ads

Minggu, 13 Juni 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 07

Oleh karena itulah Siao-Iiong-li merasa apa yang dikemukakan Yo Ko tadi masuk di akal juga, Segera ia memanjat ke atas pohon dan memandang sekelilingnya, ia lihat semua penjuru sunyi senyap belaka, yang terdengar hanyalah suara mata air yang gemercik dan berkicaunya burung, namun tidak kelihatan satu pun bayangan manusia. Nyata tempat ini memang satu tempat yang sangat bagus untuk berlatih ilmu.

“Bagus sekali tempat ini, beruntung kau bisa mendapatkannya. Baiklah, malam nanti kita datang ke sini mulai berlatih,” demikian katanya kemudian.

Tentang penuntun dasar Giok-li-sim-keng itu Siao-liong-li sudah apal sekali, maka tanpa kesulitan dia ajarkan kepada Yo Ko. Malamnya antara pukul sebelas mereka lantas mendatangi semak bunga yang sangat lebat itu.

Di tengah malam sunyi, bau harum bunga lebih terasa. Mereka berdua mengambil tempat sendiri-sendiri, mereka melepas baju dan berlatih Giok-li-sim-keng. Yo Ko ulur tangan kanannya melalui semak dan saling menempel dengan telapak tangan Siao-liong-li, dengan demikian kalau salah seorang mengalami kesulitan dalam latihan itu, segera pihak yang lain akan terasa dan segera kumpulkan tenaga buat membantunya.

Sejak itulah malam hari mereka anggap sebagai siang hari dan tekun berlatih, malam hari latihan di semak bunga dan siangnya mengaso di dalam kuburan kuno. Tatkala itu justru musim panas, tentu saja menjadi lebih segar dan nyaman menggunakan malam hari untuk berlatih, maka lebih dua bulan dengan cepat sudah berlalu tanpa terjadi sesuatu.

Giok-li-sim-keng seluruhnya terbagi dalam sembilan bagian. Malam itu Siao-liong-li sudah melatihnya hingga bagian ke tujuh. Menurut kitab Giok-Ii-sim-keng itu, yang menjalankan tenaga pada bagian hitungan yang ganjil adalah ‘lm-cin’ atau perempuan yang aktip, tetapi sebaliknya apa bila jatuh angka genap maka yang menjalankan tenaga adalah ‘Yang-dwe’ atau laki-laki yang pasip. Waktu itu Siao-liong-li sudah sampai bagian ke tujuh, sedang Yo Ko sampai bagian ke enam.

Dalam pada itu, dengan dialingi semak bunga mereka berdua sedang tekun menjalankan tenaga dalam sehingga seluruh badan mereka panas beruap. Bunga yang mekar itu se-akan tergarang, keruan harumnya semakin semerbak.

Sementara itu rembulan kelihatan sudah berada di tengah cakrawala, lewat setengah jam lagi latihan kedua orang bagian ke tujuh dan ke enam dengan segera akan selesai. Pada saat itu juga se-konyong-konyong dari belakang sana terdengar suara kumandang orang berjalan, terdengar pula ada dua orang sedang bicara.

Apa yang dilatih Yo Ko pada waktu itu adalah ‘Yang-dwe’ atau bagian yang pasip, maka se-waktu-waktu ia boleh berhenti latihannya, sebaliknya Siao-liong-li tidak bisa demikian karena yang dilatihnya waktu itu adalah aktip, bila terdapat gangguan, maka akan timbul bahaya besar.

Karena waktu itu Siao-liong-li sedang berlatih sampai titik yang penting, maka terhadap suara tindakan dan bicara orang sama sekali dia tidak mendengarkan. Sebaliknya Yo Ko sudah mendengar dengan jelas, dalam hati ia heran sekali, Iekas ia atur pernapasannya dan berhenti Iatihan.

Sementara itu ia mendengar kedua orang yang bercakap itu makin mendekat, suaranya kedengaran sudah dikenalnya. Waktu Yo Ko pasang telinga lebih cermat, kiranya kedua orang itu adalah gurunya: Thio Ci-keng dan In Ci-peng adanya. Suara pembicaraan kedua orang itu semakin menjadi keras, nyata sekali mereka sedang bertengkar.

“ln-sute,” demikian terdengar Thio Ci-keng berkata, “meski kau mungkir lagi juga percuma. Biarlah kulaporkan Khu-supek dan terserah dia untuk memeriksanya sendiri.”

“Dengan sengaja kau mendesak diriku, apakah tujuanmu sesungguhnya?” terdengar In Ci-peng menjawab dengan gusar, “Apa kau sangka aku tidak tahu, bukankah karena kau ingin menjadi murid pertama dari angkatan ketiga? Dengan begitu kelak kau bisa menjadi ciangbunjin kita?”

“Kau sendiri tidak patuh pada peraturan suci ini, sudah melanggar larangan besar agama kita, mana bisa kau menjadi murid pertama lagi dari angkatan ketiga kita?” sahut Thio Ci-keng dengan tertawa dingin.

“Larangan besar apa yang kulanggar?” terdengar In Ci-peng mendebat.

“Larangan ke-4 Coan-cin-kau kita, yaitu berjinah!” bentak Ci-keng dengan suara keras.

Yo Ko coba mengintip dari tempat persembunyiannya. Dia melihat kedua imam itu berdiri berhadapan, muka In Ci-peng terlihat pucat.

“Berjinah apa maksudmu?” demikian terdengar Ci-peng menjawab dengan suara berat, sambil mengucapkan kata-kata ini tangannya meraba pedangnya.

“Sejak kau melihat Siao-liong-li dari Hoat-su-jin-bong, bukankah setiap hari kau selalu tak bersemangat? Siang-malam kau selalu mengenangkan wajahnya, dalam hatimu entah sudah beratus kali atau mungkin ribuan kali ingin sekali memeluk Siao-liong-li untuk dirayu dan dicumbu,” demikian sahut Ci-keng. “Justru agama kita mengutamakan latihan batin, kini hatimu menyeleweng berpikirnya, apa itu bukan melanggar pantangan berjinah?”

Terhadap Siao-liong-li yang menjadi gurunya boleh dikatakan Yo Ko menghormat tiada taranya. Ia pandang gurunya se-akan dewi kayangan saja. Kini mendengar percakapan kedua imam Coan-cin-kau ini, keruan luar biasa marah dan dendamnya, walau pun tidak begitu dipahami apa artinya ‘dirayu dan dicumbu’ seperti apa yang dikatakan Thio Ci-keng tadi, tapi ia yakin tentu perbuatan yang busuk. Sementara ia dengar In Ci-peng telah mendebat lagi dengan suara rada gemetar.

“Ngaco-belo, sampai apa yang kupikirkan dalam hati kau pun mengetahuinya?” demikian sahutnya.

“Hm, apa yang kau pikirkan sudah tentu aku tidak tahu, tetapi waktu kau mengigau dalam tidur, apakah tidak mungkin didengar orang lain?” kata Ci-keng dengan suara mengejek. “Dan bolak-balik kau menuliskan nama Siao-liong-li di atas kertas, kau robek kertasnya lalu tulis lagi, apakah perbuatan ini pun tidak bisa diketahui orang lain?”

Karena isi hatinya kena betul dikatai, seketika muka In Ci-peng menjadi lebih pucat lagi, ia bungkam dan tidak bisa mendebat pula. Di lain pihak rupanya Thio Ci-keng jadi mendapat angin. Dengan berseri-seri ia keluarkan selembar kertas putih yang kemudian dibeberkan di hadapan Ci-peng.

“Lihat ini, apa ini bukan tulisanmu?” katanya, “Nah, biarlah kita serahkan pada Ma-supek dan gurumu sendiri Khu-supek untuk mengenalinya.”

Karena kata-kata yang lebih mirip ancaman ini, Ci-peng menjadi tak tahan lagi, dengan cepat pedangnya dilolos terus menusuk ke ulu hati orang. Namun dengan sedikit mengegos Ci-keng bisa menghindarkan serangan itu, ia masukkan kembali kertas tadi ke dalam bajunya.

“Hm, kau ingin membunuh aku untuk menghilangkan saksi bukan?” ejeknya lagi dengan tertawa dingin. “Tetapi rasanya tidak begitu gampang.” Ci-peng tidak buka suara puIa, be-runtun ia menusuk tiga kali lagi secepat kilat, namun setiap serangannya selalu dapat dihindarkan Ci-keng. Sampai jurus ke empat, mendadak terdengar suara “trang” yang nyaring, Ci-keng telah lolos senjata juga, maka bertempurlah kedua saudara seperguruan itu dengan serunya di samping semak bunga dan di bawah sinar bulan yang terang.

Ci-keng dan Ci-peng sama-sama tergolong murid pandai Coan-cin-kau angkatan ketiga. Yang satu murid utama Ong Ju-it dan yang lainnya murid pertama Khu Ju-ki, ilmu silat mereka sebenarnya sama kuatnya. Tetapi In Ci-peng terus menerus merangsak dengan mati-matian, sebaliknya Thio Ci-keng kadang-kadang menyelingi pula kata-kata ejekan di tengah pertarungan sengit itu dengan maksud membikin marah lawannya agar terjadi kesalahan.

Waktu itu Yo Ko sendiri sudah mempelajari semua Kiam-hoat dari Coan-cin-kau, maka demi menyaksikan pertarungan sengit dua imam ini, ia lihat setiap tipu yang dikeluarkan meski banyak sekali perubahannya, akan tetapi setiap gerakan selalu dalam dugaannya, Karenanya ia pikir apa yang Kokoh (Siao-liong-li) ajarkan itu ternyata tidak salah.

Sementara itu kedua orang itu sudah saling labrak beberapa puluh jurus lagi, tiap-tiap tipu yang dilontarkan In Ci-peng semuanya adalah tipu serangan, maka berulang kali Thio Ci-keng terpaksa harus menggeser langkah.

“Hmm, apa yang aku bisa, kau pun bisa semua, begitu pula apa yang kau bisa, aku pun sudah seluruhnya bisa, kini kau hendak membunuh aku, jangan kau harap selama hidup ini,” demikian Ci-keng mengejek pula.

Dan memang nyata penjagaannya terlalu rapat hingga meski In Ci-peng sudah berusaha menyerangnya dari segala jurusan yang dianggapnya lemah, tapi selalu dapat dipatahkan oleh Ci-keng. Tidak lama kemudian kedua orang itu menggeser ke dekat semak di mana Siao-liong-li berada. Keruan Yo Ko terkejut sekali.

TERLUKA PARAH DALAM BERLATIH

“Kurang ajar, kalau kedua imam bangsat ini saling labrak sampai di samping Kokoh, tentu keadaan bisa runyam!” demikian pikirnya, Oleh karenanya ia lantas ber-siap-siap.

Dalam pada itu mendadak Thio Ci-keng melakukan serangan balasan sehingga Ci-peng kena didesak mundur. Dia merangsek maju tiga kali, be-runtun Ci-peng pun mundur tiga langkah.

Yo Ko merasa girang karena jarak mereka semakin menjauh dari tempat gurunya. Di luar dugaan, mendadak In Ci-peng menyerang lagi. Ia pindahkan pedang ke tangan kiri lantas tangan kanannya se-konyong-konyong memukul ke depan mengarah dada orang.

“Sekali pun kau punya tiga tangan, paling banter kau hanya pandai mencuri perempuan, tidak akan kau bisa membunuh diriku,” dengan tertawa Thio Ci-keng menyindir lagi, habis ini ia angkat tangannya buat menangkis.

BegituIah kembali mereka saling labrak terlebih seru dan lebih sengit dari pada tadi. Sementara Siao-Iiong-Ii masih tekun berlatih, terhadap semua kejadian di luar tetap ia tak mau tahu dan tidak mau meIihatnya. Sebaliknya Yo Ko melihat kedua orang yang lagi saling labrak itu mendekat, dalam hati ia lantas kuatir, tetapi bila mana mereka menggeser pergi lagi, ia menjadi lega pula.

Sampai akhirnya, mendadak Ci-peng membentak dengan murka, kemudian dia merangsek maju dengan kalap, dia tidak hiraukan lagi serangan lawan, dia sendiri merangsek dengan hebat.

Melihat Ci-peng sudah nekat, diam-diam Ci-keng mengeluh. Dia tahu kedudukan Ci-peng memang sulit, dan dia lebih suka ditusuk mati olehnya dari pada rahasianya yang diam-diam mencintai gadis orang disiarkan. Meski pun biasanya Ci-keng tidak akur dengan Ci-peng, tetapi sebenarnya tiada maksud buat bunuh orang, karenanya, dengan perubahan Ci-peng yang menjadi nekat, seketika ia sendiri terdesak di bawah angin.

Setelah berapa jurus berlangsung pula, tiba-tiba Ci-peng membuka serangan lagi, pedangnya menusuk cepat berbareng tangannya yang lain menghantam, bahkan ia tambahi lagi dengan menyapu dengan sebelah kakinya. Inilah tipu serangan ‘sam-lian-hoan’ (serangan mata-rantai tiga) yang lihay.

Untuk menghindari, lekas Ci-keng meloncat ke atas berbareng pedangnya memotong ke bawah. Namun Ci-peng lebih lihay lagi, se-konyong-konyong pedangnya ditimpukkan sekeras-kerasnya, menyusul ini kedua tangannya dipukulkan berbareng sekaligus.

Menyaksikan beberapa kali serangan yang mendebarkan hati ini, mau tak mau Yo Ko ikut berkeringat dingin. Dia melihat tubuh Ci-keng waktu itu masih terapung di udara, mungkin pukulan Ci-peng yang hebat itu akan bikin tulangnya patah dan ototnya putus.

Namun Thio Ci-keng benar-benar tidak malu sebagai jago utama anak murid angkatan ke tiga Coan-cin-pay. Dalam saat yang sangat kepepet dan luar biasa bahayanya, tiba-tiba saja dia berjumpalitan di udara terus mencelat mundur sejauh beberapa tombak, lalu dengan enteng dia turun ke bawah.

Menurunnya ini bukan soal, tetapi tempat di mana dia akan tancapkan kaki justru tempat sembunyinya Siao-Iiong-li, biar pun tidak persis akan menjatuhi kepala orang, namun bila sampai terjatuh ke semak bunga itu, sedikitnya tubuh Siao-liong-li yang telanjang bulat sedang berlatih ilmu Giok-Ii-sim-keng itu pasti akan kelihatan di bawah sinar cahaya bulan.

Karena ituIah, luar biasa kaget Yo Ko. Tanpa pikir lagi cepat ia meloncat ke atas, sebelah tangannya dia ulurkan untuk menyanggah punggung Thio Ci-keng, lalu dengan gerak tipu ‘Say-cu-bau-kiu’ (singa melempar bola), dengan kuat dia kipatkan ke samping, maka tidak ampun lagi tubuh Thio Ci-peng yang besar terlempar sejauh lebih tiga tombak.

Tetapi sewaktu turunnya kembali, Yo Ko sendiri tanpa sengaja sebelah kakinya menginjak setangkai bunga. Oleh karena tergoyangnya tangkai bunga yang sedikit mentul itu, maka separoh tubuh Siao-liong-li bagian atas sekilas berkelebat di bawah sinar bulan yang terang.

Meski tangkai bunga itu dengan cepat dapat merapat kembali, tapi karena itu Siao-liong-li jadi kaget, seketika keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, sesaat pernapasannya jadi terganggu hingga tak bisa dihempas keluar dari perut, maka jatuhlah dia semaput.

Ketika melihat Yo Ko mendadak unjuk diri dan sekilas melihat nona yang diidam-idamkan siang dan malam itu tahu-tahu ternyata bersembunyi di antara semak bunga itu, sesaat In Ci-peng jadi terkesima. Dia ternganga ragu, apa yang dilihatnya itu entah sungguh-sungguh atau khayalan belaka.

Sementara itu Thio Ci-keng sudah sempat tancapkan kakinya ke bawah. Sebagai seorang ahli silat, dengan sendirinya pandangan matanya sangat tajam sekali, meski dalam jarak sejauh beberapa tombak, namun sekilas dia sudah dapat melihat juga wajah Siao-liong-li.

“Bagus, bagus! Kiranya dia sedang main gila dengan laki-laki di sini,” demikian segera dia berteriak.

Keruan Yo Ko menjadi marah. “Kalian dua imam busuk jangan coba-coba lari, sekembaliku nanti akan kubikin perhitungan dengan kalian,” dengan suara geram segera ia membentak.

Berbareng itu cepat ia sambar celananya sendiri dan dipakai, lalu ia jemput juga pakaian Siao-liong-li dengan maksud hendak menyerahkan kepadanya.

“lni pakailah dulu, Kokoh!” serunya-sambil mengangsurkan pakaian Siao-liong-li itu.

Akan tetapi ditunggu-tunggu masih juga tidak terdengar suara jawaban, juga orang tidak angsurkan tangan untuk menerima baju itu. Waktu dia berpaling, di antara semak yang remang itu dia melihat Siao-liong-li sudah menggeletak roboh.

Tiba-tiba teringat olehnya Siao-liong-li pernah pesan wanti-wanti bahwa di waktu latihan harus menjaga diri sepenuh tenaganya, sekali pun hanya ditubruk atau diterjang seekor kelinci saja pasti akan mengakibatkan mala petaka.

Kini dia kaget oleh peristiwa tadi, tentu tidak kecil bahaya yang menimpa gurunya ini. Keruan Yo Ko gugup dan kuatir, lekas ia jereng baju orang lalu dikemulkan pada badan Siao-liong-li. Waktu Yo Ko meraba jidatnya, ia merasa dingin sekali seperti es, maka lekas ia sambar pula bajunya sendiri lalu bungkus rapat seluruh tubuh Siao-liong-li dan dipondongnya.

“Kokoh, kau tidak apa-apa, bukan?” demikian ia bertanya dengan kuatir.

Terdengarlah suara sahutan Siao-liong-li yang sangat lemah, lalu nona ini tidak membuka suara lagi. Namun demikian, sedikit lega juga hati Yo Ko.

“Mari kita pulang dulu, Kokoh,” kata Yo Ko pula, “Nanti aku datang lagi untuk membunuh kedua imam bangsat ini.”

Akan tetapi seluruh badan Siao-liong-li ternyata lemas tak bertenaga sedikit pun, ia hanya meggelendot dalam pelukan Yo Ko. Maka berjalanlah Yo Ko dengan langkah lebar melalui samping kedua imam Coan-cin-kau itu.

Ternyata In Ci-peng masih terpesona dengan berdiri menjublek di tempatnya, sebaliknya Thio Ci-keng lantas tertawa ter-bahak-bahak.

“Ha-ha-ha, In-sute, jantung hatimu itu telanjang bulat sedang melakukan perbuatan yang tidak tahu malu dengan orang lain di sini. Dari pada kau hendak bunuh aku, tidakkah lebih baik kau bunuh saja dia (maksudnya Yo Ko)!” demikian ia berolok-olok.

Namun In Ci-peng pura-pura tidak mendengar. Dia tidak menggubris dan tetap bungkam. Mendengar kata-kata “perbuatan yang tidak tahu malu” yang diucapkan Thio Ci-keng tadi, meski Yo Ko masih hijau pelonco dan tidak paham apa maksud orang sebenarnya, tetapi ia yakin pasti kata caci-maki yang sangat keji. Maka ia naik darah juga.

Dalam marahnya ia letakkan Siao-liong-li di tanah, ia biarkan gurunya ini bersandar pada satu batang pohon dan betulkan bajunya yang membungkus tubuhnya, lalu dengan menjemput setangkai kayu segera ia mendekati Ci-keng.

“Kau membacot apa tadi?” damperatnya segera sambil menuding dengan kayunya.

Semula sebenarnya Ci-keng tidak tahu bahwa laki-laki yang berada bersama dengan Siao-liong-li itu ialah Yo Ko, sebab sudah lewat dua tahun, tubuh Yo Ko sudah tumbuh menjadi jejaka cakap. Sekarang sesudah Yo Ko bersuara untuk kedua kalinya, lagi pula mukanya menghadap ke arah sinar bulan, maka tampak jelas olehnya bahwa orang ini ternyata adalah muridnya sendiri. Tadi waktu dirinya sedang terapung di udara malah kena dibanting pergi olehnya, keruan ia menjadi malu tercampur marah.

“Ha, Yo Ko, kiranya kau si binatang cilik ini!” segera ia membentak memaki.

“Hm, kau mencaci maki aku tidak mengapa, tetapi mengapa kau memaki juga aku punya Kokoh?” jawab Yo Ko.

Namun kembali Ci-keng bergelak tertawa. “Ha-ha, orang bilang Ko-bong-pay turun-temurun hanya kepada wanita dan tidak menurun kepada pria, katanya tiap-tiap murid suci bersih tetap perawan, siapa tahu secara diam-diam berbuat begini kotor dan rendah, mengeram anak laki-laki dan melakukan perbuatan terkutuk secara blak-blakan di tempat terbuka seperti ini!” demikian ia ber-olok dan memfitnah pula.

Belum lagi Yo Ko paham maksud kata-kata orang, saat itu juga Siao-Iiong-li baru siuman kembali, demi mendengar fitnahan kotor itu, dalam marahnya napasnya yang telah teratur kembali itu tiba-tiba terasa sesak lagi di dada. Dia tahu dalam dirinya telah terluka parah, tapi tetap saja ia mendamperat:

“Tutup bacotmu, kami tidak...”

Belum sempat kata-kata-nya habis, mendadak darah segar menyembur dari mulutnya seperti pancuran air. Kaget sekali Yo Ko dan In Ci-peng, keduanya memburu maju serentak.

“Kenapa kau?” tanya Ci-peng. Lalu dia membungkuk dengan maksud hendak memeriksa keadaan Siao-liong-li.

Tetapi Yo Ko menyangka Ci-peng bermaksud jahat, tanpa pikir dia ayun tangannya terus menghantam dada orang. Sudah tentu In Ci-peng tak mau tinggal diam, ia mengangkat tangannya buat menangkis, Tak terduga, setiap gerak tipu serangan Coan-cin-kau boleh dikata semua telah dipahami oleh Yo Ko, maka begitu telapak tangannya membalik, seketika itu tangan Ci-peng malah kena terpegang. Segera Yo Ko mendorong sambil tiba-tiba dilepaskan, kontan Ci-peng kena disengkelit pergi.

Kalau soal ilmu silat sejati sebenarnya Yo Ko belum lebih unggul dari pada Ci-peng, cuma dulu sewaktu Lim Tiao-eng menciptakan ilmu silatnya yang khusus buat mematahkan tipu serangan silat Coan-cin-kau, setiap gerakan dan setiap tipu melulu hanya dipergunakan untuk melawan Coan-cin-pay. Lagi pula sejak ciptaannya ini berhasil selama itu belum pernah dipergunakan, maka anak murid Coan-cin-kau selama itu juga belum tahu bahwa di jagat ini ternyata ada semacam kepandaian yang khusus dapat mengalahkan ilmu silat mereka.

Kini kepandaian luar biasa itu mendadak dikeluarkan Yo Ko, sudah tentu In Ci-peng tidak mampu bertahan, walau pun ia tidak sampai jatuh terjengkang, akan tetapi tubuhnya telah terlempar sejauh beberapa tombak hingga kini berdiri sejajar dengan Thio Ci-keng.

“Sudahlah, tak perlu kau gubris mereka, Kokoh, biar aku pondong kau pulang dahulu,” Yo Ko berkata.

“Tidak… tidak bisa,” sahut Siao-liong-Ii dengan napas memburu, “kau bunuh saja mereka, supaya... supaya mereka tidak bisa siarkan di luaran bahwa... bahwa kita...”

“Baiklah,” kata Yo Ko tanpa menunggu perintah lagi, Segera dia angkat tangkai kayunya tadi, sekali bergerak, segera dia tutulkan ke dada Thio Ci-keng.

Sudah tentu Ci-keng tidak pandang sebelah mata pada Yo Ko, pedangnya lalu bergerak, segera ia bermaksud memotong tangkai kayu orang. Tanpa terduga Kiam-hoat Ko-bong-pay yang dimainkan Yo Ko ini justru merupakan lawan keras yang tiada bandingnya dari Coan-cin-kiam-hoat. Begitu Yo Ko sedikit sendal ujung kayunya, se-konyong-konyong tangkai kayu itu seperti dapat melengkung dan tahu-tahu menerobos lewat terus menutul Hiat-to pergelangan tangan Ci-keng.

Begitu cepat serangan ini hingga tiba-tiba Ci-keng merasakan tangannya kesemutan, ia mengeluh. Dalam pada itu serangan susulan Yo Ko telah dilontarkan kembali, sekali ini telapak tangan kirinya hendak menempeleng pipinya. Gerak tempelengan ini caranya ternyata sangat aneh, yakni tahu-tahu datang dari jurusan yang tak ter-sangka-sangka. Jika Ci-keng ingin pertahankan pedangnya, maka dia harus terima ditempeleng mentah-mentah, sebaliknya kalau mau berkelit, maka pedangnya tidak boleh tidak harus terlepas dari tangan.

Namun ilmu silat Ci-keng sudah terlatih cukup sempurna, meski berada dalam kedudukan berbahaya, sedikit pun ia tidak jadi bingung. Ia lepas tangan buang pedang, berbareng itu kepala menunduk menghindarkan pukulan, bahkan menyusul tangan kirinya terus diulur maju, dalam sekejap ia bermaksud merebut kembali pedangnya yang dia lepaskan itu.

Akan tetapi lagi-lagi tak terduga bahwa beberapa puluh tahun yang lalu Lim Tiao-eng yang menciptakan ilmu silat yang lihay itu juga telah memperhitungkan lebih dulu akan adanya perubahan gerakan ini, terhadap segala kemungkinan perubahan tipu lihay dari Coan-cin-pay, semuanya sudah dia atur cara untuk melayaninya.

Dengan tipu serangan balasan untuk merebut kembali pedangnya, Thio Ci-keng mengira bisa merubah kalah menjadi menang. Tapi sama sekali tak diduganya bahwa Yo Ko dan Siao-liong-Ii justru telah apal dengan cara untuk mematahkan tipunya ini. Hanya melihat tangannya bergerak segera Yo Ko tahu ke mana Ci-keng hendak mengarah, maka segera ia mendahului, dengan pedang yang dapat direbutnya dari Ci-keng itu ia menebas tangan lawan.

Keruan saja tidak kepalang kaget Ci-keng, lekas ia menarik kembali tangannya. Walau pun demikian, namun sudah terlambat juga, tahu-tahu ujung pedang Yo Ko sudah menempel pada dadanya.

“Rebah!” bentak Yo Ko sambil kaki menjegal.

Karena tempat berbahaya sudah terancam, Thio Ci-keng jadi tidak bisa berkutik, apa lagi ditambahi pula dengan terjegal kakinya. Tanpa ampun lagi ia jatuh terlentang. Dengan segera pula Yo Ko mengangkat pedangnya terus menusuk ke perut orang. Namun di luar dugaan Yo Ko, mendadak dari belakang terdengar suara sambaran angin, nyata ada senjata telah menusuk punggungnya.

“Berani kau membunuh guru sendiri?” terdengar suara bentakan keras In Ci-peng.

Serangannya ini mengarah tempat yang harus dihindari, apa bila Yo Ko tetap meneruskan tusukannya hingga Ci-keng dibinasakan maka ia sendiri pun akan tertembus oleh pedang In Ci-peng. Karena itu, tanpa pikir Yo Ko putar kembali pedangnya buat menangkis, maka terdengarlah suara “trang” yang nyaring, kedua pedang telah saling bentur.

Nampak balikan senjata orang begitu cepat lagi jitu, mau tak mau In Ci-peng memuji juga di dalam hati. Sementara itu tiba-tiba terasakan pula pedangnya sendiri telah kena ditarik pergi seperti melengket dengan senjata orang, dalam kagetnya lekas Ci-peng kumpulkan tenaga dalamnya untuk menarik kembali sekuatnya.

Dengan sendirinya tenaga Ci-peng lebih kuat dibandingkan Yo Ko, maka dengan segera pedang Yo Ko kena ditarik ke jurusan Iain. Di luar dugaan, justru hal ini sengaja dilakukan Yo Ko untuk memancingnya, karena begitu orang menarik, mendadak ia malah lepaskan senjatanya sendiri menyusul dua telapak tangannya dipukulkan berbareng ke dada orang, sedang batang pedangnya juga mental ke depan, dengan begitu serangannya sekaligus datang dari tiga jurusan, yakni kedua telapak tangan dan satu pedang. Dalam keadaan demikian, lebih tinggi lagi ilmu silat In Ci-peng juga sukar hendak menangkis tipu serangan yang aneh luar biasa ini.

Di bawah ancaman elmaut ini, terpaksalah In Ci-peng melepaskan senjatanya sendiri dan menekuk tangannya. Dengan tangan melintang di dada lekas-lekas dia paksakan diri buat menangkis serangan orang yang hebat tadi, tapi karena tangannya tertekuk terlalu rapat sehingga sukar mengeluarkan tenaga besar.

Syukur latihan Yo Ko juga belum mendalam, maka kedua tulang tangannya tidak sampai dipatahkan. Walau pun demikian dadanya terasa sakit sekali karena getaran pukulan itu, juga kedua lengannya pegal linu. Cepat-cepat ia lompat mundur beberapa tindak, dengan mengatur pernapasannya ia coba lindungi Hiat-to penting di dadanya itu. Sementara itu, karena kedua pedang lawan sudah terebut semua olehnya, segera Yo Ko melakukan rangsekan pula.

Hanya dalam beberapa gebrakan saja Ci-keng dan Ci-peng telah dibikin kalang kabut oleh seorang pemuda ‘anak kemarin’. Mereka terperanjat lagi marah, mereka tidak berani ayal lagi. Segera mereka berdiri sejajar, lantas mengeluarkan ilmu menjaga diri saja dan tidak menyerang, tiap-tiap serangan lawan selalu dipatahkan, dengan demikian supaya mereka dapat menyelami sampai di mana kelihayan musuh.

Dengan perubahan siasat ini, kini Yo Ko tak bisa se-mau-maunya lagi seperti tadi. Sekali pun ia bersenjata tapi kedua lawannya bertahan dengan rapat, bagaimana pun ia menyerang tetap tak sanggup menembus pertahanan mereka. Sungguh pun Kiam-hoat Ko-bong-pay diciptakan sebagai penunduk ilmu pedang Coan-cin-kau, tetapi kesatu karena Ci-keng dan Ci-peng jauh lebih ulet dari pada Yo Ko, kedua, mereka bertahan bersama, ketiga, mereka hanya menjaga diri saja dan tak pernah balas menyerang, maka akhirnya Yo Ko berbalik tak berdaya.

Meski kedua pedangnya masih me-layang kian kemari, tapi lambat laun ia sendiri malah terdesak di bawah angin, apa lagi tenaga pukulan Thio Ci-keng termasuk berat dan kuat, maka perlahan-lahan senjata Yo Ko malah kena tertekan ke bawah.

Dalam pada itu Ci-peng sudah dapat menenangkan dirinya. Dia berpikir apa yang akan dikatakan orang bila mengetahui dua orang tua mengerubut seorang anak kecil? Kini tampaknya pihak dirinya telah dalam kedudukan tak terkalahkan, pula sebetulnya hatinya sangat menguatirkan keadaan Siao-liong-li, maka tiba-tiba ia membentak:

“Yo Ko, lekas kau bawa pulang Kokoh-mu saja, untuk apa kau masih terus membabi-buta berkelahi dengan kami?”

“Kokoh benci cara kalian mengoceh tak keruan dan suruh aku membunuh kalian,” jawab Yo Ko.

Mendadak In Ci-peng menghantam hingga pedang kiri Yo Ko terguncang ke samping, berbareng Ci-peng melompat mundur tiga langkah lalu berseru:

“Berhenti dulu!”

“Apa kau ingin kabur?” kata Yo Ko.

“Yo Ko,” jengek In Ci-peng, “kau ingin membunuh kami, memangnya kau mampu? Cuma untuk membuat lega hati Kokoh-mu, biarlah aku berjanji bahwa kejadian hari ini pasti tak akan aku siarkan. Jika sampai kusiarkan sepatah saja segera aku bunuh diri, jika mungkir janji biarlah serupa jari ini.” Sampai di sini mendadak ia menyerobot maju dan merampas sebuah pedang Yo Ko terus menebas kutung dua jari tangan kiri sendiri.

Beberapa gerakan In Ci-peng itu dilakukan dengan cepat luar biasa, maka sedikit pun Yo Ko tidak menduga dan tidak berjaga. Seketika ia menjadi kesima, tapi segera ia pun tahu ucapan In Ci-peng itu memang timbul dari hati yang tulus. Ia pikir untuk mengalahkan Ci-peng berdua memang sulit, lebih baik bunuh saja orang she Thio itu lebih dulu, habis itu barulah membunuh orang she In ini.

Walau pun usia Yo Ko masih muda, tapi pikirannya sangat cerdik, segera ia membentak:

“Orang she In, apa gunanya kau mengutungi jari tanganmu, kalau kau penggal kepalamu sendiri barulah tuanmu mau percaya padamu.”

Ci-peng menjawab dengan menyeringai: “Menghendaki jiwaku, he-he, boleh juga asalkan Kokoh-mu membuka suara sepatah kata saja.”

“Baik!” kata Yo Ko sambil melangkah maju, tapi mendadak pedangnya sudah menusuk ke belakang mengarah dada Thio Ci-keng. Tipu serangan ini lihay luar biasa!

Saat itu Ci-keng lagi mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian, sama sekali tidak menduga akan diserang secara mendadak. Ketika dia sudah menyadari apa yang terjadi, namun ujung pedang telah menempel pada ulu hatinya. Di sini tertampak juga betapa hebatnya kepandaian Ci-keng, sebisanya ia menarik napas sehingga perutnya seakan-akan mendekuk dua-tiga senti ke dalam, berbareng itu sebelah kakinya terus menendang. Dalam keadaan kepepet ternyata dia bisa mengubah keadaan menjadi kemenangan, pedang Yo Ko tertendang terbang ke udara.

Tetapi Yo Ko juga tidak kalah lihaynya. Sebelum kaki orang tertarik mundur, cepat ia totok Hiat-to dengkul musuh dengan tepat. Meski Ci-keng berhasil menyelamatkan jiwanya, tapi ia tidak sanggup berdiri lagi, dengan sebelah kaki ia bertekuk lutut di depan Yo Ko. Pada saat lain Yo Ko sempat menangkap kembali pedang yang mencelat ke udara tadi, lalu dengan ujung pedang itu ia tuding tenggorokan Ci-keng dan membentak:

“Aku pernah mengangkat dan menyembah padamu, tetapi sekarang kau bukan lagi guruku, lekas kau menyembah kembali padaku!”

Sungguh tidak kepalang gusar Ci-keng hingga mukanya menjadi merah padam. Ketika Yo Ko sedikit menekan pedangnya, ujung pedang lantas menusuk masuk satu senti ke dalam daging lehernya dan menimbulkan sakit. Dengan bandel Ci-keng mendamperat:

“Mau bunuh boleh bunuh, untuk apa banyak cakap lagi?”

Baru saja Yo Ko hendak menusukkan pedangnya lebih keras, mendadak terdengar Siao-liong-li berkata:

“Ko-ji, membunuh guru sendiri tidak membawa berkah. Boleh kau suruh dia bersumpah takkan menyiarkan kejadian ini, lalu kau boleh mengampuninya.”

Yo Ko mematuhi ucapan Siao-Iiong-li seperti titah malaikat dewata, tanpa pikir segera dia membentak Ci-keng:

“Nah, lekas kau bersumpah!”

Dalam keadaan demikian, sungguh pun tidak kepalang rasa marah Thio Ci-keng, tapi apa daya, selamatkan jiwa paling perlu. Maka berkatalah dia:

“Asal aku tidak biIang-bilang, buat apa bersumpah segala?”

“Tidak bisa, harus bersumpah berat,” sahut Yo Ko.

Mau tak mau Ci-keng harus menurut. “Baik, kejadian ini hanya kita berempat saja yang tahu. Jika aku sampai mengatakan pada orang ke lima, biarlah badanku sial dan namaku rusak, diusir keluar perguruan dan takkan diampuni sesama orang Bu-lim, akhirnya mati tanpa terampunkan!” demikian sumpahnya kemudian.

Yo Ko dan Siao-liong-li sama-sama belum paham seluk-beluk orang hidup, mereka menyangka orang betul-betul telah bersumpah berat. Sebaliknya In Ci-peng menarik kesimpulan bahwa di antara sumpah itu tersembunyi akal licik. Sebetulnya ia hendak peringatkan Yo Ko, tetapi merasa salah juga, karena tidak baik terang-terangan membantu orang luar.

Sementara ia lihat Yo Ko telah pondong Siao-liong-Ii dan dengan langkah cepat melintasi lereng bukit sana. Saking terkesimanya, meski darah segar dari luka jarinya yang kutung tadi masih mengucur, tak terasakan sakit olehnya.

Di lain pihak, setelah Yo Ko memondong Sao-liong-li kembali ke kuburan kuno mereka, ia letakkan gurunya ini di atas ranjang batu pualam dingin.

“Aku terluka parah, dari mana ada kekuatan melawan hawa dingin itu?” dengan menghela napas Siao-liong-Ii berkata.

Yo Ko bersuara kaget, ia menjadi kuatir, pikirnya diam-diam: “Kiranya luka Kokoh begini berat.”

Karena itu dia lantas memondong Siao-Iiong-li ke bekas kamarnya Sun-popoh. Tapi baru saja Siao-Iiong-li rebah, kembali dia menyemburkan darah segar lagi, tatkala itu Yo Ko masih belum memakai bajunya, keruan seluruh dadanya penuh tersemprot darah.

Siao-liong-li coba pejamkan mata untuk mengatur pernapasan dengan maksud menutup urat nadinya, tapi siapa tahu semakin dia gunakan tenaga dalam, luka pada otot darahnya menjadi semakin hebat, darah segar pun menyembur terus menerus. Sudah tentu Yo Ko kelabakan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, hanya air mata saja yang bercucuran.

“Asal darahku sudah habis keluar, dengan sendirinya pasti akan berhenti, untuk apa kau berduka,” dengan senyum tawar Siao-liong-li coba menghibur padanya.

“Kokoh, jangan kau mati,” kata Yo Ko.

“Ha, kau sendiri takut mati bukan?” kata Siao-liong-li.

“Aku?” tukas Yo Ko bingung.

“Ya, sebab sebelum aku mati, sudah tentu kubunuh kau dahulu,” kata Siao-liong-li pula.

Apa yang dikatakan ini dua tahun yang lalu sudah pernah diucapkannya juga, sebenarnya Yo Ko sudah lama melupakannya, tak dinyana sekarang Siao-liong-li mengulangi kata itu lagi.

“Jika aku tidak membunuh kau, sesudah mati cara bagaimana aku harus menemui Sun-popoh?” kata Siao-liong-li demi melihat muka Yo Ko yang mengunjukkan heran dan kaget. “Dan kau seorang diri hidup di dunia ini, siapa lagi yang akan menjaga kau?”

Pikiran Yo Ko sudah kusut, saking ruwetnya hingga ia tak tahu bagaimana menjawabnya. Sementara itu Siao-liong-li masih terus muntahkan darah, tapi sikapnya ternyata sangat tenang, ia anggap bukan soal apa-apa. Tiba-tiba tergerak kecerdasan Yo Ko, dia ber-lari-lari pergi mengambil semangkok madu tawon lalu dicekokan pada Siao-liong-li.

Khasiat madu tawon itu untuk menyembuhkan luka dalam ternyata amat mujarab. Selang tak lama, Siao-liong-li tidak muntah darah lagi, ia rebah di ranjang dan akhirnya puIas. Melihat gurunya bisa tidur, hati Yo Ko rada lega. Dia sendiri sudah sangat letih, ditambah rasa kuatir pula, sesungguhnya dia pun tak tahan lagi, maka sambil berduduk di lantai, ia bersandar pada dinding dan akhirnya ia pun tertidur.

Entah lewat berapa lama, sampai suatu saat sekonyong-konyong Yo Ko terjaga dari kantuknya karena merasa lehernya sendiri rada dingin. Dalam kagetnya segera ia meleki matanya. Ia sudah beberapa tahun tinggal di dalam kuburan kuno itu, meski dia tak dapat melihat sesuatu benda dalam kegelapan seperti siang hari seperti kepandaian Siao-liong-Ii, tapi untuk mondar-mandir dalam kuburan yang gelap itu sudah tidak memerlukan sinar lampu lagi.

Begitu matanya terpentang, tampaklah olehnya Siao-liong-li duduk di pinggir ranjang, tangannya mencekal pedang dan ujung senjata ini tepat ditudingkan ke tenggorokannya, maka terasa dingin.

“Kokoh!” teriak Yo Ko kaget.

“Ko-ji,” dengan sikap tawar Siao-liong-li berkata padanya, “lukaku ini terang tak akan bisa sembuh, maka sekarang juga kubunuh kau, marilah kita pergi bersama untuk menemui Sun-popoh!”

Sungguh bukan buatan kejut Yo Ko, kembali ia berteriak memanggil: “Kokoh!”

“Dalam hati kau sangat ketakutan, bukan?” Siao-liong-li berkata lagi. “Jangan takut, hanya sekali saja sudah cukup, cepat sekali.”

Tiba-tiba Yo Ko melihat mata Siao-liong-li memancarkan sinar yang aneh, ia tahu dengan segera orang pasti akan turun tangan. Dalam saat demikian, keinginan buat pertahankan hidup menjadi berkobar. Ia pun tidak hiraukan Iain-lain lagi, dengan sekali jatuhkan diri ke samping, kakinya berbareng melayang hendak menendang senjata yang dipegang Siao-liong-Ii.

Siapa tahu meski pun luka Siao-liong-li susah disembuhkan tetapi gerak tangannya masih gesit dan cepat luar biasa, begitu tubuhnya miring sedikit dapatlah ia hindarkan tendangan orang dan kembali ujung pedangnya menuding tenggorokan Yo Ko. Beberapa kali Yo Ko mengganti tipunya untuk meloloskan diri, tetapi setiap gerak tipunya semuanya diperoleh dari petunjuk Siao-liong-li sendiri, sudah tentu ke mana dia hendak pergi selalu dalam dugaannya, pedang Siao-liong-li selalu membayanginya dan tak pernah berjarak lebih jauh dari tiga inci di depan lehernya.

Saking takutnya hingga Yo Ko mandi keringat dingin, diam-diam dia mengeluh: “Celaka, jika hari ini tak bisa menyelamatkan diri, akhirnya aku pasti akan dibunuh Kokoh.”

Karena kepepet, se-konyong-konyong ia angkat kedua tangannya memukul ke depan sekaligus. Ia pikir dalam keadaan terluka tentu Siao-liong-li tak bertenaga dan tentunya kurang kuat untuk mengadu tangan dengan dirinya.

Rupanya Siao-liong-li mengetahui juga maksud tujuannya. Dia hanya sedikit memiringkan tubuh saja dan membiarkan tenaga pukulan itu susul menyusul menyambar lewat di atas pundaknya, habis ini mendadak ia berseru:

“Ko-ji tak perlu kau melawan lagi!”

Berbareng itu mendadak pedang diluruskan, ujung senjata ini tergetar beberapa kali, lalu dengan tipu ‘hun-hoa-hut-liu’ (memisahkan bunga mengebut pohon liu), seperti mengarah ke kiri, tapi tahu-tahu menjurus ke kanan, leher Yo Ko se-konyong-konyong sudah ditempel ujung pedang.

Selagi Siao-liong-li hendak menyorongkan senjatanya ke depan, dengan demikian maka tenggorokan Yo Ko pasti akan tertusuk tembus, di luar dugaan, tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi lemas dan lumpuh.

“Trangg…!”

Terdengar suara nyaring. Pedang jatuh ke lantai, menyusul tubuh Siao-liong-li ikut roboh dan pingsan.

DIBODOHI SI TOLOL

Ketika Siao-liong-li menusukkan pedangnya tadi, Yo Ko telah pejamkan mata menantikan kematian, siapa tahu pada saat yang menentukan itu tiba-tiba Siao-liong-li jatuh pingsan, keruan Yo Ko tertegun. Sungguh boleh dikatakan dia baru lolos dari lubang jarum. Lekas ia merangkak bangun, tanpa hiraukan apa yang bakal terjadi lagi, dengan langkah cepat segera dia berlari keluar kuburan kuno itu.

Begitu kakinya menginjak keluar pintu kuburan, tampaklah olehnya sinar sang surya yang menyilaukan mata, angin meniup sepoi-sepoi, burung berkicauan di atas pohon, nyata bukan lagi suasana yang gelap seram seperti di dalam kuburan kuno tadi. Dalam keadaan masih ber-debar, Yo Ko kuatir kalau-kalau Siao-liong-li mengejarnya dari belakang, maka ia angkat langkah seribu lebih jauh, dengan menggunakan Ginkang ia lari cepat ke bawah gunung.

Kini tenaga dalamnya sudah terlatih kuat dan penuh, biar pun ilmu silatnya belum terlatih sampai puncak kesempurnaan, tapi sudah terhitung jago kelas atasan di kalangan Bu-lim. Dengan cara larinya yang cepat itu, pula di jalan pegunungan yang menurun, dengan sendirinya lebih cepat dari pada menanjak, maka pada lohor itu juga dia sudah sampai di kaki gunung. Melihat Siao-liong-li tidak mengubernya, barulah Yo Ko merasa lega, kini dia baru berani melambatkan langkahnya untuk melanjutkan perjalanan.

Dia jalan dan jalan terus, akhirnya dia merasa lapar, perutnya sudah keroncongan, sudah berkeruyukan. Dia pikir harus mencari rumah penduduk untuk membeli sedikit penganan buat menangsal perut. Tetapi ketika dia merogoh sakunya, nyata duit tak ada, satu mata uang saja tidak gableg. Namun Yo Ko tidak kurang akal. Sudah semenjak kecil dia luntang-Iantung di kalangan Kangouw, kepandaiannya dalam mencari pangan sudah sangat besar. Ketika ia melongok sekitarnya, tampak olehnya di lereng bukit sebelah barat sana banyak tanaman jagung. Segera ia menuju ke sana dan memetik beberapa buah jagung itu.

Jagung itu belum cukup tua, namun sudah dapat dimakan. Yo Ko kumpulkan sedikit kayu kering, tapi baru saja akan menyalakan api buat membakar jagung, tiba-tiba di belakangnya terdengar ada suara keresekan perlahan, nyata ada orang sedang jalan mendekatinya. Lekas-lekas Yo Ko miringkan tubuh dengan maksud mengaling-alingi jagung colongan itu agar tidak dilihat orang apa bila yang datang ini adalah penduduk setempat, tetapi ketika ia melirik, ternyata yang datang ini adalah seorang To-koh yang masih muda jelita. To-koh atau imam wanita ini mengenakan jubah kuning langsat, langkahnya enteng dan gayanya manis seperti bidadari yang baru turun dari kayangan.

Yo Ko melirik lebih jauh. Dia melihat di punggung To-koh itu terselip dua batang pedang, gagang senjata yang bertali sutera warna merah darah itu menambah kecantikan si To-koh, jelas sekali To-koh ini pandai ilmu silat. Yo Ko pikir tentu orang ini adalah imam yang hendak naik ke Tiong-yang-kiong, dan besar kemungkinan adalah murid Jing-ceng Sanjin Bun Put-ji, imam wanita satu-satunya dari Coan-cin-chit-cu.

Karena Yo Ko tak ingin mencari onar, maka ia sengaja menundukkan kepala dan kembali menyalakan api. Sesudah dekat di samping Yo Ko, mendadak To-koh itu berhenti.

“Eh, adik cilik, mana jalannya kalau hendak naik ke atas gunung?” tiba-tiba ia bertanya.

“Aneh,” Yo Ko merasa heran, “Jika perempuan ini adalah anak murid Coan-cin-kau, mengapa dia tidak kenal jalan ke atas gunung? Hah, tentu dia tidak mengandung maksud baik!”

Karena itu tanpa menoleh ia menunjuk ke atas gunung sambil menjawab: “lkut saja jalan besar ini terus ke atas.”

Melihat baju Yo Ko compang-camping dan berjongkok di pinggir jalan sedang membakar jagung, To-koh itu mengira Yo Ko adalah anak petani. Biasanya To-koh ini sangat bangga dengan kecantikannya sendiri, laki-laki mana saja bila meIihat dia pasti akan terpesona hingga mata tak berkedip. Tapi pemuda desa ini ternyata hanya melirik sekali saja padanya kemudian tidak memandang buat kedua kalinya, nyata kecantikannya dianggap seperti rupa wanita pegunungan saja. Diam-diam To-koh itu rada mendongkol. Akan tetapi segera ia berpikir pula: “Ahh, orang desa semacam ini tahu apa?”

Karena itu, ia lantas membuka suara lagi: “He, berdirilah, aku ingin bertanya padamu.”

Tetapi Yo Ko sudah terlanjur berpikir jelek terhadap semua orang Coan-cin-kau, maka dia tidak mau menggubrisnya lagi, dia pura-pura tuli dan berlagak bisu.

“Hei, anak tolol, apa yang kukatakan kau dengar tidak?” To-koh itu bertanya lagi.

“Dengar, cuma aku malas berdiri,” sahut Yo Ko.

Karena jawaban ini To-koh itu tertawa geli. “He, lihatlah ke sini! Ini, lihat dulu padaku, akulah yang suruh kau berdiri!” dengan tertawa merdu ia berkata lagi.

Suara ucapannya ini begitu halus dan genit pula, rasanya manis lagi berminyak. Keruan mau tak mau hati Yo Ko terkesiap, “He, mengapa suara wanita ini begitu aneh,” demikian ia membatin.

Lalu dia mendongak dan tertampak olehnya wanita ini berkulit putih bersih, kedua pipinya bersemu merah, sinar matanya bening dan sedang memandang mesra kepadanya. Yo Ko menunduk lagi untuk menyalakan api pembakaran jagungnya. Demi nampak muka Yo Ko yang masih hijau, sudah melihat dirinya untuk kedua kalinya tapi hatinya tetap tak terguncang sedikit pun, maka bukannya marah, sebaliknya si To-koh tertawa geli.

“Eh, kiranya anak yang masih pelonco, kebetulan dapat kuperalat dia sebagai pembantu,” demikian pikirnya.

Karena pikiran ini, dari dalam bajunya segera dia mengeluarkan dua renceng uang perak dan sengaja di-kocok hingga menerbitkan suara gemerincing yang nyaring, dengan uang perak ini ia coba mengiming-imingi Yo Ko.

“Adik cilik, asal kau turut perkataanku, dua renceng perak ini segera kuberikan padamu,” katanya kemudian.

Yo Ko sangat cerdik. Sesungguhnya dia tidak ingin cari penyakit, tetapi demi mendengar kata orang semakin aneh, akhirnya ia tertarik juga dan ingin tahu cara bagaimana orang akan perlakukan dirinya, maka sekilas ia sengaja pura-pura tolol dan berlagak bodoh, dengan rasa tercengang ia pandang kedua renceng perak itu.

“Eh, barang mengkilap ini apa namanya?” dengan sikap dungu ia sengaja bertanya.

Kembali To-koh itu tertawa geli oleh kebodohan ‘anak udik’ ini. “lni adalah uang perak,” sahutnya kemudian. “Kau ingin pakaian baru, ingin ayam goreng, ingin nasi liwet, semuanya dapat dibeli dengan ini!”

“Ah, kembali kau dustai aku lagi, aku tidak percaya,” kata Yo Ko dengan air muka seperti orang linglung.

“Kapankah pernah aku mendustai kau?” sahut imam wanita itu dengan tertawa pula, “He, siapa namamu?”

“Aku bernama Sah Thio (Thio si tolol), apa kau belum kenal?” jawab Yo Ko dengan nama palsunya, “Dan kau sendiri bernama siapa?”

“Ah, tak usah tanya, panggil saja Sian-koh (bibi dewi),” sahut si To-koh. “Di mana ibumu?”

“Buat apa kau menanyakan ibuku?” Yo Ko balik bertanya. “Dia sedang mencari kayu di atas gunung.”

“Ha, kebetulan aku pun hendak naik ke atas gunung,” kata To-koh itu. “Pakaianku ini tidak baik dipakai ke sana, pergilah kau mengambilkan baju ibumu dan pinjamkan padaku!”

Luar biasa heran Yo Ko oleh kelakuan orang. Tetapi pada lahirnya ia unjuk muka tololnya semakin mirip, ber-ulang ia gelengkan kepala oleh bujukan orang tadi.

“Tidak, aku tidak berani mencuri baju ibu, nanti aku pasti akan dihajar, kalau menghajar, ibuku menggunakan palang pintu,” sahutnya dengan lagak lucu.

“Begitu melihat uang perak ini ibumu pasti akan kegirangan, tentu kau tak akan dipentung lagi,” ujar si To-koh dengan tertawa.

Berbareng itu, sekali tangannya bergerak, serenceng uang perak itu segera ia lemparkan kepada Yo Ko.

Yo Ko ulur tangannya buat menangkap, tetapi dia sengaja membiarkan rencengan perak itu tertimpuk pada pundaknya dan jatuh ke bawah membentur sebelah kakinya.

“Aduh kau pukul aku,” dia berteriak-teriak sambil memegang sebelah kaki yang tertimpuk uang perak itu dan dengan sebelah kaki yang lain ia ber-jingkrak, pura-pura kesakitan. “Akan aku adukan kepada ibuku!”

Habis ini, sambil masih menjerit-jerit, uang perak itu dia tinggalkan terus lari pergi dengan cepat. Nampak kelakuan orang yang tolol lucu itu, si To-koh tersenyum geli. Tiba-tiba dia lepaskan ikat pinggangnya yang terbikin dari kain sutera, kemudian dengan sekali mengebas, ikat pinggang disabetkan hingga menggubet sebelah kaki Yo Ko terus diseret kembali.

Begitu mendengar suara ikat pinggang menyambar, kemudian merasakan tenaga tarikan yang menggulung kakinya itu, seketika Yo Ko menjadi terkejut. “He, gaya ini terang sekali adalah ilmu dari golongan Ko-bong-pay kami, apa dia ini bukan imam dari Coan-cin-pay?” ia bertanya dalam hati.

Oleh karena itu, ia sengaja lemaskan badannya, ia membiarkan dirinya diseret kembali si To-koh, hanya dalam hati dia bertambah waspada dan bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan,

“Dia hendak naik ke atas gunung, apa tujuannya hendak memusuhi Kokoh?” demikian dia membatin pula.

Bila teringat olehnya keadaan Siao-liong-li yang waktu itu tidak diketahui mati atau hidup, mau tak mau ia menjadi kuatir dan sedih sekali, segera ia ambil suatu keputusan, sekali pun nanti harus mati di tangan Siao-liong-li, dia bertekad hendak naik lagi ke atas untuk menyambanginya. Pikiran itu sekilas bekerja dalam otaknya, sementara itu tubuhnya sudah kena diseret ke hadapan si To-koh tadi.

Ketika si To-koh melihat muka Yo Ko penuh berlepotan debu, namun toh tidak menutupi wajahnya yang cakap, diam-diam ia berpikir: “Anak gunung ini mukanya ternyata tampan juga, cuma sayang, bantal sulam, isinya jerami belaka.”

Sementara itu ia dengar Yo Ko masih ber-teriak dan mengoceh sendiri tak keruan.

“He, Sah Thio kau cari mampus atau ingin hidup?” dengan tersenyum segera ia menegur, “Sret”, tahu-tahu pedangnya sudah dilolos dan ditudingkan ke dada Yo Ko.

Melihat gerakan tangan orang barusan ini jelas adalah tipu ‘kim-pit-tiam-cu’ (potlot emas menutul titik) yang merupakan ajaran asli Ko-bong-pay, maka Yo Ko tidak ragu lagi.

“Orang ini pasti anak murid Li Bok-chiu Su-pek. Dia hendak naik ke atas gunung mencari Kokoh, tentu tidak bermaksud baik. Jika melihat caranya mengayunkan ikat pinggang dan caranya melolos senjata ini, terang keuletannya masih jauh di atas diriku. Orang ini hanya bisa dimenangkan oleh akal, tetapi tak boleh dilawan dengan kekerasan. Aku harus pura-pura bodoh sampai saat terakhir agar supaya dia sama sekali tidak ber-jaga-jaga,” demikian Yo Ko berpikir.

Oleh karena ancaman orang tadi, dengan mengunjuk rasa takut segera ia memohon: “Jangan... jangan kau bunuh aku, Sian-koh, aku... aku akan menurut perkataanmu!”

“Baiklah, tetapi kalau kau membangkang lagi, ngek, sekali gorok saja aku sembelih kau,” kata si To-koh dengan ketawa sambil memberi contoh dengan pedang menggorok leher.

“Menurut, pasti menurut,” sahut Yo Ko cepat.

Habis itu, sekali menggerakkan tangannya lagi, tahu-tahu To-koh itu telah mengayunkan ikat pinggangnya hingga melilit kembali pinggangnya sendiri. Gayanya sangat manis dan caranya menarik sekali.

“Bagus!” dalam hatinya Yo Ko memuji juga atas kepandaian orang, tetapi wajahnya tidak mengunjuk sesuatu perasaan melainkan masih ber-pura-pura seperti orang linglung.

Sudah tentu hal ini tidak diketahui si To-koh, di dalam hati dia membatin: “Hm, si tolol ini mana mengerti kebagusan kepandaianku tadi? Aku ini seperti sedang main mata dengan orang buta saja.”

“Nah, Sah Thio, lekaslah kau pulang dan ambilkan aku sebuah kampak, aku mau pakai,” demikian katanya kemudian.

Yo Ko menurut. Dia lalu ber-lari menuju ke rumah petani yang tertampak di depan sana. Ia sengaja berjalan lambat, tubuhnya bergoyang-goyang dengan gaya ‘lenggang sampan’, langkahnya berat, kelakuannya amat lucu, tampaknya tepat sekali sebagai seorang yang goblok, mana bisa orang berilmu silat berlaku seperti dia ini?

Menyaksikan orang macam ini, tampaknya si To-koh rada muak. “He, Sah Thio, jangan kau bilang pada orang lain, lekas pergi dan lekas kembali!” serunya pula memesan.

“Ya,” sahut Yo Ko sambil berjalan terus.

Akhirnya tibalah dia di depan pintu rumah petani. Ia longak-longok ke dalam rumah, nyata tidak ada seorang pun penghuninya, mungkin orangnya sedang sibuk bercocok tanam di sawah ladang, maka dengan bebas Yo Ko lalu menyambar sebilah kampak pendek yang biasa dipakai membelah kayu, kemudian dengan lagak ke-tolol-tololan ia berlari kembali Iagi.

Sungguh pun dengan senangnya Yo Ko mempermainkan si To-koh, namun dalam hati dia menguatirkan keselamatan Siao-liong-li, oleh sebab ini, mau tak mau air mukanya terlihat mengunjuk rasa sedih.

“He, Sah Thio, kenapa kau muram durja?” omel si To-koh. “Hayo, lekas ketawa!”

Eh, betul juga Yo Ko lantas menyengir beberapa kali. Tentu saja si To-koh mengkerut alis melihat macamnya itu.

“Mari, ikut aku!” katanya kemudian.

“Tidak, tidak, ibuku sedang menunggu aku untuk makan siang!” seru Yo Ko cepat.

“Kurang ajar,” bentak si To-koh, “berani kau membangkang, segera kusembelih kau!”

Habis berkata, sekali ulur tangannya, segera daun kuping Yo Ko kena dijewer terus ditarik sambil mengancam dengan pedang.

Yo Ko berteriak-teriak kesakitan seperti babi hendak disembelih. “Auuuuh, sakit! baiklah, aku ikut, aku ikut!” teriaknya.

“Orang ini sebodoh kerbau, kebetulan dapat kuperas,” demikian To-koh itu membatin.

Lalu ia tarik lengan baju Yo Ko terus diseret ke atas gunung. Orang yang memiliki ilmu silat, cara jalannya dengan sendirinya sangat cepat. Tetapi Yo Ko justru sengaja berlaku asal-asalan, ia tumbuk sini dan kesandung sana, langkahnya sekali cepat sekali lambat, ia sengaja bikin dirinya ketinggalan di belakang.

Tak lama ia pura-pura tak tahan, ia duduk di atas satu batu di tepi jalan sambil mengusap keringatnya, napasnya ter-engah-engah senin-kemis. Karena kelakuannya ini, dalam gelinya si To-koh ber-ulang mendesaknya supaya segera melanjutkan perjalanan.

“Begitu cepat kau berjalan, mana bisa aku menyusulmu?” sahut Yo Ko.

Akan tetapi karena sang surya sudah mendoyong ke langit barat, hari sudah sore, To-koh itu menjadi tidak sabar Iagi. Segera ia dekati Yo Ko, dipegang lengannya dan ditarik terus berlari cepat ke atas. Tetapi Yo Ko tetap tidak bisa mengikuti tindakan orang yang terlalu cepat, kedua kakinya harus mancal-mancal tak keruan dan tiba-tiba menginjak sebelah kaki si To-koh dengan keras.

“Auuh! Kau cari mampus!” jerit To-koh itu sambil mendamperat.

Dia melihat napas Yo Ko memang sudah senin-kemis dan terlalu payah, segera ia ulurkan tangan kirinya, ia angkat pinggang Yo Ko sambil membentak:

“Naik!”

Maka tangannya merangkul tubuh Yo Ko terus dibawa lari ke atas gunung. Dengan menggunakan Ginkang yang hebat, hanya sekejap saja beberapa li sudah dilalui. Karena tubuhnya dirangkul sebelah tangan orang, maka terasalah oleh Yo Ko punggung sendiri menempel dada orang yang hangat dan empuk, hidungnya tercium pula bau wangi kaum gadis umumnya. Keruan saja Yo Ko kesenangan, sekalian dia menggelendot tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun, dia biarkan dirinya dicangking orang.

Sesudah beberapa li, ketika To-koh itu memandang ke bawah, ia lihat wajah Yo Ko mengunjuk senyuman, tampaknya enak sekali rasanya. Keruan ia mendongkol, begitu tangannya dikendorkan segera Yo Ko terbanting ke tanah.

“Senang ya, kau?” bentak si To-koh.

Karena bantingan ini, Yo Ko me-raba bokongnya sambil ber-teriak kesakitan. Mau tak mau To-koh itu tertawa lagi oleh kelakuan Yo Ko yang tolol lucu itu. Dia merasa dongkol sekaligus geli.

“Kenapa kau begini tolol?” dia mengomel.

“Ya, memang namaku Thio si tolol,” sahut Yo Ko. “Sian-koh, aku she Thio, apakah kau she Sian?”

“Asal kau panggil aku Sian-koh, peduli mau anggap aku she apa,” damperat si To-koh.

Kiranya To-koh atau imam wanita ini memang betul adalah murid pertama Jik-lian-siancu Li Bok-chiu, ia she Ang dan bernama Ling-po. To-koh yang dulu disuruh pergi membunuh seluruh keluarga Liok Lip-ting tapi akhirnya berhasil diusir oleh Bu-samnio, bukan lain ialah Ang Ling-po ini. Tetapi meski Yo Ko ingin menyelidiki namanya, namun sama sekali dia tak mau menerangkan. Begitulah, lalu Ang Ling-po duduk juga di atas satu batu sambil membetulkan rambutnya yang tersebar tertiup angin.

Ketika Yo Ko berpaling dan memandangi orang, mau tak mau ia berkata dalam hati: “To-koh ini terhitung cantik juga, cuma masih belum dapat mengungkuli Kwe-pekbo (bibi Kwe, maksudnya Oey Yong), lebih-lebih tidak bisa menandingi aku punya Kokoh (maksudnya Siao-liong-li).”

Walau pun demikian pendapat Yo Ko, kalau soal kecantikan sebenarnya Oey Yong dan Siao-liong-li boleh dikatakan sukar dibedakan mana yang lebih elok, tetapi lantaran Yo Ko sudah pakai pikiran yang berat sebelah, dengan sendirinya ia merasa Siao-liong-li lebih cantik.

Sementara itu, begitu tahu orang sedang menikmati kecantikannya, Ang Lin-po melerok sekali pada Yo Ko.

“Kenapa kau pandang aku terus, Sah Thio?” dengan tertawa ia bertanya.

“Pandang ya pandang, aku tak tahu, jika kau tak boleh kupandang, baiklah aku tak memandang lagi, siapa yang kepingin lihat?” sahut Yo Ko ke-tolol-tololan.

Ang Ling-po tertawa genit. “Kau mau pandang, nah, pandanglah terus. Ehh, bagaimana aku ini, cantik tidak kelihatannya?” dia bertanya sembari mengeluarkan sebuah sisir emas kecil dan dengan perlahan dia sisir rambutnya yang gombyok indah itu.

“Bagus sih bagus,” sahut Yo Ko, “hanya... hanya...”

“Hanya apa?” sela Ang Ling-po.

“Hanya kurang putih,” kata Yo Ko.

“Sah Thio, kau mencari mampus ya? Berani kau bilang aku kurang putih?” mendadak Ang Ling-po membentak sambil berdiri.

Kiranya selama ini Ang Ling-po paling bangga dengan kulit badannya sendiri yang putih mulus laksana susu. Dia kira di jagat ini pasti tiada bandingannya lagi, siapa tahu Yo Ko berani bilang kulitnya masih kurang putih, keruan dia menjadi sangat marah. Di luar dugaan, meski sudah dibentak, Yo Ko tetap geleng kepala.

“Ya, kurang putih,” sahutnya tegas.

“Lalu siapa yang lebih putih dariku?” tanya Ang Ling-po dengan marah.

“Yang tidur bersama aku setiap malam jauh lebih putih darimu,” kata Yo Ko.

“Siapa dia, binimu atau ibumu?” tanya Ang Ling-po.

“Bukan, semua bukan, tetapi dombaku,” sahut Yo Ko akhirnya.

Mendengar toh bukan manusia lain yang lebih putih dari pada dia, maka dari marah Ang Ling-po berubah tertawa geli.

“Sungguh tolol, manusia mana dapat dibandingkan dengan hewan?” omelnya kemudian, “Ayo, kita berangkat lagi.”

Dia tarik lagi tangan Yo Ko dan diseret ke atas gunung. Pada waktu hampir mendekati jalan yang lurus menuju Tiong-yang-kiong, tiba-tiba Ang Ling-po membelok ke barat dari menuju ke arah Hoat-su-jin-bong.

“He, betul dia hendak mencari Kokoh,” pikir Yo Ko diam-diam.

Selang tak lama kemudian Ang Ling-po lalu mengeluarkan sebuah peta dari bajunya dan berdasarkan peta ini dia mencari jalan.

“Sian-koh,” kata Yo Ko tiba-tiba, “lebih ke depan lagi jalan ini buntu, di rimba sana ada macannya.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Ling-po.

“Ya, di rimba sana ada sebuah kuburan raksasa, dalam kuburan terdapat mayat hidup dan setan gentayangan, siapa pun tidak berani mendekatinya,” sahut Yo Ko.

“Ha, ternyata Hoat-su-jin-bong memang betul ada di sini,” ujar Ang Ling-po girang.

Kiranya belakangan ini Ang Ling-po telah memperoleh ajaran tingkat terakhir dari gurunya, Li Bok-chiu, karena itu ilmu silatnya sudah maju pesat sekali. Setelah membantu gurunya mengalahkan keroyokan kalangan Bu-lim di Soasay, ia sangat bangga diri.

Belakangan dia dengar cerita tentang asal-usul perguruan sendiri dari Li Bok-chiu. Dari itu dia pun tahu bahwa di Hoat-su-jin-bong masih ada kitab rahasia pelajaran ilmu silat kelas wahid, terutama ‘Giok-li-sim-keng’.

Li Bok-chiu memang seorang yang suka jaga gengsi sendiri. Terhadap kejadian-kejadian cara bagaimana ia diusir terbirit keluar dari Hoat-su-jin-bong ketika dirinya mengeluruk lagi ke sana, hal ini sama sekali tak diceritakan kepada sang murid. Karena itu, ketika Ang Ling-po tanya dia kenapa tidak mendatangi kuburan kuno itu untuk mempelajari ilmu silat yang hebat itu, namun selalu Li Bok-chiu menjawabnya dengan samar. Dia bilang tempat kuburan itu sudah diberikan pada Sumoay-nya yang masih muda dan karena kedua saudara seperguruan tidak akur, maka sudah lama tak ada hubungan satu sama lain.

Walau pun begitu, Ang Ling-po selalu menghasut sang guru supaya pergi mengangkangi Hoat-su-jin-bong. Padahal Li Bok-chiu sendiri siang dan malam tak pernah melupakan hal itu, hanya perangkap di dalam kuburan itu belum bisa dia menembusnya, oleh karena itu sampai kini dia masih belum berani sembarang turun tangan. Kini mendengar bujukan sang murid yang begitu bernapsu, dia hanya tersenyum dan tidak menjawab.

Sesudah Ang Ling-po beberapa kali mengemukakan maksudnya namun sang guru tetap tinggal diam, maka ia sendiri pun mulai mengincar. Ia telah menanyakan keadaan dan jalan yang menuju ke kuburan itu, lalu ia sendiri menyiapkan sebuah petanya. Kali ini, pada kesempatan dia diperintah gurunya ke Tiang-an untuk membunuh seorang musuh, sesudah tugasnya selesai, ia menuju ke Cong-lam-san dan di luar dugaan bertemu dengan Yo Ko.

Kalau menurut cerita gurunya, katanya di sekitar kuburan kuno dilingkari tumbuh-tumbuhan lebat sehingga putus hubungan dengan dunia luar. Tetapi dia tidak tahu bahwa sebenarnya Li Bok-chiu belum cerita seluruhnya yang betul, padahal kuburan kuno itu masih ada jalan rahasia lain yang bertembusan dengan dunia luar. Begitulah, dia lantas perintahkan Yo Ko membabat belukar yang merintangi jalan dengan menggunakan kampak curian, dengan cara ini dia mencari jalan menuju Hoat-su-jin-bong.

Sebenarnya Yo Ko sudah cukup apal jalan yang menembus ke kuburan kuno itu. Dengan membabat hutan belukar seperti apa yang dilakukan ini bukan hanya membuang tenaga dan waktu, bahkan berbahaya pula. Tetapi ia pura-pura tidak tahu dan tidak mengerti, Ang Ling-po suruh kerjakan apa, dia lantas lakukan. Sampai akhirnya, cuaca gelap, tapi baru lebih satu li yang mereka tempuh, jaraknya dengan kuburan kuno itu masih sangat jauh.

Karena masih menguatirkan keselamatan Siao-liong-li, maka Yo Ko menjadi tidak sabar. Ia pikir tidakkah lebih baik membawa To-koh ini ke sana dan melihat apa yang hendak dia lakukan. Maka ia mem-babat beberapa kali lagi, sengaja ia mengincar sebuah batu terus mengampak dengan keras. Keruan lelatu api bercipratan, mata kampak itu gumpil.

“Ai, celaka, di sini ada sebuah batu besar, kampaknya rusak, tentu nanti aku bakal dihajar ibuku!” teriak Yo Ko pura-pura takut.

Sesungguhnya Ang Ling-po sendiri sudah tak sabar melihat cara mereka menempuh perjalanan ini. Agaknya malam ini tidak bisa sampai di kuburan kuno itu. Oleh karenanya terus menerus ia rnendamperat:

“ToIol, sungguh tolol!”

“Sian-koh, kau takut setan atau tidak?” Yo Ko bertanya.

“Takut setan?” sahut Ling-po, “Hm, setan yang takut padaku, tahu? Dengan sekali tebas nanti setannya kubikin kutung menjadi dua.”

Yo Ko pura-pura girang oleh jawaban orang. “BetuIkah, Sian-koh? Kau tidak dusta?” tanyanya.

“Buat apa dusta?” ujar Ling-po.

“Baiklah, jika memang kau tak takut setan, segera kubawa kau pergi ke kuburan raksasa itu,” kata Yo Ko. “Cuma kalau setannya keluar, kau harus mengusirnya, ya!”

Girang sekali Ang Ling-po mendengar si tolol mengenal jalan ke kuburan itu. “Kau kenal jalannya? Baiklah, lekas bawa aku ke sana!” sahutnya cepat.

Kuatir orang curiga, Yo Ko sengaja mengoceh lagi. Ia minta Ang Ling-po harus janji akan membunuh setan bila muncul. Karena itu berulang kali Ling-po bersumpah dan menyuruh dia jangan kuatir.

“Beberapa tahun yang lalu.” demikian kata Yo Ko, “aku pernah mengangon dombaku ke samping kuburan raksasa itu. Di sana aku tertidur dan waktu bangun, ternyata telah tengah malam. Dengan mata kepalaku sendiri kulihat satu setan perempuan berbaju putih menongol keluar dari kuburan itu, saking takutnya aku lari hingga di tengah jalan aku jatuh kesandung, kepalaku sampai bocor dan terluka, lihat ini, masih ada bekasnya di sini.”

Sambil bicara Yo Ko sengaja mendekati Ang Ling-po agar orang suka meraba kepalanya, Meski Yo Ko masih pelonco, namun terasa juga badan Ang Ling-po sangat wangi, kalau dapat berdekatan, rasanya sangat sedap dan enak, maka sekarang sengaja dia gunakan kesempatan untuk mengakali orang, kepalanya dimiringkan ke dekat mulut orang.

“Tolol!” sambil tertawa Ang Ling-po mengomel karena kelakuan Yo Ko itu, lalu sekenanya ia meraba kepalanya, tapi tidak terasa ada sesuatu belang bekas luka, namun ia pun tidak pedulikan, segera ia mendesak lagi: “Lekas bawa aku ke sana!”

Maka tanpa bicara lagi Yo Ko menggandeng tangan orang dan diajak keluar dari semak belukar dan memutar menuju jalan yang menembus ke kuburan kuno. Waktu itu sudah dekat tengah malam. Dengan memegangi tangan orang, terasa oleh Yo Ko tangan Ang Ling-po ini sangat halus dan empuk, pula hangat. Yo Ko menjadi heran.

“Kokoh dan dia sama wanita, tapi tangan yang satu kenapa dingin seperti es, sedangkan tangan yang ini begini hangat?” demikian pikirnya tak mengerti.

Karena tidak tahan, tanpa terasa ia gunakan sedikit tenaga dan me-remas tangan orang yang halus itu beberapa kali. Jika orang Bu-lim ada yang berani main gila seperti kelakuan Yo Ko ini, pasti sudah sejak tadi Ang Ling-po lolos pedangnya dan bikin jiwanya melayang. Tetapi, pertama karena dia anggap Yo Ko seorang bebal, lagi pula melihat wajahnya yang tampan dan gagah, dalam hati Ang Ling-po mau tak mau rada suka juga, maka ia pun tidak menjadi marah. Hanya dalam hati ia berpikir: “Si tolol ini ternyata tidak seluruhnya tolol, nyata ia tahu juga akan kecantikanku.”

Dengan membawa orang ke kuburan kuno itu, sekali ini Yo Ko tidak ber-pura-pura lagi, maka tidak berapa lama dia sudah membawa Ang Ling-po sampai di tempat tujuannya.

Pada waktu Yo Ko lari keluar kuburan kuno itu, saking takutnya ia belum sempat menutup kembali pintunya. Kini batu yang dipakai sebagai daun pintu ternyata masih menggeletak di samping dan belum ditutup kembali. Sesaat hati Yo Ko menjadi ber-debar, dia berdoa: “Harap saja Kokoh belum mati, supaya aku bisa berjumpa dengan dia sekali lagi.”

Karena sudah tak sabar, ia tidak permainkan Ang Ling-po lagi. Ia berkata padanya:

“Sian-koh, kubawa kau masuk ke sana untuk bunuh setan, tetapi jangan kau biarkan setannya menelan diriku.” Habis berkata segera ia melangkah duluan ke dalam kuburan yang aneh.

Melihat Yo Ko tiba-tiba menjadi berani, Ling-po merasa heran, pikirnya: “Kenapa si tolol ini mendadak besar nyalinya?”

Tetapi ia pun tak sempat berpikir panjang lagi. Segera ia kintil di belakang Yo Ko, pedang disiapkan di tangan untuk menjaga segala kemungkinan. Dari gurunya Ang Ling-po mendengar, katanya jalan di dalam Hoat-su-jin-bong itu belak-belok dan ber-putar-putar, asal salah jalan satu langkah saja segera jiwa bisa melayang. Tapi tanpa pikir ternyata Yo Ko berani melangkah sesuka hatinya, dengan cepat dia memutar ke timur dan membelok ke barat, di sini ia dorong sebuah pintu dan masuk, nanti dia tarik sebuah batu besar lagi, tampaknya sudah apal luar biasa.

Ang Ling-po mulai curiga, “Jangan-jangan Suhu yang mendustai aku karena kuatir aku masuk ke sini sendiri,” demikian batinnya.

Sementara itu, sekejap saja Yo Ko sudah membawa Ang Ling-po masuk ke kamar Siao-liong-li yang terletak di tengah kuburan. Perlahan Yo Ko mendorong pintu kamar. Ia coba pasang kuping, tapi tak terdengar suara sedikit pun. Sebenarnya ia hendak memanggil Kokoh, tetapi urung ketika teringat olehnya bahwa Ang Ling-po berada di sampingnya. Maka dengan suara perlahan ia berkata padanya:

“Sudah sampai!”

Sekali pun ilmu silat Ang Ling-po tinggi dan nyalinya besar, akan tetapi sesudah berada di tengah kuburan raksasa, betapa pun juga hatinya kebat-kebit. Maka, begitu mendengar perkataan Yo Ko, segera ia ketik batu api dan menyalakan lilin yang berada di atas meja. Kemudian tampaklah olehnya ada seorang gadis berbaju putih sedang rebah tenang tanpa bergerak sedikit pun.

TERKURUNG DI “RUMAH” SENDIRI

Memang sudah diduga olehnya bahwa di dalam kuburan ini dia akan bertemu dengan Susiok atau paman gurunya, Siao-liong-li, tetapi sama sekali tak tersangka Siao-liong-li sedang tidur seenaknya saja di atas ranjangnya se-akan tak gentar dengan bahaya apa yang akan menimpa tidak pandang sebelah mata padanya. Karena itu Ang Ling-po tidak berani asal, ia melintangkan pedangnya di depan dada sebagai penghormatan lalu ia buka suara:

“Tecu Ang Ling-po mohon bertemu Susiok!”

Jantung Yo Ko memukul keras seperti mau melompat keluar dari dadanya. Dengan mulut melongo dia curahkan seluruh perhatiannya untuk melihat gerak-gerik Siao-liong-li, tetapi sedikit pun Siao-liong-li tidak bergerak, sesudah lama sekali baru terdengar dia menyahut dengan suara yang perlahan tetapi orangnya masih rebah menghadap tembok. Sejak Ang Ling-po mulai berkata sampai Siao-liong-li menyahut tadi, selama itu pula Yo Ko menunggu dengan luar biasa gopohnya, ia ingin menubruk maju dan merangkul Suhu-nya buat menangis se-puasnya.

Kemudian sesudah mendengar Siao-liong-li bersuara, barulah hatinya merasa lega seperti sebuah batu besar yang menindih dapat diangkat, dalam girangnya dia tak sanggup menguasai perasaannya lagi, menangislah dia tersedu-sedu. Keruan Ang Ling-po sangat heran.

“He, ada apa, Sah Thio?” dia bertanya.

“Huu... huk... aku takut,” sahut Yo Ko terguguk-guguk.

Sementara itu Siao-liong-li telah berpaling dengan perlahan. “Tidak usah kau takut,” katanya dengan suara lemah, “tadi aku sudah mati satu kali, rasanya sedikit pun tidak menderita.”

Terperanjat sekali Ang Ling-po ketika mendadak melihat wajah Siao-Iiong-li yang begitu cantik tiada taranya, tetapi mukanya pucat lesu tanpa darah, “Ternyata di dunia ini ada wanita sedemikian molek seperti dia ini.” demikian pikirnya. Karenanya seketika ia merasa dirinya sendiri menjadi jelek.

“Tecu Ang Ling-po, menghadap Susiok di sini,” ia berkata lagi.

“Dan di manakah Suci (kakak guru perempuan)? Juga datangkah dia?” dengan perlahan Siao-liong-li bertanya.

“Suhu menyuruh Tecu ke sini duluan untuk menyampaikan salam hormat kepada Susiok,” sahut Ang Ling-po.

“Lekas kau keluar saja. Jangankan kau, sekali pun gurumu tidak diperkenankan masuk ke sini,” ujar Siao-liong-Ii.

Melihat muka Siao-iiong-!i yang mirip orang sakit, pula baju di dadanya penuh noda darah, cara bicaranya pun ter-putus-putus dan napasnya memburu, terang sekali orang terluka parah, keruan Ang Ling-po menjadi berani, seketika lenyaplah sebagian besar rasa kebat-kebitnya tadi.

“Dan di manakah Sun-popoh?” dia coba bertanya lagi.

“Sudah lama dia meninggal, lekas kau keluar saja,” sahut Siao-liong-li.

Ang Ling-po tambah lega demi mendengar Sun-popoh sudah mati, ia girang dan berpikir: “Sungguh kebetulan sekali dan rupanya memang ada jodoh, tak terduga aku Ang Ling-po ternyata bisa menjadi ahli waris Hoat-su-jin-bong ini.”

Tampaknya jiwa Siao-liong-li sudah tinggal sesaat saja, Ang Ling-po kuatir orang tiba-tiba mati sehingga tiada orang Iain lagi yang mengetahui di mana tersimpannya kitab ‘Giok-li-sim-keng’, maka cepat ia buka suara.

“Susiok,” demikian ia memanggil. “Suhu menyuruh Tecu ke sini buat mohon kitab Giok-li-sim-keng. Harap engkau suka serahkan padaku dan Tecu segera mengobati lukamu.”

Selama ini hati Siao-liong-li selalu dalam keadaan tenang tenteram, semua cita-rasanya sudah terbuang jauh dan terlupa, tetapi kini setelah menderita luka, ilmu kepandaian yang dilatihnya ludes semua, hakekatnya ia sudah tak punya kekuatan untuk menguasai perasaan sendiri, maka begitu mendengar apa yang dikatakan Ang Ling-po, dalam gugup dan marahnya, tiba-tiba matanya mendelik terus jatuh pingsan.

Secepat kilat Ang Ling-po memburu maju. Dia pijat sekali ‘Jin-tiong-hiat’ di atas bibir orang, maka secara perlahan Siao-liong-li siuman kembali.

“Kalian guru dan murid lebih baik jangan berpikir yang muluk-muluk, di manakah Suci-ku? Lekas kau suruh dia ke sini, ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadanya,” kata Siao-liong-li kemudian dengan gusar.

Tetapi Ang Ling-po tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, lalu dari bajunya ia keluarkan dua buah jarum perak yang panjang.

“Susiok, kau tentu kenal dengan sepasang jarum ini,” katanya mengancam, “kalau kau tak mau bicara, jangan kau sesalkan jika aku berlaku kurang ajar.”

Melihat orang mendadak unjuk senjata, Yo Ko segera kenal itu adalah Peng-pek-gin-ciam yang pernah dipakai Li Bok-chiu untuk membunuh orang. Ia sendiri tanpa sengaja pernah memegangnya sehingga terkena racunnya yang sangat jahat, maka ia cukup tahu betapa lihaynya jarum perak itu.

Di lain pihak, tentu saja Siao-liong-li lebih kenal lagi bagaimana lihay dan kejinya senjata perguruannya sendiri. Masih mendingan bila orangnya segera mati setelah tertusuk jarum perak berbisa itu, yang paling ngeri jika jarum itu dipakai untuk menggosok beberapa kali di tempat jalan darah yang bisa bikin kaku kesemutan, segera seluruh tubuh orang akan terasa gatal pegal laksana be-ribu semut merubung dan menggigit kian kemari di antara tulang sumsum. Dalam keadaan demikian si penderita itu boleh dikata ingin hidup tak bisa dan minta mati pun tak dapat.

Karena itulah, ketika melihat Ang Ling-po memegang jarum peraknya sambil digerakkan beberapa kali, lalu maju mendekatinya, saking kuatir Siao-Iiong-li jatuh kelengar lagi.

Melihat keadaan sudah genting, Yo Ko tidak bisa tinggal diam lagi, tiba-tiba dia berteriak:

“Sian-koh, di sana ada setan, hiiih, aku takut!”

Sembari berteriak, Yo Ko berlari mendekati orang terus merangkulnya, seketika tangan merangkul punggung orang, segera dia menotok dua kali tempat ‘Ko-ceng-hiat’ dan ‘Jiau-yao-hiat’.

Sungguh di dalam mimpi pun Ang Ling-po tidak pernah menduga bahwa Thio si tolol ini ternyata memiliki kepandaian silat yang tinggi. Selagi dia hendak mendamperat, tahu-tahu seluruh tubuhnya sudah terasa Iumpuh, seketika dia sendiri roboh ke lantai. Kuatir kalau-kalau orang mampu melancarkan jalan darah sendiri, Yo Ko menambahi pula menotok sekali lagi pada tempat ‘ki-kut-hiat’, yakni tulang punggung yang besar. Dengan demikian orang tak akan bisa berkutik lagi.

“Kokoh, perempuan ini sangat jahat, bagaimana kalau aku tusuk dia beberapa kali dengan jarum peraknya, supaya senjata makan tuannya?” dengan ketawa Yo Ko tanya Siao-liong-li.

Sambil berkata betul juga Yo Ko lantas membungkus jari tangannya dengan ujung baju, lalu ia jemput jarum perak Ang Ling-po tadi. Meski badan Ang Ling-po lumpuh tidak bisa berkutik, tetapi setiap perkataan Yo Ko dapat dia dengar dengan terang, apa lagi dia melihat Yo Ko telah menjemput jarumnya tadi dan sambil tertawa sedang memandang kepadanya, keruan tidak kepalang terkejutnya hingga semangat serasa terbang meninggalkan raganya. Dia ingin buka suara minta ampun, namun sayang, mulutnya tak kuasa, terpaksa ia hanya mengunjuk maksud minta ampun melalui sinar matanya yang redup.

“Ko-ji, pergilah kau menutup pintu untuk menjaga supaya Suci tidak dapat masuk kemari,” demikian Siao-liong-li berkata pada Yo Ko.

“Baik,” sahut Yo Ko.

Segera ia hendak melakukan perintah itu. Tetapi baru saja ia putar tubuh, se-konyong-konyong ia di-kejutkan oleh satu suara seorang perempuan yang sangat genit merdu di belakangnya.

“Baik-baikkah kau, Sumoay? Sudah semenjak tadi aku masuk ke sini,” demikian kata suara itu tiba-tiba.

Sungguh kaget Yo Ko bukan buatan. Cepat dia berpaling, maka tampaklah olehnya di bawah sorot cahaya lilin, di ambang pintu kamar sudah berdiri seorang To-koh setengah umur, raut mukanya potongan daun sirih, pipinya putih bersemu merah, sayang matanya buta sebelah. Siapa lagi dia kalau bukan Jik-lian-siancu Li Bok-chiu yang dahulu sebelah matanya kena ditotol buta oleh burung merahnya sendiri.

Dari manakah Li Bok-chiu bisa muncul di situ secara tiba-tiba? Ternyata sewaktu Ang Ling-po selalu menanyakan jalan ke Hoat-su-jin-bong kepadanya, sejak mula Li Bok-chiu sudah menduga pasti anak muridnya ini secara diam-diam akan pergi mencuri kitab Giok-li-sim-keng, maka sengaja ia peralat muridnya. Ia sengaja mengirim Ang Ling-po pergi membunuh seorang musuh di Tiang-an, padahal ini hanyalah siasat Li Bok-chiu agar dengan demikian Ang Ling-po ada kesempatan pergi ke kuburan kuno itu, sedang ia sendiri menguntit di belakang sang murid.

Maka pertemuan antara Ang Ling-po dan Yo Ko, kemudian masuk ke kuburan dan cara bagaimana muridnya memaksa Siao-liong-li untuk menyerahkan kitab Giok-li-sim-keng, semua kejadian itu dapat disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Cuma karena gerak tubuhnya sangat gesit dan cepat maka Ang Ling-po dan Yo Ko tiada yang merasa sedikit pun dan baru sekarang inilah, karena dianggap sudah tiba waktunya, maka dia lantas unjuk diri.

Pandangan Li Bok-chiu ternyata sangat tajam, meski kejadiannya sudah lewat beberapa tahun, lagi pula Yo Ko telah tumbuh besar, akan tetapi dia masih tetap mengenali pemuda ini adalah anak yang menggunakan burung merahnya untuk menotol sebelah biji matanya sehingga buta. Kejadian itu senantiasa dianggap oleh Li Bok-chiu sebagai sebuah peristiwa yang sangat menyakitkan hati, kini demi saling bertemu lagi, tentu saja dia sangat marah. Akan tetapi sebelum Li Bok-chiu sempat bertindak sesuatu, se-konyong-konyong Siao-liong-li telah bangun.

“Suci!” serunya, kembali darah segar menyembur dari mulutnya.

“Siapa dia ini?” dengan sikap dingin Li Bok-chiu bertanya tanpa menghiraukan keadaan sang Sumoay yang amat payah, “Tidakkah kau tahu larangan Cosu-popoh bahwa dalam kuburan ini tidak boleh diinjak kaum laki-laki busuk barang selangkah pun, tetapi kenapa kau berani ijinkan dia tinggal di sini?”

Mendadak Siao-liong-li ter-batuk hebat, ia tak sanggup menjawab teguran sang Suci. Nampak keadaan Siao-liong-li, tanpa disuruh segera Yo Ko maju menghadang ke depan buat melindunginya.

“Dia adalah aku punya Kokoh, urusan di sini tidak perlu kau turut campur!” dengan suara lantang dia wakilkan Siao-liong-li menjawab.

“Hmm, bagus kau Sah Thio, kau pandai berlagak bodoh!” sindir Li Bok-chiu. Habis ini, mendadak kebut yang dia pegang bergerak, susul menyusul menyerang tiga kali.

Sungguh pun tiga serangan itu dilontarkan susul-menyusul, akan tetapi datangnya kepada sasaran se-akan berbareng saja saatnya. Tipu serangan cepat itu memang termasuk tipu serangan yang paling lihay dari ilmu silat Ko-bong-pay, bagi jago silat golongan lain yang tidak kenal kebagusan tipu serangan itu, begitu maju, seketika pasti akan dihantam hingga otot putus dan tulang patah.

Akan tetapi Yo Ko sendiri sudah matang dan apal terhadap semua ilmu silat Ko-bong-pay. Biar pun belum bisa dibandingkan keuletan Li Bok-chiu yang sudah terlatih, namun untuk menghindari tiga kali serangan yang disebut ‘sam-yan-tau-lim’ (tiga burung sriti menyusup masuk rimba) itu masih bisa dilakukannya dengan gampang.

Dan karena serangan yang lihay itu luput mengenai sasarannya, tentu saja Li Bok-chiu sangat kaget, ia masih ragu akan pemuda yang berhadapan dengan dirinya sekarang ini. Dengan sebelah matanya ia coba melirik tajam, akan tetapi jelas pemuda ini adalah anak yang dulu dijumpainya di Oh-ciu di daerah Kanglam. Kenapa berpisah beberapa tahun saja ilmu silatnya sudah maju begini pesat?

Terlebih lagi melihat cara bergeraknya buat menghindari serangannya tadi ternyata adalah ilmu silat dari perguruan sendiri, keruan hal ini makin menambah rasa curiganya.

“Sumoay, ada hubungan apa antara kau dengan bangsat cilik ini?” dengan suara bengis segera dia membentak Siao-liong-li.

Kuatir kalau muntah darah lagi, Siao-liong-li tak berani buka suara keras, hanya dengan perlahan ia bilang pada Yo Ko:

“Ko-ji, lekas memberi hormat pada Supek (paman guru).”

“Cis, paman guru macam apa ini?” Yo Ko berbalik meng-olok.

“Ko-ji, coba tempelkan kupingmu ke sini, ada yang hendak kukatakan,” kata Siao-liong-li pula.

Tentu saja Yo Ko rada penasaran karena dia mengira Siao-liong-li akan bujuk dirinya buat menjura kepada Li Bok-chiu. Meski pun demikian, terpaksa ia menurut juga, ia tempelkan kupingnya ke mulut Siao-liong-li.

“Di pojok kaki ranjang ini terdapat sebuah papan batu yang menonjol,” demikian dengan suara lembut bagaikan bunyi nyamuk Siao-liong-li berkata, “lekas kau melompat turun dan dongkel sekuatnya papan batu itu.”

Sementara itu, melihat cara mereka bisik-bisik, Li Bok-chiu mengira Siao-liong-li sedang berpesan kepada sang murid agar menjura padanya untuk minta ampun, apa lagi orang yang berada di hadapannya ini yang satu terang terluka parah dan yang lain hanya satu bocah angkatan muda, tentu saja tiada yang dia pikirkan. Li Bok-chiu sendiri justru sedang memeras otak untuk mendapatkan akal bagus agar bisa memaksa sang Sumoay menyerahkan Giok-li-sim-keng tinggalan guru mereka.

Sementara itu atas kisikan Siao-liong-li tadi, terlihat Yo Ko meng-angguk, lantas dengan suara lantang ia berkata:

“Baiklah, Tecu memberi hormat kepada Supek!”

Sambil berkata dia lantas melompat turun dari ranjang, dan ketika tangannya meraba ke pojok ranjang yang di bawah sana, benar saja tangannya menyentuh sepotong batu yang menonjol. Tanpa ayal lagi segera ia tarik dengan seluruh tenaganya hingga terdengarlah suara “kreeek” yang berat, dan mendadak ranjang batu itu ambles ke bawah.

Dengan sendirinya Li Bok-chiu terperanjat oleh kejadian yang mendadak itu. Ia tahu dalam kuburan kuno di mana-mana terpasang perangkap rahasia. Mendiang gurunya telah pilih kasih dan dirinya sudah dikelabui, sebaliknya semua rahasia itu sudah diturunkan kepada sang Sumoay. Karenanya, tanpa pikir lagi segera dia melesat maju, dengan sekali jamberet dia hendak mencengkeram Siao-liong-li.

Saat itu Siao-liong-li sedikit pun tak punya tenaga buat menangkis jamberetan itu. Meski ranjang batunya mendadak ambles ke bawah, tetapi karena Li Bok-chiu cepat mengetahui dan mengambil tindakan kilat, juga cara turun tangannya pun sebat luar biasa, maka dengan jamberetannya itu tampaknya Siao-liong-li segera akan ditarik kembali mentah-mentah.

Keruan saja Yo Ko terkejut sekali. Sekuat tenaga ia tangkiskan sebelah tangannya, maka terdengarlah suara “crat” sekali, lalu tiba-tiba lengannya terasa kesakitan. Kiranya lengan kirinya dan lengan kanan Siao-liong-li secara berbareng terkena kuku jari Li Bok-chiu hingga menusuk masuk daging.

MenyusuI kemudian matanya tiba-tiba menjadi gelap, lalu terdengarlah suara gedebukan yang keras dua kali, kiranya ranjang batu mereka telah anjlok sampai ruangan di bawah tanah, sedang papan batu di bagian atas secara otomatis telah menutup sendiri. Seketika Siao-liong-li dan Yo Ko kena dipisahkan dengan Li Bok-chiu dan Ang Ling-po, yang satu pihak terpotong di bagian atas dan yang lain berada di bawah.

“Coba kau meraba dinding di mana terdapat sebuah bola batu, kau putar tiga kali ke kiri lalu empat kali ke kanan,” kata Siao-liong-li kemudian.

Yo Ko menurut, ia melompat turun dari ranjang batu, ia me-raba dalam kegelapan. Betul saja ia dapatkan sebuah batu bundar. Ia menuruti petunjuk Siao-liong-li tadi, diputarnya ke kiri dan kanan, maka terdengarlah suara “kerekak-kerekek” beberapa kali, kemudian tubuhnya terasa terguncang. Kiranya ruangan di bawah tanah di mana mereka berada itu dibangun tergantung. Karena alat rahasianya digerakkan, segera ruangan ini bergeser pindah tempat, dengan demikian sekali pun kini Li Bok-chiu berhasil menyerbu ke bawah juga tak akan mendapatkan jejak mereka lagi.

“Untuk sementara boleh dikata kita sudah lolos dari tangan jahat dua orang tadi,” kata Siao-liong-li dengan menghela napas lega.

Sementara itu remang-remang Yo Ko bisa melihat di dalam ruangan itu seperti terdapat benda-benda sebangsa meja kursi. Secara geremet didekatinya meja itu, ia ambil ketikan api lalu menyalakan lilin yang ada di atas meja. Akan tetapi begitu lilin menyala, tanpa tertahan ia terkejut, sebab terlihat olehnya separoh bajunya sudah basah kuyup oleh darah, sedang luka di atas lengan yang terkena cakaran tadi masih terus mengalirkan darah segar.

Waktu dia periksa keadaan Siao-liong-li, dia lihat di lengannya juga terdapat goresan yang cukup parah oleh cakaran kuku Li Bok-chiu tadi, hanya Siao-liong-li sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, karena itu darah yang merembes keluar dari luka cakaran ini cuma sedikit.

“Ko-ji,” kata Siao-liong-li lagi sambil menghela napas, “aku telah kekurangan darah, maka susahlah untuk menyembuhkan luka dengan menjalankan Iwekang sendiri, Tetapi sekali pun aku tak terluka, kita berdua tak mampu menandingi Suci...”

Belum habis bicara, mendadak Yo Ko melompat naik ke atas ranjang batu. Kiranya tadi pada saat Yo Ko mendengar Siao-liong-li bilang kekurangan darah, mendadak otaknya yang cerdas itu tergerak. Sebelum orang habis bicara ia sudah melompat ke atas ranjang, lalu ia tempelkan luka pada lengannya sendiri dengan luka di lengan Siao-liong-li hingga dempet menjadi satu, dengan cara demikian ia bermaksud menyalurkan darahnya sendiri kepada nona itu.

Tetapi mengalirnya darah dari lengannya ternyata tidak dapat dikendalikan oleh keinginan hatinya, meski pun darah masih mancur keluar dari lengannya, tetapi tidak bisa menyalur masuk ke otot darahnya Siao-liong-li.

“Ko-ji, usahamu ini hanya sia-sia saja, sekali pun kau dapat menolong diriku, tapi jiwamu sendiri bukankah malah akan melayang,” dengan menghela napas Siao-liog-li berkata.

Tetapi Yo Ko tak menghiraukan, sebaliknya ia semakin kuatir karena melihat darah merembes keluar dari celah lengan mereka yang berdempetan itu, nyata usahanya memang tidak berhasil. Tiba-tiba ia teringat pada Iwekang yang dipelajari dari Auwyang Hong, ilmu itu memaksa aliran darah menjadi terbalik, kenapa tidak dicobanya?

Maka segera ia membalikkan tubuhnya, berjungkir dengan kepala menahan di atas ranjang batu, ia jalankan ilmu Kiu-im-sin-kang yang terbalik ajaran Auwyang Hong. Benar saja, jalannya darah menjadi terdesak oleh semacam hawa yang dia keluarkan sehingga ber-angsur secara teratur bisa mengalir masuk ke dalam badan Siao-liong-li.

Sebenarnya seluruh badan Siao-liong-li sudah terasa dingin bagai es, tetapi aneh, tiba-tiba ia merasakan ada aliran darah hangat yang merembes masuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba terpikir olehnya hal ini kurang baik, segera dia berniat hendak memberontak. Tetapi di luar dugaan, sebelumnya Yo Ko telah memperhitungkan akan reaksi ini, lebih dulu ia sudah ulurkan jarinya dan menotok Hiat-to Siao-liong-li sehingga tak bisa berkutik.

‘Transfusi darah’ yang dilakukan Yo Ko ini berjalan beberapa saat, akhirnya Yo Ko sendiri merasa kepalanya pusing dan matanya ber-kunang. Dia mengerti bahwa dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, maka barulah dia duduk kembali seperti biasa, dia balut luka mereka berdua dan melepaskan totokannya tadi atas diri Siao-liong-li.

Dengan terkesima Siao-liong-li memandang Yo Ko hingga lama, akhirnya dia menghela napas perlahan. Ia pun tak ber-kata-kata lagi melainkan melakukan semadi untuk memulihkan kekuatannya sendiri.

Malam itu mereka berdua memulihkan diri sendiri. Kalau Yo Ko bersemadi untuk memulihkan rasa letih akibat kehilangan darahnya, adalah Siao-liong-li sesudah mendapat transfusi darah dari Yo Ko, semangatnya ternyata banyak bertambah segar. Dia pun telah menjalankan darah baru yang hangat itu ke seluruh tubuhnya hingga beberapa kali, maka lewat dua tiga jam kemudian, dia mengerti jiwanya tidak berhalangan lagi. Maka waktu ia membuka matanya, ia tersenyum kepada Yo Ko.

Sebenarnya pipi Siao-liong-li selalu putih pucat, tetapi kini tiba-tiba Yo Ko melihat ada semu merah pada kedua belah pipinya sehingga tampak lebih cantik.

“Ha, Kokoh, kau sudah baik,” seru Yo Ko girang.

Siao-liong-li meng-angguk dan selagi hendak buka suara, tiba-tiba terdengar suara letikan api. Kiranya lilin yang dipasang itu sudah tersulut habis, keruan seketika seluruh ruangan menjadi gelap guIita. Karena itu, luar biasa rasa senangnya Yo Ko, namun toh dia tidak tahu cara bagaimana harus berbicara.

“Marilah kita pergi ke kamarnya Sun-popoh, ada sesuatu yang akan kukatakan padamu,” kata Siao-liong-li kemudian.

“Apa kau tidak letih?” tanya Yo Ko.

“Tidak apa-apa!” sahut Siao-liong-li.

Habis itu ia menarik beberapa kali pada pesawat rahasia yang terpasang di dinding batu. Segera terasa dinding itu bergerak, lalu terbentanglah sebuah pintu. Jalan baru ini sudah tak dikenal lagi oleh Yo Ko, tapi Siao-liong-li mengajaknya memutar kian kemari beberapa kali dalam suasana gelap itu, akhirnya tiba juga mereka di kamarnya Sun-popoh.

Waktu Siao-liong-li menyalakan lilin lagi, dia lantas gulung pakaian Yo Ko hingga berupa satu buntalan, ia bungkus pula sepasang sarung tangan benang emas miliknya ke dalam buntalan baju itu. Perbuatan Siao-liong-li ini disaksikan Yo Ko dengan terkesima karena merasa heran.

“Kokoh, apa yang kau lakukan?” tanyanya tak mengerti.

Siao-liong-li tidak menjawab, dia malah mengambil lagi dua botol besar madu tawon dan memasukkan ke dalam buntalan pula.

“He, Kokoh, kita akan meninggalkan kuburan kuno ini bukan?” tanya Yo Ko tiba-tiba dengan girang.

“Pergilah saja kau, aku tahu kau adalah anak baik, terhadap diriku kau pun berlaku sangat baik,” ujar Siao-liong-li.

Luar biasa terperanjatnya Yo Ko. “Dan kau sendiri, Kokoh?” tanyanya cepat.

“Aku sudah bersumpah selama hidupku ini tidak akan keluar lagi dari kuburan ini,” sahut Siao-liong-li.

Melihat orang berkata dengan sungguh-sungguh, lagu suaranya pun amat tegas, terang tidak bisa dibantah, oleh karenanya Yo Ko tak berani bicara lebih banyak. Akan tetapi karena soalnya terlalu penting, akhirnya ia beranikan diri buat buka suara lagi:

“Kokoh, jika kau tidak pergi, aku pun tak mau pergi, biarlah aku mengawani kau disini.”

“Suci-ku menunggui kita di mulut kuburan dan hendak memaksa aku menyerahkan Giok-li-sim-keng,” kata Siao-liong-li pula, “Sedang ilmu kepandaianku tidak bisa menandingi dia, maka pasti tidak bisa lolos, bukan?”

“Ya,” sahut Yo Ko.

“Dan ransum yang tersisa di sini, aku kira paling tahan hanya untuk dua puluhan hari saja, umpama bisa makan sedikit madu tawon, paling lama juga tidak lebih dari satu bulan, dan sesudah sebulan, lalu bagaimana baiknya?”

“Kita terjang keluar saja,” sahut Yo Ko sesudah tertegun sejenak. “Walau pun kita tak bisa mengalahkan Supek, tapi belum tentu kita tak mampu menyelamatkan jiwa.”

“Sulit,” kata Siao-liong-li sambil menggeleng kepala, “jika kau kenal ilmu kepandaian dan tabiat Supek, tentu kau akan tahu kita tidak mampu menyelamatkan diri. Apa bila sampai tertangkap, tatkala itu tidak hanya akan mengalami siksaan dan hinaan, bahkan di waktu akan mati terlebih susah lagi penderitaan badaniah kita.”

“Jika begitu, bukankah seorang diri akan tak mampu lari,” ujar Yo Ko.

“ltu soal lain.” sahut Siao-liong-li. “Aku ke bagian dalam kuburan, pada kesempatan itulah kau lantas melarikan diri. Sebelum itu kau pindahkan dulu batu besar di sebelah kiri pintu kuburan lantas tarik alat rahasia di dalamnya, menyusul itu segera ada dua batu raksasa yang akan anjlok turun dan menutup rapat pintu kuburan untuk selama-lamanya.”

Yo Ko semakin terkejut oleh cerita orang. “Dan Kokoh tahu akan ja!an rahasia lain sehingga bisa keluar sendiri, bukan?” tanyanya cepat.

“Tidak,” sahut Siao-liong-li sambil gelengkan kepala pula. “Dulu waktu cikal-bakal Coan-cin-kau, Ong Tiong-yang mendirikan Hoat-su-jin-bong ini, ia tahu dirinya selalu dikejar dan diincar oleh raja Kim, oleh karena itu dia sengaja atur kuburan ini dan menaruh dua batu raksasa yang beratnya berlaksa kati. Ia tunggu apa bila dirinya kepepet dan tak sanggup melawan musuh yang jauh lebih banyak, segera ia akan lepaskan batu raksasa itu untuk menutup dirinya di dalam kuburan, dengan demikian sampai mati pun ia tidak mau takluk pada musuh.

Akan tetapi karena selama itu musuhnya tiada satu pun yang mampu melawan ilmu silat Ong Tiong-yang yang amat tinggi, maka kedua batu raksasa ini selamanya belum pernah terpakai. Dan pada waktu Ong Tiong-yang harus menyerahkan kuburan kuno ini kepada Cosu-popoh, dia sudah memberi-tahukan juga semua alat rahasia yang dia atur di dalam kuburan hingga akhirnya turun temurun sampai pada diriku.”

“Tetapi Kokoh, mati atau hidup aku tetap akan berada di sampingmu.” Dengan air mata ber-linang Yo Ko berkata pula.

“Apa gunanya kau mengikuti diriku terus?” kata Siao-liong-li pula. “Kau bilang di dunia luar sana indah sekali, maka pergilah kau bermain sepuasnya, nanti kalau kau sudah berhasil melatih cinkeng sampai sempurna, maka tiada satu pun di antara imam-imam busuk Coan-cin-kau itu yang berani cari gara-gara lagi padamu, Tatkala itu kau tentu bisa malang melintang di seluruh jagat, bukankah itu sangat menyenangkan?”

Akan tetapi Yo Ko ternyata tidak tergoyah oleh bujukan itu, tiba-tiba dia menubruk maju dan merangkul tubuh Siao-liong-li sambil menangis tersedu-sedan.

“Kokoh, di jagat ini hanya ada kau seorang saja yang sangat baik terhadapku,” demikian katanya cemas, “Jika kau tak hidup lagi, pasti seumur hidupku tak akan merasa senang.”

Sebenarnya watak Siao-liong-li selalu dingin dan lenyap dari segala macam perasaan, apa yang dia ucapkan pun selalu tegas dan tidak bisa ditarik kembali lagi. Tetapi aneh, entah mengapa, sesudah mendengar kata Yo Ko yang diucapkan dengan setengah meratap ini, tanpa tertahan darah dalam tubuhnya seolah-olah bergolak, dalam pilunya hampir ia meneteskan air mata.

Tapi segera ia terkejut, teringat olehnya apa yang pernah dipesan wanti-wanti oleh mendiang gurunya sewaktu hendak mangkat, bahwa ilmu yang dilatihnya itu adalah semacam ilmu rohaniah yang harus menghilangkan segala cita rasa dan napsu, bila sampai mengalirkan air mata karena seseorang sehingga menggoncangkan perasaan, bukan saja ilmu silatnya akan punah, bahkan dapat membahayakan jiwa sendiri. Teringat oleh pesan sang guru, segera Siao-liong-li mendorong pergi Yo Ko, kemudian dengan lagu suara dingin ia berkata pula:

“Apa yang aku katakan kau harus menurut, kau berani adu mulut dengan aku?”

Melihat orang kembali berubah sungguh-sungguh dan kereng, Yo Ko tak berani buka suara lagi. Segera Siao-liong-li ikat buntalan yang sudah disiapkan itu, lalu diikat pada punggung Yo Ko. Dia mengambil sebatang pedang yang tergantung di dinding.

“Ambillah ini. Sebentar bila aku katakan pergi, segera juga kau harus angkat kaki, begitu keluar dari kuburan ini, seketika juga kau harus lepaskan batu raksasa penutup pintu itu,” dengan suara bengis Siao-Iiong-li memesan sambil menyerahkan tadi. “lngat, Supek-mu itu teramat lihay, jika asal sedetik saja maka kesempatan akan segera hilang, karena itu kau mau turut tidak perkataanku ini?”

“Aku menurut,” sahut Yo Ko dengan suara berat.

“Jika kau tidak melakukan apa yang aku katakan, di alam baka sekali pun aku akan benci padamu,” kata Siao-liong-Ii pula. “Dan sekarang marilah berangkat!”

Habis berkata, Siao-liong-Ii menarik tangan Yo Ko kemudian membuka pintu untuk keluar ke ruangan.

MATI HIDUP SELALU BERSAMA

DahuIu Yo Ko pernah menyentuh tangan Siao-liong-li yang selamanya terasa dingin bagai es, tetapi kini demi tangannya dipegang, ia merasa tangan Siao-Iiong-li sebentar dingin dan sebentar lagi hangat, ternyata berlainan sekali dengan biasanya. Akan tetapi karena perasaannya sedang bergoIak, maka urusan ini pun tidak sempat dia pikirkan lagi, dia hanya ikut Siao-Iiong-li keluar kembali.

Sambil meraba dinding batu Siao-liong-li berpesan lagi pada Yo Ko: “Di dalam kamar inilah mereka berada, sebentar bila aku pancing Suci agar menyingkir, segera kau terjang keluar melalui pintu ujung barat-laut. Kalau Ang Ling-po mengejar kau, boleh kau lukai dia dengan Giok-hong-soa (pasir tawon putih).”

Yo Ko tidak menjawab sebab perasaannya tak kepalang kusutnya, ia hanya mengangguk saja. Giok-hong-soa atau pasir tawon putih yang baru disebut Siao-liong-li itu adalah Am-gi atau senjata gelap Ko-bong-pay yang khas. Dahulu Lim Tiao-eng disegani di kalangan Bu-lim disebabkan dia mempunyai dua macam Am-gi yang amat lihay, satu di antaranya adalah Peng-pek-gin-ciam yang dipakai Li Bok-chiu itu dan yang lain adalah Giok-hong-soa.

Bentuk Giok-hong-soa ini segi enam dan terbuat dari pasir emas yang digembleng dengan racun tawon putih. Meski bentuknya kecil lembut, tetapi karena terbuat dari emas yang berat, maka waktu dihamburkan dapat mencapai jarak jauh. Tetapi karena Am-gi ini terlalu keji, maka selamanya jarang digunakan Lim Tiao-eng. Guru Siao-liong-li tahu akan jiwa Li Bok-chiu yang tidak gampang dikendalikan dan tidak sudi tinggal selamanya di dalam kuburan, maka yang diturunkan kepadanya hanya Peng-pek-gin-ciam, sedang Giok-hong-soa tidak diajarkan padanya.

Begitulah, maka setelah Siao-liong-li tenangkan semangatnya, segera ia menekan sebuah alat rahasia di atas dinding batu, menyusul terdengarlah suara “krak-krak” beberapa kali, ternyata dinding batu itu sudah menggeser terbuka sendiri. Dan begitu dinding melekah, tanpa ayal Siao-liong-li segera ayunkan selendang suteranya, sekaligus dia serang kedua lawannya, Li Bok-chiu dan Ang Ling-po, serangannya cepat dan orangnya ikut melayang maju pula dengan gesit.

Tatkala itu Li Bok-chiu sudah dapat melepaskan tutukan Hiat-to pada tubuh Ang Ling-po, ia damperat muridnya ini yang tak becus sampai kena diingusi ‘anak kemarin’. Kemudian guru dan murid ini telah meraba keadaan dalam kuburan kuno itu hingga akhirnya tujuh atau delapan kamar telah dapat dibobolkan dan masih hendak masuk lebih dalam lagi.

Tentu saja mereka menjadi kaget ketika mendadak nampak Siao-liong-li malah menyerbu keluar. Lekas Li Bok-chiu ayunkan senjata kebut untuk menangkis serangan selendang sutera orang. Kebut dan selendang sutera semuanya adalah benda yang lemas, sekarang lemas lawan lemas, tetapi Li Bok-chiu lebih ulet, maka begitu kedua senjata saling beradu, seketika selendang sutera Siao-liong-li menggulung balik.

Namun Siao-liong-li tidak andalkan serangan tadi saja. Ketika ujung selendang membalik, sebelah ujung yang lain segera menyambar maju lagi, dalam sekejap mata saja dia telah melontarkan beberapa kali serangan. Begitu lemas saja penampilan selendangnya hingga se-akan sedang menari.

Dalam kagetnya tadi Li Bok-chiu menjadi amat dongkol. “Nyata Suhu memang tidak adil. Bilakah dia pernah mengajarkan kepadaku kepandaian seperti Sumoay ini?” demikian dia membatin.

Tetapi karena dia menaksir masih sanggup menandingi sang Sumoay, maka sementara ini tipu serangan mematikan belum dia lontarkan, sebaliknya dia justru mengulur tempo hendak menyaksikan ilmu silat lihay apa yang telah diajarkan gurunya kepada Siao-liong-li.

Di lain pihak Ang Ling-po ternyata tidak tinggal diam. Selama hidup ia amat bangga atas dirinya yang pintar dan cerdik, tapi siapa tahu hari ini bisa terjungkal di bawah tangan ‘anak kemarin sore’, bahkan selama setengah harian dirinya telah dipermainkan orang yang berlagak tolol dan untuk ini sedikit pun dirinya ternyata tidak mengetahui, keruan saja tidak kepalang gemasnya.

Sementara itu dia melihat sang Suhu dengan sengitnya sedang menempur sang Susiok, maka kesempatan ini hendak dia gunakan untuk membalas dendam.

“Hayo, Sah Thio, kau keparat ini benar-benar kurang ajar,” demikian segera ia bentak Yo Ko dengan suara garang, kemudian ia lolos sepasang pedangnya sambil melangkah maju, lalu membentak lagi: “lni lihat, akan kuiris batang hidungmu!”

Nampak orang cukup kalap, terpaksa Yo Ko harus angkat pedang buat menangkis. Sebenarnya bila dalam keadaan biasa, sesuai adat Yo Ko, tentu dia akan keluarkan kata sindiran untuk menggoda orang, tetapi kini karena teringat dirinya bakal berpisah dengan Siao-liong-li, maka matanya telah basah mengembeng air hingga pandangannya menjadi kabur, karena itu atas serangan orang ia hanya menangkis asal menangkis saja, sama sekali ia tidak melakukan serangan balasan.

Di pihak sana setelah Ang Ling-po melontarkan beberapa kali serangan, meski tidak bisa melukai Yo Ko, namun melihat gerak tangan orang seperti tak bertenaga, dia menyangka kepandaian bocah ini hanya sekian saja, keruan dia tambah gemas dan penasaran kena diingusi orang.

Sementara itu setelah saling gebrak belasan jurus antara Li Bok-chiu dengan Siao-Iiong-li, mendadak yang tersebut duluan itu putar kebutnya hingga selendang sutera Siao-liong-li kena terlibat.

“Sumoay, lihatlah kepandaian Suci-mu ini,” kata Li Bok-chiu.

Habis berkata sekonyong-konyong ia getarkan kebutnya dengan tenaga dalam, karena itu selendang sutera lawannya segera terputus menjadi dua. Ilmu kepandaian yang diunjukkan Li Bok-chiu memang lihay luar biasa. Biasanya dalam pertarungan senjata tajam melawan senjata tajam, untuk mematahkan senjata lawan saja sangat sukar, apa lagi kini baik kebut mau pun selendang tergoIong benda yang lemas.

Akan tetapi Li Bok-chiu toh mampu membetot putus selendang sutera itu, sungguh hal ini berpuluh kali lipat lebih sulit dari pada mematahkan senjata tajam yang keras. Sungguh pun demikian, namun Siao-liong-Ii sedikit pun tidak menjadi jeri oleh kepandaian orang.

“Hmm, sekali pun kepandaianmu hebat, kau mau apa lagi?” sambutnya dingin.

Berbareng itu tiba-tiba ia gunakan separoh selendangnya yang terputus itu untuk menyerang, sekali dia mengayun, tahu-tahu ujung kebut Li Bok-chiu kena terlilit, menyusul ini ujung selendang yang lain segera menyambar lantas melilit pula gagang kebut yang terbikin dari kayu. Ketika yang satu ditarik ke kiri dan yang lain dibetot ke kanan, maka terdengarlah suara “pletak”, nyata kebut Li Bok-chiu juga telah kena dipatahkan.

Apa bila mempersoalkan kekuatan, serangan balasan Siao-liong-li ini memang belum bisa melebihi tenaga betotan Li Bok-chiu yang memutuskan selendang dengan tenaga getaran tadi, tapi ketepatan dan kesebatannya mengeluarkan serangan balasan cukup membikin Li Bok-chiu tak berdaya. Begitulah, maka Li Bok-chiu rada terperanjat juga oleh serangan kilat tadi, tetapi segera ia membuang gagang kebut yang patah itu, lantas dengan tangan kosong merangsak maju hendak merebut selendang Siao-liong-li.

Karenanya Siao-Iiong-li didesak hingga terus mundur ke belakang. Sesudah belasan jurus berlalu lagi, akhirnya Siao-liong-li mundur sampai di dekat dinding batu sebelah timur, tampaknya untuk mundur lebih jauh tidak mungkin lagi. Dalam keadaan demikian, mendadak dia membalikkan sebelah tangannya terus menekan pada tembok batu sambit berteriak:

“Ko-ji, lekas pergi!”

Berbareng dengan itu terdengarlah suara “krak” yang keras, ternyata di ujung barat-daya sana telah terbuka satu lobang, Sungguh terkejut sekali Li Bok-chiu, dengan cepat ia pun memutar tubuh hendak merintangi larinya Yo Ko. Akan tetapi Siao-liong-li lidak membiarkan lawannya sempat berputar. Ia buang selendang suteranya, kemudian dengan kedua tangannya sekaligus ia menyerang dengan tipu yang mematikan. Karena terpaksa, dengan sendirinya Li Bok-chiu berputar balik menangkis serangan itu.

“Ayo, Ko-ji, lekas kau berangkat!” teriak Siao-Iiong-li pula.

Semula Yo Ko agak ragu-ragu. Dia coba memandang Siao-liong-li, tetapi segera dia insaf bahwa urusan ini tak mungkin bisa ditarik kembali Iagi.

“Kokoh, aku pergi dulu!” demikian teriaknya segera, berbareng ia ayunkan pedangnya dan susul menyusul menyerang tiga kali, semuanya ia arahkan ke muka Ang Ling-po. Oleh karena tadi Ang Ling-po melihat bahwa gerak pedang Yo Ko tidak bertenaga, maka sama sekali dia tak menduga bahwa Yo Ko dapat melontarkan serangan berbahaya ini. Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia melompat mundur ke belakang.

Karena kesempatan inilah, begitu Yo Ko gerakkan tubuhnya, tahu-tahu dia sudah menyerobot keluar pintu goa tadi, namun demikian, dia masih mencoba menoleh hendak memandang lagi pada Siao-liong-li untuk penghabisan kalinya. Sebenarnya jika dia tidak menoleh, terus pergi begitu saja, kelak entah berapa banyak kesulitan akan terhindar dan berkurang dengan macam-macam godaan. Namun karena Yo Ko dilahirkan dengan watak dan perasaan yang penuh kemanusiaan, meski pun berada dalam keadaan yang sangat berbahaya, ia masih ingin memandang sekali lagi kepada Siao-liong-Ii.

Justru oleh karena pandangan inilah, seumur hidup Yo Ko lantas berubah juga nasibnya. Siao-liong-li melawan kakak seperguruan sendiri dengan sama-sama bertangan kosong, kalau hanya beberapa puluh jurus saja belum tentu dia akan dikalahkan. Tapi karena kepergian Yo Ko yang bayangan tubuhnya berkelebat keluar pintu, tiba-tiba teringat oleh Siao-liong-li bahwa dengan perginya Yo Ko ini mereka tak akan bersua lagi untuk se-lamanya, maka dadanya tiba-tiba serasa sesak, matanya pun menjadi sepat dan ingin meneteskan air mata.

Selama hidup perasaan murni Siao-liong-li tak pernah terguncang, akan tetapi siapa tahu hari ini sudah dua kali ia hampir menangis, keruan seketika ia tersadar dan luar biasa terkejutnya. Justru pertandingan di antara jago silat sedikit pun pantang teledor. Sedikit tertegunnya tadi yang sejenak saja telah digunakan Li Bok-chiu dengan baik, se-konyong-konyong dia berhasil mencengkeram ‘hwe-cong-hiat’ di pergelangan tangan Siao-liong-li, menyusul sebelah kakinya menjegal, keruan saja Siao-liong-li tak sanggup berdiri tegak, ia kena dirobohkan ke lantai.

Pada saat robohnya Siao-liong-li itulah, Yo Ko tepat sedang menoleh dan memandangnya. Dengan sendirinya ia kaget luar biasa demi dilihatnya sang guru hendak dicelakai Li Bok-chiu. Darahnya seketika mendidih, dalam keadaan demikian, sekali pun langit ambruk atau bumi terbalik dia tidak hiraukan lagi.

“Jangan celakai Kokoh!” demikian ia berteriak.

Berbareng ia menubruk masuk kembali, dari belakang segera ia merangkul pinggang Li Bok-chiu dengan kencang. Tipu serangan Yo Ko ini ‘di luar kamus silat’, sama sekali tidak terdapat dalam teori persilatan dari golongan mana pun, hanya saking kuatirnya Yo Ko tidak pikirkan apakah rangkulannya ini masuk akal atau tidak, yang dia pikir hanya menolong Siao-liong-li saja.

Sebaliknya karena pikiran Li Bok-chiu hanya ingin menawan Siao-liong-li, maka tak menduganya bahwa Yo Ko yang telah kabur keluar itu bisa masuk kembali, bahkan terus menubruk punggungnya. Karena tak tersangka-sangka, maka pinggangnya seketika kena terangkul kencang dan tak dapat dilepaskan meski pun dia coba me-ronta. Walau pun tindak-tanduk Li Bok-chiu biasanya sangat kejam dan tidak suka terikat oleh segala adat-istiadat umum, namun tubuhnya yang suci bersih senantiasa dia jaga baik-baik. Oleh karena itu, meski sudah beberapa puluh tahun berkelana di dunia Kangouw dia masih tetap bertubuh perawan.

Tapi kini mendadak dirangkul Yo Ko se-kencangnya, seketika terasa olehnya semacam hawa hangat kaum pria se-olah menembus punggungnya terus masuk ke lubuk hatinya, tanpa tertahan lagi seluruh badannya menjadi lemas tak bertenaga, mukanya pun berubah merah.

Dahulu waktu di daerah Kanglam sebelah matanya sampai kena ditotol buta oleh burung merahnya Yo Ko, juga disebabkan oleh rangkulan Yo Ko. Tatkala itu Yo Ko masih kecil, tetapi toh sudah memiliki bau laki-laki umumnya yang khas. Siapa tahu kejadian kini bisa terulang lagi, apa lagi kini Yo Ko sudah pemuda, maka hawa hangat yang mengalir keluar dari tubuhnya itu menggoncangkan perasaan kaum wanita.

Oleh karena rangkulan Yo Ko inilah, tangan Li Bok-chiu yang mencekal pergelangan Siao-liong-li lantas menjadi kendor, kesempatan ini tidak disia-siakan Siao-liong-li, seketika ia membalikkan tangannya dan bergantian menekan urat nadi tangan orang, tapi di lain pihak ujung senjata Ang Ling-po sudah menempel juga di punggung Yo Ko. Tatkala itu Siao-liong-li sudah terebah di lantai ketika dilihatnya Yo Ko terancam bahaya. Segera dia menggulingkan tubuhnya ke kiri, sekaligus dia tarik Li Bok-chiu serta Yo Ko ke samping, dengan demikian tusukan Ang Ling-po menjadi mengenai tempat kosong.

“Ko-ji, lekas berangkat!” bentak Siao-liong-li sesudah melompat bangun.

Akan tetapi sekali ini Yo Ko ternyata tidak turut perintahnya, ia masih merangkul pinggang orang kencang-kencang.

“Tidak, Kokoh, kau saja yang pergi, aku menyekap dia begini, dia tidak bisa lolos,” teriak Yo Ko.

Di lain pihak, dalam sekejap pikiran Li Bok-chiu sudah berputar belasan kali. Sebentar kemudian ia insaf keadaan sangat membahayakan dirinya, terpaksa dia harus kumpulkan tenaga dalam untuk melepaskan diri dari pelukan orang, namun pada lain saat terasakan olehnya bahwa berada dalam pelukan Yo Ko, rasanya begitu enak, begitu meresap hingga sukar dilukiskan.

Keruan saja Siao-Iiong-li ter-heran. Ia pikir ilmu silat sang Suci begitu tinggi, kenapa bisa ditaklukkan Yo Ko hingga tak mampu berkutik? Sementara itu dilihatnya Ang Ling-po telah mengangkat pedangnya hendak menusuk Yo Ko lagi. “Tadi perempuan ini sudah berlaku kurang ajar terhadap diriku, harus kuhajar adat padanya,” demikian ia pikir dengan lekas.

Karena itu, tiba-tiba kedua jarinya menyentil ke batang pedang Ang Ling-po yang kiri, begitu hebat selentikan ini hingga pedangnya mendadak meloncat terus membentur pedang Ang Ling-po di tangan kanan dengan mengeluarkan suara nyaring. Keruan Ang Ling-po terkejut, kedua tangannya pun linu oleh karena tenaga benturan tadi sehingga sepasang pedangnya langsung terjatuh ke lantai, saking kagetnya sampai Ang Ling-po berkeringat dingin, ia melompat mundur.

Dan oleh karena saling beradunya kedua pedang tadi sehingga mencipratkan lelatu api, maka sekilas terlihat oleh Li Bok-chiu bahwa di antara sinar mata sang Sumoay seperti mengunjuk semacam perasaan aneh dan sedang memandang kepadanya dengan dingin. Karena itu tanpa terasa Li Bok-chiu jadi malu juga.

“Anak busuk, apa kau minta mampus?” damperatnya segera.

Berbareng ini kedua lengannya tiba-tiba bekerja, yang satu meronta dan yang lain melepas, maka dia berhasil loloskan diri dari pelukan Yo Ko yang ‘mesra’, bahkan menyusul telapak tangannya memukul ke arah Siao-liong-li. Dengan sendirinya Siao-liong-li menangkis, tetapi segera terasa olehnya tenaga pukulan sang Suci terlalu hebat, terlampau kuat. Ia sendiri baru sembuh dari luka parah, maka kini dadanya menjadi sakit lagi oleh karena getaran pukulan orang. Sementara itu, dilihatnya Yo Ko merangkak bangun dan kembali menubruk maju hendak membantu dirinya. Keruan ia sangat mendongkol.

“Ko-ji, apa betul-betul kau tidak mau turut perkataanku?” bentaknya.

“Apa saja yang bibi katakan akan kuturuti, hanya sekali ini saja aku tidak mau menurut,” sahut Yo Ko tiba-tiba. “O, Kokoh yang baik, biarlah aku mati-hidup selalu bersama dengan kau.”

Mendengar lagu suara orang begitu tulus dan sungguh-sungguh, kembali hati murni Siao-Iiong-li terguncang lagi.

Sementara ia lihat Li Bok-chiu kembali melontarkan sekali gablokan. Ia insaf bahwa kepandaian sendiri kini banyak terganggu sehingga pukulan keras ini tidak dapat ditangkisnya. Tanpa pikir segera ia melompat ke samping, berbareng ia sambar tubuh Yo Ko terus melarikan diri keluar dari lubang pintu tadi. Namun Li Bok-chiu tidak tinggal diam, segera ia menyusul di belakang orang dan ulurkan tangan hendak menjambret punggung Yo Ko.

“Jangan lari!” demikian bentaknya.

Tetapi Siao-liong-li sudah siap, tiba-tiba ia balikkan tangannya dan berhamburlah segenggam pasir tawon putih dengan cepat ke arah Li Bok-chiu. Begitu lihay Giok-hong-soa atau pasir tawon putih itu se-akan tak bersuara, tahu-tahu sudah menyambar tiba. Namun betapa pun juga Li Bok-chiu terhitung seperguruan dengan Siao-liong-li, dia kenal betapa lihaynya Am-gi ini. Pada saat hidungnya mendadak mengendus bau manis dan harum madu tawon, dalam kagetnya sekonyong-konyong dia mengayun tubuhnya sendiri ke belakang. Karena perbuatannya ini sama sekali tidak ter-duga, maka Ang Ling-po yang membuntut di belakang sang guru kena tertumbuk hingga kedua-duanya jatuh terjungkal.

Sementara itu terdengarlah suara “cring-cring” nyaring halus, kiranya belasan butir pasir tawon putih sudah kena menyambit dinding batu, menyusul terdengar pula suara “krekat-kreket” dua kali, nyata Siao-liong-li sudah lari keluar kamar batu sambil menggondol Yo Ko, alat perangkap rahasia dikerahkan, maka kembali pintu goa tersumbat rapat. Setelah meloloskan diri keluar kuburan bersama gurunya, tidak kepalang girangnya Yo Ko, ia menghisap hawa segar beberapa kali di alam terbuka itu.

“Kokoh, sekarang biar kuturunkan batu raksasa itu, agar dua wanita jahat itu mampus di dalam kuburan,” katanya kemudian kepada Siao-liong-li, kemudian dia lantas hendak pergi mencari alat rahasianya. Di luar dugaan Siao-liong-li goyang2 kepala atas usulnya tadi.

“Nanti dulu, tunggu kalau aku sudah masuk ke dalam,” katanya tiba-tiba.

Keruan Yo Ko terkejut. “He, kenapa mau masuk lagi?” tanyanya cepat.

“Ya, Suhu sudah pesan supaya aku menjaga baik-baik kuburan ini, maka tidak boleh aku membiarkannya dikangkangi orang lain,” kata Siao-liong-li.

“Jika kita tutup rapat pintu kuburan, mereka kan tidak bakal hidup lebih lama lagi,” ujar Yo Ko.

“Ya, tetapi aku pun tidak dapat masuk kembali,” sahut Siao-liong-li. “Apa yang dikatakan Suhu tak berani kubantah, Hm, tidak seperti kau!” Habis berkata, dengan sengit ia pelototi Yo Ko sekejap.

Seketika hati Yo Ko terkesiap, darahnya segera bergolak lagi, tiba-tiba ia pegang lengan Siao-liong-li dan berkata:

“Baiklah Kokoh, aku pasti turut segala perkataanmu.”

Mendengar kata-kata Yo Ko yang diucapkan dengan mesra ini, sedapat mungkin Siao-liong-li menahan perasaan hatinya, tak berani ia terguncang lagi, maka sepatah kata pun ia tidak menyahut, ia kipatkan tangan orang terus masuk kembali ke dalam kuburan kuno itu.

“Nah, lekaslah kau turunkan batu penutupnya!” katanya kemudian sambil berdiri mungkur. Ia sengaja membelakangi Yo Ko yang masih berdiri di luar kuburan, ia kuatir kalau dirinya tak sanggup menguasai perasaan sendiri, maka dia tak mau memandang pemuda itu lagi.

Di lain pihak Yo Ko sendiri pun telah mengambil suatu keputusan. Ia sedot dalam-dalam hawa segar alam terbuka itu, waktu ia menengadah, ia lihat cakrawala penuh bertaburan dengan bintang yang berkelap-kelip.

“lnilah untuk penghabisan kalinya aku memandang langit dan bintang,” katanya dalam hati.

Kemudian ia mendekati sebelah kiri pilar kuburan itu, ia turuti apa yang pernah Siao-liong-li tunjuk padanya, dengan kuat dia geser pilar batu itu. Benar saja, di bawahnya terdapat sepotong batu lagi yang berbentuk bundar, maka dipegangnya batu bulat itu terus ditarik sekuat tenaganya. Oleh karena tarikan itu, batu bundar itu terlepas sehingga berwujut satu lubang, menyusul dari dalam lubang itu per-lahan mengalir keluar pasir halus bagai mata air yang mengalir keluar dari sumbernya, maka tampaklah dua batu raksasa di atas kuburan per-lahan mulai menurun.

Kedua potong batu raksasa ini beratnya beratus ribu kati. Dahulu waktu Ong Tiong-yang membangun kuburan ini, untuk memasang batu-batu ini diperlukan tenaga ratusan orang gotong-royong. Kini kalau sampai pintu kuburan tersumbat rapat, maka dapat dipastikan Li Bok-chiu, Siao-liong-li serta Ang Ling-po selama hidup tidak bakal bisa keluar kembali. Menyadari akibatnya apa bila batu raksasa itu merapat, tanpa tertahan lagi air mata Siao-liong-li bercucuran, mendadak dia menoleh.

Sementara itu batu raksasa tinggal dua kaki lagi hampir sampai di tanah. Se-konyong-konyong dengan gerak tipu ‘giok-li-tau-so’ (si gadis ayu melempar tali), secepat kilat Yo Ko menerobos masuk lagi ke dalam kuburan melalui lubang selebar dua kaki itu secepat anak panah terlepas dari busurnya.

Siao-liong-li menjerit kaget oleh perbuatan Yo Ko yang tidak terduga itu. sementara itu Yo Ko sudah berdiri tegak lagi di hadapannya.

“Kokoh, kini kau tak bisa mengusir aku lagi,” kata bocah ini dengan tertawa.

Baru habis berkata, tiba-tiba terdengar dua kali suara keras, kiranya kedua batu raksasa itu sudah membentur tanah hingga kuburan itu tertutup rapat. Dalam kagetnya tadi segera Siao-liong-li merasakan kegirangan yang tak terhingga pula, saking hebat guncangan perasaannya, hampir saja dia jatuh pingsan. Dengan badan lemas dia bersandar pada dinding batu, napasnya ter-sengal-sengal.

“Baiklah, biar kita mati bersama di suatu tempat,” katanya kemudian sesudah agak lama, kemudian ia gandeng tangan Yo Ko dan masuk ke ruangan dalam.

Tatkala Li Bok-chiu berdua sedang berusaha hendak membuka pintu kamar yang tertutup rapat itu, namun belum berhasil. Keruan mereka kaget ketika melihat Siao-liong-li dan Yo Ko mendadak muncul kembali, segera mereka kegirangan. Begitu bergerak, segera Li Bok-chiu melompat ke belakang Siao-liong-li dan Yo Ko dengan tujuan hendak memotong jalan mundur mereka.

Namun demikian, sikap Siao-liong-li tetap tenang saja. “Suci, marilah kubawa kau ke suatu tempat,” katanya tiba-tiba dengan dingin.

Karena ajakan ini, Li Bok-chiu berbalik ragu-ragu. Ia tidak menjawab, hanya dalam hati ia membatin: “Di dalam kuburan ini penuh terpasang perangkap rahasia, jangan sampai aku kena dikibuli.”

“Aku hendak bawa kau berziarah ke depan abu Suhu, terserah jika kau tidak mau pergi!” kata Siao-liong-li.

“Jangan kau coba gunakan nama Suhu untuk menipu aku,” sahut Li Bok-chiu.

Siao-liong-li tersenyum dingin oleh jawaban orang, ia pun tidak ber-kata lagi, tetapi lantas berjalan menuju ke pintu sambil menggandeng tangan Yo Ko. Lagu suara serta tingkah laku Siao-liong-li seperti membawa semacam keangkeran yang tidak bisa dibantah orang, maka Li Bok-chiu berdua pun lantas mengikut di belakangnya, cuma senantiasa ia berlaku waspada, sedikit pun tak berani lengah.

Meski diikuti orang dari belakang, namun Siao-liong-li masih terus jalan ke depan dengan menggandeng tangan Yo Ko, sama sekali tidak ada pikiran kalau sang Suci mungkin akan membokong dirinya. Ia terus masuk ke kamar peti mati batu.

Meski Li Bok-chiu sudah pernah tinggal di dalam kuburan kuno ini, namun kamar makam yang ini ternyata belum dikenalnya. Teringat olehnya budi mendiang gurunya yang sudah mendidiknya, dalam hatinya rada pilu juga, tetapi bila teringat sang guru berat sebelah, pilih kasih pada sesama muridnya, rasa duka itu seketika berubah menjadi marah, dan karena ini dia tidak berlutut dan menyembah pada abu makam gurunya.

“Hubungan kami antara guru dan murid sudah lama terputus, untuk apa membawa aku ke sini?” dengan marah segera ia damperat Siao-liong-li.

“Bukankah disini masih tersisa dua peti mati kosong, yang satu disediakan untuk kau dan yang lain buat aku,” kata Siao-liong-li kemudian dengan tawar saja, “Sebab inilah aku ingin tanya dulu padamu, kau suka peti yang mana, boleh kau pilih sesukamu.”

Ia berkata sambil menuding pada kedua peti batu yang masih kosong itu. Keruan saja tidak kepalang marahnya Li Bok-chiu.

“Kurang ajar, berani kau mempermainkan aku?!” bentaknya murka, sekali pukul tahu-tahu telapak tangannya telah menuju dada Siao-liong-li.

Demikian cepat pukulan ini hingga tampak dengan segera tangannya akan mampir di dada orang. Namun Siao-liong-li ternyata masih diam saja, sedikit pun ia tidak berusaha menangkis atau mengelakkan diri. Keruan berbalik Li Bok-chiu sendiri tertegun.

“Jika kena, pasti dia mampus seketika,” pikir Li Bok-chiu, dan karena orang masih tetap tidak menangkis, tiba-tiba telapak tangannya yang tinggal beberapa senti di depan dada Siao-liong-li itu mendadak dia tarik kembali mentah-mentah.

Di lain pihak Siao-liong-li ternyata masih tenang-tenang saja meski setiap saat jiwanya terancam bahaya.

“Suci, Toan-liong-ciok pintu kuburan sudah menutup rapat!” demikian katanya.

“Haa?!” seru Li Bok-chiu kaget, seketika mukanya menjadi pucat pasi.

Ya, meski tidak semua perangkap rahasia di dalam kuburan ini dikenalinya, namun ‘Toan-liong-ciok’ atau batu pemotong naga, yaitu dua batu raksasa penutup pintu kuburan tadi, cukup dikenalnya sebagai satu jalan paling lihay pada saat terakhir. Dahulu batu raksasa itu disediakan gurunya untuk men-jaga bila kedatangan musuh tangguh yang tidak bisa dilawan, maka batu itu dapat dipakai sebagai benteng pertahanan, siapa tahu dirinya kini justru kena ditutup rapat di dalam kuburan oleh sang Sumoay.

“Kau tahu jalan ke... keluar lain, bukan?” tanyanya kemudian dengan suara ter-putus-putus.

“Kau sendiri cukup tahu, bila mana Toan-liong-ciok sudah menutup, maka pintu kuburan tidak akan bisa dibuka lagi,” kata Siao-liong-li dingin.

“Kau bohong!” teriak Li Bok-chiu dengan bengis sambil jambret dada orang.

Walau pun diperlakukan secara kasar, tetap saja Siao-liong-li tidak melawan atau menjadi marah.

“Nah, di sanalah Giok-li-sim-keng yang ditinggalkan Suhu, jika kau ingin membacanya, pergilah baca sesukamu,” kata Siao-liong-li lagi tetap tenang. ”Aku sendiri menanti di sini bersama Ko-ji, mau kau bunuh, boleh kau lakukan, tetapi kalau kau ingin keluar dari sini, kukira tidak mungkin lagi!”

Melihat sikap orang, tangan Li Bok-chiu yang menjambret baju dada Siao-liong-li kini per-lahan menjadi kendur dan lurus ke bawah lagi. Dengan penuh perhatian dia coba awasi orang, melihat wajah Siao-liong-li mengunjuk sikap acuh tak acuh, maka percayalah dia bahwa sang Sumoay tidak berdusta.

“Baik juga, biar kubunuh dahulu kalian berdua!” katanya tiba-tiba, pikirannya mendadak berubah.

Berbareng ini sebelah telapak tangannya dia pukulkan ke muka Siao-liong-li. Diluar dugaan, se-konyong-konyong Yo Ko melompat maju terus menghadang di depan Siao-liong-li.

“Mau bunuh, bunuh saja diriku!” demikian teriaknya.

Karena ini, telapak tangan Li Bok-chiu berubah arah menuju dada Yo Ko, namun sesudah dekat, sesaat masih dia tahan dan tidak dipukulkan terus, dengan sorot mata gemas dia memandang marah.

“Lagi-lagi sedemikian rupa kau membela dia, apa kau memang sudah rela mati untuk dia?” tanyanya kemudian.

“Ya!” sahut Yo Ko dengan suara lantang.

Atas jawaban ini, secepat kilat Li Bok-chiu sudah dapat merampas pedang Yo Ko yang terselip di ikat pinggangnya, dengan senjata rampasan ini segera ditodongkannya ke tenggorokan anak itu.

“Aku hanya perlu membunuh satu orang saja,” kata Li Bok-chiu. “Coba kau katakan sekali lagi, kau yang mati atau dia yang mati?”

Yo Ko tidak menjawab, dia pandang Siao-liong-li sambil tertawa, Nyata tatkala itu mereka berdua sudah tak menghiraukan mati-hidup lagi, tidak peduli Li Bok-chiu akan membunuh mereka dengan cara bagaimana, yang jelas mereka tidak akan menggubrisnya. Nampak kelakuan Yo Ko dan Siao-liong-li ini, Li Bok-chiu menghela napas panjang, pedangnya dilemparkan ke lantai.

“Sudahlah, Sumoay, sumpahmu sudah batal, sekarang kau boleh bebas keluar dari sini,” katanya dengan suara lemah.

Sebab apakah tiba-tiba Li Bok-chiu berkata demikian.....?

TULISAN DALAM BAJU KAPAS

Kiranya Ko-bong-pay yang didirikan oleh Lim Tiao-eng ini, karena dulu dia mencintai Ong Tiong-yang secara sepihak dan tidak terbalas, dalam dukanya maka Lim Tiao-eng sudah menetapkan satu peraturan perguruan yang keras, yaitu barang siapa yang menjadi ahli waris golongan Ko-bong-pay harus bersumpah untuk selama hidupnya menetap di kuburan kuno dan seumur hidup tidak akan turun dari Cong-lam-san.

Akan tetapi ada sebuah kekecualian, yakni apa bila ada seorang pemuda dengan rela dan tulus hati bersedia mati untuknya, maka sumpah seumur hidup tak akan turun gunung itu menjadi batal. Hanya saja hal ini sekali-kali tidak boleh diketahui lebih dulu oleh lelaki itu. Sebab Lim Tiao-eng anggap kaum laki-laki di seluruh jagat semuanya berhati palsu, tidak ada laki-laki yang rela mati untuk seorang perempuan. Tetapi bila betul-betul ada orangnya, maka anak murid keturunannya boleh mengikuti lelaki itu turun gunung.

Li Bok-chiu sendiri lebih dulu masuk perguruan dari pada Siao-liong-li, maka seharusnya dialah yang menjadi ahli waris Ko-bong-pay, tetapi karena dia tidak mau bersumpah untuk tidak turun gunung, maka akhirnya Siao-liong-li yang diangkat sebagai ahli waris Ko-bong-pay.

Melihat Yo Ko begitu tulus dan setia pada Siao-liong-li, tanpa terasa dari kagum, iri, terasa menjadi benci pula. Teringat oleh Li Bok-chiu ketika dulu Liok Tian-goan telah ingkar janji dan membuat dia patah hati, maka tiba-tiba ia menjadi beringas lagi.

“Ya, Sumoay, kau sungguh beruntung sekali,” teriaknya mendadak, kemudian dia sambar pedang yang jatuh tadi terus ditusukkan ke tenggorokan Yo Ko.

Melihat tusukan orang sekali ini benar-benar keji dan sungguhan, dalam keadaan berbahaya itu, tidak bisa tidak Siao-liong-li harus menolong Yo Ko. Belasan butir Giok-hong-soa dia hamburkan lagi. Lekas Li Bok-chiu enjot kakinya, dia meloncat ke atas menghindari serangan pasir berbisa itu. Tetapi kesempatan ini kembali dipergunakan Siao-liong-li dengan baik, ia tarik Yo Ko dan berlari lagi ke pintu dengan cepat.

“Suci, tidak perlu kau pikirkan sumpahku batal atau tidak. Tapi pendek kata kita berempat rupanya sudah pasti akan mati bersama dalam kuburan ini,” demikian Siao-liong-li masih berpaling dan berseru pada Li Bok-chiu, “Aku tidak ingin melihat rupamu lagi, biarlah kita mati sendiri-sendiri saja.”

Sembari berkata ia meraba ujung dinding, lalu turun lagi pintu batu, kembali mereka berempat di-pisahkan. Sementara itu, saking tergoncangnya perasaan Siao-liong-li, seketika sukar melangkah lagi, Iekas Yo Ko memayangnya dan dibawa mengaso ke kamarnya Sun-popoh. Yo Ko menuang dua cangkir madu tawon, dia serahkan secangkir pada Siao-liong-li dan dia sendiri minum secangkir.

“Ko-ji, coba kau katakan, mengapa kau rela mati untuk aku?” tanya Siao-liong-li kemudian sambil menghela napas perlahan.

“Ya, di dunia ini hanya kau saja yang sangat baik padaku, mengapa aku tidak mau mati untukmu?” sahut Yo Ko tegas.

Mendengar jawaban yang pasti ini, Siao-liong-li berbalik terdiam. “Kalau tahu begini sebelumnya, kita pun tidak perlu lagi kembali ke dalam kuburan untuk mati bersama mereka,” katanya sesudah lewat sejenak.

“Kokoh, apa kita tak bisa berdaya untuk keluar?” tanya Yo Ko.

“Nyata kau tidak tahu betapa kuat bangunan kuburan ini,” sahut Siao-liong-li. “Walau pun kepandaianku sepuluh kali lebih tinggi lagi juga tak akan mampu keluar.”

Mengerti jawaban orang ini bukan omong kosong belaka, Yo Ko menjadi putus asa dan menghela napas.

“Kau menyesal bukan?” tanya Siao-liong-li.

“Tidak, tidak,” sahut Yo Ko cepat dan pasti “sedikitnya di sini aku berada bersama kau, padahal di luar sana tiada seorang pun yang sayang padaku.”

Dulu Siao-liong-li sudah pernah melarang Yo Ko mengatakan “kau sayang padaku” segala, karenanya sejak itu Yo Ko tak pernah mengucapkannya lagi. Tapi kini perasaannya telah berubah, maka demi mendengar kata-kata itu, sebaliknya terasalah semacam perasaan yang hangat dan mesra.

“Kalau begitu, kenapa kau menghela napas?” ia tanya lagi.

“Kokoh, aku pikir apa bila kita bisa sama-sama turun gunung, di dunia luar sana banyak sekali hal yang sangat menarik. Lagi pula kau selalu mendampingi aku, siapa pun tentu tak ada yang berani menghina aku lagi,” sahut Yo Ko.

Sesungguhnya hati Siao-liong-li bersih dan tenang, sebab sejak bayi dia tinggal di dalam kuburan kuno ini dan selamanya sang guru dan Sun-popo tidak pernah bercerita tentang keadaan di dunia luar. Dengan sendirinya hal semacam itu pun tak pernah dia bayangkan, akan tetapi kini di-sebut Yo Ko, tanpa tertahan perasaannya menjadi bergolak dan susah ditekan.

Siao-liong-li merasa darah hangat di dadanya serasa mendidih dan membanjir ke atas. Ia berniat kumpulkan Iwekang-nya buat mengatasi, namun tetap tidak menjadi tenang. Diam-diam dia heran dan terkejut. Dia merasa seumur hidupnya belum pernah mengalami pergolakan serupa ini, ia pikir tentu hal ini disebabkan sehabis terluka parah, maka tenaga dalam sukar dipulihkan kembali.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar