ads

Selasa, 17 Agustus 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 17

ILMU SILAT ALIRAN SENDIRI

Tetapi baru sebentar ia menggali, mendadak terdengar suara gemuruh di kejauhan sana disertai debu mengepul tinggi. Di tengah suara terompet, pasukan besar Mongol tampak menerjang dengan cepat. Lekas Yo Ko menjinjing tombaknya kemudian mencemplak ke atas kudanya. Meski kurus tetapi kudanya adalah kuda perang yang sudah berpengalaman. Maka sekali meringkik segera kuda itu menerjang ke tengah pasukan Mongol.

Tombak Yo Ko bekerja cepat, sekaligus ia membinasakan beberapa prajurit musuh. Akan tetapi pasukan Mongol membanjir tak terhitung jumlahnya, terpaksa Yo Ko membelokkan kudanya kemudian kabur ke tempat sepi. Dari belakang dia dihujani anak panah, namun semuanya dapat disampuk jatuh oleh tombaknya. Kuda kurus itu bisa berlari cepat sekali, hanya sekejap saja meninggalkan kejaran, kuda itu masih terus berlari secepat terbang di ladang belukar. Tak lama hari pun mulai gelap, Yo Ko menahan kudanya dan coba memandang jauh ke sekelilingnya. Tampak semak belukar tumbuh melebihi batas lutut, puncak gunung dikelilingi kabut tebal di kejauhan, suasana sunyi senyap, bahkan suara burung pun tak terdengar.

Yo Ko turun dari kudanya sambil masih memondong bayi yang sudah tak bernyawa tadi, ia pikir: “Kedua orang tua anak ini tentu amat sayang, tapi tombak Busu Mongol telah membinasakan bayi tak berdosa ini. Kini telah mati dan tidak merasakan apa-apa lagi, tinggal kedua orang tuanya yang berduka dan merana, Melihat keganasan musuh, serbuan pasukan Mongol ke selatan sekali ini entah berapa banyak korban yang akan ditimbulkannya?”

Makin dipikir makin susah hati Yo Ko. Kemudian ia menggali liang di tepi pohon. Habis itu ia menjadi teringat pada ucapan Sah Koh tentang kematian ayahnya. Bayi ini mati, tetapi masih ada yang menguburnya, sebaliknya kematian ayahku harus diakhiri di dalam perut burung gagak. Kalian sudah membunuhnya, tetapi mengapa tidak menguburnya? Aih, kalian sungguh amat kejam!

Karena berlari seharian, Yo Ko melihat kudanya lelah, apa lagi ke sananya mungkin juga sukar mendapatkan tempat pondokan, terpaksa dia harus mencari tempat bermalam seadanya. Dia kuatir di semak belukar ini akan diganggu oleh ular berbisa atau binatang buas, lantas mengeluarkan seutas tali, kedua ujung tali diikat pada dua batang pohon, dia menirukan cara tidur Siao-liong-li dengan berbaring di atas tali yang terbentang.

Sampai tengah malam, tiba-tiba Yo Ko mengendus bau langu, menyusul terdengar suara raungan di sana sini. Yo Ko terkejut, cepat ia memandang ke arah suara meraung. Kebetulan malam ini gelap gulita, syukur ia sudah biasa bertempat tinggal di kuburan kuno yang gelap, sudah biasa memandang sesuatu dalam keadaan gelap.

Maka diketahuilah ada empat lentera kecil sedang mendekatinya dengan perlahan. Waktu dia meperhatikan, kiranya empat lentera kecil itu adalah sorot mata dari dua ekor harimau kumbang, hitam mulus dengan badan langsing dan panjang, jelas bukan harimau daerah Tionggoan yang pernah dilihatnya.

Dua ekor harimau itu sambil berjalan mengendus-endus, begitu sampai di tempat kuburan bayi, mendadak cakar kedua harimau itu menggaruk-garuk dengan cepat. Yo Ko menjadi gusar. Pikirannya hendak melompat turun untuk mengusir harimau itu, tapi ceIakanya ia tidak membawa senjata. Tombak rampasan dari Busu Mongol tadi sudah dibuangnya. Tampaknya kedua ekor kucing raksasa sangat tangkas dan buas sekali, jika menempurnya dengan tangan kosong mungkin diri sendiri tak terhindar dari luka parah.

Selagi sangsi, tiba-tiba di sebelah barat sana terdengar suara “blang” yang keras, sejenak kemudian suara “blang” itu terdengar lagi satu kali. Waktu Yo Ko memandang ke sana, seketika ia tertegun dan hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Ternyata yang dilihatnya adalah sebuah peti mati. Anehnya, peti mati itu dapat bergerak dan melompat-lompat, makin lama makin dekat. Peti mati dapat bergerak sendiri benar-benar aneh bin ajaib, Yo Ko terkesima berbaring di atas talinya sambil menahan napas.

Setelah melompat-lompat lagi beberapa kali, peti mati itu berhenti di bawah sebatang pohon besar. Agaknya kedua ekor harimau kumbang itu menjadi heran juga melihat peti mati, mereka lari ke sana dan mengelilingi peti mati sambil mengeluarkan suara endusan dari hidung. Salah seekor harimau coba menggaruk tutup peti mati dengan cakarnya yang tajam. Pada saat itulah mendadak tutup peti mati menjeplak sendiri, kemudian dari dalam peti melompat keluar sesosok mayat kering yang tinggi kurus, sekali kakinya menendang dengan kaku, harimau kumbang jatuh terguIing. Harimau yang lain segera menubruk maju hendak menggigit mayat hidup itu, tapi kuduk harimau malah kena dicengkeram dan dilempar hingga jauh.

Melihat betapa hebatnya kekuatan mayat hidup itu, Yo Ko terkejut hingga mandi keringat dingin. Meski sudah kecundang tapi kedua harimau kumbang itu tidak menyerah mentah-mentah. Walau pun tak berani menerjang maju, tapi keduanya mendekam di kejauhan sambil meraung geram.

Tiba-tiba saja dari lembah gunung sana timbul suara seram laksana bunyi burung hantu, sesosok bayangan hitam menggelinding tiba laksana gumpalan asap. Kedua ekor harimau kumbang memapaki gumpalan asap itu dan berdiri di sampingnya dengan tingkah laku yang sangat jinak seperti anjing terhadap majikannya. Setelah gumpalan asap hitam itu tak bergerak lagi barulah kelihatan dengan jelas. Kiranya seorang kakek pendek dengan baju hitam mulus, kulit badannya juga hitam kelam serta janggut yang hitam lebat, di atas pundaknya hinggap seekor burung kondor besar dengan kepala botak, warna burung kondor itu pun hitam mulus. Terdengar kakek hitam pendek itu membuka suara:

“Siau-siang-cu, kenapa kau memukul kucing piaraanku? Kata pribahasa: pukul anjing juga mesti ingat majikannya. Tindakanmu tadi bukankah keterlaluan?”

Tinggi badan kakek itu hanya satu meteran. Walau pun tubuhnya cebol, tetapi suaranya ternyata nyaring seperti bunyi guntur sehingga anak telinga Yo Ko tergetar. Terdengar mayat hidup tadi mendengus dan menjawab dengan suara lemah:

“Saudara Singh, kucingmu kan tidak sampai kulukai? Baiklah, aku minta maaf padamu!” Sembari berkata ia pun memberi hormat.

Sekarang barulah Yo Ko dapat melihat dengan jelas. Kiranya mayat hidup itu sebenarnya adalah manusia, cuma gerak-geriknya lurus kaku, mukanya pucat seperti kertas, lagi pula muncul dari dalam peti mati, maka Yo Ko salah menyangkanya sebagai mayat hidup. Apa bila melihat gerak tendangan serta cengkeramannya tadi, di mana dua ekor harimau kumbang dianggap bagaikan dua ekor kucing, jelas merupakan kepandaian tokoh dunia persilatan kelas satu.

Kedua orang ini sama-sama menyebut harimau kumbang sebagai ‘kucing’, si kakek cebol memiliki watak keras berangasan, sebaliknya si mayat hidup jangkung sikapnya tenang, sungguh suatu perbandingan yang menyolok dan aneh. Terdengar si kakek cebol berkata lagi:

“Siau-siang-cu, bagaimana dengan urusannya Kim-Iun Hoat-ong?”

Mendengar nama ‘Kim-lun Hoat-ong’ disebut, mau tak mau Yo Ko menjadi sangat tertarik sehingga menaruh perhatian sepenuhnya. Kemudian terdengar Siau-siang-cu mendengus satu kali, lantas duduk di atas peti mati dan berkata:

“Seorang diri dia berebut pengaruh dengan jago silat Tionggoan dan mengalami kekalahan besar.”

Kakek cebol itu tertawa terbahak-bahak, suaranya menggetarkan pohon, burung hantu di atas pundaknya juga mengeluarkan suara yang seram. Kemudian kakek cebol itu berkata:

“Aku Nimo Singh datang dari negeri Thian-tiok (lndia sekarang) yang jauh di barat sana, tapi sampai di sini ternyata sudah didahului oleh Kim-lun Hoat-ong, dia telah diangkat Koksu (imam negara) kerajaan Mongol. Hmm, padahal jika berdasarkan kepandaiannya apakah dia sesuai disebut sebagai ‘nomor satu’?”

Dengan nada mengejek Siau-siang-cu lantas menanggapi: “Memangnya di dunia ini selain engkau saudara Singh, siapa lagi yang sesuai dianugerahi gelar itu?” Nimo Singh bergelak tertawa gembira, Siau-siang-cu juga terkekeh beberapa kali, namun nadanya jelas mengejek. Nimo Singh berkata lagi:

“Siau-siang-cu, kau tinggal di Ouwlam, mengapa kau tidak ikut berebut gelar dengannya?”

Siau-siang-cu menjawab: “Waktu pangeran Kubilai mengirim undangan padaku, aku sedang berlatih Siu-bok-tiang-sing-kang (ilmu hidup abadi) sehingga tak sempat hadir, jadinya kedudukan itu dapat diambil Kim-lun Hoat-ong dengan mudah.”

“Dan kini ilmu saktimu tentu sudah selesai kau latih, lalu mengapa kau tidak mengukur tenaga dengan dia? Apakah kau takut kepada roda emas Hwesio besar itu?” ejek Nimo Singh.

“Kenapa harus takut kepada Hwesio?” jawab Siau-siang-cu, “soalnya kepandaianku belum memadai, kan begitu?”

Kembali Nimo Singh bergelak tertawa, tetapi mendadak ia merasa ucapan orang bernada mengejek, maka dengan gusar dia segera berkata:

“Siau-siang-cu, kau pandang rendah diriku. bukan? Baik, akan kucoba betapa lihaynya kau punya Siu-bok-tiang-sing-kang!”

Sekali bilang mau coba, tanpa tawar-tawar lagi segera ia mencobanya, tiba-tiba segulung asap menerjang ke depan. Biar pun perawakan Siau-siang-cu kelihatan kaku, tapi gerak-geriknya ternyata gesit dan cepat bukan kepalang, cepat ia angkat peti matinya terus mengepruk. Terdengarlah suara “blang” yang keras, keduanya melompat mundur, kedua ekor harimau kumbang dan burung hantu meraung dan menguak menambah seramnya suasana.

Sesudah benturan tadi kedua orang sama-sama merasakan kepandaian lawan memang lihay, Nimo Singh berkata:

“Hebat sekali kepandaianmu Siau-siang-cu.”

Siau-siang-cu tertawa dingin dan menjawab: “Ahh, aku yang mengaku kalah. Apakah nama ilmu kepandaianmu itu?”

“Sakya-hiat-kang (ilmu sakti Sakya melempar gajah),” jawab Nimo Singh.

“Ya, saudara Singh berasal dari negeri Tat-Ipo Loco (Budha Dharma), pantas memiliki ilmu sakti itu,” ujar Siau-siang-cu.

Dari jarak jauh kedua orang lantas saling memberi hormat. Kemudian mendadak Nimo Singh berlari cepat ke sana, dalam sekejap saja bayangannya sudah menghilang ditelan kegelapan, kedua ekor harimau kumbang juga lantas menyusul pergi. Siau-siang-cu juga cepat melompat ke dalam peti matinya, kemudian kembali berjingkrak-jingkrak menggeser sendiri ke arah berlawanan.

Tanpa sengaja Yo Ko telah menyaksikan adegan aneh itu, diam-diam ia mengakui bahwa di jagat raya yang luas ini benar-benar terdapat orang-orang maha sakti dan hal-hal yang ajaib. Coba kalau dirinya tidak berbaring tinggi di atas tali, tentu jejaknya sudah ketahuan oleh kedua orang aneh tadi dan bukan mustahil jiwanya melayang. Sukar baginya untuk tidur lagi. Ia coba merenungkan gaya ilmu silat kedua orang tadi, ia merasa ilmu mereka itu sama anehnya, tapi sangat lihay.

Sampai lama sekali Yo Ko merenung, akhirnya ia memejamkan mata untuk menghimpun semangat. Tak lama, tiba-tiba terdengar kudanya meringkik sekali. Kuda itu amat cerdik. Ketika dua ekor harimau kumbang datang, karena mengendus bau binatang buas, kuda itu cepat mendahului menyingkir jauh. Kini mendadak dia meringkik, tentu terjadi sesuatu di sekitar situ.

Dari balik semak rumput Yo Ko coba merunduk maju ke sana, sementara fajar sudah mulai remang-remang. Yo Ko melihat di kejauhan ada seseorang sedang melompat tinggi, sebelah tangannya menjulur memetik buah-buahan. Setelah dekat Yo Ko bisa mengenali Darba, murid Kim-lun Hoat-ong. Setiap lompatan Darba hanya dapat memetik satu buah, dia menjadi tidak sabar, dia gunakan lengannya untuk menghantam batang pohon, seketika pohon buah itu patah dan rebah, maka dapatlah Darba memetik buahnya dengan mudah dan cepat.

Yo Ko pikir barang kali Kim-lun Hoat-ong juga berada di sekitar situ. Sebenarnya dia tiada permusuhan dengan Hoat-ong, dan kini setelah jelas diketahui bahwa Kwe Ceng dan Oey Yong adalah musuh pembunuh ayahnya, ia menjadi menyesal tempo hari telah membantu kedua orang itu menempur Kim-lun Hoat-ong. Yo Ko lantas menguntit di belakang Darba, dia lihat orang berlari secepat terbang menuju lereng bukit sana. Yo Ko tahu ilmu silat Darba amat hebat, maka dia tidak berani terlalu dekat.

Tampak Darba masuk ke tengah hutan dan makin menanjak ke atas, akhirnya sampai di puncak tertinggi pegunungan itu. Di atas puncak gunung itu terdapat sebuah gubuk kecil yang tidak berdinding, kelihatan Kim-lun Hoat-ong sedang duduk bersemadi. Darba menaruh semua buah yang dipetiknya tadi di lantai gubuk, lalu ia mengundurkan diri. Ketika berpaling dan mendadak dilihatnya Yo Ko sedang mendatanginya, seketika air mukanya berubah dan berseru:

“Toa-suheng, apakah engkau hendak membikin susah Suhu?”

Berbareng itu ia terus menerjang maju dan menarik baju Yo Ko. Sebenarnya ilmu silat Darba lebih kuat dari pada Yo Ko, tapi lantaran sang guru dalam keadaan semadi dan tidak boleh diganggu, apa bila sampai terganggu seketika jiwa bisa melayang, saking gugupnya ia menjadi linglung dan cara menyerangnya melanggar peraturan dasar ilmu silat, keruan ia berbalik kena dipegang oleh Yo Ko terus disengkelit sehingga dia terbanting jatuh.

Menurut jalan pikiran Darba, ia percaya bahwa Yo Ko adalah inkarnasi Suheng-nya, apa lagi sekarang ia terbanting jatuh, setelah berguling di tanah segera ia merangkak bangun dan berlari lagi ke depan Yo Ko.

Semula Yo Ko menyangka orang hendak menyerangnya, cepat dia melangkah mundur dan siap balas menyerang. Siapa duga mendadak Darba menekuk lutut dan menyembah sambil memohon:

“Toa-suheng, harap engkau suka mengingat kebaikan Suhu di masa lampau, sekarang Suhu terluka parah dan sedang mengadakan penyembuhan diri, jika engkau mengejutkan beliau tentu bisa...” sampai di sini Darba tidak sanggup melanjutkan lagi karena tenggorokan serasa tersumbat dan air mata pun sudah bercucuran.

Meski Yo Ko tidak paham bahasa Tibet yang diucapkan Darba, namun dari sikapnya dan suaranya, pula Kim-lun wajah Hoat-ong tampak pucat, maka dapatlah dia memahami apa artinya. Cepat ia membangunkan Darba dan berkata:

“Aku takkan mencelakai gurumu, jangan kuatir.”

Melihat sikap Yo Ko yang ramah, Darba menjadi girang, meski berbeda bahasa, tetapi rasa permusuhan telah lenyap. Pada saat itulah Kim-lun Hoat-ong tampak membuka matanya. Begitu melihat Yo Ko, dia jadi melenggong. Tadi dia sedang tekun bersemadi sehingga tidak mendengar apa yang dipercakapkan antara Darba dan Yo Ko, kini mendadak nampak musuh sudah berada di depan mata, maka sambil menghela napas ia pun berkata:

“Percumalah kepandaian yang kulatih berpuluh tahun ini, siapa nyana hari ini aku harus tewas di Tionggoan.”

Kiranya Kim-lun Hoat-ong terluka parah oleh hantaman batu besar itu hingga isi perutnya terluka dalam. Ia lalu pasang gubuk dan merawat luka di atas gunung ini, tak terduga Yo Ko mendadak bisa muncul di sini, maka ia mengira dirinya pasti celaka. Siapa tahu Yo Ko malah memberi hormat kepadanya sambil menyapa:

“Kedatanganku ini bukan untuk memusuhi Hoat-ong, hendaklah jangan kuatir.”

Hoat-ong menggelengkan kepala, baru mau bicara lagi, mendadak dada terasa kesakitan, cepat ia pejamkan mata dan mengatur pernapasan. Melihat keadaan orang, Yo Ko mengulurkan tangan kanan dan menempel Ci-yang-hiat di punggung Hoat-ong. Darba kaget, cepat dia ayunkan kepalan hendak menyerang Yo Ko, tetapi Yo Ko sempat menggoyangkan tangan kiri dan mengedipinya. Ketika nampak keadaan sang guru tiada perubahan apa pun, sebaliknya malah kelihatan tersenyum simpul, maka kepalan yang sudah diangkat tak jadi dipukulkan.

Sementara itu Yo Ko telah mengerahkan tenaga dalam sehingga suatu arus hawa hangat mengalir ke berbagai Hiat-to di tubuh Kim-lun Hoat-ong. Karena pikirannya tidak perlu kuatir lagi, segera Kim-lun Hoat-ong memusatkan segenap kekuatannya untuk melancarkan aliran darahnya dan membenarkan luka dalamnya. Tidak terlalu Iama rasa sakitnya sudah mulai lenyap, wajahnya telah bersemu merah. Ia lalu membuka mata dan mengangguk kepada Yo Ko sebagai tanda terima kasih.

Setelah dibantu Yo Ko sekian lama, Kim-lun Hoat-ong merasa hawa murni di dalam tubuh telah berputar dengan cepat dan lancar. Yo Ko merasakan perputaran serta arah aliran hawa murni dalam tubuh Hoat-ong ternyata sama sekali berlainan dengan Iwekang aliran Coan-cin-pay, bahkan tidak sama pula dengan lwekang terbalik ajaran Auyang Hong. Yang jelas Iwekang Hoat-ong ini juga teratur dengan baik sungguh pun perputarannya terkadang berubah ke kanan dan ke kiri secara tak menentu.

Ia tahu ini adalah aliran ilmu tersendiri dari Tibet, diam-diam ia pun mengingatnya dengan baik, hanya saja bagaimana caranya berlatih belum diketahui oleh Yo Ko, apa lagi untuk berlatih sampai tingkatan Kim-lun Hoat-ong tentu tak dapat dicapai dalam waktu singkat. BegituIah kemudian Kim-lun Hoat-ong memberi hormat kepada Yo Ko dan bertanya:

“Yo-siauhiap, mengapa engkau tiba-tiba datang membantu aku?”

Yo Ko lantas menceritakan bahwa baru saja dia mengetahui pembunuh ayahnya ternyata adalah Kwe Ceng dan Oey Yong, maka kini bertekad akan menuntut balas, secara tidak sengaja tadi dia menguntit Darba sehingga akhirnya bertemu di sini.

“Syahdu! Syahdu! Kiranya Yo-siauhiap sendiri dibebani dendam kesumat begitu,” sabda Kim-lun Hoat-ong. “Namun Kwe-tayhiap dan isterinya itu berilmu silat maha tinggi, bagi Yo-siauhiap kiranya tidaklah mudah untuk menuntut balas.”

“Kalau perlu, biarlah kami ayah dan anak mati semua di tangannya,” ujar Yo Ko sesudah terdiam sejenak.

“Betapa pun juga maksud tujuanku untuk mengukur tenaga dengan tokoh-tokoh persilatan di Tionggoan sini belum terhenti, akan tetapi dengan tenagaku sendiri jelas tak sanggup melawan mereka yang berjumlah banyak. Aku juga hendak mengundang tokoh persilatan dari negeri lain untuk membantu pihak kami, dengan demikian kita akan dapat mengukur tenaga dengan jago-jago silat Tionggoan dengan sama banyak dan adil. Untuk ini apakah engkau bermaksud membantu pihak kami?”

Mestinya Yo Ko hendak menerima tawaran itu, tetapi segera teringat olehnya kekejaman prajurit Mongol, segera ia menjawab:

“Aku tak dapat membantu pihak MongoI.”

“Tapi apa bila engkau ingin membunuh Kwe Ceng dan isterinya dengan tenagamu sendiri terang maha sulit,” kata Hoat-ong.

Untuk sejenak Yo Ko berpikir, katanya kemudian: “Baik, akan kubantu kau untuk merebut kedudukan Bu-lim Beng-cu, tapi kau harus membantu aku menuntut balas.”

“Baik,” jawab Hoat-ong sambil mengulurkan tangan. “Kata-kata seorang lelaki sejati harus ditepati, Marilah kita berjanji dengan bertepuk tangan.”

Segera kedua orang saling tepuk tangan tiga kali sebagai sumpah setia berserikat. Lalu Yo Ko berkata lagi:

“Aku cuma berjanji membantu kau berebut kedudukan Bu-Iim Beng-cu saja, bahwa nantinya kau akan membantu orang Mongol menyerang ke selatan dan melakukan kekejaman dan kejahatan, aku tak dapat memberi bantuan.”

“Setiap orang memiliki cita-cita sendiri dan tak dapat dipaksakan,” kata Hoat-ong dengan tertawa. “Saudara Yo, gaya ilmu silatmu terdiri dari berbagai aliran, ingin kukatakan terus terang bahwasanya memahami berbagai ilmu memang tiada jeleknya, tapi terlalu banyak menjadi tidak murni. Ilmu apakah yang paling kau andalkan dan dari aliran mana? Dengan kepandaian apa kau hendak menempur Kwe Ceng beserta istrinya untuk membalas sakit hatimu?”

Pertanyaan ini membikin Yo Ko bungkam dan sukar memberi jawaban. Selama hidupnya memang banyak pengalaman aneh yang telah ditemuinya, wataknya juga suka menerima kepandaian apa saja asal bisa dipelajarinya, ilmu silat Coan-cin-pay, kepandaian Auyang Hong, Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay, Kiu-im-cin-keng, ajaran Oey Yok-su dan Ang Chit-kong tak terhitung banyaknya ilmu yang telah dipeIajarinya.

Tapi setiap ilmu itu sangat luas dan dalam, biar pun dia mempelajarinya dengan segenap kepintarannya juga sukar untuk mencapai tingkatan yang sempurna. Dia hanya ambil sini sebagian dan petik sana sebagian, belum ada satu pun jenis ilmu yang benar-benar dilatihnya hingga mencapai tingkat kelas satu. Dengan memiliki kepandaian yang beraneka macam itu, bila bertemu dengan jago kelas dua memang cukup untuk membikin musuhnya kewalahan dan bingung, namun kalau kebentur tokoh kelas tinggi segera kelemahannya kelihatan dan menyolok perbedaannya.

Begitulah Yo Ko menunduk merenungkan apa yang dikatakan Kim-lun Hoat-ong itu. Dia merasa ucapan orang memang benar dan tepat mengenai kelemahan ilmu silat yang telah dipelajarinya. Bahwa Ang Chit-kong, Oey Yok-su, Auyang Hong, Kim-lun Hoat-ong dan tokoh terkemuka lain dapat termashur dan menonjol, semuanya adalah karena mereka hanya meyakinkan ilmu perguruannya sendiri. Jadi untuk mencapai tingkatan sempurna tidaklah perlu serakah dalam jumlah, namun yang terpenting adalah kadar kepandaian itu sendiri.

Ia pikir sudah sekian banyaknya ilmu yang kupahami dan semuanya serba lihay, lalu ilmu manakah yang harus kupelajari secara khas? Kalau menuruti arah pikiran, sudah tentu dirinya harus meyakini Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay, apa lagi kalau dirinya sudah bertekad akan hidup berdampingan selamanya di dalam kuburan kuno bersama Siao-liong-li.

Tapi bila teringat betapa bagusnya Pak-kau-pang-hoat ajaran Ang Chit-kong, atau betapa indahnya Giok-siau-kiam-hoat ajaran Oey Yok-su, kalau semuanya itu dikesampingkan kan juga sayang? Apa lagi Ha-mo-kang ajaran Auyang-Hong atau berbagai ilmu sakti dari kitab Kiu-im-cin-keng, ilmu yang sangat diidamkan jago silat siapa pun, kini dirinya dapat mempelajarinya, masakah malah ditinggalkan begitu saja?

Saking kesalnya ia keluar gubuk itu kemudian berjalan mondar-mandir sambil bersedekap tangan. Sejenak kemudian mendadak timbul satu pikiran dalam benaknya: “Ya, mengapa aku tidak menggunakan intisari semua ilmu yang kupahami untuk menjadikannya aliran tersendiri? Setiap ilmu silat di dunia ini adalah ciptaan manusia, jika orang lain bisa menciptakannya, kenapa aku tidak?” Berpikir hingga di sini mendadak pikirannya terbuka, jalan terbentang terang di depan matanya.

Begitulah ia mulai memeras otak, dari pagi berpikir sampai lohor dan sampai jauh malam tanpa makan tanpa minum. Berbagai aliran ilmu silat terbayang bergantian dalam benaknya dan seakan-akan saling bertempur. Dia pernah menyaksikan pertandingan antara Ang Chit-kong dan Auyang Hong secara lisan, ia sendiri pun pernah menggertak lari Li Bok-chiu hanya dengan uraian mulut saja.

Kini pertarungan berbagai aliran ilmu silat dalam benaknya itu ternyata jauh lebih dahsyat dan sengit dari pada pertandingan lisan. Begitulah bayangan pertarungan antara berbagai aliran silat terus berkecamuk di dalam benaknya sampai akhirnya tanpa terasa kaki dan tangannya juga ikut bergerak. Semula masih dapat dibedakan jurus ini berasal dari ajaran Ang Chit kong dan jurus lain dipelajari dari Auyang Hong, tapi lama-Iama menjadi kacau balau dan tak tahan lagi, mendadak ia jatuh terjungkal dan pingsan.

Dari jauh Darba mengikuti terus gerak-gerik Yo Ko yang linglung dan kemudian main silat sendiri seperti orang gila. Ketika akhirnya pemuda itu mendadak jatuh, dia menjadi kaget dan memburu maju hendak menolong. Akan tetapi Kim-lun Hoat-ong sudah mencegahnya dengan tertawa:

“Jangan kau ganggu dia. Sayang kecerdasanmu kurang sehingga kau tidak memahami persoalannya.”

Yo Ko tidur setengah malam. Besoknya sesudah bangun kembali dia memeras otak lagi. Dalam tujuh hari dia jatuh pingsan lima kali tetapi gerak tangan dan kakinya semakin lihay, telapak tangan mampu mematahkan pohon dan kaki sanggup menerbangkan batu. Sampai hari ke delapan, gerakan Yo Ko mulai perlahan, dari dahsyat berubah jadi lemas, sekali pukul pada batang pohon, sehelai daun juga tidak bergoyang, tetapi pohon itu tahu-tahu patah.

Maka tahulah Yo Ko bahwa ilmu silat ciptaannya telah jadi, sungguh girangnya tidak alang kepalang, segera ia duduk bersila dan mulai merenungkan kembali semua jurus ilmu silat ciptaannya dari awal sampai akhir. Dia merasa semuanya terlebur menjadi satu dalam pemikirannya, baru sekarang dia tahu perbedaan antara kekuatan batin dan tenaga luar, antara kebagusan Pak-kau-pang-hoat dan Giok-siau-kiam-hoat, sesungguhnya semua itu ‘Bhinneka Tunggal Ika’, berbeda-beda, tapi satu.

Kemudian ia bangkit perlahan dan memandang jauh ke puncak gunung. Perutnya terasa sangat lapar, tanpa pikir dia makan sekenyangnya buah-buahan yang dikumpulkan Darba.

“Selamat atas keberhasilan ilmu silat ciptaanmu, saudara Yo,” Kim-lun Hoat-ong berkata dengan tertawa sambil bangkit dan memberi hormat dengan merangkap kedua telapak tangannya di depan dada. Berbareng itu serangkum angin dahsyat langsung menyambar ke arah Yo Ko.

Yo Ko terkejut dan cepat gunakan tangannya untuk menyampuk angin pukulan lawan ke samping, Tapi begitu tenaga pukulan kedua pihak saling kontak, segera Kim-lun Hoat-ong menarik kembali tenaga pukulannya. Tenaga benturan pukulan tadi hanya ringan saja, akan tetapi Kim-lun Hoat-ong sudah bisa menarik kesimpulan bahwa hasil renungan Yo Ko selama delapan hari ternyata luar biasa hebatnya.

Tahu bahwa orang cuma menguji kepandaiannya, Yo Ko tertawa dan berkata: “Aku pun mengucapkan selamat padamu, kini kau sudah sehat kembali.”

Bahwa seseorang kalau sudah ‘jadi’, apakah jadi kaya, atau jadi pintar, dengan sendirinya sikap dan wibawanya segera berubah. Begitu juga dalam hal ilmu silat, karena kini Yo Ko adalah pendiri suatu aliran tersendiri meski usianya masih muda belia, namun wibawa dan sikapnya sudah jauh berbeda dari pada delapan hari sebelumnya.

Diam-diam Kim-lun Hoat-ong merasa syukur dan merasa akan banyak memetik hasilnya jika bersekutu dan mendapat bantuan anak muda ini, Maka ia lantas berkata:

“Saudara Yo, marilah kuperkenalkan seseorang kepadamu. Orang ini memiliki pengetahuan yg luar biasa dan berbakat tinggi, bijaksana lagi berbudi. Kutanggung engkau juga akan kagum kepadanya setelah menemuinya.”

“Siapakah dia?” tanya Yo Ko.

“Ia seorang pangeran Mongol bernama Kubilai,” jawab Hoat-ong. “Ia adalah cucu Jengis Khan, putera ke empat pangeran Tule.”

Karena pernah menyaksikan keganasan tentara Mongol, maka Yo Ko merasa amat benci kepada orang Mongol, karena itu dia menjawab:

“Aku ingin selekasnya dapat membunuh musuh untuk menuntut balas. Maka tidak perlulah kiranya pertemuan dengan pangeran MongoI itu.”

“Aku sudah berjanji akan membantu kau, janji ini pasti akan kupegang teguh,” ujar Hoat-ong dengan tertawa, “Tapi aku adalah orang undangan pangeran Kubilai, maka aku perlu memberi laporan sekadarnya kepada beliau. Perkemahannya terletak tidak jauh dari sini, sehari saja cukup untuk mencapainya.”

Yo Ko merasa kalau sendirian pasti bukan tandingan Kwe Ceng dan Oey Yong. Karena memerlukan bantuan orang, terpaksa Yo Ko menurut dan ikut Kim-lun Hoat-ong. Adalah kebiasaan orang Mongol bertempat tinggal di dalam kemah. Adat ini tidak dapat dilenyapkan, meski mereka berhasil menyerbu ke Tiongkok dan menduduki kota, mereka tetap tidak biasa bertempat tinggal di dalam rumah bertembok. Kubilai juga tinggal di dalam kemahnya.

Kim-lun Hoat-ong adalah Koksu utama kerajaan Mongol, dengan sendirinya dia sangat dihormati dan disegani. Begitu melihat kedatangannya, segera penjaga melapor kepada sang pangeran. Sambil berendeng maju, Kim-lun Hoat-ong dan Yo Ko melangkah masuk ke dalam kemah pangeran Kubilai.

Di dalam kemah itu ternyata sangat sederhana. Kecuali luasnya satu kali lipat lebih besar dari pada kemah orang Mongol biasa, lebih dari itu tiada kelihatan tanda-tanda sesuatu yang mewah. Tampak seorang pemuda berusia 25-26 tahun dengan dandanan orang terpelajar sedang membaca kitab. Melihat Hoat-ong berdua datang, pemuda itu cepat-cepat bangkit menyambut dan berkata sambil tertawa:

“Sudah beberapa hari tak bertemu dengan Koksu, hatiku menjadi kesal.”

“Ongya, ini kuperkenalkan seorang ksatria muda padamu,” kata Hoat-ong. “Saudara Yo ini adalah seorang ksatria yang sukar ada bandingannya.”

Mendengar sapa menyapa itu, Yo Ko terkejut sekali. Tadinya ia menyangka sebagai cucu Jengis Khan dan saudara raja Mongol yang bertahta sekarang, tentulah pangeran Kubilai itu pasti gagah berwibawa dan kereng, tapi siapa tahu yang dihadapinya sekarang adalah seorang pemuda pelajar yang berdandan sebagai bangsa Han dan bicara dalam bahasa Han pula.

SI BOCAH TUA NAKAL LO-WAN-TONG

Untuk sejenak Kubilai mengawasi Yo Ko, kemudian sebelah tangannya menggandeng Yo Ko dan tangan lainnya menarik Kim-Iun Hoat-ong sambil berseru kepada anak buahnya:

“Lekas ambilkan arak, aku ingin minum bersama saudara ini.”

Segera anak buahnya menghaturkan tiga buah mangkuk besar yang segera pula dituangi arak khas Mongol, arak susu kuda. Dengan sekali tenggak Kubilai habiskan semangkuk penuh, Hoat-ong juga keringkan isi mangkuknya. Yo Ko sendiri biasanya jarang minum arak, kini melihat tuan rumah sangat simpatik, ia merasa tidak enak untuk menolak, segera ia pun habiskan isi mangkuknya, ia merasa arak itu sangat keras dan pedas, tapi mengandung rasa pahit dan kecut pula.

“Bagaimana rasanya arak ini, saudara cilik?” tanya Kubilai dengan tertawa.

“Arak ini mengandung rasa pahit, pedas, kecut dan sepat, di dalamnya terasa perih puIa, rasanya tidak enak, tapi ini arak minuman seorang lelaki sejati,” jawab Yo Ko cepat.

Kubilai sangat girang, berulang dia berseru kepada anak buahnya agar menuangkan arak lagi hingga ketiga orang pun masing-masing menghabiskan tiga mangkuk. Berkat tenaga dalamnya yang kuat, sedikit pun Yo Ko tidak memperlihatkan tanda mabuk meski sudah habiskan arak keras itu cukup banyak.

Dengan girang Kubilai bertanya kepada Kim-lun Hoat-ong: “Koksu, dari manakah engkau mendapatkan bakat muda sebagus ini? Sungguh beruntung bagi Mongol Raya kita.”

Secara ringkas Kim-lun Hoat-ong lantas menceritakan asal usul Yo Ko, nadanya bahkan sengaja meninggikan derajat anak muda itu se-akan-akan menganggap Yo Ko sebagai tokoh dunia persilatan di Tionggoan. Jika orang lain tentu takkan percaya terhadap cerita Hoat-ong itu mengingat usia Yo Ko jelas masih sangat muda. Tapi Kubilai sendiri semenjak kecil sudah terkenal sebagai anak ajaib, pintar luar biasa serta bijaksana, apa lagi dia pun percaya penuh kepada Hoat-ong, maka dia menjadi girang dan segera memerintahkan diadakan perjamuan, katanya kepada Hoat-ong dan Yo Ko:

“Sebentar akan kuperkenalkan kalian kepada beberapa orang kosen.”

Kubilai sudah lama tinggal di daerah Tiong-goan dan mengagumi kebudayaan Tiongkok. Hidupnya sehari-hari senantiasa bergaul dengan kaum terpelajar, dia pun mengumpulkan jago silat dari berbagai penjuru serta menghimpun kaum cendekiawan sebagai staf untuk membincangkan rencana penyerbuan ke Tiongkok selatan.

DemikianIah tidak seberapa lama meja perjamuan sudah siap dengan hidangan campuran Mongol dan Han. Kubilai lantas memberi perintah pula kepada anak buahnya:

“Undanglah beberapa tuan di Ciau-hian-koan (Wisma Ksatria).”

Setelah anak buahnya mengiakan dan pergi, Kubilai berkata pula: “Beberapa hari di Ciau-hian-koan sudah berkumpul beberapa tamu yang memiliki kepandaian kosen, semuanya sangat menyenangkan hatiku, tetapi tetap belum dapat memadai kepandaian Koksu dan saudara Yo yang serba bisa.” Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak.

Tak lama kemudian penjaga memberi laporan bahwa tamu undangan telah datang. Waktu tirai kamar tersingkap, masuklah empat orang. Yo Ko terkejut ketika mengenali orang yang berjalan paling depan itu kaku laksana mayat dan di sebelahnya adalah seorang cebol hitam, siapa lagi kalau bukan Siau-siang-cu dan Nimo Singh yang dipergokinya di lembah gunung tengah malam itu.

Dua orang lagi yang masuk belakangan juga mempunyai potongan yang aneh. Seorang tinggi besar, tingginya lebih dari 2 meter, tangan besar kaki pun besar. Sungguh seorang raksasa tulen, cuma air mukanya tampak ke-tololan, pandangan matanya kaku buram, mirip orang tidak waras. Seorang lagi berhidung besar, Iekuk matanya dalam, rambutnya keriting dan janggutnya merah keemasan, jelas golongan Arab tapi justru memakai pakaian bangsa Han yang perlente, ditambah memakai kalung mutiara pula, malahan pakai gelang jamrud lagi. Dandanannya sungguh gemilapan dan lagaknya kebanci-bancian.

Kubilai menyilakan semua orang duduk, lalu memperkenalkan mereka satu per satu. Kiranya si raksasa tadi adalah suku Hwe di daerah Sin-kiang, sejak kecil memiliki tenaga besar dan sanggup membinasakan singa atau harimau dengan hanya bertangan kosong. Kemudian bertemu pula dengan orang kosen dan mendapatkan pelajaran ilmu silat yang kasar, cuma tenaganya memang maha kuat, meski ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, kalau berkelahi tampaknya menjadi dahsyat sekali.

Ada pun orang keturunan Arab itu adalah saudagar Persia dan sudah tiga turunan tinggal di Tiongkok sebagai pedagang batu permata, namanya juga menggunakan nama bangsa Han, yakni In Kik-si. Dia memiliki ilmu silat gaya Persia yang aneh, ditambah lagi waktu dia berkeliling mencari barang dagangan, sering dia berbincang ilmu silat dengan jago silat Tiongkok, dari hasil tukar pikiran itu dipelajarinya lagi secara mendalam hingga akhirnya dia mengkombinasikan ilmu silat dari dua negeri, dapat diciptakannya sebuah aliran silat tersendiri. Ia mendengar Kubilai sedang mencari jago silat maka ia pun datang melamar.

Demikianlah Nimo Singh dan Siau-siang-cu bertukar pandang dengan tertawa penuh arti, mereka melirik ke arah Kim-lun Hoat-ong dengan sikap tidak mau tunduk. Ketika melihat Yo Ko yang masih muda belia, mereka mengira anak muda ini adalah anak cucu murid Kim-lun Hoat-ong, maka sama sekali tidak memperhatikannya.

Setelah suguhan arak berulang tiga kali, Nimo Singh yang berwatak berangasan itu tidak sabar lagi, maka segera ia berteriak:

“Ongya, kerajaan MongoI Raya makmur jaya, ksatria di dunia ini semuanya berkumpul di sini, kalau Hwesio besar ini dianugerahi gelar Koksu nomor satu, tentu ilmu silatnya tiada bandingannya, untuk itu kami justru ingin tahu akan kesaktiannya sekedar menambah pengalaman.”

Kubilai tersenyum tetapi tidak menanggapi, segera Siau-siang-cu menyambung: “Saudara Nimo Singh ini datang dari negeri Thian-tiok (lndia), sedangkan ilmu silat di Tibet berasal dari negeri Thian-tiok, apakah mungkin anak didik lebih mahir dari sang guru, aku menjadi ragu dan ingin tahu pula.”

Ucapan Siau-siang-cu jelas bernada mengadu domba. Ia memang berharap agar Nimo Singh dapat bertempur dulu dengan Kim-lun Hoat-ong, dengan begitu dirinya nanti tinggal menarik keuntungannya saja, walau pun nadanya rada memihak kepada Nimo Singh, tapi sesungguhnya dia berharap keduanya bertarung mati-matian.

Melihat air muka Siau-siang-cu yang pucat bersemu hijau, Kim-lun Hoat-ong yakin orang ini pasti memiliki Lwekang yang tinggi, bukan mustahil di antara empat orang dia adalah lawan yang terkuat. Sekilas dilihatnya In Kik-si hanya tertawa saja, semenjak tadi selalu berlagak seperti saudagar yang cuma mementingkan duit belaka, tampaknya sama sekali tidak mengerti ilmu silat, tetapi orang macam begini justru tidak boleh dipandang enteng.

Maka Kim-lun Hoat-ong lantas berkata sambil tersenyum: “Bahwa diriku diangkat sebagai Koksu, semua ini adalah berkat budi kebaikan Sri Baginda serta Paduka Pangeran, tetapi sebenarnya aku mana berani menerimanya.”

“Jika tidak berani menerima, kan seharusnya kau berikan pangkat itu kepada orang lain,” ujar Siau-siang-cu sambil melirik ke arah Nimo Singh.

Hoat-ong angkat sumpitnya menyumpit sepotong besar daging sapi rebus, lalu berkata sambil tertawa:

“Potongan daging ini paling besar di piring ini, sesungguhnya aku pun tak ingin memakannya, hanya saja sumpitku secara kebetulan mencomotnya, dalam agama Budha disebut ‘ada jodoh’. Sekiranya tuan yang hadir di sini ada yang berminat makan daging ini, kusilakan menyumpitnya saja.”

Habis berkata Hoat-ong tetap pegang sumpitnya yang menjepit potongan daging itu dan berhenti di atas piring sambil menunggu reaksi orang lain. Si raksasa Be Kong-co paling polos orangnya, pikirannya terlalu sederhana dan tidak tahu kelicikan manusia umumnya, ia tidak tahu bahwa ucapan Kim-lun Hoat-ong itu bercabang makna. Katanya saja sepotong daging, tapi yang dimaksudkan sesungguhnya adalah kedudukan Koksu nomor satu yang ingin diperebutkan Nimo Singh.

Dasar Be Kong-co memang lugu, tanpa pikir lagi ia menjulurkan sumpitnya untuk menjepit potongan daging disumpit Hoat-ong itu. Tapi baru saja ujung sumpitnya hampir menempel daging, se-konyong-konyong ujung sebuah sumpit yang dipegang Kim-lun Hoat-ong menyerong keluar lantas membentur sumpitnya. Seketika Be Kong-co merasakan tangannya tergetar sakit, sumpitnya terlepas dari cekalan kemudian jatuh di atas meja.

Semua orang saling memandang dengan melongo kaget. Mereka kagum betapa lihaynya tenaga dalam Hoat-ong. Namun Be Kong-co sendiri ternyata belum menyadari apa yang terjadi, dia jemput kembali sumpitnya dan sekali ini dipegang sekencangnya agar tidak tergetar jatuh, lalu sumpit dijulurkan untuk berebut daging lagi.

Kembali ujung sumpit Hoat-ong menyerong keluar, tetapi sekali ini pegangan Be Kong-co sungguh kencang hingga sumpitnya tak dapat tergetar jatuh, yang terdengar adalah suara “krek” sekali, sepasang sumpitnya sudah patah menjadi empat seperti ditebas oleh pisau, kedua bagian yang patah itu jatuh semua di atas meja. Be Kong-co malah menjadi marah, ia meraung keras terus hendak menubruk maju untuk melabrak Kim-lun Hoat-ong.

Tapi Kubilai keburu mencegahnya dan berkata sambil tertawa: “Harap Be-cong-su jangan marah, kalau mau bertanding silat boleh nanti saja setelah dahar.”

Meski orangnya kasar, tapi Be Kong-co ternyata takut kepada sang pangeran. Ia kembali duduk, katanya dengan mendongkol sambil menuding Hoat-ong:

“Kau menggunakan ilmu siluman apa sehingga alat makanku terpatahkan?”

Kim-lun Hoat-ong hanya tersenyum saja tanpa menjawab, sumpitnya tetap terjulur di atas meja dengan daging yang tersumpit itu. Semula Nimo Singh meremehkan Kim-lun Hoat-ong, tetapi kini dia tak berani memandang enteng lagi setelah melihat Iwekang orang yang hebat. Sebagai orang Thian-tiok, cara makannya tidak memakai sumpit, tapi pakai tangan belaka, segera ia berkata:

“Be-heng tak mampu menyumpit daging ini, jadi serahkan saja padaku.” Mendadak kelima jarinya terus mencengkeram daging yang disumpit Hoat-ong itu.

Akan tetapi secepat kilat Kim-lun Hoat-ong tetap menyerongkan sebuah ujung sumpitnya, hanya sedikit bergetar saja sekaligus dia mengincar beberapa Hiat-to di jari tangan Nimo Singh. Akan tetapi Nimo Singh juga bukan jago rendahan, tangannya membalik terus memotong pergelangan tangan lawan. Tangan Hoat-ong tak bergerak, hanya sumpitnya yang diputar balik dan tetap bergetar beberapa kali. Segera Nimo Singh merasa ujung sumpit lawan hampir menyentuh urat nadi tangannya, cepat ia menarik kembali tangannya. Dalam pada itu sumpit Kim-lun Hoat-ong juga telah membalik lagi dan tetap dapat menyapit potongan daging tadi.

Yo Ko dan lain-lain dapat menyaksikan bahwa hanya sekejap itu saja sebenarnya antara Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh sudah saling gebrak beberapa jurus, gerakan sumpit Hoat-ong sangat cepat, tapi cara Nimo Singh bergerak dan menarik tangannya juga cepat luar biasa, itulah pertarungan antara jago silat kelas satu.

Dengan nada dingin Siau-siang-co berseru memuji, sedangkan Kubilai hanya tahu kedua orang itu sudah saling uji kepandaian dengan ilmu silat yang tinggi, namun ilmu apa yang dikeluarkan mereka tak dapat diketahuinya. Be Kong-cu juga melongo bingung mengikuti pertarungan aneh itu.

Sekarang giliran In Kik-si. Dengan tertawa ia berkata: “Ahh, saudara-saudara ini mengapa sungkan-sungkan terhadap daharan lezat ini. Kalau kau tak mau makan dan aku pun tak mau makan, kan sebentar saja semuanya menjadi dingin.”

Sambil berkata dia pun menjulurkan sumpitnya dengan perlahan, gelang tangannya yang jamrud bersentuhan dengan gelang emas hingga menerbitkan suara gemerincing nyaring. Belum lagi sumpitnya menyentuh daging, Hoat-ong sudah merasakan sumpitnya tergetar oleh tenaga dalam In Kik-si. Tapi Hoat-ong malah terus menyurung sumpitnya ke depan agar dagingnya kena disumpit In-Kik-si, berbareng dengan itu suatu arus tenaga dalam yang maha kuat disalurkan dan menggempur lengan lawan.

Dalam hati In Kik-si berteriak celaka. Kalau saja tenaga dalam dapat menggempur sampai di dadanya, maka dirinya pasti akan terluka parah. Terpaksa dia mengerahkan segenap tenaga untuk balas menggempur. Tak terduga tenaga dalam Hoat-ong itu begitu dikerahkan lantas secara mendadak ditarik kembali lagi, karena itu daging yang sudah tersumpit oleh In Kik-si menjadi tertolak kembali oleh gempuran balik tenaganya sehingga dapat dicapit lagi oleh sumpitnya Hoat-ong.

“Ha-ha-ha, ternyata In-heng juga sungkan dan tidak sudi makan daging ini,” kata Hoat-ong dengan tertawa.

Nyata Hoat-ong telah mengalahkan In Kik-si dengan akal. In Kik-si juga sangat tinggi hati, setelah kena diakali terpaksa dia mundur teratur, apa lagi kalau harus bergebrak dirinya juga belum tentu dapat menang. Ia pikir lain kali saja kalau ada kesempatan akan kucoba lagi Hwesio ini. Ia pun menyumpit sepotong daging yang agak kecilan kemudian dimakan, katanya sambil tertawa:

“Selama hidupku hanya duit saja yang menarik, dan aku pun tidak suka daging sapi yang terlalu banyak gemuknya, maka biarlah kumakan daging yang kecilan saja.”

Diam-diam Kim-lun Hoat-ong juga mengakui kelihayan orang Persi dengan gayanya yang luwes ini, kalau bertempur, sungguh merupakan lawan yang tangguh. Dia berpaling kepada Siau-siang-cu dan berkata:

“Apa bila Siau-heng juga tidak sudi, terpaksa kumakan sendiri ” Berbareng ia sedikit tarik mundur sumpitnya.

Kiranya Hoat-ong yakin Siau-siang-cu merupakan lawan paling kuat di antara empat orang yang dihadapinya sekarang, bahwa alasannya mau makan sendiri sebenarnya dia sengaja menarik mundur tangannya, dengan demikian daya tahannya akan bertambah kuat, tetapi sebaliknya jarak lawan menjadi makin jauh sehingga dengan sendirinya pihak lawan harus lebih banyak mengeluarkan tenaga apa bila mau menyerang.

Sudah tentu Siau-siang-cu mengetahui maksud tujuan orang. Ia hanya mendengus saja, perlahan ia angkat sumpitnya, tapi mendadak secepat kilat bergerak ke depan dan tepat mencapit potongan daging itu terus ditarik, karena itu jarak mundurnya tangan Hoat-ong tadi kena diseret maju lagi ke posisi semula.

Meski sebelumnya Hoat-ong mengetahui tenaga dalam lawan ini sangat lihay, tetapi tidak menduga bahwa gerakannya bisa begitu cepat, maka cepat ia pun balas menarik. Karena kedua orang sama-sama mengerahkan tenaga dalam, seketika terjadilah saling betot dan saling tahan, hanya sekejap saja tiga gebrakan telah berlangsung dan potongan daging itu masih tersumpit oleh dua pasang sumpit.

Kubilai tidak paham betapa bagusnya ilmu silat kelas wahid, dia menyangka kedua orang hanya saling berebut daging rebus saja, padahal kedua orang sudah saling gebrak hingga beberapa jurus seperti pertarungan di medan tempur.

Di tengah saling uji kepandaian beberapa orang itu, sejak tadi Yo Ko hanya menyaksikan saja sambil tersenyum. Ia pikir orang kosen di dunia ini sungguh sulit dihitung banyaknya, terutama kepandaian kedua orang yang sukar dibedakan kalah dan menang sekarang ini.

Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh berkumandang suara seorang: “Kwe Ceng! Adik Kwe Ceng di mana kau? Lekas keluar! Hai, Kwe Ceng, bocah she Kwe, di mana kau?”

Suara itu semula terdengar berkumandang dari sebelah timur, namun sekejap kemudian kedengaran ada beberapa li jauhnya, seperti suara satu orang, lalu disusul dengan suara orang kedua, cuma logatnya jelas berasal dari orang yang sama, malahan dari timur ke barat dan dari barat ke timur suara itu terus menerus bergema tanpa berhenti maka dapat dibayangkan betapa cepat gerak tubuh orang itu sungguh jarang ada bandingannya.

Selagi semua orang saling pandang dengan melenggong, sementara itu Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu masih saling ngotot. Padahal daging rebus itu mana mampu menahan tenaga tarikan dua jago kelas satu itu, tapi nyatanya daging itu masih tetap ulet dan tidak putus. Kiranya pergantian tenaga Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu terjadi amat cepat, begitu saling tarik segera pula saling sodok, tapi lantaran gerakan kedua orang sama cepatnya dan sama kuat pula, maka daging itu tidak lebih hanya merupakan perantara penyaluran tenaga saja sehingga tidak hancur.

Yo Ko dapat melihat keadaan itu. Ia tunggu ketika kedua orang sedang saling betot dan daging itu tertarik hingga memanjang, mendadak dia angkat sumpitnya lantas memotong daging itu, dua batang sumpit memotong daging itu menjadi tiga bagian! Pada saat yang tepat dia jepit potongan daging bagian tengah, sementara itu Hoat-ong dan Siau-siang-cu masing-masing mendapatkan potongan daging ujung kanan dan kiri.

Cara turun tangan Yo Ko ini bukannya mengutamakan kekuatan tenaga dalam, melainkan unggul dalam hal kejituan dan kecepatan, ia bisa menggunakan waktu yang paling tepat.

BegituIah ketiga orang itu saling pandang dengan tertawa dan baru saja mereka hendak memakan daging pada sumpit masing-masing, sekonyong-konyong tirai kemah tersingkap lalu bayangan orang berkelebat, mendadak seorang mengulurkan tangan dan sekaligus dapat merampas potongan daging pada sumpit Yo Ko bertiga, kemudian dimakan dengan lahapnya.

Orang itu telah duduk bersimpuh di atas permadani dalam kemah sambil makan dengan nkmatnya, sama sekali tidak pandang sebelah mata pada orang lain yang berada di situ. Kejadian ini membikin semua orang terkejut dan serentak berdiri. Bayangkan saja, betapa lihaynya ilmu silat Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan yang Iain-lain, bahkan Yo Ko kini pun sudah termasuk barisan tokoh kelas satu, tetapi orang itu sekaligus dapat merampas daging mereka tanpa bisa mengelak sedikit pun.

Sesudah Yo Ko mengawasi, kiranya orang itu adalah seorang kakek yang berambut dan berjenggot putih, tapi mukanya merah bercahaya dan tersenyum simpul menyenangkan, berapa usianya sukar untuk diterka. Penjaga kemah ternyata tidak mampu merintangi kakek itu, para pengawal serentak membentak:

“Tangkap pengacau!” Berbareng empat tombak menusuk dada kakek itu.

Tetapi kakek itu cuma menggunakan tangan kirinya dan sekaligus ujung keempat tombak sudah terpegang, lalu katanya kepada Yo Ko:

“Eh, adik cilik, ambilkan lagi daging sapi, perutku lapar sekali.”

Sudah tentu keempat pengawal Mongol itu menjadi sangat penasaran, sekuatnya mereka membetot tombak yang dipegang si kakek, tetapi sedikit pun bergeming meski muka mereka sudah merah padam dan otot hijau tampak jelas menonjol di dahi mereka.

Yo Ko sangat tertarik akan kepandaian kakek aneh itu, tanpa pikir dia angkat piring yang berisi daging rebus itu terus dilemparkan sambil berkata:

“lni, silakan makan!”

Dengan tangan kanannya kakek itu menahan pantat piring yang menyambar, mendadak sepotong daging di atas piring itu melompat ke atas lalu masuk ke mulut si kakek.

Kubilai sangat tertarik dan bersorak gembira, disangkanya kakek itu mahir main sulapan, sedangkan Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain dapat melihat Iwekang orang tua itu kuat luar biasa, bahwa potongan daging itu bisa melompat sendiri jelas disebabkan getaran tenaga tangannya. Hebatnya daging yang melonjak ke atas itu hanya satu potong saja, sedangkan potongan daging yang lain tidak bergerak sedikit pun. Ketepatan tenaga inilah yang luar biasa dan tak dapat ditiru orang lain, mau tak mau semua orang merasa kagum dan segan.

Tampak kakek itu terus makan dengan Iahapnya. Baru potongan daging pertama dilalap, segera sepotong daging yang lain melompat lagi dari piring lalu masuk ke mulutnya. Hanya sekejap saja daging seisi piring itu sudah tersapu bersih. Ketika tangan kanan si kakek bergerak, piring kosong yang dipegangnya melayang ke atas dan berputar satu kali, kemudian menyambar ke arah Yo Ko dan In Kik-si. Karena sudah tahu kakek itu memiliki ilmu gaib dan kuatir terdapat sesuatu pada piring itu, Yo Ko dan In Kik-si tak berani menangkap, mereka sama mengegos ke samping.

Karena itu piring kosong itu terus menyambar lewat dan turun ke permukaan meja, tepat membentur piring lain yang berisi daging kambing panggang, piring kosong tadi berhenti di atas meja, sebaliknya piring yang berisi daging kambing panggang terus terbang menuju si kakek. Tampaknya si kakek senang bukan main, ia bergelak tertawa. Setelah piring berisi daging kambing dipegangnya, seperti cara tadi kembali sepotong demi sepotong daging kambing itu melompat masuk ke mulutnya dan tidak lama telah dilalap habis.

Dalam keadaan begitu, yang paling konyol tentulah empat pengawal Mongol tadi. Tombak mereka terpegang si kakek, mereka membetot sekuatnya tapi tak dapat terlepas, mereka pun tidak berani melepaskan senjata mereka. Maklumlah, disiplin tentara Mongol sangat keras, membuang senjata di medan perang hukumannya mati, apa lagi keempat orang itu bertugas sebagai pengawal sang Pangeran, terpaksa mereka pun mengerahkan segenap tenaga untuk menarik sekuatnya.

Kakek itu ternyata sangat nakal, makin keempat orang itu kelabakan, semakin senanglah dia. Mendadak dia berseru:

“Bim-salabim! Dua orang menyembah padaku, yang dua lagi terjengkang! Satu-dua-tiga!”

Selesai “tiga” diucapkan, berbareng itu tangannya sedikit bergerak, kontan ujung keempat tombak patah semua. Namun tenaga yang dikeluarkan jari tangannya ternyata berbeda, dua batang tombak ditolaknya ke sana, sebaliknya dua tombak yang lain dibetot, maka terdengarlah suara mengaduh kesakitan keempat orang Mongol itu, yang dua orang jatuh tiarap seperti orang menyembah, dua lagi jatuh terjengkang ke belakang. Kemudian si kakek bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu kanak-kanak, yaitu lagu yang umumnya didendangkan orang tua untuk menghibur anak kecil yang menangis karena jatuh.

Tiba-tiba Siau-sang-cu teringat kepada satu orang, cepat dia bertanya: “Apakah Cianpwe she Ciu?”

Kakek itu terbahak-bahak, jawabnya: “Ya, kau kenal aku?”

Tanpa ayal Siau-siang-cu bangkit dan memberi hormat, katanya: “Kiranya Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, Ciu-locianpwe yang tiba.”

Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh baru pertama kali datang di Tionggoan, mereka belum kenal siapa itu Ciu Pek-thong, mereka hanya merasa ilmu silat si kakek she Ciu ini tinggi luar biasa dan sukar diukur, tetapi tingkah lakunya jenaka dan nakal, pantas berju!uk ‘Lo-wang-tong’, (si nakal tua). Karena itu rasa permusuhan mereka jadi lantas berkurang, malahan mereka tersenyum geli oleh julukan orang yang lucu.

Segera Kim-lum Hoat-ong berkata: “Maafkan keteledoranku yang tidak kenal orang kosen dari dunia persilatan. Bagaimana kalau silakan duduk saja di sini. Ongya sedang mencari orang pandai, kini orang kosen berada di sini, tentu Ongya merasa sangat gembira.”

Kubilai juga memberi salam dan berkata: “Benar, silakan Ciu-losiansing duduk di sini, ada banyak persoalan yang kurang jelas sehingga aku perlu minta petunjuk padamu.”

Tapi Ciu Pek-thong menggeleng kepala, jawabnya: “Tidak, aku sudah kenyang dan tidak ingin makan lagi. Di mana Kwe Ceng? Apakah dia berada di sini?”

Hati Yo Ko tergetar mendengar nama Kwe Ceng disebut, dengan dingin ia bertanya: “Ada urusan apa kau mencari dia?”

Dasar watak Ciu Pek-thong memang kocak dan ke-kanakan, dia paling senang bergaul dengan anak kecil. Melihat Yo Ko berusia paling muda di antara orang yang hadir di situ, hal ini sudah membuatnya suka lebih dulu, dan kini mendengar Yo Ko menyebutnya dengan kata “kau” dan tidak pakai ‘Locianpwe’ dan ‘Ciu-siansing’ segala, ini membuatnya lebih-lebih senang.

Maka cepat Ciu Pek-thong menjawab: “Kwe Ceng adalah saudara angkatku, apakah kau kenal dia? Sejak kecil dia suka bergaul dengan orang Mongol, maka begitu melihat orang Mongol di sini segera aku menerobos ke sini untuk mencarinya.”

“Ada urusan apa kau mencari Kwe Ceng?” tanya Yo Ko pula sambil mengerutkan kening.

Ciu Pek-thong memang orang polos yang tidak dapat berpikir, mana dia tahu urusan yang harus dirahasiakan atau tidak. Tanpa ragu dia terus menjawab:

“Dia telah mengirim berita kepadaku agar aku menghadiri Eng-hiong-yan (perjamuan ksatria). Jauh-jauh aku berangkat ke sana, di tengah jalan aku mampir dan pesiar sehingga terlambat datang beberapa hari, mereka ternyata sudah bubar, sungguh mengecewakan.”

“Apakah mereka tidak meninggalkan surat untukmu?” ujar Yo Ko.

Mendadak Ciu Pek-thong mendelik dan berkata: “Mengapa kau hanya bertanya melulu? Sebenarnya kau kenal Kwe Ceng tidak?”

“Mengapa aku tidak kenal?” jawab Yo Ko. “Nyonya Kwe bernama Oey Yong, betul tidak? Anak perempuan mereka bernama Kwe Hu, ya bukan?”

Ciu Pek-thong mendadak menggoyangkan tangannya dan berseru dengan tertawa: “Salah, salah! Si budak Oey Yong sendiri juga seorang anak perempuan kecil, mana bisa mereka mempunyai anak perempuan segala?”

Yo Ko melengak bingung, namun ia lantas paham persoalannya, segera ia bertanya lagi: “Sudah berapa tahun kau tidak bertemu dengan mereka suami-isteri?”

Ciu Pek-thong tidak lantas menjawab, ia tekuk jarinya satu demi satu, sepuluh jari secara rata dihitungnya ulang dua kali, lalu berkata:

“Sudah ada 20 tahun.”

“Nah, masa sudah 20 tahun dia masih anak perempuan kecil?” kata Yo Ko dengan tertawa.

Ciu Pek-thong tertawa ngakak sambil garuk-garuk kepala, lalu berkata: “Ya, ya, kau yang benar, kau yang benar! Apakah anak perempuan mereka itu pun cakap?”

“Muka anak perempuan mereka lebih banyak mirip nyonya Kwe dan sedikit saja memper Kwe Ceng, nah, cakap tidak menurut pendapatmu?” tanya Yo Ko.

“Ha-ha-ha-ha! Bagus kalau begitu!” kata Ciu Pek-thong sambil tertawa, “Anak perempuan kalau beralis tebal dan bermata besar serta bermuka hitam seperti saudaraku Kwe Ceng, dengan sendirinya bukan cakap lagi namanya.”

Yo Ko tahu kini Ciu Pek-thong tidak ragu lagi, tetapi untuk memperkuat kepercayaannya kembali dia menambahkan:

“Ayah Oey Yong, yaitu Tho-hoa-tocu Oey Yok-su, kakak Yok-su ada hubungan persaudaraan denganku, apakah kau kenal dia?”

Berganti Ciu Pek-thong melengak heran sekarang, ia pikir masakah anak muda ini berani mengaku bersaudara dengan Oey-losia, lantas apa kedudukan orang muda ini? Segera ia bertanya pada Yo Ko:

“Siapakah gurumu?”

“Kepandaian guruku teramat hebat, jika kukatakan bisa jadi kau mati ketakutan,” jawab Yo Ko.

“Masakah aku dapat di-takuti?” ujar Ciu Pek-thong sambil tertawa, berbareng tangannya bergerak, piring kosong bekas wadah daging kambing tadi terus melayang ke arah Yo Ko dengan maha dahsyat.

Sesungguhnya Yo Ko tidak tahu asal-usul aliran perguruan orang kosen macam Ciu Pek-thong ini. Sambaran piring kosong yang keras itu sebenarnya tidak berani ditangkapnya, namun ketika melihat gaya Ciu Pek-thong ternyata berasal dari aliran Coan-cin-pay, padahal ilmu silat Coan-cin-pay baginya boleh dikatakan sudah apal di luar kepala, maka. tanpa pikir dia hanya gunakan jari telunjuk tangan kiri. Dia tunggu ketika piring kosong itu melayang tiba, dengan cepat dan tepat jarinya menyanggah pantat piring, seketika laju piring itu terhenti terus berputar pada ujung jarinya.

Kejadian ini sungguh membikin Ciu Pek-thong amat gembira, malahan Kim-lun Hoat-ong, Nimo Singh dan Iain-Iain juga melengak. Lebih-lebih Siau-siang-cu, semula ia lihat pakaian Yo Ko kotor dan robek, usianya muda, maka dia tidak pandang sebelah mata padanya, tapi sekarang mau tak mau ia harus berubah sikap, ia heran siapakah dan dari manakah pemuda lihay ini?

Di sebelah sana Ciu Pek-thong telah berseru memuji beberapa kali kepada Yo Ko, malah ia pun dapat melihat gaya permainan jari Yo Ko itu adalah gaya aliran Coan-cin-pay, maka ia lantas tanya:

“Apakah kau kenal Ma Giok dan Khu Ju-ki?”

“Kedua hidung kerbau itu masakah aku tak kenal?” jawab Yo Ko tak acuh.

Ciu Pek-thong tambah kegirangan. Maklumlah, meski dia terhitung tokoh tertua Coan-cin-pai, namun lantaran dia tidak dapat mematuhi peraturan agama, maka selama ini dia tak pernah menjadi Tojin. Mendiang Ong Tiong-yang, yaitu cikal bakal Coan-cin-kau yang juga Suheng-nya, kenal watak Ciu Pek-thong yang polos dan suka bertindak menuruti jalan pikiran sendiri. Kalau saja dipaksa menjauhi dunia ramai untuk memeluk agama dan menjadi Tojin, tentu kuil Tiong-yang-kiong akan tambah kacau dibuatnya.

Sebab itulah Ciu Pek-thong tidak diharuskan menjadi Tosu dan hal ini pun cuma berlaku atas diri Lo-wan-tong saja.

EMPAT PENCULIK BERJUBAH HIJAU

Walau Kwe Ceng, Yo Khong dan Yo Ko juga belajar ilmu silat Coan-cin-pay, tapi mereka bukanlah anak murid Coan-cin-pay, kedudukan mereka berbeda dengan Ciu Pek-thong. Meski antara Ciu Pek-thong dan Khu Ju-ki, Ma Giok dan lainnya tiada persengketaan apa pun, dia hanya menganggap mereka itu terlampau kaku dan terikat oleh macam-macam peraturan dan pantangan, maka dalam hati dia merasa cocok. Selama hidupnya kecuali sang Suheng, yaitu Ong Tiong-yang, yang paling dihormati dan dikagumi adalah Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong, si pengemis sakti berjari sembilan. Selain itu ia pun rada cocok dengan kelatahan Oey-Yok-su dan kejahilan Oey Yong.

Kini mendengar Yo Ko menyebut Khu Ju-ki, Ma Giok dan lainnya sebagai ‘hidung kerbau’ (kata olok-oIok kepada kaum Tosu), kata-kata ini ternyata amat cocok bagi pendengaran Ciu Pek-thong, segera ia tanya lagi:

“Dan bagaimana dengan Hek Tay-thong?”

Mendengar nama Hek Tay-thong, Yo Ko menjadi gusar lantas memaki: “Hmm, hidung kerbau ini paling brengsek, suatu hari pasti akan kukerjai dia, agar tahu rasa.”

Ciu Pek-thong menjadi semakin tertarik, cepat dia bertanya: “Cara bagaimana akan kau kerjai dia dan apa rasanya?”

“Akan kuringkus dia, kuikat tangan berikut kakinya, lalu kurendam di kubangan kakus seharian,” kata Yo Ko.

Tidak kepalang senangnya Ciu Pek-thong, ia berbisik dengan suara tertahan: “Ssttt, nanti kalau dia sudah kubekuk, jangan kau rendam dia dulu, beri kabar dulu agar aku dapat mengintipnya diam-diam.”

Sebenarnya tiada maksud buruk terhadap Hek Tay-thong, hanya watak Ciu Pek-thong memang suka dengan permainan yang kocak, jika orang lain berbuat nakal dan onar, hal ini cocok dengan kegemarannya, maka ia pun ingin ikut ambil bagian.

Dengan tertawa Yo Ko lantas menjawab: “Baiklah, akan kuingat pesanmu. Tapi mengapa kau harus mengintip secara diam-diam? Apakah kau takut pada kawanan hidung kerbau dari Coan-cin-kau?”

Ciu Pek-thong menghela napas dan menjawab: “Aku kan paman gurunya Hek Tay-thong!”

Ucapan ini membikin Yo Ko bersuara kaget.

Lalu Ciu Pek-thong menyambung lagi: “Bila dia melihat diriku, tentu dia akan minta tolong. Dalam keadaan begitu, kalau aku tidak menolongnya tidak enak, sebaliknya kalau kutolong dia, pertunjukan menarik akan gagal kulihat.”

Diam-diam Yo Ko berpikir, ilmu silat orang ini amat tinggi meski wataknya polos dan lugu, apa pun juga dia adalah orang Coan-cin-pay, jelas tidak mungkin mengajaknya memusuhi Kwe Ceng, maka jalan paling baik adalah berusaha membinasakan dia saja. Sebenarnya pembawaan Yo Ko tidaklah jahat, hanya saja dia tak pernah melupakan sakit hati karena kematian ayahnya, untuk mencapai tujuan menuntut balas, segala cara dapat diIakukannya.

Sudah tentu Ciu Pek-thong tidak tahu kalau Yo Ko berpikir jahat padanya, ia malah bertanya lagi:

“He, kapan kau akan menangkap si Hek Tay-thong?”

“Sekarang juga aku akan berangkat, kalau kau ingin melihat keramaian, boleh kau ikut,” kata Yo Ko.

Dengan girang Ciu Pek-thong lantas bangkit, tapi mendadak ia duduk lagi dengan Iesu, katanya:

“Aih, tidak bisa, aku harus pergi ke Siang-yang.”

“Apa menariknya kota Siang-yang? Kukira janganlah kau pergi ke sana,” ujar Yo Ko.

“Adik Kwe sudah meninggalkan surat bagiku, katanya pasukan Mongol telah menyerbu ke selatan dan pasti akan menyerang Siang-yang,” tutur Ciu Pek-thong. “Dia telah memimpin semua pahlawan pergi ke Siang-yang, aku pun diminta ke sana untuk membantunya, tapi di sepanjang jalan kucari dia tidak ketemu, terpaksa kususul ke Siang-yang saja.”

Kubilai saling pandang sekejap dengan Kim-lun Hoat-ong, mereka sama berpikir: “Dengan adanya bala bantuan para pahlawan yang dipimpin Kwe Ceng, mungkin Siang-yang sukar diduduki.”

Bicara sampai di sini, mendadak masuklah seorang Hwesio setengah umur, dari tingkah laku dan wajahnya jelas Hwesio ini adalah seorang terpelajar. Dia mendekati Kubilai, lalu kedua orang bicara dengan suara tertahan. Kiranya Hwesio ini adalah seorang bangsa Han, namanya Cu-cong, dia terhitung seorang staf Kubilai. Aslinya Cu-cong bernama Lau An. Menurut catatan sejarah Lau An adalah orang pintar dan serba tahu, karena itu dia sangat disayang oleh Kubilai.

Dari penjaga Lau An mendapat laporan bahwa di kemah Kubilai ada orang kosen, maka lebih dulu ia telah mengatur penjagaan seperlunya di luar kemah, habis itu barulah masuk menghadap Kubilai.

Ciu Pek-thong tepuk perutnya yang rada gendut, katanya: “Eh, Hwesio, kau menyingkir dulu, aku lagi bicara dengan adik cilik itu. Hai, saudara cilik, siapa namamu?”

“Aku she Yo bernama Ko,” jawab Yo Ko.

“Sebenarnya siapa gurumu?” tanya Ciu Pek-thong lagi.

“Guruku seorang perempuan cantik, ilmu silatnya maha sakti tetapi namanya tidak boleh diketahui orang luar,” jawab Yo Ko.

Ciu Pek-thong merinding mendengar perempuan cantik, ia teringat pada kekasihnya dulu, Eng-koh, seketika ia tak berani tanya lagi. Ia bangkit dan mengebut debu di tubuhnya, maka berhamburanlah ke mana-mana. Cu-cong bersin dua-tiga kali karena. Ciu Pek-thong tambah gembira, lengan bajunya mengebut semakin keras, mendadak dia bergelak tertawa dan berkata:

“Aku mau pergi!” Berbareng itu empat potong ujung tombak patah tadi terus disambitkan ke arah Siau-siang-cu, Nimo Singh, In Kik-si dan Be Kong-co.

Terdengar suara mendesing menyambarnya keempat ujung tombak itu. Karena jaraknya sangat dekat, dalam sekejap ujung tombak itu sudah menyambar sampai di depan mata keempat orang sasarannya.

Siau-siang-cu berempat terkejut, mereka merasa sukar untuk mengelak, terpaksa mereka mengerahkan tenaga dalam dan menangkap ujung tombak. Siapa tahu keempat tangan mereka itu ternyata hanya menangkap angin.

“Plokk!” tahu-tahu keempat ujung tombak itu menancap di atas tanah.

Ternyata tenaga sambitan Ciu Pek-thong sangat istimewa, begitu disambitkan segera disertai tenaga tarikan, maka ketika ujung tombak menyambar, begitu sampai di depan sasarannya mendadak ganti arah dan membelok ke bawah lalu menancap di atas tanah. Be Kong-co adalah seorang lugu, ketika sekali tangkap tidak kena, dia malah merasa geli dan bergelak tertawa, serunya:

“Hei, jenggot putih, sungguh hebat permainan sulapmu!”

Akan tetapi Siau-siang-cu bertiga menjadi tidak kepalang kagetnya, tanpa terasa air muka mereka berubah hebat. Bayangkan saja, ujung tombak itu tidak berhasil mereka tangkap, tapi sempat berganti arah, maka pada detik itu sebetulnya jiwa sendiri sudah tergenggam di tangan lawan. Kalau saja ujung tombak itu bukan menancap di tanah, tapi menyambar ke perut mereka, apakah jiwa mereka masih dapat diselamatkan?

Karena berhasil mempermainkan keempat orang itu, Ciu Pek-thong sangat senang. Baru saja dia mau keluar kemah, tiba-tiba Cu-cong berseru:

“Eh, Ciu-losiansing, kesaktianmu sungguh jarang di dunia ini. Biarlah kuberi selamat padamu dengan suguhan secawan arak!”

Berbareng dia terus menyodorkan secawan arak yang sudah disiapkan ke hadapan Ciu Pek-thong. Tanpa pikir Ciu Pek-thong terima suguhan itu dan sekali tenggak habislah isi cawan itu. Kembali Cu-cong menghaturkan satu cawan arak sambil berkata:

“Sekarang aku mewakili Ongya menyuguh engkau satu cawan.”

Segera Ciu Pek-thong menghabiskan lagi arak itu. Baru saja Cu-cong hendak menyuguh lagi cawan ketiga, se-konyong-konyong Ciu Pek-thong berteriak:

“Haya, celaka! Perutku mules, sekarang aku mau berak!” Berbareng itu ia lalu berjongkok sambil membuka kolor celana terus hendak berak di tengah kemah.

Dengan menahan rasa gelinya Kim-lun Hoat-ong membentak untuk mencegah perbuatan Ciu Pek-thong yang tidak senonoh itu.

Ciu Pek-thong tampak melengak sejenak, habis itu berteriak: “He, muIesnya perut ini tidak beres, rasanya bukan kebelet mau berak!”

Yo Ko memandang sekejap ke arah Cu-cong, maka pahamlah dia duduknya perkara. Dia tahu Hwesio itu telah menaruh racun dalam arak yang disuguhkan kepada Ciu Pek-thong. Dia merasa tidak tega bila orang tua yang polos dan jenaka itu sampai mati keracunan, tetapi baru saja dia mau memperingatkan agar Kubilai ditawan untuk memaksa Cu-cong memberikan obat penawar racun, mendadak didengarnya Ciu Pek-thong berseru:

“Ah, salah, salah! Kiranya arak beracun yang kuminum terlalu sedikit, lantaran itulah perut menjadi mules, Hei, Hwesio, lekas tuangkan lagi tiga cawan arak beracun!”

Keruan semua orang saling pandang dengan bingung, sedangkan Cu-cong menjadi pucat ketakutan kalau-kalau Ciu Pek-thong mendadak ngamuk sebelum ajalnya, maka mana dia berani mendekatinya, apa lagi disuruh memberi arak lagi. Karena itu Ciu Pek-thong lantas maju mendekati meja, sementara Kim-lun Hoat-ong cepat menghadang di depan Kubilai untuk melindunginya. Namun ternyata Ciu Pek-thong tidak bermaksud menyerang, dengan sebelah tangan memegangi celananya yang kedodoran, tangan lain angkat poci yang berisi arak teracun, sekaligus ia tenggak habis seluruh isi poci itu, satu tetes pun tidak tersisa.

Di tengah rasa bingung dan kaget semua orang, Ciu Pek-thong malah tertawa terbahak-bahak, katanya:

“Nah, begini baru segar rasanya. Perut terlalu banyak barang kotor dan beracun, harus serang racun dengan racun!” Habis itu mendadak mulutnya terbuka, arak menyembur ke arah Cu-cong.

Cepat Kim-Iun Hoat-ong menyambar meja di sebelahnya untuk menangkis, arak berbisa itu tepat menyerempet permukaan meja lalu muncrat ke mana-mana. Sambil bergelak tawa Ciu Pek-thong melangkah pergi. Sampai di depan kemah tiba-tiba timbul lagi pikirannya yang jahil, ia tarik tali kemah lantas dibetot sekuatnya, kontan tiang penyanggah kemah itu patah, seketika kemah besar yang terbuat dari kulit itu ambruk, Kubilai, Kim-lun Hoat-ong, Yo Ko dan lainnya terkurung semua di bawah.

Ciu Pek-thong kegirangan, dia melompat ke atas kemah ambruk itu lantas berlari-lari kian kemari beberapa kali hingga semua orang yang terkurung di bawah seluruhnya terinjak.

Dari bawah kemah Kim-Iun Hoat-ong melontarkan sebuah pukulan yang tepat mengenai telapak kaki Ciu Pek-thong, karena tidak tersangka-sangka, Ciu Pek-thong terpental dan berjumpalitan di udara sambil berteriak:

“Ha-ha, menarik, menarik!” Lalu pergilah dia tanpa pamit!

Waktu Kim-Iun Hoat-ong dan lainnya merangkak keluar sambil melindungi Kubilai, para pangawal juga cepat-cepat memasang kemah baru, sementara itu Ciu Pek-thong sudah menghilang.

Hoat-ong dan lainnya minta maaf kepada Kubilai atas kelalaian mereka yang kurang cermat mengawal sang pangeran. Namun Kubilai cukup bijaksana, sedikit pun dia tidak menyalahkan mereka, hanya berulang dia memuji kelihayan Ciu Pek-thong, dan menyesal karena tidak dapat menarik orang kosen begini ke pihaknya. Dengan sendirinya Kim-lun Hoat-ong dan lainnya merasa iri dan malu.

Perjamuan pun diperbarui, kemudian Kubilai berkata: “Sudah sekian kali pasukan Mongol menggempur Siang-yang, tetapi tidak berhasil. Kabarnya para pahlawan Tionggoan sama berkumpul dan bertahan di sana, sekarang Ciu Pek-thong ini pun pergi ke sana pula untuk membantu, sungguh sulit urusan ini, entah kalian mempunyai akal bagus tidak?”

Nimo Singh berwatak berangasan, segera ia mendahului buka suara: “Meski ilmu silat tua bangka she Ciu itu amat tinggi, tapi kepandaian kita juga tidak rendah. Harap saja Ongya melancarkan serangan sekuatnya, biarlah kita menghadapi mereka, prajurit lawan prajurit, panglima lawan panglima, biar pun di Tionggoan banyak pahlawan, tapi benua barat juga banyak jagoan.”

“Meski betul juga ucapanmu, tetapi segala sesuatu harus ditimbang secara masak,” kata Kubilai. “untuk memenangkan suatu pertempuran kita harus dapat menilai kekuatan lawan dan kekuatan sendiri.”

Bicara sampai di sini, tiba-tiba di luar kemah ada orang berteriak: “Sudah kukatakan aku tidak mau pergi, mengapa kalian terus memaksa saja, sekali kubilang tidak mau ya tetap tidak mau.”

Dari suaranya itu jelas Ciu Pek-thong. Entah mengapa sudah pergi dia datang lagi dan bicara dengan siapa? Tentu saja semua orang tertarik dan ingin berlari keluar kemah untuk melihat apa yang terjadi, tapi sebelum Kubilai memberi tanda, tiada seorang pun yang berani meninggalkan tempat duduknya. Rupanya Kubilai tahu pikiran mereka, katanya dengan tertawa:

“Marilah kita melihat, entah sedang bertengkar dengan siapa si orang tua nakal itu?”

Sesudah mereka keluar kemah, tampaklah Ciu Pek-thong berdiri jauh di tanah lapang sebelah barat sana. Tampak pula empat orang lainnya yang berdiri mengelilinginya dalam posisi mengepung, hanya sebelah timur saja yang terluang. Sambil mengepal dan ngotot, berulang Ciu Pek-thong menyatakan:

“Tidak mau! Tidak mau!”

Yo Ko menjadi heran. Kalau saja orang tua nakal itu bilang tak mau pergi, siapa lagi yang mampu memaksanya dan perlu ribut mulut begitu? Waktu mengawasi keempat orang itu, ternyata semuanya berseragam jubah hijau model kuno, jelas bukan pakaian model jaman itu, tiga di antaranya lelaki memakai kopiah besar, seorang lagi perempuan muda.

Keempat orang bersikap tenang dan ramah. Terdengar lelaki yang berdiri di sebelah utara berkata:

“Kami tak ingin membikin susah, soalnya engkau telah mengobrak-abrik tempat kami, menjungkirkan tungku, mematahkan lengci (sejenis rumput obat), merusak kitab pusaka dan tindakan lainnya yang merusak. Kalau engkau tidak menjelaskan sendiri duduknya perkara kepada guru kami, apa bila sampai diketahui guru, sungguh kami tidak berani menanggung hukuman yang akan dijatuhkan beliau.”

“Kau bisa mengatakan bahwa semua itu adalah perbuatan orang hutan yang kebetulan menerobos ke situ, kan segala urusan menjadi beres?” ujar Ciu Pek-thong sambil tertawa seperti anak kecil.

“Jadi tuan sudah pasti tak mau ikut pergi?” tanya lelaki kekar tadi.

Ciu Pek-thong hanya menggeleng kepala saja. Mendadak lelaki itu menuding ke belakang Ciu Pek-thong dan berseru:

“He, siapa itu?”

Begitu Ciu Pek-thong menoleh, cepat lelaki itu memberi tanda kepada kawan-kawannya, serentak keempat orang membentangkan sebuah jaring hijau yang terus menutup ke atas kepala Ciu Pek-thong. Gerakan keempat orang itu sudah terlatih, caranya aneh pula, biar pun ilmu silat Ciu Pek-thong maha sakti, sekali terkurung oleh jaring ikan, seketika ia menjadi kelabakan dan tak berdaya! Dengan cepat keempat orang itu lantas meringkus tubuh Ciu Pek-thong dengan tali jaring. Setelah kencang, dua lelaki itu lalu memanggulnya, perempuan muda dan lelaki satunya lagi mengawal dari samping, mereka terus berlari.

Kejadian ini sungguh aneh dan langkah empat orang itu secepat terbang. Gaya Ginkang mereka ternyata belum pernah dikenal. Segera Yo Ko memburu dan berseru:

“He, kalian hendak membawanya ke mana?!”

Akan tetapi keempat orang itu tak menggubrisnya, melainkan tetap saja berlari ke depan. Karena tertarik Yo Ko terus mengejar. Hoat-ong dan lainnya juga menyusuI. Beberapa li kemudian, sampailah di tepi sebuah sungai, tampak Ciu Pek-thong digotong ke atas sebuah perahu terus didayung pergi.

Cepat Yo Ko dan lainnya mencari perahu lantas memburu dengan kencang. Arus sungai itu ternyata ber-liku, setelah memutar beberapa tikungan, mendadak kehilangan jejak perahu tadi.

Nimo Singh melompat ke atas tebing, seperti kera gesitnya dia merangkak ke atas, dari situ ia memandang sekelilingnya. Perahu kecil yang ditumpangi keempat orang berseragam hijau tadi sedang menyusuri sebuah sungai yang sangat sempit, sungai kecil itu merupakan cabang sungai tadi, ujung sungai kecil yang bertemu dengan muara sungai besaran itu tertutup oleh semak pohon yang lebat, kalau tidak dipandang dari ketinggian siapa pun tak akan mengetahui di balik lembah pegunungan itu ternyata masih ada ‘dunia’ lain.

Lekas Nimo Singh melompat turun, dengan perlahan ia tancapkan kakinya di atas perahu, perahu kecil itu hanya bergoyang sedikit saja tanpa menimbulkan guncangan yang berarti. Hoat-ong dan lain sama berseru memuji melihat Ginkang-nya yang bagus itu. Nimo Singh lantas menunjukkan arahnya, dan cepat perahu itu didayung balik, kemudian menerobos semak pohon lebat itu.

Perahu terus meluncur dengan cepatnya, tampak tebing gunung menjulang tinggi di kedua pinggir sungai yang sempit itu sehingga langit kelihatan seperti satu garis saja. Setelah beberapa li lagi, bagian depan di tengah sungai itu teralang oleh sembilan potong batu besar yang menonjol pada permukaan sungai sehingga perahu tidak dapat melintasi.

“Wah, celaka! Perahu ini tak dapat digunakan lagi!” seru Be Kong-co.

“Tubuhmu segede kerbau, boleh kau angkat perahu ini ke sebelah sana,” kata Siau-siang-cu dengan suara melengking.

“Mana aku kuat, kecuali kau?” jawab Be Kong-co dengan gusar.

Memang Kim-lun Hoat-ong sedang ragu cara bagaimana melintasi rintangan kesembilan batu karang itu. Begitu mendengar pertengkaran Be Kong-co dan Siau-siang-cu, tiba-tiba pikirannya tergerak. Kalau hanya mengandalkan tenaga satu orang tentu siapa pun tidak mampu mengangkat, tapi bila enam orang bergotong royong, kan segala persoalan menjadi mudah dipecahkan? Karena itu ia lantas berkata:

“He, bagaimana kalau kita berenam lakukan bersama saja? Adik Yo, In-heng dan diriku di sisi sini, sedangkan saudara Nimo, Siau-heng dan Be-heng di sisi sana.”

Serentak semua orang bersorak setuju lantas menuruti petunjuk Kim-lun Hoat-ong, enam orang terbagi dan berdiri dua sisi. Karena sungai itu sangat sempit, dengan berdiri di sisi tepian tangan mereka masih dapat meraih pinggir perahu. Begitulah ketika Kim-lun Hoat-ong memberi komando, serentak enam orang mengerahkan tenaga, kontan perahu terangkat melintasi sepotong batu karang yang menghalang.

Tukang perahu yang duduk di atas perahu belum lagi menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu terasa seperti terbang di udara, saking kagetnya ia menjerit kuatir. Di tengah jerit kaget dan tertawa senang, berturut perahu itu telah melintasi sembilan batu penghalang, kemudian semua orang melompat kembali ke atas perahu sambil tertawa gembira, lalu tukang perahu yang masih melongo itu diperintahkan lekas mendayung lagi.

Sebenarnya keenam orang itu saling curiga mencurigai dan suka bertengkar, tapi setelah mendalami kerja sama ini, tanpa terasa mereka menjadi semakin akrab dan mulai pasang omong. Kata Siau-siang-cu:

“Betapa pun kepandaian kita berenam ini boleh dikatakan terhitung jago kelas satu di dunia persilatan, dengan tenaga gabungan kita memang tak sulit untuk mengangkat perahu ini, akan tetapi mereka...”

“Ya, betul, mereka hanya empat orang, masa mereka pun mampu mengangkat perahu dan melintasi sembilan batu karang tadi?” tukas Ni-mo Singh.

Teringat hal itu, mereka merasa heran. Tidak lama, berkatalah In Kik-si: “Perahu mereka memang lebih kecil, tapi jumlah mereka juga lebih sedikit dari pada kita. Kalau mereka berempat mampu mengangkat perahu, maka kepandaian mereka pun harus dipuji.”

“Nona cantik muda belia, apa pun juga pasti tidak mempunyai kemampuan sebesar itu,” kata Nimo Singh.

“Kukira mereka pasti mempunyai cara lain yang tak dapat kita pecahkan.” Kim-Iun Hoat-ong tersenyum sambil berkata: “Manusia tidak boleh dinilai dari lahiriahnya. Misalnya saudara Yo kita ini, meski usianya masih muda, tapi memiliki ilmu maha tinggi, jika kita tidak menyaksikan sendiri, siapa yang mau percaya?”

“Ah, sedikit kepandaianku ini apa artinya?” ujar Yo Ko dengan rendah hati. “Tapi keempat orang berseragam hijau itu sanggup meringkus Ciu Pek-thong yang maha sakti, tentu mereka pun mempunyai kepandaian sejati”

Kini lagak lagu Yo Ko telah sejajar dengan Siau-siang-cu dan lainnya, sebab semua orang telah menyaksikan cara dia menyambut sambaran piring yang disambitkan Ciu Pek-thong tadi, maka tiada seorang pun yang berani lagi meremehkan.

Di antara keenam orang usia Yo Ko paling muda, sedangkan Kim-lun Hoat-ong, Be Kong-co dan Nimo Singh bertiga baru sekarang menginjak daerah Tionggoan, Siau-siang-cu juga lebih sering tirakat di pegunungan sunyi dan jarang bergaul dengan khalayak ramai, hanya In Kik-si seorang yang sangat paham terhadap kejadian di dunia persilatan daerah Tionggoan dengan aneka macam aliran serta tokohnya. Akan tetapi bagaimana asal usul keempat orang berbaju hijau tadi ternyata tak diketahuinya.

Selagi mereka berbincang tentang keanehan orang berbaju hijau itu, sementara perahu telah tiba di ujung sungai, jalan menjadi buntu, terpaksa mereka menyuruh tukang perahu tinggal. Mereka berenam lantas melompat ke pinggir sungai, dengan mengikuti sebuah jalanan kecil mereka terus menyusuri lembah gunung yang rindang itu.

Untungnya jalan kecil hanya ada satu sehingga mereka tak sampai salah arah, namun jalanan itu makin lama makin meninggi dan makin terjal, akhirnya sukar dibedakan lagi mana jalan di antara batu padas yang berserakan itu.

Kim-lun Hoat-ong dan lainnya mempunyai tenaga dalam tinggi, dengan sendirinya mereka tidak sulit menempuh jalan pegunungan yang curam itu. Hanya Be Kong-co seorang saja, karena Ginkang-nya tak setinggi kelima orang kawannya, maka ia sudah mulai terengah-engah. Kalau saja dia tidak ditarik Yo Ko, In Kik-si dan Kim-lun Hoat-ong, beberapa kali ia hampir terjerumus ke dalam jurang. Baru sekarang Be Kong-co merasakan kelemahannya sendiri, meski pun memiliki tenaga sebesar kerbau, tetapi bicara tentang tenaga dalam jelas masih selisih jauh dengan orang lain. Meski dia seorang kasar, tapi diam-diam ia pun tahu diri dan malu hati.

Sementara itu hari sudah mulai gelap, tapi jejak keempat orang berbaju hijau masih belum diketemukan. Selagi mereka merasa gelisah, di kejauhan tampak beberapa gunduk api unggun yang menyala, mereka girang bahwa di lembah pegunungan itu ada cahaya api, dengan sendirinya di sana ada penduduk. Kecuali beberapa orang berbaju hijau tadi, orang biasa tentu tak dapat bertempat tinggal di tempat yang securam ini. Begitulah mereka lantas berlari lebih cepat ke sana, dalam sekejap saja Be Kong-co telah tertinggal jauh di belakang.

Kecuali Yo Ko, empat orang lainnya telah banyak pengalaman. Meski berlari secepatnya, namun mereka pun menyadari sedang berada di daerah berbahaya, maka mereka semua was-was terhadap segala kemungkinan. Meski begitu mereka pun makin tabah mengingat kini datang berenam. Dengan gabungan tenaga mereka berenam, rasanya tidak perlu gentar terhadap siapa pun juga.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di tanah lapang di puncak gunung, terlihat empat gundukan api yang sangat besar sedang berkobar dengan hebatnya. Waktu mereka mendekati, tampaklah dengan jelas bahwa gundukan api besar itu masing-masing mengitari sebuah rumah batu kecil di tengah, di pinggir rumah batu tertimbun kayu bakar yang berkobar. Entah barang apa yang ada di rumah batu itu yang sedang dibakar.

Nimo Singh datang dari negeri Thian-tiok, dia mahir ilmu Yoga dan tidak takut pada api. Segera ia melompat maju dan mendekati rumah batu di ujung timur sana, ia mendorong pintunya dan terpentanglah seketika. Tampak rumah kosong melompong tiada isinya, hanya di lantai duduk seorang laki-laki baju hijau, kedua tangannya tersingkap di depan dada sebagai penganut agama Budha, tubuhnya kelihatan menggigil, air mukanya tampak meringis menahan derita.

Heran sekali Nimo Singh, ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang itu! Apakah sedang berlatih semacam Iwekang? Tetapi tampaknya bukan! Sesudah mengamat-amati lebih jelas, kiranya kaki dan tangan orang itu terikat oleh rantai besi dan terikat pula pada tiang di belakangnya. Ia coba memeriksa lagi rumah batu yang kedua dan ketiga, keadaannya ternyata serupa dengan rumah pertama. Rumah keempat rada berbeda, sebab yang terikat di situ adalah seorang gadis berbaju hijau, jelas keempat orang ini adalah orang yang menangkap Ciu Pek-thong. Cuma si tua nakal itulah yang tak kelihatan bayangannya.

Yo Ko dan lain-lain turut memandang ke dalam rumah dan semuanya ikut heran dan terkesiap. Kelihatan api semakin berkobar dan pasti luar biasa panasnya, keempat orang itu menjadi seperti dipanggang hidup-hidup. Tindak-tanduk Yo Ko biasanya memang tidak suka memikirkan bagaimana akibatnya, selain itu ia justru dilahirkan dengan perasaan yang suka kepada keindahan dan dengan sendirinya suka kepada perempuan cantik. Ia pikir ketiga lelaki itu tidak menjadi soal biar pun mampus terpanggang, tapi nona jelita ini kan harus dikasihani.

Segera dia mengambil sepotong ranting pohon lalu dipakai untuk memadamkan api yang berkobar di tepi rumah batu yang didiami si nona. Tidak lama Be Kong-co juga menyusul tiba, tanpa bertanya ia pun segera membedol sebatang pohon kecil dan membantu Yo Ko memadamkan api sehingga tidak lama kemudian api dapat diatasinya.

Yo Ko bermaksud memadamkan api pada rumah yang lain, namun tiba-tiba si nona baju hijau berkata:

“Tuan tamu harap berhenti agar tidak menambah dosa kami.”

Selagi Yo Ko merasa bingung dan hendak bertanya apa artinya, tiba-tiba dari balik rumah muncul seorang yang segera berseru:

“Kokcu (pemilik lembah) ada perintah, karena ada tamu maka hukuman sementara ditunda, keempat murid diperintahkan supaya melayani tamu sebaiknya.”

Nona baju hijau itu mengiakan dan menyatakan terima kasih. Orang yang bicara tadi lalu melompat masuk rumah batu, dia mengeluarkan sebuah kunci yang sangat besar untuk membuka gembok pada rantai si nona. Begitulah berturut-turut keempat orang itu sudah dibebaskan, kemudian dia terus berlari pergi tetapi sempat memandang sekejap kepada Yo Ko dan Iain-lain.

Keempat orang yang terantai di dalam rumah batu tadi lantas keluar semua dan memberi hormat. Seorang di antaranya lalu berkata:

“Maafkan jika tadi kami tak dapat menyambut kedatangan tuan sekalian.” Kemudian dia menuding tanah lapang di sebelah timur sana dan menyambung: “Silakan duduk saja di sana, rumah terlalu panas terbakar, sukar untuk menerima tamu.”

Kim-lun Hoat-ong mengangguk tanda setuju. Baru saja mau melangkah ke sana, tiba-tiba Nimo Singh berkata:

“Semakin panas semakin menyenangkan.”

Setelah itu dengan lagak tidak takut mati dia terus melangkah masuk ke dalam rumah batu yang terletak di tengah dan masih dikelilingi oleh api yang berkobar itu. Semua orang melengak dan tahu kakek keling cebol itu sengaja pamer kepandaian, Siau-siang-cu mendengus satu kali, segera ia pun menyusul ke dalam rumah.

“Wah, jangan sampai orang Persi berubah jadi daging panggang,” ujar In Kik-si dengan tertawa, walau pun begitu katanya, tanpa ragu ia pun ikut masuk ke dalam rumah.

Kim-lun Hoat-ong paling tenang dan pendiam, tanpa bicara ia pun masuk ke situ. Tentu saja Be Kong-co juga tak mau ketinggalan, tapi baru sampai di ambang pintu, sekonyong-konyong hawa panas terasa membakar. Ia berseru:

“Ahh, lebih baik aku cari angin saja di bawah pohon sana.” Kemudian ia terus berlari ke bawah pohon dan duduk istirahat.

Kini tertinggal Yo Ko saja. Baru saja dia mau masuk, mendadak si nona baju hijau berkata:

“Apa bila tuan tamu takut panas, bagaimana kalau silakan duduk istirahat di sana bersama tuan itu?”

Rupanya dia merasa berterima kasih atas bantuan Yo Ko tadi yang sudah memadamkan api, lagi pula melihat usianya masih muda, ia pikir Yo Ko pasti tak akan mampu menahan hawa panas di dalam rumah yang mirip dipanggang itu.

LEMBAH PUTUS CINTA

Tak terduga Yo Ko tetap melangkah ke sana. Dia berpaling dengan tertawa dan berkata:

“Biarlah aku duduk sebentar di dalam, kalau tidak tahan aku akan keluar.”

Sesudah berada di dalam rumah, dia duduk di sebelah Kim-lun Hoat-ong. Keempat lelaki-perempuan berseragam hijau itu pun ikut masuk kemudian duduk di sisi Iain sebagai tuan rumah. Seorang di antaranya lantas bertanya:

“Maaf, sekiranya kami boleh mengetahui nama tuan-tuan yang terhormat?”

ln Kik-si paling lancar main mulut, maka sambil tersenyum ia memperkenalkan lima orang kawannya, dan akhirnya dia berkata:

“Cayhe sendiri bernama In Kik-si, berasal dari Persi, kepandaianku selain makan nasi adalah cari duit, berbeda dengan beberapa kawanku ini, mereka memiliki ilmu sakti yang sukar kuterangkan.”

“Tempat kami ini bernama Cui-sian-kok, biasanya jarang dikunjungi orang luar,” kata orang tadi. “Maka kami merasa beruntung dapat kunjungan tuan-tuan sekarang. Entah tuan-tuan ada keperluan apa, sudilah kiranya memberi-tahu?”

“Kami lihat kalian meringkus Lo-wan-tong Ciu Pek-thong dan dibawa ke sini, karena rasa ingin tahu maka kami ikut ke sini. Tanpa terduga kami dapat menyaksikan peristiwa aneh di sini,” jawab In Kik-si.

Selama tanya jawab kedua orang itu, suhu panas di dalam rumah bertambah hebat. Nimo Singh dan Siau-siang-cu sudah duduk bersila begitu mereka masuk ke dalam rumah, satu patah kata pun mereka tidak buka suara, soalnya lwekang yang mereka latih di kala mengerahkan tenaga sekali-kali tidak boleh membuka mulut.

Sementara itu, akhirnya napas In Kik-si sendiri pun terengah-engah, suara pun terputus-putus. Rupanya Iwekang empat orang baju hijau itu berbeda dengan Iwekang orang lain, juga sudah biasa melawan hawa panas, meski pun kepandaian mereka terbatas, tetapi masih dapat bertahan. Maka orang pertama tadi berkata lagi:

“Jadi orang tua yang mengacau itu she Ciu? Pantas dia berjuluk Lo-wan-tong, nyatanya sudah tua masih nakal seperti anak kecil.”

“Apakah kalian juga sehaluan dengan si tua nakal itu?” tanya orang baju hijau kedua.

In Kik-si menjawab: “Kami... kami ti... tidak...”

Melihat kawannya sudah megap-megap dan tidak sanggup melanjutkan ucapannya, cepat Kim-lun Hoat-ong menyambung:

“Kami juga baru kenal dia tadi, jadi boleh dikatakan tiada hubungan apa pun.”

Meski pun perkataan Kim-Iun Hoat-ong dapat diucapkan dengan lancar, tapi sebenarnya cukup makan tenaga, Diam-diam ia mendongkol terhadap Nimo Singh yang semenjak tadi duduk diam saja, padahal semua ini gara-gara Nimo Singh yang sok aksi dan mendahului masuk rumah, kalau tidak, tentu mereka tidak perlu tersiksa seperti ini. Sekarang Nimo Singh duduk terpekur tanpa menggubris orang lain, jika sebentar para teman tak sanggup membuka mulut, bukankah akan ditertawai pihak lawan? Karena rasa gemas, tanpa terasa Kim-lun Hoat-ong melotot kepada Nimo Singh, tetapi orang keling itu tetap pejamkan mata dan bersemadi tanpa ambil pusing.

Ternyata hanya Yo Ko saja yang dapat duduk dengan tenang. Ia pernah tidur selama beberapa tahun di atas dipan kumala dingin yang terdapat di kuburan kuno, meski pun dalam keadaan tidur nyenyak tubuhnya otomatis telah biasa mengatur suhu yang berubah setiap waktu, maka untuk melawan hawa panas sekarang ini, sedikit pun dia tak merasa sulit.

Begitulah orang baju hijau pertama tadi membuka suara lagi: “Lo-wan-tong itu telah menyusup ke Cui-sian-kok kami ini dan membikin kacau...”

“Membikin kacau bagaimana? Apakah benar dia sudah membakar rumah, merobek kitab dan sebagainya seperti tuduhan kalian?” tukas Yo Ko.

Semua orang menjadi ter-heran ketika melihat Yo Ko masih sanggup membuka suara dengan lancar, sedikit pun tak ada ubahnya seperti biasa, padahal pemuda ini juga sudah duduk sekian lamanya di dalam rumah batu yang panas ini. Karena itu semua orang memandang padanya, kecuali Nimo Singh yang masih tetap memejamkan mata dan tidak pusing terhadap kejadian di sekitarnya.

Terdengar orang baju hijau tadi menjawab: “Memang begitulah halnya. Waktu itu aku diperintahkan guru menunggui anglo yang menggembleng obat. Entah cara bagaimana tua bangka itu tiba-tiba bisa menerobos masuk ke situ lalu mengajak ngobrol padaku ke timur dan ke barat, dia mengajak main teka teki segala dan menantang taruhan padaku, sungguh sinting dia. Padahal aku sedang sibuk menunggui anglo yang sedang menyala, maka aku tak sempat mengusir dia, terpaksa kuanggap tidak mendengar ocehannya. Tak terduga mendadak dia mengayun kakinya, anglo yang kutunggu sudah ditendangnya hingga terguling.”

“Dan dia malah menyalahkan kau karena kau tidak menggubris dia, betul tidak?” kata Yo Ko dengan tertawa.

“Benar, memang begitulah,” kata si nona baju hijau tadi.

“Waktu kudengar suara ribut-ribut, aku tahu telah terjadi keonaran. Baru saja aku hendak meninggalkan kamar penyimpan Leng-ci-cau yang kutunggui, mendadak kakek aneh itu telah menerobos tiba, sekali pegang kontan sebatang Leng-ci-cau yang telah berumur lebih 400 tahun dia bedol dan dipatahkan menjadi dua.”

“Wah, Lo-wan-tong itu sungguh terlalu, sebatang Leng-ci-cau yang sudah hidup lebih 400 tahun tentulah merupakan benda mestika yang perlu disayang,” ujar Yo Ko sambil geleng kepala dengan tertawa.

“Padahal ayahku telah merencanakan, Leng-ci-cau ini hendak dimakan bersama ibu tiriku pada hari pernikahan mereka nanti, siapa tahu tua nakal membikin kacau semuanya itu, maka tak perlu dijelaskan lagi apa bila ayahku menjadi murka!” kata si nona baju hijau.

“Apakah kami boleh mengetahui nama ayahmu yang terhormat?” tanya Yo Ko, “Tanpa sengaja kami menyusup ke sini, tetapi nama tuan rumah sampai saat ini belum diketahui, sungguh terasa kurang sopan.”

Nona baju hijau itu tampak sangsi untuk menjawab, maka seorang lelaki baju hijau yang lain lantas berkata:

“Sebelum diijinkan oleh Kokcu, maafkan jika kami tak dapat memberi keterangan.”

Yo Ko pikir mereka ini tentulah orang-orang kosen yang hidup di dunianya sendiri, maka tidaklah mengherankan kalau mereka tidak mau menjelaskan asal usul mereka. Maka dia lantas bertanya lagi:

“Dan kemudian bagaimana dengan Lo-wan-tong?”

Pada saat itulah terlihat In Kik-si berbangkit lalu melangkah cepat ke luar rumah dengan sempoyongan. Rupanya orang Persi itu sudah tidak tahan lagi hawa panas. Maka orang baju hijau ketiga turut bicara:

“Orang tua she Ciu itu tidak mau kepalang tanggung, dia menerobos lagi ke kamar tulis guru kami lantas merobek beberapa buah kitab pusaka. Sementara itu kedua suheng-ku dan Sumoay ini telah memburu tiba, tapi kami berempat akhirnya tetap tak dapat merintangi dia...”

Belum habis ucapannya, mendadak terlihat tubuh Siau-siang-cu melayang keluar rumah. Ia tidak berdiri, melainkan masih tetap duduk bersila. Gerakan tubuhnya yang gesit tanpa berdiri itu sungguh luar biasa.

Yo Ko tersenyum, lalu berkata lagi: “Watak Lo-wan-tong itu sungguh teramat aneh, ilmu silatnya juga sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, pantas kalau kalian tidak dapat menghalangi dia.”

“Bahkan dia belum selesai, dia lalu masuk lagi ke kamar senjata,” tutur orang kedua, “tapi lantaran di situ cuma senjata melulu, dia terus menyalakan api sehingga lukisan dan seni tulisan yang bergantung di dinding semuanya terbakar. Kami lalu sibuk memadamkan api, dan peluang itu telah digunakan olehnya untuk kabur.”

“O, makanya kemudian kalian mengejar dan berhasil menawannya,” kata Yo Ko.

Mendadak Kim-lun Hoat-ong juga bangkit sambil menggeliatkan pinggang yang pegal, katanya dengan tertawa:

“Adik cilik, aku pun merasa tidak tahan lagi, aku perlu cari angin keluar saja, Kau pun jangan memaksakan diri, racun api ini tidak boleh dibuat permainan.” Habis berkata ia terus melangkah keluar dengan tenang.

Si nona baju hijau berkata kepada Yo Ko: “Hampir semua tamu telah keluar, sebenarnya kami berempat juga tidak tahan lagi, bagaimana kalau kita bicara di bawah pohon di luar sana?”

Yo Ko tersenyum dan mengiakan, lalu dia berdiri dan berkata kepada Nimo Singh: “Hei, saudara tua, kau mau keluar tidak?”

Siapa duga Nimo Singh masih tetap memejamkan mata dan diam saja. Pada saat Yo Ko mendorong perlahan pundaknya, kontan Nimo Singh roboh di lantai. Yo Ko terkejut, cepat dia membangunkannya.

“Rupanya dia pingsan karena hawa yang teramat panas ini, setelah mendapat angin silir di luar tentu akan siuman kembali,” ujar si lelaki baju hijau pertama tadi.

Diam-diam Yo Ko merasa geli terhadap kemampuan orang keling tua yang sok aksi itu. Segera ia jinjing tubuh Nimo Singh yang kurus kecil itu lalu dibawa keluar. Begitulah semua orang lantas duduk mengitar di bawah pohon, keempat orang baju hijau itu tiada hentinya memuji kehebatan Iwekang si Yo Ko.

“Kami berempat harus bicara secara bergiliran, sesudah buka mulut harus mengerahkan tenaga untuk melawan suhu panas dan pembicaraan disambung oleh yang lain, tapi tuan Yo ini bisa sekaligus melayani pembicaraan kami berempat tanpa berhenti, sungguh amat mengagumkan tenaga dalamnya yang Iihay,” demikian kata orang pertama tadi.

Tiba-tiba orang kedua menyambung: “Ehh, Su-ko, aliran Iwekang tuan Yo ini tampaknya sangat mirip dengan ibu guru kita yang baru itu?”

Hati Yo Ko tergerak, tanpa pikir ia tanya: “Siapakah ibu guru kalian?” Tapi segera ia menyadari ketidak sopanan pertanyaannya ketika keempat orang baju hijau itu saling pandang dengan air muka yang aneh tanpa menjawab.

In Kik-si tahu Yo Ko merasa kikuk dan pokok pembicaraan mereka perlu dialihkan, maka cepat ia menimbrung:

“Sesungguhnya sebab apakah Lo-wan-tong itu mengamuk, padahal tabiatnva tidaklah jelek meski kelakuannya memang nakal.”

“Dia bilang usia ayahku sudah sebanyak itu, tapi masih ingin...” belum si nona baju hijau habis berbicara, mendadak kawannya yang pertama tadi menyambung: “Ah, Lo-wan-tong itu memang sinting, mana ucapannya dapat dipegang buntutnya. O, ya, kalian datang dari jauh, tentu sudah lapar, silakan dahar sekedarnya di sana.”

“Bagus! Bagus!” kontan Be Kong-co bersorak. Bicara soal makan, dia paling bernapsu.

Sementara itu pernapasan Nimo Singh belum lancar kembali, maka Be Kong-co terus angkat tubuh sang kawan yang kecil itu lantas dikempit terus mendahului menuju ke arah yang ditunjuk lelaki baju hijau tadi. Tempat bersantap juga sebuah rumah batu yang sederhana, alat perabotnya tak banyak tetapi sangat luas.

Keempat orang baju hijau tadi masuk dapur untuk menyiapkan daharan. Tak lama kemudian perjamuan dimulai, meja penuh dengan sayur mentah dan buah-buahan belaka, tiada makanan dari daging atau ikan dan juga tiada satu pun yang dimasak. Makan tanpa ikan daging bagi Be Kong-co jelas tidak menarik, maka dia menjadi kecewa saat melihat meja itu tiada sesuatu daharan enak selain sayur mentah dan buah-buahan.

“Di sini selamanya tidak kenal makanan berjiwa dan tidak pakai asap api, maka diharap tuan-tuan suka maklum,” kata orang pertama tadi.

“Masakah tidak pakai api segala? Tadi kalian kan membakar rumah dengan api?” ujar Be Kong-co.

“Itu adalah cara hukuman Kokcu,” kata orang kedua.

Lalu lelaki baju hijau ketiga menyambung: “Silakan dahar!” Lalu dia ambilkan sebuah botol dan menuangkan setiap orang satu mangkoK air jernih.

Be Kong-co mengira disuguh arak, ia tidak makan daging juga tak jadi soal asalkan dapat minum arak. Tanpa pikir ia terus angkat mangkoknya dan ditenggak, tetapi rasanya tawar, baru sekarang ia tahu isi mangkok itu adalah air. Dasar wataknya memang kasar, segera ia berteriak:

“He, majikan kalian ini benar-benar kikir, masakah arak saja tidak disuguhkan kepada tamu?”

“Di lembah ini dilarang minum arak, peraturan sudah turun temurun selama beratus tahun, harap tuan tamu suka memaafkan,” kata orang pertama tadi.

Si nona baju hijau juga berkata: “Hanya di dalam kitab saja kami pernah membaca tulisan arak, tapi bagaimana rasa arak sebenarnya, selama hidup tak pernah kami lihat, Menurut tulisan dalam kitab, katanya arak dapat mengacaukan pikiran sehat, tentunya juga bukan barang baik.”

Yo Ko dan lainnya adalah orang yang telah biasa hidup bebas di dunia kangouw. Mereka merasa kurang cocok dengan lagak lagu keempat orang itu, apa lagi sejak mulai bicara tadi belum pernah tampak air muka mereka mengunjuk senyum, walau pun juga tidak menjemukan, tetapi boleh dikatakan tidak menarik. Karena itu mereka hanya makan nasi saja.

Celakanya nasi itu pun mentah, yaitu beras yang digiling halus dan dicampur air, tentu saja rasa katulnya amat terasa sehingga biar pun sukar tetapi terpaksa ditelan saja sekedar tangsal perut. Tapi Be Kong-co yang bertubuh besar kekar, setiap kali makan sedikitnya delapan sampai sembilan mangkok besar, tentu saja dia tidak puas akan suguhan itu, sambil makan nasi beras mentah itu ia terus menggerundel tiada hentinya.

Aneh juga, keempat orang baju hijau itu ternyata tidak ambil pusing terhadap gerundelan Be Kong-co. Semula mereka masih minta maaf kepada tamunya, tetapi kemudian mereka pun tidak menanggapi apa pun, mereka anggap makan nasi mentah dan minum air tawar adalah kehidupan yang wajar.

Selesai bersantap Be Kong-co berkaok ingin pulang saja malam itu juga, tapi lima orang kawannya merasa tertarik oleh macam-macam keanehan di lembah gunung ini. Mereka semua ingin mencari tahu duduknya perkara, maka In Kik-si mencoba memberi pengertian kepada Be Kong-co, katanya:

“Be-heng, kita sudah datang di sini dan sepantasnya besok kita harus menemui Kokcu, mana boleh pulang begitu saja.”

“Tidak ada arak tidak daging, nasi pun tidak keruan, aku merasa tersiksa di sini!” seru Be Kong-co pula.

Mendadak Siau-siang-cu menarik muka dan berkata: “Semua orang bilang tinggal dulu di sini, kau sendiri rebut saja?”

Be Kong-co paling takut pada Siau-siang-cu karena potongannya yang mirip mayat hidup, karena itu ia tidak berani mengomel lagi. Malamnya mereka berenam lantas tidur di dalam rumah batu itu, lantai batu dingin sekali, jangankan kasur dan selimut, bahkan tikar dan sejenisnya juga tidak ada sama sekali.

“Ehh, Hwesio gede,” kata Nimo Singh kepada Kim-lun Hoat-ong, “engkau adalah otak kita berenam, sekarang coba katakan, menurut pendapatmu orang macam apakah Kokcu ini? Apakah orang baik atau busuk, besok kita harus bersikap ramah tamah atau labrak dia habis-habisan?”

“Seperti juga kalian, aku sendiri pun belum tahu bagaimana Kokcu mereka ini, jadi biarlah besok kita bertindak menurut keadaan saja,” jawab Kim-lun Hoat-ong tertawa.

Dengan suara perlahan In Kik-si berkata: “Kepandaian keempat orang ini sudah demikian bagus, dengan sendirinya sang Kokcu akan jauh lebih lihay lagi. Besok kita harus selalu waspada, sedikit lengah bisa jadi kita berenam akan terkubur di sini.”

Tapi Be Kong-co masih terus menggerundel tentang makanan tak enak dan sebagainya, sama sekali ia tidak menghiraukan peringatan In Kik-si yang suka berpikir itu.

Maka Yo Ko sengaja menakuti Be Kong-co, katanya: “Besok apa bila kau tidak bertindak hati-hati dan kena ditawan mereka, selamanya kau hanya akan merasakan air tawar dan sayur mentah belaka.”

Baru sekarang Be Kong-co terkejut sehingga cepat ia menjawab: “Baik, adik cilik, baiklah, aku akan menuruti kalian!”

Karena berada di tempat berbahaya, maka tidur mereka semalaman boleh dikatakan tidak nyenyak, hanya Be Kong-co saja yang dapat pulas, suara mendengkurnya begitu keras laksana Guntur.

Sesudah bangun pagi-pagi, Yo Ko keluar dan memandang sekelilingnya. Semalam karena hari sudah gelap, maka keadaan setempat belum terlihat jelas. Ternyata sekitar situ pepohonan menghijau permai dengan bunga mekar harum semerbak, sungguh suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah. Karena terpesona oleh pemandangan yang menarik, Yo Ko mengayunkan langkah ke depan. Tampaklah di tepi jalan bangau putih bergerombol dua-tiga, sekalian di sana sini menjangan putih berkelompok, tupai dan kelinci berlari kian kemari tanpa menghiraukan manusia yang berlalu di situ.

Setelah membelok ke sana, terlihat si nona baju hijau sedang memetik bunga di pinggir jalan. Melihat Yo Ko, nona itu lantas menyapa:

“Selamat pagi! Silakan sarapan!” Sembari bicara ia lantas memetik dua tangkai bunga dan disodorkan kepada Yo Ko.

Tanpa ragu Yo Ko menerima bunga itu, namun dia ragu apakah mesti makan bunga ini sebagai sarapan pagi? Melihat si nona mengeleteki kelopak bunga lalu dimakan, Yo Ko meniru dan makan juga beberapa sayap kelopak bunga. Dia merasa kelopak itu mengandung rasa manis yang sangat tipis, tapi setelah dikunyah lebih jauh, terasa pula rasa sepat dan pahit. Ia merasa tidak sopan kalau memuntahkan kembali kelopak bunga yang dimakannya, tapi untuk ditelan rasanya sukar pula masuk tenggorokan.

Ia coba mengamati pohon bunga itu, ternyata ranting daunnya penuh duri kecil, tapi warna kelopak bunga indah sekali, mirip bunga mawar tapi lebih harum, menyerupai melati tetapi lebih cantik, entah apa nama bunga yang aneh ini.

“Bunga apakah ini? Seumur hidupku belum pernah kulihat,” tanya Yo Ko.

“Namanya Bunga Cinta, memang jarang ada di dunia ini,” jawab si nona. “Rasanya enak tidak?”

“Semula terasa manis, tapi kemudian terasa pahit,” ujar Yo Ko sambil mengulur tangannya untuk memetik bunga lagi. Karena melihat ranting bunga itu berduri, maka dia memetik dengan sangat hati-hati.

Tak terduga, di balik kuntum bunga yang hendak dipetik itu tersembunyi juga duri yang kecil dan jarinya terluka meneteskan beberapa tetes darah segar. Sungguh aneh, batang pohon bunga itu mirip kapas saja, begitu darah menetes di dahan pohon, seketika darah segar itu terhisap lenyap tanpa bekas.

“Menurut cerita ayahku, bunga cinta ini paling suka dengan darah manusia,” tutur si nona baju hijau, “Dengan menghisap beberapa tetes darahmu, pasti bunganya akan mekar lebih indah dan harum. Lembah ini bernama ‘Lembah Patah Hati’, tetapi di sini justru tumbuh bunga cinta sebanyak ini, aneh bukan?”

Yo Ko merasa nama lembah itu amat aneh, katanya: “Mengapa bernama Lembah Patah Hati, nama ini sungguh luar biasa.”

Nona baju hijau itu menggeleng, jawabnya: “Aku pun tidak tahu apa maksudnya, nama ini sudah turun temurun, bisa jadi ayah mengetahui asal-usul nama ini.”

Sembari bicara mereka lantas berjalan berendeng ke depan. Hidung Yo Ko mengendus bau harum yang sedap, terlihat pula menjangan kecil yang berlari kian kemari di tepi jalan, sangat menarik, hatinya menjadi lapang dan semangat segar, terpikir olehnya tiba-tiba: “Alangkah bahagianya bila yang berjalan berendeng denganku adalah Kokoh, sungguh aku ingin tinggal selamanya di lembah sunyi ini.”

Baru berpikir sampai di sini, mendadak jari yang tertusuk duri bunga tadi terasa sakit nyeri sekali. Rasa sakit ini sangat aneh dan lihay, dada terasa seperti dipalu beberapa kali oleh orang, tanpa terasa dia menjerit tertahan dan cepat jari dimasukkan ke dalam mulut untuk dihisap.

“Terkenang kepada buah hatimu, bukan?” tanya si nona hambar.

Karena isi hatinya tepat dikatakan si nona, muka Yo Ko menjadi merah, jawabnya: “Aneh, dari mana kau tahu?”

“Bila anggota badan tertusuk oleh duri bunga cinta, selama tiga hari tiga malam tidak boleh timbul rasa rindu, kalau tidak tentu akan merasa sakit luar biasa,” tutur nona itu.

“Sungguh aneh, masakah di dunia ini terdapat hal yang begini aneh?” kata Yo Ko dengan heran.

“Kata ayahku, memang begitulah arti cinta, mula-mula terasa manis, tapi kemudian akan timbul rasa pahit dan getir, bahkan penuh duri, meski pun kau sudah berhati-hati juga tak terhindar akan terluka olehnya. Mungkin karena bunga ini memiliki beberapa segi khas ini, makanya orang memberi nama begini.”

“Dan mengapa selama tiga hari tiga malam tidak boleh timbul rasa rindu asmara?” tanya Yo Ko. Betapa pun dia masih muda belia, bicara mengenai ‘rindu asmara’, tanpa terasa mukanya merah.

Tapi nona baju hijau sama sekali tidak terpengaruh. Dengan muka tenang ia berkata lagi:

“Menurut ayah, duri bunga cinta ini beracun. Umumnya setiap orang yang tergerak cinta berahinya, bukan saja jalan darahnya akan mengalir lebih cepat, bahkan di dalam darah akan timbul suatu unsur yang entah apa namanya. Biasanya racun duri bunga cinta ini tidak membahayakan, tapi begitu bertemu dengan unsur itu dalam darah, seketika akan membuat orang kesakitan tidak kepalang.”

Yo Ko merasa cerita orang rada masuk di akal, tapi ia masih setengah ragu. Kedua orang itu terus melangkah ke dataran puncak yang terang benderang oleh sinar matahari pagi yang hangat, bunga cinta tampak mekar semarak, bahkan pohon bunga itu pun telah berbuah. Macam-macam warna buahnya, ada hijau, ada merah dan kombinasi merah dan hijau, malahan buahnya berbulu halus seperti bulu ulat.

“Aneh, bunga cinta itu sangat indah, mengapa buahnya begini jelek,” ujar Yo Ko.

“Buah bunga cinta ini tak dapat dimakan,” kata si nona, “rasa buahnya ada yang masam, ada yang pedas, malahan ada yang bau busuk dan memuakkan.”

“Masakah tiada yang manis bagaikan madu?” ujar Yo Ko tertawa.

Nona itu memandang sekejap padanya, lalu menjawab: “Ada sih memang ada, cuma sulit dibedakan dari kulit buahnya, ada yang rupanya buruk namun rasanya manis, tetapi yang rupanya bagus tidak selalu pasti manis.”

Yo Ko pikir meski apa yang dikatakan si nona itu mengenai bunga cinta, tapi sebenarnya mengandung filsafat tentang asmara lelaki dan perempuan. Apakah rasa cinta itu memang mula-mula manis dan akhirnya pahit getir? Apakah cinta kasih sepasang lelaki perempuan pasti akan berakhir dengan mimpi buruk dari pada mimpi indah? Apakah rasa rindu kepada Kokoh ini kelak juga akan...!

Begitu dia terkenang kepada Siao-liong-li, kontan jarinya terasa kesakitan lagi. Sekarang barulah ia percaya bahwa apa yang diceritakan si nona baju hijau memang bukan omong kosong belaka.

Melihat Yo Ko meringis lagi menahan sakit, si nona seperti mau tersenyum, tetapi segera ditahannya, sementara itu wajahnya yang tersorot oleh sinar matahari itu menambah cantiknya.

“Di jaman dahulu ada seorang raja sudah mengorbankan kerajaannya hanya karena ingin melihat senyuman manis seorang perempuan cantik. Itulah tanda betapa sulitnya melihat tawa perempuan cantik, sejak jaman kuno sampai jaman kini memang sama susahnya,” kata Yo Ko tertawa.

Dasar si nona memang masih muda dan polos, karena olok-olok Yo Ko itu, tak tertahan lagi akhirnya tertawa mengikik. Tadinya sikap si nona kelihatan dingin dan kaku, maka Yo Ko selalu merasa prihatin. Kini tawa si nona telah membuat jarak hubungan mereka menjadi lebih dekat.

“Aih, bicara tentang sukarnya melihat tawa perempuan hingga mengakibatkan musnahnya sebuah negara, padahal masih ada sesuatu pada diri perempuan cantik yang lebih sukar diperoleh dari pada tawanya,” kata Yo Ko pula.

Nona itu tampak terbeliak heran dan ingin tahu, cepat ia tanya.

“Apakah itu?”

“Nama si cantik,” ujar Yo Ko. “Bahwa bisa melihat wajah si cantik sebenarnya sudah beruntung, apa lagi dapat melihat tawanya, itu rejeki nomplok namanya, sedangkan jika ingin si cantik mengatakan sendiri namanya, untuk itu perlu rejeki nomplok ditambah perbuatan amal bakti turun temurun.”

Si nona tahu arti ucapan Yo Ko itu hendak menuju ke mana, maka sambil tertawa ia pun menjawab:

“Aku bukan perempuan cantik, di lembah ini belum pernah ada orang mengatakan aku ini cantik, rupanya engkau bercanda?”

Yo Ko menarik napas panjang, katanya: “Aih, pantas lembah ini bernama Lembah Patah Hati atau Lembah Tanpa Perasaan. Menurut pendapatku lembah ini perlu ganti nama.”

“Ganti nama apa?” tanya si nona.

“Lebih tepat pakai nama Lembah Orang Buta,” kata Yo Ko.

“Sebab apa?” si nona menegas.

“Kan mudah dimengerti.” kata Yo Ko. “Orang yang tidak tahu kecantikan seseorang kan namanya orang buta. Kau begini cantik, tapi mereka tidak pernah memuji kau, bukankah semua penghuni lembah ini adalah orang buta?”

Kembali si nona tertawa terkekeh, padahal wajahnya meski tergolong kelas atas, tapi bila dibandingkan Siao-liong-li jelas masih jauh sekali, dibandingkan kelembutan Thia Eng dan kegenitan Liok Bu-siang juga masih kalah. Cuma nona gunung ini lebih polos, sederhana, tak pernah makan barang berjiwa, dengan sendirinya ada sesuatu gaya yang istimewa pada dirinya.

BegituIah dengan sendirinya nona itu sekarang merasa senang karena dipuji cantik oleh Yo Ko. Dengan tertawa dia menjawab:

“Kau sendirilah yang buta, masa menganggap perempuan jelek sebagai orang cantik.“

Melihat tawa si nona yang menarik, tubuhnya yang semampai rada bergetar, tanpa terasa hati Yo Ko tergerak juga. Maklumlah, seorang pemuda berdiri di samping seorang gadis cantik dan melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang indah, adalah jamak apa bila timbul juga pikiran berahinya. Siapa duga karena goncangan perasaannya itu, tiba-tiba jarinya yang tertusuk bunga cinta kembali kesakitan lagi.

Melihat Yo Ko meringis kesakitan sambil memegangi jarinya, si nona rada kurang senang, omelnya:

“Aku sedang bicara dengan kau, tapi kau justru memikirkan kekasihmu.”

“Aih, sungguh mati, sakitnya jariku ini justru akibat aku memikirkan dirimu, tapi kau malah marah padaku,” kata Yo Ko.

Mendadak muka si nona merah jengah terus berlari cepat ke depan sana. Yo Ko menyesal sesudah ucapannya keluar, pikirnya: “Cintaku telah kucurahkan seluruhnya kepada Kokoh, tapi tabiatku yang sok bangor mengapa tidak dapat berubah? Aih, dasar!”

Maklumlah, pembawaan Yo Ko memang memiliki sebagian watak ayahnya yang ugal-ugalan dan suka kepada kaum wanita. Meski sesungguhnya tidak bermaksud jahat, tapi dia suka menggoda dan merayu setiap gadis cantik dengan beberapa patah kata, akibatnya sudah tentu pikiran si nona menjadi kacau.

Sesudah berlari tak jauh, mendadak nona tadi berhenti lalu termenung di depan sebatang pohon bunga cinta. Selang sejenak dia menoleh dan tertawa kepada Yo Ko, lalu berkata:

“Akan kuberi tahukan namaku, tapi kau tidak boleh katakan lagi kepada orang lain, lebih-lebih tidak boleh memanggil aku di depan orang lain.”

“Wah, banyak amat syaratnya, tapi baiklah, aku bersumpah.” ujar Yo Ko dengan sikapnya yang kocak.

Si nona tertawa pula, lalu berkata: “Ayahku she Kongsun...” ia tetap tak mau mengatakan namanya sendiri secara langsung, tapi sengaja berputar untuk menyebut namanya.

“Dan siapakah nama nona?” sela Yo Ko.

“Entahlah, boleh kau terka sendiri,” jawab si nona sambil tertawa geli, lalu melanjutkan: “Yang jelas ayahku memberikan nama kepada puteri tunggalnya yaitu Lik-oh.”

“Sungguh nama yang bagus, secantik orangnya,” puji Yo Ko.

Setelah memperkenalkan namanya. Kongsun Lik-oh menjadi lebih akrab terhadap Yo Ko, katanya:

“Sebentar ayah akan bertemu dengan kau, tapi jangan kau tertawa padaku.”

“Memangnya kenapa?” tanya Yo Ko.

“Apa bila ayah mengetahui aku pernah tertawa padamu, apa lagi mengetahui aku sudah memberi-tahukan namaku, wah, entah cara bagaimana dia akan menghukum diriku,” kata Kongsun Lik-oh.

“Masa ayahmu begitu bengis?” ujar Yo Ko. “Tadi malam kalian dihukum panggang di rumah batu itu, masa dia tidak sayang kepada puterinya yang begini cantik ini?”

Mata Kongsun Lik-oh menjadi merah basah. jawabnya: “Dulu ayah amat sayang padaku, tapi semenjak ibuku meninggal, ketika umurku baru sepuluh tahun, selanjutnya ayah lantas semakin bengis padaku. Apa lagi nanti kalau ayah sudah punya isteri baru, entah bagaimana nasibku ini kelak.” Habis berkata, tak tertahan lagi air matanya menetes.

KAKEK CEBOL BERJENGGOT PANJANG

Yo Ko berusaha menghiburnya: “Setelah menikah, ayahmu tentu gembira dan pasti akan perlakukan kau dengan lebih baik.”

Kongsun Lik-oh menggeleng, katanya: “Aku lebih suka ia lebih bengis padaku dari pada ia mengambil isteri baru lagi.”

Karena sejak kecil Yo Ko telah ditinggalkan ayah-bundanya, maka perasaan kekeluargaan demikian kurang dipahami olehnya. Ia hanya ingin membikin senang hati si nona, maka ia berkata:

“Ibumu yang baru tentu tiada setengahnya dari pada kecantikanmu.”

“Kau salah,” Lik-oh langsung menyanggah. “Justru ibuku yang baru itu seorang wanita cantik sejati, ilmu silatnya juga bagus. Kemarin ketika kami berhasil menangkap pulang Ciu Pek-thong, kalau saja ayah dan ibu baru tidak lagi bertanding silat dan tidak sempat memeriksanya, tentu si anak tua nakal tak bakalan bisa kabur.”

“Ilmu silat ayahmu dan ibumu yang baru itu siapa lebih tinggi?” tanya Yo Ko.

“Sudah tentu ayahku lebih tinggi, kalau tidak, masakah ibu baru mau menjadi isterinya?” jawab Lik-oh, “Besok lusa adalah hari perkawinan mereka, besar kemungkinan ayah akan mengundang kalian tinggal dua-tiga hari lagi di sini untuk menghadiri pesta nikahnya. Aih, aku sendiri lebih baik pergi sejauhnya saja.”

Setelah berbicara sekian lama, sementara itu sang surya sudah makin tinggi di ufuk timur, Lik-oh tersadar lantas berkata:

“Lekas kau kembali ke sana, jangan sampai kita dipergoki para suheng-ku kemudian dilaporkan kepada ayah.”

Serentak timbul rasa kasihan kepada keadaan si nona. Yo Ko genggam sebelah tangan nona itu dan tangan lain menepuk perlahan bahunya sebagai tanda simpatik, habis itu ia terus melangkah kembali ke rumah batu itu. Belum lagi dia memasuki pintu rumah terdengar suara teriakan Be Kong-co yang sedang mengomel karena makanan tidak enak dan merasa disiksa.

Terdengar In Kik-si berkata: “Be-heng, kalau kau membawa sesuatu barang yang berharga, kukira kau harus menyimpannya dengan baik, tampaknya Kokcu di sini tidak bermaksud baik.”

Be Kong-co tidak tahu In Kik-si sengaja menggodanya. Ia mengira apa yang dikatakan itu betul adanya, maka berulang mengiakan. Waktu Yo Ko masuk, tampak di atas meja batu tersedia beberapa piring kelopak bunga cinta, sudah tentu tiada seorang pun yang doyan makanan istimewa itu dan karenanya semua tampak bersungut.

Pada saat itu datanglah seorang berbaju hijau dan memberi-tahu bahwa sang Kokcu mengundang kehadiran Yo Ko berenam. Kim-lun Hoat-ong, Nimo Singh dan yang lainnya adalah tokoh terkemuka di dunia persilatan, di mana saja mereka selalu disambut sendiri oleh tuan rumah, bahkan pangeran yang berkuasa seperti Kubilai juga amat menghormati mereka, siapa duga sampai di lembah sunyi ini mereka justru diperlakukan dengan dingin oleh tuan rumahnya, tentu saja mereka sangat mendongkol.

Namun mereka pun penuhi undangan itu, hanya dalam hati mereka semua membatin: “Sebentar bila sudah bertemu biarlah Kokcu keparat itu disuruh merasakan kelihayanku.”

Begitulah mereka berenam terus ikut orang berbaju hijau itu menuju ke belakang gunung. Mendadak di depan sana terbentang hutan bambu yang luas, padahal biasanya di daerah utara jarang ada pohon bambu, apa lagi hutan bambu selebar ini. Mereka terus menyusuri hutan bambu, terendus bau harum bunga yang menyegarkan semangat. Setelah menembus hutan bambu terlihatlah alam luas membentang, sejauh mata memandang penuh Cui-sian-hoa (bunga dewi air).

Ternyata tanah di situ adalah empang yang dangkal, kedalaman air hanya sebatas betis saja dan penuh ditumbuhi bunga yang harum itu. Padahal Cui-sian-hoa itu adalah tumbuhan khas daerah selatan, entah kenapa bisa muncul di atas gunung daerah utara ini? Kim-lun Hoat-ong pikir tentu di puncak gunung ini adalah sebangsa sumber air panas, karena itu tanahnya menjadi subur dan hawa hangat, makanya bunga daerah selatan dapat tumbuh dan mekar dengan suburnya.

Pada permukaan empang yang sangat luas itu kelihatan ada tonggak kayu yang berjajar dalam jarak dua-tiga meter, Orang berbaju hijau yang mengantar mereka mendahului melompat ke atas tonggak kayu pertama, selanjutnya ke tonggak kedua dan ketiga dan begitu selanjutnya seperti di tanah datar saja.

Yo Ko berenam segera menirukan cara melintasi empang itu seperti orang berbaju hijau, hanya Be Kong-co saja karena tubuhnya segede kerbau, Ginkang-nya juga kurang, meski langkahnya lebar tapi sukar mencapai dua-tiga meter dengan sekali melangkah, akibatnya beberapa tonggak menjadi ambruk terinjak olehnya. Akhirnya ia menjadi tak sabar, maka diseberanginya empang itu dengan berjalan di air.

Sesudah melintasi empang bunga dewi air, tampaklah di tempat yang rindang di kejauhan sana sebuah rumah batu yang besar dan indah. Setelah mereka mendekat, kelihatan dua kacung berbaju hijau memegang kebut sedang berdiri di depan pintu. Seorang di antaranya segera masuk melapor, sedangkan kacung yang Iain lantas membukakan pintu menyambut tamu.

Selagi Yo Ko ragu-ragu apakah tuan rumahnya juga akan muncul menyambut kedatangan mereka atau tidak, sekonyong-konyong bayangan hijau berkelebat di depan mata, tahu-tahu seorang kakek berjenggot panjang dan berjubah hijau sudah berdiri di depan mereka.

Perawakan kakek ini sangat pendek, tidak lebih dari satu meter, mukanya jelek lagi aneh, mulutnya menjengkit, hidungnya pesek, daun telinga lebar seperti kuping gajah, memakai jubah hijau dari kain kasar, ikat pinggangnya adalah tali rumput warna hijau pula. Sungguh istimewa wajah dan dandanannya!

Yo Ko merasa heran sebab puterinya begitu cantik, kenapa sang Kokcu begini aneh dan jelek? Kakek cabol itu memberi hormat kepada keenam tamunya, lalu berkata:

“Selamat datang, silakan duduk di dalam dan sekedar minum teh!”

Nimo Singh berpikir: “Aku sendiri pendek, tapi Kokcu di sini ternyata juga cebol. Sebentar ingin kutahu apakah cebol macammu lebih hebat atau cebol macamku lebih lihay.”

Segera ia mendahului ke depan, kemudian mengulurkan tangan sambil berkata: “Selamat bertemu!”

Kakek jenggot panjang itu juga menyodorkan tangannya. Begitu berjabat tangan, seketika Nimo Singh mengerahkan tenaganya. Melihat kedua orang bermaksud menguji tenaga, orang lain cepat menyingkir ke samping. Mereka tahu pertandingan dua tokoh lihay tentu tidak boleh diremehkan akibatnya.

Semula Nimo Singh hanya mengerahkan tiga bagian tenaganya, terasa pihak lawan tidak memberi reaksi apa pun dan juga tidak balas menggempur. Ia rada heran, maka segera ia tambahi lagi tiga bagian tenaga. Terasa yang tergenggam di tangan itu seperti sepotong kayu yang keras. Pada waktu Nimo Singh menambahi lagi tiga bagian tenaganya, sekilas air muka kakek berjenggot panjang itu bersemu hijau, lalu tenang kembali dan tangannya tetap kaku dan keras.

Nimo Singh amat heran, sisa tenaganya yang masih sebagian itu tidak berani dikeluarkan lagi. Ia kuatir kalau mendadak pihak lawan melancarkan serangan balasan dan diri sendiri sudah tiada tenaga cadangan untuk menghadapi, tentu diri sendiri akan celaka. BegituIah ia lantas tertawa, lalu me!epaskan tangan lawan.

Pertarungan halus ini ternyata tidak menunjukkan pihak mana yang lebih unggul, entah si kakek berjenggot sengaja mengalah atau memang cuma begitu saja kekuatannya. Nimo Singh merasa sia-sia belaka perasannya tadi, betapa hebat kepandaian lawan ternyata sedikit pun sukar dijajaki.

Kim-lun Hoat-ong berjalan di belakang Nimo Singh, dia sangat cerdik, dia pikir kalau Nimo Singh tidak dapat mengukur kepandaian lawan, maka dirinya juga tidak perlu mengujinya Iagi. Dengan tenang dia terus masuk saja ke dalam rumah disusul dengan Siau-siang-cu dan In Kik-si.

Menyusul adalah Be Kong-co. Dilihatnya jenggot si kakek yang panjang itu terjulai sampai di atas tanah, memang dia sedang dongkol karena sejak pagi belum makan apa pun, karena rasa lapar ditambah rasa gusar, segera dia sengaja mencari gara-gara. Waktu melangkah masuk pintu rumah, dia berlagak tidak tahu, sebelah kakinya terus menginjak ke atas jenggot si kakek sehingga ujung jenggot terinjak.

Tapi kakek itu tidak berbuat apa pun, dia cuma berkata: “Hati-hati, tuan.”

Kaki Be Kong-co yang lain sengaja menginjak pula di atas jenggot orang, lalu pura-pura tidak tahu dan bertanya:

“Ada apa?”

Si kakek menggeleng perlahan, kontan Be Kong-co tergebat sehingga jatuh terjengkang. Jatuhnya sesosok tubuh sebesar itu tentu saja menimbulkan suara gedebuk yang keras.

Yo Ko berjalan paling belakang, cepat ia memburu maju, sebelah tangannya menyanggah pantat Be Kong-co lalu disodok ke depan, maka tubuh yang besar itu seketika melayang kesana, dengan enteng dapatlah Be Kong-co berdiri tegak kembali sambil meraba bokong yang kesakitan itu dengan meIongo.

Si kakek berjenggot anggap tak pernah terjadi apa pun, dia menyilakan keenam tamunya mengambil tempat duduk yang telah tersedia, lalu berseru nyaring:

“Para tamu sudah tiba, harap Kokcu suka menemui.”

Yo Ko dan lainnya sama terkesiap, sekarang barulah mereka tahu bahwa si kakek cebol berjenggot panjang ini kiranya bukan sang Kokcu. Dalam pada itu dari ruangan belakang telah muncul belasan orang lelaki perempuan yang berseragam baju hijau dan berdiri berjajar di sebelah kiri. Setelah itu dari balik pintu angin keluar seorang lelaki, setelah memberi salam kepada tetamunya, lalu ia pun duduk.

Orang yang terakhir ini adalah sang Kokcu, usianya sekitar 45-46 tahun, wajahnya bagus, dapatlah dibayangkan 20 tahun yang lalu tentu dia ini seorang pemuda yang cakap, cuma sekarang air mukanya rada pucat kuning dan kurus sehingga sukar dipercaya bahwa dia memiliki ilmu silat maha tinggi. Sesudah Kokcu itu duduk, beberapa kacung berbaju hijau menyuguhkan teh. Di ruangan tamu ini segala perabotan dan pakaian seluruhnya berwarna Hijau, hanya jubah yang dipakai sang Kokcu berwarna biru manikam sehingga tampaknya sangat menyolok di tengah-tengah yang segalanya serba hijau. Sejenak kemudian sang Kokcu mengebaskan lengan bajunya yang panjang, lalu angkat mangkok teh dan berseru.

“Silakan minum, tuan-tuan yang terhormat!”

Melihat air teh dalam mangkok yang disuguhkan padanya sangat cemplang, keruan hati Be Kong-co bertambah dongkol. Ia terus berteriak:

“He, tuan rumah, daging kau tidak doyan, minum teh juga setawar ini, pantas kalau kau selalu kelihatan sakit-sakitan.”

Sang Kokcu tidak memperlihatkan reaksi apa pun, sehabis minum tehnya, dia menjawab:

“Selama beberapa ratus tahun hidup di lembah ini kami makan minum cara begini.”

“Coba jelaskan, apa faedahnya hidup cara begini? Apakah dapat menjadikan kau panjang umur?” tanya Be Kong-co.

“Yang pasti pantangan makan barang berjiwa dan hidup sederhana begini sudah dimulai semenjak kakek moyang kami hijrah menetap di sini pada jaman Tong-hian-cong. Kami sebagai anak cucunya tiada yang berani melanggar peraturan,” jawab sang Kokcu.

“Oh, jadi keluarga kalian sudah menetap di sini semenjak dinasti Tong, sungguh lama dan kerasan sekali,” kata Kim-lun Hoat-ong.

Tiba-tiba Siau-siang-cu ikut bertanya dengan suaranya yang banci: “Eh, jika begitu kakek moyangmu itu tentu pernah melihat Yo-kuihui (seorang selir kaisar Tong-hian-cong yang sangat cantik)?”

Suara Siau-siang-cu ini kedengaran sangat aneh. Sesungguhnya suaranya sudah cukup dikenal oleh Nimo Singh, In Kik-si dan lainnya, karenanya mereka menjadi heran. Mereka memandang wajah Siau-siang-cu, serentak semuanya terperanjat, kiranya wajah Siau-siang-cu sudah berubah sama sekali, mukanya yang memang kaku pucat sebagai mayat kini bertambah aneh luar biasa.

Diam-diam Nimo Singh dan lainnya menjadi jeri. Mereka mengira ilmu yang dilatih Siau-siang-cu begini lihay, apa bila dikeluarkan bahkan air muka pun bisa berubah sama sekali. Sekarang Siau-siang-cu mulai mengerahkan ilmunya, tentu segera dia akan mulai melabrak sang Kokcu. Karena pikiran demikian, Nimo Singh dan lainnya juga siap siaga.

Demikianlah terdengar sang Kokcu menjawab: “Leluhurku memang pejabat tinggi dan pemindahan leluhur kami ke sini ketika itu memang untuk menghindari keganasan menteri dorna Yo Kok-tiong yang berkuasa.”

Kembali Siau-siang-cu ngakak dan berkata: “Ha-ha-ha, kalau begitu leluhurmu pasti pernah minum air cuci kaki Yo-kuihui.”

Ucapan ini sungguh membikin kaget semua orang, jelas kata-kata demikian berarti suatu tantangan terhadap sang Kokcu dan pertarungan pasti segera akan terjadi. Diam-diam Kim-lun Hoat-ong dan lainnya merasa heran, padahal mereka kenal Siau-siang-cu biasanya sangat licik dan licin, segala persoalan lebih suka ditimpakan kepada orang lain, mengapa sekarang dia mau tampil ke muka sendiri?

Kokcu itu ternyata tidak menggubris ucapan Siau-siang-ciu, dia cuma memberi isyarat kepada si kakek jenggot panjang yang berdiri di belakangnya.

“Hmm,” kakek berjenggot itu berseru. “Kokcu menghormati kalian sebagai tamu, sebab itu kalian diperlakukan dengan baik, tapi mengapa kau bicara ngawur?”

Siau-siang-cu terkekeh lagi dan berkata dengan nada suara yang dibuat-buat: “He-he-he, leluhurmu itu pasti pernah minum air cuci kaki Yo-kui-hui, aku berani bertaruh dengan potong kepalaku ini.”

Be Kong-cu merasa terheran-heran, ia langsung bertanya: “Hai, Siau-heng, dari mana kau tahu begitu pasti? Apakah waktu itu kau juga minum air cuci kaki bersama dia?”

Kembali Siau-siang-cu tertawa, tapi sekali ini nada suaranya berubah pula, katanya: “Jika bukan lantaran muak terlampau banyak minum air cuci kaki, kenapa orang hidup tidak makan minum sebagaimana lazimnya?”

Kim-lun Hoat-ong dan lainnya mengerutkan kening dan merasa ucapan Siau-siang-cu ini agak keterlaluan. Makan-minum adalah kebiasaan masing-masing orang, mana dapat dipersamakan dan dijadikan bahan olok-olok?

Tampaknya si kakek berjenggot panjang tidak tahan lagi, ia melangkah ke tengah ruangan dan berseru:

“Siau-siansing, setahuku kami tidak berbuat kesalahan apa pun padamu, jika engkau benar-benar ingin coba-coba, marilah maju sini!”

“Boleh!” kata Siau-siang-cu, mendadak orang bersama kursinya melompati meja di dan tahu-tahu sudah duduk di tengah ruangan.

“Nah, kakek jenggot panjang, siapa namamu? Kau kenal namaku, tapi aku tidak tahu namamu, kan tidak adil?”

Ucapan ini seperti tepat tapi juga lucu, keruan kakek berjenggot bertambah marah, tapi diam-diam ia pun waspada setelah menyaksikan lompatan orang berikut kursinya dengan gaya yang gesit dan lihay.

Terdengar sang Kokcu berkata: “Boleh kau beri-tahukan dia, tidak soal.”

“Baik,” jawab si kakek berjenggot panjang, “Nah, dengarkan, aku she Hoan bernama It-hong. sekarang silakan berdiri dan marilah kita mulai!”

“Kau menggunakan senjata apa? Coba perlihatkan padaku dalu!” kata Siau-siangcu.

“Kau ingin bertanding dengan senjata? Boleh juga!” ucap Hoan It-hong. Tiba-tiba sebelah kakinya memukul lantai sambil berseru:

“Ambilkan sini!”

Serentak dua kacung berbaju hijau tadi berlari ke ruangan dalam, keluarnya kedua kacung itu telah menggotong sebatang tongkat yang pangkalnya berukirkan kepala naga, panjang tongkat sekitar dua meter.

Tentu saja Yo Ko dan lainnya terperanjat sekali. Mereka tidak habis mengerti mengapa si kakek cebol itu menggunakan senjata yang panjangnya hampir dua kali dari pada tinggi badannya, cara bagaimana akan dapat memainkannya? Ternyata Siau-siang-cu tak ambil pusing dengan senjata orang. Dari dalam bajunya yang longgar ia mengeluarkan sebuah gunting raksasa kemudian berkata:

“lni senjataku, apakah kau tahu kegunaannya?”

Kalau semua orang paling-paling cuma heran saja atas gunting besar itu, tidak demikian dengan Yo Ko. Ia terperanjat sekali, tanpa meraba ranselnya ia pun yakin bahwa gunting besar miliknya sudah hilang. Gunting raksasa itu khusus dipesan untuk memotong ujung kebut Li Bok-chiu, sekarang ternyata sudah dicuri Siau-siang-cu di luar tahunya!

Sementara itu Hoan It-hong telah memegang tongkat panjang yang digotong keluar kedua kacung tadi. Dia pegang bagian tengah tongkat, kemudian dijungkirkan, pangkal tongkat dipukulkan perlahan pada lantai. Karena ruangan tamu rumah batu itu sangat luas, dengan sendirinya ketokan tongkat baja menimbulkan suara gemerantang yang nyaring mengejutkan.

Dengan tangan kanan Siau-siang-cu memegangi guntingnya, sesudah jarinya dikerjakan sekuatnya barulah gunting itu bisa terbuka dan terkatup, lalu ia berseru:

“He, orang cebol berjenggot, tentu kau tidak kenal nama guntingku ini, apakah kau perlu kuberi-tahu dulu?”

“Huh, senjata rombengan itu entah kau temukan dari mana, masa punya nama yang baik?” jengek si kakek alias Hoan It-ong dengan mendongkol.

“Benar, namanya memang tak enak didengar,” ujar Siau-siang-cu dengan bergelak tawa. “Gunting ini disebut Kau-mo-cian (gunting bulu anjing).”

Yo Ko merasa kurang senang, pikirnya: “Brengsek! Masa guntingku kau beri nama begitu?”

Terdengar Siau-siang-cu berkata lagi: “Karena kutahu di sini ada makhluk aneh berjenggot panjang, maka sengaja kupesan gunting bulu anjing ini untuk memotong jenggotmu.”

Berbareng Nimo Singh dan Be Kong-co bergelak tertawa. In Kik-si dan Yo Ko juga turut tertawa walau pun tidak keras, hanya Kim-lun Hoat-ong dan sang Kokcu saja yang tetap duduk tenang berhadapan seperti tidak mendengar apa yang terjadi.

Segera Hoan It-ong mengangkat tongkatnya dan diputar sedikit, serentak berjangkit angin keras, lalu ia berkata:

“Memang jenggotku ini sudah terlalu panjang, jika kau ingin menjadi tukang cukur, wah, kebetulan bagiku, Nah silakan mulai!”

Siau-siang-cu laksana terkesima memandang dinding ruangan itu dan sama sekali tidak mendengarkan ucapan Hoan It-ong, tapi begitu orang selesai bicara, tiba-tiba guntingnya menyambit ke depan secepat kilat.

“Crengg!” kontan ia menggunting jenggot lawan.

Sama sekali Hoan It-ong tidak menyangka dalam keadaan masih duduk mendadak Siau-siang-cu dapat melancarkan serangan. Untuk menghindar jelas tidak keburu lagi, terpaksa dia gunakan gerakan istimewa, sekuatnya tangan menahan batang tongkatnya, tubuhnya terus meloncat ke atas.

Dalam sekejap kedua orang telah sama-sama memperlihatkan gerak kilat yang sangat mengejutkan, namun Hoan It-ong tetap rugi. Dalam keadaan diserang lebih dahulu tanpa terduga, meski gunting itu dapat dihindarkan, tak urung ujung beberapa utas jenggotnya masih tergunting putus. Siau-siang-cu tampak senang sekali, jenggot yang putus itu disambarnya terus ditiup. Tiga-empat utas jenggot terbang ke arah mangkok teh sendiri yang terletak di meja, menyusul terdengarlah suara nyaring, mangkok teh itu jatuh dan pecah berantakan.

Yo Ko dan lainnya cukup paham bahwa pecahnya mangkok itu adalah disebabkan hawa yang ditiupkan Siau-siang-cu. Tetapi Be Kong-co tidak tahu hal ikhwalnya, dia mengira mangkok teh itu jatuh lantaran tersodok oleh sambaran bulu jenggot yang ditiup. Maka segera ia berteriak:

“Wah, hebat benar jenggotmu, Siau-siang-cu!”

Sambil tertawa Siau-siang-cu mengacipkan guntingnya beberapa kali hingga menimbulkan suara “creng-creng”. Katanya:

“Hayo maju sini, jenggot cebol!”

Semua orang kini dapat melihat lebih jelas. Pada saat Siau-siang-cu tertawa ternyata kulit mukanya sama sekali tidak bergerak, keruan semua orang bertambah terkejut dan heran. Bahwa orang yang memiliki Iwekang maha tinggi memang sanggup tidak memperlihatkan sesuatu tanda gusar atau gembira, namun air muka Siau-siang-cu yang kaku dan seram meski pun dalam keadaan gembira, hal ini sungguh luar biasa dan belum pernah mereka alami.

Berulang kali dipermainkan, Hoan It-ong semakin murka, ia memberi hormat kepada sang Kokcu dan berkata:

“Suhu, terpaksa Tecu tak dapat menghormati tamu secara layak.”

Yo Ko heran mendengar kakek cebol berjenggot itu menyebut sang Kokcu sebagai Suhu, padahal umurnya jauh lebih tua, masa malah memanggilnya sebagai guru? Terlihat sang Kokcu memanggut sekali sambil melambaikan tangannya. Segera Hoan It-ong mengayun tongkatnya, “wuttt”, kontan kursi yang diduduki Siau-siang-cu dihantam. Meski tubuhnya pendek, tapi tenaganya luar biasa hebat, tongkat baja yang bobotnya ratusan kati, bila sampai kursi itu kena dihantam, tentu akan hancur berkeping.

Meski Yo Ko dan lainnya datang bersama Siang-siang-cu, tapi hakikatnya mereka pun tak tahu persis hingga di mana kepandaian sejati kawannya, oleh karena itu mereka lantas mengikuti pertarungan itu dengan penuh perhatian.

Melihat tongkat si kakek sudah dekat dengan kaki kursi, mendadak tangan kiri Siau-siang-cu menjulur ke bawah, ternyata tongkat itu hendak dipegangnya. Malah sekaligus gunting di tangan lain menyambar ke depan untuk menggunting jenggot lawan yang panjang. Tidak kepalang marah Hoan It-ong karena merasa orang terlalu meremehkan dirinya. Dia cepat miringkan kepala hingga jenggotnya yang panjang itu melayang ke samping dan tongkatnya tetap dipukulkan ke tangan Siau-siang-cu yang ingin menangkap senjatanya. Serangan ini dengan tepat mengenai telapak tangan, serentak semua orang bersuara kaget dan bangkit.

Hoan It-ong menyangka tangan orang pasti akan patah, tidak tahunya ketika menyentak sasarannya, terasa tongkat seperti menghantam air, lunak dan enteng. Ia sadar keadaan bisa runyam, cepat ia menarik kembali tongkatnya, akan tetapi sudah terlambat, tongkat sudah tergenggam kencang oleh tangan Siau-siang-cu. Segera Hoan It-ong merasakan lawan sedang membetot, segera ia dorong sekalian tongkatnya ke depan. Tongkat itu demikian panjang, maka dorongannya sangat kuat, tampaknya Siau-siang-cu pasti akan terdesak meninggalkan kursinya jika tak mau roboh terjungkal.

Tak terduga, sedikit Siau-siang-cu kencangkan pantatnya, serentak orang berikut kursinya meloncat lagi ke samping, seketika dorongan tongkat Hoan It-ong tak mencapai sasaran, sedangkan pegangan Siau-siang-cu pada tongkatnya juga lantas dilepaskan.

Cepat Hoan It-ong memutar tongkatnya yang panjang itu dan kembali menyabet ke arah kepala lawan. Agaknya Siau-siang-cu sengaja hendak pamerkan kepandaian, kembali orang bersama kursinya meloncat, melayang lewat di atas sambaran tongkat musuh.

Melihat gerakan aneh lagi gesit itu, meski duduk di atas kursi tapi tiada bedanya seperti orang berdiri saja, tanpa terasa semua orang bersorak memuji. Hoan It-ong tak berani ceroboh lagi menghadapi lawan lihay ini. Ia putar tongkatnya sedemikian cepat, ia pikir untuk menghantam tubuh orang jelas sukar, tetapi kalau dapat menghancurkan kursinya rasanya lebih baik. Karena itu tongkatnya terus mengincar menyabet kursi lawan.

Siapa tahu ilmu silat Siau-siang-cu sungguh maha sakti, gunting di tangan kanan terus mengincar jenggot lawan, sedangkan tangan kirinya selalu berusaha merampas tongkat baja. Kedua orang terus berkisar kian kemari di ruangan tamu yang luas itu, dalam sekejap saja berpuluh jurus berlalu, tampaknya kedua orang sama kuatnya dan belum ada yang lebih unggul, tetapi Siau-siang-cu tetap duduk di kursinya, serangan Hoat It-ong ternyata disepelekan.

Diam-diam Kim-lun Hoat-ong dan lainnya terkejut, mereka tidak menyangka Siau-siang-cu yang lebih mirip mayat hidup itu ternyata memiliki kepandaian sehebat ini. Setelah belasan jurus lagi, tongkat Hoan It-ong masih saja terus mengincar dan menyabet kursi lawan, terdengar suara kaki kursi yang mengetok lantai riuh ramai tiada hentinya dan makin lama makin cepat. Mendadak sang Kokcu berseru kepada Hoan It-ong:

“Jangan hantam kursi, kau bukan tandingannya!”

Hoan It-ong melengak, tetapi ia segera menyadari peringatan sang guru, ia pikir: “Ya, jika dia duduk di atas kursi barulah aku sanggup menandingi dia dengan sama kuat, apa bila kursinya hancur lantas dia berdiri di tanah, mungkin dalam beberapa jurus saja jenggotku sudah terpotong.”

Cepat ia ganti permainan dan tongkatnya diputar semakin cepat sehingga tubuhnya yang pendek seakan-akan terbungkus oleh sinar tongkat, sedangkan di luar gulungan sinar perak sesosok bayangan orang yang mirip mayat hidup berlompatan, pemandangan demikian menjadi sangat aneh dan menarik.

Rupanya sang Kokcu tahu Siau-siang-cu sengaja hendak mempermainkan lawannya, jika berlangsung lebih lama lagi, sebentar kemudian Hoan It-ong pasti akan kecundang. Maka segera dia bangkit dan melangkah maju, katanya:

“lt-ong, kau bukan tandingan orang kosen ini, mundur saja kau!”

Karena perintah sang guru, Hoan It-ong mengiyakan dengan suara keras, tongkatnya ditarik dan segera dia hendak mengundurkan diri. Tak terduga Siau-siang-cu berteriak:

“Tidak boleh! Tidak boleh!” Mendadak tubuhnya melayang maju meninggalkan kursinya terus menubruk ke atas batang tongkat.

“Krakk...!”

Terdengarlah suara yang keras, kursi terhantam hancur oleh ujung tongkat Hoan It-hong, namun berbareng itu batang tongkat juga kena ditahan ke bawah oleh tangan kiri Siau-siang-cu lalu diinjak dengan kaki kiri, menyusul gunting raksasa di tangan kanan terbuka, jenggot Hoan liong yang panjang legam sudah terjepit pada mata guntingnya, sekali gunting dikacipkan, tanpa ampun jenggot yang indah menarik itu pasti akan putus.

Tak tahunya jenggot panjang yang dipelihara Hoan It-ong itu sebenarnya juga semacam senjata yang maha lihay, daya gunanya serupa dengan ruyung, cambuk dan sebagainya, Terlihat sedikit Hoan It-ong menggeleng kepalanya, serentak jenggotnya menguntir dan terlepas dari mata gunting, malahan sempat pula balas melilit gunting lawan, menyusul kepalanya mendongak ke belakang, dengan tenaga maha kuat lantas membetot untuk rebut gunting musuh.

“Haya, cebol tua, jenggotmu sungguh lihay, kagum sekali aku!” seru Siau-siang-cu sambil bertahan sekuatnya.

Begitulah jadinya jenggot seorang membelit pada gunting dengan kencangnya, sebaliknya seorang lain menahan batang tongkat dengan sebelah kaki dan tangan, maka seketika keduanya sukar melepaskan diri.

“Ha-ha-ha! Menarik! Menarik!” seru Siau-siang-cu dengan tertawa gembira.

Pada saat itu pula sekonyong-konyong berkelebat sesosok bayangan orang, cepat luar biasa seseorang telah menerjang masuk, sekaligus dua tangannya menghantam punggung Siau-siang-cu.

“Siapa ini?!” bentak sang Kokcu.

Sergapan yang cepat dan ganas itu tampaknya pasti akan kena pada sasaran. Namun kembali Siau-siang-cu menunjukkan kepandaiannya yang luar biasa, tangan kirinya cepat membalik ke belakang, dengan mudah saja dia sudah dapat mematahkan tenaga pukulan musuh.

“Keparat, jahanam!” teriak penyergap itu dengan marah “Biar aku adu jiwa dengan kau!”

Waktu Yo Ko dan lainnya mengawasi penyergap, mereka menjadi terkejut dan heran. “He, Siau-siang-cu!” seru mereka berbareng.

Kiranya penyergap ini juga Siau-siang-cu yang sudah mereka kenal. Mengapa dia bisa berubah menjadi dua dan sebab apa dia menyergap pada dirinya sendiri yang kembar? Seketika mereka menjadi bingung.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar