ads

Selasa, 06 Juli 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 10

MENYAMAR SEBAGAI PENGANTIN

“Sayang aku terlalu kotor lagi bau, kalau tidak, boleh juga kudukung kau di atas pundak,” demikian kata Yo Ko.

“Hm, omong yang tidak-tidak,” Bu-siang menjengek berbareng ia tarik tali kendali menjalankan keledainya.

Siapa duga binatang itu ternyata sangat bandel, tabiatnya pun buruk, bukannya ia jalan ke depan, sebaliknya tubuhnya me-nyirik minggir hingga mepet tembok bahkan badan Bu-siang di-gosokkan lagi pada tembok itu.

Memang Bu-siang masih lemas karena luka, keruan ia berteriak kaget dan terbanting jatuh. Untung ilmu silatnya cukup hebat, begitu sebelah kakinya menginjak tanah, dengan segera ia bisa berdiri tegak, cuma lukanya terasa sakit lagi.

“Sudah terang kau lihat aku jatuh terbanting, kenapa kau tidak memayang diriku?” dengan gusar ia melampiaskan rasa dongkolnya pada Yo Ko.

“Bu.... bukankah badanku kotor!” sahut Yo Ko.

“Apa kau tak bisa cuci dulu?” kata Bu-siang lagi.

Yo Ko tidak menjawab melainkan nyengir saja.

“Lekas kau dukung aku ke atas keledai,” bentak si gadis.

Yo Ko menurut, dia menaikkan ke punggung keledai. Tetapi begitu merasa punggungnya ada penunggang, segera keledai itu hendak main gila.

“Lekas kau tuntun keledai ini,” kata Bu-siang.

“Ti... tidak, aku takut didepak olehnya.” sahut Yo Ko.

Bu-siang menjadi dongkol. “Kurang ajar si tolol ini, dibilang tolol nyatanya dia tidak tolol, dibilang tidak tolol justru ia amat tolol, sudah terang maksudnya ingin memondong diriku,” demikian pikirnya.

Karena terpaksa, akhirnya ia berkata lagi: “Baiklah, kau pun menunggang ke atas sini.”

“Nah, kau sendiri yang suruh aku, tapi jangan kau bilang aku kotor, lalu mendamperat dan memukul aku lagi,” ujar Yo Ko.

“Ya, ya, cerewet!” sahut Bu-siang mengkal.

Maka sambil tertawa kecil barulah Yo Ko melompat ke atas keledai dengan perlahan, lalu dengan dua tangannya ia rangkul si gadis yang duduk di depannya. Ketika kedua kakinya sedikit mengempit, karena kesakitan maka keledai itu tidak berani binal lagi, dengan jinak berjalan menurut perintah.

“Pergi ke mana?” tanya Yo Ko.

“Sana,” sahut Bu-siang sambil menunjuk ke arah tenggara.

Sebelumnya ia sudah mencari tahu tentang perjalanan. Sebenarnya hendak ditempuhnya arah timur melalui Ciongkoan dan kemudian baru memutar ke daerah selatan, ini memang jalan raya yang biasa dilalui. Tetapi sejak ketemu empat pengemis yang lain, adalah lebih baik menempuh jalan kecil saja, walau pun sedikit lebih jauh, paling perlu cari selamat. Demikianlah terdengar suara tapak kaki keledai yang ketuprak berjalan perlahan ke arah yang dipilihnya itu. Baru saja mereka keluar dari kota, tiba-tiba dari tepi jalan ber-Iari mendatangi anak petani yang berumur belasan.

“Nona Liok, ini barang buat kau,” demikian seru bocah itu sambil mapaki keledai yang mereka tunggangi. Berbareng itu dia menimpukkan seikat bunga ke arah Bu-siang, habis ini dia angkat kaki dan berlari pergi lagi.

Waktu karangan bunga itu diterima Bu-siang dan diperiksa, ia hanya melihat seikat bunga biasa saja dan di samping terikat sepucuk surat dengan benang, lekas si gadis membuka sampulnya dan keluarkan selembar kertas kuning dari dalamnya. Ia lihat surat itu tertulis:

‘Sekejap lagi gurumu bakal datang, lekas sembunyikan diri, lekas!’ Kertas surat itu sangat kasar, sebaliknya tulisannya bergaya sangat bagus. Bu-siang heran sekaligus ragu-ragu. Mengapa orang kenal dia she Liok dan siapakah anak itu? Mengapa mengetahui gurunya segera bakal datang?

“Apa kau kenal anak tadi?” demikian dia lantas tanya Yo Ko. “Apa Kokoh-mu yang suruh dia ke sini?”

Sementara itu dari belakang Bu-siang si Yo Ko juga dapat membaca isi surat itu, maka ia pun sedang berpikir: “Terang sekali anak tadi hanya anak petani biasa, tentu datangnya disuruh orang lain untuk mengirim surat. Tapi entah siapakah orang yang menulis surat itu? Tampaknya orang memang bermaksud baik, kalau betul sampai Li Bok-chiu mengejar datang, lalu bagaimana baiknya?”

Harus diketahui meski pun Yo Ko telah mempelajari Giok-li-sim-keng dan Kiu-im-cin-keng, seorang diri mempunyai dua macam ilmu silat yang paling tinggi di dunia persilatan, sejak dulu hingga kini boleh dikatakan hanya dia sendiri saja. Hanya sayang, karena waktunya belum Iama, meski pun intisari pelajaran ilmu silat yang hebat itu sudah dipahami, namun latihannya masih kurang matang, maka belum banyak hasilnya untuk digunakan. Apa bila sampai kena disusul Li Bok-chiu, terang ia masih bukan tandingan orang, karena inilah ia sedang berpikir dan ragu-ragu.

Mendengar pertanyaan Bu-siang tadi, maka Yo Ko menjawab: “Entah, aku tak kenal dia, tampaknya juga bukan Kokoh yang menyuruh dia.”

Baru habis dia menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi alat tetabuhan dan tiupan, menyusul kemudian dari depan muncul sebuah joli yang digotong dengan belasan orang pengiringnya. Kiranya ada orang sedang melangsungkan perkawinan. Meski alat-alat musik yang dibunyikan itu berbau kampungan, tetapi suasana cukup riang gembira.

Nampak keadaan ini, tiba2 pikiran Yo Ko tergerak. Dia pikir kalau betul Li Bok-chiu dan Ang Ling-po mengejar tiba, di siang hari bolong seperti ini sebenarnya tiada tempat untuk bersembunyi lagi. Oleh karena itu segera ia tanya Bu-siang:

“Nona Liok, kau ingin menjadi pengantin tidak?”

Bu-siang sendiri memang lagi bingung karena kuatir tertangkap gurunya yang kejam itu. Kini mendengar orang bertanya tolol, kembali dia menjadi marah.

“ToIol, kau mengaco-belo apa lagi?” damperatnya.

“Ha-ha, maukah kita main sembayang dan jadi pengantin?” demikian sahut Yo Ko dengan tertawa, “Mau tidak kau menyamar menjadi pengantin perempuan? Tampaknya sungguh cantik sekali, muka ditutup kerudung merah, pasti orang lain takkan mengenali kau.”

Karena kata-kata Yo Ko terakhir ini, hati Bu-siang lantas tergerak. “ToIol, apa kau suruh aku menyamar untuk menghindari guruku?” ia tanya.

“Aku tidak tahu. Kalau kau jadi pengantin perempuan, aku akan jadi pengantin Ielakinya, hi-hi-hi,” sahut Yo Ko.

Dalam keadaan terpaksa, Bu-siang tak sempat lagi mendamperat orang, ia justru berpikir: “Kelakuan si Tolol ini sungguh aneh sekali, tapi kecuali jalan ini memang tiada cara lain lagi.”

Karena itu segera ia tanya: “Lalu cara bagaimana menyamarnya?”

Yo Ko tidak menjawab, ia tak berani membuang waktu lagi, maka segera ia pecut bokong keledai mereka sehingga binatang ini lantas kabur ke depan dengan cepat. Pada umumnya jalan pedusunan memang amat sempit. Sebuah joli besar yang digotong delapan orang dengan sendirinya memenuhi jalan, kedua sampingnya sudah tentu tiada lowongan lagi. Kini nampak ada keledai berlari memapak dari depan, keruan pengiring-pengiring pengantin itu menjadi ribut, mereka berteriak dan membentak dengan maksud menyuruh penunggang keledai agar menahan tali kendalinya.

Namun bukannya Yo Ko menahan keledainya. bahkan dia mengempit semakin kencang hingga lari binatang itu bertambah cepat, maka sekejap saja sudah menerjang sampai di depan pengiring pengantin itu. Dengan sendirinya mereka tak mau tinggal diam. Segera ada dua lelaki kekar menyerobot maju hendak menarik tali kendali keledai supaya jangan sampai menubruk joIi pengantin yang digotong.

Mendadak Yo Ko mengayunkan cambuknya. Dengan tepat ujung cambuk itu melilit betis kedua lelaki itu. Ketika Yo Ko menarik lantas diulur lagi, maka kedua orang itu langsung terlempar ke pinggir jalan.

“Sekarang aku mau menyamar jadi pengantin!” demikian katanya pada Bu-siang.

Kemudian mendadak dia mendoyong ke depan. Pada saat sebelah tangannya mengulur, tahu-tahu pengantin laki-laki yang menunggang seekor kuda putih itu sudah kena dicengkeram. Pengantin laki-laki itu berusia antara 17-18 tahun, tubuhnya lengkap mengenakan pakaian pengantin baru, di kepalanya tertancap hiasan bunga-bunga emas. Kini mendadak kena dicengkeram oleh Yo Ko, keruan bukan main kagetnya.

Bukan begitu saja, bahkan Yo Ko sengaja lemparkan tubuh pengantin laki-laki itu ke udara setinggi dua tombak lebih. Ketika jatuh ke bawah, di tengah-tengah ramai suara jeritan orang banyak tahu-tahu Yo Ko ulurkan tangannya dan menangkap lagi pengantin laki-laki itu.

Pengiring-pengiring pengantin itu seluruhnya hampir tiga puluhan orang, sebagian besar bertubuh tinggi besar dan kekar kuat, namun melihat ketangkasan Yo Ko, pula pengantin laki-laki jatuh ke dalam cengkeraman orang, tentu saja mereka ketakutan sehingga tiada yang berani maju. Seorang di antara mereka rupanya lebih banyak merasakan asam garam. Ia menduga Yo Ko pasti begal besar, maka dengan cepat ia lantas tampil ke depan.

“Mohon ‘Tay Ong’ suka mengampuni pengantinnya,” demikian pintanya sambil memberi hormat, “Berapa banyak kiranya ‘Tay Ong’ perlu pakai ongkos, pasti kami turut perintah dengan baik.”

“Hi-hi, nona Liok, mengapa mereka panggil aku ‘Tay Ong’! (raja besar, sebutan bagi para pembegal)? Aku kan tidak she Ong?” kata Yo Ko kepada Bu-siang dengan tertawa.

“Sudahlah, jangan main gila Iagi, aku seperti sudah mendengar suara keleningan keledai tunggangan Suhu,” sahut Bu-siang.

Yo Ko kaget oleh jawaban itu. Ia coba pasang kuping, benar saja sayup-sayup terdengar suara berkumandangnya keleningan. Kiranya Li Bok-chiu suka unggulkan ilmu silatnya yang tidak ada tandingannya di seluruh Kangouw, maka setiap tindak tanduknya selalu main gertak dulu, misalnya sebelum dia bunuh sasarannya, lebih dulu dia memberi tanda cap tangan berdarah di rumah orang, tiap cap tangannya berarti jumlah jiwa yang akan dibunuhnya dan sama sekali tak gentar meski pun lawannya mengundang pembantu atau melarikan diri meninggalkan rumah.

Sedangkan keledai belang yang dia tunggangi sengaja dia pasangi tiga belas keleningan emas pada lehernya. Suara keleningan ini dapat berkumandang jauh sampai beberapa li. Sebelum orangnya tiba, suara keleningannya telah terdengar lebih dulu, dengan demikian agar sebelum musuh melihat mukanya tapi lebih dulu sudah ketakutan setengah mati.

“Sungguh cepat sekali datangnya,” begitulah Yo Ko berpikir. Akan tetapi ia masih berlagak bodoh atas peringatan Bu-siang tadi: “Keleningan? Keleningan apa maksudmu? Apakah keleningan tukang jual jamu, kenapa aku tak mendengarnya?”

Habis ini, dengan sikap mengancam ia berpaling dan berkata pada orang tua tadi: “Kalian harus turut perintahku, dengan begitu aku lantas bebaskan dia, kalau tidak, hemm...” dan mendadak ia lemparkan pengantin laki-laki tadi ke udara lagi.

Saking ketakutan, pengantin laki-laki itu sampai menjerit dan menangis tergerung-gerung. Sedang si orang tua tadi pun terus-menerus memberi hormat sambil memohon:

“Ya, ya, pasti kami turut segala perintah Tay Ong.”

“Dia adalah biniku,” kata Yo Ko tiba-tiba sambil menuding Bu-siang, “Dia lihat kalian main sembahyang jadi pengantin segala, maka dia pun ketarik dan ingin main-main juga.”

“Apa kau bilang, Tolol?” damperat Bu-siang dari samping.

Akan tetapi Yo Ko tidak mengurusnya, ia meneruskan pembicaraannya tadi: “Maka kalian lekas copot pakaian pengantin perempuan itu dan biarkan dipakai dia, aku pun ingin main menjadi pengantin lelaki.”

Keruan para pengiring pengantin itu menjadi bingung sehingga saling pandang. Sungguh mereka tak mengerti mengapa pembegal di tengah jalan ini tiba-tiba ingin main pengantin-pangantinan. Waktu mereka awasi Yo Ko dan Liok Bu-siang, yang satu pemuda cakap dan yang lain gadis jelita, kalau dibilang sepasang suami isteri, memang sangat mirip.

Selagi kejadian itu berlangsung, tiba-tiba saja Yo Ko mendengar suara keleningan sudah semakin dekat. Dia lekas-lekas melompat turun dari keledainya dan membiarkan Bu-siang yang menjaganya, ia sendiri lantas pergi ke joli pengantin, mendadak dia tarik tirai joli dan tarik keluar pengantin perempuannya. Tentu saja pengantin itu kaget hingga menjerit, tapi mukanya pakai kerudung kain merah, maka tak diketahuinya apa yang terjadi sesungguhnya.

Di lain pihak Yo Ko tidak berhenti begitu saja, sekalian dia tarik pula kain penutup muka orang, maka tampaklah muka pengantin perempuan itu yang bundar bak bulan purnama, badan tampak montok pula.

“Ha, sungguh ayu pengantinnya,” demikian Yo Ko menggoda pula sambil tertawa, bahkan dia towel pipi orang dengan jarinya. Dalam ketakutannya pengantin perempuan itu malah menjadi bungkam tak berani berkutik sedikit pun.

“Apa bila ingin kuampuni jiwanya, lekas tukar pakaian biniku dengan pakaian pengantinmu itu,” Yo Ko mengancam lagi sambil tarik tubuh perempuan itu dan diangkat ke atas.

Sementara itu Bu-siang mendengar juga suara keleningan keledai belang gurunya sudah tambah dekat lagi datangnya. Ia mendelik pada Yo Ko ketika mendengar kata-kata Yo Ko tadi, pikirnya: “Si Tolol ini sungguh tidak kenal tebalnya bumi dan tingginya langit, sudah dalam keadaan demikian masih terus bergurau?”

Dalam pada itu didengarnya pula suara si orang tua tadi yang sedang mendesak kawan-kawannya:

“Lekas tukar pakaian pengantin padanya!”

Dengan gugup para pengiring lantas melepaskan pakaian pengantin dan perlengkapannya dari gadis tadi, kemudian dikenakan pada Liok Bu-siang. Di sebelah sana Yo Ko tidak perlu bantuan lagi, ia sendiri lantas mencopot topi dan pakaian pengantin laki-laki itu terus dipakainya sendiri.

“Nah, isteriku yang baik, sekarang masuklah ke dalam joIi,” demikian ia berkata pada Bu-siang sesudah selesai penyamarannya.

Tetapi Bu-siang menyuruh pengantin perempuan tadi masuk dulu ke joli, ia sendiri lantas duduk dipangkuan orang, habis itu tirai joli baru ia tutup. Sementara itu sesungguhnya Yo Ko masih ingin mengganti sepatunya dulu, tetapi sudah tak keburu lagi, suara keleningan sudah berada di tikungan jalan sana.

“Lekas menuju ke arah tenggara, lekas tiup dan tabuh lagi!” segera ia memberi perintah, berbareng ini ia pun melompat ke atas kuda putih yang dipakai pengantin laki-laki tadi.

Karena sepasang pengantin baru sudah berada dalam cengkeraman kawanan ‘penjahat’, tentu saja para pengiring itu tak berani membantah, segera mereka tabuh gembreng dan meniup trompet lagi hingga keadaan berubah riuh ramai. Tetapi baru saja joli itu putar kembali ke jalan lain, belum ada belasan tombak ditempuh, suara keleningan itu sudah berbunyi dengan kencang di belakang mereka, dua keledai belang dengan langkah cepat telah memburu datang.

Hati Bu-siang berdebar-debar keras demi mendengar suara keleningan yang telah berada di belakang itu. Dia pikir bisa tidaknya lolos dari elmaut hanya tergantung sedetik ini saja, maka dengan penuh perhatian dia dengarkan gerak-gerik yang terjadi di luar joli. Di lain pihak Yo Ko yang menyamar sebagai pengantin laki-laki, ia pura-pura malu dengan kepala menunduk.

“Hai, kalian melihat satu gadis pincang lewat disini tidak?” demikian terdengar Ang Ling-po bertanya.

“Ti... tidak!” sahut si orang tua tadi dengan suara tak lancar.

“Apa tidak melihat seorang gadis jelita menunggang keledai lewat sini?” tanya Ang Ling-po lagi.

“Tidak,” sahut orang tua itu tetap.

Karena itu Li Bok-chiu berdua lantas mengeprak keledai mereka melampaui iring-iringan pengantin itu dan kabur ke depan dengan cepat. Tetapi hanya sebentar saja tiba-tiba Li Bok-chiu dan Ang Ling-po putar balik kembali. Sesudah dekat joli, mendadak Li Bok-chiu mengayun kebutnya, dengan ekor kebutnya ia lilit kain tirai joIi terus ditarik perlahan, maka terdengarnya suara memberebet, sebagian tirai itu robek.

Yo Ko terkejut sekali oleh kejadian itu. Dia larikan kudanya mendekati joli, dia tunggu apa bila Li Bok-chiu ayun kebutnya untuk kedua kalinya, dengan segera ia akan turun tangan menolong orang. Siapa duga Li Bok-chiu tidak gerakkan tangannya lagi, ia hanya melongok sekejap ke dalam joli, lantas dengan tertawa ia berkata:

“Hah, pengantinnya sungguh cantik!” Sesudah ini ia menoleh dan berkata pula kepada Yo Ko: “He, rejekimu sungguh tidak jelek!”

Tetapi dengan cepat Yo Ko telah menunduk, dia tidak berani kesamplok pandang dengan orang. Lantas terdengar pula suara keteprak-keteprak kaki binatang, Li Bok-chiu berdua telah pergi lagi. Keruan Yo Ko terheran-heran oleh kejadian itu.

“Aneh, mengapa dengan begitu saja dia lepaskan nona Liok?” demikian pikirnya tidak habis mengerti.

Waktu ia melongok juga ke dalam joli, ia lihat si pengantin perempuan asli mukanya pucat lesi saking ketakutan dan badannya gemetaran pula, sedang Liok Bu-siang ternyata tidak diketahui ke mana perginya, Keruan saja Yo Ko bertambah heran.

“He, nona Liok, di manakah kau?” segera ia berseru memanggil.

“Aku sudah hilang,” terdengar suara sahutan si gadis dengan tertawa.

Ketika kain panjang yang dipakai pengantin perempuan itu tersingkap, tahu-tahu Bu-siang muncul dari bawah, kiranya ia sembunyi di bawah kain panjang pengantin perempuan itu. Nyata nona ini memang cerdik, ia cukup kenal sang guru yang biasanya berlaku sangat teliti dan tidak gampang diingusi meski barang yang kecil saja. Dia menduga selewatnya sang guru, tentu sebentar akan balik kembali oleh karena itu ia sembunyi lebih dulu.

“Nah, bolehlah kau menjadi pengantin perempuan dengan tenang, bukankah naik joli jauh lebih enak dari pada menunggang keledai?” kata Yo Ko.

Bu-siang memanggut tanda setuju, lalu ia berkata juga pada si pengantin perempuan itu: “Kau bikin berdesakan di sini dan membuat aku sumpek, lekas kau enyah keluar!”

Karena terpaksa, mau tak mau perempuan itu menurut, ia turun joli lalu ganti menunggang keledai yang tadinya dipakai Yo Ko. Begitulah iring-iringan itu melanjutkan perjalanan, setelah belasan li dilalui, cuaca perlahan mulai gelap.

Dengan tiada hentinya si orang tua tadi mohon kepada Yo Ko agar suka membebaskan tawanannya supaya tidak bikin kacau waktu upacara mereka. Tetapi Yo Ko masih belum mau sudah, ia mendongkol oleh kerewelan orang.

“Apa yang kau cerewetkan terus?” demikian ia mendamperat, tetapi baru sekecap saja, tiba-tiba dilihatnya ada bayangan orang berkelebat di pinggir jalan, ada dua orang dengan tangkas dan cepat telah lari masuk hutan.

Yo Ko menjadi curiga, ia tarik tali kendali kudanya lalu memburu dengan cepat, lapat-lapat dapat dilihat bayangan kedua orang itu berbaju compang-camping dengan dandanan kaum pengemis.

“Jangan-jangan orang Kay-pang sudah mengetahui penyamaranku dan menyiapkan orang di depan sana?” demikian pikir Yo Ko sambil tahan kudanya, “Akan tetapi urusan sudah terlanjur, terpaksa harus diteruskan.”

Tidak lama kemudian joli pengantin itu pun sudah menyusul datang. Karena sebagian tirai joli sudah terobek oleh kebut Li Bok-chiu, maka Bu-siang melongok keluar dan tanya Yo Ko:

“Apa kau melihat sesuatu?”

Yo Ko tidak memberi penjelasan, sebaliknya ia berkata menyimpang: “Sebagai pengantin layaknya kau menangis. Biar pun hatimu seribu kali ingin kawin, mestinya kau menangis tak mau meninggalkan rumah. Di jagat ini mana ada pengantin perempuan yang tak malu seperti kau ini?”

Bu-siang pun seorang gadis yang amat pintar, demi mendengar kata-kata orang seakan-akan bilang sasarannya telah diketahui orang, maka dengan perlahan ia mengomel sekali, lalu tidak membuka suara lagi. Setelah berjalan tak lama, jalan pegunungan di depan mulai sempit dan menanjak hingga sangat susah ditempuh. Para pengiring pengantin itu sudah dalam keadaan letih, tetapi karena kuatir betapa marah Yo Ko, maka mereka tak berani mengunjuk rasa dongkol.

Tak lama kemudian sang dewi malam mulai muncul di ufuk timur, burung gagak dengan suara yang serak terbang di udara untuk kembali ke sarangnya. Sepasang pengantin yang sekarang menjadi tawanan Yo Ko itu selamanya belum pernah bertemu muka. Kini yang lelaki melihat yang perempuan mengunjuk rasa takut-takut tapi tak menutupi paras yang cantik, sedang yang perempuan memandang si lelaki yang juga cakap, kedua orang itu di samping merasa kuatir, diam-diam merasa girang.

Begitulah sedang mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dari balik bukit sana terdengar suara berdendang belasan orang yang sedang melagukan:

“Nona cilik berbuatlah murah hati, berikanlah sedekah sebelah kuping dan sebuah hidung!”

Mendengar suara nyanyian itu, seketika muka Bu-siang berubah, “Ha, ternyata keempat pengemis itu bersembunyi di sini,” demikian pikirnya.

Sesudah joli pengantin itu melintasi bukit, maka tampaklah di depan sana menanti tiga pengemis yang berperawakan tinggi jangkung, sama sekali berlainan dengan empat orang pengemis yang dilihatnya siang tadi.

Waktu Yo Ko meneliti kantong goni yang berada di pundak ketiga pengemis itu, ia melihat masing-masing menggendong tujuh buah. “Tentu ketiga pengemis tujuh kantong ini jauh lebih lihay dari pada empat orang yang berenam kantong itu, tampaknya tidak bisa tidak harus turun tangan sungguh-sungguh,” pikirnya.

Sementara itu karena sudah amat letih dan sedang uring-uringan, keruan para pengiring pengantin itu menjadi lebih mendongkol demi nampak ketiga pengemis itu menghadang di tengah jalan, segera ada di antaranya yang mengayun cambuk menyabet kepala salah satu pengemis itu.

“Hai, lekas enyah, lekas minggir!” demikian bentak mereka.

Tapi pengemis itu tak berkelit, hanya sekali tarik pucuk cambuk terus dibetot, maka tidak ampun lagi orang yang menyabet itu jatuh ngusruk ke depan seperti anjing menubruk tahi. Melihat kawan mereka dijungkalkan, kalau dalam keadaan biasa tentu para pengiring itu akan mengerubut maju beramai-ramai. Tapi kini mereka sedang ketakutan karena sudah dihajar Yo Ko tadi. Mereka pikir ketiga pengemis ini tentu juga satu komplotan dengan pembegal ini, maka tiada seorang pun yang berani maju, sebaliknya mereka malah pada menyurut mundur.

“Selamat dan berbahagialah nona, kami tukang minta-minta ini ingin mohon diberi persen beberapa duit,” demikian salah satu pengemis itu membuka suara dengan lantang.

“Tolol,” kata Bu-siang pada Yo Ko, “aku terluka sehingga tidak bisa turun tangan sendiri, kau saja wakilkan aku enyahkan mereka.”

“Baik,” sahut Yo Ko tanpa banyak rewel. Habis ini kudanya lantas dilarikan ke depan terus membentak: “He, hari ini adalah hari baikku. Kalian pengemis ini jangan banyak cerewet, lekas pergi dari sini!”

Karena dibentak, salah satu pengemis itu mengamat-amati Yo Ko, namun mereka tidak dapat meraba siapakah gerangan pemuda yang berani membentak-bentak mereka ini. Kiranya empat pengemis kantong enam yang tertotok oleh duri tulang ikan itu, semuanya menyangka Bu-siang yang menyerang mereka, maka sama sekali mereka tak menyebut-nyebut tentang Yo Ko pada paman-paman guru mereka, yakni ketiga pengemis kantong tujuh ini.

Dalam pada itu, salah seorang pengemis itu tiba-tiba mengangkat tangannya, karena itu kuda yang ditunggangi Yo Ko menjadi kaget hingga berdiri dengan kaki belakang. Yo Ko pura-pura terperosot dari kuda dan terbanting jatuh dengan keras, dan sampai lama tak sanggup bangun.

“Ha, kiranya pemuda ini memang pengantin laki-lakinya,” pikir ketiga pengemis itu begitu menyaksikan jatuhnya Yo Ko itu.

Sebetulnya Kay-pang adalah perkumpulan kaum jembel yang selamanya selalu membela keadilan kaum lemah dan memberantas kaum penindas. Sebabnya mereka bermusuhan dengan Liok Bu-siang adalah karena gadis ini tanpa sebab sudah melukai orang mereka. Kini melihat Yo Ko tidak pandai silat, malahan sudah jatuh terbanting dengan berat, maka mereka pun menjadi menyesal, satu di antara pengemis itu telah menariknya bangun.

“Aih, kalian ini terlalu...” demikian Yo Ko pura-pura mengomel, “minta ya minta, mengapa bikin kaget binatang tungganganku?”

Sambil berkata ia pun rogoh keluar tiga mata uang kemudian diberikan kepada pengemis-pengemis itu. Mengingat peraturan Kay-pang, tiga pengemis itu menerima pemberian itu dan menghaturkan terima kasih.

“Nah, kau suruh aku bereskan mereka, sekarang sudah kuIakukan,” dengan menyengir kemudian Yo Ko berkata pada Liok Bu-siang.

“Hm, untuk apa kau berlagak tolol padaku?” omel Bu-siang.

Tetapi Yo Ko hanya mengiya saja lantas mundur ke pinggir jalan sambil mengebut debu yang berada di badannya.

“Sebenarnya kalian inginkan apa?” dengan sikap dingin kemudian Bu-siang menegur tiga pengemis itu, karena orang masih menghadang di tengah jalan.

“Anak murid golongan kami bilang nona adalah jago dari Ko-bong-pay. Karena kagum, maka kami ingin minta petunjuk beberapa gebrakan dari nona,” sahut satu di antaranya.

“Kini aku dalam keadaan terluka, cara bagaimana dapat bergebrak dengan kalian?” kata Bu-siang. “Jika kalian betul-betul penasaran, bolehlah tetapkan harinya, nanti kalau lukaku sudah sembuh, pasti aku datang minta pengajaran kalian. Kalian bertiga adalah jago dari Kay-pang, kini sengaja hendak mengeroyok satu gadis yang sedang luka parah, apakah ini terhitung orang gagah perkasa?”

Dengan kedudukan tiga pengemis itu yang cukup tinggi, mereka jadi terdesak oleh debat Bu-siang ini.

“Baiklah, nanti kalau lukamu sudah sembuh, kami akan cari kau lagi,” kata pengemis yang kedua.

“Nanti dulu,” tiba-tiba pengemis yang ketiga berpikir lain: “Di manakah lukamu? Apa betul atau pura-pura, kami harus periksa dulu. Kalau benar engkau terluka, hari ini kami boleh mengampuni kau.”

Ia berkata begitu karena tak diketahuinya luka Bu-siang berada di bagian dadanya, maka tidak sengaja ingin mengetahui tempat luka ini, namun bagi Bu-siang seketika mukanya menjadi merah, ia pun menjadi marah hingga untuk sesaat tak bisa bicara.

“Hm, orang Kangouw bilang sahabat-sahabat dari Kay-pang semuanya ksatria sejati, tapi siapa tahu semuanya adalah manusia-manusia yang tak kenal malu,” kemudian Bu-siang mendamperat.

Mendengar nama baik perkumpulan mereka dihina, air muka ketiga pengemis itu berubah semua. Satu di antaranya yang berwatak berangasan segera melompat maju, dan hendak menarik Bu-siang keluar dari jolinya.

“Eeeeh, nanti duIu, nanti dulu!” tiba-tiba Yo Ko menyela demi dilihatnya keadaan sudah mendesak. “Kalian minta duit, bukankah tadi aku telah memberi, kenapa sekarang masih merecoki biniku?” Sembari berkata dia pun maju menghadang di depan joli, kemudian dia menyambung lagi, “meski kalian pengemis, tapi tampang kalian tampak gagah, potongan pun banyak rejeki, kelak banyak harapan bisa menjadi orang kaya atau orang berpangkat, mengapa sekarang berani mengggoda biniku dan melakukan perbuatan-perbuatan rendah seperti bajingan?”

Teguran ini membikin ketiga pengemis menjadi tercengang sehingga mereka tidak dapat menjawab.

“Menyingkirlah, kami hanya ingin belajar kenal dengan ilmu silatnya dari Ko-bong-pay, siapa yang melakukan perbuatan rendah?” sahut si pengemis yang berangasan tadi. Sambil berkata, berbareng ia mendorong Yo Ko.

“Haya!” Yo Ko berteriak dan pura-pura jatuh ke tepi jalan.

Dalam perserikatan kaum pengemis itu ada peraturan yang melarang bergebrak dengan orang yang tak mahir ilmu silat, Sungguh tak terduga oleh pengemis itu bahwa ‘pengantin laki-laki’ ini ternyata begitu tak becus. Hanya sekali dorong perlahan saja telah terbanting jatuh, kalau terbanting luka, tentu bakal terima hukuman berat dari perkumpulan, dan dua kawannya pun tidak terluput dari tanggung jawab ini.

Karena itu mereka kaget bukan main, lekas-lekas mereka memburu maju buat bangunkan orang, sebaliknya Yo Ko sengaja menjerit kesakitan. Karena waktu itu hari sudah gelap, maka pengemis itu pun tak jelas apa betul-betul orang terluka atau tidak.

“Aihh, kalian bertiga ini pun orang tolol. Biniku baru jadi pengantin dan masih malu-malu, mana mau dia bicara dengan orang yang tak dikenalnya,” demikian sambil berteriak-teriak sakit masih Yo Ko berkata lagi, “Begini saja, pelajaran apakah yang kalian inginkan? Coba katakan padaku, nanti aku yang bicara dengan biniku yang baru ini, habis itu nanti kuberi-tahukan lagi pada kalian. Bukankah baik begitu?”

Melihat macam Yo Ko yang dibilang tolol toh tidak tolol, akhirnya mereka tak sabar Iagi. “Kau mau menyingkir tidak?” pengemis yang berwatak keras tadi membentak pula. Akan tetapi Yo Ko malah sengaja pentang kedua tangannya.

“Tidak, kalian hendak menghina biniku, jangan harap,” ujarnya dengan suara keras.

“Nona Liok,” kata pengemis yang lain, “kau pakai si tolol ini sebagai tameng, apa dia bisa merintangi kami? Lekas kau berterus terang saja, apa yang hendak kau katakan!”

“Eh, dari mana kau pun tahu namaku si Tolol? Sungguh aneh bin ajaib!” tukas Yo Ko tiba-tiba dengan lagak heran.

Tetapi pengemis yang berangasan tadi tak gubris padanya, ia masih berteriak pada Liok Bu-siang:

“Kami tidak ingin belajar lain, cukup asal belajar kenal dengan tipu seranganmu dengan golok membacok punggung itu saja, apakah nama tipu serangan itu?”

Bu-siang tahu bahwa dengan caranya Yo Ko sedang menggoda mereka, maka urusan ini sukar juga diselesaikan, karena itu di dalam hati sedang memikirkan sesuatu jalan untuk meloloskan diri. Ketika mendengar orang bertanya lagi, tanpa terasa dia telah menjawab:

“Namanya ‘Tiau-siang-pay-gwe’, ada apakah?”

“Ya, betul, namanya ‘Tiau-sian-pay-gwe’, begini gerak goloknya, bet, lantas kena bacok di punggungmu,” tiba-tiba Yo Ko menyambung sambil mulutnya “bat-bet, bat-bet”, tangan pun mendadak memotong ke belakang pundak orang.

“Plokk!” dengan pinggiran telapak tangan ia hantam punggung pengemis itu. Keruan saja ketiga pengemis itu sangat terkejut oleh gerak serangan Yo Ko, berbareng mereka melompat mundur.

MENYAMAR SEBAGAI TOSU

“Ha, kiranya orang ini berpura-pura menyamar sebagai pengantin untuk mempermainkan kami,” demikian pikir mereka.

Walau pun tak banyak tenaga yang dikeluarkan Yo Ko, akan tetapi punggung pengemis itu pun terasa sakit.

“Bagus, anak keparat, kau berpura-pura tolol. Mari, mari sini, biar aku belajar kenal dulu dengan kepandaianmu yang tinggi itu,” segera pengemis itu berteriak-teriak menantang, berbareng tongkat diketokkan ke tanah hingga menerbitkan suara nyaring keras.

“Tadi kau bilang ingin belajar kenal kepada biniku, kenapa sekarang hendak belajar kenal padaku?” sahut Yo Ko berlagak bodoh.

“Belajar kenal dengan kau pun sama saja,” kata pengemis itu dengan marah.

“Wah, bisa celaka, aku tidak bisa apa-apa,” ujar Yo Ko, habis ini dia berpaling dan tanya Bu-siang: “Bini cilik yang baik, menurut kau, apa yang harus kuajarkan kepadanya?”

Kini Bu-siang sudah tidak ragu-ragu lagi akan si Yo Ko yang pasti memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, kalau tidak, mana berani ia cengar cengir berlagak bodoh menggoda ketiga jago Kay-pang ini? Tapi karena belum mengenal aliran ilmu silat orang, maka sekenanya ia menjawab pula:

“Kau unjuk sekali lagi jurus Tiau-sian-pay-gwe!”

“Baik!” sahut Yo Ko, berbareng ini tiba-tiba ia membungkuk ke depan, tangan mengulur.

“Plokk!” dengan tipu ‘Tiau-sian-pay-gwe’ atau Tiau-sian menyembah rembulan, kembali ia gebuk sekali lagi punggung si jembel itu.

Melihat serangan Yo Ko, semua orang bertambah terkejut dan heran. Terang tadi Yo Ko berdiri berhadapan dengan lawan dan sama sekali tidak menggeser satu langkah pun, tapi hanya sedikit membungkuk dan tangan mengulur, tahu-tahu tangannya telah berhasil menggebuk punggung orang. Sungguh ilmu pukulan yang amat aneh dan mengherankan!

Bukan saja orang-orang itu heran, bahkan Bu-siang pun tergetar hatinya. “Bukankah ilmu pukulannya ini adalah aliran Ko-bong-pay kami, kenapa dia pun bisa?” demikian tanyanya dalam hati.

Dengan ragu segera ia berkata lagi: “Coba sekali Iagi, sekarang jurus ‘Se-si-hong-sim’!”

“Baik!” sambut Yo Ko cepat.

Begitu tinjunya menyodok ke depan, dengan tepat sekali ulu hati lawan kena pukul. Itulah tipu serangan ‘Se-si-hong-sim’ atau Se Si meraba dada. Karena genjotan itu, maka terasalah oleh pengemis itu didorong oleh suatu kekuatan yang maha besar sehingga tubuhnya mencelat pergi sejauh lebih setombak. Anehnya di sana dia bisa berdiri dengan tegak, tempat yang terkena pukulan pun tidak terasa sakit. Walau pun begitu, kedua pengemis yang lain segera menerjang maju berbareng.

“Haya, celaka, bini cilik, tak sanggup aku melawan mereka, lekas ajarkan tipu padaku,” Yo Ko berteriak-teriak.

“Ciau-kun-jut-sat, Moa-koh-hian-siu!” tiba-tiba Bu-siang menyebut dua macam nama tipu serangan.

Maka dengan cepat Yo Ko ulur tangan kiri, lima jarinya menjentik berbareng seperti orang menabuh Pi-peh dan lima jari itu juga dengan tepat kena menyentil tubuh pengemis yang berada di sebelah kanan. Memang betul itulah tipu ‘Ciau-kun-jut-sat’ atau Ciau-kun keluar negeri, menyusuI kemudian tubuhnya tiba-tiba mengegos ke samping, ia hindarkan tendangan si pengemis sebelah kiri yang sementara itu sudah melayang, sedangkan kedua kepalan telah disodokkan ke atas.

“Plak!” dengan jitu sekali dagu pengemis sebelah kiri itu pun kena ditonjok.

“lni ‘Moa-koh-hian-siu’, betul tidak?” teriak Yo Ko. Karena tidak ada niat untuk mencelakai pengemis itu, maka tenaga hantamannya tadi pun tidak keras.

Begitulah, berturut-turut Yo Ko telah unjuk empat kali serangan dan setiap tipu serangan adalah ‘Bi-li-hoat’ dari Ko-bong-pay. Dimulai sejak cikal-bakalnya, yaitu Lim Tiao-eng, selamanya Ko-bong-pay hanya terima murid wanita dan tidak lelaki. Lim Tiao-eng telah ciptakan ilmu pukulan yang disebut ‘Bi-li-kun-hoat’ atau ilmu pukulan gadis ayu, maka tiap-tiap tipu serangannya juga diberi nama dengan mengambil nama-nama wanita cantik jaman purbakala. Pada waktu ilmu pukulan itu dimainkan, orangnya lemah gemulai dan gayanya indah luar biasa.

Karena Siao-Iiong-li sudah melanggar kebiasaan menerima murid wanita dan telah terima Yo Ko sebagai murid, dengan sendirinya ‘Bi-li-kun-hoat’ itu pun diajarkan padanya. Tetapi Yo Ko merasa tipu-tipu serangan itu meski lihay, namun gayanya selalu kiyat-kiyut, tidak pantas dilakukan orang Ielaki, maka pada saat ia melatih ilmu pukulan itu, ia sendiri telah tambahi dengan tenaga besar dan gaya kaum lelaki, dan gaya yang lemah gemulai itu ia ubah menjadi gaya lelaki yang gagah perkasa. Biar pun gayanya lain, tetapi intinya masih tetap.

Begitulah, sesudah kena diserang Yo Ko dengan cara-cara yang sukar dimengerti, ketiga pengemis yang terhitung jago kelas tinggi dari Kay-pang itu masih belum mau menyerah begitu saja, sekali bersuit berbareng mereka mengerubut maju Iagi.

“Haya, celaka, bini cilik, sekali ini kau bisa menjadi janda!” teriak Yo Ko sambil berkelit ke sana kemari.

Bu-siang terkikik geli oleh teriakan Yo Ko. “Thian-sun-cit-kim!” tiba-tiba dia menyebut satu nama tipu serangan lagi.

Tanpa pikir Yo Ko mengayun tangan kanan ke kiri dan tangan kiri menyodok ke kanan. Ia bergaya seperti orang memintal, sesuai dengan nama tipu ‘Thian-sun-cit-kim’ atau Thian-sun memintal sutera, maka sekaligus pundak kedua pengemis itu kena dihantam semua.

“Bun-kun-tang-lo, Kui-hui-cui-ciu!” kembali Bu-siang menyebut dua nama Iagi.

Ehh, benar juga, si Yo Ko lantas angkat tangan seperti menuang arak dan ketok ke atas kepala si pengemis yang bertabiat berangasan itu, menyusul tubuhnya terhuyung-huyung dan miring ke kiri, maka perut si pengemis yang lain dengan tepat sudah kena ditumbuk oleh pundak kanannya. Itulah tipu-tipu ‘Bun-kun-tang-lo’ dan ‘Kui-hui-cui-ciu’ atau Bun-kun mengipas anglo dan Kui-hui mabuk arak.

Terkejut dan gusar pula ketiga pengemis itu. Mereka telah keluarkan seluruh ilmu silatnya, namun sedikit pun tidak bisa menghantam orang, sebaliknya lawannya bebas mengayun tangan atau melayangkan kakinya, ke mana dipukulnya, di situ tentu kena, meski tak sakit tempat yang kena serangan, namun anehnya luar biasa.

Kemudian berulang-ulang Bu-siang menyebut lagi beberapa tipu serangan yang satu per satu segera dilakukan Yo Ko lagi dengan betul. Sungguh kagum sekali Liok Bu-siang oleh kepandaian ‘si ToIol’. Segera timbul juga kejahilannya untuk permainkan ‘si Tolol’. Ia melihat waktu itu Yo Ko sedang ulurkan kepalan menghantam ke depan, mendadak ia pun berteriak:

“Cek-thian-sui-liam!”

Menurut keadaan Yo Ko waktu itu, sekali-kali tidak mungkin bisa memakai tipu serangan yang disebut itu. Tetapi betapa tinggi Iwekang Yo Ko sekarang, bisa saja melakukan tipu apa yang orang inginkan. Sekonyong-konyong tubuhnya menubruk ke depan, sambil dua tangannya memotong ke bawah dengan gaya seperti menurunnya kerai. Tidak salah lagi, ini memang tipu ‘Cek-thian-sui-Iiam’ atau Bu Cek-thian menurunkan kerai.

Sebelum itu sebenarnya ketiga pengemis itu sedang menubruk maju karena melihat ada kesempatan, namun siapa tahu oleh tubrukan Yo Ko ini, mereka malah berbalik terdesak mundur beberapa langkah. Luar biasa heran dan senangnya Liok Bu-siang melihat kemahiran ‘si Tolol’ ini. Kembali ia berseru:

“lt-siau-cing-kok!”

‘lt-siau-cing-kok’ atau sekali tertawa meruntuhkan negara, inilah satu tipu pilihan Bu-siang sendiri yang tidak pernah ada dalam pelajaran ‘Bi-li-kun-hoat’, sebab meski wanita cantik dengan senyum dan tawanya bisa meruntuhkan suatu negara, tapi mana dapat digunakan untuk bergebrak dengan pihak lawan?

Akan tetapi di sinilah Yo Ko unjuk kemahirannya. Sesudah tertegun sedetik karena nama tipu yang aneh itu, segera ia menengadah dan tertawa:

“ha-ha-ha-ha... he-he-he-he... hu-hu-hu... ho-ho-ho... ha-ha-ha-ha!”

Sungguh aneh sekali suara tertawanya ini. Ternyata Yo Ko telah keluarkan Iwekang yang paling tinggi dari ‘Kiu-im-cin-keng’ yang dilatihnya. Walau latihannya belum bisa dikatakan masak dan belum dapat dipakai untuk melawan jago kelas wahid, tetapi ketiga pengemis itu hanya anak murid Kay-pang kelas dua-tiga saja. Ketika mendengar suara ketawa yang aneh itu, tanpa tertahan lagi telinga mereka seolah-olah pekak dan kepala pusing, mereka terhuyung-huyung untuk kemudian terguling jatuh semua saking tak tahan.

Bukan saja tiga pengemis itu, bahkan Bu-siang ikut terkena juga akibatnya. Ia pun merasa pusing hingga hampir jatuh semaput. Lekas-lekas ia pegang erat-erat tiang joli.

Sementara itu di bagian luar keadaan sudah kacau balau, suara jeritan serta gedubrakan bercampur aduk. Para pengiring pengantin berikut kedua pengantin baru itu sudah jatuh terguling semua karena tidak tahan oleh suara tertawa Yo Ko. Setelah Yo Ko hentikan tertawanya, dengan cepat ketiga pengemis itu melompat bangun, tanpa berpaling lagi segera mereka angkat kaki.

Sesudah mengaso tidak terlalu lama, iring-iringan joli pengantin itu kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Terhadap Yo Ko kini para pengiring itu menganggapnya seperti malaikat dewata saja, tiada seorang pun yang berani membangkang lagi. Menjelang tengah malam barulah mereka sampai di sebuah kota, dan di sanalah Yo Ko membubarkan para pengiring pengantin itu. Ia dan Bu-siang lantas mendapatkan sebuah hotel untuk menginap.

Waktu mereka hendak bersantap, baru saja mereka duduk, tiba-tiba Yo Ko melihat di depan pintu ada berkelebatnya bayangan orang, satu orang telah longak-longok ke dalam dan demi nampak Yo Ko dan Bu-siang, orang itu langsung mengkeret lalu putar pergi.

Yo Ko menjadi curiga, dengan cepat dia menyusul keluar. Maka tampaklah olehnya di pelataran hotel sana berdiri dua Tojin atau imam. Begitu melihat Yo Ko keluar, dua imam itu segera menubruk maju ke arahnya. Kedua imam itu dapat dikenali Yo Ko sebagai Tio Put-hoan dan Ki Jing-si yang pernah saling labrak dengan Liok Bu-siang di lembah Srigala tempo hari.

“He, ada apakah kalian marah padaku?” teriak Yo Ko heran karena ada orang menubruk ke jurusannya. Ia berdiri tegak saja tanpa menggubris mereka.

Tak terduga tujuan kedua imam itu ternyata bukan diri Yo Ko. Tiba-tiba mereka mengegos lewat di sampingnya terus melompat ke depan Bu-siang. Tetapi sebelum terjadi sesuatu, pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara kelenengan yang nyaring. Suara kelenengan ini datangnya mendadak dan tahu-tahu sudah berada dalam jarak yang dekal sekali.

Muka kedua Tosu itu berubah hebat demi mendengar suara kelenengan. Sesudah saling pandang sekejap, segera mereka berlari kembali ke kamar yang berada di sebelah barat sana, dengan keras mereka gabrukan daun pintu lantas dikunci rapat untuk kemudian tak berani keluar lagi.

“Ha...! Imam-imam busuk itu tentu pernah merasakan pahit getir tangannya Li Bok-chiu, makanya mereka begitu takut padanya,” diam-diam Yo Ko membatin.

“Suhu sudah datang, bagaimana baiknya, Tolol?” tanya Bu-siang dengan suara tertahan. Rupanya ia pun berkuatir.

“Bagaimana baiknya?” Yo Ko balik bertanya. Dan selagi dia hendak memondong si gadis, mendadak suara kelenengan tadi sudah berhenti di depan pintu hotel.

Benar saja, segera terdengar suara Li Bok-chiu sedang berkata: “Ling-po, kau menjaga di atas wuwungan rumah!”

Terdengar Ang Ling-po menyahut sekali, lalu dengan cepat sang murid melompat ke atas. Menyusul terdengar lagi suara kasir hotel yang berkata:

“Sian-koan, engkau orang tua... aduh... Aku...”

Suara si kasir hotel ternyata terputus sampai di situ saja, sebab orangnya tiba-tiba sudah terguling ke lantai dan jiwanya telah melayang. Kiranya Li Bok-chiu paling benci kalau orang menyebut kata-kata ‘tua’ di hadapannya, apa lagi orang terang-terangan mengatakan dia ‘orang tua’, keruan tanpa ampun lagi, sekali kebutnya menyabet, seketika jiwa kasir hotel itu melayang.

“Ada seorang nona pincang tinggal di sini tidak?” lalu Li Bok-chiu tanya pelayan hotel.

Tetapi pelayan itu sudah ketakutan melihat keganasannya. “Aku... aku...” demikian sahutnya tidak jelas.

Li Bok-chiu menjadi tidak sabar, sekali dorong ia sengkelit pelayan itu sehingga mencium tanah, habis ini lantas terdengar suara “bang” yang keras, pintu kamar pertama di sebelah barat itu didobraknya hingga terpentang, itulah kamar para imam.

“Inilah kesempatan untuk melarikan diri melalui pintu belakang, meski akan dipergoki Ang Ling-po, tapi aku tidak takut padanya,” diam-diam Yo Ko terpikir. Maka dengan suara lirih ia berkata pada Liok Bu-siang: “Bini cilik, lekas ikut aku melarikan diri.”

Si gadis pelototi Yo Ko karena orang berulang kali memanggil “bini cilik” padanya, tetapi ia berdiri juga. Ia pikir sekali ini kalau bisa selamat pula, betul-betul Tuhan yang melindungi mereka.

Pada saat itu pula dari pojok ruangan hotel itu satu tetamu telah berdiri. Waktu ia berjalan melalui samping Yo Ko dan Bu-siang, tiba-tiba dengan suara tertahan ia berkata:

“Aku pancing dia pergi, lekas cari jalan buat selamatkan diri.”

Semenjak tadi orang ini duduk di sebuah meja di pojok yang rada gelap, maka Yo Ko dan Bu-siang sama sekali tidak memperhatikan muka orang, Kini waktu bicara mukanya pun berpaling ke jurusan lain dan baru selesai bicara dengan cepat orangnya telah melangkah keluar, hanya potongan belakangnya yang tampak jelas bahwa perawakannya tidak tinggi, malahan lebih pendek sedikit dari pada Liok Bu-siang, dan baju yang dipakainya berwarna hijau dan rada kebesaran.

Tentu saja Yo Ko dan Bu-siang terkejut sekali oleh kata-kata orang tadi. Selagi mereka kebingungan, mendadak terdengar suara kelenengan keledai berbunyi riuh terus menjauh menuju ke utara.

“Suhu, ada orang yang mencuri keledai kita!” terdengar Ang Ling-po berteriak.

Dengan cepatnya satu bayangan berkelebat dari dalam kamar tadi. Li Bok-chiu melayang keluar terus mengudak ke arah perginya si pencuri keledai.

“Lekas kita lari!” segera Bu-siang mengajak.

Namun Yo Ko berpandangan lain, ia berpikir: “llmu entengkan tubuh Li Bok-chiu cepat luar biasa, tentu orang tadi segera akan dicandaknya dan segera pula ia dapat balik kembali. Kalau aku pondong nona pincang ini, karena tak bisa cepat berlari maka sukar juga buat meloloskan diri.”

Mendadak ia mendapat akal. Dengan cepat ia memasuki kamar pertama di sebelah barat sana. Di kamar itu dia lihat Tio Put-hoan dan Ki Jing-si dalam keadaan ketakutan sedang duduk di atas pembaringan. Tahu keadaan amat mendesak, tanpa menunggu dua imam itu bersuara, dengan cepat Yo Ko menubruk maju lantas ia totok roboh kedua orang itu.

“Bini cilik, masuk sini!” teriaknya pada Bu-siang.

Tanpa pikir lagi si gadis menurut, pintu kamar dengan cepat dirapatkan kembali oleh Yo Ko.

“Lekas copot pakaian!” katanya pula.

“Apa kau bilang, Tolol?” Bu-siang mengomel dengan muka merah jengah.

“Terserah kau mau copot pakaian tidak, tetapi aku sendiri akan mencopot!” sahut Yo Ko sambil melepaskan baju luarnya, menyusul jubah Tosu yang dipakai Tio Put-hoan telah ia lucuti dan dikenakan sendiri, malahan kopiah orang ia sambar lalu dipakainya pula.

Nampak perbuatan Yo Ko ini, segera Bu-siang mengerti. “Baiklah, kita menyamar sebagai Tosu buat mengelabui Suhu,” katanya kemudian.

Habis itu bajunya sendiri lantas hendak dibukanya, namun mukanya menjadi merah pula. Tiba-tiba ia depak Ki Jing-si sekali sambil mendamperat:

“Cepat pejamkan matamu, imam keparat!”

Meski badan kedua imam itu tertotok dan tak bisa berkutik, namun panca indera mereka masih bisa bekerja biasa, karena itu mereka lantas pejamkan mata. Mana berani mereka mengintip tubuh Liok Bu-siang?

“Tolol, kau pun berpaling ke sana,” kata Bu-siang pula pada Yo Ko.

“Takut apa? Waktu aku sambung tulangmu, bukankah aku sudah melihatnya?” sahut Yo Ko dengan tertawa.

Tetapi sesudah berkata, segera Yo Ko merasa kata-katanya itu terlalu bambungan, maka ia menjadi rikuh. Di lain pihak Bu-siang menjadi marah.

“Plakk!” kontan ia membalikkan telapak tangannya dan menempeleng orang.

Sebenarnya sedikit menunduk saja Yo Ko bisa hindarkan tamparan itu, akan tetapi dalam keadaan linglung, ia tidak menghindar hingga pukulan itu kena pipi kirinya dengan antap. Kiranya mendadak Yo Ko teringat kepada Siao-liong-li karena mimik wajah Liok Bu-siang yang sedang marah-marah itu, maka ia menjadi ternganga diam.

Sebaliknya Bu-siang menyangka pukulannya tentu mengenai tempat kosong, tetapi siapa tahu justru tepat kena sasarannya dengan keras, maka mau tak mau ia pun tertegun.

“Sakit tidak, Tolol? Makanya kau jangan ngaco-belo dan mengoceh semaunya,” katanya kemudian sambil tersenyum.

Yo Ko tak menjawab. Ia meraba-raba pipinya sendiri yang panas pedas itu, lalu berpaling ke jurusan lain.

“Coba lihat, aku mirip imam kecil tidak?” tanya Bu-siang dengan tertawa sesudah jubah pertapaan orang dikenakannya.

“Tak kelihatan, mana aku tahu,” sahut Yo Ko.

“Balik sini, Tolol,” omel si gadis.

Ketika Yo Ko berpaling kembali, ia lihat jubah itu terlalu besar dipakai Bu-siang, tapi makin menunjukkan betapa ramping tubuh Bu-siang. Selagi Yo Ko hendak buka suara, tiba-tiba terdengar Bu-siang menjerit tertahan sambil menuding ke atas pembaringan.

Ehh, kurang ajar, kiranya dari dalam selimut di atas pembaringan itu kelihatan menongol kepala imam yang dapat Yo Ko kenali sebagai Bi Jing-hian, imam yang tangannya tertabas oleh Bu-siang di lembah Srigala. Rupanya ia rebah di atas pembaringan karena lukanya. Tadi saat melihat Bu-siang, dalam takutnya ia telah mengkeret ke dalam selimut. Karena Yo Ko dan si gadis sedang sibuk menukar pakaian, mereka tidak memperhatikan kalau di situ masih ada satu imam lagi.

“Dia... dia...” demikian dengan suara samar-samar Bu-siang hendak bicara, sebenarnya ia hendak bilang: “dia mengintip aku tukar pakaian”, tetapi tak enak diucapkannya.

Pada saat itu juga, suara kelenengan keledai belang milik Li Bok-chiu kembali terdengar lagi. Yo Ko tahu iblis perempuan itu kembali lagi. Tiba-tiba tergerak kecerdasannya. Ia tarik Bi Jing-hian yang meringkuk dalam selimut itu. Dengan sekali cekal dan tarik itu berbareng ia sudah totok jalan darah orang, lalu ia buka rongga pembaringan dan masukkan imam sial itu ke dalam.

Hendaklah diketahui bahwa balai-balai atau pembaringan yang biasa digunakan di daerah utara itu terbuat dari tanah liat dan di bawahnya berlubang. Karena hawa di daerah utara amat dingin, maka pada rongga balai-balai itu dinyalakan api unggun untuk memanaskan badan bagi yang rebah di atasnya. Tetapi waktu itu bukan musim dingin, di bawah kolong balai-balai itu tak ada api, meski pun begitu di dalamnya hitam gelap penuh debu arang. Keruan seluruh muka dan kepala Bi Jing-hian berubah menjadi hitam.

Sementara itu suara kelenengan tadi sudah berhenti. Li Bok-chiu sudah sampai di depan hotel.

“Naiklah ke atas balai-balai,” kata Yo Ko kepada Bu-siang.

“Tidak mau, sudah digunakan imam busuk itu, tentu kotor dan bau.” sahut si gadis.

“Jika tidak mau, terserah kau!” ujar Yo Ko. Sembari berkata tangan pun bekerja, dan Tio Put-hoan sudah dijebloskan pula ke dalam koIong, sebaliknya totokan Ki Jing-si malah dia lepaskan.

Di lain pihak, walau pun merasa selimut bekas terpakai itu kotor dan bau, tetapi bila ingat kekejian gurunya yang tidak kenal ampun, terpaksa Bu-siang merangkak ke atas balai-balai. Ia tiduran dengan muka menghadap ke bagian dalam dan baru saja ia rebah, pintu kamar sudah ditendang oleh Li Bok-chiu. Untuk kedua kalinya wanita iblis ini melakukan penggeledahan.

Di sebelah sana Yo Ko pura-pura memegangi sebuah cangkir dan dengan kepala tunduk sedang minum, padahal sebelah tangannya ia tekan di punggung Ki Jing-si, pada Hiat-to yang mematikan sehingga imam ini tak berani berkutik.

Melihat isi kamar itu masih tetap tiga imam, pula melihat wajah Li Jing-si pucat lesi mirip mayat dan dalam ketakutan, maka Li Bok-chiu hanya tersenyum, kemudian pergilah dia menggeledah ke kamar yang Iain.

Tadi pada saat pertama kali Li Bok-chiu menggeledah, wajah ketiga imam itu sudah jelas dilihatnya, sebab ia kuatir Liok Bu-siang ganti pakaian dan menyamar, maka pada waktu menggeledah lagi untuk kedua kalinya, ia tidak memeriksa dengan cermat. Karena sedikit lengahnya ini ia kena dikelabui oleh Yo Ko.

Malam itu Li Bok-chiu dan Ang Ling-po berdua sudah obrak-abrik seluruh kota itu hingga setiap rumah merasa terganggu. Sebaliknya dengan aman sentosa Yo Ko rebah di balai-balai berendeng dengan Liok Bu-siang. Betapa senangnya dia waktu mencium bau harum yang menggiurkan dari tubuh si gadis.

Pikiran Bu-siang sendiri pun timbul tenggelam bagaikan mendamparnya ombak. Ia rebah tanpa berani bergerak sedikit pun. Ia pikir jika si ToIol ini dibilang goblok, nyatanya pintar tiada bandingannya, dikatakan dia pintar, sebaliknya kelakuannya agak-agakan. Sungguh aneh orang ini. Ia rada kikuk juga karena rebah berendeng dengan pemuda, tetapi sesudah sampai lama sedikit pun tiada sesuatu gerak-gerik dari Yo Ko, barulah ia merasa lega hingga akhirnya ia terpulas.

Esok paginya Yo Ko bangun lebih dulu. Ia lihat Ki Jing-si masih menggeros mendekam di atas meja, sedang Bu-siang dengan napasnya yarig perlahan kelihatan masih nyenyak. Kedua pipi gadis ini bersemu merah, bibirnya mungil. Tanpa terasa jantung Yo Ko memukul keras.

“Jika perlahan-lahan aku mencium dia sekali, tentu dia tak akan tahu,” demikian ia pikir.

Dasar Yo Ko baru injak dewasa, walau pun tiada maksud jahat yang terkandung padanya, tetapi ingin juga mengecup sekali bibir si gadis yang merah mungil itu. Maka dengan hati-hati ia menjulurkan kepalanya. Bau harum yang teruar dari badan si gadis membikin Yo Ko makin lupa daratan. Tetapi baru saja kedua bibir hampir bersentuhan, sekonyong-konyong Yo Ko merasakan punggungnya tertimpuk sesuatu Am-gi atau senjata gelap. Luar biasa kaget Yo Ko hingga ia meloncat bangun.

Dengan kepandaian Yo Ko sekarang sebenarnya segala jenis senjata rahasia pasti akan diketahuinya sebelum mendekati, namun tadi ia sedang lupa daratan sehingga pikirannya kabur, maka tak heran senjata rahasia orang bisa mengenai punggungnya.

BegituIah, waktu ia meloncat kaget, segera bisa dilihatnya sebuah wajah sekilas melintas di balik lubang jendela, Wajah itu aneh luar biasa, seperti manusia tetapi bukan manusia, dibilang setan pun bukan setan. Dalam herannya Yo Ko menguber keluar, namun tiada satu bayangan yang dia dapatkan.

“Jangan-jangan ini tipu pancingan belaka!” tiba-tiba terpikir olehnya.

Ketika dia kembali ke kamar lalu memeriksa senjata rahasia tadi, dia melihat di atas lantai hanya terdapat segelintir kertas saja. Dia lantas menjemputnya dan diperiksa, ternyata di atas kertas yang dilinting itu tertulis sesuatu.

Waktu itu Bu-siang sudah terjaga bangun. Ia pun mendekati Yo Ko untuk melihat isi surat itu. Maka tertampaklah apa yang tertulis itu berbunyi:

'Kalau berani kurang ajar, segera jiwamu melayang!'

Seperti diketahui, sehari sebelumnya ada satu anak petani menghantarkan seikat bunga kepada Liok Bu-siang dengan secarik surat pengantar yang memberi peringatan bahwa gurunya segera tiba dan gadis ini disuruh lekas sembunyi. Gaya tulisan surat itu ternyata mirip dengan tulisan yang sekarang ini.

Yo Ko heran sekali tercampur malu demi membaca kata-kata surat itu, pikirnya: “Kiranya diam-diam ada jagoan kelas atas sedang melindungi dia, kalau semalam aku melakukan sesuatu yang tidak pantas, bukankah...” Berpikir sampai di sini, tanpa terasa seketika itu seluruh mukanya merah semua.

“Hm, tolol busuk, kau didamperat Kokoh-mu bukan?” tanya Bu-siang.

“He, ya, jangan-jangan memang Kokoh?” terkesiap hati Yo Ko. Tetapi lantas teringat lagi olehnya: “Ahh, tidak mungkin, muka orang itu luar biasa anehnya, bukan lelaki juga bukan perempuan, seperti manusia tetapi juga bukan setan, terang bedanya bagaikan langit dan bumi dengan Kokoh, lagi pula tulisan ini pun bukan tulisan tangan Kokoh!”

Pada saat itu juga suara kelenengan keledai belang Li Bok-chiu berkumandang lagi dan menuju ke arah barat laut. Rupanya karena kitab ‘Ngo-tok-pit-toan’ (kitab pelajaran ‘panca bisa’) digondoI Liok Bu-siang, dan kitab itu belum didapatkan kembali, selama itu pula ia tak tenteram.

Maka selama beberapa hari ini Li Bok-chiu boleh dikatakan tidur tak nyenyak dan makan tak enak. Meski pun hari masih amat pagi, dengan keledainya ia telah berangkat mencari Liok Bu-siang.

“Kalau kembalinya ke sana tak ketemukan kau, pasti dia akan balik ke sini puIa,” kata Yo Ko. “Cuma sayang kau terluka parah sehingga tidak boleh terguncang keras, kalau tidak, kita bisa menunggang dua ekor kuda dan kabur secepat-cepatnya.”

“Bukankah kau sendiri tidak terluka? Kenapa tak kau curi kuda lalu kabur sekaligus sehari semalam?” Bu-siang mengomel.

Melihat orang marah, Yo Ko menjadi senang, dia sengaja memancing pula: “Kalau bukan kau yang mohon diantar ke Kanglam, mana aku mau menghadapi bahaya ini.”

“Kalau begitu bolehlah kau pergi, Tolol. Melihat macammu saja aku lantas marah, biarlah lebih baik aku mati saja,” sahut Bu-siang.

“Wah, jika kau mati, akulah yang rugi,” kata Yo Ko tertawa.

Tetapi kuatir si gadis betul naik darah hingga tulangnya yang sudah tersambung itu patah lagi, maka tak digodanya lebih jauh. Ia ke kantor hotel dan pinjam tinta bak, bahan tulis ini dia campurkan dengan air baskom yang akan dibuat cuci muka Bu-Siang. Mendadak Yo Ko celup tangannya pada air baskom dan dengan cepat diusapkan ke muka si gadis.

Sama sekali Bu-siang tidak berjaga-jaga kalau orang akan berbuat begitu. Lekas-lekas ia keluarkan sapu tangan buat bersihkan air kotor itu sambil tiada hentinya ia mendamperat ‘si Tolol’.

Dalam pada itu dilihatnya Yo Ko sendiri pun menggosok tangannya ke kolong balai-balai yang penuh arang itu, kemudian ia campur dengan lak dan dipoles pada mukanya sendiri. Karena itu wajahnya yang tadinya ganteng, kini berubah menjadi jelek.

MENGAKU SEBAGAI MURID COAN-CIN-KAU

Bu-siang adalah gadis yang pintar dan cerdas. Melihat kelakuan Yo Ko itu, segera ia pun sadar. “Ah, memang betul meski aku sudah salin pakaian kaum imam, tetapi mukaku masih bisa dikenalnya, kalau tersusul Suhu, mana bisa mengelabui matanya?”

Maka tanpa sangsi-sangsi lagi air bak tadi ia poles rata pada mukanya. Dasar anak gadis memang suka akan kecantikan, sungguh pun memoles muka dengan air bak, toh masih dilakukannya seperti biasa kalau bersolek dengan bedak dan gincu.

Selesai keduanya menyamar, Yo Ko ulurkan kakinya dan menendang ke kolong balai-balai buat lepaskan Hiat-to kedua imam yang dia totok itu. Menyaksikan caranya Yo Ko melepaskan totokan orang, tanpa melihat sedikit pun, hanya kakinya menendang beberapa kali sekenanya lantas kedua imam itu dapat bersuara dan bergerak lagi, sungguh tidak kepalang kagum Bu-siang. “Kepandaian si Tolol ini berpuluh kali lebih tinggi dari pada aku,” demikian ia betul-betul menyerah kini. Walau pun begitu, mukanya sama sekali tidak mengunjuk sesuatu tanda bahkan ia masih memaki-maki “tolol”.

Sementara luka Bu-siang telah baikan, ia sudah bisa menunggang keledai sendiri dengan jaIan perlahan. Karena tidak ingin setunggangan lagi dengan Yo Ko, maka masing-masing mengambil seekor keledai dan melanjutkan perjalanan ke tenggara. Bila mana letih, mereka mengaso, lalu meneruskan lagi menunggang keledai.

“Siapakah gerangan orang yang sudah dua kali kirim surat itu?” begitulah sepanjang jalan Yo Ko selalu bertanya-tanya dalam hati.

“Hai, Tolol, kenapa kau diam saja tak bicara?” tiba-tiba Bu-siang menegur.

Waktu itu memang Yo Ko sedang termenung-menung. Karena teguran orang, mendadak dia ingat sesuatu.

“Ai, celaka, sungguh aku terlalu ceroboh!” ia berteriak.

“Memang kau ceroboh, siapa bilang kau pintar!” kata si gadis.

“Kita sudah menyamar dan ganti rupa, tetapi sudah dilihat oleh ketiga Tojin itu. Kalau dia lapor kepada gurumu, bukankah kita bakal celaka?” ujar Yo Ko.

Bu-siang tertawa geli oleh pikiran orang ini. “Tiga imam busuk itu sudah mendahului kabur ke depan sana, mana berani dia tinggal di sana menunggu kedatangan Suhu,” sahutnya kemudian. “Semenjak tadi kau termenung-menung saja seperti orang gendeng, masa mereka sudah mendahului di depan sana kau tidak melihat?”

“Oh!” kata Yo Ko sambil tertawa ke arah Bu-siang.

Gadis itu menjadi bingung oleh tawa itu yang tampaknya mengandung arti yang lebih dalam. Pada saat itu mendadak keledai yang ditungganginya meringkik keras. Waktu Bu-siang menoleh, ia lihat di tikungan jalan sana sudah berdiri Iima orang pengemis, mereka berdiri berjajar merintangi jalan.

Mata Yo Ko sangat jeli, sekilas saja dapat dilihat di balik jalan sana ada dua orang lain yang mengkeret kembali sesudah melongok sekejap. Kedua orang itu bukan lain adalah Tio Put-hoan dan Ki Jing-si.

“Ahh, kiranya tiga imam busuk itu sudah memberi-tahu orang-orang Kay-pang mengenai penyamaran kami sebagai Tojin.” Demikian segera duduknya perkara jadi terang. Karena itu ia lantas melompat turun dari keledainya dan memapak maju.

“Tuan-tuan besar pengemis, kalian minta-minta di delapan penjuru, maka hari ini mohon kalian suka menderma kepada kami,” segera Yo Ko buka suara lebih dahulu.

“Hm, sekali pun kalian cukur gundul menjadi Hwesio, jangan harap bisa mengelabui mata-telinga kami,” satu di antara pengemis-pengemis itu menyahut, suaranya keras bagaikan genta. “Sudahlah, jangan berlagak bodoh lagi, baiknya terus terang saja lantas ikut kami pergi menghadap Pangcu (ketua perserikatan).”

Mendengar orang menyebut Pangcu, diam-diam Yo Ko berpikir: “Menurut cerita Kokoh, Pangcu dari Kay-pang bernama Kiu-ci-sin-kay Ang Chit kong, berapa tinggi ilmu silatnya tidak ada yang mampu merabanya. Walau pun Kokoh sendiri tidak pernah meninggalkan kuburan kuno, tapi pernah juga Sui-popoh bercerita padanya, agaknya Pangcu mereka ini memang sangat lihay, kalau betul-betul ada disini, rasanya susah buat loloskan diri lagi.”

Dua pengemis yang mencegat di jalan seberang ini adalah murid berkantong delapan dari Kay-pang. Mereka menjadi ragu-ragu melihat Yo Ko dan Liok Bu-siang hanya anak-anak muda yang usianya belum genap 20 tahun, tapi bisa mengalahkan empat murid Kay-pang dari kantong enam dan tiga murid kantong tujuh.

Begitulah, selagi kedua belah pihak sama-sama ragu, mendadak suara kelenengan nyaring berkumandang lagi dari jurusan barat laut, suaranya begitu tajam dan riuh hingga menusuk telinga.

“Celaka, sekali ini bisa celaka,” demikian Bu-siang pikir. “Meski aku sudah ganti rupa dan bertukar corak, tapi justru dirintangi kedua pengemis setan ini. Kalau rahasia penyamaran kami dibongkar, cara bagaimana aku bisa lolos dari tangan Suhu yang kejam? Ai, betul-betul sial.”

Bu-siang bukannya menyesalkan diri sendiri yang tanpa sebab sudah melukai murid Kay-pang hingga menanam bibit permusuhan, kini ia malah menyalahkan orang Kay-pang yang merintangi dia. Memang anak gadis kadang-kadang lebih suka menyalahkan orang lain dari pada koreksi diri sendiri, ditambah pula tabiat Bu-siang memang aneh sehingga apa yang diperbuatnya dianggap pasti betul dan apa yang dilakukan orang tentu salah. Sementara itu, sekejap saja suara kelenengan Li Bok-chiu sudah tambah dekat.

“Terang aku bukan tandingan Li Bok-chiu, tiada jalan lain lagi kecuali terjang ke depan saja,” pikir Yo Ko.

Sungguh pun dalam hati ia berkuatir, tapi pada lahirnya ia masih bisa berlaku tenang. “Ha-ha, kalau kalian tidak sudi memberi sedekah tak apalah, harap kalian memberi jalan saja,” dia berkata lagi pada kedua pengemis tadi dengan lagak setengah tolol. Habis berkata, dengan langkah lebar dia pun berjalan ke depan.

Melihat tindakan orang yang enteng dan seperti tidak paham ilmu silat sedikit pun, kedua pengemis itu mengulur tangan kanan hendak menjambret Yo Ko. Namun Yo Ko telah siap, tiba-tiba telapak tangannya mendorong maju. Maka beradu tiga tangan tak terhindarkan lagi, hanya sekali gebrak, ketiganya sama-sama tergetar mundur semua.

Kiranya murid Kay-pang kantong delapan itu telah latihan beberapa puluh tahun, tenaga dalam mereka begitu hebat dan jarang ada tandingan lagi di kalangan Kangouw, kalau melulu soal keuletan, boleh dikatakan puluhan kali lebih kuat dari Yo Ko. Cuma dalam hal kebagusan dan keanehan gerak serangan, hal ini berbalik jauh di bawah pemuda kita. Oleh karena itulah, dengan meminjam tenaga pukulan orang untuk memukul balik, Yo Ko dapat mematahkan tenaga pukulan orang tadi. Akan tetapi untuk menerjang lewat begitu saja juga sukar baginya. Karenanya, ketiga orang sama-sama terkejut.

Pada saat itu juga Li Bok-chiu dan Ang Ling-po sudah datang mendekat. “Hai, pengemis, imam cilik, kalian melihat seorang gadis pincang lewat disini tidak?” Ang Ling-po segera bertanya dengan suara berteriak.

Di kalangan Bulim kedudukan kedua pengemis itu tergolong tinggi, tentu saja mereka mendongkol oleh cara Ang Ling-po bertanya, cuma karena terikat dengan peraturan Kay-pang yang keras, yang melarang si anak murid berkelahi dengan orang dalam persoalan kecil, maka mereka menyahut juga dengan pendek:

“Tidak melihat!”

Namun mata Li Bok-chiu sangat tajam. Dia lihat perawakan kedua Tosu muda ini seperti pernah dilihatnya entah di mana, maka timbul rasa curiganya. Sementara keempat orang itu sedang berhadapan dalam keadaan siap hendak saling labrak, maka dia lantas mengambil keputusan akan menonton perkelahian itu. Pertama, dia ingin menyaksikan sampai di manakah ilmu silat anak murid Kay-pang. Kedua, dia juga ingin tahu dari aliran manakah kedua Tosu cilik itu.

Di lain pihak Yo Ko pun sedang berpikir karena kedatangan iblis perempuan itu. Waktu ia melirik, melihat wajah orang mengunjuk senyum dan hendak menyaksikan perkelahian, tiba-tiba pikirannya tergerak: “Ah, dengan cara begini tentu akan hilang rasa curiganya.”

Kemudian didekatinya Ang Ling-po, ia memanggut memberi salam. Karena itu, Ang Ling-po membalas hormat orang.

“Siauto (imam kecil) kebetulan lewat di sini dan tanpa sebab dicegat oleh dua pengemis galak ini serta ditantang berkelahi,” demikian kata Yo Ko, “Tetapi Siauto tidak membawa senjata, maka harap Toyu (kawan dalam agama Tao) sudi memberi pinjam pedangmu.”

Melihat muka orang yang benjal-benjol jelek sekali, tapi budi bahasanya sopan, ditambah lagi orang mengemukakan agama, maka Ang Ling-po merasa tak enak hati buat menolak permintaan orang. Pedang lantas dilolosnya, lebih dulu dia berpaling pada gurunya. Waktu melihat Li Bok-chiu mengangguk maka disodorkan pedangnya kepada Yo Ko.

“Terima kasih sebelumnya,” kata Yo Ko pula sambil terima senjata orang, “dan bila Siauto tak ungkulan, masih mengharap Toyu mau memandang pada sesama agama kita, sudilah memberi bantuan sedikit.”

Ang Ling-po berkerut kening oleh ceriwisnya Yo Ko, ia hanya menjengek sekali dan tidak menjawab. Sementara itu Yo Ko telah putar balik ke sana, dengan suara keras ia berkata pula pada Bu-siang:

“Hai Sute, kau saksikan kutempur mereka dan tak usah ikut turun tangan, biar pengemis-pengemis Kay-pang ini berkenalan dengan ilmu kepandaian anak murid Coan-cin-pay kita.”

“Ha, kiranya kedua imam cilik ini adalah orang Coan-cin-kau,” Li Bok-chiu terkesiap ketika mendengar Yo Ko mengaku sebagai anak murid Coan-cin-kau. “Tapi biasanya hubungan Coan-cin-kau dan Kay-pang sangat baik, kenapa sekarang saling labrak?”

Sementara itu, kuatir kalau kedua pengemis berteriak-teriak menyingkap rahasianya Bu-siang, dengan cepat Yo Ko lantas merangsek maju.

“Hayo, majulah Iekas, biar aku seorang diri melawan kalian berdua,” segera ia menantang.

Mendengar kata-kata Yo Ko semakin temberang, hati Bu-siang menjadi kuatir. “Si Tolol ini sudah menyamar sebagai Tosu, masa masih berani mengaku dari Coan-cin-kau,” demikian pikir gadis itu. “Dia tidak tahu bahwa guruku entah sudah berapa puluh kali berkelahi melawan imam-imam Coan-cin-kau, ilmu silat Coan-cin-pay mana yang tak dikenalnya? Sungguh kelewat berani dia memalsukan nama orang lain.”

Di pihak sana, demi mendengar Yo Ko mengaku sebagai anak murid ‘Coan-cin’, seketika juga kedua pengemis itu terkejut, berbareng mereka membentak tanya:

“Apa betul-betul kau anak murid Coan-cin? Kau dan dia...”

Tak mungkin Yo Ko memberi kesempatan pada mereka untuk menyebut Liok Bu-siang, maka sebelum selesai perkataan orang, secepat kilat pedangnya sudah menusuk, sekaligus dia mengarah perut kedua pengemis itu, dan tipu itu memang betul adalah tipu serangan dari ‘Tiong-yang-kiam-hoat’ yang tulen.

Dengan kedudukan mereka yang tinggi di kalangan Bu-lim, sebenarnya kedua pengemis itu tidak mau menempur Yo Ko dengan dua lawan satu. Akan tetapi serangan Yo Ko datangnya terlalu cepat dan aneh, maka mau tidak mau mereka berdua harus angkat tongkat untuk menangkisnya. Nyata, tongkat mereka yang tadinya tak menarik perhatian itu, kiranya terbikin dari besi.

Tetapi baru saja mereka angkat tongkat, tahu-tahu pedang Yo Ko sudah menerobos lewat melalui sela-sela tongkat mereka dan masih terus menusuk ke dada kedua orang itu. Sama sekali tidak diduga oleh kedua pengemis itu bahwa ilmu pedang orang bisa begitu cepat, maka terpaksa mereka mundur ke belakang.

Tetapi Yo Ko sedikit pun tak kenal ampun, ia mendesak terus setiap detik hingga sekejap saja sudah menusuk 18 kali, bahkan tiap-tiap tusukan sekaligus terbagi dua jurusan puIa, yakni mengarah lawan yang berjumlah dua orang.

Itu adalah ilmu silat Coan-cin-pay yang paling hebat yang disebut ‘lt-gi-hoa-sam-jing’ atau satu menjelma menjadi tiga. Kalau sudah terlatih sampai tingkat yang paling hebat, maka sekali serangan dapat berubah menjadi tiga tipu gerakan, dengan begitu satu orang sama dengan tiga orang maju berbareng.

Begitulah, maka tiap-tiap Yo Ko menusuk, kedua pengemis itu dipaksa mundur, satu kali saja ternyata mereka tak mampu balas menyerang. Diam-diam Li Bok-chiu terperanjat melihat betapa bagus Kiam-hoat imam cilik ini. Katanya dalam hati: “Pantas nama Coan-cin-kau disegani di seluruh jagat, karena anak muridnya memang pilihan semua. Dalam sepuluh tahun lagi kepandaian orang ini pasti aku sendiri tidak bisa menandinginya. Tampaknya jabatan Ciangkau (ketua) Coan-cin-kau kelak pasti akan jatuh di tangan orang ini.”

Jika Li Bok-chiu saja begitu kagum dengan kepandaian Yo Ko, maka jangan ditanya lagi Ang Ling-po dan Liok Bu-siang. Mereka berdua terpesona dan ternganga. Sementara itu Yo Ko sendiri sedang berpikir: “Jika sedikit aku main kendur, pasti mereka akan buka suara, dan kalau mereka sudah pentang mulut pasti banyak celaka dari pada selamatnya.”

Karena itu sesudah 18 jurus ‘Tiong-yang-kiam-hoat’ habis dimainkan, dengan cepat Kiam-hoatnya berubah, mendadak ia memutar ke belakang kedua lawannya dan kembali pedangnya menusuk lagi sekali-dua-gerakan.

Terpaksa kedua pengemis itu membalik tubuh dengan cepat untuk menangkis, akan tetapi sebelum tongkat mereka menyentuh pedang, tiba-tiba Yo Ko sudah melesat pergi, lagi-lagi dia mengitar ke belakang orang dan kembali menusuk. Bila kedua orang itu memutar menangkis, segera Yo Ko menggeser ke belakang mereka lagi. Kiranya Yo Ko sudah insaf, kalau mengandalkan keuletan, jangan kata satu lawan dua, melawan seorang pengemis saja tak bisa menandinginya, oleh sebab itu dia sengaja main putar dengan Ginkang untuk mengitari kedua lawannya.

Cara Yo Ko memutar dan menggeser, bagi setiap anak murid Coan-cin-kau yang telah cukup matang memang diwajibkan melatih Ginkang semacam ini untuk kelak digunakan dalam barisan bintang-bintang ‘Thian-keng-pak-tau-tin’. Hanya saja sekarang Yo Ko kombinasikan cara bernapasnya dengan inti pelajaran ‘Giok-li sim-keng’.

Harus diketahui bahwa Ginkang atau ilmu entengkan badan dari Ko-bong-pay adalah ilmu yang tiada bandingannya, oleh karena itu kecepatan Yo Ko memutar dan berganti tempat sekali-kali tidak bisa diikuti oleh kedua jago Kay-pang itu, yang kelihatan hanya bayangan Yo Ko yang berlari secepat kilat dibarengi sinar mengkilap menyambar, karena tusukan pedangnya yang silih bergilir. Dalam keadaan demikian, apa bila Yo Ko sungguh-sungguh hendak mencelakai jiwa kedua pengemis itu, sekali pun berjumlah dua puluh orang gampang saja dibunuhnya semua.

Tentu saja kedua pengemis itu sangat kewalahan. Sembari ikut memutar cepat, mereka berusaha mengayun tongkat untuk melindungi tempat-tempat berbahaya. Kini mereka sudah tak pikirkan buat tangkis serangan orang lagi, mereka hanya berusaha melindungi diri sepenuh tenaga dan terserah nasib. Dengan begitu, sesudah ratusan kali berputar cepat, akhirnya kepala kedua pengemis ini menjadi puyeng dan mata berkunang-kunang, mereka mulai sempoyongan, tampaknya sudah akan jatuh semaput.

“Hai, kawan dari Kay-pang,” tiba-tiba Li Bok-chiu berseru dengan tertawa, “kuajarkan satu akal, kalian saling berdempetan punggung, dengan begitu tidak perlu lagi ikut putar-putar.”

Karena peringatan ini, dua pengemis itu sangat girang, segera mereka akan turuti akal itu.

“Celaka, jika mereka berbuat begitu, tentu aku akan kalah,” pikir Yo Ko.

Maka sebelum kedua lawannya berganti tempat, tiba-tiba ia mengganti siasatnya. Ia tidak bergeser lagi, melainkan pedangnya sekali serang dua gerakan, ia tusuk punggung kedua orang.

Merasa ada angin santer menyambar dari belakang, kedua pengemis itu tidak sempat lagi menangkis, terpaksa mereka melompat maju. Tak terduga, baru saja kakinya menginjak tanah, kembali tusukan orang sudah datang. Keruan saja tak kepalang kaget kedua pengemis itu, tanpa pikir lagi mereka angkat kaki terus lari ke depan seperti diudak setan. Siapa duga ujung pedang Yo Ko bagaikan bayangan saja yang selalu melengket dengan tubuh mereka, tidak peduli berlari betapa cepatnya, senantiasa Yo Ko gerakkan pedangnya di belakang mereka, bila sedikit lambat saja mereka melangkah, segera daging di punggung terasa sakit-tertusuk ujung senjata.

Mereka tahu bahwa tidak ada maksud Yo Ko membunuh, kalau tidak, asalkan tangan pemuda ini diulur sedikit lebih panjang saja, pasti punggung mereka akan tertembus oleh ujung pedang. Walau pun begitu, sedikit pun mereka tidak berani berhenti dan masih berlari kesetanan.

Ketiga orang yang udak-udakan ini mempunyai ilmu entengkan badan yang sangat tinggi, maka sekejap saja mereka sudah berlari beberapa li, hingga Li Bok-chiu ditinggalkan jauh di belakang. Ketika itulah mendadak Yo Ko menambah ‘gas’ sedikit, tahu-tahu ia sudah mendahului di depan kedua pengemis itu.

“Eeeeeh, mengapa terburu-buru, perlahan-lahan sedikit, jangan sampai jatuh kesandung!” dengan menyengir ia menghadang di depan orang.

Tanpa berjanji dua pengemis itu lantas mengemplang berbareng dengan tongkatnya. Namun sekali meraup, tangan kiri Yo Ko menangkap sebuah tongkat orang, berbareng itu pedang di tangan kanan ia tempelkan pada tongkat yang lain dan didorong sedikit ke kiri hingga dengan tepat dua tongkat sekaligus kena dicekal.

Tahu gelagat jelek, lekas-lekas kedua pengemis itu berusaha membetot sekuatnya. Tapi Yo Ko cukup cerdik. Ia tahu keuletannya masih belum bisa memadai kedua pengemis itu, maka tentu saja ia tak mau betot-betotan. Dengan pedang sekonyong-konyong dia membabat mengikuti batang tongkat yang lempeng itu, dalam keadaan demikian, jika kedua pengemis tidak lepaskan tangan, delapan jari mereka pasti akan tertebas kutung.

Karena itu terpaksa mereka melepaskan senjata dan melompat ke belakang, kemudian dengan mata melotot memandang Yo Ko dengan marah, sikap mereka pun kikuk dan serba salah, hendak menempur tak ungkulan, kalau lari rasanya merendahkan derajat.

Sementara itu terdengar Yo Ko berkata: “Kami dengan perkumpulan kalian biasanya bersahabat, hendaklah kalian jangan percaya omongan yang sengaja mengadu-domba. Siapa yang utang harus membayar, bukankah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu dari Ko-bong-pay itu berada di sana, kalian berdua kenapa tidak mencari padanya saja?”

Kedua pengemis itu tak kenal Li Bok-chiu, tetapi cukup tahu betapa lihay iblis perempuan itu, mereka terkesiap demi mendengar penuturan Yo Ko.

“Apa betul katamu?” sahut mereka bersama.

“Buat apa aku berdusta,” kata Yo Ko. “Justru Siauto sendiri kepepet oleh desakan iblis itu, maka tadi terpaksa bergebrak dengan kalian berdua,” berkata sampai di sini, dengan laku sangat hormat dikembalikannya tongkat-tongkat rampasan tadi dan disambungnya pula: “Jik-lian-sian-cu selalu membawa benda-benda pertandaannya yang terkenal di seluruh jagat, masakah kalian tidak mengenal?”

“Ah, tak salah lagi,” kata salah satu pengemis, “la membawa kebut, keledai belangnya pakai kelenengan emas, bukankah dia yang memakai baju kuning tadi?”

“Betul…! Betul!” sahut Yo Ko tertawa, “Dan nona yang melukai anak murid perkumpulan kalian dengan golok melengkung itu, bukan lain adalah muridnya Li Bok-chiu...” sampai di situ mendadak ia berhenti dan pura-pura berpikir sejenak, lalu dilanjutkannya: “Cuma saja, jangan-jangan... ahh, sulit, sulit...”

“Jangan-jangan apa?” tanya si pengemis yang berwatak aseran.

“Ah, sulit, sulit,” kata Yo Ko lagi.

“Sulit apa?” kembali pengemis itu mendesak.

“Coba pikir saja, Li Bok-chiu itu sudah malang melintang di jagat ini dan siapa di kalangan Kangouw yang tidak pecah nyalinya kalau mendengar namanya,” demikian sahut Yo Ko. “Meski pun golonganmu sangat lihay, tapi terang tiada satu pun yang bisa menandinginya. Karena yang melukai kawanmu itu adalah muridnya, maka sebaiknya kalian anggap sial saja.”

Karena kata-kata yang bersifat memancing, pengemis itu dibikin murka hingga berteriak-teriak.

“Hm, peduli dia setan iblis, hari ini pasti kami tempur dia,” demikian teriaknya sambil tarik tongkatnya terus hendak berlari kembali ke tempat tadi.

Syukur pengemis yang satu bisa berlaku tenang. Ia pikir, melawan seorang bocah saja berdua tak ungkulan, apa lagi hendak perang tanding dengan Jik-lian-sian-cu, apa itu bukan berarti menghantarkan jiwa belaka? Karena itu segera ia tarik tangan kawannya dan mencegah:

“Tak perlu buru-buru, marilah kita kembali buat berunding lebih jauh.” Habis ini ia rangkap tangan memberi hormat pada Yo Ko sambil bertanya: “Dapatkah mengetahui nama Toyu (sahabat dalam agama) yang terhormat?”

“Siauto she Sat dan bernama Hua-cu,” sahut Yo Ko. “Sampai ketemu lagi.” Habis berkata, ia mohon diri dan balik ke jurusan tadi.

”Sat Hua-cu, Sat Hua-cu? Aneh sekali nama ini, mengapa tak pernah kudengar? Dengan usianya yang masih begitu muda, ilmu silatnya sangat hebat.”

Begitulah kedua pengemis itu menggumam mengulangi nama palsu Yo Ko yang sangat mengherankan. Tetapi sesaat kemudian, mendadak satu di antaranya berjingkrak sambil mencaci maki:

“Kurang ajar, jahanam, keparat!.”

“Ada apakah?” tanya kawannya.

“Bukankah dia mengaku she Sat bernama Hua-cu? Itu artinya Sat-hua-cu (menyembelih pengemis)! Kurang ajar, kita dicaci maki olehnya tanpa terasa!”

Karena itu keduanya lantas mengumpat Yo Ko, namun demikian mereka pun tak berani mencari orang lagi buat bikin perhitungan.

Di lain pihak Yo Ko sedang tertawa geli. Kuatir terjadi sesuatu atas keselamatan Bu-siang, lekas-lekas ia kembali ke tempat tadi. Di sana ia lihat Bu-siang sedang longak-longok ke arahnya di atas keledai, tampaknya si gadis kuatir luar biasa. Tetapi begitu melihat Yo Ko sudah kembali, mukanya berubah girang, lekas-lekas ia keprak keledainya memapaki.

“Tolol, bagus ya kau, aku ditinggalkan sendirian,” dengan suara tertahan ia mengomeli Yo Ko.

Tetapi pemuda ini tidak menjawabnya melainkan tersenyum saja, kemudian pedang yang dipinjam dari Ang Ling-po tadi disodorkan kembali kepada pemiliknya sambil memberi hormat dan menyatakan terima kasih. Setelah senjata itu diterima kembali oleh Ang Ling-po, selagi Yo Ko hendak putar tubuh, sekonyong-konyong Li Bok-chiu berkata:

“Nanti dulu!”

Kiranya karena melihat ilmu silat Yo Ko amat bagus, ia pikir jika orang ini dibiarkan hidup kelak pasti akan membikin susah dirinya, sebaiknya mumpung ilmu silatnya masih belum memadai, sekarang juga dibunuh kan beres urusannya?

Tetapi betapa cerdiknya Yo Ko, begitu dia mendengar orang berkata “nanti du!u”, segera diketahuinya keadaan bakal runyam, lekas-lekas pedang yang dia serahkan di tangan Ang Ling-po itu dilepaskan.

Sebenarnya Li Bok-chiu hendak pancing orang agar bergebrak dengannya, dengan begitu sekali kebut akan dibunuhnya Yo Ko, namun kini Yo Ko sudah tidak bersenjata, dengan kedudukan Li Bok-chiu, tidak sudi mencelakai orang dengan senjatanya.

“Kau ini murid siapa di antara Coan-cin-chit-cu itu?” tanyanya kemudian sambil tancapkan kebutnya ke baju Iehernya.

“Aku adalah murid Ong Tiong-yang Cinjin,” sahut Yo Ko tertawa.

Seperti diketahui, sebenarnya Yo Ko adalah murid Thio Ci-keng dan cucu murid Coan-cin Chit-cu, tetapi terhadap imam-imam Coan-cin-kau dia sudah mendapat kesan jelek, dalam hatinya sedikit pun imam-imam itu tak dihormatinya lagi. Walau pun Khu Ju-ki tidak jelek terhadap dirinya, tapi waktu berkumpulnya terlalu singkat, maka sedikit kebaikan itu habis tertutup oleh kesan jelek yang dia dapat dari Thio Ci-keng dan Hek Tay-thong, sebab itu ia tak sudi mengaku sebagai murid Ci-keng.

Tetapi sewaktu tinggal di kuburan kuno, ia telah melatih inti ilmu ‘Kiu-im-cin-keng’ yang dahulu diukir Ong Tiong-yang, maka kalau dia mengatakan anak murid cikal bakal Coan-cin-kau itu, sebenarnya juga tidak berlebihan.

Kalau menurut umur Yo Ko, sebenarnya paling banyak sesuai bila menjadi murid tingkatan Thio Ci-keng dan In Ci-peng. Tapi melihat ilmu silatnya tidak lemah, maka Li Bok-chiu telah tanya dia murid siapa di antara Coan-cin Chit-cu, yaitu tujuh imam utama murid Ong Tiong-yang. Dengan pertanyaan ini sebetulnya sudah meninggikan diri Yo Ko. Kalau pemuda ini menjawab salah satu nama umpamanya Khu Ju-ki atau Ong Ju-it, pasti Li Bok-chiu dapat mempercainya.

Siapa tahu hati muda Yo Ko masih belum hilang. Dia tak sudi tingkatannya lebih rendah dari pada Hek Tay-thong yang sudah membunuh Sun-popoh yang dicintainya. Maka nama Ong Tiong-yang sengaja ditonjolkan olehnya. Padahal Ong Tiong-yang adalah cikal bakal Coan-cin-kau, semua orang Bu-lim tahu kalau dia hanya mempunyai tujuh orang murid yaitu ‘Coan-cin Chit-cu’. Pada waktu Yo Ko lahir malahan Tiong-yang Cinjin sudah lama meninggal dunia.

Demikianlah, maka Li Bok-chiu menjadi sangsi. “Hm, kau imam cilik ini sungguh tak kenal tebalnya bumi dan tingginya langit, rupanya kau tak kenal aku ini siapa, maka berani main gila dengan aku,” demikian ia pikir, tetapi lantas teringat lagi olehnya: “Namun imam-imam Coan-cin-kau sekali-kali tak berani main gila dengan nama Cosuya mereka. Jika dia ini bukan anak murid Coan-cin, mengapa tipu-tipu ilmu silatnya tadi jelas adalah keluaran Coan-cin-pay?”

Melihat orang mengkerut kening sedang berpikir, Yo Ko kuatir nanti dikenali Ang Ling-po yang dulu pernah dikibulinya dengan menyamar sebagai anak gembala, maka tak berani dia tinggal lama, ia pikir paling perlu kabur dulu. Maka dengan cepat ia cemplak ke atas keledainya terus hendak dilarikan.

“Turun dulu, ada yang hendak kutanyakan padamu,” demikian kata Li Bok-chiu.

“Tidak perlu kau bicara, aku sudah tahu apa yg hendak kau tanyakan,” sahut Yo Ko tiba-tiba. “Bukankah kau hendak tanya apa aku melihat seorang gadis pincang atau tidak? Dan tahu tidak kitab yang dibawanya itu, bukan?”

Li Bok-chiu terkejut mengapa orang tahu akan maksud hatinya. Namun dengan adem saja ia menyahut:

“Ya, kau sungguh pintar. Ke manakah kitab itu dibawanya?”

“Tadi waktu aku dan Sute-ku ini beristirahat di tepi jalan, kami melihat gadis pincang saling gebrak dengan tiga pengemis,” sahut Yo Ko dengan karangannya. “Satu di antara pengemis terkena timpukan goloknya yang melengkung, walau pun demikian, karena masih ada dua pengemis yang lain, maka gadis itu tak ungkulan, akhirnya dia tertawan.”

Biasanya Li Bok-chiu selalu berlaku tenang. Tetapi kini mendengar Liok Bu-siang tertawan pengemis-pengemis dari Kay-pang, sedangkan dara itu membekal ‘Ngo-tok-pit-toan’ yang tentu akan terjatuh ke tangan mereka, mau tidak mau mukanya mengunjuk rasa kuatir juga.

Melihat obrolannya berhasil, keruan Yo Ko sengaja obral ceritanya yang ditambah dan di-bumbui, ia bilang:

“Dan sesudah tertawan, seorang pengemis geledah keluar satu kitab dari badan gadis pincang itu, tapi karena nona itu tidak mau menyerahkannya, maka pengemis itu telah persen dia sekali tamparan.”

Mendengar dirinya dibuat buIan-bulanan mengobrol, tidak kepalang mendongkolnya Bu-siang, lebih-lebih Yo Ko bilang dirinya sudah ditempeleng oleh pengemis, maka dengan gemas ia mendeliki Yo Ko, dalam hati dia berkata: “Bagus, kau tolol ini, berani fitnah diriku, lihat saja kelak kalau aku tidak hajar kau!”

Di lain pihak si Yo Ko ternyata sangat jahil. Ia tahu betul hati si gadis waktu itu pasti sangat ketakutan karena berhadapan dengan gurunya yang kejam, tetapi ia justru sengaja bertanya padanya:

“Betul tidak, Sute? Bukankah itu sangat menggemaskan orang? Bukankah nona itu sudah dipegang sini dan diraba sana oleh beberapa pengemis itu, betul tidak?”

Bukan buatan dongkolnya Bu-siang, tapi ia tak berani membantah, terpaksa ia mengiakan sambil kepala menunduk.

Tengah berbicara, tiba-tiba terdengar derap kuda yang ramai, menyusul muncul sepasukan tentara dari balik bukit sana dengan persenjataan lengkap dan berbaris sangat rapi, kiranya adalah pasukan tentara Mongol.

MENYAMAR SEBAGAI PERWIRA MONGOL

Tatkala itu negeri Kim dari Manchu sudah dibasmi oleh bangsa Mongol, karena itu daerah utara sungai seluruhnya berada di bawah pemerintahan Mongol. Sudah tentu Li Bok-chiu tidak pandang sebelah mata pada pasukan tentara itu, tetapi karena tujuannya ingin lekas mendapatkan jejak Bu-siang, maka ia tak ingin banyak cekcok lagi dengan pihak lain. Ia menyingkir ke tepi jalan.

Sejenak kemudian, di bawah derap kuda yang riuh dan mengepulnya debu yang tinggi, ratusan serdadu yang mengiringi seorang pembesar Mongol lewat di samping mereka. Pembesar itu berdandan sebagai pembesar sipil, tetapi kepandaiannya dalam hal menunggang kuda ternyata sangat bagus. Meski pun wajahnya tak kelihatan jelas, namun sikapnya di waktu melarikan kuda ternyata sangat gagah dan perkasa.

Sesudah pasukan itu lewat, Li Bok-chiu lantas angkat kebutnya membersihkan debu yang mengotori baju. Tiap-tiap kali kebutnya mengebas, tiap-tiap kali juga jantung Bu-siang memukul keras. Harus diketahui, kalau kebut itu bukan dibuat membersihkan debu melainkan jatuh di atas kepala orang, maka tak perlu disangsikan lagi kepala sasarannya seketika pasti pecah berantakan.

“Lalu bagaimana?” Li Bok-chiu bertanya lagi.

“Lalu pergilah pengemis-pengemis itu menuju ke utara dengan membawa nona itu,” sahut Yo Ko menuding ke utara. “Aku dengar, katanya mereka pergi ke Ciong-koan.”

“Hm, bagus, terima kasih,” Li Bok-chiu mengangguk dan tersenyum. “Aku she Li bernama Bok-chiu, orang Kangouw menyebut aku Jik-lian-sian-cu, tetapi ada juga yang panggil aku Jik-lian-mo-tau (iblis ular belang rantai), pernah tidak kau mendengar namaku?”

“Tidak pernah,” sahut Yo Ko menggeleng kepala, “Nona, kau begini cantik, pantasnya kau disebut Sian-cu (dewi), mana boleh dipanggil Mo-tau (iblis)?”

Memang dengan paras Li Bok-chiu yang cantik, meski pun umurnya sudah lebih setengah abad, tapi karena Iwekang-nya sudah tinggi, maka kulitnya yang putih halus tanpa keriput sedikit pun kalau dipandang laksana wanita berumur 30 tahun saja. Selama hidup Li Bok-chiu memang amat bangga atas kecantikannya. Kini mendengar Yo Ko memujinya, ia sangat senang.

“Kau berani main gila dengan aku, sesungguhnya kau harus diberi rasa sedikit,” katanya kemudian sambil menggoyangkan kebutnya, “Tetapi mengingat kau pintar bicara, biarlah aku hanya menggunakan kebut ini untuk menghajar kau,”

“Ahh, jangan, jangan! Mana bisa tanpa sebab Siauto bergebrak dengan kaum Siaupwe (tingkatan muda),” sahut Yo Ko geleng kepala.

“Hm, ajalmu sudah di depan mata tapi masih berani kau main gila. Cara bagaimana kau anggap aku ini kaum Siaupwe?” damperat Bok-chiu.

“Guruku Tiong-yang Cinjin setingkat dengan nenek gurumu Lim-popoh, jadi bukankah aku satu tingkat lebih tinggi dari kau?” kata Yo Ko.

Marah sekali Li Bok-chiu oleh jawaban itu, namun dia tetap tersenyum dan berpaling kepada Ang Ling-po:

“Pinjamkan lagi pedangmu kepadanya.”

“Eh, tidak boleh jadi, tidak... boleh jadi...” ia berteriak sambil menggoyangkan tangannya, akan tetapi di sebelah sana Ang Ling-po sudah mencabut pedangnya, maka terdengarlah suara “kraak”, yang terpegang di tangannya melulu garan pedang saja, sedangkan mata pedang masih ketinggalan di dalam sarungnya.

Sesaat Ang Ling-po tercengang, tapi segera ia sadar bahwa itu adalah perbuatan Yo Ko tadi yang secara diam-diam telah bikin patah garan pedang sewaktu mengembalikan kepadanya, kini mendadak dicabut, dengan sendirinya lantas terpisah menjadi dua. Keruan saja berubah hebat air muka Li Bok-chiu.

“Nah, memang aku tak bisa bergebrak dengan kaum Siaupwe, tapi kau memaksa hendak saling gebrak dengan aku,” ujar Yo Ko. “Baiklah begini saja, dengan tangan kosong aku sambut tiga kali serangan kebutmu. Kita berjanji yang terang, hanya tiga gebrakan saja, selewatnya tiga gebrakan, asal kau sanggup bertahan, aku lantas melepaskan kau pergi. Tetapi sehabis itu, kau pun tak boleh recoki aku lagi.”

Kiranya dalam hati Yo Ko tahu bahwa dalam keadaan demikian tak bisa tidak harus saling gebrak, tapi bila bergebrak sungguh-sungguh, dirinya masih bukan tandingan Li Bok-chiu, maka sengaja dia berlagak orang tua, pura-pura sebagai kaum Locianpwe ditambah kata-kata yang tajam, asal Li Bok-chiu berjanji hanya bergebrak tiga jurus saja dan tidak lebih.

Li Bok-chiu bukan orang bodoh, dengan sendirinya dia pun paham maksud tujuan orang, cuma ia pikir masakah bocah ini sanggup terima tiga kali seranganku? Sebab itulah ia pun tidak banyak bicara, segera ia buka serangan sambil berseru:

“Bagus, Locianpwe, berikanlah petunjuk pada Siaupwe.”

“Ahh, tak berani...” sambut Yo Ko.

Maka berkelebatlah bayangan orang, sekitarnya penuh dengan bayangan kebut, Li Bok-chiu telah menyerang dengan tipu ‘bu-khong-put-jin’ (tiada lubang yang tak dimasuki) yang mengarah setiap tempat maut di tubuh Iawan. Meski hanya satu kali gerakan, sebenarnya luar biasa perubahannya dan berbareng mengincar 36 Hiat-to di tubuh Yo Ko.

Tadi Li Bok-chiu melihat Yo Ko melawan anggota Kay-pang kantong delapan dengan Kiam-hoat yang sangat bagus. Tampaknya memang bukan lawan yang lemah, jika dalam tiga gebrakan hendak merobohkan dia, agaknya tidak mudah juga. Oleh karena itu sekali serang segera digunakannya tipu yang paling dibanggakan selama hidupnya, yakni ‘Sam-bu-put-jiu’ atau serangan tiga serangkai ‘aksara tidak’.

Yo Ko terkejut sekali oleh serangan yang sangat aneh itu. Begitu hebat tipu serangan itu sehingga boleh dikatakan tak tertahankan lagi. Jika berkelit ke kiri, pasti Hiat-to di kanan akan tersabet dan demikian pula sebaliknya. Dalam kepepet itu tiba-tiba ia berjumpalitan dan menjungkir.

Dengan cepat dikeluarkannya ilmu mujijat ajaran Auwyang Hong. Ia menjalankan darahnya secara terbalik dan menutup rapat semua Hiat-to di tubuhnya. Biar pun segera terasa ke-36 Hiat-to rada kesemutan, namun segera pula tidak berhalangan, bahkan tubuhnya yang memutar cepat itu tiba-tiba balas menendang satu kali.

Heran sekali Li Bok-chiu. Jelas-jelas ia berhasil menotok Hiat-to orang, siapa duga Yo Ko masih bisa balas menyerang. Karena itu tipu serangan kedua menyusul dilontarkan lagi. Tipu ini disebut ‘Bu-so-put-ci’ (tiada sesuatu yang tak didatangi), yang diarah adalah 72 tempat Hiat-to di seluruh badan lawan. Akan tetapi mendadak Yo Ko malah mengulur tangan kirinya, dengan jarinya segera dia jojoh ‘wi-tiong-hiat’ di lutut kanan Li Bok-chiu.

Keruan Li Bok-chiu bertambah heran, lekas-lekas berkelit, segera menyusul serangan ke tiga ‘Bu-so-put-wi’ (tiada sesuatu yang tak diperbuatnya). Serangan ini tidak lagi menotok Hiat-to, melainkan mengincar mata, tenggorokan, perut dan bagian belakang yang lemah, oleh sebab itu disebut tipu ‘Bu-so-put-wi’ atau ‘tiada sesuatu yang tak diperbuatnya’, yang berarti mendekati cara-cara yang rendah dan kotor.

Cuma di waktu Li Bok-chiu melontarkan serangan itu, ia lupa bahwa di dunia ini ternyata ada orang yang berkelahi secara menjungkir seperti Yo Ko ini, maka serangannya yang dilontarkan secara tergesa-gesa itu bagian mata yang diarah lantas mengenai telapak kaki Yo Ko, tenggorokan yang diserang berbalik kena betis, begitu pula perut, yang kena justru pahanya, selangkangan yang diserang, tetapi yang kena dadanya, maka sedikit pun tidak membawa hasil yang diharapkan.

Sungguh tak kepalang kejut Li Bok-chiu sekali ini. Selama hidupnya entah berapa banyak pertempuran besar yang pernah dia hadapi, malahan orang yang ilmu silatnya lebih tinggi pun sudah pernah dilawannya, segala tindak-tanduknya sebelumnya selalu diperhitungkan secara teliti, tetapi sekarang sama sekali tak terpikir olehnya, seorang imam cilik ternyata memiliki ilmu silat yang sukar dijajaki.

Karena sedikit tertegunnya itu, ketika mendadak mulut Yo Ko menganga, tahu-tahu buntut kebutnya kena dicokot kencang, lalu pemuda itu cepat membalik, berdiri kembali. Bahkan sedikit Yo Ko menarik, mendadak tangan Li Bok-chiu terguncang sehingga kebutnya kena dirampas.

Hendaklah diketahui bahwa tenaga mana saja dari anggota badan manusia tak ada yang bisa lebih kuat dari pada gigi. Dengan gigi orang biasa sanggup mengertak pecah sesuatu benda yang keras, sebaliknya betapa pun kuat tangan seseorang tidak dapat membikin remuk dengan remasan tangannya. Oleh sebab itulah, meski tenaga dalam Yo Ko masih jauh di bawah Li Bok-chiu, namun dengan giginya yang menggigit ujung kebut, ternyata senjata kebanggaan Li Bok-chiu kena direbut.

Kejadian yang sama sekali tak terduga ini membikin Ang Ling-po dan Liok Bu-siang menjerit kaget. Sebaliknya meski Li Bok-chiu terkejut juga tetapi sedikit pun ia tak gentar. Sesudah telapak tangannya dia gosok, dengan ‘Jik-Iian-sin-ciang’ atau pukulan sakti ular belang, segera ia memburu maju buat merebut kembali kebutnya. Tapi baru saja pukulannya hendak dilontarkan, mendadak ia berteriak:

“He, kiranya kau! Di manakah gurumu?”

Kiranya muka Yo Ko yang tadinya terpoles dengan debu arang, setelah dia berjungkir dan berputar, tanpa sengaja debu arang mukanya tergesut hilang sebagian sehingga wajah aslinya dapat dikenali.

“He, dia adalah Sumoay, Suhu!” mendadak Ang Ling-po juga berteriak, sebab waktu itu pun Liok Bu-siang dapat dikenaIinya.

Namun Yo Ko bertindak cepat sekali. Begitu kakinya sedikit mengenjot, keledai Li Bok-chiu lantas dicengklaknya terus dilarikan, bahkan sekali tangan kirinya menjentik, sebuah “Giok-hong-ciam” (jarum tawon putih) sudah ditimpukkan dan dengan jitu masuk di kepala keledai Ang Ling-po.

Dalam murkanya tanpa pikir lagi Li Bok-chiu menguber, sekuat tenaga ia melayang ke depan dan menubruk si Yo Ko dari belakang. Lekas-lekas Yo Ko meloncat meninggalkan binatang tunggangannya, senjata kebut hasil rampasan tadi dia gunakan untuk mengetok kepala keledai hingga pecah dan otaknya berhamburan.

“Hayo, lekas, bini cilik, lari ikut lakimu!”

Yo Ko berteriak-teriak pula sambil turunkan tubuhnya di atas keledai, lalu kebut rampasannya digunakan menyabet serabutan ke belakang untuk menahan uberan Li Bok-chiu.

Di sebelah sana, tanpa menunggu perintah lagi Liok Bu-siang mengeprak keledainya dilarikan secepatnya. Dengan Ginkang Li Bok-chiu, dalam satu-dua li saja sebenarnya dia pasti dapat menyusul binatang tunggangan orang. Cuma tadi dia sudah merasakan tipu serangan aneh dari Yo Ko hingga hatinya rada jeri, maka ia tak berani terlalu mendesak melainkan dengan ‘Kim-na-jm-hoat’ ia rebut kembali kebutnya.

Di pihak lain, keledai Ang Ling-po yang kepalanya tertimpuk jarum tawon putih yang amat lembut itu, tiba-tiba berjingkrak terus nyeruduk ke arah Li Bok-chiu, bahkan pentang mulut hendak menggigit.

“Hai, Ling-po, ada apakah?” bentak Li Bok-chiu.

“Binatang ini menjadi gila,” sahut Ling-po sambil menarik tali kendali sekuat tenaga hingga seluruh mulut keledai itu penuh darah. Sejenak kemudian sekonyong-konyong keledai itu menjadi lemas, terguling mati.

“Kita kejar saja, Suhu!” seru Ang Ling-po melompat bangun.

Tetapi waktu itu Yo Ko dan Bu-siang sudah berlari pergi hampir satu li jauhnya, hendak mengejar pun tak akan bisa menyandak lagi. Setelah melarikan keledai mereka sekencang-kencangnya, kemudian Yo Ko dan Bu-siang berpaling, namun tak tampak bayangan Li Bok-chiu yang mengejar.

“ToIol, dadaku sangat sakit, aku tidak tahan lagi,” seru Bu-siang.

Yo Ko tidak menjawab. Ia melompat turun dan mendekam ke tanah untuk mendengarkan, tetapi tiada suara derap kuda yang didengarnya.

“Tak perlu takut lagi, kita lanjutkan dengan perlahan-lahan saja,” ujarnya.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan berendeng. Tetapi hanya sebentar saja, karena kuatir disusul oleh Li Bok-chiu, kembali mereka keprak keledai. Begitulah, sebentar cepat dan lain saat alon-alon hingga hari pun sudah magrib.

“Bini cilik, jika kau ingin selamat, hendaklah kau tahan sakit dan lari terus semalaman ini,” kata Yo Ko.

“Ngaco-belo! Awas, kalau aku tidak iris lidahmu!” damperat Bu-siang karena Yo Ko terus-menerus menyebut “bini” padanya.

Yo Ko melelet-lelet lidah, tapi ia berkata lagi: “Hanya sayang binatang-binatang ini sudah terlalu letih, kalau semalaman berlari terus mungkin akan mampus di tengah jalan.”

Sementara hari mulai gelap, dan mendadak terdengar di depan sana ada suara meringkiknya kuda.

“Ha-ha-ha, itu dia, marilah kita tukar kuda ke sana!” seru Yo Ko girang.

Segera mereka kencangkan lari keledai lagi. Sesudah lewat beberapa li, tampaklah di depan sana ada sebuah perkampungan dan di bagian luar tertambat ratusan ekor kuda. Kiranya pasukan berkuda Mongol yang dilihat mereka siang tadi sedang berhenti di sini.

“Kau tunggu di sini, biar aku masuk ke kampung sana menyelidiki keadaan dulu,” kata Yo Ko.

Kemudian ia turun dari keledainya dan masuk sendiri ke perkampungan itu. Pada jendela sebuah gedung besar dilihatnya ada sinar lampu, maka dengan cepat Yo Ko menyelinap ke sana. Ia mengintip melalui jendela, ia lihat seorang pembesar MongoI sedang duduk mungkur (membelakangi). Tiba-tiba pikiran Yo Ko tergerak, “He, dari pada menukar kuda, tidakkah lebih baik kalau menukar orang saja,” demikian pikirnya.

Tidak berapa lama, ia melihat pembesar Mongol itu berdiri, lalu berjalan mondar-mandir. Umur pembesar ini masih sangat muda, hanya likuran saja, tetapi sikap dan tindak tanduknya sangat berwibawa, tampaknya pangkatnya tidak rendah. Yo Ko menunggu. Pada waktu pembesar itu mungkur lagi, dengan perlahan ia mendorong daun jendela, lalu melompat dia ke dalam terus menotok punggung orang.

Siapa duga, begitu mendengar ada suara angin menyambar dari belakang, secepat kilat pembesar itu melangkah maju, maka dengan sendirinya totokan Yo Ko menjadi luput. Kesempatan ini segera dipergunakan pembesar itu untuk mengayun tangan kirinya buat menangkis, menyusul putar tubuh dan sepuluh jari tangannya laksana kaitan lantas mencakar ke muka Yo Ko. Ternyata yang dipakai adalah tipu serangan yang lihay dari ‘Tay-lik-eng-jiau-kang’ atau ilmu cakar elang bertenaga raksasa.

Yo Ko rada terkejut juga. Sungguh tak nyana bahwa seorang pembesar Mongol memiliki ilmu silat begitu tinggi. Karena itu, sedikit mengegos ia pun berkelit menghindar dari cakaran tadi. BeruIang kali pembesar Mongol itu mencengkeram lagi, tapi semuanya dapat dielakkan oleh Yo Ko.

Biasanya pembesar Mongol itu sangat bangga atas ilmu silatnya yang hebat karena sejak kecil mendapat pelajaran guru pandai dari golongan Eng-jiau-bun. Siapa sangka, begitu bergebrak dengan Yo Ko, sama sekali ia tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu Yo Ko melihat lawan mencakarnya lagi secara tak kenal ampun. Cepat ia melompat ke atas, dengan kedua tangannya dia tekan bagian atas pundak orang sambil menggertak:

“Duduk!”

Tiba-tiba pembesar itu merasakan kekuatan yang maha besar menekan dari atas. Ia tak bisa tahan lagi, kedua lututnya terasa lemas akhirnya ia duduk terkulai di lantai, dadanya terasa sumpek, darah serasa akan menyembur keluar.

Tetapi kemudian Yo Ko remas dua kali di bawah bahunya, tiba-tiba pembesar itu merasa dadanya lapang kembali dan dapat bernapas lancar, tanpa ayal lagi segera dia melompat bangun, dengan tercengang dia memandangi Yo Ko.

“Siapa kau? Ada keperluan apa kedatanganmu ini?” tanyanya kemudian. Ternyata bahasa Han yang diucapkannya bagus dan lancar sekali, tiada ubahnya seperti bangsa Han asli.

“Kau bernama siapa? Jabatan apa yang kau pangku?” berbalik Yo Ko menanya dengan tertawa.

Pembesar itu melotot dengan gusar, segera hendak dilabrak si Yo Ko. Tetapi Yo Ko tak gubris, ia malahan mendahului ambil tempat duduk pada kursi yang tadinya dipakai pembesar itu. Pembesar itu lalu menyerang beberapa kali, tapi selalu dipatahkan oleh Yo Ko tanpa banyak buang tenaga.

“Hai, pundakmu sudah terluka, baiknya kau jangan banyak keluarkan tenaga,” kata Yo Ko tiba-tiba.

“Ha, apa?! Terluka?” tanya pembesar itu kaget.

Ketika pundak kiri diraba, ia merasa ada satu tempat yang rada jarem sakit, lekas-lekas ia raba sebelah yang lain, sama saja terasa sakit pegal. Kalau tak disentuh tidak terasa, tetapi bila ditekan dengan jari, segera terasa ada sesuatu yang sangat lembut dan menusuk sampai ke tulang sumsum. Kaget sekali pembesar itu, dengan cepat ia robek bajunya, ia lihat di atas pundak kirinya terdapat titik merah yang kecil sekali, demikian pula sebelah pundak yang lain. Segera ia pun sadar bahwa ketika Yo Ko menahan pundaknya tadi, diam-diam tangannya genggam senjata rahasia hingga dirinya kena dikibuli.

“Am-gi apa yang kau pakai tadi?! Berbisa atau tidak?” cepat ia membentak dengan marah tercampur kuatir.

Tetapi Yo Ko tersenyum saja. “Kau belajar silat, mengapa sedikit pengetahuan umum itu saja tak mengerti,” sahutnya kemudian. “Jika Am-gi besar tak beracun, maka Am-gi kecil dengan sendirinya pasti berbisa.”

Dalam hati pembesar itu sembilan bagian percaya atas kata-kata ini, namun demikian, ia juga mengharap kata-kata itu bohong belaka, maka air mukanya tampak mengunjuk setengah percaya setengah sangsi.

“Pundakmu telah terkena jarum saktiku, racun itu akan meluas setiap hari, kira-kira enam hari sesudah racunnya menyerang jantung, maka jiwamu takkan tertolong Iagi,” demikian kata Yo Ko sembari memainkan sebuah pensil di atas meja.

Watak pembesar itu ternyata sangat keras kepala, biar pun dalam hati ia mengharapkan pertolongan orang, namun tak sudi diucapkannya.

“Jika begitu, biarlah tuan besarmu mati bersama dengan kau,” mendadak dia membentak Iagi. Kemudian, sekali bergerak, Yo Ko hendak ditubruknya.

Namun sebelum ia bertindak, tiba-tiba di luar ada suara bentakan orang yang keras: “Hai Yalu Cin, pembesar anjing dari Mongol, berpalinglah ke sini!”

Mendengar namanya disebut, pembesar itu lantas menoleh, segera sinar putih yang gemerlapan beruntun menyambar masuk lewat jendela. Hujan Am-gi atau senjata gelap itu dihamburkan dengan kuat lagi jumlahnya banyak, dalam keadaan begitu, meski pembesar itu pun tidak lemah, tapi seketika itu mana sanggup menyambut hujan Am-gi yang begitu banyak?

Sebenarnya tiada maksud Yo Ko buat menolong pembesar Mongol yang bernama Yalu Cin ini. Karena dilihatnya senjata rahasia begitu banyak menghambur masuk, tiba-tiba ia keluarkan ilmu ‘Boan-thian-hoa-uh’ (hujan gerimis memenuhi langit), suatu ilmu dari Giok-li-sim-keng yang dilatihnya. Ia menangkap ke kanan dan membentur ke kiri, maka sekejap saja senjata-senjata rahasia yang tertangkap olehnya telah ditimpuk kembali hingga terdengarlah suara gemerincing nyaring dan ramai, belasan macam senjata rahasia memenuhi meja dan lantai.

“Kepandaian bagus, semoga kelak kita dapat berjumpa lagi. Dapatkah mengetahui nama saudara?” terdengar suara pertanyaan seorang lelaki di luar jendela.

“Aku adalah kaum yang tak terpandang, maka tak punya nama dan tiada she,” sahut Yo Ko.

Karena jawaban ini, terdengar lagi suara jengekan seorang lain di luar. “Marilah pergi!” kata orang ketiga, sekali ini suara orang perempuan. Sesudah itu lantas terdengar suara tindakan kaki yang perlahan sekali di atas rumah, ketiga orang itu sudah pergi melintasi pagar rumah.

Tadi waktu Yo Ko bergebrak dengan Yalu Cin hingga sama-sama mencurahkan seluruh perhatian, maka tiada yang mendengar bahwa ada orang laki lagi mengintip di samping, hal ini menandakan pula ilmu entengkan tubuh ketiga orang itu sangat hebat.

Meski pembesar Mongol bernama Yalu Cin itu sudah ditolong jiwanya oleh Yo Ko, tetapi ketika pundaknya terasa sakit, ia menjadi marah lagi karena tadi telah dikibuli oleh Yo Ko. Mendadak senjata rahasia yang berserakan itu dia sambar terus ditimpukkan ke arah Yo Ko.

Menghamburnya senjata rahasia dari luar jendela tadi dilakukan oleh tiga orang secara bersamaan, kepandaian menimpuk pun jauh lebih tinggi dari pada Yalu Cin, dan untuk itu saja Yo Ko sanggup menangkap dan membenturnya kembali, apa lagi sekarang Yalu Cin menimpuk dengan satu per satu, mana bisa serangannya mengenai Yo Ko, malahan satu per satu telah ditangkap olehnya tanpa luput satu pun.

“Awas!” seru Yo Ko kemudian. Ketika tangannya mengayun, tahu-tahu beberapa puluh senjata rahasia yang ditangkapnya dihamburkan kembali.

Melihat datangnya senjata rahasia itu mengarah dari kanan-kiri mau pun atas atau bawah, walau pun berkelit atau mengegos pasti akan terkena juga beberapa di antaranya, tentu saja Yalu Cin terkejut. Dalam keadaan kepepet itu mendadak ia melompat mundur, maka terdengarlah suara “blang” yang keras, punggungnya menumbuk dinding dengan keras, Lalu terdengar suara bertok-tok riuh, beberapa puluh senjata rahasia itu telah mengenai dinding semua.

Suara gemerutuk di atas dinding itu ternyata sangat aneh dan berlainan satu sama lain, karena senjata rahasia itu memang beraneka macamnya. Dalam kagetnya, lekas-lekas Yalu Cin melompat ke samping Iagi. Ketika ia berpaling memandang ke dinding, mau tak mau ia ternganga saking herannya.

Ternyata beberapa puluh senjata rahasia itu ambles semua ke dalam dinding, jarak dengan tubuhnya tadi hanya berselisih beberapa senti saja sehingga potongan badannya terlukis di atas dinding, sedang tubuhnya seujung rambut pun tak terluka, bahkan baju pun tak terobek barang sedikit pun. Dalam kaget dan herannya, tanpa tertahan lagi Yalu Cin kagum luar biasa, mendadak dia menjatuhkan diri dan berlutut memberi hormat pada Yo Ko.

“Terimalah hormatku ini, Enghiong, hari ini aku betul-betul menyerah padamu,” demikian katanya.

Sungguh pun ilmu silat Yo Ko sangat tinggi, namun selama hidupnya selalu dimaki dan didamperat orang, sampai Liok Bu-siang yang berulang kali ditolong olehnya juga selalu berlaku sangat bengis padanya tanpa mau mengalah sedikit pun. Sekarang mendadak ada orang menjura padanya dan menyatakan takluk betul-betul, tentu saja hati mudanya menjadi girang luar biasa, saking senangnya ia tertawa terbahak-bahak.

“Dapatkah mengetahui nama Enghiong yang mulia?” tanya Yalu Cin.

“Aku bernama Yo Ko, dan kau apakah bernama Yalu Cin? Jabatan apa yang kau pangku di MongoI?” sahut Yo Ko.

Kiranya pembesar muda ini adalah putera Yalu Cu-cay, perdana menteri kerajaan Mongol! Yalu Cu-cay sudah banyak membantu Jengis Khan dan puteranya membangun kerajaan Mongol yang namanya disegani sampai di daerah barat itu, jasanya sungguh amat besar, sebab itulah meski umur Yalu Cin masih muda, namun berkat jasa sang bapak, dia sudah diangkat menjadi Keng-Iiat-su di HoIam, dan sekarang dia sedang berangkat menuju ke HoIam untuk memangku jabatan. BegituIah ia ceritakan apa yang sebenarnya.

Meski pun ilmu silat Yo Ko tinggi, tetapi terhadap segala nama jabatan itu sama sekali tak dimengertinya, maka ia hanya mengangguk-angguk saja dan bilang bagus.

“Hekoan (aku pembesar rendah) entah sebab apa telah membikin marah Yo-enghiong? Kalau ada sesuatu, harap Yo-enghiong suka katakan terus terang,” kata Yalu Cin.

“Tak ada apa-apa yang bikin marah,” sahut Yo Ko sambil ketawa. Habis ini, mendadak ia meloncat keluar melalui jendela terus menghilang. Keruan saja Yalu Cin kaget.

“Yo-enghiong...” ia berteriak sambil memburu ke pinggir jendela, namun bayangan Yo Ko sudah tak kelihatan. “Aneh, orang ini pergi datang secara tiba-tiba saja, padahal tubuhku sudah terkena jarum beracunnya, lalu bagaimana baiknya?” Yalu Cin menjadi ragu-ragu.

Tapi baru sejenak ia termenung-menung, mendadak daun jendela bergerak, tahu-tahu Yo Ko telah kembali lagi, malahan di dalam kamar kini sudah bertambah dengan satu orang.

“Ahh, kau telah kembali!” seru Yalu Cin girang.

“Dia adalah biniku, lekas kau menjura kepadanya!” kata Yo Ko tiba-tiba sambil menunjuk Liok Bu-siang.

“Apa kau bilang?!” bentak Bu-siang marah, ia tampar muka Yo Ko.

Jika Yo Ko mau menghindar, sebenarnya dengan gampang saja hal itu bisa dilakukannya, tapi entah kenapa ia merasa lebih senang menerima tamparan atau dicaci maki si gadis. Sebab itulah sama sekali ia tidak berkelit, maka “plok” pipinya merasakan tamparan itu hingga panas pedas.

Yalu Cin tak tahu kalau kelakuan kedua orang itu sudah biasa begitu. Ia mengira ilmu silat Bu-siang tentu lebih tinggi dari pada Yo Ko, maka dengan terpesona dia pandangi orang dan tak berani bersuara.

“Kau sudah terkena racun jarumku, tetapi sementara masih belum sampai mampus,” kata Yo Ko kemudian sembari meng-elus pipinya. “Asal kau mendengar kataku dan menurut, pasti aku akan menyembuhkan kau.”

“Hekoan biasanya paling kagum terhadap kaum Enghiong, hari ini bisa berkenalan dengan Yo-enghiong, sekali pun Hekoan tak bakal hidup lagi, rasanya pun rela,” sahut Yalu Cin.

“Ha-ha-ha!” Yo Ko tertawa senang karena orang pintar menjilat, “tak nyana kau terhitung seorang gagah berani. Baiklah, sekarang juga kusembuhkan kau.” Kemudian ia keluarkan sebuah batu sembrani lantas menyedot keluar dua jarum tawon putih yang menancap di pundak orang itu dan dibubuhi obat pula.

Selamanya belum pernah Bu-siang melihat Giok-hong-ciam atau jarum tawon putih itu. Kini nampak bentuk jarum itu selembut rambut, ia menjadi heran dan tidak habis mengerti benda seringan itu kenapa bisa dipakai sebagai senjata rahasia? Karena itu rasa kagumnya pada Yo Ko pun tanpa terasa bertambah setingkat. Walau pun begitu, di mulutnya ia sengaja ber-olok, katanya:

“Hm, pakai senjata rahasia begitu, tiada sedikit pun semangat jantan, apa tak kuatir ditertawakan orang?”

Tapi Yo Ko hanya tersenyum, ia tidak bantah kata-kata orang, sebaliknya ia berpaling dan berkata pada Yalu Cin:

“Kami berdua ingin mengabdi padamu.”

Yalu Cin terkejut. “Ahh, Yo-enghiong suka berkelakar saja. Ada apakah? Silakan berkata terus saja,” sahutnya kemudian.

“Aku tak berkelakar, tapi sungguh-sungguh. Kami ingin menjadi pengawalmu,” kata Yo Ko.

“Eh, kiranya dua orang ini ingin mencari pangkat dan kedudukan,” demikian pikir Yalu Cin. Karena itu segera sikapnya berubah lain, sebab disangkanya orang tentu membutuhkan bantuannya maka dengan sungguh-sungguh dia lalu berkata: “Enghiong, sesudah belajar silat memang harus diabdikan kepada kerajaan, hal ini memang jalan yang tepat.”

“Kau sudah salah tangkap maksudku,” ujar Yo Ko dengan tertawa, “Kami bukan hendak mencari pangkat. Di sepanjang jalan kami sedang dikejar oleh musuh yang sangat lihay. Karena kami tak ungkulan melawannya, maka kami ingin menyamar sebagai pengawalmu untuk menghindarinya sementara.”

Yalu Cin sangat kecewa sebab dugaannya salah, mukanya segera berubah lagi dan tidak berani berlagak.

“Ahh, kalian suka merendahkan diri, masa hanya seorang saja musuh perlu ditakuti?” katanya dengan tertawa, “Tetapi kalau mereka berjumlah banyak, Hekoan dapat mengirim pasukan dan menangkap mereka untuk diserahkan padamu.”

“Aku saja tidak bisa menandingi dia, maka sebaiknya tak perlu kau ikut repot,” sahut Yo Ko. “Lekas kau perintahkan pelayanmu mengambilkan pakaian supaya kami dapat segera menyamar.”

Yalu Cin tak berani membantah. Ia perintahkan pengawalnya mengambilkan pakaian yang diminta, lalu mempersilakan Yo Ko dan Bu-siang salin di kamar yang lain. Setelah tukar pakaian, waktu Bu-siang bercermin, nyata ia telah berubah menjadi perwira muda bangsa Mongol yang cakap.

Besok paginya berangkatlah mereka ikut rombongan pasukan tentara itu. Yo Ko dan Bu-siang masing-masing digotong dengan sebuah joli mentereng, sebaliknya Yalu Cin malah menunggang kuda. Sebelum lohor terdengarlah suara kelenengan nyaring dari jauh, tetapi sekejap saja suara itu sudah lewat melampaui rombongan.

Tentu saja Bu-siang amat girang, pikirnya: “Sungguh nikmat sekali merawat luka di dalam joli ini. Biarlah aku digotong mereka sampai daerah Kanglam saja.”

Dua hari kemudian, suara kelenengan keledai yang sangat ditakuti itu sudah tak terdengar lagi, agaknya Li Bok-chiu sudah mengejar terus ke desa dan tak kembali lagi. Begitu juga para Tojin dan anggota Kay-pang yang ingin menuntut balas pada Liok Bu-siang pun tidak menemukan jejaknya.

DENDAM TURUNAN DUA KELUARGA

Pada hari ketiga tibalah mereka di Liong-Se, satu kota persimpangan jalan yang penting dan ramai. Sehabis bersantap malam, iseng-iseng Yalu Cin mendatangi kamar Yo Ko untuk minta petunjuk tentang ilmu silat. Dasar Yalu Cin ini pandai bicara, dia sengaja menyanjung dan mengumpak Yo Ko setinggi langit, maka untuk jasa itu Yo Ko telah memberikan satu dua petunjuk kepadanya, walau pun hanya dasar-dasar yang tidak berarti, tetapi bagi Yalu Cin sudah merupakan pelajaran yang tak pernah didengarnya, tentu saja tidak sedikit faedah baginya.

Selagi Yalu Cin mencurahkan seluruh perhatiannya mendengarkan ‘kuliah’ Yo Ko, tiba-tiba datanglah seorang pengawalnya melapor bahwa orang-tuanya di kota raja mengirim utusan.

“Baiklah, segera aku datang,” sahut Yalu Cin girang. Selagi dia hendak mohon diri pada Yo Ko, mendadak timbul pikiran: “Ahh, kenapa aku tidak menerima kurir pengantar surat itu di hadapannya, dengan begitu bisa menandakan aku tidak pandang dia sebagai orang asing, dan cara dia mengajarkan ilmu silatnya kepadaku tentu akan bersungguh-sungguh juga.”

Segera pengawalnya diberi perintah: “Panggil dia menghadap padaku di sini.”

Pengawal itu merasa aneh mendengar perintah itu. “Ma... mana...” demikian dengan samar-samar ia hendak menjelaskan.

Namun Yalu Cin lantas lambaikan tangannya dan bilang lagi: “Tidak apa-apa, bawalah dia ke sini!”

“Tetapi Lotayjin sendiri yang...” kata si pengawal lagi.

“Ahh, kau hanya banyak omong saja,” sela Yalu Cin tak sabar, “Lekas pergi...”

Belum habis ia bicara, tahu-tahu tirai kamar tersingkap lantas masuklah seseorang dengan tertawa.

“Anak Cin, tentu kau tak menduga akan diriku, bukan?” demikian kata orang itu segera.

Girang dan kejut Yalu Cin demi mengenali siapa adanya orang itu. Lekas-lekas dia berlari memapak dan menyembah.

“Ahh, kiranya Ayah...”

“Ya, memang aku sendiri yang datang,” potong orang itu.

Ternyata orang ini memang bukan lain adalah ayah Yalu Cin, perdana menteri negeri Mongol Yalu Cu-cay. Mendengar Yalu Cin panggil orang itu sebagai ayah, Yo Ko tak tahu bahwa orang adalah Perdana Menteri yang sangat berkuasa di negeri Mongol. Ia lihat alis jenggot orang sudah putih, wajahnya alim menandakan seorang yang beribadat, mau tak mau dalam hati Yo Ko timbul juga semacam perasaan hormat.

Dan baru saja orang itu duduk, dari luar kembali masuk lagi dua orang terus memberi hormat pada Yalu Cin dan menyebutnya sebagai “Toa-ko”. Kedua orang ini yang satu laki-laki dan yang lain wanita. Yang lelaki berumur antara 25-26 tahun, sedangkan usia yang perempuan kira-kira sebaya dengan Yo Ko.

“Ahh, Ji-te dan Sam-moay, kalian juga ikut datang!” sapa Yalu Cin kepada muda-mudi itu dengan girang.

Pemuda itu adalah putera kedua Yalu Cu-cay, namanya Yalu Ce, dan puterinya bernama Yalu Yen. Perawakan Yalu Ce kurus jangkung, tapi sikapnya gagah dan wajahnya cakap. Yalu Yen pun memiliki potongan ramping tinggi, tampaknya mereka sekeluarga memang keturunan perawakan tinggi. Meski pun perawakan Yalu Yen tinggi, tapi wajahnya masih membawa sifat kanak-kanak. Dibilang cantik, sebenarnya tak begitu cantik, tetapi di antara senyumannya terdapat juga semacam gaya yang menggiurkan.

“Ayah, keberangkatanmu dari kota raja, sedikit pun anak tidak mengetahui,” sementara itu Yalu Cin berkata.

“Ya,” Yalu Cu-cay mengangguk, “karena ada suatu urusan besar, kalau bukan aku sendiri yang memimpinnya, betapa pun juga rasa hatiku tak lega.” Sambil berkata pandangannya menatap Yo Ko serta para pengawal yang berada di situ, maksudnya agar mereka diperintahkan menyingkir.

Tentu saja Yalu Cin menjadi serba salah. Seharusnya dia mengibaskan tangan menyuruh para pengawalnya pergi, tetapi Yo Ko adalah orang yang tak boleh dipersamakan dengan bawahannya, karena itu sikapnya menjadi kikuk dan ragu-ragu. Namun Yo Ko cukup tahu diri, dengan tersenyum ia mengundurkan diri atas kemauannya sendiri.

“Siapakah dia tadi?” tanya Yalu Cu-cay pada Yalu Cin segera sesudah Yo Ko menyingkir.

“Kenalan baru yang bertemu di tengah jalan tadi,” sahut Yalu Cin dengan samar untuk menghindari kehilangan pamor di hadapan adik-adiknya. “Sebenarnya ada urusan penting apakah sampai ayah berangkat sendiri ke selatan?”

Yalu Cu-cay menghela napas atas pertanyaan sang putera. “Pertama-tama untuk menghindari bahaya, kedua demi keutuhan negeri kita yang sudah tertanam kukuh oleh cikal bakal kita,” sahutnya kemudian.

Yalu Cin terdiam, dia saling pandang sekejap dengan adik-adiknya, wajah mereka pun mengunjuk rasa duka. Kiranya sesudah cikal-bakal negeri Mongol, Jengis Khan wafat, putera kedua, yaitu Gotai, menggantikan tahta. Setelah Gotai meninggal, kedudukannya diganti oleh puteranya yang pendek umur. Tatkala pemerintahan dikuasai permaisuri dan karena permaisuri main konco-koncoan dan percaya kepada sekelompok kecil orang, banyak pembesar lama dan panglima yang berjasa malah tergencet hingga suasana pemerintahan sangat kacau.

Yalu Cu-cay adalah pembesar tiga angkatan sejak Jengis Khan dan berjasa besar sebagai orang yang ikut membangun kerajaan Mongol, oleh sebab itu setiap permaisuri membuat kesalahan, ia suka memberi kritik secara jujur. Tetapi permaisuri menjadi kurang senang karena tindak-tanduknya selalu dirintangi. Tentu saja Yalu Cu-cay insaf bahwa keselamatannya terancam, tetapi demi kepentingan negara yang dulu ikut didirikannya dengan susah payah, ia berpikir siang dan malam untuk mencari jalan keluar yang paling baik.

Suatu malam sesudah membaca kitab ‘Cu-ti-thong-kam’ karangan Suma Kong dari ahala Song, mendadak pikiran Yalu Cu-cay tergerak. Dia mendapatkan satu akal bagus! Besok paginya di dalam sidang dia mengajukan usul agar dirinya diutus ke daerah Ho-lam untuk menenteramkan keadaan di sana yang sedang bergolak. Usul itu amat cocok dengan keinginan permaisuri yang memang sudah lama bermaksud menyingkirkan dia, maka diutuslah Yalu Cu-cay ke Holam dengan kuasa penuh.

Kemudian Yalu Cu-cay mengadakan perundingan dengan para sahabat lama dan akalnya ternyata disetujui serta didukung dengan suara bulat. Kiranya akal yang Yalu Cu-cay rencanakan itu ialah pada suatu saat permaisuri akan dirobohkan kemudian mengangkat raja baru, yakni meniru cara apa yang terjadi pada jamannya Bu-cek-thian dari ahala Tong.

Mula-mula ia mengusulkan agar dirinya diutus ke Holam dan disetujui permaisuri, tetapi di sana ia menghimpun pasukan dan panglima-panglima yang perkasa. Setelah kekuasaan militer berada di tangannya, segera dia mengangkat raja baru dan mendesak permaisuri mengundurkan diri. Tatkala itu calon raja yang mereka dukung adalah cucu Jengis Khan, putera Dule yang bernama Monka.

Begitulah, dengan suara perlahan Yalu Cu-cay ceritakan rencananya kepada sang putera. Yalu Cin merasa girang dan kuatir, sebab kalau rencana itu terlaksana, dengan sendirinya mereka berjasa besar, tetapi sebaliknya kalau gagal, itu berarti bahaya bagi kehancuran keluarga mereka. Selagi mereka berempat sedang berunding secara rahasia, waktu itu Yo Ko sedang duduk bersemadi di kamar Liok Bu-siang dengan memusatkan pendengarannya mengikuti pembicaraan Yalu Cu-cay berempat.

Bagi orang yang sudah melatih lwekang-nya hingga tingkat yang amat tinggi, penglihatan dan pendengaran atas sesuatu selalu lebih tajam dari pada orang biasa. Oleh karena itu, meski kamar di mana Yo Ko dan Bu-siang berada masih diseling dengan sebuah ruangan lain, dan suara bicara Yalu Cu-cay pun amat perlahan sehingga bagi Liok Bu-siang sedikit pun tak kedengaran, tapi untuk Yo Ko sebaliknya dapat didengar dengan jeIas. Walau pun apa yang dibicarakan keempat orang itu adalah rahasia pemerintahan Mongol dan tiada sangkut pautnya dengan Yo Ko, namun uraian Yalu Cu-cay itu sangat menarik. Yo Ko jadi ingin mendengarkan terus.

“Hai, ToloI, kenapa kau bersemadi di sini?” tegur Bu-siang setelah menunggu dan melihat orang hingga sekian lama tak bergerak.

Tetapi saat itu justru Yo Ko lagi pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan orang, terhadap kata-kata Bu-siang itu sebaliknya malah tak didengarnya. Sesudah mengulangi lagi tegurannya dan masih tiada jawaban, Bu-siang menjadi marah.

“Hai, Tolol, kau mau bicara dengan aku tidak?” omelnya.

Karena Yo Ko tetap tidak menyahut, ia bermaksud mengitik-ngitiknya. Tetapi sekonyong-konyong Yo Ko melompat bangun.

“Ssssttt, di luar ada orang mengintip,” katanya tiba-tiba dengan suara mendesis.

Akan tetapi sedikit pun Bu-siang tidak mendengar sesuatu suara yang mencurigakan. “Kau mau dustai aku?” sahut si gadis dengan suara rendah.

“Bukan di sini, tetapi di rumah yang sana,” kata Yo Ko.

Namun Bu-siang lebih-lebih tak percaya, ia tersenyum sambil mengomel: “Tolol!”

“Ssst, jangan-jangan gurumu yang mencari kemari. Lekas kita sembunyi dahulu,” dengan suara bisik Yo Ko peringatkan sembari tarik baju nona.

Mendengar gurunya di-sebut, mau tak mau Bu-siang menurut. Ia ikut Yo Ko mendekam di luar jendela untuk mengintai. Mendadak Yo Ko menuding ke arah barat. Pada waktu Bu-siang mendongak, betul saja dilihatnya dari atas rumah yang agak jauh di sana tampak mendekam sesosok bayangan orang. Tatkala itu tiada sinar bulan sehingga malam gelap gulita, kalau tidak memandang dengan seluruh perhatian, sukar untuk membedakan apakah itu bayangan orang atau bukan.

Baru sekaranglah Bu-siang mau menyerah, alangkah kagumnya pada ‘si Tolol’ yang tak dimengerti cara bagaimana bisa mengetahui datangnya orang itu?

“Bukan Suhu,” katanya kemudian kepada Yo Ko. Karena dia tahu gurunya sangat tinggi hati, baju peranti jalan malam yang dipakainya kalau bukan berwarna kuning langsat tentu berwarna putih mulus, sama sekali tak mau mengenakan pakaian hitam.

Belum selesai ia berkata, mendadak orang berbaju hitam itu telah melompat ke sana dan sekejap saja dia sudah melintasi tiga deret rumah. Begitu sampai di luar jendela kamar di mana terdapat ayah dan anak keluarga Yalu, segera sebelah kakinya melayang, ia pentang daun jendela, lalu dengan senjata ‘Liu-yap-to’ (golok bentuk sempit panjang dan sedikit melengkung) terhunus, dengan cepat sekali ia melompat masuk.

“Yalu Cu-cay, hari ini biarlah aku mati bersama kau,” terdengar orang itu berteriak.

Waktu menyaksikan gerak tubuh orang itu yang amat cepat tetapi bergaya lemas, Yo Ko menduga tentu dia seorang perempuan. Ketika mendengar suara teriakannya, ia menjadi terang memang suara kaum wanita.

“Ha, ilmu silat orang itu jauh di atas Yalu Cin, jiwa orang tua berjenggot putih itu pasti sulit dipertahankan lagi,” demikian terpikir olehnya.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar