ads

Sabtu, 04 September 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 22

Pendapat mereka memang masuk di akal. Umumnya angin badai tak pernah berlangsung sepanjang hari, hujan deras juga jarang berlangsung dalam semalam suntuk, makin keras tenaga yang dikeluarkan semakin sukar pula berlangsung lama. Tidak tahunya selama 20-an tahun Kwe Ceng terus giat berlatih ‘Kiu-im-cin-keng’, kitab pusaka kunci saripati ilmu silat yang tak terkatakan hebatnya. Pada mulanya tenaga yang dia keluarkan tidak begitu menonjol, tapi setelah belasan jurus, tahu-tahu tenaga pukulan Hang-liong-cap-pek-ciang dapat ber-ubah, kadang-kadang kuat, tiba-tiba menjadi enteng lagi, mendadak membadai, tahu-tahu mereda lagi, dari maha kuat lantas berubah menjadi maha lunak. Inilah ilmu sakti yang belum sempat dipahami oleh mendiang Ang Chit-kong dahulu.

Nyata sedikit pun dia tidak terdesak oleh ketiga lawannya yang amat tangguh itu, bahkan sebaliknya Kwe Ceng malah terus menyerang, makin bertempur makin leluasa. Sungguh kejut dan kagum Yo Ko tak terhingga. Ketika dulu masih di kuburan kuno pernah juga dia mempelajari ‘Kiu-im-cin-keng’, cuma tiada petunjuk dari orang lain sehingga tidak diketahui kehebatan kitab pusaka yang begini luar biasa. Dia coba mengikuti ilmu pukulan Kwe Ceng dan dicocokkan dengan kunci ilmu yang dipelajarinya dari Kiu-im-cin-keng, seketika dia banyak mendapatkan teori baru yang sangat bermanfaat dan diingatnya dengan baik-baik, seketika dia pun lupa akan membunuh Kwe Ceng untuk menuntut balas sakit hatinya.

Ilmu silat antara Kim-lun Hoat-ong dan Kwe Ceng sebetulnya setingkat. Meski Kwe Ceng lebih banyak mendapatkan penemuan aneh, tapi usia Hoat-ong lebih tua 20-an tahun, itu berarti keuletannya lebih tua 20 tahun, kalau satu lawan satu sedikitnya ribuan jurus baru dapat menentukan menang kalah. Hoat-ong dibantu Siau-siang-cu dan Nimo Singh, sebenarnya tidak ada peluang bagi Kwe Ceng untuk mengalahkan lawan. Cuma Hang-liong-cap-pek-ciang yang dimainkan Kwe Ceng itu teramat lihay, ditambah langkah Pak-tau-tin ajaran Coan-cin-kau sukar diraba arahnya, seseorang seakan-akan berubah menjadi tujuh orang, selain itu pertama-tama In Kik-si sudah dilukainya lebih dahulu, hal ini telah membikin jeri lawan, maka Hoat-ong bertiga menjadi tak berani sembarangan menyerang, dengan begitu Kwe Ceng dapat bertahan dengan ketiga orang itu.

Sesudah beberapa puluh jurus kemudian, lambat-laun roda emas Kim-lun Hoat-ong mulai memperlihatkan daya tekanannya, ular besi Nimo Singh juga makin kencang menyerang. Diam-diam Kwe Ceng mengeluh. Kalau pertarungan berlangsung lebih lama dan tiba-tiba pihak lawan datang lagi seorang pembantu, maka dirinya pasti tak sanggup bertahan lagi, sedangkan Yo Ko yang menempur si gede itu entah bagaimana keadaannya. Maklumlah, terpaksa ia harus memusatkan perhatian untuk melayani lawannya sehingga tidak sempat mengikuti pertarungan Yo Ko melawan Be Kong-co di sebelah sana.

Tiba-tiba saja terdengar suara suitan aneh, kedua kaki Siau-siang-cu kaku menegak dan meloncat ke atas, dari udara pentungnya menotok. Cepat Kwe Ceng mengegos ke samping, tiba-tiba pandangannya terasa gelap, dari ujung pentung orang tersembur keluar asap hidup dan seketika hidungnya mencium bau busuk amis, kepala menjadi rada pening. Kwe Ceng mengeluh, dia pun tahu pada pentung lawan tersimpan racun, maka cepat dia melangkah mundur.

Siau-siang-cu menjadi heran sekali. Sudah jelas Kwe Ceng telah mengendus racun yang disemburkan dari pentungnya, tapi tidak jatuh kelengar bahkan seperti tidak berhalangan apa-apa, padahal biar singa harimau atau binatang buas apa pun juga akan jatuh pingsan jika tersembur racun yang disemburkannya itu. Cepat ia meloncat lagi ke atas, untuk kedua kalinya ia menotok pula dengan pentung yang berbisa itu.

Dahulu waktu dia berlatih ilmu ‘mayat hidup’ di daerah pegunungan yang sunyi, kebetulan dilihatnya seekor katak kecil sedang bertempur melawan seekor ular besar, katak puru itu menyemburkan hawa berbisa yang merobohkan lawannya yang jauh lebih besar. Dari situlah Siau-siang-cu mendapatkan ilham. Dia menangkap katak puru lantas diambil lendir berbisanya untuk disembunyikan dalam pentungnya. Pada pangkal pentung ini ada pesawat rahasianya, sekali ditekan dengan jari akan segera menyemburkan asap berbisa. Pada waktu menyemburkan asap berbisa itu Siau-siang-cu sengaja meloncat ke atas supaya daya guna racun tambah keras.

Biasanya asap berbisa itu tidak pernah meleset merobohkan musuh. Siapa tahu tenaga dalam Kwe Ceng sedemikian kuatnya dan sanggup bertahan. Meski pun bukan sasaran racun Siau-siang-cu itu, tapi Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh ikut mengendus racun hingga terasa muak, maka cepat mereka melompat mundur. Siau-siang-cu sendiri sudah memakai obat penawar sehingga tidak kuatir keracunan, ia angkat pentungnya dan menubruk maju lagi.

Sebelum lawan menggunakan racun, mendadak Kwe Ceng menyambutnya dengan pukulan dahsyat ke dengkul musuh. Terpaksa Siau-siang-cu menarik kembali pentungnya untuk menangkis, meski begitu tidak urung tubuhnya tergentak mundur beberapa langkah oleh tenaga pukulan Kwe Ceng yang lihay. Saat Kwe Ceng berpaling ke sana, ia melihat senjata ular Nimo Singh sedang menyambar tiba. Di siang bolong seperti ini jelas kelihatan ular besi lawan itu dapat mulur mengkeret, tampaknya juga mengandung sesuatu yang aneh, kalau mendadak membidikkan senjata rahasia maka seketika sukar ditahan.

Cepat Kwe Ceng mendahului menghantam ke dada musuh sebelum senjata ular lawan mendekat. Nimo Singh menyadari betapa hebatnya tenaga pukulan Kwe Ceng, lekas-lekas dia tarik kembali senjata ularnya, kedua tangannya memegangi kedua ujung senjata dan berusaha menangkis pukulan lawan. Akan tetapi cara Kwe Ceng menggunakan tenaga pukulannya ternyata lain dari pada yang lain, bagian tengah tidak membawa tenaga, sebaliknya tenaga pukulan memancar ke sekeliling titik sasaran, maka tangkisan Nimo Singh terasa hampa, sebaliknya perut dan mukanya merasakan sambaran tenaga pukulan yang dahsyat.

Untung gerak-gerik Nimo Singh juga cepat dan gesit, pula tubuhnya pendek kecil. Ia lekas menjatuhkan diri, disertai dengan beberapa kali jumpalitan laksana boIa ia menggelinding ke sana sehingga luput dari hantaman Kwe Ceng. Begitu melihat ada kesempatan baik, cepat Kwe Ceng melompat pergi. Tanpa ayal ia melangkah ke tempat luang yang ditinggalkan Nimo Singh tadi. Kim-lun Hoat-ong terkejut melihat musuhnya loIos dari kepungan, cepat ia menubruk maju.

Sementara Kwe Ceng sudah dicegat oleh barisan pasukan Mongol, belasan tombak ditusukkan ke arahnya. Mendadak Kwe Ceng angkat kedua tangannya, beberapa tombak disampuk pergi dan sekali tangannya membalik, dua prajurit kena dicengkeram lantas dilemparkan ke arah Hoat-ong sambil berseru:

“Awas, tangkap ini!”

Kalau Kim-lun Hoat-ong tidak menangkap kedua prajurit Mongol, tentu keduanya akan terbanting mampus, sebaliknya bila kedua orang itu ditangkapnya, itu berarti dia terhalang dan kesempatan itu akan digunakan Kwe Ceng untuk kabur lebih jauh.

Dasarnya memang keji, tanpa pikir Hoat-ong memiringkan tubuh ke samping dan ditunjuknya kedua prajurit itu dengan bahunya. Kontan kedua orang itu terpental beberapa meter jauhnya dan terguling binasa. Segera roda emas mengepruk ke punggung Kwe Ceng. Asalkan Kwe Ceng menangkis atau balas menyerang maka sukar lagi untuk kabur.

Cepat Kwe Ceng merampas dua tombak lalu menusuk ke belakang, Caranya merampas dan menyerang dilakukannya dalam sekejap saja, sedang kakinya tidak pernah berhenti, tusukannya ke belakang seperti punggungnya bermata saja, tombak yang satu menusuk bahu kanan Hoat-ong sedang tombak lain menusuk kaki kirinya, jitu lagi keras. Diam-diam Hoat-ong memuji ketangkasan lawan, segera menggunakan roda emas untuk menghantam.

“Krak! Krak!”

Kedua tombak itu patah semua. Karena sedikit merandek itulah Kwe Ceng sempat menyusup ke tengah pasukan MongoI. Pasukan Mongol sudah mendapat perintah Kubilai agar menawan hidup-hidup Kwe Ceng, sekarang sasarannya malah menerobos ke tengah barisan, dengan sendirinya mereka menjadi serba salah, menawannya sukar, melukainya tidak boleh. Yang terdengar hanya suara benturan senjata dan bentakan di sana-sini yang riuh, keadaan menjadi kacau dan Hoat-ong bertiga malah terhalang.

Dengan sembunyi di tengah pasukan musuh, Kwe Ceng malah dapat lolos dengan leluasa seperti menyusup ke tengah rimba lebat saja. Dengan beberapa kali lompat dapatlah dia mendekati seorang Pek-hu-tiang, sekali betot dia seret orang itu dari kudanya dan segera dia cemplak ke atas kuda rampasan terus menerjang ke sana-sini. Sebentar saja dia sudah menerobos keluar barisan musuh dan membedalkan kudanya secepat terbang.

Waktu ia bersuit, kuda merah kesayangan yang menunggu jauh di sana segera berlari mendatangi. Asalkan Kwe Ceng telah berada di atas kuda mestikanya, meski pun Kubilai mengerahkan segenap pasukan yang paling tangkas sukar menyusulnya lagi.

Dari jauh Yo Ko dapat melihat kuda merah menghampiri Kwe Ceng, diam-diam ia mengeluh. Tiba-tiba ia mendapat akal, cepat ia berteriak:

“Aduh, mati aku!” Sesudah ini ia sengaja sempoyongan seperti akan roboh, berbareng ia membisiki Be Kong-co: “Lekas menyingkir, jangan bicara padaku, lekas pergi sejauhnya!”

Jeritannya mengaduh itu dilakukan dengan tenaga dalam yang kuat, meski pun di medan perang yang gaduh pasti terdengar oleh Kwe Ceng. Dia yakin sang paman pasti akan putar balik menolongnya, tetapi kalau Be Kong-co masih berada di dekatnya, bisa jadi sekali dipukul oleh Kwe Ceng jiwanya dogol itu akan melayang, sebab itulah dia suruh Be Kong-co lekas pergi.

SemuIa Be Kong-co melengak heran, tapi segera ia pikir Yo Ko pasti mempunyai maksud tertentu, tanpa membantah lagi terus angkat langkah seribu dan berlari ke kemah Kubilai. Benar juga. Setelah mendengar jeritan Yo Ko tadi Kwe Ceng menjadi amat kuatir, tanpa menunggu mendekatnya kuda merah segera dia putar kuda rampasannya tadi kemudian menerjang lagi ke tengah pasukan, ke arah beradanya Yo Ko.

Sedikit pikir saja Kim-lun Hoat-ong paham maksud tujuan Yo Ko, maka dia tidak merintanginya melainkan membiarkan Kwe Ceng menerjang lewat di sampingnya, barulah kemudian ia mencegat jalan mundur lawan. Setiba di dekat Yo Ko, dengan kuatir Kwe Ceng lantas berseru: “Ko-ji, bagaimana kau?”

Yo Ko pura-pura sempoyongan kemudian menjawab: “Sebenarnya orang gede itu bukan tandinganku, tapi entah mengapa mendadak dadaku sesak dan perutku terasa sakit.”

Alasannya ini cukup masuk akal, sebab ilmu silat Be Kong-co tidak tinggi. Jika dia bilang dikalahkan orang dogol itu tentu Kwe Ceng takkan percaya, akan tetapi bila menyatakan tenaganya terhalang mau tak mau Kwe Ceng akan percaya, terutama kalau dihubungkan dengan kejadian semalam, di mana Kwe Ceng menyangka bahwa lwekang anak muda itu mengalami kemacetan, kalau sekarang penyakitnya kumat lagi adalah lazim. Cepat Kwe Ceng melompat turun dari kudanya dan berseru:

“Lekas naik ke punggungku, biar kugendong kau!”

“Tidak, Kwe-pepek,” jawab Yo Ko pucat. “Jiwaku tidak menjadi soal, tetapi engkau adalah tulang punggung pertahanan kota Siang-yang, segenap perajurit dan rakyat jelata di sana sedang menantikan kepulanganmu, engkaulah tumpuan harapan mereka.”

“Kau datang bersamaku, mana bisa kutinggalkan di sini?” ujar Kwe Ceng, ”hayo lekas menggemblok di punggungku.”

Ketika nampak Yo Ko masih ragu-ragu, segera Kwe Ceng berjongkok dan menarik anak muda itu ke atas punggungnya. Pada saat itu juga kuda rampasannya tadi sudah roboh binasa oleh beberapa panah musuh. Sudah biasa Kwe Ceng menyerempet bahaya, makin gawat keadaannya semakin gagah berani pula dia dan menghadapinya dengan tenang.

“Jangan takut, Ko ji, kita pasti dapat menerjang keluar,” demikian katanya kepada Yo Ko. Segera dia berdiri dan menerjang ke sebelah utara.

Sementara itu Hoat-ong, Nimo Singh dan Siau-siang-cu sudah menyusul tiba. Kwe Ceng melihat kepungan musuh di sekelilingnya kini terlebih rapat dari pada tadi. Di bawah panji kebesaran di depan kemah sana tampak Kubilai menyaksikan pertarungan sambil bicara dengan seorang Hwesio, melihat sikapnya yang ‘adem ayem’ itu jelas Kubilai yakin kemenangan sudah pasti berada di tangannya.

Kwe Ceng menjadi marah. Ia menggertak keras dan mendadak menerjang ke arah Kubilai sambil menggendong Yo Ko, hanya beberapa kali lompatan saja ia telah sampai di depan Kubilai. Keruan para pengawal Kubilai menjadi kaget bukan main, beramai-ramai mereka mengacungkan tombak menerjang Kwe Ceng. Akan tetapi pukulan Kwe Ceng luar biasa dahsyatnya, siapa yang berani merintanginya pasti celaka. Ketika seorang pengawal pribadi Kubilai kena dihantam terpental, asal dia bisa menyerobot maju beberapa langkah lagi, tentu pukulannya dapat mengena pangeran itu.

Beberapa pengawal berusaha menghadang mati-matian, akan tetapi sukar juga menandingi Kwe Ceng yang perkasa. Melihat keadaan berbahaya, cepat Kim-lun Hoat-ong menyambitkan roda emasnya dari kejauhan. Tetapi sedikit saja menundukkan kepala roda itu dihindari oleh Kwe Ceng sambil masih terus menerjang maju.

Yo Ko pikir jika sampai Kubilai kena ditawan Kwe Ceng sebagai sandera, dalam keadaan terpaksa tentu pihak Mongol akan melepaskannya. Jika sekarang aku tidak turun tangan, mau tunggu kapan lagi? Dalam keadaan agak ragu-ragu ia bertanya lagi:

“Paman Kwe, apakah ayahku amat jahat dan berdosa sehingga engkau harus membinasakannya?”

Melengak juga Kwe Ceng atas pertanyaan itu, tapi keadaan tidak mengidzinkannya untuk berpikir. Ia pun menjawab:

“Dia mengaku musuh sebagai ayah, berkhianat dan melakukan kejahatan, setiap orang dapat membunuhnya.”

“Oh, begituI” kata Yo Ko, tanpa ragu ia terus angkat pedangnya dan hendak menikam ke kuduk sang paman.

Pada saat itulah tiba-tiba bayangan berkelebat, sebuah pentung menghantam pedangnya sehingga tertangkis ke samping. Waktu Yo Ko melirik, kiranya yang bertindak itu adalah Siau-siang-cu. Ia menjadi heran mengapa orang berbuat begitu, tapi segera ia pun sadar: “Ya, kau sengaja menggagalkan usahaku membunuh Kwe Ceng supaya gelar jago nomor satu tidak jatuh kepadaku. Huh! Kau mayat hidup mana tahu tujuanku hanya ingin menuntut balas saja, tentang nama kosong itu masa pernah kupikirkan?”

Segera dia putar pedangnya, beberapa kali gebrakan dia desak pentung Siau-siang-cu ke samping menyusul dia hendak menikam lagi ke punggung Kwe Ceng. Waktu itu Kwe Ceng lagi melayani gempuran Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh, ia tidak mau tahu Yo Ko sedang main gila di atas punggungnya, disangkanya anak muda itu lagi menempur Siau-siang-cu dengan mati-matian, malahan ia lantas memperingatkan Yo Ko:

“Awas, Ko-ji, pentungnya itu dapat menyemburkan asap berbisa!”

Yo Ko mengiyakan, sementara pentung Siau-siang-cu menyambar tiba. Keadaan itu dapat dilihat dengan jelas oleh Kim-lun Hoat-ong. Nimo Singh yang berdiri di depan sana melihat jelas Yo Ko akan berhasil, namun selalu digagalkan oleh Siau-siang-cu, dengan marah mereka lantas membentak:

“Hai, Siau-siang-cu, kau main gila?”

Siau-siang-cu menyeringai seram, mendadak pentungnya menghantam Kwe Ceng. Ketika untuk ketiga kalinya Yo Ko hendak menikam punggung Kwe Ceng, mendadak Siau-siang-cu menangkis lagi pedangnya.

Mengingat Yo Ko lagi kurang sehat, Kwe Ceng menguatirkan anak muda itu tak sanggup melayani serangan Siau-siang-cu, segera ia membalikkan tangan kiri dan menghantam ke dada musuh. Seketika tubuh Siau-siang-cu tergetar dan terpaksa mundur dua-tiga tindak. Dalam keadaan bebas tanpa rintangan, asal ditikam lagi tujuan Yo Ko pasti akan tercapai. Tapi dilihatnya iga kiri Kwe Ceng tidak terjaga karena serangannya kepada Siau-siang-cu, kesempatan itu segera digunakan Nimo Singh untuk menerobos maju, senjata ularnya menusuk.

Karena kuatir tikaman akan berhasil, setelah mundur segera Siau-siang-cu menubruk lagi dengan cepat, pentungnya menotok hiat-to maut di punggung Yo Ko untuk membuat anak muda itu mau tak mau harus menjaga lebih dulu. Sementara itu tangan kanan Kwe Ceng sedang melayani Hoat-ong, kedua orang sedang mengadu tenaga dalam, tapi dia dan Yo Ko justru terancam bahaya sekaligus.

Dasar watak Kwe Ceng memang berbudi luhur, dia tidak menyelamatkan diri sendiri, tapi menolong Yo Ko lebih dulu. Tangan kirinya terus menyampuk dengan jurus Sin-Iiong-pah-bwe (naga sakti goyang ekor), dengan tepat pentung Siau-siang-cu terhantam, sekujur badan Siau-siangcu terasa panas, mukanya yang pucat seketika berubah merah.

Tetapi pada saat yang sama senjata ular Nimo Singh juga sudah menyambar tiba. Kwe Ceng sedang mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk melayani Kim-lun Hoat-ong serta menghantam Siau-siang-cu sehingga tak ada sisa tenaga untuk menahan serangan Nimo Singh. Dalam keadaan kepepet sedapatnya Kwe Ceng menarik tubuhnya sedikit ke belakang.

Serangan Nimo Singh dapat dielakkan, meski pun begitu kepala ular besi itu masuk juga di iganya sedalam dua tiga senti. Seketika Kwe Ceng mengerahkan tenaga sehingga otot tangannya mengencang, maka daya tusuk senjata ular tertahan dan sukar menancap lebih dalam dan sebelah kaki Kwe Ceng menendang hingga Nimo Singh terjungkal.

Tadinya Nimo Singh girang melihat serangannya berhasil mengenai sasaran. Dia yakin Kwe Ceng pasti akan binasa dan gelar jago nomor satu jatuh kepadanya. Sungguh tidak terduga bahwa dalam keadaan kepepet Kwe Ceng sanggup mengeluarkan kepandaian lihay sehingga dia sendiri malah kena ditendang tepat pada dadanya. Kontan tiga tulang rusuknya patah. Kalau di sebelah sini ber-turut-turut Siau-siang-cu dan Nimo Singh kecundang, di sebelah sana Kim-lun Hoat-ong terus mendesak lebih kuat dengan tenaga pukuIannya. Lantaran luka pada iga kiri maka tenaga dalam Kwe Ceng banyak terkuras.

Kwe Ceng tidak sanggup bertahan lagi, terasa suatu tenaga maha dahsyat menimpanya, apa bila tetap paksakan diri mengadu tenaga tentu jiwa sendiri akan melayang. Terpaksa dilepaskan pertahanannya dan menerima sebuah pukulan dengan Iwekang tingkat tinggi yang telah dilatih selama sepuluh tahun ini.

“Wuaakkk...!” tumpahlah darah segar keluar dari muIutnya.

Kalau pun jiwa sendiri terancam bahaya akan tetapi Kwe Ceng masih tetap memikirkan keselamatan Yo Ko, serunya:

“Lekas rampas kuda dan lari, Ko-ji, akan kutahan kejaran musuh bagimu!”

Bagaimana pun juga hati Yo Ko tergetar dan darah bergolak dalam rongga dadanya demi menyaksikan sang paman membelanya mati-matian tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri. Tak terpikir lagi olehnya tentang dendam kesumat segala, dia pikir sedemikian luhur budi paman Kwe, kalau aku tidak membalas budi kebaikannya ini berarti percumalah hidupku! Segera dia melompat turun dari gendongan sang paman, dia putar pedangnya sedemikian kencang untuk melindungi Kwe Ceng. Sekarang dia mengamuk laksana banteng ketaton, dia menyerang mati-matian.

Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu tercengang melihat tindakan anak muda itu. Mereka segera berseru:

“Hai, Yo Ko, apa-apaan kau ini?”

Yo Ko tidak menjawab.

“Sret!” ia menusuk Hoat-ong dan begitu musuh mengelak...

“Sret!” serangannya beralih ke arah Siau-siang-cu.

Melihat Yo Ko seperti orang kalap, tanpa terasa mereka melompat mundur.

“Jangan urus diriku, Ko-ji, lekas kau menyelamatkan diri!” seru Kwe Ceng.

“Kwe-pepek, akulah yang bikin susah, biarlah aku mati bersama kau!” teriak Yo Ko sambil memutar pedangnya dengan kencang. Ia hanya melindungi Kwe Ceng saja tanpa menghiraukan bahaya yang mengancam dirinya sendiri.

Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu ingin berebut gelar ‘jago nomor satu’, karena itu mereka saling berlomba menawan atau membunuh Kwe Ceng, senjata mereka berbareng menyerang. Tapi Yo Ko sudah memutar pedangnya begitu hebat hingga kedua orang itu tak dapat mendekat. Di sekeliling mereka beribu-ribu prajurit Mongol bersorak-sorai riuh-rendah mengikuti pertarungan sengit itu.

Berulang-ulang Kwe Ceng mendesak Yo Ko supaya lekas lari, tapi anak muda itu tetap bertempur membelanya, ia menjadi cemas dan berterima kasih. Akhirnya ia merasa lemah dan tidak sanggup bertahan Iagi, kedua kakinya terasa lemas, kemudian jatuh terduduk.

Nimo Singh benar-benar tangkas. Meski tulang rusuknya sudah patah tiga buah, ia angkat senjata ular dan mendekat dengan perlahan untuk membunuh Kwe Ceng. Sekuatnya Yo Ko menghalau ini, ia tahu sendirian sukar menahan tiga lawan, mendadak ia menarik Kwe Ceng ke punggungnya, dengan nekat ia terus menerjang keluar.

Kepandaian Yo Ko memang bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, terlebih lagi sekarang dia menggendong Kwe Ceng, tentu saja dia tidak sanggup bertahan lagi. Beberapa gebrakan kemudian lengan kirinya kena dilukai roda emas Hoat-ong. Pada detik yang berbahaya itulah sekonyong-konyong pasukan Mongol tersibak ke samping. Seorang tua berkaki pincang bertongkat besi tampak menerjang datang dengan memutar senjatanya yang berbentuk palu besar.

“Lekas terjang keluar, Yo Ko, akan kulindungi kau dari belakang!” seru kakek pincang itu. Kiranya dia adalah Pang Bik-hong, murid Oey Yok-su.

Seperti diketahui, dia dipaksa wajib kerja bagi pasukan Mongol untuk menggembleng dan membuat senjata. Diam-diam ia bercita2 akan membunuh beberapa perwira Mongol, tapi selama ini belum ada kesempatan. Kebetulan hari ini terdengar suara pertempuran yang sengit, dari tempat ketinggian ia melihat Kwe Ceng dan Yo Ko dikepung, maka segera ia menerjang membantu. Ia putar palunya yang besar itu dengan kencang, siapa yang kebentur pasti kepala remuk dan tulang patah, karena itu dia berhasil membuka jalan darah.

Tentu saja Yo Ko amat girang, cepat ia menerobos. Tapi Kim-lun Hoat-ong tidak tinggal diam, ia putar rodanya dan sekaligus menghadang di depan Yo Ko dan Pang Bik-hong, ia sambut semua serangan kedua orang itu.

MEMBOBOL KEPUNGAN

Bila pentung Siau-siang-cu menghantam punggung Kwe Ceng, maka Hoat-ong memberi kesempatan pada Yo Ko untuk menangkis agar serangan Siau-siang-cu gagal mengenai Kwe Ceng. Tapi jika rodanya mengepruk Kwe Ceng, Siau-siang-cu juga lantas mengayun pentungnya untuk menangkiskan. Untunglah kedua orang itu saling berlomba membunuh Kwe Ceng, kalau tidak biar pun Yo Ko bertempur mati-matian sukar untuk menyelamatkan jiwa Kwe Ceng.

Sementara itu Kwe Ceng dan Yo Ko sudah bertempur sekian lama di tengah kepungan musuh yang amat ketat. Kim-lun Hoat-ong tidak sangsi lagi, cepat ia menubruk maju, rodanya menghantam dan beradu dengan pedang Yo-Ko. Kun-cu-kiam yang didapatkan Yo Ko dari Coat-ceng-kok amat tajam, maka roda Hoat-ong tertebas secuil, namun Hoat-ong terus mendorong rodanya ke depan dengan tenaga kuat.

Kuatir Kwe Ceng terluka, Yo Ko tak berani mengegos ke samping, terpaksa ia menangkis dengan pedangnya. Karena roda itu sudah menyerang dulu ke samping belakangnya, maka lengannya kembali tergores luka dan mengucurkan darah. Biar pun lukanya tidak parah, akan tetapi sekali ini pembuluh darah teriris oleh tepian roda yang tajam. Darah terus mengalir, lambat laun Yo Ko merasa lemas, tenaga juga semakin berkurang, sedangkan musuh menyerang lebih gencar sehingga tidak sempat membalut lukanya.

Dengan putar tongkat dan palunya Pang Bik-hong bermaksud membantu, namun pukulan Hoat-ong membuatnya kelabakan. Melihat kesempatan baik, mendadak Siau-siang-cu melompat ke atas, pentungnya menotok kepala Kwe Ceng, ia hendak menggunakan asap berbisa. Tentu saja Yo Ko terkejut, dengan menggendong Kwe Ceng gerak-geriknya menjadi kurang gesit, tanpa pikir ia mengulur tangan kiri menangkap ujung pentung musuh, menyusul pedang di tangan kanan menusuk.

Keadaan Yo Ko sama sekali tidak terjaga, kalau mau dengan mudah saja Hoat-ong dapat membinasakan anak muda itu. Tapi Hoat-ong sengaja hendak memperalat Yo Ko untuk menghalau serangan Siau-siang-cu, maka setelah mendesak mundur Pang Bik-hong, segera ia mencengkeram punggung Kwe Ceng, dengan menawan Kwe Ceng hidup-hidup berarti jasa maha besar.

Dalam pada itu Yo Ko sudah mengeluarkan segenap kemahirannya. Dia merebut pentung dan menusuk dengan pedang, kedua gerakan ini dilakukan sekaligus. Belum lagi kaki Siau-siang-cu menapak tanah, tahu-tahu pentungnya dipegang lawan, malah pandangannya menjadi silau, ujung pedang Yo Ko menyambar tiba di depan. Dalam keadaan kepepet, tiada jalan lain kecuali pentung diIepaskan, tubuhnya balik ke belakang dengan begitu jiwanya dapatlah dipertahankan.

Sementara itu Pang Bik-hong melihat keadaan cukup gawat, kembali tongkat dan palunya menghantam ke punggung Kim-lun Hoat-ong. Terpaksa Hoat-ong menarik balik rodanya untuk menangkis.

“Trang! Trang!”

Tangan Hoat-ong tergetar sakit, namun sebelah tangannya masih mencengkeram ke punggung Kwe Ceng. Pang Bik-hong meraung keras, tongkat dan palu dibuang terus menubruk maju dengan kalap, dia rangkul tubuh Kim-lun Hoat-ong sekencang-kencangnya, seketika kedua orang jatuh terguling. Tidak kepalang gusar Hoat-ong.

“Blang!” dia hantam pundak Pang Bik-hong hingga isi perut murid Oey Yok-su serasa terjungkir balik dan rontok.

Tapi Pang Bik-hong benar-benar sudah nekat. Ia menyaksikan keganasan pasukan Mongol dan betapa hebatnya kota Siang-yang digempur serta cara Kwe Ceng berusaha menghalau musuh dengan mati-matian. Dia tidak kenal Kwe Ceng, juga tidak tahu orang adalah menantu gurunya, cuma ia pikir kalau Kwe Ceng mati, tentu kota Siang-yang juga jatuh, sebab itulah dia sudah bertekad menoIong Kwe Ceng sekali pun jiwa sendiri harus terbunuh!

Begitulah tanpa ampun Kim-lun Hoat-ong menghantam beberapa kali, seketika otot Pang Bik-hong putus dan tulang remuk. Walau pun sudah terluka parah, namun rangkulannya tidak menjadi kendur, bahkan semakin kencang saja sehingga kesepuluh jarinya ambles ke dalam daging tubuh Kim-lun Hoat-ong.

Tadinya perwira dan prajurit Mongol hanya menyaksikan pertarungan sengit itu, mereka yakin Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain pasti akan berhasil, kini mendadak tampak Hoat-ong terguling dan Siau-siang-cu melompat mundur, serentak mereka mengerubut maju. Dalam keadaan begini, sekali pun tidak terluka Kwe Ceng dan Yo Ko sukar menahan terjangan beribu orang. Diam-diam Yo Ko mengeluh, nasibnya sekali ini pasti akan tamat. Tetapi sebelum ajal dia pantang menyerah, tanpa pikir ia putar pentung rampasannya dari Siau-siang-cu.

Mendadak terdengar bunyi mendesis, dari ujung pentung tersembur keluar asap, kontan sepuluh prajurit Mongol yang paling depan roboh terguIing. Kiranya tanpa sengaja Yo Ko telah menyentuh pesawat rahasianya dan menyemprotkan asap berbisa yang tersimpan di dalamnya. Tercengang juga Yo Ko, tapi segera ia pun sadar apa artinya itu, cepat ia gendong Kwe Ceng kemudian melangkah ke depan. Dilihatnya pasukan musuh membanjir tiba dari kanan kiri, cepat dia tekan pesawat rahasia pentung itu, asap hitam tersembul keluar lagi dan berpuluh prajurit musuh kembali terguling.

Meski perwira dan prajurit Mongol pada umumnya sangat tangkas di medan perang, tetapi rata-rata percaya pada tahayul, serentak mereka ber-teiak-teriak :

“Awas, dia bisa ilmu sihir, lekas menyingkir. Lekas...!”

Dengan leluasa dapatlah Yo Ko menerjang lagi ke depan, ketika ia bersuit, kudanya yang kurus mendekatinya. Yo Ko sendiri sudah lelah, dia taruh Kwe Ceng di atas kuda, ia sendiri tak sanggup lagi melompat, ia hanya menepuk perlahan pantat kuda itu dan berkata:

“Kuda baik, lekas lari!”

Kuda itu sangat cerdik. Dahulu Yo Ko sudah menyelamatkan jiwanya, maka dia pun sangat cinta kepada majikannya, sebelum sang majikan naik di punggungnya, dia hanya mengangkat kepala dan meringkik saja, betapa pun tidak mau berlari dengan cepat. Karena keadaan amat gawat, pasukan Mongol sedang mengejar datang, terpaksa Yo Ko menggunakan pentungnya untuk menjojoh pantat kuda agar segera berlari.

“Lekas kabur, kuda baik!” serunya.

Karena ulahnya ini, tanpa terduga totokan pentung itu rada menceng sehingga mengenai kaki Kwe Ceng. Sebetulnya Kwe Ceng dalam keadaan hampir tak sadar, totokan pentung itu membuatnya membuka mata, segera dia tarik Yo Ko ke atas kuda. Begitu merasakan sang majikan sudah berada di punggungnya, kuda itu meringkik girang dan membedal secepat terbang.

Terdengar suara tiupan tanduk riuh rendah di sana sini, pasukan Mongol mengejar dengan kencang. Segera Kwe Ceng bersuit, kuda merahnya berlari mendekati kuda kurus lalu menggosokkan moncongnya pada tubuh Kwe Ceng.

Yo Ko tahu kuda sendiri itu betapa pun tak dapat menandingi kecepatan kuda merah Kwe Ceng, sementara itu pasukan Mongol sudah melepaskan panah dari belakang. Cepat ia merangkul Kwe Ceng dan sekuatnya melompat ke atas kuda merah. Pada saat itu juga terdengar suara mendengung di belakang, roda emas Hoat-ong menyambar. Sedih juga Yo Ko. Ia tahu si pandai besi she Pang jelas telah menjadi korban keganasan Kim-lun Hoat-ong.

Dalam pada itu roda musuh semakin mendekat. Dia berusaha mendekam di atas kuda dengan harapan roda itu hanya menyambar lewat di atas tubuhnya, tapi dari suara mendengung itu kedengaran berada di bagian bawah, agaknya sasaran roda itu adalah kaki kuda. Serangan Kim-lun Hoat-ong ini sungguh keji. Sesudah memukul mati Pang Bik-hong tadi, waktu ia berdiri, dilihatnya Kwe Ceng dan Yo Ko menyemplak kuda, untuk mengubernya jelas sudah tak keburu lagi.

Segera dia mengumpulkan tenaga, kemudian menyambitkan roda emasnya, yang diarah adalah kaki kuda. Dia pikir andaikan Yo Ko atau Kwe Ceng yang diarah, tentu korbannya akan tetap dibawa lari oleh kuda itu, hanya jika kaki kuda tertebas patah barulah maksud tujuannya akan tercapai.

Begitulah ketika mendengar roda musuh semakin mendekat, terpaksa Yo Ko membalikkan pedang ke belakang untuk menangkis. Ia menyadari tenaga sendiri telah lemah, tangkisan itu tetap sukar menahan roda musuh, soalnya sudah kepepet sehingga dia hanya berbuat sebisanya saja. Tampaknya roda itu makin mendekat sehingga tinggal satu meteran saja dari kaki kuda, suara mendengungnya terdengar mengejutkan. Yo Ko coba mengacungkan pedangnya ke bawah untuk melindungi kaki kuda, namun siapa duga kuda merah itu seperti sudah keranjingan setan saja, larinya semakin kencang, sekejap kemudian jarak roda dan kaki itu tetap semeteran dan tidak bertambah dekat.
Sungguh girang Yo Ko tak terkirakan. Ia tahu sambaran roda emas musuh makin lama tentu semakin lemah. Benar juga, jarak roda dengan kaki kuda bertambah jauh, kini sudah ada dua meteran, habis itu lantas tiga meter, empat meter dan semakin jauh tertinggal di belakang.

“Trangg...!” akhirnya roda emas itu jatuh ke tanah.

Selagi bergirang, Yo Ko mendengar suara ringkikan kuda, waktu ia menoleh ke belakang, kudanya sendiri sudah terkapar dengan panah menancap di perut. Hati Yo Ko menjadi pedih dan tanpa terasa mencucurkan air mata mengingat jasa kuda kurus itu.

Dalam pada itu kuda merah masih terus membedal secepat terbang, dalam sekejap pasukan Mongol sudah jauh tertinggal di belakang. Sambil merangkul tubuh Kwe Ceng, kemudian Yo Ko bertanya:

“Bagaimana keadaanmu Kwe-pepek?”

Kwe Ceng tidak menjawab, hanya bersuara lemah sekali. Sewaktu Yo Ko memeriksa pernapasannya, terasa cukap keras, agaknya sementara ini tidak menjadi soal, hatinya lega dan ia sendiri malah pingsan. Entah berapa lama Yo Ko mendekap di atas kuda dalam keadaan lelap. Ketika mendadak dilihatnya di depan beribu-ribu prajurit musuh menghadang pula hendak menangkap Kwe Ceng, segera dia memutar pedangnya sambil berteriak-teriak:

“Jangan mencelakai paman Kwe!”

Ia memutar pedangnya serabutan dan mendadak pandangannya menjadi samar-samar, di sana-sini banyak wajah orang yang tengah memperhatikannya. Waktu ia mengawasi lebih jelas, tiba-tiba sebuah wajah yang sangat dikenal tampak tersenyum padanya. Siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li! Yo Ko merasa bagai dalam mimpi, serunya:

“He, Kokoh, engkau juga berada di sini? Lekas lari, jangan pikirkan diriku! Kwe-pepek, mana Kwe-pepek?”

“Tenanglah, Ko-ji, kau sudah pulang, Kwe-pepekmu selamat, jangan kuatir,” kata Siao-liong-li dengan suara lembut.

Lega hati Yo Ko mendengar keterangan itu. Baru sekarang ia merasakan tubuhnya lemas lunglai, ruas tulangnya seolah-olah terlepas semua, segera ia pejamkan mata.

Didengarnya suara Oey Yong berkata: “Dia sudah siuman dan tidak berhalangan lagi, engkau mengawasi dia di sini.”

Terdengar Siao-liong-li mengiyakan, lalu Oey Yong melangkah pergi. Tapi sebelum keluar kamar, tiba-tiba saja terdengar suara kresek di atap rumah. Air muka Oey Yong berubah, sekali ayun tangannya meniup padam api lilin.

Yo Ko juga kaget dan cepat duduk. Dia cuma terluka luar lantaran terlampau banyak mengeluarkan tenaga pula terlalu Iama daIam pertempuran, sebab itulah ia jatuh pingsan. Akan tetapi setelah istirahat sekian lama, lagi pula Oey Yong telah memberi obat mujarab buatan Tho-hoa-to, kini sebagian besar tenaganya sudah pulih, maka begitu mendengar suara mencurigakan segera ia bangkit hendak menghadapi musuh.

Tetapi dalam keadaan gelap Siao-liong-li sudah menghadang di depannya dengan pedang terhunus, desisnya kepada Yo Ko:

“Jangan bergerak, Ko-ji, kujaga kau di sini!”

Dalam pada itu terdengar suara gelak tawa seseorang di atas rumah, katanya kemudian:

“Kedatanganku adalah untuk menyampaikan surat, tak kuduga jika adat menerima tamu kalian adalah dalam keadaan gelap gulita.”

Dari suaranya orang ini adalah murid Kim-lun Hoat-ong, yakni pangeran Hotu. “Menurut adat istiadat bangsa kami, menerima tamu yang terhormat harus di tempat yang terang, tapi untuk menghadapi tamu yang suka main sembunyi paling baik dilakukan pada malam gelap gulita,” jawab Oey Yong.

Seketika Hotu tidak mampu berdebat lagi, perlahan dia melompat turun ke pelataran dan berseru:

“Sepucuk surat dihaturkan kepada Kwe-tayhiap.”

Oey Yong membuka pintu kamar dan menjawab: “Baiklah, silakan masuk!”

Namun Hotu ragu-ragu karena kamar itu gelap gulita. Ia berdiri di luar kamar dan berkata:

“lni suratnya, harap diterima saja!”

“Kau mengaku sebagai tamu, mengapa tidak mau masuk kemari?” tanya Oey Yong.

“Lelaki sejati tak sudi tersudut di tempat berbahaya, perlu waspada kemungkinan dijebak,” ujar Hotu.

“Huh, masa ada laki-laki sejati yang mengukur orang lain dengan jiwa rendah seorang pengecut?” jengek Oey Yong.

Muka Hotu menjadi merah, diam-diam dia mengakui ketajaman mulut Oey Yong, apa bila berdebat pasti bakal kalah, dari pada malu lebih baik mundur teratur saja. Maka dia tidak bicara lagi, dengan pandangan tajam ke arah pintu ia sodorkan surat.

Oey Yong menjulurkan pentung bambunya dan mendadak menotok muka orang. Keruan Hotu terkejut dan cepat dia melompat mundur, tahu-tahu tangannya terasa kosong, surat yang dipegangnya entah kabur ke mana! Kiranya ketika pentung menotok, berbareng Oey Yong memutar ujung pentung ke bawah untuk menyanggah surat yang disodorkan Hotu. Pada saat Hotu melompat mundur, surat itu seperti lengket di ujung pentung lantas cepat ditarik oleh Oey Yong. Soalnya dia sedang hamil tua dan tidak ingin menemui tamu, itulah dia tidak mau berhadapan dengan musuh.

Setelah terkejut dia berubah menjadi lesu, semangatnya yang menyala ketika memasuki Siang-yang seketika lenyap sebagian besar menghadapi kelihayan Oey Yong itu, segera ia berseru:

“Surat sudah kuserahkan, sampai bertemu petang besok!”

Diam-diam Oey Yong mendongkol akan kekurang-ajaran orang yang berani datang dan pergi sesukanya di kota Siang-yang ini. Mendadak ia ambil poci teh yang terletak di atas meja, air teh yang masih panas itu dipancurkan ke sana. Sebenarnya sejak tadi Hotu sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan kalau ada senjata rahasia menyambar keluar dari dalam kamar, akan tetapi pancuran air teh panas datangnya tanpa suara apa-apa, tiada suara mendenging seperti senjata rahasia tajam pada umumnya, maka ketika dia mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu leher, dada dan lengannya sudah basah kuyup. Dia menjerit terkejut dan cepat mengegos ke samping.

Namun Oey Yong telah berdiri di pinggir pintu sebelum Hotu sempat berdiri tegak. Cepat pentung bambunya menjulur ke depan dengan gaya ‘menjegal’ dari Pak-kau-pang-hoat (ilmu permainan pentung penggebuk anjing).

“Plokk!” ia sabet kaki Hotu hingga pangeran Mongol itu jatuh terjungkal.

Cepat Hotu melompat bangun, tapi gaya menjegal pentung Oey Yong masih terus bekerja dengan cepat, belum lagi dia sempat berdiri sudah dirobohkan lagi dan begitu seterusnya dia jatuh bangun hingga kepala pusing tujuh keliling. Sesungguhnya ilmu silat Hotu tidaklah rendah, kalau bertempur benar-benar dengan Oey Yong rasanya takkan dirobohkan secara begitu mengenaskan walau pun kepandaiannya memang masih kalah tinggi dan di bawah pangcu kaum jembel yang sedang hamil tua ini.

Tapi lantaran mendadak dia disembur air teh panas, dia menyangka kena serangan obat berbisa yang sangat lihay dan bisa jadi jiwanya akan melayang, kalau tertahan lebih lama dan air racun itu bekerja, tidak mustahil badannya akan membusuk dan entah bagaimana dia akan tersiksa. Dalam keadaan kejut dan ragu itulah mendadak Oey Yong menyerangnya, bahkan pentungnya menyambar berturut-turut tanpa berhenti, sama sekali dia tidak sempat balas menyerang, keruan dalam kegelapan ia jatuh bangun hingga hidung bocor dan kepala benjut.

Sementara kedua saudara Bu sudah mendengar keributan itu dan memburu. Segera Oey Yong menyuruh mereka meringkus Hotu. Tiba-tiba saja Hotu mendapatkan akal. Dia tahu kalau bangun lagi pasti akan dijegal jatuh lagi, maka dia pura-pura menjerit dan terbanting jatuh, padahal tubuhnya memang sudah kesakitan, maka sekalian ia lantas berbaring di situ untuk mengaso. Ketika kedua saudara Bu menubruk maju hendak menawannya, sekonyong-konyong Hotu menjulurkan kipasnya dan sekaligus totok Hiat-to kaki kedua orang, menyusul dia dorong tubuh kedua saudara Bu untuk merintangi pentung Oey Yong, dia sendiri segera melompat lalu naik ke atas pagar tembok.

“Oey-pangcu, lihay benar permainan pentungmu, tapi goblok amat anak didikmu!” serunya dengan tertawa.

“Huh! Tubuhmu terkena air beracun, mana orang lain mau menyentuh tubuhmu?” jengek Oey Yong.

Seketika Hotu melengak kaget, dia merasa air panas yang mengenai tubuhnya berbau teh, entah air racun macam apa?

Rupanya Oey Yong dapat menerka pikirannya, dia berkata pula: “Kau terkena racun, tapi sama sekali kau tak tahu nama racunnya, tentu mati pun kau tidak rela. Baiklah, biar aku beri-tahu, air racun itu bernama Cu-ngo-kian-kut-teh (teh pembusuk tulang sampai lohor).”

“Cu-ngo-kian-kut-teh...?” Hotu mengulang istilah itu.

“Benar,” ujar Oey Yong. “Satu tetes saja racun itu mengenai tubuh, maka sekujur badan akan membusuk hingga kelihatan tulangnya pada waktu Iohor. Nah, kau masih ada waktu beberapa jam, lekas pulang untuk mengurus tempat kuburanmu.”

Hotu tahu Oey-pangcu dari Kay-pang terkenal lihay dan amat cerdik, mampu meracik racun seperti apa yang dikatakan tadi memang tidak perlu disangsikan lagi. Seketika ia menjadi termangu bingung, apa mesti pulang menanti ajal atau merendahkan diri mohon obat penawarnya?

Oey Yong tahu pangeran Mongol bukanlah orang bodoh, tentang air racun segala hanya bisa menipunya sementara, lama-lama tentu akan diketahui kebohongannya. Maka dia lantas berkata.

“Sebenarnya kita tiada dendam apa-apa, kalau kata-katamu tidak kasar, tentu jiwamu takkan melayang.”

Dari nada ucapan orang, Hotu merasa ada setitik sinar harapan untuk hidup, tanpa pikir harga diri lagi segera dia melompat turun dari pagar tembok. Dia memberi hormat sambil berkata:

“Ya, Cayhe tadi berlaku kasar padamu, mohon Oey-pangcu sudi memaafkan.”

Berdiri di belakang pintu Oey Yong meraba secomot kotoran debu. Lebih dulu ia ludahi lalu dipelintir menjadi butiran, Dengan perlahan dia selentikkan ‘obat pil’ itu kepada Hotu sambil berkata:

“Baiklah, lekas minum obat ini!”

Cepat Hotu menangkap ‘pil’ itu dan tanpa pikir ditelan mentah-mentah, sungguh pun rasanya agak pahit namun jiwa selamat paling perlu. Ia memberi hormat kemudian mengucapkan terima kasih kepada Oey Yong. Kini ia sudah patah semangat, ia mundur-mundur ke tepi pagar tembok baru melompat ke atas dan angkat kaki.

Oey Yong menghela napas gegetun setelah Hotu pergi, dibukanya Hiat-to kedua saudara Bu yang tertotok. Segera teringat olehnya kata-kata ejekan Hotu tadi, ‘Lihay benar permainan pentung Oey-pangcu, tapi goblok amat anak didikmu’.

Dia menjadi sedih melihat kedua saudara Bu. Meski caranya menjatuhkan Hotu tadi tidak menggunakan tenaga, tapi perutnya terasa rada sakit. Dia duduk mengaso di kursi.

Sementara itu Siao-liong-li menyalakan lilin. Oey Yong membuka surat lalu dibacanya. Kiranya surat itu dari Kim-lun Hoat-ong yang menyatakan kagum atas ketangkasan Kwe Ceng, yang dapat datang dan pergi di tengah pasukan Mongol, untuk itulah Kim-lun Hoat-ong menyatakan besok hendak mengadakan kunjungan balasan ke Siang-yang. Tentu saja Oey Yong amat terkejut. Ia perlihatkan surat itu kepada Yo Ko dan Siao-liong-li, katanya:

“Meski tembok benteng Siang-yang sangat kuat, tetapi sukar menahan tokoh-tokoh persilatan. Kini Paman Kwe terluka parah, aku pun tidak mampu berbuat banyak, sedangkan musuh akan datang secara besar-besaran, bagaimana baiknya?”

“Paman Kwe...” belum lanjut ucapan Yo Ko, dilihatnya Siao-liong-li melirik dengan sinar mata mengandung arti menyalahkan karena telah menyelamatkan jiwa Kwe Ceng, seketika dia tidak melanjutkan perkataannya.

Oey Yong menjadi curiga, dia tanya: “Nona Liong, kesehatan Ko-ji belum pulih, maka besok terpaksa harus mengandalkan engkau dan Cu Cu-liu Cu-toako menghadapi kedatangan musuh.”

Siao-liong-li tidak biasa berdusta mau pun berpura-pura, apa yang dipikirkan itu yang dikatakan. Dengan tak acuh dia lantas menjawab:

“Aku hanya melindungi Ko-ji seorang, mati hidup orang lain tiada sangkut pautnya dengan kami.”

Tentu saja Oey Yong bertambah heran, seketika ia pun tak dapat bertanya lebih banyak, ia hanya berkata kepada Yo Ko:

“Menurut paman Kwe, semuanya berkat perjuanganmu.”

Begitu ingat kepada maksudnya hendak membunuh Kwe Ceng, Yo Ko merasa malu diri, jawabnya:

“Ahh, siautit tidak becus hingga membikin Kwe-pepek terluka.”

“Kau sendiri istirahat dulu, kalau musuh datang, jika tak mampu melawan dengan tenaga dapatlah kita mengalahkan mereka dengan akal,” ujar Oey Yong, lalu ia berpaling kepada Siao-liong-Ii. “Nona Liong, marilah ikut, aku ingin bicara sebentar dengan kau.”

“Tapi dia...” Siao-liong-li ragu-ragu memandangi Yo Ko.

Sejak pulangnya anak muda itu, Siao-liong-li terus menunggunya di situ, maka ia merasa berat meninggalkan anak muda itu.

“Musuh akan datang besok, kuyakin malam ini takkan terjadi sesuatu,” ujar Oey Yong, “Marilah ikut, apa yang hendak kubicarakan ada hubungannya dengan Ko-ji.”

Siao-liong-li mengangguk. Lebih dulu dia membisiki beberapa pesan kepada Yo Ko, habis itu barulah ikut Oey Yong keluar kamar. Oey Yong membawanya ke kamarnya, setelah menutup pintu barulah ia berkata:

“Nona Liong, kau bermaksud membunuh kami suami isteri, bukan?”

Walau pun watak Siao-liong-li polos bersih, tetapi dia bukanlah orang bodoh. Dia bertekad membunuh Kwe Ceng dan Oey Yong untuk menolong jiwa Yo Ko, kalau Oey Yong memancingnya dengan kata-kata mana dapat mengelabuinya? Tapi sekarang Oey Yong dapat meraba wataknya yang lugu, tanpa tedeng aling-aling ia bertanya secara langsung.

Keruan Siao-liong-li menjadi melengak dan menjawab dengan tergagap, “Ka... kalian baik kepada kami, mengapa kami... kami ingin membunuh kalian?”

Melihat sikap orang, Oey Yong tambah yakin akan dugaannya. Segera dia berkata : “Kau tak perlu merahasiakannya lagi, sudah kuketahui maksud kalian. Ko-ji menganggap kami yang membinasakan ayahnya, karena itu dia ingin membunuh kami untuk menuntut balas. Kau suka kepada Ko-ji, maka hendak membantu terlaksana cita-citanya itu.”

Karena isi hatinya dengan jitu kena dikatai, dasar Siao-liong-li memang tidak dapat berdusta, seketika ia terdiam, sejenak kemudian barulah ia menghela napas dan berkata:

“Sungguh aku tidak paham!”

“Tidak paham apa?” tanya Oey Yong.

“Sebab apa tadi Ko-ji menyelamatkan Kwe-tayhiap dengan mati-matian, padahal dia telah berjanji dengan Kim-lun Hoat-ong membunuh Kwe-tayhiap,” kata Siao-liong-li.

Terkejut juga Oey Yong mendengar keterangan itu. Memang dia sudah menduga ada niat jahat pada Yo Ko, tetapi sama sekali tidak menyangka anak muda itu akan bersekongkol dengan pihak Mongol. Maka dia pun tenang-tenang saja dan berlagak sudah mengetahui semuanya, katanya:

“Mungkin dia melihat Kwe-tayhiap amat baik hati, akhirnya dia sendiri tidak tega turun tangan.”

Siao-liong-li mengangguk, katanya dengan sedih: “Urusan sudah telanjur begini, apa mau dikata lagi? Kalau dia tidak mau memikirkan jiwanya sendiri, ya terserah. Aku sudah tahu dia adalah orang paling baik di dunia ini, dia lebih suka mati sendiri dari pada mencelakai musuhnya.”

Sekilas timbul beberapa pertanyaan di benak Oey Yong, tetapi sukar menarik kesimpulan dari arti ucapan Siao-liong-li. Dilihatnya air muka si nona sangat sedih dan cemas, sedapatnya dia pun menghibur:

“Mengenai kematian ayah Ko-ji memang banyak lika-likunya, biarlah kelak kita membicarakannya secara lebih jelas. Lukanya tidak parah, setelah istirahat beberapa hari tentu akan sehat kembali, kau tidak perlu berduka.”

Siao-liong-li memandangi Oey Yong dengan ter-mangu, sejenak kemudian mendadak air matanya bercucuran, katanya dengan ter-gagap:

“Tetapi... tetapi jiwanya hanya... hanya tinggal tujuh hari, mana mungkin istirahat lagi bebe... beberapa hari segala...”

“Jiwanya tinggal tujuh hari apa maksudmu?” Oey Yong menegas dengan terkejut. “Lekas jelaskan, kita pasti dapat menolongnya.”

Siao-liong-li menggeleng perlahan, tapi akhirnya ia menceritakan juga kejadian di Cui-sian-kok tentang cara bagaimana Yo Ko terkena racun bunga cinta dan Kiu Jian-jio hanya memberi setengah butir pil Coat-ceng-tan serta memberi waktu 18 hari untuk membunuh Kwe Ceng dan Oey Yong, setelah itu barulah setengah butir Coat-ceng-tan yang lain akan diberikan lagi. Diceritakan juga betapa tersiksanya bila racun bunga cinta itu mulai bekerja dan bahwa di dunia ini hanya tersisa separoh Coat-ceng-tan yang dapat menolong jiwa Yo Ko.

Makin kejut dan heran Oey Yong oleh cerita itu, sama sekali tak terduga olehnya bahwa Kiu Jian-yim, tokoh Bu-Iim yang terkenal belasan tahun yang lalu masih mempunyai seorang adik perempuan serta membangkitkan mala petaka sehebat itu.

Setelah bercerita secara ringkas, akhirnya Siao-liong-li berkata: “Jadi umurnya kini tinggal tujuh hari lagi, seumpama malam ini kalian suami-isteri dapat dibunuh tak sempat lagi kembali ke Coat-ceng-kok, lalu untuk apa kalian kubikin celaka? Tujuanku cuma menolong Ko-ji, mengenai dendam kematian ayahnya aku tidak urus.”

SemuIa Oey Yong mengira maksud tujuan Yo Ko hanya ingin menuntut balas kematian ayahnya, siapa tahu dalam urusan ini masih banyak lika-liku soal lain, jika begitu berarti anak muda itu membunuh diri kalau dia batalkan niatnya membunuh Kwe Ceng. Sungguh luhur pengorbanan Yo Ko yang tiada bandingannya ini. Begitulah Oey Yong mondar mandir di dalam kamar dengan bingung, betapa pun cerdik pandainya, tak berdaya juga menghadapi keadaan yang serba sulit ini. Dia pikir beberapa jam lagi musuh akan menyerbu besar-besaran, meski tadi ia menghibur Yo Ko supaya jangan kuatir dan bahwa dapat mengalahkan musuh dengan akal andai kata tidak mau melawannya dengan kekuatan. Tapi bagaimana akalnya itu sungguh sukar diperoleh.

Bahwasanya Siao-liong-li hanya memikirkan dan mencintai Yo Ko dengan setulus hati, sedangkan pikiran Oey Yong justru bercabang dua, setengahnya dia berikan kepada sang suami dan separoh lain terbagi kepada anak perempuannya. Yang dipikirkannya kini hanyalah: “Bagaimana caranya menyelamatkan kakak Ceng dan anak Hu?”

Tiba-tiba terpikir olehnya: Kalau Ko-ji dapat mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain, kenapa aku tidak? Karena pikiran ini, segera ia berpaling kepada Siao-liong-li dan berkata dengan ikhlas:

“Nona Liong, aku mempunyai akal yang dapat menolong jiwa Ko-ji, apakah kau mau menurut padaku?”

Saking girangnya tubuh Siao-liong-li sampai gemetar, jawabnya: “Walau pun aku harus... harus mati pun... Ai, sebenarnya mati pun bukan apa-apa bagiku, sekali pun berpuluh kali lebih susah dari pada mati juga aku... aku akan menurut.”

“Baik,” kata Oey Yong, “Urusan ini hanya kau dan aku saja yang tahu, jangan sekali-sekali kau bocorkan kepada orang lain, bahkan Ko-ji sekali pun tidak boleh kau beri-tahu. Kalau tidak semuanya akan gagal total.”

Ber-uIang2 Siao-liong-li mengiyakan, barulah Oey Yong berkata lagi: “Jika musuh datang nanti, hendaklah kau dan Ko-ji melindungi Kwe-tayhiap sekuat tenaga, apa bila bahaya ini sudah lalu, segera kuserahkan kepalaku padamu dan Ko-ji dapat menggunakan kuda merah ke Coat-ceng-kok untuk menukarkan sisa obat itu.”

Siao-liong-li melengak. “Apa katamu?” ia menegas karena belum paham apa maksudnya.

Dengan suara halus Oey Yong menjelaskan “Cintamu pada Ko-ji melebihi jiwamu sendiri, bukan? Asalkan dia selamat, meski pun kau sendiri akan mati kau rela dan gembira, bukan?”

Ucapan Oey Yong dengan jitu mengenai lubuk hati Siao-liong-li, nona itu mengangguk dan berkata:

“Tentu saja!”

“Sebab serupa kau, aku pun cinta kepada suamiku,” ucap Oey Yong dengan tersenyum hambar. “Kau tidak punya anak sehingga tidak tahu perasaan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya sesungguhnya tidak kurang dari pada kasih sayang antara suami isteri. Aku cuma minta kau melindungi keselamatan suami dan putriku, selebihnya apa lagi yang kuharapkan?”

Siao-liong-li berpikir sejenak, belum lagi ia menjawab Oey Yong telah berkata: “Kalau kau mau bergabung dengan Ko-ji tentu tidak sukar mengalahkan si gundul Kim-lun Hoat-ong. Sudah beberapa kali Ko-ji menolong jiwa kami suami isteri, masa sekali saja aku tak dapat menolong jiwanya? Kuda merah itu sehari dapat berlari ratusan li, tidak sampai tiga hari tentu dapat mencapai Coat-ceng-kok. Sekarang ingin kukatakan kepadamu, Kiu Jian-li dan Yo Khong semuanya mati di tanganku dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kwe-tayhiap. Jika kepalaku sudah diserahkan, meski pun masih belum puas tentu juga Kiu Jian-jio akan memberikan obatnya kepada Ko-ji. Selanjutnya semoga kalian berdua dapat berjuang bagi negara dan bangsa, andai kata tidak dapat dan ingin mengasingkan diri dipegunungan sunyi juga aku merasa berterima kasih.”

Cukup tegas ucapan Oey Yong, kecuali itu memang tiada jalan lain lagi.

KUNJUNGAN BALASAN

Beberapa hari terakhir ini Siao-liong-li selalu memikirkan cara bagaimana membunuh Kwe Ceng dan Oey Yong untuk menyelamatkan jiwa Yo Ko, tapi sekarang hal itu terucap dari mulut Oey Yong sendiri, ia malah merasa tidak enak. Ber-ulang-ulang ia menggeleng dan berkata:

“Tidak, tidak bisa!”

Selagi Oey Yong hendak membujuknya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar Kwe Hu berseru di luar kamar

“lbu, ibu! Engkau di mana?” suaranya kedengaran gelisah dan bingung.

Oey Yong terkejut dan cepat ia menjawab: “Ada urusan apa, Hu-ji?”

Kwe Hu mendorong pintu dan melangkah masuk, tanpa pedulikan hadirnya Siao-liong-li, ia langsung menubruk dalam pelukan sang ibu dan berseru:

“lbu, kedua kakak Bu telah...” mendadak ia menangis dan tidak dapat melanjutkan.

“Ada apa lagi?” tanya Oey Yong sambil mengerutkan dahi.

“Mereka... mereka kakak beradik keluar... keluar benteng untuk berke... berkelahi,” tutur Kwe Hu dengan ter-sendat.

“Berkelahi apa?!” bentak Oey Yong dengan bengis saking marahnya. “Maksudmu mereka kakak beradik hendak saling berhantam?”

Jarang sekali Kwe Hu melihat ibunya marah, dia menjadi takut, jawabnya dengan suara gemetar:

“Ya... ya, aku minta mereka jangan berkelahi, tetapi tidak mau menurut, katanya hendak berkelahi mati-matian. Mereka menyatakan hanya akan pulang seorang saja. Siapa yang kalah, andaikan tidak mati juga takkan pulang Iagi untuk menemuiku.”

Oey Yong tambah marah. Dia pikir musuh berada di depan mata, jiwa segenap penduduk kota berada di ujung tanduk, tapi kedua saudara Bu itu masih sempat saling bunuh untuk berebut seorang nona. Saking marahnya hingga mengganggu kandungannya yang sudah besar itu, seketika keringat dingin memenuhi dahinya.

“Tentu kau lagi yang mengacau,” kata Oey Yong dengan suara berat. “Coba kau ceritakan yang jelas, apa yang telah kau lakukan, sedikit pun tidak boleh dusta.”

Kwe Hu melirik sekejap ke arah Siao-Iiong-!i, mukanya berubah merah dan merasa ragu untuk bicara. Siao-liong-li sendiri sedang memikirkan Yo Ko dan tiada minat untuk mendengarkan cerita tentang saling hantamnya kedua saudara Bu, segera dia mohon diri lantas menuju ke kamar Yo Ko, sepanjang jalan dia terus merenungkan apa yang diuraikan Oey Yong tadi.

Sesudah Siao-liong-li pergi barulah Kwe Hu berkata: “Ibu, sesudah kedua kakak Bu gagal membunuh Kubilai dan tertawan musuh sehingga membikin susah ayah, semua itu adalah kesalahan anak. Jika persoalan ini tidak aku tuturkan, bukankah sia-sia saja kasih sayang ayah-ibu padaku?”

BegituIah dia lantas bercerita tentang persaingan kedua saudara Bu kepadanya dan cara bagaimana dia menyuruh mereka untuk membunuh musuh sebagai syarat utama supaya bisa mendapatkan dirinya, tetapi akibatnya kedua pemuda itu tertawan musuh. Oey Yong tahu anak perempuannya ini sejak kecil terlalu dimanjakan, meski berbuat salah juga tidak mau mengaku salah. Maka ia pun tidak mengungkit kejadian yang sudah lalu, ia hanya berkata:

“Mereka sudah pulang dengan selamat, mengapa keluar benteng lagi untuk berkelahi?”

“Hal ini adalah salahmu, Ibu,” ujar Kwe Hu. “Karena engkau mengatakan mereka adalah murid yang goblok.”

“Kapan pernah kukatakan demikian?” jawab Oey Yong melengak.

“Menurut cerita mereka, tadi Hotu datang menyampaikan surat tantangan. Ibu menyuruh mereka menangkap Hotu, tapi Hiat-to mereka malah kena ditotok dan engkau mengomeli mereka murid goblok.”

Oey Yong menghela napas, katanya: “Kepandaian mereka memang kalah tinggi, apa mau dikata lagi? ‘Murid goblok’ adalah olok-olok yang diucapkan Hotu.”

“Pantas,” ucap Kwe Hu “lbu tidak membalas olok-olok Hotu, itu berarti mengakui kebenaran ucapannya, maka kedua saudara Bu merasa penasaran, keduanya bertengkar sendiri dan saling menyalahkan, yang satu bilang kurang cepat menawan Hotu, yang lain menuduh sang kakak merintangi pandangannya sehingga sukar bertindak. Dari ribut mulut akhirnya mereka meloIos senjata. Aku mengomeli mereka, kalau perbuatan mereka dilihat orang dan dilaporkan kepada ayah, kuancam akan menghajar mereka. Karena itu mereka menyatakan akan berkelahi di luar benteng saja.”

“Banyak persoalan penting yang harus kuselesaikan, urusan mereka tak dapat kupikirkan lagi, mereka suka ribut, biarkan saja,” ujar Oey Yong.

“Tapi... tapi kalau terjadi apa-apa di antara mereka, lantas bagaimana, ibu?” kata Kwe Hu sambil merangkul pundak sang ibu.

“Kalau mereka terluka di medan perang barulah perlu dikuatirkan, sekarang mereka saling berhantam antara saudara sendiri, biar mampus juga syukur,” Oey Yong berkata dengan marah.

Melihat sikap sang ibu yang amat bengis berbeda sekali dengan biasanya yang sangat memanjakan dirinya, Kwe Hu tidak berani bicara lagi, ia menangis dan berlari pergi. Sementara itu fajar sudah tiba. Oey Yong duduk sendiri, meski dalam hati sangat gemas terhadap perbuatan kedua saudara Bu, tetapi mengingat kedua anak muda itu dibesarkannya sejak kecil, betapa pun ia merasa kuatir. Dia teringat pula bencana yang bakal menimpa, tanpa terasa dia mencucurkan air mata, Kemudian ia pun teringat kepada keadaan Kwe Ceng, cepat ia menuju kamar sang suami untuk menjenguknya.

Kwe Ceng sedang duduk semadi di atas ranjang, biar pun mukanya rada pucat namun napasnya teratur, tampaknya sesudah istirahat beberapa hari lagi dapatlah sehat kembali. Perlahan-lahan Kwe Ceng membuka mata. Ketika melihat sang isteri ada tanda bekas air mata, akan tetapi tersenyum simpul, dia berkata:

“Yong-ji, kau tahu lukaku tidak berhalangan, kenapa kau berkuatir? Kukira kau sendiri yang perlu mengaso”

“Ya, beberapa hari terakhir ini perutku terasa mengencang, agaknya putera atau puterimu segera akan berjumpa ayahnya,” ujar Oey Yong dengan tertawa.

Supaya Kwe Ceng tidak kuatir, maka soal Hotu datang menyampaikan surat tantangan dan kepergian kedua saudara Bu untuk berkelahi itu sama sekali tak diceritakannya.

“Hendaklah kau suruh kedua saudara Bu perketat patroli di atas benteng. Musuh tahu aku sedang terluka, mungkin kesempatan ini akan digunakan untuk menyerang,” ujar Kwe Ceng.

Oey Yong mengiakan. Lalu Kwe Ceng bertanya pula tentang keadaan Yo Ko. Belum lagi Oey Yong menjawab, terdengar suara tindakan orang di luar, suara Yo Ko menanggapi.

“Kwe-pepek, aku hanya terluka luar saja, sesudah minum obat pemberian Kwe-pekbo, kini sudah sehat kembali.” Sesudah itu pun melangkah masuk dan berkata, “Baru saja kuperiksa keadaan penjagaan di atas benteng, tampaknya semangat tempur segenap saudara kita berkobar-kobar, hanya kedua saudara...”

Sampai di sini mendadak Oey Yong berdehem dan mengedipinya. Yo Ko dapat menerima arti isyarat itu, ia pun cepat menyambung:

“kedua saudara Bu menyatakan bahwa paman terluka demi menolong jiwa mereka, kalau musuh berani menyatron ke sini, mereka pasti akan bertempur mati-matian untuk membalas budi kebaikan paman.”

“Aih, sesudah peristiwa itu tentunya mereka pun bertambah pengalaman sedikit dan tidak terlalu meremehkan orang lain,” kata Kwe Ceng.

Tiba-tiba Yo Ko bertanya: “Kwe-pekbo, apakah Kokoh tidak datang ke sini?”

“Tadi kami bicara sebentar, mungkin ia kembali ke kamarnya untuk mengaso,” jawab Oey Yong. “Sejak kau terluka dia terus menunggui kau tanpa tidur.”

Yo Ko pikir Siao-liong-li tentu hendak memberi-tahu kepadanya apa yang dibicarakan sang Kokoh dengan Oey Yong. Boleh jadi kembalinya Siao-liong-li tadi kebetulan dirinya sedang pergi sehingga tidak bertemu.

Rupanya sesudah berkumpul beberapa hari dengan Kwe Ceng dan Oey Yong, Yo Ko merasa suami-isteri itu benar-benar berjuang bagi negara dan bangsa tanpa memikirkan kepentingan pribadi, maka hati Yo Ko menjadi sangat terharu, apa lagi setelah kejadian di tengah pasukan Mongol itu, di mana Kwe Ceng menyelamatkannya dengan mati-matian, maka maksud hendak membunuh Kwe Ceng seketika dibuang seluruhnya dan berbalik bertekad akan membalas budi kebaikan Kwe Ceng dengan segenap tenaganya.

Dia tahu racun bunga cinta dalam tubuhnya akan bekerja tujuh hari lagi, tapi dia sengaja melupakan dan sedapatnya ingin berbuat sesuatu yang baik dalam tujuh hari ini agar tidak sia-sia menjadi manusia. Karena itulah begitu dia sadar kembali dan merasa sehat, segera dia ikut meronda akan kemungkinan serbuan musuh. Begitulah dia menjadi kuatir akan diri Siao-liong-li, segera dia hendak pergi mencarinya. Pada saat itulah di atas wuwungan rumah tiba-tiba seseorang bergelak tertawa dengan suaranya yang nyaring menggetar telinga, menyusul terdengar suara benturan logam yang mendengking, jelas Kim-lun Hoat-ong telah tiba.

Air muka Kwe Ceng berubah seketika, cepat dia tarik Oey Yong ke belakangnya. Dengan suara tertahan Oey Yong berkata:

“Engkoh Ceng, mana lebih penting, mempertahankan Siang-yang atau cinta kasih kita? Lebih penting keselamatanmu atau keselamatanku?”

“Benar, kepentingan negara lebih utama,” jawab Kwe Ceng sambil melepas pegangannya pada sang isteri.

Segera Oey Yong siapkan pentung bambu dan menghadang di ambang pintu. Ia menjadi ragu-ragu pula pada Yo Ko, anak muda ini entah akan ikut menghalau musuh atau justru berbalik menuntut balas dendam pribadi pada saat orang sedang terancam bahaya. Karena itulah meski dia berjaga di ambang pintu, tetapi pandangannya justru mengawasi gerak-gerik Yo Ko.

Tanya jawab singkat Kwe Ceng dan Oey Yong tadi ternyata bagaikan bunyi guntur yang menggelegar dalam pendengaran Yo Ko. Bahwa sesungguhnya dia sudah bertekad membantu Kwe Ceng hanya disebabkan dia terharu oleh budi luhur sang paman dan rela berkorban baginya. Tapi kini tiba-tiba didengarnya sang paman menyatakan: ‘Kepentingan negara lebih utama’, segera teringat pula kata-kata Kwe Ceng di luar Siang-yang kemarin yang menganjurkannya mengabdi bagi rakyat dan negara. Seketika pikiran Yo Ko terbuka dan paham arti semua ucapan itu.

Dilihatnya betapa besar kasih sayang paman dan bibinya itu, namun di saat menghadapi bahaya mereka tetap mengutamakan kepentingan negara dan bangsa. Sebaliknya dirinya senantiasa memikirkan sakit hati pribadi dan tak pernah melupakan cinta kasihnya dengan Siao-liong-li. Bilakah dirinya pernah ingat kepada kepentingan negara yang lebih utama dan penderitaan rakyat jelata di bawah keganasan musuh? Apa bila dibandingkan, maka dirinya sendiri sungguh rendah dan memalukan sekali.

Sesudah menginsafi semua itu, seketika lega dada pun lapang. Terngiang kembali ajaran Oey Yong di Tho-hoa-to dahulu yang mengutamakan pendidikan budi pekerti itu, semua itu kini menjadi amat jelas dan terang dalam benaknya, tanpa terasa ia menjadi malu, bangkit semangatnya. Maklumlah watak Yo Ko memang ekstrim, semenjak kecil kenyang siksa derita, tindak tanduknya sering rada nyentrik. Tetapi sesudah mendengar percakapan Oey Yong dan Kwe Ceng tadi, kepalanya seperti mendadak dikemplang, pikirannya menjadi terbuka, seketika dia memasuki hidup baru.

Meski apa yang dipikirnya itu hanya terjadi sekilas saja, namun Oey Yong sempat melihat perubahan air muka Yo Ko itu dari rasa bimbang menjadi malu, dari bersemangat berubah menjadi tenang, tapi entah apa yang dipikirkan anak muda itu.

“Jangan kuatir,” tiba-tiba Yo Ko mendesis kepada Oey Yong, mendadak ia bersuit nyaring dan menuju ke depan pintu dengan pedang terhunus. Dilihatnya Kim-lun Hoat-ong berdiri di atas rumah sambil memegang sepasang rodanya.

“Adik Yo, kau suka miring ke sana dan doyong ke sini, pagi merah sore hitam, bagus ya rasanya menjadi pengecut yang bolak-balik?” ejek Hoat-ong.

Di waktu biasa tentu Yo Ko akan marah mendengar ejekan itu, tetapi kini pikirannya sudah terang. Ia tidak gubris sindiran orang, dengan tertawa ia menjawab:

“Ucapanmu memang benar, Hoat-ong, entah mengapa aku menjadi kerasukan setan dan membantu Kwe Ceng lari ke sini. Begitu sampai di sini dia lantas menghilang entah ke mana dan tak dapat kuketemukan Iagi. Aku menjadi sangat menyesal, apakah kau tahu dia sembunyi di mana?”

Habis itu ia lantas melompat ke atas rumah dan berdiri tidak jauh di sebelah Hoat-ong. Dengan perasaan sangsi Kim-lun Hoat-ong melirik Yo Ko. Dia pikir anak muda ini banyak tipu akalnya, entah benar tidak ucapannya tadi. Dengan tertawa dia lantas bertanya:

“Dan bagaimana kalau dapat menemukan dia?”

“Segera kutusuk dengan pedangku ini,” jawab Yo Ko.

“Hm, kau berani menusuk dia?” jengek Hoat-ong.

“Siapa bilang menusuk dia?” ujar Yo Ko.

“Habis menusuk siapa?” Hoat-ong menegas dengan bingung.

“Srettt!” mendadak Kun-cu-kiam terhunus di tangan Yo Ko lntas menusuk iga kiri Hoat-ong dengan cepat luar biasa.

“Sudah tentu menusuk kau!” seru Yo Ko sekaligus.

Di tengah senda guraunya Yo Ko melancarkan serangan lihay, kalau saja Kim-lun Hoat-ong kurang tinggi kepandaiannya tentu nyawanya sudah melayang. Untung dia dapat bergerak dengan cepat, dalam keadaan bahaya dia kerahkan tenaga pada lengan kiri lantas menyampuk ke samping, dengan demikian ujung pedang Yo Ko dapat ditangkis, walau pun begitu tidak urung lengannya terluka, darah pun bercucuran. Meski sudah tahu Yo Ko banyak tipu akalnya, sama sekali Hoat-ong tidak menduga anak muda itu sekarang akan menyerangnya secara mendadak, segera roda emas pada tangan kanannya bergerak dan berturut-turut ia balas menyerang dua kali, berbareng itu roda perak di tangan kiri juga menghantam.

Yo Ko tidak gentar sedikit pun. Musuh menyerang tiga kali, kontan ia pun balas menusuk tiga kali, katanya sambil tertawa:

“Ketika di tengah pasukan Mongol kau melukai aku dengan rodamu, sekarang beruntung aku dapat membalas kau dengan satu kali tusukan, cuma ujung pedangku ini ada sesuatu yang aneh, kau tahu tidak?”

Dengan marah Hoat-ong melancarkan serangan gencar sambil bertanya: “Sesuatu yang aneh apa maksudmu?”

“Kau tahu pedangku ini kudapatkan dari Coat-ceng-kok tempat Kongsun Ci yang mahir menggunakan racun,” kata Yo Ko dengan berseri-seri. “Nah, kelak kau boleh mencari dia untuk membikin perhitungan.”

Hoat-ong terkejut. Ia menjadi sangsi apakah benar Kongsun Ci telah memoles racun pada ujung pedang. Karena bimbang hatinya, serangannya menjadi kendur. Padahal pedang Yo Ko sama sekali tidak berbisa. Dia teringat pada cara Oey Yong ketika menggertak lari Hotu dengan air teh, maka dia pun menirukan cara itu untuk mengacaukan pikiran musuh yang lihay ini.

Meski lukanya tidak terlalu parah, tetapi darah mengucur terus, seumpama pedang Yo Ko tidak berbisa, kalau darah keluar terlalu banyak tentu tenaganya akan lemah. Maka Kim-lun Hoat-ong lantas menyerang dengan lebih gencar agar bisa mengalahkan Yo Ko. Tetapi Yo Ko cukup cerdik. Ia bertahan dengan rapat sedangkan serangan roda Hoat-ong semakin dahsyat. Mendadak roda emasnya menghantam bagian atas ada pun roda peraknya menyabet dari samping. Merasa tidak sanggup menangkis, cepat-cepat Yo Ko melompat mundur.

Kesempatan itu segera digunakan Hoat-ong merobek kain baju buat membalut luka, tapi Yo Ko segera menubruk maju dan menyerang lagi, sedapatnya ia mengganggu Hoat-ong agar tak sempat mengurus lukanya. Begitulah beberapa kali Hoat-ong tidak berhasil membalut lukanya.

Tiba-tiba ia mendapat akal. Ketika Yo Ko dipaksa melompat mundur, ia sendiri lantas melompat mundur, menyusul menimpukkan roda emas mendesak Yo Ko supaya terpaksa menghindari lagi, dengan begitu jarak kedua orang bertambah jauh. Ketika Yo Ko memburu maju lagi, sekejap sudah dapat digunakan Hoat-ong membalut lukanya.

Pada saat itu di sebelah sana terdengar suara nyaring benturan senjata. Waktu Yo Ko memandang, dilihatnya Siao-liong-li sedang menandingi kerubutan Siau-siang-cu dan Nimo Singh. Meski kemarin pentung Siau-siang-cu sudah dirampas Yo Ko, tetapi sekarang dia memegang pentung yang serupa, hanya pentung ini entah berbisa atau tidak.

Yo Ko pikir Kwe Ceng dan Oey Yong berada dalam kamar, kalau diketahui Kim-lun Hoat-ong tentu urusan bisa runyam. Ia pikir Hoat-ong harus dipancing pergi sejauhnya, cuma tindakan ini harus dilakukan secara wajar tanpa menimbulkan curiga musuh. Karena itulah ia sengaja berseru:

“Jangan kuatir, Kokoh, akan kubantu kau!” Habis ini dia sengaja meninggalkan Kim-lun Hoat-ong dan melompat ke sana, begitu sampai di belakang Nimo Singh segera pedangnya menusuk punggung musuh.

Setelah dilukai Yo Ko tentu saja hati Kim-lun Hoat-ong sangat marah, kalau orang lain tentu akan menguber Yo Ko untuk membalas dendam. Namun dia memang seorang pemimpin besar, setiap tindak tanduknya dipikirkan secara panjang. Dia pikir tujuan utama kedatangannya adalah membunuh Kwe Ceng, sakit hati pada anak muda nakal yang telah melukainya ini biarlah kubalas kelak. Begitulah ia lantas berteriak keras-keras:

“Wahai, Kwe Ceng? Ada tamu datang dari jauh, mengapa kau tidak sudi menemuinya?”

Dia berteriak beberapa kali namun tetap tiada jawaban, hanya dari sebelah lain ada suara orang bertempur, yaitu kedua muridnya, Darba dan Hotu, sedang mengeroyok Cu Cu-Iiu. Dilihatnya pertempuran antara Siau-siang-cu dan Nimo Singh melawan Yo Ko serta Siao-liong-li juga sukar ditentukan kalah menang dalam waktu singkat, sementara itu di bawah rumah sudah ramai orang banyak, agaknya pasukan penjaga benteng mendengar kedatangan musuh, maka dikerahkan untuk menangkap musuh penyelundup.

Biar pun tidak gentar terhadap prajurit yang tidak mahir ilmu silat, tapi kalau berjumlah banyak repot juga menghadapinya. Segera Hoat-ong berteriak kembali:

“Wahai Kwe ceng, percumalah nama kepahlawananmu yang termashur selama ini, mengapa sekarang kau menjadi kura-kura yang mengerutkan kepala?!”

Dia ber-teriak dengan tujuan memancing keluar Kwe Ceng, akan tetapi Kwe Ceng tetap tidak mau muncul. Hoat-ong mendapat akal keji. Ia melompat turun ke pekarangan belakang, di situ ada kayu bakar yang mudah dijilat api. Segera dia keluarkan alat ketikan api lalu membakar kayu dan benda-benda lain yang mudah terbakar, dengan gesit dia lari kian kemari, berturut-turut menyalakan api di beberapa tempat, lalu ia melompat lagi ke atas rumah. Ia pikir kalau api sudah berkobar masa Kwe Ceng takkan nongol?

Biar pun Yo Ko sedang menempur Siau-siang-cu berdua, pandangannya tak pernah meninggalkan gerak-gerik Kim-lun Hoat-ong. Ketika melihat orang mulai membakar rumah bagian utara dan selatan, tempat berdiam Kwe Ceng. Ia menjadi kuatir, karena sedikit lengah hampir saja dadanya tersabet ular baja Nimo Singh, syukur pada detik terakhir ia sempat menarik dadanya sedikit hingga terhindar dari maut.

Yo Ko berkeringat dingin dan bersyukur dapat menyelamatkan diri. Segera terpikir olehnya Kwe-pepeknya terluka parah dan sang bibi sedang menantikan kelahiran, di tengah api yang berkobar itu, kalau tidak lekas lari tentu akan terkurung oleh api. Tapi kalau lari keluar tentu akan dipergoki oleh Kim-lun Hoat-ong.

Terpaksa dia meninggalkan Siao-liong-li menghadapi kedua lawan tangguh. Lebih dahuIu ia menyerang Siau-siang-cu, habis itu ia terus melompat turun dan maju ke tengah asap api untuk mencari Kwe Ceng. Dilihatnya Oey Yong duduk di tepi ranjang menjagai Kwe ceng, asap tebal bergulung-gulung merembes ke dalam kamar. Kwe Ceng memejamkan mata sedang menghimpun tenaga. Sepasang alis Oey Yong berkerut rapat, tapi air mukanya tampak tenang-tenang saja. Ia tersenyum ketika melihat Yo Ko. Hati Yo Ko rada lega melihat kedua orang itu tidak merasa cemas atau gugup, segera dia berkata kepada Oey Yong:

“Musuh akan kupancing pergi, harap bibi dapat memindahkan paman ke tempat yang aman.”

Habis berkata perlahan ia menanggalkan kopiah Kwe Ceng, cepat ia berlari keluar. Oey Yong tercengang dan tidak paham tingkah itu, tapi ia tahu anak muda itu banyak tipu akalnya. Dilihatnya api sudah makin berkobar mendekati kamar, cepat ia memayang Kwe Ceng dan berkata:

“Marilah kita pindah ketempat lain.”

Tapi baru saja dia mengangkat sang suami, mendadak perutnya terasa sakit sekali, tanpa tertahan dia mengaduh dan duduk kembali di tepi ranjang. Diam-diam dia mendongkol terhadap jabang bayi yang berada dalam kandungannya. Sungguh brengsek, tidak lambat tidak cepat, justru hendak lahir pada saat segenting ini, bukankah sengaja mau bikin celaka kedua orang tua? Padahal hari lahir sebenarnya masih beberapa hari lagi, tetapi lantaran beberapa hari terakhir ini dia terus sibuk sehingga menggoncangkan janin dalam kandungannya itu lahir terlebih cepat.

Begitulah Yo Ko keluar kamar Kwe Ceng. Dilihatnya para prajurit sedang berteriak-teriak dan sibuk memadamkan api, ada pula yang memanah ke atas rumah dan ada pula yang memutar senjata berjaga di bawah rumah. Ia incar seorang perwira muda yang sedang memanah, mendadak ia tutuk Hiat-to perwira itu, menyusul kopiah Kwe Ceng dipasangkan pada kepala perwira, kemudian dia menggendongnya terus melompat ke atas rumah.

Pada saat itu Siau-siang-cu dan Nimo Singn yang mengerubut Siao-liong-li serta Darba dan Hotu yang mengeroyok Cu Cu-Iiu sudah terlihat unggul, sedangkan Kim-lun Hoat-ong sedang mempermainkan Kwe Hu dengan ancaman sepasang rodanya. Ia sengaja tidak mencelakai jiwa nona itu, hanya tepian roda yang tajam sengaja mengiris kian kemari di depan wajah Kwe Hu, jaraknya hanya satu-dua senti meter saja, apa bila tersenggol pasti rusaklah muka Kwe Hu yang cantik itu, dengan cara begitu berulang Kim-lun Koat-ong membentak agar nona itu mengaku di mana ayah-bundanya bersembunyi.

Rambut Kwe Hu tampak semerawut, pedangnya sudah kutung sebagian, namun ia masih bertahan dengan nekatnya. Dia anggap tidak mendengar semua pertanyaan Kim-lun Hoat-ong. Selagi Kim-lun Hoat-ong berusaha memaksa pengakuan Kwe Hu, sekonyong-konyong dia melihat Yo Ko berlari cepat ke barat-laut sambil menggendong seseorang. Ahh, orang yang digendongnya itu tidak bergerak, tentu Kwe Ceng adanya. Sambil bersiul panjang Hoat-ong meninggalkan Kwe Hu dan mengudak ke sana.

Melihat hal itu, Siau-siang-cu, Nimo Singh, Darba dan Hotu berempat meninggalkan lawan dan ikut mengejar. Cu Cu-liu menguatirkan Yo Ko yang sendirian itu pasti bukan tandingan musuh sebanyak itu, cepat dia pun menyusul ke sana untuk membantu Yo Ko dan melindungi Kwe Ceng.

Pada saat melompat ke atas rumah dan lewat di samping Siao-liong-li, Yo Ko sempat mengedipi Siao-liong-li disertai senyuman yang aneh penuh arti. Siao-liong-li tahu anak muda itu sedang ‘main gila’ lagi, tapi tidak tahu tipu daya apa yang tengah dilakukannya. Tampaknya kekuatan musuh terlampau besar, maka ia pun bermaksud mengejar ke sana untuk membantunya. Tapi pada saat itu tiba-tiba di bawah rumah ada suara tangisan jabang bayi.

“He, ibu telah melahirkan adik!” seru Kwe Hu dengan girang sambil melompat turun.

Siao-liong-li menjadi tertarik dan ingin tahu orang melahirkan, ia yakin isyarat Yo Ko yang banyak tipu akalnya itu pasti mempunyai makna tertentu, maka segera ia pun ikut ke dalam rumah untuk melihat anak yang dilahirkan Oey Yong.

Sementara itu Kim-lun Hoat-ong mengejar dengan kencang, jaraknya dengan Yo Ko makin dekat, ia girang, pikirnya:

“Sekali ini apakah kau mampu lolos dari tanganku!”

Ginkang aliran Ko-bong-pay (kuburan kuno) yang dipelajari Yo Ko boleh dikatakan tiada tandingannya di dunia ini. Meski dia menggendong, tapi mengingat semakin jauh meninggalkan Kwe-pepeknya berarti keselamatan sang paman semakin terjamin, maka ia berlari secepatnya seperti kesetanan, seketika Kim-lun Hoat-ong tak dapat menyusulnya. Demikianlah Yo Ko terus berlari-larian di atas deretan rumah. Ketika kemudian mendengar langkah orang di belakangnya semakin mendekat, segera ia melompat ke bawah rumah, lalu dia berputar kian kemari di antara gang sempit dan main kucing-kucingan dengan Kim-lun Hoat-ong.

Meski pun Ginkang Yo Ko lebih tinggi satu tingkat dari pada Hoat-ong, tetapi dia dibebani menggendong, kalau kejar mengejar di tanah datar tentu sejak tadi sudah disusul oleh Hoat-ong, untung dia lari putar sini dan belok sana di antara gang dan lorong sempit rumah-rumah penduduk sehingga Hoat-ong tetap tak dapat menangkapnya.

Segera Hoat-ong berkata: “Saudara Sing, cepat jaga di mulut gang, biar aku masuk ke sana untuk menangkap setan cilik itu.”

Mendadak Nimo Singh mendelik lantas menjawab: “Memangnya aku mesti tunduk kepada perintahmu?”

Hoat-ong pikir si Hindu cebol ini sukar untuk diajak berunding. Tanpa berkata lagi ia terus melompat ke atas rumah, dari ketinggian dia memandang sekitarnya, kebetulan dilihatnya Yo Ko meringkuk pada pojok tembok dengan menggendong ‘Kwe Ceng’, agaknya sedang melepas lelah. Girang sekali Hoat-ong. Dengan berjinjit ia merunduk maju, baru saja ia hendak menubruk ke bawah, tiba-tiba Yo Ko menjerit sekali, dengan cepat sekali anak muda itu menyusup ke tengah kabut asap yang tebal dan jejaknya lenyap seketika.

Tujuan Hoat-ong mengobarkan api adalah untuk memaksa keluarnya Kwe Ceng, sekarang di mana-mana api berkobar dan asap tebal ber-gulung, jadinya malah sukar menemukan Kwe Ceng. Selagi dia celingukan ke sana-sini, tiba-tiba terdengar seruan Darba:

“lni dia, di sini!”

Hoat-ong cepat-cepat memburu ke sana, dilihatnya Darba dengan gadanya yang berat sedang kececar oleh serangan pedang Yo Ko. Dua kali lompatan saja Hoat-ong tiba di sana dan mencegat jalan lari anak muda itu. Di luar dugaan mendadak Yo Ko menerjang ke depan.

“Blukk!”

Tahu-tahu Darba diterjangnya hingga terjungkal, pada saat itu pula roda perak Hoat-ong sudah disambitkan.

BEREBUT BAYI

Sambaran roda perak itu cepat luar biasa, Yo Ko tidak sempat mengelak. “Crettt!” dengan tepat pundak Kwe Ceng tergores sehingga terluka cukup dalam.

Dengan girang Hoat-ong berseru: “Kena kau sekali ini!”

Tak tahunya sedikit pun Yo Ko tak peduli akan mati hidupnya Kwe Ceng dan masih terus berlari ke depan. Tetapi begitu sampai di ujung lorong, mendadak seseorang bersuara seram menghaIanginya:

“Menyerahlah, anak kecil!” Kiranya Siau-siang-cu adanya.

Keadaan Yo Ko sekarang benar-benar kepepet. di bagian depan dihadang musuh, jalan mundur tersumbat, pada saat dia mendongak, di atas pagar tembok pun berdiri Nimo Singh. Tanpa banyak pikir Yo Ko melompat ke atas, kontan Nimo Singh mengemplang dengan ular bajanya, untuk mendesak anak muda itu turun ke lorong buntu lagi. Yo Ko pikir setelah sekian lamanya tentu Kwe Ceng dan Oey Yong sudah lolos dari mara bahaya. Segera dia cengkeram perwira yang digendongnya itu terus disodorkan kepada Nimo Singh sambil terseru:

“lni, kuserahkan Kwe Ceng kepadamu!”

Nimo Singh kaget bercampur girang, dikiranya Yo Ko memang suka bolak-balik memihak sana-sini dan sekarang mendadak anak muda itu berputar haluan lagi serta memberikan pahala besar padanya, maka tanpa pikir dia tangkap tubuh orang yang dilemparkan kepadanya. Tidak terduga Yo Ko terus menyusuli dengan sekali tendang yang tepat mengenai pantat Nimo Singh, kontan Hindu cebol itu terjungkal ke bawah tembok dan tentu pula kesakitan. Akan tetapi Nimo Singh sama sekali tidak memusingkan sakit atau tidak, bahkan dia terus berteriak-teriak girang:

“Kwe Ceng berhasil kutangkap! Kwe Ceng sudah kutangkap!”

Siau-siang-su dan Darba tidak membiarkan pahala besar itu dicaplok sendiri oleh Nimo Singh. Cepat mereka memburu maju untuk merebut, ketiga orang sama-sama memegangi anggota badan perwira tadi, ada yang pegang tangan, ada yang memegang kaki, sekali mereka membetot, karena tenaga mereka sama-sama kuat, seketika tubuh perwira itu terbeset menjadi tiga bagian. Kopiah yang dipakainya lantas terjatuh sehingga Nimo Singh bertiga bisa melihat dengan jelas orang yang mereka perebutkan ternyata bukan Kwe Ceng adanya. Keruan mereka melengak dan tak dapat bersuara.

Pada saat melihat Yo Ko membuang Kwe Ceng yang digendongnya terus melarikan diri, segera Hoat-ong menduga pasti ada sesuatu yang tidak beres, maka waktu melihat ketiga kawannya itu melengak kesima, ia lantas memaki:

“Goblok!”

Segera Hoat-ong mengudak lagi ke arah Yo Ko. Ia pikir andai Kwe Ceng tidak berhasil ditangkap, kalau dapat menawan Yo Ko juga tidak sia-sia kedatangannya ke Siang-yang ini. Namun sementara itu Yo Ko entah sudah kabur ke mana, jelas sukar menemukannya.

Hoat-ong berpikir sejenak, segera dia pun dapat menarik kesimpulan: “Bocah itu sengaja menggendong Kwe Ceng palsu dan main kucing-kucingan, tentu tujuannya memancing supaya aku mengejarnya, kalau begitu jelas Kwe Ceng pasti berada di tempat yang kubakar tadi. Tadi dia memakai akal licik, biarlah sekarang aku pun menggunakan akalnya itu untuk menjebak dia.” Karena itu ia tidak peduli lagi ke mana kaburnya Yo Ko, ia terus menuju ke tempat yang paling ganas dimakan api.

Padahal ketika itu Yo Ko sedang mengawasi gerak-gerik Hoat-ong, dia bergelantungan di bawah emper rumah. Pada saat melihat Hoat-ong berlari cepat ke tempat sembunyi Kwe Ceng, ia menjadi kuatir. Ia tidak tahu waktu itu Oey Yong sudah memindahkan suaminya ke tempat lain atau belum, maka ia pun cepat mengintil Hoat-ong.

Setiba di dekat tempat Kwe Ceng tadi, mendadak Hoat-ong melompat ke bawah sambil membentak:

“Bagus, kau Kwe Ceng! Kiranya kau berada di sini, lekas ikut!”

Keruan Yo Ko kaget. Selagi hendak melompat turun, terdengar suara gemerincing, beradunya senjata, lalu terdengar suara bentakan Hoat-ong:

“Nah, Kwe Ceng lekas menyerah saja kau!”

Menyusul suara mendering benturan senjata berbunyi berturut-turut. Seketika Yo Ko tahu apa yang terjadi, dia tertawa sendiri sambil mengomel daIam hati: “Setan gundul, hampir saja aku terjebak olehmu. Sayang akalmu yang busuk kurang cermat, kau pura-pura mengeluarkan suara benturan senjata segala, padahal dalam keadaan terluka mana Kwe-pepek sanggup menempur dengan senjata. Hm, kau ingin menipu aku, aku justru sembunyi di sini untuk menonton sandiwaramu.”

Begitulah mendadak terdengar Hoat-ong berteriak lagi: “Aha, sekali ini kau pasti mampus, Yo Ko!”

Tentu saja Yo Ko terkejut sekali, dia heran kenapa dirinya dikatakan pasti mampus? Tapi segera ia paham maksudnya, agaknya Kim-lun Hoat-ong tak berhasil memancing dirinya keluar, sekarang berbalik hendak memancing agar Kwe Ceng muncul menolongnya. Terdengar Hoat-ong bergelak tawa dan berkata:

“Ha-ha-ha, Yo Ko, sekali ini jiwamu melayang di tanganku, agaknya memang nasibmu begini.”

Belum habis kata-katanya, sekenyong-konyong bayangan putih berkelebat, seorang gadis menerobos keluar dari tengah gumpalan asap dan menubruk ke arah Hoat-ong. Cepat Yo Ko berseru:

“Aku berada di sini, Kokoh!”

Gadis itu memang Siao-liong-li. Hoat-ong lantas memutar rodanya dan mencegat di depan Siao-liong-li. Rupanya suara Hoat-ong yang mengatakan jiwa Yo Ko pasti akan melayang itu telah membikin kuatir Siao-liong-li, maka tanpa pikir dia langsung menerjang keluar untuk menolongnya. Terpaksa Yo Ko ikut menerjang maju untuk mengerubuti Hoat-ong. Kedua muda-mudi itu saling pandang dengan tersenyum bahagia, seketika Giok-ii-kiam-hoat dimainkan dengan sangat indah, sinar pedang mereka mengurung rapat Kim-lun Hoat-ong.

Hoat-ong mengeluh: “CeIaka, ini benar-benar mengundang bahaya untuk mencelakai diri sendiri!”

Sementara itu api terus berkobar dengan hebatnya, banyak tiang dan belandar berjatuhan. Tiba-tiba Hoat-ong perlihatkan keperkasaannya, kedua rodanya diangkat sekaligus ia tangkis kedua pedang lawan, habis itu cepat ia mundur ke kiri.

“Sekali ini jangan membiarkan dia lolos lagi, bibit bencana ini harus dibinasakan!” seru Yo Ko kepada Siao-liong-li sambil memburu maju.

“Srettt!” kontan ia menusuk punggung Hoat-ong.

Semenjak kecundang oleh Giok-li-kiam-hoat tempo hari, dengan tekunnya Hoat-ong merenungkan sejurus ilmu silat yang bisa mematahkan ilmu pedang itu, meski pun begitu ia mengakui Giok-li-kiam-hoat yang dimainkan secara berganda itu teramat lihay, apakah dirinya dapat mematahkannya atau tidak sebenarnya ia pun tidak berani memastikan. Sekarang dalam keadaan berbahaya tanpa pikir dia keluarkan ilmu silat ciptaannya yang baru: ‘Ngo-lun-tay-coan’ (putaran Iima roda sekaligus) untuk mencobanya.

Begitulah serentak ia keluarkan semua senjata rodanya, lalu terdengar suara gemerincing nyaring, tiga buah roda segera melayang di udara, sedangkan setiap tangannya tetap memegangi sebuah roda pula. Kelima roda itu terbuat dari emas, perak, besi, tembaga dan timah, maka bobotnya tidak sama, besar kecilnya juga rada berbeda, akan tetapi secara bergiliran menyambitkan dan menangkap kembali rodanya, lalu disambitkan pula dan begitu seterusnya, sambaran roda itu kadang kala lurus dan terkadang miring. Seketika Yo Ko dan Siao-liong-li dibikin bingung.

Melihat cara serangan musuh sangat aneh dan lihay, sedapatnya Yo Ko dan Siao-liong-li saling beradu punggung, mereka berjaga sedapatnya untuk mengamati serangan musuh, habis itu baru mencari jalan untuk mematahkannya. Kelima roda Kim-lun Hoat-ong terus beterbangan, akan tetapi Yo Ko dan Siao-liong-li sudah memutar pedangnya hingga berwujud sebuah jaringan sinar perak, bagaimana pun hebatnya roda Hoat-ong itu tetap sukar menembus pertahanan lawan.

Diam-diam Hoat-ong patah semangat. Dia pikir percuma latihanku selama ini, ternyata lima rodaku sekaligus juga sukar menandingi permainan ganda ilmu pedang mereka. Selagi Hoat-ong merasa lesu, dari pangkuan Siao-liong-li mendadak ada suara menguak beberapa kali, itulah suara tangisan jabang bayi. Hal ini tidak saja membuat Hoat-ong terkejut, bahkan Yo Ko juga melengak heran. Ketiga orang sama tertegun sehingga pertarungan dengan sendirinya jadi mengendur.

Dengan tangan kiri Siao-liong-li menepuk perlahan pangkuannya sambil berkata: “Jangan menangis sayang, lihatlah kuhajar Hwesio tua ini.” Tidak tahunya bayi itu malah menangis semakin keras.

“Anak Kwe-pekbo?” tanya Yo Ko dengan suara lirih.

Siao-liong-li mengangguk dan menusuk satu kali pada Kim-lun Hoat-ong. Kim-lun Hoat-ong menangkis dengan roda emasnya. Ia tidak mendengar jelas pertanyaan Yo Ko, seketika dia tidak paham untuk apa Siao-liong-li membawa seorang bayi, tapi mengingat nona itu dibebani bayi, tentu daya ilmu pedangnya menjadi berkurang dan sebaliknya menguntungkan dirinya, maka cepat ia lancarkan serangan gencar kepada Siao-liong-li. Lekas Yo Ko balas menyerang beberapa kali supaya tekanan musuh kepada Siao-liong-li berkurang, berbareng ia mendesis pula kepada Siao-liong-li.

“Apa paman dan bibi Kwe baik-baik saja?”

“Oey-pangcu sempat memayang Kwe-tayhiap menyelamatkan diri dari lautan api...”

“Trangg...!”

Ia tangkis roda musuh yang menyerangnya, lalu menyambung: “Keadaan waktu itu amat gawat, belandar rumah hampir runtuh, syukurlah aku sempat menyelamatkan anak perempuan ini dari tempat tidur.”

“Anak perempuan?” Yo Ko menegas sambil menebas kaki Hoat-ong untuk memaksa musuh menarik kembali serangannya kepada Siao-liong-li.

Tadinya dia pikir Kwe Ceng sudah punya anak perempuan, anaknya yang bakal lahir tentu anak laki-laki, tetapi siapa tahu kembali mendapatkan anak perempuan, hal ini di luar dugaannya.

Siao-liong-li mengangguk lantas menjawab: “Ya, perempuan, lekas kau membawanya...” sembari berkata tangan kirinya menjulur ke pangkuan dan bermaksud menyerahkan orok itu kepada Yo Ko.

Akan tetapi bayi itu menangis keras, sedangkan pada saat itu serangan Hoat-ong makin gencar, tiga buah roda ber-putar di atas kepala, begitu ada peluang lantas menyerang ke bawah, kedua roda yang dipeganginya lebih lihay lagi cara menyerangnya. Yo Ko juga cuma dapat bertahan sekadarnya dengan segenap tenaganya, sehingga sukar menerima penyerahan bayi dari Siao-liong-li. Sebab itu berulang-ulang Siao-liong-li berseru:

“Lekas kau bawa bayi ini dan gunakan kuda merah itu ke...”

“Trangg...! Trangg...!”

Roda Hoat-ong menyerang lebih gencar hingga Siao-liong-li tidak dapat melanjutkan ucapannya. Dalam keadaan demikian, apa yang terpikir oleh Yo Ko dan Siao-liong-li menjadi berbeda sehingga daya tempur Giok-li-kiam-hoat sukar dikerahkan. Yo Ko pikir bayi itu harus diterima dulu agar perhatian Siao-liong-li tidak terpencar, maka per-lahan dia menggeser ke sana. Siao-liong-li juga ingin menyerahkan bayi itu kepada Yo Ko, jadi kedua orang ada perpaduan pikiran, segera daya tempur ilmu pedang mereka bertambah kuat, Kim-lun Hoat-ong terdesak mundur lagi.

Segera Siao-liong-li menyodorkan bayi kepada Yo Ko. Namun baru saja anak muda itu mengulur tangan, sekonyong-konyong bayangan hitam berkelebat dan roda besi Hoat-ong menghantam ke badan bayi. Kuatir bayi terluka, Siao-liong-li melepaskan bayi, berbareng tangannya Iurus memutar ke atas untuk mencengkeram roda itu.

Sambaran roda besi amat keras, pula tepinya cukup tajam, kalau orang lain pasti tidak berani menyentuhnya. Tapi Siao-liong-li memakai sarung tangan buatan dari benang emas yang halus, sekalian pedang dan golok pusaka juga berani dipegangnya dan dipatahkan olehnya. Maka waktu menempel roda musuh, sekalian dia tolak ke samping lalu dengan gerakan miring dia hentikan putaran roda.

Pada saat itu juga Yo Ko sudah berhasil memondong bayi tadi dan berseru memuji demi menyaksikan Siao-liong-li merampas roda musuh. Kalau roda itu langsung menghantam Siao-liong-li tentu sukar dipegangnya, tapi lantaran sasaran roda adalah si bayi, maka Siao-liong-li dapat menangkapnya dari samping. Tampaknya inilah kelemahan permainan ‘panca-roda’ Kim-lun Hoat-ong. Siao-liong-li amat senang karena dapat menangkap senjata lawan. Tiba-tiba ia menirukan gaya permainan Hoat-ong, roda besi terus menghantam musuh, ia pikir biarlah ‘senjata makan tuannya’.

Hoat-ong terkejut dan malu karena senjatanya terampas musuh, dengan sendirinya ia tidak dapat memainkan ‘panca roda’, dengan begitu ia terus simpan kembali kedua roda yang lain, hanya dua roda saja yang dipegangnya untuk menyerang.

Sambil merangkul bayi Yo Ko berseru kepada Siao-liong-li agar membinasakan dahulu musuh gundul itu. Siao-liong-li mengiyakan, segera mereka menyerang dengan sepasang pedang ditambah lagi roda rampasan. Tak terduga, semakin Iama daya serangan mereka bukanlah bertambah kuat, sebaliknya malah sering kacau, kerja sama terasa kurang ‘sreg’, keruan Siao-liong-li merasa bingung, ia tidak tahu apa sebabnya.

Ia lupa bahwa Giok-li-kiam-hoat bisa memiliki daya tempur yang hebat adalah karena adanya perpaduan perasaan antara pasangan yang mainkan ilmu pedang itu. sekarang di antara sepasang pedang mereka bertambah lagi satu roda besi, hal ini menjadi seperti di antara sepasang kekasih telah disusupi orang ketiga yang menimbulkan gangguan, dengan sendirinya paduan pikiran mereka menjadi terhalang dan kerja sama mereka pun menjadi kacau. Setelah beberapa jurus lagi dan terasa semakin payah, Siao-liong-li amat gelisah, katanya kepada Yo Ko:

“Hari ini kita tak dapat mengalahkan dia, lekas kau bawa anak ini ke Coat-ceng-kok...”

Segera Yo Ko paham maksudnya. Kalau sekarang juga berangkat dengan kuda merah tentu dalam tujuh hari dapat mencapai Coat-ceng-kok, meski kepala Kwe Ceng dan Oey yong tak dapat dibawanya, tetapi karena anak perempuan mereka dibawa ke sana, tentu Kwe Ceng dan isterinya akan segera menyusul ke sana dan Kiu Jian-jio dapat berusaha menuntut balas kepada mereka. Dalam keadaan begitu mau tak mau Kiu Jian-jio harus memberikan separoh obatnya pada Yo Ko dan bila racun dalam tubuhnya sudah punah, kelak dia masih dapat berdaya menyelamatkan anak bayi ini.

Usaha mengulur waktu ini rasanya akan dapat diterima oleh Kiu Jian-jio, sebab kalau Kwe Ceng dan Oey Yong datang ke sana untuk mencari anaknya, dalam keadaan lumpuh dan ingin menuntut balas, mau tak mau Kiu Jian-jio mengharapkan bantuan Yo Ko, karena itu sisa obat yang masih ada betapa pun harus diberikan kepada anak muda ini.

Jika hal ini terjadi dua hari yang lalu tentu tanpa ragu-ragu Yo Ko akan melaksanakannya, tapi sekarang dia benar-benar sangat kagum dan hormat kepada jiwa kepahlawanan Kwe Ceng, sungguh ia tak ingin membikin susah anak perempuan orang demi kepentingan sendiri, karena itulah ia menjadi ragu dan berkata:

“Kokoh, urusan ini tidak boleh begitu...”

“Kau... kau...” belum lanjut ucapan Siao-liong-li, tiba-tiba...

“Brett!” mendadak baju bahu kirinya terobek oleh roda emas Kim-lun Hoat-ong.

“Kalau kulakukan hal ini, sungguh aku malu terhadap Kwe-pepek,” kata Yo Ko. “Lagi pula aku sudah tidak sesuai lagi untuk menggunakan pedangku ini!” Sembari berkata dia pun acungkan Kun-cu-kiam (pedang laki-laki sejati) ke atas.

Sudah tentu Siao-liong-li sama sekali tidak tahu bahwa jalan pikiran Yo Ko telah berubah mendadak. Segenap usahanya hanya ditujukan untuk menyelamatkan Yo Ko, sekarang ia mendengar anak muda itu segan kepada musuh, pembunuh ayahnya, dan ingin menjadi laki-laki sejati, sejenak Siao-liong-li menjadi bingung. Dan karena tidak ada kesatuan pikiran antara mereka, ilmu pedang yang mereka mainkan menjadi kurang baik. Segera Hoat-ong melangkah maju, sikutnya lantas menyodok bahu kiri Yo Ko.

Betapa lihaynya tenaga Hoat-ong, keruan Yo Ko merasakan setengah tubuhnya kaku kesemutan, bayi yang dipondongnya terlepas dan jatuh. Padahal waktu itu mereka bertempur di atas rumah, langsung orok itu terbanting ke bawah. Yo Ko dan Siao-liong-li menjerit kaget dan segera bermaksud melompat ke sana menyelamatkan bayi, namun sudah terlambat.

Sementara itu dari percakapan Yo Ko berdua dapatlah Hoat-ong mengetahui bahwa bayi itu adalah anak Kwe Ceng dan Oey Yong. Dia pikir bila Kwe Ceng tidak dapat ditangkap, boleh juga anak perempuannya diculik dijadikan sandera agar dia menyerah, dan ini sama saja jasa besar bagiku!

Dalam pada itu keadaan bayi yang terjatuh ke bawah tampaknya sangat berbahaya. Cepat dia sambitkan roda emasnya ke sana, dengan tepat roda itu menyangah di bawah gurita bayi dan terus melayang ke sana satu meteran di atas permukaan tanah, bayi tersanggah di atas dengan antengnya. Serentak tiga orang melompat turun buat berebut roda itu.

Tempat berdiri Yo Ko paling dekat, Ginkang-nya juga tinggi. Ia melihat roda melayang makin rendah, sebentar lagi pasti akan jatuh ke tanah. Cepat ia menubruk, badannya berguling maju, roda bayi hendak dirangkulnya sekaligus agar bayi itu tidak terluka. Ketika tangannya hendak meraih, mendadak roda emas mengapung ke atas, sebuah tangan menjulur dari samping, roda emas itu terpegang dan bayi itu pun diserobot lagi. Waktu Yo Ko melompat bangun, sementara itu Hoat-ong dan Siao-liong-li juga sudah memburu tiba.

“He, itu Suci-ku!” seru Siao-liong-li.

Dari jubah yang berwarna kuning dan tangan membawa kebut, Yo Ko tidak sangsi lagi memang benar penyerobot bayi itu adalah Li Bok-chiu. Mengingat watak Li Bok-chiu yang kejam, nasib bayi itu pasti celaka bila berada dalam cengkeraman iblis itu, tanpa pikir ia terus mengudak ke sana. Siao-liong-li lantas berteriak-teriak.

“Suci, bayi itu besar artinya bagiku, untuk apa kau menyerobotnya?”

Li Bok-chiu tidak menoleh, dari jauh ia menjawab: “Hm, turun temurun ahli waris Ko-bong-pay adalah perawan yang suci bersih, tapi anak saja sudah kau lahirkan, sungguh tak tahu malu.”

“ltu bukan anakku, lekas kau kembalikan padaku!” teriak Siao-liong-li.

Selagi dia hendak mengejar sekuat tenaga, tiba-tiba sesosok bayangan melompat keluar dari samping sambil berseru:

“Selamat bertemu pula, nona Liong!”

Sama sekali Siao-liong-li tidak memandang siapa gerangan orang ini, sedikit mengegos segera ia bermaksud menyelinap lewat di sebelah orang. Tapi orang itu telah mengulur kipasnya dan menotok perlahan ke Koh-eng-hiat di bahunya sambil berseru:

“Ahh, masa nona cantik bersikap dingin.”

“Jangan merecoki aku!” bentak Siao-liong-li sambil menangkis dengan pedang dan tetap tidak memandang orang itu.

Kembali kipas itu menotok lengannya, katanya sambil tertawa: “Sungguh malang, mengharapkan pandangan mesra si cantik sekejap saja tak dapat kuperoleh.”

Sementara itu Li Bok-chiu, Hoat-ong dan Yo Ko sudah cukup jauh di depan, tampaknya sukar untuk menyusul mereka. Baru sekarang Siao-liong-li berpaling, kiranya orang yang menghadangnya dengan memegang kipas ini adalah pangeran Hotu, Biasanya Siao-liong-li memang tidak pernah unjuk rasa marah atau gembira. Kecuali cinta kasihnya kepada Yo Ko, urusan lain sama sekali tak pernah terpikir olehnya. Karena itu ia pun tak ambil pusing melihat Hotu bicara dengan cengar-cengir, ia hanya berkata dengan tak acuh:

“Aku sedang ada urusan penting, masa kau tidak melihatnya?”

Melihat sikap si nona ramah tamah tanpa marah, Hotu girang, segera dia berkata: “Semenjak berpisah, betapa rindu hatiku akan dikau. Siau-ong ingin bicara sesuatu, entah nona sudi mendengarkan tidak?”

Tetapi Siao-liong-li sedang menguatirkan Yo Ko serta bayi itu, dia hanya mendengus dan tak menggubrisnya. Sekali mengegos segera ia menyelinap lewat samping orang. Ketika pertama Hotu mengunjungi Cong-lam-san meminang Siao-liong-li, sebelum bertemu muka si nona dia sudah lari ter-birit-birit karena diusir oleh gerombolan tawon, hal ini sungguh membikin pamornya merosot habis-habisan. Kemudian di perjamuan Eng-hiong-yan dia melihat sendiri wajah Siao-liong-li yang cantik molek, dia benar-benar kesengsem dan rindu kasmaran siang dan malam. Sekarang kebetulan dapat berjumpa berhadapan sendirian, mana dia mau membiarkan si nona pergi begitu saja tanpa mengutarakan isi hatinya yang rindu dendam itu.

BegituIah ketika Siao-liong-li hendak lewat, cepat dia pentangkan kedua tangannya untuk menghadang, katanya sambil tertawa:

“Siau-ong benar-benar ingin mengutarakan cinta pada nona, masa nona sama sekali tidak sudi mendengarkan?”

Siao-liong-li menjadi aseran melihat orang merecokinya. “Sret!t” segera ia menusuk ke kiri dan mendadak berputar ke kanan, kontan pundak kanan Hotu berlumuran darah.

Sambil menahan sakit Hotu balas menyerang satu kali sambil berkata: “Mengapa engkau setega ini?”

Kembali Siao-liong-li hanya mendengus, pedangnya berputar lagi, sekali ini menusuk pinggang lawan. Melihat tipu serangan si nona cukup keji, tapi air mukanya tetap tenang dan ramah tamah, Hotu menyangka orang sengaja hendak menguji ketulusan cintanya, karena itu ia sengaja menurunkan kipasnya dan tidak balas menyerang, tapi masih menghadang di depan si nona. Kembali Siao-liong-li menusuk, namun Hotu malah membusungkan dada menyambut serangan itu, dia pikir si nona pasti tidak akan membunuhnya. Keruan Siao-liong-li malah menjadi melengak dan tidak tahu apa maksud orang.

“Crett!” sedikit dia miringkan ujung pedang, bahu Hotu sudah tertusuk pedangnya.

Tusukan ini cukup parah, seketika Hotu merasa kesakitan luar biasa, tetapi hatinya malah girang, pikirnya: “Nyata dia memang sengaja menguji ketulusan hatiku, karena itu dia tidak menusuk dadaku.”

Sementara itu Siao-liong-li lantas menggeser cepat ke belakang Hotu, kuatir digoda lagi, pedangnya terus membalik lagi menusuk, sedangkan kakinya melangkah tanpa berhenti. Dari suara angin yang keras itu Hotu merasa tusukan si nona sekali ini tampaknya bukan hanya menguji saja, tetapi bila kena bukan mustahil jiwa akan melayang, maka cepat dia mendoyongkan tubuh ke belakang. Waktu ia berdiri tegak lagi, ternyata Siao-liong-li sudah kabur jauh dan sukar disusul.

Walau pun pedang Siao-liong-li berhasil menusuk, tapi pikirannya lagi tertuju kepada keselamatan Yo Ko, apa yang terjadi dengan Hotu sama sekali tak diperhatikan olehnya. Dia melihat Li Bok-chiu bertiga berlari menuju ke utara, maka dia pun cepat memburu ke jurusan sana. Sementara itu suasana dalam kota sedang ribut, di mana-mana pasukan dikerahkan untuk menangkap mata-mata musuh. Tetapi Siao-liong-li tidak ambil pusing semua itu, ia terus berlari ke pintu benteng.

Waktu itu Loh Yu-kah sedang ronda dengan sekelompok anggota Kay-pang. Melihat Siao-liong-li, segera Loh Yu-kah bertanya:

“Nona Liong, apakah Oey-pangcu dan Kwe-tayhiap baik-baik saja?”

Siao-liong-li tak menjawab, sebaliknya ia malah bertanya: “Apakah kau melihat Yo-kongcu dan Kim-lun Hoat-ong serta seorang To-koh yang membawa anak bayi?”

“Semuanya melompat ke sana,” jawab Loh-Yu-kah sambil menuding keluar benteng.

Siao-liong-li melengak, ia pikir tembok benteng begitu tinggi, cara bagaimana ketiga orang itu turun ke sana, apakah mereka takkan patah tulang dan pecah kepala? Sekilas dilihatnya seorang prajurit sedang menyikat bulu kuda merah, yakni kuda mestika kesayangan Kwe Ceng. Hati Siao-liong-li terkesiap, ia pikir jika Yo Ko tidak menggunakan kuda mestika ini jelas sukarlah mencapai Coat-ceng-kok dalam waktu singkat. Segera ia memburu maju dan menarik tali kendali kuda, katanya kepada Loh Yu-kah:

“Aku ada urusan penting keluar kota, sementara aku pinjam pakai kuda ini.”

Yang dikuatirkan Loh Yu-kah hanya keselamatan Oey Yong dan Kwe Ceng, kembali ia tanya:

“Apakah Oey-pangcu dan Kwe-tayhiap baik-baik saja?”

“Mereka tak kurang apa-apa,” jawab Siao-liong-li. “Bayi yang baru dilahirkan Oey-pangcu diculik orang, aku harus merampasnya kembali.”

Loh Yu-kah terkejut, cepat dia memerintahkan membuka pintu benteng. Baru saja pintu gerbang terbuka sedikit dan sebelum jembatan gantung diturunkan hingga lurus, dengan amat cepatnya Siao-liong-li membedalkan kuda merah itu keluar benteng secepat terbang.

Waktu Siao-liong-li memandang ke kaki tembok benteng, dilihatnya dua mayat prajurit hancur mumur menggeletak, di sebelahnya ada pula bangkai seekor kuda terbanting hancur, selain itu tiada sesuatu tanda lain yang mencurigakan. Diam-diam dia merasa heran bagaimana caranya Yo Ko, Hoat-ong dan Li Bok-chiu melompat turun tembok benteng yang tinggi itu.

Tapi mengingat Yo Ko bertiga tidak berhalangan apa-apa, segera dia mengejar ke sana dengan cepat untuk membantu anak muda itu merebut kembali anak bayi. Akan tetapi sejauh pandangannya ke depan suasana sunyi senyap tidak ada bayangan orang, entah ketiga orang itu lari ke mana. Dalam keadaan bingung tidak berdaya, Siao-liong-li menepuk-nepuk leher kuda merah itu sambil berguman:

“Wahai kudaku sayang, aku hendak menyelamatkan majikan mudamu yang baru lahir, lekas membawaku ke sana.”

Entah kuda itu benar-benar paham perkataannya atau tidak, tiba-tiba saja kuda merah menegakkan kepala dan meringkik keras, segera membedal ke arah timur laut.

Kiranya waktu Yo Ko dan Hoat-ong mengejar Li Bok-chiu, begitu sampai di atas benteng mereka pikir menghadapi jalan buntu, Li Bok-chiu pasti akan dapat di bekuk. Tak terduga Li Bok-chiu memang kejam tapi juga cerdik, setiba di atas benteng sekonyong-konyong ia tangkap seorang prajurit terus dilemparkan ke bawah, menyusul dia pun melompat turun. Ketika prajurit itu hampir menyentuh tanah, pada waktu itu pula sebelah kaki Li Bok-chiu menutul pada punggung prajurit itu sehingga daya turunnya berkurang, dia terus melompat ke depan dan turun di atas tanah dengan enteng, bahkan bayi dalam pangkuannya tidak kaget sementara itu prajurit tadi telah terbanting mampus.

Diam-diam Hoat-ong mengakui kelihayan Li Bok-chiu, maka ia pun menirukan cara orang. Ia mencengkeram seorang prajurit lantas dilemparkan ke bawah benteng, akhirnya ia pun dapat melompat turun dengan selamat.

Yo Ko ragu-ragu menyaksikan kejadian itu. Kecuali dahulu ia membinasakan seorang anggota Kay-pang secara tidak sengaja, semenjak itu dia belum pernah lagi membunuh seorang pun, terlebih lagi bila harus mengorbankan jiwa orang lain untuk dipakai sebagai batu loncatan dirinya, betapa pun dia tidak tega. Namun keadaan sudah sangat mendesak. Ia mendapat akal, ia dorong seekor kuda keluar benteng, ketika kuda itu hampir jatuh ke tanah barulah dia menutul punggung kuda terus mengejar ke sana mengikuti jejak Hoat-ong.

Sesungguhnya keadaan Yo Ko rada lemah karena sebelumnya telah bertempur sengit di tengah pasukan Mongol dan terluka oleh roda Kim-lun Hoat-ong, darah mengucur cukup banyak, apa lagi tadi bertempur lagi sekian lama, sesungguhnya ia hampir tidak kuat. Tapi mengingat puteri Kwe Ceng diculik musuh, Yo Ko pikir apa pun yang terjadi bayi itu harus direbut kembali.

Sebenarnya kekuatan berlari ketiga orang sangat cepatnya. Li Bok-chiu dibebani seorang bayi, Hoat-ong terluka dan kuatir racun bekerja pada lukanya, maka dia tidak berani mengerahkan segenap tenaga untuk mengejar. Sebab itulah kecepatan lari mereka bertiga tidak seperti biasanya. Sesudah belasan li meninggalkan kota Siang-yang, jarak di antara mereka bertiga tetap bertahan belasan meter jauhnya. Hoat-ong tidak sanggup menyusul Li Bok-chiu, Yo Ko juga tidak mampu menyusul Hoat-ong.

Setelah berlari-lari, Li Bok-chiu melihat Hoat-ong dan Yo Ko masih mengintil di belakangnya. Dilihatnya di depan banyak bukit-bukitan, beberapa li lagi akan dapat mencapai lereng bukit, maka ia percepat larinya. Ia pikir kalau sudah masuk ke lembah pegunungan sana tentu akan mudah mencari tempat sembunyi.

Biar pun Siao-liong-li menyatakan bayi itu bukan anaknya, akan tetapi melihat cara Yo Ko mengudaknya dengan mati-matian, ia menduga bayi itu pasti anak haram hasil hubungan gelap antara Yo Ko dengan Siao-liong-li. Asalkan bayi ini dipegangnya sebagai sandera, rasanya sang sumoay terpaksa harus menukarkan kitab pusaka Giok-li-sim-keng dengan bayi ini.

KERJASAMA DENGAN LAWAN

Begitulah makin lama mereka makin menanjak ke dataran tinggi, di sekitar hanya pepohonan lebat melulu, jalan juga lika-liku. Hoat-ang menjadi kuatir kalau sebentar lagi Li Bok-chiu akan menyusup ke semak-semak pepohonan hingga sukar lagi ditemukan. Selama ini Hoat-ong belum pernah bergebrak dengan Li Bok-chiu, tetapi dari Ginkang-nya yang tinggi dia yakin To-koh ini pasti seorang lawan yang tangguh. Ia telah kehilangan dua roda, sebenarnya tak ingin menyambitkan roda yang bersisa tiga itu, tapi keadaan sudah mendesak dan tidak boleh ragu-ragu lagi, segera dia membentak sekerasnya:

“Hai perempuan, lekas taruh anak itu dan jiwamu akan kuampuni, kalau tidak menurut, jangan kau salahkan aku tidak kenal kasihan!”

Tapi Li Bok-chiu menyambut dengan ngikik tawa, larinya bahkan tambah cepat. Dengan gemas Hoat-ong mengayunkan tangannya, sebuah roda terus menyambar ke punggung Li Bok-chiu. Sambaran itu sungguh dahsyat sehingga mau tidak mau Li Bok-chiu harus menyelamatkan diri, terpaksa dia membalik dan memutar kebutnya. Baru saja kebutan hendak mengebas ke roda musuh, dilihatnya roda itu berputar dan memancarkan cahaya kemilau, kalau kebut sendiri kebentur bukan mustahil akan terhantam putus, maka cepat ia mengegos ke samping menghindari serangan roda.

Saat itu juga Hoat-ong telah menubruk maju, roda tembaganya menyambar, sekali ini roda itu terbanting ke samping lebih dulu, habis itu memutar balik dan menyambar ke arah Li Bok-chiu.

Li Bok-chiu belum berani menangkis roda, maka dia melompat mundur dan sedikit membungkuk, kembali sambaran roda itu berhasil dihindari dengan Ginkang yang tinggi. Sementara itu Hoat-ong sudah menubruk maju lagi, roda perak tadi ditangkapnya kembali lebih dulu, sedangkan roda timah terus mengepruk ke pundak musuh.

Namun kebut Li Bok-chiu mengebas sehingga bulu kebut itu berubah menjadi beribu bintik emas dan bertebaran ke muka Hoat-ong. Terpaksa Hoat-ong melemparkan roda timah tadi ke atas untuk menangkis kebut lawan berbareng ia tangkap kembali roda tembaga, menyusul dia benturkan roda tembaga dengan roda perak yang dipegangnya itu hingga menerbitkan suara nyaring menggetar sukma. Suaranya yang berkumandang jauh di lembah pegunungan itu sahut-menyahut hingga lama. Habis itu Hoat-ong putar kedua rodanya dan menyerang lebih gencar lagi.

Menghadapi lawan tangguh, semangat Li Bok-chiu bangkit. Tak diduganya Hwesio gemuk besar ini mempunyai tenaga sekuat ini, bahkan tipu serangannya cepat lagi lihay. Segera ia mengeluarkan segenap kemahirannya untuk menempur.

Dalam pada itu Yo Ko telah menyusul tiba. Dilihatnya kedua orang sedang bertempur dengan sengit, tiga buah roda terbang kian kemari diselingi sebuah kebut yang naik turun dengan cepatnya. Untuk sementara Yo Ko hanya mengikuti pertarungan mereka sambil melepaskan lelah serta mencari kesempatan baik untuk merebut kembali si bayi.

Bicara tentang tenaga dalam dan ilmu silat sebenarnya Hoat-ong lebih tinggi setingkat dari pada Li Bok-chiu, terlebih lagi Li Bok-chiu memondong bayi, sepantasnya dalam beberapa puluh jurus saja dia pasti akan keok. Tadi bayi itu selalu dilindunginya karena kuatir dicelakai oleh Hoat-ong. Tidak disangkanya setiap kali roda mendekati badan bayi itu, lawan malah cepat-cepat menarik kembali serangannya.

Sedikit berpikir saja Li Bok-chiu lantas paham duduknya perkara. Rupanya Hwesio gede itu hendak merebut bayi ini, maka tidak ingin mencelakainya. Dasar watak Li Bok-chiu memang keji dan kejam. Sudah tentu dia tidak pedulikan mati hidup orang lain, apa lagi sekarang setelah mengetahui jalan pikiran Hoat-ong, diam-diam dia girang. Setiap kali dia terdesak seperti tidak disengaja dia lantas menggunakan si jabang bayi sebagai tameng untuk menggagalkan serangan maut musuh.

Dengan demikian bayi ini bukan lagi merupakan beban, bahkan berubah menjadi perisai yang sangat berguna baginya. Asalkan dia angkat bayi itu untuk menangkis, betapa pun lihay jurus serangan musuh akan digagalkan seluruhnya. Demikianlah beberapa kali serangan maut Hoat-ong ditangkis oleh perisai bayi Li Bok-chiu.

Keruan Yo Ko kelabakan. Dia kuatir bila terjadi sedikit kekeliruan antara kedua orang itu, maka jiwa bayi yang berusia belum genap satu hari itu pasti akan melayang. Baru saja dia mencari akal buat merebut kembali bayi itu, dilihatnya roda perak Hoat-ong di tangan kanan mendadak menghantam dari luar ke bagian dalam, sedangkan roda tembaga pada tangan kiri menyodok ke depan. Gerakan kedua roda seperti merangkul sehingga Li Bok-chiu terkurung antara kedua tangan Hoat-ong.

Wajah Li Bok-chiu menjadi merah dan memaki gerakan serangan si Hwesio yang kurang ajar itu. Cepat kebutnya menyabet ke belakang untuk menangkis roda perak, sedangkan bayi dibawa ke depan dada untuk membela diri. Akan tetapi sebelumnya Hoat-ong sudah memperhitungkan gerakan susulannya, mendadak tangan kiri melepaskan roda tembaga ke atas untuk menyerang muka Li Bok-chiu.

Jarak roda dengan Li Bok-chiu hanya satu-dua kaki saja dan mendadak disambitkan dengan cepat sekali, tentu saja sukar ditangkis. Untung Li Bok-chiu berpengalaman luas, telah berpuluh tahun malang melintang di dunia Kangouw. Dalam keadaan gawat ini mendadak ia doyongkan tubuhnya ke belakang, dua kakinya memaku kencang di tanah, kebutnya balas menyerang pundak musuh.

Hoat-ong sempat mengegos hingga kebut itu menyerempet lewat pundaknya, sementara itu tangan kiri yang kosong sempat memotong lengan kiri Li Bok-chiu. Seketika Li Bok-chiu merasakan lengannya kaku linu, dia menjerit tertahan sambil melompat mundur, namun tangannya sudah terasa kosong, bayi itu sudah direbut oleh Kim-lun Hoat-ong.

Selagi Hoat-ong girang, se-konyong-konyong dari samping menubruk seseorang, Yo Ko telah menyambar bayi itu dari tangan Hoat-ong terus bergulingan di tanah, pedangnya diputar kencang untuk melindungi bayi, lalu melompat bangun dan siap menghadapi musuh. Rupanya Yo Ko melihat saat yang bagus. Sebelum Hoat-ong dapat memondong si bayi dengan baik, tanpa menghiraukan jiwa sendiri ia terus menerjang maju dan sekali serobot ternyata berhasil dengan baik. Begitulah dalam sekejap saja bayi itu sudah berpindah tangan antara ketiga orang itu. Li Bok-chiu berseru memuji:

“Bagus, Ko-ji!”

Hoat-ong menjadi marah, benturan rodanya menerbitkan suara berdering, menyusul roda di tangan kanan menghantam. Sambil mengegos segera Yo Ko bermaksud angkat kaki. Tiba-tiba terdengar suara angin menyambar, kiranya Li Bok-chiu dengan mengayun kebutnya telah menghadang sambil berkata dengan tertawa:

“Jangan pergi dulu, Ko-ji, kita harus melabrak Hoat-ong ini!”

Karena roda Hoat-ong sudah menghantam, terpaksa Yo Ko memutar pedangnya dan menangkis. Setelah bertempur beberapa hari berturut-turut kedua pihak sudah sama hafal tipu serangan masing-masing, begitu saling labrak segera terjadilah serangan kilat, dalam sekejap saja berpuluh jurus sudah berlangsung.

Diam-diam Li Bok-chiu terkejut. Dia heran kenapa dalam waktu sesingkat ini kepandaian Yo Ko maju sedemikian pesat. Tampaknya aku bukan tandingannya lagi, bahkan mendiang Suhu juga belum tentu bisa melebihi dia.

Namun karena Yo Ko harus memikirkan keselamatan si bayi, betapa pun bayi itu adalah puteri sang paman yang dihormatinya, maka sedikit pun dia tak berani menirukan cara Li Bok-chiu memperalat bayi sebagai tameng. Dan justru inilah akhirnya Hoat-ong bisa melihat kelemahannya. Sekarang dia lebih banyak mengarahkan serangan kepada si bayi, dengan demikian Yo Ko menjadi kelabakan dan sukar bertahan.

“Li-supek, lekas bantu aku rnenghalau bangsat gundul ini, urusan lain boleh kita bicarakan nanti.”

Sekilas Hoat-ong melirik Li Bok-chiu, tampak perawakan yang ramping menggiurkan, biar pun usianya sudah lewat setengah umur, tapi gayanya tetap menarik, dengan tersenyum simpul ia mengikuti pertarungan mereka dan tampaknya tak bermaksud membantu pihak mana pun. Diam-diam Hoat-ong sangat heran bahwa To-koh ini ternyata paman guru si Yo Ko, tetapi mengapa tidak lantas membantu anak muda ini? Jangan-jangan ada rencana licin di balik persoalan ini? Paling penting sekarang bocah she Yo ini harus lekas dikalahkan dan bayi itu direbut kembali. Begitulah Hoat-ong lantas mempergencar serangannya sehingga Yo K-o terkurung rapat di bawah cahaya rodanya.

Li Bok-chiu tahu musuh tak akan mencelakai si bayi, maka dia tak ambil pusing terhadap seruan minta tolong Yo Ko, ia hanya tersenyum saja sambil bersimpuh tangan dengan adem ayem.

Sesudah bertempur lagi sebentar, dada Yo Ko mulai terasa sakit. Dia tahu tenaga dalam sendiri tak dapat menandingi lawan, kalau bertempur lebih lama lagi jelas sukar bertahan. Sudah sekian lama dia tak mendengar suara tangis si bayi, dia menjadi takut terjadi apa-apa. Dalam seribu kesibukannya itu dia mencoba memandang sekejap si bayi, tampak wajah si kecil itu putih bersemu merah, molek menyenangkan, kedua matanya yang hitam sedang memandang kepadanya. Padahal bayi itu belum genap satu hari dilahirkan, dengan sendirinya belum tahu apa-apa, tapi air mukanya kelihatan tenang dan tenteram, sama sekali tak mirip seorang bayi yang baru saja dilahirkan.

Biasanya Yo Ko tidak cocok dengan Kwe Hu, tapi menghadapi orok dalam pangkuannya ini, tiba-tiba timbul semacam pikiran aneh dalam benaknya:

“Kini aku membelanya mati-matian, kalau nasibnya mujur dan jiwanya dapat diselamatkan, tujuh hari lagi aku sendiri akan mati, kelak kalau dia sudah sebesar kakaknya itu entah dia akan teringat kepadaku atau tidak?”

Karena rangsangan perasaan ini, entah dari mana datangnya kesedihan, tiba-tiba saja matanya menjadi merah dan hampir-hampir meneteskan air mata. Bahwa Yo Ko sudah kewalahan melayani serangan Hoat-ong, hal itu juga disaksikan oleh Li Bok-chiu. Semula dia merasa tidak tega dan bermaksud maju membantu, tetapi segera terpikir pula olehnya bahwa kepandaian Yo Ko sudah lebih tinggi dari pada dia, apa bila sekarang tidak meminjam kepandaian Hwesio ini untuk membunuhnya, kelak tentu akan mendatangkan bencana baginya. Karena itu dia tetap menonton saja tanpa membantu.

Di antara ketiga orang ini ilmu silat Hoat-ong paling tinggi, Li Bok-chiu paling kejam, tetapi bicara tentang tipu akal adalah Yo Ko nomor satu. Setelah bersedih sebentar segera ia memikirkan akal cara meloloskan diri. Ia teringat tipu akal Khong Bheng di jaman Sam-kok. Waktu itu di antara tiga negara, Co Jo dari negeri Gui terhitung paling kuat dan negeri Han pimpinan Lau Pi paling lemah, untuk melawan Co Jo terpaksa Lau Pi berterikat dengan Lun Koan dari negeri Go.

Jika sekarang Li Bok-chiu tidak mau membantu maka terpaksa dirinya sendiri yang harus membantu Li Bok-chiu. Untuk ini segera Yo Ko menyerang dua kali untuk menahan Hoat-ong, habis itu cepat ia melompat mundur dan mendadak menyodorkan bayi itu kepada Li Bok-chiu sambil berseru:

“Terima ini!”

Kejadian ini benar-benar di luar dugaan Li Bok-chiu, seketika ia tidak paham apa maksud Yo Ko, tapi tanpa pikir ia terima jabang bayi itu.

Dalam pada itu Yo Ko telah berseru pula: “Li-supek, lekas lari membawa anak itu, biar aku menahan bangsat gundul ini!”

Berbareng ia melancarkan serangan maut untuk mendesak mundur Hoat-ong. Lik Bok-chiu mengira si Yo Ko mengharapkan bantuannya sebagai sang paman guru dan tentu takkan membikin susah anaknya, maka dalam keadaan bahaya bayi itu diserahkan lagi kepadanya. Tentu saja ia girang dan anggap sangat kebetulan baginya. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa cara itu adalah tipu akal Yo Ko. Begitu Li Bok-chiu hendak angkat kaki, Hoat-ong telah menghantamnya dengan roda perak. Karena tiada jalan lain, terpaksa Li Bok-chiu memutar balik kebutnya untuk menangkis.

Melihat maksud tujuannya sudah tercapai, Yo Ko lantas menghela napas lega. Tetapi dia tetap memikirkan keselamatan si orok dan tidak dapat berpeluk tangan tanpa urus seperti Li Bok-chiu tadi. Setelah istirahat sejenak, segera ia angkat pedang dan menerjang Hoat-ong dari samping. Sementara itu sang surya sedang memancarkan cahayanya yang terang, di tengah hutan lebat itu tetap tembus oleh cahaya matahari, semangat Yo Ko bangkit, ia mainkan pedangnya lebih keras.

“Trangg...! Trang...!”

Tiba roda perak Hoat-ong terkupas sebagian oleh Kun-cu-kiam yang tajam. Kim-lun Hoat-ong juga tidak kurang saktinya, meski terkejut, namun gerak serangannya semakin lihay. Mendadak Yo Ko mendapat akal, serunya:

“Li-supek, awas roda tembaganya, bagian yang terkupas ada racunnya, jangan kau tersentuh olehnya.”

“Memangnya kenapa?” ujar Li Bok-chiu tak acuh.

“Racun yang terpoles di pedangku ini sangat lihay,” kata Yo Ko.

Tadi Hoat-ong dilukai oleh pedang Yo Ko, memang ia kuatir kalau pedang anak muda itu beracun, tetapi setelah sekian lama bertempur tiada terasa tanda aneh pada lukanya, maka ia tidak kuatir lagi. Sekarang Yo Ko menyebutnya kembali, mau tak mau hatinya tergetar dan semangatnya menjadi lesu. Bila mengingat kekejian Kongsun Ci, mustahil pedang Yo Ko yang diambil dari tempatnya itu tidak dipoles dengan racun.

Tiba-tiba saja Li Bok-chiu berseru: “Tusuk dia dengan pedangmu yang beracun itu, Ko-ji!” Berbareng ia mengayun tangannya seperti menyambitkan senjata rahasia.

Cepat Hoat-ong memutar rodanya menjaga rapat tubuhnya, tetapi gerakan Li Bok-chiu ternyata hanya gertakan belaka, kesempatan itu telah digunakannya untuk berlari ke sana secepat terbang. Walau pun meragukan terkena racun, tetapi Hoat-ong sangat tangkas. Ia merasa lukanya tidak nyeri dan juga tidak bengkak, betapa pun ia tak mau pulang dengan tangan hampa, maka cepat ia mengudak ke jurusan Li Bok-chiu.

Yo Ko pikir kalau sebentar bertempur dan sebentar udak-mengudak, akhirnya tentu akan membikin susah orok yang baru dilahirkan itu. Jalan keluar yang baik adalah menghalau Hoat-ong dengan gabungan tenaga mereka berdua dan urusan lain dapat diselesaikan belakangan. Maka ia lantas berteriak:

“Tak perlu lari, Li-supek, bangsat gundul ini terkena racun jahat, hidupnya tak akan bertahan lama.”

Baru habis ucapanrya, dilihatnya Li Bok-chiu melompat ke depan dan menyusup ke arah sebuah goa di bukit sana. Hoat-ong kelihatan merandek kesima dan tidak berani menerobos ke dalam goa. Karena tidak tahu apa tujuan Li Bok-chiu membawa lari bayi itu, juga kuatir jika mendadak bayi itu dibinasakan, maka tanpa memikirkan keselamatan sendiri Yo Ko terus menguber ke sana. Ia putar pedangnya untuk menjaga diri, segera ia pun menerjang ke dalam goa. Terdengarlah suara gemerincing beberapa kali, pedangnya menyampuk jatuh tiga buah Peng-pok-sin-ciam, jarum berbisa yang dihamburkan Li Bok-chiu.

“Ini aku, Li-supek!” seru Yo Ko.

Di dalam goa gelap gulita, akan tetapi Yo Ko sudah biasa memandang dalam kegelapan. Dilihatnya Li Bok-chiu merangkul si bayi dan tangan lain sudah siapkan segenggam jarum berbisa lagi. Untuk meyakinkan orang bahwa dia tak bermaksud jahat, Yo Ko sengaja membalik tubuh dan menghadap ke luar, lalu berkata:

“Mari kita bersatu untuk menghalau bangsat gundul itu,” Segera ia berjaga di mulut goa dengan pedang terhunus.

Hoat-ong menduga sementara ini kedua lawan tak akan berani menerobos keluar, ia lantas duduk di samping goa dan membuka baju memeriksa lukanya. Bagian lukanya merah segar, tidak ada tanda-tanda keracunan, waktu ia pencet terasa sakit sedikit. Waktu ia mengerahkan tenaga dalam terasa tiada sesuatu halangan apa pun juga. Girang bercampur gemas juga, girangnya karena pedang si Yo Ko ternyata tidak berbisa sebagaimana dikatakan anak muda itu, gemasnya karena dia sudah dikibuli oleh bocah itu sehingga dia kuatir percuma untuk sekian lama.

Ia coba mengawasi goa. Mulut goa teraling rerumputan, lebarnya hanya cukup dimasuki satu orang, padahal tubuhnya sendiri tinggi besar, kalau menerjang ke sana dan bergerak kurang leluasa, mungkin malah akan disergap oleh kedua lawannya. Seketika ia tidak mendapatkan akal yang baik. Pada saat itulah tiba-tiba ada suara orang berseru:

“He, Hwesio gede, apa yang kau lakukan di situ?”

Hoat-ong mengenali suara si Hindu cebol Nimo Singh. Dia tetap mengawasi goa itu sambil menjawab:

“Tiga ekor kelinci menyusup ke dalam goa, aku hendak menghalaunya keluar.”

Kiranya tadi dari kejauhan Nimo Singh melihat berkelebatnya roda Kim-lun Hoat-ong yang beterbangan di udara. Ia tahu pasti Hoat-ong sedang bertempur dengan musuh, maka ia cepat menyusul ke sini. Waktu tiba di tempat, sementara Yo Ko berdua sudah menyusup ke dalam goa. Melihat Hoat-ong sedang mengawasi dengan penuh perhatian, Nimo Singh menjadi girang, tanyanya cepat:

“Kwe Ceng lari ke dalam goa?”

Hoat-ong mendengus dan berkata: “Ada seekor kelinci jantan dan seekor kelinci betina, ada pula seekor anakan kelinci.”

“Ha-ha, jadi selain Kwe Ceng dan isterinya, si bocah Yo Ko itu juga berada di situ!” seru Nemo Singh kegirangan.

Hoat-ong tidak menggubrisnya dan membiarkan dia mengoceh sendiri. Dia memandang sekelilingnya, segera dia mendapatkan akal. Dia mengumpulkan ranting kayu dan rumput kering yang ditumpuk di mulut goa, lalu dibakarnya rumput kering itu. Pada saat itu angin sedang meniup dengan kencangnya, tanpa ayal asap tebal tertiup ke dalam goa.

Waktu Hoat-ong mulai menimbun kayu dan rumput kering, Yo Ko tahu maksud keji orang, sedangkan pihak musuh sudah bertambah dengan datangnya Nimo Singh. Dengan suara perlahan dia berkata kepada Li Bok-chiu:

“Akan kuperiksa apakah goa ini ada jalan tembus atau tidak.”

Segera ia merunduk ke dalam, kurang lebih belasan meter jauhnya ternyata goa itu buntu, ia putar balik lantas berkata dengan suara tertahan:

“Li-supek, mereka menyerang dengan asap, bagaimana kita harus bertindak?”

Li Bok-chiu pikir menerjang dengan kekerasan jelas sukar loIos dari kejaran Hoat-ong, tapi bersembunyi di dalam goa bukan cara penyelesaian yang baik. Jika keadaan benar-benar mendesak, jalan satu-satunya terpaksa melarikan diri dengan meninggalkan anak orok ini. Karena pikiran ini sedikit pun ia tidak merasa cemas, ia menyeringai dan tidak menjawab pertanyaan Yo Ko. Tidak lama kemudian gumpalan asap yang membanjir ke dalam goa semakin tebal, untuk sementara mereka dapat menahan napas, namun bayi itu tidak tahan lagi, ya batuk ya menangis tiada hentinya.

“He-he, kau kasihan padanya, bukan?” jengek Li Bok-chiu kepada Yo Ko.

Setelah mengalami perjuangan mati-matian, Yo Ko memang sudah timbul kasih sayang terhadap bayi perempuan ini, maka dia menjadi tidak tega mendengar tangisnya yang semakin keras.

“Biar kupondong dia!” katanya sambil mengulurkan kedua tangan dan mendekati Li Bok-chiu.

Akan tetapi Li Bok-chiu segera menyabetnya dengan kebut sambil membentak: “Jangan mendekati aku! Apa kau tidak takut pada Peng-pok-sin-ciam?”

Cepat Yo Ko melompat mundur, nama jarum berbisa itu mengingatkannya kepada masa kecilnya ketika untuk pertama kali bertemu Li-Bok-chiu. Hanya sebentar saja ia memegang jarum perak itu, racun sudah menjalar ke tubuhnya, syukur ayah angkatnya, Auyang Hong, menolong dengan mengajarkan Iwekang yang istimewa sehingga racun dapat didesak keluar.

Tiba-tiba dia mendapat akal. Dia balut tangannya dengan robekan kain baju, lalu menuju ke mulut goa dan menjemput ketiga jarum berbisa yang disambitkan Li Bok-chiu tadi, dia tancapkan jarum-jarum itu pada tanah dengan ujung runcing ke atas, ujung jarum yang menongol sedikit itu ditutup dengan pasir tanah agar gemilapnya jarum tidak kelihatan. Saat itu mulut goa tertutup asap tebal sehingga tindakan Yo Ko tidak dilihat oleh Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh.

Setelah selesai mengatur Yo Ko mundur lagi ke dalam goa lantas membisiki Li Bok-chiu:

“Aku ada akal untuk menghalau musuh, harap Li-supek pura-pura menimang bayi itu supaya jangan menangis.” Habis berkata mendadak ia berteriak: “Aha, di belakang goa ini ada jalan tembusnya, Li-supek, lekas kita pergi!”

Semula Li Bok-chiu melengak dan mengira apa yang dikatakan Yo Ko itu memang betul, tapi Yo Ko lantas membisikinya:

“Hanya pura-pura saja agar bangsat gundul itu terjebak olehku.”

Sudah tentu teriakan Yo Ko terdengar oleh Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh. Mereka terkejut, mencoba pasang kuping, dalam goa sunyi senyap, suara tangisan bayi juga sayup-sayup semakin lirih. Mereka tidak tahu bahwa mulut si bayi telah sengaja ditutup oleh lengan baju Yo Ko, keruan mereka mengira Yo Ko bersama Li Bok-chiu betul-betul sudah kabur melalui belakang goa.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar