PERTEMPURAN DI BENTENG SIANG-YANG
Yo Ko mempercepat Iangkahnya, lambat laun dapat memperpendek jaraknya dengan Hoat-ong. Ketika sudah dekat, sekonyong-konyong Hoat-ong berhenti dan berpaling, lalu berkata sambil menyeringai:
“Baik, kalian ingin maju sekaligus atau lebih suka satu lawan satu?”
Habis berkata ia terus angkat tubuh Be Kong-co dan mengarahkan kepalanya pada sepotong batu padas yang besar dengan gerakan akan membenturkan kepalanya.
Lebih dulu Yo Ko mengitar ke belakang Hoat-ong untuk merintangi jalan kaburnya, lalu menjawab:
“Jika membunuhnya, kami akan mengerubuti kau.”
Hoat-ong terbahak-bahak, lalu melemparkan tubuh Be Kong-co ke tanah, katanya: “Orang dogol begini buat apa kumusuhi?” Segera dia mengeluarkan senjatanya yang khas, roda perak dan roda tembaga. Ia membenturkan kedua roda sehingga menerbitkan suara nyaring, lalu berkata dengan angkuh: “Nah, siapa di antara kalian yang ingin maju lebih dulu?”
“Hi-hi-hi-hi, kalau kalian hendak berlatih, orang dagang seperti diriku ini lebih suka menjadi peninjau dan menonton saja,” kata In Kik-si dengan tertawa.
Diam-diam Hoat-ong merasa lega. Ia pikir jika orang Persia ini tidak membantu sana sini, maka berkuranglah seorang lawan berat baginya. Siau-siang-cu paling licin. Ia sendiri merasa tidak yakin dapat menandingi Kim-lun Hoat-ong, maka ia sengaja membiarkan orang lain maju lebih dulu untuk menghabiskan tenaga musuh, kemudian barulah ia maju menarik keuntungan. Maka ia berkata:
“Saudara Singh, kepandaianmu jauh lebih tinggi, silakan maju lebih dulu!”
Meski watak Nimo Singh amat berangasan tetapi dia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud Siau-siang-cu. Tetapi ia pun merasa ilmu silatnya cukup tinggi, andaikan tidak menang, rasanya juga tidak akan kalah. Segera ia pegang sebuah batu padas yang besar, lalu berteriak.
“Baik, biar kucoba kelihayan kedua rodamu itu!” Berbareng batu padas yang diangkatnya dikeprukkan ke dada Kim-lun Hoat-ong.
Perawakan Nimo Singh pendek, sedangkan batu padas yang dipegangnya amat besar, malah tingginya melebihi dia, bobotnya sedikitnya ada tiga-empat ratus kati. Semua orang terkejut melihat dia menggunakan batu begitu sebagai senjata. Kemarin waktu menahan panas di rumah batu, Nimo Singh pingsan tergarang, Kim-lun Hoat-ong pikir Iwekang orang cebol ini tak seberapa kuat, tak terduga tenaganya ternyata sangat besar dan sanggup mengangkat batu raksasa itu untuk menghantam. Dia merasa tidak menguntungkan kalau keras lawan keras, maka cepat dia memutar ke samping, sedangkan roda tembaga di tangan kanan terus memukul ke punggung lawan.
Batu sebesar itu ternyata dapat diputar enteng saja, segera dia menangkis. Roda tembaga dan batu kebentur hingga menerbitkan lelatu api disertai suara nyaring memekak telinga.
Lengan Hoat-ong rada kesemutan, diam-diam ia membatin: “llmu silat setan hitam ini rada aneh, harus kuhadapi dengan hati-hati. Tetapi dia mengangkat batu sebesar itu, masa dia dapat bertahan lama?”
Karena pikiran itu, segera dia putar kedua rodanya dengan cepat sambil mengitari Nimo Singh dengan Ginkang-nya.
Sesudah menolong bangun Be Kong-co, Yo-Ko berdiri berjajar dengan Siao-liong-li sambil mengikuti pertarungan seru itu. Dilihatnya tenaga sakti Nimo Singh betul-betul luar biasa, ilmu silatnya juga aneh, diam-diam mereka rada heran. Sesudah berlangsung sekian Iama, tenaga Nimo Singh sedikit pun tidak berkurang, bahkan mendadak dia menggertak satu kali, batu padas raksasa itu dikeprakkan ke dada Hoat-ong.
Betapa pun lihaynya Kim-lun Hoat-ong tidak berani menahan sambaran batu sebesar itu, cepat ia melompat ke samping. Tak terduga, tiba-tiba Nimo Singh ikut melayang maju, batu itu dapat disusulnya, kedua tangannya mendadak menghantam batu sehingga bergeser arah dan memburu ke jurusan Hoat-ong. Daya sambaran batu itu adalah sisa lemparan pertama ditambah lagi tenaga dorongan yang kedua kalinya, sehingga lebih hebat dari pada sambaran yang pertama tadi.
Bicara tentang ilmu silat sejati sebenarnya Kim-lun Hoat-ong di atas Nimo Singh, namun tenaga raksasa melempar batu yang disebut ‘Sikya-hiat-siang-kang’ (llmu Budha melempar gajah) ini memang luar biasa dan belum pernah dilihatnya. Seketika ia menjadi kelabakan, terpaksa ia melompat berkelit. Selagi menang segera Nimo Singh mendesak lagi lebih lanjut, berkali-kali ia hantam batu itu sehingga daya sambarnya bertambah hebat.
Hoat-ong pikir kalau pertarungan begitu terus, akhirnya dia pasti akan dikalahkan orang keling cebol ini kalau tidak cepat-cepat berdaya lain. Begitulah, sambil bertempur dia pun memikirkan upaya cara berganti serangan untuk memperoleh kemenangan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang riuh disusul dengan panji-panji yang berkibar, serombongan orang berkuda tampak muncul di tempat ketinggian sana.
Nimo Singh dan Kim-lun Hoat-ong sedang bertarung dengan sengit sehingga tak sempat memandang ke sana, tetapi Yo Ko dan lain-lain sudah dapat melihat jelas rombongan itu adalah sepasukan tentara MongoI yang tangkas. Di bawah panji besar yang berkibar berdiri seorang perwira muda berjubah kuning yang membawa busur.
“Hei, berhenti, berhenti!” perwira itu berseru sambil melarikan kudanya ke kalangan pertempuran. Siapa lagi dia kalau bukan pangeran Mongol, Kubilai.
Mendengar suara itu, Nimo Singh melompat maju lagi kemudian menghantam batu padas dengan kedua tangannya. Batu itu langsung melayang ke sana lalu jatuh ke bawah bukit dengan menerbitkan suara gemuruh.
Kubilai melompat turun dari kudanya, sebelah tangan menarik Hoat-ong dan tangan lain menggandeng Nimo Singh, katanya dengan tertawa: “Kiranya kalian sedang berlatih di sini, sungguh banyak menambah pengalamanku akan kelihaian kalian.”
Sudah tentu ia tahu kedua orang itu sedang bertempur mati-matian, tapi demi kehormatan kedua pihak, ia sengaja melerai.
“llmu silat saudara Singh sungguh hebat, bagus, bagus!” ujar Hoat-ong sambil tersenyum.
Dengan mendelik Nimo Singh menjawab: “Tadinya kukira Koksu nomor satu pastilah luar biasa, kiranya cuma begini saja. Hmm!”
Hoat-ong menjadi gusar dan segera akan menanggapi, namun Kubilai telah menyela: ”Wah, pemandangan di sini sungguh indah, harus diramaikan dengan minum arak. Hayo, lekas bawakan araknya, biar kita minum tiga cawan bersama!”
Bangsa MongoI sudah biasa berkenalan di padang Iuas, makan minum di mana pun tidak menjadi soal, Segera ada pengawal menghaturkan arak dan dendeng. Kubilai memandang sekejap ke arah Siao-liong-li, diam-diam ia terkesiap akan kecantikan si nona. Melihat Yo Ko berdiri sejajar dengan si nona dengan bergandengan tangan dan tampaknya sangat mesra, segera ia tanya Yo Ko:
“Siapakah nona ini?”
“Nona Liong, guruku dan bakal isteriku,” jawab Yo Ko.
Sejak pergulatan dengan maut di goa bawah tanah dan akhirnya selamat, maka watak Yo Ko menjadi semakin nyentrik, segala tata adat tidak terpikir olehnya, dia justru ingin mengumumkan kepada dunia bahwa inilah Yo Ko yang memperisterikan bekas gurunya. Kalau bangsa Han memang sangat kolot dalam adat kekeluargaan, maka bangsa Mongol tidak begitu mementingkan tata adat, Kubilai tidak merasa heran pada ucapan Yo Ko, rasa hormat dalam hatinya malah bertambah demi mendengar nona cantik itu pernah mengajarkan ilmu silat kepada Yo Ko. Dengan tertawa dia berkata:
“Yang laki-laki gagah dan yang perempuan caritik, sungguh pasangan yang sangat setimpal. Bagus, bagus! Marilah kita habiskan semangkuk arak ini sebagai ucapan selamat!” Habis berkata ia angkat mangkuk arak lalu ditenggak hingga habis.
Kim-Iun Hoat-ong tersenyum, ia pun habiskan mangkuknya. Dengan sendirinya yang lain-lain ikut minum, malahan sekaligus Be Kong-co menghabiskan tiga mangkuk.
Sesungguhnya Siao-liong-li tidak suka pada orang Mongol, sekarang didengarnya pujian Kubilai bahwa perjodohannya dengan Yo Ko setimpal, betapa pun ia menjadi girang dan ikut minum semangkuk arak sehingga makin menambah moleknya. Pikirnya: “Orang Han semuanya menganggap aku tidak boleh menikah dengan Ko-ji, tapi pangeran Mongol ini menyatakan bagus, tampaknya pandangan orang Mongol jauh lebih luas dari pada orang Han.” Karena itu diam-diam timbul hasratnya untuk membantu orang Mongol.
Dengan tertawa kemudian Kubilai berkata. “Kalian tidak pulang selama tiga hari, aku kuatir terjadi sesuatu. Soalnya situasi di Siang-yang cukup genting sehingga aku tak bisa selalu mendampingi kalian, tetapi sudah kutinggalkan pesan di markas agar kalian segera menuju garis depan di Siang-yang. Kebetulan sekarang kita bertemu di sini, sungguh hatiku sangat lega.”
“Apakah gempuran pasukan kita atas Siang-yang cukup Iancar?” tanya Hoat-ong.
“Sebetulnya panglima yang menjaga Siang-yang, yaitu Lu Bun-hoan adalah seorang yang bodoh, yang aku kuatirkan hanyalah Kwe Ceng,” tutur Kubilai.
Hati Yo Ko terkesiap, cepat ia bertanya: “Jadi Kwe Ceng memang berada di Siang-yang? Kwe Ceng ini adalah pembunuh ayahku, kalau boleh, maka aku mohon diberi tugas untuk membunuhnya.”
“Itulah maksud tujuan undanganku kepada para ksatria,” kata Kubilai dengan girang. “Cuma kabarnya ilmu silat Kwe Ceng tergolong nomor satu di seluruh Tiong-goan, banyak pula orang-orang kosen yang membantunya, beberapa kali pahlawan yang kusuruh membunuhnya mengalami kegagalan, ada yang tertangkap dan ada pula yang terbunuh. Tentu saja aku percaya pada ketangkasan saudara Yo, tapi seorang diri terasa kurang kuat, maka maksudku kalau bisa para ksatria di sini sekaligus menyusup di Siang-yang, dengan begitu kalian bisa turun tangan bersama. Asal orang she Kwe itu terbunuh, dengan mudah Siang-yang akan dapat kita duduki.”
Serentak Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan yang lain-lain berdiri, kata mereka sambil menyilang tangan di depan dada.
“Kami siap mengikuti semua perintah Ongya dan bertempur sekuat tenaga.”
“Bagus, bagus!” seru Kubilai dengan girang, “Tak peduli siapa yang akan membunuh Kwe Ceng, yang pasti setiap orang yang ikut pergi juga berjasa, tetapi hanya orang yang membunuhnya itulah akan kuusulkan kepada Sri Baginda agar diberi gelar dan diangkat menjadi jago nomor satu dari kerajaan Mongol Raya.”
Gelar bangsawan sih tidak begitu menarik bagi Siau-siang-cu, Nimo Singh dan lain-lain, tetapi sebutan ‘jago nomor satu kerajaan Mongol’ adalah cita-cita yang mereka harapkan, sebab dengan begitu namanya akan tersohor ke seluruh jagat.
Maklumlah, waktu itu kerajaan Mongol lagi jaya-jayanya, wilayah kekuasaannya sangat luas dan belum ada bandingannya dalam sejarah, kecuali benua barat, waktu itu dua pertiga wilayah Tiongkok telah diduduki. Sebagai gambaran luasnya wilayah pendudukan kerajaan Mongol waktu itu dapat dilukiskan: perjalanan dari pusat pemerintah kerajaan ke empat penjuru wilayah pendudukannya diperlukan tempo satu tahun sekali pun dilakukan dengan kuda yang paling cepat.
Karena itulah dapat dibayangkan betapa membanggakan gelar ‘jago nomor satu’ bagi setiap manusia. Semua orang tertarik dan bersemangat setelah mendengar janji Kubilai. Hanya Siao-liong-li saja yang memandang Yo Ko dengan rasa cinta yang tak terhingga. Ia pikir sebutan gelar bangsawan dan jago nomor satu segala, yang kuharapkan hanya semoga engkau dapat hidup terus.
DemikianIah semua orang menenggak beberapa mangkuk arak lagi, lalu berangkat. Para Busu Mongol membawakan kuda, lalu Yo Ko, Siao-liong-li serta Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain naik ke atas kuda, mereka ikut di belakang Kubilai dan dilarikan cepat ke arah Siang-yang.
Di sepanjang jalan rumah penduduk hampir seluruhnya kosong melompong dan hangus terbakar, mayat bergelimpangan memenuhi jalan. Setiap berjumpa orang Han, tanpa kenal ampun prajurit Mongol melakukan pembunuhan.
Tidak kepalang gusar Yo Ko menyaksikan pemandangan itu. Ia ingin mencegah perbuatan kejam itu, tetapi segan terhadap Kubilai. Diam-diam ia hanya membatin: “Kawanan prajurit Mongol ini benar-benar kejam dan menganggap bangsa Han kami lebih rendah dari pada binatang. Nanti sesudah Kwe Ceng dan Oey Yong kubunuh, aku pasti akan membunuh beberapa perwira Mongol yang paling kejam untuk melampiaskan rasa dendamku.”
Kuda tunggangan mereka adalah kuda peranakan Mongol pilihan, beberapa hari kemudian sampailah mereka di luar kota Siang-yang. Sementara pertempuran pasukan kedua pihak sudah berlangsung sebulan lebih, di medan perang penuh senjata rusak dan berceceran darah membeku, maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyatnya pertempuran.
Ketika pasukan Mongol diberi-tahu oleh kurir bahwa pangeran Kubilai telah datang sendiri di garis depan, para panglima perang menyambutnya. Kubilai menyatakan rasa penyesalannya karena kota Siang-yang sudah sekian lama belum berhasil diduduki. Para panglima itu sama berlutut dan minta ampun. Kubilai terus keprak kudanya dan dilarikan ke depan dengan cepat, sementara para panglima tetap berlutut dan tidak berani bangun, semuanya merasa kebat-kebit.
Diam-diam Yo Ko sangat mengagumi wibawa Kubilai yang luar biasa. Biasanya Kubilai sangat ramah tamah terhadap dirinya serta Kim-Iun Hoat-ong dan lain-lain, namun ketika menghadapi para panglimanya ternyata berubah menjadi sangat kereng dan disegani.
Sementara itu hari sudah terang, pasukan mendapat aba-aba menyerang, seketika terjadilah hujan panah dan batu yang berhamburan ke benteng kota, menyusul tembok benteng banyak ditempeli tangga panjang, beramai-ramai prajurit Mongol berusaha manjat. Akan tetapi penjagaan benteng juga kuat, beberapa prajurit Han memegangi kayu besar dan banyak tangga melangit itu didorong terpental dari tembok benteng. Akhirnya ada beberapa ratus prajurit yang berhasil menyerbu ke atas benteng, sorak-sorai pasukan Mongol segera menggelegar setiap kali Pek-hu-tiang (komandan seratus orang, setingkat kapten) Mongol memimpin pasukannya merayap ke atas sebagai bala bantuan.
Mendadak terdengar suara genderang dipukul keras, sepasukan pemanah kerajaan Song muncul di balik tembok sana dan dapat menahan majunya pasukan Mongol, menyusul sepasukan lain dengan obor beramai-ramai membakar tangga panjang sehingga prajurit Mongol yang sedang merayap ke atas jatuh terjungkal. Suasana menjadi gaduh sekali.
Di tengah pertempuran dahsyat itu, di atas benteng muncul sepasukan lelaki gagah perkasa bersenjata golok, tombak dan pedang. Pasukan Mongol yang berhasil menyerbu ke aras benteng serentak disergapnya. Pasukan laki-laki itu tidak mengenakan seragam pasukan Song. Ada yang berbaju hitam ringkas, ada yang berjubah panjang dengan warna yang berbeda, waktu bertempur juga tidak menuruti peraturan pasukan, namun semuanya sangat tangkas, jelas tiap-tiap orang itu memiliki ilmu silat yang terlatih.
Prajurit Mongol yang menyerbu ke atas benteng adalah para prajurit pilihan yang telah berpengalaman dan gagah berani, namun sama sekali bukan tandingan pasukan laki-laki itu, hanya beberapa gebrakan saja satu persatu mereka dapat dikalahkan dan terbunuh, ada yang menggeletak di atas benteng, ada yang terlempar ke bawah benteng.
Di antara pasukan laki-laki itu ada seorang setengah umur berjubah abu-abu yang tampak paling tangkas. Tanpa bersenjata, tapi hanya terlihat berlari kian kemari tanpa tandingan, di situ pula musuh tercerai berai laksana harimau menyerbu ke tengah kawanan domba.
Kubilai mengawasi sendiri pertempuran itu. Melihat betapa gagahnya lelaki setengah tua itu, dia menjadi kesima. Katanya dengan gegetun:
“Apakah di antara jago-jago di dunia ini ada yang lebih hebat dari pada orang ini?”
Yo Ko berdiri di samping Kubilai, ia lantas berkata: “Apakah Ongya tahu siapakah dia?”
“Apa mungkin dia ini Kwe Ceng?” jawab Kubilai terkejut.
“Betul, memang dia,” kata Yo Ko.
Sementara itu beberapa ratus prajurit Mongol yang menyerbu ke atas benteng sudah terbunuh dan tersisa beberapa orang saja. Hanya tinggal tiga orang Pik-hu-tiang dengan bertombak dan membawa perisai masih bertempur dengan mati-matian.
Ban-hu-tiang (komandan selaksa orang, setingkat kolonel) yang memimpin pertempuran di bawah benteng kuatir didamperat Kubilai, cepat ia memerintah agar meniupkan tanduk dan memberi aba-aba penyerbuan lagi. Serentak pasukan Mongol menyerang dengan gagah berani untuk menyelamatkan ketiga Pek-hu-tiang.
Mendadak Kwe Ceng bersiul nyaring dan melangkah maju. Ketika salah seorang Pek-hu-tiang menusuknya dengan tombak, secara tepat gagang tombak itu kena dipegang terus didorong ke depan, menyusul sebelah kakinya melayang dan tepat menendang pada perisai Pek-hu-tiang kedua.
Meski kedua Pek-hu-tiang itu sangat gagah, tapi sukar menahan tenaga sakti Kwe Ceng. Seketika keduanya mencelat terjungkal ke bawah benteng lantas binasa dengan kepala pecah dan tubuh remuk. Pek-hu-tiang ketiga berusia lebih tua, rambutnya sudah ubanan. Dia pun insaf dirinya tak akan luput dari kematian, tapi sekuatnya ia putar goloknya dan menyerang dengan kalap.
Se-konyong-konyong Kwe Ceng menubruk maju, dengan tepat tangan lawan yang memegang golok kena dicengkeramnya, selagi dia hendak menyusul dengan satu kali hantaman untuk membinasakan Pek-hu-tiang itu, tiba-tiba dia melengak.
Pek-hu-tiang itu pun dapat mengenali Kwe Ceng. Cepat dia berseru: “He, engkau, Kim-to Hunji (menantu raja bergolok emas)!”
Kiranya Pek-hu-tiang ini adalah bekas anak buah Kwe Ceng ketika dahulu ikut Jengis Khan menyerbu ke wilayah barat. Meski waktu sudah lewat kurang lebih dua puluh tahun namun Kwe Ceng masih ingat muka orang, maka seketika dia tertegun. Ketika itulah berdesing sebatang anak panah meluncur deras ke arah punggungnya.
Dalam keadaan biasa jangankan desir anak panah, bahkan suara yang jauh lebih lembut saja pasti dapat segera diketahui. Namun pada saat itu Kwe Ceng sedang berdiri membelakangi, dalam keadaan terkesima melihat bekas anak buahnya, lagi pula suasana pertempuran sangat hiruk pikuk, maka kedatangan anak panah itu tidak disadarinya.
“Awass...!”
Mendadak Pek-hu-tiang berseru sambil mendorong tubuhnya ke samping, Kwe Ceng sadar dari tertegunnya, tetapi terlambat. Bekas anak buah itu roboh dengan anak panah menembus dadanya. Sekali pandang Kwe Ceng tahu orang itu sudah binasa, anak panah tadi tepat menembus jantungnya. Segera dia membalikkan badan, dilihatnya seorang perwira Mongol duduk di atas kudanya dengan busur di tangan. Seketika Kwe Ceng paham bahwa perwira itu tadi bermaksud memanahnya, namun Pek-hu-tiang tua menyelamatkan jiwanya.
Biasanya Kwe Ceng sangat sabar dan tidak suka sembarangan membunuh. Tapi Pek-hu-tiang ini, meski dia seorang Mongol yang menjadi pihak lawan, tetapi betapa pun juga dia telah menyelamatkan dirinya dengan mengorbankan jiwa sendiri, sungguh kematiannya membuat amarah memuncak.
Dengan Ginkang-nya yang maha tinggi, sekali lompat Kwe Ceng turun dari tembok benteng lalu memburu ke arah perwira pemanah tadi. Beberapa prajurit Mongol berusaha mengeroyoknya, tapi apalah artinya mereka, hanya dengan menggerakkan tangan ke kanan ke kiri tubuh mereka berpelantingan.
Tanpa menghentikan langkahnya Kwe Ceng terus menyerbu ke arah perwira berkuda itu dan dengan beberapa lompatan dia telah berada di dekatnya. Dalam jarak sedekat ini tidak mungkin perwira itu mempergunakan panah, maka cepat dia mencabut pedangnya. Akan tetapi baru saja dia memegang gagang pedang, sekonyong-konyong pukulan tangan kanan Kwe Ceng menghantam dadanya. Tanpa sempat mengeluarkan suara lagi perwira pemanah ini roboh dari kudanya dengan dada remuk dan jantung pecah.
Melihat Kwe Ceng turun dan sekarang berada cukup jauh dari tembok tebal itu, segera Kubilai berseru:
“Kepung orang itu! Tangkap atau bunuh!”
Seluruh prajurit di sekitar Kwe Ceng segera mengepung, bahkan yang berada agak jauh cepat berlari mendatangi, dalam waktu sebentar saja dia telah terkepung oleh puluhan prajurit Mongol.
Kwe Ceng menyambar sebatang tombak, lalu berusaha membobol kepungan. Ia pikir: “Se-tinggi-tingginya kemampuanku, jika terus menghadapi kepungan begini banyak lawan, suatu waktu tenagaku akan habis, dan sukarlah menyelamatkan jiwaku.”
Pada saat itu dilihatnya dari jauh dua perwira memacu kudanya secepat terbang mengarah padanya, di tangan mereka tergenggam busur berisi anak panah. Sementara ia melihat pula kuda perwira yang tadi sudah dipukulnya mati masih berada di dekatnya. Tanpa pikir segera Kwe Ceng melompat ke arah kuda, sekali kakinya bergerak tubuhnya melayang lalu hinggap dengan tepat pada punggung kuda yang cepat dibalapkan ke arah tembok benteng, sementara dua perwira yang memegang busur terus memburu dan semakin lama semakin mendekat.
Kini tembok benteng berada di depan mata Kwe Ceng, dari atas kuda dia sambitkan tombak rampasan tadi ke arah seorang prajurit Mongol yang tertinggal di atas benteng, betapa kuat tenaga lontaran itu bisa dilihat dari suara mendesing yang terdengar pula oleh para prajurit yang berdiri di sekitar situ, sementara dua perwira pemanah sudah semakin dekat. Segera Kwe Ceng turun dari kuda dan berlari mendekati benteng. Mereka menarik busur dan membidikan dua panah ke arah Kwe Ceng.
Kepandaian memanah kedua orang itu memang lihay, baru saja terdengar suara teriakan prajurit di atas benteng, tahu-tahu dua panah telah menyambar sampai di depan dada Kwe Ceng, tampaknya sukar bagi Kwe Ceng untuk mengelak. Tanpa terduga mendadak kedua tangan Kwe Ceng meraih, satu tangan satu panah telah kena dipegangnya menyusul kedua panah itu berbaIik disambit ke musuh.
Belum lagi dua jago pengawal Mongol tadi melihat jelas apakah Kwe Ceng mati atau tidak, mendadak kedua panah sudah menyambar tiba dan menembus dada mereka, kontan mereka binasa. Serentak terdengarlah suara gemuruh sorak sorai pasukan Song di atas benteng disertai bunyi genderang yang bertalu-talu sebagai tanda kemenangan.
Kubilai menjadi kesal, lalu memimpin pasukannya mundur ke tempat yang diperintahkan tadi. Di tengah jalan tiba-tiba Yo Ko berkata:
“Ongya tidak perlu masgul, biarlah sebentar Cayhe masuk ke kota sana untuk membunuh Kwe Ceng.”
“Tetapi Kwe Ceng itu serba lihay, namanya memang bukan omong kosong belaka, kurasa rencanamu hendak membunuh rada sukar,” ujar Kubilai sambil menggeleng.
“Aku pernah tinggal di rumahnya selama beberapa tahun, juga pernah menolong anggota keluarganya, dia pasti tidak curiga apa pun padaku,” kata Yo Ko.
“Tadi kau berdiri di sampingku, mungkin sudah dilihat olehnya,” kata Kubilai pula.
“Sebelumnya sudah kupikirkan hal ini, maka tadi aku dan nona Liong memakai topi lebar untuk menutupi muka dan pakai mantel bulu puIa. Dia pasti pangling padaku,” ujar Yo Ko.
“Baiklah, jika begitu kuharap kau berhasil, mengenai janji anugerah pasti kupenuhi,” kata Kubilai.
Yo Ko mengucapkan terima kasih. Baru saja ia hendak berangkat bersama Siao-liong-li, sekilas dilihatnya Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain menunjukkan rasa kurang senang. Segera terpikir oleh Yo Ko bahwa orang-orang itu tentu kuatir kalau gelar ‘jago nomor satu’ akan direbutnya karena berhasil membunuh Kwe Ceng, untuk itu orang-orang itu pasti akan menjegalnya agar usahanya gagal. Maka Yo Ko lantas berkata pula kepada Kubilai:
“Ada sesuatu yang ingin kutegaskan kepada Yang Mulia.”
“Urusan apa, katakan saja,” jawab Kubilai.
“Maksudku membunuh Kwe Ceng hanya demi membalas sakit hati pribadiku,” tutur Yo Ko. “Selain itu kepalanya juga kuperlukan untuk menukar obat penolong jiwa Kokoh-ku, Maka biar pun usahaku berhasil berkat doa restu Ongya, namun gelar jago nomor satu itu sama sekali tak berani kuterima.”
“Apa sebabnya?“ tanya Kubilai heran.
“Betapa pun juga kepandaianku belum dapat dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang hadir di sini, mana aku berani mengaku sebagai jago nomor satu?” kata Yo Ko. “Karena itulah Ongya harus terima dulu permohonanku ini barulah aku berani melaksanakan tugas.”
Karena Yo Ko bicara dengan sungguh-sungguh dan tegas, pula melihat sikap Siau-siang-cu dan yang lain itu, diam-diam Kubilai juga dapat menerka apa yang menjadi pertimbangan anak muda itu, maka berkatalah dia:
“Baiklah, setiap orang memang mempunyai cita-cita sendiri, jika begitu kehendakmu aku pun tidak ingin memaksa.”
Segera Yo Ko memohon diri dan berangkat bersama Siao-liong-li. Di tengah jalan mereka membuang topi dan mantel bulu sehingga dandanannya sekarang adalah bangsa Han. Hari telah menjelang magrib ketika sampai di bawah benteng kota. Terlihat pintu gerbang benteng tertutup rapat, di atas benteng satu regu prajurit sedang ronda kian kemari.
“Hei, aku bernama Yo Ko dan ingin bertemu dengan Kwe-toaya, Kwe Ceng!” teriak Yo Ko.
Ketika mendengar suaranya, perwira yang dinas jaga mencoba melongok ke bawah dan melihat Yo Ko cuma bersama dengan seorang perempuan, ia percaya pasti bukan musuh yang sengaja hendak menyusup ke kota, segera ia melaporkan hal itu kepada Kwe Ceng. Tidak lama kemudian dua pemuda muncul di atas benteng dan melongok keluar, seorang lantas bersuara:
“Oh, kiranya Yo-toako, apakah cuma kalian berdua?”
Kiranya kedua pemuda itu adalah Bu Tun-si dan Bu Siu-bun. Sambil tertawa Yo Ko lantas meryawab,
“Ehh, kiranya Bu-jiko, Apakah Kwe-pepek ada di situ?”
“Ada, silakan masuk saja,” jawab Siu-bun.
Segera dia memberi perintah agar membukakan pintu benteng dan menurunkan jembatan untuk menyambut datangnya Yo Ko dan Siao-liong-li. Kedua saudara Bu membawa Yo Ko ke sebuah rumah besar.
Dengan wajah ber-seri Kwe Ceng menerima kedatangan mereka. Lebih dulu Kwe Ceng memberi hormat kepada Siao-liong-li lalu menarik tangan Yo Ko, katanya dengan tertawa girang:
“Ko-ji, kedatangan kalian ini sungguh kebetulan. Musuh sedang menyerang kota, kedatangan kalian berarti bantuan yang dapat diandalkan bagiku, sungguh bahagia sekali segenap penduduk kota ini.”
Siao-liong-li adalah guru Yo Ko, maka Kwe Ceng menghormatinya sebagai angkatan yang sama. Dengan ramah Kwe Ceng menyilakan dia masuk ke dalam rumah, terhadap Yo Ko ia pun sangat sayang dan menggandeng tangannya.
Ketika teringat bahwa orang yang menggandeng tangannya ialah pembunuh ayahnya, sungguh tidak kepalang gemas hati Yo Ko, kalau bisa sekali tusuk akan dibinasakannya. Cuma karena jeri kepada kelihaian Kwe Ceng, maka tidak berani sembarangan bergerak, dengan air mukanya yang gembira, ia pun menanyakan kesehatan sang paman dan tidak lupa pula menanyakan Oey Yong.
Lantaran rasa dendamnya, sebegitu jauh dia tidak memberi sembah hormat kepada Kwe Ceng. Tetapi Kwe Ceng memang orang baik, sedikit pun ia tidak memperhatikan tata adat begitu. Sampai di ruangan besar, Yo Ko hendak menemui Oey Yong ke dalam, namun Kwe Ceng telah mencegahnya, katanya:
“Bibimu sudah hampir melahirkan, beberapa hari ini kesehatannya terganggu, boleh kau menemuinya lain hari saja.”
Diam-diam Yo Ko girang. Dia justru kuatir akan kecerdikan Oey Yong, bukan mustahil maksud kedatangannya akan diketahui, kalau bibi itu sedang sakit maka kebetulan baginya. Tengah bercakap, datanglah utusan panglima kota yaitu Lu Bun-hoan, yang mengundang Kwe Ceng untuk menghadiri perjamuan merayakan kemenangan tadi. Namun Kwe Ceng segera menolak undangan itu dengan alasan dia sendiri sedang menerima tamu.
Sudah tentu utusan panglima itu amat heran. Dilihatnya usia Yo Ko masih muda dan tidak ada sesuatu yang luar biasa, entah kenapa justru anak ini mendapat perhatian Kwe Ceng sebesar itu sehingga menolak undangan sang panglima hanya untuk melayani anak muda. Terpaksa utusan itu pulang dan melaporkan hal itu kepada Lu Bun-hoan.
Kwe Ceng lantas mengadakan perjamuan sederhana di rumah sendiri untuk merayakan kedatangan Yo Ko dan Siao-liong-li, ikut hadir di meja perjamuan adalah Cu Cu-liu, Loh Yu-kah, kedua saudara Bu, Kwe Hu dan lainnya.
Ber-ulang Cu Cu-liu mengucapkan terima kasih pada Yo Ko yang pernah menolongnya dengan memaksa pangeran Hotu dari Mongol menyerahkan obar penawar sehingga Cu Cu-liu terbebas dari renggutan maut. Sikap Kwe Hu ternyata tawar saja terhadap Yo Ko, dia cuma memanggil sekali, lalu tidak bicara lagi. Dalam perjamuan itu alis si nona kelihatan terkerot seperti sedang dirundung persoaIan. Kedua saudara Bu juga selalu menghindari adu pandang dengan Yo Ko, ketiga orang juga tidak berbicara sejak awal hingga berakhirnya perjamuan.
Sebaliknya Loh Yu-kah dan Cu Cu-liu sangat gembira ria dan asyik mengobrol mengenai kemenangan gemilang atas pasukan Mongol. Waktu perjamuan selesai, sementara itu sudah lewat tengah malam. Kwe Ceng menyuruh Kwe Hu agar mengawani Siao-liong-li tidur sekamar, ia sendiri menarik Yo Ko untuk tidur bersama satu ranjang.
Ketika akan pergi Siao-liong-li sempat melirik sekejap kepada Yo Ko agar anak muda itu berhati-hati. Yo Ko kuatir rahasianya diketahui orang, cepat dia berpaling dan tidak berani menatap Siao-liong-li.
Kwe Ceng menggandeng Yo Ko ke kamar tidurnya, berulang-ulang dia memuji anak muda itu ketika melawan Kim-lun Hoat-ong di barisan batu-batu itu dan berhasil menyelamatkan Oey Yong, Kwe Hu serta kedua saudara Bu. Habis itu dia lantas tanya pengalaman Yo Ko setelah berpisah.
Teringat kejadian tempo hari, Yo Ko menyesal telah menolong Oey Yong dengan mati-matian. Dia kuatir kalau banyak bicara mungkin rahasia tujuannya akan diketahui Kwe Ceng, maka tentang pertemuannya dengan Thia Eng, Liok Bo-siang, Sah Koh dan Oey Yok-su tak diceritakannya, dia hanya mengaku merawat lukanya di pegunungan sunyi, kemudian bertemu dengan Kokoh, lalu bersama ke sini untuk mencari paman.
Sembari membuka baju dan mapan tidur, Kwe Ceng berkata: “Ko-ji, saat ini musuh sudah berada di depan mata, keadaan Song Raya kita benar-benar berbahaya, seperti telur di ujung tanduk. Siang-yang adalah perisai bagi tanah air kita, kalau kota ini jatuh, mungkin berjuta-juta rakyat kita akan menjadi budak orang Mongol. Dengan mataku sendiri kulihat keganasan orang MongoI, sungguh darahku mendidih menyaksikan kekejaman musuh”
Segera Yo Ko teringat juga akan keganasan prajurit Mongol yang dilihatnya di sepanjang perjalanan, saking gusarnya ia pun mengertak gigi.
“Kaum kita belajar silat dengan sepenuh tenaga, meski tujuannya ingin berbuat kebajikan dan membela kaum kecil, namun ini hanya sebagian kecil saja dari pada tugas kita yang sebenarnya,” kata Kwe Ceng pula, “Orang-orang Kangouw menyebut aku ‘Kwe-tayhiap’ kukira bukan disebabkan kepandaianku yang tinggi melainkan menghormati diriku yang berjuang mati-matian demi negara dan rakyat. Namun aku sendiri merasa tenagaku seorang diri teramat kecil dan belum bisa membebaskan rakyat dari kesengsaraan, maka sesungguhnya aku malu untuk disebut ‘Tayhiap’. Engkau masih muda, kepintaranmu dan kecerdasanmu berlipat ganda dari padaku, hari depanmu pasti cemerlang dan tentu jauh melebihi diriku. Hanya saja kuharap kau selalu ingat pada pesanku ini: ‘Demi negara dan rakyat, itulah tugas utama kita’. Semoga kelak namamu termashur dan menjadi seorang Tayhiap (pendekar besar) sejati yang dihormati segenap rakyat jelata.”
Uraian Kwe Ceng amat mengena di lubuk hati Yo Ko. Dilihatnya Kwe Ceng berbicara dengan sungguh-sungguh, simpatik, tapi juga kereng. Meski jelas dia adalah musuh yang membunuh ayahnya, tapi tanpa terasa timbul juga rasa hormat dan segannya. Segera dia menjawab:
“Kwe-pepek, jika engkau sudah meninggal aku pasti akan selalu ingat perkataanmu ini.”
Sudah tentu Kwe Ceng tak mengira bahwa malam ini juga si Yo Ko akan membunuhnya. Dengan rasa sayang dia membelai kepala anak muda itu dan berkata
“Ya, memang, berjuang sampai titik darah penghabisan kalau negara kita runtuh, jiwa pamanmu ini jelas juga takkan tertinggal lagi. Kabarnya Kubilai amat pandai mengatur pasukan, kemunduran pasukan tadi mungkin hanya siasatnya belaka, dalam beberapa hari ini pasti akan ada pertempuran dahsyat, kau perlu kumpulkan dan memupuk semangat untuk menunjukkan segenap kepandaianmu di medan perang. Baiklah, sudah jauh malam, marilah tidur.”
Yo Ko mengiakan saja, lalu membuka baju dan mapan tidur. Belati yang dibawanya dari Coat-ceng-kok itu diam-diam diselipkannya di pinggang, dia pikir biar ilmu silatmu beratus kali lebih tinggi, kalau sudah tertidur, sekali tikam dengan belati ini, masa kau mampu mengelak.?
Karena siangnya bertempur sengit, maka Kwe Ceng rada lelah, begitu menempel bantal dia langsung pulas. Sebaliknya Yo Ko bergolak-golik tak dapat tidur. Dia tidur di bagian dalam, didengarnya pernapasan Kwe Ceng amat teratur, tarikan dan hembusan napasnya terselang agak lama, diam-diam ia kagum terhadap Iwekang sang paman yang hebat.
Agak lama kemudian suasana menjadi hening, hanya dari jauh terdengar suara peronda sedang melakukan tugasnya. Perlahan Yo Ko duduk dan meraba belatinya. Ia pikir jika dia telah kutikam mati, segera kupergi membunuh Oey Yong, rasanya membereskan seorang wanita hamil tidak terlalu sulit. Selesai semuanya segera bersama Kokoh kembali ke Coat-ceng-kok untuk mengambil setengah biji obat itu. Kemudian kami akan mengasingkan diri di kuburan kuno untuk menikmati kebahagiaan hidup dan takkan peduli apakah dunia ini akan menjadi milik Song atau direbut Mongol. Begitulah hatinya sangat senang berpikir sampai di sini.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak kecil di rumah tetangga sana, menyusul suara sang ibu menimang anaknya, suara tangis anak itu pun mulai mereda dan kemudian sunyi senyap lagi.
Seketika hati Yo Ko tergetar, mendadak teringat olehnya apa yang dilihatnya di perjalanan tempo hari, di mana seorang Busu Mongol menyodet perut seorang bayi kemudian diangkat ke udara seperti sundukan satai. Bayi itu tidak langsung mati, tetapi masih dapat menjerit ngeri. Segera terpikir olehnya: “Untuk membunuh Kwe Ceng sekarang bagiku amat mudah. Tapi kalau dia mati, kota ini takkan dapat dipertahankan lagi dan beribu-ribu anak kecil dalam kota ini tentu akan menjadi mangsa keganasan para prajurit Mongol. Aku sendiri berhasil membalas dendam, tetapi akibatnya jiwa rakyat jelata yang tak terhitung banyaknya menjadi korban, apakah perbuatanku ini dapat dipuji?”
Akan tetapi lantas terpikir pula: “Kalau tidak kubunuh dia, tentu Kiu Jian-jio tak mau memberikan obatnya padaku dan kalau aku mati pasti juga Kokoh tidak dapat hidup lagi.” Betapa mendalam cintanya kepada Siao-liong-li boleh dikatakan tiada taranya, karena itu dia menjadi nekat: “Sudahlah, biar peduli amat dengan jiwa rakyat Siang-yang dan negara segala. Pada saat aku menderita sengsara, selain Kokoh seorang siapa lagi yang pernah menaruh belas kasihan kepadaku? Orang lain tidak pernah sayang padaku, buat apa aku mesti sayang kepada orang lain?”
Begitulah Yo Ko lantas mengangkat belatinya, tenaga dikumpulkan pada tangannya, ujung belati mengincar tepat dada Kwe Ceng. Lilin dalam kamar telah dipadamkan, tapi Yo Ko sudah biasa melihat dalam kegelapan. Waktu belatinya akan ditusukkan, sekilas dia memandang wajah Kwe Ceng, dilihatnya air muka paman sangat tenang, wajah seorang welas asih dan berbudi. Belati sudah tergenggam di tangan Yo Ko, tapi ia ragu-ragu untuk turun tangan mengingat keselamatan laksaan jiwa bangsa Han yang akan menjadi korban keganasan para prajurit Mongol yang kejam.
Malam itu Kwe Ceng tidurnya amat nyenyak. Tiba-tiba terbayang pula dalam benak Yo Ko semua kejadian di masa lampau, betapa kasih sayang paman padanya waktu tinggal di Tho-hoa-to dan tanpa mengenal lelah sang paman mengantarnya ke Cong-lam-san untuk belajar siIat, malahan berniat menjodohkan puteri tunggalnya kepadanya.
Tanpa terasa timbul pikiran: “Selamanya Kwe-pepek bertindak jujur dan terus terang, beliau adalah seorang tua yang baik budi. Pribadi seperti dia ini seharusnya tidak mungkin mencelakai ayahku, Apakah mungkin Sah Koh yang tidak waras hanya sembarangan omong? Kalau saja tikaman ini jadi kulaksanakan dan mungkin ternyata salah membunuh orang baik, bukankah dosaku sulit diampuni? Wah, nanti dulu, kukira urusan ini harus kuselidiki.”
Perlahan-lahan dia lantas menyimpan kembali belatinya, dia coba merenungkan satu demi satu kejadian di masa lalu sejak dia bertemu dengan Kwe Ceng dan Oey Yong. Teringat olehnya sikap Oey Yong yang kurang simpatik padanya, beberapa kali dipergoki suami isteri itu sedang membicarakan sesuatu soal apa-apa, namun pokok pembicaraan lantas dihentikan begitu dia muncul. Kalau dipikir, tentu ada sesuatu di antara suami isteri itu yang sengaja dirahasiakannya.
lngat pula sang bibi resminya menerima dirinya sebagai murid, tapi yang diajarkan hanya membaca dan menulis, sedikit pun tidak diajarkan silat. Apakah keramahan paman Kwe kepadaku bukan lantaran ia telah mencelakai ayahku dan hatinya merasa tidak tenteram, maka sengaja membaiki aku sekedar menenangkan hatinya yang merasa berdosa? Begitulah Yo Ko terus bergulang-guling tak dapat pulas.
Dalam pada itu Kwe Ceng masih tidur dengan nyenyaknya, namun pada suatu ketika dia dapat mengetahui pernapasan Yo Ko yang rada memburu. Tiba-tiba dia membuka mata dan bertanya:
“Ada apa, Ko-ji? Kau tak dapat tidur?”
Badan Yo Ko rada bergetar, jawabnya: “Oh tidak apa-apa.”
“Kalau kau tidak biasa tidur bersama orang lain, bolehlah aku tidur di meja saja,” kata Kwe Ceng tertawa.
“Wah, tidak, tidak apa-apa,” sahut Yo Ko cepat.
“Baiklah, jika begitu lekas tidur,” ujar Kwe Ceng. “Orang belajar silat harus mengutamakan menenangkan batin dan memusatkan pikiran.”
Yo Ko mengiyakan. Akan tetapi pikirannya tetap bergoIak hingga akhirnya dia tidak tahan dan bertanya:
“Kwe-pepek, dahulu waktu kau mengantar diriku ke Cong lam-san, sampai kuil di kaki gunung itu pernah kutanyakan sesuatu padamu, apakah paman masih ingat?”
Hati Kwe Ceng terkesiap, jawabnya: “Ya, ada apa?”
“Tatkala Kwe-pepek marah-marah kemudian menghantam sebuah pilar batu hingga menimbulkan salah paham para Tosu dari Coan-cin-kau, apakah sekarang paman masih ingat persoalanku yang kutanyakan itu?”
“Ya, kalau tidak salah kau bertanya cara bagaimana meninggalnya ayahmu.”
Dengan tatapan tajam Yo Ko berkata. “Waktu itu yang kutanyakan kepadamu adalah siapakah yang membunuh ayahku.”
“Dari mana kau mengetahui bahwa ayahmu dibunuh orang?” kata Kwe Ceng.
“Memangnya ayahku meninggal secara baik?” tanya Yo Ko dengan suara agak serak.
Kwe Ceng terdiam sejenak, ia menghela napas panjang, kemudian berkata pula: “Ayahmu meninggal secara menyedihkan, tetapi tiada siapa pun yang membunuhnya, dia yang membunuh dirinya sendiri.”
Mendadak Yo Ko bangun duduk, dengan perasaan yang sangat terangsang ia berkata: “Tidak, Kwe-pepek dusta padaku, mana mungkin di dunia ini ada orang membunuh dirinya sendiri? Seumpama ayahku membunuh diri, tentu ada orang lain yang menyebabkan kematiannya.”
Kwe Ceng menjadi berduka sehingga meneteskan air mata, katanya perlahan: “Anak Ko, kakekmu dan ayahku adalah saudara angkat, ayahmu dengan diriku juga sudah mengikat persaudaraan. Kalau benar ayahmu mati secara penasaran, masa aku tidak berusaha membalas dendam baginya?”
Tubuh Yo Ko rada gemetar, saking menahan perasaannya hampir saja dia berucap: “Kau sendiri yang membunuh ayahku, maka dengan sendirinya kau tak mungkin membalaskan dendamnya.”
Akan tetapi dia tahu, sekali ucapannya dikeluarkan tentu Kwe Ceng akan waspada dan selanjutnya pasti sukar hendak membunuhnya. Maka Yo Ko hanya diam saja, lalu tidak bicara lagi.
“Persoalan ayahmu sesungguhnya amat banyak lika-likunya dan sukar diceritakan dalam waktu singkat,” kata Kwe Ceng. “Dahulu waktu kau bertanya, karena kupikir usiamu masih terlalu muda sehingga belum dapat memahami sebab musababnya dengan jelas, lantaran itulah aku tidak mau menjelaskan padamu. Sekarang kau sudah dewasa, sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, maka sesudah orang MongoI dipukul mundur, biarlah nanti kuceritakan dari awal hingga akhir,” jeIasnya. Habis berkata ia terus membalik dan tidur lagi.
Yo Ko cukup kenal perangai sang paman yang amat tegas itu, sekali dia bilang satu, tak mungkin berubah menjadi dua. Tapi ia menjadi ragu-ragu lagi dan memaki diri sendiri: “Wahai, Yo Ko, biasanya kau bertindak sesuatu selalu tegas dan berani, tetapi mengapa sekarang kau bimbang dan takut-takut? Apakah kau jeri terhadap ilmu silatnya yang lihay? Bukan saja kesempatan bagus malam ini kau sia-siakan, besok bila Oey Yong sudah mengetahui maksud tujuanmu mungkin Kokoh-mu akan ikut menjadi korban.”
Teringat kepada Siao-liong-li, seketika ia kembali bersemangat. Ia meraba belatinya, belati yang menempel di kulit perutnya itu serasa panas oleh suhu badannya. Baru saja ia hendak mencabut belatinya, tiba-tiba terdengar daun jendela diketok orang tiga tali dengan sangat perlahan. Cepat Yo Ko pura-pura tidur, sedangkan Kwe Ceng lantas terjaga bangun berduduk serta bertanya:
“Apakah Yong-ji di situ? Ada urusan apa?”
Namun suara di luar jendela lantas berhenti. Kwe Ceng bangkit, dilihatnya Yo Ko tidur nyenyak, dia pikir anak muda itu baru saja pulas, sebaiknya jangan diganggu. Perlahan-lahan dia lantas membuka pintu kamar dan keluar, dilihatnya Oey Yong sedang menunggu di serambi sana, Kwe Ceng mendekati sang isteri lantas bertanya dengan suara tertahan:
“Ada urusan apa?”
Oey Yong tidak menjawab, ia menarik tangan suaminya ke halaman belakang, setelah memandang sekelilingnya barulah berkata:
“Percakapanmu dengan Ko-ji sudah kudengar semua. Dia mengandung maksud buruk, apakah kau tidak tahu?”
Kwe Ceng terkejut. “Apa? Dia bermaksud buruk bagaimana?” ia menegas.
“Dari kata-katanya itu, tampaknya dia mencurigai kita berdua yang membunuh ayahnya,” tutur Oey Yong.
“Ya, bisa jadi dia curiga,” ujar Kwe Ceng sambil menggeleng, “tapi aku telah berjanji akan menceritakan sebab musabab kematian ayahnya.”
“Memang kau benar-benar akan menceritakan padanya tanpa menutupi sesuatu apa pun?” tanyanya.
“Kematian ayahnya amat mengenaskan, selama ini aku pun selalu merasa bersalah,” kata Kwe Ceng, “Meski pun adik Yo Khong tersesat ke jalan yang salah, tetapi kita juga tidak berusaha menyadarkan dia dan tidak berdaya menyelamatkannya.”
“Hm, orang macam begitu masa ada harganya dibantu?” jengek Oey Yong, “Malahan aku justru menyesal tidak membunuhnya sedini mungkin, kalau tidak masa beberapa gurumu itu sampai tewas di Thoa hoa-to gara-gara perbuatannya?”
Teringat pada peristiwa yang mengenaskan itu, tanpa terasa Kwe Ceng menghela napas panjang.
“Dari anak Hu kudengar kedatangan Ko-ji ini kelihatan agak aneh, katanya pula kau tidur sekamar dengan dia, Aku menjadi kuatir terjadi sesuatu, maka semenjak tadi aku sudah mengawasi dari luar jendela. Kukira sebaiknya jangan tidur bersamanya, harus diketahui bahwa hati manusia amat sulit dijajaki, lagi pula ayahnya mati keracunan akibat memukul bahuku.“
“Yong-ji, itu pun tidak dapat dikatakan kau yang mencelakai dia,” ujar Kwe Ceng.
“Walau pun kita memang ada maksud membunuhnya, akhirnya ia juga mati akibat diriku, maka soal kita sendiri yang turun tangan membunuhnya atau bukan menjadi tidak penting lagi,” kata Oey Yong.
Kwe Ceng berpikir sejenak, katanya kemudian: “Betul juga ucapanmu. Kalau begitu untuk sementara ini takkan kuceritakan terus terang padanya. Yong ji, sudah jauh malam, lekas kembali ke kamarmu dan mengaso, besok malam biar aku pindah tidur ke markas saja.”
Biasanya Kwe Ceng memang selalu menuruti segala nasehat Oey Yong, soalnya ia tahu kecerdasan dan pengetahuan sang isteri memang berkali lipat lebih pintar dari pada dia sendiri, dugaannya selalu tepat, perhitungannya tak pernah meleset. Meski ia tak percaya bahwa Yo Ko bermaksud jahat kepadanya, tetapi sang isteri sudah bilang begitu, maka ia lantas menurut saja. Segera Kwe Ceng memayang sang isteri untuk kembali ke kamarnya, katanya:
“Kukira selekasnya Hu-ji dinikahkan saja dengan Ko-ji agar selesailah persoalan kita ini.”
“Aku sendiri pun bingung menghadapi urusan ini!” ujar Oey Yong sambil menghela napas. “Kakak Ceng, di dalam hatiku hanya ada engkau seorang begitu pula dalam hatimu cuma ada aku, akan tetapi puteri kita itu ternyata tidak seperti kau, juga tidak seperti aku, dalam hatinya justru sekaligus terisi dua kekasih yang sukar dibedakan mana yang harus dipilih, inilah yang membuat kita sebagai ayah-bundanya serba susah.”
‘Dua kekasih’ yang dimaksud Oey Yong bukan lain dari pada Bu Tun-si dan Bu Siu-bun. Kedua anak muda ini sama jatuh cinta kepada Kwe Hu, sebaliknya Kwe Hu juga tidak pilih kasih terhadap kedua saudara Bu itu. Waktu masih kecil memang tidak menjadi soal, akan tetapi ketiganya kini sudah dewasa, persoalan cinta segi tiga ini pun menjadi semakin rumit dan serba sulit.
Menurut pikiran Kwe Ceng, dia ingin menjodohkan puterinya kepada Yo Ko sedang untuk kedua saudara Bu akan dicarikan gadis lain yang setimpal. Akan tetapi pikiran Oey Yong terlebih cermat, ia tahu banyak kesulitan dalam persoalan jodoh ini. Kendati pun dia amat pintar, menghadapi soal rumit ini pun dia merasa bingung dan tak berdaya.
Begitulah Kwe Ceng mengantar isterinya sampai ke dalam kamar, setelah berbaring dan menyelimutinya, ia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan sang isteri dengan tersenyum bahagia. Selama sebulan ini keduanya sama sibuk urusan tugas, suami-isteri jarang berkumpul dengan tenang, sekarang keduanya berhadapan tanpa bicara, namun terasa sangat senang.
Oey Yong memegangi tangan Kwe Ceng dan digosok-gosokkannya pada pipi sendiri, lalu berkata dengan suara lirih:
“Engkoh Ceng, anak kita yang kedua ini bolehlah kau berikan nama yang baik.”
“Kau tahu aku tidak sanggup, mengapa kau menggodaku,” jawab Kwe Ceng dengan tertawa.
“Kau selalu mengatakan dirimu tidak sanggup apa-apa, padahal, Engkoh Ceng, laki-laki di seluruh jagat ini tiada keduanya yang dapat melebihi kau,” kata Oey Yong dengan mesra dan sungguh-sungguh.
Kwe Ceng menunduk dan mencium perlahan muka sang isteri, katanya: “Kalau anak laki-laki kita beri sama Boh-to saja, tetapi kalau perempuan...” Dia berpikir sejenak, kemudian menyambung: “Kau saja yang memberikan namanya.”
“Saat ini kita sedang mempertahankan kota Siang-yang dalam menghadapi serbuan orang MongoI. Karena anak dilahirkan di sini, maka kita beri nama Yang saja, agar kelak kalau sudah besar anak ini akan selalu ingat bahwa dia dilahirkan di kota yang sedang dilanda peperangan.”
“Bagus, diharap saja anak perempuan ini tidak senakal Toaci-nya, sudah begitu besar tapi masih membikin repot orang tua saja,” ujar Kwe Ceng.
“Kalau cuma repot sih tidak menjadi soal,” ujar Oey Yong dengan tersenyum, “justru dia... ahhh... aku malah berharap anak ini adalah laki-laki saja.”
Kwe Ceng meraba-raba tangan sang isteri dan berkata: “Baik anak laki-laki mau pun anak perempuan kan sama saja? Sudahlah, lekas tidur, jangan berpikir macam-macam.”
Sesudah menyelimuti sang isteri dan memadamkan lilin, Kwe Ceng kembali ke kamarnya, dilihatnya Yo Ko masih tidur dengan lelap, didengarnya bunyi kentongan tiga kali, segera ia naik tempat tidur lagi. Tanpa diketahuinya percakapan mereka suami-isteri di halaman tadi telah dapat didengar semua oleh Yo Ko yang bersembunyi di balik pintu.
Waktu Kwe Ceng dan Oey Yong menuju ke ruangan dalam, Yo Ko masih berdiri kesima di balik pintu sambil merenungkan ucapan Oey Yong:
“Aku justru menyesal tidak membunuhnya lebih dini..., ayahnya mati keracunan akibat memukul bahuku..., kita memang ada maksud membunuhnya, tapi akhirnya ia juga mati akibat diriku...”
Dari kata-kata itu sudah jelas bahwa ayahku memang tewas di tangan mereka berdua, hal ini tidak perlu diragukan lagi, demikian pikir Yo Ko. Diam-diam dia pun merasa Oey Yong benar maha lihay karena mencurigai dirinya, jika malam ini tidak turun tangan, mungkin kelak tiada kesempatan baik lagi. Begitulah ia lantas berbaring lagi di tempat tidurnya dan menunggu sampai kembalinya Kwe Ceng.
Sesudah Kwe Ceng merebahkan diri dan memakai selimut, didengarnya Yo Ko sedang mengeluarkan suara mengorok perlahan. Diam-diam ia pikir anak muda ini nyenyak benar tidurnya. Karena itu ia mapan tidur dengan perlahan, kuatir kalau mengganggu Yo Ko. Selang tak lama, selagi layap-layap akan pulas, tiba-tiba terasa Yo Ko membalik tubuh dengan perlahan, tapi waktu membalik tubuh tetap mengeluarkan suara mendengkur.
Kwe Ceng melengak heran. Pada umumnya orang tidur kalau membalik tubuh tentu suara mendengkurnya akan berhenti. Mengapa pernapasan bocah ini lain dari pada yang lain? Apakah mungkin latihan Iwekang-nya mengalami kesalahan? Kalau benar demikian bisa celaka. Hati Kwe Ceng memang polos, sama sekali dia tidak pernah menyangka Yo Ko sengaja pura-pura mendengkur. Begitulah ketika Yo Ko membalik tubuh lagi perlahan dan melihat Kwe Ceng tetap diam saja, segera dia mengeluarkan suara dengkuran lagi sambil turun dari tempat tidur.
Semula dia berniat menikam Kwe Ceng dalam selimut, tetapi diurungkan karena merasa berbahaya kalau menyerangnya dari jarak dekat. Kalau saja sebelum ajalnya Kwe Ceng membalas sekali hantam, tentu jiwa sendiri juga akan melayang. Karena itu ia mengambil keputusan turun tempat tidur dulu, begitu tikamannya mengenai tempat yang mematikan segera ia akan melompat keluar jendela dan melarikan diri. Tapi ia pun kuatir bila suara mendengkurnya berhenti mungkin akan menimbulkan curiga Kwe Ceng jika dalam tidurnya itu merasakan sesuatu yang tak beres. Maka sambil turun dari tempat tidur dia tetap pura-pura ngorok.
Karena kelakuannya inilah membikin Kwe Ceng semakin bingung. Dia pikir jangan-jangan bocah ini mengidap penyakit ‘mimpi berjalan’. Kalau sekarang kubiarkan dia, karena kaget bukan mustahil tenaga dalamnya akan bergolak dan tersesat ke jalan yang keliru, hal ini berarti maut bagi anak muda itu. Karena itulah dia tidak berani bergerak dan tetap pasang kuping untuk mengikuti gerak gerik Yo Ko.
Perlahan-lahan Yo Ko mengeluarkan belatinya lalu digenggamnya kencang di depan dada. Dengan hati-hati dia mendekati tempat tidur, mendadak dia angkat belatinya terus hendak ditikamkan ke ulu hati Kwe Ceng.
“Ko ji, kau mimpi buruk apa?” pada saat itu juga mendadak Kwe Ceng berseru padanya dengan suara halus.
Sungguh kaget Yo Ko tak terkatakan. Begitu kedua kakinya menutul, secara membalik tubuhnya segera menerobos keluar jendela. Akan tetapi kecepatannya tetap kalah cepat dari pada Kwe Ceng. Sebelum dia tancapkan kakinya di luar, tahu-tahu kedua bahunya sudah dipegang oleh kedua tangan Kwe Ceng. Seketika Yo Ko putus asa. Dia tahu ilmu silat sendiri sekali-kali bukanlah tandingan sang paman, melawan juga tiada gunanya, maka dia cuma pejamkan mata dan menunggu ajal saja.
Tak terduga Kwe Ceng terus mengangkat tubuhnya dan melompat masuk lagi ke dalam kamar, didudukkannya Yo Ko di tempat tidur dalam posisi seperti orang sedang semadi. Diam-diam Yo Ko heran, dia tidak tahu dengan cara bagaimana dirinya akan disiksa oleh Kwe Ceng, Tiba-tiba dia teringat pada Siao-liong-li, dia menarik napas panjang dan segera bermaksud berteriak memperingatkan nona itu agar lekas melarikan diri.
Melihat Yo Ko menghimpun tenaga, Kwe Ceng semakin salah paham bahwa anak muda itu sedang menahan sakit. Cepat dia gunakan tangannya untuk menahan perut Yo Ko. Mestinya Yo Ko hendak berteriak, tapi perutnya ditekan hingga sulit bersuara, sedangkan dalam hati menguatirkan keadaan Siao-liong-li. Ia menjadi kelabakan tapi perutnya ditahan oleh Kwe Ceng, ingin meronta pun tidak dapat.
Dengan perlahan kemudian Kwe Ceng berkata: “Ko-ji, kau terburu-buru berlatih, akibatnya justru macet. Sebaiknya jangan banyak bergerak, tenangkan pikiranmu, akan kubantu kau meredakan pergolakan tenaga dalammu.”
Yo Ko tercengang heran karena tidak tahu apa maksud ucapannya. Ia hanya merasakan serangkum hawa hangat tersalur dari tangan sang paman ke dalam perutnya dan terasa sangat menyegarkan. Segera tahulah Yo Ko bahwa Kwe Ceng sedang membantunya dengan Iwekang yang tinggi untuk melancarkan tenaga dalamnya. Diam-diam dia merasa geli dan malu diri pula, Nyata sang paman telah salah sangka dan mengira latihan Iwekang-nya tersesat hingga kelakuannya seperti orang sinting.
Agar tidak menimbulkan curiga orang, segera dia mengerahkan tenaga dalam sendiri dan sengaja disalurkan ke sana ke sini tanpa teratur dan seperti sukar di atasi. Tentu saja Kwe Ceng tambah kuatir. Segera ia kerahkan tenaganya lebih kuat lagi untuk menghimpun tenaga dalam Yo Ko yang terpencar itu.
Karena Yo Ko sudah telanjur berlagak begitu, mau tak mau ia harus berbuat supaya lebih sungguh-sungguh tampaknya. Dasar Iwekang Yo Ko sekarang sudah amat tinggi, maka seketika Kwe Ceng kena dikelabui dan sampai agak lama barulah ia berhasil melancarkan tenaga dalam si Yo Ko yang disangkanya nyasar itu. Sesudah kerja keras begitu, akhirnya Yo Ko merasa kehabisan tenaga, Kwe Ceng juga merasa letih, kedua orang sama-sama bersemadi hingga fajar barulah segar kembali.
“Sudah baikan belum, Ko-ji?” tanya Kwe Ceng dengan tersenyum. “Sungguh tak terduga bahwa tenaga dalammu begini hebat, hampir saja aku tak sanggup menolong kau.”
Begitu tahu bahwa sang paman tidak sayang mengorbankan tenaga murninya demi untuk menolong dirinya, mau tidak mau hati Yo Ko sangat terharu, katanya:
“Terima kasih atas pertolongan Kwe-pepek, semalam hampir saja aku celaka.”
Diam-diam Kwe Ceng bersyukur bahwa anak muda ini tidak menyadari jika tadi malam ia sudah angkat belati hendak menikamnya, kalau tahu, tentu anak muda itu akan menyesal tak terhingga. Nyata Kwe Ceng yang berhati jujur dan baik budi itu tetap tidak mencurigai perbuatan Yo Ko. Ia malah kuatir kalau Yo Ko mengetahui kejadian itu, maka sengaja membelokkan pembicaraan, katanya segera:
“Marilah kau ikut bersamaku. Kita keluar untuk mengontrol pertahanan pasukan kita.”
Yo Ko mengiakan dan ikut keluar. Kedua orang masing-masing menunggang kuda perang dan dilarikan keluar benteng kota.
“Ko-ji,” kata Kwe Ceng di tengah jalan, “Iwekang kaum Coan-cin-pay adalah ilmu yang baik, biar pun kemajuannya lambat tapi jarang terjadi kemacetan. Kukira kuncinya sudah cukup kau pahami, nanti kalau musuh sudah mundur akan kujelaskan lebih lanjut.”
“Baiklah, tetapi kumohon Kwe-pepek jangan menceritakan kejadian semalam kepada bibi, bila beliau tahu tentu akan mentertawakan diriku yang mempelajari ilmu sesat dari Kokoh segala,” kata Yo Ko.
“Teatu takkan kuceritakan,” kata Kwe Ceng. “Padahal Kanghu nona Liong itu pun bukan kepandaian jelek, soalnya kau sendiri yang banyak memikirkan hal-hal lain sehingga tidak dapat memusatkan pelajaranmu pada itu saja.”
Nyata ocehan Yo Ko telah berhasil membohongi Kwe Ceng sehingga tidak curiga sedikit pun. Dia tahu kalau urusan ini diketahui Oey Yong, maka sukar akan mengelabui nyonya maha cerdik itu. Dia merasa lega sesudah Kwe Ceng berjanji tak akan memberi-tahukan kejadian semalam kepada Oey Yong.
Begitulah kedua orang terus melarikan kuda mereka ke barat kota, terlihat sebuah sungai kecil terbentang di kaki bukit sana.
“Sungai ini bernama Tan-keh,” tutur Kwe Ceng, “Konon dahulu Lau Pi pada jaman Sam-kok dikejar pasukan musuh sampai di pinggir sungai ini. Kuda yang ditunggangi Lau Pi bernama Tek-loh, menurut peramal kuda, katanya kuda itu kurang baik bagi sang majikan. Tak terduga pada saat gawat itulah sang kuda mampu melompat melintasi sungai kecil itu sehingga Lau Pi lolos dari kejaran musuh dan selamatlah jiwanya.” Bicara sampai di sini, tiba-tiba saja dia teringat kepada ayah Yo Ko, katanya pula dengan gegetun: “Sebenarnya manusia juga sama dengan kuda yang bernama Tek-loh itu, baik atau buruk sulit diramal, segala sesuatu hanya bergantung pada ketentuan pikiran sekejap saja.”
Hati Yo Ko terkesiap, ia melirik Kwe Ceng sekejap, tampak wajah sang paman mengunjuk rasa duka dan menyesal, agaknya ucapan itu tidak sengaja ditujukan kepadanya. Diam-diam ia membatin: “Meski tidak salah ucapannya, tapi baik itu apakah, buruk itu apa pula? Kalian suami isteri mencelakai ayahku apakah juga perbuatan baik?”
Sesungguhnya dia sangat kagum terhadap tindak tanduk Kwe Ceng, tetapi bila ingat sang ayah yang mati di tangan suami isteri ini, mau tak mau timbul rasa dendamnya.
Demikianlah mereka terus melarikan kuda ke atas sebuah bukit dan memandang jauh ke sana kelihatan air sungai Hansui mengalir memanjang ke selatan, tampak pula rakyat berkelompok-kelompok mengungsi membanjiri Siang-yang.
Sambil menuding kaum pengungsi, Kwe Ceng berkata: “Pasukan Mongol pasti mengganas di perkampungan sana sehingga rakyat jelata kita terpaksa pergi mengungsi untuk menyelamatkan diri, betapa kejamnya orang Mongol sungguh menggemaskan.”
Pada saat itulah tiba-tiba dilihatnya rombongan pengungsi yang menuju pintu benteng berlari balik, namun arus pengungsi dari belakang masih terus membanjir tiba sehingga di luar kota Siang-yang seketika kacau balau dan hiruk pikuk.
Kwe Ceng terkejut. Ia heran mengapa penjaga pintu gerbang tidak membukakan pintu dan membiarkan kaum pengungsi itu masuk. Cepat dia melarikan kudanya ke sana, tampaklah satu regu pemanah sedang berdiri di atas benteng dengan mementang busur menghadap kaum pengungsi.
“Hai, ada apa kalian? Lekas buka pintu!” teriak Kwe Ceng.
Begitu melihat Kwe Ceng, perwira penjaga cepat memerintahkan membuka pintu gerbang dan membiarkan Kwe Ceng dan Yo Ko masuk.
“Rakyat dijagal secara kejam oleh musuh, mengapa tidak membiarkan mereka masuk?” tegur Kwe Ceng.
Perwira piket itu menjawab: “Lu-tayswe menguatirkan di antara kawanan pengungsi ada mata-mata musuh, maka mereka dilarang masuk kota supaya tidak menimbulkan bencana.”
“Andai kata benar ada satu-dua musuh menyelundup tidak boleh mengakibatkan jiwa beribu-ribu rakyat jelata menjadi korban,” ujar Kwe Ceng, “Hayo lekas buka pintu!”
Sudah lama Kwe Ceng ikut berjasa mempertahankan kota Siang-yang, namanya sangat tersohor sehingga disegani kawan mau pun lawan. Perwira itu tidak berani membantah perintahnya, terpaksa dia membuka pintu benteng di samping mengirim berita kepada Lu Bun-hoan. Seketika terjadilah lautan manusia membanjir ke dalam kota. Ketika kawanan pengungsi itu hampir masuk kota semua, mendadak terlihat dari jauh debu mengepul tinggi, pasukan Mongol menyerbu dari arah utara.
Prajurit Song segera siap siaga di belakang tembok benteng. Tampak di depan pasukan Mongol itu didahului rombongan orang berpakaian compang camping dan tangan mereka membawa pentung dan sebagainya, tapi tidak ada sesuatu senjata tajam, cara berjalannya pun tak teratur. Rombongan kaum jembel itu berteriak-teriak:
“Jangan memanah, kami rakyat Song!”
Dan pasukan Mongol yang tangkas itu berlindung di belakang barisan rakyat itu! Sejak Jengis Khan memang pasukan Mongol selalu mempergunakan siasat begitu, yakni memakai rakyat negara musuh sebagai perisai untuk menyerbu kedudukan musuh, asal penjaga tidak tega hati dan berhenti memanah, maka pasukan Mongol menyerbu maju. Cara itu sangat keji dan ganas, tapi lebih sering berhasil dengan baik.
Begitulah maka kelihatan barisan rakyat itu digiring pasukan Mongol dan dipaksa mendekati benteng, makin lama makin dekat, malahan sebagian sudah mulai memanjat tangga.
Ketika itu Lu Bun-hoan, panglima pertahanan kota Siang-yang, sedang berkeliling untuk mengawasi penjagaan pasukannya. Melihat keadaan mulai berbahaya, segera ia memberi perintah supaya melepaskan panah. Seketika terjadilah hujan panah di tengah jerit tangis rakyat jelata yang jatuh bergelimpangan, sebagian rakyat lainnya membalik dan lari serabutan. Namun mereka pun menjadi mangsa prajurit Mongol yang menebasnya dengan golok atau menusuknya dengan tombak. Barisan rakyat itu tetap didesak supaya menyerbu ke atas benteng.
Yo Ko berdiri di samping Kwe Ceng. Gusar sekali dia menyaksikan adegan menyedihkan itu.
“Panah! Panah!” terdengar Lu Bun-hoan berteriak-teriak pula memberi perintah. Satu baris anak panah segera menyambar lagi ke bawah.
“Hai berhenti! Jangan salah membunuh,” seru Kwe Ceng.
“Keadaan segawat ini, andaikan orang baik juga terpaksa salah membunuhnya,” ujar Lu Bun-Hoan.
“Jangan, orang baik mana boleh salah membunuhnya,” kata Kwe Ceng pula.
Tergetar hati Yo Ko, diam-diam dia menggumam: “Jangan salah membunuh orang baik..., jangan salah membunuh orang baik...”
Mendadak Kwe Ceng berseru: “Hayo saudara anggota Kay-pang, ikut aku!”
Segera dia berlari turun dari atas benteng. Yo Ko juga akan ikut, tetapi Kwe Ceng berkata padanya:
“Semalam kau kelihatan kurang sehat, sebaiknya kau berjaga di sini saja untuk mengawasi keadaanku.”
Sesungguhnya Yo Ko ingin ikut Kwe Ceng menghajar prajurit Mongol yang kejam itu. Dia tercengang mendengar ucapan Kwe Ceng, namun dia pun tidak dapat berterus terang tentang kejadian semalam, terpaksa dia tetap tinggal di tempatnya dan menyaksikan Kwe Ceng memimpin satu pasukan tanpa seragam menerjang keluar benteng terus menyergap sayap kanan pasukan Mongol.
Siasat pasukan Mongol yang ‘meminjam golok untuk membunuh orang’ adalah cara satu kali bertindak mendapat dua hasil, selain menjagal bangsa Han juga bisa menggoyahkan hati pasukan Song. Tapi mendadak terlihat Kwe Ceng memimpin pasukan menyerbu, setiap orang memiliki kepandaian tinggi dan gagah berani.
Pasukan Mongol yang digiring oleh barisan di belakang itu lantas membagi pasukannya untuk menahan serbuan Kwe Ceng. Tetapi sebagian besar pasukan Kwe Ceng adalah jago-jago pilihan dari Kay-pang, sebagian kecil lainnya adalah para ksatria yang sengaja datang ke kota Siang-yang untuk ikut berjuang, serentak mereka menyerbu maju sambil berteriak-teriak, semangat tempur mereka yang me-nyala itu sudah membikin pasukan Mongol keder. Maka begitu kedua pihak bergebrak segera ratusan prajurit Mongol dibinasakan.
Tampaknya pasukan Mongol sukar menahan pasukan Kwe Ceng, tiba-tiba dari samping menerjang pasukan Mongol lain. Pasukan Mongol itu memang tangkas dan sudah terlatih, meskipun barisan pejuang yang dipimpin Kwe Ceng berilmu silat tinggi, seketika mereka pun sukar mengalahkan musuh.
Sementara itu barisan rakyat yang dipaksa menyerbu ke benteng kota berlari serabutan karena pasukan Mongol yang menggiring mereka sebagian terpencar untuk menempur pasukan Kwe Ceng.
Pada saat itulah terdengar suara tiupan tanduk di sebelah timur, suara derap kuda pasukan bergemuruh, pasukan Jian-jin-tui (barisan ribuan orang, batalion) Mongol menerjang, menyusul dari sebelah barat dua pasukan Jian-jin-tui menyerbu datang sehingga rombongan Kwe Ceng terkurung di tengah.
Melihat hebatnya pasukan Mongol, saking jerinya Lu Bun-hoan menjadi bingung dan tidak berani mengirim pasukan penolong.
Sambil berdiri di atas benteng, Yo Ko merenungkan ucapan Kwe Ceng tadi: “Jangan salah membunuh orang baik...! Jangan salah membunuh orang baik...!”
Sementara itu dia melihat sang paman terkepung rapat oleh pasukan Mongol, dia pikir: “Sebabnya Kwe-pepek terkepung musuh sekarang adalah karena dia tak mau salah membunuh orang baik-baik. Padahal rakyat ini bukan sanak kadangnya, tapi dia tetap menyelamatkan mereka tanpa menghiraukan jiwa sendiri. Lantas apa sebabnya dulu dia mencelakai ayahku?” Ia memandangi pertempuran sengit itu, tapi dalam hati terus memikirkan teka-teki yang sukar dipecahkan ini.
“Dia dan ayah adalah saudara angkat, dengan sendirinya hubungan mereka lain dari pada yang lain, tetapi akhirnya Kwe-pepek mencelakai jiwa ayah. Apakah ayahku memang orang busuk yang sama sekali tak dapat diampuni?”
Selama hidup Yo Ko tak pernah melihat ayah-bundanya sendiri. Semenjak kecil ia selalu membayangkan sang ayah seorang pendekar budiman, gagah berani, seorang lelaki sejati. Apa bila mendadak dia disuruh mengakui ayahnya adalah orang busuk, betapa pun dia tak dapat terima.
Padahal samar-samar dalam lubuk hatinya sudah lama terasa bahwa ayahnya jauh dibandingkan dengan Kwe-pepek, cuma setiap kali timbul pikiran demikian selalu dia menekan sekuatnya dan kini perasaan ini mau tak mau timbul lagi dalam benaknya.
Dalam pada itu medan perang di bawah sana masih berlangsung dengan sengit. Suara hiruk pikuk menggelegar menggetar bumi, rombongan Kwe Ceng tampak menerjang kian kemari, tapi tetap sukar menembus kepungan musuh. Cu Cu-liu dan kedua saudara Bu masing-masing siap memimpin pasukan hendak keluar benteng untuk membantu. Tiba-tiba terdengar suara tiupan tanduk yang keras dan sahut menyahut, kembali empat pasukan Jian-jin-tui Mongol menerjang lagi.
Cara Kubilai mengatur pasukannya memang lain dari pada yang lain. Asal pintu gerbang benteng dibuka untuk mengeluarkan bala bantuan, maka pasukan Mongol yang sudah siap segera akan menyerbu masuk kota. Keruan Lu Bun-hoan kebat-kebit ketakutan, cepat ia memberi perintah agar pintu gerbang jangan dibuka. Diperintahkan pula dua regu prajurit khusus berjaga di pintu gerbang, siapa yang berani membuka pintu segera akan dibinasakannya.
Suasana di luar dan di dalam benteng menjadi kacau balau, macam-macam pikiran bertarung seru di dalam benak Yo Ko, sebentar dia berharap Kwe Ceng dilalap saja oleh pertempuran gaduh itu, lain saat dia berharap pula agar sang paman berhasil mendobrak kepungan musuh.
Tiba-tiba kelihatan pasukan Mongol rada kacau, beribu-ribu prajurit berkudanya terdesak mundur laksana gelombang surut, dengan sebatang tombak panjang Kwe Ceng memacu kudanya keluar dari kepungan disertai barisan orang-orang gagah yang dipimpinnya, mereka menerjang sampai di bawah tembok benteng. Ketika dekat pintu benteng, Kwe Ceng memutar balik berjaga di belakang pasukan. Di mana tombaknya menyambar, beberapa prajurit dan perwira Mongol terjungkal dari kudanya. Melihat betapa lihaynya Kwe Ceng, seketika pasukan Mongol menahan kuda mereka dan tidak berani terlalu mendekat.
Pertahanan kota Siang-yang boleh dikatakan tidak ada artinya tanpa Kwe Ceng, maka Lu Bun-hoan menganggap Kwe Ceng sebagai tulang punggungnya. Dia amat girang melihat Kwe Ceng lolos dari kepungan musuh, cepat dia berseru membuka pintu gerbang. Akan tetapi pintu gerbang hanya dibuka selebar satu-dua meter saja dan cuma cukup dimasuki penunggang kuda saja. Para ksatria itu berturut-turut berlari ke arah pintu lalu menyelinap masuk satu persatu.
Melihat siasat mereka gagal total, pasukan Mongol tak mau tinggal diam. Panji komando Kubilai tampak bergerak-gerak, dua pasukannya lantas menyerbu dari kanan-kiri pintu gerbang.
“Lekas masuk, Kwe-tayhiap, kita tidak menanti orang lain lagi!” seru Lu Bun-hoan kuatir.
Sebelum seluruh anak buahnya selamat, mana Kwe Ceng mau masuk benteng lebih dulu. Dia berbalik menerjang kembali ke sana dan membinasakan dua jago Mongol yang mengudak paling dekat. Tetapi pasukan besar itu sungguh seperti gelombang samudera saja di medan perang itu, betapa pun tinggi ilmu silat Kwe Ceng sukar menahan terjangan pasukan besar itu.
Melihat keadaan sudah sangat berbahaya, Cu Cu-liu yang berdiri di atas benteng cepat menurunkan seutas tali panjang dan berseru:
“Naik ke sini, adik Kwe!”
Pada waktu menoleh, Kwe Ceng melihat anggota Kay-pang yang terakhir sudah berhasil menyelinap masuk pintu gerbang, tapi ada balasan prajurit Mongol sempat ikut menerjang ke dalam. Segera regu penjaga pintu sibuk menghalau musuh, selain berusaha menutup pintu gerbang sekuatnya! Per-lahan daun pintu benteng yang tebalnya lebih setengah meter itu dapatlah dirapatkan.
Tiba-tiba Kwe Ceng membentak keras, tombaknya membinasakan seorang musuh, berbareng itu dia meloncat ke atas dan berhasil berpegang pada tali yang dijulurkan Cu Cu-liu tadi. Dengan cepat Cu Cu-liu menarik talinya ke atas, tubuh Kwe Ceng terapung beberapa meter tingginya ke atas.
“Gunakan panah!” segera Ban-hu-tiang pasukan Mongol yang memimpin pertempuran memberi komando, dalam sekejap be-ribu2 anak panah menyambar ke arah Kwe Ceng.
Namun sebelumnya Kwe Ceng sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Dia menanggalkan jubahnya, tangan kanan berpegangan tali, tangan kiri memegang jubah terus diputar dan dikebutkan sekuatnya laksana perisai raksasa. Hanya kuda tunggangannya yang menjadi korban, berpuluh anak panah bersarang di badan binatang itu hingga mirip landak.
Cu Cu-liu menarik talinya dengan cepat, maka semakin tinggilah Kwe Ceng terkerek ke atas, tampaknya tinggal beberapa meter lagi dia akan mencapai benteng. Pada saat itulah di tengah pasukan MongoI muncul seorang Hwesio besar berjubah kuning emas, siapa lagi dia kalau bukan Kim-lum Hoat-ong. Dari seorang perwira Mongol di sebelahnya Hoat-ong mengambil busur dan panah. Ia tahu kepandaian Cu Cu-liu dan Kwe Ceng sangat tinggi, kalau memanah mereka tentu tak akan berhasil, maka anak panah yang dibidikkan itu mengincar tali.
Tindakan Kim-lun Hoat-ong ini sungguh keji, anak panah menyambar bagian tali yang sukar dicapai oleh Cu Cu-liu dan Kwe Ceng sehingga kedua orang sukar menangkisnya. Karena Kim-lun Hoat-ong kuatir bila kedua orang itu mendadak menggunakan cara aneh mematahkan serangannya, maka cepat dia susulkan pula panah kedua dan ketiga, panah kedua mengincar Cu Cu-liu sedangkan panah ketiga mengarah Kwe Ceng.
“Plokk!”
Dengan tepat panah pertama mengenai tali hingga putus, sedangkan panah kedua dan ketiga menyambar secepat kilat ke arah sasarannya. Dan karena talinya putus, dengan tubuh Kwe Ceng anjlok ke bawah sehingga dia pun terluput dari panah ketiga, sedangkan Cu Cu-liu merasa tangannya yang memegang tali menjadi ringan. Ia berseru kaget dan tahu-tahu panah kedua sudah menyambar tiba.
Panah ini kuat luar biasa, jelas pemanahnya memiliki tenaga dalam yang lihay. Cu Cu-liu tahu di atas benteng penuh berjubel orang, baginya tidak sukar untuk menghindar, namun akibatnya panah itu akan mengenai orang di belakangnya. Cepat dia gunakan dua jarinya untuk menyampuk perlahan pada batang panah itu hingga anak panah terjatuh ke bawah.
Sementara itu Kwe Ceng terkejut ketika merasa tali yang mengereknya putus. Dia tidak cidera sekali pun terjatuh ke bawah benteng, tetapi terjeblos di tengah kepungan musuh sebesar itu, betapa pun sukar baginya untuk menerjang keluar.
Sementara itu pasukan musuh sudah berada di depan pintu gerbang, bila dari dalam benteng dikirim keluar bala bantuan, maka kesempatan itu pasti akan digunakan pasukan Mongol menyerbu ke dalam kota.
Dalam keadaan demikian Kwe Ceng tidak dapat berpikir banyak lagi. Mendadak sebelah kakinya menutul dinding benteng sehingga tubuhnya segera terapung ke atas, menyusul kaki yang lain memancal pula dan begitu seterusnya kedua kaki bergantian memanjat.
Ketika pasukan kedua pihak bertempur dengan sengitnya, hati Yo Ko juga bertentangan seperti pertempuran di medan perang. Dilihatnya Kwe Ceng terancam bahaya, sekilas timbul beberapa kali pikiran Yo Ko: “Dia adalah musuhku, harus kubunuh dia atau tidak?”
Waktu Kwe Ceng hampir mencapai benteng, asalkan Yo Ko menghantamnya satu kali dari atas, dalam keadaan terapung di udara Kwe Ceng pasti akan terluka lantas jatuh binasa. Tapi sedikit ragu saja, Kwe Ceng sudah terperosot lagi ke bawah oleh panah Kim-lun Hoat-ong. Dalam keadaan pikiran kacau, mendadak Yo Ko memegang kutungan tali di tangan Cu Cu-liu terus menubruk ke bawah benteng dan syukur sebelah tangannya masih keburu mencengkeram tangan Kwe Ceng.
Perubahan kejadian ini cepat luar biasa, tapi Cu Cu-liu adalah murid It-teng Taysu, betapa cepat dan tangkas tindakannya, tanpa ayal ia terus menarik sekuatnya kutungan tali yang masih di tangannya itu. Dengan sekali sendal, segera Yo Ko dan Kwe Ceng terangkat ke atas, laksana dua ekor burung raksasa kedua orang lantas melayang di udara! Menyaksikan kejadian luar biasa itu, pasukan kedua pihak seketika melongo kesima.
Dalam keadaan ‘terbang’ di udara, Kwe Ceng merasa penasaran apa bila dia tidak dapat membalas kelicikan Hoat-ong tadi. Dilihatnya Hoat-ong sudah pentang busur dan hendak memanah lagi, maka begitu dia tancapkan kaki di atas benteng, segera ia rebut busur dan panah dari seorang prajurit lalu secepat kilat dia pun lepaskan panah ke arah panah yang sudah dibidikkan Hoat-ong.
“Prakk!”
Panah Kim-lun Hoat-ong tertembak patah menjadi dua. Ketika Hoat-ong melengak kaget,
“Crengg...!”
Tahu-tahu busur yang dipegangnya juga patah oleh panah berikutnya yang dilepaskan Kwe Ceng. Sebenarnya kepandaian Kwe Ceng dan Kim-lun Hoat-ong boleh dikatakan seimbang, tapi pada waktu kecil Kwe Ceng pernah mendapat pelajaran memanah dari Cepe, si pemanah sakti kesayangan Jengis Khan, ditambah tenaga dalam Kwe Ceng sendiri maha kuat, maka kepandaiannya memanah sungguh sukar dicari bandingannya di dunia ini, dengan sendirinya Kim-lun Hoat-ong bukan tandingannya.
Ber-turut tiga kali, panah pertama mematahkan panah lawan, panah kedua mematahkan busur dan panah ketiga segera dilepaskan untuk mengincar panji kebesaran Kubilai. Panji itu sedang berkibar-kibar tertiup angin dan tampaknya sangat angker di tengah be-ratus ribu prajurit. Mendadak anak panah menyambar tiba dan tepat memutuskan tali panji itu, seketika panji kebesaran Kubilai melorot ke bawah dari tiangnya, serentak pasukan kedua pihak berteriak-teriak gemuruh.
Menyaksikan kelihayan Kwe Ceng, lagi pula semangat tempur pasukan sendiri sudah runtuh, cepat Kubilai memberi perintah pasukan mundur.
Kwe Ceng berdiri di atas benteng. Ia menyaksikan pasukan Mongol yang mundur dengan teratur, dengan disiplin yang amat kuat, sedikit pun tidak kacau. Tanpa terasa ia menarik napas panjang dan mengakui kehebatan pasukan Mongol yang sulit dibandingkan dengan pasukan Song itu. Teringat kepada situasi negara, ia menjadi sedih dan mengerutkan kening.
Setelah mengundurkan pasukannya hingga berpuluh li jauhnya, secara diam-diam Kubilai merenungkan akal menggempur Siang-yang. Ia pikir dengan adanya Kwe Ceng jelas kota itu sukar dibobol.
Melihat Kubilai termenung, Kim-lun Hoat-ong segera berkata: “Yang Mulia menyaksikan sendiri, kalau bocah she Yo itu tidak menolongnya, jelas jiwa Kwe Ceng sudah melayang di bawah panahku. Memang sudah kuduga bahwa bocah she Yo itu adalah manusia yang tak dapat dipercaya.”
“Belum tentu begitu halnya,” ujar Kubilai. “Bisa jadi Yo Ko ingin membunuh sendiri orang she Kwe itu untuk membalas sakit hati ayahnya, maka dia tidak ingin musuhnya mati di tangan orang lain.”
Meski Kim-lun Hoat-ong tidak sependapat, tapi dia pun tidak berani membantah, terpaksa dia pun menyatakan semoga begitulah hendaknya.
Mundurnya pasukan Mongol membuat girang Lu Bu-hoan. Dia mengadakan perjamuan besar untuk merayakan kemenangan. Sekali ini Yo Ko juga diundang sebagai tamu terhormat, semua orang memuji betapa gagah beraninya menolong Kwe Ceng. Dua saudara Bu juga ikut hadir dalam pesta itu. Melihat Yo Ko baru datang sudah berjasa, mereka merasa iri. Mereka menjadi kuatir pula bahwa sesudah peristiwa ini Kwe Ceng akan semakin berniat untuk menjodohkan anak perempuannya kepada Yo Ko, hati mereka menjadi kesal.
Selesai pesta, Oey Yong mengundang Yo Ko ke ruangan dalam untuk menemuinya. Ia pun memberi pujian dengan kata-kata halus.
“Ko-ji,” kata Kwe Ceng, “Tadi kau terlampau keras menggunakan tenaga, apakah dadamu terasa sakit?” Rupanya dia kuatir kalau Yo Ko tambah parah penyakitnya setelah semalam mengalami gangguan latihan Iwekang.
Kuatir Oey Yong akan mengusut lebih lanjut apa yang terjadi semalam, cepat-cepat Yo Ko menyatakan tidak apa-apa dan segera dia membelokkan pembicaraan, katanya:
“Kwe-pepek, kepandaianmu memanjat dinding benteng tadi sungguh luar biasa dan tiada bandingannya.”
“Sudah beberapa tahun aku tak melatih kepandaian itu sehingga gerak gerikku rada kaku, maka hampir terjadi mala petaka tadi,” ujar Kwe Ceng tersenyum. “Sungguh tidak nyana ilmu yang kupelajari dari Ma-totiang di Mongol dahulu bisa dimanfaatkan sekarang. Kalau kau suka, he-he-he, akan kuajarkan ilmu itu padamu nanti.”
Oey Yong dapat melihat sikap Yo Ko yang agak kikuk, waktu bicara juga seperti sedang memikirkan sesuatu, biar pun semua orang menyaksikan anak muda itu menyelamatkan sang suami dengan sepenuh tenaga, tapi dia tetap waswas. Katanya kemudian:
“Engkoh Ceng, malam ini aku merasa kurang enak badan, hendaklah kau suka menjagaku di sini.”
Kwe Ceng lantas teringat pesan sang isteri, segera dia mengangguk setuju, lalu katanya kepada Yo Ko:
“Ko-ji, tentu kau sudah lelah, bolehlah kau kembali ke kamar untuk mengaso.”
Setelah kembali ke kamarnya, Yo Ko duduk termenung menghadapi meja. Sementara itu sudah dekat tengah malam, memandangi api lilin yang sebentar terang sebentar gelap, bermacam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu yang perlahan, suara Siao-liong-li mendesir di luar.
“Kau belum tidur?”
Dengan girang Yo Ko membuka pintu. Dilihatnya Siao-liong-li berdiri di depan pintu dengan baju hijau pupus dan wajah berseri.
“Ada urusan apa, Kokoh?” tanya Yo Ko.
“Aku ingin menjenguk kau,” jawab Siao-liong-li dengan tertawa.
“Aku pun merindukan kau,” ujar Yo Ko dengan suara lembut dan menggenggam tangan si nona perlahan. Keduanya lantas ke taman bunga.
Tetumbuhan di taman bunga jarang-jarang saja, namun bunga sedap malam sedang mekar semerbak mengasyikkan. Siao-liong-li memandang rembulan yang menghiasi cakrawala, katanya kemudian dengan suara lirih.
“Apa kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri? Rasanya waktu sudah sangat mendesak.”
Cepat Yo Ko mendesis: “Sssttt, jangan mempersoalkan ini, hati-hati dengan mata telinga yang tak kelihatan di sini.”
Siao-liong-li menatap anak muda itu dengan kesima, katanya kemudian: “Jika bulan sudah bulat nanti, maka tibalah batas waktu 18 hari.”
Sembilan hari semenjak ia berpisah dengan Kiu-Jian-jio, kalau dalam satu-dua hari ini tak dapat membunuh Kwe Ceng dan Oey Yong, maka sukar kembali lagi ke Coa-ceng-kok sebelum racun di dalam tubuhnya bekerja. Dia menghela napas dan bersama Siao-liong-li mengambil tempat duduk pada sepotong batu besar. Keduanya saling berhadapan dengan bungkam, tetapi kasih mesra yang timbul dalam hati sukarlah dibendung, seketika keduanya melupakan urusan permusuhan dan pertempuran.
Lewat lama dan lama sekali, tampaknya sang dewi malam kini telah mulai mendoyong ke barat, malam sunyi dengan hawa yang dingin. Mendadak di balik gunung-gunungan sana ada suara kaki orang, dua orang mendatangi, cuma tidak kelihatan karena terhalang oleh semak bunga. Terdengar suara seorang gadis berkata:
“Jika kau mendesak aku lagi, lebih baik kaugorok saja leherku dengan pedangmu agar aku terhindar dari penderitaan.”
“Hm, hatimu bercabang, kau sangka aku tidak tahu?” terdengar seorang laki-laki menjawab “Begitu bocah she Yo datang ke sini, dia pamer kepandaian di hadapan orang banyak, tentu saja segala sumpah setia pada masa lalu telah kau lupakan semua.”
Dari suara mereka itu jelas Kwe Hu dan Bu Siau-huan berdua. Siao-liong-li mencibir kepada Yo Ko, maksudnya mencemoohkan anak muda itu yang digilai oleh gadis di mana saja dia berada.
Yo Ko tersenyum, ia tarik Siao-liong-li lebih rapat dengan dirinya dan memberi tanda agar jangan sampai bersuara, maksudnya akan mendengarkan lebih lanjut percakapan Kwe Hu berdua. Tampaknya Kwe Hu menjadi marah setelah mendengar ucapan Bu Siu-bun tadi. Dengan suara keras ia menjawab:
“Kalau begitu, anggaplah apa yang kita bicarakan dahulu cuma omong kosong belaka. Biarlah nanti aku pergi sejauhnya, selamanya tidak akan bertemu dengan Yo Ko, kita pun takkan bertemu selamanya.”
Lalu terdengar suara kebasan baju. Mungkin Bu Siu-bun ingin menarik lengan baju Kwe Hu, tapi nona itu mengebutkannya dengan keras. Dengan suara marah Kwe Hu berkata:
“Kenapa kau pegang-pegang segala? Orang datang atau tidak peduli apa? Andaikan ayah ibu menjodohkan aku kepadanya, biar mati pun aku tidak mau menurut. Jika ayah memaksa aku, segera aku minggat saja. Hm, sejak kecil si Yo Ko amat sombong meremehkan diriku, hm, aku justru tidak memandang sebelah mata padanya. Ayah selalu menganggap dia anak baik, hmm, aku justru anggap dia bukan manusia baik-baik.”
Dengan girang Bu Siu-bun membumbui: “Benar, benar, bocah itu memang congkak dan mengira dunia ini dia yang punya, Adik Hu, anggaplah aku yang salah omong, harap engkau jangan marah. Selanjutnya aku tak akan sembarangan omong lagi, kalau berbuat begini lagi, biarlah aku menjelma... menjadi kura-kura.” Lalu dia bergaya seperti kura-kura merangkak.
Dari nada ucapan Kwe Hu, meski pun omelannya pada Bu Siu-bun itu membuat anak muda itu makin menyembah di telapak kakinya, tapi hati nona itu tampaknya juga sayang padanya.
Terdengar Bu Siu-bun berkata: “Subo (ibu guru) paling sayang padamu, asalkan kau memohon bantuannya dan beliau berjanji tak akan menjodohkan kau pada bocah she Yo itu, maka Suhu pasti tak dapat berbuat apa-apa.”
“Hm, kau tahu apa?” jengek Kwe Hu, “Meski ayah suka menuruti kehendak ibu, tapi kalau menghadapi urusan penting, ibu selalu mengikuti kemauan ayah.”
“Oh, alangkah bahagiaku kalau kau pun memiliki watak begitu,” terdengar ucapan Bu Siu-bun dengan menghela napas.
“Plok!”
Mendadak terdengar suara disertai jerit kesakitan Bu Siu-bun, serunya: “He, kenapa kau memukul aku?”
“Habis, mengapa kau berbicara seenakmu?” omel Kwe Hu. “Aku tidak sudi pada si Yo Ko, aku pun takkan menjadi isteri lelaki monyong macammu ini.”
“Bagus, baru sekarang kau bicara blak-blakan. Kau tak sudi menjadi isteriku, tapi lebih suka menjadi isteri kakakku, ingin kukatakan... ingin kukatakan...” tetapi saking gugupnya Bu Siu-bun tidak sanggup melanjutkan.
Tiba-tiba nada ucapan Kwe Hu berubah halus, katanya: “Bu-jiko, kau baik padaku, ini sudah kau katakan beratus dan beribu kali, dengan sendirinya aku tahu perasaanmu yang sungguh-sungguh itu. Meski kakakmu tidak pernah menyatakan isi hatinya padaku, tetapi aku pun tahu dia jatuh hati padaku. Nah, jadi betapa sulitku menghadapi kalian ini, siapa pun antara kalian yang kupilih, satu di antara kalian tentu akan kecewa dan berduka. Kau sayang padaku dan memanjakan diriku, tapi kau tidak pernah tahu betapa serba salahku menghadapi hal ini.”
Sejak kecil Bu Tun-si dan Bu Siu-bun telah ditinggalkan ayah-bundanya, hubungan kakak beradik itu selamanya sangat baik, tetapi akhir-akhir ini keduanya jatuh cinta pada Kwe Hu sehingga timbul perang dingin antara mereka.. Maka Bu Siu-bun tak enak bicara lagi demi Kwe Hu menyinggung tentang kakaknya. Karena gugup dan cemas air mata pun berlinang.
Kwe Hu mengambil sapu tangan lantas dilemparkan kepada anak muda itu, katanya dengan gegetun:
“Bu-jiko, kita dibesarkan bersama, aku menghargai kakakmu, tetapi aku lebih cocok dengan tutur katamu. Terhadap kalian berdua sama sekali aku tidak pernah membeda-bedakan, jika sekarang kau memaksa aku bicara terus terang, coba kalau kau yang menjadi aku, lalu cara bagaimana kau akan bicara?”
“Aku tidak tahu,” ujar Siu-bun. “Aku hanya ingin katakan padamu, kalau kau dipersunting orang lain, maka aku takkan hidup lagi.”
“Baiklah, malam ini sudah cukup. Siang tadi ayah bertempur mati-matian, tapi kita malah bicara hal yang tidak penting di sini, kalau diketahui ayah tentu kita akan diomeli. Bu-jiko, ingin kukatakan kepadamu, jikalau kau ingin memperoleh pujian dari ibuku, mengapa kau tidak berjuang dan berjasa, sebaliknya setiap hari hanya merecoki diriku saja. Bukankah kau akan dipandang enteng oleh ayah.”
“Benar!” Bu Siu-bun berseru sambil melonjak. “Akan kubunuh Kubilai untuk membebaskan Siang-yang dari kepungan musuh, sesudah berhasil masa kau tidak akan menerima lamaranku?”
“Apa bila kau berjasa sebesar itu, andai kata aku tidak mau juga tidak bisa,” ujar Kwe Hu dengan tertawa, “Namun di sekeliling Kubilai tidak sedikit pengawal lihay, seorang Kim-lun Hoat-ong saja sukar dilawan, sebaiknya kau jangan berkhayal dan pergilah tidur saja.”
Akan tetapi Bu Siu-bun telah mempunyai perhitungan sendiri. Ia pandang pula wajah Kwe Hu yang molek itu, lalu berkata:
“Baiklah. Kau pun lekas tidur.” Dia melangkah pergi beberapa tindak, tiba-tiba menoleh dan berkata: “Adik Hu, malam ini kau mimpi atau tidak?”
“Mana aku tahu?” jawab Kwe Hu tertawa.
“Jika bermimpi, coba kau terka apa yang kau impikan?” tanya Siu-bun.
“Besar kemungkinan aku akan mimpi melihat seekor monyet kecil,” ujar Kwe Ku dengan tersenyum.
Girang sekali Bu Siu-bun. Ia tahu kata ‘monyet’ itu adalah kata olok-olok si nona padanya, Maka melangkah pergilah dia dengan setengah berjingkrak.
Siao-liong-li dan Yo Ko saling pandang dengan tersenyum mengikuti roman kedua muda-mudi itu. Betapa pun mereka merasa bangga pada cinta sendiri yang sukar dibandingi oleh cinta kasih antara Bu Siu-bun dan Kwe Hu yang tidak menentu itu.
Setelah Siu-bun pergi, Kwe Hu duduk sendirian sambil termenung memandangi rembulan. Selang agak lama, ia menghela napas panjang. Pada saat itulah dari balik gunungan mendadak muncul seseorang dan menegurnya:
“Apa yang sedang kau pikirkan, adik Hu?” Kiranya Bu Tun-si.
Yo Ko dan Siao-liong-li terkesiap, kiranya di balik gunung-gunungan sana masih ada lagi seorang, dapat diperkirakan sudah sejak tadi Bu Tun-si berada di situ lebih dulu dari pada Yo Ko berdua, kalau tidak, mustahil Yo Ko berdua tidak mengetahui kedatangannya.
Dengan mengomel Kwe Hu menjawab: “Kau selalu main sembunyi. Tentu kau sudah mendengar semua percakapanku dengan Bu-jiko, bukan?”
Bu Tun-si mengangguk. Dia berdiri agak jauh di depan Kwe Hu, tapi sorot matanya penuh rasa cinta yang tak terhingga. Kedua orang terdiam sampai sekian lama, kemudian Kwe Hu bertanya:
“Apa yang hendak kau katakan padaku?”
“Oh, tidak apa-apa, tanpa aku katakan juga tentu kau sudah tahu,” ujar Bu Tun-si sambil melangkah pergi.
Nyata watak kedua saudara Bu itu sama sekali berbeda, yang satu pendiam dan yang lain banyak omong. Kwe Hu ter-mangu mengikuti kepergian Bu Tun-si hingga lenyap di balik gunungan. Dia pikir alangkah baiknya jika di dunia ini tidak ada Bu tua dan Bu muda itu tetapi cuma ada seorang saja. Ia menghela napas gegutun, dilihatnya rembulan sudah semakin mendoyong ke barat, ia lantas kembali ke kamarnya.
Sesudah Kwe Hu pergi Yo Ko tanya Siao-liong-li dengan tertawa: “Jika kau menjadi dia, kau pilih yang mana?”
Siao-liong-li berpikir sejenak, kemudian menjawab: “Pilih kau.”
“Ha-ha-ha, aku di luar hitungan,” ujar Yo Ko tertawa. “Nona Kwe sedikit pun tidak suka padaku, tidak mungkin aku terpilih. Yang aku maksudkan jika kau menjadi nona Kwe lalu kau pilih mana antara kedua saudara Bu itu?”
Siao-liong-li terdiam dan sejenak membandingkan kedua saudara Bu, akhirnya ia menjawab:
“Aku tetap memilih kau.”
Yo Ko menjadi geli dan terharu. Dirangkulnya Siao-liong-li dan berkata dengan suara lembut:
“Ya, orang lain selalu bimbang hati, namun Kokoh-ku hanya menyukai diriku.”
Demikianlah, kedua orang itu terus duduk mengobrol di situ dengan perasaan bahagia, sementara fajar sudah menyingsing namun tetap berat untuk berpisah. Tiba-tiba saja datang seorang centing memberi-tahu bahwa Kwe Ceng mengundang Yo Ko untuk merundingkan sesuatu urusan.
Melihat centing itu rada gugup dan tergesa-gesa, Yo Ko pikir pasti ada urusan penting, ia coba tanya:
“Apakah paman Kwe sudah lama mencari aku?”
“Ya, kedua Bu-siauya tiba-tiba menghilang,” tutur centing itu, “Tentu saja Kwe-toaya dan Kwe-hujin sangat kuatir, nona Kwe juga menangis saja sejak tadi.”
Yo Ko terkejut sekali, segera dia pun paham duduknya perkara. Tentu dua saudara Bu bersaing merebut hati Kwe Hu dan sama-sama ingin berjasa besar, maka mereka menuju ke kemah pasukan musuh dengan tujuan membunuh Kubilai. Cepat Yo Ko menuju ke ruangan dalam dan melihat Oey Yong sedang duduk di sebelah sana dengan wajah cemas, Kwe Ceng tampak berjalan mondar mandir, sedangkan Kwe Hu mengucek matanya yang merah bendol. Di atas meja tergeletak dua batang pedang.
Melihat kedatangan Yo Ko, segera Kwe Ceng berkata: “Ko-ji, apakah kau tahu untuk apa kedua saudara Bu itu pergi ke pekemahan pasukan musuh? Di antara kalian mungkin ada pembicaraan apa-apa, bisa jadi sebelumnya kau telah mengetahui sesuatu yang hendak mereka lakukan.”
“Tapi siautit tidak melihat sesuatu tanda mencurigakan atas diri kedua adik Bu,” tutur Yo Ko. “Mungkin mereka ikut sedih karena kepungan musuh yang sudah sekian lamanya, karena itu mereka sengaja menyusup ke markas pasukan musuh. Kalau mereka berhasil membunuh seorang panglima musuh, kan suatu jasa juga.”
Kwe Ceng menghela napas, katanya kemudian sambil menuding kedua pedang di atas meja:
“seumpama maksud tujuan mereka memang baik, tapi sebenarnya mereka tidak tahu diri. Senjata mereka saja dirampas orang dan sengaja dikirim ke sini.”
Hal ini di luar dugaan Yo Ko. Dia memang sudah menduga maksud tujuan kedua saudara Bu itu pasti akan gagal, karena kepandaian mereka jelas bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain. Tapi tidak menyangka dalam waktu sesingkat itu senjata mereka sudah dikirim pulang oleh musuh.
Kwe Ceng mengambil sepucuk surat yang tertindih di bawah pedang itu lalu disodorkan kepada Yo Ko agar membacanya. Kiranya surat itu dari Kim-lun Hoat-ong yang ditujukan kepada Kwe Ceng, isinya menyatakan bahwa kedua saudara Bu telah kepergok dan sementara ini menjadi tamu kehormatan pihak Mongol, untuk itu Kwe Ceng diundang agar suka berkunjung ke sana sekedar omong-omong, sesudah itu dapatlah kedua muridnya dibebaskan.
Sungguh pun nada surat itu sangat ramah namun maksudnya jelas. Kedua saudara Bu itu dijadikan sandera, dan hanya kalau Kwe Ceng datang sendiri barulah kedua anak muda itu dilepaskan.
“Bagaimana pendapatmu?” tanya Kwe Ceng setelah Yo Ko membaca surat itu.
Yo Ko cukup cerdik, ia tahu Oey Yong jauh lebih pintar dari pada dia, tindakan apa yang harus dilakukan masa nyonya itu tidak tahu? Sekarang dirinya diundang ke sini, maksudnya pasti tidak lain agar dia mau mengiringi Kwe Ceng ke markas musuh. Setiba di sana, sekali pun Kim-lun Hoat-ong dan kawannya dapat mengalahkan Kwe Ceng, tetapi untuk membunuh atau menangkapnya rasanya sulit. Apa bila dirinya dan Kokoh ikut pergi membantu, pasti sang paman akan dapat meloloskan diri.
Akan tetapi segera terpikir pula olehnya. “Tetapi kalau aku dan Kokoh mendadak berbalik memihak sana, maka untuk membunuhnya boleh dikatakan teramat mudah, seumpama aku tidak tega membinasakan dia dengan tanganku sendiri, kan tidak jelek jika kupinjam tangan Hoat-ong dan lain-lain untuk mencelakainya?”
Berpikir demikian, ia pun tersenyum dan berkata: “Kwe-pepek, baiklah aku dan Suhu akan mengiringi ke sana. Kwe-pekbo sudah pernah menyaksikan paduan pedang kami mampu mengalahkan Kim-lun Hoat-ong, kalau kita bertiga pergi bersama, rasanya musuh tidak akan mampu menahan kita.”
Dengan girang Kwe Ceng berkata: “Sungguh kecerdikanmu sukar dibandingi kecuali oleh bibimu, Memang begitulah maksud bibimu mengundang kau ke sini.”
Diam-diam Yo Ko menjengek. Hm, biar pun binimu secerdik setan juga sekali tempo akan terjungkal di tanganku. Namun dia tenang-tenang saja dia menjawab:
“Urusan tidak boleh terlambat, maka marilah kita berangkat sekarang, Aku dan Suhu menyamar sebagai kacungmu agar musuh tidak menaruh curiga.”
Kwe Ceng setuju, dia berpaling dan berkata kepada sang isteri: “Yong-ji, kau tidak usah kuatir, ada Ko-ji dan nona Liong mendampingiku ke sana, apa pun yang terjadi kami akan pulang lagi ke sini dengan selamat.” Segera ia suruh mengundang Siao-liong-li.
Mendadak Oey Yong berkata: “Tidak, maksudku cuma Ko-ji saja yang mengiringi kau ke sana. Nona cantik molek seperti nona Liong jangan dibiarkan ikut menyerempet bahaya, Aku ingin dia tinggal di sini bersamaku.”
Yo Ko melengak, akan tetapi dia lantas paham maksudnya. Nyata sang bibi waswas padanya, maka Siao-liong-li sengaja ditahan sebagai sandera agar dia tak berani berbuat sembarangan. Agar tidak menimbulkan curiga, Yo Ko juga tak mendesak Siao-liong-li harus ikut, dia hanya diam saja. Namun Kwe Ceng lantas berkata:
“Ilmu pedang nona Liong hebat luar biasa, kalau dia ikut pergi tentu akan banyak menambah kekuatan kita.”
“Badanku terasa kurang enak, mungkin akan melahirkan dalam sehari dua hari ini, kalau nona Liong tinggal di sini, aku takkan kuatir,” ujar Oey Yong.
“Benar, benar,” ujar Kwe Ceng, “Ko-ji, mari kita berangkat.”
Yo Ko kewalahan mengadu kepintaran dengan Oey Yong, tetapi Kwe Ceng yang jujur dan polos itu pasti bukan tandingan dirinya. Sesudah dibereskan di tempat musuh sana, nanti kembali lagi ke sini untuk menolong Siao-Iiong-Ii kiranya tidak sukar. Maka dia lantas meringkasi pakaiannya dan ikut berangkat bersama Kwe Ceng. Yo Ko menunggang kudanya yang kurus itu, sedangkan Kwe Ceng menunggang kuda merah kesayangannya. Dua ekor kuda itu dapat berlari cepar, tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di markas besar pasukan Mongol.
Mendengar kedatangan Kwe Ceng, Kubilai terkejut dan girang, cepat dia mengundangnya masuk ke dalam kemah. Kwe Ceng tercengang ketika melihat seorang pangeran muda duduk di tengah kemah, mukanya lebar dan daun kupingnya besar, kedua matanya cekung, ternyata mirip sekali dengan wajah ayahnya, yaitu Tulai. Kwe Ceng jadi teringat pada persaudaraannya dengan Tulai di masa muda dulu. Tanpa terasa matanya menjadi merah dan hampir meneteskan air mata.
Segera Kubilai meninggalkan tempat duduknya dan memberi hormat kepada Kwe Ceng, katanya,
“Dulu mendiang ayahku sering berceritera tentang keperkasaan paman Kwe dan sangat kagum luar biasa, kini dapat berjumpa dengan paman, sungguh bahagia bagiku.”
Kwe Ceng membalas hormat kemudian berkata “Hubunganku dengan Tulai Anda (anda - saudara angkat dalam bahasa MongoI) laksana saudara sekandung, waktu kecil kami ibu dan anak bernaung di bawah lindungan haycou (Jengis Khan) dan telah banyak menerima bantuan beliau. Siapa duga ayahmu yang gagah perwira itu mendadak wafat dalam usia muda, sungguh aku sangat menyesal dan ikut berduka cita.”
Ucapan Kwe Ceng yang sungguh-sungguh dan tulus itu membikin hati Kubilai terharu juga, segera dia pun memperkenalkan Siau-siang-cu, In Kik-si dan lain-lain. Kwe Ceng disilakan duduk pada tempat yang paling terhormat, sedangkan Yo Ko berdiri di belakang Kwe Ceng dan pura-pura tidak kenal dengan semua orang.
Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain tidak tahu maksud tujuan ikut sertanya Yo Ko, tapi mereka pun tidak menegurnya ketika melihat anak muda itu tidak menggubris mereka, hanya Be Kong-co saja, dasarnya memang orang dogol, segera dia berseru:
“Eh, Yo-heng...”
Belum lanjut ucapannya, mendadak In Kik-si mencubit sekerasnya pantat Be Kong-co. Saking kesakitan Be Kong-co menjerit, akan tetapi In Kik-si segera berpaling ke sana dan tidak menggubrisnya. Karena tidak tahu siapa yang menyakitinya, Be Kong-co lantas ngomel dan marah-marah sehingga lupa menyapa Yo Ko. Sesudah minum satu cawan arak susu kuda khas Mongol, segera Kwe Ceng bermaksud menanyakan tentang kedua saudara Bu, akan tetapi Kubilai sudah berseru kepada anak buahnya.
“Lekas undang kedua tuan Bu ke sini.”
Para pengawal mengiyakan. Tidak lama kemudian Bu Tun-Si dan Bu-Siu-bun tampak digusur masuk, kaki dan tangan diikat dengan tali kulit. Tali kulit di bagian kaki panjangnya tidak lebih dari setengah meter sehingga terpaksa kedua anak muda itu harus melangkah perlahan.
Melihat sang guru berada di situ, kedua saudara Bu terkejut dan malu sekali. Mereka memanggil:
“Suhu!”, lalu menunduk dan tidak berani membuka suara.
Sebenarnya Kwe Ceng sangat marah pada kecerobohan tindakan kedua anak muda itu, namun demi melihat pakaian mereka lusuh, badan berlepotan darah, suatu tanda mereka mengalami pertarungan sengit dan akhirnya baru tertawan, lagi pula melihat kedua orang itu diringkus secara mengenaskan, dari marah menjadi kasihan kepada mereka. Ia pikir meski pun tindakan mereka sembrono, tapi tujuannya luhur demi bangsa dan negara, betapa pun jiwa patriotik mereka harus dipuji. Maka dengan suara halus dia lantas berkata:
“Orang persilatan adalah jamak mengalami berbagai gemblengan jiwa dan raga serta mengalami berbagai kegagalan, semua ini tidak menjadi soal.”
Kubilai pura-pura mengomeli anak buahnya: “Sudah kuperintahkan melayani kedua tuan Bu ini dengan baik, mengapa kalian berlaku sekasar ini? Lekas buka ikatan mereka!”
Anak buahnya mengiyakan dan segera hendak membuka tali kulit yang meringkus kedua saudara Bu itu. Namun tali kulit itu sangat kencang, apa lagi sebelumnya sudah dibasahi dengan air sehingga sukar dibuka begitu saja. Segera Kwe Ceng mendekatinya. Ia pegang tali kulit yang mengikat dada Bu Tun-si dan dibetotnya ke kanan-kiri.
“Pratt!”
Seketika tali kulit itu putus, menyusul dia pun memutuskan tali ikatan di tubuh Bu Tun-si dengan cara yang sama. Cara Kwe Ceng memutuskan tali kulit itu tampaknya amat mudah, tapi sebenarnya sukar dilaksanakan jika tidak memiliki tenaga dalam yang kuat. Siau-siang-cu, Nimo Singh dan lain-lain saling pandang sekejap, dalam hati masing-masing bertambah waswas.
“Lekas bawakan arak dan minta maaf kepada kedua tuan Bu!” seru Kubilai kepada anak buahnya.
Dalam hati Kwe Ceng mulai menimbang bahwa pertempuran ini pasti takkan berakhir dengan damai, sebentar lagi pasti terjadi pertempuran sengit, bila kedua saudara Bu tidak lekas pergi malah akan menjadi beban baginya. Segera Kwe Ceng bangkit lalu memberi hormat kepada Kubilai dan para hadirin, katanya
“Terima kasihku kepada Ongya dan saudara sekalian yang sudah memberi pengajaran atas kelancangan murid-muridku.” Lalu dia berpaling kepada kedua saudara Bu: “Nah, lekas kalian pulang dan beritahu Subo bahwa di sini aku berjumpa dengan putera saudara angkatku, sebentar lagi aku pulang sesudah berbincang dengan sahabat lama ini.”
“Tapi Suhu...” karena sudah merasa kapok menghadapi musuh-musuh tangguh, Bu Siu-bun kuatir atas keselamatan Kwe Ceng.
Tetapi Kwe Ceng lantas melambaikan tangannya sambil membentak: “Lekas pergi kalian! Lapor kepada Lu-ciang-kun bahwa pertahanan perlu diperkuat, apa pun yang bakal terjadi jangan se-kali-kali pintu gerbang dibuka untuk menjaga sergapan musuh secara mendadak.”
Ucapan Kwe Ceng itu lantang lagi berwibawa dan sengaja diperdengarkan kepada Kubilai dan anak buahnya, artinya kalau sampai terjadi apa-apa atas diri Kwe Ceng, betapa pun kota Siang-yang tetap harus dipertahankan. Kedua saudara Bu tahu arti pesan sang guru, mereka tidak berani bicara lagi dan segera mohon diri.
Sambil tertawa kemudian Kubilai berkata: “Mungkin paman Kwe belum tahu bahwa kedua saudara itu datang ke sini hendak membunuh diriku?”
Kwe Ceng mengangguk, jawabnya: “Ya, sebelumnya aku memang tidak tahu, dasar anak kecil, terlalu sembrono.”
“Memang sudah kuduga pasti paman Kwe tidak mengetahui perbuatan mereka, aku yakin paman Kwe pasti takkan menyuruh mereka berbuat demikian mengingat hubungan baik paman dengan mendiang ayahku,” kata Kubilai.
“Belum tentu begitu,” ujar Kwe Ceng dengan tegas. “Urusan dinas harus diutamakan dari pada urusan pribadi. Dulu Tulai Anda juga pernah memimpin pasukan menyerbu kota Siang-yang, waktu itu aku pun punya pikiran hendak melakukan pembunuhan gelap terhadap kakak angkat sendiri agar pasukan musuh dapat digempur mundur. Tapi ketika itu kebetulan Thaycou jatuh sakit, terpaksa pasukan Mongol mundur kembali ke wilayahnya, sebab itu persaudaraanku dengan Tulai Anda tetap terpelihara dengan baik. Pada jaman dulu, seorang pahlawan tega membunuh anggota keluarga sendiri demi kesetiaan kepada negara. Kalau anggota keluarga saja boleh dibunuh, apa lagi cuma sahabat atau saudara angkat.”
Hati Yo Ko tergetar mendengar ucapan tegas dan sungguh-sungguh itu, pikirnya: “Pantas saja, memang membunuh saudara angkat adalah kebiasaannya, Entah mendiang ayahku itu berbuat kesalahan apa sehingga tewas di tangannya. Wahai Kwe Ceng, apakah dalam hidupmu sendiri selamanya tak pernah berbuat kesalahan?” BegituIah rasa dendam dan bencinya timbul lagi.
Ternyata Kubilai sama sekali tidak marah atas kata-kata Kwe Ceng, dia menanggapi dengan tersenyum:
“Jika begitu, mengapa paman Kwe bilang kedua muridmu tadi terlalu sembrono?”
“Mengapa tidak?” jawab Kwe Ceng. “Kepandaian mereka masih cetek, mereka tidak tahu diri dan melakukan pembunuhan gelap, tentu saja gagal. Bahwa mereka pasti akan gagal bukan soal, yang pasti kau menjadi bertambah waspada sehingga untuk selanjutnya tentu sukar jika hendak membunuh kau.”
Kubilai tertawa bergelak, ia pikir Kwe Ceng ini terkenal polos dan kurang mahir bercakap, tapi nyatanya kata-katanya ini teramat tajam. Padahal Kwe Ceng hanya bicara sesuai dengan kenyataan, apa yang dia pikirkan saat itu segera dikatakannya.
Kim-lun Hoat-ong merasa kagum juga melihat sikap Kwe Ceng yang tak gentar biar pun berada di tengah pasukan musuh. Begitu juga Kubilai sangat senang dan menyukai tokoh macam Kwe Ceng ini. Ia pikir kalau orang ini dapat dirangkul menjadi pembantuku, maka nilainya jauh melebihi sepuluh buah kota Siang-yang. Segera ia berkata:
“Paman Kwe, saat ini kerajaan Song sedang kemelut, raja dan rakyatnya sengsara, banyak pembesar dorna berkuasa se-wenang-wenang. Paman Kwe sendiri adalah ksatria yang gagah perkasa, kenapa engkau sudi diperbudak oleh raja lalim dan pembesar dorna itu?”
Mendadak Kwe Ceng berdiri dan berseru: “Se-jeIek-jeleknya orang she Kwe mana aku sudi diperalat oleh kaum dorna dan raja lalim. Soalnya aku benci terhadap orang Mongol yang menjajah wilayah negeri kami dan melakukan keganasan tanpa batas. Darah mendidih dalam rongga dadaku, bergolak siap berkorban bagi bangsa dan negaraku.”
“Bagus!” Kubilai berseru sambil menggebrak meja. “Marilah kita minum satu cawan bagi keperwiraan paman Kwe.” Habis ini lantas mendahului menenggak habis semangkuk arak susu kuda.
Meski tidak semuanya setuju atas sikap Kubilai, akan tetapi semua orang terpaksa mengiringi minum satu mangkuk. Segera para pengawal menuangkan lagi mangkuk yang sudah kosong.
Segera Kwe Ceng berkata pula: “Negara kami luas dan rakyat kami amat banyak dengan peradaban yang tinggi, sejak jaman baheula hingga sekarang belum pernah bertekuk lutut kepada bangsa lain. Meski untuk sementara ini orang Mongol mendapatkan kemenangan, kelak pasti akan dienyahkan dari sini dengan kehancuran yang sukar dibayangkan. Untuk itulah hendaknya Ongya suka merenungkannya lebih masak agar tidak menyesal di kemudian hari.”
“Terima kasih atas petuah paman,” jawab Kubilai dengan tertawa.
Melihat sikap orang yang meremehkan kata-katanya, segera Kwe Ceng berkata pula: “Baiklah, aku mohon diri sekarang juga, sampai bertemu lagi.”
“Antar tamu!” seru Kubilai kepada anak buahnya.
Hoat-ong dan lain-lain saling pandang dengan bingung dan semua menatap ke arah Kubilai. Mereka pikir dengan susah payah Kwe Ceng sudah dipancing masuk perangkap, masa sekarang dilepaskan begitu saja? Tapi jelas terlihat Kubilai telah mengantar Kwe Ceng keluar kemah dengan penuh hormat, betapa pun juga mereka tak berani sembarangan bertindak.
Sambil melangkah keluar kemah, diam-diam Kwe Ceng mengakui kehebatan Kubilai yang tak boleh diremehkan. Ia mengedipi Yo Ko sambil mempercepat langkahnya ke tempat kuda. Mendadak dari samping muncul delapan orang Mongol yang kekar, seorang di antaranya menegur:
“He, kau ini Kwe Ceng bukan? Kau telah banyak menewaskan saudara kami di Siang-yang, sekarang kau berani berlagak di sini. Ongya membiarkan kau pergi, tetapi kami tidak dapat tinggal diam.”
Sekali menggertak, serentak kedelapan orang menubruk maju, dengan Judo gaya Mongol mereka hendak menjambret baju Kwe Ceng. Berkelahi secara Mongol ini adalah kebanggaan orang MongoI, bahkan kedelapan orang ini adalah jago Judo Mongol yang paling lihay dan memang sengaja disiapkan oleh Kubilai di situ untuk menangkap Kwe Ceng.
Namun Kwe Ceng yang sejak kecil tinggal di Mongol juga mahir kepandaian orang Mongol seperti menunggang kuda, memanah dan bantingan (Judo) ala Mongol ini. Begitu melihat orang-orang itu hendak memegangnya, cepat kedua tangannya meraih ke kanan dan kiri, kaki kanan berbareng menyapu, hanya sekejap saja empat orang telah dipegangnya terus dibanting, empat orang lagi kena diserampang oleh kakinya hingga terjungkal. Yang digunakan Kwe Ceng adalah kepandaian bantingan gaya Mongol asli, hanya saja ia mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi, tenaganya kuat luar biasa, tentu saja kedelapan orang itu bukan tandingannya.
Di luar kemah berjaga seribu prajurit pribadi Kubilai, semuanya mahir ilmu bantingan, maka bersorak sorailah mereka demi menyaksikan sekaligus Kwe Ceng dapat merobohkan delapan jagoan mereka itu.
Kwe Ceng mengepalkan kedua tangannya dan menanggalkan kopiahnya sambil berputar satu keliling. Ini adalah adat orang MongoI sebagai balas menghormat pada sorak pujian para penonton setelah berhasil membanting jatuh lawannya. Karena sikap Kwe Ceng ini, sorak sorai pasukan Mongol bertambah gemuruh.
Setelah merangkak bangun, kedelapan orang Mongol itu memandangi Kwe Ceng dengan terkesima bingung, entah mesti menubruk maju lagi atau disudahi sampai di sini saja?
Segera Kwe Ceng memberi tanda kepada Yo Ko agar berangkat. Tapi pada saat itu juga terdengarlah suara tiupan tanduk sahut menyahut di sana sini, beberapa pasukan Mongol tampak berseliweran di kejauhan sana, rupanya Kubilai telah mengerahkan pasukannya, Kwe Ceng dan Yo Ko terkepung rapat di tengah. Melihat kekuatan musuh yang hebat, diam-diam Kwe Ceng terkejut. Dia pikir biar pun mempunyai kepandaian setinggi langit sulit menembus kepungan musuh seketat ini, sungguh tak disangka bahwa Kubilai akan mengerahkan pasukan hanya untuk melayani Kwe Ceng seorang saja.
Dia kuatir Yo Ko merasa gentar, maka dia sendiri sedapatnya bersikap tenang, katanya kepada anak muda itu:
“Kuda kita cukup cepat, mari kita terjang saja dan rampas dua buah perisai musuh untuk menjaga kuda kita.” Lalu dia membisiki pula: “Lekas menerjang dulu ke selatan, habis itu kita putar balik ke utara.”
Semula Yo Ko melengak heran. Siang-yang terletak di selatan, kenapa sang paman justru mengajaknya menerjang ke utara? Tetapi dia lantas paham maksud Kwe Ceng, tentu sebelumnya Kubilai telah pusatkan pasukannya di sebelah selatan untuk menghadang dia kabur pulang ke Siang-yang, karena itu penjagaan di sebelah utara tentu kosong. Terjang dahulu ke selatan, lalu membalik menerjang ke utara secara tak terduga, dengan demikian kepungan musuh pasti akan dapat dibobolkan.
“Wah, cara bagaimana harus kugagalkan rencananya ini?” demikian pikir Yo Ko.
Baru saja timbul pikiran Yo Ko ini, mendadak dari kemah Kubilai melayang keluar beberapa orang, dalam sekejap saja orang-orang itu sudah menghadang di hadapan Kwe Ceng, menyusul terdengar suara meraung di udara, sebuah roda tembaga dan sebuah roda besi menyambar berbareng ke arah kuda Kwe Ceng dan Yo Ko. Nyata Kim-lun Hoat-ong sudah turun tangan untuk merintangi.
Ketika melihat sambaran kedua roda itu amat keras, Kwe Ceng tak berani menangkapnya dengan tangan, ia menunduk ke bawah, kedua tangannya menekan sekuatnya pada leher kedua kuda mereka. seketika kaki depan kuda-kuda itu bertekuk lutut dan sepasang roda musuh pun menyambar lewat di atas kepala kuda. Roda berputar satu kali di udara, lalu terbang kembali ke tangan Hoat-ong. Karena rintangan itu pula, tahu-tahu Nimo Singh dan In Kik-si menyusul tiba, habis itu Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu juga memburu datang. Mereka berempat segera mengelilingi Kwe Ceng dan Yo Ko.
Sebagai tokoh kelas satu di dunia Kangow, Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain tidak sudi merosotkan derajat mereka dengan cara main kerubut. Akan tetapi lantaran Kanghu Kwe Ceng terlalu lihay, lagi pula setiap orang ingin sekali mendapatkan gelar ‘jago nomor satu Mongol’, dengan sendirinya mereka saling berlomba mendahului. Segera kelihatan sinar senjata gemerlapan yang menyilaukan mata, keempat orang telah menyiapkan senjata masing-masing.
Kini yang dipegang Kim-lun Hoat-ong adalah senjata roda emas, In Kik-si bersenjata Kim-pian (ruyung emas) bertaburkan mutiara dan batu permata. Siau-siang-cu memegang sebatang pentung seperti yang biasanya dibawa anggota keluarga yang kematian orang tua. Ada pun senjata Nimo Singh paling aneh, senjatanya melilit pada lengan dan dapat mulur mengkeret, tampaknya seperti ular hidup.
Kwe Ceng menyadari jika keempat lawan ini tidak dibereskan tentu sukar bagi dirinya untuk lolos. Kedudukan kedua pihak 2 lawan 4, untuk menang jelas sulit, tetapi asalkan bisa merobohkan salah seorang musuh, untuk lolos rasanya tidak susah. Dia coba mengamat-amati gerakan keempat lawan dan cara mereka memegang senjata. Tampaknya di antara keempat lawan itu In Kik-si adalah paling lemah. Secara mendadak Kwe Ceng menghantam sekaligus dengan kedua tangan menuju muka Siau-siang-cu.
Tanpa mengelak Siau-siang-cu malah menegakkan pentungnya untuk menotok telapak tangan Kwe Ceng. Sudah tentu Kwe Ceng tidak berani meremehkan musuh. Dia tahu semakin sepele senjata yang digunakan, semakin tinggi ilmu silatnya. Maka dia tak berani menyambut pentung orang, cepat dia membaliki tangannya ke sana, dengan gerakan ‘Sin-liong-pah-bwe’ (naga sakti menggoyang ekor), dengan tepat senjata ruyung In Kik-si kena dicengkeram. Caranya membaliki tangan untuk merebut senjata musuh sungguh cepat dan gesit luar biasa.
Segera ln Kik-si bermaksud menyendal ruyungnya untuk menggempur musuh, tapi sudah terlambat, ujung ruyung sudah terpegang Kwe Ceng. Namun pengalaman In Kik-si sangat luar biasa, hampir semua ilmu silat dari aliran mana pun diketahuinya, meski pun tidak semuanya dilatihnya dengan baik, tapi kepandaiannya memang banyak ragamnya. Begitu terasa senjatanya terpegang musuh, segera dia ikuti gaya tarikan Kwe Ceng terus menubruk maju, berbareng tangan lain bertambah dengan sebatang belati.
“Bagus!” seru Kwe Ceng, kini kedua tangannya digunakan sekaligus, tangan kanan tetap memegangi ujung ruyung lawan dan tangan kiri berusaha merebut belati. Dalam keadaan tangan kanan merebut senjata kanan dan tangan kiri merebut senjata kiri lawan jadi kedua tangan Kwe Ceng telah berada dalam keadaan bersilang.
Tadinya In Kik-si mengira dengan tikaman belatinya pasti dapat memaksa musuh melepaskan ruyungnya. Siapa tahu bukannya Kwe Ceng menghindar, sebaliknya belati itu pun hendak dirampasnya, jadi bukan saja ruyung tidak dapat dipertahankan bahkan belati juga akan terlepas. Pada saat berbahaya itulah tiba-tiba roda emas Hoat-ong dan pentung Siau-siang-cu menyerang tiba berbareng.
Diam-diam Kwe Ceng kagum terhadap kelihayan lawan karena tidak berhasil membetot lepas ruyung musuh. Tiba-tiba ia menggertak dan mengerahkan tenaga dalam sekuatnya melalui ruyung itu, seketika In Kik-si merasa dadanya bagaikan dipalu, mata berkunang dan darah segar tersembur dari mulutnya. Pada saat itu pula Kwe Ceng langsung melepaskan pegangannya pada ruyung lantas membalikkan tangan melayani serangan roda emas serta pentung.
In Kik-si tahu lukanya tidak ringan. Perlahan dia meninggalkan kalangan pertempuran lalu duduk bersila di tepi untuk menahan muntah lebih lanjut.
Melihat In Kik-si dilukai Kwe Ceng, Hoat-ong dan Siau-siang-cu di samping senang juga merasa keder. Mereka senang karena berkurang seorang saingan yang ikut berebut gelar ‘jago nomor satu Mongol’, tapi melihat betapa lihaynya Kwe Ceng, mereka juga keder dan kuatir kalau mereka pun terjungkal di tangan lawan. Demikianlah ketiga orang sama-sama tidak berani sembarangan bertindak, mereka sama berjaga dengan rapat.
Di samping melayani kedua lawan, diam-diam Kwe Ceng menyelami dua macam senjata aneh yang dipegang Siau-siang-cu dan Nimo Singh. Pentung pendek yang dibawa Siau-siang-cu terbuat dari baja, kecuali keras dan berat sukar diketahui keanehan yang Iain, sedangkan senjata ular milik Nimo Singh itu menyerang dengan jurus yang aneh sekali. Senjata ular berbisa yang kepalanya segitiga. Badan ular dapat melingkar dengan lemas, kepala dan ekor tampak runcing dan sangat tajam, yang lihay adalah sukar diduga bila mana badan ular itu akan melingkar dan ke arah mana kepala atau ekor ular itu akan menyerang. Tetapi di tangan Nimo Singh senjata ular itu dapat beterbangan naik turun dan berputar-putar dengan aneka macam perubahan yang hebat.
Dahulu Kwe Ceng pernah bertempur melawan tongkat ular Auyang Hong. Ular aneh yang melilit pada tongkatnya itu adalah ular tulen dan berbisa luar biasa. Tapi senjata ular-ularan Nimo Singh sekarang meski juga aneh, namun hanya bentuknya saja seperti ular tetapi sebenarnya benda mati, jadi betapa pun pasti ada titik kelemahannya. Sebab itulah Kwe Ceng lebih jeri terhadap serangan roda Kim-lun Hoat-ong dari pada Nimo Singh.
Setelah pertarungan berlangsung belasan gebrakan, sekonyong-konyong terdengar suara raungan orang, kelihatan seorang tinggi besar menerjang, siapa lagi dia kalau bukan Be Kong-co. Senjata Be Kong-co adalah sebatang toya yang panjang lagi besar. Tanpa bicara dia mengemplang kepala Kwe Ceng dari belakang Nimo Singh. Padahal waktu itu empat tokoh sedang bertempur dengan sengitnya dan sama-sama berjaga dengan sangat rapat, hakikatnya tiada peluang sedikit pun bagi orang lain. Tenaga pukulan dan sambaran senjata sudah berbentuk menjadi satu jaringan kekuatan yang maha dahsyat.
Maka kemplangan toya Be Kong-co kontan terbentur jaringan tenaga yang dibentuk empat orang yang sedang saling gempur itu. Meski pun tanpa mengeluarkan suara, toya itu terpental balik, jika saja Be Kong-co tidak memiliki tenaga sakti, tentu toya itu sudah mencelat terlepas dari tangannya atau bisa jadi toya itu malah mengemplang kepalanya sendiri hingga pecah berantakan. Tapi begitu merasa gelagat jelek, Be Kong-co berteriak keras sambil mengerahkan kekuatannya untuk menahan toyanya sehingga tidak sampai merugikan diri sendiri, walau pun begitu tangannya tetap saja terasa kesemutan dan lecet berdarah.
“Aneh, aneh!” ia berseru dan mengerahkan tenaga, sekuatnya ia mengemplang lagi. Ia mengemplang Kwe Ceng dengan berdiri di belakang Nimo Singh, ada pun yang berdiri di depannya adalah Kim-lun Hoat-ong.
Kim-lun Hoat-ong menduga kemplangan Be Kong-co pasti akan menimbulkan kekuatan lebih besar, tapi ia cuma menyeringai saja dan tidak mencegahnya.
Yo Ko juga menyaksikan keadaan itu. Dia tahu kepandaian Be Kong-co terlalu jauh kalau dibandingkan keempat tokoh itu, bila ikut bertempur akan membuat susah dirinya sendiri. Dia suka kepada orang dogol yang berhati polos ini, pula sudah beberapa kali Be Kong-co membelanya, maka ia tidak tega menyaksikan si dogoI dicelakai. Segera ia membentak:
“Be Kong-co awas seranganku!”
Berbareng pedangnya menusuk ke punggung orang dogol itu. Be Kong-co melengak bingung, katanya:
“Adik Yo, mengapa kau menyerang padaku?”
“Orang goblok, lekas enyah dari sini!” damperat Yo Ko sambil melancarkan beberapa kali tusukan sehingga Be Kong-co kelabakan berusaha mengelak dan terpaksa melompat mundur sehingga cukup jauh dari kalangan pertempuran Kwe Ceng berempat.
Setelah mendesak mundur beberapa langkah lagi, kemudian Yo Ko membisiki Be Kong-co dengan suara tertahan:
“Be-toako, jiwamu sudah kuselamatkan, kau tahu tidak?”
“Apa katamu?” tanya Be Kong-co dengan bingung.
“Ssst, jangan keras-keras, nanti didengar mereka,” desis Yo Ko.
“Ada apakah?” kembali Be Kong-co menegas dengan mata terbelaIak. “Apa yang mesti aku takuti terhadap Hwesio gede piaraan biang anjing itu?” Suaranya tetap keras, baginya adalah bicara biasa, namun bagi orang lain sudah serupa orang berteriak.
“Baiklah, kalau begitu kau jangan bicara lagi, turut saja perkataanku,” kata Yo Ko.
Penurut juga Be Kong-co, ia mengangguk dan tidak bersuara pula. Yo Ko lantas berkata padanya:
“Kwe Ceng bisa ilmu sihir, begitu dia membaca mantera segera kepala lawan dapat dipenggalnya. Maka lebih baik kau berdiri sejauhnya dari dia.”
Mata Be Kong-co terbelalak lebar, setengah percaya setengah tidak. Karena ingin menolong jiwa si dogol, Yo-Ko tahu jalan paling baik adalah mengibulinya. Kalau dikatakan ilmu silat Kwe Ceng sangat hebat tentu dia tidak mau menyerah kalah, tapi kalau bilang Kwe Ceng mahir ilmu sihir, besar kemungkinan si dogol mau percaya. Karena itu, untuk lebih meyakinkan kepercayaan Be Kong-co, Yo-Ko berkata pula:
“Tadi kau mengemplang dengan toyamu, tidak membentur apa-apa tapi terpental balik. Aneh, bukan? Ilmu silat saudagar Persi itu sangat tinggi, mengapa sekali gebrak juga dilukainya?”
Be Kong-co mau percaya ucapan Yo Ko ini. Dia manggut-manggut, lalu memandang Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain dengan agak ragu. Yo Ko tahu apa yang sedang dipikirkan Be-Kong-co, segera ia menambahi.
“Hwesio gede itu punya jimat dan dia sudah memberi jimat kepada mayat hidup serta setan cebol itu. Mereka membawa jimat, dengan sendirinya tidak gentar terhadap ilmu sihir lawannya. Apa Hwesio gede itu tidak memberi jimatnya padamu?”
Dengan gemas Be Kong-co menjawab: “Tidak!”
“Ya, bangsat gundul itu memang tidak dapat diajak bersahabat. Dia juga tidak memberi jimatnya padaku, biarlah nanti kita bikin perhitungan dengan dia,” kata Yo Ko.
“Benar!” seru Be Kong-co, “Lantas bagaimana sekarang?”
“Kita menonton saja, makin jauh makin baik,” ujar Yo Ko.
“Kau memang orang baik, adik Yo,” kata Be Kong-co. “Syukur kau mau memberi tahu padaku.”
Segera dia seret toyanya dan mundur lebih jauh untuk mengikuti pertarungan Kwe Ceng berempat itu.
Sementara itu Kwe Ceng sedang mengeluarkan ilmu silat yang terkenal, ‘Hang-liong-cap-pek-ciang’ (delapan belas jurus penakluk naga), biar pun ilmu silat Hoat-ong bertiga tinggi juga, tapi biasanya mereka tinggal terpencil di daerah yang jarang orang luar, pengalaman dan pengetahuan mereka terbatas, dibandingkan dengan In Kik-si jelas pengetahuan mereka boleh dikatakan teramat dangkal. Melihat ilmu pukulan yang amat dahsyat itu, mereka bertiga sama sekali tidak kenal asal-usulnya. Mereka hanya mengepung Kwe Ceng di tengah, mereka berpikir asalkan mereka mengepung sekuatnya, tentu lawan takkan bisa tahan lama mengerahkan tenaga pukulan sehebat itu.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Baik, kalian ingin maju sekaligus atau lebih suka satu lawan satu?”
Habis berkata ia terus angkat tubuh Be Kong-co dan mengarahkan kepalanya pada sepotong batu padas yang besar dengan gerakan akan membenturkan kepalanya.
Lebih dulu Yo Ko mengitar ke belakang Hoat-ong untuk merintangi jalan kaburnya, lalu menjawab:
“Jika membunuhnya, kami akan mengerubuti kau.”
Hoat-ong terbahak-bahak, lalu melemparkan tubuh Be Kong-co ke tanah, katanya: “Orang dogol begini buat apa kumusuhi?” Segera dia mengeluarkan senjatanya yang khas, roda perak dan roda tembaga. Ia membenturkan kedua roda sehingga menerbitkan suara nyaring, lalu berkata dengan angkuh: “Nah, siapa di antara kalian yang ingin maju lebih dulu?”
“Hi-hi-hi-hi, kalau kalian hendak berlatih, orang dagang seperti diriku ini lebih suka menjadi peninjau dan menonton saja,” kata In Kik-si dengan tertawa.
Diam-diam Hoat-ong merasa lega. Ia pikir jika orang Persia ini tidak membantu sana sini, maka berkuranglah seorang lawan berat baginya. Siau-siang-cu paling licin. Ia sendiri merasa tidak yakin dapat menandingi Kim-lun Hoat-ong, maka ia sengaja membiarkan orang lain maju lebih dulu untuk menghabiskan tenaga musuh, kemudian barulah ia maju menarik keuntungan. Maka ia berkata:
“Saudara Singh, kepandaianmu jauh lebih tinggi, silakan maju lebih dulu!”
Meski watak Nimo Singh amat berangasan tetapi dia bukan orang bodoh. Ia tahu maksud Siau-siang-cu. Tetapi ia pun merasa ilmu silatnya cukup tinggi, andaikan tidak menang, rasanya juga tidak akan kalah. Segera ia pegang sebuah batu padas yang besar, lalu berteriak.
“Baik, biar kucoba kelihayan kedua rodamu itu!” Berbareng batu padas yang diangkatnya dikeprukkan ke dada Kim-lun Hoat-ong.
Perawakan Nimo Singh pendek, sedangkan batu padas yang dipegangnya amat besar, malah tingginya melebihi dia, bobotnya sedikitnya ada tiga-empat ratus kati. Semua orang terkejut melihat dia menggunakan batu begitu sebagai senjata. Kemarin waktu menahan panas di rumah batu, Nimo Singh pingsan tergarang, Kim-lun Hoat-ong pikir Iwekang orang cebol ini tak seberapa kuat, tak terduga tenaganya ternyata sangat besar dan sanggup mengangkat batu raksasa itu untuk menghantam. Dia merasa tidak menguntungkan kalau keras lawan keras, maka cepat dia memutar ke samping, sedangkan roda tembaga di tangan kanan terus memukul ke punggung lawan.
Batu sebesar itu ternyata dapat diputar enteng saja, segera dia menangkis. Roda tembaga dan batu kebentur hingga menerbitkan lelatu api disertai suara nyaring memekak telinga.
Lengan Hoat-ong rada kesemutan, diam-diam ia membatin: “llmu silat setan hitam ini rada aneh, harus kuhadapi dengan hati-hati. Tetapi dia mengangkat batu sebesar itu, masa dia dapat bertahan lama?”
Karena pikiran itu, segera dia putar kedua rodanya dengan cepat sambil mengitari Nimo Singh dengan Ginkang-nya.
Sesudah menolong bangun Be Kong-co, Yo-Ko berdiri berjajar dengan Siao-liong-li sambil mengikuti pertarungan seru itu. Dilihatnya tenaga sakti Nimo Singh betul-betul luar biasa, ilmu silatnya juga aneh, diam-diam mereka rada heran. Sesudah berlangsung sekian Iama, tenaga Nimo Singh sedikit pun tidak berkurang, bahkan mendadak dia menggertak satu kali, batu padas raksasa itu dikeprakkan ke dada Hoat-ong.
Betapa pun lihaynya Kim-lun Hoat-ong tidak berani menahan sambaran batu sebesar itu, cepat ia melompat ke samping. Tak terduga, tiba-tiba Nimo Singh ikut melayang maju, batu itu dapat disusulnya, kedua tangannya mendadak menghantam batu sehingga bergeser arah dan memburu ke jurusan Hoat-ong. Daya sambaran batu itu adalah sisa lemparan pertama ditambah lagi tenaga dorongan yang kedua kalinya, sehingga lebih hebat dari pada sambaran yang pertama tadi.
Bicara tentang ilmu silat sejati sebenarnya Kim-lun Hoat-ong di atas Nimo Singh, namun tenaga raksasa melempar batu yang disebut ‘Sikya-hiat-siang-kang’ (llmu Budha melempar gajah) ini memang luar biasa dan belum pernah dilihatnya. Seketika ia menjadi kelabakan, terpaksa ia melompat berkelit. Selagi menang segera Nimo Singh mendesak lagi lebih lanjut, berkali-kali ia hantam batu itu sehingga daya sambarnya bertambah hebat.
Hoat-ong pikir kalau pertarungan begitu terus, akhirnya dia pasti akan dikalahkan orang keling cebol ini kalau tidak cepat-cepat berdaya lain. Begitulah, sambil bertempur dia pun memikirkan upaya cara berganti serangan untuk memperoleh kemenangan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang riuh disusul dengan panji-panji yang berkibar, serombongan orang berkuda tampak muncul di tempat ketinggian sana.
Nimo Singh dan Kim-lun Hoat-ong sedang bertarung dengan sengit sehingga tak sempat memandang ke sana, tetapi Yo Ko dan lain-lain sudah dapat melihat jelas rombongan itu adalah sepasukan tentara MongoI yang tangkas. Di bawah panji besar yang berkibar berdiri seorang perwira muda berjubah kuning yang membawa busur.
“Hei, berhenti, berhenti!” perwira itu berseru sambil melarikan kudanya ke kalangan pertempuran. Siapa lagi dia kalau bukan pangeran Mongol, Kubilai.
Mendengar suara itu, Nimo Singh melompat maju lagi kemudian menghantam batu padas dengan kedua tangannya. Batu itu langsung melayang ke sana lalu jatuh ke bawah bukit dengan menerbitkan suara gemuruh.
Kubilai melompat turun dari kudanya, sebelah tangan menarik Hoat-ong dan tangan lain menggandeng Nimo Singh, katanya dengan tertawa: “Kiranya kalian sedang berlatih di sini, sungguh banyak menambah pengalamanku akan kelihaian kalian.”
Sudah tentu ia tahu kedua orang itu sedang bertempur mati-matian, tapi demi kehormatan kedua pihak, ia sengaja melerai.
“llmu silat saudara Singh sungguh hebat, bagus, bagus!” ujar Hoat-ong sambil tersenyum.
Dengan mendelik Nimo Singh menjawab: “Tadinya kukira Koksu nomor satu pastilah luar biasa, kiranya cuma begini saja. Hmm!”
Hoat-ong menjadi gusar dan segera akan menanggapi, namun Kubilai telah menyela: ”Wah, pemandangan di sini sungguh indah, harus diramaikan dengan minum arak. Hayo, lekas bawakan araknya, biar kita minum tiga cawan bersama!”
Bangsa MongoI sudah biasa berkenalan di padang Iuas, makan minum di mana pun tidak menjadi soal, Segera ada pengawal menghaturkan arak dan dendeng. Kubilai memandang sekejap ke arah Siao-liong-li, diam-diam ia terkesiap akan kecantikan si nona. Melihat Yo Ko berdiri sejajar dengan si nona dengan bergandengan tangan dan tampaknya sangat mesra, segera ia tanya Yo Ko:
“Siapakah nona ini?”
“Nona Liong, guruku dan bakal isteriku,” jawab Yo Ko.
Sejak pergulatan dengan maut di goa bawah tanah dan akhirnya selamat, maka watak Yo Ko menjadi semakin nyentrik, segala tata adat tidak terpikir olehnya, dia justru ingin mengumumkan kepada dunia bahwa inilah Yo Ko yang memperisterikan bekas gurunya. Kalau bangsa Han memang sangat kolot dalam adat kekeluargaan, maka bangsa Mongol tidak begitu mementingkan tata adat, Kubilai tidak merasa heran pada ucapan Yo Ko, rasa hormat dalam hatinya malah bertambah demi mendengar nona cantik itu pernah mengajarkan ilmu silat kepada Yo Ko. Dengan tertawa dia berkata:
“Yang laki-laki gagah dan yang perempuan caritik, sungguh pasangan yang sangat setimpal. Bagus, bagus! Marilah kita habiskan semangkuk arak ini sebagai ucapan selamat!” Habis berkata ia angkat mangkuk arak lalu ditenggak hingga habis.
Kim-Iun Hoat-ong tersenyum, ia pun habiskan mangkuknya. Dengan sendirinya yang lain-lain ikut minum, malahan sekaligus Be Kong-co menghabiskan tiga mangkuk.
Sesungguhnya Siao-liong-li tidak suka pada orang Mongol, sekarang didengarnya pujian Kubilai bahwa perjodohannya dengan Yo Ko setimpal, betapa pun ia menjadi girang dan ikut minum semangkuk arak sehingga makin menambah moleknya. Pikirnya: “Orang Han semuanya menganggap aku tidak boleh menikah dengan Ko-ji, tapi pangeran Mongol ini menyatakan bagus, tampaknya pandangan orang Mongol jauh lebih luas dari pada orang Han.” Karena itu diam-diam timbul hasratnya untuk membantu orang Mongol.
Dengan tertawa kemudian Kubilai berkata. “Kalian tidak pulang selama tiga hari, aku kuatir terjadi sesuatu. Soalnya situasi di Siang-yang cukup genting sehingga aku tak bisa selalu mendampingi kalian, tetapi sudah kutinggalkan pesan di markas agar kalian segera menuju garis depan di Siang-yang. Kebetulan sekarang kita bertemu di sini, sungguh hatiku sangat lega.”
“Apakah gempuran pasukan kita atas Siang-yang cukup Iancar?” tanya Hoat-ong.
“Sebetulnya panglima yang menjaga Siang-yang, yaitu Lu Bun-hoan adalah seorang yang bodoh, yang aku kuatirkan hanyalah Kwe Ceng,” tutur Kubilai.
Hati Yo Ko terkesiap, cepat ia bertanya: “Jadi Kwe Ceng memang berada di Siang-yang? Kwe Ceng ini adalah pembunuh ayahku, kalau boleh, maka aku mohon diberi tugas untuk membunuhnya.”
“Itulah maksud tujuan undanganku kepada para ksatria,” kata Kubilai dengan girang. “Cuma kabarnya ilmu silat Kwe Ceng tergolong nomor satu di seluruh Tiong-goan, banyak pula orang-orang kosen yang membantunya, beberapa kali pahlawan yang kusuruh membunuhnya mengalami kegagalan, ada yang tertangkap dan ada pula yang terbunuh. Tentu saja aku percaya pada ketangkasan saudara Yo, tapi seorang diri terasa kurang kuat, maka maksudku kalau bisa para ksatria di sini sekaligus menyusup di Siang-yang, dengan begitu kalian bisa turun tangan bersama. Asal orang she Kwe itu terbunuh, dengan mudah Siang-yang akan dapat kita duduki.”
Serentak Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan yang lain-lain berdiri, kata mereka sambil menyilang tangan di depan dada.
“Kami siap mengikuti semua perintah Ongya dan bertempur sekuat tenaga.”
“Bagus, bagus!” seru Kubilai dengan girang, “Tak peduli siapa yang akan membunuh Kwe Ceng, yang pasti setiap orang yang ikut pergi juga berjasa, tetapi hanya orang yang membunuhnya itulah akan kuusulkan kepada Sri Baginda agar diberi gelar dan diangkat menjadi jago nomor satu dari kerajaan Mongol Raya.”
Gelar bangsawan sih tidak begitu menarik bagi Siau-siang-cu, Nimo Singh dan lain-lain, tetapi sebutan ‘jago nomor satu kerajaan Mongol’ adalah cita-cita yang mereka harapkan, sebab dengan begitu namanya akan tersohor ke seluruh jagat.
Maklumlah, waktu itu kerajaan Mongol lagi jaya-jayanya, wilayah kekuasaannya sangat luas dan belum ada bandingannya dalam sejarah, kecuali benua barat, waktu itu dua pertiga wilayah Tiongkok telah diduduki. Sebagai gambaran luasnya wilayah pendudukan kerajaan Mongol waktu itu dapat dilukiskan: perjalanan dari pusat pemerintah kerajaan ke empat penjuru wilayah pendudukannya diperlukan tempo satu tahun sekali pun dilakukan dengan kuda yang paling cepat.
Karena itulah dapat dibayangkan betapa membanggakan gelar ‘jago nomor satu’ bagi setiap manusia. Semua orang tertarik dan bersemangat setelah mendengar janji Kubilai. Hanya Siao-liong-li saja yang memandang Yo Ko dengan rasa cinta yang tak terhingga. Ia pikir sebutan gelar bangsawan dan jago nomor satu segala, yang kuharapkan hanya semoga engkau dapat hidup terus.
DemikianIah semua orang menenggak beberapa mangkuk arak lagi, lalu berangkat. Para Busu Mongol membawakan kuda, lalu Yo Ko, Siao-liong-li serta Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain naik ke atas kuda, mereka ikut di belakang Kubilai dan dilarikan cepat ke arah Siang-yang.
Di sepanjang jalan rumah penduduk hampir seluruhnya kosong melompong dan hangus terbakar, mayat bergelimpangan memenuhi jalan. Setiap berjumpa orang Han, tanpa kenal ampun prajurit Mongol melakukan pembunuhan.
Tidak kepalang gusar Yo Ko menyaksikan pemandangan itu. Ia ingin mencegah perbuatan kejam itu, tetapi segan terhadap Kubilai. Diam-diam ia hanya membatin: “Kawanan prajurit Mongol ini benar-benar kejam dan menganggap bangsa Han kami lebih rendah dari pada binatang. Nanti sesudah Kwe Ceng dan Oey Yong kubunuh, aku pasti akan membunuh beberapa perwira Mongol yang paling kejam untuk melampiaskan rasa dendamku.”
Kuda tunggangan mereka adalah kuda peranakan Mongol pilihan, beberapa hari kemudian sampailah mereka di luar kota Siang-yang. Sementara pertempuran pasukan kedua pihak sudah berlangsung sebulan lebih, di medan perang penuh senjata rusak dan berceceran darah membeku, maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyatnya pertempuran.
Ketika pasukan Mongol diberi-tahu oleh kurir bahwa pangeran Kubilai telah datang sendiri di garis depan, para panglima perang menyambutnya. Kubilai menyatakan rasa penyesalannya karena kota Siang-yang sudah sekian lama belum berhasil diduduki. Para panglima itu sama berlutut dan minta ampun. Kubilai terus keprak kudanya dan dilarikan ke depan dengan cepat, sementara para panglima tetap berlutut dan tidak berani bangun, semuanya merasa kebat-kebit.
Diam-diam Yo Ko sangat mengagumi wibawa Kubilai yang luar biasa. Biasanya Kubilai sangat ramah tamah terhadap dirinya serta Kim-Iun Hoat-ong dan lain-lain, namun ketika menghadapi para panglimanya ternyata berubah menjadi sangat kereng dan disegani.
Sementara itu hari sudah terang, pasukan mendapat aba-aba menyerang, seketika terjadilah hujan panah dan batu yang berhamburan ke benteng kota, menyusul tembok benteng banyak ditempeli tangga panjang, beramai-ramai prajurit Mongol berusaha manjat. Akan tetapi penjagaan benteng juga kuat, beberapa prajurit Han memegangi kayu besar dan banyak tangga melangit itu didorong terpental dari tembok benteng. Akhirnya ada beberapa ratus prajurit yang berhasil menyerbu ke atas benteng, sorak-sorai pasukan Mongol segera menggelegar setiap kali Pek-hu-tiang (komandan seratus orang, setingkat kapten) Mongol memimpin pasukannya merayap ke atas sebagai bala bantuan.
Mendadak terdengar suara genderang dipukul keras, sepasukan pemanah kerajaan Song muncul di balik tembok sana dan dapat menahan majunya pasukan Mongol, menyusul sepasukan lain dengan obor beramai-ramai membakar tangga panjang sehingga prajurit Mongol yang sedang merayap ke atas jatuh terjungkal. Suasana menjadi gaduh sekali.
Di tengah pertempuran dahsyat itu, di atas benteng muncul sepasukan lelaki gagah perkasa bersenjata golok, tombak dan pedang. Pasukan Mongol yang berhasil menyerbu ke aras benteng serentak disergapnya. Pasukan laki-laki itu tidak mengenakan seragam pasukan Song. Ada yang berbaju hitam ringkas, ada yang berjubah panjang dengan warna yang berbeda, waktu bertempur juga tidak menuruti peraturan pasukan, namun semuanya sangat tangkas, jelas tiap-tiap orang itu memiliki ilmu silat yang terlatih.
Prajurit Mongol yang menyerbu ke atas benteng adalah para prajurit pilihan yang telah berpengalaman dan gagah berani, namun sama sekali bukan tandingan pasukan laki-laki itu, hanya beberapa gebrakan saja satu persatu mereka dapat dikalahkan dan terbunuh, ada yang menggeletak di atas benteng, ada yang terlempar ke bawah benteng.
Di antara pasukan laki-laki itu ada seorang setengah umur berjubah abu-abu yang tampak paling tangkas. Tanpa bersenjata, tapi hanya terlihat berlari kian kemari tanpa tandingan, di situ pula musuh tercerai berai laksana harimau menyerbu ke tengah kawanan domba.
Kubilai mengawasi sendiri pertempuran itu. Melihat betapa gagahnya lelaki setengah tua itu, dia menjadi kesima. Katanya dengan gegetun:
“Apakah di antara jago-jago di dunia ini ada yang lebih hebat dari pada orang ini?”
Yo Ko berdiri di samping Kubilai, ia lantas berkata: “Apakah Ongya tahu siapakah dia?”
“Apa mungkin dia ini Kwe Ceng?” jawab Kubilai terkejut.
“Betul, memang dia,” kata Yo Ko.
Sementara itu beberapa ratus prajurit Mongol yang menyerbu ke atas benteng sudah terbunuh dan tersisa beberapa orang saja. Hanya tinggal tiga orang Pik-hu-tiang dengan bertombak dan membawa perisai masih bertempur dengan mati-matian.
Ban-hu-tiang (komandan selaksa orang, setingkat kolonel) yang memimpin pertempuran di bawah benteng kuatir didamperat Kubilai, cepat ia memerintah agar meniupkan tanduk dan memberi aba-aba penyerbuan lagi. Serentak pasukan Mongol menyerang dengan gagah berani untuk menyelamatkan ketiga Pek-hu-tiang.
Mendadak Kwe Ceng bersiul nyaring dan melangkah maju. Ketika salah seorang Pek-hu-tiang menusuknya dengan tombak, secara tepat gagang tombak itu kena dipegang terus didorong ke depan, menyusul sebelah kakinya melayang dan tepat menendang pada perisai Pek-hu-tiang kedua.
Meski kedua Pek-hu-tiang itu sangat gagah, tapi sukar menahan tenaga sakti Kwe Ceng. Seketika keduanya mencelat terjungkal ke bawah benteng lantas binasa dengan kepala pecah dan tubuh remuk. Pek-hu-tiang ketiga berusia lebih tua, rambutnya sudah ubanan. Dia pun insaf dirinya tak akan luput dari kematian, tapi sekuatnya ia putar goloknya dan menyerang dengan kalap.
Se-konyong-konyong Kwe Ceng menubruk maju, dengan tepat tangan lawan yang memegang golok kena dicengkeramnya, selagi dia hendak menyusul dengan satu kali hantaman untuk membinasakan Pek-hu-tiang itu, tiba-tiba dia melengak.
Pek-hu-tiang itu pun dapat mengenali Kwe Ceng. Cepat dia berseru: “He, engkau, Kim-to Hunji (menantu raja bergolok emas)!”
Kiranya Pek-hu-tiang ini adalah bekas anak buah Kwe Ceng ketika dahulu ikut Jengis Khan menyerbu ke wilayah barat. Meski waktu sudah lewat kurang lebih dua puluh tahun namun Kwe Ceng masih ingat muka orang, maka seketika dia tertegun. Ketika itulah berdesing sebatang anak panah meluncur deras ke arah punggungnya.
Dalam keadaan biasa jangankan desir anak panah, bahkan suara yang jauh lebih lembut saja pasti dapat segera diketahui. Namun pada saat itu Kwe Ceng sedang berdiri membelakangi, dalam keadaan terkesima melihat bekas anak buahnya, lagi pula suasana pertempuran sangat hiruk pikuk, maka kedatangan anak panah itu tidak disadarinya.
“Awass...!”
Mendadak Pek-hu-tiang berseru sambil mendorong tubuhnya ke samping, Kwe Ceng sadar dari tertegunnya, tetapi terlambat. Bekas anak buah itu roboh dengan anak panah menembus dadanya. Sekali pandang Kwe Ceng tahu orang itu sudah binasa, anak panah tadi tepat menembus jantungnya. Segera dia membalikkan badan, dilihatnya seorang perwira Mongol duduk di atas kudanya dengan busur di tangan. Seketika Kwe Ceng paham bahwa perwira itu tadi bermaksud memanahnya, namun Pek-hu-tiang tua menyelamatkan jiwanya.
Biasanya Kwe Ceng sangat sabar dan tidak suka sembarangan membunuh. Tapi Pek-hu-tiang ini, meski dia seorang Mongol yang menjadi pihak lawan, tetapi betapa pun juga dia telah menyelamatkan dirinya dengan mengorbankan jiwa sendiri, sungguh kematiannya membuat amarah memuncak.
Dengan Ginkang-nya yang maha tinggi, sekali lompat Kwe Ceng turun dari tembok benteng lalu memburu ke arah perwira pemanah tadi. Beberapa prajurit Mongol berusaha mengeroyoknya, tapi apalah artinya mereka, hanya dengan menggerakkan tangan ke kanan ke kiri tubuh mereka berpelantingan.
Tanpa menghentikan langkahnya Kwe Ceng terus menyerbu ke arah perwira berkuda itu dan dengan beberapa lompatan dia telah berada di dekatnya. Dalam jarak sedekat ini tidak mungkin perwira itu mempergunakan panah, maka cepat dia mencabut pedangnya. Akan tetapi baru saja dia memegang gagang pedang, sekonyong-konyong pukulan tangan kanan Kwe Ceng menghantam dadanya. Tanpa sempat mengeluarkan suara lagi perwira pemanah ini roboh dari kudanya dengan dada remuk dan jantung pecah.
Melihat Kwe Ceng turun dan sekarang berada cukup jauh dari tembok tebal itu, segera Kubilai berseru:
“Kepung orang itu! Tangkap atau bunuh!”
Seluruh prajurit di sekitar Kwe Ceng segera mengepung, bahkan yang berada agak jauh cepat berlari mendatangi, dalam waktu sebentar saja dia telah terkepung oleh puluhan prajurit Mongol.
Kwe Ceng menyambar sebatang tombak, lalu berusaha membobol kepungan. Ia pikir: “Se-tinggi-tingginya kemampuanku, jika terus menghadapi kepungan begini banyak lawan, suatu waktu tenagaku akan habis, dan sukarlah menyelamatkan jiwaku.”
Pada saat itu dilihatnya dari jauh dua perwira memacu kudanya secepat terbang mengarah padanya, di tangan mereka tergenggam busur berisi anak panah. Sementara ia melihat pula kuda perwira yang tadi sudah dipukulnya mati masih berada di dekatnya. Tanpa pikir segera Kwe Ceng melompat ke arah kuda, sekali kakinya bergerak tubuhnya melayang lalu hinggap dengan tepat pada punggung kuda yang cepat dibalapkan ke arah tembok benteng, sementara dua perwira yang memegang busur terus memburu dan semakin lama semakin mendekat.
Kini tembok benteng berada di depan mata Kwe Ceng, dari atas kuda dia sambitkan tombak rampasan tadi ke arah seorang prajurit Mongol yang tertinggal di atas benteng, betapa kuat tenaga lontaran itu bisa dilihat dari suara mendesing yang terdengar pula oleh para prajurit yang berdiri di sekitar situ, sementara dua perwira pemanah sudah semakin dekat. Segera Kwe Ceng turun dari kuda dan berlari mendekati benteng. Mereka menarik busur dan membidikan dua panah ke arah Kwe Ceng.
Kepandaian memanah kedua orang itu memang lihay, baru saja terdengar suara teriakan prajurit di atas benteng, tahu-tahu dua panah telah menyambar sampai di depan dada Kwe Ceng, tampaknya sukar bagi Kwe Ceng untuk mengelak. Tanpa terduga mendadak kedua tangan Kwe Ceng meraih, satu tangan satu panah telah kena dipegangnya menyusul kedua panah itu berbaIik disambit ke musuh.
Belum lagi dua jago pengawal Mongol tadi melihat jelas apakah Kwe Ceng mati atau tidak, mendadak kedua panah sudah menyambar tiba dan menembus dada mereka, kontan mereka binasa. Serentak terdengarlah suara gemuruh sorak sorai pasukan Song di atas benteng disertai bunyi genderang yang bertalu-talu sebagai tanda kemenangan.
Kubilai menjadi kesal, lalu memimpin pasukannya mundur ke tempat yang diperintahkan tadi. Di tengah jalan tiba-tiba Yo Ko berkata:
“Ongya tidak perlu masgul, biarlah sebentar Cayhe masuk ke kota sana untuk membunuh Kwe Ceng.”
“Tetapi Kwe Ceng itu serba lihay, namanya memang bukan omong kosong belaka, kurasa rencanamu hendak membunuh rada sukar,” ujar Kubilai sambil menggeleng.
“Aku pernah tinggal di rumahnya selama beberapa tahun, juga pernah menolong anggota keluarganya, dia pasti tidak curiga apa pun padaku,” kata Yo Ko.
“Tadi kau berdiri di sampingku, mungkin sudah dilihat olehnya,” kata Kubilai pula.
“Sebelumnya sudah kupikirkan hal ini, maka tadi aku dan nona Liong memakai topi lebar untuk menutupi muka dan pakai mantel bulu puIa. Dia pasti pangling padaku,” ujar Yo Ko.
“Baiklah, jika begitu kuharap kau berhasil, mengenai janji anugerah pasti kupenuhi,” kata Kubilai.
Yo Ko mengucapkan terima kasih. Baru saja ia hendak berangkat bersama Siao-liong-li, sekilas dilihatnya Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain menunjukkan rasa kurang senang. Segera terpikir oleh Yo Ko bahwa orang-orang itu tentu kuatir kalau gelar ‘jago nomor satu’ akan direbutnya karena berhasil membunuh Kwe Ceng, untuk itu orang-orang itu pasti akan menjegalnya agar usahanya gagal. Maka Yo Ko lantas berkata pula kepada Kubilai:
“Ada sesuatu yang ingin kutegaskan kepada Yang Mulia.”
“Urusan apa, katakan saja,” jawab Kubilai.
“Maksudku membunuh Kwe Ceng hanya demi membalas sakit hati pribadiku,” tutur Yo Ko. “Selain itu kepalanya juga kuperlukan untuk menukar obat penolong jiwa Kokoh-ku, Maka biar pun usahaku berhasil berkat doa restu Ongya, namun gelar jago nomor satu itu sama sekali tak berani kuterima.”
“Apa sebabnya?“ tanya Kubilai heran.
“Betapa pun juga kepandaianku belum dapat dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang hadir di sini, mana aku berani mengaku sebagai jago nomor satu?” kata Yo Ko. “Karena itulah Ongya harus terima dulu permohonanku ini barulah aku berani melaksanakan tugas.”
Karena Yo Ko bicara dengan sungguh-sungguh dan tegas, pula melihat sikap Siau-siang-cu dan yang lain itu, diam-diam Kubilai juga dapat menerka apa yang menjadi pertimbangan anak muda itu, maka berkatalah dia:
“Baiklah, setiap orang memang mempunyai cita-cita sendiri, jika begitu kehendakmu aku pun tidak ingin memaksa.”
Segera Yo Ko memohon diri dan berangkat bersama Siao-liong-li. Di tengah jalan mereka membuang topi dan mantel bulu sehingga dandanannya sekarang adalah bangsa Han. Hari telah menjelang magrib ketika sampai di bawah benteng kota. Terlihat pintu gerbang benteng tertutup rapat, di atas benteng satu regu prajurit sedang ronda kian kemari.
“Hei, aku bernama Yo Ko dan ingin bertemu dengan Kwe-toaya, Kwe Ceng!” teriak Yo Ko.
Ketika mendengar suaranya, perwira yang dinas jaga mencoba melongok ke bawah dan melihat Yo Ko cuma bersama dengan seorang perempuan, ia percaya pasti bukan musuh yang sengaja hendak menyusup ke kota, segera ia melaporkan hal itu kepada Kwe Ceng. Tidak lama kemudian dua pemuda muncul di atas benteng dan melongok keluar, seorang lantas bersuara:
“Oh, kiranya Yo-toako, apakah cuma kalian berdua?”
Kiranya kedua pemuda itu adalah Bu Tun-si dan Bu Siu-bun. Sambil tertawa Yo Ko lantas meryawab,
“Ehh, kiranya Bu-jiko, Apakah Kwe-pepek ada di situ?”
“Ada, silakan masuk saja,” jawab Siu-bun.
Segera dia memberi perintah agar membukakan pintu benteng dan menurunkan jembatan untuk menyambut datangnya Yo Ko dan Siao-liong-li. Kedua saudara Bu membawa Yo Ko ke sebuah rumah besar.
Dengan wajah ber-seri Kwe Ceng menerima kedatangan mereka. Lebih dulu Kwe Ceng memberi hormat kepada Siao-liong-li lalu menarik tangan Yo Ko, katanya dengan tertawa girang:
“Ko-ji, kedatangan kalian ini sungguh kebetulan. Musuh sedang menyerang kota, kedatangan kalian berarti bantuan yang dapat diandalkan bagiku, sungguh bahagia sekali segenap penduduk kota ini.”
Siao-liong-li adalah guru Yo Ko, maka Kwe Ceng menghormatinya sebagai angkatan yang sama. Dengan ramah Kwe Ceng menyilakan dia masuk ke dalam rumah, terhadap Yo Ko ia pun sangat sayang dan menggandeng tangannya.
Ketika teringat bahwa orang yang menggandeng tangannya ialah pembunuh ayahnya, sungguh tidak kepalang gemas hati Yo Ko, kalau bisa sekali tusuk akan dibinasakannya. Cuma karena jeri kepada kelihaian Kwe Ceng, maka tidak berani sembarangan bergerak, dengan air mukanya yang gembira, ia pun menanyakan kesehatan sang paman dan tidak lupa pula menanyakan Oey Yong.
Lantaran rasa dendamnya, sebegitu jauh dia tidak memberi sembah hormat kepada Kwe Ceng. Tetapi Kwe Ceng memang orang baik, sedikit pun ia tidak memperhatikan tata adat begitu. Sampai di ruangan besar, Yo Ko hendak menemui Oey Yong ke dalam, namun Kwe Ceng telah mencegahnya, katanya:
“Bibimu sudah hampir melahirkan, beberapa hari ini kesehatannya terganggu, boleh kau menemuinya lain hari saja.”
Diam-diam Yo Ko girang. Dia justru kuatir akan kecerdikan Oey Yong, bukan mustahil maksud kedatangannya akan diketahui, kalau bibi itu sedang sakit maka kebetulan baginya. Tengah bercakap, datanglah utusan panglima kota yaitu Lu Bun-hoan, yang mengundang Kwe Ceng untuk menghadiri perjamuan merayakan kemenangan tadi. Namun Kwe Ceng segera menolak undangan itu dengan alasan dia sendiri sedang menerima tamu.
Sudah tentu utusan panglima itu amat heran. Dilihatnya usia Yo Ko masih muda dan tidak ada sesuatu yang luar biasa, entah kenapa justru anak ini mendapat perhatian Kwe Ceng sebesar itu sehingga menolak undangan sang panglima hanya untuk melayani anak muda. Terpaksa utusan itu pulang dan melaporkan hal itu kepada Lu Bun-hoan.
Kwe Ceng lantas mengadakan perjamuan sederhana di rumah sendiri untuk merayakan kedatangan Yo Ko dan Siao-liong-li, ikut hadir di meja perjamuan adalah Cu Cu-liu, Loh Yu-kah, kedua saudara Bu, Kwe Hu dan lainnya.
Ber-ulang Cu Cu-liu mengucapkan terima kasih pada Yo Ko yang pernah menolongnya dengan memaksa pangeran Hotu dari Mongol menyerahkan obar penawar sehingga Cu Cu-liu terbebas dari renggutan maut. Sikap Kwe Hu ternyata tawar saja terhadap Yo Ko, dia cuma memanggil sekali, lalu tidak bicara lagi. Dalam perjamuan itu alis si nona kelihatan terkerot seperti sedang dirundung persoaIan. Kedua saudara Bu juga selalu menghindari adu pandang dengan Yo Ko, ketiga orang juga tidak berbicara sejak awal hingga berakhirnya perjamuan.
Sebaliknya Loh Yu-kah dan Cu Cu-liu sangat gembira ria dan asyik mengobrol mengenai kemenangan gemilang atas pasukan Mongol. Waktu perjamuan selesai, sementara itu sudah lewat tengah malam. Kwe Ceng menyuruh Kwe Hu agar mengawani Siao-liong-li tidur sekamar, ia sendiri menarik Yo Ko untuk tidur bersama satu ranjang.
Ketika akan pergi Siao-liong-li sempat melirik sekejap kepada Yo Ko agar anak muda itu berhati-hati. Yo Ko kuatir rahasianya diketahui orang, cepat dia berpaling dan tidak berani menatap Siao-liong-li.
Kwe Ceng menggandeng Yo Ko ke kamar tidurnya, berulang-ulang dia memuji anak muda itu ketika melawan Kim-lun Hoat-ong di barisan batu-batu itu dan berhasil menyelamatkan Oey Yong, Kwe Hu serta kedua saudara Bu. Habis itu dia lantas tanya pengalaman Yo Ko setelah berpisah.
Teringat kejadian tempo hari, Yo Ko menyesal telah menolong Oey Yong dengan mati-matian. Dia kuatir kalau banyak bicara mungkin rahasia tujuannya akan diketahui Kwe Ceng, maka tentang pertemuannya dengan Thia Eng, Liok Bo-siang, Sah Koh dan Oey Yok-su tak diceritakannya, dia hanya mengaku merawat lukanya di pegunungan sunyi, kemudian bertemu dengan Kokoh, lalu bersama ke sini untuk mencari paman.
Sembari membuka baju dan mapan tidur, Kwe Ceng berkata: “Ko-ji, saat ini musuh sudah berada di depan mata, keadaan Song Raya kita benar-benar berbahaya, seperti telur di ujung tanduk. Siang-yang adalah perisai bagi tanah air kita, kalau kota ini jatuh, mungkin berjuta-juta rakyat kita akan menjadi budak orang Mongol. Dengan mataku sendiri kulihat keganasan orang MongoI, sungguh darahku mendidih menyaksikan kekejaman musuh”
Segera Yo Ko teringat juga akan keganasan prajurit Mongol yang dilihatnya di sepanjang perjalanan, saking gusarnya ia pun mengertak gigi.
“Kaum kita belajar silat dengan sepenuh tenaga, meski tujuannya ingin berbuat kebajikan dan membela kaum kecil, namun ini hanya sebagian kecil saja dari pada tugas kita yang sebenarnya,” kata Kwe Ceng pula, “Orang-orang Kangouw menyebut aku ‘Kwe-tayhiap’ kukira bukan disebabkan kepandaianku yang tinggi melainkan menghormati diriku yang berjuang mati-matian demi negara dan rakyat. Namun aku sendiri merasa tenagaku seorang diri teramat kecil dan belum bisa membebaskan rakyat dari kesengsaraan, maka sesungguhnya aku malu untuk disebut ‘Tayhiap’. Engkau masih muda, kepintaranmu dan kecerdasanmu berlipat ganda dari padaku, hari depanmu pasti cemerlang dan tentu jauh melebihi diriku. Hanya saja kuharap kau selalu ingat pada pesanku ini: ‘Demi negara dan rakyat, itulah tugas utama kita’. Semoga kelak namamu termashur dan menjadi seorang Tayhiap (pendekar besar) sejati yang dihormati segenap rakyat jelata.”
Uraian Kwe Ceng amat mengena di lubuk hati Yo Ko. Dilihatnya Kwe Ceng berbicara dengan sungguh-sungguh, simpatik, tapi juga kereng. Meski jelas dia adalah musuh yang membunuh ayahnya, tapi tanpa terasa timbul juga rasa hormat dan segannya. Segera dia menjawab:
“Kwe-pepek, jika engkau sudah meninggal aku pasti akan selalu ingat perkataanmu ini.”
Sudah tentu Kwe Ceng tak mengira bahwa malam ini juga si Yo Ko akan membunuhnya. Dengan rasa sayang dia membelai kepala anak muda itu dan berkata
“Ya, memang, berjuang sampai titik darah penghabisan kalau negara kita runtuh, jiwa pamanmu ini jelas juga takkan tertinggal lagi. Kabarnya Kubilai amat pandai mengatur pasukan, kemunduran pasukan tadi mungkin hanya siasatnya belaka, dalam beberapa hari ini pasti akan ada pertempuran dahsyat, kau perlu kumpulkan dan memupuk semangat untuk menunjukkan segenap kepandaianmu di medan perang. Baiklah, sudah jauh malam, marilah tidur.”
Yo Ko mengiakan saja, lalu membuka baju dan mapan tidur. Belati yang dibawanya dari Coat-ceng-kok itu diam-diam diselipkannya di pinggang, dia pikir biar ilmu silatmu beratus kali lebih tinggi, kalau sudah tertidur, sekali tikam dengan belati ini, masa kau mampu mengelak.?
UPAYA MEMBALAS DENDAM
Karena siangnya bertempur sengit, maka Kwe Ceng rada lelah, begitu menempel bantal dia langsung pulas. Sebaliknya Yo Ko bergolak-golik tak dapat tidur. Dia tidur di bagian dalam, didengarnya pernapasan Kwe Ceng amat teratur, tarikan dan hembusan napasnya terselang agak lama, diam-diam ia kagum terhadap Iwekang sang paman yang hebat.
Agak lama kemudian suasana menjadi hening, hanya dari jauh terdengar suara peronda sedang melakukan tugasnya. Perlahan Yo Ko duduk dan meraba belatinya. Ia pikir jika dia telah kutikam mati, segera kupergi membunuh Oey Yong, rasanya membereskan seorang wanita hamil tidak terlalu sulit. Selesai semuanya segera bersama Kokoh kembali ke Coat-ceng-kok untuk mengambil setengah biji obat itu. Kemudian kami akan mengasingkan diri di kuburan kuno untuk menikmati kebahagiaan hidup dan takkan peduli apakah dunia ini akan menjadi milik Song atau direbut Mongol. Begitulah hatinya sangat senang berpikir sampai di sini.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak kecil di rumah tetangga sana, menyusul suara sang ibu menimang anaknya, suara tangis anak itu pun mulai mereda dan kemudian sunyi senyap lagi.
Seketika hati Yo Ko tergetar, mendadak teringat olehnya apa yang dilihatnya di perjalanan tempo hari, di mana seorang Busu Mongol menyodet perut seorang bayi kemudian diangkat ke udara seperti sundukan satai. Bayi itu tidak langsung mati, tetapi masih dapat menjerit ngeri. Segera terpikir olehnya: “Untuk membunuh Kwe Ceng sekarang bagiku amat mudah. Tapi kalau dia mati, kota ini takkan dapat dipertahankan lagi dan beribu-ribu anak kecil dalam kota ini tentu akan menjadi mangsa keganasan para prajurit Mongol. Aku sendiri berhasil membalas dendam, tetapi akibatnya jiwa rakyat jelata yang tak terhitung banyaknya menjadi korban, apakah perbuatanku ini dapat dipuji?”
Akan tetapi lantas terpikir pula: “Kalau tidak kubunuh dia, tentu Kiu Jian-jio tak mau memberikan obatnya padaku dan kalau aku mati pasti juga Kokoh tidak dapat hidup lagi.” Betapa mendalam cintanya kepada Siao-liong-li boleh dikatakan tiada taranya, karena itu dia menjadi nekat: “Sudahlah, biar peduli amat dengan jiwa rakyat Siang-yang dan negara segala. Pada saat aku menderita sengsara, selain Kokoh seorang siapa lagi yang pernah menaruh belas kasihan kepadaku? Orang lain tidak pernah sayang padaku, buat apa aku mesti sayang kepada orang lain?”
Begitulah Yo Ko lantas mengangkat belatinya, tenaga dikumpulkan pada tangannya, ujung belati mengincar tepat dada Kwe Ceng. Lilin dalam kamar telah dipadamkan, tapi Yo Ko sudah biasa melihat dalam kegelapan. Waktu belatinya akan ditusukkan, sekilas dia memandang wajah Kwe Ceng, dilihatnya air muka paman sangat tenang, wajah seorang welas asih dan berbudi. Belati sudah tergenggam di tangan Yo Ko, tapi ia ragu-ragu untuk turun tangan mengingat keselamatan laksaan jiwa bangsa Han yang akan menjadi korban keganasan para prajurit Mongol yang kejam.
Malam itu Kwe Ceng tidurnya amat nyenyak. Tiba-tiba terbayang pula dalam benak Yo Ko semua kejadian di masa lampau, betapa kasih sayang paman padanya waktu tinggal di Tho-hoa-to dan tanpa mengenal lelah sang paman mengantarnya ke Cong-lam-san untuk belajar siIat, malahan berniat menjodohkan puteri tunggalnya kepadanya.
Tanpa terasa timbul pikiran: “Selamanya Kwe-pepek bertindak jujur dan terus terang, beliau adalah seorang tua yang baik budi. Pribadi seperti dia ini seharusnya tidak mungkin mencelakai ayahku, Apakah mungkin Sah Koh yang tidak waras hanya sembarangan omong? Kalau saja tikaman ini jadi kulaksanakan dan mungkin ternyata salah membunuh orang baik, bukankah dosaku sulit diampuni? Wah, nanti dulu, kukira urusan ini harus kuselidiki.”
Perlahan-lahan dia lantas menyimpan kembali belatinya, dia coba merenungkan satu demi satu kejadian di masa lalu sejak dia bertemu dengan Kwe Ceng dan Oey Yong. Teringat olehnya sikap Oey Yong yang kurang simpatik padanya, beberapa kali dipergoki suami isteri itu sedang membicarakan sesuatu soal apa-apa, namun pokok pembicaraan lantas dihentikan begitu dia muncul. Kalau dipikir, tentu ada sesuatu di antara suami isteri itu yang sengaja dirahasiakannya.
lngat pula sang bibi resminya menerima dirinya sebagai murid, tapi yang diajarkan hanya membaca dan menulis, sedikit pun tidak diajarkan silat. Apakah keramahan paman Kwe kepadaku bukan lantaran ia telah mencelakai ayahku dan hatinya merasa tidak tenteram, maka sengaja membaiki aku sekedar menenangkan hatinya yang merasa berdosa? Begitulah Yo Ko terus bergulang-guling tak dapat pulas.
Dalam pada itu Kwe Ceng masih tidur dengan nyenyaknya, namun pada suatu ketika dia dapat mengetahui pernapasan Yo Ko yang rada memburu. Tiba-tiba dia membuka mata dan bertanya:
“Ada apa, Ko-ji? Kau tak dapat tidur?”
Badan Yo Ko rada bergetar, jawabnya: “Oh tidak apa-apa.”
“Kalau kau tidak biasa tidur bersama orang lain, bolehlah aku tidur di meja saja,” kata Kwe Ceng tertawa.
“Wah, tidak, tidak apa-apa,” sahut Yo Ko cepat.
“Baiklah, jika begitu lekas tidur,” ujar Kwe Ceng. “Orang belajar silat harus mengutamakan menenangkan batin dan memusatkan pikiran.”
Yo Ko mengiyakan. Akan tetapi pikirannya tetap bergoIak hingga akhirnya dia tidak tahan dan bertanya:
“Kwe-pepek, dahulu waktu kau mengantar diriku ke Cong lam-san, sampai kuil di kaki gunung itu pernah kutanyakan sesuatu padamu, apakah paman masih ingat?”
Hati Kwe Ceng terkesiap, jawabnya: “Ya, ada apa?”
“Tatkala Kwe-pepek marah-marah kemudian menghantam sebuah pilar batu hingga menimbulkan salah paham para Tosu dari Coan-cin-kau, apakah sekarang paman masih ingat persoalanku yang kutanyakan itu?”
“Ya, kalau tidak salah kau bertanya cara bagaimana meninggalnya ayahmu.”
Dengan tatapan tajam Yo Ko berkata. “Waktu itu yang kutanyakan kepadamu adalah siapakah yang membunuh ayahku.”
“Dari mana kau mengetahui bahwa ayahmu dibunuh orang?” kata Kwe Ceng.
“Memangnya ayahku meninggal secara baik?” tanya Yo Ko dengan suara agak serak.
Kwe Ceng terdiam sejenak, ia menghela napas panjang, kemudian berkata pula: “Ayahmu meninggal secara menyedihkan, tetapi tiada siapa pun yang membunuhnya, dia yang membunuh dirinya sendiri.”
Mendadak Yo Ko bangun duduk, dengan perasaan yang sangat terangsang ia berkata: “Tidak, Kwe-pepek dusta padaku, mana mungkin di dunia ini ada orang membunuh dirinya sendiri? Seumpama ayahku membunuh diri, tentu ada orang lain yang menyebabkan kematiannya.”
Kwe Ceng menjadi berduka sehingga meneteskan air mata, katanya perlahan: “Anak Ko, kakekmu dan ayahku adalah saudara angkat, ayahmu dengan diriku juga sudah mengikat persaudaraan. Kalau benar ayahmu mati secara penasaran, masa aku tidak berusaha membalas dendam baginya?”
Tubuh Yo Ko rada gemetar, saking menahan perasaannya hampir saja dia berucap: “Kau sendiri yang membunuh ayahku, maka dengan sendirinya kau tak mungkin membalaskan dendamnya.”
Akan tetapi dia tahu, sekali ucapannya dikeluarkan tentu Kwe Ceng akan waspada dan selanjutnya pasti sukar hendak membunuhnya. Maka Yo Ko hanya diam saja, lalu tidak bicara lagi.
“Persoalan ayahmu sesungguhnya amat banyak lika-likunya dan sukar diceritakan dalam waktu singkat,” kata Kwe Ceng. “Dahulu waktu kau bertanya, karena kupikir usiamu masih terlalu muda sehingga belum dapat memahami sebab musababnya dengan jelas, lantaran itulah aku tidak mau menjelaskan padamu. Sekarang kau sudah dewasa, sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, maka sesudah orang MongoI dipukul mundur, biarlah nanti kuceritakan dari awal hingga akhir,” jeIasnya. Habis berkata ia terus membalik dan tidur lagi.
Yo Ko cukup kenal perangai sang paman yang amat tegas itu, sekali dia bilang satu, tak mungkin berubah menjadi dua. Tapi ia menjadi ragu-ragu lagi dan memaki diri sendiri: “Wahai, Yo Ko, biasanya kau bertindak sesuatu selalu tegas dan berani, tetapi mengapa sekarang kau bimbang dan takut-takut? Apakah kau jeri terhadap ilmu silatnya yang lihay? Bukan saja kesempatan bagus malam ini kau sia-siakan, besok bila Oey Yong sudah mengetahui maksud tujuanmu mungkin Kokoh-mu akan ikut menjadi korban.”
Teringat kepada Siao-liong-li, seketika ia kembali bersemangat. Ia meraba belatinya, belati yang menempel di kulit perutnya itu serasa panas oleh suhu badannya. Baru saja ia hendak mencabut belatinya, tiba-tiba terdengar daun jendela diketok orang tiga tali dengan sangat perlahan. Cepat Yo Ko pura-pura tidur, sedangkan Kwe Ceng lantas terjaga bangun berduduk serta bertanya:
“Apakah Yong-ji di situ? Ada urusan apa?”
Namun suara di luar jendela lantas berhenti. Kwe Ceng bangkit, dilihatnya Yo Ko tidur nyenyak, dia pikir anak muda itu baru saja pulas, sebaiknya jangan diganggu. Perlahan-lahan dia lantas membuka pintu kamar dan keluar, dilihatnya Oey Yong sedang menunggu di serambi sana, Kwe Ceng mendekati sang isteri lantas bertanya dengan suara tertahan:
“Ada urusan apa?”
Oey Yong tidak menjawab, ia menarik tangan suaminya ke halaman belakang, setelah memandang sekelilingnya barulah berkata:
“Percakapanmu dengan Ko-ji sudah kudengar semua. Dia mengandung maksud buruk, apakah kau tidak tahu?”
Kwe Ceng terkejut. “Apa? Dia bermaksud buruk bagaimana?” ia menegas.
“Dari kata-katanya itu, tampaknya dia mencurigai kita berdua yang membunuh ayahnya,” tutur Oey Yong.
“Ya, bisa jadi dia curiga,” ujar Kwe Ceng sambil menggeleng, “tapi aku telah berjanji akan menceritakan sebab musabab kematian ayahnya.”
“Memang kau benar-benar akan menceritakan padanya tanpa menutupi sesuatu apa pun?” tanyanya.
“Kematian ayahnya amat mengenaskan, selama ini aku pun selalu merasa bersalah,” kata Kwe Ceng, “Meski pun adik Yo Khong tersesat ke jalan yang salah, tetapi kita juga tidak berusaha menyadarkan dia dan tidak berdaya menyelamatkannya.”
“Hm, orang macam begitu masa ada harganya dibantu?” jengek Oey Yong, “Malahan aku justru menyesal tidak membunuhnya sedini mungkin, kalau tidak masa beberapa gurumu itu sampai tewas di Thoa hoa-to gara-gara perbuatannya?”
Teringat pada peristiwa yang mengenaskan itu, tanpa terasa Kwe Ceng menghela napas panjang.
“Dari anak Hu kudengar kedatangan Ko-ji ini kelihatan agak aneh, katanya pula kau tidur sekamar dengan dia, Aku menjadi kuatir terjadi sesuatu, maka semenjak tadi aku sudah mengawasi dari luar jendela. Kukira sebaiknya jangan tidur bersamanya, harus diketahui bahwa hati manusia amat sulit dijajaki, lagi pula ayahnya mati keracunan akibat memukul bahuku.“
“Yong-ji, itu pun tidak dapat dikatakan kau yang mencelakai dia,” ujar Kwe Ceng.
“Walau pun kita memang ada maksud membunuhnya, akhirnya ia juga mati akibat diriku, maka soal kita sendiri yang turun tangan membunuhnya atau bukan menjadi tidak penting lagi,” kata Oey Yong.
Kwe Ceng berpikir sejenak, katanya kemudian: “Betul juga ucapanmu. Kalau begitu untuk sementara ini takkan kuceritakan terus terang padanya. Yong ji, sudah jauh malam, lekas kembali ke kamarmu dan mengaso, besok malam biar aku pindah tidur ke markas saja.”
Biasanya Kwe Ceng memang selalu menuruti segala nasehat Oey Yong, soalnya ia tahu kecerdasan dan pengetahuan sang isteri memang berkali lipat lebih pintar dari pada dia sendiri, dugaannya selalu tepat, perhitungannya tak pernah meleset. Meski ia tak percaya bahwa Yo Ko bermaksud jahat kepadanya, tetapi sang isteri sudah bilang begitu, maka ia lantas menurut saja. Segera Kwe Ceng memayang sang isteri untuk kembali ke kamarnya, katanya:
“Kukira selekasnya Hu-ji dinikahkan saja dengan Ko-ji agar selesailah persoalan kita ini.”
“Aku sendiri pun bingung menghadapi urusan ini!” ujar Oey Yong sambil menghela napas. “Kakak Ceng, di dalam hatiku hanya ada engkau seorang begitu pula dalam hatimu cuma ada aku, akan tetapi puteri kita itu ternyata tidak seperti kau, juga tidak seperti aku, dalam hatinya justru sekaligus terisi dua kekasih yang sukar dibedakan mana yang harus dipilih, inilah yang membuat kita sebagai ayah-bundanya serba susah.”
‘Dua kekasih’ yang dimaksud Oey Yong bukan lain dari pada Bu Tun-si dan Bu Siu-bun. Kedua anak muda ini sama jatuh cinta kepada Kwe Hu, sebaliknya Kwe Hu juga tidak pilih kasih terhadap kedua saudara Bu itu. Waktu masih kecil memang tidak menjadi soal, akan tetapi ketiganya kini sudah dewasa, persoalan cinta segi tiga ini pun menjadi semakin rumit dan serba sulit.
Menurut pikiran Kwe Ceng, dia ingin menjodohkan puterinya kepada Yo Ko sedang untuk kedua saudara Bu akan dicarikan gadis lain yang setimpal. Akan tetapi pikiran Oey Yong terlebih cermat, ia tahu banyak kesulitan dalam persoalan jodoh ini. Kendati pun dia amat pintar, menghadapi soal rumit ini pun dia merasa bingung dan tak berdaya.
Begitulah Kwe Ceng mengantar isterinya sampai ke dalam kamar, setelah berbaring dan menyelimutinya, ia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan sang isteri dengan tersenyum bahagia. Selama sebulan ini keduanya sama sibuk urusan tugas, suami-isteri jarang berkumpul dengan tenang, sekarang keduanya berhadapan tanpa bicara, namun terasa sangat senang.
Oey Yong memegangi tangan Kwe Ceng dan digosok-gosokkannya pada pipi sendiri, lalu berkata dengan suara lirih:
“Engkoh Ceng, anak kita yang kedua ini bolehlah kau berikan nama yang baik.”
“Kau tahu aku tidak sanggup, mengapa kau menggodaku,” jawab Kwe Ceng dengan tertawa.
“Kau selalu mengatakan dirimu tidak sanggup apa-apa, padahal, Engkoh Ceng, laki-laki di seluruh jagat ini tiada keduanya yang dapat melebihi kau,” kata Oey Yong dengan mesra dan sungguh-sungguh.
Kwe Ceng menunduk dan mencium perlahan muka sang isteri, katanya: “Kalau anak laki-laki kita beri sama Boh-to saja, tetapi kalau perempuan...” Dia berpikir sejenak, kemudian menyambung: “Kau saja yang memberikan namanya.”
“Saat ini kita sedang mempertahankan kota Siang-yang dalam menghadapi serbuan orang MongoI. Karena anak dilahirkan di sini, maka kita beri nama Yang saja, agar kelak kalau sudah besar anak ini akan selalu ingat bahwa dia dilahirkan di kota yang sedang dilanda peperangan.”
“Bagus, diharap saja anak perempuan ini tidak senakal Toaci-nya, sudah begitu besar tapi masih membikin repot orang tua saja,” ujar Kwe Ceng.
“Kalau cuma repot sih tidak menjadi soal,” ujar Oey Yong dengan tersenyum, “justru dia... ahhh... aku malah berharap anak ini adalah laki-laki saja.”
Kwe Ceng meraba-raba tangan sang isteri dan berkata: “Baik anak laki-laki mau pun anak perempuan kan sama saja? Sudahlah, lekas tidur, jangan berpikir macam-macam.”
Sesudah menyelimuti sang isteri dan memadamkan lilin, Kwe Ceng kembali ke kamarnya, dilihatnya Yo Ko masih tidur dengan lelap, didengarnya bunyi kentongan tiga kali, segera ia naik tempat tidur lagi. Tanpa diketahuinya percakapan mereka suami-isteri di halaman tadi telah dapat didengar semua oleh Yo Ko yang bersembunyi di balik pintu.
Waktu Kwe Ceng dan Oey Yong menuju ke ruangan dalam, Yo Ko masih berdiri kesima di balik pintu sambil merenungkan ucapan Oey Yong:
“Aku justru menyesal tidak membunuhnya lebih dini..., ayahnya mati keracunan akibat memukul bahuku..., kita memang ada maksud membunuhnya, tapi akhirnya ia juga mati akibat diriku...”
Dari kata-kata itu sudah jelas bahwa ayahku memang tewas di tangan mereka berdua, hal ini tidak perlu diragukan lagi, demikian pikir Yo Ko. Diam-diam dia pun merasa Oey Yong benar maha lihay karena mencurigai dirinya, jika malam ini tidak turun tangan, mungkin kelak tiada kesempatan baik lagi. Begitulah ia lantas berbaring lagi di tempat tidurnya dan menunggu sampai kembalinya Kwe Ceng.
Sesudah Kwe Ceng merebahkan diri dan memakai selimut, didengarnya Yo Ko sedang mengeluarkan suara mengorok perlahan. Diam-diam ia pikir anak muda ini nyenyak benar tidurnya. Karena itu ia mapan tidur dengan perlahan, kuatir kalau mengganggu Yo Ko. Selang tak lama, selagi layap-layap akan pulas, tiba-tiba terasa Yo Ko membalik tubuh dengan perlahan, tapi waktu membalik tubuh tetap mengeluarkan suara mendengkur.
Kwe Ceng melengak heran. Pada umumnya orang tidur kalau membalik tubuh tentu suara mendengkurnya akan berhenti. Mengapa pernapasan bocah ini lain dari pada yang lain? Apakah mungkin latihan Iwekang-nya mengalami kesalahan? Kalau benar demikian bisa celaka. Hati Kwe Ceng memang polos, sama sekali dia tidak pernah menyangka Yo Ko sengaja pura-pura mendengkur. Begitulah ketika Yo Ko membalik tubuh lagi perlahan dan melihat Kwe Ceng tetap diam saja, segera dia mengeluarkan suara dengkuran lagi sambil turun dari tempat tidur.
Semula dia berniat menikam Kwe Ceng dalam selimut, tetapi diurungkan karena merasa berbahaya kalau menyerangnya dari jarak dekat. Kalau saja sebelum ajalnya Kwe Ceng membalas sekali hantam, tentu jiwa sendiri juga akan melayang. Karena itu ia mengambil keputusan turun tempat tidur dulu, begitu tikamannya mengenai tempat yang mematikan segera ia akan melompat keluar jendela dan melarikan diri. Tapi ia pun kuatir bila suara mendengkurnya berhenti mungkin akan menimbulkan curiga Kwe Ceng jika dalam tidurnya itu merasakan sesuatu yang tak beres. Maka sambil turun dari tempat tidur dia tetap pura-pura ngorok.
Karena kelakuannya inilah membikin Kwe Ceng semakin bingung. Dia pikir jangan-jangan bocah ini mengidap penyakit ‘mimpi berjalan’. Kalau sekarang kubiarkan dia, karena kaget bukan mustahil tenaga dalamnya akan bergolak dan tersesat ke jalan yang keliru, hal ini berarti maut bagi anak muda itu. Karena itulah dia tidak berani bergerak dan tetap pasang kuping untuk mengikuti gerak gerik Yo Ko.
Perlahan-lahan Yo Ko mengeluarkan belatinya lalu digenggamnya kencang di depan dada. Dengan hati-hati dia mendekati tempat tidur, mendadak dia angkat belatinya terus hendak ditikamkan ke ulu hati Kwe Ceng.
“Ko ji, kau mimpi buruk apa?” pada saat itu juga mendadak Kwe Ceng berseru padanya dengan suara halus.
Sungguh kaget Yo Ko tak terkatakan. Begitu kedua kakinya menutul, secara membalik tubuhnya segera menerobos keluar jendela. Akan tetapi kecepatannya tetap kalah cepat dari pada Kwe Ceng. Sebelum dia tancapkan kakinya di luar, tahu-tahu kedua bahunya sudah dipegang oleh kedua tangan Kwe Ceng. Seketika Yo Ko putus asa. Dia tahu ilmu silat sendiri sekali-kali bukanlah tandingan sang paman, melawan juga tiada gunanya, maka dia cuma pejamkan mata dan menunggu ajal saja.
Tak terduga Kwe Ceng terus mengangkat tubuhnya dan melompat masuk lagi ke dalam kamar, didudukkannya Yo Ko di tempat tidur dalam posisi seperti orang sedang semadi. Diam-diam Yo Ko heran, dia tidak tahu dengan cara bagaimana dirinya akan disiksa oleh Kwe Ceng, Tiba-tiba dia teringat pada Siao-liong-li, dia menarik napas panjang dan segera bermaksud berteriak memperingatkan nona itu agar lekas melarikan diri.
Melihat Yo Ko menghimpun tenaga, Kwe Ceng semakin salah paham bahwa anak muda itu sedang menahan sakit. Cepat dia gunakan tangannya untuk menahan perut Yo Ko. Mestinya Yo Ko hendak berteriak, tapi perutnya ditekan hingga sulit bersuara, sedangkan dalam hati menguatirkan keadaan Siao-liong-li. Ia menjadi kelabakan tapi perutnya ditahan oleh Kwe Ceng, ingin meronta pun tidak dapat.
Dengan perlahan kemudian Kwe Ceng berkata: “Ko-ji, kau terburu-buru berlatih, akibatnya justru macet. Sebaiknya jangan banyak bergerak, tenangkan pikiranmu, akan kubantu kau meredakan pergolakan tenaga dalammu.”
Yo Ko tercengang heran karena tidak tahu apa maksud ucapannya. Ia hanya merasakan serangkum hawa hangat tersalur dari tangan sang paman ke dalam perutnya dan terasa sangat menyegarkan. Segera tahulah Yo Ko bahwa Kwe Ceng sedang membantunya dengan Iwekang yang tinggi untuk melancarkan tenaga dalamnya. Diam-diam dia merasa geli dan malu diri pula, Nyata sang paman telah salah sangka dan mengira latihan Iwekang-nya tersesat hingga kelakuannya seperti orang sinting.
Agar tidak menimbulkan curiga orang, segera dia mengerahkan tenaga dalam sendiri dan sengaja disalurkan ke sana ke sini tanpa teratur dan seperti sukar di atasi. Tentu saja Kwe Ceng tambah kuatir. Segera ia kerahkan tenaganya lebih kuat lagi untuk menghimpun tenaga dalam Yo Ko yang terpencar itu.
Karena Yo Ko sudah telanjur berlagak begitu, mau tak mau ia harus berbuat supaya lebih sungguh-sungguh tampaknya. Dasar Iwekang Yo Ko sekarang sudah amat tinggi, maka seketika Kwe Ceng kena dikelabui dan sampai agak lama barulah ia berhasil melancarkan tenaga dalam si Yo Ko yang disangkanya nyasar itu. Sesudah kerja keras begitu, akhirnya Yo Ko merasa kehabisan tenaga, Kwe Ceng juga merasa letih, kedua orang sama-sama bersemadi hingga fajar barulah segar kembali.
“Sudah baikan belum, Ko-ji?” tanya Kwe Ceng dengan tersenyum. “Sungguh tak terduga bahwa tenaga dalammu begini hebat, hampir saja aku tak sanggup menolong kau.”
Begitu tahu bahwa sang paman tidak sayang mengorbankan tenaga murninya demi untuk menolong dirinya, mau tidak mau hati Yo Ko sangat terharu, katanya:
“Terima kasih atas pertolongan Kwe-pepek, semalam hampir saja aku celaka.”
Diam-diam Kwe Ceng bersyukur bahwa anak muda ini tidak menyadari jika tadi malam ia sudah angkat belati hendak menikamnya, kalau tahu, tentu anak muda itu akan menyesal tak terhingga. Nyata Kwe Ceng yang berhati jujur dan baik budi itu tetap tidak mencurigai perbuatan Yo Ko. Ia malah kuatir kalau Yo Ko mengetahui kejadian itu, maka sengaja membelokkan pembicaraan, katanya segera:
“Marilah kau ikut bersamaku. Kita keluar untuk mengontrol pertahanan pasukan kita.”
Yo Ko mengiakan dan ikut keluar. Kedua orang masing-masing menunggang kuda perang dan dilarikan keluar benteng kota.
“Ko-ji,” kata Kwe Ceng di tengah jalan, “Iwekang kaum Coan-cin-pay adalah ilmu yang baik, biar pun kemajuannya lambat tapi jarang terjadi kemacetan. Kukira kuncinya sudah cukup kau pahami, nanti kalau musuh sudah mundur akan kujelaskan lebih lanjut.”
“Baiklah, tetapi kumohon Kwe-pepek jangan menceritakan kejadian semalam kepada bibi, bila beliau tahu tentu akan mentertawakan diriku yang mempelajari ilmu sesat dari Kokoh segala,” kata Yo Ko.
“Teatu takkan kuceritakan,” kata Kwe Ceng. “Padahal Kanghu nona Liong itu pun bukan kepandaian jelek, soalnya kau sendiri yang banyak memikirkan hal-hal lain sehingga tidak dapat memusatkan pelajaranmu pada itu saja.”
Nyata ocehan Yo Ko telah berhasil membohongi Kwe Ceng sehingga tidak curiga sedikit pun. Dia tahu kalau urusan ini diketahui Oey Yong, maka sukar akan mengelabui nyonya maha cerdik itu. Dia merasa lega sesudah Kwe Ceng berjanji tak akan memberi-tahukan kejadian semalam kepada Oey Yong.
Begitulah kedua orang terus melarikan kuda mereka ke barat kota, terlihat sebuah sungai kecil terbentang di kaki bukit sana.
“Sungai ini bernama Tan-keh,” tutur Kwe Ceng, “Konon dahulu Lau Pi pada jaman Sam-kok dikejar pasukan musuh sampai di pinggir sungai ini. Kuda yang ditunggangi Lau Pi bernama Tek-loh, menurut peramal kuda, katanya kuda itu kurang baik bagi sang majikan. Tak terduga pada saat gawat itulah sang kuda mampu melompat melintasi sungai kecil itu sehingga Lau Pi lolos dari kejaran musuh dan selamatlah jiwanya.” Bicara sampai di sini, tiba-tiba saja dia teringat kepada ayah Yo Ko, katanya pula dengan gegetun: “Sebenarnya manusia juga sama dengan kuda yang bernama Tek-loh itu, baik atau buruk sulit diramal, segala sesuatu hanya bergantung pada ketentuan pikiran sekejap saja.”
Hati Yo Ko terkesiap, ia melirik Kwe Ceng sekejap, tampak wajah sang paman mengunjuk rasa duka dan menyesal, agaknya ucapan itu tidak sengaja ditujukan kepadanya. Diam-diam ia membatin: “Meski tidak salah ucapannya, tapi baik itu apakah, buruk itu apa pula? Kalian suami isteri mencelakai ayahku apakah juga perbuatan baik?”
Sesungguhnya dia sangat kagum terhadap tindak tanduk Kwe Ceng, tetapi bila ingat sang ayah yang mati di tangan suami isteri ini, mau tak mau timbul rasa dendamnya.
Demikianlah mereka terus melarikan kuda ke atas sebuah bukit dan memandang jauh ke sana kelihatan air sungai Hansui mengalir memanjang ke selatan, tampak pula rakyat berkelompok-kelompok mengungsi membanjiri Siang-yang.
Sambil menuding kaum pengungsi, Kwe Ceng berkata: “Pasukan Mongol pasti mengganas di perkampungan sana sehingga rakyat jelata kita terpaksa pergi mengungsi untuk menyelamatkan diri, betapa kejamnya orang Mongol sungguh menggemaskan.”
Pada saat itulah tiba-tiba dilihatnya rombongan pengungsi yang menuju pintu benteng berlari balik, namun arus pengungsi dari belakang masih terus membanjir tiba sehingga di luar kota Siang-yang seketika kacau balau dan hiruk pikuk.
Kwe Ceng terkejut. Ia heran mengapa penjaga pintu gerbang tidak membukakan pintu dan membiarkan kaum pengungsi itu masuk. Cepat dia melarikan kudanya ke sana, tampaklah satu regu pemanah sedang berdiri di atas benteng dengan mementang busur menghadap kaum pengungsi.
“Hai, ada apa kalian? Lekas buka pintu!” teriak Kwe Ceng.
Begitu melihat Kwe Ceng, perwira penjaga cepat memerintahkan membuka pintu gerbang dan membiarkan Kwe Ceng dan Yo Ko masuk.
“Rakyat dijagal secara kejam oleh musuh, mengapa tidak membiarkan mereka masuk?” tegur Kwe Ceng.
Perwira piket itu menjawab: “Lu-tayswe menguatirkan di antara kawanan pengungsi ada mata-mata musuh, maka mereka dilarang masuk kota supaya tidak menimbulkan bencana.”
“Andai kata benar ada satu-dua musuh menyelundup tidak boleh mengakibatkan jiwa beribu-ribu rakyat jelata menjadi korban,” ujar Kwe Ceng, “Hayo lekas buka pintu!”
Sudah lama Kwe Ceng ikut berjasa mempertahankan kota Siang-yang, namanya sangat tersohor sehingga disegani kawan mau pun lawan. Perwira itu tidak berani membantah perintahnya, terpaksa dia membuka pintu benteng di samping mengirim berita kepada Lu Bun-hoan. Seketika terjadilah lautan manusia membanjir ke dalam kota. Ketika kawanan pengungsi itu hampir masuk kota semua, mendadak terlihat dari jauh debu mengepul tinggi, pasukan Mongol menyerbu dari arah utara.
Prajurit Song segera siap siaga di belakang tembok benteng. Tampak di depan pasukan Mongol itu didahului rombongan orang berpakaian compang camping dan tangan mereka membawa pentung dan sebagainya, tapi tidak ada sesuatu senjata tajam, cara berjalannya pun tak teratur. Rombongan kaum jembel itu berteriak-teriak:
“Jangan memanah, kami rakyat Song!”
Dan pasukan Mongol yang tangkas itu berlindung di belakang barisan rakyat itu! Sejak Jengis Khan memang pasukan Mongol selalu mempergunakan siasat begitu, yakni memakai rakyat negara musuh sebagai perisai untuk menyerbu kedudukan musuh, asal penjaga tidak tega hati dan berhenti memanah, maka pasukan Mongol menyerbu maju. Cara itu sangat keji dan ganas, tapi lebih sering berhasil dengan baik.
Begitulah maka kelihatan barisan rakyat itu digiring pasukan Mongol dan dipaksa mendekati benteng, makin lama makin dekat, malahan sebagian sudah mulai memanjat tangga.
PERSAINGAN DUA SAUDARA
Ketika itu Lu Bun-hoan, panglima pertahanan kota Siang-yang, sedang berkeliling untuk mengawasi penjagaan pasukannya. Melihat keadaan mulai berbahaya, segera ia memberi perintah supaya melepaskan panah. Seketika terjadilah hujan panah di tengah jerit tangis rakyat jelata yang jatuh bergelimpangan, sebagian rakyat lainnya membalik dan lari serabutan. Namun mereka pun menjadi mangsa prajurit Mongol yang menebasnya dengan golok atau menusuknya dengan tombak. Barisan rakyat itu tetap didesak supaya menyerbu ke atas benteng.
Yo Ko berdiri di samping Kwe Ceng. Gusar sekali dia menyaksikan adegan menyedihkan itu.
“Panah! Panah!” terdengar Lu Bun-hoan berteriak-teriak pula memberi perintah. Satu baris anak panah segera menyambar lagi ke bawah.
“Hai berhenti! Jangan salah membunuh,” seru Kwe Ceng.
“Keadaan segawat ini, andaikan orang baik juga terpaksa salah membunuhnya,” ujar Lu Bun-Hoan.
“Jangan, orang baik mana boleh salah membunuhnya,” kata Kwe Ceng pula.
Tergetar hati Yo Ko, diam-diam dia menggumam: “Jangan salah membunuh orang baik..., jangan salah membunuh orang baik...”
Mendadak Kwe Ceng berseru: “Hayo saudara anggota Kay-pang, ikut aku!”
Segera dia berlari turun dari atas benteng. Yo Ko juga akan ikut, tetapi Kwe Ceng berkata padanya:
“Semalam kau kelihatan kurang sehat, sebaiknya kau berjaga di sini saja untuk mengawasi keadaanku.”
Sesungguhnya Yo Ko ingin ikut Kwe Ceng menghajar prajurit Mongol yang kejam itu. Dia tercengang mendengar ucapan Kwe Ceng, namun dia pun tidak dapat berterus terang tentang kejadian semalam, terpaksa dia tetap tinggal di tempatnya dan menyaksikan Kwe Ceng memimpin satu pasukan tanpa seragam menerjang keluar benteng terus menyergap sayap kanan pasukan Mongol.
Siasat pasukan Mongol yang ‘meminjam golok untuk membunuh orang’ adalah cara satu kali bertindak mendapat dua hasil, selain menjagal bangsa Han juga bisa menggoyahkan hati pasukan Song. Tapi mendadak terlihat Kwe Ceng memimpin pasukan menyerbu, setiap orang memiliki kepandaian tinggi dan gagah berani.
Pasukan Mongol yang digiring oleh barisan di belakang itu lantas membagi pasukannya untuk menahan serbuan Kwe Ceng. Tetapi sebagian besar pasukan Kwe Ceng adalah jago-jago pilihan dari Kay-pang, sebagian kecil lainnya adalah para ksatria yang sengaja datang ke kota Siang-yang untuk ikut berjuang, serentak mereka menyerbu maju sambil berteriak-teriak, semangat tempur mereka yang me-nyala itu sudah membikin pasukan Mongol keder. Maka begitu kedua pihak bergebrak segera ratusan prajurit Mongol dibinasakan.
Tampaknya pasukan Mongol sukar menahan pasukan Kwe Ceng, tiba-tiba dari samping menerjang pasukan Mongol lain. Pasukan Mongol itu memang tangkas dan sudah terlatih, meskipun barisan pejuang yang dipimpin Kwe Ceng berilmu silat tinggi, seketika mereka pun sukar mengalahkan musuh.
Sementara itu barisan rakyat yang dipaksa menyerbu ke benteng kota berlari serabutan karena pasukan Mongol yang menggiring mereka sebagian terpencar untuk menempur pasukan Kwe Ceng.
Pada saat itulah terdengar suara tiupan tanduk di sebelah timur, suara derap kuda pasukan bergemuruh, pasukan Jian-jin-tui (barisan ribuan orang, batalion) Mongol menerjang, menyusul dari sebelah barat dua pasukan Jian-jin-tui menyerbu datang sehingga rombongan Kwe Ceng terkurung di tengah.
Melihat hebatnya pasukan Mongol, saking jerinya Lu Bun-hoan menjadi bingung dan tidak berani mengirim pasukan penolong.
Sambil berdiri di atas benteng, Yo Ko merenungkan ucapan Kwe Ceng tadi: “Jangan salah membunuh orang baik...! Jangan salah membunuh orang baik...!”
Sementara itu dia melihat sang paman terkepung rapat oleh pasukan Mongol, dia pikir: “Sebabnya Kwe-pepek terkepung musuh sekarang adalah karena dia tak mau salah membunuh orang baik-baik. Padahal rakyat ini bukan sanak kadangnya, tapi dia tetap menyelamatkan mereka tanpa menghiraukan jiwa sendiri. Lantas apa sebabnya dulu dia mencelakai ayahku?” Ia memandangi pertempuran sengit itu, tapi dalam hati terus memikirkan teka-teki yang sukar dipecahkan ini.
“Dia dan ayah adalah saudara angkat, dengan sendirinya hubungan mereka lain dari pada yang lain, tetapi akhirnya Kwe-pepek mencelakai jiwa ayah. Apakah ayahku memang orang busuk yang sama sekali tak dapat diampuni?”
Selama hidup Yo Ko tak pernah melihat ayah-bundanya sendiri. Semenjak kecil ia selalu membayangkan sang ayah seorang pendekar budiman, gagah berani, seorang lelaki sejati. Apa bila mendadak dia disuruh mengakui ayahnya adalah orang busuk, betapa pun dia tak dapat terima.
Padahal samar-samar dalam lubuk hatinya sudah lama terasa bahwa ayahnya jauh dibandingkan dengan Kwe-pepek, cuma setiap kali timbul pikiran demikian selalu dia menekan sekuatnya dan kini perasaan ini mau tak mau timbul lagi dalam benaknya.
Dalam pada itu medan perang di bawah sana masih berlangsung dengan sengit. Suara hiruk pikuk menggelegar menggetar bumi, rombongan Kwe Ceng tampak menerjang kian kemari, tapi tetap sukar menembus kepungan musuh. Cu Cu-liu dan kedua saudara Bu masing-masing siap memimpin pasukan hendak keluar benteng untuk membantu. Tiba-tiba terdengar suara tiupan tanduk yang keras dan sahut menyahut, kembali empat pasukan Jian-jin-tui Mongol menerjang lagi.
Cara Kubilai mengatur pasukannya memang lain dari pada yang lain. Asal pintu gerbang benteng dibuka untuk mengeluarkan bala bantuan, maka pasukan Mongol yang sudah siap segera akan menyerbu masuk kota. Keruan Lu Bun-hoan kebat-kebit ketakutan, cepat ia memberi perintah agar pintu gerbang jangan dibuka. Diperintahkan pula dua regu prajurit khusus berjaga di pintu gerbang, siapa yang berani membuka pintu segera akan dibinasakannya.
Suasana di luar dan di dalam benteng menjadi kacau balau, macam-macam pikiran bertarung seru di dalam benak Yo Ko, sebentar dia berharap Kwe Ceng dilalap saja oleh pertempuran gaduh itu, lain saat dia berharap pula agar sang paman berhasil mendobrak kepungan musuh.
Tiba-tiba kelihatan pasukan Mongol rada kacau, beribu-ribu prajurit berkudanya terdesak mundur laksana gelombang surut, dengan sebatang tombak panjang Kwe Ceng memacu kudanya keluar dari kepungan disertai barisan orang-orang gagah yang dipimpinnya, mereka menerjang sampai di bawah tembok benteng. Ketika dekat pintu benteng, Kwe Ceng memutar balik berjaga di belakang pasukan. Di mana tombaknya menyambar, beberapa prajurit dan perwira Mongol terjungkal dari kudanya. Melihat betapa lihaynya Kwe Ceng, seketika pasukan Mongol menahan kuda mereka dan tidak berani terlalu mendekat.
Pertahanan kota Siang-yang boleh dikatakan tidak ada artinya tanpa Kwe Ceng, maka Lu Bun-hoan menganggap Kwe Ceng sebagai tulang punggungnya. Dia amat girang melihat Kwe Ceng lolos dari kepungan musuh, cepat dia berseru membuka pintu gerbang. Akan tetapi pintu gerbang hanya dibuka selebar satu-dua meter saja dan cuma cukup dimasuki penunggang kuda saja. Para ksatria itu berturut-turut berlari ke arah pintu lalu menyelinap masuk satu persatu.
Melihat siasat mereka gagal total, pasukan Mongol tak mau tinggal diam. Panji komando Kubilai tampak bergerak-gerak, dua pasukannya lantas menyerbu dari kanan-kiri pintu gerbang.
“Lekas masuk, Kwe-tayhiap, kita tidak menanti orang lain lagi!” seru Lu Bun-hoan kuatir.
Sebelum seluruh anak buahnya selamat, mana Kwe Ceng mau masuk benteng lebih dulu. Dia berbalik menerjang kembali ke sana dan membinasakan dua jago Mongol yang mengudak paling dekat. Tetapi pasukan besar itu sungguh seperti gelombang samudera saja di medan perang itu, betapa pun tinggi ilmu silat Kwe Ceng sukar menahan terjangan pasukan besar itu.
Melihat keadaan sudah sangat berbahaya, Cu Cu-liu yang berdiri di atas benteng cepat menurunkan seutas tali panjang dan berseru:
“Naik ke sini, adik Kwe!”
Pada waktu menoleh, Kwe Ceng melihat anggota Kay-pang yang terakhir sudah berhasil menyelinap masuk pintu gerbang, tapi ada balasan prajurit Mongol sempat ikut menerjang ke dalam. Segera regu penjaga pintu sibuk menghalau musuh, selain berusaha menutup pintu gerbang sekuatnya! Per-lahan daun pintu benteng yang tebalnya lebih setengah meter itu dapatlah dirapatkan.
Tiba-tiba Kwe Ceng membentak keras, tombaknya membinasakan seorang musuh, berbareng itu dia meloncat ke atas dan berhasil berpegang pada tali yang dijulurkan Cu Cu-liu tadi. Dengan cepat Cu Cu-liu menarik talinya ke atas, tubuh Kwe Ceng terapung beberapa meter tingginya ke atas.
“Gunakan panah!” segera Ban-hu-tiang pasukan Mongol yang memimpin pertempuran memberi komando, dalam sekejap be-ribu2 anak panah menyambar ke arah Kwe Ceng.
Namun sebelumnya Kwe Ceng sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Dia menanggalkan jubahnya, tangan kanan berpegangan tali, tangan kiri memegang jubah terus diputar dan dikebutkan sekuatnya laksana perisai raksasa. Hanya kuda tunggangannya yang menjadi korban, berpuluh anak panah bersarang di badan binatang itu hingga mirip landak.
Cu Cu-liu menarik talinya dengan cepat, maka semakin tinggilah Kwe Ceng terkerek ke atas, tampaknya tinggal beberapa meter lagi dia akan mencapai benteng. Pada saat itulah di tengah pasukan MongoI muncul seorang Hwesio besar berjubah kuning emas, siapa lagi dia kalau bukan Kim-lum Hoat-ong. Dari seorang perwira Mongol di sebelahnya Hoat-ong mengambil busur dan panah. Ia tahu kepandaian Cu Cu-liu dan Kwe Ceng sangat tinggi, kalau memanah mereka tentu tak akan berhasil, maka anak panah yang dibidikkan itu mengincar tali.
Tindakan Kim-lun Hoat-ong ini sungguh keji, anak panah menyambar bagian tali yang sukar dicapai oleh Cu Cu-liu dan Kwe Ceng sehingga kedua orang sukar menangkisnya. Karena Kim-lun Hoat-ong kuatir bila kedua orang itu mendadak menggunakan cara aneh mematahkan serangannya, maka cepat dia susulkan pula panah kedua dan ketiga, panah kedua mengincar Cu Cu-liu sedangkan panah ketiga mengarah Kwe Ceng.
“Plokk!”
Dengan tepat panah pertama mengenai tali hingga putus, sedangkan panah kedua dan ketiga menyambar secepat kilat ke arah sasarannya. Dan karena talinya putus, dengan tubuh Kwe Ceng anjlok ke bawah sehingga dia pun terluput dari panah ketiga, sedangkan Cu Cu-liu merasa tangannya yang memegang tali menjadi ringan. Ia berseru kaget dan tahu-tahu panah kedua sudah menyambar tiba.
Panah ini kuat luar biasa, jelas pemanahnya memiliki tenaga dalam yang lihay. Cu Cu-liu tahu di atas benteng penuh berjubel orang, baginya tidak sukar untuk menghindar, namun akibatnya panah itu akan mengenai orang di belakangnya. Cepat dia gunakan dua jarinya untuk menyampuk perlahan pada batang panah itu hingga anak panah terjatuh ke bawah.
Sementara itu Kwe Ceng terkejut ketika merasa tali yang mengereknya putus. Dia tidak cidera sekali pun terjatuh ke bawah benteng, tetapi terjeblos di tengah kepungan musuh sebesar itu, betapa pun sukar baginya untuk menerjang keluar.
Sementara itu pasukan musuh sudah berada di depan pintu gerbang, bila dari dalam benteng dikirim keluar bala bantuan, maka kesempatan itu pasti akan digunakan pasukan Mongol menyerbu ke dalam kota.
Dalam keadaan demikian Kwe Ceng tidak dapat berpikir banyak lagi. Mendadak sebelah kakinya menutul dinding benteng sehingga tubuhnya segera terapung ke atas, menyusul kaki yang lain memancal pula dan begitu seterusnya kedua kaki bergantian memanjat.
Ketika pasukan kedua pihak bertempur dengan sengitnya, hati Yo Ko juga bertentangan seperti pertempuran di medan perang. Dilihatnya Kwe Ceng terancam bahaya, sekilas timbul beberapa kali pikiran Yo Ko: “Dia adalah musuhku, harus kubunuh dia atau tidak?”
Waktu Kwe Ceng hampir mencapai benteng, asalkan Yo Ko menghantamnya satu kali dari atas, dalam keadaan terapung di udara Kwe Ceng pasti akan terluka lantas jatuh binasa. Tapi sedikit ragu saja, Kwe Ceng sudah terperosot lagi ke bawah oleh panah Kim-lun Hoat-ong. Dalam keadaan pikiran kacau, mendadak Yo Ko memegang kutungan tali di tangan Cu Cu-liu terus menubruk ke bawah benteng dan syukur sebelah tangannya masih keburu mencengkeram tangan Kwe Ceng.
Perubahan kejadian ini cepat luar biasa, tapi Cu Cu-liu adalah murid It-teng Taysu, betapa cepat dan tangkas tindakannya, tanpa ayal ia terus menarik sekuatnya kutungan tali yang masih di tangannya itu. Dengan sekali sendal, segera Yo Ko dan Kwe Ceng terangkat ke atas, laksana dua ekor burung raksasa kedua orang lantas melayang di udara! Menyaksikan kejadian luar biasa itu, pasukan kedua pihak seketika melongo kesima.
Dalam keadaan ‘terbang’ di udara, Kwe Ceng merasa penasaran apa bila dia tidak dapat membalas kelicikan Hoat-ong tadi. Dilihatnya Hoat-ong sudah pentang busur dan hendak memanah lagi, maka begitu dia tancapkan kaki di atas benteng, segera ia rebut busur dan panah dari seorang prajurit lalu secepat kilat dia pun lepaskan panah ke arah panah yang sudah dibidikkan Hoat-ong.
“Prakk!”
Panah Kim-lun Hoat-ong tertembak patah menjadi dua. Ketika Hoat-ong melengak kaget,
“Crengg...!”
Tahu-tahu busur yang dipegangnya juga patah oleh panah berikutnya yang dilepaskan Kwe Ceng. Sebenarnya kepandaian Kwe Ceng dan Kim-lun Hoat-ong boleh dikatakan seimbang, tapi pada waktu kecil Kwe Ceng pernah mendapat pelajaran memanah dari Cepe, si pemanah sakti kesayangan Jengis Khan, ditambah tenaga dalam Kwe Ceng sendiri maha kuat, maka kepandaiannya memanah sungguh sukar dicari bandingannya di dunia ini, dengan sendirinya Kim-lun Hoat-ong bukan tandingannya.
Ber-turut tiga kali, panah pertama mematahkan panah lawan, panah kedua mematahkan busur dan panah ketiga segera dilepaskan untuk mengincar panji kebesaran Kubilai. Panji itu sedang berkibar-kibar tertiup angin dan tampaknya sangat angker di tengah be-ratus ribu prajurit. Mendadak anak panah menyambar tiba dan tepat memutuskan tali panji itu, seketika panji kebesaran Kubilai melorot ke bawah dari tiangnya, serentak pasukan kedua pihak berteriak-teriak gemuruh.
Menyaksikan kelihayan Kwe Ceng, lagi pula semangat tempur pasukan sendiri sudah runtuh, cepat Kubilai memberi perintah pasukan mundur.
Kwe Ceng berdiri di atas benteng. Ia menyaksikan pasukan Mongol yang mundur dengan teratur, dengan disiplin yang amat kuat, sedikit pun tidak kacau. Tanpa terasa ia menarik napas panjang dan mengakui kehebatan pasukan Mongol yang sulit dibandingkan dengan pasukan Song itu. Teringat kepada situasi negara, ia menjadi sedih dan mengerutkan kening.
Setelah mengundurkan pasukannya hingga berpuluh li jauhnya, secara diam-diam Kubilai merenungkan akal menggempur Siang-yang. Ia pikir dengan adanya Kwe Ceng jelas kota itu sukar dibobol.
Melihat Kubilai termenung, Kim-lun Hoat-ong segera berkata: “Yang Mulia menyaksikan sendiri, kalau bocah she Yo itu tidak menolongnya, jelas jiwa Kwe Ceng sudah melayang di bawah panahku. Memang sudah kuduga bahwa bocah she Yo itu adalah manusia yang tak dapat dipercaya.”
“Belum tentu begitu halnya,” ujar Kubilai. “Bisa jadi Yo Ko ingin membunuh sendiri orang she Kwe itu untuk membalas sakit hati ayahnya, maka dia tidak ingin musuhnya mati di tangan orang lain.”
Meski Kim-lun Hoat-ong tidak sependapat, tapi dia pun tidak berani membantah, terpaksa dia pun menyatakan semoga begitulah hendaknya.
Mundurnya pasukan Mongol membuat girang Lu Bu-hoan. Dia mengadakan perjamuan besar untuk merayakan kemenangan. Sekali ini Yo Ko juga diundang sebagai tamu terhormat, semua orang memuji betapa gagah beraninya menolong Kwe Ceng. Dua saudara Bu juga ikut hadir dalam pesta itu. Melihat Yo Ko baru datang sudah berjasa, mereka merasa iri. Mereka menjadi kuatir pula bahwa sesudah peristiwa ini Kwe Ceng akan semakin berniat untuk menjodohkan anak perempuannya kepada Yo Ko, hati mereka menjadi kesal.
Selesai pesta, Oey Yong mengundang Yo Ko ke ruangan dalam untuk menemuinya. Ia pun memberi pujian dengan kata-kata halus.
“Ko-ji,” kata Kwe Ceng, “Tadi kau terlampau keras menggunakan tenaga, apakah dadamu terasa sakit?” Rupanya dia kuatir kalau Yo Ko tambah parah penyakitnya setelah semalam mengalami gangguan latihan Iwekang.
Kuatir Oey Yong akan mengusut lebih lanjut apa yang terjadi semalam, cepat-cepat Yo Ko menyatakan tidak apa-apa dan segera dia membelokkan pembicaraan, katanya:
“Kwe-pepek, kepandaianmu memanjat dinding benteng tadi sungguh luar biasa dan tiada bandingannya.”
“Sudah beberapa tahun aku tak melatih kepandaian itu sehingga gerak gerikku rada kaku, maka hampir terjadi mala petaka tadi,” ujar Kwe Ceng tersenyum. “Sungguh tidak nyana ilmu yang kupelajari dari Ma-totiang di Mongol dahulu bisa dimanfaatkan sekarang. Kalau kau suka, he-he-he, akan kuajarkan ilmu itu padamu nanti.”
Oey Yong dapat melihat sikap Yo Ko yang agak kikuk, waktu bicara juga seperti sedang memikirkan sesuatu, biar pun semua orang menyaksikan anak muda itu menyelamatkan sang suami dengan sepenuh tenaga, tapi dia tetap waswas. Katanya kemudian:
“Engkoh Ceng, malam ini aku merasa kurang enak badan, hendaklah kau suka menjagaku di sini.”
Kwe Ceng lantas teringat pesan sang isteri, segera dia mengangguk setuju, lalu katanya kepada Yo Ko:
“Ko-ji, tentu kau sudah lelah, bolehlah kau kembali ke kamar untuk mengaso.”
Setelah kembali ke kamarnya, Yo Ko duduk termenung menghadapi meja. Sementara itu sudah dekat tengah malam, memandangi api lilin yang sebentar terang sebentar gelap, bermacam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu yang perlahan, suara Siao-liong-li mendesir di luar.
“Kau belum tidur?”
Dengan girang Yo Ko membuka pintu. Dilihatnya Siao-liong-li berdiri di depan pintu dengan baju hijau pupus dan wajah berseri.
“Ada urusan apa, Kokoh?” tanya Yo Ko.
“Aku ingin menjenguk kau,” jawab Siao-liong-li dengan tertawa.
“Aku pun merindukan kau,” ujar Yo Ko dengan suara lembut dan menggenggam tangan si nona perlahan. Keduanya lantas ke taman bunga.
Tetumbuhan di taman bunga jarang-jarang saja, namun bunga sedap malam sedang mekar semerbak mengasyikkan. Siao-liong-li memandang rembulan yang menghiasi cakrawala, katanya kemudian dengan suara lirih.
“Apa kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri? Rasanya waktu sudah sangat mendesak.”
Cepat Yo Ko mendesis: “Sssttt, jangan mempersoalkan ini, hati-hati dengan mata telinga yang tak kelihatan di sini.”
Siao-liong-li menatap anak muda itu dengan kesima, katanya kemudian: “Jika bulan sudah bulat nanti, maka tibalah batas waktu 18 hari.”
Sembilan hari semenjak ia berpisah dengan Kiu-Jian-jio, kalau dalam satu-dua hari ini tak dapat membunuh Kwe Ceng dan Oey Yong, maka sukar kembali lagi ke Coa-ceng-kok sebelum racun di dalam tubuhnya bekerja. Dia menghela napas dan bersama Siao-liong-li mengambil tempat duduk pada sepotong batu besar. Keduanya saling berhadapan dengan bungkam, tetapi kasih mesra yang timbul dalam hati sukarlah dibendung, seketika keduanya melupakan urusan permusuhan dan pertempuran.
Lewat lama dan lama sekali, tampaknya sang dewi malam kini telah mulai mendoyong ke barat, malam sunyi dengan hawa yang dingin. Mendadak di balik gunung-gunungan sana ada suara kaki orang, dua orang mendatangi, cuma tidak kelihatan karena terhalang oleh semak bunga. Terdengar suara seorang gadis berkata:
“Jika kau mendesak aku lagi, lebih baik kaugorok saja leherku dengan pedangmu agar aku terhindar dari penderitaan.”
“Hm, hatimu bercabang, kau sangka aku tidak tahu?” terdengar seorang laki-laki menjawab “Begitu bocah she Yo datang ke sini, dia pamer kepandaian di hadapan orang banyak, tentu saja segala sumpah setia pada masa lalu telah kau lupakan semua.”
Dari suara mereka itu jelas Kwe Hu dan Bu Siau-huan berdua. Siao-liong-li mencibir kepada Yo Ko, maksudnya mencemoohkan anak muda itu yang digilai oleh gadis di mana saja dia berada.
Yo Ko tersenyum, ia tarik Siao-liong-li lebih rapat dengan dirinya dan memberi tanda agar jangan sampai bersuara, maksudnya akan mendengarkan lebih lanjut percakapan Kwe Hu berdua. Tampaknya Kwe Hu menjadi marah setelah mendengar ucapan Bu Siu-bun tadi. Dengan suara keras ia menjawab:
“Kalau begitu, anggaplah apa yang kita bicarakan dahulu cuma omong kosong belaka. Biarlah nanti aku pergi sejauhnya, selamanya tidak akan bertemu dengan Yo Ko, kita pun takkan bertemu selamanya.”
Lalu terdengar suara kebasan baju. Mungkin Bu Siu-bun ingin menarik lengan baju Kwe Hu, tapi nona itu mengebutkannya dengan keras. Dengan suara marah Kwe Hu berkata:
“Kenapa kau pegang-pegang segala? Orang datang atau tidak peduli apa? Andaikan ayah ibu menjodohkan aku kepadanya, biar mati pun aku tidak mau menurut. Jika ayah memaksa aku, segera aku minggat saja. Hm, sejak kecil si Yo Ko amat sombong meremehkan diriku, hm, aku justru tidak memandang sebelah mata padanya. Ayah selalu menganggap dia anak baik, hmm, aku justru anggap dia bukan manusia baik-baik.”
Dengan girang Bu Siu-bun membumbui: “Benar, benar, bocah itu memang congkak dan mengira dunia ini dia yang punya, Adik Hu, anggaplah aku yang salah omong, harap engkau jangan marah. Selanjutnya aku tak akan sembarangan omong lagi, kalau berbuat begini lagi, biarlah aku menjelma... menjadi kura-kura.” Lalu dia bergaya seperti kura-kura merangkak.
Dari nada ucapan Kwe Hu, meski pun omelannya pada Bu Siu-bun itu membuat anak muda itu makin menyembah di telapak kakinya, tapi hati nona itu tampaknya juga sayang padanya.
Terdengar Bu Siu-bun berkata: “Subo (ibu guru) paling sayang padamu, asalkan kau memohon bantuannya dan beliau berjanji tak akan menjodohkan kau pada bocah she Yo itu, maka Suhu pasti tak dapat berbuat apa-apa.”
“Hm, kau tahu apa?” jengek Kwe Hu, “Meski ayah suka menuruti kehendak ibu, tapi kalau menghadapi urusan penting, ibu selalu mengikuti kemauan ayah.”
“Oh, alangkah bahagiaku kalau kau pun memiliki watak begitu,” terdengar ucapan Bu Siu-bun dengan menghela napas.
“Plok!”
Mendadak terdengar suara disertai jerit kesakitan Bu Siu-bun, serunya: “He, kenapa kau memukul aku?”
“Habis, mengapa kau berbicara seenakmu?” omel Kwe Hu. “Aku tidak sudi pada si Yo Ko, aku pun takkan menjadi isteri lelaki monyong macammu ini.”
“Bagus, baru sekarang kau bicara blak-blakan. Kau tak sudi menjadi isteriku, tapi lebih suka menjadi isteri kakakku, ingin kukatakan... ingin kukatakan...” tetapi saking gugupnya Bu Siu-bun tidak sanggup melanjutkan.
Tiba-tiba nada ucapan Kwe Hu berubah halus, katanya: “Bu-jiko, kau baik padaku, ini sudah kau katakan beratus dan beribu kali, dengan sendirinya aku tahu perasaanmu yang sungguh-sungguh itu. Meski kakakmu tidak pernah menyatakan isi hatinya padaku, tetapi aku pun tahu dia jatuh hati padaku. Nah, jadi betapa sulitku menghadapi kalian ini, siapa pun antara kalian yang kupilih, satu di antara kalian tentu akan kecewa dan berduka. Kau sayang padaku dan memanjakan diriku, tapi kau tidak pernah tahu betapa serba salahku menghadapi hal ini.”
Sejak kecil Bu Tun-si dan Bu Siu-bun telah ditinggalkan ayah-bundanya, hubungan kakak beradik itu selamanya sangat baik, tetapi akhir-akhir ini keduanya jatuh cinta pada Kwe Hu sehingga timbul perang dingin antara mereka.. Maka Bu Siu-bun tak enak bicara lagi demi Kwe Hu menyinggung tentang kakaknya. Karena gugup dan cemas air mata pun berlinang.
Kwe Hu mengambil sapu tangan lantas dilemparkan kepada anak muda itu, katanya dengan gegetun:
“Bu-jiko, kita dibesarkan bersama, aku menghargai kakakmu, tetapi aku lebih cocok dengan tutur katamu. Terhadap kalian berdua sama sekali aku tidak pernah membeda-bedakan, jika sekarang kau memaksa aku bicara terus terang, coba kalau kau yang menjadi aku, lalu cara bagaimana kau akan bicara?”
“Aku tidak tahu,” ujar Siu-bun. “Aku hanya ingin katakan padamu, kalau kau dipersunting orang lain, maka aku takkan hidup lagi.”
“Baiklah, malam ini sudah cukup. Siang tadi ayah bertempur mati-matian, tapi kita malah bicara hal yang tidak penting di sini, kalau diketahui ayah tentu kita akan diomeli. Bu-jiko, ingin kukatakan kepadamu, jikalau kau ingin memperoleh pujian dari ibuku, mengapa kau tidak berjuang dan berjasa, sebaliknya setiap hari hanya merecoki diriku saja. Bukankah kau akan dipandang enteng oleh ayah.”
“Benar!” Bu Siu-bun berseru sambil melonjak. “Akan kubunuh Kubilai untuk membebaskan Siang-yang dari kepungan musuh, sesudah berhasil masa kau tidak akan menerima lamaranku?”
“Apa bila kau berjasa sebesar itu, andai kata aku tidak mau juga tidak bisa,” ujar Kwe Hu dengan tertawa, “Namun di sekeliling Kubilai tidak sedikit pengawal lihay, seorang Kim-lun Hoat-ong saja sukar dilawan, sebaiknya kau jangan berkhayal dan pergilah tidur saja.”
Akan tetapi Bu Siu-bun telah mempunyai perhitungan sendiri. Ia pandang pula wajah Kwe Hu yang molek itu, lalu berkata:
“Baiklah. Kau pun lekas tidur.” Dia melangkah pergi beberapa tindak, tiba-tiba menoleh dan berkata: “Adik Hu, malam ini kau mimpi atau tidak?”
“Mana aku tahu?” jawab Kwe Hu tertawa.
“Jika bermimpi, coba kau terka apa yang kau impikan?” tanya Siu-bun.
“Besar kemungkinan aku akan mimpi melihat seekor monyet kecil,” ujar Kwe Ku dengan tersenyum.
Girang sekali Bu Siu-bun. Ia tahu kata ‘monyet’ itu adalah kata olok-olok si nona padanya, Maka melangkah pergilah dia dengan setengah berjingkrak.
Siao-liong-li dan Yo Ko saling pandang dengan tersenyum mengikuti roman kedua muda-mudi itu. Betapa pun mereka merasa bangga pada cinta sendiri yang sukar dibandingi oleh cinta kasih antara Bu Siu-bun dan Kwe Hu yang tidak menentu itu.
Setelah Siu-bun pergi, Kwe Hu duduk sendirian sambil termenung memandangi rembulan. Selang agak lama, ia menghela napas panjang. Pada saat itulah dari balik gunungan mendadak muncul seseorang dan menegurnya:
“Apa yang sedang kau pikirkan, adik Hu?” Kiranya Bu Tun-si.
Yo Ko dan Siao-liong-li terkesiap, kiranya di balik gunung-gunungan sana masih ada lagi seorang, dapat diperkirakan sudah sejak tadi Bu Tun-si berada di situ lebih dulu dari pada Yo Ko berdua, kalau tidak, mustahil Yo Ko berdua tidak mengetahui kedatangannya.
Dengan mengomel Kwe Hu menjawab: “Kau selalu main sembunyi. Tentu kau sudah mendengar semua percakapanku dengan Bu-jiko, bukan?”
Bu Tun-si mengangguk. Dia berdiri agak jauh di depan Kwe Hu, tapi sorot matanya penuh rasa cinta yang tak terhingga. Kedua orang terdiam sampai sekian lama, kemudian Kwe Hu bertanya:
“Apa yang hendak kau katakan padaku?”
“Oh, tidak apa-apa, tanpa aku katakan juga tentu kau sudah tahu,” ujar Bu Tun-si sambil melangkah pergi.
Nyata watak kedua saudara Bu itu sama sekali berbeda, yang satu pendiam dan yang lain banyak omong. Kwe Hu ter-mangu mengikuti kepergian Bu Tun-si hingga lenyap di balik gunungan. Dia pikir alangkah baiknya jika di dunia ini tidak ada Bu tua dan Bu muda itu tetapi cuma ada seorang saja. Ia menghela napas gegutun, dilihatnya rembulan sudah semakin mendoyong ke barat, ia lantas kembali ke kamarnya.
BERKUNJUNG KE MARKAS MUSUH
Sesudah Kwe Hu pergi Yo Ko tanya Siao-liong-li dengan tertawa: “Jika kau menjadi dia, kau pilih yang mana?”
Siao-liong-li berpikir sejenak, kemudian menjawab: “Pilih kau.”
“Ha-ha-ha, aku di luar hitungan,” ujar Yo Ko tertawa. “Nona Kwe sedikit pun tidak suka padaku, tidak mungkin aku terpilih. Yang aku maksudkan jika kau menjadi nona Kwe lalu kau pilih mana antara kedua saudara Bu itu?”
Siao-liong-li terdiam dan sejenak membandingkan kedua saudara Bu, akhirnya ia menjawab:
“Aku tetap memilih kau.”
Yo Ko menjadi geli dan terharu. Dirangkulnya Siao-liong-li dan berkata dengan suara lembut:
“Ya, orang lain selalu bimbang hati, namun Kokoh-ku hanya menyukai diriku.”
Demikianlah, kedua orang itu terus duduk mengobrol di situ dengan perasaan bahagia, sementara fajar sudah menyingsing namun tetap berat untuk berpisah. Tiba-tiba saja datang seorang centing memberi-tahu bahwa Kwe Ceng mengundang Yo Ko untuk merundingkan sesuatu urusan.
Melihat centing itu rada gugup dan tergesa-gesa, Yo Ko pikir pasti ada urusan penting, ia coba tanya:
“Apakah paman Kwe sudah lama mencari aku?”
“Ya, kedua Bu-siauya tiba-tiba menghilang,” tutur centing itu, “Tentu saja Kwe-toaya dan Kwe-hujin sangat kuatir, nona Kwe juga menangis saja sejak tadi.”
Yo Ko terkejut sekali, segera dia pun paham duduknya perkara. Tentu dua saudara Bu bersaing merebut hati Kwe Hu dan sama-sama ingin berjasa besar, maka mereka menuju ke kemah pasukan musuh dengan tujuan membunuh Kubilai. Cepat Yo Ko menuju ke ruangan dalam dan melihat Oey Yong sedang duduk di sebelah sana dengan wajah cemas, Kwe Ceng tampak berjalan mondar mandir, sedangkan Kwe Hu mengucek matanya yang merah bendol. Di atas meja tergeletak dua batang pedang.
Melihat kedatangan Yo Ko, segera Kwe Ceng berkata: “Ko-ji, apakah kau tahu untuk apa kedua saudara Bu itu pergi ke pekemahan pasukan musuh? Di antara kalian mungkin ada pembicaraan apa-apa, bisa jadi sebelumnya kau telah mengetahui sesuatu yang hendak mereka lakukan.”
“Tapi siautit tidak melihat sesuatu tanda mencurigakan atas diri kedua adik Bu,” tutur Yo Ko. “Mungkin mereka ikut sedih karena kepungan musuh yang sudah sekian lamanya, karena itu mereka sengaja menyusup ke markas pasukan musuh. Kalau mereka berhasil membunuh seorang panglima musuh, kan suatu jasa juga.”
Kwe Ceng menghela napas, katanya kemudian sambil menuding kedua pedang di atas meja:
“seumpama maksud tujuan mereka memang baik, tapi sebenarnya mereka tidak tahu diri. Senjata mereka saja dirampas orang dan sengaja dikirim ke sini.”
Hal ini di luar dugaan Yo Ko. Dia memang sudah menduga maksud tujuan kedua saudara Bu itu pasti akan gagal, karena kepandaian mereka jelas bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain. Tapi tidak menyangka dalam waktu sesingkat itu senjata mereka sudah dikirim pulang oleh musuh.
Kwe Ceng mengambil sepucuk surat yang tertindih di bawah pedang itu lalu disodorkan kepada Yo Ko agar membacanya. Kiranya surat itu dari Kim-lun Hoat-ong yang ditujukan kepada Kwe Ceng, isinya menyatakan bahwa kedua saudara Bu telah kepergok dan sementara ini menjadi tamu kehormatan pihak Mongol, untuk itu Kwe Ceng diundang agar suka berkunjung ke sana sekedar omong-omong, sesudah itu dapatlah kedua muridnya dibebaskan.
Sungguh pun nada surat itu sangat ramah namun maksudnya jelas. Kedua saudara Bu itu dijadikan sandera, dan hanya kalau Kwe Ceng datang sendiri barulah kedua anak muda itu dilepaskan.
“Bagaimana pendapatmu?” tanya Kwe Ceng setelah Yo Ko membaca surat itu.
Yo Ko cukup cerdik, ia tahu Oey Yong jauh lebih pintar dari pada dia, tindakan apa yang harus dilakukan masa nyonya itu tidak tahu? Sekarang dirinya diundang ke sini, maksudnya pasti tidak lain agar dia mau mengiringi Kwe Ceng ke markas musuh. Setiba di sana, sekali pun Kim-lun Hoat-ong dan kawannya dapat mengalahkan Kwe Ceng, tetapi untuk membunuh atau menangkapnya rasanya sulit. Apa bila dirinya dan Kokoh ikut pergi membantu, pasti sang paman akan dapat meloloskan diri.
Akan tetapi segera terpikir pula olehnya. “Tetapi kalau aku dan Kokoh mendadak berbalik memihak sana, maka untuk membunuhnya boleh dikatakan teramat mudah, seumpama aku tidak tega membinasakan dia dengan tanganku sendiri, kan tidak jelek jika kupinjam tangan Hoat-ong dan lain-lain untuk mencelakainya?”
Berpikir demikian, ia pun tersenyum dan berkata: “Kwe-pepek, baiklah aku dan Suhu akan mengiringi ke sana. Kwe-pekbo sudah pernah menyaksikan paduan pedang kami mampu mengalahkan Kim-lun Hoat-ong, kalau kita bertiga pergi bersama, rasanya musuh tidak akan mampu menahan kita.”
Dengan girang Kwe Ceng berkata: “Sungguh kecerdikanmu sukar dibandingi kecuali oleh bibimu, Memang begitulah maksud bibimu mengundang kau ke sini.”
Diam-diam Yo Ko menjengek. Hm, biar pun binimu secerdik setan juga sekali tempo akan terjungkal di tanganku. Namun dia tenang-tenang saja dia menjawab:
“Urusan tidak boleh terlambat, maka marilah kita berangkat sekarang, Aku dan Suhu menyamar sebagai kacungmu agar musuh tidak menaruh curiga.”
Kwe Ceng setuju, dia berpaling dan berkata kepada sang isteri: “Yong-ji, kau tidak usah kuatir, ada Ko-ji dan nona Liong mendampingiku ke sana, apa pun yang terjadi kami akan pulang lagi ke sini dengan selamat.” Segera ia suruh mengundang Siao-liong-li.
Mendadak Oey Yong berkata: “Tidak, maksudku cuma Ko-ji saja yang mengiringi kau ke sana. Nona cantik molek seperti nona Liong jangan dibiarkan ikut menyerempet bahaya, Aku ingin dia tinggal di sini bersamaku.”
Yo Ko melengak, akan tetapi dia lantas paham maksudnya. Nyata sang bibi waswas padanya, maka Siao-liong-li sengaja ditahan sebagai sandera agar dia tak berani berbuat sembarangan. Agar tidak menimbulkan curiga, Yo Ko juga tak mendesak Siao-liong-li harus ikut, dia hanya diam saja. Namun Kwe Ceng lantas berkata:
“Ilmu pedang nona Liong hebat luar biasa, kalau dia ikut pergi tentu akan banyak menambah kekuatan kita.”
“Badanku terasa kurang enak, mungkin akan melahirkan dalam sehari dua hari ini, kalau nona Liong tinggal di sini, aku takkan kuatir,” ujar Oey Yong.
“Benar, benar,” ujar Kwe Ceng, “Ko-ji, mari kita berangkat.”
Yo Ko kewalahan mengadu kepintaran dengan Oey Yong, tetapi Kwe Ceng yang jujur dan polos itu pasti bukan tandingan dirinya. Sesudah dibereskan di tempat musuh sana, nanti kembali lagi ke sini untuk menolong Siao-Iiong-Ii kiranya tidak sukar. Maka dia lantas meringkasi pakaiannya dan ikut berangkat bersama Kwe Ceng. Yo Ko menunggang kudanya yang kurus itu, sedangkan Kwe Ceng menunggang kuda merah kesayangannya. Dua ekor kuda itu dapat berlari cepar, tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di markas besar pasukan Mongol.
Mendengar kedatangan Kwe Ceng, Kubilai terkejut dan girang, cepat dia mengundangnya masuk ke dalam kemah. Kwe Ceng tercengang ketika melihat seorang pangeran muda duduk di tengah kemah, mukanya lebar dan daun kupingnya besar, kedua matanya cekung, ternyata mirip sekali dengan wajah ayahnya, yaitu Tulai. Kwe Ceng jadi teringat pada persaudaraannya dengan Tulai di masa muda dulu. Tanpa terasa matanya menjadi merah dan hampir meneteskan air mata.
Segera Kubilai meninggalkan tempat duduknya dan memberi hormat kepada Kwe Ceng, katanya,
“Dulu mendiang ayahku sering berceritera tentang keperkasaan paman Kwe dan sangat kagum luar biasa, kini dapat berjumpa dengan paman, sungguh bahagia bagiku.”
Kwe Ceng membalas hormat kemudian berkata “Hubunganku dengan Tulai Anda (anda - saudara angkat dalam bahasa MongoI) laksana saudara sekandung, waktu kecil kami ibu dan anak bernaung di bawah lindungan haycou (Jengis Khan) dan telah banyak menerima bantuan beliau. Siapa duga ayahmu yang gagah perwira itu mendadak wafat dalam usia muda, sungguh aku sangat menyesal dan ikut berduka cita.”
Ucapan Kwe Ceng yang sungguh-sungguh dan tulus itu membikin hati Kubilai terharu juga, segera dia pun memperkenalkan Siau-siang-cu, In Kik-si dan lain-lain. Kwe Ceng disilakan duduk pada tempat yang paling terhormat, sedangkan Yo Ko berdiri di belakang Kwe Ceng dan pura-pura tidak kenal dengan semua orang.
Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain tidak tahu maksud tujuan ikut sertanya Yo Ko, tapi mereka pun tidak menegurnya ketika melihat anak muda itu tidak menggubris mereka, hanya Be Kong-co saja, dasarnya memang orang dogol, segera dia berseru:
“Eh, Yo-heng...”
Belum lanjut ucapannya, mendadak In Kik-si mencubit sekerasnya pantat Be Kong-co. Saking kesakitan Be Kong-co menjerit, akan tetapi In Kik-si segera berpaling ke sana dan tidak menggubrisnya. Karena tidak tahu siapa yang menyakitinya, Be Kong-co lantas ngomel dan marah-marah sehingga lupa menyapa Yo Ko. Sesudah minum satu cawan arak susu kuda khas Mongol, segera Kwe Ceng bermaksud menanyakan tentang kedua saudara Bu, akan tetapi Kubilai sudah berseru kepada anak buahnya.
“Lekas undang kedua tuan Bu ke sini.”
Para pengawal mengiyakan. Tidak lama kemudian Bu Tun-Si dan Bu-Siu-bun tampak digusur masuk, kaki dan tangan diikat dengan tali kulit. Tali kulit di bagian kaki panjangnya tidak lebih dari setengah meter sehingga terpaksa kedua anak muda itu harus melangkah perlahan.
Melihat sang guru berada di situ, kedua saudara Bu terkejut dan malu sekali. Mereka memanggil:
“Suhu!”, lalu menunduk dan tidak berani membuka suara.
Sebenarnya Kwe Ceng sangat marah pada kecerobohan tindakan kedua anak muda itu, namun demi melihat pakaian mereka lusuh, badan berlepotan darah, suatu tanda mereka mengalami pertarungan sengit dan akhirnya baru tertawan, lagi pula melihat kedua orang itu diringkus secara mengenaskan, dari marah menjadi kasihan kepada mereka. Ia pikir meski pun tindakan mereka sembrono, tapi tujuannya luhur demi bangsa dan negara, betapa pun jiwa patriotik mereka harus dipuji. Maka dengan suara halus dia lantas berkata:
“Orang persilatan adalah jamak mengalami berbagai gemblengan jiwa dan raga serta mengalami berbagai kegagalan, semua ini tidak menjadi soal.”
Kubilai pura-pura mengomeli anak buahnya: “Sudah kuperintahkan melayani kedua tuan Bu ini dengan baik, mengapa kalian berlaku sekasar ini? Lekas buka ikatan mereka!”
Anak buahnya mengiyakan dan segera hendak membuka tali kulit yang meringkus kedua saudara Bu itu. Namun tali kulit itu sangat kencang, apa lagi sebelumnya sudah dibasahi dengan air sehingga sukar dibuka begitu saja. Segera Kwe Ceng mendekatinya. Ia pegang tali kulit yang mengikat dada Bu Tun-si dan dibetotnya ke kanan-kiri.
“Pratt!”
Seketika tali kulit itu putus, menyusul dia pun memutuskan tali ikatan di tubuh Bu Tun-si dengan cara yang sama. Cara Kwe Ceng memutuskan tali kulit itu tampaknya amat mudah, tapi sebenarnya sukar dilaksanakan jika tidak memiliki tenaga dalam yang kuat. Siau-siang-cu, Nimo Singh dan lain-lain saling pandang sekejap, dalam hati masing-masing bertambah waswas.
“Lekas bawakan arak dan minta maaf kepada kedua tuan Bu!” seru Kubilai kepada anak buahnya.
Dalam hati Kwe Ceng mulai menimbang bahwa pertempuran ini pasti takkan berakhir dengan damai, sebentar lagi pasti terjadi pertempuran sengit, bila kedua saudara Bu tidak lekas pergi malah akan menjadi beban baginya. Segera Kwe Ceng bangkit lalu memberi hormat kepada Kubilai dan para hadirin, katanya
“Terima kasihku kepada Ongya dan saudara sekalian yang sudah memberi pengajaran atas kelancangan murid-muridku.” Lalu dia berpaling kepada kedua saudara Bu: “Nah, lekas kalian pulang dan beritahu Subo bahwa di sini aku berjumpa dengan putera saudara angkatku, sebentar lagi aku pulang sesudah berbincang dengan sahabat lama ini.”
“Tapi Suhu...” karena sudah merasa kapok menghadapi musuh-musuh tangguh, Bu Siu-bun kuatir atas keselamatan Kwe Ceng.
Tetapi Kwe Ceng lantas melambaikan tangannya sambil membentak: “Lekas pergi kalian! Lapor kepada Lu-ciang-kun bahwa pertahanan perlu diperkuat, apa pun yang bakal terjadi jangan se-kali-kali pintu gerbang dibuka untuk menjaga sergapan musuh secara mendadak.”
Ucapan Kwe Ceng itu lantang lagi berwibawa dan sengaja diperdengarkan kepada Kubilai dan anak buahnya, artinya kalau sampai terjadi apa-apa atas diri Kwe Ceng, betapa pun kota Siang-yang tetap harus dipertahankan. Kedua saudara Bu tahu arti pesan sang guru, mereka tidak berani bicara lagi dan segera mohon diri.
Sambil tertawa kemudian Kubilai berkata: “Mungkin paman Kwe belum tahu bahwa kedua saudara itu datang ke sini hendak membunuh diriku?”
Kwe Ceng mengangguk, jawabnya: “Ya, sebelumnya aku memang tidak tahu, dasar anak kecil, terlalu sembrono.”
“Memang sudah kuduga pasti paman Kwe tidak mengetahui perbuatan mereka, aku yakin paman Kwe pasti takkan menyuruh mereka berbuat demikian mengingat hubungan baik paman dengan mendiang ayahku,” kata Kubilai.
“Belum tentu begitu,” ujar Kwe Ceng dengan tegas. “Urusan dinas harus diutamakan dari pada urusan pribadi. Dulu Tulai Anda juga pernah memimpin pasukan menyerbu kota Siang-yang, waktu itu aku pun punya pikiran hendak melakukan pembunuhan gelap terhadap kakak angkat sendiri agar pasukan musuh dapat digempur mundur. Tapi ketika itu kebetulan Thaycou jatuh sakit, terpaksa pasukan Mongol mundur kembali ke wilayahnya, sebab itu persaudaraanku dengan Tulai Anda tetap terpelihara dengan baik. Pada jaman dulu, seorang pahlawan tega membunuh anggota keluarga sendiri demi kesetiaan kepada negara. Kalau anggota keluarga saja boleh dibunuh, apa lagi cuma sahabat atau saudara angkat.”
Hati Yo Ko tergetar mendengar ucapan tegas dan sungguh-sungguh itu, pikirnya: “Pantas saja, memang membunuh saudara angkat adalah kebiasaannya, Entah mendiang ayahku itu berbuat kesalahan apa sehingga tewas di tangannya. Wahai Kwe Ceng, apakah dalam hidupmu sendiri selamanya tak pernah berbuat kesalahan?” BegituIah rasa dendam dan bencinya timbul lagi.
Ternyata Kubilai sama sekali tidak marah atas kata-kata Kwe Ceng, dia menanggapi dengan tersenyum:
“Jika begitu, mengapa paman Kwe bilang kedua muridmu tadi terlalu sembrono?”
“Mengapa tidak?” jawab Kwe Ceng. “Kepandaian mereka masih cetek, mereka tidak tahu diri dan melakukan pembunuhan gelap, tentu saja gagal. Bahwa mereka pasti akan gagal bukan soal, yang pasti kau menjadi bertambah waspada sehingga untuk selanjutnya tentu sukar jika hendak membunuh kau.”
Kubilai tertawa bergelak, ia pikir Kwe Ceng ini terkenal polos dan kurang mahir bercakap, tapi nyatanya kata-katanya ini teramat tajam. Padahal Kwe Ceng hanya bicara sesuai dengan kenyataan, apa yang dia pikirkan saat itu segera dikatakannya.
Kim-lun Hoat-ong merasa kagum juga melihat sikap Kwe Ceng yang tak gentar biar pun berada di tengah pasukan musuh. Begitu juga Kubilai sangat senang dan menyukai tokoh macam Kwe Ceng ini. Ia pikir kalau orang ini dapat dirangkul menjadi pembantuku, maka nilainya jauh melebihi sepuluh buah kota Siang-yang. Segera ia berkata:
“Paman Kwe, saat ini kerajaan Song sedang kemelut, raja dan rakyatnya sengsara, banyak pembesar dorna berkuasa se-wenang-wenang. Paman Kwe sendiri adalah ksatria yang gagah perkasa, kenapa engkau sudi diperbudak oleh raja lalim dan pembesar dorna itu?”
Mendadak Kwe Ceng berdiri dan berseru: “Se-jeIek-jeleknya orang she Kwe mana aku sudi diperalat oleh kaum dorna dan raja lalim. Soalnya aku benci terhadap orang Mongol yang menjajah wilayah negeri kami dan melakukan keganasan tanpa batas. Darah mendidih dalam rongga dadaku, bergolak siap berkorban bagi bangsa dan negaraku.”
“Bagus!” Kubilai berseru sambil menggebrak meja. “Marilah kita minum satu cawan bagi keperwiraan paman Kwe.” Habis ini lantas mendahului menenggak habis semangkuk arak susu kuda.
Meski tidak semuanya setuju atas sikap Kubilai, akan tetapi semua orang terpaksa mengiringi minum satu mangkuk. Segera para pengawal menuangkan lagi mangkuk yang sudah kosong.
Segera Kwe Ceng berkata pula: “Negara kami luas dan rakyat kami amat banyak dengan peradaban yang tinggi, sejak jaman baheula hingga sekarang belum pernah bertekuk lutut kepada bangsa lain. Meski untuk sementara ini orang Mongol mendapatkan kemenangan, kelak pasti akan dienyahkan dari sini dengan kehancuran yang sukar dibayangkan. Untuk itulah hendaknya Ongya suka merenungkannya lebih masak agar tidak menyesal di kemudian hari.”
“Terima kasih atas petuah paman,” jawab Kubilai dengan tertawa.
Melihat sikap orang yang meremehkan kata-katanya, segera Kwe Ceng berkata pula: “Baiklah, aku mohon diri sekarang juga, sampai bertemu lagi.”
“Antar tamu!” seru Kubilai kepada anak buahnya.
Hoat-ong dan lain-lain saling pandang dengan bingung dan semua menatap ke arah Kubilai. Mereka pikir dengan susah payah Kwe Ceng sudah dipancing masuk perangkap, masa sekarang dilepaskan begitu saja? Tapi jelas terlihat Kubilai telah mengantar Kwe Ceng keluar kemah dengan penuh hormat, betapa pun juga mereka tak berani sembarangan bertindak.
Sambil melangkah keluar kemah, diam-diam Kwe Ceng mengakui kehebatan Kubilai yang tak boleh diremehkan. Ia mengedipi Yo Ko sambil mempercepat langkahnya ke tempat kuda. Mendadak dari samping muncul delapan orang Mongol yang kekar, seorang di antaranya menegur:
“He, kau ini Kwe Ceng bukan? Kau telah banyak menewaskan saudara kami di Siang-yang, sekarang kau berani berlagak di sini. Ongya membiarkan kau pergi, tetapi kami tidak dapat tinggal diam.”
Sekali menggertak, serentak kedelapan orang menubruk maju, dengan Judo gaya Mongol mereka hendak menjambret baju Kwe Ceng. Berkelahi secara Mongol ini adalah kebanggaan orang MongoI, bahkan kedelapan orang ini adalah jago Judo Mongol yang paling lihay dan memang sengaja disiapkan oleh Kubilai di situ untuk menangkap Kwe Ceng.
Namun Kwe Ceng yang sejak kecil tinggal di Mongol juga mahir kepandaian orang Mongol seperti menunggang kuda, memanah dan bantingan (Judo) ala Mongol ini. Begitu melihat orang-orang itu hendak memegangnya, cepat kedua tangannya meraih ke kanan dan kiri, kaki kanan berbareng menyapu, hanya sekejap saja empat orang telah dipegangnya terus dibanting, empat orang lagi kena diserampang oleh kakinya hingga terjungkal. Yang digunakan Kwe Ceng adalah kepandaian bantingan gaya Mongol asli, hanya saja ia mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi, tenaganya kuat luar biasa, tentu saja kedelapan orang itu bukan tandingannya.
Di luar kemah berjaga seribu prajurit pribadi Kubilai, semuanya mahir ilmu bantingan, maka bersorak sorailah mereka demi menyaksikan sekaligus Kwe Ceng dapat merobohkan delapan jagoan mereka itu.
Kwe Ceng mengepalkan kedua tangannya dan menanggalkan kopiahnya sambil berputar satu keliling. Ini adalah adat orang MongoI sebagai balas menghormat pada sorak pujian para penonton setelah berhasil membanting jatuh lawannya. Karena sikap Kwe Ceng ini, sorak sorai pasukan Mongol bertambah gemuruh.
Setelah merangkak bangun, kedelapan orang Mongol itu memandangi Kwe Ceng dengan terkesima bingung, entah mesti menubruk maju lagi atau disudahi sampai di sini saja?
Segera Kwe Ceng memberi tanda kepada Yo Ko agar berangkat. Tapi pada saat itu juga terdengarlah suara tiupan tanduk sahut menyahut di sana sini, beberapa pasukan Mongol tampak berseliweran di kejauhan sana, rupanya Kubilai telah mengerahkan pasukannya, Kwe Ceng dan Yo Ko terkepung rapat di tengah. Melihat kekuatan musuh yang hebat, diam-diam Kwe Ceng terkejut. Dia pikir biar pun mempunyai kepandaian setinggi langit sulit menembus kepungan musuh seketat ini, sungguh tak disangka bahwa Kubilai akan mengerahkan pasukan hanya untuk melayani Kwe Ceng seorang saja.
Dia kuatir Yo Ko merasa gentar, maka dia sendiri sedapatnya bersikap tenang, katanya kepada anak muda itu:
“Kuda kita cukup cepat, mari kita terjang saja dan rampas dua buah perisai musuh untuk menjaga kuda kita.” Lalu dia membisiki pula: “Lekas menerjang dulu ke selatan, habis itu kita putar balik ke utara.”
Semula Yo Ko melengak heran. Siang-yang terletak di selatan, kenapa sang paman justru mengajaknya menerjang ke utara? Tetapi dia lantas paham maksud Kwe Ceng, tentu sebelumnya Kubilai telah pusatkan pasukannya di sebelah selatan untuk menghadang dia kabur pulang ke Siang-yang, karena itu penjagaan di sebelah utara tentu kosong. Terjang dahulu ke selatan, lalu membalik menerjang ke utara secara tak terduga, dengan demikian kepungan musuh pasti akan dapat dibobolkan.
“Wah, cara bagaimana harus kugagalkan rencananya ini?” demikian pikir Yo Ko.
Baru saja timbul pikiran Yo Ko ini, mendadak dari kemah Kubilai melayang keluar beberapa orang, dalam sekejap saja orang-orang itu sudah menghadang di hadapan Kwe Ceng, menyusul terdengar suara meraung di udara, sebuah roda tembaga dan sebuah roda besi menyambar berbareng ke arah kuda Kwe Ceng dan Yo Ko. Nyata Kim-lun Hoat-ong sudah turun tangan untuk merintangi.
Ketika melihat sambaran kedua roda itu amat keras, Kwe Ceng tak berani menangkapnya dengan tangan, ia menunduk ke bawah, kedua tangannya menekan sekuatnya pada leher kedua kuda mereka. seketika kaki depan kuda-kuda itu bertekuk lutut dan sepasang roda musuh pun menyambar lewat di atas kepala kuda. Roda berputar satu kali di udara, lalu terbang kembali ke tangan Hoat-ong. Karena rintangan itu pula, tahu-tahu Nimo Singh dan In Kik-si menyusul tiba, habis itu Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu juga memburu datang. Mereka berempat segera mengelilingi Kwe Ceng dan Yo Ko.
Sebagai tokoh kelas satu di dunia Kangow, Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain tidak sudi merosotkan derajat mereka dengan cara main kerubut. Akan tetapi lantaran Kanghu Kwe Ceng terlalu lihay, lagi pula setiap orang ingin sekali mendapatkan gelar ‘jago nomor satu Mongol’, dengan sendirinya mereka saling berlomba mendahului. Segera kelihatan sinar senjata gemerlapan yang menyilaukan mata, keempat orang telah menyiapkan senjata masing-masing.
Kini yang dipegang Kim-lun Hoat-ong adalah senjata roda emas, In Kik-si bersenjata Kim-pian (ruyung emas) bertaburkan mutiara dan batu permata. Siau-siang-cu memegang sebatang pentung seperti yang biasanya dibawa anggota keluarga yang kematian orang tua. Ada pun senjata Nimo Singh paling aneh, senjatanya melilit pada lengan dan dapat mulur mengkeret, tampaknya seperti ular hidup.
Kwe Ceng menyadari jika keempat lawan ini tidak dibereskan tentu sukar bagi dirinya untuk lolos. Kedudukan kedua pihak 2 lawan 4, untuk menang jelas sulit, tetapi asalkan bisa merobohkan salah seorang musuh, untuk lolos rasanya tidak susah. Dia coba mengamat-amati gerakan keempat lawan dan cara mereka memegang senjata. Tampaknya di antara keempat lawan itu In Kik-si adalah paling lemah. Secara mendadak Kwe Ceng menghantam sekaligus dengan kedua tangan menuju muka Siau-siang-cu.
Tanpa mengelak Siau-siang-cu malah menegakkan pentungnya untuk menotok telapak tangan Kwe Ceng. Sudah tentu Kwe Ceng tidak berani meremehkan musuh. Dia tahu semakin sepele senjata yang digunakan, semakin tinggi ilmu silatnya. Maka dia tak berani menyambut pentung orang, cepat dia membaliki tangannya ke sana, dengan gerakan ‘Sin-liong-pah-bwe’ (naga sakti menggoyang ekor), dengan tepat senjata ruyung In Kik-si kena dicengkeram. Caranya membaliki tangan untuk merebut senjata musuh sungguh cepat dan gesit luar biasa.
Segera ln Kik-si bermaksud menyendal ruyungnya untuk menggempur musuh, tapi sudah terlambat, ujung ruyung sudah terpegang Kwe Ceng. Namun pengalaman In Kik-si sangat luar biasa, hampir semua ilmu silat dari aliran mana pun diketahuinya, meski pun tidak semuanya dilatihnya dengan baik, tapi kepandaiannya memang banyak ragamnya. Begitu terasa senjatanya terpegang musuh, segera dia ikuti gaya tarikan Kwe Ceng terus menubruk maju, berbareng tangan lain bertambah dengan sebatang belati.
“Bagus!” seru Kwe Ceng, kini kedua tangannya digunakan sekaligus, tangan kanan tetap memegangi ujung ruyung lawan dan tangan kiri berusaha merebut belati. Dalam keadaan tangan kanan merebut senjata kanan dan tangan kiri merebut senjata kiri lawan jadi kedua tangan Kwe Ceng telah berada dalam keadaan bersilang.
Tadinya In Kik-si mengira dengan tikaman belatinya pasti dapat memaksa musuh melepaskan ruyungnya. Siapa tahu bukannya Kwe Ceng menghindar, sebaliknya belati itu pun hendak dirampasnya, jadi bukan saja ruyung tidak dapat dipertahankan bahkan belati juga akan terlepas. Pada saat berbahaya itulah tiba-tiba roda emas Hoat-ong dan pentung Siau-siang-cu menyerang tiba berbareng.
Diam-diam Kwe Ceng kagum terhadap kelihayan lawan karena tidak berhasil membetot lepas ruyung musuh. Tiba-tiba ia menggertak dan mengerahkan tenaga dalam sekuatnya melalui ruyung itu, seketika In Kik-si merasa dadanya bagaikan dipalu, mata berkunang dan darah segar tersembur dari mulutnya. Pada saat itu pula Kwe Ceng langsung melepaskan pegangannya pada ruyung lantas membalikkan tangan melayani serangan roda emas serta pentung.
In Kik-si tahu lukanya tidak ringan. Perlahan dia meninggalkan kalangan pertempuran lalu duduk bersila di tepi untuk menahan muntah lebih lanjut.
Melihat In Kik-si dilukai Kwe Ceng, Hoat-ong dan Siau-siang-cu di samping senang juga merasa keder. Mereka senang karena berkurang seorang saingan yang ikut berebut gelar ‘jago nomor satu Mongol’, tapi melihat betapa lihaynya Kwe Ceng, mereka juga keder dan kuatir kalau mereka pun terjungkal di tangan lawan. Demikianlah ketiga orang sama-sama tidak berani sembarangan bertindak, mereka sama berjaga dengan rapat.
ANTARA DENDAM DAN NURANI
Di samping melayani kedua lawan, diam-diam Kwe Ceng menyelami dua macam senjata aneh yang dipegang Siau-siang-cu dan Nimo Singh. Pentung pendek yang dibawa Siau-siang-cu terbuat dari baja, kecuali keras dan berat sukar diketahui keanehan yang Iain, sedangkan senjata ular milik Nimo Singh itu menyerang dengan jurus yang aneh sekali. Senjata ular berbisa yang kepalanya segitiga. Badan ular dapat melingkar dengan lemas, kepala dan ekor tampak runcing dan sangat tajam, yang lihay adalah sukar diduga bila mana badan ular itu akan melingkar dan ke arah mana kepala atau ekor ular itu akan menyerang. Tetapi di tangan Nimo Singh senjata ular itu dapat beterbangan naik turun dan berputar-putar dengan aneka macam perubahan yang hebat.
Dahulu Kwe Ceng pernah bertempur melawan tongkat ular Auyang Hong. Ular aneh yang melilit pada tongkatnya itu adalah ular tulen dan berbisa luar biasa. Tapi senjata ular-ularan Nimo Singh sekarang meski juga aneh, namun hanya bentuknya saja seperti ular tetapi sebenarnya benda mati, jadi betapa pun pasti ada titik kelemahannya. Sebab itulah Kwe Ceng lebih jeri terhadap serangan roda Kim-lun Hoat-ong dari pada Nimo Singh.
Setelah pertarungan berlangsung belasan gebrakan, sekonyong-konyong terdengar suara raungan orang, kelihatan seorang tinggi besar menerjang, siapa lagi dia kalau bukan Be Kong-co. Senjata Be Kong-co adalah sebatang toya yang panjang lagi besar. Tanpa bicara dia mengemplang kepala Kwe Ceng dari belakang Nimo Singh. Padahal waktu itu empat tokoh sedang bertempur dengan sengitnya dan sama-sama berjaga dengan sangat rapat, hakikatnya tiada peluang sedikit pun bagi orang lain. Tenaga pukulan dan sambaran senjata sudah berbentuk menjadi satu jaringan kekuatan yang maha dahsyat.
Maka kemplangan toya Be Kong-co kontan terbentur jaringan tenaga yang dibentuk empat orang yang sedang saling gempur itu. Meski pun tanpa mengeluarkan suara, toya itu terpental balik, jika saja Be Kong-co tidak memiliki tenaga sakti, tentu toya itu sudah mencelat terlepas dari tangannya atau bisa jadi toya itu malah mengemplang kepalanya sendiri hingga pecah berantakan. Tapi begitu merasa gelagat jelek, Be Kong-co berteriak keras sambil mengerahkan kekuatannya untuk menahan toyanya sehingga tidak sampai merugikan diri sendiri, walau pun begitu tangannya tetap saja terasa kesemutan dan lecet berdarah.
“Aneh, aneh!” ia berseru dan mengerahkan tenaga, sekuatnya ia mengemplang lagi. Ia mengemplang Kwe Ceng dengan berdiri di belakang Nimo Singh, ada pun yang berdiri di depannya adalah Kim-lun Hoat-ong.
Kim-lun Hoat-ong menduga kemplangan Be Kong-co pasti akan menimbulkan kekuatan lebih besar, tapi ia cuma menyeringai saja dan tidak mencegahnya.
Yo Ko juga menyaksikan keadaan itu. Dia tahu kepandaian Be Kong-co terlalu jauh kalau dibandingkan keempat tokoh itu, bila ikut bertempur akan membuat susah dirinya sendiri. Dia suka kepada orang dogol yang berhati polos ini, pula sudah beberapa kali Be Kong-co membelanya, maka ia tidak tega menyaksikan si dogoI dicelakai. Segera ia membentak:
“Be Kong-co awas seranganku!”
Berbareng pedangnya menusuk ke punggung orang dogol itu. Be Kong-co melengak bingung, katanya:
“Adik Yo, mengapa kau menyerang padaku?”
“Orang goblok, lekas enyah dari sini!” damperat Yo Ko sambil melancarkan beberapa kali tusukan sehingga Be Kong-co kelabakan berusaha mengelak dan terpaksa melompat mundur sehingga cukup jauh dari kalangan pertempuran Kwe Ceng berempat.
Setelah mendesak mundur beberapa langkah lagi, kemudian Yo Ko membisiki Be Kong-co dengan suara tertahan:
“Be-toako, jiwamu sudah kuselamatkan, kau tahu tidak?”
“Apa katamu?” tanya Be Kong-co dengan bingung.
“Ssst, jangan keras-keras, nanti didengar mereka,” desis Yo Ko.
“Ada apakah?” kembali Be Kong-co menegas dengan mata terbelaIak. “Apa yang mesti aku takuti terhadap Hwesio gede piaraan biang anjing itu?” Suaranya tetap keras, baginya adalah bicara biasa, namun bagi orang lain sudah serupa orang berteriak.
“Baiklah, kalau begitu kau jangan bicara lagi, turut saja perkataanku,” kata Yo Ko.
Penurut juga Be Kong-co, ia mengangguk dan tidak bersuara pula. Yo Ko lantas berkata padanya:
“Kwe Ceng bisa ilmu sihir, begitu dia membaca mantera segera kepala lawan dapat dipenggalnya. Maka lebih baik kau berdiri sejauhnya dari dia.”
Mata Be Kong-co terbelalak lebar, setengah percaya setengah tidak. Karena ingin menolong jiwa si dogol, Yo-Ko tahu jalan paling baik adalah mengibulinya. Kalau dikatakan ilmu silat Kwe Ceng sangat hebat tentu dia tidak mau menyerah kalah, tapi kalau bilang Kwe Ceng mahir ilmu sihir, besar kemungkinan si dogol mau percaya. Karena itu, untuk lebih meyakinkan kepercayaan Be Kong-co, Yo-Ko berkata pula:
“Tadi kau mengemplang dengan toyamu, tidak membentur apa-apa tapi terpental balik. Aneh, bukan? Ilmu silat saudagar Persi itu sangat tinggi, mengapa sekali gebrak juga dilukainya?”
Be Kong-co mau percaya ucapan Yo Ko ini. Dia manggut-manggut, lalu memandang Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain-lain dengan agak ragu. Yo Ko tahu apa yang sedang dipikirkan Be-Kong-co, segera ia menambahi.
“Hwesio gede itu punya jimat dan dia sudah memberi jimat kepada mayat hidup serta setan cebol itu. Mereka membawa jimat, dengan sendirinya tidak gentar terhadap ilmu sihir lawannya. Apa Hwesio gede itu tidak memberi jimatnya padamu?”
Dengan gemas Be Kong-co menjawab: “Tidak!”
“Ya, bangsat gundul itu memang tidak dapat diajak bersahabat. Dia juga tidak memberi jimatnya padaku, biarlah nanti kita bikin perhitungan dengan dia,” kata Yo Ko.
“Benar!” seru Be Kong-co, “Lantas bagaimana sekarang?”
“Kita menonton saja, makin jauh makin baik,” ujar Yo Ko.
“Kau memang orang baik, adik Yo,” kata Be Kong-co. “Syukur kau mau memberi tahu padaku.”
Segera dia seret toyanya dan mundur lebih jauh untuk mengikuti pertarungan Kwe Ceng berempat itu.
Sementara itu Kwe Ceng sedang mengeluarkan ilmu silat yang terkenal, ‘Hang-liong-cap-pek-ciang’ (delapan belas jurus penakluk naga), biar pun ilmu silat Hoat-ong bertiga tinggi juga, tapi biasanya mereka tinggal terpencil di daerah yang jarang orang luar, pengalaman dan pengetahuan mereka terbatas, dibandingkan dengan In Kik-si jelas pengetahuan mereka boleh dikatakan teramat dangkal. Melihat ilmu pukulan yang amat dahsyat itu, mereka bertiga sama sekali tidak kenal asal-usulnya. Mereka hanya mengepung Kwe Ceng di tengah, mereka berpikir asalkan mereka mengepung sekuatnya, tentu lawan takkan bisa tahan lama mengerahkan tenaga pukulan sehebat itu.



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar