali yang membelenggu moncong harimau tutul kemudian memberinya makan seekor kelinci, lalu ia membuat api unggun untuk memanggang dua ekor kelinci yang lain dan dimakan bersama dengan Li Bok-chiu.

“Li-supek, silakan tidur saja, aku berjaga,” kata Yo Ko kemudian.

Dia ambil seutas tali lalu diikat pada dua batang pohon, di atas tali itulah dia tidur secara terapung. Cara tidur Yo Ko adalah latihan utama dari Ko-bong-pay, dengan sendirinya Li Bok-chiu tak merasa heran. Selama ini selain terkadang melakukan perjalanan bersama muridnya, Ang Ling-po, biasanya Li Bok-chiu pergi datang sendiri saja, sekarang Yo Ko menemani dan melayani dia dengan baik dan rapi. lni berbeda rasanya dari pada hidup sendirian di pegunungan sunyi di masa lalu, tanpa terasa Li Bok-chiu menghela napas gegetun.

Tertidur sampai tengah malam, Tiba-tiba Yo Ko mendengar suara burung berkicau di jurusan tenggara, suaranya nyaring halus dan terasa amat enak didengar. Ia pasang telinga mendengarkan sejenak, ia tidak tahu bunyi burung jenis apa yang demikian merdunya. Karena ingin tahu, perlahan dia melompat turun dari ranjang tali dan segera merunduk ke arah datangnya suara burung. Didengarnya suara burung itu kadang kala meninggi dan mendadak rendah, sekali tempo cepat dan di lain saat jadi lambat, mirip sekali dengan orang yang sedang memainkan alat musik. Mau tak mau timbul hasratnya untuk menangkap burung aneh itu.

Begitulah dia terus menyusur maju, semakin lama tempatnya semakin menurun, akhirnya dia sampai di sebuah lembah yang dalam. Terdengar suara burung itu berada tak jauh di depannya, karena kuatir mengejutkan burung itu, dia berjalan dengan perlahan dan langkahnya dibuat enteng, hati-hati sekali ia menyingkap semak-semak dan melongok ke sana, tapi ia menjadi kecewa, heran dan geli.

Burung yang berkicau dengan suara merdu tadi bentuknya amat jelek. Badannya tinggi besar, malahan lebih tinggi satu kepala kalau berdiri berjajar dengan Yo Ko. Bulu di sekujur badannya jarang-jarang mirip dicabuti orang, warna bulunya kuning bercampur hitam dan kelihatan kotor, tampangnya mirip dengan sepasang rajawali piaraan Oey Yong di Tho-hoa-to, cuma kedua rajawali milik Oey Yong sangat cakap, sebaliknya rajawali aneh ini jelek, bedanya seperti langit dan bumi.
Malahan paruhnya besar membengkok, pada batok kepalanya tumbuh sebuah gumpalan daging merah sehingga menyerupai jengger, di antara beribu-ribu jenis burung di dunia ini, rasanya tiada lagi yang lebih jelek dari pada burung raksasa ini. Rajawali jelek ini sedang melangkah kian kemari, terkadang menjulurkan sayap, ternyata sayapnya juga ada kelainan, sebelah kanan pendek dan sebelah kiri panjang, entah cara bagaimana burung ini bisa terbang.

Sikap rajawali aneh ini amat angkuh, dengan bersitegang leher ia berjalan mondar mandir. Setelah berkicau sejenak mendadak suaranya berubah, dari halus merdu berubah menjadi galang menantang. Tiba-tiba di sela-sela sana ada suara mendesis.

Sejak kecil Yo Ko ikut ibunya menangkap ular, maka mendengar suara itu dia tahu ada tujuh atau delapan ekor ular berbisa besar sedang menyusur datang. Sudah tentu dia tidak takut pada ular berbisa, akan tetapi jumlah ular cukup banyak, mau tak mau ia harus berjaga-jaga.

Kini baru timbul rasa waswasnya. Di bawah cahaya rembulan kelihatanlah warna loreng, delapan ekor ular berbisa sekaligus menyambar ke arah si rajawali jelek. Tapi rajawali itu pentangkan paruhnya yang bengkok, berturut-turut dia mencocok delapan kali, kontan kedelapan ekor ular itu tercocok mati. Betapa cepat dan jitu caranya mematuk luar biasa, sekali pun jago silat kelas satu sebangsa Kwe Ceng atau Kim-lun Hoat-ong juga tidak bisa lebih dari itu.

Yo Ko terkesima menyaksikan kesaktian rajawali jelek itu, sekejap lenyaplah perasaan meremehkan dan mentertawakan rajawali buruk rupa itu, sekarang timbul perasaan kagum dan heran. Sementara itu rajawali aneh itu sedang melalap ular-ular berbisa tadi satu demi satu, dari suaranya mengunyah seakan-akan mulut burung itu bergigi saja. Semakin heran Yo Ko menyaksikan itu, ia pikir kalau kejadian ini diceritakan pada orang lain, tentu takkan percaya, Selagi ia terpesona oleh kesaktian rajawali aneh itu, tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis busuk, nyata ada ular lagi.

Agaknya rajawali itu tahu datangnya ular. Dia berkaok tiga kali seakan-akan sedang menarik perhatian. Tiba-tiba terdengar suara bergedebuk dari atas pohon, di depan sana menggelantung turun seekor ular sawah (Python) yang bulat tengahnya sebesar mangkuk, kepalanya berbentuk segi tiga, begitu buka mulut segumpal kabut merah berbisa menyembur ke arah rajawali tadi.

Tapi rajawali itu sama sekali tidak gentar, sebaliknya dia malah memapak maju, mulutnya membuka, kabut berbisa tadi dihirupnya semua ke dalam perut. Berulang tiga kali ular sawah ini menyemburkan kabut racun, tapi seluruhnya dapat diisap oleh rajawali jelek itu.

CI-WI-KIAM (Pedang Mawar Ungu)

Rupanya ular sawah itu tahu gelagat jelek karena ada tanda takut dan hendak mengerat mundur, namun rajawali itu cepat sekali mematuk sehingga sebuah mata ular terpatuk buta. Tampaknya leher rajawali itu cekak lagi kasar, gerak-geriknya seperti kurang leluasa, tapi mulur mengkeretnya ternyata secepat kilat sehingga Yo Ko tak sempat melihat jelas cara bagaimana rajawali itu membutakan mata lawan. Karena kehilangan sebuah matanya, ular sawah kesakitan sekali. Ia pentang mulut dan...

”Cratt!” jengger merah di atas kepala rajawali dipatuknya.

Kejadian yang tak terduga ini membuat Yo Ko ikut menjerit kaget. Setelah serangannya berhasil, ular sawah itu cepat merambat ke bawah, tubuhnya melilit beberapa kali di badan rajawali sekuatnya, tampaknya jiwa rajawali itu pasti sukar dipertahankan. Lantaran ibunya tewas oleh pagutan ular berbisa, maka selama hidup Yo Ko sangat benci pada ular. Meski dia tidak menaruh simpati terhadap rajawali buruk rupa itu, tetapi dia pun tidak ingin burung itu dicelakai ular jahat. Maka segera dia melompat keluar, pedangnya membacok tubuh ular itu.

“Blangg...!” terdengarlah suara nyaring, pedangnya terpental balik.

Sungguh Yo Ko kaget tak kepalang. Kun-cu-kiam yang diperolehnya dari tempat Kongsun Ci itu sangat tajam, sampai roda perak Kim-lun Hoat-ong juga terkupas sebagian, betapa pun buas dan ganasnya ular sawah ini terdiri dari daging darah, tapi mengapa Kun-cu-kiam malah terpental? Karena heran dan kejutnya, segera dia tambahi tenaga dan membacok lagi tiga kali.

“Trang! Trang! Trang!” terdengar tiga kali suara nyaring beradunya logam, jelas itu bukan suara pedang beradu dengan sisik ular.

Waktu Yo Ko memeriksa pedangnya, ternyata ada tiga tempat gumpilan kecil. Bahwa badan ular dapat membikin pedangnya mental sudah aneh, malahan mata pedangnya gumpil, hal ini sungguh sukar dipercaya. Di antara mata pedangnya itu jelas ada noda darah ular, terang ular sawah itu terluka oleh bacokannya.

Sementara itu pergulatan antara ular dan rajawali sudah mengalami perubahan keadaan. Kini ular sawah itu semakin kencang melilit lawannya, sedangkan bulu rajawali tampak menegak dan melakukan perlawanan sekuat tenaga.

Diam-diam Yo Ko kuatir bagi keselamatan rajawali. Kalau ular sawah itu membinasakan rajawali, sasarannya selanjutnya tentu dirinya, sedangkan badan ular itu lebih keras dari pedang, lalu cara bagaimana akan melawannya. Jika sekarang melarikan diri jelas bisa lolos dengan selamat, akan tetapi dasar wataknya memang berbudi luhur dan berjiwa pendekar, sekali dia membacok ular sawah, ini berarti dia sudah memihak pada si rajawali untuk menghadapi musuh yang sama, kalau kabur sendirian, betapa pun dia merasa tindakan demikian terlalu rendah dan pengecut. Segera dia mengerahkan segenap tenaganya.

“Trang!” kembali pedangnya membacok tubuh ular.

Namun mendadak tangannya terasa enteng, Kun-cu-kiam itu tinggal setengah yang terpegang di tangannya, badan ular juga lantas menyemburkan darah merah segar, tetapi tubuhnya belum tertebas putus. Karena lukanya cukup parah, lilitan badan ular nampak agak mengendur, kesempatan ini segera digunakan oleh rajawali sakti itu untuk memberosot keluar. Waktu turun ke bawah paruhnya yang bengkok secepat kilat mematuk sehingga mata ular yang satunya juga terpatuk buta.

Ular itu pentangkan mulutnya yang lebar dan memagut kian kemari secara ngawur, tetapi kini kedua matanya sudah buta, tentu saja tidak dapat menggigit sasaran. Siapa tahu rajawali itu justru sengaja menyodorkan kepala dan membiarkan jengger merahnya digigit lagi.

Kembaii Yo Ko terkesiap, tapi setelah dipikir segera dia paham maksud tujuan si rajawali. Tentunya jengger merah burung itu adalah benda berbisa atau mungkin merupakan bagian yang anti ular. Jika ular sawah itu tidak mempan ditebas senjata tajam, maka jalan paling baik adalah membinasakannya dengan racun.

Taring ular tampak menggigit jengger, gumpalan daging di kepala rajawali itu, tubuhnya lantas melingkar. Tapi sekali ini rajawali itu tidak membiarkan badannya terbelit lagi, cakarnya bekerja, ekor ular dicengkeram dan dibetot hingga putus. Sementara itu ular sawah sudah keracunan hebat. Mendadak dia melepaskan gumpalan daging yang digigitnya, lalu badannya terguling. Meski pun rajawali itu tahu bahwa ajal si ular sudah dekat, tetapi dia tidak membiarkan lawannya main gila lagi, kepala ular dicengkeram dan ditekan ke dalam tanah.

Rajawali itu buruk rupa, tapi tenaga saktinya sungguh kuat luar biasa, ular sawah tak bisa berkutik lagi dan tidak lama kemudian matilah ular itu. Si rajawali lantas mengangkat kepala dan berbunyi tiga kali, habis itu dia berpaling kepada Yo Ko dan berkicau dengan suara halus. Dari suara burung itu Yo Ko merasakan nada persahabatan. Perlahan dia mendekatinya sambil berkata:

“Tiau-heng (kakak rajawali), tenaga saktimu sungguh mengejutkan. Aku sangat kagum.”

Entah burung itu paham kata-katanya atau tidak, akan tetapi terdengar dia ‘berkicau’ lagi beberapa kali. Mendadak ia melangkah maju lalu mematuk setengah potong Kun-cu-kiam yang dipegang Yo Ko, tahu-tahu pedang itu sudah direbutnya. Padahal kepandaian Yo Ko sekarang sudah tokoh kelas satu, biar pun jago silat tertinggi takkan dapat merampas senjatanya dalam sekali gebrak saja, akan tetapi sekarang rajawali buruk rupa ini dapat menaklukannya dengan cepat luar biasa.

Tentu saja Yo Ko terkejut dan cepat melompat mundur, ia bersiap siaga kalau burung itu menubruk maju. Tapi dilihatnya rajawali itu sudah membuang Kun-cu-kiam kutung itu dengan sikap yang menghina. Pahamlah Yo Ko akan maksud rajawali itu, katanya: “Aha, tahulah aku. Kau melarang aku mendekati kau dengan bersenjata, padahal tadi kita membunuh musuh bersama, mana aku dapat membikin susah padamu.”

Rajawali itu bersuara perlahan, lalu mendekati Yo Ko sambil menjulurkan sayapnya dan menepuk perlahan beberapa kali punggung anak muda itu. Melihat burung itu sangat cerdik dan dapat memahami ucapan manusia, Yo Ko sangat girang. Ia pun balas meraba-raba punggungnya.

Melihat bangkai ular sawah yang masih menggeletak di sana, Yo Ko menjadi heran apa sebabnya ular itu dapat mematahkan Kun-cu-kiam. Segera ia memotong sepotong ranting kayu, ia menusuk bangkai ular, rasanya lunak, tiada sesuatu yang aneh. Ketika kayu itu ia tusuk ke luka bekas bacokan pedang, tiba-tiba terbentur sesuatu yang keras, sedangkan bagian itu adalah perut dan bukan bagian tulang ular. Yo Ko bertekad mencari tahu, sekuatnya dia tusukan kayunya. Waktu dia tarik kembali, ujung kayu terbelah menjadi dua, tampaknya dalam tubuh ular itu pasti ada sesuatu yang tajam.

Dia berjongkok dan mengamati lebih teliti, dilihatnya di antara rembesan darah yang merah itu samar-samar memancarkan kabut ungu yang tipis. Jarak muka Yo Ko dengan bangkai ular cukup jauh, tapi dia merasakan semacam hawa dingin yang aneh, semakin mendekat kepalanya ke bangkai rasa dingin itu semakin keras. Segera Yo Ko menjemput kembali kutungan Kun-cu-kiam tadi, dia mengupas kulit daging ular bagian yang terluka itu, seketika hawa dingin bertambah kuat. Dia terkejut sekali, disangkanya ada benda berbisa yang sangat lihay, cepat dia gunakan kutungan Kun-cu-kiam untuk membacok.

“Trangg...!” tahu tahu pedang yang sudah kutung itu patah lagi menjadi dua.

Sekarang Yo Ko dapat menduga duduknya perkara. Pasti dalam tubuh ular terdapat senjata tajam. Segera dia gunakan pedang kutung mengupas kulit daging ular agar lebih bersih, akhirnya kelihatanlah sebatang pedang panjang satu meter yang bercahaya ungu. Dengan girang Yo Ko menggunakan pedang kutung mencungkil batang pedang ungu itu.

“Srrr...! Crett!” Mendadak pedang ungu itu tercungkil mencelat, kemudian menancap pada batang pohon di sebelah sana hingga lebih setengah batang pedang yang ambles.

Padahal cara mencungkil tadi tidak terlalu keras, namun pedangnya dapat menancap ke batang pohon seperti batang pisang saja empuknya, benar-benar senjata yang maha tajam dan belum pernah dilihat Yo Ko. Waktu Yo Ko menyembelih ular dan mengambil pedang ungu, selama itu si rajawali sakti mengawasi, tampaknya ia pun tertarik melihat pedang ungu yang luar biasa itu. Se-konyong ia menyerobot maju, gagang pedang digigitnya dan dicabut terus dibawa lari ke tebing gunung sana.

Dalam semalam Yo Ko berulang mengalami peristiwa aneh, ia merasa rajawali buruk rupa itu tak dapat diduga, maka ia segera ikut melompat turun ke bawah sana. Dilihatnya tepi tebing ada sebuah sungai kecil, dengan menggigit pedang ungu tadi rajawali lantas merendam pedang itu dalam air sungai, agaknya untuk mencuci.

Diam-diam Yo Ko mengangguk dan paham maksud si rajawali. Pedang itu sudah sangat lama mengeram dalam perut ular berbisa. dengan sendirinya racun melekat pada batang pedang. Setelah sekian lamanya si rajawali mencuci pedang, kemudian ia berpaling dan melempar pedang itu kepada Yo Ko. Pedang itu se-akan berbentuk selarik sinar ungu menyambar ke arah Yo Ko, namun dengan cepat anak muda itu dapat menangkap, katanya dengan tertawa:

“Terima kasih atas kebaikan Tiau-heng.”

Ia periksa, dilihatnya gagang pedang itu tertulis dua huruf Hindu kuno: ‘Ci-wi’ atau mawar ungu. Yo Ko pegang pedang itu lurus ke depan, lalu menyendalnya perlahan. Seketika batang pedang bergetar dan mengeluarkan suara mendengung, nyata pedang itu sangat lemas. Barulah mengerti akan persoalannya.

“Ah, lantaran pedang sangat lemas sehingga dapat mengikuti lenggak-lenggok tubuh ular, makanya tidak sampai mencelakai dan menembus perut ular meski pun mengeram sekian lamanya di dalam perut.”

Dia coba mengayunkan pedang ungu itu ke samping, sebatang pohon yang cukup besar tertabas putus, sedikit pun tidak memerlukan tenaga. Rajawali tadi bersuara perlahan beberapa kali, kemudian mendekati Yo Ko. Dengan paruhnya yang bengkok ia tarik-tarik ujung baju Yo Ko, lalu mendahului melangkah ke sana.

Yo Ko menduga perbuatan rajawali itu pasti mengandung arti yang dalam, segera ia mengikuti di belakangnya. Langkah rajawali amat cepat seperti kuda sungguh pun berjalan di antara batu pegunungan dan semak belukar. Yo Ko keluarkan kemahiran Ginkang-nya, tetapi rasanya sukar menyusul, syukur rajawali itu menunggunya kalau Yo Ko ketinggalan jauh.

Makin lama tempat yang mereka tuju semakin rendah dan akhirnya sampai di sebuah lembah gunung yang dalam, tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah goa besar. Tepat di depan mulut goa, rajawali tiga kali menganggukkan kepala dan bersuara tiga kali, lalu menoleh memandangi Yo Ko.

Dari sikap rajawali itu Yo Ko menduga bahwa binatang itu seperti sedang menjalankan penghormatan ke dalam goa. Ia pikir goa ini pasti didiami orang kosen angkatan tua dan rajawali ini tentu adalah burung peliharaannya, kalau demikian aku harus menurut adat istiadat. Maka Yo Ko lantas berlutut dan menyembah beberapa kali di depan goa sambil berkata:

“Tecu Yo Ko menyampaikan sembah hormat kepada cianpwe dan harap sudi memaafkan kedatanganku yang sembrono ini.”

Selang sejenak tiada terdengar sesuatu jawaban apa pun. Rajawali menarik lagi ujung bajunya terus melangkah ke depan goa. Keadaan di dalam goa gelap gulita, entah betul dihuni oleh orang kosen tokoh persilatan atau didiami oleh setan gendruwo. Meski pun hatinya kebat-kebit namun mati-hidup tak dipikirkan lagi, dengan menjinjing pedang pusaka Ci-wi-kiam yang ditemukannya itu, ia terus mengintil di belakang si rajawali sakti.

Sebenarnya goa itu sangat cetek, hanya beberapa langkah sudah buntu. Di dalam goa, selain sebuah meja dan sebuah bangku batu tiada sesuatu benda lain Iagi. Rajawali itu berkaok tiga kali ke pojok goa. Waktu Yo Ko memandang tampak di sudut sana ada segundukan batu yang menyerupai kuburan, ia pikir: “Tampaknya ini adalah makam seorang kosen, sayang burung ini tak dapat bicara sehingga sukar diketahui asal-usul tokoh ini.”

Ketika dia menengadah, tiba-tiba dilihatnya dinding goa seperti ada tulisan, cuma dinding itu lembab dan berlumut, pula gelap, maka tidak tampak jelas. Segera Yo Ko membuat api dan menyalakan sebatang kayu kering, dia kesut lumut dinding goa, benar di situ ada tiga baris huruf. Goresan tulisan itu amat halus, tetapi melekuk dalam pada batu dinding, tampaknya diukir dengan senjata yang sangat tajam, besar kemungkinan diukir dengan Ci-wi-kiam ini.

Ketiga baris tulisan itu kira-kira berarti: ‘Malang melintang lebih 30 tahun di dunia Kangouw, membunuh habis semua musuh, mengalahkan seluruh jago di dunia ini tidak menemukan lawan lagi, maka bertirakat di lembah sunyi memperisterikan dan berkawankan rajawali Oho, sungguh sayang, selama hidup hanya mengharapkan seorang lawan sama kuat pun sukar ditemukan’. Pada bawah ketiga baris huruf itu disebut pula nama penulisnya, yakni: ‘Kiam-mo Tokko Kiu-pay’.

“Kiam-mo Tokko Kiu-pay,” demikian Yo Ko mengulang kata-kata ini beberapa kali, hatinya merasakan sesuatu yang sukar dilukiskan.

Dari tulisan di dinding goa itu dapatlah ditarik kesimpulan bahwa orang kosen itu lantaran tidak mendapatkan tandingan karena jengkel lalu dia mengasingkan diri di lembah sunyi ini, maka dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu silat orang ini tentu sukar diukur. Bahwa orang kosen itu berjuluk Kiam-mo (iblis pedang), maka dengan sendirinya ilmu pedangnya maha sakti. Dia she Tokko dan bernama Kiu-pay (minta dikalahkan), mungkin dia sudah menjelajahi seluruh jagat mencari seorang yang mampu mengalahkan dia akan tetapi tidak pernah terkabul, dia merasa masgul dan hidup menyendiri.

Membayangkan betapa hebat tokoh yang entah hidup di jaman apa, tanpa terasa Yo Ko sangat kagum. Yo Ko angkat obornya dan memeriksa keadaan goa, namun tidak ditemukan lagi sesuatu bekas lain, di atas makam itu pun tak ada tanda-tanda lain pula. Ia menduga mungkin setelah tokoh kosen itu meninggal dunia lalu rajawali sakti inilah yang menguruki jenazahnya dengan batu. Mengenai bagaimana pedang pusaka ‘mawar ungu’ bisa tertelan ke perut ular sawah, karena rajawali sakti ini tidak dapat bicara, tampaknya teka-teki ini tidak akan terungkap selamanya.

Begitulah Yo Ko termenung-menung sejenak, kemudian memadamkan api obor. Dalam kegelapan pedang pusaka yang dipegangnya memancarkan cahaya ungu yang remang-remang, teringat olehnya pedang ini pernah digunakan orang kosen Tokko Kiu-pay malang melintang di dunia persilatan tanpa terkalahkan, dan sekarang pedang pusaka ini jatuh ke tangannya, maka dia lantas berlutut dan menyembah kembali beberapa kali di depan makam batu tadi.

Melihat Yo Ko amat menghormati makam batu itu, rajawali sakti sangat senang, kembali ia menjulurkan sayapnya menepuk pundak anak muda itu. Yo Ko menjadi teringat tulisan tadi, di mana Tokko Kiu-pay menyebut si rajawali sakti ini sebagai kawannya. Jadi rajawali ini meski binatang terhitung angkatan tua pula, kalau kusebut dia ‘Tiau-heng’ (kakak rajawali) rasanya juga tak berlebihan.

BegituIah ia lantas berkata kepada burung itu: “Tiau-heng, tanpa sengaja kita bertemu, agaknya memang ada jodoh antara kita, sekarang kumohon diri untuk pergi. Engkau ingin mendampingi makam Tokko-locianpwe di sini atau hendak berangkat bersamaku?”

Rajawali itu berbunyi beberapa kali sebagai jawaban. Sudah tentu Yo Ko tidak paham artinya, tetapi yang jelas burung itu tetap berdiam di samping makam, Yo Ko menarik kesimpulan bahwa rajawali merasa berat untuk meninggalkan kediaman yang telah ratusan tahun dihuninya ini. Segera Yo Ko merangkul leher rajawali itu dan ber-mesraan sekian lama barulah ditinggal pergi.

Selama hidup Yo Ko tiada mempunyai seorang sahabat karib kecuali saling cinta dengan Siao-liong-li, sekarang bertemu dengan rajawali sakti ini secara kebetulan, meski manusia dan binatang, tapi entah mengapa, rasanya sangat cocok sekali. Sekeluarnya dari goa terasa berat untuk meninggalkannya, maka setiap melangkah beberapa tindak dia lantas menoleh.

Akhirnya setiap kali dia menoleh, selalu si rajawali sakti berbunyi satu kali sebagai tanggapan atas menolehnya, meski jaraknya sudah semakin jauh tapi rajawali itu dapat melihat dengan jelas dalam kegelapan dan selalu menjawab dengan berbunyi satu kali bila Yo Ko menoleh. Sungguh hati Yo Ko sangat terharu, mendadak dia berseru:

“O, Tiau-heng, jiwaku sudah tidak lama lagi, nanti kalau urusan puteri Kwe-pepek sudah selesai dan setelah kumohon diri pada Kokoh, segera aku datang ke sini, rasanya tidak sia-sia hidupku ini apa bila aku dapat terkubur di samping Tokko locianpwe.”

Habis berkata dia memasukkan Ci-wi-kiam ke dalam sarung Kun-cu-kiam, lalu melangkah pergi dengan cepat. Sambil berjalan, di dalam hati Yo Ko terus merenungkan pengalaman aneh tadi, kemudian terpikir olehnya Kun-cu-kiam dan Siok-li-kiam yang dimilikinya bersama Siao-liong-li.

Sepasang pedang ini sebenarnya membawa ramalan yang baik, siapa tahu Kun-cu-kiam akhirnya patah, tampaknya dirinya memang sudah ditakdirkan tidak dapat hidup bersama Siao-liong-li sampai hari tua. Berpikir sampai di sini dia lantas berduka dan tanpa terasa mencucurkan air mata. Selagi berjalan, mendadak dari sebelah kanan menyambar senjata berwarna hitam, menyusul dari sebelah kiri ada orang yang menyergapnya. Saat itu pikiran Yo Ko sedang bergolak dan sama sekali tidak menduga akan diserang oleh musuh di lembah sunyi begini. Apa lagi serangan dari kanan kiri ini juga amat cepat, dapat menghindarkan yang kiri tentu sukar mengelakkan yang kanan.

Dalam keadaan kepepet Yo Ko tidak sempat melolos pedang, maka cepat ia meloncat tinggi. Ia menduga musuh akan melancarkan serangan susulan waktu ia turun ke bawah, maka selagi terapung, sekaligus ia cabut Ci-wi-kiam lalu diputar dengan kencang untuk menjaga diri, dengan begitulah ia turun ke bawah.

Tapi sebelum dia melabrak lawannya, sekonyong-konyong sesosok bayangan menubruk tiba dari belakang, dan ternyata dia adalah si rajawali sakti. Dengan cepat rajawali itu menubruk ke semak-semak di sebelah kanan, sekali patuk seekor ular tergigit olehnya terus dilemparkan ke tanah, menyusul menubruk ke sebelah kiri. Tampak sinar emas berkelebat, sebuah roda emas hendak menghantamnya. Rajawali itu bermaksud mematuk roda itu untuk merampasnya, tapi tidak berhasil, sedikit berputar segera paruhnya mematuk lagi.

Dari semak-semak pohon itu lantas melompat keluar seseorang dengan sepasang rodanya, kiranya Kim-lun Hoat-ong adanya. Kuatir rajawali itu dicelakai Hoat-ong yang lihay, segera Yo Ko berseru:

“Silakan mundur, Tiau-heng, biar aku yang melayani dia.”

Akan tetapi sayap kiri si rajawali mendadak membentang ke belakang mencegah Yo Ko, sedangkan sayap kanannya menyampuk ke depan. Serangkum angin keras menyambar ke muka Hoat-ong. Luar biasa tenaga sabetan sayap itu, biar pun jago silat kelas satu tidak sekuat itu.

Kiranya Hoat-ong dan Nimo Singh bergumul dan terjerumus ke jurang, tapi untungnya di tepi jurang ada sebatang pohon besar, pada detik berbahaya itu Hoat-ong masih sempat menggunakan sebelah tangannya merangkul batang pohon. Ketika itu Nimo Singh dalam keadaan setengah sadar, namun dia masih tetap merangkul tubuh Hoat-ong dengan mati-matian. Setelah mengawasi keadaan sekitarnya, kemudian Hoat-ong lepaskan rangkulannya pada batang pohon sambil kakinya memancal, dengan tepat kedua orang jatuh pada onggokan semak-semak rumput yang lebat terus menggelinding ke bawah mengikuti dinding tebing yang miring.

Belasan meter jauhnya mereka berguling dan barulah berhenti sesudah sampai di dasar lembah yang dalam itu. Tentu saja sekujur badan mereka babak belur oleh duri dan batu kerikil. Segera Hoat-ong mempergunakan Kim-na-jiu-hoat untuk menelikung tangan Nimo Singh sambil membentak:

“Lepaskan tidak?”

Dalam keadaan setengah sadar Nimo Singh merasa tidak bertenaga lagi untuk melawan, maka terpaksa ia lepaskan sebelah tangan, sedangkan tangan lain masih mencengkeram punggung orang.

“Hmm, kedua kakimu sendiri keracunan hebat tetapi tidak lekas berusaha menolongnya, masih mau main gila apa kau?” jengek Hoat-ong.

Ucapan ini seperti kemplangan di atas kepala Nimo Singh. Cepat ia menunduk, tampak kedua kakinya membengkak besar dua kali lipat dari pada biasanya, ia tahu bila tidak lekas ditolong sebentar lagi jika racun menjalar ke atas tentu jiwanya melayang. Ia menjadi nekat, ia melolos ular baja yang terselip di tali pinggang, sambil menggertak gigi ia bacok putus kedua kakinya itu sebatas lutut. Seketika darah segar memuncrat, kontan ia pun semaput.

Melihat betapa tegas dan perkasanya Nimo Singh, mau tak mau Hoat-ong kagum juga. Mengingat orang sudah cacat kedua kakinya sehingga tidak bakalan bersaing lagi dengan dirinya, segera Hoat-ong menutup beberapa Hiat-to pada kaki Nimo Singh untuk menghentikan cucuran darahnya, habis itu dia mengeluarkan obat yang dibubuhkan pada lukanya serta membalutnya dengan robekan kain baju Nimo Singh.

Pada umumnya Busu (jago silat, Bushu kata orang Jepang) negeri Thian-tiok mengalami gemblengan fisik yang hebat, rata-rata pernah berlatih tidur di atas papan berpaku atau berpisau dan jenis ilmu yang menyakitkan lainnya. Nimo Singh juga ahli dalam ilmu itu, maka begitu darahnya mampet, segera ia bangkit duduk dan berkata kepada Hoat-ong.

“Baiklah, kau telah menolong aku, segala sengketa kita yang sudah lalu tak perlu diungkit lagi.”

Hoat-ong tersenyum getir, dalam hati ia merasa keadaan sendiri lebih buruk dari pada Nimo Singh yang sudah buntung, meski buntung tetapi Nimo Singh sudah bebas dari keracunan. Maka Hoat-ong lantas duduk bersila sambil mengerahkan tenaga dalam untuk mendesak keluar hawa beracun di telapak kakinya. Setelah lebih satu jam barulah beberapa tetes air hitam dapat ditolak keluar, itu pun sudah membuat jantungnya berdebar dan napasnya terengah.

Seharian mereka istirahat di dasar lembah itu. Tanpa terduga, menjelang tengah malam tiba-tiba terdengar suara tindakan orang. Cepat Hoat-ong gusur tubuh Nimo Singh ke semak-semak, dia sendiri sembunyi di balik pohon. Sesudah dekat, segera dikenalinya pendatang itu adalah Yo Ko. Anak muda itu mengintil di belakang seekor burung raksasa aneh, sekejap saja sudah lewat. Mengingat racun dalam tubuhnya sukar dibersihkan, timbul pikiran Hoat-ong hendak merobohkan Yo Ko untuk merampas obat penawarnya, mereka lantas sembunyi di situ. Begitu Yo Ko kembali lagi, segera mereka menyergapnya. Untung kedua orang itu habis terluka dan tenaganya banyak berkurang, kalau tidak pasti Yo Ko bisa celaka.

Begitulah setelah terhindar dari sergapan, Yo Ko melihat si rajawali sakti melabrak Hoat-ong dengan sengit, caranya menubruk dan menyabet dengan sayap serta caranya mengelak seluruhnya bergaya dan beraturan. Tentu burung ini sudah lama mengikuti orang kosen yang tak terkalahkan Tokko Kiu-pay, maka telah hapal sekali semua jurus ilmu silat sehingga tokoh macam Hoat-ong cuma bertempur sama kuatnya melawan rajawali.

Makin lama Hoat-ong makin heran dan kuatir. Yo Ko berdiri di samping dengan pedang terhunus, kalau anak muda itu ikut mengerubutnya pasti dirinya celaka. Ia pun heran dari mana datangnya burung raksasa, kalau saja majikannya juga muncul maka tamatlah riwayatnya hari ini. Berpikir sampai di sini, mendadak kedua rodanya ditarik menyilang depan dada untuk menahan patokan si rajawali, habis itu cepat ia melompat mundur sambil berseru:

“Bocah she Yo, dari mana kau mendatangkan makhluk ini?”

Sebelah tangan Yo Ko merangkul leher rajawali dengan mesra, lalu menjawab: “Ini adalah sahabat karibku, kakak Sin-tiau (rajawali sakti). Hendaknya jangan kau bikin marah dia, kalau dia terbang dan menubruk dari atas, sekali patuk tentu kepalamu akan berlubang besar.”

Hoat-ong percaya ucapan Yo Ko. Berdiri saja rajawali itu sudah begitu tinggi, apa lagi kalau terbang ke atas, bagaimana melawannya nanti? Karena itu ia cuma berdiri dan bungkam.

Terdengar Yo Ko berkata: “Tiau-heng, engkau mengantarkan aku ke sini, kawanan penjahat ini ketakutan melihat kesaktianmu, rasanya tidak ada aral melintang lagi di depan sana, kita berpisah di sini saja.”

Sin-tiau itu memandang sekejap ke arah Hoat-ong dan Nimo Singh, habis itu cuma diam saja.

“Baiklah, jika engkau suka boleh awasi kedua orang ini, aku mohon diri buat berangkat lebih dulu,” kata Yo Ko sambil memberi hormat dan melangkah pergi.

Karena kuatirkan bayi puteri Kwe Ceng, dia berlari secepatnya ke goa itu. Baru sampai di mulut goa sudah terdengar suara Li Bok-chiu menegurnya:

“Ke mana kau sejak tadi? Di sini ada setan gentayangan yang terus menerus menangis, sungguh mengganggu dan menjemukan.”

“Mana ada setan?” ujar Yo Ko. Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara orang menangis keras. Keruan ia terkejut, ia pikir masa di dunia ini benar-benar ada setan segala?

Suara tangisan yang tadi kedengaran amat jauh, dalam sekejap sudah mendekat, rasanya cuma beberapa puluh meter saja di luar goa.

Segera Yo Ko melolos pedang Ci-wi-kiam dan mendesis pada Li Bok-chiu: “Kau jaga anak itu, biar kubereskan dia, Li-supek.”

Serentak Li Bok-chiu merasakan hawa dingin. Dilihatnya sinar ungu samar-samar dalam kegelapan, jelas senjata yang dipegang Yo Ko adalah pedang mestika, Dengan heran ia bertanya:

“Dari mana kau mendapat pedang ini?”

Belum lagi Yo Ko menjawab, tiba-tiba terdengar orang berteriak dan menangis. “Oh, buruk amat nasibku ini. Isteriku dibunuh orang, sekarang kedua putraku hendak saling bunuh membunuh.”

Mendengar itu legalah hati Yo Ko, jelas suara manusia dan sama sekali bukan setan. Dia melongok keluar, di bawah cahaya bintang yang remang-remang kelihatan seorang laki-laki tinggi besar dengan rambut semerawut, pakaiannya robek dan compang camping, tangan menutupi muka sambil menangis dan berputar-putar dengan cepat di situ, bagaimana wajahnya tak terlihat jelas.

“Huh, rupanya seorang gila, lekas usir dia agar tidak mengganggu tidur anak ini,” jengek Li Bok-chiu.

Sementara itu lelaki tadi sedang menangis dan sesambatan: “Di dunia ini aku cuma mempunyai dua anak, tetapi mereka hendak saling membunuh, lalu apa artinya hidupku ini?” Sambil berkata ia terus menangis tergerung-gerung dengan sedihnya.

Hati Yo Ko tergerak, ia pikir mungkinkah dia ini? Segera ia memasukkan pedang ke sarungnya, tanyanya:

“Apakah di situ Bu-locianpwe adanya...?”

Orang itu menangis di sebuah ladang sunyi, karena hatinya teramat berduka, tak diduga di lereng pegunungan ini ada orang lain. Segera dia berhenti menangis lantas balas menegur dengan suara bengis:

“Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di sini?!”

Yo Ko memberi hormat dan menjawab: “Cayhe Yo Ko, apakah cianpwe she Bu dan bernama Sam-thong?”

Orang ini memang betul Bu Sam thong. Dulu dia dilukai Li Bok-chiu dengan jarum berbisa sehingga jatuh kelengar. Waktu siuman kembali, dilihatnya Bu Sam-nio, isterinya sedang mengisap darah beracun dari lukanya. Dia terkejut dan cepat berseru mencegah sambil mendorong sang isteri. Tetapi sudah terlambat, air muka sang isteri kelihatan hitam membiru, Bu Sam-nio telah mengorbankan diri untuk menyelamatkan sang suami. Dia tahu ajalnya sudah dekat, sambil mengelus kepala kedua puteranya dia menyatakan penyesalannya yang tidak dapat membahagiakan suami semenjak mereka menikah, karena sang suami mencintai perempuan lain.

Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur, harapannya sekarang hanya memohon agar sang suami suka menjadi orang yang berguna bagi negara dan bangsa serta hidup rukun selamanya. Habis meninggalkan pesan itu Bu Sam-nio menghembuskan napasnya yang penghabisan.

BANTUAN BAGI KELUARGA BU ( 1 )

Karena kematian isterinya, saking berduka penyakit Bu Sam-thong kembali kumat. Melihat kedua puteranya mendekap di atas jenazah ibunya dan sedang menangis sedih, pikiran Bu Sam-thong serasa kosong, apa pun tidak tahu lagi dan segera pergi tanpa arah tujuan. Begitulah Bu Sam-thong terus luntang lantung selama beberapa tahun di dunia Kangouw dalam keadaan tidak waras. It-teng Taysu yang mendapat berita itu cepat mengirim anak muridnya menjemput Bu Sam-thong ke Tayli, dan di situlah Bu Sam-thong dapat disembuhkan.

Kemudian Bu Sam-thong mendapat kabar dari Cu Cu-liu yang menghadiri pertemuan besar para ksatria, bahwa kedua puteranya kini sudah dewasa serta sudah diajari It- yang-ci oleh Cu Cu-liu. Tentu saja Bu Sam-thong amat girang dan terkenang kepada putera-puteranya. Ia lantas mohon diri pada sang guru dan berangkat ke Siang-yang untuk menjenguk anak-anaknya.

Setiba Bu Sam-thong di Siang-yang, kebetulan Kim-lun Hoat-ong habis mengacau di kota itu, Kwe Ceng terluka dan Oey Yong baru melahirkan. Sesudah menemui Cu Cu-liu dan Kwe Hu, Bu Sam-thong mendapat keterangan bahwa kedua puteranya minggat untuk saling berkelahi. Tentu saja Bu Sam-thong sangat berduka dan teringat kepada pesan sang isteri, cepat ia memburu keluar kota mencari Bu Siu-bun dan Bu Tun-si. Akhirnya Bu Sam-thong dapat menemukan kedua puteranya di sebuah kelenteng rusak.

Sudah tentu kedua saudara Bu amat gembira dapat bertemu kembali dengan sang ayah. Namun ketika persoalan Kwe Hu dibicarakan, kedua bersaudara itu tidak mau mengalah. Meski sudah didamperat atau dibujuk dengan halus oleh sang ayah agar keduanya jangan memikirkan Kwe Hu lagi, namun gagasan demikian sukar terlaksana. Di depan sang ayah memang kedua saudara Bu tak berani bermusuhan, tapi di belakang ayahnya mereka ribut lagi. Malamnya kedua saudara itu berjanji akan mengadakan pertarungan menentukan di tempat sepi.

Bu Sam-thong amat mendongkol dan berduka setelah mencuri dengar pembicaraan kedua anaknya serta mendahului mendatangi tempat yang telah ditentukan kedua anak muda itu dengan maksud mencegah pertarungan. Semakin dipikir semakin berduka akhirnya Bu Sam-thong menangis sesambatan di ladang pegunungan yang sunyi itu. Bu Sam-thong belum pernah kenal Yo Ko, dalam keadaan sedih tanpa terasa ia menjadi marah karena merasa terganggu, segera ia membentak:

“Siapa kau? Dari mana kau kenal namaku?”

“Paman Bu,” jawab Yo Ko, “Siautit (keponakan) pernah mondok di tempat Kwe-tayhiap di Thoa-hoa-to bersama kedua saudara Tun-si dan Siu-bun sewaktu kami masih kecil. Selama ini nama paman sudah kukenal dan kukagumi.”

Bu Sam-thong mengangguk. “Dan apa yang kau lakukan di sini? Aha, tentu kau hendak menjadi wasit dalam pertandingan Siu-bun dan Tun-si nanti. Hmm, kau mengaku sahabat mereka, tapi mengapa kau tidak berusaha melerai sebaliknya malah mendorong dan ingin melihat keramaian? Sahabat macam apa kau ini?”

Makin bicara semakin bengis, segenap rasa marahnya seakan-akan hendak dilampiaskan atas diri Yo Ko, maka sambil mendamprat terus melangkah maju dan mengangkat telapak tangan.

Melihat berewok orang se-akan menegak, sikapnya garang, Yo Ko pikir sebagai murid It-teng Taysu, tentu ilmunya sangat tinggi, kenapa mesti bergebrak dengan dia tanpa sebab? Karena itu dia lantas menyurut mundur dan berkata:

“Sesungguhnya siautit tidak tahu jika kedua saudara Bu hendak bertanding di sini, harap paman jangan salah paham.”

“Omong kosong!” bentak Bu Sam-thong. “Kalau kau tidak tahu, mengapa kau berada di sini? Dunia sebesar ini, kenapa kau justru berada di lembah sunyi ini?”

Diam-diam Yo Ko mendongkol. Orang ini benar-benar gila dan sukar diajak bicara, apa lagi pertemuannya di tempat sunyi ini memang betul juga sangat kebetulan, karena itu dia menjadi serba susah untuk menjawab.

Melihat orang ragu-ragu dan diam saja, Bu Sam-thong menganggap bocah ini pasti bukan orang baik-baik. Dasar otaknya pernah terganggu, pula sudah pernah patah hati, maka setiap kali melihat pemuda cakap tentu timbul rasa jemunya. Apa lagi dia sedang gemas dan tak terlampiaskan, tanpa bicara lagi segera dia menabok pundak Yo Ko. Namun Yo Ko sempat mengegos serangan tangan Bu Sam-thong mengenai tempat kosong. Cepat Bu Sam-thong menarik tangannya terus menyikut. Yo Ko tidak berani ayal. Melihat serangan yang keras itu, cepat dia menggeser ke samping untuk menghindar lagi.

“Hebat juga Ginkang-mu,” seru Bu Sam-thong. “Hayolah lekas keluarkan pedangmu!”

Pada saat itulah tiba-tiba bayi di dalam goa terbangun dan menangis. Pikiran Yo Ko tergerak, ia tahu Bu Sam-thong amat benci kepada Li Bok-chiu yang telah membunuh isterinya, bila kepergok pasti akan bergebrak mati-matian. Sedangkan keduanya sama-sama lihay, sekali mulai bertarung pasti tidak kenal ampun lagi, bisa jadi si bayi keserempet bahaya.

Karena Yo Ko lantas berkata dengan tertawa: “Paman Bu, siautit mana berani bergebrak dengan engkau? Tetapi kalau engkau tetap menyangsikan pribadiku, aku pun tidak berdaya. Begini, asal kubiarkan engkau menyerang tiga kali dan Siautit takkan balas menyerang, jika engkau tidak berhasil membinasakan aku, maukah engkau segera pergi dari sini?”

Bu Sam-thong menjadi marah, bentaknya: “Anak setan, temberang benar kau ini, tadi aku sengaja menahan diri dan tidak menyerang sungguh-sungguh, sekarang kau berani memandang enteng?” Mendadak jari telunjuk kanan menotok ke depan, dia sudah mengeluarkan ilmu jari sakti It-yang-ci ajaran It-teng Taysu.

Diam-diam Yo Ko prihatin. Tampak jari orang bergerak perlahan, tapi Hiat-to setengah badan sendiri seakan-akan terkurung oleh jarinya ini, bahkan sukar diketahui Hiat-to mana yang akan diarah. Karena tidak diketahui arah serangan lawan, terpaksa janji tak akan balas menyerang tidak dapat ditepati. Dalam keadaan tiada jalan lain, cepat Yo Ko menyelentik dengan kedua jarinya, inilah ‘Sian-ci-sin-thong’ (selentikan jari sakti) ajaran Oey Yok-su.

Selama berpuluh tahun Sian-ci-sin-thong dan lt-yang-ci terkenal dan masing-masing mempunyai keunggulannya sendiri. Tapi latihan Yo Ko masih cetek, maka dengan sendirinya sukar menandingi latihan Bu Sam-thong yang sudah berpuluh tahun lamanya. Maka begitu jari kedua orang saling bentrok, lengan kanan Yo Ko tergetar, sekujur badan terasa panas dan setelah terdesak mundur beberapa tindak barulah dapat berdiri tegak kembali.

Bu Sam-thong bersuara heran, katanya: “Eh, tampaknya kau memang pernah berdiam di Tho-hoa-to.” Dan karena merasa segan terhadap Oey Yok-su, pula merasa sayang pada Yo Ko yang masih muda tapi sudah mampu menandinginya, maka ketika serangan kedua kalinya ia lantas memperingatkan lebih dulu: “Awas totokan kedua ini, kalau tidak mampu menangkis janganlah menangkis supaya badanmu tidak rusak, aku tak akan mencelakai jiwamu.”

Habis berkata ia terus menubruk maju dan jarinya kembali menotok, sekali ini yang di arah adalah perut Yo Ko yang meliputi berbagai Hiat-to. Yo Ko merasa tidak sanggup menahan lagi dengan Sian-ci-sin-thong apa bila jarinya tidak mau dipatahkan. Dalam keadaan kepepet tiba-tiba dia tarik pedang Ci-wi-kiam dan dibuat tameng di depan perutnya.

Batang pedang Ci-wi-kiam cuma beberapa senti lebarnya, akan tetapi berhawa dingin dan batangnya lemas, sedikit tergetar saja, sudah memancarkan cahaya ungu. Ketika jari Bu Sam-thong mendekat dan merasakan ketajaman pedang, segera dia menarik kembali jarinya. Hanya terkejut sebentar, menyusul totokan ketiga kali sudah dilontarkan lagi oleh Bu Sam-thong, sekali ini secepat kilat mengarah ke batok kepala di tengah alis Yo Ko, dia menduga betapa hebat pedangnya, juga tidak sempat diangkat untuk membela diri.

Tak terduga, sekilas timbul akal aneh dalam benak Yo Ko. Mendadak dia memutar Ci-wi-kiam ke atas, bukannya untuk menangkis, sebaliknya ujung pedang diacungkan ke dada sendiri terus ditusukkannya. Gerakan ini amat berbahaya. Bu Sam-thong terkejut. Cepat totokan jarinya diurungkan dan tangannya menyambar ke bawah dengan maksud merebut pedang Yo Ko untuk menyelamatkan jiwanya.

Ternyata gerakan menusuk dada sendiri hanyalah tipuan Yo Ko belaka. Pada waktu ujung pedang menyentuh bajunya, segera ia tarik ke bawah dan diputar untuk melindungi seluruh tubuhnya, betapa pun cepat gerakan Bu Sam-thong tetap terlambat sedetik sehingga tangannya hampir saja tertebas oleh pedang pusaka Yo Ko. Sekarang Yo Ko benar-benar telah mengalah tiga kali serangan tanpa balas menyerang, maka dia mulai mengeluarkan ilmu pedangnya. Seketika Bu Sam-thong merasa terkurung oleh hawa dingin yang tak tertahankan, meski It-yang-ci lihay bukan main tidak dapat menghadapi pedang mestika ini.

Setelah melengak dan merasa kewalahan akhirnya Bu Sam-thong melompat mundur, lalu dengan lesu ia berkata:

“Hai, benar-benar ksatria timbul dari kaum muda, tua bangka macam aku sudah tak berguna lagi.”

Yo Ko merasa rikuh karena sudah mengibuli orang tua itu, cepat dia menyimpan kembali pedangnya, katanya sambil memberi hormat:

“Kalau paman tidak bermaksud baik dengan merampas pedang untuk menyelamatkan jiwaku, tentu siautit sukar menghindari totokan ketiga kalinya tadi.”

Hati Bu Sam-thong rada terhibur karena Yo Ko membeberkan sendiri tipu akalnya tadi, katanya gegetun:

“Dahulu Oey Yong pernah mengalahkan aku dengan akalnya, sekarang aku dikalahkan pula olehmu, yah, orang kasar macam kami ini memang bukan tandingan kaum muda yang cerdik pandai...”

Belum habis kata-katanya, dari jauh ada suara orang mendatangi, jelas yang datang dua orang. Cepat Yo Ko menarik Bu Sam-thong bersembunyi di balik semak-semak pohon. Sesudah dekat, nyata kedua pendatang itu memang betul Bu Tun-si dan Bu Siu-bun adanya.

Siu-bun berhenti dulu di sini dan memandang sekitarnya, lalu berkata: “Toako, tempat ini cukup lapang, boleh di sini saja.”

“Baik,” jawab Tun-si. Dia tidak suka banyak bicara.

“Srett!” segera pedang diIolos.

Sebaliknya Siu-bun tidak mencabut pedangnya, katanya: “Toako, pertarungan ini andai kata aku kalah dan kau tidak mau membunuh aku, betapa pun juga adikmu ini juga tak ingin hidup lagi di dunia ini. Mengenai menuntut balas kematian ibu dan merawat ayah serta melindungi adik Hu, ketiga tugas besar ini hendaklah Toako yang memikulnya semua.”

Mendengar ini, hati Bu Sam-thong menjadi pedih dan meneteskan ar mata.

Sementara itu Bu Tun-si menjawab: “Asalkan sudah sama-sama tahu, buat apa banyak bicara lagi. Kalau aku yang kalah, begitulah harapanku juga.” Habis ini dia angkat pedangnya dan pasang kuda-kuda.

Namun Bu Siu-bun tetap tidak melolos pedangnya, tiba-tiba ia melangkah maju beberapa tindak dan berkata:

“Toako, semenjak kecil kita sudah kehilangan ibu dan jauh berpisah dengan ayah, kita kakak beradik hidup berdampingan dan tak pernah bertengkar. Bahwa sampai terjadi seperti sekarang ini, apakah Toako marah kepada adik?”

Tun-si menjawab: “Agaknya kejadian ini sudah takdir adikku, kita tidak berkuasa.”

“Baiklah, tak peduli siapa yang hidup dan mati, selamanya jangan membocorkan rahasia kejadian ini agar ayah dan adik Hu tidak berduka,” kata Siu-bun.

Tun-si mengangguk dan menggenggam tangan Siu-bun dengan erat, kedua bersaudara berdiri berhadapan tanpa bicara sampai sekian lama.

Bu Sam-thong tak dapat menahan perasaannya dan bermaksud melompat keluar untuk menegur perbuatan bodoh kedua anak muda itu, tetapi tiba-tiba terdengar kedua orang itu sama-sama berseru:

“Baiklah, mulai!” Berbareng mereka lantas melompat mundur.

Cepat sekali Siu-bun melolos pedangnya. “Sret! Sret! Sret!” tanpa bicara lagi ia menyerang tiga kali dengan cepat.

Namun Tun-si dapat menangkisnya dan balas menyerang dua kali ke tempat mematikan di tubuh adiknya. Bu Sam-thong kuatir melihat serangan yang lihay itu, akan tetapi dilihatnya Siu-bun dapat mengelakkan serangan maut itu dengan mudah. Kemudian di lembah sunyi itu terdengar suara benturan pedang yang nyaring, kedua kakak beradik bertempur mati-matian tanpa kenal ampun. Tentu saja Bu Sam-thong menjadi sedih dan kuatir sekali. Keduanya sama-sama putera kesayangannya, selamanya ia pandang sama, tidak pernah pilih kasih.

Serang menyerang kedua anak muda itu semakin ganas seperti menghadapi musuh saja, kalau pertarungan itu berlangsung terus, akhirnya pasti ada yang celaka. Saat ini kalau Bu Sam-thong mau perlihatkan dirinya dan mencegah, pasti kedua anak muda itu akan berhenti bertempur. Tapi sekarang ini, besok juga pasti akan mengadu jiwa puIa, betapa pun ia tak dapat senantiasa mengawasi kedua anak muda itu. Begitulah Bu Sam-thong semakin sedih memikirkan betapa malang nasib keluarganya, tanpa terasa air matanya bercucuran.

Sejak kecil Yo Ko memang tidak akur dengan kedua saudara Bu ini, setelah dewasa dan bertemu kembali juga tetap tidak cocok. Seperti juga umumnya manusia, jika melihat orang lain susah, maka timbul rasa senangnya. Semula Yo Ko juga bersyukur kedua saudara Bu itu saling genjot sendiri. Namun setelah melihat Bu Sam-thong sangat berduka, tiba-tiba saja timbul rasa bajiknya, terutama bila mengingat jiwa sendiri sudah tidak panjang lagi, pikirnya: “Selama hidupku tidak pernah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sesudah aku mati tentu Kokoh sangat berduka, selain itu yang akan teringat pada diriku paling-paling cuma Thia Eng, Liok Bu-siang dan Kongsun Lik-oh beberapa nona cantik itu saja. Apakah tidak lebih baik jika sekarang kulakukan sesuatu yang berguna agar paman Bu ini selama hidup akan selalu ingat pada kebaikanku?”

Setelah mengambil keputusan itu, segera dia membisiki Bu Sam-thong: “Paman Bu, aku ada akal yang dapat menghentikan pertarungan kedua kakak Bu.”

Hati Bu Sam-thong tergetar, ia berpaling lalu memandang dengan penuh rasa terima kasih dan air matanya masih bercucuran tetapi tampaknya ia masih ragu-ragu karena tidak tahu Yo Ko mempunyai akal bagus apa untuk memecahkan persoalan pelik ini?

“Cuma terpaksa aku harus bikin susah kedua saudara Bu, hendaknya paman jangan marah,” bisik Yo Ko.

Dengan kencang Bu Sam-thong menggenggam dua tangan Yo Ko, saking terharu hatinya sehingga tidak sanggup bicara. Sejak muda ia sudah tergoda oleh urusan cinta, tapi sejak isterinya meninggal rasa terharu atas budi kebaikan sang isteri yang rela mengorbankan jiwa untuk menyelamatkannya itu lambat laun membuat cinta kepayangnya pada kekasihnya dahulu mulai hambar. Sesudah tambah tua harapannya hanya tercurah pada kedua puteranya, biar pun jiwa sendiri harus dikorbankan ia pun rela. Karena itu ketika mendengar ucapan Yo Ko tadi pada saat ia sudah putus harapan, tentu saja ia sangat girang seakan-akan mendapatkan wahyu.

Melihat sikap Bu Sam-thong ini, Yo Ko menjadi terharu dan hatinya terasa pedih. Dia pikir kalau ayahku masih hidup, tentu beliau juga sayang padaku seperti ini. Dengan suara tertawa ia lantas berkata:

“Hendaklah paman Bu diam saja di sini dan jangan sekali-kali diketahui mereka, kalau tidak akalku akan gagal total.”

Pertarungan kedua saudara Bu semakin sengit dan benar-benar mengadu jiwa, meski pun begitu dalam pandangan Yo Ko kepandaian kedua Bu sebetulnya belum ada tiga bagian dari pada seluruh kepandaian Kwe Ceng. Pada saat itulah mendadak Yo Ko bergelak tertawa terus memperlihatkan diri.

Tentu saja kedua saudara Bu amat terkejut, berbareng mereka melompat mundur, bentak mereka sambil menatap tajam kepada Yo Ko:

“Untuk apa kau datang ke sini?!”

“Kalian sendiri untuk apa berada di sini?” jawab Yo Ko dengan tertawa.

Bu Siu-bun terbahak-bahak, katanya: “Karena sedang iseng di malam sunyi ini maka kami bersaudara berlatih ilmu pedang.”

Diam-diam Yo Ko mengakui Bu cilik itu lebih cerdik, meski berdusta tetapi cara bicaranya seperti sungguh-sungguh. Segera ia menjengek.

“Hm, jika berlatih kok serang menyerang mati-matian? He-he, giat amat cara kalian berlatih?”

Bu Tun-si menjadi marah damperatnya: “Enyahlah kau, urusan kami tidak perlu kau ikut campur!”

“Ha, jika benar-benar berlatih sudah tentu aku tidak perlu urus,” jengek Yo Ko, “Tapi setiap kali kalian serang menyerang, yang kalian pikirkan adik Hu belaka, mau tak mau aku harus ikut campur.”

Mendengar ucapan “adik Hu” yang sengaja dibikin mesra oleh Yo Ko, seketika hati kedua saudara Bu tergetar. Dengan marah Siu-bun mendamperat:

“Kau mengaco belo?!”

Dengan tegas Yo Ko berucap lagi: “Adik Hu... kau dengar tidak? Adik Hu-ku tersayang itu puteri kandung paman dan bibi Kwe, benar tidak? Urusan perjodohan harus berdasarkan ijin dari ayah ibu, benar tidak? Sedangkan paman Kwe sudah lama menjodohkan adik Hu kepadaku, hal ini kan sudah kalian ketahui, tetapi kalian malah bertanding pedang di sini untuk memperebutkan bakal isteriku, memangnya kalian anggap si Yo Ko ini manusia atau bukan?”

Kata-kata Yo Ko tegas dan bengis, seketika kedua saudara Bu tidak mampu menjawab. Mereka memang tahu Kwe Ceng ada maksud memungut Yo Ko sebagai menantu, tetapi Oey Yong dan Kwe Hu sendiri tidak suka padanya. Sekarang isi hati mereka mendadak dibongkar oleh Yo Ko, kedua saudara Bu itu menjadi saling pandang dengan bingung. Dasar Siu-bun memang lebih cerdik, segera ia balas mendengus:

“Huh, bakal isteri apa? Sungguh berani kau mengucapnya! Apa buktinya kau sudah dijodohkan dengan adik Hu? Adakah comblangnya? Apa kau sudah memberi panjer? Sudahkah bertunangan?”

“Ha-ha, memangnya kalian berdua yang sudah dijodohkan dengan dia? Juga sudah ada comblangnya dan sudah diluluskan orang tuanya?” balas Yo Ko menjengek.

Maklumlah, pada jaman dinasti Song adat istiadat urusan perkawinan dipandang sangat penting, tiap perjodohan harus seijin orang tua dan harus ada saksi comblangnya. Sudah tentu hubungan kedua saudara Bu dengan Kwe Hu belum sampai sejauh itu, karena itu mereka menjadi bungkam oleh pertanyaan Yo Ko. Sesudah berpikir sejenak, Siu-bun lalu menjawab:

“Suhu bermaksud menjodohkan adik Hu padamu, hal itu memang benar. Akan tetapi Subo (ibu guru) justru menjatuhkan pilihannya atas salah satu di antara kami berdua. Jadi sebenarnya kedudukan kita bertiga sekarang adalah sama, siapa pun belum punya hak. Soal siapa yang akan keluar sebagai pemenang kelak adalah sukar diramalkan.”

Yo Ko tidak menjawab, ia menengadah dan bergelak tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?” damperat Siu-bun dengan marah. “Memangnya ucapanku tadi salah?”

“Ya, salah, salah besar!” jawab Yo Ko, “Bahwa paman Kwe suka padaku sudah tak perlu disangsikan lagi, malahan bibi Kwe juga sangat suka padaku, kalian berdua mana dapat dibandingkan dengan diriku?”

“Hm, yang penting kenyataannya, tiada berguna omong kosong,” jengek Siu-bun.

“Ha-ha, untuk apa aku omong kosong?” ujar Yo Ko, “Bibi Kwe sudah menjodohkan puterinya kepadaku, kalau tidak buat apa kutolong ayah dan ibu mertuaku dengan mati-matian? Itu lantaran mengingat akan adik Hu. Nah, coba katakan, apakah Subo-mu pernah berjanji kepada kalian?”

Dua Bu cilik itu saling pandang dengan bingung. Mereka merasa sang ibu guru memang tidak pernah memberi janji ucapan apa pun, malahan belum pernah mengunjuk keinginan hendak memungut menantu salah seorang di antara mereka. Jangan-jangan ibu gurunya itu memang betul telah menjodohkan Kwe Hu kepada bocah she Yo ini! Tadinya kedua saudara itu hendak mengadu jiwa sendiri, akan tetapi sekarang mendadak di antara mereka diselipi seorang lawan, seketika timbul rasa persatuan kedua saudara itu untuk menghadapi musuh bersama.

Seperti diketahui, Yo Ko pernah mengintip dan mendengar percakapan Kwe Hu dengan kedua saudara Bu, maka ia sengaja memancing rasa cemburu mereka, sambil tertawa ia berkata:

“Adik Hu pernah berkata padaku bahwa kedua kakak Bu bersaing memperebutkan dia, karena tak dapat menolak, terpaksa adik Hu menyatakan menyukai ke-duanya. Padahal, ha-ha-ha, masa ada perempuan baik-baik di dunia ini sekaligus mencintai dua orang lelaki? Adik Hu adalah gadis yang suci bersih, tidak mungkin terjadi begitu. Nah, biar kukatakan sejujurnya pada kalian, bahwa menyukai ke-duanya berarti satu pun tidak disukainya.” Lalu ia sengaja menirukan lagak lagu ucapan Kwe Hu pada malam itu: “O, Kakak Bu cilik, mengapa engkau selalu merecoki aku, masa kau tidak tahu perasaanku padamu? O, kakak Bu besar rasanya lebih baik aku mati saja.”

Seketika air muka kedua saudara Bu berubah. Ucapan Kwe Hu dikatakan kepada mereka secara tersendiri, tatkala itu tiada orang ketiga yang hadir. Kalau saja Kwe Hu tidak menceritakan kembali kepadanya, dari mana Yo Ko mengetahui? Hati mereka terasa sakit seperti disayat, rupanya memang beginilah sebenarnya maka selama ini Kwe Hu tak mau menerima lamaran mereka.

Melihat paras air muka kedua saudara Bu dapatlah Yo Ko mengetahui bahwa akalnya sudah mencapai sasarannya, segera dia berkata dengan sungguh-sungguh:

“Pendek kata, adik Hu adalah bakal isteriku, sesudah menikah kami akan hidup bahagia sampai kakek dan nenek...” Sampai di sini, mendadak terdengar di belakang ada suara orang menghela napas pelan, kedengarannya mirip benar dengan suara Siao-liong-li.

Yo Ko terkejut dan hampir-hampir saja berseru memanggil, namun segera dia menyadari bahwa suara itu adalah suara Li Bok-chiu di dalam goa. Orang ini sekali-kali tidak boleh dipertemukan dengan keluarga Bu. Segera ia berkata kepada kedua saudara Bu:

“Nah, makanya kalian jangan bermimpi dan buang tenaga percuma, Mengingat kebaikan bakal ayah dan ibu mertuaku, biarlah urusan kalian ini tidak akan kupikirkan lagi, kalian boleh pulang ke Siang-yang untuk membantu ayah mertuaku menjaga benteng, kukira itulah tugas yang lebih utama bagi kalian.”

BegituIah terus menerus dia menyebut Kwe Ceng dan Oey Yong sebagai bakal ayah dan ibu mertuanya. Sedih dan lesu kedua saudara Bu dan saling genggam tangan dengan kencang, kata Siu-bun dengan lemah:

“Baiklah, Yo-toako, kudoakan semoga engkau dan Kwe-sumoay hidup bahagia, kami bersaudara akan pergi jauh dirantau dan anggaplah di dunia ini tak pernah ada kami.” Habis berkata mereka lantas membalikkan tubuh.

Diam-diam Yo Ko merasa girang karena maksud tujuannya kelihatannya akan tercapai. Ia pikir meski kedua Bu cilik itu dendam padanya, kelak kedua bersaudara itu pasti akan rukun dan saling sayang sebagaimana yang diharapkan Bu Sam-thong.

Bu Sam-thong juga girang sekali setelah menyaksikan Yo Ko berhasil membikin kedua puteranya berhenti bertempur. Dilihatnya dua anak muda itu bergandengan tangan dan melangkah pergi, tanpa tertahan dia terus berseru:

“Anak Bun dan anak Si, marilah kita berangkat bersama.”

Kedua Bu cilik melengak kaget, mereka menoleh dan memanggil “ayah”. Bu Sam-thong lantas memberi hormat kepada Yo Ko dan berkata:

“Adik Yo, selama hidupku takkan melupakan budi pertolonganmu.”

Yo Ko mengerutkan kening. Dia pikir sungguh sembrono orang tua ini berbicara demikian di hadapan kedua Bu cilik. Baru saja ia hendak membingungkan mereka dengan perkataan lain, namun Bu Siu-bun sudah mulai curiga, katanya tiba-tiba kepada Tun-si.

“Toako, apa yang dikatakan bocah she Yo tadi belum tentu betul.”

Meski Bu Tun-si tidak banyak omong, tetapi kecerdasannya tidak di bawah sang adik. Ia pandang sekejap kepada ayahnya, lalu mengangguk kepada Siu-bun.

Melihat urusan bisa runyam lagi, cepat Bu Sam-thong menambahkan: “Eh, kalian jangan salah alamat, sama sekali aku tidak minta adik Yo ini untuk melerai kalian.”

Sebenarnya kedua Bu cilik cuma merasa curiga dan belum tahu persis urusan yang sesungguhnya, tapi mereka justru menjadi curiga setelah sang ayah bermaksud menutupi persoalannya. Segera mereka teringat hubungan Yo Ko dengan Kwe Hu biasanya tidak cocok, lagi pula Yo Ko amat mencintai Siao-liong-li, jadi apa yang dikatakan Yo Ko besar kemungkinan tidak betul.

“Toako,” kata Siu-bun kemudian, “Marilah kita pulang ke Siang-yang untuk menanyai adik Hu sendiri.”

“Benar,” jawab Tun-si. “Ocehan orang lalu masa dapat menipu kita.”

Segera Siu-bun berkata kepada Bu Sam-thong: “Ayah, marilah engkau ikut juga ke Siang-yang. Temuilah Suhu dan Subo, mereka kan sahabatmu.”

“Aku... aku...” muka Bu Sam-thong menjadi merah. Ia bermaksud memperlihatkan wibawa seorang ayah untuk mengomeli kedua puteranya, tetapi kuatir kedua anak muda itu hanya mengiyakan di depannya, tapi di belakangnya akan bertarung mati-matian lagi.

Yo Ko lantas menjengek: “Saudara Bu, memangnya sebutan ‘adik Hu’ boleh kau panggil sesukamu? Selanjutnya kularang kau menyebutnya, bahkan dalam hati pun tidak boleh kau pikirkan dia.”

Siu-bun menjadi marah, teriaknya: “Bagus, di dunia ini ternyata ada manusia se-wenang-wenang macam kau. ‘Adik Hu’ sudah kusebut selama sepuluh tahun, kenapa kau berani melarang aku menyebutnya?”

“Hmm, bukan saja sekarang aku tetap memanggil adik Hu, bahkan besok, lusa dan untuk selanjutnya aku tetap akan memanggilnya. Adik Hu, adik Hu, adik Hu...” Sebelum habis ucapannya, “plok”, mendadak pipinya kena ditempeleng satu kali oleh Yo Ko.

Segera Siu-bun mengacungkan pedangnya dan berkata dengan geram: “Baik, orang she Yo, sudah lama kita tidak berkelahi, ya?”

“He, anak Bun, berkelahi apa maksudmu?” cepat Bu Sam-thong mencegah.

Mendadak Yo Ko berpaling kepada Bu Sam-thong kemudian bertanya: “Paman Bu, kau membantu pihak mana?”

Menurut aturan, wajar bila Bu Sam-thong membela anaknya sendiri, tapi tindakan Yo Ko sekarang jelas demi untuk mencegah saling bunuh antara kedua bersaudara itu, karena itu Bu Sam-thong menjadi serba salah dan melongo belaka.

“Begini saja,” kata Yo Ko, “Silakan paman Bu duduk tenang di situ, aku tidak akan mencelakai jiwa mereka, rasanya mereka pun tidak akan mampu mencelakai aku, engkau boleh menonton pertunjukan menarik ini.”

Usia Yo Ko berselisih jauh dari pada Bu Sam-thong, tapi pintarnya dan cerdiknya jauh di atasnya, jadi apa yang dikatakannya tanpa kuasa diturut saja oleh Bu Sam-thong. Segera ia duduk di atas batu padas di samping sana.

BANTUAN BAGI KELUARGA BU ( 2 )

Yo Ko meloloskan Ci-wi-kiam, seketika cahaya dingin gemerlapan. Dia menyabet perlahan pedang lemas itu, terdengar suara mendesir. Sepotong batu besar di sebelahnya disabet bersilang, waktu kakinya mendepak, kontan batu besar itu pecah menjadi empat bagian, bagian yang retak itu halus licin seperti irisan tahu saja.

Melihat betapa tajamnya pedang orang, kedua saudara Bu bertukar pandang dengan hati jeri. Mereka menjadi ragu cara bagaimana dapat menandingi Yo Ko dengan pedang selihay itu.

Namun Yo Ko lantas menyimpan kembali pedangnya, kemudian berkata dengan tertawa.

“Pedangku ini masa kugunakan untuk menghadapi kalian?” Sekenanya ia memotong sebatang dahan pohon, ia buang daunnya hingga berwujud sebatang pentung sepanjang satu meteran, kemudian berkata: “Tadi sudah kukatakan bahwa ibu mertua condong padaku, tapi kalian tak percaya. Sekarang boleh kalian saksikan, aku akan menggunakan pentung ini untuk melayani pedang kalian, kalian boleh maju sekaligus dan mengeluarkan segenap kepandaian ajaran ayah ibu mertuaku serta ajaran paman Cu Cu-liu, sebaliknya aku hanya akan mempergunakan ilmu silat ajaran ibu mertuaku saja. Asalkan aku salah menggunakan sejurus dari aliran lain, segera anggap saja aku kalah.”

Kedua saudara Bu sebenarnya jeri pada kepandaian Yo Ko yang hebat. Mereka sudah menyaksikan dia menempur Kim-lun Hoat-ong dengan cara aneh, tetapi mereka menjadi naik pitam demi mendengar ucapan Yo Ko yang berulang-ulang menyebut “ayah dan ibu mertua”, seakan-akan Kwe Hu benar-benar sudah menjadi isterinya, sungguh gemas mereka tidak kepalang. Malah dengan sombongnya Yo Ko menyatakan bersedia dikerubuti dan akan melayani pedang mereka dengan pentung, bahkan terbatas pada ilmu silat ajaran Oey Yong melulu.

Dalam keadaan begini kalau mereka tidak dapat mengalahkan Yo Ko juga keterlaluan dan buat apa lagi hidup di dunia ini. Maka Siu-bun langsung menegas:

“Baik, kau sendiri yang berkata begitu dan bukan kami yang minta. Kalau kau salah menggunakan ilmu silat dari golongan lain, lalu bagaimana?”

“Pertandingan kita ini bukan disebabkan permusuhan di masa lalu atau karena kebencian sekarang, kita bertempur demi adik Hu,” kata Yo Ko. “Maka kalau aku kalah, asalkan aku memandang sekejap padanya atau bicara sepatah saja dengan dia, katakanlah aku ini manusia rendah yang tidak tahu malu. Tapi bagaimana jika kalian yang kalah?”

Pertanyaan Yo Ko sengaja memaksa kedua saudara Bu itu harus menyatakan janji yang sama, maka Siu-bun lalu menjawab:

“Jika kami kalah, kami pun takkan menemui adik Hu untuk selamanya.”

“Bagaimana kau, setuju?” tanya Yo Ko kepada Tun Si.

“Kami bersaudara satu hati dan satu tujuan, tak ada perbedaan pendirian!” jawab Tun-si dengan marah.

“Bagus, sesudah kalah nanti, kalau kalian tidak pegang janji, maka kalian akan dianggap manusia tidak tahu malu yang melebihi binatang, begitu bukan?” Yo Ko menegaskan.

“Benar,” jawab Siu-bun. “Tidak perlu banyak bicara lagi, orang she Yo, marilah mulai.”

Habis berkata ia terus mendahului menusuk dari sebelah kanan, berbareng Bu Tun-si juga bergerak dari sebelah kiri, asalkan Yo Ko berusaha menghindar serangan Siu-Bun berarti akan dimakan serangan Tun-si. Akan tetapi dengan gesit Yo Ko dapat menghindari beberapa kali serangan kedua Bu cilik itu sambil mengolok-olok. Keruan kedua saudara Bu tambah murka dan menyerang lebih gencar.

“Kau mengaco apa? Mengapa kepandaian ajaran Subo tidak lekas kau keluarkan?”

“Baik, kau meminta tentu akan kuperlihatkan. Nah, awas, inilah kepandaian asli ajaran ibu mertuaku!” seru Yo Ko.

Pentungnya segera menyabet serta diputar ke atas. Itulah gaya ‘menjegal’ dari Pak kau-pang-hoat, berbareng jari tangan lain pura-pura hendak menotok Hiat-to di tubuh Bu Tun-si.

“Blukk!”

Ketika Tun-si melompat mundur, tahu-tahu Bu Siu-bun sudah jatuh kesandung pentung. Nampak adiknya kecundang, cepat Bu Tun-si menubruk maju lagi dan menyerang dengan gencar.

“Benar, adik ada kesulitan, sang kakak yang menolong.”

Demikianlah sambil mengolok-olok, sekali pentungnya berkelebat tahu-tahu Yo Ko sudah menggeser ke belakang Tun-si.

“Plokk!” dengan tepat pantat Tun-si kena disabet sekali.

Gerakan pentung Yo Ko itu tampaknya lamban, tapi tepat yang diarah adalah bagian yang sama sekali tidak terduga. Dan memang di situlah letak keistimewaan Pak-kau-pang-hoat yang termashur itu.

Sesudah merasakan gebukan pada pantatnya, walau pun tidak terlalu sakit, jelas ia pun sudah kecundang, karena itu diam-diam timbul rasa kedernya. Dalam pada itu Bu Su-bun melompat bangun dan berseru:

“Ini adalah Pak-kau-pang-hoat, mana mungkin Subo mengajarkan kau secara diam-diam? Jelas kau mencuri belajar beberapa jurus ketika kita sama-sama menyaksikan Subo mengajarkan ilmu permainan pentung ini kepada Loh-tianglo tempo hari.”

Mendadak pentung Yo Ko menjulur. “Blukk!” kembali Siu-bun dijegal hingga terbanting lagi. Cepat Bu Tun-si menebas dengan pedangnya untuk menolong sang adik.

Yo Ko menunggu Siu-bun merangkak bangun, lalu berkata dengan tertawa: “Kalau kita menyaksikan bersama waktu ibu mertuaku mengajarkan pada Loh-tianglo, mengapa aku bisa dan kalian tidak bisa? Padahal yang diajarkan ibu mertuaku pada Loh-tianglo hanya kuncinya saja secara lisan, bagaimana cara memainkannya beliau telah mengajarkan padaku diam-diam, bahkan adik Hu juga tidak bisa, apa lagi kalian ini.”

Bu Siu-bun tidak tahu bahwa secara kebetulan Yo Ko pernah mendapat ajaran dari Ang Chit-kong ketika pengemis sakti itu bertanding dengan Auyang Hong di puncak Hoa-san dahulu, maka dalam hati sebenarnya dia percaya apa yang dikatakan Yo Ko, cuma di mulut dia tetap tidak mau kalah, katanya:

“Huh, setiap orang memang berbeda. Kebetulan kami juga mendengar ajaran Subo kepada Loh-tianglo, namun ilmu pentung itu mana boleh digunakan kecuali oleh pangcu dari Kay-pang sendiri? Sebelum ada perintah Subo, mana kami berani melatihnya? Hanya manusia rendah saja yang mau berbuat begitu! Hm, kau sendiri tidak tahu malu, tapi malah meng-okok orang lain.”

Yo Ko terbahak-bahak, pentungnya berputar Iagi. “Plok-plok!” tahu-tahu punggung Siu-bun dan Tun-si tersabet pula. Cepat kedua saudara Bu melompat ke samping dengan muka merah padam.

“Baiklah, karena tak ada bukti dan saksi, meski kukalahkan kalian dengan Pak-kau-pang-hoat juga kalian belum mau mengaku kalah,” ujar Yo Ko, “Nah, sekarang akan kugunakan sejurus kepandaian lain ajaran Subo, coba lihat.”

Habis ini dia pandang Siu-bun, kemudian menatap Tun-Si, lalu bertanya: “Katakan lebih dulu, ilmu silat ibu mertuaku berasal dari ajaran siapa?”

Dengan marah Siu-bun menjawab. “Kalau kau tanpa malu-malu menyebut lagi ibu mertua segala, maka kami tidak sudi bicara lagi dengan kau.”

“Ahh, mengapa kalian berjiwa sesempit ini?” kata Yo Ko dengan tertawa. “Baiklah, coba jawab pertanyaanku, ilmu silat Subo-mu berasal dari siapa?”

“Subo kami adalah puteri kesayangan Oey-tocu dari Tho-hoa-to, sudah tentu ilmu silatnya berasal dari ajaran ayahnya sendiri, masa perlu kau tanyakan puia?” jawab Siu-bun.

“Benar,” kata Yo Ko. “Kalian sendiri pernah tinggal beberapa tahun di Tho-hoa-to, apakah kalian tahu kepandaian khas Oey-tocu, terutama ilmu pedangnya, apa nama ilmu pedang kebanggaan beliau?”

Dengan bersemangat Bu Siu-bun menjawab “Oey-tocu terkenal maha sakti dan serba pintar, segala apa pun diketahui oleh beliau, semua kepandaiannya juga diketahui olehmu, mengapa kau bertanya padaku? Giok-siau-kiam-hoat beliau termashur di seluruh dunia, tiada seorang pun di dunia Kangouw yang tidak tahu.”

“Dan kalian pernah berjumpa dengan Oey tocu tidak?” tanya Yo Ko pula.

“Belum pernah.” jawab Siu-bun. “Oey-tocu senang mengembara, bahkan Suhu dan Subo sendiri jarang bertemu dengan beliau, apa lagi orang muda seperti kami ini.”

“Oh, jika begitu Giok-siau-kiam-hoat Oey-tocu itu tak pernah kalian lihat?” kata Yo Ko.

“Melihat secara langsung memang tidak pernah,” jawab Siu-bun sambil mendengus. “Tapi ketika hari ulang tahun Oey-tocu, Subo sudah merayakannya dan berdoa dari jauh bagi kesehatan beliau, dalam pesta itu Subo memperlihatkan ilmu pedang kebanggaan Oey-tocu. Tatkala itu Yo-heng sendiri berangkat ke Cong-lam-san untuk mencari guru lain.”

“Betul,” ujar Yo Ko sambil tertawa. “Kemudian ibu mertuaku... oh, baiklah, kemudian Subo kalian diam-diam telah mengajarkan ilmu pedang itu padaku.”

Kedua saudara Bu itu saling pandang. Sudah tentu mereka tak percaya, sedangkan Kwe Hu saja yang merupakan puteri tunggal kesayangan Oey Yong juga tak pernah diajari ilmu pedang itu, masa bisa jadi Yo Ko malah diberi pelajaran di luar tahu mereka?

“Kalian tentu tidak percaya, bukan?” kata Yo Ko. ”Baiklah, coba lihat jurus serangan ini!”

Mendadak pentungnya digunakan sebagai pedang. “Crett!” tahu-tahu dada Bu Tun-si sudah tertusuk oleh ujung pedang.

Kalau saja pentung itu pedang tajam, maka dada Tun-si pasti sudah tembus dan jiwanya melayang. Siu-bun cukup cekatan. Melihat Yo Ko menyerang, secepat kilat ia pun menusukkan pedangnya ke iga kanan Yo Ko. Namun tetap terlambat sedikit, pentung Yo Ko sempat diputar balik dan tahu-tahu menusuk ke pergelangan tangannya.

Serangan Yo Ko ternyata mencapai sasarannya lebih cepat dari pada serangan Siu-bun, belum lagi ujung pedang Siu-bun mengenai tubuh lawan, pergelangan tangannya telah tertusuk lebih dahulu oleh ujung pentung Yo Ko dan pedangnya pasti akan terlepas dari cekalan. Cepat Siu-bun menarik kembali pedangnya dan berganti serangan lain, sambil memutar balik pedangnya, kaki kirinya menendang.

Sementara itu sembari melangkah maju pentung Yo Ko telah ditusukkan ke bahu Bu Tun-si, tendangan Siu-bun seakan-akan tak dihiraukannya. Dengan sendirinya tendangan Siu-bun mengenai tempat kosong, sedangkan keadaan Bu Tun-si menjadi berbahaya. Cepat Bu Tun-si putar pedangnya dengan kencang untuk bertahan secara rapat, dengan begitu terhindarlah dia dari tusukan pentung lawan.

Hanya dalam beberapa jurus saja kedua saudara Bu dibikin kelabakan oleh Yo Ko, jangankan hendak balas menyerang, bertahan pun terasa sulit. Sama sekali kedua Bu cilik itu tak pernah menyangka bahwa Giok-siau-kiam-hoat yang pernah dipertunjukkan oleh Oey Yong itu ternyata memiliki perubahan gerak yang begini indah dan hebat untuk digunakan.

Karena kecundang, kedua saudara Bu menjadi malu dan berduka. Mereka mengira Giok-siau-kiam-hoat itu benar-benar diajarkan oleh Oey Yong kepada Yo Ko. Sudah tentu tak pernah mereka bayangkan bahwa Yo Ko pernah berkumpul cukup lama dengan Oey Yok-su dan mendapatkan ajaran langsung kedua macam ilmu silatnya yang maha sakti itu.

Melihat kedua orang itu sedih dan lesu, hati Yo Ko menjadi tidak tega. Tetapi mengingat maksud tujuannya hendak menyelamatkan jiwa mereka, kalau sekarang keduanya tidak dibikin menyerah betul-betul agar selamanya tak akan menemui Kwe Hu lagi, maka kelak keduanya pasti akan berkelahi mati-matian lagi bagi nona itu, karena inilah dia lalu mempergencar serangannya tanpa kenal ampun lagi. Keruan kedua saudara Bu jadi semakin keder, bayangan pentung berkelebat mengelilingi mereka, segenap Hiat-to penting di tubuh mereka seluruhnya terancam oleh pentung Yo Ko. Terpaksa mereka mengertak gigi dan bertahan mati-matian.

Sesungguhnya kepandaian kedua Bu cilik itu tidak terlampau rendah, akan tetapi kalau dibandingkan Yo Ko yang sekarang sudah menyamai jago kelas satu, dengan sendirinya mereka bukan tandingannya. Apa lagi sekarang mereka merasa gelisah, cara bertempur mereka menjadi ngawur. Sebaliknya Yo Ko tidak menggunakan serangan maut melainkan melayaninya dengan tenang.

Lambat-laun kedua saudara merasa pentung lawan itu seakan-akan membawa semacam kekuatan menghisap yang sangat kuat, pedang mereka seperti lengket ikut bergoyang kian kemari tanpa kuasa. Akhirnya kedua saudara itu seperti saling tempur sendiri, pedang Bu Tun-si yang menusuk Yo Ko terkadang hampir mengenai adiknya, begitu pula tebasan pedang Bu Siu-bun terpaksa harus ditangkis oleh Tun-si.

“Kebagusan Giok-siau-kiam-hoat tidak cuma begini saja, lihatlah” kata Yo Ko.

“Trakk...!” pentungnya beradu dengan pedang Tun-si, cuma yang terbentur adalah bagian samping batang pedang sehingga pentung kayu itu tidak rusak.

Seketika Tun-si merasa dibetot tenaga kuat, pedang hampir terlepas. Lekas dia menarik balik sekuatnya, tapi Yo Ko terus ikut mendorongkan pentungnya dan tahu-tahu pedang Bu Siu-bun ikut lengket pada pentungnya. Ketika pentung Yo Ko menahan ke bawah, kedua pedang tertindih ke atas tanah.

Cepat kedua Bu cilik menarik pedang sekuatnya. Baru terasa sedikit kendur, tahu-tahu Yo Ko melangkah maju, pentung kayu diangkat, tetapi sebelah kakinya sudah menggantikan pentung untuk menginjak ujung kedua pedang. Tahu-tahu tenggorokan kedua saudara Bu terancam oleh ujung pentung, kalau saja bertempur sungguh-sungguh, pasti leher mereka sudah ditembus oleh senjata musuh.

“Bagaimana, menyerah tidak?” tanya Yo Ko dengan tertawa.

Seketika wajah kedua Bu cilik pucat pasi bagaikan mayat, mereka bungkam tidak dapat menjawab. Segera Yo Ko mengangkat kakinya lalu mundur dua tiga tindak. Melihat kedua saudara yang serba konyol itu, dia menjadi teringat kepada masa kecilnya dahulu, ketika dia kenyang dihina dan dikerubuti oleh kedua Bu cilik itu dan baru sekarang ini dia dapat melampiaskan rasa dongkol itu, tanpa terasa mukanya memperlihatkan perasaan senang dan puas.

Kedua saudara Bu sama sekali tak menduga bahwa Yo Ko telah mendapatkan ajaran kepandaian Oey Yong. Namun mereka tetap penasaran. Mereka merasa sewaktu bertempur tadi sudah didahului oleh lawan sehingga mereka tidak sempat mengeluarkan segenap kepandaian yang diperoleh dari Kwe Ceng, malahan lt-yang-ci yang baru mereka pelajari juga sama sekali tidak sempat dimainkan.

Bu Tun-si menjadi putus asa, ia menghela napas panjang. Ia bermaksud akan membuang pedangnya kemudian pergi, tapi mendadak Bu Siu-bun berseru padanya:

“Toako, jika kita sudahi sampai di sini saja, lalu apa artinya hidup kita di dunia ini? Tidakkah lebih baik kita adu jiwa saja dengan dia?!”

Hati Tun-si terkesiap, segera ia pun menjawab: “Benar!”

Serentak kedua bersaudara memutar pedang dan kembali mengerubut maju. Kini mereka sudah nekat sehingga tidak perlu menjaga diri, yang mereka utamakan adalah menyerang saja dan selalu mengincar tempat yang mematikan. Perubahan ini ternyata hebat juga. Keduanya tidak berjaga diri lagi melainkan hanya menyerang. Mereka rela mati di bawah pentung Yo Ko asalkan dapat gugur bersama musuh. Malahan selain menyerang dengan pedang, tangan kiri kedua Bu cilik juga memainkan It-yang-ci yang lihay.

“Bagus, pertarungan begini barulah nikmat!” kata Yo Ko dengan tertawa.

Bahkan ia terus membuang pentungnya, dengan bertangan kosong ia berlari kian kemari di antara sambaran pedang musuh. Meski kedua saudara Bu menyerangnya dengan tidak kenal ampun, namun tetap sukar mengenai sasaran. Bu Sam-thong merasa serba susah menyaksikan pertarungan itu. Sebentar dia berharap Yo Ko yang menang agar kedua puteranya takkan memikirkan dan memperebutkan Kwe Hu lagi. Akan tetapi bila melihat kedua Bu cilik sedang mengalami bahaya, tanpa terasa timbul juga keinginannya agar mereka dapat mengalahkan Yo Ko. Tiba-tiba terdengar Yo Ko bersuit nyaring.

“Cringg...! Cringg...!” jarinya menyelentik batang pedang kedua lawannya.

Seketika lengan kedua saudara Bu terasa pegal linu, genggamannya juga sakit, setengah badan tergetar kaku, pedang mereka mencelat ke atas dan serentak mereka melompat mundur. Dengan gesitnya Yo Ko melompat ke atas dan menangkap kedua pedang itu, lalu katanya dengan tertawa:

“Nah, inilah ilmu sakti Sian-ci-sin-thong dari Tho-hoa-to, kalian pernah melihatnya belum?”

Sampai di sini mau tak mau kedua saudara Bu menyadari, kalau pertarungan diteruskan tentu mereka akan tambah konyol.

“Maaf!” kata Yo Ko kemudian sambil menyodorkan kedua pedang rampasannya.

Siu-bun menerima kembali pedangnya dan berkata dengan pedih: “Ya, selamanya aku tak akan menemui adik Hu lagi.” Habis berkata ia terus melintangkan pedang dan menggorok ke lehernya sendiri.

Pikiran Bu Tun-si ternyata sama persis dengan adiknya, pada saat yang sama ia pun mengangkat pedangnya hendak membunuh diri. Tentu saja Yo Ko terkejut, secepat terbang ia menubruk maju.

“Cringg...! Cringg...!” kembali kedua pedang itu kena diselentiknya dan mencelat ke atas.

“Trangg...!” kedua pedang saling bentur dan patah.

Pada saat itu Bu Sam-thong melompat maju, satu tangan satu orang, dia cengkeram tengkuk kedua anaknya sambil membentak dengan suara bengis:

“Demi memperebutkan seorang perempuan kalian berdua lantas berpikiran pendek, sungguh percumalah kalian menjadi laki-laki!”

Siu-bun segera mengangkat kepalanya dan menjawab: “Ayah, bukankah engkau sendiri juga merana selama hidup demi seorang perempuan? Aku...”

Belum habis ucapannya, dia lihat muka sang ayah penuh dengan air mata, rasa dukanya tidak kepalang, seketika itu teringat olehnya perbuatan mereka bersaudara sesungguhnya teramat melukai perasaan sang ayah, tanpa terasa dia lantas menangis keras-keras. Pegangan Bu Sam-thong menjadi kendur, segera dia merangkul kedua puteranya dan menangislah ketiganya berpelukan menjadi satu.

Merasa usahanya telah berhasil, hati Yo Ko sangat senang. Ia pikir meski jiwanya takkan tahan lama lagi, paling tidak ia telah berbuat sesuatu kebajikan. Dalam pada itu terdengar Bu Sam-thong berkata:

“Anak bodoh, masakah laki-laki sejati takut tidak mendapatkan bini? Bocah perempuan she Kwe itu tidak menyukai kalian, lalu untuk apa kalian memikirkan dia? Tugas utama kita sekarang ini apa, coba katakan!”

“Menuntut balas kematian ibu!” seru Siu-bun.

“Benar!” kata Bu Sam-thong dengan beringas.

“Meski pun harus menjelajahi ujung langit pasti akan kita temukan Jik-lian-siancu Li Bok-chiu yang jahat itu.”

Yo Ko menjadi kuatir kalau ucapan mereka itu didengar oleh Li Bok-chiu. Apa bila mereka tidak lekas dipancing pergi, tentu urusan bisa runyam. Benar juga, sebelum dia berbuat sesuatu, tiba-tiba terdengar suara Li Bok-chiu mengekek tawa dan berkata:

“Tak perlu kalian menjelajahi ujung langit segala, sekarang juga Li Bok-chiu menunggu di sini.” Sembari bicara ia terus melangkah ke luar goa dengan tangan kiri membopong seorang bayi dan tangan kanan memegang kebut.

Sama sekali Bu Sam-thong dan kedua puteranya tidak menduga iblis yang mereka sebut tadi akan muncul di sana secara mendadak. Dengan menggereng murka Bu Sam-thong menerjang dulu ke depan. Pedang kedua saudara Bu sudah patah, cepat mereka menjemput pedang patah mereka lalu ikut mengerubut dari kanan-kiri.

“Hei, jangan bergerak dulu, dengarkan penuturanku!” seru Yo Ko.

Namun mata Bu Sam-thong sudah telanjur merah membara, teriaknya: “Adik Yo, bicara nanti saja, sesudah kubunuh iblis ini.” Sembari bicara dia lantas menyerang tiga kali ber-turut-turut.

Meski dengan pedang kutung, namun daya serangan kedua saudara Bu tidak dapat dipandang ringan, mereka terus menyerang dengan nekat. Yo Ko tahu dendam kesumat mereka terlalu mendalam, betapa pun pasti sukar dilerai, tetapi kalau tidak berusaha menengahi, bisa jadi mereka akan mencelakai si bayi. Maka cepat ia berseru:

“Li-supek, biarlah kupondong anak itu!”

Bu Sam-thong melengak. “Mengapa kau panggil dia Supek?” tanyanya bingung.

“Sutit yang baik, boleh kau serang bagian belakang orang gila ini, bayi ini akan kupondong sendiri dan tanggung tidak apa-apa,” jawab Li Bok-chiu dengan tertawa.

Kiranya Li Bok-chiu juga merasakan kelihaian Bu Sam-thong, setelah bergebrak beberapa kali terasa jauh lebih kuat dari pada dahulu, sedangkan kedua saudara Bu cilik juga tidak lemah, kerubutan ketiga orang agak sukar dilayani, sebab itulah ia sengaja memanggil Yo Ko sebagai ‘Sutit yang baik’ untuk mengacaukan pikiran ketiga lawan.

Ternyata Bu Sam-thbng terjebak oleh akal Li Bok-chiu itu, cepat ia berseru: “Anak Si dan Bun, kalian awasi bocah she Yo itu, biar aku sendiri yang melabrak iblis ini.”

Yo Ko lantas melangkah mundur dan berkata: “Aku takkan membantu pihak mana pun, tapi kalian jangan sekali-sekali membikin celaka anak bayi itu.”

Hati Bu Sam-thong merasa lega melihat Yo Ko mundur, segera dia melancarkan serangan lebih gencar.

Sambil putar kebutnya menahan serangan lawan, Li Bok-chiu berseru: “Kedua Bu cilik, melihat perilaku kalian tadi, kalian ini tergolong laki-laki yang punya perasaan, berbeda dengan laki-laki tak berbudi yang ingkar janji dan kejam itu. Karena mengingat hal ini, biarlah kuampuni jiwa kalian, nah, lekas kalian pergi saja.”

Tapi Bu Siu-bun lantas memaki: “Bangsat keparat, kau perempuan keji yang maha jahat, berdasarkan apa kau juga bicara tentang budi dan kebaikan?” Berbareng dia langsung menyerang mati-matian.

Ketika pedang kutung kedua Bu cilik terbentur kebut, dada mereka terasa sesak sehingga pedang kutung hampir terlepas dari tangan. Cepat Bu Sam-thong menghantam, terpaksa Li Bok-chiu menangkisnya, dengan begitu kedua Bu cilik dapat diselamatkan.

Perlahan Yo Ko mendekati belakang Li Bok-chiu, ia tunggu bila ada peluang segera menubruk maju untuk merebut bayi dalam pelukan iblis itu. Akan tetapi ayah beranak she Bu sedang menyerang dengan sengit sehingga Li Bok-chiu terpaksa memutar kencang kebutnya untuk menjaga diri, sedikit pun tidak ada lubang yang dapat dimasuki Yo Ko. Nampak serangan Bu Sam-thong bertiga tanpa menghiraukan keselamatan anak bayi, Yo Ko menjadi kuatir. Cepat dia berseru:

“Berikan anak itu kepadaku, Li-supek!” Sambil menunduk segera dia bermaksud menerobos maju untuk merebut bayi itu.

Akan tetapi Li Bok-chiu keburu membentaknya: “Kau berani maju, sedikit kupiting anak ini, jiwanya melayang?”

Yo Ko langsung melengak dan tidak jadi menubruk maju. Pada waktu Li Bok-chiu sedikit meleng itulah secepat kilat It-yang-ci Bu Sam-thong bekerja dengan baik, pinggang Li Bok-chiu tertotok satu kali oleh jarinya. Seketika Li Bok-chiu merasakan tempat yang tertotok sakit luar biasa dan hampir jatuh terguling, tapi sebisanya dia angkat sebelah kaki menendang sehingga pedang kutung di tangan Bu Tun-si terlepas, menyusul kebutnya menyabet kepala Bu Siu-bun.

Melihat anaknya terancam bahaya, cepat-cepat Bu-Sam-thong tarik Siu-bun ke belakang sehingga terhindar dari sabetan maut.

Setelah terluka oleh totokan tadi, Li Bok-chiu merasa sulit untuk bertahan lebih lama lagi, maka sekuatnya ia putar kebutnya, berbareng ia melompat ke sana dan berlari masuk ke dalam goa.

Dengan girang Bu Sam-thong berseru: “Perempuan bangsat itu sudah terkena totokanku, sekali ini jiwanya pasti melayang.”

Segera kedua Bu cilik hendak mengejar ke dalam goa dengan pedang terhunus, tetapi Bu Sam-thong mencegahnya:

“Awas, jarumnya amat berbahaya, jaga saja di sini dan mencari akal...”

Baru saja kedua Bu cilik hendak melangkah mundur, sekonyong-konyong terdengar suara mengaum dari dalam goa menerjang keluar seekor binatang buas. Keruan Bu Sam-thong terkejut. Sungguh di luar dugaan bahwa di dalam goa tempat Li Bok-chiu sembunyi terdapat binatang buas. Baru saja dia melengak, tahu-tahu cahaya perak gemeredep, dari bawah perut binatang buas itu menyambar beberapa buah jarum perak. Hal ini lebih tak terduga oleh Bu Sam-thong. Untung bahwa kepandaiannya cukup tinggi, sebisanya dia melompat ke atas sehingga jarum-jarum berbisa itu menyambar lewat di bawah kakinya, tapi lantas terdengar jeritan kedua Bu cilik. Sungguh kaget Bu Sam-thong tak terkatakan.

Sementara itu terlihat Li Bok-chiu telah memutar dari bawah perut macan tutul itu ke atas punggungnya, kebut terselip pada kuduk baju, tangan kiri memeluk bayi dan tangan kanan memegangi tengkuk harimau. Binatang itu melompat beberapa kali kemudian menghilang di balik semak-semak. Lolosnya Li Bok-chiu dengan menunggang macan tutul sama sekali tak terduga oleh Yo Ko.

“Li-supek...!” segera ia berseru dan hendak mengejar.

Bu Sam-thong tidak membiarkan Yo Ko pergi begitu saja. Ia sangat berduka melihat kedua putera kesayangannya menggeletak tak bisa bangun lagi, tanpa pikir ia rangkul Yo Ko sambi berteriak:

“Biarlah aku mengadu jiwa dengan kau!”

Sama sekali Yo Ko tak mengira Bu Sam-thong akan bertindak padanya, maka sedikit pun ia tak berjaga sehingga terangkuI dengan kencang. Cepat ia berseru:

“He, lepaskan! Aku harus merebut kembali bayi itu!”

“Bagus! Biar kita beramai-ramai mati bersama saja!” teriak Bu Sam-thong.

Yo Ko menjadi amat kelabakan. Ia coba menggunakan Kim-na-jiu-hoat untuk mementang tangan orang yang merangkulnya, tak terduga bahwa meski pun Bu Sam-thong dalam keadaan bingung dan sinting tapi ilmu silatnya tidak menjadi berkurang, dengan kencang dia mengunci rangkulannya sehingga usaha Yo Ko melepaskan diri sama sekali tidak berhasil.

Melihat Li Bok-chiu sudah menghilang dengan menunggang macan tutul, sementara untuk mengejarnya jelas tidak keburu Iagi, Yo Ko lalu menghela napas dan berkata:

“Paman Bu, buat apa kau merangkul aku? Kan lebih penting menolong mereka itu?”

“Ya, ya, benar,” seru Bu Sam-thong girang sambil melepas rangkulannya. “Apakah kau dapat menyembuhkan luka jarum berbisa itu?”

Yo Ko berjongkok memeriksa kedua Bu cilik, tampaklah dua jarum perak menancap pada bahu kiri dan kaki kanan masing-masing, sementara itu racun telah mulai menjalar, napas kedua anak muda itu tampak sesak dan dalam keadaan tak sadar. Cepat Yo Ko menyobek sebagian baju Bu Tun-si sebagai pembungkus tangan, lebih dulu ia cabut kedua jarum berbisa itu.

“Apakah kau punya obat penawar racunnya?” tanya Bu Sam-thong kuatir.

Dahulu waktu Yo Ko berkumpul dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang, ia pernah membaca dan menghapalkan isi kitab pusaka ‘Panca Bisa’ milik Li Bok-chiu yang dicuri Bu-siang, maka dia paham bagaimana caranya menawarkan racun jarum berbisa, namun untuk membuat obatnya tentu makan waktu, sedangkan kini mereka sedang berada di lembah pegunungan sunyi, ke mana bisa mendapatkan bahan obat sebanyak itu? Oleh karena itu Yo Ko cuma menggeleng saja menyaksikan keadaan kedua Bu cilik yang sudah payah itu.

Perasaan Bu Sam-thong seperti di-iris menyaksikan keadaan kedua puteranya. Ia jadi teringat kepada isterinya yang binasa demi menghisap darah beracun dari lukanya dahulu. Mendadak ia menubruk ke atas badan Bu Siu-bun lalu menempelkan mulutnya pada luka di kaki anaknya itu.

Tentu saja Yo Ko terkejut, cepat ia berseru: “Hei, jangan!” Segera ia menotok Tay-cui-hiat di pinggang orang tua itu.

Karena tidak terduga-duga, seketika Bu Sam-thong roboh terguling dan tak dapat berkutik melainkan memandangi kedua putera kesayangan dengan air mata bercucuran. Tergerak perasaan Yo Ko. Dia pikir jiwanya sendiri juga akan melayang bila racun bunga cinta mulai bekerja, baginya terasa tiada bedanya hidup lima hari lagi atau mati lebih cepat lima hari.

Kedua Bu cilik ini memang tiada menonjol, tetapi Bu tua ini pasti orang yang berperasaan dan berbudi luhur, selama ini nasibnya juga kurang beruntung seperti diriku. Maka biarlah aku korbankan kehidupanku yang cuma tinggal beberapa hari ini untuk membahagiakan kehidupan mereka ayah beranak. Karena pikiran itu, ia mencucup luka di kaki Bu Siu-bun, setelah mengusap darah berbisanya dan diludahkan beberapa kali, kemudian ia mencucup pula darah berbisa dari luka Bu Tun-si.

Begitulah secara bergiliran Yo Ko menyedot darah berbisa dari luka kedua saudara Bu itu. Tentu saja Bu Sam-thong sangat berterima kasih tapi merasa bingung menyaksikan perbuatan Yo Ko itu. Susahnya dia tak bisa berkutik karena Hiat-tonya telah tertutup.

Setelah menghisap sebentar lagi, rasa pahit di dalam mulut Yo Ko mulai berubah menjadi rasa asin, sedangkan kepalanya semakin pusing dan terasa berat. Ia menyadari dirinya telah keracunan hebat, tetapi sekuatnya ia berusaha menghisap lagi beberapa kali dan meludahkan air berbisa itu, tiba pandangannya menjadi gelap dan jatuh pingsanlah dia.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar