ads

Jumat, 27 Agustus 2021

Sin Tiauw Hiap Lu 20

Terpikir demikian, seketika semangatnya bangkit. Segera pula Lik-oh mengumpulkan buah kurma lalu dibagikan kepada sang ibu dan Yo Ko untuk dimakan bersama. Dalam goa bawah tanah itu Lik-oh bertindak secara tertib sebagai anak yang meladeni sang ibu sebagaimana layaknya seorang nyonya rumah. Kiu Jian-jio sudah mengalami musibah yang mengenaskan, sudah beberapa tahun rasa dendam dan benci terkumpul dalam hatinya, jangankan dasar wataknya amat keras, sekali pun perempuan yang lemah lembut juga akan berubah menjadi eksentrik apa bila mengalami nasib seperti dia.

Namun apa pun juga kasih sayang antara ibu dan anak adalah pembawaan alamiah, apa lagi dilihatnya anak perempuan yang dirindukannya selama ini ternyata begini cantik dan lemah lembut, maka kelembutan kasih sayang seorang ibu akhirnya mengatasi segenap perasaannya, dengan suara halus Kiu Jian-jio bertanya:

“Hal busuk apa saja yang dikatakan Kongsun Ci atas diriku?”

“Selamanya ayah tidak pernah menyinggung tentang ibu,” tutur Lik-oh. “Waktu masih kecil pernah kutanya beliau apakah wajahku mirip ibu dan kutanyakan pula penyakit apa yang menyebabkan kematian ibu. Tapi ayah marah, aku didamperat habis-habisan dan seterusnya aku dilarang menyebut ibu lagi. Beberapa tahun kemudian aku coba bertanya lagi, tetapi kembali ayah marah dan mendamprat.”

“Oh, bagaimana pikiranmu sendiri?” tanya Kiu Jian-jio.

Air mata Lik-oh berlinang, katanya: “Senantiasa anak berpikir ibu tentu sangat baik dan cantik, tentu ayah dan ibu saling cinta mencintai, karena itu ayah suka berduka apa bila ada orang lain menyinggung meninggalnya ibu, dan sebab itulah seterusnya aku tidak berani bertanya lagi.”

“Hm, sekarang kau pasti kecewa sekali, bukan?” jengek Kiu Jian-jio. “Ibumu ternyata tidak cantik dan juga tidak ramah, melainkan seorang nenek bermuka jelek, galak lagi ganas. Tahu begitu, kukira kau lebih suka tidak bertemu dengan aku.”

Lik-oh merangkul leher sang ibu sambil berkata dengan suara lembut “Oh ibu, betapa pun anak tidak pernah berpikir begitu.” Lalu ia berpaling dan berkata kepada Yo Ko: “Yo-toako, ibuku sangat cantik, bukan? Dia sangat baik padaku dan juga sangat baik padamu, betul tidak?”

Pertanyaan si nona diucapkan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan hati, dalam batinnya ternyata menganggap sang ibu adalah perempuan yang paling sempurna di dunia ini.

Yo Ko pikir waktu mudanya mungkin si nenek memang cantik, tapi sekarang apanya yang dapat dikatakan cantik? Mungkin dia baik kepada Lik-oh, tapi baik tidak terhadapku masih harus diuji dahulu. Namun dia tidak ingin membikin kikuk si nona, terpaksa dia menjawab:

“Memang betul ucapanmu.”

Tetapi ucapan Yo Ko tidak setulus ucapan Lik-oh tadi, hal ini dapat dibedakan oleh Kiu Jian-jio. Dia bersyukur karena dirinya masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan puterinya, maka seluruh sebab musabab penderitaannya haruslah diceritakan kepadanya dengan jelas.

Begitulah Kiu Jian-jio lantas bertutur. “Anak Lik, tadi kau bertanya mengapa aku terkurung di sini dan sebab apa Kongsun Ci mengatakan aku sudah mati. Nah, duduklah yang baik, biar kuceritakan kisahnya padamu. Leluhur Kongsun Ci adalah pembesar di jaman dinasti Tong. Karena kekacauan negara pada waktu itu, maka keluarga Kongsun lalu berpindah ke lembah pegunungan sunyi ini. Leluhurnya adalah pembesar militer, maka ia pun belajar ilmu silat keluarga sendiri, bahkan lebih tinggi dari pada leluhurnya, tapi ilmu silatnya yang benar-benar lihay itu justru akulah yang mengajarkan dia.”

Berbareng Yo Ko dan Lik-oh berseru heran. Sungguh hal itu sama sekali di luar dugaan mereka.

Dengan bangga Kiu Jian-jio menyambung. “Kalian masih kecil, dengan sendirinya tak paham seluk-beluknya. Hm, di dunia persilatan siapa yang tak kenal dengan Thi-cio-pang (perserikatan telapak besi)? Nah, Pangcu dari organisasi besar itu, Thi-cio-cui-siang-biau (si telapak besi melayang di atas air) Kiu Jian-yim adalah kakak kandungku. Coba Yo Ko, ceritakan sekadarnya tentang Thi-cio-pang kepada anak Lik biar dia tahu.”

Yo Ko melengak lantas menjawab: “Oh, Wanpwe kurang pengalaman dan pengetahuan, entah apakah Thi-cio-pang yang dimaksud itu?”

“Kurang ajar, kau berani berbohong?” damperat Kiu Jian-jio. “Nama Thi-cio-pang terkenal di mana-mana, sama tersohornya seperti Kay-pang, masa kau tidak tahu?”

“Kalau Kay-pang Wanpwe memang pernah dengar,” jawab Yo Ko, “tetapi Thi-cio-pang, wah...”

Kiu Jian-jio tambah marah, kembali dia memaki: “He-he, percuma kau belajar silat segala, masa Thi-cio-pang saja tidak tahu, sungguh...”

Melihat sang ibu marah-marah, cepat Lik-oh menyela: “Ibu, Yo-toako masih muda, sejak kecil dia tinggal di pegunungan yang terpencil, maka tidaklah heran jika seluk-beluk dunia persilatan kurang diketahuinya.”

Tapi Kiu Jian-jio tidak menggubrisnya dan masih terus mengomel. Pada masa lampau, 20-an tahun yang lalu Thi-cio-pang memang sangat terkenal di dunia Kangouw, namun kemudian pimpinannya, yaitu Thi-cio-ciu-siang-biau Kiu Jian-yim, sudah berguru kepada It-teng Taysu dan memeluk agama Budha, maka anak buah Thi-cio-pang lantas kocar-kacir dan bubar.

Tatkala itu Yo Ko baru lahir, dengan sendirinya belum tahu apa-apa, padahal bertemunya ayah-ibu kandungnya besar sangkut-pautnya dengan Thi-cio-pang itu. Kini ia ditanya oleh Kiu Jian-jio, dia melongo tak dapat menjawab. Kiu Jian-jio sendiri sudah menyepi selama 30-an tahun di Cui-sian-kok, segala kejadian di dunia Kangouw hampir tidak diketahuinya lagi, dia mengira Thi-cio-pang yang bersejarah ratusan tahun sekarang tentu bertambah jaya, maka tidaklah heran dia berjingkrak marah-marah ketika Yo Ko menjawab tidak tahu ‘Thi-cio-pang’.

Biasanya Yo Ko tidak tahan dibikin sirik orang lain. Jika sudah gusar, sekali pun gurunya seperti Thio Ci-keng juga dilabraknya habis-habisan. Dan kini Kiu Jian-jio mendampratnya tanpa alasan, semula dia masih tahan, tetapi lama-lama dia menjadi gregetan juga, segera dia bermaksud balas memaki nenek itu. Tapi baru saja dia hendak membuka mulut, dilihatnya Lik-oh tengah memandangnya dengan sorot mata yang lembut penuh rasa menyesal atas sikap ibunya.

Mau tak-mau hati Yo Ko menjadi lunak kembali, terpaksa dia hanya angkat bahu sebagai tanda apa boleh buat saja. Ia pikir semakin keji ibumu memaki aku, semakin baik pula kau terhadapku. Omelan si nenek kuanggap angin lalu saja, hati si cantik harus dihormati. Ia menjadi lapang dada setelah mengambil keputusan itu, tiba-tiba otaknya menjadi tajam dan berpikir: “Ilmu silat nona Wanyen Peng tempo hari sungguh mirip dengan Kongsun Ci, jangan-jangan mereka sama-sama orang Thi-cio-pang?”

Ia mencoba merenungkan kembali ilmu silat yang pernah dimainkan Wanyen Peng dahulu ketika mendesak Yalu Ce, dan rasanya ia masih ingat sebagian. Segera ia berseru:

“Aha, ingatlah aku!”

Kiu Jian-jio terkejut oleh teriakan Yo Ko, damperatnya keras: “Kau menjerit apa?!”

“Tentang Thi-cio-pang aku menjadi ingat kepada seorang tokoh aneh,” tutur Yo Ko. “Kira-kira tiga tahun yang lalu, kulihat tokoh itu bergebrak melawan belasan orang, sendirian dia hajar orang-orang itu, akhirnya sembilan di antaranya luka parah dan sembilan orang lagi dibinasakan olehnya. Konon tokoh Bu-lim yang hebat itu adalah orang Thi-cio-pang.”

“Bagaimana macamnya orang itu?” tanya Kiu Jian-jio cepat.

Padahal Yo Ko hanya membual belaka, tetapi sudah telanjur omong, lagi pula tidak bakal ada saksi, segera ia meneruskan dongengnya:

“Orang itu berkepala botak, usianya antara 60-an, wajahnya merah, perawakannya tinggi besar, memakai jubah hijau dan mengaku she Kiu.”

“Omong kosong!” mendadak Kiu Jian-jio membentak, “Kedua kakakku sama sekali tidak botak, perawakannya juga tidak tinggi, selamanya tidak pernah memakai baju hijau. Hmm, kau melihat aku botak, maka kau sangka kakakku juga botak, begitu bukan?”

Diam-diam Yo Ko mengeluh karena dongengnya bisa terbongkar, tetapi air mukanya tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa.

“Ahh, sabar dulu, Locianpwe, dengarkan lebih lanjut ceritaku ini. Kan Wanpwe tidak bilang orang itu adalah kakakmu, memang setiap orang she Kiu di dunia ini mesti kakakmu?”

Kiu Jian-jio malah menjadi bungkam oleh debatan anak muda itu, terpaksa dia bertanya:

“Jika begitu, coba katakan bagaimana ilmu silatnya?”

Yo Ko berdiri lantas memainkan beberapa jurus silat yang pernah dilihatnya dari Wanyen Peng, akhirnya permainannya semakin lancar dan menimbulkan sambaran angin yang keras, gayanya ilmu tiruan dari Wanyen Peng, tapi tenaganya adalah milik Yo Ko dan jauh lebih kuat, bagian kelemahan Wanyen Peng dapat dicukupi oleh kepandaian Yo Ko yang sekarang memang sudah tinggi, maka permainannya menjadi sangat rapi.

Keruan Kiu Jian-jio sangat senang, ia berseru: “Anak Lik, lihatlah, memang inilah ilmu silat Thi-cio-pang kita, ikutilah yang cermat!”

Diam-diam Yo Ko merasa geli. Dia pikir kalau bermain lebih lama lagi bisa jadi rahasianya akan terbongkar, maka ia lantas berhenti dan berkata:

“sampai di sini tokoh aneh itu menang total dan selesailah pertarungan dahsyat yang kusaksikan itu.”

“BoIeh juga kau dapat mengingatnya sedemikian jelas,” kata Kiu Jian-jio dengan gembira. “Ehh, siapakah nama tokoh itu, apakah dia menerangkan padamu?”

“Tokoh aneh itu lucu juga kelakuannya, sesudah menang beliau terus pergi begitu saja,” sahut Yo-Ko. “Hanya dari korbannya yang terluka dan menggeletak itu kudengar saling menggerundel dan saling menyalahkan, katanya seharusnya mereka jangan mengganggu Kiu-loyacu dari Thi-cio-pang, sebab hal itu berarti mereka mencari mampus sendiri.”

“Ya, kukira orang she Kiu itu besar kemungkinan adalah anak murid kakakku,” sahut Kiu Jian-jio dengan girang.

Dasar dia memang keranjingan ilmu silat, tetapi selama berpuluh tahun dia tak dapat bergerak, sekarang menyaksikan Yo Ko memainkan ilmu silat keluarganya, tentu saja dia amat senang, maka dengan bersemangat dia membicarakan ilmu telapak tangan besi andalan Thi-cio-pang dengan Yo Ko dan Lik-oh.

AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA

Yo Ko sendiri amat gelisah dan ingin cepat meninggalkan goa agar dapat mengantarkan Coat-ceng-tan kepada Siao-liong-li, maka dia tak sabar mengikuti ocehan nenek botak itu. Segera dia memberi isyarat kepada Lik-oh.

Si nona paham maksudnya, segera ia berkata: “lbu, cara bagaimana engkau mengajarkan ilmu silat kepada ayah?”

“Panggil dia Kongsun Ci, tak perlu menyebutnya ayah segala!” bentak Kiu Jian-jio dengan marah.

“Baiklah, harap ibu suka menerangkan,” sahut Lik-oh.

“Hm,” Kiu Jian-jio mendengus dengan penuh dendam, selang sejenak kemudian baru dia menyambung: “itu kejadian lebih 20 tahun yang lalu. Karena kedua kakakku berselisih paham...”

“Wah, jadi aku mempunyai dua paman?” sela Lik-oh.

“Memang kau tidak tahu?” Kiu Jian-jio menegas dengan suara bengis yang se-akan menyalahkan sinona.

“Dari mana aku tahu?” demikian dia membatin dalam hati. Segera dia pun menjawab: “Ya, sebab selama ini tak pernah ada orang yang memberi-tahukan padaku.”

Teringat bahwa sejak kecil Lik-oh tidak mendapat kasih sayang ibu, betapa pun Kiu Jian-jio menjadi terharu. Segera suaranya berubah halus, katanya:

“Kedua pamanmu adalah saudara kembar, Toaku (paman pertama) bernama Jian-li dan Jiku (paman kedua) bernama Jian-yim. Karena kembar maka wajah mereka dan pakaiannya juga serupa bagai pinang dibelah dua, namun wataknya sangat berbeda. Ilmu silat Jiku-mu amat tinggi, sedangkan kepandaian Toaku hanya biasa saja. Kepandaianku adalah ajaran langsung dari Jiko (kakak kedua), namun Toako (kakak pertama) lebih rapat dengan aku, soalnya Jiko menjabat sebagai pangcu Thi-cio-pang, wataknya keras, pekerjaannya sibuk dan giat berlatih ilmu silat sehingga jarang bertemu muka dengan aku, sebaliknya Toako suka berkumpul dengan aku, setiap hari selalu memanggil ‘adik sayang’ padaku. Tetapi kemudian antara Toako dan Jiko terjadi selisih paham dan ribut mulut, dengan sendirinya aku rada condong pada pihak Toako.”

“Sebab apa kedua paman berselisih paham?” tanya Lik-oh.

Tiba-tiba wajah Kiu Jian-jio menampilkan senyuman, katanya: “Persoalannya tidak dapat dikatakan penting, tapi juga tidak boleh dianggap remeh. Jiko sendiri juga teramat kukuh pada pendiriannya. Maklumlah, nama Thi-cio-ciu-siang-biau Kiu Jian-yim sudah terkenal sekali di dunia Kangouw, sedangkan nama Kiu Jian-li jarang yang tahu.

Sebab itulah bila mana Toako mengembara, terkadang dia suka menggunakan nama Jiko. Wajah keduanya memang mirip, sebenarnya tidak apa-apa jika meminjam nama saudaranya sendiri. Tapi Jiko sering mengomel mengenai hal itu dan menganggap Toako suka berdusta dan menipu orang sehingga merugikan nama baiknya. Sifat Toako memang sangat sabar dan periang, kalau Jiko marah-marah dan ngomel, selalu Toako tertawa dan minta maaf.

Suatu kali Jiko mendamperat Toako secara keterlaluan. Aku tidak tahan lalu menimbrung membela Toako, dan akibatnya aku sendiri bertengkar dengan Jiko. Dalam marahku aku meninggalkan Thi-cio-san dan selanjutnya tak pernah pulang lagi ke sana. Seorang diri aku ter-lunta di dunia Kangouw. Suatu kali aku mengudak seorang penjahat sehingga sampailah di Cui-sian-kok ini. Mungkin sudah suratan nasib, di sini aku bertemu dengan Kongsun Ci dan akhirnya kami menikah.

Usiaku lebih tua beberapa tahun dari dia, ilmu silatku juga lebih tinggi, maka sehabis menjadi suami-isteri kuanggap ia seperti adikku saja dan kuajarkan seluruh kepandaianku kepadanya, bahkan kuladeni dan mencukupi segala kehendaknya sebagai seorang isteri yang baik. Tapi siapa duga kalau bangsat Kongsun Ci itu ternyata manusia berhati binatang, air susu dibalas air tuba. Sesudah dia menjadi kuat, dia lupa ilmu silatnya berasal dari siapa...”

Sampai di sini ia menghamburkan caci maki kepada Kongsun Ci dengan istilah-istilah kasar dan kotor, semakin memaki semakin menjadi-jadi. Muka Lik-oh menjadi merah, ia merasa caci maki sang ibu itu agak kurang patut didengar oleh Yo Ko, maka cepat ia memanggil,

“Ibu...!”

Namun hamburan kata-kasar Kiu Jian-jio itu sukar dicegah. Yo Ko sendiri juga sangat benci terhadap Kongsun Ci, maka caci maki Kiu Jian-jio terasa amat mencocoki seleranya, malah terkadang dia sengaja membumbui untuk menambah semangat Kiu Jian-jio. Kalau saja dia tidak rikuh di hadapan Lik-oh, bisa jadi dia pun ikut mencaci maki.

BegituIah Kiu Jian-jio terus mencaci maki dengan istilah yang paling kasar dan aneh sehingga hampir kehabisan bahan makian barulah dia berhenti, katanya:

“Pada tahun aku mengandung, wanita yang sedang hamil dengan sendirinya bersifat agak aseran. Tak terduga pada lahirnya saja Kongsun Ci sangat penurut padaku, tetapi diam-diam main gila dengan seorang pelayan muda. MuIa-mula aku tidak tahu hubungan gelap mereka, kukira sesudah memperoleh seorang puteri yang menyenangkan dia jadi tambah sayang padaku. Dua tahun kemudian, waktu kau mulai dapat bicara, tanpa sengaja kudengar bangsat Kongsun Ci sedang berembuk dengan pelayan hina itu hendak meninggalkan Cui-sian-kok dan meninggalkan anak isterinya.

Aku bersembunyi di balik sebatang pohon besar dan mendengar Kongsun Ci mengatakan merasa jeri pada kelihayan ilmu silatku, maka ingin minggat sejauhnya untuk menghindari pencarianku. Katanya aku telah mengawasi dia dengan ketat tanpa kebebasan sedikit pun dan dia merasa bahagia kalau berada bersama budak hina itu. Tadinya kukira Kongsun Ci mencintai aku dengan segenap jiwa raganya, keruan hampir saja aku jatuh semaput saat mendengar ucapannya itu, sungguh aku ingin sekali menerjang maju dan membinasakan sepasang anjing laki perempuan yang tidak tahu malu itu.

Namun kemudian aku dapat bersabar mengingat hubungan baik suami isteri sekian lama. Kupikir Kongsun Ci adalah orang baik, tentu dia tergoda oleh mulut manis budak hina itu sehingga lupa daratan. Maka dengan menahan rasa murka aku tetap mendengarkan pembicaraan mereka. Aku mendengar mereka mengambil keputusan akan minggat bersama tiga hari lagi pada saat aku mengasingkan diri di kamar untuk berlatih ilmu. Memang biasanya selama tujuh hari tujuh malam aku mengurung diri dalam kamar dan tak pernah keluar, pada kesempatan itulah mereka akan kabur dan bila kemudian kuketahui toh mereka sudah minggat selama tujuh hari, tentu aku tak dapat mencari atau menyusul mereka.

Aku benar-benar mengkirik mendengar keputusan mereka. Aku bersyukur pada Tuhan yang maha pengasih yang sudah memberi kesempatan padaku untuk mengetahui rencana busuk mereka, sebab kalau tidak demikian, setelah lewat tujuh hari, ke mana lagi aku harus mencari mereka?” Berkata sampai di sini Kiu Jian-jio lantas mengertak gigi dengan penuh rasa gemas dan dendam.

“Siapakah nama pelayan muda itu? Apakah dia sangat cantik?” tanya Lik-oh.

“Huh, cantik apa? Dia cuma penurut saja, apa saja yang dikatakan Kongsun Ci dia hanya menurut belaka, entah dia mempunyai ilmu apa sehingga bangsat Kongsun Ci itu sampai tergoda olehnya. Hm, budak hina itu bernama Yu-ji.”

Sekarang diam-diam Yo Ko menaruh kasihan kepada Kongsun Ci. Ia pikir bukan mustahil Kiu Jian-jio sendiri yang terlalu bawel dan main kuasa sehingga menimbulkan rasa benci suaminya sendiri.

Dalam pada itu Lik-oh bertanya. “Kemudian bagaimana, Bu?”

“Ya, dua manusia rendah itu berjanji lohor besoknya akan bertemu lagi di situ, cuma selama dua hari keduanya harus bersikap wajar seperti tidak terjadi apa-apa agar rahasia mereka tidak terbongkar olehku,” tutur Kiu Jian-jio.

“Sesudah itu kedua manusia rendah itu berasyik masyuk dengan kata-kata mesra yang membikin aku hampir saja kelengar saking marahnya. Pada esok hari ketiga aku pura-pura bersemedi di dalam kamar latihan, aku tahu Kongsun Ci beberapa kali mengintip di luar jendela dan dapat kuduga dia pasti sangat gembira sebab mengira rencana mereka akan berhasil. Tapi begitu dia pergi, segera aku mendahului menuju ke tempat pertemuan mereka yang sudah ditentukan. Benar saja Yu-ji sudah menunggu di situ. Tanpa bicara aku segera menyeret dia dan kulemparkan ke semak-semak bunga cinta.”

Yo Ko dan Lik-oh berseru kaget demi mendengar Yu-ji juga terkena racun duri bunga cinta.

Kui Jian-jio memelototi kedua orang sekejap, lalu menyambung ceritanya: “Selang tak lama Kongsun Ci juga menyusul. Ketika melihat kekasihnya menjerit sambil berkelojotan di tengah semak-semak bunga, tentu saja dia juga kelabakan. Segera aku meloncat keluar dari balik pohon kucengkeram urat nadi pergelangan tangannya dan membanting dia ke semak-semak bunga cinta pula. Sebenarnya keluarga Kongsun memiliki obat penawar racun bunga cinta, namanya Coat-ceng-tan, maka cepat Kongsun Ci merangkak bangun dan memayang budak hina itu sembari berlari ke kamar obat, maksudnya hendak mengambil Coat-ceng-tan. Tapi, ha-ha-ha, coba terka, apa yang dilihatnya di sana?”

“Aku tidak tahu,” sahut Lik-oh menggeleng. “Apa yang dilihatnya?”

Yo Ko sendiri membatin, tentu Coat-ceng-tan itu sudah dimusnahkan. Benar saja segera terdengar Kiu Jian-jio menutur lagi:

“Ha-ha-ha, di sana dia melihat di atas meja ada sebuah mangkok besar berisi air warangan, beberapa ratus pil Coat-ceng-tan terendam dalam air tuba itu. Kalau minum Coat-ceng-tan tentu juga akan kena racun Warangan, jika tidak minum pil itu akhirnya mati juga. Sebenarnya tak sulit bagi Kongsun Ci untuk meracik lagi Coat-ceng-tan, sebab obat itu berasal dari resep warisan leluhurnya, namun bahan obatnya seketika sukar dikumpulkan, untuk meraciknya memerlukan waktu ber-bulan-bulan.

Karena putus asa segera dia berlari ke kamarku dan berlutut di hadapanku, dia minta aku mengampuni jiwa mereka berdua. Rupanya dia yakin aku pasti tidak tega memusnahkan semua Coat-ceng-tan mengingat hubungan suami-isteri selama ini, dan tentu akan menyisakan beberapa biji obat.

Begitulah berulang-ulang ia menampar pipinya sendiri sambil mengutuki perbuatannya. Ia bersumpah, katanya bila aku mangampuni jiwa keduanya, segera dia akan mengusir Yu-ji dan selamanya tidak akan bertemu serta selanjutnya tidak berani timbul pikiran tidak senonoh lagi. Waktu minta ampun padaku ia masih menyebut nama Yu-ji, tentu saja aku sangat marah. Segera kukeluarkan satu biji Coat-ceng-tan yang kutaruh di atas meja kemudian berkata kepadanya: ‘Coat-ceng-tan hanya tersisa satu biji ini dan cuma dapat menyelamatkan jiwa seorang saja. Nah, kau boleh pilih sendiri, menolong jiwamu atau jiwanya, terserah padamu!’

Dia melenggong sejenak, lalu mengambil obat itu dan berlari kembali ke kamar obat. Aku segera menyusul ke sana, sementara budak hina itu sedang kelojotan saking kesakitan. Aku mendengar Kongsun Ci berkata: ‘Yu-ji, mangkatlah kau dengan baik, biar aku mati bersamamu!’ Habis itu dia lantas melolos pedang.

Melihat Kongsun Ci begitu setia padanya, Yu-ji tampak amat berterima kasih dan dia pun menjawab dengan setengah merintih: ‘Baiklah, marilah kita menjadi suami isteri di akhirat saja.’

Segera Kongsun Ci menusukkan pedangnya ke dada Yu-ji dan matilah dia. Diam-diam aku terkejut menyaksikan itu dari luar jendela, aku kuatir dia akan menggorok lehernya sendiri. Sementara itu kulihat dia sudah mengangkat pedangnya, baru saja aku hendak mencegah dia, mendadak pedangnya digosok-gosokkannya pada mayat Yu-ji untuk menghilangkan noda darah, kemudian pedang dimasukkan kembali ke sarungnya dan ia berpaling ke arah jendela sambil berkata: ‘Niocu (isteriku), aku sudah insaf dengan setulus hati, budak hina ini telah kubunuh, sekarang hendaklah kau mengampuni diriku.’ Habis berkata dia terus minum sendiri Coat-ceng-tan.

Tindakannya sungguh di luar dugaanku. Meski aku merasa perbuatannya itu rada kelewat kejam dan keji, tapi urusan dapat diselesaikan, betapa pun aku merasa puas. Malamnya ia mengadakan perjamuan di kamar dan berulang-ulang ia menyuguhkan arak untukku sebagai tanda permintaan maaf. Aku sudah mendamperat dia secara pedas, dia juga mengaku salah dan bersumpah macam-macam, ia berjanji selanjutnya tak akan berani berbuat lagi.”

Sampai di sini, air mata Lik-oh tampak berlinang-linang.

“Memangnya kenapa? Apa kau kasihan kepada budak hina itu?” tanya Kiu Jian-jio dengan marah.

Lik-oh menggeleng dan tidak menjawab, yang dia sedihkan sebenarnya adalah kekejian hati ayahnya.

Lalu Kiu Jian-jio menyambung: “Setelah minum dua cawan arak, dengan tersenyum kukeluarkan satu biji Coat-ceng-tan, kutaruh di atas meja sambil berkata kepadanya: ‘Caramu membunuh dia tadi terburu napsu, sebenarnya aku hanya ingin menguji pikiranmu, asalkan kau memohon lagi dengan setulus hati, waktu itu tentu akan kuberikan kedua biji obat sekaligus untuk menyelamatkan jiwa si cantik itu.’

“lbu,” cepat Lik-oh bertanya, “jika dia benar-benar memohon begitu padamu, apakah betul kau akan memberikan kedua biji obat itu padanya?”

Kiu Jian-jio termenung sejenak, lalu menjawab: “Entahlah, aku sendiri pun tak tahu. Pada waktu itu pernah juga timbul pikiran untuk menyelamatkan nyawa budak hina itu, dengan demikian kupikir Kongsun Ci akan berterima kasih, lalu perasaannya padaku akan tergugah. Akan tetapi demi menyelamatkan jiwanya sendiri ia buru-buru menghabisi kekasihnya, tentunya aku tak dapat disalahkan.”

“BegituIah dia termenung memegangi Coat-ceng-tan kedua, kemudian dia mengangkat cawan dan berkata padaku dengan tertawa: ‘Jio-cici, urusan yang telah selesai, buat apa dibicarakan lagi, Marilah kita menghabiskan secawan ini.’ Ia terus membujuk aku minum, aku pun tidak menolak karena merasa suatu ganjalan hati telah kubereskan. Tanpa terasa aku telah mabok hingga tak sadarkan diri. Waktu aku siuman, ternyata aku telah berada di goa ini, urat kaki tanganku putus, tetapi bangsat keparat Kongsun Ci itu pun tidak berani lagi bertemu dengan aku. Hmm, tentu dia menyangka aku sudah menjadi tulang belulang di sini.”

Habis menuturkan kisahnya itu, sorot mata Kiui Jian-jio menjadi beringas, sikapnya sangat menakutkan.

“lbu, selama belasan tahun engkau hidup di goa ini, apakah berkat buah korma ini maka engkau bisa bertahan sampai sekarang?” tanya Lik-oh.

“Ya, memang kau kira Kongsun Ci mau mengirimkan nasi untukku setiap hari?” kata Kiu Jian-jio.

Tidak kepalang pedih dan haru hati Lik-oh, dia memeluk sang ibu dan berseru: “O, lbu...!”

“Apakah Kongsun Ci itu dahulu pernah bicara kepadamu mengenai goa di dalam tanah ini serta jalan keluarnya?” tanya Yo Ko.

“Hm, sekian lama kami menjadi suami-isteri, belum pernah dia mengatakan di bawah perkampungan ini ada sebuah goa sebesar ini, lebih-lebih tidak diketahui bila di kolam sana banyak buayanya,” jawab Kiu Jian-jio, “Tentang jalan keluar goa ini kukira ada, cuma aku orang cacat, apa dayaku.”

Girang sekali Yo Ko, cepat dia berseru: “Dengan tenaga kita bertiga tentu bisa.”

Segera Lik-oh menggendong sang ibu, atas petunjuk nenek itu mereka segera menyusur ke ujung goa sebelah sana. Setiba di samping sebatang pohon kurma raksasa, Kiu Jian-jio menuding lubang goa bagian atas dan mengejek:

“Nah, kalau kau mampu boleh coba kau melompat keluar dari situ!”

Waktu Yo Ko menengadah, terlihat lubang goa itu sedikitnya ada ratusan meter tingginya, andaikan dapat memanjat sampai pucuk pohon juga tak berguna. Diam-diam Yo Ko mendongkol melihat sikap Kiu Jian-jio yang demikian sinis, sikap yang mencemoohkan. Ia pikir kalau aku tidak mampu keluar toh kau juga takkan bisa keluar, kenapa mesti menyindir? Ia coba berpikir sejenak, ia merasa memang serba susah dan tidak berdaya, akhirnya ia berkata:

“Coba kupanjat ke atas pohon, sekiranya dapat kulihat sesuatu di sana.”

Cepat ia melompat ke atas pohon kurma besar itu lalu memanjat ke pucuknya. Dilihat dinding goa itu berlekak-lekuk tidak merata dan tidak selicin pada bagian bawah. Ia coba menarik napas panjang, lalu melompat ke dinding goa terus merambat ke atas, semakin merayap semakin tinggi. Diam-diam dia girang. Dia menoleh dan berseru kepada Lik-oh:

“Nona Kongsun, kalau aku berhasil keluar goa ini, segera kuturunkan tali untuk mengerek kalian ke atas.”

Dia terus merayap hingga ratusan meter, berkat Ginkang-nya yang tinggi segala rintangan dapatlah diatasi. Tapi ketika 20-an meter hampir mencapai mulut goa, dindingnya ternyata licin luar biasa dan tiada tempat lagi yang dapat dipegang atau dipijak, bahkan dindingnya miring ke bagian dalam. Dengan keadaan demikian hanya cecak, lalat atau sebangsanya saja yang dapat merayap ke atas tanpa kuatir terpeleset.

Yo Ko mengamati sekitar situ, diam-diam ia mendapatkan akal. Segera ia merosot turun ke dasar goa dan berkata kepada Lik-oh berdua:

“Mungkin dapat keluar, cuma kita harus membuat seutas tambang yang panjang dan kuat.”

Segera ia mengeluarkan belati kemudian mengumpulkan kulit pohon kurma untuk dipintal menjadi tambang yang kuat. Lik-oh juga membantunya. Menjelang magrib barulah mereka berhasil memintal seutas tambang kulit pohon kurma yang amat panjang, Yo Ko menarik dan membetot sekuatnya, lalu berkata:

“Cukup kuat, tambang ini tak akan putus.”

Lalu ia memotong sebatang dahan pohon sepanjang tiga meteran, sebelah ujung tambang itu diikatnya di tengah, kemudian dibawanya serta memanjat lagi ke atas dinding goa. Setiba di tempat yang dapat dicapainya tadi, ia pasang kuda-kuda dan berdiri dengan mantap pada dinding, dia kumpulkan tenaga pada tangannya, lalu membentak:

“Naik!”

Sekuatnya ia lemparkan dahan pohon bertali tadi keluar mulut goa. Tenaga yang dia gunakan ternyata sangat tepat. Waktu dahan pohon itu jatuh ke bawah, dengan tepat melintang dan menyangkut pada mulut goa. Cepat Yo Ko menarik beberapa kali dan terasa cantolan dahan pohon sangat kukuh dan cukup kuat menahan bobot tubuhnya. Dengan girang dia menoleh ke bawah dan berseru:

“Aku naik ke atas!”

Habis itu kedua tangannya bekerja cepat bergantian, dengan gesit ia merambat ke atas. Waktu ia memandang lagi ke bawah, samar-samar ia melihat bayangan kepala Lik-oh dan ibunya telah berubah menjadi dua titik kecil.
Girang dan lega sekali hati Yo Ko mengingat tidak lama lagi dapat menyampaikan Coat-ceng-tan kepada Siau-liong-li, karena itu dia merambat lebih giat, hanya sebentar saja tangannya sudah dapat meraih dahan pohon yang melintang, sekali tarik, cepat sekali tubuhnya melayang keluar goa dan menancapkan kakinya di atas tanah. Dia menarik napas dan membusungkan dada. Dilihat rembulan baru muncul dari balik gunung. Hampir seharian dia terkurung di goa bawah tanah yang apek dan gelap itu, kini mendapatkan kembali kebebasan terasalah segar tak terkatakan. Segera ia mengulurkan tali panjang itu ke bawah.

Melihat Yo Ko berhasil keluar dari goa, kontan Kiu Jian-jio marah-marah dan mendamprat anak perempuannya:

“Goblok, mengapa kau membiarkan dia keluar sendirian? Sesudah keluar masa dia ingat lagi pada kita?”

“Jangan kuatir, ibu, Yo-toako bukanlah manusia begitu,” ujar Lik-oh.

“Huh, semua lelaki di dunia ini sama saja, mana ada yang baik?” kata Kiu Jian-jio dengan marah. Dia berpaling dan mengamat-amati Lik-oh dari ubun-ubun hingga ujung kaki, lalu menatap wajahnya dan berkata pula: “Anak bodoh, kau telah kena digasak olehnya, bukan?”

Muka Lik-oh menjadi merah, jawabnya: “Apa yang kau maksudkan, ibu, aku tidak paham.”

Kiu Jian-jio tambah marah, damperatnya: “Kau tidak paham? Tapi kenapa mukamu merah? Ketahuilah bahwa terhadap lelaki sedikit pun tak boleh longgar, harus kau pegang ekornya kencang-kencang, tidak boleh lena, cermin yang paling baik adalah nasib ibumu ini!”

Tengah mengomel, mendadak Lik-oh memburu ke sana dan menangkap ujung tali yang dijulurkan Yo Ko. Cepat ia mengikat kencang pinggang sang ibu, lalu katanya dengan tertawa:

“Lihatlah ibu, bukankah Yo-toako tetap ingat kepada kita?”

“Hm,” Kiu Jian-jio mendengus, “kau harus dengar pesan ibumu ini, nanti sesudah berada di luar sana kau harus kuntit dia serapatnya, satu langkah pun tidak boleh berpisah. Tahu tidak?”

Lik-oh merasa dongkol, geli dan duka pula. Ia tahu maksud baik sang ibu, tapi ia pun berpikir masa Yo Ko mau memperhatikan dia? Mendadak matanya menjadi merah dan basah, cepat ia berpaling ke sana. Kiu Jian-jio hendak mengoceh lagi, tetapi pinggangnya terasa kencang, tubuhnya lantas melayang ke atas. Sambil mendongak Lik-oh mengikuti sang ibu yang dikerek. Meski pun ia yakin sebentar lagi Yo Ko pasti akan menurunkan kembali tali untuk menolong dirinya, tetapi sekarang berada seorang diri di dalam goa, mau tak mau ia menjadi gemetar dan takut.

Setelah mengerek Kiu Jian-jio keluar dari goa, cepat Yo Ko melepaskan tali dari pinggang orang tua itu lantas kembali diulur ke dalam goa. Girang sekali Lik-oh. Dia ikat pinggang sendiri dengan tali kulit pohon itu, lalu ia sendal beberapa kali sebagai tanda siap. Segera terasa tali tertarik kencang dan tubuhnya terus naik ke atas.

Lik-oh melihat pohon kurma di bawah itu semakin mengecil, sebaliknya titik-titik bintang di atas sana semakin terang, rasanya sebentar lagi dirinya pasti dapat keluar dari goa. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar gertakan seseorang, menyusul tali mengendur dan tubuh Lik-oh anjlok ke bawah dengan cepat. Terjatuh dari ketinggian ratusan meter, mustahil tubuhnya takkan hancur lebur! Keruan Lik-oh menjerit kaget, hampir saja ia pingsan, dirasakan tubuhnya meluncur terus ke bawah, sedikit pun tak kuasa menahan.

Sementara itu di atas goa Yo Ko merasakan angin kuat menyambar dari arah belakang. Sungguh terkejutnya tidak kepalang, hingga tidak sempat memikirkan membalik tubuh untuk menghadapi musuh, tapi kedua tangannya bergantian dengan cepat menarik talinya. Namun segera terdengar angin menyambar, sebatang tongkat baja yang amat berat menghantam tubuhnya. Dari suara sambaran senjata itu Yo Ko tahu penyerang itu Hoat It-ong. Dalam keadaan kepepet terpaksa ia menggunakan tangan kirinya untuk menangkis, dia berusaha mendorong tongkat lawan ke samping agar hantaman itu dapat dipatahkan.

Hoat lt-ong merasa dendam karena jenggot kesayangannya kena dikacip oleh Yo Ko, maka serangannya tidak mengenal ampun. Sekali putar tongkatnya membalik menyabet lagi ke pinggang Yo Ko dengan sepenuh tenaga, bila kena, maka tubuh Yo Ko pasti akan patah menjadi dua.

Dalam keadaan cuma tangan kanan saja digunakan untuk menahan bobot tubuh Kongsun Lik-oh, ditambah lagi tali yang panjangnya ratusan meter itu pun cukup berat, lama-lama terasa payah juga bagi Yo Ko. Maka ketika melihat tongkat musuh menyambar tiba lagi, terpaksa ia gunakan tangan kiri untuk menahannya. Di luar dugaan sambaran tongkat Hoan It-ong sekali ini sungguh dahsyatnya luar biasa. Begitu tangan kiri Yo Ko menyentuh tongkat, seketika tubuhnya tergetar, tangan kanan menjadi kendur, tali yang dipegangnya terlepas, tanpa ampun tubuh Lik-oh anjlok ke bawah dengan cepat.

Di dalam goa Lik-oh menjerit kaget, di luar Yo Ko dan Kiu Jian-jio juga berteriak kuatir. Yo Ko tidak sempat memikirkan lagi serangan tongkat musuh, cepat tangan kirinya meraih, dengan setengah berjongkok ia berusaha memegang tali panjang itu, namun daya jatuh Lik-oh itu sungguh hebat sekali, bobot tubuh yang ratusan kati itu ditambah daya jatuhnya yang keras bisa mencapai ribuan kati beratnya.

Ketika Yo Ko berhasil memegang tali dan bertahan, segera ia terbetot daya anjloknya tubuh Lik-oh yang hebat itu, tanpa kuasa ia sendiri pun ikut terjerumus ke dalam goa dengan terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas. Meski sekarang ilmu silat Yo Ko sudah mencapai tingkatan kelas satu, tapi lantaran tubuh terapung di udara, pula daya turun tubuh Lik-oh itu seakan-akan membetotnya ke bawah, maka dia menjadi mati kutu, kecuali ikut jatuh ke bawah, kepandaiannya sedikit pun tidak dapat dikeluarkannya.

Menyaksikan kejadian itu, kaget dan kuatir Kiu Jian-jio tak kurang dari pada Yo Ko dan Lik-oh. Karena dia lumpuh, juga ilmu silatnya sudah punah, sama sekali dia tak dapat berbuat apa-apa dan cuma kuatir belaka. Dilihat tali yang panjangnya beratus meter itu masih terus melorot dan makin pendek, asalkan tali itu habis, maka riwayat Yo Ko dan Kangsun Lik-oh tamat. Karena tali itu hampir habis terseret ke dalam goa, saking kencangnya tertarik oleh bobot tubuh Yo Ko beserta Lik-oh, mendadak bagian tali yang masih tersisa belasan meter itu beterbangan menyebar ke samping Kiu Jian-jio.

Pikiran nenek itu langsung tergerak. Ia pikir keparat cebol itu telah membikin celaka anak perempuannya, maka biarlah kubikin kau mampus juga. Sungguh hebat daya jatuh Lik-oh serta berat tali yang ratusan meter itu, sehingga Yo Ko ikut terjerumus jungkir balik ke dalam sumur. Begitulah dia mengincar tali itu, lalu sebelah tangannya menyampuk perlahan. Sampukan itu tidak memerlukan banyak tenaga, namun arahnya sangat tepat. Ketika bagian tali itu menyambar ke sana, dengan tepat melilit beberapa putaran pinggang Hoan It-ong.

Maksud tujuan Kiu Jian-jio sebenarnya ingin membikin Hoan lt-ong ikut terseret ke dalam goa dan mati terbanting, sebab ia merasa tidak dapat menyelamatkan jiwa putrinya. Siapa tahu si kakek cebol yang berwajah jelek ini ternyata memiliki tenaga sakti yang luar biasa kuatnya. Ketika mendadak merasa pinggangnya terbelit tali lantas mengencang, cepat dia mempergunakan kepandaian Jian-kin tui (ilmu membikin berat tubuh laksana ribuan kati) untuk menahan geseran tubuhnya.

Akan tetapi gabungan bobot tubuh Yo Ko bersama Lik-oh ditambah daya tarik ke bawah yang maha dahsyat tetap menyeretnya ke depan selangkah demi selangkah menuju ke mulut goa, tampaknya kalau dia melangkah lagi satu-dua tindak tentu dia akan ikut terjungkal. Saking kagetnya dia pegang tali itu sekuatnya sambil ditarik ke belakang, bahkan disertai dengan bentakan menggelegar dan sungguh hebat, tali itu ternyata kena ditariknya hingga berhenti seketika.

Padahal saat itu jarak Lik-oh dengan permukaan tanah hanya tinggal belasan meter saja, boleh dikatakan mendekati detik terakhir ajalnya. Maklumlah, justru daya anjlokan itulah yang paling berbahaya. Biar pun hanya sepotong batu kecil saja, apa bila dijatuhkan dari tempat setinggi itu akan membawa kekuatan yang amat besar, apa lagi bobot tubuh manusia.

Sesudah Hoan It-ong berhasil menahan daya anjlokan dengan tenaga saktinya, maka bobot dua tubuh manusia ditambah tali sepanjang beratus meter yang seluruhnya paling-paling cuma dua-tiga ratus kati saja boleh dikatakan tiada artinya lagi baginya. Dengan sebelah tangannya segera ia hendak melepaskan lilitan tali pada pinggangnya itu kemudian akan menjerumuskan lagi kedua orang itu. Akan tetapi, sebelum dia sempat berbuat lebih banyak, sekonyong-konyong punggungnya terasa sakit. Sebuah benda runcing tepat mengancam Leng-tay-hiat di bagian tulang punggung. Suara seorang wanita lantas membentaknya pula:

“Lekas tarik ke atas!”

Sekali Leng-tay-hiat tertusuk, segenap urat nadi akan putus semua.!

KEKEJIAN KON-SUN-CI

Tidak kepalang kaget Hoan It-ong. ‘Sekali Leng-tay-hiap tertusuk, segenap urat nadi putus semua’ adalah istilah yang sering diucapkan gurunya di waktu mengajarkan ilmu Tiam-hiat padanya, artinya kalau Hiat-to yang dimaksud itu terserang, maka binasalah orangnya. Maka Hoat It-ong tidak berani membangkang, terpaksa kedua tangannya bekerja cepat menarik Yo Ko dan Lik-oh. Ketika menahan daya anjlokan tadi dia telah mengeluarkan tenaga terlampau hebat sehingga kini dadanya terasa sesak dan darahnya bergolak hendak tersembur keluar. Dia tahu dirinya terluka dalam, celakanya bagian mematikan terancam musuh pula, maka terpaksa dia berusaha mati-matian menarik tali.

Dengan susah payah akhirnya Hoat It-ong dapat menarik Yo Ko ke atas. Hatinya menjadi rada lega, seketika tangannya menjadi lemas, kontan darah tumpah dari mulutnya, dan akhirnya dengan tubuh lemas dia roboh terkulai.

Karena robohnya Hoat It-ong, tali yang dipegangnya terlepas dan merosot lagi ke dalam goa. Keruan Kiu Jian-jio terkejut, cepat dia berteriak:

“Lekas tolong Lik-ji!”

Tanpa disuruh juga Yo Ko lantas menubruk maju dan syukur masih keburu memegang tali itu. Akhirnya Lik-oh dapat pula dikerek ke atas. Mengalami naik turun beberapa kali di lorong sumur itu, Lik-oh seolah-olah bercanda dengan maut, maka begitu keluar dari sumur, keruan dia pingsan saking ketakutan.

Cepat Yo Ko menotok Hiat-to Hoan It-ong agar kakek cebol itu tidak dapat berkutik. Barulah ia menolong Lik-oh, ia pijat Jin-tiong-hiat (antara atas bibir dan bawah hidung) nona itu, tidak Iama nona itu pun siuman.

Perlahan-lahan Lik-oh membuka mata. Dia tidak tahu lagi sekarang dirinya berada di mana, di bawah sinar bulan samar-samar dilihatnya Yo Ko berdiri di depannya dan tengah memandang dengan senyum simpul. Tanpa tertahan dia terus menubruk dalam pelukan pemuda itu sambil berseru:

“O, Yo-toako, apakah kita sudah berada di akhirat?”

Sambil merangkul si cantik dan tertawa Yo Ko menjawab: “Ya, kita sudah mati semua.”

Mendengar ucapan Yo Ko itu mengandung nada kelakar, cepat Lik-oh mendongak memandang muka pemuda itu. Namun segera dilihatnya pula sang ibu sedang menatap dengan senyum aneh, maka dia menjadi jengah dan cepat melepaskan diri dari pelukan Yo Ko.

Betapa pun Yo Ko sangat kagum pada Kiu Jian-jio yang lumpuh itu tapi dapat mengatasi Hoan-It-ong untuk menyelamatkan jiwanya, segera ia bertanya:

“Dengan cara bagaimana tadi engkau membikin kakek cebol ini mati kutu?”

Kiu Jian-jio tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya, yang dipegang adalah sepotong batu kecil yang ujungnya runcing. Karena kepandaian Kongsun Ci adalah ajaran Kiu Jian-jio sendiri, sedangkan Hoan It-ong adalah murid Kongsun Ci, maka tidak heran bila Hoan It-ong dibikin mati kutu oleh ancaman Kiu Jian-jio walau pun sebenarnya nenek itu tak bertenaga sama sekali.

Kini yang terpikir oleh Yo Ko hanya keselamatan Siao-liong-li saja, sedangkan Kongsun Lik-oh dan Kiu Jian-jio sudah berada di tempat yang aman, Hoan It-ong juga sudah dibuatnya tak berkutik. Segera ia berkata:

“Harap kalian berdua menunggu sebentar, aku perlu mengantarkan Coat-ceng-tan lebih dulu.”

Kiu Jian-jio menjadi heran, tanyanya: “Coat-ceng-tan apa? Kau juga punya?”

“Ya, lihatlah ini, bukankah ini Coat-ceng-tan tulen?” jawab Yo Ko. Lalu dia mengeluarkan botol kecil dan menuang pil yang berbentuk persegi itu.

Setelah mengambilnya dan diendus beberapa kali, Kiu Jian-jio berkata: “Betul, inilah Coat-ceng-tan. Mengapa obat ini bisa berada padamu? Kau sendiri terkena racun bunga cinta, mengapa kau tidak meminumnya sendiri?”

“Soal ini cukup panjang untuk diceritakan,” ujar Yo Ko, “nanti setelah kuantarkan obat ini barulah kuceritakan kepada Locianpwe.” Habis itu ia terima kembali obat itu terus hendak melangkah pergi.

Sedih dan prihatin pula hati Lik-oh, dengan perasaan hampa dia berkata: “Yo-toako, kalau ayahku merintangi kau, kukira kau harus mencari akal yang baik.”

“Kembali ayah!” bentak Kiu Jian-jio, “Kalau kau memanggjl dia ayah lagi, selanjutnya kau jangan memanggil ibu.”

“Aku hendak mengantarkan obat untuk menyembuhkan Kokoh yang keracunan, tentu Kongsun Kokcu tak akan merintangiku,” ujar Yo Ko.

“Tapi kalau dia menjebak dengan cara lain?” kata Lik-oh lagi.

“Apa boleh buat, terpaksa aku akan bertindak menurut keadaan,” jawab Yo Ko.

Kiu Jian-jio menjadi curiga melihat tekad Yo Ko itu, segera dia bertanya: “Jadi kau perlu menemui Kongsun Ci, begitu?”

Yo Ko mengiyakan tanpa sangsi.

“Baik, aku ikut ke sana, mungkin dapat kubantu kau apa bila perlu,” kata Kiu Jian-jio.

Maksud tujuan Yo Ko hanyalah ingin menyelamatkan Siao-liong-li belaka dan tidak pernah memikirkan urusan lain. Sekarang mendengar Kiu Jian-jio hendak ikut, timbul setitik cahaya di dalam benaknya, pikirnya: “Kalau saja isteri pertama Kokcu bangsat itu muncul mendadak, masa dia dapat menikahi Kokoh lagi?” Sungguh girangnya tak terkatakan. Tapi tiba-tiba teringat pula: “Coat-ceng-tan hanya ada satu biji, meski pun dapat menyelamatkan jiwa Kokoh, diriku tetap tak terhindar dari kematian.” Berpikir demikian, seketika dia menjadi sedih pula.

Melihat air muka Yo Ko sebentar gembira dan di lain saat sedih, Lik-oh menjadi bingung, apa lagi ayah ibunya sebentar lagi bakal bertemu kembali dan entah bagaimana jadinya nanti, sungguh kacau benar pikirannya.

Sebaliknya Kiu Jian-jio tampak sangat senang dan bersemangat. Dia berseru: “Hayo anak Lik, lekas gendong aku ke sana!”

“Kukira ibu perlu mandi dulu dan berganti pakaian,” ujar Lik-oh.

Sesungguhnya dia hanya takut menyaksikan adegan pertemuan kembali ayah-bundanya nanti, maka maksudnya sengaja mengulur tempo belaka.

Kiu Jian-jio menjadi gusar, omelnya: “Memang bajuku hancur dan badanku kotor begini karena perbuatan siapa? Apakah...” Sampai di sini, tiba-tiba teringat olehnya dulu Toako Kiu Jian-li sering menyamar menjadi Jiko Kiu Jian-yim untuk menggertak orang di dunia Kangouw dan tidak sedikit tokoh persilatan yang mengkeret kena digertaknya.

Kini diri sendiri dalam keadaan lumpuh dan pasti bukan tandingan Kongsun Ci, sekali pun nanti berhadapan sakit hati sulit terbalas, jalan satu-satunya hanya menyaru sebagai Jiko untuk menggertak Kongsun Ci, biar nyalinya pecah hingga ketakutan setengah mati, setelah itu barulah aku turun tangan menurut gelagat nanti. Untungnya Kongsun Ci tidak pernah kenal Jiko, pula mengira diriku sudah mati dalam goa bawah tanah, dia pasti tidak curiga.

Begitulah diam-diam Kiu Jian-jio merencanakan cara menundukkan Kongsun Ci nanti, tapi segera terpikir pula: ”Sekian tahun menjadi isterinya, masa ia akan pangling padaku?”

Melihat si nenek ter-mangu ragu, Yo Ko dapat menerka sebagian apa yang dipikirkan oleh orang tua itu, katanya kemudian:

“Apakah engkau takut dikenali Kongsun Ci? Ha-ha, jangan kuatir aku mempunyai sesuatu barang mestika.”

Segera dia keluarkan kedok kulit dan dipakai pada mukanya sendiri. Wajahnya berubah sama sekali, seram menakutkan tanpa emosi.

Kiu Jian-jio girang bukan main, segera dia terima kedok kulit tipis itu, katanya: “Anak Lik, kau mendekati belakang perkampungan dan sembunyi di hutan sana, lalu kau menyusup ke sana mengambilkan sehelai baju coklat serta sebuah kipas bulu, jangan lupa.”

Lik-oh mengiakan, lalu dia berjongkok dan menggendong sang ibu. Waktu Yo Ko memandang sekelilingnya, kiranya sekarang mereka berada di atas bukit yang dikelilingi hutan lebat, perkampungan Cui-sinkouw kelihatan remang-remang di sebelah bukit sana.

Sambil menghela napas Kiu Jian-jio berkata: “Bukit ini bernama Le-kui-hong (bukit hantu). Konon di puncak ini sering ada hantu yang mengganggu orang, maka biasanya tiada orang berani naik ke sini. Sungguh tak tersangka bahwa kelahiranku kembali di dunia ini justru berada di bukit ini.”

Segera Yo Ko membentak Hoan It-ong untuk mengorek keterangan: “Lekas katakan, untuk apa kau datang ke sini?”

Meski berada dalam cengkeraman musuh, sedikit pun Hoan It-ong tidak gentar. Dia balas membentak:

”Tidak perlu banyak omong, lekas kau bunuh saja diriku!”

“Kongsun Kokcu yang mengirim kau ke sini, bukan?” desak Yo Ko.

“Benar,” jawab Hoan It-ong dengan marah, “Suhu memerintahkan aku memeriksa sekitar bukit ini untuk menjaga penyusupan musuh, Ternyata dugaan beliau tidak meleset, memang betul ada orang sedang main gila di sini,” Sembari bicara ia terus mengawasi Kiu Jian-jio. Dia heran siapakah nenek botak ini, dan mengapa nona Kongsun memanggil ibu padanya?

Maklumlah usia Hoan It-ong memang jauh lebih tua dari pada Kiu Jian-jio dan Kongsun Ci. Dia sudah mahir ilmu silat sebelum berguru pada Kongsun Ci, waktu masuk perguruan ia tidak pernah bertemu dengan Kiu Jian-jio karena telah dijebloskan ke dalam goa bawah tanah oleh Kongsun Ci. Tetapi dari percakapan Yo Ko bertiga Hoan It-ong yakin mereka pasti akan memusuhi sang guru.

Kiu Jian-jio menjadi marah. Dari nada ucapan Hoan It-ong dapat diketahuinya kakek cebol itu jelas amat setia pada Kongsun Ci. Segera ia berseru kepada Yo Ko:

“Lekas binasakan dia dari pada menanggung risiko di kemudian hari.”

Yo Ko menoleh, dilihatnya Hoan It-ong tak gentar menghadapi kemungkinan dibunuh, diam-diam ia kagum akan sikapnya yang jantan itu. Namun ia pun tidak ingin membantah keinginan Kiu Jian-jio, maka katanya kepada Lik-oh:

“Nona Kongsun, boleh kau gendong ibumu turun dulu ke sana, segera aku menyusul setelah kubereskan si cebol ini.”

Kongsun Lik-oh kenal pribadi Toa-suheng-nya yang baik itu, ia tidak tega melihat Hoan It-ong mati konyol, maka ia mohon ampun:

“Yo-toako...”

“Lekas berangkat... lekas!” tiba-tiba Kiu Jian-jio menyentaknya dengan gusar, “Apa yang kukatakan selalu kau bantah, percuma saja punya anak perempuan seperti kau.”

Lik-oh tak berani bicara Iagi, cepat dia menggendong sang ibu lalu turun dari bukit itu. Yo Ko mendekati Hoan It-ong lalu membuka Hiat-to bagian lengan yang ditotoknya tadi. Dengan suara tertahan ia pun berkata:

“Hoan-heng, Hiat-to pada kakimu yang kututuk tadi akan buyar dengan sendirinya setelah lewat 6 jam. Selamanya kita tidak ada permusuhan apa pun, aku tidak ingin mencelakai kau,” Habis berkata ia terus menyusul Lik-oh dengan Ginkang-nya yang tinggi.

Sebenarnya Hoan It-ong sudah pejamkan mata dan menunggu ajal, sama sekali dia tidak menduga Yo Ko akan berlaku begitu baik, seketika dia melenggong kesima dan memandangi bayangan ketiga orang menghilang di balik pepohonan yang kelam di sana.

Sesudah menyusuI, Yo Ko merasa langkah Lik-oh terlalu lambat, segera dia berkata: “Kiu-locianpwe, biar aku saja yang menggendong.”

Tadinya Lik-oh merasa kuatir karena antara Yo Ko dan ibunya sering tidak cocok dalam pembicaraan. Kini pemuda itu menyatakan mau menggendong sang ibu, tentu saja Lik-oh sangat girang, katanya:

“Wah, bikin susah kau saja.”

“Dengan susah payah aku mengandung selama sepuluh bulan, baru melahirkan anak perempuan secantik ini, sekarang tanpa kau minta sudah kuberikan kepadamu. Masa menggendong sebentar bakal mertua juga enggan?” demikian omel Kiu Jian-jio.

Yo Ko melengak dengan perasaan kikuk, ia merasa tidak enak untuk menanggapi ucapan orang tua itu. Segera dia mengangkat tubuh Kiu Jian-jio ke punggung sendiri, kemudian dibawanya berlari secepat terbang ke bawah bukit.

Kiu Jian-yim, yakni kakak kedua Kiu Jian-jio yang menjabat sebagai ketua Thi-cio-pang, dahulu terkenal dengan julukan Thi-cio-cui-siang-biau, si telapak tangan besi melayang di permukaan air, julukan yang menggambarkan kelihayan Ginkang-nya. Dahulu dia pernah berkelahi dengan Ciu Pek-thong secara maraton dimulai dari daerah Tionggoan sampai ke wilayah barat dekat Tibet. Tokoh yang memiliki kepandaian tinggi seperti Lo-wan-tong saja sukar menyusulnya.

Sedangkan Kanghu (kepandaian silat Kungfu) Kiu Jian-jio adalah ajaran dari sang kakak, Ginkang-nya juga kelas satu, tapi sekarang berada di punggung Yo Ko, rasanya pemuda itu berlari sedemikian cepat dan langkahnya mantap seolah-olah kakinya tidak menempel tanah, mau tak mau Kiu Jian-jio amat kagum dan heran. Ia pikir Ginkang anak muda ini jelas tidak sama dengan Ginkang perguruanku sebagaimana ilmu pukulan yang pernah ia mainkan kemarin, namun jelas kepandaiannya tidak di bawah kanghu Thi-cio-pang dan sama sekali tidak boleh diremehkan.

Tadinya Kiu Jian-jio merasa rugi kalau anak perempuannya mendapatkan suami seperti Yo Ko, tetapi karena puterinya suka, dia merasa apa boleh buat. Tapi sekarang dia mulai merasakan bahwa bakal menantu ini sedikit pun tidak merendahkan harga diri anak perempuannya.

BegituIah, hanya sebentar saja Yo Ko telah membawa Kiu Jian-jio sampai di bawah bukit. Waktu ia menoleh, tampak Lik-oh masih tertinggal di pinggang bukit, sejenak kemudian barulah nona itu dapat menyusulnya dan kelihatan napas memburu dan dahi berkeringat. Dengan hati-hati mereka bertiga memutar ke belakang perkampungan Cui-sian-kok. Lik-oh tidak berani masuk ke sana melainkan pergi kepada seorang tetangga untuk meminjam baju buat dipakai sendiri, selain itu ia pun meminjam baju dan kipas yang diperlukan sang ibu.

Kiu Jian-jio mengembalikan bajunya kepada Yo Ko, kemudian memakai kedok kulit serta memakai baju coklat. Dengan tangan memegang kipas serta dipayang Yo Ko dan Lik-oh di kanan-kiri, menujulah mereka ke pintu gerbang perkampungan. Pada waktu memasuki pintu itu, pikiran ketiga orang sama-sama bergolak hebat. Sudah belasan tahun Kiu Jian-jio meninggalkan perkampungan ini dan sekarang berkunjung lagi ke sini, sungguh sukar dilukiskan perasaannya pada waktu itu.

Terlihat di pintu gerbang perkampungan itu ada beberapa pasang lampu kerudung warna merah yang sangat besar, jelas itu adalah pajangan rumah yang sedang berpesta perkawinan, suara tetabuhan juga terdengar berkumandang dari ruangan pendopo sana. Pada saat para centeng melihat Kiu Jian-jio dan Yo Ko, mereka melengak bingung, Tapi lantaran mereka didampingi Kongsun Lik-oh, dengan sendirinya para centeng itu tak berani merintangi.

Langsung saja mereka masuk ke ruangan pendopo yang penuh dengan tetamu dan dalam suasana riang gembira. Kelihatan Kongsun Ci mengenakan baju merah dan berdandan sebagai pengantin laki-laki berdiri di sebelah kiri. Di sebelah kanan pengantin perempuan mengenakan topi bertabur mutiara dan kembang goyang, meski wajahnya tidak kelihatan karena memakai kerudung, tapi dilihat dari perawakannya yang ramping, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li? Sekonyong-konyong sinar api berkelebat menyusul terdengar suara letusan beberapa kali, suara mercon.

“Kini tibalah saat bahagia, pengantin baru disilakan bersembahyang!” demikian pembawa upacara berseru.

Pada waktu itulah tiba-tiba Kiu Jian-jio bergelak, suaranya menggetar hingga genting rumah berkelotek, bahkan cahaya lilin juga turut berguncang, menyusul ia berseru lantang:

“Pengantin baru bersembahyang, pengantin lama lantas bagaimana?”

Meski urat kaki tangannya sudah putus, namun Iwekang-nya sama sekali belum punah, apa lagi selama belasan tahun ia tekun berlatih dalam goa bawah tanah tanpa terganggu, maka hasil latihan belasan tahun itu boleh dikatakan satu kali lipat lebih kuat dari pada latihan orang biasa. Maka suara seruannya itu sungguh keras luar biasa sehingga anak telinga semua orang serasa mendenging, suasana menjadi suram, sebagian besar lilin yang memenuhi sudut ruangan padam.

Semua orang terkejut lantas berpaling ke sana. Kongsun Ci juga kaget mendengar suara bentakan yang maha dahsyat itu. Dia menjadi bingung dan waswas ketika nampak Yo Ko serta anak perempuannya muncul di situ tanpa kurang sesuatu mendampingi orang berkedok yang aneh itu.

“Siapakah saudara?!” segera Kongsun Ci membentak.

Kiu Jian-jio sengaja membikin serak suaranya dan menjengek: “Hmm, aku adalah sanak familimu yang terdekat, masa kau pura-pura tidak kenal?”

Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si, Siau-siang-cu dan lain-lain juga sama tertarik oleh suara Kiu Jian-jio yang hebat itu. Mereka tahu orang aneh ini pasti bukan sembarang orang, maka serentak mereka memusatkan perhatian.

Melihat Kiu Jian-jio mengenakan baju coklat dan membawa kipas, dandanannya persis seperti Kiu-Jian-yim yang pernah diceritakan oleh isterinya dahulu, Kongsun Ci melengak sejenak. Tapi ia merasa janggal bahwa Kiu Jian-yim bisa mendadak datang ke sini. Tampaknya kedatangan orang tidak bermaksud baik, diam-diam ia bersiap siaga. Dengan dingin dia pun berkata:

“Selamanya kita belum pernah kenal, mengapa kau mengaku sanak familiku segala? Sungguh menggelikan!”

Di antara hadirin itu In Kik-si paling paham kisah dunia persilatan di masa lampau. Melihat dandanan Kiu Jian-jio, seketika pikirannya tergerak, segera dia bertanya:

“Apakah tuan ini Thi-cio-cui-siang-biau Kiu Jian-yim, Kiu-locianpwe?”

Kiu Jian-jio sengaja terbahak-bahak sambil menggoyang-goyang kipasnya, lalu menjawab:

“Ha-ha-ha! Kukira orang yang kenal diriku sudah mati semua, kiranya masih sisa seorang!”

Kongsun Ci tenang saja, katanya kemudian: “Apakah betul saudara ini Kiu Jian-yim? Hah, kukira tiruan belaka!”

Kiu Jian-jio terkejut akan kecerdikan orang, ia menjadi ragu, jangan-jangan penyamarannya telah diketahui. Maka ia hanya mendengus saja tanpa menjawab. Sementara itu Yo Ko tidak mempedulikan permainan apa yang sedang terjadi pada bekas suami isteri itu. Dia menyerobot ke samping Siao-liong-li, dengan tangan kanan membawa Coat-ceng-tan, tangan kirinya terus menyingkap kerudung muka si nona sambil berseru:

“Kokoh, lekas buka mulutmu!”

Jantung Siao-liong-li berdebar juga ketika mendadak nampak Yo Ko berada di depannya.

“He, engkau betul sudah sembuh!” serunya girang bercampur kejut.

Kini Siao-liong-li tahu betapa keji hati Kongsun Ci serta tindak tanduknya yang tak baik. Dia menyanggupi akan menjadi isterinya hanya demi menyelamatkan jiwa Yo Ko saja. Sekarang nampak anak muda itu muncul mendadak, disangkanya Kongsun Ci benar pegang janji telah menyembuhkan racun dalam tubuh Yo Ko.

Dalam pada itu Yo Ko langsung menyodorkan Coat-ceng-tan ke mulut Siao-liong-li sambil berseru:

“Lekas telan!”

Siao-liong-li tidak tahu barang apa yang disuruh makan itu, namun dia menurut dan cepat menelannya ke dalam perut. Segera terasa suatu arus hawa segar menyusup ke dalam perut.

“He, kau berikan dia, kau sendiri lantas bagaimana?” seru Lik-oh kuatir.

Seketika Siao-liong-li paham duduknya perkara, tanyanya dengan kaget: “Jadi kau sendiri belum pernah minum obat penawarnya?”

Yo Ko tersenyum saja tanpa menjawab, sementara itu ruangan pendopo sudah kacau baIau. Mestinya Kongsun Ci ingin mencegah pendekatan Yo Ko dengan Siao-liong-li, tapi dia pun jeri pada tokoh berkedok yang aneh itu. Sebelum tahu siapakah lawannya dia tak berani sembarangan bertindak. Dalam pada itu Yo Ko lantas menanggalkan topi pengantin Siao-liong-li dan di-robek, lalu nona itu digandeng ke pinggir ruangan, katanya:

“Kokoh, Kokcu bangsat itu bakal ketemu batunya, marilah kita menonton permainan yang amat menarik.”

Hati Siao-liong-li sendiri merasa kacau, dia menggelendot di tubuh Yo Ko dan tidak tahu apa yang harus diucapkan. Yang paling senang melihat kedatangan Yo Ko adalah si dogol Be Kong-co. Ia tidak ambil pusing anak muda itu sedang asyik masyuk dengan Siao-liong-li dan sepantasnya jangan diganggu, ia justru mendekati mereka serta bertanya ini dan itu tanpa habis-habis.

Pada 20-an tahun yang silam In Kik-si pernah mendengar nama Kiu Jian-yim yang amat termashur dan disegani setiap orang Bu-lim, dan kini melihat Iwekang-nya memang sangat tinggi, diam-diam ia ingin berkenalan dengan dia. Segera ia melangkah maju dan memberi hormat, sapanya:

“Hari ini merupakan hari bahagia Kongsun Kokcu, apakah Kiu-locianpwe hadir untuk minum arak bahagia pernikahannya ini?”

“Apa kau tahu dia punya hubungan apa dengan aku?” jawab Kiu Jian-jio sambil menuding Kongsun Ci.

In Kik-si menggeIeng. “Tidak tahu, justru Cayhe ingin minta penjelasan,” katanya.

“Coba kau suruh dia katakan sendiri,” ujar Kiu Jianjio.

“Apakah kau betul-betul Thi-cio-ciu-siang-biau?” terdengar Kongsun Ci menegas kembali. Mendadak dia bertepuk tangan lantas berkata kepada seorang muridnya: “Ambilkan kotak surat yang tertaruh di rak sebelah timur di kamar tulisku!”

Dalam keadaan bingung Lik-oh menarik sebuah kursi untuk ibunya duduk. Kongsun Ci amat heran anak perempuannya dan Yo Ko yang dijerumuskan ke dalam kolam buaya ternyata tidak mati, malahan sekarang muncul lagi dengan seorang yang mengaku sebagai Kiu Jian-yim. Tidak lama muridnya membawakan kotak surat yang diminta. Kongsun Ci membuka kotak itu lalu mengeluarkan sepucuk surat, katanya dengan dingin:

“Beberapa tahun yang lalu pernah kuterima surat dari Kiu Jian-yim, kalau benar engkau Kiu Jian-yim, maka surat ini yang palsu.”

Kiu Jian-jio terkejut, pikirnya: “Sejak Jiko bertengkar dengan aku, selama itu tidak pernah memberi kabar, kenapa dia bilang sudah menerima surat dari Jiko? Dan entah apa yang dikatakan di dalam suratnya itu.”

Karena itu segera dia berseru: “Huh, kapan aku pernah menulis surat kepadamu? Benar-benar omong kosong belaka!”

Dari logat bicaranya, mendadak Kongsun Ci teringat kepada seseorang. Ia terkejut, seketika keringat dingin membasahi punggungnya. Tapi segera ia berpikir.

“Ah, tidak mungkin. Dia sudah mati di goa bawah tanah, malah tulang belulangnya sekali pun sudah lapuk, mana bisa hidup lagi? Tapi orang ini sebenarnya siapa?”

Segera ia pun membentang surat tadi lalu dibacanya dengan suara lantang: “Kepada adik Ci dan adik Jio, sejak Toako tewas di tangan Kwe Ceng dan Oey Yong di Thi-cio-hong...”

Mendengar kalimat pertama dari isi surat itu, seketika hati Kiu Jian-jio menjadi pedih dan berduka, bentaknya cepat:

“Apa katamu?! Siapa bilang Toako-ku sudah mati?”

Selamanya dia berhubungan paling akrab dengan Kiu Jian-li, kini mendadak mendengar berita kematiannya, dengan sendirinya dia sangat sedih, tubuhnya gemetar dan suara pun berubah, mau tak mau keluar juga suara kewanitaannya.

Kongsun Ci amat cerdik. Begitu yakin orang yang dihadapinya ini adalah perempuan, biar pun dalam hatinya bertambah kejut dan waswas, namun ia pun tambah yakin orang pasti bukan Kiu Jian-yim, Maka ia pun lantas meneruskan membaca isi surat tadi:

“kakakmu ini merasa menyesal telah berselisih paham dengan kau sehingga selama ini kita tak pernah berkumpul. Kini kakak sudah disadarkan oleh It-teng Taysu, golok jagal sudah kubuang, kakak sudah tunduk pada ajaran Budha. Pada hari tua sekarang sering terkenang olehku alangkah senangnya ketika kita berkumpul dahulu. Mudah-mudah-an kalian hidup bahagia dan banyak rejeki...”

Sambil mengikuti bunyi isi surat itu, diam-diam Kiu Jian-jio meneteskan air mata. Setelah surat itu habis dibaca oleh Kongsun Ci, ia tidak dapat menahan tangisnya lagi, segera dia berteriak:

“O, Toako dan Jiko, tahukah kalian betapa penderitaanku ini!” Mendadak ia pun menanggalkan kedoknya dan membentak: ”Kongsun Ci, masih kenal tidak padaku?”

Suara bentakan yang menggelegar ini seketika membikin sebagian api lilin padam lagi, sisa api lilin yang lainnya juga terguncang goyang dan suram. Pada saat itulah mendadak wajah seorang nenek yang bengis muncul di hadapan semua orang. Seketika mereka terkejut, siapa pun tak berani bersuara, suasana menjadi sunyi senyap, hati setiap orang ikut berdebar-debar. Sekonyong-konyong seorang budak tua yang berdiri di pojok sana berlari-lari maju sambil berseru:

“Cubo, Cubo (majikan perempuan, Cukong - majikan Iaki-Iaki), kiranya engkau masih segar bugar!”

“Ya, Thio-jiok, syukur kau masih ingat padaku,” sahut Kiu Jian-jio sambil mengangguk.

Rupanya budak itu amat setia, ia girang melihat majikan perempuannya belum mati, berulang ia menyembah dan menyatakan syukur. Di antara tetamu yang hadir itu kecuali rombongan Kim-lun Hoat-ong selebihnya kebanyakan adalah tetangga perkampungan Cui-sian-kok, orang yang berusia setengah tua kebanyakan masih kenal Kiu Jian-jio, maka serentak mereka merubung maju untuk bertanya ini dan itu.

“Minggir semua!” bentak Kongsun Ci mendadak.

Semua orang kaget sehingga terpaksa menyingkir. Kongsun Ci menuding Kiu Jian-jio dan membentak:

“Perempuan hina, mengapa kau kembali lagi ke sini? Kau masih punya muka bertemu dengan aku?!”

Sejak mula Lik-oh berharap ayahnya mau mengaku salah dan rujuk kembali dengan sang ibu, siapa duga ayahnya malahan mengucapkan kata-kata yang begitu kasar dan ketus, saking sedihnya ia berlari ke depan sang ayah, ia berlutut dan berseru:

“O, ayah, ibu tidak meninggal! Beliau tidak meninggal! Lekaslah ayah minta maaf dan mohon supaya beliau mengampuni!”

“Mohon dia mengampuni?” jengek Kongsun Ci. “Hmm, mengampuni siapa? Memangnya apa salahku?”

“Ayah sudah memutuskan urat kaki tangan ibu dan mengeramnya di goa bawah tanah selama belasan tahun sehingga beliau tersiksa dalam keadaan mati tidak hidup pun tidak, betapa pun juga ayah telah membikin susah ibu,” kata Lik-oh dengan terguguk.

“Hm, dia sendiri yang mencelakai aku lebih dulu, kau tahu tidak?” jengek Kongsun Ci. “Ia melemparkan aku ke semak-semak bunga cinta hingga aku tersiksa oleh duri bunga. Dia merendam obat penawar dalam air warangan hingga aku menjadi serba salah, minum obat penawar itu akan mati, tidak minum juga mati, Apakah kau tahu semua kejadian ini? Dia malah memaksa aku membunuh... membunuh orang yang kucintai, tahu tidak kau?”

“Tahu, anak sudah tahu semua,” sahut Lik-oh sambil menangisi. “Dia bernama Yu-ji.”

Sudah belasan tahun Kongsun Ci tidak pernah mendengar orang menyebut nama itu. Air mukanya menjadi berubah hebat, ia menengadah dan menggumam:

“Yu-ji ya benar, Yu-Ji kekasihku, perempuan hina yang keji inilah yang memaksa aku membunuh dia.”

Kelihatan air muka Kongsun Ci semakin beringas dan penuh rasa duka. Ber-ulang dia menggumam perlahan:

“Yu-ji... Yu-ji...”

Yo Ko pikir suami-isteri konyol itu jelas bukan manusia baik, sedangkan dirinya sendiri mengidap racun dan takkan hidup lama lagi di dunia ini, pada kesempatan terakhir ini hanya berharap akan berkumpul dengan Siao-Iiong-li di tempat yang sunyi untuk melewatkan tempo yang tak lama lagi itu dengan tenteram, maka sama sekali tidak ada minat buat ikut campur persoalan Kongsun Ci dan isterinya. Segera dia menarik Siao-liong-li dan mengajaknya pergi saja.

“Apakah betul wanita ini adalah isterinya dan benar-benar telah dikurung selama belasan tahun?” mendadak Siao-liong-li bertanya dengan hati yang tulus, sungguh dia tak percaya bahwa di dunia ini ada orang yang sejahat itu.

“Ya, mereka suami-isteri cuma saling balas dendam belaka,” kata Yo Ko.

Siao-liong-li termenung sejenak, lalu berkata dengan suara tertahan: “Sungguh aku tidak paham. Masa wanita ini serupa aku dan juga dipaksa menikah dengan dia?”

Menurut jalan pikiran gadis ini, kalau dua orang tidak dipaksa untuk menikah, seharusnya pasangan itu akan berkasih sayang, mana mungkin saling menyiksa begitu kejam.

“Di dunia ini sedikit sekali orang baik dan lebih banyak orang jahat,” ujar Yo Ko sambil menggeleng. “Hati orang-orang begini memang sukar juga dijajaki.”

Baru saja berkata sampai di sini, mendadak terdengar Kongsun Ci membentak: “Minggir!” Berbareng sebelah kakinya mendepak, kontan tubuh Lik-oh mencelat.

Arah mencelatnya tubuh Kongsun Lik-oh tepat menuju ke dada Kiu Jian-jio, padahal Kiu Jian-jio dalam keadaan lumpuh, kaki tangannya lemas tak bertenaga, maka terpaksa dia menunduk dan ingin mengelak. Namun tubrukan Lik-oh itu datangnya teramat cepat.

“BIukk!” Dengan tepat tubuh si nona menumbuk badan ibunya.

Kontan Kiu Jian-jio jatuh terjengkang bersama kursinya. Kepalanya yang botak tepat membentur tiang batu dan seketika darah muncrat serta tak dapat bangun. Lik-oh sendiri juga jatuh tersungkur dan pingsan karena depakan sang ayah.

PEMBALASAN KIU-JIAN-JIO

Dalam keadaan begitu mau tak mau Yo Ko menjadi gusar sekali menyaksikan keganasan Kongsun Ci. Baru saja ia hendak memburu maju, tiba-tiba Siao-liong-li melompat maju lebih dulu untuk membangunkan Kiu Jian-jio lalu mengurut beberapa kali di belakang kepala nenek itu untuk menghentikan darahnya, dia merobek ujung baju membalut lukanya kemudian dia membentak Kongsun Ci:

“Kongsun-siansing, dia adalah isterimu yang sah, kenapa kau perlakukan dia begini? Jika kau telah beristeri, kenapa ingin menikahi aku pula? Seumpama aku jadi menikah dengan kau, bukankah kelak kau pun akan memperlakukan diriku seperti dia ini?”

Beberapa pertanyaan yang begitu tepat ini membikin Kongsun Ci melongo dan tidak dapat menjawab. Serentak Be Kong-co bersorak memuji, sedangkan Siau-siang-cu menanggapi dengan ucapan:

“Hm, jitu benar kata-kata nona ini.”

Dasar Kongsun Ci sudah tergila-gila kepada Siao-liong-li, maka ia pun tidak menjadi marah, dengan suara halus ia menjawab:

“Liu-ji, mana bisa kau dibandingkan dengan perempuan busuk ini? Cintaku padamu tanpa batas, kalau aku mempunyai pikiran buruk padamu, biarlah aku mati tak terkubur.”

“Bagiku di dunia ini cukup hanya dia seorang saja yang mencintai aku, sekali pun engkau suka padaku seratus kali lipat juga aku tidak kepingin,” jawab Siao-liong-li hambar sambil mendekati Yo Ko dan menggenggam tangannya.

Tidak kepalang rasa gembira hati Yo Ko melihat betapa cintanya Siao-liong-li kepadanya, tapi rasa gemasnya pada Kongsun Ci juga memuncak bila ingat umurnya tinggal berapa hari saja dan semua itu gegara perbuatan Kongsun Ci. Maka dengan marah dia menuding dan memaki:

“Hm, kau berani bilang tiada pikiran buruk kepada Kokoh? Hm, kau menjebloskan aku ke kolam buaya, lalu menipu Kokoh agar mau menikah dengan kau, apakah perbuatanmu ini baik? Kokoh sudah terkena racun bunga cinta, padahal kau tahu tiada obat lagi untuk menyelamatkan dia, tapi hal ini tidak kau katakan padanya, apakah ini maksud baikmu?”

Siao-liong-li terkejut mendengar ucapan Yo Ko. Dengan suara gemetar dia menegas: “Apakah betul begitu?”

“Tapi tidak menjadi soal lagi, tadi kau sudah minum obat penawarnya,” ujar Yo Ko sambil tersenyum. Senyuman yang pedih dan girang mengingat obat Coat-ceng-tan akhirnya dapat disampaikan dan diminum oleh Siao-Iiongli, maka mati pun sekarang dia rela!

Kongsun Ci memandang ke sana dan ke sini, sorot matanya mengusap wajah Kiu Jian-jio, Siao–liong-li dan Yo Ko bertiga, hatinya penuh dengan rasa cemburu, benci dan napsu berahi, ya kecewa, ya malu, macam-macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Meski biasanya dia sangat sabar, namun kini dia sudah berpikiran gelap dan setengah gila. Sekonyong-konyong dia berjongkok dan melolos keluar sepasang senjatanya dari bawah selimut merah yang digunakan sebagai alas kaki waktu upacara tadi.

“Trangg...!” dia mengadu kedua senjata dan membentak: “Baik, baik sekali! Biarlah hari ini kita gugur bersama.”

Karena sama sekali tak menyangka Kongsun Ci akan menyembunyikan senjata di bawah perabot sembahyang pernikahannya, maka semua orang berseru kaget.

Segera Siao-Iiong-Ii menjengek: “Ko-ji, orang jahat begini buat apa sungkan-sungkan lagi padanya?”

“Crengg...!” dari dalam baju pengantinnya dia pun mengeluarkan sepasang pedang hitam lemas itu. Kun-cu-kiam dan Siok-li-kiam.

“Aha, bagus! Jadi demi menolong diriku maka Kokoh berpura-pura mau menikah dengan dia?” seru Yo Ko girang.

Perlu dimaklumi bahwa biar pun Siao-liong-li tidak paham seluk beluk kehidupan manusia, namun terhadap orang yang dibencinya, turun tangannya sedikit pun tidak kenal ampun, seperti dahulu waktu dia menuntut balas kematian Sun-popoh, pernah dia mengobrak-abrik Tiong-yang-kiong dan membikin kalang-kabut para imam Coan-cin-kau, malahan jiwa Kong-leng-cu Hek Tay-thong hampir melayang di tangannya. Sekarang Kongsun Ci telah membikin dia merana dan tidak dapat berkumpul dengan Yo Ko, diam-diam dia sudah bertekad akan melabrak orang meski harus mengorbankan jiwa sendiri.

Sebab itulah di dalam baju pengantinnya diam-diam ia sembunyikan sepasang pedang. Asalkan Yo Ko sudah diobati, segera ia mencari kesempatan untuk membunuh Kongsun Ci. Kalau gagal maka ia pun akan membunuh diri dan takkan mengorbankan kesuciannya di Cui-siang-kok. Para hadirin juga heran dan kaget melihat dua calon pengantin itu menyembunyikan senjata, hanya beberapa tokoh lihay seperti Kim-lun Hoat-ong saja sudah menduga pesta pernikahan ini pasti akan berakhir dengan keonaran.

Tetapi melihat Kiu Jian-jio hanya tertumbuk oleh tubuh Kongsun Lik-oh saja lantas roboh, jauh tidak seimbang dengan Iwekangnya yang maha tinggi, mau tak mau semua orang menjadi heran.

Yo Ko lantas menerima Kun-cu-kiam dari tangan Siao-liong-li, katanya: “Kokoh, mari kita bunuh bangsat ini untuk membalas sakit hatiku.”

“Membalas sakit hatimu?” Siao-liong-li menegas sambil menggetar pedang Siok-li-kiam.

Diam-diam hati Yo Ko berduka, tetapi mengingat hal itu tak dapat dijelaskan kepada Siao-liong-li, maka terpaksa ia hanya menjawab:

“Ya, tidak sedikit orang baik-baik yang sudah dicelakai bangsat ini.”

Habis berkata Kun-cu-kiam bergerak, langsung dia menusuk iga kiri Kongsun Ci. Dia tahu pertarungan sekarang pasti akan berlangsung dahsyat dan berbahaya. Dia sendiri mengidap racun, bila kedua orang memainkan ‘Giok-li-kiam-hoat’ lalu merangsang perasaan cinta, maka mereka akan kesakitan seketika. Karena itu pandangannya lurus menatap musuh, yang dimainkan adalah ‘Coan-cin-kiam-hoat’.

Kongsun Ci juga tahu betapa lihaynya ilmu pedang gabungan kedua muda-mudi itu, maka begitu bergebrak segera dia lancarkan serangan Im-yang-to-hoat yang terbalik itu, pedang hitam bermain dengan gaya golok, sedangkan golok bergigi bermain dengan gaya pedang, setiap jurus serangannya lihay luar biasa.

Namun ilmu pedang Coan-cin-pay yang dimainkan Yo Ko itu adalah ciptaan Ong Tiong-yang, cikal bakal Coan-cin-pay, sungguh pun tidak seganas serangan musuh, namun gayanya indah dan perubahannya rumit. Dia berjaga saja dengan rapat dan menyambut setiap serangan musuh dengan baik. Sudah tentu Siao-liong-li juga tidak kurang lihaynya. Dia membentak nyaring, Siok-Ii-kiam segera menusuk punggung Kongsun Ci.

Dongkol dan menyesal Kongsun Ci tidak terperikan. Nona secantik bidadari ini mestinya sudah menjadi isterinya kalau Yo Ko tidak muncul, tapi sekarang justru bergabung dengan anak muda ini untuk mengerubutnya. BegituIah makin dipikir makin murka Kongsun Ci, tapi serangannya tetap berjalan dengan ganas.

Di pihak lain Siao-liong-li telah mainkan Giok-li-kiam-hoat, maksudnya ingin mengadakan kontak batin dengan Yo Ko supaya daya ilmu pedang bisa dikeluarkan seluruhnya, siapa tahu anak muda itu selain menghindarkan adu pandang dengan dia juga cuma bertempur dengan caranya sendiri.

Siao-liong-li menjadi heran dan berseru: “Ko ji, mengapa kau tidak memandang padaku?”

Karena rangsangan perasaannya yang penuh kasih mesra itu, seketika sinar pedangnya memanjang dan serangannya bertambah kuat. Sebaliknya demi mendengar nada si nona yang menggiurkan itu, hati Yo Ko terguncang, seketika dadanya kesakitan, gerak pedangnya juga berubah lambat.

“Brett...!” tahu-tahu lengan bajunya tertebas robek oleh pedang hitam Kongsun Ci.

Siao-liong-li terkejut sekali, cepat dia melancarkan tiga kali serangan untuk menghalangi gempuran Kongsun Ci.

“Aku tak dapat memandang kau dan juga tidak dapat mendengarkan perkataanmu,” kata Yo Ko.

“Sebab apa?” tanya Siao-liong-li dengan lemah lembut.

Karena kuatir terancam bahaya lagi, Yo Ko sengaja menjawab dengan suara kasar: “Jika kau ingin aku mati, maka bolehlah kau mengajak aku bicara.” Karena timbul amarahnya, rasa sakitnya berhenti seketika, semua serangan Kongsun Ci dapat ditangkisnya.

“Baiklah, aku tidak bicara lagi,” ujar Siao-liong-li dengan rasa menyesal. Tetapi mendadak pikirannya tergerak: “Ah, aku sendiri sudah sembuh dari racun bunga cinta, apakah dia belum minum obat penawarnya?”

Berpikir demikian, sungguh rasa terima kasih dan kasih sayang Siao-liong-li tak terbatas mendalamnya, perasaan mesra ini mendorong tenaga, seketika daya tempur Giok-li-kiam-hoatnya bertambah hebat, setiap jurus serangannya segera melindungi seluruh tubuh Yo Ko. Dalam keadaan begitu seharusnya Yo Ko bergilir untuk menahan serangan musuh bagi Siao-liong-li, tapi lantaran dia tak berani melirik, Siao-liong-li tak terjaga sama sekali dan selalu menjadi ancaman musuh.

Betapa tajam pandangan Kongsun Ci, hanya dalam beberapa gebrak saja ia sudah dapat melihat peluang itu, akan tetapi dia tidak ingin mencelakai Siao-liong-li sedikit pun, setiap serangannya selalu dilontarkan kepada Yo Ko. Walau pun begitu serangan yang dahsyat itu dapat juga dihadapi oleh pedang lawan yang kuat, dalam beberapa puluh jurus ternyata sedikit pun Kongsun Ci tak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu Kongsun Lik-oh sudah siuman, kemudian ikut menonton di sebelah ibunya. Dilihatnya Siao-liong-li terus melindungi Yo Ko melulu tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, diam-diam dia bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika aku yang menjadi dia, dalam keadaan gawat antara hidup dan mati, apakah aku pun sanggup mengorbankan diri untuk membela dia?” Dia menghela napas perlahan dan menjawab sendiri: “Aku pasti akan berbuat sama seperti nona Liong ini kepadanya, tapi dia yang tak mungkin berbuat begitu pula terhadap diriku.”

Tengah melamun, tiba-tiba terdengar Kiu Jian-jio berseru: “Golok bukan golok, pedang bukan pedang!”

Sudah tentu Yo Ko dan Siao-liong-li merasa bingung oleh seruan itu, mereka tidak paham apa maksudnya.

Terdengar Kiu Jian-jio berteriak lagi: “Golok adalah golok, pedang adalah pedang!”

Sesudah bertempur dua kali melawan Kongsun Ci, memang semenjak tadi Yo Ko sudah memikirkan di mana letak keajaiban permainan golok Kongsun Ci itu. Ia merasa anehnya serangan musuh, pedang hitam yang enteng digunakan membacok dan menebas dengan keras seperti golok, sebaliknya golok yang berat itu digunakan menusuk dan menyabet secara gesit. Kalau saja golok dimainkan sebagai pedang dan pedang digunakan sebagai golok masih dapat dimengerti. Tetapi anehnya dalam sekejap permainannya bisa berubah lagi, dalam serangan pedang tampak gaya ilmu pedang dan serangan golok tetap bergaya ilmu golok, sungguh berubah tak menentu dan sukar diraba.

Kini mendadak mendengar seruan Kiu Jian–jio itu, cepat juga timbul ilham di dalam benak Yo Ko. Diam-diam dia membatin, apakah maksud Kiu Jian-jio hendak mengatakan bahwa gaya pedang dalam permainan golok dan gaya golok dalam permainan pedang Kongsun Ci itu cuma gaya kembangan belaka? Jika begitu halnya, biarlah aku mencobanya!

Begitulah, ketika dilihatnya pedang hitam lawan membacok tiba seperti golok, maka Yo Ko menganggapnya tetap sebagai pedang, segera dia menangkisnya dengan Kun-cu-kiam.

“Trangg...!” kedua pedang beradu dan kedua orang tergetar mundur setindak.

Nyata dugaan Yo Ko tak keliru, gaya serangan golok dari pedang hitam itu pada dasarnya tetap pedang, gerakan sebagai bacokan golok itu cuma gerakan kembangan belaka untuk membikin kabur pandangan lawan. Kalau saja kepandaian pihak lawan kurang tinggi dan tidak dapat melayani dengan tepat, maka gerakan kembangan seperti golok itu pun dapat mencelakai dirinya.

Sekali coba lagsung berhasil menjajaki ilmu silat lawan, Yo Ko menjadi girang. Segera dia perhatikan kelemahan musuh. Dia pikir betapa anehnya serangan musuh, tetapi lantaran gerakan kembangannya terlalu banyak, akhirnya pasti kacau dan terlihat titik lemahnya.

Setelah bergebrak beberapa kali lagi, tiba-tiba terdengar Kiu Jian-jio berseru pula: “Serang kaki kanannya, kaki kanannya!”

Akan tetapi Yo Ko merasa pada bagian kaki lawan sedikit pun tiada peluang untuk dapat diserang, apa lagi golok musuh diputar sedemikian kencang, hakekatnya sukar ditembus. Tetapi lantas teringat olehnya bahwa ilmu silat Kongsun Ci itu adalah ajaran Kiu Jian-jio, meski pun kaki tangan nenek botak itu sudah cacat, namun ilmu silat yang dipahaminya sedikit pun tidak pernah terlupa, tentu nenek itu dapat melihat titik kelemahan Kongsun Ci. Karena pikiran itu segera dia menurut dan menyerang kaki kanan musuh.

Cepat Kongsun Ci menangkis dengan goloknya. Kaki kanannya ternyata terjaga dengan rapat, tapi lantaran harus menangkis, bahu kiri dan iga kiri tak terjaga. Peluang itu tidak disia-siakan oleh Yo Ko, tanpa menunggu petunjuk Kiu Jian-jio segera ia menyerang dan berhasil merobek baju bawah ketiak musuh.

Kongsun Ci mengomel gusar sambil melompat mundur, dengan mendelik ia membentak Kiu Jian-jio:

“Perempuan hina, lihat nanti kalau aku tidak membinasakan kau!” Setelah itu segera ia menerjang Yo Ko Iagi.

Selagi Yo Ko menangkis, terdengar Kiu Jian-jio berseru pula: “Tendang punggungnya!”

Padahal saat itu kedua orang sedang saling berhadapan muka, untuk menendang bagian punggung jelas tidak mungkin. Namun sekarang Yo Ko sudah rada menaruh kepercayaan pada petunjuk Kiu Jian-jio, ia pikir ucapan nenek itu tentu mempunyai arti tertentu, maka tanpa banyak ulah segera ia menyusup ke belakang musuh. Cepat Kongsun Ci memutar balik goloknya lantas menebas ke belakang. Tapi Kiu Jian-jio sudah segera berteriak lagi:

“Tusuk dahinya!”

Yo Ko menjadi heran sekali. Baru saja ia memutar ke belakang orang, masa sekarang diharuskan menusuk dahi lawan pada bagian muka. Namun keadaan sudah mendesak, tanpa pikir segera ia menyerobot ke depan musuh dan baru saja hendak menusuk tempat yang dianjurkan, sekonyong-konyong Kiu Jian-jio berseru pula.

“Tebas pantatnya!”

Lik-oh ikut berdebar menyaksikan pertarungan itu, diam-diam ia pun heran kenapa ibunya gembar-gembor begitu, bukankah caranya itu justru berbalik hendak membantu ayahnya?

Dalam pada itu Be Kong-co lantas berteriak: “He, jangan kau tertipu oleh nenek itu, adik Yo, dia sengaja membikin kau lelah.”

Namun Yo Ko justru percaya kepada seruan Kiu Jian-jio yang mempunyai tujuan jitu itu. Begitu si nenek berseru suruh dia ke depan, segera ia menyerobot ke depan, bila disuruh memutar ke belakang cepat ia menyelinap ke belakang. Benar saja, sesudah berputar beberapa kali cara begitu, akhirnya iga kanan Kongsun Ci tampak kelemahannya, tanpa ayal pedang Yo Ko terus menusuk.

“Crett...!”

Baju tertembus dan ujung pedang masuk kulit daging musuh beberapa senti dalamnya, seketika darah segar mengucur dari iga Kongsun Ci. Semua orang berteriak heran sambil bangkit. Kini Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain tahu persoalannya bahwa Kiu Jian-jio sebenarnya bukan memberi petunjuk kepada Yo Ko caranya memperoleh kemenangan, tetapi mengajarkan dia mencari kesempatan menang dari keadaan yang tak mungkin menang itu, bukan ditujukan titik kelemahan Kongsun Ci, tetapi suruh Yo Ko mendesak musuh yang sama sekali tiada kelemahan itu agar terpaksa memberi titik kelemahan.

Karena Yo Ko memang anak yang cerdik dan pintar, hanya beberapa kali saja Kiu Jian-jio memberi petunjuk, segera ia dapat menangkap di mana letak intisari ilmu silat yang bagus itu. Dalam hatinya ia sangat kagum dan bersyukur akan petunjuk Kiu Jian-jio yang besar manfaatnya. Cuma agar bisa memaksa Kongsun Ci menunjukkan titik kelemahannya, selain lawannya harus lebih unggul ilmu silatnya juga harus paham akan setiap gerak serangan Kongsun Ci, dengan begini barulah dapat menapsirkan jurus serangan mana yang bakal dilontarkan musuh dan memancingnya menuju ke arah yang keliru.

Untuk hal ini memang hanya Kiu Jian-jio saja yang sanggup, Yo Ko sendiri hanya paham maksudnya namun tidak mampu melakukannya tanpa petunjuk nenek itu. Karena itulah dia turut setiap petunjuk Kiu Jian-jio dan melancarkan serangan berantai mengitari Kongsun Ci.

Setelah belasan jurus lagi, kembali kaki Kongsun Ci tertusuk oleh pedangnya. Meski tidak parah namun lukanya cukup panjang. Diam-diam Kongsun Ci sangat mendongkol. Ia pikir dalam waktu singkat jelas dirinya sukar mendapat kemenangan, malahan kalau bertempur lebih lama bukan mustahil jiwanya sendiri yang akan melayang di bawah pedang bocah ini.

Dahulu, demi untuk menyelamatkan nyawa sendiri pernah juga dia membunuh Yu-ji yang dicintainya. Kini keadaan sudah kepepet, maka ia pun tidak memikirkan Siao-liong-li lagi, segera pedang hitam bergerak ke depan, tapi mendadak goloknya yang membacok ke bahu Siao-liong-li. Yo Ko terkejut, cepat ia menangkis.

“Tusuk pinggangnya!” mendadak Kiu Jian-jio berseru lagi.

Yo Ko melengak. Dia pikir Kokoh sedang terancam, mana boleh kudiamkan saja? Tetapi setiap petunjuk Kiu-locianpwe selalu mengandung arti yang mendalam, boleh jadi cara ini adalah jurus penolong yang bagus. Karena itu pedangnya berputar ke bawah untuk menusuk pinggang musuh. Pada saat itulah terdengar Siao-liong-li menjerit kesakitan, lengannya terluka.

“Trangg...!” Siok-li-kiam terjatuh.

Menyusul itu Kongsun Ci sempat menangkis serangan Yo Ko dengan pedangnya. Yo Ko sangat kuatir akan luka Siao-liong-li itu, serunya:

“Kokoh, kau mundur saja, biarkan aku sendiri yang melayani dia!” Karena rangsangan perasaannya terhadap Siao-liong-li, tiba-tiba dadanya terasa sakit.

Dalam keadaan terluka terpaksa Siao-liong-li mundur ke samping untuk membalut lukanya dengan robekan baju. Yo Ko terus bertempur dengan gagah berani. Dia sangat mendongkol terhadap petunjuk Kiu Jian-jio yang keliru itu, pada suatu kesempatan ia melotot marah terhadap nenek itu.

Sudah tentu Kiu Jiau-jio paham maksud anak muda itu, dia menjengek: “Hm, kenapa kau menyalahkan aku? Aku hanya membantu kau menggempur musuh, peduli apa dengan dia? Hmm, biar pun mampus juga aku tidak peduli!”

“Kalian suami-isteri benar-benar pasangan manusia yang keji dan kejam!” damperat Yo Ko dengan marah.

Makian Yo Ko kini sungguh sangat tepat dan tajam, namun Kiu Jian-jio hanya mendengus saja dan tidak marah, ia tetap tenang-tenang saja mengikuti pertarungan kedua orang. Sekilas Yo Ko melihat Siao-liong-li sedang membalut lukanya, tampaknya tidak terlampau parah, seketika serangannya berubah. Dengan bersemangat, dari Coan-cin-kiam-hoat dia ganti menyerang dengan Giok-li-kiam-hoat.

Kongsun Ci rada heran melihat serangan Yo Ko sekarang hampir seluruhnya berbeda dari pada tadi, sekarang tampak lebih gesit dan lincah, juga lebih bergaya dibanding tadi yang kereng dan amat tenang. Ia menjadi curiga jangan-jangan Yo Ko sengaja main gila untuk memancingnya. Tapi setelah bergebrak lagi beberapa jurus, ternyata gaya tempur Yo Ko sekarang serupa dengan Siao-liong-li tadi, segera rasa curiga Kongsun Ci lenyap, golok serta pedangnya lantas menyerang sekaligus. Maka setelah belasan jurus, lambat laun Yo Ko terdesak lagi dan berulang kali terdesak mundur.

Beberapa kali Kiu Jian-jio berseru memberi petunjuk lagi, akan tetapi Yo Ko sudah telanjur khe-ki karena nenek itu sengaja membikin susah Siao-liong-li, maka petunjuknya tidak digubrisnya lagi.

“Srett! Sret!t”

Mendadak ia melancarkan serangan empat kali ber-turut. Ketika Kongsun Ci menangkis, secepatnya Yo Ko menubruk maju.

“Trangg...!”

Ia selentik golok lawan, seketika Kongsun Ci merasa lengannya kesemutan dan goloknya hampir saja terlepas dari pegangan. Pada saat itu juga mendadak Yo Ko menubruk maju, jari kirinya menotok bagian pusar.

Yo Ko kegirangan dan yakin musuh pasti akan roboh terluka parah. Tak terduga, sambil mendoyongkan tubuhnya, tiba-tiba sebelah kaki Kongsun Ci menendang ke dagu Yo Ko. Keruan kejut Yo Ko tak terkatakan, cepat-cepat ia melompat ke samping. Segera teringat olehnya bahwa Hiat-to di tubuh musuh memang amat aneh. Tadi Siao-liong-li juga pernah menghantam Hiat-to orang dengan genta kecil yang terikat pada ujung selendangnya, jelas Hiat-to yang di arah itu kena dengan tepat, tapi Kongsun Ci tetap tidak roboh.

Selagi Yo Ko merasa bingung cara bagaimana agar bisa mengalahkan musuh, sementara itu golok dan pedang Kongsun Ci sudah memburu tiba, sedangkan Kiu Jian-jio lagi-lagi berseru:

“Golok dan pedangnya menyilang, pedangnya akan menyerang ke kiri dan goloknya menyerang kanan!”

Tanpa pikir panjang Yo Ko mengadakan penjagaan rapat seperti peringatan Kiu Jian-jio sehingga buyarlah setiap serangan Kongsun Ci. Bicara tentang Kanghu sejati sebenarnya Yo Ko tak dapat melawan keuletan Kongsun Ci, hanya berkat petunjuk dari Kiu Jian-jio saja dapatlah Yo Ko mematahkan setiap serangan Kongsun Ci yang lihay.

Sementara itu kedua orang telah bertempur sampai beberapa ratus jurus. Para penonton berdebar dan sulit menduga siapa di antara mereka yang bakal menang dan kalah. Kongsun Ci dan Yo Ko nampak sama payahnya, napas Kongsun Ci kelihatan mulai ter-engah, sedangkan Yo Ko juga sudah mandi keringat, gerak-gerik mereka tak segesit dan secepat tadi.

Lik-oh pikir apa bila pertempuran itu berlangsung terus, akhirnya satu di antara dua pasti celaka. Dia tidak mengharapkan Yo Ko kalah, tetapi ia pun tidak tega menyaksikan ayah sendiri celaka, Maka dengan suara perlahan ia mohon kepada Kiu Jian-jio:

“lbu, sebaiknya engkau suruh mereka berhenti saja, biarlah kita bicara baik-baik untuk menentukan yang salah dan benar.”

Kiu Jian-jio hanya mendengus saja tanpa menjawab. Sejenak kemudian dia baru berkata:

“Coba ambilkan dua mangkok teh.”

Dengan pikiran kacau Lik-oh pergi menuangkan dua mangkok teh lantas dibawa ke depan sang ibu. Segera Kiu Jian-jio menanggalkan kain pembalut lukanya yang berlepotan darah itu. Seperti diketahui Siao-liong-li yang merobek baju sendiri untuk membalut lukanya, sekarang kain pembalut dilepaskan, darah lantas merembes keluar lagi dari kepalanya.

“Bu!” Lik-oh berseru kuatir.

“Jangan bersuara,” kata Kiu Jian-jio.

Dia lalu memeras beberapa tetes darah dari kain pembalut itu ke dalam mangkuk. Waktu melihat Lik-oh merasa heran dan curiga, segera dia memeras sedikit darah lagi ke dalam mangkuk yang lain. Dia guncang sedikit mangkuk itu sehingga tetesan darah terbaur dalam air teh, dalam sekejap saja tiada kelihatan apa-apa lagi. Habis itu Kiu Jian-jio menempelkan lagi kain pembalut pada lukanya, segera dia berseru:

“Tentu mereka sudah sangat lelah bertempur. Biarkan masing-masing minum semangkuk teh dulu.” Kemudian dia berkata kepada Lik-oh: “Antarkan teh ini kepada mereka, seorang semangkuk!”

Lik-oh tahu betapa benci dan dendam sang ibu terhadap ayahnya, kalau bisa sang ayah hendak dibinasakan seketika. Maka ketika melihat ibunya meneteskan darah ke dalam mangkuk, meski pun ia tidak paham apa maksudnya, tapi ia pikir perbuatan ini tentu tidak menguntungkan ayahnya. Tetapi kemudian dilihatnya kedua mangkuk teh itu sama-sama diberi tetesan darah, maka rasa curiganya menjadi lenyap. Segera dia membawa kedua mangkuk teh itu ke tengah ruangan dan berseru:

“Ayah, Yo-toako, silakan kalian minum teh dahulu!”

Memang Kongsun Ci dan Yo Ko sedang kehausan. Mendengar seruan itu, serentak mereka berhenti bertempur kemudian melompat mundur. Lebih dulu Lik-oh menyodorkan semangkuk teh kepada ayahnya. Kongsun Ci merasa sangsi. Ia pikir teh ini diantarkan kepadanya atas suruhan Kiu Jian-jio, dalam hal ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, bukan mustahil diberi racun. Karena itu dia tidak mau menerima teh itu, tapi katanya kepada Yo Ko:

“Kau minum dulu.”

Sedikit pun Yo Ko tidak merasa gentar dan sangsi. Dia terima mangkuk itu terus hendak diminumnya. Mendadak Kongsun Ci berkata pula:

“Baiklah, biar kuminum semangkuk itu!” Segera pula ia ambil mangkuk yang dipegang Yo Ko.

Yo Ko tahu apa artinya itu, dengan tertawa dia berkata: “Anak perempuanmu sendiri yang menuangkan teh ini, masa ia menaruh racun?” Habis berkata ia terus terima mangkuk teh yang lain lantas ditenggak hingga habis.

Kongsun Ci melihat air muka Lik-oh tenang tanpa mengunjukkan sesuatu perasaan kuatir Yo Ko akan keracunan, maka percayalah dia bahwa teh itu tak berbahaya. Segera ia pun minum habis isi mangkuk itu.

“Crengg...!” Ia membentrok kedua senjatanya dan berkata: “Nah, tak perlu mengaso lagi, marilah kita mulai bertempur kembali. Hm, kalau saja perempuan hina itu tidak memberi petunjuk padamu, biar pun kau mempunyai jiwa serep sudah melayang sejak tadi.”

Pada saat itulah mendadak Kiu Jian-jio menanggapi dengan suara dingin: “Sekarang ilmu kebalnya sudah pecah, boleh kau incar saja Hiat-tonya.”

Kongsun Ci melengak, segera dia merasakan di ujung lidahnya ada rasa amisnya darah, sungguh kejutnya tak terkatakan. Kiranya ilmu kebal totokan Hiat-to yang telah dilatihnya itu pantang makan minum barang berjiwa. Untuk menjaga segala kemungkinan maka dia melarang setiap anak buahnya di Cui-sian-kok untuk makan daging dan barang apa saja yang berbau darah. Meski orang lain tidak melatih ilmu kebal itu, tapi terpaksa mesti ikut tersiksa.

Walau pun Kongsun Ci sudah berjaga dan berhati-hati, sama sekali tidak terduga olehnya bahwa Kiu Jian-jio akan menaruh darah dalam teh yang diminumnya. Bagi Yo Ko tentu tidak menjadi soal, tapi bagi Kongsun Ci, teh campur tetesan darah itu seketika membuat ilmu kebalnya hancur! Saking murkanya ia berpaling dan melihat Kiu Jian-jio sedang komat kamit asyik makan kurma, tangan yang satu menggengam kurma, tangan yang lain melangsir buah kurma itu ke mulut kemudian dimakan dengan nikmatnya.

“Ilmu itu adalah pemberianku dan sekarang aku yang memusnahkannya, tidak perlu heran dan kaget?” kata Kiu Jian-jio dengan tersenyum.

Kedua mata Kongsun Ci merah berapi, dia angkat kedua senjatanya menerjang ke arak Kiu Jian-jio. Lik-oh terkejut, cepat dia memburu maju hendak melindungi sang ibu. Namun mendadak terdengar angin keras menyambar di sebelah telinganya, menyusul terdengar Kongsun Ci menjerit nyaring, senjatanya terlepas dari tangan, sambil menutupi mata kanannya terus berlari keluar, terdengar suara jerit tangisnya yang mengaung ngeri dan makin menjauh, akhirnya lenyap di tengah pegunungan.

Para hadirin saling pandang dengan bingung karena tidak tahu dengan cara bagaimana Kiu Jian-jio bisa melukai Kongsun Ci. Hanya Yo Ko dan Lik-oh saja yang tahu duduknya perkara, jelas Kiu Jian-jio menggunakan biji kurma yang disemprotkan dari mulutnya untuk membutakan mata bekas suaminya itu.

Waktu Yo Ko bertempur dengan Kongsun Ci, diam-diam Kiu Jian-jio telah mengumpulkan beberapa biji kurma dalam mulutnya. Akan tetapi waktu itu ia tak berani sembarangan bertindak, ia lihat ilmu silat Kongsun Ci sudah jauh lebih maju, ia kuatir kalau sekali serang tidak kena maka akan membikin runyam urusan dan selanjutnya pasti sukar lagi kalau hendak melukai Kongsun Ci.

Karena itu lebih dulu Kiu Jian-jio memunahkan ilmu kebal Tiam-hiat yang dilatih Kongsun Ci itu dengan teh berdarah, lalu pada saat Kongsun Ci menjadi murka, mendadak dia pun menyerangnya dengan semburan biji kurma yang merupakan satu-satunya senjata yang dilatihnya selama belasan tahun ini, baik kekuatannya mau pun kejituannya tidak kalah dari pada senjata rahasia mana pun juga.

Kalau saja tadi Lik-oh tidak mendadak memburu maju dan menghalang di depan, bukan mustahil kedua mata Kongsun Ci sudah buta semua, bahkan kalau dahinya yang kena biji kurma, tentu jiwanya melayang seketika. Melihat ayahnya mendadak lari pergi, Lik-oh merasa tidak tega, ia terkesima dan berseru:

“Ayah, ayah!”

Segera ia bermaksud berlari keluar untuk melihat kepergian sang ayah, tetapi Kiu Jian-jio langsung menghardiknya dengan suara bengis:

“Kalau kau ingin ayah, bolehlah kau pergi bersama dia dan jangan menemui aku lagi selamanya.”

Lik-oh menjadi serba salah, tetapi bila mengingat persoalan ini memang berpangkal pada kesalahan sang ayah, sedangkan siksa derita sang ibu jauh melebihi ayah, pula ayahnya sudah pergi jauh, untuk menyusulnya juga tak dapat Iagi. Terpaksa ia melangkah kembali dan duduk dengan diam.

BERSAMA LAGI

Dengan angkuhnya Kiu Jian-jio duduk di kursinya, dipandangnya sini dan diliriknya sana, lalu mengejek mereka yang hadir:

“Hmm, bagus! Kalian datang untuk pesta pora bukan? Tapi pestanya buyar tanpa jamuan, kalian tentu kecewa,?”

Semua orang ngeri tersapu oleh sorot matanya yang sangat tajam itu, semuanya kuatir kalau mendadak nenek itu menyemburkan senjata rahasianya yang aneh dan jiwa dapat melayang seketika. Hanya Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si dan Siau-siang-cu saja yang siap siaga.

Bahwa akhirnya Kongsun Ci mengalami nasib begitu, hal ini pun tidak terduga oleh Siao-liong-li dan Yo Ko. Mereka sama menghela napas panjang, lalu saling genggam tangan dengan kencang. Walau pun begitu Siao-liong-li tidak lupa kepada budi pertolongan jiwa Kongsun Ci, kini penolong itu terluka parah dan sudah kabur, mau tidak mau dia pun rada menyesal. Segera dia mengedipi Yo Ko, kedua orang lantas melangkah pergi.

Tapi baru sampai di ambang pintu, mendadak Kiu Jian-jio membentaknya: “Yo Ko hendak ke mana?”

Yo Ko putar balik dan memberi hormat, katanya: “Kiu-locianpwe, nona Lik-oh, sekarang juga kami mohon diri.” Dia tahu umur sendiri tidak akan lama lagi, karena itu dia pun tidak mengucapkan ‘sampai berjumpa’ segala.

Lik-oh membalas hormat anak muda itu tanpa berkata-kata, sedangkan Kiu Jian-jio menghardik dengan marah:

“Sudah kujodohkan puteriku ini padamu, kenapa kau tidak sebut aku sebagai ibu mertua, bahkan sekarang mau pergi begitu saja?”

Yo Ko melengak bingung. Ia merasa tidak pernah menyatakan mau terima si nona meski nenek itu memaksa untuk menjodohkan Lik-oh padanya.

Segera Kiu Jian-jio berkata: “Ruangan upacara di sini sudah tersedia, segala sesuatu juga telah disiapkan, tamu undangan pun telah hadir sekian banyak, kaum persilatan kita juga tidak perlu banyak adat, sekarang juga kalian berdua boleh menikah.”

Padahal demi Siao-liong-li, Yo Ko sudah menempur Kongsun Ci dengan mati-matian, hal ini telah disaksikan sendiri oleh Kim-Iun Hoat-ong dan lain-lain. Kini Kiu Jian-jio memaksa Yo Ko menjadi mantunya, mereka tahu akan terjadi keonaran lagi. Mereka saling pandang dengan tersenyum dan ada pula yang geleng-geleng kepala.

Dengan sebuah tangan merangkul bahu Siao-liong-li dan tangan lain memegangi tangkai Kun-cu-kiam, berkatalah Yo Ko:

“Maksud baik Kiu-locianpwe kuterima dengan rasa terima kasih, namun hati wanpwe sudah terisi, sesungguhnya aku tidak jodoh dengan puterimu.”

Sembari bicara ia pun melangkah mundur perlahan. Ia tahu watak Kiu Jian-jio amat aneh, bukan mustahil nenek itu mendadak menyemprotkan biji kurma, maka dia sudah siapkan pedangnya untuk menangkis.

Kiu Jian-jio melotot marah sekejap ke arah Siao-liong-li, lalu berkata: “Hmm, rase cilik ini memang amat cantik, pantas yang tua bangka tergila-gila, yang muda kesengsem.”

Cepat-cepat Lik-oh menyela: “Ibu, sudah lama Yo-toako dan nona Liong ini saling terikat oleh janji pernikahan, persoalan mereka biarlah nanti kuceritakan kepadamu.”

Tapi Kiu Jian-jio lantas mendamperatnya: “Cis, memangnya kau anggap ibumu ini siapa? Apa yang sudah kukatakan masa boleh diubah lagi? Nah, orang she Yo, mau tak mau kau harus tinggal di sini, jangankan anak perempuanku cukup cantik dan cocok bagimu, sekali pun dia bermuka jelek juga hari ini kau mesti memperisteri dia.”

Mendengar ucapan si nenek botak yang sangat semena-mena itu, Be Kong-co terbahak-bahak dan berseru:

“Ha-ha-ha, suami-isteri yang tinggal di sini betul-betul satu pasangan manusia ajaib, yang laki-laki memaksa perawan orang untuk menjadi isterinya, dan yang perempuan juga memaksa pemuda untuk mengawini puterinya. Ha-ha-ha, sungguh lucu! Eh, kalau orang menolak boleh tidak?”

“Tidak boleh!” jengek Kiu Jian-jio mendadak.

Dan selagi Be Kong-co bergelak tertawa dengan mulut terbuka, sekonyong-konyong terdengar suara mendesisnya sebuah benda kecil, satu biji kurma menyambar ke dahinya secepat kilat dan tampaknya sukar dihindarkan. Saking kagetnya cepat Be Kong-co berjongkok.

“Plokk!”

Dua buah gigi depannya rompal seketika akibat terkena biji kurma itu. Keruan Be Kong-co menjadi murka, ia mengerang dan menubruk maju.

“Awas, Be-heng!” cepat In Kik-si memperingatkan. Namun sudah terlambat!

“Plak! Plok!”

Tahu-tahu dua tempat Hiat-to pada kedua kaki Be Kong-co tepat terbidik oleh biji kurma yang disemprotkan Kiu Jian-jio, kontan kakinya lemas hingga jatuh tersungkur tak dapat bangun lagi. Menyambarnya biji-biji kurma itu sungguh cepat luar biasa.

Waktu Be Kong-co bergelak tertawa tadi Yo Ko sudah memperkirakan bahwa Kiu Jian-jio pasti akan menghajar si dogol. Segera ia melolos pedang hendak menolongnya, tapi tetap terlambat sedikit. Cepat dia membuka Hiat-to kaki Be Kong-co yang terbidik biji kurma itu lalu membangunkannya.

Orang dogol biasanya berhati jujur, begitu pula dengan Be Kong-co, dia berani mengaku kalah, apa lagi melihat Kiu Jian-jio tanpa bergerak, hanya pentang mulut saja dapat merobohkannya, hatinya menjadi sangat kagum, sambil mengacungkan ibu jari ia memuji:

“Kau sungguh hebat, nenek botak, kepandaianmu memang jauh lebih tinggi dari padaku. Aku mengaku kalah dan tak berani lagi padamu.”

Kiu Jian-jio tidak menggubrisnya, dia mendelik pada Yo Ko dan bertanya: “Jadi kau tetap tidak mau menikahi puteriku?”

Merasa dibikin malu di depan orang banyak, Kongsun Lik-oh tidak tahan lagi, segera dia melolos belati dan mengancam dada sendiri sambil berteriak:

“Ibu, jika engkau tanya dia lagi, segera anak membunuh diri di hadapanmu!”

Mendadak Kiu Jian-jio pentang mulutnya. “Berrr...!”

Satu biji kurma menyambar ke sana dan tepat menghantam belati yang dipegang Lik-oh, begitu hebat tenaganya sehingga belati itu mencelat lalu menancap pada tiang batu. Semua orang berseru kaget dan kagum betapa lihaynya senjata rahasia si nenek.

Yo Ko pikir tiada gunanya tinggal lebih lama di situ, segera dia gandeng Siao-liong-li dan diajaknya berangkat. Dengan hati pedih cepat Lik-oh mendekati Yo Ko dan menyodorkan baju robek yang dipinjamnya dari Yo Ko tempo hari, katanya dengan sedih:

“Yo-toako, ini bajumu!”

“Oh, terima kasih,” jawab Yo Ko dan menerima kembali baju itu. Ia dan Siao-liong-li cukup memahami maksud Lik-oh, yaitu sengaja mengaling di depan Yo Ko agar Kiu Jian-jio tidak dapat menyerangnya dengan biji kurma.

Sambil tersenyum simpul Siao-liong-li menyatakan terima kasihnya dengan mengangguk perlahan. Lik-oh memberi isyarat dengan mulutnya agar kedua orang itu lekas pergi.

Akan tetapi tiba-tiba Kiu Jian-jio berteriak: “Yo Ko, kau tidak mau menikahi puteriku, apakah jiwamu pun kau tidak mau lagi?”

Sambil tersenyum pedih Yo Ko melangkah mundur keluar pintu. Tiba-tiba Siao-liong-li merandek, hatinya terkesiap, katanya:

“Nanti dulu!” Lalu ia bertanya dengan suara lantang: “Kiu-iocianpwe, apakah engkau memiliki obat penawar racun bunga cinta?”

Sebenarnya hal ini telah terpikir oleh Lik-oh. Ia menduga ibunya pasti akan menggunakan obat penawar sebagai alat pemeras kepada Yo Ko agar anak muda itu mau menikahinya, sebab itulah sejak tadi dia tidak berani memohon obat itu bagi Yo Ko. Betapa pun dia adalah gadis suci bersih, dengan sendirinya tidak pantas membela Yo Ko di depan umum.

Tetapi sekarang urusan sudah gawat, ia tidak dapat memikirkan hal-hal itu lagi, segera ia berkata kepada sang ibu:

“Kalau saja Yo-toako tidak memberi bantuan, tentu saat ini ibu masih terkurung di goa bawah tanah, utang budi ini harus dibalas dengan budi pula, haraplah ibu suka berusaha menyembuhkan racun yang diidap oleh Yo-toako,”

“Hm, utang budi balas budi, utang jiwa balas jiwa? Masa di dunia dapat membedakan budi dan dendam sejelas itu?” jengek Kiu Jian-jio, “Coba kau katakan, apakah Kongsun Ci memperlakukan diriku secara begitu keji juga termasuk balas budinya padaku?”

Mendadak Lik-oh berteriak: “Anak paling benci terhadap laki-laki yang tak beriman. Kalau orang she Yo ini juga sengaja meninggalkan kekasih lama dan ingin menikahi anak, biar pun mati juga anak tidak sudi menjadi isterinya.”

Sebenarnya ucapan Lik-oh ini sangat cocok dengan jalan pikiran Kiu Jian-jio, tapi segera ia pun tahu maksud tujuan Lik-oh. Nona ini teramat cinta kepada Yo Ko, kalau anak muda itu mau menikahinya tentu saja ia bersedia pula. Cuma terpaksa oleh keadaan sekarang, yang diharapkan adalah menolong dulu jiwa Yo Ko.

Kim-Iun Hoat-ong, In Kik-si dan lain-Iain saling pandang dengan tersenyum menyaksikan adegan ‘kawin paksa’ yang amat menarik ini. Sampai sekarang barulah Kim-lun Hoat-ong tahu bahwa Yo Ko mengidap racun. Diam-diam dia girang dan berharap anak muda itu tetap kepala batu, dengan demikian orang yang berwatak seperti Kiu Jian-jio itu pasti tak akan mau memberi obat penawarnya apa bila tiada mendapatkan imbalan yang sesuai dengan kehendaknya.

Begitulah sorot mata Kiu Jian-jio mengusap perlahan muka setiap orang secara bergilir, kemudian dia berkata:

“Yo Ko, kulihat orang-orang yang hadir ini ada yang menginginkan kematianmu, tetapi ada juga yang berharap kau hidup terus, Nah, kau sendiri ingin mati atau ingin hidup, hendaklah kau memikirkan dengan baik!”

Sambil merangkul pinggang Siao-liong-li dengan lantang Yo Ko menjawab: “Bila dia tidak menjadi milikku dan aku tidak dapat memiliki dia, kami berdua lebih suka mati bersama.”

“Benar!” tukas Siao-liong-li dengan tertawa manis. Keduanya sudah ada perpaduan batin, cinta mereka telah sedemikian mendalam, mati hidup bagi mereka sudah bukan soal lagi.

Tapi Kiu Jian-jio sukar memahami isi hati Siao-liong-li. Dia membentak: “Jika bocah itu tidak kutoIong, maka jiwanya akan melayang, kau tahu tidak hal ini? Dia hanya dapat hidup 36 hari lagi, kau mengerti tidak?”

“Kalau kau sudi menolongnya dan kami dapat berkumpul lebih lama beberapa tahun lagi, kami amat berterima kasih,” kata Siao-liong-li. “Jika kau tidak mau menolongnya maka biarlah kami berkumpul lagi selama 36 hari juga boleh. Toh kalau dia mati aku sendiri pun tidak bakal hidup terus.”

Waktu bicara tadi wajahnya yang cantik molek itu sama sekali tidak mengunjuk sesuatu perasaan kuatir dan sedih, soal mati dan hidup dianggapnya sepele saja. Tentu Kiu Jian-jio merasa bingung, sebentar ia pandang Yo Ko, lain saat ia pandang Siao-liong-li, dilihatnya kedua muda-mudi itu saling menatap dengan penuh kasih sayang, rasa cinta murni begini selamanya belum pernah terasakan oleh Kiu Jian-jio sendiri, malah juga tidak pernah terpikir olehnya ternyata di dunia ini ada lelaki dan perempuan yang begitu mendalam cintanya.

Tanpa terasa dia ingat nasibnya sendiri yang bersuamikan Kongsun Ci, akhirnya ternyata begini jadinya. Mendadak ia menghela napas panjang dan air matanya bercucuran.

Segera Lik-oh menubruk maju dan merangkul sang ibu, katanya dengan menangis: “Oh, ibu, obatilah dia. Nanti kita pergi mencari Jiku saja, beliau sangat rindu padamu bukan?”

Karena air matanya, terangsang pula perasaan halusnya sebagai wanita. Segera Kiu Jian-jio teringat kepada kedua kakaknya, kakak pertama menurut surat kakak kedua yang dibacakan oleh Kongsun Ci katanya sudah tewas di tangan Kwe Ceng dan Oey Yong, sedangkan dirinya sendiri lumpuh dan kakak kedua sekarang sudah menjadi Hwesio, itu berarti sakit hati kematian kakak pertama itu sukar dibalas lagi.

Tiba-tiba teringat oleh Kiu Jian-jio bahwa ilmu silat bocah she Yo ini tidak lemah, kalau dia bersikeras tidak mau menikahi Lik-oh, boleh juga kusuruh dia membalaskan sakit hatiku kepada Kwe Ceng dan Oey Yong sebagai imbalannya! Sesudah mengambil keputusan demikian, perlahan dia lantas mengeluarkan satu-satunya Coat-ceng-tan yang masih ada. Dia potong pil persegi sebesar gundu itu menjadi dua dengan kukunya, dia ambil setengah potong obat itu dan ditaruh pada telapak tangannya lalu berkata:

“Nah, Yo Ko, obat akan kuberikan padamu, kau tak sudi menjadi menantuku juga tak apalah, tapi kau harus berjanji untuk melakukan suatu urusan bagiku.”

Yo Ko saling pandang sekejap dengan Siao-liong-li, sama sekali tak terduga bahwa nenek botak itu bisa berhati baik kepada mereka. Biar pun kedua orang tidak memikirkan soal mati dan hidup lagi, tapi kalau ada jalan untuk tetap hidup, sudah tentu hal ini sangat menggembirakan. Segera dia bertanya:

“Urusan apa yang perlu kulakukan bagi Kiu-locianpwe? Jika mampu tentu akan kami kerjakan sepenuh tenaga.”

“Aku ingin kau menanggalkan kepala dua orang lalu diserahkan padaku di sini,” jawab Kiu Jian-jio.

Mendengar itu, seketika Yo Ko dan Siao-liong-li berpikir bahwa salah satu di antara kedua orang yang ingin dibunuhnya itu pasti Kongsun Ci adanya. Sudah tentu Yo Ko tidak mempunyai kesan baik terhadap Kongsun Ci. Setelah matanya buta sebelah dan punah ilmu kebal Tiam-hiatnya, dalam waktu singkat saja keadaan Kongsun Ci tentu amat payah, untuk mencari dan membunuhnya rasanya tidak sukar. Tapi mengingat dia adalah ayah Lik-oh, sedangkan nona itu sangat kesengsem pada dirinya, rasanya menjadi tidak enak kalau ayahnya harus dibunuh.

Dalam hati Siao-liong-li juga merasa utang budi kepada Kongsun Ci. Meski pun orang itu memang jahat dan pantas dibinasakan, tapi melihat sikap Kiu Jian-jio yang ketus itu, kalau permintaannya tidak dilaksanakan betapa pun obat yang dimilikinya pasti tidak akan diberikan kepada Yo Ko, tampaknya urusan ini harus disanggupi lebih dulu.

Melihat kedua orang itu mengunjuk rasa ragu, Kiu Jian-jio lantas menjengek: “Aku pun tidak tahu antara kalian dengan dua orang itu apakah ada hubungan baik atau tidak, tetapi yang pasti aku harus membunuh kedua orang itu.” Sembari bicara tangannya memainkan setengah potong pil Coat-ceng-tan dengan dilempar-lemparkan ke atas secara acuh tak acuh.

Yo Ko merasa nada ucapan Kiu Jian-jio itu seperti Kongsun Ci yang dimaksud. Segera ia pun bertanya:

“Siapakah musuh-musuh Kiu-locianpwe?”

“Masa kau tidak mendengar isi surat yang dibaca tadi?” jawab Kiu Jian-jio. “Dua orang yang membunuh Toako-ku kan bernama Kwe Ceng dan Oey Yong.”

“Aha, bagus sekali, sungguh kebetulan!” seru Yo Ko kegirangan. “Kedua orang itu adalah pembunuh ayahku, seumpama tak ada permintaanmu juga Wanpwe akan menuntut balas kepada kedua orang itu.”

Hati Kiu Jian-jio terkesiap. “Apa betul katamu?” ia menegas.

“Taysu ini juga pernah bersengketa dengan kedua orang itu, malah urusanku juga pernah aku ceritakan padanya,” kata Yo Ko sambil menuding Kim-lun Hoat-ong.

Kiu Jian-jio memandang ke arah Hoat-ong sebagai tanda bertanya.

“Ya, memang benar, ” jawab Hoat-ong sambil mengangguk, “Tapi saudara Yo ini waktu itu jelas membantu Kwe Ceng dan Oey Yong serta memusuhiku.”

Siao-liong-li dan Kongsun Lik-oh menjadi gemas karena Hwesio ini senantiasa berusaha mengadu domba, berbareng mereka melototinya. Namun Kim-lun Hoat-ong anggap tidak tahu saja, dengan tersenyum dia bertanya pada Yo Ko:

“Saudara Yo, coba katakan, betul tidak ucapanku tadi?”

“Benar,” jawab Yo Ko dengan tertawa, “Sesudah kubalas sakit hati ayah-bundaku, kelak aku masih harus minta petunjuk beberapa jurus lagi kepada Taysu.”

“Baik, baik!” ujar Hoat-ong sambil merangkap kedua tangannya depan dada.

Kalau kedua orang itu sedang adu mulut, Kiu Jian-jio sedang merenungkan persoalannya sendiri, tiba-tiba dia menyodorkan obat yang dipegangnya dan berkata kepada Yo Ko:

“Aku tidak urus apakah ucapanmu benar atau tidak, bolehlah kau makan obat ini.”

Yo Ko mendekatinya dan menerima obat itu. Ia menerima obat itu cuma setengah potong saja, diam-diam ia pun paham maksud si nenek, katanya dengan tertawa:

“Jadi setengah potong obat lagi harus kutukar dengan kepala kedua orang itu?”

“Benar, kau memang pintar,” jawab Kiu Jian-jio mengangguk.

Yo Ko pikir minum saja setengah potong obat ini dari pada sama sekali tidak ada. Maka ia terus memasukkan obat itu ke mulut dan ditelannya ke dalam perut.

“Di dunia ini Coat-ceng-tan ini cuma sisa satu biji saja, sekarang setengahnya sudah kau minum, masih ada separoh lagi yang akan kusimpan pada suatu tempat. 18 hari lagi akan kuberikan obat itu apa bila kau membawa kepala kedua orang yang kuminta,” kata Kiu Jian-jio kemudian. “Kalau kau tidak melaksanakan perintahku, biar pun nanti kau dapat menawan aku serta menyiksaku dengan cara apa pun juga, maka jangan harap akan mendapat separoh pil itu. Nah, cukup sampai di sini saja, selamanya aku bicara dengan tegas. Para tamu silakan pulang. Yo-toaya dan nona Liong, kita berjumpa 18 hari lagi.” Habis bicara dia terus memejamkan mata tanpa menggubris orang lain, jelas sikapnya itu adalah mengusir tetamu.

“Mengapa memberi batas waktu 18 hari?” tanya Siao-liong-li.

Sambil pejamkan mata Kiu Jian-jio menjawab: “Racun bunga cinta mestinya baru akan bekerja 36 hari lagi. Tetapi sekarang dia sudah makan separoh pil Coat-ceng-tan sehingga kadar racun di dalam tubuhnya mengumpul menjadi satu, masa kerjanya menjadi tambah cepat. Maka 18 hari lagi kalau dia makan sisa obat ini seketika racun dalam tubuhnya akan punah, kalau tidak...” sampai di sini dia tidak meneruskan lagi melainkan memberi tanda agar semua orang lekas pergi.

Yo Ko dan Siao Iiong-li tahu orang ini sukar diajak bicara dengan baik-baik, maka segera mereka melangkah pergi. Setiba di mulut lembah dan melihat kudanya yang ditinggalkan oleh Yo Ko pada saat datang itu, sekali Yo Ko bersuit, segera kuda itu berlari keluar dari hutan sana. Meski pun Yo Ko hanya tiga hari saja berada di Cui-sian-kok, namun selama tiga hari ini telah banyak mengalami bahaya dan beberapa kali jiwanya hampir melayang, kini bisa meninggalkan tempat berbahaya ini bersama dengan buah hatinya, sungguh dia merasa seperti hidup di dunia lain.

Sementara itu fajar sudah menyingsing. Berdiri di tempat tinggi memandangi perkampungan yang penuh dikelilingi pepohonan yang rindang di bawah sinar sang surya pagi, pemandangan yang menghijau permai itu sungguh sangat menarik.

Yo Ko menggandeng Siao-liong-li ke bawah pohon yang rindang, katanya: “Kokoh...“

“Kukira kau jangan memanggil Kokoh lagi padaku,” ujar Siao-liong-li sambil menggelendot di tubuh anak muda itu.

Dalam hati Yo Ko memang sudah lama tidak menganggap Siao-liong-li sebagai guru lagi. Ia masih memanggil ‘Kokoh’ (bibi) padanya adalah karena kebiasaan, maka senang sekali ia mendengar ucapan si nona tadi. Ia berpaling dan menatap bola mata Siao-liong-li yang hitam itu, lalu bertanya:

“Habis aku mesti panggil apa?”

“Kau suka memanggii apa, boleh terserah padamu,” kata Siao-liong-li.

Yo Ko termenung sejenak. lalu berkata pula: “Saat yang paling menyenangkan selama hidupku adalah waktu kita tinggal bersama di kuburan kuno. Tatkala itu kupanggil engkau Kokoh, sampai mati pun biarlah tetap kupanggil kau Kokoh.”

“Ehh? Kau masih ingat tidak ketika kupukul pantatmu, apakah waktu itu kau pun sangat senang?” ujar Siao-liong-li dengan tertawa.

Mendadak Yo Ko merangkul Siao-liong-li ke dalam pelukannya. Terasa bau harum lembut dari tubuh si nona yang berbaur dengan hawa segar tetumbuhan pegunungan. Sungguh membikin orang mabuk dan syur serta sukar mengendalikan diri.

Dengan perlahan Yo Ko berkata: “Kalau kita berada bersama seperti ini selama 18 hari, kukira kita akan mati bahagia sehingga tidak perlu membunuh Kwe Ceng dan Oey Yong segala. Dari pada kita susah-susah pergi ke sana lalu bertempur mati-matian, lebih baik kita hidup aman tenteram untuk menikmati kebahagiaan selama 18 hari ini.”

“Terserah bagaimana kehendakmu!” ujar Siao-liong-li, “Dahulu aku selalu menyuruh kau tunduk pada perintahku, sejak kini aku cuma menuruti perkataanmu.”

Biasanya Siao-liong-li sangat dingin, tapi sekarang perasaannya penuh kasih mesra, mulai mata alisnya hingga badannya serta tangan dan kaki pun terasa hangatnya cinta kasih. Ia merasa bahagia apa bila menuruti perkataan Yo Ko dengan segenap jiwa raganya.

Yo Ko termangu memandangi Siao-liong-li. Setelah agak lama barulah dia berkata dengan perlahan:

“Mengapa matamu menggenang air?”

Siao-liong-li pegang sebelah tangan anak muda itu lantas ditempelkan perlahan pada pipi sendiri, jawabnya kemudian dengan suara lambat:

“Aku... aku sendiri tidak tahu.” Selang sejenak dia menyambung: “Tentunya disebabkan aku teramat suka padamu.”

“Kutahu kau sedang berduka sesuatu persoalan,” ujar Yo Ko.

Tiba-tiba Siao-liong-Ii mengangkat kepalanya dan air mata pun bercucuran. Ia mendekap dalam pelukan Yo Ko, katanya dengan tersedu-sedan:

“Ko-ji. Ko-ji, kau... kita hanya ada waktu 18 hari, mana bisa cukup?”

Yo Ko mengusap bahu si nona dan berkata: “Ya, aku pun bilang tidak cukup.”

“Kuingin kau senantiasa perlakukan aku begini, selamanya, seratus tahun, seribu tahun,” kata Siao-liong-li dengan ter-sedat.

Yo Ko pegang muka Siao-liong-li dan dikecupnya perlahan bibirnya yang merah delima itu, lalu berkata dengan tegas:

“Baik, betapa pun harus kubunuh Kwe Ceng dan Oey Yong.”

Ketika ujung lidah merasakan asinnya air mata si nona, seketika cinta berahinya bergejolak, serentak dadanya kesakitan, seluruh tubuhnya seakan-akan meledak. Pada saat itulah mendadak terdengar suara seseorang berkata di tempat ketinggian sebelah sana:

“Huh, seumpama ingin ber-kasih-kasihan, kan harus mencari tempat yang baik dan tidak perlu di tempat terbuka seperti ini.”

Cepat Yo Ko menoleh, dilihatnya di atas tanjakan bukit sana berdiri Kim-lun Hoat-ong, Be Kong-co, ln Kik-si, Siau-siang-cu dan Nimo Singh. Yang membuka suara tadi jelas adalah Kim-lun Hoat-ong. Kiranya sewaktu Yo Ko dan Siao-liong-li meninggalkan Cui-sian-kok secara terburu-buru tanpa menghiraukan orang lain, maka Kim-lun Hoat-ong serta rombongannya diam-diam mengikuti di belakang mereka. Saking asyiknya Yo Ko dan Siao-liong-li menumpahkan rasa cinta masing-masing sehingga mereka tidak tahu kalau perbuatan merekanya dilihat oleh Hoat-ong dan rombongan.

Begitu teringat pada sikap Kim-lun Hoat-ong yang kurang simpatik, beberapa kali sengaja mengadu domba Yo Ko dengan Kongsun Ci dan hampir saja Yo Ko dicelakai, diam-diam Yo Ko merasa menyesal telah bantu menyembuhkan luka Hoat-ong ketika dia bersemadi di pegunungan sunyi tempo hari. Tahu begitu tentu Hwesio gede itu telah dibinasakannya.

Melihat sorot mata Yo Ko yang marah, cepat Siao-liong-li menghiburnya: “Jangan urus orang macam begitu, orang begitu biar pun hidup selamanya juga tidak lebih bahagia dari pada kita hidup selama 18 hari.”

Dalam pada itu terdengar Be Kong-co berseru: “Adik Yo dan nona Liong, mari kita pergi bersama. Pegunungan sunyi begini masa ada yang menarik?”

Tapi yang diharapkan Yo Ko sekarang ini hanyalah dapat berkumpul bersama Siao-liong-li selama masih ada kesempatan, namun orang-orang itu justru datang mengganggunya. Ia tahu Be Kong-co bermaksud baik, maka lantas ia menjawab:

“Silakan Be-toako berangkat dahulu, sebentar Siaute menyusul.”

“Baiklah, lekas ya!” kata Be Kong-co.

“Ha-ha-ha, mengapa kau ikut ribut?” ujar Kim-lun Hoat-ong sambil bergelak tawa, “Mereka lebih suka bergadang selama 18 hari di pegunungan sunyi ini, tetapi kau justru merecoki.”

Mengenai batas waktu 18 hari seperti apa yang dikatakan Kiu Jian-jio dapat didengar setiap orang, maka Be Kong-co menjadi gusar mendengar ucapan Kim-lun Hoat-ong, mendadak ia menubruk maju dan menjamberet baju di dada Hoat-ong dan mendamperat:

“Bangsat gundul, hatimu sungguh keji! Kita datang ke sini satu rombongan dengan adik Yo. Kau tidak membantu dia saja kudu dimaki, sekarang kau malah mengejek dan meng-olok dia lagi, sebenarnya apa kehendakmu?”

“Hm, kau lepaskan tidak?” jengek Hoat-ong.

“Tidak, kau mau apa?” jawab Be Kong-co dengan marah bahkan ia tarik baju orang dengan lebih kencang. Mendadak kepalan kanan Hoat-ong menjotos ke muka lawan.

“Bagus! Kau ingin berkelahi, ya?” seru Be Kong-co sambil angkat telapak tangannya yang besar untuk menangkap kepalan Hoat-ong.

Tak terduga jotosan Hoat-ong itu ternyata pancingan belaka, tangan kirinya menolak sekuatnya di punggung Be Kong-co, kontan tubuh Be Kong-co yang besar langsung mencelat ke sana dan terguling ke bawah tanjakan bukit.

Untunglah lereng bukit itu penuh rumput tebal dan panjang, pula kulit daging Be Kong-co kasar lagi tebal sehingga dia tidak mengalami luka parah, sungguh pun begitu tidak urung kepalanya benjol dan muka matang biru. Sampai lama dia tidak sanggup bangun.

Ketika melihat kedua orang mulai bergebrak, Yo Ko tahu bahwa Be Kong-co pasti akan kecundang. Saat ia memburu ke sana, namun sudah terlambat, Be Kong-co telah telanjur terguling ke bawah. Segera Yo Ko memayangnya bangun, kedua orang lantas naik lagi ke atas bukit. Meski pun dogol, akan tetapi orang dogol juga punya akal dogoI. Dia tahu kalau berkelahi secara berhadapan pasti bukan tandingan, maka sambil berjalan ia pun pura-pura merintih kesakitan.

“Aduh tanganku patah dipukul bangsat gundul!”

Bahwa Kim-Iun Hoat-ong diundang oleh pangeran MongoI, yakni Kubilai, serta diangkat menjadi Koksu kerajaan MongoI, hal ini memang sudah menimbulkan rasa dongkol tokoh-tokoh lain seperti Siau-siang-cu, Nimo Singh dan lain-lain. Sekarang mereka melihat pula Hoat-ong bertindak sangat semena-mena terhadap kawan sendiri, keruan Siau-siang-cu dan Nimo Singh bertambah gusar, segera keduanya saling memberi isyarat.

“Hmm, kepandaian Taysu memang hebat, pantas mendapatkan gelar Koksu nomor satu kerajaan MongoI,” demikian Sian-siang-cu mengejek.

“Ahh, mana aku...” Hoat-ong berendah hati.

Dia dapat melihat gelagat bahwa kedua orang ini ada maksud menyerangnya, sedangkan Yo Ko dan Siao-liong-li di sebelah lain juga siap-siap akan melabrak, bagaimana dengan In Kik-si belum lagi diketahui. Kalau saja dirinya dikerubut, walau pun belum tentu kalah, namun untuk menang jelas juga sukar. Maka sambil berjalan diam-diam dia pun mencari akal untuk meloloskan diri.

Di luar dugaan, sambil berlagak merintih kesakitan, Be Kong-co mendekati belakang Hoat-ong dan mendadak menghantam tepat mengenai kepalanya. Dengan kepandaian Kim-Iun Hoat-ong yang maha tinggi, sesungguhnya sukar bagi Be Kong-co untuk menyergapnya. Tetapi sekarang perhatian Hoat-ong lagi dicurahkan untuk menghadapi kemungkinan kerubutan Yo Ko, Siau-siang-cu dan lain-lain, sehingga ia tidak memperhatikan kelakuan si dogol dan akibatnya kena dihantam keras dari belakang.

Hantaman keras itu membuat kepala Hoat-ong kesakitan dan mata berkunang-kunang. Dengan murka tanpa pikir Hoat-ong menyikut ke belakang hingga dada Be Kong-co tepat tersodok. Tanpa ampun si dogol menjerit dan rebah ke bagian depan. Perawakan Hoat-ong lebih pendek, sementara itu tubuh Be Kong-co yang tinggi besar itu tepat rebah dan bersandarkan di pundaknya. Tanpa pikir lagi Hoat-ong terus memanggul tubuh yang gede itu dan di bawa lari ke bawah bukit.

Tindakan Hoat-ong ini betul-betul di luar dugaan siapa pun. Dengan pedang terhunus Yo Ko yang pertama-tama mengudak ke sana. Kepandaian Kim-Iun Hoat-ong betul-betul luar biasa, meski memanggul seorang raksasa yang beratnya hampir 300 kati, namun larinya secepat terbang. Yo Ko, Siao-liong-li, Nimo Singh dan lain-lain juga memiliki Ginkang yang tinggi, tapi dalam jarak berpuluh meter itu sukar bagi mereka menyusulnya.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar