ads

Sabtu, 26 Juni 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 09

Di dinding kandang dapat dilihatnya tergantung sebuah caping dan sebatang suling, keduanya ini memang barang yang biasa dipakai oleh anak gembala. Keruan Yo Ko sangat girang, ia pikir penyamarannya sekali ini pasti akan menjadi sangat mirip. Karena itu tanpa pikir lagi dia pakai caping yang diketemukannya itu, dia ambil seutas tali rumput pula dan dipakai sebagai ikat pinggang, lalu suling bambu itu dia selipkan di pinggangnya dan kemudian dia membuka pintu kandang sapi.

Sementara itu sapi jantan raksasa itu sedang mengamuk, binatang ini jadi lebih beringas lagi ketika melihat ada orang membuka pintu kandang, tanpa ayal lagi segera dia pentang kaki terus menerjang keluar hendak menyeruduk Yo Ko.

Namun Yo Ko sudah siap sedia. Dengan telapak tangan kiri dia tahan kepala sapi jantan (atau banteng) itu, di lain saat dia sudah meloncat ke atas punggung binatang itu. Sapi ini ternyata amat tinggi dan besar. Bulunya panjang dan tanduknya pun lancip tajam, tampaknya perkasa sekali. Maka dengan sekali terjang sekejap saja sudah nyelonong sampai di jalan besar dengan Yo Ko masih menunggang di atas punggungnya.

Rupanya sapi jantan ini sedang birahi, maka wataknya menjadi beringas luar biasa. Tiada hentinya ia me-loncat dan ber-jingkrak dengan maksud hendak membanting Yo Ko ke bawah. Akan tetapi mana begitu gampang Yo Ko bisa dibikin terperosot dari tempatnya, bahkan dia menjadi senang oleh kelakuan si binatang.

“Ha, rupanya kau minta digebuk,” dengan tertawa Yo Ko membentak. Kemudian dia angkat telapak tangan dan dengan pinggiran telapak tangan dia hantam pundak sapi itu dengan perlahan.

Meski pun pukulan ini hanya memakan sedikit tenaga saja, namun bagi sapi itu sudah tak tertahan rasa sakitnya, keempat kakinya seketika lemas dan hampir dia mendeprok tekuk lutut. Tentu saja binatang ini tak mau menyerah begitu saja, masih melompat dan hendak mengamuk lagi. Tak terduga kembali Yo Ko beri persen sekali potong lagi dengan telapak tangan.

Dan begitulah seterusnya. Sesudah merasakan belasan kali gebukan seperti itu, akhirnya sapi jantan itu menjadi kapok dan tak berani ngotot lagi. Kemudian Yo Ko mencoba jojoh kiri leher binatang itu dengan jari tangannya, segera sapi itu berbelok ke kanan dan bila menjojoh sebelah kanan lantas dia menikung ke kiri, kalau diketok pantatnya, segera ia berlari ke depan, dan jika digebuk depan pundaknya, sapi ini lantas mundur ke belakang. Nyata binatang yang tadinya liar itu kini sudah menjadi jinak dan dapat dikendalikan menurut keinginannya.

Bukan main girang Yo Ko. Dengan keras ia tepuk pantat sapi itu, maka larilah binatang itu ke depan seperti kesetanan, begitu cepat larinya hingga boleh dikatakan tak kalah dengan kuda pacuan yang paling bagus. Maka sebentar saja, sesudah menyusuri sebuah rimba lebat, sampailah Yo Ko di lembah gunung yang sekitarnya dilingkungi oleh bukit-bukit yang menghijau permai.

Melihat keindahan alam tempat ini, Yo Ko heran kenapa lembah sebagus ini diberi nama ‘lembah srigala’ yang sama sekali tidak tepat dengan keadaannya. Kemudiari ia pun menggiring sapi jantan tadi ke lereng bukit yang terdekat agar bisa makan rumput sendiri.

Yo Ko sengaja pura-pura tidur dengan rebah di tanah rumput, lalu dengan hati berdebar dia menanti. Ketika itu sang surya sudah menggeser sampai di tengah langit, tetapi keadaan masih tenang dan sepi nyenyak, hanya kadang terdengar suara menguaknya sapi jantan itu.

Tengah Yo Ko bertambah gelisah, mendadak dari mulut lembah sana sayup-sayup berkumandang beberapa kali suara tepukan tangan, menyusul di belakang bukit sebelah selatan pun membalas beberapa kali. Maka tahulah Yo Ko sudah tiba waktunya. Dia tetap rebah di tanah rumput yang miring itu, sebelah kakinya sengaja dia tumpangkan ke atas kaki yang lain, capingnya untuk menutupi kaki yang menumpang dan sebagian mukanya, maka yang kelihatan hanya kaki kanan saja yang menjulur lurus.

Selang tak lama, tampaklah dari mulut lembah sana datang tiga orang Tojin. Dua di antaranya ternyata sudah Yo Ko kenal di hotel semalam, yakni Ki Jing-si dan Bi Jing-hian, sedang seorang lagi berumur sekitar setengah abad, perawakannya pendek buntek, agaknya dialah apa yang mereka sebut sebagai ‘Thio-susiok’.

Melihat ‘Thio-susiok’ yang dimaksudkan orang bukan Thio Ci-keng yang diduga semula, di dalam hati Yo Ko timbul semacam perasaan aneh, entah rasa kecewa atau rasa syukur karena orang itu lain dari dugaannya. Habis ketiga imam ini, kemudian dari lereng bukit sana muncul lagi dua orang, yang satu berperawakan kekar, agaknya dia inilah Han-cecu, dan yang lain adalah guru silat tua she Tan.

Meski kelima orang ini sudah datang dekat dan sudah berhadapan, namun mereka hanya saling kiong-chiu (merangkap kedua tangan saling memberi hormat), tiada satu pun yang buka suara, hanya terus berbaris sejajar dan menghadap ke barat.

Ketika selintas Thio-susiok mendongak memandang ke arah matahari hingga sinar terang menyorot mukanya, dari samping Yo Ko dapat melihatnya lebih jelas. Ternyata imam tua ini bermuka kuning, sikapnya tenang sekali dan bersungguh-sungguh, sedikit pun tak ada perasaan memandang enteng bakal lawannya nanti.

Pada saat itulah, dari mulut lembah sana pula sayup-sayup terdengar suara derap kaki binatang yang semakin mendekat. Ketika kemudian sesosok bayangan putih berkelebat maka tampaklah seekor keledai hitam dengan membawa seorang gadis berpakaian putih sedang mendatangi dengan cepat.

“Ahh, dia bukan Kokoh!” hati Yo Ko seketika lemas demi melihat siapa yang mendatangi ini. “Apakah dia ini juga bala bantuan mereka?” demikian dia pikir dan berharap demikian pula.

Sementara gadis berpakaian putih tadi dengan cepat sudah semakin mendekat. Sesudah berjarak antara 7-8 tombak dari kelima orang yang duluan tadi, tiba-tiba saja dia menahan keledainya, dengan sorot mata yang dingin tetapi tajam ia pandang sekejap pada mereka. Dari muka si gadis nyata tampak sikap yang memandang hina dan seperti hakikatnya tiada harganya mengajak mereka bicara.

Rupanya Ki Jing-si sudah tak sabar, maka segera ia berteriak: “Orang she Liok, nyata kau cukup tabah memenuhi janji, maka boleh sekalian kau suruh keluar saja semua pembantumu!”

Akan tetapi gadis itu tidak menjawab, ia hanya menjengek satu kali sambil tertawa dingin, berbareng itu, “sret”, entah dari mana datangnya, tahu-tahu telah melolos keluar sebilah golok melengkung yang kecil dan tipis laksana bulan sabit dengan memancarkan sinar putih ke-hijauan dan menyilaukan mata.

“lni, kami seluruhnya ada lima orang, dan pembantumu ada berapa dan kapan datangnya, kami tak sabar lagi buat tunggu lebih lama,” demikian kata Ki Jing-si menantang.

“lnilah pembantuku yang utama!” sahut gadis itu tiba-tiba sambil mengayun golok tipisnya tadi.

Begitu tipis dan agaknya saking tajamnya sehingga begitu golok diputar, seketika udara di atas kepala gadis itu seperti digenangi lingkaran sinar putih dan mengeluarkan suara mendenging yang nyaring tajam.

Karena jawaban tadi, enam orang termasuk Yo Ko, semuanya menjadi terperanjat. Lima orang di sana terkejut oleh sebab seorang gadis seperti dia ini ternyata begitu besar nyalinya, berani mengadakan pertandingan silat dengan lima jago tinggi tanpa mengajak barang seorang pembantu pun. Sedang Yo Ko sebaliknya terperanjat bercampur kecewa. Mula-mula dia yakin bahwa Siao-liong-Ii pasti akan ditemukannya di sini, siapa tahu apa yang disebut ‘si gadis cantik berpakaian putih’ itu ternyata adalah seorang nona lain.

Saking masgulnya, seketika dada Yo Ko seakan-akan menjadi sesak, perasaannya yang mudah terguncang itu tak terkendalikan lagi, tiba-tiba ia meng-gerung menangis keras. Mendengar suara tangisan Yo Ko yang mendadak ini, keenam orang itu pun terkejut, tapi setelah mereka tahu bahwa yang menangis adalah seorang bocah gembala yang mungkin karena ketakutan melihat ada orang hendak berkelahi, maka mereka pun tidak mengambil perhatian kepadanya.

Sementara itu terdengar Ki Jing-si sudah buka suara sambil menunjuk Han-cecu: “lni Wi-cin-lam-pak Han-cecu, yang ini adalah Tan-lokunsu, tertua dari Ho-siok-sam-hiong, dan ini adalah Liong-kim-kiam Tio Put-hoan, Tio-totiang!”

Demikian Ki Jing-si memperkenalkan ketiga jagonya kepada gadis itu. Ia mengira setelah orang mendengar nama ketiga kawannya itu, tentu akan menjadi jeri dan mundur teratur. Siapa tahu gadis itu anggap saja seperti tidak mendengar dan tidak menggubris, ia hanya mengerling kepada mereka dengan sorot mata yang tajam dingin, ia anggap kelima orang di hadapannya seperti barang sepele belaka.

“Karena kau hanya datang seorang diri saja, kami pun tidak mau bergebrak dengan kau,” terdengar Tio Put-hoan angkat bicara, “Maka kami beri kau tempo sepuluh hari, sepuluh hari kemudian kau boleh ajak empat orang pembantu dan datang lagi bertemu di sini.”

“Aku sudah bilang ada pembantuku,” sahut gadis itu sambil ayunkan golok sabitnya lagi. “untuk melayani kalian sebangsa gentong nasi dan guci arak ini masakah aku perlu pakai bantuan orang?”

Keruan Tio Put-hoan menjadi marah. “Kau anak dara sungguh keterlaluan...”

Sesungguhnya ia hendak mendamperat orang, syukur sebelum diucapkan ia masih bisa menahan api amarahnya dan menanya pula:

“Kau ini sebenarnya orang Ko-bong-pay atau bukan?”

“Kalau betul mau apa dan kalau bukan ada apa?” sahut gadis itu ketus. “Hayo, imam tua hidung kerbau, katakan lekas, kau berani tidak bergebrak dengan nonamu?”

Tio Put-hoan sudah rada berumur, maka orangnya cukup bisa mengendalikan diri. Ia lihat meski seorang diri tetapi bukannya jeri, bahkan menantang, maka dia kuatir kalau sebelumnya si gadis telah atur perangkap dengan menyembunyikan bala bantuan. Oleh sebab itulah lantas dijawabnya:

“Nona, lebih dulu aku ingin tanya kau. Tanpa alasan kau telah melukai anak murid golongan kami, sebetulnya disebabkan urusan apakah? Jika kesalahannya terletak pada pihak kami, tanpa segan pasti aku akan minta maaf kepada gurumu. Akan tetapi kalau nona tak bisa mengatakan sesuatu alasan, hm, jangan kau sesalkan kalau kami bertindak kurang sopan.”

“Sudah tentu disebabkan kedua hidung kerbau golonganmu itu yang kurang ajar, karena itu kuberi sedikit hajaran pada mereka,” sahut gadis itu dengan tertawa mengejek, “Kalau tidak, di jagat ini tak sedikit terdapat sebangsa kutu busuk, kenapa harus hidung mereka yang kuiris?”

Mendengar jawaban yang makin ketus dan bersifat menantang ini, Tio Put-hoan menjadi lebih ragu terhadap kemampuan lawannya. Dalam pada itu, meski pun usia Tan-lokunsu sudah lanjut, namun tabiatnya ternyata amat berangasan.

“Ehh, bicara dengan kaum Cianpwe, kenapa tidak turun dari keledaimu?” demikian segera ia menyerobot maju dan cari-cari persoalan. Menyusul tahu-tahu ia sudah berada di depan binatang tunggangan orang dan ulur tangannya buat menarik lengan kanan si gadis.

Karena gerak tangannya itu sangat cepat hingga gadis itu tak sempat menghindarkan diri, seketika lengannya kena dicekal, dan karena lengan kanannya dipakai untuk memegang golok-sabitnya, maka goloknya tak bisa dipakai menangkis. Tak tersangka se-konyong-konyong sinar tajam berkelebat. Sedikit gadis itu tekuk sikutnya, golok sabitnya memotong dari samping, dari jurusan yang sama sekali tak terduga.

Tentu saja tidak kepalang kagetnya Tan-lokunsu, lekas dia lepaskan cekalannya bila dia tak mau merasakan tajamnya golok itu. Sungguh pun begitu, tak urung dua jari tangannya sudah terluka.

Dengan cepat segera ia melompat mundur terus cabut goloknya sendiri, dalam marahnya ia ber-teriak mendamperat:

“Perempan bangsat, agaknya kau sudah bosan hidup!”

Melihat kawannya dilukai, mau tak mau yang lainnya ikut mengangkat senjata, Han-cecu memakai sepasang ganden berantai, sedangkan Tio Put-hoan melolos pedangnya, begitu pula Ki Jing-si dan Bing-hiam juga lantas tarik pedang mereka. Akan tetapi mereka menjadi kaget ketika merasa senjata yang mereka genggam itu bobotnya sangat enteng. Ketika mereka tegasi, celaka tiga belas, kiranya yang terpegang di tangan mereka hanya garan pedang belaka, sedangkan bagian yang tajam ketinggalan di dalam sarungnya.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa itu adalah hasil perbuatan Yo Ko semalam di mana pedang mereka dipatahkan dan selimut mereka dikencingi pula. Sekarang musuh tangguh sudah berhadapan, sedangkan senjata saja mereka tak punya. Rupanya karena melihat kelakuan kedua imam yang kikuk dan serba salah itu, si gadis tadi tertawa ngikik geli.

Waktu itu Yo Ko sendiri lagi berduka, tetapi demi mendengar suara tertawa gadis itu dan melihat kelakuan kedua imam yang lucu itu, tak tertahan ia pun tertawa meski sebetulnya ia masih senggak-sengguk.

KEMBALI JADI SI TOLOL

Sementara itu terlihat si gadis telah membuka serangan, se-konyong-konyong ia ayun goloknya terus memotong ke telinga Bi Jing-hian.

Dengan sendirinya lekas-lekas Bi Jing-hian menarik badan dan mengerutkan kepala menghindarkan elmaut. Siapa tahu gaya serangan golok itu ternyata sangat hebat. Ketika tangan si gadis sedikit memutar, senjatanya yang aneh itu tiba-tiba membelok di tengah jalan terus mengiris ke bawah lagi. Karena perubahan serangan ini tidak ter-duga, tidak urung sebelah kuping Bi Jing-hian menjadi korban.

Keruan saja keempat kawannya terkejut, sama sekali tidak mereka duga bahwa To-hoat atau ilmu permainan golok orang bisa begitu bagus dan aneh. Keadaan sudah memaksa, kini mereka tak pikirkan lagi keroyokan atau tidak, segera mereka mengerubut maju terus mengepung si gadis bersama keledainya di tengah-tengah.

Cuma yang mengeroyok hanya tiga orang saja. Bi Jing-hian dan Ki Jing-si terpaksa harus mundur ke belakang karena mereka tidak bersenjata, yang mereka pegang hanya garan pedang, hendak dibuang sayang, tidak dibuang toh tidak terpakai. Maka mereka menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Sementara itu mendadak terdengar gadis itu bersiul nyaring sekali, dia tarik tali kendali keledainya terus melompat pergi sejauh beberapa tombak dengan maksud memboboIkan garis kepungan orang. Namun dengan cepat Tan-lokusu bertiga lantas mengerubut maju lagi. Bahkan sebelum tiba orangnya, lebih dulu Han-cecu timpukkan ganden besinya yang berantai itu.

Melihat senjata orang cukup berat, lagi pula tipu serangannya cukup ganas, gadis itu merasa heran juga. Maka tak berani lagi ia memandang enteng, ketika tubuhnya mengegos, timpukan ganden tadi telah dia hindari.

Memang senjata ‘Lian-cu-tui’ (ganden berantai) milik Han-cecu itu bukan senjata ringan, tetapi mempunyai daya tekanan yang sukar ditahan. Sebaliknya ilmu pukulan Tan-lokunsu sesungguhnya lebih tinggi dari pada permainan goloknya, pula jarinya telah terluka, maka serangan goloknya boleh dikatakan tak seberapa, tapi Kiam-hoat Tio Put-hoan sebaliknya tak bisa dipandang rendah, serangannya jitu lagi keji, setiap tipu-tipu serangannya selalu mengincar tempat yang berbahaya.

Tatkala itu hati Yo Ko rada tenang. Kini baru dia amat-amati wajah gadis itu. Ia lihat raut muka orang potongan daun sirih dan sangat cantik, usianya agaknya setahun dua tahun lebih muda dari pada dirinya, pantas apa bila si pelayan hotel tidak percaya bahwa ‘gadis cantik berbaju putih’ itu adalah kakak perempuannya. Di samping muka orang yang cantik itu, kulit badannya sebaliknya rada-rada hitam manis, sama sekali berlainan dengan kulit Siao-Iiong-li yang putih bersih.

Senjata yang digunakan gadis ini pun benar-benar aneh dan lain dari pada yang Iain. Ilmu permainan goloknya sangat gesit, meski dikatakan golok tetapi yang dipakai adalah gerak tipu permainan pedang, lebih banyak menusuk dan memotong dari pada membacok dan membabat.

Hanya menyaksikan beberapa jurus permainan golok orang, Yo Ko langsung tahu bahwa orang memang menggunakan ilmu silat dari golongan yang sama dengan dirinya, yakni Ko-bong-pay. Apakah dia ini juga muridnya Li Bok-chiu? Demikian Yo Ko menjadi heran.

Semula sebetulnya Yo Ko merasa sangat penasaran karena lima orang lelaki mengeroyok seorang gadis cilik. Namun kemudian, sesudah mengetahui dari mana asal-usul ilmu silat orang, karena menduga orang pasti muridnya Li Bok-chiu, seketika timbul rasa antipati Yo Ko. Ia pikir biarkan saja pihak mana yang bakal menang, semuanya tidak kugubris. Begitulah dia lantas berbaring lagi dengan sikunya sebagai bantal, hanya kadang saja ia melirik pertarungan yang sedang berlangsung dengan sengit itu.

Untuk belasan jurus permulaan, karena gadis itu berada lebih tinggi di atas keledainya, maka kelima lawannya dipaksa harus melompat kian ke mari untuk menghindari sabetan golok-sabit yang diayun kesana kemari.

Setelah belasan jurus lagi, karena senjata yang dipegangnya hanya gagang pedang yang sudah patah dan tak sanggup membantu kawannya, hati Ki Jing-si tergerak.

“Mari Bi-sute, ikut padaku!” ia teriaki Bi Jing-hian.

Sesudah itu ia berlari menuju ke tempat yang banyak tumbuh pohon, di sana ia pilih satu pohon muda dan sekuat tenaganya ia patahkan bongkotnya, ia hilangkan tangkai berikut daunnya, maka berwujutlah kini sebatang pentung yang dapat dipakai sebagai genggaman. Tentu saja Bi Jing-hian sangat girang, ia pun tiru sang Suheng dan patahkan satu pohon yang lain untuk digunakan sebagai senjata.

“Jangan hantam orangnya, tapi keledainya!” demikian Ki Jing-si memberi petunjuk lagi.

Habis ini dengan cepat dua pentung kayu mereka lantas menyerampang dari kanan dan kiri, mereka arahkan ke kaki keledai tunggangan gadis tadi.

“Hm, tak punya malu!” dengan perlahan gadis itu menjengek berbareng ia ayun goloknya untuk menangkis pentung orang.

Karena sedikit melengnya ini, dari samping lain ganden berantai Han-cecu tahu-tahu telah menyerang pula bersama dengan pedang Tio Put-hoan. Dalam keadaan terancam, lekas gadis itu keluarkan gerak tipu yang berbahaya, ia tundukkan kepala buat luputkan ganden yang menyambar, di saat lain terdengar suara “trang” yang nyaring, goloknya sudah menangkis pedang lawan yang lain. Tetapi pada waktu itu juga keledainya melengking kesakitan terus menegak dengan kaki belakang, kiranya binatang ini kena ditoyor satu kali oleh pentung Ki Jing-si.

Melihat ada kesempatan baik, segera Tan-lokunsu menjatuhkan diri terus menggelundung mendekati musuhnya, dia keluarkan ilmu golok dan berhasil menghantam satu kali pada paha keledai hitam dengan punggung goloknya. Dengan demikian tak mungkin lagi bagi si gadis mengandalkan keledainya.

Sementara itu senjata lawan baik pedang mau pun ganden berbareng telah menyambar datang pula. Terpaksa dia meloncat ke atas, tangan kiri menyambar dan pentung Bi Jing-hian berhasil dicekalnya. Begitu dia gunakan tenaga dalamnya, pentung itu sudah patah menjadi dua potong. Dan begitu kedua kakinya menancap lagi di atas tanah, sekalian pula goloknya dia babat ke samping untuk mematahkan bacokan Tan-lokunsu yang sementara itu telah menyerang.

“He, kenapa? Dia sudah terluka?” Yo Ko kaget demi nampak gaya berjalan si nona.

Ternyata kaki kiri si gadis rada pincang, dengan sendirinya untuk berjalan, apa lagi untuk melompat menjadi tidak leluasa. Dan dengan sendirinya, sebab inilah maka sejak tadi dia tidak mau turun dari keledainya.

Tahu akan ciri gadis ini, seketika rasa keadilan Yo Ko tergugah, dia berniat turun tangan buat membantunya. Tapi ketika dia pikir dan ingat pengacauan Li Bok-chiu hingga dirinya yang tinggal aman tenteram bersama Siao-liong-li di dalam kuburan itu berakibat seperti keadaan sekarang ini, kembali hatinya menjadi panas Iagi. Ia berpaling ke jurusan lain dan tidak mau menyaksikan lebih lanjut.

Namun telinga toh mendengar suara “crang-creng”, suara beradunya senjata tajam yang nyaring dan tiada hentinya, rasa ingin tahunya tak bisa ditahan, kembali ia berpaling menonton lagi. Hanya sejenak tadi ternyata keadaan pertarungan sudah banyak berubah. Kini gadis itu terdesak lari kian kemari, sudah lebih banyak menangkisnya dari pada balas menyerang.

Sementara itu mendadak Han-cecu telah timpukkan sebelah gandennya. Terpaksa gadis itu miringkan kepala, tapi pada saat yang sama pedang Tio Put-hoan sudah menusuk pula.

Terdengarlah suara “cring” yang nyaring perlahan. Ternyata gelang perak pengikat rambut gadis itu kena ditebas kutung hingga sebagian rambutnya yang panjang terurai. Maka tampaklah alis si gadis yang lentik menjengkit itu, bibirnya pun sedikit bergerak dan digigit, mukanya seketika laksana tertutup oleh selapis awan hitam. Kontan goloknya membabat, ia balas satu kali serangan orang. Melihat tarikan alis dan gerakan bibir si gadis, seketika hati Yo Ko terguncang keras, “Di waktu Kokoh marah padaku, persis mimik wajahnya pun begitu,” demikian pikirnya.

Oleh karena melihat rasa marah yang diunjuk gadis itu, tanpa pikir lagi Yo Ko mengambil keputusan pasti membantu padanya.

Sementara itu ia lihat keadaan gadis itu semakin terdesak, gerak-geriknya tak teratur lagi.

“Hayo, lekas katakan, sebutan apa sebenarnya antara kau dengan Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu?” demikian terdengar Tio Put-hoan memperingatkan lawannya, “Jika masih tetap tak mau menjelaskan, maka jangan kau sesalkan senjata kami tak bermata.”

Di luar dugaan, bukan saja gadis itu tidak menjawab, bahkan goloknya tahu-tahu menebas dari belakang kepala sebab senjata ini memang melengkung, Terkejut sekali Tio Put-hoan oleh serangan yang aneh itu, tapi syukurlah dengan cepat Tan-lo-kunsu keburu mewakili dia menangkis sehingga dengan demikian jiwa Tio Put-hoan dapat diselamatkan.

Melihat tipu serangan si gadis begitu keji, ketiga lawannya kini tidak pakai murah hati lagi. Maka dalam sekejap saja gadis itu telah ber-ulang menghadapi serangan berbahaya.

Tio Put-hoan pikir gadis ini pasti ada hubungan rapat dengan Li Bok-chiu, jadi kalau kelak diketahui oleh Li Bok-chiu, tentu pada kemudian hari akan menjadikan bibit bencana saja. Oleh sebab itu serangannya kini selalu mengincar tempat yang berbahaya.

Melihat keadaan si gadis sudah dalam detik yang amat genting, segera Yo Ko melompat ke atas punggung sapi jantan tadi, lalu ia jojoh sekali pantat binatang itu dengan jerijinya. Karena kesakitan, dengan sekali menguak sapi jantan itu pentang kaki dan menerjang ke jurusan enam orang yang sedang saling labrak itu.

“Haya, celaka! Sapiku kesetanan, tolong, tolong…!” demikian Yo Ko sengaja ber-teriak. Baru saja selesai ia berteriak, orang berikut sapinya sudah menyerbu sampai di medan pertempuran.

Tatkala itu keenam orang itu tengah asyik bertempur mati-matian. Ketika tiba-tiba melihat seekor banteng menyeruduk tiba dengan kalap, mereka berniat hendak melompat ke samping hindarkan diri, namun secepat kilat banteng itu sudah menerjang sampai di belakang Ki Jing-si dan Bi Jing-hian.

Yo Ko sendiri tengkurap di atas sapinya, tangan serta kakinya bergerak naik turun seperti orang kebingungan dan ketakutan setengah mati. Setelah dekat dengan kedua orang tadi, dengan cepat ‘hong-gan-hiat’ di punggung kedua orang dicengkeramnya.

‘Hong-gan-hiat’ adalah salah satu jalan darah terpenting di tubuh manusia. Karena kena dicekal, seketika Ki Jing-si dan Bi Jing-hian menjadi lemas kesemutan dan tidak bisa berkutik.

Dengan per-lahan Yo Ko mengangkat tangannya, kedua orang itu dia tarik ke atas terus digantung pada kedua tanduk sapi jantan itu, sedangkan mulutnya masih tiada hentinya berteriak:

“Tolong! Tolong!”

Di lain pihak Yo Ko masih bertingkah serabutan sambil berteriak, namun pada saat yang jitu sekali, ‘cian-tay-hiat’ di pinggang Tan-lokunsu dia totok pula dengan tendangan. Dan sebelum kedua sasarannya ini roboh, mereka sudah dia sambar terus digantung lagi di atas tanduk sapi dan diangkut pula ke tanah rumput tadi.

Melihat banteng ngamuk ini begitu aneh, mau tidak mau si gadis dan Tio Put-hoan saling pandang tak mengerti. Jika tadi mereka saling labrak dengan adu jiwa, maka kini sebaliknya ada persamaan perasaan di antara mereka, yakni ‘senasib’.

Sementara itu dilihatnya banteng ngamuk tadi sudah balik kembali, suara teriakan bocah angon yang tengkurap di atas binatang itu sudah terdengar serak, terang sekali keadaan sangat genting. Segera Tio Put-hoan ber-siap, dia menanti banteng itu menyeruduk tiba. Kira-kira setengah tombak sebelum tubuhnya, sekonyong-konyong pedangnya berputar, ia hindari serudukan banteng itu dari depan, dengan cepat tubuhnya melangkah ke samping sambil pedangnya menusuk, begitu cepat dan tepat saat yang dipergunakan, agaknya dengan segera perut banteng ngamuk itu bakal tertusuk tembus.

Tapi siapa tahu baru saja ujung pedangnya hampir menyentuh kulit sapi itu, se-konyong-konyong tangan bocah angon itu bergerak pontang-panting sambil memegang sulingnya, kemudian dengan persis batang suling itu membentur ujung pedang, sebab itu arah pedang menjadi menceng.

Karena serangannya luput, Tio Put-hoan menjadi terkejut. Untuk menghindar supaya tidak diserempet banteng, lekas dia melompat ke atas dengan maksud melewati binatang itu. Siapa duga selagi orangnya terapung di udara, se-konyong-konyong mata kakinya terasa kaku kesemutan dan ketika tubuhnya jatuh ke bawah, dengan tepat lantas menyangkol di ujung tanduk banteng hingga kena dibawa binatang yang berlari itu ke tanah lapang tadi untuk kemudian dilemparkan di sana.

Sesudah itu Yo Ko putar haluan sapi itu, kembali menerjang cepat pula ke arah si gadis yang masih tersisa itu. Di lain pihak, sesudah menyaksikan kelima jago seperti Tio Put-hoan kena diseruduk jatuh semua oleh banteng ngamuk itu, meski gadis itu merasa curiga juga, tetapi dia pikir hanya seekor sapi jantan saja, kenapa harus ditakuti? Segera dia bersiap-siap.

Dilihatnya dengan mulut berbusa binatang itu telah menyeruduk tiba pula. Pada saat yang tepat mendadak ia meloncat ke atas dan berbareng itu goloknya membacok ke leher banteng.

“Haya, celaka, jangan bunuh sapiku!” jerit Yo Ko mendadak, berbareng itu dia jojoh pundak sapi itu dengan jarinya. Karena sakit, dengan sendirinya kepala sapi itu meleng ke samping dan dengan persis bacokan orang dapat dihindarinya.

Sedangkan Yo Ko sendiri menjatuhkan diri, pura-pura tergelincir ke bawah sambil ber-teriak:

“Tolong…! Tolong…!”

Sebaliknya sapi jantan itu rupanya sudah terlalu letih. Setelah beberapa tindak berlari lagi dia lantas berhenti dengan napas empas-empis. Melihat binatang itu sudah tidak main gila lagi, setelah tenangkan diri mendadak gadis itu menjinjing goloknya terus berlari ke tanah datar sana.

“Celaka, kelima orang itu pasti akan teraniaya,” pikir Yo Ko diam-diam.

Karena itu, sebelum gadis itu sampai di tempatnya, lebih dahulu Yo Ko sudah menjemput beberapa batu kecil. Sekali ayun batu itu ditimpukkan ke badan kelima orang yang rebah tak berkutik itu.

Meski umur Yo Ko masih kecil namun ilmu silatnya sudah terlatih sampai tingkatan yang tiada taranya. Walau pun jaraknya dengan kelima orang itu sangat jauh, namun tiap batu yang ditimpukkan itu dengan tepat mengenai Hiat-to di tubuh masing-masing.

Ketika Tio Put-hoan dan lainnya tiba-tiba merasakan tubuh kesakitan, tetapi rasa kesemutan juga segera hilang, mereka mengira gadis itu menyembunyikan bala bantuan yang sangat lihay. Cara mereka kena ditotok dan mendadak terlepas pula jalan darahnya tentu perbuatan jagoan yang tersembunyi itu.

Kini orang suka memberi jalan hidup, mana berani lagi mereka terlibat dalam pertarungan pula? Maka begitu mereka bisa merangkak bangun, tanpa pikir lagi segera mereka angkat langkah seribu alias kabur.

Dalam gugupnya karena ketakutan itu, rupanya Bi Jing-hian menjadi bingung sehingga tak bisa bedakan arah timur dan barat. Bukannya dia lari ke jurusan yang selamat, sebaliknya dia malah berlari ke arah si gadis yang sedang menghampiri mereka itu.

“Bi-sute, lekas kembali!” seru Ki Jing-si kuatir.

Ketika Bi Jing-hian sadar keliru jalan dan berniat putar kemudi, namun sudah terlambat, si gadis sudah datang dekat, goloknya sudah diangkat dan dibacokkan padanya. Sungguh luar biasa kaget Bi Jing-hian. Dia sendiri sudah tidak bersenjata, Iekas-lekas dia mengegos buat luputkan diri dari ancaman maut. Tapi tanpa terduga arah serangan yang dilontarkan gadis itu ternyata susah dipastikan, mula-mula seperti mengarah ke kiri, tahu-tahu telah sampai di kanan, disertai berkelebatnya sinar dingin, tahu-tahu golok sabit sudah berada di depan mukanya.

Dalam keadaan kepepet dan tiada jalan lain, terpaksa Bi Jing-hian mengangkat sebelah tangannya untuk menangkis, maka tidak ampun lagi terdengar sekali suara “cret”, telapak tangannya tertabas putus.

Meski pun demikian Jing-hian masih belum merasakan sakit, ia masih sempat putar tubuh terus lari terbirit-birit lagi. Waktu itu Tio Put-hoan sudah berpaling juga, dengan pedang melintang di dada dia berusaha melindungi kawannya.

Rupanya gadis itu sudah kenal juga lihaynya orang, maka dia tidak berani mendekati. Dia menyaksikan Bi Jing-hian dipayang pergi oleh Ki Jing-si untuk kemudian menghilang di balik gunung sana.

Nampak musuh sudah pergi, gadis itu masih ketawa dingin, sedang di dalam hati penuh curiga. Ia pikir apakah mungkin ada orang luar yang bersembunyi di sekitar sini? Dengan cepat ia mengelilingi sekitar sana, tetapi keadaan sunyi senyap tanpa satu bayangan pun, Dia kembali lagi ke lembah sana, dia melihat Yo Ko masih duduk di tanah dengan muka mewek seperti mau menangis.

“Hai, bocah angon, apa yang kau keluh-kesahkan?” tegur gadis itu.

“Sapi ini tadi telah gila sehingga tubuhnya babak belur, kalau pulang nanti pasti aku akan dihajar setengah mati oleh majikanku,” sahut Yo Ko.

Tetapi waktu si gadis periksa keadaan sapi jantan, dia lihat kulit tubuh binatang itu halus bersih, tiada kelihatan sesuatu luka.

“Baiklah, hitung-hitung sapimu ini telah menolong aku tadi. Ini, aku beri serenceng uang perak,” kata si gadis.

Kemudian ia lantas keluarkan serenceng uang perak yang berbobot sekitar lima tahil terus dilemparkan ke tanah. Ia menduga ‘bocah angon’ itu pasti akan girang tidak kepalang dan menghaturkan terima kasih, siapa tahu orang masih bermuka muram durja sambil geleng kepala, tetapi tidak mengambil uang perak itu.

“Kenapakah kau?” tanya gadis itu tak sabar, “lni uang perak, tahu tidak kau, tolol?”

“Hanya serenceng tidak cukup!” sahut Yo Ko kemudian.

Waktu gadis itu merogoh sakunya, kembali ia keluarkan serenceng uang perak lain yang masih ada kemudian dilemparkan ke tanah lagi. Tapi Yo Ko sengaja goda padanya, dia masih tetap goyang kepala.

Akhirnya gadis itu menjadi marah, alisnya tertarik tegak dan mukanya merengut. “Sudah habis, tolol!” damperatnya, kemudian ia putar tubuh dan berjalan pergi.

Melihat sikap orang waktu marah, seketika hati Yo Ko terguncang, mendadak teringat olehnya sikap Siao-liong-li waktu mendamperat dirinya, karenanya dia sudah ambil suatu keputusan: “Jika seketika tak bisa menemukan Kokoh, biar aku senantiasa menyaksikan wajah nona ini saja yang suka marah-marah.”

Maka sebelum orang melangkah pergi, Yo Ko merangkul kaki kanan si gadis sambil ber-teriak:

“Tidak, kau jangan pergi!”

Dengan kuat gadis itu coba meronta kakinya, tetapi saking kencangnya Yo Ko merangkul, ia tak berhasil melepaskan diri. Keruan ia bertambah marah.

“Lepas! Ada apa kau merangkul kakiku?” dengan suara garang gadis itu membentak.

Melihat air muka orang yang sedang marah-marah, bukannya Yo Ko melepaskan, sebaliknya ia malah senang.

“Tidak, aku tak bisa pulang ke rumah lagi, kau harus tolong aku,” demikian sahutnya.

Sudah marah gadis itu menjadi geli pula melihat kelakuan Yo Ko. “Kalau tidak kau lepaskan, segera aku bacok mati kau,” dengan angkat golok sabitnya si gadis coba menakut-nakuti.

Tetapi rangkulan Yo Ko berbalik tambah kencang, ia malah pura-pura menangis sekalian. “Baiklah, boleh kau bacok mati aku saja, toh kalau pulang aku pun tak bakal hidup lagi,” serunya sambil meng-gerung-gerung.

“Lalu apa yang kau kehendaki?” tanya si gadis kewalahan.

“Entahlah, aku ikut kau saja,” sahut Yo Ko.

Rupanya gadis itu menjadi sebal karena diganduli orang, “Mengapa aku harus berurusan dengan si tolol semacam ini,” demikian pikirnya, habis ini ia mengangkat goloknya terus membacok sungguh-sungguh.

Semula Yo Ko menduga orang tidak akan membacok sungguh-sungguh, maka ia masih pegang kaki orang erat-erat. Siapa sangka hati gadis itu ternyata keji, bacokannya ini betul-betul diarahkan ke atas kepalanya. Meski tiada niatnya untuk menewaskan jiwa orang, tetapi ia bermaksud memberi bacokan di batok kepala agar ‘si tolol’ ini tahu rasa dan tak berani main gila lagi.

Syukur Yo Ko benar-benar cekatan. Begitu golok orang tinggal beberapa senti lagi bakal berkenalan dengan batok kepalanya, mendadak ia jatuhkan diri terus menggelinding pergi.

“Haya, tolong…! Tolong…!” demikian ia menjerit-jerit pula.

Karena bacokannya tadi luput, si gadis menjadi bertambah sengit. Dia segera melangkah maju, kembali sekali bacokan diberikan pada Yo Ko. Yo Ko telentang di atas tanah, kedua kakinya mancal-mancal serabutan.

“Mati aku! Mati aku!” demikian ia berteriak-teriak, sedang kedua kakinya terus memancal dan mendepak tak keruan, tampaknya seperti tak teratur tetapi pergelangan tangan gadis itu ternyata beberapa kali hampir kena ditendang, meski berulang kali ia membacok pula, namun tidak sekali pun bisa mengenai sasarannya, sudah tentu ia bertambah marah.

Melihat muka orang penuh mengunjuk marah, Yo Ko justru ingin menikmati wajah orang semacam ini, karena itu, tanpa terasa ia terkesima dan memandangi orang. Gadis itu juga seorang yang pintar luar biasa. Ketika melihat kelakuan Yo Ko yang aneh, tiba-tiba ia membentak:

“Hayo, bangun!”

“Tetapi kau bunuh aku tidak?” tanya Yo Ko ke-tolol-tololan.

“Baiklah, kau tidak kubunuh,” sahut si gadis.

Karena janji ini, dengan perlahan Yo Ko merangkak bangun, napasnya sengaja dia bikin ter-engah, ia kumpulkan tenaga dalam dan bendung aliran darahnya, maka mukanya seketika berubah menjadi putih lesi, begitu pucat sehingga tiada warna darah sedikit pun, seperti orang yang ketakutan.

Melihat rupa orang, si gadis sangat senang. “Hm, kau berani main gila lagi tidak?” demikian ejeknya sambil mengangkat golok sabitnya terus menuding pada telapak tangan Bi Jing-hian yang terkutung dan masih ketinggalan di tanah datar itu, lalu ia mengancam: “Coba, orang begitu galak dan bengis, toh cakarnya kena ditebas oleh golokku tadi.”

Sambil bicara, goloknya yang melengkung itu diulurkan, tiba-tiba ia kesutkan senjatanya di atas baju Yo Ko yang memang dekil, ternyata dia gunakan baju Yo Ko sebagai lap untuk menghilangkan noda darah pada goloknya.

Yo Ko geli oleh lagak si gadis. “Hm, kau anggap aku ini orang macam apa, berani kau begini kurang ajar padaku?” demikian ia membatin.

Walau pun begitu, pada mukanya tetap dia pura-pura mengunjuk rasa keder, dia sengaja mengkeret mundur seperti takut pada senjata orang yang mengkilap itu. Gadis itu masukkan golok ke sarungnya, lalu dengan sebelah kakinya ia cukit renceng uang perak tadi ke arah Yo Ko.

“Nih, sambut!” serunya sambil tertawa. Dengan mengeluarkan sinar putih yang gemerdep, serenceng uang perak itu menyamber ke arah muka Yo Ko.

Menyambarnya perak itu sesungguhnya tidak keras, orang biasa saja pasti akan sanggup menangkapnya. Namun Yo Ko justru pura-pura bodoh, dia melangkah mundur dan menubruk maju secara gugup. Selagi tangannya diulur ke atas buat menangkap, tiba-tiba terdengar suara “plok” sekali, uang perak itu kena menimpuk dia punya batok kepala.

“Aduh!” jerit Yo Ko sambil mendekap batok kepalanya.

Sementara itu jatuhnya uang perak itu kena menindih pula di atas kakinya, maka dengan sebelah tangan pegang batok kepala dan lain tangan menarik sebelah kaki, Yo Ko ber-jingkrak dengan kaki tunggal sambil ber-teriak:

“Auuuh, kau pukul aku, kau pukul aku!”

Begitulah Yo Ko pura-pura meng-gerung menangis. Nampak ketololan orang sudah begitu rupa hingga tiada obatnya, dengan suara perlahan gadis itu mencemoohnya sekali:

“Tolol!” Habis ini ia putar tubuh dan pergi mencari keledai hitamnya.

Akan tetapi binatang itu semenjak tadi entah telah kabur ke mana sewaktu dia bergebrak dengan Tio Put-hoan, maka terpaksa ia pergi dengan jalan kaki.

Yo Ko jemput uang perak tadi dan dimasukkan ke sakunya, lalu dengan menuntun sapinya ia ikut di belakang si gadis.

“Bawa serta aku, nona!” demikian ia berseru.

Namun gadis itu tidak menggubris, sebaliknya ia percepat langkahnya, hanya sekejap saja Yo Ko sudah ketinggalan hingga tak kelihatan. Tak terduga, baru saja ia berhenti sebentar, Yo Ko sudah muncul lagi dari jauh dan masih tetap menuntun sapinya.

“Bawalah aku, bawalah aku!” demikian Yo Ko masih terus ber-teriak.

Mendongkol sekali gadis itu karena orang mengintil terus. Sambil kerut kening segera dia keluarkan Ginkang, sekaligus dia berlari sejauh beberapa li, dengan demikian dia yakin ‘si tolol’ itu pasti tak sanggup menyusulnya.

Diluar dugaan, tidak antara lama sayup-sayup kembali terdengar suara teriakan: “Bawalah aku!”

Luar biasa rasa gemasnya gadis itu. Sekali ini ia tidak lari menyingkir, sebaliknya ia putar balik mendatangi Yo Ko.

“Srett!” golok sabitnya dia loIos.

“Haya, celaka!” teriak Yo Ko pura-pura ketakutan, berbareng itu ia putar tubuh dan angkat langkah seribu.

Maksud si gadis asal orang tidak selalu mengintil sudah cukup, karena itu dia masukkan kembali golok ke sarungnya, dia putar kembali dan melanjutkan perjalanannya. Akan tetapi belum seberapa jauh ia berjalan, tiba-tiba didengarnya di belakang ada suara menguaknya sapi. Waktu ia menoleh, ia lihat Iagi-lagi Yo Ko mengintil di belakang sambil masih menuntun binatang angonnya itu, jarak dengan dirinya kira-kira beberapa puluh tindak saja.

Sungguh tak terbilang mengkal si gadis. Sekali ini ia sengaja berhenti di tempatnya untuk menunggu datangnya Yo Ko. Akan tetapi, demi nampak orang tak berjalan, segera pula Yo Ko berhenti. Kalau si nona melangkah, Yo Ko lantas menyusul lagi, apa bila ia putar balik dan hendak menghajarnya, segera Yo Ko kabur.

Demikianlah terjadi kucing-kucingan di antara Yo Ko dan gadis itu, sebentar mereka kejar mengejar dan sebentar lagi berhenti. Sementara itu hari sudah magrib dan gadis itu masih tetap tak bisa melepaskan diri dari godaan Yo Ko.

Keruan tidak kepalang gemasnya gadis itu. Dia lihat meski bocah angon ini tolol goblok, tapi gerak kakinya ternyata cepat luar biasa, mungkin telah terlalu biasa berlarian di tanah pegunungan. Beberapa kali dia kejar orang hendak menotok jalan darahnya atau melukai kedua kakinya, tetapi setiap kali selalu Yo Ko bisa meloloskan diri dengan menggelinding dan merangkak pergi dengan cepat.

Sesungguhnya ilmu silat Yo Ko jauh di atas gadis itu, cuma dia sengaja lari kalau sudah dalam keadaan yang paling berbahaya, dengan demikian gadis itu tidak menjadi curiga.

Demikianlah, maka sesudah beberapa kali digoda lagi, karena kaki kiri gadis itu memang pincang, sesudah berjalan lama ia menjadi payah. Tiba-tiba ia mendapat satu akal, dengan suara keras dia teriaki Yo Ko:

“Baiklah, kubawa serta kau, tetapi kau harus turut segala perkataanku.”

“Apa betul kau mau membawa aku?” dengan girang Yo Ko menegas.

“Ya, siapa mendustai kau?” sahut si gadis. “Aku letih, kau menunggang sapimu dan biar aku ikut membonceng.”

Benar saja Yo Ko lantas tuntun sapinya mendekati dengan cepat. Di bawah cuaca senja yang remang Yo Ko dapat melihat mata si gadis menyorot tajam, ia tahu pasti orang tak bermaksud baik, maka diam-diam ia berlaku waspada. Dengan cara yang susah payah ia merambat ke atas punggung sapinya.

SI GADIS PINCANG LIOK BU-SIANG

Sebaliknya gadis itu hanya sedikit menutul kakinya, lantas dengan enteng sekali dia telah melompat ke atas dan menunggang di depan Yo Ko.

“Keledaiku sudah hilang, tidak jelek juga menunggang sapi jantan ini,” pikir gadis itu, kemudian dengan ujung kakinya ia tendang iga banteng itu. Karena kesakitan, maka sapi itu membedal ke depan seperti kesetanan.

Melihat tibanya kesempatan baik, gadis itu tersenyum dingin. Mendadak sikutnya dengan kuat menyodok ke belakang, dengan tepat sekali ‘ki-bun-hiat’ di dada Yo Ko kena sodok.

“Aduuh…!” jerit Yo Ko, menyusul kemudian dia pun terjungkal dari punggung sapinya.

Dara itu amat senang karena serangannya berhasil. “Betapa pun kau berlaku bambungan, sekarang kau kena juga kuingusi,” demikian katanya dalam hati.

Lalu dia sogok pula iga sapi itu dengan jari tangannya. Karena merasa sakit, sapi jantan itu kabur lebih cepat lagi. Sekali jari si gadis menjojoh punuk kerbau itu, lari si kerbau semakin kencang. Mendadak didengarnya Yo Ko masih berkaok-kaok di belakangnya. Waktu dia berpaling, tampak dengan kedua tangannya Yo Ko mengganduli ekor kerbau ikut lari berlompatan naik turun, tingkah lakunya lucu sekali.

Di luar dugaan, tiba-tiba terdengar Yo Ko men-jerit dan berteriak-teriak, suaranya terdengar berada di belakang saja. Waktu gadis itu menoleh, ia melihat Yo Ko sedang menggendoli ekor sapi dengan kedua tangannya, saking cepatnya dibawa kabur sapi itu hingga kedua kakinya sedikit pun tidak menempel tanah, jadi Yo Ko ini seperti terbang saja. Akan tetapi keadaannya benar-benar mengenaskan, mukanya penuh debu pasir, ingus dan air mata membasahi mata hidungnya.

Karena merasa tak ada jalan lain lagi, gadis itu kertak gigi, ia tegakan hati, golok dia angkat terus hendak dibacokkan ke tangan Yo Ko yang menggendoli ekor sapi dengan kencang. Tetapi sebelum serangannya dilontarkan, tiba-tiba didengarnya suasana sekitarnya riuh ramai, kiranya sapi itu telah berlari sampai di sebuah pasar. Oleh karena pasar itu penuh berjubel dengan orang hingga tiada jalan lewat, akhirnya sapi itu berhenti sendiri dengan Yo Ko masih tetap ‘melekat’ di belakangnya.

Karena sengaja hendak menggoda si gadis untuk menikmati wajah orang pada waktu marah-marah, maka Yo Ko lantas merebahkan diri di tanah sambil ber-teriak:

“Aduh, dadaku sakit, kenapa kau pukul aku?”

Karena suara teriakannya ini, orang-orang di pasar itu lantas berkerumun untuk mencari tahu sebab-musababnya dan apa yang terjadi. Karena dirubung orang banyak, dengan sekali menyelusup segera gadis itu bermaksud mengeluyur pergi. Tak terduga Yo Ko lebih cerdik dari pada dia. Mendadak Yo Ko merangkak maju, sebelah kaki si gadis dia pegang dengan erat.

“Jangan pergi, jangan pergi!” demikian ia berteriak-teriak.

“He, ada apakah? Apakah yang kalian ributkan?” beramai-ramai orang yang merubung itu bertanya.

“Dia adalah biniku, biniku ini tidak suka padaku, bahkan dia pukul aku pula,” teriak Yo Ko dengan lagak lagu yang toloI.

Mendengar orang berani mengaku bini, sungguh tak kepalang marahnya gadis itu hingga kedua alisnya se-akan menegak. Tanpa segan lagi sebelah kakinya melayang, segera dia hendak tendang Yo Ko. Namun Yo Ko tidak kurang akal. Mendadak lelaki yang berdiri di sebelahnya didorong ke depan, oleh karena itu tendangan si gadis dengan tepat mengenai pinggang lelaki itu. Keruan saja lelaki itu sangat marah.

“Perempuan keparat, berani kau tendang aku?” dampratnya kontan, menyusul kepalannya sebesar mangkok lantas menjotos.

Namun gadis itu tidak gampang dihantam. Tiba-tiba tangan orang dipegangnya, sebelah tangannya menyusul mengangkat lelaki itu terus dilempar pergi dengan meminjam tenaga pukulan orang tadi. Dengan sekali sengkelit ini, tubuh laki-laki yang gede itu melayang ke atas udara sambil tiada hentinya berteriak-teriak dan kemudian jatuhlah dia di antara orang banyak yang berkerumun itu hingga keadaan menjadi tuggang langgang karena ada beberapa orang pula yang tertindih oleh tubuh lelaki itu.

Dengan sekuat tenaga sebenarnya si gadis tadi ingin melepaskan diri dari Yo Ko, namun karena digendoli Yo Ko dengan mati-matian seketika ia menjadi kewalahan. Sementara itu dilihatnya ada lima-enam orang lagi yang maju dan rupanya hendak bikin perhitungan karena disengkelitnya si lelaki tadi. Dalam keadaan demikian, mau tidak mau dia kuatir juga.

“Tolol, baiklah aku bawa serta kau, sekarang lekas lepaskan kakiku!” dengan kata halus terpaksa dia mengalah pada Yo Ko.

“Dan kau masih akan hantam aku tidak?” Yo Ko sengaja tanya lagi.

“Baiklah, tidak kupukul lagi,” sahut si gadis.

Sehabis itu barulah Yo Ko melepaskan kaki orang yang dia pegang erat tadi, kemudian ia pun merangkak bangun. Lalu dengan cepat mereka berdua menerobos keluar di antara orang banyak dan meninggalkan pasar itu, dari belakang mereka mendengar ramai suara teriakan orang yang penasaran tadi.

“Lihatlah, sekarang sapiku sudah hilang pula, tak bisa tidak lagi aku harus ikut kau,” kata Yo Ko kemudian sesudah di tempat sepi.

“Hmm, sekali lagi kau ngaco-belo bilang aku adalah binimu segala, awas, kalau aku tidak penggal kepalamu,” dengan sengit gadis itu mengancam. Berbareng goloknya diayun pula ke arah kepala Yo Ko.

“Haya, jangan,” teriak Yo Ko sambil melompat pergi dan kepalanya dipegang dengan dua tangannya, “Baiklah, nona manis, tak berani lagi aku bilang begitu.”

“Hm, melihat macammu yang kotor ini, siluman yang paling jelek juga tidak sudi menjadi binimu,” demikian cemooh si gadis.

Yo Ko tak menjawab, dia hanya nyengir tolol saja. Tatkala itu hari telah mulai gelap. Dengan berdiri di ladang yang luas, dari jauh tampak mengepulnya asap dapur di rumah penduduk, karena itu barulah mereka merasa perut sudah lapar.

“Aku sudah lapar, pergilah kau ke pasar tadi membelikan barang makanan,” kata si gadis kemudian.

“Tidak, aku tak mau pergi,” sahut Yo Ko meng-geleng kepala.

“Kenapa tak mau?” damperat gadis itu dengan tarik muka.

“Mentang-mentang aku tolol, kau tipu aku pergi beli makanan, lalu kau sendiri ngeluyur kabur,” sahut Yo Ko.

“Aku bilang tidak kabur, tentu tidak kabur,” ujar si gadis.

Tetapi Yo Ko masih geleng kepala.

Karena merasa jengkel, gadis itu mengayun bogemnya hendak meninju, namun dengan cepat Yo Ko bisa menyingkir. Sebelah kaki gadis itu pincang, dengan sendirinya jalannya tidak begitu leluasa. Percuma saja dia memiliki Ginkang, tetapi selalu tidak bisa menyandak orang.

Tentu saja dia sangat mendongkol. Dia pikir sia-sia saja mempunyai ilmu silat yang tinggi dan percuma pula mengaku dirinya cerdik dan banyak akal, nyatanya kini digoda seorang anak tolol yang kotor dan berbau busuk tanpa bisa berbuat apa-apa.

Begitulah dengan perlahan ia meneruskan perjalanan dengan mengikuti jalan besar, dalam hati ia berpikir cara bagaimana nanti secara mendadak bisa memberi sekali bacokan dan membunuh si tolol ini. Selang tak lama, cuaca menjadi gelap seluruhnya. Tiba-tiba dilihatnya di pinggir jalan ada sebuah rumah batu yang bobrok, agaknya sudah tiada penghuninya. Mendadak ia dapat satu akal.

“Biarlah malam ini aku menginap di sini. Tengah malam nanti kalau si tolol sudah pulas, sekali bacok saja kubunuh dia,” demikian pikirnya.

Setelah mengambil keputusan segera menuju ke rumah batu itu. Waktu pintu didorong, tiba-tiba tercium bau apek yang menyenggerok hidung, terang sekali rumah ini sudah terlalu lama ditinggalkan penghuninya. Kemudian gadis itu pergi mencari segenggam rumput kering dan lap bersih sebuah meja, di atas meja inilah dia berbaring, ia pejamkan mata untuk mengumpulkan tenaganya.

“Tolol, tolol!” panggilnya ketika dilihat Yo Ko tidak ikut masuk ke dalam.

Akan tetapi tiada sahutan yang dia peroleh. “Jangan-jangan si tolol ini mengetahui aku hendak membunuh dia, maka kabur lebih dulu?” demikian ia pikir.

Setelah agak lama, ketika layap-layap hendak pulas, tiba-tiba tercium bau sedap yang sangat menusuk hidung. Dalam terkejutnya segera pula ia melompat bangun. Waktu dia berlari keluar, di bawah sinar bulan yang terang Yo Ko sedang duduk sambil memegang sepotong entah paha binatang apa dan sedang pentang mulut menggerogoti dengan lahap, di samping sana menyala segunduk api unggun dan di pinggir gundukan api itu tergeletak bahan makanan dan sedang dipanggang, dari situlah bau sedap tadi menguar.

“Mau tidak?” tanya Yo Ko dengan tertawa demi nampak gadis itu keluar. Habis itu ia ambil sepotong daging paha yang sudah dipanggang hingga berbau sedap itu terus dilemparkan kepadanya.

Waktu gadis itu menyambutinya, ia lihat daging paha itu seperti paha kijang. Memang perut sudah lapar, maka tanpa sungkan lagi dia sebret daging itu dan dimakan sepotong demi sepotong, meski pun kurang asin karena tidak digarami, tetapi dalam keadaan lapar rasanya sangat lezat juga. Maka sambil duduk di dekat api unggun ikutlah dia makan dengan bernapsu.

Tetapi dasar anak gadis, maka cara makannya tidak main lalap seperti Yo Ko, lebih dulu dia sobek daging paha itu dalam potongan kecil, kemudian dengan perlahan barulah dia memakannya. Tetapi bila dilihat cara makan Yo Ko yang lahap hingga air liurnya ikut mencerocos, ia menjadi mual dan jijik. Jika tidak jadi makan maka perutnya terasa lapar, karena itu terpaksa dia berpaling ke jurusan lain dan tidak memandang Yo Ko lagi. Sesudah sepotong daging itu habis, kembali Yo Ko lemparkan sepotong lagi kepadanya.

“He, tolol, kau bernama siapa?” gadis itu menanya.

“Eh, apa kau ini dewa? Kenapa kau tahu bahwa aku bernama Tolol?” dengan lagak bebal yang di-bikin-bikin berbalik Yo Ko bertanya.

“Ha-ha-ha, jadi kau memang bernama si tolol?” gadis itu tertawa demi mendengar jawaban orang, rupanya ia menjadi gembira, “Dan di manakah ayah dan ibumu?”

“Sudah mati semua,” sahut Yo Ko. “Dan kau sendiri siapa?”

“Tidak tahu. Buat apa kau tanya?” kata si gadis.

“Dia tidak mau katakan, biarlah aku pancing dia,” demikian pikir Yo Ko karena orang tidak mau memberi-tahukan namanya. Lalu dengan berlagak ber-seri ia berkata:

“Ha-ha, aku tahu, kau pun bernama si tolol, maka kau tak mau mengatakan namamu.”

Tentu saja gadis itu menjadi gusar. Segera dia melompat maju, dia angkat kepalan terus dengan keras menggetok ke atas kepala Yo Ko.

“Siapa bilang aku bernama si tolol, kau sendiri yang tolol,” demikian damperatnya pula.

Karena kepala digetok orang, Yo Ko pura-pura kesakitan sambil menutup kepala dengan tangannya.

“Ya, sebab kalau orang tanya namaku, bila aku katakan tak tahu, lantas orang panggil aku si tolol, sekarang kau pun bilang tak tahu, maka dengan sendirinya kau pun bernama si tolol,” kata Yo Ko dengan mewek bikinan.

“Siapa bilang aku tidak tahu?” bentak si gadis sengit. “Hanya saja aku tidak suka katakan padamu. Aku she Liok, mengerti tidak?”

Kiranya gadis ini adalah Liok Bu-siang, gadis cilik pemetik ubi teratai yang sudah kita kenal pada permulaan cerita ini. Sebagaimana masih ingat, dahulu waktu dia main panjat pohon bersama Piauci-nya, Thia Eng, dan kedua saudara Bu, dia sudah jatuh dari atas pohon hingga tulang kakinya patah. Syukur secara kebetulan Bu-samnio numpang menginap di rumahnya dan sudah menyambungkan tulang kakinya yang patah itu.

Tetapi karena ayah Bu-siang, yakni Liok Lip-ting mencurigai Bu-samnio, akhirnya mereka saling gebrak hingga sambungan tulang kaki Bu-siang rada terganggu dan agak meleset. Sesudah sembuh, kaki kirinya yang patah itu sudah mengker sekitar satu senti, maka bila berjalan menjadi sedikit pincang.

Walau pun kulit badan Liok Bu-siang tidak begitu putih, tapi dasar pembawaannya cantik raut mukanya. Setelah besar ia bertambah manis pula, tapi karena kakinya pincang, inilah yang menjadi penyesalan selama hidupnya. Sesudah seluruh keluarganya dibunuh habis oleh Li Bok-chiu, sebenarnya Bu-siang pun tidak terluput dari kematian, akan tetapi setiap kali bila melihat sapu tangan sulaman yang menggubet di leher Bu-siang, Li Bok-chiu lantas teringat pada cinta Liok Tian-goan dahulu hingga selalu ia tak tega menghabisi jiwa anak dara ini.

Meski usia Liok Bu-siang sendiri masih kecil, tapi dia sudah pandai berpikir. Dia mengerti dirinya terjeblos dalam cengkeraman iblis perempuan ini, jiwanya boleh dikatakan seperti telur di ujung tanduk yang setiap saat terancam bahaya. Oleh sebab itu ia berlaku sangat hati-hati dan berusaha sedapat mungkin me-narik hati orang, dan karena pintarnya Bu-siang membawa diri dan rajin melayani hingga Jik-lian-sian-cu yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip itu lambat laun menjadi reda.

Kadang-kadang Li Bok-chiu terkenang akan peristiwa pada masa mudanya yang sangat menyesatkan itu. Segera Bu-siang dipanggil ke hadapannya lalu nona kecil itu disiksa dan dihina untuk melampiaskan dendamnya. Namun Bu-siang pintar pura-pura. Ia sengaja bikin mukanya kotor dan rambutnya serawutan sambil berjalan pincang sebagaimana seorang gadis yang harus dikasihani. Maka begitu melihat macamnya ini, mestinya Li Bok-chiu hendak umbar dendamnya namun lantas tak sampai hati.

Demikianlah caranya Liok Bu-siang mencari selamat bagi dirinya sendiri. Beruntung juga seorang gadis cilik seperti dia ternyata bisa hidup terus berdampingan dengan Li Bok-chiu yang kejam. Sungguh pun demikian, dalam hati Bu-siang tidak pernah melupakan sakit hati ayah-bundanya yang dibunuh Li Bok-chiu secara kejam, tapi sebaliknya apa bila Li Bok-chiu coba menanyakan tentang ayah-ibunya, selalu Bu-siang berlagak linglung dan pura-pura tidak mengingatnya lagi.

Bila Li Bok-chiu sedang mengajarkan ilmu silat pada Ang Ling-po, ia lantas menunggunya di samping untuk melayani bila orang perlu diambilkan handuk atau Iain-lain, atau dia pura-pura menyapu dan bersihkan meja kursi. Memang ilmu silat Bu-siang sudah ada dasarnya, maka ia mengingatnya dengan baik apa yang dilatih kedua orang tadi, lalu di waktu malam ia sendiri lantas melatihnya kembali. Ditambah lagi di waktu biasa ia sengaja membaiki Ang Ling-po hingga belakangan ketika sang guru sedang gembira, Ang Ling-po lantas memohon bagi Liok Bu-siang agar diterima sekalian sebagai murid Li Bok-chiu.

Dengan begitulah beberapa tahun telah berlalu, ilmu silat Bu-siang banyak maju pula, hanya perasaan Li Bok-chiu betapa pun masih terdapat sisa-sisa rasa benci kepadanya. Jangankan ilmu silat yang paling tinggi, meski ilmu kepandaian kelas dua saja tidak sudi diajarkan kepadanya. Baiknya ada Ang Ling-po yang merasa kasihan padanya dan diam-diam memberi petunjuk, maka ilmu silatnya walau pun tidak bisa dikatakan tinggi, namun dibilang rendah pun tidak rendah.

Hari itu, ber-turut-turut Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah berangkat ke Hoat-su-jin-bong untuk mencuri ‘Giok-li-sim-keng’. Karena sampai lama belum nampak kedua orang itu kembali, maka Bu-siang ambil keputusan untuk pulang ke daerah Kanglam buat mencari tahu mati-hidup ayah-bunda yang sesungguhnya, sebab waktu kecil ia hanya melihat ayah-ibunya dipukul Li Bok-chiu hingga luka parah, tentu banyak celaka dari pada selamatnya, tetapi karena belum melihat meninggalnya kedua orang tua dengan mata kepala sendiri, bagaimana pun dalam hatinya masih selalu menaruh sedikit sinar harapan semoga ayah-bundanya masih hidup, maka ingin sekali dia mencari tahu keadaan yang sebenarnya.

Oleh karena kaki kirinya cacat, yakni pincang, ciri ini telah merubah sifatnya hingga rada rendah diri. Dia paling benci apa bila ada orang memandang kakinya yang pincang. Hari itu di tengah jalan justru kedua imam sudah memandang beberapa kali pada kakinya yang cacat itu hingga menimbulkan amarahnya, kontan Bu-siang melontarkan kata yang menghina. Dasar kedua imam itu juga bertabiat buruk, maka dari perang mulut akhirnya berubah menjadi perang senjata.

Dalam pertarungan itu, dengan golok sabitnya yang melengkung Bu-siang telah tebas daun kuping dan batang hidung kedua imam itu, maka sebagai ekornya kemudian terjadi pertarungan sengit di Cay-long-kok.

Dulu tatkala Bu-siang digondol pergi oleh Li Bok-chiu, di goa pegunungan dekat Oh-chiu sebenarnya dia sudah pernah berjumpa satu kali dengan Yo Ko, namun waktu itu sama-sama masih kecil. Sekarang keadaan mereka berdua pun sudah banyak berubah, dengan sendirinya perkenalan kilat dahulu itu sudah tidak mereka ingat lagi.

BegituIah, sesudah Bu-siang menghabiskan dua potong daging paha kijang panggang, ia pun merasa kenyang. Di lain pihak sebaliknya Yo Ko sedang memandangi wajah si nona yang manis. “Saat ini Kokoh entah berada di mana? Gadis di depanku ini kalau Kokoh adanya, lalu kuberi dia paha kijang panggang, bukankah akan sangat menyenangkan?” demikian pikirnya. Karena hatinya berpikir, maka mata pun menatap orang lebih kesima.

Melihat begitu rupa orang memandang padanya, Bu-siang menjengek sekali, kemudian ia berdiri hendak menyingkir. Tiba-tiba dari jauh terdengar seseorang sedang mendatangi dengan menyeret sandalnya yang menerbitkan suara “srat-sret, srat-sret”. Sambil mendekat orang itu gunakan hidungnya untuk mengendus se-kerasnya.

“Ehm, wangi, sedap!” demikian ia berseru.

Dan sesudah dekat, maka jelas kelihatan baju yang dipakai orang itu penuh tambal-sulam di sana-sini, kiranya seorang kere, seorang pengemis. Meski pun kere tetapi dia mendekati orang dengan lagak tuan besar, kemudian dia duduk di samping Yo Ko. Tanpa disuruh tanpa permisi segera dia sambar sepotong daging kijang panggang yang masih digarang di atas api unggun, langsung digeragoti dengan lahap seperti orang yang sudah tujuh hari tujuh malam tidak makan.

Yo Ko sih tidak menggubris diri orang. Tetapi Bu-siang yang memang sudah mendongkol, begitu mencium bau busuk tubuh orang yang kotor dan kini melihat kelakuannya yang tak kenal aturan, rasa mendongkolnya bertambah lipat. Mendadak ia berdiri lantas tinggalkan orang hendak masuk ke dalam rumah untuk tidur.

Rupanya sikap Bu-siang ini dapat diketahui oleh si jembel tadi. Tiba-tiba dia mendongak dan memandang sekejap pada si gadis sambil tersenyum, sesudah ini dia menunduk kembali untuk makan daging panggangnya.

Bu-siang menjadi marah melihat kelakuan orang. “Apa yang kau tertawakan?!” damperatnya segera.

“Aku tertawa sendiri, sangkut-paut apa dengan kau?” sahut pengemis itu dengan dingin.

Dalam marahnya Bu-siang sudah memegang goloknya dan berniat bunuh orang, syukur dia berpikir pula: “Jangan dulu. Kalau aku bunuh dia si tolol itu tentu akan ketakutan dan melarikan diri, biarlah aku bersabar untuk sementara.”

Maka dengan menahan rasa gusarnya, tanpa berpaling lagi dia lantas masuk ke rumah batu itu. Di luar dugaan, baru saja dia melangkahi ambang pintu, tiba-tiba terdengar si pengemis membuka suara dan bertanya kepada Yo Ko:

“Siapakah dia tadi, apakah dia binimu? Kenapa kakinya pincang? Tidak laku dijual?”

Sungguh tidak kepalang rasa marah Liok Bu-siang oleh serentetan kata yang semuanya sangat menusuk hatinya. Per-tama orang bilang bahwa dia bini si tolol yang kotor dan berbau busuk itu, kedua, kakinya yang cacat di-olok dan ketiga dia dianggap seperti hewan saja, bukan saja harus dijual, bahkan dikatakan tidak laku. Sejak kecil Bu-siang sudah kenyang oleh segala siksa-derita yang diperoleh dari Li Bok-chiu. Oleh karena itu dalam pandangannya setiap orang di jagat ini dianggapnya sebagai musuh semua dan setiap orang pasti akan membikin susah padanya, apa lagi ditambah kakinya pincang sehingga tabiatnya berubah aneh, merasa rendah harga diri.

Maka bila siapa saja berani coba-coba memandang sekejap pada kakinya yang cacat, tentu akan menimbulkan amarahnya, apa lagi si pengemis tadi sudah mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina. Keruan dia tidak tahan lagi, dengan cepat golok sabitnya dilolos, begitu memutar, secepat angin dilabraknya si jembel itu.

Si pengemis itu terhitung anak murid Kay-pang (Persatuan Pengemis) angkatan ke enam, di kalangan pengemis ilmu silatnya tergoIong tengahan, maka kepandaiannya pun tidak terlalu rendah. Sejak Ang Chit-kong menjabat ketua Kay-pang, banyak anggota Persatuan Pengemis itu terpengaruh oleh sifat ketua mereka, yakni menganggap di mana-mana adalah kediaman mereka, berpikiran jujur dan suka terus terang, suka bersahabat dengan siapa pun yang dijumpainya.

Oleh sebab itulah demi bertemu dengan Yo Ko yang lagi memanggang daging di tempat sepi, lagi pula melihat pakaian Yo Ko compang-camping, maka pengemis tadi pikir meski orang bukan sesama anggota, sedikitnya masih terhitung segolongan, golongan kere. Karena itu dia pun tidak sungkan lagi, begitu datang dia lantas duduk terus ikut makan. Siapa tahu Bu-siang telah mengunjuk muka jemu dan kurang senang, bahkan terus berdiri dan menyingkir pergi karena tak tahan ia telah tertawai orang beberapa kata. Tak terduga si gadis ternyata sangat pemarah, begitu putar kembali lantas main senjata.

BegituIah, maka atas serangan Bu-siang tadi pengemis itu melompat bangun sambil berteriak:

“Haya, jangan ngamuk, jangan ngamuk. Memang aku sudah makan panggang daging lakimu, biarlah aku muntahkan kembali saja!”

Justru Bu-siang paling benci kalau orang berkelakar atas dirinya. Keruan dia bertambah murka, tanpa berhenti lagi goloknya membabat dari kiri lantas memotong pula dari kanan, be-runtun dua kali mengarah tempat lawan yang berbahaya.

Akan tetapi dengan cepat pengemis itu dapat menghindarkan diri. Ketika serangan ketiga menyambar lagi, karena arah yang dituju tidak tetap, begitu dugaan pengemis itu sedikit saja meleset, maka terdengarlah suara robeknya kain. Ternyata baju yang memang sudah rombeng itu telah tertebas.

Keruan pengemis itu terkejut, “Ehh, sungguh tidak nyana ilmu silat anak dara ini ternyata lihay,” demikian katanya dalam hati.

Sementara itu untuk ke empat kalinya Bu-siang menyerang lagi, maka tak berani si pengemis pandang enteng lawannya, segera tongkat yang terselip di pinggangnya dia cabut terus ditangkiskan. Tetapi sesudah saling gebrak belasan jurus, rangsakan Bu-siang semakin lama semakin ganas, maka pengemis itu mengeluh.

“Anak dara ini entah dari golongan dan aliran mana datangnya, tapi perlu apa aku terlibat permusuhan dengan dia tanpa sebab? Asal aku tancap gas sekencang-kencangnya terus ngeluyur pergi, masakah gadis pincang ini sanggup mengejarku?” demikian pikirnya. Demi ingat kaki orang pincang, tanpa terasa ia memandang sekejap lagi ke arah anggota badan orang yang cacat itu.

Sebenarnya kalau dia sudah ambil keputusan buat angkat kaki, asal dia putar tubuh terus kabur mungkin segala persoalan akan segera selesai. Tapi celaka baginya, justru karena dia baru melarikan diri setelah tanpa sengaja memandang kaki orang yang pincang, kelakuannya ini menyinggung perasaan Liok Bu-siang yang paling benci jika kakinya yang cacat itu dipandang orang. Sebab inilah di kemudian hari telah banyak menimbulkan ekor panjang.

Ketika Bu-siang mengetahui orang menatap kakinya yang pincang sambil mengunjuk rasa senang, habis ini tongkatnya ditarik terus kabur, keruan rasa maranya me-Iuap tak bisa ditahan lagi.

“Pengemis maling, apa kau kira aku tak bisa berjalan leluasa dan tak sanggup mengejar kau?” damperatnya sengit. Kemudian segera dia mengudak.

Melihat pengemis itu lari ke arah utara, segera Bu-siang putar goloknya yang melengkung itu. Setelah diayun beberapa kali, sekonyong-konyong dia lepaskan se-kerasnya ke arah tenggara hingga membawa sambaran angin yang santer.

Tatkala itu dengan seenaknya Yo Ko sedang makan daging panggang dan menyaksikan perkelahian orang sambil duduk. Dia menjadi sangat senang melihat si pengemis sengaja bikin Bu-siang marah-marah. Tetapi dia menjadi heran ketika mendadak melihat Bu-siang menimpukkan goloknya ke arah tenggara. Namun baru saja dia tercengang, terlihat golok sabit itu memutar sendiri di udara seperti dikemudikan saja.

Golok sabit yang melengkung ini bentuknya amat aneh, mata goloknya begitu tipis seperti kertas, di waktu Liok Bu-siang menimpuk, tenaga yang digunakan amat tepat pula, maka tampaklah golok itu membawa suara ngaungan terus menyambar ke tubuh si pengemis.

Saat itu si jembel sedang berlari dengan cepat. Siapa duga golok ini seperti punya mata saja, se-konyong-konyong menyambar tiba terus menancap pada punggungnya. Saking sakitnya oleh tusukan golok, tanpa ampun lagi pengemis itu jatuh terjungkal.

Tentu saja Bu-siang tidak sia-siakan kesempatan. Dengan menggunakan ilmu entengkan tubuh dia memburu maju dengan niat mencabut goloknya yang menancap di punggung orang untuk kemudian menambahi orang dengan sekali bacokan lagi.

Namun pengemis itu tidak menyerah mentah-mentah. Belum sampai orang datang dekat, sekuat tenaga dia sudah merangkak bangun lantas berlari pula ke depan seperti kesetanan, sekejap kemudian orangnya sudah menghilang tanpa bekas di kegelapan. Sesudah dicoba dan merasa tidak bisa menyandak larinya orang, akhirnya Liok Bu-siang tidak mengudak lebih jauh, ia kembali ke tempatnya tadi.

“Lekas pergi mengambil kembali golokku!” bentaknya setelah berhadapan dengan Yo Ko.

“Golok apa? Aku tidak tahu!” sahut Yo Ko acuh tak acuh.

“Bukankah kau melihat golokku menancap di punggungnya?” kata Bu-siang, “Lekas pergi mengambil!”

“Tidak bisa mengambilnya lagi,” ujar Yo Ko sambil goyang tangannya.

Bu-siang tahu percuma saja meski banyak bicara, karena itu ia putar tubuh terus masuk rumah batu tadi untuk tidur sendiri. Baiknya masih terdapat sebilah belati, maka katanya dalam hati: “Walau pun golok sabit sudah tidak ada, dengan belati ini pun cukup untuk bikin beberapa lubang di badanmu.”

Tengah malam, diam-diam Bu-siang bangun. Dengan ber-indap ia keluar rumah. Dia melihat Yo Ko sedang menggeros di tepi gundukan api tanpa bergerak sedikit pun. Gundukan api itu sudah lama padam, rembulan pun mulai doyong ke barat, hanya remang-remang masih kelihatan bayangannya.

Segera Bu-siang mencabut belatinya, dengan perlahan mendekati orang. Begitu sudah dekat, tanpa pikir lagi belati diangkat terus ditusukkan se-kerasnya ke punggung orang. Tetapi mendadak tangannya kesemutan, tangannya terguncang sakit, karena itu tak kuat lagi ia genggam lebih kencang, dengan menerbitkan suara nyaring, belatinya terlepas dari cekalan. Terasa olehnya tempat yang kena tusukan belati itu bagaikan mengenai besi atau batu yang keras.

Keruan saja bukan buatan terkejutnya Bu-siang. Tanpa pikir lagi ia putar tubuh terus lari menyingkir. Dalam hati ia pikir: “Jangan-jangan Si tolol ini telah melatih diri begitu rupa sehingga tubuhnya kebal tak mempan senjata?”

Sesudah berlari pergi beberapa tombak jauhnya, karena tak mendengar suara kejaran Yo Ko, kemudian Bu-siang menoleh. Dilihatnya Yo Ko masih meringkuk di dekat gundukan api yang sudah padam itu tanpa bergerak sedikit pun. Dengan sendirinya Bu-siang menjadi curiga,

“Tolol, he, Tolol!” dia ber-teriak memanggil. Tetapi meski sudah berulang kali ia memanggil toh orang masih tetap tidak menyahut.

Waktu Bu-siang menegasi, dia lihat tubuh Yo Ko dalam keadaan meringkuk, bentuknya sangat aneh dan mencurigakan. Maka dengan tabahkan hati ia mendekati. Setelah dekat, nyatanya barang yang meringkuk itu tidak mirip bentuk manusia, ketika ia coba meraba, rasanya sangat keras, barang yang berada di bawah baju itu laksana batu. Tanpa ayal lagi segera Bu-siang singkap baju itu. Benar saja, di dalamnya berisi sebuah batu padas yang panjang besar, jadi hanya baju membungkus batu, tetapi bayangan Yo Ko sudah tidak kelihatan.

DIBURU SANG GURU

Seketika Bu-siang terkesima oleh kejadian di luar dugaan itu, kembali ia memanggil: “He, Tolol.”

Namun tetap tiada jawaban. Ketika ia pasang kuping mendengarkan tiba-tiba terdengar di dalam rumah batu itu sayup-sayup seperti ada suara orang mengorok. Keruan saja Bu-siang ter-heran, segera ditujunya tempat datangnya suara itu, betul saja ia lihat Yo Ko sedang tidur pulas di atas meja yang tadi digunakan dirinya.

Karena serangannya tadi tidak mengenai sasaran, dalam marahnya ini Bu-siang tidak berpikir secara teliti kenapa orang bisa mendadak tidur di atas mejanya. Tiba-tiba ia melompat maju, belati diangkat, lalu dengan sekali tusuk kembali ia tikam punggung orang. Bu-siang menjadi senang sebab sekali ini ia telah tepat menikam orang yang sebenarnya. Ia lihat Yo Ko tidak melompat bangun tidak menjerit kesakitan, maka tanpa ayal dia cabut belatinya dan tambahi pula sekali. Tempat di mana belatinya menusuk terang sekali adalah daging tubuh orang, sedikit pun tidak ada perbedaan lain, cuma aneh, sama sekali tidak tampak mengalirnya darah.

Karena itu kembali Bu-siang terkejut tetapi marah pula. Susul menyusul dia menusuk lagi beberapa kali, tapi yang terdengar malah suara menggerosnya Yo Ko yang makin keras.

“Aih, siapakah yang mengitik-ngitik punggungku? Hi-hi-hi, jangan guyon! Ha-ha-ha, jangan main-main, aku tidak tahan geli!” demikian terdengar Yo Ko malah menginggau.

Saking terperanjatnya muka Bu-siang sampai pucat lesi, akhirnya kedua tangannya pun menjadi gemetar sendiri. “Jangan2 orang ini adalah setan atau siluman?” katanya dalam hati.

Oleh karena pikiran itu, segera dia putar tubuh hendak melarikan diri. Akan tetapi, entah saking takutnya atau kenapa, seketika kedua kakinya tak mau turut perintahnya, dia masih terpaku di tempatnya.

“Aih, mengapa punggungku jadi begini geli, tentu ada tikus yang hendak mencuri daging kijangku,” demikian kembali terdengar Yo Ko menempati lagi.

Kemudian dia malah mengulurkan tangan ke punggung, dari dalam bajunya dia tarik keluar sepotong daging kijang panggang terus dibanting ke lantai. Melihat ini barulah Bu-siang menarik napas Iega, kini baru dia mengerti duduknya perkara. “Ternyata si tolol ini menyimpan daging kijang di dekat punggungnya, pantas belasan kali tikamanku tidak membikin jiwanya melayang sebab semuanya mengenai daging kijang, sebaliknya aku sendiri malah dibikin takut!” begitulah ia pikir.

Karena dua kali menikam dan dua kali tidak berhasil tewaskan orang, rasa benci Bu-siang terhadap Yo Ko menjadi bertambah. “Si tolol busuk, lihat sekali ini jiwamu melayang tidak?”

Dengan geregeten Bu-siang berkata dengan suara perlahan, menyusul tiba-tiba saja ia menubruk maju, lagi dengan belatinya ia menikam punggung Yo Ko. Ia menduga sekali ini pasti Yo Ko tak terluput dari kematian. Siapa tahu pada waktu belatinya sudah hampir mengenai tubuh Yo Ko, mendadak dalam keadaan masih mengorok pemuda itu sudah membalikkan tubuhnya. Keruan tusukannya menjadi luput sehingga mengenai meja sampai ambles sebatas gagang belati.

Selagi Bu-siang sekuatnya hendak mencabut kembali belatinya, di lain pihak bagai mimpi saja tiba-tiba Yo Ko berteriak:

“Tolong, Ibu! Tolong, ada tikus busuk hendak gigit aku!”

Menyusul kedua kakinya yang kotor dan bau itu bahkan menjulur ke depan, kaki kiri tepat ditaruh pada siku Bu-siang tempat ‘kiok-ci-hiat’, ada pun kaki kanan sebaliknya menggeletak di atas pundak si gadis tepat mengenai tempat ‘ko-cing-hiat’.

Dua tempat yang disebut itu adalah dua Hiat-to yang berbahaya di tubuh manusia. Ketika Yo Ko ulurkan kedua kakinya, entah sengaja atau secara kebetulan, secara persis telah membentur kedua tempat jalan darah itu. Keruan seketika Bu-siang merasakan tubuhnya menjadi kesemutan lalu tak bisa berkutik lagi. Ia hanya berdiri membisu saja di tempatnya dan dijadikan penyanggah kaki Yo Ko.

Sungguh bukan buatan murka Liok Bu-siang oleh kejadian ini. Meski tubuhnya tidak bisa bergerak akan tetapi mulutnya masih bisa buka suara. Karena itu segera dia membentak mendamperat:

“Hai, ToloI, lekas singkirkan kakimu yang bau ini!”

Tetapi jawaban yang dia peroleh hanya suara mengoroknya Yo Ko yang semakin keras. Tidak kepalang gemasnya Bu-siang sehingga dia kehabisan akal. Dalam keadaan murka, ia pentang mulut terus meludahi tubuh Yo Ko.

Tanpa tersangka lagi-lagi Yo Ko membalikkan tubuhnya, sedang ujung kaki kanannya seperti tak sengaja saja tiba-tiba melayang dan dengan tepat membentur perlahan ‘pi-su-hiat’ di bawah dagu Liok Bu-siang. Karena benturan itu, seketika seluruh tubuh Bu-siang menjadi kaku semua, kini mulut pun tidak bisa dipentang lagi, hanya hidungnya yang kenyang mencium bau kaki Yo Ko yang bacin.

Demikianlah gadis itu sudah dibuat sebagai tempat penyanggah kaki Yo Ko hingga sekian lama, saking dongkolnya sampai Bu-siang hampir semaput, dalam hati tiada hentinya dia mengutuk dan menyumpahi Yo Ko: “Jahanam kau si Tolol ini, besok kalau aku sudah bisa bergerak bebas, pasti kucincang kau hingga menjadi baso.”

Tak lama kemudian, rasanya Yo Ko sudah cukup puas mempermainkan orang. Tiba-tiba dia membalikkan tubuh lagi berbareng melepaskan kedua kakinya dari atas tubuh orang. Kini ia membalik menghadap keluar, karena itu, meski dalam keadaan gelap Yo Ko masih bisa melihat cukup jelas air muka si nona yang penuh gusar dan mangkel itu.

Tetapi semakin Bu-siang mengunjuk marah, wajahnya semakin mirip Siao-liong-li sehingga dengan ter-mangu Yo Ko menikmati wajahnya seperti orang yang kehilangan semangat.

Di lain pihak, karena waktu itu rembulan mendoyong ke barat sehingga sinar sang dewi malam menyorot masuk melalui pintu, maka muka Yo Ko dapat dilihat dengan jelas oleh Liok Bu-siang. Dia melihat pemuda ini sedang pentang kedua matanya lebar-lebar dan sedang memandang dengan tersenyum simpul. Keruan hati Bu-siang terkesiap,

“Jangan-jangan si Tolol ini sengaja berlagak bodoh dan pura2 bebal? Memangnya dia tadi tidak sengaja menotok jalan darahku?” demikian ia ber-tanya pada diri sendiri. Oleh karena pikiran itu, tanpa tertahan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Justru pada saat itu juga dilihatnya Yo Ko sedang melirik ke lantai. Waktu Bu-siang ikut melirik ke arah yang diincar Yo Ko, maka tampaklah olehnya di atas lantai itu terdapat tiga bayangan hitam yang sejajar, kiranya ada tiga orang telah berdiri di ambang pintu sana. Waktu ia menegasi lagi, ternyata ketiga orang itu semuanya bersenjata.

“Celaka, celaka, ada musuh lagi menunggu, tetapi justru Hiat-to kena ditotok si Tolol ini,” Bu-siang mengeluh.

Nyata, meski tadi dia sudah curiga, namun apa pun juga sukar dipercaya bahwa seorang bocah angon yang bodoh dan kotor seperti dia ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Sementara itu demi dilihatnya bayangan orang-orang itu, segera Yo Ko pejamkan mata lagi dan pura-pura tidur.

“Budak hina, hayo lekas keluar, apa dengan berdiri tegak begitu saja lantas kau kira Toya (tuan imam) bisa mengampuni kau?” terdengar salah seorang di luar itu berteriak.

“Ah, kiranya kaum imam lagi,” kata Yo Ko di dalam hati demi mendengar tantangan orang itu.

“Kami pun tidak inginkan jiwamu, asal sudah iris batang hidungmu, potong sebelah daun kuping dan sebelah telapak tangan saja sudah cukup,” terdengar seorang Iainnya berkata lagi.

“Kami sudah menunggu di sini, lekas keluar kau untuk turun tangan,” demikian kata orang ketiga.

Kemudian ketiga orang itu lantas melompat pergi, mereka kepung pintu keluar itu dengan rapat.

“He, suara teriakan apakah di luar itu, di manakah kau nona Liok?” demikian kemudian Yo Ko bangun terduduk dengan mengulet maIas-malas-an. “Eh, nona Liok, kenapa kau berdiri saja di situ?”

Habis berkata, seperti tidak sengaja ia tarik-tarik lengan baju si gadis sambil digoyangkan beberapa kali, Maka terasalah oleh Liok Bu Siang ada sebuah kekuatan yang besar sekali telah meng-guncangkan seluruh tubuhnya hingga tiga tempat Hiat-to yang tertotok tadi seketika lancar kembali dan dapat bergerak bebas lagi.

Bu-siang pun tidak sempat berpikir lebih teliti lagi, segera ia jemput belatinya dari lantai terus melompat keluar. Di bawah sinar rembulan terlihatlah olehnya tiga orang lelaki sudah menanti. Ia pun tidak bicara lagi, begitu tangannya bergerak belatinya segera menusuk orang yang berdiri di sebelah kiri.

Orang itu bersenjatakan ruyung besi, karena serangan Bu-siang itu, ia incar dengan baik, ruyungnya terus disabetkan ke bawah. Ruyungnya memang cukup berat, ditambah lagi tenaganya juga besar, sabetannya itu pun diincar dengan tepat sekaii, maka terdengarlah suara “trang” yang keras, belati Bu-siang seketika terlepas dari tangan.

Waktu itu Yo Ko masih merebah miring di atas mejanya. Dia melihat Bu-siang melompat ke samping, sedang tangan kirinya diangkat miring ke depan, segera Yo Ko menduga imam yang diarah itu pasti tak mampu mempertahankan goloknya.

Memang benar. Ketika Bu-siang membalikkan tangannya lagi, dengan ilmu silat Ko-bong-pay yang sangat hebat, golok salah satu imam itu sudah kena direbutnya dan bahkan dibarengi pula sekali membacok. Maka tanpa ampun lagi pundak imam itu telah merasakan tajamnya golok sendiri.

Dengan disertai caci maki lekas-lekas imam itu melompat ke samping untuk merobek kain bajunya membalut lukanya.

Sesudah mendapat goIok, seketika semangat Bu-siang bertambah, maka tanpa ayal lagi dia tempur laki-laki yang memakai ruyung besi itu dengan sengit. Sedang seorang lainnya adalah lelaki pendek kecil dan memakai senjata tombak. Ia pun tidak berpeluk tangan, ia ikut terjun ke dalam pertempuran, tombaknya bekerja cepat menusuk ke sini sana untuk bantu kawannya, cuma dia tak berani terlalu mendekati Bu-siang.

Ilmu silat lelaki yang pakai ruyung itu ternyata sangat tinggi. Setelah belasan jurus, lambat laun Liok Bu-siang merasa kewalahan. Agaknya laki-laki itu mempunyai tingkat yang tidak rendah di kalangan Bu-lim, hal ini terbukti gerak-geriknya ternyata amat beraturan. Meski beberapa kali Bu-siang berbuat kesalahan dalam serangannya, namun orang itu ternyata tidak mau terlalu mendesak dan gunakan kesempatan itu untuk melukai Liok Bu-siang.

Sementara itu imam tadi sudah selesai membalut lukanya, maka dengan tangan kosong dia menerjang maju lagi.

“Dari mana datangnya perempuan keparat seperti kau ini? Kenapa cara turun tanganmu begitu keji?” demikian dia mencaci-maki dengan tangan menuding Bu-siang. Sesudah ini, begitu kepalanya menunduk, segera dia menyeruduk Liok Bu-siang dengan cepat.

“Celaka!” Yo Ko berteriak demi dilihat keadaan pertarungan keempat orang di luar itu.

Betul saja. Di bawah berkelebatnya sinar senjata, punggung imam itu kembali merasakan sekali bacokan lagi, bersamaan dengan itu tombak si lelaki pendek itu pun telah menusuk sampai di belakang Liok-Bu-siang, sedangkan telapak tangan si lelaki kuat tadi pun sudah menghantam ke dada si gadis.

Melihat keadaan berbahaya itu, dengan cepat Yo Ko menyambar dua batu kecil terus ditimpukkan sekaligus. Sambitannya ternyata amat jitu, yang sebuah tepat mengenai tombak musuh hingga senjata ini terguncang pergi, sedangkan batu yang lain kena pula pada pergelangan tangan lelaki kuat tadi.

Ilmu silat lelaki itu ternyata sangat tinggi. Meski tangan kanan kena sambitan batu hingga seketika lemas tak bertenaga, tapi telapak tangan yang lain masih bisa bergerak secepat kilat dan mendadak dipukulkan lagi. Maka terdengarlah suara “plak”, dada Bu-siang kena digenjot dengan keras.

Keruan Yo Ko terkejut. Ya, bagaimana pun usia Yo Ko masih muda dan pengalamannya cetek, sama sekali tidak diduganya bahwa lelaki itu memiliki kepandaian lihay ‘Lian-goan-siang-ciang’ atau pukulan berganda secara susul-menyusul.

Ketika pukulan kedua orang itu dilontarkan, lekas Yo Ko melayang maju menolong Liok Bu-siang. Dengan sekali tarik saja dia dapat jambret baju leher lelaki itu, lalu dengan tenaga raksasanya terus dilempar pergi se-jauhnya. Tubuh lelaki itu beratnya sedikitnya lebih dua ratus kati, tetapi oleh lemparan Yo Ko ini, seketika ia ter-apung di udara untuk kemudian jatuh terbanting sejauh beberapa tombak.

Melihat Yo Ko begini lihay, imam tadi dan si lelaki pendek menjadi jeri, maka Iekas-lekas mereka membangunkan kawannya terus pergi tanpa berpaling lagi.

Kemudian Yo Ko memeriksa keadaan Bu-siang. Dia melihat muka si gadis pucat kuning, napasnya sangat lemah, nyata lukanya tidak ringan. Ia ulur sebelah tangan ke bahu orang dengan maksud memayang Bu-siang supaya duduk kembali, siapa tahu terdengar suara “gemerutuk” dua kali, suara saling geseknya tulang, kiranya dua tulang iga Bu-siang telah patah oleh hantaman lelaki tangkas tadi.

Sebenarnya Bu-siang sudah jatuh pingsan, namun karena terguncangnya tulang iga yang patah hingga menimbulkan sakit hebat, saking sakitnya berbalik ia sadar dari pingsannya, lalu ia merintih-rintih dengan kepala tunduk.

“Kenapa? Apa sangat sakit?” lekas Yo Ko bertanya.

Dalam sakitnya sampai jidatnya Bu-siang penuh berkeringat. Kini mendengar pertanyaan Yo Ko, keruan ia mendongkol.

“Masih tanya, sudah tentu sangat sakit!” demikian dengan mengertak gigi menahan sakit dia mendamperat, “Hayo pondong aku ke dalam rumah!”

Yo Ko tak membantah, segera ia pondong tubuh si nona, tapi tidak urung terjadi juga guncangan sehingga tulang iga yang patah itu kembali saling bergesek sampai Bu-siang kesakitan Iagi.

“Bagus ya kau si Tolol setan alas, kau sengaja menyiksaku, ya?” demikian ia me-maki. “Dan… di manakah ketiga orang tadi?”

Nyata pada saat Yo Ko turun tangan menolongnya, waktu itu kebetulan dia jatuh semaput oleh hantaman musuh, sebab itu ia tidak tahu bahwa ‘si Tolol’ inilah yang telah menolong jiwanya.

“Mereka menyangka kau sudah mati, maka mereka lantas pergi,” dengan tertawa Yo Ko menjawab.

Mendengar keterangan ini hati Bu-siang merasa lega. “Apa yang kau tertawakan?” damperatmya pula demi dilihatnya Yo Ko nyengir. “Kau kesenangan ya melihat aku kesakitan?”

Mendengar orang mendamperat dan memaki terus-menerus padanya, setiap kali orang memaki, Yo Ko lantas teringat pada kejadian dulu ketika dirinya didamperat Siao-liong-li. Selama beberapa tahun dia hidup berdampingan dengan Siao-liong-Ii di dalam kuburan Hoat-su-jin-bong, hari yang dilewatkannya itu dianggap masa yang paling menyenangkan selama hidupnya. Sungguh pun Siao-liong-Ii selalu mendamperatnya dengan bengis, tapi karena, diketahuinya sang guru mengajarnya dengan sesungguh hati, biar pun mendapat damperatan, toh tetap dirasakannya sangat senang.

Kini karena tidak bisa ketemukan Siao-liong-li yang dia cari, tetapi kebetulan ada seorang gadis lagi yang mendamperatnya dengan kata-kata yang bengis, tanpa terasa hati kecilnya lantas anggap orang sebagai duplikatnya Siao-liong-li sekedar pelipur hati yang kosong, dengan demikian rasa deritanya menjadi sedikit berkurang. Begitulah, maka terhadap caci-maki Liok Bu-siang tadi, Yo Ko hanya tertawa saja tanpa digubrisnya.

Melihat wajah orang mengunjuk ketawa, Bu-siang teringat pada dirinya sendiri yang sudah cacat, sekarang menderita luka parah pula. Sebaliknya bocah angon ini meski kotor tapi seluruh anggota badannya dalam keadaan baik. Memang tabiat Bu-siang sudah ada kelainan, kini dalam keadaan luka dia menjadi iri terhadap Yo Ko. Ia gemas sekali, bisa-bisa dengan sekali bacok hendak dibunuhnya Yo Ko.

Yo Ko pondong Bu-siang dan direbahkan di atas meja tadi. Karena gerakan merebahkan itu, kembali tulang iganya yang patah itu berbunyi lagi saling gesek, saking sakitnya Bu-siang men-jerit tak tahan. Dan justru waktu menjerit itu pernapasannya menjadi tambah keras hingga menarik urat iganya, maka rasa sakitnya menjadi lebih hebat lagi.

“Maukah kusambungkan tulangmu yang patah ini?” tanya Yo Ko kemudian.

“Anak angon bau busuk, kau mampu sambung tulang apa?” damperat Bu-siang.

“Pernah anjing piaraanku yang borokan berkelahi dengan anjing tetangga sehingga tulang kakinya patah tergigit, maka akulah yang sambungkan tuIangnya,” kata Yo Ko. “Dan ada lagi, babi betina kepunyaan tetanggaku terbanting patah tulang iganya, itu pun aku yang menyambungkan tulangnya.”

Bu-siang menjadi marah karena dirinya disamakan dengan hewan, namun dia tidak berani berteriak sebab akan mengakibatkan rasa sakit. Maka dengan suara tertahan terpaksa ia mendamperat lagi:

“Kurang ajar, kau memaki aku sebagai anjing borokan dan maki aku pula sebagai babi betina. Kau sendirilah yang anjing borokan dan babi betina.”

“Tidak, salah, umpamanya babi, aku kan babi jantan,” sahut Yo Ko dengan tertawa, “Lagi pula, anjing borokan itu pun betina, anjing jantan tak bisa borokan kulitnya.”

Biasanya Bu-siang sangat pintar bicara dan pandai adu mulut, tapi karena setiap ia buka mulut rasa sakitnya tidak kepalang, maka niatnya untuk membalas makian orang ia urungkan, terpaksa ia pejamkan mata dan menahan rasa sakit, ia tidak menggubris lagi keceriwisan Yo Ko.

“Tahukah kau, tulang anjing borokan itu lantas sembuh dalam beberapa hari saja setelah kusambung. Ketika berkelahi lagi dengan anjing tetangga, keadaannya seperti tulangnya tak pernah patah,” demikian Yo Ko sengaja menerocos terus. “Eh, nona Liok, bagaimana dengan kau, mau tidak aku pun sambungkan tulangmu?”

Dalam keadaan kepepet, dalam hati Bu-siang berpikir juga: “Boleh jadi bocah angon kotor ini benar-benar bisa menyambung tulang, apa lagi disini pun tiada tabib, kalau tiada yang mengobati aku, tentu aku akan mati konyol kesakitan.”

Tetapi lantas terpikir lagi olehnya: “Tulang igaku yang patah, kalau dia menyambungkan tulangku ini tentu tubuhku akan kelihatan, bukankah ini sangat memalukan? Hm, kalau dia tidak dapat menyembuhkan Iukaku, biar kuhabiskan jiwaku bersama dia. Dan kalau bisa sembuh, aku pun tidak membiarkan seorang yang pernah melihat tubuhku tetap hidup di jagat ini.”

Dasar sifat Bu-siang memang sudah menyendiri karena penderitaannya sejak kecil, lagi pula begitu lama ikut Li Bok-chiu hingga terpengaruh juga oleh sifat Jik-lian-sian-cu yang kejam dan enteng tangan. Walau pun umurnya masih sedikit, tapi dalam pikirannya penuh dengan angan-angan yang keji.

Begitulah, maka dengan suara rendah lalu ia berkata: “Baik, boleh coba kau sambungkan tulangku, tapi sebenarnya kau bisa atau tidak? Jangan kau coba membohongi aku, bocah angon busuk, awas kau!”

Yo Ko menjadi senang melihat orang akhirnya menyerah, katanya dalam hati: “Jika dalam keadaan begini aku tidak goda dia, mungkin selanjutnya tiada kesempatan baik lagi.”

Oleh karena itu, dengan lagak dingin saja dia berkata lagi: “Sewaktu babi betinanya wak Ong tetanggaku itu patah tulang iganya, beribu kali anak gadisnya memohon padaku dan beruntun memanggil aku seratus kali ‘engkoh yang baik’ baru aku mau menyambungkan tulangnya.”

“Cis, cis, bocah angon busuk, cis... auuhh...” damperat Bu-siang ber-ulang, akan tetapi mendadak ia menjerit karena dadanya terasa sakit pula.

“Kau tak mau panggil aku, tak mengapalah,” kata Yo Ko dengan tertawa. “Nah, aku akan pulang saja, nona Liok, selamat tinggal, sampai ketemu lagi.”

Sambil bicara, betul saja Yo Ko lantas melangkah keluar pintu. “Celaka, dengan kepergiannya ini pasti aku akan mampus kesakitan di sini,” demikian pikir Bu-siang. Karena itu terpaksa ia tanya dengan menahan amarahnya:

“Lalu apa yang kau kehendaki?”

“Sebenarnya kau pun harus seratus kali panggil aku ‘engkoh yang baik’, tetapi sepanjang jalan aku sudah kenyang dicaci maki olehmu, maka kau harus panggil aku seribu kali baru jadi,” sahut Yo Ko.

Betul-betul Bu-siang mati kutu, “Biarlah kusanggupi semuanya, nanti bila aku sudah sembuh, satu persatu baru kubikin perhitungan padanya.”

Demikian pikirnya diam-diam. Karena itu, segera ia menurut: “Baiklah, engkoh yang baik, engkoh yang baik, engkoh yang baik... auuh...”

“Sudahlah, masih ada 997 kali, sementara kucatat saja sebagai utangmu, nanti kalau kau sudah baik barulah dilunaskan lagi,” kata Yo Ko.

Habis berkata, ia lantas mendekati Bu-siang terus hendak membuka bajunya. Karena kelakuan Yo Ko ini, tanpa terasa Bu-siang sedikit mengkeret sambil membentak:

“Pergi! Apa yang hendak kau lakukan?!”

Karena bentakan itu, Yo Ko menyurut mundur. “Untuk menyambung tulangmu, mengapa bajumu tak boleh dibuka? Aku pernah mendengar orang bilang ada ilmu ‘ke-san-pak-gu’ (memukul kerbau dari balik gunung), tetapi tidak pernah mendengar ada ilmu ‘ke-ih-ti-gu’ (mengobati kerbau dari balik baju),” demikian katanya dengan tertawa.

Mendengar kata-kata ini, Bu-siang merasa lucu juga akan kelakuannya tadi. Tetapi kalau dibiarkan orang membuka bajunya, sesungguhnya rada malu juga. Karena itu ia menjadi ragu-ragu.

“Baiklah, tak bisa kutolak kau,” katanya kemudian dengan kepala menunduk dan berpikir lama.

“Kalau kau tak mau disembuhkan boleh tak usah saja, aku pun tidak kepingin...”

Baru saja Yo Ko berkata sampai di sini, mendadak didengarnya dari luar sana ada suara orang sedang berbicara:

“Budak hina ini pasti berada di sekitar sini, kita harus lekas-lekas menemukannya.”

Bu-siang menjadi pucat lesi mendengar suara orang itu, dalam keadaan demikian rasa sakit dadanya tak terpikir lagi olehnya, dengan cepat ia mendekap mulut Yo Ko yang sedang berkata tadi. Kiranya yang berbicara di luar itu tidak lain dari pada Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu, gurunya yang sangat ditakutinya itu.

Yo Ko sendiri pun sangat terkejut setelah dikenalnya suara siapa orang itu.

“Yang menancap di punggung pengemis itu terang adalah ‘Gin-ko-to’ milik Sumoay, cuma sayang tak keburu kita mencabutnya buat mengenalinya lebih pasti,” demikian terdengar suara seorang wanita lain. Orang ini dengan sendirinya Ang Ling-po adanya.

Kiranya sejak mereka guru dan murid terlolos dari kematian di Hoat-su-jin-bong, kemudian mereka pulang ke Jik-keh-ceng yang menjadi kediamannya, di sana diketahui bahwa Liok Bu-siang meninggalkan perkampungan mereka itu tanpa pamit, bahkan sebuah kitab Li Bok-chiu, yaitu ‘Ngo-tok-pit-toan’ (kitab rahasia ‘Panca-bisa’) telah ikut dicuri juga.

Sebabnya Li Bok-chiu disegani di seluruh jagat hingga tokoh-tokoh Bu-lim pada jeri kalau mendengar namanya, titik pokoknya bukan karena ilmu silatnya, tetapi pada racun jahat ‘Ngo-tok-sin-ciang’ (pukulan sakti panca-bisa, yaitu lima macam racun) dan senjata ‘Peng-pek-gin-ciam’ (jarum perak batu es).

Justru kitab ‘Ngo-tok-pit-toan’ itu memuat resep obat racun pembuatan jarum perak dan pukulan saktinya yang berbisa itu dengan obat pemunahnya pula. Kalau kitab itu teruar di kalangan umum, lalu ditaruh ke mana lagi nama baik serta wibawa Jik-Iian-sian-cu yang disegani?

Sebenarnya Li Bok-chiu sendiri sudah apal di luar kepala semua isi kitab pusakanya, dengan sendirinya kitab itu tak perlu selalu dibawa, pula penyimpanannya di Jik-he-ceng sangat dirahasiakan. Siapa tahu Liok Bu-siang yang pintar dan cerdik, segala apa selalu diperhatikannya hingga tempat penyimpanan benda-benda rahasia gurunya telah diketahui olehnya. Karena sudah ada niatannya hendak melarikan diri, maka jarum perak berbisa berikut obat pemunah sang guru, bahkan kitab ‘Panca-bisa’ itu pun dicuri dan dibawa lari sekalian.

Keruan amarah Li Bok-chiu bukan buatan oleh perbuatan Liok Bu-siang itu. Maka dengan membawa Ang Ling-po, segera diubemya siang malam. Tapi sudah lama Bu-siang kabur, lagi pula yang ditempuh adalah jalanan kecil yang sepi, meski Li Bok-chiu berdua sudah menguber dari utara hingga selatan dan dari selatan kembali ke utara untuk mencegatnya, namun bayangan si gadis yang dicari itu tetap tak kelihatan.

Kebetulan malam hari itu, waktu mereka berdua sampai di sekitar kota Cingkoan, mereka mendengar berita dari anak murid Kay-pang yang mengatakan bahwa ada pertemuan golongan mereka di suatu tempat.

Li Bok-chiu pikir anggota persatuan kaum pengemis itu tersebar di mana-mana, kabar berita mereka pun sangat cepat dan tajam, tentu di antara mereka ada yang pernah melihat Liok Bu-siang. Oleh karena itu mereka berdua lantas pergi ke tempat pertemuan itu dengan maksud mencari kabar.

Tetapi di tengah jalan mereka ketemukan satu anak murid Kay-pang dari angkatan ke enam yang digendong lari oleh seorang kawannya dalam keadaan luka-luka, selain itu ada belasan pengemis yang mengawalnya.

Dengan kejelian mata Li Bok-chiu, sekilas bisa dilihatnya pada punggung pengemis yang digendong itu menancap sebilah golok melengkung dan dapat dikenalinya sebagai ‘Gin-ko-to’ atau golok perak melengkung milik Liok Bu-siang.

Oleh karena tak ingin membuat onar dengan kaum pengemis yang berpengaruh besar itu, maka Li Bok-chiu mengintil dari belakang untuk mengintai. Kebetulan lapat-lapat dapat didengar percakapan kawanan pengemis itu dalam keadaan marah-marah, katanya yang melukai kawan mereka itu adalah seorang gadis pincang yang menimpukkan golok melengkung itu.

Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang. Ia pikir kalau pengemis itu baru saja dilukai, tentu Liok Bu-siang masih berada juga di sekitar sini. Karena itu dengan langkah cepat segera ia menguber lagi hingga sampai di depan rumah batu bobrok itu. Di sini tampak olehnya ada segundukan abu bekas api unggun, hidungnya pun segera mengendus bau darah yang anyir. Lekas ia nyalakan api dan coba periksa sekitarnya. Betul saja di atas tanah diketemukan lagi bekas noda darah yang masih baru, terang sekali terjadinya pertarungan sengit itu belum lama berselang. Dari itu segera Li Bok-chiu tarik ujung baju sang murid sambil menuding ke arah rumah bobrok itu.

Ang Ling-po mengerti maksud sang guru. Dia mengangguk, setelah itu pintu rumah yang setengah tertutup ia dorong, dengan putar pedang untuk melindungi tubuhnya segera ia terjang ke dalam.

Di Iain pihak, begitu mendengar suara percakapan antara Suhu dan Suci-nya, Bu-siang insaf sekali ini tak akan luput lagi dari kematian, karena itu ia malah kuatkan hatinya dan berlaku tenang saja merebah untuk menantikan ajalnya.

Begitulah terdengar suara pintu didorong, menyusul sesosok bayangan orang menyelinap masuk yang bukan lain adalah sang Suci, Ang Ling-po. Sejak kecil Bu-siang pandai mengambil hatinya, maka terhadap sang Sumoay tidak jelek juga kasih sayang Ang Ling-po. Sekali ini sang Sumoay telah melanggar peraturan besar perguruannya, pasti gurunya akan menyiksa habis-habisan dengan ber-macam cara yang keji terhadap Bu-siang, habis itu sedikit demi sedikit baru dihukum mati.

Kini nampak si Sumoay masih rebah di atas meja, segera Ang Ling-po angkat pedangnya terus menusuk ke ulu hatinya, dengan demikian ia pikir anak dara ini boleh terbebas dari segala siksaan guru mereka.

Siapa duga, baru saja ujung pedangnya hampir menempel ulu hati Liok Bu-siang, tiba-tiba Li Bok-chiu sudah menepuk perlahan pundaknya, karena ini seketika Ling-Po merasakan tangannya menjadi lemas tak bertenaga, segera pula tangannya melambai ke bawah.

DITOLONG SI TOLOL

“Hm, apa aku sendiri tidak bisa membinasakan dia? Perlu apa kau buru-buru?” kata Li Bok-chiu dengan tertawa dingin. Habis ini ia berpaling dan ditujukan pada Liok Bu-siang. “Hm, apa di hadapan Suhu kau tidak melakukan penghormatan lagi?”

Tapi Bu-siang sudah teguhkan hatinya. “Hari ini aku sudah jatuh ke tangannya, baik minta ampun atau membangkang pasti juga akan merasakan siksaan yang kejam,” demikianlah pikirnya. Karena itu dengan dingin saja dia menjawab:

“Keluarga kami dengan kau sudah menanam dendam sedalam lautan, tidak perlu lagi kau banyak bicara.”

Namun Li Bok-chiu hanya memandang anak dara itu dengan diam, entah rasa suka atau duka yang terkandung pada sorot matanya. Sebaliknya Ang Ling-po memandangi sang Sumoay dengan wajah yang penuh rasa duka dan kasihan, akan tetapi ternyata Bu-siang tidak gentar sedikit pun oleh sikap sang guru, bibirnya sedikit terjibir, tampaknya malah mengunjuk sikap yang angkuh dan menantang. Dengan begitu mereka bertiga sudah saling pandang.

“Mana kitab itu? Serahkan!” kata Li Bok-chiu kemudian sesudah terdiam agak lama.

“Sudah direbut seorang Tosu (imam) dan seorang pengemis!” sahut Bu-siang.

Terkejut sekali Li Bok-chiu oleh jawaban itu. Meski pun Li Bok-chiu tidak pernah bermusuhan dengan kaum pengemis, tapi dengan ‘Coan-cin-kau’ tidak sedikit dendamnya, dia pun tahu antara Kay-pang dan Coan-cin-kau mempunyai hubungan yang sangat rapat, kalau kitab ‘Ngo-tok-pit-toan’ itu sampai jatuh di tangan mereka, sungguh celaka!

Sayup-sayup Bu-siang dapat mendengar suara tertawa dingin sang guru, dia tahu pasti orang sedang memikirkan akal keji untuk menyiksa dirinya. Jika waktu melarikan diri sepanjang jalan selalu ketakutan ditangkap oleh gurunya, sekarang sesudah betul-betul tertangkap, dia malah tidak begitu takut lagi seperti semuIa.

“Ehh, kemanakah si tolol itu pergi?” demikian tiba-tiba ia jadi teringat pada Yo Ko.

Dalam keadaan jiwanya terancam maut ini, tanpa sadar timbul semacam perasaan hangat terhadap bocah angon yang tolol dan kotor itu. Pada saat itu juga tiba-tiba ada berkelebatnya sinar api, menyusul kemudian dengan membawa suara gedebukan mendadak seekor banteng ngamuk menerjang masuk dari luar.

Waktu Li Bok-chiu dan Ang Ling-po menoleh, maka tampaklah seekor sapi jantan yang tinggi besar menyerobot masuk, pada ujung tanduk kiri binatang itu terikat sebilah belati dan sebelah tanduk yang lain terikat pula seikat kayu dengan api yang me-nyala.

Terjangan binatang itu ternyata hebat sekali. Meski pun ilmu silat Li Bok-chiu amat tinggi, tetapi tak berani juga ia menghadapi serudukan sapi jantan itu dari depan, maka segera ia berkelit ke samping. Ia melihat binatang itu mengitar sekali di ruangan rumah itu, habis ini lantas berputar keluar lagi. Tatkala menerjang masuk sapi itu main seruduk seenaknya, pada waktu keluar pun berlari secepat keranjingan setan, karenanya hanya sekejap saja sapi itu sudah lari pergi sejauh belasan tombak.

Dengan memandangi bayangan binatang itu semula Li Bok-chiu rada heran, tetapi segera terpikir olehnya:

“He, siapakah yang mengikat pisau dan kayu berapi itu di tanduknya?”

Waktu mereka berpaling kembali, tanpa saling berjanji guru dan murid itu lantas menjerit berbareng. Ternyata Liok Bu-siang yang tadi masih rebah di atas meja itu, sekarang telah lenyap tanpa bekas. Lekas Ling-po menggeledah seluruh rumah bobrok itu, habis ini ia melompat lagi ke atas atap rumah. Sebaliknya Li Bok-chiu menduga pasti sapi tadi yang bikin gara-gara, maka dengan sekali melayang, dengan enteng dan gesit segera dikejarnya binatang itu.

Dalam keadaan gelap sinar api yang menyala pada tanduk sapi itu terlihat cukup jelas. Nyata binatang itu sudah menerobos masuk ke sebuah hutan. Dari sorot api tampak pula oleh Li Bok-chiu bahwa di atas punggung sapi itu tiada penunggangnya, tampaknya Liok Bu-siang toh bukan kabur dengan menunggang sapi. Namun pikirannya segera tergerak:

“Ahh, tentu tadi ada orang yang sembunyi di luar. Sapi aneh itu hanya digunakan untuk mengalihkan perhatianku dan dalam keadaan kacau budak hina itu lalu ditolongnya pergi.”

Namun seketika dia menjadi bingung karena tidak tahu ke jurusan mana harus mengejar, hanya langkahnya segera dia percepat sehingga sebentar saja sapi jantan itu telah dapat disusulnya. Segera ia melompat ke atas punggung binatang itu lalu diperiksanya dengan teliti, namun tiada menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan. Ia melompat turun lalu menendang sekali bokong binatang itu, kemudian dengan menekap bibir dia bersuit memberi tanda pada Ang Ling-po. Mereka lantas menguber lagi dari dua jurusan, yang satu dari utara ke selatan dan yang lain dari barat ke timur.

Munculnya sapi jantan itu dengan sendirinya adalah perbuatan si Yo Ko. Tadi begitu mendengar suara Li Bok-chiu berdua, diam-diam dia ngeluyur keluar melalui pintu belakang lalu mengintip dari luar. Mendengar satu kata saja segera dia tahu Li Bok-chiu mau membunuh Liok Bu-siang. Meski Li Bok-chiu masih terhitung Supek atau ‘paman’ guru Yo Ko sendiri, tapi bencinya terhadap perempuan kejam itu sudah terlalu mendalam. Semula dia bingung bagaimana caranya harus menolong jiwa Liok Bu-siang.

Mendadak dilihatnya dari jauh sapi jantan yang kemarin itu sedang menguak tak bertuan. Keruan saja ia girang, ia ber-Iari menghampiri binatang itu. Ia ikat belatinya Bu-siang berikut seikat kayu yang dinyalakan di tanduk sapi, ia sendiri terlentang mengempit di bawah perut binatang, ia giring sapi itu menerjang ke dalam rumah.

Waktu sapi itu berlari mengitari ruangan, tubuh Bu-siang disambarnya dengan masih tetap menggemblok sembunyi di bawah perut sapi. Dasar ilmu silat Yo Ko sudah terlalu hebat, gerak-geriknya pun dilakukan dengan cepat sekali, ditambah lagi rupa sapi jantan itu pun aneh, maka sekali pun Li Bok-chiu luar biasa lihaynya, sesaat itu ia kena dikelabui oleh Yo Ko.

Dan ketika Li Bok-chiu berhasil menyusul sapi jantan yang kabur itu, Yo Ko sudah menyembunyikan diri di antara semak rumput sambil memondong Liok Bu-siang. Sudah tentu, karena guncangan hebat itu, rasa sakit Bu-siang menjadi melebihi di-sayat. Bagaimana caranya Yo Ko menolong dan membawa dirinya menggemblok di bawah perut sapi dan bagaimana cara melompat turun dan sembunyi di semak alang-alang, semuanya itu tidak diketahuinya oleh karena keadaannya yang setengah pingsan. Setelah agak lama kemudian baru pikirannya sedikit pulih kembali. Dalam sakitnya segera ia hendak berteriak.

“Jangan bersuara!” lekas Yo Ko dekap mulutnya sambil membisikinya.

Betul saja segera terdengar suara tindakan orang yang tidak jauh dari tempat sembunyi mereka.

“He, kenapa sekejap saja sudah tak kelihatan?” itulah suaranya Ang Ling-po.

“Lebih baik kita pergi saja, budak hina itu tentu sudah kabur jauh,” terdengar Li Bok-chiu menyahut dari jauh.

Habis itu lantas terdengar pula suara tindakan Ang Ling-po yang makin menjauh. Saking sesak oleh karena mulutnya didekap rapat orang, segera Bu-siang meronta-ronta dan hendak berteriak lagi, namun sedikit pun Yo Ko tak melepaskannya, tangannya masih mendekap kencang pada mulut si nona.

Ketika Bu-siang kembali meronta dan merasa dirinya berada dalam pelukan si pemuda, ia menjadi malu tercampur gugup. Segera ia bermaksud memukul orang, tetapi tiba-tiba terdengar Yo Ko membisikinya lagi:

“Ssstt, jangan kau tertipu, gurumu sengaja akali kau!”

Baru saja dia selesai bicara, betul saja lantas terdengar Li Bok-chiu sedang berkata: “Ah, rupanya memang tidak ada di sini lagi.” Demikian dekat suaranya seakan-akan berada di samping mereka saja.

Keruan Bu-siang terkejut. “Untung ada si tolol ini, kalau tidak, tentu aku sudah tertawan oIehnya.”

Kiranya Li Bok-chiu memang cerdik sekali. Ia sangsi Bu-siang masih sembunyi di sekitar sini, maka sengaja dia bilang pergi, padahal dengan ilmu entengi tubuh ‘Chau-siang-hui’ (terbang di atas rumput) dia putar balik kembali tanpa terbitkan sesuatu suara pun, dan karena ini hampir saja Bu-siang terjebak kalau Yo Ko kurang cerdik.

Sesudah Yo Ko pasang kuping mendengarkan, kemudian dapat diketahuinya Li Bok-chiu berdua sekali ini betuI sudah pergi, barulah ia lepaskan tangannya yang mendekap mulut si nona.

“Baiklah, sekarang tak perlu kuatir lagi,” dengan tertawa ia berkata.

“Lepaskan aku!” bentak Bu-siang karena badannya masih dalam pelukan orang.

Maka dengan perlahan Yo Ko meletakkan Bu-siang ke tanah rumput. “Segera akan kusambung tulangmu, kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, jika sampai fajar mendatang mungkin tak bisa meloloskan diri lagi,” katanya.

Bu-siang manggut tanda setuju. Karena kuatir orang kesakitan pada waktu menyambung tulangnya dan me-ronta hingga diketahui oleh Li Bok-chiu, segera Yo Ko totok dulu jalan darah Bu-siang hingga gadis ini tak mampu berkutik, habis ini barulah baju orang dibukanya.

“Se-kaIi-kali jangan bersuara,” demikian ia berpesan. Setelah baju luar dibuka, tampaklah baju dalam si gadis yang berwarna biru muda.

Tiba-tiba kedua tangan Yo Ko rada gemetar, dia tak berani membuka baju orang lebih jauh. Pada waktu ia pandang si gadis, ia lihat Bu-siang pejamkan kedua matanya dengan alis berkerut rapat. Dasar Yo Ko memang baru menginjak masa remaja, ketika mencium bau wangi badan gadis, tak tertahan jantungnya memukul keras.

“Sembuhkanlah aku!” kata Bu-siang tiba-tiba sambil membuka matanya. Hanya dua patah kata saja, lalu ia pejamkan matanya lagi dan berpaling ke jurusan lain.

Akan tetapi Yo Ko berhenti lagi, ia tidak berani meraba tubuh orang. Ketika tubuh si gadis yang putih halus tampak olehnya, ia pun berdiri terpesona. Karena sudah lama menunggu, lagi pula terasa angin silir menghembusi badannya yang sudah terbuka hingga terasa rada sejuk, Bu-siang membuka matanya lagi sehingga kelakuan Yo Ko yang ter-mangu seperti patung itu dapat dilihatnya.

“A... apa yang kau... kau lihat?!” bentaknya marah.

Yo Ko terkejut, lekas ia ulurkan tangan meraba tulang iga orang yang patah. Tetapi baru menyentuh kulit tubuh yang halus itu, Yo Ko seperti kena aliran listrik, tangannya cepat ditarik kembali lagi.

“Lekas tutup matamu, jika kau pandang aku lagi segera ku... ku...” bentak Bu-siang pula dengan suara ter-putus-putus, sampai di sini tak tahan lagi air matanya lantas menetes.

“Ba... baiklah, jangan kau menangis,” sahut Yo Ko gugup.

Habis itu benar saja dia pejamkan matanya, lalu tangannya meraba lagi tulang iga orang. Kedua tulang iga yang patah itu dipasang dengan tepat, lalu baju si gadis lekas dia tarik buat menutupi bagian badannya itu.

Sesudah perasaannya rada tenang, Yo Ko mendapatkan pula empat potong kayu. Dua batang diapit di bagian depan dada dan yang dua batang di punggung, dengan kulit pohon yang dibesetnya dia pakai sebagai perban, lalu diikatnya dengan kencang supaya tulang yang patah itu tidak bergeser lagi. Habis ini baru dia betulkan baju si gadis dan lepaskan totokannya tadi.

Waktu Bu-siang pentang matanya, remang-remang ia lihat muka Yo Ko yang tersorot sinar bulan bersemu merah dan dengan rasa kikuk sedang mengintip meliriknya, tetapi begitu sinar mata kedua belah pihak bentrok, dengan cepat Yo Ko melengos ke samping.

Meski sekarang tulang iganya telah tersambung dengan benar, tapi masih dirasakan sakit jarem, cuma sudah jauh berkurang dari pada rasa sakit waktu tulangnya saling bergesek ketika sedang disambung tadi.

“Si tolol ini ternyata punya sedikit kepandaian juga,” demikian ia pikir.

Sebenarnya Bu-siang bukan gadis bodoh. Kini sudah dapat dilihat bahwa Yo Ko bukan anak udik biasa, bukan anak tolol segala. Tetapi karena sejak mula ia sudah perlakukan orang dengan caci maki dan pandang hina, kini meski sudah ditolong ia tetap belum mau merubah sikapnya.

“Lalu bagaimana baiknya sekarang, Tolol?” demikian ia tanya, “Apakah kita harus terpaku di sini ataukah harus menyingkir pergi yang jauh?”

“Bagaimana menurut kau?” balas Yo Ko tanya.

“Sudah tentu pergi saja, apa hendak tunggu kematian di sini?” sahut Bu-siang tertawa. Keruan girang sekali si gadis hingga ia tertawa riang. “Tolol, daerah Kanglam begitu jauh letaknya, apa bisa kau pondong aku terus sampai di sana?” ujar Bu-siang. Walau pun berkata demikian, namun dia pun tidak membantah lagi dan membiarkan tubuhnya meringkuk dalam pelukan Yo Ko.

Karena kuatir kepergok Li Bok-chiu berdua, maka jalan yang dipilih Yo Ko adalah jalanan kecil yang sepi. Dasar Ginkang Yo Ko memang sudah amat tinggi, meski pun langkahnya cepat, namun bagian tubuh yang atas sedikit pun tidak terkocak sehingga sama sekali Bu-siang tidak merasakan sakit lagi.

Begitu cepat larinya Yo Ko sehingga Bu-siang melihat pepohonan di tepi jalan berkelebat lewat ke belakang, sungguh cepatnya seperti kuda balap, apa bila dibandingkan malahan Ginkang pemuda ini tidak di bawah gurunya, keruan Bu-siang sangat terkejut dan heran.

“Ha, kiranya si Tolol ini memiliki ilmu yang tinggi luar biasa. Dengan umurnya semuda ini, mengapa sudah dapat melatih diri sampai begini lihay?” demikian dia bertanya dalam hati.

Sementara itu hari sudah mulai terang, waktu Bu-siang menengadah ia lihat muka Yo Ko meski pun kotor, tetapi tidak menutupi mata dan alisnya yang cukup jelas bukan anak tolol sebagaimana dia anggap, melainkan pemuda yang ganteng. Betapa pun juga hatinya tergerak, sehingga selang tak lama kemudian lambat laun ia pun lupa rasa sakit di dadanya.

“Pergi ke mana?” tanya Yo Ko.

“Aku mau pulang ke Kanglam, mau tidak kau antar aku ke sana?” kata Bu-siang lagi.

“Aku harus mencari Kokoh, aku tidak dapat pergi begitu jauh,” sahut Yo Ko.

Mendengar jawaban ini, tiba-tiba Bu-siang tarik muka. “Baiklah, kalau begitu lekaslah kau pergi! Biarkan aku mati saja di sini,” demikian katanya kemudian.

Kalau si gadis ini memohon dengan kata halus dan membujuk umpamanya, maka dapat dipastikan Yo Ko tidak akan mau terima. Tetapi kini melihat wajah orang mengunjuk rasa marah dan alisnya terkerut rapat, lapat-lapat memper sekali dengan sikap Siao-Iiong-li di waktu marah, tak tertahan ia lantas menerima baik permintaan orang.

“Bisa jadi Kokoh kebetulan juga berada di daerah Kanglam. Biar kuantar nona Liok ini ke sana, siapa tahu kalau Thian kasihan padaku berhasil ketemukan Kokoh di sana?” demikian ia pikir.

Walau pun demikian, sebenarnya dalam hati ia cukup tahu juga bahwa harapan itu terlalu kecil sekali, cuma tak ada jalan buat menolak permintaan Liok Bu-siang, maka pikirannya tadi boleh dibilang hanya untuk menghibur dirinya sendiri saja. Karena itulah, sambil menghela napas kemudian ia pun pondong lagi tubuh Bu-siang.

“Untuk apa kau pondong aku?” bentak Bu-siang dengan marah.

“Pondong kau ke Kanglam,” sahut Yo Ko lagi, lapat-lapat ia pun terpulas dalam pelukan Yo Ko.

Sampai hari sudah terang benderang, akhirnya Yo Ko merasa letih juga. Ia lari sampai di bawah satu pohon besar, ia turunkan Bu-siang dengan perlahan, ia sendiri lantas duduk di samping si gadis untuk mengaso.

Setelah Bu-siang bangun, dengan tersenyum manis ia berkata pada Yo Ko: “Aku lapar, kau lapar tidak?”

“Sudah tentu lapar,” sahut Yo Ko, “Baiklah, kita mencari kedai nasi untuk tangsal perut.”

Lalu ia pondong lagi si gadis. Sudah sepanjang malam ia memondong orang, maka kedua lengannya terasa pegal. Oleh karena itu tubuh si gadis ia angkat lalu didudukkan di atas pundaknya, dengan demikian ia melanjutkan perjalanan dengan perlahan.

“He, Tolol, siapakah namamu?” Bu-siang bertanya dengan tertawa sambil kedua kakinya menggeduk-geduk dada Yo Ko. “Rasanya tidak baik kalau di hadapan umum kau selalu kupanggil si Tolol saja!”

“Memang aku tidak punya nama lain, semua orang panggil aku si Tolol,” sahut Yo Ko.

“Hm, aku tidak percaya, tidak mau kau katakan juga masa bodoh,” kata Bu-siang dengan mendongkol. “Kalau begitu, siapakah Suhu-mu?”

Mendengar orang menyebut “Suhu”, karena terhadap Siao-liong-Ii hormatnya luar biasa, maka Yo Ko tidak berani bergurau atas nama gurunya itu.

“Suhu-ku adalah Kokoh,” demikan ia jawab dengan sungguh-sungguh.

Atas jawaban ini, Bu-siang mau percaya, “Kiranya ilmu silatnya ini adalah ilmu keturunan keluarga sendiri,” demikian ia pikir.

“Dari tempat mana dan aliran manakah Kokoh-mu?” segera ia tanya lagi.

“Tempatnya di rumah,” sahut Yo Ko pura-pura tolol. “Dari aliran apa itulah aku tidak tahu.”

“Hm, pura-pura bodoh kau,” omel si gadis. “Yang aku tanya adalah ilmu kepandaianmu itu dipelajari dari pintu perguruan mana?”

“Pintu? Apa kau tanya pintu rumahku itu?” sahut Yo Ko yang berlagak linglung, “Pintu itu bukankah terbikin dari kayu?”

Mendengar jawaban yang tidak keruan juntrungannya ini, Bu-siang pikir: “Jangan-jangan orang ini memang betul-betul tolol, hanya karena terlahir bisa lari cepat dan bukannya memiliki ilmu silat yang tinggi? Tapi salah juga, terang sekali ia mampu menotok dan menyambung tulang, sudah tentu dia adalah jagoan Bu-lim, jangan-jangan meski ilmu silatnya hebat, namun orangnya memang dasarnya dungu.”

BegituIah Bu-siang berpikir dengan hati bingung. Kemudian dengan kata2 halus dia coba bertanya lagi:

“Coba katakanlah baik-baik padaku, tolol, sebab apakah kau menolong jiwaku?”

Pertanyaan ini seketika sulit dijawab Yo Ko, karena itu ia telah pikir sejenak, habis ini baru ia berkata:

“Kokoh suruh aku menolong kau, maka aku lantas menolong kau!”

“Siapakah kau punya Kokoh itu?” tanya Bu-siang.

“Kokoh ya Kokoh, dia suruh aku kerja apa lantas kukerjakan apa,” kata Yo Ko.

Si gadis menghela napas lagi oleh jawaban yang tak genah ini, ia pikir: “Ah, kiranya orang ini memang betul toloI.”

Dan karena pikiran ini, rasa marahnya terhadap Yo Ko yang mulai timbul tadi, sekarang mendadak berubah lagi menjadi jemu dan gemas.

Melihat orang terdiam, Yo Ko malah bertanya: “Hei, kenapa kau tidak bicara lagi?”

Bu-siang tidak menjawab, dia hanya menjengek saja sekali, karena itu Yo Ko mengulangi lagi pertanyaannya.

“Kalau aku tak suka bicara lantas tak bicara, tahu, Tolol? Lekas kau tutup mulut!” bentak Bu-siang tiba-tiba.

Yo Ko pikir wajah orang dalam keadaan muring-muring demikian tentu enak sekali dipandang, tetapi si nona duduk di atas pundaknya, maka sukar dilihat, ia merasa sayang. Begitulah sambil bicara itu, kemudian tibalah mereka di suatu kota kecil.

Melihat cara kedua muda-mudi ini, yaitu Bu-siang didukung dengan duduk di atas pundak Yo Ko, semua orang di jalan ter-heran. Akan tetapi Yo Ko tidak peduli, ia mencari restoran dan minta disediakan daharan. Mereka duduk berhadapan.

Mendadak Bu-siang mengerutkan keningnya ketika terendus olehnya bau tahi sapi yang menghembus keluar dari badan Yo Ko.

“He, Tolol, kau duduk ke meja sana saja, jangan duduk semeja denganku,” katanya pada si pemuda dengan sikap mual.

Yo Ko tidak membantah, dengan tertawa ia duduk di meja yang lain. Meski demikian, melihat duduk orang masih menghadap ke arahnya, semakin dipandang tampang tolol orang semakin menjemukan, maka sambil menarik muka Bu-siang berkata lagi:

“Jangan kau pandang aku,” habis ini ia menuding meja yang lebih jauh letaknya dan menyambung: “Sana, pindah ke meja itu!”

Yo Ko menurut, dengan tertawa sambil membawa mangkok nasinya dia malah pindah ke ambang pintu dan duduk di sana lalu makan nasinya.

“Nah, begitulah seharusnya,” kata Bu-siang.

Sungguh pun perut si gadis terasa lapar, tapi dadanya terasa sakit oleh tulang yang patah itu. Dia menjadi uring-uringan dan maunya melampiaskan marahnya pada Yo Ko saja, tetapi karena orang sudah duduk begitu jauh, dia tak punya alasan lagi untuk mem-bentak atau mengomel padanya. Begitulah selagi ia kesal sekali, tiba-tiba didengarnya di luar pintu sana ada suara orang berdendang:

“Nona cilik berlakulah murah hati.” Kemudian ada seorang lagi terus menyambung: “Sedekahlah satu mangkok nasi kepada si pengemis!”

Waktu Bu-siang angkat kepalanya, terlihatlah empat pengemis berdiri sejajar di luar pintu, ada yang tinggi, ada yang pendek, semuanya sedang memandang ke arahnya. Karena dia pernah melukai seorang pengemis dengan senjatanya ‘Gin-ko-to’ atau golok perak melengkung, kini nampak kedatangan empat orang ini tidak mengandung maksud baik, ia terkejut.

Sementara itu ia dengar orang ketiga dari pengemis itu sedang menyambung dendangan kawannya tadi:

“Jalan ke sorga tidak kau tempuh!”

Lalu orang keempat lantas menyambung juga: “Neraka tak berpintu hendak kau masuki!”

Demikianlah lagu yang dinyanyikan keempat pengemis itu adalah lagu minta-minta yang biasa disuarakan kaum pengemis. Pada tangan kanan tiap-tiap pengemis itu membawa sebuah mangkok rusak, ada pun tangan kiri mencekal sepotong kayu yang masih berkulit, pundak mereka menggendong 6 buah kantong goni.

Melihat dandanan pengemis ini, teringat oleh Bu-siang apa yang pernah dia dengar dari cerita sang Suci, Ang Ling-po, bahwa anggota Kay-pang mem-bedakan tingkatan dengan menghitung kantong goni yang digendong mereka. Melihat empat pengemis ini membawa 6 kantong, maka dapatlah diketahui mereka adalah anak murid 6 kantong yang tergolong tinggi tingkatannya dalam Kay-pang.

Waktu itu pengaruh Kay-pang di daerah utara dan selatan sungai Yangce sangat besar, maka demi nampak sekaligus didatangi empat jago Kay-pang berkantong 6, kuasa hotel lantas tahu bakal terjadi peristiwa besar. Keruan ia menjadi gugup dan tegang, Iekas ia memberi tanda kepada pelayannya dan suruh mereka jangan membikin marah tokoh Kay-pang itu.

Di pihak Iain Liok Bu-siang tidak lagi memandang empat pengemis itu, ia hanya pandang daharan yang berada di atas mejanya, sedang dalam hati ia memikirkan tipu-daya untuk meloloskan diri. Tetapi musuh ada empat orang, dirinya sendiri terluka, sedang si Tolol itu apa benar pandai ilmu silat masih sukar dipastikan. Sekali pun benar bisa silat, namun kelakuannya gila-gilaan tak genah, tidak mungkin ilmu silatnya tinggi dan susah juga melawan empat jagoan Kay-pang. Begitulah meski pun Bu-siang biasanya sangat pintar dan cerdik, kini seketika merasa tak berdaya.

Sebaliknya Yo Ko lagi sibuk mengurusi isi mangkoknya dan sama sekali tak ambil pusing terhadap empat pengemis itu. Sehabis ‘langsir’ isi mangkok ke dalam perutnya, ia lantas mendekati meja Bu-siang dan tambah nasi lagi satu mangkok penuh, berbareng itu ia sambar sepotong ikan. Karena ikan itu dimasak kuah, maka airnya menetes-netes di atas meja.

“He-he-he, makan ikan!” dengan ke-tawa tolol ia berkata.

Melihat rupa orang, alis Bu-siang berkerut lebih rapat, namun kini tiada banyak waktu lagi buat mendamperat orang, sebab terdengar olehnya keempat pengemis tadi sesudah melagukan ‘si nona cilik’ secara sambung-menyambung hingga berulang sampai tiga kali, empat pasang mata mereka pun terus membelalak ke arahnya.

Oleh karena masih belum mendapatkan sesuatu akal untuk melayani orang, terpaksa Bu-siang pura-pura tidak mendengar saja dan dengan kepala tunduk menyumpit nasinya dengan perlahan.

“Nona cilik, jika semangkok nasi saja tak kau beri, maka harap memberi sedekah sebilah golok lengkung saja,” kata seorang di antara pengemis itu, rupanya mereka sudah tidak sabar. “Mari kau ikut bersama kami, kami takkan persulit kau, kami hanya ingin tanya duduknya perkara dan tentu ada keputusan secara adil,” demikian kata yang lain pula.

Selang tidak lama, pengemis yang ketiga pun mendesak lagi: “Hayo, lekaslah, apa perlu kami gunakan kekerasan?”

Dalam keadaan begini Bu-siang menjadi serba salah, dia tidak tahu apa harus menjawab atau tidak.

“Tidak akan kami minta-minta secara paksa dan empat laki-laki menghina seorang nona cilik. Kami hanya ingin engkau ikut pergi untuk menimbang siapa kiranya di pihak yang benar,” akhirnya pengemis yang keempat pun ikut berkata.

Mendengar lagu suara orang, Bu-siang insaf sebentar lagi tentu pakai kekerasan. Meski tahu tak ungkulan, tetapi tak bisa mandah menerima kematian. Maka dengan tangan kiri memegang bangku ia menunggu. Bila lawan berani maju, segera dengan bangku itu akan kuhantamkan dahulu kepada musuh.

“Sudah tiba waktunya kini,” demikian Yo Ko juga sedang berpikir, kemudian ia mendekati meja Bu-siang lagi, ia angkat piring ikan orang untuk mengambil lauk-pauk.

“Ahh, aku minta kuahnya,” demikian dengan samar dia bicara karena mulutnya sedang mengunyah sepotong ikan dengan lezatnya.

Sembari berkata, piring ikan yang dia angkat tadi sengaja dia miringkan hingga setengah mangkok kuah yang masih panas tertuang semua di atas lengan Bu-siang. Karena kejadian ini, tiba-tiba Bu-siang berpaling sambil menggeser sedikit tubuhnya untuk memeriksa kuah yang tertuang ke badannya itu.

“Aih, sungguh celaka!” seru Yo Ko pura-pura terkejut, habis ini ia berlagak kelabakan hendak membersihkan noda kuah itu.

Pada saat itu juga, dengan sedikit miringkan mukanya keluar, tiba-tiba ia menguap terus menyemprot hingga belasan duri tulang ikan yang tajam menyambar keluar dengan cepat ke arah keempat pengemis tadi.

Keempat pengemis itu sama sekali tidak menduga akan kejadian ini. Sedikit pun mereka tidak nampak jelas, tapi tiba-tiba saja siku mereka tempat ‘kiok-ti-hiat’ terasa kesemutan, lalu terdengar suara gedubrakan. Empat mangkok mereka yang bobrok itu terbanting ke lantai hingga pecah berantakan, berhimpun dengan empat pentung kayu mereka.

Sementara itu dengan bajunya yang sudah rombeng Yo Ko tiada hentinya menyeka air kuah yang tertuang ke lengan Bu-siang tadi sambil dengan ter-putus-putus dia berkata:

“Ja... jangan kau marah, aku... aku bersihkan kau.”

“Pergi!” mendadak Bu-siang membentak.

Ketika ia menoleh kembali, ia melihat keempat pengemis tadi menghilang di simpang jalan raya sana, sedang empat pentung dan mangkok yang sudah pecah berantakan terserak di lantai. Bu-siang menjadi ragu dan heran oleh kelakuan pengemis-pengemis itu, mengapa tanpa sebab lantas pergi begitu saja?

Sementara itu ia lihat Yo Ko dengan kedua tangannya yang kotor oleh kuah ikan dan air sayur lainnya masih mengusap dan menyeka serabutan di atas meja. Ia menjadi marah dan mendamperat lagi.

“Pergi menyingkir! Apa kau kira tidak kotor?”

“Ya, ya!” sahut Yo Ko berulang-ulang sambil dua tangannya menggosok bajunya untuk menghilangkan kotoran.

“Mengapa keempat pengemis itu pergi?” tanya Bu-siang kemudian sambil mengerutkan kening.

“Tentu karena nona tak mau memberi sedekah, toh tiada gunanya minta terus, maka mereka lantas pergi,” ujar Yo Ko.

Si gadis ber-pikir sejenak lagi tetapi tetap tidak mengetahui apa sebabnya, lalu dia ambil serenceng uang perak dan menyuruh Yo Ko membeli seekor keledai. Setelah membayar uang daharan, dia lantas menunggang keledai yang baru dibeli ini untuk berangkat.

Tetapi tulang iga dekat dadanya yang patah itu belum sembuh, maka baru saja ia naik, terasalah sakit sekali sampai mukanya putih pucat.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar