ads

Rabu, 25 Agustus 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 19

“Bagus sekali!” teriak Yo Ko, “Memang aku lagi merasa keberatan memegangi potongan besi ini.” Segera dia putar setengah potongan tongkat baja itu dan terasa lebih enteng dan lincah.

“Hmm, bagus atau tidak, boleh lihat saja nanti!” jengek Kongsun Kokcu dengan perasaan mendongkol, kembali goloknya membacok lagi dari depan.

Bacokan ini teramat lugu, asal Yo Ko sedikit mengegos saja dengan mudah serangan itu dapat dihindarkan. Tanpa terduga lingkaran ujung pedang hitam ternyata juga mengurung tubuh Yo Ko sehingga anak muda itu tidak dapat bergerak sembarangan, terpaksa Yo Ko mengangkat potongan tongkat untuk menangkis.

“Trangg...!”

Suara nyaring keras akibat benturan golok dan tongkat menerbitkan lelatu api. Habis bacokan pertama, menyusul bacokan kedua dilontarkan lagi oleh Kongsun Kokcu dengan cara yang sama tanpa variasi.

Bahwa pengetahuan ilmu silat Yo Ko sangat luas, otaknya juga cerdas, tetapi aneh, sama sekali ia tidak berdaya mematahkan bacokan lawan yang begitu-begitu saja, kecuali menangkis dengan cara seperti tadi terasa tiada jalan lain yang lebih bagus. Untuk kedua kalinya golok dan tongkat kutung beradu, dan diam-diam Yo Ko mengeluh. Kiranya bacokan kedua kali ini tampaknya begitu saja tapi tenaganya ternyata bertambah sebagian. Dia pikir kalau bacokan begini berlangsung beberapa kali lagi tentu otot tulang lenganku bisa putus tergetar oleh tenaga Kokcu ini.

Belum habis terpikir, benar saja bacokan ke tiga Kongsun Kokcu sudah menyambar pula dan tenaganya memang bertambah lagi sebagian. Ternyata ilmu permainan golok Kongsun Kokcu itu meliputi 18 jurus, tenaga setiap jurus selalu bertambah kuat dari pada jurus sebelumnya. Walau pun tenaganya cuma sebagian saja, tetapi kalau terus bertambah dan menumpuk, jadinya bisa berlipat ganda dan sukar ditahan.

Setelah menangkis beberapa kali lagi, tongkat kutung di tangan Yo Ko sudah babak belur oleh bacokan golok emas lawan, bahkan tangan Yo Ko pun tergetar lecet. Melihat tenaga tangkisan Yo Ko tidak berkurang, dalam keadaan bahaya anak muda itu masih mengulum senyum, diam-diam Kongsun Kokcu amat mendongkol. Ia merasa bila beberapa kali bacokan lagi dia tidak dapat menaklukan Yo Ko, akan kelihatan dirinya sendiri yang tak becus. Maka ketika golok membacok kembali, mendadak pedang hitam menusuk ke perut lawan.

Saat itu Yo Ko terdesak sampai di pojok ruangan. Melihat ujung pedang menyambar, cepat dia menangkis dengan telapak tangan, ujung pedang tepat menusuk di tengah telapak tangannya, tetapi pedang hitam itu lantas melengkung dan terpental balik. Kiranya sarung tangan Siao-liong-li yang terbuat dari anyaman benang emas tak tertembuskan oleh pedang hitam yang tajam itu.

Setelah mengetahui sarung tangannya tidak usah takut pada senjata lawan, cepat Yo Ko membalikkan tangan menarik ujung pedang musuh, Tak terduga Kongsun Kokcu telah sedikit menyendal pedangnya yang melengkung tadi sehingga batang pedang yang lemas itu membalik ke bawah dan melukai lengan Yo Ko. Seketika darah bercucuran.

Yo Ko terkejut sekali dan cepat melompat mundur. Sebaliknya Kongsun Kokcu juga tidak mendesak maju, dia mendengus beberapa kali, sesudah itu baru melangkah maju dengan perlahan. Jika Kongsun Kokcu hanya mempergunakan salah sebuah senjatanya saja, Yo Ko mempunyai akal untuk meIawannya. Sekarang musuh memakai dua macam senjata yang berlawanan, satu keras dan satu lemas dengan gerak serangan yang berbeda pula, keruan Yo Ko tak berdaya dan tercecar hingga kelabakan.

Walau Yo Ko terdesak dan serba repot tapi Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si dan lain-lain yang mengikuti pertarungannya itu bertambah kagum. Dalam hati mereka berpikir: “kalau aku sendiri yang harus melayani kedua macam senjata yang berbeda itu, mungkin sejak tadi jiwaku telah melayang. Tapi bocah ini ternyata mampu meIayaninya dengan berbagai cara yang cerdas dan dapat menghindari sekian kali serangan maut.”

Begitulah Kongsun Kokcu masih terus meIancarkan serangan dengan golok, dan secara bergantian kembali bahu Yo Ko tertusuk lagi satu kali sehingga bajunya berlepotan darah.

“Kau menyerah tidak?!” bentak Kongsun Kokcu.

“Kau bertanding dengan cara yang jauh menguntungkan kau, tetapi masih berani bertanya padaku menyerah atau tidak, ha-ha-ha, kenapa kau begini tebal muka, Kongsun Kokcu?” ejek Yo Ko dengan tersenyum.

Mendadak Kongsun Kokcu menarik kedua serangannya, kemudian bertanya: “Apa yang menguntungkan aku? Coba katakan,” tanya Sang Kokcu.

“Kau mempergunakan senjata sehari-hari, sepasang senjata yang aneh ini mungkin sukar dicari lagi di dunia, betul tidak?” ujar Yo Ko.

“Memangnya kenapa? Bukankah senjata di tanganmu itu juga luar biasa?” jawab Kongsun Kokcu.

Yo Ko membuang tongkat kutung itu dan berkata dengan tertawa: “Ini kan milik muridmu si jenggot tadi.” Lalu ia menanggalkan sarung tangan, dan kedua potong selendang sutera yang putus tadi dijemputnya pula dan dilemparkan kepada Siao-liong-li, kemudian berkata lagi: “Dan ini adalah milik Kokoh yang kupinjam tadi.”

Habis itu Yo Ko keplok tangannya, dia kebut debu pada badannya tanpa menghiraukan darah yang masih mengucur dari lukanya, kemudian berkata dengan tertawa:

“Nah, aku datang ke sini dengan bertangan kosong, masa aku bermaksud memusuhi kau? Sekarang terserah kau, mau bunuh boleh bunuh. tidak perlu banyak omong lagi.”

Melihat sikap anak muda itu tenang sabar, wajahnya cakap, meski terluka tapi bicara dan tertawa sesukanya seperti tidak terjadi sesuatu, kalau dibandingkan dirinya sendiri terasa memalukan dan rendah sekali. “Apa bila anak muda ini tetap aku biarkan hidup, tentu Liu-ji akan condong dan jatuh hati padanya.”

Tanpa pikir dia mengangguk dan berkata: “Baiklah.” Segera pedangnya menusuk ke dada Yo Ko.

Karena merasa tidak sanggup melawan orang, Yo Ko sudah ambil keputusan biar dibunuh saja oleh lawannya, maka ia pun tak menghindar ketika tusukan orang tiba, sebaliknya ia menoleh ke sana untuk memandang Sio-liong-li, pikiranya “Sambil memandangi Kokoh, biar mati pun aku tidak menyesal.” Dia melihat Siao-liong-Ii sedang melangkah ke arahnya setindak demi setindak dengan tersenyum manis, kedua pasang mata saling menatap, sama sekali tidak menghiraukan ancaman pedang hitam Kongsun Kokcu.

Sebenarnya Kokcu itu belum pernah kenal Yo Ko sehingga hakikatnya tidak ada dendam permusuhan apa pun. Dia ingin membinasakan anak muda itu semuanya gara-gara Siao-liong-li belaka, sebab itulah ketika tusukan terakhir dilontarkan, tanpa terasa ia pun memandang sekejap ke arah Siao-liong-li. Sekali pandang seketika rasa cemburunya berkobar hebat, tampak si nona menatap Yo Ko dengan penuh kasih sayang mesra. Waktu dia melirik Yo Ko, kelihatan sorot anak muda itu pun serupa dengan Siao-liong-Ii, padahal ujung pedangnya kini telah menempel dadanya, asalkan tangannya sedikit mendorong ke depan, seketika ujung pedang itu akan menembus dadanya.

Namun Siao-liong-li ternyata tidak menjadi kuatir dan cemas, Yo Ko juga tidak berusaha menangkis, kedua orang hanya saling pandang dengan kesan penuh jalinan perasaan dan melupakan segala apa yang berada di sekitarnya. Gemas dan dongkol Kongsun Kokcu tidak terkirakan, pikirnya: “Apa bila kubunuh kau sekarang, akan membuat kau merasa puas dan bahagia ketika menghadapi ajalnya. Aku justru ingin kau menyaksikan sendiri pernikahanku dengan Liu-ji, habis malam pengantin barulah kau kubunuh!”

Karena pikiran itu, segera dia berteriak: “Liu-ji, kau ingin kubunuh dia atau menghendaki kuampuni?”

Siao-liong-li terus memandangi Yo Ko dengan segenap cita-rasanya dan sama sekali tak memikirkan Kongsun Kokcu. Ketika mendadak mendengar suaranya barulah dia tersadar, katanya cepat dengan kuatir.

“Lekas singkirkan pedangmu, untuk apa kau mengacungkan pedangmu di depan dadanya?”

Kongsun Kokcu mendengus dan berkata: “Baik, tidaklah sulit untuk mengampuni jiwanya asalkan kau suruh dia segera pergi dari sini dan tidak merintangi detik bahagia pernikahan kita.”

Sebelum bertemu dengan Yo Ko sebetulnya Siao-liong-li sudah bertekad takkan berjumpa lagi dengan anak muda ini. Tapi kini setelah bertemu, mana dia mau menikah dengan Kongsun Kokcu? Dia tahu apa yang menjadi keputusannya akhir-akhir ini jelas sukar dilaksanakannya, lebih baik mati saja dari pada menikah dengan orang lain. Ia pun lantas berpaling dan berkata kepada Kongsun Kokcu:

“Kongsun-siansing aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu, tapi aku tak dapat menikah dengan kau.”

Meski sudah tahu alasannya, tapi Kongsun Kokcu masih bertanya: “Sebab apa?”

Siao-liong-Ii berdiri sejajar dengan Yo Ko dan memegangi tangan anak muda ini, dengan tersenyum dia menjawab:

“Aku sudah bertekad menjadi suami-isteri dengan dia dan hidup berdampingan selamanya, masa kau tak dapat melihat sikap kami?”

Tergetar tubuh Kongsun Kokcu, katanya dengan geram: “Jika saja tempo hari kau sendiri tidak menyanggupi, masa aku paksa waktu terancam elmaut? Tapi kau sendiri yang terima lamaranku, dan itu timbul dari perasaan suka rela dan ikhlas?”

Pada dasarnya Siao-liong-li masih sangat polos dan belum paham seluk beluk kehidupan insaniah, tanpa ragu dia menjawab:

“Memang betul begitu, tetapi aku merasa berat untuk meninggalkan dia. Nah, kami akan pergi, harap kau jangan marah.” Habis itu dia tarik tangan Yo Ko dan diajaknya pergi.

Ucapan Siao-liong-li ini membikin semua orang saling pandang dengan melongo, Kongsun Kokcu terus melompat maju lantas menghadang di ambang pintu, serunya dengan serak:

“Untuk bisa keluar dari lembah ini kau harus membunuh diriku lebih dulu...”

Siao-liong-li tersenyum manis, katanya: “Kau sudah berbudi menoIong jiwaku, mana boleh kubunuh kau? Lagi pula ilmu silatmu tinggi, betapa pun aku tak dapat mengalahkan kau.”

Sembari bicara ia terus merobek kain baju sendiri untuk membalut luka Yo Ko.

“Kongsun-heng,” tiba-tiba Kim-lun Hoat-ong berseru: “Lebih baik kau membiarkan mereka pergi saja.”

Kongsun Kokcu mendengus tanpa menjawab, dengan air mukanya yang penuh gusar dia tetap menghadang di ambang pintu.

Segera Hoat-ong berkata lagi: “Jika mereka maju berdua dengan sepasang pedangnya, pasti kedua macam senjatamu itu pun takkan dapat menandingi mereka. Dari pada sudah kalah bertanding memberi tembok isteri lagi, lebih baik kau mengalah saja dan serahkan si dia kepadanya.”

Rupanya Kim-lun Hoat-ong masih merasa penasaran karena dia pernah kalah di bawah ilmu pedang yang dimainkan secara berganda oleh Yo Ko dan Siao-liong-li tempo hari. Kejadian itu dianggap sebagai hal yang memalukan baginya. Kini menyaksikan Im-yang-siang-to (sepasang senjata berlainan) yang dimainkan oleh Kongsun Kokcu ternyata amat lihay dan tidak kalah hebatnya dibandingkan permainan rodanya sendiri, maka dia sengaja memancing dengan kata-kata untuk mengadu domba mereka, sedangkan dia sendiri dapat menarik keuntungan.

Padahal seumpamanya dia tidak membakar dengan kata-kata itu juga Kongsun Kokcu takkan membiarkan Siao-liong-Ii dan Yo Ko pergi begitu saja. Karena itu ia melotot marah kepada Hoat-ong, dalam hati ia memaki Hoat-ong yang berani mengucapkan kata-kata yang meremehkan dirinya. Dia pikir, kelak bila mana ada kesempatan tentu akan kubikin perhitungan dengan kau si Hwesio ini.

Begitulah watak Kongsun Kokcu itu memang tinggi hati dan congkak, selamanya ia maha kuasa di Cui-sian-kok tanpa seorang pun berani membangkang perintahnya, sekali pun puteri kandung sendiri akan dihukum badan bila mana berbuat salah, maka dapatlah dibayangkan betapa marahnya.

Semakin murka semakin nekat pula Kongsun Kokcu itu. Betapa pun dia harus menikah dengan Siao-liong-li meski apa pun yang akan terjadi. Dengan gregetan, dia pikir: “Sekali pun hatimu tidak kau serahkan padaku, sedikitnya tubuhmu harus diberikan padaku. Kau tidak mau menikah dengan aku waktu hidup, sesudah kau mati juga akan kunikahi.”

Semula dia ingin menggunakan jiwa Yo Ko sebagai senjata memaksa Siao-liong-li menyerah kepada keinginannya, tetapi setelah melihat kedua muda-mudi itu sama sekali tak takut mati, maka ia pun ambil keputusan takkan melepaskan mereka andaikan kedua orang itu harus dibunuhnya semua.

Bagi Yo Ko, tanpa terasa semangat tempurnya seketika berkobar sesudah melihat Siao-liong-li hanya mencintainya seperti semula, dengan mantap sigap dia bertanya:

“Kongsun Kokcu, dengan cara bagaimana engkau mau membiarkan kami pergi?”

Pertanyaan Yo Ko ini membuat Kongsun Kokcu bertambah murka, napsu membunuhnya semakin berkobar.

Mendadak terdengar Be Kong-co berseru: “Hei Kongsun Kokcu, orang sudah mengatakan tidak mau menjadi isterimu, mengapa kau merintangi orang?”

Dengan suara banci Siao-siang-cu berkata: “Jangan sembarang ngomong, Be Kong-co, kan Kongsun Kokcu sudah menyiapkan perjamuan besar ini. Kita diundang meramaikan pestanya yang meriah.”

“Aha, perjamuan apa? Paling air tawar dan sayur mentah, apanya yang dapat dirasakan?” seru Be Kong-co, “Jika aku menjadi nona cantik ini pasti aku pun tak akan sudi menjadi isterinya. Nona cantik melek seperti dia, menjadi permaisuri juga masih setimpal, buat apa hidup susah ikut seorang kakek?”

Meski dogol, tapi apa yang dikatakan itu pun cukup masuk di akal. Siao-liong-li menoleh dan berkata dengan suara lembut kepadanya:

“Be-toaya, soalnya Kongsun-siansing telah menyelamatkan jiwaku, betapa pun dalam hatiku tetap... tetap berterima kasih padanya.”

“Bagus, si tua Kongsun,” seru Be Kong-co lagi, “Jika kau memang seorang berbudi dan bijaksana, lebih baik sekarang juga kau membiarkan dua muda-mudi itu melangsungkan pernikahan di sini. Kalau dengan alasan kau sudah menolong jiwa si nona, lalu tubuhnya hendak kau gagahi, huh, jiwa ksatria macam apakah itu?”

Karena orangnya dogol, ucapannya juga tanpa tedeng aling-aling dan amat menusuk hati, tapi juga sukar dibantah.

RACUN BUNGA CINTA

Tentu saja Kongsun Kokcu sangat marah, dia bertekad semua orang yang memasuki tempatnya ini harus dibunuh. Tapi ia pun tidak memberi reaksi apa-apa, melainkan dengan hambar berkata:

“Ahh, sebenarnya lembah pegununganku ini bukan tempat yang luar biasa, tapi kalau kalian boleh datang dan pergi sesukanya, rasanya orang terlalu meremehkan diriku, Nona Liu...”

Dengan tersenyum Siao-liong-li memotong. “Sebenarnya aku bukan she Liu, yang benar she Liong. Soalnya dia she Yo, maka aku sengaja dusta padamu bahwa aku she Liu.”

Rasa cemburu Kongsun Kokcu bertambah membakar, ia anggap tidak mendengar ucapan Siao-liong-li itu dan berkata:

“Nona Liu...”

Tapi belum lanjut ucapannya, mendadak Be Kong-co menimbrung: “He, sudah jelas nona itu she Liong, mengapa kau tetap menyebut dia nona Liu?”

Cepat Siao-liong-li menanggapi: “Ya, mungkin Kongsun-siansing sudah biasa memanggil begitu. Memang salahku karena aku telah berdusta padanya. Maka biarlah, apa yang dia suka boleh...”

Kongsun Kokcu tetap tidak urus perkataan mereka dan menyambung: “Nona Liu, asalkan bocah she Yo itu dapat mengalahkan Im-yang-siang-to di tanganku, segera kubiarkan dia pergi. Urusan ini harus kita selesaikan sendiri karena tak ada sangkut pautnya dengan orang lain.”

Siao-liong-li menghela napas dan berkata: “Kongsun-siansing, sebenarnya aku tidak ingin bertempur dengan kau, akan tetapi dia sendirian bukan tandinganmu, maka terpaksa aku membantu dia.”

Kontan alis Kongsun Kokcu terkerut rapat, katanya: “Jika kau tidak kuatir karena tadi telah muntah darah, maka boleh juga kau maju sekalian.”

Dalam hati Siao-liong-li rada gegetun terhadap masalah ini, segera ia berkata pula: “Kami tidak mempunyai senjata lagi, kami pasti kalah jika melayani kau dengan tangan kosong. Tetapi engkau adalah orang baik, maka harap lepaskan saja kepergian kami.”

Tiba-tiba Kim-lun Hoat-ong menyela: “Kongsun-heng, di tempatmu ini serba ada, masakah kekurangan dua senjata? Cuma perlu kuperingatkan kau lebih dulu, jika mereka bermain ganda, sepasang pedang mereka menjadi maha lihay, mungkin jiwamu bisa melayang.”

Kongsun Kokcu tidak menanggapi. Dia kemudian ke sebelah kiri dan berkata kepada Yo Ko.

“Kamar di sebelah sana kamar senjata, kalian boleh pilih sendiri senjata apa yang kalian kehendaki.”

Yo Ko saling pandang sekejap dengan Siao-liong-li dan sama berpikir: “Alangkah baiknya jika dapat berada berduaan di tempat yang sepi dari orang lain.”

Segera dengan bergandengan tangan mereka memasuki kamar yang ditunjuk, pandangan Siao-liong-li selama itu tidak pernah meninggalkan wajah Yo Ko. Setelah sampai di depan kamar dan nampak pintu kamar tertutup, tanpa pikir dia terus mendorong pintu, namun baru saja hendak melangkah masuk ke dalam, mendadak Yo Ko ingat sesuatu dan cepat mencegahnya:

“Nanti dulu!”

“Ada apa?” tanya Siao-liong-li merandek. “Apa kau kuatir Kokcu itu akan menjebak kita? Dia sangat baik, tampaknya takkan berbuat begitu.”

Yo Ko tidak menjawab, dia menggunakan kakinya untuk mencoba lantai di bagian dalam pintu dan mendadak terdengar suara mencicit nyaring disertai gemerdepnya cahaya, lalu delapan pedang tajam tahu-tahu keluar dan menusuk dari kanan kiri pintu. Dalam keadaan begitu, apa bila ada orang sedang melangkah ke dalam tentu seluruh tubuhnya akan tertancap.

Siao-liong-li menghela napas dan berkata: “Aihh, Ko-ji, kiranya begitu keji hati Kokcu, sungguh aku telah salah menilainya. Sudahlah, kita pun tidak perlu bertanding lagi dengan dia dan pergi saja sekarang...”

Mendadak ada seorang bersuara di belakang mereka: “Kokcu menyilakan kalian memilih senjata.”

Pada waktu mereka menoleh, tampaklah delapan anak murid berseragam hijau dengan membentang jaring ikan sudah menghadang di belakang. Tampaknya Kongsun Kokcu telah memperhitungkan kemungkinan kabur, maka sengaja mengirimkan anak muridnya untuk mencegat di belakang mereka.

Terpaksa Siao-liong-li berkata pada Yo Ko: “Ko-ji, menurut pendapatmu apakah di kamar senjata ini ada lagi sesuatu yang aneh?”

Yo Ko menggenggam kencang tangan Siao-liong-li, katanya: “Kokoh, kita telah berkumpul lagi, apa yang perlu kita sesalkan? Sungguh pun ditembus oleh beribu senjata, paling tidak kita mati bersama.”

Perasaan Siao-liong-li pun penuh kasih mesra, maka tanpa pikir mereka lalu melangkah ke dalam, kemudian Yo Ko merapatkan pintu. Tampaklah baik di dinding, di atas meja dan di rak senjata penuh berjajar macam-macam senjata, akan tetapi hampir sembilan dari sepuluh adalah pedang kuno, ada yang panjang dan ada yang pendek sekali, ada yang sudah karatan tetapi banyak pula yang mengkilat menyilaukan mata.

Siao-liong-li berdiri berhadapan dengan Yo Ko dan saling pandang sejenak. Mendadak ia bersuara tertahan terus menubruk ke dalam pelukan anak muda itu. Tanpa ayal Yo Ko mendekap kencang tubuh si nona dan menciumnya, seketika jiwa raga Siau-liong-li serasa dimabuk oleh ciuman itu, kedua tangannya terus merangkut leher Yo Ko balas mencium dengan mesranya.

“Blangg...!”

Mendadak pintu kamar didobrak orang, seorang murid berseragam hijau berseru dengan bengis:

“Perintah Kokcu, setelah memilih pedang segera kalian keluar lagi!”

Muka Yo Ko menjadi merah, cepat dia melepaskan Siao-liong-li. Tapi Siao-liong-li adalah nona yang berpikiran polos dan suci, dia pikir jika aku menyukai Yo Ko, apa salahnya berdua saling peluk dan berciuman, namun sekarang diganggu orang luar sehingga sukar mencapai kepuasan. Dengan gegetun ia berkata perlahan:

“Ko-ji, setelah kita kalahkan Kokcu itu, bolehlah kau mencium aku lagi.”

Yo Ko mengangguk dengan tersenyum, katanya: “Marilah kita memilih senjata.”

“Tampaknya senjata yang tersimpan di sini memang benar benda mestika seluruhnya,” ujar Siao-liong-li, lalu ia mengelilingi kamar mengamati dengan teliti.

Maksud Siao-liong-li hendak memilih sepasang pedang yang sama panjang dan bobotnya agar nanti digunakan bersama Yo Ko dapat mendatangkan hasil. Tapi setelah diperiksa kian kemari ternyata pedang yang berada di situ tidak ada yang serupa. Sembari mengamati senjata ia pun bertanya kepada Yo Ko:

“Waktu masuk kamar ini tadi, dari mana kau mengetahui di ambang pintu terpasang jebakan?”

“Aku dapat menerkanya dari air muka Kokcu itu,” tutur Yo Ko, “Dia ingin memperisteri dirimu, tapi sorot matanya ternyata penuh rasa benci dan dendam. Melihat kepribadiannya aku tidak percaya dia mau membiarkan kita memilih senjata secara rela.”

Kembali Siao-liong-li menghela napas perlahan lantas berkata: “Menurut kau, apakah kita dapat mengalahkan dia dengan Giok-li-kiam-hoat?”

“Meski tinggi ilmu silatnya, tampaknya juga tidak lebih hebat dari pada Kim-lun Hoat-ong,” ujar Yo Ko. “Jika dengan bergabung kita bisa mengalahkan Hoat-ong, tentu saja kita pun dapat mengalahkan dia.”

“Ya, Hoat-ong terus menerus membakar agar dia bertarung dengan kita, jelas dia pun bermaksud jahat!” kata Siau-liong-li.

“Hati manusia umumnya memang jahat, tampaknya kau pun mulai paham,” kata Yo-Ko dengan tersenyum. Akan tetapi dia lantas menyambung pula dengan rasa kuatir: “Tapi bagaimana dengan kesehatanmu? Tadi kau muntah darah lagi.”

Siao-liong-li tertawa manis, jawabnya: “Kau tahu, waktu berduka barulah aku muntah darah. Sekarang aku sangat gembira, apa artinya sedikit sakit bagiku? Oh ya, Ko-ji, tampaknya kepandaianmu sudah jauh lebih maju, jauh berbeda dibandingkan sewaktu kita bertempur dengan Hoat-ong dahulu. Kalau waktu itu saja kita dapat mengalahkan dia, apa lagi sekarang?”

Yo Ko juga yakin pasti akan menang dalam pertarungan ini. Ia genggam kencang tangan si nona dan berkata:

“Kokoh, kuharap engkau berjanji sesuatu padaku.”

“Mengapa kau bertanya secara begini?” kata Siao-liong-li dengan suara lembut. “Aku kan bukan lagi gurumu, tapi isterimu. Apa yang kau kehendaki tentu akan kuturuti.”

“Ah... baik sekali, baru... baru sekarang aku tahu,” kata Yo Ko.

“Sejak malam itu di Cong-lam-san kau berbuat begitu mesra padaku, semenjak itu pula aku sudah bukan lagi gurumu,” ucap Siao-liong-li, “Meski kau tidak mau memperisteri diriku, dalam hatiku sudah lama kuakui sebagai isterimu.”

Sesungguhnya waktu itu Yo Ko memang tidak paham tiba-tiba Siau liong-li mengajukan pertanyaan begitu padanya. Dia pikir mungkin hati si nona mendadak terguncang, atau bisa jadi dirinya yang lama tertahan itu mendadak tak bisa dikendalikan lagi, sama sekali tidak pernah terpikir olehnya bahwa In Ci-peng yang sudah menggagahi Siao-liong-li secara diam-diam.

Yo Ko sendiri merasa tidak pernah berbuat apa-apa yang melampaui batas terhadap nona itu. Tapi kini mendengar suaranya yang halus dan manis, hatinya terguncang juga dan seketika tak dapat menjawab.

Siao-liong-li merapatkan tubuhnya ke dada Yo Ko, lalu bertanya: “Kau ingin aku berjanji apa?”

Yo Ko membelai rambut Siao-liong-li yg indah, katanya: “Setelah kita kalahkan Kokcu ini, segera kita pulang ke kuburan kuno untuk selanjutnya engkau tidak boleh berpisah lagi dariku biar apa pun yang bakal terjadi...”

Sambil menengadah dan menatap anak muda itu, Siao-liong-li menjawab: “Memang kau kira aku suka berpisah dengan kau? Jika berpisah dengan kau, apa kau kira dukaku tidak melebihi kau? Sudah tentu kuterima permintaanmu ini, biar pun langit ambruk atau bumi ambles dan dunia kiamat aku tetap bersamamu.”

Girang Yo Ko sukar dilukiskan dan selagi dia hendak bicara lagi, tiba-tiba salah seorang berseragam hijau di luar berseru:

“Senjata sudah terpilih belum?”

Dengan tersenyum Siao-Iiong-li berkata kepada Yo Ko: “Marilah kita lekas pergi saja.”

Baru saja ia hendak mengambil dua pedang seadanya, tiba-tiba dilihat dinding di sebelah kiri sana sebagian besar terdapat bekas hangus terbakar, beberapa buah meja kursi juga rusak bekas terbakar, ia menjadi rada heran.

Segera Yo Ko menutur: “Lo-wan-tong pernah menerobos ke kamar senjata ini, lalu membakarnya dan mengambil benda di sini. Bekas hangus terbakar ini jelas hasil perbuatannya.”

Tiba-tiba dilihatnya di bawah lukisan di pojok dinding sana yang tersisa dari bekas hangus itu menonjol keluar dua sarung pedang, tergerak pikiran Yo Ko: “Kedua pedang ini semula teraling oleh lukisan, tapi lantaran sebagian lukisan terbakar sehingga kelihatanlah bagian pedang itu. Jika pemilik pedang sengaja mengatur begini, jelas sepasang pedang ini pasti benda mestika.”

Ia coba mendekati lalu menanggalkan kedua pedang itu, sebuah dia berikan kepada Siao-liong-li, dia pegang gagang pedang satunya terus dilolos. Begitu pedang terlolos dari sarungnya, seketika kedua orang merasakan hawa dingin, batang pedang itu hitam mulus tanpa mengkilat sedikit pun sehingga mirip sepotong kayu belaka.

Waktu Siao-liong-li juga melolos pedang yang diterimanya, ternyata pedang itu serupa benar dengan pedang Yo Ko, baik besar mau pun panjangnya. Begitu kedua pedang dijajarkan, seketika menambah hawa segar di dalam ruangan kamar, cuma kedua pedang itu tidak terdapat ujung yang runcing melainkan tumpul, begitu pula mata pedangnya tidak tajam.

Yo Ko membalik pedang itu dan terlihat pada batang pedang terukir dua huruf ‘KUN-CU’ (lelaki), waktu memeriksa pedang Siau-liong-li, di atasnya juga terukir dua huruf ‘SIOK-LI’ (perempuan). Sesungguhnya Yo Ko tidak menyukai bentuk kedua pedang ini, ia pandang Siao-liong-li dan ingin tahu bagaimana pikirannya.

Dengan gembira Siao-liong-li berkata: “Pedang ini tidak tajam, kebetulan dapat digunakan melawan Kokcu. Dia pernah menolong jiwaku, maka aku tidak ingin mencelakainya.”

“Pedang adalah senjata pembunuh, tapi diberi nama Kuncu dan Siok-li, aneh” ujar Yo Ko sambil tertawa. Ia coba angkat pedangnya dan bergaya menusuk dua kali, rasanya cocok sekali dengan bobotnya dan enak dipakai. Maka segera dia menambahkan: “Baiklah, biar kita gunakan sepasang pedang ini.”

Siao-liong-li memasukkan kembali pedang ke sarungnya dan baru saja dia hendak keluar, mendadak dilihatnya di atas meja ada sebuah pot bunga dengan serangkaian bunga yang cantik sekali, hanya sayang cara merangkainya awut-awutan tak keruan. Maka tanpa pikir dibenahinya rangkaian bunga itu lebih teratur.

“Hai, jangan!” mendadak Yo Ko berseru, namun sudah terlambat, jari Siao-liong-li sudah tertusuk beberapa kali oleh duri bunga.

Dengan bingung Siao-liong-li menoleh dan bertanya: “Ada apa?”

“Itu bunga cinta, kau sudah tinggal sekian lama di lembah ini, masa kau tidak tahu?” ujar Yo Ko.

Siao-liong-li mengisap jarinya yang kesakitan itu dan menjawab sambil menggeleng: “Aku tidak tahu.”

Selagi Yo Ko hendak memberi keterangan, orang berseragam hijau mendesak puIa, maka terpaksa mereka ikut kembali ke ruangan besar tadi. Tampaknya Kongsun Kokcu sudah tidak sabar menunggu, dia melotot marah kepada anak muridnya, jelas dia marah karena menganggap mereka kurang tegas dan membiarkan Yo Ko berdiam sekian lama di kamar senjata. Anak muridnya tampak amat ketakutan sehingga air mukanya menjadi amat pucat.

Setelah Yo Ko berdua dekat, Kongsun Kokcu cepat berkata: “Nona Liu, sudah kau dapatkan senjata pilihanmu?”

Siao-liong-li mengeluarkan Siok-li-kiam (pedang perempuan) pilihannya kemudian dia mengangguk:

“Kami akan menggunakan sepasang pedang tumpul ini, kami pun tak berani bertarung sungguhan dengan Kokcu, cukup asalkan saling menyentuh tubuh saja.”

Kokcu itu terkesiap melihat yang dipilih ternyata Siok-li-kiam. Dengan suara bengis dia bertanya:

“Siapa yang suruh kau ambil pedang ini?!”

Sembari bertanya sinar matanya terus mengerling ke arah Kongsun Lik-oh, tapi segera ia menatap tajam lagi terhadap Siao-liong-li.

Dengan rada heran Siao-liong-li menjawab. “Tidak ada yang menyuruh. Memang pedang ini tidak boleh dipakai? Jika begitu biarlah kami menukar yang lain saja.”

Kongsun Kokcu melirik gusar sekejap ke arah Yo Ko kemudian berkata: “Untuk menukar pedang kalian akan berdiam setengah hari lagi di sana? Tidak perlu ditukar, hayo mulai!”

“Kongsun-siansing,” kata Siao-liong-li, “lebih baik kita bicara di muka dulu, bahwa dia atau aku sekali-kali bukan tandinganmu jika satu lawan satu, sekarang kami berdua melawan kau seorang, jelas keuntungan ada di pihak kami, sekali pun kami menang juga tak dapat dianggap sebagai kemampuan kami.”

“Boleh kau katakan begitu kalau nanti kalian sudah terbukti menang,” jengek sang Kokcu, “Apa bila kalian dapat mengalahkan golok dan pedangku ini, tentu aku pasrah untuk kalian perbuat sesukamu, sebaliknya kalau kalian yang kalah, maka janji nikah tak boleh lagi kau ingkari.”

Siau-liong-li tersenyum tawar, katanya: “Jika kami kalah, biar dia dan aku terkubur saja di lembah ini.”

Tanpa bicara lagi Kongsun Kokcu lantas angkat senjata, golok emas menyambar, segera ia membacok ke arah Yo Ko. Cepat Yo Ko angkat pedangnya, dengan jurus ‘Pek-ho-hiang-ih’ (bangau putih pentangkan sayap) ia balas menyerang, itulah jurus asli ilmu pedang Coan-cin-pay.

Biar pun kuat dan tenang sekali jurus pedang Yo Ko, tapi cuma jurus yang jamak saja, maka diam-diam Kongsun Kokcu mendongkol terhadap Kim-lun Hoat-ong yang telah membual tentang kelihayan anak muda ini. Segera pedang hitam dia tusukkan ke depan, ternyata Siao-liong-li dikesampingkan olehnya, hanya Yo Ko seorang yang terus menerus diserangnya.

Dengan penuh perhatian Yo Ko melayani serangan musuh, yang digunakan adalah melulu Coan-cin-kiam-hoat (ilmu pedang Coan-cin-pay) yang dulu pernah dipelajarinya di kuburan kuno, akan tetapi sejak dia menemukan intisari ilmu silat dalam renungannya tempo hari, cara memainkan ilmu pedangnya sekarang sudah jauh berbeda dari pada waktu menempur Kim-lun Hoat-ong.

Sesudah menanti Kongsun Kokcu menyerang tiga kali, barulah Siao-liong-li ikut maju dan menyerangnya. Tapi ternyata Kongsun Kokcu tidak menangkis serangannya dengan golok emasnya, hanya ketika serangan Siao-liong-li tampak gencar dan berbahaya barulah menggunakan pedang hitamnya untuk menangkis, tampaknya Kongsun Kokcu sengaja mengalah.

Setelah mengikuti beberapa gebrakan, sambil tersenyum tiba-tiba Kim-Iun Hoat-ong berkata:

“Kongsun-heng, jika kau masih menyayangi si cantik, akhirnya mungkin kau sendiri yang harus menelan pil pahit.”

Dengan mendongkol Kongsun Kokcu menjawab: “Hwesio gede, kau jangan banyak bacot, bila perlu sebentar boleh kita coba-coba, sekarang tidak perlu kau memberi nasihat.”

Beberapa jurus kemudian kerja sama kedua pedang Yo Ko dan Siau-liong-li semakin baik. Suatu ketika pedang Siao-liong-li menebas dari kanan dan mendadak pedang Yo Ko menebas dari kiri. Dalam keadaan terjepit tanpa pikir Kongsun Kokcu menggunakan golok menangkis serangan Yo Ko, berbareng dia menggeser mundur sedikit dan pedang hitam digunakan menangkis serangan Siao-Iiong-li.

“Trangg...!”

Di luar dugaan, sebagian ujung golok emas tertebas kutung oleh pedang lawan. Keruan semua orang terkejut, sama sekali tak menyangka bahwa pedang tumpul yang digunakan Siao-liong-li bisa begitu tajam.

Yo Ko dan Siao-liong-li juga merasa heran bukan main. Padahal semula mereka memilih sepasang pedang tumpul ini hanya karena tertarik dengan namanya serta bentuknya yang serupa saja, tidak tahunya secara tidak sengaja malahan dapat memilih sepasang pedang mestika. Keruan semangat mereka bangkit seketika, mereka menyerang dengan lebih gencar.

Betapa pun ilmu silat Kongsun Kokcu memang sangat tinggi dan sepasang senjatanya yang lemas dan keras juga lain dari pada yang lain, makin lama daya tekanannya juga semakin kuat. Tapi diam-diam ia pun heran bahwa ilmu silat kedua anak muda yang jelas selisih jauh dengan dirinya ternyata bisa begitu lihay dalam permainan ganda. Dia pikir apa yang dikatakan Hwesio gede tadi agaknya memang tidak salah. Kalau saja aku dikalahkan mereka, wah, bisa jadi... sampai di sini ia tak berani membayangkan lebih lanjut.

Sekonyong-konyong golok di tangan kirinya menyerang ke kanan dan pedang di tangan kanan menyerang ke kiri, dia keluarkan permainan Im-yang-to-hoat yang lihay. Dengan pedang hitam di tangan kanan Kongsun Kokcu menyerang Yo Ko di sebelah kiri, ada pun golok bergigi di tangan kiri menyerang Siao-liong-li di sebelah kanan.
Pedang hitam yang tadinya lemas mendadak berubah lurus keras dan digunakan membacok mirip golok, sebaliknya goloknya yang besar bergigi itu justru menebas dan menusuk seperti pedang, Dalam pertarungan sengit itu kelihatan golok seakan-akan berubah menjadi pedang dan pedang seperti berubah menjadi golok, sungguh aneh dan sukar diraba.

Biasanya In Kik-si bangga mengetahui ilmu silat apa pun di dunia ini, tapi Im-yang-to-hoat yang dimainkan Kongsun Kokcu ini sungguh belum pernah dilihatnya selama hidup, bahkan mendengar pun belum pernah.

Segera Be Kong-co berteriak lagi: “He, kakek sialan, permainanmu yang kacau tak teratur itu ilmu silat apaan?”

Sebenarnya usia Kongsun-Kokcu belum ada 50 tahun, jadi baru terhitung setengah umur, malahan dia ingin kawin lagi dengan Siao-liong-li, tetapi berulang kali si dogol Be Kong-co telah berkaok memanggilnya si ‘kakek’, tentu saja dalam hati dia sangat gemas. Cuma sekarang ia pun tidak sempat urus Be Kong-co. Dia mainkan Im-yang-to-hoat yang sudah dilatihnya selama berpuluh tahun dengan tekad mengalahkan Yo Ko dan Siao-liong-li lebih dulu.

Tadinya permainan ganda sepasang pedang Yo Ko dan Siao-liong-li sesungguhnya sudah mulai unggul. Tapi mendadak pihak lawan berganti cara bertempur, golok dan pedangnya menyerang secara kacau dengan tipu serangan yang aneh, seketika mereka pun menjadi kelabakan terdesak dan berulang menghadapi bahaya.

Kepandaian Yo Ko sekarang sudah melebihi Siao-liong-li. Dia lihat daya tekanan pedang lawan lebih kuat dari pada golok bergigi, oleh karena itu dia sengaja menyambut semua serangan pedang lawan dan membiarkan Siao-liong-li melayani serangan golok bergigi. Ia pikir golok itu jelas tidak berani lagi diadu dengan pedangnya dan pula resikonya tak akan besar.

Cuma permainan golok musuh demikian aneh, ilmu pedang Coan-cin-kau asli juga sukar menandinginya, terpaksa harus bertindak menurut keadaan dan melihat gelagat, ia layani musuh dengan ilmu pedang ciptaannya sendiri. Padahal dulu Lim Tiau-eng, yaitu kakek guru Siao-liong-li, waktu menciptakan Giok-li-kiam-hoat berdasarkan khayalnya ketika malang melintang di dunia Kang-ow berduaan bersama Ong Tiong-yang, itu cakal-bakai Coan-cin-kau, sebab itu yang lelaki memainkan Coan-cin-kiam-hoat dan yang perempuan memainkan Giok-Ii-kiam-hoat, dengan demikian keampuhannya sukar ditandingi oleh jago silat mana pun juga.

Tapi sekarang Yo Ko menyampingkan Coan-cin-kiam-hoat dan menggunakan ilmu pedang ciptaan sendiri untuk melayani musuh. Meski Kiam-hoat ciptaannya ini juga tidak kurang lihaynya, namun setiap jurus serangannya hanya cocok dengan cita-rasa pribadinya saja dan tidak cocok main ganda dengan Giok-li-kiam-hoat yang dimainkan oleh Siao-liong-li, dengan demikian jadinya mereka seolah-olah bertempur sendiri-sendiri maka dengan sendirinya daya tempurnya menjadi jauh berkurang. Kongsun Kokcu menjadi girang.

“Trang-trangg-tranggg...!”

Beruntun ia membacok tiga kali dengan pedangnya, berbareng itu golok di tangan lainnya menyerang empat kali dengan gaya tusukan pedang. Serangan aneh ini masih dapat dilayani oleh Yo Ko, namun Siao-liong-li menjadi bingung karena tiada kerja sama yang baik dari Yo Ko. Pikirnya ingin menebas lagi ujung golok musuh, namun gerakan golok Kongsun Kokcu sekarang teramat cepat dan Iincah, betapa pun juga sukar dibentur lagi.

Yo Ko menyadari gelagat jelek, tanpa pikirkan keadaan sendiri yang terluka mendadak dia melancarkan sebuah jurus serangan Coan-cin-kiam-hoat yang disebut ‘Ma-ciu-lok-hoa’ (Kuda meloncat merontokkan bunga), dengan tekanan yang kuat dia memaksa Kongsun Kokcu melayani serangannya dengan kedua senjatanya, dengan begitu tekanan terhadap Siao-Iiong-li menjadi ringan.

Siao-liong-li sangat berterima kasih melihat anak muda itu membantunya tanpa hiraukan keselamatan sendiri. Dia pun langsung melancarkan serangan untuk membantu sehingga dengan begitu mereka telah kembali ke posisi tadi dengan cara menyerang dan bertahan bersama, daya tempur mereka mendadak bertambah kuat.

Sesudah beberapa jurus berlangsung lagi, dahi Kongsun Kokcu mulai berkeringat, sebaliknya daya tempur Siao-liong-li dan Yo Ko makin lancar dan kerja sama lebih rapat. Ketika Yo Ko melontarkan suatu serangan dengan menusuk pinggang lawan, cepat Siao-liong-li membarengi dengan serangan menusuk muka musuh, jurus ini dilakukan dengan penuh perasaan manis sambil melirik anak muda itu. Namun tiba-tiba saja dada Siao-liong-li serasa dipukul oleh palu besar, jari tangan kanan kesakitan dan hampir tidak kuat memegangi pedangnya. Air mukanya seketika berubah dan cepat dia melompat mundur.

“Hm, rasakan bunga cinta!” jengek Kongsun Kokcu.

Siao-liong-li tidak paham ucapannya, tapi Yo Ko mengetahuinya bahwa kesakitan Siau-liong-li itu adalah akibat bekerjanya racun bunga cinta yang durinya telah melukai jari tadi, Pada waktu melancarkan jurus serangan yang romantis dan perasaan terangsang, maka jarinya kesakitan sekali. Karena Yo Ko sendiri sudah pernah merasakan sakitnya tertusuk duri bunga cinta, dia menjadi kasihan kepada Siao-liong-li. Cepat dia bertanya:

“Apakah sangat sakit?”

Kesempatan itu segera digunakan Kongsun Kokcu untuk melancarkan serangan gencar dengan golok dan pedang. Sementara itu rasa sakit pada jari Siao-liong-li telah berkurang, cepat dia menubruk maju lagi untuk membantu.

“Biarlah kau mengaso sebentar,” ujar Yo Ko dengan penuh kasih sayang. Namun di luar dugaan, karena rangsangan perasaannya ini, jarinya sendiri menjadi kesakitan juga.

Betapa cerdik dan lihaynya Kongsun Kokcu. Begitu melihat ada peluang baik, pedangnya segera membacok.

“Cringgg...!”

Kun-cu-kiam (pedang lelaki) yang dipegang Yo Ko terbentur jatuh, menyusul pedang hitamnya menyambar tiba dan mengancam di depan dada anak muda itu. Siau-liong-li terkejut dan hendak menolongnya, tetapi dia terhalang oleh golok musuh dan tak dapat mendekat.

“Tangkap dia!” seru Kongsun Kokcu.

Serentak empat murid seragam hijau menubruk maju dengan membentang jaring, sekali tebar, seketika Yo Ko tertawan dalam jaring.

“Bagaimana kau, Liu-ji?” Kongsun Kokcu berpaling dan bertanya kepada Siao-liong-li.

Siao-liong-li menyadari sendirian pasti bukan tandingan sang Kokcu. Ia buang Siok-li-kiam (pedang perempuan) ke lantai.

“Cringg...!”

Terdengar suara nyaring, tahu-tahu Kun-cu-kiam dan Siok-li-kiam saling menyedot terus lengket menjadi satu. Rupanya pada kedua pedang itu terkandung daya semberani yang sangat kuat. Dengan tegas Siao-liong-li segera berkata:

“Pedang saja bisa begitu, masa manusia tidak? Bolehlah kau bunuh saja kami berdua!”

Kongsun Kokcu mendengus sekali, katanya: “lkut denganku, sini!” Lalu ia memberi salam kepada Kim-lun Hoat-ong dan lainnya sambil berkata: “Maaf, kutinggalkan sebentar.”

Segera ia mendahului melangkah ke ruang belakang. Dengan menyeret jaring keempat anak muridnya lantas ikut ke sana. Karena Yo Ko telah tertawan, dengan sendirinya Siao-liong-li juga ikut masuk.

“Hayo, Hwesio Gede dan Mayat Hidup, kita harus berdaya menolong kawan kita,” seru Be Kong-co kepada Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu.

Hoat-ong hanya tersenyum tanpa menjawab, sedangkan Siau-siang-cu lantas menjengek:

“Hmm, kau sendiri mempunyai badan segede gajah, apakah kau pikir mampu menandingi tuan rumah?”

Be Kong-co menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan merasa tak berdaya, maka terpaksa hanya menjawab:

“Tidak mampu menandingi juga harus melabrak dia, harus!”

Kongsun Kokcu terus melangkah dengan bersitegang leher dan masuk sebuah kamar batu kecil, lalu berkata kepada Siao-Iiong-li:

“Liu-ji, bukan maksudku hendak bikin susah kau, aku cuma berusaha mencegah kalau-kalau kau bunuh diri.”

Segera ia memberi tanda. Empat muridnya berseragam hijau terus menutupi tubuh Siao-liong-li dengan sebuah jaring dan diringkus, kemudian sang Kokcu berkata Iagi:

“Bawa ke sini beberapa ikat bunga cinta.”

Yo Ko dan Siau-liong-li sudah bertekad ingin mati bersama, keduanya hanya saling pandang dengan tersenyum saja dan tidak ambil pusing terhadap segala tindak perbuatan Kongsun Kokcu.

Selang tidak lama, sekonyong-konyong dari luar kamar teruar bau harum semerbak yang memabokkan. Pada saat Yo Ko berdua menoleh, terlihatlah belasan anak murid seragam hijau membawa masuk berikat-ikat rangkuman bunga cinta. Tangan mereka mengenakan sarung kulit untuk menjaga tusukan duri bunga.

Ketika Kongsun Kokcu memberi tanda perintah agar seluruh rangkuman bunga cinta itu diuruk di atas badan Yo Ko, seketika Yo Ko merasa sekujur tubuhnya seakan-akan digigit oleh beribu-ribu lebah sekaligus, kaki tangan berikut segenap ruas tulang terasa sakit tak tertahan, sampai akhirnya ia mengerang kesakitan.

Siao-liong-li merasa pedih dan kasihan serta gusar. Dia membentak Kongsun Kokcu: “Kau berbuat apa ini?!”

Dengan tegas Kongsun Kokcu berkata: “Liu-ji, sekarang adalah waktu upacara pernikahan kita harus berlangsung, tapi bocah ini telah mengacau sehingga saat bahagia kita dibikin berantakan olehnya. Sesungguhnya aku tidak pernah mengenal dia dan tiada permusuhan apa pun dengannya, apa lagi dia adalah kenalanmu yang lama. Asalkan tadi dia mau taat pada sopan santun sebagai seorang tamu, dengan sendirinya aku pun akan melayani dia dengan hormat, tetapi sekarang urusan sudah begini, terpaksa...” Sampai di sini dia memberi tanda agar anak muridnya keluar semua, dia menutup pintu kamar, lalu menyambung: “Sekarang aku minta kau memilih sendiri, ingin dia mati atau hidup, semuanya bergantung kepada keputusanmu.”

Di bawah tusukan duri bunga cinta yang tak terhitung banyaknya, sungguh rasa derita Yo Ko tak tertahankan, cuma dia tidak ingin si nona menyusahkannya, maka sebisanya dia mengertak gigi dan tutup mulut menahan rasa sakit.


BERKORBAN DEMI CINTA

Siao-liong-li memandangi muka anak muda itu dengan penuh rasa kasih mesra, pada saat itu juga racun duri bunga cinta yang melukai jarinya kumat lagi. Diam-diam ia pun berpikir: “Aku cuma tertusuk sedikit saja sudah begini sakit, apa lagi dia sekarang sekujur badannya ditusuki duri, mana dia tahan!”

Rupanya Kongsun Kokcu tahu isi hati si nona, katanya: “Liu-ji, dengan setulus hati aku ingin mengikat perjodohan denganmu, semua itu timbul dari cintaku padamu secara murni dan sama sekali tiada maksud buruk, dalam hal ini kau sendiri tentu paham.”

Siao-liong-li-mengangguk dan menjawab dengan pilu: “Kau memang sangat baik padaku, sebelum dia datang ke sini senantiasa kau menuruti segala keinginanku.” Dia menunduk sejenak sambil menghela napas panjang, lalu berkata lagi: ”Kongsun-siansing, kalau saja engkau tidak menemukan diriku tempo hari dan tidak menyelamatkan jiwaku sehingga aku sudah mati tanpa persoalan, maka segalanya tentu akan lebih baik bagi kita bertiga. Tapi sekarang kalau engkau memaksa aku menikah denganmu, tentu aku tidak akan gembira selama hidup ini dan apa manfaatnya pula hal ini bagimu?”

Kembali kedua alis Kongsun Kokcu mengerut rapat, dengan berat ia berkata: “Selamanya aku bicara satu tetap satu, bilang dua tetap dua, sekali-kali takkan sudi ditipu dan dihina orang. Kau sendiri sudah berjanji akan menikah dengan aku, maka janji itu harus ditepati. Mengenai suka duka atau sedih bahagia dapat berubah dan sukar diduga, maka biarlah kita ikuti saja kelanjutannya nanti.”

Kemudian dia menyambung: “Sekujur badan orang ini sudah terluka oleh duri bunga cinta, setiap satu jam rasa sakitnya akan bertambah satu bagian, dan setelah 6x6=36 hari nanti dia akan mati karena rasa sakit yang tak tertahankan. Dalam waktu 12 jam aku pasti bisa menyembuhkan dia dengan obat mujizat buatanku sendiri, akan tetapi selewat 12 jam biar pun malaikat dewata tak akan sanggup menolongnya. Maka dia harus mati atau hidup semuanya bergantung padamu.”

Sembari bicara dia melangkah perlahan ke pintu kamar dan membuka pintu, lalu menoleh dan berkata lagi:

“Jikalau lebih suka melihat dia mati kesakitan secara tersiksa, ya, terserah padamu, kau menunggu 36 hari di sini dan menyaksikan kematiannya. Lui-ji, sama sekali aku tiada bermaksud membikin celaka dirimu, untuk ini kau tidak perlu kuatir.” Habis berkata segera ia hendak melangkah keluar.

Siao-liong-li percaya apa yang dikatakan itu bukan omong kosong belaka. Dia pikir kalau dirinya dapat mati bersama dengan Yo Ko, maka segala urusan akan menjadi beres seluruhnya. Tetapi Kongsun Kokcu justru memakai cara keji ini, tampaknya Yo Ko sedang menahan rasa sakit, hal ini jelas terlihat dari tubuh anak muda itu yang gemetaran, bibirnya tergigit hingga berdarah, kedua matanya yang jeli dan bersinar tajam itu kini tampak guram.

Terbayang olehnya betapa menderita anak muda ini. Bila mana rasa sakit itu semakin bertambah pada setiap jam dan terus menerus tersiksa hingga 36 hari lamanya, mungkin di akhirat sekali pun tiada siksa derita sehebat itu. Mengingat begitu, dia menjadi nekat dan berkata:

“Baiklah, Kongsun-siansing, aku berjanji akan menikah dengan kau, sekarang lekaslah kau bebaskan dia dan ambilkan obat untuk menolongnya.”

Semenjak tadi Kongsun Kokcu mendesak Siao-liong-li, tujuannya justru ingin agar si nona mengucapkan demikian. Apa yang didengarnya sekarang membuatnya girang tapi juga iri dan gemas. Dia pun tahu sejak kini perempuan ini hanya akan merasa dendam dan benci padanya dan sekali-kali takkan ada rasa cinta. Namun begitu ia pun mengangguk dan menjawab:

“Baik, pikiranmu telah berubah, betapa pun ada baiknya bagi kita! Malam nanti setelah resmi kita menjadi suami-isteri, besok pagi segera kuberikan obat penawar padanya.”

“Silakan kau mengobati dia lebih dahulu,” ujar Siao-liong-li.

“Liu-ji, tampaknya kau terlalu memandang rendah kepadaku,” kata Kongsun Kokcu, “Biar pun kau sudah berjanji akan menjadi isteriku, akan tetapi sebenarnya kau tidak suka rela. Memangnya aku tidak tahu isi hatimu dan masa aku dapat menyembuhkan dia lebih dulu?” Sembari berkata dia terus melepaskan jaring ikan yang membungkus tubuh Siao-liong-li, lalu meninggalkan nona itu bersama Yo Ko di dalam kamar.

Kedua muda-mudi saling pandang, sampai sekian lama barulah Yo Ko membuka suara dengan perlahan:

“Kokoh, aku amat bahagia mendapatkan cintamu yang murni, sekali pun di alam baka aku akan terhibur. BoIehlah kau pukul mati saja lalu lekaslah engkau kabur sejauhnya dari sini.”

Siao-liong-li pikir gagasan ini baik juga, sesudah kupukul mati dia, segera aku membunuh diri. Segera dia mengangkat tangannya dan mengerahkan tenaga dalam. Sambil tersenyum simpul dan dengan sorot mata yang halus Yo Ko memandangi Siao-liong-li dengan rasa bahagia, desisnya dengan lirih:

“Saat ini adalah malam pengantin kita berdua.”

Melihat wajah si Yo Ko yang bersuka ria itu, tiba-tiba timbul lagi pikiran Siao-liong-li: “Anak muda yang begini cakap, apakah dosanya sehingga Thian harus membuat dia mati konyol sekarang?”

Tiba-tiba dadanya terasa sesak, tenggorokan terasa anyir, darah segar hampir tertumpah lagi, tenaga dalam yang tadinya telah terhimpun di tangan Siao-liong-li hilang seketika, Mendadak dia menubruk ke atas tubuh yang terbungkus jaring dan penuh bunga cinta itu, seketika beribu duri bunga mencocok tubuhnya, dengan suara halus dia berbisik:

“Ko-ji biarlah kita sama-sama menderita.”

“Buat apa kau berbuat begitu?” tiba-tiba suara seseorang menjengek di belakangnya. “Apakah rasa sakit tubuhmu dapat mengurangi rasa deritanya?”

Jelas itulah suara Kongsun Kokcu. Siao-liong-li memandang Yo Ko sekejap dengan perasaan remuk redam, perlahan-lahan dia memutar tubuh lalu melangkah keluar kamar dengan menunduk dan tanpa berpaling lagi.

“Adik Yo,” kata Kongsun Kokcu kepada Yo Ko, “lewat enam jam lagi nanti kubawakan obat mujarab untuk menolong kau. Selama enam jam ini kau harus berpikiran tenang dan bersih, sedikit pun tidak boleh timbul pikiran menyeleweng atau napsu birahi, dengan begitu walau pun ada rasa sakit juga tidak seberapa hebat.” Habis berkata ia terus keluar dan merapatkan pintu kembali.

Begitulah tubuh Yo Ko tersiksa dan hati pun terasa sakit. “Tadi kenapa Kokoh tidak jadi memukul mati aku saja?” demikian ia pikir. “Segala macam siksa derita yang pernah kurasakan, apa bila dibandingkan apa yang kurasakan sekarang sungguh bukan apa-apa. Kokcu ini benar-benar keji, mana aku boleh mati begitu saja dan meninggalkan Kokoh berada dalam cengkeramannya sehingga menderita selama hidup? Apa lagi sakit hati akibat kematian ayahnya belum terbalas, mana boleh manusia munafik sebangsa Kwe Ceng dan Oey Yong tidak diberi ganjaran yang setimpal?

Berpikir begitu, serentak timbullah semangatnya. “Tidak, aku tidak boleh mati, betapa pun aku tidak boleh mati! Sekali pun Kokoh menjadi nyonya rumah di sini akan kubebaskan dia dari cengkeraman Kokcu yang amat keji. Selain itu aku masih harus giat berlatih untuk menuntut balas sakit hati atas kematian ayah-ibu.”

Dengan tekad harus tetap hidup, segera dia duduk bersila. Meski terjaring sehingga tidak dapat duduk dengan baik, namun tenaga dalam bisa juga dikerahkan dan mulailah dia bersemedi. Selang agak lama, sesudah lewat lohor, datanglah seorang murid seragam hijau dengan membawa sebuah piring berisi empat potong roti tawar. Katanya kepada Yo Ko:

“Kokcu mengadakan pesta nikah, biar kau pun ikut makan yang kenyang.”

Segera dia ambilkan panganan seperti roti tawar itu dan menyuapi Yo Ko melalui lubang jaring. Tangannya terbungkus oleh kain tebal untuk menjaga cocokan duri bunga cinta. Tanpa ragu-ragu Yo Ko menghabiskan empat potong kue itu. Ia pikir kalau hendak perang tanding dengan Kokcu bangsat itu, maka aku tidak boleh kelaparan dan merusak tubuhku sendiri.

“Ehh, tampaknya napsu makanmu cukup besar juga,” ujar murid seragam hijau itu dengan tertawa.

Pada saat itulah tiba-tiba bayangan hijau berkelebat, secara diam-diam telah menyelinap masuk seorang murid baju hijau. Dengan berjinjit dia mendekati orang pertama tadi, lalu mendadak ia hantam sekuatnya punggung orang itu. Sebelum orang pertama sempat melihat siapa pendatang itu, dia sudah dipukul pingsan. Waktu Yo Ko mengamati, ternyata penyergap itu bukan lain dari pada Kongsun Lik-oh. Ia berseru kaget.

“He, kau...”

“Ssst, jangan bersuara, Yo-toako, aku datang untuk menolongmu!” desis Kongsun Lik-oh. Ia menutup pintu kamar, menyusul membukakan ikatan jaring dan menyingkirkan timbunan bunga cinta serta mengeluarkan Yo Ko.

Yo Ko menjadi ragu-ragu dan berkata: “Wah, jika diketahui ayahmu...”

“Biarlah kutanggung akibatnya,” ujar Kongsun Lik-oh sambil memetik secomot bunga cinta kemudian dijejalkan ke dalam mulut murid baju hijau agar tidak dapat berteriak bila siuman nanti. Habis itu ia bungkus pula orang itu dengan jaring ikan serta ditimbuni bunga cinta, lalu bisiknya kepada Yo Ko:

“Yo-toako, nanti kalau ada orang datang hendaklah kau cepat bersembunyi di belakang pintu. Kau keracunan bunga cinta, akan kuambilkan obat penawarnya di kamar obat ayah.”

Yo Ko sangat berterima kasih. Ia pun tahu si nona sengaja menghadapi bahaya besar menolongnya padahal mereka berkenalan belum ada satu hari, namun nona ini rela mengkhianati ayahnya sendiri. Dengan terharu ia berkata:

“Nona, aku... aku...” namun ia tidak mampu meneruskan lagi.

Kongsun Lik-oh tersenyum bahagia. Dia rela dihukum mati ayahnya melihat betapa terima kasih anak muda itu kepadanya. Segera ia berkata:

“Kau tunggulah sebentar, segera aku kembali ke sini.” Habis itu ia menyelinap keluar.

“Mengapa dia begitu baik padaku?” demikian Yo Ko termangu-mangu dan merenungkan nasibnya sendiri. Ia pikir meski pun dirinya berulang kali mengalami nasib buruk dan sejak kecil dihina dan dianiaya orang, namun di dunia ini ternyata tidak sedikit juga orang yang berbaik hati padanya.

Selain Kokoh masih ada Sun-popoh, Ang Chit-kong, juga ayah angkatnya, Auyang Hong serta Oey Yok-su ditambah lagi nona cantik seperti Thia Eng, Liok Bu-siang serta Kongsun Lik-oh sekarang ini, semuanya sangat baik. Yo Ko menjadi heran sendiri. Apa barang kali karena bintang kelahirannya yang terlampau aneh sehingga ada manusia yang begitu kejam padanya, tapi banyak juga manusia yang teramat baik padanya.

Padahal sebetulnya justru pengalamannya yang terlampau luar biasa. Orang yang pernah dikenalnya kalau tidak teramat baik tentu terlalu jahat, soalnya karena wataknya yang cenderung ke sudut ekstrim, siapa yang cocok dengan wataknya akan dia hadapi dengan tulus ikhlas, sebaliknya bila tidak cocok akan dipandang sebagai musuh. Cara beginilah ia menghadapi orang lain, dengan sendirinya orang lain juga membalasnya dengan cara yang sama.

Begitulah dia menunggu sampai sekian lama dengan bersembunyi di belakang pintu, tapi sampai lama Kongsun Lik-oh masih belum muncul. Sementara itu si murid baju hijau sudah siuman sejak tadi, tapi karena terbungkus oleh jaring ikan dan ditimbuni bunga cinta, kelihatan dia merasa cemas dan gusar.

Semakin lama menunggu semakin kuatir. Semula dia pikir mungkin di kamar obat itu ada orang sehingga belum ada peluang bagi Kongsun Lik-oh untuk mencuri obat, tetapi ia pikir, urusannya tentu tidak begitu sederhana. Biar pun gagal mencuri obat tentu si nona akan kembali memberi-tahu, tampaknya urusan banyak buruk dari pada selamatnya. Jika si nona mati menghadapi bahaya bagiku, mengapa aku diam saja di sini dan tidak berdaya untuk menolongnya.

Ia coba membuka pintu sedikit, dari celah pintu dia mengintip keluar, syukur di luar sunyi senyap tiada seorang pun. Dengan perlahan dia terus menyelinap keluar, tapi dia menjadi bingung karena tidak tahu di mana beradanya Kongsun Lik-oh. Selagi ia kebingungan, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang di tikungan sana. Cepat ia sembunyi, sejenak kemudian dua anak murid seragam hijau tampak mendatangi dengan jalan berjajar, tangan masing-masing menggenggam sebilah pentung yang biasanya dipakai sebagai alat perangkat pesakitan.

Tergerak hati Yo Ko: “Apakah mungkin Kongsun Lik-oh tertangkap oleh ayahnya dan kini akan diberi hukuman?” Segera dia mengikuti kedua orang itu dengan hati-hati.

Kedua orang itu sama sekali tidak tahu, mereka berjalan terus sambil membelok ke sana dan menikung ke sini, akhirnya sampai di depan sebuah kamar. Segera mereka berseru:

“Lapor, Kokcu, alat rangket sudah siap.” Lalu mereka mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Hati Yo Ko berdebar. “Kokcu bangsat itu ternyata benar ada di sini,” katanya di dalam hati.

Dilihatnya di sebelah timur kamar ada jendela, segera dia merunduk ke bawah jendela dan melongok ke dalam. Benar juga, kelihatan Kongsun Lik-oh sudah tertawan di situ. Tampak Kokcu duduk di tengah, dua muridnya dengan pedang terhunus berjaga di kiri kanan Kongsun Lik-oh. Setelah alat rangket diterima, segera Kongsun Kokcu mendengus:

“Lik-ji, kau adalah darah dagingku sendiri, kenapa kau tega mengkhianati ayahmu?”

Kongsun Lik-oh hanya menunduk dan tidak menjawab.

“Kau telah jatuh hati pada bocah she Yo itu, memang kau kira aku tidak tahu?” jengek pula Kongsun Kokcu, “Aku kan sudah menyatakan akan membebaskan dia, mengapa kau terburu-buru. Bagaimana kalau besok ayah bicara dengan dia dan menjodohkan kau padanya?”

Yo Ko bukan pemuda dungu, dengan sendirinya dia pun mengetahui Kongsun Lik-oh itu jatuh cinta padanya. Sekarang mendengar orang mengutarakan hal itu secara terang-terangan, betapa pun jantungnya berdetak keras dan air muka menjadi merah.

Sekonyong-konyong Kongsun Lik-oh mengangkat kepalanya dan berkata nyaring: “Ayah, saat ini engkau lagi memikirkan perkawinanmu sendiri, mana engkau sempat memikirkan kepentingan putrimu?”

Kongsun Kokcu hanya mendengus saja dan tidak menanggapi.

Segera Kongsun Lik-oh menyambung: “Ya, memang, anak memang kagum terhadap kepribadian Yo-kongcu yang setia dan berbudi itu, tapi anak pun tahu dalam hatinya telah terisi oleh Liong-kokoh seorang. Sebabnya anak menolong dia hanya karena tidak setuju atas tindak tanduk ayah dan tiada tujuan lain.”

Hati Yo Ko sangat terharu mendengar kata-kata itu. Dia pikir Kokcu bangsat dan jahat ini ternyata melahirkan puteri yang baik hati.

Air muka Kongsun Kokcu kelihatan kaku tanpa menunjuk sesuatu pun perasaan, katanya dengan hambar:

“Jadi menurut pandanganmu ayahmu ini orang jahat yang tidak berbudi, begitu?”

“Mana anak berani menuduh ayah demikian,” ujar Kongsun Lik-oh. “Cuma... cuma...”

“Cuma apa?” desak Kongsun Kokcu.

“Yo-kongcu tersiksa karena tusukan duri bunga cinta, mana dia sanggup menahan rasa sakitnya,” kata Kongsun Lik-oh. “Ayah, kumohon engkau suka berbuat bajik dan kasihan padanya, sudilah engkau membebaskan dia.”

“Hm, besok aku sendiri dapat membebaskan dia, buat apa kau ikut campur?” jengek sang ayah.

Untuk sejenak Kongsun Lik-oh termangu diam seperti sedang memikirkan sesuatu yang diragukan apakah harus diutarakannya atau tidak, tapi mendadak air mukanya mengunjuk penuh rasa keyakinan. Secara tegas dia berkata kepada sang, ayah:

“Ayah, anak sudah dibesarkan engkau, sedangkan Yo-kongcu baru kukenal, sebab apa anak malah membela dia? Apa bila besok ayah sungguh-sungguh mau mengobati dia dan membebaskan dia, masa anak masih berani lagi datang ke kamar obat ini?”

“Habis apa maksud kedatanganmu ini?” tanya Kokcu dengan bengis.

“Soalnya anak tahu ayah tidak bermaksud baik padanya,” jawab Lik-oh lantang. “Malam nanti sesudah ayah kawin dengan Liong-kokoh, tentu engkau segera membinasakan Yo-kongcu dengan keji untuk menghilangkan segala harapan Liong-kokoh.”

Sehari-harinya Kongsun Kokcu jarang memperlihatkan rasa senang atau gusarnya, segala urusan biasanya diselesaikan secara adil dan baik, terhadap anak muridnya juga sangat baik, sebab itulah anak buahnya sangat tunduk padanya.

Tapi Kongsun Lik-oh juga cukup kenal isi hati sang ayah, menghadapi pengacauan Yo Ko sekarang jelas ayahnya pasti akan membinasakan anak muda itu.

Karena isi hatinya dengan jitunya kena dikorek oleh anak perempuannya, Kongsun Kokcu menjadi gusar, jengeknya: “Benar-benar pelihara macan mendatangkan bencana. Sudah kubesarkan kau, tapi siapa tahu sekarang kau malah menggigit ayahmu sendiri. Serahkan sini!” Berbareng sebelah tangannya dijulurkan.

“Apa yang ayah inginkan?” tanya Likoh,

“Kau masih hendak berlagak pilon?!” bentak sang Kokcu, “Coat-ceng-tan (pil putus cinta)! Obat penawar racun bunga cinta itu!”

“Anak tidak mengambilnya,” jawab Lik-oh.

“Habis siapa yang mencurinya?!” teriak Kongsun Kokcu sambil berdiri.

Yo Ko mengamati isi kamar itu. Terlihat di atas meja, almari, penuh berderet botol obat, dinding juga banyak tergantung rumput obat yang tidak dikenal namanya. Di sebelah kiri sana bejajar tiga buah anglo pemasak obat, tentu kamar inilah yang disebut kamar obat. Kalau melihat muka Kongsun Kokcu yang bersungut itu, jelas Kongsun Lik-oh pasti akan mendapat hukuman berat. Terdengar nona itu berkata pula:

“Ayah, memang benar anak masuk ke sini ingin mencuri obat untuk menolong Yo-kongcu, tapi sekian lamanya kucari tetap tidak menemukan obatnya, kalau tidak masa dapat dipergoki Ayah?”

Dengan suara bengis Kongsun Kokcu membentak: “Tempat obat ini sangat dirahasiakan, beberapa orang luar sejak tadi juga berada di ruangan tamu, tapi sekarang Coat-ceng-tan bisa hilang mendadak, memangnya obat itu punya kaki dan dapat lari?”

Mendadak Lik-oh bertekuk lutut di hadapan sang ayah, katanya sambil menangis. “Ayah, sudilah engkau mengampuni jiwa Yo-kongcu. Suruh dia pergi dari sini dan dilarang datang lagi selamanya.”

“Hmm, kalau keselamatan ayahmu terancam, belum tentu kau sudi berlutut dan minta ampun kepada orang,” jengek Kongsun Kokcu.

Lik-oh tidak menjawab lagi, ia hanya menangis sembari merangkul kedua kaki ayahnya.

“Coat-ceng-tan sudah kau ambil, dengan cara bagaimana aku dapat menolongnya seperti permintaanmu?” ujar Kongsun Kokcu. “Baiklah, jika kau tidak mau mengaku terserah padamu. Boleh kau tinggal satu hari di sini. Obat itu sudah kau curi, tapi tidak dapat kau antarkan kepada bocah itu. Sesudah lewat 12 jam barulah kulepaskan kau nanti.” Habis berkata ia terus melangkah ke pintu kamar.

Kongsun Lik-oh maklum lihaynya racun bunga cinta, sedikit tercocok durinya akan menderita tiga hari, apa lagi sekarang sekujur badan Yo Ko tertusuk beribu durinya, dalam waktu 12 jam kalau tidak diberi obat tentu akan mati kesakitan. Sekarang ayahnya hendak pergi begitu saja, itu berarti hukuman mati bagi Yo Ko. Maka cepat ia berseru:

“Nanti dulu, ayah!”

“Apa lagi yang hendak kau katakan?” tanya sang ayah.

“Ayah, singkirkan dulu mereka,” kata Lik-oh sambil menuding keempat murid baju hijau.

“Setiap penghuni lembah kita ini adalah orang sendiri dan bersatu hati, tiada sesuatu yang perlu dirahasiakan,” ujar Kokcu.

Wajah Lik-oh tampak merah padam, akan tetapi segera berubah menjadi pucat, katanya kemudian:

“Baiklah engkau tidak percaya kepada perkataan anak, silakan engkau periksa apakah obat itu ada padaku atau tidak?”

Segera ia membuka baju sendiri, lalu melepaskan gaunnya. Sama sekali Kongsun Kokcu tidak menduga puterinya bisa berbuat senekat itu, cepat dia memberi tanda agar keempat muridnya keluar, lalu pintu kamar ditutup. Hanya sekejap Kongsun Lik-oh sudah menanggalkan pakaiannya kecuali kutang dan celana dalam, benar juga tidak nampak sesuatu benda apa pun pada tubuhnya.

Dari tempat sembunyi Yo Ko dapat melihat seluruh tubuh si nona yang putih bersih itu, maka seketika jantungnya berdetak keras. Dia adalah pemuda perkasa, sedangkan tubuh Kongsun Lik-oh amat montok serta berwajah cantik, betapa pun darahnya menjadi bergolak.

Namun segera teringat pula olehnya: “Ahh, dia ingin menyelamatkan jiwaku sehingga rela membuka bajunya. Wahai Yo Ko, apa bila kau memandangnya lagi sekejap, maka lebih rendahlah kau dari pada binatang.” Cepat ia pejamkan mata, namun karena pikiran kacau, tanpa sengaja dahinya membentur daun jendela.

Betapa lihainya Kongsun Kokcu, hanya suara benturan sedikit itu saja telah diketahuinya. Diam-diam ia mendapatkan akal. Ia mendekati ketiga anglo pemasak obat, anglo yang tengah didorongnya ke samping, anglo bagian kanan ditariknya ke tengah dan anglo sebelah kiri digeser ke kanan. Habis itu anglo yang tengah tadi di dorong ke sebelah kiri.

“Baiklah, jika begitu kuterima permintaanmu untuk mengampuni jiwa bocah itu,” kata sang Kokcu kemudian.

Lik-oh sangat girang dan berulang menyembah: “Ayah!” katanya dengan suara gemetar.

Kokcu itu duduk kembali pada kursi di dekat dinding, lalu berkata: “Tetapi tentu kau sudah mengetahui peraturanku, apa akibatnya jika sembarangan masuk kamar obat ini tanpa idzinku?”

“Hukuman mati,” jawab Lik-oh sambil menunduk.

“Meski pun kau puteri kandungku, namun peraturan tetap harus dilaksanakan. Kau mangkatlah baik-baik,” kata Kongsun Kokcu dengan menghela napas sambil meloloskan pedang hitam dan diangkat ke atas, tapi tiba-tiba ia berkata dengan suara halus: “Ai, anak Lik, kalau saja selanjutnya kau tidak membela bocah she Yo itu, maka jiwamu dapat kuampuni. Di antara kau dan dia hanya ada satu orang saja yang dapat diampuni. Coba katakan, mengampunkan dia atau kau?”

“Dia!” jawab Kongsun Lik-oh dengan suara perlahan tanpa ragu.

“Bagus, puteriku benar-benar seorang yang maha berbudi dan jauh melebihi ayahmu ini,” kata Kokcu, pedangnya terus membacok kepala Lik-oh.

“Nanti dulu!” seru Yo Ko dengan terkejut. Tanpa pikir lagi ia mendobrak jendela kemudian melompat ke dalam. Selagi tubuh masih terapung di udara dia pun berseru: “Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan nona Kongsun, silakan kau membunuh aku saja.”

Sebelah kakinya menutul lantai, tetapi baru tangannya hendak meraih pedang hitam Kongsun Kokcu, mendadak tempat kakinya berpijak terasa lembek, seperti menginjak tempat kosong. Diam-diam Yo Ko mengeluh:

“Celaka!”

Dia segera mengerahkan tenaga dalam, dengan sekuatnya dia angkat tubuhnya ke atas, dalam keadaan kaki tidak mendapatkan tempat berpijak, caranya mengangkat tubuh ke atas sungguh ilmu mengentengkan tubuh yang maha hebat.

“Sungguh sayang kepandaian sebagus itu!” terdengar Kongsun Kokcu berseru. Mendadak dia dorong Lik-oh sehingga tubuh nona itu terdoyong ke belakang dan menumbuk badan Yo Ko.

Yo Ko dapat merasakan dorongan Kokcu itu sangat keras, apa bila tubuh kedua orang tertumbuk tentu Kongsun Lik-oh akan terluka parah. Maka cepat dia menahan perlahan punggung si nona, dengan tenaga dalam yang lunak dia elakkan daya dorongan itu. Tapi karena itu juga dia sendiri menjadi sukar menggeser lagi ke samping, bersama Kongsun Lik-oh terus anjlok lurus ke bawah, terasa kosong di bawah kaki, tidak ada sesuatu yang terinjak, mereka terus anjlok ke bawah hingga berpuluh meter tetapi masih juga belum mencapai tanah.

Meski cemas dan gugup, tetapi dalam hati Yo Ko masih memikirkan keselamatan jiwa Kongsun Lik-oh. Dalam keadaan gawat dia angkat tubuh si nona ke atas, pandangannya terasa gelap gulita dan entah akan terjatuh di tempat mana, entah di bawah kakinya nanti apakah lautan api ataukah rimba belati?

“Byarrr...!”

Belum habis berpikir, mereka berdua terjeblos ke dalam air dan terus tenggelam ke bawah dengan cepat. Kiranya di bawah kamar obat itu adalah sebuah sumur yang sangat dalam. Pada detik tubuhnya menyentuh air itu, hati Yo Ko pun girang, dia tahu jiwanya dapatlah selamat untuk sementara. Bayangkan saja, mereka terjerumus dari ketinggian ber-puluh meter, sekali pun memiliki kepandaian tinggi akan terluka parah apa bila terbanting.

Lantaran anjlokan mereka itu sangat keras, dengan sendiri terceburnya ke dalam air juga dalam. Mereka terus tenggelam ke bawah seakan-akan tiada hentinya. Sekuatnya Yo Ko menahan napas, dia tunggu setelah daya menurunnya rada lambat, dengan tangan kiri dia rangkul Lik-oh dan tangan kanan digunakan mengayuh air supaya dapat timbul ke permukaan air. Pada saat itu juga hidungnya mengendus bau amis busuk, berbareng itu terdengar suara percikan gelombang air seperti ada makhluk raksasa air yang akan menyerangnya.

Sekilas timbul suatu pikiran dalam benak Yo Ko: “Kokcu bangsat ini menjebloskan kami berdua ke sini, mana dia bermaksud baik?”

Tanpa pikir tangan kanannya menghantam ke sebelah, terdengar suara keras disertai berdeburnya air. Dengan meminjam daya tolakan pukulan itu Yo Ko dapat muncul ke permukaan air sambil merangkul Kongsun Lik-oh. Sesungguhnya Yo Ko tidak dapat berenang. Dia sanggup bertahan dalam air adalah berkat menahan napas dengan Iwekang-nya yang tinggi. Maka dalam keadaan gelap gulita, hanya terdengar di sebelah kiri dan belakang suara percikan air yang sangat keras, cepat tangan kanannya menabok kesana dan mendadak tangannya menahan sesuatu benda yang kaku, keras dan dingin. Sungguh tidak kepalang kagetnya, dia pikir: “Masa betul di dunia ini ada naga?”

Sekuatnya ia menolak ke bawah hingga tubuhnya mencelat ke atas, sebaliknya makhluk air itu kena ditekannya ke bawah air. Yo Ko menarik napas panjang dan bersiap untuk terjebur lagi ke dalam air. Tak terduga di mana kakinya menginjak ternyata berada di atas batu karang, hal ini sama sekali tidak terduga olehnya. Lantaran salah dalam menggunakan tenaga pada kakinya, kini kakinya malah menjadi sakit menginjak batu.

Saking girangnya rasa sakit pun terlupakan. Ia coba meraba dengan tangan, kiranya batu karang itu terletak di pinggir sumur yang dalam itu. Kuatir diserang lagi oleh makhluk aneh tadi, cepat ia merangkak ke tepian yang lebih tinggi, di situ ia duduk untuk mengaso.

Kongsun Lik-oh sudah minum beberapa ceguk air dan dalam keadaan setengah pingsan, Yo Ko membiarkan nona itu mendekap di atas pahanya sambil memutahkan air. Terdengar suara batu karang dicakar dan digaruk oleh kuku besar disertai bau busuk amis yang menusuk hidung. Kembali dua ekor makhluk aneh itu merangkak ke atas.

“He, apa itu?” seru Kongsun Lik-oh kaget sambil bangkit duduk dan merangkul leher Yo Ko.

“Jangan takut, sembunyi saja di belakangku,” ujar Yo Ko.

Kongsun Lik-oh sama sekali tidak berani bergerak, dia merangkul semakin kencang. “He, buaya... buaya...!” serunya dengan suara gemetar.

Ketika masih tinggal di Tho-hoa-to, pernah juga Yo Ko melihat buaya dan tahu binatang itu sangat kejam dan ganas, jauh lebih lihay dari pada serigala atau harimau di daratan. Di kala bermain dengan Kwe Hu dan kedua saudara Bu, sering kali mereka bertemu dengan buaya, tapi mereka pun tak berani mengusiknya dan lebih suka menyingkir darinya. Tak terduga sumur di bawah tanah ini ternyata juga ada buayanya. Segera dia duduk dan mengerahkan tenaga pada kedua tangan serta mendengarkan dengan cermat. Ia lihat tiga ekor buaya mendekat.

“Yo-toako, tidak terduga kita akan mati bersama di sini,” bisik Kongsun Lik-oh.

“Biar pun mati juga kita harus membunuh beberapa ekor buaya ini,” kata Yo Ko dengan tertawa.

Dalam pada itu buaya yang terdepan sudah dekat, cepat Lik-oh berseru: “Hantam dia!”

“Sebentar Iagi,” ujar Yo Ko sambil menjulurkan sebelah kaki ke bawah batu karang.

Sesudah merambat lebih dekat lagi, tiba-tiba buaya pertama membuka mulut hendak menggigit Yo Ko. Cepat sekali Yo Ko menarik kakinya terus menendang ke bagian tenggorokan binatang itu. Tanpa ampun buaya itu terjungkal lantas tercebur ke dalam sumur. Terdengar suara berdeburnya air, kawanan buaya di dalam sumur menjadi kacau, sementara itu dua ekor buaya yang Iain juga sudah mendekat.

PERANGKAP SUMUR BUAYA

Walau pun menderita keracunan bunga cinta, akan tetapi ilmu silat Yo Ko sedikit pun tak terganggu. Tendangannya amat kuat, habis mengenai sasarannya ia sendiri merasa ujung kaki amat kesakitan, sedangkan buaya yang tercebur lagi ke dalam sumur masih dapat berenang dengan bebas, maka dapat dibayangkan betapa keras dan kuat kulit dagingnya.

Yo Ko pikir kalau cuma dengan tangan kosong tentu sukar melayani buaya sebanyak itu, akhirnya dirinya dan si nona pasti akan menjadi isi perut binatang buas itu, maka rasanya harus mencari akal supaya kawanan buaya dapat dibinasakan semua. Ia coba meraba batu karang sekitarnya dengan mencari sepotong batu sebagai senjata, tetapi batu karang itu terasa halus licin, sebutir pasir pun tiada. Dalam pada itu dua ekor buaya telah datang mendekat, cepat ia tanya Kongsun Lik-oh:

“Apakah kau membawa senjata?”

“Aku?” si nona mengulang.

Segera teringat olehnya akan tubuhnya sendiri yang sekarang hanya mengenakan kutang dan celana dalam saja, berada dalam pelukan si Yo Ko. Seketika ia merasa malu, namun dalam hati pun merasa manis bahagia.

Karena perhatiannya tercurah kepada kawanan buaya, Yo Ko tidak memperhatikan sikap nona yang kikuk itu, kedua tangannya menghantam sekaligus dan tepat mengenai kepala dua ekor buaya itu. Kedua buaya itu kurang gesit dan juga tidak berusaha menghindar, namun kulit dan sisiknya sangat keras. Buaya itu cuma kelengar saja, lalu terperosot ke dalam kolam walau pun tidak mati.

Pada saat lain dua ekor buaya merayap tiba, sebelah kaki Yo Ko cepat mendepak hingga salah seekor terpental ke dalam kolam. Tapi lantaran terlalu keras menggunakan tenaga maka rangkulannya kepada Kongsun Lik-oh menjadi kurang kencang tubuh si nona ikut tergeser miring ke samping kemudian tergelincir ke bawah.

Keruan Kongsun Lik-oh menjerit kaget. Syukur sebelah tangannya sempat menahan pada batu karang, dengan sekuatnya dia meloncat ke atas, pula Yo Ko sudah bantu menahan punggungnya sehingga dapatlah si nona tertolong ke atas. Tetapi karena selingan itu, buaya terakhir sudah berada di samping Yo Ko, mulutnya terpentang lebar terus menggigit pundak anak muda itu.

Dalam keadaan begitu Yo Ko tidak sempat memukul atau menendang lagi. Meski pun dapat melompat menghindar tetapi bila mulut buaya yang lebar itu terkatup, bukan mustahil badan Kongsun Lik-oh yang akan menjadi mangsanya. Tiada jalan lain, terpaksa kedua tangan Yo Ko bekerja sekaligus, ia pentang mulut buaya itu sekuatnya, mendadak ia menggertak keras dan mengerahkan tenaga.

“Kletak!” terdengar suara berkeletak, moncong buaya yang panjang itu sempal dan robek, seketika mati.

Walau pun sudah membinasakan buaya buas itu, Yo Ko sendiri pun berkeringat dingin.

“Kau tidak cidera bukan?” tanya Lik-oh kuatir.

“Tidak,” jawab Yo Ko, hatinya sedikit terguncang mendengar suara si nona yang halus dan penuh simpatik itu.

Karena terlalu kuat mengeluarkan tenaga, kedua lengan sendiri terasa rada sakit. Memandangi bangkai buaya yang tergeletak di atas batu karang, dalam hati Kongsun Lik-oh sangat kagum, katanya:

“Dengan bertangan kosong cara bagaimana engkau dapat membinasakan dia? Dalam kegelapan engkau ternyata dapat melihatnya dengan jelas.”

“Cukup lama aku tinggal di kuburan kuno bersama Kokoh, asal ada sedikit cahaya terang saja dapatlah aku melihatnya,” kata Yo Ko.

Teringat kuburan kuno dan Siao-liong-li, tanpa terasa ia menghela napas. Oleh karena itu mendadak seluruh badan terasa kesakitan, tanpa dapat ditahan dia menjerit sekerasnya.

Dua ekor buaya sebenarnya sedang merambat ke atas karang. Karena jeritan Yo Ko yang menyeramkan itu, buaya menjadi kaget lantas melompat kembali ke dalam kolam.

Cepat Kongsun Lik-oh memegangi lengan Yo Ko, sementara tangan yang lain mengusap perlahan dahi anak muda itu dengan harapan akan dapat mengurangi rasa sakitnya.

Yo Ko menyadari tubuhnya sendiri yang keracunan, sekali pun tidak terjeblos ke dalam sumur di bawah tanah ini juga hidupnya takkan lama lagi. Menurut cerita Kongsun Kokcu, aku akan menderita selama 36 hari baru mati, namun rasa sakit yang sukar ditahan ini, asal kumat beberapa kali lagi terpaksa aku akan membunuh diri saja. Tetapi sesudah aku mati, nona ini akan kehilangan teman dan pelindung, bukankah harus dikasihani? Padahal beradanya dia di sini adalah disebabkan membela diriku. Ya, apa pun penderitaanku aku harus bertahan dan tetap hidup, semoga Kokcu itu masih mempunyai perasaan sebagai ayah dan akhirnya berubah pikiran lalu mau menolong puterinya keluar dari sini.

Karena memikirkan Kongsun Lik-oh dan untuk sementara melupakan Siao-liong-li, maka rasa sakitnya segera mereda. Katanya kemudian:

“Nona Kongsun jangan kuatir, kuyakin nanti ayahmu pasti akan menolong kau. Dia cuma benci padaku seorang, terhadapmu dia tentu merasa sayang, kini dia pasti menyesali.”

Dengan air mata berlinang Kongsun Lik-oh berkata: “Ketika ibuku masih hidup, memang ayah sangat sayang padaku. Tapi setelah ibu meninggal makin hari makin dinginlah ayah terhadapku. Namun kutahu dalam... dalam hatinya tidaklah... tidaklah benci padaku.” Dia berhenti sejenak dan teringat kepada macam-macam kejadian aneh, tiba-tiba dia berkata puIa: “Yo-toako, bila kupikir sekarang, rasanya ayah sebenarnya takut padaku.”

“Mengapa dia bisa takut padamu? Sungguh aneh,” ujar Yo Ko.

“Memang begitulah,” kata Lik-oh “Dahulu selalu kurasakan gerak-gerik ayah kurang wajar apa bila bertemu denganku, seakan-akan di dalam hatinya tersimpan sesuatu rahasia dan kuatir diketahui olehku.”

Walau pun sudah lama Lik-oh merasa heran atas sikap ayahnya, tetapi setiap kali memikirkan hal itu, selalu dia anggap barang kali ayahnya merasa sedih karena wafat ibunya sehingga perangainya juga rada berubah. Tetapi terceburnya dia ke dalam kolam buaya ini jelas perangkap yang telah diatur.

Ketika ayahnya menggeser tiga anglo di kamar obat itu, jelas itulah pesawat rahasianya. Kalau dikatakan ayah cuma dendam kepada Yo Ko dan harus membunuhnya, maka anak muda ini sudah terkena racun bunga cinta, asal tidak diberi obat penawar tentu dia akan binasa, apa lagi dia terjeblos ke dalam kolam buaya ini. Lantas apa sebabnya ayah mesti mendorong diriku pula ke dalam kolam ini? Tenaga dorongannya yang keras itu jelas tiada lagi punya perasaan seorang ayah terhadap anak perempuannya.

Begitulah makin dipikir semakin sedih hatinya, semakin jelas duduknya perkara. Semua tindak dan kata sang ayah dahulu yang membingungkan dan sering dianggapnya aneh, kalau dipikirkan sekarang jelas semua itu disebabkan oleh rasa ‘takut’, cuma apa sebabnya seorang ayah bisa merasa takut terhadap puteri kandungnya sendiri inilah yang sukar dipahami.

Sementara itu dalam kolam sedang terjadi hiruk pikuk, kawanan buaya tengah berpesta pora mengganyang bangkai buaya yang dibunuh Yo Ko tadi sehingga tak ada seekor pun yang menyerang ke atas karang. Melihat si nona termangu-mangu, Yo Ko bertanya:

“Apakah mungkin ada rahasia ayahmu yang dipergoki olehmu tanpa sengaja?”

“Tidak,” jawab Lik-oh sambil menggeleng. “Tindak tanduk ayah sangat kereng dan tertib, cara menyelesaikan urusan juga adil dan bijaksana sehingga setiap orang sangat hormat dan merasa segan padanya. Tindakannya terhadap dirimu memang tidak baik, tapi biasanya beliau tidak pernah berbuat hal-hal kurang wajar.”

Karena tidak tahu seluk beluk keadaan Cui-sian-kok masa Ialu, dengan sendirinya Yo Ko lebih-lebih tidak dapat ikut memecahkan persoalan yang dipikirkan si nona.

Kolam buaya itu berada di bawah tanah yang amat dalam, dinginnya menyerupai goa es, apa lagi kedua orang basah kuyup, tentu saja rasa dingin merasuk tulang. Bagi Yo Ko yang sudah pernah berlatih Iwekang dengan tidur di dipan batu kemala di kuburan kuno tempat Siao liong-li, sedikit rasa dingin ini tidaklah menjadi soal. Tetapi Kongsun Lik-oh jelas tidak tahan, dia menggigil kedinginan dan meringkuk dalam pelukan Yo Ko.

Yo Ko pikir jiwa anak perempuan ini dalam bahaya, hatinya tentu merasa sedih dan takut, maka dia sengaja berkelakar agar dapat menyenangkan hati Lik-oh. Dilihatnya kawanan buaya sedang berebut pangan di dalam kolam secara ganas dan menyeramkan, maka dengan tertawa ia berkata:

“Nona Kongsun, kalau nanti kita mati semua, pada jelmaan hidup yang akan datang kau ingin menjelma menjadi apa? Kalau buaya yang buruk ini, terang aku tidak mau.”

Lik-oh tersenyum dan menjawab: “Jika begitu boleh kau menjelma menjadi bunga Cui-sian saja, harum lagi cantik dan disukai setiap orang.”

“Hanya engkau yang sesuai menjelma jadi bunga.” ujar Yo Ko dengan tertawa. “Kalau umpama aku menjelma menjadi bunga paling-paling bunga terompet atau bunga tahi sapi.”

Kongsun Lik-oh terkekeh geli, katanya: “Kalau Giam-lo-ong (raja akhirat) menyuruh kau menjelma menjadi bunga cinta, kau mau tidak?”

Yo Ko terdiam dan tidak menjawab, diam-diam dia merasa gemas, pikirnya: “Sebenarnya gabungan ilmu pedangku dengan Kokoh pasti akan dapat menusuk Kokcu bangsat itu, konyolnya justru Kokoh tertusuk oleh duri bunga cinta di kamar senjata itu, sedangkan Giok-li-kiam-hoat justru harus dimainkan oleh dua orang yang bersatu hati dengan penuh rasa mesra baru nampak daya kerjanya. Ai, agaknya memang sudah takdir dan apa daya, hanya saja Kokoh entah berada di mana sekarang.

Teringat pada Siao-liong-li, tiba-tiba luka di berbagai tempat tubuhnya menjadi kesakitan lagi. Begitu melihat anak muda itu diam saja, Kongsun Lik-oh tahu seharusnya dirinya jangan menyebut lagi bunga cinta, maka cepat dia menyimpangkan pokok bicara, katanya:

“Yo-toako, engkau dapat melihat buaya, tapi pandanganku gelap dan tidak melihat apa-apa.”

“Moncong kawanan buaya itu sangat buruk, lebih baik jangan kau melihatnya. “ ujar Yo Ko tertawa sambil menepuk perlahan bahu si nona sebagai tanda simpatiknya, tanpa terduga kalau tangannya menyentuh badan yang halus licin tanpa baju.

Rupanya Kongsun Lik-oh telah membuka pakaiannya ketika ayahnya menuduh ia mencuri obat sehingga yang dia pakai sekarang hanya tinggal kutang saja, dengan sendirinya dari pundak hingga lengan tiada tertutup sesuatu. Yo Ko terkejut dan cepat-cepat menarik kembali tangannya.

Kongsun Lik-oh membayangkan keadaan dirinya tentu telah dapat dilihat seluruhnya oleh anak muda yang sanggup melihat sesuatu di tempat gelap itu, betapa pun juga ia menjadi malu. Kalau tadi mereka saling meringkuk menjadi satu ketika berusaha menghalau kawanan buaya tanpa memikirkan soal lelaki dan perempuan, sekarang yang satu menarik kembali tangannya dan yang lain merasa malu, keadaan malah menjadi serba kikuk.

Yo Ko menggeser duduknya agar rada jauh, lalu menanggalkan bajunya sendiri untuk diselampirkan pada tubuh si nona. Waktu membuka baju ia menjadi teringat kepada Siao-liong-li dan juga terbayang Thia Eng yang sudah menjahitkan bajunya itu, terpikir pula Liok Bu-siang yang rela mati baginya. Ia menjadi gegetun karena tak dapat membalas budi kebaikan nona-nona itu.

Kongsun Lik-oh memakai baju Yo Ko dan mengikat tali pinggangnya. Tiba-tiba ia merasa dalam saku baju Yo Ko ada bungkusan kecil, ia merogohnya keluar dan diserahkan kepada yang empunya, katanya:

“Apakah ini? Apakah kau takkan menggunakannya?”

Yo Ko menerima dan berkata dengan heran: “Barang apa ini?”

“Barang dalam sakumu, masa kau malah bertanya padaku?” ujar Lik-oh dengan heran.

Waktu Yo Ko mengamati, kiranya satu bungkusan kecil dari kain kasar warna biru yang selamanya belum pernah diIihatnya. Segera dia membukanya, pandangannya terbeliak. Ternyata bungkusan itu berisi empat macam barang, di antaranya sebilah belati kecil, pada gagang belati itu terbingkai sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang mengeluarkan sinar.

“Hei!” seru Lik-oh sambil mencomot sebuah botol kecil warna hijau dalam bungkusan itu: “lni Coat-ceng-tan!”

Yo Ko terkejut sekaligus girang bukan main, tanyanya: “lnikah Coat-ceng-tan yang dapat menyembuhkan racun bunga cinta?”

“Ya, sampai lama sekali aku mencarinya di kamar obat ayah tetapi tidak menemukannya, mengapa malah sudah diambil olehmu?” jawab Lik-oh kegirangan. “Cara bagaimana kau mengambilnya? Mengapa tidak kau minum saja? Ahh, barang kali kau tidak tahu bahwa ini Coat-ceng-tan yang kita cari.”

Yo Ko menggaruk-garuk kepala, katanya: “Memang sama sekali aku tidak... tidak tahu. Sungguh aneh, mengapa botol... botol obat ini bisa berada dalam saku bajuku?”

Berkat cahaya yang dipantulkan oleh belati yang mengkilat, Kongsun Lik-oh melihat benda-benda di dekatnya. Terlihat isi bungkusan itu kecuali belati dan Coat-ceng-tan masih ada pula secarik kertas dan setengah potong Lengci (sejenis obat tumbuh-an yang berkhasiat seperti kolesom dsb).”

Tergerak pikiran Lik-oh, katanya: “He, potongan Lengci itu jelas dipetik oleh Lo-wan-tong.”

“Lo-wan-tong? Kau tidak keliru?” kata Yo Ko.

“Ya, pasti dia,” jawab Lik-oh. “Kamar penyimpan Lengci di bawah pengurusanku, Lengci ini jelas-jelas berasal dari sana. Sewaktu Lo-wan-tong mengobrak-abrik di sini, membakar kitab dan lukisan, mencuri pedang, merusak anglo dan memetik Lengci, semua itu adalah perbuatannya.”

“Ya, ya tahulah aku!” tiba-tiba Yo Ko berseru menyadari duduknya perkara.

“Ada apa?” tanya Lik-oh.

“Sekarang aku tahu, Ciu-locianpwe itulah yang telah menaruh bungkusan kecil ini dalam bajuku,” kata Yo Ko.

Sekarang ia pun tahu sebenarnya Ciu Pek-thong bermaksud membantunya secara diam-diam, maka dari sebutan ‘Lo-wan-tong’ digantinya dengan sebutan ‘Ciu-locianpwe’.

Kongsun Lik-oh juga mulai paham duduknya persoalan, ia tanya: “Dia yang menyerahkan padamu?”

“Tidak,” sahut Yo Ko. “Tokoh Bu-Iim yang jenaka ini tindak tanduknya benar-benar sukar dijajaki. Dia mengambil gunting dan kedok di luar tahuku, malahan aku pun tidak tahu sama sekali kalau dia juga menaruh bungkusan kecil ini dalam bajuku. Aih, sungguh kepandaianku teramat jauh kalau dibandingkan orang tua itu.”

“Agaknya memang begitulah,” kata Lik-oh. “Ketika ayah menuduh dia mencuri dan suruh dia mengembalikan barangnya, Lo-wan-tong malah mem... membuka pakaiannya di depan orang banyak dan memang tidak membekal sesuatu benda apa pun.”

“Ia membuka semua pakaian sampai telanjang bulat sehingga Kokcu juga kena dikelabui. Kiranya bungkusan ini sudah dia alihkan ke dalam bajuku,” kata Yo Ko sambil tertawa.

Lik-oh membuka gabus tutup botol itu. Dengan hati-hati dia menuang obat pada telapak tangannya, ternyata hanya tertuang keluar satu butir pil yang bentuknya persegi seperti dadu, warnanya hitam mulus, baunya amis dan busuk. Pada umumnya obat pil tentu berbentuk bundar supaya mudah meminumnya, meski obat kapsul tentu juga berbentuk lonjong, akan tetapi pil berbentuk persegi begini sungguh tak pernah dilihat oleh Yo Ko. Ia coba mengambilnya dari tangan si nona kemudian diamat-amatinya.

Kemudian Kongsun Lik-oh meng-goyang botol itu, lalu dituang pula serta di-ketok pada telapak tangahnya, namun ternyata tiada isinya lagi.

“Sudah kosong, hanya satu biji ini,” katanya.

“Lekas engkau meminumnya, bisa runyam kalau sampai jatuh ke kolam.”

Selagi Yo Ko hendak memasukkan pil itu ke mulut, dia jadi merandek mendengar si nona menyatakan obat itu cuma satu biji. Segera ia menegas:

“Mengapa isi botol cuma satu biji? Masih ada tidak di tempat ayahmu?”

“Justru cuma ada satu biji ini, maka sangat berharga, kalau tidak, buat apa ayah marah-marah padaku,” kata Lik-oh.

Yo Ko terkejut, katanya: “Kalau begitu, dengan cara bagaimana ayahmu akan menolong Kokoh-ku yang sekujur badannya tercocok duri bunga cinta?”

“Pernah kudengar cerita Toa-suhengku, katanya pil ini mestinya ada dua biji, tetapi entah kenapa kemudian cuma tersisa satu biji ini saja,” tutur Lik-oh, “Bahkan resep pembuatan obat ini sudah hilang, ayahku sendiri tidak tahu cara membuat obat ini, sebab itu Toa-suheng memberi peringatan agar waspada dan jangan sampai terkena racun duri bunga itu.”

“Wah, jika begitu, mengapa ayahmu belum datang menolong kau?” seru Yo Ko gegetun.

Kongsun Lik-oh cukup cerdas, dia pun paham isi hati anak muda itu. Melihat Yo Ko telah mengembalikan lagi pil itu ke dalam botol, dengan menghela napas perlahan dia berkata:

“Yo-toako, demikian besar cintamu terhadap nona Liong, masa ayahku tidak tahu diri? Aku tahu, engkau bukan mengharapkan ayahku datang menolong diriku, lebih dari itu kau justru mengharapkan kubawa serta Coat-ceng-tan ini ke atas sana untuk menyelamatkan jiwa nona Liong.”

Karena isi hatinya dengan tepat dikatai, Yo Ko tersenyum dan berkata: “Seumpama racun di dalam tubuhku dapat disembuhkan, tetapi sukar juga bagiku untuk hidup di kolam buaya ini, dengan sendirinya lebih penting menolong jiwa Kokoh-ku saja.”

Lik-oh tahu tiada gunanya membujuk anak muda itu untuk meminum pil, diam-diam dia menyesal tadi telanjur bicara terus terang tentang satu-satunya pil itu, segera dia berkata:

“Meski Lengci ini tak dapat menawarkan racun, tapi amat berfaedah bagi kesehatan tubuh, lekas kau memakannya saja.”

Yo Ko mengiyakan. Ia lalu memotong Lengci itu menjadi dua, ia sendiri makan sebagian, sebagian lagi dijejalkan ke mulut Lik-oh sambil berkata:

“Entah kapan baru ayahmu akan datang menolong kau, maka makanlah sepotong Lengci ini untuk menghalau hawa dingin.”

Melihat kesungguhan hati anak muda ini, Lik-oh tidak tega menolaknya, maka segera dia membuka mulut dan makan potongan Lengci itu. Umur Lengci ada ratusan tahun, maka sesudah makan Lengci, seketika kedua orang merasakan badan segar dan hangat, semangat bangkit dan pikiran pun terang.

Tiba-tiba Lik-oh berkata: “Setelah Coat-ceng-tan ini dicuri Lo-wan-tong, jelas ayah sudah tahu juga bahwa janjinya menyembuhkan kau hanya sekadar menipu nona Liong, bahkan memaksa aku menyerahkan obat ini juga cuma pura-pura saja.”

Sebenarnya sudah sejak tadi hal ini terpikir oleh Yo Ko, cuma dia tidak ingin menambah rasa sedih si nona, maka hingga kini belum dibeberkannya. Sekarang hal itu terucap dari Lik-oh sendiri, maka dia pun berkata:

“Sesudah kau dilepaskan ayahmu, kelak kau perlu berhati-hati, paling baik kalau berusaha meninggalkan tempat ini.”

“O, agaknya kau tidak kenal pribadi ayah,” ujar Lik-oh. “Sekali dia mendorong aku ke kolam buaya ini, betapa pun dia takkan melepaskan aku lagi. Yo-toako, masa engkau melarang aku mati bersama kau di sini?”

Selagi Yo Ko hendak menghiburnya, mendadak seekor buaya merambat lagi ke atas karang dan sebelah kakinya tepat meraih kertas yang jatuh dari bungkusan kecil tadi. Tergerak hati Yo Ko, katanya:

“Coba kita lihat apa yang tertulis di kertas itu.”

Segera dia angkat belatinya dan menusukkannya pada bagian antara kedua mata buaya.

“Bless...!”

Dengan mudah saja belati itu menembus kulit buaya yang keras dan tebal. Ternyata belati itu adalah senjata mestika yang sangat tajam. Buaya itu berkelojotan beberapa kali lalu terguling ke dalam kolam dan binasa.

“Kita mempunyai belati ini, maka celakalah bagi kawanan buaya itu,” ujar Yo Ko dengan girang. Perlahan dia ambil kertas yang sudah rada basah itu, belati yang dipegangnya dipepetkan pada kertas, dari pantulan sinar mutiara di gagang belati dapatlah terbaca tulisan di atas kertas. Tapi setelah mereka mengamati, satu huruf saja tidak tampak, yang ada cuma lukisan menyerupai pemandangan alam, ada rumah, bukit dan sebagainya.

Yo Ko merasa lukisan berupa corat-coret itu tidak ada sesuatu yang menarik, maka kertas itu ditaruhnya lagi ke atas karang. Tetapi Kongsun Lik-oh yang ikut membaca mendadak berkata:

“lni adalah denah bangunan perkampungan Cui-sian-kok. Lihat, inilah sungai kecil ketika kalian datang ke sini, yang ini ruangan depan, ini kamar senjata, itu kamar obat dan...” sembari bicara si nona juga menunjukkan bagian-bagian peta yang dimaksud.

“He, lihat ini, lihatlah!” mendadak Yo Ko berseru heran sambil menunjuk kolam besar yang terlukis di bawah kamar obat.

“Ya, inilah kolam buaya dan... ahh, malahan ada jalan tembusannya di sini,” kata Lik-oh.

Menurut peta itu, di tepi kolam buaya terlukis sebuah tembusan, seketika mereka menjadi bersemangat, cepat Yo Ko mengambil peta itu lalu dicocokkan dengan keadaan di sekitar kolam, katanya kemudian:

“Kalau apa yang terlukis di dalam peta ini tidak bohong, maka selewatnya jalan tembus, di sana tentu ada lagi jalan keluarnya, cuma...”

“Di sinilah letak keanehannya,” sambung Lik-oh. “Jalan tembus ini terlukis menyerong ke bawah, padahal kolam buaya ini sudah jauh di bawah tanah. Kalau menyerong turun lagi, lalu menembus ke mana?”

Setelah mereka mengamati lagi peta itu, jalan tembus yang dilukis itu pun berhenti sampai di tepi kertas sehingga tidak diketahui menembus ke mana akhirnya.

“Apakah soal kolam buaya ini pernah kau dengar dari ayahmu atau Toa-suhengmu?” tanya Yo Ko.

Lik-oh menggeleng, jawabnya: “Sekarang barulah kuketahui bahwa di bawah kamar obat terdapat makhluk buas sebanyak ini, mungkin Toa-suheng sendiri pun tidak mengetahui.”

Yo Ko mengamati keadaan sekeliling, terlihat di depan sana ada segulung bayangan yang kelam, agaknya di sanalah terletak mulut jalan tembusan yang dimaksud, namun jaraknya agak jauh sehingga tidak terlihat dengan jelas. Ia menjadi sangsi jangan-jangan di lorong itu terdapat makhluk buas lainnya dan bukan mustahil jauh lebih berbahaya dari pada kawanan buaya ini.

Tapi dari pada duduk menanti ajal, masih lebih baik kalau menyerempet bahaya. Asalkan nona Kongsun dapat diselamatkan keluar dari sini sehingga bisa mengantar pil ini kepada Kokoh, maka tercapailah sudah cita-citaku. Segera dia menyerahkan belati ke tangan Lik-oh dan berkata:

“Coba kulihat ke seberang sana.” Sekali loncat tahu-tahu dia sudah melayang ke tengah kolam.

Lik-oh menjerit kaget, tampak olehnya sebelah kaki Yo Ko menginjak bangkai buaya yang masih mengambang dan sekali Ioncat lagi, kaki yang Iain menutul punggung seekor buaya. Ketika buaya itu ambles ke bawah air, Yo Ko sudah melayang sampai di seberang. Dia berdiri mepet pada dinding karang, sebelah tangannya yang coba meraba ke sana terasa kosong, segera dia berseru:

“Ya, memang betul ini jalannya.”

Ginkang Kongsun Lik-oh tidak setinggi Yo Ko, dia tidak berani melompat ke sana menurut cara anak muda itu. Yo Ko pikir kalau melompat kembali ke sana untuk menggendong si nona, tentu gerak geriknya tak leluasa sehingga sulit juga menggunakan buaya sebagai batu loncatan. Tapi urusan sudah telanjur, maka segera ia berseru:

“Nona Kongsun, coba kau lemparkan bajuku ke sini setelah kau celupkan di air.”

Walau pun tidak tahu apa maksud tujuannya tapi Lik-oh melakukan permintaan anak muda itu. Dia menanggalkan baju Yo Ko yang dipakainya dan dicelup ke dalam kolam, lalu dia gulung dan berseru:

“lni terimalah!” Sekuatnya ia lantas menyambitkan gulungan baju basah itu ke seberang.

Sesudah menerima baju itu, segera Yo Ko melompat ke sisi sana dan berdiri pada tempat dekukan dinding karang, tangan kirinya memegang kencang pada sebuah tonjolan karang, tangan kanan terus memutar bajunya yang telah dibasahi dan diluruskan menjadi sepotong tali besar, serunya.

“Coba kau perhatikan suaranya!” Segera ia menyabetkan bajunya ke depan terus ditarik kembali.

“Blukk!”

Bajunya yang basah itu tepat memukul mulut lorong itu. Berturut dia berbuat begitu tiga kali, lalu bertanya:

“Sudah jelas letak mulut gua ini?”

Dari suara “bluk-bluk” tadi Lik-oh membedakan arah dan jauh dekat tempatnya, segera ia menjawab:

“Ya, aku tahu jelas.”

“Sekarang melompatlah dan pegang ujung baju yang aku ayunkan ini, akan kulemparkan kau ke seberang sana,” kata Yo Ko.

Sehabis Yo Ko berkata, Lik-oh memandang ke sana, tetapi keadaan di sana tetap gelap kelam. Dia rada takut dan berkata:

“Aku... aku tak...”

“Jangan takut,” kata Yo Ko dengan tertawa.

“Jika kau gagal memegang ujung baju dan terjeblos ke ko!am, segera aku terjun ke sana untuk menolong. Kalau tadi saja kau tidak takut kepada kawanan buaya, apa lagi sekarang sesudah mempunyai belati mestika ini, kenapa takut?”

Segera dia mengayunkan gulungan bajunya lagi. Terpaksa Kongsun Lik-oh harus meloncat, dua kakinya menggenjot sekuatnya pada batu karang, segera tubuhnya melayang ke udara, didengarnya suara menyambarnya gulungan baju di udara, kedua tangannya meraih, syukur tangan kanan berhasil memegang ujung baju itu.

Begitu Yo Ko merasa tangannya terbetot, sekuatnya ia terus menyendal hingga tubuh si nona dapat dilontarkan ke mulut goa tadi. Kuatir kalau nona itu kurang mantap berdirinya, setelah mengayunkan bajunya ia langsung melompat pula ke sana dan menolak perlahan pinggang si nona untuk kemudian duduklah mereka di mulut goa.

“Bagus sekali gagasanmu ini,” seru Lik-oh kegirangan.

“Tapi dalam goa ini entah ada makhluk buas apa, terpaksa kita pasrah nasib saja,” ujar Yo Ko sambil tertawa. Segera ia menerobos ke dalam lorong goa itu sambil membungkuk.

“Gunakan senjata ini untuk membuka jalan,” kata Lik-oh sambil menyodorkan belati pada Yo Ko.

Mulut goa amat sempit, maka keduanya merangkak maju. Lantaran hawa lembab kolam buaya, bagian dalam goa ternyata berlumut dan licin, bahkan berbau apek dan busuk.

“Pagi tadi kita masih menikmati pemandangan alam dan bunga yang mekar semerbak, tetapi siapa tahu beberapa jam kemudian berada di tempat seperti ini, sungguh aku telah membikin susah saja padamu,” kata Yo Ko sembari merangkak ke depan.

“Ini bukan salahmu,” ujar Lik-oh.

Setelah merangkak sekian Iama, terasalah lorong goa itu memang terus menyerong turun ke bawah, tapi makin jauh makin kering dan bau busuk juga mulai lenyap.

“Ahh, tampaknya habis merasakan pahit kini mulai merasakan manisnya, kita sudah mulai memasuki wilayah bahagia.”

“Yo-toako,” kata Lik-oh sambil menghela napas, “aku tahu hatimu sendiri susah, tak perlu engkau sengaja membikin senang hatiku.”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari sebelah kiri berkumandang suara gelak tawa seorang perempuan:

“Ha-ha-ha-ha-ha-haaah!”

Jelas sekali suara itu adalah suara orang tertawa, tapi kedengarannya justru mirip orang menangis, suara “ha-ha” itu bernadakan rasa sedih memilukan luar biasa. Selamanya Yo Ko dan Kongsun Lik-oh tidak pernah mendengar suara yang bukan tangis dan bukan tawa itu, apa lagi di dalam goa yang gelap dan seram tiba-tiba mendengar suara aneh itu, tentu saja lebih mengejutkan dari pada mendadak kepergok binatang buas dan makhluk yang menakutkan.

Yo Ko sebenarnya pemuda yang tabah dan pemberani, tapi tidak urung kaget juga oleh suara itu sehingga ubun-ubun kepalanya kesakitan membentur atap goa. Lebih-lebih Lik-oh, dia bahkan mengkirik dan merangkul kencang kaki Yo Ko.

THI-CIO-LIAN-HOA (Si Bunga Teratai Bertangan Besi)

Untuk sejenak Yo Ko berhenti merangkak dan pasang telinga, tapi sedikit pun tiada suara orang lagi. Kedua orang menjadi serba salah, ingin maju terus takut, mau mundur penasaran.

“Apakah setan?” bisik Lik-oh dengan suara lirih sekali.

Siapa tahu suara ‘tangis-tawa’ tadi kembali berkumandang, lalu terdengar katanya: “Betul, aku ini setan, aku ini setan! Ha-ha... ha-ha-haaah!”

Yo Ko pikir bila dia mengaku sebagai setan maka pasti bukanlah setan. Sebab itu dengan berani segera dia menanggapi dengan suara lantang:

“Cayhe bernama Yo Ko, bersama nona Kongsun sedang tertimpa bencana, yang kami harapkan hanya cari selamat dan sama sekali tidak bermaksud jahat terhadap orang lain.”

“Nona Kongsun?” tiba-tiba orang itu menyela, “Nona Kongsun apa?”

“Puteri Kongsun Kokcu, namanya Kongsun Lik-oh,” jawab Yo Ko.

Habis tanya jawab ini, lalu lenyaplah suara di sebelah sana, se-akan orang itu mendadak hilang sirna tanpa bekas. Ketika orang itu mengeluarkan suara ‘tangis bukan dan tawa tidak’ itu, sebenarnya Yo Ko berdua amat ketakutan. Kini keadaan mendadak menjadi sunyi senyap, dalam kegelapan kedua orang itu merasa lebih ngeri sehingga mereka meringkuk berdekapan tanpa berani bergerak.

Selang agak lama sekonyong-konyong orang itu kembali membentak: “Kongsun Kokcu apa maksudmu?! Apakah Kongsun Ci?!” Nadanya penuh rasa marah dan dendam.

Dengan menabahkan hati Kongsun Lik-oh menjawab: “Benar, memang ayahku bernama Ci. Apakah Locianpwe kenal ayahku?”

“He-he-he, apakah kukenal dia? Apakah kukenal dia? He-he!” demikian orang itu terkekeh aneh.

Lik-oh tidak berani menanggapi lagi, terpaksa diam saja. Selang sejenak, mendadak orang itu membentak:

“Dan kau bernama siapa?!”

“Wanpwe bernama Lik-oh, Lik artinya hijau dan Oh artinya kelopak bunga,” demikian Lik-oh menjelaskan.

Orang itu mendengus: “Hmm! Coba katakan, kau dilahirkan tahun kapan, bulan dan hari apa serta waktunya kapan?”

Tentu saja Lik-oh menjadi terheran-heran. Dia tidak mengerti untuk apa orang aneh ini menanyakan waktu kelahirannya. Apakah bermaksud jahat padaku? Dia coba membisiki Yo Ko:

“Bolehkah kukatakan padanya?”

Belum lagi Yo Ko menjawab, tiba-tiba orang itu menjengek lagi: “Tahun ini kau berumur 18, lahir pada pukul 12 siang tanggal 3 bulan 2, betul tidak?”

Lik-oh sangat terkejut, serunya tersendat: “Dari... dari mana engkau ta... tahu?”

Tiba-tiba timbul semacam firasat aneh yang sukar terkatakan, dia merasa yakin manusia aneh ini pasti takkan membikin susah dirinya. Cepat dia mendahului Yo Ko merangkak ke sana, sesudah berputar beberapa belokan tiba-tiba pandangannya terbeliak. Terlihat seorang nenek botak dan setengah badan telanjang duduk di atas tanah dengan wajah gusar tapi berwibawa. Lik-oh menjerit kaget sambil berdiri dengan melenggong. Kuatir si nona mengalami apa-apa, cepat Yo Ko menyusul ke sana.

Tampaklah tempat di mana si nenek botak itu duduk adalah lekukan batu alam, sebuah goa yang tak diketahui berapa dalamnya, di bagian atas ada sebuah lubang besar yang tengahnya bulat seluas dua-tiga meter, dari situlah sinar matahari memancar masuk. Cuma saja lubang besar itu terletak ratusan meter tingginya dari permukaan tanah. Besar kemungkinan nenek ini terjatuh dari lubang besar itu lantas untuk seterusnya tidak dapat keluar lagi.

Karena goa itu terletak jauh di bawah tanah, sekali pun berteriak dan menjerit sekerasnya sulit terdengar oleh orang yang lewat di atas sana. Cuma aneh juga, jatuh dari tempat setinggi itu ternyata nenek botak ini tidak terbanting mampus, sungguh luar biasa dan sukar dimengerti.

Yo Ko melihat si nenek menutupi bagian bawah tubuhnya dengan kulit pohon serta daun-daunan. Barang kali sudah terlalu lama dia meringkuk di dalam goa ini hingga pakaiannya sudah hancur semua. Nenek itu tahu juga munculnya Yo Ko, tapi tidak digubrisnya, Kongsun Lik-oh saja yang diamat-amatinya. Tiba-tiba dia tertawa sedih, katanya:

“Cantik amat kau, nona...”

Lik-oh membalas dengan tersenyum manis, dia melangkah maju lalu memberi hormat serta menyapa:

“Selamat, Locianpwe!”

Kembali nenek itu menengadah sambil mengeluarkan suara ‘tangis bukan tawa tidak’, lalu berkata:

“Locianpwe apa? Ha-ha-ha, selamat? Aku selamat! Aha-ha-ha-haah!” Habis ini mendadak wajahnya penuh rasa marah dan matanya melotot.

Tentu saja Lik-oh merasa bingung dan takut karena tidak tahu di mana letak ucapannya tadi yang telah membikin marah si nenek. Ia menoleh kepada Yo Ko sebagai tanda minta bantuan.

Yo Ko berpendapat mungkin si nenek sudah terlalu lama hidup terpencil dan tersiksa lahir batin di goa ini sehingga pikirannya menjadi abnormal, maka dia menggeleng kepada Lik-oh sambil tersenyum sebagai tanda supaya nona itu jangan pikirkan sikap si nenek yang aneh. Di samping itu Yo Ko justru lagi berpikir cara bagaimana dapat merambat keluar lubang di atas. Namun letak lubang teramat tinggi, sekali pun dengan Ginkang yang maha tinggi sukar mencapainya.

Sementara itu Lik-oh memperhatikan si nenek dengan penuh perhatian. Dilihatnya pada kepala si nenek yang botak itu hanya ada beberapa utas rambut yang amat jarang-jarang, mukanya penuh keriput, namun kedua matanya bersinar tajam, dari raut mukanya dapat dibayangkan di masa dahulu si nenek pasti seorang wanita cantik. Sementara si nenek pun masih memandangi Kongsun Lik-oh tanpa berkedip. Jadinya kedua orang hanya saling pandang saja dan tidak menggubris Yo Ko sama sekali.

Sejenak kemudian mendadak nenek itu berkata: “Di sebelah kiri pinggangmu ada sebuah toh merah, betul tidak?”

Kembali Lik-oh terkejut, pikirnya: “Toh merah pada tubuhku ini sekali pun ayah kandungku belum tentu tahu, mengapa nenek yang terasing di goa bawah tanah ini malah tahu dengan jelas? Ia juga tahu waktu kelahiran, tampaknya dia pasti mempunyai hubungan yang sangat erat dengan keluargaku.”

Karena itu segera dia bertanya dengan suara lembut: “Nenek, engkau pasti kenal ayahku dan tentu juga kenal mendiang ibuku, bukan?”

Nenek itu melengak, lalu menggumam: “Mendiang ibumu...? Mendiang ibumu? Ha-ha-ha, sudah tentu kukenal.” Tiba-tiba suaranya berubah bengis, dia membentak: “Hm, pinggangmu ada toh merah seperti kutanyakan tadi tidak? Lekas kau buka pakaianmu dan perlihatkan kepadaku, kalau berbohong sedikit saja seketika akan kubinasakan kau di sini.”

Lik-oh berpaling sekejap kepada Yo Ko dengan muka merah jengah, dan segera Yo Ko membalik tubuh ke arah sana. Maka Lik-oh membuka baju Yo Ko yang dipakainya, lalu menyingkapkan sebagian kutang dan celananya. Terlihatlah pada pinggangnya yang putih bersih itu memang betul ada sebuah toh merah sebesar ibu jari.

Melihat sekejap saja toh merah itu, seketika tubuh si nenek gemetaran, air matanya tiba-tiba bercucuran terus merangkul Lik-oh dengan erat sambil berseru:

“Oh, permata hatiku, betapa selama ini ibu merindukan kau.”

Melihat sikap dan air muka si nenek saja secara otomatis telah menggugah watak alamiah seorang anak terhadap ibunya. Terus saja Lik-oh mendekap si nenek sekencangnya dan berseru sambil menangis

“Oh, ibu!”

Mendengar orang di belakangnya saling berseru, yang seorang memanggil ‘permata hati’ dan yang lain menyebut ibu, Yo Ko terkejut dan cepat berpaling. Dilihatnya kedua orang saling mendekap kencang, jelas Kongsun Lik-oh sedang menangis tersedat dan muka si nenek juga kelihatan penuh ingus dan air mata. Ia menjadi heran apakah nenek botak ini benar-benar ibu nona Kongsun?

Pada saat lain tiba-tiba saja tampak alis nenek itu menegak dan air mukanya berubah beringas, mirip sekali dengan Kongsun Kokcu apa bila hendak menyerang orang. Yo Ko menjadi kuatir kalau-kalau nenek ini akan mencelakai Kongsun Lik-oh, maka ia pun cepat melangkah maju. Tapi segera terlihat si nenek menepuk perlahan bahu Lik-oh kemudian membentak:

“Coba berdiri sana, aku hendak tanya kau.”

Lik-oh tercengang dan menjauhi tubuh si nenek sambil memanggil lagi sekali: “lbu...”

Tiba-tiba nenek itu membentak dengan bengis. “Untuk maksud apa Kongsun Ci menyuruh kau ke sini? Suruh kau membohongi aku dengan kata-kata manis, bukan?”

Lik-oh menggeleng dan berseru: “O, ibu, kiranya engkau masih hidup di dunia ini. O, ibu!” Air mukanya jelas memperlihatkan rasa girang dan haru, inilah perasaan murni seorang anak terhadap ibunya, sedikit pun tidak pura-pura.

Tapi nenek botak itu tetap membentak lagi: “Kongsun Ci bilang aku sudah mati, bukan?”

“Anak telah menderita selama belasan tahun dan mengira sudah piatu tak beribu, ternyata ibu masih hidup dengan baik, sungguh girang hatiku sekarang,” kata Lik-oh.

“Dan siapa dia?” tanya si nenek menuding Yo Ko. “Untuk apa kau membawanya ke sini?”

“Dengarkan dulu ceritaku, ibu,” kata Lik-oh lalu dia pun menguraikan cara bagaimana Yo Ko datang ke Cui-sian-kok serta terkena racun duri bunga cinta, cara bagaimana kedua orang terjeblos ke dalam kolam buaya. Hanya mengenai Kongsun Kokcu hendak menikah dengan Siao-liong-li tidak diceritakannya untuk menjaga supaya sang ibu tidak menaruh dendam dan cemburu.

Air muka si nenek tampak lebih tenang sesudah mendengar cerita itu, pandangannya terhadap Yo Ko juga semakin simpatik, sampai akhirnya ketika mengetahui Yo Ko sudah membinasakan buaya dan menyelamatkan Lik-oh ber-ulang, nenek itu manggut-manggut dan berkata:

“Bagus, anak muda, bagus! Tidak sia-sia puteriku penujui kau.”

Wajah Lik-oh menjadi merah dan menunduk malu. Yo Ko pun merasa serba kikuk untuk menuturkan seluk beluk dirinya, dia hanya berkata:

“Kongsun-pekbo (bibi), sebaiknya kita mencari akal untuk bisa keluar dari sini.”

Tiba-tiba si nenek menarik muka dan berkata: “Kongsun-pekbo apa katamu? Selanjutnya jangan lagi kau menyebut perkataan Kongsun segala, jangan kau kira kaki tanganku ini tak bertenaga, jika aku hendak membunuh kau, boleh dikatakan teramat mudah bagiku.”

“Crot!” mendadak dari mulutnya menyemprot keluar sesuatu dan...

“Cring...!” terdengar suara yang nyaring, belati di tangan Yo Ko dengan tepat terbentur, seketika tangan Yo Ko terasa kesemutan, dan “trang”, tahu-tahu belati itu terlepas lantas jatuh ke tanah.

Dalam kagetnya cepat Yo Ko melompat mundur. Waktu dia mengawasi, ternyata di tepi belati ada satu butir biji kurma. Yo Ko terkejut dan juga merasa sangsi, pikirnya: “Dengan tenaga yang kugunakan untuk memegangi belati ini, walau pun roda emas Kim-Ium Hoat-ong, gada si Darba atau golok bergigi Kongsun Kokcu juga sukar menggetar jatuh belatiku ini, tapi satu biji kurma yang disemburkan dari mulut nenek ini ternyata mampu menjatuhkan senjata dalam cekalanku. Meski aku sendiri memang tidak bersiaga, namun dari sini pun dapat dibayangkan betapa hebat ilmu silat si nenek yang sukar diukur ini,”

Melihat kegugupan air muka Yo Ko, cepat Lik-oh berkata kepadanya: “Jangan kuatir, Yo-toako, ibuku pasti takkan mencelakai kau.” Segera ia mendekati dan pegang tangan anak muda itu, lalu berpaling dan berkata kepada sang ibu: “Engkau jangan marah, ibu, boleh engkau suruh dia ganti sebutan saja. Dia kan tidak tahu persoalannya.”

“Baiklah,” ujar nenek itu sambil tertawa, “nyonya selamanya tidak pernah ganti nama atau she, Thi-cio-lian-hoa (si bunga teratai bertangan besi) Kiu Jian-jio ialah diriku ini. Dan cara bagaimana kau memanggil aku, he-he, memangnya masih perlu tanya? Tidak lekas kau menyembah dan menyebut ‘ibu mertua’ padaku?”

Cepat Lik-oh menyela: “lbu, sesungguhnya Yo-toako dan anak tiada apa-apa, dia hanya... hanya bermaksud baik saja kepada anak dan tiada kehendak...”

“Hm,” si nenek alias Kiu Jian-jio mendengus, “tiada apa-apa katamu dan tiada kehendak lain? Habis mengapa kau cuma memakai baju dalam dan sebaliknya memakai bajunya?” Mendadak dia perkeras suaranya dan setengah menjerit: “Kalau bocah she Yo ini berani meniru cara kotor dan rendah seperti Kongsun Ci, hm, tentu akan kubinasakan dia di sini. Nah, orang she Yo, kau mau menikahi anakku atau tidak?”

Melihat cara bicaranya seperti orang gila dan sulit diberi penjelasan, Yo Ko menjadi serba salah. Sungguh aneh, baru pertama kali kenal sudah memaksa dirinya menikahi puterinya? Bila ditolak secara terang-terangan, dikuatirkan pula akan menyinggung perasaan Lik-oh. Apa lagi ilmu silat nenek ini sangat tinggi dan perangainya aneh, kalau sampai membikin marah tidak mustahil seketika akan dibunuh olehnya. Padahal mereka sekarang bernasib sama, yakni terkurung di goa bawah tanah, yang penting hanya mencari jalan meloloskan diri.

Karena itu sambil tersenyum berkatalah Yo Ko: “Hendaklah Locianpwe jangan kuatir, nona Kongsun telah menolong aku dengan segala pengorbanan, Yo Ko bukanlah manusia yang tidak berperasaan, betapa pun budi kebaikan nona Kongsun tidak akan kulupakan selama hidup.”

Ucapan Yo Ko ini cukup licin, meski tidak jelas menyanggupi akan menikahi Kongsun Lik-oh, tetapi terasa memuaskan bagi pendengaran Kiu Jian-jio. Nenek ini manggut-manggut dan berkata:

“Baiklah kalau begitu.”

Kongsun Lik-oh paham isi hati Yo Ko, dipandangnya sekejap anak muda itu dengan sorot yang menyesal dan perasaan hampa, lalu menunduk dan tidak bicara lagi. Selang sejenak baru dia berkata kepada Kiu Jian-Jio:

“Mengapa engkau bisa berada di sini, ibu? Sebab apa ayah justru bilang engkau sudah meninggal dunia sehingga membikin anak berduka selama belasan tahun. Jika anak mengetahui engkau berada di sini, dengan cara apa pun anak pasti akan mencari ke sini.”

Dilihatnya bagian atas tubuh sang ibu telanjang, kalau baju Yo Ko itu diberikan kepadanya berarti dia sendiri yang kurang pakaian, maka terpaksa Lik-oh merobek sebagian baju itu untuk disampirkan di atas bahu sang ibu.

Diam-diam Yo Ko menyayangkan nasib baju yang dibuatkan oleh Siao-liong-li itu. Hatinya menjadi berduka sehingga merangsang racun bunga cinta, seketika itu sekujur badan terasa kesakitan.

Melihat itu, tiba-tiba Kiu Jian-jio meraba pangkuannya seperti hendak mengambil sesuatu, tapi setelah dipikir lagi akhirnya tangan ditarik kembali dalam keadaan kosong.

Dari gerakan sang ibu, Lik-oh melihat sesuatu. Segera dia memohon: “Oh ibu, tentu engkau dapat menyembuhkan racun bunga cinta itu, bukan?”

Dengan hambar Kiu Jian-jio menjawab: “Aku sendiri dalam keadaan susah, orang lain tak mampu menolong aku, mana aku dapat menolong orang lain?”

“Tapi asalkan ibu menolong dia, tentu dia akan berusaha menolong ibu juga,” kata Lik-oh cepat. “Andaikan engkau tidak menolong dia juga, Yo-toako akan membantu kau sepenuh tenaga. Betul tidak, Yo-toako?”

Sebenarnya Yo Ko tidak menaruh simpatik terhadap Kiu Jian-jio yang eksentrik itu, cuma mengingat si Lik-oh, dengan sendirinya dia harus membantu sebisanya, maka jawabnya:

“Ya, sudah tentu. Locianpwe telah berdiam sekian lamanya di sini, tentu sudah amat apal dengan keadaan tempat ini, apakah dapat memberi petunjuk sekedarnya?”

Kiu Jian-jio menghela napas, katanya: “Meski tempat ini amat dalam di bawah tanah, tapi tidaklah sulit jika mau keluar dari sini.”

Ia memandang Yo Ko sekejap, lalu menyambung. “Tentu dalam hati kau sedang berpikir, apa bila tidak sulit untuk keluar, lantas mengapa engkau masih menongkrong saja di sini? Ai, ketahuilah bahwa urat nadi kaki dan tanganku sudah putus, seluruh ilmu silatku sudah punah.”

Sejak tadi Yo Ko memang melihat anggota badan nenek itu rada kurang wajar, maka dia pun tidak heran mendengar keterangan itu. Tapi Lik-oh menjerit lantas berseru:

“Oh, ibu, siapakah yang mencelakai engkau? Kita harus menuntut balas.”

“Hm, menuntut balas? Apakah kau tega membalasnya?” jengek Kiu Jian-jio. “Orang yang memutuskan urat kaki dan tanganku justru bukan Iain dari pada Kongsun Ci adanya.”

Setelah mengetahui nenek itu adalah ibu kandung sendiri, dalam hati Lik-oh samar-samar sudah mulai membayangkan hal demikian, kini sang ibu mengatakannya sendiri, maka tak urung hati Lik-oh tergetar juga, segera dia bertanya:

”Apa sebabnya ayah berbuat begitu terhadap ibu?”

Kiu Jian-jio melirik Yo Ko sekejap, lalu berkata: “Sebab aku telah membunuh satu orang, seorang perempuan muda cantik jelita. Hm, sebab aku telah membunuh perempuan yang dicintai Kongsun Ci.” Bicara sampai di sini dia menggertak gigi hingga berbunyi gemertak.

Lik-oh menjadi takut sehingga rada menjauhi sang ibu dan menyurut mendekati Yo Ko. Seketika dalam goa itu suasana menjadi sunyi senyap.

Tiba-tiba Kiu Jian-jio berkata: “Kalian tentu sudah lapar, bukan? Di sini hanya bisa mengisi perut dengan kurma.” Habis berkata ia terus berjongkok dan merangkak ke depan dengan gerakan yang sangat cepat seperti binatang.

Pedih dan haru hati Yo Ko dan Lik-oh melihat kelakuan orang tua itu, sebaliknya Kiu Jian-jio selama belasan tahun sudah terbiasa merangkak cara begitu, maka bukan soal lagi baginya. Segera Lik-oh bermaksud menyusul ke sana untuk memayang ibunya, tapi terlihat orang tua itu sudah berhenti di bawah sebatang pohon kurma yang besar.

Sulit dibayangkan entah berapa tahun yang lalu dari udara telah jatuh satu biji bibit kurma dan mulai tumbuh di dalam goa ini, kemudian mulai menjalar dan berkembang biak hingga seluruhnya di dalam goa kini tumbuh beberapa puluh pohon kurma. Jika saja dulu tidak pernah terjatuh satu biji kurma atau bibit kurma itu tak dapat tumbuh, maka kedatangan Yo Ko dan Lik-oh di dalam goa sekarang ini hanya akan menyaksikan setumpuk tulang belulang belaka. Siapakah yang akan menduga tulang ini adalah seorang tokoh Bu-lim yang maha sakti, bahkan Lik-oh juga tidak akan mengetahui tulang belulang inilah ibu kandungnya sendiri.

Begitulah Kiu Jian-jio telah menjemput satu biji buah kurma terus dimakan. Kemudian dia menengadah, sekali semprot biji kurma terbidik ke atas dan tepat mengenai dahan pohon. Dahan pohon kurma itu terguncang dan rontoklah buah kurma laksana hujan.

Yo Ko manggut-manggut dan membatin: “Kiranya cacat anggota tubuhnya telah memaksa dia berlatih ilmu menyemprot biji kurma yang lihay, hal ini menandakan Thian (Tuhan) memang tidak pernah membikin buntu kehidupan manusia.”

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar