Waktu itu Tin-ok berkata bahwa ia harus pergi ke Leng-oh-tin di daerah Siangcu, apa bila urusan selesai ia sendiri akan datang kembali buat terima kematian, kalau keempat orang itu bersedia memberi hidup lebih lama beberapa hari kepadanya, dia akan mengambilkan beberapa pil ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ yang amat mujarab untuk luka-luka dalam, yaitu obat buatan Oey Yok-su dari Tho-hoa-to sebagai balas budi. Sejak kakinya dipatahkan, keempat orang itu memang selalu menderita sakit encok yang jahat. Kini mendengar Tin-ok bersumpah takkan membocorkan tempat sembunyi mereka, juga tak akan mengajak pembantu, barulah kemudian mereka menetapkan harinya untuk bertemu kembali di kelenteng Ong-tiat-jiang di Ka-hin ini.
BegituIah sehabis menutur kejadian-kejadian itu, Soa Thong-thian kemudian berkata: “Yo-kongcu, waktu ayahmu masih hidup, kami semua adalah tamu undangannya. Sampai ia meninggal, sedikit pun kami tidak bersalah kepadanya, maka haraplah suka mengingat kebaikan dulu dan membiarkan kami pergi!”
Dulu Soa Thong-thian berempat adalah jago-jago kelas tinggi di kalangan Kangouw, sekali pun golok mengancam di tengkuknya tak akan gentar, tetapi sejak mereka dikurung lama, kaki buntung, mata buta, jiwa mereka menjadi melempem, semangat jantan hilang, kini tanpa segan-segan mohon ampun pada Yo Ko. Akan tetapi Yo Ko tak menggubris mereka, katanya pula pada Kwa Tin-ok:
“Kau pergi ke Leng-oh-tin, apakah untuk menemui Thia Eng dan Liok Bu-siang enci beradik? Dan untuk urusan apa?”
Tiba-tiba Tio-ok menengadah tertawa panjang, katanya: “Wahai Yo Ko, Yo Ko, kau bocah ini benar-benar tak tahu urusan!”
“Kenapa aku tak tahu urusan?” sahut Yo Ko marah.
“Aku Hui-thian-pian-hok (kelelawar terbang di langit, julukan Tin-ok) sudah tidak pikirkan jiwa lapuk ini lagi, sekali pun di masa muda, aku Kwa Tin-ok juga tidak pernah takut pada siapa pun, betapa tinggi ilmu silatmu paling banyak hanya bisa menakut-nakuti sebangsa manusia-manusia yang takut mati dan tamak hidup, tetapi Kanglam-chit-koay apa kau kira kena digertak orang?” demikian sahut Tin-ok.
Melihat sikap orang yang gagah berani, tanpa terasa Yo Ko jadi menaruh hormat. Maka katanya lagi:
“Kwa-Iok ongkong, ya, memang akulah yang salah, tapi lantaran kata-katamu tadi menghina mendiang ayahku, terpaksa aku berlaku tidak sopan. Nama Kwa-kongkong terkenal di seluruh jagat, Yo Ko semenjak kecil juga sangat kagum, selamanya tak berani kurang ajar.”
“Beginilah baru pantas,” ujar Tin-ok, “Aku melihat kelakuanmu tidak jelek, lagi pula sudah berjasa besar di Siang-yang, maka aku anggap kau adalah tokoh kelas satu. Tetapi kalau macam ayahmu dahulu, sekali pun berbicara saja aku merasa mual.”
Amarah Yo Ko berkobar lagi oleh olok-olok itu, dengan suara keras ia bertanya: “Sebenarnya ayahku berbuat salah apakah? Coba terangkan.”
Harus diketahui bahwa di antara kawan-kawan yang pernah dikenal Yo Ko tidak sedikit orang yang tahu seluk beluk ayahnya dahulu, tapi karena sungkan mengolok-olok ayah seorang ‘Sin-tiau-hiap’ maka semua orang sungkan membicarakannya, sekali pun ditanya Yo Ko sendiri.
Namun dasar Kwa Tin-ok selamanya pandang kejahatan sebagai musuh, wataknya keras jujur, dia tak peduli apakah ceritanya nanti akan menyinggung perasaan Yo Ko atau tidak, segera saja ia ceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Yo Khong tak kenal budi, malahan bersekongkoI dengan Auyang Hong sehingga lima kawannya dari Kanglam-chit-koay terbinasakan dan akhirnya menggaplok punggung Oey Yong. Namun senjata makan tuan, duri landak kutang Oey Yong yang tanpa sengaja tertempel racun ularnya Auyang Hong itu malah membinasakan Yo Khong sendiri.
“Kejadian pada malam itu, beberapa orang ini pun ikut menyaksikannya. Soa Thong-thian, Peng Lian-hou, coba kalian katakan, apakah aku Kwa-Iothai pernah berbohong?” demikian kata Tin-ok akhirnya.
Beberapa perkataan paling akhir ini diucapkannya dengan amat keras hingga bikin kaget. Beberapa puluh ekor burung gagak yang berada di menara kelenteng itu terbang ke udara dengan suara yang berisik.
“Ya, malam itu juga terdapat burung-burung gagak begini...” tutur Soa Thong-thian. “Nih, tanganku ini justru karena digaruk sekali oleh Yo-kongcu, jika Peng-hengte ini tidak cepat bertindak dan tanganku ini terus ditebasnya, mungkin jiwaku akan melayang pada malam itu juga.”
Sungguh tak kepalang rasa pedih dan pilu Yo Ko pada saat itu, ia memegangi kepalanya dan duduk termangu-mangu dengan muka muram, tak diduganya bahwa ayahnya ternyata seorang yang begitu jahat dan keji, sekali pun namanya dan perbuatannya sendiri sekarang lebih cemerlang juga sukar mencuci bersih noda ayahnya itu. Begitulah, untuk sesaat di dalam kelenteng menjadi sunyi, keenam orang tiada yang buka suara, hanya suara gaok masih terus berisik tiada hentinya. Selang agak lama, berkatalah Kwa Tin-ok,
“Yo-kongcu, kau telah berjasa besar di Siang-yang, betapa pun dosa ayahmu juga sudah tertutup semua. Di alam baka pasti dia akan senang karena kau bisa menebus kesalahan orang tua.”
Yo Ko coba merenungkan segala apa yang dialaminya selama ini. Sejak dia kenal suami isteri Kwe Ceng, selalu Oey Yong menaruh prasangka padanya, segala kesalah pahaman dulu semuanya disebabkan ayahnya itu. Tapi kalau tiada ayah dari manakah datang dirinya ini? Namun banyak kematian dan rasa kesalnya selama ini sebenarnya juga gara-gara perbuatan mendiang ayahnya. Tanpa terasa ia menghela napas panjang oleh segala suka duka itu.
“Kwa-lokongkong,” tanyanya kemudian, “Apakah Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua enci beradik baik-baik saja?”
“Ya, mereka menjadi begitu girang ketika mendengar kau membakar gudang perbekalan musuh di kota Sin-yang dan membasmi dua ribu pasukan perintis Mongol,” sahut Tin-ok, “Mereka tanya pula tentang keadaanmu selama ini dan berita Siao-liong-li. Nyata kedua enci-beradik itu sangat terkenang padamu.”
“Aih, kedua adik ini juga sudah 16 tahun aku tak melihatnya,” kata Yo Ko kemudian, habis itu mendadak dia menoleh terus membentak pada Soa Thong-thian: “Nah, Kwa-kongkong sudah berjanji hendak serahkan jiwanya pada kalian. Ia orang tua selamanya sekali bicara tidak pernah pungkir janji, maka sekarang lekaslah kalian turun tangan, dan setelah kalian membunuhnya baru aku membunuh juga kalian berempat anjing ini untuk membalaskan sakit hatinya.”
Soa Thong-thian dan Peng Lian-hou menjadi tertegun, sungguh mereka tidak pernah dengar ada bunuh membunuh cara demikian. Maka kata Soa Thong-thian kemudian:
“Yo-tayhiap, kami tidak tahu sehingga berlaku kurang ajar kepada Kwa-lohiap (pendekar tua Kwa), harap kalian berdua memaafkan kami.” “Jika begitu, nah, ingat baik-baik, kalian sendiri yang tidak menepati janji dan tak inginkan jiwa Kwa-kongkong,” kata Yo Ko.
“Ya, ya,” sahut Soa Thong-thian cepat. “Terhadap budi luhur Kwa-lohiap kami selamanya juga sangat kagum.”
“Nah, sekarang lekas enyah! Lain kali jangan ketumbuk lagi di tanganku,” bentak Yo Ko.
Keruan Soa Thong-thian berempat seakan mendapat lotere. Sesudah memberi hormat, dengan cepat mereka lari keluar kelenteng itu.
Yo Ko menolong jiwa Kwa Tin-ok dan menjaga kehormatannya sebagai seorang ksatria, tentu saja Kwa Tin-ok amat berterima kasih. Dan sesudah membersihkan pecahan patung di ruangan itu, mereka lalu duduk untuk omong-omong.
“Aku pergi ke Leng-oh-tin adalah sebab urusan Kwe-ji-kohnio,” demikian tutur Tin-ok.
“Ha?” Yo Ko rada terkejut. “Ada apakah nona kecil ini?”
“Kedua puteri Kwe Ceng itu masing-masing punya kenakalannya sendiri-sendiri, sungguh bikin orang pusing kepala,” ujar Tin-ok. “Entah mengapa, tiba-tiba Kwe Siang si anak dara itu meninggalkan rumah tanpa pamit entah ke mana, Sudah tentu orang tuanya menjadi kelabakan, lalu mengirim orang ke mana-mana untuk mencarinya, tapi sama sekali tiada kabar berita. Karena aku si buta ini tiada pekerjaan apa-apa di Siang-yang, maka aku juga keluar untuk mencarinya. Sudah ada orang yang mencarinya ke jurusan timur, utara dan barat, karena aku lebih paham keadaan daerah Kanglam maka aku lantas ke selatan sini.”
“Dan apakah sudah mendapatkan beritanya?” tanya Yo Ko.
“Beberapa hari yang lalu secara kebetulan aku mendengar percakapan dua orang kurir bangsa Mongol, katanya puteri kecil Kwe-tayhiap dari Siang-yang telah tertawan pasukan Mongol.”
“Hayaa...! Apakah kabar ini betul atau bohong?”
“Kedua kurir Mongol itu berbicara dalam bahasa mereka dan menyangka tiada orang lain yang paham, tidak tahunya aku pernah tinggal belasan tahun di negeri Mongol, tentu saja semuanya kudengar dengan jelas,” kata Tin-ok pula.
“He, kalau begitu jadi berita ini tidaklah bohong?” tanya Yo Ko terkejut.
“Ya, maka dalam gusarku segera kedua kurir Mongol itu kupersen sebiji ‘Tok-cit-le’ dan hendak melapor ke Siang-yang, siapa tahu di tengah jalan kepergok empat setan tadi,” tutur Tin-ok. “Aku pikir jiwaku tidak jadi soal, tapi berita nona Kwe Siang harus disampaikan, maka aku minta mereka memberi kelonggaran beberapa hari. Aku lalu pergi ke Leng-oh-tin yang berdekatan dan memberi-tahukan kepada Thia Eng dan Liok Bu siang. Mendengar berita itu, segera kedua nona itu berangkat ke utara, sementara aku harus menepati janji datang kemari mengantarkan kematian. Sungguh tidak nyana sekarang ke empat setan jahat ini sendiri tidak dapat dipercaya, sampai saat terakhir mereka tidak berani turun tangan. Ha-ha-ha-ha!”
“Apakah Kwa-kongkong juga mendengar cerita kedua kurir Mongol itu tentang bagaimana cara tertawannya nona Kwe dan apakah jiwanya berbahaya?” tanya Yo Ko sesudah pikir sejenak.
“ltu aku tidak mendengar,” sahut Tin-ok.
“Urusan ini sangat gawat, sekarang juga Wanpwe pergi ke sana dan berusaha menolong sebisanya,” kata Yo Ko, “Dan Kwa-kongkong sendiri bolehlah menyusul belakangan saja.”
“Baiklah, ada kau yang pergi menolongnya, hatiku akan merasa lega. Biar aku menunggu kabar baik saja di Siang-yang,” sahut Tin-ok.
Nyata sejak menyaksikan apa yang dilakukan Yo Ko di Siang-yang tempo hari, hati orang tua ini sudah sangat kagum atas kemampuannya.
“Tapi Wanpwe ada suatu permintaan, aku mohon bantuanmu, Kwa-kongkong,” pinta Yo Ko “Yakni sukalah kau mengganti sebuah batu nisan kuburan ayahku, tulislah puteranya Yo Ko yang mendirikan.”
“Baiklah, pasti akan kukerjakan dengan baik,” sahut Tin-ok.
Dan berangkatlah Yo Ko segera sesudah memberi hormat. Ia membeli dua ekor kuda di Ka-hin dan sepanjang jalan bergantian kuda terus menuju ke Sin-yang tanpa berhenti, maka tidak seberapa hari sudah dekatlah dengan perkemahan pasukan Mongol.
Kiranya raja Mongol yang memimpin pasukan hendak menggempur Siang-yang, ketika tanpa tahu sebab musababnya kedua pasukan perintisnya terbasmi di Tengciu dan Sin-ya, dia menjadi ragu-ragu akan kekuatan pasukan Song yang sebenarnya, maka pasukan induknya berkemah di antara Lam-yang sehingga kedua pihak belum pernah bertempur. Maka nampaklah panji-panji ber-kibar, senjata gemerlapan, perkemahan yang berderet-deret memanjang tanpa kelihatan ujungnya.
Setelah menunggu malam, Yo Ko menyelundup ke perkemahan musuh. Ia lihat penjagaan sangat keras, disiplin amat baik. Kekuatan tentara Mongol memang sangat hebat. Lebih-lebih kemah di mana raja berdiam, penjagaan lebih ketat lagi. Meski tinggi ilmu silat Yo Ko, tapi dia tahu tidak sedikit orang-orang gagah dalam pasukan musuh, betapa pun tangkas sukar juga melawan orang banyak, maka dia pun tidak berani sembarangan unjuk diri.
Malam itu ia hanya dapat menyelidiki perkemahan bagian timur, lalu besoknya dilanjutkan bagian selatan dan lain hari perkemahan barat, berturut-turut empat malam empat bagian pertengahan musuh itu selesai diintainya, tapi masih belum memperoleh kabar berita Kwe Siang. Akhirnya Yo Ko menawan seorang perwira musuh. Di bawah ancaman perwira itu mengaku terus terang bahwa sesungguhnya tidak pernah terdengar mengenai puteri Kwe Ceng dari Siang-yang. Akan tetapi Yo Ko masih ragu-ragu. Ia selidiki lagi beberapa hari, kemudian baru percaya bahwa Kwe Siang memang tidak disekap di sana. Pikirnya:
“Agaknya Kwe-pepek sudah dapat menolong puterinya pulang, atau mungkin kedua kurir Mongol itu juga mendengar dari orang lain, jadi hanya berita bohong belaka.”
Sementara itu musim semi sudah tiba, bunga mekar mewangi. Janji Siao-liong-li 16 tahun yang lalu sudah hampir tiba, maka Yo Ko menuju ke utara, pergi ke Coat-ceng-kok atau lembah putus cinta.
Setelah diamat-amati, orang yang lagi bergelut dengan Hoan It-ong itu memang jelas memakai dandanan Siau-siang-cu, pakaiannya, sepatunya dan topinya, semuanya persis, namun wajahnya ternyata berbeda dari pada wajah asli Siau-siang-cu meski air mukanya juga kaku pucat mirip mayat. Sebaliknya wajah orang yang datang belakangan persis dengan Siau-siang-cu yang sudah mereka kenal, hanya baju yang dipakainya berwarna hijau seperti seragam yang dipakai orang-orang Cui-sian-kok.
Yo Ko dan Kim-lun Hoat-ong dapat berpikir cepat, sejenak saja mereka telah dapat menerka apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara itu Siau-siang-cu yang berbaju hijau tua dengan dua tangan yang kurus seperti cakar sudah mencengkeram lagi ke punggung Siau-siang-cu yang memegang gunting sambil berteriak:
“Keparat! Main curang, jago macam apa kau?!”
Meski mendapat bala bantuan, Hoan It-ong menjadi heran dan terkejut. Walau orang mengenakan seragam hijau, tetapi mukanya tak dikenal. Sementara ia mundur ke pinggir, kemudian menyaksikan dua orang yang menyerupai mayat hidup itu saling labrak dengan seru.
Kini Yo Ko sudah dapat menduga bahwa orang yang memegang gunting itu pasti sudah mencuri kedok kulit manusia pemberian Thia Eng tempo hari dan dipakainya, kemudian ia mengenakan pakaian Siau-siang-cu dan sengaja mengacau di ruangan ini. Soalnya wajah Siau-siang-cu memang kaku seperti orang mati, sebab itu sejak mula tak ada orang yang memperhatikannya.
Setelah mengamat-amati sekian lamanya dan dapat mengenali gaya ilmu silat orang yang memegang gunting, segera Yo Ko berseru:
“Hai, Ciu Pek-thong, kembalikan kedok dan guntingku!” Berbareng ia melompat maju untuk merebut gunting.
Kiranya orang itu memang betul Ciu Pek-thong adanya. Dia tertawan oleh keempat murid Cui-sian-kok dengan jaring ikan, meski wataknya nakal dan jahil, tetapi ilmunya memang maha sakti, begitu keempat orang itu sedikit meleng saja segera Ciu Pek-thong berhasil lolos dengan menjebol jaring, akibatnya sang Kokcu menghukum empat orang itu dengan hukum panggang.
Ciu Pek-thong tidak lantas kabur, tetapi sembunyi di suatu tempat. Dia memang sengaja hendak mengobrak-abrik lembah sunyi itu. Tapi segera dia melihat Yo Ko berenam juga datang ke situ, maka malamnya ia melakukan sergapan, Siau-siang-cu diculiknya hingga tidak dapat berkutik, lalu dipindahkan ke luar rumah dan dilucuti pakaiannya. Karena Ginkang-nya maha sakti, pergi datang tanpa suara dan tak meninggalkan bekas, maka dalam tidurnya Siau-siang-cu kena dikerjai, bahkan Kim-lun Hoat-ong dan lainnya juga tidak mengetahui akan kejadian itu.
Setelah mengganti pakaian Siau-sian-cu, lalu Ciu Pek-thong masuk lagi ke rumah itu dan tidur di sisi Yo Ko. Kesempatan itu digunakan untuk menggerayangi ransel pemuda itu, gunting dan kedok kulit berhasil dicurinya. Esoknya ternyata semua orang juga belum menyadari akan perbuatan Ciu Pek-thong.
Sudah tentu Siau-siang-cu berusaha melepaskan diri dari totokan Ciu Pek-thong, namun lantaran ilmu Tiam-hiat yang digunakan Ciu Pek-thong itu sangat lihay, sampai tiga-empat jam kemudian barulah Siau-siang-cu berhasil melancarkan jalan darah dan dapat bergerak kembali. Sementara itu tubuhnya hanya memakai baju dan celana dalam saja, tentu saja dia sangat dongkol dan murka. Ketika kebetulan seorang murid Cui-sian-kok lewat, secepat kilat dia merobohkannya dan merampas bajunya, lalu memburu ke rumah batu yang besar itu.
Pada saat itu dilihatnya Ciu Pek-thong dengan memakai bajunya sendiri tengah bertempur sengit dengan Hoan It-ong. Dengan perasaan murka dia terus menerjang maju, sekaligus dia ingin membinasakan Ciu-Pek-thong dengan pukulannya yang dahsyat, beberapa jurus kemudian Yo Ko juga ikut maju mengeroyok.
Tapi Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian khas yang dilatihnya ketika dulu ia disekap di Tho-hoa-to oleh Oey Yok-su, yaitu dua tangannya memainkan silat yang berbeda. Maka dengan tangan kiri ia layani Yo Ko, sedang tangan kanan dengan gunting ia lawan Siau-siang-cu, guntingnya sebentar terbuka dan sebentar terkatup, betapa pun Siau-siang-cu tidak berani sembarangan mendekat. Maklumlah, gunting itu amat besar, kalau mata gunting terbuka, jaraknya hampir setengah meter, kalau saja leher tergunting, mustahil kepala takkan terpisah dari tuannya. Karena itu, meski Siau-siang-cu amat murka, tapi ia pun tidak berani sembarangan melancarkan serangan.
Dalam pada itu sang Kokcu masih terus mengikuti pertarungan sengit. Sudah turun temurun Kokcu itu menetap di lembah sunyi ini, ilmu silat keluarganya juga turun-temurun semakin hebat. Pada umumnya ada kebiasaan buruk di dunia persilatan. Lantaran kuatir muridnya kelak berkhianat atau menjadi murtad, maka sering kali sang guru menyimpan beberapa jurus rahasia untuk menjaga kemungkinan penghianatan murid. Sebab itu dalam beberapa keturunan saja ilmu silatnya semakin berkurang dan akhirnya habis sama sekali.
Ciri demikian takkan berlaku dalam ilmu silat keturunan. Sang ayah mengajarkan kepada anak atau sang kakek mengajarkan kepada cucu pasti takkan menahan jurus simpanan, malahan setelah beberapa keturunan sering kali timbul satu-dua angkatan yang berbakat dan pintar menciptakan jurus baru sehingga satu turunan lebih hebat dari pada angkatan yang lebih tua. Begitu pula dengan Kokcu ini. Ilmu silatnya kini boleh dikatakan jauh lebih lihay dari pada leluhurnya, ia yakin bila dirinya keluar lembah, ilmu silatnya pasti dapat menjagoi dunia.
Siapa duga lembah yang aman tenteram ini tiba-tiba kedatangan Ciu Pek-thong sehingga suasana menjadi kacau balau. Ia kagum ketika menyaksikan pertarungan Ciu Pek-thong dengan Hoan It-ong, kini melihat anak tua nakal itu menempur dua orang dengan dua tangan yang bermain silat dengan cara yang berbeda, malah sedikit pun tidak tampak lebih lemah dari kedua Iawannya, sungguh sang Kokcu menjadi kagum tak terhingga.
Dilihatnya pula ilmu silat Siau-siang-cu sangat ganas, serangannya tak mengenal ampun. sedangkan gerak-gerik Yo Ko tenang halus dan tenang, tapi tidak kurang lihaynya. Kokcu itu harus mengakui bahwa di dunia yang seluas ini ternyata tidak sedikit terdapat orang kosen. Segera dia berdiri, dengan suara lantang dia berkata:
“Harap kalian bertiga suka berhenti dulu!”
Berbareng Yo Ko dan Siau-siang-cu melompat mundur. Ciu Pek-thong tanggalkan kedok kulit, berikut guntingnya terus dilemparkan kepada Yo Ko sambil berkata:
“Permainanku sudah cukup, aku hendak pergi!”
Sekali mengenjot kaki, seperti anak panah cepatnya dia meloncat ke atas belandar rumah. Karena kedoknya ditanggalkan, wajah aslinya lantas kelihatan. Keruan gemparlah para anak murid Cui-sian-kok setelah mengenali siapa dia.
“Ayah, orang tua inilah!” seru Kongsun Lik-oh.
Sementara itu Ciu Pek-thong bergelak tertawa sambil duduk mengangkang di atas belandar. Tinggi belandar rumah sedikitnya lima-enam meter dari permukaan tanah, meski pun di ruangan itu tidak sedikit terdapat tokoh terkemuka, terasa sukar juga kalau ingin sekali lompat langsung mencapai belandar.
Hoan It-ong adalah murid pertama Cui-sian-kok, usianya bahkan lebih tua dari pada sang guru, dalam hal ilmu silat, kecuali sang Kokcu dialah terhitung nomor satu, kini berulang kali dia dipermainkan oleh Ciu Pek-thong, tentu saja dia sangat murka. Biar pun tubuhnya cebol tapi dia mahir memanjat. Sekali lompat ia rangkul erat-erat tiang ruangan itu terus memanjat ke atas segesit kera.
Dasar watak Ciu Pek-thong paling suka cari gara-gara, dia paling senang kalau ada orang mau main gila dengan dia, maka ia menjadi amat gembira melihat Hoan It-ong memanjat ke atas. Belum lagi kakek cebol itu mencapai belandar, lebih dahulu ia sudah menjulurkan tangannya untuk menarik ke atas.
Sudah tentu Hoan It-ong tidak tahu tujuan Ciu Pek-thong sebenarnya baik, melihat tangan orang menjulur, segera ia menotok Tay-leng-hiat pada pergelangan tangannya. Namun ilmu silat Ciu Pek-thong sudah mencapai tingkatan yang maha sakti. Sedikit saja merasakan sesuatu, segera ia menotok lebih dulu Hiat-to yang hendak ditotok itu sambil mengendorkan urat dagingnya. Karena itu tusukan Hoan It-ong laksana mengenai kapas yang lunak cepat ia menarik kembali tangannya.
Tetapi Ciu Pek-thong sempat membalikkan tangannya dan menepuk sekali pada tangan Hoan It-ong sambil berseru:
“Keplok ami-ami! Kakak makan nasi adik cebol minta isteri!”
Dengan murka Hoan It-ong menggelengkan kepalanya, jenggotnya yang panjang menyabet ke dada lawan. Mendengar sambaran angin yang keras, Ciu Pek-thong tahu betapa lihaynya jenggot lawan. Cepat-cepat ia melompat mundur, dengan tangan kiri berpegangan pada belandar, tubuhnya bergantungan seperti anak sedang main ayunan.
Siau-siang-cu yakin Hoan It-ong pasti bukan tandingan anak tua nakal itu, sekali pun dia ikut mengerubut juga sulit mengaIahkannya. Segera ia berpaling kepada Nimo Singh dan Be Kong-co, katanya:
“Saudara Singh dan Be, tua bangka ini tidak memandang sebelah mata kepada kita berenam. Sungguh keterlaluan!”
Watak Nimo Singh paling berangasan dan tak tahan dibakar, sedangkan pikiran Be Kong-co amat sederhana dan tidak dapat menimbang antara baik dan buruk. Demi mendengar rombongannya berenam tidak dipandang sebelah mata, serentak mereka menjadi gusar lantas melompat ke atas untuk menangkap kaki Ciu Pek-thong. Tapi dengan jenaka Ciu Pek-thong mengayun kakinya untuk menggoda, tapi sebenarnya dia menendang dengan tepat ke arah yang mematikan pada tangan Nimo Singh dan Be Kong-co sehingga usaha kedua orang itu menjadi gagal total.
“ln-heng, apakah kau sendiri hanya mau menonton saja?” jengek Siau-siang-cu terhadap In Kik-si.
In Kik-si tersenyum dan menjawab: “Baiklah, silakan Siau-heng maju lebih dahulu, segera aku menyusul!”
Siau-siang-cu bersuit aneh menyeramkan. Tiba-tiba dia melompat ke atas, kedua kakinya tidak terlihat menekuk, tubuhnya kaku lurus, kedua tangannya juga menjulur lempeng ke atas terus mencengkeram ke perut Ciu Pek-thong, gaya ilmu silat yang diperlihatkannya tiada ubahnya seperti mayat hidup.
Melihat tibanya serangan, segera Ciu Pek-thong mengerutkan tubuh, tangan kiri berganti tangan kanan dan tetap bergelantungan di belandar. Serangan Siau-siangcu luput. Dia tidak dapat berhenti di udara, terpaksa anjlok ke bawah. Siapa saja bila jatuh ke bawah dari ketinggian begitu tentu kedua kakinya akan menekuk agar tidak keseleo dan terluka. Akan tetapi gaya Siau-siang-cu sungguh istimewa, seluruh tubuhnya tetap kaku seperti sepotong kayu saja, dan begitu kaki menyentuh lantai, “tok”, kembali dia meloncat lagi ke atas.
Begitulah, Hoan It-ong merangkul tiang sambil mengayun jenggotnya untuk menyerang, sedangkan Siau-siang-cu, Nimo Singh dan Be Kong-co bertiga berloncatan naik turun bergantian menyerang dari bawah ke atas.
“Si tua ini benar-benar luar biasa, biar aku pun ikut bikin ramai!” kata In Kik-si, tangannya merogoh saku sejenak kemudian tampaklah sinar kemilau menyilaukan mata, tangan In Kik-si sudah bertambah sebuah ruyung lemas yang terbuat dari benang emas dan perak, penuh bertaburkan batu permata pula.
Sebetulnya tokoh selihay In Kik-si, hanya bertangan kosong saja sudah jarang ada tandingan, ruyung bertaburkan batu permata tak lebih hanya pamer kekayaan saja. Ia pikir untuk menyerang Ciu Pek-thong yang berada tinggi di atas jelas tidak mudah, maka dengan ruyungnya ia coba menyerang bagian bawah lawan.
Yo Ko amat tertarik oleh pertarungan lucu ini. Ia pikir dengan kepandaian kelima orang itu ternyata tidak mampu mengalahkan seorang Lo-wan-tong, kalau aku tidak dapat menang dengan cara istimewa tentu takkan membikin takluk orang Iain. Setelah berpikir begitu, segera ia memakai kedoknya yang tipis, menirukan gaya Siau-siang-cu. Dia jemput tongkat baja Hoat It-ong, sekali tongkat itu menahan di lantai, tubuhnya mengapung ke atas. Panjang tongkat itu dua meteran, sesudah ditambah loncatannya, maka tubuh Yo Ko hampir sama tingginya dengan Ciu Pek-thong yang bergelantungan di belandar.
“Awas gunting, Lo-wan-tong!” seru Yo Ko sambil mengarahkan gunting memotong jenggot Ciu Pek-thong.
Bukannya marah, sebaliknya Ciu Pek-thong malah senang akan serangan itu. Dia segera miringkan kepalanya menghindari guntingan itu dan berseru:
“Bagus sekali caramu ini, adik cilik!”
“Lo-wan-tong, aku kan tidak bersalah padamu, mengapa kau main gila dengan aku?” kata Yo Ko.
“Ada ubi ada talas, diberi harus membalas!” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa, “Kau kan tidak rugi, mungkin malah mendapat untung tetapi kau tidak tahu.”
“Ada ubi ada talas apa maksudmu?” tanyanya.
“Kelak kau tentu akan tahu sendiri, sekarang tidak perlu banyak omong,” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa.
Sementara itu ruyung In Kik-si tengah menyambar ke arahnya, segera sebelah tangan meraup untuk menangkapnya. Tapi ruyung In Kik-si yang lemas itu terus membelit untuk menghantam punggung tangannya, sedangkan tubuhnya telah anjlok ke bawah. Dalam pada itu jenggot Hoan it-ong yang panjang juga sudah menyabet tiba. Kini Hoan It-ong juga bergelantungan pada belandar, kedua tangannya memegang belandar, hanya jenggotnya saja yang digunakan menyerang musuh.
“Ehh, kiranya jenggotmu sebanyak ini pula daya gunanya,” ujar Ciu Pek-thong tertawa, ia pun menirukan cara orang dan mengayunkan jenggot sendiri ke arah lawan.
Namun panjang jenggotnya tiada separoh panjang jenggot Hoan It-ong, pula tak pernah berlatih akan kegunaannya sebagai senjata, dengan sendirinya sabetannya tak berguna.
“Srett!” pipinya malah kena tersabet oleh jenggot lawan sehingga terasa panas pedas dan kesakitan. Untung Iwekang-nya amat tinggi, kalau tidak pasti akan kelenger seketika dan terbanting ke bawah.
Walau pun merasakan pil pahit tetapi Lo-wan-tong tidak menjadi marah, sebaliknya malah timbul rasa kagumnya pada Hoan It-ong, katanya:
“Jenggot panjang, sungguh lihay kau, jenggotku tak dapat menandingi jenggotmu, sudahlah, kita tak perlu bertanding lagi!”
Tapi Hoan It-ong tidak mau kompromi, kembali jenggotnya menyabet lagi. Kini Ciu Pek-thong tidak berani lagi melawan dengan jenggot, segera ia melancarkan gaya pukulan ‘Khong-beng-kun’, angin pukulannya yang kencang membuat jenggot Hoan It-ong terpencar dan melayang ke samping, kebetulan saat itu Be Kong-co lagi meloncat ke atas, maka jenggot Hoan It-ong tepat menyabet muka Be Kong-co. Cepat Be Kong-co pejamkan mata, muka terasa gatal pedas, dalam keadaan mata tertutup Be Kong-co memegang sekenanya sehingga jenggot Hoan It-ong kena dicengkeramnya.
Sebenarnya jenggot Hoan It-ong dapat melilit seperti barang hidup, tetapi lantaran tenaga pukulan Ciu Pek-thong tadi, Hoan It-ong tak dapat mengendalikan jenggotnya hingga kena dipegang Be Kong-co. Dalam kagetnya cepat Hoan It-ong membetot sekuatnya, tapi Be Kong-co juga menarik sekencangnya ketika tubuhnya anjlog ke bawah sehingga keduanya terbanting ke tanah. Tubuh Be Kong-co segede kerbau, kulit kasar daging tebal, dia tidak berteriak sakit. Tubuh Hoan It-ong tepat terbanting menindih badan Be Kong-co, dia menjadi marah dan membentak:
“He, apa-apaan kau? Lekas lepaskan jenggotku!”
Sambil duduk di atas belandar Cui Pek-thong mempermainkan lawan-lawan yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia pesilatan secara lucu dan nakal.
Bantingan itu tidak dirasakan oleh Be Kong-co, tetapi perutnya terinjak oleh Hoan It-ong, rasanya tentu tidak enak, dia menjadi marah juga dan balas membentak:
“Aku justru tidak mau lepas, kau mau apa?!”
Berbareng itu tangannya terus memutar sehingga jenggot orang melilit beberapa kali pada tangannya. Dengan gemas Hoan It-ong terus memukul ke muka lawan. Be Kong-co cepat miringkan kepalanya, tetapi tanpa terduga pukulan Hoan It-ong itu cuma pura-pura saja, kepalan lain mendadak menyamber tiba.
“Plok!”
Dengan tepat hidung Be Kong-co kena ditonjok sehingga berdarah. Sambil berkaok-kaok kesakitan Be Kong-co juga balas menjotos satu kali.
Bicara tentang ilmu silat sebenarnya Hoan It-ong jauh lebih tinggi, celakanya jenggotnya terlilit tangan lawan sehingga kepalanya tidak leluasa bergerak, karena itu jotosan Be Kong-co juga tepat mengenai tulang pipinya hingga matang biru.
Begitulah yang satu tinggi dan yang lain pendek lantas main baku hantam. Biar pun tubuh Hoan It-ong menindih di atas, namun tetap sukar meloloskan diri dari betotan lawan yang terus menarik kencang jenggotnya.
Melihat suasana kacau balau, berenam tidak berkutik menghadapi seorang anak tua nakal, betapa pun terasa memalukan, maka Kim-lun Hoat-ong tidak dapat tinggal diam Iagi. Segera dia mengeluarkan dua buah gelang, satu perak dan satu lagi tembaga, sekaligus kedua gelang atau roda itu disambitkan dari kanan kiri hingga menerbitkan suara mendenging.
“Barang apa ini?” kata Ciu Pek-thong. Ia tidak tahu betapa lihaynya senjata orang, maka tangannya meraih dan bermaksud menangkapnya.
Betapa pun juga Yo Ko menaruh simpatik kepada Ciu Pek-thong yang polos itu, cepat ia memperingatkan:
“Hei, jangan dipegang!”
Berbareng dia lemparkan tongkat baja yang dipegangnya ke atas. Maka terdengarlah suara gemerantang nyaring, tongkat baja yang panjang tertumbuk hingga terpental ke sudut ruangan sana, sebaliknya arah gelang tembaga yg terbentur tidak berubah dan masih tetap berputar menyambar ke atas belandar.
Baru sekarang Ciu Pek-thong tahu bahwa si Hwesio besar ini tidak boleh diremehkan. Ia pikir kalau dikerubuti jelas dirinya sukar melayani. Segera ia berjumpalitan turun ke bawah dan berseru:
“Maaf, Lo-wan-tong tidak dapat menemani lebih lama, besok saja kita main-main lagi.”
Habis berkata langsung berlari ke pintu ruangan tamu, namun dilihatnya empat orang berseragam hijau telah menghadangnya di situ dengan mementang sebuah jaring ikan. Ciu Pek-thong sudah merasakan lihaynya jaring begitu, cepat dia membelok ke kanan dan bermaksud menerobos keluar melalui jendela, tapi bayangan hijau berkelebat, kembali sebuah jaring merintangi jalannya.
Sesudah melompat kembali ke tengah ruangan, Ciu Pek-thong melihat keempat penjuru sudah terentang oleh jaring ikan hingga jalan lolosnya menjadi buntu. Segera ia melompat lagi ke atas belandar, dengan hantaman dari jauh dia bikin atap rumah berlubang besar, maksudnya hendak menerobos keluar. Tetapi baru saja ia mendongak, dilihatnya di atas juga sudah terpasang sebuah jaring ikan. Terpaksa ia melompat turun ke bawah, katanya sambil tertawa dan menuding si Kokcu:
“He, untuk apa kau menahan diriku di sini? Setiap hari hanya minum air tawar dan makan beras mentah, memangnya Lo-wan-tong dapat kau piara sampai tua?”
Kokcu itu menjawab dengan dingin: “Asal kau tinggalkan kitab dan obat yang kau ambil itu, segera kau boleh pergi dari sini.”
Ciu Pek-thong menjadi heran, katanya: “Untuk apa aku ambil kitab dan obatmu segala? Seumpama mampu berlatih sehingga selihay kau juga aku tidak kepingin.”
Sang Kokcu melangkah perlahan ke tengah ruangan, dia kebut-kebut debu pada bajunya sendiri, lalu berkata:
“Jika sekarang bukan hari bahagiaku, tentu aku akan minta petunjuk beberapa jurus kepadamu, sebaiknya kau tinggalkan barang yang kau ambil itu dan kau boleh pergi dengan bebas.”
Dengan gusar Ciu Pek-thong berteriak: “Jadi kau tetap menuduh aku mencuri barangmu? Huh, memangnya apa barangmu yang berharga sehingga aku perlu mencurinya? Ini, boleh kau periksa!” Sembari bicara dengan cepat ia terus membuka baju sendiri sepotong demi sepotong, dalam sekejap saja sudah telanjang bulat.
Berulang sang Kokcu membentak agar Ciu Pek-thong menghentikan perbuatannya, tetapi anak tua nakal itu tidak ambil pusing, ia pentang dan membaliki baju celananya, memang benar tiada sesuatu benda apa pun juga.
Sudah tentu anak murid perempuan yang hadir di situ menjadi kikuk dan berpaling ke jurusan lain. Kelakuan Ciu Pek-thong ini sungguh sama sekali tidak terduga oleh sang Kokcu, ia pun ragu apakah benar Ciu Pek-thong tidak mencuri barangnya yang hilang, padahal barang-barang itu besar sangkut-pautnya dengan Cui-sian-kok. Selagi sang Kokcu termenung sangsi, Ciu Pek-thong bertepuk tangan dan berseru:
“He, usiamu sudah cukup tua, kenapa kau tidak tahu harga diri, ngomong sesukanya dan berbuat seenak sendiri di depan umum, bahkan melakukan hal yang memalukan begini. Sungguh menggelikan.”
Ucapan itu sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada Ciu Pek-thong sendiri, tapi justru dia mendahului omong, keruan Kongsun Kokcu itu dibuat serba salah dan tak bisa membuka suara, Ketika melihat Hoan It-ong dan Be Kong-co masih bergumul di atas lantai, segera ia membentaknya agar lekas berdiri. Padahal bukan Hoan It-ong tidak mau melepaskan diri, soalnya jenggotnya terlilit di tangan Be Kong-co sehingga sukar melepaskan diri. Dalam pada itu sambil mengernyitkan dahinya Kongsun Kokcu menuding Ciu Pek-thong dan mendamperatnya.
“Kukira yang tidak tahu malu adalah kau sendiri!”
“Memangnya aku kenapa?” jawab Ciu Pek-thong, “Aku dilahirkan dengan bugil, sekarang aku telanjang bulat, putih bersih, apanya yang salah? Sebaliknya kau telah tua tapi masih ingin mengawini seorang perawan muda sebagai isteri, he-he, sungguh menggelikan!”
Ucapan ini laksana palu besar yang menghantam dada Kongsun Kokcu, seketika itu pula mukanya yang kuning menjadi bersemu merah dan tak dapat menjawab. Tiba-tiba Ciu Pek-thong berteriak:
“Haya, celaka! Tidak pakai baju, bisa masuk angin nih!” Berbareng ia terus menerjang keluar.
Ketika mendadak melihat bayangan orang berkelebat ke arahnya, empat murid berbaju hijau yang siap di dekat pintu cepat bergerak dan membentang jaring, sekaligus jaring menutup ke atas kepala orang. Begitu terasa sasarannya berontak di dalam jala, maka keempat orang itu cepat mengikat kencang empat ujung jaring lalu diseret ke depan sang Kokcu.
Jala ikan itu dibuat dari benang emas yang halus dan Iemas, sekali pun golok dan pedang pusaka sukar membobolnya, apa lagi gerakan keempat orang itu sangat cepat dan lihay, biar tokoh maha hebat juga sukar menghadapinya.
Begitulah keempat orang itu amat senang karena berhasil menawan sasarannya sehingga mereka pun tidak memperhatikan lagi siapa sesungguhnya yang terjaring, Tapi ketika mendadak nampak air muka sang Kokcu bersungut dan menatap tajam jaring mereka, cepat mereka pun menunduk dan mereka menjadi kaget hingga berkeringat dingin. Cepat pula mereka membuka jaring dan membebaskan dua orang yang sedang bergumul, siapa lagi mereka kalau bukan Hoan It-ong dan Be Kong-co.
Kiranya tiada seorang pun yang menduga bahwa dalam keadaan telanjang bulat Ciu Pek-thong berani menerjang keluar semendadak itu. Karena gerakannya secepat kilat, sekali sambar ia tarik kedua orang yang sedang bergumul terus dilemparkan ke dalam jaring. Selagi empat murid Cui-sian-kok sibuk mengencangkan ikatan jaring, secepat angin Ciu Pek-thong menyelinap keluar. Gerakan aneh dan maha cepat ini sungguh luar biasa dan maha lihay.
Gara-gara perbuatan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, bukan hanya sang Kokcu saja yang kebobolan, bahkan Kim-lun Hoat-ong dan kawannya juga merasa malu, masa gabungan tokoh kelas wahid seperti mereka ini tak mampu menangkap seorang tua yang gila-gilaan? Sungguh tidak becus!
Hanya Yo Ko saja yang kagum sekali terhadap kepandaian Ciu Pek-thong. Tadi ia sudah bertekad akan menolong anak tua nakal itu apa bila sampai tertawan, tetapi kini Ciu Pek-thong sendiri dapat meloloskan diri, diam-diam Yo Ko bersyukur dan lega.
Tujuan Kim-lun Hoat-ong sebenarnya hendak mencari tahu seluk-beluk sang Kokcu, tapi setelah ‘dikacau’ oleh Ciu Pek-thong, ia merasa rikuh untuk tinggal lebih lama lagi di situ, Setelah berunding dengan Siau-siang-cu dan In Kik-si, dia lalu bangkit dan mohon diri.
Semula Kokcu mengira keenam orang ini adalah sekomplotan Ciu Pek-thong, tetapi kemudian melihat Siau-siang-cu, Be Kong-co dan lainnya menempur Ciu Pek-thong dengan sengit dan menggunakan kepandaian khas masing-masing yang lihay, tampaknya memang sengaja membantu pihak sendiri, maka dia lantas memberi hormat dan berkata:
“Ada sesuatu permintaanku yang tidak pantas, entah kalian berenam sudi menerimanya tidak?”
“Asalkan kami sanggup, tentu akan kami terima,” jawab Kim-lun Hoat-ong.
“Begini,” kata sang Kokcu, “Lewat lohor nanti upacara pernikahanku yang kedua kalinya, maka ingin kuundang kalian ikut hadir memberi doa restu. Di lembah pegunungan ini selama beratus tahun jarang didatangi orang luar, dan kebetulan sekarang kalian hadir sekaligus, sungguh kurasakan sangat beruntung.”
“Ada arak tidak nanti?” seru Be Kong-co.
Belum lagi sang Kokcu menjawab, mendadak ada bayangan orang berkelebat. Masuklah seorang perempuan berbaju putih sambil bertanya:
“Apakah orang yang mengacau sudah pergi?”
Tidak kepalang kejut dan girang Yo Ko melihat perempuan ini, cepat dia melompat maju dan menarik tangannya serta berseru:
“Hei, Kokoh, engkau juga datang ke sini? Sungguh payah kucari kau sekian lamanya!”
Perempuan berbaju putih itu memandang sekejap kepada Yo Ko dengan air muka heran, lalu menjawab:
“Siapakah tuan? Kau memanggil apa padaku?”
Yo Ko terperanjat. Dia coba mengamat-amati lagi perempuan ini, kelihatan wajahnya yang putih halus dan cantik, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li adanya? Tanpa ragu segera ia menjawab:
“Kokoh... aku Yo Ko, masa kau pangling padaku?”
Kembali perempuan itu memandang sekejap padanya, lalu menjawab dengan nada dingin:
“Selamanya aku tidak pernah kenal kau, mana aku berani dipanggil sebagai Kokoh?”
Berbareng ia terus melangkah ke depan kemudian duduk di sebelah sang Kokcu. Wajah sang Kokcu yang tadinya kaku dingin segera berubah ber-seri karena kedatangan perempuan cantik ini. Dia berkata kepada Kim-lun Hoat-ong:
“Inilah bakal isteriku. Lewat lohor nanti upacara perkawinan segera akan dilangsungkan.”
Habis berkata dia melirik sekejap ke arah Yo Ko seperti kurang senang akan kecerobohan pemuda itu yang salah mengenali orang. Keruan kejut Yo Ko tak terkatakan, segera ia berseru:
“Kokoh, masakah engkau ini bukan Siao-liong-li? Memangnya kau bukan Suhu-ku?”
Perempuan itu mengawasi Yo Ko sejenak, air mukanya menampilkan perasaan heran dan bingung, sejenak kemudian barulah dia menjawab sambil menggeleng:
“Bukan, siapakah Siao-liong-li?”
Kedua tangan Yo Ko mengepal sekencangnya dan diremas-remas hingga lecet, benaknya terasa tawar sekali, ia tidak tahu apakah sang Kokoh marah padanya sehingga tidak mau mengakui dia lagi? Atau disebabkan berada di tempat berbahaya maka sengaja bersikap begini untuk mencari selamat? Atau barang kali di dunia ini benar-benar ada perempuan lain yang serupa dengan dia? Meski Yo Ko biasanya pintar dan cerdik, tapi kini dia tak dapat mengendalikan pergolakan perasaannya teringat cintanya kepada Siao-Jiong-li, dan tanpa terasa dia menjerit.
Melihat pemuda itu bersikap kurang wajar, Kokcu itu mengernyitkan dahi sambil berkata perlahan kepada perempuan berbaju putih itu:
“Liu-ji, hari ini sungguh banyak orang yang aneh.”
Perempuan itu pun tidak menggubris, perlahan dia menuang secawan air lantas diminum, sorot matanya mengerling semua orang, tapi sampai pada Yo Ko, pandangnya menghindarkan pemuda itu dan tidak melihatnya lagi. Jika orang lain tentu akan bersikap tenang untuk melihat apa yang akan terjadi nanti, tapi watak Yo Ko memang tidak sabaran, apa lagi Kokcu itu menyatakan akan menikah lewat lohor nanti. Dalam keadaan bingung dan tidak berdaya, Yo Ko berpaling dan bertanya kepada Kim-lun Hoat-ong:
“Kau pernah bertanding dengan suhu-ku, tentu kau kenal dia dengan baik, coba katakan, apakah aku salah mengenali dia?”
Pada waktu perempuan baju putih itu muncul tadi sesungguhnya Kim-lun Hoat-ong sudah mengenal, tetapi nona itu ternyata tidak mau gubris meski Yo Ko sudah menegurnya sendiri, di antara pasangan muda-mudi ini tentu terjadi pertengkaran, maka ia tersenyum dan menjawab:
“Entahlah, aku pun tidak begitu ingat lagi.”
Sudah tentu jawaban Kim-lun Hoat-ong ini mempunyai dua maksud tujuan. Dia pernah dikalahkan oleh Giok-Ii-kiam-hoat yang dimainkan bersama Yo Ko dan Siao-liong-Ii, dan sekarang kepandaian Yo Ko sudah jauh lebih maju lagi, kalau kedua muda-mudi itu bergabung, jelas dirinya lebih-Iebih bukan tandingan mereka.
Tapi kalau kedua orang itu bertengkar, biar pun kemudian bergabung lagi menempurnya, asalkan antara jiwa kedua orang itu sudah terjadi keretakan dan tidak dapat saling kontak, maka kesempatan untuk menang bagi dirinya menjadi sangat besar.
BegituIah Yo Ko menjadi melengak oleh jawaban Hoat-ong itu, tetapi ia lantas paham juga maksud tujuan orang. Pikirnya dengan dongkol: “Hati manusia benar-benar keji dan culas, Ketika kau terluka parah, aku membantu menyembuhkan, tetapi sekarang kau malah bermaksud membikin susah.”
Melihat sorot mata kebencian Yo Ko, Kim-lun Hoat-ong tahu pemuda itu merasa dendam padanya, kelak pasti akan membahayakan, maka bila ada kesempatan harus kubereskan sekarang juga. Dia lantas balas menghormat sang Kokcu dan menjawab:
“Kami berterima kasih atas undangan Kokcu untuk menghadiri pernikahanmu, tapi kedatangan kami hanya kebetulan sehingga tidak membawa kado apa pun, sungguh kami merasa tidak enak.”
Kokcu itu merasa senang karena Kim-lun Hoat-ong beserta rombongan mau menerima undangannya. Segera dia memperkenalkan mereka kepada bakal isterinya. Ketika giliran Yo Ko, ia hanya menyebutnya she Yo saja, lalu tidak diberi tambahan keterangan Iain. Tampak perempuan baju putih itu cuma mengangguk perlahan saja tanpa memberi suatu perhatian apa pun ketika diberi-tahu nama setiap orang, juga terhadap Yo Ko ia pun tidak ambil pusing seperti halnya orang Iain.
Muka Yo Ko menjadi merah padam, jantungnya memukul kencang, apa yang dibicarakan Kokcu itu sama sekali tak terdengar lagi olehnya. Kongsun Lik-oh yang berdiri di belakang ayahnya dapat mengikuti gerak-gerik Yo Ko. Ia teringat ketika pemuda itu tertusuk duri bunga cinta segera merasa sakit karena timbul rasa rindunya. Kalau melihat gelagatnya sekarang, apakah memang betul bakal ibu tiriku ini adalah kekasihnya? Masa bisa terjadi secara begini kebetulan? Jangan-jangan kedatangan orang-orang ini justru di sebabkan oleh bakal ibu tiriku ini?
Karena pikiran itu, Kongsun Lik-oh coba mengawasi perempuan baju putih itu. Terlihat air mukanya tenang-tenang saja, tidak merasa suka ria juga tidak merasa kikuk dan malu, sama sekali tidak memper sebagai seorang calon pengantin baru.
Sementara itu Yo Ko merasakan dadanya sesak seakan-akan putus napasnya. Tapi biar pun wataknya mudah terguncang perasaan, namun dia juga seorang yang pintar dan cerdik. Dia pikir kalau sang Kokoh tidak mau mengakui dia, bisa jadi Kokoh mempunyai maksud tujuan tertentu, untuk ini aku harus menjajakinya dengan jalan lain. Segera ia berdiri lalu memberi hormat kepada sang Kokcu, katanya dengan suara lantang:
“Karena ada seorang sanak keluargaku yang sangat mirip dengan wajah nyonya barumu, tadi aku salah mengenalinya, untuk itu aku mohon maaf.”
Kata-kata yang cukup sopan ini diterima dengan baik oleh Kokcu itu, sikapnya pun lantas berubah ramah, ia balas hormat dan menjawab:
“Salah mengenali orang adalah kejadian biasa dan tidak ada persoalan maaf segala, Cuma... cuma di dunia ini ternyata ada orang lain lagi yang serupa dengan bakal isteriku tercinta ini, hal ini bukan hanya kebetulan saja, tapi sesungguhnya teramat aneh.”
Di balik ucapannya ini dia ingin menyatakan bahwa di dunia ini mustahil ada wanita cantik lagi yang serupa dengan calon isterinya.
“Memang, maka aku pun amat heran,” ujar Yo Ko. “Maaf, apakah boleh kutanya siapakah she nyonya yang terhormat?”
“Dia she Liu, apakah kenalanmu itu juga she Liu?” kata sang Kokcu sambil tersenyum.
“Oh, bukan,” jawab Yo Ko. Diam-diam dia me-nimbang mengapa sang Kokcu mengaku wanita itu she Liu. Tapi pikirannya segera tergerak: “Ahh, soalnya aku she Yo.”
Yoliu Yang adalah nama pohon, jadi jelas Siau-liong-li mengaku she Liu karena dia belum melupakan Yo Ko. Terpikir demikian, seketika jari Yo Ko kesakitan lagi. Melihat Yo Ko meringis menahan sakit, Kongsun Lik-oh merasa iba dan sayang padanya, sorot matanya senantiasa mengikuti perubahan muka pemuda itu. Sekuatnya Yo Ko menahan rasa sakit akibat bekerjanya racun bunga cinta. Tiba-tiba teringat lagi sesuatu olehnya, cepat ia tanya:
“Apakah nona Liu ini penduduk sekitar pegunungan ini? Entah cara bagaimana Kokcu berkenalan dengan dia?”
Sebenarnya Kokcu itu juga sangat ingin tahu asal-usuI bakal isterinya. Dia pikir bukan mustahil bocah ini kenal Liu-ji dan dari dia nanti akan diperoleh keterangan lebih jelas mengenai asal-usul bakal isterinya. Maka segera ia menjawab:
“Ya, pertemuan kami memang terjadi secara kebetulan setengah bulan yang silam. Ketika aku sedang mencari bahan obat di lereng gunung, aku temukan dia menggeletak dalam keadaan terluka parah dan kempas-kempis. Setelah kuperiksa, kiranya dia menderita kesesatan lantaran kurang tepat dalam berlatih lwekang. Aku lantas membawanya pulang kemudian mengobati dia dengan obat mujarab keluargaku yang sudah turun temurun, jadi perkenalan kami ini boleh dikatakan secara kebetulan, itu yang dikatakan jika memang sudah jodoh.”
“Oh, ternyata di dunia ini masih ada juga obat mujarab yang dapat menyembuhkan nona Liu, kukira hanya dapat disembuhkan dengan bantuan darah orang lain,” kata Yo Ko.
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba perempuan itu menumpahkan darah segar sehingga bajunya yang putih berlepotan darah. Semua orang menjerit kaget dan bangkit.
Kiranya nona Liu memang betul nama samaran Siao-liong-li. Setelah mendengar kata-kata Oey Yong tempo hari, semalam suntuk dia tidak dapat tidur. Setelah dipikir bolak-balik, dia merasa kalau Yo Ko menjadi suaminya, pemuda itu akan dicaci maki orang dan hati sendiri merasa tak enak jika keduanya mengasingkan diri di kuburan kuno. Lama-lama pemuda itu tentu akan merasa kesal dan akhirnya bukan mustahil akan meninggalkannya. Namun cintanya terhadap Yo Ko sebenarnya sudah teramat mendalam, karena itulah dia tegas memutuskan hubungan. Hal ini pun timbul dari cintanya yang suci murni dan demi kebahagiaan dan hari depan Yo Ko.
Demikianlah seorang diri dia mengayunkan langkah tanpa arah tujuan di ladang sepi dan lereng pegunungan. Suatu hari dia duduk bersemadi, mendadak pikirannya bergolak dan sukar diatasi, akibatnya luka dalam yang lama kambuh lagi. Untung Kokcu she Kongsun itu kebetulan lewat dan menolongnya, kalau tidak tentu Siao-liong-li sudah tewas di pegunungan sunyi itu.
Kongsun Kokcu sudah lama menduda. Begitu meIihat kecantikan Siao-liong-li yang tiada taranya, ia menjadi tertarik. Sesungguhnya Siao-liong-Ii sendiri juga sudah putus asa, maka ketika dilamar oleh Kokcu, dia pikir kalau dirinya sudah menjadi isteri orang lain, jelas persoalannya dengan Yo Ko putus, apa lagi Cui-sian-kok ini sangat sunyi dan terpencil, selanjutnya pasti takkan bertemu lagi dengan pemuda itu.
Siapa tahu tiba-tiba muncul Lo-wan-tong Ciu Pek-thong yang mengacaukan Cui-sian-kok dan memancing kedatangan Yo Ko. Kini mendadak berhadapan dengan Yo Ko di tengah sebuah perjamuan, sungguh remuk redam hati Siao-liong-li. Pikirnya: “Aku sudah menerima lamaran orang dan segera akan menikah, lebih baik aku berlagak tidak kenal, biar dia pergi dari sini dengan marah dan membenci diriku selama hidup.”
Sebab itulah dia tetap tidak menggubrisnya meski pun dilihatnya Yo Ko sangat cemas dan bingung, Ketika mendadak Yo Ko berkata tentang penyembuhan dengan bantuan darah orang lain, segera teringat olehnya ketika dirinya terluka parah oleh kaum Tosu Coan-cin-kau sehingga muntah darah, tetapi tanpa menghiraukan keselamatan sendiri Yo Ko menyalurkan darah sendiri untuk menyelamatkan jiwanya, hal ini sungguh terukir secara mendalam di lubuk hatinya. Karena guncangan perasaan itulah seketika ia pun menumpahkan darah segar.
Dengan wajah pucat lesi dia bangkit dan bermaksud melangkah ke ruangan belakang. Kongsun Kokcu cepat berkata kepadanya:
“Duduk saja dan jangan bergerak agar tidak mengganggu urat nadi yang lain.” Kemudian ia berpaling kepada Yo Ko dan berkata: “Sebaiknya kau pergi saja dan untuk selanjutnya janganlah datang lagi ke sini.”
Air mata Yo Ko bercucuran, katanya kepada Siao-liong-li: “Kokoh, bila aku beranjak silakan kau mencaci dan memukul aku, sekali pun kau membunuh aku rela. Tapi mengapa kau tidak mau mengakui diriku lagi?”
Siao-liong-li tidak menjawab, ia menunduk sambil batuk perlahan beberapa kali. Sejak tadi Kongsun Kokcu sudah murka karena ucapan Yo Ko membikin Siao-liong-li muntah darah, namun sebisanya ia bersabar. Dengan suara geram ia berkata:
“Jika kau tidak segera pergi, jangan kau menyalahkan aku tidak kenal ampun.”
Akan tetapi mata Yo Ko hanya menatap tajam kepada Siao-liong-li dan tidak menggubris Kongsun Kokcu. Dia memohon lagi:
“Kokoh, aku berjanji akan mendampingi kau selama hidup di kuburan kuno dan takkan menyesal, marilah kita berangkat sekarang.”
Perlahan Siao-liong-li mengangkat kepalanya, dia lihat sorot mata Yo Ko penuh rasa kasih sayang yang mendalam bercampur rasa sedih dan cemas tak terhingga, tanpa terasa hatinya goncang dan timbul niatnya terima ajakan Yo Ko itu, tetapi segera terpikir lagi olehnya: “Tidak, perpisahanku ini telah kupikirkan dengan masak, bila aku tidak tahan, kelak pasti akan bikin susah dia selama hidup.” Karena itu cepat ia berpaling ke arah lain lalu menghela napas panjang, katanya:
“Aku tidak kenal kau. Apa yang kau katakan sama sekali aku tidak paham, sebaiknya lekas kau pergi saja!”
Beberapa kalimat itu diucapkannya dengan lemah dan lirih, tapi penuh mengandung kasih sayang, kecuali orang dogol macam Be Kong-co yang sama sekali tidak merasakannya, orang-orang yang lainnya segera mengetahui bahwa perasaan Siao-liong-li terhadap Yo Ko sesungguhnya sangat mesra, apa yang dikatakannya itu sesungguhnya bertentangan dengan pikirannya.
Sudah tentu tidak kepalang rasa cemburu Kongsun Kokcu setelah mendengar perkataan itu. Meski Siao-liong-li sudah menerima lamarannya dan bersedia menjadi isterinya, tetapi belum pernah nona itu mengucapkan sesuatu perkataan yang mesra padanya. Dengan geram dia melotot pada Yo Ko, dilihatnya pemuda itu memang gagah dan cakap, sebenarnya memang menjadi pasangan yang amat setimpal dengan Siao-liong-li. Dia pikir kedua muda-mudi itu mungkin memang sudah pacaran, entah pertengkaran urusan apa sehingga berpisah dan Liu-ji mau terima lamarannya, tapi jelas hatinya belum melupakan kekasihnya yang lama. Begitu teringat hal ini, tanpa terasa sorot matanya memancarkan sinar kemarahan dan kebencian.
Hoan It-ong paling setia kepada sang guru. Ia melihat Yo Ko mengacaukan rencana pernikahan gurunya, bahkan sudah mengakibatkan bakal ibu guru muntah darah, dan sang guru tetap bersabar saja. Segera dia tampil ke depan dan membentak:
“Bocah she Yo, kalau kau tahu diri hendaklah lekas enyah dari sini, Kokcu kami tidak menyukai tamu yang tidak kenal sopan santun macam kau.”
Yo Ko anggap tidak mendengar saja, dengan suara lembut dia berkata pula kepada Siao-liong-li:
“Kokoh, apakah engkau benar-benar telah lupa kepadaku?”
Marah sekali Hoan It-ong, dengan tenaga penuh sebelah tangannya mencengkeram punggung Yo Ko, maksudnya sekali pegang segera Yo Ko hendak dilemparkannya keluar. Saat itu Yo Ko sedang bicara kepada Siao-liong-li dengan penuh perhatian, kejadian di luar itu sama sekali tak dihiraukannya. Ketika jari Hoan It-ong menyentuh punggungnya barulah dia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga untuk mengerutkan badan, seketika cengkeraman Hoan It-ong mengenai tempat kosong.
“Brettt...!” terdengar suara dan baju bagian punggung Yo Ko terobek.
Karena permohonannya yang berulang tak digubris oleh Siao-liong-li, Yo Ko semakin cemas. Apa bila berada berduaan di kuburan kuno, dengan sendirinya dia akan memohon dengan sabar, tapi kini berada di depan orang banyak, sedangkan Hoan It-ong terus mengganggu, keruan rasa gusar Yo Ko kini menjadi berpindah kepada kakek cebol itu, segera ia berpaling dan membentak:
“Aku sedang bicara dengan Kokoh, kenapa kau mengganggu saja?!”
Dengan suara keras Hoan It-ong balas membentak: “Kokcu suruh kau enyah, kau dengar tidak? Apa bila kau tetap membangkang, jangan kau salahkan kakekmu yang tidak kenal ampun lagi padamu.”
“Aku justru tidak mau pergi, kau mau apa?!” jawab Yo Ko dengan gusar. “Selama Kokoh masih di sini aku pun akan tetap tinggal di sini. Walau pun aku mati dan mayatku menjadi abu tetap aku ikut dia.”
Sudah tentu ucapan Yo Ko itu sengaja diperdengarkan kepada Siao-liong-li. Pada waktu Kongsun Kokcu melirik wajah si nona terlihat air matanya berlinang dan akhirnya menetes, sungguh pedih hatinya, rasa cemburu terhadap Yo Ko makin membakar. Segera ia mengedipi Hoan It-ong dan memberi tanda agar cepat melancarkan serangan maut membinasakan Yo Ko.
Hoan It-ong tidak menduga bahwa sang guru akan menyuruhnya membunuh pemuda itu. Semula dia hanya bermaksud mengusirnya saja, tapi sang guru telah mendesaknya lagi, terpaksa ia angkat tongkatnya dan diketokkan ke lantai hingga menerbitkan suara nyaring, bentaknya:
“Apa kau benar-benar tidak takut mati?!”
Yo Ko merasakan darahnya panas, bergolak di rongga dada, seperti halnya Siao-liong-li, rasanya darah itu akan tumpah keluar. Kiranya aliran lwekang Ko-bong-pay sangat mengutamakan soal mengekang perasaan dan pengendalikan napsu, sebab itulah waktu Siao-liong-li diajarkan oleh gurunya dahulu, ia diharuskan menjauhi segala macam perasaan suka-duka dan pengaruh dari Iuar. Tapi belakangan Siao-liong-li tak dapat menahan perasaannya sehingga beberapa kali muntah darah.
Yo Ko sendiri mendapat ajaran dari Siao-liong-li, maka aliran Iwekang-nya sama. Karena gejolak perasaannya, kaki serta tangannya terasa dingin dan darah hampir tersembur dari mulutnya. Yo Ko menjadi nekat ingin mati saja di hadapan sang Kokoh yang tidak mau gubris lagi padanya. Namun segera terpikir olehnya: “Betapa mesranya Kokoh biasanya, bahwa sekarang dia bersikap sedingin ini, kuyakin pasti ada sebab musababnya, besar kemungkinan dia mendapat tekanan dari Kokcu bangsat ini hingga terpaksa tidak berani mengakui diriku. Apa bila aku tidak bersabar dan mencari jalan keluar, tentu sukar menghadapi orang-orang di sini.”
Karena pikiran itu, serentak timbullah semangat jantannya, dia bertekad hendak melabrak musuh dan menyelamatkan Siao-liong-li keluar dari tempat yang berbahaya ini. Segera ia mengumpulkan semangat dan menenangkan diri, kemudian sambil tersenyum dia berkata kepada Hoan It-ong:
“He, ada apa kau gembar-gembor? Pegunungan sunyi seperti kuburan, kalau tuan muda mau datang masa kau mampu menghalangi dan jika kuingin pergi masa kau dapat menahan diriku?”
Tadi semua orang menyaksikan keadaan Yo Ko yang sedih dan kalap seperti orang gila, tetapi mendadak bisa berubah menjadi sabar dan tenang, sungguh mereka sangat heran, Karena Hoan It-ong memang tiada maksud membunuh Yo Ko sebagai mana perintah sang guru, maka tongkatnya segera disabetkan ke kaki Yo Ko.
Kongsun Lik-oh kenal kepandaian Toa-suhengnya itu amat lihay. Meski tubuhnya pendek tetapi memiliki tenaga raksasa pembawaan. Semalam pun menyaksikan ketahanan Yo Ko digarang di dalam rumah batu, Iwekang-nya jelas tidak rendah, tapi mengingat usianya yang masih muda, rasanya sukar melawan permainan tongkat Toa-suhengnya, apa bila kedua orang sudah bergebrak, pasti sangat sukar untuk menolong pemuda itu. Karena hasratnya ingin menolong Yo Ko, biar pun nampak sang ayah sedang gusar, tapi Kongsun Lik-oh tetap nekat dan tampil ke muka, katanya pada Yo Ko:
“Yo-kongcu, tiada gunanya kau buang waktu di sini dan mengorbankan jiwa.”
Yo Ko hanya mengangguk sambil tersenyum, jawabnya: “Terima kasih atas maksud baik nona. Tapi aku ingin main-main beberapa jurus dengan si jenggot panjang ini, eh, apakah kau suka mainan kuncir, biar kupotong jenggot si cebol ini untukmu.”
Kejut sekali Kongsun Lik-oh dan ia tidak berani menanggapi ucapan Yo Ko, ia anggap kelakar pemuda itu keterlaluan dan barang kali benar-benar sudah bosan hidup.
Hoan It-ong menjadi marah karena jenggotnya diremehkan Yo Ko. Mendadak ia buang tongkatnya lantas melompat maju sambil membentak:
“Bocah kurang ajar! Rasakan dulu jenggotku ini!”
Belum habis ucapannya, tiba-tiba jenggot yang panjang itu telah menyabet ke muka si Yo Ko. Sembari berkelit Yo Ko berkata dengan tertawa:
“Lo-wang-tong tidak berhasil memotong jenggotmu, biarlah aku pun mencobanya.”
Segera ia mengeluarkan gunting raksasa dari ranselnya terus menggunting. Tetapi sekali miringkan kepala, Hoan It-ong putar jenggotnya terus menghantam kepala lawan dengan kekuatan yang hebat.
Cepat Yo Ko melompat ke samping, sebalikya gunting terus membalik dan “creng”, guntingnya telah mengatup. Kejut Hoan It-ong tak terkatakan, secepat kilat dia berjumpalitan ke belakang, sedikit telat saja jenggotnya pasti tergunting putus.
Sesungguhnya gunting Yo Ko dia pesan dari Pang Bik-hong untuk digunakan melawan senjata kebut Li Bok-chiu, dia sudah mempelajari gaya permainan kebut lawan dan cara bagaimana guntingnya harus bekerja. Siapa tahu Li Bok-chiu yang diharapkan belum pernah bertemu, sekarang guntingnya harus menghadapi si kakek cebol yang menggunakan jenggot panjang sebagai senjata. Yo Ko sangat senang, ia yakin betapa pun lihaynya jenggot si kakek tidak lebih lihay dari pada kebut Li Bok-chiu, karena itu dia tidak menjadi gentar, guntingnya terus mendesak lawan.
Hoan It-ong sendiri sudah lebih 30 tahun menggunakan jenggotnya sebagai senjata, apa lagi kedua tangannya juga ikut menyerang, tentu saja tambah lihay. Malahan Ciu Pek-thong yang maha sakti itu pun tidak berhasil menggunting jenggot Hoan It-ong, maka semua orang menyangka Yo Ko pasti juga akan gagal.
Tak terduga permainan gunting Yo Ko ternyata lebih lincah dan hidup serta lain dari pada Ciu Pek-thong. Tentu saja hal ini membikin semua orang merasa heran. Padahal bukanlah karena ilmu silat Yo Ko lebih tinggi dari pada Ciu Pek-thong, tetapi sebelum itu dia sudah mempelajari gaya permainan kebut Li Bok-chiu dan sudah merancang cara bagaimana menggunakan guntingnya, sedangkan gerakan jenggot Hoan It-ong ini justru hampir sama dengan permainan kebut Li Bok-chiu. Oleh karena itu, sekali Yo Ko mulai mainkan guntingnya, dengan sendirinya terasa sangat lancar dan berada di atas angin.
Begitulah beberapa kali jenggot Hoan It-ong kena digunting putus. Sekarang dia sudah tak berani lagi meremehkan Yo Ko yang masih muda. Segera ia ganti serangan jenggotnya disertai dengan pukulan yang dahsyat, terkadang sabetan jenggotnya hanya gerak pura-pura, kemudian disusul dengan pukulan lihay sungguhan, tetapi ada kalanya pukulannya hanya pancingan, lalu jenggotnya menyabet. Sungguh kepandaian yang luar biasa dan lain dari pada yang lain.
Setelah beberapa puluh jurus lagi, Yo Ko mulai gelisah. Ia pikir Kokcu she Kongsun jelas manusia culas dan kejam, ilmu silatnya pasti juga jauh di atas kakek cebol ini, kalau muridnya tak dapat dikalahkan, lalu cara bagaimana melawan gurunya nanti? Yo Ko memperhatikan gerak-gerik lawan, tampak kelakuan kakek cebol itu sangat lucu di kala menggoyangkan kepala menyabetkan jenggotnya, makin keras sabetan jenggotnya, semakin lucu kepalanya itu bergoyang. Tiba-tiba hati Yo Ko tergerak. Ia telah menemukan cara mematahkan serangan lawan.
“Crett!” ia katupkan guntingnya sambil melompat mundur dan berseru: “Berhenti dulu!”
Hoan It-ong tidak mengudaknya, dia bertanya: “Adik cilik, kalau kau menyerah kalah, nah, lekas pergi saja dari sini!”
Tapi Yo Ko menggeleng dan menjawab: “Aku ingin tanya, setelah jenggotmu dipotong, berapa lama tumbuh lagi sepanjang itu?”
“Itu bukan urusanmu!” sahut Hoan lt-ong dengan gusar. “Selamanya aku tak pernah cukur jenggot!”
“Sayang, sayang! sungguh sayang!” ujar Yo Ko sambil menggeleng.
“Sayang apa?” tanya Hoan It-ong melengak.
“Cukup dalam tiga jurus saja segera jenggotmu yang panjang ini akan kugunting putus,” kata Yo Ko.
Mana Hoan It-ong mau percaya dalam tiga-jurus dirinya akan dikalahkan oleh Yo Ko. Bukankah semenjak tadi mereka sudah bergebrak beberapa puluh jurus? Dengan gusar ia membentak:
“Lihat seranganku!” Sebelah tangannya segera memukul.
Cepat Yo Ko menangkis dengan tangan kiri, gunting di tangan kanan balas menghantam batok kepala lawan. Perawakan Yo Ko lebih tinggi, maka untuk memukul lawan dengan sendirinya dari atas ke bawah.
Karena itu Hoan It-ong memiringkan kepalanya untuk menghindar. Tak terduga tangan kiri Yo Ko menghantam ke peIipis kanannya. Untuk mengelak terpaksa Hoan It-ong memiringkan kepala lagi, namun lantaran serangan lawan teramat cepat dan caranya memiringkan kepala juga amat cepat, dengan sendirinya jenggotnya yang panjang ikut tergertak ke atas, padahal gunting Yo Ko sudah disiapkan di sebelah kanannya.
“Crett!” tanpa ampun lagi jenggotnya tergunting setengah meter. Semua orang menjerit kaget, ternyata benar Yo Ko telah memotong jenggot Hoan It-ong hanya dalam tiga jurus seperti apa yang dikatakan sebelumnya tadi. Kiranya menurut pengamatan Yo Ko tadi, diketahui bila Hoan It-ong hendak menyabet dengan jenggotnya ke kiri misalnya, maka kepalanya pasti meleng dulu ke sebelah kanan, jika jenggot hendak menyabet ke atas, maka kepala tentu menunduk lebih dulu. Dari situlah dia lantas menetapkan siasatnya, untuk memotong jenggot lawan harus pura-pura menghantam kepalanya, dengan begitu barulah dia berani sesumbar akan menggunting jenggot lawan dalam tiga jurus saja.
Hoan It-ong terkesima sejenak. Dia merasa sayang dan murka karena jenggot yang sudah dirawatnya selama hidup sekarang digunting begitu saja. Cepat ia sambar kembali tongkatnya, dengan kalap ia serampang pinggang Yo Ko.
Waktu masuk tadi Be Kong-co telah dijatuhkan oleh jenggot Hoan It-ong, maka ia sangat senang melihat jenggot orang terguling putus, serunya sambil tertawa:
“Hehehe…., Hoan cebol, tampangmu memang jelek, tanpa jenggotmu itu kau menjadi semakin buruk rupa!”
Hoan It-ong tambah gemas sehingga serangannya bertambah dahsyat. Selama Yo Ko bergebrak dengan Hoan It-ong, yang dipikirkan hanya jenggot orang saja sehingga belum diketahui sampai di mana kekuatan yang sebenarnya. Kini menghadapi tongkat lawan, dia ingin tahu bagaimana tenaganya. Ketika tongkat lawan menyabet tiba, segera dia menangkisnya dengan gunting,
“Trangg...!”
Lengannya terasa kesemutan dan gunting raksasa itu bengkok. Hanya satu jurus saja gunting sudah tak dapat digunakan lagi.
Melihat perubahan itu, Kongsun Lik-oh menguatirkan keselamatan Yo Ko, maka dia cepat-cepat berseru:
“Yo-Kongcu, tenagamu tidak memadai Toa-suhengku, buat apa kau menempurnya lagi?”
Kegusaran Kongsun Kokcu semakin sengit karena puterinya berulang kali membela orang luar. Dia pelototi anak perempuannya, tampaklah si nona mengawasi Yo Ko dengan penuh perhatian. Ketika dia memandang kepada Siao-liong-li, tampak sikapnya hambar saja seakan-akan tidak ambil pusing terhadap keselamatan Yo Ko. Karena itu Kongsun Kokcu menjadi girang, ia pikir Siao-liong-li ternyata tidak mencintai Yo Ko, terbukti keselamatan pemuda itu sedikit pun tidak dihiraukannya.
Padahal Siao-Iiong-Ii cukup kenal kepintaran dan kecerdikan Yo Ko, ilmu silatnya juga pasti tidak di bawah Hoan-It-ong, dia yakin pertarungan mereka pasti akan dimenangkan oleh pemuda itu, makanya dia sama sekali tidak berkuatir.
Sementara itu Yo Ko telah membuang guntingnya yang sudah bengkok, lalu berkata: “Hoan-heng, kau pasti bukan tandinganku lebih baik kau menyerah saja!”
Dengan gusar Hoan It-ong menjawab: “Asal kau sanggup mengalahkan tongkatku ini, segera aku membunuh diri!” Berbareng tongkatnya mengemplang sekerasnya.
Namun sedikit Yo Ko miringkan tubuhnya, tongkat itu jatuh di sebelahnya. Sekali kaki kiri Yo Ko menginjak, dengan tepat batang tongkat itu terpijak. Sekuatnya Hoan It-ong mengangkat tongkatnya ke atas, namun tubuh Yo Ko juga lantas mengikuti gerakan tongkat itu hingga terbawa ke udara. Dengan mantapnya dia berdiri di atas tongkat dengan satu kaki, yakni kaki kiri. Beberapa kali Koan it-ong menggerakkan tongkatnya agar Yo Ko tergetar jatuh, tetapi tak berhasil.
Dengan murka Hoan It-ong hendak memutar tongkatnya, tapi Yo Ko keburu melangkah maju melalui batang tongkatnya. Keruan gerakan aneh Yo Ko ini amat mengejutkan Hoan It-ong, sementara itu Yo Ko telah melangkah maju lagi satu tindak, mendadak kaki kanan melayang ke depan untuk menendang hidungnya.
Keadaan Hoan It-ong menjadi serba salah, musuh seperti sudah melengket pada batang tongkatnya. Jika dirinya meloncat mundur sama juga seperti membawa musuh lebih maju, kalau tidak meloncat mundur jelas sukar menghindarkan tendangan lawan, sedang kedua tangan memegangi tongkat sehingga tak dapat digunakan menangkis, apa lagi jenggotnya sudah tergunting sehingga tiada senjata buat membela diri lagi. Dalam keadaan kepepet terpaksa ia membuang tongkatnya dan melompat mundur menghindari tendangan musuh.
“Trangg...!”
Ujung tongkat mengetok lantai, ujung lain belum lagi jatuh sudah keburu dipegang oleh Yo Ko. Be Kong-co, Nimo Singh dan lainnya bersorak memuji. Segera Yo Ko ketokkan tongkat rampasannya ke lantai dan bertanya dengan tertawa:
“Apa abamu sekarang?”
Muka Hoan It-ong merah padam, jawabnya penasaran: “Kau main licik, aku tidak merasa kalah!”
“Baik, boleh kita coba lagi,” ujar Yo Ko sambil melemparkan tongkat kepada Hoan It-ong.
Ketika Hoan It-ong hendak menangkap tongkat, tanpa terduga mendadak tongkat itu melompat ke atas sehingga tangan Hoa It-ong menangkap angin, sekali ulurkan tangan, kembali Yo Ko menyambar lagi tongkat itu.
Serentak Be Kong-co dan lainnya bersorak lebih keras, sebaliknya muka Hoan It-ong semakin merah padam. Kim-lun Hoat-ong dan In Kik-si saling pandang dengan tersenyum, mereka memuji kepintaran Yo Ko. Kemarin mereka menyaksikan Ciu Pek-thong menimpuk orang dengan ujung tombak yang patah, namun ujung tombak itu bisa berubah arah di tengah jalan sebelum mencapai sasarannya, jelas Yo Ko telah menirukan cara Ciu Pek-thong. Dengan sendirinya Kongsun Kokcu dan anak muridnya tidak mengetahui seluk-beluk itu, mereka menjadi kaget dan heran atas kepandaian Yo Ko.
“Bagaimana, apakah perlu satu kali lagi?” tanya Yo Ko sambil tertawa.
Hoan It-ong merasa terguntingnya jenggot dan terampasnya tongkat adalah karena tertipu oleh kelicikan lawan, dengan sendirinya ia tidak mau mengaku kalah. Dengan suara keras dan gemas dia menjawab:
“Kalau kau dapat mengalahkan aku dengan kepandaian sejati barulah aku menyerah padamu.”
“Ilmu silat harus mengutamakan kecerdikan,” jengek Yo Ko, “gurumu sendiri teramat tolol, anak muridnya dengan sendirinya goblok, makanya aku memberi nasehat lebih baik kau cari guru lain yang lebih pandai,” jelas dengan ucapannya ini sama saja dia memaki Kongsun Kokcu.
Keruan Hoan It-ong bertambah murka, dengan nekat ia kembali menerjang maju. Dengan melintangkan tongkat Yo Ko angsurkan senjata rampasannya kepada si kakek sambil berkata:
“Sekali ini kau harus hati-hati, kalau sampai kurebut lagi jangan kau sesalkan orang.”
Hoan It-ong tidak berani menjawab, ia genggam tongkat sekencangnya dan siap siaga. Ia pikir hanya ada satu jalan supaya dapat merampas lagi tongkat itu, yakni potong sekalian tanganku ini.
“Awas! ” terdengar Yo Ko berseru sambil menubruk ke depan, tahu-tahu tangan kirinya telah menempel ujung tongkat lawan, berbareng jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan menyolok sepasang mata musuh, malahan kaki kirinya juga ikut menginjak batang tongkat. Inilah jurus ‘Go kau-toat-tiang’ (merampas tongkat dari mulut anjing galak), suatu jurus maha sakti dari Pak-kau-pang-hoat kebanggaan Kay-pang.
Dulu dalam pertemuan besar Kay-pang (kaum pengemis) di Kue-san, dengan jurus ini Oey Yong merebut tongkat penggebuk anjing dari tangan Yo Khong (ayah Yo Ko) dan jadilah dia ketua Kay-pang yang disegani. Cara merebut senjata lawan dengan jurus sakti itu boleh dikatakan tidak pernah meleset, seratus kali tembak seratus kali kena.
Kalau dua kali yang duluan Yo Ko berhasil merebut tongkat lawannya, walau pun caranya juga aneh, tapi gerakannya dapat diikuti dengan jelas oleh penonton, tapi sekali ini bahkan Hoa It-ong sendiri tidak tahu bagaimana caranya, sekejap mata saja tahu-tahu tongkatnya sudah berpindah ke tangan musuh.
“Nah, cebol tua, sekali ini kau takluk tidak?” seru Be Kong-co.
“Dia pakai ilmu sihir dan bukan kepandaian sejati, mana aku mau menyerah?” jawab Hoan lt-ong penasaran.
“Habis cara bagaimana baru kau mau takluk?” tanya Yo Ko dengan tertawa.
“Kecuali kau merobohkan aku dengan kepandaian sejati,” sahut Hoan It-ong.
Yo Ko mengembalikan lagi tongkatnya sambil berkata: “Baiklah, kita boleh coba-coba lagi beberapa jurus.”
Hoan It-ong telah kapok terhadap cara orang merebut senjatanya dengan tangan kosong, dia pikir sebaiknya bertanding senjata saja. Oleh karena itu segera dia berkata:
“Aku sendiri menggunakan senjata sebesar ini, sebaliknya kau hanya bertangan kosong, andai kata aku menang juga kau pasti merasa penasaran.”
“Jelas kau sudah kapok pada caraku merebut senjatamu dengan bertangan kosong,” ujar Yo Ko dengan tertawa, “Baiklah, biar aku pun menggunakan senjata untuk melayani kau.”
Ia coba memandang ke sekeliling ruangan, dilihatnya dinding sekitar tiada sesuatu pajangan apa pun, apa lagi senjata yang bisa digunakan, hanya di halaman sana ada dua pohon Liu dengan ranting pohon yang berlambaian menghijau permai. Ia pandang sekejap kepada Siao-liong-li lantas berkata:
“Kau ingin she Liu, maka biarlah kugunakan ranting pohon liu sebagai senjata.”
Segera dia melompat ke halaman dan mengambil sepotong ranting liu yang bulatan tengahnya sekitar tiga senti dan panjang satu meteran sehingga mirip pentung penggebuk anjing milik Kay-pang, akan tetapi daun Liu tidak dihilangkannya sehingga kelihatan lebih luwes.
Diam-diam Hoan It-ong sangat mendongkol. Ternyata Yo Ko tidak menggunakan senjata yang umum, sebaliknya ranting kayu seperti mainan anak kecil saja, cara ini jelas sangat meremehkan.
Sementara itu Be Kong-co berseru: “Adik Yo, kau pakai golokku ini!” Segera ia melolos goloknya sehingga memancarkan cahaya kemilauan, benar-benar sebatang golok pusaka yang amat tajam.
“Terima kasih,” kata Yo Ko, “Si cebol ini belum mendapatkan guru sakti, kepandaiannya masih terbatas, ranting kayu ini saja sudah cukup untuk menghajar dia.”
Tak kepalang maranya Hoan It-ong. Dengan nada ucapan Yo Ko itu kembali telah menghina nama baik gurunya, ia pikir pertarungan selanjutnya tidak ada ampun lagi. Segera ia putar tongkatnya dengan kencang, ia mainkan ilmu tongkat ‘Boat-cui-tiang-hoat’ (permainan tongkat gebyur air) yang meliputi 9x9=81 jurus. Permainan tongkatnya disebut ‘gebyur air’ maksudnya air digebyurkan juga tidak akan tembus, suatu tanda betapa kencang dan rapat putaran tongkatnya.
Semula angin tongkatnya menyambar dahsyat, namun setelah belasan jurus, lambat-laun terasa arah tongkatnya rada tergeser ujung tongkatnya. Kiranya Yo Ko sudah menggunakan gaya ‘lengket’ dari Pak-kau-pang-hoat, ujung ranting kayu menempel ujung tongkat, ke timur tongkat itu mengarah, ke timur pula ranting kayunya ikut dan begitu pula seterusnya, tapi berbareng itu dia tambahi tenaga betotan atau tolakan menurut gerakan tongkat lawan sehingga mau tak mau ujung tongkat selalu tergeser arahnya.
ilmu ini sejalan dengan ‘Si-nio-boat-jian-kin’ (empat tahil menolak ribuan kati), sejenis ilmu pinjam tenaga musuh untuk menghantam musuh sendiri yang pasti diyakinkan oleh setiap jago silat. Gaya ‘lengket’ dalam ilmu permainan pentung kaum Kay-pang diciptakan juga menurut kunci ilmu silat tadi, gayanya bagus dan tenaganya sukar diukur.
Tentu saja Kongsun Kokcu semakin heran. Sama sekali dia tidak pernah menduga bahwa seorang muda belia dapat memiliki ilmu sakti sehebat itu. Dilihatnya tenaga tongkat Hoan It-ong semakin lama semakin lemah, sebaliknya kekuatan ranting kayu Yo Ko bertambah dahsyat.
Belasan jurus kemudian seluruh badan Hoan It-ong sudah terkekang oleh setiap gerakan ranting kayu. Makin kuat Hoan It-ong memutar tongkatnya, semakin berat rasanya untuk menguasai diri sendiri. Akhirnya ia merasa tersedot ke tengah pusaran angin lesus yang dashyat sehingga kepala terasa pusing dan pandangan kabur.
“Mundur, It-ong!” tiba-tiba saja Kongsun Kokcu menepuk meja sambil berseru, suaranya menggelegar mengagetkan orang.
Hati Yo Ko terkesiap, ia pikir masa begitu mudah muridmu akan lolos dari tanganku. Sedikit tangannya bergerak, dan gaya ‘lengket’ dia ganti dengan gaya ‘putar’, ia berdiri tegak, tetapi pergelangan tangannya terus bergerak dalam putaran kecil sehingga Hoan It-ong ikut terbawa dari kiri ke kanan dan berputar dengan cepat laksana gasingan. Semakin cepat Yo Ko memutar tangannya, semakin kencang putaran Hoan It-ong, tongkat baja yang dipegangnya berputar menegak seperti poros gasingan saja.
“Kau sanggup berdiri tegak tanpa roboh, betapa pun kau terhitung seorang jagoan!” seru Yo Ko sambil menyesakkan ranting kayunya ke atas, lalu ia melompat mundur.
Sementara itu lahir batin Hoan It-ong sudah tak dapat terkuasai Iagi, langkahnya semponyongan, kalau berputar beberapa kali lagi pasti akan terbanting roboh. Sekonyong-konyong Kongsun Kokcu melompat ke atas, selagi terapung di udara sebelah tangannya menggablok ujung tongkat, lalu melompat kembali ke tempatnya semula dengan enteng. Gablokannya kelihatan perlahan, namun membawa tenaga maha dahsyat, kontan tongkat baja itu ambles ke tanah hampir semeter dalamnya dan seketika tidak berputar Iagi.
Dengan berpegangan pada tongkat barulah Hoan It-ong tidak jadi jatuh, namun begitu tubuhnya tetap terhuyung kian kemari laksana orang mabuk. Siau-siang-cu, In Kik-si dan lainnya sebentar memandang Yo Ko, di lain saat memandang Kongsun Kokcu. Mereka pikir kedua orang ini sama hebatnya dan sukar ditandingi, maka biarkan saja keduanya saling genjot, bahkan mereka berharap kedua orang itu mampus semua. Hanya Be Kong-co saja yang berhati polos, kalau bisa ia ingin membantu Yo Ko.
Mendadak Hoan It-ong berlari kemudian berlutut di hadapan sang guru. Dia menyembah beberapa kali, tanpa bicara kepalanya dibenturkan ke tiang rumah. Perbuatannya ini sungguh tak terduga oleh siapa pun, tiada yang menyangka bahwa watak kakek cebol itu ternyata begitu keras, kalah bertanding terus menempuh jalan pendek dengan membunuh diri. Kongsun Kokcu menjerit kaget sambil meloncat maju untuk menjambret punggung Hoan It-ong tetapi lantaran jaraknya terlalu jauh, pula benturan Hoan Itong itu dilakukan dengan sangat cepat, jambretannya itu ternyata luput.
Sementara itu kepala Hoan It-ong telah dibenturkan dengan sepenuh tenaga, tampaknya kepalanya pasti akan pecah berantakan. Namun mendadak terasa tempat yang terbentur oleh batok kepalanya sangat lunak, empuk seperti kasur. Waktu ia menengadah, terlihat Yo Ko telah berdiri di depannya sambil menjulurkan kedua tangannya. Rupanya pemuda ini berdiri paling dekat dengan Hoan It-ong. Ketika melihat gerak-gerik kakek itu mencurigakan segera ia bersiap dan sempat menghadang di depan untuk menyelamatkannya.
“Hoan-heng, apakah kau tahu kejadian apa yang paling menyedihkan di dunia ini?” tanya Yo Ko.
“Apa itu?” Hoan It-ong balik bertanya dengan melenggong.
“Aku pun tidak tahu.” ujar Yo Ko dengan hati pedih, “Hanya duka hatiku berpuluh kali lebih hebat dari padamu, sedangkan aku sendiri belum lagi bunuh diri, lalu mengapa kau malah melakukan hal demikian?”
“Kau menang bertanding, apa yang membuatmu berduka?” kata Hoan It-ong.
Yo Ko menggeleng, jawabnya: “Kalah atau menang bertanding bukan soal bagiku, selama hidupku ini entah sudah berapa kali dihajar orang. Yang jelas betapa cemas dan kuatirnya gurumu ketika melihat kau hendak membunuh diri. Tetapi kalau aku yang membunuh diri dan guruku sama sekali tidak ambil pusing, inilah hal yang paling menyedihkan bagiku.”
Belum lagi Hoan It-ong paham apa yang dimaksudkan Yo Ko, terdengar Kongsun Kokcu membentaknya:
”It-ong, jika kau berbuat bodoh lagi berarti kau tidak taat kepada perintah guru. Kau berdiri saja di samping sana, saksikan gurumu membereskan bocah ini.”
Hoan It-ong paling hormat kepada sang guru, ia tak berani membantah dan segera berdiri ke sana sambil melotot kepada Yo Ko. Mendengar Yo Ko mengatakan kalau dia membunuh diri juga gurunya tidak ambil pusing, seketika mata Siao-Iiong-li basah ber-kaca-kaca, pikirnya: “Jika kau mati, masa aku mau hidup sendiri?”
Setiap selang sejenak Kongsun Kokcu tentu memandang sekejap pada Siao-liong-li untuk mengawasi gerak-geriknya. Ketika tiba-tiba nampak si nona hendak meneteskan air mata, segera ia menepuk tangan tiga kali dan berseru:
“Tangkap bocah ini!”
Tepuk tangan tiga kali adalah tanda perintah kepada anak muridnya. Rupanya Kongsun Kokcu hendak menjaga harga diri dan merasa tidak sesuai untuk bertempur dengan anak muda seperti Yo Ko. Demikianlah anak muridnya serentak mengiakan, 16 orang terbagi berdiri di empat sudut, setiap empat orang lantas membentangkan sebuah jaring ikan.
Datangnya Yo Ko berombongan dengan Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain, kalau urusannya telah lanjut begini, pantasnya Kim-lun Hoat-ong membuka suara untuk melerai, tapi dia cuma tersenyum dingin saja dan tetap menonton belaka.
Kongsun Kokcu tidak tahu maksud sikap Hoat-ong yang acuh tak acuh itu. Dia kira orang mengejeknya tak akan mampu menandingi Yo Ko, diam-diam ia mendongkol dan hendak memperlihatkan kemahirannya. Segera ia menepuk tangan lagi tiga kali, dan serentak ke-16 anak muridnya bergeser bertukar tempat sehingga lingkaran kepungan mereka terhadap Yo Ko semakin ciut.
Melihat empat jaring lawan semakin mendekat, Yo Ko menjadi bingung dan tidak berdaya. Ciu Pek-thong yang maha sakti saja pernah tertawan oleh jaring lawan, apa lagi diriku? Lagi pula Ciu Pek-thong cuma berusaha meloloskan diri saja, kemudian dapat melemparkan Be Kong-co dan Hoan It-ong ke dalam jaring sehingga akhirnya dia berhasil kabur, sebaliknya sekarang aku justru ingin tinggal di sini dan tak ingin lari.
Tiba-tiba di antara anak murid Cui-sian-kok terdengar ada yang bersuit. Empat buah jaring serentak bergeser berganti posisi, sebentar bersilang, lain saat melintang atau menegak, mendatar atau menyerang dan terus mendesak maju.
Sukar bagi Yo Ko melayani kepungan jaring-jaring itu, maka terpaksa dia berputar kayun berlarian di ruangan itu, dengan Ginkang maha tinggi aliran Ko-bong-pay dia terus melayang kian kemari. Dia menghindari pertarungan dari depan, tetapi berusaha membuat musuh merasa bingung dan tidak dapat meraba ke mana dia hendak bergeser. Tapi ke-16 orang itu ternyata tidak ikut berputar seperti Yo Ko, melainkan bergerak mempersempit kepungan.
Sambil berlari Yo Ko memeriksa tempat-tempat kelemahan barisan musuh. Setelah mengikuti beberapa kali perubahan, segera dapat ditarik kesimpulan bahwa barisan jaring musuh menirukan jaring laba-laba. Biasanya laba-laba bersembunyi lebih dahulu, kalau musuh sudah terjebak barulah mangsanya ditangkap. Dia pikir untuk memboboI jaring harus digunakan senjata rahasia. Maka sambil berputar segera dia menyiapkan segenggam Giok-hong-ciam (jarum tawon putih). Ketika empat orang di sebelah kiri mulai mendekat, tiba-tiba tangannya bergerak, tapi yang diincar justru empat orang di sebelah kanan.
Senjata rahasia jarum lembut ini biasanya tak pernah meleset, apa lagi jaraknya sekarang sangat dekat, Yo Ko yakin keempat orang itu pasti akan termakan oleh jarumnya. Tak terduga gerakan keempat orang itu pun sangat cepat. Begitu nampak tangan lawan bergerak serentak mereka mengangkat jaringnya ke atas, terdengarlah suara gemerincing nyaring perlahan. Jarum-jarum itu tersedot seluruhnya oleh jaring.
Kiranya jaring itu teranyam dari benang emas dan baja yang sebagian mengandung daya sembrani yang amat kuat. Sekali jaring itu dibentangkan, betapa pun lihay senjata rahasia lawan tentu akan tertahan seluruhnya.
Yo Ko mengira serangannya pasti berhasil, tak terduga jaring musuh ternyata mempunyai daya guna sehebat itu. Dalam seribu kesibukannya dia sempat melotot ke arah Kongsun Kokcu, dia pikir orang ini sungguh maha lihay dan dapat menciptakan senjata yang begitu aneh. Gagal dengan senjata rahasianya, terpaksa Yo Ko memikirkan jalan lain untuk membobol kepungan musuh.
Sementara itu jaring lawan sebelah kanan sudah mendekat. Sekali pimpinannya berseru, terlihatlah gemeredepnya cahaya, sehelai jaring menyambar tiba. Segera Yo Ko mengegos dan bermaksud menerobos ke sebelah sana, tapi jaring depan dan belakang juga menubruk tiba bersama. Mau tak mau Yo Ko mengeluh, dia pikir sekali ini diriku pasti akan disiksa habis-habisan oleh Kokcu jahanam ini kalau aku sampai tertawan olehnya.
Selagi Yo Ko berkuatir, tiba-tiba terdengar seorang pemegang jaring di sebelah belakang menjerit. Waktu ia menoleh, dilihatnya Kongsun Lik-oh telah jatuh tersungkur, ujung jaring yang dipegangnya menjadi tertarik ke bawah. Itulah suatu peluang di tengah barisan jaring musuh. Tanpa pikir lagi secepat kilat Yo Ko segera melompat ke sana dan menerobos keluar dari kepungan musuh. Sekilas dilihatnya Kongsun Lik-oh merintih kesakitan, namun berulang nona itu memberi isyarat kedipan mata agar Yo Ko lekas lari meninggalkan tempat berbahaya itu.
Tergerak hati Yo Ko, pikirnya: “Nona ini telah menyelamatkan aku dengan mengorbankan dirinya, budi kebaikannya sungguh sukar kubalas. Jika aku pergi begini saja, tentu Kokoh akan menikah dengan Kokcu jahanam itu. Biarlah kulabrak dia dengan mati-matian, andai kata tertawan dan tersiksa juga takkan kutinggalkan tempat ini.”
Berkorban bagi cinta suci, mati pun dia tidak menyesal. Dia terus berdiri di ujung ruangan sana sambil menatap tajam kepada Siao-liong-Ii. Dia pikir masa kau sama sekali tidak ambil pusing menyaksikan aku bergumul dengan mala petaka yang akan menimpa ini.
Terlihat Siao-liong-li tetap menunduk tanpa bersuara. Tetapi rasa sedih dan duka nestapa dalam hatinya saat itu sesungguhnya jauh melebihi Yo Ko. Tanpa tedeng aling-aling Yo Ko mengutarakan isi hatinya secara terus terang, maka biar pun menderita namun tekanan batinnya sudah terlampiaskan sebagian. Tapi Siao-liong-li hanya tutup mulut saja, padahal di dalam hati penuh rasa kasih sayang kepada pemuda itu, namun pemuda itu mana bisa mengetahuinya.
Bersamaan dengan itu Kongsun Kokcu sudah menepuk tangan lagi dua kali. Keempat jaring ikan yang terbentang serentak mundur, lalu katanya terhadap Kongsun Lik-oh.
“Mengapa kau?”
“Kakiku mendadak kejang dan kesakitan,” jawab Kongsun Lik-oh.
Sudah tentu Kongsun Kokcu tahu puterinya jatuh hati kepada Yo Ko sehingga pada detik yang menentukan tadi sengaja memberi peluang kepada pemuda itu untuk lolos. Lantaran berada di hadapan orang luar, dia merasa tidak enak mengumbar rasa marahnya, maka segera dia mendengus dan berkata,
“Baik, kau mundur saja. Capsiji maju, gantikan tempatnya!”
Dengan kepala menunduk Kongsun Lik-oh mengundurkan diri, sedangkan seorang anak muda yang rambutnya dikucir dua segera mengiyakan lantas maju dan memegang ujung jaring yang dipegang Kongsun Lik-oh tadi.
Kongsun Lik-oh sempat melirik sekejap pada Yo Ko dengan penuh rasa menyesal. Diam-diam Yo Ko merasa bersalah dan menyesal juga tidak dapat memenuhi maksud baik si nona yang sengaja hendak menolongnya.
Kembali Kongsun Kokcu bertepuk tangan empat kali. Mendadak ke-16 anak muridnya mengundurkan diri ke ruangan dalam. Yo Ko melengak, ia heran apakah orang mengaku kalah begitu saja? Ketika ia berpaling, dilihatnya air muka Kongsun Lik-oh penuh rasa cemas dan kuatir serta berulang memberi isyarat kepadanya agar lekas melarikan diri. Melihat sikap nona itu, tampaknya sebentar lagi bakal datang bencana maut yang sukar dihindarinya. Yo Ko hanya tersenyum, sebaliknya ia seret sebuah kursi, lalu duduk di situ.
Sementara itu di ruangan dalam terdengar suara gemerincing nyaring. Sejenak kemudian ke-16 anak murid tadi sudah muncul lagi, tangan mereka tetap memegangi jaring, hanya saja jaring mereka sudah berganti dengan jaring yang penuh terpasang kaitan dan pisau kecil. Melihat cahayanya yang gemerlapan, jelas kaitan dan pisau itu sangat tajam, asal terkurung di tengah jaring, seluruh tubuh akan tersayat dan mustahil bisa hidup lagi.
Segera Be Kong-co berteriak “He, sahabat Kokcu, mengapa kau mempergunakan senjata sekeji itu terhadap tamu, kau tahu malu tidak?”
Sambil menuding Yo Ko Kongsun Kokcu berkata: “Bukan keinginanku hendak membunuh kau, soalnya berulang kali telah kusuruh kau pergi saja dari sini tetapi kau tidak mau.”
Betapa pun Be Kong-co juga ngeri melihat keempat jaring yang berkait tajam itu. Segera dia bangkit lalu menarik Yo Ko, katanya:
“Adik Yo, orang busuk macam begini sebaiknya kita jauhi saja, buat apa kau merecoki dia lagi?”
Yo Ko tidak menjawab. Dia menatap ke arah Siao-liong-li dan ingin mendengar apa yang dikatakan si nona. Siao-liong-li sendiri memang merasa bimbang. Bahwa dia mau menikah dengan Kongsun Kokcu adalah karena dia merasa berterima kasih atas pertolongan jiwanya, pula tempat kediamannya yang indah permai dan terpencil ini juga cocok sekali sebagai tempat untuk menghindari pencarian Yo Ko. Apa lagi setelah berdiam beberapa hari, dia merasa sang Kokcu adalah seorang yang berpengetahuan luas dan pandai, jelas seorang yang serba pintar, maka sedikit banyak timbul juga rasa sukanya hingga merasa mantap untuk hidup bersamanya.
Siapa tahu dunia yang luas ini terkadang juga seperti amat ciut, Yo Ko bisa muncul di tanah sunyi ini. Kini menyaksikan Kongsun Kokcu mengeluarkan barisan jaring berkait itu, ia pikir Yo Ko pasti tak terhindar dari kematian. Ia pun sudah bertekad, asalkan Yo Ko terkurung oleh jaring, segera dia sendiri juga akan menubruk ke atas jaring itu untuk mati bersama pemuda itu. Berpikir sampai di sini tanpa terasa ia tersenyum simpul dan berhati lega.
Sudah tentu lika-liku yang dipikir Siau-liong-li tidak diketahui oleh Yo Ko. Pemuda itu menyangka kebalikannya, dia pikir diriku sedang terancam bahaya maut, tetapi kau masih dapat tersenyum gembira, keruan rasa pedih hatinya bertambah hebat. Namun pada waktu dia merasa pedih, dongkol dan gelisah itulah, sekilas timbul sesuatu pikiran pada benaknya. Keputusan apa pun yang diambilnya selalu dilakukannya dengan amat cepat, maka tanpa pikir lagi dua kali langsung dia mendekati Siao-liong-li, dengan sedikit membungkuk lalu berkata:
“Kokoh, Ko-ji sedang menghadapi kesulitan, mohon pinjam Kim-Ieng-soh (selendang bergenta emas) dan Ciang-doh (sarung tangan) untuk kupakai sebentar.”
Yang terpikir oleh Siao-liang-Ii pada saat itu adalah betapa bahagianya bisa mati bersama Yo Ko, selain itu tiada sesuatu lagi yang terpikir olehnya. Karena itu tanpa menjawab dia terus mengeluarkan sepasang sarung tangan putih berikut sehelai selendang sutera putih lalu diangsurkan kepada pemuda itu.
Dengan tenang Yo Ko menerima benda-benda itu, katanya pula sambil menatap tajam wajah Siao-liong-Ii:
“Sekarang engkau telah mengakui diriku?”
Dengan penuh kasih sayang Siao-liong-li menjawab sambil tersenyum: “Dalam hati sejak tadi sudah kukenali dirimu!”
Seketika semangat Yo Ko bangkit, lalu tanyanya pula dengan suara gemetar: “Jadi kau pasti akan ikut pergi bersamaku dan takkan menikah dengan Kokcu ini, bukan?”
“Ya, aku bertekad akan ikut pergi bersamamu, dengan sendirinya takkan menikah dengan orang lain,” jawab Siao-liong-li sambil tersenyum. “Ko-ji, aku ini adalah isterimu.”
Jawaban Siao-liong-li yang cukup tegas ini tentu saja amat mengejutkan orang, terutama Kongsun Kokcu, mukanya menjadi pucat pasi. Mendadak dia bertepuk tangan empat kali dengan keras sebagai tanda perintah kepada anak muridnya agar melancarkan serangan serentak. Tanpa bicara lagi ke-16 anak muridnya langsung bergerak sambil membentang jaring mereka.
Bagi Yo Ko, ucapan Siao-liong-Ii bagaikan obat mujarab yang telah menghidupkan dia dari kematian, maka seketika keberaniannya menjadi berlipat ganda. Andai kata di depannya sekarang menghadang lautan api atau minyak mendidih tak terpikir lagi olehnya. Segera ia memakai sarung tangan yang kebal senjata, sedangkan Kim-leng-soh pada tangan kanan terus digentakkan hingga menimbulkan suara “ting-ting-ting” yang nyaring. Laksana ular putih saja selendang sutera putih terus menyambar ke depan.
Pada ujung selendang putih itu terikat sebuah keleningan emas yang dapat berbunyi waktu selendang itu menjulur dan mengkeret, kontan keleningan emas itu telah tepat mengetok ‘lm-kok-hiat’ lawan yang berada di sebelah kanan. Ketika selendang itu tertarik balik, kembali seorang lawan di sebelah kiri juga tertotok, seketika lengan orang itu lemas tak bertenaga dan dengan sendirinya jaring yang dipegangnya terlepas dari tangannya.
Dua kali serangan kilat ini benar-benar luar biasa, sekaligus selendang berkeleningan itu bergerak, seketika barisan jaring musuh kena dibobolkan. Waktu empat orang yang memegangi jaring sebelah barat tertegun sejenak, Kim-leng-soh yang disabetkan Yo Ko menyambar tiba pula.
“Tingg...! Tingg...!” kembali dua orang di antaranya tertotok roboh lagi.
Tetapi pada saat itu juga jaring di sebelah belakang telah menubruk, kaitan dan pisau kecil yang terpasang di jaring segera akan melukainya. Terpaksa Yo Ko menggunakan tangan kiri mencengkeram jaring musuh terus dibetot sekuatnya. Oleh karena dia memakai sarung tangan pusaka, meski kaitan dan pisau tajam itu tercengkeram olehnya takkan melukai.
Sejak dia menciptakan aliran ilmu silatnya sendiri, setiap gerak-geriknya boleh dikatakan selalu timbul secara otomatis dan tanpa ragu. Kini jaring yang kena dicengkeramnya segera digentakkan sehingga jaring berbalik menyambar ke arah para pemegangnya.
Yang dilatih oleh para anak murid Cui-sian-kok itu adalah menyerang dengan jaring serta kemungkinan lolosnya musuh, sama sekali tidak terpikir oleh mereka bahwa jaring dapat terbalik hendak makan mereka. Keruan mereka terkejut ketika melihat pisau serta kaitan tajam di dalam jaring menyambar kepala mereka. Sambil menjerit ketakutan cepat mereka melompat mundur dan melepaskan jaring yang mereka pegang. Anak muda yang berkuncir kecil tadi lebih lemah, tidak urung pahanya terluka oleh pisau sehingga mengucurkan darah, dia jatuh tersungkur dan menangis kesakitan.
“Jangun takut, adik cilik, takkan kulukai kau,” kata Yo Ko sambil tertawa.
Segera dia taburkan kait jaring yang dirampasnya, sedang tangan lain memutar Kim-leng-soh, terdengar suara gemerincing nyaring bunyi keleningan serta benturan pisau dan kaitan tajam pada jaring rampasan itu. Melihat keperkasaan Yo Ko, mana anak murid itu berani maju lagi. Mereka berdiri di sudut sana, cuma tanpa perintah sang guru, biar pun takut mereka pun tak berani melarikan diri. Keadaan yang sesungguhnya mereka sudah dikalahkan Yo Ko, walau pun secara resmi mereka belum mengaku kaIah.
Be Kong-co bertepuk tangan dan bersorak, tapi hanya ia sendiri saja yang bersorak sehingga terasa kesepian. Ia menjadi rikuh sendiri, ia melotot pada Kim-Iun Hoat-ong dan menegur:
“He, Hwesio gede, memangnya kepandaian adik Yo itu kurang bagus? Kenapa kau tidak bersorak memuji?”
“Bagus, bagus sekali kepandaiannya!” jawab Hoat-ong tertawa, “Tapi kan juga tidak perlu gembar-gembor begitu rupa,!”
“Sebab apa?” omel Be Kong-co mendelik.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong melihat Kongsun Kokcu sedang melangkah ke tengah ruangan, maka ia tidak gubris lagi apa yang dikatakan Be Kong-co. Setelah mendengar ucapan Siao-liong-li yang menyatakan bertekad ikut pergi bersama Yo Ko, maka sadarlah Kongsun Kokcu bahwa impiannya yang muluk-muluk selama hampir setengah bulan ini cuma kosong belaka. Dia menjadi sangat kecewa dan gusar, pikirnya: “Jika aku gagal mendapatkan hatimu, paling tidak aku harus mendapatkan tubuhmu. Biarlah kubinasakan binatang cilik ini, dengan begitu mau tidak mau kau harus ikut padaku, lama-lama pikiranmu tentu juga akan berubah.”
Meski wataknya kereng dan kejam, namun dia pun dapat membedakan antara yang benar dan salah. Gadis cantik seperti Siao-liong-li itu sudah menyanggupi sendiri untuk menjadi isterinya dan hari ini akan berlangsung upacara nikahnya, tapi mendadak muncul si Yo Ko dan mengacaukan semuanya, tentu saja dia sangat murka.
Melihat kedua alis sang Kokcu yang menegak dan merapat hingga mata-alisnya seakan-akan tegak semua, Yo Ko merasa terkejut dan waswas, sambil memegang Kim-leng-soh dan jaring rampasan dia siap siaga sepenuhnya. Dia menyadari mati-sendiri dan sengsara atau bahagia Siao-liong-li hanya tergantung pada pertarungan yang menentukan ini, maka sedikit pun dia tak berani gegabah.
Dengan perlahan Kongsun Kokcu mengitari Yo Ko, sebaliknya Yo Ko berputar dengan perlahan, pandangnya sedikit pun tak pernah meninggalkan tatapan musuh yang tajam. Ternyata sang Kokcu masih belum mau turun tangan, tapi ia tahu sekali musuh sudah menyerang tentu langsung menggunakan jurus serangan yang maha lihay.
Sejenak kemudian mendadak kedua tangan sang Kokcu menjulur lurus ke depan tiga kali, lalu bertepuk sehingga menimbulkan suara “creng” laksana bunyi dua potong besi yang dibenturkan.
Yo Ko terkesiap lantas melangkah mundur setindak, tetapi tangan kanan Kongsun Kokcu mendadak menyambar tiba dan tahu-tahu jaring ikan rampasan kena dicengkeramnya terus dibetot sekuatnya. Merasa tenaga betotan lawan luar biasa dahsyatnya, tangan sendiri sampai terasa sakit, terpaksa Yo Ko melepaskan jaring itu.
Kongsun Kokcu melemparkan jaring kepada anak muridnya tadi sambil membentak: “Mundur-semua!”
Kekuatan tepukan tangan Kongsun Kokcu itu amat mengejutkan orang, sekarang semua orang bertambah kaget dan heran bahwa tangan sang Kokcu yang jelas telanjang itu tidak gentar akan ketajaman pisau dan kaitan yang terdapat pada jaring.
Biar pun Kongsun Lik-oh adalah anak perempuannya, juga diketahui ilmu silat sang ayah memang sangat tinggi, tetapi tidak tahu ayahnya memiliki kepandaian sehebat itu. Hanya Hoan It-ong saja sebagai muridnya yang tertua sudah kenal kepandaian sejati sang guru. Dia pandang Yo Ko dan berkata dalam hati: “Hari ini kau pasti mampus!”
Setelah jaringnya terebut, Yo Ko tak mau memberi kesempatan lagi kepada lawan untuk mendahului. Selendang sutera bergerak, keleningan berbunyi “ting-ting”, sekaligus dia incar dua Hiat-to di bagian leher dan bahu. Serangan ini hanya penjajagan saja, karena Yo Ko belum tahu betul betapa lihaynya lawan.
Ilmu silat Kongsun Kokcu memang tersendiri. Serangan Yo Ko tidak digubris, bahkan sebelah tangannya terus menjulur ke depan dan mencengkeram lengan Yo Ko. Terdengar suara “ting-ting” dua kali, kedua tempat Hiat-to yang diincar Yo Ko dengan tepat terketok oleh keleningan. Namun Kongsun Kokcu seperti tidak merasakan apa-apa, cengkeramannya mendadak terbuka terus menyodok ke dagu kiri anak muda.
Yo Ko tahu kalau Iwekang seseorang sudah terlatih sempurna, maka setiap saat dapat menutup Hiat-to di tubuh sendiri apa bila sedang menghadapi serangan musuh. Ada juga Iwekang yang aneh sebagaimana yang dilatih Auyang Hong secara terbalik itu sehingga membingungkan serangan musuhnya.
Tetapi Kongsun Kokcu menghadapi serangannya sama sekali se-akan tidak merasakan sesuatu, seperti di tubuhnya tidak terdapat Hiat-to, kepandaian ini benar-benar sangat luar biasa. Yo Ko mengkeret dan merasa jeri.
Sementara itu kedua tangan Kongsun Kokcu bergerak naik turun, telapak tangan samar-samar bersemu hitam. Angin pukulannya terasa menyambar dengan dahsyat. Yo Ko tahu kelihayan lawan, maka tidak berani menangkisnya dengan keras lawan keras. Sembari menggunakan Kim-leng-soh melayani serangan musuh, tangan yang lain digunakan menjaga diri dengan rapat.
Hanya dalam sekejap saja belasan jurus telah berlangsung. Yo Ko memperhatikan setiap serangan musuh dengan cermat, tiba-tiba hatinya tergerak. “Ilmu pukulan Kokcu ini tidak aneh, rasanya aku pernah melihatnya entah di mana.”
Pada suatu kesempatan dia melompat mundur sambil berseru: “He, apakah engkau kenal Wanyen Peng?”
Kiranya Yo Ko melihat gaya pukulan Kokcu ini serupa dengan ilmu silat Wanyen Peng, hanya kekuatan Kokcu ini jauh berbeda. Kongsun Kokcu tak menjawab, sebaliknya ia menubruk maju lagi dan melancarkan pukulan dahsyat. Sekali ini Yo Ko melihat gaya pukulannya tidak sama dengan Wanyen Peng, untuk menghindar rasanya tidak keburu lagi, terpaksa Yo Ko menangkisnya dengan tangan kiri.
“PIakk!”
Kedua tangan beradu, Yo Ko tergetar mundur dua-tiga tindak, sebaliknya Kongsun Kokcu tetap berdiri di tempatnya, hanya tubuhnya tergeliat sedikit. Begitu beradu kedua tangan terus berpisah pula, Yo Ko merasakan suatu arus hawa panas menyusup ke tangannya, keruan ia terkejut, pikirnya: “Hebat benar tenaga pukulan jahanam ini, padahal sarung tangan Kokoh yang kupinjam ini kebal terhadap senjata tajam macam apa pun, tapi ternyata tidak mampu menahan tenaga pukulannya.”
Meski kelihatan Kongsun Kokcu berdiri tanpa terhuyung dan sepertinya lebih unggul, sesungguhnya dadanya terasa sakit akibat getaran tenaga pukulan Yo Ko. Ia pun terkejut dan heran: “Bocah ini masih muda belia, ternyata sanggup menahan pukulanku yang dahsyat. Kalau terlibat lebih lama, rasanya belum tentu aku dapat membinasakan dia, sebaliknya kalau berakhir sama kuat maka musnahlah pamorku.”
Mendadak dia bertepuk tangan dua kali sehingga menimbulkan suara nyaring, dia menoleh kepada puterinya dan berseru:
“Ambilkan senjataku!”
Kongsun Lik-oh menyadari apa bila senjata sang ayah dikeluarkan, maka bagi Yo Ko hanya ada kematian dan tak mungkin bisa selamat. Karena sedikit ragu dan merandeknya itu, dengan suara bengis Kongsun Kokcu langsung membentak:
“Ambilkan senjataku, kau dengar tidak?!”
Dengan muka pucat Kongsun Lik-oh mengiakan lalu cepat berlari ke ruangan belakang. Yo Ko telah mengikuti sikap ayah beranak itu. Ia pikir dengan bertangan kosong saja aku tidak dapat melawannya, apa lagi sekarang akan mempergunakan senjata, mana aku dapat lolos dengan hidup. Mumpung ada kesempatan, biarlah aku lari saja sekarang. Segera dia mendekati Siao-lioag-li dan mengulurkan tangan, katanya:
“Kokoh, marilah ikut denganku.”
Kongsun Kokcu sudah siap dengan pukulannya yang maha dahsyat, asalkan Siao-liong-li bangkit dan menggenggam tangan Yo Ko, seketika dia akan menubruk maju menghancurkan punggung anak muda itu. Ia sudah ambil keputusan akan membinasakan Yo Ko meski pun diri sendiri juga akan terluka parah. Ia pikir kalau sampai calon isteri ikut pergi bersama Yo Ko, lalu apa artinya hidup ini baginya?
Tapi tanpa terduga Siao-liong-li tidak bangkit, ia hanya menjawab dengan hambar: “Kini belum waktunya, Ko-ji. Selama beberapa hari ini apakah kau baik-baik saja?” Betapa mesranya pertanyaan terakhir itu.
“Engkau tidak marah lagi padaku, Kokoh?” jawab Yo Ko.
Siao-Iiong-li tersenyum hambar, katanya: “Mana aku bisa marah kepadamu? Coba sini, putar tubuhmu!”
Yo Ko menurut dan memutar tubuhnya, dia tidak tahu apa kehendak si nona. Mendadak Siao-liong-li mengeluarkan benang dan jarum, kemudian diukurnya baju bagian punggung Yo Ko yang robek tercengkeram oleh Kongsun Kokcu tadi.
“Sudah sekian lamanya aku ingin membuatkan sebuah baju baru bagimu, tapi mengingat selanjutnya tidak bakalan bertemu lagi dengan kau, untuk apa kubuatkan baju baru? Aih, sungguh tak nyana engkau akan mencari ke sini,” sembari berkata dengan gegetun, Siao-liong-li lantas menggunakan sebuah gunting kecil untuk memotong sebagian lengan baju sendiri menambal baju Yo Ko yang robek.
Dahulu waktu mereka masih tinggal di kuburan kuno, apa bila baju Yo Ko robek, selalu Siao-liong-li menambalkan bajunya dengan cara demikian. Kini kedua orang sudah tidak memikirkan mati hidup lagi dan se-akan berada berduaan meski di ruangan itu sorot mata semua orang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
Kim-lun Hoat-ong dan yang lain-lain saling pandang dengan hati heran dan kagum pula. Kongsun Kokcu juga terkesima, seketika tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Selama beberapa hari ini aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menarik,” tutur Yo Ko, “Coba terka, Kokoh, dari manakah kuperoleh gunting raksasa itu?”
“Ya, aku pun heran se-akan kau telah menduga sebelumnya bakal bertemu dengan si jenggot cebol itu di sini, maka sengaja memesan sebuah gunting raksasa untuk memotong jengggotnya,” ujar Siao-liong-Ii. “Ai, kau benar-benar nakal. Orang memelihara jenggotnya dengan susah payah selama berpuluh tahun, dalam sekejap saja sudah kau potong, bukankah sangat sayang?”
Melihat betapa kedua orang itu bicara dengan mesra, rasa cemburu Kongsun Kokcu seketika berkobar dan sebelah tangannya segera mencengkeram ke dada Yo Ko sambil membentak:
“Anak jadah, terlalu temberang kau, memangnya kau anggap tiada orang lain di sini?”
Tapi biar pun sekarang langit ambruk atau bumi amblas takkan digubris oleh Yo Ko, serangan Kongsun Kokcu itu ternyata tak dihiraukannya sama sekali, ia hanya menjawab:
“Tunggu sebentar, setelah bajuku ditambal segera kulayani kau.”
Sementara itu jari Kongsun Kokcu sudah tinggal beberapa senti saja di depan dada Yo Ko. Bagaimana pun juga dia harus menjaga harga diri sebagai seorang guru besar ilmu silat, walau pun murka, betapa pun serangannya itu tidak dapat diteruskan lagi ke tubuh lawan yang sama sekali tidak menangkis.
Pada saat itulah terdengar Kongsun Lik-oh berkata dari belakang: “Ayah, senjatamu ini!”
Kongsun Kokcu tidak berpaling, dia melangkah mundur dua tindak sehingga dapatlah menerima senjata yang disodorkan puterinya. Waktu semua orang mengamati, terlihat tangan kirinya sudah memegang sebatang golok tebal dengan bagian yang tajam berbentuk gergaji dan mengerdepkan cahaya keemasan, rupanya terbuat dari emas, ada pun tangan kanannya memegangi senjata berwarna hitam yang panjang kecil. Senjata aneh itu tidak mirip golok juga tidak memper pedang, nampak bergetar perlahan, agaknya batang senjata itu sangat lemas. Nyata kedua macam senjata itu berbeda satu sama lain secara terbalik, kalau yang satu berat dan keras, maka satunya lagi enteng dan lemas.
Seperti diketahui, bobot emas jauh lebih berat dari pada besi. Maka dengan bentuk yang sama, senjata yang terbuat dari emas bobotnya akan berlipat satu kali dari pada senjata terbuat dari besi biasa. Tampaknya golok emas bergerigi itu sedikitnya ada 50-60 kati, sedangkan pedang atau anggar hitam itu entah terbuat dari logam apa?
Yo Ko memandang sekejap pada sepasang senjata lawan yang aneh itu, lalu berkata pula kepada Siao-liong-li:
“Kokoh, tempo hari pernah aku bertemu dengan seorang perempuan gendeng, dia telah memberi-tahukan kepadaku musuh pembunuh ayahku.”
Hati Siao-liong-li terkesiap, cepat dia bertanya: “Siapa musuhmu itu?”
Sambil mengertak gigi Yo Ko berkata dengan penuh dendam: “Bagaimana pun juga kau pasti tak akan menduga tentang mereka, bahkan selama ini aku pun menganggap mereka amat baik.”
“Mereka? Mereka siapa?” Siao-liong-li menegas.
“Siapa lagi mereka kalau bukan...” sebelum sempat Yo Ko menerangkan nama yang akan disebutnya, terdengarlah suara mendenging nyaring memekakkan teIinga, itulah suara benturan antara golok emas dan pedang hitam yang dipegang Kongsun Kokcu itu.
Sekali bergerak, susul menyusul Kongsun Kokcu menusuk tiga kali, pertama menusuk ke atas kepala, kedua menusuk leher sebelah kanan dan ketiga sebelah kiri leher, semuanya menyambar lewat satu-dua senti di atas kulit. Rupanya Kokcu itu ingin menjaga harga diri, kalau lawan tidak menangkis, maka dia pun tidak sudi melukainya, cuma tiga kali tusukannya itu sungguh amat cepat dan jitu, benar-benar kepandaian hebat.
“Sudah!” ucap Siao-Iiong-Ii ketika selesai menambal baju sambil menepuk perlahan punggung anak muda itu.
Yo Ko menoleh sambil tersenyum, lalu melangkah maju dengan menenteng Kim-leng-soh. Meski Kongsun Kokcu telah lama mengasingkan diri di lembah sunyi, tapi pandangannya sedikit pun tidak kurang tajamnya. Orang yang mengajarkan ilmu silat padanya itu paham benar berbagai aliran ilmu silat di dunia dan dahulu pernah berkata kepadanya bahwa bisa jadi jago kelas satu pada jaman ini mampu menandingi Kangfau (Kungfu) tangan besinya, tetapi untuk membobol barisan jaring ikannya belum tentu bisa kecuali Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau yang mungkin dapat menandinginya dengan sama kuat dan siapa lebih ulet akhirnya akan menang.
Tapi kalau dua macam senjatanya yang berlainan itu dikeluarkan, diduga di dunia ini tiada orang yang sanggup melawannya. Karena itu dia menduga betapa pun tinggi kepandaian Yo Ko, dalam sepuluh jurus saja pasti akan dibinasakan olehnya. Tetapi ketika menyaksikan sikap Siao-liong-li yang mesra tadi terhadap anak muda itu, dia pun tahu apa bila Yo Ko mati, maka berarti putus harapan pula rencana pemikahan nona itu dengan dirinya. Setelah merenung sejenak, akhirnya dia mendapat akal: “Harus kupaksa dia (Siao-liong-li) memohon ampun kepadaku bagi bocah ini. Dalam keadaan begitu, biar pun hatinya tidak rela, mau tak mau dia harus menikah dengan aku.”
Kalau Kongsun Kokcu merenung mencari akal, Yo Ko juga sedang memikirkan cara melawan orang. Ia pikir orang tidak takut Hiat-to tertotok, ini berarti daya guna Kim-leng-soh tidak banyak artinya. Meski diri sendiri sudah menciptakan aliran ilmu silat, tapi belum sempat dipelajari secara matang, sedangkan senjata musuh terlihat sangat aneh, sekali dimainkan tentu sangat lihay. Selagi Yo Ko merasa tak berdaya, terdengar Kongsun Kokcu telah berseru:
“Awas serangan!”
Berbareng pedang emas begerak menusuk dada. Anehnya tusukan itu tidak langsung ke depan, tapi ujung pedang bergetar dalam lingkaran kecil di depan tubuhnya. Yo Ko terkejut dan melompat mundur. Maklumlah, kalau ujung pedang itu ditusukkan, biar pun hebat jurus serangannya, tentu juga akan dapat dipatahkannya. Tapi sekarang ujung pedang itu terus berputar dalam lingkaran sehingga arah tujuan pedangnya sukar diraba. Bila menangkis ke kiri, kuatir musuh malah menusuk ke kanan, bila menangkis ke atas, siapa tahu kalau dia berbalik menyerang bagian bawah. Karena merasa ragu-ragu, terpaksa dia melompat mundur saja untuk menghindar.
Tapi Kongsun Kokcu gesit bukan main. Begitu Yo Ko melompat mundur, segera dia membayangi lawan, kembali lingkaran pedangnya bergetar lagi di depan Yo Ko, semakin lama lingkaran ujung pedang itu semakin besar, jika semula hanya lingkaran seluas dada, beberapa putaran berikutnya telah mencakup bagian perutnya dan kemudian meluas pula ke bagian leher.
Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si dan lainnya adalah maha guru ilmu silat terkemuka, tapi ilmu pedang yang mendesak musuh dengan lingkaran ujung pedang begitu boleh dikata belum pernah mereka lihat, maka mereka heran dan terkejut.
Begitulah, setiap kali Kongsun Kokcu melancarkan tusukan, Yo Ko terpaksa melompat mundur sehingga belasan kali Yo Ko harus menghindar secara begitu tanpa sanggup balas menyerang. Tampaknya serangan Kongsun Kokcu semakin lihay saja, apa lagi golok bergerigi pada tangannya yang lain belum pula digunakan. Kalau sampai golok emas itu ikut menyerang, pasti sukarlah bagi Yo Ko menahannya. Tanpa pikir lagi segera Yo Ko melompat ke kiri sambil mengayun Kim-leng-soh.
“Tringg...!” genta kecil itu menyambar ke depan untuk mengetok mata kiri musuh.
Walau pun Kongsun Kokcu tidak gentar Hiat-tonya tertotok, tapi mata adalah tempat yang lemah dan harus selalu dijaga. Cepat dia miringkan kepala dan segera balas menyerang dengan pedang hitam. Yo Ko sangat girang. Sekali Kim-leng-soh menyendal, terbelitlah kaki kanan musuh. Tapi baru saja hendak dibetot sekuatnya, mendadak pedang hitam Kongsun Kokcu memotong ke bawah.
“Srett!” selendang sutera Yo Ko putus di bagian tengah, pedang hitam yang tampaknya mirip seutas tali itu ternyata tajamnya tidak kepalang.
Terdengar semua orang menjerit kaget, berbareng terdengar pula sambaran angin dan golok bergerigi sang Kokcu membacok ke arah Yo Ko. Sebisanya Yo Ko segera menjatuhkan diri ke lantai dan berguling ke sana.
“Tranggg...!” suara nyaring menggetar telinga, kiranya Yo Ko sempat menyambar tongkat baja Hoan It-ong tadi lantas digunakan untuk menangkis ke atas. Karena benturan golok dan tongkat itu, tangan kedua orang sama-sama sakit kesemutan.
Diam-diam Kongsun Kokcu kaget dan heran akan kemampuan Yo Ko yang sanggup menahan berpuluh jurus serangannya. Segera goloknya menebas lagi dari samping, berbareng pedang hitam juga menusuk dari depan.
Supaya diketahui bahwa permainan golok lebih mengutamakan kekerasan dan kekuatan, sedangkan permainan pedang lebih mengutamakan kelincahan dan kelembutan, jadi sifat kedua jenis senjata itu sama sekali berbeda, maka adalah hal yang tidak mungkin bahwa seseorang dapat menggunakan dua macam senjata itu sekaligus. Namun kini Kongsun Kokcu ternyata dapat memainkan golok dan pedang dengan lihay, sungguh suatu kepandaian khas yang jarang terdapat di dunia persilatan.
Sambil mengertak, Yo Ko putar tongkat baja dan menggunakan kunci ‘menutup’ dari Pak-kau-pang-hoat. Dia bertahan dengan rapat sehingga seketika pedang dan golok Kongsun Kokcu tidak mampu menembus pertahanan anak muda ini.
Cuma Pak-kau-pang-hoat mengutamakan pertahanan gerak serangan, dengan pentung bambu yang enteng tentu dapat dimainkan dengan gesit dan lincah sesuka hati. Kini Yo Ko memegang tongkat baja sebagai pengganti pentung bambu, tentu saja gerak-geriknya tidak leluasa, setelah belasan jurus dia mulai merasa payah. Kongsun Kokcu melihat suatu peluang. Mendadak goloknya menahan ke atas, berbareng pedang hitam menebas ke bawah.
“Krekk!” kontan tongkat baja tertabas kutung.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
BegituIah sehabis menutur kejadian-kejadian itu, Soa Thong-thian kemudian berkata: “Yo-kongcu, waktu ayahmu masih hidup, kami semua adalah tamu undangannya. Sampai ia meninggal, sedikit pun kami tidak bersalah kepadanya, maka haraplah suka mengingat kebaikan dulu dan membiarkan kami pergi!”
Dulu Soa Thong-thian berempat adalah jago-jago kelas tinggi di kalangan Kangouw, sekali pun golok mengancam di tengkuknya tak akan gentar, tetapi sejak mereka dikurung lama, kaki buntung, mata buta, jiwa mereka menjadi melempem, semangat jantan hilang, kini tanpa segan-segan mohon ampun pada Yo Ko. Akan tetapi Yo Ko tak menggubris mereka, katanya pula pada Kwa Tin-ok:
“Kau pergi ke Leng-oh-tin, apakah untuk menemui Thia Eng dan Liok Bu-siang enci beradik? Dan untuk urusan apa?”
Tiba-tiba Tio-ok menengadah tertawa panjang, katanya: “Wahai Yo Ko, Yo Ko, kau bocah ini benar-benar tak tahu urusan!”
“Kenapa aku tak tahu urusan?” sahut Yo Ko marah.
“Aku Hui-thian-pian-hok (kelelawar terbang di langit, julukan Tin-ok) sudah tidak pikirkan jiwa lapuk ini lagi, sekali pun di masa muda, aku Kwa Tin-ok juga tidak pernah takut pada siapa pun, betapa tinggi ilmu silatmu paling banyak hanya bisa menakut-nakuti sebangsa manusia-manusia yang takut mati dan tamak hidup, tetapi Kanglam-chit-koay apa kau kira kena digertak orang?” demikian sahut Tin-ok.
Melihat sikap orang yang gagah berani, tanpa terasa Yo Ko jadi menaruh hormat. Maka katanya lagi:
“Kwa-Iok ongkong, ya, memang akulah yang salah, tapi lantaran kata-katamu tadi menghina mendiang ayahku, terpaksa aku berlaku tidak sopan. Nama Kwa-kongkong terkenal di seluruh jagat, Yo Ko semenjak kecil juga sangat kagum, selamanya tak berani kurang ajar.”
“Beginilah baru pantas,” ujar Tin-ok, “Aku melihat kelakuanmu tidak jelek, lagi pula sudah berjasa besar di Siang-yang, maka aku anggap kau adalah tokoh kelas satu. Tetapi kalau macam ayahmu dahulu, sekali pun berbicara saja aku merasa mual.”
Amarah Yo Ko berkobar lagi oleh olok-olok itu, dengan suara keras ia bertanya: “Sebenarnya ayahku berbuat salah apakah? Coba terangkan.”
Harus diketahui bahwa di antara kawan-kawan yang pernah dikenal Yo Ko tidak sedikit orang yang tahu seluk beluk ayahnya dahulu, tapi karena sungkan mengolok-olok ayah seorang ‘Sin-tiau-hiap’ maka semua orang sungkan membicarakannya, sekali pun ditanya Yo Ko sendiri.
Namun dasar Kwa Tin-ok selamanya pandang kejahatan sebagai musuh, wataknya keras jujur, dia tak peduli apakah ceritanya nanti akan menyinggung perasaan Yo Ko atau tidak, segera saja ia ceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir, tentang bagaimana Yo Khong tak kenal budi, malahan bersekongkoI dengan Auyang Hong sehingga lima kawannya dari Kanglam-chit-koay terbinasakan dan akhirnya menggaplok punggung Oey Yong. Namun senjata makan tuan, duri landak kutang Oey Yong yang tanpa sengaja tertempel racun ularnya Auyang Hong itu malah membinasakan Yo Khong sendiri.
“Kejadian pada malam itu, beberapa orang ini pun ikut menyaksikannya. Soa Thong-thian, Peng Lian-hou, coba kalian katakan, apakah aku Kwa-Iothai pernah berbohong?” demikian kata Tin-ok akhirnya.
Beberapa perkataan paling akhir ini diucapkannya dengan amat keras hingga bikin kaget. Beberapa puluh ekor burung gagak yang berada di menara kelenteng itu terbang ke udara dengan suara yang berisik.
“Ya, malam itu juga terdapat burung-burung gagak begini...” tutur Soa Thong-thian. “Nih, tanganku ini justru karena digaruk sekali oleh Yo-kongcu, jika Peng-hengte ini tidak cepat bertindak dan tanganku ini terus ditebasnya, mungkin jiwaku akan melayang pada malam itu juga.”
Sungguh tak kepalang rasa pedih dan pilu Yo Ko pada saat itu, ia memegangi kepalanya dan duduk termangu-mangu dengan muka muram, tak diduganya bahwa ayahnya ternyata seorang yang begitu jahat dan keji, sekali pun namanya dan perbuatannya sendiri sekarang lebih cemerlang juga sukar mencuci bersih noda ayahnya itu. Begitulah, untuk sesaat di dalam kelenteng menjadi sunyi, keenam orang tiada yang buka suara, hanya suara gaok masih terus berisik tiada hentinya. Selang agak lama, berkatalah Kwa Tin-ok,
“Yo-kongcu, kau telah berjasa besar di Siang-yang, betapa pun dosa ayahmu juga sudah tertutup semua. Di alam baka pasti dia akan senang karena kau bisa menebus kesalahan orang tua.”
Yo Ko coba merenungkan segala apa yang dialaminya selama ini. Sejak dia kenal suami isteri Kwe Ceng, selalu Oey Yong menaruh prasangka padanya, segala kesalah pahaman dulu semuanya disebabkan ayahnya itu. Tapi kalau tiada ayah dari manakah datang dirinya ini? Namun banyak kematian dan rasa kesalnya selama ini sebenarnya juga gara-gara perbuatan mendiang ayahnya. Tanpa terasa ia menghela napas panjang oleh segala suka duka itu.
“Kwa-lokongkong,” tanyanya kemudian, “Apakah Thia Eng dan Liok Bu-siang berdua enci beradik baik-baik saja?”
“Ya, mereka menjadi begitu girang ketika mendengar kau membakar gudang perbekalan musuh di kota Sin-yang dan membasmi dua ribu pasukan perintis Mongol,” sahut Tin-ok, “Mereka tanya pula tentang keadaanmu selama ini dan berita Siao-liong-li. Nyata kedua enci-beradik itu sangat terkenang padamu.”
“Aih, kedua adik ini juga sudah 16 tahun aku tak melihatnya,” kata Yo Ko kemudian, habis itu mendadak dia menoleh terus membentak pada Soa Thong-thian: “Nah, Kwa-kongkong sudah berjanji hendak serahkan jiwanya pada kalian. Ia orang tua selamanya sekali bicara tidak pernah pungkir janji, maka sekarang lekaslah kalian turun tangan, dan setelah kalian membunuhnya baru aku membunuh juga kalian berempat anjing ini untuk membalaskan sakit hatinya.”
Soa Thong-thian dan Peng Lian-hou menjadi tertegun, sungguh mereka tidak pernah dengar ada bunuh membunuh cara demikian. Maka kata Soa Thong-thian kemudian:
“Yo-tayhiap, kami tidak tahu sehingga berlaku kurang ajar kepada Kwa-lohiap (pendekar tua Kwa), harap kalian berdua memaafkan kami.” “Jika begitu, nah, ingat baik-baik, kalian sendiri yang tidak menepati janji dan tak inginkan jiwa Kwa-kongkong,” kata Yo Ko.
“Ya, ya,” sahut Soa Thong-thian cepat. “Terhadap budi luhur Kwa-lohiap kami selamanya juga sangat kagum.”
“Nah, sekarang lekas enyah! Lain kali jangan ketumbuk lagi di tanganku,” bentak Yo Ko.
Keruan Soa Thong-thian berempat seakan mendapat lotere. Sesudah memberi hormat, dengan cepat mereka lari keluar kelenteng itu.
SALING MENCARI
Yo Ko menolong jiwa Kwa Tin-ok dan menjaga kehormatannya sebagai seorang ksatria, tentu saja Kwa Tin-ok amat berterima kasih. Dan sesudah membersihkan pecahan patung di ruangan itu, mereka lalu duduk untuk omong-omong.
“Aku pergi ke Leng-oh-tin adalah sebab urusan Kwe-ji-kohnio,” demikian tutur Tin-ok.
“Ha?” Yo Ko rada terkejut. “Ada apakah nona kecil ini?”
“Kedua puteri Kwe Ceng itu masing-masing punya kenakalannya sendiri-sendiri, sungguh bikin orang pusing kepala,” ujar Tin-ok. “Entah mengapa, tiba-tiba Kwe Siang si anak dara itu meninggalkan rumah tanpa pamit entah ke mana, Sudah tentu orang tuanya menjadi kelabakan, lalu mengirim orang ke mana-mana untuk mencarinya, tapi sama sekali tiada kabar berita. Karena aku si buta ini tiada pekerjaan apa-apa di Siang-yang, maka aku juga keluar untuk mencarinya. Sudah ada orang yang mencarinya ke jurusan timur, utara dan barat, karena aku lebih paham keadaan daerah Kanglam maka aku lantas ke selatan sini.”
“Dan apakah sudah mendapatkan beritanya?” tanya Yo Ko.
“Beberapa hari yang lalu secara kebetulan aku mendengar percakapan dua orang kurir bangsa Mongol, katanya puteri kecil Kwe-tayhiap dari Siang-yang telah tertawan pasukan Mongol.”
“Hayaa...! Apakah kabar ini betul atau bohong?”
“Kedua kurir Mongol itu berbicara dalam bahasa mereka dan menyangka tiada orang lain yang paham, tidak tahunya aku pernah tinggal belasan tahun di negeri Mongol, tentu saja semuanya kudengar dengan jelas,” kata Tin-ok pula.
“He, kalau begitu jadi berita ini tidaklah bohong?” tanya Yo Ko terkejut.
“Ya, maka dalam gusarku segera kedua kurir Mongol itu kupersen sebiji ‘Tok-cit-le’ dan hendak melapor ke Siang-yang, siapa tahu di tengah jalan kepergok empat setan tadi,” tutur Tin-ok. “Aku pikir jiwaku tidak jadi soal, tapi berita nona Kwe Siang harus disampaikan, maka aku minta mereka memberi kelonggaran beberapa hari. Aku lalu pergi ke Leng-oh-tin yang berdekatan dan memberi-tahukan kepada Thia Eng dan Liok Bu siang. Mendengar berita itu, segera kedua nona itu berangkat ke utara, sementara aku harus menepati janji datang kemari mengantarkan kematian. Sungguh tidak nyana sekarang ke empat setan jahat ini sendiri tidak dapat dipercaya, sampai saat terakhir mereka tidak berani turun tangan. Ha-ha-ha-ha!”
“Apakah Kwa-kongkong juga mendengar cerita kedua kurir Mongol itu tentang bagaimana cara tertawannya nona Kwe dan apakah jiwanya berbahaya?” tanya Yo Ko sesudah pikir sejenak.
“ltu aku tidak mendengar,” sahut Tin-ok.
“Urusan ini sangat gawat, sekarang juga Wanpwe pergi ke sana dan berusaha menolong sebisanya,” kata Yo Ko, “Dan Kwa-kongkong sendiri bolehlah menyusul belakangan saja.”
“Baiklah, ada kau yang pergi menolongnya, hatiku akan merasa lega. Biar aku menunggu kabar baik saja di Siang-yang,” sahut Tin-ok.
Nyata sejak menyaksikan apa yang dilakukan Yo Ko di Siang-yang tempo hari, hati orang tua ini sudah sangat kagum atas kemampuannya.
“Tapi Wanpwe ada suatu permintaan, aku mohon bantuanmu, Kwa-kongkong,” pinta Yo Ko “Yakni sukalah kau mengganti sebuah batu nisan kuburan ayahku, tulislah puteranya Yo Ko yang mendirikan.”
“Baiklah, pasti akan kukerjakan dengan baik,” sahut Tin-ok.
Dan berangkatlah Yo Ko segera sesudah memberi hormat. Ia membeli dua ekor kuda di Ka-hin dan sepanjang jalan bergantian kuda terus menuju ke Sin-yang tanpa berhenti, maka tidak seberapa hari sudah dekatlah dengan perkemahan pasukan Mongol.
Kiranya raja Mongol yang memimpin pasukan hendak menggempur Siang-yang, ketika tanpa tahu sebab musababnya kedua pasukan perintisnya terbasmi di Tengciu dan Sin-ya, dia menjadi ragu-ragu akan kekuatan pasukan Song yang sebenarnya, maka pasukan induknya berkemah di antara Lam-yang sehingga kedua pihak belum pernah bertempur. Maka nampaklah panji-panji ber-kibar, senjata gemerlapan, perkemahan yang berderet-deret memanjang tanpa kelihatan ujungnya.
Setelah menunggu malam, Yo Ko menyelundup ke perkemahan musuh. Ia lihat penjagaan sangat keras, disiplin amat baik. Kekuatan tentara Mongol memang sangat hebat. Lebih-lebih kemah di mana raja berdiam, penjagaan lebih ketat lagi. Meski tinggi ilmu silat Yo Ko, tapi dia tahu tidak sedikit orang-orang gagah dalam pasukan musuh, betapa pun tangkas sukar juga melawan orang banyak, maka dia pun tidak berani sembarangan unjuk diri.
Malam itu ia hanya dapat menyelidiki perkemahan bagian timur, lalu besoknya dilanjutkan bagian selatan dan lain hari perkemahan barat, berturut-turut empat malam empat bagian pertengahan musuh itu selesai diintainya, tapi masih belum memperoleh kabar berita Kwe Siang. Akhirnya Yo Ko menawan seorang perwira musuh. Di bawah ancaman perwira itu mengaku terus terang bahwa sesungguhnya tidak pernah terdengar mengenai puteri Kwe Ceng dari Siang-yang. Akan tetapi Yo Ko masih ragu-ragu. Ia selidiki lagi beberapa hari, kemudian baru percaya bahwa Kwe Siang memang tidak disekap di sana. Pikirnya:
“Agaknya Kwe-pepek sudah dapat menolong puterinya pulang, atau mungkin kedua kurir Mongol itu juga mendengar dari orang lain, jadi hanya berita bohong belaka.”
Sementara itu musim semi sudah tiba, bunga mekar mewangi. Janji Siao-liong-li 16 tahun yang lalu sudah hampir tiba, maka Yo Ko menuju ke utara, pergi ke Coat-ceng-kok atau lembah putus cinta.
ULAH LO-WAN-ONG
Setelah diamat-amati, orang yang lagi bergelut dengan Hoan It-ong itu memang jelas memakai dandanan Siau-siang-cu, pakaiannya, sepatunya dan topinya, semuanya persis, namun wajahnya ternyata berbeda dari pada wajah asli Siau-siang-cu meski air mukanya juga kaku pucat mirip mayat. Sebaliknya wajah orang yang datang belakangan persis dengan Siau-siang-cu yang sudah mereka kenal, hanya baju yang dipakainya berwarna hijau seperti seragam yang dipakai orang-orang Cui-sian-kok.
Yo Ko dan Kim-lun Hoat-ong dapat berpikir cepat, sejenak saja mereka telah dapat menerka apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara itu Siau-siang-cu yang berbaju hijau tua dengan dua tangan yang kurus seperti cakar sudah mencengkeram lagi ke punggung Siau-siang-cu yang memegang gunting sambil berteriak:
“Keparat! Main curang, jago macam apa kau?!”
Meski mendapat bala bantuan, Hoan It-ong menjadi heran dan terkejut. Walau orang mengenakan seragam hijau, tetapi mukanya tak dikenal. Sementara ia mundur ke pinggir, kemudian menyaksikan dua orang yang menyerupai mayat hidup itu saling labrak dengan seru.
Kini Yo Ko sudah dapat menduga bahwa orang yang memegang gunting itu pasti sudah mencuri kedok kulit manusia pemberian Thia Eng tempo hari dan dipakainya, kemudian ia mengenakan pakaian Siau-siang-cu dan sengaja mengacau di ruangan ini. Soalnya wajah Siau-siang-cu memang kaku seperti orang mati, sebab itu sejak mula tak ada orang yang memperhatikannya.
Setelah mengamat-amati sekian lamanya dan dapat mengenali gaya ilmu silat orang yang memegang gunting, segera Yo Ko berseru:
“Hai, Ciu Pek-thong, kembalikan kedok dan guntingku!” Berbareng ia melompat maju untuk merebut gunting.
Kiranya orang itu memang betul Ciu Pek-thong adanya. Dia tertawan oleh keempat murid Cui-sian-kok dengan jaring ikan, meski wataknya nakal dan jahil, tetapi ilmunya memang maha sakti, begitu keempat orang itu sedikit meleng saja segera Ciu Pek-thong berhasil lolos dengan menjebol jaring, akibatnya sang Kokcu menghukum empat orang itu dengan hukum panggang.
Ciu Pek-thong tidak lantas kabur, tetapi sembunyi di suatu tempat. Dia memang sengaja hendak mengobrak-abrik lembah sunyi itu. Tapi segera dia melihat Yo Ko berenam juga datang ke situ, maka malamnya ia melakukan sergapan, Siau-siang-cu diculiknya hingga tidak dapat berkutik, lalu dipindahkan ke luar rumah dan dilucuti pakaiannya. Karena Ginkang-nya maha sakti, pergi datang tanpa suara dan tak meninggalkan bekas, maka dalam tidurnya Siau-siang-cu kena dikerjai, bahkan Kim-lun Hoat-ong dan lainnya juga tidak mengetahui akan kejadian itu.
Setelah mengganti pakaian Siau-sian-cu, lalu Ciu Pek-thong masuk lagi ke rumah itu dan tidur di sisi Yo Ko. Kesempatan itu digunakan untuk menggerayangi ransel pemuda itu, gunting dan kedok kulit berhasil dicurinya. Esoknya ternyata semua orang juga belum menyadari akan perbuatan Ciu Pek-thong.
Sudah tentu Siau-siang-cu berusaha melepaskan diri dari totokan Ciu Pek-thong, namun lantaran ilmu Tiam-hiat yang digunakan Ciu Pek-thong itu sangat lihay, sampai tiga-empat jam kemudian barulah Siau-siang-cu berhasil melancarkan jalan darah dan dapat bergerak kembali. Sementara itu tubuhnya hanya memakai baju dan celana dalam saja, tentu saja dia sangat dongkol dan murka. Ketika kebetulan seorang murid Cui-sian-kok lewat, secepat kilat dia merobohkannya dan merampas bajunya, lalu memburu ke rumah batu yang besar itu.
Pada saat itu dilihatnya Ciu Pek-thong dengan memakai bajunya sendiri tengah bertempur sengit dengan Hoan It-ong. Dengan perasaan murka dia terus menerjang maju, sekaligus dia ingin membinasakan Ciu-Pek-thong dengan pukulannya yang dahsyat, beberapa jurus kemudian Yo Ko juga ikut maju mengeroyok.
Tapi Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian khas yang dilatihnya ketika dulu ia disekap di Tho-hoa-to oleh Oey Yok-su, yaitu dua tangannya memainkan silat yang berbeda. Maka dengan tangan kiri ia layani Yo Ko, sedang tangan kanan dengan gunting ia lawan Siau-siang-cu, guntingnya sebentar terbuka dan sebentar terkatup, betapa pun Siau-siang-cu tidak berani sembarangan mendekat. Maklumlah, gunting itu amat besar, kalau mata gunting terbuka, jaraknya hampir setengah meter, kalau saja leher tergunting, mustahil kepala takkan terpisah dari tuannya. Karena itu, meski Siau-siang-cu amat murka, tapi ia pun tidak berani sembarangan melancarkan serangan.
Dalam pada itu sang Kokcu masih terus mengikuti pertarungan sengit. Sudah turun temurun Kokcu itu menetap di lembah sunyi ini, ilmu silat keluarganya juga turun-temurun semakin hebat. Pada umumnya ada kebiasaan buruk di dunia persilatan. Lantaran kuatir muridnya kelak berkhianat atau menjadi murtad, maka sering kali sang guru menyimpan beberapa jurus rahasia untuk menjaga kemungkinan penghianatan murid. Sebab itu dalam beberapa keturunan saja ilmu silatnya semakin berkurang dan akhirnya habis sama sekali.
Ciri demikian takkan berlaku dalam ilmu silat keturunan. Sang ayah mengajarkan kepada anak atau sang kakek mengajarkan kepada cucu pasti takkan menahan jurus simpanan, malahan setelah beberapa keturunan sering kali timbul satu-dua angkatan yang berbakat dan pintar menciptakan jurus baru sehingga satu turunan lebih hebat dari pada angkatan yang lebih tua. Begitu pula dengan Kokcu ini. Ilmu silatnya kini boleh dikatakan jauh lebih lihay dari pada leluhurnya, ia yakin bila dirinya keluar lembah, ilmu silatnya pasti dapat menjagoi dunia.
Siapa duga lembah yang aman tenteram ini tiba-tiba kedatangan Ciu Pek-thong sehingga suasana menjadi kacau balau. Ia kagum ketika menyaksikan pertarungan Ciu Pek-thong dengan Hoan It-ong, kini melihat anak tua nakal itu menempur dua orang dengan dua tangan yang bermain silat dengan cara yang berbeda, malah sedikit pun tidak tampak lebih lemah dari kedua Iawannya, sungguh sang Kokcu menjadi kagum tak terhingga.
Dilihatnya pula ilmu silat Siau-siang-cu sangat ganas, serangannya tak mengenal ampun. sedangkan gerak-gerik Yo Ko tenang halus dan tenang, tapi tidak kurang lihaynya. Kokcu itu harus mengakui bahwa di dunia yang seluas ini ternyata tidak sedikit terdapat orang kosen. Segera dia berdiri, dengan suara lantang dia berkata:
“Harap kalian bertiga suka berhenti dulu!”
Berbareng Yo Ko dan Siau-siang-cu melompat mundur. Ciu Pek-thong tanggalkan kedok kulit, berikut guntingnya terus dilemparkan kepada Yo Ko sambil berkata:
“Permainanku sudah cukup, aku hendak pergi!”
Sekali mengenjot kaki, seperti anak panah cepatnya dia meloncat ke atas belandar rumah. Karena kedoknya ditanggalkan, wajah aslinya lantas kelihatan. Keruan gemparlah para anak murid Cui-sian-kok setelah mengenali siapa dia.
“Ayah, orang tua inilah!” seru Kongsun Lik-oh.
Sementara itu Ciu Pek-thong bergelak tertawa sambil duduk mengangkang di atas belandar. Tinggi belandar rumah sedikitnya lima-enam meter dari permukaan tanah, meski pun di ruangan itu tidak sedikit terdapat tokoh terkemuka, terasa sukar juga kalau ingin sekali lompat langsung mencapai belandar.
Hoan It-ong adalah murid pertama Cui-sian-kok, usianya bahkan lebih tua dari pada sang guru, dalam hal ilmu silat, kecuali sang Kokcu dialah terhitung nomor satu, kini berulang kali dia dipermainkan oleh Ciu Pek-thong, tentu saja dia sangat murka. Biar pun tubuhnya cebol tapi dia mahir memanjat. Sekali lompat ia rangkul erat-erat tiang ruangan itu terus memanjat ke atas segesit kera.
Dasar watak Ciu Pek-thong paling suka cari gara-gara, dia paling senang kalau ada orang mau main gila dengan dia, maka ia menjadi amat gembira melihat Hoan It-ong memanjat ke atas. Belum lagi kakek cebol itu mencapai belandar, lebih dahulu ia sudah menjulurkan tangannya untuk menarik ke atas.
Sudah tentu Hoan It-ong tidak tahu tujuan Ciu Pek-thong sebenarnya baik, melihat tangan orang menjulur, segera ia menotok Tay-leng-hiat pada pergelangan tangannya. Namun ilmu silat Ciu Pek-thong sudah mencapai tingkatan yang maha sakti. Sedikit saja merasakan sesuatu, segera ia menotok lebih dulu Hiat-to yang hendak ditotok itu sambil mengendorkan urat dagingnya. Karena itu tusukan Hoan It-ong laksana mengenai kapas yang lunak cepat ia menarik kembali tangannya.
Tetapi Ciu Pek-thong sempat membalikkan tangannya dan menepuk sekali pada tangan Hoan It-ong sambil berseru:
“Keplok ami-ami! Kakak makan nasi adik cebol minta isteri!”
Dengan murka Hoan It-ong menggelengkan kepalanya, jenggotnya yang panjang menyabet ke dada lawan. Mendengar sambaran angin yang keras, Ciu Pek-thong tahu betapa lihaynya jenggot lawan. Cepat-cepat ia melompat mundur, dengan tangan kiri berpegangan pada belandar, tubuhnya bergantungan seperti anak sedang main ayunan.
Siau-siang-cu yakin Hoan It-ong pasti bukan tandingan anak tua nakal itu, sekali pun dia ikut mengerubut juga sulit mengaIahkannya. Segera ia berpaling kepada Nimo Singh dan Be Kong-co, katanya:
“Saudara Singh dan Be, tua bangka ini tidak memandang sebelah mata kepada kita berenam. Sungguh keterlaluan!”
Watak Nimo Singh paling berangasan dan tak tahan dibakar, sedangkan pikiran Be Kong-co amat sederhana dan tidak dapat menimbang antara baik dan buruk. Demi mendengar rombongannya berenam tidak dipandang sebelah mata, serentak mereka menjadi gusar lantas melompat ke atas untuk menangkap kaki Ciu Pek-thong. Tapi dengan jenaka Ciu Pek-thong mengayun kakinya untuk menggoda, tapi sebenarnya dia menendang dengan tepat ke arah yang mematikan pada tangan Nimo Singh dan Be Kong-co sehingga usaha kedua orang itu menjadi gagal total.
“ln-heng, apakah kau sendiri hanya mau menonton saja?” jengek Siau-siang-cu terhadap In Kik-si.
In Kik-si tersenyum dan menjawab: “Baiklah, silakan Siau-heng maju lebih dahulu, segera aku menyusul!”
Siau-siang-cu bersuit aneh menyeramkan. Tiba-tiba dia melompat ke atas, kedua kakinya tidak terlihat menekuk, tubuhnya kaku lurus, kedua tangannya juga menjulur lempeng ke atas terus mencengkeram ke perut Ciu Pek-thong, gaya ilmu silat yang diperlihatkannya tiada ubahnya seperti mayat hidup.
Melihat tibanya serangan, segera Ciu Pek-thong mengerutkan tubuh, tangan kiri berganti tangan kanan dan tetap bergelantungan di belandar. Serangan Siau-siangcu luput. Dia tidak dapat berhenti di udara, terpaksa anjlok ke bawah. Siapa saja bila jatuh ke bawah dari ketinggian begitu tentu kedua kakinya akan menekuk agar tidak keseleo dan terluka. Akan tetapi gaya Siau-siang-cu sungguh istimewa, seluruh tubuhnya tetap kaku seperti sepotong kayu saja, dan begitu kaki menyentuh lantai, “tok”, kembali dia meloncat lagi ke atas.
Begitulah, Hoan It-ong merangkul tiang sambil mengayun jenggotnya untuk menyerang, sedangkan Siau-siang-cu, Nimo Singh dan Be Kong-co bertiga berloncatan naik turun bergantian menyerang dari bawah ke atas.
“Si tua ini benar-benar luar biasa, biar aku pun ikut bikin ramai!” kata In Kik-si, tangannya merogoh saku sejenak kemudian tampaklah sinar kemilau menyilaukan mata, tangan In Kik-si sudah bertambah sebuah ruyung lemas yang terbuat dari benang emas dan perak, penuh bertaburkan batu permata pula.
Sebetulnya tokoh selihay In Kik-si, hanya bertangan kosong saja sudah jarang ada tandingan, ruyung bertaburkan batu permata tak lebih hanya pamer kekayaan saja. Ia pikir untuk menyerang Ciu Pek-thong yang berada tinggi di atas jelas tidak mudah, maka dengan ruyungnya ia coba menyerang bagian bawah lawan.
Yo Ko amat tertarik oleh pertarungan lucu ini. Ia pikir dengan kepandaian kelima orang itu ternyata tidak mampu mengalahkan seorang Lo-wan-tong, kalau aku tidak dapat menang dengan cara istimewa tentu takkan membikin takluk orang Iain. Setelah berpikir begitu, segera ia memakai kedoknya yang tipis, menirukan gaya Siau-siang-cu. Dia jemput tongkat baja Hoat It-ong, sekali tongkat itu menahan di lantai, tubuhnya mengapung ke atas. Panjang tongkat itu dua meteran, sesudah ditambah loncatannya, maka tubuh Yo Ko hampir sama tingginya dengan Ciu Pek-thong yang bergelantungan di belandar.
“Awas gunting, Lo-wan-tong!” seru Yo Ko sambil mengarahkan gunting memotong jenggot Ciu Pek-thong.
Bukannya marah, sebaliknya Ciu Pek-thong malah senang akan serangan itu. Dia segera miringkan kepalanya menghindari guntingan itu dan berseru:
“Bagus sekali caramu ini, adik cilik!”
“Lo-wan-tong, aku kan tidak bersalah padamu, mengapa kau main gila dengan aku?” kata Yo Ko.
“Ada ubi ada talas, diberi harus membalas!” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa, “Kau kan tidak rugi, mungkin malah mendapat untung tetapi kau tidak tahu.”
“Ada ubi ada talas apa maksudmu?” tanyanya.
“Kelak kau tentu akan tahu sendiri, sekarang tidak perlu banyak omong,” jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa.
Sementara itu ruyung In Kik-si tengah menyambar ke arahnya, segera sebelah tangan meraup untuk menangkapnya. Tapi ruyung In Kik-si yang lemas itu terus membelit untuk menghantam punggung tangannya, sedangkan tubuhnya telah anjlok ke bawah. Dalam pada itu jenggot Hoan it-ong yang panjang juga sudah menyabet tiba. Kini Hoan It-ong juga bergelantungan pada belandar, kedua tangannya memegang belandar, hanya jenggotnya saja yang digunakan menyerang musuh.
“Ehh, kiranya jenggotmu sebanyak ini pula daya gunanya,” ujar Ciu Pek-thong tertawa, ia pun menirukan cara orang dan mengayunkan jenggot sendiri ke arah lawan.
Namun panjang jenggotnya tiada separoh panjang jenggot Hoan It-ong, pula tak pernah berlatih akan kegunaannya sebagai senjata, dengan sendirinya sabetannya tak berguna.
“Srett!” pipinya malah kena tersabet oleh jenggot lawan sehingga terasa panas pedas dan kesakitan. Untung Iwekang-nya amat tinggi, kalau tidak pasti akan kelenger seketika dan terbanting ke bawah.
Walau pun merasakan pil pahit tetapi Lo-wan-tong tidak menjadi marah, sebaliknya malah timbul rasa kagumnya pada Hoan It-ong, katanya:
“Jenggot panjang, sungguh lihay kau, jenggotku tak dapat menandingi jenggotmu, sudahlah, kita tak perlu bertanding lagi!”
Tapi Hoan It-ong tidak mau kompromi, kembali jenggotnya menyabet lagi. Kini Ciu Pek-thong tidak berani lagi melawan dengan jenggot, segera ia melancarkan gaya pukulan ‘Khong-beng-kun’, angin pukulannya yang kencang membuat jenggot Hoan It-ong terpencar dan melayang ke samping, kebetulan saat itu Be Kong-co lagi meloncat ke atas, maka jenggot Hoan It-ong tepat menyabet muka Be Kong-co. Cepat Be Kong-co pejamkan mata, muka terasa gatal pedas, dalam keadaan mata tertutup Be Kong-co memegang sekenanya sehingga jenggot Hoan It-ong kena dicengkeramnya.
Sebenarnya jenggot Hoan It-ong dapat melilit seperti barang hidup, tetapi lantaran tenaga pukulan Ciu Pek-thong tadi, Hoan It-ong tak dapat mengendalikan jenggotnya hingga kena dipegang Be Kong-co. Dalam kagetnya cepat Hoan It-ong membetot sekuatnya, tapi Be Kong-co juga menarik sekencangnya ketika tubuhnya anjlog ke bawah sehingga keduanya terbanting ke tanah. Tubuh Be Kong-co segede kerbau, kulit kasar daging tebal, dia tidak berteriak sakit. Tubuh Hoan It-ong tepat terbanting menindih badan Be Kong-co, dia menjadi marah dan membentak:
“He, apa-apaan kau? Lekas lepaskan jenggotku!”
Sambil duduk di atas belandar Cui Pek-thong mempermainkan lawan-lawan yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia pesilatan secara lucu dan nakal.
Bantingan itu tidak dirasakan oleh Be Kong-co, tetapi perutnya terinjak oleh Hoan It-ong, rasanya tentu tidak enak, dia menjadi marah juga dan balas membentak:
“Aku justru tidak mau lepas, kau mau apa?!”
Berbareng itu tangannya terus memutar sehingga jenggot orang melilit beberapa kali pada tangannya. Dengan gemas Hoan It-ong terus memukul ke muka lawan. Be Kong-co cepat miringkan kepalanya, tetapi tanpa terduga pukulan Hoan It-ong itu cuma pura-pura saja, kepalan lain mendadak menyamber tiba.
“Plok!”
Dengan tepat hidung Be Kong-co kena ditonjok sehingga berdarah. Sambil berkaok-kaok kesakitan Be Kong-co juga balas menjotos satu kali.
Bicara tentang ilmu silat sebenarnya Hoan It-ong jauh lebih tinggi, celakanya jenggotnya terlilit tangan lawan sehingga kepalanya tidak leluasa bergerak, karena itu jotosan Be Kong-co juga tepat mengenai tulang pipinya hingga matang biru.
Begitulah yang satu tinggi dan yang lain pendek lantas main baku hantam. Biar pun tubuh Hoan It-ong menindih di atas, namun tetap sukar meloloskan diri dari betotan lawan yang terus menarik kencang jenggotnya.
Melihat suasana kacau balau, berenam tidak berkutik menghadapi seorang anak tua nakal, betapa pun terasa memalukan, maka Kim-lun Hoat-ong tidak dapat tinggal diam Iagi. Segera dia mengeluarkan dua buah gelang, satu perak dan satu lagi tembaga, sekaligus kedua gelang atau roda itu disambitkan dari kanan kiri hingga menerbitkan suara mendenging.
“Barang apa ini?” kata Ciu Pek-thong. Ia tidak tahu betapa lihaynya senjata orang, maka tangannya meraih dan bermaksud menangkapnya.
Betapa pun juga Yo Ko menaruh simpatik kepada Ciu Pek-thong yang polos itu, cepat ia memperingatkan:
“Hei, jangan dipegang!”
Berbareng dia lemparkan tongkat baja yang dipegangnya ke atas. Maka terdengarlah suara gemerantang nyaring, tongkat baja yang panjang tertumbuk hingga terpental ke sudut ruangan sana, sebaliknya arah gelang tembaga yg terbentur tidak berubah dan masih tetap berputar menyambar ke atas belandar.
Baru sekarang Ciu Pek-thong tahu bahwa si Hwesio besar ini tidak boleh diremehkan. Ia pikir kalau dikerubuti jelas dirinya sukar melayani. Segera ia berjumpalitan turun ke bawah dan berseru:
“Maaf, Lo-wan-tong tidak dapat menemani lebih lama, besok saja kita main-main lagi.”
Habis berkata langsung berlari ke pintu ruangan tamu, namun dilihatnya empat orang berseragam hijau telah menghadangnya di situ dengan mementang sebuah jaring ikan. Ciu Pek-thong sudah merasakan lihaynya jaring begitu, cepat dia membelok ke kanan dan bermaksud menerobos keluar melalui jendela, tapi bayangan hijau berkelebat, kembali sebuah jaring merintangi jalannya.
Sesudah melompat kembali ke tengah ruangan, Ciu Pek-thong melihat keempat penjuru sudah terentang oleh jaring ikan hingga jalan lolosnya menjadi buntu. Segera ia melompat lagi ke atas belandar, dengan hantaman dari jauh dia bikin atap rumah berlubang besar, maksudnya hendak menerobos keluar. Tetapi baru saja ia mendongak, dilihatnya di atas juga sudah terpasang sebuah jaring ikan. Terpaksa ia melompat turun ke bawah, katanya sambil tertawa dan menuding si Kokcu:
“He, untuk apa kau menahan diriku di sini? Setiap hari hanya minum air tawar dan makan beras mentah, memangnya Lo-wan-tong dapat kau piara sampai tua?”
Kokcu itu menjawab dengan dingin: “Asal kau tinggalkan kitab dan obat yang kau ambil itu, segera kau boleh pergi dari sini.”
Ciu Pek-thong menjadi heran, katanya: “Untuk apa aku ambil kitab dan obatmu segala? Seumpama mampu berlatih sehingga selihay kau juga aku tidak kepingin.”
Sang Kokcu melangkah perlahan ke tengah ruangan, dia kebut-kebut debu pada bajunya sendiri, lalu berkata:
“Jika sekarang bukan hari bahagiaku, tentu aku akan minta petunjuk beberapa jurus kepadamu, sebaiknya kau tinggalkan barang yang kau ambil itu dan kau boleh pergi dengan bebas.”
Dengan gusar Ciu Pek-thong berteriak: “Jadi kau tetap menuduh aku mencuri barangmu? Huh, memangnya apa barangmu yang berharga sehingga aku perlu mencurinya? Ini, boleh kau periksa!” Sembari bicara dengan cepat ia terus membuka baju sendiri sepotong demi sepotong, dalam sekejap saja sudah telanjang bulat.
Berulang sang Kokcu membentak agar Ciu Pek-thong menghentikan perbuatannya, tetapi anak tua nakal itu tidak ambil pusing, ia pentang dan membaliki baju celananya, memang benar tiada sesuatu benda apa pun juga.
Sudah tentu anak murid perempuan yang hadir di situ menjadi kikuk dan berpaling ke jurusan lain. Kelakuan Ciu Pek-thong ini sungguh sama sekali tidak terduga oleh sang Kokcu, ia pun ragu apakah benar Ciu Pek-thong tidak mencuri barangnya yang hilang, padahal barang-barang itu besar sangkut-pautnya dengan Cui-sian-kok. Selagi sang Kokcu termenung sangsi, Ciu Pek-thong bertepuk tangan dan berseru:
“He, usiamu sudah cukup tua, kenapa kau tidak tahu harga diri, ngomong sesukanya dan berbuat seenak sendiri di depan umum, bahkan melakukan hal yang memalukan begini. Sungguh menggelikan.”
Ucapan itu sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada Ciu Pek-thong sendiri, tapi justru dia mendahului omong, keruan Kongsun Kokcu itu dibuat serba salah dan tak bisa membuka suara, Ketika melihat Hoan It-ong dan Be Kong-co masih bergumul di atas lantai, segera ia membentaknya agar lekas berdiri. Padahal bukan Hoan It-ong tidak mau melepaskan diri, soalnya jenggotnya terlilit di tangan Be Kong-co sehingga sukar melepaskan diri. Dalam pada itu sambil mengernyitkan dahinya Kongsun Kokcu menuding Ciu Pek-thong dan mendamperatnya.
“Kukira yang tidak tahu malu adalah kau sendiri!”
“Memangnya aku kenapa?” jawab Ciu Pek-thong, “Aku dilahirkan dengan bugil, sekarang aku telanjang bulat, putih bersih, apanya yang salah? Sebaliknya kau telah tua tapi masih ingin mengawini seorang perawan muda sebagai isteri, he-he, sungguh menggelikan!”
Ucapan ini laksana palu besar yang menghantam dada Kongsun Kokcu, seketika itu pula mukanya yang kuning menjadi bersemu merah dan tak dapat menjawab. Tiba-tiba Ciu Pek-thong berteriak:
“Haya, celaka! Tidak pakai baju, bisa masuk angin nih!” Berbareng ia terus menerjang keluar.
Ketika mendadak melihat bayangan orang berkelebat ke arahnya, empat murid berbaju hijau yang siap di dekat pintu cepat bergerak dan membentang jaring, sekaligus jaring menutup ke atas kepala orang. Begitu terasa sasarannya berontak di dalam jala, maka keempat orang itu cepat mengikat kencang empat ujung jaring lalu diseret ke depan sang Kokcu.
Jala ikan itu dibuat dari benang emas yang halus dan Iemas, sekali pun golok dan pedang pusaka sukar membobolnya, apa lagi gerakan keempat orang itu sangat cepat dan lihay, biar tokoh maha hebat juga sukar menghadapinya.
Begitulah keempat orang itu amat senang karena berhasil menawan sasarannya sehingga mereka pun tidak memperhatikan lagi siapa sesungguhnya yang terjaring, Tapi ketika mendadak nampak air muka sang Kokcu bersungut dan menatap tajam jaring mereka, cepat mereka pun menunduk dan mereka menjadi kaget hingga berkeringat dingin. Cepat pula mereka membuka jaring dan membebaskan dua orang yang sedang bergumul, siapa lagi mereka kalau bukan Hoan It-ong dan Be Kong-co.
Kiranya tiada seorang pun yang menduga bahwa dalam keadaan telanjang bulat Ciu Pek-thong berani menerjang keluar semendadak itu. Karena gerakannya secepat kilat, sekali sambar ia tarik kedua orang yang sedang bergumul terus dilemparkan ke dalam jaring. Selagi empat murid Cui-sian-kok sibuk mengencangkan ikatan jaring, secepat angin Ciu Pek-thong menyelinap keluar. Gerakan aneh dan maha cepat ini sungguh luar biasa dan maha lihay.
Gara-gara perbuatan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, bukan hanya sang Kokcu saja yang kebobolan, bahkan Kim-lun Hoat-ong dan kawannya juga merasa malu, masa gabungan tokoh kelas wahid seperti mereka ini tak mampu menangkap seorang tua yang gila-gilaan? Sungguh tidak becus!
Hanya Yo Ko saja yang kagum sekali terhadap kepandaian Ciu Pek-thong. Tadi ia sudah bertekad akan menolong anak tua nakal itu apa bila sampai tertawan, tetapi kini Ciu Pek-thong sendiri dapat meloloskan diri, diam-diam Yo Ko bersyukur dan lega.
Tujuan Kim-lun Hoat-ong sebenarnya hendak mencari tahu seluk-beluk sang Kokcu, tapi setelah ‘dikacau’ oleh Ciu Pek-thong, ia merasa rikuh untuk tinggal lebih lama lagi di situ, Setelah berunding dengan Siau-siang-cu dan In Kik-si, dia lalu bangkit dan mohon diri.
Semula Kokcu mengira keenam orang ini adalah sekomplotan Ciu Pek-thong, tetapi kemudian melihat Siau-siang-cu, Be Kong-co dan lainnya menempur Ciu Pek-thong dengan sengit dan menggunakan kepandaian khas masing-masing yang lihay, tampaknya memang sengaja membantu pihak sendiri, maka dia lantas memberi hormat dan berkata:
“Ada sesuatu permintaanku yang tidak pantas, entah kalian berenam sudi menerimanya tidak?”
“Asalkan kami sanggup, tentu akan kami terima,” jawab Kim-lun Hoat-ong.
“Begini,” kata sang Kokcu, “Lewat lohor nanti upacara pernikahanku yang kedua kalinya, maka ingin kuundang kalian ikut hadir memberi doa restu. Di lembah pegunungan ini selama beratus tahun jarang didatangi orang luar, dan kebetulan sekarang kalian hadir sekaligus, sungguh kurasakan sangat beruntung.”
“Ada arak tidak nanti?” seru Be Kong-co.
Belum lagi sang Kokcu menjawab, mendadak ada bayangan orang berkelebat. Masuklah seorang perempuan berbaju putih sambil bertanya:
“Apakah orang yang mengacau sudah pergi?”
Tidak kepalang kejut dan girang Yo Ko melihat perempuan ini, cepat dia melompat maju dan menarik tangannya serta berseru:
“Hei, Kokoh, engkau juga datang ke sini? Sungguh payah kucari kau sekian lamanya!”
Perempuan berbaju putih itu memandang sekejap kepada Yo Ko dengan air muka heran, lalu menjawab:
“Siapakah tuan? Kau memanggil apa padaku?”
Yo Ko terperanjat. Dia coba mengamat-amati lagi perempuan ini, kelihatan wajahnya yang putih halus dan cantik, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li adanya? Tanpa ragu segera ia menjawab:
“Kokoh... aku Yo Ko, masa kau pangling padaku?”
Kembali perempuan itu memandang sekejap padanya, lalu menjawab dengan nada dingin:
“Selamanya aku tidak pernah kenal kau, mana aku berani dipanggil sebagai Kokoh?”
Berbareng ia terus melangkah ke depan kemudian duduk di sebelah sang Kokcu. Wajah sang Kokcu yang tadinya kaku dingin segera berubah ber-seri karena kedatangan perempuan cantik ini. Dia berkata kepada Kim-lun Hoat-ong:
“Inilah bakal isteriku. Lewat lohor nanti upacara perkawinan segera akan dilangsungkan.”
Habis berkata dia melirik sekejap ke arah Yo Ko seperti kurang senang akan kecerobohan pemuda itu yang salah mengenali orang. Keruan kejut Yo Ko tak terkatakan, segera ia berseru:
“Kokoh, masakah engkau ini bukan Siao-liong-li? Memangnya kau bukan Suhu-ku?”
Perempuan itu mengawasi Yo Ko sejenak, air mukanya menampilkan perasaan heran dan bingung, sejenak kemudian barulah dia menjawab sambil menggeleng:
“Bukan, siapakah Siao-liong-li?”
Kedua tangan Yo Ko mengepal sekencangnya dan diremas-remas hingga lecet, benaknya terasa tawar sekali, ia tidak tahu apakah sang Kokoh marah padanya sehingga tidak mau mengakui dia lagi? Atau disebabkan berada di tempat berbahaya maka sengaja bersikap begini untuk mencari selamat? Atau barang kali di dunia ini benar-benar ada perempuan lain yang serupa dengan dia? Meski Yo Ko biasanya pintar dan cerdik, tapi kini dia tak dapat mengendalikan pergolakan perasaannya teringat cintanya kepada Siao-Jiong-li, dan tanpa terasa dia menjerit.
Melihat pemuda itu bersikap kurang wajar, Kokcu itu mengernyitkan dahi sambil berkata perlahan kepada perempuan berbaju putih itu:
“Liu-ji, hari ini sungguh banyak orang yang aneh.”
Perempuan itu pun tidak menggubris, perlahan dia menuang secawan air lantas diminum, sorot matanya mengerling semua orang, tapi sampai pada Yo Ko, pandangnya menghindarkan pemuda itu dan tidak melihatnya lagi. Jika orang lain tentu akan bersikap tenang untuk melihat apa yang akan terjadi nanti, tapi watak Yo Ko memang tidak sabaran, apa lagi Kokcu itu menyatakan akan menikah lewat lohor nanti. Dalam keadaan bingung dan tidak berdaya, Yo Ko berpaling dan bertanya kepada Kim-lun Hoat-ong:
“Kau pernah bertanding dengan suhu-ku, tentu kau kenal dia dengan baik, coba katakan, apakah aku salah mengenali dia?”
Pada waktu perempuan baju putih itu muncul tadi sesungguhnya Kim-lun Hoat-ong sudah mengenal, tetapi nona itu ternyata tidak mau gubris meski Yo Ko sudah menegurnya sendiri, di antara pasangan muda-mudi ini tentu terjadi pertengkaran, maka ia tersenyum dan menjawab:
“Entahlah, aku pun tidak begitu ingat lagi.”
Sudah tentu jawaban Kim-lun Hoat-ong ini mempunyai dua maksud tujuan. Dia pernah dikalahkan oleh Giok-Ii-kiam-hoat yang dimainkan bersama Yo Ko dan Siao-liong-Ii, dan sekarang kepandaian Yo Ko sudah jauh lebih maju lagi, kalau kedua muda-mudi itu bergabung, jelas dirinya lebih-Iebih bukan tandingan mereka.
PENYANGKALAN SANG KEKASIH
Tapi kalau kedua orang itu bertengkar, biar pun kemudian bergabung lagi menempurnya, asalkan antara jiwa kedua orang itu sudah terjadi keretakan dan tidak dapat saling kontak, maka kesempatan untuk menang bagi dirinya menjadi sangat besar.
BegituIah Yo Ko menjadi melengak oleh jawaban Hoat-ong itu, tetapi ia lantas paham juga maksud tujuan orang. Pikirnya dengan dongkol: “Hati manusia benar-benar keji dan culas, Ketika kau terluka parah, aku membantu menyembuhkan, tetapi sekarang kau malah bermaksud membikin susah.”
Melihat sorot mata kebencian Yo Ko, Kim-lun Hoat-ong tahu pemuda itu merasa dendam padanya, kelak pasti akan membahayakan, maka bila ada kesempatan harus kubereskan sekarang juga. Dia lantas balas menghormat sang Kokcu dan menjawab:
“Kami berterima kasih atas undangan Kokcu untuk menghadiri pernikahanmu, tapi kedatangan kami hanya kebetulan sehingga tidak membawa kado apa pun, sungguh kami merasa tidak enak.”
Kokcu itu merasa senang karena Kim-lun Hoat-ong beserta rombongan mau menerima undangannya. Segera dia memperkenalkan mereka kepada bakal isterinya. Ketika giliran Yo Ko, ia hanya menyebutnya she Yo saja, lalu tidak diberi tambahan keterangan Iain. Tampak perempuan baju putih itu cuma mengangguk perlahan saja tanpa memberi suatu perhatian apa pun ketika diberi-tahu nama setiap orang, juga terhadap Yo Ko ia pun tidak ambil pusing seperti halnya orang Iain.
Muka Yo Ko menjadi merah padam, jantungnya memukul kencang, apa yang dibicarakan Kokcu itu sama sekali tak terdengar lagi olehnya. Kongsun Lik-oh yang berdiri di belakang ayahnya dapat mengikuti gerak-gerik Yo Ko. Ia teringat ketika pemuda itu tertusuk duri bunga cinta segera merasa sakit karena timbul rasa rindunya. Kalau melihat gelagatnya sekarang, apakah memang betul bakal ibu tiriku ini adalah kekasihnya? Masa bisa terjadi secara begini kebetulan? Jangan-jangan kedatangan orang-orang ini justru di sebabkan oleh bakal ibu tiriku ini?
Karena pikiran itu, Kongsun Lik-oh coba mengawasi perempuan baju putih itu. Terlihat air mukanya tenang-tenang saja, tidak merasa suka ria juga tidak merasa kikuk dan malu, sama sekali tidak memper sebagai seorang calon pengantin baru.
Sementara itu Yo Ko merasakan dadanya sesak seakan-akan putus napasnya. Tapi biar pun wataknya mudah terguncang perasaan, namun dia juga seorang yang pintar dan cerdik. Dia pikir kalau sang Kokoh tidak mau mengakui dia, bisa jadi Kokoh mempunyai maksud tujuan tertentu, untuk ini aku harus menjajakinya dengan jalan lain. Segera ia berdiri lalu memberi hormat kepada sang Kokcu, katanya dengan suara lantang:
“Karena ada seorang sanak keluargaku yang sangat mirip dengan wajah nyonya barumu, tadi aku salah mengenalinya, untuk itu aku mohon maaf.”
Kata-kata yang cukup sopan ini diterima dengan baik oleh Kokcu itu, sikapnya pun lantas berubah ramah, ia balas hormat dan menjawab:
“Salah mengenali orang adalah kejadian biasa dan tidak ada persoalan maaf segala, Cuma... cuma di dunia ini ternyata ada orang lain lagi yang serupa dengan bakal isteriku tercinta ini, hal ini bukan hanya kebetulan saja, tapi sesungguhnya teramat aneh.”
Di balik ucapannya ini dia ingin menyatakan bahwa di dunia ini mustahil ada wanita cantik lagi yang serupa dengan calon isterinya.
“Memang, maka aku pun amat heran,” ujar Yo Ko. “Maaf, apakah boleh kutanya siapakah she nyonya yang terhormat?”
“Dia she Liu, apakah kenalanmu itu juga she Liu?” kata sang Kokcu sambil tersenyum.
“Oh, bukan,” jawab Yo Ko. Diam-diam dia me-nimbang mengapa sang Kokcu mengaku wanita itu she Liu. Tapi pikirannya segera tergerak: “Ahh, soalnya aku she Yo.”
Yoliu Yang adalah nama pohon, jadi jelas Siau-liong-li mengaku she Liu karena dia belum melupakan Yo Ko. Terpikir demikian, seketika jari Yo Ko kesakitan lagi. Melihat Yo Ko meringis menahan sakit, Kongsun Lik-oh merasa iba dan sayang padanya, sorot matanya senantiasa mengikuti perubahan muka pemuda itu. Sekuatnya Yo Ko menahan rasa sakit akibat bekerjanya racun bunga cinta. Tiba-tiba teringat lagi sesuatu olehnya, cepat ia tanya:
“Apakah nona Liu ini penduduk sekitar pegunungan ini? Entah cara bagaimana Kokcu berkenalan dengan dia?”
Sebenarnya Kokcu itu juga sangat ingin tahu asal-usuI bakal isterinya. Dia pikir bukan mustahil bocah ini kenal Liu-ji dan dari dia nanti akan diperoleh keterangan lebih jelas mengenai asal-usul bakal isterinya. Maka segera ia menjawab:
“Ya, pertemuan kami memang terjadi secara kebetulan setengah bulan yang silam. Ketika aku sedang mencari bahan obat di lereng gunung, aku temukan dia menggeletak dalam keadaan terluka parah dan kempas-kempis. Setelah kuperiksa, kiranya dia menderita kesesatan lantaran kurang tepat dalam berlatih lwekang. Aku lantas membawanya pulang kemudian mengobati dia dengan obat mujarab keluargaku yang sudah turun temurun, jadi perkenalan kami ini boleh dikatakan secara kebetulan, itu yang dikatakan jika memang sudah jodoh.”
“Oh, ternyata di dunia ini masih ada juga obat mujarab yang dapat menyembuhkan nona Liu, kukira hanya dapat disembuhkan dengan bantuan darah orang lain,” kata Yo Ko.
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba perempuan itu menumpahkan darah segar sehingga bajunya yang putih berlepotan darah. Semua orang menjerit kaget dan bangkit.
Kiranya nona Liu memang betul nama samaran Siao-liong-li. Setelah mendengar kata-kata Oey Yong tempo hari, semalam suntuk dia tidak dapat tidur. Setelah dipikir bolak-balik, dia merasa kalau Yo Ko menjadi suaminya, pemuda itu akan dicaci maki orang dan hati sendiri merasa tak enak jika keduanya mengasingkan diri di kuburan kuno. Lama-lama pemuda itu tentu akan merasa kesal dan akhirnya bukan mustahil akan meninggalkannya. Namun cintanya terhadap Yo Ko sebenarnya sudah teramat mendalam, karena itulah dia tegas memutuskan hubungan. Hal ini pun timbul dari cintanya yang suci murni dan demi kebahagiaan dan hari depan Yo Ko.
Demikianlah seorang diri dia mengayunkan langkah tanpa arah tujuan di ladang sepi dan lereng pegunungan. Suatu hari dia duduk bersemadi, mendadak pikirannya bergolak dan sukar diatasi, akibatnya luka dalam yang lama kambuh lagi. Untung Kokcu she Kongsun itu kebetulan lewat dan menolongnya, kalau tidak tentu Siao-liong-li sudah tewas di pegunungan sunyi itu.
Kongsun Kokcu sudah lama menduda. Begitu meIihat kecantikan Siao-liong-li yang tiada taranya, ia menjadi tertarik. Sesungguhnya Siao-liong-Ii sendiri juga sudah putus asa, maka ketika dilamar oleh Kokcu, dia pikir kalau dirinya sudah menjadi isteri orang lain, jelas persoalannya dengan Yo Ko putus, apa lagi Cui-sian-kok ini sangat sunyi dan terpencil, selanjutnya pasti takkan bertemu lagi dengan pemuda itu.
Siapa tahu tiba-tiba muncul Lo-wan-tong Ciu Pek-thong yang mengacaukan Cui-sian-kok dan memancing kedatangan Yo Ko. Kini mendadak berhadapan dengan Yo Ko di tengah sebuah perjamuan, sungguh remuk redam hati Siao-liong-li. Pikirnya: “Aku sudah menerima lamaran orang dan segera akan menikah, lebih baik aku berlagak tidak kenal, biar dia pergi dari sini dengan marah dan membenci diriku selama hidup.”
Sebab itulah dia tetap tidak menggubrisnya meski pun dilihatnya Yo Ko sangat cemas dan bingung, Ketika mendadak Yo Ko berkata tentang penyembuhan dengan bantuan darah orang lain, segera teringat olehnya ketika dirinya terluka parah oleh kaum Tosu Coan-cin-kau sehingga muntah darah, tetapi tanpa menghiraukan keselamatan sendiri Yo Ko menyalurkan darah sendiri untuk menyelamatkan jiwanya, hal ini sungguh terukir secara mendalam di lubuk hatinya. Karena guncangan perasaan itulah seketika ia pun menumpahkan darah segar.
Dengan wajah pucat lesi dia bangkit dan bermaksud melangkah ke ruangan belakang. Kongsun Kokcu cepat berkata kepadanya:
“Duduk saja dan jangan bergerak agar tidak mengganggu urat nadi yang lain.” Kemudian ia berpaling kepada Yo Ko dan berkata: “Sebaiknya kau pergi saja dan untuk selanjutnya janganlah datang lagi ke sini.”
Air mata Yo Ko bercucuran, katanya kepada Siao-liong-li: “Kokoh, bila aku beranjak silakan kau mencaci dan memukul aku, sekali pun kau membunuh aku rela. Tapi mengapa kau tidak mau mengakui diriku lagi?”
Siao-liong-li tidak menjawab, ia menunduk sambil batuk perlahan beberapa kali. Sejak tadi Kongsun Kokcu sudah murka karena ucapan Yo Ko membikin Siao-liong-li muntah darah, namun sebisanya ia bersabar. Dengan suara geram ia berkata:
“Jika kau tidak segera pergi, jangan kau menyalahkan aku tidak kenal ampun.”
Akan tetapi mata Yo Ko hanya menatap tajam kepada Siao-liong-li dan tidak menggubris Kongsun Kokcu. Dia memohon lagi:
“Kokoh, aku berjanji akan mendampingi kau selama hidup di kuburan kuno dan takkan menyesal, marilah kita berangkat sekarang.”
Perlahan Siao-liong-li mengangkat kepalanya, dia lihat sorot mata Yo Ko penuh rasa kasih sayang yang mendalam bercampur rasa sedih dan cemas tak terhingga, tanpa terasa hatinya goncang dan timbul niatnya terima ajakan Yo Ko itu, tetapi segera terpikir lagi olehnya: “Tidak, perpisahanku ini telah kupikirkan dengan masak, bila aku tidak tahan, kelak pasti akan bikin susah dia selama hidup.” Karena itu cepat ia berpaling ke arah lain lalu menghela napas panjang, katanya:
“Aku tidak kenal kau. Apa yang kau katakan sama sekali aku tidak paham, sebaiknya lekas kau pergi saja!”
Beberapa kalimat itu diucapkannya dengan lemah dan lirih, tapi penuh mengandung kasih sayang, kecuali orang dogol macam Be Kong-co yang sama sekali tidak merasakannya, orang-orang yang lainnya segera mengetahui bahwa perasaan Siao-liong-li terhadap Yo Ko sesungguhnya sangat mesra, apa yang dikatakannya itu sesungguhnya bertentangan dengan pikirannya.
Sudah tentu tidak kepalang rasa cemburu Kongsun Kokcu setelah mendengar perkataan itu. Meski Siao-liong-li sudah menerima lamarannya dan bersedia menjadi isterinya, tetapi belum pernah nona itu mengucapkan sesuatu perkataan yang mesra padanya. Dengan geram dia melotot pada Yo Ko, dilihatnya pemuda itu memang gagah dan cakap, sebenarnya memang menjadi pasangan yang amat setimpal dengan Siao-liong-li. Dia pikir kedua muda-mudi itu mungkin memang sudah pacaran, entah pertengkaran urusan apa sehingga berpisah dan Liu-ji mau terima lamarannya, tapi jelas hatinya belum melupakan kekasihnya yang lama. Begitu teringat hal ini, tanpa terasa sorot matanya memancarkan sinar kemarahan dan kebencian.
Hoan It-ong paling setia kepada sang guru. Ia melihat Yo Ko mengacaukan rencana pernikahan gurunya, bahkan sudah mengakibatkan bakal ibu guru muntah darah, dan sang guru tetap bersabar saja. Segera dia tampil ke depan dan membentak:
“Bocah she Yo, kalau kau tahu diri hendaklah lekas enyah dari sini, Kokcu kami tidak menyukai tamu yang tidak kenal sopan santun macam kau.”
Yo Ko anggap tidak mendengar saja, dengan suara lembut dia berkata pula kepada Siao-liong-li:
“Kokoh, apakah engkau benar-benar telah lupa kepadaku?”
Marah sekali Hoan It-ong, dengan tenaga penuh sebelah tangannya mencengkeram punggung Yo Ko, maksudnya sekali pegang segera Yo Ko hendak dilemparkannya keluar. Saat itu Yo Ko sedang bicara kepada Siao-liong-li dengan penuh perhatian, kejadian di luar itu sama sekali tak dihiraukannya. Ketika jari Hoan It-ong menyentuh punggungnya barulah dia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga untuk mengerutkan badan, seketika cengkeraman Hoan It-ong mengenai tempat kosong.
“Brettt...!” terdengar suara dan baju bagian punggung Yo Ko terobek.
Karena permohonannya yang berulang tak digubris oleh Siao-liong-li, Yo Ko semakin cemas. Apa bila berada berduaan di kuburan kuno, dengan sendirinya dia akan memohon dengan sabar, tapi kini berada di depan orang banyak, sedangkan Hoan It-ong terus mengganggu, keruan rasa gusar Yo Ko kini menjadi berpindah kepada kakek cebol itu, segera ia berpaling dan membentak:
“Aku sedang bicara dengan Kokoh, kenapa kau mengganggu saja?!”
Dengan suara keras Hoan It-ong balas membentak: “Kokcu suruh kau enyah, kau dengar tidak? Apa bila kau tetap membangkang, jangan kau salahkan kakekmu yang tidak kenal ampun lagi padamu.”
“Aku justru tidak mau pergi, kau mau apa?!” jawab Yo Ko dengan gusar. “Selama Kokoh masih di sini aku pun akan tetap tinggal di sini. Walau pun aku mati dan mayatku menjadi abu tetap aku ikut dia.”
Sudah tentu ucapan Yo Ko itu sengaja diperdengarkan kepada Siao-liong-li. Pada waktu Kongsun Kokcu melirik wajah si nona terlihat air matanya berlinang dan akhirnya menetes, sungguh pedih hatinya, rasa cemburu terhadap Yo Ko makin membakar. Segera ia mengedipi Hoan It-ong dan memberi tanda agar cepat melancarkan serangan maut membinasakan Yo Ko.
Hoan It-ong tidak menduga bahwa sang guru akan menyuruhnya membunuh pemuda itu. Semula dia hanya bermaksud mengusirnya saja, tapi sang guru telah mendesaknya lagi, terpaksa ia angkat tongkatnya dan diketokkan ke lantai hingga menerbitkan suara nyaring, bentaknya:
“Apa kau benar-benar tidak takut mati?!”
Yo Ko merasakan darahnya panas, bergolak di rongga dada, seperti halnya Siao-liong-li, rasanya darah itu akan tumpah keluar. Kiranya aliran lwekang Ko-bong-pay sangat mengutamakan soal mengekang perasaan dan pengendalikan napsu, sebab itulah waktu Siao-liong-li diajarkan oleh gurunya dahulu, ia diharuskan menjauhi segala macam perasaan suka-duka dan pengaruh dari Iuar. Tapi belakangan Siao-liong-li tak dapat menahan perasaannya sehingga beberapa kali muntah darah.
Yo Ko sendiri mendapat ajaran dari Siao-liong-li, maka aliran Iwekang-nya sama. Karena gejolak perasaannya, kaki serta tangannya terasa dingin dan darah hampir tersembur dari mulutnya. Yo Ko menjadi nekat ingin mati saja di hadapan sang Kokoh yang tidak mau gubris lagi padanya. Namun segera terpikir olehnya: “Betapa mesranya Kokoh biasanya, bahwa sekarang dia bersikap sedingin ini, kuyakin pasti ada sebab musababnya, besar kemungkinan dia mendapat tekanan dari Kokcu bangsat ini hingga terpaksa tidak berani mengakui diriku. Apa bila aku tidak bersabar dan mencari jalan keluar, tentu sukar menghadapi orang-orang di sini.”
Karena pikiran itu, serentak timbullah semangat jantannya, dia bertekad hendak melabrak musuh dan menyelamatkan Siao-liong-li keluar dari tempat yang berbahaya ini. Segera ia mengumpulkan semangat dan menenangkan diri, kemudian sambil tersenyum dia berkata kepada Hoan It-ong:
“He, ada apa kau gembar-gembor? Pegunungan sunyi seperti kuburan, kalau tuan muda mau datang masa kau mampu menghalangi dan jika kuingin pergi masa kau dapat menahan diriku?”
Tadi semua orang menyaksikan keadaan Yo Ko yang sedih dan kalap seperti orang gila, tetapi mendadak bisa berubah menjadi sabar dan tenang, sungguh mereka sangat heran, Karena Hoan It-ong memang tiada maksud membunuh Yo Ko sebagai mana perintah sang guru, maka tongkatnya segera disabetkan ke kaki Yo Ko.
Kongsun Lik-oh kenal kepandaian Toa-suhengnya itu amat lihay. Meski tubuhnya pendek tetapi memiliki tenaga raksasa pembawaan. Semalam pun menyaksikan ketahanan Yo Ko digarang di dalam rumah batu, Iwekang-nya jelas tidak rendah, tapi mengingat usianya yang masih muda, rasanya sukar melawan permainan tongkat Toa-suhengnya, apa bila kedua orang sudah bergebrak, pasti sangat sukar untuk menolong pemuda itu. Karena hasratnya ingin menolong Yo Ko, biar pun nampak sang ayah sedang gusar, tapi Kongsun Lik-oh tetap nekat dan tampil ke muka, katanya pada Yo Ko:
“Yo-kongcu, tiada gunanya kau buang waktu di sini dan mengorbankan jiwa.”
Yo Ko hanya mengangguk sambil tersenyum, jawabnya: “Terima kasih atas maksud baik nona. Tapi aku ingin main-main beberapa jurus dengan si jenggot panjang ini, eh, apakah kau suka mainan kuncir, biar kupotong jenggot si cebol ini untukmu.”
Kejut sekali Kongsun Lik-oh dan ia tidak berani menanggapi ucapan Yo Ko, ia anggap kelakar pemuda itu keterlaluan dan barang kali benar-benar sudah bosan hidup.
Hoan It-ong menjadi marah karena jenggotnya diremehkan Yo Ko. Mendadak ia buang tongkatnya lantas melompat maju sambil membentak:
“Bocah kurang ajar! Rasakan dulu jenggotku ini!”
Belum habis ucapannya, tiba-tiba jenggot yang panjang itu telah menyabet ke muka si Yo Ko. Sembari berkelit Yo Ko berkata dengan tertawa:
“Lo-wang-tong tidak berhasil memotong jenggotmu, biarlah aku pun mencobanya.”
Segera ia mengeluarkan gunting raksasa dari ranselnya terus menggunting. Tetapi sekali miringkan kepala, Hoan It-ong putar jenggotnya terus menghantam kepala lawan dengan kekuatan yang hebat.
Cepat Yo Ko melompat ke samping, sebalikya gunting terus membalik dan “creng”, guntingnya telah mengatup. Kejut Hoan It-ong tak terkatakan, secepat kilat dia berjumpalitan ke belakang, sedikit telat saja jenggotnya pasti tergunting putus.
Sesungguhnya gunting Yo Ko dia pesan dari Pang Bik-hong untuk digunakan melawan senjata kebut Li Bok-chiu, dia sudah mempelajari gaya permainan kebut lawan dan cara bagaimana guntingnya harus bekerja. Siapa tahu Li Bok-chiu yang diharapkan belum pernah bertemu, sekarang guntingnya harus menghadapi si kakek cebol yang menggunakan jenggot panjang sebagai senjata. Yo Ko sangat senang, ia yakin betapa pun lihaynya jenggot si kakek tidak lebih lihay dari pada kebut Li Bok-chiu, karena itu dia tidak menjadi gentar, guntingnya terus mendesak lawan.
Hoan It-ong sendiri sudah lebih 30 tahun menggunakan jenggotnya sebagai senjata, apa lagi kedua tangannya juga ikut menyerang, tentu saja tambah lihay. Malahan Ciu Pek-thong yang maha sakti itu pun tidak berhasil menggunting jenggot Hoan It-ong, maka semua orang menyangka Yo Ko pasti juga akan gagal.
Tak terduga permainan gunting Yo Ko ternyata lebih lincah dan hidup serta lain dari pada Ciu Pek-thong. Tentu saja hal ini membikin semua orang merasa heran. Padahal bukanlah karena ilmu silat Yo Ko lebih tinggi dari pada Ciu Pek-thong, tetapi sebelum itu dia sudah mempelajari gaya permainan kebut Li Bok-chiu dan sudah merancang cara bagaimana menggunakan guntingnya, sedangkan gerakan jenggot Hoan It-ong ini justru hampir sama dengan permainan kebut Li Bok-chiu. Oleh karena itu, sekali Yo Ko mulai mainkan guntingnya, dengan sendirinya terasa sangat lancar dan berada di atas angin.
Begitulah beberapa kali jenggot Hoan It-ong kena digunting putus. Sekarang dia sudah tak berani lagi meremehkan Yo Ko yang masih muda. Segera ia ganti serangan jenggotnya disertai dengan pukulan yang dahsyat, terkadang sabetan jenggotnya hanya gerak pura-pura, kemudian disusul dengan pukulan lihay sungguhan, tetapi ada kalanya pukulannya hanya pancingan, lalu jenggotnya menyabet. Sungguh kepandaian yang luar biasa dan lain dari pada yang lain.
Setelah beberapa puluh jurus lagi, Yo Ko mulai gelisah. Ia pikir Kokcu she Kongsun jelas manusia culas dan kejam, ilmu silatnya pasti juga jauh di atas kakek cebol ini, kalau muridnya tak dapat dikalahkan, lalu cara bagaimana melawan gurunya nanti? Yo Ko memperhatikan gerak-gerik lawan, tampak kelakuan kakek cebol itu sangat lucu di kala menggoyangkan kepala menyabetkan jenggotnya, makin keras sabetan jenggotnya, semakin lucu kepalanya itu bergoyang. Tiba-tiba hati Yo Ko tergerak. Ia telah menemukan cara mematahkan serangan lawan.
“Crett!” ia katupkan guntingnya sambil melompat mundur dan berseru: “Berhenti dulu!”
Hoan It-ong tidak mengudaknya, dia bertanya: “Adik cilik, kalau kau menyerah kalah, nah, lekas pergi saja dari sini!”
Tapi Yo Ko menggeleng dan menjawab: “Aku ingin tanya, setelah jenggotmu dipotong, berapa lama tumbuh lagi sepanjang itu?”
“Itu bukan urusanmu!” sahut Hoan lt-ong dengan gusar. “Selamanya aku tak pernah cukur jenggot!”
“Sayang, sayang! sungguh sayang!” ujar Yo Ko sambil menggeleng.
“Sayang apa?” tanya Hoan It-ong melengak.
“Cukup dalam tiga jurus saja segera jenggotmu yang panjang ini akan kugunting putus,” kata Yo Ko.
Mana Hoan It-ong mau percaya dalam tiga-jurus dirinya akan dikalahkan oleh Yo Ko. Bukankah semenjak tadi mereka sudah bergebrak beberapa puluh jurus? Dengan gusar ia membentak:
“Lihat seranganku!” Sebelah tangannya segera memukul.
Cepat Yo Ko menangkis dengan tangan kiri, gunting di tangan kanan balas menghantam batok kepala lawan. Perawakan Yo Ko lebih tinggi, maka untuk memukul lawan dengan sendirinya dari atas ke bawah.
Karena itu Hoan It-ong memiringkan kepalanya untuk menghindar. Tak terduga tangan kiri Yo Ko menghantam ke peIipis kanannya. Untuk mengelak terpaksa Hoan It-ong memiringkan kepala lagi, namun lantaran serangan lawan teramat cepat dan caranya memiringkan kepala juga amat cepat, dengan sendirinya jenggotnya yang panjang ikut tergertak ke atas, padahal gunting Yo Ko sudah disiapkan di sebelah kanannya.
“Crett!” tanpa ampun lagi jenggotnya tergunting setengah meter. Semua orang menjerit kaget, ternyata benar Yo Ko telah memotong jenggot Hoan It-ong hanya dalam tiga jurus seperti apa yang dikatakan sebelumnya tadi. Kiranya menurut pengamatan Yo Ko tadi, diketahui bila Hoan It-ong hendak menyabet dengan jenggotnya ke kiri misalnya, maka kepalanya pasti meleng dulu ke sebelah kanan, jika jenggot hendak menyabet ke atas, maka kepala tentu menunduk lebih dulu. Dari situlah dia lantas menetapkan siasatnya, untuk memotong jenggot lawan harus pura-pura menghantam kepalanya, dengan begitu barulah dia berani sesumbar akan menggunting jenggot lawan dalam tiga jurus saja.
Hoan It-ong terkesima sejenak. Dia merasa sayang dan murka karena jenggot yang sudah dirawatnya selama hidup sekarang digunting begitu saja. Cepat ia sambar kembali tongkatnya, dengan kalap ia serampang pinggang Yo Ko.
Waktu masuk tadi Be Kong-co telah dijatuhkan oleh jenggot Hoan It-ong, maka ia sangat senang melihat jenggot orang terguling putus, serunya sambil tertawa:
“Hehehe…., Hoan cebol, tampangmu memang jelek, tanpa jenggotmu itu kau menjadi semakin buruk rupa!”
Hoan It-ong tambah gemas sehingga serangannya bertambah dahsyat. Selama Yo Ko bergebrak dengan Hoan It-ong, yang dipikirkan hanya jenggot orang saja sehingga belum diketahui sampai di mana kekuatan yang sebenarnya. Kini menghadapi tongkat lawan, dia ingin tahu bagaimana tenaganya. Ketika tongkat lawan menyabet tiba, segera dia menangkisnya dengan gunting,
“Trangg...!”
Lengannya terasa kesemutan dan gunting raksasa itu bengkok. Hanya satu jurus saja gunting sudah tak dapat digunakan lagi.
Melihat perubahan itu, Kongsun Lik-oh menguatirkan keselamatan Yo Ko, maka dia cepat-cepat berseru:
“Yo-Kongcu, tenagamu tidak memadai Toa-suhengku, buat apa kau menempurnya lagi?”
Kegusaran Kongsun Kokcu semakin sengit karena puterinya berulang kali membela orang luar. Dia pelototi anak perempuannya, tampaklah si nona mengawasi Yo Ko dengan penuh perhatian. Ketika dia memandang kepada Siao-liong-li, tampak sikapnya hambar saja seakan-akan tidak ambil pusing terhadap keselamatan Yo Ko. Karena itu Kongsun Kokcu menjadi girang, ia pikir Siao-liong-li ternyata tidak mencintai Yo Ko, terbukti keselamatan pemuda itu sedikit pun tidak dihiraukannya.
Padahal Siao-Iiong-Ii cukup kenal kepintaran dan kecerdikan Yo Ko, ilmu silatnya juga pasti tidak di bawah Hoan-It-ong, dia yakin pertarungan mereka pasti akan dimenangkan oleh pemuda itu, makanya dia sama sekali tidak berkuatir.
Sementara itu Yo Ko telah membuang guntingnya yang sudah bengkok, lalu berkata: “Hoan-heng, kau pasti bukan tandinganku lebih baik kau menyerah saja!”
Dengan gusar Hoan It-ong menjawab: “Asal kau sanggup mengalahkan tongkatku ini, segera aku membunuh diri!” Berbareng tongkatnya mengemplang sekerasnya.
Namun sedikit Yo Ko miringkan tubuhnya, tongkat itu jatuh di sebelahnya. Sekali kaki kiri Yo Ko menginjak, dengan tepat batang tongkat itu terpijak. Sekuatnya Hoan It-ong mengangkat tongkatnya ke atas, namun tubuh Yo Ko juga lantas mengikuti gerakan tongkat itu hingga terbawa ke udara. Dengan mantapnya dia berdiri di atas tongkat dengan satu kaki, yakni kaki kiri. Beberapa kali Koan it-ong menggerakkan tongkatnya agar Yo Ko tergetar jatuh, tetapi tak berhasil.
Dengan murka Hoan It-ong hendak memutar tongkatnya, tapi Yo Ko keburu melangkah maju melalui batang tongkatnya. Keruan gerakan aneh Yo Ko ini amat mengejutkan Hoan It-ong, sementara itu Yo Ko telah melangkah maju lagi satu tindak, mendadak kaki kanan melayang ke depan untuk menendang hidungnya.
Keadaan Hoan It-ong menjadi serba salah, musuh seperti sudah melengket pada batang tongkatnya. Jika dirinya meloncat mundur sama juga seperti membawa musuh lebih maju, kalau tidak meloncat mundur jelas sukar menghindarkan tendangan lawan, sedang kedua tangan memegangi tongkat sehingga tak dapat digunakan menangkis, apa lagi jenggotnya sudah tergunting sehingga tiada senjata buat membela diri lagi. Dalam keadaan kepepet terpaksa ia membuang tongkatnya dan melompat mundur menghindari tendangan musuh.
“Trangg...!”
Ujung tongkat mengetok lantai, ujung lain belum lagi jatuh sudah keburu dipegang oleh Yo Ko. Be Kong-co, Nimo Singh dan lainnya bersorak memuji. Segera Yo Ko ketokkan tongkat rampasannya ke lantai dan bertanya dengan tertawa:
“Apa abamu sekarang?”
Muka Hoan It-ong merah padam, jawabnya penasaran: “Kau main licik, aku tidak merasa kalah!”
“Baik, boleh kita coba lagi,” ujar Yo Ko sambil melemparkan tongkat kepada Hoan It-ong.
Ketika Hoan It-ong hendak menangkap tongkat, tanpa terduga mendadak tongkat itu melompat ke atas sehingga tangan Hoa It-ong menangkap angin, sekali ulurkan tangan, kembali Yo Ko menyambar lagi tongkat itu.
Serentak Be Kong-co dan lainnya bersorak lebih keras, sebaliknya muka Hoan It-ong semakin merah padam. Kim-lun Hoat-ong dan In Kik-si saling pandang dengan tersenyum, mereka memuji kepintaran Yo Ko. Kemarin mereka menyaksikan Ciu Pek-thong menimpuk orang dengan ujung tombak yang patah, namun ujung tombak itu bisa berubah arah di tengah jalan sebelum mencapai sasarannya, jelas Yo Ko telah menirukan cara Ciu Pek-thong. Dengan sendirinya Kongsun Kokcu dan anak muridnya tidak mengetahui seluk-beluk itu, mereka menjadi kaget dan heran atas kepandaian Yo Ko.
“Bagaimana, apakah perlu satu kali lagi?” tanya Yo Ko sambil tertawa.
Hoan It-ong merasa terguntingnya jenggot dan terampasnya tongkat adalah karena tertipu oleh kelicikan lawan, dengan sendirinya ia tidak mau mengaku kalah. Dengan suara keras dan gemas dia menjawab:
“Kalau kau dapat mengalahkan aku dengan kepandaian sejati barulah aku menyerah padamu.”
“Ilmu silat harus mengutamakan kecerdikan,” jengek Yo Ko, “gurumu sendiri teramat tolol, anak muridnya dengan sendirinya goblok, makanya aku memberi nasehat lebih baik kau cari guru lain yang lebih pandai,” jelas dengan ucapannya ini sama saja dia memaki Kongsun Kokcu.
Keruan Hoan It-ong bertambah murka, dengan nekat ia kembali menerjang maju. Dengan melintangkan tongkat Yo Ko angsurkan senjata rampasannya kepada si kakek sambil berkata:
“Sekali ini kau harus hati-hati, kalau sampai kurebut lagi jangan kau sesalkan orang.”
Hoan It-ong tidak berani menjawab, ia genggam tongkat sekencangnya dan siap siaga. Ia pikir hanya ada satu jalan supaya dapat merampas lagi tongkat itu, yakni potong sekalian tanganku ini.
“Awas! ” terdengar Yo Ko berseru sambil menubruk ke depan, tahu-tahu tangan kirinya telah menempel ujung tongkat lawan, berbareng jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan menyolok sepasang mata musuh, malahan kaki kirinya juga ikut menginjak batang tongkat. Inilah jurus ‘Go kau-toat-tiang’ (merampas tongkat dari mulut anjing galak), suatu jurus maha sakti dari Pak-kau-pang-hoat kebanggaan Kay-pang.
BERUSAHA MENGGAGALKAN PERNIKAHAN
Dulu dalam pertemuan besar Kay-pang (kaum pengemis) di Kue-san, dengan jurus ini Oey Yong merebut tongkat penggebuk anjing dari tangan Yo Khong (ayah Yo Ko) dan jadilah dia ketua Kay-pang yang disegani. Cara merebut senjata lawan dengan jurus sakti itu boleh dikatakan tidak pernah meleset, seratus kali tembak seratus kali kena.
Kalau dua kali yang duluan Yo Ko berhasil merebut tongkat lawannya, walau pun caranya juga aneh, tapi gerakannya dapat diikuti dengan jelas oleh penonton, tapi sekali ini bahkan Hoa It-ong sendiri tidak tahu bagaimana caranya, sekejap mata saja tahu-tahu tongkatnya sudah berpindah ke tangan musuh.
“Nah, cebol tua, sekali ini kau takluk tidak?” seru Be Kong-co.
“Dia pakai ilmu sihir dan bukan kepandaian sejati, mana aku mau menyerah?” jawab Hoan lt-ong penasaran.
“Habis cara bagaimana baru kau mau takluk?” tanya Yo Ko dengan tertawa.
“Kecuali kau merobohkan aku dengan kepandaian sejati,” sahut Hoan It-ong.
Yo Ko mengembalikan lagi tongkatnya sambil berkata: “Baiklah, kita boleh coba-coba lagi beberapa jurus.”
Hoan It-ong telah kapok terhadap cara orang merebut senjatanya dengan tangan kosong, dia pikir sebaiknya bertanding senjata saja. Oleh karena itu segera dia berkata:
“Aku sendiri menggunakan senjata sebesar ini, sebaliknya kau hanya bertangan kosong, andai kata aku menang juga kau pasti merasa penasaran.”
“Jelas kau sudah kapok pada caraku merebut senjatamu dengan bertangan kosong,” ujar Yo Ko dengan tertawa, “Baiklah, biar aku pun menggunakan senjata untuk melayani kau.”
Ia coba memandang ke sekeliling ruangan, dilihatnya dinding sekitar tiada sesuatu pajangan apa pun, apa lagi senjata yang bisa digunakan, hanya di halaman sana ada dua pohon Liu dengan ranting pohon yang berlambaian menghijau permai. Ia pandang sekejap kepada Siao-liong-li lantas berkata:
“Kau ingin she Liu, maka biarlah kugunakan ranting pohon liu sebagai senjata.”
Segera dia melompat ke halaman dan mengambil sepotong ranting liu yang bulatan tengahnya sekitar tiga senti dan panjang satu meteran sehingga mirip pentung penggebuk anjing milik Kay-pang, akan tetapi daun Liu tidak dihilangkannya sehingga kelihatan lebih luwes.
Diam-diam Hoan It-ong sangat mendongkol. Ternyata Yo Ko tidak menggunakan senjata yang umum, sebaliknya ranting kayu seperti mainan anak kecil saja, cara ini jelas sangat meremehkan.
Sementara itu Be Kong-co berseru: “Adik Yo, kau pakai golokku ini!” Segera ia melolos goloknya sehingga memancarkan cahaya kemilauan, benar-benar sebatang golok pusaka yang amat tajam.
“Terima kasih,” kata Yo Ko, “Si cebol ini belum mendapatkan guru sakti, kepandaiannya masih terbatas, ranting kayu ini saja sudah cukup untuk menghajar dia.”
Tak kepalang maranya Hoan It-ong. Dengan nada ucapan Yo Ko itu kembali telah menghina nama baik gurunya, ia pikir pertarungan selanjutnya tidak ada ampun lagi. Segera ia putar tongkatnya dengan kencang, ia mainkan ilmu tongkat ‘Boat-cui-tiang-hoat’ (permainan tongkat gebyur air) yang meliputi 9x9=81 jurus. Permainan tongkatnya disebut ‘gebyur air’ maksudnya air digebyurkan juga tidak akan tembus, suatu tanda betapa kencang dan rapat putaran tongkatnya.
Semula angin tongkatnya menyambar dahsyat, namun setelah belasan jurus, lambat-laun terasa arah tongkatnya rada tergeser ujung tongkatnya. Kiranya Yo Ko sudah menggunakan gaya ‘lengket’ dari Pak-kau-pang-hoat, ujung ranting kayu menempel ujung tongkat, ke timur tongkat itu mengarah, ke timur pula ranting kayunya ikut dan begitu pula seterusnya, tapi berbareng itu dia tambahi tenaga betotan atau tolakan menurut gerakan tongkat lawan sehingga mau tak mau ujung tongkat selalu tergeser arahnya.
ilmu ini sejalan dengan ‘Si-nio-boat-jian-kin’ (empat tahil menolak ribuan kati), sejenis ilmu pinjam tenaga musuh untuk menghantam musuh sendiri yang pasti diyakinkan oleh setiap jago silat. Gaya ‘lengket’ dalam ilmu permainan pentung kaum Kay-pang diciptakan juga menurut kunci ilmu silat tadi, gayanya bagus dan tenaganya sukar diukur.
Tentu saja Kongsun Kokcu semakin heran. Sama sekali dia tidak pernah menduga bahwa seorang muda belia dapat memiliki ilmu sakti sehebat itu. Dilihatnya tenaga tongkat Hoan It-ong semakin lama semakin lemah, sebaliknya kekuatan ranting kayu Yo Ko bertambah dahsyat.
Belasan jurus kemudian seluruh badan Hoan It-ong sudah terkekang oleh setiap gerakan ranting kayu. Makin kuat Hoan It-ong memutar tongkatnya, semakin berat rasanya untuk menguasai diri sendiri. Akhirnya ia merasa tersedot ke tengah pusaran angin lesus yang dashyat sehingga kepala terasa pusing dan pandangan kabur.
“Mundur, It-ong!” tiba-tiba saja Kongsun Kokcu menepuk meja sambil berseru, suaranya menggelegar mengagetkan orang.
Hati Yo Ko terkesiap, ia pikir masa begitu mudah muridmu akan lolos dari tanganku. Sedikit tangannya bergerak, dan gaya ‘lengket’ dia ganti dengan gaya ‘putar’, ia berdiri tegak, tetapi pergelangan tangannya terus bergerak dalam putaran kecil sehingga Hoan It-ong ikut terbawa dari kiri ke kanan dan berputar dengan cepat laksana gasingan. Semakin cepat Yo Ko memutar tangannya, semakin kencang putaran Hoan It-ong, tongkat baja yang dipegangnya berputar menegak seperti poros gasingan saja.
“Kau sanggup berdiri tegak tanpa roboh, betapa pun kau terhitung seorang jagoan!” seru Yo Ko sambil menyesakkan ranting kayunya ke atas, lalu ia melompat mundur.
Sementara itu lahir batin Hoan It-ong sudah tak dapat terkuasai Iagi, langkahnya semponyongan, kalau berputar beberapa kali lagi pasti akan terbanting roboh. Sekonyong-konyong Kongsun Kokcu melompat ke atas, selagi terapung di udara sebelah tangannya menggablok ujung tongkat, lalu melompat kembali ke tempatnya semula dengan enteng. Gablokannya kelihatan perlahan, namun membawa tenaga maha dahsyat, kontan tongkat baja itu ambles ke tanah hampir semeter dalamnya dan seketika tidak berputar Iagi.
Dengan berpegangan pada tongkat barulah Hoan It-ong tidak jadi jatuh, namun begitu tubuhnya tetap terhuyung kian kemari laksana orang mabuk. Siau-siang-cu, In Kik-si dan lainnya sebentar memandang Yo Ko, di lain saat memandang Kongsun Kokcu. Mereka pikir kedua orang ini sama hebatnya dan sukar ditandingi, maka biarkan saja keduanya saling genjot, bahkan mereka berharap kedua orang itu mampus semua. Hanya Be Kong-co saja yang berhati polos, kalau bisa ia ingin membantu Yo Ko.
Mendadak Hoan It-ong berlari kemudian berlutut di hadapan sang guru. Dia menyembah beberapa kali, tanpa bicara kepalanya dibenturkan ke tiang rumah. Perbuatannya ini sungguh tak terduga oleh siapa pun, tiada yang menyangka bahwa watak kakek cebol itu ternyata begitu keras, kalah bertanding terus menempuh jalan pendek dengan membunuh diri. Kongsun Kokcu menjerit kaget sambil meloncat maju untuk menjambret punggung Hoan It-ong tetapi lantaran jaraknya terlalu jauh, pula benturan Hoan Itong itu dilakukan dengan sangat cepat, jambretannya itu ternyata luput.
Sementara itu kepala Hoan It-ong telah dibenturkan dengan sepenuh tenaga, tampaknya kepalanya pasti akan pecah berantakan. Namun mendadak terasa tempat yang terbentur oleh batok kepalanya sangat lunak, empuk seperti kasur. Waktu ia menengadah, terlihat Yo Ko telah berdiri di depannya sambil menjulurkan kedua tangannya. Rupanya pemuda ini berdiri paling dekat dengan Hoan It-ong. Ketika melihat gerak-gerik kakek itu mencurigakan segera ia bersiap dan sempat menghadang di depan untuk menyelamatkannya.
“Hoan-heng, apakah kau tahu kejadian apa yang paling menyedihkan di dunia ini?” tanya Yo Ko.
“Apa itu?” Hoan It-ong balik bertanya dengan melenggong.
“Aku pun tidak tahu.” ujar Yo Ko dengan hati pedih, “Hanya duka hatiku berpuluh kali lebih hebat dari padamu, sedangkan aku sendiri belum lagi bunuh diri, lalu mengapa kau malah melakukan hal demikian?”
“Kau menang bertanding, apa yang membuatmu berduka?” kata Hoan It-ong.
Yo Ko menggeleng, jawabnya: “Kalah atau menang bertanding bukan soal bagiku, selama hidupku ini entah sudah berapa kali dihajar orang. Yang jelas betapa cemas dan kuatirnya gurumu ketika melihat kau hendak membunuh diri. Tetapi kalau aku yang membunuh diri dan guruku sama sekali tidak ambil pusing, inilah hal yang paling menyedihkan bagiku.”
Belum lagi Hoan It-ong paham apa yang dimaksudkan Yo Ko, terdengar Kongsun Kokcu membentaknya:
”It-ong, jika kau berbuat bodoh lagi berarti kau tidak taat kepada perintah guru. Kau berdiri saja di samping sana, saksikan gurumu membereskan bocah ini.”
Hoan It-ong paling hormat kepada sang guru, ia tak berani membantah dan segera berdiri ke sana sambil melotot kepada Yo Ko. Mendengar Yo Ko mengatakan kalau dia membunuh diri juga gurunya tidak ambil pusing, seketika mata Siao-Iiong-li basah ber-kaca-kaca, pikirnya: “Jika kau mati, masa aku mau hidup sendiri?”
Setiap selang sejenak Kongsun Kokcu tentu memandang sekejap pada Siao-liong-li untuk mengawasi gerak-geriknya. Ketika tiba-tiba nampak si nona hendak meneteskan air mata, segera ia menepuk tangan tiga kali dan berseru:
“Tangkap bocah ini!”
Tepuk tangan tiga kali adalah tanda perintah kepada anak muridnya. Rupanya Kongsun Kokcu hendak menjaga harga diri dan merasa tidak sesuai untuk bertempur dengan anak muda seperti Yo Ko. Demikianlah anak muridnya serentak mengiakan, 16 orang terbagi berdiri di empat sudut, setiap empat orang lantas membentangkan sebuah jaring ikan.
Datangnya Yo Ko berombongan dengan Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain, kalau urusannya telah lanjut begini, pantasnya Kim-lun Hoat-ong membuka suara untuk melerai, tapi dia cuma tersenyum dingin saja dan tetap menonton belaka.
Kongsun Kokcu tidak tahu maksud sikap Hoat-ong yang acuh tak acuh itu. Dia kira orang mengejeknya tak akan mampu menandingi Yo Ko, diam-diam ia mendongkol dan hendak memperlihatkan kemahirannya. Segera ia menepuk tangan lagi tiga kali, dan serentak ke-16 anak muridnya bergeser bertukar tempat sehingga lingkaran kepungan mereka terhadap Yo Ko semakin ciut.
Melihat empat jaring lawan semakin mendekat, Yo Ko menjadi bingung dan tidak berdaya. Ciu Pek-thong yang maha sakti saja pernah tertawan oleh jaring lawan, apa lagi diriku? Lagi pula Ciu Pek-thong cuma berusaha meloloskan diri saja, kemudian dapat melemparkan Be Kong-co dan Hoan It-ong ke dalam jaring sehingga akhirnya dia berhasil kabur, sebaliknya sekarang aku justru ingin tinggal di sini dan tak ingin lari.
Tiba-tiba di antara anak murid Cui-sian-kok terdengar ada yang bersuit. Empat buah jaring serentak bergeser berganti posisi, sebentar bersilang, lain saat melintang atau menegak, mendatar atau menyerang dan terus mendesak maju.
Sukar bagi Yo Ko melayani kepungan jaring-jaring itu, maka terpaksa dia berputar kayun berlarian di ruangan itu, dengan Ginkang maha tinggi aliran Ko-bong-pay dia terus melayang kian kemari. Dia menghindari pertarungan dari depan, tetapi berusaha membuat musuh merasa bingung dan tidak dapat meraba ke mana dia hendak bergeser. Tapi ke-16 orang itu ternyata tidak ikut berputar seperti Yo Ko, melainkan bergerak mempersempit kepungan.
Sambil berlari Yo Ko memeriksa tempat-tempat kelemahan barisan musuh. Setelah mengikuti beberapa kali perubahan, segera dapat ditarik kesimpulan bahwa barisan jaring musuh menirukan jaring laba-laba. Biasanya laba-laba bersembunyi lebih dahulu, kalau musuh sudah terjebak barulah mangsanya ditangkap. Dia pikir untuk memboboI jaring harus digunakan senjata rahasia. Maka sambil berputar segera dia menyiapkan segenggam Giok-hong-ciam (jarum tawon putih). Ketika empat orang di sebelah kiri mulai mendekat, tiba-tiba tangannya bergerak, tapi yang diincar justru empat orang di sebelah kanan.
Senjata rahasia jarum lembut ini biasanya tak pernah meleset, apa lagi jaraknya sekarang sangat dekat, Yo Ko yakin keempat orang itu pasti akan termakan oleh jarumnya. Tak terduga gerakan keempat orang itu pun sangat cepat. Begitu nampak tangan lawan bergerak serentak mereka mengangkat jaringnya ke atas, terdengarlah suara gemerincing nyaring perlahan. Jarum-jarum itu tersedot seluruhnya oleh jaring.
Kiranya jaring itu teranyam dari benang emas dan baja yang sebagian mengandung daya sembrani yang amat kuat. Sekali jaring itu dibentangkan, betapa pun lihay senjata rahasia lawan tentu akan tertahan seluruhnya.
Yo Ko mengira serangannya pasti berhasil, tak terduga jaring musuh ternyata mempunyai daya guna sehebat itu. Dalam seribu kesibukannya dia sempat melotot ke arah Kongsun Kokcu, dia pikir orang ini sungguh maha lihay dan dapat menciptakan senjata yang begitu aneh. Gagal dengan senjata rahasianya, terpaksa Yo Ko memikirkan jalan lain untuk membobol kepungan musuh.
Sementara itu jaring lawan sebelah kanan sudah mendekat. Sekali pimpinannya berseru, terlihatlah gemeredepnya cahaya, sehelai jaring menyambar tiba. Segera Yo Ko mengegos dan bermaksud menerobos ke sebelah sana, tapi jaring depan dan belakang juga menubruk tiba bersama. Mau tak mau Yo Ko mengeluh, dia pikir sekali ini diriku pasti akan disiksa habis-habisan oleh Kokcu jahanam ini kalau aku sampai tertawan olehnya.
Selagi Yo Ko berkuatir, tiba-tiba terdengar seorang pemegang jaring di sebelah belakang menjerit. Waktu ia menoleh, dilihatnya Kongsun Lik-oh telah jatuh tersungkur, ujung jaring yang dipegangnya menjadi tertarik ke bawah. Itulah suatu peluang di tengah barisan jaring musuh. Tanpa pikir lagi secepat kilat Yo Ko segera melompat ke sana dan menerobos keluar dari kepungan musuh. Sekilas dilihatnya Kongsun Lik-oh merintih kesakitan, namun berulang nona itu memberi isyarat kedipan mata agar Yo Ko lekas lari meninggalkan tempat berbahaya itu.
Tergerak hati Yo Ko, pikirnya: “Nona ini telah menyelamatkan aku dengan mengorbankan dirinya, budi kebaikannya sungguh sukar kubalas. Jika aku pergi begini saja, tentu Kokoh akan menikah dengan Kokcu jahanam itu. Biarlah kulabrak dia dengan mati-matian, andai kata tertawan dan tersiksa juga takkan kutinggalkan tempat ini.”
Berkorban bagi cinta suci, mati pun dia tidak menyesal. Dia terus berdiri di ujung ruangan sana sambil menatap tajam kepada Siao-liong-Ii. Dia pikir masa kau sama sekali tidak ambil pusing menyaksikan aku bergumul dengan mala petaka yang akan menimpa ini.
Terlihat Siao-liong-li tetap menunduk tanpa bersuara. Tetapi rasa sedih dan duka nestapa dalam hatinya saat itu sesungguhnya jauh melebihi Yo Ko. Tanpa tedeng aling-aling Yo Ko mengutarakan isi hatinya secara terus terang, maka biar pun menderita namun tekanan batinnya sudah terlampiaskan sebagian. Tapi Siao-liong-li hanya tutup mulut saja, padahal di dalam hati penuh rasa kasih sayang kepada pemuda itu, namun pemuda itu mana bisa mengetahuinya.
Bersamaan dengan itu Kongsun Kokcu sudah menepuk tangan lagi dua kali. Keempat jaring ikan yang terbentang serentak mundur, lalu katanya terhadap Kongsun Lik-oh.
“Mengapa kau?”
“Kakiku mendadak kejang dan kesakitan,” jawab Kongsun Lik-oh.
Sudah tentu Kongsun Kokcu tahu puterinya jatuh hati kepada Yo Ko sehingga pada detik yang menentukan tadi sengaja memberi peluang kepada pemuda itu untuk lolos. Lantaran berada di hadapan orang luar, dia merasa tidak enak mengumbar rasa marahnya, maka segera dia mendengus dan berkata,
“Baik, kau mundur saja. Capsiji maju, gantikan tempatnya!”
Dengan kepala menunduk Kongsun Lik-oh mengundurkan diri, sedangkan seorang anak muda yang rambutnya dikucir dua segera mengiyakan lantas maju dan memegang ujung jaring yang dipegang Kongsun Lik-oh tadi.
Kongsun Lik-oh sempat melirik sekejap pada Yo Ko dengan penuh rasa menyesal. Diam-diam Yo Ko merasa bersalah dan menyesal juga tidak dapat memenuhi maksud baik si nona yang sengaja hendak menolongnya.
Kembali Kongsun Kokcu bertepuk tangan empat kali. Mendadak ke-16 anak muridnya mengundurkan diri ke ruangan dalam. Yo Ko melengak, ia heran apakah orang mengaku kalah begitu saja? Ketika ia berpaling, dilihatnya air muka Kongsun Lik-oh penuh rasa cemas dan kuatir serta berulang memberi isyarat kepadanya agar lekas melarikan diri. Melihat sikap nona itu, tampaknya sebentar lagi bakal datang bencana maut yang sukar dihindarinya. Yo Ko hanya tersenyum, sebaliknya ia seret sebuah kursi, lalu duduk di situ.
Sementara itu di ruangan dalam terdengar suara gemerincing nyaring. Sejenak kemudian ke-16 anak murid tadi sudah muncul lagi, tangan mereka tetap memegangi jaring, hanya saja jaring mereka sudah berganti dengan jaring yang penuh terpasang kaitan dan pisau kecil. Melihat cahayanya yang gemerlapan, jelas kaitan dan pisau itu sangat tajam, asal terkurung di tengah jaring, seluruh tubuh akan tersayat dan mustahil bisa hidup lagi.
Segera Be Kong-co berteriak “He, sahabat Kokcu, mengapa kau mempergunakan senjata sekeji itu terhadap tamu, kau tahu malu tidak?”
Sambil menuding Yo Ko Kongsun Kokcu berkata: “Bukan keinginanku hendak membunuh kau, soalnya berulang kali telah kusuruh kau pergi saja dari sini tetapi kau tidak mau.”
Betapa pun Be Kong-co juga ngeri melihat keempat jaring yang berkait tajam itu. Segera dia bangkit lalu menarik Yo Ko, katanya:
“Adik Yo, orang busuk macam begini sebaiknya kita jauhi saja, buat apa kau merecoki dia lagi?”
Yo Ko tidak menjawab. Dia menatap ke arah Siao-liong-li dan ingin mendengar apa yang dikatakan si nona. Siao-liong-li sendiri memang merasa bimbang. Bahwa dia mau menikah dengan Kongsun Kokcu adalah karena dia merasa berterima kasih atas pertolongan jiwanya, pula tempat kediamannya yang indah permai dan terpencil ini juga cocok sekali sebagai tempat untuk menghindari pencarian Yo Ko. Apa lagi setelah berdiam beberapa hari, dia merasa sang Kokcu adalah seorang yang berpengetahuan luas dan pandai, jelas seorang yang serba pintar, maka sedikit banyak timbul juga rasa sukanya hingga merasa mantap untuk hidup bersamanya.
Siapa tahu dunia yang luas ini terkadang juga seperti amat ciut, Yo Ko bisa muncul di tanah sunyi ini. Kini menyaksikan Kongsun Kokcu mengeluarkan barisan jaring berkait itu, ia pikir Yo Ko pasti tak terhindar dari kematian. Ia pun sudah bertekad, asalkan Yo Ko terkurung oleh jaring, segera dia sendiri juga akan menubruk ke atas jaring itu untuk mati bersama pemuda itu. Berpikir sampai di sini tanpa terasa ia tersenyum simpul dan berhati lega.
Sudah tentu lika-liku yang dipikir Siau-liong-li tidak diketahui oleh Yo Ko. Pemuda itu menyangka kebalikannya, dia pikir diriku sedang terancam bahaya maut, tetapi kau masih dapat tersenyum gembira, keruan rasa pedih hatinya bertambah hebat. Namun pada waktu dia merasa pedih, dongkol dan gelisah itulah, sekilas timbul sesuatu pikiran pada benaknya. Keputusan apa pun yang diambilnya selalu dilakukannya dengan amat cepat, maka tanpa pikir lagi dua kali langsung dia mendekati Siao-liong-li, dengan sedikit membungkuk lalu berkata:
“Kokoh, Ko-ji sedang menghadapi kesulitan, mohon pinjam Kim-Ieng-soh (selendang bergenta emas) dan Ciang-doh (sarung tangan) untuk kupakai sebentar.”
Yang terpikir oleh Siao-liang-Ii pada saat itu adalah betapa bahagianya bisa mati bersama Yo Ko, selain itu tiada sesuatu lagi yang terpikir olehnya. Karena itu tanpa menjawab dia terus mengeluarkan sepasang sarung tangan putih berikut sehelai selendang sutera putih lalu diangsurkan kepada pemuda itu.
Dengan tenang Yo Ko menerima benda-benda itu, katanya pula sambil menatap tajam wajah Siao-liong-Ii:
“Sekarang engkau telah mengakui diriku?”
Dengan penuh kasih sayang Siao-liong-li menjawab sambil tersenyum: “Dalam hati sejak tadi sudah kukenali dirimu!”
Seketika semangat Yo Ko bangkit, lalu tanyanya pula dengan suara gemetar: “Jadi kau pasti akan ikut pergi bersamaku dan takkan menikah dengan Kokcu ini, bukan?”
“Ya, aku bertekad akan ikut pergi bersamamu, dengan sendirinya takkan menikah dengan orang lain,” jawab Siao-liong-li sambil tersenyum. “Ko-ji, aku ini adalah isterimu.”
Jawaban Siao-liong-li yang cukup tegas ini tentu saja amat mengejutkan orang, terutama Kongsun Kokcu, mukanya menjadi pucat pasi. Mendadak dia bertepuk tangan empat kali dengan keras sebagai tanda perintah kepada anak muridnya agar melancarkan serangan serentak. Tanpa bicara lagi ke-16 anak muridnya langsung bergerak sambil membentang jaring mereka.
Bagi Yo Ko, ucapan Siao-liong-Ii bagaikan obat mujarab yang telah menghidupkan dia dari kematian, maka seketika keberaniannya menjadi berlipat ganda. Andai kata di depannya sekarang menghadang lautan api atau minyak mendidih tak terpikir lagi olehnya. Segera ia memakai sarung tangan yang kebal senjata, sedangkan Kim-leng-soh pada tangan kanan terus digentakkan hingga menimbulkan suara “ting-ting-ting” yang nyaring. Laksana ular putih saja selendang sutera putih terus menyambar ke depan.
Pada ujung selendang putih itu terikat sebuah keleningan emas yang dapat berbunyi waktu selendang itu menjulur dan mengkeret, kontan keleningan emas itu telah tepat mengetok ‘lm-kok-hiat’ lawan yang berada di sebelah kanan. Ketika selendang itu tertarik balik, kembali seorang lawan di sebelah kiri juga tertotok, seketika lengan orang itu lemas tak bertenaga dan dengan sendirinya jaring yang dipegangnya terlepas dari tangannya.
Dua kali serangan kilat ini benar-benar luar biasa, sekaligus selendang berkeleningan itu bergerak, seketika barisan jaring musuh kena dibobolkan. Waktu empat orang yang memegangi jaring sebelah barat tertegun sejenak, Kim-leng-soh yang disabetkan Yo Ko menyambar tiba pula.
“Tingg...! Tingg...!” kembali dua orang di antaranya tertotok roboh lagi.
Tetapi pada saat itu juga jaring di sebelah belakang telah menubruk, kaitan dan pisau kecil yang terpasang di jaring segera akan melukainya. Terpaksa Yo Ko menggunakan tangan kiri mencengkeram jaring musuh terus dibetot sekuatnya. Oleh karena dia memakai sarung tangan pusaka, meski kaitan dan pisau tajam itu tercengkeram olehnya takkan melukai.
Sejak dia menciptakan aliran ilmu silatnya sendiri, setiap gerak-geriknya boleh dikatakan selalu timbul secara otomatis dan tanpa ragu. Kini jaring yang kena dicengkeramnya segera digentakkan sehingga jaring berbalik menyambar ke arah para pemegangnya.
Yang dilatih oleh para anak murid Cui-sian-kok itu adalah menyerang dengan jaring serta kemungkinan lolosnya musuh, sama sekali tidak terpikir oleh mereka bahwa jaring dapat terbalik hendak makan mereka. Keruan mereka terkejut ketika melihat pisau serta kaitan tajam di dalam jaring menyambar kepala mereka. Sambil menjerit ketakutan cepat mereka melompat mundur dan melepaskan jaring yang mereka pegang. Anak muda yang berkuncir kecil tadi lebih lemah, tidak urung pahanya terluka oleh pisau sehingga mengucurkan darah, dia jatuh tersungkur dan menangis kesakitan.
“Jangun takut, adik cilik, takkan kulukai kau,” kata Yo Ko sambil tertawa.
Segera dia taburkan kait jaring yang dirampasnya, sedang tangan lain memutar Kim-leng-soh, terdengar suara gemerincing nyaring bunyi keleningan serta benturan pisau dan kaitan tajam pada jaring rampasan itu. Melihat keperkasaan Yo Ko, mana anak murid itu berani maju lagi. Mereka berdiri di sudut sana, cuma tanpa perintah sang guru, biar pun takut mereka pun tak berani melarikan diri. Keadaan yang sesungguhnya mereka sudah dikalahkan Yo Ko, walau pun secara resmi mereka belum mengaku kaIah.
Be Kong-co bertepuk tangan dan bersorak, tapi hanya ia sendiri saja yang bersorak sehingga terasa kesepian. Ia menjadi rikuh sendiri, ia melotot pada Kim-Iun Hoat-ong dan menegur:
“He, Hwesio gede, memangnya kepandaian adik Yo itu kurang bagus? Kenapa kau tidak bersorak memuji?”
“Bagus, bagus sekali kepandaiannya!” jawab Hoat-ong tertawa, “Tapi kan juga tidak perlu gembar-gembor begitu rupa,!”
“Sebab apa?” omel Be Kong-co mendelik.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong melihat Kongsun Kokcu sedang melangkah ke tengah ruangan, maka ia tidak gubris lagi apa yang dikatakan Be Kong-co. Setelah mendengar ucapan Siao-liong-li yang menyatakan bertekad ikut pergi bersama Yo Ko, maka sadarlah Kongsun Kokcu bahwa impiannya yang muluk-muluk selama hampir setengah bulan ini cuma kosong belaka. Dia menjadi sangat kecewa dan gusar, pikirnya: “Jika aku gagal mendapatkan hatimu, paling tidak aku harus mendapatkan tubuhmu. Biarlah kubinasakan binatang cilik ini, dengan begitu mau tidak mau kau harus ikut padaku, lama-lama pikiranmu tentu juga akan berubah.”
Meski wataknya kereng dan kejam, namun dia pun dapat membedakan antara yang benar dan salah. Gadis cantik seperti Siao-liong-li itu sudah menyanggupi sendiri untuk menjadi isterinya dan hari ini akan berlangsung upacara nikahnya, tapi mendadak muncul si Yo Ko dan mengacaukan semuanya, tentu saja dia sangat murka.
Melihat kedua alis sang Kokcu yang menegak dan merapat hingga mata-alisnya seakan-akan tegak semua, Yo Ko merasa terkejut dan waswas, sambil memegang Kim-leng-soh dan jaring rampasan dia siap siaga sepenuhnya. Dia menyadari mati-sendiri dan sengsara atau bahagia Siao-liong-li hanya tergantung pada pertarungan yang menentukan ini, maka sedikit pun dia tak berani gegabah.
Dengan perlahan Kongsun Kokcu mengitari Yo Ko, sebaliknya Yo Ko berputar dengan perlahan, pandangnya sedikit pun tak pernah meninggalkan tatapan musuh yang tajam. Ternyata sang Kokcu masih belum mau turun tangan, tapi ia tahu sekali musuh sudah menyerang tentu langsung menggunakan jurus serangan yang maha lihay.
Sejenak kemudian mendadak kedua tangan sang Kokcu menjulur lurus ke depan tiga kali, lalu bertepuk sehingga menimbulkan suara “creng” laksana bunyi dua potong besi yang dibenturkan.
Yo Ko terkesiap lantas melangkah mundur setindak, tetapi tangan kanan Kongsun Kokcu mendadak menyambar tiba dan tahu-tahu jaring ikan rampasan kena dicengkeramnya terus dibetot sekuatnya. Merasa tenaga betotan lawan luar biasa dahsyatnya, tangan sendiri sampai terasa sakit, terpaksa Yo Ko melepaskan jaring itu.
Kongsun Kokcu melemparkan jaring kepada anak muridnya tadi sambil membentak: “Mundur-semua!”
Kekuatan tepukan tangan Kongsun Kokcu itu amat mengejutkan orang, sekarang semua orang bertambah kaget dan heran bahwa tangan sang Kokcu yang jelas telanjang itu tidak gentar akan ketajaman pisau dan kaitan yang terdapat pada jaring.
Biar pun Kongsun Lik-oh adalah anak perempuannya, juga diketahui ilmu silat sang ayah memang sangat tinggi, tetapi tidak tahu ayahnya memiliki kepandaian sehebat itu. Hanya Hoan It-ong saja sebagai muridnya yang tertua sudah kenal kepandaian sejati sang guru. Dia pandang Yo Ko dan berkata dalam hati: “Hari ini kau pasti mampus!”
Setelah jaringnya terebut, Yo Ko tak mau memberi kesempatan lagi kepada lawan untuk mendahului. Selendang sutera bergerak, keleningan berbunyi “ting-ting”, sekaligus dia incar dua Hiat-to di bagian leher dan bahu. Serangan ini hanya penjajagan saja, karena Yo Ko belum tahu betul betapa lihaynya lawan.
Ilmu silat Kongsun Kokcu memang tersendiri. Serangan Yo Ko tidak digubris, bahkan sebelah tangannya terus menjulur ke depan dan mencengkeram lengan Yo Ko. Terdengar suara “ting-ting” dua kali, kedua tempat Hiat-to yang diincar Yo Ko dengan tepat terketok oleh keleningan. Namun Kongsun Kokcu seperti tidak merasakan apa-apa, cengkeramannya mendadak terbuka terus menyodok ke dagu kiri anak muda.
Yo Ko tahu kalau Iwekang seseorang sudah terlatih sempurna, maka setiap saat dapat menutup Hiat-to di tubuh sendiri apa bila sedang menghadapi serangan musuh. Ada juga Iwekang yang aneh sebagaimana yang dilatih Auyang Hong secara terbalik itu sehingga membingungkan serangan musuhnya.
Tetapi Kongsun Kokcu menghadapi serangannya sama sekali se-akan tidak merasakan sesuatu, seperti di tubuhnya tidak terdapat Hiat-to, kepandaian ini benar-benar sangat luar biasa. Yo Ko mengkeret dan merasa jeri.
MEMPEREBUTKAN KEKASIH
Sementara itu kedua tangan Kongsun Kokcu bergerak naik turun, telapak tangan samar-samar bersemu hitam. Angin pukulannya terasa menyambar dengan dahsyat. Yo Ko tahu kelihayan lawan, maka tidak berani menangkisnya dengan keras lawan keras. Sembari menggunakan Kim-leng-soh melayani serangan musuh, tangan yang lain digunakan menjaga diri dengan rapat.
Hanya dalam sekejap saja belasan jurus telah berlangsung. Yo Ko memperhatikan setiap serangan musuh dengan cermat, tiba-tiba hatinya tergerak. “Ilmu pukulan Kokcu ini tidak aneh, rasanya aku pernah melihatnya entah di mana.”
Pada suatu kesempatan dia melompat mundur sambil berseru: “He, apakah engkau kenal Wanyen Peng?”
Kiranya Yo Ko melihat gaya pukulan Kokcu ini serupa dengan ilmu silat Wanyen Peng, hanya kekuatan Kokcu ini jauh berbeda. Kongsun Kokcu tak menjawab, sebaliknya ia menubruk maju lagi dan melancarkan pukulan dahsyat. Sekali ini Yo Ko melihat gaya pukulannya tidak sama dengan Wanyen Peng, untuk menghindar rasanya tidak keburu lagi, terpaksa Yo Ko menangkisnya dengan tangan kiri.
“PIakk!”
Kedua tangan beradu, Yo Ko tergetar mundur dua-tiga tindak, sebaliknya Kongsun Kokcu tetap berdiri di tempatnya, hanya tubuhnya tergeliat sedikit. Begitu beradu kedua tangan terus berpisah pula, Yo Ko merasakan suatu arus hawa panas menyusup ke tangannya, keruan ia terkejut, pikirnya: “Hebat benar tenaga pukulan jahanam ini, padahal sarung tangan Kokoh yang kupinjam ini kebal terhadap senjata tajam macam apa pun, tapi ternyata tidak mampu menahan tenaga pukulannya.”
Meski kelihatan Kongsun Kokcu berdiri tanpa terhuyung dan sepertinya lebih unggul, sesungguhnya dadanya terasa sakit akibat getaran tenaga pukulan Yo Ko. Ia pun terkejut dan heran: “Bocah ini masih muda belia, ternyata sanggup menahan pukulanku yang dahsyat. Kalau terlibat lebih lama, rasanya belum tentu aku dapat membinasakan dia, sebaliknya kalau berakhir sama kuat maka musnahlah pamorku.”
Mendadak dia bertepuk tangan dua kali sehingga menimbulkan suara nyaring, dia menoleh kepada puterinya dan berseru:
“Ambilkan senjataku!”
Kongsun Lik-oh menyadari apa bila senjata sang ayah dikeluarkan, maka bagi Yo Ko hanya ada kematian dan tak mungkin bisa selamat. Karena sedikit ragu dan merandeknya itu, dengan suara bengis Kongsun Kokcu langsung membentak:
“Ambilkan senjataku, kau dengar tidak?!”
Dengan muka pucat Kongsun Lik-oh mengiakan lalu cepat berlari ke ruangan belakang. Yo Ko telah mengikuti sikap ayah beranak itu. Ia pikir dengan bertangan kosong saja aku tidak dapat melawannya, apa lagi sekarang akan mempergunakan senjata, mana aku dapat lolos dengan hidup. Mumpung ada kesempatan, biarlah aku lari saja sekarang. Segera dia mendekati Siao-lioag-li dan mengulurkan tangan, katanya:
“Kokoh, marilah ikut denganku.”
Kongsun Kokcu sudah siap dengan pukulannya yang maha dahsyat, asalkan Siao-liong-li bangkit dan menggenggam tangan Yo Ko, seketika dia akan menubruk maju menghancurkan punggung anak muda itu. Ia sudah ambil keputusan akan membinasakan Yo Ko meski pun diri sendiri juga akan terluka parah. Ia pikir kalau sampai calon isteri ikut pergi bersama Yo Ko, lalu apa artinya hidup ini baginya?
Tapi tanpa terduga Siao-liong-li tidak bangkit, ia hanya menjawab dengan hambar: “Kini belum waktunya, Ko-ji. Selama beberapa hari ini apakah kau baik-baik saja?” Betapa mesranya pertanyaan terakhir itu.
“Engkau tidak marah lagi padaku, Kokoh?” jawab Yo Ko.
Siao-Iiong-li tersenyum hambar, katanya: “Mana aku bisa marah kepadamu? Coba sini, putar tubuhmu!”
Yo Ko menurut dan memutar tubuhnya, dia tidak tahu apa kehendak si nona. Mendadak Siao-liong-li mengeluarkan benang dan jarum, kemudian diukurnya baju bagian punggung Yo Ko yang robek tercengkeram oleh Kongsun Kokcu tadi.
“Sudah sekian lamanya aku ingin membuatkan sebuah baju baru bagimu, tapi mengingat selanjutnya tidak bakalan bertemu lagi dengan kau, untuk apa kubuatkan baju baru? Aih, sungguh tak nyana engkau akan mencari ke sini,” sembari berkata dengan gegetun, Siao-liong-li lantas menggunakan sebuah gunting kecil untuk memotong sebagian lengan baju sendiri menambal baju Yo Ko yang robek.
Dahulu waktu mereka masih tinggal di kuburan kuno, apa bila baju Yo Ko robek, selalu Siao-liong-li menambalkan bajunya dengan cara demikian. Kini kedua orang sudah tidak memikirkan mati hidup lagi dan se-akan berada berduaan meski di ruangan itu sorot mata semua orang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
Kim-lun Hoat-ong dan yang lain-lain saling pandang dengan hati heran dan kagum pula. Kongsun Kokcu juga terkesima, seketika tak tahu apa yang harus dilakukannya.
“Selama beberapa hari ini aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menarik,” tutur Yo Ko, “Coba terka, Kokoh, dari manakah kuperoleh gunting raksasa itu?”
“Ya, aku pun heran se-akan kau telah menduga sebelumnya bakal bertemu dengan si jenggot cebol itu di sini, maka sengaja memesan sebuah gunting raksasa untuk memotong jengggotnya,” ujar Siao-liong-Ii. “Ai, kau benar-benar nakal. Orang memelihara jenggotnya dengan susah payah selama berpuluh tahun, dalam sekejap saja sudah kau potong, bukankah sangat sayang?”
Melihat betapa kedua orang itu bicara dengan mesra, rasa cemburu Kongsun Kokcu seketika berkobar dan sebelah tangannya segera mencengkeram ke dada Yo Ko sambil membentak:
“Anak jadah, terlalu temberang kau, memangnya kau anggap tiada orang lain di sini?”
Tapi biar pun sekarang langit ambruk atau bumi amblas takkan digubris oleh Yo Ko, serangan Kongsun Kokcu itu ternyata tak dihiraukannya sama sekali, ia hanya menjawab:
“Tunggu sebentar, setelah bajuku ditambal segera kulayani kau.”
Sementara itu jari Kongsun Kokcu sudah tinggal beberapa senti saja di depan dada Yo Ko. Bagaimana pun juga dia harus menjaga harga diri sebagai seorang guru besar ilmu silat, walau pun murka, betapa pun serangannya itu tidak dapat diteruskan lagi ke tubuh lawan yang sama sekali tidak menangkis.
Pada saat itulah terdengar Kongsun Lik-oh berkata dari belakang: “Ayah, senjatamu ini!”
Kongsun Kokcu tidak berpaling, dia melangkah mundur dua tindak sehingga dapatlah menerima senjata yang disodorkan puterinya. Waktu semua orang mengamati, terlihat tangan kirinya sudah memegang sebatang golok tebal dengan bagian yang tajam berbentuk gergaji dan mengerdepkan cahaya keemasan, rupanya terbuat dari emas, ada pun tangan kanannya memegangi senjata berwarna hitam yang panjang kecil. Senjata aneh itu tidak mirip golok juga tidak memper pedang, nampak bergetar perlahan, agaknya batang senjata itu sangat lemas. Nyata kedua macam senjata itu berbeda satu sama lain secara terbalik, kalau yang satu berat dan keras, maka satunya lagi enteng dan lemas.
Seperti diketahui, bobot emas jauh lebih berat dari pada besi. Maka dengan bentuk yang sama, senjata yang terbuat dari emas bobotnya akan berlipat satu kali dari pada senjata terbuat dari besi biasa. Tampaknya golok emas bergerigi itu sedikitnya ada 50-60 kati, sedangkan pedang atau anggar hitam itu entah terbuat dari logam apa?
Yo Ko memandang sekejap pada sepasang senjata lawan yang aneh itu, lalu berkata pula kepada Siao-liong-li:
“Kokoh, tempo hari pernah aku bertemu dengan seorang perempuan gendeng, dia telah memberi-tahukan kepadaku musuh pembunuh ayahku.”
Hati Siao-liong-li terkesiap, cepat dia bertanya: “Siapa musuhmu itu?”
Sambil mengertak gigi Yo Ko berkata dengan penuh dendam: “Bagaimana pun juga kau pasti tak akan menduga tentang mereka, bahkan selama ini aku pun menganggap mereka amat baik.”
“Mereka? Mereka siapa?” Siao-liong-li menegas.
“Siapa lagi mereka kalau bukan...” sebelum sempat Yo Ko menerangkan nama yang akan disebutnya, terdengarlah suara mendenging nyaring memekakkan teIinga, itulah suara benturan antara golok emas dan pedang hitam yang dipegang Kongsun Kokcu itu.
Sekali bergerak, susul menyusul Kongsun Kokcu menusuk tiga kali, pertama menusuk ke atas kepala, kedua menusuk leher sebelah kanan dan ketiga sebelah kiri leher, semuanya menyambar lewat satu-dua senti di atas kulit. Rupanya Kokcu itu ingin menjaga harga diri, kalau lawan tidak menangkis, maka dia pun tidak sudi melukainya, cuma tiga kali tusukannya itu sungguh amat cepat dan jitu, benar-benar kepandaian hebat.
“Sudah!” ucap Siao-Iiong-Ii ketika selesai menambal baju sambil menepuk perlahan punggung anak muda itu.
Yo Ko menoleh sambil tersenyum, lalu melangkah maju dengan menenteng Kim-leng-soh. Meski Kongsun Kokcu telah lama mengasingkan diri di lembah sunyi, tapi pandangannya sedikit pun tidak kurang tajamnya. Orang yang mengajarkan ilmu silat padanya itu paham benar berbagai aliran ilmu silat di dunia dan dahulu pernah berkata kepadanya bahwa bisa jadi jago kelas satu pada jaman ini mampu menandingi Kangfau (Kungfu) tangan besinya, tetapi untuk membobol barisan jaring ikannya belum tentu bisa kecuali Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau yang mungkin dapat menandinginya dengan sama kuat dan siapa lebih ulet akhirnya akan menang.
Tapi kalau dua macam senjatanya yang berlainan itu dikeluarkan, diduga di dunia ini tiada orang yang sanggup melawannya. Karena itu dia menduga betapa pun tinggi kepandaian Yo Ko, dalam sepuluh jurus saja pasti akan dibinasakan olehnya. Tetapi ketika menyaksikan sikap Siao-liong-li yang mesra tadi terhadap anak muda itu, dia pun tahu apa bila Yo Ko mati, maka berarti putus harapan pula rencana pemikahan nona itu dengan dirinya. Setelah merenung sejenak, akhirnya dia mendapat akal: “Harus kupaksa dia (Siao-liong-li) memohon ampun kepadaku bagi bocah ini. Dalam keadaan begitu, biar pun hatinya tidak rela, mau tak mau dia harus menikah dengan aku.”
Kalau Kongsun Kokcu merenung mencari akal, Yo Ko juga sedang memikirkan cara melawan orang. Ia pikir orang tidak takut Hiat-to tertotok, ini berarti daya guna Kim-leng-soh tidak banyak artinya. Meski diri sendiri sudah menciptakan aliran ilmu silat, tapi belum sempat dipelajari secara matang, sedangkan senjata musuh terlihat sangat aneh, sekali dimainkan tentu sangat lihay. Selagi Yo Ko merasa tak berdaya, terdengar Kongsun Kokcu telah berseru:
“Awas serangan!”
Berbareng pedang emas begerak menusuk dada. Anehnya tusukan itu tidak langsung ke depan, tapi ujung pedang bergetar dalam lingkaran kecil di depan tubuhnya. Yo Ko terkejut dan melompat mundur. Maklumlah, kalau ujung pedang itu ditusukkan, biar pun hebat jurus serangannya, tentu juga akan dapat dipatahkannya. Tapi sekarang ujung pedang itu terus berputar dalam lingkaran sehingga arah tujuan pedangnya sukar diraba. Bila menangkis ke kiri, kuatir musuh malah menusuk ke kanan, bila menangkis ke atas, siapa tahu kalau dia berbalik menyerang bagian bawah. Karena merasa ragu-ragu, terpaksa dia melompat mundur saja untuk menghindar.
Tapi Kongsun Kokcu gesit bukan main. Begitu Yo Ko melompat mundur, segera dia membayangi lawan, kembali lingkaran pedangnya bergetar lagi di depan Yo Ko, semakin lama lingkaran ujung pedang itu semakin besar, jika semula hanya lingkaran seluas dada, beberapa putaran berikutnya telah mencakup bagian perutnya dan kemudian meluas pula ke bagian leher.
Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si dan lainnya adalah maha guru ilmu silat terkemuka, tapi ilmu pedang yang mendesak musuh dengan lingkaran ujung pedang begitu boleh dikata belum pernah mereka lihat, maka mereka heran dan terkejut.
Begitulah, setiap kali Kongsun Kokcu melancarkan tusukan, Yo Ko terpaksa melompat mundur sehingga belasan kali Yo Ko harus menghindar secara begitu tanpa sanggup balas menyerang. Tampaknya serangan Kongsun Kokcu semakin lihay saja, apa lagi golok bergerigi pada tangannya yang lain belum pula digunakan. Kalau sampai golok emas itu ikut menyerang, pasti sukarlah bagi Yo Ko menahannya. Tanpa pikir lagi segera Yo Ko melompat ke kiri sambil mengayun Kim-leng-soh.
“Tringg...!” genta kecil itu menyambar ke depan untuk mengetok mata kiri musuh.
Walau pun Kongsun Kokcu tidak gentar Hiat-tonya tertotok, tapi mata adalah tempat yang lemah dan harus selalu dijaga. Cepat dia miringkan kepala dan segera balas menyerang dengan pedang hitam. Yo Ko sangat girang. Sekali Kim-leng-soh menyendal, terbelitlah kaki kanan musuh. Tapi baru saja hendak dibetot sekuatnya, mendadak pedang hitam Kongsun Kokcu memotong ke bawah.
“Srett!” selendang sutera Yo Ko putus di bagian tengah, pedang hitam yang tampaknya mirip seutas tali itu ternyata tajamnya tidak kepalang.
Terdengar semua orang menjerit kaget, berbareng terdengar pula sambaran angin dan golok bergerigi sang Kokcu membacok ke arah Yo Ko. Sebisanya Yo Ko segera menjatuhkan diri ke lantai dan berguling ke sana.
“Tranggg...!” suara nyaring menggetar telinga, kiranya Yo Ko sempat menyambar tongkat baja Hoan It-ong tadi lantas digunakan untuk menangkis ke atas. Karena benturan golok dan tongkat itu, tangan kedua orang sama-sama sakit kesemutan.
Diam-diam Kongsun Kokcu kaget dan heran akan kemampuan Yo Ko yang sanggup menahan berpuluh jurus serangannya. Segera goloknya menebas lagi dari samping, berbareng pedang hitam juga menusuk dari depan.
Supaya diketahui bahwa permainan golok lebih mengutamakan kekerasan dan kekuatan, sedangkan permainan pedang lebih mengutamakan kelincahan dan kelembutan, jadi sifat kedua jenis senjata itu sama sekali berbeda, maka adalah hal yang tidak mungkin bahwa seseorang dapat menggunakan dua macam senjata itu sekaligus. Namun kini Kongsun Kokcu ternyata dapat memainkan golok dan pedang dengan lihay, sungguh suatu kepandaian khas yang jarang terdapat di dunia persilatan.
Sambil mengertak, Yo Ko putar tongkat baja dan menggunakan kunci ‘menutup’ dari Pak-kau-pang-hoat. Dia bertahan dengan rapat sehingga seketika pedang dan golok Kongsun Kokcu tidak mampu menembus pertahanan anak muda ini.
Cuma Pak-kau-pang-hoat mengutamakan pertahanan gerak serangan, dengan pentung bambu yang enteng tentu dapat dimainkan dengan gesit dan lincah sesuka hati. Kini Yo Ko memegang tongkat baja sebagai pengganti pentung bambu, tentu saja gerak-geriknya tidak leluasa, setelah belasan jurus dia mulai merasa payah. Kongsun Kokcu melihat suatu peluang. Mendadak goloknya menahan ke atas, berbareng pedang hitam menebas ke bawah.
“Krekk!” kontan tongkat baja tertabas kutung.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar