ads

Selasa, 13 Juli 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 11

“Lekas kita pergi melihatnya,” ajaknya pada Bu-siang.

Dengan cepat mereka lantas menyusup ke sana, dari luar jendela mereka melihat Yalu Cin telah mengangkat sebuah bangku sebagai senjata untuk menempur wanita berbaju hitam itu. Ilmu permainan golok wanita baju hitam itu bagus sekali, golok Liu-yap-to yang dia pakai pun tajam luar biasa, hanya beberapa kali bacokan, empat kaki bangku itu sudah tertebas kutung.

“Lekas Iari, ayah!” teriak Yalu Cin yang insaf bahwa ia tak bisa menandingi orang. Kemudian ia berteriak. “Mana para pengawal? Maju lekas!”

Karena teriakan ini wanita itu kuatir kalau bala bantuan membanjir datang dan tentu tidak leluasa lagi bagi tujuannya. Maka sebelah kakinya mendadak menendang, gerak kakinya cepat sekali tanpa kelihatan. Karena tidak berjaga-jaga dengan tepat, Yalu Cin tertendang pinggangnya hingga roboh menggelongsor. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh wanita muda itu, begitu menyerobot maju, ia angkat goloknya terus membacok kepala Yalu Cu-cay.

“Celaka!” teriak Yo Ko dalam hati.

Segera ia siapkan segenggam Giok-hong-ciam atau jarum tawon putih dan selagi hendak disambitkan ke tangan si nona yang memegang senjata, tiba-tiba puteri Yalu Cu-cay, Yalu Yen yang berdiri di samping itu mendahului membentak:

“Jangan sembrono!”

Berbareng itu sebelah tangannya menghantam ke muka nona baju hitam itu dan tangan yang lain diulur merebut senjata orang. Gerak serangan ini sungguh tepat sekali, terpaksa nona itu harus mengegos menghindari hantaman, namun tak urung pergelangan tangan yang memegang senjata kena dipegang Yalu Yen. Walau pun demikian, secara sebat sekali kakinya melayang. Karena tendangan yang mengarah tempat berbahaya ini, Yalu Yen terpaksa melepaskan tangan dan melompat mundur, karena itu Liu-yap-to si gadis tidak sampai kena direbut.

Melihat gebrakan kedua nona itu sama sebat dan sama lihay, dalam hati Yo Ko menjadi heran sekali. Sementara itu sekejap saja dua gadis itu sudah saling gebrak belasan jurus bergantian. Waktu itu juga, dari luar telah membanjir masuk belasan orang pengawal karena teriakan Yalu Cin tadi. Demi melihat kedua nona itu sedang bertarung dengan sengitnya, mereka hendak maju membantu.

“Nanti dulu,” mendadak Yalu Ce mencegah mereka. “Sam-siocia (puteri ketiga) tidak perlu bantuan kalian.”

Di lain pihak, sesudah menyaksikan ilmu silat kedua nona itu, Yo Ko menoleh dan berkata kepada Liok Bu-siang:

“Bini cilik, kepandaian kedua orang itu lebih tinggi dari pada kau.”

Bu-siang menjadi marah karena lagi-lagi orang menyebut “bini” kepadanya. Begitu tangan diangkat, kontan ia hendak tempeleng orang.

“Ssstt, jangan ribut, lebih baik menonton perkelahian saja,” kata Yo Ko perlahan dengan tertawa sambil mengelakkan diri.

Sebenarnya ilmu silat kedua nona itu kalau dibilang lebih tinggi dari pada Liok Bu-siang juga belum tentu tepat. Cuma kedua nona itu memang mendapatkan didikan guru pandai, kalau dibandingkan Yalu Cin, terang jauh lebih tinggi. Begitulah maka Yalu Cu-cay dan Yalu Cin tidak kepalang terperanjat dan herannya, sebab sama sekali mereka belum pernah tahu Yalu Yen berlatih silat, siapa tahu si gadis memiliki ilmu silat yang begitu bagus, saking herannya mereka ternganga.

Tak Iama kemudian, karena Yalu Yen tak bersenjata, beberapa kali ia hendak rebut golok orang, tapi tak berhasil. Sebaliknya ia malah terdesak melompat sini dan berkelit ke sana tanpa bisa membalas.

“Sam-moay, biarkan aku yang mencobanya,” kata Yalu Ce. Berbareng ini mendadak ia menyela maju, dengan tangan kanan melulu be-runtun tiga kali memukul.

“Baik, coba kau bagaimana,” sahut Yalu Yen setelah mundur ke pinggir.

Tadi waktu Yalu Yen bergebrak dengan gadis baju hitam itu, Yo Ko hanya tersenyum dan menonton pertarungan dengan sikap dingin. Tetapi kini, begitu Yalu Ce turun tangan, hanya tiga kali serangan saja sudah membuat hatinya terkesiap. Ia lihat tangan kiri Yalu Ce bertolak pinggang, sama sekali tak ikut bergerak, hanya tangan kanan saja yang digunakan melawan nona baju hitam itu, kakinya pun tidak pernah menggeser barang satu langkah pun, secara tenang dan seenaknya mencari kesempatan merebut golok lawan, tipu gerakannya sangat aneh, bahkan tempat dan waktu yang digunakannya pun jitu sekali, sungguh satu ilmu kepandaian yang lain dari pada yang lain.

Tentu saja Yo Ko terheran-heran. “Mengapa orang ini begini lihay?” demikian pikirnya.

“Tolol, kepandaian orang ini jauh melebihi kau!” Bu-siang balas mengejek si Yo Ko.

Namun Yo Ko sedang tercengang, maka tak didengarnya apa yang dikatakan si nona.

“Sam-moay, lihatlah yang jelas,” terdengar Yalu Ce berkata pada adiknya sambil melayani si gadis baju hitam. “Apa bila aku tepuk dia punya ‘pi-su-hiat’, tentu dia akan menghindar mundur ke samping, menyusul aku lantas pegang dia punya ‘ki-kut-hiat’, mau tak mau dia harus angkat goloknya buat membacok. Pada saat itulah kita harus turun tangan secara cepat dan dapatlah merebut senjatanya.”

“Cis, belum tentu bisa begitu gampang,” damperat gadis baju hitam dengan gusar.

“Tetapi memang begitulah, lihatlah ini,” kata Yalu Ce. Sambil berkata, benar juga ia hantam ‘pi-sui-hiat’ si gadis. Pukulan ini tampaknya seperti menceng dan miring, tetapi justru mengurung rapat segala jalan mundur lawannya, hanya pada ujung belakang kiri sedikit ke samping itulah ada peluang. Karena si gadis hendak hindarkan pukulan, terpaksa ia mundur miring ke samping sana. Yalu Ce angguk-angguk, suatu tanda pukulannya membawa hasil, menyusul ia ulurkan tangan hendak pegang ‘Ki-kut-hiat’ lawan.

Sebenarnya dalam hati si gadis sudah memperingatkan dirinya sendiri agar ‘sekali-kali jangan angkat golok balas membacok’ sesuai apa yang direncanakan Yalu Ce. Tetapi keadaan pada waktu itu sangat berbahaya, jalan lain memang tidak ada kecuali angkat goloknya balas membacok yang merupakan satu-satu-nya gerak tipu yang jitu. Karena itulah, tanpa bisa pikir banyak, segera goloknya mengayun, ia balas menyerang.

“Nah, begitu bukan?” dengan sungguh-sungguh Yalu Ce berkata.

Mendengar perkataan ini, semua orang menduga pasti Yalu Ce akan ulur tangan buat merebut senjata si gadis. Siapa tahu tangan kanannya malah dia tarik kembali kemudian dimasukkan ke dalam lengan baju. Maka luputlah bacokan dara baju hitam itu, sebaliknya ia lihat kedua tangan orang malah bersedakap seenaknya, keruan saja ia rada tertegun. Pada saat itu juga, sekonyong-konyong Yalu Ce mengulur tangan kanan lagi, lalu dengan dua jari ia menjepit punggung golok si gadis dan sedikit diangkat ke atas, gadis itu tak mampu memegang kencang senjatanya hingga kena direbut orang.

Menyaksikan pertunjukan ilmu sakti itu, seketika semua orang terkesima, menyusul suara sorak sorai memecah kesunyian memuji kepandaian Yalu Ce tadi.

“Nah, sekarang dia pun tak bersenjata,” kata Yalu Ce kepada adik perempuannya sambil melangkah mundur, “kau maju lagi menjajal dia, tetapi tabah sedikit dan hati-hati terhadap tendangan kilatnya.”

Karena goloknya direbut orang, wajah gadis baju hitam itu terlihat muram, untuk sejenak terpaku di tempat.

Semua orang menjadi heran oleh kelakuannya, mereka pikir: “Jika Ji-kongcu (tuan muda kedua) tidak menangkap dia sekaligus, terang maksudnya sengaja membebaskan dia lari, tapi dia justru tak mau kabur, lalu apa kehendaknya?”

Sementara itu, karena kata-kata abangnya tadi, Yalu Yen telah tampil lagi ke depan. “Wanyen Peng, berulang kali kami telah ampuni kau, tetapi kau selalu merecoki kami, apa sampai hari ini kau masih belum mau mengakhiri maksudmu itu?” begitulah kata Yalu Yen kepada gadis baju hitam itu.

Mendengar nama yang disebut Yalu Yen, diam-diam Yo Ko sangat heran oleh beberapa nama orang yang aneh itu. Nyata, karena masih muda dan pengalamannya masih cetek, Yo Ko tak tahu bahwa ‘Yalu’ adalah nama keluarga kerajaan negeri Liau, sedangkan ‘Wanyen’ adalah nama keluarga kerajaan negeri Kim. Beberapa orang yang berada di dalam kamar itu memang keturunan bangsawan kedua negeri itu.

Cuma ketika itu negeri Liau telah ditelan oleh kerajaan Kim, dan negeri Kim telah dicaplok oleh Mongol. Oleh sebab itu, baik Yalu mau pun Wanyen, semuanya adalah keluarga raja yang negerinya sudah musnah. Demikianlah Wanyen Peng ternyata tidak menjawab kata-kata Yalu Yen tadi, dia masih menunduk dan termenung-menung.

“Baiklah, jika kau memang ingin tentukan unggul dan asor dengan aku, marilah kita mulai lagi,” kata Yalu Yen kemudian. Berbareng itu dia melompat maju lantas menjotos susul-menyusul dua kaIi.

“Kembalikan golokku,” serunya tiba-tiba dengan nada suara memelas.

Yalu Yen tertegun karena permintaan itu, katanya dalam hati: “Kakakku sengaja merebut senjatamu agar kau bergebrak tangan kosong dengan aku, mengapa sekarang kau malah minta kembali senjatamu?” Walau pun begitu, karena wataknya memang berbudi, maka ia pun tidak menolak.

“Baiklah,” demikian sahutnya. Habis itu dari tangan abangnya ia ambil golok Liu-yap-to itu kemudian dilemparkan kepada Wanyen Peng.

“Sam-siocia, kau pun harus menggunakan senjata,” kata salah seorang pengawal sambil menyerahkan goloknya.

“Tak perlu,” sahut Yalu Yen. Tetapi setelah dipikir lagi, segera ia menambahkan: “Baiklah, dengan tangan kosong aku memang bukan tandinganmu, biarlah kita bertanding golok.”

Lalu golok pengawal tadi diterimanya. Meski beratnya sedikit terasa antap, namun boleh juga sekedar dipakai.

Di lain pihak, setelah terima kembali senjatanya sendiri, muka Wanyen Peng tampak putih pucat. Dengan tangan kiri memegang golok dan tangan kanan menuding Yalu Cu-cay, dia berkata:

“YaIu Cu-cay, kau telah membantu orang Mongol dan menewaskan ayah-ibuku, selama hidupku tak sanggup menuntut batas lagi padamu, biarlah nanti kita bikin perhitungan di akhirat saja!”

Begitu selesai bicara, mendadak golok di tangan itu terus menggorok ke lehernya sendiri. Waktu mendengar kata-kata si gadis tadi dengan sorot matanya yang guram, seketika itu pula hati Yo Ko memukul keras, dada pun terasa sesak, maka tanpa tertahan dia berseru:

“Kokoh!”

Pada saat ia berseru itulah Wanyen Peng telah angkat goloknya hendak membunuh diri. Tapi gerak tangan Yalu Ce cepat tiada bandingannya. Ketika tubuhnya sedikit mendoyong dan tangannya menjulur, dengan dua jari saja dia berhasil merebut golok si gadis, bahkan orangnya ditotok hingga tak bisa berkutik.

“Baik-baik saja begini, kenapa lantas berpikiran pendek?” demikian katanya.

Terjadinya beberapa peristiwa tadi, yakni Wanyen Peng hendak menggorok leher sendiri dan Yalu Ce merebut senjatanya dengan jepitan jarinya, semuanya terjadi dalam sekejap saja. Ketika semua orang bisa melihat jelas, sementara itu golok si gadis telah berpindah ke tangan Yalu Ce Iagi. Karena itulah seketika ramai suara jeritan kaget dari orang banyak hingga seruan “Kokoh” yang diucapkan Yo Ko tidak diperhatikan orang, sebaliknya Liok Bu-siang yang berada di sampingnya dapat mendengar dengan terang.

“Apa kau sebut dia? Dia adalah kokoh-mu?” tanyanya dengan suara tertahan.

“Bukan... bukan!” sahut Yo Ko cepat.

Kiranya tadi waktu Yo Ko melihat sorot mata Wanyen Peng yang menunjukkan perasaan penuh sunyi dan hampa, seperti sudah putus asa, hal ini mirip sekali dengan sorot mata Siao-liong-li dulu sewaktu hendak berpisah dengan dia. Dan karena melihat sorot mata orang itu tadi, tanpa terasa Yo Ko terkesima seperti orang ling-lung sehingga lupa dirinya berada di mana. Melihat keadaan Yo Ko yang aneh itu, Bu-siang tidak bertanya lebih lanjut, sebaliknya ia dengar di dalam sana Yalu Cu-cay sedang buka suara dengan perlahan.

“Nona Wanyen, sudah tiga kali kau hendak membunuh aku, akan tetapi setiap kali selalu gagal,” demikian kata orang tua itu. “Dalam persoalan ini, sebagai perdana menteri negara Mongol, akulah yang memusnahkan tanah airmu dan membunuh ayah-bundamu. Tetapi sebaliknya apa kau tahu siapa lagi yang telah membunuh leluhurku dan menghancurkan negeriku?”

“Aku tidak tahu,” sahut Wanyen Peng.

“Baiklah kuterangkan,” tutur Yalu Cu-cay, “Leluhurku adalah keluarga raja Liau dan negeri Liau dimusnahkan oleh negeri Kim bangsamu. Keturunan Yalu dari keluarga kami itu habis dibunuh oleh keluarga Wanyen hingga tidak seberapa gelintir orang yang ketinggalan. Karena itu, pada waktu muda aku pun bersumpah menuntut balas sakit hati ini, karenanya aku telah membantu raja Mongol menghancurkan negaramu Kim. Ai, cara balas-membalas ini entah akan berakhir kapan?”

Pada waktu mengucapkan kata yang terakhir itu, Yalu Cu-cay mendongak memandang keluar jendela. Terbayang olehnya beratus bahkan beribu jiwa yang telah melayang akibat saling bunuh-membunuh tanpa ada habisnya itu.

Sewaktu mendengarkan tadi, tiba-tiba Wanyen Peng menggigit bibirnya hingga beberapa giginya yang putih bersih bagai mutiara tampak jelas.

“Hm,” tiba-tiba ia menjengek terhadap Yalu Ce. “Tiga kali menuntut balas dan tidak pernah berhasil, kusesalkan kepandaianku sendiri yang tak becus. Tetapi aku hendak bunuh diri, kenapa kau ikut campur tangan?”

“Asal selanjutnya nona berjanji tidak akan merecoki kami lagi, segera aku bebaskan,” sahut Yalu Ce.

Wanyen Peng mendengar, namun dia tidak menjawab melainkan matanya yang mendelik marah. Kemudian Yalu Ce membalik Liu-yap-to rampasannya. Dengan gagang senjata dia ketok perlahan beberapa kali pinggang si gadis untuk membebaskan jalan darahnya.

Kiranya Yalu Ce memang lelaki sejati. Tadi dalam keadaan terpaksa, ia menotok dengan jari tangan, tetapi sekarang ia tak berani menyentuh tubuh si gadis lagi melainkan menggunakan gagang golok untuk membebaskan Hiat-to yang tertutup. Kemudian Yalu Ce angsurkan golok itu kepada pemiliknya.

Semula Wanyen Peng ragu-ragu, tetapi akhirnya diterimanya juga. “Yalu-kongcu, telah beberapa kali kau berlaku murah hati dan melayani aku secara sopan, hal ini aku cukup mengetahuinya,” demikian katanya kemudian. “Tetapi sakit hati antara keluarga Wanyen dengan keluarga Yalu sedalam lautan, betapa pun juga sakit hati orang tua tak bisa tidak dibalas.”

Yalu Ce pikir: “Nyata gadis ini masih akan membuat ribut tiada hentinya, ilmu silatnya pun tinggi, padahal aku tidak bisa selalu di samping ayah untuk melindungi selama hidupnya. Ah, kenapa aku tidak pancing dia agar dia menuntut kepadaku saja.”

“Nona Wanyen,” begitulah ia berkata, “kau hendak membalas dendam orang tua, cita-citamu itu benar-benar harus dipuji. Cuma persengketaan angkatan tua, hendaklah orang tua itu yang selesaikan sendiri dan kita angkatan muda, masing-masing pun ada budi dan dendamnya sendiri-sendiri. Maka bila kau akan menuntut balas, utang darah antara keluarga kita bolehlah kau cari saja aku tetapi jika ayahku yang kau recoki, kelak kalau kita bertemu lagi, tentu akan menjadi sulit.”

“Hm, enak saja kau bicara. Ilmu silatku jelas tidak bisa mengungkuli kau, mana bisa aku balas dendam padamu. Sudahlah, sudahlah!” sahut Wanyen Peng sambil tutup mukanya terus bertindak.

Yalu Ce mengerti dengan perginya si gadis tentu orang akan mencari jalan buat bunuh diri lagi. Karena bermaksud menolong nyawa orang, maka dengan tertawa dingin dia sengaja berkata lagi:

“Huh, wanita keluarga Wanyen kenapa tak punya ambekan!”

“Kenapa tak punya ambekan?” tanya Wanyen Peng tiba-tiba sembari berpaling.

“Soal ilmu silatku lebih tinggi dari kau, ya, memang benar, tapi apanya yang perlu dibuat heran? Hal ini karena aku pernah mendapat ajaran dari guru pandai, bukan karena aku mempunyai bakat yang melebihi orang lain,” kata Yalu Ce. “Kau masih semuda ini, asal kau mau mencari guru dengan penuh keyakinan, apa tak bisa kau mendapatkannya?”

Sebenarnya hati Wanyen Peng penuh dongkol dan gusar tidak kepalang, tapi mendengar beberapa kata itu, diam-diam ia memanggut juga.

“Setiap kali aku bergebrak dengan kau, selalu aku hanya gunakan tangan kanan saja, hal ini bukannya aku sengaja berlaku sombong,” kata Yalu Ce lagi. “Tetapi sebabnya karena tipu serangan tangan kiriku terlalu aneh, bila sampai bergebrak, tentu akan melukai orang. Oleh karenanya aku bersumpah kalau tidak dalam detik yang berbahaya, kali aku tidak sembarangan menggunakan tangan kiriku. Maka sebaiknya begini saja, biarlah kalau kau sudah belajar lagi dari guru yang pandai, setiap saat kau boleh datang mencari aku lagi, asal kau mampu memaksa aku menggunakan tangan kiri, seketika juga aku potong leherku sendiri tanpa menyesal.”

Dengan uraian ini Yalu Ce sungguh-sungguh ingin menolong jiwa orang. Dia tahu ilmu silat Wanyen Peng masih berselisih jauh dengan dirinya, sekali pun dapatkan guru pandai susah menangkan dirinya. Maka tujuannya hanya untuk mengulur waktu belaka agar sesudah lewat agak lama, rasa dendam Wanyen Peng bisa mereda hingga tak perlu membunuh diri lagi.

TIGA JURUS AKAL-AKALAN

Oleh karena itu Wanyen Peng berpikir: “Kau toh bukan dewa. Kalau aku berlatih dengan sungguh-sungguh, masa dengan kedua tanganku tidak sanggup menangkan sebelah tanganmu itu?”

Maka goloknya segera ia angkat ke atas dan berseru: “Baik! Laki-laki sejati sekali kata...”

“Kuda cepat sekali pecut!” sambung Yalu Ce tanpa ragu-ragu lagi. Dengan istilah ‘laki-laki sejati sekali kata, kuda cepat sekali pecut’, artinya apa yang telah diucapkan itu tak akan dipungkiri lagi.

Habis itu, dengan bersitegang lalu Wanyen Peng bertindak pergi, walau pun begitu, air mukanya tidak terhindar dari rasa pedih dan lesu.

Melihat tuan muda mereka membebaskan si gadis, sudah tentu para pengawal tak berani merintangi. Sesudah memberi hormat kepada Yalu Cu-cay, mereka pun keluar dari kamar.

Peristiwa tadi terjadi dengan ramainya, tetapi Yo Ko sama sekali tidak menampakkan diri. Diam-diam Yalu Cin menjadi heran sekali.

“Ji-ko, mengapa lagi-lagi kau bebaskan dia?” terdengar Yalu Yen bertanya kepada abangnya, dengan tertawa.

“Tidak bebaskan, apa harus bunuh dia?” sahut Yalu Ce.

“Tetapi salah besar kalau kau bebaskan dia,” kata Yalu Yen lagi.

“Sebab apa?” tanya Yalu Ce heran.

“Ji-ko, kalau kau kehendaki dia menjadi isteri seharusnya jangan kau lepaskan dia,” ujar Yalu Yen tertawa.

“Ngaco-belo!” omel Yalu Ce dengan sungguh-sungguh.

Meiihat abangnya bersungguh-sungguh, kuatir orang marah, maka tak berani lagi Yalu Yen bergurau.

Percakapan kedua orang itu semuanya didengar jelas oleh Yo Ko yang masih mengintip di luar jendela. Demi mendengar apa yang dikatakan Yalu Yen bahwa “kehendaki dia menjadi isteri”, aneh, dalam hatinya tanpa sebab timbul semacam rasa iri, rasa cemburu, ia menjadi begitu benci terhadap si Yalu Ce. Padahal ilmu silat Yalu Ce sangat tinggi, tingkah lakunya pun berbudi dan sesungguhnya dia adalah laki-laki sejati, sebenarnya Yo Ko diam-diam kagum. Tetapi kini demi terpikir Wanyen Peng akan diperisteri, ia merasa semakin tinggi ilmu silat Yalu Ce dan semakin baik peri-lakunya, hal ini semakin menandakan kemalangan nasib dirinya sendiri.

Oleh sebab itulah, begitu dilihatnya sorot mata Wanyen Peng sangat mirip Siao-Iiong-li, tanpa terasa bibit asmaranya bersemi. Tengah ia tertegun, tiba-tiba dilihatnya berkelebat bayangan Wanyen Peng di atas rumah sana yang menuju ke jurusan tenggara.

“Coba aku pergi melihatnya,” katanya tiba-tiba pada Liok Bu-siang.

“Melihat apa?” tanya si nona.

Namun Yo Ko tak menjawab, dengan cepat Wanyen Peng disusulnya. Meski pun ilmu silat Wanyen Peng tidak terlalu tinggi, tetapi Ginkang atau ilmu entengkan tubuhnya sangat bagus. Sesudah Yo Ko mengejar dengan ‘poIgas’ hingga di luar kota, barulah dia berhasil disusulnya. Dia melihat Wanyen Peng masuk ke sebuah rumah penduduk. Dengan cepat Yo Ko ikut melompat masuk ke pelataran rumah itu kemudian sembunyi di pinggir tembok. Lewat tak lama, kamar di sebelah barat kelihatan sinar lampu yang dinyalakan, menyusul terdengar suara menghela napas panjang. Jelas orangnya sedang berhati duka dan menderita batin.

Mendengar helaan napas panjang itu, seketika Yo Ko tertegun bagai orang linglung, tanpa terasa ia pun ikut menghela napas panjang.

Mendadak mendengar ada orang menghela napas juga, Wanyen Peng terperanjat. Lekas-lekas ia sirapkan lampu lantas mundur ke pojok kamar.

“Siapa?” bentaknya kemudian dengan suara tertahan.

“Kalau tidak berduka, mana bisa menghela napas?” sahut Yo Ko.

Wanyen Peng semakin heran. Dari lagu suara orang agaknya tak bermaksud jahat, maka ia tanya lagi:

“Siapakah kau sebenarnya?”

“Untuk membalas sakit hati, orang jaman kuno pernah rebah sambil merasakan pahitnya empedu, tetapi kau baru gagal sekali saja sudah hendak bunuh diri, bukankan harus malu dibandingkan orang jaman kuno itu?” kata Yo Ko dari luar.

Dahulu di Tho-hoa-to pernah Yo Ko bersekolah pada Oey Yong dan banyak diceritakan oleh bibinya itu tentang hikayat orang-orang jaman dulu, di antaranya ialah Wat-ong dari jaman Cian-kok yang tertawan musuh, tetapi tanpa putus asa dan dengan penuh sabar menantikan saat baik untuk membalas dendam. Sebagai gemblengan atas cita-cita-nya, setiap hari Wat-ong meng-icip-icip rasa pahitnya empedu sambil rebahan. Cerita itulah kini disitir oleh Yo Ko.

Oleh karena itu lalu terdengar suara pintu kamar dibuka, Wanyen Peng menyalakan lagi lampunya.

“Silakan masuk,” begitulah ia menyambut Yo Ko.

Lebih dulu Yo Ko memberi hormat, kemudian baru dia masuk ke kamar orang. Wanyen Peng rada heran melihat Yo Ko memakai seragam perwira bangsa Mongol, lagi pula usianya masih muda.

“Petunjuk tuan memang tepat, dapatkah aku mengetahui nama dan she tuan yang mulia?” tanyanya kemudian.

Akan tetapi Yo Ko tidak menjawab, sebaliknya kedua tangannya dia masukkan ke dalam lengan baju, baru dia buka suara, tetapi menyimpang dari pertanyaan orang.

“Yalu Ce telah membual secara tidak tahu malu. Ia kira dengan tangan kanan saja sudah hebat sekali kepandaiannya, padahal kalau mau merebut golok orang dan menotok Hiat-to orang, apa susahnya meski sebelah tangan tak dipergunakan?” demikian katanya.

Namun Wanyen Peng tidak sependapat dengan uraian Yo Ko yang malah lebih sombong dari pada Yalu Ce. Tetapi karena belum kenal asal usul orang, maka dia merasa tidak enak mendebatnya.

“Aku ajarkan kau tiga jurus sakti, dengan ini kau bisa memaksa Yalu Ce memakai kedua tangannya,” kata Yo Ko lagi. “Tetapi kau tentu tak percaya, bukan? Nah, sekarang juga aku boleh coba-coba dengan kau. Aku sama sekali tak menggunakan kaki-tanganku untuk bergebrak dengan kau, bagaimana?”

Luar biasa heran Wanyen Peng oleh ucapan Yo Ko, katanya dalam hati: “Masakah kau bisa ilmu gaib sehingga dengan sekali tiup bisa merobohkan aku?”

Melihat sikap si gadis, Yo Ko tahu apa yang dipikirkannya. “Kau boleh bacok dengan golok sesukamu, kalau aku tidak bisa menghindarkan diri, biar mati pun aku tidak menyesal,” katanya untuk menghiIangkan rasa sangsi si nona.

“Baiklah, cuma aku pun tak pakai golok, balas dengan tangan kosong saja agar kau tidak kulukai,” sahut Wanyen Peng.

“Tidak, tidak,” kata Yo Ko lagi sambil menggeleng kepala, “aku harus rebut golokmu tanpa menggerakkan tangan dan kakiku, dengan begitu barulah kau mau percaya.”

Melihat sikap Yo Ko yang menganggap perkara itu hal sepele saja, mau tak mau Wanyeng Peng mendongkol juga.

“Tuan begini lihay, sungguh, mendengar saja aku tidak pernah,” katanya. Habis ini, tanpa sungkan-sungkan lagi ia loloskan golok terus membacok ke pundak Yo Ko.

Ketika melihat kedua tangan Yo Ko masih terselubung dalam lengan baju dan anggap seperti tidak terjadi apa-apa, ia menjadi kuatir melukai orang, maka arah goloknya sedikit dimiringkan ke samping. Gerak senjatanya ini ternyata dapat dilihat jelas oleh Yo Ko, maka ia pun tidak bergerak sedikit pun.

“Jangan kau sungkan-sungkan, kau harus membacok sungguhan,” demikian katanya.

Wanyen Peng menjadi kagum melihat orang sama sekali tak hiraukan serangannya. “Apakah dia seorang dogol?” pikirnya. Menyusul goloknya bergerak lagi, sekali ini dia membabat dari samping dengan sungguh-sungguh.

Tak terduga, secepat kilat mendadak Yo Ko sedikit berjongkok hingga golok menyambar lewat di atas kepalanya, jaraknya cuma berselisih satu-dua senti saja. Sekarang Wanyen Peng tidak sungkan lagi, dia kumpulkan semangat, goloknya diangkat terus membacok lagi.

“Dalam bacokanmu boleh diselingi pula dengan Thi-cio (pukulan telapak besi),” kata Yo Ko sembari hindarkan golok.

Luar biasa kaget Wanyen Peng oleh kata-kata Yo Ko itu, dengan golok terhunus ia cepat melompat ke pinggir.

“Da... dari mana kau bisa tahu?” tanyanya cepat dengan suara tak lancar.

“Kau punya Ginkang dari golongan Thi-cio-cui-siang-biau, maka aku hanya coba menerkanya saja,” sahut Yo Ko.

“Baik,” kata Wanyen Peng kemudian. Berbareng itu goloknya telah membacok lagi diikuti dengan tangan kiri lantas memotong, betul-betul di antara goloknya ia selingi dengan Thi-cio.

Namun dengan gampang saja Yo Ko mengegos lagi. “Boleh lebih cepat sedikit,” katanya malah.

Wanyen Peng menjadi makin heran. Ilmu goloknya dikeluarkan seluruhnya, makin menyerang makin cepat. Nyata dia memang anak murid kaum ahli yang tersohor, gerak serangannya tidak boleh dipandang enteng.

Sungguh pun begitu namun kedua tangan Yo Ko masih terselubung dalam lengan baju, hanya tubuhnya saja yang berkelit kian kemari di antara sambaran golok dan hantaman orang. Jangan kata hendak melukainya, bahkan ujung bajunya saja Wanyen Peng tidak mampu menyenggolnya.

Sesudah sebagian besar ilmu golok si nona dilontarkan, tiba-tiba Yo Ko berkata: “Awas, dalam tiga jurus ini, golokmu akan kurebut!”

Kini Wanyen Peng kagum luar biasa terhadap Yo Ko, tetapi kalau bilang dalam tiga jurus saja goloknya hendak direbut, ia masih belum percaya, maka senjatanya ia genggam lebih kencang.

“Coba saja rebut!” sahutnya, berbareng itu dia memotong dari samping dengan kuat, tipu serangan ini adalah ‘Ling-hing-cin-nia’ (dengan gesit melintasi bukit Cin).

Siapa tahu, dengan hanya sedikit menunduk Yo Ko malah menerobos di bawah goloknya, menyusul kepalanya sedikit melengos ke atas, dengan batok kepalanya ia bentur siku Wanyen Peng. Tempat yang dibentur itu adalah ‘kiok-ti-hiat’, keruan lengan Wanyen Peng menjadi lemas tak bertenaga.

Ketika Yo Ko mendongak dan mulutnya mangap, dengan jitu sekali punggung golok kena digigitnya, maka secara gampang saja senjata itu pun kena direbutnya, bahkan menyusul kepalanya melengos kembali, dengan gagang golok dia tumbuk iga Wanyen Peng, maka tertotoklah Hiat-to si gadis.

Dengan tersenyum Yo Ko segera melompat pergi. Waktu kepalanya bergerak, tiba-tiba ia mengayun ke atas hingga golok yang dia gigit tadi terbang ke udara. Tujuan melemparkan golok ini adalah agar dia bisa bicara dengan mulutnya.

“Bagaimana, menyerah tidak?” begitu dia tanya. Habis berkata, golok itu pun sudah turun ke bawah. Yo Ko buka mulut dan dapat menggigitnya kembali.

Wanyen Peng terkejut dan girang sekali, dia mengangguk-angguk. Melihat kerlingan mata si gadis sungguh mirip sekali dengan Siao-liong-li, tak tertahan Yo Ko ingin sekali bisa memeluk orang dan menciumnya, cuma perbuatan ini terlalu kurang ajar, maka sambil menggigit golok, mukanya menjadi merah jengah.

Sudah tentu Wanyen Peng tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Yo Ko, hanya melihat sikap orang yang aneh itu, dalam hati dia terheran-heran, namun seluruh badan sendiri terasa kaku, kedua kaki lemas seakan-akan hendak jatuh.

Yo Ko melangkah maju dan melamun, tiba-tiba teringat olehnya: “Ah, jangan, dia pernah berterima kasih kepada Yalu Ce karena sopan santunnya, memangnya aku lebih rendah dari pada Yalu Ce? Hm, aku justru hendak melebihi dia dalam hal apa pun juga.”

Begitulah tabiat Yo Ko yang gampang tersinggung, sejak kecil tidak pernah memperoleh didikan orang tua, tentang sopan santun dan tata krama sama sekali tak diketahui, setiap tindak tanduknya hanya bergantung pada pendapatnya apakah itu baik atau buruk. Waktu itu kalau bukan pikirannya ingin melebihi Yalu Ce, boleh jadi dia sudah memeluk Wanyen Peng dan menciumnya. Kemudian dengan gagang golok dia tumbuk lagi satu kali pinggang Wanyen Peng untuk melepaskan Hiat-to yang ditotok tadi, lalu golok itu dia angsurkan kembali padanya. Siapa tahu, bukannya Wanyen Peng terima kembali goloknya, sebaliknya ia terus berlutut di hadapan Yo Ko.

“Mohon Suhu terima aku sebagai murid. Kalau aku dapat membalas sakit hati orang tua, budi ini pasti tak akan kulupakan,” katanya tiba-tiba.

Yo Ko menjadi kelabakan oleh kelakuan orang, lekas-lekas ia bangunkan Wanyen Peng. “Mana bisa aku menjadi gurumu?” sahutnya, “tetapi dapatlah kuajarkan padamu satu akal untuk membunuh Yalu-kongcu.”

Girang sekali Wanyen Peng oleh keterangan itu. “Bagus sekali, asal bisa membunuh Yalu-kongcu, abang serta adiknya bukanlah tandinganku semua, dengan sendirinya aku dapat membunuh ayahnya pula...” berkata sampai di sini, terpikir lagi olehnya: “Ahh, kalau sampai aku memiliki kepandaian untuk membunuh dia, apa mungkin Yalu tua masih hidup di dunia ini? Bagaimana pun juga, sakit hati ayah-bundaku tidak dapat kubalas.”

“Tetapi rasanya tinggal sehari ini saja Yalu tua itu masih dapat hidup,” kata Yo Ko dengan tertawa.

“Apa maksudmu?” tanya Wanyen Peng.

“Untuk membunuh Yalu Ce, apa susahnya?” sahut Yo Ko. “Sekarang juga aku ajarkan tiga tipu padamu dan malam ini juga kau dapat membunuhnya.”

Sudah tiga kali Wanyen Peng berusaha membunuh Yalu Cu-cay, tapi ketiga-tiganya selalu dikalahkan Yalu Ce secara mudah saja, maka ia cukup kenal ilmu kepandaian orang yang berpuluh kali lebih tinggi dari dirinya. Ia pikir, sungguh pun ilmu silat Yo Ko tinggi, namun belum tentu melebihi Yalu Ce. Sekali pun bisa menangkan dia, tidak nanti juga hanya tiga tipu saja lantas dapat digunakan untuk membunuh orang, apa lagi malam ini juga katanya bisa membunuhnya, ini lebih-lebih tidak mungkin.

Begitulah dia menjadi sangsi, tetapi karena kuatir Yo Ko marah, maka tak berani Wanyen Peng mendebatnya, hanya kepalanya menggeleng sedikit, sedangkan kerlingan matanya yang menggilakan Yo Ko tadi tampak semakin menggiurkan. Betapa pintarnya Yo Ko, segera ia pun tahu apa yang dipikirkan si gadis.

“Ya, memang ilmu silatku belum pasti bisa di atasnya,” demikian katanya, “apa bila saling gebrak, boleh jadi aku malah banyak kalahnya dari pada menangnya, akan tetapi untuk mengajarkan tiga tipu padamu dan buat membunuhnya malam ini juga, hal ini sebaliknya tidak perlu buang tenaga. Masalahnya hanya tergantung padamu yang pernah mendapat pengampunan tiga kali dari dia. Aku kuatir kau tidak tega membunuhnya.”

Hati Wanyen Peng tergerak, segera dia keraskan hatinya dan menyahut: “Meski dia ada budi padaku, namun sakit hati orang tua tidak bisa tak dibalas.”

“Baik, kalau begitu tiga jurus tipu ini segera kuajarkan padamu,” kata Yo Ko. “Tetapi kalau kau mestinya bisa membunuh dia dan tidak kau lakukan, lalu bagaimana nanti?”

“Bila terjadi begitu, terserah padamu untuk berbuat sesukamu. Toh kepandaianmu begini tinggi, kau mau pukul atau mau bunuh aku, apa aku dapat melarikan diri?” sahut Wanyen Peng tegas.

“Mana aku tega memukul, apa lagi membunuh kau?” demikian pikir Yo Ko dalam hati. Maka sambil tersenyum ia menjawab:

“Sebenarnya tiga jurus tipu ini pun tidak ada yang mengherankan. Nih, kau lihat yang jelas!”

Kemudian golok orang lantas diambilnya kembali, dengan perlahan ia membabat dari kiri ke kanan.

“Tipu pertama ialah ‘hun-hing-cin-nia’,” kata Yo Ko.

Melihat tipu serangan ini, diam-diam Wanyen Peng berpikir: “Tipu serangan ini aku sudah bisa, perlu apa kau mengajarkan?” Maka dengan mengegos ia hindarkan serangan itu.

“Dan ini tipu kedua,” kata Yo Ko sambil mendadak ulurkan tangan kiri buat pegang tangan kanan si gadis, “ini adalah tipu ‘ko-tin-jiau-jiu’ (akar rotan melingkar pohon) yang termasuk ilmu pukulanmu Thi-cio-kang.”

“Aneh, tipu ini pun satu di antara 18 gerakan Kim-na-jiu dari Thi-cio-kang, buat apa kau mengajarkan lagi?” kembali Wanyen Peng berpikir. “Tetapi aneh juga, dari mana dia mempelajari ilmu pukulan golongan Thi-cio-bun?”

Ilmu kepandaian golongan Thi-cio-bun, yang utama adalah Ginkang atau ilmu entengkan tubuh. Yang kedua adalah Cio-hoat atau ilmu pukulan tangan kosong, lebih-lebih 18 jurus Kim-na-jiu (ilmu cara mencekal dan memegang) juga sangat lihay. Karena Kiu-im-cin-keng adalah himpunan dari inti-inti ilmu silat seluruh jagat, asal satu dipelajari maka semuanya paham dengan sendirinya.

Yo Ko sudah berhasil melatih Kiu-im-cin-keng, maka ia pun kenal Kim-na-jiu-hoat dari Thi-cio-bun itu, hanya cara yang lebih mendalam belum diketahuinya. Begitulah, maka Wanyen Peng menjadi heran karena tangannya dipegang tadi ia merasa Kim-na-jiu-hoat yang ditunjukkan Yo Ko ini sebenarnya tidak lebih lihay dari apa yang dia pernah pelajari, karena itu dengan mata terbuka lebar ia menantikan tipu serangan ketiga yang akan diajarkan padanya.

Belum lagi Yo Ko perlihatkan tipu ketiganya, Wanyen Peng sudah membatin: “Jurus seranganmu yang pertama dan kedua semuanya adalah ilmu kepandaian Thi-cio-bun, tiada yang luar biasa, apakah mungkin melulu andalkan tipu serangan ketiga ini lantas bisa membunuh Yalu-kongcu?”

“Nah, sekarang lihatlah yang jelas!” begitulah terdengar Yo Ko berseru padanya, goloknya diangkat terus menggorok tenggorokan sendiri.

Keruan saja tak kepalang kagetnya Wanyen Peng, “Hai, apa yang kau lakukan?” jeritnya cepat, dan karena tangan kanannya masih dipegang kencang oleh Yo Ko, maka dengan tangan kiri ia merebut senjata yang hendak dibuat bunuh diri oleh Yo Ko.

Biar pun dalam keadaan gugup, tetapi gerakan tangan Wanyen Peng tetap sangat cepat, sekali cekal saja pergelangan tangan si Yo Ko sudah dipegangnya terus ditekuk, dengan demikian mata golok itu tak dapat dipakai membunuh diri lagi.

Yo Ko lantas kendurkan kedua tangannya kemudian melompat mundur. “Nah, sekarang kau sudah tahu bukan?” dengan tertawa ia bertanya.

Hati Wanyen Peng sendiri masih berdebar-debar akibat kagetnya tadi, sebab itu ia belum paham apa maksud kata-katanya.

“Pertama kau gunakan tipu ‘hun-hing-cin-nia’ untuk membabat, kemudian dengan tipu ‘oh-tu-jiau-jiu’ kau cekal tangan kanannya dengan kencang, dan tipu ketiga angkat golok buat bunuh diri. Dalam keadaan begitu, pasti dia akan gunakan tangan kiri menolong kau. Dia pernah bersumpah padamu bahwa asal kau bisa memaksa dia mempergunakan tangan kiri maka dia akan serahkan jiwanya padamu, itu namanya mati tanpa menyesal, dan bukankah urusan menjadi selesai?” demikian Yo Ko menjelaskan.

Betul juga, pikir Wanyen Peng, tetapi dengan termangu-mangu dia memandang Yo Ko, dalam hati dia berpikir: “Usiamu masih semuda ini, mengapa dapat kau pikirkan cara-cara yang begini aneh dan nakal?”

Sementara itu Yo Ko telah berkata lagi: “Ketiga tipu tadi tanggung berhasil dengan baik, kalau gagal, nanti aku menyembah padamu!”

“Tidak,” tiba-tiba Wanyen Peng menyahut sambil goyangkan kepala, “sekali dia bilang tak akan pakai tangan kiri, tentu tak akan digunakannya, lalu bagaimana?”

“Lalu bagaimana? Kalau kau tidak bisa membalas dendam, bukankah lebih baik mati saja, beres.” kata Yo Ko.

“Kau betul,” sahut Wanyen Peng dengan suara pilu, “Terima kasih atas petunjukmu. Tapi sebenarnya kau ini siapakah?”

“Dia bernama si Tolol, jangan kau turut ocehannya,” belum sampai Yo Ko menjawab, tiba-tiba suara perempuan menyela di luar jendela.

Yo Ko dapat mengenalinya, maka dia hanya tersenyum dan tidak menggubris. Sementara itu Wanyen Peng cepat melompat ke pinggir jendela, sekilas masih bisa melihat berkelebatnya bayangan orang yang melompat keluar pagar. Sebenarnya hendak dikejar oleh Wanyen Peng, namun Yo Ko telah mencegahnya.

“Tak perlu kau uber dia,” kata Yo Ko dengan tertawa. “Dia adalah kawanku. Dia memang selalu ingin mengacau.”

“Tak apalah kalau kau tidak mau menerangkan,” ujar Wanyen Peng sesudah termenung sejenak sambil memandangi Yo Ko. “Tetapi aku yakin kau tidak mempunyai maksud jahat padaku.”

Memang watak Yo Ko suka menyerah pada kelunakan dan sekali-kali takkan sudi tunduk pada kekerasan. Kalau ada orang menghina dia, memaksa dia, sekali pun mati tak akan dia menyerah, tapi kini oleh karena kerlingan mata Wanyen Peng dengan wajahnya yang sayu mengharukan, tanpa terasa timbul rasa kasih sayang di dalam hati Yo Ko. Maka sesudah menarik tangan si gadis, dengan berendeng mereka duduk di dipan, lalu dengan suara halus ia menerangkan:

“Aku she Yo dan bernama Ko, ayah-bundaku sudah meninggal semua, serupa saja dengan hidupmu...”

Mendengar sampai di sini hati Wanyen Peng terguncang, tanpa tertahan lagi air matanya mengucur. Dasar perasaan Yo Ko juga gampang terguncang, mendadak dia pun menangis hingga menggerung. Wanyen Peng keluarkan sapu tangan lalu disodorkan pada Yo Ko. Waktu mengusap air mata dengan sapu tangan orang, Yo Ko mencium bau harum yang sedap, tapi ketika ingat pada kisah hidupnya sendiri, air matanya semakin lama semakin mengucur.

“Yo-ya (tuan Yo), kau pun ikut-ikut menangis gara-gara urusanku,” kata Wanyen Peng.

“Jangan panggil aku Yo-ya,” sahut Yo Ko. “Berapa umurmu tahun ini?”

“Delapan belas,” kata si gadis. “Dan kau?”

“Aku pun delapan belas tahun,” sahut Yo Ko, dalam hati ia berpikir: “Kalau bulan lahirku lebih muda dari dia sehingga aku dipanggil adik olehnya, rasanya kurang nikmat.” Karena inilah, lantas di sambungnya lagi: “Aku terlahir di bulan pertama, maka untuk selanjutnya kau panggil aku Toako saja. Aku pun tidak akan sungkan lagi dan panggil kau sebagai adik perempuan.”

Muka Wanyen Peng menjadi merah. Dia merasa si Yo Ko ini segalanya selalu terang-terangan, sungguh sangat aneh, tetapi memang nyata tidak punya maksud jahat. Maka kemudian ia pun mengangguk setuju.

Mendapatkan seorang adik baru, rasa senang hati Yo Ko sungguh tak terkatakan. Beginilah watak Yo Ko. Jika Liok Bu-siang suka mendamperat dan marah-marah padanya, maka ia pun tiada henti-hentinya menggoda. Tapi kini wajah Wanyen Peng cantik molek, perawakannya kurus lencir, nasibnya pun malang, seolah dilahirkan agar dikasihani orang, dan yang paling penting lagi, kerlingan sepasang mata-bolanya begitu mirip seperti Siao-liong-li.

Dengan termangu-mangu Yo Ko memandangi mata Wanyen Peng, dalam khayalannya ia anggap gadis berbaju hitam di depannya ini seperti berbaju putih, wajah orang yang cantik kurus itu seakan-akan kelihatan seperti muka Siao-liong-li. Tanpa terasa terunjuklah perasaannya yang mengharap, perasaan rindu akan rasa kasih sayang yang halus. Karena guncangan perasaan itulah, maka air mukanya pun menjadi aneh luar biasa.

Akhirnya Wanyen Peng menjadi takut, perlahan dia lepaskan tangan dari cekalan orang dan menegur:

“Kenapakah kau?”

“Tak apa-apa,” sahut Yo Ko seperti tersadar dari mimpi, sambil menghela napas panjang. “Sekarang kau mau pergi membunuh dia tidak?”

“Segera aku pergi,” sahut Wanyen Peng cepat, “Yo-toako, kau ikut serta tidak?”

Sebenarnya Yo Ko hendak berkata: “sudah tentu ikut serta”, tetapi bila terpikir lagi kalau dirinya ikut, tentu hal ini akan membesarkan hati Wanyen Peng, dan lagaknya membunuh diri tentu menjadi tidak sungguhan, Yalu Ce juga tak bisa terjebak akalnya lagi. Sebab itu, maka dijawabnya: “Rasanya tak enak kalau aku ikut pergi.”

Karena jawaban ini, tiba-tiba sorot mata Wanyen Peng menjadi guram. Hati Yo Ko menjadi lemas, hampir-hampir ia menyanggupi ikut serta kalau si gadis tidak keburu berkata lagi:

“Baiklah, Yo-toako, cuma aku tak akan bersua lagi dengan kau.”

“Mana, ma... mana bisa begitu? ak… aku....” sahut Yo Ko cepat dan tak lancar.

Namun Wanyen Peng sudah keluarkan serenceng uang perak, ia lemparkan ke atas meja sebagai biaya menginap, Kemudian melompat keluar. Dengan ilmu entengkan tubuhnya yang hebat, dalam sekejap saja dia sudah berada lagi di tempat tinggalnya Yalu Ce.

Tatkala itu Yalu Cu-cay dan lainnya sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Yalu Ce baru saja hendak mengaso, tiba-tiba pintu kamarnya diketok orang.

“Wanyen Peng mohon bertemu dengan Yalu-kongcu,” demikian terdengar suara si gadis yang nyaring.

Segera ada empat pengawal datang merintangi Wanyen Peng, akan tetapi Yalu Ce sudah keburu membuka pintu kamarnya.

“Ada keperluan apa lagi, nona Wanyen?” tanyanya segera.

“Aku ingin belajar beberapa gebrak lagi dengan kau,” sahut Wanyen Peng.

Heran sekali Yalu Ce, ia pikir kenapa orang tidak tahu diri? Tetapi tak urung ia menyingkir ke samping sambil memberi tanda dengan tangan:

“Silakan masuk!”

Begitu masuk, tanpa bicara lagi Wanyen Peng lantas loloskan senjata terus mencecar tiga kali, di antara goloknya ia selingi pula dengan pukulan telapak tangan besinya.

Tetapi ilmu silat Yalu Ce memang jauh lebih tinggi. Dengan tangan kiri lurus ke bawah dia layani si gadis. Dengan tangan kanan melulu, dia balas memukul dan hendak menangkap senjata orang, dengan gampang saja semua serangan Wanyen Peng dapat dia patahkan. Dalam hati ia pun sedang pikirkan sesuatu daya-upaya agar bisa membikin Wanyen Peng kapok kemudian mundur teratur untuk selanjutnya tidak datang merecokinya lagi.

Lewat tak lama, selagi Wanyen Peng hendak mengeluarkan tiga tipu akal ajaran Yo Ko, mendadak di luar pintu terdengar suara seorang wanita berseru:

“Hmm, Yalu-kongcu, dia hendak menipu kau agar menggunakan tangan kiri.” Tidak salah lagi itulah suaranya Liok Bu-siang.

Untuk sesaat Yalu Ce tercengang, namun Wanyen Peng tidak memberikan kesempatan padanya untuk berpikir, segera dengan tipu ‘hun-hing-cin-nia’ ia membabat. Selagi Yalu Ce mengegos, sekonyong-konyong tangan kirinya diulur terus mencekal tangan kanan Yalu Ce dengan tipu ‘koh-tin-jiau-jiu’, menyusul goloknya diangkat terus menggorok lehernya sendiri!

Maka insaflah Yalu Ce oleh suara seruan di luar pintu tadi. Untuk sesaat pikirannya sudah bergantian beberapa kali: “Harus kutolong dia! Tetapi inilah tipunya untuk memancing aku menggunakan tangan kiri, jika aku menggerakkan tangan kiri, itu berarti aku menyerahkan jiwaku untuk diperbuat sesuka hatinya. Tapi biarlah, laki-laki sejati mati biarlah mati, mana boleh melihat orang mau bunuh diri tanpa menolongnya?”

Sesungguhnya Yo Ko sudah mentafsirkan jalan pikiran Yalu Ce. Asal mendadak tiga tipu serangan ajarannya dilontarkan, maka tidak bisa tidak pasti dia akan gunakan tangan kirinya buat menolong. Tapi siapa tahu Liok Bu-siang sengaja mengacau dan sebelumnya memperingatkan Yalu Ce.

Sungguh pun begitu, namun Yalu Ce memang manusia yang berbudi dan berhati mulia. Sudah terang diketahuinya, begitu ia keluarkan tangan kiri buat menolong Wanyen Peng maka jiwanya tak terjamin lagi, tapi pada saat yang berbahaya itu toh masih tetap tangan kirinya diulur untuk menangkis pergelangan tangan Wanyen Peng, menyusul tangannya membalik hingga Liu-yap-to itu dapat direbutnya.

Sesudah saling gebrak tiga jurus, kemudian masing-masing melompat mundur berbareng. Sambil menanti si gadis buka suara, Yalu Ce segera mendahului melemparkan golok rampasan padanya.

“Nyata kau dapat paksa aku menggunakan tangan kiri maka sekarang jiwaku kuserahkan padamu, cuma ada satu permohonanku padamu,” demikian katanya.

“Urusan apa?” tanya Wanyen Peng dengan muka pucat.

“Aku mohon kau jangan celakai ayahku lagi,” pinta Yalu Ce.

Wanyen Peng menjengek sekali, lalu dengan cepat ia melangkah maju, golok ia angkat, di bawah cahaya lampu ia melihat sikap Yalu Ce biasa saja tanpa jeri sedikit pun, bahkan penuh berwibawa. Wanyen Peng adalah gadis yang cantik dan halus budinya. Melihat seorang laki-laki sejati sedemikian ini, teringat olehnya sebab orang mempergunakan tangan kiri tak lain tak bukan adalah karena hendak menolong jiwanya, keruan goloknya itu tak tega dibacokkan. Tiba-tiba napsu membunuhnya yang membakar tadi menjadi ludes. Liu-yap-to yang sudah dia angkat itu mendadak dilemparkan ke lantai. Dengan menutup mukanya ia pun berlari pergi.

AKHIRNYA TERTAWAN JUGA

Dalam keadaan begitu Wanyen Peng menjadi seperti orang linglung, ia melangkah tanpa arah akhirnya sampai di tepi sebuah sungai. Sambil memandangi sinar bintang yang ber-kelip guram tercermin di air sungai, pikirannya kusut tidak keruan. Lewat lama dan lama sekali, Wanyen Peng menghela napas panjang. Tiba-tiba ia dengar di belakangnya ada orang menghela napas juga, di malam yang sunyi itu kedengarannya menjadi sangat seram. Dalam kagetnya segera Wanyen Peng berpaling. Maka terlihatlah satu orang berdiri di belakangnya, siapa lagi dia kalau bukan Yo Ko!

“Yo-toako,” ia menyapa sekali, lalu kepalanya menunduk dan tidak buka suara lagi.

“Moaycu (adik), urusan membalas dendam orang tua memang bukan perkara gampang, maka tidak perlu tergesa-gesa ingin lekas terlaksana,” kata Yo Ko sambil maju kemudian menggenggam tangan si gadis.

“Kau sudah menyaksikan semuanya?” tanya Wanyen Peng.

Yo Ko mengangguk.

“Manusia semacam aku ini, soal balas dendam sudah tentu bukan urusan gampang,” kata pula si gadis, “Tapi kalau aku bisa mempunyai setengah kepandaianmu rasanya tak mungkin aku bernasib begini.”

“Sekali pun aku bisa mempunyai ilmu silat seperti ini, tetapi apa guna?” ujar Yo Ko sambil menggandeng tangan orang lalu duduk berendeng di bawah satu pohon rindang, “Biar pun kau belum dapat membalas dendam, namun sedikitnya kau sudah tahu siapa musuhmu. Sebaliknya aku? Cara bagaimana ayahku tewas, hingga kini aku pun belum tahu, begitu pula siapa pembunuhnya juga tidak tahu, jangankan hendak menuntut balas, lebih-lebih tak perlu disebut lagi.”

“Ayah-bundamu juga dibunuh orang?” tanya Wanyen Peng dengan tercengang.

“Bukan, ibuku tewas digigit ular berbisa, sedangkan ayahku mati secara tak jelas, malah selamanya aku belum pernah melihat mukanya,” sahut Yo Ko sambil menghela napas.

“Kenapa bisa begitu?” tanya si gadis.

“Pada saat aku dilahirkan ayahku sudah keburu mati,” tutur Yo Ko. “Sering aku tanya ibu sebab apakah sebenarnya ayah mati dan siapa musuhnya, tapi setiap kali aku bertanya, selalu ibu mengucurkan air mata dan tidak menjawab, belakangan aku pun tak berani bertanya lagi. Aku pikir biarlah kelak kalau aku telah dewasa barulah bertanya lagi, tapi siapa tahu tiba-tiba ibu digigit ular. Sebelum ajalnya kembali aku bertanya mengenai kematian ayah. Kata ibuku: ‘Sepak terjang ayahmu memang tidak baik, maka kematiannya itu merupakan ganjaran. Orang yang membunuhnya memiliki kepandaian tinggi sekali, pula orang baik. Sudahlah, nak, seumur hidupmu ini jangan sekali-kali kau berpikir tentang balas dendam segala’, Ai, coba, cara bagaimana sebaiknya aku ini?”

Dengan penuturannya ini, maksud Yo Ko hendak menghibur Wanyen Peng, akan tetapi akhirnya ia sendiri menjadi berduka juga.

“Lalu siapakah yang membesarkan kau?” tanya Wanyen Peng.

“Siapa lagi? Sudah tentu kubesarkan diriku sendiri,” sahut Yo Ko. “Setelah wafatnya ibu, aku lantas terlunta-lunta di kalangan Kangouw, di sini aku mengemis sesuap nasi, di sana kulewatkan semalam, kadang-kadang saking tidak tahan lapar aku lantas mencuri sebuah semangka atau sepotong ubi sekedar tangsal perut, tetapi sering kali kena ditangkap oleh pemiliknya lantas dihajar babak belur. Lihat ini, di sini masih ada bekasnya, dan yang ini tulangnya... sampai menonjol, semua ini akibat dihajar orang waktu masih kecil.”

Sambil berkata lengan celananya digulung untuk menunjukkan tempat pada si gadis. Tetapi keadaan remang-remang, Wanyen Peng tidak jelas melihatnya, maka Yo Ko memegang tangannya lalu diletakkan pada belang bekas luka di betisnya.

Wanyen Peng berhati Iemah, dia memang dilahirkan sebagai seorang gadis perasa yang suka bersedih. Sambil meraba bekas luka betis orang, tanpa tertahan hatinya terasa pilu. Diam-diam ia pikir nasib dirinya meski pun negara hancur dan rumah runtuh, namun masih tidak sedikit terdapat sanak kadang serta tidak sedikit kekayaan yang ditinggalkan sang ayah. Kalau dibandingkan dengan nasib pemuda di hadapannya ini, sungguh dirinya masih boleh dikatakan jauh lebih beruntung.

Begitulah mereka saling diam sejenak, kemudian perlahan-lahan Wanyen Peng menarik tangannya dari betis orang, hanya masih membiarkan digenggam Yo Ko.

“Dan cara bagaimana lagi kau berhasil melatih ilmu silat seperti sekarang ini? Dan kenapa menjadi perwira Mongol?” tanyanya dengan lirih.

“Aku bukan perwira MongoI,” sahut Yo Ko. “Aku sengaja memakai baju bangsa Mongol, hendak menghindari pencarian seorang musuh.”

“Bagus kalau begitu!” kata Wanyen Peng tiba-tiba dengan girang.

“Kenapa bagus?” Yo Ko bingung.

Sedikit merah muka Wanyen Peng. “Bangsa Mongol adalah musuh besar negara kami, dengan sendirinya aku mengharap kau bukan perwira mereka,” sahutnya kemudian.

Hati Yo Ko terguncang sambil menggenggam tangan si gadis yang halus dan lunak itu. “Moaycu, jika aku adalah perwira Mongol, bagaimana perasaanmu terhadapku?” tanya Yo Ko tiba-tiba.

Sejak semula Wanyen Peng melihat tampang Yo Ko yang gagah dan ilmu silatnya tinggi, memang dia sudah suka. Belakangan mendengar lagi kisah hidupnya yang mengharukan, hal ini bahkan menambah rasa kasihannya, maka dia pun tidak menjadi marah meski mendengar kata-kata Yo Ko tadi rada blak-blakan.

“Kalau ayahku masih hidup, apa yang kau inginkan tentu akan menjadi mudah, tetapi kini ayah bundaku sudah tiada, apa lagi yang dapat kukatakan?” sahutnya kemudian dengan menghela napas.

Mendengar lagu suara orang yang lemah Iembut, Yo Ko seolah mendapat hati, ia berani ulurkan tangannya buat memegang pundak orang.

“Moaycu, bolehkah kumohon sesuatu,” rayunya dengan bisik-bisik.

Berdebar-debar hati si gadis. Apa yang dikehendaki Yo Ko sudah beberapa bagian dapat diduganya.

“Hal apa?” sahutnya rendah.

“Aku mohon diperkenankan mencium matamu! Ya, mata saja, yang lain-lain tak akan aku melanggarnya,” kata Yo Ko.

Mula-mula Wanyen Peng menyangka tentu si Yo Ko hendak meminang dirinya, malahan ia kuatir juga jangan-jangan pemuda ini menjadi lupa daratan kemudian main kasar terus melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh di tempat terbuka ini. Kalau sampai hal ini terjadi terang sekali dirinya tak bisa melawan.

Siapa tahu orang hanya mohon mencium matanya, maka terasa lega sedikit baginya, tapi entah mengapa, rasa dalam hati rada-rada kecewa dan sedikit heran, sungguh perasaan yang sangat ruwet dan aneh. Karena itu dengan tercengang ia pandang Yo Ko dengan kerlingan matanya yang basah-basah sayu dan sedikit rasa malu.

Begitu melihat kerlingan mata Wanyen Peng, tiba-tiba Yo Ko teringat pada saat sebelum perpisahannya yang terakhir dengan Siao-Iiong-li. Pada waktu itu Siao-liong-li pun pernah memandang dengan kerlingan mata yang maIu-malu dan mengandung arti yang dalam. Tak tertahan lagi ia menjerit, orangnya pun segara melompat bangun.

Tentu saja Wanyen Peng kaget oleh kelakuan si Yo Ko. Ingin dia tanya, namun terasa sukar membuka mulut.

Dalam pikirannya yang kacau itu, Yo Ko merasa kerlingan mata di hadapannya ini adalah kerlingan mata Siao-liong-li melulu. Dulu waktu pertama kali ia melihat kerlingan mata seperti ini, ia masih hijau pelonco dan sama sekali tak mengerti. Namun sejak ia turun gunung, berkumpul beberapa hari dengan Liok Bu-siang, ditambah hari ini bergaul dengan Wanyen Peng, maka mendadak jadi teringat olehnya maksud baik dan cinta halus dari Siao-liong-li, semua itu baru dia pahami sekarang.

Keruan dia menyesal tidak kepalang, bisa-bisa kepalanya hendak dia tumbukkan saja ke batang pohon di sampingnya biar mati sekalian.

“Begitu tulus cinta Kokoh padaku, ia sudah bilang hendak menjadi isteriku, tetapi aku mengecewakan maksud baiknya, sekarang ke mana harus kucari dia?” demikian terpikir olehnya.

Karena itu, mendadak dia menjerit sekali lagi, tiba-tiba Wanyen Peng ditubruknya lantas dipeluk kencang2, dengan bernapsu kelopak mata si gadis diciumnya.

Melihat orang bagaikan kalap dan seperti gila, Wanyen Peng terkejut bercampur girang, hendak meronta pun sukar karena didekap Yo Ko dengan kencang. Maka akhirnya ia pun pejamkan matanya dan membiarkan orang mencium sepuasnya. Terasa olehnya kelopak matanya kanan dan kiri diciumi Yo Ko. Ia pikir orang ini meski kasar dan seperti gila, namun apa yang sudah dikatakannya tadi ternyata dapat dipercaya juga. Sungguh aneh, mengapa mata saja yang terus diciuminya?

“Kokoh, Kokoh!” sekonyong-konyong didengarnya Yo Ko berteriak-teriak, suaranya penuh rasa hangat dan menggelora, tetapi terasa juga seperti sangat menderita.

Selagi Wanyen Peng hendak bertanya siapa yang dipanggilnya itu, mendadak terdengar suara seorang perempuan berkata di belakang mereka:

“Ma’af, kalian berdua!”

Yo Ko dan Wanyen Peng sama-sama kaget, segera tangan mereka yang saling genggam tadi terlepas dan lompat menjauh. Waktu mereka berpaling, tampaklah di bawah pohon berdiri seorang gadis baju hijau yang dikenali Yo Ko sebagai orang yang beberapa kali mengirim berita serta menolong Liok Bu-siang.

“Berulang kali mendapat bantuanmu, budi ini tak akan kulupakan,” cepat Yo Ko menyapa sambil memberi hormat.

Dengan laku sangat sopan gadis itu membalas hormat orang. “Rupanya Yo-ya sedang senang-senang karena ada kenalan baru, tetapi apa masih ingat pada kawan lama yang pernah mengalami mati-hidup bersama?” begitu katanya.

“Kau maksudkan...”

“Li Bok-chiu guru murid tadi telah menawannya pergi!” potong gadis itu sebelum Yo Ko selesai berkata.

Keruan Yo Ko sangat terkejut. “Apa betul?” ia menegas dengan suara gemetar. “Dia... dia ditawan ke mana?”

“Waktu kau sedang asyik-masyuk dengan nona ini, nona Liok ditawan Li Bok-chiu,” sahut gadis itu.

“Apa... apa tidak berhalangan atas dirinya?” tanya Yo Ko lagi.

“Untuk sementara ini rasanya tidak mengapa bagi keselamatannya,” kata si gadis, “Nona Liok tetap mengatakan kitab pusakanya itu telah direbut oleh Kay-pang, maka Jik-lian-mo-tau itu telah menggiring dia pergi pada kaum pengemis itu, jiwanya sementara tak menjadi soal tetapi siksaan badan rasanya sukar dihindarkan.”

Yo Ko adalah seorang yang gampang terguncang, maka segera dia mengajak: “Marilah, lekas kita pergi menolongnya.”

Siapa duga gadis itu hanya menggoyang kepala. “Meski ilmu silat Yo-ya sangat tinggi, tapi rasanya masih bukan tandingan iblis itu,” demikian sahutnya, “Barang kali jiwa kita hanya akan melayang percuma, sedang urusannya masih belum bisa ditolong,”

Walau dalam kegelapan, namun mata Yo Ko sangat tajam seperti memandang benda di siang hari saja, maka wajah si gadis baju hijau ini dapat dilihatnya sangat jelek dan aneh luar biasa. Otot daging di mukanya kaku tanpa bergerak sedikit pun seperti mayat hingga membikin seram orang yang memandangnya. Karena itu Yo Ko tidak berani memandang lebih lama.

“Orang ini amat baik terhadapku, tetapi aneh, kenapa terlahir dengan muka begini rupa?” demikian pikirnya. Maka kemudian ia pun bertanya:

“Dapatkah mengetahui she dan nama nona? Selamanya kita belum kenal, kenapa begitu mendapat perhatian nona?”

“Namaku tiada harganya buat disebut-sebut, kelak Yo-ya tentu akan tahu juga, kini yang paling penting lekas berdaya-upaya menolong orang,” sahut gadis itu.

Pada waktu berbicara air mukanya sedikit pun tidak tampak perubahannya, kalau bukan mendengar suara keluar dari mulutnya, sungguh orang bisa menyangka dia adalah mayat hidup. Namun aneh juga, suaranya nyaring merdu menarik.

“Kalau begitu, bagaimana menoIongnya, terserahlah pada keputusan nona, dengan hormat aku menurut petunjukmu saja,” kata Yo Ko kemudian.

“Hendaklah Yo-ya jangan sungkan-sungkan,” sahut gadis itu. “Ilmu silatmu berpuluh-puluh kali lipat di atasku, juga berpuluh kali lebih pintar, pula usiamu lebih tua, dan seorang laki-laki lagi, apa yang kau bilang baik tentunya baik, kedatanganku justru untuk menerima perintahmu.”

Mendengar kata-kata orang yang amat merendah dan menyenangkan ini, sungguh Yo Ko menjadi senang sekali.

“Jika begitu kita mengintilnya secara diam-diam saja, kita mencari kesempatan baik untuk turun tangan,” sahutnya kemudian sesudah berpikir.

“Memang itulah yang paling baik,” kata si gadis, “Tetapi entah bagaimana pendapat nona Wanyen?” Habis berkata, ia sendiri cepat-cepat menyingkir pergi dan membiarkan Yo Ko berunding dengan Wanyen Peng.

“Moaycu, sekarang aku hendak pergi menolong seorang kawan, kelak kita bertemu Iagi,” demikian kata Yo Ko.

“Tidak, Yo-toako, meski kepandaianku rendah, mungkin dapat juga aku memberi bantuan sekedarnya, biarlah aku ikut serta dengan kalian,” sahut Wanyen Peng.

Memang Yo Ko merasa berat kalau harus berpisah dengan dia, maka mendengar orang mau ikut, tentu saja ia amat girang.

“Bagus kalau begitu!” serunya senang.

Habis ini, dengan suara keras ia teriaki si gadis baju hijau tadi: “Nona, adik Wanyen Peng suka membantu kita dan ingin ikut pergi menolong orang!”

“Wanyen-kohnio, kau adalah puteri bangsawan, sebelum bertindak hendaklah kau pikirkan dulu,” dengan laku sangat hormat gadis baju hijau itu berkata pada Wanyen Peng. “Harus kau ketahui bahwa musuh yang akan kami hadapi ini kejamnya luar biasa, sampai orang Kangouw memanggil dia Jik-lian-sian-cu, mengumpamakan dia sekeji ular belang rantai, sungguh tidak mudah untuk menghadapinya.”

“Janganlah cici berkata begitu. Jangan kata Yo-toako ada budi padaku sehingga apa yang menjadi urusannya adalah urusanku juga, walau pun seorang kawan seperti cici saja, aku Wanyen Peng ingin kenal. Maka biarlah aku ikut pergi bersama cici, asal segalanya kita berlaku hati-hati,” demikian sahut Wanyen Peng.

“Hmm, baik sekali kalau begitu,” kata gadis itu dengan suara halus sambil menarik tangan Wanyen Peng, “Cici, umurmu lebih banyak dari padaku, kau boleh memanggilku Moaycu saja.”

Dalam keadaan gelap Wanyen Peng tidak bisa melihat wajah orang yang sangat jelek itu, tetapi mendengar suaranya yang begitu merdu, tangannya yang menggenggam terasa sangat halus dan lemas, maka dia menyangka tentu gadis yang cantik moIek, dalam hati ia pun sangat senang.

“Berapakah umurmu tahun ini?” ia tanya.

“Ahh, tidak perlu kita merecoki umur, sekarang paling perlu segera pergi menolong orang, bukankah begitu, Yo-ya?” sahut gadis itu bersenyum.

“Ya, silakan nona tunjukkan jalannya,” kata Yo Ko.

“Aku melihat mereka menuju ke arah tenggara, tentu pergi ke Heng-ci-koan,” ujar gadis itu.

Segera mereka keluarkan Ginkang dan dengan cepat memburu ke arah tenggara. Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay yang dipelajari Yo Ko terkenal karena Ginkang yang hebat dan boleh disebut nomor satu di kolong langit. Sedangkan Wanyen Peng adalah anak murid dari Thi-cio-pang. Dulu pangcu atau pemimpin Thi-cio-pang yang bernama Kiu Jian-yim berjuluk ‘Thi-cio-cui-siang-biau’ atau Telapak tangan besi melayang-layang di atas air. Kalau sampai disebut ‘melayang di atas air’, dengan sendirinya Ginkang-nya pasti terhitung kelas satu juga.

Siapa tahu si gadis baju hijau itu, senantiasa cepat tidak, lambat pun tidak, namun selalu mengintil di belakang Wanyen Peng. Kalau Wanyen Peng cepat, maka dia pun cepat, jika lambat, dia pun ikut lambat, jarak antara mereka selalu dipertahankan dua-tiga tindak.

Keruan Yo Ko amat terperanjat. “Anak murid dari aliran manakah nona ini? Kalau melihat Ginkang-nya, sudah berada di atas Wanyen Peng,” demikian ia heran. Dan karena tak mau main menang-menangan dengan kedua nona itu, maka ia sengaja tertinggal saja di belakang.

Sampai hari terang, gadis baju hijau keluarkan rangsum kering lantas dibagikan kepada kedua kawannya. Melihat baju orang meski pun terbikin dari kain biasa saja, tapi potongannya sangat serasi dengan perawakan pemakainya, pula perbekalannya seperti rangsum kering, botol air dan sebagainya diatur secara begitu baik, menunjukkan ketelitian seorang gadis yang rajin.

Di lain pihak, ketika Wanyen Peng melihat wajah orang begitu aneh, ia menjadi tak berani memandang lebih jauh. “Di dunia ini kenapa ada wanita bermuka sejelek ini?”

“Yo-ya, Li Bok-chiu itu kenal padamu, bukan?” kata gadis baju hijau itu setelah menunggu kedua orang selesai makan.

“Ya, beberapa kali ia pernah bertemu dengan aku,” sahut Yo Ko.

Gadis itu mengeluarkan sehelai benda tipis seperti kain sutera, lalu berkata pula pada Yo Ko:

“lni adalah topeng kulit manusia, sesudah kau pakai, tentu dia tak kenal lagi.”

Waktu Yo Ko periksa topeng itu, dia lihat di atasnya ada lubang tempat mata, mulut dan hidung, kalau dipakai maka topeng ini bagaikan karet saja mencetak muka si pemakainya persis seperti wajah asli. Tentu saja Yo Ko amat girang dan segera menghaturkan terima kasih.

Melihat wajah Yo Ko seketika berubah menjadi jelek luar biasa setelah memakai topeng itu, barulah kini Wanyen Peng sadar.

“Ah, Moaycu, kiranya kau pun memakai topeng seperti ini. Sungguh aku amat goblok, aku mengira wajahmu memang terlahir begitu aneh,” demikian katanya pada gadis baju hijau.

“Muka Yo-ya yang ganteng dan bagus ini, sebenarnya sayang dan merendahkan dirinya saja bila pakai topeng ini,” sahut gadis baju hijau, “Mengenai diriku, memang mukaku begini, pakai topeng atau tidak serupa saja.”

“Ahh, aku tidak percaya,” ujar Wanyen Peng. “Moaycu, maukah kau copot topengmu dan unjukkan muka aslimu?”

Dalam herannya Yo Ko pun ingin tahu wajah asli si gadis itu, tapi permintaan itu ternyata ditolak.

“Jangan, mukaku yang jelek ini mungkin akan membuat kalian kaget,” sahut gadis itu.

Melihat orang berkeras tak mau memperlihatkan mukanya, terpaksa Wanyen Peng sudahi permintaannya. Pada waktu lohor, mereka bertiga sudah sampai di kota Bukoan. Mereka masuk ke atas loteng sebuah restoran untuk mengisi perut. Melihat Yo Ko berdandan sebagai perwira Mongol, pengurus restoran tak berani ayal dan cepat memberi pelayanan.

Akan tetapi baru setengah jalan mereka bersantap, kerai pintu tersingkap, tiba-tiba saja masuk tiga wanita yang bukan lain dari pada Li Bok-chiu dan Ang Ling-po yang menggiring Liok Bu-siang.

Yo Ko sangat cerdik. Ia tahu meski saat itu Li Bok-chiu tak kenali dirinya, namun mukanya yang aneh karena memakai topeng tentu akan menimbulkan rasa curiga orang, karena itu segera ia berpaling ke jurusan lain sambil terus menyumpit nasi. Ia hanya pasang kuping tajam untuk mendengarkan percakapan mereka. Siapa tahu sama sekali Bu-siang tidak buka suara, bahkan Li Bok-chiu berdua pun tidak bicara setelah memesan daharan seperlunya.

Nampak orang yang mereka cari sudah berada di hadapan mata, Wanyen Peng gunakan sumpitnya dan mencelup ujung sumpit pada air kuwah, lalu ia corat-coret beberapa huruf di atas meja dengan maksud: ‘turun tangan tidak?’

Diam-diam Yo Ko sedang berpikir: “Dengan kekuatan bertiga, ditambah lagi dengan ‘bini cilik’, rasanya masih susah melawan mereka guru dan murid berdua. Urusan ini hanya bisa dimenangkan dengan akal dan tak mungkin dengan kekerasan.” Oleh sebab itu, ia goyangi sumpitnya perlahan-lahan sebagai tanda ‘jangan’.

Li Bok-chiu juga orang cerdik. Setelah berada di loteng restoran, ia lihat sorot mata Bu-siang seperti bersinar harapan, tentu saja ia merasa heran hingga tiada hentinya Wanyen Peng bertiga diincar olehnya. Tapi Yo Ko duduk mungkur dan tidak bergerak sedikit pun, maka tiada sesuatu tanda yang menimbulkan curiga.

Begitulah sedang kedua belah pihak sama-sama menantikan kesempatan baik, tiba-tiba suara tangga loteng berbunyi, kembali orang masuk lagi ke situ. Ketika Wanyen Peng melirik, dia lihat yang datang adalah Yalu Ce dan Yalu Yen kakak beradik.

Ketika nampak Wanyen Peng juga berada di situ, kedua orang itu rada terperanjat, tetapi sesudah memanggut, lalu mereka mengambil tempat duduknya sendiri.

Secara diam-diam Li Bok-chiu amat kagum terhadap sepasang muda-mudi yang ganteng dan cantik itu, ia menyangka suami isteri, tak tahunya hanya saudara saja.

Kiranya setelah peristiwa Wanyen Peng mencari balas pada ayahnya, Yalu Ce menduga si gadis tak berani datang lagi, maka bersama adik perempuannya, Yalu Yen, mereka pesiar keluar untuk menikmati keindahan alam daerah Kanglam ini, di sini pula bertemu dengan Wanyen Peng, tentu saja mereka bertambah lega meninggalkan ayah mereka.

Sementara itu, karena ‘Ngo-tok-pit-toan’ atau ‘Kitab Panca-bisa’ yang tercuri itu disangka telah jatuh ke tangan orang Kay-pang, Li Bok-chiu sedang masgul, dalam beberapa hari ini boleh dikatakan tak doyan makan dan tak nyenyak tidur. Oleh karena itu, baru makan setengah mangkok bakmi, dia lantas meletakkan sumpitnya kemudian memandang iseng keluar restoran.

Tiba-tiba saja tampak olehnya di simpang jalan sana berdiri dua pengemis, punggung mereka masing-masing menggendong tujuh buah kantong kain, nyata mereka adalah ‘Chit-te-tecu’ atau anak murid berkantong tujuh dari Kay-pang.

Muncul lagi seorang pengemis yang lain, dengan tergesa-gesa pengemis yang belakangan ini mendekati kedua kawannya dan bisik-bisik sejenak, kemudian dengan langkah cepat lantas pergi lagi.

Tergerak pikiran Li Bok-chiu. Tiba-tiba dia memanggil kedua pengemis itu melalui jendela loteng:

“Kedua Enghiong dari Kay-pang, silakan naik ke atas, ada sesuatu yang ingin kuminta tolong agar kalian sampaikan pada pangcu perkumpulanmu.”

Li Bok-chiu tahu kalau memanggil orang begitu saja pasti kedua pengemis itu tidak akan mau gubris padanya, tapi kalau bilang ada pesan untuk pangcu mereka, sekali pun harus menghadapi bahaya seberapa pun besarnya, pasti anak murid Kay-pang akan datang kepadanya.

Karena mendengar gurunya memanggil orang dari Kay-pang yang diduga tentu hendak ditanyai kemana dibawanya kitab ‘panca-bisa’ itu, tanpa tertahan lagi muka Liok Bu-siang menjadi pucat. Dia insaf sekali ini kebohongannya pasti akan terbongkar.

Di sebelah sana Yalu Ce juga merasa heran oleh kelakuan Li Bok-chiu. Dia kenal nama Kay-pang yang pengaruhnya sangat besar di daerah utara. Akan tetapi satu To-koh setengah umur yang biasa seperti ini ternyata bilang bahwa ada sesuatu pesan hendak disampaikan kepada Pangcu mereka, dia menjadi tertarik untuk mengetahui macam apakah diri si To-koh ini. Maka ia berhenti minum arak, ia melirik dan memperhatikan gerak-gerik orang.

Selang tak lama kemudian naiklah kedua pengemis yang dipanggil tadi, mereka memberi hormat kepada Li Bok-chiu dan bertanya:

“Ada pesan apakah Sian-koh, tentu akan kami sampaikan.”

Setelah berdiri tegak, salah satu pengemis itu melihat Liok Bu-siang juga berada bersama dengan imam wanita itu, keruan saja air mukanya seketika berubah. Ternyata pengemis ini pernah ikut mencegat Bu-siang di tengah jalan bersama beberapa kawannya berkantong tujuh. Karena itu cepat ia menarik pengemis satunya, keduanya lantas melompat dekat tangga, dengan sebelah telapak tangan berlindung di depan dada, mereka siap melayani musuh.

Li Bok-chiu tersenyum melihat kelakuan kedua pengemis itu. “Coba kalian berdua melihat punggung tanganmu,” dengan suara halus ia berkata.

Berbareng kedua pengemis itu memandang balik tangan mereka, maka terlihatlah setiap telapak tangan mereka masing-masing sudah tercetak sebuah cap tangan yang berwarna merah darah. Nyata, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu Li Bok-chiu telah unjukkan pukulan saktinya, Ngo-tok-sin-ciang, pukulan sakti panca bisa. Cara turun tangan Li Bok-chiu bukan saja di luar tahu kedua pengemis itu, bahkan Yo Ko dan Yalu Ce juga tidak melihatnya dengan jelas.

“Kau... kau adalah Jik-Iian-sian-cu?” teriak kedua pengemis itu berbareng setelah terkejut sejenak.

Li Bok-chiu tak menjawab melainkan dengan perlahan ia tuang setengah cawan araknya, lalu ia angkat cawannya. Ketika jarinya menyentil, mendadak cawan arak itu terbang ke atas, isi cawan terus mancur turun lurus ke bawah. Ketika Bok-chiu menengadah, setengah cawan arak itu masuk semua ke mulutnya tanpa menciprat keluar setetes pun. Yang lebih aneh, cawan arak yang terbang disentil itu tahu-tahu menyambar balik lagi ke tangannya sesudah berputar di udara.

Ternyata tenaga menyentil yang dipakai Li Bok-chiu begitu tepat. Inilah ilmu kepandaian tertinggi dari cara menimpuk senjata rahasia, meski termasuk ilmu dari Ko-bong-pay pula, tetapi Yo Ko harus malu diri karena belum bisa memadai sang Supek dan masih jauh dari pada sanggup ‘menyentil cawan dan menenggak arak’ itu.

“Nah, bilanglah kepada pangcu kalian,” kata Li Bok-chiu kemudian setelah unjukkan ilmu saktinya tadi, “bahwa Kay-pang kalian dengan aku orang she Li selamanya ‘air sungai tak menggenangi air sumur’, selamanya aku pun mengagumi kawan-kawan Kay-pang yang gagah perkasa, cuma sayangnya tak ada kesempatan untuk bertemu dan minta petunjuk. Sungguh hal ini harus dibuat menyesal...”

“Enak saja kata-katanya itu, tetapi kenapa tanpa sebab tiada alasan kau turun tangan keji terhadap kami?” demikian pikir kedua pengemis itu sambil saling pandang.

“Kalian berdua sudah kena pukulanku Ngo-tok-sin-ciang, tapi hal ini tak perlu dibuat kuatir. Asal kitab dikembalikan, tentu akan kusembuhkan kalian berdua,” kata Li Bok-chiu lagi setelah berhenti sejenak.

“Kitab apa?” tanya salah satu pengemis.

“Kalau diceritakan kitab itu pun tak laku beberapa duit. Jika perkumpulan kalian berkeras tidak mau mengembalikan, sebenarnya tidak menjadi soal,” demikian sahut Bok-chiu dengan tertawa, “Cuma sebagai gantinya, terpaksa aku minta bayaran dengan seribu jiwa pengemis goIonganmu.”

Walau pun kedua pengemis itu belum merasakan tangan mereka ada tanda-tanda aneh, namun setiap kali Li Bok-chiu berkata, tanpa tertahan mereka pun memandang ke tangan yang terpukul itu. Saking jerinya terhadap Jik-lian-sin-ciang yang maha tersohor karena kejinya, dalam bayangan kedua pengemis itu seakan-akan merasakan tanda merah di telapak tangan mereka per-Iahan sedang meluas. Apa lagi kini mendengar Li Bok-chiu bilang hendak minta ganti seribu jiwa kawan mereka, mereka pikir tiada jalan lain kecuali lekas-lekas kembali melapor kepada Pangcu. Maka setelah saling memberi tanda, segera mereka berlari turun ke bawah.

Nampak orang melarikan diri, Li Bok-chiu pikir: “Kalian sudah terkena pukulan maut, di jagat ini kecuali It-ting Taysu tidak ada lagi yang mampu mengobati, jika Pangcu kalian inginkan jiwa kalian tentu dia akan menurut dan serahkan Ngo-tok-pit-toan padaku. Tapi... wah, celaka, kalau mereka menyalin kitab itu dan kitab aslinya baru dikembalikan kepadaku, bukankah aku kena ditipu mentah-mentah?”

Segera ia berpikir lagi: “Memang celaka, padahal segala macam cara memunahkan racun pukulan dan senjata rahasia, semuanya telah kutulis dalam kitab itu dengan jelas. Jika mereka bisa memiliki kitab itu, buat apa mereka datang memohon pertolonganku?”

Teringat akan itu, tanpa terasa mukanya menjadi pucat. Begitu tubuhnya melesat, tahu-tahu dia mencelat lantas menghadang di tengah tangga di depan kedua pengemis yang sedang melarikan diri itu. Begitu dua tangannya bekerja, susul menyusul dua kali pukulan telah memaksa kedua pengemis itu balik lagi ke atas loteng.

Tindakan Li Bok-chiu ternyata cepat bukan main, hanya terlihat bayangannya berkelebat tahu-tahu sebelah lengan salah satu pengemis telah dia pegang terus ditekuk sekuatnya. Maka terdengarlah suara gemelutuk, tulang lengan orang sudah patah hingga tangannya melambai ke bawah dengan lemas.

MENGEROYOK LI BOK-CHIU

Tentu saja pengemis yang lain sangat kaget, namun di sinilah terbukti betapa setia kawan antara kaum pengemis. Dia bukannya melarikan diri, sebaliknya malah menubruk maju untuk melindungi kawannya yang terluka. Ketika melihat Li Bok-chiu merangsek maju lagi, kontan dia pun mendahului memukul.

Tanpa terduga, kembali tangan Li Bok-chiu bergerak perlahan, kepalan si pengemis yang memukul ini kena ditangkapnya dan sekalian pula ditekuk, maka tulang lengannya segera senasib dengan kawannya, kena dipatahkan lagi.

Hanya sekali gebrak saja kedua pengemis itu sudah dihajar Li Bok-chiu hingga luka parah, maka insyaflah mereka bahwa hari ini mereka tentu celaka. Namun demikian mereka tak menyerah mentah-mentah, dengan punggung menempel punggung mereka berdempetan satu sama lain dan dengan sebelah tangan masing-masing yang masih sehat mereka siap menempur musuh.

“Sebaiknya kalian berdua tinggal di sini dahulu, tunggu Pangcu kalian datang sendiri sambil membawa kitabku,” terdengar Li Bok-chiu berkata dengan lembut.

Melihat orang habis berkata terus kembali ke mejanya buat minum arak, malah duduknya mungkur ke arah mereka, maka kedua pengemis itu menggeser perlahan ke tepi tangga dengan maksud bila ada kesempatan terus hendak kabur. Tak terduga mendadak Li Bok-chu berpaling.

“Tampaknya tulang kaki kalian berdua harus dipatahkan juga, dengan begitu baru kalian kerasan tinggal di sini,” katanya dengan tersenyum, sembari berkata ia pun berdiri.

“Suhu, biarlah aku yang menjaga mereka, tak akan bisa kabur,” tukas Ang Ling-po. Rupanya ia tak tega juga melihat kekejian sang guru.

“Hm, bajik juga hatimu,” jengek Li Bok-chiu, namun dengan perlahan-lahan ia masih terus mendekati kedua pengemis itu.

Saking murkanya mata kedua pengemis itu merah berapi. Mereka sudah ambil keputusan tiada jalan lain dari pada adu jiwa dengan musuh.

Sejak tadi Yalu Ce kakak beradik hanya menonton dengan tenang, watak mereka berdua sebenarnya sangat keras, kini tak tahan lagi, serentak mereka berdiri.

“Sam-moay, lekas kau pergi, perempuan ini terlalu lihay,” dengan suara perlahan Yalu Ce berpesan kepada adiknya.

“Dan kau sendiri?” tanya Yalu Yen.

“Sesudah menolong kedua pengemis ini, segera aku melarikan diri,” sahut Yalu Ce.

Biasanya Yalu Yen menjunjung sang kakak ini bagai malaikat dewata, tapi kini mendengar orang pun nanti akan menyelamatkan diri, dalam hati si gadis menjadi ragu-ragu. Pada saat itulah dengan keras mendadak Yo Ko menggebrak meja, lalu didekatinya Yalu Ce.

“Yalu-heng (saudara Yalu), mari kita berdua turun tangan bersama untuk menolong orang, bagaimana?” ajak Yo Ko.

Melihat Yo Ko mengenakan pakaian Mongol dan mukanya sangat jelek, Yalu Ce merasa belum pernah kenal orang macam ini. Dia pikir bila mana orang berada bersama Wanyen Peng, tentu saja kenal siapakah dirinya. Namun dia tadi sudah menyaksikan ilmu silat Li Bok-chiu, dia yakin tidak bisa menandinginya, kalau sembarangan turun tangan, berarti mengantar jiwa belaka. Oleh karena itu, seketika ia ragu-ragu tak menjawab ajakan Yo Ko tadi.

Di lain pihak, begitu mendengar Yo Ko membuka suara, segera Li Bok-chiu mengamat-amati si pemuda dari kepala sampai ke kaki dan sebaliknya. Ia merasa lagu suara orang sudah dikenalnya entah di mana. Tetapi muka orang begitu rupa, jika pernah dikenalnya, tidak mungkin bisa melupakannya, maka dapat dipastikan memang belum pernah kenal.

“Aku tak bersenjata, terpaksa harus pinjam dulu,” sementara Yo Ko berkata lagi.

Kemudian, mendadak tubuhnya melesat cepat, ia menyerempet lewat samping Ang Ling-po. Waktu tangannya menguIur, tahu-tahu kerangka pedang yang tergantung di pinggang orang sudah dia ambil, malahan pipi Ang Ling-po dia kecup pula satu kali.

“Ehm, wanginya!” demikian seru Yo Ko sengaja.

Keruan Ang Ling-po amat murka, tangannya membalik terus menggablok. Namun sedikit menunduk Yo Ko sudah berhasil menghindarkan serangan itu dan menerobos pergi untuk kemudian berdiri di antara kedua pengemis itu dan Li Bok-chiu. Tindakan dan perbuatan Yo Ko itu dilakukan secara cepat luar biasa, keruan dalam hati Li Bok-chiu diam-diam terperanjat, sebaliknya Yalu Ce menjadi girang.

“Siapakah she dan nama saudara yang mulia ini?” segera ia berseru menanya.

“Siaute she Yo,” sahut Yo Ko sembari gerakkan tangannya, dia angkat kerangka pedang sambaran dari pinggang Ang Ling-po dan menyambung:

“Aku tahu isi di dalamnya adalah pedang buntung!”

Dan waktu pedang dia IoIoskan, betul saja pedangnya memang kutungan. Mendadak Ang Ling-po sadar.

“Anak keparat!” serunya cepat. “Suhu, dia inilah yang kita cari.”

Karena orang sudah mengenali dirinya, Yo Ko tak perlu main sandiwara lagi, topeng kulit yang dia pakai segera ditanggalkan.

“Supek, Suci, Tecu Yo Ko memberi hormat,” katanya kepada Li Bok-chiu dan Ang Ling-po.

Mendengar Yo Ko memanggil Supek dan Suci, bukan hanya Yalu Ce saja yang menjadi bingung, begitu pula Liok Bu-siang pun luar biasa kagetnya.

“He, kenapa si Tolol ini memanggil mereka Supek dan Suci?” demikian Bu-siang tak habis mengerti.

Sementara itu dengan tersenyum dingin Li Bok-chiu menjawab: “Hm, gurumu baik-baikkah?”

Mendengar Siao-liong-li ditanyakan, seketika itu hati Yo Ko berduka hingga matanya pun basah.

“Gurumu sungguh pintar mengajar murid,” demikian kata Li Bok-chiu sambil tertawa.

Kiranya kemarin setelah saling gebrak tiga jurus, dengan tipu gerakan yang aneh Yo Ko telah patahkan tiga kali serangan ‘Sam-bu-sam-put-jiu’, dia telah berpikir dan tetap tidak dapat meraba dari aliran manakah tipu-tipu Yo Ko. Oleh sebab itu dia menjadi ragu-ragu apakah imam kecil yang bertarung dengan dirinya itu Yo Ko adanya? Ia pikir bila benar murid sang Sumoay, lalu dari mana bisa memiliki ilmu silat yang begitu tinggi dan aneh?

Kini sesudah mendengar si Yo Ko memanggil “Supek” dan “Suci”, maka percayalah dia memang betul si pemuda yang beberapa tahun yang lalu dilihatnya di kuburan kuno itu. Keruan saja diam-diam ia terperanjat, pikirnya: “Sekarang saja bocah ini sudah begini lihay, apa Iagi Sumoay sendiri, betapa hebat kepandaiannya.” Biar pun berpikir begitu, tetapi mukanya sedikit pun tidak mengunjukkan perasaan hatinya.

Namun Yo Ko amat cerdik, ia dapat menerka apa yang orang sedang pikir, maka kembali ia memberi hormat dan berkata lagi:

“Suhu suruh aku menyampaikan salam pada Supek!”

“O, di manakah dia?” tanya Li Bok-chio, “Kami berdua sudah lama tak berjumpa.”

“Suhu berada di sekitar sini saja, tak lama lagi tentu beliau akan datang menemui Supek,” sahut Yo Ko.

Nyata pemuda ini tahu bahwa dirinya bukan tandingan Li Bok-chiu, sekali pun masih ditambah dengan Yalu Ce tetapi sukar memperoleh kemenangan, maka ia sengaja pakai akal ‘gertak sambel’, ia coba tonjolkan gurunya, Siao-liong-li, untuk menakuti orang.

“Aku lagi berurusan dengan murid sendiri, sangkut paut apa dengan gurumu?” demikian kata Li Bok-chiu. Dari lagu suaranya ini nyata ia rada jeri terhadap Siao-Iiong-li.

“Tetapi Suhu ingin minta kemurahan hati Supek agar suka ampuni Sumoay (maksudnya Liok Bu-siang) saja,” kata Yo Ko.

“Huhh! Kau sudah main gila dan melakukan perbuatan terkutuk seperti binatang dengan gurumu sendiri, sekarang kau masih menyebut dia Suhu terus menerus di hadapan orang banyak, sungguh tidak tahu malu!” ejek Li Bok-chiu tiba-tiba dengan tertawa.

Alangkah murkanya Yo Ko mendengar nista itu, mukanya seketika pucat lesi. Dalam hati dia menjunjung Siao-Iiong-li bagai malaikat dewata, kini orang berani menista gurunya, seketika darah seakan-akan mendidih, tanpa pikir lagi kerangka pedang rampasannya tadi segera dipakai sebagai pedang terus ditusukkannya pada Li Bok-chiu.

“Ha-ha, perbuatanmu yang kotor itu memangnya takut dibongkar orang, ya?” Li Bok-chiu tertawa mengolok-olok lagi.

Namun dengan Kiam-hoat dari Coan-cin-pay, Yo Ko melontarkan serangan yang gencar dan lihay luar biasa. Itu adalah ilmu silat warisan mendiang Ong Tiong-yang khusus untuk mengalahkan ilmu pedang ‘Giok-li-kiam-hoat’ ciptaan Ong Tiao-eng, tiap-tiap serangannya selalu diarahkan tempat yang berbahaya di tubuh Li Bok-chiu.

Sedikit pun Li Bok-chiu tidak berani ayal, ia memutar kebutnya dengan sama cepatnya, ia tangkis setiap serangan dan menyambut pertempuran itu dengan seluruh perhatiannya.

Setelah lewat beberapa jurus, Li Bok-chiu merasakan Kiam-hoat lawannya ternyata hebat luar biasa, daya tekanannya pun semakin berat dan setiap gerak-gerik dirinya seolah-olah sudah dapat diketahui sebelumnya oleh lawan sehingga selalu kena didahului orang. Jika bukan dirinya memang lebih ulet, mungkin sejak tadi sudah terkalahkan.

“Suhu betul-betul pilih kasih, Kiam-hoat sebagus ini hanya diajarkan pada Sumoay saja,” demikian pikir Li Bok-chiu dengan gemas. Dia menyangka itu adalah Kiam-hoat golongan mereka sendiri.

Mendadak permainan silatnya berubah, tiba-tiba ia melompat ke atas meja, seketika kaki kanan menendang ke samping, kaki kiri lantas berdiri di atas sebuah cawan arak. Cara menginjaknya di atas cawan arak itu demikian tepat dan keseimbangan badannya begitu bagus, maka cawan itu sama sekali tidak tumpah atau miring barang sedikit pun.

“Ha-ha-ha, gendakmu itu pernah mengajarkan kepandaian seperti ini tidak?” dengan gelak tertawa Li Bok-chiu menyindir.

Yo Ko tercengang bingung sejenak, tetapi segera dia menjadi gusar. “Gendak apa maksudmu?!” damperatnya kemudian.

“Ha, pura-pura bodoh,” sahut Bok-chiu, “Sumoay-ku pernah bersumpah tidak akan turun gunung kalau Siu-kiong-seh belum lenyap dari lengannya. Kini dia telah turun gunung ikut kau, siapa lagi dia itu kalau bukan gendakmu?”
Tidak kepalang murka Yo Ko oleh tambahan nista orang yang keji itu, tanpa berkata lagi, kerangka pedang dia putar, begitu enjot tubuhnya segera ia pun melompat ke atas meja. Cuma Ginkang-nya masih belum memadai orang, maka Yo Ko tidak berani berdiri di atas cawan arak melainkan di atas sebuah mangkok, kerangka pedang lantas dia angkat menyerang dengan kalap.

“Ehm, tidak jelek juga Ginkang-mu ini!” dengan tertawa Li Bok-chiu mengejek sambil menangkis serangan orang. “Nyata gendakmu itu baik sekali terhadapmu, sudah cinta lagi berbudi, semuanya telah diajarkan padamu.”

Mendengar orang menistanya makin lama makin menjadi-jadi, rasa murka Yo Ko sungguh tak tertahankan.

“Orang she Li, kau ini manusia ataukah binatang? Kau mau bicara secara manusia tidak?” teriaknya murka, sembari memaki ia pun menyerang lebih nekad.

“Hm, kalau ingin orang lain tidak tahu kecuali kalau diri sendiri tak berbuat,” jengek Li Bok-chiu. “Ko-bong-pay bisa timbul dua manusia sampah seperti kalian ini, boleh dikata telah mencoreng muka habis-habisan.”

Begitulah, seraya menyambut setiap serangan Yo Ko, sambil tiada hentinya Li Bok-chiu menyindir dan mengolok-olok. Karena tak tahu hal ikhwalnya, Yalu Ce kakak beradik dan Liok Bu-siang hanya bisa saling pandang, kemudian karena Yo Ko tak sanggup membantah lagi sepatah kata pun, mereka berpikir tentu apa yang dikatakan Li Bok-chiu itu adalah kejadian sebenamya, maka tanpa terasa timbul rasa hina terhadap Yo Ko.

Harus diketahui meski ilmu silat Yo Ko sudah jauh maju, tapi sama sekali Li Bok-chiu tak gentar terhadapnya, yang dia kuatirkan adalah kalau Siao-Iiong-li sembunyi di sekitar situ kemudian mendadak muncul, berarti sukar baginya untuk melawan. Oleh sebab itu ia sengaja menista mereka dengan kata-kata yang sekotornya dengan tujuan agar Siao-liong-Ii menjadi malu sehingga tidak berani menampakkan diri.

Dasar sifat Yo Ko memang mudah tersinggung dan wataknya amat keras. Karena dinista secara kotor, perasaannya menjadi terpukuI sekali, kaki tangannya menjadi lemas dan gemetar, tiba-tiba kepala pun terasa puyeng, kemudian pandangannya menjadi gelap. Dia menjerit sekali, kerangka pedang terlepas dari cekalannya, orangnya pun lantas roboh ke bawah. Melihat ada kesempatan, Li Bok-chiu menjengek satu kali, kebutnya bekerja cepat, sekali pukul kepala Yo Ko segera disabetnya.

Tahu keadaan amat berbahaya, lekas Yalu Ce menyambar dua cawan arak dari meja terus ditimpukkan ke punggung Li Bok-chiu. Kedua cawan itu menghantam ‘Ci-yang-hiat’ dan ‘Yang-koen-hiat’ yang merupakan urat nadi penting di tubuh manusia.

Namun Iwekang Li Bok-chiu cukup tinggi. Mendengar dari belakang ada sambaran angin Am-gi atau senjata rahasia, cepat-cepat dia menarik napas dalam-dalam untuk menahan semua jalan darahnya. Dia pikir sekali pukul mampuskan Yo Ko dahulu, sekali pun Am-gi pembokong itu mengenai punggungnya juga takkan melukainya. Tak tahunya, belum tiba cawannya, arak di dalam cawan itu sudah muncrat datang lebih dulu sehingga kedua urat nadi tadi terasa rada kesemutan.

“Celaka! Kiranya Sumoay telah datang, Araknya saja demikian lihay, apa lagi cawannya?” begitulah keluhnya dalam hati.

Maka lekas-lekas ia memutar tubuh dan mengayun kebutnya ke belakang, dengan tepat kedua cawan arak itu kena disampuknya, tetapi terasa juga lengannya terguncang hebat. Keruan hatinya bertambah kuatir, ia heran mengapa tenaga sang Sumoay kini bisa begitu kuat? Tapi sesudah dia mengawasi, dia lihat orang yang menimpukkan cawan arak itu ternyata bukan Siao-liong-li melainkan si pemuda ganteng yang berdandan bangsa Mongol. Hal ini tentu saja semakin menambah terperanjatnya.

“Mengapa dari angkatan muda bisa muncul begini banyak jago-jago lihay?” demikian dia membatin.

Sementara itu ia melihat pemuda Mongol itu sudah meloloskan pedang dan dengan suara nyaring membuka suara:

“Cara turun tangan Sian-koh sebenarnya terlampau keji, maka cayhe ingin minta pengajaran beberapa jurus.”

Ia lihat si pemuda perlahan-lahan mendekati dirinya, langkahnya tampak mantap, melihat umurnya baru antara dua puluhan, tetapi gerak-geriknya cara menimpuk cawan arak tadi ternyata sudah memiliki keuletan latihan beberapa puluh tahun.

“Siapakah kau? Siapakah gurumu?” tanya Li Bok-chiu dengan sorot mata yang tajam.

“Cayhe Yalu Ce, anak murid Coan-cin-pay,” ujar Yalu Ce dengan sedikit membungkukkan tubuh.

Saat itu Yo Ko sudah siuman kembali. Dia lihat Wanyen Peng lagi memandang padanya sambil berjongkok, matanya tampak basah dan mukanya muram durja. Ketika mendadak mendengar Yalu Ce mengaku sebagai anak murid Coan-cin-pay, keruan Yo Ko terperanjat.

“Apa gurumu Ma Giok atau Khu Ju-ki?” tanya Li Bok-chiu.

“Bukan semua,” jawab Yalu Ce.

“Kalau begitu, tentunya Ong Ju-it bukan?” tanya Li Bok-chiu.

“Bukan!” sahut Yalu Ce tetap.

Tiba-tiba saja Li Bok-chiu tertawa terkekeh. “Dia sendiri mengaku murid Ong Tiong-yang, jika begitu kalian berdua ini tentunya Su-heng-te (saudara seperguruan),” katanya sambil menunjuk Yo Ko.

“Mana bisa?” sahut Yalu Ce terkejut. “Sudah lama Ong-cinjin wafat, mana bisa saudara ini adalah muridnya?”

“Huh, anak murid Coan-cin-pay memang tidak ada seorang pun yang baik. Awas senjata!” ejek Li Bok-chiu, berbareng kebutnya lantas memukul.

Dengan cepat Yalu Ce melangkah ke samping, tangan kirinya yang bergaya pedang cepat menusuk dengan tipu ‘ting-yang-ciam’ yang merupakan serangan asli dari Coan-cin-tiam-hoat.

Melihat gerak tangan orang demikian jitu dan lihay, sebagai seorang tokoh segera Li Bok-chiu tahu bahwa dia sudah bertemu dengan lawan tangguh, bahwa orang mengaku anak murid Coan-cin-pay memang bukanlah palsu. Oleh karena itu lekas-lekas ia menggeser kembali, kebutnya menyabet secepat kilat, hanya sekejap saja segala penjuru seakan-akan penuh dengan bayangan kebutnya yang menyambar kian ke mari. Asal lawannya sedikit kesenggol ujung kebutnya, jika tidak mati sedikitnya akan terluka parah juga.

Biar pun ilmu silatnya tinggi, tetapi pengalaman Yalu Ce masih cetek. Kini untuk pertama kalinya menghadapi lawan kuat, ia kumpulkan seluruh semangat untuk menempur orang. Maka sebentar saja mereka sudah saling gebrak lebih 40 jurus, makin merangsek Li Bok-chiu semakin maju, sebaliknya lingkaran pertahanan Yalu Ce semakin ciut, namun secara gigih ia masih bertahan. Tampaknya kekalahannya sudah pasti, tapi Li Bok-chiu hendak merobohkan dia juga belum bisa.

“Ilmu silat bocah ini memang dari Coan-cin-pay yang murni, meski belum setingkat Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, tetapi dibanding Sun Put-ji dan Hek Tay-thong terang tidak kalah. Sungguh anak murid Coan-cin angkatan muda banyak yang pandai,” demikian Li Bok-chiu terheran-heran.

Setelah saling labrak beberapa jurus lagi, sengaja Li Bok-chiu memberi suatu kesempatan dan membiarkan orang menyerang maju. Yalu Ce tak tahu orang sengaja memancing, tanpa pikir pedangnya terus menusuk. Siapa sangka mendadak kaki Li Bok-chiu lantas melayang hingga pergelangan tangannya kena ditendang, saking sakitnya Yalu Ce tak kuasa memegang kencang senjatanya.

Sungguh pun begitu, namun Yalu Ce tak menjadi bingung. Tiba-tiba telapak tangan kirinya memotong dari samping, ada pun tangan kanan dengan ilmu menangkap dan menawan segera digunakan untuk merebut kebut Li Bok-chiu.

“Hah, ilmu silat yang bagus!” Li Bok-chiu tertawa memuji.

Tatkala itu Yo Ko sudah tak merasa puyeng lagi, segera ia memaki: “Perempuan bangsat, selama hidupku ini tidak sudi aku mengaku kau sebagai Supek lagi!” Habis itu, dia jinjing kerangka pedang rampasan dari Ang Llng-po tadi terus maju mengerubut.

“Ya, ya, kau adalah laki gurumu, boleh juga kau panggil aku Suci saja,” dengan tertawa Li Bok-chiu menyindir.

Dalam pada itu pedang Yalu Ce telah menyambar datang, lekas-lekas Li Bok-chiu angkat kebutnya, dengan ujung kebut tahu-tahu batang pedang telah kena direbut, bahkan terus dia tarik dan ditimpukkan ke arah Yo Ko. Namun Yo Ko tidak menjadi gugup. Ia incar baik-baik datangnya pedang itu, mendadak ia angkat kerangka sarung pedangnya terus memapaknya.

Tanpa terasa Liok Bu-siang dan Wanyen Peng menjerit kuatir, tapi segera terdengar suara “sret”, ternyata dengan tepat sekali pedang itu masuk ke dalam sarung yang disodorkan ke depan oleh Yo Ko. Dengan kerangka sarung untuk menyambut pedang, sebenarnya perbuatan ini terlampau berbahaya. Asal pedang itu sedikit meleset saja, ditambah Iagi tenaga timpukan Li Bok-chiu, maka dapat dipastikan dada Yo Ko akan tertembus.

Harus diketahui sewaktu tinggal di kuburan kuno dahulu, dengan giat Yo Ko telah melatih ilmu menggunakan Am-gi, maka soal ketajaman mata, ketepatan waktu yang digunakan dan kejituan menaksir tempat yang diarah, semuanya sudah terlatih begitu rupa sehingga boleh dikatakan bisa dipergunakan sesuka hatinya, sekarang ia berani unjuk ketangkasan di depan Li Bok-chiu.

Dan begitulah, segera Yo Ko melolos pedang yang ditancapkan tadi dan tangan yang lain tetap memegang sarung pedang, lalu ia merangsak maju lagi bersama Yalu Ce. Restoran itu menjadi kacau balau, meja dan kursi jungkir balik tak keruan, para tamu lain sudah semenjak tadi lari menyelamatkan diri, hanya tinggal Ang Ling-po saja yang masih ikut menonton gurunya bertempur. Selama Ling-po ikut gurunya merantau, belum pernah dia saksikan gurunya dikalahkan orang. Oleh sebab itu, meski gurunya kini dikeroyok dua musuh, namun sedikit pun Ling-po tak kuatir, ia menonton dengan tenang di pinggir.

Sementara itu pertarungan ketiga orang bertambah seru, kemudian tipu serangan Li Bok-chiu berubah lagi, dengan angin pukulannya ia desak kedua lawannya hingga sulit berdiri. Sekejap saja Yalu Ce dan Yo Ko berulang kali menghadapi serangan bahaya.

“Celaka,” seru Yalu Yen dan Wanyen Peng, berbareng mereka pun melompat maju membantu kedua kawannya.

Akan tetapi bertambahnya tenaga baru ini susah juga mengubah kedudukan yang sudah kalah itu. Mendadak kaki Yalu Yen sendiri malah terserempet oleh ujung kebut Li Bok-chiu, saking sakitnya sebelah kaki gadis ini berlutut dan hampir terjungkal. Pikiran Yalu Ce menjadi kacau melihat adiknya terpukul, ia kena dicecar beberapa kali oleh Li Bok-chiu sehingga terpaksa ia mundur terus. Tampak keadaan sangat genting, dengan cepat si gadis baju hijau tadi melompat maju memayang mundur Yalu Yen.

Meski dalam pertarungan sengit, tetapi mata telinga Li Bok-chiu betul-betul dapat bekerja dengan tajam. Begitu melihat gadis baju hijau melompat secara gesit dan enteng, dia segera tahu orang adalah anak murid guru pandai, kontan saja kebutnya menyabet muka si gadis.

“She apakah nona ini? Siapakah gurumu?” demikian ia bertanya.

Jarak di antara mereka ada setombak lebih, namun menyambarnya kebut ternyata cepat luar biasa, sekejap saja ujung kebut itu sudah sampai di depan muka gadis itu. Agaknya gadis baju hijau terkejut, secepat kilat tangannya bergerak, tahu-tahu ia lolos sebatang senjata sehingga kebut musuh dapat ditangkisnya.

Melihat senjata orang yang aneh sepanjang kira-kira tiga kaki dan mengkilap laksana sebatang seruling, diam-diam Li Bok-chiu berpikir: “Dari aliran mana senjata macam ini?”

Karena curiga, segera ia tambahi serangan kilat dengan maksud memaksa gadis itu mengeluarkan kepandaian aslinya. Dan karena gadis itu kewalahan, lekas-lekas Yo Ko dan Yalu Ce menubruk maju buat menolong. Tapi sebenarnya mereka memang tidak bisa menandingi Li Bok-chiu, hanya sekejap saja kembali kedua pemuda ini sudah terdesak.

“Dalam keadaan begini, asalkan salah satu di antara kami berdua ini sedikit meleng, pasti semua orang yang berada di sini akan melayang jiwanya,” demikan pikir Yo Ko. Karena itu segera ia berteriak-teriak:

“Bini cilik, adikku sayang, Enci yang baik, Yalu-sumoay, lekas-lekaslah kalian melarikan diri, perempuan keparat ini terlalu lihay.”

Mendengar Yo Ko berteriak-teriak serabutan, keempat gadis itu ada yang senang dan ada pula yang mengkal, tapi melihat keadaan memang amat berbahaya, tanpa diperintah lagi Liok Bu-siang yang pertama-tama turun loteng restoran itu, kemudian si gadis baju hijau dengan memayang Yalu Yen juga ikut lari.

Sementara itu kedua pengemis tadi menyaksikan kedua pemuda gagah perkasa ini telah melabrak Li Bok-chiu karena membela mereka, terpikir oleh kedua pengemis ini hendak maju membantu, cuma sayang lengan mereka telah patah dan tak dapat berkutik. Namun demikian, kedua pengemis ini cukup setia kawan. meski Li Bok-chiu tiada waktu buat urus mereka lagi, tetapi mereka masih terus berdiri di tempatnya dan tak mau kabur mendahului Yo Ko.

Begitulah dengan gigih Yo Ko bertempur berjajar dengan Yalu Ce, sekuat tenaga mereka menahan serangan Li Bok-chiu yang makin lama semakin lihay hingga akhirnya Wanyen Peng pun sudah undurkan diri dari restoran itu. Meski Li Bok-chiu merangsek terus dan berada di pihak yang unggul, namun dalam hati ia pun gusar luar biasa.

“Kurang ajar dua bocah ini. Selama hidupku siapa pun tak berani merintangi kehendakku, kalau sampai Liok Bu-siang lolos, sungguh gelar Jik-lian-sian-cu bakal lenyap tersapu bersih,” demikian ia pikir dengan gemas.

Begitulah mereka terus bertempur mati-matian, dari loteng restoran berpindah ke tengah jalan dan dari tengah jalan sampai di ladang.

“Bini cilik, adikku sayang, lekaslah pergi, makin jauh makin baik! Yalu-sumoay, nona baju hijau, kalian pun lekas melarikan diri, kami berdua lelaki tak akan mati,” begitulah si Yo Ko masih terus berteriak.

Sebaliknya Yalu Ce sama sekali tak buka suara sepatah kata pun. Usianya hanya setahun dua lebih tua dari pada Yo Ko, namun yang satu bersikap kereng dan sungguh-sungguh, sedangkan yang lain gagah dan lincah, watak kedua pemuda ini ternyata berbeda sama sekali.

Di lain pihak karena Siao-liong-li masih tidak muncul, Li Bok-chiu menjadi lebih berani lagi, senjata kebutnya diputar semakin kencang menurut keinginannya. Betapa pun juga Yo Ko dan Yalu Ce memang masih selisih jauh dibandingkan Li Bok-chiu. Biar pun kedua pemuda itu bisa mengeluarkan serangan yang aneh untuk mengacaukan perhatian Li Bok-chiu, namun kini mereka berdua juga mulai payah.

Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang, pikirnya: “Tidak sampai setengah jam lagi pasti jiwa kedua orang ini akan kubereskan semua.”

Sementara itu, mendadak didengarnya beberapa kali suara burung, tahu-tahu dua ekor rajawali menyambar ke atas kepalanya. Kedua rajawali itu ternyata sangat tangkas dan lihay. Waktu menubruk turun, debu pasir ikut bertebaran sehingga keadaan sangat mengejutkan.

Yo Ko mengenal kedua ekor rajawali itu adalah binatang piaraan Kwe Ceng suami-isteri. Dahulu waktu dirinya masih kecil dan tinggal di Tho-hoa-to, pernah juga bermain bersama kedua rajawali ini. Dia pikir jika sekarang rajawali-rajawali ini datang, tentu pula Kwe Ceng suami-isteri berada juga di sekitar sini. Karena dirinya telah berontak keluar dari Coan-cin-kau, dan sesungguhnya tidak ingin bertemu lagi dengan mereka, maka lekas-lekas Yo Ko melompat mundur. Dia keluarkan topeng kulitnya dan segera dipakai.

Tatkala itu kedua ekor rajawali sudah menyerang dari kanan-kiri dan terbang naik-turun dengan sengitnya menempur Li Bok-chiu. Ternyata ingatan kedua rajawali itu amat baik, mereka masih dendam terhadap timpukkan ‘Peng-pok-sin-ciam’ yang mengenai kaki mereka dahulu. Kini memergoki Li Bok-chiu di tengah jalan, segera juga mereka menubruk dengan sengit, cuma karena kuatir merasakan lagi jarum orang yang berbisa, maka apa bila Li Bok-chiu mengayun tangannya, segera kedua binatang itu pentang sayap menjulang ke angkasa.

Diam-diam Yalu Ce menjadi heran oleh datangnya kedua rajawali itu. Melihat binatang itu susah mendapat kemenangan, segera ia berseru:

“Yo-heng, mari kita maju lagi bersama, kita keroyok dia dari atas dan bawah bersama rajawali-rajawali itu, coba bagaimana dia akan melawan kita?”

Dan selagi ia hendak merangsek maju, se-konyong-konyong dari arah timur terdengar ramai suara derap kuda, seorang penunggangnya mendatangi secepat terbang. Nyata itulah seekor kuda merah yang berkaki panjang dan tinggi, larinya cepat tak ada bandingannya, baru terdengar suara menderapnya tahu-tahu kudanya sudah sampai di depan. Semua orang menjadi heran. Kenapa kuda ini bisa begini cepat larinya?

Sementara tampak penunggangnya adalah seorang nona berbaju merah, kuda beserta penunggangnya bagaikan sesosok arang yang membara, hanya muka si nona yang putih halus.

Begitu gadis itu menarik tali kendalinya, seketika kuda merah itu berhenti dengan cepat. Kuda ini bisa mendadak berhenti pada waktu berlari kencang, tanpa meringkik juga tidak berjingkrak, kelakuannya tenang dan biasa saja, benar-benar binatang bagus yang jarang diketemukan.

Sejak kecil Yalu Ce dibesarkan di daerah Mongol. Tidak sedikit kuda pilihan yang sudah dilihatnya, tapi binatang sebagus ini sungguh belum pernah disaksikannya, keruan ia pun luar biasa terkejutnya.

Hendaklah diketahui bahwa kuda merah ini adalah seekor ‘Han-hiat-po-ma” (kuda mestika berkeringat merah darah) yang didapatkan Kwe Ceng secara kebetulan di gurun pasir di waktu mudanya. Tatkala itu kuda merah ini pun masih kecil, kini boleh dikatakan sudah menginjak usia tua, akan tetapi binatang bagus memang tak bisa disamakan dengan kuda biasa, sungguh pun usianya sudah tua, namun larinya masih sangat cepat dan kuat tidak kalah dengan masa mudanya. Dan dengan sendirinya nona penunggangnya ini bukan lain adalah Kwe Hu, puteri tunggal Kwe Ceng dan Oey Yong dari Tho-hoa-to!

KIU-CI-SIN-KAY (Pengemis Sakti Berjari Sembilan)

Sudah beberapa tahun Yo Ko berpisah dengan Kwe Hu. Apa bila dia ingat si gadis, selalu Yo Ko masih mengira bahwa Kwe Hu adalah anak perempuan yang nakal dan sombong, siapa tahu kini berupa satu nona yang cantik jelita.

Di lain pihak, setelah menahan kudanya Kwe Hu sejenak menyaksikan kedua burungnya menempur Li Bok-chiu, lalu ia melirik ke arah Yalu Ce. Pada waktu sinar matanya sampai di muka Yo Ko, dilihatnya Yo Ko memakai baju orang Mongol, mukanya sangat jelek dan aneh karena memakai kedok, tanpa terasa si gadis berkerut kening, wajahnya mengunjuk rasa hina pada Yo Ko.

Sejak kecil Yo Ko memang tidak cocok dengan Kwe Hu, kini setelah bertemu kembali dan melihat si gadis masih tetap benci padanya, maka semakin hebatlah rasa rendah dirinya Yo Ko dan berduka pula. Katanya dalam hati:

“Kau memandang hina padaku, memangnya aku minta-minta kasihanmu? Ilmu silat ayahmu tiada bandingannya di seluruh jagad, ibumu juga pendekar wanita pada jaman ini, Gwakong-mu adalah maha guru ilmu silat, semua orang dari segala aliran di kolong langit ini siapa yang tidak menaruh hormat pada keluargamu? Akan tetapi bagaimana ayah bundaku? Ibuku hanya wanita penangkap ular pedusunan saja, ayahku pun tak diketahui siapa, bahkan matinya pun tidak terang apa sebabnya. Hm, sudah tentu aku tidak bisa dibandingkan dengan kau. Memang aku dilahirkan dengan nasib malang dan harus selalu dihina orang. Kini kau menghina aku lagi, rasanya pun tidak menjadi soal!”

Begitulah Yo Ko berdiri terpaku dan berduka hati, ia merasa di dunia ini tiada seorang pun yang menghargai dirinya, meski hidup rasanya pun tidak berguna. Hanya Suhu Siao-llong-li saja seorang yang bersungguh hati terhadap dirinya, tetapi saat ini entah berada di mana sang guru? Sisa hidup ini entah masih dapat bertemu tidak dengan beliau?

Selagi Yo Ko bersedih hati, mendadak terdengar lagi suara derap kuda yang lebih riuh, kembali ada dua penunggang datang. Kedua ekor kuda ini satu kelabu dan yang lain coklat, meski tergolong kuda bagus juga, tapi kalau dibandingkan kuda merah tunggangan Kwe Hu, terang selisihnya terlampau jauh. Tiap-tiap kuda itu ternyata ditunggangi seorang pemuda dan semuanya mengenakan baju kuning.

“Bu-keh-koko (engkoh keluarga Bu), kembali kita bertemu lagi dengan perempuan jahat ini,” segera Kwe Hu berseru pada kedua pemuda itu.

Kiranya pemuda-pemuda penunggang kuda ini adalah Bu Tun-si dan Bu Siu-bun kakak beradik. Dan begitu melihat Li Bok-chiu, kedua saudara Bu itu menjadi terkejut sekali.

Li Bok-chiu adalah musuh mereka, dialah pembunuh ibu mereka. Selama beberapa tahun ini siang malam boleh dikatakan tidak pernah mereka melupakan dendam itu, siapa tahu sekarang mendadak bisa kepergok di sini. Keruan saja mereka menjadi murka, serentak mereka melompat turun dari kuda, lalu meloloskan pedang dan segera memapak maju tanpa bicara lagi.

“Aku akan bantu kalian,” teriak Kwe Hu. Ia pun lolos pedangnya dan melompat turun buat membantu kawan-kawannya.

Melihat makin lama musuh bertambah banyak, apa lagi kedua pemuda yang datang terus merangsek maju dengan muka merah dan mata melotot seperti hendak mengadu nyawa, bahkan Kiam-hoat yang dimainkan sangat bagus, terang mereka adalah anak murid dari guru ternama.

Apa lagi gadis cantik tadi malah ikut-ikut menyerbu juga, pedang yang dipakai gemilapan menyilaukan mata, nyata itu adalah sebatang Pokiam atau pedang pusaka, demikian pula Kiam-hoat yang dilontarkan lihay luar biasa. Tentu saja Li Bok-chiu menjadi terkesiap oleh semua ini.

“He, kau adalah nona keluarga Kwe dari Tho-hoa-to, bukan?” tanyanya segera.

“Kau kenal juga padaku!” sahut Kwe Hu tertawa sambil melompat ke atas terus menusuk cepat.

“Hm, sungguh sombong kau bocah perempuan,” jengek Li Bok-chiu dalam hati, sambil kebutnya menangkis. “Dengan sedikit kepandaianmu, kalau bukan keder terhadap orang tuamu, jangan kata kau hanya satu orang, meski sepuluh orang pun sekaligus aku mampuskan semua.”

Selagi ujung kebutnya diayun hendak melilit pedang orang, sekonyong-konyong ada angin tajam menyambar lagi dari samping.

Harus diketahui bahwa ilmu silat kedua saudara Bu dan Kwe Hu adalah sama-sama dari ajaran Kwe Ceng sendiri. Ketiga muda-mudi ini tinggal setempat di Tho-hoa-to, Kiam-hoat yang mereka pelajari serupa, oleh karena itu setiap gerak serangan mereka dapat bekerja sama dengan rapat sekali. Ditambah lagi ada dua rajawali yang turut mengerubut hingga Li Bok-chiu rada kerepotan. Sebenarnya jika lewat sedikit lama lagi pasti salah satu di antara mereka bisa dirobohkan Li Bok-chiu dan tinggal dua yang lain tentu sukar buat menyelamatkan diri.

Tapi Li Bok-chiu berhadapan dengan orang banyak. Ia kuatir kalau lawannya mengerubut maju semua, susah baginya untuk melayani. Apa lagi kalau Kwe Ceng suami-isteri menyusul datang pula, lebih celaka baginya. Karena pikiran itulah, begitu kebutnya menyabet lagi, dengan tertawa ia berkata:

“Lihatlah, sekarang biar nonamu unjuk permainan joget monyet!”

Menyusul kebutnya langsung menyambar berturut-turut enam kali, setiap serangannya selalu mengincar tempat-tempat yang berbahaya, maka Kwe Hu dan Bu-si Hengte segera terdesak hingga kelabakan dan tiada hentinya melompat-lompat menghindari, tampaknya menjadi seperti monyet. Kemudian Li Bok-chiu menyabet lagi satu kali dengan keras, lalu dia putar tubuh sambil berseru:

“Ling-po, marilah pergi!” Kemudian, guru dan murid ini kabur ke arah barat laut.

“Ha-ha-ha, Bu-si-koko, dia ketakutan pada kita. Hayo, lekas kejar!” teriak Kwe Hu. Selesai berkata, dengan pedang terhunus ia pun cepat mengudak. Dengan ilmu entengkan tubuh segera Bu-si Hengte menyusul.

Namun larinya Li Bok-chiu dan Ang Ling-po ternyata cepat luar biasa. Tampaknya mereka berlenggang kangkung seenaknya, tetapi sedikit pun tiada debu yang mengepul di bawah kaki mereka, meski Kwe Hu dan Bu-si Hengte telah ‘tancap gas’ sekencang-kencangnya, namun jarak di antara mereka dengan Li Bok-chiu berdua makin lama semakin jauh. Hanya kedua ekor rajawali itulah yang masih mampu menyandak, kadang-kadang kedua binatang itu masih menubruk ke bawah buat memagut.

Agaknya Bu Tun-si lebih bisa berpikir. Dia tahu harapan membalas dendam hari ini tidak mungkin bisa terlaksana, maka dia bersuit panjang memanggil kembali kedua rajawali itu.

Karena kuatir ketiga orang itu terjadi sesuatu, maka Yalu Ce dan lainnya ikut menyusul. Demi nampak Kwe Hu dan Bu-si Hengte sudah balik kembali, segera mereka saling memberi hormat. Karena mereka sama-sama berwatak muda, maka begitu bicara mereka pun sangat cocok satu sama lain.

“He, di manakah Yo-heng?” seru Yalu Ce tiba-tiba teringat pada Yo Ko.

“Seorang diri dia sudah pergi,” kata Wanyen Peng, “Aku tanya dia hendak ke mana, tetapi dia tidak gubris lagi padaku.” Habis berkata, Wanyen Peng menunduk kesal.

Waktu Yalu Ce berlari ke atas tanah tinggi buat memandang, ia lihat si gadis baju hijau sedang berjalan berendeng dengan Liok Bu-siang dan sudah agak jauh. Karena mereka sedang bercakap-cakap dengan asyiknya, maka tak enak Yalu Ce hendak memanggilnya, sebaliknya bayangan Yo Ko sama sekali tak kelihatan.

Saat itu perasaan Yalu Ce seolah-olah kehilangan sesuatu. Biar pun baru pertama kali ini dia bertemu Yo Ko, tetapi melihat ilmu silatnya tinggi dan wataknya jujur terus terang, sekali bertemu saja rasanya sangat cocok. Biar pun tadi didengarnya Li Bok-chiu menista orang berbuat sesuatu yang tak senonoh dengan gurunya, tetapi betapa pun juga rasa persahabatannya dengan Yo Ko lebih menang dari pandangan hina karena kata-kata Li Bok-chiu. Ia pikir:

“Seorang muda gagah perkasa seperti dia (Yo Ko) ini sesungguhnya susah diketemukan. Seumpama betul-betul ada sesuatu perbuatannya yang kurang baik, kalau aku menasihati dia dan asal dia mau perbaiki diri, rasanya masih belum kecewa sebagai seorang laki-laki sejati.” Dan kini mendadak Yo Ko pergi tanpa pamit, Yalu Ce menjadi seperti kehilangan seorang sahabat lama.

Ternyata tadi waktu Yo Ko melihat Bu-si Hengte menyusul datang dan bersama Kwe Hu mengeroyok Li Bok-chiu, kelakuan tiga muda-mudi itu sepertinya rapat dan rukun sekali, Kiam-hoat mereka pun bagus luar biasa hingga dalam beberapa gebrak saja sudah bikin Li Bok-chiu melarikan diri.

Ia tidak tahu larinya Li Bok-chiu sebab takut pada Kwe Ceng dan Oey Yong, sebaliknya ia menyangka Kiam-hoat ketiga orang itu yang membikin Li Bok-chiu dipaksa kabur. Pikiran ini disebabkan dahulu waktu Yo Ko diantar ke Cong-lam-san oleh Kwe Ceng, di sana Kwe Ceng telah unjuk ketangkasannya dan mengalahkan tidak sedikit imam dari Coan-cin-kau. Ilmu silat yang sangat tinggi itu terlalu berkesan dalam hati kecil Yo Ko, oleh sebab itu ia pikir murid ajaran Kwe Ceng sudah tentu kepandaiannya berpuluh kali lebih hebat dari pada dirinya.

Begitulah makin dipikir ia makin mendongkol. Teringat lagi oleh Yo Ko dahulu di Tho-hoa-to telah dihajar Bu-si Hengte sampai babak belur dan terpaksa bersembunyi dalam goa semalam sehari. Pula terpikir olehnya Oey Yong sengaja tidak mau mengajarkan ilmu silat padanya, sebaliknya Kwe Ceng malah mengirim dirinya ke Tiong-yang-kiong untuk disiksa oleh kawanan imam jahat itu.

Semuanya ini membikin perasaannya bergejolak, ditambah lagi dilihatnya Wanyen Peng, Liok Bu-siang, si gadis baju hijau dan Yalu Ce sedang memandang kepada dirinya dengan muka yang sangsi-sangsi hingga Yo Ko sendiri berpikir pula. “Hm, tentu kalian mengejek dan memandang hina padaku!”

Begitulah timbul rasa benci pada diri Yo Ko, mendadak dia angkat kaki lalu lari seperti keranjingan setan, ia pun tidak menuruti jalanan umum, melainkan alas pegunungan yang diterobosnya tanpa tujuan. Dalam keadaan kehilangan pribadinya itu, Yo Ko anggap di seluruh kolong langit semua orang memusuhinya. Padahal mukanya memakai kedok kulit, meski wajahnya berubah, Wanyen Peng dan lain-lainnya mana dapat mengetahuinya? Mengapa tanpa sebab orang mengejek dan menghina padanya?

Sesungguhnya Yo Ko dari utara hendak menuju ke selatan, tetapi kini karena ingin meninggalkan orang-orang itu sejauh mungkin, maka dia malah balik menuju ke jurusan utara.

Dalam kusutnya pikiran dan benci kepada sesamanya, Yo Ko tanggalkan kedok yang dia pakai terus gentayangan seorang diri di antara pegunungan yang sepi. Bila perutnya lapar, ia petik buah-buah-an untuk mengisi perut. Semakin jalan semakin jauh dan makin lama makin menanjak tinggi. Tiada sebulan, kondisi badan Yo Ko sudah berubah hebat, kini tubuhnya mulai kurus kering, pakaiannya compang-camping tak terurus. Dan akhirnya ia pun berada di sebuah gunung besar yang tinggi.

Ia tidak tahu bahwa waktu itu dirinya berada di atas Hoa-san (gunung Hoa), satu di antara lima gunung terbesar di kolong langit. Ia lihat keadaan gunung sangat curam dan terjal, tetapi dengan perasaan beku, ia justru makin menanjak ke atas ke bagian yang tertinggi.

Walau pun Ginkang Yo Ko amat tinggi, tetapi Hoa-san adalah pegunungan yang terkenal terjalnya di kolong langit ini, kalau hendak ditanjaki begitu saja oleh Yo Ko rasanya tidak dapat dilakukannya dengan mudah. Baru saja dia sampai di tengah gunung, tiba2 cuaca menjadi gelap, awan mendung menutup tebal, menyusul mana turunlah hujan salju yang berhamburan.

Tetapi dalam keadaan masgul itu Yo Ko justru semakin menyiksa diri sebisa-bisanya. Dia bukan dia mencari tempat meneduh, tetapi semakin besar turunnya salju, dia melanjutkan perjalanan semakin nekad ke tempat yang paling curam dan berbahaya. Ketika hari telah gelap, turunnya salju bertambah lebat hingga jalanan sangat licin dan susah dikenali lagi.

Dalam keadaan begitu, kalau sedikit saja salah melangkah, dapat dipastikan Yo Ko akan tergelincir ke dalam jurang dan badan tentu hancur lebur. Namun demikian, sama sekali hal mana tidak dipikirkan oleh Yo Ko, ia pandang jiwanya waktu itu seperti tiada harganya dan masih terus menanjak ke atas dengan nekat.

Tak lama pula, mendadak Yo Ko dengar di belakangnya ada suara gemerisik yang sangat perlahan sekali seperti ada sesuatu binatang yang berjalan di tanah salju itu. Waktu Yo Ko menoleh, tiada sesuatu yang dilihatnya, tetapi di tanah salju itu tertampak ada serentetan bekas tapak kaki di samping bekas tapak kaki dirinya sendiri.

Yo Ko terperanjat melihat bekas tapak kaki itu, terang ada orang yang sedang menguntit dirinya, tetapi waktu ia menoleh kenapa tak sebuah pun bayangan yang dilihatnya? Kalau dibilang setan seharusnya tak sampai meninggalkan bekas kaki, sebaliknya bila manusia, kenapa gerak tubuhnya bisa begitu cepat dan mendadak menghilang?

Sesudah merandek sejenak, kemudian Yo Ko berjalan kembali. Tapi baru belasan tindak, suara gemerisik di belakangnya berbunyi pula, nyata sekali itu adalah suara orang yang berjalan di atas salju.

Tiba-tiba Yo Ko menoleh lagi. Dengan tindakan yang cepat dan di luar dugaan ini, ia pikir sekali ini pasti bisa mengetahui siapakah gerangan orang itu. Siapa duga, tetap yang dia lihat hanya dua baris bekas kaki saja di tanah salju, sedang ujung baju orang sedikit pun tak tertampak olehnya.

Kalau orang lain, menghadapi keadaan begitu, sungguh pun ilmu silatnya tinggi, tentu juga akan merasa takut dan mengkirik. Tetapi Yo Ko sudah tak sayangkan jiwanya lagi, malah dia sangat tertarik oleh kejadian itu, ia justru ingin cari tahu sampai ke-akar2nya.

Dia pikir di sekitarnya tiada tumbuh pepohonan dan tempat-tempat lain yang dapat dibuat bersembunyi. Di sebelah sana adalah dinding gunung tinggi dan di sebelah lainnya adalah jurang, apa mungkin orang itu dapat terbang ke atas? Sekali pun bisa terbang pasti akan kelihatan juga!

Begitulah sambil jalan sembari Yo Ko memikir, sementara itu suara gemerisik di belakang terdengar berjangkit lagi.

“Orang ini pasti berilmu silat sangat tinggi, begitu melihat pundakku bergerak, segera dia tahu aku akan berpaling terus mendahului sembunyi,” demikian Yo Ko membatin, “Sekali ini biar pundakku tak bergerak, coba dia bisa lari ke mana lagi?”

Lalu dengan tabah ia merangkak ke atas pula. Satu saat, mendadak ia membungkuk ke depan dan memandang ke belakang melalui sela-sela selangkangan.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar