Gaya ini adalah ajaran Auwyang Hong di waktu melatih ilmu secara berjungkir itu. Karena sudah biasa melatihnya, cara membungkuk dan memandang ke belakang tadi dilakukan dengan kecepatan luar biasa, maka sekilas dapat dilihat oleh Yo Ko ada satu bayangan orang melesat ke dalam jurang.
“Haya, celaka, sekali ini bisa tewas dia,” teriak Yo Ko dalam hati saking kagetnya.
Ketika dia melongok ke dalam jurang, tiba-tiba dilihatnya ada satu orang dengan sebuah jari tangan saja menggantol di tepian batu dengan tubuhnya tergantung. Kiranya beberapa kali orang itu menggoda dan selalu dengan cara demikianlah orang ini menyembunyikan diri.
Melihat orang sanggup menggunakan satu jari saja untuk menahan bobot tubuhnya dan tergantung di udara yang beralaskan jurang, sebenarnya kepandaian orang sudah sampai taraf yang tidak dapat diukur. Oleh karenanya, dengan laku sangat hormat Yo Ko segera membungkukkan tubuh dan berkata:
“Silakan naiklah, Locianpwe!”
Se-konyong2 orang itu tertawa terbahak-bahak, begitu keras hingga lembah pegunungan seakan-akan bergemuruh. Ketika jari tangannya menarik, orangnya bagaikan burung saja lantas meloncat naik dari tebing jurang itu.
“Apa kau adalah begundalnya Ngo-kui dari Tibet? Kenapa tengah malam buta berkeliaran di sini?!” mendadak ketawa orang itu berubah membentak.
Karena bentakan orang yang tanpa sebab tiada alasan ini, seketika itu pula perasaan Yo Ko tersinggung lagi sehingga mendadak dia menangis tergerung-gerung, terkenang oleh nasibnya yang malang hingga selalu dihina orang.
Seorang Siao-liong-li yang dihormati dan dicintai itu tanpa sebab pula telah mendamperat padanya dan selanjutnya tidak dapat bersua lagi, saking dukanya hingga tangisnya makin men-jadi2 seakan-akan seluruh kesedihan dari dulu hingga sekarang hendak dilampiaskan dalam tangisnya ini.
Melihat Yo Ko mendadak menggerung-gerung mula-mula orang itu rada tercengang. Tapi demi mendengar tangis orang semakin lama semakin duka, ia merasa heran pula. Melihat tangis Yo Ko men-jadi2 dan tiada habis-habisnya, mendadak ia tertawa panjang sekeras-kerasnya, paduan suara tertawa dan menangis ini menjadi begitu hebatnya hingga saling berkumandang di antara Iembah2 pegunungan itu, sampai gumpalan2 salju sama longsor oleh karena geloranya.
“Dan kau menangisi apa?” orang itu balas bertanya sambil tetap tertawa.
Sebenarnya Yo Ko masih hendak memaki orang dengan kata-kata kasar, syukur segera teringat olehnya ilmu silat orang yang tingginya tidak terukur itu. Seketika api amarahnya ditahan, malahan dengan hormat sekali dia menjura.
“Siaujin (aku yang rendah) Yo Ko memberi hormat pada Locianpwe,” demikian sapanya.
Tangan orang itu memegang sebatang tongkat bambu. Tiba-tiba dia mencungkit perlahan lengan Yo Ko, dan tanpa terasa tahu2 Yo Ko sudah terbanting ke belakang meski tenaga tongkat orang tidak seberapa besar.
Menurut daya bantingan itu, seharusnya Yo Ko akan terbanting hingga tak mampu berdiri lagi, tapi pemuda ini sudah biasa dilatih Ha-mo-kang atau ilmu weduk katak dengan tubuh menjungkir, maka di tengah udara ia masih bisa berjumpalitan, lalu dengan tegak ia berdiri kembali. Kejadian ini sama-sama di luar dugaan kedua orang.
Dengan tingkat ilmu silat Yo Ko sekarang ini, kalau sekali serang hendak bikin pemuda ini terjungkal, biar pun tokoh seperti Li Bok-chiu atau segolongan Khu Ju-ki, rasanya juga tak nanti bisa. Melihat usia Yo Ko semuda ini sudah melatih silat sampai tingkat begini tinggi, dalam hati orang itu menjadi sangat kagum.
“Apa yang kau tangisi tadi?” demikian orang itu bertanya lagi.
Yo Ko mengamat-amati orang. Ia lihat orang adalah kakek2 yang rambut jenggotnya telah putih semua, pakaiannya compang-camping seperti seorang pengemis, walau pun malam gelap, tetapi di bawah pantulan sinar salju yang memutih, lapat-lapat tertampak mukanya yang merah bercahaya, semangat pun masih menyala-nyala, tanpa terasa Yo Ko sangat menaruh hormat padanya.
“Aku adalah seorang yang bernasib malang, hidup di jagat ini sebenarnya tiada gunanya, lebih baik mati saja beres,” sahutnya kemudian.
“Siapakah yang bikin susah kau, coba katakan pada Kongkong (kakek),” kata pengemis tua itu.
“Ayahku dibunuh orang, tetapi aku tidak tahu siapa pembunuhnya. Ibuku pun mati digigit ular, di dunia ini tiada orang lagi yang sayang dan cinta padaku,” sahut Yo Ko.
“Hmm, sebatang kara, benar-benar harus dikasihani,” ujar si pengemis tua, “Dan siapakah gurumu yang mengajarkan ilmu silat padamu?”
Mendengar kakek ini menanyakan Suhu-nya, pikir Yo Ko: “Resminya Kwe-pekbo adalah guruku, tetapi sedikit pun ia tak ajarkan ilmu silat padaku. Para imam busuk Coan-cin-kau bahkan lebih menggemaskan lagi, Auwyang Hong adalah ayah angkat dan bukan guruku, sedang Kokoh yang sudah ajarkan ilmu silat padaku, kini telah berakhir dengan demikian ini, mana bisa kuceritakan hal ini pada orang luar? Ong Tiong-yang Siansu (guru marhum) dan Lim-popoh menurunkan ilmu padaku melalui ukiran-ukiran di kamar kuburan itu, tetapi rasanya juga belum dapat dikatakan sebagai Suhu-ku. Meski pun guruku begitu banyak, tetapi satu pun ternyata tak bisa disebutkan.”
Demikianlah pertanyaan pengemis tua itu jadi menusuk perasaannya lagi hingga tiba-tiba ia me-nangis2 tergerung-gerung pula, “Aku tidak punya Suhu, aku tidak punya Suhu!” dia berteriak-teriak.
“Baiklah, baiklah! Kau tak mau mengaku juga tak mengapalah!” ujar pengemis tua. “Bukan aku tak mau katakan, tetapi aku tak punya,” sahut Yo Ko terguguk-guguk.
“Tidak punya ya sudah, perlu apa menangis lagi?” kata si pengemis tua itu. “Melihat kau berjalan seorang diri di malam gelap, tadinya kusangka kau adalah begundalnya Ngo-kui dari Tibet, namun ternyata bukan. Biarlah Lo-kiau-hoa (pengemis tua) terima kau sebagai murid saja.”
Ternyata orang ini bukan lain dari pada Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong, Si pengemis sakti berjari sembilan, namanya sejajar dengan Tang-sia, Se-tok, Lam-te dan Ong Tiong-yang.
Dahulu setelah kedudukan Pangcu (ketua persatuan pengemis) dia turunkan kepada Oey Yong, lalu seorang diri ia merantau ke timur dan ke barat untuk mencari makanan2 yang paling aneh dan enak di seluruh jagat.
Memang ciri satu-satunya Ang Chit-kong ialah suka makan, dan untuk mencari makanan enak, dia tak segan-segan memasuki keraton raja untuk mencuri masakan yang ingin dia cicipi itu. Jadi sebelum raja makan, setiap masakan tentu dia cicipi dahulu.
Bahkan untuk penganan enak dia tidak sungkan untuk berebut tanpa pikirkan akibatnya. Saking rakusnya terhadap penganan, suatu kali dalam gemasnya ia sampai menghukum dirinya sendiri dengan memotong sebuah jari telunjuk, oleh karena inilah ia disebut ‘Kiu-ci-sin-kay’ atau Si Pengemis sakti berjari sembilan, sungguh pun demikian, toh cirinya yang rakus itu masih belum bisa hilang.
Begitulah, karena daerah Kwitang terkenal nyaman dan paling banyak terdapat makanan yang aneh-aneh, maka akhirnya Ang Chit-kong sampai di propinsi ini. Ia menjadi kerasan sehingga sudah belasan tahun tidak pernah kembali ke daerah utara lagi.
Karena usianya sudah lanjut, orang-orang Bu-lim mengira mungkin Ang Chit-kong sudah lama wafat, siapa tahu ia justru hidup sehat di Kwitang merasai segala macam penganan dimulai dari sebangsa semut, tikus sampai ular-ular berbisa dan lain sebagainya semua dimakannya, rejeki mulutnya sungguh tidak sedikit.
Tahun itu dua ‘Kui’ dari Cong-pian-ngo-kui atau lima momok dari Tibet sudah melakukan pembunuhan se-wenang2 di Kwitang. Dasar Ang Chit-kong benci pada kejahatan seperti musuhnya, sebenarnya kedua Kui atau kedua momok itu sekaligus hendak dibunuhnya, tapi karena ingin juga sekalian bisa bereskan yang lain-lain, maka sengaja ia kuntit orang, ia tunggu bila kelima momok itu sudah berkumpul semua baru sekaligus akan dibasminya semua. Siapa tahu karena menguntitnya itu akhirnya dia sampai di atas Hoa-san.
Pada waktu itu empat momok dari Tibet itu sudah berkumpuI, hanya Toa Kui, si momok pertama, yang belum datang. Siapa tahu di tengah malam Yo Ko yang dia ketemukan di tanah salju itu. Sekarang mendengar pemuda ini begitu sedih menangis, tiba-tiba hatinya tertarik dan hendak menerima Yo Ko sebagai murid.
Selama hidup Ang Chit-kong, murid yang diterimanya secara resmi hanya Kwe Ceng dan Oey Yong berdua. Kini entah kenapa, tiba-tiba ia mengatakan sendiri ingin terima Yo Ko. Ia pikir bocah ini pasti girang luar biasa dan menghaturkan terima kasih.
Siapa tahu sedikit pun Yo Ko tidak pernah melupakan Siao-liong-li, dia sudah mengambil keputusan tak mau lagi mengangkat guru yang kedua. Sebab itulah ia telah geleng-geleng kepala dan menjawab: “Terima kasih atas maksud baikmu, tetapi aku tak mau angkat kau sebagai guru.”
Jawaban Yo Ko ini amat mengherankan Ang Chit-kong. Dasar pengemis tua ini wataknya sangat berkeras pada kata-katanya sendiri, maka ia bilang lagi: “Kau tak mau angkat guru padaku, tetapi aku justru ingin kau menjadi muridku.”
“Kau mau pukul mati aku, boleh silakan memukul saja, tetapi ingin aku angkat guru, itulah tidak bisa,” sahut Yo Ko tetap.
Nampak tabiat orang sama kerasnya dan kukuh pada pendiriannya sendiri, Ang Chit-kong justru bertambah suka padanya.
“Sudahlah, kita jangan bicara urusan ini dulu, agaknya kau pun sudah lapar, marilah kita makan dulu baru berunding lagi,” katanya.
Habis itu ia berjongkok di tanah salju dan menggaruk-garuk untuk mendapatkan beberapa kayu kering, dengan inilah lalu dinyalakan api.
“Hendak makan masakan apakah kita?” tanya Yo Ko sambil bantu orang mengumpulkan kayu.
“Kelabang!” sahut Chit-kong singkat.
“Kelabang? Ahh, mana mungkin!” demikian Yo Ko pikir, dia sangka orang cuma berguyon saja, maka dia hanya tersenyum dan tidak bertanya Iagi.
“Dengan susah payah aku kintil Cong-pian Ngo-kui dari Linglam (nama lain dari Kwitang) sampai di Hoa-san sini, kalau tidak mencari beberapa macam makanan enak yang aneh-aneh, rasanya tidak enak terhadap kawanku ini!” kata Chit-kong sambil tepuk-tepuk perut sendiri.
Yo Ko lihat perawakan pengemis tua ini kekar kuat, hanya perutnya yang rada gendut.
“Hoa-san adalah tempat yang paling teduh, tempat yang paling dingin di kolong langit ini, produksi kelabangnya adalah paling gemuk dan halus pula. Hawa di Kwitang sebaliknya panas bukan main, segala makhluk hidup di sana lebih cepat tumbuh besar, maka daging kelabangnya pun rada kasar,” demikian Ang Chit-kong mencerocos pula dengan teori ilmu makannya.
Mau tidak mau Yo Ko rada heran mendengar orang berkata secara sungguh-sungguh dan kelihatan bukan bergurau belaka.
Sembari berkata Ang Chit-kong tambahi kayu pada api unggunnya, kemudian ia keluarkan sebuah wajan kecil dari buntalannya lantas ditaruh di atas api, ia mengepal dua gelondong salju dan dimasukkan ke dalam wajan.
“Mari ikut pergi mengambil kelabang,” katanya. Selesai berkata, sekali melesat, tahu-tahu orangnya sudah melompat ke atas tebing gunung setinggi lebih dua tombak.
Melihat tebing gunung itu begitu terjal, seketika Yo Ko ragu-ragu tak berani ikut manjat ke atas.
“Anak tak berguna, lekas naik sini!” seru Ang Chit-kong.
Yo Ko paiing benci kalau ada orang memandang hina padanya, kini dikatai tidak berguna oleh Ang Chit-kong, tiba-tiba ia kertak gigi terus ikut merangkak ke atas.
“Hm, memangnya aku sudah tak pikirkan mati atau hidup lagi, biarkan mati tergelincir juga tak apalah,” diam-diam ia berpikir.
Karena marahnya itu, nyalinya menjadi besar, Ginkang yang dia keluarkan bisa digunakan lebih hebat, maka dengan kencang dia ikut di belakang Ang Chit-kong, meski pun tempat-tempat yang paling curam dan berbahaya, akhirnya dapat dipanjatnya juga.
Hanya sebentar saja mereka berdua telah memanjat sampai di atas puncak gunung yang tak pernah diinjak manusia.
Melihat Yo Ko mempunyai Ginkang yang bagus dan hatinya begitu tabah, Ang Chit-kong menjadi tambah suka padanya.
“Anak bagus, tak bisa tidak aku harus terima kau sebagai murid,” demikian ia memuji.
“Terima kasih, Locianpwe. Kalau locianpwe ada perintah apa-apa, tak nanti siaujin bantah, tetapi tentang soal angkat guru, harap jangan disebut puIa,” sahut Yo Ko.
Ang Chit-kong tahu, pasti ada ganjalan di hati orang yang sukar diucapkan. Sebenarnya ia hendak menanyakan, tetapi teringat akan makanan enak yang harus diberi ‘prioritas’ lebih dulu, maka cepat ia mendekati sebuah batu padas, ia gali tanah di bawah batu itu, maka tertampaklah seekor ayam jago yang sudah mati.
Luar biasa herannya Yo Ko.
“Ehh, mengapa ada bangkai ayam jago di situ?” katanya heran. Akan tetapi ia pun segera mengerti: “Ahh, engkau sendirilah yang memendamnya.”
Ang Ching-kong tak menjawab, ia hanya tersenyum dan angkat bangkai ayam jago itu.
Mata Yo Ko sudah terlatih memandang pada waktu malam, apa lagi kini di bawah sorotan sinar salju yang membalik itu, maka tertampaklah olehnya di bawah perut bangkai jago itu penuh lengket beratus ekor kelabang yang panjangnya rata2 belasan senti dengan warna merah-hitam yang belang-bonteng.
Semenjak kecil Yo Ko sudah berkawan dengan ular, sebenarnya dia tidak takut terhadap binatang berbisa. Tapi demi mendadak nampak kelabang sebanyak ini, saking seramnya tidak urung ia mengkirik juga.
“Ha-ha-ha,” sebaliknya Ang Chit-kong lantas tertawa riang, “Kelabang ini memang musuh kawakan ayam jago. Kemarin sengaja kupendam seekor bangkai jago di sini, benar saja, keIabang ini kena dipancing datang semua.”
Habis ini dia pun mengeluarkan kain pembungkus. Bangkai ayam jago berikut kelabang yang masih melekat itu ia buntal seluruhnya, lalu dengan riang gembira ia merosot turun dari puncak gunung itu.
“Apa benar-benar akan makan kelabang? Kalau melihat sikapnya, tampaknya bukannya sengaja buat menakuti aku,” pikir Yo Ko diam-diam sambil ikut di belakang orang.
Sementara itu air salju yang digodok dengan wajan Ang Chit-kong tadi sudah mendidih, Ang Chit-kong buka buntalannya, dia tarik ekor tiap-tiap kelabang lalu dicemplungkan ke dalam wajan. Kelabang-kelabang itu semula kerupukan dalam air mendidih, tetapi sekejap saja lantas kaku dan tak berkutik.
“Sebelum mati, kelabang-kelabang ini sudah muntahkan semua racun. Oleh sebab itu, racun dalam air salju di wajan ini luar biasa jahatnya,” ujar Chit-kong.
Kemudian dia gali sebuah lobang di tanah salju itu, dia tuang air berbisa itu ke dalamnya. Saking dingin suhu di atas gunung ini, maka sebentar saja air beracun itu telah membeku menjadi es. Setelah itu Ang Chit-kong mengeluarkan sebilah pisau kecil. Ia potong kepala dan buntut tiap-tiap kelabang, lalu dipelocoti satu demi satu, dengan gampang saja kulit kelabang-kelabang itu mengelotok hingga daging kelabang kelihatan putih bersih seperti daging udang.
“Dengan caranya rnengolah ini, boleh jadi memang dapat dimakan?” demikian pikir Yo Ko, akhirnya ia jadi ketarik.
Ia melihat Ang Chit-kong menggodok lagi dua wajan air salju, daging kelabang itu dia cuci bersih tanpa ketinggalan setetes pun air racun, habis itu ia keluarkan lagi beberapa kaleng kecil dari buntalannya. Kaleng-kaleng kecil ini ternyata berisi bumbu masak sebangsa minyak, garam, kecap, cuka dan lain-lain. Lebih dahulu wajan dibikin panas dengan minyak mendidih, kemudian daging kelabang itu dituangkan ke dalamnya untuk digoreng. Begitu daging kelabang itu masuk wajan, maka terciumlah bau sedap yang bikin orang mengilar.
Melihat macamnya Ang Chit-kong yang berulang kali menelan air liur, biji lehernya tampak naik turun, sifat rakusnya nyata-nyata kelihatan, mau tak mau Yo Ko terheran-heran dan merasa geli.
Setelah kelabang-kelabang itu digoreng sampai berwarna kuning, Ang Chit-kong tambah bumbunya, tanpa tunggu lagi ia comot seekor terus dimasukkan ke mulutnya. Dengan perlahan-lahan ia mengunyah, matanya meram-melek, begitu nikmatnya sampai ia menghela napas, rasanya tak ada sesuatu lagi di dunia ini yang lebih nikmat dari pada saat ini.
Sekaligus berturut-turut ia pindahkan belasan kelabang ke perutnya, setelah itu barulah ia katakan pada Yo Ko:
“Hayo, makan! Sungkan-sungkan apa lagi?”
Akan tetapi Yo Ko menggelengkan kepala, “Tidak, aku tidak doyan,” sahutnya.
Ang Chit-kong tertegun sejenak, tapi segera ia tertawa terbahak-bahak. “Ya, ya, betul, tidak sedikit orang gagah perkasa yang pernah kujumpai sekali pun mereka dipenggal kepala dan alirkan darah tidak akan mereka mengkerut kening, tapi kalau bicara soal makan kelabang, tiada seorang pun yang berani meniru aku Ang Chit-kong. Ha, kau bocah ini hanya bermulut besar saja, sebenarnya kau juga setan cilik yang bernyali kecil,” demikian katanya.
Dikatai bernyali kecil, Yo Ko menjadi sangat dongkol, pikirnya: “Biar aku pejamkan mata lantas tanpa mengunyah terus telan saja beberapa ekor kelabang itu agar tidak dipandang rendah olehnya.”
Maka dengan menggunakan dua tangkai batang lidi sebagai sumpit, cepat ia jepit seekor kelabang goreng itu. Siapa tahu, sebelum kelabang itu masuk ke mulutnya, rupanya Ang Chit-kong sudah bisa menerka apa yang dia pikirkan tadi.
“Tanpa mengunyah sedikit pun sambil tutup mata kau telan sekaligus belasan kelabang, ini namanya akal bulus dan bukan cara gagah kesatria,” kata pengemis tua itu.
“Masakah makan kelabang saja ada urusan gagah kesatria segala?” sahut Yo Ko tertawa dingin.
“Ya, di jagat ini tidak sedikit orang yang tanpa malu-malu mengaku dirinya gagah kesatria, tetapi yang berani makan kelabang rasanya tiada seberapa orang,” kata Chit-kong.
Yo Ko menjadi nekat karena dipandang rendah. Dia pikir paling banyak hanya mati, kenapa harus takut. Maka kelabang yang dia sumpit tadi segera dimasukkan ke dalam mulut terus dikunyah. Jika tak dikunyah masih tak mengapa, tetapi karena jadi dikunyahnya ini, seketika terasa daging kelabang itu sedemikian gurihnya, begitu wangi dan begitu enak, sungguh selama hidupnya belum pernah mengenyam makanan yang begitu lezat rasanya. Keruan ia tidak mau sudah, cepat ia telan daging kelabang itu, lalu sumpitnya menyambar lagi kelabang yang kedua.
“Hmm, hebat, sungguh hebat rasanya!” demikian berulang kali ia memuji.
Nampak bocah ini sudah kenal rasa dan menjadi tuman, Ang Chit-kong girang sekali, dia pun segera berebut duluan dengan Yo Ko, hanya sekejap saja ratusan kelabang itu sudah mereka sapu bersih.
Bagi Ang Chit-kong kelabang sebanyak itu rasanya masih belum cukup, lidahnya menjilat bibir, sungguh kalau bisa ia pingin mengisi perutnya dengan 100 ekor kelabang lagi.
“Biar aku pendam bangkai jago ini buat pancing kelabang yang Iain,” kata Yo Ko tiba-tiba. Dia betul-betul sudah tuman oleh rasa gurihnya kelabang goreng tadi.
“Tak bisa jadi lagi,” sahut Chit-kong, “bangkai jago itu sudah hilang daya penariknya, pula di sekitar sini kelabang yang gemuk sudah tidak tersisa lagi.” Habis berkata, mendadak ia menguap sambil mengulet ngantuk, tahu-tahu ia pun merebahkan diri di tanah salju.
“Sudah ada 7 hari 7 malam aku tidak tidur,” demikian ia kata, “setelah makan enak besar-besaran ini, biarlah aku tidur sepuas-puasnya selama tiga hari, seandainya langit bakal ambruk juga jangan kau bangunkan aku.” Sembari berkata suara menggeros pun mulai terdengar, ternyata lantas pulas begitu saja.
“Cianpwe ini benar-benar orang yang sangat aneh,” batin Yo Ko. “Baiklah. Aku pun tiada tempat tujuan, ia bilang mau tidur tiga hari, biar aku pun tunggu tiga hari padanya.”
Sementara itu bunga salju terus turun tiada hentinya, seluruh tubuh Ang Chit-kong sudah penuh tertutup salju yang putih seperti kapas. Tubuh manusia bersuhu panas, bunga salju tentu akan cair, tetapi mengapa bisa tertimbun di atas muka dan tubuhnya, hal ini mula-mula bikin Yo Ko tidak mengerti, tetapi setelah ia pikir, segera ia pun tahu.
“Ya, ya, tentu waktu tidur dia telah keluarkan tenaga sakti untuk menghimpun suhu panas ke dalam badannya. Seorang yang masih hidup segar ternyata bisa kaku seperti mayat waktu tidur, lwekang semacam ini sesungguhnya sangat hebat, mungkin mendiang Suhu Ong Tiong-yang hidup kembali juga tidak selihay dia ini,” demikianlah pikirnya.
Sementara itu hari sudah hampir pagi, tubuh Ang Chit-kong telah terkubur di dalam salju, di atas tanah hanya kelihatan sedikit tonjolan, bekas badannya sudah tak kelihatan lagi. Yo Ko sendiri tidak merasa letih. Waktu ia mendongak, ia lihat keadaan gelap gulita dan sunyi senyap.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara gemerisik seperti orang berjalan di jurusan timur, Waktu ia tegasi, dari jauh terlihat mendatangi lima bayangan orang dengan kecepatan luar biasa, terang sekali semuanya berilmu silat amat tinggi.
“Ahh, tentu inilah Ngo-kui dari daerah Tibet yang dikatakan Locianpwe ini tadi,” pikiran Yo Ko tergerak tiba-tiba. Karena itu, lekas-lekas ia sembunyi di belakang batu padas.
Tidak lama kelima orang itu sudah sampai di depan batu padas tempat sembunyi Yo Ko, seorang di antaranya terdengar bersuara heran.
“Heii, wajan pengemis tua itu ada di sini, pasti dia berada di sekitar sini saja,” kata orang itu.
Rupanya kelima orang itu merasa heran dan jeri, lalu mereka berkumpul untuk berunding dengan bisik-bisik. Kemudian, mendadak mereka berpencar memeriksa keadaan sekitarnya. Karena tempat di atas puncak gunung memang sempit, maka tidak seberapa langkah mereka mencari, seorang di antaranya kena injak badan Ang Chit-ong yang tertutup salju. Karena kakinya tiba-tiba menginjak tempat Iunak, dalam kagetnya ia menjerit.
Dengan serta merta keempat saudaranya merubung dan menggali timbunan salju, maka tampaklah Ang Chit-kong yang kaku seperti mati. Tentu saja kelima orang itu amat girang. Mereka coba memeriksa pernapasan Ang Chit-kong, terasa berhenti dan tubuh pun dingin membeku.
“Pengemis tua ini terus menerus menguntit aku sepanjang jalan hingga aku menjadi sebal digodanya, tak tahunya kini sudah mampus di sini,” kata seorang di antaranya.
“Orang ini sangat hebat ilmu silatnya, tanpa sebab kenapa mati?” ujar yang lain ragu-ragu.
“Ilmu silat bagus apa tidak bisa mati?” debat yang lain pula, “Pikir saja, sekarang umurnya sudah berapa?”
Karena kata-kata terakhir ini, empat orang yang lain menyatakan benar, kata mereka: “Ya, beruntung ia telah dipanggil raja akherat, kalau tidak, sesungguhnya sukar dilawan.”
“Hayo, kita masing-masing bacok tua bangka ini buat lampiaskan mendongkol kita! Biar pun dia gagah perkasa, sesudah mati mayatnya pun tak bisa utuh,” ajak orang yang pertama.
Saat itu sebenarnya Yo Ko sudah menyiapkan segenggam Giok-hong-ciam. Ia pikir untuk melawan lima orang agak sukar, tiada jalan lain kecuali mencari kesempatan menyerang dulu dengan Am-gi. Kalau dua-tiga orang sudah dirobohkan, sisanya tentu akan menjadi gampang dibereskan.
Tetapi dasar usia Yo Ko masih muda dan kurang sabar. Ketika didengar orang bilang hendak bacok tubuh Ang Chit-kong, ia kuatir orang benar-benar mencelakai pengemis tua itu, maka belum lagi Am-gi sempat dihamburkan satu pun, dengan sekali gertak ia sudah melompat keluar dari tempat sembunyinya. Karena tidak bersenjata, terpaksa Yo Ko sambar sekenanya dua tangkai kayu kemudian digunakan sebagai Boan-koan-pit. Begitu kedua tangannya bergerak, beruntun-runtun dia menyerang lima kali, tiap-tiap serangannya mengincar Hiat-to kelima orang itu.
Lima serangannya ini boleh dikatakan dilakukan secepat kilat, cuma sayangnya dia telah membentak dahulu hingga Ngo-kui keburu berjaga-jaga, kalau tidak, sedikitnya satu-dua orang di antara mereka pasti ada yang dirobohkan. Sekali pun begitu, tak urung Ngo-kui kaget hingga berkeringat dingin, lekas-lekas mereka melompat.
Ngo-kui semuanya memakai senjata golok tebal, ilmu silat mereka didapat dari satu guru, meski kepandaian masing-masing beda antara tinggi dan rendah, tetapi cara-caranya adalah sama. Ketika mereka berpaling dan melihat Yo Ko hanya pemuda ‘ingusan’ yang bajunya rombeng, senjata yang digunakan hanya dua kayu bakar, sikapnya kikuk-kikuk, wajahnya biasa, seketika rasa kaget mereka pun hilang.
“Hai, anak busuk, apa kau pengemis kecil dari Kay-pang?!” segera Tay-kui, si Kui (setan jelek) tertua membentak: “Cosuya-mu sudah melayang jiwanya, lekas kau berlutut dan minta ampun.”
“Ya, baik, biar aku menjura padamu,” sahut Yo Ko tiba-tiba.
Tadi waktu menyaksikan cara Ngo-kui berkelit Yo Ko sudah dapat meraba sampai di mana ilmu silat mereka. Ia menaksir kalau seorang lawan seorang, kelima orang ini tiada yang bisa menangkan dirinya, tetapi kalau main keroyok, ia sendiri pun tak ungkuIan. Tetapi Yo Ko memang anak cerdik. Ketika mendengar Tay-kui berteriak supaya menjura padanya, segera dia sambut baik lalu melangkah maju dan berlagak menjura. Tak terduga mendadak kedua tangannya menyabet ke samping secepat kilat dengan gerak tipu ‘tui-jong-bong-goat”’(mendorong jendela memandang rembulan).
Waktu itu yang berdiri di sisi kirinya adalah Go-kui dan sisi kanan Sam-kui. Tipu serangan ‘Tui-jong-bong-goat’ ini dilontarkan secara tak kenal ampun. Kepandaian Sam-kui lebih tinggi, ia sempat angkat goloknya buat menangkis, tetapi begitu punggung goloknya kena disabet tangkai kayu Yo Ko, ia merasa lengannya kesakitan hingga goloknya hampir tidak kuat digenggam Iagi.
Sebaliknya tulang kaki Go-kui telah kena disambar. Terdengar suara “keletak”, meski pun tulang kaki tak sampai patah, namun saking sakitnya Go-kui berjingkrak memegangi kakinya.
Empat saudaranya menjadi marah, senjata mereka menyambar menghujam Yo Ko dengan kalap. Tetapi dengan gesit Yo Ko dapat lompat kian kemari berkelit hingga seketika empat ‘Kui’ itu tak mampu berbuat apa pun. Tak lama kemudian dengan kaki pincang Go-kui ikut masuk kalangan. Ia adalah jagoan Bu-lim, tetapi kena dikibuli seorang anak kemarin sore, tentu saja marahnya bukan buatan.
Yo Ko telah mendapatkan pelajaran asli Giok-li-sim-keng, Ginkang-nya jauh di atas Ngo-kui dari Tibet ini, kalau ia berniat lari, sebenarnya tidak sukar baginya. Tetapi ia kuatir jika ditinggal pergi tentu Ang Chit-kong dicelakai Ngo-kui, karena itu ia tidak berani menyingkir jauh dan sebab itu pula ia tak bisa bertempur secara Ieluasa. Akhirnya ia sendiri berulang kali harus menghadapi serangan bahaya.
Tetapi kemudian terpikir lagi olehnya, tak ada jalan lain kecuali melarikan diri. Maka pada suatu kesempatan sekonyong-konyong dia sambar tubuh Ang Chit-kong, dia putar tangkai kayu terus menerjang pergi sekaligus dia berlari sampai beberapa tombak jauhnya.
Tentu saja Ngo-kui lantas mengudak, cuma kepandaian mereka ada yang tinggi dan ada yang rendah, maka sekejap saja yang tiga orang berada di depan sedangkan dua orang yang lainnya ketinggalan di belakang.
Merasakan tubuh Ang Chit-kong yang dia kempit itu sedingin es, mau tidak mau Yo Ko menjadi kuatir, ia pikir betapa pun nyenyak tidurnya seharusnya akan terbangun juga. Aku diudak musuh, kenapa ia diam saja tak mau menolong? Jangan-jangan pengemis tua ini memang benar-benar telah mati?
“Locianpwe, Locianpwe!” ia coba teriaki Ang Chit-kong.
Tetapi pengemis tua ini tetap tak bergerak sedikit pun seperti mayat saja, cuma tubuhnya tidak kaku. Dan karena sedikit merandeknya Yo Ko, di belakangnya Tay-kui sudah menyusul datang. Karena takut pada kepandaian Yo Ko yang lihay, seorang diri Tay-kui tidak berani terlalu dekat. Ketika ia tunggu datangnya kedua saudaranya yang lain, sebaliknya Yo Ko sudah lari lagi sejauh beberapa puluh tombak.
Melihat jalan yang diambil Yo Ko adalah memanjat terus ke puncak gunung, sedangkan puncak itu melulu hanya jalan kecil, maka Ngo-kui menjadi heran, apa bocah ini bisa terbang ke langit? Mereka pun tak perlu buru-buru mengejar, mereka menyusul dari belakang dengan perlahan saja.
Jalan pegunungan itu makin jauh semakin curam, sampai suatu tempat tikungan, tiba-tiba Yo Ko melihat di kedua samping adalah jurang yang beribu tombak dalamnya, di tengah hanya ada sebuah jembatan batu sempit yang hanya cukup dilalui satu orang saja.
“Aha, tempat ini bagus sekali, biarlah di sini saja aku menahan mereka selama tiga hari,” demikian pikir Yo Ko. “Tetapi kalau sampai hari ke-4 Locianpwe ini masih belum bangun, aku... aku...” Sampai disini ia tak berani berpikir lagi, sungguh ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya apa bila sampai saatnya Ang Chit-kong masih belum sadar.
Segera pula ia percepat larinya melintasi jembatan batu ciptaan alam itu, ia rebahkan Ang Chit-kong di bawah satu batu padas di ujung jembatan sana, lalu dengan cepat dia putar balik. Sementara itu Tay-kui sudah menyusul sampai di ujung jembatan.
“Siluman jelek, berani kau maju?!” bentak Yo Ko tiba-tiba sambil menerjang ke depan.
Karena takut ketumbuk dengan Yo Ko hingga ke-duanya tergelincir masuk jurang, lekas-lekas Tay-kui mundur ke belakang. Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya sudah menampakkan diri di ufuk timur dengan cahayanya yang kuning keemas-emasan. Salju telah berhenti turun, lapisan salju yang menutupi seluruh gunung di bawah sorotan sinar matahari, sungguh pemandangan indah yang tiada bandingannya. Dengan berdiri di tengah jembatan langit itu, tiba-tiba Yo Ko pasang kedok kulit manusia di mukanya.
“Hayo, siapa yang lebih jelek, kau atau aku?!” bentaknya.
Wajah Ngo-kui dari Tibet ini semuanya memang sangat jelek, tetapi lebih jelek lagi adalah sepak terjang mereka yang jahat. Kini mendadak melihat Yo Ko berubah wajah yang lain, pucat kuning, kaku tanpa perasaan, mirip seperti mayat hidup yang baru saja muncul dari kuburan, seketika Ngo-kui saling pandang dengan kaget.
Perlahan Yo Ko mundur ke tengah jembatan batu itu. Dengan gaya ‘Kim-ke-tok-lip’ atau ayam emas berdiri dengan kaki tunggal, ia berdiri dengan kaki kiri dan kaki kanan sengaja menendang perlahan ke atas sambil ber-gerak-gerak di antara hembusan angin pegunungan yang silir, tampaknya alangkah gembiranya pemuda ini.
“Bagaimana bisa dari Kay-pang mendadak muncul seorang kesatria muda ini?” demikian diam-diam Ngo-kui berpikir.
Karena tidak berani menerjang ke jembatan alam itu, kemudian mereka lantas berunding. Keputusan diambil, mereka akan berjaga secara bergilir untuk mencari bahan makanan ke bawah gunung, dengan demikian tak sampai dua hari mereka yakin pemuda itu pasti akan kewalahan karena kelaparan. Begitulah, lalu empat saudara mereka menjaga rapat di ujung jembatan alam itu dan Ji-kui yang diutus pergi mencari bahan makanan ke bawah gunung.
Dengan cara demikian kedua pihak saling bertahan sampai setengah harian. Yo Ko tidak berani menyeberang ke sana, sebaliknya Su-kui juga tidak berani menyeberang ke sini. Sampai lewat lohor, Yo Ko duduk bersemadi untuk mengumpulkan tenaga. Sampai besok paginya, Ji-kui datang kembali sambil membawa makanan, kelima saudara itu sengaja makan dengan bernapsu untuk meng-iming-imingi Yo Ko.
Memang Yo Ko sudah kelaparan, tentu saja dia mengiler menyaksikan orang makan begitu enaknya. Waktu ia berpaling memandang Ang Chit-kong, ia lihat pengemis tua ini masih tetap serupa saja seperti hari pertama. Pikirnya: Pikirnya: “Jika betul-betul tidur, adalah lazim bila akan membalik tubuh. Tapi ia justru tidak bergerak sedikit pun, jangan-jangan benar-benar sudah mati? Kalau aku bertahan lagi satu hari, bila lebih lapar dan tak bertenaga, tentu lebih susah lagi melawan lima musuh itu. Tidakkah lebih baik terjang pergi sekarang saja, mungkin masih bisa menyelamatkan diri.”
Perlahan-lahan Yo Ko berdiri, tapi lantas terpikir lagi olehnya: “la bilang akan tidur selama tiga hari, kini baru hari kedua, lebih baik jangan kutinggalkan pergi begitu saja.”
Maka dengan menahan perut yang keroncongan tiada hentinya, ia pejamkan mata melatih lwekang sendiri, tak dipandangnya lagi Ngo-kui yang sedang makan itu. Sampai hari ketiga Ang Chit-kong masih rebah saja seperti hari pertama, makin melihat Yo Ko menjadi semakin sangsi.
“Sudah terang ia telah mati, kalau aku berkeras tak mau pergi, sesungguhnya terlampau bodoh. Kalau sampai kelaparan setengah hari lagi, tanpa mereka turun tangan, mungkin aku sendiri akan mati kelaparan,” demikian Yo Ko membatin.
Namun ia tidak putus asa, ia telan dua kepal salju untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong, lalu terpikir lagi olehnya: “Terhadap negara aku belum bersetia, terhadap ayah-bunda aku pun tidak berbakti, pula aku tak punya sanak saudara sekedar menyampaikan rasa hatiku. Kini urusan ‘kepercayaan’ ini betapa pun juga jadinya aku harus menjaganya sampai saat terakhir, apa lagi aku Yo Ko selama hidup ini selalu dipandang hina, kalau aku tidak bisa menepati janji, lebih-lebih aku akan dibuat buah tertawaan mereka. Sekali pun aku harus mati, janji tiga hari ini harus kulaksanakan.”
Dan karena keputusannya ini, rasa menderitanya akibat lapar menjadi rada ringan. Sehari semalam ini dengan cepat dilalui lagi. Pagi hari keempat, segera Yo Ko mendekati tubuh Ang Chit-kong, ia raba tubuh pengemis tua itu dan terasa tetap dingin seperti es. Tanpa tertahan pemuda ini menghela napas.
“Locianpwe,” demikian ia memberi hormat kepada tubuh Ang Chit-kong, “janji tiga hari ini sudah kulakukan, cuma sayang cianpwe sudah terlanjur meninggal dunia. Tecu kuatir tak mampu menjaga keutuhan jenazahmu, maka terpaksa melemparkan kau ke dalam jurang supaya tidak dibuat hinaan orang-orang jahat itu.”
Habis ini, dengan cepat dia angkat tubuh Ang Chit-kong lalu berjalan ke jembatan alam, tubuh pengemis tua itu hendak dilemparkannya ke jurang. Pada saat itu juga, melihat Yo Ko tiba-tiba hendak tinggalkan jembatan alam itu, Ngo-kui menyangka pemuda ini tak tahan lapar, maka ingin melarikan diri. Dengan cepat mereka saling memberi tanda, segera mereka merubung maju memapaki Yo Ko.
Tatkala itu Yo Ko sudah menerjang ke tengah jembatan, sementara itu Tay-kui juga telah menghadang di tengah jembatan. Dengan sekali gertak tiba-tiba Yo Ko melemparkan Ang Ching-kong ke bawah jembatan, menyusul ini Tay-kui pun diterjangnya secara beringas.
Tak terduga mendadak angin santer berkesiur, tahu-tahu ada seseorang sudah melayang lewat melalui kepalanya terus tancapkan kaki di tengah-tengah antara Yo Ko dan Ngo-kui.
“Ha-ha-ha, tidurnya Lokiauhoa sekali ini sungguh nyenyak dan puas sekali!” kata orang itu sambil bergelak ketawa. Nyata ia bukan lain dari pada Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong.
Kejadian ini sungguh membikin Yo Ko girang tidak kepalang, sebaliknya Ngo-kui terkejut dan ketakutan setengah mati. Kiranya pada waktu tubuh Ang Chit-kong dilemparkan ke bawah jembatan tadi, pada saat hampir terjerumus ke bawah, mendadak dia sadar dan dengan tepat lengannya yang panjang menahan di atas jembatan, berbareng orangnya melompat lewat di atas kepala Yo Ko.
Maka tampaklah Ang Chit-kong menggerakkan tangan kiri ke depan, menyusul tangan kanannya didorong maju, ini adalah satu di antara tipu serangan ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ atau delapan-belas tipu pukulan penakluk naga yang menjadi kebanggaan hidupnya, yakni yang disebut ‘kang-liong-yu-hwe’.
Tay-kui yang pertama berhadapan dengan Ang Chit-kong, hendak menghindarkan diri tidak keburu lagi. Meski insaf serangan pengemis tua ini tak sanggup disambutnya secara keras, namun tidak ada jalan lain kecuali berbuat sebisanya, maka terpaksa dia gunakan kedua telapak tangan tangkis pukulan Ang Chit-kong. Sungguh pun begitu Tay-kui merasakan kedua lengannya kaku kesemutan dan dada sakit.
Nampak gelagat jelek, kuatir kalau saudara tuanya dihantam terjungkal ke dalam jurang, lekas-lekas Ji-kui ulurkan tangannya mendorong punggung sang toako. Namun demikian, ketika Ang Chit-kong menambahi tenaga telapak tangannya, tiba-tiba Ji-kui kena didorong mendoyong ke belakang hingga hampir saja terbanting jatuh.
Si-kui yang berdiri di belakang Ji-kui, terpaksa maju pula mendukung kedua saudaranya. Dan akibat menempel tangannya ini, ia menjadi ikut kontak oleh tenaga pukulan Ang Chit-kong, menyusul Si-kui menular pada Sam-kui dan paling akhir Sam-kui menularkan juga kepada Go-kui.
Kelima orang ini hendak lari tak bisa lari, mau hindarkan diri tak dapat menghindar, maka sekejap saja bila Ang Chit-kong menambah tenaganya sedikit, sekaligus mereka pasti akan kena dipukul mati oleh tenaga pukulan raksasa si pengemis tua itu.
Menyaksikan betapa hebat daya pukulan itu, Yo Ko menjadi tercengang sambil ternganga kagum.....
"Kalian berlima setan jahat selamanya melakukan berbagai kejahatan dan kekejaman, kini terpukul mati di tangan Lokiauhoa, agaknya mati pun tidak penasaran," kata Ang Chit-kong dengan tertawa.
Namun Ngo-kui tak menyerah mentah-mentah, mereka pasang kuda-kuda dengan kuat, dengan mata mendelik melawan telapak tangan Ang Chit-kong yang tunggal dengan gabungan tenaga mereka berlima. Siapa tahu daya tekanan Ang Chit-kong makin Iama makin berat hingga dada Ngo-kui terasa sesak, buat bernapas saja rasanya sukar.
Pada saat yang sangat genting itu, tiba-tiba dari jauh sana berkumandang suara "tok-tok-tok" yang keras, dari tikungan jalan sana tahu-tahu muncul seorang aneh yang berjalan dengan kepala, Siapa gerangan dia kalau bukan Auwyang Hong.
"Ayah!" seru Yo Ko tanpa pikir.
Akan tetapi Auwyang Hong seperti tak mendengar, mendadak ia melompat ke belakang Go-kui. Ia ulur kaki kanan terus menahan kepunggungnya, maka terasalah tiba-tiba satu kekuatan yang maha besar telah disalurkan melalui tubuh kelima orang itu. Melihat Auwyang Hong mendadak muncul di sini, Ang Chitkong menjadi kaget, apalagi Yo Ko memanggil "ayah", diam-diam pengemis tua ini pikir kiranya bocah ini anak Auwyang Hong, pantas memiliki ilmu silat tinggi.
Sementara itu tangannya sudah terasa berat, tenaga pukulan pihak lawan telah menembus datang melalui tubuh Ngo-kui, mau-tak-mau Ang Chit-kong tambah tenaga dan balas menghantam.
Sejak "Hoa-san-lun-kiam" kedua rampung, selama belasan tahun ini Ang Chit-kong dan Auwyang Hong belum pernah bertemu lagi Meski otak Auwyang Hong rada kurang waras, tetapi karena ia melatih Kiu-im-cin-keng secara terbalik hingga ilmu silatnya makin dilatih makin aneh dan kuat.
Sebaliknya Ang Chit-kong sendiri pernah mendengar sebagian isi kitab Kiu-im-cin-keng dari Kwe Cing serta Ui Yong yang ternyata banyak persamaannya dengan dasar ilmu silatnya sendiri, maka iapun sudah jauh lebih maju. Kini satu sama lain bertemu lagi, apapun juga yang baik selalu mengalahkan yang jahat, meski isi Kiu-im-cin-keng yang asli tak banyak di-pahami Ang Chit-kong, tapi tak kalah dengan Se-tok Auwyang Hong, si racun tua dari barat.
Beberapa puluh tahun yang lalu kedua orang ini sukar dibedakan siapa yang lebih unggul, sesudah masing-masing bertambah lebih hebat lagi kepandaiannya, kini untuk ketiga kalinya mereka bersua di Hoa-san, sesudah saling gebrak, keadaan masih tetap sama kuatnya.
Sudah tentu yang paling celaka adalah Ngo-kui yang tergencet di tengah, mereka menjadi terombang-ambing diantara kekuatan dua "raksasa" ini, tubuh mereka sebentar dingin, sebentar lagi panas, napas sebentar kencang sebentar kendur, sungguh penderitaan yang mereka rasakan beribu kali lebih hebat melebihi siksaan badan.
Beberapa kali Ang Chit-kong mengerahkan tenaganya, secara keras dan secara pelahan, tetapi setiap kali kena dipatahkan oleh tenaga kaki Auw-yang Hong yang memancal di sebelah sana, Ketika kakinya bertambah kuat memancalnya, namun sukar juga bikin Ang Chit-kong mundur sedikitpun. Sesudah saling adu kekuatan ini, kedua orang pun sama kagumnya, maka berbareng mereka melompat ke belakang sambil ketawa terbahak-bahak.
Dan karena "lepas tangan" kedua "raksasa" ini, daya tekanan pada Ngo-kui seketika hilang hingga tubuh kelima orang itu terhuyung-huyung kehilangan imbangan bagai orang mabuk saja. Sesudah badan kelima orang itu kena digencet ke sana ke mari oleh tenaga raksasa Ang Chit-kong dan Auwyang Hong, isi perut mereka sudah menderita luka parah, otot tulang mereka pun lemas dan menjadi orang cacat, sekalipun menghadapi seorang biasa merekapun tak sanggup melawan lagi.
"Bangsat, hitung-hitung ajalmu belum sampai, baik selanjutnya kalian tak bisa membikin celaka orang lagi, lekas enyah dari sini!" demikian Ang Chit-kong membentak.
Maka dengan Iesu dan tindakan sempoyongan, Ngo-kui bertindak pergi perlahan dengan saling dukung-mendukung.
Sementara itu, setelah Auwyang Hong berdiri tegak, ia lirik Ang Chit-kong dan lapat-lapat seperti pernah dikenalnya, maka segera dia menegurnya:
“Hai, bagus amat ilmu silatmu, siapakah namamu?”
Mendengar pertanyaan ini dan melihat air muka orang yang linglung, Ang Chit-kong tahu selama belasan tahun ini Auwyang Hong masih belum waras dari otaknya yang miring.
“Aku bernama Auwyang Hong, dan kau sendiri siapa?” demikian sengaja Ang Chit-kong menjawab.
Hati Auwyang Hong tergetar. Ia merasa nama ‘Auwyang Hong’ itu seperti telah dikenalnya betul, cuma dirinya sendiri bernama apa, ia tak bisa ingat lagi.
“Entah, aku lupa,” demikian sahutnya kemudian. “Eh, ya, siapakah namaku, ya?”
“Ha-ha-ha...!” Ang Chit-kong tertawa geli. “Kenapa tidak tahu namamu sendiri? Lekas kau pulang saja buat mengingat-ingatnya.”
Auwyang Hong menjadi amat marah ditertawai orang. “Tentu kau tahu, hayo beri-tahukan padaku,” bentaknya.
“Baiklah, aku kasih tahu, kau bernama Ha-mo katak busuk,” sahut Ang Chit-kong.
“Ha-mo, Ha-mo...” nama ini memang sangat dikenal Auwyang Hong, kedengarannya rada mirip namanya sendiri, tetapi bila dipikir lagi, rasanya pun bukan.
Seperti diketahui, ilmu mujijatnya Auwyang Hong yang sangat diunggulkan ialah ‘Ha-mo-kang’ atau ilmu weduk katak, bila digunakan harus berjongkok seperti lakunya katak. Oleh sebab itu Ang Chit-kong sengaja menggoda dan mengolok-olok.
Auwyang Hong dan Ang Chit-kong adalah musuh bebuyutan selama berpuluh tahun, rasa benci masing-masing telah tertanam dalam hati, maka meski dalam keadaan linglung, Auwyang Hong menjadi marah demi melihat macamnya Ang Chit-kong. Di lain pihak, demi nampak orang berdiri menjublek, habis itu matanya menyorotkan sinar bengis, diam-diam Ang Chit-kong telah berjaga-jaga.
Benar saja, sekejap kemudian mendadak terdengar Auwyang Hong menggeram satu kali, dengan kalapnya ia lalu menubruk maju. Ang Chit-kong tak berani ayal, sekali tangannya bergerak, segera ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ dikeluarkannya. Cara begitulah kedua jago tua ini memulai dengan pertarungan yang maha sengit di atas jembatan alam di puncak tertinggi gunung Hoa-san, di kedua sisi adalah jurang yang dalamnya ber-ribu tombak, asal sedikit ada yang bertindak meleng, tentu orangnya akan hancur lebur tergelincir ke dalam jurang.
Oleh karena resiko itulah, maka begitu saling gebrak, segera kedua orang mengeluarkan tipu serangan yang paling hebat untuk mengadu jiwa, bila dibanding dengan pertandingan Hoa-san-lun-kiam yang dilakukan secara halus, terang sekali ini keadaannya sudah lain.
Kedua jago tua ini sudah lanjut umurnya. Meski ilmu silat yang dilatih semakin sempurna, akan tetapi soal tenaga justru berkurang dari pada sebelumnya. Oleh karena itu pertarungan sekali ini terutama bukan ditentukan oleh besar-kecilnya tenaga masing-masing, namun semuanya ingin menang dengan tipu-tipu pukulannya sendiri yang paling bagus.
Dan karena inilah rasanya yang paling untung ialah si Yo Ko. Ia bisa menyaksikan segala kebagusan dari tiap-tiap ilmu pukulan kedua jago tua itu sehingga tak sedikit intisari yang dia petik. Apa lagi dasarnya Yo Ko memang pintar, pula sudah memahami inti Giok-li-sim-keng dan Kiu-im-cin-keng, ia menjadi lebih gampang menerima di mana letak inti ilmu silat kedua jago tua yang hebat itu.
Sewaktu kedua jago tua itu mulai bergebrak Yo Ko rada-rada kuatir Auwyang Hong akan terjerumus ke dalam jurang mengingat tempat pertempuran yang benar-benar berbahaya, tetapi setelah saling gebrak, kadang-kadang ia malah melihat Ang Chit-kong terdesak, tanpa terasa ia mengharap agar pengemis tua itu diberkahi selamat.
Harus diketahui bahwa Auwyang Hong adalah ayah angkat Yo Ko, perasaan kekeluargaan mereka begitu rapat dan melekat, tapi tindak tanduk Ang Chit-kong juga membawa semacam perbawa yang besar dan agung, hal ini mau tak mau membikin Yo Ko menjadi kagum dan menghormat.
Begitulah setelah beratus jurus kedua jago tua itu bergebrak, meski kedua orang berulang kali sama-sama menghadapi serangan lihay, selalu mereka sanggup menyelamatkan diri dengan baik, akhirnya Yo Ko tidak perlu kuatir lagi atas keselamatan kedua orang tua itu, ia justru memusatkan pikirannya untuk mengingat baik-baik tipu silat yang diunjuk mereka.
Sudah lama Yo Ko apalkan isi Kiu-im-cin-keng dengan baik, dan kini menyaksikan setiap gerak-gerik tipu yang dikeluarkan kedua jago tua itu ternyata cocok sekali dengan intisari pelajaran kitab sakti itu, sungguh bukan buatan rasa girang Yo Ko. Pikirnya: “Satu istilah saja dalam kitab yang disangka cuma biasa saja, tetapi siapa tahu ternyata mengandung perubahan yang begini luas dan banyak.”
Dan sesudah ribuan jurus pertandingan berlangsung, meski kepandaian kedua jago tua itu belum habis dikeluarkan, namun karena usia yang sudah lanjut, mau tidak mau napas mereka kini mulai memburu dan jantung memukul cepat, gerak-gerik mereka pun mulai kendur.
“Kalian berdua sudah setengah hari berkelahi, tentu perut sudah lapar sekali, marilah kita makan yang kenyang dulu, nanti bertanding lagi!” demikian Yo Ko teriaki mereka.
Bagi Auwyang Hong segala makanan itu tidak menarik, lain halnya dengan Ang Chit-kong, begitu mendengar kata-kata “makan”, segera ia melompat mundur sambil berseru:
“Bagus, bagus! Memang harus makan duIu!”
Tadi Yo Ko melihat bakul bambu berisi barang makanan yang dibawa Ngo-kui masih berada di situ, dengan cepat bakul itu disambarnya ke hadapan Ang Chit-kong. Waktu ia buka tutup bakul bambu itu, ternyata isinya banyak sekali, ayam-daging komplit dengan nasi dan arak segala. Soal makan selamanya Ang Chit-kong tak pernah sungkan-sungkan. Tanpa permisi lagi ia menyambar seekor ayam beku, baik daging berikut tulangnya terus dilalap semua hingga bersuara keletak-keletuk.
“Ayah, selama ini berada di manakah kau?” dengan suara lembut Yo Ko bertanya sambil menyodorkan sepotong daging beku pada Auwyang Hong.
“Aku mencari kau,” sahut Auwyang Hong dengan mata mendelong.
Yo Ko menjadi terharu. Dia pikir di dunia ini ternyata masih ada juga seorang yang begini cinta padaku dengan sesungguh hati. Maka sambil merangkul tangan orang, Yo Ko berkata lagi:
“Ayah, Ang-locianpwe ini orang baik, janganlah kau berkelahi lagi dengan dia.”
“Dia, dia Auwyang Hong, dan Auwyang Hong adalah manusia jahat,” kata Auwyang Hong sambil menuding Ang Chit-kong.
Melihat pikiran orang memang abnormal, sungguh pedih sekali hati Yo Ko.
“Ya, ya, memang benar! Auwyang Hong manusia busuk dan jahat, Auwyang Hong pantas mampus!” Ang Ching-kong terbahak-bahak geli.
Tentu saja Auwyang Hong semakin bingung. Ia pandang Ang Chit-kong, lalu pandang lagi pada Yo Ko, matanya menyorotkan sinar yang guram dan hampa, pikirannya pun menjadi kacau, sebisanya ia bermaksud meng-ingat sesuatu, tapi selalu tak bisa mengingatnya.
“Ang-locianpwe,” kata Yo Ko setelah melayani Auwyang Hong makan sedikit, “dia adalah ayah angkatku, harap engkau kasihan. Ia sedang menderita sakit ingatan, sukalah jangan bikin susah lagi padanya.”
Ang Chit-kong adalah orang berbudi. Demi mendengar permohonan Yo Ko, berulang kali ia mengangguk.
“Anak baik, anak baik,” demikian pujinya.
Siapa tahu Auwyang Hong yang abnormal itu mendadak melompat bangun lagi. “Hayo, Auwyang Hong, sekarang maju lagi!” demikian ia berteriak-teriak atas nama sendiri kepada Ang Chit-kong. “Dalam hal pukulan kita sama kuat, sekarang kita boleh coba-coba dengan senjata.”
“Tak usahlah. Sudah, anggaplah kau yang menang,” sahut Ang Chit-kong sambil geleng-geleng kepala.
“Menang apa segala? Aku justru ingin membunuh kau!” teriak Auwyang Hong tiba-tiba.
Kemudian dia sambar sepotong kayu yang digunakan sebagai pentung terus menghantam ke atas kepala Ang Chit-kong. Dulu, dengan senjata khasnya yang berupa tongkat ular, pernah Auwyang Hong malang melintang di dunia persilatan, ilmu permainan tongkatnya itu lihay bukan main. Kini meski tongkatnya tak berular pada ujungnya, tetapi hantamannya sekali ini ternyata amat keras, belum tiba pentungnya Yo Ko sudah merasakan sambaran angin yang menekan dada.
Lekas-lekas Yo Ko melompat ke pinggir. Waktu ia memandang Ang Chit-kong, dilihatnya pengemis tua ini sudah sambar pula sepotong kayu pendek dan dipakai sebagai senjata, lalu kedua jago tua itu pun saling labrak lagi dengan serunya.
‘Pak-kau-pang-hoat’, ilmu permainan pentung pemukul anjing yang dimiliki Ang Chit-kong ialah ilmu silat yang tiada bandingannya di kolong langit ini, cuma tak mau sembarangan dia keluarkan. Selain ini ia pun punya ilmu permainan pentung lain yang bagus dan lihay. Kini satu per satu ia keluarkan untuk melabrak Auwyang Hong, maka pertarungan sekali ini menjadi berbeda lagi dibandingkan gebrakan dengan tangan dan kaki tadi. Begitu hebat sambar-menyambarnya tongkat dan pentung sehingga Yo Ko yang menonton di samping ikut berdebar dan ternganga.
Pertarungan sengit ini terus berlangsung sampai magrib, tetapi masih tidak ada yang lebih unggul atau asor. Melihat keadaan tempat itu sungguh berbahaya, seluruh gunung hanya tanah salju belaka yang halus licin, dan kedua jago tua itu sudah lanjut usianya, kalau terjadi sedikit meleng mungkin akan menjadi penyesalan selama hidup, maka dengan suara keras Yo Ko lantas berteriak-teriak minta mereka berhenti.
Tapi Ang Chit-kong dan Auwyang Hong sedang bertempur dengan napsunya, mana bisa mereka berhenti begitu saja? Kemudian Yo Ko mendapat akal. Dia ingat kegemaran Ang Chit-kong satu-satunya, yaitu makan. Ia pikir kalau pengemis tua ini dipancing dengan makanan enak tentu orang akan mengiler dan boleh jadi untuk sementara bisa diadakan ‘gencatan senjata’.
Maka dengan cepat ia pergi mencari sesuatu di alas belukar pegunungan itu. Ia dapatkan beberapa potong ubi dan singkong, maka segera ia menyalakan api dan dibakar hingga menguarkan bau sedap. Benar saja, demi bau sedap itu, segera Ang Chit-kong berteriak:
“Ha-mo busuk, tak mau lagi berkelahi dengan kau, makan dulu paling perlu!”
Sesudah itu dia pun mendekati Yo Ko terus sambar dua potong ubi bakar, lantas digeragoti meski mulutnya sakit kebakar oleh panasnya ubi, sambil tiada hentinya ia memuji Yo Ko yang pintar mencari barang santapan.
Di sebelah sana Auwyang Hong tidak mau berhenti begitu saja. Dia susul Ang Chit-kong terus mengemplang kepala orang dengan tongkatnya. Namun Ang Chit-kong tak berkelit sama sekali, sebaliknya ia sambar sepotong singkong bakar terus dilemparkan ke arah Auwyang Hong sambil berseru:
“Nih, makanlah!”
Sebelum tongkatnya diayunkan, Auwyang Hong malah tertegun. Secara otomatis sebelah tangannya cepat-cepat menangkap singkong yang dilemparkan padanya terus dimakan, seketika ia pun lupa pada pertarungan sengit tadi.
Malam itu mereka bertiga tidur dalam sebuah goa. Yo Ko berusaha agar Auwyang Hong bisa ingat kembali pada kejadian-kejadian masa lalu, maka beberapa kali ia sengaja memancingnya, namun Auwyang Hong selalu ter-menung saja tanpa menjawab. Kadang-kadang orang tua ini ketok batok kepalanya sendiri dengan kepalan, tampaknya sebisanya hendak mengingat, namun percuma saja karena otaknya seakan-akan sudah pantul. Dia menjadi sangat masgul.
Karena kuatir orang makin berpikir semakin gila, lekas-lekas Yo Ko menghibur Auwyang Hong buat tidur saja, sebaliknya ia sendiri hanya guIang-guling tidak bisa pulas. Ia sedang memikirkan ilmu pukulan kedua jago tua yang dilihatnya siang tadi, makin mengingatnya semakin bersemangat, sampai akhirnya diam-diam dia bangun sendiri lantas menjalankan gerak-gerik pukulan itu menurut apa yang dilihatnya. Dia dapat merasakan kebagusan ilmu silat yang tiada taranya itu. Sampai tengah malam, sesudah sangat letih, barulah Yo Ko pergi tidur.
Besoknya pagi-pagi sekali, waktu Yo Ko masih layap-layap dalam tidurnya, tiba-tiba saja didengarnya di luar goa ada suara sambaran angin yang menderu-deru diselingi dengan suara bentakan dan lompatan. Lekas Yo Ko meloncat bangun, di depan goa terlihat Ang Chit-kong dan Auwyang Hong kembali sedang saling labrak dengan ramainya.
Melihat kebandelan kedua orang tua itu, Yo Ko menghela napas tanpa berdaya. Dengan kesal dia duduk menunggu di samping, diam-diam dia pun mengingat baik-baik gerak tipu permainan tongkat kedua orang itu. Dia merasa setiap gerakan Ang Chit-kong semuanya dapat dibedakan dengan jelas, sebaliknya gerak-gerik Auwyang Hong sangat sulit diduga. Sering kali kalau Ang Chit-kong berada di atas angin, tahu-tahu Auwyang Hong keluarkan tipu gerakan aneh dengan cepat, lalu kedudukan mereka pun berubah sama kuat Iagi.
Begitulah cara pertandingan mereka yang berlarut-larut ini, tiap siang berkelahi dan saban malam tidur, terus-menerus berlangsung selama enam hari. Begitu payah keadaan kedua orang tua ini hingga semangat lesu dan tenaga habis, namun masih tak ada satu pun yang mau mengalah.
“Kalau pertarungan secara demikian berlangsung lagi, dua harimau bertengkar, akhirnya tentu ada satu yang celaka,” demikian Yo Ko membatin.
Karena itu, malamnya ia tunggu sesudah Auwyang Hong tidur, diam-diam ia berkata pada Ang Chit-kong:
“Marilah Locianpwe keluar, ingin aku bicara sedikit.”
Ang Chit-kong tidak menolak, ia ikut Yo Ko keluar goa. Mendadak pemuda ini berlutut di hadapannya sambil menjura tiada hentinya, akan tetapi sepatah kata pun tak dikatakannya. Ang Chit-kong adalah orang pintar, segera ia pun tahu maksud hati orang, ia tahu pemuda ini memohon agar kasihan pada Auwyang Hong yang menderita sakit ingatan itu dan suka mengaku kalah saja padanya.
“Baiklah, aku turuti permintaanmu,” demikian katanya kemudian sambil ketawa terbahak-bahak. Sesudah itu, dengan menyeret pentungnya ia pun bertindak pergi turun ke bawah gunung.
Tak tahunya, baru beberapa langkah saja ia bertindak, sekonyong-konyong dari belakang ada angin menyambar. Ternyata Auwyang Hong sudah melompat keluar dari goa terus menyabet dengan tongkatnya.
“Bangsat tua, kau mau lari ya?!” bentak Auwyang Hong dengan gusar.
Ang Chit-kong hindarkan tiga serangan orang berulang-ulang, ia bermaksud mencari jalan buat pergi, tetapi siapa tahu selalu dicegat dan kena dikurung oleh tongkat Auwyang Hong sehingga tak sempat meloloskan diri. Pertandingan silat di antara jago kelas tinggi sesungguhnya sedikit pun tidak boleh saling mengalah. Kini karena Chit-kong bermaksud mengalah, keruan saja dia menjadi tercecar, beberapa kali dia malah hampir dicelakai oleh tongkat lawannya.
Pada suatu ketika, dia lihat Auwyang Hong menyodok cepat dengan tongkatnya ke arah perutnya. Chit-kong tahu di belakang serangan ini masih disusul serangan yang lebih lihay dan sekali-kali tak boleh dihindari begitu saja, maka terpaksa ia angkat tongkatnya sendiri buat menangkis. Tanpa terduga tiba-tiba terasa olehnya pada tongkat Auwyang Hong membawa semacam tenaga dalam yang maha kuat dan lihay, sungguh tak kepalang kejut Ang Chit-kong.
“He, kau hendak adu lwekang dengan aku?” demikian sekilas pikiran ini terlintas olehnya.
Dan betul saja, baru tergerak pikirannya, tahu-tahu tenaga dalam musuh telah mendesak. Dalam keadaan demikian memang tiada jalan lain Iagi kecuali melawannya dengan tenaga dalam juga. Maka ia pun segera kumpulkan Iwekang-nya melawan serangan tenaga dalam Auwyang Hong.
Dengan ilmu silat setinggi Ang Chit-kong dan Auwyang Hong, kalau hanya terluka oleh sekali pukulan atau pentungan belum tentu membahayakan jiwa mereka, namun kini dengan adu tenaga dalam, keadaan sudah meningkat sampai detik yang tidak bisa saling mengalah Iagi. Hanya ada dua pilihan untuk mereka: ‘hidup atau mati’, lain tidak. Dulu pernah juga mereka saling bertanding, akan tetapi karena sama-sama jeri terhadap kelihayan pihak lain, kalau tidak yakin bakal menang, tidak ada yang berani sembarangan melakukan tindakan yang berbahaya ini. Siapa tahu dalam keadaan sinting, karena sudah beberapa hari bertanding masih belum bisa menang, tiba-tiba Auwyang Hong menyerang dengan Iwekang asli.
Belasan tahun yang lalu, kebencian Ang Chit-kong terhadap Se-tok Auwyang Hong boleh dikatakan meresap sampai ke tulang, tapi sekarang usianya sudah lanjut, tabiat kerasnya sudah jauh berkurang, pula melihat musuh kawakan itu tak waras otaknya, sedang Yo Ko berulang kali mohon kasihan baginya, sesungguhnya tak ada maksud lagi Ang Chit-kong untuk membunuhnya. Oleh karena itu ia hanya pusatkan tenaga dalamnya di perut, ia hanya bertahan dan tidak menyerang, ia hendak tunggu sampai Auwyang Hong sendiri yang kepayahan kehabisan tenaga dalam.
Tak terduga, tenaga Auwyang Hong bukannya berkurang sebaliknya malah seperti ombak samudera saja yang bergelombang tiada henti-hentinya, satu gelombang didorong dengan gelombang yang lain, makin lama semakin keras. Tiba-tiba Ang Chit-kong teringat pada sesuatu, tak tertahan lagi ia terkejut sekali. Kiranya teringat olehnya pertarungan siang tadi waktu adu tenaga dengan Auwyang Hong dengan Ngo-kui di tengah sebagai alat mengukur, tatkala itu berulang Auwyang Hong memancal tiga kali dengan kakinya dan tenaga yang dikeluarkan itu pun yang satu lebih besar dari yang sebelumnya.
Sekarang tampaknya sama seperti tadi itu. Belum reda tenaga serangan yang pertama, gelombang serangan kedua sudah menyusul tiba dan begitu seterusnya, tenaga serangan kedua masih terasa kuat, segera tenaga gelombang ketiga datang lagi. Teringat akan hal itu, Ang Chit-kong tidak berani ayal, segera ia pun memusatkan tenaga dalamnya melakukan serangan balasan, dan karena keras lawan keras, tubuh kedua orang sama-sama terguncang.
Melihat air muka kedua orang tua itu sangat tegang, terang mereka sedang adu tenaga dalam yang maha hebat secara mati-matian, diam-diam Yo Ko sangat kuatir. Apa bila dia mau membela Auwyang Hong sebagai ayah angkatnya, asal dia serang Ang Chit-kong dari belakang dengan jarinya saja, pasti jago tua itu akan luka parah. Tetapi dilihatnya Ang Chit-kong berjiwa jantan sejati, ia menjadi ragu-ragu dan tidak tega turun tangan.
Lewat tidak lama kemudian mendadak Auwyang Hong menggertak sekali, terus menjungkir tegak dengan kepala di bawah, sepatu dan kaos kaki ia buang juga, dengan sepasang kakinya yang telanjang inilah ia meng-geyol-geyol dan mengayun-ayun cepat di udara hingga menerbitkan angin. Sebaliknya Ang Chit-kong kelihatan tenang saja, tanpa bergerak sedikit pun bagai patung.
Sesudah saling ngotot lagi beberapa saat lamanya, akhirnya telapak kaki Auwyang Hong menguap seperti digodok, nyata ia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya melakukan serangan total. Begitu juga Ang Chit-kong, dia pun melawan dengan sepenuh kekuatan yang ada padanya. Dalam keadaan demikian ia tidak bisa lagi memikirkan bakal mencelakai jiwa lawan atau tidak, yang dia harap asal dirinya sendiri tidak terluka, sudah sangat beruntung baginya.
Cara begitulah mereka bertanding dari fajar menyingsing sampai lewat lohor, lambat laun Ang Chit-kong merasa tenaga dalamnya mulai ‘kering’, sebaliknya daya tekanan lawan masih terus menerus membanjir seperti gelombang ombak yang tiada habis-habisnya.
“Celaka, Si Racun tua ini makin gila ternyata justru semakin lihay, hari ini jiwa Lokiauhoa (pengemis tua) bisa melayang di sini,” diam-diam Chit-kong mengeluh.
Nyata ia sudah menduga dalam pertarungan ini bakal kalah, sayangnya tiada jalan buat melepaskan diri, terpaksa ia bertahan sekuatnya, Tak ia sangka, keadaan Auwyang Hong pun sudah bagaikan pelita yang kehabisan minyak, tinggal menanti sirapnya saja. Kedua orang menjadi sama-sama mengeluh dan sukar dipisahkan lagi kecuali diakhiri dengan ‘mati atau hidup’. Sesudah dua jam lagi, hari mulai sore, seluruh tenaga yang ada pada Ang Ching-kong sudah dikeluarkan semua tanpa ketinggalan ‘satu tetes’ pun. Begitu juga Auwyang Hong sudah napas lemah dan tenaga habis.
Melihat wajah kedua jago tua itu kini berubah hebat, Yo Ko menaksir sebentar lagi kedua orang itu pasti akan gugur bersama, tetapi kalau maju buat memisahkan mereka, rasanya ilmu silat sendiri masih terlalu jauh selisihnya, kalau sampai dibentur kembali oleh tenaga dalam mereka, mungkin ia sendiri bisa terluka parah kalau tidak mampus. Karena itulah ia menjadi ragu-ragu. Tapi bila menyaksikan air muka Auwyang Hong yang tampak sangat menderita, napas Ang Chit-kong juga memburu senin-kemis, betapa pun Yo Ko tidak tega. Ia ambil keputusan: “Sekali pun harus mati, biarlah kutolong mereka.”
Segera dia sambar sebatang kayu, dia mendekati tengah kedua orang tua itu lalu duduk bersila, dia turuti inti pelajaran Iwekang yang pernah diperolehnya dari Siao-liong-li sambil kumpulkan tenaga untuk melindungi seluruh tubuhnya sendiri. Setelah itu, sambil kuatkan hatinya mendadak dia ulur kayu tadi terus mencungkit ke tengah-tengah kedua pentung orang. Sungguh tak pernah diduganya bahwa mencungkitnya ini sedikit pun ternyata tak makan tenaga, ketika tenaga dalam kedua jago tua itu kontak melalui batang kayunya dan kena ditangkis Iwekang yang sudah dia kumpulkan, segera dapat dipatahkan dengan gampang.
Kiranya itu disebabkan sisa tenaga kedua orang tua itu sudah lapuk dan tiada artinya lagi. Meski pun ilmu silat Se-tok dan Pak-kay (Si Racun dari Barat dan Si pengemis dari Utara) setinggi langit, tapi setelah dikuras selama beberapa hari dalam pertandingan mati-matian ini, maka sisa tenaga mereka jika hanya buat menyerang seorang biasa saja sudah sukar melukainya, apa lagi melawan si Yo Ko! Maka tampaklah kedua orang tua itu mendeprok ke tanah dengan lemas, muka mereka pucat seperti mayat dan tak bisa berkutik lagi.
“Hai, Ang-locianpwe, Ayah, baik-baikkah kalian?” teriak Yo Ko kuatir.
Akan tetapi bernapas saja kedua orang tua itu merasa sulit, apa lagi menjawabnya? Yo Ko hendak mengangkat mereka ke dalam goa, tetapi Ang Chit-kong goyangkan kepalanya perlahan. Yo Ko tahu luka kedua orang itu terlalu berat, maka tidak berani lagi menggeser mereka. Malam itu dia pun tidur di tengah-tengah kedua orang. Dia kuatir tengah malam jangan-jangan keduanya bangun saling labrak lagi. Padahal hendak menyembuhkan luka dengan menjalankan lwekang saja susah, mana mungkin mereka sanggup bertempur lagi?
Besok paginya, sesudah Yo Ko bangun, dia lihat napas kedua orang tua itu empas-empis, keadaan mereka lebih buruk dari pada kemarin, keruan saja pemuda ini sangat kuatir, lekas-lekas ia panggang beberapa singkong lagi dan melayani mereka makan. Setelah dilolohi sedikit makanan, sampai hari ketiga, semangat kedua jago tua itu barulah mulai rada baik. Berturut-turut Yo Ko pindahkan mereka ke dalam goa, ia taruh yang satu di sebelah timur dan yang lainnya sebelah barat, ia sendiri tidur di tengah-tengah sebagai ‘garis pemisah’.
Cara begitulah mereka beristirahat beberapa hari. Karena Ang Chit-kong memang doyan makan, maka pulihnya pun lebih cepat. Sebaliknya sepanjang hari Auwyang Hong hanya bungkam saja dengan muka muram, Yo Ko ajak bicara padanya, ia pun tak menjawab. Hari itu, ketika kedua orang itu rebah berhadapan, mendadak Ang Ching-kong berteriak kepada Auwyang Hong:
“Hai, Ha-mo busuk, kau menyerah padaku belum?”
“Menyerah apa?” sahut Auwyang Hong. “Masih banyak ilmu kepandaianku yang belum kukeluarkan. Kalau sempat kumainkan semua, pasti aku akan hajar kau hingga minta ampun.”
“Ha-ha-ha, sungguh kebetulan, aku pun masih banyak ilmu silat yang belum dikeluarkan,” kata Ang Chit-kong dengan tertawa lebar. “Pernah tidak kau mendengar Pak-kau-pang-hoat?”
Auwyang Hong terkesiap oleh pertanyaan itu, pikirnya: “Ya, menurut cerita, pangcu dari Kay-pang memiliki sejurus Pak-kau-pang-hoat yang bukan main lihaynya bila dimainkan. Tapi dalam pertarungan sengit dengan aku tadi, belum pernah dikeluarkan, agaknya dia hanya omong kosong belaka, atau kalau tidak, hakekatnya dia tidak bisa memainkan ilmu tongkat itu.” Karena pikiran itu, segera ia menjengek:
“Hm, Pak-kau-pang-hoat apa gunanya?”
Di lain pihak Ang Chit-kong menjadi menyesal juga mengapa dia tidak mengeluarkan ilmu permainan tongkatnya yang sakti itu pada waktu bertarung sengit kemarin. Kalau sampai Pak-kau-pang-hoat dikeluarkan, pasti Se-tok sudah dia robohkan. Cuma sayang karena terlalu percaya pada kemampuan sendiri, bahwa tidak usah dengan ilmu pusaka Kay-pang itu juga bisa menang atas lawannya, siapa tahu akibatnya berakhir dengan ke-duanya sama-sama luka parah. Kini hendak dikeluarkan namun tenaga sudah habis, sedang orang telah menjengek padanya, tentu saja ia penasaran. Tiba-tiba tergerak kecerdasannya, ia menggapai Yo Ko ke dekatnya, lantas dengan bisik-bisik ia tanya pemuda ini:
“Aku adalah penjabat ketua Kay-pang yang lalu, apa kau tahu?”
Yo Ko manggut tanda tahu. Memang dari imam-imam Coan-cin-kau di Tiong-yang-kiong dahulu dia pernah mendengar bahwa pejabat Pangcu dari Kay-pang yang dulu, Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong si pengemis sakti berjari sembilan, ilmu silatnya tiada tara, jiwanya jujur berani, seorang gagah kesatria.
“Sekarang juga ada sejurus ilmu silat akan kuajarkan padamu,” demikian kata Ang Chit-kong pula, “Cuma ilmu silat ini selamanya hanya diturunkan kepada Pangcu perkumpulan pengemis dan tidak diajarkan kepada orang luar. Tetapi lantaran ayah angkatmu itu berani pandang rendah, aku justru ingin kau unjukkan ilmu silat ajaranku ini kepadanya.”
“Jika ilmu silat Lociapwe ini tak boleh diturunkan kepada orang luar, biar Tecu tak pelajari saja,” sahut Yo Ko. “Pikiran ayah angkatku belum jernih, harap Locianpwe jangan memiliki pandangan yang sama dengan dia.”
“Tidak, meski pun kau telah mempelajari gerak-gerik tipu silat ini, tapi kalau belum paham rahasia menggunakan tenaganya, di saat menghadapi musuh akan tiada gunanya juga,” kata Ang Chit-kong lagi sambil goyang kepala, “Kini aku pun tidak suruh kau gunakan ilmu ini buat memukul ayah angkatmu, cukup asal kau goyangi tangan dan geraki kaki menurut gaya yang kukatakan, tentu dia akan paham. Oleh sebab itu tak bisa dikatakan kuajarkan kepandaian ini padamu.”
Namun Yo Ko masih merasa ragu, pikirnya: “Kalau ilmu silat ini adalah pusaka Kay-pang, belum pasti ayah angkatku akan sanggup menangkisnya, lalu kenapa aku bantu kau buat mengalahkan ayah angkat sendiri?”
Oleh sebab itu dia tetap menolak dengan alasan tidak ingin mempelajari ilmu pusaka Kay-pang yang dibanggakan itu. Rupanya Ang Chit-kong dapat meraba apa yang dipikirkan Yo Ko, maka kepada Auwyang Hong ia berteriak:
“Hai, katak busuk, anak angkatmu tahu kalau kau tidak dapat melawan aku punya Pak-kau-pang-hoat, maka ia tak berani pertunjukkan cara-caranya padamu.”
Auwyang Hong menjadi marah oleh pancingan ini. “Jangan kuatir, Nak, aku masih punya banyak ilmu sakti yang belum digunakan. Lekas kau unjukkan menurut ajarannya padaku, kenapa harus takut?” demikian teriaknya.
Karena didesak sini dan dipaksa sana, Yo Ko menjadi serba salah, terpaksa ia mendekati Ang Chit-kong menantikan pelajaran apa yang hendak diturunkan padanya. Ang Chit-kong suruh Yo Ko jemput sebatang kayu, lalu dia jelaskan caranya sebuah tipu lihay dari Pak-kau-pang-hoat yang disebut ‘pang-tah-siang-kau’ atau sekali pentung dua anjing.
Dasar Yo Ko memang cerdas, sekali belajar lantas bisa, segera pula dia tunjukkan gerak tipu itu menurut cara-cara yang diajarkan Ang Chit-kong. Melihat gerak tipu serangan pentung pemukuI anjing ini sangat aneh dan nyata memang lihay, seketika Auwyang Hong menjadi susah mendapatkan jalan untuk mematahkannya. Setelah berpikir sejenak, kemudian baru dia katakan suatu gerak tipu juga pada Yo Ko. Yo Ko menurut, ia pertunjukkan menurut apa yang dikatakan Auwyang Hong.
“Bagus,” dengan tersenyum Ang Chit-kong memuji, “dan sekarang satu tipu lagi.”
Lalu ia pun ajarkan sebuah tipu pula pada Yo-Ko dari Pak-kau-pang-hoat. Dan begitulah seterusnya, kedua jago tua itu bertanding secara tidak langsung, mereka hanya menggunakan mulut saja dengan Yo Ko sebagai ‘penyambung lidah’. Karena sama lihaynya, sampai hari telah petang baru belasan jurus saja berlangsung, walau pun begitu, bagi Yo Ko sudah terlalu payah hingga keringatnya gemerobyos. Maka untuk sementara pertandingan ditunda.
Besok paginya pertandingan dilanjutkan lagi. Belum sampai lohor, 36 jurus ilmu pentung pemukuI anjing sudah selesai dikeluarkan Ang Chit-kong. Biar pun ilmu pentung itu hanya 36 jurus saja, tetapi perubahan selanjutnya tiap tipu gerakannya ternyata amat hebat dan tiada habis-habisnya. Sampai akhirnya, waktu yang dipakai berpikir Auwyang Hong untuk menangkis gerak serangan itu semakin panjang, bila mana pertandingan dilangsungkan sungguh-sungguh dan tipu serangan datangnya susul menyusul secara cepat, mana dia bisa menggunakan otaknya begitu bebas?
Sungguh pun demikian, harus diakui bahwa meski pun lama berpikir, tapi setiap kali tipu-tipu tangkisannya juga selalu luar biasa bagusnya, baik untuk menjaga diri mau pun buat balas menyerang, hal ini pun bikin Ang Chit-kong sangat kagum.
Begitulah pertandingan lain dari yang lain itu terus berlangsung selama tiga hari, sampai petang hari ke empat, Ang Chit-kong sudah katakan pada Yo Ko tipu perubahan terakhir dari 36 jurus ilmu pentung pemukul anjing yang disebut ‘boat-jau-keng-coa’ atau menyontek rumput mengejutkan ular. Ini adalah tipu ikutan terakhir dari Pat-kau-pang-hoat yang paling lihay, menurut teori ilmu silat sudah pasti tiada jalan buat mematahkannya, dengan sendirinya Auwyang Hong pun sukar hendak menangkisnya.
Malamnya ia guIang-guling tak bisa pulas, semalam suntuk ia peras otak memikirkan cara menangkis tipu terakhir Ang Chit-kong yang lihay itu. Besok paginya, sebelum Yo Ko bangun tiba-tiba terdengar Auwyang Hong telah berteriak-teriak:
“Ha, bisa, bisa, begini caranya! Nak, kau boleh gunakan tipu ini untuk mematahkan serangannya!”
Suaranya terdengar begitu bersemangat, tetapi juga tersengal-sengal. Mendengar suaranya rada aneh, waktu Yo Ko pandang muka orang, sungguh terkejutnya bukan buatan. Kiranya karena usia Auwyang Hong sudah lanjut, tapi karena Iwekang-nya terlatih dalam sekali, maka rambut berikut kumisnya hanya sedikit putih kelabu saja. Siapa tahu karena terlampau memeras otak semalam saja, tahu-tahu seluruh alis, kumis dan rambutnya kini menjadi putih semua, seketika orangnya seperti bertambah tua berpuluh tahun.
Berduka sekali hati Yo Ko melihat keadaan ini. Dia bermaksud memohon Ang Chit-kong agar jangan meneruskan pertandingan, tapi sebaliknya terus-menerus Auwyang Hong mendesak lagi, mau tak mau terpaksa dia pertunjukkan pula tipu ciptaan baru dalam semalam oleh Auwyang Hong ini. Demi nampak tipu baru ini, seketika muka Ang Chit-kong menjadi pucat bagaikan mayat. Memang ia sudah menggeletak di tanah dan sukar berkutik, kini entah mengapa dan dari mana datangnya tenaga, sekonyong-konyong dia melompat bangun terus menubruk ke arah Auwyang Hong sambil berteriak:
“Ha-ha-ha, Si Racun tua, Auwyang Hong, Lokiauhoa hari ini betul-betul takluk padamu!”
Dan begitu saling bergumul, Ang Chit-kong merangkul erat-erat tubuh Auwyang Hong. Terkejut sekali Yo Ko oleh kejadian itu. Dia sangka orang berniat hendak mencelakai ayah angkatnya, lekas ia tarik-tarik punggung pengemis tua itu, siapa tahu rangkulannya malah semakin kencang hingga tak dapat ditarik lepas sedikit pun.
“Ha-ha-ha, Auwyang Hong, si Racun tua, tak nyana kau bisa mendapatkan tipu serangan lihay yang baru ini, hari ini Lokiauhoa menyerah. Bagus, Auwyang Hong, bagus!” demikianlah Ang Chit-kong masih terus berteriak-teriak sambil terbahak-bahak.
Memang umur Auwyang Hong sudah tua sekali, ditambah lagi pertarungan sengit selama beberapa hari dan semalam suntuk memeras otak, hal ini sudah membikin semangatnya lemah dan tenaga habis. Sekarang tiba-tiba mendengar Ang Chit-kong berseru namanya “Auwyang Hong” sampai beberapa kali, mendadak seperti cahaya refleksi yang membalik, otaknya yang miring seketika menjadi waras kembali, kejadian selama berpuluh tahun tiba-tiba seperti sebuah cermin yang menerangi alam pikirannya dan seakan-akan terpentas di depan matanya.
“Ha-ha! Ya, ya! Aku adalah Auwyang Hong, aku Auwyang Hong! Ha-ha-haaa...!” demikian kemudian ia pun ketawa terbahak-bahak, suaranya lantang bagai bunyi genta dan sangat menusuk telinga.
Tampaklah kedua kakek ubanan saling rangkul-merangkul sambil tertawa terbahak-bahak tiada hentinya. Selang tidak lama kemudian, suara tertawa mereka makin lama makin rendah dan makin lemah, hingga akhirnya mendadak berhenti, lalu kedua orang tua itu tak bergerak lagi. Luar biasa kejut Yo Ko melihat keadaan ini.
“Ayah, ayah! Locianpwe, Lociapwe!” demikian ia berteriak-teriak, tetapi tiada seorang pun yang menyahut.
Waktu ia tarik lengan Ang Chit-kong, mendadak tubuh orang tua ini dengan gampang saja dapat ditariknya terus ambruk, nyata orangnya sudah tak bernyawa lagi. Ketika ia periksa Auwyang Hong, serupa saja, orang tua ini pun sudah berhenti bernapas. Meski pun suara tertawa kedua orang tadi sudah berhenti, tapi pada wajah mereka masih terlukiskan senyuman, di antara lembah gunung sayup-sayup masih terdengar juga suara tawa mereka yang berkumandang membalik.
Begitulah lelakon dua jago tua, Pak-kay dan Se-tok atau Si Pengemis dari Utara dan Si Racun dari Barat, satunya baik dan yang lain jahat, selama puluhan tahun mereka saling berkelahi dan tidak pernah ada yang terkalahkan, siapa duga kini bisa tewas bersama di puncak teratas Hoa-san. Selama hidup kedua orang itu saling membenci dan bermusuhan, tapi menjelang ajal sebaliknya saling rangkul sambil ketawa ter-bahak, rupanya benci dan dendam selama puluhan tahun itu telah tamat terbawa oleh suara tawa mereka yang terakhir!
Yo Ko malah menjadi bingung, teringat olehnya betapa Ang Chit-kong pernah tidur selama tiga hari tiga malam, sekarang kedua orang tua ini jangan-jangan juga mati buatan? Tetapi kalau melihat keadaannya, agaknya bukanlah mati palsu.
“Ahh, lebih baik anggap dia pura-pura, dari pada menyangkanya sungguh-sungguh,” demikian akhirnya Yo Ko mengambil keputusan.
Lalu ia pindahkan mayat kedua jago tua itu ke dalam goa, sedangkan ia sendiri menjaga di situ selama 7 hari 7 malam, sampai akhirnya wajah dua mayat itu sudah mulai berubah barulah pemuda ini mau percaya bahwa orang sudah mati sungguh-sungguh. Dia menangis tergerung-gerung, kemudian dia gali dua liang dalam goa itu dan mengubur kedua jago kosen dunia persilatan itu. Waktu keluar goa ia melihat bekas-bekas tapak kaki di atas salju di mana Ang Chit-kong menempur Auwyang Hong kini sudah membeku menjadi es. Bekas tapak kakinya masih, namun orangnya sudah masuk liang kubur.
Menghadapi bekas tapak kaki ini, Yo Ko jadi terbayang pada pertarungan kedua jago tua itu tempo hari, tanpa terasa ia berduka. Ia masuk goa lagi, di depan kuburan kedua jago tua itu ia berlutut dan menjura masing-masing empat kali.
“Ayah angkat meski hebat, tapi betapa pun juga memang masih selisih setingkat dengan Ang-locian-pwe. Pada saat Pak-kau-pang-hoatnya menyerang, ayah harus memeras otak berpikir sejenak baru bisa mematahkan tipu pukulannya, jika pertarungan itu berlangsung sungguh-sungguh, sudah tentu ia tak diberi kesempatan untuk berpikir semaunya!” demikian Yo Ko membatin. Sesudah menghela napas terharu, kemudian ia mulai mencari jalan buat turun ke bawah gunung.
Turunnya ke bawah gunung sekarang ini dilakukan Yo Ko dengan seenaknya saja. Ia pun tidak bedakan timur atau barat, utara atau selatan, yang terpikir olehnya hanyalah bumi seluas ini aku sendirilah yang sebatang-kara, biar aku terlunta-lunta ke mana saja, kalau sudah tiba ajalnya, biarlah di mana aku rebah, di situlah aku mati.
Meski tinggal di atas Hoa-san tidak lebih dari setengah bulan, namun bagi Yo Ko rasanya sudah lewat beberapa tahun. Pada waktu naik gunung ia merasa dirinya selalu dipandang hina orang dengan penuh rasa penyesalan, namun kini sewaktu turun gunung ia merasa segala keduniawian ini sama saja seperti awan yang terapung di udara, biarlah orang mau pandang berharga atau pandang hina, ada sangkut paut apa dengan aku? Begitulah dalam usianya yang semuda itu ternyata telah timbul semacam rasa benci pada sesamanya dan menganggap sepi mati-hidupnya sendiri.
Beberapa hari kemudian tibalah di hutan yang sepi di daerah Siamsay. Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara gemuruh larinya binatang dengan debu mengepul tinggi. Tidak berapa lama, beberapa ratus kuda liar kelihatan berlari lewat di hadapannya dengan cepat. Kuda-kuda liar yang senang hidup bebas tanpa kekangan apa pun ini membikin Yo Ko jadi kagum dan tertarik. Selagi ia ikut gembira oleh kelincahan kuda-kuda liar itu, tiba-tiba saja di belakangnya ada suara meringkik kuda lain yang lemah.
Waktu Yo Ko berpaling, ia melihat seekor kuda kurus menyeret sebuah kereta bermuatan kayu sedang mendatangi dengan perlahan-lahan melalui jalan raya. Agaknya kuda kurus ini tertarik oleh sebangsanya yang hidup merdeka itu, sedang dirinya sendiri harus susah menderita hidupnya, maka tadi meringkik sedih. Kuda ini sudah kurus lagi tinggi, tulang-tulang iganya terlihat nyata berderet-deret, bulu badan pun tak rata penuh borok, semua ini menjadikan rupanya jelek sekali.
Di atas kereta itu duduk seorang lelaki kasar. Mungkin jalan kuda kurus itu dianggapnya terlalu lambat, maka tiada hentinya ia mengayun cambuknya memecut terus. Selama hidup Yo Ko sendiri telah kenyang dihina dan dihajar orang. Sekarang mendadak melihat penderitaan kuda ini, aneh sekali, tanpa terasa timbul rasa simpatiknya, ia merasa ‘solider’ melihat kuda itu dipecut terus, saking terharu matanya merah basah.
“Hai, kau! Kenapa kau memecut kuda ini terus?” bentaknya gusar sambil menghadang di tengah jalan ketika kereta itu sudah dekat.
Melihat yang merintangi adalah pemuda dengan pakaian compang-camping dekil serupa orang minta-minta, lelaki kasar itu anggap sepi saja atas teguran itu.
“Lekas minggir, apa kau cari mampus?!” balasnya membentak. Lalu cambuknya diangkat, kuda kurus itu dihujani pecutan lagi.
Keruan Yo Ko tambah marah. “Jika kau pecut kuda ini lagi, segera kubunuh kau!” teriaknya sengit.
“Ha-ha-ha!” lelaki itu malah tertawa, berbareng pecutnya lantas menyabet ke atas kepala Yo Ko.
Tentu saja pecut yang tiada artinya ini tak mungkin bisa mengenai Yo Ko. Sekali pemuda ini mengulur tangannya, segera cambuk orang direbutnya, bahkan ia putar kembali pecut itu. Dengan menerbitkan suara “tarrr”, tiba-tiba leher lelaki tadi kena terlibat oleh pecutnya sendiri lalu kena diseret ke atas tanah, menyusul Yo Ko lantas menghujani orang dengan cambukan. Meski rupanya jelek, tapi kuda kurus itu sepertinya sangat cerdik. Melihat lelaki itu dihajar Yo Ko, binatang ini berjingkrak meringkik riang, malah ia gosok-gosokkan kepalanya pada Yo Ko sebagai tanda terima kasihnya.
“Pergilah kau ke sana hidup di alam bebas!” kata Yo Ko kemudian sesudah memutuskan tali penarik kereta sambil tepuk-tepuk punggung binatang itu dan menuding ke arah debu yang beterbangan karena lari gerombolan kuda liar tadi.
Tiba-tiba kuda kurus ini meringkik dan berdiri tegak, terus berlari cepat ke depan. Tapi mungkin saking lama menderita lapar, dan sekarang mendadak berlari keras hingga tenaga tak cukup, maka baru belasan meter berlari, tiba-tiba kaki belakangnya terasa lemas, lalu jatuh terbanting.
Yo Ko merasa kasihan, ia mendekati binatang itu dan mengangkatnya berdiri. Nampak si Yo Ko begitu perkasa, lelaki tadi ketakutan setengah mati. Begitu merangkak bangun, kereta dan kayunya tak dipikirkan lagi, segera ia lari terbirit-birit sambil berteriak-teriak minta tolong. Yo Ko merasa geli oleh kelakuan orang. Ia mencabut beberapa comot rumput segar dan memberi makan kuda kurus ini.
“Oh, kuda yang harus dikasihani, selanjutnya kau ikut padaku saja,” demikian kata Yo Ko sambil mengelus-elus punggung binatang ini.
Nyata karena penderitaan kuda itu, tanpa terasa sudah timbul simpatiknya yang senasib. Kemudian perlahan-lahan dia tuntun kuda itu menuju ke satu kota, dia beli sedikit bahan makanan kuda agar binatang ini bisa makan enak dan kenyang. Besok paginya kuda ini sudah kelihatan sehat kuat dan bersemangat, baru Yo Ko menungganginya dengan jalan perlahan-lahan.
Kuda buduk ini tadinya tak bisa lari. Bila tidak kesandung kakinya, tentu kepeleset jatuh. Siapa tahu semakin jauh berjalan semakin baik, sampai 7-8 hari kemudian, setelah diberi makan cukup hingga tenaganya penuh, mulai kelihatanlah kepandaiannya berlari secepat terbang. Tentu saja Yo Ko girang bukan main, dia menjadi tambah sayang dan memberi perawatan yang lebih baik.
Hari itu Yo Ko berhenti di kedai arak untuk tangsal perut dan menyuruh pelayan menyediakan semangkok arak. Mendadak kudanya mendekati mejanya sambil meringkik dan memandangi mangkok araknya seperti ingin minum. Yo Ko menjadi tertarik. Dia coba berikan araknya sambil mengelus leher binatang itu. Benar saja, kuda itu telah pentang mulut lebar-lebar, tanpa sungkan-sungkan sekejap saja semangkok arak sudah dilahapnya kering, kemudian ekornya men-jengkit-jengkit dan kakinya mengetok-ngetok, tampaknya binatang ini senang sekali.
Yo Ko menjadi makin tertarik. Dia suruh pelayan mengambil arak lagi, dan beruntun kuda itu menghabiskan belasan mangkok arak dan masih belum mau sudah. Karena pakaiannya compang-camping, rupanya pelayan kedai itu meragukan kemampuan Yo Ko membayar, maka waktu disuruh tambah arak lagi ia menolak.
Waktu perjalanan dilanjutkan, mungkin karena pengaruh arak, kuda itu berlari cepat seperti keranjingan setan, begitu cepat hingga pepohonan di pinggir jalan berkelebat lewat seperti terbang saja. Malah binatang ini seperti punya watak yang aneh, yakni tidak peduli apa saja, asal dilihatnya ada sesuatu binatang di depannya, pasti ia segera pentang kaki dan secepatnya mendahului ke depan.
Agaknya wataknya yang suka menang itu tidak mustahil disebabkan karena selama ini ia selalu dipandang rendah dan cukup menderita segala hinaan, maka kini begitu mendapat kesempatan ia justru ingin unjuk ketangkasannya yang tak mau kalah dengan kuda yang lain. Tabiat dogol demikian ini rupanya amat cocok dengan watak Yo Ko, maka satu orang dan satu kuda ini menjadi kawan yang sangat baik.
Tadinya Yo Ko merasa sangat masgul dan kosong, tetapi setelah mendapat kawan kuda yang membikin hatinya riang, betapa pun juga memang hati anak muda, tidak berapa hari kemudian ia sudah kembali gembira seperti sedia kala. Tanpa terasa sudah jalan beberapa hari. Akhirnya ia ambil jalan lama melalui Liong-kik-ce terus menuju ke Hing-ci-koan. Sepanjang jalan bila Yo Ko ingat waktu menggoda Liok Bu-siang dan permainkan Li Bok-chiu, ia tertawa geli sendiri di atas kudanya.
Suatu hari waktu lohor, sepanjang jalan selalu Yo Ko ketemu kawanan pengemis yang berjalan secara ber-kelompok. Melihat sikap mereka itu jelas banyak di antaranya adalah golongan jago silat yang tinggi. Tiba-tiba Yo Ko terkesiap, pikirnya: “Jangan-jangan percekcokan antara Liok Bu-siang dan kawanan pengemis ini masih belum selesai? Atau boleh jadi Li Bok-chiu hendak tentukan mati-hidupnya dengan kawanan pengemis yang lagi himpun kekuatan ini? Ha, keramaian ini tidak boleh kulewatkan!”
Teringat olehnya bahwa Ang Chit-kong adalah Pangcu kaum pengemis yang dulu, meski tidak tertarik dengan kawanan pengemis itu, tetapi teringat akan kesatriaan Ang Chit-kong yang pernah dia lihat, tanpa terasa timbul juga perasaan persaudaraannya dengan Kay-pang. Ia pikir bila ada kesempatan seharusnya aku beri-tahukan mereka tentang wafatnya Ang Chit-kong di atas Hoa-san. Setelah berjalan tak lama lagi, dia lihat kawanan pengemis itu makin lama makin banyak. Kalau di antara pengemis itu ada yang menggendong kantong kain, pengemis-pengemis lain pada umumnya lantas sangat hormat padanya.
Sebaliknya para pengemis itu rada-rada heran melihat macamnya Yo Ko. Apa bila melihat dandanan Yo Ko, memang tiada ubahnya seperti pengemis, tetapi di antara anggota Kay-pang itu sekali-kali tiada orang yang naik kuda. Namun Yo Ko tak mempedulikan mereka, ia tetap melarikan kudanya dengan perlahan. Tiba-tiba saja terdengar suara mencicitnya burung, dua ekor rajawali kelihatan menukik ke depan sana.
“Ah, Oey-pangcu sudah datang, malam ini besar kemungkinan akan ada rapat,” terdengar satu pengemis di samping Yo Ko berkata.
“Entah Kwe-tayhiap ikut datang tidak?” sela seorang pengemis lain.
“Tentu datang,” ujar pengemis yang pertama tadi. “Hubungan suami-isteri mereka adalah seperti timbangan dengan anak batunya, yang satu tidak bisa kehilangan yang lain.”
Selagi hendak meneruskan perkataannya, dilihatnya Yo Ko menahan kuda sedang mengawasi mereka, maka pengemis itu melotot sekejap pada Yo Ko, lalu tutup mulut tak jadi menyambung. Kiranya begitu mendengar nama Kwe Ceng dan Oey Yong, seketika hati Yo Ko menjadi terperanjat, cuma wataknya sekarang sudah jauh berbeda dari dulu, maka diam-diam dia tertawa dingin: “Hmm, dahulu aku makan menganggur di rumahmu hingga kenyang dihina dan dipermainkan kalian. Tatkala itu aku masih kecil dan belum punya kepandaian, maka tidak sedikit pahit getir yang kurasakan. Tetapi kini aku anggap jagat ini sebagai rumahku, tak perlu lagi aku mengandalkan kau!”
Tiba-tiba terpikir lagi olehnya: “Ahh, lebih baik aku berpura-pura jatuh sengsara dan pergi minta pertolongan mereka, ingin kulihat cara bagaimana mereka melayani aku.”
Lalu dicarinya tempat yang sepi, dia bikin rambutnya menjadi kusut semrawut, dia jotos mukanya sendiri satu kali sehingga ujung mata kirinya matang biru, ia cakar lagi mukanya sendiri hingga babak belur. Memang pakaiannya sudah tidak necis, sekarang sengaja dirobeknya pula, bahkan ia bergulingan beberapa kali di tanah hingga tambah kotor. Dengan macamnya ini ditambah berjodoh dengan kuda buduk yang jelek, maka tampak menjadi benar-benar seorang rudin yang sengsara dan tinggal mampus saja.
Selesai menyamar, dengan berjalan pincang dan bikinan Yo Ko kembali ke jalan besar, ia tidak tunggangi kudanya lagi melainkan jalan bersama kawanan pengemis. Kadang-kadang ada pengemis yang menegur apakah ikut pergi ke rapat besar. Yo Ko tidak dapat menjawab, ia hanya melongo saja. Tetapi ia tetap campurkan dirinya di antara kawanan pengemis dan meneruskan perjalanan bersama mereka.
Ketika hari telah magrib, sampailah rombongan di depan sebuah kelenteng besar yang bobrok. Dua ekor rajawali terlihat hinggap di atas pohon besar, sedangkan Bu-si Hengte sibuk memberi makan, yang satu membawa nampan dan yang lain melemparkan potongan daging. Tempo hari waktu dua kakak-beradik she Bu itu menempur Li Bok-chiu bersama Kwe Hu, pernah juga Yo Ko menonton dari samping, cuma waktu itu hanya Kwe Hu seorang yang dia perhatikan maka terhadap kedua pemuda ini tak begitu diurusnya.
Kini ketika berhadapan lagi, Yo Ko melihat gerak-gerik Bu Tun-si cukup tangkas dengan semangat penuh, sebaliknya Bu Siu-bun enteng dan gesit, lincah tak pernah diam. Tun-si mengenakan baju satin berwarna ungu tua, sedangkan Siu-bun berbaju satin warna biru safir, pinggang mereka pakai ikat kain sutera bersulam, maka tampaknya menjadi gagah dan cakap.
Yo Ko coba mendekati mereka. “Ke... kedua Bu-heng, ter... terimalah hormatku, apa... apa selama ini... baik-baik saja?” demikian ia menyapa dahulu dengan suara tak lancar.
Tatkala itu baik di dalam mau pun di luar kelenteng rusak itu telah penuh berjubel dengan kawanan pengemis yang semuanya berpakaian penuh tambal sulam. Dengan dandanan Yo Ko yang sudah disiapkannya itu, maka tidaklah menyolok ia bercampur di antara orang banyak. Dan karena sapaan Yo Ko tadi, Bu Tun-si balas menghormat dengan sikap sopan. Ia tak kenal siapakah orang yang menegur dirinya ini, maka dengan sinar mata yang tajam ia coba mengamat-amati.
“Siapakah saudara yang terhormat ini, maafkan aku tidak ingat Iagi,” demikian sahutnya kemudian.
“Ahh, namaku yang rendah ini tiada harganya buat disebut, Siaute... Siaute hanya mohon bertemu dengan Oey-pangcu,” sahut Yo Ko merendah.
Mendengar suara orang seperti sudah pernah dikenalnya dan selagi Tun-si hendak tanya lebih jauh, tiba-tiba saja didengarnya dari dalam kelenteng itu ada suara orang memanggil.
“Toa-Bu-koko (engkoh Bu yang tua), ikal kucirmu tak diikat dengan baik, coba lihat, sudah kusut lagi,” demikian kata suara nyaring itu.
Karena mendengar suara ini, lekas-lekas Bu Tun-si meninggalkan Yo Ko terus memapak ke sana. Waktu Yo Ko berpaling, ia melihat seorang gadis jelita berbaju hijau muda dengan langkah lebar sedang keluar dari dalam kelenteng, Kedua alis gadis ini panjang lentik, hidungnya yang mancung sedikit menjengat, mukanya putih, pipinya merah laksana pauh dilayang, siapa lagi dia kalau bukan puterinya Kwe Ceng, Kwe Hu adanya.
Dandanan Kwe Hu sebenarnya tidak seberapa mewah, hanya serenceng kalung mutiara yang dipakai pada lehernya yang mengeluarkan sinar mengkilap hingga wajah si gadis tampak lebih molek. Hanya sekejap Yo Ko memandang si gadis, segera ia merasa dirinya terlampau kotor dan jelek, maka tak berani ia memandang terus.
Sementara itu Bu-si Hengte sudah papak datangnya Kwe Hu, mereka menyanjung-nyanjung sebisanya. Apa bila tindak tanduk Bu Tun-si sedikit membawa sifat angkuh dan rada pegang derajat, sebaliknya Bu Siu-bun suka me-rendah menjilat asal dapat pujian si gadis. Sesudah berjalan pergi beberapa langkah, tiba-tiba Tun-si teringat lagi pada diri Yo Ko. Ia menoleh dan bertanya:
“Apakah kau datang untuk menghadiri ‘Eng-hiong-yan’ (perjamuan kaum kesatria)?”
Sebenarnya Yo Ko tidak paham apa ‘Eng-hiong-yan’ yang dikatakan orang itu, akan tetapi dengan sekenanya ia mengiakan saja. Karena itu Tun-si memanggil seorang pengemis kemudian berpesan padanya:
“Sobat ini hendaklah dilayani baik-baik, besok ajak dia pergi ke Hing-ci-koan sekalian.” Habis ini, dia asyik bicara sendiri dengan Kwe Hu dan tidak urus Yo Ko Iagi.
Karena pesan itu, lekas pengemis itu datang menyapa Yo Ko dan menanya nama orang. Oleh Yo Ko dijawab dengan terus terang. Di kalangan Bu-lim atau dunia persilatan, Yo Ko adalah orang yang tak dikenal namanya, dengan sendirinya pengemis itu pun tidak pernah mendengar namanya, maka anak muda ini tidak diperhatikan.
Pengemis itu mengaku bernama Ong Capsah atau Ong nomor 13, karena urut-urutannya dalam keluarga nomor 13, dan she Ong, maka dipanggil Ong Capsah. Di Kay-pang ia tergolong anak murid berkantong dua. Karena ilmu silat Ong Capsah tidak tinggi, tingkatannya pun rendah, hanya pintar bicara dan bisa bekerja cepat, maka anak murid Kay-pang tingkatan tinggi menugaskan dia sebagai penyambut tamu.
“Dari manakah asalnya Yo-toako?” demikian Ong Capsah bertanya lagi.
“Baru saja datang dari barat-laut,” sahut Yo Ko.
“Ehh, apakah Yo-toako anak murid Coan-cin-pay?” tanya Ong Capsah.
“Bukan,” sahut Yo Ko tanpa pikir sambil menggelengkan kepala.
Ya, pemuda ini sudah terlalu benci pada Coan-cin-kau, bila mendengar nama itu saja dia sudah kepala pusing, apa lagi disuruh mengaku sebagai anak muridnya.
“Dan apakah Yo-toako membawa Eng-hiong-tiap (kartu undangan kesatria)?” tanya Ong Cap-sah pula.
Yo Ko jadi tercengang, ia tak mengerti apa ‘Eng-hiong-tiap’ itu? “Siaute biasanya hanya luntang-Iantung merantau di Kangouw, mana bisa disebut sebagai Enghiong?” demikian sahutnya kemudian, “Cuma dahulu pernah satu kali bertemu muka dengan Oey-pangcu, maka kini sengaja datang menemuinya lagi untuk meminjam sedikit sangu buat pulang kampung.”
Ong Capsah mengerutkan kening mendengar keterangan itu. “Oey-pangcu sedang sibuk menerima para kesatria dari segenap penjuru, mungkin tiada waktu buat menerima kau,” sahutnya kemudian sesudah berpikir sejenak.
Kedatangan Yo Ko kali ini memang sengaja pura-pura rudin, semakin orang memandang rendah padanya, semakin senang hatinya. Oleh karena itu ia justru sengaja mohon belas kasihannya Ong Capsah agar suka membantu.
Salah satu sikap yang dijunjung tinggi orang-orang Kay-pang adalah baik budi dan setia kawan, apa lagi anggota Kay-pang itu semuanya berasal dari kaum tak punya, selamanya mereka suka membantu yang lemah dan menolong yang susah, sekali-kali tidak boleh memandang hina pada orang miskin. Oleh karena itulah, demi nampak Yo Ko memohon dengan sangat, mau tak mau Ong Capsah menyanggupinya.
“Baiklah, Yo-hengte, sekarang kau makan yang kenyang dulu, besok pagi kita berangkat bersama ke Hing-ci-koan,” katanya kemudian “Di sana nanti aku melapor kepada Pangcu dan terserah bagaimana keputusan beliau. Baik tidak kalau begini?”
Tadinya Ong Capsah menyebut Yo Ko sebagai “Toako” atau saudara tua, tetapi sesudah mendengar pemuda ini bukan orang yang diundang menghadiri Eng-hiong-yan, pula umur dirinya lebih tua, maka ia ganti memanggil orang sebagai Yo-hengte atau adik Yo.
Di lain pihak karena orang telah mau membantunya, berulang-ulang Yo Ko menghaturkan terima kasihnya. Kemudian Ong Capsah mengajak Yo Ko masuk ke dalam kelenteng dan membawakan daharan seperlunya. Menurut peraturan Kay-pang, sekali pun waktu pesta pora, cara makan para anggotanya tetap harus bikin kocar-kacir segala macam daharan, baik ayam, daging, ikan dan lain-lain dan baru dimakan kalau sudah berwujud seperti barang restan orang.
Cara ini adalah tanda bahwa ‘kacang tak pernah lupa pada lanjarannya’, artinya tak boleh lupa pada sumbernya, yaitu sekali pengemis tetap pengemis, baik hidupnya mau pun cara makannya. Namun terhadap tetamu, makanan yang mereka suguhkan adalah biasa dan lengkap.
Begitulah, selagi Yo Ko makan seorang diri, tiba-tiba matanya terbeliak, dia melihat Kwe Hu masuk lagi dari luar dengan muka berseri-seri. Waktu gadis itu melihat Yo Ko sedang makan nasi di tepi patung Budha, tanpa melirik lagi ia ajak bicara Bu Siu-bun dan Bu Tun-si.
“Baiklah, kita berjalan malam dan berangkat ke Hing-ci-koan,” demikian terdengar Siu-bun berkata. “Aku pergi mengeluarkan kuda merahmu.”
Ketiga orang itu sembari bicara bertindak ke belakang. Tidak berapa lama, sesudah membawa bekal dan senjata, mereka keluar lagi dari kelenteng itu, lantas terdengar suara derap kuda yang riuh, nyata ketiga orang itu sudah berangkat.
Dengan ter-mangu Yo Ko mengikuti derap kuda yang sayup-sayup mulai menjauh itu, akan tetapi sepasang sumpitnya masih tertancap di dalam mangkok sayur, dia tidak tahu perasaannya waktu itu suka atau duka, apa sedih atau marah?
Besok paginya Ong Capsah datang membawanya pergi ke Hing-ci-koan. Sepanjang jalan kecuali orang-orang Kay-pang sendiri, tidak sedikit pula tokoh-tokoh Bu-lim yang mereka jumpai, baik laki-laki mau pun perempuan, tua atau muda, ada yang berperawakan gagah tegap, ada yang kurus kecil, akan tetapi semua orang jalannya cepat dan kuat, agaknya semuanya diundang untuk menghadiri apa yang disebut Eng-hiong-yan atau perjamuan kesatria.
Yo Ko sendiri tidak tahu apa itu Eng-hiong-yan dan Eng-hiong-hiap. Ia menduga meski pun ditanya tidak akan Ong Capsah mau menerangkan, maka dia pun tidak merecoki urusan itu, sepanjang jalan dia hanya pura-pura bodoh dan berlagak dungu saja. Petangnya Yo Ko dan Ong Capsah sampai di Hing-ci-koan. Meski kota Hing-ci-koan ini adalah tempat yang penting dalam arti kemiliteran, namun kotanya sendiri ternyata tak begitu ramai.
Ong Capsah membawa Yo Ko melalui kota itu dan berjalan lagi 7-8 li, akhirnya sampailah di sebuah perkampungan besar dengan gedung berderet-deret dilingkungi oleh beberapa ratus pohon waringin yang rindang. Ke dalam kampung inilah para kesatria itu masuk. Perkampungan itu begitu besar dengan gedung-gedungnya yang sambung menyambung dan berjajar-jajar, tampaknya kalau hanya tetamu beberapa ribu saja masih cukup luang.
Ong Capsah sangat rendah kedudukannya dalam Kay-pang. Ia tahu pada saat itu Pangcu mereka terlalu sibuk, sudah tentu ia tidak berani laporkan permintaan Yo Ko yang hendak ‘meminjam sangu’ segala. Maka setelah atur tempat tidurnya Yo Ko dan sediakan makan, kemudian ia sendiri pun pergilah mencari kawannya yang lain.
Setelah makan, Yo Ko melihat gedung yang begini megahnya dengan centeng yang tidak terhitung banyaknya hilir mudik melayani tetamu, ia merasa heran siapakah tuan rumahnya, dan kenapa begini besar pengaruhnya? Sementara itu dapat didengar di sampingnya ada orang sedang berkata:
“Suami isteri cengcu sendiri sedang menyambut tetamu, marilah kita juga pergi melihat gerangan siapa kesatria yang datang ini.”
Sementara itu di luar sana terdengar suara tambur berdentuman, lalu musik pun berbunyi, para centeng berbaris di kedua samping, upacara pembukaan ternyata sangat meriah dan khidmat. Tampak dari belakang pintu muncul satu laki-laki dan satu perempuan yang semuanya berusia antara 40 tahun, yang laki-laki tinggi kekar memakai jubah sulam, bibirnya sedikit berkumis, kereng berwibawa. Sedang yang perempuan berkulit putih bersih seperti wanita bangsawan.
“lni adalah Liok-cengcu dan itu Liok-hujin,” demikian Yo Ko dengar pembicaraan di antara tetamu yang hadir.
Di belakang kedua orang ini sepasang suami isteri, seketika hati Yo Ko terkesiap demi nampak suami isteri yang di belakang ini sehingga mukanya terasa panas. Mereka bukan lain Kwe Ceng dan Oey Yong adanya. Selama beberapa tahun tidak berjumpa tampaknya Kwe Ceng lebih sabar lagi, sedang Oey Yong bermuka terang dan tersenyum-senyum, tampaknya semakin montok dari pada dahulu waktu di Tho-hoa-to.
Kwe Ceng mengenakan pakaian terbuat dari kain kasar, sebaliknya Oey Yong memakai kain sutera merah jambon, namun sebagai Pangcu dari Kay-pang, menurut tradisi kaum pengemis, terpaksa ia berikan beberapa tambalan pada bajunya di tempat yang tak terlalu menyolok. Di belakang Kwe Ceng dan Oey Yong ikut Kwe Hu dan Bu-si Hengte. Tatkala itu ruangan besar itu terang benderang dengan api lilin, di bawah cahaya api lilin, gadis itu tampak lebih cantik molek dan pemudanya gagah ganteng.
“lni adalah Kwe-tayhiap dan itu Oey-pangcu!”
“Dan nona yang cantik itu siapa lagi?”
“Puteri Kwe-tayhiap dan Oey-pangcu!”
“Dan kedua pemuda itu apa puteranya?”
“Bukan, tapi muridnya!”
Begitulah percakapan di antara para tetamu sambil tunjuk sini dan tuding sana. Yo Ko tak ingin berjumpa dengan Kwe Ceng suami isteri di depan orang banyak, maka ia sengaja sembunyi di belakang seorang lelaki tinggi besar untuk mengintip. Sementara itu, di bawah iringan musik, dari luar tampak masuk empat orang Tojin atau imam. Melihat imam ini, seketika timbul semacam rasa aneh di dalam hati Yo Ko.
Kiranya yang paling depan adalah seorang imam yang sudah ubanan rambut alisnya, mukanya berwarna merah hangus, dia bukan lain Kong-ling-cu Hek Tay-thong, satu di antara Coan-cin-chit-cu, sedang di belakangnya adalah imam wanita tua ubanan juga, imam wanita ini belum pernah dikenal Yo Ko. Dan di belakang mereka ini ikut dua imam setengah umur dengan jalan berjajar, mereka adalah Thio Ci-keng dan In Ci-peng. Dengan cepat Liok-ceng-cu suami isteri menyambut imam wanita itu sambil menjura dan memanggilnya sebagai Suhu, menyusul serta Kwe Ceng suami isteri, Kwe Hu dan Bu-si Hengte juga maju memberi hormat.
Telinga Yo Ko cukup tajam, maka percakapan antara para tetamu itu dapat pula diikutinya dengan terang.
“lmam wanita tua ini adalah pendekar wanita Coan-cin-kau, dia she Sun bernama Put-ji,” demikian terdengar kata seorang tua.
“Aha, kiranya dialah Jin-ceng Sanjin yang namanya tersohor di daerah utara dan selatan sungai!” ujar tamu yang lain.
“Ya, dia adalah Suhu Liok-hujin, sedang ilmu silat Liok-ceng-cu sendiri bukan belajar dari dia,” kata si orang tua tadi.
Ternyata Liok-cengcu ini bernama Khoan-eng. Ayahnya bernama Liok Seng-hong adalah murid Oey Yok-su, ayah Oey Yong, maka bila diurut-urut, kedudukan Liok-cengcu masih lebih rendah satu tingkat dari pada Kwe Ceng dan Oey Yong. Sedangkan Liok-hujin, isteri Liok Khoan-eng, Thia Yao-keh, adalah muridnya Sun Put-ji. Dahulu Thia Yao-keh pernah mendapat pertolongan dari Kwe Ceng, Oey Yong dan orang-orang Kay-pang sewaktu ia mengalami mara bahaya. Oleh sebab itu ia merasa utang budi terhadap orang-orang Kay-pang.
Kini Kay-pang menyebarkan undangan kepada kestria di seluruh jagat dan mengadakan perjamuan besar menjelang rapat raksasa dari Kay-pang, untuk itu Liok Khoan-eng suami isteri telah memikul semua biaya itu dan mengadakan perjamuan di tempat kediamannya. Sekali pun perjamuan ini mungkin akan memakan setengah dari kekayaan mereka, namun Liok Khoan-eng adalah seorang gagah yang terbuka tangannya, dengan sendirinya hal demikian ini tak dipikir olehnya.
Begitulah, maka sesudah menjalankan penghormatan, lalu Kwe Ceng ikut Hek Tay-thong dan Sun Put-ji ke ruangan pendopo untuk diperkenalkan kepada para kesatria yang hadir.
“Khu, Ong dan Lauw para Suheng sudah menerima kartu undangan Oey-pangcu, mereka bilang seharusnya memenuhi undangan, cuma belakangan ini badan Lauw-suheng kurang sehat dan Ma-suheng harus bantu dia menjalankan tenaga penyembuhan, maka terpaksa tidak dapat melakukan perjalanan ke sini, harap Oey-pangcu suka memaafkan,” demikian terdengar Hek Tay-thong berkata sambil mengelus jenggotnya.
“Ahh, para cianpwe itu terlalu merendah,” sahut Oey Yong.
Harus diketahui meski usia Oey Yong masih muda, tetapi dia adalah pemimpin dari suatu organisasi besar Kay-pang, dengan sendirinya Hek Tay-thong dan lain-lain sangat hormat padanya. Kwe Ceng sendiri sudah sejak mudanya kenal dengan In Ci-peng, kini bisa berjumpa pula, sudah tentu mereka sangat girang dan mengobrol dengan asyiknya.
Lekas-lekas Liok-cengcu memerintahkan supaya perjamuan dimulai. Segera para tetamu mengambil tempat duduk masing-masing, maka suasana di ruangan pendopo itu menjadi ramai luar biasa. In Ci-peng sendiri lagi longak-longok kian kemari seperti sedang mencari seseorang di antara orang banyak.
“ln-sute, entah orang she Liong itu ikut hadir atau tldak?” mendadak Ci-keng berkata lirih sambil tersenyum dingin.
Berubah hebat air muka Ci-peng karena sindiran itu, namun ia tak menjawab.
“Kesatria she Liong yang mana? Apakah sahabat kalian berdua?” tanya Kwe Ceng, nyata tak diketahuinya bahwa orang yang mereka bicarakan ialah Siao-liong-li.
“Dia sahabat In-sute, aku sendiri mana berani bergaul dengan dia,” sahut Ci-keng.
Melihat sikap dua imam ini rada aneh, Kwe Ceng pun tahu di dalamnya tentu tersangkut urusan-urusan lain, maka ia pun tidak menanya lebih jauh. Tiba-tiba saja, di antara orang banyak itu Ci-peng dapat melihat Yo Ko, seketika tubuhnya bergetar seperti kena disambar petir. Kiranya disangkanya apa bila Yo Ko berada di situ, dengan sendirinya Siao-liong-li juga datang.
Ketika Kwe Ceng dan Ci-keng turut memandang ke arah yang menarik perhatian Ci-peng itu hingga kesamplok pandang dengan Yo Ko, seketika mereka pun tercengang. Dalam kejutnya Kwe Ceng merasa girang pula, maka ia lantas mendekati anak muda itu sambil menarik tangannya.
“He, Ko-ji, kiranya kau juga datang di sini?” demikian ia menyapa. “Tadinya aku kuatir kau terlantarkan pelajaranmu maka tak berani mengundang kau, kini gurumu sudah membawa kau ke sini, ini baik sekali.”
Kiranya karena tak lancarnya lalu lintas jaman dulu, maka urusan tentang Yo Ko berontak keluar dari Coan-cin-pay, Kwe Ceng yang tinggal jauh di pulau Tho-hoa-to sedikit pun tak mendapat kabar.
Kehadiran Ci-keng ke Eng-hiong-yan kali ini sebetulnya justru akan merundingkan urusan itu dengan Kwe Ceng, siapa duga di sini malah kepergok dengan Yo Ko. Semula ia kuatir Kwe Ceng percaya pada ocehan Yo Ko secara sepihak, tetapi demi mendengar apa yang dikatakan Kwe Ceng tadi dia pun tahulah bahwa mereka pun baru pertama kali bertemu. Maka dengan muka merah padam Ci-keng menengadah sambil berkata:
“Ada kepandaian apa dan kebajikan apa pada diriku? Mana berani aku menjadi guru Yo-ya?”
Kaget sekali Kwe Ceng oleh kata-kata ini. “Apa? Mengapa Thio-suheng berkata demikian? Apakah anak kecil itu tidak mau menutul ajaranmu?” tanyanya cepat.
Melihat ruangan pendopo ini penuh dengan tetamu, bila sampai urusan itu diceritakan hingga terjadi perdebatan dengan Yo Ko, rasanya hal ini bisa melenyapkan pamor Coan-cin-kau, maka Ci-keng tak mau menjawab melainkan tertawa dingin saja.
Di lain pihak, waktu Kwe Ceng memeriksa keadaan Yo Ko, ia lihat matanya bengkak dan mukanya babak belur, pakaiannya compang-camping dan kotor, terang sekali bocah ini kenyang merasakan penderitaan yang tidak ringan. Kwe Ceng amat pedih, sekali tarik ia rangkul kencang Yo Ko dalam pelukannya. Begitu ditarik Yo Ko segera kumpulkan seluruh tenaga dalamnya untuk melindungi tempat berbahaya di tubuhnya. Siapa tahu Kwe Ceng benar-benar sayang dan kasihan padanya dan tiada maksud hendak mencelakainya, malahan paman angkat ini berseru pada Oey Yong:
“Yong-ji, lihatlah siapa ini yang datang!”
Oey Yong tercengang juga demi nampak Yo Ko. Berlainan dengan Kwe Ceng yang amat kegirangan bisa berjumpa dengan Yo Ko, sebaliknya ia sambut orang dengan adem saja.
“Bagus, kiranya kau pun datang,” demikian sahutnya tawar.
Dengan perlahan Yo Ko melepaskan diri dari pelukan Kwe Ceng. “Tubuhku kotor, jangan sampai membikin kumal pakaianmu,” demikian katanya pada sang paman. Kata-kata ini diucapkan dengan dingin, bahkan bernada menyindir.
Namun hal itu tak terpikir oleh Kwe Ceng, ia hanya merasa terharu, waktu itu juga teringat olehnya: “Anak ini sebatang-kara dan yatim piatu, tentu sudah kenyang merasakan pahit getir.”
Karena itu ia tarik tangan Yo Ko dan mengajak agar pemuda ini duduk satu meja dengan dirinya. Yo Ko duduk di tempat yang terpencil, maka ia pun menolak.
“Biarlah aku duduk di sini saja, silakan Kwe-pepek pergi menemani tetamu,” sahut Yo Ko dingin.
Kwe Ceng merasa tak enak harus meninggalkan tetamu yang demikian banyak, maka ia tepuk perlahan pundak si Yo Ko, lalu pergilah dia ke tempat duduknya semula. Setelah tiga keliling para tamu mengeringkan isi cawan, sebagai ketua Oey Yong segera mulai angkat bicara:
“Besok adalah hari diadakannya Eng-hiong-yan, sekarang masih ada beberapa kawan dari berbagai penjuru yang belum datang, mungkin besok siang baru bisa tiba. Maka kini silakan para hadirin makan minum sepuasnya, besok baru kita bicarakan urusan pokok.”
Selesai pidato ini, seketika para tamu bersorak sorai kemudian perjamuan lantas dimulai. Sesudah perjamuan bubar, dengan sendirinya para tetamu itu ada penyambutnya sendiri-sendiri yang mengantarkan pergi mengaso. Maka kelihatanlah Ci-keng berbisik-bisik kepada Hek Tay-thong dan imam tua ini balas mengangguk-angguk, lalu Ci-keng berdiri dan membungkuk memberi hormat kepada Kwe Ceng.
“Kwe-tayhiap, Pinto merasa sudah mengecewakan dalam melaksanakan tugas berat yang pernah diberikan kepadaku. Sungguh hal ini sangat memalukan, maka hari ini sengaja datang buat menerima hukuman atas dosaku,” demikian kata Ci-keng.
“Ah, Thio-suheng terlampau merendah,” sahut Kwe Ceng segera sambil balas menghormat. “Marilah kita bicara di kamar baca saja, jika ada perbuatan anak kecil yang bikin Thio-suheng marah, pasti Siaute akan memberi hukuman yang setimpal kepadanya agar amarah Thio-suheng bisa padam.”
Beberapa kata Kwe Ceng ini diucapkan dengan suara lantang. Karena jarak Yo Ko tidak begitu jauh, maka semuanya dapat didengarnya dengan cukup terang. Diam-diam dalam hati pemuda ini pun sudah ambil suatu keputusan:
“Jika dia mendamperat sepatah kata saja padaku, segera aku bangkit dan angkat kaki dari sini dan untuk selanjutnya tak mau bertemu muka lagi dengan dia. Bila dia pukul aku, meski ilmu silatku bukan tandingannya, pasti aku akan adu jiwa juga dengan dia.”
Karena telah mengambil keputusan demikian, maka Yo Ko menjadi lebih tenang, tidak lagi ketakutan seperti waktu bertemu dengan Thio Ci-keng untuk pertama kalinya dahulu. Dan demi nampak Kwe Ceng menggapai padanya, maka ia pun ikut di belakang mereka. Tatkala itu Kwe Hu bersama Bu-si Hengte juga sedang makan di salah satu meja makan. Semula gadis ini tak kenal lagi pada Yo Ko. Belakangan setelah ayah-bundanya mengenali pemuda itu, barulah Kwe Hu ingat bahwa pemuda itu bukan lain adalah kawan bermainnya waktu kecil di Tho-hoa-to.
Dasar paras anak muda memang cepat berubah, apa lagi sudah sekian tahun berpisah, lagi pula Yo Ko sengaja menyamar dengan rupa yang sengsara dan bercampur di antara orang banyak, tentu saja Kwe Hu tak mengenalinya. Kini meihat Yo Ko telah kembali, tanpa terasa hatinya jadi terguncang, terkenang olehnya kejadian dahulu di Tho-hoa-to di mana karena urusan jangkrik sudah terjadi perkelahian, entah kejadian ini masih membuat dendam pemuda itu atau tidak? Tapi bila dilihat keadaan Yo Ko yang begitu rudin, lesu dan kotor, amat jauh bedanya dengan wajah Bu-si Hengte yang ganteng dan bersemangat, timbul juga perasaan kasihannya.
“Ayah sudah mengirim dia belajar silat pada Coan-cin-pay, entah bagaimana dengan hasil pelajarannya dibanding kita?” demikian ia bisiki Bu Tun-si.
“llmu silat Suhu tiada tandingannya di kolong langit, pula kepandaian Subo (ibu guru) diperoleh dari ajaran Engkong luarmu, mana bisa dia dibandingkan dengan kita?” tiba-tiba Bu Siu-bun menyambung pertanyaan si nona sebelum sang kakak menjawab.
“Ya, dasarnya memang juga tidak terpupuk baik, agaknya sukar juga ia hendak mendapat kemajuan,” kata Kwe Hu sambil meng-angguk. “Tapi kenapa keadaannya menjadi begitu mengenaskan.”
“Para imam itu melotot terus padanya seperti hendak menelannya mentah-mentah, dasar anak she Yo ini tabiatnya buruk, tentu dia telah melakukan suatu keonaran lagi di sana,” demikian kata Siu-bun.
Begitulah tiga orang ini berbicara sendiri. Waktu mendengar Kwe Ceng mengundang Hek Tay-thong dan lain-lain ke kamar baca buat bicara dan bilang Yo Ko akan diberi hukuman setimpal pula, Kwe Hu menjadi heran dan tertarik.
“Ayo, lekas kita mendahului sembunyi dulu di kamar baca itu supaya bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan,” segera gadis ini mengajak.
Tapi Bu Tun-si takut konangan sang Suhu dan didamperat, maka ia tak berani, sebaliknya Bu Siu-bun lantas berteriak akur, malahan ia mendahului bertindak pergi.
“Kau memang selalu tak turut perkataanku,” Kwe Hu mengomeli Tun-si.
Nampak si nona rada marah, namun malah menambah kecantikannya yang menggiurkan, seketika hati Tun-si memukul keras. Dia tidak berani membantah lagi, maka terpaksa ikut di belakang Kwe-hu. Dan baru saja ketiga orang itu sembunyi di belakang rak buku, Kwe Ceng dan Oey Yong sudah datang dengan membawa Hek Tay-thong, Sun Put-ji, Thio Ci-keng dan In Ci-peng berempat, lalu mengambil tempat duduknya sendiri-sendiri.
“Ko-ji, kau pun duduk sana!” kata Kwe Ceng sesudah Yo Ko ikut masuk.
“Tidak, aku tidak usah,” sahut Yo Ko. Sekali pun nyalinya besar, tetapi menghadapi enam tokoh dunia persilatan ini, tidak urung hatinya berdebar-debar tak tenteram.
“Anak kecil kenapa kurang ajar? Berani kau bandel terhadap Suhu?” demikian Kwe Ceng lantas mendamperat sambil menarik muka, “Tidak lekas kau berlutut menjura minta maaf pada Susiokco (kakek guru), Suhu dan Susiok!”
Kwe Ceng berhati jujur, dia pandang Yo Ko seperti anaknya sendiri, pula terhadap Coan-cin-chit-cu biasanya dia sangat menaruh hormat, maka tanpa bertanya dia pikir tentu anak muda ini yang telah berbuat salah. Sebenarnya kalau menurut adat istiadat jaman itu, ikatan peraturan antara ayah dan anak atau guru dan murid luar biasa kerasnya. Jangan kata membantah, sekali pun ayah atau guru menghendaki kematian anak atau murid juga tidak boleh membangkang.
Kini Kwe Ceng hanya mendamperat Yo Ko secara begitu, sesungguhnya boleh dikatakan luar biasa ramahnya, apa bila orang lain, tentu sudah menggunakan kata-kata “binatang, anak haram” dan macam-macam lagi atau dibarengi dengan gebukan dan pukulan. Siapa duga, mendadak Ci-keng berdiri.
“Ah, Pinto mana berani menjadi guru Yo-ya? Kwe-tayhiap, hendaklah jangan kau sengaja menyindir,” demikian katanya dengan tertawa dingin. “Coan-cin-kau kami selama ini tidak pernah bersalah terhadap Kwe-tayhiap, kenapa engkau mengejek kami di hadapan orang banyak? Yo-toaya, biarlah imam tua ini menjura padamu dan minta maaf, anggaplah aku yang picik dan tak kenal kaum Enghiong dan orang gagah....”
Melihat wajah imam ini berubah begitu rupa, kata-katanya juga makin kasar menandakan betapa marahnya, Kwe Ceng dan Oey Yong menjadi heran bukan main. Mereka pikir kalau murid berbuat sesuatu kesalahan, sang guru mau damperat atau menghajar padanya juga lumrah, tapi kenapa harus berlaku secara begini kasar?
Oey Yong adalah seorang pintar luar biasa, dia tahu pasti Yo Ko sudah berbuat sesuatu kesalahan yang luar biasa besarnya. Sekarang nampak Kwe Ceng jadi bungkam karena serentetan kata-kata Ci-keng tadi, mau tak mau ia mewakili sang suami membuka suara.
“Thio-suheng hendaklah jangan marah dulu. Cara bagaimanakah bocah ini berbuat salah terhadap sang guru, silakan duduk dan terangkan secara jelas,” demikian katanya dengan tenang.
“Aku Thio Ci-keng hanya punya sedikit kepandaian, mana aku berani menjadi guru orang? Bukankah akan ditertawai semua orang gagah seluruh jagad hingga copot giginya?” teriak Ci-keng tiba-tiba.
Oey Yong berkerut kening melihat kekasaran orang, ia menjadi rada kurang senang. Hek Tay-kong dan Sun Put-ji mengetahui duduknya perkara, mereka merasa pantas jika Ci-keng marah-marah, tapi kalau ribut-ribut secara kasar, sesungguhnya juga bukan corak asli kaum imam yang beribadat.
“Ci-keng,” kata Sun Put-ji kemudian, “kau harus terangkan secara baik di hadapan Kwe-tayhiap dan Oey-pangcu, caramu marah-marah dan ribut-ribut ini, apa macam jadinya ini? Apakah itu menjadi kebiasaan orang beragama seperti kita ini?”
Meski Sun Put-ji adalah wanita, tetapi karena wataknya yang keras, maka angkatan muda sangat segan padanya. Karena itu Ci-keng jadi mengkeret, dia tidak berani muring-muring lagi. Sesudah mengia beberapa kali, lalu ia kembali duduk ke tempatnya tadi.
“Lihatlah Ko-ji, begitu hormat gurumu terhadap orang tua, kenapa kau tidak belajar contoh ini?” kata Kwe Ceng.
Sebenarnya Ci-keng hendak kontan menyelak lagi bahwa dirinya bukan guru orang, tetapi demi dipandangnya Sun Put-ji, kata-kata yang hendak diucapkan ia telan kembali. Tak terduga, mendadak Yo Ko berteriak
“Dia bukan guruku!”
Karena teriakan ini, bukan saja Kwe Ceng dan Oey Yong kaget, bahkan Kwe Hu dan Bu-si Hengte yang sembunyi di belakang rak buku juga terkejut sekali. Maklumlah, pada jaman itu, terutama di kalangan Bu-lim, persoalan guru dan murid diatur dengan tata adat yang sangat keras. Seorang guru dapat dipersamakan dengan seorang ayah yang harus diturut dan dihormati. Siapa tahu sekarang bukan saja Yo Ko tak mau mengaku guru, bahkan berani berteriak terang-terangan pula.
Keruan Kwe Ceng menjadi sangat marah, mendadak ia berdiri sambil menuding Yo Ko dan mendamperat:
“Apa... apa yang... yang kau katakan?”
Dasar Kwe Ceng memang tidak pandai bicara, juga tak biasa mendamperat orang, maka mukanya menjadi merah padam, amarahnya boleh dikatakan sudah memuncak. Jarang sekali Oey Yong melihat suaminya begitu marah, maka dengan suara halus ia coba menghiburnya:
“Ceng-koko, anak ini memang berjiwa buruk, perlu apa kau marah-marah karena dia?”
Mula-mula tadi sesungguhnya Yo Ko rada takut, tapi sekarang seorang Kwe-pepek yang sebenarnya sangat sayang padanya juga marah-marah mendamperat padanya. Tiba-tiba pemuda ini menjadi nekat, pikirnya: “Paling-paling mati, apa yang perlu aku takuti? Paling banyak juga boleh kau bunuh aku saja.”
Karena pikiran itu, dengan suara lantang segera ia menjawab “Ya, memang jiwaku buruk, namun tidak pernah aku minta belajar ilmu silat padamu. Kalian semua adalah tokoh-tokoh Bu-lim yang terkenal, kenapa harus gunakan tipu muslihat untuk menjebak seorang bocah yatim piatu?”
Waktu ia berkata sampai “yatim piatu”, saking sedih akan nasib sendiri seketika mata Yo Ko rada merah basah, tapi segera ia gigit bibir sekencang-kencangnya, ia pikir sekali pun hari ini harus mati tidak boleh aku alirkan setengah tetes air mata pun. Di lain pihak Kwe Ceng menjadi tambah marah.
“Apa kau bilang tadi?” demikian damperatnya pula. “lsteriku dan gurumu dengan sungguh-sungguh ajarkan ilmu silat padamu, semua ini karena mengingat persahabatanku dengan mendiang ayahmu, siapa yang bertipu muslihat? Dan... dan siapa yang menjebak kau?”
Memang Kwe Ceng tak pandai bicara, dalam keadaan marah, ia menjadi lebih gelagapan. Melihat orang tambah marah, sebaliknya Yo Ko tambah tenang dan perlahan bicaranya.
“Ya, engkau Kwe-pepek sudah tentu baik terhadapku, hal ini selamanya pasti tidak akan kulupakan!”
“Dan Kwe-pekbo dengan sendirinya tidak baik terhadapmu. Jika kau mau dendam untuk selamanya, hal ini pun terserah kepadamu,” sela Oey Yong tiba-tiba dengan sekata demi sekata.
Dalam keadaan demikian, Yo Ko tambah tak gentar lagi, sekali lagi dia berbicara lebih berani.
“Kwe-pekbo tidak baik padaku, tetapi juga tidak jelek terhadapku,” demikian katanya Iagi. “Tetapi kau bilang ajarkan ilmu silat kepadaku, sebenarnya hanya ajarkan aku membaca, sedangkan ilmu silat sedikit pun tidak diturunkan. Namun demikian, membaca juga baik, sedikitnya siautit (keponakan) bertambah kenal beberapa huruf. Tetapi... tetapi beberapa imam tua ini...” sampai di sini mendadak dia menuding Hek Tay-thong dan Thio Ci-keng, lalu dengan gemas dia sambung: “Pada suatu hari, pasti aku akan menuntut balas utang darah dan dendam sedalam lautan.”
“Apa... apa kau bilang?” tanya Kwe Ceng cepat dan terkejut.
“Imam she Thio ini katanya adalah guruku, tetapi sedikit pun tidak menurunkan ilmu silat kepadaku, hal ini pun tak menjadi soal, tetapi ia malah suruh imam-imam cilik menghajar diriku,” tutur Yo Ko. “Kwe-pekbo tidak mengajarkan kepandaian kepadaku, Coan-cin-pay juga tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku, dengan sendirinya tidak bisa lain kecuali aku dihajar sekenyang mereka. Ada satu lagi, imam she Hek ini, dia lihat seorang nenek tua merasa sayang dan kasihan padaku, orang tua itu malah dia pukul hingga mati. Hai, imam busuk she Hek, katakanlah sekarang, semuanya ini benar atau tidak?”
Bila mana Yo Ko ingat matinya Sun-popoh tidak lain disebabkan karena membela dirinya, sungguh dia menjadi gemas dan mengertak gigi, ingin sekali dia menubruk maju mengadu jiwa dengan Hek Tay-thong.
Kong-ling-cu Hek Tay-thong tergolong imam paling beribadat di antara imam-imam Coan-cin-kau, baik agamanya mau pun ilmu silatnya sudah dilatihnya sampai tingkat yang amat tinggi, soalnya hanya karena salah tangan sehingga Sun-popoh tewas, selama beberapa tahun hal ini selalu membikin dia merasa tidak tenteram dan dianggapnya sebagai suatu perbuatan yang sangat disesalkan selama hidupnya. Kini mendadak Yo Ko meng-ungkit kejadian itu, keruan seketika mukanya menjadi pucat bagai mayat. Peristiwa ngeri dahulu, di mana Sun-popoh muntah darah kena pukulannya seolah-olah terbayang di depan matanya. Karena ia tak membawa senjata, maka tiba-tiba ia melolos pedang yang tergantung di pinggang Ci-keng.
Semua orang mengira pedang itu tentu akan ditusukkan pada Yo Ko, maka dengan cepat Kwe Ceng sudah melangkah maju hendak melindungi bocah itu. Siapa sangka mendadak Hek Tay-thong membalikkan pedangnya, dia sodorkan garan pedang pada Yo Ko sambil berkata:
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
“Haya, celaka, sekali ini bisa tewas dia,” teriak Yo Ko dalam hati saking kagetnya.
Ketika dia melongok ke dalam jurang, tiba-tiba dilihatnya ada satu orang dengan sebuah jari tangan saja menggantol di tepian batu dengan tubuhnya tergantung. Kiranya beberapa kali orang itu menggoda dan selalu dengan cara demikianlah orang ini menyembunyikan diri.
Melihat orang sanggup menggunakan satu jari saja untuk menahan bobot tubuhnya dan tergantung di udara yang beralaskan jurang, sebenarnya kepandaian orang sudah sampai taraf yang tidak dapat diukur. Oleh karenanya, dengan laku sangat hormat Yo Ko segera membungkukkan tubuh dan berkata:
“Silakan naiklah, Locianpwe!”
Se-konyong2 orang itu tertawa terbahak-bahak, begitu keras hingga lembah pegunungan seakan-akan bergemuruh. Ketika jari tangannya menarik, orangnya bagaikan burung saja lantas meloncat naik dari tebing jurang itu.
“Apa kau adalah begundalnya Ngo-kui dari Tibet? Kenapa tengah malam buta berkeliaran di sini?!” mendadak ketawa orang itu berubah membentak.
Karena bentakan orang yang tanpa sebab tiada alasan ini, seketika itu pula perasaan Yo Ko tersinggung lagi sehingga mendadak dia menangis tergerung-gerung, terkenang oleh nasibnya yang malang hingga selalu dihina orang.
Seorang Siao-liong-li yang dihormati dan dicintai itu tanpa sebab pula telah mendamperat padanya dan selanjutnya tidak dapat bersua lagi, saking dukanya hingga tangisnya makin men-jadi2 seakan-akan seluruh kesedihan dari dulu hingga sekarang hendak dilampiaskan dalam tangisnya ini.
Melihat Yo Ko mendadak menggerung-gerung mula-mula orang itu rada tercengang. Tapi demi mendengar tangis orang semakin lama semakin duka, ia merasa heran pula. Melihat tangis Yo Ko men-jadi2 dan tiada habis-habisnya, mendadak ia tertawa panjang sekeras-kerasnya, paduan suara tertawa dan menangis ini menjadi begitu hebatnya hingga saling berkumandang di antara Iembah2 pegunungan itu, sampai gumpalan2 salju sama longsor oleh karena geloranya.
“Dan kau menangisi apa?” orang itu balas bertanya sambil tetap tertawa.
Sebenarnya Yo Ko masih hendak memaki orang dengan kata-kata kasar, syukur segera teringat olehnya ilmu silat orang yang tingginya tidak terukur itu. Seketika api amarahnya ditahan, malahan dengan hormat sekali dia menjura.
“Siaujin (aku yang rendah) Yo Ko memberi hormat pada Locianpwe,” demikian sapanya.
Tangan orang itu memegang sebatang tongkat bambu. Tiba-tiba dia mencungkit perlahan lengan Yo Ko, dan tanpa terasa tahu2 Yo Ko sudah terbanting ke belakang meski tenaga tongkat orang tidak seberapa besar.
Menurut daya bantingan itu, seharusnya Yo Ko akan terbanting hingga tak mampu berdiri lagi, tapi pemuda ini sudah biasa dilatih Ha-mo-kang atau ilmu weduk katak dengan tubuh menjungkir, maka di tengah udara ia masih bisa berjumpalitan, lalu dengan tegak ia berdiri kembali. Kejadian ini sama-sama di luar dugaan kedua orang.
Dengan tingkat ilmu silat Yo Ko sekarang ini, kalau sekali serang hendak bikin pemuda ini terjungkal, biar pun tokoh seperti Li Bok-chiu atau segolongan Khu Ju-ki, rasanya juga tak nanti bisa. Melihat usia Yo Ko semuda ini sudah melatih silat sampai tingkat begini tinggi, dalam hati orang itu menjadi sangat kagum.
“Apa yang kau tangisi tadi?” demikian orang itu bertanya lagi.
Yo Ko mengamat-amati orang. Ia lihat orang adalah kakek2 yang rambut jenggotnya telah putih semua, pakaiannya compang-camping seperti seorang pengemis, walau pun malam gelap, tetapi di bawah pantulan sinar salju yang memutih, lapat-lapat tertampak mukanya yang merah bercahaya, semangat pun masih menyala-nyala, tanpa terasa Yo Ko sangat menaruh hormat padanya.
“Aku adalah seorang yang bernasib malang, hidup di jagat ini sebenarnya tiada gunanya, lebih baik mati saja beres,” sahutnya kemudian.
“Siapakah yang bikin susah kau, coba katakan pada Kongkong (kakek),” kata pengemis tua itu.
“Ayahku dibunuh orang, tetapi aku tidak tahu siapa pembunuhnya. Ibuku pun mati digigit ular, di dunia ini tiada orang lagi yang sayang dan cinta padaku,” sahut Yo Ko.
“Hmm, sebatang kara, benar-benar harus dikasihani,” ujar si pengemis tua, “Dan siapakah gurumu yang mengajarkan ilmu silat padamu?”
Mendengar kakek ini menanyakan Suhu-nya, pikir Yo Ko: “Resminya Kwe-pekbo adalah guruku, tetapi sedikit pun ia tak ajarkan ilmu silat padaku. Para imam busuk Coan-cin-kau bahkan lebih menggemaskan lagi, Auwyang Hong adalah ayah angkat dan bukan guruku, sedang Kokoh yang sudah ajarkan ilmu silat padaku, kini telah berakhir dengan demikian ini, mana bisa kuceritakan hal ini pada orang luar? Ong Tiong-yang Siansu (guru marhum) dan Lim-popoh menurunkan ilmu padaku melalui ukiran-ukiran di kamar kuburan itu, tetapi rasanya juga belum dapat dikatakan sebagai Suhu-ku. Meski pun guruku begitu banyak, tetapi satu pun ternyata tak bisa disebutkan.”
Demikianlah pertanyaan pengemis tua itu jadi menusuk perasaannya lagi hingga tiba-tiba ia me-nangis2 tergerung-gerung pula, “Aku tidak punya Suhu, aku tidak punya Suhu!” dia berteriak-teriak.
“Baiklah, baiklah! Kau tak mau mengaku juga tak mengapalah!” ujar pengemis tua. “Bukan aku tak mau katakan, tetapi aku tak punya,” sahut Yo Ko terguguk-guguk.
“Tidak punya ya sudah, perlu apa menangis lagi?” kata si pengemis tua itu. “Melihat kau berjalan seorang diri di malam gelap, tadinya kusangka kau adalah begundalnya Ngo-kui dari Tibet, namun ternyata bukan. Biarlah Lo-kiau-hoa (pengemis tua) terima kau sebagai murid saja.”
Ternyata orang ini bukan lain dari pada Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong, Si pengemis sakti berjari sembilan, namanya sejajar dengan Tang-sia, Se-tok, Lam-te dan Ong Tiong-yang.
Dahulu setelah kedudukan Pangcu (ketua persatuan pengemis) dia turunkan kepada Oey Yong, lalu seorang diri ia merantau ke timur dan ke barat untuk mencari makanan2 yang paling aneh dan enak di seluruh jagat.
Memang ciri satu-satunya Ang Chit-kong ialah suka makan, dan untuk mencari makanan enak, dia tak segan-segan memasuki keraton raja untuk mencuri masakan yang ingin dia cicipi itu. Jadi sebelum raja makan, setiap masakan tentu dia cicipi dahulu.
Bahkan untuk penganan enak dia tidak sungkan untuk berebut tanpa pikirkan akibatnya. Saking rakusnya terhadap penganan, suatu kali dalam gemasnya ia sampai menghukum dirinya sendiri dengan memotong sebuah jari telunjuk, oleh karena inilah ia disebut ‘Kiu-ci-sin-kay’ atau Si Pengemis sakti berjari sembilan, sungguh pun demikian, toh cirinya yang rakus itu masih belum bisa hilang.
Begitulah, karena daerah Kwitang terkenal nyaman dan paling banyak terdapat makanan yang aneh-aneh, maka akhirnya Ang Chit-kong sampai di propinsi ini. Ia menjadi kerasan sehingga sudah belasan tahun tidak pernah kembali ke daerah utara lagi.
Karena usianya sudah lanjut, orang-orang Bu-lim mengira mungkin Ang Chit-kong sudah lama wafat, siapa tahu ia justru hidup sehat di Kwitang merasai segala macam penganan dimulai dari sebangsa semut, tikus sampai ular-ular berbisa dan lain sebagainya semua dimakannya, rejeki mulutnya sungguh tidak sedikit.
Tahun itu dua ‘Kui’ dari Cong-pian-ngo-kui atau lima momok dari Tibet sudah melakukan pembunuhan se-wenang2 di Kwitang. Dasar Ang Chit-kong benci pada kejahatan seperti musuhnya, sebenarnya kedua Kui atau kedua momok itu sekaligus hendak dibunuhnya, tapi karena ingin juga sekalian bisa bereskan yang lain-lain, maka sengaja ia kuntit orang, ia tunggu bila kelima momok itu sudah berkumpul semua baru sekaligus akan dibasminya semua. Siapa tahu karena menguntitnya itu akhirnya dia sampai di atas Hoa-san.
Pada waktu itu empat momok dari Tibet itu sudah berkumpuI, hanya Toa Kui, si momok pertama, yang belum datang. Siapa tahu di tengah malam Yo Ko yang dia ketemukan di tanah salju itu. Sekarang mendengar pemuda ini begitu sedih menangis, tiba-tiba hatinya tertarik dan hendak menerima Yo Ko sebagai murid.
Selama hidup Ang Chit-kong, murid yang diterimanya secara resmi hanya Kwe Ceng dan Oey Yong berdua. Kini entah kenapa, tiba-tiba ia mengatakan sendiri ingin terima Yo Ko. Ia pikir bocah ini pasti girang luar biasa dan menghaturkan terima kasih.
Siapa tahu sedikit pun Yo Ko tidak pernah melupakan Siao-liong-li, dia sudah mengambil keputusan tak mau lagi mengangkat guru yang kedua. Sebab itulah ia telah geleng-geleng kepala dan menjawab: “Terima kasih atas maksud baikmu, tetapi aku tak mau angkat kau sebagai guru.”
Jawaban Yo Ko ini amat mengherankan Ang Chit-kong. Dasar pengemis tua ini wataknya sangat berkeras pada kata-katanya sendiri, maka ia bilang lagi: “Kau tak mau angkat guru padaku, tetapi aku justru ingin kau menjadi muridku.”
“Kau mau pukul mati aku, boleh silakan memukul saja, tetapi ingin aku angkat guru, itulah tidak bisa,” sahut Yo Ko tetap.
Nampak tabiat orang sama kerasnya dan kukuh pada pendiriannya sendiri, Ang Chit-kong justru bertambah suka padanya.
“Sudahlah, kita jangan bicara urusan ini dulu, agaknya kau pun sudah lapar, marilah kita makan dulu baru berunding lagi,” katanya.
Habis itu ia berjongkok di tanah salju dan menggaruk-garuk untuk mendapatkan beberapa kayu kering, dengan inilah lalu dinyalakan api.
“Hendak makan masakan apakah kita?” tanya Yo Ko sambil bantu orang mengumpulkan kayu.
“Kelabang!” sahut Chit-kong singkat.
“Kelabang? Ahh, mana mungkin!” demikian Yo Ko pikir, dia sangka orang cuma berguyon saja, maka dia hanya tersenyum dan tidak bertanya Iagi.
“Dengan susah payah aku kintil Cong-pian Ngo-kui dari Linglam (nama lain dari Kwitang) sampai di Hoa-san sini, kalau tidak mencari beberapa macam makanan enak yang aneh-aneh, rasanya tidak enak terhadap kawanku ini!” kata Chit-kong sambil tepuk-tepuk perut sendiri.
Yo Ko lihat perawakan pengemis tua ini kekar kuat, hanya perutnya yang rada gendut.
“Hoa-san adalah tempat yang paling teduh, tempat yang paling dingin di kolong langit ini, produksi kelabangnya adalah paling gemuk dan halus pula. Hawa di Kwitang sebaliknya panas bukan main, segala makhluk hidup di sana lebih cepat tumbuh besar, maka daging kelabangnya pun rada kasar,” demikian Ang Chit-kong mencerocos pula dengan teori ilmu makannya.
Mau tidak mau Yo Ko rada heran mendengar orang berkata secara sungguh-sungguh dan kelihatan bukan bergurau belaka.
Sembari berkata Ang Chit-kong tambahi kayu pada api unggunnya, kemudian ia keluarkan sebuah wajan kecil dari buntalannya lantas ditaruh di atas api, ia mengepal dua gelondong salju dan dimasukkan ke dalam wajan.
“Mari ikut pergi mengambil kelabang,” katanya. Selesai berkata, sekali melesat, tahu-tahu orangnya sudah melompat ke atas tebing gunung setinggi lebih dua tombak.
Melihat tebing gunung itu begitu terjal, seketika Yo Ko ragu-ragu tak berani ikut manjat ke atas.
“Anak tak berguna, lekas naik sini!” seru Ang Chit-kong.
Yo Ko paiing benci kalau ada orang memandang hina padanya, kini dikatai tidak berguna oleh Ang Chit-kong, tiba-tiba ia kertak gigi terus ikut merangkak ke atas.
“Hm, memangnya aku sudah tak pikirkan mati atau hidup lagi, biarkan mati tergelincir juga tak apalah,” diam-diam ia berpikir.
Karena marahnya itu, nyalinya menjadi besar, Ginkang yang dia keluarkan bisa digunakan lebih hebat, maka dengan kencang dia ikut di belakang Ang Chit-kong, meski pun tempat-tempat yang paling curam dan berbahaya, akhirnya dapat dipanjatnya juga.
Hanya sebentar saja mereka berdua telah memanjat sampai di atas puncak gunung yang tak pernah diinjak manusia.
Melihat Yo Ko mempunyai Ginkang yang bagus dan hatinya begitu tabah, Ang Chit-kong menjadi tambah suka padanya.
“Anak bagus, tak bisa tidak aku harus terima kau sebagai murid,” demikian ia memuji.
“Terima kasih, Locianpwe. Kalau locianpwe ada perintah apa-apa, tak nanti siaujin bantah, tetapi tentang soal angkat guru, harap jangan disebut puIa,” sahut Yo Ko.
Ang Chit-kong tahu, pasti ada ganjalan di hati orang yang sukar diucapkan. Sebenarnya ia hendak menanyakan, tetapi teringat akan makanan enak yang harus diberi ‘prioritas’ lebih dulu, maka cepat ia mendekati sebuah batu padas, ia gali tanah di bawah batu itu, maka tertampaklah seekor ayam jago yang sudah mati.
Luar biasa herannya Yo Ko.
“Ehh, mengapa ada bangkai ayam jago di situ?” katanya heran. Akan tetapi ia pun segera mengerti: “Ahh, engkau sendirilah yang memendamnya.”
Ang Ching-kong tak menjawab, ia hanya tersenyum dan angkat bangkai ayam jago itu.
Mata Yo Ko sudah terlatih memandang pada waktu malam, apa lagi kini di bawah sorotan sinar salju yang membalik itu, maka tertampaklah olehnya di bawah perut bangkai jago itu penuh lengket beratus ekor kelabang yang panjangnya rata2 belasan senti dengan warna merah-hitam yang belang-bonteng.
Semenjak kecil Yo Ko sudah berkawan dengan ular, sebenarnya dia tidak takut terhadap binatang berbisa. Tapi demi mendadak nampak kelabang sebanyak ini, saking seramnya tidak urung ia mengkirik juga.
ADU TENAGA DUA JAGO TUA
“Ha-ha-ha,” sebaliknya Ang Chit-kong lantas tertawa riang, “Kelabang ini memang musuh kawakan ayam jago. Kemarin sengaja kupendam seekor bangkai jago di sini, benar saja, keIabang ini kena dipancing datang semua.”
Habis ini dia pun mengeluarkan kain pembungkus. Bangkai ayam jago berikut kelabang yang masih melekat itu ia buntal seluruhnya, lalu dengan riang gembira ia merosot turun dari puncak gunung itu.
“Apa benar-benar akan makan kelabang? Kalau melihat sikapnya, tampaknya bukannya sengaja buat menakuti aku,” pikir Yo Ko diam-diam sambil ikut di belakang orang.
Sementara itu air salju yang digodok dengan wajan Ang Chit-kong tadi sudah mendidih, Ang Chit-kong buka buntalannya, dia tarik ekor tiap-tiap kelabang lalu dicemplungkan ke dalam wajan. Kelabang-kelabang itu semula kerupukan dalam air mendidih, tetapi sekejap saja lantas kaku dan tak berkutik.
“Sebelum mati, kelabang-kelabang ini sudah muntahkan semua racun. Oleh sebab itu, racun dalam air salju di wajan ini luar biasa jahatnya,” ujar Chit-kong.
Kemudian dia gali sebuah lobang di tanah salju itu, dia tuang air berbisa itu ke dalamnya. Saking dingin suhu di atas gunung ini, maka sebentar saja air beracun itu telah membeku menjadi es. Setelah itu Ang Chit-kong mengeluarkan sebilah pisau kecil. Ia potong kepala dan buntut tiap-tiap kelabang, lalu dipelocoti satu demi satu, dengan gampang saja kulit kelabang-kelabang itu mengelotok hingga daging kelabang kelihatan putih bersih seperti daging udang.
“Dengan caranya rnengolah ini, boleh jadi memang dapat dimakan?” demikian pikir Yo Ko, akhirnya ia jadi ketarik.
Ia melihat Ang Chit-kong menggodok lagi dua wajan air salju, daging kelabang itu dia cuci bersih tanpa ketinggalan setetes pun air racun, habis itu ia keluarkan lagi beberapa kaleng kecil dari buntalannya. Kaleng-kaleng kecil ini ternyata berisi bumbu masak sebangsa minyak, garam, kecap, cuka dan lain-lain. Lebih dahulu wajan dibikin panas dengan minyak mendidih, kemudian daging kelabang itu dituangkan ke dalamnya untuk digoreng. Begitu daging kelabang itu masuk wajan, maka terciumlah bau sedap yang bikin orang mengilar.
Melihat macamnya Ang Chit-kong yang berulang kali menelan air liur, biji lehernya tampak naik turun, sifat rakusnya nyata-nyata kelihatan, mau tak mau Yo Ko terheran-heran dan merasa geli.
Setelah kelabang-kelabang itu digoreng sampai berwarna kuning, Ang Chit-kong tambah bumbunya, tanpa tunggu lagi ia comot seekor terus dimasukkan ke mulutnya. Dengan perlahan-lahan ia mengunyah, matanya meram-melek, begitu nikmatnya sampai ia menghela napas, rasanya tak ada sesuatu lagi di dunia ini yang lebih nikmat dari pada saat ini.
Sekaligus berturut-turut ia pindahkan belasan kelabang ke perutnya, setelah itu barulah ia katakan pada Yo Ko:
“Hayo, makan! Sungkan-sungkan apa lagi?”
Akan tetapi Yo Ko menggelengkan kepala, “Tidak, aku tidak doyan,” sahutnya.
Ang Chit-kong tertegun sejenak, tapi segera ia tertawa terbahak-bahak. “Ya, ya, betul, tidak sedikit orang gagah perkasa yang pernah kujumpai sekali pun mereka dipenggal kepala dan alirkan darah tidak akan mereka mengkerut kening, tapi kalau bicara soal makan kelabang, tiada seorang pun yang berani meniru aku Ang Chit-kong. Ha, kau bocah ini hanya bermulut besar saja, sebenarnya kau juga setan cilik yang bernyali kecil,” demikian katanya.
Dikatai bernyali kecil, Yo Ko menjadi sangat dongkol, pikirnya: “Biar aku pejamkan mata lantas tanpa mengunyah terus telan saja beberapa ekor kelabang itu agar tidak dipandang rendah olehnya.”
Maka dengan menggunakan dua tangkai batang lidi sebagai sumpit, cepat ia jepit seekor kelabang goreng itu. Siapa tahu, sebelum kelabang itu masuk ke mulutnya, rupanya Ang Chit-kong sudah bisa menerka apa yang dia pikirkan tadi.
“Tanpa mengunyah sedikit pun sambil tutup mata kau telan sekaligus belasan kelabang, ini namanya akal bulus dan bukan cara gagah kesatria,” kata pengemis tua itu.
“Masakah makan kelabang saja ada urusan gagah kesatria segala?” sahut Yo Ko tertawa dingin.
“Ya, di jagat ini tidak sedikit orang yang tanpa malu-malu mengaku dirinya gagah kesatria, tetapi yang berani makan kelabang rasanya tiada seberapa orang,” kata Chit-kong.
Yo Ko menjadi nekat karena dipandang rendah. Dia pikir paling banyak hanya mati, kenapa harus takut. Maka kelabang yang dia sumpit tadi segera dimasukkan ke dalam mulut terus dikunyah. Jika tak dikunyah masih tak mengapa, tetapi karena jadi dikunyahnya ini, seketika terasa daging kelabang itu sedemikian gurihnya, begitu wangi dan begitu enak, sungguh selama hidupnya belum pernah mengenyam makanan yang begitu lezat rasanya. Keruan ia tidak mau sudah, cepat ia telan daging kelabang itu, lalu sumpitnya menyambar lagi kelabang yang kedua.
“Hmm, hebat, sungguh hebat rasanya!” demikian berulang kali ia memuji.
Nampak bocah ini sudah kenal rasa dan menjadi tuman, Ang Chit-kong girang sekali, dia pun segera berebut duluan dengan Yo Ko, hanya sekejap saja ratusan kelabang itu sudah mereka sapu bersih.
Bagi Ang Chit-kong kelabang sebanyak itu rasanya masih belum cukup, lidahnya menjilat bibir, sungguh kalau bisa ia pingin mengisi perutnya dengan 100 ekor kelabang lagi.
“Biar aku pendam bangkai jago ini buat pancing kelabang yang Iain,” kata Yo Ko tiba-tiba. Dia betul-betul sudah tuman oleh rasa gurihnya kelabang goreng tadi.
“Tak bisa jadi lagi,” sahut Chit-kong, “bangkai jago itu sudah hilang daya penariknya, pula di sekitar sini kelabang yang gemuk sudah tidak tersisa lagi.” Habis berkata, mendadak ia menguap sambil mengulet ngantuk, tahu-tahu ia pun merebahkan diri di tanah salju.
“Sudah ada 7 hari 7 malam aku tidak tidur,” demikian ia kata, “setelah makan enak besar-besaran ini, biarlah aku tidur sepuas-puasnya selama tiga hari, seandainya langit bakal ambruk juga jangan kau bangunkan aku.” Sembari berkata suara menggeros pun mulai terdengar, ternyata lantas pulas begitu saja.
“Cianpwe ini benar-benar orang yang sangat aneh,” batin Yo Ko. “Baiklah. Aku pun tiada tempat tujuan, ia bilang mau tidur tiga hari, biar aku pun tunggu tiga hari padanya.”
Sementara itu bunga salju terus turun tiada hentinya, seluruh tubuh Ang Chit-kong sudah penuh tertutup salju yang putih seperti kapas. Tubuh manusia bersuhu panas, bunga salju tentu akan cair, tetapi mengapa bisa tertimbun di atas muka dan tubuhnya, hal ini mula-mula bikin Yo Ko tidak mengerti, tetapi setelah ia pikir, segera ia pun tahu.
“Ya, ya, tentu waktu tidur dia telah keluarkan tenaga sakti untuk menghimpun suhu panas ke dalam badannya. Seorang yang masih hidup segar ternyata bisa kaku seperti mayat waktu tidur, lwekang semacam ini sesungguhnya sangat hebat, mungkin mendiang Suhu Ong Tiong-yang hidup kembali juga tidak selihay dia ini,” demikianlah pikirnya.
Sementara itu hari sudah hampir pagi, tubuh Ang Chit-kong telah terkubur di dalam salju, di atas tanah hanya kelihatan sedikit tonjolan, bekas badannya sudah tak kelihatan lagi. Yo Ko sendiri tidak merasa letih. Waktu ia mendongak, ia lihat keadaan gelap gulita dan sunyi senyap.
Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara gemerisik seperti orang berjalan di jurusan timur, Waktu ia tegasi, dari jauh terlihat mendatangi lima bayangan orang dengan kecepatan luar biasa, terang sekali semuanya berilmu silat amat tinggi.
“Ahh, tentu inilah Ngo-kui dari daerah Tibet yang dikatakan Locianpwe ini tadi,” pikiran Yo Ko tergerak tiba-tiba. Karena itu, lekas-lekas ia sembunyi di belakang batu padas.
Tidak lama kelima orang itu sudah sampai di depan batu padas tempat sembunyi Yo Ko, seorang di antaranya terdengar bersuara heran.
“Heii, wajan pengemis tua itu ada di sini, pasti dia berada di sekitar sini saja,” kata orang itu.
Rupanya kelima orang itu merasa heran dan jeri, lalu mereka berkumpul untuk berunding dengan bisik-bisik. Kemudian, mendadak mereka berpencar memeriksa keadaan sekitarnya. Karena tempat di atas puncak gunung memang sempit, maka tidak seberapa langkah mereka mencari, seorang di antaranya kena injak badan Ang Chit-ong yang tertutup salju. Karena kakinya tiba-tiba menginjak tempat Iunak, dalam kagetnya ia menjerit.
Dengan serta merta keempat saudaranya merubung dan menggali timbunan salju, maka tampaklah Ang Chit-kong yang kaku seperti mati. Tentu saja kelima orang itu amat girang. Mereka coba memeriksa pernapasan Ang Chit-kong, terasa berhenti dan tubuh pun dingin membeku.
“Pengemis tua ini terus menerus menguntit aku sepanjang jalan hingga aku menjadi sebal digodanya, tak tahunya kini sudah mampus di sini,” kata seorang di antaranya.
“Orang ini sangat hebat ilmu silatnya, tanpa sebab kenapa mati?” ujar yang lain ragu-ragu.
“Ilmu silat bagus apa tidak bisa mati?” debat yang lain pula, “Pikir saja, sekarang umurnya sudah berapa?”
Karena kata-kata terakhir ini, empat orang yang lain menyatakan benar, kata mereka: “Ya, beruntung ia telah dipanggil raja akherat, kalau tidak, sesungguhnya sukar dilawan.”
“Hayo, kita masing-masing bacok tua bangka ini buat lampiaskan mendongkol kita! Biar pun dia gagah perkasa, sesudah mati mayatnya pun tak bisa utuh,” ajak orang yang pertama.
Saat itu sebenarnya Yo Ko sudah menyiapkan segenggam Giok-hong-ciam. Ia pikir untuk melawan lima orang agak sukar, tiada jalan lain kecuali mencari kesempatan menyerang dulu dengan Am-gi. Kalau dua-tiga orang sudah dirobohkan, sisanya tentu akan menjadi gampang dibereskan.
Tetapi dasar usia Yo Ko masih muda dan kurang sabar. Ketika didengar orang bilang hendak bacok tubuh Ang Chit-kong, ia kuatir orang benar-benar mencelakai pengemis tua itu, maka belum lagi Am-gi sempat dihamburkan satu pun, dengan sekali gertak ia sudah melompat keluar dari tempat sembunyinya. Karena tidak bersenjata, terpaksa Yo Ko sambar sekenanya dua tangkai kayu kemudian digunakan sebagai Boan-koan-pit. Begitu kedua tangannya bergerak, beruntun-runtun dia menyerang lima kali, tiap-tiap serangannya mengincar Hiat-to kelima orang itu.
Lima serangannya ini boleh dikatakan dilakukan secepat kilat, cuma sayangnya dia telah membentak dahulu hingga Ngo-kui keburu berjaga-jaga, kalau tidak, sedikitnya satu-dua orang di antara mereka pasti ada yang dirobohkan. Sekali pun begitu, tak urung Ngo-kui kaget hingga berkeringat dingin, lekas-lekas mereka melompat.
Ngo-kui semuanya memakai senjata golok tebal, ilmu silat mereka didapat dari satu guru, meski kepandaian masing-masing beda antara tinggi dan rendah, tetapi cara-caranya adalah sama. Ketika mereka berpaling dan melihat Yo Ko hanya pemuda ‘ingusan’ yang bajunya rombeng, senjata yang digunakan hanya dua kayu bakar, sikapnya kikuk-kikuk, wajahnya biasa, seketika rasa kaget mereka pun hilang.
“Hai, anak busuk, apa kau pengemis kecil dari Kay-pang?!” segera Tay-kui, si Kui (setan jelek) tertua membentak: “Cosuya-mu sudah melayang jiwanya, lekas kau berlutut dan minta ampun.”
“Ya, baik, biar aku menjura padamu,” sahut Yo Ko tiba-tiba.
Tadi waktu menyaksikan cara Ngo-kui berkelit Yo Ko sudah dapat meraba sampai di mana ilmu silat mereka. Ia menaksir kalau seorang lawan seorang, kelima orang ini tiada yang bisa menangkan dirinya, tetapi kalau main keroyok, ia sendiri pun tak ungkuIan. Tetapi Yo Ko memang anak cerdik. Ketika mendengar Tay-kui berteriak supaya menjura padanya, segera dia sambut baik lalu melangkah maju dan berlagak menjura. Tak terduga mendadak kedua tangannya menyabet ke samping secepat kilat dengan gerak tipu ‘tui-jong-bong-goat”’(mendorong jendela memandang rembulan).
Waktu itu yang berdiri di sisi kirinya adalah Go-kui dan sisi kanan Sam-kui. Tipu serangan ‘Tui-jong-bong-goat’ ini dilontarkan secara tak kenal ampun. Kepandaian Sam-kui lebih tinggi, ia sempat angkat goloknya buat menangkis, tetapi begitu punggung goloknya kena disabet tangkai kayu Yo Ko, ia merasa lengannya kesakitan hingga goloknya hampir tidak kuat digenggam Iagi.
Sebaliknya tulang kaki Go-kui telah kena disambar. Terdengar suara “keletak”, meski pun tulang kaki tak sampai patah, namun saking sakitnya Go-kui berjingkrak memegangi kakinya.
Empat saudaranya menjadi marah, senjata mereka menyambar menghujam Yo Ko dengan kalap. Tetapi dengan gesit Yo Ko dapat lompat kian kemari berkelit hingga seketika empat ‘Kui’ itu tak mampu berbuat apa pun. Tak lama kemudian dengan kaki pincang Go-kui ikut masuk kalangan. Ia adalah jagoan Bu-lim, tetapi kena dikibuli seorang anak kemarin sore, tentu saja marahnya bukan buatan.
Yo Ko telah mendapatkan pelajaran asli Giok-li-sim-keng, Ginkang-nya jauh di atas Ngo-kui dari Tibet ini, kalau ia berniat lari, sebenarnya tidak sukar baginya. Tetapi ia kuatir jika ditinggal pergi tentu Ang Chit-kong dicelakai Ngo-kui, karena itu ia tidak berani menyingkir jauh dan sebab itu pula ia tak bisa bertempur secara Ieluasa. Akhirnya ia sendiri berulang kali harus menghadapi serangan bahaya.
Tetapi kemudian terpikir lagi olehnya, tak ada jalan lain kecuali melarikan diri. Maka pada suatu kesempatan sekonyong-konyong dia sambar tubuh Ang Chit-kong, dia putar tangkai kayu terus menerjang pergi sekaligus dia berlari sampai beberapa tombak jauhnya.
Tentu saja Ngo-kui lantas mengudak, cuma kepandaian mereka ada yang tinggi dan ada yang rendah, maka sekejap saja yang tiga orang berada di depan sedangkan dua orang yang lainnya ketinggalan di belakang.
Merasakan tubuh Ang Chit-kong yang dia kempit itu sedingin es, mau tidak mau Yo Ko menjadi kuatir, ia pikir betapa pun nyenyak tidurnya seharusnya akan terbangun juga. Aku diudak musuh, kenapa ia diam saja tak mau menolong? Jangan-jangan pengemis tua ini memang benar-benar telah mati?
“Locianpwe, Locianpwe!” ia coba teriaki Ang Chit-kong.
Tetapi pengemis tua ini tetap tak bergerak sedikit pun seperti mayat saja, cuma tubuhnya tidak kaku. Dan karena sedikit merandeknya Yo Ko, di belakangnya Tay-kui sudah menyusul datang. Karena takut pada kepandaian Yo Ko yang lihay, seorang diri Tay-kui tidak berani terlalu dekat. Ketika ia tunggu datangnya kedua saudaranya yang lain, sebaliknya Yo Ko sudah lari lagi sejauh beberapa puluh tombak.
Melihat jalan yang diambil Yo Ko adalah memanjat terus ke puncak gunung, sedangkan puncak itu melulu hanya jalan kecil, maka Ngo-kui menjadi heran, apa bocah ini bisa terbang ke langit? Mereka pun tak perlu buru-buru mengejar, mereka menyusul dari belakang dengan perlahan saja.
Jalan pegunungan itu makin jauh semakin curam, sampai suatu tempat tikungan, tiba-tiba Yo Ko melihat di kedua samping adalah jurang yang beribu tombak dalamnya, di tengah hanya ada sebuah jembatan batu sempit yang hanya cukup dilalui satu orang saja.
“Aha, tempat ini bagus sekali, biarlah di sini saja aku menahan mereka selama tiga hari,” demikian pikir Yo Ko. “Tetapi kalau sampai hari ke-4 Locianpwe ini masih belum bangun, aku... aku...” Sampai disini ia tak berani berpikir lagi, sungguh ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya apa bila sampai saatnya Ang Chit-kong masih belum sadar.
Segera pula ia percepat larinya melintasi jembatan batu ciptaan alam itu, ia rebahkan Ang Chit-kong di bawah satu batu padas di ujung jembatan sana, lalu dengan cepat dia putar balik. Sementara itu Tay-kui sudah menyusul sampai di ujung jembatan.
“Siluman jelek, berani kau maju?!” bentak Yo Ko tiba-tiba sambil menerjang ke depan.
Karena takut ketumbuk dengan Yo Ko hingga ke-duanya tergelincir masuk jurang, lekas-lekas Tay-kui mundur ke belakang. Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya sudah menampakkan diri di ufuk timur dengan cahayanya yang kuning keemas-emasan. Salju telah berhenti turun, lapisan salju yang menutupi seluruh gunung di bawah sorotan sinar matahari, sungguh pemandangan indah yang tiada bandingannya. Dengan berdiri di tengah jembatan langit itu, tiba-tiba Yo Ko pasang kedok kulit manusia di mukanya.
“Hayo, siapa yang lebih jelek, kau atau aku?!” bentaknya.
Wajah Ngo-kui dari Tibet ini semuanya memang sangat jelek, tetapi lebih jelek lagi adalah sepak terjang mereka yang jahat. Kini mendadak melihat Yo Ko berubah wajah yang lain, pucat kuning, kaku tanpa perasaan, mirip seperti mayat hidup yang baru saja muncul dari kuburan, seketika Ngo-kui saling pandang dengan kaget.
Perlahan Yo Ko mundur ke tengah jembatan batu itu. Dengan gaya ‘Kim-ke-tok-lip’ atau ayam emas berdiri dengan kaki tunggal, ia berdiri dengan kaki kiri dan kaki kanan sengaja menendang perlahan ke atas sambil ber-gerak-gerak di antara hembusan angin pegunungan yang silir, tampaknya alangkah gembiranya pemuda ini.
“Bagaimana bisa dari Kay-pang mendadak muncul seorang kesatria muda ini?” demikian diam-diam Ngo-kui berpikir.
Karena tidak berani menerjang ke jembatan alam itu, kemudian mereka lantas berunding. Keputusan diambil, mereka akan berjaga secara bergilir untuk mencari bahan makanan ke bawah gunung, dengan demikian tak sampai dua hari mereka yakin pemuda itu pasti akan kewalahan karena kelaparan. Begitulah, lalu empat saudara mereka menjaga rapat di ujung jembatan alam itu dan Ji-kui yang diutus pergi mencari bahan makanan ke bawah gunung.
Dengan cara demikian kedua pihak saling bertahan sampai setengah harian. Yo Ko tidak berani menyeberang ke sana, sebaliknya Su-kui juga tidak berani menyeberang ke sini. Sampai lewat lohor, Yo Ko duduk bersemadi untuk mengumpulkan tenaga. Sampai besok paginya, Ji-kui datang kembali sambil membawa makanan, kelima saudara itu sengaja makan dengan bernapsu untuk meng-iming-imingi Yo Ko.
Memang Yo Ko sudah kelaparan, tentu saja dia mengiler menyaksikan orang makan begitu enaknya. Waktu ia berpaling memandang Ang Chit-kong, ia lihat pengemis tua ini masih tetap serupa saja seperti hari pertama. Pikirnya: Pikirnya: “Jika betul-betul tidur, adalah lazim bila akan membalik tubuh. Tapi ia justru tidak bergerak sedikit pun, jangan-jangan benar-benar sudah mati? Kalau aku bertahan lagi satu hari, bila lebih lapar dan tak bertenaga, tentu lebih susah lagi melawan lima musuh itu. Tidakkah lebih baik terjang pergi sekarang saja, mungkin masih bisa menyelamatkan diri.”
Perlahan-lahan Yo Ko berdiri, tapi lantas terpikir lagi olehnya: “la bilang akan tidur selama tiga hari, kini baru hari kedua, lebih baik jangan kutinggalkan pergi begitu saja.”
Maka dengan menahan perut yang keroncongan tiada hentinya, ia pejamkan mata melatih lwekang sendiri, tak dipandangnya lagi Ngo-kui yang sedang makan itu. Sampai hari ketiga Ang Chit-kong masih rebah saja seperti hari pertama, makin melihat Yo Ko menjadi semakin sangsi.
“Sudah terang ia telah mati, kalau aku berkeras tak mau pergi, sesungguhnya terlampau bodoh. Kalau sampai kelaparan setengah hari lagi, tanpa mereka turun tangan, mungkin aku sendiri akan mati kelaparan,” demikian Yo Ko membatin.
Namun ia tidak putus asa, ia telan dua kepal salju untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong, lalu terpikir lagi olehnya: “Terhadap negara aku belum bersetia, terhadap ayah-bunda aku pun tidak berbakti, pula aku tak punya sanak saudara sekedar menyampaikan rasa hatiku. Kini urusan ‘kepercayaan’ ini betapa pun juga jadinya aku harus menjaganya sampai saat terakhir, apa lagi aku Yo Ko selama hidup ini selalu dipandang hina, kalau aku tidak bisa menepati janji, lebih-lebih aku akan dibuat buah tertawaan mereka. Sekali pun aku harus mati, janji tiga hari ini harus kulaksanakan.”
Dan karena keputusannya ini, rasa menderitanya akibat lapar menjadi rada ringan. Sehari semalam ini dengan cepat dilalui lagi. Pagi hari keempat, segera Yo Ko mendekati tubuh Ang Chit-kong, ia raba tubuh pengemis tua itu dan terasa tetap dingin seperti es. Tanpa tertahan pemuda ini menghela napas.
“Locianpwe,” demikian ia memberi hormat kepada tubuh Ang Chit-kong, “janji tiga hari ini sudah kulakukan, cuma sayang cianpwe sudah terlanjur meninggal dunia. Tecu kuatir tak mampu menjaga keutuhan jenazahmu, maka terpaksa melemparkan kau ke dalam jurang supaya tidak dibuat hinaan orang-orang jahat itu.”
Habis ini, dengan cepat dia angkat tubuh Ang Chit-kong lalu berjalan ke jembatan alam, tubuh pengemis tua itu hendak dilemparkannya ke jurang. Pada saat itu juga, melihat Yo Ko tiba-tiba hendak tinggalkan jembatan alam itu, Ngo-kui menyangka pemuda ini tak tahan lapar, maka ingin melarikan diri. Dengan cepat mereka saling memberi tanda, segera mereka merubung maju memapaki Yo Ko.
Tatkala itu Yo Ko sudah menerjang ke tengah jembatan, sementara itu Tay-kui juga telah menghadang di tengah jembatan. Dengan sekali gertak tiba-tiba Yo Ko melemparkan Ang Ching-kong ke bawah jembatan, menyusul ini Tay-kui pun diterjangnya secara beringas.
Tak terduga mendadak angin santer berkesiur, tahu-tahu ada seseorang sudah melayang lewat melalui kepalanya terus tancapkan kaki di tengah-tengah antara Yo Ko dan Ngo-kui.
“Ha-ha-ha, tidurnya Lokiauhoa sekali ini sungguh nyenyak dan puas sekali!” kata orang itu sambil bergelak ketawa. Nyata ia bukan lain dari pada Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong.
Kejadian ini sungguh membikin Yo Ko girang tidak kepalang, sebaliknya Ngo-kui terkejut dan ketakutan setengah mati. Kiranya pada waktu tubuh Ang Chit-kong dilemparkan ke bawah jembatan tadi, pada saat hampir terjerumus ke bawah, mendadak dia sadar dan dengan tepat lengannya yang panjang menahan di atas jembatan, berbareng orangnya melompat lewat di atas kepala Yo Ko.
Maka tampaklah Ang Chit-kong menggerakkan tangan kiri ke depan, menyusul tangan kanannya didorong maju, ini adalah satu di antara tipu serangan ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ atau delapan-belas tipu pukulan penakluk naga yang menjadi kebanggaan hidupnya, yakni yang disebut ‘kang-liong-yu-hwe’.
Tay-kui yang pertama berhadapan dengan Ang Chit-kong, hendak menghindarkan diri tidak keburu lagi. Meski insaf serangan pengemis tua ini tak sanggup disambutnya secara keras, namun tidak ada jalan lain kecuali berbuat sebisanya, maka terpaksa dia gunakan kedua telapak tangan tangkis pukulan Ang Chit-kong. Sungguh pun begitu Tay-kui merasakan kedua lengannya kaku kesemutan dan dada sakit.
Nampak gelagat jelek, kuatir kalau saudara tuanya dihantam terjungkal ke dalam jurang, lekas-lekas Ji-kui ulurkan tangannya mendorong punggung sang toako. Namun demikian, ketika Ang Chit-kong menambahi tenaga telapak tangannya, tiba-tiba Ji-kui kena didorong mendoyong ke belakang hingga hampir saja terbanting jatuh.
Si-kui yang berdiri di belakang Ji-kui, terpaksa maju pula mendukung kedua saudaranya. Dan akibat menempel tangannya ini, ia menjadi ikut kontak oleh tenaga pukulan Ang Chit-kong, menyusul Si-kui menular pada Sam-kui dan paling akhir Sam-kui menularkan juga kepada Go-kui.
Kelima orang ini hendak lari tak bisa lari, mau hindarkan diri tak dapat menghindar, maka sekejap saja bila Ang Chit-kong menambah tenaganya sedikit, sekaligus mereka pasti akan kena dipukul mati oleh tenaga pukulan raksasa si pengemis tua itu.
Menyaksikan betapa hebat daya pukulan itu, Yo Ko menjadi tercengang sambil ternganga kagum.....
"Kalian berlima setan jahat selamanya melakukan berbagai kejahatan dan kekejaman, kini terpukul mati di tangan Lokiauhoa, agaknya mati pun tidak penasaran," kata Ang Chit-kong dengan tertawa.
Namun Ngo-kui tak menyerah mentah-mentah, mereka pasang kuda-kuda dengan kuat, dengan mata mendelik melawan telapak tangan Ang Chit-kong yang tunggal dengan gabungan tenaga mereka berlima. Siapa tahu daya tekanan Ang Chit-kong makin Iama makin berat hingga dada Ngo-kui terasa sesak, buat bernapas saja rasanya sukar.
Pada saat yang sangat genting itu, tiba-tiba dari jauh sana berkumandang suara "tok-tok-tok" yang keras, dari tikungan jalan sana tahu-tahu muncul seorang aneh yang berjalan dengan kepala, Siapa gerangan dia kalau bukan Auwyang Hong.
"Ayah!" seru Yo Ko tanpa pikir.
Akan tetapi Auwyang Hong seperti tak mendengar, mendadak ia melompat ke belakang Go-kui. Ia ulur kaki kanan terus menahan kepunggungnya, maka terasalah tiba-tiba satu kekuatan yang maha besar telah disalurkan melalui tubuh kelima orang itu. Melihat Auwyang Hong mendadak muncul di sini, Ang Chitkong menjadi kaget, apalagi Yo Ko memanggil "ayah", diam-diam pengemis tua ini pikir kiranya bocah ini anak Auwyang Hong, pantas memiliki ilmu silat tinggi.
Sementara itu tangannya sudah terasa berat, tenaga pukulan pihak lawan telah menembus datang melalui tubuh Ngo-kui, mau-tak-mau Ang Chit-kong tambah tenaga dan balas menghantam.
Sejak "Hoa-san-lun-kiam" kedua rampung, selama belasan tahun ini Ang Chit-kong dan Auwyang Hong belum pernah bertemu lagi Meski otak Auwyang Hong rada kurang waras, tetapi karena ia melatih Kiu-im-cin-keng secara terbalik hingga ilmu silatnya makin dilatih makin aneh dan kuat.
Sebaliknya Ang Chit-kong sendiri pernah mendengar sebagian isi kitab Kiu-im-cin-keng dari Kwe Cing serta Ui Yong yang ternyata banyak persamaannya dengan dasar ilmu silatnya sendiri, maka iapun sudah jauh lebih maju. Kini satu sama lain bertemu lagi, apapun juga yang baik selalu mengalahkan yang jahat, meski isi Kiu-im-cin-keng yang asli tak banyak di-pahami Ang Chit-kong, tapi tak kalah dengan Se-tok Auwyang Hong, si racun tua dari barat.
Beberapa puluh tahun yang lalu kedua orang ini sukar dibedakan siapa yang lebih unggul, sesudah masing-masing bertambah lebih hebat lagi kepandaiannya, kini untuk ketiga kalinya mereka bersua di Hoa-san, sesudah saling gebrak, keadaan masih tetap sama kuatnya.
Sudah tentu yang paling celaka adalah Ngo-kui yang tergencet di tengah, mereka menjadi terombang-ambing diantara kekuatan dua "raksasa" ini, tubuh mereka sebentar dingin, sebentar lagi panas, napas sebentar kencang sebentar kendur, sungguh penderitaan yang mereka rasakan beribu kali lebih hebat melebihi siksaan badan.
Beberapa kali Ang Chit-kong mengerahkan tenaganya, secara keras dan secara pelahan, tetapi setiap kali kena dipatahkan oleh tenaga kaki Auw-yang Hong yang memancal di sebelah sana, Ketika kakinya bertambah kuat memancalnya, namun sukar juga bikin Ang Chit-kong mundur sedikitpun. Sesudah saling adu kekuatan ini, kedua orang pun sama kagumnya, maka berbareng mereka melompat ke belakang sambil ketawa terbahak-bahak.
Dan karena "lepas tangan" kedua "raksasa" ini, daya tekanan pada Ngo-kui seketika hilang hingga tubuh kelima orang itu terhuyung-huyung kehilangan imbangan bagai orang mabuk saja. Sesudah badan kelima orang itu kena digencet ke sana ke mari oleh tenaga raksasa Ang Chit-kong dan Auwyang Hong, isi perut mereka sudah menderita luka parah, otot tulang mereka pun lemas dan menjadi orang cacat, sekalipun menghadapi seorang biasa merekapun tak sanggup melawan lagi.
"Bangsat, hitung-hitung ajalmu belum sampai, baik selanjutnya kalian tak bisa membikin celaka orang lagi, lekas enyah dari sini!" demikian Ang Chit-kong membentak.
Maka dengan Iesu dan tindakan sempoyongan, Ngo-kui bertindak pergi perlahan dengan saling dukung-mendukung.
PERTARUNGAN SAMBUNG LIDAH
Sementara itu, setelah Auwyang Hong berdiri tegak, ia lirik Ang Chit-kong dan lapat-lapat seperti pernah dikenalnya, maka segera dia menegurnya:
“Hai, bagus amat ilmu silatmu, siapakah namamu?”
Mendengar pertanyaan ini dan melihat air muka orang yang linglung, Ang Chit-kong tahu selama belasan tahun ini Auwyang Hong masih belum waras dari otaknya yang miring.
“Aku bernama Auwyang Hong, dan kau sendiri siapa?” demikian sengaja Ang Chit-kong menjawab.
Hati Auwyang Hong tergetar. Ia merasa nama ‘Auwyang Hong’ itu seperti telah dikenalnya betul, cuma dirinya sendiri bernama apa, ia tak bisa ingat lagi.
“Entah, aku lupa,” demikian sahutnya kemudian. “Eh, ya, siapakah namaku, ya?”
“Ha-ha-ha...!” Ang Chit-kong tertawa geli. “Kenapa tidak tahu namamu sendiri? Lekas kau pulang saja buat mengingat-ingatnya.”
Auwyang Hong menjadi amat marah ditertawai orang. “Tentu kau tahu, hayo beri-tahukan padaku,” bentaknya.
“Baiklah, aku kasih tahu, kau bernama Ha-mo katak busuk,” sahut Ang Chit-kong.
“Ha-mo, Ha-mo...” nama ini memang sangat dikenal Auwyang Hong, kedengarannya rada mirip namanya sendiri, tetapi bila dipikir lagi, rasanya pun bukan.
Seperti diketahui, ilmu mujijatnya Auwyang Hong yang sangat diunggulkan ialah ‘Ha-mo-kang’ atau ilmu weduk katak, bila digunakan harus berjongkok seperti lakunya katak. Oleh sebab itu Ang Chit-kong sengaja menggoda dan mengolok-olok.
Auwyang Hong dan Ang Chit-kong adalah musuh bebuyutan selama berpuluh tahun, rasa benci masing-masing telah tertanam dalam hati, maka meski dalam keadaan linglung, Auwyang Hong menjadi marah demi melihat macamnya Ang Chit-kong. Di lain pihak, demi nampak orang berdiri menjublek, habis itu matanya menyorotkan sinar bengis, diam-diam Ang Chit-kong telah berjaga-jaga.
Benar saja, sekejap kemudian mendadak terdengar Auwyang Hong menggeram satu kali, dengan kalapnya ia lalu menubruk maju. Ang Chit-kong tak berani ayal, sekali tangannya bergerak, segera ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ dikeluarkannya. Cara begitulah kedua jago tua ini memulai dengan pertarungan yang maha sengit di atas jembatan alam di puncak tertinggi gunung Hoa-san, di kedua sisi adalah jurang yang dalamnya ber-ribu tombak, asal sedikit ada yang bertindak meleng, tentu orangnya akan hancur lebur tergelincir ke dalam jurang.
Oleh karena resiko itulah, maka begitu saling gebrak, segera kedua orang mengeluarkan tipu serangan yang paling hebat untuk mengadu jiwa, bila dibanding dengan pertandingan Hoa-san-lun-kiam yang dilakukan secara halus, terang sekali ini keadaannya sudah lain.
Kedua jago tua ini sudah lanjut umurnya. Meski ilmu silat yang dilatih semakin sempurna, akan tetapi soal tenaga justru berkurang dari pada sebelumnya. Oleh karena itu pertarungan sekali ini terutama bukan ditentukan oleh besar-kecilnya tenaga masing-masing, namun semuanya ingin menang dengan tipu-tipu pukulannya sendiri yang paling bagus.
Dan karena inilah rasanya yang paling untung ialah si Yo Ko. Ia bisa menyaksikan segala kebagusan dari tiap-tiap ilmu pukulan kedua jago tua itu sehingga tak sedikit intisari yang dia petik. Apa lagi dasarnya Yo Ko memang pintar, pula sudah memahami inti Giok-li-sim-keng dan Kiu-im-cin-keng, ia menjadi lebih gampang menerima di mana letak inti ilmu silat kedua jago tua yang hebat itu.
Sewaktu kedua jago tua itu mulai bergebrak Yo Ko rada-rada kuatir Auwyang Hong akan terjerumus ke dalam jurang mengingat tempat pertempuran yang benar-benar berbahaya, tetapi setelah saling gebrak, kadang-kadang ia malah melihat Ang Chit-kong terdesak, tanpa terasa ia mengharap agar pengemis tua itu diberkahi selamat.
Harus diketahui bahwa Auwyang Hong adalah ayah angkat Yo Ko, perasaan kekeluargaan mereka begitu rapat dan melekat, tapi tindak tanduk Ang Chit-kong juga membawa semacam perbawa yang besar dan agung, hal ini mau tak mau membikin Yo Ko menjadi kagum dan menghormat.
Begitulah setelah beratus jurus kedua jago tua itu bergebrak, meski kedua orang berulang kali sama-sama menghadapi serangan lihay, selalu mereka sanggup menyelamatkan diri dengan baik, akhirnya Yo Ko tidak perlu kuatir lagi atas keselamatan kedua orang tua itu, ia justru memusatkan pikirannya untuk mengingat baik-baik tipu silat yang diunjuk mereka.
Sudah lama Yo Ko apalkan isi Kiu-im-cin-keng dengan baik, dan kini menyaksikan setiap gerak-gerik tipu yang dikeluarkan kedua jago tua itu ternyata cocok sekali dengan intisari pelajaran kitab sakti itu, sungguh bukan buatan rasa girang Yo Ko. Pikirnya: “Satu istilah saja dalam kitab yang disangka cuma biasa saja, tetapi siapa tahu ternyata mengandung perubahan yang begini luas dan banyak.”
Dan sesudah ribuan jurus pertandingan berlangsung, meski kepandaian kedua jago tua itu belum habis dikeluarkan, namun karena usia yang sudah lanjut, mau tidak mau napas mereka kini mulai memburu dan jantung memukul cepat, gerak-gerik mereka pun mulai kendur.
“Kalian berdua sudah setengah hari berkelahi, tentu perut sudah lapar sekali, marilah kita makan yang kenyang dulu, nanti bertanding lagi!” demikian Yo Ko teriaki mereka.
Bagi Auwyang Hong segala makanan itu tidak menarik, lain halnya dengan Ang Chit-kong, begitu mendengar kata-kata “makan”, segera ia melompat mundur sambil berseru:
“Bagus, bagus! Memang harus makan duIu!”
Tadi Yo Ko melihat bakul bambu berisi barang makanan yang dibawa Ngo-kui masih berada di situ, dengan cepat bakul itu disambarnya ke hadapan Ang Chit-kong. Waktu ia buka tutup bakul bambu itu, ternyata isinya banyak sekali, ayam-daging komplit dengan nasi dan arak segala. Soal makan selamanya Ang Chit-kong tak pernah sungkan-sungkan. Tanpa permisi lagi ia menyambar seekor ayam beku, baik daging berikut tulangnya terus dilalap semua hingga bersuara keletak-keletuk.
“Ayah, selama ini berada di manakah kau?” dengan suara lembut Yo Ko bertanya sambil menyodorkan sepotong daging beku pada Auwyang Hong.
“Aku mencari kau,” sahut Auwyang Hong dengan mata mendelong.
Yo Ko menjadi terharu. Dia pikir di dunia ini ternyata masih ada juga seorang yang begini cinta padaku dengan sesungguh hati. Maka sambil merangkul tangan orang, Yo Ko berkata lagi:
“Ayah, Ang-locianpwe ini orang baik, janganlah kau berkelahi lagi dengan dia.”
“Dia, dia Auwyang Hong, dan Auwyang Hong adalah manusia jahat,” kata Auwyang Hong sambil menuding Ang Chit-kong.
Melihat pikiran orang memang abnormal, sungguh pedih sekali hati Yo Ko.
“Ya, ya, memang benar! Auwyang Hong manusia busuk dan jahat, Auwyang Hong pantas mampus!” Ang Ching-kong terbahak-bahak geli.
Tentu saja Auwyang Hong semakin bingung. Ia pandang Ang Chit-kong, lalu pandang lagi pada Yo Ko, matanya menyorotkan sinar yang guram dan hampa, pikirannya pun menjadi kacau, sebisanya ia bermaksud meng-ingat sesuatu, tapi selalu tak bisa mengingatnya.
“Ang-locianpwe,” kata Yo Ko setelah melayani Auwyang Hong makan sedikit, “dia adalah ayah angkatku, harap engkau kasihan. Ia sedang menderita sakit ingatan, sukalah jangan bikin susah lagi padanya.”
Ang Chit-kong adalah orang berbudi. Demi mendengar permohonan Yo Ko, berulang kali ia mengangguk.
“Anak baik, anak baik,” demikian pujinya.
Siapa tahu Auwyang Hong yang abnormal itu mendadak melompat bangun lagi. “Hayo, Auwyang Hong, sekarang maju lagi!” demikian ia berteriak-teriak atas nama sendiri kepada Ang Chit-kong. “Dalam hal pukulan kita sama kuat, sekarang kita boleh coba-coba dengan senjata.”
“Tak usahlah. Sudah, anggaplah kau yang menang,” sahut Ang Chit-kong sambil geleng-geleng kepala.
“Menang apa segala? Aku justru ingin membunuh kau!” teriak Auwyang Hong tiba-tiba.
Kemudian dia sambar sepotong kayu yang digunakan sebagai pentung terus menghantam ke atas kepala Ang Chit-kong. Dulu, dengan senjata khasnya yang berupa tongkat ular, pernah Auwyang Hong malang melintang di dunia persilatan, ilmu permainan tongkatnya itu lihay bukan main. Kini meski tongkatnya tak berular pada ujungnya, tetapi hantamannya sekali ini ternyata amat keras, belum tiba pentungnya Yo Ko sudah merasakan sambaran angin yang menekan dada.
Lekas-lekas Yo Ko melompat ke pinggir. Waktu ia memandang Ang Chit-kong, dilihatnya pengemis tua ini sudah sambar pula sepotong kayu pendek dan dipakai sebagai senjata, lalu kedua jago tua itu pun saling labrak lagi dengan serunya.
‘Pak-kau-pang-hoat’, ilmu permainan pentung pemukul anjing yang dimiliki Ang Chit-kong ialah ilmu silat yang tiada bandingannya di kolong langit ini, cuma tak mau sembarangan dia keluarkan. Selain ini ia pun punya ilmu permainan pentung lain yang bagus dan lihay. Kini satu per satu ia keluarkan untuk melabrak Auwyang Hong, maka pertarungan sekali ini menjadi berbeda lagi dibandingkan gebrakan dengan tangan dan kaki tadi. Begitu hebat sambar-menyambarnya tongkat dan pentung sehingga Yo Ko yang menonton di samping ikut berdebar dan ternganga.
Pertarungan sengit ini terus berlangsung sampai magrib, tetapi masih tidak ada yang lebih unggul atau asor. Melihat keadaan tempat itu sungguh berbahaya, seluruh gunung hanya tanah salju belaka yang halus licin, dan kedua jago tua itu sudah lanjut usianya, kalau terjadi sedikit meleng mungkin akan menjadi penyesalan selama hidup, maka dengan suara keras Yo Ko lantas berteriak-teriak minta mereka berhenti.
Tapi Ang Chit-kong dan Auwyang Hong sedang bertempur dengan napsunya, mana bisa mereka berhenti begitu saja? Kemudian Yo Ko mendapat akal. Dia ingat kegemaran Ang Chit-kong satu-satunya, yaitu makan. Ia pikir kalau pengemis tua ini dipancing dengan makanan enak tentu orang akan mengiler dan boleh jadi untuk sementara bisa diadakan ‘gencatan senjata’.
Maka dengan cepat ia pergi mencari sesuatu di alas belukar pegunungan itu. Ia dapatkan beberapa potong ubi dan singkong, maka segera ia menyalakan api dan dibakar hingga menguarkan bau sedap. Benar saja, demi bau sedap itu, segera Ang Chit-kong berteriak:
“Ha-mo busuk, tak mau lagi berkelahi dengan kau, makan dulu paling perlu!”
Sesudah itu dia pun mendekati Yo Ko terus sambar dua potong ubi bakar, lantas digeragoti meski mulutnya sakit kebakar oleh panasnya ubi, sambil tiada hentinya ia memuji Yo Ko yang pintar mencari barang santapan.
Di sebelah sana Auwyang Hong tidak mau berhenti begitu saja. Dia susul Ang Chit-kong terus mengemplang kepala orang dengan tongkatnya. Namun Ang Chit-kong tak berkelit sama sekali, sebaliknya ia sambar sepotong singkong bakar terus dilemparkan ke arah Auwyang Hong sambil berseru:
“Nih, makanlah!”
Sebelum tongkatnya diayunkan, Auwyang Hong malah tertegun. Secara otomatis sebelah tangannya cepat-cepat menangkap singkong yang dilemparkan padanya terus dimakan, seketika ia pun lupa pada pertarungan sengit tadi.
Malam itu mereka bertiga tidur dalam sebuah goa. Yo Ko berusaha agar Auwyang Hong bisa ingat kembali pada kejadian-kejadian masa lalu, maka beberapa kali ia sengaja memancingnya, namun Auwyang Hong selalu ter-menung saja tanpa menjawab. Kadang-kadang orang tua ini ketok batok kepalanya sendiri dengan kepalan, tampaknya sebisanya hendak mengingat, namun percuma saja karena otaknya seakan-akan sudah pantul. Dia menjadi sangat masgul.
Karena kuatir orang makin berpikir semakin gila, lekas-lekas Yo Ko menghibur Auwyang Hong buat tidur saja, sebaliknya ia sendiri hanya guIang-guling tidak bisa pulas. Ia sedang memikirkan ilmu pukulan kedua jago tua yang dilihatnya siang tadi, makin mengingatnya semakin bersemangat, sampai akhirnya diam-diam dia bangun sendiri lantas menjalankan gerak-gerik pukulan itu menurut apa yang dilihatnya. Dia dapat merasakan kebagusan ilmu silat yang tiada taranya itu. Sampai tengah malam, sesudah sangat letih, barulah Yo Ko pergi tidur.
Besoknya pagi-pagi sekali, waktu Yo Ko masih layap-layap dalam tidurnya, tiba-tiba saja didengarnya di luar goa ada suara sambaran angin yang menderu-deru diselingi dengan suara bentakan dan lompatan. Lekas Yo Ko meloncat bangun, di depan goa terlihat Ang Chit-kong dan Auwyang Hong kembali sedang saling labrak dengan ramainya.
Melihat kebandelan kedua orang tua itu, Yo Ko menghela napas tanpa berdaya. Dengan kesal dia duduk menunggu di samping, diam-diam dia pun mengingat baik-baik gerak tipu permainan tongkat kedua orang itu. Dia merasa setiap gerakan Ang Chit-kong semuanya dapat dibedakan dengan jelas, sebaliknya gerak-gerik Auwyang Hong sangat sulit diduga. Sering kali kalau Ang Chit-kong berada di atas angin, tahu-tahu Auwyang Hong keluarkan tipu gerakan aneh dengan cepat, lalu kedudukan mereka pun berubah sama kuat Iagi.
Begitulah cara pertandingan mereka yang berlarut-larut ini, tiap siang berkelahi dan saban malam tidur, terus-menerus berlangsung selama enam hari. Begitu payah keadaan kedua orang tua ini hingga semangat lesu dan tenaga habis, namun masih tak ada satu pun yang mau mengalah.
“Kalau pertarungan secara demikian berlangsung lagi, dua harimau bertengkar, akhirnya tentu ada satu yang celaka,” demikian Yo Ko membatin.
Karena itu, malamnya ia tunggu sesudah Auwyang Hong tidur, diam-diam ia berkata pada Ang Chit-kong:
“Marilah Locianpwe keluar, ingin aku bicara sedikit.”
Ang Chit-kong tidak menolak, ia ikut Yo Ko keluar goa. Mendadak pemuda ini berlutut di hadapannya sambil menjura tiada hentinya, akan tetapi sepatah kata pun tak dikatakannya. Ang Chit-kong adalah orang pintar, segera ia pun tahu maksud hati orang, ia tahu pemuda ini memohon agar kasihan pada Auwyang Hong yang menderita sakit ingatan itu dan suka mengaku kalah saja padanya.
“Baiklah, aku turuti permintaanmu,” demikian katanya kemudian sambil ketawa terbahak-bahak. Sesudah itu, dengan menyeret pentungnya ia pun bertindak pergi turun ke bawah gunung.
Tak tahunya, baru beberapa langkah saja ia bertindak, sekonyong-konyong dari belakang ada angin menyambar. Ternyata Auwyang Hong sudah melompat keluar dari goa terus menyabet dengan tongkatnya.
“Bangsat tua, kau mau lari ya?!” bentak Auwyang Hong dengan gusar.
Ang Chit-kong hindarkan tiga serangan orang berulang-ulang, ia bermaksud mencari jalan buat pergi, tetapi siapa tahu selalu dicegat dan kena dikurung oleh tongkat Auwyang Hong sehingga tak sempat meloloskan diri. Pertandingan silat di antara jago kelas tinggi sesungguhnya sedikit pun tidak boleh saling mengalah. Kini karena Chit-kong bermaksud mengalah, keruan saja dia menjadi tercecar, beberapa kali dia malah hampir dicelakai oleh tongkat lawannya.
Pada suatu ketika, dia lihat Auwyang Hong menyodok cepat dengan tongkatnya ke arah perutnya. Chit-kong tahu di belakang serangan ini masih disusul serangan yang lebih lihay dan sekali-kali tak boleh dihindari begitu saja, maka terpaksa ia angkat tongkatnya sendiri buat menangkis. Tanpa terduga tiba-tiba terasa olehnya pada tongkat Auwyang Hong membawa semacam tenaga dalam yang maha kuat dan lihay, sungguh tak kepalang kejut Ang Chit-kong.
“He, kau hendak adu lwekang dengan aku?” demikian sekilas pikiran ini terlintas olehnya.
Dan betul saja, baru tergerak pikirannya, tahu-tahu tenaga dalam musuh telah mendesak. Dalam keadaan demikian memang tiada jalan lain Iagi kecuali melawannya dengan tenaga dalam juga. Maka ia pun segera kumpulkan Iwekang-nya melawan serangan tenaga dalam Auwyang Hong.
Dengan ilmu silat setinggi Ang Chit-kong dan Auwyang Hong, kalau hanya terluka oleh sekali pukulan atau pentungan belum tentu membahayakan jiwa mereka, namun kini dengan adu tenaga dalam, keadaan sudah meningkat sampai detik yang tidak bisa saling mengalah Iagi. Hanya ada dua pilihan untuk mereka: ‘hidup atau mati’, lain tidak. Dulu pernah juga mereka saling bertanding, akan tetapi karena sama-sama jeri terhadap kelihayan pihak lain, kalau tidak yakin bakal menang, tidak ada yang berani sembarangan melakukan tindakan yang berbahaya ini. Siapa tahu dalam keadaan sinting, karena sudah beberapa hari bertanding masih belum bisa menang, tiba-tiba Auwyang Hong menyerang dengan Iwekang asli.
Belasan tahun yang lalu, kebencian Ang Chit-kong terhadap Se-tok Auwyang Hong boleh dikatakan meresap sampai ke tulang, tapi sekarang usianya sudah lanjut, tabiat kerasnya sudah jauh berkurang, pula melihat musuh kawakan itu tak waras otaknya, sedang Yo Ko berulang kali mohon kasihan baginya, sesungguhnya tak ada maksud lagi Ang Chit-kong untuk membunuhnya. Oleh karena itu ia hanya pusatkan tenaga dalamnya di perut, ia hanya bertahan dan tidak menyerang, ia hendak tunggu sampai Auwyang Hong sendiri yang kepayahan kehabisan tenaga dalam.
Tak terduga, tenaga Auwyang Hong bukannya berkurang sebaliknya malah seperti ombak samudera saja yang bergelombang tiada henti-hentinya, satu gelombang didorong dengan gelombang yang lain, makin lama semakin keras. Tiba-tiba Ang Chit-kong teringat pada sesuatu, tak tertahan lagi ia terkejut sekali. Kiranya teringat olehnya pertarungan siang tadi waktu adu tenaga dengan Auwyang Hong dengan Ngo-kui di tengah sebagai alat mengukur, tatkala itu berulang Auwyang Hong memancal tiga kali dengan kakinya dan tenaga yang dikeluarkan itu pun yang satu lebih besar dari yang sebelumnya.
Sekarang tampaknya sama seperti tadi itu. Belum reda tenaga serangan yang pertama, gelombang serangan kedua sudah menyusul tiba dan begitu seterusnya, tenaga serangan kedua masih terasa kuat, segera tenaga gelombang ketiga datang lagi. Teringat akan hal itu, Ang Chit-kong tidak berani ayal, segera ia pun memusatkan tenaga dalamnya melakukan serangan balasan, dan karena keras lawan keras, tubuh kedua orang sama-sama terguncang.
Melihat air muka kedua orang tua itu sangat tegang, terang mereka sedang adu tenaga dalam yang maha hebat secara mati-matian, diam-diam Yo Ko sangat kuatir. Apa bila dia mau membela Auwyang Hong sebagai ayah angkatnya, asal dia serang Ang Chit-kong dari belakang dengan jarinya saja, pasti jago tua itu akan luka parah. Tetapi dilihatnya Ang Chit-kong berjiwa jantan sejati, ia menjadi ragu-ragu dan tidak tega turun tangan.
Lewat tidak lama kemudian mendadak Auwyang Hong menggertak sekali, terus menjungkir tegak dengan kepala di bawah, sepatu dan kaos kaki ia buang juga, dengan sepasang kakinya yang telanjang inilah ia meng-geyol-geyol dan mengayun-ayun cepat di udara hingga menerbitkan angin. Sebaliknya Ang Chit-kong kelihatan tenang saja, tanpa bergerak sedikit pun bagai patung.
Sesudah saling ngotot lagi beberapa saat lamanya, akhirnya telapak kaki Auwyang Hong menguap seperti digodok, nyata ia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya melakukan serangan total. Begitu juga Ang Chit-kong, dia pun melawan dengan sepenuh kekuatan yang ada padanya. Dalam keadaan demikian ia tidak bisa lagi memikirkan bakal mencelakai jiwa lawan atau tidak, yang dia harap asal dirinya sendiri tidak terluka, sudah sangat beruntung baginya.
Cara begitulah mereka bertanding dari fajar menyingsing sampai lewat lohor, lambat laun Ang Chit-kong merasa tenaga dalamnya mulai ‘kering’, sebaliknya daya tekanan lawan masih terus menerus membanjir seperti gelombang ombak yang tiada habis-habisnya.
“Celaka, Si Racun tua ini makin gila ternyata justru semakin lihay, hari ini jiwa Lokiauhoa (pengemis tua) bisa melayang di sini,” diam-diam Chit-kong mengeluh.
Nyata ia sudah menduga dalam pertarungan ini bakal kalah, sayangnya tiada jalan buat melepaskan diri, terpaksa ia bertahan sekuatnya, Tak ia sangka, keadaan Auwyang Hong pun sudah bagaikan pelita yang kehabisan minyak, tinggal menanti sirapnya saja. Kedua orang menjadi sama-sama mengeluh dan sukar dipisahkan lagi kecuali diakhiri dengan ‘mati atau hidup’. Sesudah dua jam lagi, hari mulai sore, seluruh tenaga yang ada pada Ang Ching-kong sudah dikeluarkan semua tanpa ketinggalan ‘satu tetes’ pun. Begitu juga Auwyang Hong sudah napas lemah dan tenaga habis.
Melihat wajah kedua jago tua itu kini berubah hebat, Yo Ko menaksir sebentar lagi kedua orang itu pasti akan gugur bersama, tetapi kalau maju buat memisahkan mereka, rasanya ilmu silat sendiri masih terlalu jauh selisihnya, kalau sampai dibentur kembali oleh tenaga dalam mereka, mungkin ia sendiri bisa terluka parah kalau tidak mampus. Karena itulah ia menjadi ragu-ragu. Tapi bila menyaksikan air muka Auwyang Hong yang tampak sangat menderita, napas Ang Chit-kong juga memburu senin-kemis, betapa pun Yo Ko tidak tega. Ia ambil keputusan: “Sekali pun harus mati, biarlah kutolong mereka.”
Segera dia sambar sebatang kayu, dia mendekati tengah kedua orang tua itu lalu duduk bersila, dia turuti inti pelajaran Iwekang yang pernah diperolehnya dari Siao-liong-li sambil kumpulkan tenaga untuk melindungi seluruh tubuhnya sendiri. Setelah itu, sambil kuatkan hatinya mendadak dia ulur kayu tadi terus mencungkit ke tengah-tengah kedua pentung orang. Sungguh tak pernah diduganya bahwa mencungkitnya ini sedikit pun ternyata tak makan tenaga, ketika tenaga dalam kedua jago tua itu kontak melalui batang kayunya dan kena ditangkis Iwekang yang sudah dia kumpulkan, segera dapat dipatahkan dengan gampang.
Kiranya itu disebabkan sisa tenaga kedua orang tua itu sudah lapuk dan tiada artinya lagi. Meski pun ilmu silat Se-tok dan Pak-kay (Si Racun dari Barat dan Si pengemis dari Utara) setinggi langit, tapi setelah dikuras selama beberapa hari dalam pertandingan mati-matian ini, maka sisa tenaga mereka jika hanya buat menyerang seorang biasa saja sudah sukar melukainya, apa lagi melawan si Yo Ko! Maka tampaklah kedua orang tua itu mendeprok ke tanah dengan lemas, muka mereka pucat seperti mayat dan tak bisa berkutik lagi.
“Hai, Ang-locianpwe, Ayah, baik-baikkah kalian?” teriak Yo Ko kuatir.
Akan tetapi bernapas saja kedua orang tua itu merasa sulit, apa lagi menjawabnya? Yo Ko hendak mengangkat mereka ke dalam goa, tetapi Ang Chit-kong goyangkan kepalanya perlahan. Yo Ko tahu luka kedua orang itu terlalu berat, maka tidak berani lagi menggeser mereka. Malam itu dia pun tidur di tengah-tengah kedua orang. Dia kuatir tengah malam jangan-jangan keduanya bangun saling labrak lagi. Padahal hendak menyembuhkan luka dengan menjalankan lwekang saja susah, mana mungkin mereka sanggup bertempur lagi?
Besok paginya, sesudah Yo Ko bangun, dia lihat napas kedua orang tua itu empas-empis, keadaan mereka lebih buruk dari pada kemarin, keruan saja pemuda ini sangat kuatir, lekas-lekas ia panggang beberapa singkong lagi dan melayani mereka makan. Setelah dilolohi sedikit makanan, sampai hari ketiga, semangat kedua jago tua itu barulah mulai rada baik. Berturut-turut Yo Ko pindahkan mereka ke dalam goa, ia taruh yang satu di sebelah timur dan yang lainnya sebelah barat, ia sendiri tidur di tengah-tengah sebagai ‘garis pemisah’.
Cara begitulah mereka beristirahat beberapa hari. Karena Ang Chit-kong memang doyan makan, maka pulihnya pun lebih cepat. Sebaliknya sepanjang hari Auwyang Hong hanya bungkam saja dengan muka muram, Yo Ko ajak bicara padanya, ia pun tak menjawab. Hari itu, ketika kedua orang itu rebah berhadapan, mendadak Ang Ching-kong berteriak kepada Auwyang Hong:
“Hai, Ha-mo busuk, kau menyerah padaku belum?”
“Menyerah apa?” sahut Auwyang Hong. “Masih banyak ilmu kepandaianku yang belum kukeluarkan. Kalau sempat kumainkan semua, pasti aku akan hajar kau hingga minta ampun.”
“Ha-ha-ha, sungguh kebetulan, aku pun masih banyak ilmu silat yang belum dikeluarkan,” kata Ang Chit-kong dengan tertawa lebar. “Pernah tidak kau mendengar Pak-kau-pang-hoat?”
Auwyang Hong terkesiap oleh pertanyaan itu, pikirnya: “Ya, menurut cerita, pangcu dari Kay-pang memiliki sejurus Pak-kau-pang-hoat yang bukan main lihaynya bila dimainkan. Tapi dalam pertarungan sengit dengan aku tadi, belum pernah dikeluarkan, agaknya dia hanya omong kosong belaka, atau kalau tidak, hakekatnya dia tidak bisa memainkan ilmu tongkat itu.” Karena pikiran itu, segera ia menjengek:
“Hm, Pak-kau-pang-hoat apa gunanya?”
Di lain pihak Ang Chit-kong menjadi menyesal juga mengapa dia tidak mengeluarkan ilmu permainan tongkatnya yang sakti itu pada waktu bertarung sengit kemarin. Kalau sampai Pak-kau-pang-hoat dikeluarkan, pasti Se-tok sudah dia robohkan. Cuma sayang karena terlalu percaya pada kemampuan sendiri, bahwa tidak usah dengan ilmu pusaka Kay-pang itu juga bisa menang atas lawannya, siapa tahu akibatnya berakhir dengan ke-duanya sama-sama luka parah. Kini hendak dikeluarkan namun tenaga sudah habis, sedang orang telah menjengek padanya, tentu saja ia penasaran. Tiba-tiba tergerak kecerdasannya, ia menggapai Yo Ko ke dekatnya, lantas dengan bisik-bisik ia tanya pemuda ini:
“Aku adalah penjabat ketua Kay-pang yang lalu, apa kau tahu?”
Yo Ko manggut tanda tahu. Memang dari imam-imam Coan-cin-kau di Tiong-yang-kiong dahulu dia pernah mendengar bahwa pejabat Pangcu dari Kay-pang yang dulu, Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong si pengemis sakti berjari sembilan, ilmu silatnya tiada tara, jiwanya jujur berani, seorang gagah kesatria.
“Sekarang juga ada sejurus ilmu silat akan kuajarkan padamu,” demikian kata Ang Chit-kong pula, “Cuma ilmu silat ini selamanya hanya diturunkan kepada Pangcu perkumpulan pengemis dan tidak diajarkan kepada orang luar. Tetapi lantaran ayah angkatmu itu berani pandang rendah, aku justru ingin kau unjukkan ilmu silat ajaranku ini kepadanya.”
“Jika ilmu silat Lociapwe ini tak boleh diturunkan kepada orang luar, biar Tecu tak pelajari saja,” sahut Yo Ko. “Pikiran ayah angkatku belum jernih, harap Locianpwe jangan memiliki pandangan yang sama dengan dia.”
“Tidak, meski pun kau telah mempelajari gerak-gerik tipu silat ini, tapi kalau belum paham rahasia menggunakan tenaganya, di saat menghadapi musuh akan tiada gunanya juga,” kata Ang Chit-kong lagi sambil goyang kepala, “Kini aku pun tidak suruh kau gunakan ilmu ini buat memukul ayah angkatmu, cukup asal kau goyangi tangan dan geraki kaki menurut gaya yang kukatakan, tentu dia akan paham. Oleh sebab itu tak bisa dikatakan kuajarkan kepandaian ini padamu.”
Namun Yo Ko masih merasa ragu, pikirnya: “Kalau ilmu silat ini adalah pusaka Kay-pang, belum pasti ayah angkatku akan sanggup menangkisnya, lalu kenapa aku bantu kau buat mengalahkan ayah angkat sendiri?”
Oleh sebab itu dia tetap menolak dengan alasan tidak ingin mempelajari ilmu pusaka Kay-pang yang dibanggakan itu. Rupanya Ang Chit-kong dapat meraba apa yang dipikirkan Yo Ko, maka kepada Auwyang Hong ia berteriak:
“Hai, katak busuk, anak angkatmu tahu kalau kau tidak dapat melawan aku punya Pak-kau-pang-hoat, maka ia tak berani pertunjukkan cara-caranya padamu.”
Auwyang Hong menjadi marah oleh pancingan ini. “Jangan kuatir, Nak, aku masih punya banyak ilmu sakti yang belum digunakan. Lekas kau unjukkan menurut ajarannya padaku, kenapa harus takut?” demikian teriaknya.
Karena didesak sini dan dipaksa sana, Yo Ko menjadi serba salah, terpaksa ia mendekati Ang Chit-kong menantikan pelajaran apa yang hendak diturunkan padanya. Ang Chit-kong suruh Yo Ko jemput sebatang kayu, lalu dia jelaskan caranya sebuah tipu lihay dari Pak-kau-pang-hoat yang disebut ‘pang-tah-siang-kau’ atau sekali pentung dua anjing.
Dasar Yo Ko memang cerdas, sekali belajar lantas bisa, segera pula dia tunjukkan gerak tipu itu menurut cara-cara yang diajarkan Ang Chit-kong. Melihat gerak tipu serangan pentung pemukuI anjing ini sangat aneh dan nyata memang lihay, seketika Auwyang Hong menjadi susah mendapatkan jalan untuk mematahkannya. Setelah berpikir sejenak, kemudian baru dia katakan suatu gerak tipu juga pada Yo Ko. Yo Ko menurut, ia pertunjukkan menurut apa yang dikatakan Auwyang Hong.
“Bagus,” dengan tersenyum Ang Chit-kong memuji, “dan sekarang satu tipu lagi.”
Lalu ia pun ajarkan sebuah tipu pula pada Yo-Ko dari Pak-kau-pang-hoat. Dan begitulah seterusnya, kedua jago tua itu bertanding secara tidak langsung, mereka hanya menggunakan mulut saja dengan Yo Ko sebagai ‘penyambung lidah’. Karena sama lihaynya, sampai hari telah petang baru belasan jurus saja berlangsung, walau pun begitu, bagi Yo Ko sudah terlalu payah hingga keringatnya gemerobyos. Maka untuk sementara pertandingan ditunda.
SETERU SEPANJANG HIDUP, KAWAN MENJELANG AJAL
Besok paginya pertandingan dilanjutkan lagi. Belum sampai lohor, 36 jurus ilmu pentung pemukuI anjing sudah selesai dikeluarkan Ang Chit-kong. Biar pun ilmu pentung itu hanya 36 jurus saja, tetapi perubahan selanjutnya tiap tipu gerakannya ternyata amat hebat dan tiada habis-habisnya. Sampai akhirnya, waktu yang dipakai berpikir Auwyang Hong untuk menangkis gerak serangan itu semakin panjang, bila mana pertandingan dilangsungkan sungguh-sungguh dan tipu serangan datangnya susul menyusul secara cepat, mana dia bisa menggunakan otaknya begitu bebas?
Sungguh pun demikian, harus diakui bahwa meski pun lama berpikir, tapi setiap kali tipu-tipu tangkisannya juga selalu luar biasa bagusnya, baik untuk menjaga diri mau pun buat balas menyerang, hal ini pun bikin Ang Chit-kong sangat kagum.
Begitulah pertandingan lain dari yang lain itu terus berlangsung selama tiga hari, sampai petang hari ke empat, Ang Chit-kong sudah katakan pada Yo Ko tipu perubahan terakhir dari 36 jurus ilmu pentung pemukul anjing yang disebut ‘boat-jau-keng-coa’ atau menyontek rumput mengejutkan ular. Ini adalah tipu ikutan terakhir dari Pat-kau-pang-hoat yang paling lihay, menurut teori ilmu silat sudah pasti tiada jalan buat mematahkannya, dengan sendirinya Auwyang Hong pun sukar hendak menangkisnya.
Malamnya ia guIang-guling tak bisa pulas, semalam suntuk ia peras otak memikirkan cara menangkis tipu terakhir Ang Chit-kong yang lihay itu. Besok paginya, sebelum Yo Ko bangun tiba-tiba terdengar Auwyang Hong telah berteriak-teriak:
“Ha, bisa, bisa, begini caranya! Nak, kau boleh gunakan tipu ini untuk mematahkan serangannya!”
Suaranya terdengar begitu bersemangat, tetapi juga tersengal-sengal. Mendengar suaranya rada aneh, waktu Yo Ko pandang muka orang, sungguh terkejutnya bukan buatan. Kiranya karena usia Auwyang Hong sudah lanjut, tapi karena Iwekang-nya terlatih dalam sekali, maka rambut berikut kumisnya hanya sedikit putih kelabu saja. Siapa tahu karena terlampau memeras otak semalam saja, tahu-tahu seluruh alis, kumis dan rambutnya kini menjadi putih semua, seketika orangnya seperti bertambah tua berpuluh tahun.
Berduka sekali hati Yo Ko melihat keadaan ini. Dia bermaksud memohon Ang Chit-kong agar jangan meneruskan pertandingan, tapi sebaliknya terus-menerus Auwyang Hong mendesak lagi, mau tak mau terpaksa dia pertunjukkan pula tipu ciptaan baru dalam semalam oleh Auwyang Hong ini. Demi nampak tipu baru ini, seketika muka Ang Chit-kong menjadi pucat bagaikan mayat. Memang ia sudah menggeletak di tanah dan sukar berkutik, kini entah mengapa dan dari mana datangnya tenaga, sekonyong-konyong dia melompat bangun terus menubruk ke arah Auwyang Hong sambil berteriak:
“Ha-ha-ha, Si Racun tua, Auwyang Hong, Lokiauhoa hari ini betul-betul takluk padamu!”
Dan begitu saling bergumul, Ang Chit-kong merangkul erat-erat tubuh Auwyang Hong. Terkejut sekali Yo Ko oleh kejadian itu. Dia sangka orang berniat hendak mencelakai ayah angkatnya, lekas ia tarik-tarik punggung pengemis tua itu, siapa tahu rangkulannya malah semakin kencang hingga tak dapat ditarik lepas sedikit pun.
“Ha-ha-ha, Auwyang Hong, si Racun tua, tak nyana kau bisa mendapatkan tipu serangan lihay yang baru ini, hari ini Lokiauhoa menyerah. Bagus, Auwyang Hong, bagus!” demikianlah Ang Chit-kong masih terus berteriak-teriak sambil terbahak-bahak.
Memang umur Auwyang Hong sudah tua sekali, ditambah lagi pertarungan sengit selama beberapa hari dan semalam suntuk memeras otak, hal ini sudah membikin semangatnya lemah dan tenaga habis. Sekarang tiba-tiba mendengar Ang Chit-kong berseru namanya “Auwyang Hong” sampai beberapa kali, mendadak seperti cahaya refleksi yang membalik, otaknya yang miring seketika menjadi waras kembali, kejadian selama berpuluh tahun tiba-tiba seperti sebuah cermin yang menerangi alam pikirannya dan seakan-akan terpentas di depan matanya.
“Ha-ha! Ya, ya! Aku adalah Auwyang Hong, aku Auwyang Hong! Ha-ha-haaa...!” demikian kemudian ia pun ketawa terbahak-bahak, suaranya lantang bagai bunyi genta dan sangat menusuk telinga.
Tampaklah kedua kakek ubanan saling rangkul-merangkul sambil tertawa terbahak-bahak tiada hentinya. Selang tidak lama kemudian, suara tertawa mereka makin lama makin rendah dan makin lemah, hingga akhirnya mendadak berhenti, lalu kedua orang tua itu tak bergerak lagi. Luar biasa kejut Yo Ko melihat keadaan ini.
“Ayah, ayah! Locianpwe, Lociapwe!” demikian ia berteriak-teriak, tetapi tiada seorang pun yang menyahut.
Waktu ia tarik lengan Ang Chit-kong, mendadak tubuh orang tua ini dengan gampang saja dapat ditariknya terus ambruk, nyata orangnya sudah tak bernyawa lagi. Ketika ia periksa Auwyang Hong, serupa saja, orang tua ini pun sudah berhenti bernapas. Meski pun suara tertawa kedua orang tadi sudah berhenti, tapi pada wajah mereka masih terlukiskan senyuman, di antara lembah gunung sayup-sayup masih terdengar juga suara tawa mereka yang berkumandang membalik.
Begitulah lelakon dua jago tua, Pak-kay dan Se-tok atau Si Pengemis dari Utara dan Si Racun dari Barat, satunya baik dan yang lain jahat, selama puluhan tahun mereka saling berkelahi dan tidak pernah ada yang terkalahkan, siapa duga kini bisa tewas bersama di puncak teratas Hoa-san. Selama hidup kedua orang itu saling membenci dan bermusuhan, tapi menjelang ajal sebaliknya saling rangkul sambil ketawa ter-bahak, rupanya benci dan dendam selama puluhan tahun itu telah tamat terbawa oleh suara tawa mereka yang terakhir!
Yo Ko malah menjadi bingung, teringat olehnya betapa Ang Chit-kong pernah tidur selama tiga hari tiga malam, sekarang kedua orang tua ini jangan-jangan juga mati buatan? Tetapi kalau melihat keadaannya, agaknya bukanlah mati palsu.
“Ahh, lebih baik anggap dia pura-pura, dari pada menyangkanya sungguh-sungguh,” demikian akhirnya Yo Ko mengambil keputusan.
Lalu ia pindahkan mayat kedua jago tua itu ke dalam goa, sedangkan ia sendiri menjaga di situ selama 7 hari 7 malam, sampai akhirnya wajah dua mayat itu sudah mulai berubah barulah pemuda ini mau percaya bahwa orang sudah mati sungguh-sungguh. Dia menangis tergerung-gerung, kemudian dia gali dua liang dalam goa itu dan mengubur kedua jago kosen dunia persilatan itu. Waktu keluar goa ia melihat bekas-bekas tapak kaki di atas salju di mana Ang Chit-kong menempur Auwyang Hong kini sudah membeku menjadi es. Bekas tapak kakinya masih, namun orangnya sudah masuk liang kubur.
Menghadapi bekas tapak kaki ini, Yo Ko jadi terbayang pada pertarungan kedua jago tua itu tempo hari, tanpa terasa ia berduka. Ia masuk goa lagi, di depan kuburan kedua jago tua itu ia berlutut dan menjura masing-masing empat kali.
“Ayah angkat meski hebat, tapi betapa pun juga memang masih selisih setingkat dengan Ang-locian-pwe. Pada saat Pak-kau-pang-hoatnya menyerang, ayah harus memeras otak berpikir sejenak baru bisa mematahkan tipu pukulannya, jika pertarungan itu berlangsung sungguh-sungguh, sudah tentu ia tak diberi kesempatan untuk berpikir semaunya!” demikian Yo Ko membatin. Sesudah menghela napas terharu, kemudian ia mulai mencari jalan buat turun ke bawah gunung.
Turunnya ke bawah gunung sekarang ini dilakukan Yo Ko dengan seenaknya saja. Ia pun tidak bedakan timur atau barat, utara atau selatan, yang terpikir olehnya hanyalah bumi seluas ini aku sendirilah yang sebatang-kara, biar aku terlunta-lunta ke mana saja, kalau sudah tiba ajalnya, biarlah di mana aku rebah, di situlah aku mati.
Meski tinggal di atas Hoa-san tidak lebih dari setengah bulan, namun bagi Yo Ko rasanya sudah lewat beberapa tahun. Pada waktu naik gunung ia merasa dirinya selalu dipandang hina orang dengan penuh rasa penyesalan, namun kini sewaktu turun gunung ia merasa segala keduniawian ini sama saja seperti awan yang terapung di udara, biarlah orang mau pandang berharga atau pandang hina, ada sangkut paut apa dengan aku? Begitulah dalam usianya yang semuda itu ternyata telah timbul semacam rasa benci pada sesamanya dan menganggap sepi mati-hidupnya sendiri.
Beberapa hari kemudian tibalah di hutan yang sepi di daerah Siamsay. Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara gemuruh larinya binatang dengan debu mengepul tinggi. Tidak berapa lama, beberapa ratus kuda liar kelihatan berlari lewat di hadapannya dengan cepat. Kuda-kuda liar yang senang hidup bebas tanpa kekangan apa pun ini membikin Yo Ko jadi kagum dan tertarik. Selagi ia ikut gembira oleh kelincahan kuda-kuda liar itu, tiba-tiba saja di belakangnya ada suara meringkik kuda lain yang lemah.
Waktu Yo Ko berpaling, ia melihat seekor kuda kurus menyeret sebuah kereta bermuatan kayu sedang mendatangi dengan perlahan-lahan melalui jalan raya. Agaknya kuda kurus ini tertarik oleh sebangsanya yang hidup merdeka itu, sedang dirinya sendiri harus susah menderita hidupnya, maka tadi meringkik sedih. Kuda ini sudah kurus lagi tinggi, tulang-tulang iganya terlihat nyata berderet-deret, bulu badan pun tak rata penuh borok, semua ini menjadikan rupanya jelek sekali.
Di atas kereta itu duduk seorang lelaki kasar. Mungkin jalan kuda kurus itu dianggapnya terlalu lambat, maka tiada hentinya ia mengayun cambuknya memecut terus. Selama hidup Yo Ko sendiri telah kenyang dihina dan dihajar orang. Sekarang mendadak melihat penderitaan kuda ini, aneh sekali, tanpa terasa timbul rasa simpatiknya, ia merasa ‘solider’ melihat kuda itu dipecut terus, saking terharu matanya merah basah.
“Hai, kau! Kenapa kau memecut kuda ini terus?” bentaknya gusar sambil menghadang di tengah jalan ketika kereta itu sudah dekat.
Melihat yang merintangi adalah pemuda dengan pakaian compang-camping dekil serupa orang minta-minta, lelaki kasar itu anggap sepi saja atas teguran itu.
“Lekas minggir, apa kau cari mampus?!” balasnya membentak. Lalu cambuknya diangkat, kuda kurus itu dihujani pecutan lagi.
Keruan Yo Ko tambah marah. “Jika kau pecut kuda ini lagi, segera kubunuh kau!” teriaknya sengit.
“Ha-ha-ha!” lelaki itu malah tertawa, berbareng pecutnya lantas menyabet ke atas kepala Yo Ko.
Tentu saja pecut yang tiada artinya ini tak mungkin bisa mengenai Yo Ko. Sekali pemuda ini mengulur tangannya, segera cambuk orang direbutnya, bahkan ia putar kembali pecut itu. Dengan menerbitkan suara “tarrr”, tiba-tiba leher lelaki tadi kena terlibat oleh pecutnya sendiri lalu kena diseret ke atas tanah, menyusul Yo Ko lantas menghujani orang dengan cambukan. Meski rupanya jelek, tapi kuda kurus itu sepertinya sangat cerdik. Melihat lelaki itu dihajar Yo Ko, binatang ini berjingkrak meringkik riang, malah ia gosok-gosokkan kepalanya pada Yo Ko sebagai tanda terima kasihnya.
“Pergilah kau ke sana hidup di alam bebas!” kata Yo Ko kemudian sesudah memutuskan tali penarik kereta sambil tepuk-tepuk punggung binatang itu dan menuding ke arah debu yang beterbangan karena lari gerombolan kuda liar tadi.
Tiba-tiba kuda kurus ini meringkik dan berdiri tegak, terus berlari cepat ke depan. Tapi mungkin saking lama menderita lapar, dan sekarang mendadak berlari keras hingga tenaga tak cukup, maka baru belasan meter berlari, tiba-tiba kaki belakangnya terasa lemas, lalu jatuh terbanting.
Yo Ko merasa kasihan, ia mendekati binatang itu dan mengangkatnya berdiri. Nampak si Yo Ko begitu perkasa, lelaki tadi ketakutan setengah mati. Begitu merangkak bangun, kereta dan kayunya tak dipikirkan lagi, segera ia lari terbirit-birit sambil berteriak-teriak minta tolong. Yo Ko merasa geli oleh kelakuan orang. Ia mencabut beberapa comot rumput segar dan memberi makan kuda kurus ini.
“Oh, kuda yang harus dikasihani, selanjutnya kau ikut padaku saja,” demikian kata Yo Ko sambil mengelus-elus punggung binatang ini.
Nyata karena penderitaan kuda itu, tanpa terasa sudah timbul simpatiknya yang senasib. Kemudian perlahan-lahan dia tuntun kuda itu menuju ke satu kota, dia beli sedikit bahan makanan kuda agar binatang ini bisa makan enak dan kenyang. Besok paginya kuda ini sudah kelihatan sehat kuat dan bersemangat, baru Yo Ko menungganginya dengan jalan perlahan-lahan.
Kuda buduk ini tadinya tak bisa lari. Bila tidak kesandung kakinya, tentu kepeleset jatuh. Siapa tahu semakin jauh berjalan semakin baik, sampai 7-8 hari kemudian, setelah diberi makan cukup hingga tenaganya penuh, mulai kelihatanlah kepandaiannya berlari secepat terbang. Tentu saja Yo Ko girang bukan main, dia menjadi tambah sayang dan memberi perawatan yang lebih baik.
Hari itu Yo Ko berhenti di kedai arak untuk tangsal perut dan menyuruh pelayan menyediakan semangkok arak. Mendadak kudanya mendekati mejanya sambil meringkik dan memandangi mangkok araknya seperti ingin minum. Yo Ko menjadi tertarik. Dia coba berikan araknya sambil mengelus leher binatang itu. Benar saja, kuda itu telah pentang mulut lebar-lebar, tanpa sungkan-sungkan sekejap saja semangkok arak sudah dilahapnya kering, kemudian ekornya men-jengkit-jengkit dan kakinya mengetok-ngetok, tampaknya binatang ini senang sekali.
Yo Ko menjadi makin tertarik. Dia suruh pelayan mengambil arak lagi, dan beruntun kuda itu menghabiskan belasan mangkok arak dan masih belum mau sudah. Karena pakaiannya compang-camping, rupanya pelayan kedai itu meragukan kemampuan Yo Ko membayar, maka waktu disuruh tambah arak lagi ia menolak.
Waktu perjalanan dilanjutkan, mungkin karena pengaruh arak, kuda itu berlari cepat seperti keranjingan setan, begitu cepat hingga pepohonan di pinggir jalan berkelebat lewat seperti terbang saja. Malah binatang ini seperti punya watak yang aneh, yakni tidak peduli apa saja, asal dilihatnya ada sesuatu binatang di depannya, pasti ia segera pentang kaki dan secepatnya mendahului ke depan.
Agaknya wataknya yang suka menang itu tidak mustahil disebabkan karena selama ini ia selalu dipandang rendah dan cukup menderita segala hinaan, maka kini begitu mendapat kesempatan ia justru ingin unjuk ketangkasannya yang tak mau kalah dengan kuda yang lain. Tabiat dogol demikian ini rupanya amat cocok dengan watak Yo Ko, maka satu orang dan satu kuda ini menjadi kawan yang sangat baik.
Tadinya Yo Ko merasa sangat masgul dan kosong, tetapi setelah mendapat kawan kuda yang membikin hatinya riang, betapa pun juga memang hati anak muda, tidak berapa hari kemudian ia sudah kembali gembira seperti sedia kala. Tanpa terasa sudah jalan beberapa hari. Akhirnya ia ambil jalan lama melalui Liong-kik-ce terus menuju ke Hing-ci-koan. Sepanjang jalan bila Yo Ko ingat waktu menggoda Liok Bu-siang dan permainkan Li Bok-chiu, ia tertawa geli sendiri di atas kudanya.
Suatu hari waktu lohor, sepanjang jalan selalu Yo Ko ketemu kawanan pengemis yang berjalan secara ber-kelompok. Melihat sikap mereka itu jelas banyak di antaranya adalah golongan jago silat yang tinggi. Tiba-tiba Yo Ko terkesiap, pikirnya: “Jangan-jangan percekcokan antara Liok Bu-siang dan kawanan pengemis ini masih belum selesai? Atau boleh jadi Li Bok-chiu hendak tentukan mati-hidupnya dengan kawanan pengemis yang lagi himpun kekuatan ini? Ha, keramaian ini tidak boleh kulewatkan!”
Teringat olehnya bahwa Ang Chit-kong adalah Pangcu kaum pengemis yang dulu, meski tidak tertarik dengan kawanan pengemis itu, tetapi teringat akan kesatriaan Ang Chit-kong yang pernah dia lihat, tanpa terasa timbul juga perasaan persaudaraannya dengan Kay-pang. Ia pikir bila ada kesempatan seharusnya aku beri-tahukan mereka tentang wafatnya Ang Chit-kong di atas Hoa-san. Setelah berjalan tak lama lagi, dia lihat kawanan pengemis itu makin lama makin banyak. Kalau di antara pengemis itu ada yang menggendong kantong kain, pengemis-pengemis lain pada umumnya lantas sangat hormat padanya.
Sebaliknya para pengemis itu rada-rada heran melihat macamnya Yo Ko. Apa bila melihat dandanan Yo Ko, memang tiada ubahnya seperti pengemis, tetapi di antara anggota Kay-pang itu sekali-kali tiada orang yang naik kuda. Namun Yo Ko tak mempedulikan mereka, ia tetap melarikan kudanya dengan perlahan. Tiba-tiba saja terdengar suara mencicitnya burung, dua ekor rajawali kelihatan menukik ke depan sana.
“Ah, Oey-pangcu sudah datang, malam ini besar kemungkinan akan ada rapat,” terdengar satu pengemis di samping Yo Ko berkata.
“Entah Kwe-tayhiap ikut datang tidak?” sela seorang pengemis lain.
“Tentu datang,” ujar pengemis yang pertama tadi. “Hubungan suami-isteri mereka adalah seperti timbangan dengan anak batunya, yang satu tidak bisa kehilangan yang lain.”
Selagi hendak meneruskan perkataannya, dilihatnya Yo Ko menahan kuda sedang mengawasi mereka, maka pengemis itu melotot sekejap pada Yo Ko, lalu tutup mulut tak jadi menyambung. Kiranya begitu mendengar nama Kwe Ceng dan Oey Yong, seketika hati Yo Ko menjadi terperanjat, cuma wataknya sekarang sudah jauh berbeda dari dulu, maka diam-diam dia tertawa dingin: “Hmm, dahulu aku makan menganggur di rumahmu hingga kenyang dihina dan dipermainkan kalian. Tatkala itu aku masih kecil dan belum punya kepandaian, maka tidak sedikit pahit getir yang kurasakan. Tetapi kini aku anggap jagat ini sebagai rumahku, tak perlu lagi aku mengandalkan kau!”
Tiba-tiba terpikir lagi olehnya: “Ahh, lebih baik aku berpura-pura jatuh sengsara dan pergi minta pertolongan mereka, ingin kulihat cara bagaimana mereka melayani aku.”
Lalu dicarinya tempat yang sepi, dia bikin rambutnya menjadi kusut semrawut, dia jotos mukanya sendiri satu kali sehingga ujung mata kirinya matang biru, ia cakar lagi mukanya sendiri hingga babak belur. Memang pakaiannya sudah tidak necis, sekarang sengaja dirobeknya pula, bahkan ia bergulingan beberapa kali di tanah hingga tambah kotor. Dengan macamnya ini ditambah berjodoh dengan kuda buduk yang jelek, maka tampak menjadi benar-benar seorang rudin yang sengsara dan tinggal mampus saja.
Selesai menyamar, dengan berjalan pincang dan bikinan Yo Ko kembali ke jalan besar, ia tidak tunggangi kudanya lagi melainkan jalan bersama kawanan pengemis. Kadang-kadang ada pengemis yang menegur apakah ikut pergi ke rapat besar. Yo Ko tidak dapat menjawab, ia hanya melongo saja. Tetapi ia tetap campurkan dirinya di antara kawanan pengemis dan meneruskan perjalanan bersama mereka.
Ketika hari telah magrib, sampailah rombongan di depan sebuah kelenteng besar yang bobrok. Dua ekor rajawali terlihat hinggap di atas pohon besar, sedangkan Bu-si Hengte sibuk memberi makan, yang satu membawa nampan dan yang lain melemparkan potongan daging. Tempo hari waktu dua kakak-beradik she Bu itu menempur Li Bok-chiu bersama Kwe Hu, pernah juga Yo Ko menonton dari samping, cuma waktu itu hanya Kwe Hu seorang yang dia perhatikan maka terhadap kedua pemuda ini tak begitu diurusnya.
Kini ketika berhadapan lagi, Yo Ko melihat gerak-gerik Bu Tun-si cukup tangkas dengan semangat penuh, sebaliknya Bu Siu-bun enteng dan gesit, lincah tak pernah diam. Tun-si mengenakan baju satin berwarna ungu tua, sedangkan Siu-bun berbaju satin warna biru safir, pinggang mereka pakai ikat kain sutera bersulam, maka tampaknya menjadi gagah dan cakap.
Yo Ko coba mendekati mereka. “Ke... kedua Bu-heng, ter... terimalah hormatku, apa... apa selama ini... baik-baik saja?” demikian ia menyapa dahulu dengan suara tak lancar.
Tatkala itu baik di dalam mau pun di luar kelenteng rusak itu telah penuh berjubel dengan kawanan pengemis yang semuanya berpakaian penuh tambal sulam. Dengan dandanan Yo Ko yang sudah disiapkannya itu, maka tidaklah menyolok ia bercampur di antara orang banyak. Dan karena sapaan Yo Ko tadi, Bu Tun-si balas menghormat dengan sikap sopan. Ia tak kenal siapakah orang yang menegur dirinya ini, maka dengan sinar mata yang tajam ia coba mengamat-amati.
“Siapakah saudara yang terhormat ini, maafkan aku tidak ingat Iagi,” demikian sahutnya kemudian.
“Ahh, namaku yang rendah ini tiada harganya buat disebut, Siaute... Siaute hanya mohon bertemu dengan Oey-pangcu,” sahut Yo Ko merendah.
Mendengar suara orang seperti sudah pernah dikenalnya dan selagi Tun-si hendak tanya lebih jauh, tiba-tiba saja didengarnya dari dalam kelenteng itu ada suara orang memanggil.
“Toa-Bu-koko (engkoh Bu yang tua), ikal kucirmu tak diikat dengan baik, coba lihat, sudah kusut lagi,” demikian kata suara nyaring itu.
Karena mendengar suara ini, lekas-lekas Bu Tun-si meninggalkan Yo Ko terus memapak ke sana. Waktu Yo Ko berpaling, ia melihat seorang gadis jelita berbaju hijau muda dengan langkah lebar sedang keluar dari dalam kelenteng, Kedua alis gadis ini panjang lentik, hidungnya yang mancung sedikit menjengat, mukanya putih, pipinya merah laksana pauh dilayang, siapa lagi dia kalau bukan puterinya Kwe Ceng, Kwe Hu adanya.
Dandanan Kwe Hu sebenarnya tidak seberapa mewah, hanya serenceng kalung mutiara yang dipakai pada lehernya yang mengeluarkan sinar mengkilap hingga wajah si gadis tampak lebih molek. Hanya sekejap Yo Ko memandang si gadis, segera ia merasa dirinya terlampau kotor dan jelek, maka tak berani ia memandang terus.
Sementara itu Bu-si Hengte sudah papak datangnya Kwe Hu, mereka menyanjung-nyanjung sebisanya. Apa bila tindak tanduk Bu Tun-si sedikit membawa sifat angkuh dan rada pegang derajat, sebaliknya Bu Siu-bun suka me-rendah menjilat asal dapat pujian si gadis. Sesudah berjalan pergi beberapa langkah, tiba-tiba Tun-si teringat lagi pada diri Yo Ko. Ia menoleh dan bertanya:
“Apakah kau datang untuk menghadiri ‘Eng-hiong-yan’ (perjamuan kaum kesatria)?”
Sebenarnya Yo Ko tidak paham apa ‘Eng-hiong-yan’ yang dikatakan orang itu, akan tetapi dengan sekenanya ia mengiakan saja. Karena itu Tun-si memanggil seorang pengemis kemudian berpesan padanya:
“Sobat ini hendaklah dilayani baik-baik, besok ajak dia pergi ke Hing-ci-koan sekalian.” Habis ini, dia asyik bicara sendiri dengan Kwe Hu dan tidak urus Yo Ko Iagi.
Karena pesan itu, lekas pengemis itu datang menyapa Yo Ko dan menanya nama orang. Oleh Yo Ko dijawab dengan terus terang. Di kalangan Bu-lim atau dunia persilatan, Yo Ko adalah orang yang tak dikenal namanya, dengan sendirinya pengemis itu pun tidak pernah mendengar namanya, maka anak muda ini tidak diperhatikan.
Pengemis itu mengaku bernama Ong Capsah atau Ong nomor 13, karena urut-urutannya dalam keluarga nomor 13, dan she Ong, maka dipanggil Ong Capsah. Di Kay-pang ia tergolong anak murid berkantong dua. Karena ilmu silat Ong Capsah tidak tinggi, tingkatannya pun rendah, hanya pintar bicara dan bisa bekerja cepat, maka anak murid Kay-pang tingkatan tinggi menugaskan dia sebagai penyambut tamu.
“Dari manakah asalnya Yo-toako?” demikian Ong Capsah bertanya lagi.
“Baru saja datang dari barat-laut,” sahut Yo Ko.
“Ehh, apakah Yo-toako anak murid Coan-cin-pay?” tanya Ong Capsah.
“Bukan,” sahut Yo Ko tanpa pikir sambil menggelengkan kepala.
Ya, pemuda ini sudah terlalu benci pada Coan-cin-kau, bila mendengar nama itu saja dia sudah kepala pusing, apa lagi disuruh mengaku sebagai anak muridnya.
“Dan apakah Yo-toako membawa Eng-hiong-tiap (kartu undangan kesatria)?” tanya Ong Cap-sah pula.
Yo Ko jadi tercengang, ia tak mengerti apa ‘Eng-hiong-tiap’ itu? “Siaute biasanya hanya luntang-Iantung merantau di Kangouw, mana bisa disebut sebagai Enghiong?” demikian sahutnya kemudian, “Cuma dahulu pernah satu kali bertemu muka dengan Oey-pangcu, maka kini sengaja datang menemuinya lagi untuk meminjam sedikit sangu buat pulang kampung.”
Ong Capsah mengerutkan kening mendengar keterangan itu. “Oey-pangcu sedang sibuk menerima para kesatria dari segenap penjuru, mungkin tiada waktu buat menerima kau,” sahutnya kemudian sesudah berpikir sejenak.
Kedatangan Yo Ko kali ini memang sengaja pura-pura rudin, semakin orang memandang rendah padanya, semakin senang hatinya. Oleh karena itu ia justru sengaja mohon belas kasihannya Ong Capsah agar suka membantu.
Salah satu sikap yang dijunjung tinggi orang-orang Kay-pang adalah baik budi dan setia kawan, apa lagi anggota Kay-pang itu semuanya berasal dari kaum tak punya, selamanya mereka suka membantu yang lemah dan menolong yang susah, sekali-kali tidak boleh memandang hina pada orang miskin. Oleh karena itulah, demi nampak Yo Ko memohon dengan sangat, mau tak mau Ong Capsah menyanggupinya.
“Baiklah, Yo-hengte, sekarang kau makan yang kenyang dulu, besok pagi kita berangkat bersama ke Hing-ci-koan,” katanya kemudian “Di sana nanti aku melapor kepada Pangcu dan terserah bagaimana keputusan beliau. Baik tidak kalau begini?”
Tadinya Ong Capsah menyebut Yo Ko sebagai “Toako” atau saudara tua, tetapi sesudah mendengar pemuda ini bukan orang yang diundang menghadiri Eng-hiong-yan, pula umur dirinya lebih tua, maka ia ganti memanggil orang sebagai Yo-hengte atau adik Yo.
Di lain pihak karena orang telah mau membantunya, berulang-ulang Yo Ko menghaturkan terima kasihnya. Kemudian Ong Capsah mengajak Yo Ko masuk ke dalam kelenteng dan membawakan daharan seperlunya. Menurut peraturan Kay-pang, sekali pun waktu pesta pora, cara makan para anggotanya tetap harus bikin kocar-kacir segala macam daharan, baik ayam, daging, ikan dan lain-lain dan baru dimakan kalau sudah berwujud seperti barang restan orang.
Cara ini adalah tanda bahwa ‘kacang tak pernah lupa pada lanjarannya’, artinya tak boleh lupa pada sumbernya, yaitu sekali pengemis tetap pengemis, baik hidupnya mau pun cara makannya. Namun terhadap tetamu, makanan yang mereka suguhkan adalah biasa dan lengkap.
Begitulah, selagi Yo Ko makan seorang diri, tiba-tiba matanya terbeliak, dia melihat Kwe Hu masuk lagi dari luar dengan muka berseri-seri. Waktu gadis itu melihat Yo Ko sedang makan nasi di tepi patung Budha, tanpa melirik lagi ia ajak bicara Bu Siu-bun dan Bu Tun-si.
“Baiklah, kita berjalan malam dan berangkat ke Hing-ci-koan,” demikian terdengar Siu-bun berkata. “Aku pergi mengeluarkan kuda merahmu.”
Ketiga orang itu sembari bicara bertindak ke belakang. Tidak berapa lama, sesudah membawa bekal dan senjata, mereka keluar lagi dari kelenteng itu, lantas terdengar suara derap kuda yang riuh, nyata ketiga orang itu sudah berangkat.
Dengan ter-mangu Yo Ko mengikuti derap kuda yang sayup-sayup mulai menjauh itu, akan tetapi sepasang sumpitnya masih tertancap di dalam mangkok sayur, dia tidak tahu perasaannya waktu itu suka atau duka, apa sedih atau marah?
PERADILAN DI TENGAH PERJAMUAN
Besok paginya Ong Capsah datang membawanya pergi ke Hing-ci-koan. Sepanjang jalan kecuali orang-orang Kay-pang sendiri, tidak sedikit pula tokoh-tokoh Bu-lim yang mereka jumpai, baik laki-laki mau pun perempuan, tua atau muda, ada yang berperawakan gagah tegap, ada yang kurus kecil, akan tetapi semua orang jalannya cepat dan kuat, agaknya semuanya diundang untuk menghadiri apa yang disebut Eng-hiong-yan atau perjamuan kesatria.
Yo Ko sendiri tidak tahu apa itu Eng-hiong-yan dan Eng-hiong-hiap. Ia menduga meski pun ditanya tidak akan Ong Capsah mau menerangkan, maka dia pun tidak merecoki urusan itu, sepanjang jalan dia hanya pura-pura bodoh dan berlagak dungu saja. Petangnya Yo Ko dan Ong Capsah sampai di Hing-ci-koan. Meski kota Hing-ci-koan ini adalah tempat yang penting dalam arti kemiliteran, namun kotanya sendiri ternyata tak begitu ramai.
Ong Capsah membawa Yo Ko melalui kota itu dan berjalan lagi 7-8 li, akhirnya sampailah di sebuah perkampungan besar dengan gedung berderet-deret dilingkungi oleh beberapa ratus pohon waringin yang rindang. Ke dalam kampung inilah para kesatria itu masuk. Perkampungan itu begitu besar dengan gedung-gedungnya yang sambung menyambung dan berjajar-jajar, tampaknya kalau hanya tetamu beberapa ribu saja masih cukup luang.
Ong Capsah sangat rendah kedudukannya dalam Kay-pang. Ia tahu pada saat itu Pangcu mereka terlalu sibuk, sudah tentu ia tidak berani laporkan permintaan Yo Ko yang hendak ‘meminjam sangu’ segala. Maka setelah atur tempat tidurnya Yo Ko dan sediakan makan, kemudian ia sendiri pun pergilah mencari kawannya yang lain.
Setelah makan, Yo Ko melihat gedung yang begini megahnya dengan centeng yang tidak terhitung banyaknya hilir mudik melayani tetamu, ia merasa heran siapakah tuan rumahnya, dan kenapa begini besar pengaruhnya? Sementara itu dapat didengar di sampingnya ada orang sedang berkata:
“Suami isteri cengcu sendiri sedang menyambut tetamu, marilah kita juga pergi melihat gerangan siapa kesatria yang datang ini.”
Sementara itu di luar sana terdengar suara tambur berdentuman, lalu musik pun berbunyi, para centeng berbaris di kedua samping, upacara pembukaan ternyata sangat meriah dan khidmat. Tampak dari belakang pintu muncul satu laki-laki dan satu perempuan yang semuanya berusia antara 40 tahun, yang laki-laki tinggi kekar memakai jubah sulam, bibirnya sedikit berkumis, kereng berwibawa. Sedang yang perempuan berkulit putih bersih seperti wanita bangsawan.
“lni adalah Liok-cengcu dan itu Liok-hujin,” demikian Yo Ko dengar pembicaraan di antara tetamu yang hadir.
Di belakang kedua orang ini sepasang suami isteri, seketika hati Yo Ko terkesiap demi nampak suami isteri yang di belakang ini sehingga mukanya terasa panas. Mereka bukan lain Kwe Ceng dan Oey Yong adanya. Selama beberapa tahun tidak berjumpa tampaknya Kwe Ceng lebih sabar lagi, sedang Oey Yong bermuka terang dan tersenyum-senyum, tampaknya semakin montok dari pada dahulu waktu di Tho-hoa-to.
Kwe Ceng mengenakan pakaian terbuat dari kain kasar, sebaliknya Oey Yong memakai kain sutera merah jambon, namun sebagai Pangcu dari Kay-pang, menurut tradisi kaum pengemis, terpaksa ia berikan beberapa tambalan pada bajunya di tempat yang tak terlalu menyolok. Di belakang Kwe Ceng dan Oey Yong ikut Kwe Hu dan Bu-si Hengte. Tatkala itu ruangan besar itu terang benderang dengan api lilin, di bawah cahaya api lilin, gadis itu tampak lebih cantik molek dan pemudanya gagah ganteng.
“lni adalah Kwe-tayhiap dan itu Oey-pangcu!”
“Dan nona yang cantik itu siapa lagi?”
“Puteri Kwe-tayhiap dan Oey-pangcu!”
“Dan kedua pemuda itu apa puteranya?”
“Bukan, tapi muridnya!”
Begitulah percakapan di antara para tetamu sambil tunjuk sini dan tuding sana. Yo Ko tak ingin berjumpa dengan Kwe Ceng suami isteri di depan orang banyak, maka ia sengaja sembunyi di belakang seorang lelaki tinggi besar untuk mengintip. Sementara itu, di bawah iringan musik, dari luar tampak masuk empat orang Tojin atau imam. Melihat imam ini, seketika timbul semacam rasa aneh di dalam hati Yo Ko.
Kiranya yang paling depan adalah seorang imam yang sudah ubanan rambut alisnya, mukanya berwarna merah hangus, dia bukan lain Kong-ling-cu Hek Tay-thong, satu di antara Coan-cin-chit-cu, sedang di belakangnya adalah imam wanita tua ubanan juga, imam wanita ini belum pernah dikenal Yo Ko. Dan di belakang mereka ini ikut dua imam setengah umur dengan jalan berjajar, mereka adalah Thio Ci-keng dan In Ci-peng. Dengan cepat Liok-ceng-cu suami isteri menyambut imam wanita itu sambil menjura dan memanggilnya sebagai Suhu, menyusul serta Kwe Ceng suami isteri, Kwe Hu dan Bu-si Hengte juga maju memberi hormat.
Telinga Yo Ko cukup tajam, maka percakapan antara para tetamu itu dapat pula diikutinya dengan terang.
“lmam wanita tua ini adalah pendekar wanita Coan-cin-kau, dia she Sun bernama Put-ji,” demikian terdengar kata seorang tua.
“Aha, kiranya dialah Jin-ceng Sanjin yang namanya tersohor di daerah utara dan selatan sungai!” ujar tamu yang lain.
“Ya, dia adalah Suhu Liok-hujin, sedang ilmu silat Liok-ceng-cu sendiri bukan belajar dari dia,” kata si orang tua tadi.
Ternyata Liok-cengcu ini bernama Khoan-eng. Ayahnya bernama Liok Seng-hong adalah murid Oey Yok-su, ayah Oey Yong, maka bila diurut-urut, kedudukan Liok-cengcu masih lebih rendah satu tingkat dari pada Kwe Ceng dan Oey Yong. Sedangkan Liok-hujin, isteri Liok Khoan-eng, Thia Yao-keh, adalah muridnya Sun Put-ji. Dahulu Thia Yao-keh pernah mendapat pertolongan dari Kwe Ceng, Oey Yong dan orang-orang Kay-pang sewaktu ia mengalami mara bahaya. Oleh sebab itu ia merasa utang budi terhadap orang-orang Kay-pang.
Kini Kay-pang menyebarkan undangan kepada kestria di seluruh jagat dan mengadakan perjamuan besar menjelang rapat raksasa dari Kay-pang, untuk itu Liok Khoan-eng suami isteri telah memikul semua biaya itu dan mengadakan perjamuan di tempat kediamannya. Sekali pun perjamuan ini mungkin akan memakan setengah dari kekayaan mereka, namun Liok Khoan-eng adalah seorang gagah yang terbuka tangannya, dengan sendirinya hal demikian ini tak dipikir olehnya.
Begitulah, maka sesudah menjalankan penghormatan, lalu Kwe Ceng ikut Hek Tay-thong dan Sun Put-ji ke ruangan pendopo untuk diperkenalkan kepada para kesatria yang hadir.
“Khu, Ong dan Lauw para Suheng sudah menerima kartu undangan Oey-pangcu, mereka bilang seharusnya memenuhi undangan, cuma belakangan ini badan Lauw-suheng kurang sehat dan Ma-suheng harus bantu dia menjalankan tenaga penyembuhan, maka terpaksa tidak dapat melakukan perjalanan ke sini, harap Oey-pangcu suka memaafkan,” demikian terdengar Hek Tay-thong berkata sambil mengelus jenggotnya.
“Ahh, para cianpwe itu terlalu merendah,” sahut Oey Yong.
Harus diketahui meski usia Oey Yong masih muda, tetapi dia adalah pemimpin dari suatu organisasi besar Kay-pang, dengan sendirinya Hek Tay-thong dan lain-lain sangat hormat padanya. Kwe Ceng sendiri sudah sejak mudanya kenal dengan In Ci-peng, kini bisa berjumpa pula, sudah tentu mereka sangat girang dan mengobrol dengan asyiknya.
Lekas-lekas Liok-cengcu memerintahkan supaya perjamuan dimulai. Segera para tetamu mengambil tempat duduk masing-masing, maka suasana di ruangan pendopo itu menjadi ramai luar biasa. In Ci-peng sendiri lagi longak-longok kian kemari seperti sedang mencari seseorang di antara orang banyak.
“ln-sute, entah orang she Liong itu ikut hadir atau tldak?” mendadak Ci-keng berkata lirih sambil tersenyum dingin.
Berubah hebat air muka Ci-peng karena sindiran itu, namun ia tak menjawab.
“Kesatria she Liong yang mana? Apakah sahabat kalian berdua?” tanya Kwe Ceng, nyata tak diketahuinya bahwa orang yang mereka bicarakan ialah Siao-liong-li.
“Dia sahabat In-sute, aku sendiri mana berani bergaul dengan dia,” sahut Ci-keng.
Melihat sikap dua imam ini rada aneh, Kwe Ceng pun tahu di dalamnya tentu tersangkut urusan-urusan lain, maka ia pun tidak menanya lebih jauh. Tiba-tiba saja, di antara orang banyak itu Ci-peng dapat melihat Yo Ko, seketika tubuhnya bergetar seperti kena disambar petir. Kiranya disangkanya apa bila Yo Ko berada di situ, dengan sendirinya Siao-liong-li juga datang.
Ketika Kwe Ceng dan Ci-keng turut memandang ke arah yang menarik perhatian Ci-peng itu hingga kesamplok pandang dengan Yo Ko, seketika mereka pun tercengang. Dalam kejutnya Kwe Ceng merasa girang pula, maka ia lantas mendekati anak muda itu sambil menarik tangannya.
“He, Ko-ji, kiranya kau juga datang di sini?” demikian ia menyapa. “Tadinya aku kuatir kau terlantarkan pelajaranmu maka tak berani mengundang kau, kini gurumu sudah membawa kau ke sini, ini baik sekali.”
Kiranya karena tak lancarnya lalu lintas jaman dulu, maka urusan tentang Yo Ko berontak keluar dari Coan-cin-pay, Kwe Ceng yang tinggal jauh di pulau Tho-hoa-to sedikit pun tak mendapat kabar.
Kehadiran Ci-keng ke Eng-hiong-yan kali ini sebetulnya justru akan merundingkan urusan itu dengan Kwe Ceng, siapa duga di sini malah kepergok dengan Yo Ko. Semula ia kuatir Kwe Ceng percaya pada ocehan Yo Ko secara sepihak, tetapi demi mendengar apa yang dikatakan Kwe Ceng tadi dia pun tahulah bahwa mereka pun baru pertama kali bertemu. Maka dengan muka merah padam Ci-keng menengadah sambil berkata:
“Ada kepandaian apa dan kebajikan apa pada diriku? Mana berani aku menjadi guru Yo-ya?”
Kaget sekali Kwe Ceng oleh kata-kata ini. “Apa? Mengapa Thio-suheng berkata demikian? Apakah anak kecil itu tidak mau menutul ajaranmu?” tanyanya cepat.
Melihat ruangan pendopo ini penuh dengan tetamu, bila sampai urusan itu diceritakan hingga terjadi perdebatan dengan Yo Ko, rasanya hal ini bisa melenyapkan pamor Coan-cin-kau, maka Ci-keng tak mau menjawab melainkan tertawa dingin saja.
Di lain pihak, waktu Kwe Ceng memeriksa keadaan Yo Ko, ia lihat matanya bengkak dan mukanya babak belur, pakaiannya compang-camping dan kotor, terang sekali bocah ini kenyang merasakan penderitaan yang tidak ringan. Kwe Ceng amat pedih, sekali tarik ia rangkul kencang Yo Ko dalam pelukannya. Begitu ditarik Yo Ko segera kumpulkan seluruh tenaga dalamnya untuk melindungi tempat berbahaya di tubuhnya. Siapa tahu Kwe Ceng benar-benar sayang dan kasihan padanya dan tiada maksud hendak mencelakainya, malahan paman angkat ini berseru pada Oey Yong:
“Yong-ji, lihatlah siapa ini yang datang!”
Oey Yong tercengang juga demi nampak Yo Ko. Berlainan dengan Kwe Ceng yang amat kegirangan bisa berjumpa dengan Yo Ko, sebaliknya ia sambut orang dengan adem saja.
“Bagus, kiranya kau pun datang,” demikian sahutnya tawar.
Dengan perlahan Yo Ko melepaskan diri dari pelukan Kwe Ceng. “Tubuhku kotor, jangan sampai membikin kumal pakaianmu,” demikian katanya pada sang paman. Kata-kata ini diucapkan dengan dingin, bahkan bernada menyindir.
Namun hal itu tak terpikir oleh Kwe Ceng, ia hanya merasa terharu, waktu itu juga teringat olehnya: “Anak ini sebatang-kara dan yatim piatu, tentu sudah kenyang merasakan pahit getir.”
Karena itu ia tarik tangan Yo Ko dan mengajak agar pemuda ini duduk satu meja dengan dirinya. Yo Ko duduk di tempat yang terpencil, maka ia pun menolak.
“Biarlah aku duduk di sini saja, silakan Kwe-pepek pergi menemani tetamu,” sahut Yo Ko dingin.
Kwe Ceng merasa tak enak harus meninggalkan tetamu yang demikian banyak, maka ia tepuk perlahan pundak si Yo Ko, lalu pergilah dia ke tempat duduknya semula. Setelah tiga keliling para tamu mengeringkan isi cawan, sebagai ketua Oey Yong segera mulai angkat bicara:
“Besok adalah hari diadakannya Eng-hiong-yan, sekarang masih ada beberapa kawan dari berbagai penjuru yang belum datang, mungkin besok siang baru bisa tiba. Maka kini silakan para hadirin makan minum sepuasnya, besok baru kita bicarakan urusan pokok.”
Selesai pidato ini, seketika para tamu bersorak sorai kemudian perjamuan lantas dimulai. Sesudah perjamuan bubar, dengan sendirinya para tetamu itu ada penyambutnya sendiri-sendiri yang mengantarkan pergi mengaso. Maka kelihatanlah Ci-keng berbisik-bisik kepada Hek Tay-thong dan imam tua ini balas mengangguk-angguk, lalu Ci-keng berdiri dan membungkuk memberi hormat kepada Kwe Ceng.
“Kwe-tayhiap, Pinto merasa sudah mengecewakan dalam melaksanakan tugas berat yang pernah diberikan kepadaku. Sungguh hal ini sangat memalukan, maka hari ini sengaja datang buat menerima hukuman atas dosaku,” demikian kata Ci-keng.
“Ah, Thio-suheng terlampau merendah,” sahut Kwe Ceng segera sambil balas menghormat. “Marilah kita bicara di kamar baca saja, jika ada perbuatan anak kecil yang bikin Thio-suheng marah, pasti Siaute akan memberi hukuman yang setimpal kepadanya agar amarah Thio-suheng bisa padam.”
Beberapa kata Kwe Ceng ini diucapkan dengan suara lantang. Karena jarak Yo Ko tidak begitu jauh, maka semuanya dapat didengarnya dengan cukup terang. Diam-diam dalam hati pemuda ini pun sudah ambil suatu keputusan:
“Jika dia mendamperat sepatah kata saja padaku, segera aku bangkit dan angkat kaki dari sini dan untuk selanjutnya tak mau bertemu muka lagi dengan dia. Bila dia pukul aku, meski ilmu silatku bukan tandingannya, pasti aku akan adu jiwa juga dengan dia.”
Karena telah mengambil keputusan demikian, maka Yo Ko menjadi lebih tenang, tidak lagi ketakutan seperti waktu bertemu dengan Thio Ci-keng untuk pertama kalinya dahulu. Dan demi nampak Kwe Ceng menggapai padanya, maka ia pun ikut di belakang mereka. Tatkala itu Kwe Hu bersama Bu-si Hengte juga sedang makan di salah satu meja makan. Semula gadis ini tak kenal lagi pada Yo Ko. Belakangan setelah ayah-bundanya mengenali pemuda itu, barulah Kwe Hu ingat bahwa pemuda itu bukan lain adalah kawan bermainnya waktu kecil di Tho-hoa-to.
Dasar paras anak muda memang cepat berubah, apa lagi sudah sekian tahun berpisah, lagi pula Yo Ko sengaja menyamar dengan rupa yang sengsara dan bercampur di antara orang banyak, tentu saja Kwe Hu tak mengenalinya. Kini meihat Yo Ko telah kembali, tanpa terasa hatinya jadi terguncang, terkenang olehnya kejadian dahulu di Tho-hoa-to di mana karena urusan jangkrik sudah terjadi perkelahian, entah kejadian ini masih membuat dendam pemuda itu atau tidak? Tapi bila dilihat keadaan Yo Ko yang begitu rudin, lesu dan kotor, amat jauh bedanya dengan wajah Bu-si Hengte yang ganteng dan bersemangat, timbul juga perasaan kasihannya.
“Ayah sudah mengirim dia belajar silat pada Coan-cin-pay, entah bagaimana dengan hasil pelajarannya dibanding kita?” demikian ia bisiki Bu Tun-si.
“llmu silat Suhu tiada tandingannya di kolong langit, pula kepandaian Subo (ibu guru) diperoleh dari ajaran Engkong luarmu, mana bisa dia dibandingkan dengan kita?” tiba-tiba Bu Siu-bun menyambung pertanyaan si nona sebelum sang kakak menjawab.
“Ya, dasarnya memang juga tidak terpupuk baik, agaknya sukar juga ia hendak mendapat kemajuan,” kata Kwe Hu sambil meng-angguk. “Tapi kenapa keadaannya menjadi begitu mengenaskan.”
“Para imam itu melotot terus padanya seperti hendak menelannya mentah-mentah, dasar anak she Yo ini tabiatnya buruk, tentu dia telah melakukan suatu keonaran lagi di sana,” demikian kata Siu-bun.
Begitulah tiga orang ini berbicara sendiri. Waktu mendengar Kwe Ceng mengundang Hek Tay-thong dan lain-lain ke kamar baca buat bicara dan bilang Yo Ko akan diberi hukuman setimpal pula, Kwe Hu menjadi heran dan tertarik.
“Ayo, lekas kita mendahului sembunyi dulu di kamar baca itu supaya bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan,” segera gadis ini mengajak.
Tapi Bu Tun-si takut konangan sang Suhu dan didamperat, maka ia tak berani, sebaliknya Bu Siu-bun lantas berteriak akur, malahan ia mendahului bertindak pergi.
“Kau memang selalu tak turut perkataanku,” Kwe Hu mengomeli Tun-si.
Nampak si nona rada marah, namun malah menambah kecantikannya yang menggiurkan, seketika hati Tun-si memukul keras. Dia tidak berani membantah lagi, maka terpaksa ikut di belakang Kwe-hu. Dan baru saja ketiga orang itu sembunyi di belakang rak buku, Kwe Ceng dan Oey Yong sudah datang dengan membawa Hek Tay-thong, Sun Put-ji, Thio Ci-keng dan In Ci-peng berempat, lalu mengambil tempat duduknya sendiri-sendiri.
“Ko-ji, kau pun duduk sana!” kata Kwe Ceng sesudah Yo Ko ikut masuk.
“Tidak, aku tidak usah,” sahut Yo Ko. Sekali pun nyalinya besar, tetapi menghadapi enam tokoh dunia persilatan ini, tidak urung hatinya berdebar-debar tak tenteram.
“Anak kecil kenapa kurang ajar? Berani kau bandel terhadap Suhu?” demikian Kwe Ceng lantas mendamperat sambil menarik muka, “Tidak lekas kau berlutut menjura minta maaf pada Susiokco (kakek guru), Suhu dan Susiok!”
Kwe Ceng berhati jujur, dia pandang Yo Ko seperti anaknya sendiri, pula terhadap Coan-cin-chit-cu biasanya dia sangat menaruh hormat, maka tanpa bertanya dia pikir tentu anak muda ini yang telah berbuat salah. Sebenarnya kalau menurut adat istiadat jaman itu, ikatan peraturan antara ayah dan anak atau guru dan murid luar biasa kerasnya. Jangan kata membantah, sekali pun ayah atau guru menghendaki kematian anak atau murid juga tidak boleh membangkang.
Kini Kwe Ceng hanya mendamperat Yo Ko secara begitu, sesungguhnya boleh dikatakan luar biasa ramahnya, apa bila orang lain, tentu sudah menggunakan kata-kata “binatang, anak haram” dan macam-macam lagi atau dibarengi dengan gebukan dan pukulan. Siapa duga, mendadak Ci-keng berdiri.
“Ah, Pinto mana berani menjadi guru Yo-ya? Kwe-tayhiap, hendaklah jangan kau sengaja menyindir,” demikian katanya dengan tertawa dingin. “Coan-cin-kau kami selama ini tidak pernah bersalah terhadap Kwe-tayhiap, kenapa engkau mengejek kami di hadapan orang banyak? Yo-toaya, biarlah imam tua ini menjura padamu dan minta maaf, anggaplah aku yang picik dan tak kenal kaum Enghiong dan orang gagah....”
Melihat wajah imam ini berubah begitu rupa, kata-katanya juga makin kasar menandakan betapa marahnya, Kwe Ceng dan Oey Yong menjadi heran bukan main. Mereka pikir kalau murid berbuat sesuatu kesalahan, sang guru mau damperat atau menghajar padanya juga lumrah, tapi kenapa harus berlaku secara begini kasar?
Oey Yong adalah seorang pintar luar biasa, dia tahu pasti Yo Ko sudah berbuat sesuatu kesalahan yang luar biasa besarnya. Sekarang nampak Kwe Ceng jadi bungkam karena serentetan kata-kata Ci-keng tadi, mau tak mau ia mewakili sang suami membuka suara.
“Thio-suheng hendaklah jangan marah dulu. Cara bagaimanakah bocah ini berbuat salah terhadap sang guru, silakan duduk dan terangkan secara jelas,” demikian katanya dengan tenang.
“Aku Thio Ci-keng hanya punya sedikit kepandaian, mana aku berani menjadi guru orang? Bukankah akan ditertawai semua orang gagah seluruh jagad hingga copot giginya?” teriak Ci-keng tiba-tiba.
Oey Yong berkerut kening melihat kekasaran orang, ia menjadi rada kurang senang. Hek Tay-kong dan Sun Put-ji mengetahui duduknya perkara, mereka merasa pantas jika Ci-keng marah-marah, tapi kalau ribut-ribut secara kasar, sesungguhnya juga bukan corak asli kaum imam yang beribadat.
“Ci-keng,” kata Sun Put-ji kemudian, “kau harus terangkan secara baik di hadapan Kwe-tayhiap dan Oey-pangcu, caramu marah-marah dan ribut-ribut ini, apa macam jadinya ini? Apakah itu menjadi kebiasaan orang beragama seperti kita ini?”
Meski Sun Put-ji adalah wanita, tetapi karena wataknya yang keras, maka angkatan muda sangat segan padanya. Karena itu Ci-keng jadi mengkeret, dia tidak berani muring-muring lagi. Sesudah mengia beberapa kali, lalu ia kembali duduk ke tempatnya tadi.
“Lihatlah Ko-ji, begitu hormat gurumu terhadap orang tua, kenapa kau tidak belajar contoh ini?” kata Kwe Ceng.
Sebenarnya Ci-keng hendak kontan menyelak lagi bahwa dirinya bukan guru orang, tetapi demi dipandangnya Sun Put-ji, kata-kata yang hendak diucapkan ia telan kembali. Tak terduga, mendadak Yo Ko berteriak
“Dia bukan guruku!”
Karena teriakan ini, bukan saja Kwe Ceng dan Oey Yong kaget, bahkan Kwe Hu dan Bu-si Hengte yang sembunyi di belakang rak buku juga terkejut sekali. Maklumlah, pada jaman itu, terutama di kalangan Bu-lim, persoalan guru dan murid diatur dengan tata adat yang sangat keras. Seorang guru dapat dipersamakan dengan seorang ayah yang harus diturut dan dihormati. Siapa tahu sekarang bukan saja Yo Ko tak mau mengaku guru, bahkan berani berteriak terang-terangan pula.
Keruan Kwe Ceng menjadi sangat marah, mendadak ia berdiri sambil menuding Yo Ko dan mendamperat:
“Apa... apa yang... yang kau katakan?”
Dasar Kwe Ceng memang tidak pandai bicara, juga tak biasa mendamperat orang, maka mukanya menjadi merah padam, amarahnya boleh dikatakan sudah memuncak. Jarang sekali Oey Yong melihat suaminya begitu marah, maka dengan suara halus ia coba menghiburnya:
“Ceng-koko, anak ini memang berjiwa buruk, perlu apa kau marah-marah karena dia?”
Mula-mula tadi sesungguhnya Yo Ko rada takut, tapi sekarang seorang Kwe-pepek yang sebenarnya sangat sayang padanya juga marah-marah mendamperat padanya. Tiba-tiba pemuda ini menjadi nekat, pikirnya: “Paling-paling mati, apa yang perlu aku takuti? Paling banyak juga boleh kau bunuh aku saja.”
Karena pikiran itu, dengan suara lantang segera ia menjawab “Ya, memang jiwaku buruk, namun tidak pernah aku minta belajar ilmu silat padamu. Kalian semua adalah tokoh-tokoh Bu-lim yang terkenal, kenapa harus gunakan tipu muslihat untuk menjebak seorang bocah yatim piatu?”
Waktu ia berkata sampai “yatim piatu”, saking sedih akan nasib sendiri seketika mata Yo Ko rada merah basah, tapi segera ia gigit bibir sekencang-kencangnya, ia pikir sekali pun hari ini harus mati tidak boleh aku alirkan setengah tetes air mata pun. Di lain pihak Kwe Ceng menjadi tambah marah.
“Apa kau bilang tadi?” demikian damperatnya pula. “lsteriku dan gurumu dengan sungguh-sungguh ajarkan ilmu silat padamu, semua ini karena mengingat persahabatanku dengan mendiang ayahmu, siapa yang bertipu muslihat? Dan... dan siapa yang menjebak kau?”
Memang Kwe Ceng tak pandai bicara, dalam keadaan marah, ia menjadi lebih gelagapan. Melihat orang tambah marah, sebaliknya Yo Ko tambah tenang dan perlahan bicaranya.
“Ya, engkau Kwe-pepek sudah tentu baik terhadapku, hal ini selamanya pasti tidak akan kulupakan!”
“Dan Kwe-pekbo dengan sendirinya tidak baik terhadapmu. Jika kau mau dendam untuk selamanya, hal ini pun terserah kepadamu,” sela Oey Yong tiba-tiba dengan sekata demi sekata.
Dalam keadaan demikian, Yo Ko tambah tak gentar lagi, sekali lagi dia berbicara lebih berani.
“Kwe-pekbo tidak baik padaku, tetapi juga tidak jelek terhadapku,” demikian katanya Iagi. “Tetapi kau bilang ajarkan ilmu silat kepadaku, sebenarnya hanya ajarkan aku membaca, sedangkan ilmu silat sedikit pun tidak diturunkan. Namun demikian, membaca juga baik, sedikitnya siautit (keponakan) bertambah kenal beberapa huruf. Tetapi... tetapi beberapa imam tua ini...” sampai di sini mendadak dia menuding Hek Tay-thong dan Thio Ci-keng, lalu dengan gemas dia sambung: “Pada suatu hari, pasti aku akan menuntut balas utang darah dan dendam sedalam lautan.”
“Apa... apa kau bilang?” tanya Kwe Ceng cepat dan terkejut.
“Imam she Thio ini katanya adalah guruku, tetapi sedikit pun tidak menurunkan ilmu silat kepadaku, hal ini pun tak menjadi soal, tetapi ia malah suruh imam-imam cilik menghajar diriku,” tutur Yo Ko. “Kwe-pekbo tidak mengajarkan kepandaian kepadaku, Coan-cin-pay juga tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku, dengan sendirinya tidak bisa lain kecuali aku dihajar sekenyang mereka. Ada satu lagi, imam she Hek ini, dia lihat seorang nenek tua merasa sayang dan kasihan padaku, orang tua itu malah dia pukul hingga mati. Hai, imam busuk she Hek, katakanlah sekarang, semuanya ini benar atau tidak?”
Bila mana Yo Ko ingat matinya Sun-popoh tidak lain disebabkan karena membela dirinya, sungguh dia menjadi gemas dan mengertak gigi, ingin sekali dia menubruk maju mengadu jiwa dengan Hek Tay-thong.
Kong-ling-cu Hek Tay-thong tergolong imam paling beribadat di antara imam-imam Coan-cin-kau, baik agamanya mau pun ilmu silatnya sudah dilatihnya sampai tingkat yang amat tinggi, soalnya hanya karena salah tangan sehingga Sun-popoh tewas, selama beberapa tahun hal ini selalu membikin dia merasa tidak tenteram dan dianggapnya sebagai suatu perbuatan yang sangat disesalkan selama hidupnya. Kini mendadak Yo Ko meng-ungkit kejadian itu, keruan seketika mukanya menjadi pucat bagai mayat. Peristiwa ngeri dahulu, di mana Sun-popoh muntah darah kena pukulannya seolah-olah terbayang di depan matanya. Karena ia tak membawa senjata, maka tiba-tiba ia melolos pedang yang tergantung di pinggang Ci-keng.
Semua orang mengira pedang itu tentu akan ditusukkan pada Yo Ko, maka dengan cepat Kwe Ceng sudah melangkah maju hendak melindungi bocah itu. Siapa sangka mendadak Hek Tay-thong membalikkan pedangnya, dia sodorkan garan pedang pada Yo Ko sambil berkata:



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar