Nyata dia tidak tahu bahwa hal ini disebabkan di dalam tubuhnya sudah banyak mengalir darahnya Yo Ko yang panas, keadaan sudah jauh berbeda dengan wataknya dahulu yang selalu tenang dan dingin, oleh karena itu gangguan tenaga dan berbagai macam pikiran se-konyong-konyong lantas membanjir. Ia coba bersemadi di atas dipan, tetapi rasanya tetap gelisah, begitu kusut pikirannya. Dia lantas mondar-mandir dalam kamar, tapi semakin jalan rasanya semakin sumpek dan langkahnya juga semakin cepat hingga akhirnya dia ber-Iari sendirian.
Melihat kedua pipi orang bersemu merah dan sikapnya berubah aneh, Yo Ko heran bukan kepalang. Semenjak mereka berkenalan, belum pernah dia melihat kelakuan Siao-liong-li seperti sekarang ini. Setelah ber-lari-lari sebentar, kemudian Siao-liong-li duduk lagi di atas pembaringan. Ia coba pandang Yo Ko, ia lihat wajah pemuda ini cakap, tapi penuh rasa kuatir atas dirinya. Tiba-tiba hatinya tergerak, ia pikir:
“Aku sudah mau mati, begitu juga dia, Lalu buat apa lagi urus segala soal guru dan murid atau bibi dan kemenakan? Kalau dia mau peluk aku, pasti aku tidak akan menolak dan membiarkan dia peluk aku se-kencang-kencangnya.”
Sementara itu Yo Ko sedang mengamat-amati Siao-liong-li. Ia lihat mata orang seperti sedang bicara, dadanya naik-turun dengan napas memburu, ia sangka sang guru kambuh lagi luka dalamnya.
“Kokoh, kenapakah kau?” segera ia tanya.
“Mari sini, Ko-ji,” panggil Siao-liong-li dengan suara halus.
Yo Ko menurut, ia mendekatinya. “Ko-ji, kau suka tidak kepadaku?” tanya Siao-liong-li tiba-tiba dengan suara rendah sambil memegang tangan Yo Ko dan di-gosokan ke pipinya sendiri.
Karena tangannya menempel di pipi orang, Yo Ko merasakan muka Siao-liong-li sepanas dibakar. Keruan ia kaget dan kuatir sekali.
“Ko... kokoh, ap... apa dadamu sangat sakit?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Oh, tidak, malah sebaliknya rasa hatiku enak sekali,” sahut Siao-liong-li dengan tertawa, “Ko-ji, aku sudah hampir mati, coba katakanlah apakah betul kau sangat suka padaku?”
“Tentu saja, di dunia ini hanya kau seorang saja yang baik terhadap diriku,” sahut Yo Ko cepat.
“Tetapi kalau ada seorang gadis lain yang sangat baik, ya, baik sekali terhadap kau, bisa tidak kau suka padanya?” kata Siao-liong-li lagi.
“Siapa saja yang baik padaku, tentu aku perlakukan dia dengan baik pula,” sahut Yo Ko.
Se-konyong-konyong Yo Ko merasakan tangan Siao Iiong-li yang menggenggamnya gemetar beberapa kali, kemudian mendadak berubah menjadi dingin sekali seperti es. Waktu Yo Ko memandang muka orang, ia melihat pipi Siao-liong-li yang tadinya merah dadu kini kembali pucat pasi seperti tadi lagi. Keruan Yo Ko sangat terkejut.
“Apakah aku salah omong, Kokoh?” tanyanya kuatir.
“Apa bila kau masih suka pada gadis lain di dunia ini, maka janganlah kau suka padaku lagi,” kata Siao-liong-li.
Yo Ko tertegun, tetapi segera ia mendapat pikiran lain. “Kokoh, tidak seberapa hari lagi kita akan mati, mana ada gadis lain lagi yang bisa suka padaku,” katanya kemudian dengan tertawa.
Karena ucapan inilah, Siao-liong-li ketawa juga. “Ya, benar aku sudah pikun,” katanya sambil tertawa. “Cuma aku tetap ingin mendengar kau bersumpah di hadapanku,” lanjutnya, kali ini dengan sungguh-sungguh.
“Sumpah apakah?” tanya Yo Ko.
“Aku ingin kau mengucapkan bahwa kau hanya menyukai aku satu orang, bila mana kau berubah pikiran dan suka lagi pada orang lain, maka kau harus dibunuh olehku.” kata Sio-liong-li tiba-tiba.
Nyata meski Siao-Iiong-li telah berusia dua puluhan tahun, tetapi karena selama hidupnya dilewatkan di dalam kuburan kuno ini, maka kelakuannya masih sangat ke-kanak-kanakan dan suka terang-terangan, sedikit pun dia tidak bersikap malu-malu seperti kaum gadis umumnya, makanya tanpa tedeng aling-aling ia minta sumpah setia dari Yo Ko.
“Selamanya tak bakal terjadi hal demikian, seandainya memang aku berlaku tidak baik dan tidak turut pada perkataanmu lantas kau hendak membunuh, aku pun pasti akan kuterima,” demikian Yo Ko menyahut dengan tertawa. Kemudian betul juga dia lantas mengucapkan sumpah: “Tecu Yo Ko selama hidupku hanya menyukai Kokoh seorang saja, apa bila aku berubah pikiran, tidak usah Kokoh membunuh aku, begitu melihat muka Kokoh, segera Tecu bunuh diri sendiri.”
Senang sekali hati Siao-liong-li ketika mendengar sumpah ini. “Bagus sekali apa yang kau katakan, dengan demikian aku tak perlu kuatir lagi,” katanya kemudian dengan menghela napas lega. Dia menggenggam tangan Yo Ko kencang-kencang, maka terasalah oleh Yo Ko ada semacam hawa hangat yang menembus ke tubuhnya melalui tangan orang. “Ko-ji, sungguh aku ini orang tidak baik,” kata Siao-Iiong-li pula.
“Tidak, kau sangat baik,” Yo Ko membetulkan.
“Tidak,” kata Sio-liong-li sambil menggelengkan kepala, “duIu aku terlalu kejam terhadap kau. Mula-mula aku hendak usir kau, syukur Sun-popoh menahan kau, jika waktu itu aku tidak usir kau, tentu Sun-popoh tak akan mati!”
Berkata sampai disini, tak tertahan lagi air mata Siao-liong-li mengucur keluar. Sejak umur lima tahun Siao-liong-li mulai melatih diri sampai kini, selama itu tak pernah lagi dia menangis dan mengalirkan air mata, tapi sekarang dia menangis, seketika perasaan hatinya tergoncang hebat, ruas tulang seluruh tubuhnya seolah-olah berkeretakan hingga sebagian tenaga latihannya menjadi buyar.
Kaget sekali Yo Ko melihat keadaan Siao-liong-li yang hebat itu. “He, Kokoh, Kokoh!” teriaknya kuatir.
Justru pada saat genting itu, tiba-tiba terdengar suara “krekat-kreket” beberapa kali, ternyata pintu batu mulai terpentang didorong orang, terlihat Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah melangkah masuk. Kiranya Li Bok-chiu yang terkurung di dalam kuburan itu berusaha keras untuk dapat meloloskan diri. Ia pikir meski pun batu Toan-liong-ciok itu telah menutup, tetapi lebih baik berusaha mencari hidup dari pada duduk terpekur menunggu kematian.
Oleh karena itu nyalinya menjadi besar. Dia tidak jeri lagi terhadap alat perangkap yang lihay di dalam kuburan itu, dengan berani ia lantas terjang terus hingga beberapa ruangan dan akhirnya dapat ditembus dan tibalah sampai di kamar Sun-popoh.
Melihat munculnya orang secara mendadak itu, lekas Yo Ko tampil ke depan mengalingi Siao-liong-li.
“Kau mau apa lagi?” teriaknya sengit.
“Kau menyingkirlah, ada yang hendak kukatakan kepada Sumoay,” kata Li Bok-chiu.
Tapi karena kuatir orang akan memakai tipu muslihat dan gurunya nanti dicelakai, Yo Ko tetap tak mau menyingkir.
“Apa yang hendak kau katakan boleh katakan saja di situ,” sahutnya kemudian.
Melihat kebandelan pemuda ini, dengan mata melotot Li Bok-chiu memandang sejenak pada Yo Ko.
“Lelaki macam kau ini sungguh jarang terdapat di dunia ini,” akhirnya ia berkata dengan menghela napas.
“Suci, barusan kau bilang apa tentang dia?” tanya Siao-liong-li tiba-tiba sambil turun dari pembaringan. “Dia baik atau tidak?”
“Sumoay, selamanya kau tak pernah turun gunung, maka kau tidak kenal hati manusia di dunia ini yang kejam dan palsu,” sahut Li Bok-chiu. “Orang yang berbudi luhur dan berhati setia seperti dia ini, boleh dikatakan di seluruh jagat ini sukar dicari bandingannya.”
Rupanya Siao-liong-li sangat senang dan terhibur oleh kata-kata sang Suci. “Seorang seperti dia ini suka mati bersama aku. Kalau begitu hidupku ini terasa tidak penasaran lagi,” kata Siao-liong-li dengan suara perlahan.
“Sebenarnya pernah apakah dia dengan kau, Sumoay? Apa kau sudah mengawini dia?” tanya Li Bok-chiu lagi.
“Tidak, dia adalah muridku, dia bilang aku sangat baik padanya. Tetapi sebenarnya baik atau tidak, aku sendiri pun tidak tahu,” sahut Siao-liong-li.
Sudah tentu Li Bok-chiu sangat heran oleh jawaban ini. “Aku tidak percaya,” ujarnya sambil menggeleng kepala.
Kemudian se-konyong-konyong ia menarik tangan kanan Siao-liong-li, ia gulung lengan baju orang, maka tampaklah olehnya di atas kulit yang putih bersih bagai salju itu terdapat satu titik merah. Tidak salah lagi, itu adalah ‘Siu-kiong-seh’ yang ditisik guru mereka ketika pertama masuk perguruan golongan Ko-bong-pay.
‘Siu-kiong-seh’ atau andeng-andeng cecak, menurut cerita kuno dibuat dengan cara demikian: setelah cecak dipelihara dan diberi makanan obat-obatan khusus sebangsa ‘Cuseh’ sebanyak tujuh kali berturut-turut hingga akhirnya seluruh badan binatang cecak ini berubah merah darah, lalu cecak ini dibunuh dan darah merah itu diambil untuk ditisikkan di tubuh kaum wanita. Apa bila wanita ini masih perawan, maka selama itu Siu-kuong-seh atau andeng-andeng merah buatan ini akan tetap tinggal pada tempatnya, tetapi bila wanita itu sudah melanggar kesuciannya, maka andeng-andeng merah segera lenyap. Di jaman kuno konon cara ini dipakai untuk menjaga perjinahan.
Demikianlah, oleh karena itu, demi nampak ‘Siu-kiong-seh’ masih tetap di tangan Siao-liong-li, mau tak mau Li Bok-chiu sangat kagum atas perilaku kedua orang yang tinggal berdampingan di dalam kuburan ini yang ternyata bisa menjaga diri dalam batas-batas kesopanan sehingga Siao-Iiong-li masih tetap putih bersih bertubuh perawan.
Lalu Li Bok-chiu menggulung lengan bajunya sendiri, maka tampak pula di tangannya terdapat juga sebuah titik merah segar yang amat menyolok. Sungguh menarik sekali dua lengan yang putih mulus itu berjajar menjadi satu. Hanya saja Li Bok-chiu mempertahankan diri dan tetap bertubuh suci disebabkan karena terpaksa, sebaliknya sang sumoay ternyata ada lelaki yang rela membelanya. Jika dipikir, yang beruntung dan yang malang, nyata bedanya seperti langit dan bumi. Berpikir sampai di sini, tak tahan lagi Li Bok-chiu menghela napas panjang.
“Tadi kau bilang ada yang hendak kau katakan padaku, nah, katakanlah lekas,” terdengar Siao-liong-li memecah kesunyian.
Semula Li Bok-chiu hendak menghina dan membikin malu Siao-liong-Ii karena bergendak dengan lelaki dan merusak nama baik perguruan, namun demi melihat Siu-kiong-seh sang Sumoay masih belum lenyap, ia berbalik bungkam.
“Sumoay, kedatanganku ini untuk minta maaf padamu,” akhirnya ia berkata sesudah merenung sejenak.
Tentu saja hal ini sama sekali tidak diduga Siao-liong-Ii. Dia cukup kenal watak sang Suci yang sombong dan angkuh, tidak akan dia mau tunduk kepada orang lain, siapa tahu kini bisa buka mulut minta maaf padanya. Ia menjadi ragu apa orang tiada maksud tertentu, karena itu dengan dingin saja ia menjawab:
“Kau lakukan urusanmu dan aku kerjakan urusanku. Kita masing-masing tentu menganggap diri sendiri yang betul, jadi tidak perlu kau minta maaf segala.”
“Sumoay, dengarlah kataku,” kata Li Bok-chiu, “kita yang menjadi wanita ini, selama hidup paling beruntung ialah kalau memiliki seorang kekasih yang berhati tulus. Nasibku sendiri jelek, itu sudah tak perlu dibicarakan lagi, tetapi pemuda ini begini baik terhadapmu, maka boleh dikatakan hidupmu ini tidak kekurangan apa-apa lagi.”
Siao-Iiong-Ii tersenyum senang oleh kata-kata sang Suci. ”Ya, sesungguhnya aku pun sangat suka padanya,” katanya kemudian. “Selamanya dia tak akan mengingkari aku, aku yakin benar.”
Rasa hati Li Bok-chiu menjadi lebih pedih oleh keterangan Siao-liong-li itu. “Kalau begitu seharusnya kau turun gunung saja untuk hidup baru yang menggembirakan. Hendaklah diketahui, usiamu masih muda, hari depanmu yang bahagia masih tidak habis-habisnya.”
Siao-liong-li mendongak, ia termenung. “Ya, memang, cuma sayang kini sudah terlambat,” akhirnya ia berkata.
“Sebab apa?” tanya Li Bok-chiu cepat.
“Bukankah Toan-Iiong-ciok itu sudah menutup, sekali pun Suhu hidup kembali, juga tidak mungkin kita bisa keluar,” sahut Siao-Iiong-li.
Bukan buatan rasa kecewa Li Bok-chiu oleh jawaban orang. Ia sengaja merendah dan me-muji orang dengan putar lidah, ia berharap bisa menimbulkan keinginan Siao-liong-li untuk mencari hidup, dengan mengenal keadaan kuburan kuno ini tentu Siao-liong-li dapat mencari satu jalan keluar, tapi siapa tahu akhirnya tetap putus asa. Karena itu tanpa terasa napsu membunuhnya tiba-tiba timbul. Begitu tangannya diangkat, segera ia menghantam ke atas kepala Siao-liong-li.
Sejak tadi dengan bingung Yo Ko mendengarkan percakapan mereka di samping. Ketika tiba-tiba melihat Li Bok-chiu menyerang, dalam gugup dan kuatirnya, otomatis ia berjongkok lalu berteriak “kok” sekali, kedua telapak tangannya didorong ke depan. Ternyata yang dilontarkan ini adalah Ha-mo-kang yang amat lihay, yang dipelajarinya dari Auwyang Hong.
Pada saat itu pukulan Li Bok-chiu sudah sampai di tengah jalan. Ketika mendadak terasa olehnya ada sambaran angin pukulan yang keras dari samping, lekas ia putar tangannya menangkis. Tak terduga tenaga dorongan Yo Ko ternyata luar biasa kuatnya, begitu hebat sampai tubuhnya kena didorong ke belakang, maka terdengarlah suara “blek” yang keras, punggung Li Bok-chiu tertumbuk dinding batu. Percuma saja dia memiliki ilmu silat yang tinggi, tidak urung ia merasakan tulang punggungnya tidak kepalang sakitnya.
Keruan Li Bok-chiu menjadi murka, sekonyong-konyong dia meng-gosok kedua telapak tangannya, seketika seluruh kamar timbul semacam bau amis. Nyata ia telah keluarkan ‘Jik-Iian-sin-ciang’.
Di lain pihak Siao-Iiong-li tahu serangan Yo Ko tadi hanya secara kebetulan saja berhasil. Setelah sang Suci melontarkan ‘Jik-lian-sin-ciang’, maka sukar dilawan lagi meski mereka berdua mengeroyoknya bersama. Karena itu segera dia tarik lagi tangan Yo Ko, dengan cepat mereka menyelinap keluar pintu kamar.
Namun gerak tubuh Li Bok-chiu secepat kilat, tidak akan dia membiarkan kedua orang itu melarikan diri kembali. Sebelah tangannya telah memukul. Siapa tahu, baru saja tangannya sampai di tengah jalan, tahu-tahu pipi kiri sendiri merasakan sekali tempelengan. Meski pun tamparan ini tidak sakit, namun suaranya terdengar jelas, ia dengar pula Siao-Iiong-li berseru:
“lnilah Giok-li-sim-keng yang hendak kau pelajari nah, rasakan dahulu!”
Dalam tertegunnya Li Bok-chiu merasakan tangan orang telah mampir pula pada pipi kanannya. Dia tahu ilmu Giok-li-sim-keng luar biasa lihaynya, kini dia menyaksikan sendiri gerak pukulan Siao-liong-li begitu cepat, pula datangnya pukulan tidak diketahui arahnya, maka ia menjadi jeri dan terpaksa hanya dapat menyaksikan sang Sumoay masuk kamar lain sambil bergandeng tangan dengan Yo Ko, lalu pintu kamar itu tertutup rapat lagi.
Seperginya orang, Li Bok-chiu masih terkesima sendiri. Ia me-raba kedua belah pipinya, katanya dalam hati: “Beruntung pukulannya tadi sengaja bermurah hati. Jika dia gunakan tenaga yang cukup keras, tentu jiwaku sudah melayang.”
Nyata tidak diketahuinya bahwa ilmu Giok-li-sim-keng itu masih belum sempurna terlatih oleh Siao-liong-li, meski pukulannya sudah mahir, namun belum bertenaga dan tak dapat melukai orang.
Sementara itu di kamar lain Yo Ko sedang senang sekali karena melihat gurunya dengan gampang saja menghajar Li Bok-chiu dengan dua kali tempelengan.
“Kokoh, sungguh tidak nyana ilmu kepandaian Giok-li-sim-keng itu bisa begitu bagus...”
Tapi belum habis ia berkata, dilihatnya Siao-liong-li dalam keadaan gemetar, tampaknya seperti tak sanggup menguasai diri lagi. Keruan Yo Ko kaget sekali, cepat dia berteriak:
“Kenapakah kau, Kokoh?”
“A... aku... di... dingin...” sahut Siao-liong-li sambil menggigil.
Kiranya tadi karena dia menyerang orang dua kali, meski pun tenaga yang dikeluarkannya sangat enteng, namun yang dipakai adalah tenaga dalam. Padahal dia baru sembuh dari luka berat, kesehatannya belum pulih seluruhnya, dan kini mendadak terganggu lagi, tentu saja tidak sedikit resikonya.
Selama hidupnya dia melatih diri di atas ranjang batu pualam yang dingin, dasarnya menjadi terlatih dingin sekali, kini daya tahannya telah hilang, keruan seketika Siao-liong-li seperti terjerumus ke dalam lembah es, ia merasakan dingin luar biasa sampai menusuk tulang sumsum, giginya tiada hentinya berkerutukan.
“Celaka, bagaimana baiknya ini?” dalam gugupnya Yo Ko hanya ber-teriak tak berdaya.
Begitu rupa ia lihat Siao-liong-li kedinginan hingga teringat sesuatu olehnya. Lekas dia melepaskan buntalan yang menggemblok pada punggungnya, ia keluarkan baju kapas tinggalan Sun-popoh dan dengan cepat dikemulkan pada badan Siao-liong-li. Karena tambahan baju kapas ini, mula-mula Siao-liong-li merasa rada hangat, tetapi sebentar saja hawa hangat baju kapas itu menjadi hilang dikalahkan rasa dingin yang timbul dari dalam tubuhnya. Kembali ia menggigil terus.
Dalam gugupnya, tanpa pikir lagi Yo Ko memeluk orang kencang-kencang. Ia pikir dengan hawa hangat badan sendiri dapat membantu untuk menghalau rasa dingin orang. Tetapi sebentar saja Yo Ko merasa tubuh Siao-liong-li semakin menjadi dingin, ia sendiri seperti ketularan hingga lambat laun ia pun tak tahan.
“Ko-ji, lepaskan!” teriak Siao-liong-li tiba-tiba.
“Tidak, Kokoh, jangan kuatir, aku peluk kau, tentu kau akan baikan,” sahut Yo Ko.
Akan tetapi rasa dingin Siao-liong-li sukar ditahan, dengan mengertak gigi ia bertahan sedapatnya. Tiba-tiba ia meronta-ronta, dua tangannya menjambret dan menarik sekenanya, karena itu mendadak terdengar suara “brebet”, tahu-tahu kain baju kapas peninggalan Sun-popoh itu robek tertarik, di bawah sinar lilin tampak di antara robekan baju itu ada sepotong kain putih dan lapat-lapat di atasnya seperti tertulis sesuatu.
Dasar Yo Ko memang sangat cerdik. Tiba-tiba teringat olehnya kelakuan Sun-popoh pada saat orang tua ini mendekati ajal, seperti maha penting baju kapas ini diserahkan kepadanya, mungkin tidak melulu sebagai tanda mata saja, melainkan di dalamnya masih mengandung maksud lain. Maka dengan cepat Yo Ko menarik keluar kain putih itu. Betul saja ia lihat di atas kain itu tertulis 16 huruf yang maksudnya:
‘GURU BESAR TIONG-YANG MENINGGALKAN ILMU KEPANDAIAN. PERIKSA LUKISANNYA DAN PELAJARI JARI TANGANNYA’.
Sebenarnya Yo Ko lagi kehabisan akal dan tak berdaya menghadapi keadaan Siao-liong-li yang kedinginan itu, sekarang mendadak membaca enam belas huruf ini, seketika seperti sebuah perahu yang sedang terombang-ambing di samudera raya dalam kegelapan dan sekonyong-konyong melihat mercu suar. Dalam girangnya dia rangkul Siao-liong-li terlebih kencang lagi.
“Marilah Kokoh, kita pergi melihat gambar Tiong-yang Cosu,” demikian ajaknya.
Tetapi Siao-liong-li seperti tidak mendengar, kedua matanya tampak terpejam rapat. Terpaksa Yo Ko melompat turun. Sambil memondong Siao-liong-li, dengan gugup dan bingung dia berlari ke ruangan depan. Dalam hati ia berdoa: “Semoga Li Bok-chiu berdua jangan berada di sana.”
Begitulah, dengan perlahan-lahan sekali ia mendorong pintu. Ia lihat keadaan gelap gulita, syukur Li Bok-chiu berdua tak berada di situ. Ia dudukan Siao-liong-li pada satu kursi, lalu ia menyalakan lilin dan pergi memeriksa gambar yang melukiskan pribadi Ong Tiong-yang.
Tempo hari sewaktu Yo Ko menjalankan upacara pengangkatan guru pada Siao-liong-li, pernah dia diperintahkan meludahi lukisan ini. Semenjak itu sering juga ia melihatnya lagi, tetapi selamanya tidak merasa ada sesuatu yang aneh atas lukisan itu. Sekarang teringat olehnya kata-kata tentang “pelajari jari tangannya” maka dengan teliti ia coba periksa jari tangan Ong Tiong-yang dalam lukisan itu yang sedang menuding.
Gambar itu melukiskan tangan kiri orang berada di depan tubuh yang mungkur, dengan sendirinya tidak kelihatan jarinya, hanya tampak tangan kanannya yang menuding miring ke ujung atas. Meski sudah dia lihat dan lihat lagi, tetap tak bisa dimengerti di mana letak rahasianya.
Selagi dia hendak memeriksa lebih cermat, ketika dia menoleh, dilihatnya Siao-liong-li per-lahan sedang mendatangi dengan berpegangan kursi, lekas Yo Ko memayangnya. Kemudian Siao-liong-li ikut memeriksa lukisan itu, lama sekali keadaan menjadi sunyi.
“Jika badanku baik-baik saja, mungkin rahasianya dapat kuselidiki lebih mendalam,” kata Siao-liong-li sesudah agak lama, “tetapi kini... kini mataku pun terasa menjadi buram...”
Segera Yo Ko melompat ke atas. Ia tanggalkan lukisan itu lantas ditaruh ke depan Siao-liong-li. Maka diperiksanyalah lebih teliti oleh Siao-liong-li. Dia lihat guratan pada jari lukisan Ong Tiong-yang itu memang digores dengan jelek dan kasar, berbeda sekali dengan goresan pada bagian lain, kecuali ini, tidak ada lagi sesuatu yang menimbulkan pertanyaan. Karena belum juga ketemukan rahasianya, Yo Ko mengambil Cektay (tancapkan lilin) dan didekatkan pada Siao-liong-li agar bisa melihat lebih jelas.
“Sudahlah, tidak perlu melihat lagi,” kata Siao-liong-li tiba-tiba. Namun belum habis bicara, badannya gemetar lagi, karena itu cek-tay yang dipegang Yo Ko tergentak hingga minyak lilin yang lumer tercecer di atas lukisan. Siao-liong-li terkejut.
“Ai, aku telah bikin kotor lukisan ini!” katanya dengan menyesal.
“Tak apa, toh tiada sesuatu yang aneh,” ujar Yo Ko.
Kemudian ia payang Siao-liong-li duduk kembali ke kursi. Selang tak lama, minyak lilin tadi sudah kering, Yo Ko coba merhbersihkannya dengan kuku. Di luar dugaan, sehabis kertas gambar itu ketetesan minyak lilin, kini menjadi tembus dan terlihat terang, lapat-lapat jari tangan gambar itu seperti tertulis huruf 'dua... tiga dan lain-lain'.
Hati Yo Ko tergerak, dia memeriksanya lebih dekat lagi. Kiranya jari tangan yang sedang menuding dalam lukisan itu, di samping goresan yang Iembut itu penuh tertulis pula huruf kecil, tetapi tulisan-tulisan ini terlalu halus, kecuali beberapa huruf sederhana yang dapat dilinatnya, selebihnya sukar dibaca.
“Kokoh, lihat ini!” dalam girangnya segera Yo Ko berteriak, berbareng ia pindahkan lukisan itu dan lilin ke hadapan Siao-liong-li.
Selama hidup Siao-liong-li lewatkan di dalam kuburan kuno yang gelap gulita, maka pandangan matanya sangat tajam, melihat barang di tempat gelap dianggapnya seperti di siang hari saja. Maka sesudah diperiksanya dua kali, akhirnya dia mendongak, mukanya mengunjuk senyuman tetapi bukan senyuman, sikapnya sangat aneh.
“Kokoh, apakah kata tulisan itu?” tanya Yo Ko tak sabar.
“Sesudah Cosu-popoh meninggal, kiranya Ong Tiong-yang telah masuk kembali ke dalam kuburan kuno ini,” sahut Siao-liong-li sambil menghela napas.
“Untuk apa dia kembali?” tanya Yo Ko.
“Dia datang lagi buat ziarah Cosu-popoh,” kata Siao-liong-li. “Dan di sini dilihatnya Giok-li-sim-keng tinggalan Cosu-popoh yang diukir diatas langit-langit, ternyata dapat memecahkan semua tipu silat Coan-cin-kau, karenanya ia telah tinggalkan tulisan di atas lukisan ini. Ia bilang apa yang dipecahkan Cosu-popoh itu hanya kepandaian kasar yang tak berarti dari Coan-cin-kau, bagi ilmu paling tinggi dari Coan-cin-pay yang dipahaminya, Giok-li-sim-keng ini pun tidak akan berarti lagi!”
“Cis, imam tua ini membual,” kata Yo Ko meng-olok-olok, “yah, Cosu-popoh sudah meninggal, maka dia boleh omong sesukanya.”
“Tetapi dia bilang lagi dalam tulisannya ini bahwa di kamar lain lagi dia juga meninggalkan ilmu cara memecahkan Giok-li-sim-keng. Kelak kalau ada yang punya jodoh, tentu akan tahu bila sudah melihatnya,” kata Siao-liong-li.
Hati muda Yo Ko jadi tertarik oleh keterangan ini.
“Ayoh, Kokoh, kita pergi melihatnya,” ajaknya.
“Baik juga kita pergi melihatnya,” ujar Siao-liong-li, “seumur hidupku selalu tinggal di sini, tapi belum pernah aku mengetahui masih ada kamar batu sebagaimana dikatakan ini.”
Tapi ketika dia membaca lagi, tiba-tiba ia meng-gelengkan kepala dan menyatakan aneh.
“Aku tak percaya,” katanya kemudian sesudah lewat sejenak.
“Aku pun tidak,” sambung Yo Ko, “kehebatan Giok-li-sim-keng tiada taranya, betapa pun tinggi kepandaiannya tidak akan mampu memecahkannya.”
“Bukan itu maksudku,” ujar Siao-liong-li. “Kamar batu yang dikatakan Ong Tiong-yang itu terang sekali adalah tempat di mana terletak peti mati Cosu-popoh, dari mana lagi ada kamar batu lain?”
“Marilah Kokoh, tiada halangannya kita memeriksa,” pinta Yo Ko.
Kini Siao-liong-li tidak begitu garang lagi terhadap Yo Ko. Meski tubuh sesungguhnya sangat letih, namun ia paksakan diri buat turuti permintaan pemuda itu.
“Baiklah,” sahutnya kemudian dengan senyuman manis.
Maka pergilah mereka menuju kamar peti mati itu.
Menghadapi dua peti mati yang masih kosong itu, tiba-tiba timbul pikiran aneh dalam hati Siao-liong-Ii.
“Di dalam kuburan kini ada empat orang, lalu cara bagaimana harus mengisi dua peti mati batu ini?” demikian katanya.
“Kita tidur dalam satu peti dan biar kedua perempuan jahat itu pakai yang satunya,” ujar Yo Ko.
Apa yang dikatakan Yo Ko ini timbul dari hatinya yang murni, sedikit pun dia tidak berpikir yang tidak-tidak, tetapi muka Siao-liong-li menjadi merah jengah.
“Tapi kalau kita mati dahulu, kedua perempuan jahat itu pasti tidak memperbolehkan kita tinggal bersama, tentu mereka akan pisahkan tubuh kita sejauh mungkin,” ujar Siao-liong-li dengan suara rendah.
BetuI juga, pikir Yo Ko. Karena ini dia se-akan membayangkan sehabis dirinya dan sang guru mati dan mayatnya sedang dihina dan dirusak oleh Li Bok-chiu bersama Ang Ling-po. Tanpa terasa dia menjadi gusar luar biasa.
“Kokoh, kita harus bunuh dahulu mereka berdua!” teriaknya tiba-tiba.
“Tapi sayang, kita tak mampu mengalahkan mereka,” sahut Siao-liong-li menghela napas.
Setelah melatih iwekang, tenaga Yo Ko sudah luar biasa hebatnya, maka tanpa susah dia dorong dan balikkan tutup peti mati itu.
“Ya, jika kita dapat mempelajari ilmu silat tinggalan Ong Tiong-yang itu, mungkin kita bisa menangkan mereka,” kata Yo Ko sesudah berpikir.
Siao-liong-li tertawa oleh pikiran orang. “Umpama betul-betul ada ilmu silat yang begitu lihay, apakah dapat dipelajari dalam waktu satu setengah tahun saja?” katanya, “Sedangkan ransum kita paling banyak hanya cukup untuk beberapa hari.”
Tentu saja kembali Yo Ko putus asa. Melihat wajah orang mengunjuk kecewa, hati Siao-liong-li menjadi tidak tega.
“Ko-ji,” katanya lagi, “kalau menurut apa yang dikatakan Ong Tiong-yang, untuk datang ke kamar batu yang dia sebut maka diharuskan memindahkan jenazah Cosu-popoh, dan ini yang aku kuatirkan. Jangan-jangan ini adalah tipu muslihat Ong Tiong-yang, tujuannya agar kita masuk perangkap.”
Dasar perasaan Yo Ko memang sangat gampang terguncang, maka segera dia mencaci-maki orang:
“Ya, betul, imam hidung kerbau ini mana mungkin punya maksud baik?”
Ketika dilihatnya Siao-liog-Ii mengunjuk rasa sangsi, segera ia bertanya lagi: “Kenapa lagi, Kokoh?”
“Tapi menurut cerita Sun-popoh, sebenarnya Ong Tiong-yang sangat baik sekali terhadap Cosu-popoh,” sahut Siao-liong-li. “Cuma disebabkan watak Cosu-popoh yang terlalu aneh, maka hubungan mereka menjadi retak. Jika begini soalnya, agaknya tidak akan sesudah Cosu-popoh mati, lalu dia datang lagi buat menganiaya padanya.”
Setelah dia pikir lagi, tiba-tiba dia mengambil keputusan. “Ko-ji, mari kita buka tutup peti matinya!” ajaknya kemudian.
Kemudian, bersama Yo Ko mereka menarik sekuatnya membuka tutup peti batu. Waktu membuka peti mati, mula-mula Yo Ko mengira pasti akan terhembus bau busuk mayat dari dalamnya, maka sebelumnya dia sudah siap-siap menahan napas. Siapa tahu begitu tutupnya terpentang, bukannya bau busuk lagi yang dia cium, melainkan bau wangi semerbak yang teruar keluar, walau pun ia tahan napas dan tidak menyedot tetapi terasa juga bau harum itu.
Sebagai seorang yang sudah melatih Iwekang, maka tenaga Yo Ko sudah beberapa kali lipat dari orang biasa. Ketika dia gunakan sedikit tenaga, tutup peti batu itu sudah dibaliknya ke atas tanah. Ketika dia pandang ke dalam peti, dia sendiri terkejut.
“He, Kokoh, dalamnya kosong!” teriaknya cepat.
Betul juga! Waktu Siao-liong-li melongok ke dalam peti, ia dapatkan peti batu itu kosong blong, di dalamnya hanya terdapat dua mangkok porselen yang masing-masing berisi setengah mangkok minyak gemuk, bau harum itu agaknya teruar dari minyak gemuk ini.
“Sungguh aneh, lalu di manakah jenazah Cosu-popoh!?” Siao-liong-li menggumam sendiri “Jika begini, tampaknya apa yang dikatakan Ong Tiong-yang bukannya dusta.”
“Jangan-jangan kamar batu yang disebut imam tua itu ialah peti batu ini,” kata Yo Ko.
“Bukan begitu maksudnya,” sahut Siao-liong-li tersenyum.
Dia sudah lama tinggal di dalam kuburan kuno ini, maka dia mahir sekali tentang segala macam alat-alat rahasia. Ia coba memeriksa teliti peti batu itu sejenak, lalu terdengar ia berkata lagi:
“Alas peti ini bisa dibuka.”
Tentu saja Yo Ko sangat girang. “Ahh, tahulah aku sekarang, itu adalah pintu yang menuju ke kamar batu,” serunya.
Kemudian, tanpa diperintah segera ia melompat masuk ke dalam peti mati. Ia keluarkan dahulu kedua mangkok berisi minyak wangi itu, lalu me-raba seluruh peti. Benar juga, akhirnya diketemukan satu tempat dekuk yang bisa dipegang. Dengan kencang ia tarik ke atas sekuatnya, tetapi sedikit pun ternyata tidak bergerak.
“Putar dulu ke kiri, baru ditarik ke atas,” kata Siao-liong-li.
Yo Ko menurut, dia putar lalu ditarik. Betul saja lantas terdengar suara “krak” yang keras, satu papan batu telah kena ditarik naik.
“Kokoh, berhasil!” serunya girang.
“Jangan terburu-buru. Duduklah sebentar, biar bau apek di dalam goa teruar keluar baru kita masuk,” ujar Siao-liong-li.
Dalam keadaan demikian Yo Ko menjadi tak sabar, hanya sebentar saja dia sudah tanya.
“Bagaimana Kokoh, apa sudah cukup?”
“Ai, orang tak sabar seperti kau ini sukar dimengerti bisa tahan mengawani aku beberapa tahun,” ujar Siao-liong-li menghela napas.
Habis berkata, perlahan ia berdiri, ia angkat cektay dan turun ke bawah melalui peti batu itu. Sesudah melalui satu lorong di bawah tanah yang sempit dan membelok lagi dua kali, betul saja akhirnya mereka sampai di satu kamar batu.
Kamar batu itu ternyata tiada sesuatu yang spesial. Waktu mereka sama-sama mendongak ke atas, maka tampaklah oleh mereka di langit-langit kamar penuh tertulis huruf dan tanda-tanda, sedang ujung paling kanan tertuliskan empat huruf besar:
‘KIU-IM-CIN-KENG’.
Siao-liong-li dan Yo Ko tidak tahu bahwa ‘Kiu-im-cin-keng’ adalah sebuah kitab ilmu silat paling tinggi di seluruh kolong langit. Tetapi sesudah mereka melihat tulisan serta tanda-tanda itu, mereka merasakan tiada terbilang bagusnya intisari yang terkandung di dalamnya, dan seketika itu pun mereka tak bisa memahami seluruhnya.
“Sekali pun ilmu kepandaian ini dapat mengalahkan Giok-li-sim-keng, namun kita pun tak keburu lagi mempelajarinya,” ujar Siao-Iiong-li.
Yo Ko menjadi kecewa dan putus asa lagi. Sebenarnya dia tidak mau melihat lagi, tapi tanpa sengaja, sekilas mendadak terlihat olehnya pada ujung barat langit-langit kamar itu terlukis satu gambar yang agaknya tiada hubungannya dengan ilmu silat. Oleh karena tertarik, kembali dia kumpulkan perhatian dan memandang lebih jauh, agaknya gambar itu seperti sebuah peta.
“Kokoh, apakah itu?” katanya kemudian kepada Siao-liong-li.
Siao-liong-li berpaling. Ia memandang menurut arah yang ditunjuk. Tiba-tiba ia pandang peta itu dengan ter-mangu, tubuhnya sedikit pun tidak bergerak, lama dan lama sekali masih tetap tidak bergerak. Akhirnya Yo Ko sendiri menjadi ngeri. Dia coba tarik lengan baju orang sambil bertanya:
“Kokoh, kenapakah kau?”
Tetapi Siao-liong-li masih tetap memandang dengan terkesima. Kira-kira lewat beberapa lama, mendadak ia mendeprok terduduk, ia menangis ter-guguk bersandar di tubuh Yo Ko.
“Apakah badanmu sakit lagi, Kokoh?” pemuda itu tanya dengan bingung.
“Bukan, bu... bukan,” sahut Siao-liong-li tersenggak-sengguk. Selang tak lama kemudian dia menyambung lagi: “Ki... kita kini bisa keluar sudah.”
Keruan bukan buatan rasa girang Yo Ko, seketika ia ber-jingkrak-jingkrak. “Betulkah katamu?” teriaknya gembira. Dengan masih mengembeng air mata Siao-liong-li mengangguk.
Tentu saja Yo Ko semakin kegirangan. “Dan kenapa engkau malah menangis?” tanyanya kemudian.
“Entah, aku pun tak tahu, mungkin terlalu bergirang,” sahut Siao-liong-li tersenyum manis dalam menangisnya, “Ko-ji, dahulu tak pernah aku gentar mati, sebab seumur hidupku toh pasti akan tinggal di dalam kuburan ini, mati sekarang atau mati kelak tiada bedanya? Tetapi aneh, dalam beberapa hari ini selalu timbul pikiran ingin pergi melihat keluar.”
“Mari, Kokoh, kita keluar bersama, nanti aku petik bunga untukmu, aku tangkap jangkrik buat kau, mau tidak?” kata Yo Ko sambil menarik kencang tangan orang.
Nyata meski usia Yo Ko sudah menanjak, namun pikirannya masih tetap kanak-kanak. Sebaliknya Siao-liong-li selamanya tak pernah bermain dengan anak lain, kini mendengar cerita Yo Ko yang menarik dan begitu bernapsu, ia sendiri pun merasa senang.
Dalam keadaan buntu mendadak kedua orang ini mendapatkan jalan hidup, maka mereka menjadi lupa daratan, bukannya mereka cepat-cepat mencari jalan keluar itu, sebaliknya mereka duduk bersandaran pundak. Mereka bercerita tentang aneka macam permainan kanak-kanak, makin cerita Yo Ko semakin bernapsu hingga akhirnya Siao-liong-li lupa letih dan lupa capek. Tetapi bagaimana pun juga ia habis luka parah, maka sesudah setengah jam mendengarkan cerita, akhirnya ia tidak tahan lagi, tanpa terasa ia pulas bersandar di pundak Yo Ko.
Setelah bercerita sendiri dan mendapatkan orang tidak tanya-jawab seperti semula, waktu Yo Ko menoleh, ia lihat Siao-liong-li sudah menggeros, nona itu ternyata sudah tertidur. Oleh karena tekanan batinnya sudah lapang, akhirnya Yo Ko sendiri merasa sangat letih, kemudian ia pun pulas.
Keadaan itu entah lewat berapa lama, ketika mendadak Yo Ko merasakan pinggangnya sakit linu, ‘jiau-yao-hiat’ di pinggangnya kena ditotok orang sekali. Dalam kagetnya Yo Ko terjaga dari tidurnya, selagi ia hendak melompat bangun, tahu-tahu tengkuknya kena dicekal orang dengan kencang hingga Yo Ko tak mampu berkutik. Waktu Yo Ko sedikit melengos, ia lihat Li Bok-chiu dan Ang Iing-po berdua sudah berdiri di samping dengan ter-tawa, sebaliknya gurunya, Siao-liong-li, sudah kena ditotok orang pula sehingga tak berdaya.
Kiranya Yo Ko dan Siao-Iiong-li tidak memiliki pengalaman Kangouw yang selalu harus waspada terhadap musuh dan berjaga diri. Dalam girangnya ternyata mereka lupa daratan sehingga tutup peti batu tadi belum mereka tutup kembali, karena itu kemudian dapat diketahui Li Bok-chiu bahwa di bawah tanah ini masih terdapat kamar lagi dan dia berhasil menyergap selagi mereka tertidur.
“Ha, bagus, bagus, kiranya di sini masih terdapat tempat seenak ini, kalian berdua lantas bersembunyi untuk ber-senang-senang,” demikian Li Bok-chiu mengejek “Sumoay, tentu kau tahu bagaimana caranya keluar dari sini. Kalau kau masih merahasiakannya, jangan kau sesalkan jika nanti Enci-mu berlaku kejam.”
Namun Siao-liong-li sama sekali tak gentar oleh gertakan orang. “Memang aku tidak tahu, seumpama tahu pun tak sudi kukatakan padamu,” sahutnya ketus.
Li Bok-chiu cukup kenal watak sang Sumoay yang kepala batu, bahkan Suhu mereka pun dahulu suka mengalah padanya, maka bila menggunakan kekerasan, pasti tidak berhasil. Tetapi dalam keadaan demikian, soalnya menyangkut mati-hidupnya, bagaimana pun juga dia harus memaksa sang Sumoay. Karena itu segera ia keluarkan dua jarum Peng-pek-sin-ciam, ia lemparkan jarum-jarum itu ke lantai hingga mengeluarkan suara gemerincing yang halus.
“Awas! Jika aku menghitung dari satu sampai sepuluh dan kau masih belum bicara, maka terpaksa kusuruh kau mengicipi rasanya jarum perak ini,” demikian ia mengancam.
Namun Siao-liong-Ii tetap tidak menjawab, bahkan ia pejamkan matanya dan tidak gubris gertakan orang.
“Satu... dua... tiga... empat...” demikian Li Bok-chiu mulai menghitung.
“Jika Kokoh kenal jalan keluarnya, kenapa kami tidak melarikan diri sejak tadi, sebaliknya masih tinggal di sini?” Yo Ko membentak.
“Hm, pandai juga kau bicara,” jengek Li Bok-chiu, “Aku telah mempelajari keadaan tempat ini, aku taksir tentu ada jalan keluar yang kalian rahasiakan. Kalian bermaksud tidur dulu, nanti sesudah semangat pulih, bukankah kalian lantas angkat kaki?” Lalu ia menyambung hitungannya lagi:
“lima... enam... tujuh... delapan... sembilan...”
Sampai di sini ia berhenti sejenak, ia coba peringatkan orang lagi: “Sumoay, apa benar tak mau kau katakan?”
Pada saat itu juga, mendadak di lorong bawah itu meniup angin dingin yang menghembus masuk hingga lilin yang dipegang Ang Ling-po tersirap.
“Hmm, aku masih ngantuk, jangan kau bikin ribut lagi,” kata Siao-liong-li, ia sengaja menguap keras.
“Hmm, baiklah, Peng-pek-ciam ini adalah warisan Cosu-popoh kita sendiri, maka jangan kau sesalkan aku, kini aku telah menghitung sampai sepuluh,” demikian kata Li Bok-chiu.
Sembari berkata ia gunakan ujung jarum peraknya yang berbisa jahat itu menggosok satu kali ‘Ciang-tay-hiat’ di punggung Yo Ko, menyusul ‘Hian-ki-hiat’ di dada Siao-liong-li ia gosok satu kali dengan cara yang sama. Walau pun biasanya sifat Siao-liong-li sangat dingin dan tenang, tetapi kini tidak urung ia merasa ngeri juga, sebab racun jarum perak ini pe-Iahan akan merembes masuk melalui jalan darah di pinggangnya dan lambat laun merata ke seluruh tubuh, tatkala itu akan terasa di seluruh tubuh se-akan ribuan semut menggerogoti tulang sumsum dan be-ribu bisul tumbuh di seluruh badan. Dalam keadaan demikian rasanya tak ada yang lebih lihay dari pada siksaan ini.
Sebenarnya Siao-liong-li punya obat pemunah racunnya, sebab asalnya jarum berbisa ini dari perguruannya sendiri, tetapi kini Hiat-to kena ditotok orang dan tak mampu berkutik, cara bagaimana ia bisa berdaya buat menolong diri sendiri?
Di lain pihak Li Bok-chiu memang keji juga kejam, sesudah menggosokkan jarum berbisa itu pada badan orang, ia lalu duduk di samping mereka untuk menunggu bekerjanya racun jarumnya. Dia pikir orang tentu akan bicara terus terang.
Selang tidak lama kemudian, aliran darah di tubuh Siao-liong-li dan Yo Ko berjalan tambah cepat, perlahan-lahan pun terasa panas. Siao-liong-li tahu racun mulai bekerja, tidak Iama lagi tentu akan merembet lagi lebih dalam, akan tetapi kini ia justru merasakan enak yang tak terkatakan.
“Kokoh, jangan kau katakan rahasia keluar kuburan ini pada mereka. Kedua perempuan jahat itu betapa pun tidak boleh terlepas begitu saja,” dengan suara perlahan Yo Ko bisiki Siao-liong-li.
“Ya,” sahut nona itu.
Teringat tentang rahasia jalan keluar kuburan itu, tanpa terasa Siao-liong-li menengadah dan memandang ke langit-langitan kamar yang terdapat peta bumi itu. Kiranya dahulu demi mengetahui Lim Tiao-eng sudah meninggal dunia di dalam kuburan, walau pun dia sudah bersumpah tidak akan masuk lagi, akhirnya Ong Tiong-yang masuk lagi ke kuburan itu secara diam-diam melalui sebuah jalan rahasia. Teringat oleh Ong Tiong-yang betapa cintanya Lim Tiao-eng kepada dirinya dan suka-duka mereka semasa mudanya, maka Cosu dari Coan-cin-kau itu lantas menangis di hadapan jenazah bekas kekasihnya itu.
Setelah puas menangis seorang diri dan sesudah melihat untuk yang penghabisan kalinya wajah kekasihnya yang sudah tidak bernyawa, kemudian Ong Tiong-yang memeriksa lagi keadaan kuburan raksasa buah karyanya itu. Di situ bukan saja ia melihat gambar dirinya sendiri yang dilukis oleh Lim Tiao-eng, bahkan dia dapatkan pula ukir-ukiran di langit-langit kamar yang ditinggalkan kekasihnya. Ketika diketahuinya betapa bagus dan betapa hebat ilmu kepandaian yang terkandung di dalam Giok-li-sim-keng, setiap gerakan dan setiap tipu pukulan ternyata merupakan lawan dan khusus anti ilmu silat Coan-cin-pay, dalam kagetnya muka Ong Tiong-yang menjadi pucat. Lekas ia keluar dari kuburan itu.
Lalu seorang diri ia tirakat di puncak gunung, selama tiga tahun selangkah pun tidak turun gunung, dengan memusatkan pikiran dia mempelajari cara untuk memecahkan ilmu Giok-li-sim-keng. Namun demikian, hasilnya terlampau kecil, bagaimana pun juga dia tidak mendapatkan semacam ilmu yang sempurna untuk mengalahkannya. Dalam putus asanya, terhadap kecerdikan dan kepintaran Lim Tiao-eng ia menjadi sangat kagum, lalu ia terima menyerah dan tidak melanjutkan pelajarannya lagi.
Tetapi siapa tahu belasan tahun kemudian diadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’ atau pertandingan pedang di atas Hoa-san. Ketika itu Ong Tiong-yang sudah keluar sebagai juara dan dapat merebut kitab tertinggi dari ilmu silat, yaitu ‘Kiu-im cin-keng’. Sebenarnya Ong Tiong-yang telah bersumpah tidak akan berlatih ilmu yang terdapat di dalam kitab itu, tetapi terdorong oleh rasa ingin tahu, tidak urung ia balik-balik halaman kitab itu dan membacanya.
Ilmu silat Ong Tiong-yang waktu itu sudah diakui sebagai juara dunia, dengan sendirinya inti sari dari apa yang tertulis di dalam Kiu-im-cin-keng itu dengan gampang saja dapat dia pahami, hanya dalam sepuluh hari saja seluruhnya sudah bisa dia selami dengan baik. Ia tertawa panjang sambil menengadah lalu masuk lagi ke Hoat-su-jin-bong.
Di langit kamar batu yang paling dirahasiakannya sudah dia ukir bagian penting dari Kiu-im-cin-keng dan satu per satu dia tunjuk cara untuk mematahkan ilmu Giok-li-sim-keng. Kemudian pada jari tangan lukisan dirinya itu dia tinggalkan pula beberapa baris tulisan, dia bilang jika keturunan Lim Tiao-eng ada jodoh, biarlah orang itu mengetahui bahwa ilmu silat dari pendiri Coan-cin-kau itu sekali-kali tidak bisa dikalahkan Giok-li-sim-keng dengan begitu saja.
Setelah Ong Tiong-yang keluar lagi dari kuburan, ia mencoba memenangkan pula bekas tulisan dengan jari yang dulu dilakukan Lim Tiao-eng di atas batu gunung Cong-lam-san. Terpikir lagi olehnya kata-kata yang ditinggalkan di atas lukisan yang terlalu halus itu. Belum pasti orang keturunan Ko-bong-pay dapat melihatnya, akan tetapi bila ditunjukkan secara terang-terangan, apakah itu bukan berarti kitab Kiu-im-tin-keng yang hebat itu sengaja dia siarkan kepada umum?
Tengah ia ter-menung, tiba-tiba terdengar suara orang perempuan sedang menangis dengan sedih sekali. Ia coba mendekatinya dan ditanya. Kiranya wanita itu she Sun, dahulu jiwanya pernah ditolong Lim Tiao-eng, maka kini sengaja naik gunung hendak menemuinya. Demi mengetahui Lim Tiao-eng sudah meninggal, dia bermaksud masuk ke kuburan buat sembahyang, namun jalan masuknya tidak diketemukan.
Ong Tiong-yang lalu tunjukkan cara memasuki Hoat-su-jin-bong itu dan pesan pula: “Aku memberi enam belas huruf, hendaklah kau ingat-ingat dengan baik, tetapi jangan dibocorkan pada orang lain. Kelak bila dekat hari tuamu baru boleh kau beri-tahukan tuan rumah dari kuburan kuno ini.”
Wanita she Sun itu menghaturkan terima kasih dan mengingat baik-baik ke-16 huruf itu, dan kemudian berziarah ke dalam Hoat-su-jin-bong. Belakangan dia diterima oleh dayang Lim Tiao-eng yang kemudian menjadi gurunya Siao-liong-li untuk tinggal terus dalam kuburan. Dia inilah lalu dikenal sebagai Sun-popoh. Enam belas huruf tinggalan Ong Tiong-yang itu kemudian oleh Sun-popoh ditulis di atas secarik kain putih lantas dijahit dalam baju kapasnya dan pada saat sebelum ajalnya, baju kapasnya telah dia berikan pada Yo Ko. 16 huruf itu berarti:
‘Guru besar Tiong-yang meninggalkan ilmu kepandaian, periksa lukisannya dan pelajari jari tangannya’.
Akan tetapi karena bakat Sun-popoh tidak pintar, maka terhadap enam-belas huruf itu tak pernah dia selidiki hingga tidak mengetahui rahasia yang terpendam di kamar batu itu. Sedang mengenai peta bumi rahasia yang terukir pada langit-langit kamar itu memang sudah ada sejak muIa kuburan kuno ini dibangun, hal ini malahan Lim Tiao-eng sendiri pun tidak mengetahuinya.
Begitulah ketika Siao-liong-li dapat melihatnya, maka segera dia tahu jelas jalan rahasia untuk keluar dari kuburan itu, hanya sayang jalan darahnya ditotok Li Bok-chiu, sekali pun sudah mendapatkan jalan hidup toh percuma juga. Ia menjadi menyesal kenapa tadi tidak cepat-cepat melarikan diri bersama Yo Ko sebaliknya malah duduk saja untuk mengobrol segala permainan anak yang tak berguna.
Lambat-laun seluruh badannya menjadi makin panas. Dia memandang lagi beberapa kali peta bumi itu. Dia menghela napas panjang, pandangan matanya beralih lagi pada tulisan pelajaran Kiu-im-cin-keng yang berada di sebelah peta bumi itu.
Tiba-tiba matanya menjadi terbelalak. Seperti sinar kilat yang mendadak berkelebat, dapat dilihatnya ada empat huruf yang bertuliskan ‘Kay-hiat-pit-koat’ atau kunci rahasia membuka jalan darah. Seketika hatinya tergerak, ia coba mengamat-amati beberapa kali lagi pelajaran ilmu itu. Keruan bukan buatan senangnya, saking girangnya hampir-hampir saja dia berteriak.
Kiranya ilmu itu menjelaskan cara melancarkan jalan darahnya sendiri. Bagi orang yang melatih Kiu-im-cin-keng, sesungguhnya ilmu silatnya pasti telah mencapai tingkatan kelas wahid dan sekali-kali tidak akan kena ditotok orang. Tetapi dalam keadaan kepepet seperti Siao-liong-li sekarang ini, ilmu ini justru merupakan bintang penolong baginya.
Tetapi bila terpikir lagi olehnya meski pun dapat melepaskan diri dari totokan toh tak lebih ungkuIan dari pada sang Suci, bukankah percuma juga? Karenanya dia lantas membaca lagi lebih teliti tulisan di atas kamar itu, ia bermaksud mencari lagi semacam ilmu silat yang sifatnya praktis, yang begitu dipelajari segera dapat dipergunakan dan sekaligus bisa mengalahkan Li Bok-chiu.
Tetapi meski dia sudah ulangi membaca dari awal sampai akhir dan dari akhir kembali ke awal sampai dua kali, ia dapatkan meski pun ilmu yang paling gampang dipelajari sedikitnya juga harus makan beberapa puluh hari baru bisa jadi. Dalam keadaan putus harapan itu, tiba-tiba ia merasakan tubuh Yo Ko yang bersandar dengan tubuhnya itu rada gemetar, agaknya racun jarum perak telah merembes masuk. Pada saat genting ini tiba-tiba pikirannya menjadi jauh lebih tajam dari biasanya, tergerak pikirannya dan dapat diperoleh akal bagus.
Dengan cepat ia menengadah lagi, ia apalkan baik-baik ‘Kay-hiat-pi-koat’ dan ‘Pi-gi-pit-koat’, yakni dua macam ilmu membuka jalan darah dan menutup jalan pernapasan, lalu dengan apa yang dia apalkan ini dia bisikkan ke telinga Yo Ko untuk mengajarkan pemuda ini. Dasar Yo Ko memang sangat pintar, sedikit diberi petunjuk saja dia lantas mengerti, diberi tahu awalnya, segera ia paham lanjutannya.
“Nah, sekarang kita membuka jalan darah dulu,” kata Siao-Iiong-li kemudian dengan suara perlahan.
Yo Ko manggut-manggut sebagai tanda mengerti. Dalam pada itu seluruh kamar dalam keadaan gelap gulita. Li Bok-chiu dan Ang Ling-po hanya menanti, bila mana Siao-liong-li dan Yo Ko tidak tahan oleh serangan racun dalam tubuhnya, tentu dengan sendirinya akan mengatakan rahasia jalan keluar dari kuburan itu. Sudah tentu dia tidak menduga bahwa mereka justru sedang main gila secara diam-diam.
Demikianlah, maka Siao-liong-li dan Yo Ko telah menuruti petunjuk Ong Tiong-yang pada ukiran itu, mereka menjalankan darah menurut ajaran ‘Kay-hiat-pit-koat’. Memang Iwekang mereka berdua sudah cukup kuat, maka hanya sebentar saja dua tempat Hiat-to yang tertotok tadi sudah berhasil mereka Iepaskan. Lalu Siao-liong-li ulur tangan perlahan ke dalam bajunya, dia ambil dua pil penawar racun jarum itu, lebih dulu dia jejalkan satu butir ke mulut Yo Ko, kemudian dia sendiri menelan sebutir.
Meski perbuatannya ini dilakukan dengan amat perlahan dan hati-hati, tapi Li Bok-chiu mana bisa dikelabui, segera hal ini dapat diketahuinya.
“Apa yang kau lakukan?!” bentaknya terus melompat maju.
Namun Siao-liong-li sudah siap sedia, segera dia papaki orang dengan sekali gablokan. Ini adalah ilmu silat tertinggi dari Giok-li-sim-keng, maka pundak Li Bok-chiu kena hantam satu kali walau pun hanya perlahan.
Sungguh Li Bok-chiu tidak pernah menyangka bahwa sang Sumoay ini ternyata mampu melepaskan Hiat-to sendiri. Dalam kagetnya akibat kena pukulan itu, lekas ia melompat mundur lagi.
“Suci, kami hendak keluar, kau mau ikut keluar tidak?” demikian Siao-liong-li lalu berkata kepadanya.
Li Bok-chiu menjadi mati kutu menghadapi Sumoay-nya. Biasanya ia suka unggulkan ilmu silatnya sendiri yang tiada tandingannya di seluruh jagat, pula kecantikannya susah dicari lawan, siapa tahu kini dapat dipermainkan oleh sang sumoay yang masih muda-belia dan belum pernah kenal muka jagat itu, keruan tak kepalang gusar dan dongkolnya.
Akan tetapi karena kepepet, dia kuatir bila sampai sang Sumoay menjadi marah, mungkin dirinya tidak dibawa keluar, hal ini berarti dirinya bakal celaka, karena itu ia tak berani berlaku kasar. Dia pikir paling penting keluar dulu dari kuburan ini. Ilmu silat sendiri toh lebih tinggi dari pada Sumoay-nya, nanti apa bila sudah di luar, tidak sukar untuk bikin perhitungan dengan dia. Maka Li Bok-chiu mencoba menahan amarahnya, sambil tertawa ia mencoba membujuk:
“Nah, beginilah baru seorang Sumoay yang baik, biarlah aku minta maaf padamu dan bawalah aku keluar dari sini!”
“Tetapi Kokoh bilang, hanya satu orang saja di antara kalian berdua yang bisa ikut, maka katakan saja, kau atau muridmu itu?” sahut Yo Ko tiba-tiba.
Nyata Yo Ko ini sangat licin. Begitu melihat kesempatan, segera dia berusaha memecah-belah antara guru dan murid.
“Anak keparat, tutup bacotmu!” damperat Li Bok-chiu marah.
Kata-kata Yo Ko tadi sebenarnya belum dipahami Siao-Iiong-li, tetapi selamanya ia membela pendirian pemuda itu, karena itu segera ia menyambung:
“Ya, memang, aku hanya dapat membawa seorang saja, tidak bisa lebih!”
“Nah, apa kataku,” ujar Yo Ko dengan tertawa. “Supek, menurut pendapatku, biarkan Suci saja yang ikut kami keluar, kau toh sudah tua, sudah hidup cukup lama bukan?”
Sungguh tak kepalang marah Li Bok-chiu hingga dadanya se-olah meledak, tapi soalnya menyangkut mati hidupnya, maka sedapat mungkin dia coba menahan api amarahnya. Ia bungkam dan tidak menjawab lagi.
“Baiklah, sekarang kita berangkat,” kata Yo Ko. “Kokoh jalan di depan sebagai penuntun jalan, aku nomor dua, dan siapa yang berada paling belakang, dia yang tidak akan dapat keluar.”
Maka tahulah sekarang Siao-liong-Ii maksud kata-kata Yo Ko, ia tersenyum manis, lalu dengan menggandeng tangan Yo Ko mereka mendahului keluar dari kamar batu itu. Saat itu juga Li Bok-chiu dan Ang Ling-po sudah berlari menyusul sehingga kedua orang ini berdesakan di ambang pintu, mereka berebutan lebih dahulu, mereka takut kalau Siao-liong-li menggerakkan alat perangkap rahasia sehingga salah seorang di antara mereka yang tertutup di bagian dalam.
“Berani kau berebutan denganku?!” bentak Li Bok-chiu marah, berbareng sebelah tangannya telah cekal pundak Ang Ling-po.
Walau pun keadaan amat berbahaya, namun Ang Ling-po kenal watak gurunya yang tak segan turun tangan kejam. Kalau dirinya tidak mengalah, pasti segera terbinasa di tangan gurunya sendiri. Karena itu terpaksa ia mundur selangkah dan mempersilakan Li Bok-chiu jalan di depan, sudah tentu dengan perasaan mendongkol tetapi takut pula.
Demikianlah, maka dengan rapat Li Bok-chiu mengintil di belakang Yo Ko, sedikit pun tak berani ketinggalan jauh. Dia merasa jalan yang ditempuh Siao-liong-li itu seperti belok ke sini dan putar ke sana, semakin jauh semakin menurun ke bawah, sementara itu kakinya terasa menginjak tempat becek. Dalam hati dia mengerti telah berada di luar kuburan kuno, hanya saja dalam kegelapan, remang-remang hanya kelihatan di mana-mana jalannya selalu me-lingkar dan ber-putar-putar.
Tak lama jalanan menjadi aneh, kini menurun lurus. Syukur ilmu silat keempat orang cukup tinggi, maka mereka tiada yang sampai terpeleset, jika orang Iain, tentu sejak tadi sudah jatuh keserimpet.
“Cong-lam-san ini memang tidak terlalu tinggi, dengan jalan cara begini, tidak lama tentu sudah berada di bawah gunung, apakah kami kini sudah berada di dalam perut gunung?” demikian Li Bok-chiu berpikir sendiri.
Sesudah jalan menurun agak lama, akhirnya jalanan mulai lapang, hanya rasa basah itu semakin banyak hingga akhirnya terdengar suara gemerciknya air, lalu betis mereka pun terendam dalam air. Tidak hanya begitu, makin jauh air makin dalam, dari betis bertambah sampai paha, dari paha terus perut dan per-lahan naik lagi sampai setinggi dada.
“Pi-gi-pit-koat (rahasia menutup jalan napas) apakah sudah kau apalkan dengan baik?” dengan suara perlahan Siao-liong-li tanya Yo Ko.
“lngat,” sahut Yo Ko lirih.
“Baik,” ujar Siao-liong-li. “Dan sebentar lagi kau harus tutup jalan napasmu, jangan sampai kemasukan air.”
“Ya, engkau sendiri juga harus hati-hati, Kokoh,” kata Yo Ko.
Siao-liong-li meng-angguk. Sedang mereka bicara, air di bawah sudah merembes sampai di tenggorokan. Keruan yang paling kaget adalah Li Bok-chiu, ia menjadi bingung.
“Sumoay, apa kau bisa berenang?” teriaknya kuatir.
“Selamanya aku hidup di dalam kuburan, mana bisa berenang?” sahut Siao-liong-li.
Hati Li Bok-chiu rada lega mendengar jawaban ini, ia melangkah maju lagi. Tak terduga air mendadak mendampar sampai mulutnya, Dalam kagetnya lekas ia mundur ke belakang. Tetapi pada saat itu juga Siao-liong-li dan Yo Ko malahan terus menyelam.
Dalam keadaan demikian, sungguh pun di depan sana sudah menanti gunung golok atau lautan pedang, terpaksa Li Bok-chiu juga menerjang maju. Dalam pada itu, mendadak dia merasakan baju di pungungnya menjadi kencang, kiranya tangan Ang Ling-po telah menjamberetnya. Li Bok-chiu menjadi dongkol, diri sendiri saja dalam keadaan bahaya, apa lagi kini malah diganduli. Dia coba meronta sekuatnya, namun tak bisa terlepas.
Maklumlah, seorang yang tidak dapat berenang, apa bila kelelap di dalam air, tentu orang akan bergolak sebisanya dan bila ada sesuatu benda sampai terpegang, maka sampai mati sekali pun tak bakal dilepaskannya. Begitulah halnya dengan Ang Ling-po sekarang.
Dengan bergandengan tangan Siao-Iiong-li bersama Yo Ko lalu menyelam ke bawah air, sementara Li Bok-chiu mencekal kencang tangan Yo Ko, sedangkan Ang Ling-po tetap menjambret baju punggungnya, mati pun tidak dilepaskan.
Tatkala itu suara menggerujuknya air sudah terdengar sangat keras. Walau pun ini adalah sungai di bawah tanah, namun suara yang berkumandang keras itu cukup mengejutkan orang. Dan akibat terdampar oleh arus air yang keras, Li Bok-chiu dan Ang ling-po menjadi terapung ke atas.
Meski pun ilmu silat Li Bok-chiu sangat bagus, tetapi dalam keadaan demikian ia menjadi gugup dan bingung. Dia ulurkan tangan menjamberet dan menarik serabutan, mendadak berhasil disentuhnya sesuatu, keruan saja ia pegang dengan kencang, mati pun tak akan dilepaskannya. Kiranya itu adalah tangan kiri Yo Ko. Saat itu Yo Ko sedang menahan napas dan sedang melangkah maju setindak demi setindak di dalam air dengan menggandeng tangan Siao-liong-li, sekarang mendadak dipegang Li Bok-chiu, lekas dia pakai Kim-na-jiu-hoat untuk melepaskan diri.
Akan tetapi sekali Li Bok-chiu sudah pegang, mana mau dilepaskan pula, meski air dingin terus-menerus masuk ke mulut dan hidungnya, bahkan sampai jatuh pingsan juga masih dipegangnya erat-erat tangan Yo Ko.
Beberapa kali Yo Ko coba kipatkan lengannya terlepas, tetapi tidak berhasil. Karena kuatir terlalu banyak membuang tenaga hingga air masuk perutnya, akhirnya ia pun membiarkan lengannya dipegang orang. Begitulah secara bererotan seperti kereta gandengan, mereka berempat berjalan terus di dasar sungai. Sesudah agak lama, akhirnya terasa sesak juga napas Siao-liong-li dan Yo Ko, mereka mulai tak tahan hingga perut mereka pun kenyang minum air.
Syukur lambat laun arus air mulai reda, keadaan tanah pun kini semakin tinggi, tidak lama kemudian mereka dapat menongol ke permukaan air. Mereka berjalan terus, makin jauh keadaan di depan sana bertambah terang, akhirnya mereka pun keluar melalui sebuah goa gunung. Tidak kepalang rasa letih Siao-Iiong-li dan Yo Ko, boleh dikatakan tenaga mereka sudah habis, apa lagi terendam lama di dalam air, maka lebih dahulu mereka kumpulkan tenaga untuk memuntahkan air di dalam perut yang kembung itu, kemudian mereka merebahkan diri di atas tanah dengan napas empas-empis.
Tatkala itu dengan kencang tangan Li Bok-chiu ternyata masih memegang lengan Yo Ko sehingga jari tangannya harus dipentang satu per satu oleh Siao-liong-Ii barulah bisa terlepas. Lalu Siao-liong-li menotok Hiat-to pada bahu Li Bok-chiu dan muridnya, kemudian baru menaruh mereka di atas batu, dengan demikian air di dalam perut mereka per-lahan mengalir keluar.
Selang agak lama, sambil mengeluarkan suara serak Li Bok-chiu sadar duluan. Tiba-tiba sinar matahari menyilaukan matanya, sekarang dia betul-betul di alam terbuka, bila ingat tadi terkurung di dalam kuburan kuno dan terancam berbagai macam bahaya, mau tak mau ia merasa ngeri. Sekarang meski separuh tubuhnya bagian atas dalam keadaan lumpuh karena ditotok Siao-liong-Ii, tapi hatinya malah jauh lebih lega dari pada tadi.
Tidak berapa lama Ang Ling-po pun tersadar, namun karena jalan darahnya ditotok, tangannya sudah tidak bertenaga lagi, maka sebelah tangannya masih tergeletak di atas punggung Suhu-nya. Cara menotok Siao-liong-li kali ini hanya dapat dibebaskan dengan ilmu ‘Kay-hiat-pit-koat’ seperti ajaran Kiu-im-cin-keng yang ditinggalkan Ong Tiong-yang, atau ditolong oleh kaum ahli, bila tidak harus tunggu 7X7 = 49 hari lagi baru bisa sembuh sendiri.
“Sekarang bolehlah kau pergi, Suci!” demikian kemudian Siao-liong-li berkata pada Li Bok-chiu.
Sungguh pun kedua tangan Li Bok-chiu dan Ang Ling-po sudah lumpuh, namun setengah badan bagian bawah masih baik-baik saja dan bisa bergerak seperti biasa, karena itu dengan bungkam guru dan murid itu saling pandang sekejap, entah rasa girang atau marah dalam hati mereka waktu itu, lalu pergilah mereka ber-iringan.
Menghadapi alam semesta dengan pemandangan yang indah permai itu, sungguh tidak terbilang rasa girang Yo Ko.
“Kokoh, bagus tidak pemandangan sekitar ini?” tanya Yo Ko.
Tetapi Siao-liong-li tidak menjawab, ia hanya bersenyum simpul. Apa bila teringat oleh mereka kejadian selama beberapa hari ini, mereka merasa seperti menjelma lagi di dunia Iain. Malam itu mereka berdua tidur seadanya di bawah sebuah pohon yang rindang. Kiranya goa gunung ini sudah berada di bawah Cong-lam-san, hanya tempatnya sangat sepi dan terpencil.
Keesokan paginya, sehabis mereka buang air, racun yang mengalir dalam tubuh mereka ternyata ikut lenyap. Apa bila menuruti Yo Ko, segera pemuda ini hendak mengajak pergi pesiar. Tetapi selamanya Siao-liong-li belum pernah berkenalan dengan dunia fana, entah mengapa, ia menjadi takut.
“Tidak, kita harus melatih dulu Giok-Ii-sim-keng hingga selesai,” kata Siao-liong-li.
Betul juga, pikir Yo Ko, dan dia pun menurut. Memang kalau berada di tempat ramai dan banyak orang, untuk melatih Giok-li-sim-keng dengan mencopot pakaian bersama gurunya sesungguh tak pantas dipandang. Maka mereka lantas mencari dan mendapatkan satu tempat semak yang lebat sekali. Malam itu juga mereka lantas mulai melatih diri lagi dengan di-alingi semak rumput bunga.
Demikianlah mereka lantas mendirikan gubuk. Mereka meneruskan latihan ilmu di gunung sunyi ini, siang mereka tidur dan malam hari berlatih dengan giat, sehingga sekejap saja beberapa bulan sudah berlalu tanpa sesuatu kejadian. Mula-mula Siao-liong-li mendahului berhasil dengan ilmunya, lewat sebulan lagi Yo Ko pun menyusul selesai dengan sangat memuaskan.
Meski pun begitu mereka berdua masih mengulangi lagi, nyata tak ada sesuatu lagi yang kurang, karena itu Yo Ko lagi-lagi bicara tentang pesiar sebagai kesenangan hidup manusia.
Tapi bagi Siao-liong-li, hidup secara aman tenteram seperti sekarang ini rasanya di dunia ini sudah tak ada lagi yang melebihi. Tetapi dilihatnya Yo Ko selalu suka pada keramaian, tampaknya sukar untuk tinggal di gunung sunyi untuk selamanya.
“Ko-ji,” akhirnya ia berkata, “meski pun ilmu silat kita telah jauh berbeda dari pada dahulu, tetapi kalau dibandingkan dengan kau punya paman dan bibi Kwe kira-kira bagaimana?”
“Tentu saja kita masih jauh ketinggalan,” jawab Yo Ko.
“Kau punya paman Kwe tentu sudah menurunkan kepandaian kepada puterinya dan kedua saudara Bu. Kalau begitu, jika kelak saling bertemu lagi, tetap saja kita akan dihina mereka,” kata Siao-liong-li.
Mendengar kata-kata ini, seketika Yo Ko menjadi gusar. “Kokoh, jika mereka berani hina diriku lagi, mana bisa aku menyerah mentah-mentah?” teriaknya sambil melonjak bangun.
“Tetapi kau tidak dapat menandingi mereka, bisa apa kau?” ujar Siao-liong-Ii.
“Jika begitu, kau bantu aku, Kokoh,” kata Yo Ko.
“Aku pun tak bisa menangkan kau punya paman Kwe, percuma saja,” sahut Siao-liong-li.
Yo Ko tidak bisa buka suara lagi. Dia menunduk dengan bungkam, dia coba pikirkan cara bagaimana harus menghadapinya kelak.
“Sudahlah, demi Kwe-pepek, aku tak akan berkelahi dengan mereka,” katanya kemudian sesudah merenung sebentar.
“Tetapi kalau mereka tidak mau lepaskan dirimu, bagaimana?” kata Siao-liong-li lagi.
“Biar aku menghindari mereka saja,” sahut Yo Ko. “Betapa pun juga aku toh tidak punya permusuhan apa-apa dengan mereka. Tidak akan mereka sampai mengincar jiwaku.”
“Sudah tentu. Bagaimana pun juga mereka memliki hubungan erat dengan kau,” kata Siao-liong-li sambil menghela napas, “Tapi orang-orang di Tho-hoa-to itu bukan sanak dan bukan kadangku.”
Mendengar kata orang yang terakhir ini, hati Yo Ko jadi tertekan. “Kokoh, apa kau maksudkan mereka bakal menghina kau?” tanyanya ragu.
“Ya, kalau sampai mereka tahu aku telah merebut anak murid Coan-cin-kau dan Tho-hoa-to, mana bisa mereka biarkan dirimu begitu saja,” sahut Siao-liong-Ii.
“Jangan kuatir, Kokoh!” teriak Yo Ko. “Tak peduli siapa saja yang berani menyenggol seujung rambutmu, pasti aku akan adu jiwa dengan dia.”
“Tetapi sayang kita tidak punya modal untuk mengadu jiwa itu,” sahut Siao-liong-li.
Yo Ko adalah anak yang sangat cerdik. Demi mendengar kata-kata gurunya, maka tahulah dia akan maksud orang.
“Kokoh,” katanya lagi dengan tersenyum, “kalau kita berhasil melatih baik-baik ilmu yang ditingalkan oleh Ong Tiong-yang, pasti kita akan dapat mengalahkan orang-orang Tho-hoa-to itu, bukan?”
Tiba-tiba alis Siao-Iiong-li bergerak, ia tertawa. “Tentu saja, memangnya orang-orang di Tho-hoa-to itu punya tiga kepala dan bertangan enam?” sahutnya kemudian.
Dan oleh karena percakapan mereka inilah, akhirnya Yo Ko dan Siao-liong-li telah tinggal setahun lebih lama di lembah pegunungan ini. Dalam satu tahun ini, baik Iwekang mau pun Gwakang mereka berdua sudah mencapai kemajuan pesat sekali. Sering kali mereka berdua mengambil tangkai bunga terus saling serang menyerang dan gempur menggempur untuk melatih diri di lembah gunung.
Tangkai bungai itu sesungguhnya adalah benda yang lemas, tetapi berada di tangan mereka yang telah memiliki Iwekang kelas wahid, maka serupa saja seperti golok tajam atau pedang pusaka. Pada suatu hari, sehabis berlatih, wajah Siao-liong-li terlihat muram durja, tampak nyata hatinya tidak senang. Melihat perubahan wajah orang ini, terus-menerus Yo Ko berusaha menghiburnya agar tertawa, namun tetap Siao-liong-Ii bungkam tanpa ber-kata-kata
Yo Ko menjadi bingung, ia kehabisan akal, Setelah dipikir berulang kali, akhirnya ia menduga tentu karena ilmu tinggalan Ong Tiong-yang yang mereka latih sudah berakhir, maka Siao-Iiong-li merasa berat kalau ditinggalkan dirinya, sebaliknya untuk menahannya juga tiada alasan, oleh karena itu hatinya menjadi kesal.
“Kokoh, jika engkau tidak ingin aku turun gunung, biarlah untuk selamanya kita tinggal di sini saja,” demikian katanya kemudian.
Keruan saja Siao-liong-Ii menjadi girang karena memang itulah yang membuat pikirannya menjadi kesal.
“Baik sekali...” demikian serunya, tetapi baru sepatah dua kata dia ucapkan, mendadak ia berhenti. Ia mengerti pula apa yang dikatakan Yo Ko itu sukar dilaksanakan. Sungguh pun Yo Ko terpaksa tinggal terus disitu, tentu pula hati pemuda itu tidak akan gembira. Maka dengan suara lirih ia lanjutkan: “Sudahlah, kita bicarakan besok saja.”
Malam itu Siao-liong-Ii tiada napsu makan, ia kembali ke gubugnya sendiri untuk tidur. Gubuk yang mereka dirikan di bawah pohon besar itu ada dua. Melihat gurunya kelihatan kesal, maka Yo Ko ikut muram, ia duduk sendirian di depan gubuknya sendiri dengan ter-mangu, lama sekali baru dia bisa tidur.
Sampai tengah malam, se-konyong-konyong ia terjaga bangun oleh suara deru angin yang santer, suara angin yang lain dari pada yang lain. Keruan ia kaget, lekas pasang kuping lebih cermat, hingga akhirnya dapat dikenali itu adalah angin pukulan orang yang sedang saling berhantam. Lekas Yo Ko menerobos keluar dari gubuknya. Ia berlari ke gubuk Siao-liong-li, dari luar segera ia memanggil dengan suara perlahan:
“Kokoh, Kokoh, kau dengar tidak?”
Pada saat itu menderunya angin pukulan bertambah keras, sepantasnya Siao-liong-li mendengar juga, tapi aneh, dari dalam gubuk tidak terdengar sahutan. Yo Ko memanggil dua kali lagi dan masih tetap sunyi. Akhirnya ia tidak sabar, ia dorong pintu kemudian melongok ke dalam, tapi yang dia dapatkan hanya dipan yang kosong, ternyata gurunya sudah menghilang.
Dalam kejutnya Yo Ko berlari menuju ke tempat di mana datangnya suara angin pukulan. Setelah belasan tombak dia berlari, meski pun orang yang sedang saling labrak itu belum kelihatan, tetapi dari angin pukulannya Yo Ko dapat membedakan salah satu di antaranya tidak lain adalah gurunya, yakni Siao-liong-li. Akan tetapi angin pukulan lawannya ternyata lebih hebat, agaknya kepandaiannya masih di atas gurunya.
Yo Ko percepat larinya. Ginkang atau ilmu entengkan tubuhnya kini sudah terlatih masak, jauh berlainan dari pada dahulu, maka sekejap saja lereng gunung itu sudah dilintasinya, kemudian tampaklah olehnya di bawah sinar bulan yang remang Siao-liong-li yang berbaju putih mulus sedang bertempur melawan seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar.
Ilmu silat orang itu tinggi sekali hingga meski Siao-liong-li berlaku amat gesit dan enteng, tetapi selalu terkurung dalam angin pukulan orang dan hanya bertahan sebisanya saja.
“Suhu, jangan kuatir, kubantu kau!” demikian Yo Ko cepat berseru sambil melompat maju.
Tetapi sesudah sampai di samping kedua orang dan melihat muka Iaki-laki itu, tanpa terasa Yo Ko menjadi terkesima. Orang itu ternyata penuh berewok yang pendek kaku seperti sikat kawat hingga mukanya se-akan kulit landak, siapa lagi dia kalau bukan ayah angkatnya yang sudah lama berpisah, Auwyang Hong!
“Berhenti, orang sendiri semua, jangan berkelahi lagi!” teriak Yo Ko.
Siao-liong-li tertegun mendengar seruan Yo Ko ini, dia pikir laki-laki gila bermuka berewok ini mana bisa orangnya sendiri? Dan karena sedikit melengnya ini, secepat kilat Auwyang Hong segera mengirim serangan yang mengarah muka Siao-liong-li dengan kekuatan luar biasa.
Kaget sekali Yo Ko. Lekas dia melompat maju hendak memisah, tetapi Siao-liong-li sudah keburu mengangkat tangannya untuk menangkis hingga kedua tangan mereka saling dorong.
Yo Ko tahu bahwa tenaga gurunya masih jauh tak bisa menandingi ayah angkatnya, dan jika bertahan lama tentu akan terluka dalam. Karena itu segera dia mengulur lima jarinya dan menyabet perlahan ke lengan Auwyang Hong. Ini adalah ilmu ‘jiu-hun-ngo-hian’ atau tangan mengebut lima senar, kepandaian yang baru saja dipelajarinya dari kitab Kiu-im-cin-keng. Meski ilmu itu belum matang dilatihnya, namun datangnya cepat dan tempatnya jitu, maka Auwyang Hong merasakan lengannya rada mati rasa sehingga tenaganya hilang.
Setiap kesempatan selalu digunakan Siao-liong-li dengan cepat sekali. Begitu ia merasa daya tekanan musuh kendur, segera ia balas menghantam. Dalam keadaan begitu, Auwyang Hong yang seluruh tubuhnya tak bertenaga hanya ditutuI perlahan saja pasti akan terluka parah. Syukur Yo Ko telah menyelak lagi, ia putar tangannya terus mencekal lengan Siao-liong-li, berbareng ia menyelip ke-tengah kedua orang itu.
“Berhentilah kalian berdua, semuanya orang sendiri,” demikian dengan tertawa ia berkata.
Di lain pihak Auwyang Hong masih belum mengenali Yo Ko. Dia hanya merasa ilmu silat pemuda ini terlampau aneh dan sangat tinggi tidak boleh dipandang enteng. Maka dengan marah dia membentak:
“Siapa kau?! Orang sendiri apa?!”
Yo Ko sudah kenal kelakuan Auwyang Hong yang linglung dan gila-gilaan. Dia kuatir orang benar-benar lupa padanya, maka segera ia pun berseru memanggil:
“Aku, ayah, inilah anakmu sendiri! Apa kau tidak kenal lagi?”
Kata-kata Yo Ko membawa lagu suara yang mengguncangkan perasaan, seketika Auwyang Hong tercengang. Ia tarik tangan si Yo Ko, ia putar muka pemuda ini ke arah sinar bulan, kemudian baru dikenalnya memang betul dia adalah anak angkatnya sendiri yang selama beberapa tahun ini telah dicarinya kian kemari. Karena perawakan Yo Ko sekarang sudah tumbuh tinggi, lagi pula ilmu silatnya hebat, maka semula tidak dikenalnya.
Dasar Auwyang Hong juga seorang yang suka mengumbar perasaannya, seketika itu pula dia rangkul Yo Ko sambil ber-teriak:
“O, anakku, sudah lama sekali aku mencari kau!”
BegituIah kedua orang itu saling rangkul dan sama mengalirkan air mata. Kiranya sesudah Auwyang Hong berpisah dengan Yo Ko di kelenteng bobrok di daerah Kanglam dulu, di mana dia bersembunyi dalam sebuah genta raksasa untuk menghindari pencarian Kwa Tin-ok, dia lantas menjalankan ilmu saktinya untuk menyembuhkan luka dalamnya selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya lukanya bisa pulih kembali, tapi Iuka luar yang babak-belur karena dihajar Kwa Tin-ok itu masih belum sembuh.
Sesudah dia angkat genta raksasa itu dan keluar, ia masih merawat lukanya lagi selama dua puluhan hari di dalam hotel, habis ini kesehatannya baru pulih seluruhnya. Karena dia pernah berjanji pada Yo Ko bahwa tidak peduli ke mana pun bocah ini pergi, ke sana juga akan dicarinya, tapi janji itu sudah lewat sebulan, dan bumi begitu luas, ke mana dia bisa mencari jejaknya. Auwyang Hong pikir bocah ini tentu pergi ke Tho-hoa-to. Turuti wataknya yang suka berlaku cepat, maka segera juga ia mencari satu perahu kecil dan berlayar ke pulau itu.
Ia tahu juga dirinya bukan tandingan Kwe Ceng beserta isterinya, Oey Yong, apa lagi ditambah seorang Oey Yok-su, ayah Oey Yong (tentang kepergian Oey Yok-su dari pulau itu tidak diketahui Auwyang Hong), sekali pun kepandaiannya sekali lipat lebih tinggi lagi juga tidak ungkuIan melawan ketiga orang itu. Oleh sebab itu ia menunggu malam tiba barulah berani mendarat. Siang hari ia sembunyi di dalam goa pegunungan pulau itu, ketika malam tiba baru diam-diam kelayapan keluar dengan harapan bisa menemukan Yo Ko.
Meski secara hati-hati sekali dia bersembunyi selama lebih dua tahun tanpa berani keluar selangkah pun pada waktu siang hari, toh kabar beritanya Yo Ko tetap tak diketemukan. Kemudian pada suatu malam secara kebetulan dia mendengar percakapan antara Bu Siu-bun dan Bu Tun-si berdua saudara, barulah ia tahu bahwa Yo Ko sudah dikirim oleh Kwe Ceng ke Coan-cin-kau untuk belajar silat.
Tentu saja Auwyang Hong amat girang memperoleh kabar itu. Segera malam itu juga dia meninggalkan pulau dan memburu ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san. Tetapi siapa duga tatkala itu Yo Ko sudah bikin ribut dengan imam-imam Coan-cin-kau dan sudah masuk ke Hoat-su-jin-bong.
Peristiwa itu oleh Coan-cin-kau dianggap sebagai satu noda besar yang amat memalukan, maka seluruh imam Coan-cin-kau tiada satu pun yang mau bicara. Meski Auwyang Hong sudah berusaha dengan segala daya-upaya untuk mencari tahu toh tetap tiada satu kabar pun yang dia peroleh. Selama beberapa tahun seluruh gunung Cong-lam-san boleh dikatakan sudah dijelajahi oleh kaki Auwyang Hong, siapa tahu Yo Ko justru bersembunyi di bawah tanah gunung itu dan sedang melatih ilmu sakti secara giat.
Sangat kebetulan malam itu, pada waktu Auwyang Hong sedang lewat di lembah gunung, mendadak dilihatnya ada satu gadis berbaju putih mulus sedang menghela napas sambil duduk tepekur menghadap bulan.
“Hai, di manakah anakku? Kau lihat dia tidak?” demikian dengan kelakuan kasar dan gila Auwyang Hong menegur.
Gadis itu adalah Siao-liong-li. Ia sedang kesal, ia menjadi tambah sebal demi melihat seorang gila menegurnya, maka dia hanya melotot saja dan tak digubrisnya. Tanpa terduga tiba-tiba Auwyang Hong melompat maju. Ia pegang lengan Siao-liong-li dan membentak:
“He, di manakah anakku?!”
Siao-liong-li menjadi kaget demi merasakan tenaga cengkeraman orang yang sangat kuat, nyata ilmu silat orang tinggi luar biasa dan belum pernah dilihatnya seumur hidup, sekali pun jago paling lihay dari Coan-cin-kau masih jauh di bawahnya. Dalam terkejutnya itu, lekas ia lepaskan diri dengan Kim-na-jiu-hoat (ilmu cara menawan dan memegang) yang lihay.
Dengan sekali pegang tadi Auwyang Hong mengira lawan pasti akan terpegang kencang, namun siapa tahu dengan gampang saja orang bisa mengelakkan diri. Dasar dia memang linglung, ia pun tidak tanya lagi, segera sebelah tangannya menyerang lagi dan begitulah, tanpa sebab musabab mereka berdua lantas saling labrak.
Kembali tadi… Karena sudah beberapa tahun berpisah, maka Yo Ko dan Auwyang Hong lantas saling menceritakan rasa kangennya selama ini. Pikiran Auwyang Hong masih tetap setengah jernih dan setengah butek, kejadian yang lalu sudah tak banyak lagi yang bisa diceritakan, terhadap cerita Yo Ko ia pun tak begitu mengerti, yang dia tahu hanya selama beberapa tahun ini Yo Ko belajar silat pada Siao-liong-Ii. Meski usianya sudah lanjut toh Auwyang Hong masih bersifat kanak-kanak, segera dia bilang lagi:
“llmu kepandaiannya tidak bisa mengungkuli aku, untuk apa belajar padanya, biar aku sendiri yang mengajar kau.”
Baiknya watak Siao-liong-li dingin saja, maka ia tidak merecoki urusan ini, meski dengar, ia hanya tersenyum saja terus menyingkir pergi. Sebaliknya Yo Ko menjadi rikuh terhadap Siao-liong-li.
“Tetapi Suhu sangat baik terhadap diriku, ayah!” demikian ia jelaskan.
Tiba-tiba Auwyang Hong menjadi cemburu, “Dia baik, apa aku tidak?” teriaknya.
“Baik, kau pun baik,” sahut Yo Ko cepat sambil tertawa, “Di dunia ini hanya kalian berdua saja yang baik terhadap diriku.”
Karena itu dengan memegangi tangan Yo Ko, Auwyang Hong menyengir. “Ilmu silat yang kau pelajari itu sesungguhnya tidak jelek juga,” katanya kemudian, “cuma sayang dua macam ilmu paling hebat di dunia ini tak kau pelajari satu pun.”
“Ilmu apakah itu?” tanya Yo Ko.
Se-konyong-konyong Auwyang Hong menarik muka, alisnya yang tebal se-akan menegak.
“Percuma kau sebagai seorang berilmu silat, sampai dua ilmu sakti di jagat ini saja tidak kau kenal, lalu apa gunanya kau angkat dia sebagai guru?” bentaknya tiba-tiba.
Melihat orang sebentar girang sebentar marah, hati Yo Ko bukan menjadi takut sebaliknya dia merasa sedih. “Nyata penyakit ayah sudah terlalu mendalam, entah kapan baru bisa sembuh kembali?” demikian ia berpikir.
Sementara itu terdengar Auwyang Hong bergelak ketawa. “Ha, ini biar ayah mengajar kau,” katanya, “Kedua macam ilmu mujijat itu adalah Ha-mo-kang dan Kiu-im-cin-keng. Semasa kecilmu aku sudah mengajarkan kau sedikit penuntun dasarnya, sekarang coba kau berjungkir dan berlatih di hadapanku!”
Memang semenjak Yo Ko masuk kuburan kuno itu, sudah lama dia tidak berlatih lagi ilmu menjungkir dengan kepala di bawah itu. Kini diingatkan kembali tentu saja dengan senang hati dia menurut. Dahulu ketika masih di Tho-hoa-to saja Yo Ko sudah berlatih dengan masak sekali, kini ditambah lagi Iwekang-nya telah tinggi sekali, keruan seperti macan tumbuh sayap saja, ia bisa berputar kayun secepat kitiran dengan kepala menjungkir di bawah.
“Bagus, bagus! Segera kuajarkan pula seluruh intisari yang paling hebat!” seru Auwyang Hong kegirangan.
Kemudian betul saja dia lantas gerakkan kaki dan tangannya, dia mencerocos tiada hentinya, dia tidak urus apakah Yo Ko bisa ingat seluruhnya atau tidak, tetapi sejak mulai dia terus menutur seperti mitraliur.
Di Iain pihak setelah mendengar beberapa kali ajaran Auwyang Hong, hati Yo Ko tiba-tiba tergerak. Ia merasa setiap kata, setiap istilah ternyata luas sekali artinya, tidak bisa dipahami seluruhnya. Terpaksa ia pergunakan ketajaman otaknya untuk mengingatnya dengan paksa.
Sesudah Auwyang Hong mencerocos tak lama, tiba-tiba dia tepuk tangan dan berseru pula:
“He, celaka, jangan-jangan si budak cilik itu ikut mencuri dengar!”
Segera ia pergi ke belakang pohon sana, ia dekati Siao-liong-li dan bilang padanya: “ehh, budak cilik, sekarang aku sedang mengajarkan ilmu kepandaian kepada anakku, jangan kau mencuri dengar.”
“Macam apakah kepandaianmu itu? Siapa yang pingin mendengarkan?” sahut Siao-liong-Ii dengan sikap dingin.
Sejenak Auwyang Hong tertegun oleh jawaban orang. “Baik, kalau begitu kau menyingkir yang jauh,” katanya kemudian.
Tetapi Siao-liong-li sama sekali tak menggubris, ia masih bersandar pada batang pohon besar itu.
“Hm, mengapa aku harus turut perintahmu? Kalau aku suka pergi segera aku akan pergi, kalau tidak suka, tak akan aku pergi,” demikian sahutnya ketus.
Keruan Auwyang Hong marah hingga rambut alisnya se-akan berdiri, dia ulurkan tangan hendak mencakar muka Siao-liong-li. Akan tetapi Siao-liong-li masih tak gubris, bahkan dia pura-pura tidak tahu atas serangan orang. Tentu saja dengan cepat jari-jari tangan Auwyang Hong menyelonong ke mukanya, tetapi sesudah dekat, tiba-tiba Auwyang Hong mendapat pikiran lain. “Ahh, dia kan Suhu anakku, tidak baik kalau aku melukai dia. Tetapi seketika aku pun tidak bisa berbuat apa-apa jika dia tak mau menyingkir pergi,” demikian ia membatin.
Karena itu segera tangan yang dia ulur itu kembali ditariknya lagi. “Baiklah, jika begitu kami saja yang menyingkir, tapi kau jangan mengintip, ya?” katanya.
Siao-Iiong-li pikir meski orang ini sangat tinggi ilmu silatnya, tetapi orangnya dogol, maka ia pun malas buat meladeninya, ia malah berpaling ke jurusan lain dan tak menjawab. Tapi siapa tahu begitu dia melengos, mendadak punggungnya terasa kesemutan. Kiranya Auwyang Hong tiba-tiba sudah ulur tangan dan menotok sekali pada Hiat-to di punggungnya. Oleh karena gerak tangannya terlalu cepat dan aneh, pula sama sekali Siao-liong-li tidak me-nyangka, ketika dia kaget dan bermaksud tutup jalan darahnya buat menolak totokan orang, sudah terlambat. Seketika setengah badannya bagian atas terasa tak bebas lagi. Bahkan menyusul Auwyang Hong menambahi pula sekali tutukan di pinggangnya.
“Nah, budak cilik, jangan kau kuatir, sebentar saja sesudah selesai aku ajarkan ilmu pada anakku, segera aku datang melepaskan kau,” demikian terdengar Auwyang Hong berkata dengan tertawa sambil berjalan pergi.
Tatkala itu Yo Ko sedang meng-ingat-ingat Ha-mo-kang dan Kiu-im-cm-keng yang diajarkan oleh ayah angkatnya tadi. Ia merasa apa yang diajarkan dari Cin-keng atau kitab asli itu, bukan saja berlainan dengan apa yang terukir di kamar batu oleh Ong Tiong-yang, bahkan seluruhnya berlawanan dan terbalik, maka dia sedang peras otaknya untuk menyelaminya lebih mendalam hingga sedikit pun dia tak mengetahui sang guru kena diserang Auwyang Hong.
“Marilah kita menyingkir ke sana agar jangan sampai didengar oleh Suhu-mu,” demikian kata Auwyang Hong sambil tarik tangan Yo Ko.
Tetapi Yo Ko cukup kenal tabiat Siao-liong-li yang aneh dan menyendiri. Jangan kata tidak akan si gadis ini sudi mencuri dengar, sekali pun dipertontonkan di depannya, belum tentu dia mau lihat dan pasti dia akan menyingkir juga.
Tetapi karena pikiran ayah angkatnya dalam keadaan kurang waras, ia pun merasa tidak perlu banyak berdebat, segera ia ikut pergi.
Sementara itu karena kena ditotok jalan darahnya, dengan lemas tubuh Siao-liong-li terkulai di tanah. Sungguh tidak kepalang rasa mengkalnya pula geli. Ia pikir ilmu silatnya sendiri meski sudah terlatih masak dan bagus, namun betapa pun juga masih kurang pengalaman menghadapi musuh, sehingga kena dibokong oleh Li Bok-chiu, dan kini mengalami pembokongan lagi oleh makhluk aneh si berewok ini.
Maka diam-diam dia kumpulkan tenaga sakti dari apa yang dia pelajari dalam Kiu-im-cin-keng, yaitu ‘Kay-hiat-pi-koat’, rahasia cara melepaskan totokan. Dia sedot napasnya dalam-dalam terus menggempur aliran jalan darahnya.
Akan tetapi aneh! Sesudah dua kali dia ulangi, bukan saja Hiat-to yang tertotok itu tidak menjadi lancar dan terbuka, bahkan bertambah pegal dan linu. Keruan saja tidak kepalang terkejutnya oleh kejadian yang tak dimengerti ini.
Kiranya cara totokan Auwyang Hong justru berlawanan dengan jalan darah biasa, karena memang ia melatih Kiu-im-cin-keng secara terbalik. Kini Siao-liong-li memakai cara biasa untuk membebaskan diri, dengan sendirinya bukan menjadi kendor, sebaliknya bertambah kencang dan makin rapat. Dan karena sudah coba dan dicoba lagi masih belum berhasil, bahkan bertambah sakit, akhirnya Siao-liong-li tak berani coba lagi.
Terpikir pula olehnya bahwa nanti sehabis si gila ini selesai mengajarkan ilmu pada Yo Ko. dengan sendirinya dia akan kembali untuk menolongnya. Biasanya Siao-liong-li memang tidak suka banyak pikiran, maka kini dia pun tidak menjadi kuatir atau gugup, bahkan dia ter-mangu sambil menengadah untuk memandang bintang yang tinggi di langit, hingga lapat-lapat akhirnya ia tertidur.
Entah sudah berapa lama dia pulas ketika merasa kelopak matanya perlahan seperti tergosok sesuatu. Dia terjaga dari tidurnya, dia coba membuka mata. Biasanya dalam kegelapan Siao-liong-li bisa memandang sesuatu seperti siang hari, tapi kini sedikit pun ternyata tidak dilihatnya. Ternyata kedua matanya sudah ditutup orang dengan selapis kain. Luar biasa kaget Siao-liong-li sekali ini, malah menyusul ini segera terasa pula ada orang yang memeluk dirinya. Pada waktu memeluk, mula-mula orang ini agaknya rada takut, tetapi belakangan lambat laun menjadi tabah dan perlahan menjadi berani.
Dalam kagetnya itu niat Siao-Iiong-Ii hendak berteriak, namun percuma sebab mulutnya susah dipentang karena totokannya Auwyang Hong tadi. Segera ia merasa orang itu berani mencium pipinya. SemuIa Siao-liong-li menyangka Auwyang Hong yang tiba-tiba telah memakai kekerasan hendak memperkosa dirinya. Tetapi ketika muka orang itu menyentuh pipinya, dia merasa muka orang halus licin saja tanpa berewok seperti Auwyang Hong.
Hatinya terguncang , rasa terkejutnya perlahan hilang. Maklum, Siao-liong-li pun masih muda, di hatinya terpikir tentu ini perbuatan si Yo Ko. Ia merasa kelakuan orang mulai tidak sopan, tangan meraba sini dan menarik sana.
“Kurang ajar si Yo Ko ini!” demikian diam-diam Siao-liong-li mengelak.
Tetapi karena tubuhnya sedikit pun tak bisa berkutik, maka tiada jalan lain ia serahkan diri apa yang hendak diperbuat orang, hanya saja tidak keruan rasa dalam hatinya. Ia terkejut girang, malu dan rada-rada sakit.
Sementara itu di sebelah sana Auwyang Hong sedang asyik memberi pelajaran ilmu silat kepada Yo Ko. Ia menjadi senang demi nampak bakat Yo Ko sangat pintar, sedikit diberi-tahu saja, lanjutannya dengan sendirinya dipahami. Oleh karena itulah semakin mengajar Auwyang Hong semakin bersemangat, hingga fajar menyingsing barulah pokok kedua ilmu mujijat itu selesai diajarkan.
“Ayah, pernah juga kupelajari Kiu-im-cin-keng, tetapi kenapa berlainan sekali dengan apa yang kau uraikan ini?” tanya Yo Ko kemudian sesudah pelajaran yang baru diperolehnya itu diulangi dan diapalkan lagi.
“Apa?! Pernah kau pelajari? Ahh, bohong! Kecuali ajaranku ini, mana ada lagi Kiu-im-cin-keng lain?” sahut Auwyang Hong membentak.
“Tetapi betul, seperti cara melatih melemaskan otot dan menguatkan tulang, menurut kau, langkah ketiga harus sedot napas dan jalankan darah ke arah atas. Tapi Suhu sebaliknya bilang napas harus dipusatkan di perut dan darah dilancarkan ke bawah,” kata Yo Ko.
“Mana bisa begitu? Salah, salah...!” teriak Auwyang Hong sambil geleng kepala. Namun baru sampai di sini tiba-tiba dia berhenti, dia berpikir sejenak, lalu disambungnya lagi: “eh, ehm, nanti dulu...”
Habis ini ia coba melakukan apa yang dikatakan Yo Ko tadi. Betul saja, seluruh badannya dirasakan sangat nyaman dan segar, ternyata sangat berbeda dengan caranya sendiri.
Sudah tentu tidak pernah dia pikir bahwa dahulu dia sudah dipermainkan Kwe Ceng yang atas suruhan Ang Chit-kong (salah satu gurunya Kwe Ceng) telah menuliskan kitab palsu Kiu-im-cin-keng yang telah diubah sana sini dan diputar-balik tak keruan untuk kemudian baru diserahkan kepadanya. Maka dengan sendirinya hasil dari apa yang dilatihnya juga menjadi terjungkir-balik dan berlawanan dengan intisari Kiu-im-cin-keng yang asIi.
BegituIah, maka Auwyang Hong menjadi bingung, pikirannya kacau lagi. “He, mengapa bisa begini? Ahh, mana bisa? Sesungguhnya aku yang salah atau dia yang keliru? Ahh, mana bisa, mana bisa jadi begini?” demikianlah Auwyang Hong mengomel sendiri tiada hentinya.
Yo Ko menjadi kaget melihat kelakuan orang yang tak beres ini. “Ayah, ayah!” ia coba memanggil beberapa kali, tetapi tiada sahutan yang dia peroleh. Yo Ko menjadi kuatir penyakit ayah angkatnya ini kumat lagi.
Sedang dia terkejut itu, tiba-tiba terdengar olehnya suara gemerisik di antara semak rumput sana, berbareng itu dilihat berkelebatnya bayangan orang, lapat-lapat di antara semak itu tampak sebagian dari ujung jubah imam yang ke-kuning-kuning-an. Sebenarnya tempat ini sunyi senyap dan terpencil, kenapa sekarang bisa didatangi orang luar? Pula kelakuan orang itu celingukan tidak beres, terang tidak mengandung maksud baik. Demikianlah Yo Ko menjadi curiga, maka dengan langkah cepat segera ia memburu ke sana.
Akan tetapi dengan cepat orang itu sudah kabur ke jurusan sana, apa bila melihat bagian belakangnya, nyata seorang Tojin atau imam.
“Hai, siapa kau?!” segera Yo Ko membentak. “Hayo, berhenti! Apa kerjamu disini?”
Sambil berteriak, dengan Ginkang yang tinggi segera Yo Ko mengudak. Di lain pihak demi mendengar suara bentakan Yo Ko, imam itu semakin percepat larinya, tetapi mana sanggup dia balapan lari dengan Yo Ko, hanya sedikit ‘tancap gas’ saja Yo Ko sudah melompat sampai di belakangnya. Begitu pundaknya dia cekal dan diputar balik, seketika Yo Ko menjadi heran, sebab imam ini dapat dikenalnya bukan lain dari pada In Ci-peng, itu murid Khu Ju-ki dari Coan-cin-kau.
Yo Ko makin tak mengerti ketika dilihatnya pakaian In Ci-peng kusut tak teratur, mukanya sebentar merah dan sebentar pucat.
“He, katakan, kerja apa kau di sini?” Yo Ko menegur lagi.
In Ci-peng terhitung salah satu jago utama dari anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, ilmu silatnya tinggi, tindak tanduknya biasanya juga cukup gagah. Tetapi entah mengapa, kini sama sekali dia berubah lain, kena di-bentak Yo Ko tadi, kelihatan dia menjadi gugup hingga tak sanggup bicara.
Melihat orang tetap tak menjawab meski pun beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya, keruan Yo Ko tambah tidak mengerti. Namun segera teringat olehnya dahulu In Ci-peng pernah menanam budi atas dirinya ketika dia melarikan diri dari Tiong-yang-kiong. Oleh karenanya dia tidak tega untuk membentak lebih lanjut lagi.
“Baiklah, kalau tidak ada apa-apa, bolehlah kau pergi!” demikian katanya kemudian sambil melepaskan In Ci-peng.
Keruan saja In Ci-peng seperti terlepas dari genggaman elmaut, sambil menoleh beberapa kali memandang Yo Ko, segera dia lari pergi dengan langkah cepat dan ketakutan seperti orang berdosa.
“Sungguh menggelikan kelakuan imam ini.” demikian Yo Ko tertawai orang.
Lalu dia menuju ke gubuk mereka, tetapi di antara semak di depan gubuk sana tiba-tiba dilihatnya sepasang kaki Siao-liong-Ii melonjor keluar tanpa bergerak sedikit pun, agaknya seperti sedang tertidur nyenyak.
“Kokoh, Kokoh!” Yo Ko coba memanggil.
Akan tetapi tiada jawaban. Dia berjongkok dan menyingkap semak yang lebat itu, maka terlihat Siao-liong-li rebah terlentang di tanah, sedang kedua matanya tertutup oleh selapis kain biru.
Rada kaget juga Yo Ko melihat keadaan sang guru. Ia lekas melepaskan ikatan kain biru dari muka orang, dilihatnya wajah serta sorot matanya berlainan sekali dengan biasanya, kedua pipinya pun bersemu merah ke-malu-maluan.
“Kokoh, siapakah yang mengikat kain ini pada dirimu?” tanya Yo Ko kemudian.
Namun Siao-liong-li tak menjawab, hanya sorot matanya tampak mengandung maksud mengomelinya. Melihat tubuh orang lemas lunglai, agaknya jalan darahnya seperti tertotok oleh orang, Yo Ko coba menariknya. Betul juga, sama sekali Siao-liong-li tak bisa bergerak.
Yo Ko memang pintar. Begitu melihat keadaan orang, segera dapat menerka apa sebab-musababnya. “Tentu dia ditotok ayah angkatku dengan Tiam-hiat-hoat yang terbalik, jika tidak, dengan kepandaian Kokoh, Tiam-hiat-hoat yang lebih lihay sekali pun tentu dapat dibukanya sendiri,” demikian pikirnya.
Maka dengan cara yang telah dipelajarinya dari Auwyang Hong tadi, Yo Ko lalu membuka Hiat-to Siao-liong-li yang tertotok itu. Siapa tahu, sesudah tubuh Siao-liong-li tertotok oleh Yo Ko, toh Siao-liong-li tetap lemah lunglai dan meringkuk dalam pangkuan Yo Ko seperti seluruh tubuhnya tidak bertulang lagi.
“Kokoh,” kata Yo Ko dengan suara halus sambil memegang lengan orang, “kelakuan ayah angkatku memang tidak genah, maka jangan kau sesalkan dia.”
“Kau sendiri tidak genah. Tidak tahu malu, masih kau bilang orang Iain!” sahut Siao-liong-li tiba-tiba secara samar dan menyembunyikan mukanya ke dalam pangkuan pemuda itu.
Melihat kelakuan sang guru semakin aneh dan berbeda sekali dengan se-hari-harinya, Yo Ko mulai bingung.
“Kokoh, ak... aku...” demikian kata-katanya menjadi tak lancar.
“Masih kau panggil aku Kokoh?” omel Siao-liong-li sambil mendongak.
Keruan saja Yo Ko semakin bingung dan gugup. “He, tidak panggil kau Kokoh, lalu panggil apa? Apa panggil Suhu saja?” sahutnya heran.
“Kau perlakukan aku cara begitu, mana bisa lagi aku menjadi gurumu?” kata Siao-liong-li dengan senyum malu-malu.
“Aku? Aku kenapa?” Yo Ko tambah tak mengerti.
Akan tetapi Siao-liong-li tidak menjawab lagi. Dia gulung lengan bajunya, maka tampaklah tangannya yang berkulit putih bersih seperti salju.
“Lihat!” katanya dengan wajah ke-maluan sambil menunjuk lengannya yang putih mulus itu. Ternyata andeng-andeng merah ‘Siu-kiong-seh’ yang dahulu terdapat di lengannya itu kini sudah hilang tanpa bekas.
Yo Ko masih bingung, ia cakar kuping dan garuk kepala. “Kokoh, apa artinya ini?” demikian katanya.
“Dengarkan, tak boleh lagi kau panggil aku Kokoh,” ujar Siao-liong-li setengah mengomel. Dan demi dilihatnya wajah Yo Ko mengunjuk bingung, entah mengapa hati gadis ini tiba-tiba timbul rasa cinta mesra yang tak terkatakan.
“Ahli waris Ko-bong-pay kita selamanya turun-temurun gadis suci bersih,” lalu dengan suara perlahan Siao-liong-li berkata pula. “sebab itu Suhu menisik satu titik andeng-andeng merah di tanganku. Tetapi semalam... semalam kau perlakukan aku begitu, mana bisa lagi andeng-andeng merah itu tinggal di atas tanganku?”
“Aku perlakukan kau apa semalam?” tanya Yo Ko dengan bingung.
Muka Siao-liong-li menjadi merah jengah. “Sudahlah, itu tak perlu dibicarakan lagi,” sahutnya kemudian, dan sesudah sejenak pula, dengan perlahan ia berkata lagi: “Dahulu aku takut turun gunung, tetapi kini sudah lain, tidak peduli ke mana kau pergi, dengan rela aku akan mengikuti kau.”
“Bagus sekali, Kokoh, kalau begitu!” seru Yo Ko girang.
“He, kenapa masih saja kau memanggil aku Kokoh?” tegur Siao-liong-li dengan wajah ber-sungguh-sungguh. “Apa kau tidak dengan hati murni terhadap diriku?”
Karena Yo Ko tidak menjawab, akhirnya Siao-liong-Ii menjadi tak sabar lagi. “Sebenarnya kau anggap diriku ini apamu?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Kau adalah guruku, kau sayang padaku, aku telah bersumpah bahwa selama hidupku ini pasti menghormati kau dan suka padamu,” demikian dengan sungguh-sungguh dan tulus Yo Ko menjawab.
“Apa kau tidak anggap aku sebagai isterimu?” teriak Siao-liong-li tak tahan.
Sungguh hal ini belum pernah terlintas dalam pikiran Yo Ko, kini mendadak ditanya orang, keruan ia kelabakan dan tak mengerti cara bagaimana harus menjawabnya.
“Ti... tidak, tak mungkin kau adalah isteriku, mana aku cukup cakap?” demikian sahutnya kemudian dengan tak lancar. “Tetapi kau adalah Suhu, adalah Kokoh-ku.”
Tidak kepalang marahnya Siao-liong-li mendengar jawaban ini sehingga seluruh tubuhnya gemetar, mendadak darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
“Kokoh, Kokoh...!” Yo Ko ber-teriak bingung melihat keadaan ini.
Mendengar orang terus-menerus masih memanggil demikian padanya, dengan sorot mata yang gemas tiba-tiba Siao-liong-li angkat telapak tangannya terus hendak digablokkan ke kepala Yo Ko. Tapi perlahan-lahan sorot matanya dari gemas dan menyesal tadi berubah menjadi benci dan dendam, lalu dari benci dan dendam berganti lagi menjadi sayang dan kasihan.
“Baiklah, kalau begitu selanjutnya jangan kau bertemu dengan aku lagi,” sambil menghela napas panjang akhirnya ia berkata dengan lirih dan lemah.
Habis berkata dia kebaskan lengan bajunya yang panjang, terus putar tubuh dan lari pergi dengan cepat turun ke bawah gunung.
“Kokoh, Kokoh! Ke mana kau? Aku ikut bersama kau!” Yo Ko ber-teriak-teriak.
“Kalau kau bertemu lagi dengan aku, mungkin jiwamu sulit kuampuni,” sahut Siao-liong-li tiba-tiba sambil menoleh.
Dalam bingungnya Yo Ko semakin tak tahu apa yang harus dia lakukan. Karena tertegun ini, sementara bayangan Siao-liong-li sudah menghilang di antara jalan pegunungan yang menurun itu. Sungguh tak kepalang berdukanya Yo Ko hingga dia menangis ter-gerung-gerung. Sungguh tak dimengerti olehnya sebab apakah dia membuat gurunya begitu marah hingga kelakuannya begitu aneh. Kenapa sang guru bilang mau jadi isterinya, pula melarang dia memanggil Kokoh lagi padanya? Semua ini membuatnya bingung.
“Ya, tentu urusan ini ada hubungannya dengan ayah angkatku, pasti dia yang bikin marah Suhu,” demikian akhirnya Yo Ko menarik kesimpulan sesudah berpikir lama.
Lalu dia pergi ke dekat Auwyang Hong lagi, di situ dia melihat orang tua ini sedang berdiri tegak dengan kedua matanya terbelalak tanpa berkedip.
“Ayah, sebab apakah kau membikin marah guruku?” segera Yo Ko bertanya.
Akan tetapi Auwyang Hong tidak menjawab, hanya terdengar mulutnya bergumam sendiri:
“Kiu-im-cin-keng, Kiu-im-cin-keng!”
“He, kenapa kau totok jalan darah guruku hingga bikin dia begitu marah?” kembali Yo Ko tanya lagi.
Namun Auwyang Hong tetap tidak menjawab. Dia berkata seorang diri pula: “Sebenarnya harus dijalankan ke atas atau ditekan ke bawah?”
“He, ayah!” teriak Yo Ko akhirnya, dia menjadi tidak sabar, “aku tanya kau tentang Suhu, katakanlah, apa yang telah kau lakukan terhadap dia?”
“Siapa gurumu? Siapa aku? Siapakah Auwyang Hong?” tiba2 Auwyang Hong ber-teriak sendiri.
Melihat penyakit gila orang kumat lagi, Yo Ko jadi kuatir tercampur kasihan. “Ayah, tentu kau sudah letih, marilah mengaso ke dalam gubuk,” ajaknya kemudian.
Tetapi mendadak Auwyang Hong berjumpalitan dan tahu-tahu tubuhnya sudah menjungkir sambil ber-teriak:
“Siapakah aku ini? Siapakah aku ini? Di manakah Auwyang Hong?”
Berbareng itu kedua tangannya bergerak-gerak tak keruan, tubuhnya yang menjungkir pun berputar cepat, dengan kepala di bawah secepat angin Auwyang Hong ber-lari ke bawah gunung.
“Ayah, ayah!” dalam bingungnya Yo Ko coba menarik orang.
Siapa duga mendadak Auwyang Hong memancal dengan sebelah kakinya yang dengan tepat mengenai rahang Yo Ko. Depakan ini sedikit pun ternyata tak kenal ampun hingga Yo Ko tak tahan berdiri tegak lagi. Dia jatuh terjengkang. Sesudah dia berdiri lagi, sementara itu Auwyang Hong sudah pergi jauh dan sekejap saja lantas menghilang dari pandangan.
Dengan terkesima Yo Ko terpaku pada tempatnya, entah perasaan apa yang dia rasakan waktu itu. Suasana sekelilingnya seakan-akan sunyi senyap, sayup-sayup diselingi suara berkicaunya burung.
“Kokoh! Ayah! Kokoh! Ayah!” akhirnya Yo Ko ber-teriak seorang diri.
Sudah tentu tiada sesuatu sahutan dari kedua orang yang dipanggil itu, yang ada hanya suaranya sendiri yang berkumandang balik dari lembah pegunungan yang luas itu.
Dalam keadaan demikian Yo Ko menjadi putus asa, perasaannya seakan-akan hancur. Maklumlah, selama beberapa tahun ini boleh dikatakan tidak pernah dia berpisah dengan Siao-liong-li, hubungan mereka begitu rapat bagaikan ibu dan anak. Kini mendadak tanpa diketahui apa sebabnya orang pergi begitu saja, sudah tentu tidak keruan rasa hatinya.
Dalam putus asanya itu dan memang perasaan halus Yo Ko lain dari pada orang biasa, maka hampir saja dia mau bunuh diri. Syukurlah dia masih dapat berpikir panjang, lapat-lapat timbul semacam harapan bahwa gurunya yang pergi mendadak itu mungkin akan kembali juga secara mendadak. Meski pun Kokoh dibikin marah ayah angkatnya, namun dirinya toh tiada berbuat sesuatu kesalahan, tentu sang guru akan kembali lagi mencari, begitulah dia pikir.
Tentu saja malam itu ia lewatkan sendirian tanpa bisa tidur. Beberapa kali, asal terdengar sesuatu suara gemerisik, segera ia melompat bangun mengira Siao-liong-li yang kembali. Ia berteriak dan me-manggil sambil berlari keluar, tetapi setiap kali selalu ia kecewa dan cemas. Begitulah, semalam suntuk dia sibuk merindukan Siao-liong-li sampai fajar menyingsing.
“Jika Suhu tidak mau kembali, biarlah aku yang pergi mencarinya,” tiba-tiba terpikir olehnya, “Asal bisa ketemukan dia, tidak peduli bagaimana dia akan menghajar atau mendamperat aku, yang pasti aku tak akan berpisah lagi dengan dia.”
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ketabahannya banyak bertambah. Segera ia bebenah seperlunya, ia bungkus pakaian sendiri dan milik Siao-liong-li ke dalam sepotong kain, lalu ia gendong di punggungnya dan dengan langkah lebar ia turun ke bawah gunung.
Sepanjang jalan ia coba bertanya kepada penduduk di tepi jalan apakah melihat seorang nona putih yang cantik lewat di situ. Tetapi beruntun ia tanya beberapa orang, semuanya hanya goyang kepala menyatakan tidak tahu.
Karena itu akhirnya Yo Ko menjadi gopoh, dengan sendirinya cara bertanyanya kemudian menjadi kurang sopan. Dan para penduduk yang ditanya itu sebaliknya mendongkol juga melihat pemuda seperti Yo Ko ini selalu mencari tahu tentang nona cantik segala, dengan sendirinya lalu ada orang yang ingin tahu untuk apa dia mencari dan siapa nona ayu itu, pernah apakah dengan dia.
Sebaliknya Yo Ko jadi marah-marah oleh pertanyaan kembali itu. “ltu tidak perlu kau urus, aku hanya ingin tahu kau melihat dia lewat di sini tidak?” demikian dalam gusarnya Yo Ko tak sadar kata2nya ini halus atau tidak.
Sedang orang yang ditanya tentu saja marah juga melihat sikap Yo Ko ini. Syukur setelah terjadi ribut2, dari samping seorang tua telah memisah, kemudian orang tua ini menunjuk ke satu jalanan kecil yang menuju jurusan timur sambil berkata pada Yo Ko:
“Tadi malam aku melihat satu gadis secantik bidadari menuju ke arah timur. Tadinya aku menyangka dia itu Koan-im-po-sat (Budha Satwa) yang menjelma, siapa tahu dia kenalan baik saudara...”
Mendengar kabar ini, tanpa menunggu orang selesai bicara, Iekas Yo Ko menghaturkan terima-kasih terus memburu ke jalan kecil menurut arah yang ditunjuk itu. Tetapi begitu dia mungkur, orang banyak tertawa ramai. Kiranya karena kelakuan Yo Ko yang tak punya sopan santun, maka orang tua tadi sengaja mempermainkan dia.
Namun Yo Ko sama sekali tak tahu kalau dirinya telah didustai orang, ia masih memburu ke jurusan itu dengan cepat. Lewat tidak lama kemudian, tiba-tiba di depan terdapat simpang jalan tiga jurusan, ia menjadi bingung ke arah mana harus dia tempuh.
“Biasanya Kokoh tak suka tempat ramai, tentu dia pilih jalanan kecil yang sepi,” demikian Yo Ko pikir sendiri, habis ini lantas dipilihnya jalanan kecil yang membelok ke kiri.
Siapa duga jalanan kecil ini makin Iama semakin lebar dan sesudah menikung beberapa kali, akhirnya malah menembus ke satu jalan raya. Waktu itu hari sudah magrib, Yo Ko sendiri sudah sehari semalam tak makan tak minum, perutnya sudah keruyukan. Dilihatnya di depan sana rumah berderet dan gedung berjajar, nyata ada satu kota yang cukup ramai.
Cepat Yo Ko menuju ke kota dan masuk sebuah hotel (pada umumnya hotel merangkap restoran), lalu dia menggembor minta disediakan daharan. Tidak lama pelayan sudah mengantar santapan sederhana ke hadapan Yo Ko, tetapi baru beberapa kali sumpitan saja anak muda ini tidak punya napsu makan lagi. Karena merasa kesal, tenggorokannya menjadi seret dan tak bisa menelan.
“Meski hari sudah mulai gelap, tetapi lebih baik lekas aku pergi mencari Kokoh saja. Bila malam ini dibiarkan lewat, selanjutnya mungkin sukar bertemu lagi,” demikian pikir Yo Ko. Oleh karenanya segera ia menaruh mangkok nasinya dan memanggil pelayan.
“Aku ingin tanya kau, pelayan,” kata anak muda ini sesudah petugas itu datang.
“Boleh saja, tuan, katakanlah! Apakah karena santapan ini tidak cocok dengan lidah tuan, biarlah hamba buatkan yang lain, tuan suka masakan apakah?” demikian sahut si pelayan mencerocos.
“Tidak, aku tidak maksudkan makanan,” kata Yo Ko sambil goyang tangannya. “Tapi aku ingin tanya, apakah kau melihat seorang gadis jelita berbaju putih lewat di sini?”
“Berbaju putih?” si pelayan menggumam sendiri “He, apakah nona itu sedang berkabung? Ada keluarganya yang meninggal, bukan?”
Demikianlah si pelayan mencerocos tak keruan dan menyimpang dari pertanyaan orang, Keruan Yo Ko sangat mendongkol.
“Aku hanya tanya kau, lihat atau tidak?” mengulanginya lagi.
“Wanita sih memang ada, juga pakai baju putih.”
“Dan menuju ke arah mana?” tanya Yo Ko cepat dan girang.
“Tetapi sudah hampir setengah hari dia lewat tadi!” sahut pelayan itu. Kemudian dia perlahankan suaranya seperti kuatir didengar orang, lalu menyambung lagi: “Adalah lebih baik jangan pergi mencari dia!”
Merasa mendapatkan jejak sang Kokoh yang dicari, dalam girangnya Yo Ko terkejut pula mendengar perkataan orang itu.
“Se... sebab apa?” tanyanya dengan suara rada gemetar.
“Coba aku tanya dahulu, tuan tahu bahwa wanita itu pandai silat?” mendadak pelayan itu bertanya.
“Mengapa aku tidak tahu?” demikian Yo Ko membatin. Maka dengan cepat ia menjawab: “Sudah tentu tahu, dia memang pandai silat.”
“Nah, kalau begitu untuk apa kau mencari dia? Bukankah ini sangat berbahaya?” kata si pelayan pula.
“Sebab apakah sebenarnya?” Yo Ko menjadi bingung.
“Coba terangkan dulu, pernah apakah gadis baju putih itu dengan tuan?” tanya si pelayan.
Yo Ko mengerti kalau tidak sekadar menerangkan, agaknya orang tidak mau ceritakan ke mana perginya Siao-liong-li, maka terpaksa ia menjawab:
“Ia adalah Enci-ku, aku sedang mencari dia.”
Mendengar jawaban ini, seketika pelayan itu berubah sangat hormat pada Yo Ko. Tetapi hanya sekejap saja, sebab segera si pelayan meng-geleng kepala.
“Tidak, tidak sama!” katanya tiba-tiba.
Bukan main mendongkolnya Yo Ko oleh kelakuan sang pelayan. Saking gopohnya, sekali jamberet dia cengkeram baju orang.
“Sebenarnya kau mau katakan tidak?” bentaknya marah.
Melihat Yo Ko naik darah, mendadak si pelayan me-leletkamnIidahnya.
“Persis, persis! Kalau begini baru sama!” demikian katanya.
“Kurang ajar, apa-apaan ini sebentar sama sebentar tidak sama, apa maksudmu?” damperat Yo Ko.
“Le... lepaskan dulu, siauya (tuan muda), leherku tercekik... he-he-he... aku tak bisa buka suara,” sahut si pelayan dengan suara ter-putus-putus.
Melihat rupa orang dasarnya memang ceriwis, percuma saja meski pun pakai kekerasan, maka Yo Ko lantas lepaskan tangannya.
“Siauya,” tutur si pelayan kemudian sesudah berdehem beberapa kali. “Aku bilang tidak sama, soalnya karena perempuan... ehh..., Enci-mu itu, tampaknya lebih cakap dan lebih muda dari pada kau, pantasnya dia mirip adikmu dan bukan kakak. Lalu aku bilang sama, sebab kalian berdua sama-sama berwatak keras, sama-sama memiliki tabiat suka angkat senjata dan main kepalan.”
Yo Ko tertawa oleh cerita itu. “Apakah Enci-ku berkelahi dengan orang?” tanyanya kemudian.
“Betapa tidak?” sahut pelayan itu, “Tidak hanya berkelahi, bahkan sudah melukai orang. Coba lihat itu!” Berbareng dia menunjuk beberapa bekas bacokan senjata tajam di bawah meja, kemudian dengan muka ber-seri ia sambung pula: “Walau kejadian tadi itu sangat berbahaya, memang kepandaian Enci-mu sangat hebat, hanya sekali tebas saja sebelah kuping Toya (tuan imam) itu lantas kena diirisnya.”
“Apa katamu? Toya apa?” tanya Yo Ko terkejut.
“Ya, dia itu...” baru berkata sampai di sini, se-konyong-konyong muka si pelayan berubah hebat, seketika ia mengkeret terus ngeluyur pergi.
Yo Ko memang cerdik luar biasa. Melihat kelakuan pelayan tadi, ia tak menegur juga tak menyusulnya, sebaliknya dia angkat mangkok nasinya tadi terus menyumpit daharannya lagi. Pada saat lain, terlihatlah olehnya ada dua Tojin muda masuk ke dalam hotel. Usia kedua imam ini kira-kira 26-27 tahun saja, jubah pertapaan mereka bersih dan rajin sekali. Mereka ambil tempat duduk pada meja di samping Yo Ko, lalu imam yang beralis tebal panjang tiada hentinya berteriak mendesak diantari arak dan daharan.
Dengan muka ber-seri si pelayan lekas-lekas meladeni kedua tetamunya itu. Pada suatu kesempatan ia mengedipi matanya pada Yo Ko sambil mulutnya merot-merot ke jurusan kedua imam itu.
Yo Ko pura-pura tidak tahu, ia masih terus menyumpit santapannya dengan asyik. Kini dia betul-betul merasa lapar, apa lagi kabar Siao-liong-Ii sudah diperolehnya, hatinya menjadi lega dan gembira sekali. Maka tanpa terasa beberapa kali isi mangkoknya telah ditambah dan dilangsir ke dalam perutnya.
Baiknya pakaian Yo Ko memang sederhana, apa lagi sudah sehari semalam ia menyusul Siao-liong-li sehingga seluruh badannya penuh debu dan mukanya kotor. Oleh karena itu kedua imam tadi sama sekali tidak perhatikan dirinya melainkan asyik ber-cakap sendiri dengan suara perlahan.
Sebaliknya Yo Ko semakin pura-pura. Ia kecap mulutnya dan mainkan lidahnya, dia sengaja makan begitu rupa hingga mengeluarkan suara keras, kemudian dia angkat semangkok wedang panas dan diseruput dengan bernapsu, akan tetapi telinganya dia pasang, mendengarkan apa yang sedang dipercakapkan kedua Tojin atau imam itu.
“Bi-sute, menurut pendapatmu, malam ini Han-cecu dan Tan-lokunsu bakal datang tidak?” demikian ia dengar imam yang beralis tebal tadi berkata.
Imam satunya lagi bermulut Iebar, suaranya kasar serak ketika terdengar dia menjawab: “Kedua orang ini adalah laki-laki gagah perkasa yang bersahabat kental dengan Thio-susiok. Kalau Thio-susiok sudah mengundangnya, tidak boleh tidak mereka pasti akan datang.”
Hati Yo Ko terkesiap ketika mendengar orang menyinggung nama ‘Thio-susiok’. Pikirnya dalam hati: “Jangan2 Thio-susiok yang mereka maksudkan adalah guruku yang dulu, Thio Ci-keng?”
Ia jadi curiga kenapa kedua imam ini belum pernah dilihatnya di Tiong-yang-kiong. Ketika ia melirik dan mengamat-amati orang, ternyata tiada yang dia kenal.
“Boleh jadi karena jauhnya perjalanan, dia tidak keburu datang,” demikian imam alis tebal tadi berkata lagi.
“Ki-suheng, kau ini memang suka takut ini dan kuatir itu,” demikian sahut imam she Bi tadi, “Hanya seorang perempuan saja, berapa besarkah kemampuannya?”
“Ya, sudahlah, mari minum, jangan dibicarakan lagi,” begitulah imam she Ki memotong.
Kemudian ia memanggil pelayan hotel dan minta disediakan satu kamar kelas satu, nyata mereka juga bermalam di sini.
Sementara itu Yo Ko sedang memikirkan isi percakapan dua imam tadi. Ia dapat meraba tentu orang bermaksud mencari seteru dengan Suhu-nya, mungkin disebabkan ada kawan kecundang, maka ‘Thio-susiok’ tampil ke muka untuk mengundang seorang she Han dan seorang she Tan sebagai bala bantuan. Kalau terus kintil kedua imam ini, tentu akan bisa bertemu dengan Suhu.
Berpikir akan hal ini, hati Yo Ko menjadi gembira sekali. Sudah jelas dua imam ini adalah musuh gurunya, tetapi dengan petunjuk mereka nanti akan menemukan sang guru, maka terhadap mereka tiada timbul perasaan benci. Dia tunggu sampai kedua imam itu masuk kamar, kemudian dia sendiri minta disediakan sebuah kamar di sebelah kamar imam-imam itu.
“Siauya, kau ber-hati-hatilah. Enci-mu telah mengiris kuping seorang Toya, tentu mereka akan menuntut balas,” demikian si pelayan membisiki Yo Ko pada saat datang ke kamarnya membawakan lampu.
“Sungguh aku tidak mengerti. Enci-ku biasanya sangat sabar, kenapa mendadak dia bisa mengiris kuping orang?” kata Yo Ko dengan suara lirih.
“Terhadap kau tentu saja dia baik, tetapi terhadap orang lain mungkin tidak,” kata si pelayan pula dengan suara yang di-bikin-bikin. “Enci-mu tadi sedang bersantap di sini dan Toya yang sial itu duduk di sebelahnya. Hanya disebabkan Toya itu melirik beberapa kali pada kaki Enci-mu, siapa tahu Enci-mu lantas naik darah terus loloskan senjata dan melabrak orang.”
BegituIah si pelayan mencerocos terus, dan masih hendak dilanjutkan, namun Yo Ko sudah mendengar lampu di kamar sebelah telah disirapkan, maka cepat ia memberi tanda agar si pelayan tidak perlu bercerita lagi.
“Kurang ajar, tentu imam busuk itu terus-terusan mengincar Kokoh karena kecantikannya sehingga akhirnya Kokoh menjadi marah,” demikian Yo Ko menggerutu sendiri sesudah pelayan itu pergi.
Kemudian segera dia pun padamkan lampu. Malam ini dia memang tidak ingin tidur lagi, dia hanya duduk sambil pasang kuping baik-baik untuk mengikuti segala gerak-gerik di kamar sebelah.
BegituIah Yo Ko berjaga hingga tengah malam. Tiba-tiba didengarnya pelataran luar bersuara keresek dua kali, menyusul seperti ada orang meloncat masuk ke bagian dalam melintasi pagar tembok. Habis itu jendela kamar sebelah terdengar dibuka dan imam yang she Ki itu membuka suara:
“Apakah Han dan Tan berdua?”
“Ya,” terdengar suara sahutan seorang yang berada di pelataran sana.
“Silakan masuk!” demikian kata imam she Ki lagi.
Menyusul pintu kamar perlahan dibuka, lampu dinyalakan pula. Tentu saja Yo Ko amat tertarik. Ia kumpulkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan percakapan mereka berempat.
“Tecu Ki Jing-hi dan Bi Jing-hian memberi hormat kepada Han-cecu dan Tan-lokunso,” terdengar imam she Ki bersuara pula.
Mendengar nama kedua imam itu, diam-diam Yo Ko membatin: “Ternyata mereka bukan orang dari Tiong-yang-kiong, tapi nama mereka memakai urutan Jing, maka mereka juga terhitung orang dari Coan-cin-pay.”
“Begitu menerima undangan Thio-susiok kalian, segera kami memburu kesini,” terdengar suara sahutan yang tajam. “Apakah betul perempuan hina itu sangat sulit dilawan?”
“Sungguh memalukan bila diceritakan,” demikian kata Ki Jing-si lagi, “Dari golongan kami sudah ada dua anak murid yang ber-turut-turut dilukai perempuan hina-dina itu.”
“Sebenarnya dari aliran manakah ilmu silat perempuan itu?” tanya orang yang bersuara tajam tadi.
“Thio-susiok bilang dia adalah ahli waris dari Ko-bong-pay, oleh sebab itu, meski usianya masih muda, namun kepandaiannya sungguh sangat hebat,” sahut Ki Jing-si.
Yo Ko menjengek demi mendengar orang menyebut “Ko-bong-pay”.
“Ko-bong-pay apakah?” rupanya orang yang bersuara tajam itu tidak mengerti.
“Menurut Thio-susiok, orang dari golongan mereka selamanya jarang sekali berkecimpung di dunia Kangouw, karena itu nama mereka tidak terkenal dalam Bu-lim, pantas kalau Han-cecu tidak kenal,” demikian sahut Ki Jing-si.
“Oh, kalau begitu, agaknya tidak perlu dipandang berat,” kata orang yang dipanggil Han-cecu itu. “Dan di mana besok harus bertemu? Pihak lawan mendatangkan berapa orang?”
“Thio-susiok sudah janji dengan wanita itu untuk bertemu besok lohor di lembah Cay-long-kok yang 40 li jauhnya dari sini ke jurusan barat, di situlah kedua pihak akan menentukan siapa yang unggul dan siapa yang asor,” Ki Jing-si menjelaskan. “Soal di pihak lawan ada berapa orang, aku tidak tahu. Tetapi kalau sudah ada Han-cecu dan Tan-lokunsu yang membantu kami, tak perlu lagi kita takut meski mereka berkawan banyak.”
Lalu terdengar suara seorang tua berkata: “Baiklah kalau begitu, besok tepat lohor kami pasti datang. Marilah kita pergi, Han-laute.”
Lalu Ki Jing-si mengantar tetamunya keluar kamar. Ketika sampai di depan pintu, dengan suara bisik-bisik terdengar ia pesan orang:
“Tempat ini tak jauh dari Tiong-yang-kiong, urusan kita akan bertanding dengan orang sekali-kali jangan sampai diketahui Ma, Khu dan Ong (maksudnya Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it). Kalau sampai ketahuan, pasti kita akan didamperat.”
Han-cecu bergelak tawa oleh pesan itu. “Kalian takut pada Ma Giok dan Khu Ju-ki imam-imam tua itu, tetapi sebaliknya kami tidak berada di bawah perintahnya,” demikian katanya.
“Sudahlah, kau tidak usah kuatir,” demikian Tan-lokunsu menyelak, “pasti kami tidak akan membocorkan rahasia ini.”
Mendengar percakapan terakhir mereka ini, diam-diam Yo Ko membatin, kiranya mereka hendak keroyok Kokoh dan para imam tua sebangsa Ma Giok tiada yang mengetahui. Meski Yo Ko tidak berkesan baik pada Coan-cin-kau, tetapi bila mengingat Ma Giok dan Khu Ju-ki toh tidak jelek juga terhadap dirinya, karenanya terhadap kedua imam tua itu dia tidak menyimpan dendam, hanya kepada Hek Tay-thong yang membinasakan Sun-popoh itulah dia telah ambil keputusan kelak pasti akan menuntut balas.
Sementara itu keempat orang yang di luar sesudah berunding dengan suara perlahan lagi, kemudian Han-cecu dan Tan-lokunsu pergi dengan melompati pagar tembok lagi, Ki Jing-si dan Bi Jing-hian mengantar juga keluar, keadaan menjadi sepi.
Tiba-tiba pikiran Yo Ko tergerak, segera ia buka pintu perlahan, dengan cepat ia menyelinap masuk kamar kedua imam di sebelah itu. Ia lihat di atas pembaringan kamar tergeletak dua buntalan. Dia ambil satu bungkusan itu dan merogoh isinya, kiranya di dalam ada uang perak sekitar 20 tahil.
“Ha, kebetulan, memang aku sedang kekurangan duit,” demikian pikir Yo Ko, lalu dia pindahkan uang perak itu ke dalam sakunya sendiri.
Ia lihat bungkusan lain yang rada panjang, kiranya berisi dua batang pedang. Sengaja Yo Ko melolos pedang itu satu per satu dan dengan tekanan tenaga berat ia patahkan garan pedang lalu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dan dibungkus lagi dengan rapi. Selagi dia hendak keluar kembali, pikirannya tergerak pula, dia lepas kolor dan buka celana terus kencingi kasur di kolong selimut kedua imam itu hingga basah kuyup.
Sementara itu dia dengar di luar ada suara orang melompati pagar. Dia tahu tentu kedua imam itu telah kembali, dapat diketahuinya pula bahwa ilmu entengkan tubuh kedua imam itu ternyata biasa saja, sebab tidak mampu dengan sekali lompat melintasi pagar tembok, melainkan harus tancapkan kaki dahulu di atas pagar untuk kemudian baru loncat turun.
Lekas Yo Ko menyelusup kembali ke kamarnya sendiri. Ia tutup pintu kamarnya dengan perlahan, nyata sama sekali kedua imam itu tidak merasa bahwa mereka sedang diincar orang. Setelah berada di kamarnya sendiri, Yo Ko pasang kuping ke dinding kamar untuk mendengarkan gerak-gerik dan suara apa yang bakal terjadi di kamar sebelah. Ia dengar kedua imam itu masih berembuk dengan suara rendah, agaknya mereka cukup yakin bakal menang akan pertarungan besok, maka sembari bicara mereka pun buka baju dan naik ke.
Akan tetapi baru saja Bi Jing-hian memasukkan kakinya ke dalam selimut, mendadak dia berteriak:
“He, apa ini basah becek di dalam selimut? Aih, baunya! He, Ki-suheng, sudah tua, kenapa kau masih ngompol?”
“Apa? Ngompol?” sahut Ki Jing-si bingung, tetapi segera pula ia sendiri ikut berteriak: “He, ya, dari manakah kucing keparat yang kencing di sini?”
“Kencing kucing mana bisa begini banyak,” ujar Bi Jing-hian.
“Ya, memang aneh,” kata Ki Jing-sin, kemudian tiba-tiba ia berteriak pula: “He, di manakah uang perak kita?”
BegituIah seluruh kamar menjadi geger dan kacau-balau, kedua imam ini sibuk mencari uang perak mereka. Sudah tentu mereka tidak bakal menemukannya.
Diam-diam Yo Ko sangat senang dan merasa geli, sementara itu dia dengar Bi Jing-hian sedang berteriak-teriak lagi.
“He, pelayan, pelayan! Apakah hotelmu ini hotel perampok, mengapa tengah malam buta mencuri uang tamu?”
Karena suara ribut ini, pelayan hotel datang menanyakan sambil masih kucek matanya yang sepat. Tanpa ter-duga segera Bi Jing-hian pegang baju dada si pelayan dan menuduh hotel ini adalah hotel perampok, kenapa malam-malam menggasak uang tetamu.
Tentu saja si pelayan tak mau terima tuduhan itu, lalu terdengar dia berteriak penasaran. Dengan sendirinya pegawai hotel lainnya dimulai dari tukang api sampai pada kuasa hotel lantas terjaga semua dari tidur mereka dan merubung datang, menyusul pula para tetamu lain pun be-runtun ikut terbangun dan be-ramai datang menonton keributan itu. Dan di antara mereka terdapat pula si nakal, Yo Ko.
Begitulah dengan menahan perasaan geli Yo Ko melihat pelayan hotel itu sedang ‘main pidato’. Dasar pelayan ini memang ceriwis lagi pula pandai bicara, maka Bi Jing-hian dan Ki Jing-si berdua terdesak oleh debatannya hingga tak sanggup berkata lagi.
Dari malu Bi Jing-hian menjadi marah, begitu ayun tangannya, kontan ia persen si pelayan dengan sekali tamparan. Keruan pelayan itu menjadi kalap, tanpa pikir lagi dia menubruk maju hendak adu jiwa. Tapi sebelum dia datang dekat, menyusul kaki Bi Jing-hian sudah melayang, dia tambahi si pelayan dengan sekali tendangan hingga pelayan itu terjungkal.
Melihat imam ini tanpa sebab memukul orang, keruan pegawai hotel lainnya sama solider, mereka berteriak dan be-ramai merangsak maju hendak mengeroyok. Sudah tentu beberapa orang yang tak masuk hitungan ini bukan tandingan kedua imam itu. Hanya dalam waktu sekejap saja, baik kuasa hotel, tukang api dan Iain-lainnya mendapat hajaran.
Yo Ko girang sekali menyaksikan peristiwa hasil perbuatannya itu. Dengan geli ia kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur lagi, ia tidak pusingkan apa yang terjadi lebih lanjut dari lelakon di luar itu.
Besoknya, pada waktu Yo Ko sarapan pagi, dilihatnya si pelayan yang ceriwis itu sedang mendatangi dan menyapa kepadanya. Mukanya terlihat babak-belur dan hidung bengkak, meski pun demikian toh pelayan ini masih tiada hentinya mencaci maki tentang kejadian tadi malam.
“Mana kedua imam bangsat itu?” dengan tertawa Yo Ko bertanya.
“Hm, memang imam bangsat keparat, sudah memukul orang, masih gegares dan tinggal gratis, sesudah itu lantas angkat kaki,” demikian kata si pelayan dengan marah. “Hmm, hari ini pasti akan kulaporkan ke Tiong-yang-kiong. Biasanya imam-imam di Cong-lam-san ini semuanya sopan-santun, entah dari mana mendadak bisa muncul imam bangsat liar seperti mereka ini.”
Yo Ko tidak tertarik lagi dengan obrolan orang, segera ia bereskan rekening hotel sambil menanyakan jalan yang menuju ke Cay-long-kok atau lembah srigala, dan kesanalah dia lantas pergi. Tidak berapa lama Yo Ko telah menempuh perjalanan sejauh dua puluhan li, Cay-long-kok atau ‘lembah srigala’ itu sudah tidak jauh lagi di depan. Cuaca waktu itu agaknya masih pagi, maka keadaan sepi-sepi saja.
“Biarlah aku sembunyi dulu dan menyaksikan cara bagaimana Kokoh bereskan kawanan pengganas itu, paling baik kalau Kokoh seketika tak bisa mengenali aku,” demikian Yo Ko berpikir.
Segera pula teringat olehnya tempo hari pernah menyamar sebagai anak gunung dan dia telah berhasil mengingusi Ang Ling-po. Teringat akan ini hati Yo Ko menjadi geli, ia ambil keputusan hendak meniru cara itu sekali lagi.
Segera dia mendatangi satu rumah petani, ia longak-longok ke sana ke sini, tiada seorang pun yang dia lihat. Di kandang hewan di belakang rumah itu ia lihat ada seekor sapi jantan yang besar yang rupanya sedang mengamuk, binatang ini tundukkan kepala dan gunakan tanduknya untuk menyongkel serta menumbuk pagar kayu yang melingkarinya, begitu keras tumbukannya hingga terdengar suara gedubrakan yang tiada hentinya.
Nampak adanya sapi jantan besar ini, Yo Ko mendapatkan satu pikiran. “He, kenapa aku tidak menyamar sebagai penggembala sapi saja, biar Kokoh melihat diriku juga pasti tak mengenal aku lagi.” demikian keputusannya.
Begitulah Yo Ko lantas melompat masuk ke dalam rumah. Ia cari barang lain yang sekiranya cocok baginya, akhirnya dapatlah dia ambil sepasang baju petani yang sudah robek, ia ganti pakai sepatu rumput pula dan poles mukanya dengan lumpur agar terlihat kotor dan lebih mirip bocah angon, kemudian ia mendekati kandang sapi tadi.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Melihat kedua pipi orang bersemu merah dan sikapnya berubah aneh, Yo Ko heran bukan kepalang. Semenjak mereka berkenalan, belum pernah dia melihat kelakuan Siao-liong-li seperti sekarang ini. Setelah ber-lari-lari sebentar, kemudian Siao-liong-li duduk lagi di atas pembaringan. Ia coba pandang Yo Ko, ia lihat wajah pemuda ini cakap, tapi penuh rasa kuatir atas dirinya. Tiba-tiba hatinya tergerak, ia pikir:
“Aku sudah mau mati, begitu juga dia, Lalu buat apa lagi urus segala soal guru dan murid atau bibi dan kemenakan? Kalau dia mau peluk aku, pasti aku tidak akan menolak dan membiarkan dia peluk aku se-kencang-kencangnya.”
Sementara itu Yo Ko sedang mengamat-amati Siao-liong-li. Ia lihat mata orang seperti sedang bicara, dadanya naik-turun dengan napas memburu, ia sangka sang guru kambuh lagi luka dalamnya.
“Kokoh, kenapakah kau?” segera ia tanya.
“Mari sini, Ko-ji,” panggil Siao-liong-li dengan suara halus.
Yo Ko menurut, ia mendekatinya. “Ko-ji, kau suka tidak kepadaku?” tanya Siao-liong-li tiba-tiba dengan suara rendah sambil memegang tangan Yo Ko dan di-gosokan ke pipinya sendiri.
Karena tangannya menempel di pipi orang, Yo Ko merasakan muka Siao-liong-li sepanas dibakar. Keruan ia kaget dan kuatir sekali.
“Ko... kokoh, ap... apa dadamu sangat sakit?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Oh, tidak, malah sebaliknya rasa hatiku enak sekali,” sahut Siao-liong-li dengan tertawa, “Ko-ji, aku sudah hampir mati, coba katakanlah apakah betul kau sangat suka padaku?”
“Tentu saja, di dunia ini hanya kau seorang saja yang baik terhadap diriku,” sahut Yo Ko cepat.
“Tetapi kalau ada seorang gadis lain yang sangat baik, ya, baik sekali terhadap kau, bisa tidak kau suka padanya?” kata Siao-liong-li lagi.
“Siapa saja yang baik padaku, tentu aku perlakukan dia dengan baik pula,” sahut Yo Ko.
Se-konyong-konyong Yo Ko merasakan tangan Siao Iiong-li yang menggenggamnya gemetar beberapa kali, kemudian mendadak berubah menjadi dingin sekali seperti es. Waktu Yo Ko memandang muka orang, ia melihat pipi Siao-liong-li yang tadinya merah dadu kini kembali pucat pasi seperti tadi lagi. Keruan Yo Ko sangat terkejut.
“Apakah aku salah omong, Kokoh?” tanyanya kuatir.
“Apa bila kau masih suka pada gadis lain di dunia ini, maka janganlah kau suka padaku lagi,” kata Siao-liong-li.
Yo Ko tertegun, tetapi segera ia mendapat pikiran lain. “Kokoh, tidak seberapa hari lagi kita akan mati, mana ada gadis lain lagi yang bisa suka padaku,” katanya kemudian dengan tertawa.
Karena ucapan inilah, Siao-liong-li ketawa juga. “Ya, benar aku sudah pikun,” katanya sambil tertawa. “Cuma aku tetap ingin mendengar kau bersumpah di hadapanku,” lanjutnya, kali ini dengan sungguh-sungguh.
“Sumpah apakah?” tanya Yo Ko.
“Aku ingin kau mengucapkan bahwa kau hanya menyukai aku satu orang, bila mana kau berubah pikiran dan suka lagi pada orang lain, maka kau harus dibunuh olehku.” kata Sio-liong-li tiba-tiba.
Nyata meski Siao-Iiong-li telah berusia dua puluhan tahun, tetapi karena selama hidupnya dilewatkan di dalam kuburan kuno ini, maka kelakuannya masih sangat ke-kanak-kanakan dan suka terang-terangan, sedikit pun dia tidak bersikap malu-malu seperti kaum gadis umumnya, makanya tanpa tedeng aling-aling ia minta sumpah setia dari Yo Ko.
“Selamanya tak bakal terjadi hal demikian, seandainya memang aku berlaku tidak baik dan tidak turut pada perkataanmu lantas kau hendak membunuh, aku pun pasti akan kuterima,” demikian Yo Ko menyahut dengan tertawa. Kemudian betul juga dia lantas mengucapkan sumpah: “Tecu Yo Ko selama hidupku hanya menyukai Kokoh seorang saja, apa bila aku berubah pikiran, tidak usah Kokoh membunuh aku, begitu melihat muka Kokoh, segera Tecu bunuh diri sendiri.”
Senang sekali hati Siao-liong-li ketika mendengar sumpah ini. “Bagus sekali apa yang kau katakan, dengan demikian aku tak perlu kuatir lagi,” katanya kemudian dengan menghela napas lega. Dia menggenggam tangan Yo Ko kencang-kencang, maka terasalah oleh Yo Ko ada semacam hawa hangat yang menembus ke tubuhnya melalui tangan orang. “Ko-ji, sungguh aku ini orang tidak baik,” kata Siao-Iiong-li pula.
“Tidak, kau sangat baik,” Yo Ko membetulkan.
“Tidak,” kata Sio-liong-li sambil menggelengkan kepala, “duIu aku terlalu kejam terhadap kau. Mula-mula aku hendak usir kau, syukur Sun-popoh menahan kau, jika waktu itu aku tidak usir kau, tentu Sun-popoh tak akan mati!”
Berkata sampai disini, tak tertahan lagi air mata Siao-liong-li mengucur keluar. Sejak umur lima tahun Siao-liong-li mulai melatih diri sampai kini, selama itu tak pernah lagi dia menangis dan mengalirkan air mata, tapi sekarang dia menangis, seketika perasaan hatinya tergoncang hebat, ruas tulang seluruh tubuhnya seolah-olah berkeretakan hingga sebagian tenaga latihannya menjadi buyar.
Kaget sekali Yo Ko melihat keadaan Siao-liong-li yang hebat itu. “He, Kokoh, Kokoh!” teriaknya kuatir.
Justru pada saat genting itu, tiba-tiba terdengar suara “krekat-kreket” beberapa kali, ternyata pintu batu mulai terpentang didorong orang, terlihat Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah melangkah masuk. Kiranya Li Bok-chiu yang terkurung di dalam kuburan itu berusaha keras untuk dapat meloloskan diri. Ia pikir meski pun batu Toan-liong-ciok itu telah menutup, tetapi lebih baik berusaha mencari hidup dari pada duduk terpekur menunggu kematian.
Oleh karena itu nyalinya menjadi besar. Dia tidak jeri lagi terhadap alat perangkap yang lihay di dalam kuburan itu, dengan berani ia lantas terjang terus hingga beberapa ruangan dan akhirnya dapat ditembus dan tibalah sampai di kamar Sun-popoh.
Melihat munculnya orang secara mendadak itu, lekas Yo Ko tampil ke depan mengalingi Siao-liong-li.
“Kau mau apa lagi?” teriaknya sengit.
“Kau menyingkirlah, ada yang hendak kukatakan kepada Sumoay,” kata Li Bok-chiu.
Tapi karena kuatir orang akan memakai tipu muslihat dan gurunya nanti dicelakai, Yo Ko tetap tak mau menyingkir.
“Apa yang hendak kau katakan boleh katakan saja di situ,” sahutnya kemudian.
Melihat kebandelan pemuda ini, dengan mata melotot Li Bok-chiu memandang sejenak pada Yo Ko.
“Lelaki macam kau ini sungguh jarang terdapat di dunia ini,” akhirnya ia berkata dengan menghela napas.
“Suci, barusan kau bilang apa tentang dia?” tanya Siao-liong-li tiba-tiba sambil turun dari pembaringan. “Dia baik atau tidak?”
“Sumoay, selamanya kau tak pernah turun gunung, maka kau tidak kenal hati manusia di dunia ini yang kejam dan palsu,” sahut Li Bok-chiu. “Orang yang berbudi luhur dan berhati setia seperti dia ini, boleh dikatakan di seluruh jagat ini sukar dicari bandingannya.”
Rupanya Siao-liong-li sangat senang dan terhibur oleh kata-kata sang Suci. “Seorang seperti dia ini suka mati bersama aku. Kalau begitu hidupku ini terasa tidak penasaran lagi,” kata Siao-liong-li dengan suara perlahan.
“Sebenarnya pernah apakah dia dengan kau, Sumoay? Apa kau sudah mengawini dia?” tanya Li Bok-chiu lagi.
“Tidak, dia adalah muridku, dia bilang aku sangat baik padanya. Tetapi sebenarnya baik atau tidak, aku sendiri pun tidak tahu,” sahut Siao-liong-li.
Sudah tentu Li Bok-chiu sangat heran oleh jawaban ini. “Aku tidak percaya,” ujarnya sambil menggeleng kepala.
Kemudian se-konyong-konyong ia menarik tangan kanan Siao-liong-li, ia gulung lengan baju orang, maka tampaklah olehnya di atas kulit yang putih bersih bagai salju itu terdapat satu titik merah. Tidak salah lagi, itu adalah ‘Siu-kiong-seh’ yang ditisik guru mereka ketika pertama masuk perguruan golongan Ko-bong-pay.
‘Siu-kiong-seh’ atau andeng-andeng cecak, menurut cerita kuno dibuat dengan cara demikian: setelah cecak dipelihara dan diberi makanan obat-obatan khusus sebangsa ‘Cuseh’ sebanyak tujuh kali berturut-turut hingga akhirnya seluruh badan binatang cecak ini berubah merah darah, lalu cecak ini dibunuh dan darah merah itu diambil untuk ditisikkan di tubuh kaum wanita. Apa bila wanita ini masih perawan, maka selama itu Siu-kuong-seh atau andeng-andeng merah buatan ini akan tetap tinggal pada tempatnya, tetapi bila wanita itu sudah melanggar kesuciannya, maka andeng-andeng merah segera lenyap. Di jaman kuno konon cara ini dipakai untuk menjaga perjinahan.
Demikianlah, oleh karena itu, demi nampak ‘Siu-kiong-seh’ masih tetap di tangan Siao-liong-li, mau tak mau Li Bok-chiu sangat kagum atas perilaku kedua orang yang tinggal berdampingan di dalam kuburan ini yang ternyata bisa menjaga diri dalam batas-batas kesopanan sehingga Siao-Iiong-li masih tetap putih bersih bertubuh perawan.
Lalu Li Bok-chiu menggulung lengan bajunya sendiri, maka tampak pula di tangannya terdapat juga sebuah titik merah segar yang amat menyolok. Sungguh menarik sekali dua lengan yang putih mulus itu berjajar menjadi satu. Hanya saja Li Bok-chiu mempertahankan diri dan tetap bertubuh suci disebabkan karena terpaksa, sebaliknya sang sumoay ternyata ada lelaki yang rela membelanya. Jika dipikir, yang beruntung dan yang malang, nyata bedanya seperti langit dan bumi. Berpikir sampai di sini, tak tahan lagi Li Bok-chiu menghela napas panjang.
“Tadi kau bilang ada yang hendak kau katakan padaku, nah, katakanlah lekas,” terdengar Siao-liong-li memecah kesunyian.
Semula Li Bok-chiu hendak menghina dan membikin malu Siao-liong-Ii karena bergendak dengan lelaki dan merusak nama baik perguruan, namun demi melihat Siu-kiong-seh sang Sumoay masih belum lenyap, ia berbalik bungkam.
“Sumoay, kedatanganku ini untuk minta maaf padamu,” akhirnya ia berkata sesudah merenung sejenak.
Tentu saja hal ini sama sekali tidak diduga Siao-liong-Ii. Dia cukup kenal watak sang Suci yang sombong dan angkuh, tidak akan dia mau tunduk kepada orang lain, siapa tahu kini bisa buka mulut minta maaf padanya. Ia menjadi ragu apa orang tiada maksud tertentu, karena itu dengan dingin saja ia menjawab:
“Kau lakukan urusanmu dan aku kerjakan urusanku. Kita masing-masing tentu menganggap diri sendiri yang betul, jadi tidak perlu kau minta maaf segala.”
“Sumoay, dengarlah kataku,” kata Li Bok-chiu, “kita yang menjadi wanita ini, selama hidup paling beruntung ialah kalau memiliki seorang kekasih yang berhati tulus. Nasibku sendiri jelek, itu sudah tak perlu dibicarakan lagi, tetapi pemuda ini begini baik terhadapmu, maka boleh dikatakan hidupmu ini tidak kekurangan apa-apa lagi.”
Siao-Iiong-Ii tersenyum senang oleh kata-kata sang Suci. ”Ya, sesungguhnya aku pun sangat suka padanya,” katanya kemudian. “Selamanya dia tak akan mengingkari aku, aku yakin benar.”
Rasa hati Li Bok-chiu menjadi lebih pedih oleh keterangan Siao-liong-li itu. “Kalau begitu seharusnya kau turun gunung saja untuk hidup baru yang menggembirakan. Hendaklah diketahui, usiamu masih muda, hari depanmu yang bahagia masih tidak habis-habisnya.”
Siao-liong-li mendongak, ia termenung. “Ya, memang, cuma sayang kini sudah terlambat,” akhirnya ia berkata.
“Sebab apa?” tanya Li Bok-chiu cepat.
“Bukankah Toan-Iiong-ciok itu sudah menutup, sekali pun Suhu hidup kembali, juga tidak mungkin kita bisa keluar,” sahut Siao-Iiong-li.
Bukan buatan rasa kecewa Li Bok-chiu oleh jawaban orang. Ia sengaja merendah dan me-muji orang dengan putar lidah, ia berharap bisa menimbulkan keinginan Siao-liong-li untuk mencari hidup, dengan mengenal keadaan kuburan kuno ini tentu Siao-liong-li dapat mencari satu jalan keluar, tapi siapa tahu akhirnya tetap putus asa. Karena itu tanpa terasa napsu membunuhnya tiba-tiba timbul. Begitu tangannya diangkat, segera ia menghantam ke atas kepala Siao-liong-li.
Sejak tadi dengan bingung Yo Ko mendengarkan percakapan mereka di samping. Ketika tiba-tiba melihat Li Bok-chiu menyerang, dalam gugup dan kuatirnya, otomatis ia berjongkok lalu berteriak “kok” sekali, kedua telapak tangannya didorong ke depan. Ternyata yang dilontarkan ini adalah Ha-mo-kang yang amat lihay, yang dipelajarinya dari Auwyang Hong.
Pada saat itu pukulan Li Bok-chiu sudah sampai di tengah jalan. Ketika mendadak terasa olehnya ada sambaran angin pukulan yang keras dari samping, lekas ia putar tangannya menangkis. Tak terduga tenaga dorongan Yo Ko ternyata luar biasa kuatnya, begitu hebat sampai tubuhnya kena didorong ke belakang, maka terdengarlah suara “blek” yang keras, punggung Li Bok-chiu tertumbuk dinding batu. Percuma saja dia memiliki ilmu silat yang tinggi, tidak urung ia merasakan tulang punggungnya tidak kepalang sakitnya.
Keruan Li Bok-chiu menjadi murka, sekonyong-konyong dia meng-gosok kedua telapak tangannya, seketika seluruh kamar timbul semacam bau amis. Nyata ia telah keluarkan ‘Jik-Iian-sin-ciang’.
Di lain pihak Siao-Iiong-li tahu serangan Yo Ko tadi hanya secara kebetulan saja berhasil. Setelah sang Suci melontarkan ‘Jik-lian-sin-ciang’, maka sukar dilawan lagi meski mereka berdua mengeroyoknya bersama. Karena itu segera dia tarik lagi tangan Yo Ko, dengan cepat mereka menyelinap keluar pintu kamar.
Namun gerak tubuh Li Bok-chiu secepat kilat, tidak akan dia membiarkan kedua orang itu melarikan diri kembali. Sebelah tangannya telah memukul. Siapa tahu, baru saja tangannya sampai di tengah jalan, tahu-tahu pipi kiri sendiri merasakan sekali tempelengan. Meski pun tamparan ini tidak sakit, namun suaranya terdengar jelas, ia dengar pula Siao-Iiong-li berseru:
“lnilah Giok-li-sim-keng yang hendak kau pelajari nah, rasakan dahulu!”
Dalam tertegunnya Li Bok-chiu merasakan tangan orang telah mampir pula pada pipi kanannya. Dia tahu ilmu Giok-li-sim-keng luar biasa lihaynya, kini dia menyaksikan sendiri gerak pukulan Siao-liong-li begitu cepat, pula datangnya pukulan tidak diketahui arahnya, maka ia menjadi jeri dan terpaksa hanya dapat menyaksikan sang Sumoay masuk kamar lain sambil bergandeng tangan dengan Yo Ko, lalu pintu kamar itu tertutup rapat lagi.
Seperginya orang, Li Bok-chiu masih terkesima sendiri. Ia me-raba kedua belah pipinya, katanya dalam hati: “Beruntung pukulannya tadi sengaja bermurah hati. Jika dia gunakan tenaga yang cukup keras, tentu jiwaku sudah melayang.”
Nyata tidak diketahuinya bahwa ilmu Giok-li-sim-keng itu masih belum sempurna terlatih oleh Siao-liong-li, meski pukulannya sudah mahir, namun belum bertenaga dan tak dapat melukai orang.
Sementara itu di kamar lain Yo Ko sedang senang sekali karena melihat gurunya dengan gampang saja menghajar Li Bok-chiu dengan dua kali tempelengan.
“Kokoh, sungguh tidak nyana ilmu kepandaian Giok-li-sim-keng itu bisa begitu bagus...”
Tapi belum habis ia berkata, dilihatnya Siao-liong-li dalam keadaan gemetar, tampaknya seperti tak sanggup menguasai diri lagi. Keruan Yo Ko kaget sekali, cepat dia berteriak:
“Kenapakah kau, Kokoh?”
“A... aku... di... dingin...” sahut Siao-liong-li sambil menggigil.
Kiranya tadi karena dia menyerang orang dua kali, meski pun tenaga yang dikeluarkannya sangat enteng, namun yang dipakai adalah tenaga dalam. Padahal dia baru sembuh dari luka berat, kesehatannya belum pulih seluruhnya, dan kini mendadak terganggu lagi, tentu saja tidak sedikit resikonya.
Selama hidupnya dia melatih diri di atas ranjang batu pualam yang dingin, dasarnya menjadi terlatih dingin sekali, kini daya tahannya telah hilang, keruan seketika Siao-liong-li seperti terjerumus ke dalam lembah es, ia merasakan dingin luar biasa sampai menusuk tulang sumsum, giginya tiada hentinya berkerutukan.
“Celaka, bagaimana baiknya ini?” dalam gugupnya Yo Ko hanya ber-teriak tak berdaya.
Begitu rupa ia lihat Siao-liong-li kedinginan hingga teringat sesuatu olehnya. Lekas dia melepaskan buntalan yang menggemblok pada punggungnya, ia keluarkan baju kapas tinggalan Sun-popoh dan dengan cepat dikemulkan pada badan Siao-liong-li. Karena tambahan baju kapas ini, mula-mula Siao-liong-li merasa rada hangat, tetapi sebentar saja hawa hangat baju kapas itu menjadi hilang dikalahkan rasa dingin yang timbul dari dalam tubuhnya. Kembali ia menggigil terus.
Dalam gugupnya, tanpa pikir lagi Yo Ko memeluk orang kencang-kencang. Ia pikir dengan hawa hangat badan sendiri dapat membantu untuk menghalau rasa dingin orang. Tetapi sebentar saja Yo Ko merasa tubuh Siao-liong-li semakin menjadi dingin, ia sendiri seperti ketularan hingga lambat laun ia pun tak tahan.
“Ko-ji, lepaskan!” teriak Siao-liong-li tiba-tiba.
“Tidak, Kokoh, jangan kuatir, aku peluk kau, tentu kau akan baikan,” sahut Yo Ko.
Akan tetapi rasa dingin Siao-liong-li sukar ditahan, dengan mengertak gigi ia bertahan sedapatnya. Tiba-tiba ia meronta-ronta, dua tangannya menjambret dan menarik sekenanya, karena itu mendadak terdengar suara “brebet”, tahu-tahu kain baju kapas peninggalan Sun-popoh itu robek tertarik, di bawah sinar lilin tampak di antara robekan baju itu ada sepotong kain putih dan lapat-lapat di atasnya seperti tertulis sesuatu.
Dasar Yo Ko memang sangat cerdik. Tiba-tiba teringat olehnya kelakuan Sun-popoh pada saat orang tua ini mendekati ajal, seperti maha penting baju kapas ini diserahkan kepadanya, mungkin tidak melulu sebagai tanda mata saja, melainkan di dalamnya masih mengandung maksud lain. Maka dengan cepat Yo Ko menarik keluar kain putih itu. Betul saja ia lihat di atas kain itu tertulis 16 huruf yang maksudnya:
‘GURU BESAR TIONG-YANG MENINGGALKAN ILMU KEPANDAIAN. PERIKSA LUKISANNYA DAN PELAJARI JARI TANGANNYA’.
Sebenarnya Yo Ko lagi kehabisan akal dan tak berdaya menghadapi keadaan Siao-liong-li yang kedinginan itu, sekarang mendadak membaca enam belas huruf ini, seketika seperti sebuah perahu yang sedang terombang-ambing di samudera raya dalam kegelapan dan sekonyong-konyong melihat mercu suar. Dalam girangnya dia rangkul Siao-liong-li terlebih kencang lagi.
“Marilah Kokoh, kita pergi melihat gambar Tiong-yang Cosu,” demikian ajaknya.
Tetapi Siao-liong-li seperti tidak mendengar, kedua matanya tampak terpejam rapat. Terpaksa Yo Ko melompat turun. Sambil memondong Siao-liong-li, dengan gugup dan bingung dia berlari ke ruangan depan. Dalam hati ia berdoa: “Semoga Li Bok-chiu berdua jangan berada di sana.”
Begitulah, dengan perlahan-lahan sekali ia mendorong pintu. Ia lihat keadaan gelap gulita, syukur Li Bok-chiu berdua tak berada di situ. Ia dudukan Siao-liong-li pada satu kursi, lalu ia menyalakan lilin dan pergi memeriksa gambar yang melukiskan pribadi Ong Tiong-yang.
Tempo hari sewaktu Yo Ko menjalankan upacara pengangkatan guru pada Siao-liong-li, pernah dia diperintahkan meludahi lukisan ini. Semenjak itu sering juga ia melihatnya lagi, tetapi selamanya tidak merasa ada sesuatu yang aneh atas lukisan itu. Sekarang teringat olehnya kata-kata tentang “pelajari jari tangannya” maka dengan teliti ia coba periksa jari tangan Ong Tiong-yang dalam lukisan itu yang sedang menuding.
Gambar itu melukiskan tangan kiri orang berada di depan tubuh yang mungkur, dengan sendirinya tidak kelihatan jarinya, hanya tampak tangan kanannya yang menuding miring ke ujung atas. Meski sudah dia lihat dan lihat lagi, tetap tak bisa dimengerti di mana letak rahasianya.
Selagi dia hendak memeriksa lebih cermat, ketika dia menoleh, dilihatnya Siao-liong-li per-lahan sedang mendatangi dengan berpegangan kursi, lekas Yo Ko memayangnya. Kemudian Siao-liong-li ikut memeriksa lukisan itu, lama sekali keadaan menjadi sunyi.
“Jika badanku baik-baik saja, mungkin rahasianya dapat kuselidiki lebih mendalam,” kata Siao-liong-li sesudah agak lama, “tetapi kini... kini mataku pun terasa menjadi buram...”
Segera Yo Ko melompat ke atas. Ia tanggalkan lukisan itu lantas ditaruh ke depan Siao-liong-li. Maka diperiksanyalah lebih teliti oleh Siao-liong-li. Dia lihat guratan pada jari lukisan Ong Tiong-yang itu memang digores dengan jelek dan kasar, berbeda sekali dengan goresan pada bagian lain, kecuali ini, tidak ada lagi sesuatu yang menimbulkan pertanyaan. Karena belum juga ketemukan rahasianya, Yo Ko mengambil Cektay (tancapkan lilin) dan didekatkan pada Siao-liong-li agar bisa melihat lebih jelas.
“Sudahlah, tidak perlu melihat lagi,” kata Siao-liong-li tiba-tiba. Namun belum habis bicara, badannya gemetar lagi, karena itu cek-tay yang dipegang Yo Ko tergentak hingga minyak lilin yang lumer tercecer di atas lukisan. Siao-liong-li terkejut.
“Ai, aku telah bikin kotor lukisan ini!” katanya dengan menyesal.
“Tak apa, toh tiada sesuatu yang aneh,” ujar Yo Ko.
Kemudian ia payang Siao-liong-li duduk kembali ke kursi. Selang tak lama, minyak lilin tadi sudah kering, Yo Ko coba merhbersihkannya dengan kuku. Di luar dugaan, sehabis kertas gambar itu ketetesan minyak lilin, kini menjadi tembus dan terlihat terang, lapat-lapat jari tangan gambar itu seperti tertulis huruf 'dua... tiga dan lain-lain'.
Hati Yo Ko tergerak, dia memeriksanya lebih dekat lagi. Kiranya jari tangan yang sedang menuding dalam lukisan itu, di samping goresan yang Iembut itu penuh tertulis pula huruf kecil, tetapi tulisan-tulisan ini terlalu halus, kecuali beberapa huruf sederhana yang dapat dilinatnya, selebihnya sukar dibaca.
“Kokoh, lihat ini!” dalam girangnya segera Yo Ko berteriak, berbareng ia pindahkan lukisan itu dan lilin ke hadapan Siao-liong-li.
Selama hidup Siao-liong-li lewatkan di dalam kuburan kuno yang gelap gulita, maka pandangan matanya sangat tajam, melihat barang di tempat gelap dianggapnya seperti di siang hari saja. Maka sesudah diperiksanya dua kali, akhirnya dia mendongak, mukanya mengunjuk senyuman tetapi bukan senyuman, sikapnya sangat aneh.
“Kokoh, apakah kata tulisan itu?” tanya Yo Ko tak sabar.
“Sesudah Cosu-popoh meninggal, kiranya Ong Tiong-yang telah masuk kembali ke dalam kuburan kuno ini,” sahut Siao-liong-li sambil menghela napas.
“Untuk apa dia kembali?” tanya Yo Ko.
“Dia datang lagi buat ziarah Cosu-popoh,” kata Siao-liong-li. “Dan di sini dilihatnya Giok-li-sim-keng tinggalan Cosu-popoh yang diukir diatas langit-langit, ternyata dapat memecahkan semua tipu silat Coan-cin-kau, karenanya ia telah tinggalkan tulisan di atas lukisan ini. Ia bilang apa yang dipecahkan Cosu-popoh itu hanya kepandaian kasar yang tak berarti dari Coan-cin-kau, bagi ilmu paling tinggi dari Coan-cin-pay yang dipahaminya, Giok-li-sim-keng ini pun tidak akan berarti lagi!”
“Cis, imam tua ini membual,” kata Yo Ko meng-olok-olok, “yah, Cosu-popoh sudah meninggal, maka dia boleh omong sesukanya.”
“Tetapi dia bilang lagi dalam tulisannya ini bahwa di kamar lain lagi dia juga meninggalkan ilmu cara memecahkan Giok-li-sim-keng. Kelak kalau ada yang punya jodoh, tentu akan tahu bila sudah melihatnya,” kata Siao-liong-li.
Hati muda Yo Ko jadi tertarik oleh keterangan ini.
ILMU SILAT PALING TINGGI
“Ayoh, Kokoh, kita pergi melihatnya,” ajaknya.
“Baik juga kita pergi melihatnya,” ujar Siao-liong-li, “seumur hidupku selalu tinggal di sini, tapi belum pernah aku mengetahui masih ada kamar batu sebagaimana dikatakan ini.”
Tapi ketika dia membaca lagi, tiba-tiba ia meng-gelengkan kepala dan menyatakan aneh.
“Aku tak percaya,” katanya kemudian sesudah lewat sejenak.
“Aku pun tidak,” sambung Yo Ko, “kehebatan Giok-li-sim-keng tiada taranya, betapa pun tinggi kepandaiannya tidak akan mampu memecahkannya.”
“Bukan itu maksudku,” ujar Siao-liong-li. “Kamar batu yang dikatakan Ong Tiong-yang itu terang sekali adalah tempat di mana terletak peti mati Cosu-popoh, dari mana lagi ada kamar batu lain?”
“Marilah Kokoh, tiada halangannya kita memeriksa,” pinta Yo Ko.
Kini Siao-liong-li tidak begitu garang lagi terhadap Yo Ko. Meski tubuh sesungguhnya sangat letih, namun ia paksakan diri buat turuti permintaan pemuda itu.
“Baiklah,” sahutnya kemudian dengan senyuman manis.
Maka pergilah mereka menuju kamar peti mati itu.
Menghadapi dua peti mati yang masih kosong itu, tiba-tiba timbul pikiran aneh dalam hati Siao-liong-Ii.
“Di dalam kuburan kini ada empat orang, lalu cara bagaimana harus mengisi dua peti mati batu ini?” demikian katanya.
“Kita tidur dalam satu peti dan biar kedua perempuan jahat itu pakai yang satunya,” ujar Yo Ko.
Apa yang dikatakan Yo Ko ini timbul dari hatinya yang murni, sedikit pun dia tidak berpikir yang tidak-tidak, tetapi muka Siao-liong-li menjadi merah jengah.
“Tapi kalau kita mati dahulu, kedua perempuan jahat itu pasti tidak memperbolehkan kita tinggal bersama, tentu mereka akan pisahkan tubuh kita sejauh mungkin,” ujar Siao-liong-li dengan suara rendah.
BetuI juga, pikir Yo Ko. Karena ini dia se-akan membayangkan sehabis dirinya dan sang guru mati dan mayatnya sedang dihina dan dirusak oleh Li Bok-chiu bersama Ang Ling-po. Tanpa terasa dia menjadi gusar luar biasa.
“Kokoh, kita harus bunuh dahulu mereka berdua!” teriaknya tiba-tiba.
“Tapi sayang, kita tak mampu mengalahkan mereka,” sahut Siao-liong-li menghela napas.
Setelah melatih iwekang, tenaga Yo Ko sudah luar biasa hebatnya, maka tanpa susah dia dorong dan balikkan tutup peti mati itu.
“Ya, jika kita dapat mempelajari ilmu silat tinggalan Ong Tiong-yang itu, mungkin kita bisa menangkan mereka,” kata Yo Ko sesudah berpikir.
Siao-liong-li tertawa oleh pikiran orang. “Umpama betul-betul ada ilmu silat yang begitu lihay, apakah dapat dipelajari dalam waktu satu setengah tahun saja?” katanya, “Sedangkan ransum kita paling banyak hanya cukup untuk beberapa hari.”
Tentu saja kembali Yo Ko putus asa. Melihat wajah orang mengunjuk kecewa, hati Siao-liong-li menjadi tidak tega.
“Ko-ji,” katanya lagi, “kalau menurut apa yang dikatakan Ong Tiong-yang, untuk datang ke kamar batu yang dia sebut maka diharuskan memindahkan jenazah Cosu-popoh, dan ini yang aku kuatirkan. Jangan-jangan ini adalah tipu muslihat Ong Tiong-yang, tujuannya agar kita masuk perangkap.”
Dasar perasaan Yo Ko memang sangat gampang terguncang, maka segera dia mencaci-maki orang:
“Ya, betul, imam hidung kerbau ini mana mungkin punya maksud baik?”
Ketika dilihatnya Siao-liog-Ii mengunjuk rasa sangsi, segera ia bertanya lagi: “Kenapa lagi, Kokoh?”
“Tapi menurut cerita Sun-popoh, sebenarnya Ong Tiong-yang sangat baik sekali terhadap Cosu-popoh,” sahut Siao-liong-li. “Cuma disebabkan watak Cosu-popoh yang terlalu aneh, maka hubungan mereka menjadi retak. Jika begini soalnya, agaknya tidak akan sesudah Cosu-popoh mati, lalu dia datang lagi buat menganiaya padanya.”
Setelah dia pikir lagi, tiba-tiba dia mengambil keputusan. “Ko-ji, mari kita buka tutup peti matinya!” ajaknya kemudian.
Kemudian, bersama Yo Ko mereka menarik sekuatnya membuka tutup peti batu. Waktu membuka peti mati, mula-mula Yo Ko mengira pasti akan terhembus bau busuk mayat dari dalamnya, maka sebelumnya dia sudah siap-siap menahan napas. Siapa tahu begitu tutupnya terpentang, bukannya bau busuk lagi yang dia cium, melainkan bau wangi semerbak yang teruar keluar, walau pun ia tahan napas dan tidak menyedot tetapi terasa juga bau harum itu.
Sebagai seorang yang sudah melatih Iwekang, maka tenaga Yo Ko sudah beberapa kali lipat dari orang biasa. Ketika dia gunakan sedikit tenaga, tutup peti batu itu sudah dibaliknya ke atas tanah. Ketika dia pandang ke dalam peti, dia sendiri terkejut.
“He, Kokoh, dalamnya kosong!” teriaknya cepat.
Betul juga! Waktu Siao-liong-li melongok ke dalam peti, ia dapatkan peti batu itu kosong blong, di dalamnya hanya terdapat dua mangkok porselen yang masing-masing berisi setengah mangkok minyak gemuk, bau harum itu agaknya teruar dari minyak gemuk ini.
“Sungguh aneh, lalu di manakah jenazah Cosu-popoh!?” Siao-liong-li menggumam sendiri “Jika begini, tampaknya apa yang dikatakan Ong Tiong-yang bukannya dusta.”
“Jangan-jangan kamar batu yang disebut imam tua itu ialah peti batu ini,” kata Yo Ko.
“Bukan begitu maksudnya,” sahut Siao-liong-li tersenyum.
Dia sudah lama tinggal di dalam kuburan kuno ini, maka dia mahir sekali tentang segala macam alat-alat rahasia. Ia coba memeriksa teliti peti batu itu sejenak, lalu terdengar ia berkata lagi:
“Alas peti ini bisa dibuka.”
Tentu saja Yo Ko sangat girang. “Ahh, tahulah aku sekarang, itu adalah pintu yang menuju ke kamar batu,” serunya.
Kemudian, tanpa diperintah segera ia melompat masuk ke dalam peti mati. Ia keluarkan dahulu kedua mangkok berisi minyak wangi itu, lalu me-raba seluruh peti. Benar juga, akhirnya diketemukan satu tempat dekuk yang bisa dipegang. Dengan kencang ia tarik ke atas sekuatnya, tetapi sedikit pun ternyata tidak bergerak.
“Putar dulu ke kiri, baru ditarik ke atas,” kata Siao-liong-li.
Yo Ko menurut, dia putar lalu ditarik. Betul saja lantas terdengar suara “krak” yang keras, satu papan batu telah kena ditarik naik.
“Kokoh, berhasil!” serunya girang.
“Jangan terburu-buru. Duduklah sebentar, biar bau apek di dalam goa teruar keluar baru kita masuk,” ujar Siao-liong-li.
Dalam keadaan demikian Yo Ko menjadi tak sabar, hanya sebentar saja dia sudah tanya.
“Bagaimana Kokoh, apa sudah cukup?”
“Ai, orang tak sabar seperti kau ini sukar dimengerti bisa tahan mengawani aku beberapa tahun,” ujar Siao-liong-li menghela napas.
Habis berkata, perlahan ia berdiri, ia angkat cektay dan turun ke bawah melalui peti batu itu. Sesudah melalui satu lorong di bawah tanah yang sempit dan membelok lagi dua kali, betul saja akhirnya mereka sampai di satu kamar batu.
Kamar batu itu ternyata tiada sesuatu yang spesial. Waktu mereka sama-sama mendongak ke atas, maka tampaklah oleh mereka di langit-langit kamar penuh tertulis huruf dan tanda-tanda, sedang ujung paling kanan tertuliskan empat huruf besar:
‘KIU-IM-CIN-KENG’.
Siao-liong-li dan Yo Ko tidak tahu bahwa ‘Kiu-im-cin-keng’ adalah sebuah kitab ilmu silat paling tinggi di seluruh kolong langit. Tetapi sesudah mereka melihat tulisan serta tanda-tanda itu, mereka merasakan tiada terbilang bagusnya intisari yang terkandung di dalamnya, dan seketika itu pun mereka tak bisa memahami seluruhnya.
“Sekali pun ilmu kepandaian ini dapat mengalahkan Giok-li-sim-keng, namun kita pun tak keburu lagi mempelajarinya,” ujar Siao-Iiong-li.
Yo Ko menjadi kecewa dan putus asa lagi. Sebenarnya dia tidak mau melihat lagi, tapi tanpa sengaja, sekilas mendadak terlihat olehnya pada ujung barat langit-langit kamar itu terlukis satu gambar yang agaknya tiada hubungannya dengan ilmu silat. Oleh karena tertarik, kembali dia kumpulkan perhatian dan memandang lebih jauh, agaknya gambar itu seperti sebuah peta.
“Kokoh, apakah itu?” katanya kemudian kepada Siao-liong-li.
Siao-liong-li berpaling. Ia memandang menurut arah yang ditunjuk. Tiba-tiba ia pandang peta itu dengan ter-mangu, tubuhnya sedikit pun tidak bergerak, lama dan lama sekali masih tetap tidak bergerak. Akhirnya Yo Ko sendiri menjadi ngeri. Dia coba tarik lengan baju orang sambil bertanya:
“Kokoh, kenapakah kau?”
Tetapi Siao-liong-li masih tetap memandang dengan terkesima. Kira-kira lewat beberapa lama, mendadak ia mendeprok terduduk, ia menangis ter-guguk bersandar di tubuh Yo Ko.
“Apakah badanmu sakit lagi, Kokoh?” pemuda itu tanya dengan bingung.
“Bukan, bu... bukan,” sahut Siao-liong-li tersenggak-sengguk. Selang tak lama kemudian dia menyambung lagi: “Ki... kita kini bisa keluar sudah.”
Keruan bukan buatan rasa girang Yo Ko, seketika ia ber-jingkrak-jingkrak. “Betulkah katamu?” teriaknya gembira. Dengan masih mengembeng air mata Siao-liong-li mengangguk.
Tentu saja Yo Ko semakin kegirangan. “Dan kenapa engkau malah menangis?” tanyanya kemudian.
“Entah, aku pun tak tahu, mungkin terlalu bergirang,” sahut Siao-liong-li tersenyum manis dalam menangisnya, “Ko-ji, dahulu tak pernah aku gentar mati, sebab seumur hidupku toh pasti akan tinggal di dalam kuburan ini, mati sekarang atau mati kelak tiada bedanya? Tetapi aneh, dalam beberapa hari ini selalu timbul pikiran ingin pergi melihat keluar.”
“Mari, Kokoh, kita keluar bersama, nanti aku petik bunga untukmu, aku tangkap jangkrik buat kau, mau tidak?” kata Yo Ko sambil menarik kencang tangan orang.
Nyata meski usia Yo Ko sudah menanjak, namun pikirannya masih tetap kanak-kanak. Sebaliknya Siao-liong-li selamanya tak pernah bermain dengan anak lain, kini mendengar cerita Yo Ko yang menarik dan begitu bernapsu, ia sendiri pun merasa senang.
Dalam keadaan buntu mendadak kedua orang ini mendapatkan jalan hidup, maka mereka menjadi lupa daratan, bukannya mereka cepat-cepat mencari jalan keluar itu, sebaliknya mereka duduk bersandaran pundak. Mereka bercerita tentang aneka macam permainan kanak-kanak, makin cerita Yo Ko semakin bernapsu hingga akhirnya Siao-liong-li lupa letih dan lupa capek. Tetapi bagaimana pun juga ia habis luka parah, maka sesudah setengah jam mendengarkan cerita, akhirnya ia tidak tahan lagi, tanpa terasa ia pulas bersandar di pundak Yo Ko.
Setelah bercerita sendiri dan mendapatkan orang tidak tanya-jawab seperti semula, waktu Yo Ko menoleh, ia lihat Siao-liong-li sudah menggeros, nona itu ternyata sudah tertidur. Oleh karena tekanan batinnya sudah lapang, akhirnya Yo Ko sendiri merasa sangat letih, kemudian ia pun pulas.
Keadaan itu entah lewat berapa lama, ketika mendadak Yo Ko merasakan pinggangnya sakit linu, ‘jiau-yao-hiat’ di pinggangnya kena ditotok orang sekali. Dalam kagetnya Yo Ko terjaga dari tidurnya, selagi ia hendak melompat bangun, tahu-tahu tengkuknya kena dicekal orang dengan kencang hingga Yo Ko tak mampu berkutik. Waktu Yo Ko sedikit melengos, ia lihat Li Bok-chiu dan Ang Iing-po berdua sudah berdiri di samping dengan ter-tawa, sebaliknya gurunya, Siao-liong-li, sudah kena ditotok orang pula sehingga tak berdaya.
Kiranya Yo Ko dan Siao-Iiong-li tidak memiliki pengalaman Kangouw yang selalu harus waspada terhadap musuh dan berjaga diri. Dalam girangnya ternyata mereka lupa daratan sehingga tutup peti batu tadi belum mereka tutup kembali, karena itu kemudian dapat diketahui Li Bok-chiu bahwa di bawah tanah ini masih terdapat kamar lagi dan dia berhasil menyergap selagi mereka tertidur.
“Ha, bagus, bagus, kiranya di sini masih terdapat tempat seenak ini, kalian berdua lantas bersembunyi untuk ber-senang-senang,” demikian Li Bok-chiu mengejek “Sumoay, tentu kau tahu bagaimana caranya keluar dari sini. Kalau kau masih merahasiakannya, jangan kau sesalkan jika nanti Enci-mu berlaku kejam.”
Namun Siao-liong-li sama sekali tak gentar oleh gertakan orang. “Memang aku tidak tahu, seumpama tahu pun tak sudi kukatakan padamu,” sahutnya ketus.
Li Bok-chiu cukup kenal watak sang Sumoay yang kepala batu, bahkan Suhu mereka pun dahulu suka mengalah padanya, maka bila menggunakan kekerasan, pasti tidak berhasil. Tetapi dalam keadaan demikian, soalnya menyangkut mati-hidupnya, bagaimana pun juga dia harus memaksa sang Sumoay. Karena itu segera ia keluarkan dua jarum Peng-pek-sin-ciam, ia lemparkan jarum-jarum itu ke lantai hingga mengeluarkan suara gemerincing yang halus.
“Awas! Jika aku menghitung dari satu sampai sepuluh dan kau masih belum bicara, maka terpaksa kusuruh kau mengicipi rasanya jarum perak ini,” demikian ia mengancam.
Namun Siao-liong-Ii tetap tidak menjawab, bahkan ia pejamkan matanya dan tidak gubris gertakan orang.
“Satu... dua... tiga... empat...” demikian Li Bok-chiu mulai menghitung.
“Jika Kokoh kenal jalan keluarnya, kenapa kami tidak melarikan diri sejak tadi, sebaliknya masih tinggal di sini?” Yo Ko membentak.
“Hm, pandai juga kau bicara,” jengek Li Bok-chiu, “Aku telah mempelajari keadaan tempat ini, aku taksir tentu ada jalan keluar yang kalian rahasiakan. Kalian bermaksud tidur dulu, nanti sesudah semangat pulih, bukankah kalian lantas angkat kaki?” Lalu ia menyambung hitungannya lagi:
“lima... enam... tujuh... delapan... sembilan...”
Sampai di sini ia berhenti sejenak, ia coba peringatkan orang lagi: “Sumoay, apa benar tak mau kau katakan?”
Pada saat itu juga, mendadak di lorong bawah itu meniup angin dingin yang menghembus masuk hingga lilin yang dipegang Ang Ling-po tersirap.
“Hmm, aku masih ngantuk, jangan kau bikin ribut lagi,” kata Siao-liong-li, ia sengaja menguap keras.
“Hmm, baiklah, Peng-pek-ciam ini adalah warisan Cosu-popoh kita sendiri, maka jangan kau sesalkan aku, kini aku telah menghitung sampai sepuluh,” demikian kata Li Bok-chiu.
Sembari berkata ia gunakan ujung jarum peraknya yang berbisa jahat itu menggosok satu kali ‘Ciang-tay-hiat’ di punggung Yo Ko, menyusul ‘Hian-ki-hiat’ di dada Siao-liong-li ia gosok satu kali dengan cara yang sama. Walau pun biasanya sifat Siao-liong-li sangat dingin dan tenang, tetapi kini tidak urung ia merasa ngeri juga, sebab racun jarum perak ini pe-Iahan akan merembes masuk melalui jalan darah di pinggangnya dan lambat laun merata ke seluruh tubuh, tatkala itu akan terasa di seluruh tubuh se-akan ribuan semut menggerogoti tulang sumsum dan be-ribu bisul tumbuh di seluruh badan. Dalam keadaan demikian rasanya tak ada yang lebih lihay dari pada siksaan ini.
Sebenarnya Siao-liong-li punya obat pemunah racunnya, sebab asalnya jarum berbisa ini dari perguruannya sendiri, tetapi kini Hiat-to kena ditotok orang dan tak mampu berkutik, cara bagaimana ia bisa berdaya buat menolong diri sendiri?
Di lain pihak Li Bok-chiu memang keji juga kejam, sesudah menggosokkan jarum berbisa itu pada badan orang, ia lalu duduk di samping mereka untuk menunggu bekerjanya racun jarumnya. Dia pikir orang tentu akan bicara terus terang.
Selang tidak lama kemudian, aliran darah di tubuh Siao-liong-li dan Yo Ko berjalan tambah cepat, perlahan-lahan pun terasa panas. Siao-liong-li tahu racun mulai bekerja, tidak Iama lagi tentu akan merembet lagi lebih dalam, akan tetapi kini ia justru merasakan enak yang tak terkatakan.
“Kokoh, jangan kau katakan rahasia keluar kuburan ini pada mereka. Kedua perempuan jahat itu betapa pun tidak boleh terlepas begitu saja,” dengan suara perlahan Yo Ko bisiki Siao-liong-li.
“Ya,” sahut nona itu.
Teringat tentang rahasia jalan keluar kuburan itu, tanpa terasa Siao-liong-li menengadah dan memandang ke langit-langitan kamar yang terdapat peta bumi itu. Kiranya dahulu demi mengetahui Lim Tiao-eng sudah meninggal dunia di dalam kuburan, walau pun dia sudah bersumpah tidak akan masuk lagi, akhirnya Ong Tiong-yang masuk lagi ke kuburan itu secara diam-diam melalui sebuah jalan rahasia. Teringat oleh Ong Tiong-yang betapa cintanya Lim Tiao-eng kepada dirinya dan suka-duka mereka semasa mudanya, maka Cosu dari Coan-cin-kau itu lantas menangis di hadapan jenazah bekas kekasihnya itu.
Setelah puas menangis seorang diri dan sesudah melihat untuk yang penghabisan kalinya wajah kekasihnya yang sudah tidak bernyawa, kemudian Ong Tiong-yang memeriksa lagi keadaan kuburan raksasa buah karyanya itu. Di situ bukan saja ia melihat gambar dirinya sendiri yang dilukis oleh Lim Tiao-eng, bahkan dia dapatkan pula ukir-ukiran di langit-langit kamar yang ditinggalkan kekasihnya. Ketika diketahuinya betapa bagus dan betapa hebat ilmu kepandaian yang terkandung di dalam Giok-li-sim-keng, setiap gerakan dan setiap tipu pukulan ternyata merupakan lawan dan khusus anti ilmu silat Coan-cin-pay, dalam kagetnya muka Ong Tiong-yang menjadi pucat. Lekas ia keluar dari kuburan itu.
Lalu seorang diri ia tirakat di puncak gunung, selama tiga tahun selangkah pun tidak turun gunung, dengan memusatkan pikiran dia mempelajari cara untuk memecahkan ilmu Giok-li-sim-keng. Namun demikian, hasilnya terlampau kecil, bagaimana pun juga dia tidak mendapatkan semacam ilmu yang sempurna untuk mengalahkannya. Dalam putus asanya, terhadap kecerdikan dan kepintaran Lim Tiao-eng ia menjadi sangat kagum, lalu ia terima menyerah dan tidak melanjutkan pelajarannya lagi.
Tetapi siapa tahu belasan tahun kemudian diadakan ‘Hoa-san-lun-kiam’ atau pertandingan pedang di atas Hoa-san. Ketika itu Ong Tiong-yang sudah keluar sebagai juara dan dapat merebut kitab tertinggi dari ilmu silat, yaitu ‘Kiu-im cin-keng’. Sebenarnya Ong Tiong-yang telah bersumpah tidak akan berlatih ilmu yang terdapat di dalam kitab itu, tetapi terdorong oleh rasa ingin tahu, tidak urung ia balik-balik halaman kitab itu dan membacanya.
Ilmu silat Ong Tiong-yang waktu itu sudah diakui sebagai juara dunia, dengan sendirinya inti sari dari apa yang tertulis di dalam Kiu-im-cin-keng itu dengan gampang saja dapat dia pahami, hanya dalam sepuluh hari saja seluruhnya sudah bisa dia selami dengan baik. Ia tertawa panjang sambil menengadah lalu masuk lagi ke Hoat-su-jin-bong.
Di langit kamar batu yang paling dirahasiakannya sudah dia ukir bagian penting dari Kiu-im-cin-keng dan satu per satu dia tunjuk cara untuk mematahkan ilmu Giok-li-sim-keng. Kemudian pada jari tangan lukisan dirinya itu dia tinggalkan pula beberapa baris tulisan, dia bilang jika keturunan Lim Tiao-eng ada jodoh, biarlah orang itu mengetahui bahwa ilmu silat dari pendiri Coan-cin-kau itu sekali-kali tidak bisa dikalahkan Giok-li-sim-keng dengan begitu saja.
Setelah Ong Tiong-yang keluar lagi dari kuburan, ia mencoba memenangkan pula bekas tulisan dengan jari yang dulu dilakukan Lim Tiao-eng di atas batu gunung Cong-lam-san. Terpikir lagi olehnya kata-kata yang ditinggalkan di atas lukisan yang terlalu halus itu. Belum pasti orang keturunan Ko-bong-pay dapat melihatnya, akan tetapi bila ditunjukkan secara terang-terangan, apakah itu bukan berarti kitab Kiu-im-tin-keng yang hebat itu sengaja dia siarkan kepada umum?
Tengah ia ter-menung, tiba-tiba terdengar suara orang perempuan sedang menangis dengan sedih sekali. Ia coba mendekatinya dan ditanya. Kiranya wanita itu she Sun, dahulu jiwanya pernah ditolong Lim Tiao-eng, maka kini sengaja naik gunung hendak menemuinya. Demi mengetahui Lim Tiao-eng sudah meninggal, dia bermaksud masuk ke kuburan buat sembahyang, namun jalan masuknya tidak diketemukan.
Ong Tiong-yang lalu tunjukkan cara memasuki Hoat-su-jin-bong itu dan pesan pula: “Aku memberi enam belas huruf, hendaklah kau ingat-ingat dengan baik, tetapi jangan dibocorkan pada orang lain. Kelak bila dekat hari tuamu baru boleh kau beri-tahukan tuan rumah dari kuburan kuno ini.”
Wanita she Sun itu menghaturkan terima kasih dan mengingat baik-baik ke-16 huruf itu, dan kemudian berziarah ke dalam Hoat-su-jin-bong. Belakangan dia diterima oleh dayang Lim Tiao-eng yang kemudian menjadi gurunya Siao-liong-li untuk tinggal terus dalam kuburan. Dia inilah lalu dikenal sebagai Sun-popoh. Enam belas huruf tinggalan Ong Tiong-yang itu kemudian oleh Sun-popoh ditulis di atas secarik kain putih lantas dijahit dalam baju kapasnya dan pada saat sebelum ajalnya, baju kapasnya telah dia berikan pada Yo Ko. 16 huruf itu berarti:
‘Guru besar Tiong-yang meninggalkan ilmu kepandaian, periksa lukisannya dan pelajari jari tangannya’.
Akan tetapi karena bakat Sun-popoh tidak pintar, maka terhadap enam-belas huruf itu tak pernah dia selidiki hingga tidak mengetahui rahasia yang terpendam di kamar batu itu. Sedang mengenai peta bumi rahasia yang terukir pada langit-langit kamar itu memang sudah ada sejak muIa kuburan kuno ini dibangun, hal ini malahan Lim Tiao-eng sendiri pun tidak mengetahuinya.
Begitulah ketika Siao-liong-li dapat melihatnya, maka segera dia tahu jelas jalan rahasia untuk keluar dari kuburan itu, hanya sayang jalan darahnya ditotok Li Bok-chiu, sekali pun sudah mendapatkan jalan hidup toh percuma juga. Ia menjadi menyesal kenapa tadi tidak cepat-cepat melarikan diri bersama Yo Ko sebaliknya malah duduk saja untuk mengobrol segala permainan anak yang tak berguna.
Lambat-laun seluruh badannya menjadi makin panas. Dia memandang lagi beberapa kali peta bumi itu. Dia menghela napas panjang, pandangan matanya beralih lagi pada tulisan pelajaran Kiu-im-cin-keng yang berada di sebelah peta bumi itu.
Tiba-tiba matanya menjadi terbelalak. Seperti sinar kilat yang mendadak berkelebat, dapat dilihatnya ada empat huruf yang bertuliskan ‘Kay-hiat-pit-koat’ atau kunci rahasia membuka jalan darah. Seketika hatinya tergerak, ia coba mengamat-amati beberapa kali lagi pelajaran ilmu itu. Keruan bukan buatan senangnya, saking girangnya hampir-hampir saja dia berteriak.
Kiranya ilmu itu menjelaskan cara melancarkan jalan darahnya sendiri. Bagi orang yang melatih Kiu-im-cin-keng, sesungguhnya ilmu silatnya pasti telah mencapai tingkatan kelas wahid dan sekali-kali tidak akan kena ditotok orang. Tetapi dalam keadaan kepepet seperti Siao-liong-li sekarang ini, ilmu ini justru merupakan bintang penolong baginya.
Tetapi bila terpikir lagi olehnya meski pun dapat melepaskan diri dari totokan toh tak lebih ungkuIan dari pada sang Suci, bukankah percuma juga? Karenanya dia lantas membaca lagi lebih teliti tulisan di atas kamar itu, ia bermaksud mencari lagi semacam ilmu silat yang sifatnya praktis, yang begitu dipelajari segera dapat dipergunakan dan sekaligus bisa mengalahkan Li Bok-chiu.
Tetapi meski dia sudah ulangi membaca dari awal sampai akhir dan dari akhir kembali ke awal sampai dua kali, ia dapatkan meski pun ilmu yang paling gampang dipelajari sedikitnya juga harus makan beberapa puluh hari baru bisa jadi. Dalam keadaan putus harapan itu, tiba-tiba ia merasakan tubuh Yo Ko yang bersandar dengan tubuhnya itu rada gemetar, agaknya racun jarum perak telah merembes masuk. Pada saat genting ini tiba-tiba pikirannya menjadi jauh lebih tajam dari biasanya, tergerak pikirannya dan dapat diperoleh akal bagus.
Dengan cepat ia menengadah lagi, ia apalkan baik-baik ‘Kay-hiat-pi-koat’ dan ‘Pi-gi-pit-koat’, yakni dua macam ilmu membuka jalan darah dan menutup jalan pernapasan, lalu dengan apa yang dia apalkan ini dia bisikkan ke telinga Yo Ko untuk mengajarkan pemuda ini. Dasar Yo Ko memang sangat pintar, sedikit diberi petunjuk saja dia lantas mengerti, diberi tahu awalnya, segera ia paham lanjutannya.
“Nah, sekarang kita membuka jalan darah dulu,” kata Siao-Iiong-li kemudian dengan suara perlahan.
Yo Ko manggut-manggut sebagai tanda mengerti. Dalam pada itu seluruh kamar dalam keadaan gelap gulita. Li Bok-chiu dan Ang Ling-po hanya menanti, bila mana Siao-liong-li dan Yo Ko tidak tahan oleh serangan racun dalam tubuhnya, tentu dengan sendirinya akan mengatakan rahasia jalan keluar dari kuburan itu. Sudah tentu dia tidak menduga bahwa mereka justru sedang main gila secara diam-diam.
Demikianlah, maka Siao-liong-li dan Yo Ko telah menuruti petunjuk Ong Tiong-yang pada ukiran itu, mereka menjalankan darah menurut ajaran ‘Kay-hiat-pit-koat’. Memang Iwekang mereka berdua sudah cukup kuat, maka hanya sebentar saja dua tempat Hiat-to yang tertotok tadi sudah berhasil mereka Iepaskan. Lalu Siao-liong-li ulur tangan perlahan ke dalam bajunya, dia ambil dua pil penawar racun jarum itu, lebih dulu dia jejalkan satu butir ke mulut Yo Ko, kemudian dia sendiri menelan sebutir.
Meski perbuatannya ini dilakukan dengan amat perlahan dan hati-hati, tapi Li Bok-chiu mana bisa dikelabui, segera hal ini dapat diketahuinya.
“Apa yang kau lakukan?!” bentaknya terus melompat maju.
Namun Siao-liong-li sudah siap sedia, segera dia papaki orang dengan sekali gablokan. Ini adalah ilmu silat tertinggi dari Giok-li-sim-keng, maka pundak Li Bok-chiu kena hantam satu kali walau pun hanya perlahan.
Sungguh Li Bok-chiu tidak pernah menyangka bahwa sang Sumoay ini ternyata mampu melepaskan Hiat-to sendiri. Dalam kagetnya akibat kena pukulan itu, lekas ia melompat mundur lagi.
“Suci, kami hendak keluar, kau mau ikut keluar tidak?” demikian Siao-liong-li lalu berkata kepadanya.
Li Bok-chiu menjadi mati kutu menghadapi Sumoay-nya. Biasanya ia suka unggulkan ilmu silatnya sendiri yang tiada tandingannya di seluruh jagat, pula kecantikannya susah dicari lawan, siapa tahu kini dapat dipermainkan oleh sang sumoay yang masih muda-belia dan belum pernah kenal muka jagat itu, keruan tak kepalang gusar dan dongkolnya.
Akan tetapi karena kepepet, dia kuatir bila sampai sang Sumoay menjadi marah, mungkin dirinya tidak dibawa keluar, hal ini berarti dirinya bakal celaka, karena itu ia tak berani berlaku kasar. Dia pikir paling penting keluar dulu dari kuburan ini. Ilmu silat sendiri toh lebih tinggi dari pada Sumoay-nya, nanti apa bila sudah di luar, tidak sukar untuk bikin perhitungan dengan dia. Maka Li Bok-chiu mencoba menahan amarahnya, sambil tertawa ia mencoba membujuk:
“Nah, beginilah baru seorang Sumoay yang baik, biarlah aku minta maaf padamu dan bawalah aku keluar dari sini!”
“Tetapi Kokoh bilang, hanya satu orang saja di antara kalian berdua yang bisa ikut, maka katakan saja, kau atau muridmu itu?” sahut Yo Ko tiba-tiba.
Nyata Yo Ko ini sangat licin. Begitu melihat kesempatan, segera dia berusaha memecah-belah antara guru dan murid.
“Anak keparat, tutup bacotmu!” damperat Li Bok-chiu marah.
Kata-kata Yo Ko tadi sebenarnya belum dipahami Siao-Iiong-li, tetapi selamanya ia membela pendirian pemuda itu, karena itu segera ia menyambung:
“Ya, memang, aku hanya dapat membawa seorang saja, tidak bisa lebih!”
“Nah, apa kataku,” ujar Yo Ko dengan tertawa. “Supek, menurut pendapatku, biarkan Suci saja yang ikut kami keluar, kau toh sudah tua, sudah hidup cukup lama bukan?”
Sungguh tak kepalang marah Li Bok-chiu hingga dadanya se-olah meledak, tapi soalnya menyangkut mati hidupnya, maka sedapat mungkin dia coba menahan api amarahnya. Ia bungkam dan tidak menjawab lagi.
“Baiklah, sekarang kita berangkat,” kata Yo Ko. “Kokoh jalan di depan sebagai penuntun jalan, aku nomor dua, dan siapa yang berada paling belakang, dia yang tidak akan dapat keluar.”
Maka tahulah sekarang Siao-liong-Ii maksud kata-kata Yo Ko, ia tersenyum manis, lalu dengan menggandeng tangan Yo Ko mereka mendahului keluar dari kamar batu itu. Saat itu juga Li Bok-chiu dan Ang Ling-po sudah berlari menyusul sehingga kedua orang ini berdesakan di ambang pintu, mereka berebutan lebih dahulu, mereka takut kalau Siao-liong-li menggerakkan alat perangkap rahasia sehingga salah seorang di antara mereka yang tertutup di bagian dalam.
“Berani kau berebutan denganku?!” bentak Li Bok-chiu marah, berbareng sebelah tangannya telah cekal pundak Ang Ling-po.
Walau pun keadaan amat berbahaya, namun Ang Ling-po kenal watak gurunya yang tak segan turun tangan kejam. Kalau dirinya tidak mengalah, pasti segera terbinasa di tangan gurunya sendiri. Karena itu terpaksa ia mundur selangkah dan mempersilakan Li Bok-chiu jalan di depan, sudah tentu dengan perasaan mendongkol tetapi takut pula.
Demikianlah, maka dengan rapat Li Bok-chiu mengintil di belakang Yo Ko, sedikit pun tak berani ketinggalan jauh. Dia merasa jalan yang ditempuh Siao-liong-li itu seperti belok ke sini dan putar ke sana, semakin jauh semakin menurun ke bawah, sementara itu kakinya terasa menginjak tempat becek. Dalam hati dia mengerti telah berada di luar kuburan kuno, hanya saja dalam kegelapan, remang-remang hanya kelihatan di mana-mana jalannya selalu me-lingkar dan ber-putar-putar.
KELUAR DARI HOAT-SU-JIN-BONG
Tak lama jalanan menjadi aneh, kini menurun lurus. Syukur ilmu silat keempat orang cukup tinggi, maka mereka tiada yang sampai terpeleset, jika orang Iain, tentu sejak tadi sudah jatuh keserimpet.
“Cong-lam-san ini memang tidak terlalu tinggi, dengan jalan cara begini, tidak lama tentu sudah berada di bawah gunung, apakah kami kini sudah berada di dalam perut gunung?” demikian Li Bok-chiu berpikir sendiri.
Sesudah jalan menurun agak lama, akhirnya jalanan mulai lapang, hanya rasa basah itu semakin banyak hingga akhirnya terdengar suara gemerciknya air, lalu betis mereka pun terendam dalam air. Tidak hanya begitu, makin jauh air makin dalam, dari betis bertambah sampai paha, dari paha terus perut dan per-lahan naik lagi sampai setinggi dada.
“Pi-gi-pit-koat (rahasia menutup jalan napas) apakah sudah kau apalkan dengan baik?” dengan suara perlahan Siao-liong-li tanya Yo Ko.
“lngat,” sahut Yo Ko lirih.
“Baik,” ujar Siao-liong-li. “Dan sebentar lagi kau harus tutup jalan napasmu, jangan sampai kemasukan air.”
“Ya, engkau sendiri juga harus hati-hati, Kokoh,” kata Yo Ko.
Siao-liong-li meng-angguk. Sedang mereka bicara, air di bawah sudah merembes sampai di tenggorokan. Keruan yang paling kaget adalah Li Bok-chiu, ia menjadi bingung.
“Sumoay, apa kau bisa berenang?” teriaknya kuatir.
“Selamanya aku hidup di dalam kuburan, mana bisa berenang?” sahut Siao-liong-li.
Hati Li Bok-chiu rada lega mendengar jawaban ini, ia melangkah maju lagi. Tak terduga air mendadak mendampar sampai mulutnya, Dalam kagetnya lekas ia mundur ke belakang. Tetapi pada saat itu juga Siao-liong-li dan Yo Ko malahan terus menyelam.
Dalam keadaan demikian, sungguh pun di depan sana sudah menanti gunung golok atau lautan pedang, terpaksa Li Bok-chiu juga menerjang maju. Dalam pada itu, mendadak dia merasakan baju di pungungnya menjadi kencang, kiranya tangan Ang Ling-po telah menjamberetnya. Li Bok-chiu menjadi dongkol, diri sendiri saja dalam keadaan bahaya, apa lagi kini malah diganduli. Dia coba meronta sekuatnya, namun tak bisa terlepas.
Maklumlah, seorang yang tidak dapat berenang, apa bila kelelap di dalam air, tentu orang akan bergolak sebisanya dan bila ada sesuatu benda sampai terpegang, maka sampai mati sekali pun tak bakal dilepaskannya. Begitulah halnya dengan Ang Ling-po sekarang.
Dengan bergandengan tangan Siao-Iiong-li bersama Yo Ko lalu menyelam ke bawah air, sementara Li Bok-chiu mencekal kencang tangan Yo Ko, sedangkan Ang Ling-po tetap menjambret baju punggungnya, mati pun tidak dilepaskan.
Tatkala itu suara menggerujuknya air sudah terdengar sangat keras. Walau pun ini adalah sungai di bawah tanah, namun suara yang berkumandang keras itu cukup mengejutkan orang. Dan akibat terdampar oleh arus air yang keras, Li Bok-chiu dan Ang ling-po menjadi terapung ke atas.
Meski pun ilmu silat Li Bok-chiu sangat bagus, tetapi dalam keadaan demikian ia menjadi gugup dan bingung. Dia ulurkan tangan menjamberet dan menarik serabutan, mendadak berhasil disentuhnya sesuatu, keruan saja ia pegang dengan kencang, mati pun tak akan dilepaskannya. Kiranya itu adalah tangan kiri Yo Ko. Saat itu Yo Ko sedang menahan napas dan sedang melangkah maju setindak demi setindak di dalam air dengan menggandeng tangan Siao-liong-li, sekarang mendadak dipegang Li Bok-chiu, lekas dia pakai Kim-na-jiu-hoat untuk melepaskan diri.
Akan tetapi sekali Li Bok-chiu sudah pegang, mana mau dilepaskan pula, meski air dingin terus-menerus masuk ke mulut dan hidungnya, bahkan sampai jatuh pingsan juga masih dipegangnya erat-erat tangan Yo Ko.
Beberapa kali Yo Ko coba kipatkan lengannya terlepas, tetapi tidak berhasil. Karena kuatir terlalu banyak membuang tenaga hingga air masuk perutnya, akhirnya ia pun membiarkan lengannya dipegang orang. Begitulah secara bererotan seperti kereta gandengan, mereka berempat berjalan terus di dasar sungai. Sesudah agak lama, akhirnya terasa sesak juga napas Siao-liong-li dan Yo Ko, mereka mulai tak tahan hingga perut mereka pun kenyang minum air.
Syukur lambat laun arus air mulai reda, keadaan tanah pun kini semakin tinggi, tidak lama kemudian mereka dapat menongol ke permukaan air. Mereka berjalan terus, makin jauh keadaan di depan sana bertambah terang, akhirnya mereka pun keluar melalui sebuah goa gunung. Tidak kepalang rasa letih Siao-Iiong-li dan Yo Ko, boleh dikatakan tenaga mereka sudah habis, apa lagi terendam lama di dalam air, maka lebih dahulu mereka kumpulkan tenaga untuk memuntahkan air di dalam perut yang kembung itu, kemudian mereka merebahkan diri di atas tanah dengan napas empas-empis.
Tatkala itu dengan kencang tangan Li Bok-chiu ternyata masih memegang lengan Yo Ko sehingga jari tangannya harus dipentang satu per satu oleh Siao-liong-Ii barulah bisa terlepas. Lalu Siao-liong-li menotok Hiat-to pada bahu Li Bok-chiu dan muridnya, kemudian baru menaruh mereka di atas batu, dengan demikian air di dalam perut mereka per-lahan mengalir keluar.
Selang agak lama, sambil mengeluarkan suara serak Li Bok-chiu sadar duluan. Tiba-tiba sinar matahari menyilaukan matanya, sekarang dia betul-betul di alam terbuka, bila ingat tadi terkurung di dalam kuburan kuno dan terancam berbagai macam bahaya, mau tak mau ia merasa ngeri. Sekarang meski separuh tubuhnya bagian atas dalam keadaan lumpuh karena ditotok Siao-liong-Ii, tapi hatinya malah jauh lebih lega dari pada tadi.
Tidak berapa lama Ang Ling-po pun tersadar, namun karena jalan darahnya ditotok, tangannya sudah tidak bertenaga lagi, maka sebelah tangannya masih tergeletak di atas punggung Suhu-nya. Cara menotok Siao-liong-li kali ini hanya dapat dibebaskan dengan ilmu ‘Kay-hiat-pit-koat’ seperti ajaran Kiu-im-cin-keng yang ditinggalkan Ong Tiong-yang, atau ditolong oleh kaum ahli, bila tidak harus tunggu 7X7 = 49 hari lagi baru bisa sembuh sendiri.
“Sekarang bolehlah kau pergi, Suci!” demikian kemudian Siao-liong-li berkata pada Li Bok-chiu.
Sungguh pun kedua tangan Li Bok-chiu dan Ang Ling-po sudah lumpuh, namun setengah badan bagian bawah masih baik-baik saja dan bisa bergerak seperti biasa, karena itu dengan bungkam guru dan murid itu saling pandang sekejap, entah rasa girang atau marah dalam hati mereka waktu itu, lalu pergilah mereka ber-iringan.
Menghadapi alam semesta dengan pemandangan yang indah permai itu, sungguh tidak terbilang rasa girang Yo Ko.
“Kokoh, bagus tidak pemandangan sekitar ini?” tanya Yo Ko.
Tetapi Siao-liong-li tidak menjawab, ia hanya bersenyum simpul. Apa bila teringat oleh mereka kejadian selama beberapa hari ini, mereka merasa seperti menjelma lagi di dunia Iain. Malam itu mereka berdua tidur seadanya di bawah sebuah pohon yang rindang. Kiranya goa gunung ini sudah berada di bawah Cong-lam-san, hanya tempatnya sangat sepi dan terpencil.
Keesokan paginya, sehabis mereka buang air, racun yang mengalir dalam tubuh mereka ternyata ikut lenyap. Apa bila menuruti Yo Ko, segera pemuda ini hendak mengajak pergi pesiar. Tetapi selamanya Siao-liong-li belum pernah berkenalan dengan dunia fana, entah mengapa, ia menjadi takut.
“Tidak, kita harus melatih dulu Giok-Ii-sim-keng hingga selesai,” kata Siao-liong-li.
Betul juga, pikir Yo Ko, dan dia pun menurut. Memang kalau berada di tempat ramai dan banyak orang, untuk melatih Giok-li-sim-keng dengan mencopot pakaian bersama gurunya sesungguh tak pantas dipandang. Maka mereka lantas mencari dan mendapatkan satu tempat semak yang lebat sekali. Malam itu juga mereka lantas mulai melatih diri lagi dengan di-alingi semak rumput bunga.
Demikianlah mereka lantas mendirikan gubuk. Mereka meneruskan latihan ilmu di gunung sunyi ini, siang mereka tidur dan malam hari berlatih dengan giat, sehingga sekejap saja beberapa bulan sudah berlalu tanpa sesuatu kejadian. Mula-mula Siao-liong-li mendahului berhasil dengan ilmunya, lewat sebulan lagi Yo Ko pun menyusul selesai dengan sangat memuaskan.
Meski pun begitu mereka berdua masih mengulangi lagi, nyata tak ada sesuatu lagi yang kurang, karena itu Yo Ko lagi-lagi bicara tentang pesiar sebagai kesenangan hidup manusia.
Tapi bagi Siao-liong-li, hidup secara aman tenteram seperti sekarang ini rasanya di dunia ini sudah tak ada lagi yang melebihi. Tetapi dilihatnya Yo Ko selalu suka pada keramaian, tampaknya sukar untuk tinggal di gunung sunyi untuk selamanya.
“Ko-ji,” akhirnya ia berkata, “meski pun ilmu silat kita telah jauh berbeda dari pada dahulu, tetapi kalau dibandingkan dengan kau punya paman dan bibi Kwe kira-kira bagaimana?”
“Tentu saja kita masih jauh ketinggalan,” jawab Yo Ko.
“Kau punya paman Kwe tentu sudah menurunkan kepandaian kepada puterinya dan kedua saudara Bu. Kalau begitu, jika kelak saling bertemu lagi, tetap saja kita akan dihina mereka,” kata Siao-liong-li.
Mendengar kata-kata ini, seketika Yo Ko menjadi gusar. “Kokoh, jika mereka berani hina diriku lagi, mana bisa aku menyerah mentah-mentah?” teriaknya sambil melonjak bangun.
“Tetapi kau tidak dapat menandingi mereka, bisa apa kau?” ujar Siao-liong-Ii.
“Jika begitu, kau bantu aku, Kokoh,” kata Yo Ko.
“Aku pun tak bisa menangkan kau punya paman Kwe, percuma saja,” sahut Siao-liong-li.
Yo Ko tidak bisa buka suara lagi. Dia menunduk dengan bungkam, dia coba pikirkan cara bagaimana harus menghadapinya kelak.
“Sudahlah, demi Kwe-pepek, aku tak akan berkelahi dengan mereka,” katanya kemudian sesudah merenung sebentar.
“Tetapi kalau mereka tidak mau lepaskan dirimu, bagaimana?” kata Siao-liong-li lagi.
“Biar aku menghindari mereka saja,” sahut Yo Ko. “Betapa pun juga aku toh tidak punya permusuhan apa-apa dengan mereka. Tidak akan mereka sampai mengincar jiwaku.”
“Sudah tentu. Bagaimana pun juga mereka memliki hubungan erat dengan kau,” kata Siao-liong-li sambil menghela napas, “Tapi orang-orang di Tho-hoa-to itu bukan sanak dan bukan kadangku.”
Mendengar kata orang yang terakhir ini, hati Yo Ko jadi tertekan. “Kokoh, apa kau maksudkan mereka bakal menghina kau?” tanyanya ragu.
“Ya, kalau sampai mereka tahu aku telah merebut anak murid Coan-cin-kau dan Tho-hoa-to, mana bisa mereka biarkan dirimu begitu saja,” sahut Siao-liong-Ii.
“Jangan kuatir, Kokoh!” teriak Yo Ko. “Tak peduli siapa saja yang berani menyenggol seujung rambutmu, pasti aku akan adu jiwa dengan dia.”
“Tetapi sayang kita tidak punya modal untuk mengadu jiwa itu,” sahut Siao-liong-li.
Yo Ko adalah anak yang sangat cerdik. Demi mendengar kata-kata gurunya, maka tahulah dia akan maksud orang.
“Kokoh,” katanya lagi dengan tersenyum, “kalau kita berhasil melatih baik-baik ilmu yang ditingalkan oleh Ong Tiong-yang, pasti kita akan dapat mengalahkan orang-orang Tho-hoa-to itu, bukan?”
Tiba-tiba alis Siao-Iiong-li bergerak, ia tertawa. “Tentu saja, memangnya orang-orang di Tho-hoa-to itu punya tiga kepala dan bertangan enam?” sahutnya kemudian.
Dan oleh karena percakapan mereka inilah, akhirnya Yo Ko dan Siao-liong-li telah tinggal setahun lebih lama di lembah pegunungan ini. Dalam satu tahun ini, baik Iwekang mau pun Gwakang mereka berdua sudah mencapai kemajuan pesat sekali. Sering kali mereka berdua mengambil tangkai bunga terus saling serang menyerang dan gempur menggempur untuk melatih diri di lembah gunung.
Tangkai bungai itu sesungguhnya adalah benda yang lemas, tetapi berada di tangan mereka yang telah memiliki Iwekang kelas wahid, maka serupa saja seperti golok tajam atau pedang pusaka. Pada suatu hari, sehabis berlatih, wajah Siao-liong-li terlihat muram durja, tampak nyata hatinya tidak senang. Melihat perubahan wajah orang ini, terus-menerus Yo Ko berusaha menghiburnya agar tertawa, namun tetap Siao-liong-Ii bungkam tanpa ber-kata-kata
Yo Ko menjadi bingung, ia kehabisan akal, Setelah dipikir berulang kali, akhirnya ia menduga tentu karena ilmu tinggalan Ong Tiong-yang yang mereka latih sudah berakhir, maka Siao-Iiong-li merasa berat kalau ditinggalkan dirinya, sebaliknya untuk menahannya juga tiada alasan, oleh karena itu hatinya menjadi kesal.
“Kokoh, jika engkau tidak ingin aku turun gunung, biarlah untuk selamanya kita tinggal di sini saja,” demikian katanya kemudian.
Keruan saja Siao-liong-Ii menjadi girang karena memang itulah yang membuat pikirannya menjadi kesal.
“Baik sekali...” demikian serunya, tetapi baru sepatah dua kata dia ucapkan, mendadak ia berhenti. Ia mengerti pula apa yang dikatakan Yo Ko itu sukar dilaksanakan. Sungguh pun Yo Ko terpaksa tinggal terus disitu, tentu pula hati pemuda itu tidak akan gembira. Maka dengan suara lirih ia lanjutkan: “Sudahlah, kita bicarakan besok saja.”
Malam itu Siao-liong-Ii tiada napsu makan, ia kembali ke gubugnya sendiri untuk tidur. Gubuk yang mereka dirikan di bawah pohon besar itu ada dua. Melihat gurunya kelihatan kesal, maka Yo Ko ikut muram, ia duduk sendirian di depan gubuknya sendiri dengan ter-mangu, lama sekali baru dia bisa tidur.
Sampai tengah malam, se-konyong-konyong ia terjaga bangun oleh suara deru angin yang santer, suara angin yang lain dari pada yang lain. Keruan ia kaget, lekas pasang kuping lebih cermat, hingga akhirnya dapat dikenali itu adalah angin pukulan orang yang sedang saling berhantam. Lekas Yo Ko menerobos keluar dari gubuknya. Ia berlari ke gubuk Siao-liong-li, dari luar segera ia memanggil dengan suara perlahan:
“Kokoh, Kokoh, kau dengar tidak?”
Pada saat itu menderunya angin pukulan bertambah keras, sepantasnya Siao-liong-li mendengar juga, tapi aneh, dari dalam gubuk tidak terdengar sahutan. Yo Ko memanggil dua kali lagi dan masih tetap sunyi. Akhirnya ia tidak sabar, ia dorong pintu kemudian melongok ke dalam, tapi yang dia dapatkan hanya dipan yang kosong, ternyata gurunya sudah menghilang.
Dalam kejutnya Yo Ko berlari menuju ke tempat di mana datangnya suara angin pukulan. Setelah belasan tombak dia berlari, meski pun orang yang sedang saling labrak itu belum kelihatan, tetapi dari angin pukulannya Yo Ko dapat membedakan salah satu di antaranya tidak lain adalah gurunya, yakni Siao-liong-li. Akan tetapi angin pukulan lawannya ternyata lebih hebat, agaknya kepandaiannya masih di atas gurunya.
Yo Ko percepat larinya. Ginkang atau ilmu entengkan tubuhnya kini sudah terlatih masak, jauh berlainan dari pada dahulu, maka sekejap saja lereng gunung itu sudah dilintasinya, kemudian tampaklah olehnya di bawah sinar bulan yang remang Siao-liong-li yang berbaju putih mulus sedang bertempur melawan seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar.
Ilmu silat orang itu tinggi sekali hingga meski Siao-liong-li berlaku amat gesit dan enteng, tetapi selalu terkurung dalam angin pukulan orang dan hanya bertahan sebisanya saja.
“Suhu, jangan kuatir, kubantu kau!” demikian Yo Ko cepat berseru sambil melompat maju.
Tetapi sesudah sampai di samping kedua orang dan melihat muka Iaki-laki itu, tanpa terasa Yo Ko menjadi terkesima. Orang itu ternyata penuh berewok yang pendek kaku seperti sikat kawat hingga mukanya se-akan kulit landak, siapa lagi dia kalau bukan ayah angkatnya yang sudah lama berpisah, Auwyang Hong!
“Berhenti, orang sendiri semua, jangan berkelahi lagi!” teriak Yo Ko.
Siao-liong-li tertegun mendengar seruan Yo Ko ini, dia pikir laki-laki gila bermuka berewok ini mana bisa orangnya sendiri? Dan karena sedikit melengnya ini, secepat kilat Auwyang Hong segera mengirim serangan yang mengarah muka Siao-liong-li dengan kekuatan luar biasa.
Kaget sekali Yo Ko. Lekas dia melompat maju hendak memisah, tetapi Siao-liong-li sudah keburu mengangkat tangannya untuk menangkis hingga kedua tangan mereka saling dorong.
Yo Ko tahu bahwa tenaga gurunya masih jauh tak bisa menandingi ayah angkatnya, dan jika bertahan lama tentu akan terluka dalam. Karena itu segera dia mengulur lima jarinya dan menyabet perlahan ke lengan Auwyang Hong. Ini adalah ilmu ‘jiu-hun-ngo-hian’ atau tangan mengebut lima senar, kepandaian yang baru saja dipelajarinya dari kitab Kiu-im-cin-keng. Meski ilmu itu belum matang dilatihnya, namun datangnya cepat dan tempatnya jitu, maka Auwyang Hong merasakan lengannya rada mati rasa sehingga tenaganya hilang.
Setiap kesempatan selalu digunakan Siao-liong-li dengan cepat sekali. Begitu ia merasa daya tekanan musuh kendur, segera ia balas menghantam. Dalam keadaan begitu, Auwyang Hong yang seluruh tubuhnya tak bertenaga hanya ditutuI perlahan saja pasti akan terluka parah. Syukur Yo Ko telah menyelak lagi, ia putar tangannya terus mencekal lengan Siao-liong-li, berbareng ia menyelip ke-tengah kedua orang itu.
“Berhentilah kalian berdua, semuanya orang sendiri,” demikian dengan tertawa ia berkata.
Di lain pihak Auwyang Hong masih belum mengenali Yo Ko. Dia hanya merasa ilmu silat pemuda ini terlampau aneh dan sangat tinggi tidak boleh dipandang enteng. Maka dengan marah dia membentak:
“Siapa kau?! Orang sendiri apa?!”
Yo Ko sudah kenal kelakuan Auwyang Hong yang linglung dan gila-gilaan. Dia kuatir orang benar-benar lupa padanya, maka segera ia pun berseru memanggil:
“Aku, ayah, inilah anakmu sendiri! Apa kau tidak kenal lagi?”
Kata-kata Yo Ko membawa lagu suara yang mengguncangkan perasaan, seketika Auwyang Hong tercengang. Ia tarik tangan si Yo Ko, ia putar muka pemuda ini ke arah sinar bulan, kemudian baru dikenalnya memang betul dia adalah anak angkatnya sendiri yang selama beberapa tahun ini telah dicarinya kian kemari. Karena perawakan Yo Ko sekarang sudah tumbuh tinggi, lagi pula ilmu silatnya hebat, maka semula tidak dikenalnya.
Dasar Auwyang Hong juga seorang yang suka mengumbar perasaannya, seketika itu pula dia rangkul Yo Ko sambil ber-teriak:
“O, anakku, sudah lama sekali aku mencari kau!”
BegituIah kedua orang itu saling rangkul dan sama mengalirkan air mata. Kiranya sesudah Auwyang Hong berpisah dengan Yo Ko di kelenteng bobrok di daerah Kanglam dulu, di mana dia bersembunyi dalam sebuah genta raksasa untuk menghindari pencarian Kwa Tin-ok, dia lantas menjalankan ilmu saktinya untuk menyembuhkan luka dalamnya selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya lukanya bisa pulih kembali, tapi Iuka luar yang babak-belur karena dihajar Kwa Tin-ok itu masih belum sembuh.
Sesudah dia angkat genta raksasa itu dan keluar, ia masih merawat lukanya lagi selama dua puluhan hari di dalam hotel, habis ini kesehatannya baru pulih seluruhnya. Karena dia pernah berjanji pada Yo Ko bahwa tidak peduli ke mana pun bocah ini pergi, ke sana juga akan dicarinya, tapi janji itu sudah lewat sebulan, dan bumi begitu luas, ke mana dia bisa mencari jejaknya. Auwyang Hong pikir bocah ini tentu pergi ke Tho-hoa-to. Turuti wataknya yang suka berlaku cepat, maka segera juga ia mencari satu perahu kecil dan berlayar ke pulau itu.
Ia tahu juga dirinya bukan tandingan Kwe Ceng beserta isterinya, Oey Yong, apa lagi ditambah seorang Oey Yok-su, ayah Oey Yong (tentang kepergian Oey Yok-su dari pulau itu tidak diketahui Auwyang Hong), sekali pun kepandaiannya sekali lipat lebih tinggi lagi juga tidak ungkuIan melawan ketiga orang itu. Oleh sebab itu ia menunggu malam tiba barulah berani mendarat. Siang hari ia sembunyi di dalam goa pegunungan pulau itu, ketika malam tiba baru diam-diam kelayapan keluar dengan harapan bisa menemukan Yo Ko.
Meski secara hati-hati sekali dia bersembunyi selama lebih dua tahun tanpa berani keluar selangkah pun pada waktu siang hari, toh kabar beritanya Yo Ko tetap tak diketemukan. Kemudian pada suatu malam secara kebetulan dia mendengar percakapan antara Bu Siu-bun dan Bu Tun-si berdua saudara, barulah ia tahu bahwa Yo Ko sudah dikirim oleh Kwe Ceng ke Coan-cin-kau untuk belajar silat.
Tentu saja Auwyang Hong amat girang memperoleh kabar itu. Segera malam itu juga dia meninggalkan pulau dan memburu ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san. Tetapi siapa duga tatkala itu Yo Ko sudah bikin ribut dengan imam-imam Coan-cin-kau dan sudah masuk ke Hoat-su-jin-bong.
Peristiwa itu oleh Coan-cin-kau dianggap sebagai satu noda besar yang amat memalukan, maka seluruh imam Coan-cin-kau tiada satu pun yang mau bicara. Meski Auwyang Hong sudah berusaha dengan segala daya-upaya untuk mencari tahu toh tetap tiada satu kabar pun yang dia peroleh. Selama beberapa tahun seluruh gunung Cong-lam-san boleh dikatakan sudah dijelajahi oleh kaki Auwyang Hong, siapa tahu Yo Ko justru bersembunyi di bawah tanah gunung itu dan sedang melatih ilmu sakti secara giat.
Sangat kebetulan malam itu, pada waktu Auwyang Hong sedang lewat di lembah gunung, mendadak dilihatnya ada satu gadis berbaju putih mulus sedang menghela napas sambil duduk tepekur menghadap bulan.
“Hai, di manakah anakku? Kau lihat dia tidak?” demikian dengan kelakuan kasar dan gila Auwyang Hong menegur.
Gadis itu adalah Siao-liong-li. Ia sedang kesal, ia menjadi tambah sebal demi melihat seorang gila menegurnya, maka dia hanya melotot saja dan tak digubrisnya. Tanpa terduga tiba-tiba Auwyang Hong melompat maju. Ia pegang lengan Siao-liong-li dan membentak:
“He, di manakah anakku?!”
Siao-liong-li menjadi kaget demi merasakan tenaga cengkeraman orang yang sangat kuat, nyata ilmu silat orang tinggi luar biasa dan belum pernah dilihatnya seumur hidup, sekali pun jago paling lihay dari Coan-cin-kau masih jauh di bawahnya. Dalam terkejutnya itu, lekas ia lepaskan diri dengan Kim-na-jiu-hoat (ilmu cara menawan dan memegang) yang lihay.
Dengan sekali pegang tadi Auwyang Hong mengira lawan pasti akan terpegang kencang, namun siapa tahu dengan gampang saja orang bisa mengelakkan diri. Dasar dia memang linglung, ia pun tidak tanya lagi, segera sebelah tangannya menyerang lagi dan begitulah, tanpa sebab musabab mereka berdua lantas saling labrak.
Kembali tadi… Karena sudah beberapa tahun berpisah, maka Yo Ko dan Auwyang Hong lantas saling menceritakan rasa kangennya selama ini. Pikiran Auwyang Hong masih tetap setengah jernih dan setengah butek, kejadian yang lalu sudah tak banyak lagi yang bisa diceritakan, terhadap cerita Yo Ko ia pun tak begitu mengerti, yang dia tahu hanya selama beberapa tahun ini Yo Ko belajar silat pada Siao-liong-Ii. Meski usianya sudah lanjut toh Auwyang Hong masih bersifat kanak-kanak, segera dia bilang lagi:
“llmu kepandaiannya tidak bisa mengungkuli aku, untuk apa belajar padanya, biar aku sendiri yang mengajar kau.”
Baiknya watak Siao-liong-li dingin saja, maka ia tidak merecoki urusan ini, meski dengar, ia hanya tersenyum saja terus menyingkir pergi. Sebaliknya Yo Ko menjadi rikuh terhadap Siao-liong-li.
“Tetapi Suhu sangat baik terhadap diriku, ayah!” demikian ia jelaskan.
Tiba-tiba Auwyang Hong menjadi cemburu, “Dia baik, apa aku tidak?” teriaknya.
“Baik, kau pun baik,” sahut Yo Ko cepat sambil tertawa, “Di dunia ini hanya kalian berdua saja yang baik terhadap diriku.”
Karena itu dengan memegangi tangan Yo Ko, Auwyang Hong menyengir. “Ilmu silat yang kau pelajari itu sesungguhnya tidak jelek juga,” katanya kemudian, “cuma sayang dua macam ilmu paling hebat di dunia ini tak kau pelajari satu pun.”
“Ilmu apakah itu?” tanya Yo Ko.
Se-konyong-konyong Auwyang Hong menarik muka, alisnya yang tebal se-akan menegak.
“Percuma kau sebagai seorang berilmu silat, sampai dua ilmu sakti di jagat ini saja tidak kau kenal, lalu apa gunanya kau angkat dia sebagai guru?” bentaknya tiba-tiba.
Melihat orang sebentar girang sebentar marah, hati Yo Ko bukan menjadi takut sebaliknya dia merasa sedih. “Nyata penyakit ayah sudah terlalu mendalam, entah kapan baru bisa sembuh kembali?” demikian ia berpikir.
Sementara itu terdengar Auwyang Hong bergelak ketawa. “Ha, ini biar ayah mengajar kau,” katanya, “Kedua macam ilmu mujijat itu adalah Ha-mo-kang dan Kiu-im-cin-keng. Semasa kecilmu aku sudah mengajarkan kau sedikit penuntun dasarnya, sekarang coba kau berjungkir dan berlatih di hadapanku!”
Memang semenjak Yo Ko masuk kuburan kuno itu, sudah lama dia tidak berlatih lagi ilmu menjungkir dengan kepala di bawah itu. Kini diingatkan kembali tentu saja dengan senang hati dia menurut. Dahulu ketika masih di Tho-hoa-to saja Yo Ko sudah berlatih dengan masak sekali, kini ditambah lagi Iwekang-nya telah tinggi sekali, keruan seperti macan tumbuh sayap saja, ia bisa berputar kayun secepat kitiran dengan kepala menjungkir di bawah.
“Bagus, bagus! Segera kuajarkan pula seluruh intisari yang paling hebat!” seru Auwyang Hong kegirangan.
Kemudian betul saja dia lantas gerakkan kaki dan tangannya, dia mencerocos tiada hentinya, dia tidak urus apakah Yo Ko bisa ingat seluruhnya atau tidak, tetapi sejak mulai dia terus menutur seperti mitraliur.
Di Iain pihak setelah mendengar beberapa kali ajaran Auwyang Hong, hati Yo Ko tiba-tiba tergerak. Ia merasa setiap kata, setiap istilah ternyata luas sekali artinya, tidak bisa dipahami seluruhnya. Terpaksa ia pergunakan ketajaman otaknya untuk mengingatnya dengan paksa.
Sesudah Auwyang Hong mencerocos tak lama, tiba-tiba dia tepuk tangan dan berseru pula:
“He, celaka, jangan-jangan si budak cilik itu ikut mencuri dengar!”
Segera ia pergi ke belakang pohon sana, ia dekati Siao-liong-li dan bilang padanya: “ehh, budak cilik, sekarang aku sedang mengajarkan ilmu kepandaian kepada anakku, jangan kau mencuri dengar.”
“Macam apakah kepandaianmu itu? Siapa yang pingin mendengarkan?” sahut Siao-liong-Ii dengan sikap dingin.
Sejenak Auwyang Hong tertegun oleh jawaban orang. “Baik, kalau begitu kau menyingkir yang jauh,” katanya kemudian.
Tetapi Siao-liong-li sama sekali tak menggubris, ia masih bersandar pada batang pohon besar itu.
“Hm, mengapa aku harus turut perintahmu? Kalau aku suka pergi segera aku akan pergi, kalau tidak suka, tak akan aku pergi,” demikian sahutnya ketus.
Keruan Auwyang Hong marah hingga rambut alisnya se-akan berdiri, dia ulurkan tangan hendak mencakar muka Siao-liong-li. Akan tetapi Siao-liong-li masih tak gubris, bahkan dia pura-pura tidak tahu atas serangan orang. Tentu saja dengan cepat jari-jari tangan Auwyang Hong menyelonong ke mukanya, tetapi sesudah dekat, tiba-tiba Auwyang Hong mendapat pikiran lain. “Ahh, dia kan Suhu anakku, tidak baik kalau aku melukai dia. Tetapi seketika aku pun tidak bisa berbuat apa-apa jika dia tak mau menyingkir pergi,” demikian ia membatin.
Karena itu segera tangan yang dia ulur itu kembali ditariknya lagi. “Baiklah, jika begitu kami saja yang menyingkir, tapi kau jangan mengintip, ya?” katanya.
Siao-Iiong-li pikir meski orang ini sangat tinggi ilmu silatnya, tetapi orangnya dogol, maka ia pun malas buat meladeninya, ia malah berpaling ke jurusan lain dan tak menjawab. Tapi siapa tahu begitu dia melengos, mendadak punggungnya terasa kesemutan. Kiranya Auwyang Hong tiba-tiba sudah ulur tangan dan menotok sekali pada Hiat-to di punggungnya. Oleh karena gerak tangannya terlalu cepat dan aneh, pula sama sekali Siao-liong-li tidak me-nyangka, ketika dia kaget dan bermaksud tutup jalan darahnya buat menolak totokan orang, sudah terlambat. Seketika setengah badannya bagian atas terasa tak bebas lagi. Bahkan menyusul Auwyang Hong menambahi pula sekali tutukan di pinggangnya.
LENYAPNYA SIU-KIONG-SEH
“Nah, budak cilik, jangan kau kuatir, sebentar saja sesudah selesai aku ajarkan ilmu pada anakku, segera aku datang melepaskan kau,” demikian terdengar Auwyang Hong berkata dengan tertawa sambil berjalan pergi.
Tatkala itu Yo Ko sedang meng-ingat-ingat Ha-mo-kang dan Kiu-im-cm-keng yang diajarkan oleh ayah angkatnya tadi. Ia merasa apa yang diajarkan dari Cin-keng atau kitab asli itu, bukan saja berlainan dengan apa yang terukir di kamar batu oleh Ong Tiong-yang, bahkan seluruhnya berlawanan dan terbalik, maka dia sedang peras otaknya untuk menyelaminya lebih mendalam hingga sedikit pun dia tak mengetahui sang guru kena diserang Auwyang Hong.
“Marilah kita menyingkir ke sana agar jangan sampai didengar oleh Suhu-mu,” demikian kata Auwyang Hong sambil tarik tangan Yo Ko.
Tetapi Yo Ko cukup kenal tabiat Siao-liong-li yang aneh dan menyendiri. Jangan kata tidak akan si gadis ini sudi mencuri dengar, sekali pun dipertontonkan di depannya, belum tentu dia mau lihat dan pasti dia akan menyingkir juga.
Tetapi karena pikiran ayah angkatnya dalam keadaan kurang waras, ia pun merasa tidak perlu banyak berdebat, segera ia ikut pergi.
Sementara itu karena kena ditotok jalan darahnya, dengan lemas tubuh Siao-liong-li terkulai di tanah. Sungguh tidak kepalang rasa mengkalnya pula geli. Ia pikir ilmu silatnya sendiri meski sudah terlatih masak dan bagus, namun betapa pun juga masih kurang pengalaman menghadapi musuh, sehingga kena dibokong oleh Li Bok-chiu, dan kini mengalami pembokongan lagi oleh makhluk aneh si berewok ini.
Maka diam-diam dia kumpulkan tenaga sakti dari apa yang dia pelajari dalam Kiu-im-cin-keng, yaitu ‘Kay-hiat-pi-koat’, rahasia cara melepaskan totokan. Dia sedot napasnya dalam-dalam terus menggempur aliran jalan darahnya.
Akan tetapi aneh! Sesudah dua kali dia ulangi, bukan saja Hiat-to yang tertotok itu tidak menjadi lancar dan terbuka, bahkan bertambah pegal dan linu. Keruan saja tidak kepalang terkejutnya oleh kejadian yang tak dimengerti ini.
Kiranya cara totokan Auwyang Hong justru berlawanan dengan jalan darah biasa, karena memang ia melatih Kiu-im-cin-keng secara terbalik. Kini Siao-liong-li memakai cara biasa untuk membebaskan diri, dengan sendirinya bukan menjadi kendor, sebaliknya bertambah kencang dan makin rapat. Dan karena sudah coba dan dicoba lagi masih belum berhasil, bahkan bertambah sakit, akhirnya Siao-liong-li tak berani coba lagi.
Terpikir pula olehnya bahwa nanti sehabis si gila ini selesai mengajarkan ilmu pada Yo Ko. dengan sendirinya dia akan kembali untuk menolongnya. Biasanya Siao-liong-li memang tidak suka banyak pikiran, maka kini dia pun tidak menjadi kuatir atau gugup, bahkan dia ter-mangu sambil menengadah untuk memandang bintang yang tinggi di langit, hingga lapat-lapat akhirnya ia tertidur.
Entah sudah berapa lama dia pulas ketika merasa kelopak matanya perlahan seperti tergosok sesuatu. Dia terjaga dari tidurnya, dia coba membuka mata. Biasanya dalam kegelapan Siao-liong-li bisa memandang sesuatu seperti siang hari, tapi kini sedikit pun ternyata tidak dilihatnya. Ternyata kedua matanya sudah ditutup orang dengan selapis kain. Luar biasa kaget Siao-liong-li sekali ini, malah menyusul ini segera terasa pula ada orang yang memeluk dirinya. Pada waktu memeluk, mula-mula orang ini agaknya rada takut, tetapi belakangan lambat laun menjadi tabah dan perlahan menjadi berani.
Dalam kagetnya itu niat Siao-Iiong-Ii hendak berteriak, namun percuma sebab mulutnya susah dipentang karena totokannya Auwyang Hong tadi. Segera ia merasa orang itu berani mencium pipinya. SemuIa Siao-liong-li menyangka Auwyang Hong yang tiba-tiba telah memakai kekerasan hendak memperkosa dirinya. Tetapi ketika muka orang itu menyentuh pipinya, dia merasa muka orang halus licin saja tanpa berewok seperti Auwyang Hong.
Hatinya terguncang , rasa terkejutnya perlahan hilang. Maklum, Siao-liong-li pun masih muda, di hatinya terpikir tentu ini perbuatan si Yo Ko. Ia merasa kelakuan orang mulai tidak sopan, tangan meraba sini dan menarik sana.
“Kurang ajar si Yo Ko ini!” demikian diam-diam Siao-liong-li mengelak.
Tetapi karena tubuhnya sedikit pun tak bisa berkutik, maka tiada jalan lain ia serahkan diri apa yang hendak diperbuat orang, hanya saja tidak keruan rasa dalam hatinya. Ia terkejut girang, malu dan rada-rada sakit.
Sementara itu di sebelah sana Auwyang Hong sedang asyik memberi pelajaran ilmu silat kepada Yo Ko. Ia menjadi senang demi nampak bakat Yo Ko sangat pintar, sedikit diberi-tahu saja, lanjutannya dengan sendirinya dipahami. Oleh karena itulah semakin mengajar Auwyang Hong semakin bersemangat, hingga fajar menyingsing barulah pokok kedua ilmu mujijat itu selesai diajarkan.
“Ayah, pernah juga kupelajari Kiu-im-cin-keng, tetapi kenapa berlainan sekali dengan apa yang kau uraikan ini?” tanya Yo Ko kemudian sesudah pelajaran yang baru diperolehnya itu diulangi dan diapalkan lagi.
“Apa?! Pernah kau pelajari? Ahh, bohong! Kecuali ajaranku ini, mana ada lagi Kiu-im-cin-keng lain?” sahut Auwyang Hong membentak.
“Tetapi betul, seperti cara melatih melemaskan otot dan menguatkan tulang, menurut kau, langkah ketiga harus sedot napas dan jalankan darah ke arah atas. Tapi Suhu sebaliknya bilang napas harus dipusatkan di perut dan darah dilancarkan ke bawah,” kata Yo Ko.
“Mana bisa begitu? Salah, salah...!” teriak Auwyang Hong sambil geleng kepala. Namun baru sampai di sini tiba-tiba dia berhenti, dia berpikir sejenak, lalu disambungnya lagi: “eh, ehm, nanti dulu...”
Habis ini ia coba melakukan apa yang dikatakan Yo Ko tadi. Betul saja, seluruh badannya dirasakan sangat nyaman dan segar, ternyata sangat berbeda dengan caranya sendiri.
Sudah tentu tidak pernah dia pikir bahwa dahulu dia sudah dipermainkan Kwe Ceng yang atas suruhan Ang Chit-kong (salah satu gurunya Kwe Ceng) telah menuliskan kitab palsu Kiu-im-cin-keng yang telah diubah sana sini dan diputar-balik tak keruan untuk kemudian baru diserahkan kepadanya. Maka dengan sendirinya hasil dari apa yang dilatihnya juga menjadi terjungkir-balik dan berlawanan dengan intisari Kiu-im-cin-keng yang asIi.
BegituIah, maka Auwyang Hong menjadi bingung, pikirannya kacau lagi. “He, mengapa bisa begini? Ahh, mana bisa? Sesungguhnya aku yang salah atau dia yang keliru? Ahh, mana bisa, mana bisa jadi begini?” demikianlah Auwyang Hong mengomel sendiri tiada hentinya.
Yo Ko menjadi kaget melihat kelakuan orang yang tak beres ini. “Ayah, ayah!” ia coba memanggil beberapa kali, tetapi tiada sahutan yang dia peroleh. Yo Ko menjadi kuatir penyakit ayah angkatnya ini kumat lagi.
Sedang dia terkejut itu, tiba-tiba terdengar olehnya suara gemerisik di antara semak rumput sana, berbareng itu dilihat berkelebatnya bayangan orang, lapat-lapat di antara semak itu tampak sebagian dari ujung jubah imam yang ke-kuning-kuning-an. Sebenarnya tempat ini sunyi senyap dan terpencil, kenapa sekarang bisa didatangi orang luar? Pula kelakuan orang itu celingukan tidak beres, terang tidak mengandung maksud baik. Demikianlah Yo Ko menjadi curiga, maka dengan langkah cepat segera ia memburu ke sana.
Akan tetapi dengan cepat orang itu sudah kabur ke jurusan sana, apa bila melihat bagian belakangnya, nyata seorang Tojin atau imam.
“Hai, siapa kau?!” segera Yo Ko membentak. “Hayo, berhenti! Apa kerjamu disini?”
Sambil berteriak, dengan Ginkang yang tinggi segera Yo Ko mengudak. Di lain pihak demi mendengar suara bentakan Yo Ko, imam itu semakin percepat larinya, tetapi mana sanggup dia balapan lari dengan Yo Ko, hanya sedikit ‘tancap gas’ saja Yo Ko sudah melompat sampai di belakangnya. Begitu pundaknya dia cekal dan diputar balik, seketika Yo Ko menjadi heran, sebab imam ini dapat dikenalnya bukan lain dari pada In Ci-peng, itu murid Khu Ju-ki dari Coan-cin-kau.
Yo Ko makin tak mengerti ketika dilihatnya pakaian In Ci-peng kusut tak teratur, mukanya sebentar merah dan sebentar pucat.
“He, katakan, kerja apa kau di sini?” Yo Ko menegur lagi.
In Ci-peng terhitung salah satu jago utama dari anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, ilmu silatnya tinggi, tindak tanduknya biasanya juga cukup gagah. Tetapi entah mengapa, kini sama sekali dia berubah lain, kena di-bentak Yo Ko tadi, kelihatan dia menjadi gugup hingga tak sanggup bicara.
Melihat orang tetap tak menjawab meski pun beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya, keruan Yo Ko tambah tidak mengerti. Namun segera teringat olehnya dahulu In Ci-peng pernah menanam budi atas dirinya ketika dia melarikan diri dari Tiong-yang-kiong. Oleh karenanya dia tidak tega untuk membentak lebih lanjut lagi.
“Baiklah, kalau tidak ada apa-apa, bolehlah kau pergi!” demikian katanya kemudian sambil melepaskan In Ci-peng.
Keruan saja In Ci-peng seperti terlepas dari genggaman elmaut, sambil menoleh beberapa kali memandang Yo Ko, segera dia lari pergi dengan langkah cepat dan ketakutan seperti orang berdosa.
“Sungguh menggelikan kelakuan imam ini.” demikian Yo Ko tertawai orang.
Lalu dia menuju ke gubuk mereka, tetapi di antara semak di depan gubuk sana tiba-tiba dilihatnya sepasang kaki Siao-liong-Ii melonjor keluar tanpa bergerak sedikit pun, agaknya seperti sedang tertidur nyenyak.
“Kokoh, Kokoh!” Yo Ko coba memanggil.
Akan tetapi tiada jawaban. Dia berjongkok dan menyingkap semak yang lebat itu, maka terlihat Siao-liong-li rebah terlentang di tanah, sedang kedua matanya tertutup oleh selapis kain biru.
Rada kaget juga Yo Ko melihat keadaan sang guru. Ia lekas melepaskan ikatan kain biru dari muka orang, dilihatnya wajah serta sorot matanya berlainan sekali dengan biasanya, kedua pipinya pun bersemu merah ke-malu-maluan.
“Kokoh, siapakah yang mengikat kain ini pada dirimu?” tanya Yo Ko kemudian.
Namun Siao-liong-li tak menjawab, hanya sorot matanya tampak mengandung maksud mengomelinya. Melihat tubuh orang lemas lunglai, agaknya jalan darahnya seperti tertotok oleh orang, Yo Ko coba menariknya. Betul juga, sama sekali Siao-liong-li tak bisa bergerak.
Yo Ko memang pintar. Begitu melihat keadaan orang, segera dapat menerka apa sebab-musababnya. “Tentu dia ditotok ayah angkatku dengan Tiam-hiat-hoat yang terbalik, jika tidak, dengan kepandaian Kokoh, Tiam-hiat-hoat yang lebih lihay sekali pun tentu dapat dibukanya sendiri,” demikian pikirnya.
Maka dengan cara yang telah dipelajarinya dari Auwyang Hong tadi, Yo Ko lalu membuka Hiat-to Siao-liong-li yang tertotok itu. Siapa tahu, sesudah tubuh Siao-liong-li tertotok oleh Yo Ko, toh Siao-liong-li tetap lemah lunglai dan meringkuk dalam pangkuan Yo Ko seperti seluruh tubuhnya tidak bertulang lagi.
“Kokoh,” kata Yo Ko dengan suara halus sambil memegang lengan orang, “kelakuan ayah angkatku memang tidak genah, maka jangan kau sesalkan dia.”
“Kau sendiri tidak genah. Tidak tahu malu, masih kau bilang orang Iain!” sahut Siao-liong-li tiba-tiba secara samar dan menyembunyikan mukanya ke dalam pangkuan pemuda itu.
Melihat kelakuan sang guru semakin aneh dan berbeda sekali dengan se-hari-harinya, Yo Ko mulai bingung.
“Kokoh, ak... aku...” demikian kata-katanya menjadi tak lancar.
“Masih kau panggil aku Kokoh?” omel Siao-liong-li sambil mendongak.
Keruan saja Yo Ko semakin bingung dan gugup. “He, tidak panggil kau Kokoh, lalu panggil apa? Apa panggil Suhu saja?” sahutnya heran.
“Kau perlakukan aku cara begitu, mana bisa lagi aku menjadi gurumu?” kata Siao-liong-li dengan senyum malu-malu.
“Aku? Aku kenapa?” Yo Ko tambah tak mengerti.
Akan tetapi Siao-liong-li tidak menjawab lagi. Dia gulung lengan bajunya, maka tampaklah tangannya yang berkulit putih bersih seperti salju.
“Lihat!” katanya dengan wajah ke-maluan sambil menunjuk lengannya yang putih mulus itu. Ternyata andeng-andeng merah ‘Siu-kiong-seh’ yang dahulu terdapat di lengannya itu kini sudah hilang tanpa bekas.
Yo Ko masih bingung, ia cakar kuping dan garuk kepala. “Kokoh, apa artinya ini?” demikian katanya.
“Dengarkan, tak boleh lagi kau panggil aku Kokoh,” ujar Siao-liong-li setengah mengomel. Dan demi dilihatnya wajah Yo Ko mengunjuk bingung, entah mengapa hati gadis ini tiba-tiba timbul rasa cinta mesra yang tak terkatakan.
“Ahli waris Ko-bong-pay kita selamanya turun-temurun gadis suci bersih,” lalu dengan suara perlahan Siao-liong-li berkata pula. “sebab itu Suhu menisik satu titik andeng-andeng merah di tanganku. Tetapi semalam... semalam kau perlakukan aku begitu, mana bisa lagi andeng-andeng merah itu tinggal di atas tanganku?”
“Aku perlakukan kau apa semalam?” tanya Yo Ko dengan bingung.
Muka Siao-liong-li menjadi merah jengah. “Sudahlah, itu tak perlu dibicarakan lagi,” sahutnya kemudian, dan sesudah sejenak pula, dengan perlahan ia berkata lagi: “Dahulu aku takut turun gunung, tetapi kini sudah lain, tidak peduli ke mana kau pergi, dengan rela aku akan mengikuti kau.”
“Bagus sekali, Kokoh, kalau begitu!” seru Yo Ko girang.
“He, kenapa masih saja kau memanggil aku Kokoh?” tegur Siao-liong-li dengan wajah ber-sungguh-sungguh. “Apa kau tidak dengan hati murni terhadap diriku?”
Karena Yo Ko tidak menjawab, akhirnya Siao-liong-Ii menjadi tak sabar lagi. “Sebenarnya kau anggap diriku ini apamu?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Kau adalah guruku, kau sayang padaku, aku telah bersumpah bahwa selama hidupku ini pasti menghormati kau dan suka padamu,” demikian dengan sungguh-sungguh dan tulus Yo Ko menjawab.
“Apa kau tidak anggap aku sebagai isterimu?” teriak Siao-liong-li tak tahan.
Sungguh hal ini belum pernah terlintas dalam pikiran Yo Ko, kini mendadak ditanya orang, keruan ia kelabakan dan tak mengerti cara bagaimana harus menjawabnya.
“Ti... tidak, tak mungkin kau adalah isteriku, mana aku cukup cakap?” demikian sahutnya kemudian dengan tak lancar. “Tetapi kau adalah Suhu, adalah Kokoh-ku.”
Tidak kepalang marahnya Siao-liong-li mendengar jawaban ini sehingga seluruh tubuhnya gemetar, mendadak darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
“Kokoh, Kokoh...!” Yo Ko ber-teriak bingung melihat keadaan ini.
Mendengar orang terus-menerus masih memanggil demikian padanya, dengan sorot mata yang gemas tiba-tiba Siao-liong-li angkat telapak tangannya terus hendak digablokkan ke kepala Yo Ko. Tapi perlahan-lahan sorot matanya dari gemas dan menyesal tadi berubah menjadi benci dan dendam, lalu dari benci dan dendam berganti lagi menjadi sayang dan kasihan.
“Baiklah, kalau begitu selanjutnya jangan kau bertemu dengan aku lagi,” sambil menghela napas panjang akhirnya ia berkata dengan lirih dan lemah.
Habis berkata dia kebaskan lengan bajunya yang panjang, terus putar tubuh dan lari pergi dengan cepat turun ke bawah gunung.
“Kokoh, Kokoh! Ke mana kau? Aku ikut bersama kau!” Yo Ko ber-teriak-teriak.
“Kalau kau bertemu lagi dengan aku, mungkin jiwamu sulit kuampuni,” sahut Siao-liong-li tiba-tiba sambil menoleh.
Dalam bingungnya Yo Ko semakin tak tahu apa yang harus dia lakukan. Karena tertegun ini, sementara bayangan Siao-liong-li sudah menghilang di antara jalan pegunungan yang menurun itu. Sungguh tak kepalang berdukanya Yo Ko hingga dia menangis ter-gerung-gerung. Sungguh tak dimengerti olehnya sebab apakah dia membuat gurunya begitu marah hingga kelakuannya begitu aneh. Kenapa sang guru bilang mau jadi isterinya, pula melarang dia memanggil Kokoh lagi padanya? Semua ini membuatnya bingung.
“Ya, tentu urusan ini ada hubungannya dengan ayah angkatku, pasti dia yang bikin marah Suhu,” demikian akhirnya Yo Ko menarik kesimpulan sesudah berpikir lama.
Lalu dia pergi ke dekat Auwyang Hong lagi, di situ dia melihat orang tua ini sedang berdiri tegak dengan kedua matanya terbelalak tanpa berkedip.
“Ayah, sebab apakah kau membikin marah guruku?” segera Yo Ko bertanya.
Akan tetapi Auwyang Hong tidak menjawab, hanya terdengar mulutnya bergumam sendiri:
“Kiu-im-cin-keng, Kiu-im-cin-keng!”
“He, kenapa kau totok jalan darah guruku hingga bikin dia begitu marah?” kembali Yo Ko tanya lagi.
Namun Auwyang Hong tetap tidak menjawab. Dia berkata seorang diri pula: “Sebenarnya harus dijalankan ke atas atau ditekan ke bawah?”
“He, ayah!” teriak Yo Ko akhirnya, dia menjadi tidak sabar, “aku tanya kau tentang Suhu, katakanlah, apa yang telah kau lakukan terhadap dia?”
“Siapa gurumu? Siapa aku? Siapakah Auwyang Hong?” tiba2 Auwyang Hong ber-teriak sendiri.
Melihat penyakit gila orang kumat lagi, Yo Ko jadi kuatir tercampur kasihan. “Ayah, tentu kau sudah letih, marilah mengaso ke dalam gubuk,” ajaknya kemudian.
Tetapi mendadak Auwyang Hong berjumpalitan dan tahu-tahu tubuhnya sudah menjungkir sambil ber-teriak:
“Siapakah aku ini? Siapakah aku ini? Di manakah Auwyang Hong?”
Berbareng itu kedua tangannya bergerak-gerak tak keruan, tubuhnya yang menjungkir pun berputar cepat, dengan kepala di bawah secepat angin Auwyang Hong ber-lari ke bawah gunung.
“Ayah, ayah!” dalam bingungnya Yo Ko coba menarik orang.
Siapa duga mendadak Auwyang Hong memancal dengan sebelah kakinya yang dengan tepat mengenai rahang Yo Ko. Depakan ini sedikit pun ternyata tak kenal ampun hingga Yo Ko tak tahan berdiri tegak lagi. Dia jatuh terjengkang. Sesudah dia berdiri lagi, sementara itu Auwyang Hong sudah pergi jauh dan sekejap saja lantas menghilang dari pandangan.
Dengan terkesima Yo Ko terpaku pada tempatnya, entah perasaan apa yang dia rasakan waktu itu. Suasana sekelilingnya seakan-akan sunyi senyap, sayup-sayup diselingi suara berkicaunya burung.
“Kokoh! Ayah! Kokoh! Ayah!” akhirnya Yo Ko ber-teriak seorang diri.
Sudah tentu tiada sesuatu sahutan dari kedua orang yang dipanggil itu, yang ada hanya suaranya sendiri yang berkumandang balik dari lembah pegunungan yang luas itu.
Dalam keadaan demikian Yo Ko menjadi putus asa, perasaannya seakan-akan hancur. Maklumlah, selama beberapa tahun ini boleh dikatakan tidak pernah dia berpisah dengan Siao-liong-li, hubungan mereka begitu rapat bagaikan ibu dan anak. Kini mendadak tanpa diketahui apa sebabnya orang pergi begitu saja, sudah tentu tidak keruan rasa hatinya.
Dalam putus asanya itu dan memang perasaan halus Yo Ko lain dari pada orang biasa, maka hampir saja dia mau bunuh diri. Syukurlah dia masih dapat berpikir panjang, lapat-lapat timbul semacam harapan bahwa gurunya yang pergi mendadak itu mungkin akan kembali juga secara mendadak. Meski pun Kokoh dibikin marah ayah angkatnya, namun dirinya toh tiada berbuat sesuatu kesalahan, tentu sang guru akan kembali lagi mencari, begitulah dia pikir.
Tentu saja malam itu ia lewatkan sendirian tanpa bisa tidur. Beberapa kali, asal terdengar sesuatu suara gemerisik, segera ia melompat bangun mengira Siao-liong-li yang kembali. Ia berteriak dan me-manggil sambil berlari keluar, tetapi setiap kali selalu ia kecewa dan cemas. Begitulah, semalam suntuk dia sibuk merindukan Siao-liong-li sampai fajar menyingsing.
“Jika Suhu tidak mau kembali, biarlah aku yang pergi mencarinya,” tiba-tiba terpikir olehnya, “Asal bisa ketemukan dia, tidak peduli bagaimana dia akan menghajar atau mendamperat aku, yang pasti aku tak akan berpisah lagi dengan dia.”
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ketabahannya banyak bertambah. Segera ia bebenah seperlunya, ia bungkus pakaian sendiri dan milik Siao-liong-li ke dalam sepotong kain, lalu ia gendong di punggungnya dan dengan langkah lebar ia turun ke bawah gunung.
Sepanjang jalan ia coba bertanya kepada penduduk di tepi jalan apakah melihat seorang nona putih yang cantik lewat di situ. Tetapi beruntun ia tanya beberapa orang, semuanya hanya goyang kepala menyatakan tidak tahu.
Karena itu akhirnya Yo Ko menjadi gopoh, dengan sendirinya cara bertanyanya kemudian menjadi kurang sopan. Dan para penduduk yang ditanya itu sebaliknya mendongkol juga melihat pemuda seperti Yo Ko ini selalu mencari tahu tentang nona cantik segala, dengan sendirinya lalu ada orang yang ingin tahu untuk apa dia mencari dan siapa nona ayu itu, pernah apakah dengan dia.
Sebaliknya Yo Ko jadi marah-marah oleh pertanyaan kembali itu. “ltu tidak perlu kau urus, aku hanya ingin tahu kau melihat dia lewat di sini tidak?” demikian dalam gusarnya Yo Ko tak sadar kata2nya ini halus atau tidak.
Sedang orang yang ditanya tentu saja marah juga melihat sikap Yo Ko ini. Syukur setelah terjadi ribut2, dari samping seorang tua telah memisah, kemudian orang tua ini menunjuk ke satu jalanan kecil yang menuju jurusan timur sambil berkata pada Yo Ko:
“Tadi malam aku melihat satu gadis secantik bidadari menuju ke arah timur. Tadinya aku menyangka dia itu Koan-im-po-sat (Budha Satwa) yang menjelma, siapa tahu dia kenalan baik saudara...”
Mendengar kabar ini, tanpa menunggu orang selesai bicara, Iekas Yo Ko menghaturkan terima-kasih terus memburu ke jalan kecil menurut arah yang ditunjuk itu. Tetapi begitu dia mungkur, orang banyak tertawa ramai. Kiranya karena kelakuan Yo Ko yang tak punya sopan santun, maka orang tua tadi sengaja mempermainkan dia.
Namun Yo Ko sama sekali tak tahu kalau dirinya telah didustai orang, ia masih memburu ke jurusan itu dengan cepat. Lewat tidak lama kemudian, tiba-tiba di depan terdapat simpang jalan tiga jurusan, ia menjadi bingung ke arah mana harus dia tempuh.
“Biasanya Kokoh tak suka tempat ramai, tentu dia pilih jalanan kecil yang sepi,” demikian Yo Ko pikir sendiri, habis ini lantas dipilihnya jalanan kecil yang membelok ke kiri.
Siapa duga jalanan kecil ini makin Iama semakin lebar dan sesudah menikung beberapa kali, akhirnya malah menembus ke satu jalan raya. Waktu itu hari sudah magrib, Yo Ko sendiri sudah sehari semalam tak makan tak minum, perutnya sudah keruyukan. Dilihatnya di depan sana rumah berderet dan gedung berjajar, nyata ada satu kota yang cukup ramai.
Cepat Yo Ko menuju ke kota dan masuk sebuah hotel (pada umumnya hotel merangkap restoran), lalu dia menggembor minta disediakan daharan. Tidak lama pelayan sudah mengantar santapan sederhana ke hadapan Yo Ko, tetapi baru beberapa kali sumpitan saja anak muda ini tidak punya napsu makan lagi. Karena merasa kesal, tenggorokannya menjadi seret dan tak bisa menelan.
“Meski hari sudah mulai gelap, tetapi lebih baik lekas aku pergi mencari Kokoh saja. Bila malam ini dibiarkan lewat, selanjutnya mungkin sukar bertemu lagi,” demikian pikir Yo Ko. Oleh karenanya segera ia menaruh mangkok nasinya dan memanggil pelayan.
“Aku ingin tanya kau, pelayan,” kata anak muda ini sesudah petugas itu datang.
“Boleh saja, tuan, katakanlah! Apakah karena santapan ini tidak cocok dengan lidah tuan, biarlah hamba buatkan yang lain, tuan suka masakan apakah?” demikian sahut si pelayan mencerocos.
“Tidak, aku tidak maksudkan makanan,” kata Yo Ko sambil goyang tangannya. “Tapi aku ingin tanya, apakah kau melihat seorang gadis jelita berbaju putih lewat di sini?”
“Berbaju putih?” si pelayan menggumam sendiri “He, apakah nona itu sedang berkabung? Ada keluarganya yang meninggal, bukan?”
Demikianlah si pelayan mencerocos tak keruan dan menyimpang dari pertanyaan orang, Keruan Yo Ko sangat mendongkol.
“Aku hanya tanya kau, lihat atau tidak?” mengulanginya lagi.
“Wanita sih memang ada, juga pakai baju putih.”
“Dan menuju ke arah mana?” tanya Yo Ko cepat dan girang.
“Tetapi sudah hampir setengah hari dia lewat tadi!” sahut pelayan itu. Kemudian dia perlahankan suaranya seperti kuatir didengar orang, lalu menyambung lagi: “Adalah lebih baik jangan pergi mencari dia!”
Merasa mendapatkan jejak sang Kokoh yang dicari, dalam girangnya Yo Ko terkejut pula mendengar perkataan orang itu.
“Se... sebab apa?” tanyanya dengan suara rada gemetar.
“Coba aku tanya dahulu, tuan tahu bahwa wanita itu pandai silat?” mendadak pelayan itu bertanya.
“Mengapa aku tidak tahu?” demikian Yo Ko membatin. Maka dengan cepat ia menjawab: “Sudah tentu tahu, dia memang pandai silat.”
“Nah, kalau begitu untuk apa kau mencari dia? Bukankah ini sangat berbahaya?” kata si pelayan pula.
“Sebab apakah sebenarnya?” Yo Ko menjadi bingung.
“Coba terangkan dulu, pernah apakah gadis baju putih itu dengan tuan?” tanya si pelayan.
Yo Ko mengerti kalau tidak sekadar menerangkan, agaknya orang tidak mau ceritakan ke mana perginya Siao-liong-li, maka terpaksa ia menjawab:
“Ia adalah Enci-ku, aku sedang mencari dia.”
Mendengar jawaban ini, seketika pelayan itu berubah sangat hormat pada Yo Ko. Tetapi hanya sekejap saja, sebab segera si pelayan meng-geleng kepala.
“Tidak, tidak sama!” katanya tiba-tiba.
Bukan main mendongkolnya Yo Ko oleh kelakuan sang pelayan. Saking gopohnya, sekali jamberet dia cengkeram baju orang.
“Sebenarnya kau mau katakan tidak?” bentaknya marah.
Melihat Yo Ko naik darah, mendadak si pelayan me-leletkamnIidahnya.
“Persis, persis! Kalau begini baru sama!” demikian katanya.
“Kurang ajar, apa-apaan ini sebentar sama sebentar tidak sama, apa maksudmu?” damperat Yo Ko.
“Le... lepaskan dulu, siauya (tuan muda), leherku tercekik... he-he-he... aku tak bisa buka suara,” sahut si pelayan dengan suara ter-putus-putus.
Melihat rupa orang dasarnya memang ceriwis, percuma saja meski pun pakai kekerasan, maka Yo Ko lantas lepaskan tangannya.
“Siauya,” tutur si pelayan kemudian sesudah berdehem beberapa kali. “Aku bilang tidak sama, soalnya karena perempuan... ehh..., Enci-mu itu, tampaknya lebih cakap dan lebih muda dari pada kau, pantasnya dia mirip adikmu dan bukan kakak. Lalu aku bilang sama, sebab kalian berdua sama-sama berwatak keras, sama-sama memiliki tabiat suka angkat senjata dan main kepalan.”
Yo Ko tertawa oleh cerita itu. “Apakah Enci-ku berkelahi dengan orang?” tanyanya kemudian.
“Betapa tidak?” sahut pelayan itu, “Tidak hanya berkelahi, bahkan sudah melukai orang. Coba lihat itu!” Berbareng dia menunjuk beberapa bekas bacokan senjata tajam di bawah meja, kemudian dengan muka ber-seri ia sambung pula: “Walau kejadian tadi itu sangat berbahaya, memang kepandaian Enci-mu sangat hebat, hanya sekali tebas saja sebelah kuping Toya (tuan imam) itu lantas kena diirisnya.”
“Apa katamu? Toya apa?” tanya Yo Ko terkejut.
“Ya, dia itu...” baru berkata sampai di sini, se-konyong-konyong muka si pelayan berubah hebat, seketika ia mengkeret terus ngeluyur pergi.
Yo Ko memang cerdik luar biasa. Melihat kelakuan pelayan tadi, ia tak menegur juga tak menyusulnya, sebaliknya dia angkat mangkok nasinya tadi terus menyumpit daharannya lagi. Pada saat lain, terlihatlah olehnya ada dua Tojin muda masuk ke dalam hotel. Usia kedua imam ini kira-kira 26-27 tahun saja, jubah pertapaan mereka bersih dan rajin sekali. Mereka ambil tempat duduk pada meja di samping Yo Ko, lalu imam yang beralis tebal panjang tiada hentinya berteriak mendesak diantari arak dan daharan.
Dengan muka ber-seri si pelayan lekas-lekas meladeni kedua tetamunya itu. Pada suatu kesempatan ia mengedipi matanya pada Yo Ko sambil mulutnya merot-merot ke jurusan kedua imam itu.
Yo Ko pura-pura tidak tahu, ia masih terus menyumpit santapannya dengan asyik. Kini dia betul-betul merasa lapar, apa lagi kabar Siao-liong-Ii sudah diperolehnya, hatinya menjadi lega dan gembira sekali. Maka tanpa terasa beberapa kali isi mangkoknya telah ditambah dan dilangsir ke dalam perutnya.
GADIS BERBAJU PUTIH YANG KEJAM
Baiknya pakaian Yo Ko memang sederhana, apa lagi sudah sehari semalam ia menyusul Siao-liong-li sehingga seluruh badannya penuh debu dan mukanya kotor. Oleh karena itu kedua imam tadi sama sekali tidak perhatikan dirinya melainkan asyik ber-cakap sendiri dengan suara perlahan.
Sebaliknya Yo Ko semakin pura-pura. Ia kecap mulutnya dan mainkan lidahnya, dia sengaja makan begitu rupa hingga mengeluarkan suara keras, kemudian dia angkat semangkok wedang panas dan diseruput dengan bernapsu, akan tetapi telinganya dia pasang, mendengarkan apa yang sedang dipercakapkan kedua Tojin atau imam itu.
“Bi-sute, menurut pendapatmu, malam ini Han-cecu dan Tan-lokunsu bakal datang tidak?” demikian ia dengar imam yang beralis tebal tadi berkata.
Imam satunya lagi bermulut Iebar, suaranya kasar serak ketika terdengar dia menjawab: “Kedua orang ini adalah laki-laki gagah perkasa yang bersahabat kental dengan Thio-susiok. Kalau Thio-susiok sudah mengundangnya, tidak boleh tidak mereka pasti akan datang.”
Hati Yo Ko terkesiap ketika mendengar orang menyinggung nama ‘Thio-susiok’. Pikirnya dalam hati: “Jangan2 Thio-susiok yang mereka maksudkan adalah guruku yang dulu, Thio Ci-keng?”
Ia jadi curiga kenapa kedua imam ini belum pernah dilihatnya di Tiong-yang-kiong. Ketika ia melirik dan mengamat-amati orang, ternyata tiada yang dia kenal.
“Boleh jadi karena jauhnya perjalanan, dia tidak keburu datang,” demikian imam alis tebal tadi berkata lagi.
“Ki-suheng, kau ini memang suka takut ini dan kuatir itu,” demikian sahut imam she Bi tadi, “Hanya seorang perempuan saja, berapa besarkah kemampuannya?”
“Ya, sudahlah, mari minum, jangan dibicarakan lagi,” begitulah imam she Ki memotong.
Kemudian ia memanggil pelayan hotel dan minta disediakan satu kamar kelas satu, nyata mereka juga bermalam di sini.
Sementara itu Yo Ko sedang memikirkan isi percakapan dua imam tadi. Ia dapat meraba tentu orang bermaksud mencari seteru dengan Suhu-nya, mungkin disebabkan ada kawan kecundang, maka ‘Thio-susiok’ tampil ke muka untuk mengundang seorang she Han dan seorang she Tan sebagai bala bantuan. Kalau terus kintil kedua imam ini, tentu akan bisa bertemu dengan Suhu.
Berpikir akan hal ini, hati Yo Ko menjadi gembira sekali. Sudah jelas dua imam ini adalah musuh gurunya, tetapi dengan petunjuk mereka nanti akan menemukan sang guru, maka terhadap mereka tiada timbul perasaan benci. Dia tunggu sampai kedua imam itu masuk kamar, kemudian dia sendiri minta disediakan sebuah kamar di sebelah kamar imam-imam itu.
“Siauya, kau ber-hati-hatilah. Enci-mu telah mengiris kuping seorang Toya, tentu mereka akan menuntut balas,” demikian si pelayan membisiki Yo Ko pada saat datang ke kamarnya membawakan lampu.
“Sungguh aku tidak mengerti. Enci-ku biasanya sangat sabar, kenapa mendadak dia bisa mengiris kuping orang?” kata Yo Ko dengan suara lirih.
“Terhadap kau tentu saja dia baik, tetapi terhadap orang lain mungkin tidak,” kata si pelayan pula dengan suara yang di-bikin-bikin. “Enci-mu tadi sedang bersantap di sini dan Toya yang sial itu duduk di sebelahnya. Hanya disebabkan Toya itu melirik beberapa kali pada kaki Enci-mu, siapa tahu Enci-mu lantas naik darah terus loloskan senjata dan melabrak orang.”
BegituIah si pelayan mencerocos terus, dan masih hendak dilanjutkan, namun Yo Ko sudah mendengar lampu di kamar sebelah telah disirapkan, maka cepat ia memberi tanda agar si pelayan tidak perlu bercerita lagi.
“Kurang ajar, tentu imam busuk itu terus-terusan mengincar Kokoh karena kecantikannya sehingga akhirnya Kokoh menjadi marah,” demikian Yo Ko menggerutu sendiri sesudah pelayan itu pergi.
Kemudian segera dia pun padamkan lampu. Malam ini dia memang tidak ingin tidur lagi, dia hanya duduk sambil pasang kuping baik-baik untuk mengikuti segala gerak-gerik di kamar sebelah.
BegituIah Yo Ko berjaga hingga tengah malam. Tiba-tiba didengarnya pelataran luar bersuara keresek dua kali, menyusul seperti ada orang meloncat masuk ke bagian dalam melintasi pagar tembok. Habis itu jendela kamar sebelah terdengar dibuka dan imam yang she Ki itu membuka suara:
“Apakah Han dan Tan berdua?”
“Ya,” terdengar suara sahutan seorang yang berada di pelataran sana.
“Silakan masuk!” demikian kata imam she Ki lagi.
Menyusul pintu kamar perlahan dibuka, lampu dinyalakan pula. Tentu saja Yo Ko amat tertarik. Ia kumpulkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan percakapan mereka berempat.
“Tecu Ki Jing-hi dan Bi Jing-hian memberi hormat kepada Han-cecu dan Tan-lokunso,” terdengar imam she Ki bersuara pula.
Mendengar nama kedua imam itu, diam-diam Yo Ko membatin: “Ternyata mereka bukan orang dari Tiong-yang-kiong, tapi nama mereka memakai urutan Jing, maka mereka juga terhitung orang dari Coan-cin-pay.”
“Begitu menerima undangan Thio-susiok kalian, segera kami memburu kesini,” terdengar suara sahutan yang tajam. “Apakah betul perempuan hina itu sangat sulit dilawan?”
“Sungguh memalukan bila diceritakan,” demikian kata Ki Jing-si lagi, “Dari golongan kami sudah ada dua anak murid yang ber-turut-turut dilukai perempuan hina-dina itu.”
“Sebenarnya dari aliran manakah ilmu silat perempuan itu?” tanya orang yang bersuara tajam tadi.
“Thio-susiok bilang dia adalah ahli waris dari Ko-bong-pay, oleh sebab itu, meski usianya masih muda, namun kepandaiannya sungguh sangat hebat,” sahut Ki Jing-si.
Yo Ko menjengek demi mendengar orang menyebut “Ko-bong-pay”.
“Ko-bong-pay apakah?” rupanya orang yang bersuara tajam itu tidak mengerti.
“Menurut Thio-susiok, orang dari golongan mereka selamanya jarang sekali berkecimpung di dunia Kangouw, karena itu nama mereka tidak terkenal dalam Bu-lim, pantas kalau Han-cecu tidak kenal,” demikian sahut Ki Jing-si.
“Oh, kalau begitu, agaknya tidak perlu dipandang berat,” kata orang yang dipanggil Han-cecu itu. “Dan di mana besok harus bertemu? Pihak lawan mendatangkan berapa orang?”
“Thio-susiok sudah janji dengan wanita itu untuk bertemu besok lohor di lembah Cay-long-kok yang 40 li jauhnya dari sini ke jurusan barat, di situlah kedua pihak akan menentukan siapa yang unggul dan siapa yang asor,” Ki Jing-si menjelaskan. “Soal di pihak lawan ada berapa orang, aku tidak tahu. Tetapi kalau sudah ada Han-cecu dan Tan-lokunsu yang membantu kami, tak perlu lagi kita takut meski mereka berkawan banyak.”
Lalu terdengar suara seorang tua berkata: “Baiklah kalau begitu, besok tepat lohor kami pasti datang. Marilah kita pergi, Han-laute.”
Lalu Ki Jing-si mengantar tetamunya keluar kamar. Ketika sampai di depan pintu, dengan suara bisik-bisik terdengar ia pesan orang:
“Tempat ini tak jauh dari Tiong-yang-kiong, urusan kita akan bertanding dengan orang sekali-kali jangan sampai diketahui Ma, Khu dan Ong (maksudnya Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it). Kalau sampai ketahuan, pasti kita akan didamperat.”
Han-cecu bergelak tawa oleh pesan itu. “Kalian takut pada Ma Giok dan Khu Ju-ki imam-imam tua itu, tetapi sebaliknya kami tidak berada di bawah perintahnya,” demikian katanya.
“Sudahlah, kau tidak usah kuatir,” demikian Tan-lokunsu menyelak, “pasti kami tidak akan membocorkan rahasia ini.”
Mendengar percakapan terakhir mereka ini, diam-diam Yo Ko membatin, kiranya mereka hendak keroyok Kokoh dan para imam tua sebangsa Ma Giok tiada yang mengetahui. Meski Yo Ko tidak berkesan baik pada Coan-cin-kau, tetapi bila mengingat Ma Giok dan Khu Ju-ki toh tidak jelek juga terhadap dirinya, karenanya terhadap kedua imam tua itu dia tidak menyimpan dendam, hanya kepada Hek Tay-thong yang membinasakan Sun-popoh itulah dia telah ambil keputusan kelak pasti akan menuntut balas.
Sementara itu keempat orang yang di luar sesudah berunding dengan suara perlahan lagi, kemudian Han-cecu dan Tan-lokunsu pergi dengan melompati pagar tembok lagi, Ki Jing-si dan Bi Jing-hian mengantar juga keluar, keadaan menjadi sepi.
Tiba-tiba pikiran Yo Ko tergerak, segera ia buka pintu perlahan, dengan cepat ia menyelinap masuk kamar kedua imam di sebelah itu. Ia lihat di atas pembaringan kamar tergeletak dua buntalan. Dia ambil satu bungkusan itu dan merogoh isinya, kiranya di dalam ada uang perak sekitar 20 tahil.
“Ha, kebetulan, memang aku sedang kekurangan duit,” demikian pikir Yo Ko, lalu dia pindahkan uang perak itu ke dalam sakunya sendiri.
Ia lihat bungkusan lain yang rada panjang, kiranya berisi dua batang pedang. Sengaja Yo Ko melolos pedang itu satu per satu dan dengan tekanan tenaga berat ia patahkan garan pedang lalu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dan dibungkus lagi dengan rapi. Selagi dia hendak keluar kembali, pikirannya tergerak pula, dia lepas kolor dan buka celana terus kencingi kasur di kolong selimut kedua imam itu hingga basah kuyup.
Sementara itu dia dengar di luar ada suara orang melompati pagar. Dia tahu tentu kedua imam itu telah kembali, dapat diketahuinya pula bahwa ilmu entengkan tubuh kedua imam itu ternyata biasa saja, sebab tidak mampu dengan sekali lompat melintasi pagar tembok, melainkan harus tancapkan kaki dahulu di atas pagar untuk kemudian baru loncat turun.
Lekas Yo Ko menyelusup kembali ke kamarnya sendiri. Ia tutup pintu kamarnya dengan perlahan, nyata sama sekali kedua imam itu tidak merasa bahwa mereka sedang diincar orang. Setelah berada di kamarnya sendiri, Yo Ko pasang kuping ke dinding kamar untuk mendengarkan gerak-gerik dan suara apa yang bakal terjadi di kamar sebelah. Ia dengar kedua imam itu masih berembuk dengan suara rendah, agaknya mereka cukup yakin bakal menang akan pertarungan besok, maka sembari bicara mereka pun buka baju dan naik ke.
Akan tetapi baru saja Bi Jing-hian memasukkan kakinya ke dalam selimut, mendadak dia berteriak:
“He, apa ini basah becek di dalam selimut? Aih, baunya! He, Ki-suheng, sudah tua, kenapa kau masih ngompol?”
“Apa? Ngompol?” sahut Ki Jing-si bingung, tetapi segera pula ia sendiri ikut berteriak: “He, ya, dari manakah kucing keparat yang kencing di sini?”
“Kencing kucing mana bisa begini banyak,” ujar Bi Jing-hian.
“Ya, memang aneh,” kata Ki Jing-sin, kemudian tiba-tiba ia berteriak pula: “He, di manakah uang perak kita?”
BegituIah seluruh kamar menjadi geger dan kacau-balau, kedua imam ini sibuk mencari uang perak mereka. Sudah tentu mereka tidak bakal menemukannya.
Diam-diam Yo Ko sangat senang dan merasa geli, sementara itu dia dengar Bi Jing-hian sedang berteriak-teriak lagi.
“He, pelayan, pelayan! Apakah hotelmu ini hotel perampok, mengapa tengah malam buta mencuri uang tamu?”
Karena suara ribut ini, pelayan hotel datang menanyakan sambil masih kucek matanya yang sepat. Tanpa ter-duga segera Bi Jing-hian pegang baju dada si pelayan dan menuduh hotel ini adalah hotel perampok, kenapa malam-malam menggasak uang tetamu.
Tentu saja si pelayan tak mau terima tuduhan itu, lalu terdengar dia berteriak penasaran. Dengan sendirinya pegawai hotel lainnya dimulai dari tukang api sampai pada kuasa hotel lantas terjaga semua dari tidur mereka dan merubung datang, menyusul pula para tetamu lain pun be-runtun ikut terbangun dan be-ramai datang menonton keributan itu. Dan di antara mereka terdapat pula si nakal, Yo Ko.
Begitulah dengan menahan perasaan geli Yo Ko melihat pelayan hotel itu sedang ‘main pidato’. Dasar pelayan ini memang ceriwis lagi pula pandai bicara, maka Bi Jing-hian dan Ki Jing-si berdua terdesak oleh debatannya hingga tak sanggup berkata lagi.
Dari malu Bi Jing-hian menjadi marah, begitu ayun tangannya, kontan ia persen si pelayan dengan sekali tamparan. Keruan pelayan itu menjadi kalap, tanpa pikir lagi dia menubruk maju hendak adu jiwa. Tapi sebelum dia datang dekat, menyusul kaki Bi Jing-hian sudah melayang, dia tambahi si pelayan dengan sekali tendangan hingga pelayan itu terjungkal.
Melihat imam ini tanpa sebab memukul orang, keruan pegawai hotel lainnya sama solider, mereka berteriak dan be-ramai merangsak maju hendak mengeroyok. Sudah tentu beberapa orang yang tak masuk hitungan ini bukan tandingan kedua imam itu. Hanya dalam waktu sekejap saja, baik kuasa hotel, tukang api dan Iain-lainnya mendapat hajaran.
Yo Ko girang sekali menyaksikan peristiwa hasil perbuatannya itu. Dengan geli ia kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur lagi, ia tidak pusingkan apa yang terjadi lebih lanjut dari lelakon di luar itu.
Besoknya, pada waktu Yo Ko sarapan pagi, dilihatnya si pelayan yang ceriwis itu sedang mendatangi dan menyapa kepadanya. Mukanya terlihat babak-belur dan hidung bengkak, meski pun demikian toh pelayan ini masih tiada hentinya mencaci maki tentang kejadian tadi malam.
“Mana kedua imam bangsat itu?” dengan tertawa Yo Ko bertanya.
“Hm, memang imam bangsat keparat, sudah memukul orang, masih gegares dan tinggal gratis, sesudah itu lantas angkat kaki,” demikian kata si pelayan dengan marah. “Hmm, hari ini pasti akan kulaporkan ke Tiong-yang-kiong. Biasanya imam-imam di Cong-lam-san ini semuanya sopan-santun, entah dari mana mendadak bisa muncul imam bangsat liar seperti mereka ini.”
Yo Ko tidak tertarik lagi dengan obrolan orang, segera ia bereskan rekening hotel sambil menanyakan jalan yang menuju ke Cay-long-kok atau lembah srigala, dan kesanalah dia lantas pergi. Tidak berapa lama Yo Ko telah menempuh perjalanan sejauh dua puluhan li, Cay-long-kok atau ‘lembah srigala’ itu sudah tidak jauh lagi di depan. Cuaca waktu itu agaknya masih pagi, maka keadaan sepi-sepi saja.
“Biarlah aku sembunyi dulu dan menyaksikan cara bagaimana Kokoh bereskan kawanan pengganas itu, paling baik kalau Kokoh seketika tak bisa mengenali aku,” demikian Yo Ko berpikir.
Segera pula teringat olehnya tempo hari pernah menyamar sebagai anak gunung dan dia telah berhasil mengingusi Ang Ling-po. Teringat akan ini hati Yo Ko menjadi geli, ia ambil keputusan hendak meniru cara itu sekali lagi.
Segera dia mendatangi satu rumah petani, ia longak-longok ke sana ke sini, tiada seorang pun yang dia lihat. Di kandang hewan di belakang rumah itu ia lihat ada seekor sapi jantan yang besar yang rupanya sedang mengamuk, binatang ini tundukkan kepala dan gunakan tanduknya untuk menyongkel serta menumbuk pagar kayu yang melingkarinya, begitu keras tumbukannya hingga terdengar suara gedubrakan yang tiada hentinya.
Nampak adanya sapi jantan besar ini, Yo Ko mendapatkan satu pikiran. “He, kenapa aku tidak menyamar sebagai penggembala sapi saja, biar Kokoh melihat diriku juga pasti tak mengenal aku lagi.” demikian keputusannya.
Begitulah Yo Ko lantas melompat masuk ke dalam rumah. Ia cari barang lain yang sekiranya cocok baginya, akhirnya dapatlah dia ambil sepasang baju petani yang sudah robek, ia ganti pakai sepatu rumput pula dan poles mukanya dengan lumpur agar terlihat kotor dan lebih mirip bocah angon, kemudian ia mendekati kandang sapi tadi.


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar