“Bagaimana, kau tetap tidak mengaku kalah?” seru Yo Ko pada Kim-lun Hoat-ong sambil angkat gadanya tinggi-tinggi dengan roda emas di pucuk gada itu. ”Senjatamu saja sudah berada di tanganku, masih cukup tebal kulit mukamu untuk berlagak di sini? Apa ada di jagat ini senjata seorang Bu-lim Bengcu kena dirampas orang?”
Pada waktu itu Kim-lun Hoat-ong lagi menjalankan tenaga dalamnya, apa yang dikatakan Yo Ko cukup jelas didengarnya, cuma ia tak berani membuka suara untuk menjawab.
Melihat keadaan lawan, Yo Ko dapat meraba beberapa bagian, segera dia berteriak lagi:
“Wahai para ksatria, dengarlah sekarang akan kutanya dia tiga kali lagi, apa bila Hoat-ong tidak menjawab, itu berarti dia mengaku kalah secara diam-diam.”
Nyata Yo Ko amat cerdik. Ia kuatir sebentar lagi Hoat-ong selesai menjalankan napasnya, maka tanpa henti dia bertanya pula dengan cepat:
“Nah, bagaimana, kau mengaku kalah bukan? Bu-lim Bengcu bukan bagianmu lagi bukan? Kau bungkam terus berarti mengaku secara diam-diam bukan?”
Pada waktu itu kebetulan Hoat-ong sudah selesai menghilangkan rasa sesak di dadanya. Selagi dia hendak jawab orang, begitu melihat bibirnya bergerak, cepat Yo Ko mendahului buka suara lagi.
“Baiklah, kalau kau sudah mengaku kalah, kami pun tak mau bikin susah kau, kalian beramai-ramai boleh lekas enyah saja.”
Habis itu dia angkat tinggi gada dan roda emas rampasannya itu lalu diserahkan kepada Kwe Ceng. Ia pikir jika diserahkan pada Suhu, kuatirnya Kim-lun Hoat-ong akan menjadi murka dan merebutnya, Suhu tentu tak sanggup melawannya.
Di lain pihak alangkah gusarnya Kim-lun Hoat-ong hingga mukanya merah padam. Tapi ia gentar juga terhadap ilmu silat Kwe Ceng yang lihay, roda emas telah jatuh di tangannya, kalau hendak merebutnya kembali rasanya belum tentu berhasil, pula jumlah lawan terlalu banyak, kalau terjadi pertempuran besar, pihak Mongol pasti akan kalah habis-habisan. Agar tidak menerima hinaan, terpaksa sekarang harus mundur teratur, kelak cari jalan lagi buat membalas.
Oleh karena itu dengan suara lantang Hoat-ong lantas berkata: “Bangsa Han banyak tipu muslihat, menang dengan jumlah banyak, se-kali-kali bukan cara ksatria sejati, marilah ikut aku pergi saja.”
Habis berkata, ia memberi tanda dan para jago Mongol itu pun mundur keluar rumah. Dari jauh Hoat-ong masih memberi hormat pada Kwe Ceng dan berkata:
“Kwe-tayhiap, Oey-pangcu, tadi aku sudah belajar kenal ilmu kepandaian kalian yang hebat, Gunung selalu hijau, air sungai senantiasa mengalir, biarlah kita bersua lagi kelak.”
Kwe Ceng orangnya jujur dan berbudi, maka sambil membungkuk membalas hormat dia pun menjawab:
“Ilmu silat Taysu sungguh hebat sekali, Cayhe kagum luar biasa. Senjata kalian bolehlah diambil kembali saja.” Sembari berkata, roda emas dan gada emas itu pun hendak disodorkannya.
Akan tetapi Yo Ko segera menyelak: “Kim-lun Hoat-ong, apa mukamu cukup tebal untuk menerimanya kembali?”
Lekas-lekas Kwe Ceng membentak, akan tetapi Kim-lun Hoat-ong telah mengebas lengan bajunya terus jalan pergi tanpa berpaling lagi.
Tiba-tiba Yo Ko ingat sesuatu. “Hai, muridmu Hotu terkena racun senjata rahasiaku, lekas kau serahkan obat penawar untuk tukar obatku!” ia berteriak.
Tapi Hoat-ong yakin kepandaiannya cukup memahami ilmu pertabiban, segala racun apa saja dapat disembuhkannya. Ia benci terhadap kelicikan Yo Ko, maka kata-kata orang tak digubrisnya terus melangkah pergi.
Sementara Oey Yong melihat Cu-liu pejamkan mata dan tertidur, ia pikir di sini tidak sedikit terdapat ahli-ahli pemakai Am-gi berbisa, pasti ada di antara mereka yang sanggup menyembuhkan lukanya, maka melihat Kim-lun Hoat-ong tak mau terima ajakan Yo Ko untuk bertukar obat penawar, ia pun tidak pikirkan lebih jauh.
Pada saat itu seluruh Liok-keh-ceng telah terbenam dalam suasana sorak sorai yang riuh rendah, semua memuji Yo Ko dan Siao-Iiong-li yang telah mengalahkan Kim-lun Hoat-ong dengan gemilang. Kedua muda-mudi ini dirubung beratus orang yang dengan berisik mempersoalkan pertarungan tadi. Ada yang bilang cara Yo Ko mengalahkan Hotu betul-betul gunakan cara ‘senjata makan tuannya’, ada yang berkata Ginkang Siao-liong-Ii tiada taranya sehingga dapat hindarkan diri dari udakan Kim-lun Hoat-ong yang hendak menghantamnya, cuma mengenai ‘Ih-hun-tay-hoat’ yang dipakai Yo Ko menangkan Darba hingga paderi Tibet itu dengan keras memukul dan menghantam dirinya sendiri, 9 dari 10 di antara mereka tiada satu pun yang paham.
Kemudian perjamuan lantas diperbaharui. Selama hidup Yo Ko selalu menderita hinaan, baru hari ini dia melampiaskan deritanya itu dan unjuk keperkasaannya mendirikan pahala bagi dunia persilatan Tionggoan, maka tiada seorang pun yang tidak menghormat padanya, dengan sendirinya hatinya amat girang. Siao-liong-li suci bersih batinnya dan tak kenal sedikit pun tata pergaulan. Dia lihat Yo Ko gembira, maka ia pun ikut bergirang. Terhadap ‘gadis’ ini Oey Yong juga sangat suka, dia tarik tangan orang kemudian bertanya ini dan itu, dia minta Siao-liong-li duduk semeja di sampingnya. Ketika melihat Yo Ko duduk di antara Tiam-jong Hi-un dan Kwe Ceng, jaraknya terlampau jauh dari tempatnya, segera Siao-liong-li menggapai dan memanggil: “Ko-ji, kemari duduk di sampingku!”
Tapi Yo Ko sedikit banyak paham perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tadi waktu bertemu sesaat ia lupa daratan dan unjuk perasaan hatinya yang murni, tapi kini di bawah pandangan orang begitu banyak, jika masih unjuk perasaan mesra, rasanya rada kurang pantas. Maka demi mendengar panggilan orang, tanpa tertahan wajahnya sedikit merah, ia bersenyum tapi tak mendekati.
“Ko-ji, hayo, kenapa kau tak kemari?” kembali Siao-liong-li mendesak.
“Biarlah aku duduk di sini saja, Kwe-pepek sedang bicara dengan aku,” sahut Yo Ko.
Tiba-tiba alis Siao-liong-li terkerut. “Aku ingin kau duduk ke sini,” katanya lagi.
Tampak sikap orang yang kurang senang, hati Yo Ko terguncang hebat. Ia merasa wajah orang yang rada marah itu benar-benar menggiurkan, sekali pun harus hancur lebur untuknya juga rela. Dulu karena sifat Liok Bu-siang di waktu marah rada mirip Siao-liong-li, maka Yo Ko rela membela si gadis itu dari musuh ganas, bahkan melindunginya sejauh ribuan li. Kini orang sesungguhnya sudah berada di depan mata, mana bisa ia membangkang lagi? Maka ia pun berdirilah dan mendekati meja Siao-liong-li. Melihat sikap kedua muda-mudi ini, diam-diam Oey Yong rada curiga, namun ia pun cepat perintahkan untuk mengatur tempat duduk Yo Ko.
“Ko-ji, ilmu silatmu yang hebat ini kau dapat belajar dari siapa?” segera Oey Yong tanya Yo Ko.
“Dia inilah guruku, kenapa Kwe-pekbo tak percaya,” sahut Yo Ko sambil tunjuk Siao-liong-li.
Tapi Oey Yong sudah kenal kelicinan pemuda ini. Bila dilihatnya wajah Siao-liong-li yang polos jujur, ia yakin orang tak akan membohong, karena itu dia pun berpaling dan tanya:
“Moay-moay, betulkah ilmu silatnya dipelajari dari kau?”
Siao-liong-li sangat senang atas pertanyaan orang. “Ya, memang. Bagaimana, baik tidak ajaranku?” sahutnya segera.
“Baik, baik sekali,” kata Oey Yong, “Moaymoay, siapakah gurumu?”
“Guruku sudah lama meninggal,” sahut Siao-liong-li. Dan matanya mendadak pula basah, hatinya berduka.
“Tolong tanya, siapakah nama dan she gurumu yang terhormat itu?” kembali Oey Yong bertanya.
“Entah, Suhu ya Suhu,” sahut Siao-liong-li sambil geleng-geleng kepala.
Oey Yong sangka orang tidak mau mengaku, memang adalah biasa kalau orang Bu-Iim pantang bicara soal perguruan sendiri. Padahal guru Siao-liong-li adalah budak pelayan pribadi Lim Tiao-eng, selamanya hanya dikenal nama kecilnya sebagai pelayan, she dan nama asli memang ia tidak tahu.
Sementara itu para ksatria dari berbagai aliran beruntun-runtun telah menyuguh arak kepada Kwe Ceng, Oey Yong, Siao-liong-li dan Yo Ko sebagai penghormatan dan ucapan selamat karena telah mengalahkan musuh tangguh seperti Kim-lun Hoat-ong itu.
Biasanya Kwe Hu sangat dihormati orang berkat orang tuanya, namun jika dibandingkan kini, keadaannya menjadi sangat guram, kecuali Bu-si Hengte yang masih me-nyanjung padanya, tiada seorang lain yang perhatikan dia, Tentu saja gadis ini menjadi kesal.
“Toa-Bu-koko, Siao-Bu-koko, jangan minum arak lagi, marilah kita jalan-jalan keluar saja,” ajaknya kemudian kepada kedua saudara Bu itu.
Bu Tun-si dan Bu Siu-bun menyahut berbareng, lalu mereka bertiga bangkit. Dan selagi mereka hendak keluar, tiba-tiba di dengarnya Kwe Ceng sedang memanggil:
“Hu-ji, mari sini!”
Waktu Kwe Hu menoleh, ia lihat sang ayah sudah pindah semeja dengan ibunya dan lagi menggapai padanya dengan berseri-seri. Karena itu ia pun mendekati kedua orang tuanya dan memanggil manja sambil bersandar di tubuh Oey Yong.
“Nah, dulu kau kuatir Ko-ji kurang baik kelakuannya dan bilang ilmu silatnya kurang tinggi sehingga tak sesuai bagi Hu-ji, kini kau tidak bisa mencela lagi bukan?” demikian dengan tertawa Kwe Ceng berkata pada sang isteri: “la telah berjasa besar untuk para Enghiong dari Tionggoan. Sekarang jangan kata dia tidak punya kesalahan, sekali pun ada apa-apa yang tak baik jasanya tadi jauh lebih besar untuk menutup kesalahannya.”
“Ya, kali ini penglihatanku memang salah,” sahut Oey Yong meng-angguk tertawa, “baik ilmu silat mau pun sifat Ko-ji memang bagus semua, aku sendiri amat suka padanya.”
Mendengar jawaban sang isteri yang merupakan kesanggupan perjodohan puterinya, Kwe Ceng sangat senang.
“Liong-kohnio.” katanya kepada Siao-liong-li, “mendiang ayah muridmu ini adalah saudara angkatku, hubungan kedua keluarga Yo dan Kwe turun temurun amat baik, Cayhe melulu punya satu anak perempuan, soal wajah dan ilmu silat masih boleh juga...”
Begitulah dasar watak Kwe Ceng memang terus terang, apa yang ingin dikatakan lantas diucapkannya begitu saja.
“Hm coba, anak sendiri dipuji-puji, apa tidak takut ditertawai adik Liong?” sela Oey Yong tertawa.
Kwe Ceng ikut terbahak, lalu ia pun menyambung kembali: “Maka maksud Cayhe hendak menjodohkan puteriku ini pada muridmu, ayah-bundanya sudah wafat semua, urusan ini dengan sendirinya perlu minta keputusan Liong-kohnio. Dan kebetulan para ksatria tengah berkumpul di sini, maka kita bisa minta dua Enghiong terkemuka sebagai comblang untuk menetapkan perjodohan ini, bagaimana?”
Hendaklah diketahui pada jaman dulu soal perjodohan biasanya tergantung perintah orang tua dan berdasarkan perantara comblang, pihak muda-mudi yang bersangkutan malahan tak berkuasa mengambil keputusan.
Begitulah habis berkata, dengan ketawa-ketawa Kwe Ceng memandang Yo Ko dan puteri sendiri, ia duga pasti Siao-liong-li akan terima perjodohan bagus itu. Tentu saja muka Kwe Hu merah jengah. Ia sembunyikan mukanya ke pangkuan sang ibu. Sebaliknya air muka Siao-liong-li rada-rada berubah mendengar kata-kata Kwe Ceng tadi. Belum ia menjawab tiba-tiba Yo Ko telah berdiri, ia menjura dalam-dalam pada Kwe Ceng dan Oey Yong, lalu berkata:
“Budi Kwe-pepek dan Kwe-pekbo yang membesarkan aku dulu serta rasa sayang padaku ini, sekali pun hancur lebur tubuhku juga sukar membalasnya. Tetapi keluargaku miskin, kepandaianku juga tak berarti, sekali-kali tak berani memikirkan puteri bijaksana.”
Seketika Kwe Ceng tercengang, sungguh tidak pernah disangkanya bahwa dengan nama suami-isteri yang tersohor di kolong langit, wajah dan silat puterinya juga tergolong kelas satu, apa lagi ia sendiri yang buka mulut hendak menjodohkannya, tapi siapa tahu orang malah menolak mentah-mentah. Namun dia lantas ingat. Tentu usia Yo Ko masih muda sehingga merasa malu dan pura-pura menolaknya. Maka ia tertawa pula dan berkata:
“Ko-ji, kita bukan orang luar, urusan ini bersangkutan dengan seumur hidupmu tak perlu kau malu-malu.”
Tapi lagi-lagi Yo Ko menjura dan menjawab: “Kwe-pepek, jika engkau ada perintah ke lautan api atau masuk air mendidih, sedikit pun aku takkan menolak, namun urusan perjodohan ini, betapa pun tak berani aku menurut.”
Melihat pemuda ini bersikap sungguh-sungguh, alangkah herannya Kwe Ceng, ia pandang sang isteri dan berharap ikut menjelaskan persoalannya. Oey Yong sesalkan sang suami terlampau lurus, tidak selidiki dulu lantas berkata terang-terangan dalam perjamuan terbuka hingga kebentur tembok sendiri.
Sudah jelas dilihatnya sikap antara Yo Ko dan Siao-liong-li yang sedang saling cinta, tapi mereka mengaku sebagai guru dan murid, apakah mungkin kedua orang ini telah tersesat dan berzinah? Tentang ini sesungguhnya ia tak berani percaya, ia pikir Yo Ko belum pasti seorang jantan sejati, tapi juga tak nanti melakukan perbuatan terkutuk dan rendah itu.
Harus diketahui orang pada ahala Song amat mementingkan tata susila, tingkatan antara guru dan murid dipandang seperti raja dan hambanya, seperti ayah dan anak yang sekali-kali tak boleh berbuat sembarangan. Walau pun Oey Yong bercuriga, namun urusan ini terlalu besar artinya, seketika dia pun tak berani percaya, maka dia tanya Yo Ko:
“Ko-ji, benarkah Liong-kohnio gurumu?”
“Ya,” sahut Yo Ko pasti.
“Apakah kau angkat guru padanya dengan menjura dan menyembah?” tanya Oey Yong lagi.
“Ya,” jawab Yo Ko tegas, mulutnya menjawab, tapi matanya memandang Siao-liong-li dengan penuh rasa kasih mesra, jangankan Oey Yong cerdik melebihi orang biasa, sekali pun orang lain juga dapat melihat bahwa antara kedua muda-mudi ini tentu memiliki hubungan yang lain dari pada yang lain.
Namun Kwe Ceng belum juga paham maksud tujuan sang isteri, ia pikir: “Bukankah sejak tadi ia bilang murid Liong-kohnio, ilmu silat mereka berdua terang juga sama, mana bisa dipalsukan lagi? Aku persoalkan perjodohan, mengapa adik Yong tanyakan perguruan dan alirannya? Hm, ya, lebih dulu bocah ini masuk Coan-cin-pay, kemudian ganti angkat guru lain, meski hal ini tidak baik, tapi urusannya gampang juga diselesaikan.”
Sementara itu melihat sikap Yo Ko terhadap Siao-liong-li, diam-diam Oey Yong terkejut sekali, lekas-lekas dia kedipi sang suami dan berkata:
“Sudahlah, umur Hu-ji masih kecil, soal perjodohan mengapa harus terburu-buru? Hari ini para ksatria berkumpul di sini, paling betul berunding dulu masalah negara yang besar, urusan pribadi sementara boleh kesampingkan dulu.”
Kwe Ceng pikir betul juga, maka jawabnya: “Ya, betul, hampir saja aku pentingkan urusan pribadi dan melupakan soal besar. Liong-kohnio, urusan perjodohan Ko-ji dan puteriku ini biarlah kita bicarakan lagi kelak.”
Siapa duga mendadak Siao-liong-Ii geleng-geleng kepala. “Tidak, aku yang akan menjadi isteri Ko-ji, tak akan dia menikahi anakmu,” sahutnya tiba-tiba.
Kata-kata itu diucapkan dengan cukup keras dan terang, maka ada ratusan hadirin di situ yang mendengarnya. Keruan Kwe Ceng terperanjat, seketika ia berbangkit sungguh ia tak percaya pada telinga sendiri, namun bila dilihatnya Siao-liong-li memegangi tangan Yo Ko dengan sikap begitu hangat dan mesra, hal ini tak bisa pula tidak mempercayainya.
“Ap... apa katamu? Di... dia... muridmu bukan?” tanyanya cepat tak lancar.
“Ya,” sahut Siao-liong-li dengan tersenyum simpul. “Dulu aku yang mengajarkan ilmu silat padanya, tapi kepandaiannya sekarang sudah sama kuatnya dengan aku. Ia sangat suka padaku dan aku pun suka padanya. Dulu....” sampai di sini tiba-tiba saja dia perlahankan suaranya, meski pun gadis ini masih polos, tetapi sifat malu-malu anak perempuan adalah pembawaan, maka dengan lirih ia sambung: “...dulu, dulu kukira dia tak suka padaku dan tidak mau aku menjadi isterinya. Ak... aku menjadi sedih sekali, aku ingin lebih baik mati saja. Tapi ha... hari ini barulah aku tahu ia cinta padaku sesungguh hati, ak... aku...”
Luar biasa penuturan Siao-liong-li yang keluar dari jiwa murninya ini sehingga seketika beratus hadirin itu sama sunyi senyap mendengarkan kata-kata si gadis. Umumnya, sekali pun seorang gadis yang sedang terbakar api asmara, namun tak nanti mengumumkannya terang-terangan di hadapan orang banyak. Apa lagi menutur kepada orang luar yang bukan sanak keluarga sendiri. Tapi Siao-liong-li terlalu bersih, ia tak kenal urusan umum, apa itu tata krama atau kebiasaan manusia, segalanya tidak dipahaminya, apa dirasakan perlu dikatakannya segera pula dikatakan.
Sebaliknya Yo Ko sangat terharu melihat perasaan si gadis yang murni itu, tapi bila mana dilihatnya wajah orang lain rada unjuk rasa terkejut dan heran, ia menjadi kikuk dan tidak bisa membenarkan pula. Ia tahu Siao-liong-li terlalu hijau, sepatutnya tidak membicarakan urusan ini di tempat orang banyak. Maka tangan orang lantas ditariknya, dengan suara halus ia pun mengajak:
“Marilah, Kokoh, kita pergi saja!”
“Baik,” sahut Siao-liong-li. Lalu kedua muda-mudi ini pun bertindak keluar berendeng.
Tatkala itu meski seluruh ruangan penuh berjubel dengan orang, tetapi dalam pandangan Siao-liong-li seakan-akan Yo Ko seorang saja yang dilihatnya.
Kwe Ceng saling pandang bingung dengan Oey Yong. Tidak sedikit peristiwa berbahaya dan aneh yang pernah mereka alami selama hidup, tapi kejadian di depan mata sekarang ini sungguh tidak pernah mereka duga, seketika mereka pun tidak tahu bagaimana harus bertindak..Pada waktu Siao-liong-li dan Yo Ko sudah hampir melangkah keluar ruangan pendopo itu, tiba-tiba Oey Yong meneriakinya:
“Liong-kohnio, kau adalah Bu-lim Bengcu yang dihormat dan dipandang sebagai suri teladan semua orang, maka urusan ini hendaklah kau pikirkan lebih masak.”
Tiba-tiba saja Siao-liong-li menoleh sambil tersenyum manis, sahutnya: “Aku tak sanggup menjadi Bu-lim Bengcu segala, kalau cici suka bolehlah kau ambil jabatan itu.”
“Tidak, apa bila kau mau menolak, maka serahkan saja kepada ksatria angkatan tua Ang-lopangcu,” kata Oey Yong.
Bu-lim Bengcu adalah gelar kehormatan yang amat agungnya dalam dunia persilatan, tapi sedikit pun tak terpikir oleh Siao-liong-li, dia menjawab pula sekenanya:
“Terserahlah kau, pendeknya aku tidak kepingin.”
Habis itu tangan Yo Ko ditariknya hendak berjalan keluar lagi. Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, dari tengah orang banyak tahu-tahu melompat keluar seorang berjubah pertapaan dan tangan menghunus pedang, dia bukan lain dari pada imam Coan-cin-kau, Thio Ci-keng adanya.
“Yo Ko!” bentak Ci-keng dengan pedang melintang sambil menghadang di ambang pintu. “Kau durhaka dan mengkhianati perguruan, hal ini saja tak dibesarkan orang, kini kau berbuat lagi serendah binatang, apa kau masih punya muka untuk hidup di dunia ini? Asal aku Thio Ci-keng masih bisa bernapas, tidak akan kubiarkan kau.”
Yo Ko tidak suka ribut-ribut dengan Ci-keng di depan orang banyak, maka dengan suara tertahan ia membentak:
“Menyingkir!”
“In-sute,” teriak Ci-keng pula, “coba kau majulah dan katakan, malam itu di Cong-lam-san dengan mata kepala kita sendiri menyaksikan kedua orang ini telanjang bulat lagi berbuat apa?”
PeIahan Ci-peng berdiri dengan sedikit gemetar. Waktu dia angkat tangan kirinya, maka terlihatlah jari-jari kecil dan manis tangannya telah kutung semua. Meski semua orang tak tahu maksudnya mengunjuk tangan cacat ini, namun melihat tubuh Ci-peng yang gemetar dan bersikap aneh, orang pun dapat menduga pasti di dalamnya tersangkut sesuatu yang ganjil.
Seperti yang diketahui, malam itu Siao-liong-li dan Yo Ko sedang melatih Giok-li-sim-keng di dalam semak-semak bunga lalu dipergoki Ci-keng dan Ci-peng tanpa sengaja, tatkala mana Yo Ko telah paksa Ci-peng bersumpah agar tak bercerita pada orang kelima, siapa tahu hari ini orang telah menistanya di hadapan orang banyak, tentu saja Yo Ko marah luar biasa.
“Kau telah bersumpah tak akan menceritakan pada orang kelima, apa kau lupa?!” bentak Yo Ko segera.
Ci-keng terbahak-bahak oleh teguran ini. “Ya. memang aku pernah bersumpah tidak akan bercerita pada orang kelima,” sahutnya keras. “Tapi sekarang di sini ada orang ke enam, ke tujuh, bahkan beratus dan beribu orang, dengan sendirinya sumpahku itu sudah batal. Kalian berdua berani berbuat, sudah tentu aku pun boleh mengomongnya bukan?”
Peristiwa itu memang amat kebetulan, ketika tengah malam Ci-keng melihat dua muda-mudi itu telanjang bulat berada bersama di dalam semak-semak, dia sangka orang sudah berbuat kotor, siapa tahu sesungguhnya orang sedang melatih ilmu yang tidak ada bandingannya itu. Sekarang dalam marahnya peristiwa itu disiarkannya, sebenarnya bukan maksud sengaja hendak memfitnah. Akibat kejadian malam itu, Siao-liong-li sampai muntah darah saking marah dan hampir-hampir jiwanya melayang. Kini mendengar Ci-keng berdebat model pokrol bambu, ia tidak tahan lagi, cepat sekali ia ulurkan tangan dan menekan perlahan ke dada Ci-keng seraya berkata:
“Baiknya kau jangan ngaco-belo ya!”
Sementara ini Giok-li-sim-keng yang dilatihnya sudah jadi, gerak tangannya ini dilakukan tanpa suara dan tak terlihat, kebetulan juga Giok-li-sim-keng itu diciptakan sebagai lawan ilmu silat Coan-cin-pay, maka saat Ci-keng hendak menangkis, tak tahunya tangan Siao-liong-li telah memutar lagi dan tetap meraba ke dadanya. Sekali tangkis tidak kena, luar biasa kejut Ci-keng, namun begitu dadanya teraba tangan orang pun lantas ditarik kembali dan tiada sesuatu perasaan apa-apa, maka ia pun tidak ambil perhatian. Dengan tertawa dingin ia coba mengolok-olok lagi:
“Ada apa kau meraba tubuhku? Aku toh bukan gend...”
Belum kata-kata “gendakmu” selesai diucapkan, mendadak kedua matanya melotot kaku, seketika orangnya terkulai ke depan, nyata ia sudah terluka dalam yang amat parah. Melihat sang Sutit terluka, lekas-lekas Sun Put-ji dan Hek Tay-thong memburu maju buat membangunkan, dilihatnya napas Ci-keng memburu dan wajahnya merah padam laksana orang mabuk.
“Bagus, kau Ko-bong-pay benar-benar hendak memusuhi Coan-cin-kau kami!” teriak Sun Put-ji, segera pedang pun dilolosnya lantas hendak melabrak Siao-liong-li.
Lekas-lekas Kwe Ceng melompat maju dan menyela di tengah kedua pihak. “Sudahlah, orang sendiri jangan cekcok,” ia coba memisah. Lalu ia berkata juga kepada Yo Ko: “Ko-ji, kedua pihak sama-sama terhitung gurumu. Harap kau minta mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, ada apa-apa biarlah kita pertimbangkan sesungguhnya siapa yang salah.”
Akan tetapi Siao-liong-li sudah jemu dan benci pada segala kepalsuan manusia dengan pengalaman sejak ia turun gunung, maka tangan Yo Ko digandengnya dan mengajaknya lagi:
“Marilah kita pergi saja, Ko-ji, selamanya jangan kita ketemu orang-orang ini lagi!”
Yo Ko ikut bertindak pergi, tapi mendadak pedang Sun Put-ji berkelebat. Ia menghadang dan membentak:
“Hmm, enak saja, sudah melukai orang lantas hendak merat begitu saja?”
Melihat kedua pihak akan saling gebrak lagi, lekas-lekas Kwe Ceng berkata pula dengan sungguh-sungguh:
”Ko-ji, segalanya hendaklah kau pikir masak-masak dan jadilah orang baik-baik, jangan bikin susah diri sendiri dan membikin busuk nama baikmu. Namamu Ko adalah aku yang memberi, apa kau paham maksud huruf ‘Ko’ itu?”
Tergetar Yo Ko oleh teguran itu, mendadak terbayang olehnya banyak kejadian di masa kecil, teringat olehnya segala hinaan yang pernah dia rasakan, pikirnya: “Aneh, mengapa namaku ini adalah pemberian Kwe-pepek?”
“lbumu dulu tentu pernah ceritakan padamu kau bernama ‘Ko’ dan alias apa?” tegur Kwe Ceng pula bengis.
Maka ingatlah Yo Ko pernah dengar dari ibunya, cuma dahulu usianya masih kecil, maka selamanya tiada orang memanggil nama aliasnya hingga dia sendiri hampir lupa.
“Nama aliasku Kay-ci,” sahutnya kemudian.
“Benar,” kata Kwe Ceng. “Dan apa maksudnya itu?”
“Kwe-pepek maksudkan bila aku ada kesalahan (Ko) supaya bisa memperbaikinya (Kay-ci),” sahut Yo Ko.
Karena itu lagu suara Kwe Ceng berubah sedikit halus. “Ko-ji,” katanya pula, “manusia mana yang tidak pernah salah (Ko), tapi salah berani memperbaiki hal ini harus dipuji, ini adalah petuah Nabi. Kini kau tidak menghormati guru, ini adalah kesalahan maha besar, hendaklah kau bisa pikirkan baik-baik.”
“Kalau aku punya salah sudah tentu akan kuperbaiki,” sahut Yo Ko. ”Tetapi dia... dia...” ia tuding Ci-keng dan melanjutkan: “dia pukul aku, dia menghina aku, menipu aku dan benci kepadaku, mana mau aku mengakui dia sebagai guru? Aku dan Liong-kokoh suci bersih, Thian menjadi saksi, aku menghormati dia, kucinta padanya, apakah ini satu kesalahan?” Yo Ko mencerocos dengan lancar dan bersemangat oleh rasa benarnya.
Kecerdasan dan bicaranya Kwe Ceng tak ungkuli pemuda ini, maka tentu saja ia menjadi gelagapan. Perbuatan orang dirasakannya salah, cuma seketika ia tak bisa menjelaskan.
“Ko-ji,” sementara Oey Yong sudah maju juga. “Kwe-pepek ingin kau berbuat baik, hal ini hendaklah kau mengerti,” suaranya halus.
Karena itu perasaan Yo Ko menjadi terguncang, ia pun lirihkan suara dan menyahut: “Ya, selamanya Kwe-pepek sangat baik padaku, hal ini aku cukup tahu.”
Karena terharu matanya menjadi merah dan hampir-hampir meneteskan air mata.
“Maksudnya hanya berusaha menginsafkan kau, sekali-kali janganlah kau salah paham,” kata Oey Yong lagi.
“Tetapi aku justru tak paham, aku tak mengerti kesalahan apakah yang kulakukan?” kata Yo Ko lagi.
Tiba-tiba Oey Yong menarik muka, “Apa kau benar-benar tak mengerti atau kau sengaja main gila dengan kami?” tanyanya.
Yo Ko menjadi penasaran, ia pikir: “Kalau kalian baik-baik terhadapku dengan sendirinya aku pun balas dengan baik, tetapi kalian ingin aku berbuat bagaimanakah?” Karena itu ia menggigit bibir dan tak menjawab.
“Baiklah, bila kau ingin aku bicara terus terang, rasanya aku pun tidak perlu main teka-teki dengan kau,” kata Oey Yong, “Liong-kokoh adalah Suhu-mu, itu berarti orang tua yang harus kau hormati, maka tak boleh ada hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan.”
Peraturan demikian itu bukannya Yo Ko tak paham sama sekali seperti halnya Siao-liong-li, cuma dia tak mengerti, sebab apa hanya lantaran Kokoh pernah mengajarkan ilmu silat padanya lantas tidak boleh menjadi isterinya? Kenapa hubungannya dengan Liong-kokoh yang suci bersih, Kwe-pepek saja tak mau percaya? Berpikir sampai di sini, tak tahan lagi ia pun naik darah. Dasar Yo Ko seorang yang tak gentar terhadap segala apa dan pantang kekerasan, sekali ia merasa penasaran, ia menjadi lebih tak mau mengerti. Segera dengan suara keras dia berkata lagi:
“Dan perbuatan apa yang kulakukan sehingga membikin susah kalian? Siapa yang pernah kucelakai? Liong-kokoh pernah mengajarkan ilmu silat kepadaku, aku justru ingin dia menjadi isteriku, kau boleh bacok aku, boleh cincang aku, namun aku tetap ingin dia menjadi isteriku.”
Kata-katanya ini betul-betul membikin seluruh hadirin terperanjat. Pada jaman Song orang amat kukuh pada tata adat, mana ada logika yang menyimpang 180 derajat dari peraturan itu? Selama hidup Kwe Ceng sendiri paling menghormat pada guru, maka ia marah tidak kepalang oleh jawaban Yo Ko itu, cepat sekali dia melangkah maju, segera dia jamberet dada Yo Ko.
Siao-liong-li terkejut, segera ia menangkis, tapi ilmu silat Kwe Ceng masih jauh di atasnya, apa lagi dalam keadaan marah, seluruh tenaganya telah dikeluarkan semua. Ketika sekali tarik terus dilemparkan, tahu-tahu Siao-liong-li terlempar pergi satu tombak lebih lalu turun kembali di luar pintu, menyusul mana sebelah tangan Kwe Ceng memegang dada Yo Ko tempat ‘Thian-tut-hiat’ dan tangan lain diangkatnya tinggi-tinggi sambil membentak:
“Binatang cilik, kenapa kau berani keluarkan kata-kata durhaka semacam itu?!”
Seluruh tenaga Yo Ko lenyap seketika oleh karena cekalan Kwe Ceng itu, namun dalam hati sedikit pun ia tak takut.
“Kokoh cinta padaku sepenuh hatinya, demikian pula aku terhadapnya,” katanya lantang, “Kwe-pepek, kau mau bunuh aku boleh bunuhlah, tapi keputusanku ini tak akan berubah selamanya.”
“Aku anggap kau seperti anakku sendiri, tak boleh kudiamkan kesalahanmu ini dan tidak memperbaikinya,” kata Kwe Ceng.
“Aku tidak salah, aku tidak melakukan sesuatu yang buruk, aku tidak pernah mencelakai orang lain!” jawab Yo Ko tegas. Tiga kalimat itu diucapkannya dengan begitu kuat dan pasti.
Seketika hati para ksatria ikut terkesiap, mereka merasa kata-kata Yo Ko ada bagian yang masuk di akal, umpama saja kalau kedua muda-mudi ini tidak bilang-bilang kepada orang lain, kemudian hidup menyendiri di dunia lain atau menjadi suami isteri di pulau terpencil misalnya, bukankah tidak merugikan siapa pun juga. Tapi kalau berbuat semena-mena sesukanya tanpa menghiraukan pendapat umum, ini pun tak bisa dibenarkan dan merupakan sampah masyarakat persilatan.
Namun pendapat Kwe Ceng berlainan dari pada Yo Ko. Ketika telapak tangannya sudah diangkat, dia berkata dengan hati pedih sekali:
“Ko-ji, betapa sayangku padamu, apakah kau mengerti? Aku lebih suka kau mati dari pada kau berbuat hal-hal tak baik, pahamkah kau?”
Karena kata-kata Kwe Ceng ini, Yo Ko tahu bila tidak ganti lagu suara, sekali gablok pasti dirinya akan terpukul mati, kadang kala pemuda ini licin dengan macam tipu akalnya, tapi kini ia justru keras kepala, maka dengan tegas ia menjawab:
“Aku yakin aku tak bersalah, kalau Pepek tak percaya biarlah kau pukul mati aku saja.”
Telapak tangan kiri Kwe Ceng telah diangkat tinggi-tinggi, sekali gablok ke atas batok kepala Yo Ko, mana bisa bernyawa pula? Karena itu seketika para ksatria sunyi senyap tiada yang bersuara, semuanya menatap tangan Kwe Ceng apakah jadi digablokkan atau tidak.
Sejurus lamanya telapak tangan Kwe Ceng tetap terangkat tinggi, kembali dia pandang Yo Ko sekejap, ia lihat bocah ini gigit kencang bibirnya dan alis terkerut rapat, parasnya begitu mirip dengan mendiang ayahnya, Yo Khong. Mendadak Kwe Ceng menghela napas panjang, ia lepaskan jambretannya dan berkata:
“Sudahlah, harap kau berpikir lebih masak.”
Habis itu ia pun kembali ke tempat duduknya tadi, sekejap saja ia tidak pandang Yo Ko lagi, tampaknya ia begitu putus asa dan habis harapan.
“Ko-ji, orang-orang ini begini kasar, jangan kau pedulikan mereka, marilah kita pergi saja,” tiba-tiba Siao-liong-li menggapai Yo Ko. Nyata sama sekali ia tidak tahu bahwa jiwa Yo Ko tadi sudah dalam saat yang menentukan.
Dengan langkah lebar segera Yo Ko keluar dari ruangan pendopo itu sambil bergandeng tangan dengan Siao-liong-li. Di luar mereka mendapatkan kuda mereka yang kurus itu dan segera menuntunnya berlalu.
Dengan mata terpentang Iebar para ksatria mengikuti kepergian kedua muda-rnudi itu, ada yang memandang rendah, ada yang kagum, ada yang marah dan ada yang simpatik dan macam-macam perasaan yang tak sama.
Begitulah berendeng Yo Ko bikin perjalanan dengan Siao-liong-li, meski pun hari telah jauh malam namun mata kedua orang ini cukup terlatih, jalan di malam gelap mereka anggap seperti siang hari saja. Sudah lama berpisah dan sekarang kedua muda-mudi ini berdua kembali, betapa senang perasaan mereka tak perlu dilukiskan lagi, segala apa yang terjadi tadi, pertempuran mati-matian, perdebatan dan caci maki, semuanya sudah mereka lupakan.
Mereka berjalan tanpa bicara, akhirnya sampai di bawah pohon Yang-liu yang rindang, tanpa berjanji keduanya mendekati kemudian duduk bersandarkan dahan pohon, lambat laun mereka pun merasa letih dan kemudian terpulas. Di kejauhan kuda kurus makan rumput hijau dengan bebasnya, hanya kadang-kadang terdengar suara meringkiknya yang perlahan. Setelah bangun, hari sudah terang benderang, kedua muda-mudi itu saling pandang lalu tertawa.
“Ke mana kita sekarang, Kokoh?” tanya Yo Ko.
“Lebih baik kembali Ko-bong (kuburan kuno) saja,” sahut Siao-liong-li sesudah merenung sejenak.
Nyata sejak ia turun gunung, ia merasa meski dunia ramai sangat indah, tetapi tetap tidak lebih merdeka dari pada hidup di kuburan kuno. Yo Ko juga tahu jiwa Siao-liong-li terlampau polos dan tidak cocok untuk bergaul dengan orang. Ia pikir jika selama hidup ini bisa berdampingan dengan gadis ini, selebihnya tiada yang dia inginkan lagi. Dahulu ia suka kenangkan dunia luar yang ramai dan berharap bisa keluar kuburan, namun sesudah berkelana sekian lama, kembali ia rindu pada kehidupan yang aman tenteram dalam Ko-bong.
Begitulah kedua orang itu pun balik ke utara, sepanjang jalan mereka saling bicara sambil menempuh jalan dengan perlahan-lahan. Yang satu tetap panggil “Ko-ji” dan yang lain sebut “Kokoh”, mereka merasa sebutan itu adalah paling cocok dan wajar. Sampai lohor, pembicaraan mereka sampai pada ilmu silat Kim-lun Hoat-ong dan murid-muridnya yang lihay luar biasa.
“Ko-ji, bab yang terakhir dari Giok-li-sim-keng selamanya belum pernah kita latih, apa kau masih ingat?” tiba-tiba Siao-liong-li berkata.
“lngat, cuma berulang kali kita sudah pernah coba memecahkannya selalu gagal, agaknya pasti ada yang salah,” sahut Yo Ko.
“Sebenarnya aku pun tidak paham,” ujar Siao-liong-li, “tetapi kemarin melihat imam wanita tua itu menggerakkan pedangnya, aku teringat sesuatu.”
Seketika Yo Ko paham juga bila teringat tipu gerakan pedang yang digunakan Sun Put-ji kemarin.
“Ya, ya,” segera ia berteriak, “Giok-li-sim-keng dan ilmu silat Coan-cin-pay harus digunakan berbareng, pantas kita sudah melatih ke sana kemari belum berhasil.”
Kiranya dahulu cikal-bakal Ko-bong-pay, Lim Tiao-eng, amat tergila-gila pada Ong Tiong-yang. Waktu tinggal sendirian dalam kuburan kuno ia ciptakan ilmu silat Giok-li-sim-keng, tetapi terhadap Ong Tiong-yang masih tetap tidak pernah lupa, maka sampai bab terakhir dari Giok-li-sim-keng yang dia tulis, timbul khayalannya pada suatu hari kelak pasti dapat berdiri sejajar dengan jantung hatinya menggempur musuh. Oleh karena itu ajaran ilmu pada bab terakhir itu melukiskan seseorang menggunakan ilmu dari Giok-li-sim-keng dan yang lainnya memakai ilmu silat Coan-cin-pay untuk saling bahu membahu menggempur musuh. Begitulah dari segala isi hati yang pernah tumbuh di dalam lubuk hati Lim Tiao-eng terhadap Ong Tiong-yang, semuanya sudah disalurkan melalui bab terakhir dari ilmu silat ciptaannya.
Pada saat Siao-liong-li dan Yo Ko mula-mula melatihnya, karena rasa cinta mereka belum bersemi, maka tak mungkin paham jerih payah maksud hati Cosu-popoh mereka, lebih-lebih tidak bisa dimengerti bahwa di antara mereka yang satu harus pakai ilmu silat perguruan sendiri dan yang lain harus mempergunakan ilmu silat Coan-cin-pay yang sama sekali berlawanan. Kini sesudah sadar, segera kedua muda-mudi itu jemput sebatang kayu dan sejurus demi sejurus mereka pun mulai memecahkan pelajaran yang sudah lama belum berhasil itu.
Dengan perlahan Siao-liong-li mainkan Giok-li-sim-keng dan Yo Ko sebaliknya keluarkan Kiam-hoat Coan-cin-pay. Tetapi baru beberapa jurus mereka pecahkan, kembali mereka menghadapi jalan buntu karena satu dan lain tak cocok.
Hendaklah diketahui bahwa dulu waktu Lim Tiao-eng menciptakan ilmu pedang ini, dalam khayalannya dia berdiri sejajar dengan Ong Tiong-yang menggempur musuh, maka setiap tipu gerakan selalu bekerja sama dengan rapat. Sekarang Yo Ko dan Siao-liong-li saling melatih dengan tangkai kayu, mereka anggap masing-masing sebagai pihak lawan, waktu dimainkan dengan sendirinya menyimpang dan tak cocok, meski mereka mengulanginya berkali-kali tetap tidak betul.
“Apa mungkin kita sudah lupa, coba kita kembali ke Ko-bong dulu baru nanti melatihnya lagi,” ujar Siao-liong-li.
Selagi Yo Ko hendak menjawab, didengarnya di kejauhan ada suara derap kuda, seorang penunggang secepat terbang mendatangi. Kuda itu seluruhnya berbulu merah, penunggangnya juga baju merah, hanya sekejap saja, orang dan tunggangannya bagaikan segumpal awan merah sudah lewat di samping mereka, nyata itu adalah kuda ‘si merah’ tunggangan Oey Yong.
Yo Ko tak ingin bertemu dengan keluarga Kwe Ceng yang hanya menimbulkan rasa kesal saja, maka ia ajak Siao-liong-li memilih jalan kecil saja agar tidak kepergok dengan orang di depan sana. Meski Siao-liong-li adalah Suhu, tetapi kecuali ilmu silat, urusan-urusan lain sama sekali ia tak paham, kalau Yo Ko bilang pilih jalanan kecil, dengan sendirinya ia pun menurut.
Malamnya kedua orang ini menginap di hotel kecil, Yo Ko tidur di atas ranjang dan Siao-liong-li masih tetap tidur di atas tali yang digantung di antara dua belah dinding. Di dalam hati kedua orang pasti hendak bersuami isteri, akan tetapi karena beberapa tahun di kuburan kuno selalu tidur seperti ini, sesudah bersua kembali mereka masih tetap tidur cara lama dan melatih diri seperti dulu. Yang mereka pikir adalah buah hati sudah berdampingan dan selanjutnya takkan berpisah lagi, mereka sama-sama merasa girang dan terhibur tak terhingga. Besok siangnya tibalah mereka di suatu kota besar. Kota itu penuh sesak dengan lalu lintas kereta kuda dan orang jalan sehingga suasana sangat ramai.
Yo Ko mengajak Siao-Iiong-li dahar di restoran, tapi baru saja mereka naik ke atas loteng, seketika Yo Ko tercengang. Dia melihat Oey Yong dan Bu-si Hengte juga sedang bersantap di situ. Karena sudah telanjur bertemu, Yo Ko pikir tidak enak bila menyingkir, maka ia maju memberi hormat dan menyapa.
“Kau melihat puteriku tidak?” demikian Oey Yong bertanya dengan alis berkerut rapat dan muka muram sedih.
“Tidak, apa Hu-moay tidak bersama dengan kau?” jawab Yo Ko.
Belum lagi Oey Yong menjawab, terdengar tangga loteng riuh ramai dan beberapa orang naik ke atas, seorang yang jalan paling depan berperawakan tinggi besar, siapa lagi dia kalau bukan Kim-Iun Hoat-ong! Yo Ko cukup jeli, ia tak bicara lagi dengan Oey Yong, tapi cepat kembali ke samping Siao-Iiong-li dan membisikinya:
“Berpaling ke sana, jangan pandang mereka.”
Tapi betapa tajamnya sinar mata Kim-lun Hoat-ong. Begitu naik ke atas, seketika semua orang di atas loteng sudah masuk dalam pandangannya, maka terdengarlah dia tertawa-tawa dingin, dengan bebasnya ia duduk menyanding suatu meja.
Sebenarnya Yo Ko sudah berpaling ke arah lain, mendadak ia dengar Oey Yong berseru:
“Hu-ji!”
Yo Ko terkesiap, tanpa terasa ia menoIeh, maka terlihatlah Kwe Hu duduk semeja dengan Kim-lun Hoat-ong dengan mata terbuka lebar lagi memandang sang ibu, cuma tak berani menyeberang ke sini. Kiranya sehabis Kim-lun Hoat-ong dikalahkan, dia masih penasaran dan memikirkan daya upaya untuk tebus kekalahannya. Selain itu Pengeran Hotu terkena jarum berbisa dan racunnya bekerja sangat hebat, segala obat penawar sudah digunakannya tanpa hasil, karena itu menambah hasratnya hendak merebut obat, maka dia tak pergi jauh melainkan menunggu kesempatan baik di sekitar Liok-keh-ceng.
Agaknya memang nasib Kwe Hu yang bakal ketimpa malang. Pagi-pagi dia sudah jalan-jalan dengan kuda merahnya dan kebetulan kepergok Kim-lun Hoat-ong sehingga diseret turun dari kudanya. Beruntung kuda merah itu sangat cerdik, secepat terbang binatang itu lari pulang dan mendengking pilu di hadapan sang majikan.
Kwe Ceng tahu sang puteri mendapat bahaya, keruan terkejut, segera mereka berpencar mencari. Meski pun Oey Yong sedang mengandung, tapi demi sayangnya pada sang puteri dia pun naik kuda merahnya ikut mencari dan hari ini lebih dulu bertemu dengan Bu-si Hengte di kota ini lalu berjumpa pula dengan Yo Ko berdua, dan siapa tahu secara sangat kebetulan, kemudian Kim-lun Hoat-ong juga mendatangi restoran ini dengan tawanannya: Kwe Hu.
Nampak puterinya, Oey Yong terkejut tercampur girang, tetapi biar pun ia banyak tipu akalnya, kini anak gadisnya jatuh di bawah cengkeraman musuh, ia hanya memanggil satu kali habis itu ia pun tak bicara lagi. Sepasang sumpit yang dia pegang menggores kian kemari di atas meja sembari memikirkan tipu daya untuk menolong puterinya.
Selagi dia berpikir, mendadak terdengar Kim-lun Hoat-ong berkata: “Oey-panglu, ini puteri kesayanganmu bukan? Tempo hari kulihat ia menggelendot di pangkuanmu dengan amat manjanya, tampaknya sangat menarik sekali.”
Oey Yong menjengek, ia tidak menjawab. sebaliknya Bu Siu-bun lantas berdiri. “Hmm, percuma kau menjadi ketua aliran. Sesudah kalah bertanding, kini menganiaya anak gadis orang yang masih muda. Benar-benar tidak kenal malu!” bentak pemuda itu.
Namun Kim-lun Hoat-ong menganggap kata-kata orang bagaikan angin lalu saja dan tidak menggubrisnya, kembali ia berkata kepada Oey Yong: “Oey-pangcu, kau suruh orangmu antarkan dulu obat penawar racun jarum berbisa, kemudian kita boleh bertanding se-adil-adilnya untuk menentukan Bu-lim Beng-cu sebenarnya menjadi bagian siapa.”
Oey Yong menjengek lagi, dia tetap tidak menjawab. Dan kembali Bu Siu-bun berdiri lagi sambil berteriak-teriak:
“Kau bebaskan dulu nona Kwe dan kami lantas berikan obat, soal bertanding boleh dirundingkan nanti.”
Oey Yong coba melirik Yo Ko dan Siao-liong-li, dalam hati ia pikir: “Obat penawar ada pada kedua orang ini, tetapi dengan seenaknya saja Siu-ji menjanjikan pada lawan, siapa tahu orang mau memberi atau tidak.”
Sementara itu terdengar Kim-lun Hoat-ong berkata lagi: “Am-gi beracun di jagat ini apakah hanya kalian saja yang punya? Kalian sudah melukai muridku dengan jarum berbisa, aku pun menggunakan paku berbisa melukai puterimu. Kalian berikan obat penawarnya, kami pun obati lukanya. Tapi soal membebaskan orang, ini tak mudah.”
Melihat keadaan puterinya biasa saja, tampaknya tidak terluka, namun kasih sayang ibu, betapa pun Oey Yong bingung juga. Dan karena bingung, maka kecerdasannya menjadi hilang sama sekali tak berdaya.
Sementara itu tiada hentinya pelayan mengantarkan daharan ke meja Kim-lun Hoat-ong, mereka makan minum sepuas-puasnya sambil bicara dan bergurau dalam bahasa Tibet. Kwe Hu duduk terpaku memandang sang ibu, mana ada napsu makan barang satu sumpit saja? Hati Oey Yong terasa bagai disayat-sayat, siapa tahu nasib malang memang biasanya tak menyendiri karena tiba-tiba perutnya terasa melilit sakit.
Habis makan kemudian Kim-lun Hoat-ong bangkit, ia berkata: “Oey-pangcu, marilah ikut pergi sekalian dengan kami.”
Oey Yong terkejut, tetapi dia pun segera insaf, orang bukan saja tak mau bebaskan puterinya, bahkan dia sendiri hendak ‘dibawa’ pergi sekalian. Kini dia hanya sendirian tanpa didampingi sang suami, hanya ada Bu-si Hengte yang terang bukan tandingan orang. Terpikir akan ini, tak tertahan air mukanya berubah hebat.
“Jangan takut, Oey-pangcu,” kata lagi Kim-lun Hoat-ong, “kau adalah tokoh terkemuka Bu-lim daerah Tionggoan, sudah tentu akan kami ladeni dengan hormat. Asal kedudukan Bu-lim Beng-cu sudah selesai dirundingkan, kami antarkan kembali ke selatan dengan baik-baik.”
Kiranya begitu Kim-lun Hoat-ong melihat air muka Oey Yong, ia girang mendapat kesempatan bagus, asal bisa menawan orang, tak ada jalan lain, semua jago Tiong-goan pasti akan menyerah, hal ini terang beratus kali lebih berharga dari pada menawan Kwe Hu saja.
Di lain pihak demi melihat ibu guru mereka dihina, meski pun tahu bukan tandingan orang, akan tetapi Bu-si Hengte tak bisa diam begitu saja. Begitu pedang dilolos, segera mereka menghadang di depan ibu guru.
“Lekas loncat jendela melarikan diri, beri-tahu Suhu supaya datang menoIong,” Oey Yong membisiki kedua saudara Bu.
Tapi Bu-si Hengte pandang sekejap dulu padanya, lalu memandang ke arah Kwe Hu, barulah lari ke jendela.
“Kenapa ragu-ragu?” diam-diam Oey Yong omeli kedua anak muda itu.
Betul saja, sedikit terlambat menjadi tak keburu lagi. Kim-lun Hoat-ong mengulur tangan ke depan, kemudian satu tangan satu punggung mereka dijamberet seperti elang mencengkeram kelinci. Dalam keadaan begitu Bu-si Hengte masih putar pedang menusuk musuh, namun sama sekali Kim-lun Hoat-ong tak berkelit, ia hanya guncang sedikit tangannya hingga serangan kedua saudara Bu itu salah arah, pedang Bu Tun-si menusuk Siu-bun dan pedang Siu-bun menusuk Tun-si.
Kaget sekali kedua Bu cilik itu, lekas-lekas mereka lepaskan pedang hingga dua pedang jatuh ke lantai menerbitkan suara nyaring dan barulah selamat tak melukai mereka sendiri. Ketika Kim-lun Hoat-ong mengangkat tangannya, dua pemuda itu dilemparkannya sejauh setombak lebih.
“Hm, lebih baik ikut pergi Hud-ya (tuan Budha) saja,” kata Hoat-ong tertawa dingin, lalu ia berpaling pada Yo Ko dan Siao-liong-li, katanya pula: “Kalian berdua tidak sejalan dengan Oey-pangcu, bolehlah pergi ke arah sendiri dan selanjutnya jangan ganggu urusan Hud-ya lagi.”
Sebenarnya bukan Hoat-ong memberi ‘service istimewa’ pada mereka berdua, sebaliknya inilah kelicikannya. Ia tahu Oey Yong, Siao-liong-li dan Yo Ko sangat lihay, sungguh pun satu lawan satu tiada yang bisa menandingi dirinya, tapi kalau mereka bergotong-royong menempurnya, hal itu bisa berabe baginya, sekali pun pihaknya akhirnya menang juga, tapi belum tentu akan bisa menawan Oey Yong. Sebab itu ia sengaja memecah belah mereka dulu agar satu sama Iain tidak saling bantu.
“Ko-ji, marilah kita pergi,” kata Siao-liong-li pada Yo Ko, “Hwesio tua ini sangat lihay, tak perlu kita cari gara-gara.”
Yo Ko menyahut baik, ia pun bereskan rekening makanan lalu berdiri menuju ke tangga loteng. Dia pikir dengan kembalinya ke kuburan kuno, boleh jadi untuk selamanya dia tak akan berjumpa pula dengan Oey Yong, oleh karena itu tanpa tertahan ia menoleh memandang sekejap pada sang bibi. Tetapi karena menolehnya ini, ia lihat paras Oey Yong pucat muram, sebelah tangannya memegang perut, jelas kelihatan sedang menahan sakit.
Meski tindak-tanduk Yo Ko suka turuti wataknya yang jahil, tapi jiwanya justru dilahirkan berbudi dan setia kawan. Ia pikir Kwe-pepek dan Kwe-pekbo melarang aku bergaul dengan Kokoh, hal ini memang agak terlalu, tapi sebenarnya mereka tiada maksud jahat padaku. Hari ini Kwe-pekbo mendapat kesulitan, kenapa kutinggal pergi begini saja? Cuma musuh sungguh terlampau kuat, meski diriku dan Kokoh maju berbareng belum pasti dapat melawan paderi Tibet ini. Jika sudah terang tak bisa menolong Kwe-pekbo lagi, untuk apa jiwaku sendiri dan jiwa Kokoh turut dikorbankan percuma? Tidakkah lebih baik lekas pergi memberi tahu Kwe-pepek agar lekas datang menolong.”
Berpikir begitu Yo Ko lantas kedipi Oey Yong. Maka tahulah Oey Yong pemuda ini hendak mengirim kabar untuk minta pertolongan. Hatinya menjadi agak lega, dan perlahan sekali ia mengangguk. Lalu dengan menggandeng tangan Siao-liong-li lantas Yo Ko hendak melangkah menuruni tangga loteng, tapi mendadak dilihat seorang Busu Mongol mendekati Oey Yong dan membentaknya dengan kasar:
“Hayo jalan, tunggu apa lagi?”
Segera tangan Oey Yong hendak ditariknya. Nyata sang bibi dianggapnya seperti pesakitan saja. Sudah belasan tahun Oey Yong menjabat pangcu Kay-pang, betapa tinggi dan terhormat kedudukannya dalam Bu-lim. Meski pun kini berhalangan, tidak akan ia mau terima dihina sembarang orang. Pada saat dilihatnya tangan jago Mongol yang kasar hitam berbulu itu mengulur, lengan bajunya mengebas ke atas, dia tutupi lengannya dengan kain baju, menyusul dia tangkap tangan orang terus disengkelit ke samping. Maka terdengarlah suara gedebukan keras, tubuh jago Mongol yang gede itu ‘terbang’ keluar melalui jendela terbanting ke tengah jalan umum hingga setengah mampus.
Kiranya pembawaan Oey Yong suka kebersihan. Ia tak sudi tangannya yang putih bersih tersentuh tangan yang kasar hitam, maka dengan lengan baju ia bungkus dulu lengan sendiri baru banting orang ke bawah loteng. Para tamu restoran tadinya mendengarkan percakapan mereka yang berlangsung sopan beraturan, maka tak ada yang ambil perhatian, siapa tahu mendadak saling labrak, keruan seketika suasana kacau baIau.
“Sungguh hebat kepandaian Oey-pangcu!” jengek Kim-lun Hoat-ong.
Kemudian dia tirukan jago Mongol tadi, dengan langkah lebar dia pun maju hendak menarik tangan Oey Yong.
Oey Yong tahu orang sengaja hendak pamer kepandaian, meski pun gerakan yang sama, namun jika hendak membantingnya seperti Busu Mongol tadi tidaklah mungkin lagi, maka terpaksa ia mundur setindak.
Waktu itu Yo Ko telah melangkah turun beberapa tingkat tangga loteng. Ketika mendadak nampak kedua pihak terjadi perkelahian dan Oey Yong akan dihina, bangkitlah jiwa ksatrianva yang murni. Tanpa pikirkan mati-hidup atau selamat lagi, secepat terbang dia melompat kembali. Ia sambar pedang Bu Tun-si yang terjatuh tadi dengan tipu ‘oh-liong-jut-hiat’ atau naga hitam keluar dari gua, secepat kilat ia tusuk punggung Kim-lun Hoat-ong sambil membentak.
“Oey-pangcu sedang kurang sehat, kalian mengambil kesempatan ini untuk mendesaknya, kau kenal malu tidak?!”
Ilmu silat Kim-lun Hoat-ong memang nyata satu tingkat lebih tinggi dari pada orang lain. Ketika mendengar dari belakang menyambar angin tajam, sama sekali dia tidak menoleh, melainkan putar tangan ke belakang menyentil batang pedang. Maka terdengarlah suara “cring” yang keras, Yo Ko merasakan tangannya seakan-akan kaku dan ujung pedang lantas menusuk ke bawah. Dia kuatir musuh susulkan serangan lain, maka cepat dia melompat ke samping.
“Anak muda,” kata Kim-lun Hoat-ong. “Lekas kau pergi saja! Ilmu silatmu amat hebat, hari depanmu pasti jauh melebihi aku, tetapi kini kau masih bukan tandinganku, buat apa kau paksakan diri ikut campur dan antar nyawa percuma di bawah roda emasku?”
Dengan kata-katanya sekaligus dia telah mengumpak Yo Ko setinggi langit dan kemudian dibanting pula dengan ancaman. Padahal roda emasnya pernah dihantam jatuh oleh Yo Ko dan Siao-liong-Ii hingga jabatan Bu-lim Bengcu yang tinggal diduduki itu menjadi gagal, dengan sendirinya tiada taranya rasa gemas terhadap kedua muda-mudi ini.
Cuma kini dia harus pilih jalan paling menguntungkan. Dia ingin tawan Oey Yong sebagai tujuan pertama dan tidak ingin banyak mengikat permusuhan, dia mengharap Yo Ko dan Siao-liong-li angkat tangan dari percecokan ini dan jangan turut campur, di kemudian hari dia masih bisa bikin perhitungan dengan kedua anak muda ini.
Harus diketahui bahwa Kim-lun Hoat-ong adalah seorang pemimpin dari aliran yang agung, maka ia bisa berpikir panjang di samping ilmu silatnya yang luar biasa. Dengan umpakannya tadi, bukanlah dia merendah dan juga tidak gertak sambel belaka.
Betapa pun Yo Ko memang masih berwatak muda. Dia dengar orang bilang kelak dirinya akan melebihinya, sudah tentu hatinya sangat girang.
“Ah, Hwesio tua tak perlu merendah diri,” demikian ia kata dengan tertawa, “untuk melatih setingkat kau sesungguhnya tidak gampang. Oey-pangcu ini telah pelihara aku sejak kecil hingga besar, maka sukalah jangan kau persukar dia, Kalau bukan kesehatannya sedang terganggu, belum tentu ilmu silatmu bisa menang. Kalau kau tidak percaya, kelak bila badannya sudah sehat boleh coba kau bertanding dengan dia.”
Yo Ko sangka Kim-lun Hoat-ong sangat angkuh, keruan kata-kata pancingannya ini boleh jadi lantas lepaskan Oey Yong. Siapa tahu Kim-lun Hoat-ong justru kuatir jika Oey Yong, Siao-liong-li dan Yo Ko bertiga mengeroyok, karena itu tadi ia berlaku sungkan pada Yo Ko. Kini mendengar Oey Yong lagi sakit, dia pikir kebetulan, kalau kalian berdua muda-mudi ini, kenapa aku Kim-lun Hoat-ong harus takut? Ketika ia amat-amati Oey Yong sejenak, betul juga ia lihat wajah orang pucat Iesu, terang sakitnya tidak ringan, maka sekali tertawa dingin, segera dia mendahului berdiri ke mulut tangga loteng.
“Baiklah, kalau begitu kau pun tinggal sekalian!” katanya segera.
Waktu itu Siao-liong-Ii sedang berdiri di tengah-tengah tangga. Karena dialing-alingi Kim-lun Hoat-ong yang memisahkan dia dan Yo Ko, ia menjadi tak sabar.
“He, menyingkir kau, Hwesio, biarkan dia turun!” katanya.
Alis Kim-lun Hoat-ong menegak, dengan gerak tipu ‘tan-ciang-khay-pi’ atau sebelah tangan membelah pilar, cepat sekali ia memotong ke bawah. Memang tenaganya sangat besar, apa lagi dari atas ke bawah, tentu saja serangan ini keras luar biasa. Tak berani Siao-liong-li sambut pukulan, ia kuatirkan Yo Ko yang terpisah di atas Ioteng, maka mendadak ia tutul kedua kakinya, bukannya melompat ke bawah sebaliknya ia mencelat ke atas menyelusup lewat di samping musuh kemudian berdiri sejajar dengan Yo Ko.
Waktu orang menyelusup lewat, cepat juga Kim-lun Hoat-ong menyikut ke belakang, tapi luput, mau tak mau ia pun kagum pada kegesitan dan kecepatan Siao-Iiong-li. Sementara itu Yo Ko sudah menjemput lagi pedang Bu Siu-bun yang terjatuh tadi, lantas diberikan kepada Siao-liong-li.
“Hwesio ini kurang ajar. Mari, Kokoh, kita hajar dia,” ajaknya segera.
Sementara itu di pihak lain Kim-lun Hoat-ong sudah mengeluarkan sebuah roda yang bersuara gemerenceng, roda ini sama besarnya dengan roda emas yang dirampas Yo Ko, hanya warnanya hitam mulus seperti terbuat dari baja.
Kiranya senjata Kim-lun Hoat-ong seluruhnya ada lima roda, masing-masing terbikin dari emas, perak, perunggu, timah dan besi, Bila ketemukan musuh kuat, sekaligus lima roda bisa digunakan berbareng, tetapi selamanya ia hanya pakai Kim-lun atau roda emas dan entah sudah berapa banyak musuh kuat yang dia robohkan, sebab itulah ia memperoleh julukan ‘Kim-lun Hoat-ong’ atau Raja agama Roda emas, sedang roda perak, perunggu, timah dan besi selamanya belum pernah terpakai.
“Oey-pangcu, apakah kau juga akan maju sekalian?” demikian kata Hoat-ong kemudian sambil melirik Oey Yong.
Harus diketahui meski dilihatnya Oey Yong berwajah sakit, tetapi ia tetap gentar atas ilmu silat orang, sebutan ‘Oey-pangcu’ itu maksudnya mengingatkan Oey Yong adalah ketua suatu perkumpulan besar, kalau maju mengeroyok tentu akan merosotkan kedudukannya sebagai Pangcu.
“Oey-pangcu akan pulang saja, dia tiada waktu main-main dengan kau,” seru Yo Ko tiba-tiba. Habis ini dia pun berpaling kepada Oey Yong: “Kwe-pekbo, kau bawa Hu-moay pergi.”
Nyata pemuda ini telah memperhitungkan baik-baik. Meski pun ia sendiri dan Siao-liong-li belum pasti bisa menang mengeroyok Kim-lun Hoat-ong, tapi jika bertahan sekuat tenaga untuk kemudian berdaya melarikan diri, hal ini besar harapan bisa dilakukan. Baiknya kini bukan bertanding silat, asalkan dapat melepaskan diri, peduli apa soal kalah segala. Maka begitu pedang bergerak, segera ia menusuk lebih duIu.
Melihat Yo Ko gunakan ilmu dari Giok-li-sim-keng, segera Siao-liong-li menyusul ikut menyerang dari samping. Dalam hati gadis ini sebaliknya tiada sesuatu perhitungan. Ia melihat Yo Ko bergebrak dengan Hwesio ini, segera ia pun turun tangan membantu.
Tapi sekali ayun rodanya, dua pedang sekaligus sudah ditangkis Kim-lun Hoat-ong. Meja kursi di atas loteng restoran terlalu banyak sehingga merintangi kebebasannya, maka sambil putar rodanya Kim-lun Hoat-ong tendang meja kursi yang menghalang-halanginya.
“Kalau tenaga lawan tenaga, pasti kami kalah, tetapi bila gunakan akal, untuk sementara masih bisa bertahan,” demikian pikir Yo Ko.
Maka waktu nampak meja kursi ditendang orang, sengaja ia tendang kembali alat perabot itu ke tengah untuk merintangi musuh. Dasar Ginkang Yo Ko dan Siao-liong-li sudah tinggi sekali, mereka menyelusup ke sana ke mari dan tidak mau memapak musuh dari depan, kadang-kadang mereka timpuk orang dengan poci arak dan kadang-kadang sampar mangkok piring ke muka orang.
Keruan seluruh loteng restoran menjadi kacau balau dan hancur berantakan. Dan karena ribut-ribut itu, kesempatan digunakan Oey Yong untuk menarik Kwe Hu ke sebelahnya. Darba yang terkena ‘lh-hun-tay-hoat’ Yo Ko ketika itu masih setengah sadar, pangeran Hotu terluka parah oleh racun jarum tawon putih, sedang ilmu silat jago-jago Busu Mongol terlalu rendah, mana mereka bisa menahan Oey Yong.
“Kwe-pekbo, lekas kalian pergi!” teriak Yo Ko.
Akan tetapi Oey Yong saksikan daya serangan Kim-lun Hoat-ong lihay tiada taranya dan tampaknya Yo Ko dan Siao-Iiong-li sukar bertahan meski sudah keluarkan tenaga penuh, bila sedikit lengah hingga musuh turun tangan keji, pasti jiwa kedua muda-mudi ini tak terjamin lagi. Oey Yong tak tega tinggal pergi. Ia pikir orang mati-matian berusaha menolong dirinya, sebaliknya dirinya sendiri malah tinggal pergi, ini sesungguhnya tak patut, Maka ia tetap berdiri di tempatnya menyaksikan pertarungan itu, hanya Bu-si Hengte berulang kali mendesak sang ibu guru.
“Marilah, Sunio (ibu guru), kita berangkat dulu, badanmu kurang sehat, harus jaga diri baik-baik,” demikian kata kedua saudara Bu.
Pada mulanya Oey Yong tak gubris desakan mereka, tapi ketika didesak lagi, akhirnya ia menjadi marah,
“Hm, jadi manusia tidak kenal budi, apa gunanya berlatih silat?” demikian ia mendamperat, “Apa pula manfaatnya kau hidup di dunia ini? Orang she Yo ini beratus kali lebih hebat dari pada kalian. Hm, sebaiknya kalian berdua menggunakan pikiran lebih banyak.”
Maksud baik kedua saudara Bu itu ternyata disambut dengan damperatan oleh sang ibu guru, keruan mereka menjadi kikuk dan malu.
“Bu-keh-koko, hayolah kita maju bertiga!” seru Kwe Hu sambil menyambar sepotong kaki meja patah.
Tetapi cepat sekali Oey Yong menarik sang puteri. “Hm, dengan sedikit kepandaianmu ini apa kau hendak mengantar kematian?” katanya.
Kwe Hu tak yakin atas omelan ibunya, mulutnya menjengkit kurang percaya. Ia lihat ilmu silat Yo Ko dan Siao-liong-li biasa saja tiada sesuatu yang hebat, meski gayanya bagus, tapi gerak senjatanya lambat. Nyata ia tak tahu bahwa ilmu silat kedua orang itu memang jauh di atasnya dan saat itu lagi gunakan Giok-li-kiam-hoat dari Ko-bong-pay yang hebat untuk menempur musuh.
Beberapa kali Kim-lun Hoat-ong merangsek maju, namun setiap kali pula kena dirintangi meja kursi yang jungkir balik di lantai, sedang Yo Ko dan Siao-iiong-li bisa bergerak cepat dan enteng ke sana kemari main kucing-kucingan.
Tiba-tiba hatinya tergerak. Dia gunakan tenaga kakinya, terdengarlah suara “kraak, peletak” berulang-ulang, perabot apa saja yang merintangi diinjaknya remuk. Roda besi itu diputar cepat menghantam terus-menerus, sambil kaki mengeluarkan tenaga raksasa, ke mana saja menginjak, di sana juga meja kursi hancur ber-keping. Hanya sekejap saja di atas loteng penuh tertimbun kayu hancur, akhirnya ketiga orang saling labrak di atas tumpukan kayu tanpa ada meja kursi yang merintangi lagi.
Kini Kim-Iun Hoat-ong dapat melangkah lebar sesukanya dan rodanya berputar kencang menerbitkan suara gemerantang riuh, dia lakukan serangan cepat terhadap kedua lawannya. Sebaliknya karena sudah kehilangan tameng meja kursi, maka terpaksa Yo Ko dan Siao-liong-Ii harus melawan orang dengan ilmu kepandaian sejati.
Tiga kali Kim-lun Hoat-ong menghantam tangan Yo Ko sampai sakit tergetar, sementara itu serangan ke empat Kim-lun Hoat-ong sudah menghantam lagi dari atas, belum tiba rodanya angin tajam sudah menyambar duluan, betapa lihaynya sungguh sangat mengejutkan.
Lekas-lekas Yo Ko dan Siao-liong-li menangkis berbareng dengan ujung pedang menahan roda, gabungan tenaga dua orang barulah mampu menangkis serangan Hoat-ong, namun senjata mereka pun tertindih hampir-hampir bengkok. Ketika tangan mereka menyendal, roda besi digentak pergi, menyusul cepat Yo Ko menusuk bagian atas orang dan Siao-liong-li membabat kaki kiri lawan.
Mendadak Kim-lun Hoat-ong malah angkat kaki terus menutul pergelangan tangan Siao-liong-li, sedang rodanya menghantam ke samping mengarah tengkuk Yo Ko. Tadinya Yo Ko menyangka lawan pasti akan menghindarkan serangan terlebih dahulu baru kemudian balas menyerang, siapa tahu orang anggap tusukannya bagai tiada terjadi sesuatu, dia menjadi heran apakah orang melatih ilmu sebangsa Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-san yang lihay dan kebal?
Namun dalam saat berbahaya, tak sempat lagi buat selidiki kekebalan lawan itu sungguh-sungguh atau palsu, terpaksa ia harus tolong diri sendiri duIu, maka ia pun menunduk dan berjongkok menghindarkan ketokan roda besi lawan. Tak terduga perubahan aneh terjadi. Mendadak Kim-lun Hoat-ong timpukkan roda besinya ke kepala Yo Ko, sedang kedua tangan kosong lantas menjambret Siao-liong-li. Serangan yang aneh dan cepat, ternyata sekaligus Kim-lun Hoat-ong telah serang kedua musuhnya dari arah yang sukar diduga.
Pada detik luar biasa itulah Oey Yong berteriak kaget dan segera bermaksud menyerobot maju menolong, namun tiba-tiba dilihatnya Yo Ko mencelat ke samping dan belum tancap kaki ke bawah, tahu-tahu pedangnya menusuk punggung Kim-lun Hoat-ong dengan cepat. Tipu serangan Yo Ko ini pun sekaligus ‘dwi-guna’, pertama hindarkan bahaya diri sendiri, berbareng memaksa Kim-lun Hoat-ong menarik kembali serangannya pada Siao-liong-li. Tipu serangan ini disebut ‘gan-hing-sip-kik’ atau burung belibis terbang menggempur dari samping, inilah Kiam-hoat dari Coan-cin-pay.
Kim-lun Hoat-ong bersuara heran oleh serangan balasan Yo Ko yang dahsyat ini, lekas-lekas ia angkat kakinya memotong ke pinggiran roda besinya yang waktu itu masih belum jatuh ke tanah hingga roda itu kena dibikin mencelat menyambar kepala Yo Ko lagi sambil bersuara nyaring.
Pada saat berbahaya tadi Yo Ko berhasil keluarkan tipu Kiam-hoat Coan-cin-pay, lekas ia keluarkan pula tipu gerakan Coan-cin yang dinamakan ‘pek-hong-keng-thian’ atau pelangi putih menghiasi langit, dengan batang pedang ia sampuk roda orang. Sebetulnya sampukan ini percuma saja karena pedang enteng dan roda berat. Siapa tahu karena roda itu sedikit tersenggoI, mendadak membawa efek arah roda terus menyambar ke arah Kim-lun Hoat-ong sendiri. Roda besi itu adalah benda mati, tentu saja ia tak kenal siapa majikan dan siapa musuh, terus nyelonong cepat luar biasa. Saking bagusnya kejadian Kwe Hu bertepuk tangan bersorak.
Kim-lun Hoat-ong berani lepaskan senjata untuk menimpuk orang, ia menduga tak akan musuh sanggup merampas rodanya, bila mana senjata lawan kebentur, betapa pun berat senjata itu pasti akan terpental dari cekalan. Siapa duga Yo Ko ternyata punya kepandaian menyampuk roda yang hebat hingga senjatanya menyambar ke arah dirinya sendiri. Dalam marahnya roda yang membalik itu terus ditangkapnya, diam-diam ia gunakan gaya memutar, kembali ia timpukkan lagi, kini ia tambahi tenaga hingga putaran roda makin cepat hingga gotri dalam roda tidak menerbitkan suara.
Padahal Yo Ko berhasil sengkelit balik roda orang tadi sebenarnya secara tidak sengaja sudah keluarkan ilmu Kiu-im-cin-keng. Kini dia coba mengulangi lagi, maka terdengarlah suara “trang” yang keras, pedang tergetar jatuh, berbareng dengan tenaga raksasa Kim-lun Hoat-ong telah memukul ke arah Yo Ko. Sayangnya Kiu-im-cin-keng yang Yo Ko latih masih belum sempurna, maka tenaga yang dipergunakan sekali ini tidak tepat.
Melihat Yo-Ko menghadapi bahaya, sedikit mengegos pinggang cepat sekali pedang Siao-Iiong-li menusuk, tipu serangan ini bukan saja sangat lihay, bahkan gayanya manis menarik, ia telah gunakan kepandaian Giok-li-sim-keng ajaran bab terakhir. Saking bagus dan tepat serangan itu hingga Oey Yong dan Kwe Hu berseru memuji.
Lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong melompat untuk tangkap kembali rodanya buat menangkis pedang orang. Kesempatan ini pun dipergunakan Yo Ko menyambar kembali senjatanya yang terpental ke udara tadi. Sungguh gebrakan barusan ini hebat dan berbahaya sekali.
Setiap orang apa bila kepepet timbulnya akal juga lebih tajam, mendadak Yo Ko berpikir: “Kalau aku dan Kokoh gunakan Giok-li-kiam-hoat, saat berbahaya lantas berubah menjadi selamat. Apakah bab terakhir dari Giok-li-sim-keng itu memang mengajarkan cara bersilat kombinasi demikian?”
Karena pikiran itu, segera ia berteriak: “Kokoh, berulangkali kita tak berhasil melatihnya, tapi kini sudah betul. Lihat ini tipu ‘Iong-jik-thian-khe’ (jejak meratai jagat)!” Sambil berkata pedangnya menusuk dari samping.
Tidak sempat Siao-liong-li berpikr, maka dia pun menurut dan gunakan tipu ‘long-jik-thian-khe’ menurut apa yang tercatat dalam Sim-keng, ia memotong dari depan. Tipu serangan Yo Ko adalah Coan-cin-kiam-hoat yang lihay dan Siao-liong-li gunakan Giok-Ii-kiam-hoat yang tidak kenal ampun, paduan serangan pedang ini ternyata luar biasa daya tekanannya.
Karena belum sempat berjaga-jaga, lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong melompat mundur, tapi terdengar juga suara “bret-bret” dua kali, kedua pedang mengenai tubuhnya, baju bawah bahu Hoat-ong tertusuk tembus. Sungguh pun ilmu kepandaian Kim-lun Hoat-ong sudah mencapai luar dalam yang hebat, kalau senjata guru silat biasa saja tak akan bisa melukainya, namun Iwekang Yo Ko dan Siao-liong-li sudah terlatih tinggi, bila sampai kena ditusuk, sukar dibayangkan bagaimana jadinya. Maka bajunya terlubang sudah, cukup membikin dia berkeringat dingin.
“Hoa-cian-gwat-he (bunga mekar di bawah sinar bulan)!” terdengar Yo Ko berteriak lagi. Berbareng itu ia membacok cepat ke bawah, sedangkan Siao-liong-li lantas membabat ke kanan dan ke kiri.
Mau tak mau Kim-lun Hoat-ong dibikin kacau oleh serangan dua orang yang bersimpang siur itu. Ia tidak tahu pasti dari arah mana sebenarnya serangan orang, maka terpaksa ia melompat mundur lagi buat menghindar. “Jing-im-siao-yok (minum sekedar dan jamuan sederhana)!” lagi-Iagi Yo Ko berseru.
Berbareng ujung pedangnya mendoyong ke bawah seperti orang mengangkat poci sedang menuang arak, ada pun Siao-liong-li mengangkat ujung pedang ke atas menuding mulut sendiri seperti mengangkat cawan sedang minum. Nampak serangan kedua orang makin lama makin aneh dan bisa kerja sama dan bantu-membantu dengan amat bagus, di mana ada kelemahan segera dibantu yang lain, setiap kelemahan lantas berubah menjadi tipu serangan yang lihay.
Makin dipikir Kim-lun Hoat-ong makin terkejut,: “Betapa besarnya jagat ini ternyata tidak sedikit orang-orang kosen. Kiam-hoat hebat seperti ini tidak pernah kubayangkan di Tibet. Aih, aku benar-benar seperti katak dalam tempurung dan berani pandang rendah Enghiong seluruh jagat.”
Karena pikiran yang mengkeret ini, dia semakin terdesak. Padahal dengan ilmu kepandaian Kim-lun Hoat-ong yang hebat sesungguhnya sudah jarang ada tandingannya bagi ksatria di daerah Tionggoan.
Meski secara mujur Yo Ko dan Siao-liong-li berhasil mempelajari berbagai ilmu silat yang bagus, tapi keuIetannya kalau dibanding Kim-lun Hoat-ong masih selisih sangat jauh, tapi mereka justru telah pecahkan Kiam-hoat ciptaan Lim Tiao-eng yang luar biasa dan ketika mendadak dikeluarkan, seketika Hoat-ong jadi kelabakan dan terdesak.
Setiap tipu gerakan dari Kiam-hoat baru ini harus dimainkan bersama laki perempuan, tiap gerak serangan mengandung maksud cerita romantis, seperti ‘Kim-pit-siang-ho’ (dua sejoli hidup rukun), ‘siong-he-tui-ek’ (main catur di bawah pohon siong), ‘ti-pian-tiau ho’ (memainkan burung Ho di pinggir kolam), ‘so-swan-heng-the’ (menyapu salju menyeduh teh) dan semuanya itu adalah hidup yang romantis. Kiranya Lim Tiao-eng patah hati dalam soal cinta hingga melewatkan hari tuanya dalam kuburan kuno, dengan bakatnya yang tinggi mempelajari bermacam-macam kepandaian, akhirnya ia salurkan semuanya dalam ilmu silat ciptaannya ini.
Siapa duga beberapa puluh tahun kemudian ada sepasang muda-mudi yang bisa menggunakan ilmu pedangnya yang hebat ini untuk menempur musuh tangguh.
Kalau mula-mula Yo Ko dan Siao-Iiong-li memainkan ilmu pedang itu dengan rada kaku, akan tetapi makin lama semakin lancar dan biasa, semangat mereka pun bertambah kuat. Semakin mereka bersatu padu, semakin Kim-lun Hoat-ong susah menahannya sehingga ia menyesal tadi telah injak hancur semua perabot meja kursi. Kalau masih ada rintangan perabot itu, tentunya daya serangan kedua lawan ini tidak akan begini gencar dan Iihay. Selanjutnya besar kemungkinan ia tak sanggup melawan lagi, terpaksa Hoat-ong mundur selangkah ke tangga loteng, kemudian turun setingkat demi setingkat.
Tentu saja tekanan Yo Ko dan Siao-Jiong-li semakin kuat dari atas ke bawah, tampaknya segera saja Kim-Iun Hoat-ong akan bisa diusir pergi. Tiba-tiba terdengar Oey Yong berseru:
“Membasmi penjahat harus sampai akarnya. Ko-ji, jangan lepaskan dia!”
Kiranya Oey Yong dapat melihat sebabnya Yo Ko dan Siao-liong-li bisa menangkan Kim-lun Hoat-ong adalah karena mengandalkan jurus Kiam-hoat yang bagus. Apa bila hari ini musuh dilepaskan, karena kebetulan ilmu silat paderi asing ini amat tinggi, boleh dikatakan bila ia pulang lalu mempelajari lebih mendalam hingga mendapatkan cara mematahkan Kiam-hoat baru ini, hal ini berarti bibit penyakit, kelak hendak membasminya tentu beribu kali lebih sulit. Maka Oey Yong berteriak agar kedua muda-mudi itu gunakan kesempatan sekarang buat membasminya.
Yo Ko menyahut sekali, segera ia lontarkan tipu-tipu berbahaya seperti ‘siau-wan-ge-kiok’ (pesiar taman menikmati bunga kiok), ‘se-jong-lian-ki’ (main pantun di tepi jendela), ‘cian-ciok-ya-wa’ (menyanding lilin bercakap sepanjang malam), ‘tiok-liam-lim-ti’ (kerai bambu di tepi kolam) dan lain-lain serangan mematikan hingga hampir-hampir Kim-Iun Hoat-ong tak mampu menangkis apa lagi hendak balas menyerang.
Begitulah sebenarnya Yo Ko hendak menuruti pesan Oey Yong membunuh musuh tangguh ini, tapi siapa tahu dahulu waktu Lim Tiao-eng ciptakan ‘Giok-li-kiam-hoat’, dalam hatinya penuh rasa kasih mesra, meski lihay setiap tipu serangannya, tapi tiada satu pun merupakan tipu mengarah jiwa musuh. Karena itu meski Yo Ko berdua mendesak Kim-lun Hoat-ong hingga paderi ini kelabakan dan serba susah, namun untuk mencabut nyawanya juga tidak gampang.
Tentu saja yang paling cemas rasanya ialah Oey Yong yang menonton di samping. Kim-lun Hoat-ong tidak mengerti dari mana asal-usuI Kiam-hoat orang. Dia sangka masih ada tipu-tipu serangan lihay yang belum dilontarkan Yo Ko berdua, asal tipu-tipu lihay itu keluar, boleh jadi jiwanya akan melayang. Dalam keadaan kepepet tiba-tiba dia mendapat akal, ia melangkah mundur dan gunakan tenaga berat pada kakinya hingga tiap-tiap kali ia melangkah mundur, setiap papan undakan tangga patah diinjaknya.
Karena perawakan Kim-lun Hoat-ong tinggi besar, Yo Ko berdua tidak berdaya mencegat ke belakangnya. Pada saat undak-undakan tangga ketiga patah, senjata Yo Ko dan Siao-liong-li sudah tak dapat mencapai lagi.
“Nah, hari ini barulah aku kenal ilmu silat Tionggoan dan amat kagum,” kata Kim-lun Hoat-ong sambil mengangkat rodanya: “Apa namanya ilmu pedangmu ini?”
“Masakah kau tak tahu?” sahut Yo Ko tertawa, “llmu silat Tionggoan yang terkemuka ialah Pak-kau-pang-hoat dan Ji-lo-kiam-sut. Kiam-hoat kami tadi adalah Ji-lo-kiam-sut itu.”
“Ji-lo-kiam-sut?” Kim-lun Hoat-ong tercengang ia mengulangi nama itu.
“Ya,” kata Yo Ko tertawa, “Ji-lo-kiam-sut, ilmu pedang penusuk keledai.”
Karena penegasan ini barulah Kim-lun Hoat-ong sadar bahwa orang sengaja putar kayun untuk memaki (biasanya kaum Hwesio dimaki sebagai keledai gunduI), keruan saja ia marah.
“Bocah kurang ajar, pada suatu hari pasti kau akan kenal lihaynya Hoat-ong,” bentaknya sengit, Kemudian diiringi suara gemerenceng rodanya, dengan langkah lebar ia pun tinggal pergi. Begitu cepat perginya, hanya sekejap saja orangnya sudah menghilang di ujung jalan sana. Yo Ko menaksir tak bisa menyandak orang, ia berpaling dan nampak Darba memayang Pengeran Hotu yang mukanya pucat lesi lagi berdiri di belakangnya.
“Toa-suheng, kau bunuh aku tidak?” demikian kata si Darba yang masih menyangka Yo Ko adalah jelmaan Suheng-nya.
Sungguh pun Yo Ko orangnya nakal dan jahil, tapi wataknya tidak kejam. Ia lihat keadaan dua orang itu cukup ngenas, ia pandang Oey Yong dan menanya:
“Kwe-pekbo, bolehkah kita lepaskan mereka pergi?”
Oey Yong mengangguk tanda setuju. Yo Ko lihat semangat Hotu lesu lemas, dia keluarkan sebotol kecil madu tawon putih, dia tuding Hotu dan unjuk lagak orang minum obat, lalu madu tawon itu diberikannya kepada Darba.
Tentu saja Darba girang bukan main. Dia bicara dengan Hotu dan Hotu lantas keluarkan sebungkus obat bubuk untuk Yo Ko.
“Cianpwe yang bersenjata pit terkena racun pakuku, inilah obat penawarnya,” katanya.
Habis itu Darba memberi hormat sekali pada Yo Ko, lalu Hotu diangkatnya. Memang dia bertenaga raksasa, bobot seorang dianggapnya sepele saja, dia melayang turun perlahan ke bawah loteng, bersama para jago Mongol mereka pun pergi semua.
“Kwe-pekbo,” kata Yo Ko sambil memberi hormat dan serahkan obat penawar pada Oey Yong, “biarlah Siautit mohon diri juga, harap Pekbo dan Pepek jaga diri baik-baik.”
Dasar Yo Ko berperasaan halus dan gampang tergoncang, ketika terpikir olehnya kelak tak bakal bertemu lagi, hatinya menjadi berduka.
“Kau hendak kemanakah?” tanya Oey Yong.
“Aku bersama Kokoh akan mengasingkan diri ke tempat terpencil dan tidak ingin bertemu dengan khalayak ramai lagi, supaya tidak mencemarkan nama baik Kwe-pepek,” sahut Yo Ko.
Hati Oey Yong tergerak, pikirnya: “Hari ini ia menolong aku dan Hu-ji mati-matian, kini ia tersesat dan berdurhaka, mana boleh aku peluk tangan tak menolongnya?”
Karena itu segera ia bilang: “Hendak pergi juga tak perlu terburu dalam sehari dua hari ini. Semuanya tentu sudah letih, marilah kita mencari penginapan untuk mengaso satu malam duIu, besok barulah kita berpisah.”
Nampak orang begitu manis budi, tak enak Yo Ko hendak menoIak, dia terima baik permintaan itu. Oey Yong bereskan semua rekening berikut ganti rugi semua kerusakan pemilik restoran, lalu mereka mencari hotel untuk menginap. Malamnya sesudah makan, Oey Yong menyuruh Kwe Hu pergi mengobrol dengan Bu-si Hengte, sebaliknya ia panggil Siao-liong-li ke kamarnya.
“Moaycu (adik), ada suatu barang ingin kuberikan padamu,” katanya.
“Beri apa?” tanya Siao-liong-li.
Oey Yong tak lantas menjawab, ia tarik si nona agar lebih dekat, ia keluarkan sisir dan menyisir rambut orang per-lahan. Ia lihat rambut Siao-liong-li hitam gombyok mengkilap amat menarik, dengan hati-hati ia gulung rambut Siao-liong-li, kemudian tanggalkan sebuah gelang emas penjepit rambut dari sanggulnya sendiri.
“Moaymoay, aku berikan gelang ini,” demikian katanya kemudian.
Gelang jepit rambut emas itu adalah pilihan dari benda mestika yang banyak dikumpulkan ayahnya, Oey Yok-su, di Tho-hoa-to, maka dapatlah dibayangkan betapa indah dan tinggi nilainya barang itu. Tapi selamanya Siao-liong-li tak pakai perhiasan, sebagai pengikat rambut hanya sebuah tusuk kondai biasa saja, maka ia tidak menjadi senang oleh hadiah Oey Yong, namun ia ucapkan terima kasih juga.
Begitulah Oey Yong mengenakan gelang di atas rambut orang sembari mengajak ngobrol. Sesudah berlangsung percakapan, Oey Yong merasa Siao-liong-li terlalu polos bersih, urusan keduniawian sedikit pun tidak paham. Ia lihat wajahnya cantik molek, ayu tapi sederhana, jika bukannya ada hubungan guru dan murid antara Yo Ko dengan Siao-liong-li, sesungguhnya mereka memang satu pasangan yang amat setimpal. Karena itu ia menanya lagi:
“Moaycu, hatimu sangat menyukai Ko-ji, bukan?”
Siao-liong-li tersenyum manis, “Ya, memang. Tapi kenapa kalian melarang dia membaiki aku?” sahutnya.
Oey Yong tercengang oleh jawaban itu, teringat olehnya masa remaja, pernah juga ayah tak boleh dirinya mendapatkan jodoh Kwe Ceng, bahkan guru Kwe Ceng juga mencela dirinya, tapi sesudah mengalami berbagai macam aral melintang, akhirnya dapat juga mengikat sehidup semati dengan Kwe Ceng. Dan kini Yo Ko dan Siao-liong-li saling cinta mencintai dengan hati murni, kenapa ia sendiri justru hendak merintanginya?
Tetapi mereka sudah dibatasi kedudukan sebagai guru dan murid, kalau terjadi hubungan laki-perempuan di luar garis, cara bagaimana mereka harus menghadapi ksatria-ksatria di seluruh jagat? Karena pikiran itu dia menghela napas dan berkata lagi:
“Moaycu, di dunia ini ada banyak urusan-urusan yang kau tak paham, jika kau dan Ko-ji menjadi suami-isteri maka selama hidupmu akan dipandang hina oleh orang lain.”
“Orang pandang hina padaku, peduli apa?” sahut Siao-liong-li tersenyum.
Kembali Oey Yong tercengang, sungguh jawaban ini rada-rada mendekati watak ayahnya, yaitu Oey Yok-su yang paling benci pada segala ikatan adat.
“Tapi Ko-ji bagaimana, ia pun akan dipandang hina orang selamanya,” katanya kemudian bila ingat betapa kasih sayang sang suami pada Yo Ko.
“Selama hidup dia akan tinggal di kuburan kuno bersama aku, kami hidup senang bahagia, peduli apa orang lain?” sahut Siao-liong-li lagi.
Oey Yong tertegun sejurus, lalu ia bertanya lagi: “Kalian berdua tinggal di kuburan kuno selama hidup? Selamanya tak akan keluar lagi?”
Siao-liong-li tampaknya sangat gembira. “Ya, untuk apa keluar?” katanya sambil berjalan mondar-mandir dalam kamar. “Orang di luar semuanya jahat.”
“Tapi semenjak kecil Ko-ji ter-lunta-lunta ke sana ke mari. Jika selama hidup terkurung dalam kuburan kuno, apakah ia tidak kesal?” kata Oey Yong lagi.
“Bukankah ada aku menemani dia, kenapa kesal?” jawab Siao-liong-li tertawa.
“Setahun dua tahun mungkin tidak kesal,” demikian kata Oey Yong pula sambil menghela napas. “Tetapi lewat beberapa tahun, dia lantas pikirkan dunia fana di luar, kalau dia tidak bisa keluar, itu akan lebih kesal rasanya.”
Sebenarnya hati Siao-liong-li sangat gembira. Mendengar kata-kata Oey Yong ini seketika hatinya menjadi tertekan.
“Coba akan kutanyai Ko-ji, aku tak mau bicara lagi dengan kau,” demikian katanya terus keluar kamar.
Melihat wajah orang yang cantik tiba-tiba seperti berubah muram, Oey Yong rada menyesal terhadap apa yang dikatakannya tadi, tetapi bila terpikir lagi apa yang dikatakannya meski tak enak didengar, namun sesungguhnya demi kebaikan mereka. Ia pikir, biarlah aku intip apa yang dikatakan pada Ko-ji. Dia lantas mendekati jendela kamarnya Yo Ko kemudian mendengarkan percakapan kedua muda-mudi itu.
“Ko-ji,” terdengar Siao-liong-li berkata, “kalau selama hidupmu berada bersamaku, kau akan kesal tidak? Dan akan bosan atau tidak?”
“Mengapa kau bertanya begitu, Kokoh?” sahut Yo Ko. “Bukankah kau sudah tahu betapa girangku tiada tara. Kita berdua akan hidup bersama sampai tua, sampai rambut ubanan, gigi ompong semua, tapi masih terus senang dan bahagia, tidak akan berpisah.”
Kata-kata Yo Ko itu diucapkan dengan rasa sungguh-sungguh dan timbul dari lubuk hatinya yang murni, Siao-liong-li terharu sekali hingga seketika ia termangu-mangu.
“Ya, aku pun begitu,” katanya kemudian lewat sejenak. Dia pun keluarkan seutas tali lalu digantung di tengah ruangan kamar dan berkata lagi: “Sudahlah, kita tidur saja!”
“Tapi kata Kwe-pekbo malam ini kau tidur bersama dia dan puterinya, aku tidur sekamar dengan Bu-si Hengte,” kata Yo Ko tiba-tiba.
“Tidak.” sahut Siao-liong-li, “kenapa harus kedua lelaki itu yang menemani kau? Aku ingin tidur bersama dengan kau.” Sembari bicara, ketika tangannya mengebas, pelita minyak disirapkan.
Luar biasa terperanjatnya Oey Yong mendengar percakapan terakhir itu. “Ternyata mereka guru dan murid berdua sudah melakukan perbuatan yang melanggar tata susila, apa yang dikatakan imam tua Thio Ci-keng itu nyata bukanlah dusta belaka, lantas bagaimana baiknya ini?” demikian pikirnya bingung.
Ia pikir tidak enak mengintip kedua muda-mudi yang tidur seranjang dan tentu ada ‘main’ itu, maka niatnya hendak pergi kalau saja tidak mendadak dilihatnya seberkas sinar putih berkelebat di dalam kamar, tahu-tahu seorang merebah melintang terapung di udara ruangan kamar, tubuh orang itu hanya bergoncang beberapa kali, lalu tak bergerak lagi.
Heran luar biasa Oey Yong oleh kejadian itu, waktu ia mengamati melalui sinar bulan yang menyorot masuk, kiranya yang tidur terapung itu ialah Siao-Iiong-Ii dengan menggunakan seutas tali, sebaliknya Yo Ko malah tidur dipembaringan sendirian, meski pun dua orang bersatu kamar, tapi mereka berlaku sopan menurut batas-batas susila. Oey Yong tertegun di luar, dia merasa kedua orang ini sungguh luar biasa, benar atau salah sungguh sukar dikatakan. Selagi ia hendak kembali ke kamarnya sendiri, tiba-tiba didengar suara tindakan orang yang ramai, Kwe Hu dan Bu-si Hengte sudah kembali.
“Tun-ji, Siu-ji, kalian berdua pergi tidur satu kamar dan tak perlu sekamar lagi dengan Yo-keh Koko,” kata Oey Yong.
Bu-si Hengte mengiakan, sebaliknya Kwe Hu lantas tanya: “Sebab apa, ibu?”
“Jangan urus,” sahut Oey Yong singkat.
“Aku justru tahu sebabnya,” kata Siu-Bun tertawa tiba-tiba. “Mereka berdua itu guru bukan guru, murid tidak murid, seperti binatang saja tidur sekamar.”
“Siu-ji, kau bilang apa?!” bentak Oey Yong sambil menarik muka.
“Kau juga terlampau lemah, Sunio, manusia rendah macam itu buat apa mengurusnya?” sela Tun-si. “Aku sudah pasti tidak akan bicara dengan dia.”
“Tapi hari ini mereka telah menolong kita, budi yang harus diingat,” kata Kwe Hu.
“Hm, aku lebih suka dibunuh Kim-lun Hoat-ong dari pada menerima budi binatang macam dia,” kata Siau-Bu pula.
Oey Yong kurang senang oleh kata-kata kedua saudara Bu itu. “Sudahlah, jangan banyak omong lagi, pergi tidur saja,” katanya.
Percakapan itu sudah tentu didengar semua oleh Yo Ko dan Siao-liong-li. Sejak kecil Yo Ko memang tidak akur dengan Bu-si Hengte, maka kata-kata orang diganda tertawa saja tanpa pusing, sebaliknya Siao-liong-li yang me-mikir sendiri: “Aneh, kenapa karena Ko-ji membaiki aku, lantas dia dikatakan binatang, manusia rendah segala?”
Ia pikir bolak balik tetap tidak mengerti. Tengah malam tiba-tiba ia bangunkan Yo Ko dan bertanya:
“Ko-ji, ada suatu soal yang harus kau jawab sungguh-sungguh. Bila kau tinggal di kuburan kuno bersama aku sampai beberapa tahun lamanya, apakah kau takkan rindu pada dunia ramai di luar?”
Yo Ko tercengang hingga tak bisa menjawab.
“Dan bila kau tidak keluar, apa kau takkan kesal?” tanya Siao-liong-li pula. “Meski cintamu padaku tak akan berubah selamanya, tapi sesudah lama tinggal dalam kuburan, apa kau takkan masgul?”
Pertanyaan ini membikin Yo Ko sulit juga menjawabnya. Saat ini sudah tentu dia merasa senang dan bahagia bisa hidup berdampingan dengan Siao-liong-Ii, tapi tinggal di kuburan kuno yang sunyi dan gelap itu sekali pun tak terasa bosan selama sepuluh tahun atau dua puluh tahun umpamanya, tapi bagaimana kalau sampai 30 tahun? Apa lagi 40 tahun?
Sebenarnya untuk menjawab asal menjawab saja tidak sukar bagi Yo Ko, tapi begitu suci bersih cintanya terhadap Siao-liong-li, maka dengan sendirinya ia tidak mau sembarangan menjawab.
“Kokoh,” katanya setelah berpikir, “jika kita sampai masgul dan bosan, tidakkah kita bisa keluar bersama saja?”
Siao-liong-li menyahut perlahan sekali, lalu tak bicara lagi, hanya dalam hati dia berpikir: “Apa yang dikatakan Kwe-hujin (nyonya Kwe) ternyata tidak dusta. Kelak kalau dia sudah bosan dan kesal sehingga keluar dari kuburan, ia akan dipandang hina oleh setiap orang, lalu apa senangnya orang hidup begitu? Ia baik padaku, entah mengapa orang lain lantas pandang rendah dan hina padanya, apakah aku sendiri orang yang membawa alamat tak baik? Aku suka dia dan mencintai dia, jiwaku boleh melayang, tapi kalau menjadikan dia tidak bahagia, lebih baik dia tidak menikahi aku saja. Kalau begitu, malam itu di Cong-lam-san dia tak mau berjanji akan peristerikan diriku, agaknya disebabkan inilah.”
Sementara didengarnya Yo Ko menggeros nyenyak, maka perlahan ia melompat turun. Ia dekati pembaringan dan pandang wajah orang yang cakap, hatinya cemas dan pedih, tak tertahan air matanya berlinang-linang.
Besok paginya ketika Yo Ko bangun, terasa pundaknya rada basah, ia merasa aneh sekali. Ia melihat Siao-liong-li sudah tiada di kamar, ia duduk, lantas tampak di atas meja terukir delapan huruf yang halus dengan jarum yang bunyinya:
‘Selamat tinggal, janganlah pikirkan diriku.’
Kaget luar biasa Yo Ko, ia termangu-mangu bingung. Ia lihat di atas meja masih kelihatan ada bekas air mata yang belum kering, dapat diduga rasa basah di pundaknya tentu juga karena air mata Siao-liong-li, maka dapatlah dibayangkan betapa remuk redam perasaannya tatkala ia menulis kedelapan huruf ini. Dalam keadaan cemas Yo Ko merasa seakan disambar petir. Mendadak dia dorong daun jendela terus meloncat keluar sambil berteriak-teriak:
“Kokoh, Kokoh!”
Yo Ko insaf satu detik saja tidak boleh disia-siakan. Apa bila hari ini Siao-liong-Ii tak bisa diketemukan, kelak mungkin sukar bersua lagi, maka cepat ia lari ke kandang kuda, ia keluarkan kudanya yang kurus terus dicemplaknya pergi. Kebetulan waktu itu Kwe Hu lagi keluar dari kamarnya. Ia menjadi heran melihat kelakuan pemuda ini, ia berteriak-teriak memanggil:
“Yo-koko, hendak ke mana kau?”
Tetapi Yo Ko membudek, ia larikan kudanya cepat ke utara, sekejap saja belasan li sudah dilaluinya, sepanjang jalan ia terus berteriak-teriak.
“Kokoh, Kokoh!”
Tapi mana ada bayangan Siao-liong-li.
Sesudah tak lama berjalan, dilihatnya rombongan Kim-lun Hoat-ong sedang menuju ke barat. Mereka pun terheran-heran ketika mendadak melihat Yo Ko seorang diri dan satu tunggangan. Segera Kim-lun Hoat-ong belokkan kudanya memapak datangnya Yo Ko.
Sama sekali Yo Ko tak bersenjata, tiba-tiba harus menghadapi musuh besar, sudah tentu sangat berbahaya. Tapi ia sedang kuatirkan keadaan Siao-liong-li, apa yang dipikirkan kini tiada lain kecuali jejak Siao-liong-Ii, keselamatan diri sendiri sudah tidak terpikir olehnya. Maka, demi nampak Kim-lun Hoat-ong mendatangi, ia malah menarik tali kuda kemudian memapakinya dan bertanya:
“Hai, apa kau melihat guruku?”
Melihat orang tidak melarikan diri, Kim-lun Hoat-ong menjadi heran, dan kini mendengar pertanyaan itu, keruan tambah tercengang.
“Tidak.” sahutnya kemudian. “Apa dia tidak bersama kau?”
Kedua orang ini sama-sama cerdik luar biasa, sesudah terjadi tanya jawab, sesaat keduanya timbul pikiran. Yo Ko berada sendirian, tentu bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, maka setelah sinar mata kedua orang kebentrok, cepat Yo Ko keprak kuda dan di lain pihak Kim-lun Hoat-ong sudah mengulur tangan hendak menjambretnya.
Namun kuda kurus tangkas luar biasa, bagai angin cepatnya sudah membedal lewat. Lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong keprak kuda mengejar, namun Yo Ko sudah berada sejauh satu li lebih dan sukar disusul lagi. Tiba-tiba pikiran Hoat-ong tergerak, ia tahan kuda tidak mengejar lebih jauh, ia pikir: “Kalau mereka guru dan murid terpencar, apa lagi yang aku takutkan sekarang? Jika Oey-pangcu itu masih belum pergi jauh, ha-ha-ha...”
Begitulah, segera ia bawa rombongannya balik ke tempat dari mana mereka datang tadi. Sementara itu Yo Ko masih belum melihat bayangan Siao-liong-li, meski sudah beberapa puluh li ia tempuh. Ia merasa darahnya bergolak hingga pandangan terasa gelap, hampir-hampir saja ia pingsan di atas kudanya. Sungguh luar biasa rasa sedih dan pilunya.
“Sebab apakah Kokoh mendadak meninggalkan aku? Di manakah aku pernah menyakiti dia? Tidak sedikit air mata yang dia alirkan sewaktu ia hendak tinggalkan aku, tentunya itu bukan karena marah padaku,” demikianlah ia pikir.
Lalu tiba-tiba terpikir pula olehnya: “Ah, tahulah aku sekarang, tentunya karena aku bilang tinggal di dalam kuburan kuno akan merasa bosan, maka dia sangka aku tidak mau hidup berdampingan selamanya dengan dia.”
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja ia melihat setitik sinar harapan: “Ahh, tentu dia kembali ke kuburan kuno, biarlah aku pergi ke sana mendampingi,” demikian pikirnya.
Tadi dalam bingungnya ia larikan kuda secara ngawur, kini ia bisa memilih jalan, ia kembali ke utara menuju Cong-lam-san. Sepanjang jalan ia berpikir terus, makin dipikir semakin terasa benar keputusannya, karena itu rasa duka dan rindunya menjadi hilang beberapa bagian, bahkan kemudian dia pun ber-dendang di atas kudanya.
Waktu lohor dia mampir di kedai nasi untuk tangsal perut, habis makan semangkok bakmi waktu mau bayar, tiba-tiba dia melongo. Kiranya waktu berangkat terlalu buru-buru hingga satu mata uang saja tak membawanya. Tapi Yo Ko tak kurang akal. Ia incar ketika pengurus kedai meleng, cepat cemplak kudanya terus lari pergi. Ia dengar pemilik kedai mencaci maki kalang kabut di belakang, diam-diam pemuda ini tertawa geli sendiri.
Petangnya tibalah ia di suatu hutan lebat. Sekonyong-konyong didengarnya sayup-sayup ada suara bentakan dan makian di dalam hutan diseling dengan suara nyaring beradunya senjata. Yo Ko terkejut, ia coba dengarkan lebih jelas, kemudian ia kenali itulah suaranya Kim-lun Hoat-ong dan Kwe Hu. Yo Ko tahu pasti terjadi sesuatu, lekas-lekas dia melompat turun dari kudanya, dia tambat kudanya sedikit jauh, ia sendiri menyelinap masuk hutan dengan kepandaian ‘tah-poh-bu-seng’ (melangkah tanpa bersuara), yaitu semacam ilmu entengkan tubuh yang tinggi, ia mencari tempat di mana datangnya suara.
Setelah belasan tombak jauhnya, ia lihat di tengah hutan lebat itu Oey Yong dan puterinya beserta Bu-si Hengte lagi melawan rombongan Kim-lun Hoat-ong sebisa-bisanya di suatu gundukan batu. Ia lihat keadaan Bu-si Hengte amat mengenaskan. Mukanya, bajunya, semua berlepotan darah. Oey Yong sendiri rambutnya serawutan, tampaknya kalau bukan Kim-lun Hoat-ong sengaja ingin menawan lawannya hidup-hidup, mungkin sejak tadi mereka berempat telah binasa di bawah roda besinya. Setelah menyaksikan beberapa jurus lagi, diam-diam Yo Ko berpikir: “Kokoh tidak di sini, jika aku maju membantu sendiri, tentu hanya mengantar jiwa percuma, lantas bagaimana baiknya ini?”
Selagi dia hendak cari akal, tiba-tiba dilihatnya roda Kim-lun Hoat-ong menghantam, Oey Yong kelihatan tidak kuat menangkis, mendadak dia mengkeret masuk ke belakang segundukan batu. Lalu Kim-lun Hoat-ong terpancing masuk ke tengah gundukan batu ini dan berputar kian kemari, namun tak mampu mendekati Oey Yong lagi. Heran sekali Yo Ko oleh kejadian itu. Dilihatnya Kwe Hu dan Bu-si Hengte juga berkelit dan berputar mengandalkan gundukan batu, bila ada bahaya, asal sembunyi di belakang batu, seketika Darba ketinggalan dan terpaksa berputar-putar ke sana kemari baru dapat menyusulnya, tapi sementara itu Kwe Hu sudah sempat bernapas untuk melawan musuh lagi.
Makin melihat makin heran Yo Ko. Sungguh tak bisa dimengerti beberapa gundukan batu dalam hutan ini ternyata begitu mukjijat. Meski keselamatan rombongan Oey Yong tak menjadi soal lagi, tapi rasanya susah juga hendak lari keluar barisan gundukan batu.
Setelah lama tidak bisa membobol pertahanan musuh, meski Bu-si Hengte dapat dilukai tapi tak parah, sebaliknya pihak Kim-lun Hoat-ong sendiri ada seorang tertusuk mati oleh Kwee Hu, Hoat-ong tahu gundukan batu itulah letak penyakitnya yang harus dipecahkan baru bisa menangkap musuh. Hoat-ong seorang yang cerdas dan tinggi hati. Dia pikir beberapa orang ini sudah seperti kura-kura dalam tempurung yang tak akan bisa lolos dari cengkeramannya. Dia pikir bila sebentar lagi perputaran barisan gundukan batu dapat dipahaminya, segera ia menerjang masuk dengan cepat kemudian sekali pukul dan berhasil, barulah hal ini bisa menambah kepintarannya.
Maka mendadak ia memberi tanda mundur kepada rombongannya, ia sendiri pun mundur lebih setombak jauhnya sambil memperhatikan susunan gundukan batu yang ruwet itu. Ia pikir berapa hebat siasat yang diatur mau pun barisan yang dikerahkan pasti tak terlepas dari perhitungan Thay-kek dan Liang-gi lalu meluas menjadi Ngo-heng dan Pat-kwa. Kim-lun Hoat-ong sendiri mahir macam-macam ilmu aneh itu, ia pikir meski barisan gundukan batu itu rada aneh, ia yakin pasti tidak terlepas dari dasar perhitungan tersebut di atas.
Siapa tahu meski sudah lama dia pandang dan perhatikan, baru sedikit lubang saja yang dapat dilihatnya. Ketika hendak dipecahkan lebih jauh, salah lagi, sebelah kiri betul, sayap kanan sudah berubah, dapat memecahkan bagian depan, sebelah belakang lantas sukar dipahami lagi. Dia termenung-menung di tempatnya, terkejut dan kagum luar biasa atas kepandaian Oey Yong. Tetapi Kim-lun Hoat-ong adalah seorang genius, baik ilmu silat mau pun ilmu surat, meski menghadapi soal sulit, ia justru ingin gunakan kecerdasan sendiri untuk memecahkannya.
Yo Ko melihat paderi ini mencurahkan perhatian penuh atas gundukan batu. Mendadak matanya terbelalak seperti paham di mana letak mukjizat barisan batu itu, dan orangnya terus melompat masuk cepat luar biasa, ketika ia ulurkan tangan, tahu-tahu Kwe Hu kena dijambret, habis ini ia pun mundur lagi keluar barisan batu. Perubahan di luar dugaan ini membikin Oey Yong terkejut hingga tidak berdaya. Bila keluar barisan buat menolong, terang mereka sendiri yang bakal menghadapi bahaya.
Kiranya tadi Kwe Hu melihat musuh berdiam diri, ia menjadi gegabah, tak diturut pesan ibundanya agar berdiri tetap di tempatnya, tapi ia keluar garis pertahanan barisan batu dan betapa lihaynya Kim-lun Hoat-ong, begitu kesempatan datang segera dia turun tangan menawannya terus menotok Hiat-to iganya dan diletakkan di tanah. Sengaja Hoat-ong tidak menotok urat nadi gagu si gadis agar bisa bersuara minta tolong ibundanya untuk memancing Oey Yong keluar dari barisan batu.
Seketika Kwe Hu merasa seluruh badan kaku gatal luar biasa, tetapi anggota badan tidak bisa bergerak, maka tiada jalan lain kecuali merintih perlahan. Sudah tentu Oey Yong tahu akal licik musuh, namun kasih ibu adalah pembawaan setiap manusia. Dia menjadi kuatir luar biasa, dia menggigit bibir kencang-kencang, sedapat mungkin menahan perasaannya.
Semua ini disaksikan Yo Ko secara jelas di tempat sembunyinya. Tiba-tiba dilihatnya Oey Yong gerakkan tongkat bambu lalu hendak terjang keluar barisan batu untuk menolong puteri kesayangannya. Tanpa pikir lagi sekonyong-konyong Yo Ko melompat keluar, Kwe Hu disambarnya terus melompat masuk kembali ke barisan gundukan batu itu.
Cepat sekali Kim-lun Hoat-ong timpukkan roda besinya menghantam punggung si Yo Ko yang masih terapung di udara hingga sukar berkelit. Tapi mendadak Kwe Hu didorongnya ke arah Oey Yong, berbareng Yo Ko sendiri gunakan gerakan ‘jian-kin-tui’, tubuhnya menurun cepat ke bawah dan terdengarlah suara “bluk”, antap sekali tubuh Yo Ko terbanting di atas gundukan batu, sementara terdengar suara gemerenceng nyaring, roda besi musuh tepat menyambar lewat di atas kepalanya.
Di lain pihak Oey Yong sudah merangkul puteri kesayangannya dengan perasaan girang dan duka. Dia lihat Yo Ko merangkak bangun dari gundukan batu, mukanya babak belur karena jatuhnya yang berat tadi, lekas-lekas dia tunjukkan jalan masuk ke barisan batu dengan tongkat bambunya yang panjang.
Melihat serangannya yang tak berhasil dan kembali gara-gara si Yo Ko, Kim-lun Hoat-ong tidak marah, dia malah girang. Katanya dengan tersenyum dingin:
“Bagus, kau sendiri yang masuk jaring, aku dapat hemat tenaga dan kelak tak perlu mencari kau lagi.”
Dengan mati-matian Yo Ko menolong orang, timbulnya secara spontan, namun sesudah masuk barisan batu dan teringat ikut campurnya ini berarti antarkan nyawa sendiri dan selanjutnya sukar bersua lagi dengan Siao-liong-li, diam-diam ia merasa menyesal.
“Ko-ji, buat apa kau lakukan ini?” kata Oey Yong kemudian sambil menghela napas.
“Kwe-pekbo,” sahut Yo Ko tertawa getir, “secara ketololan, asal darahku panas, lantas aku tak pikirkan diri sendiri lagi.”
“Oh, anak baik, hatimu yang baik ini dibanding ayahmu...” belum habis Oey Yong berkata, mendadak ia berhenti.
“Kwe-pekbo, ayahku seorang jahat bukan?” tanya Yo Ko gemetar.
“Buat apa kau tanya ini?” kata Oey Yong menunduk. Mendadak dia berseru: “Awas, ke sini ikut aku!” Kemudian dia tarik orang melintasi dua gunduk batu menghindari pembokongan Kim-lun Hoat-ong.
Kagum luar biasa setelah Yo Ko meneliti sekitar gundukan batu itu. “Kwe-pekbo, kepandaianmu yang amat hebat di jagat ini tiada keduanya lagi,” katanya kemudian.
Oey Yong tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan sibuk mengurut Kwe Hu yang habis ditotok musuh tadi.
“Kau tahu apa?” sela Kwe Hu tiba-tiba. “Kepandaian ibu adalah ajaran Gwa-kong (engkong luar), Engkong-ku itulah baru benar-benar lihay.”
Yo Ko sendiri sudah menyaksikan kepintaran Oey Yok-su dengan tanaman yang teratur di Tho-hoa-to, cuma waktu itu umurnya masih terlalu kecil, maka kebagusannya tak dapat dipahami. Sekarang mendengar kata-kata Kwe Hu, berulang kali dia mengangguk dan merasa kagum tak terhingga.
“Ya, entah kapan berjumpa dengan beliau sehingga hidupku ini tak tersia-sia,” demikian katanya.
Dalam pada itu mendadak Kim-lun Hoat-ong menerjang masuk lagi, sudah dua gundukan batu dilintasinya. Yo Ko tak bersenjata sama sekali, lekas-lekas tongkat bambu Oey Yong yang masih tergeletak di tanah disambarnya terus mendahului maju menahan musuh, beruntun tongkat bambu menyabet dua kali, apa yang dimainkan adalah Pak-kau-pang-hoat.
Melihat Pang-hoat terlalu bagus, Kim-lun Hoat-ong tak berani asal, dia layani Yo Ko penuh perhatian. Sesudah beberapa jurus, mendadak keduanya sama-sama kesandung batu hingga hampir saja jatuh. Karena kuatir terjebak, lekas-lekas Hoat-ong melompat keluar dari gundukan batu, sedang Oey Yong menunjukkan jalan masuk bagi Yo Ko. Kemudian Bu-si Hengte dan puterinya disuruh pindahkan batu-batu itu untuk merubah barisan pertahanannya.
“Dari manakah kau dapat belajar Pak-kau-pang-hoat ini sesungguhnya?” tanya Oey Yong kemudian pada Yo Ko.
Maka dengan terus terang Yo Ko lantas menceritakan pertemuannya yang aneh dengan Ang Chit-kong di atas Hoa-san dan bagaimana Pak-kay dan Se-tok telah bertanding di sana hingga turunkan ilmu tongkat pemukul anjing padanya. Cuma kuatir kalau Oey Yong terkejut, maka tentang tewasnya Ang Chit-kong tak diceritakannya sama sekali.
“Penemuanmu yang aneh itu sungguh jarang terjadi,” ujar Oey Yong kemudian. Tiba-tiba tergerak hatinya, ia berkata pula: “Ko-ji, kau sangat pintar, cobalah kau carikan akal buat melepaskan diri dari kesukaran sekarang ini.”
Melihat sikap Oey Yong segera Yo Ko tahu orang telah mendapatkan akal, maka dia pun pura-pura tidak tahu malah bertanya:
“Jika engkau sehat kuat, kita keroyok Hoat-ong pasti akan menang, atau bila dapat mendatangkan guruku, tentu segalanya akan beres.”
“Mana bisa kesehatanku baik seketika?” sahut Oey Yong. “Kokoh-mu juga tidak diketahui ke mana perginya, Aku ada akal dan harus menggunakan beberapa gundukan batu ini, ini adalah ajaran ayahku, perubahan di dalamnya tiada habis-habisnya, sebenarnya belum ada dua bagian yang kugunakan sekarang ini.”
Terkejut sekali Yo Ko oleh keterangan itu, ia pikir ilmu pengetahuan Oey Yok-su sungguh tinggi bagai dewata, tidak kepalang rasa kagumnya.
“Pak-kau-pang-hoat ajaran guruku kepadamu itu hanya cara memainkan saja, ada pun apa yang kau dengar di atas pohon, adalah garis besar dari kuncinya,” kata Oey Yong lagi. “Dan kini biar aku turunkan semua gerak perubahan yang bagus sampai sekecilnya padamu.”
Tentu saja Yo Ko sangat girang, tapi ia pura-pura menolak, “Ahh, agaknya tak boleh jadi,” demikian katanya, “kecuali kepada Pangcu dari Kay-pang, selamanya Pak-kau-pang-hoat tidak sembarangan diturunkan kepada orang luar.”
“Di hadapanku jangan kau pakai akal tengik!” kata Oey Yong sambil melototinya, “Suhu-ku sudah menurunkan padamu tiga bagian Pang-hoat, kau sendiri pun sudah mencuri dengar dua bagian, kini aku akan turunkan lagi dua bagian padamu, tiga bagian sisanya tergantung kecerdasanmu untuk mempelajarinya sendiri dan orang lain sekali-kali tak bisa mengajarkan kau. Soalnya kini terpaksa, pertama bukan orang mengajarkan Pang-hoat ini padamu, kedua disebabkan kepepet, tiada jalan lain.”
Segera saja Yo Ko berlutut sambil menjura beberapa kali, “Kwe-pekbo,” katanya tertawa, “Dahulu waktu aku kecil pernah kau berjanji akan turunkan ilmu silat padaku, sampai hari ini barulah kau benar-benar Kwe-pekbo yang baik.”
“Ya, selama ini kau terus dendam padaku, bukan?” sahut Oey Yong tersenyum.
“Mana aku berani?” kata Yo Ko.
Kemudian dengan bisik-bisik Oey Yong lantas uraikan intisari Pak-kau-pang-hoat, semuanya ia beri-tahukan kepada Yo Ko.
Di luar gundukan batu-batu Kim-lun Hoat-ong melihat Yo Ko tiba-tiba menjura pada Oey Yong, kedua orang ini bicara sambil ter-tawa-tawa, lalu bisik-bisik entah apa yang sedang dikerjakan, tampaknya seperti tidak merasa gentar dan sama sekali tak pandang sebelah mata pada dirinya. Meski Kim-lun Hoat-ong mendongkol, tapi seperti biasanya ia sangat tenang dan hati-hati. Ia yakin nanti setelah memecahkan letak penyakit barisan batu-batu barulah akan ambil tindakan.
Karena penundaan serangannya ini, Oey Yong dan Yo Ko tidak perlu melayani musuh, maka tak sampai setengah jam, semua kunci intisari sudah hampir selesai diuraikannya. Kepintaran Yo Ko boleh dikata ratusan kali lebih tinggi dibandingkan Loh Yu-ka, ditambah Pak-kau-pang-hoat ini memang sudah lama dipelajarinya, meski banyak yang belum dia pahami dan belum bisa dipecahkan, tapi setelah diberi petunjuk oleh Oey Yong, tentu saja segalanya lantas terang dengan sendirinya.
Dari jauh Kim-lun Hoat-ong melihat wajah Oey Yong tenang tapi bibirnya bergerak komat-kamit, sebaliknya Yo Ko kelihatan garuk-garuk kepala dan cakar-cakar kuping seperti girang tak terhingga. Dia menjadi bingung apa yang dilakukan kedua orang itu, urusannya tentu tidak menguntungkan dirinya, hal ini dapat dipastikan.
Sesudah Yo Ko selesai mendengarkan uraian istilah itu, disusul beberapa pertanyaan yang rada sulit dan semuanya dijelaskan Oey Yong dengan baik, lalu katanya:
“Sudahlah cukup, kau dapat bertanya beberapa persoalan menandakan banyak yang sudah kau pahami. Tindakan selanjutnya kita akan pancing Hoat-ong masuk barisan kemudian menawannya.”
“Apa?” tanya Yo Ko terkejut “Menawannya?”
“Ya, apa susahnya?” kata Oey Yong. “Sekarang kita berdua dapat bersatu padu, soal tipu sudah menanti dia, kekuatan pun di atasnya, sekarang biar aku terangkan di mana letak kehebatan Loan-ciok-tin (barisan gundukan batu). Seketika tentunya kau pun tak bisa paham, tapi asal kau ingat secara baik-baik 36 perubahannya kukira sudah cukup.”
Lalu ia pun menjelaskan cara bagaimana perubahan dari suatu pintu ke pintu lainnya dari barisan batu-batu. Kiranya Loan-ciok-tin adalah perubahan dari Pak-tin-toh ciptaan Khong Beng di jaman Sam-kok. Dahulu Khong Beng menggunakan batu-batu menjadi barisan pertahanan di tepi sungai untuk menjebak pihak musuh binasa sukar meloloskan diri. Kini apa yang diatur Oey Yong juga serupa tujuan Khong Beng, cuma karena terlalu buru-buru sehingga barisan batu-batu belum rampung diaturnya. Namun demikian Kim-lun Hoat-ong sudah dibuat bingung, dengan mata terbuka lebar ia pandang lima lawannya di depan sana tanpa berani turun tangan sembarangan.
Ke-36 perubahan dari Loan-ciok-tin sesungguhnya ruwet dan bagus sekali, sekali pun Yo Ko pintar luar biasa, tak bisa paham semua. Sudah dua kali Oey Yong ulangi uraiannya dan Yo Ko baru bisa paham kurang lebih 20 macam perubahan.
Sementara itu cuaca telah remang-remang Kim-lun Hoat-ong kelihatan bergegas2 hendak bergerak.
“Cukup likuran perubahan ini saja sudah dapat mengurung dia di dalam,” kata Oey Yong kemudian. “Sekarang juga kau keluar memancing dia masuk ke barisan, sekali aku ubah baris pertahanan, segera dia akan terkurung.”
Keruan Yo-Ko girang sekali, “Kwe-pekbo,” katanya, “kelak bila aku datang ke Tho-hoa-to, apakah engkau bersedia mengajarkan semua ilmu pengetahuan ini padaku?”
“Jika kau sudi datang, kenapa aku tidak sudi mengajarkan?” sahut Oey Yong tertawa, “Mati-matian kau sudah menolong aku dan Hu-ji dua kali, masakah aku masih melayani kau seperti dahulu?”
Mendengar itu, senang sekali rasa hati Yo Ko. Dalam keadaan demikian seumpama Oey Yong suruh dia kerjakan apapun, dipastikan tanpa tawar lagi akan dilakukannya. Maka tanpa pikir lagi segera ia sambar tongkat pemukul anjing terus berlari keluar barisan batu-batu.
“Hayo, Hoat-ong, kalau kau berani, mari kita bertempur 300 jurus!” demikian Yo Ko menantang.
Memang Kim-lun Hoat-ong sedang kuatir mereka main gila di dalam barisan batu-batu untuk membokong dirinya, kini melihat Yo Ko keluar menantang, keruan malah kebetulan baginya. Segera ia mengangkat roda besinya terus menghantam. Ia kuatir Yo Ko lari masuk lagi ke dalam gundukan batu, maka setelah dua gebrakan segera ia cegat jalan mundur si Yo Ko dengan tujuan memaksa pemuda ini jauh meninggalkan barisan batu. Tak ia sangka baru saja Yo Ko mempelajari Pak-kau-pang-hoat dan sekarang juga lantas dipraktekkan, nyata ilmu tongkat pemukul anjing ini memang luar biasa hebatnya dengan segala gaya memukul, menjojoh, menyandung, menyabet dan macam-macam lagi.
Karena gegabah sehingga sedikit meleng, paha Kim-lun Hoat-ong kena ditoyor sekali oleh tongkat bambu Yo Ko. Meski pun ilmu silatnya sangat tinggi dan cepat bisa menutup jalan darahnya hingga tidak terluka, namun terasa juga sakit sekali. Karena kecundang ini, ia tak berani asal lagi, roda besinya berputar cepat, ia lawan Yo Ko sepenuh perhatian. Meski lawannya hanya pemuda belasan tahun, tapi ia seperti menghadapi musuh tangguh, seakan-akan sedang melawan seorang tokoh silat yang maha lihay.
Karena orang bertempur sungguh-sungguh, Yo Ko kewalahan. Sekali pun hebat Pak-kau pang-hoat, tapi baru dipelajari lantas digunakan, betapa pun juga belum leluasa memainkannya. Lekas dia gunakan gaya ‘hong’ atau menutup untuk menahan serangan roda, berbareng dia geser langkah menerobos ke sini ke sana.
Melihat pemuda ini hendak menerjang keluar, Kim-lun Hoat-ong pikir kebetulan baginya, maka berulang-ulang dia pun mundur pancing Yo Ko jauh meninggalkan barisan batu. Siapa tahu baru belasan tindak dia mundur, mendadak kesandung batu besar, ternyata tanpa terasa dia sendiri malah terpancing masuk ke dalam Loan-ciok-tin.
Harus diketahui bahwa setiap langkah Yo Ko selalu menuruti ajaran Oey Yong. Dia bertindak menurut kedudukan Pat-kwa yang aneh, hanya beberapa kali ia menggeser dan arahnya sudah berganti, semakin dia menerjang maju, semakin masuk ke dalam barisan batu. Dan karena asyiknya menempur orang, Kim-lun Hoat-ong kena diselomoti, waktu ia sadar, sudah terjeblos di dalam Loan-ciok-tin. Dia pikir bisa celaka, dia dengar Oey Yong berulang kali berseru:
“Cu-jiok pindah Jing-liong, Soan-wi berubah Li-wi, It-bok ganti Kui-cui.” Apa yang disebut ini adalah nama tempat kedudukan yang harus dituju Yo Ko dalam barisan batu.
Berbareng dengan itu Bu-si Hengte dan Kwe Hu serentak memindahkan batu-batu besar dan mengurung rapat musuh di tengah-tengah.
Terkejut sekali Kim-lun Hoat-ong karena perubahan hebat itu. Pikirnya hendak berhenti buat periksa keadaan sekitarnya, tetapi tongkat bambu Yo Ko selalu mengganggu. Pak-kau-pang-hoat belum cukup kuat untuk menempurnya secara berhadapan, namun untuk mengacaukan pikirannya justru sangat tepat.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong beberapa kali kesandung batu hingga berdirinya tidak mantap. Ia tahu barisan batu-batu itu sangat lihay, asal kejeblos terlalu lama, makin putar makin kacau jadinya. Dalam keadaan bahaya, mendadak Kim-lun Hoat-ong menggertak sekali, ia keluarkan Ginkang dan melompat ke atas gundukan batu. Dengan berada di atas gundukan batu, seharusnya tidak terkurung lagi oleh barisan itu, tapi anehnya barisan batu itu bisa mengacaukan arah, apa bila lari ke timur dan menyangka bisa keluar, tahu-tahu dari timur sampai barat dan dari selatan ke utara tetap berputar-putar di satu lingkaran kecil sampai tenaga habis, akhirnya menyerah tak berdaya. Dilihatnya Yo Ko ayun tongkat memukul betisnya, terpaksa Kim-lun Hoat-ong melompat turun ke tanah datar lagi, dia putar rodanya balas menghantam.
Setelah belasan jurus lagi, cuaca sudah mulai gelap hingga makin menambah seramnya barisan batu. Dalam keadaan demikian biar pun Kim-lun Hoat-ong memiliki kepandaian setinggi langit mau tak mau ia pun berkuatir. Mendadak ia menjadi nekat. Ketika kedua kakinya menyapu kuat, lebih dulu sebuah batu besar lebih 20 kati kena didepak ke udara, menyusul sebuah batu besar lain terbang lagi ke angkasa. Ia bergerak cepat, kedua kakinya pun bergantian menendang hingga barisan batu itu pecah berantakan.
Terkejut luar biasa Oey Yong berlima, lekas-lekas mereka berkelit dari timpaan batu-batu terbang. Kini bila Kim-lun Hoat-ong mau lari keluar barisan sebenarnya tidak susah, namun dari terserang ia segera balas menyerang, sekali tangan mengulur, kontan Oey Yong hendak ditangkapnya.
Cepat Yo Ko menjojoh punggung orang dengan tongkatnya. Hoat-ong ayunkan roda besinya menangkis ke belakang, sementara telapak tangannya telah sampai di atas pundak Oey Yong. Kalau mau sebenarnya Oey Yong dapat menghindarkan diri dengan sedikit mundur. Tapi didengarnya di belakang sambaran angin yang keras, dari atas sebuah batu besar sedang menimpa ke arah punggungnya, terpaksa dia keluarkan Kim-na-jiu-hoat, ilmu menangkap dan melawan, ia papaki tangan Hoat-ong terus memegangnya kencang.
“Bagus!” seru Hoat-ong. Dia biarkan tangannya dipegang Oey Yong, ketika orang hendak membetot mendadak dia barengi menarik dengan tenaga raksasanya.
Bila dalam keadaan biasa, tidak susah bagi Oey Yong untuk melepaskan diri. Tapi kini ia tak bisa keluarkan tenaga, terdengarlah ia menjerit, lantas jatuh.
Yo Ko terperanjat sekali. Tidak dihiraukan lagi mati hidup sendiri, ia menubruk maju terus merangkul kedua kaki Kim-lun Hoat-ong hingga keduanya sama-sama terbanting roboh. Betapa pun juga ilmu silat Kim-lun Hoat-ong memang jauh lebih tinggi. Sebelum tubuhnya menggeletak, dengan tipu pukulan berat telapak tangan kanannya menghantam dan mengenai dada Yo Ko hingga pemuda ini terpental bagai bola. Tapi pada saat itu juga, sebuah batu besar terakhir yang terbang ke udara menimpa turun, maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, dan dengan tepat punggung Hoat-ong sendiri kena tertimpa.
Betapa hebat tenaga tumbukan batu itu, sungguh pun Iwekang Hoat-ong amat tingginya juga tidak tahan. Meski dia masih bisa keluarkan tenaga untuk menendang pergi batu itu, tapi setelah sempoyongan beberapa kali, akhirnya ia pun roboh ke depan.
Begitulah, hanya sekejap saja batu bertebaran dan barisan berantakan. Oey Yong, Yo Ko dan Kim-lun Hoat-ong bertiga sama-sama roboh terluka. Darba dan para jagoan Mongol yang berada di luar barisan batu, serta Kwe Hu dan Busi Hengte yang berada di dalam barisan, sama-sama terkejut. Segera yang berada di luar berlari masuk hendak menolong.
Tenaga Darba besar luar biasa, lagi pula di antara jagoan Mongol itu ada beberapa orang yang kuat, sudah tentu Kwe Hu dan kedua Bu cilik tak bisa melawannya. Tiba-tiba tampak Kim-lun Hoat-ong berdiri sempoyongan, ketika rodanya bergerak lantas menerbitkan suara nyaring, wajahnya putih pucat. Mendadak dia menengadah dan bergelak tertawa, suaranya seram membikin orang mengkirik.
“Selama hidupku belum pernah menderita luka sedikit pun menghadapi musuh siapa saja, tak dinyana hari ini aku melukai diriku sendiri,” kata Hoat-ong, suaranya serak berat. Kemudian kembali tangannya mengulur hendak mencengkeram Oey Yong lagi.
Meski Yo Ko kena dipukul sekali di dadanya dan cukup parah, namun demi nampak Oey Yong terancam bahaya, sambil merangkak segera ia ayunkan tongkatnya menangkis tangan musuh, dan karena sedikit keluar tenaga ini, tanpa tertahan lagi darah menyembur keluar dari mulutnya.
“Sudahlah, Ko-ji, kita akui kalah saja, tidak perlu adu jiwa lagi, kau jaga dirimu baik-baik,” ujar Oey Yong sedih.
Sementara dengan pedang terhunus Kwe Hu menjaga di samping ibunya.
“Kau lekas lari dulu, Hu-moay, paling penting beri-tahukan ayahmu,” bisik Yo Ko perlahan.
Tetapi pikiran Kwe Hu sudah kusut, sekali pun tahu kepandaian sendiri terlalu rendah, mana tega ia meninggalkan sang ibu? Sementara itu sedikit ayunkan roda besinya, tahu-tahu pedang Kwe Hu terpental sesudah terbentur roda Kim-lun Hoat-ong. Terlihatlah sinar putih terbang masuk ke dalam hutan.
Selagi Kim-lun Hoat-ong hendak mendorong pergi Kwe Hu untuk menangkap Oey Yong, tiba-tiba didengarnya suara seruan seorang perempuan:
“Tahan dulu!”
Menyusul sesosok bayangan hijau melompat keluar dari dalam hutan terus menyambar pedang Kwe Hu yang sedang me-layang. Dengan beberapa kali loncatan lagi, cepat sekali orangnya sudah sampai di antara gundukan batu.
Melihat wajah orang seram luar biasa, tiga bagian seperti manusia dan tujuh bagian mirip setan, dan karena selama hidupnya belum pernah melihat wajah orang yang begitu aneh dan jelek, Kim-lun Hoat-ong tercengang.
“Siapa kau?!” ia pun membentak.
Perempuan itu tidak menjawab, bahkan dia berjongkok terus mendorong satu batu besar hingga melintang di tengah-tengah Hoat-ong dan Oey Yong, kemudian buka suara:
“Apakah kau ini Kim-lun Hoat-ong dari Tilbet yang tersohor itu?” Biar pun wajahnya jelek tapi suaranya ternyata amat merdu.
“Ya, betul dan kau siapa?” sahut Hoat-ong.
“Aku hanya seorang anak dara tak bernama, sudah tentu kau tak kenal aku,” sahut gadis itu. Sembari berkata, kembali ia geser satu batu lainnya ke samping.
Sementara itu dalam hutan rimba gelap gulita, tiba-tiba tergerak pikiran Hoat-ong, cepat ia membentak:
“Apa yang kau lakukan?!”
Selagi hendak merintangi orang memindahkan batu, dia dengar gadis itu sudah berseru:
“Kak-bok-kau berubah menjadi Hang-kim-liong!”
Seketika Kwe Hu dan kedua saudara Bu tercengang, pikir mereka: “Aneh, dari mana dia pun tahu cara perubahan barisan batu ini?”
Karena suaranya membawa perbawa, mereka turut perintah dan memindahkan batu sehingga batu yang tadinya sudah kacau berantakan segera berubah lagi.
Terkejut dan gusar Kim-lun Hoat-ong, tiba-tiba dia membentak: “Kau anak perempuan berani mengacau di sini?!”
Namun lagi-lagi gadis itu berseru beberapa istilah tentang perubahan barisan batu yang semuanya cocok dengan apa yang diajarkan Oey Yong pada Yo Ko. Mendengar orang dapat berteriak dengan betul dan teratur tiada ubahnya seperti dipimpin Oey Yong sendiri, Kwe Hu dan kedua Bu menjadi girang. Dengan bersemangat mereka menggeser batu dan tampaknya segera Kim-lun Hoat-ong akan terkurung lagi di dalam.
Tadi punggung Hoat-ong telah tertimpa batu. Ia coba tahan lukanya dengan Iwekangnya yang tinggi, meski belum berbahaya, tetapi tidak kecil penderitaannya, maka ia tak sanggup menendangi batu lagi. Betapa pun juga dia memang seorang tokoh terkemuka, dia tidak menjadi bingung dalam keadaan bahaya, ia tahu bila telat sebentar lagi hingga terjeblos dalam barisan batu, bukan saja Oey Yong tak jadi ditangkapnya, bahkan bisa-bisa ia sendiri malah tertangkap.
Walau Oey Yong tampak tergeletak di tanah tak berkutik, asal melangkah maju beberapa tindak segera dapat menawannya, tetapi keselamatan diri sendiri jauh lebih penting, maka cepat ia putar rodanya, tiba-tiba ia pura-pura menghantam ke atas kepala Bu Siu-bun. Dalam keadaan terluka parah sebenarnya Kim-lun Hoat-ong tidak punya tenaga lagi, asal Siu-bun berani menangkis mungkin roda besinya akan terlepas dari tangan, akan tetapi Bu Siu-bun telah jeri, mana berani ia tangkis serangan itu, lekas-lekas ia buang batu yang hendak dipindahnya terus menyelinap masuk barisan batu.
Sesaat Kim-lun Hoat-ong bingung di tempatnya, pikirannya bergolak: “Kalau kesempatan ini di-sia-siakan, mungkin kelak sukar lagi diketemukan. Apa memang Thian melindungi Tay Song (ahala Song Raya) sehingga tugasku harus gagal begini? Tampaknya banyak sekali bibit muda di kalangan Bu-lim di daerah Tionggoan, beberapa muda-mudi ini saja sudah pandai dalam segala hal dan tidak boleh dipandang enteng, agaknya ksatria dari Mongol dan Tibet masih jauh kalau dibandingkan dengan mereka!”
Karena itu ia menghela napas dan sesalkan diri, tiba-tiba ia putar tubuh terus melangkah pergi. Tapi baru belasan tindak saja, mendadak terdengar suara gemerenceng riuh, roda besinya terjatuh, tubuhnya pun terhuyung-huyung.
Terkejut sekali si Darba, “Suhu!” teriaknya cepat sambil memlburu maju memayangnya dan menanya lagi: “Kenapa kau, Suhu?”
Kim-lun Hoat-ong mengerut kening tanpa menjawab, ia gunakan tangan menahan di atas pundak Darba, kemudian barulah bersuara perlahan:
“Sayang, sungguh sayang, marilah kita pergi!”
Sementara itu seorang jagoan Mongol membawakan kuda Hoat-ong, namun karena lukanya yang parah hampir-hampir tiada tenaga buat naik ke atas kuda kalau tidak Darba menaikkan sang guru, kemudian rombongan mereka pun kabur ke arah timur.
Setelah menolong semua orang, gadis baju hijau tadi perlahan-lahan keluar dari gundukan batu. Ketika berlalu di samping Yo Ko yang menggeletak di tanah, tiba-tiba ia berhenti. Ia ragu-ragu apakah harus periksa luka orang ataukah tidak. Ia berpikir sejenak, akhirnya ia berjongkok juga untuk memeriksa lukanya karena pukulan Kim-lun Hoat-ong tadi.
Tatkala itu hari sudah gelap, supaya dapat melihat wajah orang dengan jelas terpaksa ia menunduk dekat. Ia lihat kedua mata Yo Ko terpentang lebar, pandangannya kabur tak bersemangat, pipinya merah dan napasnya memburu, tampaknya lukanya tidak ringan.
Dalam keadaan remang-remang tak sadar, tiba-tiba Yo Ko melihat sepasang mata bersinar halus berada di dekat mukanya, mirip seperti sinar mata Siao-liong-li bila sedang memandang kepadanya, begitu halus hangat dan begitu kasih sayang, tanpa tertahan dia pentang tangan mendadak terus peluk tubuh orang sambil berteriak:
“Kokoh, Oh, Kokoh, Ko-ji terluka, janganlah kau tinggalkan aku begitu saja!”
Sungguh tak pernah diduga oleh si gadis baju hijau itu bahwa orang akan merangkulnya. Keruan ia malu dan gugup, ia sedikit meronta, sebab itu dada Yo Ko yang terluka menjadi sakit, maka ia pun berteriak merintih.
Si gadis tak meronta lagi, dengan suara perlahan ia berkata: “Aku bukan Kokoh-mu, lekas lepaskan aku!”
Tetapi dengan mata tak berkedip Yo Ko masih memandang sepasang mata bola si gadis. “Kokoh, O, Kokoh, jangan kau tinggalkan aku, ak... aku adalah kau punya Ko-ji!” tiba-tiba ia memohon.
Hati si gadis menjadi luluh, tapi tetap dijawabnya dengan halus: “Aku bukan Kokoh-mu.”
Karena hari sudah terlampau gelap, maka wajah si gadis yang jelek seram itu tenggelam ditelan kegelapan, hanya sepasang mata bolanya yang bersinar. Yo Ko masih terus menarik tangannya dan memohon lagi:
“Ya, ya, kaulah Kokoh!”
Karena dipeluk tiba-tiba oleh seorang pemuda dan tangannya digenggam kencang pula, gadis itu malu tidak kepalang seluruh tubuhnya panas dingin, ia bingung apa yang harus dilakukannya. Tak lama kemudian tiba-tiba pikiran Yo Ko jernih kembali, ketika diketahui di hadapannya bukan Siao-liong-li, ia menjadi kecewa, pikirannya pepet lagi dan akhirnya jatuh pingsan.
Gadis itu terkejut. Ia lihat Kwe Hu dan kedua saudara Bu tengah sibuk mengerumuni Oey Yong dan tiada yang mau gubris Yo Ko. Ia pikir luka pemuda ini sangat parah, kalau tidak dicekoki ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ (pil sari sembilan warna bunga), mungkin jiwanya tak akan tertolong lagi. Dalam keadaan terpaksa ia pun tak hiraukan adat istiadat lagi, lekas ia angkat pinggang Yo Ko, dengan setengah tarik dan setengah seret ia bawa Yo Ko keluar dari barisan batu.
Hendaklah diketahui bahwa bukannya Kwe Hu terlampau kejam dan tak berbudi, soalnya ibunya terluka parah hingga menggeletak tak dapat bangun. Karena cinta antara anak dan ibu maka Yo Ko harus dikesampingkan dahulu. Sedang kedua saudara Bu jelas tak mau mengurus Yo Ko.
Gadis itu memayang Yo Ko keluar hutan. Kuda kurus milik Yo Ko memang cerdik dan kenal majikan, dia mendekati mereka. Setelah Yo Ko dinaikkan kudanya, mengingat diri sendiri masih gadis, si nona tak mau bersatu tunggangan, maka tali kendali kuda dituntunnya dan ia berjalan kaki sendiri.
Keadaan Yo Ko tempo-tempo sadar, kadang-kadang remang-remang lagi. Tempo-tempo dia merasa gadis di sampingnya ini adalah Siao-liong-li hingga berteriak girang, tetapi ada kalanya tahu juga orang bukan Kokoh yang dirindukannya sehingga ia menjadi sedih, tubuhnya menggigil kedinginan.
Entah sudah berapa lama, ketika terasa olehnya bau harum segar menembus luka di dadanya melalui kerongkongannya dan rasanya menjadi nyaman luar biasa. Perlahan-lahan ia pentang matanya, dan ia menjadi heran sekaligus terkejut. Ternyata dirinya sudah rebah di atas sebuah ranjang, tubuhnya berlapiskan selimut. Ia hendak bangun duduk, tapi mendadak tulang dadanya kesakitan, ia masih belum boleh bergerak. Dia lihat di depan jendela seorang gadis berbaju hijau dengan tangan kiri menahan kertas di atas meja dan tangan kanan memegang pit sedang menulis sesuatu dengan tenang. Gadis itu duduk mungkur hingga tak kelihatan mukanya, tapi melihat potongan tubuhnya yang langsing, pinggangnya ramping, tentu orangnya juga amat cantik. Tempat beradanya sekarang ternyata ruangan dari sebuah rumah gubuk beratap aIang-alang, tapi cara mengaturnya ternyata sangat rajin dan necis, di dinding sebelah timur tergantung sebuah lukisan wanita cantik sedang bersolek serta beberapa lukisan pemandangan, ada pun dinding barat dihiasi seperangkat lukisan tulisan.
Dalam herannya Yo Ko tidak sempat menikmati benda-benda seni itu. Ia lihat asap dupa mengepul dari sebuah anglo di suatu meja kecil, ia tak tahu kamar orang kosen siapa atau pujangga yang mana? Teringat olehnya pertarungan di barisan batu di hutan lebat dengan Kim-lun Hoat-ong dan terluka, kenapa sekarang bisa berada di sini, seketika ia menjadi bingung tak mengerti. Ia coba mengingat-ingat, lapat-lapat dapat diiingat dirinya waktu itu tengkurap di atas kuda dan ada orang menuntun kuda, orang itu pun seorang perempuan.
Ia lihat gadis di depannya ini sedang menulis penuh perhatian, ia rebah di atas ranjang, dengan sendirinya tak tahu apa yang sedang ditulisnya, tapi bisa melihat gaya tangannya yang bergerak-gerak dengan manisnya dan bagus luar biasa. Keadaan kamar itu sunyi senyap, dibanding pertarungan sengit di barisan batu itu kini seakan-akan berada di suatu dunia lain. Meski Yo Ko sudah sadar, tapi tak berani bersuara mengganggu si gadis, ia terus rebah diam-diam.
Sekonyong-konyong pikiran Yo Ko tergerak lagi, ia kenali si gadis baju hijau di depannya ini bukan lain adalah gadis yang beberapa kali mengirim berita peringatan padanya dalam perjalanan tempo hari dan belakangan ber-sama menolong Liok Bu-siang. Ia menjadi heran, bukan sanak bukan kadang, kenapa gadis ini begitu baik terhadapku?
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Pada waktu itu Kim-lun Hoat-ong lagi menjalankan tenaga dalamnya, apa yang dikatakan Yo Ko cukup jelas didengarnya, cuma ia tak berani membuka suara untuk menjawab.
Melihat keadaan lawan, Yo Ko dapat meraba beberapa bagian, segera dia berteriak lagi:
“Wahai para ksatria, dengarlah sekarang akan kutanya dia tiga kali lagi, apa bila Hoat-ong tidak menjawab, itu berarti dia mengaku kalah secara diam-diam.”
Nyata Yo Ko amat cerdik. Ia kuatir sebentar lagi Hoat-ong selesai menjalankan napasnya, maka tanpa henti dia bertanya pula dengan cepat:
“Nah, bagaimana, kau mengaku kalah bukan? Bu-lim Bengcu bukan bagianmu lagi bukan? Kau bungkam terus berarti mengaku secara diam-diam bukan?”
Pada waktu itu kebetulan Hoat-ong sudah selesai menghilangkan rasa sesak di dadanya. Selagi dia hendak jawab orang, begitu melihat bibirnya bergerak, cepat Yo Ko mendahului buka suara lagi.
“Baiklah, kalau kau sudah mengaku kalah, kami pun tak mau bikin susah kau, kalian beramai-ramai boleh lekas enyah saja.”
Habis itu dia angkat tinggi gada dan roda emas rampasannya itu lalu diserahkan kepada Kwe Ceng. Ia pikir jika diserahkan pada Suhu, kuatirnya Kim-lun Hoat-ong akan menjadi murka dan merebutnya, Suhu tentu tak sanggup melawannya.
Di lain pihak alangkah gusarnya Kim-lun Hoat-ong hingga mukanya merah padam. Tapi ia gentar juga terhadap ilmu silat Kwe Ceng yang lihay, roda emas telah jatuh di tangannya, kalau hendak merebutnya kembali rasanya belum tentu berhasil, pula jumlah lawan terlalu banyak, kalau terjadi pertempuran besar, pihak Mongol pasti akan kalah habis-habisan. Agar tidak menerima hinaan, terpaksa sekarang harus mundur teratur, kelak cari jalan lagi buat membalas.
HUBUNGAN YANG DITABUKAN
Oleh karena itu dengan suara lantang Hoat-ong lantas berkata: “Bangsa Han banyak tipu muslihat, menang dengan jumlah banyak, se-kali-kali bukan cara ksatria sejati, marilah ikut aku pergi saja.”
Habis berkata, ia memberi tanda dan para jago Mongol itu pun mundur keluar rumah. Dari jauh Hoat-ong masih memberi hormat pada Kwe Ceng dan berkata:
“Kwe-tayhiap, Oey-pangcu, tadi aku sudah belajar kenal ilmu kepandaian kalian yang hebat, Gunung selalu hijau, air sungai senantiasa mengalir, biarlah kita bersua lagi kelak.”
Kwe Ceng orangnya jujur dan berbudi, maka sambil membungkuk membalas hormat dia pun menjawab:
“Ilmu silat Taysu sungguh hebat sekali, Cayhe kagum luar biasa. Senjata kalian bolehlah diambil kembali saja.” Sembari berkata, roda emas dan gada emas itu pun hendak disodorkannya.
Akan tetapi Yo Ko segera menyelak: “Kim-lun Hoat-ong, apa mukamu cukup tebal untuk menerimanya kembali?”
Lekas-lekas Kwe Ceng membentak, akan tetapi Kim-lun Hoat-ong telah mengebas lengan bajunya terus jalan pergi tanpa berpaling lagi.
Tiba-tiba Yo Ko ingat sesuatu. “Hai, muridmu Hotu terkena racun senjata rahasiaku, lekas kau serahkan obat penawar untuk tukar obatku!” ia berteriak.
Tapi Hoat-ong yakin kepandaiannya cukup memahami ilmu pertabiban, segala racun apa saja dapat disembuhkannya. Ia benci terhadap kelicikan Yo Ko, maka kata-kata orang tak digubrisnya terus melangkah pergi.
Sementara Oey Yong melihat Cu-liu pejamkan mata dan tertidur, ia pikir di sini tidak sedikit terdapat ahli-ahli pemakai Am-gi berbisa, pasti ada di antara mereka yang sanggup menyembuhkan lukanya, maka melihat Kim-lun Hoat-ong tak mau terima ajakan Yo Ko untuk bertukar obat penawar, ia pun tidak pikirkan lebih jauh.
Pada saat itu seluruh Liok-keh-ceng telah terbenam dalam suasana sorak sorai yang riuh rendah, semua memuji Yo Ko dan Siao-Iiong-li yang telah mengalahkan Kim-lun Hoat-ong dengan gemilang. Kedua muda-mudi ini dirubung beratus orang yang dengan berisik mempersoalkan pertarungan tadi. Ada yang bilang cara Yo Ko mengalahkan Hotu betul-betul gunakan cara ‘senjata makan tuannya’, ada yang berkata Ginkang Siao-liong-Ii tiada taranya sehingga dapat hindarkan diri dari udakan Kim-lun Hoat-ong yang hendak menghantamnya, cuma mengenai ‘Ih-hun-tay-hoat’ yang dipakai Yo Ko menangkan Darba hingga paderi Tibet itu dengan keras memukul dan menghantam dirinya sendiri, 9 dari 10 di antara mereka tiada satu pun yang paham.
Kemudian perjamuan lantas diperbaharui. Selama hidup Yo Ko selalu menderita hinaan, baru hari ini dia melampiaskan deritanya itu dan unjuk keperkasaannya mendirikan pahala bagi dunia persilatan Tionggoan, maka tiada seorang pun yang tidak menghormat padanya, dengan sendirinya hatinya amat girang. Siao-liong-li suci bersih batinnya dan tak kenal sedikit pun tata pergaulan. Dia lihat Yo Ko gembira, maka ia pun ikut bergirang. Terhadap ‘gadis’ ini Oey Yong juga sangat suka, dia tarik tangan orang kemudian bertanya ini dan itu, dia minta Siao-liong-li duduk semeja di sampingnya. Ketika melihat Yo Ko duduk di antara Tiam-jong Hi-un dan Kwe Ceng, jaraknya terlampau jauh dari tempatnya, segera Siao-liong-li menggapai dan memanggil: “Ko-ji, kemari duduk di sampingku!”
Tapi Yo Ko sedikit banyak paham perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tadi waktu bertemu sesaat ia lupa daratan dan unjuk perasaan hatinya yang murni, tapi kini di bawah pandangan orang begitu banyak, jika masih unjuk perasaan mesra, rasanya rada kurang pantas. Maka demi mendengar panggilan orang, tanpa tertahan wajahnya sedikit merah, ia bersenyum tapi tak mendekati.
“Ko-ji, hayo, kenapa kau tak kemari?” kembali Siao-liong-li mendesak.
“Biarlah aku duduk di sini saja, Kwe-pepek sedang bicara dengan aku,” sahut Yo Ko.
Tiba-tiba alis Siao-liong-li terkerut. “Aku ingin kau duduk ke sini,” katanya lagi.
Tampak sikap orang yang kurang senang, hati Yo Ko terguncang hebat. Ia merasa wajah orang yang rada marah itu benar-benar menggiurkan, sekali pun harus hancur lebur untuknya juga rela. Dulu karena sifat Liok Bu-siang di waktu marah rada mirip Siao-liong-li, maka Yo Ko rela membela si gadis itu dari musuh ganas, bahkan melindunginya sejauh ribuan li. Kini orang sesungguhnya sudah berada di depan mata, mana bisa ia membangkang lagi? Maka ia pun berdirilah dan mendekati meja Siao-liong-li. Melihat sikap kedua muda-mudi ini, diam-diam Oey Yong rada curiga, namun ia pun cepat perintahkan untuk mengatur tempat duduk Yo Ko.
“Ko-ji, ilmu silatmu yang hebat ini kau dapat belajar dari siapa?” segera Oey Yong tanya Yo Ko.
“Dia inilah guruku, kenapa Kwe-pekbo tak percaya,” sahut Yo Ko sambil tunjuk Siao-liong-li.
Tapi Oey Yong sudah kenal kelicinan pemuda ini. Bila dilihatnya wajah Siao-liong-li yang polos jujur, ia yakin orang tak akan membohong, karena itu dia pun berpaling dan tanya:
“Moay-moay, betulkah ilmu silatnya dipelajari dari kau?”
Siao-liong-li sangat senang atas pertanyaan orang. “Ya, memang. Bagaimana, baik tidak ajaranku?” sahutnya segera.
“Baik, baik sekali,” kata Oey Yong, “Moaymoay, siapakah gurumu?”
“Guruku sudah lama meninggal,” sahut Siao-liong-li. Dan matanya mendadak pula basah, hatinya berduka.
“Tolong tanya, siapakah nama dan she gurumu yang terhormat itu?” kembali Oey Yong bertanya.
“Entah, Suhu ya Suhu,” sahut Siao-liong-li sambil geleng-geleng kepala.
Oey Yong sangka orang tidak mau mengaku, memang adalah biasa kalau orang Bu-Iim pantang bicara soal perguruan sendiri. Padahal guru Siao-liong-li adalah budak pelayan pribadi Lim Tiao-eng, selamanya hanya dikenal nama kecilnya sebagai pelayan, she dan nama asli memang ia tidak tahu.
Sementara itu para ksatria dari berbagai aliran beruntun-runtun telah menyuguh arak kepada Kwe Ceng, Oey Yong, Siao-liong-li dan Yo Ko sebagai penghormatan dan ucapan selamat karena telah mengalahkan musuh tangguh seperti Kim-lun Hoat-ong itu.
Biasanya Kwe Hu sangat dihormati orang berkat orang tuanya, namun jika dibandingkan kini, keadaannya menjadi sangat guram, kecuali Bu-si Hengte yang masih me-nyanjung padanya, tiada seorang lain yang perhatikan dia, Tentu saja gadis ini menjadi kesal.
“Toa-Bu-koko, Siao-Bu-koko, jangan minum arak lagi, marilah kita jalan-jalan keluar saja,” ajaknya kemudian kepada kedua saudara Bu itu.
Bu Tun-si dan Bu Siu-bun menyahut berbareng, lalu mereka bertiga bangkit. Dan selagi mereka hendak keluar, tiba-tiba di dengarnya Kwe Ceng sedang memanggil:
“Hu-ji, mari sini!”
Waktu Kwe Hu menoleh, ia lihat sang ayah sudah pindah semeja dengan ibunya dan lagi menggapai padanya dengan berseri-seri. Karena itu ia pun mendekati kedua orang tuanya dan memanggil manja sambil bersandar di tubuh Oey Yong.
“Nah, dulu kau kuatir Ko-ji kurang baik kelakuannya dan bilang ilmu silatnya kurang tinggi sehingga tak sesuai bagi Hu-ji, kini kau tidak bisa mencela lagi bukan?” demikian dengan tertawa Kwe Ceng berkata pada sang isteri: “la telah berjasa besar untuk para Enghiong dari Tionggoan. Sekarang jangan kata dia tidak punya kesalahan, sekali pun ada apa-apa yang tak baik jasanya tadi jauh lebih besar untuk menutup kesalahannya.”
“Ya, kali ini penglihatanku memang salah,” sahut Oey Yong meng-angguk tertawa, “baik ilmu silat mau pun sifat Ko-ji memang bagus semua, aku sendiri amat suka padanya.”
Mendengar jawaban sang isteri yang merupakan kesanggupan perjodohan puterinya, Kwe Ceng sangat senang.
“Liong-kohnio.” katanya kepada Siao-liong-li, “mendiang ayah muridmu ini adalah saudara angkatku, hubungan kedua keluarga Yo dan Kwe turun temurun amat baik, Cayhe melulu punya satu anak perempuan, soal wajah dan ilmu silat masih boleh juga...”
Begitulah dasar watak Kwe Ceng memang terus terang, apa yang ingin dikatakan lantas diucapkannya begitu saja.
“Hm coba, anak sendiri dipuji-puji, apa tidak takut ditertawai adik Liong?” sela Oey Yong tertawa.
Kwe Ceng ikut terbahak, lalu ia pun menyambung kembali: “Maka maksud Cayhe hendak menjodohkan puteriku ini pada muridmu, ayah-bundanya sudah wafat semua, urusan ini dengan sendirinya perlu minta keputusan Liong-kohnio. Dan kebetulan para ksatria tengah berkumpul di sini, maka kita bisa minta dua Enghiong terkemuka sebagai comblang untuk menetapkan perjodohan ini, bagaimana?”
Hendaklah diketahui pada jaman dulu soal perjodohan biasanya tergantung perintah orang tua dan berdasarkan perantara comblang, pihak muda-mudi yang bersangkutan malahan tak berkuasa mengambil keputusan.
Begitulah habis berkata, dengan ketawa-ketawa Kwe Ceng memandang Yo Ko dan puteri sendiri, ia duga pasti Siao-liong-li akan terima perjodohan bagus itu. Tentu saja muka Kwe Hu merah jengah. Ia sembunyikan mukanya ke pangkuan sang ibu. Sebaliknya air muka Siao-liong-li rada-rada berubah mendengar kata-kata Kwe Ceng tadi. Belum ia menjawab tiba-tiba Yo Ko telah berdiri, ia menjura dalam-dalam pada Kwe Ceng dan Oey Yong, lalu berkata:
“Budi Kwe-pepek dan Kwe-pekbo yang membesarkan aku dulu serta rasa sayang padaku ini, sekali pun hancur lebur tubuhku juga sukar membalasnya. Tetapi keluargaku miskin, kepandaianku juga tak berarti, sekali-kali tak berani memikirkan puteri bijaksana.”
Seketika Kwe Ceng tercengang, sungguh tidak pernah disangkanya bahwa dengan nama suami-isteri yang tersohor di kolong langit, wajah dan silat puterinya juga tergolong kelas satu, apa lagi ia sendiri yang buka mulut hendak menjodohkannya, tapi siapa tahu orang malah menolak mentah-mentah. Namun dia lantas ingat. Tentu usia Yo Ko masih muda sehingga merasa malu dan pura-pura menolaknya. Maka ia tertawa pula dan berkata:
“Ko-ji, kita bukan orang luar, urusan ini bersangkutan dengan seumur hidupmu tak perlu kau malu-malu.”
Tapi lagi-lagi Yo Ko menjura dan menjawab: “Kwe-pepek, jika engkau ada perintah ke lautan api atau masuk air mendidih, sedikit pun aku takkan menolak, namun urusan perjodohan ini, betapa pun tak berani aku menurut.”
Melihat pemuda ini bersikap sungguh-sungguh, alangkah herannya Kwe Ceng, ia pandang sang isteri dan berharap ikut menjelaskan persoalannya. Oey Yong sesalkan sang suami terlampau lurus, tidak selidiki dulu lantas berkata terang-terangan dalam perjamuan terbuka hingga kebentur tembok sendiri.
Sudah jelas dilihatnya sikap antara Yo Ko dan Siao-liong-li yang sedang saling cinta, tapi mereka mengaku sebagai guru dan murid, apakah mungkin kedua orang ini telah tersesat dan berzinah? Tentang ini sesungguhnya ia tak berani percaya, ia pikir Yo Ko belum pasti seorang jantan sejati, tapi juga tak nanti melakukan perbuatan terkutuk dan rendah itu.
Harus diketahui orang pada ahala Song amat mementingkan tata susila, tingkatan antara guru dan murid dipandang seperti raja dan hambanya, seperti ayah dan anak yang sekali-kali tak boleh berbuat sembarangan. Walau pun Oey Yong bercuriga, namun urusan ini terlalu besar artinya, seketika dia pun tak berani percaya, maka dia tanya Yo Ko:
“Ko-ji, benarkah Liong-kohnio gurumu?”
“Ya,” sahut Yo Ko pasti.
“Apakah kau angkat guru padanya dengan menjura dan menyembah?” tanya Oey Yong lagi.
“Ya,” jawab Yo Ko tegas, mulutnya menjawab, tapi matanya memandang Siao-liong-li dengan penuh rasa kasih mesra, jangankan Oey Yong cerdik melebihi orang biasa, sekali pun orang lain juga dapat melihat bahwa antara kedua muda-mudi ini tentu memiliki hubungan yang lain dari pada yang lain.
Namun Kwe Ceng belum juga paham maksud tujuan sang isteri, ia pikir: “Bukankah sejak tadi ia bilang murid Liong-kohnio, ilmu silat mereka berdua terang juga sama, mana bisa dipalsukan lagi? Aku persoalkan perjodohan, mengapa adik Yong tanyakan perguruan dan alirannya? Hm, ya, lebih dulu bocah ini masuk Coan-cin-pay, kemudian ganti angkat guru lain, meski hal ini tidak baik, tapi urusannya gampang juga diselesaikan.”
Sementara itu melihat sikap Yo Ko terhadap Siao-liong-li, diam-diam Oey Yong terkejut sekali, lekas-lekas dia kedipi sang suami dan berkata:
“Sudahlah, umur Hu-ji masih kecil, soal perjodohan mengapa harus terburu-buru? Hari ini para ksatria berkumpul di sini, paling betul berunding dulu masalah negara yang besar, urusan pribadi sementara boleh kesampingkan dulu.”
Kwe Ceng pikir betul juga, maka jawabnya: “Ya, betul, hampir saja aku pentingkan urusan pribadi dan melupakan soal besar. Liong-kohnio, urusan perjodohan Ko-ji dan puteriku ini biarlah kita bicarakan lagi kelak.”
Siapa duga mendadak Siao-liong-Ii geleng-geleng kepala. “Tidak, aku yang akan menjadi isteri Ko-ji, tak akan dia menikahi anakmu,” sahutnya tiba-tiba.
Kata-kata itu diucapkan dengan cukup keras dan terang, maka ada ratusan hadirin di situ yang mendengarnya. Keruan Kwe Ceng terperanjat, seketika ia berbangkit sungguh ia tak percaya pada telinga sendiri, namun bila dilihatnya Siao-liong-li memegangi tangan Yo Ko dengan sikap begitu hangat dan mesra, hal ini tak bisa pula tidak mempercayainya.
“Ap... apa katamu? Di... dia... muridmu bukan?” tanyanya cepat tak lancar.
“Ya,” sahut Siao-liong-li dengan tersenyum simpul. “Dulu aku yang mengajarkan ilmu silat padanya, tapi kepandaiannya sekarang sudah sama kuatnya dengan aku. Ia sangat suka padaku dan aku pun suka padanya. Dulu....” sampai di sini tiba-tiba saja dia perlahankan suaranya, meski pun gadis ini masih polos, tetapi sifat malu-malu anak perempuan adalah pembawaan, maka dengan lirih ia sambung: “...dulu, dulu kukira dia tak suka padaku dan tidak mau aku menjadi isterinya. Ak... aku menjadi sedih sekali, aku ingin lebih baik mati saja. Tapi ha... hari ini barulah aku tahu ia cinta padaku sesungguh hati, ak... aku...”
Luar biasa penuturan Siao-liong-li yang keluar dari jiwa murninya ini sehingga seketika beratus hadirin itu sama sunyi senyap mendengarkan kata-kata si gadis. Umumnya, sekali pun seorang gadis yang sedang terbakar api asmara, namun tak nanti mengumumkannya terang-terangan di hadapan orang banyak. Apa lagi menutur kepada orang luar yang bukan sanak keluarga sendiri. Tapi Siao-liong-li terlalu bersih, ia tak kenal urusan umum, apa itu tata krama atau kebiasaan manusia, segalanya tidak dipahaminya, apa dirasakan perlu dikatakannya segera pula dikatakan.
Sebaliknya Yo Ko sangat terharu melihat perasaan si gadis yang murni itu, tapi bila mana dilihatnya wajah orang lain rada unjuk rasa terkejut dan heran, ia menjadi kikuk dan tidak bisa membenarkan pula. Ia tahu Siao-liong-li terlalu hijau, sepatutnya tidak membicarakan urusan ini di tempat orang banyak. Maka tangan orang lantas ditariknya, dengan suara halus ia pun mengajak:
“Marilah, Kokoh, kita pergi saja!”
“Baik,” sahut Siao-liong-li. Lalu kedua muda-mudi ini pun bertindak keluar berendeng.
Tatkala itu meski seluruh ruangan penuh berjubel dengan orang, tetapi dalam pandangan Siao-liong-li seakan-akan Yo Ko seorang saja yang dilihatnya.
Kwe Ceng saling pandang bingung dengan Oey Yong. Tidak sedikit peristiwa berbahaya dan aneh yang pernah mereka alami selama hidup, tapi kejadian di depan mata sekarang ini sungguh tidak pernah mereka duga, seketika mereka pun tidak tahu bagaimana harus bertindak..Pada waktu Siao-liong-li dan Yo Ko sudah hampir melangkah keluar ruangan pendopo itu, tiba-tiba Oey Yong meneriakinya:
“Liong-kohnio, kau adalah Bu-lim Bengcu yang dihormat dan dipandang sebagai suri teladan semua orang, maka urusan ini hendaklah kau pikirkan lebih masak.”
Tiba-tiba saja Siao-liong-li menoleh sambil tersenyum manis, sahutnya: “Aku tak sanggup menjadi Bu-lim Bengcu segala, kalau cici suka bolehlah kau ambil jabatan itu.”
“Tidak, apa bila kau mau menolak, maka serahkan saja kepada ksatria angkatan tua Ang-lopangcu,” kata Oey Yong.
Bu-lim Bengcu adalah gelar kehormatan yang amat agungnya dalam dunia persilatan, tapi sedikit pun tak terpikir oleh Siao-liong-li, dia menjawab pula sekenanya:
“Terserahlah kau, pendeknya aku tidak kepingin.”
Habis itu tangan Yo Ko ditariknya hendak berjalan keluar lagi. Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, dari tengah orang banyak tahu-tahu melompat keluar seorang berjubah pertapaan dan tangan menghunus pedang, dia bukan lain dari pada imam Coan-cin-kau, Thio Ci-keng adanya.
“Yo Ko!” bentak Ci-keng dengan pedang melintang sambil menghadang di ambang pintu. “Kau durhaka dan mengkhianati perguruan, hal ini saja tak dibesarkan orang, kini kau berbuat lagi serendah binatang, apa kau masih punya muka untuk hidup di dunia ini? Asal aku Thio Ci-keng masih bisa bernapas, tidak akan kubiarkan kau.”
Yo Ko tidak suka ribut-ribut dengan Ci-keng di depan orang banyak, maka dengan suara tertahan ia membentak:
“Menyingkir!”
“In-sute,” teriak Ci-keng pula, “coba kau majulah dan katakan, malam itu di Cong-lam-san dengan mata kepala kita sendiri menyaksikan kedua orang ini telanjang bulat lagi berbuat apa?”
PeIahan Ci-peng berdiri dengan sedikit gemetar. Waktu dia angkat tangan kirinya, maka terlihatlah jari-jari kecil dan manis tangannya telah kutung semua. Meski semua orang tak tahu maksudnya mengunjuk tangan cacat ini, namun melihat tubuh Ci-peng yang gemetar dan bersikap aneh, orang pun dapat menduga pasti di dalamnya tersangkut sesuatu yang ganjil.
Seperti yang diketahui, malam itu Siao-liong-li dan Yo Ko sedang melatih Giok-li-sim-keng di dalam semak-semak bunga lalu dipergoki Ci-keng dan Ci-peng tanpa sengaja, tatkala mana Yo Ko telah paksa Ci-peng bersumpah agar tak bercerita pada orang kelima, siapa tahu hari ini orang telah menistanya di hadapan orang banyak, tentu saja Yo Ko marah luar biasa.
“Kau telah bersumpah tak akan menceritakan pada orang kelima, apa kau lupa?!” bentak Yo Ko segera.
Ci-keng terbahak-bahak oleh teguran ini. “Ya. memang aku pernah bersumpah tidak akan bercerita pada orang kelima,” sahutnya keras. “Tapi sekarang di sini ada orang ke enam, ke tujuh, bahkan beratus dan beribu orang, dengan sendirinya sumpahku itu sudah batal. Kalian berdua berani berbuat, sudah tentu aku pun boleh mengomongnya bukan?”
Peristiwa itu memang amat kebetulan, ketika tengah malam Ci-keng melihat dua muda-mudi itu telanjang bulat berada bersama di dalam semak-semak, dia sangka orang sudah berbuat kotor, siapa tahu sesungguhnya orang sedang melatih ilmu yang tidak ada bandingannya itu. Sekarang dalam marahnya peristiwa itu disiarkannya, sebenarnya bukan maksud sengaja hendak memfitnah. Akibat kejadian malam itu, Siao-liong-li sampai muntah darah saking marah dan hampir-hampir jiwanya melayang. Kini mendengar Ci-keng berdebat model pokrol bambu, ia tidak tahan lagi, cepat sekali ia ulurkan tangan dan menekan perlahan ke dada Ci-keng seraya berkata:
“Baiknya kau jangan ngaco-belo ya!”
Sementara ini Giok-li-sim-keng yang dilatihnya sudah jadi, gerak tangannya ini dilakukan tanpa suara dan tak terlihat, kebetulan juga Giok-li-sim-keng itu diciptakan sebagai lawan ilmu silat Coan-cin-pay, maka saat Ci-keng hendak menangkis, tak tahunya tangan Siao-liong-li telah memutar lagi dan tetap meraba ke dadanya. Sekali tangkis tidak kena, luar biasa kejut Ci-keng, namun begitu dadanya teraba tangan orang pun lantas ditarik kembali dan tiada sesuatu perasaan apa-apa, maka ia pun tidak ambil perhatian. Dengan tertawa dingin ia coba mengolok-olok lagi:
“Ada apa kau meraba tubuhku? Aku toh bukan gend...”
Belum kata-kata “gendakmu” selesai diucapkan, mendadak kedua matanya melotot kaku, seketika orangnya terkulai ke depan, nyata ia sudah terluka dalam yang amat parah. Melihat sang Sutit terluka, lekas-lekas Sun Put-ji dan Hek Tay-thong memburu maju buat membangunkan, dilihatnya napas Ci-keng memburu dan wajahnya merah padam laksana orang mabuk.
“Bagus, kau Ko-bong-pay benar-benar hendak memusuhi Coan-cin-kau kami!” teriak Sun Put-ji, segera pedang pun dilolosnya lantas hendak melabrak Siao-liong-li.
Lekas-lekas Kwe Ceng melompat maju dan menyela di tengah kedua pihak. “Sudahlah, orang sendiri jangan cekcok,” ia coba memisah. Lalu ia berkata juga kepada Yo Ko: “Ko-ji, kedua pihak sama-sama terhitung gurumu. Harap kau minta mereka kembali ke tempat duduk masing-masing, ada apa-apa biarlah kita pertimbangkan sesungguhnya siapa yang salah.”
Akan tetapi Siao-liong-li sudah jemu dan benci pada segala kepalsuan manusia dengan pengalaman sejak ia turun gunung, maka tangan Yo Ko digandengnya dan mengajaknya lagi:
“Marilah kita pergi saja, Ko-ji, selamanya jangan kita ketemu orang-orang ini lagi!”
Yo Ko ikut bertindak pergi, tapi mendadak pedang Sun Put-ji berkelebat. Ia menghadang dan membentak:
“Hmm, enak saja, sudah melukai orang lantas hendak merat begitu saja?”
Melihat kedua pihak akan saling gebrak lagi, lekas-lekas Kwe Ceng berkata pula dengan sungguh-sungguh:
”Ko-ji, segalanya hendaklah kau pikir masak-masak dan jadilah orang baik-baik, jangan bikin susah diri sendiri dan membikin busuk nama baikmu. Namamu Ko adalah aku yang memberi, apa kau paham maksud huruf ‘Ko’ itu?”
Tergetar Yo Ko oleh teguran itu, mendadak terbayang olehnya banyak kejadian di masa kecil, teringat olehnya segala hinaan yang pernah dia rasakan, pikirnya: “Aneh, mengapa namaku ini adalah pemberian Kwe-pepek?”
“lbumu dulu tentu pernah ceritakan padamu kau bernama ‘Ko’ dan alias apa?” tegur Kwe Ceng pula bengis.
Maka ingatlah Yo Ko pernah dengar dari ibunya, cuma dahulu usianya masih kecil, maka selamanya tiada orang memanggil nama aliasnya hingga dia sendiri hampir lupa.
“Nama aliasku Kay-ci,” sahutnya kemudian.
“Benar,” kata Kwe Ceng. “Dan apa maksudnya itu?”
“Kwe-pepek maksudkan bila aku ada kesalahan (Ko) supaya bisa memperbaikinya (Kay-ci),” sahut Yo Ko.
Karena itu lagu suara Kwe Ceng berubah sedikit halus. “Ko-ji,” katanya pula, “manusia mana yang tidak pernah salah (Ko), tapi salah berani memperbaiki hal ini harus dipuji, ini adalah petuah Nabi. Kini kau tidak menghormati guru, ini adalah kesalahan maha besar, hendaklah kau bisa pikirkan baik-baik.”
“Kalau aku punya salah sudah tentu akan kuperbaiki,” sahut Yo Ko. ”Tetapi dia... dia...” ia tuding Ci-keng dan melanjutkan: “dia pukul aku, dia menghina aku, menipu aku dan benci kepadaku, mana mau aku mengakui dia sebagai guru? Aku dan Liong-kokoh suci bersih, Thian menjadi saksi, aku menghormati dia, kucinta padanya, apakah ini satu kesalahan?” Yo Ko mencerocos dengan lancar dan bersemangat oleh rasa benarnya.
Kecerdasan dan bicaranya Kwe Ceng tak ungkuli pemuda ini, maka tentu saja ia menjadi gelagapan. Perbuatan orang dirasakannya salah, cuma seketika ia tak bisa menjelaskan.
“Ko-ji,” sementara Oey Yong sudah maju juga. “Kwe-pepek ingin kau berbuat baik, hal ini hendaklah kau mengerti,” suaranya halus.
Karena itu perasaan Yo Ko menjadi terguncang, ia pun lirihkan suara dan menyahut: “Ya, selamanya Kwe-pepek sangat baik padaku, hal ini aku cukup tahu.”
Karena terharu matanya menjadi merah dan hampir-hampir meneteskan air mata.
“Maksudnya hanya berusaha menginsafkan kau, sekali-kali janganlah kau salah paham,” kata Oey Yong lagi.
“Tetapi aku justru tak paham, aku tak mengerti kesalahan apakah yang kulakukan?” kata Yo Ko lagi.
Tiba-tiba Oey Yong menarik muka, “Apa kau benar-benar tak mengerti atau kau sengaja main gila dengan kami?” tanyanya.
Yo Ko menjadi penasaran, ia pikir: “Kalau kalian baik-baik terhadapku dengan sendirinya aku pun balas dengan baik, tetapi kalian ingin aku berbuat bagaimanakah?” Karena itu ia menggigit bibir dan tak menjawab.
“Baiklah, bila kau ingin aku bicara terus terang, rasanya aku pun tidak perlu main teka-teki dengan kau,” kata Oey Yong, “Liong-kokoh adalah Suhu-mu, itu berarti orang tua yang harus kau hormati, maka tak boleh ada hubungan pribadi antara laki-laki dan perempuan.”
Peraturan demikian itu bukannya Yo Ko tak paham sama sekali seperti halnya Siao-liong-li, cuma dia tak mengerti, sebab apa hanya lantaran Kokoh pernah mengajarkan ilmu silat padanya lantas tidak boleh menjadi isterinya? Kenapa hubungannya dengan Liong-kokoh yang suci bersih, Kwe-pepek saja tak mau percaya? Berpikir sampai di sini, tak tahan lagi ia pun naik darah. Dasar Yo Ko seorang yang tak gentar terhadap segala apa dan pantang kekerasan, sekali ia merasa penasaran, ia menjadi lebih tak mau mengerti. Segera dengan suara keras dia berkata lagi:
“Dan perbuatan apa yang kulakukan sehingga membikin susah kalian? Siapa yang pernah kucelakai? Liong-kokoh pernah mengajarkan ilmu silat kepadaku, aku justru ingin dia menjadi isteriku, kau boleh bacok aku, boleh cincang aku, namun aku tetap ingin dia menjadi isteriku.”
Kata-katanya ini betul-betul membikin seluruh hadirin terperanjat. Pada jaman Song orang amat kukuh pada tata adat, mana ada logika yang menyimpang 180 derajat dari peraturan itu? Selama hidup Kwe Ceng sendiri paling menghormat pada guru, maka ia marah tidak kepalang oleh jawaban Yo Ko itu, cepat sekali dia melangkah maju, segera dia jamberet dada Yo Ko.
Siao-liong-li terkejut, segera ia menangkis, tapi ilmu silat Kwe Ceng masih jauh di atasnya, apa lagi dalam keadaan marah, seluruh tenaganya telah dikeluarkan semua. Ketika sekali tarik terus dilemparkan, tahu-tahu Siao-liong-li terlempar pergi satu tombak lebih lalu turun kembali di luar pintu, menyusul mana sebelah tangan Kwe Ceng memegang dada Yo Ko tempat ‘Thian-tut-hiat’ dan tangan lain diangkatnya tinggi-tinggi sambil membentak:
“Binatang cilik, kenapa kau berani keluarkan kata-kata durhaka semacam itu?!”
Seluruh tenaga Yo Ko lenyap seketika oleh karena cekalan Kwe Ceng itu, namun dalam hati sedikit pun ia tak takut.
“Kokoh cinta padaku sepenuh hatinya, demikian pula aku terhadapnya,” katanya lantang, “Kwe-pepek, kau mau bunuh aku boleh bunuhlah, tapi keputusanku ini tak akan berubah selamanya.”
“Aku anggap kau seperti anakku sendiri, tak boleh kudiamkan kesalahanmu ini dan tidak memperbaikinya,” kata Kwe Ceng.
“Aku tidak salah, aku tidak melakukan sesuatu yang buruk, aku tidak pernah mencelakai orang lain!” jawab Yo Ko tegas. Tiga kalimat itu diucapkannya dengan begitu kuat dan pasti.
Seketika hati para ksatria ikut terkesiap, mereka merasa kata-kata Yo Ko ada bagian yang masuk di akal, umpama saja kalau kedua muda-mudi ini tidak bilang-bilang kepada orang lain, kemudian hidup menyendiri di dunia lain atau menjadi suami isteri di pulau terpencil misalnya, bukankah tidak merugikan siapa pun juga. Tapi kalau berbuat semena-mena sesukanya tanpa menghiraukan pendapat umum, ini pun tak bisa dibenarkan dan merupakan sampah masyarakat persilatan.
Namun pendapat Kwe Ceng berlainan dari pada Yo Ko. Ketika telapak tangannya sudah diangkat, dia berkata dengan hati pedih sekali:
“Ko-ji, betapa sayangku padamu, apakah kau mengerti? Aku lebih suka kau mati dari pada kau berbuat hal-hal tak baik, pahamkah kau?”
Karena kata-kata Kwe Ceng ini, Yo Ko tahu bila tidak ganti lagu suara, sekali gablok pasti dirinya akan terpukul mati, kadang kala pemuda ini licin dengan macam tipu akalnya, tapi kini ia justru keras kepala, maka dengan tegas ia menjawab:
“Aku yakin aku tak bersalah, kalau Pepek tak percaya biarlah kau pukul mati aku saja.”
Telapak tangan kiri Kwe Ceng telah diangkat tinggi-tinggi, sekali gablok ke atas batok kepala Yo Ko, mana bisa bernyawa pula? Karena itu seketika para ksatria sunyi senyap tiada yang bersuara, semuanya menatap tangan Kwe Ceng apakah jadi digablokkan atau tidak.
Sejurus lamanya telapak tangan Kwe Ceng tetap terangkat tinggi, kembali dia pandang Yo Ko sekejap, ia lihat bocah ini gigit kencang bibirnya dan alis terkerut rapat, parasnya begitu mirip dengan mendiang ayahnya, Yo Khong. Mendadak Kwe Ceng menghela napas panjang, ia lepaskan jambretannya dan berkata:
“Sudahlah, harap kau berpikir lebih masak.”
Habis itu ia pun kembali ke tempat duduknya tadi, sekejap saja ia tidak pandang Yo Ko lagi, tampaknya ia begitu putus asa dan habis harapan.
“Ko-ji, orang-orang ini begini kasar, jangan kau pedulikan mereka, marilah kita pergi saja,” tiba-tiba Siao-liong-li menggapai Yo Ko. Nyata sama sekali ia tidak tahu bahwa jiwa Yo Ko tadi sudah dalam saat yang menentukan.
Dengan langkah lebar segera Yo Ko keluar dari ruangan pendopo itu sambil bergandeng tangan dengan Siao-liong-li. Di luar mereka mendapatkan kuda mereka yang kurus itu dan segera menuntunnya berlalu.
Dengan mata terpentang Iebar para ksatria mengikuti kepergian kedua muda-rnudi itu, ada yang memandang rendah, ada yang kagum, ada yang marah dan ada yang simpatik dan macam-macam perasaan yang tak sama.
Begitulah berendeng Yo Ko bikin perjalanan dengan Siao-liong-li, meski pun hari telah jauh malam namun mata kedua orang ini cukup terlatih, jalan di malam gelap mereka anggap seperti siang hari saja. Sudah lama berpisah dan sekarang kedua muda-mudi ini berdua kembali, betapa senang perasaan mereka tak perlu dilukiskan lagi, segala apa yang terjadi tadi, pertempuran mati-matian, perdebatan dan caci maki, semuanya sudah mereka lupakan.
Mereka berjalan tanpa bicara, akhirnya sampai di bawah pohon Yang-liu yang rindang, tanpa berjanji keduanya mendekati kemudian duduk bersandarkan dahan pohon, lambat laun mereka pun merasa letih dan kemudian terpulas. Di kejauhan kuda kurus makan rumput hijau dengan bebasnya, hanya kadang-kadang terdengar suara meringkiknya yang perlahan. Setelah bangun, hari sudah terang benderang, kedua muda-mudi itu saling pandang lalu tertawa.
“Ke mana kita sekarang, Kokoh?” tanya Yo Ko.
“Lebih baik kembali Ko-bong (kuburan kuno) saja,” sahut Siao-liong-li sesudah merenung sejenak.
Nyata sejak ia turun gunung, ia merasa meski dunia ramai sangat indah, tetapi tetap tidak lebih merdeka dari pada hidup di kuburan kuno. Yo Ko juga tahu jiwa Siao-liong-li terlampau polos dan tidak cocok untuk bergaul dengan orang. Ia pikir jika selama hidup ini bisa berdampingan dengan gadis ini, selebihnya tiada yang dia inginkan lagi. Dahulu ia suka kenangkan dunia luar yang ramai dan berharap bisa keluar kuburan, namun sesudah berkelana sekian lama, kembali ia rindu pada kehidupan yang aman tenteram dalam Ko-bong.
Begitulah kedua orang itu pun balik ke utara, sepanjang jalan mereka saling bicara sambil menempuh jalan dengan perlahan-lahan. Yang satu tetap panggil “Ko-ji” dan yang lain sebut “Kokoh”, mereka merasa sebutan itu adalah paling cocok dan wajar. Sampai lohor, pembicaraan mereka sampai pada ilmu silat Kim-lun Hoat-ong dan murid-muridnya yang lihay luar biasa.
“Ko-ji, bab yang terakhir dari Giok-li-sim-keng selamanya belum pernah kita latih, apa kau masih ingat?” tiba-tiba Siao-liong-li berkata.
“lngat, cuma berulang kali kita sudah pernah coba memecahkannya selalu gagal, agaknya pasti ada yang salah,” sahut Yo Ko.
“Sebenarnya aku pun tidak paham,” ujar Siao-liong-li, “tetapi kemarin melihat imam wanita tua itu menggerakkan pedangnya, aku teringat sesuatu.”
Seketika Yo Ko paham juga bila teringat tipu gerakan pedang yang digunakan Sun Put-ji kemarin.
“Ya, ya,” segera ia berteriak, “Giok-li-sim-keng dan ilmu silat Coan-cin-pay harus digunakan berbareng, pantas kita sudah melatih ke sana kemari belum berhasil.”
Kiranya dahulu cikal-bakal Ko-bong-pay, Lim Tiao-eng, amat tergila-gila pada Ong Tiong-yang. Waktu tinggal sendirian dalam kuburan kuno ia ciptakan ilmu silat Giok-li-sim-keng, tetapi terhadap Ong Tiong-yang masih tetap tidak pernah lupa, maka sampai bab terakhir dari Giok-li-sim-keng yang dia tulis, timbul khayalannya pada suatu hari kelak pasti dapat berdiri sejajar dengan jantung hatinya menggempur musuh. Oleh karena itu ajaran ilmu pada bab terakhir itu melukiskan seseorang menggunakan ilmu dari Giok-li-sim-keng dan yang lainnya memakai ilmu silat Coan-cin-pay untuk saling bahu membahu menggempur musuh. Begitulah dari segala isi hati yang pernah tumbuh di dalam lubuk hati Lim Tiao-eng terhadap Ong Tiong-yang, semuanya sudah disalurkan melalui bab terakhir dari ilmu silat ciptaannya.
Pada saat Siao-liong-li dan Yo Ko mula-mula melatihnya, karena rasa cinta mereka belum bersemi, maka tak mungkin paham jerih payah maksud hati Cosu-popoh mereka, lebih-lebih tidak bisa dimengerti bahwa di antara mereka yang satu harus pakai ilmu silat perguruan sendiri dan yang lain harus mempergunakan ilmu silat Coan-cin-pay yang sama sekali berlawanan. Kini sesudah sadar, segera kedua muda-mudi itu jemput sebatang kayu dan sejurus demi sejurus mereka pun mulai memecahkan pelajaran yang sudah lama belum berhasil itu.
Dengan perlahan Siao-liong-li mainkan Giok-li-sim-keng dan Yo Ko sebaliknya keluarkan Kiam-hoat Coan-cin-pay. Tetapi baru beberapa jurus mereka pecahkan, kembali mereka menghadapi jalan buntu karena satu dan lain tak cocok.
Hendaklah diketahui bahwa dulu waktu Lim Tiao-eng menciptakan ilmu pedang ini, dalam khayalannya dia berdiri sejajar dengan Ong Tiong-yang menggempur musuh, maka setiap tipu gerakan selalu bekerja sama dengan rapat. Sekarang Yo Ko dan Siao-liong-li saling melatih dengan tangkai kayu, mereka anggap masing-masing sebagai pihak lawan, waktu dimainkan dengan sendirinya menyimpang dan tak cocok, meski mereka mengulanginya berkali-kali tetap tidak betul.
“Apa mungkin kita sudah lupa, coba kita kembali ke Ko-bong dulu baru nanti melatihnya lagi,” ujar Siao-liong-li.
Selagi Yo Ko hendak menjawab, didengarnya di kejauhan ada suara derap kuda, seorang penunggang secepat terbang mendatangi. Kuda itu seluruhnya berbulu merah, penunggangnya juga baju merah, hanya sekejap saja, orang dan tunggangannya bagaikan segumpal awan merah sudah lewat di samping mereka, nyata itu adalah kuda ‘si merah’ tunggangan Oey Yong.
Yo Ko tak ingin bertemu dengan keluarga Kwe Ceng yang hanya menimbulkan rasa kesal saja, maka ia ajak Siao-liong-li memilih jalan kecil saja agar tidak kepergok dengan orang di depan sana. Meski Siao-liong-li adalah Suhu, tetapi kecuali ilmu silat, urusan-urusan lain sama sekali ia tak paham, kalau Yo Ko bilang pilih jalanan kecil, dengan sendirinya ia pun menurut.
Malamnya kedua orang ini menginap di hotel kecil, Yo Ko tidur di atas ranjang dan Siao-liong-li masih tetap tidur di atas tali yang digantung di antara dua belah dinding. Di dalam hati kedua orang pasti hendak bersuami isteri, akan tetapi karena beberapa tahun di kuburan kuno selalu tidur seperti ini, sesudah bersua kembali mereka masih tetap tidur cara lama dan melatih diri seperti dulu. Yang mereka pikir adalah buah hati sudah berdampingan dan selanjutnya takkan berpisah lagi, mereka sama-sama merasa girang dan terhibur tak terhingga. Besok siangnya tibalah mereka di suatu kota besar. Kota itu penuh sesak dengan lalu lintas kereta kuda dan orang jalan sehingga suasana sangat ramai.
Yo Ko mengajak Siao-Iiong-li dahar di restoran, tapi baru saja mereka naik ke atas loteng, seketika Yo Ko tercengang. Dia melihat Oey Yong dan Bu-si Hengte juga sedang bersantap di situ. Karena sudah telanjur bertemu, Yo Ko pikir tidak enak bila menyingkir, maka ia maju memberi hormat dan menyapa.
“Kau melihat puteriku tidak?” demikian Oey Yong bertanya dengan alis berkerut rapat dan muka muram sedih.
“Tidak, apa Hu-moay tidak bersama dengan kau?” jawab Yo Ko.
Belum lagi Oey Yong menjawab, terdengar tangga loteng riuh ramai dan beberapa orang naik ke atas, seorang yang jalan paling depan berperawakan tinggi besar, siapa lagi dia kalau bukan Kim-Iun Hoat-ong! Yo Ko cukup jeli, ia tak bicara lagi dengan Oey Yong, tapi cepat kembali ke samping Siao-Iiong-li dan membisikinya:
“Berpaling ke sana, jangan pandang mereka.”
Tapi betapa tajamnya sinar mata Kim-lun Hoat-ong. Begitu naik ke atas, seketika semua orang di atas loteng sudah masuk dalam pandangannya, maka terdengarlah dia tertawa-tawa dingin, dengan bebasnya ia duduk menyanding suatu meja.
Sebenarnya Yo Ko sudah berpaling ke arah lain, mendadak ia dengar Oey Yong berseru:
“Hu-ji!”
Yo Ko terkesiap, tanpa terasa ia menoIeh, maka terlihatlah Kwe Hu duduk semeja dengan Kim-lun Hoat-ong dengan mata terbuka lebar lagi memandang sang ibu, cuma tak berani menyeberang ke sini. Kiranya sehabis Kim-lun Hoat-ong dikalahkan, dia masih penasaran dan memikirkan daya upaya untuk tebus kekalahannya. Selain itu Pengeran Hotu terkena jarum berbisa dan racunnya bekerja sangat hebat, segala obat penawar sudah digunakannya tanpa hasil, karena itu menambah hasratnya hendak merebut obat, maka dia tak pergi jauh melainkan menunggu kesempatan baik di sekitar Liok-keh-ceng.
Agaknya memang nasib Kwe Hu yang bakal ketimpa malang. Pagi-pagi dia sudah jalan-jalan dengan kuda merahnya dan kebetulan kepergok Kim-lun Hoat-ong sehingga diseret turun dari kudanya. Beruntung kuda merah itu sangat cerdik, secepat terbang binatang itu lari pulang dan mendengking pilu di hadapan sang majikan.
Kwe Ceng tahu sang puteri mendapat bahaya, keruan terkejut, segera mereka berpencar mencari. Meski pun Oey Yong sedang mengandung, tapi demi sayangnya pada sang puteri dia pun naik kuda merahnya ikut mencari dan hari ini lebih dulu bertemu dengan Bu-si Hengte di kota ini lalu berjumpa pula dengan Yo Ko berdua, dan siapa tahu secara sangat kebetulan, kemudian Kim-lun Hoat-ong juga mendatangi restoran ini dengan tawanannya: Kwe Hu.
Nampak puterinya, Oey Yong terkejut tercampur girang, tetapi biar pun ia banyak tipu akalnya, kini anak gadisnya jatuh di bawah cengkeraman musuh, ia hanya memanggil satu kali habis itu ia pun tak bicara lagi. Sepasang sumpit yang dia pegang menggores kian kemari di atas meja sembari memikirkan tipu daya untuk menolong puterinya.
Selagi dia berpikir, mendadak terdengar Kim-lun Hoat-ong berkata: “Oey-panglu, ini puteri kesayanganmu bukan? Tempo hari kulihat ia menggelendot di pangkuanmu dengan amat manjanya, tampaknya sangat menarik sekali.”
Oey Yong menjengek, ia tidak menjawab. sebaliknya Bu Siu-bun lantas berdiri. “Hmm, percuma kau menjadi ketua aliran. Sesudah kalah bertanding, kini menganiaya anak gadis orang yang masih muda. Benar-benar tidak kenal malu!” bentak pemuda itu.
Namun Kim-lun Hoat-ong menganggap kata-kata orang bagaikan angin lalu saja dan tidak menggubrisnya, kembali ia berkata kepada Oey Yong: “Oey-pangcu, kau suruh orangmu antarkan dulu obat penawar racun jarum berbisa, kemudian kita boleh bertanding se-adil-adilnya untuk menentukan Bu-lim Beng-cu sebenarnya menjadi bagian siapa.”
Oey Yong menjengek lagi, dia tetap tidak menjawab. Dan kembali Bu Siu-bun berdiri lagi sambil berteriak-teriak:
“Kau bebaskan dulu nona Kwe dan kami lantas berikan obat, soal bertanding boleh dirundingkan nanti.”
Oey Yong coba melirik Yo Ko dan Siao-liong-li, dalam hati ia pikir: “Obat penawar ada pada kedua orang ini, tetapi dengan seenaknya saja Siu-ji menjanjikan pada lawan, siapa tahu orang mau memberi atau tidak.”
Sementara itu terdengar Kim-lun Hoat-ong berkata lagi: “Am-gi beracun di jagat ini apakah hanya kalian saja yang punya? Kalian sudah melukai muridku dengan jarum berbisa, aku pun menggunakan paku berbisa melukai puterimu. Kalian berikan obat penawarnya, kami pun obati lukanya. Tapi soal membebaskan orang, ini tak mudah.”
Melihat keadaan puterinya biasa saja, tampaknya tidak terluka, namun kasih sayang ibu, betapa pun Oey Yong bingung juga. Dan karena bingung, maka kecerdasannya menjadi hilang sama sekali tak berdaya.
Sementara itu tiada hentinya pelayan mengantarkan daharan ke meja Kim-lun Hoat-ong, mereka makan minum sepuas-puasnya sambil bicara dan bergurau dalam bahasa Tibet. Kwe Hu duduk terpaku memandang sang ibu, mana ada napsu makan barang satu sumpit saja? Hati Oey Yong terasa bagai disayat-sayat, siapa tahu nasib malang memang biasanya tak menyendiri karena tiba-tiba perutnya terasa melilit sakit.
Habis makan kemudian Kim-lun Hoat-ong bangkit, ia berkata: “Oey-pangcu, marilah ikut pergi sekalian dengan kami.”
Oey Yong terkejut, tetapi dia pun segera insaf, orang bukan saja tak mau bebaskan puterinya, bahkan dia sendiri hendak ‘dibawa’ pergi sekalian. Kini dia hanya sendirian tanpa didampingi sang suami, hanya ada Bu-si Hengte yang terang bukan tandingan orang. Terpikir akan ini, tak tertahan air mukanya berubah hebat.
“Jangan takut, Oey-pangcu,” kata lagi Kim-lun Hoat-ong, “kau adalah tokoh terkemuka Bu-lim daerah Tionggoan, sudah tentu akan kami ladeni dengan hormat. Asal kedudukan Bu-lim Beng-cu sudah selesai dirundingkan, kami antarkan kembali ke selatan dengan baik-baik.”
Kiranya begitu Kim-lun Hoat-ong melihat air muka Oey Yong, ia girang mendapat kesempatan bagus, asal bisa menawan orang, tak ada jalan lain, semua jago Tiong-goan pasti akan menyerah, hal ini terang beratus kali lebih berharga dari pada menawan Kwe Hu saja.
Di lain pihak demi melihat ibu guru mereka dihina, meski pun tahu bukan tandingan orang, akan tetapi Bu-si Hengte tak bisa diam begitu saja. Begitu pedang dilolos, segera mereka menghadang di depan ibu guru.
“Lekas loncat jendela melarikan diri, beri-tahu Suhu supaya datang menoIong,” Oey Yong membisiki kedua saudara Bu.
Tapi Bu-si Hengte pandang sekejap dulu padanya, lalu memandang ke arah Kwe Hu, barulah lari ke jendela.
“Kenapa ragu-ragu?” diam-diam Oey Yong omeli kedua anak muda itu.
Betul saja, sedikit terlambat menjadi tak keburu lagi. Kim-lun Hoat-ong mengulur tangan ke depan, kemudian satu tangan satu punggung mereka dijamberet seperti elang mencengkeram kelinci. Dalam keadaan begitu Bu-si Hengte masih putar pedang menusuk musuh, namun sama sekali Kim-lun Hoat-ong tak berkelit, ia hanya guncang sedikit tangannya hingga serangan kedua saudara Bu itu salah arah, pedang Bu Tun-si menusuk Siu-bun dan pedang Siu-bun menusuk Tun-si.
Kaget sekali kedua Bu cilik itu, lekas-lekas mereka lepaskan pedang hingga dua pedang jatuh ke lantai menerbitkan suara nyaring dan barulah selamat tak melukai mereka sendiri. Ketika Kim-lun Hoat-ong mengangkat tangannya, dua pemuda itu dilemparkannya sejauh setombak lebih.
“Hm, lebih baik ikut pergi Hud-ya (tuan Budha) saja,” kata Hoat-ong tertawa dingin, lalu ia berpaling pada Yo Ko dan Siao-liong-li, katanya pula: “Kalian berdua tidak sejalan dengan Oey-pangcu, bolehlah pergi ke arah sendiri dan selanjutnya jangan ganggu urusan Hud-ya lagi.”
Sebenarnya bukan Hoat-ong memberi ‘service istimewa’ pada mereka berdua, sebaliknya inilah kelicikannya. Ia tahu Oey Yong, Siao-liong-li dan Yo Ko sangat lihay, sungguh pun satu lawan satu tiada yang bisa menandingi dirinya, tapi kalau mereka bergotong-royong menempurnya, hal itu bisa berabe baginya, sekali pun pihaknya akhirnya menang juga, tapi belum tentu akan bisa menawan Oey Yong. Sebab itu ia sengaja memecah belah mereka dulu agar satu sama Iain tidak saling bantu.
“Ko-ji, marilah kita pergi,” kata Siao-liong-li pada Yo Ko, “Hwesio tua ini sangat lihay, tak perlu kita cari gara-gara.”
Yo Ko menyahut baik, ia pun bereskan rekening makanan lalu berdiri menuju ke tangga loteng. Dia pikir dengan kembalinya ke kuburan kuno, boleh jadi untuk selamanya dia tak akan berjumpa pula dengan Oey Yong, oleh karena itu tanpa tertahan ia menoleh memandang sekejap pada sang bibi. Tetapi karena menolehnya ini, ia lihat paras Oey Yong pucat muram, sebelah tangannya memegang perut, jelas kelihatan sedang menahan sakit.
Meski tindak-tanduk Yo Ko suka turuti wataknya yang jahil, tapi jiwanya justru dilahirkan berbudi dan setia kawan. Ia pikir Kwe-pepek dan Kwe-pekbo melarang aku bergaul dengan Kokoh, hal ini memang agak terlalu, tapi sebenarnya mereka tiada maksud jahat padaku. Hari ini Kwe-pekbo mendapat kesulitan, kenapa kutinggal pergi begini saja? Cuma musuh sungguh terlampau kuat, meski diriku dan Kokoh maju berbareng belum pasti dapat melawan paderi Tibet ini. Jika sudah terang tak bisa menolong Kwe-pekbo lagi, untuk apa jiwaku sendiri dan jiwa Kokoh turut dikorbankan percuma? Tidakkah lebih baik lekas pergi memberi tahu Kwe-pepek agar lekas datang menolong.”
Berpikir begitu Yo Ko lantas kedipi Oey Yong. Maka tahulah Oey Yong pemuda ini hendak mengirim kabar untuk minta pertolongan. Hatinya menjadi agak lega, dan perlahan sekali ia mengangguk. Lalu dengan menggandeng tangan Siao-liong-li lantas Yo Ko hendak melangkah menuruni tangga loteng, tapi mendadak dilihat seorang Busu Mongol mendekati Oey Yong dan membentaknya dengan kasar:
“Hayo jalan, tunggu apa lagi?”
Segera tangan Oey Yong hendak ditariknya. Nyata sang bibi dianggapnya seperti pesakitan saja. Sudah belasan tahun Oey Yong menjabat pangcu Kay-pang, betapa tinggi dan terhormat kedudukannya dalam Bu-lim. Meski pun kini berhalangan, tidak akan ia mau terima dihina sembarang orang. Pada saat dilihatnya tangan jago Mongol yang kasar hitam berbulu itu mengulur, lengan bajunya mengebas ke atas, dia tutupi lengannya dengan kain baju, menyusul dia tangkap tangan orang terus disengkelit ke samping. Maka terdengarlah suara gedebukan keras, tubuh jago Mongol yang gede itu ‘terbang’ keluar melalui jendela terbanting ke tengah jalan umum hingga setengah mampus.
Kiranya pembawaan Oey Yong suka kebersihan. Ia tak sudi tangannya yang putih bersih tersentuh tangan yang kasar hitam, maka dengan lengan baju ia bungkus dulu lengan sendiri baru banting orang ke bawah loteng. Para tamu restoran tadinya mendengarkan percakapan mereka yang berlangsung sopan beraturan, maka tak ada yang ambil perhatian, siapa tahu mendadak saling labrak, keruan seketika suasana kacau baIau.
“Sungguh hebat kepandaian Oey-pangcu!” jengek Kim-lun Hoat-ong.
Kemudian dia tirukan jago Mongol tadi, dengan langkah lebar dia pun maju hendak menarik tangan Oey Yong.
Oey Yong tahu orang sengaja hendak pamer kepandaian, meski pun gerakan yang sama, namun jika hendak membantingnya seperti Busu Mongol tadi tidaklah mungkin lagi, maka terpaksa ia mundur setindak.
Waktu itu Yo Ko telah melangkah turun beberapa tingkat tangga loteng. Ketika mendadak nampak kedua pihak terjadi perkelahian dan Oey Yong akan dihina, bangkitlah jiwa ksatrianva yang murni. Tanpa pikirkan mati-hidup atau selamat lagi, secepat terbang dia melompat kembali. Ia sambar pedang Bu Tun-si yang terjatuh tadi dengan tipu ‘oh-liong-jut-hiat’ atau naga hitam keluar dari gua, secepat kilat ia tusuk punggung Kim-lun Hoat-ong sambil membentak.
“Oey-pangcu sedang kurang sehat, kalian mengambil kesempatan ini untuk mendesaknya, kau kenal malu tidak?!”
Ilmu silat Kim-lun Hoat-ong memang nyata satu tingkat lebih tinggi dari pada orang lain. Ketika mendengar dari belakang menyambar angin tajam, sama sekali dia tidak menoleh, melainkan putar tangan ke belakang menyentil batang pedang. Maka terdengarlah suara “cring” yang keras, Yo Ko merasakan tangannya seakan-akan kaku dan ujung pedang lantas menusuk ke bawah. Dia kuatir musuh susulkan serangan lain, maka cepat dia melompat ke samping.
“Anak muda,” kata Kim-lun Hoat-ong. “Lekas kau pergi saja! Ilmu silatmu amat hebat, hari depanmu pasti jauh melebihi aku, tetapi kini kau masih bukan tandinganku, buat apa kau paksakan diri ikut campur dan antar nyawa percuma di bawah roda emasku?”
Dengan kata-katanya sekaligus dia telah mengumpak Yo Ko setinggi langit dan kemudian dibanting pula dengan ancaman. Padahal roda emasnya pernah dihantam jatuh oleh Yo Ko dan Siao-liong-Ii hingga jabatan Bu-lim Bengcu yang tinggal diduduki itu menjadi gagal, dengan sendirinya tiada taranya rasa gemas terhadap kedua muda-mudi ini.
Cuma kini dia harus pilih jalan paling menguntungkan. Dia ingin tawan Oey Yong sebagai tujuan pertama dan tidak ingin banyak mengikat permusuhan, dia mengharap Yo Ko dan Siao-liong-li angkat tangan dari percecokan ini dan jangan turut campur, di kemudian hari dia masih bisa bikin perhitungan dengan kedua anak muda ini.
Harus diketahui bahwa Kim-lun Hoat-ong adalah seorang pemimpin dari aliran yang agung, maka ia bisa berpikir panjang di samping ilmu silatnya yang luar biasa. Dengan umpakannya tadi, bukanlah dia merendah dan juga tidak gertak sambel belaka.
Betapa pun Yo Ko memang masih berwatak muda. Dia dengar orang bilang kelak dirinya akan melebihinya, sudah tentu hatinya sangat girang.
“Ah, Hwesio tua tak perlu merendah diri,” demikian ia kata dengan tertawa, “untuk melatih setingkat kau sesungguhnya tidak gampang. Oey-pangcu ini telah pelihara aku sejak kecil hingga besar, maka sukalah jangan kau persukar dia, Kalau bukan kesehatannya sedang terganggu, belum tentu ilmu silatmu bisa menang. Kalau kau tidak percaya, kelak bila badannya sudah sehat boleh coba kau bertanding dengan dia.”
Yo Ko sangka Kim-lun Hoat-ong sangat angkuh, keruan kata-kata pancingannya ini boleh jadi lantas lepaskan Oey Yong. Siapa tahu Kim-lun Hoat-ong justru kuatir jika Oey Yong, Siao-liong-li dan Yo Ko bertiga mengeroyok, karena itu tadi ia berlaku sungkan pada Yo Ko. Kini mendengar Oey Yong lagi sakit, dia pikir kebetulan, kalau kalian berdua muda-mudi ini, kenapa aku Kim-lun Hoat-ong harus takut? Ketika ia amat-amati Oey Yong sejenak, betul juga ia lihat wajah orang pucat Iesu, terang sakitnya tidak ringan, maka sekali tertawa dingin, segera dia mendahului berdiri ke mulut tangga loteng.
“Baiklah, kalau begitu kau pun tinggal sekalian!” katanya segera.
Waktu itu Siao-liong-Ii sedang berdiri di tengah-tengah tangga. Karena dialing-alingi Kim-lun Hoat-ong yang memisahkan dia dan Yo Ko, ia menjadi tak sabar.
“He, menyingkir kau, Hwesio, biarkan dia turun!” katanya.
Alis Kim-lun Hoat-ong menegak, dengan gerak tipu ‘tan-ciang-khay-pi’ atau sebelah tangan membelah pilar, cepat sekali ia memotong ke bawah. Memang tenaganya sangat besar, apa lagi dari atas ke bawah, tentu saja serangan ini keras luar biasa. Tak berani Siao-liong-li sambut pukulan, ia kuatirkan Yo Ko yang terpisah di atas Ioteng, maka mendadak ia tutul kedua kakinya, bukannya melompat ke bawah sebaliknya ia mencelat ke atas menyelusup lewat di samping musuh kemudian berdiri sejajar dengan Yo Ko.
Waktu orang menyelusup lewat, cepat juga Kim-lun Hoat-ong menyikut ke belakang, tapi luput, mau tak mau ia pun kagum pada kegesitan dan kecepatan Siao-Iiong-li. Sementara itu Yo Ko sudah menjemput lagi pedang Bu Siu-bun yang terjatuh tadi, lantas diberikan kepada Siao-liong-li.
“Hwesio ini kurang ajar. Mari, Kokoh, kita hajar dia,” ajaknya segera.
Sementara itu di pihak lain Kim-lun Hoat-ong sudah mengeluarkan sebuah roda yang bersuara gemerenceng, roda ini sama besarnya dengan roda emas yang dirampas Yo Ko, hanya warnanya hitam mulus seperti terbuat dari baja.
Kiranya senjata Kim-lun Hoat-ong seluruhnya ada lima roda, masing-masing terbikin dari emas, perak, perunggu, timah dan besi, Bila ketemukan musuh kuat, sekaligus lima roda bisa digunakan berbareng, tetapi selamanya ia hanya pakai Kim-lun atau roda emas dan entah sudah berapa banyak musuh kuat yang dia robohkan, sebab itulah ia memperoleh julukan ‘Kim-lun Hoat-ong’ atau Raja agama Roda emas, sedang roda perak, perunggu, timah dan besi selamanya belum pernah terpakai.
“Oey-pangcu, apakah kau juga akan maju sekalian?” demikian kata Hoat-ong kemudian sambil melirik Oey Yong.
Harus diketahui meski dilihatnya Oey Yong berwajah sakit, tetapi ia tetap gentar atas ilmu silat orang, sebutan ‘Oey-pangcu’ itu maksudnya mengingatkan Oey Yong adalah ketua suatu perkumpulan besar, kalau maju mengeroyok tentu akan merosotkan kedudukannya sebagai Pangcu.
“Oey-pangcu akan pulang saja, dia tiada waktu main-main dengan kau,” seru Yo Ko tiba-tiba. Habis ini dia pun berpaling kepada Oey Yong: “Kwe-pekbo, kau bawa Hu-moay pergi.”
Nyata pemuda ini telah memperhitungkan baik-baik. Meski pun ia sendiri dan Siao-liong-li belum pasti bisa menang mengeroyok Kim-lun Hoat-ong, tapi jika bertahan sekuat tenaga untuk kemudian berdaya melarikan diri, hal ini besar harapan bisa dilakukan. Baiknya kini bukan bertanding silat, asalkan dapat melepaskan diri, peduli apa soal kalah segala. Maka begitu pedang bergerak, segera ia menusuk lebih duIu.
Melihat Yo Ko gunakan ilmu dari Giok-li-sim-keng, segera Siao-liong-li menyusul ikut menyerang dari samping. Dalam hati gadis ini sebaliknya tiada sesuatu perhitungan. Ia melihat Yo Ko bergebrak dengan Hwesio ini, segera ia pun turun tangan membantu.
Tapi sekali ayun rodanya, dua pedang sekaligus sudah ditangkis Kim-lun Hoat-ong. Meja kursi di atas loteng restoran terlalu banyak sehingga merintangi kebebasannya, maka sambil putar rodanya Kim-lun Hoat-ong tendang meja kursi yang menghalang-halanginya.
“Kalau tenaga lawan tenaga, pasti kami kalah, tetapi bila gunakan akal, untuk sementara masih bisa bertahan,” demikian pikir Yo Ko.
Maka waktu nampak meja kursi ditendang orang, sengaja ia tendang kembali alat perabot itu ke tengah untuk merintangi musuh. Dasar Ginkang Yo Ko dan Siao-liong-li sudah tinggi sekali, mereka menyelusup ke sana ke mari dan tidak mau memapak musuh dari depan, kadang-kadang mereka timpuk orang dengan poci arak dan kadang-kadang sampar mangkok piring ke muka orang.
Keruan seluruh loteng restoran menjadi kacau balau dan hancur berantakan. Dan karena ribut-ribut itu, kesempatan digunakan Oey Yong untuk menarik Kwe Hu ke sebelahnya. Darba yang terkena ‘lh-hun-tay-hoat’ Yo Ko ketika itu masih setengah sadar, pangeran Hotu terluka parah oleh racun jarum tawon putih, sedang ilmu silat jago-jago Busu Mongol terlalu rendah, mana mereka bisa menahan Oey Yong.
“Kwe-pekbo, lekas kalian pergi!” teriak Yo Ko.
Akan tetapi Oey Yong saksikan daya serangan Kim-lun Hoat-ong lihay tiada taranya dan tampaknya Yo Ko dan Siao-Iiong-li sukar bertahan meski sudah keluarkan tenaga penuh, bila sedikit lengah hingga musuh turun tangan keji, pasti jiwa kedua muda-mudi ini tak terjamin lagi. Oey Yong tak tega tinggal pergi. Ia pikir orang mati-matian berusaha menolong dirinya, sebaliknya dirinya sendiri malah tinggal pergi, ini sesungguhnya tak patut, Maka ia tetap berdiri di tempatnya menyaksikan pertarungan itu, hanya Bu-si Hengte berulang kali mendesak sang ibu guru.
“Marilah, Sunio (ibu guru), kita berangkat dulu, badanmu kurang sehat, harus jaga diri baik-baik,” demikian kata kedua saudara Bu.
Pada mulanya Oey Yong tak gubris desakan mereka, tapi ketika didesak lagi, akhirnya ia menjadi marah,
“Hm, jadi manusia tidak kenal budi, apa gunanya berlatih silat?” demikian ia mendamperat, “Apa pula manfaatnya kau hidup di dunia ini? Orang she Yo ini beratus kali lebih hebat dari pada kalian. Hm, sebaiknya kalian berdua menggunakan pikiran lebih banyak.”
Maksud baik kedua saudara Bu itu ternyata disambut dengan damperatan oleh sang ibu guru, keruan mereka menjadi kikuk dan malu.
“Bu-keh-koko, hayolah kita maju bertiga!” seru Kwe Hu sambil menyambar sepotong kaki meja patah.
Tetapi cepat sekali Oey Yong menarik sang puteri. “Hm, dengan sedikit kepandaianmu ini apa kau hendak mengantar kematian?” katanya.
Kwe Hu tak yakin atas omelan ibunya, mulutnya menjengkit kurang percaya. Ia lihat ilmu silat Yo Ko dan Siao-liong-li biasa saja tiada sesuatu yang hebat, meski gayanya bagus, tapi gerak senjatanya lambat. Nyata ia tak tahu bahwa ilmu silat kedua orang itu memang jauh di atasnya dan saat itu lagi gunakan Giok-li-kiam-hoat dari Ko-bong-pay yang hebat untuk menempur musuh.
DUA ILMU BERSATU PADU
Beberapa kali Kim-lun Hoat-ong merangsek maju, namun setiap kali pula kena dirintangi meja kursi yang jungkir balik di lantai, sedang Yo Ko dan Siao-iiong-li bisa bergerak cepat dan enteng ke sana kemari main kucing-kucingan.
Tiba-tiba hatinya tergerak. Dia gunakan tenaga kakinya, terdengarlah suara “kraak, peletak” berulang-ulang, perabot apa saja yang merintangi diinjaknya remuk. Roda besi itu diputar cepat menghantam terus-menerus, sambil kaki mengeluarkan tenaga raksasa, ke mana saja menginjak, di sana juga meja kursi hancur ber-keping. Hanya sekejap saja di atas loteng penuh tertimbun kayu hancur, akhirnya ketiga orang saling labrak di atas tumpukan kayu tanpa ada meja kursi yang merintangi lagi.
Kini Kim-Iun Hoat-ong dapat melangkah lebar sesukanya dan rodanya berputar kencang menerbitkan suara gemerantang riuh, dia lakukan serangan cepat terhadap kedua lawannya. Sebaliknya karena sudah kehilangan tameng meja kursi, maka terpaksa Yo Ko dan Siao-liong-Ii harus melawan orang dengan ilmu kepandaian sejati.
Tiga kali Kim-lun Hoat-ong menghantam tangan Yo Ko sampai sakit tergetar, sementara itu serangan ke empat Kim-lun Hoat-ong sudah menghantam lagi dari atas, belum tiba rodanya angin tajam sudah menyambar duluan, betapa lihaynya sungguh sangat mengejutkan.
Lekas-lekas Yo Ko dan Siao-liong-li menangkis berbareng dengan ujung pedang menahan roda, gabungan tenaga dua orang barulah mampu menangkis serangan Hoat-ong, namun senjata mereka pun tertindih hampir-hampir bengkok. Ketika tangan mereka menyendal, roda besi digentak pergi, menyusul cepat Yo Ko menusuk bagian atas orang dan Siao-liong-li membabat kaki kiri lawan.
Mendadak Kim-lun Hoat-ong malah angkat kaki terus menutul pergelangan tangan Siao-liong-li, sedang rodanya menghantam ke samping mengarah tengkuk Yo Ko. Tadinya Yo Ko menyangka lawan pasti akan menghindarkan serangan terlebih dahulu baru kemudian balas menyerang, siapa tahu orang anggap tusukannya bagai tiada terjadi sesuatu, dia menjadi heran apakah orang melatih ilmu sebangsa Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-san yang lihay dan kebal?
Namun dalam saat berbahaya, tak sempat lagi buat selidiki kekebalan lawan itu sungguh-sungguh atau palsu, terpaksa ia harus tolong diri sendiri duIu, maka ia pun menunduk dan berjongkok menghindarkan ketokan roda besi lawan. Tak terduga perubahan aneh terjadi. Mendadak Kim-lun Hoat-ong timpukkan roda besinya ke kepala Yo Ko, sedang kedua tangan kosong lantas menjambret Siao-liong-li. Serangan yang aneh dan cepat, ternyata sekaligus Kim-lun Hoat-ong telah serang kedua musuhnya dari arah yang sukar diduga.
Pada detik luar biasa itulah Oey Yong berteriak kaget dan segera bermaksud menyerobot maju menolong, namun tiba-tiba dilihatnya Yo Ko mencelat ke samping dan belum tancap kaki ke bawah, tahu-tahu pedangnya menusuk punggung Kim-lun Hoat-ong dengan cepat. Tipu serangan Yo Ko ini pun sekaligus ‘dwi-guna’, pertama hindarkan bahaya diri sendiri, berbareng memaksa Kim-lun Hoat-ong menarik kembali serangannya pada Siao-liong-li. Tipu serangan ini disebut ‘gan-hing-sip-kik’ atau burung belibis terbang menggempur dari samping, inilah Kiam-hoat dari Coan-cin-pay.
Kim-lun Hoat-ong bersuara heran oleh serangan balasan Yo Ko yang dahsyat ini, lekas-lekas ia angkat kakinya memotong ke pinggiran roda besinya yang waktu itu masih belum jatuh ke tanah hingga roda itu kena dibikin mencelat menyambar kepala Yo Ko lagi sambil bersuara nyaring.
Pada saat berbahaya tadi Yo Ko berhasil keluarkan tipu Kiam-hoat Coan-cin-pay, lekas ia keluarkan pula tipu gerakan Coan-cin yang dinamakan ‘pek-hong-keng-thian’ atau pelangi putih menghiasi langit, dengan batang pedang ia sampuk roda orang. Sebetulnya sampukan ini percuma saja karena pedang enteng dan roda berat. Siapa tahu karena roda itu sedikit tersenggoI, mendadak membawa efek arah roda terus menyambar ke arah Kim-lun Hoat-ong sendiri. Roda besi itu adalah benda mati, tentu saja ia tak kenal siapa majikan dan siapa musuh, terus nyelonong cepat luar biasa. Saking bagusnya kejadian Kwe Hu bertepuk tangan bersorak.
Kim-lun Hoat-ong berani lepaskan senjata untuk menimpuk orang, ia menduga tak akan musuh sanggup merampas rodanya, bila mana senjata lawan kebentur, betapa pun berat senjata itu pasti akan terpental dari cekalan. Siapa duga Yo Ko ternyata punya kepandaian menyampuk roda yang hebat hingga senjatanya menyambar ke arah dirinya sendiri. Dalam marahnya roda yang membalik itu terus ditangkapnya, diam-diam ia gunakan gaya memutar, kembali ia timpukkan lagi, kini ia tambahi tenaga hingga putaran roda makin cepat hingga gotri dalam roda tidak menerbitkan suara.
Padahal Yo Ko berhasil sengkelit balik roda orang tadi sebenarnya secara tidak sengaja sudah keluarkan ilmu Kiu-im-cin-keng. Kini dia coba mengulangi lagi, maka terdengarlah suara “trang” yang keras, pedang tergetar jatuh, berbareng dengan tenaga raksasa Kim-lun Hoat-ong telah memukul ke arah Yo Ko. Sayangnya Kiu-im-cin-keng yang Yo Ko latih masih belum sempurna, maka tenaga yang dipergunakan sekali ini tidak tepat.
Melihat Yo-Ko menghadapi bahaya, sedikit mengegos pinggang cepat sekali pedang Siao-Iiong-li menusuk, tipu serangan ini bukan saja sangat lihay, bahkan gayanya manis menarik, ia telah gunakan kepandaian Giok-li-sim-keng ajaran bab terakhir. Saking bagus dan tepat serangan itu hingga Oey Yong dan Kwe Hu berseru memuji.
Lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong melompat untuk tangkap kembali rodanya buat menangkis pedang orang. Kesempatan ini pun dipergunakan Yo Ko menyambar kembali senjatanya yang terpental ke udara tadi. Sungguh gebrakan barusan ini hebat dan berbahaya sekali.
Setiap orang apa bila kepepet timbulnya akal juga lebih tajam, mendadak Yo Ko berpikir: “Kalau aku dan Kokoh gunakan Giok-li-kiam-hoat, saat berbahaya lantas berubah menjadi selamat. Apakah bab terakhir dari Giok-li-sim-keng itu memang mengajarkan cara bersilat kombinasi demikian?”
Karena pikiran itu, segera ia berteriak: “Kokoh, berulangkali kita tak berhasil melatihnya, tapi kini sudah betul. Lihat ini tipu ‘Iong-jik-thian-khe’ (jejak meratai jagat)!” Sambil berkata pedangnya menusuk dari samping.
Tidak sempat Siao-liong-li berpikr, maka dia pun menurut dan gunakan tipu ‘long-jik-thian-khe’ menurut apa yang tercatat dalam Sim-keng, ia memotong dari depan. Tipu serangan Yo Ko adalah Coan-cin-kiam-hoat yang lihay dan Siao-liong-li gunakan Giok-Ii-kiam-hoat yang tidak kenal ampun, paduan serangan pedang ini ternyata luar biasa daya tekanannya.
Karena belum sempat berjaga-jaga, lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong melompat mundur, tapi terdengar juga suara “bret-bret” dua kali, kedua pedang mengenai tubuhnya, baju bawah bahu Hoat-ong tertusuk tembus. Sungguh pun ilmu kepandaian Kim-lun Hoat-ong sudah mencapai luar dalam yang hebat, kalau senjata guru silat biasa saja tak akan bisa melukainya, namun Iwekang Yo Ko dan Siao-liong-li sudah terlatih tinggi, bila sampai kena ditusuk, sukar dibayangkan bagaimana jadinya. Maka bajunya terlubang sudah, cukup membikin dia berkeringat dingin.
“Hoa-cian-gwat-he (bunga mekar di bawah sinar bulan)!” terdengar Yo Ko berteriak lagi. Berbareng itu ia membacok cepat ke bawah, sedangkan Siao-liong-li lantas membabat ke kanan dan ke kiri.
Mau tak mau Kim-lun Hoat-ong dibikin kacau oleh serangan dua orang yang bersimpang siur itu. Ia tidak tahu pasti dari arah mana sebenarnya serangan orang, maka terpaksa ia melompat mundur lagi buat menghindar. “Jing-im-siao-yok (minum sekedar dan jamuan sederhana)!” lagi-Iagi Yo Ko berseru.
Berbareng ujung pedangnya mendoyong ke bawah seperti orang mengangkat poci sedang menuang arak, ada pun Siao-liong-li mengangkat ujung pedang ke atas menuding mulut sendiri seperti mengangkat cawan sedang minum. Nampak serangan kedua orang makin lama makin aneh dan bisa kerja sama dan bantu-membantu dengan amat bagus, di mana ada kelemahan segera dibantu yang lain, setiap kelemahan lantas berubah menjadi tipu serangan yang lihay.
Makin dipikir Kim-lun Hoat-ong makin terkejut,: “Betapa besarnya jagat ini ternyata tidak sedikit orang-orang kosen. Kiam-hoat hebat seperti ini tidak pernah kubayangkan di Tibet. Aih, aku benar-benar seperti katak dalam tempurung dan berani pandang rendah Enghiong seluruh jagat.”
Karena pikiran yang mengkeret ini, dia semakin terdesak. Padahal dengan ilmu kepandaian Kim-lun Hoat-ong yang hebat sesungguhnya sudah jarang ada tandingannya bagi ksatria di daerah Tionggoan.
Meski secara mujur Yo Ko dan Siao-liong-li berhasil mempelajari berbagai ilmu silat yang bagus, tapi keuIetannya kalau dibanding Kim-lun Hoat-ong masih selisih sangat jauh, tapi mereka justru telah pecahkan Kiam-hoat ciptaan Lim Tiao-eng yang luar biasa dan ketika mendadak dikeluarkan, seketika Hoat-ong jadi kelabakan dan terdesak.
Setiap tipu gerakan dari Kiam-hoat baru ini harus dimainkan bersama laki perempuan, tiap gerak serangan mengandung maksud cerita romantis, seperti ‘Kim-pit-siang-ho’ (dua sejoli hidup rukun), ‘siong-he-tui-ek’ (main catur di bawah pohon siong), ‘ti-pian-tiau ho’ (memainkan burung Ho di pinggir kolam), ‘so-swan-heng-the’ (menyapu salju menyeduh teh) dan semuanya itu adalah hidup yang romantis. Kiranya Lim Tiao-eng patah hati dalam soal cinta hingga melewatkan hari tuanya dalam kuburan kuno, dengan bakatnya yang tinggi mempelajari bermacam-macam kepandaian, akhirnya ia salurkan semuanya dalam ilmu silat ciptaannya ini.
Siapa duga beberapa puluh tahun kemudian ada sepasang muda-mudi yang bisa menggunakan ilmu pedangnya yang hebat ini untuk menempur musuh tangguh.
Kalau mula-mula Yo Ko dan Siao-Iiong-li memainkan ilmu pedang itu dengan rada kaku, akan tetapi makin lama semakin lancar dan biasa, semangat mereka pun bertambah kuat. Semakin mereka bersatu padu, semakin Kim-lun Hoat-ong susah menahannya sehingga ia menyesal tadi telah injak hancur semua perabot meja kursi. Kalau masih ada rintangan perabot itu, tentunya daya serangan kedua lawan ini tidak akan begini gencar dan Iihay. Selanjutnya besar kemungkinan ia tak sanggup melawan lagi, terpaksa Hoat-ong mundur selangkah ke tangga loteng, kemudian turun setingkat demi setingkat.
Tentu saja tekanan Yo Ko dan Siao-Jiong-li semakin kuat dari atas ke bawah, tampaknya segera saja Kim-Iun Hoat-ong akan bisa diusir pergi. Tiba-tiba terdengar Oey Yong berseru:
“Membasmi penjahat harus sampai akarnya. Ko-ji, jangan lepaskan dia!”
Kiranya Oey Yong dapat melihat sebabnya Yo Ko dan Siao-liong-li bisa menangkan Kim-lun Hoat-ong adalah karena mengandalkan jurus Kiam-hoat yang bagus. Apa bila hari ini musuh dilepaskan, karena kebetulan ilmu silat paderi asing ini amat tinggi, boleh dikatakan bila ia pulang lalu mempelajari lebih mendalam hingga mendapatkan cara mematahkan Kiam-hoat baru ini, hal ini berarti bibit penyakit, kelak hendak membasminya tentu beribu kali lebih sulit. Maka Oey Yong berteriak agar kedua muda-mudi itu gunakan kesempatan sekarang buat membasminya.
Yo Ko menyahut sekali, segera ia lontarkan tipu-tipu berbahaya seperti ‘siau-wan-ge-kiok’ (pesiar taman menikmati bunga kiok), ‘se-jong-lian-ki’ (main pantun di tepi jendela), ‘cian-ciok-ya-wa’ (menyanding lilin bercakap sepanjang malam), ‘tiok-liam-lim-ti’ (kerai bambu di tepi kolam) dan lain-lain serangan mematikan hingga hampir-hampir Kim-Iun Hoat-ong tak mampu menangkis apa lagi hendak balas menyerang.
Begitulah sebenarnya Yo Ko hendak menuruti pesan Oey Yong membunuh musuh tangguh ini, tapi siapa tahu dahulu waktu Lim Tiao-eng ciptakan ‘Giok-li-kiam-hoat’, dalam hatinya penuh rasa kasih mesra, meski lihay setiap tipu serangannya, tapi tiada satu pun merupakan tipu mengarah jiwa musuh. Karena itu meski Yo Ko berdua mendesak Kim-lun Hoat-ong hingga paderi ini kelabakan dan serba susah, namun untuk mencabut nyawanya juga tidak gampang.
Tentu saja yang paling cemas rasanya ialah Oey Yong yang menonton di samping. Kim-lun Hoat-ong tidak mengerti dari mana asal-usuI Kiam-hoat orang. Dia sangka masih ada tipu-tipu serangan lihay yang belum dilontarkan Yo Ko berdua, asal tipu-tipu lihay itu keluar, boleh jadi jiwanya akan melayang. Dalam keadaan kepepet tiba-tiba dia mendapat akal, ia melangkah mundur dan gunakan tenaga berat pada kakinya hingga tiap-tiap kali ia melangkah mundur, setiap papan undakan tangga patah diinjaknya.
Karena perawakan Kim-lun Hoat-ong tinggi besar, Yo Ko berdua tidak berdaya mencegat ke belakangnya. Pada saat undak-undakan tangga ketiga patah, senjata Yo Ko dan Siao-liong-li sudah tak dapat mencapai lagi.
“Nah, hari ini barulah aku kenal ilmu silat Tionggoan dan amat kagum,” kata Kim-lun Hoat-ong sambil mengangkat rodanya: “Apa namanya ilmu pedangmu ini?”
“Masakah kau tak tahu?” sahut Yo Ko tertawa, “llmu silat Tionggoan yang terkemuka ialah Pak-kau-pang-hoat dan Ji-lo-kiam-sut. Kiam-hoat kami tadi adalah Ji-lo-kiam-sut itu.”
“Ji-lo-kiam-sut?” Kim-lun Hoat-ong tercengang ia mengulangi nama itu.
“Ya,” kata Yo Ko tertawa, “Ji-lo-kiam-sut, ilmu pedang penusuk keledai.”
Karena penegasan ini barulah Kim-lun Hoat-ong sadar bahwa orang sengaja putar kayun untuk memaki (biasanya kaum Hwesio dimaki sebagai keledai gunduI), keruan saja ia marah.
“Bocah kurang ajar, pada suatu hari pasti kau akan kenal lihaynya Hoat-ong,” bentaknya sengit, Kemudian diiringi suara gemerenceng rodanya, dengan langkah lebar ia pun tinggal pergi. Begitu cepat perginya, hanya sekejap saja orangnya sudah menghilang di ujung jalan sana. Yo Ko menaksir tak bisa menyandak orang, ia berpaling dan nampak Darba memayang Pengeran Hotu yang mukanya pucat lesi lagi berdiri di belakangnya.
“Toa-suheng, kau bunuh aku tidak?” demikian kata si Darba yang masih menyangka Yo Ko adalah jelmaan Suheng-nya.
Sungguh pun Yo Ko orangnya nakal dan jahil, tapi wataknya tidak kejam. Ia lihat keadaan dua orang itu cukup ngenas, ia pandang Oey Yong dan menanya:
“Kwe-pekbo, bolehkah kita lepaskan mereka pergi?”
Oey Yong mengangguk tanda setuju. Yo Ko lihat semangat Hotu lesu lemas, dia keluarkan sebotol kecil madu tawon putih, dia tuding Hotu dan unjuk lagak orang minum obat, lalu madu tawon itu diberikannya kepada Darba.
Tentu saja Darba girang bukan main. Dia bicara dengan Hotu dan Hotu lantas keluarkan sebungkus obat bubuk untuk Yo Ko.
“Cianpwe yang bersenjata pit terkena racun pakuku, inilah obat penawarnya,” katanya.
Habis itu Darba memberi hormat sekali pada Yo Ko, lalu Hotu diangkatnya. Memang dia bertenaga raksasa, bobot seorang dianggapnya sepele saja, dia melayang turun perlahan ke bawah loteng, bersama para jago Mongol mereka pun pergi semua.
“Kwe-pekbo,” kata Yo Ko sambil memberi hormat dan serahkan obat penawar pada Oey Yong, “biarlah Siautit mohon diri juga, harap Pekbo dan Pepek jaga diri baik-baik.”
Dasar Yo Ko berperasaan halus dan gampang tergoncang, ketika terpikir olehnya kelak tak bakal bertemu lagi, hatinya menjadi berduka.
“Kau hendak kemanakah?” tanya Oey Yong.
“Aku bersama Kokoh akan mengasingkan diri ke tempat terpencil dan tidak ingin bertemu dengan khalayak ramai lagi, supaya tidak mencemarkan nama baik Kwe-pepek,” sahut Yo Ko.
Hati Oey Yong tergerak, pikirnya: “Hari ini ia menolong aku dan Hu-ji mati-matian, kini ia tersesat dan berdurhaka, mana boleh aku peluk tangan tak menolongnya?”
Karena itu segera ia bilang: “Hendak pergi juga tak perlu terburu dalam sehari dua hari ini. Semuanya tentu sudah letih, marilah kita mencari penginapan untuk mengaso satu malam duIu, besok barulah kita berpisah.”
Nampak orang begitu manis budi, tak enak Yo Ko hendak menoIak, dia terima baik permintaan itu. Oey Yong bereskan semua rekening berikut ganti rugi semua kerusakan pemilik restoran, lalu mereka mencari hotel untuk menginap. Malamnya sesudah makan, Oey Yong menyuruh Kwe Hu pergi mengobrol dengan Bu-si Hengte, sebaliknya ia panggil Siao-liong-li ke kamarnya.
“Moaycu (adik), ada suatu barang ingin kuberikan padamu,” katanya.
“Beri apa?” tanya Siao-liong-li.
Oey Yong tak lantas menjawab, ia tarik si nona agar lebih dekat, ia keluarkan sisir dan menyisir rambut orang per-lahan. Ia lihat rambut Siao-liong-li hitam gombyok mengkilap amat menarik, dengan hati-hati ia gulung rambut Siao-liong-li, kemudian tanggalkan sebuah gelang emas penjepit rambut dari sanggulnya sendiri.
“Moaymoay, aku berikan gelang ini,” demikian katanya kemudian.
Gelang jepit rambut emas itu adalah pilihan dari benda mestika yang banyak dikumpulkan ayahnya, Oey Yok-su, di Tho-hoa-to, maka dapatlah dibayangkan betapa indah dan tinggi nilainya barang itu. Tapi selamanya Siao-liong-li tak pakai perhiasan, sebagai pengikat rambut hanya sebuah tusuk kondai biasa saja, maka ia tidak menjadi senang oleh hadiah Oey Yong, namun ia ucapkan terima kasih juga.
Begitulah Oey Yong mengenakan gelang di atas rambut orang sembari mengajak ngobrol. Sesudah berlangsung percakapan, Oey Yong merasa Siao-liong-li terlalu polos bersih, urusan keduniawian sedikit pun tidak paham. Ia lihat wajahnya cantik molek, ayu tapi sederhana, jika bukannya ada hubungan guru dan murid antara Yo Ko dengan Siao-liong-li, sesungguhnya mereka memang satu pasangan yang amat setimpal. Karena itu ia menanya lagi:
“Moaycu, hatimu sangat menyukai Ko-ji, bukan?”
Siao-liong-li tersenyum manis, “Ya, memang. Tapi kenapa kalian melarang dia membaiki aku?” sahutnya.
Oey Yong tercengang oleh jawaban itu, teringat olehnya masa remaja, pernah juga ayah tak boleh dirinya mendapatkan jodoh Kwe Ceng, bahkan guru Kwe Ceng juga mencela dirinya, tapi sesudah mengalami berbagai macam aral melintang, akhirnya dapat juga mengikat sehidup semati dengan Kwe Ceng. Dan kini Yo Ko dan Siao-liong-li saling cinta mencintai dengan hati murni, kenapa ia sendiri justru hendak merintanginya?
Tetapi mereka sudah dibatasi kedudukan sebagai guru dan murid, kalau terjadi hubungan laki-perempuan di luar garis, cara bagaimana mereka harus menghadapi ksatria-ksatria di seluruh jagat? Karena pikiran itu dia menghela napas dan berkata lagi:
“Moaycu, di dunia ini ada banyak urusan-urusan yang kau tak paham, jika kau dan Ko-ji menjadi suami-isteri maka selama hidupmu akan dipandang hina oleh orang lain.”
“Orang pandang hina padaku, peduli apa?” sahut Siao-liong-li tersenyum.
Kembali Oey Yong tercengang, sungguh jawaban ini rada-rada mendekati watak ayahnya, yaitu Oey Yok-su yang paling benci pada segala ikatan adat.
“Tapi Ko-ji bagaimana, ia pun akan dipandang hina orang selamanya,” katanya kemudian bila ingat betapa kasih sayang sang suami pada Yo Ko.
“Selama hidup dia akan tinggal di kuburan kuno bersama aku, kami hidup senang bahagia, peduli apa orang lain?” sahut Siao-liong-li lagi.
Oey Yong tertegun sejurus, lalu ia bertanya lagi: “Kalian berdua tinggal di kuburan kuno selama hidup? Selamanya tak akan keluar lagi?”
Siao-liong-li tampaknya sangat gembira. “Ya, untuk apa keluar?” katanya sambil berjalan mondar-mandir dalam kamar. “Orang di luar semuanya jahat.”
“Tapi semenjak kecil Ko-ji ter-lunta-lunta ke sana ke mari. Jika selama hidup terkurung dalam kuburan kuno, apakah ia tidak kesal?” kata Oey Yong lagi.
“Bukankah ada aku menemani dia, kenapa kesal?” jawab Siao-liong-li tertawa.
“Setahun dua tahun mungkin tidak kesal,” demikian kata Oey Yong pula sambil menghela napas. “Tetapi lewat beberapa tahun, dia lantas pikirkan dunia fana di luar, kalau dia tidak bisa keluar, itu akan lebih kesal rasanya.”
Sebenarnya hati Siao-liong-li sangat gembira. Mendengar kata-kata Oey Yong ini seketika hatinya menjadi tertekan.
“Coba akan kutanyai Ko-ji, aku tak mau bicara lagi dengan kau,” demikian katanya terus keluar kamar.
Melihat wajah orang yang cantik tiba-tiba seperti berubah muram, Oey Yong rada menyesal terhadap apa yang dikatakannya tadi, tetapi bila terpikir lagi apa yang dikatakannya meski tak enak didengar, namun sesungguhnya demi kebaikan mereka. Ia pikir, biarlah aku intip apa yang dikatakan pada Ko-ji. Dia lantas mendekati jendela kamarnya Yo Ko kemudian mendengarkan percakapan kedua muda-mudi itu.
“Ko-ji,” terdengar Siao-liong-li berkata, “kalau selama hidupmu berada bersamaku, kau akan kesal tidak? Dan akan bosan atau tidak?”
“Mengapa kau bertanya begitu, Kokoh?” sahut Yo Ko. “Bukankah kau sudah tahu betapa girangku tiada tara. Kita berdua akan hidup bersama sampai tua, sampai rambut ubanan, gigi ompong semua, tapi masih terus senang dan bahagia, tidak akan berpisah.”
Kata-kata Yo Ko itu diucapkan dengan rasa sungguh-sungguh dan timbul dari lubuk hatinya yang murni, Siao-liong-li terharu sekali hingga seketika ia termangu-mangu.
“Ya, aku pun begitu,” katanya kemudian lewat sejenak. Dia pun keluarkan seutas tali lalu digantung di tengah ruangan kamar dan berkata lagi: “Sudahlah, kita tidur saja!”
“Tapi kata Kwe-pekbo malam ini kau tidur bersama dia dan puterinya, aku tidur sekamar dengan Bu-si Hengte,” kata Yo Ko tiba-tiba.
“Tidak.” sahut Siao-liong-li, “kenapa harus kedua lelaki itu yang menemani kau? Aku ingin tidur bersama dengan kau.” Sembari bicara, ketika tangannya mengebas, pelita minyak disirapkan.
Luar biasa terperanjatnya Oey Yong mendengar percakapan terakhir itu. “Ternyata mereka guru dan murid berdua sudah melakukan perbuatan yang melanggar tata susila, apa yang dikatakan imam tua Thio Ci-keng itu nyata bukanlah dusta belaka, lantas bagaimana baiknya ini?” demikian pikirnya bingung.
Ia pikir tidak enak mengintip kedua muda-mudi yang tidur seranjang dan tentu ada ‘main’ itu, maka niatnya hendak pergi kalau saja tidak mendadak dilihatnya seberkas sinar putih berkelebat di dalam kamar, tahu-tahu seorang merebah melintang terapung di udara ruangan kamar, tubuh orang itu hanya bergoncang beberapa kali, lalu tak bergerak lagi.
Heran luar biasa Oey Yong oleh kejadian itu, waktu ia mengamati melalui sinar bulan yang menyorot masuk, kiranya yang tidur terapung itu ialah Siao-Iiong-Ii dengan menggunakan seutas tali, sebaliknya Yo Ko malah tidur dipembaringan sendirian, meski pun dua orang bersatu kamar, tapi mereka berlaku sopan menurut batas-batas susila. Oey Yong tertegun di luar, dia merasa kedua orang ini sungguh luar biasa, benar atau salah sungguh sukar dikatakan. Selagi ia hendak kembali ke kamarnya sendiri, tiba-tiba didengar suara tindakan orang yang ramai, Kwe Hu dan Bu-si Hengte sudah kembali.
“Tun-ji, Siu-ji, kalian berdua pergi tidur satu kamar dan tak perlu sekamar lagi dengan Yo-keh Koko,” kata Oey Yong.
Bu-si Hengte mengiakan, sebaliknya Kwe Hu lantas tanya: “Sebab apa, ibu?”
“Jangan urus,” sahut Oey Yong singkat.
“Aku justru tahu sebabnya,” kata Siu-Bun tertawa tiba-tiba. “Mereka berdua itu guru bukan guru, murid tidak murid, seperti binatang saja tidur sekamar.”
“Siu-ji, kau bilang apa?!” bentak Oey Yong sambil menarik muka.
“Kau juga terlampau lemah, Sunio, manusia rendah macam itu buat apa mengurusnya?” sela Tun-si. “Aku sudah pasti tidak akan bicara dengan dia.”
“Tapi hari ini mereka telah menolong kita, budi yang harus diingat,” kata Kwe Hu.
“Hm, aku lebih suka dibunuh Kim-lun Hoat-ong dari pada menerima budi binatang macam dia,” kata Siau-Bu pula.
Oey Yong kurang senang oleh kata-kata kedua saudara Bu itu. “Sudahlah, jangan banyak omong lagi, pergi tidur saja,” katanya.
Percakapan itu sudah tentu didengar semua oleh Yo Ko dan Siao-liong-li. Sejak kecil Yo Ko memang tidak akur dengan Bu-si Hengte, maka kata-kata orang diganda tertawa saja tanpa pusing, sebaliknya Siao-liong-li yang me-mikir sendiri: “Aneh, kenapa karena Ko-ji membaiki aku, lantas dia dikatakan binatang, manusia rendah segala?”
Ia pikir bolak balik tetap tidak mengerti. Tengah malam tiba-tiba ia bangunkan Yo Ko dan bertanya:
“Ko-ji, ada suatu soal yang harus kau jawab sungguh-sungguh. Bila kau tinggal di kuburan kuno bersama aku sampai beberapa tahun lamanya, apakah kau takkan rindu pada dunia ramai di luar?”
Yo Ko tercengang hingga tak bisa menjawab.
“Dan bila kau tidak keluar, apa kau takkan kesal?” tanya Siao-liong-li pula. “Meski cintamu padaku tak akan berubah selamanya, tapi sesudah lama tinggal dalam kuburan, apa kau takkan masgul?”
Pertanyaan ini membikin Yo Ko sulit juga menjawabnya. Saat ini sudah tentu dia merasa senang dan bahagia bisa hidup berdampingan dengan Siao-liong-Ii, tapi tinggal di kuburan kuno yang sunyi dan gelap itu sekali pun tak terasa bosan selama sepuluh tahun atau dua puluh tahun umpamanya, tapi bagaimana kalau sampai 30 tahun? Apa lagi 40 tahun?
Sebenarnya untuk menjawab asal menjawab saja tidak sukar bagi Yo Ko, tapi begitu suci bersih cintanya terhadap Siao-liong-li, maka dengan sendirinya ia tidak mau sembarangan menjawab.
“Kokoh,” katanya setelah berpikir, “jika kita sampai masgul dan bosan, tidakkah kita bisa keluar bersama saja?”
Siao-liong-li menyahut perlahan sekali, lalu tak bicara lagi, hanya dalam hati dia berpikir: “Apa yang dikatakan Kwe-hujin (nyonya Kwe) ternyata tidak dusta. Kelak kalau dia sudah bosan dan kesal sehingga keluar dari kuburan, ia akan dipandang hina oleh setiap orang, lalu apa senangnya orang hidup begitu? Ia baik padaku, entah mengapa orang lain lantas pandang rendah dan hina padanya, apakah aku sendiri orang yang membawa alamat tak baik? Aku suka dia dan mencintai dia, jiwaku boleh melayang, tapi kalau menjadikan dia tidak bahagia, lebih baik dia tidak menikahi aku saja. Kalau begitu, malam itu di Cong-lam-san dia tak mau berjanji akan peristerikan diriku, agaknya disebabkan inilah.”
Sementara didengarnya Yo Ko menggeros nyenyak, maka perlahan ia melompat turun. Ia dekati pembaringan dan pandang wajah orang yang cakap, hatinya cemas dan pedih, tak tertahan air matanya berlinang-linang.
Besok paginya ketika Yo Ko bangun, terasa pundaknya rada basah, ia merasa aneh sekali. Ia melihat Siao-liong-li sudah tiada di kamar, ia duduk, lantas tampak di atas meja terukir delapan huruf yang halus dengan jarum yang bunyinya:
‘Selamat tinggal, janganlah pikirkan diriku.’
Kaget luar biasa Yo Ko, ia termangu-mangu bingung. Ia lihat di atas meja masih kelihatan ada bekas air mata yang belum kering, dapat diduga rasa basah di pundaknya tentu juga karena air mata Siao-liong-li, maka dapatlah dibayangkan betapa remuk redam perasaannya tatkala ia menulis kedelapan huruf ini. Dalam keadaan cemas Yo Ko merasa seakan disambar petir. Mendadak dia dorong daun jendela terus meloncat keluar sambil berteriak-teriak:
“Kokoh, Kokoh!”
Yo Ko insaf satu detik saja tidak boleh disia-siakan. Apa bila hari ini Siao-liong-Ii tak bisa diketemukan, kelak mungkin sukar bersua lagi, maka cepat ia lari ke kandang kuda, ia keluarkan kudanya yang kurus terus dicemplaknya pergi. Kebetulan waktu itu Kwe Hu lagi keluar dari kamarnya. Ia menjadi heran melihat kelakuan pemuda ini, ia berteriak-teriak memanggil:
“Yo-koko, hendak ke mana kau?”
Tetapi Yo Ko membudek, ia larikan kudanya cepat ke utara, sekejap saja belasan li sudah dilaluinya, sepanjang jalan ia terus berteriak-teriak.
“Kokoh, Kokoh!”
Tapi mana ada bayangan Siao-liong-li.
LOAN-GIOK-TIN ( Barisan Gundukan Batu )
Sesudah tak lama berjalan, dilihatnya rombongan Kim-lun Hoat-ong sedang menuju ke barat. Mereka pun terheran-heran ketika mendadak melihat Yo Ko seorang diri dan satu tunggangan. Segera Kim-lun Hoat-ong belokkan kudanya memapak datangnya Yo Ko.
Sama sekali Yo Ko tak bersenjata, tiba-tiba harus menghadapi musuh besar, sudah tentu sangat berbahaya. Tapi ia sedang kuatirkan keadaan Siao-liong-li, apa yang dipikirkan kini tiada lain kecuali jejak Siao-liong-Ii, keselamatan diri sendiri sudah tidak terpikir olehnya. Maka, demi nampak Kim-lun Hoat-ong mendatangi, ia malah menarik tali kuda kemudian memapakinya dan bertanya:
“Hai, apa kau melihat guruku?”
Melihat orang tidak melarikan diri, Kim-lun Hoat-ong menjadi heran, dan kini mendengar pertanyaan itu, keruan tambah tercengang.
“Tidak.” sahutnya kemudian. “Apa dia tidak bersama kau?”
Kedua orang ini sama-sama cerdik luar biasa, sesudah terjadi tanya jawab, sesaat keduanya timbul pikiran. Yo Ko berada sendirian, tentu bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, maka setelah sinar mata kedua orang kebentrok, cepat Yo Ko keprak kuda dan di lain pihak Kim-lun Hoat-ong sudah mengulur tangan hendak menjambretnya.
Namun kuda kurus tangkas luar biasa, bagai angin cepatnya sudah membedal lewat. Lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong keprak kuda mengejar, namun Yo Ko sudah berada sejauh satu li lebih dan sukar disusul lagi. Tiba-tiba pikiran Hoat-ong tergerak, ia tahan kuda tidak mengejar lebih jauh, ia pikir: “Kalau mereka guru dan murid terpencar, apa lagi yang aku takutkan sekarang? Jika Oey-pangcu itu masih belum pergi jauh, ha-ha-ha...”
Begitulah, segera ia bawa rombongannya balik ke tempat dari mana mereka datang tadi. Sementara itu Yo Ko masih belum melihat bayangan Siao-liong-li, meski sudah beberapa puluh li ia tempuh. Ia merasa darahnya bergolak hingga pandangan terasa gelap, hampir-hampir saja ia pingsan di atas kudanya. Sungguh luar biasa rasa sedih dan pilunya.
“Sebab apakah Kokoh mendadak meninggalkan aku? Di manakah aku pernah menyakiti dia? Tidak sedikit air mata yang dia alirkan sewaktu ia hendak tinggalkan aku, tentunya itu bukan karena marah padaku,” demikianlah ia pikir.
Lalu tiba-tiba terpikir pula olehnya: “Ah, tahulah aku sekarang, tentunya karena aku bilang tinggal di dalam kuburan kuno akan merasa bosan, maka dia sangka aku tidak mau hidup berdampingan selamanya dengan dia.”
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba saja ia melihat setitik sinar harapan: “Ahh, tentu dia kembali ke kuburan kuno, biarlah aku pergi ke sana mendampingi,” demikian pikirnya.
Tadi dalam bingungnya ia larikan kuda secara ngawur, kini ia bisa memilih jalan, ia kembali ke utara menuju Cong-lam-san. Sepanjang jalan ia berpikir terus, makin dipikir semakin terasa benar keputusannya, karena itu rasa duka dan rindunya menjadi hilang beberapa bagian, bahkan kemudian dia pun ber-dendang di atas kudanya.
Waktu lohor dia mampir di kedai nasi untuk tangsal perut, habis makan semangkok bakmi waktu mau bayar, tiba-tiba dia melongo. Kiranya waktu berangkat terlalu buru-buru hingga satu mata uang saja tak membawanya. Tapi Yo Ko tak kurang akal. Ia incar ketika pengurus kedai meleng, cepat cemplak kudanya terus lari pergi. Ia dengar pemilik kedai mencaci maki kalang kabut di belakang, diam-diam pemuda ini tertawa geli sendiri.
Petangnya tibalah ia di suatu hutan lebat. Sekonyong-konyong didengarnya sayup-sayup ada suara bentakan dan makian di dalam hutan diseling dengan suara nyaring beradunya senjata. Yo Ko terkejut, ia coba dengarkan lebih jelas, kemudian ia kenali itulah suaranya Kim-lun Hoat-ong dan Kwe Hu. Yo Ko tahu pasti terjadi sesuatu, lekas-lekas dia melompat turun dari kudanya, dia tambat kudanya sedikit jauh, ia sendiri menyelinap masuk hutan dengan kepandaian ‘tah-poh-bu-seng’ (melangkah tanpa bersuara), yaitu semacam ilmu entengkan tubuh yang tinggi, ia mencari tempat di mana datangnya suara.
Setelah belasan tombak jauhnya, ia lihat di tengah hutan lebat itu Oey Yong dan puterinya beserta Bu-si Hengte lagi melawan rombongan Kim-lun Hoat-ong sebisa-bisanya di suatu gundukan batu. Ia lihat keadaan Bu-si Hengte amat mengenaskan. Mukanya, bajunya, semua berlepotan darah. Oey Yong sendiri rambutnya serawutan, tampaknya kalau bukan Kim-lun Hoat-ong sengaja ingin menawan lawannya hidup-hidup, mungkin sejak tadi mereka berempat telah binasa di bawah roda besinya. Setelah menyaksikan beberapa jurus lagi, diam-diam Yo Ko berpikir: “Kokoh tidak di sini, jika aku maju membantu sendiri, tentu hanya mengantar jiwa percuma, lantas bagaimana baiknya ini?”
Selagi dia hendak cari akal, tiba-tiba dilihatnya roda Kim-lun Hoat-ong menghantam, Oey Yong kelihatan tidak kuat menangkis, mendadak dia mengkeret masuk ke belakang segundukan batu. Lalu Kim-lun Hoat-ong terpancing masuk ke tengah gundukan batu ini dan berputar kian kemari, namun tak mampu mendekati Oey Yong lagi. Heran sekali Yo Ko oleh kejadian itu. Dilihatnya Kwe Hu dan Bu-si Hengte juga berkelit dan berputar mengandalkan gundukan batu, bila ada bahaya, asal sembunyi di belakang batu, seketika Darba ketinggalan dan terpaksa berputar-putar ke sana kemari baru dapat menyusulnya, tapi sementara itu Kwe Hu sudah sempat bernapas untuk melawan musuh lagi.
Makin melihat makin heran Yo Ko. Sungguh tak bisa dimengerti beberapa gundukan batu dalam hutan ini ternyata begitu mukjijat. Meski keselamatan rombongan Oey Yong tak menjadi soal lagi, tapi rasanya susah juga hendak lari keluar barisan gundukan batu.
Setelah lama tidak bisa membobol pertahanan musuh, meski Bu-si Hengte dapat dilukai tapi tak parah, sebaliknya pihak Kim-lun Hoat-ong sendiri ada seorang tertusuk mati oleh Kwee Hu, Hoat-ong tahu gundukan batu itulah letak penyakitnya yang harus dipecahkan baru bisa menangkap musuh. Hoat-ong seorang yang cerdas dan tinggi hati. Dia pikir beberapa orang ini sudah seperti kura-kura dalam tempurung yang tak akan bisa lolos dari cengkeramannya. Dia pikir bila sebentar lagi perputaran barisan gundukan batu dapat dipahaminya, segera ia menerjang masuk dengan cepat kemudian sekali pukul dan berhasil, barulah hal ini bisa menambah kepintarannya.
Maka mendadak ia memberi tanda mundur kepada rombongannya, ia sendiri pun mundur lebih setombak jauhnya sambil memperhatikan susunan gundukan batu yang ruwet itu. Ia pikir berapa hebat siasat yang diatur mau pun barisan yang dikerahkan pasti tak terlepas dari perhitungan Thay-kek dan Liang-gi lalu meluas menjadi Ngo-heng dan Pat-kwa. Kim-lun Hoat-ong sendiri mahir macam-macam ilmu aneh itu, ia pikir meski barisan gundukan batu itu rada aneh, ia yakin pasti tidak terlepas dari dasar perhitungan tersebut di atas.
Siapa tahu meski sudah lama dia pandang dan perhatikan, baru sedikit lubang saja yang dapat dilihatnya. Ketika hendak dipecahkan lebih jauh, salah lagi, sebelah kiri betul, sayap kanan sudah berubah, dapat memecahkan bagian depan, sebelah belakang lantas sukar dipahami lagi. Dia termenung-menung di tempatnya, terkejut dan kagum luar biasa atas kepandaian Oey Yong. Tetapi Kim-lun Hoat-ong adalah seorang genius, baik ilmu silat mau pun ilmu surat, meski menghadapi soal sulit, ia justru ingin gunakan kecerdasan sendiri untuk memecahkannya.
Yo Ko melihat paderi ini mencurahkan perhatian penuh atas gundukan batu. Mendadak matanya terbelalak seperti paham di mana letak mukjizat barisan batu itu, dan orangnya terus melompat masuk cepat luar biasa, ketika ia ulurkan tangan, tahu-tahu Kwe Hu kena dijambret, habis ini ia pun mundur lagi keluar barisan batu. Perubahan di luar dugaan ini membikin Oey Yong terkejut hingga tidak berdaya. Bila keluar barisan buat menolong, terang mereka sendiri yang bakal menghadapi bahaya.
Kiranya tadi Kwe Hu melihat musuh berdiam diri, ia menjadi gegabah, tak diturut pesan ibundanya agar berdiri tetap di tempatnya, tapi ia keluar garis pertahanan barisan batu dan betapa lihaynya Kim-lun Hoat-ong, begitu kesempatan datang segera dia turun tangan menawannya terus menotok Hiat-to iganya dan diletakkan di tanah. Sengaja Hoat-ong tidak menotok urat nadi gagu si gadis agar bisa bersuara minta tolong ibundanya untuk memancing Oey Yong keluar dari barisan batu.
Seketika Kwe Hu merasa seluruh badan kaku gatal luar biasa, tetapi anggota badan tidak bisa bergerak, maka tiada jalan lain kecuali merintih perlahan. Sudah tentu Oey Yong tahu akal licik musuh, namun kasih ibu adalah pembawaan setiap manusia. Dia menjadi kuatir luar biasa, dia menggigit bibir kencang-kencang, sedapat mungkin menahan perasaannya.
Semua ini disaksikan Yo Ko secara jelas di tempat sembunyinya. Tiba-tiba dilihatnya Oey Yong gerakkan tongkat bambu lalu hendak terjang keluar barisan batu untuk menolong puteri kesayangannya. Tanpa pikir lagi sekonyong-konyong Yo Ko melompat keluar, Kwe Hu disambarnya terus melompat masuk kembali ke barisan gundukan batu itu.
Cepat sekali Kim-lun Hoat-ong timpukkan roda besinya menghantam punggung si Yo Ko yang masih terapung di udara hingga sukar berkelit. Tapi mendadak Kwe Hu didorongnya ke arah Oey Yong, berbareng Yo Ko sendiri gunakan gerakan ‘jian-kin-tui’, tubuhnya menurun cepat ke bawah dan terdengarlah suara “bluk”, antap sekali tubuh Yo Ko terbanting di atas gundukan batu, sementara terdengar suara gemerenceng nyaring, roda besi musuh tepat menyambar lewat di atas kepalanya.
Di lain pihak Oey Yong sudah merangkul puteri kesayangannya dengan perasaan girang dan duka. Dia lihat Yo Ko merangkak bangun dari gundukan batu, mukanya babak belur karena jatuhnya yang berat tadi, lekas-lekas dia tunjukkan jalan masuk ke barisan batu dengan tongkat bambunya yang panjang.
Melihat serangannya yang tak berhasil dan kembali gara-gara si Yo Ko, Kim-lun Hoat-ong tidak marah, dia malah girang. Katanya dengan tersenyum dingin:
“Bagus, kau sendiri yang masuk jaring, aku dapat hemat tenaga dan kelak tak perlu mencari kau lagi.”
Dengan mati-matian Yo Ko menolong orang, timbulnya secara spontan, namun sesudah masuk barisan batu dan teringat ikut campurnya ini berarti antarkan nyawa sendiri dan selanjutnya sukar bersua lagi dengan Siao-liong-li, diam-diam ia merasa menyesal.
“Ko-ji, buat apa kau lakukan ini?” kata Oey Yong kemudian sambil menghela napas.
“Kwe-pekbo,” sahut Yo Ko tertawa getir, “secara ketololan, asal darahku panas, lantas aku tak pikirkan diri sendiri lagi.”
“Oh, anak baik, hatimu yang baik ini dibanding ayahmu...” belum habis Oey Yong berkata, mendadak ia berhenti.
“Kwe-pekbo, ayahku seorang jahat bukan?” tanya Yo Ko gemetar.
“Buat apa kau tanya ini?” kata Oey Yong menunduk. Mendadak dia berseru: “Awas, ke sini ikut aku!” Kemudian dia tarik orang melintasi dua gunduk batu menghindari pembokongan Kim-lun Hoat-ong.
Kagum luar biasa setelah Yo Ko meneliti sekitar gundukan batu itu. “Kwe-pekbo, kepandaianmu yang amat hebat di jagat ini tiada keduanya lagi,” katanya kemudian.
Oey Yong tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan sibuk mengurut Kwe Hu yang habis ditotok musuh tadi.
“Kau tahu apa?” sela Kwe Hu tiba-tiba. “Kepandaian ibu adalah ajaran Gwa-kong (engkong luar), Engkong-ku itulah baru benar-benar lihay.”
Yo Ko sendiri sudah menyaksikan kepintaran Oey Yok-su dengan tanaman yang teratur di Tho-hoa-to, cuma waktu itu umurnya masih terlalu kecil, maka kebagusannya tak dapat dipahami. Sekarang mendengar kata-kata Kwe Hu, berulang kali dia mengangguk dan merasa kagum tak terhingga.
“Ya, entah kapan berjumpa dengan beliau sehingga hidupku ini tak tersia-sia,” demikian katanya.
Dalam pada itu mendadak Kim-lun Hoat-ong menerjang masuk lagi, sudah dua gundukan batu dilintasinya. Yo Ko tak bersenjata sama sekali, lekas-lekas tongkat bambu Oey Yong yang masih tergeletak di tanah disambarnya terus mendahului maju menahan musuh, beruntun tongkat bambu menyabet dua kali, apa yang dimainkan adalah Pak-kau-pang-hoat.
Melihat Pang-hoat terlalu bagus, Kim-lun Hoat-ong tak berani asal, dia layani Yo Ko penuh perhatian. Sesudah beberapa jurus, mendadak keduanya sama-sama kesandung batu hingga hampir saja jatuh. Karena kuatir terjebak, lekas-lekas Hoat-ong melompat keluar dari gundukan batu, sedang Oey Yong menunjukkan jalan masuk bagi Yo Ko. Kemudian Bu-si Hengte dan puterinya disuruh pindahkan batu-batu itu untuk merubah barisan pertahanannya.
“Dari manakah kau dapat belajar Pak-kau-pang-hoat ini sesungguhnya?” tanya Oey Yong kemudian pada Yo Ko.
Maka dengan terus terang Yo Ko lantas menceritakan pertemuannya yang aneh dengan Ang Chit-kong di atas Hoa-san dan bagaimana Pak-kay dan Se-tok telah bertanding di sana hingga turunkan ilmu tongkat pemukul anjing padanya. Cuma kuatir kalau Oey Yong terkejut, maka tentang tewasnya Ang Chit-kong tak diceritakannya sama sekali.
“Penemuanmu yang aneh itu sungguh jarang terjadi,” ujar Oey Yong kemudian. Tiba-tiba tergerak hatinya, ia berkata pula: “Ko-ji, kau sangat pintar, cobalah kau carikan akal buat melepaskan diri dari kesukaran sekarang ini.”
Melihat sikap Oey Yong segera Yo Ko tahu orang telah mendapatkan akal, maka dia pun pura-pura tidak tahu malah bertanya:
“Jika engkau sehat kuat, kita keroyok Hoat-ong pasti akan menang, atau bila dapat mendatangkan guruku, tentu segalanya akan beres.”
“Mana bisa kesehatanku baik seketika?” sahut Oey Yong. “Kokoh-mu juga tidak diketahui ke mana perginya, Aku ada akal dan harus menggunakan beberapa gundukan batu ini, ini adalah ajaran ayahku, perubahan di dalamnya tiada habis-habisnya, sebenarnya belum ada dua bagian yang kugunakan sekarang ini.”
Terkejut sekali Yo Ko oleh keterangan itu, ia pikir ilmu pengetahuan Oey Yok-su sungguh tinggi bagai dewata, tidak kepalang rasa kagumnya.
“Pak-kau-pang-hoat ajaran guruku kepadamu itu hanya cara memainkan saja, ada pun apa yang kau dengar di atas pohon, adalah garis besar dari kuncinya,” kata Oey Yong lagi. “Dan kini biar aku turunkan semua gerak perubahan yang bagus sampai sekecilnya padamu.”
Tentu saja Yo Ko sangat girang, tapi ia pura-pura menolak, “Ahh, agaknya tak boleh jadi,” demikian katanya, “kecuali kepada Pangcu dari Kay-pang, selamanya Pak-kau-pang-hoat tidak sembarangan diturunkan kepada orang luar.”
“Di hadapanku jangan kau pakai akal tengik!” kata Oey Yong sambil melototinya, “Suhu-ku sudah menurunkan padamu tiga bagian Pang-hoat, kau sendiri pun sudah mencuri dengar dua bagian, kini aku akan turunkan lagi dua bagian padamu, tiga bagian sisanya tergantung kecerdasanmu untuk mempelajarinya sendiri dan orang lain sekali-kali tak bisa mengajarkan kau. Soalnya kini terpaksa, pertama bukan orang mengajarkan Pang-hoat ini padamu, kedua disebabkan kepepet, tiada jalan lain.”
Segera saja Yo Ko berlutut sambil menjura beberapa kali, “Kwe-pekbo,” katanya tertawa, “Dahulu waktu aku kecil pernah kau berjanji akan turunkan ilmu silat padaku, sampai hari ini barulah kau benar-benar Kwe-pekbo yang baik.”
“Ya, selama ini kau terus dendam padaku, bukan?” sahut Oey Yong tersenyum.
“Mana aku berani?” kata Yo Ko.
Kemudian dengan bisik-bisik Oey Yong lantas uraikan intisari Pak-kau-pang-hoat, semuanya ia beri-tahukan kepada Yo Ko.
Di luar gundukan batu-batu Kim-lun Hoat-ong melihat Yo Ko tiba-tiba menjura pada Oey Yong, kedua orang ini bicara sambil ter-tawa-tawa, lalu bisik-bisik entah apa yang sedang dikerjakan, tampaknya seperti tidak merasa gentar dan sama sekali tak pandang sebelah mata pada dirinya. Meski Kim-lun Hoat-ong mendongkol, tapi seperti biasanya ia sangat tenang dan hati-hati. Ia yakin nanti setelah memecahkan letak penyakit barisan batu-batu barulah akan ambil tindakan.
Karena penundaan serangannya ini, Oey Yong dan Yo Ko tidak perlu melayani musuh, maka tak sampai setengah jam, semua kunci intisari sudah hampir selesai diuraikannya. Kepintaran Yo Ko boleh dikata ratusan kali lebih tinggi dibandingkan Loh Yu-ka, ditambah Pak-kau-pang-hoat ini memang sudah lama dipelajarinya, meski banyak yang belum dia pahami dan belum bisa dipecahkan, tapi setelah diberi petunjuk oleh Oey Yong, tentu saja segalanya lantas terang dengan sendirinya.
Dari jauh Kim-lun Hoat-ong melihat wajah Oey Yong tenang tapi bibirnya bergerak komat-kamit, sebaliknya Yo Ko kelihatan garuk-garuk kepala dan cakar-cakar kuping seperti girang tak terhingga. Dia menjadi bingung apa yang dilakukan kedua orang itu, urusannya tentu tidak menguntungkan dirinya, hal ini dapat dipastikan.
Sesudah Yo Ko selesai mendengarkan uraian istilah itu, disusul beberapa pertanyaan yang rada sulit dan semuanya dijelaskan Oey Yong dengan baik, lalu katanya:
“Sudahlah cukup, kau dapat bertanya beberapa persoalan menandakan banyak yang sudah kau pahami. Tindakan selanjutnya kita akan pancing Hoat-ong masuk barisan kemudian menawannya.”
“Apa?” tanya Yo Ko terkejut “Menawannya?”
“Ya, apa susahnya?” kata Oey Yong. “Sekarang kita berdua dapat bersatu padu, soal tipu sudah menanti dia, kekuatan pun di atasnya, sekarang biar aku terangkan di mana letak kehebatan Loan-ciok-tin (barisan gundukan batu). Seketika tentunya kau pun tak bisa paham, tapi asal kau ingat secara baik-baik 36 perubahannya kukira sudah cukup.”
Lalu ia pun menjelaskan cara bagaimana perubahan dari suatu pintu ke pintu lainnya dari barisan batu-batu. Kiranya Loan-ciok-tin adalah perubahan dari Pak-tin-toh ciptaan Khong Beng di jaman Sam-kok. Dahulu Khong Beng menggunakan batu-batu menjadi barisan pertahanan di tepi sungai untuk menjebak pihak musuh binasa sukar meloloskan diri. Kini apa yang diatur Oey Yong juga serupa tujuan Khong Beng, cuma karena terlalu buru-buru sehingga barisan batu-batu belum rampung diaturnya. Namun demikian Kim-lun Hoat-ong sudah dibuat bingung, dengan mata terbuka lebar ia pandang lima lawannya di depan sana tanpa berani turun tangan sembarangan.
Ke-36 perubahan dari Loan-ciok-tin sesungguhnya ruwet dan bagus sekali, sekali pun Yo Ko pintar luar biasa, tak bisa paham semua. Sudah dua kali Oey Yong ulangi uraiannya dan Yo Ko baru bisa paham kurang lebih 20 macam perubahan.
Sementara itu cuaca telah remang-remang Kim-lun Hoat-ong kelihatan bergegas2 hendak bergerak.
“Cukup likuran perubahan ini saja sudah dapat mengurung dia di dalam,” kata Oey Yong kemudian. “Sekarang juga kau keluar memancing dia masuk ke barisan, sekali aku ubah baris pertahanan, segera dia akan terkurung.”
Keruan Yo-Ko girang sekali, “Kwe-pekbo,” katanya, “kelak bila aku datang ke Tho-hoa-to, apakah engkau bersedia mengajarkan semua ilmu pengetahuan ini padaku?”
“Jika kau sudi datang, kenapa aku tidak sudi mengajarkan?” sahut Oey Yong tertawa, “Mati-matian kau sudah menolong aku dan Hu-ji dua kali, masakah aku masih melayani kau seperti dahulu?”
Mendengar itu, senang sekali rasa hati Yo Ko. Dalam keadaan demikian seumpama Oey Yong suruh dia kerjakan apapun, dipastikan tanpa tawar lagi akan dilakukannya. Maka tanpa pikir lagi segera ia sambar tongkat pemukul anjing terus berlari keluar barisan batu-batu.
“Hayo, Hoat-ong, kalau kau berani, mari kita bertempur 300 jurus!” demikian Yo Ko menantang.
Memang Kim-lun Hoat-ong sedang kuatir mereka main gila di dalam barisan batu-batu untuk membokong dirinya, kini melihat Yo Ko keluar menantang, keruan malah kebetulan baginya. Segera ia mengangkat roda besinya terus menghantam. Ia kuatir Yo Ko lari masuk lagi ke dalam gundukan batu, maka setelah dua gebrakan segera ia cegat jalan mundur si Yo Ko dengan tujuan memaksa pemuda ini jauh meninggalkan barisan batu. Tak ia sangka baru saja Yo Ko mempelajari Pak-kau-pang-hoat dan sekarang juga lantas dipraktekkan, nyata ilmu tongkat pemukul anjing ini memang luar biasa hebatnya dengan segala gaya memukul, menjojoh, menyandung, menyabet dan macam-macam lagi.
Karena gegabah sehingga sedikit meleng, paha Kim-lun Hoat-ong kena ditoyor sekali oleh tongkat bambu Yo Ko. Meski pun ilmu silatnya sangat tinggi dan cepat bisa menutup jalan darahnya hingga tidak terluka, namun terasa juga sakit sekali. Karena kecundang ini, ia tak berani asal lagi, roda besinya berputar cepat, ia lawan Yo Ko sepenuh perhatian. Meski lawannya hanya pemuda belasan tahun, tapi ia seperti menghadapi musuh tangguh, seakan-akan sedang melawan seorang tokoh silat yang maha lihay.
Karena orang bertempur sungguh-sungguh, Yo Ko kewalahan. Sekali pun hebat Pak-kau pang-hoat, tapi baru dipelajari lantas digunakan, betapa pun juga belum leluasa memainkannya. Lekas dia gunakan gaya ‘hong’ atau menutup untuk menahan serangan roda, berbareng dia geser langkah menerobos ke sini ke sana.
Melihat pemuda ini hendak menerjang keluar, Kim-lun Hoat-ong pikir kebetulan baginya, maka berulang-ulang dia pun mundur pancing Yo Ko jauh meninggalkan barisan batu. Siapa tahu baru belasan tindak dia mundur, mendadak kesandung batu besar, ternyata tanpa terasa dia sendiri malah terpancing masuk ke dalam Loan-ciok-tin.
Harus diketahui bahwa setiap langkah Yo Ko selalu menuruti ajaran Oey Yong. Dia bertindak menurut kedudukan Pat-kwa yang aneh, hanya beberapa kali ia menggeser dan arahnya sudah berganti, semakin dia menerjang maju, semakin masuk ke dalam barisan batu. Dan karena asyiknya menempur orang, Kim-lun Hoat-ong kena diselomoti, waktu ia sadar, sudah terjeblos di dalam Loan-ciok-tin. Dia pikir bisa celaka, dia dengar Oey Yong berulang kali berseru:
“Cu-jiok pindah Jing-liong, Soan-wi berubah Li-wi, It-bok ganti Kui-cui.” Apa yang disebut ini adalah nama tempat kedudukan yang harus dituju Yo Ko dalam barisan batu.
Berbareng dengan itu Bu-si Hengte dan Kwe Hu serentak memindahkan batu-batu besar dan mengurung rapat musuh di tengah-tengah.
Terkejut sekali Kim-lun Hoat-ong karena perubahan hebat itu. Pikirnya hendak berhenti buat periksa keadaan sekitarnya, tetapi tongkat bambu Yo Ko selalu mengganggu. Pak-kau-pang-hoat belum cukup kuat untuk menempurnya secara berhadapan, namun untuk mengacaukan pikirannya justru sangat tepat.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong beberapa kali kesandung batu hingga berdirinya tidak mantap. Ia tahu barisan batu-batu itu sangat lihay, asal kejeblos terlalu lama, makin putar makin kacau jadinya. Dalam keadaan bahaya, mendadak Kim-lun Hoat-ong menggertak sekali, ia keluarkan Ginkang dan melompat ke atas gundukan batu. Dengan berada di atas gundukan batu, seharusnya tidak terkurung lagi oleh barisan itu, tapi anehnya barisan batu itu bisa mengacaukan arah, apa bila lari ke timur dan menyangka bisa keluar, tahu-tahu dari timur sampai barat dan dari selatan ke utara tetap berputar-putar di satu lingkaran kecil sampai tenaga habis, akhirnya menyerah tak berdaya. Dilihatnya Yo Ko ayun tongkat memukul betisnya, terpaksa Kim-lun Hoat-ong melompat turun ke tanah datar lagi, dia putar rodanya balas menghantam.
Setelah belasan jurus lagi, cuaca sudah mulai gelap hingga makin menambah seramnya barisan batu. Dalam keadaan demikian biar pun Kim-lun Hoat-ong memiliki kepandaian setinggi langit mau tak mau ia pun berkuatir. Mendadak ia menjadi nekat. Ketika kedua kakinya menyapu kuat, lebih dulu sebuah batu besar lebih 20 kati kena didepak ke udara, menyusul sebuah batu besar lain terbang lagi ke angkasa. Ia bergerak cepat, kedua kakinya pun bergantian menendang hingga barisan batu itu pecah berantakan.
Terkejut luar biasa Oey Yong berlima, lekas-lekas mereka berkelit dari timpaan batu-batu terbang. Kini bila Kim-lun Hoat-ong mau lari keluar barisan sebenarnya tidak susah, namun dari terserang ia segera balas menyerang, sekali tangan mengulur, kontan Oey Yong hendak ditangkapnya.
Cepat Yo Ko menjojoh punggung orang dengan tongkatnya. Hoat-ong ayunkan roda besinya menangkis ke belakang, sementara telapak tangannya telah sampai di atas pundak Oey Yong. Kalau mau sebenarnya Oey Yong dapat menghindarkan diri dengan sedikit mundur. Tapi didengarnya di belakang sambaran angin yang keras, dari atas sebuah batu besar sedang menimpa ke arah punggungnya, terpaksa dia keluarkan Kim-na-jiu-hoat, ilmu menangkap dan melawan, ia papaki tangan Hoat-ong terus memegangnya kencang.
“Bagus!” seru Hoat-ong. Dia biarkan tangannya dipegang Oey Yong, ketika orang hendak membetot mendadak dia barengi menarik dengan tenaga raksasanya.
Bila dalam keadaan biasa, tidak susah bagi Oey Yong untuk melepaskan diri. Tapi kini ia tak bisa keluarkan tenaga, terdengarlah ia menjerit, lantas jatuh.
Yo Ko terperanjat sekali. Tidak dihiraukan lagi mati hidup sendiri, ia menubruk maju terus merangkul kedua kaki Kim-lun Hoat-ong hingga keduanya sama-sama terbanting roboh. Betapa pun juga ilmu silat Kim-lun Hoat-ong memang jauh lebih tinggi. Sebelum tubuhnya menggeletak, dengan tipu pukulan berat telapak tangan kanannya menghantam dan mengenai dada Yo Ko hingga pemuda ini terpental bagai bola. Tapi pada saat itu juga, sebuah batu besar terakhir yang terbang ke udara menimpa turun, maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, dan dengan tepat punggung Hoat-ong sendiri kena tertimpa.
Betapa hebat tenaga tumbukan batu itu, sungguh pun Iwekang Hoat-ong amat tingginya juga tidak tahan. Meski dia masih bisa keluarkan tenaga untuk menendang pergi batu itu, tapi setelah sempoyongan beberapa kali, akhirnya ia pun roboh ke depan.
Begitulah, hanya sekejap saja batu bertebaran dan barisan berantakan. Oey Yong, Yo Ko dan Kim-lun Hoat-ong bertiga sama-sama roboh terluka. Darba dan para jagoan Mongol yang berada di luar barisan batu, serta Kwe Hu dan Busi Hengte yang berada di dalam barisan, sama-sama terkejut. Segera yang berada di luar berlari masuk hendak menolong.
Tenaga Darba besar luar biasa, lagi pula di antara jagoan Mongol itu ada beberapa orang yang kuat, sudah tentu Kwe Hu dan kedua Bu cilik tak bisa melawannya. Tiba-tiba tampak Kim-lun Hoat-ong berdiri sempoyongan, ketika rodanya bergerak lantas menerbitkan suara nyaring, wajahnya putih pucat. Mendadak dia menengadah dan bergelak tertawa, suaranya seram membikin orang mengkirik.
“Selama hidupku belum pernah menderita luka sedikit pun menghadapi musuh siapa saja, tak dinyana hari ini aku melukai diriku sendiri,” kata Hoat-ong, suaranya serak berat. Kemudian kembali tangannya mengulur hendak mencengkeram Oey Yong lagi.
Meski Yo Ko kena dipukul sekali di dadanya dan cukup parah, namun demi nampak Oey Yong terancam bahaya, sambil merangkak segera ia ayunkan tongkatnya menangkis tangan musuh, dan karena sedikit keluar tenaga ini, tanpa tertahan lagi darah menyembur keluar dari mulutnya.
“Sudahlah, Ko-ji, kita akui kalah saja, tidak perlu adu jiwa lagi, kau jaga dirimu baik-baik,” ujar Oey Yong sedih.
Sementara dengan pedang terhunus Kwe Hu menjaga di samping ibunya.
“Kau lekas lari dulu, Hu-moay, paling penting beri-tahukan ayahmu,” bisik Yo Ko perlahan.
Tetapi pikiran Kwe Hu sudah kusut, sekali pun tahu kepandaian sendiri terlalu rendah, mana tega ia meninggalkan sang ibu? Sementara itu sedikit ayunkan roda besinya, tahu-tahu pedang Kwe Hu terpental sesudah terbentur roda Kim-lun Hoat-ong. Terlihatlah sinar putih terbang masuk ke dalam hutan.
Selagi Kim-lun Hoat-ong hendak mendorong pergi Kwe Hu untuk menangkap Oey Yong, tiba-tiba didengarnya suara seruan seorang perempuan:
“Tahan dulu!”
Menyusul sesosok bayangan hijau melompat keluar dari dalam hutan terus menyambar pedang Kwe Hu yang sedang me-layang. Dengan beberapa kali loncatan lagi, cepat sekali orangnya sudah sampai di antara gundukan batu.
DITOLONG GADIS BERKEDOK SETAN
Melihat wajah orang seram luar biasa, tiga bagian seperti manusia dan tujuh bagian mirip setan, dan karena selama hidupnya belum pernah melihat wajah orang yang begitu aneh dan jelek, Kim-lun Hoat-ong tercengang.
“Siapa kau?!” ia pun membentak.
Perempuan itu tidak menjawab, bahkan dia berjongkok terus mendorong satu batu besar hingga melintang di tengah-tengah Hoat-ong dan Oey Yong, kemudian buka suara:
“Apakah kau ini Kim-lun Hoat-ong dari Tilbet yang tersohor itu?” Biar pun wajahnya jelek tapi suaranya ternyata amat merdu.
“Ya, betul dan kau siapa?” sahut Hoat-ong.
“Aku hanya seorang anak dara tak bernama, sudah tentu kau tak kenal aku,” sahut gadis itu. Sembari berkata, kembali ia geser satu batu lainnya ke samping.
Sementara itu dalam hutan rimba gelap gulita, tiba-tiba tergerak pikiran Hoat-ong, cepat ia membentak:
“Apa yang kau lakukan?!”
Selagi hendak merintangi orang memindahkan batu, dia dengar gadis itu sudah berseru:
“Kak-bok-kau berubah menjadi Hang-kim-liong!”
Seketika Kwe Hu dan kedua saudara Bu tercengang, pikir mereka: “Aneh, dari mana dia pun tahu cara perubahan barisan batu ini?”
Karena suaranya membawa perbawa, mereka turut perintah dan memindahkan batu sehingga batu yang tadinya sudah kacau berantakan segera berubah lagi.
Terkejut dan gusar Kim-lun Hoat-ong, tiba-tiba dia membentak: “Kau anak perempuan berani mengacau di sini?!”
Namun lagi-lagi gadis itu berseru beberapa istilah tentang perubahan barisan batu yang semuanya cocok dengan apa yang diajarkan Oey Yong pada Yo Ko. Mendengar orang dapat berteriak dengan betul dan teratur tiada ubahnya seperti dipimpin Oey Yong sendiri, Kwe Hu dan kedua Bu menjadi girang. Dengan bersemangat mereka menggeser batu dan tampaknya segera Kim-lun Hoat-ong akan terkurung lagi di dalam.
Tadi punggung Hoat-ong telah tertimpa batu. Ia coba tahan lukanya dengan Iwekangnya yang tinggi, meski belum berbahaya, tetapi tidak kecil penderitaannya, maka ia tak sanggup menendangi batu lagi. Betapa pun juga dia memang seorang tokoh terkemuka, dia tidak menjadi bingung dalam keadaan bahaya, ia tahu bila telat sebentar lagi hingga terjeblos dalam barisan batu, bukan saja Oey Yong tak jadi ditangkapnya, bahkan bisa-bisa ia sendiri malah tertangkap.
Walau Oey Yong tampak tergeletak di tanah tak berkutik, asal melangkah maju beberapa tindak segera dapat menawannya, tetapi keselamatan diri sendiri jauh lebih penting, maka cepat ia putar rodanya, tiba-tiba ia pura-pura menghantam ke atas kepala Bu Siu-bun. Dalam keadaan terluka parah sebenarnya Kim-lun Hoat-ong tidak punya tenaga lagi, asal Siu-bun berani menangkis mungkin roda besinya akan terlepas dari tangan, akan tetapi Bu Siu-bun telah jeri, mana berani ia tangkis serangan itu, lekas-lekas ia buang batu yang hendak dipindahnya terus menyelinap masuk barisan batu.
Sesaat Kim-lun Hoat-ong bingung di tempatnya, pikirannya bergolak: “Kalau kesempatan ini di-sia-siakan, mungkin kelak sukar lagi diketemukan. Apa memang Thian melindungi Tay Song (ahala Song Raya) sehingga tugasku harus gagal begini? Tampaknya banyak sekali bibit muda di kalangan Bu-lim di daerah Tionggoan, beberapa muda-mudi ini saja sudah pandai dalam segala hal dan tidak boleh dipandang enteng, agaknya ksatria dari Mongol dan Tibet masih jauh kalau dibandingkan dengan mereka!”
Karena itu ia menghela napas dan sesalkan diri, tiba-tiba ia putar tubuh terus melangkah pergi. Tapi baru belasan tindak saja, mendadak terdengar suara gemerenceng riuh, roda besinya terjatuh, tubuhnya pun terhuyung-huyung.
Terkejut sekali si Darba, “Suhu!” teriaknya cepat sambil memlburu maju memayangnya dan menanya lagi: “Kenapa kau, Suhu?”
Kim-lun Hoat-ong mengerut kening tanpa menjawab, ia gunakan tangan menahan di atas pundak Darba, kemudian barulah bersuara perlahan:
“Sayang, sungguh sayang, marilah kita pergi!”
Sementara itu seorang jagoan Mongol membawakan kuda Hoat-ong, namun karena lukanya yang parah hampir-hampir tiada tenaga buat naik ke atas kuda kalau tidak Darba menaikkan sang guru, kemudian rombongan mereka pun kabur ke arah timur.
Setelah menolong semua orang, gadis baju hijau tadi perlahan-lahan keluar dari gundukan batu. Ketika berlalu di samping Yo Ko yang menggeletak di tanah, tiba-tiba ia berhenti. Ia ragu-ragu apakah harus periksa luka orang ataukah tidak. Ia berpikir sejenak, akhirnya ia berjongkok juga untuk memeriksa lukanya karena pukulan Kim-lun Hoat-ong tadi.
Tatkala itu hari sudah gelap, supaya dapat melihat wajah orang dengan jelas terpaksa ia menunduk dekat. Ia lihat kedua mata Yo Ko terpentang lebar, pandangannya kabur tak bersemangat, pipinya merah dan napasnya memburu, tampaknya lukanya tidak ringan.
Dalam keadaan remang-remang tak sadar, tiba-tiba Yo Ko melihat sepasang mata bersinar halus berada di dekat mukanya, mirip seperti sinar mata Siao-liong-li bila sedang memandang kepadanya, begitu halus hangat dan begitu kasih sayang, tanpa tertahan dia pentang tangan mendadak terus peluk tubuh orang sambil berteriak:
“Kokoh, Oh, Kokoh, Ko-ji terluka, janganlah kau tinggalkan aku begitu saja!”
Sungguh tak pernah diduga oleh si gadis baju hijau itu bahwa orang akan merangkulnya. Keruan ia malu dan gugup, ia sedikit meronta, sebab itu dada Yo Ko yang terluka menjadi sakit, maka ia pun berteriak merintih.
Si gadis tak meronta lagi, dengan suara perlahan ia berkata: “Aku bukan Kokoh-mu, lekas lepaskan aku!”
Tetapi dengan mata tak berkedip Yo Ko masih memandang sepasang mata bola si gadis. “Kokoh, O, Kokoh, jangan kau tinggalkan aku, ak... aku adalah kau punya Ko-ji!” tiba-tiba ia memohon.
Hati si gadis menjadi luluh, tapi tetap dijawabnya dengan halus: “Aku bukan Kokoh-mu.”
Karena hari sudah terlampau gelap, maka wajah si gadis yang jelek seram itu tenggelam ditelan kegelapan, hanya sepasang mata bolanya yang bersinar. Yo Ko masih terus menarik tangannya dan memohon lagi:
“Ya, ya, kaulah Kokoh!”
Karena dipeluk tiba-tiba oleh seorang pemuda dan tangannya digenggam kencang pula, gadis itu malu tidak kepalang seluruh tubuhnya panas dingin, ia bingung apa yang harus dilakukannya. Tak lama kemudian tiba-tiba pikiran Yo Ko jernih kembali, ketika diketahui di hadapannya bukan Siao-liong-li, ia menjadi kecewa, pikirannya pepet lagi dan akhirnya jatuh pingsan.
Gadis itu terkejut. Ia lihat Kwe Hu dan kedua saudara Bu tengah sibuk mengerumuni Oey Yong dan tiada yang mau gubris Yo Ko. Ia pikir luka pemuda ini sangat parah, kalau tidak dicekoki ‘Kiu-hoa-giok-loh-wan’ (pil sari sembilan warna bunga), mungkin jiwanya tak akan tertolong lagi. Dalam keadaan terpaksa ia pun tak hiraukan adat istiadat lagi, lekas ia angkat pinggang Yo Ko, dengan setengah tarik dan setengah seret ia bawa Yo Ko keluar dari barisan batu.
Hendaklah diketahui bahwa bukannya Kwe Hu terlampau kejam dan tak berbudi, soalnya ibunya terluka parah hingga menggeletak tak dapat bangun. Karena cinta antara anak dan ibu maka Yo Ko harus dikesampingkan dahulu. Sedang kedua saudara Bu jelas tak mau mengurus Yo Ko.
Gadis itu memayang Yo Ko keluar hutan. Kuda kurus milik Yo Ko memang cerdik dan kenal majikan, dia mendekati mereka. Setelah Yo Ko dinaikkan kudanya, mengingat diri sendiri masih gadis, si nona tak mau bersatu tunggangan, maka tali kendali kuda dituntunnya dan ia berjalan kaki sendiri.
Keadaan Yo Ko tempo-tempo sadar, kadang-kadang remang-remang lagi. Tempo-tempo dia merasa gadis di sampingnya ini adalah Siao-liong-li hingga berteriak girang, tetapi ada kalanya tahu juga orang bukan Kokoh yang dirindukannya sehingga ia menjadi sedih, tubuhnya menggigil kedinginan.
Entah sudah berapa lama, ketika terasa olehnya bau harum segar menembus luka di dadanya melalui kerongkongannya dan rasanya menjadi nyaman luar biasa. Perlahan-lahan ia pentang matanya, dan ia menjadi heran sekaligus terkejut. Ternyata dirinya sudah rebah di atas sebuah ranjang, tubuhnya berlapiskan selimut. Ia hendak bangun duduk, tapi mendadak tulang dadanya kesakitan, ia masih belum boleh bergerak. Dia lihat di depan jendela seorang gadis berbaju hijau dengan tangan kiri menahan kertas di atas meja dan tangan kanan memegang pit sedang menulis sesuatu dengan tenang. Gadis itu duduk mungkur hingga tak kelihatan mukanya, tapi melihat potongan tubuhnya yang langsing, pinggangnya ramping, tentu orangnya juga amat cantik. Tempat beradanya sekarang ternyata ruangan dari sebuah rumah gubuk beratap aIang-alang, tapi cara mengaturnya ternyata sangat rajin dan necis, di dinding sebelah timur tergantung sebuah lukisan wanita cantik sedang bersolek serta beberapa lukisan pemandangan, ada pun dinding barat dihiasi seperangkat lukisan tulisan.
Dalam herannya Yo Ko tidak sempat menikmati benda-benda seni itu. Ia lihat asap dupa mengepul dari sebuah anglo di suatu meja kecil, ia tak tahu kamar orang kosen siapa atau pujangga yang mana? Teringat olehnya pertarungan di barisan batu di hutan lebat dengan Kim-lun Hoat-ong dan terluka, kenapa sekarang bisa berada di sini, seketika ia menjadi bingung tak mengerti. Ia coba mengingat-ingat, lapat-lapat dapat diiingat dirinya waktu itu tengkurap di atas kuda dan ada orang menuntun kuda, orang itu pun seorang perempuan.
Ia lihat gadis di depannya ini sedang menulis penuh perhatian, ia rebah di atas ranjang, dengan sendirinya tak tahu apa yang sedang ditulisnya, tapi bisa melihat gaya tangannya yang bergerak-gerak dengan manisnya dan bagus luar biasa. Keadaan kamar itu sunyi senyap, dibanding pertarungan sengit di barisan batu itu kini seakan-akan berada di suatu dunia lain. Meski Yo Ko sudah sadar, tapi tak berani bersuara mengganggu si gadis, ia terus rebah diam-diam.
Sekonyong-konyong pikiran Yo Ko tergerak lagi, ia kenali si gadis baju hijau di depannya ini bukan lain adalah gadis yang beberapa kali mengirim berita peringatan padanya dalam perjalanan tempo hari dan belakangan ber-sama menolong Liok Bu-siang. Ia menjadi heran, bukan sanak bukan kadang, kenapa gadis ini begitu baik terhadapku?




































Tidak ada komentar:
Posting Komentar