ads

Kamis, 12 Agustus 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 16

Terpikir akan itu, tak tertahan lagi tiba-tiba ia berseru: “Eh, cici, kiranya lagi-lagi kau yang menolong jiwaku.”

Gadis itu berhenti menulis, tetapi tidak menoleh, hanya dengan suara halus ia menjawab: “Tak bisa pula dikatakan menolong jiwamu. Aku hanya kebetulan lewat di situ dan melihat Hwesio Tibet itu berbuat sewenang-wenang, lagi pula kau sudah terluka...” sampai di sini kepalanya menunduk malu-malu.

“Cici,” kata Yo Ko lagi, “aku... aku...” tetapi karena tergoncangnya perasaan, tenggorokannya serasa tersumbat hingga tak sanggup meneruskan lagi.

“Hatimu baik, tanpa pikirkan jiwa sendiri kau menolong orang lain, aku hanya kebetulan saja bisa membantu sedikit padamu, ini terhitung apa?” demikian kata gadis itu.

“Kwe-pekbo berbudi karena pernah membesarkan aku. Apa bila dia ada kesulitan, sudah semestinya aku membantu. Tapi aku dengan cici...”

“Aku bukan maksudkan Kwe-pekbo-mu, akan tetapi aku maksudkan Liok Bu-siang, adik dari keluarga Liok itu,” potong si gadis.

Sudah lama nama Liok Bu-siang tak pernah terpikir lagi oleh Yo Ko, kini mendengar orang menyebutnya, cepat ia pun bertanya:

“Eh, ya, apakah nona Liok baik-baik saja? Lukanya sudah sembuh bukan?”

“Terima kasih atas perhatianmu,” sahut gadis itu, “lukanya sudah lama sembuh, ternyata kau masih belum lupa padanya.”

Mendengar lagu suara orang seperti memiliki hubungan yang amat rapat dengan Liok Bu-siang, maka Yo Ko bertanya lagi:

“Entah ada hubungan apa antara cici dan nona Liok?”

Tetapi gadis itu tidak menjawab, ia tersenyum dan berkata: “Tak perlu kau panggil aku cici terus, umurku belum setua kau.” ia merandek sejenak, lalu disambungnya sambil tertawa: “Ha, entah sudah berapa kali memanggil ‘Kokoh’, kini hendak merubahnya mungkin agak terlambat.”

Muka Yo Ko segera menjadi merah. Ia menduga waktu dirinya terluka dan dalam keadaan tidak sadar tentu telah salah anggap orang dan memanggil “Kokoh” padanya, boleh jadi ada pula perkataan di luar batas, makin dipikir semakin tak enak perasaannya.

“Kau... kau tidak marah bukan?” tanyanya kemudian.

“Sudah tentu aku tidak marah, bolehlah kau rawat lukamu tenang-tenang di sini,” sahut si gadis tertawa, “Nanti bila lukamu sudah sembuh, boleh segera kau pergi mencari kokoh-mu.”

Beberapa kata itu diucapkannya dengan begitu halus dan ramah, sama sekali berbeda dengan gadis-gadis lain yang dikenal Yo Ko, kedengarannya begitu nyaman dan segar, rasanya bila gadis ini berada di sampingnya, segalanya menjadi aman dan damai. Dia tidak lincah dan nakal seperti Liok Bu-siang, juga tidak secantik dan tinggi hati seperti Kwe Hu. Pula tidak sama dengan Yalu Yen yang gagah terus terang, atau Wanyen Peng yang lemah dan harus dikasihani.

Apa lagi watak Siao-liong-li, lebih-lebih lain dari pada yang lain. Mula-mula ia bisa sedingin es, tetapi karena pengaruh cinta asmara akhirnya ia pun tidak segan-segan mengikat janji sehidup semati. Wataknya itu sesungguhnya terlalu aneh dan extrim.

Hanya si gadis baju hijau ini ternyata sangat ramah tamah dan prihatin, pintar meladeni orang, setiap kata selalu memikirkan kepentingan Yo Ko. Ia tahu pemuda ini sangat merindukan “Kokoh”, lantas ia menghiburnya agar merawat lukanya baik-baik supaya bisa lekas sembuh kemudian segera pergi mencarinya. Begitulah sesudah ia ucapkan kata-kata tadi, kembali ia angkat pit dan menulis lagi.

“Cici, siapakah she-mu yang mulia?” tanya Yo Ko.

“Ada apa kau tanya ini itu, lekas kau rebah yang tenang dan jangan berpikir yang tidak-tidak lagi,” sahut si gadis.

“Baiklah,” kata Yo Ko, “memang aku pun sudah tahu percuma saja bertanya. Jangankan namamu, wajahmu saja tak mau perlihatkan.”

“Parasku amat jelek, toh bukannya kau tak pernah melihatnya,” sahut gadis itu menghela napas.

“Tidak, tidak, hal itu disebabkan kau memakai kedok kulit,” ujar Yo Ko.

“Kalau wajahku secantik Kokoh-mu, buat apa aku memakai kedok?” kata si gadis. Mendengar orang memuji kecantikan Siao-liong-Ii, senang sekali Yo Ko. “Dari mana kau tahu kokoh-ku cantik? Apa kau pernah melihat dia?” tanyanya.

“Aku tak pernah melihatnya,” kata gadis itu. “Tapi sebegitu besar rindumu padanya, maka dapat dibayangkan pasti dia wanita cantik nomor satu di jagat ini.”

“Jika kau sudah pernah melihat dia, pasti kau akan lebih memuji kecantikannya,” ujar Yo Ko gegetun.

Kata-kata Yo Ko ini kalau didengar Kwe Hu atau Liok Bu-siang pasti akan dibalas dengan sindiran dan olok-olok, tetapi gadis ini ternyata sangat jujur, ia malah berkata:

“Ya, hal itu tak perlu di-sangsikan lagi.” Habis berkata kembali ia menunduk menulis lagi.

Yo Ko termangu-mangu sejenak memandangi langit-langit kelambunya, tak tahan lagi dia berpaling dan memandang potongan tubuh orang yang ramping itu dari belakang.

“Cici, apa yang kau tulis? Apa sangat penting?” tanyanya.

“Aku sedang melatih tulisan,” sahut si gadis.

“Kau memakai tulisan gaya apa?” tanya Yo Ko.

“Ahh, tulisanku terlalu jelek, mana bisa dibilang gaya apa segala?” kata si gadis.

“Kau suka merendah diri saja, aku menduga pasti tulisanmu sangat indah,” kata Yo Ko.

“Aneh, dari mana kau bisa menduganya?” sahut gadis itu tertawa.

“Gadis sepintar kau ini, pasti gaya tulisanmu juga lain dari pada yang lain,” ujar Yo Ko. “Cici, bolehkah tulisanmu diperlihatkan padaku.”

Gadis itu tertawa lagi, “Ahh, tulisanku sekali-kali tidak bisa dilihat orang. Nanti bila lukamu sudah sembuh, aku masih harus minta petunjukmu,” demikian katanya.

Diam-diam Yo Ko malu diri, karena itu pula ia sangat berterima kasih kepada Oey Yong yang telah mengajarnya membaca dan menulis di Tho-hoa-to dulu. Bila waktu itu ia tidak giat belajar, jangan kata membedakan tulisan bagus atau jelek, mungkin sampai sekarang ia akan tetap buta huruf. Setelah termenung-menung sebentar, ia merasa dadanya rada sakit, maka lekas-lekas ia jalankan Iwekang-nya hingga darahnya berjalan lancar. Perlahan-lahan dia merasa segar kembali dan akhirnya dia pun tertidur.

Waktu dia bangun, hari sudah gelap. Gadis itu sudah meletakkan nasi dan lauk pauk di atas meja teh yang terletak di tepi ranjangnya agar si Yo Ko dahar sendiri. Lauk-pauk hanya sebangsa sayur mayur, tahu, telur dan beberapa potong ikan, tetapi cara mengolahnya ternyata sangat lezat. Sekaligus Yo Ko habiskan tiga mangkok penuh nasi ke dalam perutnya tanpa berhenti, habis itu barulah ia memuji berulang-ulang.

Meski muka gadis itu memakai kedok kulit sehingga tak terlihat perubahan emosinya, tapi dari sinar matanya tampak menyorot cahaya yang senang. Besok paginya keadaan luka Yo Ko tambah baikan. Gadis itu mengambil sebuah kursi lalu duduk di depan ranjang untuk menambal bajunya yang compang-camping tak terurus, semuanya ia tambal dengan baik.

“Orang secakap kau kenapa sengaja pakai baju serombeng ini?” kata si gadis kemudian, sembari berkata dia pun berjalan keluar. Waktu kembali dia membawakan satu blok kain hijau, ia ukur menurut baju Yo Ko yang sobek itu lalu dipotongnya untuk membuatkan baju baru.

Dari lagu suara nona ini dan perawakan serta tingkah lakunya, umurnya tentu tidak lebih 18-19 tahun saja, tapi terhadap Yo Ko bukan saja mirip kakak terhadap adik, malah penuh kasih seorang ibu kepada anaknya. Sudah lama Yo Ko ditinggalkan ibundanya, kini ia menjadi terbayang masa anak-anaknya dahulu, ia sangat berterima kasih dan juga heran,

“Cici,” tanyanya, “mengapa kau begini baik padaku, sungguh aku tak berani menerimanya.”

“Hanya membikinkan sepotong baju, apanya yang baik?” sahut si gadis. “Kau mati-matian menolong jiwa orang tanpa pikirkan diri sendiri, itu baru pantas dibilang baik budi.”

Pagi hari itu berlalu dengan tenang. Lewat lohor kembali si gadis menghadapi meja sambil berlatih menulis. Pingin sekali Yo Ko melihat apakah sebenarnya yang ditulis, tapi beberapa kali ia memohon selalu ditolak.

Kira-kira ada sejam gadis itu tekun menulis, habis selembar ditulisnya, lalu ia termenung-menung. Ia robek kertasnya dan kembali menulis lagi, tetapi tulisannya tetap seperti tidak memuaskan, maka habis tulis lantas dirobek, sampai akhirnya terdengar ia menghela napas, lalu tak menulis lebih lanjut.

“Kau pingin makan apa, biar kubuatkan,” tanyanya kemudian kepada Yo Ko.

Tergerak pikiran Yo Ko tiba-tiba. “Terima kasih, hanya bikin repot kau saja,” sahutnya.

“Apakah? Coba bilang,” kata si gadis.

“Aku ingin makan bakcang,” ujar Yo Ko.

Gadis itu rada tertegun, tapi segera ia pun berkata: “Repot apanya? Hanya membungkus beberapa kue bakcang saja! Aku sendiri memang juga pingin makan bakcang. Kau suka yang manis atau yang asin?”

“Boleh seadanya, asal sudah makan bakcang aku pasti puas, mana berani pilih lagi?” sahut Yo Ko.

Betul juga, malam itu si gadis telah membuatkan beberapa buah kue bakcang untuk Yo Ko, yang manis berisi kacang ijo gula putih, yang asin pakai daging sam-can bercampur ham, rasanya lezat tiada bandingan. Keruan saja beruntung sekali mulut Yo Ko, sembari makan ia pun tiada hentinya memuji-muji.

“Kau benar-benar pintar, akhirnya dapat juga kau menerka asal usul diriku,” kata gadis itu kemudian sambil menghela napas.

Yo Ko menjadi sangat heran, dia tidak sengaja menerka, mengapa bilang asal-usul orang kena diterkanya? Namun begitu, ia toh berkata:

“Kenapa kau bisa tahu?”

“Ya, kampung halamanku Ohciu tersohor karena makanan kue bakcang, kau tidak minta yang lain tapi justru ingin makan bakcang,” sahut si gadis.

Pikiran Yo Ko tergerak. Teringat olehnya beberapa tahun yang lalu di Ohciu pernah berjumpa dengan Kwe Ceng dan Oey Yong, juga pertemuannya dengan Auwyang Hong dan perkelahiannya melawan Li Bok-chiu, tapi siapakah gerangan si gadis di depan mata ini tetap tak dapat mengingatnya. Mengenai permintaannya ingin makan bakcang adalah karena dia mempunyai tujuan lain. Pada waktu hampir selesai makan, ketika gadis itu sedikit meleng, mendadak ia lekatkan sepotong bakcang di telapak tangannya dan selagi si gadis bebenah mangkok sumpit ke dapur, cepat sekali ia ambil seutas benang yang ketinggalan ketika gadis itu menjahit baju untuknya tadi.

Pada ujung benang dia ikat bakcang yang dia sisakan tadi terus disambitkan ke meja, dan sepotong kertas robekan telah melekat oleh kue bakcang itu, lalu ia tarik benangnya dan membacanya. Namun dia menjadi melongo, kiranya di atas kertas itu tertulis 8 huruf yang maksudnya terang sekali berbunyi:

‘Jika sudah kutemukan dikau, betapa aku tidak senang?’

Lekas-lekas Yo Ko sembunyikan kertas itu, dia lemparkan ujung benang dan memancing pula selembar kertas. Dia lihat di atasnya tetap tertulis 8 huruf tadi, cuma ada satu huruf yang ikut tersobek. Hati Yo Ko memukul keras, beruntun-runtun ia sambitkan bakcang itu dan belasan lembar kertas robekan itu kena dipancingnya, tapi apa yang tertulis di atasnya bolak-balik tetap 8 huruf. Ia coba menyelami maksud apa yang terkandung dalam tulisan itu, tanpa terasa ia termangu-mangu sendiri. Tiba-tiba didengarnya suara tindakan orang, gadis tadi telah masuk kamar lagi.

Lekas-lekas Yo Ko selusupkan kertas-kertas itu ke dalam selimutnya. sementara si gadis mengumpulkan sisa-sisa kertas robekan tadi dan dibakarnya diluar kamar.

“Kata-kata ‘dikau’ yang ditulisnya itu jangan-jangan maksudkan aku?” demikian Yo Ko berpikir sendiri, “Tapi aku dengan dia bercakap saja belum ada beberapa patah kata, apanya yang menyenangkan dia akan diriku ini? Bila bukan maksudkan diriku, toh di sini tiada orang lain.”

Sedang ia termenung-menung, gadis itu sudah masuk kamar lagi. Setelah berdiri sejenak di pinggir jendela, kemudian api lilin disirapnya. Sinar rembulan remang-remang menyorot masuk melalui jendela.

“Cici,” Yo Ko memanggil perlahan.

Tapi gadis itu tak menjawabnya, sebaliknya ia berjalan keluar. Selang tak lama, terdengar di luar ada suara seruling yang ulem, sebuah lagu merdu sayup-sayup berkumandang. Pernah Yo Ko rnelihat gadis itu memakai seruIing sebagai senjata menempur Li Bok-chiu, ilmu silatnya tidaklah lemah, siapa duga seruling yang ditiupnya ternyata juga begini enak didengar. Dahulu waktu tinggal di kuburan kuno, di kala iseng dia sering mendengarkan Siao-liong-li menabuh khim (kecapi) dan dia pernah belajar juga beberapa waktu padanya, maka boleh dikatakan ia pun sedikit paham seni suara.

Waktu ia mendengarkan terus dengan cermat, akhirnya dapat diketahui orang sedang melagukan salah satu bagian dari isi kitab ‘Si-keng’ yang terdiri dari lima bait yang memuji seorang laki-laki cakap, laki-laki ini dikatakan ramah tamah dan suci bersih laksana batu jade yang telah diukir dan halus bagai gading yang sudah dikerik. Sesudah mendengarkan lagi, tanpa tertahan Yo Ko getol juga oleh lagu itu. Ia lihat di tepi ranjang sana ada sebuah kecapi tujuh senar tergeletak di atas meja, perlahan-lahan dia duduk dan mengambil kecapi itu, ia menyetel senarnya lalu ditabuhnya mengiringi suara seruling si gadis.

Kecuali lima bait dalam ‘Si-keng’ itu sebenarnya masih ada beberapa kalimat lanjutannya yang menyatakan laki-laki sejati yang gagah berani itu sebenarnya sukar dilupakan orang. Selagi ia hendak menyambung kalimat itu, mendadak suara seruling berhenti. Yo Ko tertegun, tetapi lapat-lapat ia paham juga akan maksud orang: “Ah, maksudnya meniup seruling mula-mula hanya untuk menghibur diri saja, sesudah diiringi suara kecapiku dia tahu perasaannya dapat dipecahkan olehku. Tapi karena terputusnya suara seruling yang mendadak ini apa bukan lebih menandakan akan maksud isi hatinya itu?”

Besok paginya, ketika gadis itu mengantarkan sarapan pagi, ia lihat Yo Ko telah memakai kedok kulit, ia menjadi heran:

“He, kenapa kau pun pakai barang ini?” tanyanya tertawa.

“Bukankah ini pemberianmu?” sahut Yo Ko. “Kau tak mau perlihatkan muka aslimu, maka biarlah aku pun memakai topeng saja.”

Tahulah si gadis bahwa orang sengaja hendak pancing dirinya membuka kedok, tapi bila ingat kalau kedoknya ditanggalkan, apa yang terpikir dalam hatinya dengan sendirinya akan tertampak pada wajahnya, hal ini berarti menambah banyak kesulitan, maka kemudian ia menjawab dingin:

“Boleh juga bila kau ingin memakainya.” Kemudian, ia letakkan sarapan terus keluar lagi,

Sehari itu dia pun tak bicara lagi dengan Yo Ko. Tentu saja pemuda ini rada tak enak, dia kuatir telah membikin marah, hendak minta maaf pikirnya, tapi tidak pernah lagi gadis itu tinggal sejenak di dalam kamar. Sampai malamnya ketika gadis itu bebenah mangkok piring dan hendak keluar lagi, tiba-tiba Yo Ko memanggilnya:

“Cici, tiupan sulingmu itu amat merdu, sukalah kau meniupnya satu lagu lagi.”

Gadis itu termenung sejurus. “Baiklah,” katanya kemudian.

Ia pun pergi mengambil serulingnya, lalu duduk di depan ranjang si Yo Ko dan meniupnya perlahan. Lagu yang ditiupnya sekali ini adalah ‘Geng-sian-khek’ atau menyambut tamu dewata, lagunya ramah dan hangat seperti tuan rumah yang sedang menjamu tetamunya dengan gembira.

“Kiranya di waktu meniup seruling kaupun memakai kedok dan sama sekali tak ingin kelihatan perasaan hatimu,” demikian Yo Ko membatin.

Tetapi sebelum habis satu lagu ditiup, ketika sinar bulan perlahan-lahan menyorot naik ke dinding, mendadak gadis itu meletakkan serulingnya lalu menjerit sambil berdiri, suaranya terdengar begitu kaget dan kuatir.

Melihat perubahan orang yang hebat dan aneh ini, seketika Yo Ko ikut terkejut. Waktu ia pandang menurut arah sinar mata orang, ia lihat di atas dinding kelihatan ada tiga buah cap tangan merah. Ketiga cap tangan ini sangat tinggi, harus dengan melompat baru dapat mencapainya. Karena warnanya merah dan berdarah, di bawah sorotan sinar bulan menjadi nampak tambah seram.

“Cici, permainan apakah dan perbuatan siapakah itu?” tanya Yo Ko yang tidak mengerti akan maksud tiga cap tangan itu.

“Kau tidak tahu?” menegas si gadis, “Jik-lian sian-cu!”

“Li Bok-chiu maksudmu?” tanya Yo Ko. “Bilakah ia tinggalkan cap tangan ini?”

“Tentunya pada waktu kau tidur tadi malam,” kata gadis itu. “Di sini memang ada tiga orang.”

“Tiga orang?” Yo Ko menegas dan tidak paham.

“Ya,” kata si gadis, “la tinggalkan tiga cap tangan, maksudnya adalah memberi peringatan akan membunuh tiga orang penghuni rumah ini.”

“Kecuali kau dan aku, siapakah gerangan orang ketiga itu?” tanya Yo Ko.

“Aku,” sambung suara seseorang tiba-tiba dari luar.

Ketika pintu terpentang, dari luar masuk seorang gadis berpakaian kuning muda, perawakannya langsing, raut mukanya potongan daun sirih, siapa lagi dia kalau bukan Liok Bu-siang yang jiwanya pernah beberapa kali ditolong oleh Yo Ko.

“Ha-ha, Tolol, sekali ini giliranmu yang terluka, ya?” demikian Bu-siang menyapa dengan tertawa.

“Bini...” mendadak Yo Ko berhenti.

Sebetulnya ia hendak panggil ‘bini cilik’, tapi baru setengah ucapan tiba-tiba teringat olehnya masih ada gadis berbaju hijau yang ramah itu berdiri di samping, maka ia pun tak berani bergurau lagi.

“Piauci, begitu aku terima beritamu, segera aku datang ke sini,” kata Bu-siang lagi, “He, Tolol, siapakah yang melukai kau?”

Belum Yo Ko menjawab, tiba-tiba si gadis baju hijau menuding cap tangan di dinding. Seketika Liok Bu-siang berseru kaget, air mukanya berubah hebat bagai melihat momok. Pemandangan waktu kecil di kampung halamannya Ling-oh-tin di Ohciu, di mana Li Bok-chiu meninggalkan cap tangan dan membunuh seluruh anggota keluarganya tak tertinggal sejiwa pun, seketika terbayang olehnya.

ADU LAGU

Begitulah dalam berdukanya air mata ber-kilau hendak menetes, tiba-tiba dia ulurkan kedua tangannya dan sekaligus menarik kedua kedok dari muka Yo Ko dan si gadis baju hijau sambil berkata:

“Lekas kita mencari daya untuk menghadapi iblis jahat ini, buat apa kalian berdua masih memakai barang tidak genah ini.”

Karena ditanggalkannya kedok, seketika mata Yo Ko terbeliak. Dia lihat gadis itu berkulit putih bersih bagai salju, parasnya bundar telur dan pada pipinya terdapat dekik kecil yang manis, meski tak secantik Siao-liong-li yang tiada taranya, tapi terhitung satu nona yang amat ayu juga. Kiranya gadis ini adalah Piauci atau kakak misan Liok Bu-siang, ialah Thia Eng, si gadis cilik pemetik ubi teratai yang kita kenal pada permulaan cerita ini.

Seperti diketahui dahulu ia tertawan Li Bok-chiu dan hampir teraniaya oleh tangan kejinya. Kebetulan Tho-hoa Tocu (pemilik pulau Tho-hoa) Oey Yok-su lewat di situ dan menolong jiwanya. Semenjak puterinya (Oey Yong) menikah, Oey Yok-su lantas mengembara ke mana saja, meski jiwanya sangat sederhana dan terbuka, tapi seorang tua hidup sebatang-kara mau tak mau kesepian juga. Tatkala itu Thia Eng yang lemah tiada sandaran menimbulkan rasa kasihannya. Dia segera menyembuhkan racun luka Thia Eng dan karena gadis cilik ini pintar meladeninya melebihi Oey Yong, maka dari kasihan timbullah rasa sayang hingga akhirnya Oey Yok-su menerimanya sebagai murid secara resmi.

Meski pun kepintaran dan kecerdasan Thia Eng tidak menimpali Oey Yong, tetapi ia bisa berlaku sangat hati-hati dan giat belajar, maka tidak sedikit pula kepandaian kebanggaan Oey Yok-su berhasil dilatihnya.

Tahun ini baru saja dia tamat belajar ilmu silat. Ia minta ijin sang guru, lalu kembali ke utara untuk mencari Piaumoay, dan kebetulan di tengah jalan diketemukannya Yo Ko dan Liok Bu-siang yang sedang diuber-uber Li Bok-chiu, lantas dia bantu memberi peringatan dan tengah malam menolongnya pula.

Habis pertempuran di restoran di mana mendadak Yo Ko pergi tanpa pamit, Thia Eng lantas membawa Liok Bu-siang ke tanah pegunungan sunyi ini dan mendirikan gubuk untuk merawat lukanya. Beberapa hari yang lalu setelah luka Liok Bu-siang sembuh sama sekali, gadis ini pesiar keluar dengan seorang kawannya, dan siapa tahu di tengah jajan dipergokinya Oey Yong sedang bertahan melawan Kim-lun Hoat-ong dengan memasang ‘Loan-ciok-tin’.

Tentang ilmu pengetahuan yang aneh-aneh itu pernah juga Thia Eng belajar dari Oey Yok-su. Meski pun tak banyak yang dipahaminya, tapi dari sedikit yang dipelajarinya itu secara kebetulan Yo Ko dapat ditolongnya. Kini tiga muda-mudi berkumpul, ketika membicarakan Li Bok-chiu barulah mereka tahu di waktu kecilnya sudah pernah berjumpa di Ohciu. Sebelah mata Li Bok-chiu menjadi buta justru karena dipatuk burung merahnya Yo Ko.

Tatkala itu Li Bok-chiu kena diatasi oleh Oey Yok-su sehingga pernah ditempeleng empat kali oleh Thia Eng. Paling akhir ini Liok Bu-siang menggondol lari kitab pusakanya, ‘Panca-bisa’, tentu saja gadis ini lebih-lebih ingin dibekuknya. Kalau dibicarakan maka ketiga muda-mudi ini semua adalah musuh besar Jik-lian-sian-cu, kini mendadak ia datang lagi, ia tak mau binasakan Yo Ko secara diam-diam selagi orang terluka, tapi malah meninggalkan tanda peringatan tiga cap tangan, suatu tanda ia sudah yakin tiga sasarannya tidak akan bisa loIos.

Yo Ko sendiri terluka hingga tak bisa berkutik, kalau melulu mengandalkan Thia Eng dan Liok Bu-siang susah melawannya. Setelah ketiga orang berunding, mereka pun merasa tak berdaya.

“Aku masih ingat tempo dulu iblis ini mendatangi rumah Piaumoay pada waktu hari hampir terang tanah,” demikian kata Thia Eng, “sekarang jika dia juga datang sebelum fajar tiba, maka sementara ini kita masih ada waktu beberapa jam. Kuda tunggangan Yo-heng amat bagus, biarlah sekarang juga kita lari, belum tentu iblis itu bisa menyandak.”

“Ya, bagaimana Tolol, kau terluka, sanggup naik kuda tidak?” tanya Bu-siang.

“Terpaksa harus dicoba juga,” sahut Yo Ko. “Dari pada mati konyol di tangan iblis ini.”

“Piauci,” kata Bu-siang pula, “kau kawani si Tolol lari ke barat, nanti aku akan pancing dia mengejar ke timur.”

“Tidak, kau saja yang menemani Yo-heng,” sahut Thia Eng sedikit jengah, “Di antara kita bertiga permusuhanku dengan dia paling ringan, sekali pun aku tertangkap belum pasti dia membunuh aku, sebaliknya bila kau yang terpegang, dapat dipastikan kau celaka.”

“Tujuan kedatangannya ini adalah diriku, kalau ia dapatkan aku bersama dengan si Tolol ini, bukankah akan bikin susah dia?” ujar Bu-siang.

Terharu sekali Yo Ko mendengar pembicaraan mereka. Dia pikir kedua nona ini ternyata berbudi luhur, dalam keadaan berbahaya dengan suka rela bersedia menolong jiwanya, kalau aku sampai tertangkap dan tewas oleh iblis itu, hidupku rasanya tak sia-sia.

“He, Tolol, coba katakan, kau lebih suka lari diiringi Piauci atau dikawani aku?” mendadak Bu-siang bertanya.

Belum Yo Ko menjawab, Thia Eng telah menyela: “Kenapa kau terus memanggilnya Tolol, apa kau tak takut Yo-heng marah?”

Bu-siang melelet lidah jenaka, lalu dengan tertawa ia bilang: “Coba lihat, begitu ramah kau terhadapnya, tentu saja engkoh Tolol ini pilih diiringi kau.” Dari sebutan ‘Tolol’ sekarang ia ganti dengan memanggil ‘engkoh Tolol’, hal ini boleh dikatakan Bu-siang telah menaikkan harga si Yo Ko.

Keruan saja Thia Eng merah jengah, “Eh, bukankah dia juga panggil kau bini cilik? Jika sebagai bini cilik kau tak mengurusnya, lalu siapa yang akan urus dia?” demikian balasnya menggoda.

Kini giliran Liok Bu-siang yang merah jengah. Ia ulurkan tangan lantas akan meng-kilik Thia Eng dan terjadilah udak-udakan. Suasana dalam kamar seketika menjadi berubah, mereka bertiga tidak ketakutan lagi seperti tadi.

“Jika nona Thia yang iringi aku lari, tentu bini cilik berbahaya jiwanya, sebaliknya bila bini cilik yang kawani aku, nona Thia juga amat berbahaya,” demikian Yo Ko berpikir.

“Kalian begini baik padaku, sungguh aku berterima kasih sekali. Maka kupikir paling baik kalian berdua lekas menyingkir dari sini, biar aku tinggal sendiri melayani iblis itu. Guruku dan dia adalah saudara seperguruan, rasanya dia akan ingat pada hubungan perguruan. Lagi pula dia takut pada guruku, agaknya tidak sampai berbuat apa-apa.”

“Tidak, tidak,” sela Bu-siang sebelum Yo Ko selesai.

Yo Ko menduga kedua nona itu tidak akan mau melarikan diri meninggalkan dirinya, maka dengan suara lantang dia berkata lagi:

“Kalau begitu biarlah kita bertiga menempuh jalan bersama, jika benar-benar terkejar oleh iblis itu, kita bertiga lawan saja mati-matian, hidup atau mati biarlah terserah takdir.”

“Baiklah, ini paling baik,” sahut Bu-siang setuju.

“Datang dan perginya iblis itu amat cepat, kalau kita berjalan bersama pasti akan disusul olehnya,” ujar Thia Eng sesudah merenung sejenak “Dari pada bergebrak dengan dia di tengah jalan, adalah lebih baik di sini saja.”

“Ya, betul sekali,” kata Yo Ko. “Cici mahir ilmu pengetahuan yang aneh-aneh sampai Kim-lun Hoat-ong juga kena kau kurung, tentu Jik-lian-sian-cu juga tidak bisa membobolnya.”

Karena kata-kata Yo Ko ini, ketiga orang ini timbul sinar harapan. “Barisan batu-batu itu Kwe-hujin yang reka, aku hanya ikut merubahnya saja, bila aku sendiri yang harus memasangnya, belum cukup kepandaianku. Tetapi biarlah, kita usahakan sebisanya menurut nasib,” demikian kata Thia Eng, “Piaumoay, marilah kau membantu aku.”

Lalu kedua saudara misan itu membawa alat cangkul dan sekop keluar rumah, mereka menggali tanah dan menumpuk batu. Setelah sibuk lebih dari satu jam, sayup-sayup terdengar ayam berkokok di kejauhan, sementara itu Thia Eng sudah mandi keringat karena.

Waktu dipandangnya gundukan tanah yang dia tumpuk dan atur itu, apa bila dibandingkan barisan batu yang dipasang Oey Yong, sesungguhnya daya gunanya masih selisih jauh, diam-diam Thia Eng bersedih.

“Kepintaran Kwe-hujin sungguh beratus kali lebih tinggi. Aih, dengan gundukan tanah yang kasar jelek ini rasanya sulit hendak merintangi Jik-lian-sian-cu,” demikian ia mengeluh. Tetapi karena kuatir Piaumoay dan Yo Ko ikut bersedih.

Setelah sibuk ‘kerja-bakti’, di bawah cahaya bulan remang-remang Bu-siang melihat wajah sang Piauci agak berlainan, ia tahu orang tak yakin bisa menahan musuh. Tiba-tiba ia keluarkan sejilid kitab dari bajunya, ia masuk rumah dan diangsurkan kepada Yo Ko.

“ToloI, inilah kitab ‘panca-bisa’ guruku,” katanya.

Melihat kulit kitab itu merah bagai darah, Yo Ko rada terkesiap. “Aku telah membohongi Suhu bahwa kitab itu telah direbut Kay-pang, maka aku kuatir bila sebentar lagi aku tertangkap olehnya bisa digeledah,” kata Bu-siang. “Maka bolehlah kau membacanya sekali, setelah kau apalkan lalu bakar saja sekalian.”

Biasanya kalau bicara dengan Yo Ko selamanya Bu-siang suka mengolok-olok dan main bengis, tapi di saat jiwa terancam, ia tidak sempat berkelakar Iagi. Melihat sikap si gadis muram durja, Yo Ko mengangguk dan menerima kitab itu.

Lalu Bu-siang keluarkan lagi sepotong sapu tangan sulaman, dengan suara lirih ia bilang lagi:

“Jika kau pun tak beruntung sehingga jatuh di tangan iblis itu dan dia hendak celakai jiwamu, hendaklah kau lantas unjukkan sapu tangan ini padanya.”

Yo Ko melihat sapu tangan yang hanya sebelah itu jelas kelihatan bekas sobekan, bunga merah sulam juga tersobek separoh, ia tidak tahu maksud Bu-siang, maka ia bingung tak mau menerima.

“Apa ini?” tanyanya.

“Aku minta kau sampaikan ini padanya, maukah kau?” sahut Bu-siang.

Yo Ko mengangguk, lalu menerima sapu tangan dan ditaroh di samping bantalnya. Tetapi tiba-tiba Bu-siang mendekatinya lalu mengambil sapu tangan itu terus dimasukkan ke baju Yo Ko. Begitu diciumnya bau khas orang laki-laki, teringat olehnya pengalaman tempo hari pernah bajunya dilepas pemuda ini dan menyambung tulangnya, malah pernah tidur bersama seranjang. Mendadak terguncang hatinya, dia pandang Yo Ko sekejap, lalu keluar kamar.

Melihat kerlingan mata si gadis sebelum pergi ini penuh arti, hati Yo Ko ikut terguncang keras. Selang tak lama barulah ia membalik halaman-halaman kitab ‘Panca-bisa’. Ia lihat kitab itu sudah berubah kuning saking tuanya, apa yang tertulis sebangsa pelajaran cara-cara untuk menangkap makhluk berbisa, merendam senjata rahasia dengan racun berikut cara-cara pengobatannya.

Dari awal sampai akhir Yo Ko membaca kitab ‘Panca-bisa’ itu sampai beberapa kali dan mengingatnya. Ibunya tewas akibat pagutan ular berbisa, peristiwa ini meninggalkan luka yang dalam di hati sanubarinya, maka demi dilihatnya kitab itu tercatat begitu banyak dan jelas tentang cara-cara membuat racun berikut cara mengobatinya, tanpa terasa dia berpikir: “Ah, jika dulu aku paham begini banyak cara menyembuhkan racun, tentulah aku dapat menolong jiwa ibuku. Ia pasti akan kasih-sayang padaku sehingga aku tak sampai ter-lunta-lunta menjadi yatim-piatu seperti sekarang ini.” Teringat akan itu, tak tertahan air matanya me-netes di atas kitab.

Tiba-tiba didengar suara pintu didorong. Ketika ia memandang, ia lihat Thia Eng dengan kedua pipi merah jengah sedang mendekati pembaringannya, pada jidat gadis ini masih penuh butir keringat.

“Yo-heng, aku telah memasang barisan gundukan tanah di luar pintu, tapi paling banyak hanya sekadar merintangi saja, untuk menahan iblis terkutuk itu terang sukar,” demikian kata Thia Eng perlahan sambil keluarkan sepotong sapu tangan sutra dari bajunya dan diangsurkan pada Yo Ko, “Maka bila sampai iblis itu menerjang masuk, serahkanlah sapu tangan ini padanya.”

Yo Ko lihat sapu tangan ini hanya separoh juga, kainnya dan kembangnya serupa dengan potongan sapu tangan yang diterimanya dari Bu-siang tadi, maka ia menjadi heran sekali. Waktu ia angkat kepala, tiba-tiba sinar matanya bentrok dengan sinar mata si gadis. Di bawah sorot lampu dilihatnya air mata mengaca di kelopak matanya dengan wajah malu-malu girang. Selagi Yo Ko hendak bertanya, tiba-tiba muka Thia Eng menjadi merah dan berkata lirih:

“Sekali-kali jangan diketahui Piaumoay-ku.” Habis ini ia pun jalan keluar.

Yo Ko keluarkan separoh sapu tangan yang diterimanya dari Liok Bu-siang tadi kemudian digabungkan menjadi satu, nyata kedua belah sapu tangan itu persis berwujud selembar, Cuma sapu tangan itu sudah terlalu tua, sutera putih sudah berubah kuning, hanya bunga merah sulaman itu kelihatan masih segar. Yo Ko tahu sapu tangan ini pasti mengandung arti yang sangat dalam, cuma kedua gadis itu mengapa masing-masing menyerahkannya separoh? Dan kenapa ingin serahkan pada Li Bok-chiu dan mengapa tidak diketahui masing-masing pihak? Sedang di waktu memberikan sapu tangan wajah kedua gadis itu mengunjuk rasa malu-malu!

Nyata karena hati Yo Ko telah tertambat atas diri Siao-liong-li, terhadap Liok Bu-siang dan Thia Eng hanya anggap sebagai sahabat baik saja, sungguh tidak pernah terpikir olehnya bahwa kedua gadis itu sesungguhnya amat mendalam mencintainya. Sudah terang sapu tangan itu akan membuat Li Bok-chiu terkenang pada kisah asmaranya dahulu dan akan mengampuni jiwa mereka, tapi mereka justru memberikan itu padanya.

Begitulah Yo Ko termangu-mangu duduk di atas ranjangnya. Tiba-tiba didengarnya suara ayam berkokok lagi dikejauhan, menyusul terdengar suara suling yang merdu, kiranya Thia Eng telah meniup serulingnya. Agaknya setelah mengatur barisan gundukan tanah dan merasa lega, maka ditiupnya sebuah lagu ‘liu-po’, suara sulingnya halus tenang tak berduka, suatu tanda orang sedang merasa senang tanpa kuatir sesuatu. Sesudah mendengar sejurus, tiba-tiba Yo Ko mengambil kecapi lantas mengiringi seruling orang. Suara kecapi itu nyaring sekali hingga merupakan paduan suara yang amat serasi.

Bu-siang duduk di belakang gundukan tanah. Ia terpesona mendengar sang Piauci meniup seruling mengiringi suara kecapi Yo Ko, sementara itu ufuk timur sudah remang-remang, fajar sudah mendatang, tak tertahan lagi ia berpikir: “Ahh, sekejap lagi Suhu bakal datang, jiwaku tak akan bisa tertolong dalam satu jam ini. Harap saja Suhu melihat sapu tangan itu dan mengampuni jiwa Piauci dan dia, mereka berdua...”

Sebetulnya watak Bu-siang nakal dan licin, sejak kecil biasanya Thia Eng suka mengalah padanya. Tapi dalam keadaan bahaya sekarang, dalam hati Bu-siang justru berharap Yo Ko bisa selamat, cintanya ternyata sudah mendalam dan diam-diam berdoa agar pemuda itu terhindar dari mala petaka. Selagi termangu-mangu, ketika mendadak ia angkat kepalanya, tiba-tiba dilihatnya di luar gundukan tanah sana sudah berdiri seorang To-koh (imam wanita) berjubah putih, tangan kanan membawa kebut, siapa lagi kalau bukan Suhu-nya, Li Bok-chiu.

Bu-siang berseru tertahan, cepat ia loloskan pedang dan berdiri. Sementara itu Yo Ko lagi menabuh khim dan sampai pada saat yang tegang itu Thia Eng juga masih asyik meniup serulingnya, perhatian mereka penuh dicurahkan pada alat musik, meski Bu-siang menjerit tertahan, ternyata tak digubrisnya. Tetapi aneh juga, Li Bok-chiu hanya berdiri tegak tanpa bergerak, ia malah pasang kuping mendengarkan dengan cermat.

Kiranya suara paduan khim dan siau (seruling) itu mengingatkannya pada masa muda waktu sama-sama main musik dengan kekasihnya, Liok Tian-goan, malahan lagu ‘liu-po’ yang dibawakan orang sekarang ini adalah lagu yang sering dibawakannya dahulu. Kejadian itu sudah lewat berpuluh tahun, tetapi kenangan itu sukar dilupakan, maka diam-diam ia berdiri di luar sana mendengarkan suara kecapi dan suling yang sahut menyahut dengan mesranya. Ia berduka, sekonyong-konyong ia menangis tergerung-gerung keras.

Tangisannya yang amat sedih ini membikin Liok Bu-siang tak mengerti. Biasanya gurunya terkenal kejam, mana pernah mengunjuk hati lemah? Dan kini terang-terangan ia datang hendak membunuh orang, mengapa malah menangis di luar pintu? Dan bila didengarnya tangisan Li Bok-chiu begitu sedih memilukan, tanpa tertahan ia pun menangis pula.

Karena menangisnya Li Bok-chiu itu, segera Yo Ko dan Thia Eng mengetahuinya juga, suara khim dan suling mereka rada terpengaruh hingga iramanya menjadi sedikit kacau. Tergerak pikiran Li Bok-chiu, tiba-tiba dari menangis dia berubah menyanyi keras dengan suaranya yang memilukan.

Sebenarnya suara khim dan siau tadi penuh membawa perasaan gembira, namun karena nyanyian Li Bok-chiu yang bukan saja syairnya sangat sedih, juga nadanya pun demikian memilukan, bahkan iramanya berlainan sama sekali dengan lagu Yo Ko berdua, baru saja Li Bok-chiu mulai menyanyi, suara seruling Thia Eng segera hamper-hampir mengikuti iramanya.

Keruan Yo Ko terkejut, lekas-lekas dia tambahi suara kecapinya lebih keras dan menarik kembali suara seruling Thia Eng. Makin lama suara nyanyian Li Bok-chiu makin kecil, tetapi makin kecil makin melengking tinggi nadanya. Rada kacau Yo Ko terpengaruh oleh suara tangisnya, suatu saat dia pun tertarik menuruti irama orang tanpa sadar. Keuletan Thia Eng memang lebih cetek, maka lebih-lebih ia tak bisa menguasai diri.

Diam-diam Li Bok-chiu sangat girang. Dia pikir tanpa turun tangan, cukup dengan suara nyanyianku saja sudah dapat membuat kalian hilang semangat dan menyerah. Siapa tahu sedikit ia bergirang, suara nyanyiannya segera timbul reaksi dan ikut mengunjuk rasa girang juga. Kesempatan ini dipergunakan Yo Ko dengan baik untuk membelokkan kembali iramanya, menyusul Thia Eng pun bisa menguasai diri kembali ke lagu mereka tadi.

Melihat usahanya gagal, tidak kepalang gusarnya Li Bok-chiu, segera suara nyanyiannya menjadi bertambah tinggi dan beberapa kalimat lanjutannya dinyatakan secara lebih pilu tapi bengis mengadung rasa marah. Namun Yo Ko dapat melawannya dengan kuat.

Di antara empat orang, ilmu silat Liok Bu-siang adalah paling rendah. Mula-mula ia heran mengapa gurunya tiba-tiba menarik suara dan bernyanyi, baru kemudian ia paham bahwa hakikatnya kedua pihak sedang saling gebrak, cuma bukan gebrak dengan kaki tangan, melainkan adu pengaruh batin, termasuk Iwekang. Ia lihat paduan suara musik Yo Ko dan Thia Eng masih tak sanggup menahan gempuran suara nyanyian gurunya. Ia tahu gurunya tak berani sembarang menyerbu masuk karena dirintangi barisan gundukan tanah di luar rumah itu, maka dengan suara nyanyian hendak bikin kacau dulu semangat mereka bertiga, habis itu tanpa banyak buang tenaga barisan gundukan tanah akan dibobolnya.

Sejenak kemudian didengar suara kecapi dan seruling mulai kisruh. Ia tahu Yo Ko dan Thia Eng sudah repot melawan musuh, cuma sayang ia tak berdaya buat membantunya, tiada jalan lain kecuali berkuatir saja diam-diam.

Suatu saat tiba-tiba Li Bok-chiu meninggikan iramanya hingga kedengaran lebih sedih dan seram. Sukar bagi Yo Ko dan Thia Eng untuk melawannya. Ketika nada suara kecapi makin lama makin tinggi, akhirnya terdengarlah suara “creng”, senar pertama kecapi itu putus.

Thia Eng terkejut, suara serulingnya rada kacau, kembali senar kedua kecapi Yo Ko putus lagi. Ketika Li Bok-chiu tarik suaranya lebih tinggi segera senar ketiga lagi-lagi gugur. Dengan demikian suara seruling Thia Eng tidak bisa lagi berpaduan dengan suara kecapi yang telah pincang itu.

Tadi sewaktu Li Bok-chiu mendatangi rumah gubuk itu, dari jauh sudah dilihatnya barisan gundukan tanah yang kelihatan bertumpuk serabutan itu, tapi di dalamnya sesungguhnya penuh perubahan menurut lukisan Pat-kwa, cuma belum sempurna.

Sebenarnya pada waktu senar kecapi Yo Ko putus hingga suaranya rada kacau, segera ia bisa menyerbu rnasuk, tapi ia masih jeri terhadap barisan gundukan tanah. Mendadak pikirannya tergerak, cepat dia memutar ke sebelah kiri, lalu dibarengi suara nyanyianrya yang bernada tinggi, ia melompati segundukan tanah terus membobol dinding rumah dan menyerbu ke dalam. Kiranya barisan gundukan tanah yang dipasang Thia Eng melulu mengutamakan menjaga pintu depan tanpa memikirkan dinding rumah yang reyot dan kurang kokoh.

Kini Li Bok-chiu secara cerdik menghindari pintu depan dan main pintu belakang. Ketika kedua telapak tangannya memukul keras, dinding gubuk itu segera dapat dirobohkannya dan diterjang masuk. Terkejut sekali Liok Bu-siang dan Thia Eng, ke-duanya berlari masuk ke dalam dengan pedang siap di tangan.

Yo Ko pun terkejut melihat Li Bok-chiu masuk dengan membobol dinding. Tapi bila ingat ia sendiri sedang terluka dan tidak mampu melawan, segera ia menjadi nekad, mati hidup tak dipikirnya lagi. Ia tukar nada kecapinya dan mengganti dengan sebuah lagu ‘tho-yao’ yang menyanyikan tentang pasangan muda-mudi pada hari pengantin baru dengan penuh rasa bahagia.

Melihat si Yo Ko begitu tenang, musuh di depan mata masih unjuk senyuman, diam-diam Li Bok-chiu kagum akan nyali orang, tetapi demi mendengar suara kecapinya yang mesra menarik itu, tak tertahan hatinya terguncang.

“Mana kitabnya? Sebenarnya direbut orang Kay-pang atau tidak?” tanya Li Bok-chiu tiba-tiba kepada Liok Bu-siang.

Bu-siang tidak menjawab. sebaliknya Yo Ko gunakan tangan kiri buat memetik kecapi dan tangan kanan melemparkan kitab ‘Panca-bisa’ itu kepadanya.

“Oey-pangcu dari Kay-pang adalah seorang berbudi luhur dan punya harga diri, mana dia sudi melihat kitabmu yang kotor ini? Malah dia telah memberi perintah kepada anak murid Kay-pang agar tidak membalik barang sehalaman bukumu ini,” demikian kata Yo Ko.

Melihat kitab pusakanya masih baik-baik tanpa kurang sesuatu apa pun, girang sekali Li Bok-chiu. Ia pun kenal kelakuan Kay-pang yang biasanya sangat terpuji, peraturan mereka pun sangat keras, jadi mungkin juga belum pernah ada yang membuka kitabnya dan membacanya. Karena girangnya itu pengaruh suara sedihnya lantas berkurang beberapa bagian.

Kemudian Yo Ko keluarkan lagi dua potong belahan sapu tangan bersulam lalu dibentang di atas meja.

“Sapu tangan ini pun kau ambil saja sekalian.” katanya lagi.

Air muka Li Bok-chiu berubah hebat melihat sapu tangan itu, begitu kebutnya menyambar, dua potong sapu tangan itu sudah terbelit kemudian sampai di tangannya. Dia terkesima memandang sapu tangan itu, seketika perasaannya timbul tenggelam bagaikan ombak mendampar.

Di lain pihak Thia Eng dan Liok Bu-siang saling pandang sekejap, paras mereka pun merah jengah, sungguh tak terduga mereka telah memberikan sapu tangan pada Yo Ko, sedang pemuda ini justru unjukkan sapu tangan itu di hadapan mereka. Kedua saudara misan ini seketika sama tahu masing-masing jatuh hati pada Yo Ko, tapi sifat anak gadis dengan sendirinya sukar diucapkan terus terang.

Tiba-tiba Li Bok-chiu merobek dua potong sapu tangan itu menjadi empat potong. “Kejadian sudah lalu buat apa disesalkan?” katanya tiba-tiba.

Dan ketika tangannya menyobek lagi terus dilempar ke udara, tahu-tahu sobekan sapu tangan tadi berhamburan bagai bunga rontok. Yo Ko terkejut.

“Creng!” kembali terdengar suara nyaring, seutas senar kecapi yang lain kembali putus.

“Kalau kini kubunuh kau, gampang bagai membalik tanganku sendiri!” bentak Li Bok-chiu. “Tapi kau terluka, bila kubunuh mungkin kau pun tidak rela, Cis, putus lagi seutas!”

Betul saja, senar kecapi ke lima kembali putus menyusul suara ejekannya itu. Kini kecapi yang tadinya bersenar tujuh itu tinggal tersisa dua senar saja, betapa pandai Yo Ko memainkan kecapi sukar lagi untuk membentuk irama.

“Hayo lekas petikkan beberapa lagu sedih saja biar kalian menangis. Dunia fana ini selalu membikin orang menderita, apa senangnya orang hidup?” demikian Li Bok-chiu mendadak membentak.

Tapi watak si Yo Ko sangat bandel, ia justru petik kedua senar kecapinya keras-keras dan tetap dengan nada nyanyian gembira pengantin baru tadi.

“Baik, biar aku bunuh seorang dulu, coba kau bakal sedih dan pilu tidak?” kata Li Bok-chiu pula. Karena kata-katanya ini, kembali seutas senar kecapi gugur lagi.

Kemudian Li Bok-chiu angkat kebutnya hendak disabetkan ke kepala Liok Bu-siang, namun Thia Eng segera angkat pedang siap adu jiwa dengan musuh.

Insaf tak dapat menghindarkan ancaman musuh, tiba-tiba Yo Ko malah tertawa, “Hari ini kami bertiga bisa mati bersama di sebuah tempat dan saat yang sama dalam keadaan senang dan bahagia, sungguh jauh lebih enak dari pada kau hidup sebatang kara di dunia ini dengan hati kosong,” demikian ia mengejek musuh.

“Hayo, Eng-moay, Siang-moay, marilah kalian ke sini!”

Segera Thia Eng dan Bu-siang mendekati Yo Ko, sebuah tangan memegang Thia Eng dan tangan lain memegang Bu-siang, lalu sambil tertawa ia berkata:

“Biarlah kita mati bersama, di tengah jalan menuju alam baka kita masih dapat bicara sambil bergurau, bukankah jauh lebih baik dari pada perempuan jahat dan keji ini?”

“Ya, ya, Tolol, sedikit pun tak salah katamu,” sahut Bu-siang tertawa, karena itu Thia Eng ikut tersenyum hangat.

Karena tangan kedua saudara misan ini dipegang Yo Ko, seketika keberanian mereka pun bertambah lipat ganda, perasaan mereka amat senangnya.

“Apa yang dikatakan bocah ini tidak salah juga, kalau mereka mati secara demikian, betul juga jauh lebih enak dari pada hidupku,” Bok-chiu membatin dengan wajah sedingin es. Namun hatinya yang kejam itu segera berpikir lagi: “Ahh, mana boleh begitu enak bagi mereka? Aku justru ingin membikin kalian mati dengan menderita lebih dulu.”

Kemudian dia gerakkan kebutnya perlahan terus mulai menyanyi lagi, lagunya masih tetap seperti tadi, cuma nadanya tambah sedih bagai keluhan janda terbuang, seperti tangisan setan gentayangan di malam sunyi.

Tangan Yo Ko bertiga masih saling genggam hangat. Tak lama mendengarkan, tiba-tiba timbul rasa pilu mereka yang tak tertahankan. Iwekang Yo Ko lebih tinggi, maka ia coba kumpulkan semangat agar tak terpengaruh dengan pertahankan senyumannya. Hati Bu-siang juga lebih keras dan tidak gampang terguncang, tapi Thia Eng agaknya tak tahan, air matanya mulai meleleh.

Suara nyanyian Li Bok-chiu makin lama semakin rendah, sampai akhirnya menjadi begitu lirih seperti terputus, lalu menyambung lagi. Kelopak mata Yo Ko mulai merah, hidungnya mulai basah ingusan. Jik-lian-sian-cu sedang menunggu, asal ketiga orang itu mengalirkan air mata berbareng, begitu kebutnya menyabet, segera mereka akan dibinasakannya. Tetapi pada saat nyanyiannya bertambah sedih luar biasa, mendadak didengarnya di luar rumah ada orang menghampiri dengan bergelak tertawa, sambil bertepuk tangan dan berdendang.

Suara nyanyian itu suara kaum wanita, kedengaran usia yang menyanyi pasti tidak muda lagi, tapi lagu yang dibawakannya justru lagu kanak-kanak yang riang gembira, nada suara Li Bok-chiu yang sedih itu menjadi kacau balau.

Suara nyanyian itu semakin mendekat, sejenak kemudian masuklah seorang perempuan setengah umur dengan rambut semrawut, kedua matanya besar bulat dan tertawa ketolol-tololan, sebelah tangannya membawa sebatang garpu besar yang biasa dipakai tukang api.

Li Bok-chiu terkejut dan heran. Perempuan itu bisa masuk ke rumah ini dengan mengitari barisan gundukan tanah yang diatur oleh Thia Eng, kalau perempuan sinting ini bukan sekomplotan dengan Thia Eng bertiga, tentu dia pun mahir ilmu perhitungan bintang yang mujizat itu.

Lantaran otaknya terganggu oleh pikiran lain, seketika pengaruh nyanyiannya yang bernada sedih itu lantas, tidak selihay tadi.

LO-SIA DAN SIAU-SIA

Thia Eng girang bukan main melihat datangnya perempuan setengah umur itu, segera ia berseru:

“Suci, orang ini hendak mencelakai diriku, lekas engkau membantu adikmu ini.”

Ternyata perempuan ini adalah murid Oey Yok-su, namanya Sah Koh (si nona tolol). Dia tidak menjawab seruan Thia Eng, tapi melanjutkan bernyanyi sambil tertawa. Lagunya tetap lagu kanak-kanak yang bersuka ria sehingga tidak terpengaruh oleh nada nyanyian Li Bok-chiu yang sangat sedih.

Lama-lama Li Bok-chiu menjadi murka, dia pikir perempuan sinting ini harus dibereskan lebih dahulu. Maka sebelum berhenti nyanyiannya, serentak kebutnya menyabet ke arah kepala Sah Koh. Sungguh aneh, sama sekali Sah Koh tak ambil pusing terhadap serangan Li Bok-chiu, sebaliknya ia mengangkat garpunya terus menusuk ke dada lawan. Melihat serangan lawan sangat kuat, kembali Li Bok-chiu terkejut. Ia tidak paham kenapa perempuan sinting ini dapat memiliki kekuatan sedemikian hebat. Cepat dia menggeser ke samping, menyusul kebutnya menyabet lagi ke leher orang.

Tetapi Sah Koh tetap tidak pedulikan serangan musuh, kembali garpunya menusuk lurus ke depan. Waktu Li Bok-chiu memutar kebutnya untuk membelit ujung garpu, Sah Koh anggap tidak tahu saja, ujung garpu tetap menusuk ke depan. Kiranya Sah Koh ini aslinya adalah anak dari salah satu murid Oey Yok-su yang bernama Ki Leng-hong. Watak Oey Yok-su terkenal aneh, eksentrik, dan Leng-hong menjadi korban wataknya yang luar biasa itu.

Karena menyesal Oey Yok-su pungut anak perempuan Ki Leng-hong, yaitu Sah Koh dan berjanji pada diri sendiri akan mendidik Sah Koh dengan segenap kepandaian yang dimilikinya. Cuma sayang, lantaran syarafnya terganggu pada saat menyaksikan ayahnya tewas, maka otaknya menjadi miring. Terbatas oleh bakatnya ini, maka sia-sia saja jerih payah Oey Yok-su yang berusaha menurunkan segenap kepandaiannya kepada nona itu. Walau pun begitu, selama belasan tahun ini dapat pula dilatihnya suatu permainan ciang-hoat (pukulan dengan telapak tangan) dan permainan Jeh-hoat (permainan garpu).

Apa yang disebut suatu permainan sesungguhnya cuma terdiri dari tiga jurus saja setiap macamnya. Soalnya Oey Yok-su memaklumi bakat Sah Koh yang kurang, kalau diajari perubahan yang aneh dan terlalu rumit tentu malah tak dapat diingatnya, maka ia sengaja menciptakan tiga jurus ilmu pukulan dan tiga jurus serangan garpu. Enam jurus ini sangat berbahaya, tiada sesuatu perubahan sampingan dan tiada gerakan yang aneh, hanya begitu-begitu melulu. Letak kelihaiannya hanyalah soal keteguhan pikiran dan kemantapan hati saja, latih terus keenam jurus itu sekuatnya, lain tidak.

Karena itulah keenam jurus Sah Koh itu tidak dapat dipandang enteng, malah ketika ujung kebut Li Bok-chiu melilit ujung garpu Sah Koh, ternyata lawan tak ambil pusing, garpunya juga tidak berhenti, tetapi tetap lurus menusuk ke depan, sekejap saja ujung garpu sudah sampai di depan dadanya. Syukur Li Bok-chiu memang seorang tokoh maha sakti. Pada detik garpu musuh sudah hampir melubangi buah dadanya, mendadak ia berjumpalitan ke belakang, dengan demikian terhindarlah dia dari renggutan maut, walau pun begitu keringat dingin membasahi tubuhnya.

Setelah berjumpalitan ke belakang, ia tidak berhenti, segera ia melompat maju, kebutnya menyabet dari atas. Tapi lagi-lagi Sah Koh tidak pedulikan serangan lawan, kembali garpunya menusuk lurus ke depan. Karena kali ini Li Bok-chiu sedang melompat, maka garpu itu jadinya mengarah ke perutnya.

Melihat ancaman bahaya itu, terpaksa Li Bok-chiu tarik kebutnya untuk menangkis garpu orang, berbareng melompat ke samping. Dia pandang Sah Koh dengan tidak habis mengerti apa sebabnya setiap tusukan garpu lawan yang sederhana itu seketika sanggup mematahkan sabetan kebutnya yang beraneka ragam perubahan, padahal selama ini tokoh silat mana pun tidak berani meremehkan serangan kebutnya. Jelas perempuan sinting ini memiliki ilmu kepandaian yang sukar diukur, jaIan paling selamat rasanya tiada pilihan Iain kecuali angkat langkah seribu saja.

Tapi baru saja Li Bok-chiu hendak kabur melalui lubang dinding yang dibobolnya, tiba-tiba terlihat di tepi bobolan dinding itu sudah duduk seorang berjubah hijau dan berjenggot panjang, siapa lagi dia kalau bukan Tho-hoa-tocu Oey Yok-su adanya.

Oey Yok-su duduk menghadap sebuah bangku pendek, di atas bangku terletak kecapi Yo Ko tadi. Padahal Li Bok-chiu maha cerdik, biar pun sedang bertempur panca inderanya selalu waspada terhadap segala gerak-gerik di sekitarnya. Tetapi sekarang Oey Yok-su masuk ke rumah, mengambil kecapi dan duduk di situ di luar tahunya sama sekali, bila Oey Yok-su hendak menyergapnya, maka jiwanya tentu sudah melayang sejak tadi.

Sambil bertempur melawan Sah Koh tadi, karena kuatir kalau-kalau Thia Eng bertiga ikut mengerubutnya, maka sedetik pun Li Bok-chiu tak pernah menghentikan nyanyinya untuk mengganggu pemusatan pikiran Thia Eng bertiga. Kini mendadak nampak Oey Yok-su duduk di situ sambil memetik kecapi, saking kagetnya seketika ia pun lupa bernyanyi lagi.

Mendadak Oey Yok-su memetik senar kecapi sehingga menimbulkan suara “creng” yang nyaring, lalu dia mulai bemyanyi, yang dibawakan ternyata adalah lagu yang dinyanyikan Li Bok-chiu tadi. Padahal senar kecapi itu tinggal satu saja. Namun Oey Yok-su adalah seorang maha guru ilmu silat. Dari sebuah senar itu dapatlah dipetiknya menjadi berbagai irama yg diinginkan, malahan nada duka suara kecapinya jauh melebihi suara nyanyian Li Bok-chiu tadi.

Karena Li Bok-chiu sudah hapal lagu ini, sekali nadanya dikerahkan, seketika reaksi yang timbul dalam perasaannya menjadi berlipat ganda lebih hebat dari pada Yo Ko bertiga.

Oey Yok-su tahu kejahatan yang dilakukan Li Bok-chiu, kesempatan ini akan digunakan untuk menumpasnya. Asalkan lagu yang dipetiknya selesai, andai kata tidak mampus juga Li Bok-chiu akan menjadi gila.

Di luar dugaan, ketika mendadak si Sah Koh melihat Yo Ko, di bawah cahaya lilin yang remang, ia lihat wajah Yo Ko mirip benar dengan mendiang ayah Yo Ko, yaitu Yo Khong. Biasanya Sah Koh amat takut pada setan iblis. Dulu ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika Yo Khong mati keracunan, apa yang dilihatnya itu sukar terlupakan baginya. Sekarang dilihatnya Yo Ko duduk termangu di sana, disangkanya arwah Yo Khong tengah menggodanya, keruan ia kaget dan ketakutan. Ia tuding Yo Ko kemudian berseru:

“He, kau... kau... saudara Yo, jangan... janganlah kau membikin... membikin susah aku... bukan aku yang mencelakai kau... pergilah kau men... mencari orang lain saja!”

Sebenarnya waktu itu Oey Yok-su sudah mulai meninggikan nada kecapinya dan sejenak lagi Li Bok-chiu pasti akan celaka, tapi mendadak terganggu oleh jeritan Sah Koh hingga senar kecapi yang terakhir pun segera putus.

Sah Koh bersembunyi di belakang sang guru sambil berteriak: “Setan... ada setan, Suhu! Setan saudara Yo!”

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Li Bok-chiu. Dengan kebutnya ia padamkan api lilin, cepat ia menerobos keluar melalui bobolan dinding. Karena gagal membinasakan iblis itu dengan suara kecapi, demi menjaga harga diri Oey Yok-su tak ingin mengejarnya.

Dalam kegelapan Sah Koh menjadi lebih takut, teriakannya bertambah keras: “Ada setan, Suhu!”

Thia Eng menyalakan kembali lilin, kemudian memberi hormat kepada sang guru serta menguraikan asal-usul Liok Bu-siang dan Yo Ko secara singkat. Lebih dulu Oey Yok-su membentak Sah Koh agar diam, lalu berkata kepada Yo Ko sambil tertawa:

“Dia kenal ayahmu, kau memang sangat mirip dengan ayahmu.”

Yo Ko memberi hormat di atas pembaringan sambil berkata: “Maaf, karena Tecu terluka maka tidak dapat memberi sembah kepada locianpwe!”

Dengan ramah Oey Yok-su berkata: “Dengan mati-matian kau menolong puteriku, kau sungguh anak yang baik.”

Kiranya Oey Yok-su telah bertemu dengan Oey Yong dan mengetahui duduknya perkara. Mendengar Thia Eng telah menolong dan membawa pergi si Yo Ko, segera ia mengajak Sah Koh mencarinya. Begitulah Oey Yok-su lalu mengeluarkan obat luar dalam untuk Yo Ko. Dia menggunakan Iwekang-nya yang tinggi untuk mengurut nadi Yo Ko, di mana teraba oleh tangan orang tua itu di situ seketika terasa nyaman. Ketika mendadak merasakan kulit daging pemuda itu bergetar dan merasakan Iwekang-nya cukup kuat, segera Oey Yok-su menambahkan tenaganya. Selang tak lama, sekujur badan Yo Ko terasakan nyaman sekali dan akhirnya ia terpulas.

Besoknya, begitu bangun Yo Ko melihat Oey Yok-su sedang duduk di tepi pembaringannya. Cepat ia bangkit duduk dan memberi hormat.

“Apakah kau tahu julukanku di kalangan Kangouw?” tanya Oey Yok-su.

“Engkau adalah Tho-hoa-tocu,” jawab Yo Ko.

“Apa lagi?” tanya Oey Yok-su pula.

Mula-mula Yo Ko merasa sebutan ‘Tang Sia’ (si eksentrik dari timur) kurang sedap untuk diucapkan, tetapi segera terpikir olehnya, kalau orang tua ini berjuluk ‘Sia’ atau eksentrik, maka wataknya tentu juga aneh dan lain dari pada yang lain. Karena itu dengan tabah ia menjawab:

“Engkau Tang Sia!”

Oey Yok-su terbahak-bahak, katanya: “Benar. Aku pun pernah mendengar orang berkata bahwa ilmu silatmu tidak rendah, hatimu baik, tapi tindak-tandukmu juga amat eksentrik, Kabarnya kau hendak mengambil gurumu sebagai isteri, apa betul?”

“Betul,” jawab Yo Ko. “Locianpwe, setiap orang menganggap tidak pantas aku beristerikan guruku, tapi mati pun aku ingin menikahinya.”

Mendengar ucapan pemuda yang tegas dan pasti itu, Oey Yok-su memandang terkesima, mendadak dia menengadah dan bergelak tertawa, begitu keras suara tertawanya hingga dinding rumah gubug itu bergetar.

“Apanya yang lucu?” kata Yo Ko dengan gusar. “Kau berjuluk Tang Sia, kukira kau pasti lain dari pada yang lain, siapa tahu kau pun sama buruknya dengan manusia umumnya.”

“Bagus, bagus, bagus!” seru Oey Yok-su, habis itu ia terus keluar rumah.

Yo Ko duduk termenung sendirian. Dia pikir apa yang diucapkannya tadi barang kali telah membikin marah Locianpwe, tetapi tampaknya air muka orang tua itu mengunjuk rasa senang.

Kiranya watak Oey Yok-su itu memang aneh. Selama hidupnya malang melintang di dunia Kangouw, dia jemu dan benci dengan adat istiadat yang berlaku pada jaman itu, tindak-tanduknya selalu berlawanan dengan adat umum, malahan suka menuruti keinginan hati sendiri, sebab itulah dia mendapatkan julukan ‘Sia’. Lantaran wataknya yang eksentrik itu, selama hidupnya hampir boleh dikatakan dia tidak mempunyai sahabat karib, bahkan sekali pun anak perempuan dan menantu sendiri juga tidak seluruhnya cocok dengan pikirannya. Siapa duga kini, di kala usianya telah tua, tiba-tiba dia bertemu dengan Yo Ko yang juga bertabiat aneh.

Sudah lama ia mendengar cerita tentang Yo Ko memberontak pada perguruannya sendiri, yaitu Coan-cin-kau, menghajar gurunya sendiri dan melakukan macam-macam perbuatan yang khianat. Kini dia sempat berbicara berhadapan dengan pemuda itu dan satu dengan yang lain ternyata sangat cocok dengan seleranya. Demikianlah petangnya kembali Oey Yok-su mendatangi kamar Yo Ko, katanya:

“Yo Ko, bagaimana jika kau memberontak lagi pada Ko-bong-pay dan berguru saja padaku.”

Sejenak Yo Ko termangu, lalu bertanya. “Mengapa begitu?”

“Lebih dulu kau tidak mengakui Siao-liong-li sebagai gurumu, kemudian mengambilnya sebagai isteri, dengan begitu semuanya kan menjadi lebih pantas?”

Yo Ko pikir usul orang memang cukup bagus, bahwasanya antara guru dan murid tidak boleh terikat suami-isteri, siapakah yang menetapkan peraturan ini? Karena pikiran yang aneh itu, dengan tegas dia menjawab:

“Tidak, aku justru ingin memanggil dia sebagai guru dan juga mengambil dia sebagai isteriku.”

“Ha-ha-ha! Bagus, bagus! Jalan pikiranmu ternyata masih lebih tinggi satu tingkat dari pada jalan pikiranku!” puji Oey Yok-su sambil bergelak tertawa, lalu ia memijati tubuh Yo Ko untuk menyembuhkan Iukanya. Katanya pula dengan gegetun: “Sebenarnya aku ingin kau menjadi ahli warisku agar dunia mengetahui bahwa sehabis Oey-losia (si eksentrik tua she Oey) masih ada lagi seorang Yo-siausia (eksentrik kecil she Yo). Tetapi kau menolak menjadi muridku, ya apa boleh buat!”

Sekarang Yo Ko benar-benar memahami watak Oey Yok-su, semakin aneh apa yang dikatakan dan dilakukannya, semakin mencocoki selera orang tua itu. Dia segera berkata lagi:

“Antara kita pun tak perIu harus menjadi guru dan murid untuk bisa dijadikan ahli waris. Jika engkau anggap usiaku terlalu muda dan kepandaianku masih rendah, maka kita boleh bersahabat atau mengangkat saudara saja.”

Tetapi Oey Yok-su menjadi marah, ujarnya: “Kau ini sungguh berani! Aku bukanlah si Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, mana boleh bergaul secara sembarangan dengan kau?”

“Siapa Lo-wan-tong Ciu Pek-thong itu?” tanya Yo Ko.

Maka Oey Yok-su lantas menguraikan sekadarnya kisah Ciu Pek-thong yang berjuluk Lo-wan-tong (si anak nakal tua), lalu menceritakan pula cara bagaimana Ciu Pek-thong mengangkat saudara dengan Kwe Ceng, padahal usia antara kedua orang itu selisihnya sangat jauh.

Omong punya omong, ternyata keduanya menjadi sangat cocok. Dasar Yo Ko memang pintar bicara, ditambah lagi wataknya sangat mendekati watak Oey Yok-su yang aneh. Setiap kata-kata pemuda itu selalu membuat Oey Yok-su manggut-manggut dan merasa benar-benar menemukan sahabat sejati. Saking cocoknya, malamnya dia suruh Thia Eng menyiapkan tempat tidur lagi di kamar Yo Ko supaya kedua orang dapat bicara sepanjang malam.

Beberapa hari kemudian luka Yo Ko mulai sembuh, hubungannya dengan Oey Yok-su bertambah akrab, begitu erat seakan-akan sukar dipisahkan lagi. Sesungguhnya Oey Yok-su akan membawa Sah Koh ke daerah Kanglam, tapi sekarang sama sekali tak dipikirkan lagi keberangkatannya.

Melihat kedua orang itu, yang satu tua dan yang lainnya muda, siang malam senantiasa bicara dan ngobrol dengan asyiknya, diam-diam Thian Eng dan Liok Bu-siang menjadi geli dan heran. Mereka anggap yang tua tidak menjaga diri dan yang muda juga teramat sembrono. Apa bila bicara tentang ilmu pengetahuan dan pengalaman sebenarnya Yo Ko tidak dapat dibandingkan dengan Oey Yok-su, cuma pemuda itu memang memiliki mulut manis, apa saja yang dikatakan oleh Oey Yok-su, segera dia menyatakan akur dan setuju, malahan terkadang ia menambahkan sedikit bumbu dan dirasakan Oey Yok-su menjadi lebih cocok lagi, maka tidak heran bila Oey Yok-su benar-benar menganggap Yo Ko sebagai sahabat paling karib selama hidupnya ini.

Selama itu dengan sendirinya Oey Yok-su mengajarkan segenap kepandaiannya kepada Yo Ko. Meski pun kedua orang resminya bukan guru dan murid, namun cara Oey Yok-su mengajar Yo Ko ternyata lebih sungguh-sungguh dari pada dia mengajar muridnya. Di samping belajar silat dan mengobrol bersama Oey Yok-su, yang selalu terpikir oleh Yo Ko adalah apa yang diucapkan Sah Koh yang bersangkutan dengan mendiang ayahnya. Dari ucapan Sah Koh itu jelas ia mengetahui sebab musabab kematian ayahnya serta siapa yang membunuhnya. Dia pikir dari wanita sinting ini mungkin akan dapat dipancing keterangan yang lebih jelas.

Suatu hari lewat lohor, di luar rumah Yo Ko bertemu dengan Sah Koh sendirian, segera ia memanggilnya:

“Sini, Sah Koh aku ingin bicara dengan kau...”

Sah Koh merasa Yo Ko teramat mirip dengan Yo Khong dan takut, maka ia menggeleng kepala dan menjawab:

“Aku tak mau bermain dengan kau.”

“Aku bisa main sulap, kau mau lihat tidak?” bujuk Yo Ko.

“Tidak, kau bohong,” jawab Sah Koh sambil menggeleng.

Tiba-tiba saja Yo Ko mendapat akal, cepat ia berjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, ia gunakan ilmu ajaran Auyang Hong, ia berjalan dengan kepala dan melompat-Iompat ke sana.

Sah Koh menjadi ketarik, tanpa pikir ia bersorak gembira dan ikut menuju ke tempat yang lebat dengan pepohonan dan cukup jauh dari gubuk Thia Eng. Di situ Yo Ko lantas berhenti dan berkata:

“Sah Koh, marilah kita bermain sembunyi, kita taruhan.”

Sifat Sah Koh memang kekanak-kanakan, suka bermain. Tapi selama ini lebih sering ikut Oey Yok-su ke sana sini, maka hampir tidak pernah ada kawan bermain. Sekarang Yo Ko mengajak bermain dengan dia, tentu saja sangat senang, serentak ia bertepuk tangan menyatakan setuju, rasa takutnya sudah terlupakan seluruhnya.

“Bagus sekali, saudara cilik, coba katakan cara bagaimana kita bermain?” jawab Sah Koh dengan gembira. Dia sebut ayah Yo Ko sebagai saudara, kini ia pun sebut Yo Ko sebagai saudara.

Yo Ko mengeluarkan sapu tangan untuk menutup kedua mata Sah Koh, lalu dia berkata: “Boleh kau tangkap diriku. Jika berhasil apa saja yang kau tanya tentu akan kujawab dan tidak boleh berdusta sedikit pun. Sebaliknya jika kau tidak mampu menangkap aku, nanti aku pun menanyai kau dan kau pun harus menjawab apa yang kutanyakan.”

“Bagus, bagus!” seru Sah Koh.

“Nah, mulai! Aku di sini, hayo coba tangkap!” seru Yo Ko sambil melompat mundur.

Segera Sah Koh pentangkan kedua tangannya dan mengejar ke depan mengikuti suara. Ginkang yang dipelajari Yo Ko adalah Ginkang khas dari Ko-bong-pay, jangan kata mata Sah Koh ditutup dengan sapu tangan, sekali pun matanya dapat memandang belum tentu mampu menyusulnya. Maka setelah menguber kian kemari, bukannya Yo Ko yang ditangkap, berbalik batok kepalanya benjut terbentur batang pohon yang kena dirangkulnya, keruan dia berteriak kesakitan.

Kuatir Sah Koh menjadi kapok lalu tidak mau bermain lagi, Yo Ko sengaja memperlambat langkahnya di depan orang disertai suara berdehem. Begitu mendengar suara itu, segera Sah Koh melompat maju dan berhasil mencengkeram punggung si Yo Ko sambil berseru:

“Aha, tertangkap kau sekarang!” berbareng ia menanggalkan sapu tangan yang menutupi kedua matanya dengan wajah berseri-seri.

“Baiklah, aku kalah,” ujar Yo Ko. “Sekarang boleh kau mengajukan pertanyaan padaku!”

Hal ini ternyata merupakan soal yang sukar bagi Sah Koh. Ia memandang Yo Ko dengan melenggong bingung, ia tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Selang agak lama barulah ia membuka suara:

“Saudara cilik, kau sudah makan belum?”

Sungguh tidak kepalang rasa geli Yo Ko. Sesudah berpikir sekian lama, yang ditanyakan ternyata adalah hal sepele. Namun dia pun menjawab dengan sikap sungguh-sungguh:

“Sudah, aku sudah makan.”

Sah Koh mengangguk lalu tidak bertanya lagi.

“Kau ingin tanya apa lagi?” kata Yo Ko.

Tapi Sah Koh menggeleng, katanya: “Tidak ada, marilah kita bermain lagi.”

“Baik, lekas kau tangkap diriku!” seru Yo Ko sambil mundur.

“Sekali ini giliranmu menangkap diriku!” ujar Sah Koh sambil meraba-raba keningnya yang merah benjut.

Bahwa Sah Koh mendadak tidak bodoh lagi hal ini sungguh di luar dugaan Yo Ko, tapi dia pun tidak menolak. Segera dia menutup mata sendiri dengan sapu tangan dan berlagak mengejar. Meski bodoh dan sinting, tetapi Ginkang Sah Koh ternyata sangat hebat, dalam keadaan mata tertutup sukar juga bagi Yo Ko untuk menangkapnya. Ia mendapat akal, ia pura-pura memburu ke sana sini, diam-diam ia robek sedikit sapu tangan itu, maka dapat dilihatnya Sah Koh bersembunyi di balik pohon besar, ia pura-pura meraba ke sana sambil berseru:

“Di mana kau sembunyi?”

Sejenak kemudian mendadak ia melompat balik dan berhasil memegang tangan Sah Koh, cepat ia melepaskan sapu tangan lalu dimasukkan ke dalam saku supaya kecurangannya tidak diketahui orang, Lalu dengan tertawa ia berkata:

“Sekali ini aku yang harus bertanya padamu.”

Belum sampai pertanyaan orang diajukan, lebih dulu Sah Koh sudah menjawab dengan rasa kagum:

“Aku sudah makan!”

Yo Ko tertawa, katanya: “Aku tidak tanya urusan itu. Aku ingin tanya padamu, kau kenal ayahku, bukan?”

“Ayahmu?” Sah Koh menegas.

“Ya, Seorang yang sangat mirip dengan diriku, siapakah dia?” kata Yo Ko.

“Ohhh…., itu saudara Yo.” jawab Sah Koh.

“Kau menyaksikan saudara Yo itu dicelakai orang, bukan?” tanya Yo Ko lagi.

“Benar, tengah malam di kelenteng itu, banyak sekali burung gagak, aok, aok, aok!” Sah Koh menirukan suara burung gagak. Suasana di tempat itu memang sunyi senyap dan rindang, suara gagak yang ditirukan Sah Koh itu menjadi seram rasanya.

Tubuh Yo Ko rada-rada bergetar, ia coba mengorek lagi: “Cara bagaimana saudara Yo itu tewas?”

“Kokoh (bibi) suruh aku bicara, tapi saudara Yo melarang aku, lalu saudara Yo memukul Kokoh sekali, lalu dia tertawa, ha-ha... ha-ha-ha...!” sedapatnya Sah Koh ingin menirukan suara tertawa Yo Khong menjelang ajalnya, maka semakin meniru semakin tidak keruan sehingga akhirnya ia sendiri merasa mengkirik.

Yo Ko bingung oleh uraian Sah Koh itu, ia coba tanya lagi: “Siapakah Kokoh yang kau maksudkan?”

“Kokoh ya Kokoh, siapa lagi?” jawab Sah Koh.

Darah dalam rongga dada serasa bergolak karena Yo Ko tahu rahasia kematian ayahnya segera akan dapat dibongkar, Selagi dia hendak tanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar seseorang berkata di belakangnya:

“Kalian berdua sedang bermain apa?”

Ternyata itu adalah suaranya Oey Yok-su.

“Saudara Yo sedang bermain sembunyi-an dengan aku,” jawab Sah Koh.

Oey Yok-su tersenyum sambil memandang Yo Ko sekejap dengan penuh mengandung arti seakan-akan sudah dapat menerka apa kehendak Yo Ko. Hati Yo Ko berdebar. Sedianya dia hendak berkata untuk menutupi maksud tujuannya, mendadak terdengar suara orang berlari datang, Thia Eng dan Liok Bu-siang tampak muncul dan melapor kepada Oey Yok-su:

“Dugaan Suhu ternyata tak keliru, dia memang masih berada di sana!” Sembari berkata Thia Eng menuding ke balik gunung di sebelah barat sana.

“Siapa maksudmu?” tanya Yo Ko.

“Li Bok-chiu!” jawab Thia Eng.

Yo Ko sangat heran mendengar Li Bok-chiu masih berada di balik gunung sana. Dia pikir mengapa iblis itu begitu berani? Dia coba memandang Oey Yok-su dengan harapan agar orang tua itu suka memberi penjelasan. Tapi Oey Yok-su hanya tertawa saja dan berkata:

“Marilah kita ke sana!”

Berada bersama orang tua itu, dengan sendirinya Yo Ko dan lain-Iainnya tidak perlu takut terhadap Li Bok-chiu. Maka be-ramai mereka lantas menuju ke balik gunung di sebelah barat.

Thia Eng tahu rasa sangsi Yo Ko, karena itu dengan suara perlahan ia berkata padanya: “Maksud Suhu, Li Bok-chiu yakin bahwa Suhu pasti menjaga harga diri. Sesudah sekali gagal membunuhnya di gubuk, tentu malu untuk bertindak kedua kalinya.”

“Ohhh…, makanya dia berani bercokol di sini untuk mencari kesempatan lagi membunuh kita bertiga,” kata Yo Ko.

Tidak Iama kemudian mereka berlima sudah sampai di balik bukit. Tampak di samping sebatang pohon besar ada sebuah gubuk yang sudah bobrok, pintu gubuk tertutup rapat, di daun pintu terpaku sehelai kertas yang tertulis:

'Tho-hoa-tocu mempunyai anak murid banyak, dengan lima lawan satu, sungguh mentertawakan!'

Oey Yok-su tertawa melihat tulisan olok-olok itu, lalu ia jemput dua potong batu kecil dan diselentikkan.

“Plak-plok!” kedua batu kecil itu menghantam kedua sayap daun pintu dari jarak belasan langkah, kontan daun pintu terpentang, sungguh luar biasa tenaga jari sakti Tho-hoa-tocu yang termashur itu. Begitu pintu terpentang, tampaklah Li Bok-chiu berduduk semadi di atas tikar dengan tangan memegang kebut, sikapnya agung, wajahnya kereng, seharusnya dia seorang alim yang beribadat tinggi. Kalau saja tidak tahu tentang perbuatan yang pernah dilakukannya, siapa pun pasti tidak percaya bahwa dia adalah seorang iblis yang maha jahat.

Melihat Li Bok-chiu, serentak Liok Bu-siang teringat pada ayah bundanya yang terbunuh. Segera ia meloloskan pedang dan berseru:

“ToIol, piauci, tidak perlu Tocu turun tangan, marilah kita bertiga melabrak dia saja.”

“Dan masih ada aku...” kata Sah Koh sambil menyingsingkan lengan baju dan menggosok kepalan.

Li Bok-chiu membuka mata dan memandang sekejap kepada kelima orang itu, kemudian memejamkan matanya lagi, sedikit pun ia tidak mengacuhkan lawan tangguh yang berada di depan mata.

Thia Eng memandang sang guru menanti perintahnya. Tapi Oey Yok-su berkata sambil menghela napas:

“Sudahlah, memang Oey-losia mempunyai banyak anak murid, seandainya salah seorang muridku di antara Tan, Bwe, Ki dan Tiok berada di sini, mana kau mampu lolos dari tangannya?” lalu dia memberi tanda dan berkata pula: “Hayolah kita pergi!”

Tentu saja Thia Eng berempat tidak paham maksud Suhu-nya dan terpaksa ikut kembali ke gubuk. Tampak Oey Yok-su muram durja, makan malam pun tidak dihabiskan lantas pergi tidur. Meski Thia Eng adalah murid Oey Yok-su, tapi dia sama sekali tidak mengetahui kejadian masa lampau tentang Oey Yok-su pernah menganiaya dan mengusir anak muridnya dari Tho-hoa-to. Ia mengira sang guru mendongkol karena diolok-olok oleh tulisan Li Bok-chiu, ia tidak tahu bahwa sebenarnya Oey Yok-su bersedih dan menyesalkan tindakan sendiri pada masa lampau. Kini anak muridnya sudah meninggal dan cacat, kalau tidak dirinya pasti takkan diolok-olok oleh manusia macam Li.Bok-chiu.

Yo Ko yang tidur menyebelah dengan Oey Yok-su juga sedang mengingat kembali apa yang dikatakan Sah Koh siang tadi. Dia pun memikirkan olok-olok Li Bok-chiu, dia pikir kini lukaku sudah sembuh, rasanya aku cukup kuat untuk melawannya, lebik baik secara diam-diam aku menempur sendiri, selain dapat menuntut balas penghinaannya terhadap Kokoh, sekaligus dapat menghilangkan rasa dongkol Oey-tocu. Sesudah mengambil keputusan itu, segera dia bangun dengan perlahan. Dia menyadari Li Bok-chiu adalah lawan tangguh, sedikit lengah tentu jiwa sendiri bisa melayang, sebab itu diperlukan persiapan yang baik. Segera ia duduk bersemadi di atas pembaringan mengumpulkan tenaga dan nanti akan menempur Li Bok-chiu dengan mati-matian.

Bersemadi sekian lamanya, mendadak pandangannya terbeliak. Di depan seperti cahaya yang terang benderang, segenap anggota badannya serasa penuh tenaga, tanpa terasa mulutnya mengeluarkan suara raungan yang nyaring hingga berkumandang jauh. Kiranya kalau Iwekang seseorang sudah mencapai tingkatan sempurna, tanpa terasa akan dapat mengeluarkan suara aneh.

Oey Yok-su mengetahui gerak-gerik Yo Ko ketika pemuda itu bangun, sungguh tak terduga olehnya bahwa Iwekang pemuda itu ternyata sudah mencapai setinggi ini, tentu saja ia terkejut dan girang.

Suara Yo Ko yang kuat itu terus bertahan hingga lama dan perlahan mulai berhenti. Oey Yok-su heran bukan main akan tingkatan yang dicapai Yo Ko, padahal ia sendiri baru mencapai tingkat setinggi itu setelah menginjak pertengahan umur. Kini usia Yo Ko masih muda belia, tetapi sudah sehebat ini, sungguh suatu bakat yang sukar ada bandingannya, entah pengalaman dan penemuan mukjijat apa yang pernah dialami pemuda ini.

Sesudah Yo Ko selesai berlatih, kemudian Oey Yok-su bertanya padanya: “Yo Ko, coba katakan, apakah ilmu kepandaian Li Bok-chiu yang paling lihay?”

Yo Ko tidak merasakan suara raungan sendiri, cuma dari pertanyaan Oey Yok-su itu dia tahu maksud hatinya sendiri tentu sudah diketahui orang tua itu, maka dia pun menjawab:

“Jelas adalah Ngo-tok-sin-ciang dan permainan kebutnya.”

“Benar,” kata di Yok-su, “Dengan dasar Iwekang-mu sekarang, rasanya tidaklah sulit jika ingin mematahkan ilmu kepandaiannya.”

Girang sekali Yo Ko, cepat ia menyembah. Sebenarnya watak Yo Ko sangat angkuh. Meski dia mengakui Oey Yok-su sebagai kaum cianpwe dan tahu kepandaian orang yang serba mahir, tapi pada lahirnya dia tak mau tunduk padanya. Kini didengarnya kepandaian Li Bok-chiu yang maha lihay itu akan dapat dipatahkan dengan mudah, keruan ia menjadi kagum dan tunduk.

MURID TERKECIL

Oey Yok-su lantas mengajarkan ilmu ‘jari sakti’, ilmu ini dapat mengatasi Ngo-tok-sin-kang, lalu diajarkan pula ilmu pedang yang diubah dari permainan seruling untuk menghadapi permainan kebut musuh.

Setelah mendapat petunjuk dan kunci ilmu kepandaian itu, kemudian Yo Ko menimbang. Untuk bisa menggunakan kepandaian itu dengan baik, maka diperlukan latihan satu tahun dan jika ingin pasti menang atas Li Bok-chiu, rasanya perlu dilatih tiga tahun. Karena itu ia coba bertanya:

“Oey-tocu, bila ingin segera mengalahkan dia, agaknya tiada harapan.”

“Waktu tiga tahun dalam sekejap saja berlalu,” ujar Oey Yok-su sambil menghela napas, “kini usiamu baru 22 tahun dan sudah berhasil mencapai setingkatan ini, memangnya kau merasa belum cukup?”

Dengan kikuk Yo Ko menjawab: “Maksudku bukan... bukan untuk diriku.”

Oey Yok-su me-nepuk bahunya sambil berkata “Asal kau bisa membunuhnya tiga tahun yang akan datang, aku sudah puas dan sangat berterima kasih kepadamu. Dulu aku sudah menghancurkan anak muridku sendiri, jika sekarang aku mendapatkan sedikit ganjaran atas perbuatan sendiri juga pantas.”

Tanpa pikir Yo Ko lantas berlutut dan menyembah kepada Oey Yok-su sambil memanggil.

“Suhu!”

Kiranya keduanya sama-sama orang maha cerdik yang saling memahami pikiran masing-masing. Yo Ko maklum tujuan Oey Yok-su mengajarkan ilmu kepadanya adalah ingin dia membalas penghinaan Li Bok-chiu, yang sudah mengolok-oloknya dengan tulisan itu, Yo Ko dan Oey Yok-su harus ada ikatan guru dan murid secara resmi.

Sebaliknya Oey Yok-su maklum keakraban hubungan Yo Ko dengan Ko-bong-pay, betapa pun pemuda ini pasti tidak mau berguru lagi pada pihak lain. Karena itu Oey Yok-su lantas angkat Yo Ko berdiri dan berkata kepadanya:

“Selanjutnya begini saja, apa bila kau bertempur dengan ilmu ajaranku, pada saat itulah kau muridku, di luar itu kau tetap adalah kau. Nah, adik Yo Ko, mengerti tidak?”

“Baiklah, kakak Yok-su, sungguh beruntung mendapatkan sahabat baik seperti engkau,” jawab Yo Ko dengan tertawa.

“Aku pun merasa berbahagia dapat bertemu dengan kau!” ujar Oey Yoksu.

Kedua orang lalu saling berjabat tangan dan bergelak tertawa gembira. Oey Yok-su lantas menuturkan lebih jauh semua kunci rahasia dua ilmu kepandaian yang diajarkannya tadi.

Melihat cara mengajar Oey Yok-su yang begitu jelas dan lengkap, Yo Ko tahu orang tua itu tentu akan segera pergi meninggalkan dia. Dengan murung dia lantas berkata:

“Kakak Yok-su, kapan kita dapat berjumpa pula?”

“Jauh di mata dekat di hati, asal hati tetap bersatu, biar pun berpisah jauh kita tetap seperti berhadapan selalu.” ujar Oey Yok-su dengan tertawa. “Kelak bila kutahu ada orang hendak merintangi perkawinanmu, biar pun jauh berada di ujung langit aku pasti memburu ke sini untuk membantu kau.”

Yo Ko amat terhibur oleh dukungan moril Oey Yok-su, sambil tertawa ia berkata: “Tapi orang pertama yang akan merintangi maksudku mungkin puteri kesayanganmu sendiri.”

“Dahulu dia juga kepala batu ketika mendapatkan kekasih pilihan sendiri, masa sekarang dia tidak memikirkan penderitaan rindu dendam orang lain?” ujar Oey Yok-su setelah memikir sejenak. Dalam kegelapan dia lantas mengambil bungkusan alat tulis dan menuliskan sepucuk surat, lalu diserahkan kepada Yo Ko dan berkata: “Kalau puteriku merintangi lagi kehendakmu, maka boleh kau perlihatkan suratku.”

Habis berpesan dia lantas melangkah pergi sambil bergelak tertawa, hanya sekejap suara tertawanya sudah berada jauh, sejenak kemudian orang dan suara tawanya sudah ditelan kegelapan malam.

Untuk sesaat Yo Ko duduk termenung, meng-ingat kembali ilmu yang baru dipelajarinya tadi. Tidak lama fajar pun menyingsing, tampak di atas meja tertaruh keranjang jahitan Thia Eng. Ia coba mengambil gunting dalam keranjang rotan itu dan dibuat bermain sejenak, kemudian pintu terdorong dan masuklah Thia Eng sambil tersenyum dan membawa sepotong baju warna hijau.

“Silakan coba baju ini, apakah cocok tidak?” kata Thia Eng dengan tersenyum.

Betapa besar rasa terima kasih Yo Ko, waktu menerima baju baru itu, tangan sedikit gemetar. Pada saat ia beradu pandang sekejap dengan si nona, tampak sorot matanya yang lembut penuh arti. Ia coba memakai baju baru itu dan terasa pas.

“Sungguh aku sangat ber... berterima kasih padamu,” kata Yo Ko.

Kembali Thia Eng tersenyum, di antara sorot matanya mengunjuk rasa sedih, katanya: “Dengan kepergian Suhu, entah kapan baru dapat bertemu lagi.”

Mestinya dia ingin berbicara lagi dengan Yo Ko, tetapi tampak dilihatnya bayangan orang berkelebat di luar. Dia tahu itulah Liok Bu-siang yang berseliweran, dia tahu sang Piau-moay juga ada hati terhadap Yo Ko, maka dia lantas meninggalkan kamar.

Kemudian Yo Ko meneliti baju tersebut. Tampak jahitannya sangat rapi, hatinya tergetar, pikirnya: Nona ini jatuh hati padaku, bini cilik juga, namun hatiku sudah terisi dan tidak mungkin lagi mencinta nona lain, jika aku tidak lekas-lekas pergi dari sini tentu akan banyak menimbulkan kesukaran.”

Sehari suntuk dia memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia kuatir bila dirinya pergi dan mendadak Li Bok-chiu melancarkan serangan, maka dia coba mengintai ke balik gunung sana. Dilihatnya gubuk bekas tempat tinggal Li Bok-chiu hanya tersisa setumpuk puing belaka, sudah terbakar, rupanya Li Bok-chiu telah pergi setelah membakar gubuknya sendiri. Maka tekad Yo Ko menjadi bulat untuk pergi. Malamnya dia menulis surat untuk ditinggalkan kepada kedua nona itu. Bila teringat akan kebaikannya, tanpa terasa hati Yo Ko menjadi muram.

Malam itu ia bergulang-guling tak pulas. Saat pagi, selagi layap-layap, tiba-tiba saja terdengar suara Liok Bu-siang memanggilnya, suara si nona kedengaran gugup. Cepat Yo Ko melompat bangun dan keluar. Terasa angin pagi meniup silir. Hari belum lagi terang benderang, tetapi tampak jelas Liok Bu-siang sedang ketakutan dan menuding pada daun pintu di sebelah sana. Waktu Yo Ko memandangnya, ia menjadi kaget.

Kiranya di daun pintu itu jelas tertera empat buah cap tangan merah. Tanda pengenal Li Bok-chiu. Agaknya semalam iblis itu sudah datang dan mengetahui Oey Yok-su telah pergi, maka dia sengaja meninggalkan daftar calon yang akan dibunuhnya, yaitu Yo Ko, Thia Eng, Liok Bu-siang dan ditambahkan pula si Sah Koh.

Tidak lama Thian Eng juga muncul, dia pun merasa sedih melihat cap tangan itu. Mereka bertiga lantas masuk ke dalam rumah untuk berunding.

“Tempo hari iblis itu telah dihajar garpu api Sah Koh hingga melarikan diri. Mengapa sekarang dia tidak takut lagi?” ujar Liok Bu-siang.

“Permainan garpu Sah Koh hanya begitu-begitu saja, sesudah direnungkan tentu iblis itu mendapatkan cara mematahkan serangan garpu Sah Koh,” kata Thia Eng.

“Tetapi luka si Tolol kini sudah sembuh, jika kedua orang tolol bergabung kan jadi maha kuat?” kata Bu-siang pula.

Yo Ko tertawa, katanya: “Tolol laki-laki ditambah tolol perempuan tentu keadaan menjadi tambah runyam, mana bisa menjadi kuat?”

Begitulah mereka menjadi tak berdaya, tetapi mengingat betapa pun gabungan kekuatan mereka berempat sedikitnya cukup untuk menjaga diri walau pun tak dapat mengalahkan musuh, maka mereka bertekad besok akan menempur iblis itu dengan mati-matian.

“Besok biarlah kami berdua orang tolol akan menghadapi dia, dan kalian berdua saudara mengerubutnya dari kanan dan kiri,” ujar Yo Ko, “Sekarang marilah kita mencari Sah Koh untuk berlatih lebih dulu.”

Mereka menyadari keganasan Li Bok-chiu yang tidak kenal ampun itu, sedikit lengah saja jiwa mereka akan melayang, maka mereka tak berani gegabah. Segera mereka mencari Sah Koh, tapi ternyata tidak diketemukan. Mereka menjadi kuatir dan cepat mencari sekeliling situ. Akhirnya di balik gundukan batu sana Thia Eng menemukan Sah Koh menggeletak dalam keadaan kempas-kempis. Waktu diperiksa, di punggung Sah Koh terdapat bekas telapak tangan berwarna merah, jelas itulah pukulan berbisa Li Bok-chiu, Ngo-tok-sin-ciang. Cepat dia memanggil Yo Ko dan Liok Bu-siang, segera memberi minum obat mujarab perguruannya, yaitu Giok-loh-wan.

Yo Ko masih ingat dalam kitab pusaka milik Li Bok-chiu yang dicuri oleh Liok Bu-siang tertera cara menyembuhkan akibat pukulan berbisa, maka cepat-cepat dia kerahkan lwekang untuk melancarkan Hiat-to si Sah Koh. Sejenak kemudian tampak Sah Koh tersenyum ketolol-tololan dan berkata:

“To-koh busuk itu menyerang dari... dari belakang, tapi kupersen ia dengan... dengan sekali gamparan.”

Kiranya gamparan dengan tangan membalik ke belakang yang dimaksud Sah Koh adalah salah satu ilmu ajaran Oey Yok-su. Meski pun Li Bok-chiu berhasil menyergap Sah Koh, tetapi pergelangan tangannya kena digampar oleh Sah Koh, saking kesakitan ia tak berani menyerang lebih lanjut sehingga jiwa Sah Koh dapat terselamatkan.

Demikianlah mereka lantas menggotong Sah Koh kembali ke gubuk, mereka duduk terpekur sedih, di antara mereka berempat kini salah seorang sudah cidera, besok tentu lebih sukar menghadapi musuh ganas itu.

Sambil memandang Thia Eng dan yang lainnya kemudian memandang Bu-siang, secara iseng Yo Ko mengambil gunting yang berada di keranjang jahitan Thia Eng lantas mengguntingi seutas benang hingga menjadi potongan kecil-kecil. Sah Koh yang rebah di pembaringan sekonyong-konyong berseru:

“Gunting saja itu kebut si To-koh busuk, gunting putus!”

Mendadak hati Yo Ko tergerak. Ia pikir kebutan iblis itu adalah benda lemas, senjata tajam apa pun sukar menebasnya, jika ada sebuah gunting raksasa lalu sekaligus ujung kebut musuh digunting putus, maka segalanya menjadi beres, keganasan iblis itu tentu berkurang. Tanpa terasa gunting yang dipegangnya langsung bergaya kesana kemari seperti sedang mematahkan serangan musuh.

Melihat itu pahamlah Thia Eng dan Bu-siang apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Thia Eng berkata:

“Beberapa li di sebelah barat sana ada seorang pandai besi...”

“Benar, marilah kita pergi ke sana dan minta agar dia membuatkan sebuah gunting besar,” sahut Bu-siang cepat.

Yo Ko pikir dalam waktu singkat tentu sulit membuat senjata demikian, tapi tiada jeleknya untuk dicoba. Sebenarnya dia ingin pergi sendiri ke tempat pandai besi itu, tetapi kuatir kalau-kalau mendadak Li Bok-chiu melakukan serangan. Jika Sah Koh ditinggalkan sendirian tentu lebih berbahaya lagi.

Kini mereka berempat tidak dapat berpisah sejenak pun. Terpaksa Thia Eng dan Bu siang memasang kasur di atas kuda tempat merebahkan si Sah Koh, kemudian barulah mereka berangkat ke tempat pandai besi. Keadaan bengkel itu ternyata sangat jorok dan sederhana. Begitu mereka memasuki pintu bengkel, segera kelihatan sebuah tatakan besi, tempat untuk menggembleng, lantai penuh karatan besi dan debu arang, dinding sebelah sana tergantung beberapa buah arit dan cangkul buatan pandai besi itu, suasana sunyi senyap tiada seorang pun.

Melihat keadaan bengkel itu, Yo Ko pikir pandai besi begini masa dapat membuat senjata apapun? Tetapi mereka sudah terlanjur datang, tak ada jeleknya ditanyai dulu. Maka ia lantas berseru:

“Hai, adakah yang punya rumah?”

Sejenak kemudian keluarlah seorang kakek ubanan meski usianya tampak baru 50-an. Mungkin penderitaan kehidupan dan sepanjang tahun hanya menggembleng besi melulu, maka punggungnya membungkuk, kedua matanya juga menyipit dan merah, malahan banyak kotoran pada kelopak matanya, sebelah kakinya juga pincang. Sambil berjalan dengan bantuan sebuah tongkat, orang tua itu menegur:

“Tuan tamu ada keperluan apa?”

Baru saja Yo Ko hendak menjawab, terdengar suara derap kuda, dua penunggang kuda berhenti di depan bengkel, mereka ternyata tentara-tentara Mongol. Seorang yang mukanya penuh berewok lantas bertanya:

“Mana si pandai besi she Pang?”

Orang tua bungkuk tadi mendekati dan memberi hormat, jawabnya: “Hamba adanya!”

“Perintah atasan, agar segenap pandai besi di wilayah ini dalam tiga hari harus berkumpul di dalam kota untuk wajib dinas bagi pasukan kerajaan,” seru opsir itu, “Nah, besok juga kau harus melapor ke kota, jelas tidak?”

“Tetapi hamba sudah tua...” belum selesai pandai besi she Pang itu berkata, cepat opsir Mongol itu menyabetnya dengan cambuk sambil membentak: “Kalau besok tidak datang, awas dengan kepalamu!” Habis berkata kedua opsir itu lantas membedalkan kuda mereka.

Pandai besi tua itu menghela napas dan berdiri terkesima. Thia Eng merasa kasihan padanya. Dia mengeluarkan 20 tahil perak yang ditaruh di atas meja, katanya kemudian:

“Paman pandai besi, engkau sudah tua, jalan pun tidak leluasa, apa bila diwajibkan bekerja bagi pasukan Mongol tentu jiwamu akan melayang percuma. Kukira lebih baik engkau lari saja mencari selamat dengan sedikit sangu ini.”

“Terima kasih atas kebaikan hati nona,” jawab pandai besi itu sambil menghela napas, “Sebenarnya hidup atau mati bagi orang tua macam diriku tak ada artinya, sayangnya dalam waktu singkat berpuluh ribu jiwa bangsa kita mungkin akan tertimpa mala petaka.”

Yo Ko bertiga terkejut dan cepat bertanya: “Mala petaka? Ada urusan apa?”

“Kini Panglima Mongol sedang mengumpulkan seluruh pandai besi, tujuannya amat jelas. Senjata Mongol biasanya sangat lengkap dan cukup, apa bila sekarang mereka membuat senjata baru secara besar-besaran, terang ada rencana hendak menyerbu ke selatan.”

Tutur kata pandai besi tua itu ternyata sangat masuk di akal dan bukan ucapan seorang pandai besi kampungan biasa, Selagi mereka hendak bertanya lagi, pandai besi itu telah bertanya mereka ada keperluan apa?

“Sebenarnya tidak enak bagi kami untuk mengganggu orang yang sedang punya urusan, tapi lantaran terdesak keperluan penting, terpaksa kami minta pertolongan paman,” jawab Yo Ko. Lalu ia pun menjelaskan maksud kedatangannya dan memberikan gambar contoh gunting yang diperlukan.

Kalau ada orang memberi pekerjaan, umpamanya minta dibuatkan cangkul, arit atau golok tentu tak mengherankan, tapi kini barang pesanan Yo Ko adalah sebuah gunting raksasa, hal ini sebenarnya luar biasa. Tapi pandai besi itu ternyata tidak mengunjuk rasa heran. Setelah mendapatkan keterangan pola gunting yang diperlukan ia hanya manggut-manggut, Ialu menyalakan api tungku dan mulai membakar dua potong besi besar untuk digembleng.

“Paman, malam ini bisa jadi tidak?” tanya Yo Ko.

“Akan kuusahakan secepatnya,” jawab si pandai besi she Pang itu. Habis itu dia percepat bara di dalam tungku, hanya sekejap saja kedua potong besi tadi sudah merah dan mulai lunak.

Yo Ko bertiga berasal dari daerah Kanglam. Walau pun sejak kecil sudah meninggalkan kampung halaman, namun demi mendengar kampung halaman bakal tertimpa bencana, betapa pun mereka merasa masgul sedih. Sah Koh mendekap di atas meja, setengah berduduk dan setengah bersandar. Memang keadaannya sangat lelah, maka segala apa pun yang terjadi di sekitarnya tak sempat lagi diperhatikannya.

Selang tak lama, kedua potongan besi yang dibakar itu sudah lunak. Segera pandai besi Pang mengangkat potongan besi itu lantas mulai digembleng dengan sebuah palu besar. Meski usianya sudah lanjut, tenaga lengannya ternyata sangat kuat, palu besar itu dapat diayunnya dengan leluasa tanpa susah payah. Kedua potongan besi itu digembleng lagi, kemudian dibikin memanjang dan melengkung dalam bentuk gunting.

“Tolol, tampaknya guntingmu itu dapat jadi petang nanti,” kata Bu-siang dengan girang.

Pada saat itulah mendadak di belakang mereka ada suara orang berkata: “Hm, untuk apa membikin gunting sebesar itu? Hendak digunakan memotong kebutku bukan?”

Yo Ko bertiga terkejut, cepat mereka berpaling dan ternyata Li Bok-chiu sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang kebutnya yang lihay. Sungguh celaka, senjata yang diandalkan belum jadi dibuat, tetapi musuh tangguh sudah tiba lebih duIu. Cepat Thia Eng dan Liok Bu-siang melolos pedang, Yo Ko juga mengincar sebatang besi di sebelahnya, asal musuh menyerang segera besi itu akan disambarnya.

“Hm, memotong kebutku dengan gunting, pintar juga jalan pikiranmu,” demikian jengek Li Bok-chiu, “Tapi boleh dicoba juga, akan kutunggu di sini sampai guntingmu itu jadi, barulah kita bertempur.”

Habis berkata dia seret sebuah bangku ke dekat pintu kemudian duduk di situ dengan tenangnya, lawan-Iawan yang dihadapinya dianggap barang sepele saja.

“Bagus sekali kalau begitu, tampaknya nasib kebutmu itu memang harus dipotong putus oleh guntingku nanti,” kata Yo Ko.

Melihat si Sah Koh mendekap di atas meja, diam-diam Li Bok-chiu merasa heran akan kekuatan orang. Padahal orang yang terkena pukulannya yang berbisa itu biasanya takkan tahan hidup beberapa jam saja. Kemudian ia bertanya:

“Mana Oey Yok-su?”

Begitu mendengar ‘Oey Yok-su’, si pandai besi tua itu rada bergetar dan menoleh sekejap kepada Li Bok-chiu, lalu menunduk lagi meneruskan pekerjaannya.

“Hm, jelas kau mengetahui guruku tidak berada di sini, tapi sengaja tanya,” ejek Thia Eng “Kalau beliau masih tinggal disini, hm, biar pun nyalimu sebesar gajah takkan berani datang.”

Li Bok-chiu balas mendengus sekali, ia mengeluarkan sehelai kertas lantas berkata: “Oey Yok-su bernama kosong, paling-paling main kerubut karena mempunyai banyak murid. Tetapi, hmm, di antara murid-muridnya masakah ada seorang pun yang betul-betul berguna?”

Habis berkata, sekali tangannya bergerak, kertas itu mendadak melayang ke depan dan “crit”, kertas itu terpaku pada tiang kayu oleh sebuah jarum perak yang disambitkannya. Lalu Li Bok-chiu menyambung:

“Nah, biarlah tulisan ini sebagai bukti. Kelak bila Oey-losia kembali ke sini supaya dia mengetahui siapakah yang membunuh muridnya.”

Mendadak ia berpaling dan membentak kepada si pandai besi: “Hayo, lekas! Waktuku tak banyak untuk menunggu kau.”

Sambil memicingkan kedua matanya si pandai besi she Pang memandangi kertas yang bertuliskan kata-kata mengolok-olok Oey Yok-su, habis itu dia menengadah dan memandangi atap rumah dengan termangu-mangu.

“Hayo, kenapa kau berhenti?!” bentak Li Bok-chiu.

“Ya, ya, baik!” pandai besi itu seperti tersadar dari lamunannva, ia mulai bekerja lagi.

Tapi sebelah tangannya tiba-tiba menggunakan tanggam besinya yang panjang untuk menjepit jarum perak berikut kertas surat tadi terus dimasukkan ke dalam tungku. Tentu saja hanya sekejap kertas itu terbakar menjadi abu.

Li Bok-chiu menjadi marah, segera kebutnya diayun hendak dihantamkan kepada pandai besi itu. Tetapi dia telah berpengalaman luas, mendadak terpikir olehnya bahwa masakah seorang pandai besi tua renta dan kampungan macam ini begitu berani? Bukan mustahil dia adalah seorang luar biasa! Tadinya dia sudah bangkit, maka perlahan dia duduk kembali, lalu menegur:

“Siapakah kau ini?”

“Tidakkah kau lihat sendiri, aku cuma seorang pandai besi,” jawab orang she Pang itu.

“Mengapa kau membakar kertasku?” tanya Li Bok-chiu lagi.

“Yang tertulis di situ tidak betul, maka janganlah ditempel di tempatku,” jawab si orang tua.

“Apa katamu?!” bentak Li Bok-chiu.

“Tho-hoa-tocu memiliki kepandaian yang maha sakti, setiap anak muridnya asalkan bisa memperoleh satu jenis kepandaian saja sudah cukup untuk malang melintang di dunia,” kata pandai besi itu. “Muridnya yang tertua bernama Tan Hian-hong, sekujur tubuhnya keras laksana otot kawat tulang besi tak mempan senjata, apakah kau pernah mendengar namanya?” Sambil bicara palunya masih terus memukuli lempengan besi yang digemblengnya itu.

Mendengar disebutnya nama Tan Hian-hong, bukan hanya Li Bok-chiu yang terkejut dan heran, bahkan Yo Ko dan lain-Iain juga merasa aneh, sama sekali mereka tidak menduga seorang pandai besi tua kampungan ternyata kenal juga tokoh Kangouw termashur.

Terdengar Li Bok-chiu menanggapinya: “Hmm, konon Tan Hian-hong mati karena ditusuk oleh seorang anak kecil, di mana letak kelihayannya?”

“Oh,” terdengar pandai besi itu bersuara ragu, lalu disambungnya: “Dan murid kedua Tho-hoa-tocu bernama Bwe Tiau-hong, terkenal dengan Ginkang-nya yang maha hebat dan kecepatan menyerangnya.”

“Ya, begitu cepat gerakan orang she Bwe itu sehingga lebih dulu matanya kena dibutakan oleh Kanglam-jit-koay (tujuh tokoh aneh dari Kanglam), Kemudian mampus di tangan Se-tok (si racun dari barat) Auyang Hong.”

“Begitukah?” tukas si pandai besi. Dia termenung haru sejenak, lalu berkata lagi: “Tetapi sama sekali aku tidak mengetahui kejadian itu. Kemudian murid ketiga Tho-hoa-tocu yang bernama Ki Leng-hong. Dia lebih lihay lagi, terutama Pi-kong-ciang (pukulan dari jauh) terkenal amat ganas.”

“Memang ada cerita di dunia Kangouw, katanya ada seorang pencuri yang berani masuk ke keraton raja yang bertahta sekarang, dan dia telah dibinasakan oleh pengawal keraton, tentu orang itu Ki Leng-hong yang maha lihay dengan Pi-kong-ciang-nya. He-he….”

Tiba-tiba si pandai besi tua itu menunduk. “Ces-ces!” dua tetes butiran air jatuh di atas lempengan besi yang membara itu kemudian terbakar menjadi uap.

Liok Bu-siang duduk paling dekat dengan orang tua itu dan dapat melihat jelas kedua tetes air itu adalah air mata yang mengucur, diam-diam ia merasa heran. Tampak orang tua itu mengangkat palunya lebih tinggi dan memukul dengan lebih keras.

Sejenak kemudian pandai besi she Pang membuka suara kembali: “Tho-hoa-to terkenal dengan empat murid utamanya, masing-masing she Tan, Bwe, Ki dan Liok. Murid yang ke empat, Liok Seng-hong, selain terkenal lihay ilmu silatnya juga termashur karena mahir dalam ilmu-ilmu mujizat, jika kau bertemu dengan dia tentu kau celaka.”

“Hmm, apa gunanya ilmu mujizat?” jengek Li Bok-chiu. “Liok Seng-hong bersusah payah membangun sebuah perkampungan Kui-in-ceng di pinggir danau Thay-ouw, tetapi hanya dengan sebuah obor saja orang sudah membumi hanguskan perkampungannya. Sejak itu jejaknya lantas hilang, bisa jadi ia pun sudah terbakar menjadi abu.”

Mendadak si pandai besi she Pang menatap Li Bok-chiu dan berseru dengan bengis. “Kau To-koh ini berani mengaco-belo, setiap anak murid Tho-hoa-tocu cukup lihay, mana bisa semuanya terbinasa. Hm, kau kira aku orang udik dan tidak tahu apa-apa?”

“Jika tidak percaya boleh kau tanya ketiga bocah ini,” jengek Li Bok-chiu.

Si pandai besi paling suka kepada Thia Eng, maka dia lantas berpaling kepada nona itu, sorot matanya memancarkan sinar tanda tanya.

Dengan muram Thia Eng berkata: “Sungguh malang perguruanku yang kini sudah kekurangan tenaga andalannya. Wanpwe juga merasa malu, karena belum lama masuk perguruan, belum mampu membela nama kehormatan Suhu. Apakah engkau ada hubungannya dengan Suhu-ku?”

Pandai besi tua itu tak menjawab, ia hanya mengamat-amati Thia Eng dengan sikap yang sangsi, kemudian ia bertanya:

“Apakah akhir-akhir ini Tho-hoa-tocu mengambil murid Iagi?”

Melihat sebelah kaki si pandai besi cacat, tiba-tiba saja hati Thia Eng tergerak, jawabnya:

“Suhu merasa kesepian dan perlu orang meIayaninya. Sebenarnya anak muda semacam diriku ini mana berani mengaku sebagai anak murid Tho-hoa-tocu, malahan sampai detik ini Wanpwe belum pernah menginjakkan kaki di Tho-hoa-to.”

Dengan ucapan Thia Eng itu sama saja dia sudah mengaku bahwa dirinya memang betul adalah anak murid Tho-hoa-to. Tampak pandai besi tua itu manggut-manggut, sorot matanya mengunjuk rasa simpatik terhadap si nona seperti sanak keluarga sendiri, lalu menunduk dan menggembleng besi lagi beberapa kali, tampaknya sambil merenungkan sesuatu.

Melihat gerakan palu si pandai besi amat mirip dengan gaya ilmu pukulan Lok-hoa-ciang-hoat dari Tho-hoa-to, mau tak mau Thia Eng menjadi lebih paham persoalannya, maka ia berkata:

“Pada waktu iseng Suhu suka bicara padaku mengenai kejadian beliau mengusir anak muridnya dulu, bahwa Tan dan Bwe berdua Suheng itu adalah akibat perbuatannya sendiri yang jahat sehingga tidak perlu disayangkan, tapi Ki, Liok, Bu dan Pang berempat Suheng benar-benar ikut kena getahnya karena mereka berempat ini sesungguhnya tidak berdosa, terutama Pang Bik-hong, Pang-suheng itu berusia paling muda, kisah hidupnya juga pantas dikasihani, bila teringat akan hal itu sering Suhu merasa amat menyesal.”

Padahal watak Oey Yok-su sangat eksentrik, biar pun hatinya berpikir begitu, tak mungkin sampai diucapkannya dengan mulut. Soalnya Thia Eng adalah gadis cerdik dan memiliki perasaan halus, waktu sang guru kesepian dan bicara iseng dengan dia, dari nada ucapan Oey Yok-su itu dapatlah diterka akan jalan pikiran sang guru, maka sekarang ia sengaja memperbesar apa yang didengarnya.

Dasar watak Li Bok-chiu memang kejam dan keji, di samping perasaannya sebenarnya juga mudah terguncang, dari tanya jawab dan sikap si pandai besi dan Thia Eng dapatlah diterka sembilan bagian hubungan antara kedua orang itu. Dilihatnya si pandai besi menghela napas panjang, air mata bercucuran dan menetes pada lempengan besi yang membara itu sehingga terdengar suara mendesis terbakarnya butiran air. Melihat keadaan itu perasaan Li Bok-chiu ikut terharu, tapi dalam sekejap saja pikirannya sudah berubah dan kembali pada wataknya yang kejam. Ia pikir pihak lawan telah bertambah lagi seorang pembantu, tetapi pandai besi ini cacad, betapa pun kepandaiannya juga terbatas. Demikianlah Li Bok-chiu lantas menjengek

“Hm, Pang Bik-hong, selamat atas pertemuan kalian sesama saudara seperguruan!”

Memang tidak salah, pandai besi tua she Pang ini adalah murid terkecil Oey Yok-su yang bernama Pang Bik-hong. Dulu Tan Hian-hong dan Bwe Tiau-hong melarikan diri dari Tho-hoa-to dengan menggondol Kiu-im-sin-keng, tentu saja Oey Yok-su menjadi amat murka, akibatnya semua muridnya terkena getahnya, ia patahkan kaki semua muridnya lantas mengusir mereka dari Tho-hoa-to.

Ki Leng-hong dan Liok Seng-hong dipatahkan kedua kakinya, tetapi Oey Yok-su paling sayang kepada murid yang terkecil yakni Pang Bik-hong, maka hanya kaki kiri saja yang dipatahkannya. Sungguh pun begitu Pang Bik-hong tidak menjadi sakit hati kepada sang guru. Dia merasa utang budi karena jiwanya juga diselamatkan oleh gurunya, maka dia tidak dendam terhadap apa yang dilakukan sang guru kepadanya, hanya saking berdukanya dia lantas mengasingkan diri ke pedesaan ini dan sudah lebih dari 30 tahun tinggal di sini sebagai pandai besi, sama sekali tidak berhubungan lagi dengan orang Kangouw meski pun ilmu silatnya tak pernah dilupakan.

Sebab itulah Liok Seng-hong dan kakak seperguruannya yang lain menyangka dia sudah meninggal. Tak terduga hari ini dia dapat bertemu dengan Thia Eng dan mendengar berita tentang sang guru, saking terharu air matanya bercucuran.

Sudah tentu Yo Ko dan Liok Bu-siang kegirangan demi mengetahui pandai besi she Pang ini adalah Suheng-nya Thia Eng. Mereka yakin anak murid Oey Yok-su pasti bukan jago lemah dan itu berarti pihaknya bertambah bala bantuan.

PEMBUNUH AYAH

Tapi Li Bok-chiu menjengek lagi: “Hm, gurumu sudah mengusir kau, tapi kau masih terkenang padanya, sungguh aneh. Pokoknya begini saja, ketiga bocah ini akan kubunuh, sebaiknya kau jangan ikut campur.”

“Meski aku pernah belajar silat, tetapi selama hidupku tak pernah berkelahi dengan siapa pun, apa lagi aku sudah cacat kaki, untuk berkelahi juga tidak dapat,” ujar Pang Bik-hong, si pandai besi tua.

“Ya, memang begitulah, tidak perlu jiwamu ikut dikorbankan,” kata Li Bok-chiu.

“Tidak,” Pang Bik-hong menggeleng kepala, “betapa pun kau tak boleh mengganggu seujung rambut Sumoay-ku. Beberapa orang ini adalah teman Sumoay-ku, maka kau pun tidak boleh mengganggu mereka.”

Serentak timbullah napsu keganasan Li Bok-chiu, jengeknya: “He-he-he, jika begitu kalian berempat boleh maju saja seluruhnya!” Habis berkata demikian dia lantas berdiri dan siap menghadapi pertempuran.

Akan tetapi Pang Bik-hong tetap tenang saja menggembleng besinya. Dengan perlahan ia berkata:

“Sudah lebih 30 tahun kutinggalkan perguruan, ilmu silatku telah lama kulupakan, sekarang aku harus mengingat-ingatnya dalu dan mengatur seperlunya.”

Li Bok-chiu bergelak tawa, katanya: “Sekian lamanya aku malang melintang di dunia, belum pernah kulihat orang macam kau, di medan perang baru mengasah tombak. Pang Bik-hong, apa betul selama hidupmu belum pernah bergebrak dengan orang?”

“Selamanya aku tak pernah bersalah kepada siapa pun, orang memukul atau memaki kubiarkan saja, dengan sendirinya takkan terjadi perkelahian,” kata Pang Bik-hong.

“He-he-he, anak murid Oey-losia benar-benar tak becus semua dan memalukan,” ejek Li Bok-chiu.

“Li-totiang,” kata Pang Bik-hong, “kuharap engkau jangan mengolok-olok guruku.”

“Ha-ha-ha-ha, sudah lama orang tak mengakui kau sebagai murid, tetapi kau masih terus menyebutnya guru ini dan itu, memangnya kau tidak malu?” jengek Li Bok-chiu pula.

Sambil menggembleng besinya, Pang Bik-hong menjawab: “Selama hidupku penuh derita, di dunia ini cuma Suhu saja sanak kadangku, jika aku tidak mengenang dan menghormati beliau, habis siapa yang harus kupikirkan lagi? Eh, Siau-su-moay, apakah Suhu baik-baik saja?”

“Beliau sangat baik,” jawab Thia Eng.

Seketika air muka Pang Bik-hong tampak girang. Sementara itu besi yang digemblengnya sudah membeku, pandai besi tua itu menanggamnya pula untuk dibakar kembali ke dalam tungku, akan tetapi lantaran pikirannya sedang melayang maka yang disodorkan ke dalam tungku ternyata bukan besi yang tengah digembleng melainkan palu besar yang dipegangnya.

Li Bok-chiu tertawa mengejek: “Pang Bik-hong, boleh kau pikirkan kembali kepandaian ajaran gurumu dan tidak perlu bingung.”

Pang Bik-hong tak menanggapinya, ia memandangi api tungku dengan terkesima, selang sejenak kembali ia memasukkan pula tongkatnya ke dalam tungku.

“He, jangan keliru, itu tongkatmu!” seru Yo Ko dan Liok Bu-siang.

Namun Pang Bik-hong tetap tidak menjawab dan tetap menatapi api tungku. Aneh juga, tongkatnya ternyata tidak terbakar, sebaliknya lama-lama berubah merah membara, kiranya tongkatnya adalah tongkat besi. Selang tak Iama palu besar tadi juga terbakar hingga merah, akan tetapi tangannya yang memegangi palu dan tongkat itu ternyata tidak merasakan panasnya besi yang membara.

Baru sekarang Li Bok-chiu mulai waspada, dia menyadari pandai besi tua ini tidak boleh diremehkan. Kuatir jika orang tiba-tiba melancarkan serangan dan dia masuk perangkapnya, segera Li Bok-chiu melompat keluar rumah dan berseru:

“Pang Bik-hong, keluar sini!”

Sekali lompat Pang Bik-hong menyusul, gerak-geriknya ternyata amat cepat, sedikit pun tak terlihat tanda-tanda sebagai seorang cacat. Tongkatnya yang merah membara ditancapkan di tanah, lalu dia berkata:

“Li-to-tiang, kuharap jangan kau memaki guruku lagi dan jangan membikin susah sumoay-ku, sudilah engkau mengampuni pandai besi tua macam diriku ini!”

Sungguh heran Li Bok-chiu oleh sikap Pang Bik-hong ini, masakah sudah maju di medan perang malah minta ampun kepada lawan. Maka segera dia pun menjawab:

“Aku boleh mengampuni jiwamu, kalau kau takut sebaiknya jangan ikut campur urusanku ini.”

“Jika begitu silakan kau membunuh diriku dulu!” jawab Pang Bik-hong dengan mengertak gigi, tubuhnya tampak gemetar, agaknya di samping takut juga pantang mundur.

Li Bok-chiu angkat kebutnya terus menyabet kepala lawan. Tapi Pang Bik-hong mengelak ke samping dengan gaya yang indah, namun lantaran tangan gemetar, dia ternyata tidak berani balas rnenyerang. Berturut tiga kali Li Bok-chiu menyerang dan Pang Bik-hong selalu menghindarkan diri dengan gerakan yang indah dan gesit, tapi tetap tidak berani balas menyerang.

Sementara itu Yo Ko bertiga ikut keluar menonton dari samping, mereka mencari kesempatan untuk maju membantu bila perlu.

Serangan Li Bok-chiu semakin gencar, akan tetapi Pang Bik-hong memang belum pernah bertempur dengan orang, ditambah wataknya memang ramah, betapa pun serangannya tidak dapat dilontarkan.

Melihat gelagat jelek, Yo Ko pikir ingin memancing semangat tempur tokoh yang memiliki kepandaian tinggi ini. Tiada jalan lain kecuali membuatnya marah, karena itu dia sengaja berteriak:

“Li Bok-chiu, mengapa kau memaki Tho-hoa-tocu manusia rendah, orang yang tidak berbudi dan tidak tahu diri?”

Sudah tentu Li Bok-chiu amat penasaran karena merasa tak pernah berkata begitu. Tapi ia tidak menanggapi ocehan Yo Ko, sebaliknya serangannya bertambah gencar.

Segera Yo Ko berseru kembali: “Li Bok-chiu, kau menuduh Thoa-hoa-tocu berzinah dengan isteri orang dan sering memperkosa anak perempuan orang, memang kau pernah menyaksikannya sendiri? Kau juga memaki beliau suka mengkhianati kawan dan menjual teman, apakah betul tuduhanmu itu?”

Sudah tentu Thia Eng merasa bingung. Sebaliknya Pang Bik-hong menyangka apa yang dikatakan Yo Ko benar terjadi, dia menjadi murka terhadap Li Bok-chiu. Serentak timbul keberaniannya, palu dan tongkat bekerja sekaligus terus menghantam ke arah Li Bok-chiu dengan membawa hawa panas. Li Bok-chiu tak berani menyambut serangan hebat ini, cepat ia melompat ke samping dan mencari peluang balas menyerang.

Segera Yo Ko berseru pula: “Li Bok-chiu, kau memaki Tho-hoa-tocu sebagai manusia tak tahu malu, kulihat kau sendiri yang tak kenal malu!”

Makin marahlah Pang Bik-hong, palu serta tongkatnya terus menghantam musuh dengan tangkas luar biasa. Semula dia rada kaku memainkan kedua macam senjata itu, tapi lambat-laun dia mulai biasa dengan permainan ilmu silatnya.

Kalau bicara tentang keuletan, sebenarnya selisih antara kedua orang tidak jauh, namun Li Bok-chiu sudah lama malang melintang di dunia Kang-ouw, entah sudah berapa banyak pertempuran yang dialaminya, pengetahuan serta pengalamannya entah berapa kali lebih banyak dari pada Pang Bik-hong, apa lagi Pang Bik-hong cacat sebelah kaki, lama-lama tentu kewalahan dan kalah. Benar saja! Sesudah rasa murka Pang Bik-hong rada mereda dan semangat tempurnya menjadi kendur, lambat laun ia pun mulai terdesak. Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang, kebutnya menyabet ke dada lawan. Cepat Pang Bik-hong menangkis dengan palu, tapi ujung kebut terus memutar dan melilit ujung palu.

Sebenarnya gerakan kebut itu adalah kepandaian khas Li Bok-chiu yang biasanya sangat lihay untuk merampas senjata musuh, asal ujung kebut sudah melilit terus dibetot maka senjata lawan pasti akan terlepas dari cekalan. Tak terduga-duga mendadak terdengar suara mencicit disertai kepulan asap yang berbau sangit, ternyata ujung kebutnya hangus terbakar, Li Bok-chiu tidak berhasil merampas senjata lawan, sebaliknya kehilangan senjatanya sendiri.

Akan tetapi Li Bok-chiu tidak menjadi bingung dan gugup, ia buang tangkai kebutnya yang sudah gundul itu, kini dia menggunakan ilmu pukulan andalannya, yaitu Ngo-tok-sin-ciang, pukulan sakti panca-bisa. Meski pukulannya yang berbisa lima macam itu sangat lihay, tapi untuk menggunakannya harus dilakukan dari jarak dekat, sedangkan lawan bersenjatakan palu dan tongkat yang panjang serta diputar sedemikian kencangnya, tampaklah di antara dua sosok bayangan orang itu mengepulkan asap.

Ternyata jubah pertapaan Li Bok-chiu sudah bersentuhan dengan palu dan tongkat yang membara dan sebagian demi sebagian terbakar. Keruan tidak kepalang marah Li Bok-chiu. Sudah jelas dirinya pasti menang, tapi justru kewalahan dalam hal senjata, betapa pun ia merasa penasaran dan bertekad hendak menghantam pandai besi tua itu dengan sebuah pukulan maut untuk melampiaskan rasa gemasnya.

Untuk pertama kalinya Pang Bik-hong bertempur dengan orang, kalau begitu maju lantas kalah, tentu semangat tempurnya akan semakin surut. Tetapi sekarang dia berada di atas angin, tongkat dan palunya dimainkan sedemikian lihaynya sehingga tiada peluang bagi Li Bok-chiu memukulnya, sebaliknya Li Bok-chiu telah beberapa kali hampir termakan oleh palunya, kalau tidak cepat berkelit tentu tangannya sudah terbakar hangus.

Sejenak kemudian mendadak Pang Bik-hong berseru: “Sudahlah, berhenti, aku tidak mau bertempur lagi dengan kau! Macam apa keadaanmu ini!” Habis berkata ia terus melompat mundur.

Li Bok-chiu tertegun. Pada waktu angin meniup tiba, baju yang dipakainya sepotong demi sepotong terbang terbawa angin, ternyata bajunya sudah berlubang di sana sini sehingga kelihatan jelas kulit dagingnya di bagian lengan, pundak dan dada.
Padahal tubuh Li Bok-chiu masih suci bersih, masih perawan, keruan dia menjadi amat malu. Baru saja ia hendak melarikan diri mendadak dekat bokong terasa silir dingin, kiranya sepotong kain baju bagian itu robek pula terbawa angin.

Melihat keadaan orang yang runyam dan konyol itu, cepat Yo Ko tanggalkan baju sendiri terus dilempar sekuatnya ke punggung Li Bok-chiu. Begitu kuat baju Yo Ko melayang ke depan sehingga mirip seorang yang mendadak mendekap Li Bok-chiu dari belakang.

Cepat Li Bok-chiu memasukkan tangannya pada lengan baju itu lalu mengencangkannya dengan tali pinggang, Dalam keadaan demikian, biar pun selama hidupnya sudah banyak mengalami pertempuran besar, tidak urung dia menjadi serba salah, wajahnya sebentar pucat, sebentar merah, pikirnya:

“Jika kulanjutkan pertarungan ini, sebentar saja baju ini pasti akan terbakar lagi. Biarlah pil pahit ini kutelan saja sekarang, kelak barulah akan kucari kesempatan menurut balas.”

Ia lantas mengangguk kepada Yo Ko sebagai tanda terima kasih atas pemberian bajunya, lalu ia berpaling dan berkata kepada Pang Bik-hong:

“Caramu menggunakan senjata aneh ini ternyata sesuai benar dengan jalan pikiran Oey-losia yang eksentrik. Coba katakan terus terang, jika bertarung dengan kepandaian sejati, menurut perasaanmu dapatkah kau mengalahkan aku? Anak murid Oey-losia apa bila bertempur satu lawan satu dengan aku, apakah di antaranya bisa mengalahkan aku?”

Pada dasarnya Pang Bik-hong adalah orang yang jujur dan polos, sebab itu dengan terus terang dia menjawab:

“Ya, jikalau kau tidak kehilangan senjata andalanmu, lama-lama kau pasti akan mengalahkan aku.”

“Asal kau tahu saja,” ujar Li Bok-chiu dengan angkuh. “Apa yang kutulis tadi bahwa anak murid Tho-hoa-to kebanyakan memang tidak becus menjadi tepat, bukan?”

Pang Bik-hong berpikir sejenak, lalu berkata: “Tidak, anggapanmu itu tidak benar. Kalau saja keempat suheng-ku berada di sini, salah seorang di antara mereka pasti lebih kuat dari padamu. Tak perlu Tan-suheng atau Ki-suheng yang lihay, hanya Bwe-suci saja yang sesama kaum wanita seperti kau, betapa pun kau tak dapat mengalahkan dia.”

“Hm, orang sudah mati tidak dapat dibuktikan, apa gunanya dibicarakan?” jengek Li Bok-chiu. “Yang jelas kepandaian Oey-losia juga cuma begini saja. Tadinya aku berniat menguji kepandaian puterinya, yaitu Kwe-hujin, tapi sekarang kukira tak perlu lagi.” Habis berkata ia terus hendak melangkah pergi.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Yo Ko berseru.

“Ada apa?” jawab Li Bok-chiu kurang senang.

“Kau bilang kepandaian Tho-hoa-tocu hanya begini saja, ucapanmu ini salah besar,” kata Yo Ko. “Pernah kudengar dari beliau bahwa dia punya Giok-siau-kiam-hoat (permainkan seruling sebagai ilmu pedang) sudah cukup untuk mematahkan permainan kebutmu.”

Dia mengambil sepotong besi kemudian menggores-gores di atas tanah sambil memberi penjelasan,

“Misalnya Li Bok-chiu menyerang begini segera akan ditangkis dengan begitu terus disusul dengan serangan balasan begini dan seterusnya, dan dalam keadaan terjepit akhirnya kau harus membuang kebutmu dan menyerah kalah.”

Lebih jauh Yo Ko berkata: “Jika bicara tentang Ngo-tok-ciang-hoat andalanmu, Tho-hoa-tocu telah siap menghadapi seranganmu, dengan kuku jarinya yang cukup panjang, setiap seranganmu akan dipatahkan, jika pukulanmu tetap diteruskan, maka segera beliau akan menggunakan tenaga jari sakti, dengan kuku tajam akan menyelentik telapak tanganmu dan bila kena, seketika tanganmu akan lumpuh, sementara beliau bisa segera memotong kukunya dan terhindarlah dari penjalaran panca-bisa pukulanmu.”

Keterangan Yo Ko itu membuat wajah Li Bok-chiu sebentar pucat sebentar merah padam, sebab setiap kata-kata pemuda itu memang masuk di akal dan memang tepat betul untuk menghadapi serangannya.

Kemudian Yo Ko menambahkan: “Tho-hoa-tocu amat marah akan ucapanmu yang kurang ajar, akan tetapi beliau adalah seorang tokoh maha besar dan tidak sudi bergebrak sendiri dengan kau. Beliau sudah mengajarkan semua kepandaian tadi kepadaku dan suruh aku membereskan kau, tetapi mengingat kau dan guruku ada hubungan saudara seperguruan maka aku sudah membeberkan kelihayan Tho-hoa-tocu kepadamu supaya bila kelak kau bertemu dengan anak muridnya, lebih baik jika kau menghindar saja sejauhnya.”

Li Bok-chiu termangu sejenak, akhirnya dia berkata dengan lesu: “Sudahlah!” Segera dia memutar tubuh dan melangkah pergi, dalam sekejap saja sudah menghilang di balik bukit sana.

Diam-diam Pang Bik-hong bersyukur melihat musuh lihay itu sudah pergi, Padahal meski Oey Yok-su telah mengajarkan ilmunya kepada Yo Ko, untuk bisa digunakan secara tepat dan mengalahkan musuh, sedikitnya Yo Ko perlu berlatih setahun dua tahun. Tapi Li Bok-chiu ternyata benar-benar gentar dan takluk lahir batin atas uraian Yo Ko tadi, sejak itu ia tidak berani lagi mengeluarkan kata-kata menghina terhadap Oey Yok-su.

Dengan kepergian Li Bok-chiu, rasanya yang paling girang adalah Liok Bu-siang. Maklum saja, nona itu sudah lama berada di bawah pengaruh iblis itu, mendengar suaranya saja ketakutan, apa lagi berhadapan dengan dia. Maka dia tidak habis kagum akan kecerdikan Yo Ko, berulang ia memuji ‘si tolol’ itu. Selagi mereka hendak masuk lagi ke dalam bengkel si pandai besi, mendadak terdengar suara gemuruhnya orang banyak disertai suara derap lari kuda yang riuh.

Thia Eng terkejut Cepat Yo Ko berkata: “Coba aku pergi melihatnya!”

Segera ia mencemplak ke atas kudanya lalu dilarikan ke sana, setelah membelok ke balik bukit sana dan beberapa li kemudian sampailah dia di jalan raya. Tampak debu mengepul panji berkibaran, kiranya pasukan Mongol sedang bergerak ke arah selatan. Selamanya Yo Ko belum pernah menyaksikan gerakan pasukan sebanyak itu, dia menjadi terkesima.

Tiba-tiba dua prajurit Mongol menyentaknya sambil menerjang ke arahnya: “Hei, kau lihat apa?”

Cepat Yo Ko memutar kudanya dan kabur. Dua prajurit itu segera mementangkan busur dan melepaskan anak panah, tetapi sekali meraup ke beIakang, dengan mudah saja dua batang anak panah itu sudah kena ditangkap Yo Ko. Ia merasa sambaran anak panah itu cukup kuat, kalau saja dirinya tidak mahir ilmu silat tentu sudah mati tertembus dua anak panah itu.

Melihat Yo Ko mampu menangkap panah mereka, kedua prajurit itu menjadi jeri terhadap kelihayan Yo Ko, mereka menahan kuda kemudian memutar balik ke sana. Yo Ko lantas kembali ke bengkel si pandai besi dan menuturkan apa yang dilihatnya.

“Pasukan besar Mongol ternyata benar-benar bergerak ke selatan, karena itu rakyat jelata bangsa Han kembali akan menderita,” kata Pang Bik-hong dengan gegetun.

“Ya, ketangkasan menunggang kuda dan keahlian memanah pasukan Mongol memang sukar dilawan oleh pasukan Song, mala petaka yang bakal menimpa sungguh hebat,” ujar Yo Ko.

Pang Bik-hong berkata pula: “Yo-kongcu muda usia, kenapa tidak pulang ke selatan untuk ikut berjuang melawan serbuan musuh?”

Yo Ko melenggong sejenak, jawabnya kemudian: “Tidak, aku harus pergi ke utara untuk mencari Kokoh. Begitu kuat pasukan Mongol, hanya tenagaku seorang apa gunanya?”

“Tenaga seorang memang kecil, tapi kalau tenaga orang banyak bergabung kan menjadi kuat,” kata Pang Bik-hong. “Apa bila semua orang berpendirian seperti Yo-kongcu, lalu siapa lagi yang mau berjuang demi bangsa dan tanah air?”

Biar pun merasa ucapan orang tidak salah, akan tetapi Yo Ko tetap merasa lebih penting mencari Siao-liong-li dulu. Sejak kecil ia hidup terlunta-lunta di daerah Kanglam dan sudah kenyang derita siksaan kaum penguasa. Ia merasa biar pun orang Mongol tampak kejam dan jahat, tapi kaisar Song juga belum tentu manusia baik dan tidak perlu menjual tenaga baginya. Sebab itu ia hanya tersenyum dan tidak menanggapi ucapan Pang Bik-hong tadi. Setelah meringkas barang bawaannya dan dipanggul, lalu Pang Bik-hong berkata kepada Thia Eng:

“Sumoay, kelak apa bila bertemu dengan Suhu, harap kau suka menyampaikan kepada beliau bahwa murid Pang Bik-hong tidak pernah melupakan ajaran beliau. Kini aku akan menyusup ke tengah pasukan Mongol, betapa pun aku harus membinasakan satu-dua panglimanya yang telah menyerbu tanah air kita ini.”

Habis berkata ia terus melangkah pergi tanpa berpaling. Seperginya Pang Bik-hong, mereka bertiga masuk lagi ke dalam bengkel dan melihat Sah Koh terkulai di lantai, mereka kaget dan cepat menggotongnya ke atas pembaringan. Kelihatan muka Sah Koh merah padam, kedua matanya melotot tak bersinar, jelas racun pukulan sakti Li Bik-chiu telah bekerja lagi. Cepat Thia Eng memberi minum obat lagi dan Yo Ko mengurut Hiat-tonya. Sah Koh terbeliak memandangi pemuda itu, tiba-tiba air mukanya mengunjuk rasa ketakutan dan dia pun lantas berteriak:

“Saudara Yo, jangan kau minta ganti nyawa padaku, bukan aku yang mencelakai kau...”

“Jangan takut, Suci,” bujuk Thia Eng dengan suara halus, “dia takkan...”

Yo Ko pikir selagi pikiran Sah Koh dalam keadaan linglung, kesempatan ini dapat dipakai untuk memaksanya memberi keterangan. Maka cepat ia cengkeram pergelangan tangan Sah Koh dan membentak dengan bengis:

“Jika bukan kau, habis siapa yang mencelakai diriku? Hayo lekas mengaku jika tidak ingin kucekik mati kau untuk mengganti jiwaku!”

Dengan suara gemetar Sah Koh memohon “Jangan, saudara Yo, jangan, bukan aku!”

“Kau tetap tidak mau mengaku?” bentak Yo Ko pula dengan marah “Baiklah, biar kucekik mampus kau!” Berbareng sebelah tangannya langsung mencengkeram tenggorokan Sah Koh sehingga perempuan itu menjerit ketakutan.

Sudah tentu Thia Eng dan Liok Bu-siang tidak tahu maksud tujuan Yo Ko, mereka sama mencegahnya dan meminta jangan merecoki Sah Koh. Tapi Yo Ko tidak menggubris dan menambahi tenaga cekikannya, dengan lebih beringas ia membentak lagi:

“Aku adalah setan saudara Yo, aku mati penasaran, tahukan kau?”

“Ya, aku tahu,” jawab Sah Koh dengan tubuh gemetar “Sesudah kau mati, burung gagak memakan dagingmu.”

Perasaan Yo Ko seperti disayat sembilu, tadinya dia cuma mengira ayahnya mati secara tak wajar, siapa tahu setelah mati mayatnya pun tidak terkubur dengan baik pula, bahkan kemudian menjadi mangsa burung gagak. Maka ia tambah murka, dengan suara keras ia membentak lagi:

“Hayo lekas katakan, siapa yang membunuh diriku?!”

Dengan suara serak Sah Koh menjawab: “Kau sendiri yang memukul Kokoh, pada badan Kokoh ada jarum berbisa, lalu kau mati.”

Duduk perkara kematian Yo Khong dahulu terjadi secara kebetulan saja. Semula Auyang Hong menggunakan racun ular untuk membinasakan Lam Hi-jin (salah seorang Kanglam-jit-koay dan guru Kwe Ceng). Pada waktu Lam Hi-jin hampir mati, secara tidak sadar dia menghantam pundak Oey Yong satu kali hingga darah beracun dari tangannya tertinggal pada ‘baju landak’ yang dipakai Oey Yong, dan hal ini sama sekali di luar tahu Oey Yong sendiri.

Maka ketika Yo Khong kemudian menghantam pundak Oey Yong di suatu kelenteng di kota Kah-hin, kebetulan tempat hantamannya itu adalah bagian tempat yang dihantam Lam Hi-jin. Karena itulah Yo Khong mati keracunan oleh ‘duri baju landak’ berbisa yang dipakai Oey Yong. Begitulah Yo Ko berteriak menanya lagi:

“Kokoh?! Siapa itu Kokoh?!”

Karena cekikan Yo Ko yang tambah kencang, hampir saja Sah Koh tidak dapat bernapas dan hampir kelenger, dengan suara lemah ia menjawab:

”Kokoh ya Kokoh.”

“Kokoh she apa? Siapa namanya?” desak Yo Ko.

“Aku... aku tak tahu, kau le... lepaskan aku!” jawab Sah Koh dengan suara serak.

Melihat gelagat yang tak enak, Liok Bu-siang bermaksud menarik tangan Yo Ko. Tapi kini keadaan Yo Ko menyerupai orang yang kehilangan akal sehat, sekuatnya ia mengipatkan tangannya, keruan Bu-siang tak tahan, segera ia terlempar ke belakang lantas tertumbuk pada dinding dengan rasa sakit tidak kepalang. Melihat Yo Ko yang biasanya ramah tamah itu kini berubah seperti orang gila, Thia Eng menjadi ketakutan hingga kaki dan tangan terasa lemas.

Yo Ko pikir kalau sekarang tak dapat mengetahui nama pembunuh ayahnya, tentu dirinya bisa mati penasaran. Maka berulang ia tanya lagi:

“Siapa Kokoh-mu? Dia she Ki atau she Bwe?” Ia pikir Sah Koh adalah putri Ki Leng-hong, tentu Kokoh-nya (bibinya) juga she Ki, bisa jadi adalah Bwe Tiau-hong yang dimaksudkan.

Maklumlah, Kwe Ceng dan isterinya memperlakukan dia seperti anaknya sendiri sejak dia kecil, betapa pun Yo Ko tak berani membayangkan bahwa yang membinasakan ayahnya adalah Oey Yong adanya.

Begitulah Sah Koh meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Yo Ko, tapi karena Hiat-to bagian pergelangan tangan juga terpegang pemuda itu, terpaksa dia tidak mampu berkutik, hanya berseru dengan suara serak:

“Kau minta ganti jiwa kepada Kokoh saja dan jangan mengganggu diriku.”

“Kokoh berada di mana?” tanya Yo Ko lagi.

“Entahlah, waktu aku dan Suhu berangkat, dia dan suaminya masih tinggal di pulau sana,” jawab Sah Koh.

Mendengar keterangan yang cukup berarti ini, seketika hati Yo Ko tergetar hebat. Dengan suara gemetar ia coba menegas:

“Kokoh memanggil Suhu-mu dengan sebutan apa?”

“Sudah tentu ayah, apa lagi?” jawab Sah Koh.

Serentak air muka Thia Eng dan Liok Bu-siang berubah demi mendengar keterangan itu. Karena kuatir salah, Yo Ko coba mengulangi lagi pertanyaannya:

“Jadi suami Kokoh-mu itu bernama Kwe Ceng?”

“Ya, masakah kau tidak tahu?” jawab Sah Koh sambil memancal-mancalkan kakinya dan mendadak berteriak: “Tolong...! ToIong...!”

Kacau rasanya benak Yo Ko. Semenjak kecil ia hidup sebatang kara, seketika terbayang kembali kisah deritanya pada masa lalu. Ia pikir kalau ayahnya tidak dibunuh orang, tentu ibunya tidak perlu hidup sengsara dengan menangkap ular dan dengan sendirinya juga tak akan mati tergigit ular berbisa, tentu pula dirinya juga tidak perlu hidup merana. Bila teringat pula kebaikan Kwe Ceng dan Oey Yong sewaktu dirinya tinggal di Tho-hoa-to dahulu, sungguh sulit dipercaya bahwa musuh pembunuh ayah adalah paman dan bibinya. Karena gejolak perasaannya ini cengkeramannya menjadi kendur, Sah Koh berteriak satu kali terus melompat bangun.

Cepat Thia Eng mendekati Yo Ko dan menghiburnya: “Pikiran Suci memang tidak waras, hal ini kau pun tahu, maka apa yang dikatakannya itu janganlah kau percaya.”

Walau pun begitu katanya, namun dalam hati dia percaya penuh apa yang diucapkan Sah Koh pasti benar adanya.

Ia lihat air muka Yo Ko sangat sedih dan seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya. Setelah termenung sejenak, tiba-tiba Yo Ko melompat keluar rumah dan mencemplak ke atas kudanya yang kurus terus dilarikan dengan cepat. Dari belakang sayup-sayup terdengar seruan Thia Eng dan Liok Bu-siang, akan tetapi tak digubris lagi oleh Yo Ko, yang terpikir oleh pemuda itu hanya: “Aku harus menuntut balas! Aku harus menuntut balas!”

Sekaligus dia larikan kudanya sampai ratusan li jauhnya. Ketika tiba-tiba merasa bibir rada perih dan sakit, ia coba merabanya dan ternyata penuh darah. Kiranya saking sedih dan gusarnya, tanpa sadar dia menggigit bibir sendiri hingga pecah dan berdarah. Pada dasarnya Yo Ko memang benci dengan kehidupan yang dianggapnya tidak adil ini, kini dirasakan dunia ini palsu belaka dan tak ada seorang pun yang baik. Bahwa bibi Kwe memang tidak begitu baik padaku, ini sudah jelas, tapi paman Kwe, paman Kwe...

Maklumlah, selama ini dia sangat kagum dan menghormat kepada Kwe Ceng. Dia merasa ilmu silat serta kepribadian paman Kwe sungguh lain dari pada yang lain, lebih-lebih sang paman yang begitu baik hati padanya, namun sekarang dia merasa tertipu habis-habisan. Saking berdukanya ia menjadi lemas. Ia turun dari kuda kemudian duduk di tepi jalan, ia menangis tergerung sambil mendekap kepala. Sekali sudah menangis maka air matanya sukar dibendung lagi, seakan-akan segala duka derita manusia hidup ini seluruhnya berada dalam tangisnya.

Sebenarnya Yo Ko belum pernah melihat muka ayahnya, juga belum pernah mendengar kisah hidup sang ayah, tetapi sejak kecil ia mengkhayalkan sang ayah yang gagah ksatria, dan dalam lubuk hatinya ia merasa sang ayah adalah manusia yang paling baik, yang paling sempurna di dunia ini. Sudah tentu dia tidak tahu bahwa semasa hidup ayahnya adalah manusia yang kotor dan rendah, seorang pengkhianat bangsa dan negara.

Begitulah Yo Ko terus menangis sampai sekian lamanya. Ketika tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, tampaklah dari utara mendatangi tiga empat penunggang kuda, dari dandanannya jelas adalah Busu bangsa Mongol. Busu paling depan memegang tombak, di ujung tombaknya tertusuk seorang bayi berusia dua tahunan, jadi seperti sujen satai dan dianggapnya seperti permainan yang menarik.

Agaknya bayi itu belum mati, buktinya masih mengeluarkan suara tangisan yang lemah, Tetapi Busu Mongol itu malah bergelak tertawa gembira. Ketika melihat Yo Ko merintangi jalan, segera seorang di antaranya membentak.

“Hayo, minggir!” Berbareng tombaknya terus menusuk ke arah Yo Ko.

Yo Ko sedang keki dan tak terlampiaskan. Segera ia pegang ujung tombak terus dibetot, menyusul sebelah tangannya menampar. Kontan Busu yang terberosot dari kudanya mencelat beberapa meter jauhnya dalam keadaan mati dengan batok kepala pecah berantakan. Keruan Busu yang lain menjadi ketakutan melihat ketangkasan Yo Ko, mereka menjerit kaget terus memutar kuda dan kabur seperti diuber setan.

“Plok!” bayi yang tersujen di ujung tombak seorang Busu tadi terjatuh di tepi jalan.

Cepat Yo Ko memondongnya. Ia lihat bayi itu adalah anak bangsa Han, gemuk lagi putih, tampaknya amat menarik. Tapi ujung tombak Busu tadi telah menembus perutnya, walau pun seketika belum mati, tapi tidak mungkin juga disembuhkan. Bayi itu masih dapat mengeluarkan suara tangisan lemah sambil memanggil “ibu” dengan suara lirih. Yo Ko sendiri lagi berduka, ia bertambah sedih dan kasihan kepada bayi yang sedang sekarat itu hingga air matanya kembali bercucuran.

Melihat bayi itu dalam keadaan menderita, terpaksa ia memukul bayi itu dengan perlahan untuk menewaskannya, lalu dia gunakan tombak Busu Mongol tadi untuk menggali tanah, maksudnya hendak mengubur.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar