ads

Selasa, 27 Juli 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 13

“Ya, memang benar, aku sudah salah membunuh orang, bolehlah kau balaskan dendam Sun-popoh dengan pedang ini, aku tidak akan menangkisnya.”

Nampak kelakuan Hek Tay-thong ini, semua orang terperanjat luar biasa. Karena kuatir betul-betul Yo Ko menerima pedang itu dan melukai orang, lekas-lekas Kwe Ceng berseru:

“Ko-ji, jangan kurang ajar.”

Akan tetapi betapa cerdiknya Yo Ko. Dia tahu di hadapan Kwe Ceng dan Oey Yong, soal membalas dendam ini tak akan terlaksana, maka dengan dingin ia lantas menjawab:

“Hm, sudah terang kau tahu Kwe-pepek pasti tak perkenankan aku turun tangan, sekarang kau sengaja berlagak gagah?”

Hek Tay-thong adalah Bu-lim-cianpwe atau angkatan tua dari kalangan persilatan, namun kini kena didebat oleh kata-kata yang begitu menusuk, ia pun menjadi bungkam tak dapat menjawab, pedang yang dia sodorkan menjadi serba salah, diangsurkan terus orang tak terima, ditarik kembali rasanya malu. Mendadak dia salurkan tenaga dalamnya, maka terdengarlah suara “peletak” yang keras, tahu-tahu pedang itu patah menjadi dua.

“Sudahlah, sudahlah!” katanya sambil menghela napas, ia pun lempar pedang patah itu ke tanah, kemudian dengan langkah lebar ia bertindak pergi.

Kwe Ceng masih bermaksud menahannya, namun orang sudah pergi tanpa menoleh lagi. Tentu saja Kwe Ceng mulai ragu-ragu, ia pandang Yo Ko lalu pandang lagi Sun Put-ji bertiga, dia pikir apa yang dikatakan Yo Ko agaknya bukan bikinan belaka.

“Kenapa para guru dari Coan-cin-kau tak mengajarkan kepandaian padamu? Lalu selama beberapa tahun ini apa yang kau kerjakan?” ia tanya setelah lewat sejenak, lagu suaranya sekarang sudah berubah lunak.

“Waktu Kwe-pepek membawa aku ke Cong-lam-san, beberapa ratus Tosu di sana sudah kau pukul pontang-panting tanpa mampu membalas. Umpamanya Ma, Khu, Ong dan lain-lain Cinjin tidak pikirkan peristiwa ini, apakah imam-imam yang lain juga tidak dendam?” demikian sahut Yo Ko. “Sudah tentu mereka tidak berani padamu Kwe-pepek, lalu apakah mereka tidak bisa melampiaskan dongkol mereka atas diriku? Malahan mereka bisa-bisa ingin mampuskan aku baru merasa puas. Karena itu mana mereka mau mengajarkan ilmu silat lagi kepadaku? Kalau selama ini penghidupan yg kulewatkan adalah gelap tak pernah melihat cahaya dan kini masih bisa berjumpa dengan Kwe-pepek, hal ini boleh dikatakan terlalu beruntung sekali.”

Begitulah, meski pun usia Yo Ko masih muda, tapi cara bicaranya masih lebih pintar dari pada Thio Ci-keng. Dengan hanya beberapa patah kata itu saja, secara enteng dia sudah limpahkan semua sebab musabab memberontak keluar dari Coan-cin-kau itu kepada diri Kwe Ceng.

KAWAN MASA KECIL

Dan apa yang dibilang ‘gelap tak pernah melihat sinar’ sesungguhnya juga tidak bohong. Selama itu ia tinggal di dalam kuburan kuno, maka dengan sendirinya sinar matahari sulit dilihatnya. Tetapi dalam pendengaran Kwe Ceng, rasa kasihannya kepada anak muda ini menjadi ber-limpah. Dilain pihak Ci-keng melihat Kwe Ceng sembilan bagian sudah mau percaya terhadap penuturan Yo Ko, ia menjadi gugup.

“Kau... kau ngaco belo... Hm, Coan-cin-kau kami adalah golongan kesatria sejati, mana... mana bisa...” demikian ia coba membela diri dengan suara tak lancar.

Kwe Ceng terlalu lurus orangnya, dia anggap apa yang dikatakan Yo Ko itu tentu benar-benar terjadi. Sebaliknya Oey Yong yang kecerdasannya masih jauh di atas Yo Ko, hanya melihat air muka pemuda ini saja segera Oey Yong tahu kata-kata Yo Ko itu ada udang di balik batu. Dia pikir bocah ini sangat licin, tentu di dalamnya masih ada sesuatu yang tidak benar. Maka segera ia pun menyela:

“Jika begitu, jadi sedikit ilmu silat pun kau tak bisa? Lalu selama beberapa tahun di Coan-cin-kau tentunya terbuang percuma, bukan?” demikian sambil berkata, perlahan-lahan dia pun berdiri, mendadak sebelah tangannya menjulur terus menggablok ke atas kepala Yo Ko.

Pukulan ini dilontarkan dengan jari tangan tepat mengarah ‘pek-hwe-hiat’ pada ubun-ubun kepala, sedang telapak tangan menepok ‘siang-seng-hiat’ pada batok kepala. Kedua Hiat-to ini adalah tempat yang mematikan, asal kena digablok tangan Oey Yong, maka tanpa perlu disangsikan lagi pasti nyawa Yo Ko akan melayang tanpa tertolong. Tentu saja Kwe Ceng terperanjat. Ia menjerit:

“Yong-ji!”

Akan tetapi cepat luar biasa Oey Yong mengayun tangannya. Tipu pukulan ini adalah satu di antara ‘lok-eng-cio-hoat’ ajaran ayahnya, sebelum dilakukan sedikit pun tidak memberi tanda-tanda lebih dahulu, begitu bergerak, begitu pula telapak tangannya sudah sampai di tempat sasarannya, Kwe Ceng ingin menolong pun tak keburu lagi.

Namun Yo Ko tidak biarkan dirinya dihantam begitu saja, dengan segera tubuhnya sedikit mendoyong ke belakang bermaksud menghindarkan diri. Tetapi betapa hebat kepandaian Oey Yong, sekali ia turun tangan, tidak akan sasarannya dapat mengelakkan diri, maka dengan segera telapak tangannya sudah berada di atas ubun-ubun Yo Ko.

Sungguh bukan buatan kejut Yo Ko. Cepat hendak ditangkisnya pukulan itu, tapi tiba-tiba pikirannya tergerak, tangan yang sudah sedikit diangkat mendadak dia luruskan ke bawah lagi.

Hendaklah diketahui bahwa Kwe Ceng berilmu silat maha tinggi, tapi pembawaan otaknya tumpul. Bila dia menjadi Yo Ko, tentu sebelum mengerti apa yang harus diperbuatnya lebih dulu tangannya pasti diangkat buat menangkis. Tetapi lain dengan Yo Ko. Pemuda ini cerdik luar biasa, otaknya pun bisa bekerja cepat, begitu tangannya hendak menangkis, segera terkilas dalam pikirannya: “Ah, kiranya Kwe-pekbo bermaksud menjajal ilmu silatku, kalau aku menangkis pukulannya, ini berarti aku mengakui kata-kataku tadi bohong belaka.”

Meski pun begitu, pukulan yang dilontarkan Oey Yong ini adalah tipu mematikan yang amat lihay, kalau orang bukan bermaksud menjajal kepandaiannya dan dirinya tidak menangkis. apakah ini bukan bergurau dengan jiwanya sendiri. Begitulah dalam sekejapan itu bagaikan tarikan api cepatnya, pikiran Yo Ko sudah bolak-balik berubah beberapa kali, tetapi akhirnya dia tak hiraukan jiwanya lagi dan pukulan itu tidak ditangkisnya.

Harus diketahui bahwa dengan kepandaian Yo Ko sekarang ini, biar pun masih belum bisa memadai Oey Yong, kalau menangkis pukulan itu saja rasanya tidak sulit. Tetapi ternyata pemuda ini berani mengambil resiko itu, ia luruskan tangan tak bergerak dan menantikan pukulan orang. Kalau bukan watak Yo Ko memang keras kepala serta suka turuti maksud hatinya, sungguh tak akan dilakukannya. Dan ternyata memang benar pukulan Oey Yong ini hanya percobaan saja untuk menjajal ilmu silat Yo Ko. Pada waktu telapak tangannya sudah hampir menempel di kepala orang, tiba-tiba ia hentikan dan tahan pukulannya. Ia lihat wajah Yo Ko rada mengunjuk takut dan bingung, sama sekali tidak angkat tangan buat menangkis, juga tidak mengumpulkan Iwekang untuk melindungi tempat-tempat yang berbahaya, nyata memang sikap seorang yang tak paham ilmu silat sedikit pun.

“Ya, memang aku tak ajarkan ilmu silat kepadamu, itu disebabkan aku ingin kau menjadi orang baik,” demikian kata Oey Yong sambil tersenyum, sambil tarik kembali tangannya. “Dan para Toya dari Coan-cin-pay rupanya juga berpikir sama dengan aku.” Habis ini dia balik kembali ke tempat duduknya tadi, dengan suara perlahan dia bisiki Kwe Ceng pula: “Memang betul dia tidak mendapat ajaran ilmu silat dari Coan-cin-pay.”

Akan tetapi Oey Yong adalah wanita secerdik kancil, baru selesai dia berkata, mendadak dalam hatinya menjerit:

“Ahh, celaka, salah! Salah! Hampir saja aku kena dikelabui setan cilik ini.”

Kiranya ia menjadi ingat masa lalu ketika Yo Ko tinggal di Tho-hoa-to, di mana bocah itu pernah tewaskan seorang pengemis anak murid Kay-pang dengan Ha-mo-kang atau ilmu weduk katak. Ilmu silatnya pada waktu itu sudah mempunyai dasar yang kuat, sekali pun selama beberapa tahun ini tidak mendapat sesuatu kemajuan, namun dengan pukulannya tadi yang mengarah ubun-ubun di atas kepala, betapa pun juga bocah ini harusnya pasti akan menangkisnya.

Katanya di dalam hati: “Ha, kau benar-benar setan cerdik yang luar biasa, kalau tadi kau tangkis pukulanku dengan lagak kelabakan, mungkin aku kena kau kelabui, tetapi kini kau pura-pura tak paham sama sekali, hal ini malah berbalik mencurigakan aku.”

Betapa pun juga memang Oey Yong masih satu tingkat lebih pintar, untuk bisa menimpali kecerdasannya maka Yo Ko harus hidup belasan tahun lagi dan sesudah pengalamannya bertambah. Begitulah Oey Yong juga tidak mau membongkar rahasia Yo Ko. Dia pikir biarlah aku lihat sandiwara apa yang hendak kau mainkan. Oleh karena itu ia hanya pandang Ci-keng, lalu pandang lagi Yo Ko, ia tersenyum, tetapi tak berkata.

Ci-keng menjadi murka. Dia lihat Oey Yong sudah menjajal dengan pukulannya dan sama sekali tak ditangkis Yo Ko, ia menyangka Oey Yong telah kena diingusi pemuda itu, hal ini berarti lebih menunjukkan pihaknya yang bersalah. Maka ia tidak tahan lagi, dengan suara keras ia berteriak-teriak.

“Anak haram ini banyak tipu muslihatnya. Tadi kau tak berhasil menjajalnya, Oey-pangcu, maka biarlah aku yang mencobanya,” demikian teriaknya sengit. Lalu ia mendekati Yo Ko, ia tuding hidung pemuda ini sambil memaki: “Anak haram, apa benar-benar kau tak bisa ilmu silat? Nah, baiklah, jika kau tak sambut pukulanku ini, maka Toya pun tidak bermurah hati, mau mati atau ingin hidup tergantung kau sendiri.”

Ci-keng tahu bahwa tingkat ilmu silat Yo Ko kini sudah di atas dirinya. Ia pikir asal dirinya mendadak menyerang dengan tipu yang mematikan, dalam keadaan demikian mau tidak mau pasti Yo Ko akan unjuk kepandaian aslinya, tetapi kalau masih berlagak pikun, maka sekali pukul biar lenyapkan saja jiwanya, paling banter nantinya ribut dengan Kwe Ceng suami isteri dan didamperat oleh Suhu dan Kaucu (ketua agama).

Demikianlah jalan pikiran Ci-keng pada waktu itu. Nyata saking gemasnya pada si Yo Ko mengakibatkan timbulnya pikiran jahat, ia pikir pula: “Memang kau sudah menduga Oey-pangcu tidak akan mencelakai jiwamu, maka kau berani pura-pura bodoh, tetapi kini jatuh di tanganku, coba kau masih berani main pura-pura tidak?”

Segera ia hendak turun tangan. “Nanti dulu,” tiba-tiba Kwe Ceng mencegah.

Rupanya Kwe Ceng merasa kuatir jiwa Yo Ko bisa melayang. Selagi ia hendak mencegah lebih jauh, mendadak Oey Yong menarik tangannya.

“Jangau kau urus dia,” dengan suara perlahan Oey Yong membisikinya.

Nyata Oey Yong menduga pukulan Thio Ci-keng yang sedang murka itu tentu dilontarkan dengan cara tak kenal ampun, sekali-kali Yo Ko takkan berani ambil risiko untuk bergurau dengan jiwanya sendiri dan tentu terpaksa akan balas menyerang, tatkala itu, bagaimana duduknya perkara tentu pula akan menjadi terang.

Dengan sendirinya Kwe Ceng tidak bisa menyelami hal-hal ber-Iiku itu. Ia masih merasa tidak tenteram, tetapi biasanya sang isteri dapat mengatur tepat, apa yang dikatakannya pasti takkan meleset, maka ia pun tidak buka suara lagi. Ia berdiri di samping sambil was-was, ia tunggu bila mana keadaan betul-betul berbahaya barulah akan turun tangan menoIongnya.

Sementara itu sebelum Ci-keng bertindak lebih dulu ia sudah berkata pada Sun Put-ji dan In Ci-peng:

“Sun-susiok, In-sute, anak haram ini berlagak tak bisa ilmu silat, aku terpaksa menjajal kepandaiannya, bila mana dia tetap kepala batu sampai titik terakhir, maka sekali hantam akan kubinasakan dia, hendaklah nanti di hadapan Suhu, Khu-supek dan Kaucu sukalah kalian berdua menjadi saksi.”

Tentang memberontaknya Yo Ko dari Coan-cin-kau, dengan sendirinya Sun Put-ji sudah mengetahui seluruhnya. Dan kini melihat kelicinan Yo Ko yang keterlaluan hingga Ci-keng terdesak tak berdaya, hingga Coan-cin-kau kelihatan di pihak salah, maka ia pun berharap Ci-keng berhasil memaksa bocah itu memperlihatkan corak asIinya. Maka dengan tertawa dingin ia menjawab:

“Ya, binasakan saja murid murtad yang durhaka ini!”

Dengan kedudukan Sun Put-ji sebagai satu imam yang beribadat, mana mungkin ia suruh orang membunun begitu saja? Beberapa kata-katanya itu tujuannya tidak lain hanya untuk me-nakuti Yo Ko agar pemuda ini tak berani lagi pura-pura.

Di lain pihak, karena mendapat dukungan paman gurunya, nyali Ci-keng menjadi besar. Begitu kaki kanan diangkat, tanpa sungkan-sungkan lagi segera dia tendang perut Yo Ko dengan tipu gerakan ‘Thian-san-hui-toh’ (Terbang Melintasi Thian-san). Tendangan yang membawa tenaga keras dan tenaga tersembunyi ini sesungguhnya lihay luar biasa.

Tipu tendangan ini adalah pelajaran pertama bagi orang yang belajar ilmu silat Coan-cin-pay, meski cara menyerangnya biasa saja tiada yang aneh, asal sedikit paham silat saja pasti dapat mematahkannya, tapi lihaynya suatu aliran ilmu silat letaknya justru pada tipu serangan dasar pertama yang dipelajarinya mula-mula, dari sinilah baru kemudian diikuti dengan perubahan lainnya untuk menangkan musuh. Dengan tipu serangannya ini, terutama Ci-keng sengaja pertunjukkan kepada Kwe Ceng dan Oey Yong supaya kedua orang ini tahu bahwa: Sekali pun aku tidak ajarkan ilmu silat yang tinggi padanya, masakah pelajaran dasar pertama saja tak kuajarkan padanya?

Sebaliknya demi nampak tendangan orang ini, Yo Ko tidak mengelakkan diri dengan gaya ‘twe-ma-se’ atau kuda-kuda yang bergaya mundur, satu gerakan yang sangat tepat untuk menghindarkan tendangan ‘Thian-san-hui-toh’, malahan mendadak ia berteriak:

“Aduh!”

Berbareng itu tangan kirinya diulur lurus ke bawah menahan di depan perut yang hendak ditendang orang. Melihat Yo Ko begitu berani tanpa menghindarkan diri juga tidak berkelit, maka Ci-keng juga tidak sungkan-sungkan lagi, segera tendangannya diayun ke depan. Pada saat ujung kakinya tinggal beberapa senti dari perut Yo Ko, di bawah sinar pelita tiba-tiba dilihatnya pemuda ini sedikit acungkan jari jempol tangan kiri ke atas yang dengan tepat mengincar ‘Thay-kok-hiat’ pada tungkak kakinya.

Jika tendangan ini dengan kuat diteruskan, maka sebelum kakinya mengenai sasaran niscaya dia sendiri sudah kena ditotok lebih dulu, dengan demikian bukannya pemuda itu menotok Hiat-tonya melainkan ia sendiri yang sodorkan Hiat-tonya untuk ditotok. Ci-keng adalah jago utama dari anak murid Coan-cin-pay angkatan ketiga. Dalam keadaan berbahaya itu segera dia mengubah serangannya, dia membelokkan arah kakinya hingga tendangannya menyerempet lewat di samping Yo Ko, dengan demikian boleh dikatakan ia telah hindarkan totokan yang berbahaya, tapi tubuhnya toh menjadi sempoyongan hingga mukanya merah jengah.

Kwe Ceng dan Oey Yong berdiri di belakang Yo Ko, maka mereka tak melihat jari jempol yang diacungkan bocah ini. Mereka menyangka Ci-keng sengaja berlaku murah hati dan tidak menggunakan tipu lihay, sebaliknya Sun Put-ji dan in Ci-peng bisa menyaksikannya dengan terang.

Ci-peng bungkam saja tak bersuara, sedangkan Sun Put-ji langsung berjingkrak. “Bagus kau!” demikian teriaknya.

Dalam pada itu Ci-keng pun tidak berhenti begitu saja, tangan kirinya lalu diayun, dengan cepat dia potong ke pelipis kiri Yo Ko, sekali ini dia menyerang dengan cara teliti, telapak tangan sampai tengah jalan baru mendadak ia ganti arah, tampaknya ia hantam pelipis kiri orang, tetapi telapak tangannya mendadak memotong ke leher sebelah kanan.

Tidak dia duga bahwa Yo Ko sudah sangat matang mengapalkan Giok-li-sim-keng di luar kepala. Sim-keng atau kitab suci itu justru diciptakan sebagai anti ilmu silat Coan-cin-pay. Dahulu setiap tipu serangan lihay dari Ong Tiong-yang tiada satu pun yang dilewatkan Lim Tiao-eng untuk menciptakan sesuatu tipu gerakan buat mematahkannya. Melihat tangan kiri orang mengayun, dengan segera Yo Ko merangkul kepalanya sendiri seperti orang yang ketakutan setengah mampus, sedangkan jari telunjuk kiri diam-diam ia sembunyikan di bawah lehernya sebelah kanan, sedangkan tangan yang lain dia gunakan untuk menutup supaya tak diketahui Ci-keng.

Ketika telapak tangan Iawan hampir tiba, mendadak Yo Ko kesampingkan sedikit tangan kanannya, maka dengan tepat sekali jari telunjuk kiri yang sudah disiapkan itu kena menotok ‘ho-khe-hiat’ tangan Ci-keng. Kejadian ini pun bukannya Yo Ko yang menyerang, namun lagi-lagi Ci-keng sendiri yang mengantarkan tangannya untuk ditotok. Yo Ko hanya men-duga sebelumnya ke mana serangan orang hendak ditujukan maka jarinya ia taruh dulu di tempat yang jitu.

Dan karena Hiat-to tangannya tertotok, seketika Ci-keng merasa lengannya pegal linu. Ia insaf terkena akal licik orang. Dalam marahnya ia pun tak pikir panjang lagi, dengan cepat ia ayunkan kaki kiri terus menyerampang.

“Haya, celaka!” teriak Yo Ko pura-pura.

Tiba-tiba ia sedikit menekuk lengan kirinya, ia papak sikunya ke bawah pinggangnya. Dan begitu tendangan Ci-keng sampai, tahu-tahu ‘Ciau-hay-hiat’ serta ‘Tha-ke-hiat’ di tungkak kakinya persis mengenai ujung siku Yo Ko. Tendangan ini dilakukan Ci-keng dengan hati marah, dengan sendirinya kekuatannya amat keras, dan karena itu juga totokan Hiat-tonya menjadi sangat keras pula. Maka seketika kakinya menjadi kaku dan tanpa kuasa mencegah orangnya terus berlutut.

Melihat sang Sutit (murid keponakan) membikin malu di depan orang banyak, lekas-lekas Sun Put-ji menjambret dan menariknya berdiri, kemudian ia tepuk punggung Ci-keng buat melepaskan totokannya tadi. Melihat sebat dan jitu sekali tindakan hitam wanita ini, terang kepandaiannya berpuluh kali lebih tinggi dari Ci-keng, Yo Ko menjadi jeri dan cepat mundur ke samping.

Sungguh pun usia Sun Put-ji sudah lanjut, tapi wataknya ternyata sangat keras dan kaku. Ia melihat kepandaian Yo Ko aneh luar biasa, sekali pun ia sendiri ikut turun tangan juga belum tentu bisa menang, maka segera ia berseru:

“Hayo, pergi!”

Habis itu, tanpa permisi lagi ia kebas lengan jubahnya, sekali lompat, seperti burung saja ia melayang keluar melalui jendela terus naik ke wuwungan rumah. In Ci-peng seperti orang kehilangan semangat. Dia hendak memberi penjelasan kepada Kwe Ceng, namun Ci-keng sudah tak sabar.

“Mau bicara apa lagi?!” bentaknya marah, berbareng ini ia tarik sang Sute terus melompat keluar melalui jendela menyusul Sun Put-ji.

Sebenarnya mata Kwe Ceng dan Oey Yong cukup jeli, dengan sendirinya mereka tahu Ci-keng tadi telah kena ditotok Hiat-tonya, Cuma mereka tidak melihat Yo Ko menggerakkan tangannya. Apa mungkin ada orang kosen yang membantunya dari samping?

Segera Kwe Ceng melongok keluar jendela, tetapi tidak ada seorang pun yang dilihatnya. Waktu Oey Yong membalik, tiba-tiba dilihatnya di bawah rak buku menonjol keluar ujung sepatu hijau yang dipakai Kwe Hu.

“Hayo, keluar Hu-ji, apa yang kau lakukan di situ?” serunya segera.

Dengan nakal Kwe Hu melompat keluar dari tempat sembunyinya sambil ketawa ngikik. “Aku dan Bu-keh Koko sedang mencari buku bacaan di sini,” demikian ia coba beralasan.

Tapi Oey Yong tidak gampang dibohongi, ia tahu tentu mereka sengaja mencuri dengar. Di lain pihak Kwe Ceng yang berjiwa lurus jujur selalu mengukur orang lain berdasarkan jiwanya sendiri yang kesatria sejati. Ia sangka tadi Ci-keng mendadak tidak tega gunakan pukulan yang mematikan dan pura-pura terkena totokan untuk meninggalkan tempat ini.

Sebaliknya Oey Yong sudah bisa menebak, pasti Yo Ko telah pakai tipu muslihat. Cuma berdirinya tadi di belakang Yo Ko sehingga tak dapat melihat cara bagaimana pemuda itu gerakkan tangannya, pula dia tidak tahu bahwa di jagat ini ternyata masih ada ilmu silat dari Giok-li-sim-keng yang bisa menduga segala tipu apa yang hendak dilontarkan musuh hingga ilmu silat kaum Coan-cin-pay sedikit pun tak bisa berkutik. Maka seketika pun dia tak habis mengerti oleh kejadian tadi.

Begitulah, selagi ia termenung-menung, mendadak ada anak murid Kay-pang melaporkan kedatangan tamu jauh. Setelah Oey Yong memandang Yo Ko sekejap, lalu bersama Kwe Ceng mereka pergi menyambut tetamu.

“Yo-koko adalah teman bermain kalian waktu kecil, kalian harus melayaninya baik-baik,” pesan Kwe Ceng pada Bu-si Hengte sebelum pergi.

Tetapi karena dahulu sudah tak akur dengan Yo Ko, sekarang melihat macam orang yang menjijikkan, Bu-si Hengte semakin pandang hina pemuda ini. Ia panggil seorang centeng lalu menyuruhnya mengatur tempat tidurnya Yo Ko, sedang mereka asyik bicara sendiri dengan Kwe Hu. Sebaliknya Kwe Hu ternyata sangat aneh, ia tertarik oleh datangnya Yo Ko.

“Yo-toako,” demikian ia tanya, “sebab apakah gurumu tak mau menerima dirimu?”

“Sebabnya terlampau banyak,” sahut Yo Ko, “Pertama, aku memang goblok dan malas, kepandaian yang Suhu ajarkan kepadaku selalu tak bisa apal, pula aku tak bisa pura-pura rendah, tak bisa menjilat dan membaiki anaknya Suhu...”

Mendengar kata-kata Yo Ko rada menusuk, pertama-tama Bu Siu-bun yang tak tahan. “Apa kau bilang?!” bentaknya segera.

“Aku bilang diriku sendiri tak becus, maka tidak disukai Suhu,” sahut Yo Ko.

“Gurumu adalah Tosu dan tidak kawin, masakah dia punya anak?” ujar Kwe Hu sembari tertawa genit.

Melihat tawa si gadis laksana sekuntum bunga mawar yang mendadak mekar berubah merah sedikit, lekas-lekas ia berpaling ke jurusan lain.

“Yo-toako, baiklah kau pergi mengaso saja, besok barulah kita bicara lagi,” kata Kwe Hu kemudian dengan suara lembut.

Yo Ko mengiakan. Dia ikut centeng yang melayaninya itu untuk pergi tidur. Dari belakang lapat-lapat terdengar suara Kwe Hu yang tengah mengomel:

“Aku suka bicara padanya, kalian peduli apa? Ilmu silatnya baik atau tidak, biar kelak aku akan minta ayah ajarkan padanya.”

Nyata si nona sedang omeli Bu-si Hengte, agaknya kedua saudara Bu merasa cemburu karena si gadis mengajak bicara Yo Ko. Besok paginya, setelah Yo Ko sarapan, ia lihat Kwe Hu menyapa padanya di pekarangan depan, sementara Bu-si Hengte tampak longak-longok di samping sana. Diam-diam Yo Ko tertawa geli, ia pun mendekati Kwe Hu dan bertanya:

“Kau mencari aku?”

“Ya,” sahut Kwe Hu tersenyum manis, “marilah kita jalan-jalan keluar, aku ingin tanya apa yang kau lakukan selama beberapa tahun ini.”

Yo Ko menjadi berduka mendengar orang menyinggung pengalamannya selama ini. Dia pikir pengalamannya selama ini sungguh terlalu banyak untuk diceritakan. Lagi pula apa yang terjadi itu mana bisa diceritakan padamu? Begitulah, Yo Ko dan Kwe Hu berjalan keluar. Waktu Yo Ko melirik, ia lihat Bu-si Hengte terus mengikuti dari jauh. Kwe Hu tahu, akan tetapi kedua anak muda itu tak digubrisnya, sebaliknya ia mencerocos menanyai Yo Ko. Dasar Yo Ko memang pintar bicara. Ia sengaja obrolkan segala apa yang tidak penting, ia bumbui pula hingga Kwe Hu dibikin senang dan ketawa ter-kikih.

Dengan perlahan akhirnya mereka berdua sampai di bawah pohon Liu, lalu tiba-tiba terdengar meringkiknya kuda, seekor kuda buduk kurus kering mendekati Yo Ko sambil menggosok-gosok moncongnya pada tubuh pemuda ini, tampaknya kasih sayang sekali antara mereka. Melihat kuda sejelek ini, tiba-tiba Bu-si Hengte tertawa terbahak-bahak sambil mendekati Kwe Hu dan Yo Ko.

“Yo-heng,” demikian Siu-bun berkata lebih dulu, “kuda mestikamu ini sungguh hebat amat, beruntung kau dapat memperolehnya. Bilakah kau pun mencarikan seekor untuk aku.”

“Kuda ini datang dari negeri Langka, mana mampu kau membelinya?” Bu Tun-si menyela dengan lagak sungguh-sungguh.

Mendengar orang menyebut kuda, tanpa terasa Kwe Hu memandang Yo Ko, lalu pandang lagi kuda jelek itu, ia lihat ke-duanya sama-sama kotor dan dekil, ia tertawa geli juga. Namun Yo Ko tidak marah, sebaliknya ia malah bergelak ketawa.

“Ha-ha, kudaku jelek, orangnya pun jelek, sesungguhnya memang jodoh yang setimpal,” demikian katanya, “Dan binatang tunggangan Bu-heng berdua tentunya bagus luar biasa.”

“Kuda kami sebenarnya tidak banyak lebih bagus dari kudamu yang buduk ini,” sahut Siu-bun. “Tetapi kuda merah Hu-moay (adik Hu) itulah baru kuda mestika sungguh-sungguh. Dahulu kau pernah tinggal di Tho-hoa-to, tentu kau sudah melihatnya.”

“Oh, kiranya Kwe-pepek sudah memberikan kuda merahnya kepada gadisnya,” sahut Yo Ko.

Sembari bicara mereka berempat terus berjalan. “He, lihat, ibu hendak pergi memberi pelajaran Pang-hoat (ilmu permainan pentung) lagi,” tiba-tiba Kwe Hu berkata sembari menunjuk ke arah barat.

Waktu Yo Ko menoleh, ia melihat Oey Yong bersama seorang pengemis tua sedang jalan berendeng menuju ke lembah gunung, tangan mereka sama-sama membawa sebatang pentung.

“Loh-tianglo sungguh terlalu goblok, sudah sekian lamanya dia belajar Pak-kau-pang-hoat masih juga belum bisa,” ujar Bu Siu-bun.

Mendengar kata-kata ‘Pak-kau-pang-hoat’, seketika hati Yo Ko terkesiap, cuma lahirnya sedikit pun ia tidak mengunjuk sesuatu tanda, ia malah berpaling ke jurusan lain pura-pura sedang menikmati pemandangan alam yang indah.

“Pak-kau-pang-hoat adalah pusaka Kay-pang yang hebat sekali,” demikian ia dengar Kwe Hu berkata lagi. “Kata ibu Pang-hoat ini luar biasa bagusnya, merupakan permainan yang paling lihay dalam hal senjata di seluruh jagat, dengan sendirinya kepandaian sehebat ini tak bisa dipelajari dalam sepuluh hari atau setengah bulan saja, Kau bilang dia goblok, memangnya kau sendiri pintar?”

Siu-bun menjadi bungkam dan menyengir. “Sayangnya, kecuali kepada Pangcu dari Kay-pang, Pang-hoat ini tidak boleh diturunkan kepada orang lain,” ujar Bu Tun-si.

“Kelak bila mana kau menjadi Pangcu dari Kay-pang, dengan sendirinya Loh-tianglo akan mengajarkan padamu,” sahut Kwe Hu.

“Pang-hoat ini ayahku saja tidak bisa, jadi rasanya kau pun tak perlu menyesal.”

“Dengan macamku ini mana bisa menjadi Pangcu Kay-pang?” kata Tun-si. “Hu-moay, coba katakan, mengapa Subo bisa pilih Loh-tianglo sebagai calon penggantinya?”

“Selama beberapa tahun ini, hakikatnya ibuku hanya namanya saja Pangcu, tetapi segala urusan Kay-pang baik besar atau kecil seluruhnya diserahkan kepada Loh-tianglo,” sahut Kwe Hu. “Begitu banyak urusan Kay-pang yang tetek bengek, asal mendengar saja ibuku sudah merasa pusing, maka dia bilang lebih baik suruh Loh-tianglo yang menjadi Pangcu saja sekalian. Ia tunggu nanti kalau Loh-tianglo sudah paham mempelajari Pak-kau-pang-hoat, lalu jabatan Pangcu akan diserahkannya secara resmi.”

“Hu-moay,” kata Siu-bun lagi, “bagaimanakah macamnya Pak-kau-pang-hoat sebenarnya, kau pernah melihat belum?”

“Belum pernah,” sahut Kwe Hu. Tetapi segera ia bilang lagi: “Ehh, pernah.”

Kemudian ia jemput sebatang kayu, ia pukul perlahan ke pundak Siau-bun dan menyambung lagi dengan tertawa:

“Nah, begini!”

Keruan saja Siau-bun berjingkrak, “Bagus, kau anggap aku sebagai anjing, ya?” teriaknya, berbareng ia pura-pura hendak jamberet si gadis.

Dengan tertawa Kwe Hu lari menyingkir terus diudak oleh Siu-bun. Dan sesudah berputar, kedua orang lalu kembali lagi ke tempat semula.

“Siao Bu-koko, jangan kau ribut lagi, sekarang aku mempunyai sebuah gagasan,” dengan tertawa Kwe Hu mengatakan.

“Coba katakan,” ujar Siu-bun.

“Kita pergi mengintip, Pak-kau-pang-hoat sebenarnya apa macamnya,” Kwe Hu menerangkan.

Seketika Siu-bun menyatakan akur, sebaliknya Tun-si menggeleng-geleng kepala dan Yo Ko tidak memberi suara.

“Jangan, jika sampai konangan Subo, tentu akan didamperat habis-habisan,” kata Tun-si.

“Kau memang penakut, kita hanya melihat saja, toh tidak mencuri belajar,” debat Kwe Hu, “Lagi pula, ilmu silat yang begitu hebat dan tinggi apa hanya mengintip begitu saja lantas bisa?”

Karena diolok-olok, Tun-si hanya menyengir saja dan tak bisa menjawab.

“Kemarin bukankah kita juga mengintip di kamar baca? Apakah ibuku mendamperat kau?” Kwe Hu menambahi, “Memang nyalimu terlalu kecil seperti tikus, Siao Bu-koko, mari kita berdua pergi.”

“Baik, baik, kau yang benar, aku ikut,” seru Tun-si.

“Memangnya ilmu silat kelas satu dari jagat ini kau tak ingin melihatnya?” dengan tertawa Kwe Hu mengomel lagi.

Mereka bertiga memang sudah lama mengagumi Pak-kau-pang-hoat yang lihay, cuma macamnya apa, selamanya belum pernah lihat. Pernah Kwe Ceng ceritakan pada mereka tentang kejadian dulu di mana Oey Yong dengan Pak-kau-pang-hoat menaklukkan para kesatria dari Kay-pang hingga berhasil merebut kedudukan Pangcu, cerita ini bikin ketiga muda-mudi ini sangat terpesona.

Kini Kwe Hu mengusulkan pergi mengintip, meski pun di mulut Tun-si tak setuju, padahal dalam hatinya seribu kali kepingin. Cuma pemuda ini rada licin, sebelumnya ia sengaja menumpahkan tanggung jawab atas diri orang, supaya bila konangan Oey Yong tak akan menyalahkan dia.

“Yo-toako, marilah kau pun ikut bersama kami,” demikian Kwe Hu berkata lagi.

Tetapi Yo Ko pura-pura memandang jauh seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, apa yang dikatakan si gadis seperti tak didengarnya. Waktu Kwe Hu mengulangi bertanya lagi barulah Yo Ko menoIeh.

“Apa... apa? Ikut? Ke mana?” demikian ia tanya pura-pura tak mengerti.

“Tak usah kau tanya, asal ikut saja,” sahut Kwe Hu.

“Hu-moay, buat apa dia ikut?” tiba-tiba Tun-si mendadak. “Toh dia tak akan mengerti, dia ketolol-tololan begini, bila menerbitkan suara, bukankah akan konangan Subo nanti?”

“Jangan kau kuatir, biar aku menjaga dia,” ujar Kwe Hu. “Kalian berdua boleh jalan dulu, segera aku dan Yo-toako akan menyusul. Kalau empat orang bersama tentu lebih mudah menerbitkan suara.”

Tentu saja Bu-si Hengte tak rela disuruh jalan dahulu, tapi mereka cukup kenal watak Kwe Hu yang tak bisa dibantah, jika sedikit bikin marah dia, tanggung selama belasan hari kau takkan digubrisnya apa bila tidak me-mohon dan me-minta hingga si gadis tertawa senang. Karena itu terpaksa Bu-si Hengte berjalan dahulu dengan kurang senang.

“Kita putar ke belakang pohon besar di tepi jalan itu, untuk sementara ibu tentu tak akan mengetahui,” demikian Kwe Hu teriaki mereka.

Dari jauh Bu-si Hengte menyahut, lalu mereka bertindak cepat ke depan. Maka kini tinggal Kwe Hu dan Yo Ko saja yang jalan berendeng. Melihat baju pemuda ini compang-camping tak keruan, Kwe Hu pun berkata:

“Nanti kuminta ibu membikinkan kau beberapa baju baru. Sesudah kau berdandan, tentu kau tak akan begini jelek lagi.”

“Tidak, memang aku dilahirkan jelek, berdandan pun tak akan ada gunanya,” sahut Yo Ko sambil menggeleng kepala.

Tiba-tiba Kwe Hu menghela napas perlahan.

“Sebab apa kau berkeluh-kesah?” tanya Yo Ko.

“Hatiku sangat masgul, apa kau tidak tahu?” sahut si gadis.

Melihat pipi si gadis bersemu merah, alisnya lentik lembut, betul-betul nona yang ayu luar biasa, jika melulu soal muka saja, dibanding Liok Bu-siang, Wanyen Peng dan Yalu Yen, boleh dikatakan Kwe Hu lebih cantik, tanpa tertahan hati si Yo Ko rada terguncang.

RAHASIAH YANG TERKUAK

“Aku tahu sebab apa hatimu kesal,” katanya kemudian.

“Aneh, dari mana kau tahu? Ahh, kau membual belaka!” sahut Kwe Hu tertawa.

“Baiklah, bila aku jitu menerkanya, jangan kau mungkir ya?” ujar Yo Ko.

“Baik, coba kau terka,” kata Kwe Hu lagi sambil tersenyum manis.

“Kenapa susah menebak,” kata Yo Ko kemudian, “Kedua saudara Bu itu semuanya suka padamu, semuanya suka cari muka padamu, oleh karena itulah kau menjadi serba susah memilihnya.”

Hati Kwe Hu berdebar-debar karena isi hatinya dengan tepat kena dikatai. Nyata memang soal yang menjadikan kesal hatinya adalah kedua saudara Bu itu. Urusan ini ia sendiri tahu, ayah-bundanya pun tahu, Bu-si Hengte tahu, sampai kakek guru mereka Kwa Tin-ok juga tahu, cuma semua merasa sukar mengucapkan urusan ini maka semuanya hanya berpikir di dalam hati, selamanya tak pernah menyinggung urusan ini barang sekecap. Kini tiba-tiba saja kena dikatai Yo Ko, tanpa terasa muka Kwe Hu menjadi merah jengah, tetapi terasa senang pula dan macam-macam perasaan lain.

“Ya, memang sukar dipilih,” demikian sambung Yo Ko lagi. “Yang satu pendiam, yang lain lincah, yang satu pandai main cinta, yang lain pintar mencari muka, yang satu dapat kau percaya selama hidup, yang lain bisa menghilangkan kesalmu. Kedua-duanya sama-sama cakap, ilmu silat tinggi, sungguh masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Cuma sayang, kau seorang diri, mana bisa menikah dengan dua lelaki?”

Sebenarnya Kwe Hu sedang mendengarkan dengan ternganga, ketika mendengar ucapan yang terakhir itu, tiba-tiba ia mengomelinya:

“Ahh, mulutmu selalu usil, aku tak mau gubris kau lagi.”

Melihat air muka orang, sejak tadi Yo Ko sudah yakin terkaannya pasti kena seluruhnya, maka ia menembang perlahan mengulangi kata-katanya tadi yang terakhir. Sungguh pun begitu, meski ia telah mengulangi beberapa kali, si gadis seperti sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tak mendengarkan.

“Yo-toako,” katanya kemudian lewat sejenak, “menurut kau, Toa Bu-koko lebih baik atau Siao Bu-koko yang baik?”

“Ha-ha-ha, kalau menurut aku, ke-duanya tidak baik semua,” sahut Yo Ko tiba-tiba.

“Sebab apa?” Kwe Hu tercengang.

“Sebab kalau mereka baik, lalu aku Yo Ko apa ada harapan?” ujar Yo Ko sambil tertawa.

Nyata karena si Yo Ko sudah biasa menggoda Liok Bu-siang di sepanjang jalan, padahal dalam hatinya sedikit pun tidak punya pikiran serong, sekarang dalam keadaan berkelakar dengan Kwe Hu, tanpa terasa ia terlanjur omong, kelepasan mulut.

Keruan seketika Kwe Hu tertegun. Ia adalah gadis aleman yang biasanya amat dimanja, siapa pun tidak ada yang berani berkata sesuatu yang bersifat kotor kepadanya, maka ia pun tidak tahu harus marah atau tidak oleh apa yang dikatakan Yo Ko tadi, tetapi ia lantas menarik muka dan menyahut:

“Jika kau tak mau bilang, boleh kau tutup mulut, siapa ingin bergurau dengan kau? Hayo, lekas kita ke sana!”

Sembari berkata ia lantas keluarkan ilmu enteng tubuh dan berlari ke lereng gunung sana melalui jalan kecil. Karena telah ‘kebentur batu’, Yo Ko menjadi serba kikuk, ia pikir: “Buat apa aku menyelip di antara mereka bertiga? Lebih baik aku pergi ke tempat lain saja!”

Maka ia putar tubuh dan berjalan perlahan ke arah lain, dalam hati ia berpikir pula: “Bu-si Hengte boleh dikatakan memandang nona Kwe seolah-olah bidadari saja dan kuatir kalau si gadis tidak mau jadi isterinya. Padahal kalau betul-betul sudah menikah dan sepanjang hari harus menemani seorang perempuan yang begini bandel dan manja, akhirnya pasti akan lebih banyak susah dari pada senangnya. Ha! Mereka sungguh orang tolol, benar-benar menggelikan.”

BegituIah diam-diam Yo Ko tertawai orang, padahal ia tidak tahu bahwa siapa saja kalau sudah jatuh ke dalam jaring asmara, maka sukar sekali untuk menarik diri, sekali pun dia orang pandai atau nabi juga sukar memecahkan godaan demikian.

Sementara itu Kwe Hu sudah berlari pergi. Ia menyangka Yo Ko tentu akan menyusul dan minta maaf padanya, siapa duga sesudah ditunggu dan tunggu lagi masih belum kelihatan bayangan si Yo Ko. Mendadak ia berpikir lain: “Ahh, orang ini tidak bisa Ginkang, dengan sendirinya ia tak dapat menyandak aku.”

Segera ia putar balik ke jalan tadi, tapi tiba-tiba dilihatnya Yo Ko malah berjalan ke arah sana, keruan saja ia merasa heran.

“He, kenapa kau tak susul aku?” tanyanya sambil berlari ke depan Yo Ko.

“Kwe-kohnio, harap kau sampaikan ayah-bundamu, katakan aku sudah pergi,” sahut Yo Ko.

“Tanpa sebab kenapa kau hendak pergi?” tanya Kwe Hu terkejut.

“Tak apa-apa, memangnya aku datang tidak untuk apa-apa, maka perginya juga tidak ada apa-apa.” sahut Yo Ko adem.

Sebenarnya Kwe Hu suka ramai. Meski di dalam hati tidak pandang hormat pada Yo Ko, cuma ia merasa pemuda ini pandai berkelakar, dibandingkan Bu-si Hengte terasa ada hal baru yang menarik, maka sesungguhnya ia tidak ingin orang pergi begitu saja.

Maka ia berkata: “Sudah sekian lamanya kita tak berjumpa, masih banyak yang ingin aku tanyakan. Lagi pula malam ini akan diadakan Eng-hiong-yan, dari segenap penjuru tidak sedikit Enghiong-Hohan (orang gagah dan para kesatria) yang datang berkumpul, masa kau tak ingin menambah pengalaman?”

“Aku bukan Enghiong, kalau ikut hadir, apa tidak akan menjadi buah tertawaan para Enghiong yang sungguhan?” sahut Yo Ko tertawa.

“ltu pun betul,” kata Kwe Hu. Dan setelah merenung sebentar, kemudian ia sambung lagi: “Ya, baiknya di rumah Liok-pepek masih banyak orang tak bisa silat, kau boleh ikut empek Kasir dan para pengurus rumah makan minum bersama, bukankah sangat baik?”

Marah sekali Yo Ko mendengarnya. “Bagus, kau anggap aku ini sebangsa orang yang rendahan saja!” demikian pikirnya dongkol.

Sebenarnya ia sudah pikir hendak pergi, tetapi kini ia malah berbalik pikiran, ia justru ingin melakukan sesuatu untuk bikin malu si gadis yang menyinggung perasaannya. Padahal sejak kecil Kwe Hu sangat dimanjakan, sama sekali tidak kenal akan pergaulan, beberapa kata-katanya itu pun tidak sengaja hendak melukai hatinya, siapa tahu watak Yo Ko memang perasa, tanpa sengaja telah membikin marah. Sebaliknya melihat Yo Ko sudah berubah pikiran, Kwe Hu menjadi senang.

“Marilah lekas, jangan terlambat. Jika ibu sudah datang lebih dulu, tentu tak gampang lagi mengintip,” katanya kemudian dengan tertawa.

Segera dia pun mendahului lari lagi, sedangkan Yo Ko mengikuti dari belakang dengan pura-pura bernapas empas-empis, langkahnya berat hingga kelihatannya sangat goblok. Dengan susah payah akhirnya mereka sampai juga di tempat yang biasanya Oey Yong mengajarkan Pang-hoat pada Loh-tianglo yang bernama Loh Yu-ka, sementara itu Bu-si Hengte kelihatan sedang Iongak-Iongok di atas pohon sana.

Sekali lompat Kwe Hu mendahului memanjat ke atas pohon, lalu mengulurkan tangannya menarik Yo Ko. Waktu tangan menyentuh tangan, Yo Ko merasakan tangan si gadis begitu halus empuk seakan-akan tak bertulang, tanpa terasa hatinya terguncang keras. Tetapi segera dia pikir pula: “Ahh, sekali pun kau lebih cantik lagi juga tak dapat mencapai separoh Kokoh-ku (maksudnya Siao-Iiong-li).”

Tatkala itu ilmu silat Kwe Hu sudah ada dasarnya yang kuat, maka dengan enteng Yo Ko dapat ditariknya ke atas pohon.

“Apa ibuku belum datang?” dengan suara tertahan ia tanya.

“Sudah,” sahut Siu-bun menunjuk ke arah barat. “Loh-tianglo sedang mainkan pentung di sana, sedang Suhu dan Subo berada di sana sedang bercakap-cakap.”

Selamanya Kwe Hu paling takut pada ayahnya, kini mendengar Kwe Ceng juga datang, ia menjadi kebat-kebit tak enak, sementara ia lihat Loh Yu-ka seorang diri dengan sebatang pentung bambu sedang main sendiri, ia menutul ke timur dan menjojoh ke barat dengan pentung bambunya, tipu-tipu gerakannya tiada sesuatu yang mengejutkan orang.

“Apakah ini yang disebut Pak-kau-pang-hoat?” dengan suara perlahan Kwe Hu menanya.

“Kemungkinan besar betul,” sahut Bu Tun-si. “Tadi Subo sedang memberi petunjuk pada Loh-tianglo, lalu Suhu datang, ada sesuatu hendak berunding dengan Subo dan mengajak Subo menyingkir, maka Loh-tianglo seorang diri lantas berlatih seperti itu.”

Setelah Kwe Hu memandang lagi beberapa gerakan pengemis tua itu dan merasa semua geraknya biasa saja tiada sesuatu yang menarik, segera ia pun berkata: “Ah, Loh-tianglo belum pandai main, rasanya tiada yang bisa dilihat lagi, marilah kita pergi saja.”

Tetapi lain halnya dengan pikiran Yo Ko. Ia lihat Pang-hoat yang dimainkan Loh-tianglo itu sedikit pun tidak berbeda seperti apa yang pernah didapatnya dari Ang Chit-kong tempo hari di Hoa-san. Ia cukup kenal betapa hebat ilmu silat ini, karena itu secara diam-diam ia mentertawakan si gadis yang tak tahu apa-apa, tetapi berani bermulut besar.

Di lain pihak Bu-si Hengte yang selamanya selalu menurut apa yang dikatakan Kwe Hu, waktu mendengar si gadis bilang mau pergi, segera mereka pun bergegas-gegas hendak melompat turun, namun tiba-tiba mereka mendengar di bawah pohon ada suara tindakan orang, lalu terdengar suara Kwe Ceng berkata:

“Urusan jodoh Hu-ji sudah tentu tak bisa diputuskan secara terburu-buru. Usia Ko-ji masih kecil, jadi kau pun tidak dapat menyalahkan sedikit kekeliruannya kemudian memastikan keburukannya.”

Lalu terdengar Oey Yong menjawab: “Kau pikirkan hubungan turun temurun keluarga Kwe dan Yo, hal ini memang sudah sepantasnya, Tetapi Yo Ko si bocah ini, semakin kulihat, rasaku semakin mirip ayahnya, mana aku rela menjodohkan Hu-ji padanya?”

Baik Kwe Hu, Bu-si Hengte mau pun Yo Ko terkejut sekali mendengar percakapan suami isteri ini. Sama sekali mereka tidak tahu ada hubungan apa antara keluarga Kwe dan Yo, lebih-lebih tidak menduga bahwa Kwe Ceng ada maksud menjodohkan puterinya pada Yo Ko. Karena percakapan mereka itu ada hubungan erat sekali dengan masing-masing, maka empat muda-mudi itu tidak jadi pergi melainkan berdiam di atas pohon.

“Ya, Yo Khong-hengte betul-betul tak beruntung harus terjeblos ke istana pangeran negeri Kim sehingga salah bergaul dengan orang jahat, maka akibatnya terjadilah drama yang mengenaskan dengan mayat tak utuh dan menjadi isi perut gagak. Kalau sejak kecil ia dipelihara oleh paman Yo Tiat-sim sendiri, rasanya pasti takkan terjadi peristiwa seperti itu,” demikian terdengar Kwe Ceng berkata lagi.

“ltu pun benar,” sahut Oey Yong rendah sambil menghela napas, agaknya dia terbayang pada kejadian ngeri dahulu dengan matinya Yo Khong, ayah Yo Ko.

Yo Ko sendiri selamanya tak mengetahui bagaimana asal-usul keluarganya, ia hanya tahu ayahnya meninggal terlalu cepat, sedang cara bagaimana matinya dan siapa musuhnya, hal itu sekali pun ibu kandungnya juga tidak mau bilang terus terang. Sekarang mendengar Kwe Ceng menyinggung ayahnya “terjeblos ke istana pangeran negeri Kim dan bergaul dengan orang jahat”, lalu bilang lagi “mayatnya tak utuh hingga menjadi isi perut burung gagak” dan sebagainya, seketika pemuda ini merasa bagaikan disambar petir, seluruh tubuhnya gemetar, mukanya pun pucat pasi.

Waktu itu Kwe Hu kebetulan melirik Yo Ko. Demi melihat wajah pemuda ini sedemikian rupa, Kwe Hu sangat ketakutan, ia kuatir pemuda ini mendadak terbanting jatuh ke bawah terus mati.

Sementara itu Kwe Ceng dan Oey Yong sudah duduk berendeng di atas sebuah batu dan membelakangi pohon yang dibuat bersembunyi oleh empat muda-mudi itu. Sambil meraba tangan sang isteri terdengar Kwe Ceng berkata pula:

“Sejak kau mengandung anak kedua ini kesehatanmu sudah jauh mundur dari pada dulu, lekas kau serahkan segala urusan Kay-pang kepada Loh Yun-ka, supaya kau dapat merawat diri sebaik-baiknya.”

“He, kiranya ibu akan punya anak lagi, ehm, senang sekali kalau aku tambah adik,” kata Kwe Hu dalam hati. Ia menjadi girang sekali.

Dalam pada itu Oey Yong sudah menjawab: “Sebetulnya urusan Kay-pang tidak banyak kuperhatikan, sebaliknya urusan perjodohan Hu-ji yang bikin aku tak tenteram.”

“Jika Coan-cin-kau tidak menerima Ko-ji, biarlah aku sendiri yang mengajar dia,” kata Kwe Ceng. “Tampaknya pemuda ini sangat pintar, kelak aku turunkan seluruh kepandaianku padanya, dengan begitu tak percumalah aku angkat saudara dengan ayahnya.”

Sekarang barulah Yo Ko tahu bahwa Kwe Ceng ternyata adalah saudara angkat ayahnya sendiri. Kalau begitu, ‘Kwe-pepek’ ini sesungguhnya mengandung arti yang besar sekali. Dan demi mendengar Kwe Ceng begitu baik hati dan berbudi kepada dirinya, hati Yo Ko sangat terharu, hampir ia meneteskan air mata.

“Tapi aku justru kuatir dia akan tersesat oleh karena pintarnya,” ujar Oey Yong menghela napas, “sebab itu juga aku hanya ajarkan membaca padanya dan tidak turunkan ilmu silat dengan harapan kelak dia akan menjadi seorang yang bijaksana dan pandai membeda-bedakan yang salah dan yang benar, supaya menjadi seorang lelaki sejati, dengan begitu sekali pun tak bisa ilmu silat aku akan lega dan puas menjodohkan Hu-ji padanya.”

“Ya, segala apa kau memang lebih pintar dari aku, Yong-ji,” sahut Kwe Ceng. “Apa yang kau pikirkan selalu berpandangan jauh, tapi Hu-ji kita sedemikian wataknya, ilmu silatnya juga begitu, jika dia diharuskan mendampingi seorang anak sekolahan yang lemah, coba pikir apa dia tak penasaran? Apakah kelak dia bisa menghormati Ko-ji? Menurut hematku, suami isteri demikian ini pasti susah akurnya.”

“Huh, tak malu,” kata Oey Yong tertawa, “Memangnya kita berdua bisa akur karena ilmu silatmu lebih unggul dari aku? Hayo, Kwe-tayhiap, marilah kita coba-coba!”

“Bagus, Oey-pangcu, katakanlah apa yang kau kehendaki,” sahut Kwe Ceng tertawa.

Lalu terdengar suara “plok” sekali, mungkin Oey Yong telah tepok sekali tubuh Kwe Ceng. Selang tak lama, lalu Oey Yong berkata lagi.

“Aih, sebenarnya urusan ini sukar diputuskan. Seandainya tanpa Ko-ji pun, urusan kedua saudara Bu saja juga sulit diselesaikan. Coba kau katakan, Toa Bu lebih baik atau Siao Bu lebih baik?”

Seketika hati Kwe Hu dan Bu-si Hengte berdebar-debar. Meski urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan Yo Ko, tetapi ia pun ingin tahu bagaimana pendapat Kwe Ceng terhadap kedua saudara Bu itu. Tetapi Kwe Ceng hanya menyahut lirih sekali, selang sekian Iama masih tidak terdengar jawabannya.

“Kalau berdasarkan urusan kecil belum bisa kelihatan,” demikian kemudian terdengar dia menyahut, “harus tunggu sampai menghadapi urusan besar, baik atau busuk, barulah bisa diketahui.” Habis ini perkataannya berubah menjadi lemah lembut dan menyambung lagi: “Baiklah, usia Hu-ji masih kecil, lewat beberapa tahun lagi masih belum terlambat, boleh jadi pada waktu itu dapat diputuskan dengan cara yang lebih baik dan kita yang menjadi orang tua tak perlu ribut-ribut lagi. Kau mengajar Loh-tianglo dan tentu banyak keluarkan tenaga, beberapa hari ini aku selalu melihat napasmu tidak lancar, aku sampai kuatirkan kesehatanmu. Sekarang biarlah aku pergi mencari Ko-ji buat ajak bicara sedikit padanya.” Habis berkata ia pun bertindak pergi.

Sesudah Oey Yong atur pernapasannya sejenak, kemudian ia panggil Loh-tianglo lagi dan memberi petunjuk Pak-kau-pang-hoat. Pada saat itu Loh Yu-ka sudah selesai memainkan 36 gerakan Pak-kau-pang-hoat, cuma di mana dan cara bagaimana mempergunakan inti kebagusan ilmu silat itulah yang belum dipahaminya. Maka dengan sabar dan telaten Oey Yong memberi penjelasan kepadanya sejurus demi sejurus. Tipu serangan Pak-kau-pang-hoat ini memang sangat bagus, Iebih-lebih kunci yang diuraikan Oey Yong ini terlebih hebat luar biasa, kalau tidak, hanya sebatang pentung bambu hijau yang kecil mana bisa menjadi pusaka Kay-pang?

Sudah hampir sebulan Oey Yong turunkan tipu gerakan ilmu pentung pemukul anjing itu pada Loh Yu-ka, kini ia menerangkan pula kun-nya dan perubahannya sampai berulang kali dan suruh mengingatnya baik-baik.

Kwe Hu dan Bu-si Hengte tak paham Pang-hoat, karena itu mereka merasa tidak tertarik. Mereka tidak tahu tentang perubahan ilmu silat yang hebat itu, maka beberapa kali mereka sudah ingin merosot turun pohon, namun kuatir ketahuan Oey Yong, maka mereka mengharap-harap agar Oey Yong lekas selesai dan lekas pergi bersama Loh Yu-ka.

Siapa tahu Oey Yong bermaksud malam ini juga menyerahkan jabatan Pangcu pada Loh Yu-ka dalam perjamuan ‘Eng-hiong-yan’, maka dia ingin turunkan seluruhnya baik istilah mau pun permainannya kepada Loh Yu-ka, sekali pun masih belum paham, kelak masih bisa diberi petunjuk lagi. Cuma menurut peraturan Kay-pang turun-temurun, Pangcu baru waktu menerima jabatan harus sudah bisa memainkan Pak-kau-pang-hoat, oleh sebab itu sedapat mungkin Oey Yong ingin turunkan sesuai mestinya, maka sudah lebih satu jam masih belum juga selesai menguraikannya.

Dasar Loh Yu-ka ini juga bakatnya kurang ditambah usianya telah lanjut, daya ingatannya sudah mundur, seketika dapat mengingat begitu banyak ajaran yang diberikan? Meski Oey Yong sudah bolak-balik mengulangi, masih belum juga diingatnya semua. Baiknya Oey Yong telah lama berdampingan dengan seorang suami yang bakatnya tidak tinggi, ia sudah biasa dengan orang yang kurang tajam otaknya, maka kebebalan Loh Yu-ka tidak membangkitkan amarahnya.

Celakanya dia dibatasi oleh peraturan perkumpulan yang mengharuskan inti Pang-hoat diturunkan secara lisan dan sekali-kali tidak boleh secara tertulis. Kalau saja boleh, sesungguhnya ia bisa menulisnya untuk dibaca sendiri oleh Loh Yu-ka sampai apal, hal ini pasti akan menghemat tidak sedikit tenaganya.

Sementara itu yang paling beruntung rasanya adalah Yo Ko. Seperti diketahui, tempo hari waktu Ang Chit kong bertanding dengan Auwyang Hong di Hoa-san, pada saat terakhir pernah mengajarkan setiap tipu berikut perubahannya pada Yo Ko lalu disuruh menunjukkannya pada Auwyang Hong, hanya kunci waktu menghadapi musuh saja yang belum dijelaskan. Siapa tahu secara kebetulan sekali disini Yo Ko justru bisa mendengar kekurangan itu dari mulut Oey Yong yang lagi mengajarkannya pada Loh Yu-ka.

Sudah tentu bakat Yo Ko beratus kali lebih tinggi dari pada Loh Yu-ka. Hanya tiga kali ia dengar, satu kata saja tidak dapat dilupakan lagi oleh pemuda ini, sebaliknya Loh Yu-ka masih bolak-balik mengulangi dan masih tetap salah. Sesudah hamil untuk kedua kalinya, mungkin karena terlalu sibuk menurunkan Pak-kau-pang-hoat pada Loh Yu-ka, akhirnya Oey Yong merasa letih juga. Ia coba bersandar pada batu sambil pejamkan mata untuk mengumpulkan semangat.

“Hu-ji, Si-ji, Bun-ji, Ko-ji, semuanya turun ke sini!” mendadak ia berseru.

Tentu saja Kwe Hu berempat amat kaget. Mereka heran mengapa orang diam-diam saja, tetapi sebenarnya sudah tahu mereka bersembunyi di atas pohon.

“Kau benar-benar hebat, Ibu! Segala apa tidak bisa membohongi kau!” demikian kata Kwe Hu sambil tertawa, dan berbareng itu, dengan gerakan ‘Ling-yan-tau-lim’ atau burung walet menerobos hutan, dengan enteng sekali ia meloncat ke hadapan sang ibu.

Menyusul Bu-si Hengte juga turut melompat turun, hanya Yo Ko saja yang merangkak turun dengan perlahan.

“Hm, dengan hanya sedikit kepandaianmu ini berani mengintip?” sahut Oey Yong sambil menjengek. “Kalau menghadapi kalian beberapa setan cilik saja tidak tahu, apa lagi kalau merantau di Kangouw. Bukankah tidak sampai setengah hari sudah terjebak musuh?”

Kwe Hu menjadi kikuk, tetapi ia tahu sang ibu biasanya sangat manjakan dirinya maka ia pun tidak takut didamperat, sebaliknya ia maju dan berkata lagi dengan tertawa:

“Ibu, sengaja aku mengajak mereka datang ke sini untuk melihat Pak-kau-pang-hoat yang disegani di seluruh jagat itu, siapa tahu apa yang dimainkan Loh-Lianglo itu sedikit pun tak menarik. Coba, jika permainanmu tentu sangat menarik.”

Oey Yong tertawa, betul juga segera ia ambil pentung bambu dari Loh Yu-ka. “Baik, lihatlah aku bikin anjing cilik terjungkal,” katanya sambil ulurkan pentung bambu ke arah Kwe Hu.

Segera Kwe Hu perhatikan bagian bawah, ia tunggu bila pentung menyambar, segera ia akan melompat ke atas supaya tidak kesandung. Sementara itu Oey Yong telah gerakkan pentung bambunya. Lekas Kwe Hu melompat, siapa tahu baru setengah kaki meninggalkan tanah, dengan tepat kena disabet pentung itu dan dengan enteng ia jatuh menggeletak.

“Tidak, tidak mau aku, itu kesalahanku sendiri,” teriak Kwe Hu aleman sambil melompat bangun.

“Baiklah. Coba, kau ingin cara bagaimana?” kata Oey Yong tertawa.

Segera si gadis pasang kuda-kuda dengan kuat, habis itu dia berseru pada Bu-si Hengte.

“Toa Bu-koko dan Siao Bu-koko, kalian berdua berdirilah di sampingku sini, juga pasang kuda-kuda yang kokoh.”

Bu-si Hengte menurut, mereka berdiri dengan kuda-kuda yang kuat. Kwe Hu pentangkan tangannya saling gantol dengan tangan dua pemuda itu. Dengan tenaga mereka bertiga, sungguh sangat kokoh tampaknya.

“Ibu, sekarang kami tidak takut lagi, kecuali ayah punya Hang-liong-sip-pat-ciang barulah bisa bikin kami bergerak,” kata Kvve Hu.

Oey Yong tak menjawab, ia hanya tersenyum. Kemudian mendadak pentungnya menyapu ke muka tiga orang itu dengan kencang. Karena kuatir muka mereka yang halus menjadi babak belur, cepat-cepat ketiga-tiganya mendoyong ke belakang buat berkelit, maka dengan demikian kuda-kuda mereka menjadi kendur. Tanpa ayal lagi pentung Oey Yong berputar kembali lantas menyeret kaki ketiga orang. Karena tak kuat lagi kuda-kudanya, mereka bertiga jatuh menubruk tanah semua. Ilmu silat mereka cukup hebat, maka baru jatuh segera mereka melompat bangun dengan gaya yang manis.

“Ibu, caramu ini hanya tipuan saja, aku tidak mau,” kata Kwe Hu lagi.

“Memang,” ujar Oey Yong, “apa yang aku ajarkan pada Loh-tianglo tadi, tipu manakah yang pakai tenaga sungguh-sungguh? Kau bilang gerakanku ini hanya tipuan? Memang tidak salah, dalam ilmu silat, 9 dari 10 bagian memang akal belaka, asal bisa merobohkan lawan, itu berarti telah menang. Hanya ilmu Hang-liong-sip-pat-ciang ayahmu itulah betul-betul silat sejati yang berani main keras lawan keras tanpa memakai akal-akalan. Tapi untuk melatih sampai tingkat itu, di jagat ini terdapat berapa orang?”

Kata-kata ini membikin Yo Ko diam-diam memanggut, sebaliknya Kwe Hu bertiga meski mengerti toh mereka belum paham di mana letak intisari penjelasan itu.

“Pak-kau-pang-hoat adalah ilmu silat paling aneh, ia tercipta secara tersendiri dan tiada hubungannya dengan silat-silat aliran lain,” kata Oey Yong lagi, “Kalau melulu belajar tipu gerakannya tanpa mengerti inti rahasianya, maka percumalah meski belajar selama hidup. Maka selanjutnya kalau aku lagi ajarkan ilmu silat lain, sebelum dapat ijinku jangan sekali-kali mengintip lagi, tahu?”

Berulang Kwe Hu mengiakan, tapi dengan tertawa segera ia bilang lagi: “Ah, buat apa aku mengintip kepandaian ibu, apa mungkin kelak engkau tidak mengajarkan padaku?”

Oey Yong terlalu sayang pada gadisnya ini, maka ia hanya tepuk perlahan bokong Kwe Hu.

“Hayo, pergi bermain lagi dengan Bu-keh Ko-ko,” katanya kemudian dengan tertawa. “Ko-ji, aku ingin bicara sedikit dengan kau. Loh-tianglo, kau ulangi saja sendiri, jika masih ada yang Iupa, kelak akan kuajarkan lagi.”

Maka Loh Yu-ka dan Kwe Hu berempat lantas mendahului kembali ke Liok-keh-ceng atau perkampungan keluarga Liok, hanya Yo Ko yang masih berdiri menjublek di tempatnya. Saat itu hatinya ber-debar, dia kuatir kalau-kalau Oey Yong akan mengambil jiwanya karena berani mencuri belajar Pak-kau-pang-hoat. Namun dugaannya ternyata meleset.

Waktu melihat wajah pemuda ini rada sangsi-sangsi, dengan lemah lembut Oey Yong menarik tangannya dan suruh duduk di sampingnya.

“Ko-ji,” Oey Yong mulai bertanya, “banyak sekali urusanmu yang kurasa tidak kumengerti. Tapi seandainya kutanya, tentu kau pun tak mau menjelaskan. Cuma hal ini aku pun tidak menyalahkan kau. Pada waktu kecil watakku pun sangat aneh dan menyendiri, semua itu berkat kau punya Kwe-pepek yang telah banyak mengalah padaku.”

Berkata sampai di sini, Oey Yong menghela napas perlahan, pada mulutnya tersungging senyuman, rupanya ia menjadi teringat masa kecilnya yang nakal, lalu ia sambung lagi.

“Jika aku tak mau turunkan ilmu silat padamu, itu tujuannya demi kebaikanmu, siapa tahu hal itu malah bikin kau menjadi banyak menderita, Ko-ji. Kau punya Kwe-pepek sayang dan cinta padaku, budi kebaikannya ini sudah tentu akan kubalas sebisanya. Ia menaruh suatu harapan atas dirimu, mengharap kelak kau bisa menjadi seorang lelaki sejati, untuk ini pasti aku akan membantu kau menuju ke jalan yang baik supaya cita-cita Kwe-pepek terlaksana. Dan kau, hendaklah kau pun jangan kecewakan harapannya, maukah kau berjanji?”

Belum pernah Yo Ko mendengar Oey Yong berbicara begitu halus dan sungguh-sungguh kepada dirinya. Ia lihat sorot mata orang penuh mengandung rasa kasih sayang, tanpa tertahan hatinya terguncang. Pada dasarnya Yo Ko berperasaan halus, maka terus saja ia menangis keras.

“Ko-ji,” sambil mengelus kepalanya, Oey Yong berkata lagi: “Rasanya tak perlu kubohongi kau. Dahulu aku tak suka pada ayahmu, juga tak senang pada ibumu, oleh sebab itu terus tidak suka padamu. Tetapi sejak kini pasti aku akan perlakukan kau baik-baik, nanti kalau kesehatanku sudah pulih, biarlah kuturunkan segala kepandaianku padamu.”

Yo Ko semakin terharu, tangisnya semakin keras. “Kwe-pekbo. ba... banyak hal-hal yang kubohongi kau, biar aku... aku katakan padamu,” katanya kemudian dengan masih terguguk-guguk.

“Hari ini aku sudah Ietih, boleh ceritakan kelak saja. Asalkan kau menjadi anak yang baik bagiku sudah senang,” sahut Oey Yong sambil membelai rambutnya. “Malam nanti akan ada rapat besar Kay-pang, kau pun boleh hadir menyaksikan keramaian itu.”

Yo Ko pikir wafatnya Ang Chit-kong memang termasuk sebuah berita besar, maka sudah seharusnya diucapkan di hadapan rapat. Oleh karena itu sembari mengusap air matanya dia memanggut.

Dengan percakapan mereka yang keluar dari lubuk hati, hingga segala rasa tak puas seketika buyar semua. Sampai akhirnya Yo Ko mulai bisa ketawa-tawa lagi. Semenjak perpisahannya dengan Siao-liong-li, agaknya untuk pertama kali inilah dia kembali merasakan perlakuan yang hangat. Di lain pihak, sesudah bicara panjang, Oey Yong merasakan perutnya rada sakit, maka perlahan-lahan ia berdiri.

“Kini marilah kita pulang,” ajaknya kemudian. Lalu ia gandeng tangan Yo Ko dan berjalan perlahan.

“Kwe-pekbo, ada sesuatu urusan penting yang ingin kuberi-tahukan padamu,” kata Yo Ko sambil berjalan. Dia pikir berita tentang kematian Ang Chit-kong pantasnya diberi-tahukan lebih dahulu kepada bibinya ini.

Akan tetapi Oey Yong merasakan perutnya makin lama semakin melilit, maka napasnya menjadi rada terganggu.

“Katakan saja besok, aku... aku rada kurang enak badan,” katanya sambil mengerutkan kening.

Melihat wajah orang putih lesi, Yo Ko menjadi kuatir. Ia merasa tangan orang rada dingin, maka diam-diam ia kumpulkan tenaga dalam, lalu ia salurkan semacam hawa hangat ke tangan orang. Dahulu waktu melatih Giok-li-sim-keng bersama Siao-liong-li di Cong-lam-san, kepandaian cara menyalurkan ilmu melalui telapak tangan sudah dilatihnya dengan apal sekali. Tetapi karena kuatir Iwekang yang Oey Yong pelajari ternyata bertentangan dengan apa yang diapalkannya, mula-mula dia hanya gunakan sedikit tenaga saja. Sesudah merasa tiada halangan barulah ia tambah tenaga dalamnya.

ENG-HIONG-YAN ( Perjamuan Kaum Kesatria )

Ketika tiba-tiba merasa tenaga dari tangan Yo Ko menyalurkan hawa hangat yang terus-menerus, sungguh heran sekali Oey Yong, tetapi akibat hawa hangat itu, segera pula rasa sakit dan napasnya menjadi teratur kembali. Dalam herannya dia hanya tersenyum kepada Yo Ko sebagai tanda terima kasih. Dan selagi ia hendak tanya orang dari mana mendapatkan ilmu itu, tiba-tiba dilihatnya Kwe Hu sedang berlari menghampiri.

“Ibu, Ibu, coba terka siapa yang datang?” demikian gadis itu berteriak-teriak sembari berlari.

“Hari ini tidak sedikit kesatria dari seluruh jagat yang hadir, dari mana aku tahu siapa dia yang datang,” sahut Oey Yong tertawa. Tetapi mendadak tergerak pikirannya, ia sambung lagi: “Ahh, tentu para Susiok dan Supek kedua saudara Bu. Hayo, lekas, sudah lama kita tak bertemu dengan mereka.”

“Baik. Kau sungguh hebat, sekali tebak lantas kena,” kata Kwe Hu.

“Apanya yang sukar?” sahut Oey Yong sambil tertawa, “Kedua saudara Bu itu selamanya tidak pernah meninggalkan kau, kini tiba-tiba tidak ada di sampingmu, tentunya ada sanak saudaranya yang datang.”

Selamanya Yo Ko menganggap dirinya sendiri sangat cerdik dan pintar, kini melihat Oey Yong dapat berpikir seperti dewa dan masih jauh di atas dirinya, sungguh ia menjadi amat kagum.

“Hu-ji, selamat kepadamu, kau bakal tambah semacam ilmu kepandaian yang hebat lagi,” tiba-tiba Oey Yong berkata.

“Ilmu kepandaian apa?” tanya Kwe Hu.

“lt-yang-ci!” mendadak Yo Ko menyela.

“Kau mengerti apa?” omel Kwe Hu, kata-kata Yo Ko tak digubrisnya: “Ibu, kau bilang ilmu apa?”

“Bukankah Yo-koko sudah bilang tadi?” sahut Oey Yong tertawa.

“Ha, kiranya ibu sudah bilang kepadamu,” ujar Kwe Hu pada Yo Ko.

Tetapi Yo Ko dan Oey Yong hanya tersenyum. Di dalam hati Oey Yong berpikir: “Ko-ji ini sungguh berpuluh kali lebih pintar dan cerdik dari pada Bu-si Hengte. Hu-ji juga goblok, lebih-lebih tak masuk hitungan.”

Akan tetapi Kwe Hu masih tetap heran sebab apa ibunya memberi-tahukan Yo Ko tentang hal itu. Kiranya It-teng Taysu yang berjuluk Lam-te atau raja dari selatan, yang namanya sejajar dengan Oey Yok-su, Ang Chit-kong dan Auwyang Hong, seluruhnya ia mempunyai empat murid yang disebut ‘Hi-Jiau-Keng-Thok’ atau nelayan, tukang kayu, petani dan sastrawan. Ayah Bu-si Hengte, Bu Sam-thong adalah si petani dari urut-urutan nomor tiga.

Sejak ia terluka waktu menempur Li Bok-chiu, sampai sekarang bayangannya tak pernah kelihatan lagi hingga mati-hidupnya tak diketahui. Sekali ini yang datang menghadiri Eng-hiong-yan adalah Hi-jin dan Su-seng atau si nelayan dan si sastrawan berdua. Setiap kali si sastrawan itu bertemu dengan Oey Yong, segera ingin adu mulut dan ukur kepandaian. Kini berjumpa pula setelah berpisah selama hampir dua puluh tahun, sudah tentu mereka ingin unjuk kepandaian masing-masing dan berdebat. Sedang si nelayan itu betul saja lantas mencari satu kamar kemudian menurunkan ilmu lt-yang-ci kepada Bu-si Hengte.

Sehabis makan siang, kawanan pengemis anggota Kay-pang beramai-ramai berkumpul di depan Liok-keh-ceng. Sekali ini dilakukan timbang-terima jabatan Pangcu baru dan lama, dan hal ini merupakan upacara yang paling tinggi dalam kalangan Kay-pang, maka kecuali semua anak murid dari seluruh penjuru diundang hadir, ada pula jago-jago dari aliran lain dan perkumpulan lain yang diundang sebagai ‘peninjau’.

Selama belasan tahun ini Loh Yu-ka selalu mewakili Oey Yong mengatur segala urusan Kay-pang dan berlaku sangat adil, berani bertindak berani bertanggung jawab, maka dua golongan dalam Kay-pang, yakni yang disebut Ut-ih-pay dan Ceng-ih-pay, golongan baju kotor dan golongan baju bersih, semuanya tunduk dan percaya penuh padanya. Sebab itu upacara penyerahan jabatan yang dilakukan hari ini sesungguhnya hanya upacara resmi saja.

Kemudian menurut peraturan, Oey Yong lantas umumkan penyerahan jabatan itu, lalu ia serahkan Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing, yakni bambu hijau yang merupakan pusaka Pangcu turun temurun itu kepada Loh Yu-ka, disusul segera semua anak murid meludahi Yoh Yu-ka masing-masing satu kali, hingga seluruh muka dan kepala pengemis tua ini penuh air lendir, dengan begitu selesailah upacara timbang-terima jabatan Pangcu lama kepada yang baru.

Melihat cara penggantian Pangcu yang sangat aneh ini, diam-diam Yo Ko terheran-heran. Dan selagi dia hendak tampil ke muka untuk mengumumkan berita tentang wafatnya Ang Chit-kong, tiba-tiba dilihatnya seorang pengemis tua melompat ke atas sebuah batu besar, tangan kirinya menyunggih tinggi-tinggi sebuah Hiolo besar yang berwarna coklat.

Saat melihat benda ini, seketika hati Yo Ko tergetar. Dapat dikenalnya Hiolo ini bukan lain adalah benda pengisi araknya Ang Chit-kong. Waktu bertemu di atas Hoa-san, dengan jelas ia melihat barang ini selalu menggemblok di punggung pengemis tua itu. Belakangan waktu dia pendam mayat pengemis tua itu, dia pun tanam Hiolo itu di samping tubuhnya, tapi mengapa kini mendadak bisa muncul lagi di sini? Apa mungkin ada sebuah Hiolo lain yang secorak dan serupa? Sementara itu didengarnya sorak-sorai gegap gempita para pengemis demi nampak Hiolo simboI Pangcu tua mereka itu.

Selagi Yo Ko ragu-ragu. terdengar si pengemis tua itu sudah membuka suara lagi dengan keras:

“Ada perintah dari Ang-lopangcu, dan aku disuruh menyampaikannya kepada para hadirin!”

Mendengar itu, sorak-surai para pengemis menjadi lebih hebat lagi. Memang sudah belasan tahun mereka tak pernah menerima kabar berita pangcu tua mereka, dan kini mendadak dengar ada perintahnya, sudah tentu semuanya terbangun semangatnya.

“Pujikan Ang-lopangcu selalu selamat dan panjang umur!” segera terdengar seruan salah seorang pengemis di antara orang banyak itu.

Seketika itu pula suara sorak gemuruh berkumandang lagi hingga mengguncangkan bumi. Maklumlah, Ang Chit-kong adalah seorang kesatria, seorang gagah perkasa di jaman itu, dari aliran apa dan lapisan apa pun tiada seorang pun yang tidak kagum padanya, lebih-lebih anggota Kay-pang, cinta mereka padanya boleh dikatakan melebihi terhadap orang tua sekandung sendiri.

Setelah sorak-sorai seminuman teh, suara gemuruh itu perlahan-lahan mereda. Melihat setiap anggota Kay-pang itu sangat bersemangat dan terharu, bahkan ada yang sampai mengalirkan air mata, diam-diam Yo Ko berpikir sendiri:

“Seorang laki-laki kalau bisa begini barulah tidak percuma hidup di dunia. Semua orang riang gembira, mana aku tega memberi-tahukan mereka tentang wafatnya Ang-lo-cianpwe?”

Sementara itu dia dengar si pengemis tua tadi sudah berkata lagi: “Tiga hari yang lalu, di Liong-ki-ce aku telah bertemu dengan Ang-lopangcu...”

Luar biasa terkejutnya Yo Ko oleh kata-kata orang. “Ang-lopangcu sudah lama meninggal cara bagaimana ia bisa bertemu dengan beliau tiga hari yang lalu?” demikian Yo Ko tidak habis mengerti.

Sementara itu pengemis tua telah meneruskan pula: “Waktu beliau tahu Oey-pangcu hendak menyerahkan jabatannya kepada Loh-pangcu, ia bilang keputusan ini sangat baik dan sangat cocok dengan maksudnya...”

Sampai di sini tiba-tiba saja Loh Yu-ka berlutut ke hadapan pengemis itu sambil berkata dengan suara gemetar:

“Tecu pasti akan lakukan sepenuh tenaga untuk membalas budi kebaikan Lopangcu, asal pekerjaan itu berfaedah bagi perkumpulan kita, sekali pun mati tecu tak gentar.”

Tentu saja pengemis tua itu tingkatannya lebih rendah dari pada Loh Yu-ka, Pangcu yang baru ini. Tetapi ia membawa Hiolo milik Ang Chit-kong, maka Loh Yu-ka berlutut terhadap Hiolo yang menjadi simbol Chit-kong dan bukan berlutut kepada pengemis itu.

“Ang-lopangcu bilang,” demikian pengemis tua itu melanjutkan lagi, “dalam keadaan negara kacau balau ini, perlahan namun pasti bangsa Mongol mulai menjajah ke selatan hendak mencaplok negeri Song-raya, maka diharap semua anggota perkumpulan hendaklah berhati setia dan bernyali berani, harus bersumpah akan membunuh musuh dan melawan penjajah dari luar.”

Serentak anggota Kay-pang itu berteriak lagi menyatakan akur, semangat mereka tinggi sekali dan sikap mereka sungguh berani.

“Pemerintah dalam keadaan kacau, pembesar dorna berkuasa, kalau kita percaya bahwa para pembesar busuk itu akan melindungi rakyat, hal itu sekali-kali tak akan terlaksana,” demikian pengemis tua itu bicara lagi, “Kini negara dalam bahaya, setiap orang hendaklah berjiwa patriot, sedia berkorban bagi nusa dan bangsa. Sayang Lopangcu lagi ada suatu keperluan ke daerah Utara sehingga tak bisa datang ke pertemuan ini, maka aku disuruh menganjurkan kalian hendaklah ingat baik-baik dua huruf, yakni Tiong Gi.”

Seketika para pengemis bergemuruh menyambut anjuran itu, beramai-ramai mereka lalu berteriak:

“Kami bersumpah menerima petunjuk Ang-lopangcu!”

Sejak kecil Yo Ko tidak mendapat pendidikan, maka ia tidak tahu apa arti ‘Tiong Gi’ atau setia dan berbakti itu betapa besar hubungannya dengan negara, tetapi begitu dilihatnya anggota Kay-pang itu bersikap gagah berani, tanpa terasa ia pun merasakan sesuatu, ia menjadi menyesal tempo hari telah mempermainkan beberapa anak murid Kay-pang.

Mengenai kematian Ang Chit-kong, dengan mata kepala sendiri dia saksikan benar-benar terjadi, malahan dia sendiri yang mengubur jenazah orang, kenapa pengemis tua ini bisa bilang tiga hari yang lalu pernah bertemu dengan dia? Jika perintah itu palsu, tapi perintah ini justru mengenai tugas yang mulia! Demikianlah Yo Ko menjadi curiga dan tidak mengerti. Ia pikir hal ini terpaksa dibicarakan dengan Oey Yong nanti.

Sehabis itu, lantas diteruskan dengan urusan-urusan Kay-pang tentang kenaikan pangkat dan lain-lain bagi para anggota, dan karena tidak ada sangkut pautnya dengan orang luar, para tetamu lantas pada mengundurkan diri.

Malamnya, di luar mau pun di dalam Liok-keh-ceng sudah dihias dengan lampu lampion yang indah seperti orang punya hajat saja, meja-meja perjamuan memenuhi seluruh ruangan gedung dari depan sampai belakang, seluruhnya lebih dari 200 meja, semua kesatria dan orang gagah dari seluruh jagat tampaknya ada separoh yang hadir.

Agar diketahui bahwa Eng-hiong-yan atau perjamuan kaum kesatria ini dalam beberapa puluh tahun sulit diketemukan barang sekali saja, jika bukan tuan rumahnya luas bergaul, tidak akan bisa mengundang tetamu yang begini banyak. Sampai saatnya, Kwe Ceng dan Oey Yong keluar mengawani tetamu utama mereka yang berada di ruangan tengah.

Tempat Yo Ko sudah diatur oleh Oey Yong dan duduk di samping mejanya, sebaliknya Kwe Hu dan Bu-si Hengte malah sangat jauh tempat duduknya. Semula Kwe Hu rada heran, ia pikir orang toh tak bisa ilmu silat, untuk apa dia hadiri Eng-hiong-yan ini? Tetapi bila terpikir lagi olehnya, seketika hatinya terkesiap.

“Haya, celaka, bukankah ayah bilang mau menjodohkan aku padanya, jangan-jangan ibu sudah setuju dengan maksud ayah?” demikian ia membatin.

Maka makin dipikir Kwe Hu semakin takut, apa lagi teringat olehnya betapa hangatnya hubungan mereka ketika ibunya menggandeng tangan Yo Ko. Selamanya ayah-bundanya saling hormat menghormati dan harga-menghargai, maka kalau ayahnya berkeras dengan maksudnya, pasti ibunya tidak bisa mengelak. Karena itu berulang kali ia melirik si Yo Ko dengan sorot mata yang penuh marah.

Kebetulan waktu itu Bu Siu-bun bertanya padanya: “Hu-moay, lihat itu bocah she Yo juga duduk di situ, ia terhitung Enghiong dari mana sih?”

“Entah,” sahut Kwe Hu mendongkol. “Jika kau mampu, boleh kau mengusirnya!”

Tadinya Bu-si Hengte hanya memandang rendah pada Yo Ko, tetapi sesudah mendengar Kwe Ceng bilang hendak menjodohkan puterinya kepada Yo Ko, tanpa terasa dalam hati mereka timbul rasa permusuhan. Hal ini memang biasa terjadi di antara sesama saingan dalam berebut pacar, maka tak bisa menyalahkan mereka.

Kini mendengar kata-kata Kwe Hu tadi, segera Siu-bun berpikir: “Mengapa aku tidak bikin malu dia di hadapan orang banyak? Subo adalah seorang yang suka keunggulan, jika bocah she Yo terjungkal di bawah tanganku, pasti Subo tak akan mau terima dia sebagai menantunya.”

Setelah mengambil keputusan itu, dengan It-yang-ci yang baru saja ia pelajari dari paman gurunya itu kebetulan bisa menggunakan Yo Ko sebagai kelinci percobaan. Maka segera berkatalah Siu-bun:

“Dia mengaku Enghiong, rasanya susah untuk mengusir dia, adalah lebih baik menaikkan dia sekalian supaya dia bisa dikenal orang banyak.”

Habis berkata ia menuangkan dua cawan arak dan segera didekatinya Yo Ko. “Yo-toako, marilah kusuguh kau secawan,” demikian ia berkata.

Kecerdasan Yo Ko jauh sekali di atas Bu-si Hengte. Waktu dilihatnya orang mendekati dirinya dengan mata memandang Kwe Hu, sedangkan air mukanya mengunjukkan rasa senang yang aneh, ia menduga orang pasti akan pakai akal licik. Ia pikir: “Tentu dia tidak bermaksud baik dengan menyuguhkan arak padaku, tapi untuk menaruh racun dalam arak rasanya ia pun tidak berani.”

Maka suguhan orang tak ditolaknya, ia berdiri dan menerima pemberian itu terus diminum. Siapa duga pada saat itu juga tiba-tiba saja Siu-bun mengulurkan jarinya dan menotok ke pinggangnya. Siu-bun sengaja menutupi pandangan orang lain dengan tubuhnya, dia pikir asal sekali totok kena ‘Jiau-yao-hiat’, tentu Yo Ko akan berteriak-teriak dan tertawa-tawa tak keruan di hadapan orang banyak.

Tetapi waktu ia mendekati, lebih dulu Yo Ko telah memperhatikan gerak-geriknya. Jangan kata Yo Ko sudah berjaga-jaga, sekali pun mendadak musuh membokong, dalam tingkat kepandaian Yo Ko sekarang sukar hendak merobohkannya. Apa bila menuruti watak Yo Ko yang tidak mau kalah sedikit pun dengan orang lain, pasti kontan dia batas menghantam orang, bila tidak bikin Siu-bun tersungkur, tentu pula ‘Jiau-yao-hiat’ ia totok balik.

Cuma sesudah percakapannya dengan Oey Yong, hatinya sedang gembira, maka dia merasa tidak enak kalau merobohkan orang di hadapan orang banyak, ia pikir jeIek-jelek Bu-si Hengte ini adalah anak murid paman dan bibinya. Sebab itu, diam-diam ia hanya jalankan darahnya secara terbalik menurut ilmu ajaran Auwyang Hong.

Betul saja, ketika jari Siu-bun ditotokkan, meski Hiat-to yang diarah sangat jitu, tetapi Yo Ko anggap seperti tak terjadi apa-apa saja. Sekali kena, bukannya Yo Ko roboh atau ter-tawa seperti yang diharapkan, bahkan pemuda ini hanya tersenyum terus duduk kembali ke tempatnya tadi. Keruan saja Bu Siu-bun terheran-heran dan terpaksa dia pun kembali ke mejanya.

“Koko, mengapa ilmu ajaran Supek tidak manjur?” demikian dia tanya saudaranya dengan suara tertahan.

“Apa? Tak manjur?” sahut Bu Tun-si bingung. Lalu Siu-bun menceritakan pengalamannya tadi.

“Ahh, tentu jarimu tidak benar atau Hiat-to yang kau arah agak menceng,” ujar Tun-si.

“Menceng? Mana bisa, lihat nih,” bantah Siu-bun.

Berbareng ia segera angkat jarinya terus bergaya menotok ke pinggang sang kakak, baik gayanya mau pun tenaganya, semuanya tepat dan jitu, sedikit pun tidak salah seperti apa yang diajarkan Supek mereka.

“Ha, tadinya aku kira It-yang-ci tentu permainan yang amat lihay, huh agaknya juga tidak berguna,” terdengar Kwe Hu mencemooh dengan mulut menjengkit.

Karena sindiran ini, Tun-si merasa penasaran. Mendadak dia berdiri lantas menuang dua cawan arak, setelah itu dia pun mendekati Yo Ko.

“Yo-toako, telah lama kita tak bertemu. Kini bersua kembali, sungguh harus dibuat girang, maka siaute juga ingin menyuguh kau secawan arak,” demikian ia berkata.

Diam-diam Yo Ko tertawa geli. Adiknya sudah kebentur batu, apa sang kakak juga ingin ketumbuk tembok? Maka dia pun tidak menolak. Dengan sumpit dia jepit dahulu sepotong daging dan dengan tangan yang lain dia sambut arak suguhan orang sambil ucapkan terima kasih.

Tun-si lebih kasar lagi dari pada sang adik, tanpa tedeng aling-aling lagi mendadak ia ulur tangan kanan dan secepat kilat menjojoh ke pinggang Yo Ko. Sekali ini Yo Ko tak perlu menjalankan darahnya secara terbalik lagi. Dengan tenang saja ia luruskan tangannya yang memegang sumpit, ia gunakan potongan daging sapi yang dia cepit tadi sebagai tameng di pinggangnya yang diarah. Saking cepatnya Yo Ko bertindak, maka sama sekali Tun-si tak berasa, pada saat jarinya kena menjojoh, dengan tepat menembus potongan daging sapi itu.

“Minum arak dengan jojoh daging sapi memang paling enak,” kata Yo Ko tertawa sambil meletakkan sumpitnya.

Waktu Tun-si mengangkat tangannya, dia lihat daging sapi itu masih mencantol di jarinya dengan air kuwah masih menetes. Ia menjadi serba salah, dibuang sayang, tidak dibuang bikin malu saja. Ia pelototi Yo Ko dengan gemas, lalu cepat-cepat kembali ke mejanya. Melihat jari orang bertambah sepotong daging, Kwe Hu menjadi heran.

“Apakah itu?” demikian ia tanya.

Tentu saja Tun-si merah jengah tak bisa menjawab. Begitulah selagi pemuda ini serba salah kehilangan muka, tiba-tiba terlihat seorang pengemis tua telah angkat cawan arak sambil berdiri. Nyata pengemis tua ini bukan lain adalah Loh Yu-ka, pangcu baru Kay-pang.

“Seperti saudara-saudara mendengar tadi, Ang-lopangcu sudah mengirim perintah bahwa bangsa Mongol semakin nyata akan menjajah ke selatan, sebab itu para saudara diminta berjuang mati-matian untuk melawan musuh,” demikian ia angkat bicara setelah mengajak minum para kesatria. “Kini para kesatria dari seluruh jagat hampir semua berkumpul disini, semua orang berhati setia negara, maka kita harus merundingkan satu daya-upaya untuk mencegah penjajah bangsa asing itu, dan agar peristiwa Ong-Khong (maksudnya kedua raja Song yang ditawan negeri Kim) tidak terulang lagi.”

Karena beberapa patah kata Loh Yu-ka ini, keadaan hadirin seketika ramai lagi dan sama menyatakan akur. Sementara itu terlihat seorang tua dengan jenggot putih perak telah berdiri juga.

“Kata pribahasa, ular tanpa kepala tidak bisa berjalan, percuma saja kalau kita hanya ber-cita-cita tinggi tetapi tiada seorang pemimpin yang bijaksana, tentu pekerjaan kita akan sia-sia,” demikian ia kata, suaranya lantang bagai genta, “Kini para kesatria berkumpul di sini, harus kita angkat seorang yang memiliki nama tinggi, seorang gagah yang dihormati oleh semua orang untuk menjadi pemimpin dan kita semua akan mendengar perintahnya.”

Seketika suara sorak-sorai riuh gemuruh lagi, segera pula ada yang berteriak: “Baiklah, engkau orang tua saja yang menjadi pemimpinnya!”

“Ya, tak perlu lagi angkat yang lain!” sambung yang lain.

Tetapi orang tua itu bergelak tertawa. “Ha-ha-ha, aku si tua bangka ini terhitung manusia macam apa?” demikian katanya, “Selama ini kalangan Kangouw mengakui ilmu silat lima tokoh, Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong adalah yang paling tinggi. Tiong-sin-thong Ong Tiong-yang telah lama meninggal, Tang-sia dan Se-tok bukan orang golongan kita, sedangkan Lam-te jauh di negeri Tay-li, dengan sendirinya ketua serikat ini kecuali Pak-kay Ang-locianpwe tiada yang lebih sesuai lagi.”

Memang Ang Chit-kong adalah jago utara yang paling tinggi dan benar-benar memenuhi harapan semua orang, maka tepuk tangan segera gemuruh lagi tanpa ada yang berlainan pendapat.

“Ya, Ang-locianpwe sudah pasti cocok sekali untuk menjadi ketua serikat para kesatria ini. Kecuali dia, siapa lagi yang mampu menaklukkan semua orang dengan ilmu silatnya dan melebihi orang Iain dengan budi pekertinya?”

Demikian tiba-tiba di antara orang banyak itu ada seorang lagi yang berteriak, meski pun suaranya amat keras, tapi waktu pandangan orang diarahkan ke tempat datangnya suara, orangnya ternyata tidak kelihatan. Kiranya orang itu adalah seorang cebol yang sangat pendek sehingga tertutup oleh orang-orang di sekitarnya.

“Siapakah itu yang bicara?” segera ada yang bertanya.

Dengan cepat si cebol itu melompat ke atas meja, maka nampaklah perawakannya yang tingginya tiada satu meter, usianya dekat setengah abad sebaliknya wajahnya bercahaya penuh semangat. Sebetulnya banyak yang hendak menertawai si cebol ini, tapi demi nampak sinar matanya yang tajam, suara tertawa mereka tertelan kembali mentah-mentah.

“Cuma tindak-tanduk Ang-lopangcu amat aneh, dalam sepuluh tahun sukar untuk ketemu dia sekali, kalau dia orang tua tak di tempat, lalu jabatan ketua serikat ini harus dipegang siapa?” demikian si cebol itu berkata lagi.

Betul juga, pikir semua orang.

“Segala apa yang kita perbuat kini seluruhnya adalah untuk membela tanah air, sedikit pun kita tak punya kepentingan pribadi, maka kita harus angkat seorang ketua muda, agar bila Ang-lopangcu tidak ada, kita lantas tunduk pada wakilnya ini.”

“Bagus, bagus!” demikian terdengar sorak-sorai lagi dengan ramai. Lalu banyak lagi yang berteriak-teriak mengemukakan calonnya.

“Kwe Ceng, Kwe-tayhiap saja!”

“Paling baik Loh-pangcu!”

“Liok-cengcu, tuan rumah ini saja!”

“Tidak, sebaiknya Ma-kaucu dari Coan-cin-kau!”

“Atau Pangcu dari Thi-cio-pang saja!”

Begitulah terdengar seruan yang simpang-siur. Selagi suasana rada kacau, dari luar ruangan kelihatan bayangan orang berkelebat, empat tojin sedang berlari masuk dengan cepat, ternyata mereka adalah Hek Tay-thong, Sun Put-ji, Thio Ci-keng dan In Ci-peng berempat.

Melihat mereka sudah pergi dan mendadak kembali lagi, Yo Ko menjadi heran, sebaliknya Kwe Ceng dan Liok Khoan-eng girang luar biasa. Lekas-lekas mereka meninggalkan meja dan menyambutnya.

“Ada musuh hendak mengacau ke sini, kami sengaja datang memberi kabar, hendaklah kalian berlaku waspada dan berjaga-jaga,” demikian Hek Tay-thong bisiki Kwe Ceng.

Di dalam Coan-cin-kau, Kong-ling-cu Hek Tay-thong terhitung jagoan kelas terkemuka, di kalangan Kangouw, orang yang berilmu silat lebih tinggi dari dia bisa dihitung dengan jari, namun kini cara mengucapkan berita itu kedengarannya rada gemetar dan kuatir, maka Kwe Ceng pikir tentu yang akan datang ini pasti musuh tangguh adanya.

“Apa Auwyang Hong?” demikian Kwe Ceng tanya dengan suara rendah.

“Bukan, tetapi orang Mongol yang aku sendiri pernah jatuh di tangannya,” sahut Hek Tay-thong.

“Pangeran Hotu?” kata Kwe Ceng dengan hati lega.

Dan sebelum Hek Tay-thong buka suara lagi, mendadak dari luar terdengar suara tiupan tanduk yang bertalu-talu, menyusul diselingi oleh suara genta yang terputus-putus nyaring.

“Sambut tetamu agung!” segera Liok Khoan-eng berteriak.

Baru saja berhenti suaranya, tahu-tahu di depan ruang pendopo itu telah berdiri beberapa puluh orang yang beraneka macam potongan dan lagaknya, ada yang tinggi besar, ada yang pendek kecil.

Para kesatria yang hadir ini sebenarnya lagi bersorak-sorai dalam pesta pora yang ria, kini mendadak nampak munculnya orang demikian banyak, mereka rada heran, tetapi mereka sangka orang juga hendak menghadiri Eng-hiong-yan ini. Setelah melihat tiada kenalan di antara orang-orang, kemudian tak diperhatikan lebih jauh.

Berlainan dengan Kwe Ceng yang sudah tinggi ilmu silatnya dan tajam penglihatannya, segera ia tahu gelagat tidak sewajarnya.

“Yang datang ini terlalu keras, mereka tidak mengandung maksud baik,” demikian ia bisiki sang isteri Oey Yong. Kemudian ia pun bangkit, pasangan suami isteri ini bersama Liok Khoan-eng menyambut keluar.

Kwe Ceng mengenali orang yang bermuka cakap berdandan sebagai putera bangsawan itu adalah Pengeran Hotu dari Mongol, sedang paderi yang berjubah merah dan berkopiah emas, mukanya kurus, adalah Ciangkau atau ketua Bit-cong dari Tibet, Darba namanya. Kedua orang ini dahulu sudah pernah dijumpainya di Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san. Meski mereka terhitung jago kelas satu, tetapi ilmu silatnya masih lebih rendah dari pada dirinya, maka tak perlu ditakuti.

Cuma di tengah-tengah kedua orang ini masih berdiri lagi seorang paderi Tibet yang juga tinggi kurus dan berjubah merah pula, kepalanya gundul licin berminyak, ubun-ubun atau mercu kepala tampak dekuk ke dalam. Melihat macamnya orang, Kwe Ceng dan Oey Yong saling pandang. Pernah mereka dengar dari Oey Yok-su yang berbicara tentang ilmu silat aneh kaum Lama sekte Bit-cong di Tibet bahwa apa bila sudah terlatih sampai tingkatan yang sangat tinggi, mercu kepala bisa sedikit dekuk ke dalam. Kini melihat ubun-ubun orang ini begitu dalam dekuknya, apa mungkin ilmu silatnya sudah sampai tingkatan yang sukar diukur?

Tetapi di kalangan Kangouw kenapa selama ini hanya terdengar Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, sebaliknya tidak pernah dengar bahwa di Tibet terdapat seorang jago seperti dia ini? Sebab itulah mereka berdua diam-diam berlaku waspada, lalu mereka membungkuk memberi hormat sambil mengucapkan selamat datang dan menyilakan duduk.

Segera Liok Khoan-eng memberi tanda perintah, para centeng segera sibuk menyediakan meja baru dan daharan. Bu-si Hengte sudah terbiasa membantu bapak dan ibu guru mereka mengurusi pekerjaan rumah tangga, Iebih-lebih Bu Siu-bun yang serba cepat dan giat, maka kedua saudara Bu segera memimpin para centeng itu mengatur tempat dan sediakan beberapa meja yang terhormat buat tamu agung, mereka pun minta maaf kepada tetamu yang duluan supaya suka menggeser sedikit tempat luang.

Sementara itu, melihat Yo Ko ikut-ikut hadir dalam perjamuan ini, dalam pandangan Kwe Hu rasanya kurang senang, “Hm, kau terhitung Enghiong macam apa? Meski Enghiong seluruh jagat mati ludes juga tidak bergilir pada dirimu!” demikian ia membatin. Habis ini ia kedipi Bu Siu-bun sambil mulutnya merot-merot ke jurusan Yo Ko. Maka tahulah Siu-bun maksud si gadis, segera Yo Ko didekatinya.

“Yo-toako, meja ini hendaklah digeser sedikit,” demikian ia kata. Habis ini, tanpa menanti Yo Ko bilang boleh atau tidak, segera ia suruh centeng memindahkan mangkok dan sumpit si Yo Ko ke pojok.

Tentu saja hati Yo Ko terbakar, tetapi ia pun tidak bicara, melainkan diam-diam ia tertawa dingin.

Sementara itu terdengar Pengeran Hotu sudah membuka suara. “Suhu, ini kuperkenalkan engkau kepada dua Enghiong dari Tionggoan yang namanya gilang-gemilang...”

Kwe Ceng terkejut, pikirnya: “Oh, kiranya paderi Tibet tinggi kurus ini adalah gurunya.”

Dilihatnya paderi Tibet itu sedang manggut-manggut, dua matanya melek tidak meram pun tidak. Pangeran Hotu lantas menyambung lagi:

“dan yang ini adalah Kwe Ceng, Kwe-tayhiap yang dahulu pernah menjadi Ceng-se-goanswe di negeri Mongol, Dan yang ini adalah Oey-pangcu.”

Ketika mendengar Hotu menyebut “Ceng-se-goanswe”, mendadak paderi itu pentangkan kedua matanya hingga menyorotkan sinar tajam. Dia pandang beberapa saat Kwe Ceng, habis itu kelopak matanya menurun pula setengah menutup, sebaliknya terhadap Pangcu dari Kay-pang ternyata sama sekali tak diperhatikannya.

“lni adalah guruku, orang di Tibet menyebutnya Kim-lun Hoat-ong dan oleh Hong-thayhou (ibusuri) negeri MongoI sekarang diangkat dengan gelar Houkok Taysu,” Pangeran Hotu berkata lagi dengan suara lantang, (Houkok Taysu = imam besar pelindung negara)

Karena kerasnya suara, seluruh hadirin dengan jelas dapat mendengarnya hingga semua orang merasa heran dan saling pandang. Kata mereka di dalam hati: “Tadi baru saja kita berunding untuk melawan penjajahan Mongol ke selatan, kenapa mendadak lantas datang seorang Koksu (iman negara) dari Mongol?”

Kwe Ceng sendiri karena memang kurang cerdas, maka seketika ia menjadi bingung cara bagaimana harus melayani tetamu yang tak diundang ini, tiada jalan lain dia hanya dapat menuang arak kemudian mengajak minum kepada mereka seorang demi seorang sambil mengucapkan selamat datang dan kata-kata kagum.

Setelah tiga keliling menyuguh arak, Pangeran Hotu berdiri. Waktu kipas lempitnya dia pentang, tampaklah pada kipasnya terlukiskan setangkai bunga Bo-tan yang indah sekali.

PEREBUTAN GELAR BU-LIM BENG-CU

“Kedatangan kami guru dan murid hari ini untuk menghadiri Eng-hiong-yan walau pun harus dilakukan dengan muka tebal karena tidak diundang, tapi mengingat bisa berkumpul dengan para kesatria begini banyak, terpaksa kami pun tak pikirkan lagi malu atau tidak,” demikian ia bicara.

“Perjamuan seperti ini memang susah diadakan, waktunya pun sulit dicari, kini kebetulan kesatria dari seluruh jagat berkumpul di sini, menurut pendapatku harus diangkat seorang Beng-cu (ketua serikat) dari para kesatria untuk memimpin Bu-Iim dan menjadi kepala para orang gagah di bumi ini, entah bagaimana pikiran kalian dengan pendapatku?”

“Usulmu memang tepat sekali,” seru si cebol, “Tadi baru saja kami mengangkat Ang-lopangcu sebagai Beng-cu dan kini sedang memilih wakil ketuanya, bagaimana pendapat saudara tentang soal ini?”

“Ang Chit-kong telah lama mati, kini kau memilih setan sebagai Beng-cu, apa kau anggap kami ini setan juga?” sela Darba tiba-tiba sambil berdiri.

Karena kata-katanya ini, seketika para kesatria menjadi gempar, lebih-lebih para anggota Kay-pang yang menjadi marah luar biasa, mereka pada berteriak-teriak.

“Baikiah, jika Ang Chit-kong belum mati, sekarang juga silakan dia tampil ke muka untuk bertemu,” kata Darba lagi.

Loh Yu-ka tak bisa menguasai dirinya lagi, sambil angkat tinggi-tinggi tongkat bambu ‘Pak-kau-pang’, segera ia berdiri.

“Selamanya Ang-pangcu berkelana tanpa tentu kediamannya, sekarang kau bilang mau bertemu dengan dia, apa kau anggap gampang permintaanmu ini?” demikian debatnya.

“Hm,” tiba-tiba saja Darba menjengek. “Jangankan mati-hidupnya Ang Chit-kong sekarang sukar diketahui, sekali pun sekarang dia berada di sini juga dengan ilmu silatnya mau pun namanya, apa bisa dia memadai Suhu-ku Kim-Iun Hoat-ong? Para kesatria yang hadir ini hendaklah mengetahui, Beng-cu pilihan Eng-hiong-yan hari ini, kecuali Kim-lun Hoat-ong tiada orang lain lagi yang bisa menjabatnya.”

Sampai di sini para kesatria tahulah maksud tujuan kedatangan orang-orang ini, terang mereka mendapat tahu bahwa Eng-hiong-yan ini bakal mengambil keputusan yang tidak menguntungkan pihak Mongol, sebab itu mereka sengaja datang mengacau dan ikut berebut kedudukan Beng-cu. Jika dengan ilmu silatnya Kim-lun Hoat-ong berhasil merebut kedudukan Beng-cu, meski pun para orang gagah perkasa dari Tionggoan tak takluk pada perintahnya, akan tetapi sedikitnya sudah bisa melemahkan kekuatan bangsa Han dalam perlawanannya terhadap Mongol.

Dalam keadaan demikian, seketika mereka memandang Oey Yong. Mereka kenal kepandaian Oey Yong yang banyak tipu akalnya, mereka pikir walau pun tetamu berpuluh orang ini setinggi langit ilmu silatnya, tetapi menghadapi lawan ribuan orang yang hadir ini, tidak peduli satu lawan satu atau pun dengan cara keroyokan, pasti pihak kita tidak akan terkalahkan, maka biarlah dengar saja perintah Oey-pangcu serta menurut petunjuknya.

Melihat gelagatnya, Oey Yong sendiri telah tahu bahwa urusan ini sulit diselesaikan tanpa menggunakan kekerasan, maka segera ia pun mulai bicara.

“Para kesatria yang hadir di sini memang sudah angkat Ang-lopangcu sebagai Beng-cu, sebaliknya Taysu (maksudnya Darba) ini mendukung Kim-lun Hoat-ong sebagai calonnya. Jika Ang-lopangcu ada di sini, sebenarnya kita bisa menyaksikan beliau mengukur tenaga dengan Kim-lun Hoat-ong! Tapi beliau justru pergi-datang tiada ketentuan tempatnya, pula tak menyangka bahwa hari ini bakal kedatangan tamu agung hingga tak bisa menunggu di sini sebelumnya, kelak apa bila beliau tahu akan kejadian ini, pasti dia akan menyesal tak terhingga. Untunglah di antara Ang-lopangcu mau pun Kim-lun Hoat-ong masing-masing sudah menurunkan anak murid. Nah, sekarang biarlah murid kedua belah pihak saja yang mewakili guru mereka untuk bertanding!”

Sebagian besar para kesatria dari Tionggoan ini cukup kenal kepandaian Kwe Ceng yang maha tinggi, pula umurnya sedang kuat-kuatnya, jago-jago tertinggi pada jaman ini agaknya tiada lagi yang sanggup menangkan dia, sekali pun Ang Chit-kong sendiri yang datang juga belum pasti bisa lebih kuat dari pada Kwe Ceng, kini kalau bertanding dengan murid Kim-lun Hoat-ong, maka kemenangan sudah pasti dalam genggaman sendiri, tidak akan bakal kalah. Karena itu seketika mereka sama berseru akur hingga genteng rumah tergetar oleh suara sorak gemuruh mereka.

Ketika mendapat kabar itu, tetamu yang duduk di ruangan belakang langsung ber-duyun membanjir keluar hingga seluruh ruangan pendopo sampai keluar pintu penuh orang. Karena pihaknya kalah suara, maka Kim-lun Hoat-ong menjadi terdesak oleh suasana itu. Pangeran Hotu sendiri sudah pernah saling gebrak dengan Kwe Ceng di Tiong-yang-kiong dahulu, ia insaf kepandaiannya masih di bawah orang.

Begitu pula silat Suheng-nya, Darba, juga setingkat dengan dirinya, tidak peduli siapa di antara mereka yang maju pasti akan dikalahkan. Tetapi bila menolak usul Oey Yong itu, kedudukan Beng-cu terang tidak bisa lagi direbut. Oleh karena itu ia menjadi bingung tak berdaya.

“Baik, Hotu, kau boleh maju coba bertanding dengan murid Ang Chit-kong,” tiba-tiba Kim-Iun Hoat-ong berkata.

Ternyata paderi yang jauh tinggal di Tibet ini menyangka muridnya, Pangeran Hotu pasti jarang ada tandingannya, paling banyak hanya kalah terhadap Tang-sia, Se-tok dan lain jago angkatan tua saja, sama sekali tidak diketahuinya bahwa muridnya itu justru pernah terjungkal di tangan Kwe Ceng. Karena perintah sang guru itu, mau tidak mau pangeran Hotu mengiakan, namun ia toh belum berdiri.

“Suhu,” demikian ia berbisik, “murid Ang Chit-kong itu terlalu hebat, Tecu mungkin sukar mengalahkan dia, jangan-jangan akan bikin malu nama baik Suhu saja.”

Karena penuturan ini, Kim-lun Hoat-ong rada kurang senang. “Hm, masakah kau tidak bisa mengalahkan murid orang itu?” demikian jengeknya, “Lekas maju sana!”

Hotu betul-betul serba salah, ia jadi menyesal juga tadinya tidak bilang terus terang pada sang guru tentang pengalamannya dulu. Ia menyangka dengan kepandaian gurunya yang tak ada tandingannya di kolong langit, dengan menghadiri perjamuan Eng-hiong-yan maka kedudukan Beng-cu pasti akan direbutnya dengan mudah saja, siapa tahu ia sendiri justru disuruh maju melawan Kwe Ceng.

Begitulah, sedang dia ragu-ragu, tiba-tiba seorang laki-laki gemuk dengan pakaian bangsa Mongol telah mendekatinya dan bisik-bisik beberapa kata di telinganya. Karena kisikan ini, seketika Hotu menjadi girang, tiba-tiba ia berdiri, ia pentang kipasnya dan mengipas-ngipas.

“Selama ini kudengar Kay-pang memiliki semacam kepandaian pusaka yang disebut Pak-kau-pang-hoat, bahwa ilmu itu adalah kepandaian paling lihay yang menjadi kebanggaan Ang-Iopangcu,” demikian ia berkata dengan lantang. “Sekarang Siau-ong (pangeran yang rendah) yang tak becus ini ingin menggunakan sebuah kipas untuk mematahkannya. Jika aku bisa mematahkan ilmu pusakanya, suatu tanda kemahiran Ang Chit-kong tak lebih hanya sebegitu saja!”

Waktu orang itu kisiki Hotu, mula-mula Oey Yong tidak memperhatikan. Tetapi mendadak orang menyinggung tentang Pak-kau-pang-hoat dan dengan hanya beberapa patah kata saja, Kwe Ceng yang ilmu silatnya paling kuat di pihak sendiri segera dikesampingkan, ia menjadi heran siapa yang kemukakan tipu-daya itu.

Waktu ia menegas, maka tahulah dia. Kiranya laki-laki gemuk itu bukan lain adalah Peng-tianglo, satu di antara empat Tianglo atau tetua dalam Kay-pang. Sekarang Peng-tianglo memihak Mongol hingga telah bertukar dandanan bangsa Mongol, hanya dia ini saja yang tahu bahwa Pak-kau-pang-hoat tidak pernah diturunkan kepada orang Iain kecuali Pangcu dari Kay-pang sendiri, sedangkan Kwe Ceng biar pun tinggi kepandaiannya, Pak-kau-pang-hoat ini ia tak paham.

Kini Hotu singgung soal Pak-kau-pang-hoat, terang ia menantang terhadap dirinya yang menjadi pangcu lama dan Loh Yu-ka yang menjadi Pangcu baru. Loh Yu-ka masih belum lengkap mempelajari ilmu permainan pentung itu sehingga belum bisa dipergunakan menghadapi musuh, dengan sendirinya ia yang harus maju.

Kwe Ceng cukup tahu bahwa Pak-kau-pang-hoat sang isteri tiada tandingannya di kolong langit ini, ia menduga dan yakin isterinya pasti dapat mengalahkan Hotu. Cuma beberapa bulan paling akhir ini semangat sang isteri selalu lesu dan tenaga kurang, kandungannya baru tumbuh, sekali-kali tidak boleh bergebrak dengan orang. Oleh karena itu segera dia melangkah maju ke tengah.

“Pak-kau-pang-hoat Ang-lopangcu selamanya tak sembarangan dipergunakan, karena itu baiknya kau belajar kenal saja dengan Hang-liong-sip-pat-ciang ajaran beliau,” segera ia menantang.

Melihat langkah Kwe Ceng kuat bertenaga, diam-diam Kim-Iun Hoat-ong terkejut, meski matanya kelihatan meram tidak melek tidak.

“Orang ini memang nyata bukan lawan lemah,” demikian ia membatin.

Sementara itu Hotu bergelak ketawa. “Ha-ha-ha, di Cong-lam-san dahulu Siau-ong sudah pernah berjumpa sekali denganmu, tatkala itu kau mengaku anak murid Ma Giok dan Khu Ju-It, kenapa sekarang memalsukan diri sebagai muridnya Ang Chit-kong lagi?” tegurnya pada Kwe Ceng.

Dan sebelum orang dapat menjawab, Hotu mendahului menyambung lagi: “Ya, satu orang mengangkat beberapa guru juga lumrah saja. Tapi hari ini adalah gilran Kim-lun Hoat-ong bertanding dengan Ang Chit-kong. Meski tinggi ilmu silatmu, tapi kau dapat dari beberapa perguruan, jadi rasanya sukar memperlihatkan ilmu kepandaian sejati dari Ang-lopangcu.” Demikian debatnya panjang lebar dan beralasan juga.

Dasar Kwe Ceng memang tak pandai bicara. Ia menjadi tergagap dan tidak mampu menjawab, sebaliknya para kesatria lain seketika menjadi ramai sambil berteriak-teriak.

“Kalau berani, hayo, bertanding saja dengan Kwe-tayhiap! Kalau tidak berani boleh lekas kempit ekor dan enyah dari sini!”

“Kwe-tayhiap adalah anak murid langsung Ang-lopangcu, apa bila dia tidak bisa mewakili gurunya, siapa lagi yang cocok mewakili?”

“Kau boleh coba rasakan enak tidaknya Hang-liong-sip-pat-ciang, habis itu baru kau cicipi lagi Pak-kau-pang-hoat juga belum terlambat!”

Begitulah teriakan mereka yang simpang-siur. Namun pangeran Mongol itu mendadak tertawa mengadah, waktu ia tertawa diam-diam ia kerahkan tenaga dalamnya hingga suara “hahaha” yang keras lantang bikin genting rumah seakan-akan tergetar dan suara ribut para kesatria itu tenggelam.

Tentu saja semua orang terkejut bukan main. Sungguh mereka tidak nyana dengan umur semuda orang dan berdandan sebagai bangsawan, ternyata mempunyai Iwekang begini lihay. Karena itu seketika mereka bungkam dan tenang kembali.

“Suhu, agaknya kita telah dikecewakan orang.” kata Hotu tiba-tiba kepada Kim-lun Hoat-ong. “Tadinya kita menyangka hari ini benar-benar diadakan Eng-hiong-yan, maka tanpa kenal capek datang dari jauh untuk ikut serta, siapa tahu yang ada di sini tidak lebih hanya manusia-manusia yang tamak hidup dan takut mati. Lebih baik kita lekas pergi saja. Kalau sial sampai menjadi Beng-cu manusia ini, lalu kelak diketahui oleh orang-orang gagah di seluruh jagad dan mentertawai kau karena sudi menjadi pemimpin kawanan ‘kantong nasi’, bukankah cuma bikin noda nama baik engkau saja?”

Semua orang tahu Hotu sengaja memancing agar Oey Yong mau tampil ke muka sendiri, cuma kata-katanya yang terlampau menghina itu membikin semua orang sangat marah. Tanpa pikir lagi, sekali menggerakkan pentungnya, segera Loh Yu-ka melangkah maju.

“Cayhe adalah Pangcu baru dari Kay-pang, Loh Yu-ka,” demikian ia memperkenalkan diri. “Pak-kau-pang-hoat belum ada 1/10 bagian yang kupahami, maka sesungguhnya belum mampu untuk dipergunakan. Tapi kau berkeras ingin mencicipi rasanya pentung. Baiklah, biar kupentung kau beberapa kali.”

Sesungguhnya ilmu silat Loh Yu-ka sangat bagus, lagi pula Pak-kau-pang-hoat atau ilmu pentung pemukul anjing biar pun belum lengkap dipelajarinya, namun setidaknya sudah menambah tidak sedikit kekuatannya. Kini dilihatnya umur Hotu baru 30-an tahun. Dia menduga sekali pun orang mendapatkan ajaran dari guru kosen, belum tentu latihannya sudah cukup, ditambah dia pun tahu kesehatan Oey Yong sedang terganggu, tidak peduli kalah atau menang, tidak akan Oey Yong boleh disuruh maju untuk menghadapi bahaya itu.

Di lain pihak Hotu hanya berharap supaya tidak bergebrak dengan Kwe Ceng, orang lain boleh dikatakan tiada yang dia takuti. Karena itu segera ia sambut baik majunya Loh Yu-ka.

“Selamat, selamat, Loh-pangcu,” demikian ia pun memberi hormat.

Sementara itu centeng Liok-keh-ceng sudah menyingkirkan meja-meja hingga merupakan sebuah kalangan pertandingan di tengah, mereka menambahi lilin pula sehingga keadaan terang benderang bagai siang hari.

“Silakanlah!” seru Hotu segera.

Tiba-tiba kipasnya mengebas, seketika angin kipasnya menyambar ke muka Loh Yu-ka, di antara angin kipasnya ternyata membawa bau wangi. Kuatir kalau angin itu membawa hawa beracun, lekas-lekas Loh Yu-ka mengegos.

Akan tetapi Hotu cepat luar biasa, mendadak kipasnya dilempit kembali hingga berwujud sebatang potlot peranti Tiam-hiat yang panjangnya 7-8 dim, terus ditotokannya ke bagian iga lawan. Tetapi totokan ini ternyata tidak dihiraukan oleh Loh Yu-ka, sebaliknya ia angkat pentung bambunya terus menyabet kaki orang.

Pak-kau-pang-hoat ini memang bagus luar biasa, arah yang dituju juga sama sekali tidak bisa diduga orang, maka ketika pangeran Hotu melompat enteng hendak berkelit, tanpa terduga pentung bambu itu mendadak memutar balik secepat kilat hingga betisnya kena tersabet. Hotu terhuyung-huyung dan lekas-lekas melompat mundur, dengan begitu baru ia bisa berdiri tegak lagi. Senang sekali para kesatria melihat Loh Yu-ka berhasil menghajar orang.

“Ha, anjingnya kena gebuk, tuh!”

“Nah, biar kau rasakan enaknya Pak-kau-pang-hoat!”

Begitulah mereka bersorak memberi semangat pada Loh Yu-ka. Di lain pihak Hotu menjadi merah jengah karena kekalahan itu. Ketika dengan enteng dia membalik tubuh, cepat sekali dia balas menghantam orang dengan tangan kirinya. Namun tahu-tahu Loh Yu-ka telah menendang, sesudah itu pentungnya menyambar kian kemari dengan perubahan yang sukar ditangkap.

“Nyata Pak-kau-pang-hoat memang bukan omong kosong belaka!” diam-diam Hotu amat terperanjat oleh ilmu permainan pentung itu. Maka tak berani lagi dia memandang rendah lawannya, dia kumpulkan seluruh semangat lalu menempur orang sungguh-sungguh.

Bagaimana pun juga memang Loh Yu-ka belum masak betul mempelajari ilmu permainan pentung itu. Beberapa kali dengan gampang saja sesungguhnya dia dapat menjungkalkan lawan, tetapi karena kalah ulet maka serangannya gagal di tengah jalan. Menyaksikan itu, diam-diam Oey Yong dan Kwe Ceng sangat menyayangkan.

Setelah belasan jurus lagi, lambat laun kelemahan Loh Yu-ka menjadi terlihat lebih jelas, Meski pun Yo Ko duduk di pojok ruangan itu, tapi setiap gerak tipu orang dapat dilihatnya semua. Kini nampak keadaan Loh Yu-ka itu, diam-diam ia ikut kuatir. Untung betis pangeran Hotu sudah kena dihajar pada permulaan sehingga ia menjadi jeri terhadap Pak-kau-pang-hoat yang aneh ini, maka ia tak berani terlampau mendesak. Kalau tidak, sejak tadi Loh Yu-ka tentu sudah dirobohkan.

Melihat gelagatnya makin jelek, Oey Yong menjadi kuatir. Selagi ia hendak teriaki Loh Yu-ka agar mengundurkan diri, mendadak Loh Yu-ka menggunakan suatu tipu yang disebut ‘sia-ta-kau-pwe’ atau menggebuk punggung anjing dari samping. Begitu pentung bambu berkelebat, dengan sengit ia menghantam dan tepat mengenai pipi kiri Hotu.

Tentu saja pangeran Mongol itu malu tercampur sakit. Tanpa pikir lagi ia pegang pentung orang, menyusul sebelah tangannya terus menghantam, maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, tepat dada Loh Yu-ka kena dipukul sekali. Habis itu, sebelah kaki Hotu menyerampang pula, segera terdengar lagi suara “krak”, nyata tulang kaki Loh-Yu-ka patah, darah segar menyembur pula dari mulutnya, orangnya terus terguling roboh. Dua anak murid Kay-pang berkantong delapan lekas menubruk maju lalu membangunkan Pangcu mereka.

Melihat cara turun tangan Hotu begitu keji, semua orang marah sekali. Sementara itu dengan memegang pentung bambu hijau mengkilap yang baru didapatkan dari hasil merampas itu, Pangeran Hotu tampak berseri-seri saking senangnya.

“Ha, Pak-kau-pang-hoat yang menjadi pusaka kebanggaan Kay-pang ternyata tidak lebih hanya begini saja,” demikian ia menyindir.

Karena maksudnya hendak menghina perkumpulan kaum jembel pembela keadilan ini, dia segera pegang kedua ujung tongkat bambu itu, segera pentung bambu itu hendak ditekuk patah di hadapan orang banyak. Tak ia duga, sekonyong-konyong pandangannya menjadi silau, tahu-tahu seorang wanita muda lemah lembut telah berdiri di hadapannya.

“Nanti dulu!” terdengar wanita itu berseru. Nyata, ia bukan lain ialah Oey Yong adanya.

Nampak gerak tubuh orang begitu cepat, Hotu kaget bukan main. “Kau...” baru demikian ia membuka mulut, mendadak Oey Yong mengulur tangannya dan kedua matanya hendak dicoloknya. Lekas Hotu menangkis, karena itulah dengan enteng pentung bambu itu telah berpindah tangan direbut kembali oleh Oey Yong.

Tipu gerakan yang dipakai Oey Yong ini disebut ‘Kau-go-toat-theng’ atau merebut tongkat dari mulut anjing, termasuk satu di antara tipu Pak-kau-pang-hoat yang paling lihay. Tipu ini bisa berubah tanpa dapat diraba sebelumnya hingga betapa pun hebat lawannya pasti tidak sanggup menghindarkan diri.

Begitulah, dengan diiringi suara sorak sorai para kesatria, kemudian Oey Yong kembali ke tempatnya semula lantas menaruh tongkat bambu di sampingnya. Hotu yang ditinggalkan sendirian terpaku di tengah kalangan dengan rasa kikuk dan serba salah. Sungguh, meski pun ilmu silatnya sudah terhitung tingkat tertinggi, namun dengan cara bagaimana sebenarnya Oey Yong dapat merebut pentung bambu dari tangannya, hal ini bikin dia tetap bingung. Ia pikir apakah wanita ini bisa ilmu sihir.

Sementara itu, di tengah suara orang menyindir mencemoohkan yang riuh ramai, wajah gurunya lama kelamaan juga bersungut, sungguh marah Hotu sukar dikatakan. Tapi ia pun sangat cerdik, dengan suara keras segera dia berseru:

“Oey-pangcu, tongkatmu itu sudah kukembalikan, sekarang silakan maju lagi buat coba-coba.”

Dengan kata-katanya ini, betul saja ada orang menyangka tadi bukannya Oey Yong yang merebut, tapi Hotu yang mengembalikan tongkat bambu itu untuk minta bertanding secara teratur. Hanya beberapa orang yang memiliki kepandaian amat tinggi yang dapat melihat sebenarnya Oey Yong telah merebut pentung itu dengan ilmu silat yang maha tinggi.

Di samping sana Kwe Hu menjadi mendongkol mendengar kata-kata Hotu itu. Selamanya belum pernah gadis ini melihat seorang berani berlaku kurang ajar terhadap ibunya, maka tanpa pikir, dengan cepat pedangnya telah dilolosnya.

“Hu-moay, biar aku gantikan kau maju,” kata Siu-bun tiba-tiba.

Tun-si juga berpikiran sama, maka tanpa janji kedua saudara Bu itu sudah melompat ke tengah berbareng.

“lbu guruku adalah orang yang terhormat,” demikian kata yang satu, lalu yang lain cepat menyambung,

“Mana sudi dia bergebrak dengan manusia liar seperti kau ini?”

Dan yang duluan segera menyambung lagi: “Kau boleh coba dulu ilmu kepandaian Siauya (tuan muda) ini!”

Melihat umur kedua saudara Bu ini meski muda namun gerak-geriknya tangkas dan kuat, tampaknya pernah mendapat ajaran guru pandai, diam-diam Hotu berpikir: “Kedatangan kami hari ini memang bertujuan memamerkan kepandaian untuk menjatuhkan nama jago silat bangsa Han, kalau bisa bertarung beberapa babak adalah lebih baik. Cuma mereka berjumlah lebih banyak, kalau terjadi keroyokan pasti sukar untuk menang.”

Karena pikiran itu, segera ia pun berkata: “Para Enghiong yang hadir, kedua anak bawang ini ingin bertanding dengan aku. Kalau Siau-ong menerima tantangannya, mungkin orang akan bilang aku orang tua akali anak kecil, tetapi bila tak bertanding, rasanya seperti jeri terhadap dua bocah. Baiknya begini saja, kita janji dulu bertanding tiga babak, pihak mana bisa menangkan dua babak, itu berarti menang dan memperoleh kedudukan Beng-cu. Pertandingan Siau-ong tadi dengan Loh-pangcu bolehlah tak usah dihitung, sekarang juga kita mulai pertandingan yang baru. Bagaimana pendapat kalian dengan usulku ini?” Beberapa kata-kata itu diucapkan dengan mengagulkan kedudukannya dan menonjolkan pihaknya yang suka mengalah.

Maka Kwe Ceng dan Oey Yong lantas bisik-bisik berunding dengan beberapa tamunya. Mereka mengusulkan Kwe Ceng, Hek Tay-thong dan si Su-seng, sastrawan murid It-teng Taysu itu sebagai tiga jago mereka. Si Su-seng maju pada babak pertama melawan Hotu, Hek Tay-thong di babak kedua menempur Darba dan Kwe Ceng terakhir menandingi Kim-lun Hoat-ong.

Dengan barisan jago mereka ini apa pasti menang atau tidak, sesungguhnya mereka pun belum yakin. Jika ilmu silat Kim-lun Hoat-ong benar-benar tinggi luar biasa sehingga Kwe Ceng tak mampu menandingi, boleh jadi tiga babak akan kalah semua, hal ini benar-benar suatu kekalahan yang mengenaskan sekali. Karena itu semua orang menjadi ragu-ragu tak berani mengambil keputusan.

“Aku ada akal dan pasti akan menang,” tiba-tiba Oey Yong berkata.

Girang sekali Kwe Ceng. Selagi ia mau tanya, tiba-tiba didengarnya angin senjata sudah sambar menyambar, ia lihat Bu-si Hengte dengan pedang mereka sudah mulai menempur Hotu dengan serunya. Kwe Ceng, Oey Yong dan si Su-seng murid It-teng Taysu amat kuatir atas keselamatan murid mereka, maka mau tak mau mereka mengikuti pertandingan seru itu dengan penuh perhatian.

Kiranya setelah mendengar Hotu menghina mereka sebagai bocah yang masih ingusan, Bu-si Hengte menjadi tidak kepalang murkanya, lebih-lebih karena kata-kata itu diucapkan di hadapan ‘si dia’, bukankah hal itu membikin mereka sangat malu? Maka tanpa pikir lagi segera mereka lolos pedang terus merangsek maju.

Mereka sangka ilmu silat Hotu tidak seberapa lihaynya, buktinya dengan gampang saja ibu gurunya sudah dapat merebut tongkat bambu dari tangannya. Mereka pikir meski pun Loh Yu-ka kena dikalahkan olehnya, hal ini mungkin ilmu silat Loh Yu-ka yang tidak berguna, mereka juga mengagulkan diri karena sudah mendapat pelajaran silat dari Kwe Ceng. Seorang diri mungkin bukan tandingannya, tetapi kalau dua orang maju bersama, sekali-kali tidak terkalahkan. Siapa tahu, baru beberapa jurus saja, kedua pedang mereka sudah terkurung oleh kipasnya Hotu hingga tak bisa berkutik.

Hotu sengaja pamerkan kepandaiannya di depan orang banyak. Ia tunggu waktu Bu Siu-bun menusuk, tiba-tiba saja jari telunjuk kirinya menahan batang pedang orang ke atas, berbareng itu kipasnya mendadak diayun dari samping dan menghantam pedang orang. Maka terdengarlah suara nyaring sekali, tahu-tahu pedang panjang itu patah menjadi dua.

Bu-si Hengte kaget sekali. Lekas-lekas Siu-bun melompat pergi, sebaliknya Tun-si kuatir adiknya dilukai, dari belakang segera dia tusuk punggung orang untuk memaksa musuh tak sempat mengejar. Di luar dugaan, tipu serangannya ini sudah diperhitungkan Hotu sebelumnya. Tanpa berpaling sedikit pun, kipas lempitnya tahu-tahu diputar ke belakang, dengan tepat sekali pedang Tun-si kena jepit, berbareng itu pun Hotu puntir dengan jarinya.

Jika Tun-si memutar mengikuti puntiran kipas Hotu, maka tulang pundaknya pasti akan keseleo, karena itu terpaksa ia lepaskan pedang dan melompat ke belakang. Maka tampaklah pedangnya mencelat ke udara mengeluarkan sinar yang gemilapan untuk kemudian jatuh kembali.

Terkejut sekali Bu-si Hengte tercampur marah. Tun-si siapkan telapak tangan kiri di depan dan pasang kuda-kuda gaya Hang-liong-sip-ciang, sebaliknya Siu-bun meluruskan tangan kanan ke bawah dengan jari telunjuk menjengkit sedikit, dia menunggu bila musuh berani merangsek maju segera akan dilayaninya dengan It-yang-ci.

Melihat kuda-kuda kedua pemuda yang kukuh, agaknya Hotu tak berani memandang ringan. Ia pikir kemenangannya sudah cukup, jadi lebih baik disudahi saja untuk menjaga segala kemungkinan.

Supaya diketahui bahwa Hang-liong-sip-pat-ciang (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) ajaran Ang Chit-kong serta It-yang-ci (ilmu jari betara surya) ajaran It-teng Taysu yang berjuluk Lam-tie atau raja dari selatan, kedua ilmu itu terhitung ilmu kelas wahid di dunia silat. Meski latihan Bu-si Hengte masih cetek, tapi kuda-kuda yang mereka pasang sudah begitu kuat. Bagi orang biasa mungkin tak mengetahui di mana letak kelihayannya, tetapi bagi Hotu yang tergolong ahli, diinsafinya tidak mudah untuk mengalahkannya.

“Ha-ha-ha,” demikian ia bergelak ketawa, “kalian berdua silakan kembali saja, kita hanya tentukan unggul dan asor sampai di sini, tetapi tidak perlu adu jiwa!” Nyata lagu suaranya lebih halus dari pada tadi.

Bu-si Hengte juga insaf bila menempur orang dengan tangan kosong, kekalahan mereka pasti akan lebih menyedihkan, maka dengan muka merah terpaksa mereka undurkan diri dengan lesu, mereka menyingkir ke samping, tetapi tidak berdiri di sekeliling Kwe Hu lagi.

“Bu-keh Koko, mari kita bertiga menempur dia lagi,” mendadak Kwe Hu berteriak sambil mendekat mereka.

Semua orang jadi tertarik oleh teriakan si gadis, sedangkan Kwe Hu dengan cepat sudah meloloskan pedangnya.

“Hu-ji, jangan sembrono!” lekas-lekas Kwe Ceng membentak.

Memang Kwe Hu paling takut pada sang ayah, terpaksa ia mundur kembali sambil pelototi Hotu dengan marah. Melihat rupa si gadis yang cantik molek, dengan tersenyum Hotu manggut-manggut. Akan tetapi sekali lagi Kwe Hu pelototi orang, kemudian berpaling dan tidak menggubrisnya.

Tadinya Bu-si Hengte kuatir ditertawai Kwe Hu karena kekalahan mereka. Kini melihat si gadis membela mereka dengan sesungguh hati, suatu tanda bahwa hati si gadis menaruh simpatik, tentu saja mereka sangat terhibur.

“Pertandingan tadi dengan sendirinya tak terhitung,” sementara Hotu membuka suara lagi sambil pentangkan kipasnya. “Kwe-tayhiap, pihak kami adalah guruku, suheng-ku dan Cayhe sendiri. Ilmu silatku yang paling rendah, jadi babak pertama aku yang maju dulu. Dari pihakmu siapakah yang sudi turun kalangan memberi petunjuk sedikit padaku? Cuma harus diingat, siapa yang bakal menang atau kalah, sekarang bukan main-main lagi.”

Karena tadi mendengar Oey Yong bilang “ada akal” yang pasti akan menang, Kwe Ceng yakin sang isteri yang pintar cerdik dan banyak akal, walau pun belum diketahui apa tipu daya yang hendak diaturnya, namun dalam hati ia sudah merasa takluk.

“Baiklah,” segera ia pun menjawab tantangan orang, “kita tentukan unggul dan asor dalam tiga babak. Pihak mana yang kalah, selanjutnya harus tunduk pada perintah Beng-cu, sekali-kali tak boleh menolak.”

Hotu tahu ilmu silat yang tertinggi di pihak lawan adalah Kwe Ceng, tetapi gurunya yakin dapat mengalahkannya. Ada lagi Oey Yong, meski tadi menggunakan tipu aneh merebut tongkat dari tangannya, namun melihat gaya orang yang lemah lembut, kalau betul-betul saling gebrak, belum tentu begitu lihay, sedangkan yang lain-lain sama sekali tidak dipikirkan olehnya.

“Baiklah, apa bila para hadirin ada usul, silakan berkata,” begitulah ia bertanya sembari matanya memandang sekeliling ruangan. “Dan nanti kalau unggul atau asor sudah diputuskan, hendaklah kalian juga tunduk pada perintah Beng-cu.”

Sebenarnya banyak kesatria yang hendak menjawab tantangannya, tetapi menyaksikan Loh Yu-ka dan Bu-si Hengte dikalahkan secara gampang, agaknya kepandaiannya juga belum dikeluarkan semua sehingga tak diketahui masih berapa banyak ilmu silatnya yang tersimpan, maka seorang pun segan membuka mulut. Mereka hanya memandang Kwe Ceng dan Oey Yong, pasrah saja kepada suami isteri ini.

“Kau bilang mau maju pada babak pertama, lalu Suheng-mu babak kedua dan akhirnya gurumu babak ketiga, apakah ini sudah pasti dan tak digeser lagi bukan?” tiba-tiba Oey Yong bertanya.

“Ya, betul,” sahut Hotu.

“Kemenangan sudah pasti berada pada kita,” kata Oey Yong, tetapi bukan kepada Hotu melainkan membisiki orang-orang yang berada di sampingnya.

“Tipu akal apakah yang kau atur?” tanya Kwe Ceng bingung.

“Jangan kuatir,” sahut Oey Yong perlahan. “Kita pasang kuda rendahan untuk menandingi kuda bagus….” berkata sampai disini, tiba-tiba Oey Yong pandang si Su-seng dari Tay-li.

Karena itu, dengan tersenyum Su-seng itu menyambung dengan perlahan: “Dengan kuda bagus kita menandingi kuda tengahannya lantas dengan kuda tengahan kita menandingi kuda jeleknya. Jika tiga babak berakhir maka tanpa susah Dian Ki mendapatkan hadiah seribu emas dari raja.”

Kwe Ceng tak pandai dalam hal kesusastraan, ia menjadi bingung entah apa yang mereka maksudkan.

PERTANDINGAN BABAK PERTAMA

Melihat sang suami masih belum paham, segera Oey Yong membisikinya: “Ceng-koko, kau pandai dalam ilmu militer, kenapa kau melupakan tipu akal bagus dari kakek-moyang ilmu militer Sun-cu?”

Karena peringatan ini barulah Kwe Ceng teringat kepada kitab militer yang dahulu pernah dibacanya, di mana Oey Yong pernah menuturkan suatu kisah padanya bahwa di jaman Cian-kok, panglima dari negeri Ce, Dian Ki, berlomba kuda dengan raja Ce sendiri dengan taruhan seribu tail emas. Untuk ini Sun-cu telah ajarkan sebuah akal yang pasti menang pada Dian Ki, yaitu gunakan kuda paling jelek buat lawan kuda terpilih raja Ce, sebaliknya gunakan kuda pilihan sendiri untuk melawan kuda cukupan lawan dan kuda cukupan buat menandingi kuda terjelek sang raja. Dengan demikian hasilnya adalah menang 2 kalah 1, maka hadiah 1000 tail emas telah digondol Dian Ki. Sekarang maksud Oey Yong juga hendak mencontoh siasat Sun-cu itu.

“Cu-suheng, dengan ilmu kepandaianmu It-yang-ci, untuk mengalahkan pangeran Mongol ini tentunya tidak sulit,” demikian kata Oey Yong.

Su-seng dari negeri Tay-li itu she Cu bernama Cu-liu, dulu ilmu sastranya menjagoi negerinya dan terpilih sebagai Conggoan (suatu gelar kebesaran dalam ujian kesastraan tertinggi di hadapan raja), dan pernah juga menjabat sebagai Caysiang (perdana menteri negeri Tayli (daerah Hunlam), maka dengan sendirinya kepintaran dan kecerdasannya melebihi orang biasa.

Waktu pertama dia masuk perguruan It-teng Taysu (yang tadinya adalah Sri Bagindanya), di antara empat saudara seperguruan ‘Hi-Jiau-Keng-Tok’ atau si Nelayan, si Tukang Kayu, si Petani dan si Sastrawan, jadi ilmu silatnya terhitung paling rendah. Akan tetapi sepuluh tahun kemudian dia meningkat sebagai orang kedua di antara empat saudara seperguruannya. Dan kini, ilmu silatnya malah sudah jauh di atas sesama saudara seperguruan yang lain.

Lebih-lebih ilmu It-yang-ci, boleh dikatakan sudah mewarisi seluruh kemahiran It-teng Taysu. Diambil secara rata ilmu silatnya meski belum setingkat dengan Kwe Ceng, tetapi sudah jauh melebihi jago segolongan Ong Ju-it, Hek Tay-thong, Loh Yu-ka dan lain-lain.

Begitulah, maka demi mendengar kata-kata sang isteri, Kwe Ceng yang selamanya selalu berpikir sederhana dan berbicara terus terang, segera ia menyambung ucapan Oey Yong:

“Ya, Cu-suheng pasti bisa menangkan orang Mongol ini, aku pun dapat mengalahkan paderi Tibet Darba itu, tapi Hek-susiok yang harus melawan Kim-lun Hoat-ong, ini yang terlalu berbahaya, meski kalah menang tidak banyak hubungannya lagi dengan keadaan seluruhnya, tetapi dikuatirkan musuh terlalu keji hingga Hek-susiok sukar melawannya.”

Tapi Hek Tay-thung adalah seorang berjiwa besar, dia tahu pertandingan ini berhubungan dengan soal nasib negara, amat berbeda dari pada perebutan nama dan keuntungan diri sendiri seperti yang umumnya terjadi di kalangan Bu-lim. Apa bila pertandingan ini sampai dimenangkan imam negara MongoI, hal ini bukan saja dunia persilatan bangsa Han akan kehilangan muka, bahkan susah juga untuk dapat bersatu padu buat melawan musuh dan membela nasib negara.

Karena itu, dengan suara keras segera ia berkata. “Soal diriku tak perlu dikuatirkan, asal bermanfaat bagi negara, sekali pun aku harus mati di tangan musuh tidaklah menjadi pikiranku.”

“Soal itu jangan kuatir,” kata Oey Yong, “Kalau dalam pertandingan tiga babak kita sudah menangkan dua babak, maka babak ketiga dengan sendirinya tidak perlu dilangsungkan lagi.”

Kwe Ceng menjadi girang oleh penjelasan ini, berulang kali ia menyatakan benar. “Jika begitu tugas Cayhe nyata tidak ringan. Apa bila tidak dapat mengalahkan pangeran Mongol itu tentu bakal dicaci maki oleh kesatria seluruh jagat buat selamanya,” kata Cu Cu-liu dengan tertawa.

“Jangan kau merendah diri, silakan majulah,” ujar Oey Yong.

Lalu Cu Cu-liu majulah ke tengah, ia kiong-chiu memberi salam kepada Hotu lebih dulu. “Untuk babak pertama biarlah aku yang belajar kenal dengan Tianhe (Putera Pengeran),” demikian ia berkata, “Aku she Cu bernama Cu-liu, asal orang Kimbeng, Hunlam, murid It-teng Taysu, selama hidupku paling senang bersyair dan membaca, maka soal ilmu silat banyak yang terlantar, hal ini hendaklah Tianhe suka banyak memberi petunjuk.”

Habis berkata ia membungkuk memberi hormat, kemudian dari bajunya ia keluarkan sebatang pit, ia menggores-gores beberapa kali di udara, lagaknya tepat sekali sebagai seorang terpelajar.

“Semakin aneh orangnya, semakin tinggi kepandaiannya. Agaknya tak boleh memandang enteng,” demikian pikir Hotu. Oleh karena itu ia pun balas memberi hormat dan membuka suara: “Siau-ong minta belajar sedikit pada Cianpwe, silakan keluarkan senjata!”

“Mongol adalah negeri yang masih biadab dan belum mendapat ajaran Nabi. Kalau Tiante minta belajar, sudah tentu akan kuberi petunjuk seperlunya,” sahut Cu-liu.

Mendongkol sekali hati Hotu oleh kata-kata orang yang menghina negerinya. “Baiklah, dan ini adalah senjataku. Kau memakai golok atau pedang?” tantangnya segera sembari kebas-kebas kipasnya.

Cu-liu tidak lantas menjawab, ia angkat dulu pit-nya dan menulis di udara satu huruf ‘pit’, lalu dengan tertawa ia menyahut:

“Selama hidupku selalu berdampingan dengan batang pit, senjata apa yang bisa kugunakan?”

Waktu Hotu menegasi, ia melihat alat tulis orang memang benar-benar sebatang pit yang gagangnya terbuat dari bambu dengan ujung bulu kambing, pada bagian ujung bulu masih berlepotan tinta, sama sekali berlainan dengan Boan-koan-pit atau potlot jaksa yang terbikin dari baja yang biasa digunakan untuk Tiam-hiat oleh jago silat. Dan karena merasa heran, selagi ia hendak bertanya, mendadak matanya terbeliak, tahu-tahu dari depan dilihatnya berjalan masuk seorang gadis berbaju putih.

Sesudah masuk gadis itu berdiri di depan pintu, sinar matanya mengerling perlahan pada setiap orang, agaknya ada seseorang yang sedang dicarinya. Waktu itu sebenarnya pandangan semua orang sedang dicurahkan pada Cu-liu dan Hotu yang hampir saling gebrak. Tetapi begitu si gadis baju putih itu masuk, tanpa tertahan sinar mata semua orang beralih.

Wajah gadis itu kelihatan putih lesi seperti orang habis sakit, di bawah cahaya lilin yang terang benderang, wajahnya sedikit pun tiada warna darah, namun hal ini justru semakin menunjukkan kehalusan kulit si gadis yang lain dari pada yang lain, wajahnya pun cantik luar biasa.

Biasanya orang suka menggunakan kata-kata ‘secantik bidadari’ sebagai bahasa kiasan untuk wanita cantik, tetapi betapa cantiknya bidadari sesungguhnya, siapa pun tiada yang tahu. Sekarang demi nampak si gadis, tanpa terasa dalam hati semua orang lantas timbul kesan seperti apa yang dikatakan ‘secantik bidadari’ itu. Sementara itu, demi nampak si gadis baju putih, girang Yo Ko bukan buatan, dadanya seakan-akan mendadak dipukul sekali dengan palu, bagaikan orang gila saja ia melompat keluar dari pojok ruangan terus merangkul erat-erat gadis itu.

“Kokoh! Kokoh! Oh...! Kokoh!” demikian ia berteriak-teriak.

Kiranya gadis ini memang benar Siao-Iiong-li adanya. Sesudah meninggalkan Yo Ko di gunung Cong-lam-san, seorang diri ia telah kembali ke kamar batu di dalam kuburan kuno dengan selulup lagi melalui lorong di bawah sungai.

Dahulu waktu ia masih tinggal dalam kuburan itu bersama Sun-popoh, hatinya waktu itu boleh dikatakan setenang air berhenti, sedikit pun tidak bergolak. Tetapi sejak bertemu Yo Ko dan sesudah mengalami banyak rintangan, hendak kembali lagi kepada ketentraman batinnya yang dulu ternyata sudah tidak mungkin lagi. Asal dia berlatih di atas ranjang batu pualam, segera ia ingat Yo Ko pernah tidur juga di atas ranjang itu, bila ia sedang makan, segera ia ingat pula si Yo Ko selalu mendampinginya makan.

Karena itulah ia menjadi uring-uringan sendiri. Tidak berapa lama ia berlatih, segera ia merasa hatinya menjadi gelisah dan sukar melatih diri. Keadaan begitu dapat dilewatkan satu bulan, tapi akhirnya ia tak tahan lagi, ia mengambil keputusan pergi mencari Yo Ko. Bila kelak ketemu, cara bagaimana ia akan hadapi pemuda itu, hal ini ia sendiri pun tidak tahu.

Setelah turun gunung, ia melihat segalanya serba baru baginya. Sudah tentu ia tak kenal jalan pula, terlebih lagi ke mana harus mencari si Yo Ko? Dan karena kurang pergaulan, ia pun tidak kenal tata-krama segala, siapa pun yang dia ketemukan segera dia tanya:

“Kau melihat Yo Ko tidak?”

Bila perutnya lapar, ia ambil saja milik orang lantas dimakan, ia tidak kenal apakah harus membayar atau tidak. Karena itu tidak sedikit keonaran dan lelucon yang terjadi sepanjang perjaIanannya. Baiknya semua orang melihat rupanya demikian cantik molek, siapa saja suka mengalah dan tidak menarik panjang persoalan.

Suatu hari, tanpa sengaja di dalam hoteI ia mendengar percakapan dua lelaki bahwa para kesatria dari seluruh jagat hendak pergi menghadiri Eng-hiong-yan di Liok-keh-ceng. Dia menduga boleh jadi Yo Ko berada di sana juga, maka sesudah menanya arah jalannya ia pun berangkatlah menuju Liok-keh-ceng. Di antara para kesatria yang hadir itu, kecuali Hek Tay-thong, In Ci-peng dan Thio Ci-keng, tiada orang lain lagi yang mengetahui dari mana asal usulnya Siao liong-li, cuma melihat kecantikannya sungguh luar biasa, dalam hati mereka timbul kesan yang aneh.

Sementara itu demi kenali Siao-liong-li, muka In Ci-peng mendadak menjadi pucat bagai mayat, tubuhnya gemetar, sebaliknya Ci-keng melirik-lirik sang Sute sambil tertawa dingin.

Kwe Ceng dan Oey Yong juga rada heran. “Ko-ji, ternyata kau benar-benar berada di sini, sungguh susah payah aku mencari kau,” demikian kata Siao-liong-li.

Saking terharunya, Yo Ko mengalirkan air mata. “Kau... kau tak akan meninggalkan aku lagi bukan?” tanyanya dengan terguguk-guguk.

“Aku tak tahu,” sahut Siao-liong-li sambil menggeleng kepala.

“Kemana kau pergi, ke sana juga aku ikut kau,” kata Yo Ko pasti.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar