ads

Senin, 02 Agustus 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 14

Begitulah, meski dalam ruangan pendopo berjubel-jubel dengan tetamu yang ribuan jumlahnya, tetapi kedua muda-mudi itu seakan-akan berada berduaan saja dan bercakap-cakap dengan seenaknya. Siao-liong-li memegangi tangan Yo Ko, waktu itu hatinya entah lagi suka atau duka.

Melihat Siao-liong-li yang menggiurkan, meski pun Hotu terguncang juga hatinya, tetapi ia tidak tahu gadis ini bukan lain adalah orang yang dahulu pernah dilamarnya ke Cong-lam-san itu. Ia lihat pakaian Yo Ko compang-camping dan berbau busuk, tapi sikapnya begitu kasih sayang pada si gadis, tanpa terasa timbul rasa cemburunya dan dongkoI pula.

“Hai, kami hendak adu kepandaian, kalian hendaklah menyingkir dulu,” demikian ia lantas berseru.

Tak sempat lagi Yo Ko menjawab. Ia pun tidak banyak cingcong, ia gandeng tangan Siao-liong-li dan diajaknya duduk di pinggir kalangan untuk menceritakan pengalaman masing-masing sesudah berpisah selama ini.

Nampak orang sudah minggir, Hotu lantas berpaling dan berkata lagi kepada Cu Cu-liu: “Baiklah, jika kau tak pakai senjata, boleh juga kita bertanding dengan tangan kosong.”

“Bukan begitu maksudku,” sahut Cu-liu seakan-akan sedang bersanjak. “Negeri Tiongkok kami adalah negeri bermartabat tinggi dan berbeda dengan negeri Mongol yang masih liar, laki-laki sejati hanya bicara secara halus, pertemuan antara sobat cukup dengan pakai pit, kini milikku hanya pit saja, buat apa pakai senjata?”

“Kalau begitu, awas serangan!” kata Hotu mendadak, lalu kipasnya terpentang, segera ia menyabet ke depan.

Sambil geleng-geleng kepala lekas-lekas Cu-liu melangkah ke samping, selagi tangan kiri mendadak meraba ke depan, dengan tangan kanan yang memegang pit terus mencoret ke muka Pangeran Hotu. Melihat gerak-gerik orang enteng dan gesit, tipu serangannya aneh, Hotu tak berani main merangsek, ia ingin memahami dulu cara bersilat orang barulah mengambil siasat untuk perlawanannya.

“Awas, Tianhe, pit-ku ini biasanya menyapu bersih be-ribu prajurit!” kata Cu-liu tertawa, berbareng itu ujung pit-nya menutul lagi ke depan.

Meski ilmu silat Hotu dipelajari di daerah Tibet, tapi gurunya, yaitu Kim-lun Hoat-ong luas sekali pengalamannya. Setiap cabang, setiap aliran persilatan di daerah Tionggoan tiada yang tak dipahaminya, dan karena ketika mulai belajar Hotu telah ber-cita-cita mau tonjolkan nama besarnya ke daerah Tionggoan, maka Kim-lun Hoat-ong pernah memberi perincian semua tipu-tipu serangan lihay dari berbagai cabang dan aliran silat pada muridnya.

Tak terduga Cu-liu memakai senjata aneh, tipu serangannya juga lain dari pada yang lain, gerak-geriknya bebas, ujung pit-nya menggores ke sana dan mencoret ke sini di udara, tampaknya seperti lagi menulis, tetapi tempat di mana ujung pit-nya mengarah justru adalah Hiat-to atau jalan darah berbahaya di tubuh lawan.

Kiranya Cu Cu-liu ini adalah ahli seni-tulis (di samping seni-lukis, di Tiongkok dikenal juga seni-tulis, yakni mengutamakan tulisan bagus dengan gaya tersendiri yang bertenaga dan indah, ada yang disebut ‘Cau-su’, yakni tulisan yang mendekati ‘coretan’ secara bebas dan ada lagi yang disebut ‘thay-su’ yang ditulis secara lugu dan orisinil) di daerah selatan. Meski ia belajar silat, akan tetapi ilmu sastranya tak pernah dikesampingkan. Setelah ilmu silatnya makin tinggi, akhirnya ia malah menciptakan sendiri semacam kepandaian yang dia lebur antara It-yang-ci dengan seni-tulisnya. Karena itu, kalau lawannya tidak cukup punya dasar ilmu sastra, sungguh susah hendak melawan ilmu silatnya yang aneh ini.

Baiknya Pengeran Hotu suka berlagak terpelajar. Sejak kecil dia pun pernah bersekolah dengan guru sastra bangsa Han, karena itu ia masih dapat menahan serangan Cu-liu. Ia melihat di antara gaya tulisan orang terseling pula gaya menotok dan di antara menotok bergaya pula menuIis, sehingga di antara kegagahannya tercampur juga gaya lembutnya orang terpelajar.

Kwe Ceng tidak paham ilmu sastra, dengan sendirinya ia terheran-heran oleh permainan silat itu. Sebaliknya Oey Yong keturunan keluarga cendekiawan, baik silat mau pun surat lengkap dipelajari semua, sekarang dilihatnya ilmu silat Cu-liu yang aneh tetapi hebat ini, ia menjadi kagum tak terhingga. Sementara itu, Kwe Hu yang ikut menyaksikan pertarungan itu agaknya merasa bingung, ia mendekati sang ibu dan bertanya:

“Ibu, ia mencorat-coret dengan pit-nya kian kemari, permainan apa itu?”

Karena seluruh perhatiannya lagi dicurahkan ke kalangan pertempuran, maka sekenanya Oey Yong menjawab:

“Pang-hian-ling-pi.”

“Pang-hian-ling-pi apa itu?” tanya lagi Kwe Hu semakin bingung.

Tetapi Oey Yong sedang terpesona oleh pertarungan itu maka tak dijawabnya pertanyaan Kwe Hu. Kiranya ‘Pang-hian-ling-pi’ adalah judul karangan yang ditulis pada suatu pilar oleh pembesar ahala Tong yang bernama Si Sui-liong, tulisan ini dilakukan dengan gaya ‘Khay-su’ yang sangat bagus. Dan sekarang Cu-liu sudah mencemooh karangan itu dengan menulisnya pakai ‘It-yang-su’ atau tulisan dengan It-yang-ci, ia gunakan ujung pit sebagai gantinya jari, maka setiap coretan, setiap goresan, dilakukan dengan menurut aturan dan mirip sekali seperti sedang menulis secara ‘Khay-su’.

Meski Hotu tak kenal lihaynya It-yang-ci, namun sedikitnya ia masih paham setiap huruf dalam karangan ‘Pang-hian-ling-pi’, maka sebelum alat tulis orang bergerak, ia sudah bisa menduga ke mana goresan dan coretan hendak dilakukan, dengan begitu ia bisa menjaga diri secara rapat dan belum tampak tanda-tanda bakal kalah.

“Bagus!” seru Cu-liu demi nampak kepandaian Hotu memang tinggi. “Sekarang datanglah ‘Chau-su’, hati-hati sedikit!”

Habis ini mendadak ia copot kopiahnya terus dilempar ke lantai, lalu ia pun berlari cepat ke sana kemari hingga lengan bajunya yang besar lebar ikut beterbangan, tipu serangan yang dilontarkan juga secara bebas di luar aturan. Karena itu tampaknya dia menjadi seperti orang linglung, mirip orang mabuk dan seperti orang keranjingan, padahal pit-nya menggores terus sambung menyambung tak berhenti bagai ular laga yang melingkar-lingkar.

“Ibu, apa dia sudah gendeng?” tiba-tiba Kwe Hu bertanya lagi.

“Ehm,” jawab Oey Yong acuh tak acuh, “Kalau ditambahi minum arak tiga cawan, tentu gaya tulisannya akan lebih bagus.”

Habis berkata, ia angkat poci arak terus menuangi penuh secawan. “Cu-toako,” teriak Oey Yong, ”silakan minum tiga cawan buat menambah semangatmu.” Berbareng itu tangan kirinya memegang cawan, dengan jari kanan mendadak ia menyentil cawan, tampaklah cawan arak itu terbang ke depan dengan antengnya. Itu adalah ilmu tenaga jari sakti ajaran ayah Oey Yong yang tak ada bandingannya.

Mendadak Cu-liu menutul pit-nya satu kali sehingga Hotu terdesak mundur, pada saat itu pula cawan arak itu disambarnya terus ditenggak habis, menyusul Oey Yong menyentilkan cawan kedua dan ketiga beruntun-runtun.

Alangkah marahnya Pangeran Hotu melihat kedua orang itu main suguhkan arak dalam keadaan sedang bertempur, sama sekali tak pandang sebelah mata atas dirinya. Segera ia bermaksud menyampuk jatuh cawan arak orang, tapi di waktu Oey Yong menyentilkan cawannya tadi, selalu ia iringi gaya coretan pit-nya Cu-liu dan selalu menerobos di tempat luang, maka sama sekali Hotu tak mampu menyampuknya.

“Banyak terima kasih,” seru Cu-liu sesudah keringkan tiga cawan arak. “Sungguh tenaga jari sakti yang hebat!”

“Kau juga. Swe-ih-tiap yang tajam sekali!” balas Oey Yong memuji dengan tertawa.

Cu-liu tertawa senang, di dalam hati ia pun kagum sekali terhadap kepintaran Oey Yong, hanya sekali lihat saja sudah dapat mengetahui ilmu silat ciptaannya yang terlatih selama belasan tahun.

Di lain pihak sejak tadi Kim-lun Hoat-ong mengikuti juga pertarungan itu dengan cermat. Melihat muridnya lambat laun mulai terdesak di bawah angin, mendadak dia pun berseru:

“Akuskintel mimoasten, cilcialci!”

Semua orang menjadi bingung, tiada yang paham apa arti bahasa Tibet. Sebaliknya Pangeran Hotu tahu bahwa gurunya sedang memperingatkan agar jangan mau bertahan saja, tetapi harus main serobot ikut menyerang secara keras lawan keras dengan ilmu ‘Hong-hong-siok-lui-kang’ atau ilmu badai menderu dan petir menyambar.

Karena peringatan itu Hotu bersuit panjang, di antara suaranya itu seolah-olah membawa suara topan dan guntur yang gemuruh, berbareng kipasnya menyabet dan lengan bajunya mengebas hingga menerbitkan sambaran angin keras, secepat kilat ia tubruk Cu Cu-liu. Begitu keras tenaga pukulan dan sambaran angin yang dikeluarkan serangan Hotu hingga semua orang yang menonton lambat laun terdesak minggir, sedangkan mulut Hotu masih tiada hentinya membentak-bentak dengan menggelegar untuk menambah semangat.

Kiranya ilmu yang disebut ‘Hong-hong-siok-lui-kang’ memang mengutamakan bentakan dan gertakan keras sebagai salah satu cara mengalahkan musuh yang lihay. Akan tetapi Cu-liu gesit luar biasa, ia melompat kian kemari dengan bebas dan tak gentar, kekuatan mereka ternyata sembabat.

Begitulah, setelah ratusan jurus lewat, mendadak Cu-liu ubah lagi gaya menulisnya, tiba-tiba gerak tangannya menjadi lamban, coretan pit-nya seperti menjadi sempit dan kaku. Sebaliknya Hotu masih saja menggunakan ilmu ‘Hong-hong-siok-lui-kang’ untuk melawan, cuma tenaga lawannya makin bertambah kuat, terpaksa ia pun kerahkan seluruh tenaga pada kipasnya, suara bentakan dan geramannya juga semakin hebat. Karena itu penonton yang sedikit rendah ilmu silatnya tidak tahan berdiri terlalu dekat, setindak demi setindak mereka terpaksa mundur terus ke belakang.

Sementara itu ketika Oey Yong berpaling, ia lihat Yo Ko sedang duduk berendeng dengan Siao-liong-li di samping sebuah tiang. Biar pun jarak mereka tidak lebih setombak dari kalangan pertempuran, tapi mereka masih tetap bercakap-cakap dengan asyiknya, terhadap pertarungan sengit di sampingnya ternyata tak diperhatikannya sama sekali, bahkan angin pukulan yang diterbitkan oleh Hotu juga sedikit pun tak mengganggu mereka, hanya ujung baju Siao-liong-li saja yang kelihatan rada bergoyang-goyang tertiup angin, tetapi gadis ini tetap seperti anggap sepele saja, dengan wajah penuh rasa cinta asmara ia sedang memandang Yo Ko dengan mesra.

Makin dilihat, Oey Yong menjadi semakin heran, sampai akhirnya ia menjadi lebih banyak memandang Yo Ko dan Siao-liong-li berdua dari pada memperhatikan pertarungan antara Hotu dengan Cu-liu.

“Tampaknya anak dara ini memiliki ilmu silat yang maha tinggi, sedang Ko-ji begitu rapat hubungannya dengan dia, entah dia anak murid siapakah?” demikian ia membatin.

Begitulah, Siao-liong-li dalam pandangan Oey Yong masih dianggap seorang anak dara saja, padahal umur Siao-liong-li sudah lebih 20 tahun, cuma karena sejak kecil ia dibesarkan dalam kuburan kuno yang tak tertembus sinar matahari, maka kulit tubuhnya menjadi halus luar biasa, lagi pula Iwekang-nya sangat tinggi, maka tampaknya menjadi sepadan dengan nona yang berumur 17-18 tahun. Sebenarnya kalau Siao-liong-li tidak ketemukan Yo Ko dan turuti ajaran gurunya melatih diri tanpa gangguan perasaan, bukan saja umur 100 tahun pasti bisa dicapainya, bahkan kalau sudah berumur satu abad, badan dan wajahnya serupa dengan orang yang berumur 50-an.

Oleh sebab itulah dalam pandangan Oey Yong tampaknya Siao-liong-li malah lebih muda dari pada Yo Ko, sedangkan gerak-geriknya, wajahnya yang polos dan masih kekanak-kanakan malahan nyata kelihatan lebih muda dibanding Kwe Hu, pantas kalau Siao-liong-li disangkanya masih anak dara cilik.

Sementara itu goresan pit Cu-liu makin lama makin lambat, tetapi bertambah kuat, diam-diam Hotu terkejut dan mulai kewalahan.

“Mamipami, kushis!” tiba-tiba Kim-lun Hoat-ong membentak.

Meski apa yang dikatakan itu tidak ada yang paham, namun suara bentakannya terlalu keras hingga memekakkan telinga. Mendengar Kim-lun Hoat-ong berulang kali memberi petunjuk kepada muridnya, akhirnya Cu-liu menjadi gopoh juga. Ia pikir kalau orang berganti permainannya lagi, pertandingan ini harus berlangsung sampai kapan? Sekonyong-konyong ia mendahului ganti corat-coret tulisannya, kini gayanya tidak seperti orang menulis lagi melainkan seperti orang sedang menatah sesuatu di atas batu. Gaya ini agaknya sekarang dapat dipahami Kwe Hu.

“Ibu, apakah Cu-pepek sedang mengukir tulisan?” demikian ia tanya sang ibu lagi.

“Ha, agaknya anakku tidak terlalu bodoh,” sahut Oey Yong tertawa. “Permainan Cu-pepek ini memang tulisan tatah ‘Ciok-ko-bun’ (tulisan batu), ini adalah tulisan di atas batu jaman Chunchiu. Coba kau perhatikan, kenal tidak huruf apa yang sedang ditatah Cu-pepek?”

Waktu Kwe Hu memperhatikan menurut gaya goresan pit-nya Cu-Iiu, ia lihat setiap huruf kelihatan melingkar dan lebih mirip sebuah gambar, satu huruf saja tak dikenalnya.

“Ya, ini adalah tulisan gambar dari jaman purbakala, jangankan kau, aku sendiri pun tidak kenal,” kata Oey Yong kemudian dengan tertawa.

“Ha-ha-ha, apa lagi si tolol orang Mongol itu, pasti lebih-lebih tak paham,” sorak Kwe Hu sembari bertepuk tangan, “Ibu, lihatlah, bukankah dia sudah mandi keringat dan kerupukan tak keruan.”

Nyata sekali, memang terhadap tulisan gambar jaman kuno ini, Hotu hanya paham satu-dua huruf saja. Dan karena tidak mengetahui huruf apa yang bakal ditulis Cu-liu, dengan sendirinya Hotu tak bisa berjaga-jaga lebih dahulu, keruan saja seketika ia terdesak. Sebaliknya makin lama gaya tulisan Cu-liu semakin beraksi dan bertambah kuat terutama daya tekanan It-yang-ci yang dikombinasikannya.

Suatu ketika Hotu mengibas kipasnya ke depan dan sedikit terlambat menarik kembali, tahu-tahu Cu-liu sudah menutulkan pit-nya, seketika di atas kipasnya sudah bertambah dengan satu huruf besar. Ketika Hotu memeriksa tulisan itu, ia menjadi bingung.

“Apakah ini huruf ‘bong’?” tanyanya tak paham.

“Bukan,” sahut Cu-liu tertawa. “ltu adalah huruf ‘ni’!” Menyusul mana pit-nya menggores lagi, kembali kipas orang kena ditulis pula satu huruf.

“Dan ini huruf ‘goat’ tentunya?” kata Hotu.

“Salah,” ujar Cu-liu menggoyang kepala, “ltu adalah huruf ‘goan’!”

Hotu menjadi lesu dan kewalahan, dia goyangkan kipasnya dengan maksud menghindari ujung pit orang supaya jangan menulis lagi, siapa tahu justru Cu-liu mendadak memukul dengan tangan kirinya yang kosong, dan ketika Hotu menangkis, pada kesempatan itu Cu-liu telah ulurkan pit-nya lagi dan kembali menambahkan dua huruf pada kipasnya. Sekali ini benar-benar Hotu kenal kedua huruf itu.

“Eh, ini adalah ‘ban-ih’, bukan?” serunya tiba-tiba.

“Ha-ha, memang betul ‘ni-goan-ban-ih’!” sahut Cu-liu dengan gelak tertawa.

Para kesatria yang hadir semuanya benci pada penjajahan bangsa Mongol yang secara kejam membunuh rakyat tak berdosa, kini mendengar Cu-liu memaki Hotu ‘ni-goan-ban-ih’ atau ‘kau adalah bangsa biadab’, keruan suara sorak sorai bergemuruh seketika.

Hotu memang telah kewalahan melayani daya serangan orang dengan ilmu ‘lt-yang-su-ci’, sekarang mendengar lagi sorak sorai para kesatria, tentu saja semangatnya semakin kacau. Selagi ia pikir paling selamat angkat kaki saja, sekonyong-konyong lututnya terasa kesemutan kaku, kiranya sudah kena ditotok Cu-liu dengan gagang pit-nya. Betapa pun juga Hotu adalah anak murid tokoh terkemuka. Ketika terasa lututnya lemas dan segera bakal berlutut ke hadapan orang, ia pikir kalau sampai berlutut pamornya akan lenyap, maka sekuatnya dia coba tarik napas panjang menembus Hiat-to lututnya, kemudian ia bermaksud melompat pergi dan mengaku kalah.

Siapa tahu gerakan pit Cu-liu ternyata secepat kilat, menyusul ia sudah menotok lagi, ia gunakan pit sebagai jari dan pakai gagang pit untuk menyerang secara berantai dengan ilmu It-yang-ci, maka tidak mungkin lagi Hotu mampu menangkisnya, akhirnya ia pun jadi berlutut, saking malunya mukanya merah padam. Karena itu, suara sorak sorai para kesatria bergemuruh lagi.

“Akalmu telah berhasil,” kata Kwe Ceng kepada sang isteri.

Oey Yong tersenyum gembira. Di samping sana, melihat Susiok mereka begitu hebat dengan ilmu It-yang-ci-nya, Bu-si Hengte juga kagum luar biasa. Meski ilmu jari sakti itu sudah mereka pelajari, namun kekuatannya terang berbeda seperti langit dan bumi dibanding sang paman guru. Saking kagumnya segera mereka hendak berseru memuji, tapi mendadak terdengar suara jeritan ngeri Cu Cu-liu. Dengan cepat Bu-si Hengte menoleh, tiba-tiba saja Susiok mereka sudah menggeletak di lantai dengan kedua kaki berkelejetan.

Perubahan yang luar biasa dan cepat ini bikin semua orang ikut kaget. Ternyata tadi sesudah Hotu dikalahkan, Cu-liu yang baik budi bermaksud memunahkan totokannya atas Hotu, sebab totokan It-yang-ci ajaran It-teng Taysu itu berlainan dengan ilmu Tiam-hiat biasa dan orang lain sukar menolongnya, maka ia telah memijat beberapa kali bagian iga Hotu untuk melancarkan jalan darahnya. Siapa tahu hatinya yang berbudi ini malahan mengakibatkan mara bahaya bagi dirinya sendiri. Begitu Hiat-tonya lancar kembali, sekonyong-konyong timbul maksud jahat Hotu. Ia pura-pura merintih sakit, setelah berdiri, mendadak ia tekan alat rahasia pada kipasnya hingga empat buah paku berbisa menyambar keluar lalu menancap semua di atas badan Cu-liu.

Sebenarnya pertandingan di antara jago silat, kalau salah satu pihak sudah terkalahkan tentunya tak boleh turun tangan lagi, apa lagi di bawah pandangan orang begitu banyak, siapa yang menduga Hotu mendadak akan membokong? Jika Am-gi atau senjata rahasia itu dilepaskan Hotu sewaktu bertanding, sekali pun paku berbisa itu tersembunyi di antara ruji-ruji kipasnya, dapat dipastikan tidak akan Cu-liu bisa dicelakainya. Tapi kini Cu-liu sedang memunahkan Hiat-to yang ditotoknya, jaraknya tidak lebih dari satu kaki, dalam keadaan demikian meski pun kepandaian Cu-liu setinggi langit juga sukar menghindarkan pembokongan Hotu.

Hebatnya keempat paku berbisa itu adalah rendaman lendir beracun ular jahat yang hidup di daerah Tibet, kerjanya racun itu lihay luar biasa. Begitu terkena paku, seketika Cu-liu merasakan seluruh badannya sakit dan gatal luar biasa, saking tak tahan ia bergulung-gulung di lantai.

PERTANDINGAN BABAK KEDUA

Tentu saja marah sekali para kesatria campur terkejut, beramai-ramai mereka menuding Hotu sambil mencaci maki atas perbuatannya yang keji dan tidak kenal malu itu. Namun Hotu tidak kurang alasan.

“Siau-ong dari kalah menjadikannya kemenangan, kenapa harus malu?” demikian katanya dengan tertawa, “Toh sebelum bertanding kita tidak berjanji tak boleh menggunakan Am-gi. Jika tadi Cu-heng ini menggunakan Am-gi dan merobohkan Siau-ong dulu, tentu aku akan terima kalah dan pasrah nasib.”

Meski merasa alasan Hotu ini terlampau dicari-cari, tetapi seketika semua orang tiada jalan buat mendebatnya. Sementara itu cepat sekali Kwe Ceng maju membangunkan Cu-Iiu. Ia lihat empat buah paku kecil lembut menancap empat segi di dadanya, wajah Cu-liu seperti tertawa tapi bukan tertawa. Kwe Ceng tahu racun paku itu sangat aneh, maka lekas-lekas ia totok dulu tiga tempat Hiat-to orang sebagai pertolongan pertama untuk melambatkan jalannya darah dan menutup nadinya agar hawa racun tidak merembes ke dalam.

“Bagaimana baiknya, Yong-ji?” tanyanya kepada sang isteri.

Oey Yong tak menjawab, ia mengkerutkan kening. Ia tahu kalau hendak memunahkan racun paku ini harus minta obat kepada Hotu atau Kim-lun Hoat-ong, tetapi bagaimana caranya merebut obat pemunahnya, ini yang membikin dia tak berdaya. Di samping lain ruangan itu, demi nampak sang Sute terluka oleh racun jahat, si Nelayan menjadi kuatir dan murka, tanpa pikir lagi ia kencangkan bajunya terus hendak melompat maju buat melabrak Hotu.

Tapi syukur sebelum ia bertindak keburu dicegah Oey Yong yang bisa berpikir panjang. Ia pertimbangkan kedudukan pihak sendiri dan pihak lawan secara keseluruhannya, ia pikir pihak lawan sudah menang satu babak, kalau si Hi-jin (nelayan) Suheng ini maju melawan Darba, soal menang atau kalah sungguh sukar diduga, karena itulah ia minta si Nelayan suka bersabar.

“Kenapa?” tanya si Nelayan.

Namun Oey Yong tidak menjawab. Sungguh pun ia adalah wanita yang pintar luar biasa dengan tipu akalnya yang beraneka macam, tapi setelah mengalami kekalahan dalam babak pertama, untuk dua babak selanjutnya betapa pun juga sudah membikin dia serba sulit.

Di lain pihak setelah merobohkan Cu-liu dengan akal licik, dengan wajah berseri-seri Hotu berdiri di tengah kalangan sambil matanya menjalang ke sana ke mari dengan lagak yang mentang-mentang sudah menang.

Tiba-tiba dilihatnya Siao-liong-li dan Yo Ko tengah pasang omong dengan asyiknya sambil tangan bergandeng tangan seperti sama sekali tidak memandang sebelah mata padanya, keruan hati Hotu menjadi panas.

“Binatang cilik, berdiri!” bentaknya mendadak sambil menuding Yo Ko dengan kipasnya.

Akan tetapi ketika itu seluruh perhatian Yo Ko lagi tercurahkan pada Siao-liong-li seorang. Ia merasa meski pun dunia ini luas, namun tiada sesuatu urusan lain yang bisa membagi pikirannya. Oleh karenanya, biar pun pertarungan Hotu lawan Cu-liu tadi begitu seru dan gempar, namun semua itu seperti tak dilihat dan tak didengar olehnya.

Selama beberapa tahun Yo Ko tinggal di kuburan kuno bersama Siao-liong-li, sesungguhnya dia tak tahu bahwa dirinya sudah begitu mendalam mencintai si gadis dan mengikat sehidup semati. Hari itu waktu Siao-liong-li bertanya apa mau memperisterikan dia atau tidak, karena pertanyaan itu diajukan secara mendadak dan hal mana selamanya belum pernah terbayang dalam benaknya, maka ia menjadi bingung tidak bisa menjawab. Belakangan sesudah Siao-liong-li menghilang, dia menjadi menyesal tak kepalang, pada saat itulah dalam hati beratus kali dia berkata:

“Mau, tentu saja aku mau. Sekali pun aku harus mati, pasti aku inginkan Kokoh menjadi isteriku.”

Cinta asmara antara Yo Ko dengan Siao-Iiong-li timbulnya memang dalam keadaan tidak terasa antara dua muda-mudi, setelah saling berpisah barulah perasaan itu membakar dan sulit ditahan. Lebih-lebih Siao-liong-li yang semenjak kecil telah mengekang diri dalam hal perasaan dan nafsu, tidak punya pikiran senang juga tidak pernah marah, tetapi perasaan cinta yang berasal dari pembawaan itu siapa pun juga sukar menghindarinya, maka ketika mendadak jatuh cinta pada Yo Ko, perasaan itu menjadi lebih hangat berpuluh kali dari pada orang biasa.

Yo Ko sendiri tak pernah kenal takut, sedangkan Siao-liong-li sedikit pun tak kenal segala macam tata krama umum. Ia pikir bila aku jatuh cinta, aku boleh main cinta, mau senang boleh senang, ada sangkut paut apa dengan orang lain? Begitulah cara berpikir kedua muda-mudi itu, yang satu tak pedulian, yang lain tidak mau mengerti, meski berada di tengah-tengah ribuan orang yang sedang asyik menyaksikan pertarungan sengit, mereka pasang omong sendiri dengan mesra.

Bentakan Hotu tadi oleh si Yo Ko masih tetap tak didengarnya. Keruan saja Hotu semakin murka, segera dia hendak mendamperat lagi ketika tiba-tiba terdengar Kim-lun Hoat-ong berseru dalam bahasa Tibet dengan maksud bahwa pihak sendiri sudah menangkan satu babak, maka babak kedua boleh diteruskan. Sebab itu Hotu melotot sekali kepada Yo Ko, setelah ini ia pun undurkan diri ke mejanya sambil berteriak:

“Pihak kami telah menang satu babak, untuk babak kedua ini yang maju adalah suheng-ku Darba, dari pihak kalian siapa yang akan maju?”

Darba melangkah ke tengah ruangan, dari balik kasa (jubah paderi) merahnya ia mengeluarkan semacam senjata. Nampak senjata Darba yang hebat ini, diam-diam semua orang terperanjat. Kiranya senjata yang dia pakai adalah sebatang gada besar yang disebut ‘Kim-kong-hang-mo-cu’ (penggada penakluk iblis) yang biasanya dikenal sebagai senjata Hou-hoat Cuncia dalam agama Budha.

Hang-mo-cu senjata Darba ini panjangnya kira-kira empat kaki, pangkal gada sebesar mulut mangkok, batang gadanya mengkilap seperti terbikin dari emas murni, maka dapat dibayangkan bobot senjata ini pasti jauh lebih berat dari pada terbikin dari besi baja. Sesudah berada di tengah kalangan, Darba merangkapkan kedua tangannya menjalankan penghormatan kepada semua orang, lalu gadanya dia lemparkan ke atas. Maka segera terdengar suara gedombrangan yang keras, jatuhnya gada sudah membuat beberapa ubin besar ruangan pendopo itu pecah berantakan, malah batang gada itu ambles hampir separoh ke dalam tanah.

Dengan mengunjuk gertakan ini dapat diketahui betapa hebatnya berat gada itu. Sungguh tak nyana bahwa seorang Hwesio yang bertubuh kurus kering seperti Darba ternyata kuat menggunakan senjata seberat itu, maka dapatlah dibayangkan alangkah hebat tenaga pukulannya.

“Ceng-koko sudah tentu dapat taklukkan Hwesio kasar ini, cuma babak ketiga nanti kalau Hoat-ong turun tangan sendiri dan pihak kita tidak ada yang sanggup melawannya, maka pertandingan ini pasti akan kalah,” demikian Oey Yong berpikir. “Tetapi biarlah aku tempur Hwesio ini dengan akal saja.” Kemudian, begitu angkat tongkat bambunya Pak-kau-pang, pentung pemukul anjing, segera ia bermaksud maju.

“Jangan... jangan,” lekas-lekas Kwe Ceng mencegah. “Kesehatanmu sedang terganggu, mana bisa kau bergebrak dengan orang?”

Sesungguhnya Oey Yong sendiri juga tidak yakin pasti akan menang. Jika sampai babak kedua ini kalah lagi, maka babak ketiga tidak perlu diteruskan pula, karena itu ia menjadi ragu-ragu.

“Oey-pangcu, biar aku saja yang melayani paderi jahat ini,” tiba-tiba Tiam-jong Hi-un atau si Nelayan Pertapa murid pertama It-teng Taysu, menyelak maju. Nyata sejak sute-nya terkena jarum berbisa musuh hingga penderitaannya mengenaskan sekali, si Nelayan ini sudah tak sabar lagi dan ingin bisa membalas dendam.

Sesungguhnya Oey Yong juga sedang kerupukan tak berdaya. Ia pikir tiada jalan lain lagi kecuali adu kekuatan sebisanya. Kalau si Nelayan ini bisa menangkan paderi Tibet, nanti Ceng-koko masih dapat keras lawan keras untuk menentukan menang dan kalah dengan Kim-lun Hoat-ong.

“Baiklah, kalau begitu hendaklah Suheng berhati-hati,” demikian katanya kemudian.

Bu-si Hengte sudah mempersiapkan kedua batang penggayu baja yang merupakan senjata Supek mereka. Ketika mendengar Oey Yong tetap pertahankan orang untuk maju, dengan cepat sepasang penggayu itu diangsurkan kepada Tiam-gong Ki-un. Dengan mengempit penggayu itu, majulah Hi-un atau si Nelayan Pertama ini, namun dia tidak lantas menyerang, melainkan dengan muka yang merah menyala ia kelilingi Darba sekali putaran.

Keruan Darba menjadi bingung sekali. Ia tidak tahu apa maksud orang ini. Ia lihat si Nelayan mengitar, maka ia pun ikut memutar. Mendadak si Nelayan menggertak sekali, kedua penggayunya diputar terus mengepruk ke atas kepala musuh. Tapi cepat sekali gerak tubuh Darba. Sekali angkat tangannya, gada emas telah ia tangkiskan. Maka terdengarlah suara nyaring keras beradunya senjata gada dan penggayu, begitu hebat suaranya hingga anak telinga semua orang jadi pekak. Seketika tangan kedua belah pihak sama-sama terasa pedas karena beradunya senjata, mereka pun sama-sama tahu telah ketemukan lawan yang bertenaga raksasa, karena itu mereka sama-sama melompat mundur.

Tiba-tiba saja Darba berkata satu kali dalam bahasa Tibet. Karena tidak paham apa yang diucapkan, kontan si nelayan balas memaki orang dengan bahasa daerah Tay-li, maka kedua orang sama-sama tidak mengerti kata-kata pihak lawan. Mendadak mereka saling menubruk maju lagi, senjata masing-masing lantas bergerak dan kembali terdengar suara nyaring keras.

Pertarungan seru kali ini berbeda lagi dengan cara pertandingan Cu-liu melawan Hotu tadi yang dilakukan secara ‘halus’. Kali ini boleh dikatakan keras lawan keras, masing-masing ketemukan tandingan dan saling labrak dengan Gwakang yang lihay, saking serunya pertarungan ini hingga membikin penonton berdebar-debar dan terkejut.

Sebagai anak murid It-teng Taysu yang kerjanya sehari-hari hanya menggayu perahu hilir mudik melawan arus air sehingga kedua lengannya terlatih kuat dengan otot-otot kelihatan menonjol, dan karena wataknya yang polos sederhana, maka biasanya si Nelayan sangat disukai It-teng Taysu. Cuma bakatnya kurang baik, Iwekang-nya tidak gampang terlatih seperti Cu Cu-liu yang cerdas, namun soal Gwakang sebaliknya lihay luar biasa. Sekarang ia menempur Darba dengan menggunakan Gwakang untuk saling labrak, hal itu kebetulan cocok dengan kemahirannya, maka tampaklah sepasang penggayunya terputar dan merangsek terus secara hebat. Berat kedua penggayu itu setiap batangnya lebih 50 kati, akan tetapi ia bisa mengangkatnya seperti barang enteng saja, bagaikan orang biasa menggunakan senjata ringan.

Sebenarnya Darba sangat mengagulkan tenaga raksasanya yang tiada bandingan, siapa duga kini ia justru ketemukan seorang ‘raksasa’ juga, bukan saja tenaga lawannya besar, malahan tipu serangannya juga aneh dan hebat. Oleh karena itu ia pun tidak berani asal, ia putar Kim-kong-cu atau gada emasnya untuk menandingi penggayu orang, kedua orang sama-sama lebih banyak merangsek dari pada menjaga diri.

Tadi waktu Cu-liu melawan Hotu, para kesatria yang menyaksikan pertandingan sudah banyak yang menyingkir mundur karena sambaran angin yang terlalu kuat. Kini lebih-lebih lagi, tiga senjata berat saling beradu, jangankan tak tahan akan angin pukulannya, bahkan suara benturan gada dan penggayu yang nyaring menusuk itu pun terasa sukar ditahan. Karena itu banyak di antaranya dekap kuping dengan tangan untuk menyaksikan pertandingan itu.

Manusia yang bertenaga demikian besar seperti Tiam-jong Hi-un ini sesungguhnya jarang diketemukan, apa lagi orang yang memiliki tenaga besar yang seimbang di antara kedua tangannya serta seimbang pula dengan ilmu silat yang dipahami lalu bertempur dengan mati-matian, hal ini susah diketemukan. Saking serunya pertempuran itu, Kwe Ceng dan Oey Yong juga ikut berkeringat.

“Yong-ji, bagaimana? Apa kita ada harapan menang?” tanya Kwe Ceng.

“Sekarang masih belum kelihatan,” sahut Oey Yong.

Padahal Kwe Ceng bukannya tidak tahu bahwa saat ini masih sukar mem-bedakan kalah dan menang, tetapi ia akan merasa lega dan terhibur apa bila dapat mendengar jawaban sang isteri yang menyatakan si Nelayan bakal menang. Ketika berpuluh jurus telah lewat, tenaga dua orang itu ternyata sedikit pun tak berkurang sebaliknya semangat mereka tambah me-nyala. Tiap kali Tiam-jong Hi-un menghantam dengan penggayunya, selalu diikuti dengan bentakan dan teriakan untuk menambah daya serangannya.

“Kau bilang apa?” tiba-tiba Darba menanya. Ia berkata dengan bahasa Tibet.

Sudah tentu Hi-un tidak paham, karena itu ia pun balas menanya: “Kau berkata apa?”

Dengan sendirinya Darba juga tak mengerti ucapan orang, maka terjadilah caci maki tak keruan di antara kedua orang itu, senjata mereka beterbangan menyambar hingga meja kursi pecah berantakan. Tidak peduli barang apa saja, asal terkena hantaman gada atau penggayu, maka dapat dipastikan barang itu hancur luluh. Malah banyak yang kuatir kalau-kalau senjata mereka akan menghantam tiang rumah.

Di lain pihak Kim-lun Hoat-ong dan pangeran Hotu tidak urung juga terperanjat diam-diam. Tampaknya kalau pertarungan sengit itu diteruskan, sekali pun Darba bisa menang, namun sedikit pun tidak terhindar dari luka parah. Tetapi dalam keadaan pertarungan seru itu, seketika sukar hendak memberhentikannya! Pertarungan mati-matian itu makin lama semakin hebat. Kedua orang sama meloncat ke sini dan melompat ke sana sambil menghantam dibarengi dengan suara bentakan. Mendadak terdengar suara menggelegar keras, kedua orang sama-sama membentak. lalu ke-duanya sama-sama melompat mundur.

Kiranya penggayu si Nelayan yang sebelah kanan telah berbenturan keras dengan gada emas. Karena keduanya sama-sama memakai tenaga penuh, batang penggayu sedikit lebih kecil dan tidak sekukuh gada, maka penggayu itu sudah patah menjadi dua. Kutungan penggayu itu mencelat terbang dan terjatuh di hadapan Siao-liong-li hingga mengeluarkan suara nyaring.

Tatkala itu Siao-liong-li sedang bicara dengan Yo Ko dengan asyiknya, sedikit pun ia tidak memperhatikan bahwa ada sepotong besi penggayu jatuh di depannya. Ketika kepingan besi itu menindih jari kaki, dalam kagetnya ia menjerit meloncat bangun. Oleh karena jeritan Siao-liong-li ini barulah Yo Ko ikut tersadar.

“Apa kau terluka?” tanyanya cepat dan kuatir.

Siao-liong-li tak menjawab, ia hanya meraba jari kakinya sembari mengunjuk rasa sakit. Tentu saja Yo Ko menjadi sangat marah, segera ia membalik tubuh hendak mencari siapa gerangan yang berani bikin sakit jari kaki Siao-liong-li. Namun begitu ia berpaling, ia lihat Tiam-jong Hi-un sambil memegang penggayu patah sedang bertengkar dengan Darba dan masih ingin melanjutkan pertempuran dengan sebuah penggayu saja.

Namun Darba terus menggeleng-geleng kepala, ia tak mau teruskan pertandingan lagi. Nyata ia tahu bahwa tenaga raksasa musuh dengan dirinya adalah setali-tiga-wang alias sama kuat, kalau bertanding terus dirinya sukar memperoleh kemenangan. Kini dalam hal senjata ia sudah lebih unggul, maka pertandingan ini boleh dihitung atas kemenangannya.

“Nah, dalam tiga babak pertandingan pihak kami sudah menangkan dua babak, maka Bu-lim Beng-cu (ketua serikat dunia persilatan) ini dengan sendirinya jatuh kepada guruku,” demikian dengan suara lantang segera Hotu berdiri dan bicara lagi. “Maka para....”

Tetapi belum habis ia berkata, mendadak Yo Ko menyela dan menegur si Nelayan: “Hai, kenapa kau pukul Kokoh-ku dengan penggayumu?”

“Aku... aku ti...” demikian si Nelayan itu menjadi tergagap.

“Kau telah menyakiti kakinya. Lekas kau minta maaf padanya!” kata Yo Ko lagi.

Nampak orang hanya seorang bocah, si Nelayan anggap Yo Ko hanya mengoceh semau mulutnya saja, maka tidak digubrisnya. Tanpa terduga mendadak Yo Ko mengulurkan tangannya dan tahu-tahu penggayu patah itu sudah kena direbutnya.

“Lekas kau minta maaf kepada Kokoh-ku!” seru Yo Ko lagi.

Sementara itu bukan buatan rasa mendongkolnya Hotu oleh karena pembicaraannya tadi dibikin terputus oleh Yo Ko.

“Binatang cilik, lekas minggir!” demikian ia membentak.

“Binatang cilik memaki siapa?” sahut Yo Ko tiba-tiba sembari mengayunkan penggayu patah itu dan menghantam.

Mendengar Yo Ko balas tanya “binatang cilik memaki siapa”, tanpa pikir lagi Hotu lantas menjawab:

“Binatang cilik memaki kau!”

Nyata ia telah terjebak. Ia tidak tahu bahwa anak-anak di daerah selatan suka menggunakan jeratan kata-kata itu untuk mengadu mulut. Kalau lengah sedikit, dengan sendirinya lantas tertipu. Karena itu, maka tertawalah Yo Ko terbahak-bahak.

“Ha-ha-ha, betul, betul, binatang cilik yang memaki aku,” demikian katanya geli.

Suasana di ruangan pendopo itu sebenarnya sedang tegang, tetapi karena dikacau oleh majunya Yo Ko, seketika para kesatria itu ikut ketawa. Tentu saja Hotu bertambah marah, begitu kipas lempitnya dipentang, segera ia sabetkan ke atas kepala Yo Ko.

Para kesatria yang hadir di situ semuanya berhati mulia. Tadi mereka sudah menyaksikan ilmu silat Hotu yang amat lihay, maka bisa diduga jika kipasnya ini betul-betul berkenalan dengan kepala Yo Ko, bila tidak mampus maka sedikitnya pemuda ini terluka parah. Karena itulah beramai-ramai mereka berteriak-teriak:

“Jangan berkelahi dengan anak kecil, tak tahu malu, besar melawan kecil!”

Di samping sana secepat terbang Kwe Ceng juga telah melompat maju. Selagi tangannya hendak merebut kipas Hotu, tahu-tahu Yo Ko telah menundukkan kepala dan dengan gampang saja menerobos di bawah tangan Hotu, malah ketika penggayu patah itu ia tarik, dengan gaya ‘sian’ atau menyerempet, suatu gaya istimewa dari Pak-kau-pang-hoat, tiba-tiba ia menjegal kaki Hotu dengan penggayu patah itu.

Karena tak men-duga, dengan tepat Hotu kesandung. Ia terhuyung-huyung dan hampir-hampir terguling jatuh. Untung ilmu silatnya memang tinggi luar biasa, tubuh yang sudah kehilangan imbangan itu secara paksa dia enjot sekuatnya ke atas untuk kemudian turun ke bawah lagi dengan tegak.

“Bagaimana, Ko-ji?” tanya Kwe Ceng kuatir dan tercengang atas kejadian itu.

“Tidak apa-apa,” sahut Yo Ko tertawa, “la memandang rendah Ang Chit-kong punya Pak-kau-pang-hoat, maka aku lantas banting dia dengan gerak tipu Pak-kau-pang-hoat, biar dia kapok.”

Heran sekali Kwe Ceng mendengar jawaban itu. “Aneh, dari mana kau bisa Pak-kau-pang hoat?” tanyanya.

“Tadi waktu Loh-pangcu berkelahi dengan dia, begitu lihat aku lantas berhasil mempelajari tipu itu,” demikian Yo Ko membohong.

Kwe Ceng sendiri bakatnya terlalu tumpul, namun dia percaya tidak sedikit orang pandai di jagat ini, maka terhadap kata-kata si Yo Ko ia hanya setengah percaya setengah sangsi-sangsi.

Di lain pihak Hotu yang kena disandung satu kali oleh Yo Ko, dia kira dirinya sendiri yang kurang hati-hati sehingga terjegal, sama sekali tak dipikirnya bahwa pemuda yang usianya belum ada 20 tahun bisa mempunyai ilmu silat begitu tinggi. Ia pikir urusan paling penting sekarang ini ialah merebut gelar Beng-cu, sesudah soal ini selesai barulah bocah ini akan dibereskannya. Maka dengan langkah lebar segera ia mendekati Kwe Ceng.

“Kwe-tayhiap,” demikian katanya lantang, “pertandingan hari ini sudah jelas dimenangkan pihak kami, maka sejak kini guruku Kim-lun Hoat-ong adalah Beng-cu dunia persilatan. Apakah masih ada yang belum mau menyerah?”

Sebelum selesai ia bicara, diam-diam Yo Ko mendatangi belakangnya, tiba-tiba pengayu ia sodokkan pula, ia keluarkan salah satu tipu Pak-kau-pang-hoat dan mendadak ia jojoh bokong orang.

Tetapi betapa hebat kepandaian Hotu, masakah dia kena dibokong orang dari belakang? Cuma ilmu pentung pemukul anjing itu memang bagus tiada bandingannya, sungguh pun ia tahu dibokong, tapi hendak berkelit ternyata sama sekali tak dapat, maka terdengarlah suara “blek”, dengan tepat pantatnya kena disodok oleh penggayunya Yo Ko.

Sekali pun Iwekang-nya sudah sangat tinggi, namun pantat adalah tempat yang banyak dagingnya, maka tak urung ia kesakitan juga, ditambah kejadian itu tak tersangka-sangka, sebab ia kira pasti dapat menghindarinya tetapi justru kena disodok, maka tanpa terasa ia berteriak, sebagian besar karena terkejut dan sebagian kecil karena kesakitan.

“Hm, manusia macam apa kau? Aku justru tidak mau menyerah!” demikian terdengar Yo Ko menjengek.

Karena kejadian itu, para kesatria terheran-heran dan merasa geli. Mereka pikir pemuda ini bukan saja nakal, orangnya pun pemberani. Pangeran Mongol ini ternyata dua kali kena dikibuli. Sampai di sini Hotu tidak bisa tinggal diam lagi, akan tetapi ia masih belum anggap Yo Ko sebagai lawan, hanya tangannya tiba-tiba menampar ke belakang dengan maksud hendak menempeleng bocah ini untuk melampiaskan rasa dongkolnya. Tetapi waktu itu Kwe Ceng berdiri di sampingnya, sudah tentu ia tidak membiarkan Yo Ko dihantam. Mendadak ia angkat tangannya terus menangkap telapak tangan Hotu sambil berkata:

“Kenapa kau main-main dengan anak muda?”

Seketika Hotu rasakan separoh badannya kaku kesemutan, dalam marahnya ia pun amat terkejut. Sementara itu Yo Ko tidak menyia-siakan kesempatan, ia ayunkan penggayunya lagi terus gebuk pula pantat orang sambil berteriak-teriak:

“Binatang cilik tak dengar kata, biar bapak hajar pantatmu!”

“Ko-ji lekas undurkan diri, jangan main gila lagi,” cepat Kwe Ceng bentak si Yo Ko.

Para kesatria kembali ter-pingkal-pingkal karena kelakuan Yo Ko. sebaliknya para begundal dari Mongol beramai-ramai berteriak-teriak.

“Apa? Dua keroyok satu? Malunya!”

“Hm, tak malu!”

“Apa minta pertandingan diulang kembali, bukan?”

Begitulah mereka mengejek riuh rendah. Karena itu Kwe Ceng menjadi tertegun, lalu dia pun melepaskan tangan Hotu. Sementara itu mata Oey Yong yang memang sangat jeli itu, pada waktu dilihatnya Yo Ko menyandung orang dan menjojoh lagi sekali, gaya serangannya memang betul-betul tipu bagus dari Pak-kau-pang-hoat, keruan saja ia curiga.

“Dari mana ia dapat mencuri belajar Pak-kau-pang-hoat? Apa mungkin ia telah mengintip waktu aku mengajarkan kepada Loh Yu-ka? Tetapi setiap kali sebelumnya pasti kuperiksa dulu sekitar tempat itu, mana bisa ia mengelabui mataku?” demikian Oey Yong tidak habis mengerti. Tetapi segera ia pun berseru:

“Ceng-koko, coba kau ke sini!”

Kwe Ceng menurut, ia segera kembali ke samping sang isteri. Tetapi karena kuatir akan keselamatan Yo Ko, maka pandangannya tidak pernah meninggalkan diri pemuda itu dan Hotu. Ia lihat pangeran Mongol itu sudah merangsek maju lagi dan menyerang Yo Ko dengan hebat.

Akan tetapi Yo Ko benar-benar jahil. Sambil berkelit ia masih terus berteriak: “Aku hantam pantatmu, aku hantam pantatmu!”

Dan betul juga, selalu ia ayunkan penggayunya menggebuk pantat orang. Cuma waktu itu Hotu sudah keluarkan kepandaiannya, dengan sendirinya tak bisa lagi kena sasarannya, setiap pukulannya selalu mengenai tempat kosong. Kalau Hotu ingin pukul kepala Yo Ko dengan kipasnya, sebaliknya Yo Ko terus ayunkan penggayunya hendak menggebuk pantat Hotu, maka kedua orang lalu uber-uberan di tengah ruangan pendopo itu, siapa pun tiada yang bisa memukul yang lain.

Mula-mula semua orang merasa heran dan menganggap lucu, tetapi setelah menyaksikan kedua orang uber-uberan beberapa lingkaran, akhirnya semuanya terkejut. Ternyata Yo Ko yang bajunya compang camping, usianya pun masih muda, tetapi langkahnya sangat enteng, gerak-geriknya gesit, hakikatnya tidak kalah cepat dari pada Hotu. Beberapa kali Hotu mengejar maju hendak memukul, akan tetapi dengan sigap dan indah selalu berhasil dihindarkan Yo Ko.

Tiam-jong Hi-un dan Darba sesungguhnya masih saling melotot dengan senjata terhunus yang siap menerjang maju lagi buat bertanding, sedangkan yang lain siap sedia dengan penuh perhatian untuk menjaga serbuan musuh yang mendadak. Tetapi nampak Hotu tak bisa berkutik melawan seorang anak muda yang tak terkenal, semuanya menjadi heran, yang satu tertawa lebar dan yang lainnya mengomel terus dalam bahasa Tibet yang tidak dimengerti.

Sesudah Yo Ko dan Hotu ubek-ubekan beberapa kali lagi, lambat laun dapat juga Hotu mengetahui Ginkang atau ilmu entengkan tubuh Yo Ko sangat hebat, kalau terus main balapan lari boleh jadi akhirnya ia sendiri akan terjungkal. Karena itu mendadak ia terus putar balik. Dengan tangan kiri dia pegang penggayu orang sedangkan kipas di tangan yang lain segera menotok kaki Yo Ko pada tempat ‘goan-riau-hiat’. Dengan cara ini, serangannya bukan lagi sekedar memberi hajaran kepada anak nakal, tetapi tipu serangan antara jagoan sungguh-sungguh.

Namun Yo Ko tidak mudah diarah. Meski usianya kecil tapi nyalinya cukup besar. Ia lihat lawannya mengeluarkan ilmu silat yang hebat, maka dia tidak mau melawan orang secara berhadapan. Karena itu dia hanya berkelit menghindarkan totokan tadi, menyusul dengan mengayunkan penggayunya ia masih terus berteriak-teriak:

“Bapak pukul pantatmu!”

Dengan caranya Yo Ko mempermainkan lawannya, sebenarnya kepandaiannya harus berlipat ganda lebih tinggi dari orang barulah ‘sip’. Meski Yo Ko tidak sedikit pelajari ilmu silat yang paIing bagus dan tinggi, tetapi soal keuletan dia masih belum dapat menimpali Hotu. Dengan caranya menggoda orang itu sebenarnya bisa berabe.

Tetapi karena kelakuannya yang jenaka itu, semua orang yang menonton bergelak ketawa, dan karena suara tertawa orang banyak inilah Hotu malah dibikin bingung hingga pikirannya tidak tenang. Ia betul-betul kuatir pantatnya kena digebuk lagi di hadapan para kesatria, hal ini berarti akan menghilangkan pamornya, karena itu seluruh perhatiannya dicurahkan untuk menghindarkan diri sehingga lupa untuk memutarkan serangan balasan, dengan demikian barulah Yo Ko tidak mengalami bahaya.

Sampai di sini Oey Yong sudah dapat melihat bahwa Yo Ko pasti pernah mendapat ajaran dari orang kosen, pengalamannya pasti lain dari pada yang lain, ilmu silatnya tentu susah diukur. Ia pikir biarkan bocah ini kacaukan pihak musuh, mungkin untuk sementara masih bisa pertahankan kedudukan sendiri yang sudah kalah dua babak tadi. Maka dengan suara keras dia lantas berseru:

“Ko-ji, coba kau bertanding secara baik-baik dengan toako ini, kulihat sekali-kali dia bukan tandinganmu!”

Karena seruan itu, segera Yo Ko berhenti. “Hayo, berani kau?” katanya segera sambil me-leletkan lidah mengejek serta menuding hidung Hotu.

Akan tetapi Hotu sangat licin. Ia pikir pihaknya sudah menang dua babak beruntun-runtun, kedudukan Beng-cu sudah terang dapat direbutnya, kenapa perlu cari gara-gara lain? Maka ia lantas menjawab:

“Binatang cilik, kau begini nakal, pasti akan kuhajar kau, cuma tak perlu buru-buru, kita minta Bu-lim Beng-cu Kim-lun Hoat-ong memberi petuah dan kita semua akan menurut segala perintahnya.”

Tetapi dengan riuh para kesatria membangkang hingga suaranya sangat berisik.

“Kita tadi telah sama berjanji siapa yang menangkan dua babak dialah yang mendapatkan sebutan Beng-cu. Nah, janji tadi dianggap kata-kata manusia atau bukan?” dengan suara keras segera Hotu berteriak.

Seketika para kesatria menjadi bungkam, meski kemenangan musuh yang pertama tadi dilakukan dengan cara yang licik dan babak kedua baru sampai pada senjata patah, tetapi kalau menyangkal kekalahan itu, sebagai kesatria rasanya juga sungkan, maka terpaksa mereka tak bisa menjawab.

“Kenapa Hwesio tua ini bisa menjadi Bu-lim Beng-cu? Kulihat dia tidak cocok,” kata Yo Ko tiba-tiba.

“Siapakah guru bocah ini? Lekas dipanggil dan beri hajaran, kalau masih terus mengacau di sini, jangan sesalkan bila aku tidak bermurah hati padanya!” teriak Hotu dengan marah.

“Ha-ha, guruku barulah cocok untuk diangkat menjadi Bu-lim Beng-cu, gurumu sih punya kepandaian apa?” kata Yo Ko lagi dengan tertawa.

“Siapa gurumu, silakan maju buat belajar kenal,” sahut Hotu.

Nyata dia sudah kenal kepandaian Yo Ko tidak rendah, dia pikir guru orang pasti seorang tokoh besar, maka dia gunakan kata-kata “silakan”. Tetapi Yo Ko tidak menjawab, sebaliknya ia bertanya lagi:

“Perebutan Bu-lim Beng-cu hari ini, bukankah setiap murid boleh mewakili sang guru?”

“Ya,” sahut Hotu. “Maka tadi kami sudah menangkan dua babak dari tiga babak, dengan sendirinya guruku adalah Beng-cu.”

“Baiklah, anggap benar kau sudah menangkan mereka, tetapi apa gunanya? Murid guruku toh belum pernah kau kalahkan,” kata Yo Ko.

“Siapa dia murid gurumu?” tanya Hotu.

“Goblok.” sahut Yo Ko ter-kekeh. “Murid guruku dengan sendirinya ialah aku ini!”

Mendengar banyolan ini, para kesatria kembali bergelak ketawa lagi.

“Nah, sekarang kita juga bertanding dalam tiga babak, jika kalian menang dua babak lagi, barulah aku mau ngaku Hwesio tua itu sebagai Beng-cu,” dengan tertawa Yo Ko berkata pula. “Tetapi kalau aku yang menang dua babak, maaf, sebutan Bu-lim Beng-cu itu tidak bisa lain kecuali guruku yang mendudukinya.”

Mendengar kata-kata Yo Ko ini, semua orang pikir jangan-jangan gurunya memang betul seorang tokoh ternama dan sengaja datang untuk berebut gelar Bu-lim Beng-cu dengan Ang Chit-kong dan Kim-lun Hoat-ong, tapi peduli siapa pun gurunya, setidak-tidaknya toh bangsa Han dari pada Beng-cu kena direbut oleh imam negara bangsa Mongol.

PERTANDINGAN BABAK TAMBAHAN

Karena itu, segera semua orang berseru menyokongnya. “Ya, ya, betul! Coba kau menangkan dua babak lagi!”

“Memang tepat apa yang dikatakan engkoh cilik ini!”

“Jagoan Tionggoan memang sangat banyak, secara beruntung kau menang dua babak, apanya yang perlu dibuat heran?”

Diam-diam Hotu memikirkan akal. Ia menduga dua jago tertinggi dari pihak musuh sudah dikalahkan, apa bila maju dua lagi juga tak perlu takut. Kuatirnya kalau orang main giliran, dua kalah segera maju lagi dua. Karena itu lantas ia jawab:

“Gurumu hendak berebut kedudukan Beng-cu, boleh juga, cuma orang gagah di jagat ini entah berapa ribu banyaknya, bila harus bertanding sebabak dan sebabak lagi, lalu harus bertanding sampai kapan?”

“Kalau orang lain yang menjadi Beng-cu, guruku tidak ambil pusing, soalnya asal dia lihat gurumu, hatinya merasa gemas,” sahut Yo Ko.

“Siapakah gurumu, apa dia ada di sini?” tanya Hotu.

“Dia orang tua sekarang juga berada di depan matamu,” sahut Yo Ko tertawa, kemudian ia menoleh pada Siao-liong-Ii: “Hai, Kokoh, dia menanyakanmu!”

Siao-liong-li menyahut sekali, ia pun mengangguk-angguk kepada Hotu. Mula-mula para kesatria tercengang, tapi segera pula mereka terbahak-bahak lagi, sebab wajah Siao-Iiong-li yang cantik molek, usianya tampaknya malah lebih muda dari pada Yo Ko, mana bisa menjadi gurunya? jelas Yo Ko sengaja bergurau untuk menggoda Hotu.

Hanya Hek Tay-thong, Sun Put-ji, Thio Ci-keng dan In Ci-peng yang tahu bahwa apa yang dikatakan Yo Ko itu memang betul. Oey Yong sendiri meski menduga ilmu silat Yo Ko pernah memperoleh ajaran dari orang kosen, tetapi dia pun tidak percaya bahwa gadis lemah lembut sebaik Siao-liong-Ii ini bisa menjadi gurunya. Dan dengan sendirinya Hotu lebih-lebih tak percaya, ia menjadi marah.

“Siau-wan-tong (anak kecil nakal) ngaco-belo” demikian bentaknya. “Hari ini para kesatria semuanya berkumpul di sini, masih banyak urusan-urusan besar yang akan diselesaikan, mana boleh kau mengacau terus di sini? Lekas kau enyah pergi!”

Tetapi Yo Ko tidak gubris orang, ia berkata lagi: “Ha, gurumu hitam lagi jelek, kalau bicara lurak-kelurak tidak ada orang tahu. Coba kau lihat guruku, cantik dan begini manis. Jika ia yang menjadi Bu-lim Beng-cu, bukankah jauh lebih baik dari pada gurumu si Hwesio hitam pelontos itu?”

Terhadap urusan keduniawian sama sekali Siao-liong-li tak paham, tapi demi mendengar Yo Ko memuji kecantikannya tiba-tiba hatinya menjadi senang dan tersenyum. Betul saja, ia bertambah cantik bagai bunga mawar yang baru saja mekar.

Melihat cara Yo Ko mempermainkan musuh semakin berani, semua orang merasa senang dan bersyukur, walau pun ada juga yang diam-diam kuatir kalau-kalau mendadak Hotu turun tangan keji. Betul saja, digoda sedemikian rupa, Hotu tak tahan lagi.

“Dengarlah para Enghiong seluruh jagat, apa bila Siau-ong membunuh anak nakal ini, itu adalah salah dia sendiri dan jangan salahkan Siau-ong!” demikian ia berteriak. Setelah itu kipasnya mengebas, segera kepala Yo Ko hendak dihantamnya.

Tanpa terduga-duga mendadak Yo Ko juga berlaga seperti Iawan, ia busungkan dada dan pelembungkan perutnya terus berteriak juga:

“Dengarlah para Enghiong seluruh jagat, apa bila Siau-wan-tong (anak nakal) membunuh pangeran ini, itu adalah salah dia sendiri dan jangan salahkan Siau-wan-tong!”

Dan di bawah suara tertawaan orang yang gemuruh, mendadak ia pun ayun penggayunya terus menyabet ke pantat Hotu. Lekas-lekas Hotu mengegos, kipasnya lantas menotok dari samping sambil sebelah tangannya dengan cepat menghantam batok kepala Iawan. Serangan kipas ini hanya pancingan belaka, akan tetapi hantaman telapak tangannya itulah yang hebat, pukulan ini menggunakan sepenuh tenaga, niatnya memang ingin menghancurkan batok kepala Yo Ko.

Namun si Yo Ko cukup sigap, sekali berkelit sekalian ia tarik sebuah meja terus didorong ke depan, maka terdengarlah suara “blang” yang keras, pukulan Hotu itu mengenai meja hingga remuk kayu berceceran, meja itu sempal separoh. Melihat betapa hebat tenaga pukulannya, para ksatria mau tak mau sama melelet lidah.

Sementara itu Hotu telah menendang pergi meja tadi, menyusul ia merangsek maju lagi. Nampak hantaman orang tadi begitu lihay, Yo Ko juga tak berani pandang enteng, ia ayun penggayu patah dan keluarkan Pak-kau-pang-hoat buat menempur orang. Tipu-tipu Pak-kau-pang-hoat itu telah dipelajari Yo Ko seluruhnya dari Ang Chit-kong, cara perubahannya dan inti rahasianya sudah diperolehnya pula dari Oey Yong sewaktu orang mengajar Loh Yu-ka, dasar Yo Ko cerdas dan pintar, begitu kedua hajaran itu digabung, ternyata ilmu permainan pentung dapat digunakannya dengan leluasa dan teratur.

Cuma sayang penggayu itu sedikit berat, lagi pula patah sebagian, pemakaiannya kurang leluasa, maka sesudah belasan jurus ia kena dikurung di antara kipas dan telapak tangan Hotu.

Melihat tipu permainan Yo Ko memang benar-benar ajaran asli Pak-kau-pang-hoat meski pun cara memainkannya belum masak dan tipu serangannya kurang tajam, tetapi gerak-geriknya sedikit pun tidak salah, maka tahulah Oey Yong tentu senjatanya kurang cocok. Segera dia maju ke tengah, dia ulur pentung bambunya menyela di tengah-tengah kedua orang.

“Ko-ji, kalau pukul anjing harus gunakan pentung pemukul anjing. Nah, biar pentungku ini aku pinjamkan, sesudah selesai kau hajar anjing galak ini harus segera kau kembalikan,” demikian kata Oey Yong.

Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing adalah senjata pusaka Kay-pang yang tidak boleh dipakai orang lain kecuali Pang-cu sendiri, maka lebih dulu Oey Yong kemukakan syaratnya hanya memberi pinjam saja. Tentu saja Yo Ko sangat girang, cepat ia sambut pentung bambu itu.

“Paksa dia keluarkan obat pemunah,” tiba-tiba Oey Yong bisiki telinganya.

Yo Ko tidak perhatikan pertarungan antar Hotu melawan Cu Cu-liu tadi, sebab itu ia tidak mengerti obat penawar apa. Baru saja dia hendak bertanya, dengan cepat Hotu sudah memukul dari depan. Akan tetapi Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing telah Yo Ko angkat ke atas terus menotok ke perut orang. Pentung bambu itu amat keras lagi ulet. Dengan Pak-kau-pang untuk main Pak-kau-pang hoat, dengan sendirinya sangat cocok dan leluasa, maka tentu saja daya tekanan Yo Ko bertambah lipat.

Sebenarnya Hotu sedang menghantam kepala orang, tetapi demi nampak pentung orang menjojoh perutnya di tempat ‘koan-goan-hiat’ di bawah pusar, tempat ini adalah urat nadi yang mematikan, bocah semuda ini ternyata begitu jitu mengarah Hiat-to, mau tidak mau Hotu menjadi kaget. Semenjak tadi sudah beberapa kali ia bergebrak dengan Yo Ko, tetapi karena marahnya ia tidak pandang berat bocah ini, dan kini nampak caranya menotok demikian jitu barulah ia pandang orang benar-benar lawan yang tangguh. Ia tak berani asal lagi, segera ia tarik tangan melindungi perut dan membalik kipas untuk menutupi dadanya.

Tidak sedikit tokoh-tokoh silat terkemuka yang turut menonton di samping. Demi melihat Hotu mengeluarkan gerak tipu itu untuk melindungi diri dan terang mulai jeri terhadap Yo Ko, semuanya semakin menjadi heran.

“Nanti duIu,” Yo Ko menghentikan serangannya. “Siau-wan-tong tak mau bergebrak percuma dengan orang, kita harus pakai taruhan.”

“Baik,” sahut Hotu, “Kalau kau kalah, kau harus menjura tiga kali padaku dan memanggil Yaya (engkong) tiga kali.”

“Panggil apa?” tanya Yo Ko tiba-tiba pura-pura tak dengar.

Nyata ia mengeluarkan jebakan lagi yang biasa digunakan anak nakal di daerah Kanglam. Bila jebakan semacam ini dikeluarkan secara mendadak, bagi orang yang tak tahu sangat gampang tertipu. Hotu sendiri dibesarkan di daerah Mongol dan Tibet yang terbiasa bergaul dengan orang-orang yang polos dan sederhana, dengan sendirinya dia tidak kenal cara kenakalan anak-anak daerah Kanglam, maka seenaknya saja ia lantas menjawab:

“Panggil Yaya!”

“Em, cucu baik, coba panggil satu kali lagi!” tiba-tiba Yo Ko menyahut.

Karena itu Hotu menjadi merah mukanya, ia insaf telah tertipu lagi, dengan murka kipas dan telapak tangannya segera menyerang pula dengan hebat.

“Kalau kau kalah maka kau harus berikan obat penawar kepadaku,” demikian kata si Yo Ko sembari tangkis setiap serangan orang.

“Aku kalah padamu?!” teriak Hotu marah. “Hm, jangan kau mimpi, binatang cilik!”

“Binatang cilik memaki siapa?” mendadak Yo Ko membentak sambil angkat pentungnya.

“Binatang cilik memaki...” untung Hotu sempat mengerem. Kata-kata “kau” belum sampai tercetus dari mulutnya mendadak dia ingat, maka kata-kata terakhir itu ditelannya kembali mentah-mentah.

“Ha-ha-ha, sekarang kau sudah pintar, ya!” ejek Yo Ko tertawa.

Meski kata-katanya masih terus membanyol, tapi tangkisannya makin lama semakin berat dan sulit. Maklumlah, pangeran Hotu adalah murid kesayangan Kim-lun Hoat-ong dan dia mendapat pelajaran ilmu silat kaum Lama dari Tibet. Kalau tadi dia bisa bergebrak be-ratus jurus dengan murid It-teng Tay-su yang paling kuat, Cu Cu-liu, maka betapa tinggi keuletannya sudah tentu Yo Ko tak bisa menimpaIinya.

Kalau mula-mula Yo Ko bisa permainkan orang karena Hotu dibikin naik darah dengan akal liciknya yang nakal, tetapi kini bergebrak dengan sungguh-sungguh, hanya beberapa puluh jurus saja lantas kelihatan Yo Ko terdesak. Sungguh pun begitu, melihat bocah semuda ini bisa bertahan begitu lama melawan Hotu, para kesatria sangat kagum dan sama memujinya setinggi langit. Mereka pada bertanya anak murid siapakah pemuda itu?

Sementara itu begitu melihat lawannya mulai terdesak maka pukulan-pukulan Hotu semakin diperkuat. Menurut aturan, dengan Pak-kau-pang-hoat lihay yang Yo Ko mainkan, seharusnya ia bisa menangkan musuh. Tetapi ilmu permainan tongkat itu ia dapatkan cara-caranya dari Ang Chit-kong, sedang mengenai inti permainannya baru saja ia dengar dari Oey Yong, kini dia gabungkan ajaran kedua orang itu untuk melawan musuh dengan baik, tapi kalau mendadak hendak mengeluarkan daya tekanan yang tiada tandingan dari Pang-hoat itu, dengan sendirinya masih belum dapat. Maka tidak lama kemudian akhirnya Yo Ko mulai kewalahan.

Sejak tadi Kwe Hu dan Bu-si Hengte ikut menyaksikan pertarungan itu. Mula-mula mereka tidak menduga bahwa Yo Ko berani tampil ke muka. Bu-si Hengte anggap Yo Ko tolol dan berani mati, pasti akan tahu rasa oleh hajaran musuh, tetapi Kwe Hu justru membantah mereka dan bilang Yo Ko seorang pemberani serta cerdik. Tentu saja kedua saudara Bu itu merasa cemburu. Mula-mula mereka merasa lega ketika melihat datangnya Siao-liong-li yang begitu rapat dan hangat dengan Yo Ko, akan tetapi belakangan Yo Ko panggil Siao-liong-li sebagai “Suhu”, walau pun belum tahu benar atau tidak, namun perasaan kedua pemuda ini menjadi berat lagi.

Kini melihat Yo Ko kena didesak Hotu hingga kalang kabut, mereka tahu tidak seharusnya bergirang, tetapi sungguh aneh, dalam hati mereka justru mengharap Yo Ko bisa dihajar orang sekeras-kerasnya. Demikianlah perasaan Bu-si Hengte yang kusut, sebentar senang lain saat muram, dalam sekejap saja sudah beberapa kali berubah perasaan.

Kwe Hu sendiri meski pun tidak tertarik oleh Yo Ko, tapi ia pun tidak membenci. Ia anggap orang tak perlu dipikirkan meski ayahnya bilang dirinya hendak dijodohkan pada pemuda itu, tetapi ia percaya akhirnya urusan ini pasti tidak akan jadi. Demi dilihatnya ilmu silat Yo Ko bukan main hebatnya, hal ini juga membuatnya terheran-heran, dan ketika dilihatnya Yo Ko akan kalah, ia ikut kuatir.

Dalam pada itu Yo Ko juga maklum dalam sepuluh jurus lagi pasti dirinya akan terjungkal dihantam musuh. Selagi berbahaya, dilihatnya Siao-liong-li sedang memperhatikan dirinya sembari bersandar pada tiang rumah, tampaknya setiap saat gadis ini akan turun tangan buat membantu. Pikiran Yo Ko tergerak, mendadak pentungnya menyabet, habis ini tubuhnya terus mencelat pergi, ia melompat lewat di atas kaki Siao-liong-li yang duduk bersandarkan tiang itu.

“Lari ke mana?” bentak Hotu sambil mengudak.

Tak terduga sedikitpun Siao-liong-li angkat kedua kakinya, Kaki kanan menendang ‘kun-lun-hiat’ di mata kaki kanan Hotu, sedangkan ujung kaki kiri mengarah pula ‘Yong-coan-hiat’ di kakinya yang kiri. Ilmu silat Hotu memang sangat hebat. Baru sedikit kaki Siao-liong-li menjengkit, sebelum orang lain memperhatikan, dia sudah tahu orang hendak serang dirinya dengan tipu yang sangat lihay. Dalam sibuknya itu dia sempat gunakan gerakan ‘wan-yan-Iian-goan-tui’ atau tendangan berantai yang mengapung di udara, dengan demikian barulah serangan Siao-liong-Ii yang tak kelihatan itu dapat dihindarkannya.

Yo Ko sendiri sewaktu melompat melewati kaki Siao-liong-li sudah menduga bakal terjadi peristiwa itu, maka tanpa menunggu musuhnya turun, pentung bambunya terus menyodok lagi. Tetapi dengan kipasnya Hotu menahan ujung pentung orang terus melompat ke samping. Ia berdiri jauh dari Siao-liong-li dan memandang beberapa kali pada gadis ini, lalu pikirnya: “Nyata daerah Tionggoan memang banyak terdapat orang pandai. Hanya dua muda-mudi ini saja, kenapa ilmu silatnya begini hebat?”

Sementara itu, dengan menggunakan keuntungan kejadian itu segera Yo Ko lontarkan tipu serangan Pak-kau-pang-hoat, beruntun ia keluarkan tiga serangan yang mematikan hingga Hotu kececar kalang kabut dan terpaksa bertahan sekuatnya. Siapa tahu serangan keempat Yo Ko tak bisa lagi menggunakan kebagusan Pang-hoat itu hingga gerakannya sedikit terlambat. Kesempatan ini dipergunakan Hotu untuk melakukan serangan balasan, maka kembali Yo Ko terdesak lagi.

Bagi orang yang tak kenal Pak-kau-patig-hoat tidak menjadi soal, tetapi Oey Yong merasa sayang akan kelambatan Yo Ko itu, maka segera dia menembang:

“Putar pentung cepat pakai gerakan bagus, hantam anjing galak dari samping tanpa menoleh.”

Apa yang diuraikan Oey Yong tadi adalah istilah Pak-kau-pang-hoat yang artinya sangat dalam. Yo Ko belum pernah mendapatkan petunjuk-petunjuk dari orang pandai, dia tidak tahu cara bagaimana dan kapan tipu serangan itu harus dilontarkan, tapi demi mendengar uraian Oey Yong, betul saja pentungnya segera menyambar dan menyodok dengan cepat. Gerak serangannya sangat aneh, namun Yo Ko sendiri belum tahu bagaimana hasilnya. Siapa tahu, dengan tepat pentungnya justru memapaki kipas Hotu yang waktu itu lagi mengebas hingga terpaksa Hotu lekas-lekas meloncat pergi menghindarkan diri.

“Bagaimana cara pukul anjing kelabakan yang meloncati dinding? Hantam pantat anjing dan gebuk ekornya!” kembali Oey Yong menembang lagi.

Harus diketahui di antara kaum pengemis dengan sendirinya tak ada cendekia atau orang terpelajar, maka Pang-hoat turun temurun dari Kay-pang ini kata-katanya sudah tentu biasa saja. Orang lain mengira ucapan Oey Yong itu digunakan memaki musuh sebagai anjing, tak tahunya justru Yo Ko sedang diberi petunjuk.

Pak-kau-pang-hoat itu meski dibilang tidak diturunkan kepada orang luar kecuali Pangcu, tetapi pertama Yo Ko mahir sendiri, kedua, pertandingan ini besar hubungannya dengan nasib negara dan harus dimenangkan, maka Oey Yong tak pikirkan batas peraturan Kay-pang lagi, dia masih terus mengutarakan istilah Pang-hoat untuk memberi petunjuk pada Yo Ko disesuaikan dengan keadaan masing-masing yang tengah saling labrak itu.

Dan karena setiap uraiannya adalah intisari yang tepat, ditambah Yo Ko memang cerdik sehingga beberapa kali berhasil, maka dia pun tidak sangsi lagi, begitu dengar kata Oey Yong, segera dilontarkan tipu serangannya. Daya kekuatan Pak-kau-pang-hoat ini memang nyata luar biasa hebatnya. Percuma saja Hotu memiliki ilmu silat tinggi, ia terdesak hingga main putar terus oleh ancaman pentung bambunya Yo Ko tanpa bisa membalas. Oleh karena itu tampaknya dua tiga gebrak lagi pasti Hotu akan jatuh kalah, dengan mata terpentang lebar-lebar para kesatria itu menjadi girang luar biasa tercampur kagum.

“Nanti du!u!” teriak Hotu mendadak sambil mendesak Yo Ko mundur setindak.

“Ada apa? Sudah ngaku kalah?” kata Yo Ko tertawa.

“Kau bilang berebut Beng-cu untuk gurumu, kenapa yang kau pakai adalah ilmu silatnya Ang Chit-kong?” sahut Hotu dingin, mukanya muram gelap. “Dan jika kau bilang berebut Beng-cu untuk Ang Chit-kong, bukankah tadi sudah terjadi pertandingan dua babak? Hm, sebenarnya kau sengaja main kelit dan ngawur atau ada maksud lain?”

Betul juga, pikir Oey Yong, kata-kata orang memang susah didebat. Selagi hendak main pokrolan untuk membantah orang, mendadak Yo Ko membuka suara.

“Ya, apa- ang kau katakan sekali ini masih terhitung masuk akal” demikian sahut Yo Ko, “Pang-hoat ini memang ajaran Suhu-ku, sekali pun dapat mengalahkan kau agaknya kau pun belum mau takluk. Kalau kau mau berkenalan dengan ilmu silat perguruanku, hal ini pun tidak susah. Jika tadi aku pinjam ilmu silat aliran lain, sebab aku takut kau akan lebih celaka kalau aku keluarkan kepandaian perguruanku sendiri.”

Kiranya demi mendengar teguran Hotu, segera Yo Ko ingat apa bila dia menangkan orang dengan Pak-kau-pang-hoat, kepandaian Kokoh mana bisa dikenal orang? Dan bukankah Kokoh akan mengomeli aku lupa pada kebaikannya? Padahal pikiran Siao-liong-li polos, di dalam hatinya penuh rasa hangat dan manis madu terhadap Yo Ko, asal bisa pandang si pemuda rasanya sudah puas dan tidak terpikir lagi segala urusan lain, baik Yo Ko menang atau kalah juga boleh, segalanya tidak dianggap penting olehnya, apa lagi soal ilmu silat yang dipergunakan itu, apakah itu diberi petunjuk Oey Yong atau tidak, hal ini lebih-lebih tak diperhatikannya.

Dan karena jawaban Yo Ko tadi, secara diam-diam Hotu membatin: “Bagus, kalau kau tak menggunakan Pak-kau-pang-hoat, dalam sepuluh jurus juga nanti aku cabut nyawamu.” Maka dengan tertawa dingin ia pun berkata:

“Baiklah kalau begitu, aku ingin belajar kenal dengan ilmu silat perguruanmu yang hebat.”

Ilmu kepandaian yang paling apal dan paling bagus yang dilatih Yo Ko di kuburan kuno adalah Kiam-hoat, dengan sendirinya ia lawan orang dengan kemahirannya ini.

“Di antara Tuan-tuan siapa yang sudi memberi pinjam sebatang pedang?” demikian segera ia berkata terhadap para kesatria.

Di antara hadirin sebanyak ribuan orang itu sedikitnya ada dua ratusan yang membawa pedang, maka beramai-ramai mereka menyahut dan ingin memberi pinjam.

“Kau pakai pedang ini saja!” kata Sun Put-ji tiba-tiba sambil meloncat maju dan angsurkan pedangnya yang bersinar mengkilap tajam.

Nyata meski pun Hek Tay-thong dan Sun Put-ji sangat marah terhadap khianatnya Yo Ko pada Coan-cin-kau, tetapi sekarang melihat si pemuda melawan musuh sepenuh tenaga dan membela nama negara, seketika itu mereka kesampingkan urusan pribadi ini dan Sun Put-ji lantas angsurkan pedang pusakanya pemberian mendiang gurunya, Ong Tiong-yang.

Melihat pedang itu begitu bagus, Yo Ko menduga pasti pedang wasiat yang bisa potong emas dan merajang batu, kalau dipakai melawan Hotu tentu tidak sedikit keuntungannya, Tetapi ketika dilihatnya jubah imam yang dipakai Sun Put-ji, seketika itu teringat olehnya hinaan dan penderitaan yang pernah dia rasakan di Tiong-yang-kiong dulu dan terbayang juga kematian Sun-popoh di bawah tangan Hek Tay-thong. Mendadak matanya mendelik, pedang itu tak diterimanya, sebaliknya dari tangan seorang murid Kay-pang ia mengambil sebatang pedang tua hitam karatan.

“Biarlah kupinjam pedang Toako ini,” demikian ia berkata.

Tentu saja Sun Put-ji serba salah sampai terpaku di tempatnya. Sungguh tidak kepalang amarahnya. Dengan maksud baik ia pinjamkan pedangnya, namun orang berbalik begitu kurang ajar. Baiknya ia bisa menguasai dirinya, ia merasa tidak enak cekcok sendiri selagi musuh luar berada di depan mata, maka dengan menahan amarahnya ia kembali lagi ke tempatnya tadi.

Sikap Yo Ko ini juga terlalu keras, terlalu menyolok ia unjukkan perasaannya. Sebetulnya kesempatan itu dapat dipergunakannya untuk memperbaiki hubungan dengan Coan-cin-kau, tetapi lantaran tindakannya itu, hubungan mereka semakin menjadi renggang.

Di lain pihak ketika melihat Yo Ko tidak menerima Pokiam, sebaliknya mengambil pedang bejat yang telah karatan, hati Hotu terkesiap dan bertambah jeri, sebab seorang yang ilmu silatnya sudah sampai di puncaknya, setiap gerakan, setiap tindakan sudah cukup untuk melukai orang dan tak perlu lagi dengan senjata tajam, maka ia pikir apa orang betul-betul begitu temberang, cukup menggunakan sebatang pedang karatan saja? Segera dia pun pentang kipas lempitnya, dia kebaskan beberapa kali dan segera hendak membuka suara menantang. Tapi tiba-tiba dengan ujung pedang Yo Ko menuding empat huruf di atas kipasnya yang ditulis Cu Cu-liu itu.

“Ha-ha, kau adalah bangsa biadab, semua orang sudah tahu, tidak perlu kau pamer lagi,” demikian ejek Yo Ko tertawa.

Muka Hotu menjadi merah. “Crettt!” mendadak kipasnya ia lempit kembali hingga berwujud sebuah pentung pendek, terus saja ia totok perlahan ke ‘koh-cing-hiat’ di pundak Yo Ko, berbareng telapak tangan kiri pun memukul dengan tenaga penuh.

Selama beberapa tahun Yo Ko giat berlatih di kuburan kuno, semua inti pokok dari ilmu silat aliran Ko-bong-pay telah dipelajarinya. Ilmu silat Giok-li-sim-keng ciptaan Lim Tiao-eng yang dilatihnya sendirian dalam kuburan kuno, sampai Ong Tiong-yang, itu jago silat yang diakui nomor satu di seluruh jagat juga kalah padanya, baru kemudian sesudah Ong Tiong-yang mendapatkan ‘Kiu-im-cin-keng’, Lim Tiao-eng dapat dikalahkannya lagi.

Sesudah Lim Tiao-eng menciptakan ilmu silatnya itu dia pun tidak pernah keluar lagi dari kuburan, belakangan hanya diturunkan kepada dayang kepercayaannya dan dayangnya itu lalu menurunkannya kepada Siao-liong-Ii, ketiga perempuan ini bukan saja tak pernah berpijak di kalangan Bu-lim, bahkan dari Cong-lam-san pun tidak pernah turun selangkah pun. Meski Li Bok-chiu adalah Suci atau kakak seperguruan Siao-liong-li, tetapi gurunya sudah keburu tahu jiwanya yang busuk, maka ilmu silat yang paling tinggi belum lagi diturunkan kepadanya.

Kini Yo Ko mengeluarkan ilmu silat Ko-bong-pay yang tak ada tandingannya itu, di antara para hadirin yang berkumpul dari segala golongan dan segala aliran itu, kecuali Siao-liong-li sendiri ternyata tiada seorang pun yang kenal Kiam-hoat apa yang dimainkan Yo Ko.

Pencipta ilmu silat yang hebat ini asalnya seorang wanita, pula dua keturunan muridnya juga wanita semua, jadi mau tak mau gayanya menjadi lemah-lembut dan kurang ganas. Begitu juga ketika Siao-liong-li mengajarkan gerak tipunya kepada Yo Ko, gerak-geriknya membawa gaya perempuan yang lemah gemulai. Tetapi setelah Yo Ko dapat memahami seluruhnya, ia telah ubah semua gaya wanita itu hingga lebih gesit dan lebih cekatan. Dasar Ginkang dari Ko-bong-pay memang tiada taranya, maka tampaklah Yo Ko berlari mengitari ruangan dengan cepat, belum selesai tipu yang satu, serangan berikutnya telah menyusul lagi, ke sana pedangnya mengarah tahu-tahu orangnya pun telah sampai, baru belasan jurus dari Kiam-hoatnya yang hebat itu dilontarkan, para kesatria itu tak ada satu pun yang tak kagum.

Sebenarnya ilmu silat kipas pangeran Hotu terhitung juga satu keistimewaan dalam dunia silat, cara-cara menyerangnya juga mengutamakan kelemasan dan kegesitan, tetapi kini terbentur Ginkang dari Ko-bong-pay yang hebat, nyatalah sedikit pun ia tak bisa berkutik, ditambah lagi kipasnya kena ditulis empat huruf oleh Cu Cu-liu dan tadi sudah diolok-olok Yo Ko, maka tak berani lagi dipentang, karena itu ilmu silat kipasnya kena dikorting lagi.

Di sebelah sana, setelah tahu ilmu silat Yo Ko ternyata begitu lihay, Bu-si Hengte menjadi mati kutu, bersama Kwe Hu, enam mata terpentang lebar-lebar dan tak bisa bicara lagi. Di antara para penonton itu, orang yang paling gembira rasanya tiada lain dari pada Kwe Ceng. Sungguh tidak diduganya bahwa putera adik angkatnya yang sudah almarhum itu bisa melatih silat sebegitu tinggi sampai ia sendiri tidak mengetahui dari aliran mana, bila teringat hubungan keluarga Yo dan Kwe, tanpa terasa dia pun menjadi terharu bercampur girang. Waktu Oey Yong melirik sang suami dan melihat matanya rada merah, sedangkan ujung mulutnya tersungging senyuman, ia pun tahu akan pikiran sang suami, maka tangan Kwe Ceng digenggamnya erat-erat.

Merasa tak ungkulan, Hotu menjadi gelisah bukan main. Ia pikir kalau hari ini terjungkal di tangan bocah ini, maka namanya boleh dikatakan telah terhanyut seluruhnya, jangan lagi hendak menjagoi Bu-lim! Dalam pada itu dilihatnya Yo Ko telah menyerang lagi, sekali tusuk mengarah tiga tempat bagian atas, bila ia melompat berkelit itu berarti jatuh di bawah angin. Maka ia tak menghiraukan lagi akan oIok-olok orang, cepat kipasnya dipentang untuk tangkis tiga tusukan orang, berbareng itu ia meng-gertak, ia pun balas menyerang dengan ‘Hong hong-siok-lui-kang’ (ilmu angin badai dan petir kilat). Ia kibaskan lengan baju dari kiri dan kipas dari kanan menerbitkan angin santer, sedangkan mulutnya terus meng-gertak keras.

Seorang jagoan Bu-lim menandingi seorang pemuda tak terkenal, ternyata terpaksa harus keluarkan ilmu kepandaian terakhirnya untuk membela diri, seumpama akhirnya menang pasti akan kehilangan pamor juga. Akan tetapi asalkan tak kalah saja Hotu sudah terima, mana bisa dia pikir yang Iain-lain. Maka sambil membentak-bentak, serangan-serangannya juga semakin ganas, sebaliknya Yo Ko berlaku tenang saja dengan sikapnya yang gagah menarik. Memang ilmu pedang ‘Bi-li-kiam-hoat’ atau ilmu pedang si gadis ayu mengutamakan gaya manis, kini di-bentak Hotu tentu saja semakin menambah kehalusan dan keindahannya.

Tapi karena Yo Ko hanya mengutamakan gaya serangannya yang indah, maka dalam hal daya tekanan menjadi sukar dilontarkan seluruhnya. Sebaliknya Hotu sudah nekat, makin bertempur makin kalap dan tidak sayang buat adu jiwa, karenanya lambat laun Yo Ko jadi payah sendiri.

Melihat cara pertarungan itu, Kwe Ceng dan Oey Yong yang ilmu silatnya sangat tinggi lantas tahu Yo Ko bakal kecundang, maka alis mereka terkerut semakin rapat, lebih-lebih ketika dilihatnya angin pukulan Hotu semakin keras dan tambah cepat, diam-diam mereka kuatir. Tak terduga mendadak Yo Ko ayunkan pedangnya, lalu terdengar ia berseru:

“Awas, aku akan melepas Am-gi!”

Tadi Hotu sudah merobohkan Cu-liu dengan pakunya yang berbisa. Kini demi mendengar peringatan Yo Ko tadi, dia sangka pedang orang juga sama seperti kipas lempitnya yang di dalamnya tersembunyi Am-gi atau senjata rahasia. Kalau tadi dia menang dengan cara yang licik, maka kini tidak bisa menyalahkan lawan kalau cara itu ditiru. Karena itu, ketika dilihatnya Yo Ko ayun pedangnya, lekas ia melompat ke kiri.

PERTANDINGAN BABAK TAMBAHAN KE DUA

Siapa tahu gerak tangan Yo Ko hanya tipuan palsu belaka, sebaliknya pedangnya terus menusuk, mana ada bayangan senjata rahasia yang dikatakannya? Tahu tertipu, Hotu menjadi marah, ia mendamperat:

“Binatang cilik!”

“Binatang cilik memaki siapa?” tanya Yo Ko.

Akan tetapi sekarang Hotu sudah pintar, ia tak menjawab, hanya serangannya bertambah gencar.

“Awas senjata rahasia!” kembali Yo Ko berseru sembari mengayun tangan kirinya.

Dengan cepat Hotu melompat ke kanan, disangkanya sekali ini orang benar-benar menghamburkan Am-gi, tapi siapa tahu pedang Yo Ko justru menusuk dari kanan secepat kilat. Maka lekas-lekas ia membungkuk sambil mengkeretkan tubuh, ujung pedang orang tahu-tahu menyambar lewat di bahunya, jaraknya tidak lebih hanya satu-dua senti saja. Tusukan itu sangat berbahaya dan cukup keji, tetapi karena tidak kena sasarannya, para kesatria itu sama berteriak: “Sayang!” sebaliknya para Bu-su atau jago silat Mongol pada bersyukur. Meski Hotu berhasil lolos dari ‘lubang jarum’, akan tetapi tidak urung keringat dingin telah membasahi tubuhnya.

“Awas Am-gi!” lagi-lagi ia dengar Yo Ko berseru dengan tertawa sembari ayunkan tangan kiri.

Sekali ini Hotu tak menggubrisnya, dia terus ayunkan tangan memapaki orang. Betul juga kembali lawannya mengapusi belaka. Karena tipunya sudah gagal, mendadak Yo Ko menubruk maju, untuk kesekian kalinya ia ayunkan tangan lagi dan memperingatkan pula dengan tertawa:

“Awas Am-gi!”

“Bin...” belum sampai suku kata pertama ini sempurna diucapkan mendadak pandangan Hotu menjadi silau, tahu-tahu sinar perak gemerdep menyambar dari depan.

Sekali ini jaraknya sudah terlalu dekat, lagi pula ia sama sekali tak berjaga-jaga sesudah beberapa kali kena diapusi, maka tiada jalan lain kecuali melompat ke atas, namun tahu-tahu kakinya terasa sakit tertusuk, beberapa benda kecil lembut sudah menancap pada kakinya. Cara tertipunya ini persis mirip dengan caranya melukai Cu-liu dengan akal licik tadi, tapi dipikirnya senjata orang hanya lembut kecil, meski kena tentunya tidak besar alangannya. Dalam marahnya Hotu menjadi kalap, segera kipasnya menutul dan tangannya memukul hebat dengan tujuan mematikan Yo Ko seketika. Tahu serangannya sudah berhasil, mana mau Yo Ko terlibat dalam pertarungan lagi, dia putar pedangnya menjaga diri dengan rapat.

“Ha-ha, sayang dengan ilmu silatmu yang setinggi ini, kini harus terbinasa di sini, sungguh sayang, sayang sekali!” demikian Yo Ko tertawa terbahak-bahak.

Selagi Hotu hendak merangsek maju, sekonyong-konyong pahanya terasa kaku dan gatal seperti kena digigit nyamuk besar saja. Dia berusaha menahan rasa gatal itu untuk tetap melontarkan serangannya, siapa tahu tempat yang kaku gatal itu cepat sekali bertambah hebat.

“Celaka, Am-gi binatang cilik ini berbisa,” seketika ia terkejut. Baru saja terpikir demikian, rasa gatal pahanya sudah tak bisa ditahan lagi, saking tak tahan tanpa menghiraukan ada musuh besar berada di depan mata, kipas ia lempar dan tangan diulur untuk menggaruk-garuk tempat yang gatal itu.

“Kalau tak digaruk masih mendingan, jika sekali digaruk, celaka tiga belas, rasa gatal-geli seketika akan meresap sampai tuIang sumsum,” ujar Yo Ko sambil tertawa.

Saking tak tahan Hotu berteriak-teriak dan berkaok-kaok sembari bergulingan di ruangan pendopo. Hendaklah diketahui bahwa racun Giok-hong atau jarum tawon putih yang sakti dari Ko-bong-pay itu jarang dilihat dan didengar di jagat ini, terkena sebuah saja tak tahan, apa lagi kini terkena beberapa buah! Saking lembutnya Giok-hong-tiam itu, pada waktu Yo Ko menyerang, sebagian besar para kesatria tak tahu, hanya mendadak terlihat Hotu jatuh ber-guling hingga tak mengerti kepandaian apa yang digunakan Yo Ko untuk merobohkan lawannya.

Sementara paderi Tibet si Darba telah lari maju, ia angkat sang Sute dan diserahkan pada gurunya, habis ini ia putar balik dan berkata pada Yo Ko:

“Anak kecil, mari aku coba-coba kau!” sambil berkata gada emas segera menyerampang ke pinggang Yo Ko.

Gada itu amat berat dan begitu menyambar lantas menerbitkan sinar emas, maka betapa besar tenaga dan betapa cepat gerak tangan Darba dapat dikira-kirakan. Namun Yo Ko tidak berkelit, ia berdiri tegak, hanya pinggangnya mendadak menekuk ke dalam dan dengan tepat gada orang menyambar lewat di depan perutnya. Siapa tahu gerak tangan Darba memang hebat, begitu gada tak kena sasaran, mendadak senjata itu ia tahan di tengah jalan, dari menyerampang tadi tiba-tiba berubah menyodok ke depan, ke perut Yo Ko.

Perubahan serangan ini sama sekali di luar dugaan semua orang, bahkan Yo Ko sendiri juga terkejut. Lekas-lekas dia tahan pedangnya ke atas gada orang dan tubuhnya lantas mencelat ke atas dengan meminjam tenaga lawan. Sekali sodok tidak kena, tanpa menunggu turunnya Yo Ko, dengan kencang Darba sudah menghantam lagi. Tapi lagi-lagi Yo Ko menahan ke atas gadanya dan untuk kedua kalinya mencelat ke atas.

“Lari ke mana?!” bentak Darba sengit, menyusul gada emasnya mengemplang lagi.

Dengan tubuh terapung di udara, dengan sendirinya Yo Ko tidak leluasa untuk bergerak. Melihat keadaan sangat berbahaya, terpaksa ia keluarkan gerakan untung-untungan, mendadak ia tangkap ujung gada orang, berbareng pedangnya terus memotong lurus ke bawah mengikuti batang gada itu. Dengan cara ini, jika tenaganya tak banyak berselisih dengan Darba, tiada jalan lain bagi Darba kecuali melepaskan gadanya. Tetapi kini tenaga Darba berkali lipat lebih kuat dari pada Yo Ko, ketika sekuatnya ia menarik, dengan cepat Darba melompat mundur. Melihat Ginkang Yo Ko begitu tinggi, gerak-geriknya amat gesit, tiba-tiba Darba bertanya:

“Tidak jelek kepandaian anak kecil, siapakah yang mengajarkan kau?”

Darba berkata dalam bahasa Tibet, sudah tentu sepatah kata saja Yo Ko tidak paham. Ia menyangka orang sedang memaki dirinya, maka dia pun menirukan suara orang, dia pun ucapkan apa yang dikatakan Darba. Dasar pembawaan Yo Ko memang pintar, beberapa kata-kata Tibet itu diucapkan dengan fasih sekali, susunannya juga tak ada yang terbalik sedikit pun, maka dalam pendengaran Darba kata-kata Yo Ko itu menjadi:

“Tidak jelek kepandaian anak kecil, siapakah yang mengajarkan kau?”

Oleh karena itu, tanpa pikir Darba menjawab. “Suhuku ialah Kim-lun Hoat-ong. Aku bukan anak kecil, kau harus panggil aku Hwesio besar.”

Dengan sendirinya Yo Ko tidak mengerti pula. Tapi sedikit pun ia tak mau diakali, ia pikir: “Pendeknya tak peduli kau mencaci maki aku dengan kata-kata yang paling keji, asal aku kembalikan semangkok penuh, maka tidaklah kalah dalam caci maki. Meski kau gunakan bahasa asing memaki aku anjing babi binatang, kontan bulat aku pun memaki kau anjing, babi binatang.”

Maka ia dengarkan kata-kata orang dengan cermat, begitu orang selesai bicara, dengan lagu suara yang sama dalam bahasa Tibet dia pun berkata:

“Suhu-ku ialah Kim-lun Hoat-ong. Aku bukan anak kecil, kau harus panggil aku Hwesio besar.”

Keruan saja Darba terheran-heran. Dengan kepala miring-miring ia mengamat-amati orang dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan. Ia pikir: aneh, terang kau ini anak kecil, kenapa bilang Hwesio besar? Dan kenapa bilang gurumu juga Kim-lun Hoat-ong? Segera ia berkata lagi:

“Aku adalah murid angkatan pertama Hoat-ong, dan kau angkatan berapa?”

Kontan Yo Ko juga menjawab: “Aku adalah murid angkatan pertama Hoat-ong, dan kau angkatan ke berapa?”

Supaya diketahui bahwa dalam ajaran agama Lama di Tibet, biasanya terdapat apa yang disebut ‘reinkarnasi’ atau penjelmaan kembali. Tatkala itu Dalai dan Pancen Lama belum ada, akan tetapi kepercayaan tentang menitis kembali biasanya sangat dipuja oleh setiap pemeluk agama Lama. Kebetulan waktu mudanya Kim-lun Hoat-ong pernah menerima seorang murid, dan murid ini mati sebelum berusia 20 tahun, maka Darba dan Hotu belum pernah kenal Suheng itu, hal ini cuma sekedar diketahui saja.

Sekarang mendengar apa yang dikatakan Yo Ko tadi, Darba mengira Yo Ko benar-benar adalah reinkarnasi Suheng-nya. Ia pikir jika orang bukan anak sakti yang menitis dengan membawa kepandaian, mana mungkin pemuda seperti ini memiliki ilmu silat begini tinggi? Lagi pula dia adalah pemuda Han, kenapa fasih bicara bahasa Tibet? Karena itulah ia terus mengamat-amati orang sambil kepala miring-miring, semakin dilihat semakin sama dan semakin percaya pula, sampai akhirnya mendadak ia lemparkan gada emasnya terus berlutut menyembah pada Yo Ko.

Kelakuan Darba ini sungguh membikin Yo Ko terheran-heran. Dia pikir apakah Hwesio ini tak ungkulan caci maki dan kini terima tunduk mengaku kalah padaku? Dan bagi penonton keruan saja terlebih heran luar biasa. Lucunya, semua tidak paham dan tidak diketahui tanya jawab dalam bahasa “Mikuluk - kikiluluk” antara Yo Ko dengan Darba tadi. Dalam pada itu yang paling terang duduknya perkara rasanya hanya Kim-lun Hoat-ong. Ia tahu Darba terlalu polos sehingga kena ditipu Yo Ko.

“Darba,” segera ia buka suara, “ia bukan titisan Suheng-mu, lekas bangun dan bertanding dengan dia.”

“Suhu,” seru Darba sambil meloncat bangun terkejut, “aku lihat ia pasti Toa-suheng, kalau tidak, umur semuda ini mana bisa mempunyai kepandaian seperti ini?”

“Toa-suhengmu jauh lebih kuat ilmu silatnya dari pada kau, sebaliknya bocah ini sekali-kali di bawahmu,” kata Kim-lun Hoat-ong.

Tetapi Darba geleng-geleng kepala, tetap tak mau percaya. Kim-lun Hoat-ong kenal watak muridnya yang teramat lurus ini, untuk memberi penjelasan seketika juga tidak bisa terang, maka ia katakan lagi:

“Jika kau tak percaya, kau jajal dia tentu lantas tahu.”

Terhadap apa yang dikatakan sang Suhu biasanya Darba percaya bagai malaikat dewata, kalau dia bilang Yo Ko bukan inkarnasi Toa-suheng tentunya memang bukan. Tetapi umur semuda ini memiliki ilmu silat begitu hebat, hal ini membikin Darba tak bisa tidak percaya, tetapi ia turut juga perintah sang guru dan bertanding lagi untuk menjajal kepandaian asli orang. Ia ingin lihat siapa yang menang dan siapa kalah dengan begitu soalnya lantas bisa diputus. Maka lebih dahulu dia angkat tangan dan berkata pada Yo Ko:

“Baiklah, biar kucoba ilmu silatmu tulen atau palsu, kita tentukan berdasarkan menang dan kalah.”

Melihat Darba berdiri kemudian “kilakiluk” entah berkata apa lagi, hanya sikapnya sangat menghormat, Yo Ko sangka orang telah ucapkan beberapa patah kata yang sopan, maka tanpa merubah sedikit pun ia lalu tirukan lagu suara orang dan mengulangi mengucapkan sekali lagi. Tentu saja di dalam pendengaran Darba menjadi

“Baiklah, biar kucoba ilmu silatmu tulen atau palsu, kita tentukan berdasarkan menang atau kalah.”

Maka Darba juga lantas menjawab: ”Harap kau berlaku murah hati.”

Segera Yo Ko tiru dan menyahut: “Harap kau berlaku murah hati.”

Melihat kedua orang itu mengoceh terus dalam bahasa Tibet, Kwe Hu jadi heran, maka ia mendekati Oey Yong dan tanya sang ibu:

“Ibu, apa yang mereka percakapkan?”

Sejak tadi Oey Yong sudah mengetahui Yo Ko hanya menirukan lagu suara orang secara komplit dan untuk main-main saja sebagai orang muda umumnya, tapi kenapa mendadak Darba me-nyembah kepadanya hal ini pun membikin dia bingung tak habis mengerti. Maka ketika ditanya puterinya, dia menjawab singkat saja:

“O, Yo-koko hanya berkelakar saja dengan dia.” Belum habis dia berkata, mendadak dilihatnya Darba mengangkat gada terus mengemplang ke arah Yo Ko.

Darba anggap sebelumnya sudah dikatakan hendak menjajal, tentunya lawan sudah siap sedia. Sebaliknya melihat sikap orang tadi ramah dan menghormat, Yo Ko tidak menduga orang akan mendadak melakukan serangan, maka pukulan itu hampir-hampir saja kena kepalanya, untung ia sempat melompat ke belakang. Tapi segera ia merangsek maju lagi terus menusuk tiga kali susul menyusul. Darba sendiri sudah punya rasa jeri. Karena Yo Ko sudah lama ikut gurunya, ia kuatir ilmu silatnya tentu lain dari pada yang lain, maka ia berjaga rapat tanpa berani asal.

Setelah beberapa jurus lagi, Yo Ko tahu lawan hanya menjaga diri saja tanpa menyerang, biar pun tidak mengerti maksud tujuan orang, tapi kebetulan baginya untuk melancarkan serangan-serangan. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi ia tusuk sini dan bacok sana, ilmu pedang ‘si gadis ayu’ menjadi lebih indah gayanya dan menarik. Akhirnya Kim-lun Hoat-ong menjadi tidak sabar, ia membentak:

“Darba, lekas kau balas hantam, ia bukan Toa-suhengmu!”

Sesungguhnya kepandaian Darba masih di atas Yo Ko, cuma karena merasa takut, ilmu silatnya lantas surut separoh. Sebaliknya Yo Ko dapat keluarkan seluruh kemahirannya, jadi yang satu menyerang semakin hebat dan jitu, sebaliknya yang lain takut dan semakin mengkeret.

“Balas serang segera!” bentak Hoat-ong mendadak, ia telah marah.

Bentakannya begitu keras sehingga telinga semua orang seakan-akan pekak. Begitu juga Darba menjadi jeri, dia tidak berani membantah lagi, begitu Kim-kong-cu atau gada emas diputar, segera ia balas menghujam serangan. Dengan hantaman balasan ini betul juga Yo Ko langsung terdesak sehingga harus berkelit terus, lubang kelemahannya perlahan-lahan mulai kentara. Ketika melihat gerak pedang Yo Ko sedikit lengah, cepat sekali Darba mengemplang, karena tak sempat hindarkan diri, terpaksa Yo Ko menangkis dan terjadi benturan keras kedua senjata.

Sebetulnya beradunya senjata kedua pihak pada waktu bertanding adalah soal biasa saja. Akan tetapi gada Darba terlalu antap, maka selalu Yo Ko memutar pedangnya tak berani membentur senjata orang. Kini tiba-tiba kesamplok, terasalah segera suatu tenaga yang maha besar menindihnya hingga lengannya sakit linu.

“Krakk!” mendadak pedangnya patah menjadi dua.

“Aku yang menang!” teriak Darba segera sembari undurkan diri.

“Aku yang menang!” mendadak Yo Ko tirukan orang dalam basa Tibet, berbareng itu pula separoh pedang patah itu ditimpukkan sekalian pada Darba.

Keruan Darba langsung tertegun, pikirnya: “Mengapa dia yang menang? Apa tipunya tadi hanya pancingan belaka?”

Sementara itu dengan tangan kosong Yo Ko merangsek maju lagi, maka Darba tak berani asal, ia putar gadanya rapat melindungi tubuhnya.

Dulu waktu ikut Siao-liong-li belajar ilmu pukulan dengan tangan kosong di kuburan kuno, sampai tingkat terakhir ia diharuskan mementangkan kedua telapak tangan buat menahan terbangnya 9X9=81 ekor burung gereja hingga tiada seekor pun yang lolos. Ilmu pukulan itu adalah ciptaan Lim Tiao-eng dan selamanya tidak pernah dikenal di dunia ramai, kini Yo Ko mainkan di hadapan umum, nyata daya tekanannya memang luar biasa, meski bertangan kosong, tetapi jauh lebih kuat dari pada tadi ia memakai pedang.

Kalau Darba memutar gadanya begitu hebat hingga membawa sambaran angin kencang menerobos kian kemari di antara ruangan, sebaliknya Yo Ko menggunakan Ginkang yang sangat tinggi menerobos kian kemari di antara celah senjata orang. Meski pun tampaknya amat berbahaya, tapi gada emas orang tetap tak mampu menyenggolnya seujung rambut pun. Sebaliknya dia bisa mencengkeram, menarik, membeset dan macam-macam gerak serangan lain bercampurkan ‘tang-hok-mi-cin’ atau ilmu pukulan halus penahan burung gereja, ia terus menyerang dengan cepat.

Tidak lama kemudian tenaga raksasa Darba makin bertambah, sebaliknya lari Yo Ko juga semakin cepat dan enteng, Nyatalah sekarang, faedah yang ia peroleh dari kegunaannya berlatih di atas ranjang batu pualam di dalam kuburan kuno itu kini telah kentara semua.

Di sebelah sana sejak tadi Siao-liong-li duduk bersandar tiang menyaksikan pertarungan kedua orang itu dengan tersenyum-simpul. Demi nampak sudah lama Yo Ko masih belum menang, tiba-tiba dari bajunya dia keluarkan sepasang kaos tangan putih yang lemas dan tipis.

“Ko-ji, sambut ini!” serunya kepada Yo Ko, berbareng itu ia lemparkan kaos tangan itu ke tengah kalangan.

Kaos tangan Siao-liong-li ini adalah rajutan benang emas putih yang amat halus dan ulet, meski lemas dan tipis tetapi tidak mempan segala macam senjata. Melihat berkelebatnya kaos tangan itu di udara, air muka Hek Tay-thong mendadak berubah. Seperti diketahui, ketika saling gebrak di Tiong-yang-kiong dulu, dengan kaos tangan ini pernah Siao-liong-li mematahkan pedang Hek Tay-thong sehingga ia terdesak dan hampir saja menggorok leher sendiri, karena itu demi nampak kaos tangan ini, seketika kejadian dulu terbayang lagi olehnya.

Sementara itu dengan cepat kaos tangan itu telah disambut Yo Ko, lalu dia mundur satu langkah dan cepat memakai kaos tangan itu. Ketika kemudian ia mengegolkan pinggang bagai seorang wanita, maka dimainkanlah ‘Bi-Ii-kun-hoat’ atau ilmu pukulan si gadis ayu yang paling hebat dan paling indah gayanya dari Ko-bong-pay. Setiap gerak-gerik ilmu pukulan ini menirukan gaya seorang wanita ayu dari jaman purba kala, apa bila dilakukan kaum lelaki sebetulnya kurang pantas, tetapi waktu dilatih Yo Ko, setiap gayanya telah diubahnya, meski pun nama-nama tipu gerakan masih tetap, namun gerak-geriknya dari lemah gemulai sudah berubah menjadi gagah luwes.

Dengan demikian para penonton menjadi lebih tidak mengerti, tiba-tiba mereka melihat Yo Ko berlari cepat, kadang-kadang berdiri tegak, sekejap saja sikapnya berubah lagi. Harus diketahui bahwa jiwa kaum wanita memang banyak ragamnya dan cepat pula ber-ubah, lebih-lebih wanita ternama, tertawanya di waktu suka atau duka, semuanya lebih-lebih sukar diduga. Karena itu, sekali gunakan tipu “Hong giok-kik-koh” (Ang Hong-giok memukul genderang), kedua tangan Yo Ko cepat menghantam, dengan sendirinya Darba mengangkat gadanya untuk menangkis, tetapi cepat sekali Yo Ko sudah ganti tipu ‘Hong-hut-ya-ping’ (Hong-hut minggat malam-malam), di luar dugaan orang ia terus menubruk maju.

Ketika Darba menyabet gadanya dari samping, mendadak Yo Ko gunakan tipu ‘Lok-cu-tui-lau’ (Lok-tu jatuh dari loteng), tahu-tahu ia menubruk bagian bawah musuh. Darba kaget, dia tidak mengerti mengapa tipu serangan orang demikian aneh perubahannya dan susah diraba? Maka lekas-lekas ia melompat buat hindarkan hantaman tangan orang yang telah memotong dari kiri lagi. Tak terduga Yo Ko lantas bertepuk tangan beberapa kali dan susul menyusul menggablok ke depan, kiranya ini adalah gaya ‘Bun-gwe-kui-han’ atau Bun-gwe kembali ke negeri Han yang berirama musik Ohka, seluruhnya meliputi 18 kali tepukan.

Setiap gerakan Yo Ko semuanya ada asal-usul sejarahnya. Darba adalah seorang paderi Tibet, sudah tentu ia tak paham kisah kuno negeri Tionggoan, ia diserang ke atas dan ke bawah, tiba-tiba dari timur, tahu-tahu dari barat hingga ia kelabakan. Tangan Yo Ko memakai kaos benang emas, maka bila mana ada kesempatan segera ia menubruk maju hendak merebut gada Darba. Paderi ini terdesak hingga berkaok-kaok dan kalang kabut.

Dengan sendirinya para pahlawan girang bukan main, mereka pada berseru memberi semangat pada Yo Ko. Kim-lun Hoat-ong tahu ilmu silat muridnya masih berada di atas pemuda ini, cuma berhati jeri, maka selalu kena didahului lawan dan terdesak di bawah angin.

“Gunakan Bu-siang-tay-lik-cu-hoat!” bentaknya tiba-tiba.

“Baik,” sahut Darba menurut. Mendadak gadanya ia pegang dengan kedua tangan terus diayun cepat.

Waktu gada diputar dengan sebelah tangan saja sudah hebat sekali tenaga raksasanya, sekarang ditambah tenaga kedua tangan sekaligus, keruan suara sambaran angin sampai menderu-deru.

‘Bu-siang-tay-lik-cu-hoat’ atau ilmu gada bertenaga raksasa ini, tipu serangannya sangat sederhana, cuma menyerampang delapan jurus dan menghantam delapan kali, semuanya hanya 2x8=16 jurus, tetapi ke-16 jurus ini bisa boIak-balik diulangi, maka Yo Ko terdesak sehingga harus menyingkir jauh-jauh. Jangankan menghadapi secara keras lawan keras, untuk menahan angin gada saja susah.

Di sebelah sana, sejak penggayu besinya patah Tiam-jong Hi-un masih terus merasa penasaran, tapi kini setelah menyaksikan ‘Bu-siang-tay-lik-cu-hoat’ orang yang luar biasa ini, ia pikir ilmu permainan penggayu sendiri sesungguhnya tiada tipu-tipu serangan yang begini keras dan begini kuat, maka mau tak mau ia kagum juga.

Setelah pertarungan berlangsung lama, lilin yang menyala di ruang pendopo itu sudah ada 7-8 batang yang sirap tersambar angin gada. Yo Ko hanya andalkan Ginkang untuk melompat kian kemari asal dapat menghindarkan diri, harapannya asal tak kena dihantam gada orang, mana sempat lagi ia balas menyerang? Karena itu para pahlawan Tionggoan segera menjadi bungkam, sebaliknya berganti para jago Mongol yang bersorak-sorai.

Melihat ilmu pukulan ‘Bi-li-kun-hoat’ sukar memperoleh kemenangan, sedangkan musuh mendesak terlalu kencang, terpaksa Yo Ko main mundur terus hingga akhirnya terdesak sampai di ujung ruangan. Ia hendak ganti tipu gerakan, namun gerak-geriknya di tempat sempit itu tak bebas lagi.

Ilmu permainan gada Darba ini memang beberapa bagian bersifat kalap, setelah Darba mengamuk, ia lupa apakah orang di hadapannya ini mungkin reinkamasi suheng-nya atau bukan. Pada waktu melihat Yo Ko terdesak di pojok ruangan hingga tiga jurusan sudah terkurung, mendadak ia membentak:

“Mampus kau!”

Berbareng itu gadanya menyabet dari samping, maka terdengarlah suara gemuruh diiringi debu pasir berhamburan, kiranya dinding ruangan itu kena dihantam sehingga berlubang besar. Pada saat berbahaya, syukur Yo Ko masih sempat melompat lewat di atas kepala orang. Dalam seribu kerepotannya itu dia tak lupa pula membalas kata-kata dalam bahasa Tibet:

“Mampus kau!”

Gerak lompatannya ini adalah ilmu kepandaian dari ‘Kiu-im-cin-keng’. Sejak huruf ukiran di langit ruangan kuburan kuno itu dilihatnya, bila senggang Yo Ko lantas melatihnya baik-baik, hanya tiada orang yang memberi petunjuk tambahan, maka apa yang dilatihnya tidak tahu apakah betul ataukah salah. Kini menghadapi musuh tangguh, sudah tentu tak berani sembarangan digunakan. Siapa tahu saat terancam elmaut, dengan sendirinya dia menggunakan ilmu sakti itu hingga jiwanya tertolong.

Semua orang mengira hantaman Darba tadi pasti berhasil, maka sebelum serangan orang dilontarkan seluruhnya, secepat kilat Kwe Ceng melompat maju hendak hantam punggung orang. Tiba-tiba jubah merah berkelebat di depannya, Kim-lun Hoat-ong memukulnya juga. Kwe Ceng terkejut oleh serangan orang yang aneh dan cepat ini. Lekas-lekas ia gunakan tipu ‘Kian-liong-cay-tian’ atau melihat naga di sawah, ia tangkis dahulu serangan Kim-lun Hoat-ong.

Keduanya memang tokoh terkemuka dunia persilatan, maka begitu kedua tangan beradu, ternyata sedikit suara saja tak ada, hanya tubuh masing-masing bergoncang, Kwe Ceng mundur tiga tindak, sebaliknya Kim-lun Hoat-ong tetap berdiri tegak di tempatnya. Ternyata tenaga Kim-lun Hoat-ong jauh lebih besar dari pada Kwe Ceng, latihannya juga lebih dalam, namun ilmu pukulannya sebaliknya kalah bagus. Tadi Kwe Ceng melangkah mundur buat mengelak tenaga hantaman lawan supaya tidak terluka, sebaliknya Hoat-ong sambut tenaga orang sekuatnya dengan menahan rasa sakit di dada, maka masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Melulu soal gebrakan ini saja Kwe Ceng boleh dikatakan sudah kalah, akan tetapi kalau pertarungan dilanjutkan, siapa unggul atau asor masih belum tahu. Tapi demi nampak Yo Ko sudah bisa mematahkan serangan Darba tadi, kedua orang ini terhenyak, yang satu girang lega, yang lainnya menyesal dan merasa sayang, lalu mereka pun mundur kembali.

Tokoh-tokoh seperti Kwe Ceng dan Kim-lun Hoat-ong juga menyangka Yo Ko pasti akan celaka, maka yang satu hendak menolong dan yang lain hendak mencegah. Siapa tahu Yo Ko ternyata punya tipu aneh, dari tempat luang yang sempit bisa meloloskan diri. Dan sekali hantam tak kena, Darba tidak memutar lagi, sekalian gadanya terus mengayun ke belakang sekuatnya. Melihat serangan orang cepat luar biasa, otomatis Yo Ko lantas meloncat ke atas, maka melayang lewatlah gada Darba beberapa senti di bawah kakinya. Kembali gerak tipunya ini adalah ilmu silat dari ‘Kiu-im-cin-keng’.

Keruan Oey Yong menjadi terheran-heran menyaksikan kepandaian Yo Ko ini. “Engkoh Ceng, mengapa Ko-ji mahir Kiu-im-cin-keng juga? Apa kau yang ajarkan dia?” demikian ia tanya sang suami.

Nyata, ia sangka karena Kwe Ceng teringat kebaikan persaudaraan dengan ayah Yo Ko, maka pada waktu antar bocah itu ke Cong-lam-san, ilmu sakti dari kitab pusaka itu telah diturunkan padanya.

“Tidak, kalau diajarkan kepadanya, tentu kuberi-tahukan kau,” sahut Kwe Ceng.

Oey Yong cukup kenal jiwa sang suami yang setia dan jujur, kepada orang lain saja bilang satu tetap satu, terhadap isteri sendiri sudah tentu lebih-lebih jujur. Namun dilihatnya Yo Ko selalu melompat kian kemari buat berkelit, setiap kali ketemu bahaya, selalu gunakan ilmu kepandaian Cin-keng untuk melindungi diri. Cuma terang ilmu itu belum terlatih baik, maka tidak dapat gunakan ilmu silat Cin-keng itu untuk balas menyerang dan menangkan orang, meski sementara jiwanya bisa selamat, namun akhirnya pasti kalah.

Diam-diam Oey Yong menghela napas gegetun, pikirnya: “Bakat Ko-ji sungguh luar biasa, kalau dia bisa ikut setahun atau setengah tahun padaku dan dapat mempelajari Pak-kau-pang-hoat dan ilmu silat dalam Cin-keng secara lengkap, mana mungkin paderi Tibet ini bisa menandinginya?”

Begitulah, selagi ia masgul, sekilas tiba-tiba dilihatnya Peng-tianglo, anggota pimpinan Kay-pang yang murtad, dengan pakaian bangsa Mongol mencampurkan diri di antara jago-jago Mongol dan wajahnya kelihatan berseri-seri. Tiba-tiba tergerak kecerdasan Oey Yong, segera serunya:

“Ko-ji, Di-hun-tay-hoat! Ih-hun-tay-hoat!”

Kiranya dalam Kiu-im-cin-keng ada semacam ilmu yang disebut ‘lh-hun-tay-hoat’, yakni mempergunakan tenaga pikiran untuk mengatasi musuh dan mendapatkan kemenangan, dasarnya tiada ubahnya seperti ilmu hipnotis pada jaman sekarang. Dahulu Oey Yong pernah gunakan ilmu ini untuk taklukkan Peng-tianglo pada waktu dia berebut jabatan Pangcu, maka begitu nampak orang, segera ia ingat akan ilmu mujijat itu.

Yo Ko masih ingat cara melatih ‘Ih-hun-tay hoat’, hanya saja dia tidak percaya menggunakan pandangan mata saja bisa menundukkan musuh, makanya tidak pernah ia melatihnya dengan baik. Tetapi ia sangat kagum terhadap kepintaran Oey Yong, pikirnya: “Jika Kwe-pekbo berkata demikian, tentu ada alasannya. Toh aku sudah pasti kalah, biarlah aku mencobanya.”

Karena itu dia masih terus lompat ke sana ke mari untuk berkelit, tetapi batinnya terpisah dari segala perasaan, pikirannya terpusat menjadi satu, ia turuti apa yang dahulu pernah dibacanya dalam kitab Kiu-im-cin-keng. Dalam keadaan demikian ia hanya menangkis dengan sendirinya dan berkelit menurut datangnya suara, sebaliknya sinar matanya terus menatap musuh secara tajam. Sesudah beberapa jurus, Darba mulai merasakan pihak lawan rada aneh, tanpa kuasa dia memandang orang sekejap, berbareng itu gadanya menghantam juga.

Tadi sedikit Yo Ko mengegol pinggul dengan gaya ‘Ban-yo-sian-sian’ atau pinggang si Ban ramping, sedikit ia goyang pinggul hantaman Darba sudah dihindarinya dengan tepat, dan karena ia sudah gunakan ‘lh-hun-tay-hoat’, jiwa-raganya sudah menjadi satu, setiap gerak-geriknya yang dia unjuk, pada mimik wajahnya lantas bersikap sama pula. Maka ketika Darba melihat wajah si Yo Ko tiba-tiba mengunjuk gaya genit, ia tak tahu bahwa orang tengah tirukan gaya menarik Siao Ban, seorang selir ayu penyair Pek Lok-thian dari ahala Tong yang sangat terkenal, tanpa terasa ia tertegun sejenak tetapi segera gadanya mengemplang lagi ke atas kepala Yo Ko.

Yo Ko lekas-lekas mengegos, menyusul ia pentang lima jarinya terus menyisir rambutnya sendiri, sedang lima jari lainnya mencakar ke depan diselingi dengan senyuman manis, itulah tipu gerakan ‘Le-hwa-se-cong’ atau Thio Le-hwa menyisir rambut.

Memang Darba sudah terpengaruh oleh sinar mata Yo Ko yang tajam, dan kini karena tersenyumnya Yo Ko, tanpa terasa ia pun ikut bersenyum pula. Cuma bedanya Yo Ko cakap ganteng, senyumnya sudah tentu menambah bagusnya, sebaliknya tulang pelipis Darba menonjol tinggi, pipinya kempot, maka senyumnya yang menirukan Yo Ko malahan membikin wajahnya semakin seram, sampai penonton ikut mengkirik.

Melihat lawan sudah di bawah pengaruhnya, segera jari Yo Ko menjojoh ke depan dengan tipu ‘Peng-ki-ciam-sin’ atau Peng Ki pintar menjahit. Lekas Darba berkelit, akan tetapi air mukanya menirukan lagak orang seperti lagi tekun menjahit. Melihat Yo Ko dapat memahami maksudnya dan ternyata sanggup atasi musuh dengan ilmu ‘lh-hun-tay-hoat’, sungguh Oey Yong girang tidak kepalang.

“Penemuan Ko-ji sungguh luar biasa,” demikian ia membisiki sang suami. “Dahulu semasa usiamu sebaya dia sekarang, ilmu silatmu belum sebagus dia.”

Kwe Ceng juga lagi girang, maka ia anggukan kepalanya. Harus diketahui bahwa ilmu ‘lh-hun-tay-hoat’ ini melulu mempergunakan pengaruh tenaga kejiwaan. Kalau perasaan pihak lawan tenang dan tetap, sering kali ilmu ini tidak berhasil, kalau tenaga dalam lawan lebih tinggi hingga sampai terpukul kembali, pasti orang yang menggunakan ilmu ini akan terpengaruh sendiri.

Tetapi Darba sudah bingung oleh ocehan Yo Ko dalam bahasa Tibet tadi, ia ragu orang adalah re-inkarnasi Suheng-nya, maka di dalam hatinya sudah timbul rasa jeri dan dengan sendirinya pengaruh ilmu ‘Ih-hun-tay-hoat’ juga lebih cepat hingga sekali coba Yo Ko telah berhasil.

Demikianlah, karena melihat Yo Ko mainkan Bi-li-kun-hoat yang lemah gemulai menirukan gerak-gerik wanita ayu, lalu tahu-tahu ditirukan oleh Darba secara lucu, semua orang yang menyaksikan menjadi ter-heran.
Kwe Hu tidak tahan, ia tertawa terpingkal-pingkal. “Ibu,” katanya pada sang ibu, “Yo-koko punya kepandaian ini bagus sekali, kenapa tak kau ajarkan padaku?”

“Kalau kau bisa Ih-hun-tay-hoat, tentu kau akan bikin geger dan akhirnya kau sendiri bisa celaka,” sahut Oey Yong. Lalu dia menarik tangan sang puteri dan berkata sungguh-sungguh: “Tapi jangan kau anggap lucu, Yo-koko justru lagi bertarung mati-matian dengan musuh, caranya ini jauh lebih berbahaya dari pada memakai senjata!”

Kwe Hu melelet lidah oleh penuturan itu. Ia pandang pula si Yo Ko dan rasanya semakin tertarik, ia lihat bila Yo Ko tertawa, si Darba ikut tertawa, kalau Yo Ko gusar, Darba idem dito. Karena itu ia pun ikut-ikut menirukan mimik orang. Siapa tahu ‘lh-hun-tay-hoat’ ini memang lihay luar biasa, baru saja ia menirukan orang dua kali, segera perasaannya menjadi remang-remang dan semangatnya kabur, tanpa kuasa setindak demi setindak Kwe Hu melangkah ke tengah.

Kaget sekali Oey Yong melihat kelakuan puterinya. Lekas-lekas ia jambret Kwe Hu erat-erat. Tatkala itu jiwa Kwe Hu sudah di bawah pengaruh Yo Ko, dia coba meronta melepaskan diri dari pegangan sang ibu. Baiknya ilmu silat Oey Yong amat tinggi, lagi pula tahu akan bahaya apa kalau sampai Kwe Hu maju lebih dekat lagi. Waktu sudah terlalu mendesak, tanpa ayal ia baliki tangan terus pencet urat nadi tangan Kwe Hu dan diseretnya kembali mentah-mentah agar tidak melihat gerak-gerik Yo Ko lagi.

PERTANDINGAN PENENTUAN

Kwe Hu masih meronta beberapa kali, namun pergelangan tangannya sudah digenggam kencang hingga tak berkutik, pikirannya menjadi kabur dan akhirnya dia mendekam dalam pelukan sang ibu dan pulas.

Di pihak Darba waktu itu sudah dipengaruhi Yo Ko seluruhnya, apa yang Yo Ko Iakukan, ditirukannya pula tanpa tawar. Melihat saatnya sudah tiba, mendadak Yo Ko gunakan tipu gerakan ‘Co-Leng-kwa-pi’ atau Co Leng mengiris hidung, mendadak dia memukul batang hidungnya sendiri susul menyusul dengan dua tangan bergantian. Kiranya jaman dahulu ada isteri seorang bernama Co Leng, ketika sang suami meninggal lantas mengiris batang hidung sebagai tanda setia tak mau kawin lagi.

Kini Yo Ko gunakan gerak tipu itu buat hantam hidungnya sendiri dengan perlahan. Sudah tentu Darba tidak tahu, tiba-tiba ia pun tirukan orang menghantam hidung sendiri sekeras-kerasnya. Dasar tenaganya memang luar biasa, tiap pukulannya bertenaga ratusan kati, maka sesudah belasan kali ia gebuk batang hidung sendiri, akhirnya dia tak tahan hingga roboh pingsan. Sungguh girang tidak kepalang para ksatria, mereka bersorak-sorai:

“Hura, kita telah menangkan babak kedua!”

“Nah, Bu-lim Beng-cu sudah pasti di pihak kita!”

“Bangsa Mongol lekas enyah dari bumi Tiongkok dan jangan bikin malu disini!”

Sementara itu dua Bu-su bangsa MongoI telah melompat ke tengah lantas menggotong mundur si Darba. Melihat dua orang muridnya terjungkal semua di bawah tangan pemuda ini, bahkan cara kalahnya sukar dimengerti, luar biasa mendongkol dan gusarnya Kim-Iun Hoat-ong, cuma wajahnya tiada mengunjuk sesuatu tanda.

“Hai, anak muda, siapa suhu-mu?” segera ia membentak dari tempat duduknya.

Kim-lun Hoat-ong ini adalah seorang cendekia, ilmu silatnya tinggi, bakatnya baik dan luas pengetahuannya, ternyata fasih bicara bahasa Han.

“Suhu-ku ialah dia ini,” sahut Yo Ko tertawa sambil menunjuk Siao-liong-li. “Nah, lekas kau menyembah pada Bu-lim Beng-cu!”

Melihat Siao-liong-Ii cantik molek, bahkan usianya seperti lebih muda dari pada Yo Ko, tak mungkin Kim-lun Hoat-ong mau percaya dialah gurunya, pikirnya: “Ahh, bangsa Han banyak tipu muslihatnya, jangan sampai aku tertipu!”

Mendadak ia pun berdiri. Ketika terdengar suara gemerincing riuh, tahu-tahu dari bajunya ia keluarkan sebuah roda emas. Roda emas ini terbuat dari emas murni dan di dalamnya terdapat 9 gotri, maka begitu tergoncang, segera keluar suara gemerincing yang membisingkan.

“Hm, kau menjadi Bu-lim-Beng-cu juga baik. Asal kau sanggup terima sepuluh jurus roda emasku ini, aku lantas akui kau sebagai Bu-lim Bengcu!” demikian kata Kim-lun Hoat-ong kemudian sambil menuding Siao-liong-li.

“Hei, aneh katamu ini, aku sudah menang dua babak, menang dua dari tiga babak, kau sendiri sudah berjanji, kenapa sekarang ingkar janji?” kata Yo Ko tertawa.

“Aku hanya ingin menjajal ilmu silatnya dan ingin tahu apa dia sesuai dengan jabatannya tidak,” sahut Kim-lun Hoat-ong dengan suara tertahan.

Siao-liong-li masih terlalu hijau. Ia tak tahu ilmu silat Kim-Iun Hoat-ong beraliran tersendiri dan sudah terlatih sampai tingkatan yang amat mengejutkan, ia pun tak tahu apa itu ‘Bu-lim Beng-cu’ segala, lebih-lebih tidak pernah terpikir olehnya apa dirinya harus menerima jabatan itu atau tidak. Kini mendengar orang mau jajal ilmu kepandaiannya dan ingin tahu sanggup tidak menerima 10 jurus roda emas, tanpa pikir segera ia pun berdiri.

“Jika begitu, segera aku mencobanya,” demikian sahutnya tak acuh.

“Tapi kalau kau tidak mampu sambut 10 jurus senjataku ini, lalu bagaimana?” tanya Kim-lun-Hoat-ong.

“Kalau tak mampu ya sudah, ada apa lagi?” sahut Siao-Iiong-li.

Semenjak kecil Siao-liong-li telah melatih diri sedemikian rupa sehingga apa yang menjadi perasaannya, suka atau duka, sama sekali tidak kentara. Segala hal selalu dianggapnya sepele. Kini meski di depan matanya ada Yo Ko, namun tidak mendapatkan perhatiannya.

Para ksatria dan para Bu-su Mongol tidak tahu bahwa itu adalah tabiat pembawaannya, tetapi melihat dia acuh tak acuh dan tidak pandang sebelah mata pada Kim-lun Hoat-ong, mereka malah menyangka ilmu silat Siao-liong-li benar-benar tinggi tak terkirakan. Bahkan setelah menyaksikan Yo Ko kalahkan Darba dengan ‘lh-hun-tay-hoat’, ada orang yang menyangka Siao-liong-li bisa ilmu hitam dan mungkin pula siluman, maka suasana seketika menjadi berisik.

Kim-lun Hoat-ong sendiri kuatir juga bila Siao-liong-li benar-benar bisa gunakan ilmu sihir, maka mulutnya segera komat-kamit membaca mantera penolak sihir dalam bahasa Tibet. Yo Ko dapat mendengar jelas di samping, dia sangka Hwesio gundul ini lagi memaki sang guru dalam basa Tibet, maka dia ingat baik-baik setiap kata yang diucapkan orang. Sesudah Kim-lun Hoat-ong selesai membacakan mantera, begitu Kim-lun atau roda emas bergerak, kembali terbitlah suara gemerincing yang riuh nyaring.

“Hai, orang muda, lekas minggir, segera aku akan turun tangan,” bentaknya pada Yo Ko. Kata-kata ini diucapkannya dalam bahasa Han.

“Nanti dulu, nanti dulu,” kata Yo Ko tiba-tiba.

Lalu sekata demi sekata ia pun mengucapkan mantera orang tadi. Kebetulan waktu itu Darba mulai siuman, ia lihat sang Suhu memegang Kim-lun lagi akan bergebrak dengan orang, sebaliknya didengarnya Yo Ko tengah membaca mantera dalam bahasa Tibet. Mantera itu adalah ilmu rahasia perguruannya yang tidak akan diturunkan kepada orang luar, bila Yo Ko bukan reinkarnasi Toa-suheng-nya, dari mana ia mahir mantera itu?

Karena pikiran itu, cepat sekali ia melompat bangun lalu berlutut ke hadapan gurunya dan berseru:

“Suhu, ia betul2 jelmaan Toa-suheng, sudilah engkau menerimanya kembali!”

“Ngaco-belo, kau tertipu olehnya masih belum tahu!” bentak Kim-lun Hoat-ong marah.

“Tapi betul Suhu, hal ini betul tak salah lagi,” sahut Darba!

Melihat Darba masih ngotot, Hoat-ong menjadi sengit, ia cekal saja punggung sang murid terus diIempar pergi. Tubuh Darba yang beratnya ada ratusan kati itu dilemparkan dengan enteng saja.

Tadi semua orang menyaksikan, dengan tenaga raksasanya Darba bertarung melawan Tiam-jong Hi-un dan Yo Ko. Tapi lemparan Hoat-ong ini nyata kepandaian yang berpuluh kali lebih kuat, tampaknya Siao-liong-li yang gayanya lemah gemulai ini, jangankan harus bergebrak sepuluh jurus, mungkin kena dikebut sekali saja bisa mencelat roboh. Karena itu semua orang ikut berkuatir atas diri si gadis.

Tidak sedikit jago-jago Mongol yang sudah pernah saksikan ilmu sakti Kim-lun Hoat-ong yang boleh dikatakan tenaganya melebihi 9 ekor kerbau. Meski Siao-liong-li adalah musuh mereka, tapi melihat parasnya yang jelita, sudah menjadi pembawaan manusia suka akan rupa cantik, maka semua orang mengharap Hoat-ong jangan turun tangan.

Sementara itu, habis Yo Ko membacakan mantera, dengan perlahan ia bisiki Siao-liong-li:

“Kokoh, hati-hati terhadap Hwesio ini.”

Di lain pihak, demi mendengar Yo Ko bisa membaca mantera tanpa salah satu kata pun, Kim-lun Hoat-ong amat kagum sekali.

“Orang muda, hebat kau,” ia memuji.

“Ya, Hwesio, kau juga hebat,” sahut Yo Ko.

“Hebat apa?” Kim-lun Hoat-ong melotot.

“Hebat karena kau bernyali cukup besar untuk bergebrak dengan guruku,” kata Yo Ko. “la adalah reinkarnasi Budha, punya kesaktian setinggi langit, mahir ilmu taklukkan naga dan tundukkan harimau, maka sebaiknya kau berhati-hati!”

Kiranya Yo Ko sangat licin. Ia tahu musuh terlalu lihay, ia sengaja membual supaya orang rada selempang hingga tak berani turun tangan habis-habisan, dengan demikian gurunya lantas Iebih gampang melawannya. Siapa tahu Kim-lun Hoat-ong adalah seorang gagah perkasa yang jarang diketemukan di Tibet, baik sastra mau pun silat lengkap dipelajarinya, mana bisa dia tertipu begitu saja,

“Awas, serangan pertama, lekas kau lolos senjata!” segera ia berseru.

Yo Ko telah mencopot sarung tangan dari benang emas halus itu dan masukkan sekalian pada tangan Siao-liong-li, lalu ia mundur ke belakang. Siao-liong-li segera keluarkan sehelai selendang sutera putih terus diayun ke udara, pada ujung selendang sutera terikat sebuah bola emas kecil dan di dalamnya berisi gotri, ketika selendang itu bergerak, bola itu lantas berbunyi kelintingan bagai keleningan.

Melihat senjata kedua orang sama-sama aneh, semua penonton menjadi sangat tertarik, kalau senjata yang satu amat panjang, adalah senjata yang lain amat pendek, yang satu sangat keras, yang lain sangat lemas dan kebetulan kedua senjata masing-masing sama-sama bersuara gemerincing pula.

Roda emas yang dipergunakan sebagai senjata Kim-lun Hoat-ong itu adalah senjata aneh yang belum pernah dilihat para jago silat Tionggoan. Tidak peduli golok, tombak, pedang, toya atau lain-lain, asal kebentur Kim-lun atau roda emas sama sekali tidak berdaya, asal Kim-lun Hoat-ong mencakup sekali dengan rodanya terus ditarik, maka senjata lawan itu pasti akan terlepas dari cekalan, maka orang yang bertempur dengan dia lewat satu jurus saja pasti segera kehilangan senjata.

Dia bilang agar Siao-liong-li sambut sepuluh jurus serangannya, sebenarnya sama sekali bukan omong besar, kalau bukan melihat ilmu silat Yo Ko memang hebat, tidak akan dia bilang 10 jurus. Hendaklah diketahui sejak ia keluar Tibet belum pernah ada seorang jago yang mampu menerima tiga kali serangan roda emasnya.

Sementa itu Siao-liong-li telah ayunkan selendang suteranya, ia mendahului membuka serangan.

“Barang apakah ini?” ujar Hoat-ong melihat senjata lawannya.

Segera dengan tangan kiri ia hendak tarik selendang itu. Ia lihat kain selendang lemas dan hidup, ia tahu pasti banyak perubahannya, akan tetapi dia sudah siap sedia, dengan tarikannya dia jaga dari berbagai jurusan, tidak peduli ke mana kain selendang berkelebat tidak akan terlepas dari genggamannya. Tak ia duga bola kecil di ujung selendang itu tiba-tiba “kelinting” berbunyi sekali terus mendal ke atas hendak ketok ‘tiong-cu-hiat’ pada balik telapak tangannya. Tapi cepat sekali Kim-lun Hoat-ong mengganti gerak tangannya, ia membalikkan telapak tangan terus hendak tangkap bola kecil itu.

Kembali sedikit Siao-Iiong-li sendal tangannya, bola kecil itu memutar pula dari bawah ke atas hendak ketok ‘Hap-kok-hiat’ di-tengah-tengah antara jari jempol dan telunjuk. Tapi lagi-lagi Hoat-ong balikkan tangannya, sekali ini ia gunakan kedua jarinya hendak menjepit bola emas itu. Namun Siao-liong-li juga amat jeli, setiap perubahan musuh dapat dilihatnya jelas. Sedikit ia ulur selendangnya, bola kecil itu malah nyelonong ke depan totok ‘kiok-tik-hiat” di sikut lawan.

Beberapa gebrakan itu betul-betul dilakukan dalam sekejap mata saja dan hanya terbatas di antara telapak tangan Kim-lun Hoat-ong yang bolak-balik, setiap kali Kim-lun Hoat-ong membalikkan telapak tangan dan tiga kali Siao-liong-li sendal selendangnya, tapi masing-masing sudah saling gebrak lima jurus.

Yo Ko cukup terang menyaksikan pertarungan itu, maka dengan suara lantang ia segera menghitung:

“Satu-dua-tiga-empat-lima... nah, sudah lima jurus, tinggal lima jurus lagi!”

Padahal tadi Kim-lun Hoat-ong bilang agar orang menyambut 10 jurus, maksudnya adalah menyambut 10 jurus serangannya. Namun Yo Ko main licik, dia hitung serang-menyerang kedua belah pihak dan dihitung semua.

Meski Hoat-ong tahu bocah ini sangat licik, tapi ia adalah seorang cikal bakal satu aliran tersendiri, mana dia sudi tawar menawar soal itu dengan orang? Segera dia sedikit geser sikutnya sehingga bola Siao-liong-li tadi luput mengenai jalan darahnya, sebaliknya roda emasnya terus saja menyerang ke depan. Siao-liong-li mendengar suara gemerincing riuh berikut sinar emas berkelebat dari depan, tahu-tahu ‘roda emas’ orang cepat luar biasa sudah berada di depan mukanya.

Kejadian ini benar-benar tak terduga-duga, jangan kata hendak menangkis, bahkan untuk berkelit saja sudah telat. Dalam keadaan bahaya ini otomatis ia sendal kain selendangnya hingga melingkar dari samping, bola emasnya terus mengetok ‘Hong-ti-hiat’ di belakang kepala musuh. Tempat ini adalah urat nadi mematikan di tubuh manusia. Betapa pun tinggi ilmu silatnya, asal kena dihantam pasti jiwanya tak terjamin lagi. Serangan ini sesungguhnya dilakukan terpaksa oleh Siao-liong-li, yakni dengan resiko gugur bersama untuk memaksa lawannya menarik kembali serangan.

Betul saja Kim-lun Hoat-ong tak mau adu jiwa dengan orang, ia cepat menunduk berkelit. Karena menunduknya ini maka roda yang ia hantamkan ke depan menjadi sedikit lambat, dan kesempatan ini digunakan Siao-liong-li menarik kembali selendangnya. Terdengarlah klinting-klinting yang riuh, bola emas pada ujung selendangnya telah saling bentur dengan roda emas hingga tipu serangan Kim-lun Hoat-ong kena dielakkan.

Hanya sekejap itu saja keselamatan Siao-liong-li sudah bergulir dari hidup menuju ke jalan kematian dan dari mati kembali hidup, lekas-lekas dia gunakan Ginkang atau ilmu enteng tubuhnya melompat ke samping, saking gentarnya hingga wajahnya yang memang pucat itu lebih pucat lagi. Padahal Kim-lun Hoat-ong baru menyerang sekali, tapi Yo Ko lantas berteriak-teriak:

“...enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Nah, sudah cukup, guruku sudah bisa menyambut sepuluh jurus, apa lagi yang bisa kau katakan?”

Hanya beberapa gebrakan itu, Kim-lun Hoat-ong lantas tahu meski ilmu silat Siao-liong-li tinggi, tapi masih jauh belum bisa imbangi dirinya, kalau bertanding benar-benar, dalam 10 jurus pasti ia bisa kalahkan si gadis. Yang paling menjemukan adalah Yo Ko terus mengacau di samping sehingga pikirannya dibikin tak tenteram. Dia pikir: “Biarkan saja pemuda ini ngaco-belo, asal aku perkencang seranganku dan kalahkan dulu anak perempuan ini, maka segalanya akan menjadi beres dengan sendirinya.”

Tapi lagi-lagi Yo Ko berteriak-teriak: “Sungguh tak malu, sudah bilang 10 jurus, sekarang menyerang lagi. Sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas...”

Ia tak peduli berapa banyak kedua belah pihak sudah saling labrak, tetapi mulutnya terus mencerocos menghitung semaunya seperti mitralyur. Siao-liong-li sendiri menjadi gentar sesudah menyambut sejurus serangan musuh, betapa pun ia tak berani lagi menahan serangan orang yang kedua dari depan, maka lekas-lekas ia keluarkan ilmu entengkan tubuh dari Ko-bong-pay terus berlari cepat mengitari ruangan sambil selendang suteranya ikut bergulat dan bola emas berbunyi riuh sehingga berwujut sesosok kabut putih diseling sinar emas.

Bunyi kelintang-kelinting dari bola emasnya itu kadang kala cepat dan kadang perlahan, mendadak lirih, tahu-tahu keras, ternyata tersusun menjadi suatu irama lagu.

Di antara penonton itu ada yang paham seni suara, segera ada yang berteriak: “Hei, ini adalah ‘Uh-tat-ling-kiok’ ciptaan Tong-beng-hong!”

Waktu yang lain memperhatikan, betul saja, sedikit pun tak meleset, malahan segera ada yang ikut-ikutan tepuk tangan dan goyang-goyang kaki menuruti irama musik keleningan itu.

Kiranya Siao-liong-li wataknya suka seni musik, pada waktu iseng dalam kuburan kuno ia suka menabuh rebab menurut lagu peninggalan Cosu-popoh Lim Tiau-eng dan banyak mendapat kemajuan dalam jurus ini. Belakangan waktu dia melatih bola emas dengan selendang sutera, ia dengar bola itu menerbitkan suara kelinting yang mendekati irama musik, dasar hati anak muda, di antara ilmu silatnya itu dia kombinasikan dengan irama musik! Dan karena paduan ilmu silat dan musik ini, waktu dimainkan menjadi lebih luwes dan teratur. Kini Siao-liong-Ii tahu lawan terlampau lihay, ia tidak berani melawan dari depan, ia putar selendang suteranya dengan cepat dan berlari kian kemari untuk menghindar!

Ginkang ajaran Ko-bong-pay adalah satu di antara ilmu tertinggi dari Bu-lim yang tak bisa dicapai aliran silat lain. Meski pun ilmu silat Kim-lun Hoat-ong jauh di atas Siao-liong-li, tapi selama hidup gadis ini dilakukan dalam kuburan kuno dan melatih diri di tempat sempit, kini ia terus lari ke sana kemari sambil melompat dan berlari, ternyata sedikit pun Hoat-ong tak berdaya. Ia dengar suara ting-ting keleningan orang seakan-akan tersusun sifat lagu, tanpa tertahan hatinya tergerak, ia pusatkan pikiran buat menyerang menurut irama musik orang, lekas-lekas ia goyang roda emasnya hingga terbitkan suara gemerincing yang riuh.

Maka seketika dalam ruangan itu timbul paduan dua macam suara, kadang kala perlahan dan mendadak keras, kadang tinggi nadanya, tahu-tahu rendah lagi, nyata mereka menjadi bertanding dalam irama musik. Apa bila suara keleningan Siao-liong-li nyaring merdu, kedengarannya membuat semangat menjadi segar, sebaliknya suara roda emas gemerantang keras laksana besi dipukul dan seperti golok dikikir, seperti babi disembelih dan mirip anjing dipentung, suara itu aneh luar biasa dan tidak enak didengar. Yang satu ulem yang lain berisik, tapi kedua pihak ternyata sama kuatnya.

Sementara itu Yo Ko masih terus mencerocos menghitung, dan kini sudah dihitungnya sampai:

“1005, 1006, 1007...”

Akan tetapi karena Siao-liong-li tidak berani bergebrak berhadapan dengan musuh, maka hakikatnya 10 jurus bagi Kim-lun Hoat-ong saja belum genap. Lama-lama Kim-lun Hoat-ong tidak sabar lagi. Ia merasa dengan kedudukannya sebagai tokoh besar suatu aliran tersendiri sampai lama sekali masih belum bisa menangkan satu gadis jelita, kalau sampai berlarut-larut terus, sekali pun akhirnya menang, pasti tidak gemilang juga bagi kemenangannya, maka mendadak tangan kiri dia ulur ke samping, sedang roda emas tiba-tiba menghantam dari bawah ke atas.

Dalam keadaan bahaya, sekonyong-konyong Siao-liong-li mengayun selendang suteranya hingga menerbitkan bayangan putih, tubuhnya cepat pula melompat. Tapi roda emas Kim-lun Hoat-ong mendadak berputar balik terus menggubet kain selendangnya. Kalau senjata biasa pasti segera akan terebut olehnya, justru kain sutera ini sifatnya lemas serta licin, maka dengan enteng tahu-tahu meluncur keluar lagi dari lubang rodanya.

“ltulah serangan kedua, dan kini yang ketiga!” bentak Hoat-ong tiba-tiba, berbareng itu dia melangkah maju, roda emas mendadak terlepas dari tangannya terus menyambar ke arah Siao-liong-li.

Serangan luar biasa ini sama sekali di luar dugaan, maka terdengarlah suara mendenging yang memekak telinga, roda itu menyambar ke arah Siao-liong-li. Gadis ini kaget sekali, lekas-lekas ia mendekam ke bawah sambil melompat mundur dan tahu-tahu sinar emas menyambar lewat di depan mukanya membawa suara mendenging nyaring, begitu keras angin sambarannya hingga kulit mukanya ikut terasa pedas.

Di bawah seruan kaget semua orang, mendadak Hoat-ong turun tangan dan tepi roda itu didorong dengan telapak tangannya, seperti benda hidup saja tahu-tahu roda itu memutar balik terus menyusul ke arah Siao-liong-li. Insaf kalau gaya putaran roda emas ini amat keras, Siao-liong-li tak berani coba membelit dengan kain selendangnya, terpaksa ia berkelit ke samping.

“Ginkang bagus!” seru Hoat-ong setelah dua kali serangan tak berhasil.

Cepat sekali dia menyerobot maju terus memotong tepi rodanya, kemudian beberapa kali pukulannya mencegat di depan Siao-liong-li, sebaliknya roda emasnya ini lantas putar kembali menghantam belakang kepala karena gaya potongan Hoat-ong tadi. Meski terbangnya Kim-lun itu tidak begitu cepat, tapi membawa suara gemerincing, maka tampaknya menjadi hebat luar biasa, lagi pula sebelumnya Hoat-ong pun sudah menduga ke mana Siao-liong-Ii hendak berkelit, maka roda itu menjadi seperti tumbuh mata saja, setelah berputar sekali di udara, segera memburu sasarannya dari belakang.

Tahu akan bahaya mengancam, sekali meloncat dan berkelit Siao-liong-li sudah keluarkan seluruh kemahirannya, tetapi siapa tahu mendadak Kim-lun Hoat-ong pentangkan tangan menghadang di depannya. Melihat keadaan itu, ditambah lagi telinga seolah-olah pekak oleh suara mendengung roda emas, para ksatria itu sama terperanjat dan ikut berdebar-debar.

Nampak sang Kokoh terancam maut, tentu saja Yo Ko tidak tinggal diam saja. Mendadak ia sambar gada yang ditinggalkan Darba di lantai terus meloncat ke atas sekuatnya, ia angkat gada itu dan roda emas yang menyambar datang itu disodoknya, maka terdengar suara gemerantang yang keras, gada itu persis sudah memasuki lubang roda, cuma tenaga roda itu terlalu besar sehingga kedua tangan Yo Ko tergetar lecet dan mengalirkan darah, orangnya berikut gada dan roda emas itu pun terbanting ke lantai.

Sekilas Siao-liong-li melihat roda emas itu terpukul jatuh oleh Yo Ko, sekarang ancaman dari belakang sudah tidak ada lagi, tetapi waktu itu dia lagi meloncat, mana bisa musuh di bagian depan itu dihindarinya? Orang yang sedang terancam bahaya acap kali timbul akal mendadak, tiba-tiba selendang suteranya ia sabet ke depan dan melilit satu tiang di sebelah barat terus ditariknya kuat-kuat, dengan tenaga ayunan itu tubuhnya lantas melayang ke tiang rumah, dan dengan tepat sekali ia lolos dari lubang jarum tenaga pukulan Kim-lun Hoat-ong yang maha hebat.

Sudah terang-terangan serangannya hampir berhasil, namun siapa tahu kena dikacau lagi oleh Yo Ko, bukan saja musuh bisa menyelamatkan diri, bahkan senjatanya yang malang melintang tanpa tandingan malah kena dipukul jatuh mentah-mentah ke lantai, sungguh suatu pengalaman pahit yang selamanya tak pernah dialami Kim-lun Hoat-ong. Biasanya ia bisa berlaku tenang dan sabar, bisa berpikir. Tetapi kini sama sekali sudah lupa daratan, tidak tunggu sampai Yo Ko bangkit, cepat sekali ia hantam pemuda ini dari jauh. Meski pukulan ini dilakukan dari tempat sejauh satu tombak lebih, tapi angin pukulannya mengurung dari segala penjuru, sudah pasti sasarannya susah berkelit.

Menurut aturan Hoat-ong adalah seorang guru besar dari satu aliran tersendiri, sedangkan lawannya dari angkatan lebih muda, pula sedang terbanting di lantai dan belum bangun, dengan serangannya ini sebenarnya tidak sesuai dengan wataknya yang tinggi hati, tetapi dalam keadaan murka, semuanya itu tidak terpikir lagi olehnya.

Syukur, semenjak tadi pandangan Kwe Ceng tak pernah meninggalkan diri orang. Begitu dilihatnya orang melototi Yo Ko dan sedikit angkat tangannya, segera dia tahu orang akan turun tangan keji, diam-diam ia segera bersiap-siap. Tetapi meski pun ia menyerobot maju dan sekali pun dapat menangkis pukulan orang, namun tetap Yo Ko akan terluka. Karena waktu sudah terlalu mendesak, tanpa pikir lagi segera dengan tipu ‘hui-liong-cay-thian’ atau naga terbang ke langit, ia meloncat ke atas sambil menghantam batok kepala Kim-lun Hoat-ong.

Dalam keadaan begitu, kalau Hoat-ong tidak menarik kembali pukulannya, meski ia dapat binasakan Yo Ko, tapi ia sendiri pun akan melayang jiwanya di bawah Hang-liong-sip-pat-ciang orang yang maha lihay. Karena itu terpaksa dia tarik kembali tenaga pukulannya, sambil membentak ia alihkan telapak tangannya menyambut gablokan Kwe Ceng.

Inilah untuk kedua kalinya saling gebrak di antara dua guru besar ilmu silat. Kwe Ceng sendiri terapung di udara, tiada tempat yang dapat digunakan sandaran, maka tiada jalan lain dia pinjam tenaga pukulan orang terus berjumpalitan dan turun kembali ke belakang. Sebaliknya Kim-lun Hoat-ong masih terus berdiri di tempatnya, tubuh tak bergoyang, kaki tak menggeser seperti tak terjadi sesuatu. Ilmu silat Kwe Ceng yang hebat cukup dikenal Hek Tay thong, Sun Put-ji dan Tiam-jong Hi-un, maka demi nampak gebrakan itu, sungguh mereka menjadi terperanjat bukan main, betapa tinggi kepandaian Kim-lun Hoat-ong sesungguhnya tak bisa mereka ukur.

Padahal melompat mundurnya Kwe Ceng itu otomatis telah mengelakkan tenaga pukulan orang, cara itu adalah cara yang betul dalam ilmu silat. Sebaliknya Kim-lun Hoat-ong kena dikacau Yo Ko tadi sehingga kehilangan muka, ia paksakan diri hendak pulihkan malunya itu, maka benar-benar dia sudah sambut tenaga pukulan Kwe Ceng, hal ini berarti banyak melemahkan tenaga dalamnya, meski pun luarnya kelihatan unggul, sebetulnya dalamnya rugi.

Kedua tokoh itu berlainan ilmu kepandaian dan sama-sama gagah tiada bandingannya, kalau hanya beberapa gebrakan saja susah menentukan asor dan unggul, namun karena adu tenaga pukulan tadi, dada Kim-lun Hoat-ong terasa rada sakit, baiknya pihak lawan mementingkan menolong orang dan tidak melanjutkan serangannya, maka dengan cepat dia bisa tutup mulut rapat-rapat untuk mengumpulkan tenaga dan melancarkan dadanya yang sesak.

Di sebelah sana Yo Ko sudah terhindar dari elmaut, begitu merangkak bangun segera dia berlari ke samping Siao-liong-li dan saling menanya keadaan masing-masing, setelah tahu tak apa-apa, wajah mereka mengunjuk senyuman, tangan mereka saling genggam penuh gembira.

“Wahai, dengarkanlah para jago Mongol,” seru Yo Ko tiba-tiba sambil menyanggah roda emas rampasannya di atas gada milik Darba itu, “senjata imam negara kalian telah dapat kurampas, apa sekarang kalian masih berani berkata lagi tentang Bu-lim Beng-cu segala? Baiknya kalian lekas enyah saja dari sini.”

Tetapi para Bu-su Mongol itu belum mau terima. Sudah terang mereka saksikan Kim-lun Hoat-ong menangkan Siao-liong-li, tapi dari pihak lawan maju lagi seorang Yo Ko, bahkan maju pula seorang Kwe Ceng, Karena itu mereka pada berteriak-teriak mengejek.

“Hm, pihakmu main tiga lawan satu, tak kenal malu!”

“Hoat-ong sendiri yang melemparkan roda emasnya, mana mungkin kau bocah ini mampu merebutnya?”

“Satu lawan satu, hayo kalau berani bertanding lagi, jangan pakai keroyokan!”

“Betul! Coba bertanding lagi kalau berani!”

Begitulah riuh ramai mereka berteriak-teriak, tapi semuanya dalam bahasa Mongol, maka para ksatria Tionggoan tak satu pun yang paham. Sudah tentu di antaranya yang bisa berpikir tahu juga kalau soal ilmu silat sesungguhnya Kim-lun Hoat-ong masih di atas Siao-liong-Ii, tetapi sebutan Bu-lim Bengcu ini betapa pun juga tidak boleh direbut seorang imam negara Mongol, hal ini bukan saja membikin malu kalangan Bu-lim daerah Tionggoan, juga berarti melemahkan perbawa sendiri pada saat menghimpun kekuatan buat melawan musuh.

Maka demi dengar jago-jago Mongol berteriak-teriak, ksatria yang berdarah muda segera balas mencaci maki dan ramai-ramai meloloskan senjata. Keadaan menjadi kacau panas dan tampaknya bakal bertempur ramai-ramai.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar