Tapi sayang ia tidak keburu mendapat tahu, sedang Hek Tay-thong yang waktu itu berada di Tiong-yang-kong, karena tabiatnya juga keras, maka terjadilah drama yang membawa ekor panjang ini.
Begitulah, sementara para imam yang digerakkan Thio Ci-kong mengerubut maju, lambat laun jaring-jaring Pak-tau-tin mereka mulai sempit, tampaknya dengan segera Sun-popoh akan tertawan hidup-hidup. Tak terduga, meski tujuh imam itu mendesak sampai jarak sekitar tiga langkah lagi, namun Sun-popoh masih bisa menjaga diri dengan rapat luar biasa, bagaimana pun mereka menyerang tetap tak mampu maju lebih dekat lagi.
Jika Pak-tau-tin ini langsung dipimpin Thio Ci-kong sendiri dan ikut bergerak, sebenarnya siasat mengepungnya masih bisa banyak berubah pula. Tapi karena pundak Ci-kong telah terluka, ia merasa kuatir anak panah itu berbisa, kalau dia bergerak, mungkin bekerjanya racun akan bertambah cepat. Maka ia hanya berdiri di samping sambil memberi petunjuk saja. Karena ia sendiri tidak ikut maju, dengan sendirinya daya tekanan barisan bintang mereka menjadi kurang kuat.
Begitulah, sesudah lama masih belum dapat mengalahkan orang, perlahan para imam itu menjadi kelabakan sendiri. Dalam pada itu mendadak terdengar Sun-popoh menggertak satu kali, lalu tiba-tiba ia lemparkan pedang di tangannya terus menyerobot maju selangkah, menerobos di bawah sinar pedang dan secepat kilat berhasil menjamberet dada seorang imam muda, berbareng imam itu ia angkat.
“lmam busuk, sekarang kalian mau beri jalan atau tidak?!” teriak Sun-popoh murka.
Karena kawannya tertawan secara tak terduga-duga, maka seketika imam yang lain jadi tertegun. Tapi pada saat itu juga dari belakang imam-imam Coan-cin-kau menyerobot keluar satu orang, lalu sekali menggerakkan tangannya, dengan Kim-na-jiu-hoat (ilmu cara mencekal dan menangkap) mendadak ia menyanggah lengan Sun-popoh.
Sebelum Sun-popoh dapat melihat jelas wajah orang yang datang tiba-tiba ini, sudah terasa olehnya pergelangan tangan menjadi pegal linu, tahu-tahu imam muda yang dia tawan kena direbut orang, menyusul lagi segera ada angin santer yang menyambar dari depan, nyata orang itu telah menambahkan sekali pukulan yang mengarah ke muka Sun-popoh.
“Cepat benar gerak pukulan orang ini,” diami-diam Sun-popoh membatin, oleh karenanya secepat kilat pula ia membalas dengan pukulan juga.
Kedua telapak tangan saling bentur sehingga terdengar suara nyaring, nyata Sun-popoh sendiri tergetar mundur satu tindak. Orang itu hanya tergetar mundur juga, akan tetapi hanya bergeser sedikit saja, kemudian pukulan kedua kalinya segera dikirim lagi tanpa berhenti.
Seperti tadi, kembali Sun-popoh mengangkat tangannya menangkis, dan karena saling beradunya tangan, kembali Sun-popoh tergetar mundur satu tindak, sebaliknya orang itu malah bisa melangkah maju sedikit, lalu disusul lagi dengan pukulan yang ketiga.
Demikianlah secara susul-menyusul dan satu lebih cepat dari yang lain, be-runtun orang itu menyerang tiga kali, dan Sun-popoh beruntun terdesak mundur tiga tindak, karenanya orang tua ini sempat memandang wajah penyerangnya ketika pukulan ke empat kalinya dilontarkan orang itu pula. Kini Sun-popoh telah membelakangi tembok, ia sudah kepepet dan tiada jalan mundur lagi.
Akan tetapi pukulan sekali ini tidak penuh dikeluarkan oleh orang itu. Begitu saling tempel dengan tangan Sun-popoh yang menangkisnya, segera dengan suara lantang ia bersuara:
“Popoh, hendaklah kau memberikan obat penawarnya dan tinggalkan anak ini saja!”
Waktu Sun-popoh menegasi, maka tampaklah olehnya orang ini rambut alisnya sudah putih semua, air mukanya kuning hangus, siapa lagi dia kalau bukan Hek Tay-thong yang siang harinya telah mengusir tawonnya dengan asap obor itu. Sun-popoh menyadari kepandaian dan keuletan imam tua ini masih berada di atas dirinya. Jika tenaga pukulan ke empat kalinya ini dilontarkan penuh, mungkin dirinya tidak kuat menahan lagi. Tetapi wataknya yang keras itu tidak mengijinkan dia menyerah mentah-mentah.
“Kau ingin aku tinggalkan bocah ini, kau bunuh nenekmu dulu,” demikian ia membentak.
Hek Tay-thong tahu orang tua ini punya hubungan baik dengan mendiang gurunya, maka dia tak ingin mencelakainya, tenaga pukulannya masih dia tahan dan tidak dilontarkan.
“Kita bertetangga selama puluhan tahun, untuk apa harus cekcok karena satu anak kecil saja?” ia berkata dengan halus.
Akan tetapi Sun-popoh ternyata tidak gampang diajak berunding. “Hmm,” demikian jawabnya dengan menjengek, “aku datang kesini dengan maksud baik mengantar obat, jika tidak percaya kau boleh tanya anak muridmu, apa aku bohong tidak?”
Karena keterangan ini, segera Hek Tay-thong hendak menoleh buat bertanya, tetapi diluar dugaan se-konyong-konyong Sun-popoh menggerakkan sebelah kaki-nya, tahu-tahu melayang menendang ke bagian selangkangannya. Tendangan ini ternyata sangat keji, pula datangnya tanpa suara dan tak ada tanda sama sekali, tubuhnya tidak bergerak, Kun-nya juga tidak bergoyang, tapi tahu-tahu kaki sudah melayang tiba. Disinilah letak kelihayan ‘Kun-lay-tui’ atau ilmu tendangan kaki dari balik Kun itu.
Karena itu, pada waktu Hek Tay-thong mengetahui dirinya diserang, sementara kaki Sun-popoh telah melayang sampai dekat perutnya, sekali pun dengan cepat ia bisa melompat mundur, namun pasti tidak keburu Iagi. Namun Hek Tay-thong bukan anak murid Tiong-yang Cinjin yang diakui ahli silat nomor satu di seluruh kolong langit kalau dengan begitu ia kena diserang, sudah banyak pula pertempuran besar dia hadapi, maka dalam keadaan sangat berbahaya itu, tanpa pikir lagi ia segera kumpulkan tenaga pada tangannya terus mendorong ke depan, karena itu Sun-popoh tak kuat menahan hingga kena didorong mundur.
Tatkala itu punggung Sun-popoh sudah mepet pagar tembok. Ketika mendadak didorong orang dengan kuat, dia menjadi tidak tahan. Terdengarlah suara “bluk” yang keras disusul dengan berhamburnya bata dan kapur pasir tembok yang gugur, tanpa ampun lagi Sun-popoh muntah darah segar, dia terkulai ke tanah untuk selanjutnya tak sadarkan diri lagi.
Tak kepalang kejut Yo Ko melihat orang tua yang disayanginya itu jatuh semaput, dengan cepat ia tengkurap menutupi badan Sun-popoh yang sudah menggeletak tak berkutik itu.
“Jika kalian hendak membunuh orang, bunuhlah aku saja, siapa pun tak boleh mencelakai Popoh!” demikian teriaknya.
Rupanya suara teriakan ini masih bisa didengar Sun-popoh, maka orang tua ini telah pentang sedikit matanya dan unjuk senyumnya,
“Ya, nak, biar kita berdua mati bersama di sini,” katanya dengan suara lemah. Tiba-tiba Yo Ko pentangkan kedua tangannya melindungi Sun-popoh, dengan membelakangi Hek Thay-thong dan lain-lain, sedikit pun ia tidak hiraukan keselamatan dirinya lagi.
Dengan serangannya tadi, sebenarnya Hek Tay-thong telah menggunakan pukulan berat. Melihat lawannya terkulai, dalam hati ia amat menyesal, dengan sendirinya tidak akan ia susulkan serangan lain pula. Maka segera ia ingin mengetahui keadaan luka Sun-popoh dengan maksud akan memberi obat untuk menyembuhkan lukanya, tetapi keadaan si nenek tidak dapat dilihatnya karena dihalangi tubuh Yo Ko yang tengkurap.
“Yo Ko, menyingkir kau, biar aku periksa keadaan Popoh,” dengan suara lembut dia coba membujuk.
Tetapi mana Yo Ko mau menurut, bahkan dengan kedua tangannya ia justru merangkul Sun-popoh dengan kencang.
Hek Thay-thong mengulangi lagi bujukannya hingga beberapa kali, tapi Yo Ko masih tetap tidak menggubrisnya. Akhirnya ia menjadi gelisah, ia tak sabar lagi, segera punggung Yo Ko ditariknya.
“lmam busuk, tak boleh kau mencelakai Popoh,” segera Yo Ko ber-teriak-teriak.
Dalam keadaan ribut-ribut itu, sekonyong-konyong terdengar suara orang menyindir dari belakang mereka:
“Hm, menganiaya nenek dan anak kecil terhitung orang gagah macam apakah ini?”
Suara itu begitu ketus dan dingin sehingga hati Hek Tay-thong tergetar. Cepat dia menoleh, tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu pendopo besar. Seluruh badan gadis ini mengenakan pakaian berkabung yang putih mulus. Entah kenapa sinar matanya itu se-akan menyorotkan rasa dingin yang tak terhingga bagi orang yang menatapnya.
Hek Tay-thong kaget oleh munculnya orang secara mendadak ini. Ia tahu, apa bila genta tanda bahaya Tiong-yang-kiong mereka berbunyi maka dalam jarak sejauh belasan li yang terdapat penjagaan rapat luar biasa itu segera akan terdengar, akan tetapi datangnya gadis jelita ini sebelumnya ternyata tiada seorang pun yang memberi-tahu dengan tanda bahaya, entah cara bagaimana gadis jelita ini masuk secara diam-diam tanpa diketahui.
“Siapakah nona? Ada keperluan apakah?” segera ia bertanya.
Akan tetapi gadis itu tidak menjawab melainkan memelototinya sekali sambil mendekati Sun-popoh yang menggeletak tak berdaya. Sementara itu rupanya Yo Ko sudah tahu siapa gerangan yang datang. Anak ini telah mendongak dan dengan suara pilu ia berkata:
“Liong-kokoh, Sun-popoh telah dipukul mati oleh imam jahat ini!”
Kiranya gadis jelita berbaju putih ini memang betul Siao-liong-li adanya. Tadi waktu Sun-popoh membawa Yo Ko meninggalkan kuburan, lalu masuk ke kuil imam Coan-cin-kau dan bergebrak dengan mereka, semuanya ini selalu dikuntit Siao-liong-li dari belakang dan disaksikannya dengan jelas. Dia menduga tidak akan Hek Tay-thong turun tangan yang mematikan, maka selama itu ia tidak unjuk diri, namun siapa tahu keadaan se-konyong-konyong berubah hingga akhirnya Sun-popoh terluka parah. Ia bermaksud menolong, namun sudah tidak keburu.
Dan ketika dengan mati-matian Yo Ko berusaha melindungi Sun-popoh, peristiwa ini pun dapat dilihatnya, dalam hati dia pikir anak ini ternyata mempunyai jiwa jantan juga. Maka kini demi nampak anak ini berkata sambil matanya mengembeng air mata, Siao-liong-li lantas meng-angguk-angguk:
“Ya, setiap orang pasti akan mati, itu bukan soal apa-apa.”
Aneh sekali jawabannya ini, padahal semenjak kecil Sun-popoh yang membesarkannya, hubungan mereka boleh dikata laksana ibu dan anak, akan tetapi dasar watak Siao-liong-li memang dingin, ditambah lagi semenjak kecil ia sudah berlatih Iwekang, sudah dilatihnya hingga tanpa emosi sedikit pun, sama sekali dia tidak pernah mengunjuk rasa suka-duka atau pun senang dan marah.
Memang luka Sun-popoh yang amat berat itu terang sukar disembuhkan kembali, dengan sendirinya terasa pilu juga olehnya. Akan tetapi rasa duka-pilu ini boleh dikatakan hanya sekilas saja berkelebat di lubuk hatinya untuk kemudian lantas lenyap, air muka gadis ini masih tetap tidak mengunjuk sesuatu perasaan.
Di lain pihak, demi mendengar Yo Ko memanggil gadis jelita ini sebagai ‘Liong-kokoh’ (bibi Liong), maka tahulah Hek Tay-thong bahwa gadis cantik ayu yang berada di hadapannya ini bukan lain adalah Siao-liong-li yang pernah mengusir Pangeran Hotu dari Mongol tanpa unjuk diri, keruan ia jadi lebih-lebih heran.
Hendaklah diketahui bahwa sejak Pangeran Hotu ngacir dari Cong-lam-san, peristiwa ini sekejap saja lantas tersiar luas di kalangan Kangouw, meski pun setapak saja Siao-liong-li belum pernah menginjakkan kakinya ke bawah gunung Cong-lam-san, namun namanya ternyata sudah tersohor di dunia persilatan dan disegani setiap orang.
Begitulah dengan perlahan Siao-liong-li berpaling kemudian memandang para imam Coan-cin-kau itu satu demi satu. Kecuali Hek Tay-thong yang Iwekang-nya terlatih lebih dalam sehingga hatinya lebih tenang dan tidak gampang terpengaruh, maka imam-imam yang lain semuanya melihat kedua mata bola gadis jelita ini se-akan sebening dan mengkilap seperti air, tapi memancarkan sinar dingin menusuk seperti es, karenanya tanpa tertahan mereka sama bergidik seperti orang kedinginan.
“Bagaimana keadaanmu, Popoh?” tiba-tiba Siao-liong-li tanya Sun-popoh sambil berjongkok untuk memeriksa lukanya.
“Nona,” sahut Sun-popoh dengan menghela napas lemah, “selama hidupku tiada pernah aku memohon sesuatu padamu, sekali pun memohon, kalau sudah kau tolak, tetap saja kau tolak.”
Siao-liong-li adalah gadis yang pintar luar biasa, maka demi mendengar lagu perkataan orang, ia lantas tahu kemana orang hendak berkata.
“Dan sekarang apa yang hendak kau mohonkan kepadaku?” tanyanya kemudian sambil mengerutkan kening.
Sun-popoh meng-angguk-angguk, ia menuding Yo Ko, tapi seketika tak sanggup mengucapkan sesuatu.
“Kau ingin aku menjaga dia?” tanya Siao-liong-li lagi.
“Ya,” jawab Sun-popoh dengan sisa tenaga yang masih ada padanya. “Kau harus menjaga dia seumur hidupnya, jangan kau biarkan dia dihina orang barang sedikit pun. Bagaimana, kau sanggup tidak?”
“Menjaga dia seumur hidup?” mengulangi Siao-liong-li dengan ragu-ragu.
“Ya,” kata Sun-popoh lagi dengan suara keras, “Nona, kalau aku si tua ini tidak mati, aku pun akan menjaga kau seumur hidup. Pada waktu kecilmu, makan, tidur, mandi, ngompol, semua ini apa bukan nenek sendiri yang mengerjakannya? Dan untuk semua ini, balasan apa yang pernah kau limpahkan padaku?”
Karena kata-kata Sun-popoh ini, Siao-liong-li menggigit-gigit bibir, agaknya pertentangan batinnya sedang bekerja hebat.
“Baiklah, aku menyanggupi permohonanmu,” katanya kemudian dengan tegas.
Maka puaslah Sun-popoh oleh jawaban ini, dari mukanya yang jelek itu tampak senyuman lembut, matanya kemudian menatap Yo Ko, rupanya seperti ada sesuatu yang hendak dia katakan pada bocah itu, tetapi napasnya sudah memburu hingga tak sanggup bersuara.
Yo Ko yang cerdik itu tahu maksud si orang tua, maka cepat ia tempelkan telinganya ke mulut orang.
“Popoh, adakah sesuatu yang hendak kau katakan padaku?” tanyanya dengan suara perlahan.
“Mepetlah sedikit Iagi,” pinta Sun-popoh.
Betul juga Yo Ko berjongkok lebih rendah sehingga kupingnya menempel dengan bibir orang.
“Baju kapas yang ku.... kupakai ini harus kau simpan baik-baik, di... di...” demikian kata Sun-popoh dengan suara lemah sekali hingga akhirnya napasnya tak sampai, maka berhenti-lah dia.
Tiba-tiba ia menyemburkan darah segar hingga seluruh muka Yo Ko dan bajunya basah kuyup oleh darah, habis ini Sun-popoh menutup matanya dan menghembuskan napasnya yang terakhir.
“Popoh, Popoh!” Yo Ko menjerit-jerit, ia menggelendot di atas badan orang tua yang telah tak bernyawa itu dan menangis ter-gerung-gerung.
Tangisan Yo Ko ini benar-benar mengharukan sekali dan timbul dari hatinya yang murni. Para imam yang mendengarkan itu mau tidak mau ikut tergerak juga perasaannya, lebih-lebih Hek Tay-thong, ia menjadi menyesal tidak kepalang.
“Popoh,” kata Hek Tay-thong sambil mendekati jenazah Sun-popoh dan memberi hormat, “tak disengaja aku telah menewaskan kau, hal ini sebenarnya bukan tujuanku. Dosa utang jiwa sudah menimpa pada diriku, mana berani aku mengelakkannya. Harap mangkatlah engkau dengan baik dan tenang!”
Mendengar kata orang yang se-akan sedang sembahyang ini, Siao-liong-li hanya berdiri saja tanpa buka suara. Sehabis Hek Tay-thong berkata, kemudian mereka berdua lantas saling berhadapan dan saling pandang.
“Bagaimana? Kau tidak lantas bunuh diri, apa perlu aku sendiri yang turun tangan?” kata Siao-liong-li tiba-tiba dengan mengkerutkan kening.
Hek Tay-thong terhitung imam yang beribadat tinggi, akan tetapi demi mendengar kata-kata Siao-liong-li tadi, tidak urung ia melengak juga.
“Ha, apa?” ia menegas.
“Apa?” kata Siao-liong-li mengejek “Hm, bunuh orang harus ganti jiwa, maka lekaslah kau bunuh diri supaya urusan menjadi selesai, dengan begitu aku lantas ampuni jiwa semua orang di kuilmu ini.”
Keruan kata-kata yang luar biasa ini seketika membikin suasana menjadi gempar, sebelum Hek Tay-thong buka suara, para imam yang lain sudah pada ribut. Sementara itu di pendopo depan sudah berkumpul imam Coan-cin-kau sebanyak tiga-empat puluh orang, seketika juga mereka pada balas mendamperat be-ramai-ramai atas ucapan Siao-liong-li yang tak pantas tadi.
“Eh, nona cilik, lekas kau pergi saja, kami tidak akan merintangi kau lagi!”
“Hm, perempuan sekecil ini, berani betul kau mengoceh seenaknya!”
Begitulah antara lain kata-kata yang terdengar diucapkan para imam itu. Mendengar kawannya mengeluarkan kata-kata kurang hormat, lekas Hek Tay-thong memberi tanda supaya diam.
Di lain pihak Siao-liong-li ternyata anggap sepi saja berisik imam-imam tadi. Dengan perlahan ia keluarkan segulung sutera putih yang halus tipis dari dalam bajunya. Semua orang menjadi heran lantas saling pandang. Mereka tidak tahu hendak digunakan apakah sutera putih ini.
Tetapi lantas tertampak Siao-liong-li menjereng kain suteranya. Ia masukkan potongan kain putih itu pada tangan kirinya, lalu tangan yang kanan dipakainya pula kain putih yang lain., Kiranya kain sutera putih itu adalah sepasang sarung tangan.
“Nah, imam tua, kalau kau tamak hidup dan takut mati, kalau kau tidak berani bunuh diri, maka bolehlah kau loloskan senjatamu sekarang!” dengan suara perlahan Siao-liong-li menantang.
Hek Tay-thong tersenyum sedih atas tantangan Siao-liong-li ini. “Sudahlah, aku telah salah mencelakai Sun-popoh, maka tak ingin bertengkar dengan kau lagi, bolehlah kau membawa Yo Ko pergi dari kuil ini,” katanya kemudian.
Menurut jalan pikiran Hek Tay-thong, biar pun Siao-liong-li dapat mengusir pangeran Hotu sehingga namanya terkenal di kolong langit, tapi betapa pun juga mengandalkan kekuatan tawon putih piaraannya. Dalam usia semuda ini, sungguh pun ilmu silatnya mendapatkan ajaran guru kosen juga tak akan letih kuat dari pada Sun-popoh. Oleh karena itu, kalau dia mengijinkan Siao-liong-Ii pergi sambil membawa Yo Ko, boleh dikatakan ia ingin urusan ini menjadi damai dan tidak terjadi percekcokan lagi, jadi sebenarnya ia sudah berlaku murah hati.
Tapi siapa tahu, kata-katanya tadi seperti tidak didengar oleh Siao-Iiong-Ii. Ketika tangan kiri si gadis bergerak, se-konyong-konyong seutas kain sutera putih melayang terus menyambar ke muka Hek Tay-thong. Gerak serangan ini datangnya terlalu cepat dan tanpa suara, sebelumnya pun tidak ada tanda-tanda Siao-liong-li hendak melontarkan serangan, di bawah sorotan sinar api lilin, ujung selendang sutera itu tampak pula terikat dengan sebuah bola kecil berwarna emas.
Melihat tipu serangan orang yang demikian cepat, pula senjata yang dipakai ini aneh luar biasa, seketika itu Hek Tay-thong menjadi bingung, dia tidak tahu cara bagaimana harus menangkisnya. Tapi usianya sudah lanjut, dengan sendirinya segala sesuatu dia lakukan dengan sangat tenang, meski dia yakin kepandaian sendiri lebih tinggi beberapa kali lipat dari lawannya, namun tak berani juga ia sambut serangan tadi. Maka dengan mengegos saja ia berkelit ke kiri.
Di luar dugaan, selendang sutera Siao-liong-li yang membawa senjata di bagian ujung itu ternyata dapat memutar di tengah udara. Ketika Hek Tay-thong berkelit ke kiri, tahu-tahu selendang sutera ini pun ikut mengarah ke kiri, maka terdengarlah suara “ting-ting-ting” tiga kali, bola kecil yang terikat pada ujung selendang itu tiba-tiba berbunyi sendiri tiga kali terus menutul ke mukanya mengarah tiga tempat Hiat-to.
Cara menyerang tiga tempat sekaligus ini cepat dan jitu, sekali pun Hek Tay-thong sudah memiliki banyak pengalaman, belum pernah juga dilihatnya, apa lagi di antara serangan itu terseling pula bunyi “ting-ting” yang nyaring, meski tidak keras suaranya, namun aneh sekali hingga hati orang terguncang.
Begitulah, sementara para imam yang digerakkan Thio Ci-kong mengerubut maju, lambat laun jaring-jaring Pak-tau-tin mereka mulai sempit, tampaknya dengan segera Sun-popoh akan tertawan hidup-hidup. Tak terduga, meski tujuh imam itu mendesak sampai jarak sekitar tiga langkah lagi, namun Sun-popoh masih bisa menjaga diri dengan rapat luar biasa, bagaimana pun mereka menyerang tetap tak mampu maju lebih dekat lagi.
Jika Pak-tau-tin ini langsung dipimpin Thio Ci-kong sendiri dan ikut bergerak, sebenarnya siasat mengepungnya masih bisa banyak berubah pula. Tapi karena pundak Ci-kong telah terluka, ia merasa kuatir anak panah itu berbisa, kalau dia bergerak, mungkin bekerjanya racun akan bertambah cepat. Maka ia hanya berdiri di samping sambil memberi petunjuk saja. Karena ia sendiri tidak ikut maju, dengan sendirinya daya tekanan barisan bintang mereka menjadi kurang kuat.
Begitulah, sesudah lama masih belum dapat mengalahkan orang, perlahan para imam itu menjadi kelabakan sendiri. Dalam pada itu mendadak terdengar Sun-popoh menggertak satu kali, lalu tiba-tiba ia lemparkan pedang di tangannya terus menyerobot maju selangkah, menerobos di bawah sinar pedang dan secepat kilat berhasil menjamberet dada seorang imam muda, berbareng imam itu ia angkat.
“lmam busuk, sekarang kalian mau beri jalan atau tidak?!” teriak Sun-popoh murka.
Karena kawannya tertawan secara tak terduga-duga, maka seketika imam yang lain jadi tertegun. Tapi pada saat itu juga dari belakang imam-imam Coan-cin-kau menyerobot keluar satu orang, lalu sekali menggerakkan tangannya, dengan Kim-na-jiu-hoat (ilmu cara mencekal dan menangkap) mendadak ia menyanggah lengan Sun-popoh.
Sebelum Sun-popoh dapat melihat jelas wajah orang yang datang tiba-tiba ini, sudah terasa olehnya pergelangan tangan menjadi pegal linu, tahu-tahu imam muda yang dia tawan kena direbut orang, menyusul lagi segera ada angin santer yang menyambar dari depan, nyata orang itu telah menambahkan sekali pukulan yang mengarah ke muka Sun-popoh.
“Cepat benar gerak pukulan orang ini,” diami-diam Sun-popoh membatin, oleh karenanya secepat kilat pula ia membalas dengan pukulan juga.
Kedua telapak tangan saling bentur sehingga terdengar suara nyaring, nyata Sun-popoh sendiri tergetar mundur satu tindak. Orang itu hanya tergetar mundur juga, akan tetapi hanya bergeser sedikit saja, kemudian pukulan kedua kalinya segera dikirim lagi tanpa berhenti.
Seperti tadi, kembali Sun-popoh mengangkat tangannya menangkis, dan karena saling beradunya tangan, kembali Sun-popoh tergetar mundur satu tindak, sebaliknya orang itu malah bisa melangkah maju sedikit, lalu disusul lagi dengan pukulan yang ketiga.
Demikianlah secara susul-menyusul dan satu lebih cepat dari yang lain, be-runtun orang itu menyerang tiga kali, dan Sun-popoh beruntun terdesak mundur tiga tindak, karenanya orang tua ini sempat memandang wajah penyerangnya ketika pukulan ke empat kalinya dilontarkan orang itu pula. Kini Sun-popoh telah membelakangi tembok, ia sudah kepepet dan tiada jalan mundur lagi.
Akan tetapi pukulan sekali ini tidak penuh dikeluarkan oleh orang itu. Begitu saling tempel dengan tangan Sun-popoh yang menangkisnya, segera dengan suara lantang ia bersuara:
“Popoh, hendaklah kau memberikan obat penawarnya dan tinggalkan anak ini saja!”
Waktu Sun-popoh menegasi, maka tampaklah olehnya orang ini rambut alisnya sudah putih semua, air mukanya kuning hangus, siapa lagi dia kalau bukan Hek Tay-thong yang siang harinya telah mengusir tawonnya dengan asap obor itu. Sun-popoh menyadari kepandaian dan keuletan imam tua ini masih berada di atas dirinya. Jika tenaga pukulan ke empat kalinya ini dilontarkan penuh, mungkin dirinya tidak kuat menahan lagi. Tetapi wataknya yang keras itu tidak mengijinkan dia menyerah mentah-mentah.
“Kau ingin aku tinggalkan bocah ini, kau bunuh nenekmu dulu,” demikian ia membentak.
Hek Tay-thong tahu orang tua ini punya hubungan baik dengan mendiang gurunya, maka dia tak ingin mencelakainya, tenaga pukulannya masih dia tahan dan tidak dilontarkan.
“Kita bertetangga selama puluhan tahun, untuk apa harus cekcok karena satu anak kecil saja?” ia berkata dengan halus.
Akan tetapi Sun-popoh ternyata tidak gampang diajak berunding. “Hmm,” demikian jawabnya dengan menjengek, “aku datang kesini dengan maksud baik mengantar obat, jika tidak percaya kau boleh tanya anak muridmu, apa aku bohong tidak?”
Karena keterangan ini, segera Hek Tay-thong hendak menoleh buat bertanya, tetapi diluar dugaan se-konyong-konyong Sun-popoh menggerakkan sebelah kaki-nya, tahu-tahu melayang menendang ke bagian selangkangannya. Tendangan ini ternyata sangat keji, pula datangnya tanpa suara dan tak ada tanda sama sekali, tubuhnya tidak bergerak, Kun-nya juga tidak bergoyang, tapi tahu-tahu kaki sudah melayang tiba. Disinilah letak kelihayan ‘Kun-lay-tui’ atau ilmu tendangan kaki dari balik Kun itu.
Karena itu, pada waktu Hek Tay-thong mengetahui dirinya diserang, sementara kaki Sun-popoh telah melayang sampai dekat perutnya, sekali pun dengan cepat ia bisa melompat mundur, namun pasti tidak keburu Iagi. Namun Hek Tay-thong bukan anak murid Tiong-yang Cinjin yang diakui ahli silat nomor satu di seluruh kolong langit kalau dengan begitu ia kena diserang, sudah banyak pula pertempuran besar dia hadapi, maka dalam keadaan sangat berbahaya itu, tanpa pikir lagi ia segera kumpulkan tenaga pada tangannya terus mendorong ke depan, karena itu Sun-popoh tak kuat menahan hingga kena didorong mundur.
Tatkala itu punggung Sun-popoh sudah mepet pagar tembok. Ketika mendadak didorong orang dengan kuat, dia menjadi tidak tahan. Terdengarlah suara “bluk” yang keras disusul dengan berhamburnya bata dan kapur pasir tembok yang gugur, tanpa ampun lagi Sun-popoh muntah darah segar, dia terkulai ke tanah untuk selanjutnya tak sadarkan diri lagi.
Tak kepalang kejut Yo Ko melihat orang tua yang disayanginya itu jatuh semaput, dengan cepat ia tengkurap menutupi badan Sun-popoh yang sudah menggeletak tak berkutik itu.
“Jika kalian hendak membunuh orang, bunuhlah aku saja, siapa pun tak boleh mencelakai Popoh!” demikian teriaknya.
Rupanya suara teriakan ini masih bisa didengar Sun-popoh, maka orang tua ini telah pentang sedikit matanya dan unjuk senyumnya,
“Ya, nak, biar kita berdua mati bersama di sini,” katanya dengan suara lemah. Tiba-tiba Yo Ko pentangkan kedua tangannya melindungi Sun-popoh, dengan membelakangi Hek Thay-thong dan lain-lain, sedikit pun ia tidak hiraukan keselamatan dirinya lagi.
Dengan serangannya tadi, sebenarnya Hek Tay-thong telah menggunakan pukulan berat. Melihat lawannya terkulai, dalam hati ia amat menyesal, dengan sendirinya tidak akan ia susulkan serangan lain pula. Maka segera ia ingin mengetahui keadaan luka Sun-popoh dengan maksud akan memberi obat untuk menyembuhkan lukanya, tetapi keadaan si nenek tidak dapat dilihatnya karena dihalangi tubuh Yo Ko yang tengkurap.
“Yo Ko, menyingkir kau, biar aku periksa keadaan Popoh,” dengan suara lembut dia coba membujuk.
Tetapi mana Yo Ko mau menurut, bahkan dengan kedua tangannya ia justru merangkul Sun-popoh dengan kencang.
Hek Thay-thong mengulangi lagi bujukannya hingga beberapa kali, tapi Yo Ko masih tetap tidak menggubrisnya. Akhirnya ia menjadi gelisah, ia tak sabar lagi, segera punggung Yo Ko ditariknya.
“lmam busuk, tak boleh kau mencelakai Popoh,” segera Yo Ko ber-teriak-teriak.
Dalam keadaan ribut-ribut itu, sekonyong-konyong terdengar suara orang menyindir dari belakang mereka:
“Hm, menganiaya nenek dan anak kecil terhitung orang gagah macam apakah ini?”
Suara itu begitu ketus dan dingin sehingga hati Hek Tay-thong tergetar. Cepat dia menoleh, tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu pendopo besar. Seluruh badan gadis ini mengenakan pakaian berkabung yang putih mulus. Entah kenapa sinar matanya itu se-akan menyorotkan rasa dingin yang tak terhingga bagi orang yang menatapnya.
Hek Tay-thong kaget oleh munculnya orang secara mendadak ini. Ia tahu, apa bila genta tanda bahaya Tiong-yang-kiong mereka berbunyi maka dalam jarak sejauh belasan li yang terdapat penjagaan rapat luar biasa itu segera akan terdengar, akan tetapi datangnya gadis jelita ini sebelumnya ternyata tiada seorang pun yang memberi-tahu dengan tanda bahaya, entah cara bagaimana gadis jelita ini masuk secara diam-diam tanpa diketahui.
“Siapakah nona? Ada keperluan apakah?” segera ia bertanya.
Akan tetapi gadis itu tidak menjawab melainkan memelototinya sekali sambil mendekati Sun-popoh yang menggeletak tak berdaya. Sementara itu rupanya Yo Ko sudah tahu siapa gerangan yang datang. Anak ini telah mendongak dan dengan suara pilu ia berkata:
“Liong-kokoh, Sun-popoh telah dipukul mati oleh imam jahat ini!”
Kiranya gadis jelita berbaju putih ini memang betul Siao-liong-li adanya. Tadi waktu Sun-popoh membawa Yo Ko meninggalkan kuburan, lalu masuk ke kuil imam Coan-cin-kau dan bergebrak dengan mereka, semuanya ini selalu dikuntit Siao-liong-li dari belakang dan disaksikannya dengan jelas. Dia menduga tidak akan Hek Tay-thong turun tangan yang mematikan, maka selama itu ia tidak unjuk diri, namun siapa tahu keadaan se-konyong-konyong berubah hingga akhirnya Sun-popoh terluka parah. Ia bermaksud menolong, namun sudah tidak keburu.
Dan ketika dengan mati-matian Yo Ko berusaha melindungi Sun-popoh, peristiwa ini pun dapat dilihatnya, dalam hati dia pikir anak ini ternyata mempunyai jiwa jantan juga. Maka kini demi nampak anak ini berkata sambil matanya mengembeng air mata, Siao-liong-li lantas meng-angguk-angguk:
“Ya, setiap orang pasti akan mati, itu bukan soal apa-apa.”
Aneh sekali jawabannya ini, padahal semenjak kecil Sun-popoh yang membesarkannya, hubungan mereka boleh dikata laksana ibu dan anak, akan tetapi dasar watak Siao-liong-li memang dingin, ditambah lagi semenjak kecil ia sudah berlatih Iwekang, sudah dilatihnya hingga tanpa emosi sedikit pun, sama sekali dia tidak pernah mengunjuk rasa suka-duka atau pun senang dan marah.
Memang luka Sun-popoh yang amat berat itu terang sukar disembuhkan kembali, dengan sendirinya terasa pilu juga olehnya. Akan tetapi rasa duka-pilu ini boleh dikatakan hanya sekilas saja berkelebat di lubuk hatinya untuk kemudian lantas lenyap, air muka gadis ini masih tetap tidak mengunjuk sesuatu perasaan.
Di lain pihak, demi mendengar Yo Ko memanggil gadis jelita ini sebagai ‘Liong-kokoh’ (bibi Liong), maka tahulah Hek Tay-thong bahwa gadis cantik ayu yang berada di hadapannya ini bukan lain adalah Siao-liong-li yang pernah mengusir Pangeran Hotu dari Mongol tanpa unjuk diri, keruan ia jadi lebih-lebih heran.
Hendaklah diketahui bahwa sejak Pangeran Hotu ngacir dari Cong-lam-san, peristiwa ini sekejap saja lantas tersiar luas di kalangan Kangouw, meski pun setapak saja Siao-liong-li belum pernah menginjakkan kakinya ke bawah gunung Cong-lam-san, namun namanya ternyata sudah tersohor di dunia persilatan dan disegani setiap orang.
Begitulah dengan perlahan Siao-liong-li berpaling kemudian memandang para imam Coan-cin-kau itu satu demi satu. Kecuali Hek Tay-thong yang Iwekang-nya terlatih lebih dalam sehingga hatinya lebih tenang dan tidak gampang terpengaruh, maka imam-imam yang lain semuanya melihat kedua mata bola gadis jelita ini se-akan sebening dan mengkilap seperti air, tapi memancarkan sinar dingin menusuk seperti es, karenanya tanpa tertahan mereka sama bergidik seperti orang kedinginan.
“Bagaimana keadaanmu, Popoh?” tiba-tiba Siao-liong-li tanya Sun-popoh sambil berjongkok untuk memeriksa lukanya.
“Nona,” sahut Sun-popoh dengan menghela napas lemah, “selama hidupku tiada pernah aku memohon sesuatu padamu, sekali pun memohon, kalau sudah kau tolak, tetap saja kau tolak.”
Siao-liong-li adalah gadis yang pintar luar biasa, maka demi mendengar lagu perkataan orang, ia lantas tahu kemana orang hendak berkata.
“Dan sekarang apa yang hendak kau mohonkan kepadaku?” tanyanya kemudian sambil mengerutkan kening.
Sun-popoh meng-angguk-angguk, ia menuding Yo Ko, tapi seketika tak sanggup mengucapkan sesuatu.
“Kau ingin aku menjaga dia?” tanya Siao-liong-li lagi.
“Ya,” jawab Sun-popoh dengan sisa tenaga yang masih ada padanya. “Kau harus menjaga dia seumur hidupnya, jangan kau biarkan dia dihina orang barang sedikit pun. Bagaimana, kau sanggup tidak?”
“Menjaga dia seumur hidup?” mengulangi Siao-liong-li dengan ragu-ragu.
“Ya,” kata Sun-popoh lagi dengan suara keras, “Nona, kalau aku si tua ini tidak mati, aku pun akan menjaga kau seumur hidup. Pada waktu kecilmu, makan, tidur, mandi, ngompol, semua ini apa bukan nenek sendiri yang mengerjakannya? Dan untuk semua ini, balasan apa yang pernah kau limpahkan padaku?”
Karena kata-kata Sun-popoh ini, Siao-liong-li menggigit-gigit bibir, agaknya pertentangan batinnya sedang bekerja hebat.
“Baiklah, aku menyanggupi permohonanmu,” katanya kemudian dengan tegas.
Maka puaslah Sun-popoh oleh jawaban ini, dari mukanya yang jelek itu tampak senyuman lembut, matanya kemudian menatap Yo Ko, rupanya seperti ada sesuatu yang hendak dia katakan pada bocah itu, tetapi napasnya sudah memburu hingga tak sanggup bersuara.
Yo Ko yang cerdik itu tahu maksud si orang tua, maka cepat ia tempelkan telinganya ke mulut orang.
“Popoh, adakah sesuatu yang hendak kau katakan padaku?” tanyanya dengan suara perlahan.
“Mepetlah sedikit Iagi,” pinta Sun-popoh.
Betul juga Yo Ko berjongkok lebih rendah sehingga kupingnya menempel dengan bibir orang.
“Baju kapas yang ku.... kupakai ini harus kau simpan baik-baik, di... di...” demikian kata Sun-popoh dengan suara lemah sekali hingga akhirnya napasnya tak sampai, maka berhenti-lah dia.
Tiba-tiba ia menyemburkan darah segar hingga seluruh muka Yo Ko dan bajunya basah kuyup oleh darah, habis ini Sun-popoh menutup matanya dan menghembuskan napasnya yang terakhir.
“Popoh, Popoh!” Yo Ko menjerit-jerit, ia menggelendot di atas badan orang tua yang telah tak bernyawa itu dan menangis ter-gerung-gerung.
Tangisan Yo Ko ini benar-benar mengharukan sekali dan timbul dari hatinya yang murni. Para imam yang mendengarkan itu mau tidak mau ikut tergerak juga perasaannya, lebih-lebih Hek Tay-thong, ia menjadi menyesal tidak kepalang.
“Popoh,” kata Hek Tay-thong sambil mendekati jenazah Sun-popoh dan memberi hormat, “tak disengaja aku telah menewaskan kau, hal ini sebenarnya bukan tujuanku. Dosa utang jiwa sudah menimpa pada diriku, mana berani aku mengelakkannya. Harap mangkatlah engkau dengan baik dan tenang!”
Mendengar kata orang yang se-akan sedang sembahyang ini, Siao-liong-li hanya berdiri saja tanpa buka suara. Sehabis Hek Tay-thong berkata, kemudian mereka berdua lantas saling berhadapan dan saling pandang.
“Bagaimana? Kau tidak lantas bunuh diri, apa perlu aku sendiri yang turun tangan?” kata Siao-liong-li tiba-tiba dengan mengkerutkan kening.
Hek Tay-thong terhitung imam yang beribadat tinggi, akan tetapi demi mendengar kata-kata Siao-liong-li tadi, tidak urung ia melengak juga.
“Ha, apa?” ia menegas.
“Apa?” kata Siao-liong-li mengejek “Hm, bunuh orang harus ganti jiwa, maka lekaslah kau bunuh diri supaya urusan menjadi selesai, dengan begitu aku lantas ampuni jiwa semua orang di kuilmu ini.”
Keruan kata-kata yang luar biasa ini seketika membikin suasana menjadi gempar, sebelum Hek Tay-thong buka suara, para imam yang lain sudah pada ribut. Sementara itu di pendopo depan sudah berkumpul imam Coan-cin-kau sebanyak tiga-empat puluh orang, seketika juga mereka pada balas mendamperat be-ramai-ramai atas ucapan Siao-liong-li yang tak pantas tadi.
“Eh, nona cilik, lekas kau pergi saja, kami tidak akan merintangi kau lagi!”
“Hm, perempuan sekecil ini, berani betul kau mengoceh seenaknya!”
Begitulah antara lain kata-kata yang terdengar diucapkan para imam itu. Mendengar kawannya mengeluarkan kata-kata kurang hormat, lekas Hek Tay-thong memberi tanda supaya diam.
Di lain pihak Siao-liong-li ternyata anggap sepi saja berisik imam-imam tadi. Dengan perlahan ia keluarkan segulung sutera putih yang halus tipis dari dalam bajunya. Semua orang menjadi heran lantas saling pandang. Mereka tidak tahu hendak digunakan apakah sutera putih ini.
Tetapi lantas tertampak Siao-liong-li menjereng kain suteranya. Ia masukkan potongan kain putih itu pada tangan kirinya, lalu tangan yang kanan dipakainya pula kain putih yang lain., Kiranya kain sutera putih itu adalah sepasang sarung tangan.
“Nah, imam tua, kalau kau tamak hidup dan takut mati, kalau kau tidak berani bunuh diri, maka bolehlah kau loloskan senjatamu sekarang!” dengan suara perlahan Siao-liong-li menantang.
Hek Tay-thong tersenyum sedih atas tantangan Siao-liong-li ini. “Sudahlah, aku telah salah mencelakai Sun-popoh, maka tak ingin bertengkar dengan kau lagi, bolehlah kau membawa Yo Ko pergi dari kuil ini,” katanya kemudian.
Menurut jalan pikiran Hek Tay-thong, biar pun Siao-liong-li dapat mengusir pangeran Hotu sehingga namanya terkenal di kolong langit, tapi betapa pun juga mengandalkan kekuatan tawon putih piaraannya. Dalam usia semuda ini, sungguh pun ilmu silatnya mendapatkan ajaran guru kosen juga tak akan letih kuat dari pada Sun-popoh. Oleh karena itu, kalau dia mengijinkan Siao-liong-Ii pergi sambil membawa Yo Ko, boleh dikatakan ia ingin urusan ini menjadi damai dan tidak terjadi percekcokan lagi, jadi sebenarnya ia sudah berlaku murah hati.
Tapi siapa tahu, kata-katanya tadi seperti tidak didengar oleh Siao-Iiong-Ii. Ketika tangan kiri si gadis bergerak, se-konyong-konyong seutas kain sutera putih melayang terus menyambar ke muka Hek Tay-thong. Gerak serangan ini datangnya terlalu cepat dan tanpa suara, sebelumnya pun tidak ada tanda-tanda Siao-liong-li hendak melontarkan serangan, di bawah sorotan sinar api lilin, ujung selendang sutera itu tampak pula terikat dengan sebuah bola kecil berwarna emas.
Melihat tipu serangan orang yang demikian cepat, pula senjata yang dipakai ini aneh luar biasa, seketika itu Hek Tay-thong menjadi bingung, dia tidak tahu cara bagaimana harus menangkisnya. Tapi usianya sudah lanjut, dengan sendirinya segala sesuatu dia lakukan dengan sangat tenang, meski dia yakin kepandaian sendiri lebih tinggi beberapa kali lipat dari lawannya, namun tak berani juga ia sambut serangan tadi. Maka dengan mengegos saja ia berkelit ke kiri.
Di luar dugaan, selendang sutera Siao-liong-li yang membawa senjata di bagian ujung itu ternyata dapat memutar di tengah udara. Ketika Hek Tay-thong berkelit ke kiri, tahu-tahu selendang sutera ini pun ikut mengarah ke kiri, maka terdengarlah suara “ting-ting-ting” tiga kali, bola kecil yang terikat pada ujung selendang itu tiba-tiba berbunyi sendiri tiga kali terus menutul ke mukanya mengarah tiga tempat Hiat-to.
Cara menyerang tiga tempat sekaligus ini cepat dan jitu, sekali pun Hek Tay-thong sudah memiliki banyak pengalaman, belum pernah juga dilihatnya, apa lagi di antara serangan itu terseling pula bunyi “ting-ting” yang nyaring, meski tidak keras suaranya, namun aneh sekali hingga hati orang terguncang.
MELANGGAR PERATURAN
Dalam kagetnya oleh perubahan serangan ini, Hek Tay-thong cepat-cepat mendoyongkan tubuhnya ke belakang hingga melengkung, dia keluarkan gerakan ‘thi-pan-kio’ (jembatan papan besi) dan membiarkan bola di ujung selendang sutera itu menyambar lewat di atas hidungnya. Tetapi dia kuatir pula bola emas itu mendadak mengetok lagi ke bawah, maka pada waktu tubuhnya mendoyong ke belakang, mendadak dia menggeser tubuh ke samping.
Ilmu silat Hek Tay-thong sudah terlatih sampai tingkatan yang bisa dilakukan sekehendak hatinya, maka gerakan ke samping ketika tubuhnya mendoyong itu tidak sulit baginya. Karena gerakan ini rupanya tidak tersangka juga oleh Siao-liong-li, maka terdengarlah suara “ting” satu kali, bola emasnya ternyata benar telah mengetok tanah.
Dengan bola emasnya ini, biasanya Siao-liong-li dapat mengetok Hiat-to orang secara be-runtun dan susul-menyusul dengan jitu sekali. Sekarang melihat Hek Tay-thong sanggup meluputkan diri di waktu terancam bahaya, mau tidak mau dalam hati Siao-liong-li memuji ketangkasan imam Coan-cin-kau yang hebat ini.
Ketika Hek Tay-thong bisa berdiri tegak lagi, tampaklah mukanya berubah kecut. Di antara para imam yang menyaksikan gebrakan tadi, semuanya segera menjadi geger. Para imam itu jika bukan anak murid Hek Tay-thong tentulah murid-murid keponakannya, terhadap ilmu silatnya biasanya boleh dikata kagum tidak terhingga, namun demi melihat caranya menghindari serangan orang, meski belum sampai terluka, tetapi jelas mengelak dengan ter-gopoh-gopoh, terang sedang dalam keadaan terdesak hebat. Dengan kuatir segera ada empat imam lain mengayunkan pedang mereka untuk merintangi Siao-liong-li.
“Ya, sejak tadi seharusnya kalian gunakan senjatamu!” terdengar Siao-liong-li menyambut.
Kemudian, begitu kedua tangannya bergerak, tahu-tahu kedua ujung selendang suteranya seperti ular perak saja me-lingkar-lingkar ke depan dan terdengarlah bunyi suara “ting-ting” dua kali, bahkan menyusul berbunyi pula dua kali, tahu-tahu tempat ‘tay-yan-hiat’ di pergelangan tangan keempat imam itu kena ditotok semua oleh bola emas, senjata mereka pun berjatuhan ke tanah hingga menerbitkan suara gemerincing yang nyaring.
Karena serangan serentak yang langsung mematahkan semua tusukan empat imam itu, keruan imam yang lain menjadi jeri dan ternganga, tidak ada lagi yang berani coba-coba ikut turun tangan.
Semula Hek Tay-thong menyangka Siao-liong-li tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, siapa tahu, hanya satu kali gebrakan saja dirinya sudah hampir kecundang. Tanpa terasa timbul juga rasa marahnya, segera dari tangan salah seorang anak muridnya ia ambil sebatang pedang, ia hendak tempur orang lagi dengan senjata.
“llmu kepandaian Nona ternyata betul-betul hebat, nyata Pinto (imam miskin, sebutan diri sendiri kaum Tosu) sudah berlaku kurang hormat dan salah duga, Baiklah, mari sekarang biar Pinto minta petunjuk beberapa gebrakan yang hebat,” demikian ia berkata.
Siao-liong-li tidak menjawab melainkan hanya meng-angguk-angguk, kemudian kembali terdengar “ting-ting” dua kali, selendang suteranya tiba-tiba menyambar dari kiri ke kanan. Kalau diurut menurut tingkatan, sebenarnya Hek Tay-thong masih lebih tinggi satu tingkat dari pada Siao-liong-li, maka waktu mulai bergebrak seharusnya Siao-liong-li menghormati kaum yang lebih tua dan mengalah dulu diserang tiga kali.
Akan tetapi kesemua ini ternyata tidak dihiraukan olehnya, begitu maju malah dia lantas menyerang lebih dulu dengan tipu yang mematikan, segala peraturan Bu-lim atau dunia persilatan dianggap sepi saja.
“Meski ilmu silat gadis ini mempunyai titik kelihayan tersendiri, tetapi dia tidak paham apa-apa tentang etika kangouw, terang ia kurang berpengalaman dalam pertempuran, meski kepandaiannya tinggi, tidak akan melebihi aku,” demikian Hek Tay-thong berpikir.
Karena itu segera pedangnya bergerak, dia keluarkan Kiam-hoat dari Coan-cin-pay yang tiada bandingannya itu, dia layani sambaran selendang sutera putih Siao-liong-li dengan sama cepat dan sama lihaynya.
Imam-imam yang lain menonton di samping dengan penuh perhatian. Di bawah sinar lilin yang ber-goyang, kelihatanlah satu gadis jelita berbaju putih sedang menempur seorang imam tua dengan jubah kelabu, yang satu cantik molek, yang lain tua ubanan, dan terlihat pertarungan mereka makin lama makin seru.
Kalau soal Kiam-hoat, karena Hek Tay-thong sudah melatih ilmu pedang selama puluhan tahun, sebenarnya di dalam Coan-cin-kau dia terhitung jago nomor tiga atau empat, tetapi kini sudah beberapa puluh jurus saling gebrak dengan Siao-liong-li, sedikit pun ternyata dia tidak bisa memperoleh keunggulan.
Siao-liong-li memainkan selendang suteranya, begitu cepat dan hidup seperti naga sakti, pula bola emas yang terikat pada ujung selendang itu tiada hentinya mengeluarkan suara “ting-ting” yang nyaring, suara ini lebih mengacaukan perasaan lawan.
Sesudah lama masih belum dapat mengalahkan orang, meski Hek Tay-thong sendiri juga belum tentu bisa kalah, tapi bila teringat dirinya sudah terkenal sebagai jago terkemuka di kalangan Bu-lim, jika harus bergebrak dua-tiga ratus jurus dengan gadis jelita ini, sungguh pun akhirnya menang toh pasti kehilangan pamor juga. Oleh karena itu ia menjadi gopoh, begitu Kiam-hoatnya berubah, ia malah menyerang terlebih lambat.
Aneh bahwa tiap gerak serangannya jauh lebih lambat, tetapi sebaliknya daya tekanan pedangnya justru bertambah beberapa kali lipat lebih kuat. Kalau tadi pedangnya selalu harus menghindari gubetan selendang sutera orang, tetapi sekarang sesudah daya tekanannya bertambah, dia malah berbalik mengincar untuk menebas bola emas di ujung selendang itu.
Setelah beberapa jurus lagi, tiba-tiba terdengar suara “cring” yang keras, bola emas Siao-liong-li saling bentur dengan pedang. Tetapi Hek Tay-thong lebih ulet dan lebih kuat, maka pedangnya membikin bola emas Siao-liong-li mendal ke atas lantas terpental balik mengarah muka Siao-liong-li sendiri.
Sudah tentu kesempatan baik ini tidak dilewatkan oleh Hek Tay-thong. Berbareng ia kirim serangan yang lain, dengan diiringi sorak sorai gembira para imam yang menonton, ujung pedangnya menerobos di antara kain selendang lawan terus mengarah pergelangan tangan Siao-liong-li.
Dengan serangan ini Hek Tay-thong merasa yakin sedikitnya lawan akan membuang kain selendangnya kalau pergelangan tangannya tidak mau tertusuk pedang. Siapa duga Siao-liong-li justru tidak menghindari serangan itu, hanya tangannya membalik lalu dengan sekali tangkap dia malah pegang senjata orang, menyusul ini lantas terdengar suara “pletak”, ternyata pedang Hek Tay-thong telah patah menjadi dua.
Sungguh hebat sekali kejadian ini hingga semua imam menjerit kaget, dengan cepat pula Hek Tay-thong melompat mundur ke belakang sambil masih terus memegangi sepotong pedangnya. Ia berdiri terkesima. Kiranya sarung tangan yang dipakai Siao-liong-li itu terbuat dari benang emas putih yang paling halus namun amat ulet, walau pun tipis dan lemas, akan tetapi tidak mempan oleh senjata-senjata biasa, sekali pun golok pusaka atau pedang tajam, sukar untuk menembusnya.
Sudah tentu hal ini tidak diketahui Hek Tay-thong. Dia menjadi bingung karena mendadak orang berani menangkap senjatanya, kemudian dengan tenaga tekukan yang tepat sudah mematahkan pedangnya. Dalam keadaan kecundang sedemikian ini, dengan wajah pucat Hek Tay-thong sampai tidak dapat berpikir bahwa pada sarung tangan itulah terletak khasiat segala ketangkasan Siao-liong-li, dia malah mengira gadis ini betul-betul sudah dapat berlatih semacam ilmu kebal dan tak mempan segala macam senjata.
“Bagus, bagus, baik Pinto mengaku kalah!” demikian katanya kemudian dengan suara ter-putus-putus. “Nah, nona, bolehlah kau membawa pergi anak ini.”
“Ha, setelah kau mencelakai Sun-popoh, lalu bicara seenaknya, sekali ngaku kalah lantas anggap beres begini saja?” Siao-liong-li mengejek.
“Ha-ha-ha, memang betul katamu, aku ini betuI-betul sudah pikun!” kata Hek Tay-thong sambil mendongak.
Kemudian ia angkat pedangnya yang sudah patah itu terus menggorok ke lehernya sendiri dengan maksud membunuh diri. Akan tetapi sebelum pedang menempel lehernya, tiba-tiba terdengar suara “creng” yang sangat nyaring, tangannya tergetar keras, dari luar pagar tembok mendadak menyambar sebuah mata uang hingga pedangnya terbentur jatuh.
Dengan tenaga Hek Tay-thong yang sangat kuat, bukanlah soal gampang orang hendak memukul jatuh senjatanya dengan sesuatu benda. Dalam terkejutnya itu, segera pula Hek Tay-thong tahu siapa yang telah datang. Ia mengenal tenaga sambitan mata uang itu.
“Khu-suheng, aku yang tak becus ini telah mencemarkan nama baik golongan kita, maka terserah padamu saja!” serunya kemudian sambil memandang ke arah datangnya mata uang tadi.
“Hek-sute, kalah-menang adalah soal biasa. Kalau sekali mengalami kekalahan lalu mesti menggorok leher sendiri, maka suheng-mu ini biar pun punya delapan belas kepala tentu semuanya sudah habis tergorok,” demikian terdengar orang menjawab dari luar kelenteng dengan tertawa.
Ketika suara itu berhenti segera pula orangnya sudah muncul, dengan pedang terhunus Khu Ju-ki sudah melompat masuk melintasi pagar tembok itu. Watak Khu Ju-ki paling suka blak-blakan, maka begitu datang segera pedangnya menusuk ke lengan kiri Siao-liong-li sambil berseru:
“Tiang-jun-cu Khu Ju-ki minta petunjuk pada tetangga terhormat kita.”
“Ha, kau imam tua ini terhitung suka terus terang juga,” sahut Siao-liong-li.
Berbareng itu, tangan kirinya menjulur, kembali ia dapat menangkap pula pedang Khu Ju-ki yang menusuk itu.
“Awas, Suheng!” teriak Hek Tay-thong kuatir karena pengalamannya tadi.
Akan tetapi sudah terlambat. Ketika Siao-liong-li gunakan tenaga menekan, Khu Ju-ki pun salurkan tenaga ke batang pedangnya, karena itu terjadilah tenaga lawan tenaga, keras lawan keras, maka terdengarlah suara “krak”, kembali pedang patah menjadi dua, tetapi tangan Siao-Iiong-li tidak urung tergetar hingga pegal linu, dada pun terasa rada sakit.
Cukup dengan sekali gebrakan ini saja Siao-liong-li sudah tahu bahwa kepandaian Khu Ju-ki masih jauh di atas Hek Tay-thong, sedang ilmu kepandaian sendiri ‘Giok-li-cin-keng’ masih belum sempurna, terang tidak ada harapan buat menang. Maka tanpa pikir lagi ia buang pedang patah yang direbutnya itu, lalu dengan cepat ia kempit mayat Sun-popoh dan tangan lain pondong Yo Ko. Begitu kedua kakinya menutul, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, dengan enteng sekali seperti daun saja ia melayang keluar dari pagar tembok.
Mendadak nampak Ginkang (ilmu entengi tubuh) orang yang hebat luar biasa ini, Khu Ju-ki dan Hek Tay-thong hanya saling pandang saja dengan terperanjat. Khu Ju-ki dan Hek Tay-thong sudah saling gebrak dengan Siao-liong-li tadi, mereka bisa ukur ilmu silat Siao-liong-li yang meski tinggi, tapi belum pasti bisa menangkan mereka, namun ilmu entengi tubuh yang barusan dilihatnya itu sungguh belum pernah mereka saksikan selama ini.
“Sudahlah, sudahlah!” kata Hek Tay-thong sambil menghela napas penuh menyesal.
“Hek-sute, percuma saja kau berlatih diri dalam agama selama sekian tahun, tapi sedikit kecundang saja kau lantas putus asa,” ujar Khu Ju-ki. “Harus kau ketahui bahwa saudara-saudara kita yang dikirim ke Soasay sekali ini, sama juga sudah mengalami kekalahan habis-habisan.”
“Hah, kenapa? Lalu ada yang terluka tidak?” tanya Hek Tay-thong kaget oleh berita sang Suheng.
“Cerita ini terlalu panjang, marilah kita menemui Ma-suheng dahulu,” sahut Khu Ju-ki.
Kiranya, sesudah melukai beberapa orang di daerah Oh-ciu, Kanglam, Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu mengerti terlalu banyak onar yang dia lakukan, maka ia telah menyingkir jauh ke daerah Soasay buat menghindari percekcokan. Akan tetapi angkara murkanya ternyata tak menjadi padam, di sana kembali ia mencelakai beberapa orang gagah dari Bu-lim.
Keruan akhirnya membuat marah kalangan umum hingga pemimpin Bu-lim setempat menyebarkan undangan mengajak kawan segolongan untuk mengeroyok Li Bok-chiu. Di antara yang diundang itu terdapat pula Coan-cin-kau.
Tatkala itu Ma Giok telah berunding dengan Khu Ju-ki. Mereka berpendapat meski Li Bok-chiu banyak melakukan kejahatan, tapi mengingat hubungan kakek gurunya dan gurunya sendiri, Tiong-yang Cinjin yang sangat erat, sedapat mungkin percecokan itu dibikin akur saja dan memberi jalan hidup baru kepada Li Bok-chiu untuk hari depan.
Oleh karena itu Lau Ju-hian dan Sun Put-ji lantas dikirim dahulu ke utara. Tapi siapa tahu Li Bok-chiu ternyata tidak mau mengenal kebaikan orang bahkan terus saling gebrak, dan akhirnya Lau Ju-hian dan Sun Put-ji berdua terkalahkan di bawah tangannya.
Belakangan Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, dua jago utama Coan-cin-pay ini menyusul memberi bantuan. Tetapi Li Bok-chiu ternyata sangat licin. Dia insaf seorang diri sukar berlawanan dengan jago-jago begitu banyak, maka dia menggunakan kata-kata pancingan kepada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it dan akhirnya menetapkan peraturan satu lawan satu pada hari yang telah ditentukan.
Hari pertama yang turun bertanding adalah Sun Put-ji. Tapi secara diam-diam Li Bok-chiu telah menggunakan tipu keji, ia telah melukai tokoh wanita Coan-cin-kau itu dengan jarum berbisa yang sangat jahat. Setelah itu ia sendiri malah mengunjungi rumah orang untuk memberikan obat penawar racunnya, maka dalam keadaan demikian tidak bisa tidak Khu Ju-ki harus menerimanya.
Dan dengan begitu pula imam-imam Coan-cin-kau boleh dikatakan telah menerima budi orang, menurut peraturan Kangouw mereka lalu tidak boleh bermusuhan lagi dengan Li Bok-chiu, tentu saja mereka hanya saling pandang dan tertawa getir belaka terus pulang ke Cong-lam-san.
Syukur Khu Ju-ki buru-buru pulang lebih dahulu dan tidak mengiringi Ong Ju-it pesiar ke Thay-heng-san, karenanya pada saat yang sangat tepat sudah berhasil menolong jiwa Hek Tay-thong.
Kembali bercerita mengenai Siao-Iiong-li, sesudah memondong Yo Ko dan tangan lainnya merangkul mayat Sun-popoh, kembalilah mereka ke Hoat-su-jin-bong atau kuburan kuno. Sesudah Yo Ko diturunkan, mayat Sun-popoh lalu direbahkan pada dipan yang biasanya digunakan untuk tidur, sedang Siao-liong-li sendiri dengan bertopang dagu duduk di kursi sambil ter-menung-menung. Sebaliknya Yo Ko masih menggemblok di atas jenazah Sun-popoh dan masih menangis terguguk-guguk.
“Orang sudah mati, untuk apa kau tangisi?” kata Siao-liong-li tiba-tiba sesudah agak lama Yo Ko tersedu-sedan, “Hari ini kau menangisi dia, kelak kalau kau sendiri mati, entah siapa yang akan menangisi kau?”
Yo Ko tercengang oleh kata-kata Siao-liong-Ii yang terlalu menusuk perasaan ini. Tapi bila dipikir lebih jauh, terasa ada betulnya juga. Karenanya dia menjadi makin berduka, tanpa tertahan lagi dia menangis ter-gerung-gerung.
Hati Siao-liong-li sama sekali tidak tergerak oleh tangisan anak itu. Dengan sikap dingin saja ia menyaksikan Yo Ko menangis, mukanya sedikit pun tidak memberi sesuatu tanda perasaan.
“Marilah kita kuburkan mayatnya, ikutlah padaku!” katanya kemudian sesudah agak lama. Kemudian ia angkat mayat Sun-popoh dan menuju sebelah barat.
Lekas Yo Ko mengusap air matanya dengan baju, cepat ia ikut di belakang orang. Di dalam kuburan itu tiada sinar terang sedikit pun, maka terpaksa Yo Ko harus pentang matanya selebar mungkin, dengan begitu barulah lapat-lapat dia dapat melihat bayangan baju Siao-liong-li yang putih.
Sesudah berjalan me-Iingkar-lingkar, belok sana dan tikung sini, akhirnya Siao-liong-li membuka sebuah pintu batu yang kelihatannya amat berat, kemudian mereka pun masuk ke dalam sebuah kamar batu yang sangat luas. Di sini Siao-liong-li mengeluarkan ketikan api dan menyalakan pelita minyak di atas meja batu.
Setelah kini ada sinar terang, segera Yo Ko memandang keadaan kamar besar ini, tetapi mau tidak mau ia rada bergidik oleh suasana yang seram. Ia melihat ruangan yang begini besar ternyata kosong belaka tiada isi Iain kecuali beberapa buah peti mati dari batu yang tergeletak berjajar di tengah ruangan. Waktu Yo Ko memperhatikan, ia melihat dua peti mati di antaranya tertutup rapat, sedang tiga peti lainnya tutupnya hanya dirapatkan separoh saja, dipandang dari jauh dalam peti kelihatan gelap, tidak diketahui di dalamnya ada mayat atau tidak.
“Cosu-popoh (kakek guru) tidur di dalam sini,” kata Siao-liong-li sambil menuding peti mati yang pertama, lalu ia tuding peti mati kedua dan sambung lagi: “Dan Suhu tidur di sini.”
Waktu Yo Ko lihat jari si nona menuding peti mati yang ketiga, hatinya langsung menjadi ber-debar-debar. Ia tidak tahu Siao-liong-li bakal bilang siapa yang tidur di situ, tetapi ia melihat tutup peti itu belum dirapatkan, kalau di dalamnya sudah ada isinya, bukankah itu sangat menakutkan?
“Dan Sun-popoh tidur di sini,” demikian ia dengar Siao-liong-li menyambung lagi.
Karena kata-kata inilah baru Yo Ko tahu bahwa peti mati itu memang kosong, maka ia merasa lega. Tapi bila ia lihat di samping sana masih ada dua peti mati lagi yang kosong, tanpa terasa ia menjadi heran dan ingin mengetahui.
“Dan kedua peti yang itu, Liong-kokoh?” tanyanya kemudian.
“Yang satu buat Suci (kakak seperguruan perempuan) Li Bok-chiu dan yang lain buat aku sendiri,” sahut Siao-liong-li.
Karena jawaban ini, seketika Yo Ko terkesima. “Apakah Li Bok-chiu Kokoh akan kembali ke sini?” tanyanya.
“Kalau guruku sudah mengatur begini, akhirnya dia pasti akan kembali,” kata Siao-liong-li. “Tapi sekarang ternyata masih kurang satu peti lagi, sebab guruku tidak pernah menduga kau akan datang ke sini.”
Keruan Yo Ko kaget oleh kata-kata ini. “Tidak, aku tidak perlu!” sahutnya cepat.
“Aku sudah berjanji kepada Sun-popoh untuk menjaga kau seumur hidup. Kalau aku tidak meninggalkan tempat ini, dengan sendirinya kau pun tetap disini,” ujar Siao-liong-li.
Mendengar si nona berbicara soal mati-hidup orang seperti soal biasa saja, akhirnya Yo Ko juga tidak takut lagi.
“Seumpama kau tidak perbolehkan aku keluar, tapi kalau kau sudah mati, bukankah aku dapat keluar sendiri?” sahutnya kemudian.
“Kalau aku sudah bilang akan menjaga kau seumur hidup, sudah tentu aku tak akan mati lebih dulu dari pada kau,” kata Siao-liong-li.
Keruan Yo Ko heran, “Mana bisa?” ia debat. “Bukankah umurmu lebih tua dari padaku?”
“Ya, tapi sebelum aku mati pasti aku bunuh kau lebih dulu,” kata Siao-liong-li.
Tetapi meski usia Yo Ko masih kecil, nyata ia tidak kurang akal. “Itu kan belum tentu bisa, aku punya kaki, memangnya aku tak bisa lari?” demikian ia berpikir.
Begitulah si Yo Ko ini, belum dia angkat guru pada Siao-liong-li, tetapi diam-diam ia sudah adu kepintaran dengan orang. Sementara itu Siao-liong-li sudah mendekati peti mati yang ketiga, ia dorong tutup peti ke belakang, ia angkat jenazah Sun-popoh dan hendak dimasukkan ke dalam peti.
Tiba-tiba Yo Ko ingat pesan Sun-popoh pada saat yang terakhir bahwa: “Baju kapas yang kupakai ini hendaklah kau simpan baik2, di...” Tetapi sebelum habis dikatakan orang tua itu sudah keburu putus napasnya.
Kalau orang tua itu minta dirinya menyimpan baik-baik baju kapas itu, mengingat perkenalan mereka yang baik, apa bila disimpan sebagai tanda mata untuk hari kelak, sesungguhnya pantas juga.
“Kokoh, baju kapas Popoh itu ditinggalkan untukku saja,” serunya segera sambil kakinya menyerobot maju.
Sebenarnya Siao-liong-li tidak suka pada sifat insaniah yang menjemukan. Ia lihat watak Yo Ko yang suka bergirang, marah, menangis dan tertawa segala, meski belum ada satu hari berkenalan dengan Sun-popoh, tapi bocah ini sudah merasa begitu berat ditinggalkan orang tua itu, segera Siao-liong-li merasa muak. Karena itu, atas permintaannya tadi, dia mengerutkan kening, namun tidak urung ia copot baju kapas itu dari badan Sun-popoh lantas dilemparkan kepada Yo Ko.
Sesudah Yo Ko menerima baju kapas itu, karena terharunya kembali dia mewek-mewek hendak menangis lagi. Tetapi Siao-liong-li telah melototinya, lalu ia masukkan mayat Sun-popoh ke dalam peti, ia tarik penutup petinya, maka terdengarlah suara yang keras, tutup peti mati itu telah menutup dengan rapat sekali. Karena merasa sebal kalau Yo Ko menangis lagi, maka tanpa pandang sedikit pun pada bocah ini segera Siao-liong-li mengajak:
“Mari keluar!”
Berbareng itu ia kebaskan lengan bajunya, maka empat pelita minyak di dalam kamar itu sekaligus tersirap, keadaan seketika menjadi gelap guIita, Oleh karena kuatir jika dirinya akan dikurung di kamar peti mati itu, lekas-lekas Yo Ko membawa baju kapas Sun-popoh terus ikut keluar.
Tinggal di dalam kuburan kuno yang bagaikan istana di bawah tanah itu, hakikatnya tidak diketahui dan tidak dapat membedakan siang atau malam. Tetapi sesudah sibuk setengah harian, kedua orang sudah merasa letih, maka Siao-liong-li suruh Yo Ko tidur di kamar Sun-popoh saja.
Sejak kecil Yo Ko luntang-luntung di kalangan Kangouw seorang diri, sering dia harus menginap di kelenteng bobrok dalam hutan yang amat sunyi, maka nyalinya sebenarnya sudah terlatih sangat berani. Tetapi aneh, sejak melihat peti mati batu tadi dan sekarang diharuskan tidur sendirian, entah mengapa ia menjadi merasa takut tak terhingga. Oleh karena itu, meski Siao-liong-li sudah mengulangi kata-katanya menyuruh dia pergi tidur, dia masih tetap menjublek saja.
“Kau dengar tidak perkataanku? Apa kau tuli?” bentak Siao-liong-li menjadi gemas.
“Aku takut,” sahut Yo Ko.
“Takut apa?” tanya Siao-liong-li.
“Entah, tapi aku tak berani tidur sendirian,” kata Yo Ko.
Melihat wajah anak ini memang takut, dan di dalam hati Siao-liong-li berpikir bahwa umur anak ini masih kecil, maka tidaklah perlu harus menaati peraturan pemisahan antara laki-laki dan wanita, Karenanya dengan menghela napas kemudian ia berkata:
“Baiklah, kau tidur sekamar dengan aku.”
Lalu ia bawa Yo Ko ke kamar tidurnya sendiri. Siao-liong-li sudah biasa hidup dalam kegelapan, selamanya dia tidak perlu menyalakan pelita atau lilin, tetapi sekarang spesial ia menyulut satu lilin untuk Yo Ko.
Waktu melihat wajah Siao-liong-li yang begitu cantik ayu tak ada bandingannya, pula baju yang ia pakai putih bersih seperti salju tanpa debu sedikit pun, semula Yo Ko menyangka kamar si gadis ini tentunya teratur dengan indah sekali. Tak terduga, begitu ia memasuki kamar orang, seketika ia merasa amat kecewa. Kiranya kamar Siao-liong-li kosong melompong tanpa sesuatu pajangan, serupa saja keadaannya dengan kamar peti mati tadi.
Di dalam kamar hanya terdapat satu lonjor batu hijau yang digunakan sebagai ranjang, di atas ranjang ini tergelar selembar tikar dan terdapat pula selapis kain sutera putih yang rupanya dipakai sebagai selimut. Kecuali itu tiada sesuatu benda lain yang dilihatnya.
“Entah aku harus tidur di mana? Mungkin dia akan suruh aku tidur di lantai,” demikian Yo Ko membatin.
“Kau tidur saja di ranjangku,” tiba-tiba ia dengar Siao-liong-li berkata padanya.
“Itu tidak baik, biar aku tidur di lantai saja,” sahut Yo Ko.
Tak terduga, tiba-tiba Siao-liong-li menarik muka atas jawabannya itu. “Kurang ajar, berani kau mernbangkang?” damperatnya.. “Aku adalah gurumu, apa yang aku katakan kau harus menurut, tahu? Kau berani berkelahi melawan gurumu dari Coan-cin-kau, hal itu masa bodoh. Tetapi ini lain, kalau kau berani membangkang perintahku segera juga kucabut nyawamu!”
“Tidak perlu kau demikian galak, akan kuturut saja semua perkataanmu,” demikian Yo Ko menyahut.
“Berani kau adu mulut?” bentak Siao-liong-li.
Namun Yo Ko memang anak bandel. Ia lihat wajah Siao-liong-li sangat cantik dan usianya masih muda, sedikit pun tidak mirip seorang ‘Suhu’, karenanya ia melelet-lelet lidah atas bentakan tadi, habis ini ia diam saja.
Sudah tentu kelakuannya ini dapat dilihat Siao-liong-li. “Kenapa kau melelet lidah? Kau tak terima bukan?” damperatnya lagi.
Sekali ini Yo Ko tak berani menjawab, ia copot sepatunya terus naik ke atas ranjang buat tidur. Tetapi baru saja ia merebah, mendadak terasa olehnya hawa sedingin es yang merasuk tulang, saking kagetnya sampai ia meloncat turun dengan kaki telanjang. Nampak kelakuan Yo Ko yang lucu ini, sungguh pun Siao-liong-li tidak pernah mengunjuk sesuatu tanda perasaannya, tidak urung hampir saja ia mengeluarkan suara tertawa geli.
“Ada apa?” ia coba tegur dengan menahan gelinya.
Namun Yo Ko memang terlalu cerdik, sekilas saja dia sudah melihat ada tanda-tanda tertawa pada wajah Siao-liong-li. Oleh karenanya dia tidak menjadi takut oleh teguran itu, bahkan dia tertawa sendiri.
“Di atas ranjang ini ada yang aneh, agaknya engkau sengaja mempermainkan aku,” demikian jawabnya.
“Siapa mempermainkan kau. Memang beginilah ranjang ini, lekas kau naik lagi dan tidur,” kata Siao-liong-li dengan sungguh-sungguh. Habis ini ia sengaja ambil kemoceng (bulu ayam) dari belakang pintu, dengan alat ini dia lantas mengancam:
“lni kalau kau berani merosot turun lagi, rasakan nanti, sepuluh kali sabetanku!”
Sekali lompat, dengan entengnya Siao-liong-li telah merebahkan diri di atas tali kecil yang dianggapnya seperti ranjang empuk. Sudah tentu tak terbilang kagum Yo Ko saat melihat kepandaian yang luar biasa ini.
Melihat si gadis berlaku sungguh-sungguh, terpaksa Yo Ko segera naik ke atas ranjang batu dan tidur lagi. Kali ini Siao-liong-Ii sengaja menyingkirkan baju kapas tinggalan Sun-popoh, ia pindahkan ke tempat yang tak dapat dijamah tangan Yo Ko. Sebaliknya karena pengalaman tadi, sekali ini Yo Ko tidak kaget lagi, dia rebah di atas ranjang batu yang dingin itu.
Namun ranjang itu sama saja seperti balok es yang maha dingin, semakin tidur rasanya semakin dingin, sampai akhirnya saking tak tahan lagi seluruh tubuh Yo Ko jadi gemetar, ia menggigil kedinginan hingga kedua baris giginya gemerutuk. Tidak lama kemudian hawa dingin ranjang batu itu semakin men-jadi serasa meresap ke dalam tulang sungsum, sungguh ia tak tahan lebih lama lagi.
Ketika Yo Ko melirik Siao-liong-li, dia lihat wajah nona itu mengunjuk senyum tetapi bukan senyum, terhadap penderitaannya itu se-akan merasa senang dan bersyukur. Diam-diam Yo Ko mendongkol, tetapi dia masih berusaha melawan rasa dingin yang menembus keluar dari ranjang batu itu dengan sepenuh tenaganya.
Sementara ia melihat Siao-liong-li telah keluarkan seutas tali. Salah satu ujung tali dia ikat pada sebuah paku yang menancap di dinding sebelah timur, lalu tali ini ditarik dan ujung lainnya diikat kencang pada paku yang berada di dinding sebelah barat. Tali yang dipasang ini kira-kira setinggi manusia. Dengan sekali lompatan enteng Siao-liong-li sudah rebah di atas tali itu yang dianggapnya sebagai ranjang saja. Bahkan berbareng lompatannya tadi, sekali ayun tangannya, dengan angin pukulannya ia sirapkan api lilin. Sungguh tidak terbilang kagumnya Yo Ko oleh kepandaian orang yang luar biasa itu.
“Kokoh, maukah besok kau ajarkan kepandaian seperti itu kepadaku?” dalam kegelapan ia coba tanya si nona.
“Hm, terhitung apa kepandaian macam ini?” jengek Siao-liong-li. “Asal kau belajar dengan baik, masih banyak lagi kepandaian yang jauh lebih lihay yang akan kuajarkan padamu.”
Meski tabiat Yo Ko nakal, namun perasaannya sangat terguncang demi mendengar Siao-liong-li dengan sungguh-sungguh akan mengajarkan kepandaian padanya. Tanpa terasa ia menjadi tunduk dengan sepenuh hati, seluruh perasaan mengkalnya tadi segera dia lemparkan ke-awang-awang, dalam rasa terima kasihnya itu, saking terharunya ia mengucurkan air mata.
“Kokoh, kau begini baik terhadapku, tapi tadi aku malah benci padamu,” demikian katanya dengan suara berat.
“ltu tak perlu dibuat heran,” sahut Siao-liong-Ii, “Aku telah mengusir kau, sudah tentu kau benci padaku.”
“Tapi soalnya bukan itu,” kata Yo Ko, “Semula aku mengira kau sama saja seperti guruku yang lalu, hanya mengajarkan segala kepandaian yang tak berguna.”
Mendengar bocah itu berkata sambil menggigil kedinginan, tiba-tiba Siao-liong-li bertanya:
“Dinginkah kau?”
“Ya, dingin sekali,” sahut Yo Ko, “Di bawah ranjang ini ada sesuatu yang aneh, mengapa begini hebat rasa dinginnya?”
“Kau suka tidur di situ tidak?” tanya Siao-liong-li pula.
“Aku... aku tidak suka,” sahut Yo Ko ragu-ragu.
“Huhh, kau tidak suka?” jengek Siao-liong-li, “Ketahuilah bahwa entah ada berapa banyak tokoh-tokoh Bu-lim di seluruh jagat ini yang justru ingin meniduri ranjang ini, tetapi cita-citanya tak pernah kesampaian.”
“Aneh, bukankah itu berarti mencari siksaan belaka?” ujar Yo Ko heran.
“Hm, siksaan?” jengek Siao-liong-Ii, “Kiranya aku sayang dan kasihan padamu, tetapi kau malah anggap tersiksa, sungguh tidak kenal kebaikan orang.”
Mendengar lagu suara si nona agaknya memang tidak bermaksud jelek dengan menyuruh dirinya tidur di atas ranjang dingin ini, maka Yo Ko lantas memohon dengan suara lunak.
“Kokoh yang baik, apakah faedahnya ranjang dingin ini? Maukah kau terangkan padaku?”
“Apa bila mulai sekarang kau tidur di atas ranjang ini, faedahnya pasti akan kau ketahui kelak,” sahut Siao-liong-li. “Nah, sekarang pejamkan matamu dan tak boleh bicara Iagi.”
Dalam kegelapan itu lalu terdengar suara gemerisik yang perlahan sekali dari baju sutera yang dipakainya, agaknya Siao-liong-li sudah membalik tubuh. Sungguh sukar dimengerti, padahal hanya tidur di atas seutas tali yang terapung di udara, tetapi bisa membalik tubuh sesukanya.
Karena kata-kata yang terakhir tadi bernada kereng, maka Yo Ko tidak berani bertanya lagi, betul juga ia lantas pejamkan mata untuk tidur. Tapi hawa dingin yang berhembus keluar dari bagian bawah terus-menerus menyerang, mana bisa ia puIas. Lama kelamaan, tak sangguplah Yo Ko bertahan lagi.
“Kokoh, aku tidak tahan lagi,” dengan suara perlahan ia memanggil.
Namun suara pernapasan Siao-Iiong-li lapat terdengar, agaknya si nona sudah tertidur. Kembali Yo Ko memanggil dua kali lagi dengan perlahan dan tetap tiada jawaban.
“Biarlah aku turun ke bawah sebentar, tentu dia takkan tahu,” demikian ia pikir.
Maka dengan perlahan-lahan dia merosot turun ke pinggir ranjang, dia berlaku hati-hati sekali dengan menahan napas agar tidak mengeluarkan suara. Siapa tahu baru saja kakinya menginjak lantai, se-konyong-konyong terdengar suara gemerisik yang sangat perlahan, tahu-tahu Siao-liong-li sudah melompat turun dari atas talinya, sekali cekal tangan kiri Yo Ko telah dipegangnya terus ditelikung ke belakang, bahkan ia digusur ke atas tanah.
Karena tindakan tiba-tiba ini, Yo Ko menjerit kaget tetapi sehabis ini ia lantas bungkam dalam segala bahasa. Sementara itu Siao-liong-li telah angkat kemocengnya, dengan keras ia sabet pantat Yo Ko.
Yo Ko tahu percuma saja meski pun minta ampun, oleh karena itu dengan mengertak gigi kencang dia menahan rasa sakit sabetan kemoceng. Lima sabetan yang pertama luar biasa sakitnya, tapi pada sabetan ke enam kalinya, Siao-liong-li turunkan tangannya dengan enteng saja, sampai dua kali yang terakhir, kuatir Yo Ko tak tahan gebukannya, ia memukul terlebih perlahan lagi. Sesudah genap menyabet sepuluh kali, Siao-liong-li lantas menjambret tubuh Yo Ko dan dilemparkan lagi ke atas ranjang batu.
“Awas! Apa bila kau berani turun lagi, segera kau rasakan pula kemoceng ini!” bentaknya mengancam.
Tanpa bersuara Yo Ko rebah di atas ranjang batu itu. Ia mendengar Siao-liong-li telah kembalikan kemocengnya ke belakang pintu tadi, lalu melompat kembali ke atas tali buat tidur. Siao-liong-li menyangka Yo Ko tentu akan menangis dan bikin ribut lagi oleh hajarannya itu. Tapi tanpa terduga, sepatah kata pun anak muda itu tak bersuara, ini benar-benar tak pernah disangkanya.
“Ko-ji, kenapa kau diam saja?” tanyanya kemudian.
“Tidak ada yang perlu kukatakan, sekali engkau bilang pukul, tentu aku akan dipukul juga, percuma saja meski aku minta ampun,” sahut Yo Ko.
“Hm, tetapi dalam hatimu kau tentu mencaci maki,” kata Siao-liong-li.
“Tidak, aku takkan mencaci-maki kau, betapa pun engkau masih jauh lebih baik dari pada guruku yang dahulu,” kata Yo Ko.
“Sebab apa?” Siao-liong-li menjadi heran.
“Ya, sebab meski engkau memukul aku, tapi dalam hatimu kau tetap sayang dan kasihan padaku, makin pukul makin perlahan, engkau kuatir kalau aku kesakitan,” kata Yo Ko.
Wajah Siao-liong-li rada merah karena isi hatinya dengan jitu kena dikatai, syukur dalam kegelapan sehingga tidak sampai dilihat Yo Ko.
“Cis, siapa sayang padamu. Kalau lain kali kau tak menurut kata lagi, tentu akan kupukul terlebih keras,” omelnya kemudian.
Mendengar lagu suara orang sudah berubah menjadi halus, Yo Ko jadi mendapat hati. “Lebih keras engkau memukul, tetap aku suka,” demikian katanya dengan cengar-cengir.
“Cis, agaknya tulangmu memang gatal, kalau sehari tidak merasakan gebukan, tentu kau tidak bisa tidur nyenyak,” omel Siao-liong-li pula.
“ltu pun harus me-Iihat-lihat dulu siapa yang memukulku,” kata Yo Ko. “Jika orang yang suka padaku menghajar diriku, sedikit pun aku pasti tak akan dendam, mungkin malah merasa senang, sebab dia hajar aku karena ingin aku berbuat baik, Tetapi kalau orang yang benci diriku, sekali pun dia hanya memaki sekata atau mendeliki mata padaku, kelak kalau aku sudah dewasa, satu persatu pasti akan kucari mereka buat bikin perhitungan.”
“Coba katakan, siapa yang benci kau dan siapa lagi yang suka kepadamu?” tanya Siao-liong-li.
“ltu sudah kuingat baik-baik di dalam hati,” kata Yo Ko. “Tentang orang yang benci padaku boleh tidak perlu disebut, tapi orang-orang yang sayang padaku adalah ibuku yang sudah meninggal, ayah angkatku Auwyang Hong, paman Kwe Ceng dan ada lagi Sun-popoh dan engkau.”
“Hmm, jangan harap aku akan sayang padamu,” sahut Siao-liong-li dengan tertawa dingin. “Aku hanya menurut pesan Sun-popoh, dia minta agar aku menjaga kau, maka aku lantas menjaga kau, selama hidupmu ini jangan kau harapkan aku akan berbaik hati padamu.”
Memang Yo Ko sedang kedinginan, demi mendengar kata-kata orang ini, sama saja ia telah ditambahi dengan siraman seember air dingin.
“Kokoh, aku ini kurang baik apanya? Kenapa engkau begini benci padaku?” tanya Yo Ko menahan rasa mendongkolnya.
“Kau baik atau tidak, peduli apa dengan aku?” sahut Siao-Iing-li dingin, “Akan tetapi aku pun tidak benci kau. Selama hidup ini aku tinggal di dalam kuburan ini, aku tak suka pada siapa pun dan tak benci pada siapa pun!”
“Selama hidup tinggal di sini? Itu kan tidak menarik,” kata Yo Ko. “Kokoh, pernah tidak kau keluar.”
“Selamanya aku belum pernah turun dari Cong-lam-san,” sahut Siao-liong-li. “Di luar sana paling banyak juga cuma ada gunung ada pohon, ada matahari ada rembulan, lalu apanya yang menarik?”
“Ai, kalau begitu hidupmu ini benar-benar sia-sia saja,” kata Yo Ko menepuk tangan, “Jika hidup di kota, di sana ada bermacam ragam benda yang aneh, itulah baru menyenangkan dan menarik.”
Habis ini ia lantas ceritakan semua pengalamannya dan apa saja yang pernah dilihatnya selama ia ter-Iunta-lunta sejak kecil. Dasar si Yo Ko memang pandai bicara, apa lagi sengaja dia bumbu-bumbui, dia tambahi kecap, tambahi merica, tambahi minyak, keruan ceritanya menjadi lebih aneh dan menarik dengan aneka macam ragamnya.
Meski pun Siao-liong-li telah berumur 20 tahun, tetapi selamanya belum pernah turun dari Cong-lam-san barang selangkah pun, maka apa saja yang dibualkan Yo Ko, semuanya ia percaya penuh, malahan sampai akhirnya, tak tertahan dia telah menghela napas.
“Kokoh, akan kubawa kau pergi pesiar, mau tidak?” kata Yo Ko akhirnya.
Di luar dugaan, Siao-liong-li menjadi marah oleh ajakan ini. “Ngaco-belo,” damperatnya, “Cosu-popoh telah meninggalkan pesan bahwa barang siapa yang pernah tinggal di dalam ‘Hoat-su-jin-bong’ ini maka dia tidak boleh turun dari Cong-lam-san meski selangkah pun.”
“Ha, apakah aku pun tak boleh turun gunung?” tanya Yo Ko kaget oleh keterangan orang.
“Sudah tentu,” sahut Siao-liong-li.
Tetapi Yo Ko tidak menjadi gugup, sebab dalam hati ia telah berpikir: “Satu pulau terpencil seperti Tho-hoa-to saja bisa aku tinggalkan, apa lagi kalau hanya sekian kuburan kuno ini, mana bisa mengurung selama hidupku.”
Begitulah selama mereka bicara, sesaat itu pula Yo Ko telah melupakan rasa dingin yang menggigilkan tadi, tapi sejenak saja percakapan mereka berhenti, maka seluruh tubuhnya segera terasa gemetar lagi.
“Kokoh, ampuni diriku, aku tak mau tidur di atas ranjang ini lagi,” demikian ia memohon.
“Dalam perkelahianmu dengan guru Coan-cin-kau, sepatah kata saja kau tidak sudi minta ampun, kenapa sekarang begini tak berguna?” sahut Siao-liong-li.
“ltu soal lain,” kata Yo Ko sambil tertawa, “Siapa yang tidak baik terhadap diriku, meski aku mati dipukul pun tidak akan aku sudi minta ampun kepadanya. Tetapi siapa yang baik padaku, meski aku harus mati untuknya juga aku rela, apa lagi hanya minta ampun.”
“Cis, tak malu, siapa baik padamu?” jengek Siao-liong-li.
Sejak kecil Siao-liong-li dibesarkan oleh gurunya dan Sun-popoh, selama dua puluh tahun itu hanya kedua orang tua itu saja yang berdampingan dengan dia. Biar pun kedua orang tua itu sangat baik padanya, tetapi gurunya mengharuskan dia berlatih ‘Giok-li-sim-keng’ (ilmu gadis suci), maka sejak kecil dia sudah diajarkan membuang segala cita-rasa. Asal terlihat Siao-liong-li mengunjuk sedikit perasaan saja, segera gurunya mendamperat.
Sedangkan Sun-popoh walau pun cukup simpatik, namun ia juga tak berani menghalangi pelajaran Siao-liong-li sehingga oleh karena itu tabiatnya yang aneh dan menyendiri tanpa emosi itu sudah terpelihara sejak kecil. Kini dengan kedatangan Yo Ko, anak ini justru berhati panas bagaikan api, usianya masih kecil pula, baik tutur katanya mau pun tindak-tanduknya sudah tentu berbeda seluruhnya dari pada kedua nenek-nenek.
Sebenarnya Siao-liong-li juga tahu apa yang dituturkan Yo Ko itu jelas menyalahi ajaran gurunya, namun tidak urung ia ikut bercerita dengan asyik sekali hingga lupa daratan. Siao-liong-li menerima Yo Ko sebenarnya hanya untuk memenuhi permintaan Sun-popoh saja, tapi kemudian Yo Ko selalu bilang dia sangat baik padanya, maka dengan sendirinya lambat laun ia pun merasa memang benar ia memperlakukan anak ini dengan amat baik.
Demikianlah, karena lagu bicaranya Siao-liong-li sudah berubah halus, maka Yo Ko makin mendapat hati.
“Wah, dingin, Kokoh, dingin sekali. Aku tak tahan lagi!” akhirnya ia berani ber-teriak-teriak.
Padahal sekali pun kedinginan sebenarnya belum perlu ber-teriak-teriak minta tolong dan bikin geger segala.
“Jangan ribut, biar kuceritakan kepadamu mengenai asal-usul ranjang batu ini,” kata Siao-liong-li kemudian.
“Baiklah,” sahut Yo Ko girang. “Nah, Kokoh aku tidak berteriak lagi, mulailah bercerita!”
“Tadi kukatakan tidak sedikit tokoh Bu-lim di jagat ini ingin tidur di atat ranjang batu ini, hal ini bukan untuk mendustai kau,” demikian Siao-liong-li menutur, “Harus diketahui bahwa ranjang ini dibikin dari batu pualam dingin purbakala, alat pembantu utama bagi orang yang ingin berlatih Iwekang yang tinggi.”
“lni bukan batu biasa?” tanya Yo Ko heran.
“Katanya kau sudah banyak berpengalaman dan pernah melihat benda yang aneh-aneh, tetapi pernahkah kau melihat batu sedingin ini?” sahut Siao-liong-li. “Hendaklah diketahui batu ini adalah hasil jerih-payah Cosu-popoh selama tujuh tahun berada di kutub utara yang paling dingin, disana batu pualam dingin ini dia gali dari bawah es yang tebalnya ratusan tombak, Siapa yang berlatih Iwekang dengan tidur di atas ranjang batu pualam ini, maka setahun saja sama dengan berlatih sepuluh tahun secara biasa.”
“He, begini besar faedahnya?” seru Yo Ko kegirangan.
“Ya,” kata Siao-liong-li. “Ketika mula-mula tidur di atasnya memang terasa dingin tak tertahan, tapi asal kau kumpulkan seluruh tenaga untuk melawannya, lama kelamaan akan menjadi biasa, sekali pun di waktu tidur. Itu berarti tidak pernah berhenti berlatih diri. Sebab orang biasa kalau berlatih ilmu, sekali pun orang yang paling giat dan rajin, setiap hari pasti ada beberapa jam perlu buat tidur. Dan kau harus tahu, melatih ilmu yang menjalankan napas dan darah dalam tubuh sama sekali berlawanan dari pada ilmu biasa. Jika sampai tertidur maka jalan darah itu akan berputar seperti biasa dan ini sebaliknya membikin semua yang dilatihnya di waktu siang hari menjadi percuma. Tapi kalau orangnya tidur di atas ranjang ini, bukan saja hasil yang dilatih pada siang harinya tidak percuma, bahkan Iwekang-nya akan bertambah menjadi lebih kuat.”
Mendengar penjelasan ini, saking senangnya Yo Ko berseru: “Kokoh, sungguh baik sekali engkau padaku. Dengan tidur di ranjang ini, sekarang aku tidak akan takut lagi pada kedua saudara Bu dan Kwe Hu, biar pun Thio Ci-keng dari Cian-cin-kau yang telah Iama berlatih itu, kelak aku pasti dapat melebihinya,” demikian katanya.
“Tapi Cosu-popoh telah menetapkan peraturan bahwa orang yang sudah tinggal di kuburan ini harus tekun berlatih diri dengan tenang dan sabar, menghapus segala napsu berlomba dengan orang luar,” kata Siao-liong-li dengan dingin.
Yo Ko menjadi gugup oleh kata-kata ini. “Mereka begitu menghina, juga telah menewaskan Sun-popoh, apakah begitu saja kita anggap beres?” katanya penasaran.
“Setiap manusia akhirnya toh mesti mati. Sekali pun Sun-popoh tidak mati di tangan Hek Tay-thong, lewat beberapa tahun lagi ia pun akan mati sendiri,” ujar Siao-liong-li. “Apa bedanya hidup lebih lama beberapa tahun atau mati lebih cepat beberapa tahun? Kata balas dendam, untuk selanjutnya tak boleh kau sebut lagi di hadapanku.”
Yo Ko merasa kata-kata Siao-liong-li ini ada benarnya juga, tetapi ia pun merasa ada tempat-tempat yang tidak tepat, hanya saat itu dia tidak mendapatkan kata-kata yang tepat untuk mendebatnya.
Ketika itu juga hawa dingin terasa menyerang lebih hebat lagi. Tiba-tiba Yo Ko teringat pada apa yang dikatakan Siao-liong-li tadi, ia berpikir: “Mengapa aku tidak mencobanya dengan Iwekang ajaran ayah angkat?”
Segera tubuhnya menegak ke atas, ia menjungkir dengan kepala di bawah, ia keluarkan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Auwyang Hong. Tak lama kemudian terasalah semacam hawa hangat mengalir melalui seluruh tubuhnya, segera perasaan dingin tadi banyak berkurang. Waktu dia me-mutar tiga kali, tiba-tiba tubuhnya malah terasa panas dibakar, sedikit pun tidak kedinginan lagi, bahkan setelah dia rebah kembali di atas ranjang batu itu terasa segar dan sangat enak, ketika matanya dipejamkan akhirnya ia tertidur dengan nyenyak.
Tetapi sesudah tertidur kira-kira setengah jam, setelah hawa hangat tubuhnya buyar, kembali ia terjaga dari tidurnya oleh karena hawa dingin telah menyerang kembali. Maka segera ia menjungkir lagi mengeluarkan ilmu ajaran Auwyang Hong.
Dan begitulah seterusnya, tidur sebentar kemudian sadar dan tidur lagi. Ia ribut sendiri semalam suntuk, tetapi paginya sesudah bangun, bukannya dia merasa letih, sebaliknya ia malah penuh semangat, suatu tanda bahwa ilmu menjungkirnya itu khasiatnya memang hebat.
Waktu Siao-liong-li meraba jidat anak ini, merasa suhu badan orang biasa saja, keruan ia menjadi heran bukan kepalang, maka dengan sabar ia tanya Yo Ko ilmu apa yang pernah dipelajarinya dahuIu.
Sedikit pun Yo Ko tidak membohong. Ia menerangkan seluruhnya, dia ceritakan Iwekang yang dahulu dipelajarinya dari ibu kandungnya sendiri serta Ha-mo-kang yang diterimanya dari Auwyang Hong.
Diam-diam Siao-liong-li ber-pikir. Ia merasa kedua macam Iwekang yang diuraikan Yo Ko itu sama sekali tidak sejurus dan berlainan, terang pula berbeda sekali dengan Iwekang-nya sendiri. la pikir meski apa yang Yo Ko pahami itu hanya sedikit dasar penuntun saja, akan tetapi dengan ini saja bisa dibayangkan bahwa kedua ilmu Iwekang yang dipelajarinya itu justru luar biasa bagusnya, sebenarnya tidak di bawah Iwekang dari pada perguruannya sendiri.
BegituIah, setelah ter-menung sejenak, Siao-liong-li lalu membatin lagi: “Kiranya anak ini sudah mempunyai dasar Iwekang yang kuat, soalnya tidak dipergunakan secara baik dan tepat. Sebab itu sekarang tak perlu ter-buru-buru mengajarkan dia Iwekang dari perguruanku.”
Paginya, sesudah mereka sarapan, berkatalah Siao-liong-li kepada Yo Ko: “Ko-ji, ada satu soal yang harus kau pikirkan sendiri dengan masak. Jika kau sungguh-sungguh ingin mengangkat guru kepadaku, maka seumur hidup ini kau harus tunduk pada kata-kataku, tapi jika kau tidak mengangkat guru padaku, aku pun tidak menurunkan ilmu kepandaian padamu, kelak bila kau mampu menangkan aku, maka dengan ilmu silatmu itu boleh kau terjang keluar Hoat-su-jin-bong ini.”
“Sudah tentu aku ingin mengangkat kau sebagai guru,” sahut Yo Ko tanpa berpikir sedikit pun “Sekali pun kau tidak mengajarkan kepandaian padaku juga pasti aku akan menuruti segala perkataanmu.”
Keruan Siao-liong-li heran oleh jawaban ini. “Sebab apa?” tanyanya.
“Kokoh, di dalam hati engkau sangat baik terhadapku, memang kau kira aku tidak tahu?” sahut Yo Ko.
“Baik tidak aku terhadapmu selanjutnya tidak boleh dipakai membacot,” kata Siao-liong-li dengan menarik muka, “Baiklah, jika kau angkat guru padaku, mari kita pergi ke ruangan belakang menjalankan upacara.”
Maka ikutlah Yo Ko ke ruangan belakang. Di ruangan ini Yo Ko melihat keadaannya juga kosong belaka tanpa sesuatu pajangan, hanya saja di antara kedua belah dinding timur dan barat tampak tergantung dua lukisan.
Lukisan yang tergantung di dinding sebelah barat menggambarkan dua gadis jelita. Yang satu usianya 25-26 tahun sedang bersolek menghadapi cermin, ada pun gadis yang lain berumur 14-15 tahun, dari dandanannya jelas adalah seorang dayang atau pelayan, tangannya terlihat memegang sebuah baskom sedang melayani junjungannya yang lagi bersolek itu.
Kedua gadis ini semuanya berwajah cantik molek, yang berumur lebih tua itu alisnya lentik panjang sampai mendekati pelipis, di antara sorot matanya lapat-lapat membawa perbawa yang agung dan kereng.
Tanpa terasa Yo Ko memandang beberapa kali lebih banyak kepada gadis ini, dalam hati se-akan-akan dengan sendirinya timbul semacam perasaan hormat kepadanya.
“lni adalah Cosu-popoh (nenek guru), hayo lekaslah kau menjura,” demikian Siao-liong-li lantas berkata padanya sambil menunjuk gambar gadis yang tua-an.
“Dia ini Cosu-popoh?” tanya Yo Ko dengan heran, “Kenapa usianya begini muda?”
“Waktu membikin lukisan ini dia masih muda, kemudian tentunya tidak muda lagi,” sahut Siao-liong-li.
Jawaban ini diulangi Yo Ko di dalam hati, tiba-tiba dia merasakan semacam kesunyian yang memilukan, maka dengan tercengang dia memandang lukisan itu, tanpa tertahan air matanya meleleh.
Sudah tentu Siao-liong-li tidak tahu isi hati bocah ini. Kembali dia menuding gambar gadis yang berdandan sebagai pelayan itu lantas berkata pula:
“lni adalah Suhu-ku. Nah, lekas kau menjura.”
Pada waktu Yo Ko mengamat-amati lukisan ini, ia lihat gadis jelita yang dimaksud ini masih bodoh pelonco, wajahnya bersifat kanak-kanak, siapa tahu telah menjadi gurunya Siao-liong-li. Akan tetapi tanpa ragu lalu ia berlutut terus menjura.
Menunggu sesudah Yo Ko berdiri kembali kemudian Siao-liong-li tuding lagi pada lukisan yang tergantung di dinding sebelah timur sambil berkata:
“Sekarang ludahi sekali pada Tojin itu!”
Waktu Yo Ko menegasi, dia lihat lukisan itu memang menggambarkan seorang Tojin atau imam yang berperawakan jangkung, pada pinggangnya tergantung sebatang pedang dan jari telunjuk kanannya sedang menuding ke jurusan timur-laut, hanya saja gambar Tojin ini dalam keadaan mungkur, karena itulah maka wajah imam ini tidak jelas. Tentu saja Yo Ko sangat heran.
“Siapa dia? Kenapa harus meludahinya?” tanyanya kemudian.
“Dia adalah Kaucu (ketua agama) Coan-cin-kau, Ong Tiong-yang,” tutur Siao-liong-Ii. “Kita memiliki satu peraturan, apa bila sudah menyembah pada Cosu-popoh, kemudian harus meludahi dia.”
Dalam hati kecilnya Yo Ko memang sudah dendam dan benci terhadap orang-orang Coan-cin-kau. Setelah diberi penjelasan itu, tanpa pikir lagi segera ia meludahi lukisan itu dan tepat mengenal punggung gambarnya Ong Tiong-yang.
“Kokoh, apakah Cosu-popoh kita sangat benci kepada Ong Tiong-yang?” tanya Yo Ko.
“Ya,” jawab Siao-liong-li.
“Kalau begitu kenapa gambar ini tidak dibakar saja, sebaliknya malah digantung di sini?” ujar Yo Ko.
“Soal itu aku tidak tahu. Aku hanya dengar dari Suhu dan Sun-popoh bahwa kaum laki-laki di jagat ini tidak ada satu pun yang baik,” demikian sahut Siao-liong-li. Sesudah ini suaranya seketika berubah menjadi bengis dan membentak: “Kelak bila mana kau sudah besar dan berani melakukan perbuatan jahat, hm, lihat saja apa aku akan mengampuni kau?”
“Sudah tentu kau akan mengampuni aku,” tiba-tiba Yo Ko menjawab.
Keruan Siao-Iiong-li tertegun seketika. Dengan kata-kata terakhirnya tadi sebetulnya ia hanya bermaksud hendak me-nakut-nakuti dan sebagai peringatan saja, tidak terduga ternyata Yo Ko berani menjawab. Dalam tertegunnya, Siao-liong-Ii malah menjadi bingung dan kehabisan akal.
“Lekas menyembah guru!” akhirnya ia membentak lagi.
“Kepada guru sudah tentu aku akan menyembah,” sahut Yo Ko lagi, “Cuma engkau harus berjanji dulu satu hal padaku, kalau tidak, aku tidak mau menyembah.”
“Kurang ajar anak ini,” diam-diam Siao-liong-li menggerutu dalam hati. “Selamanya hanya guru yang minta murid harus berjanji, mana ada aturan bahwa murid malah meminta janji dari sang guru?”
Akan tetapi dasar sifatnya memang sabar dan pendiam, maka ia pun tidak menjadi marah.
“Soal apa? Boleh coba kau katakan,” sahutnya kemudian.
“Begini,” kata Yo Ko, “di hatiku sudah terang kuanggap engkau sebagai Suhu. Aku menghormati kau dan menjunjung kau, apa yang kau katakan tentu kuturut, tetapi dalam sebutan aku tidak panggil engkau sebagai Suhu melainkan tetap panggil engkau Kokoh (bibi) saja.”
Permintaan ini kembali membikin Siao-liong-li tercengang. “Sebab apa?” tanyanya kemudian.
“Ya, sebab sudah dua kali aku mengangkat Suhu, tapi mereka perlakukan aku tidak baik, sampai di waktu mimpi saja aku akan mengutuki Suhu,” demikian Yo Ko menutur. “Oleh sebab itu lebih baik kupanggil kau Kokoh saja, agar bila aku mengutuki Suhu engkau tidak ikut tersangkut.”
Tanpa tertahan Siao-liong-Ii tertawa geli oleh keterangan Yo Ko ini. Ia merasa walau pun kelakuan anak ini terlalu aneh dan nakal, tapi cara berpikirnya menarik juga.
“Baiklah, aku terima permintaanmu,” janjinya kemudian.
Yo Ko lantas berlutut, dengan sangat hormat ia menyembah delapan kali pada Siao-liong-li. Lalu Yo Ko mengucapkan janji pula:
“Tecu (anak murid) Yo Ko hari ini mengangkat Siao-liong-li Kokoh sebagai guru, sejak kini dan selamanya Yo Ko akan dengar kata Kokoh, jika Kokoh ada kesulitan dan menghadapi bahaya, Yo Ko akan mati-matian membela Kokoh tanpa hiraukan jiwa sendiri, jika ada orang jahat berani menghina Kokoh, Yo Ko pasti akan membunuh orang jahat itu.”
Sungguh lucu sekali sumpah setia Yo Ko ini. Padahal saat itu ilmu silat Siao-liong-Ii entah berapa puluh kali lebih tinggi dari pada Yo Ko, tapi Yo Ko anggap orang adalah gadis jelita yang lemah lembut, maka timbul sikap perkasa sebagai seorang jantan sejati yang wajib melindungi wanita lemah, hingga akhirnya semakin lama ucapannya semakin gagah dan bersemangat.
Meski lagu suara Yo Ko masih berbau kanak-kanak, akan tetapi kata-kata yang diucapkannya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat, mau tak mau membikin hati Siao-liong-Ii rada terguncang juga. BegituIah, sesudah Yo Ko menjura, kemudian ia berdiri kembali di hadapan orang dengan muka ber-seri tanda gembira.
“Apa yang membuat kau jadi begini girang?” tanya Siao-Iiong-li. “Kepandaianku toh belum tentu bisa menangkan imam-imam tua dari Coan-cin-kau itu, lebih tidak mungkin bisa di atas kau punya Kwe-pepek.”
“PeduIi apa meski kepandaian mereka lebih tinggi,” sahut Yo Ko spontan, “yang penting engkau mau mengajarkan ilmu kepandaian padaku dengan sungguh-sungguh.”
Siao-liong-li menghela napas mendengar jawaban orang. “Padahal apa gunanya biar pun sudah belajar ilmu silat?” ujarnya, “Cuma, dari pada iseng menganggur di dalam kuburan sunyi ini, baiklah aku akan ajarkan padamu, sekarang kau tunggu dulu disini, biar aku keluar sebentar.”
Mendengar dirinya akan ditinggal pergi, se-konyong-konyong Yo Ko menjadi takut karena harus tinggal sendirian di dalam kuburan.
“Kokoh, aku ikut keluar saja,” demikian katanya cepat.
Akan tetapi Siao-liong-Ii segera pelototi padanya. “Baru saja kau berjanji akan menurut perkataanku untuk selamanya, tapi hari pertama kau sudah membangkang,” damperatnya.
“Tetapi aku... aku takut,” sahut Yo Ko.
“Laki-laki jantan sejati, takut apa?” damperat Siao-liong-li pula, “Tadi kau masih bilang akan membela diriku dan membunuh orang jahat segala!”
“Baiklah, kalau begitu lekasan engkau kembali ya!” kata Yo Ko sesudah berpikir.
“ltu pun tidak bisa ditentukan, bagaimana jika seketika sukar menangkapnya?” ujar Siao-Iiong-li.
Yo Ko menjadi heran oleh jawaban ini. “Menangkap apa, Kokoh?” tanyanya.
Namun Siao-liong-Ii tak menjawab, dia terus bertindak pergi sendiri.
Dengan keluarnya Siao-liong-Ii, keadaan di dalam kuburan menjadi sepi senyap. Sementara itu Yo Ko masih me-nerka dalam hati kata-kata Siao-liong-li tadi yang bilang hendak pergi menangkap sesuatu. Ia tidak tahu siapakah yang hendak ditangkapnya, tapi mengingat Siao-liong-li tidak pernah turun selangkah pun dari Cong-km-san, Yo Ko yakin tentu sasaran yang ditangkapnya adalah imam Coan-cin-kau, hanya tidak diketahui imam mana yang akan ditangkapnya dan guna apa menangkapnya?”
BegituIah Yo Ko berpikir serabutan sendirian, tanpa terasa ia pun telah melangkah keluar ruangan besar kuburan itu dan menuju ke arah barat melalui satu lorong, akan tetapi baru belasan tindak dilalui, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap gulita. Karena kuatir kalau dia akan kesasar, Yo Ko pun balik kembali, dengan per-lahan merembet dinding. Siapa tahu meski telah beberapa puluh tindak ia berjalan masih belum juga dilihatnya sinar pelita di ruangan besar tadi.
Dalam gelisah dan takutnya, Yo Ko tambah cepat melangkah ke depan, akan tetapi ia jadi kesasar lebih jauh lagi. Memang ia sudah salah jalan, dalam keadaan gugup semakin salah pula. Makin jalan makin cepat, beberapa kali dia kebentur sini dan tertumbuk sana, dalam kegelapan dia merasa jalan lorong itu bersimpang-cabang belaka sehingga tak bisa lagi dia kembali ke ruangan besar di depan tadi.
“Kokoh, Kokoh! Lekas tolong!” saking kuatirnya ia ber-teriak.
Akan tetapi suara gemborannya segera berkumandang balik di antara lorong kuburan itu hingga membisingkan telinga. Namun Yo Ko tidak putus asa, ia maju terus mencari jalan keluarnya, kemudian tiba-tiba saja terasa tanah di mana dia injak ternyata basah becek, kiranya dirinya sudah tidak berada di lorong kuburan lagi melainkan berada di jalan lembah pegunungan yang bertembusan dengan lorong kuburan di bawah tanah.
Keruan Yo Ko semakin ketakutan. “Jika aku kesasar di dalam kuburan, bagaimana pun Kokoh pasti dapat mencari kembali,” demikian pikirnya. “Kini aku sudah sampai disini, jika tidak bisa menemukan aku, tentu dia mengira aku melarikan diri, dan tentu dia akan berduka sekali.”
Oleh karena itu, sesudah me-raba-raba mendapatkan sebuah batu, lalu ia bersedakap tangan dan berduduk di atas batu itu sambil ter-menung. Lama sekali ia duduk termangu-mangu, tiba-tiba ia dengar suara sayup-sayup orang sedang memanggilnya.
“Ko-ji...! Ko-ji...!”
Yo Ko dapat mengenali suara orang, tentu saja ia sangat girang, maka tanpa ayal lagi ia melompat bangun dan balas berteriak:
“Aku ada di sini, Kokoh!”
Akan tetapi suara panggilan “Ko-ji, Ko-ji” itu bukannya makin mendekat, sebaliknya malah semakin menjauh. Keruan saja Yo Ko sangat cemas, lekas-lekas ia pentang mulut dan berteiak lebih keras:
“Aku ada di siniiiiiii...!”
Namun sejenak kemudian ia tidak mendengar suara panggilan lagi, tentu saja ia menjadi kesal dan putus asa. Tanpa terduga, mendadak ia merasakan daun kupingnya menjadi “nyes” dingin, tahu-tahu kupingnya dijewer orang terus diangkat. Dalam kagetnya hampir saja Yo Ko menjerit, akan tetapi segera ia menjadi girang sekali.
“He, Kokoh, kau! Kenapa sedikit pun aku tidak merasa,” demikian teriaknya kemudian.
“Apa yang kau lakukan di sini?” omel Siao-liong-li.
“Aku kesasar,” sahut Yo Ko.
Siao-liong-li tidak menanya lebih jauh, ia tarik tangan Yo Ko dan diajak kembali. Meski pun dalam keadaan gelap gulita, namun Siao-liong-li ternyata bisa berjalan dengan cepat dan belak-belok seperti jalan di siang hari saja.
“Kokoh, kenapa engkau dapat melihat dengan terang?” tanya Yo Ko kagum.
“Seumur hidupku dibesarkan dalam kegelapan, dengan sendirinya aku tidak memerlukan sinar terang,” sahut Siao-liong-li.
Tidak berapa lama, kembali Siao-liong-li membawa Yo Ko sampai di ruang besar semula.
“Kokoh,” kata Yo Ko sambil tarik napas panjang, “sungguh, tadi aku merasa kuatir sekali.”
“Kuatir apa? Toh pasti aku akan menemukan kau,” sahut Siao-liong-li.
“Bukan kuatirkan soal ini,” kata Yo Ko pula, “tapi aku kuatir engkau akan menyangka aku melarikan diri hingga merasa berduka dalam hati.”
“Jika kau lari, janjiku pada Sun-popoh lantas batal pula, apanya yang perlu dibuat duka?” sahut Siao-liong-li.
Nyata watak kedua orang ini sama sekali terbalik, apa bila Yo Ko berpikir dengan penuh perasaan hangat, sebaliknya Siao-liong-li berhati dingin bagaikan es.
“Apa engkau telah berhasil menangkapnya, Kokoh?” tanya Yo Ko lebih jauh.
“Sudah,” jawab Siao-liong-li.
“Kenapa engkau menangkap dia?” tanya Yo Ko lagi.
“Bukankah buat membantu kau melatih silat?” sahut Siao-liong-li, “Sini, ikut padaku.”
Mendengar jawaban ini, seketika Yo Ko menjadi girang. “Eh, kiranya dia pergi menangkap imam Coan-cin-kau untuk dibuat untuI (mangsa latihan) bagiku,” begitu pikirnya. Keruan ia sangat tertarik, maka tanpa berkata lagi dia ikut di belakang Siao-liong-li.
Setelah memutar beberapa kali kemudian Siao-liong-li membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar batu. Yang aneh jalan di kamar batu ini ternyata sangat kecil dan sempit, dua orang berada di dalamnya saja sukar memutar tubuh, pula langit-langit kamar sangat rendah, hampir Siao-liong-li menyundul langit-langit kamar itu apa bila mengangkat tangannya.
Dalam pada itu Yo Ko juga heran, sebab tiada satu imam Coan-cin-kau yang terdapat di dalam kamar.
“Di manakah Tosu yang engkau tangkap itu?” begitulah ia lantas tanya.
“Tosu apa?” berbalik Siao-long-li balas tanya.
“Bukankah tadi engkau bilang hendak pergi menangkap orang buat membantu aku latihan silat?” sahut Yo Ko.
“Siapa bilang orang?” kata Siao-liong-li. “Tetapi ini, di sini.”
Habis ini ia berjongkok lantas menarik sebuah kantong kain dari pojok kamar. Setelah tali pengikat kantong dilepas, kantong itu dia kebas beberapa kali, maka terbang keluarlah tiga ekor burung gereja. Luar biasa herannya Yo Ko setelah mengetahui isi kantong itu. “Eh, kiranya Kokoh keluar tadi untuk menangkap burung gereja,” demikian ia membatin.
“Nah, sekarang coba kau tangkap ketiga burung gereja itu, tetapi tak boleh kau membikin rontok bulunya atau melukai cakarnya,” demikian Siao-liong-li berpesan padanya.
Yo Ko menjadi senang oleh permainan ini. “Bagus!” serunya gembira, dan begitu menubruk maju segera ia hendak menangkap salah satu burung gereja itu.
Akan tetapi burung gereja itu ternyata sangat gesit, meski Yo Ko sudah tubruk sini dan sambar sana, tetap tidak dapat menyenggol sedikit pun, apa lagi hendak menangkapnya. Akhirnya napas Yo Ko sendiri yang ter-engah dan berkeringat.
“Cara kau menangkapnya salah, Harus begini, lihat ini kuajarkan kau caranya,” kata Siao-liong-Ii.
Habis itu dia lantas memberi beberapa petunjuk caranya meloncat ke atas dan menubruk ke bawah, cara menangkap dan mencekal dengan cepat. Yo Ko memang sangat pintar. Ia tahu dengan melalui cara menangkap burung gereja itu sebenarnya Siao-liong-li lagi mengajarkan semacam ilmu silat yang tinggi padanya, maka ia memperhatikan sepenuhnya semua pelajaran itu dan diingatnya dengan baik.
Dengan main tubruk dan sambar tanpa teratur, nyatalah bahwa Yo Ko kewalahan sendiri untuk menangkap ketiga ekor burung gereja itu. Cara yang diajarkan Siao-liong-li kepadanya itu sudah bisa dipahaminya, hanya seketika belum dapat dia pergunakan. Namun Siao-liong-li tak peduli lebih jauh, ia membiarkan Yo Ko sibuk sendiri di dalam kamar itu, sedang dia sendiri lantas keluar sesudah merapatkan pintunya.
Hari pertama itu nyata Yo Ko belum sanggup menangkap burung gereja itu meski hanya seekor saja. Setelah bersantap malam, dia melatih Iwekang-nya lagi di atas ranjang batu pualam dingin. Esok paginya kembali ia mengudak burung gereja lagi, cara melompatnya ternyata sudah bertambah tinggi, gerak tangannya pun jauh lebih cepat.
Demikianlah seterusnya, sampai hari ke lima akhirnya berhasil juga ia menangkap seekor burung gereja. Luar biasa girang Yo Ko, cepat ia mencari Siao-liong-li dan melaporkan kemajuannya. Siapa tahu, bukannya Siao-liong-li memuji atas hasilnya itu, sebaliknya ia bersikap dingin saja menerima laporan itu, bahkan ia menyindir:
“Huh, apa gunanya kalau hanya seekor? Engkau harus menangkap tiga ekor sekaligus!”
Yo Ko tak berani menjawab, dalam hati ia berpikir: “Kalau sudah bisa menangkap seekor, menangkap lagi dua ekor apa susahnya?”
Tak tersangka prakteknya ternyata tidak begitu gampang sebagaimana dia kira, beruntun-runtun dua hari seekor saja tak mampu ditangkapnya lagi. Tiga burung gereja itu sudah payah karena terus menerus di-uber oleh Yo Ko, sehingga akhirnya Siao-liong-li melepaskannya setelah dilolohi sedikit makanan. Kemudian gadis ini menangkap lagi tiga ekor yang baru yang masih segar dan kuat untuk melatih Yo Ko. Dan pada hari ke delapan barulah Yo Ko mampu menangkap sekaligus ketiga burung gereja itu.
“Cukuplah sekarang, mari kita pergi ke Tiong-yang-kiong,” kata Siao-Iiong-li.
Tentu saja Yo Ko rada terperanjat oleh ajakan ini. “Untuk apa ke sana?” tanyanya heran.
Akan tetapi Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaannya. Ia menarik tangan bocah itu terus diajak menuju Tiong-yang-kiong. Selama itu meski hanya selisih delapan hari saja, namun keadaan Yo Ko ternyata sudah berlainan, kini tindakannya kuat dan langkahnya sangat enteng, jelas sekali lebih tangkas dari pada sebelumnya.
“Thio Ci-keng! Hayo lekas keluar!” seru Siao-liong-li setelah sampai di depan Tiong-yang-kiong kaum Coan-cin-kau itu.
Tadi sebelum mereka berdua sampai di depan istana ini, terlebih dahulu sudah ada imam Coan-cin-kau yang melaporkan kedatangan mereka, sebab itu baru saja Siao-liong-li berteriak, segera dari dalam istana itu membanjir keluar beberapa puluh orang Tosu atau imam, di antaranya dua imam cilik yang memayang Thio Ci-keng. Wajah Ci-keng tampak pucat lesu, kedua matanya cekung, kelihatannya tak sanggup berdiri sendiri.
Sementara itu para imam bisa mengenali Siao-liong-li berdua, mereka semua memegang senjata dan memandang dengan mata melotot marah. Siao-liong-li lantas keluarkan sebuah botol putih dari bajunya.
“Ini adalah air madu untuk menyembuhkan racun antupan tawon, ambil dan berikan pada Thio Ci-keng,” katanya dengan suara keras sambil menyerahkan botol itu kepada Yo Ko.
Waktu melihat Thio Ci-keng, sebenarnya rasa benci dan dendam kepada imam ini masih belum hilang dari hati Yo Ko. Hanya karena di hadapan orang banyak, rasanya tidak enak membantah maksud Siao-liong-li itu. Maka dengan langkah lebar terpaksa dia membawa botol madu tawon itu, kemudian ditaruh di depan Thio Ci-keng.
Pada waktu para imam Coan-cin-kau mendengar bahwa Siao-liong-li datang lagi, mereka menyangka gadis ini tentu akan mencari gara-gara dan membuat onar, untuk membalas sakit hatinya Sun-popoh, maka di samping mereka siap berjaga, di lain pihak segera dilaporkan kepada Ma Giok dan Khu ju-ki yang tingkatannya lebih tua.
Tanpa terduga-duga bahwa kedatangan Siao-liong-li ini ternyata sama sekali tidak bersifat permusuhan melainkan malah mengutarakan madu tawon penawar racun, keruan mereka menjadi heran, dalam bingungnya sampai mereka tidak bisa menyambut perkataan Siao-liong-li tadi. Sementara itu, setelah Yo Ko menaruh botol madu tawon didepan orang, ia pandang sekejap pula kepada Thio Ci-keng dengan sorot mata yang penuh menghina dan merasa jijik, habis ini ia putar tubuh terus melangkah kembali.
Slkap Yo Ko ini agaknya dapat dilihat dengan jelas oleh Ceng-kong yang berada di antara kawanan imam itu juga, ia tak bisa menahan amarahnya lagi.
“Anak celaka, sesudah mengkhianati perguruan, sekarang kau hendak pergi begitu saja?” demikian segera ia membentak sambil memburu maju hendak menawan Yo Ko.
“Ko-ji, hari ini jangan membalas serangannya,” tiba-tiba Siao-liong-li berpesan pada Yo Ko.
Sementara itu Yo Ko mendengar dari arah belakangnya ada suara tindakan orang dengan cepat, menyusul mana terdengar pula suara angin pukulan menyambar, nyata ada orang yang hendak menjamberet punggungnya. Karenanya tanpa pikir segera dia merendahkan tubuh ke bawah, lalu mendadak dia meloncat ke samping.
Walau pun baru delapan hari Yo Ko berlatih menangkap burung gereja di dalam Hoat-su-jin-bong atau kuburan orang hidup itu dan tidur di atas ranjang batu pualam dingin delapan malam pula, biar pun Siao-liong-li hanya mengajarkan sedikit caranya menangkap burung, tapi semua itu justru adalah intisari dari kunci dasar latihan Ginkang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi dari Ko-bong-pay (aliran kuburan kuno), maka kepandaiannya sekarang sudah jauh berbeda dari pada waktu bertanding dengan imam Coan-cin-kau dahulu.
BegituIah, maka dengan tepat sekali, pada waktu tangan Ceng-kong hampir menempel ke punggungnya, mendadak dia melompat pergi, bahkan berbareng itu sekalian dia tarik kain baju orang. Karena memang Ceng-kong luput menubruk orang dan tubuhnya mendoyong ke depan, dan kini ditambah oleh tarikan Yo Ko, keruan ia tak sanggup berdiri tegak lagi, tanpa ampun ia jatuh tersungkur dengan antap sekali. Ketika Ceng-kong bisa merangkak bangun, sementara itu Yo Ko sudah berdiri di samping Siao-liong-li.
Dalam gusarnya Ceng-kong berteriak murka terus hendak menyeruduk maju lagi. Syukur pada saat itu mendadak dari rombongan imam itu sudah maju satu orang yang secepat kilat menghadang di hadapan Ceng-kong sambil menarik tangannya dan diseret kembali ke tempat berdiri mereka semula.
Seketika Ceng-kong merasakan setengah tubuhnya menjadi kaku kesemutan. Pada saat dia mendongak, kiranya yang menariknya adalah Susiok atau paman gurunya, In Ci-peng. Karena itu kata-kata makian yang sebenarnya sudah siap dia lontarkan, seketika itu juga dia telan kembali.
“Banyak terima kasih atas pemberian obat nona tadi,” demikianlah In Ci-peng membuka suara sambil membungkuk memberi hormat.
Sebaliknya Siao-liong-li ternyata tidak membalas hormat orang, dia pun tidak menjawab, Dia gandeng tangan Yo Ko diajak kembali:
“Mari Ko-ji, kita pulang!”
“Liong-kohnio,” tiba-tiba In Ci-peng berseru lagi, “Yo Ko ini adalah anak murid Coan-cin-kau kami, tetapi secara paksa kau telah menerimanya. Sebenarnya cara bagaimana urusan ini harus diselesaikan?”
Siao-liong-li tertegun oleh teguran ini dan tak bisa menjawab. “Aku tidak senang mendengarkan ocehan orang,” katanya akhirnya.
Habis ini, tanpa menghiraukan orang Iain ia menarik tangan Yo Ko dan masuk kembali ke dalam rimba dengan langkah cepat. Di lain pihak In Ci-peng dengan para imam Coan-cin-kau jadi terkesima, mereka hanya saling pandang saja dengan bingung.
“Ko-ji, kepandaianmu memang nyata sudah ada kemajuan,” demikian kata Siao-liong-li kepada Yo Ko sesudah berada di dalam kuburan kuno itu, “cuma caranya kau menghajar imam gemuk tadi itu sebaliknya salah besar.”
“lmam gendut itu pernah hajar aku se-mena-mena, sayang tadi aku belum sempat membalas dia dengan hajaran yang setimpal,” sahut Yo Ko. “Dan mengapa Kokoh bilang aku salah menghajarnya?”
“Maksudku bukan tidak boleh menghajar dia, tetapi caramu menghajarnya itu yang salah,” ujar Siao-liong-li “Seharusnya jangan kau tarik dia hingga jatuh tersungkur ke depan, tapi seharusnya tidak pakai tarikan dan biar dia jatuh terjengkang sendirinya ke belakang.”
Yo Ko menjadi girang mendengar penuturan ini. “Ha, menarik sekali hal ini. Hayo, Kokoh, ajarkan caranya!” serunya cepat.
“Nah, anggap aku ini Ko-ji dan kau adalah imam gendut busuk itu, coba kau tangkap aku,” demikian kata Siao-liong-li puIa. Habis berkata, segera dia mulai melangkah perlahan ke depan.
Yo Ko menurut, dengan tertawa dia ulur tangannya untuk memegang tubuh orang. Akan tetapi punggung Siao-liong-li seperti bermata saja, biar pun Yo Ko menubruk dan meraup bagaimana pun juga, tetap tak dapat menyenggol baju orang, kalau Yo Ko berlari cepat, Siao-liong-li segera lari lebih cepat, dan kalau Yo Ko lambat, Siao-liong-li pun ikut lambat, jarak mereka selalu berselisih kira-kira satu kaki jauhnya.
“Ha-ha, Kokoh, awas sekali ini!” dengan tertawa Yo Ko berseru, mendadak dia menubruk maju dengan gerak cepat, dan Siao-liong-li ternyata tidak menghindarinya.
Tentu saja Yo Ko girang, ia yakin kedua tangannya pasti segera akan dapat merangkul leher orang. Siapa sangka, baru saja kedua tangannya dipentang dan hampir merangkul, se-konyong-konyong Siao-liong-li mencelat ke belakang hingga terlepas dari rangkulannya.
Karena menangkap angin, dengan cepat pula Yo Ko mendongak dan hendak menjambret, Akan tetapi dia baru saja menubruk ke depan lalu mendadak menekuk ke belakang sambil mendongak, karena terlampau besar menggunakan tenaga, maka Yo Ko tidak bisa berdiri tegak lagi, ia jatuh terjengkang ke belakang hingga tulang punggung terasa sakit sekali.
“Caramu ini sangat bagus, Kokoh,” teriak Yo Ko girang sesudah merangkak bangun, “Dan kenapa engkau bisa begini cepat?”
“Jika kau berlatih menangkap burung gereja setahun lagi, tentu kau akan jadi begini juga,” sahut Siao-liong-li.
“He, bukankah aku sudah bisa menangkapnya?” ujar Yo Ko.
“Hm, apakah itu dapat dianggap?” Siao-liong-li menjengek, “Apa kau sangka ilmu silat Ko-bong-pay kita ini begitu gampang kau pelajari?”
Karena dampratan ini, Yo Ko tak berani bicara lebih jauh.
“Sini ikut denganku,” kata Siao-liong-li kemudian. Lalu ia bawa Yo Ko pergi ke satu kamar batu yang lain. Kamar batu yang sekarang ini ternyata dua kali lebih besar dan luas dari pada yang dulu waktu mula-mula Yo Ko belajar menangkap burung. Di dalam kamar ini telah tersedia lagi enam ekor burung gereja.
Kalau tempatnya bertambah luas, dengan sendirinya untuk menangkap burung gereja itu menjadi jauh lebih sulit. Tetapi Yo Ko tidak perlu kuatir karena Siao-liong-li telah memberi petunjuk beberapa kepandaian lagi, yaitu caranya meloncat tinggi dan melompat jauh dari ilmu entengkan tubuh dan ilmu cara menangkap dan menawan. Dengan demikian, setelah lewat delapan atau sembilan hari lagi, sekaligus Yo Ko sudah sanggup menangkap enam burung gereja itu.
Selanjutnya kamar latihannya lantas bertambah besar dan makin luas lagi, jumlah burung gereja yang harus ditangkapnya bertambah banyak pula, akhirnya dia harus menangkap 9×9 = 81 burung gereja di ruangan tengah yang amat besar. Untung ranjang batu pualam dingin yang dipakai Yo Ko untuk tidur itu ternyata amat besar khasiatnya untuk membantu latihan Iwekang. Hanya dalam tempo tiga bulan saja, 81 ekor burung gereja itu sekaligus dapat Yo Ko tangkap semua.
Tentu saja Siao-liong-li sangat girang melihat kemajuan Yo Ko yang begitu pesat. “Dan sekarang kita harus menangkapnya di luar kuburan,” demikian katanya kemudian.
Selama tiga bulan itu Yo Ko terkurung di dalam kuburan, ia sudah bosan dan kesal juga. Kini mendengar akan latihan di luar kuburan, keruan ia menjadi sangat senang dan mukanya ber-seri-seri.
“Apanya yang perlu digirangkan?” ujar Siao-liong-li dingin, “justru ilmu kepandaian ini sulit sekali melatihnya. Di antara 81 burung gereja ini seekor saja tidak boleh lolos.”
Begitulah dengan membawa kantong kain yang penuh berisi 81 ekor burung gereja ia ajak Yo Ko keluar kuburan kuno itu. Tatkala itu adalah bulan tiga dan terhitung permulaan musim semi, oleh karena itu alam semesta di luar kuburan itu boleh dikatakan menghijau permai dan hawa sejuk diselingi hembusan harum bunga yang semerbak.
Ketika mendadak Siao-liong-li mengebaskan kantong yang dibawanya, maka terbanglah ke-81 ekot burung gereja itu, tapi pada saat burung itu hendak kabur, tiba-tiba kedua tangan Siao-liong-li yang putih halus itu bergerak, dari sana dia tarik ke sini dan dari sana ditepuk pula, tahu-tahu dua ekor burung gereja yang hampir kabur itu dapat ditolaknya kembali.
Begitu mendapat kebebasan, dengan sendirinya ke-81 ekor burung gereja itu segera ingin terbang pergi. Tetapi aneh bukan main, ketika Siao-liong-li keluarkan Ciang-hoat atau ilmu pukulan tangan kosong, di sana dia menolak dan di sini dia mengebas, ke-81 ekor burung gereja itu ternyata terhimpit semua di depan dadanya dalam jarak tiga kaki, satu pun tak ada yang sanggup kabur.
Terlihat Siao-liong-li menggerakkan kedua tangannya seakan-akan sedang menari, kedua tangan seperti berubah menjadi 81 tangan saja. Bagaimana pun ke-81 ekor burung gereja menubruk sana dan menerobos sini namun tetap tidak mampu kabur keluar dari lingkaran kedua tangan Siao-liong-li. Nampak keajaiban ini Yo Ko hanya ternganga belaka. Dalam kagumnya ia pun bergirang pula. Pada waktu tenangkan diri ia berpikir: “Ah, yang sedang Kokoh ajarkan kepadaku ini adalah ciang-hoat hebat tiada bandingannya, aku harus mengingatnya dengan baik.”
Karena itu segera dia pusatkan perhatiannya untuk mengikuti gerak-gerik Siao-liong-li, dia ingat dengan baik cara bagaimana orang ulur tangan buat menahan dan cara bagaimana membaliki tangan buat meraup. Meski pun cara Siao-liong-li menggerakkan tangan sangat cepat dan aneh, tetapi tiap gerakan dan tiap jurus cukup jelas dan teratur. Setelah mengikuti agak lama, meski Yo Ko masih belum paham di mana letak keajaiban Ciang-hoat orang, namun sedikitnya ia tidak bingung lagi seperti tadi.
Sementara itu sudah lama Siao-liong-li menari ketika tiba-tiba kedua tangannya mengebas lagi sekali, lalu ia luruskan tangannya ke belakang. Karena terlepas dari kekangan tenaga tangan Siao-liong-li, segera burung-burung gereja itu bercuitan hendak terbang kabur pula.
Tapi di luar dugaan, mendadak Siao-liong-li mengebas lagi dengan kedua lengan bajunya yang membawa sambaran angin santer, karena itu ke-81 ekor burung itu seketika terjatuh lagi ke atas tanah dengan suara cuitan yang ramai. Lewat agak lama kemudian barulah burung-burung gereja itu bisa pentangkan sayap dan terbang pergi satu demi satu.
Sungguh luar biasa girangnya Yo Ko oleh pertunjukan kepandaian yang hebat itu. Ia tarik baju Siao-liong-li sambil berkata:
“Kokoh, kukira sekali pun Kwe-pepek juga tak akan bisa seperti engkau tadi.”
“Ciang-hoat yang kuperlihatkan tadi disebut ‘Thian-lo-te-bang-sik’ (gaya jaring langit dan jala bumi), adalah ilmu kepandaian pengantar dari Ko-bong-pay kita,” sahut Siao-liong-li menerangkan. “Maka kau harus belajar dengan baik.”
Lalu Siao-liong-li mengajarkan belasan jurus Ciang-hoat itu dan semuanya dipelajari Yo Ko dengan baik. Lewat belasan hari kemudian, ternyata Yo Ko sudah bisa mempelajari ‘Thian-lo-te-bang-sik’ yang meliputi 108 jurus itu dengan baik dan apal sekali. Oleh karena itu, Siao-Iiong-Ii lantas pergi menangkap seekor burung gereja dan menyuruh Yo Ko mencoba merintangi kaburnya burung ini dengan Ciang-hoat yang baru dipelajarinya.
Tentu saja dengan senang hati Yo Ko melakukan perintah itu, Mula-mula dia hanya sanggup menahan dua-tiga kali lantas burung gereja itu sudah menerobos lolos di bawah telapak tangannya. Tetapi Siao-liong-li selalu mendampingi dia, hanya sekali ulurkan tangannya, segera burung gereja itu dapat ditolak kembali.
Maka Yo Ko lalu melanjutkan permainan Ciang-hoat-nya lagi, tapi lantaran gerak-geriknya masih kurang cepat, pula kurang tepat mengepas waktunya, maka hanya beberapa kali gerakan kembali burung gereja itu lolos lagi.
Begitulah, setiap hari Yo Ko meneruskan latihannya tanpa kenal lelah. Sang waktu lewat dengan cepat, hari berganti bulan dan bulan berganti bulan puIa, tanpa terasa perawakan Yo Ko sudah tambah tinggi, suaranya yang kekanak-kanakan dulu sudah berubah besar pula seperti orang dewasa umumnya, perlahan dia sudah berubah menjadi pemuda yang tampan, berlainan dari pada waktu dia masuk ke dalam kuburan kuno ini.
Berkat bakat pembawaan Yo Ko, lagi pula Siao-liong-li sudah mengajar dengan sepenuh tenaga, maka selewatnya musim rontok, ilmu pukulan gaya ‘jaring langit dan jala bumi’ itu telah berhasil dilatihnya.
Kini bila ia permainkan Ciang-hoat ini, sekaligus ia sudah sanggup menahan ke-81 burung gereja tanpa bisa lolos, kalau terkadang terlolos juga satu ekor, itu boleh dikatakan hanya penyakit kecil saja dari Ciang-hoat yang baru dia pelajari itu.
“Ko-ji,” kata Siao-liong-Ii pada suatu hari, “Ciang-hoat yang telah kau latih ini, di kalangan kangouw sudah jarang lagi ada tandingannya, maka kapan berjumpa pula dengan imam gendut itu, boleh kau banting dia beberapa kali lagi yang keras.”
“Tetapi jika bergebrak dengan Thio Ci-keng, bagaimana?” tanya Yo Ko.
Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaan itu, sebab di dalam hati ia lagi berpikir: “Ya, Thio Ci-keng itu adalah jago terkemuka dari anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, kalau hanya dengan kepandaian Ko-ji sekarang, memang betul masih belum bisa mengalahkan dia.”
Melihat Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaannya, Yo Ko langsung tahu juga apa yang sedang dipikirkan orang.
“Tak bisa menangkan dia juga tidak mengapa, lewat beberapa tahun lagi tentu aku dapat menangkan dia,” demikian ia kata, “Kokoh, bukankah ilmu silat Ko-bong-pay kita memang jauh lebih lihay dari ilmu silat Coan-cin-kau?”
“Apa yang kau katakan tadi, di jagat ini mungkin hanya kita berdua saja yang percaya,” sahut Siao-liong-Ii sambil menengadah memandang langit. “Tempo hari pada waktu aku bergebrak dengan imam she Khu dari Coan-cin-kau itu, rasa-rasanya kalau soal ilmu silat memang aku belum bisa menangkan dia, tapi ini tidak berarti Ko-bong-pay kita tidak bisa menandingi Coan-cin-kau, melainkan karena aku masih belum berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang paling hebat dari Ko-bong-pay kita.”
Sebenarnya Yo Ko kuatir kalau Siao-liong-li tidak dapat menangkan Khu Ju-ki. Sekarang mendengar kata-kata itu, ia bergirang dan merasa mantap.
“llmu kepandaian apakah itu, Kokoh?” cepat ia bertanya, “Apa susah melatihnya? Kenapa engkau tidak mulai melatihnya?”
“Biarlah kututurkan satu cerita pendek dahulu, supaya kau mengetahui asal usul golongan Ko-bong-pay kita ini,” sahut Siao-liong-li. “Sebelum engkau menyembah aku sebagai guru, bukankah kau ingat pernah menjura pada Cosu-popoh? Dia itu she Lim, namanya Tiao-eng.
Pada, kira-kira 60-70 tahun yang talu, di kalangan Kangouw terkenal dengan kata-kata ‘di selatan ada Lim dan di utara ada Ong, tetapi Im (negatip, perempuan) menangkan Yang (positip, laki-laki). Apa yang dikatakan Lim di selatan itu ialah Cosu-popoh, dia berasal dari Kwisay, dan Ong di utara bukan lain ialah Ong Tiong-yang dari Soa-tang.
Waktu itu di kalangan Bu-lim ilmu silat mereka berdua terhitung paling tinggi. Sebenarnya kepandaian mereka boleh dikatakan sembabat dan sukarlah dibedakan mana yang lebih tinggi, tapi belakangan karena Ong Tiong-yang sibuk dengan gerakan membela tanah air untuk melawan pasukan Kim, dia repot siang dan malam, sebaliknya Cosu-popoh dapat berlatih silat lebih tekun, maka akhirnya dia jadi lebih tinggi setingkat dari pada Ong Tiong-yang, oleh karena itu orang bilang Im lebih unggul dari Yang.”
“Kemudian pergerakan Ong Tiong-yang ternyata gagal, maka dengan perasaan menyesal dia lantas mengasingkan diri di dalam Hoat-su-jin-bong ini, saking iseng setiap hari, waktu senggang itu dia lewatkan buat berlatih silat dan mempelajari segala ilmu sakti, sebaliknya waktu itu Cosu-popoh malah menjelajahi Kangouw untuk melakukan berbagai perbuatan yang terpuji. Oleh karena itu, sampai Ong Tiong-yang untuk kedua kalinya turun gunung, kembali ilmu Cosu-popoh tak lebih unggul dari padanya.
Dan paling akhir kedua orang entah soal apa terjadi percekcokan sehingga saling gebrak dan bertaruhan. Ternyata akhirnya Ong Tiong-yang kalah sehingga kuburan kuno ini pun diserahkan pada Cosu-popoh. Mari sini, biar kubawa kau pergi melihat bekas-bekas yang ditinggalkan kedua Locianpwe itu.”
Sesungguhnya kuburan kuno itu seluruhnya dibangun dari batu dan entah dibangun sejak kapan, Tetapi kamar yang ditunjukkan Siao-liong-li pada Yo Ko sekarang ternyata sangat aneh bentuknya, sebelah depan sempit bagian belakang lebar, sedangkan sebelah timur bundar, sebaliknya di sebelah barat berbentuk lencip sehingga berwujud segi tiga.
“Kenapa kamar ini dibikin sedemikian rupa Kokoh?” saking herannya Yo Ko bertanya.
“Kamar ini merupakan tempat Ong Tiong-yang mempelajari ilmu silat,” sahut Siao-Iiong-li, “bagian depan yang sempit dibuat latihan pukulan telapakan, dan yang lebar di belakang buat latihan pukulan kepalan, yang bundar di sebelah timur buat mempelajari ilmu pedang dan bagian barat yang lancip itu buat latihan senjata rahasia.”
Sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar aneh ini, Yo Ko menjadi heran luar biasa, sama sekali dia tidak paham kegunaannya.
“ltu intisari ilmu silat Ong Tiong-yang semuanya berada di situ,” tiba2 Siao-liong-li berkata sambil menuding ke atas.
Waktu Yo Ko mendongak, ia lihat langit-langit kamar yang terbuat dari papan batu itu ternyata penuh terukir goresan dan tanda rahasia yang beraneka macamnya. Coretan itu semuanya digores dengan senjata tajam, ada yang dalam dan ada yang cetek secara tidak teratur. Yo Ko tidak tahu apa maksudnya.
Sementara itu Siao-liong-li sudah mendekati dinding sebelah timur. Ia mendorong tembok yang mendekuk setengah bundar itu, dan dengan perlahan sebuah batu menggeser, lalu tampak sebuah pintu rnembentang. Dengan membawa lilin Siao-liong-li mengajak Yo Ko masuk ke situ.
Kiranya di dalam sana kembali ada sebuah kamar batu dan kamar ini ternyata mirip sekali dengan kamar yang duluan, cuma tiap tempatnya berlawanan, kalau yang duluan sempit di depan dan bagian belakang luas, maka kamar yang kedua ini terbalik menjadi depan luas dan belakang sempit, begitu pula bagian barat bundar dan ujung timur lancip. Waktu Yo Ko mendongak, ia melihat di atas langit-langit kamar juga penuh terukir tanda-tanda rahasia yang aneh.
“lni adalah rahasia ilmu kepandaian Cosu-popoh,” demikian Siao-liong-li berkata padanya, “Dulu meski beliau menangkan kuburan ini, tetapi boleh dikatakan berkat tipu akal belaka, kalau soal ilmu silat sebenarnya belum bisa menandingi Ong Tiong-yang. Tetapi sesudah Cosu-popoh berdiam di dalam kuburan kuno ini, ia telah mempelajari dan menyelami ilmu silat yang ditinggalkan Ong Tiong-yang di atas langit-langit kamar sebelah tadi, akhirnya beliau bahkan berhasil menciptakan tipu-tipu cara mematahkan ilmu silat Ong Tiong-yang, Dan tipu-tipu yang dia ciptakan itu semuanya telah ditulis di atas itu.”
“Bagus kalau begitu, Kokoh,” teriak Yo Ko girang, “Pikir saja, sekali pun kepandaian Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bisa lebih tinggi lagi juga tidak mungkin melebihi Ong Tiong-yang yang menjadi guru mereka. Kini kalau kau telah mempelajari ilmu silat tinggalan Cosu-popoh ini, bukankah dengan sendirinya akan menangkan para imam Coan-cin-kau itu.”
“Kata-katamu memang tidak salah, hanya sayang tiada orang Iain yang bisa membantu aku,” sahut Siao-Iiong-li.
“Aku bantu kau,” seru Yo Ko tiba-tiba dengan membusungkan dada.
Di luar dugaan, Siao-liong-li menyambut kata-katanya itu dengan mata melotot. “Tetapi sayang kepandaianmu belum cukup,” sahutnya kemudian dengan dingin.
Muka Yo Ko menjadi merah karena malu.
“llmu silat ciptaan Cosu-popoh itu disebut Giok-li-sim-keng (ilmu suci si gadis ayu). Untuk melatihnya harus dilakukan oleh dua orang berbareng dengan saling bantu membantu,” demikian kata Siao-liong-li lebih lanjut. “Dahulu Cosu-popoh telah melatih ilmu ini bersama dengan guruku.”
Mendengar penjelasan ini, dari rasa malu tadi Yo Ko berubah menjadi girang. “Ha, kalau begitu, aku adalah muridmu, tentu bisa juga berlatih bersama engkau,” serunya cepat.
Karena kata-kata ini, Siao-liong-li termangu sejenak. “Baiklah, boleh juga kita mencobanya,” akhirnya ia berkata, “Langkah pertama, lebih dulu kau harus latih ilmu silat perguruan kita sendiri, langkah kedua baru kau mempelajari ilmu kepandaian Coan-cin-kau dan langkah penghabisan barulah kita melatih Giok-li-sim-keng yang diciptakan untuk mengalahkan ilmu silat Coan-cin-kau itu.”
BegituIah, maka sejak hari itu Siao-liong-li lalu mengajarkan semua ilmu kepandaian Ko-bong-pay kepada Yo Ko, baik mengenai Kun-hoat dan Ciang-hoat (ilmu pukulan telapak tangan) mau pun memakai senjata tajam dan senjata rahasia. Selang setahun kemudian, semua ilmu kepandaian itu sudah diperoleh Yo Ko. Walau pun latihannya masih belum cukup masak, namun berkat bantuan ranjang batu pualam dingin, kemajuannya ternyata sangat pesat sekali.
ilmu silat Ko-bong-pay atau aliran kuburan kuno ini asal-usulnya diciptakan oleh seorang wanita, yakni kakek guru Siao-liong-Ii yang menjadi kekasih Ong Tiong-yang, sedangkan guru dan murid mereka tiga turunan juga wanita semua, dengan sendirinya ilmu silat yang diciptakan itu gerak-geriknya rada halus dan lincah bagai kaum wanita.
Karena sifat Yo Ko memang suka sekali bergerak, maka semua tipu silat Ko-bong-pay ini malah menjadi sangat cocok dengan tabiatnya. Sementara usia Siao-liong-Ii semakin bertambah, makin lama wajahnya ternyata semakin cantik. Tahun ini umur Yo Ko sudah menginjak enam belas, anak ini ternyata mempunyai perawakan tinggi, kalau berdiri sudah setinggi gurunya. Walau pun demikian, Siao-liong-Ii masih tetap menganggap Yo Ko sebagai bocah saja, sama sekali mereka tidak pusingkan soal perbedaan laki-perempuan.
Di lain pihak, semakin lama Yo Ko tinggal bersama Suhu-nya, semakin menaruh hormat juga kepadanya. Selama dua tahun itu, ternyata belum pernah dia membantah sesuatu perintah sang guru. Bocah ini ternyata pandai memahami kemauan orang, baru saja Siao-liong-li inginkan Yo Ko melakukan sesuatu, belum sampai diutarakan tahu-tahu Yo Ko sudah mendahului mengerjakannya dengan baik.
Hanya saja sifat Siao-liong-li yang amat dingin laksana es masih tetap seperti sedia kala. Terhadap apa saja yang dikatakan Yo Ko masih selalu ia sambut dengan dingin, bahkan kadang kala menyindir, sedikit pun ia tidak mengunjuk rasa kasih sayang. Tetapi karena sudah biasa, lambat laun Yo Ko tidak memikirkan pula sikap sang guru ini.
Pada suatu hari, berkatalah Siao-liong-li kepada Yo Ko: “Ko-ji, kini ilmu lo-bong-pay kita sendiri sudah kau pelajari semua, maka mulai besok bolehlah kita mulai berlatih ilmu silat Coan-cin-kau.”
Karena itu, besoknya mereka lantas mendatangi kamar batu yang berbentuk aneh dengan ukiran-ukiran aneka macam di atas langit-langit. Dengan menurutkan tanda yang terukir ini mereka mulai berlatih.
Kiranya tanda ukiran itu dahulu digores oleh Ong Tiong-yang dengan meloncat ke atas dengan ujung pedang. Dan karena Lim Tiao-eng adalah bekas kekasih Ong Tiong-yang, maka ia cukup paham intisari ilmu silat orang, sesudah diselaminya mendalam, kemudian dia turunkan kepada dayang kepercayaannya dan dayang ini akhirnya mengajar kepada Siao-liong-li, dan kini Siao-Iiong-Ii mengajarkan pula rahasia silat itu kepada Yo Ko.
Sesudah Yo Ko berlatih beberapa hari, karena memang sudah memiliki landasan yang bagus, maka banyak bagian penting yang begitu diberi petunjuk segera dapat dia terima, maka kemajuannya sangat cepat. Akan tetapi sesudah belasan hari, keadaan mendadak berubah lain, be-runtun beberapa hari Yo Ko ternyata tidak memperoleh kemajuan kalau tak mau dikatakan malah mundur. Semakin ia latih, semakin keliru dan nyasar.
Siao-liong-li lantas membantu muridnya ini memecahkan kesulitan itu, tapi dia sendiri juga tidak tahu di mana letak gangguan itu. Dasar Yo Ko ingin lekas pandai, keruan ia menjadi gopoh sehingga sering uring-uring-an sendiri.
“Tak perlu kau uring-uring-an,” demikian kata Siao-liong-li padanya, “soal ini sebenarnya tidak sulit, asal kita pergi menangkap seorang imam Coan-cin-kau dan paksa dia mengajarkan kunci rahasia penuntun ilmu silat mereka, bukankah urusan ini lantas beres? Nah, marilah kita pergi ke sana!”
Kata-kata Siao-liong-li menyadarkan Yo Ko. Tiba-tiba teringat olehnya dahulu Thio Ci-keng pernah ajarkan istilah-istilah penuntun dasar ilmu silat Coan-cin-kau itu. Maka dengan segera ia mengapalkannya kepada Siao-liong-li. Siao-liong-li sangat memperhatikan istilah yang diucapkan Yo Ko ini, dengan cermat dia menyelami intisari istilah-istilah itu.
“Ya, memang tepat itulah yang kita inginkan,” katanya kemudian setelah berpikir. “Dahulu pada waktu aku belajar ilmu silat Coan-cin-kau ini dengan mendiang guruku, sesampainya setengah jalan tiba-tiba saja sukar untuk maju setindak lagi, saat mana Cosu-popoh telah meninggal maka tiada orang yang bisa kami mintai petunjuk. Walau pun kami tahu juga soalnya karena belum mengetahui rahasia penuntun dasarnya, tetapi kami tidak berdaya pula, justru karena mendiang guruku orangnya amat alim. Pernah kukatakan hendak pergi mencuri dengar rahasia ilmu Coan-cin-kau itu, tetapi aku malah didamperat habis-habisan olehnya. Syukurlah sekarang kau sendiri malah sudah mengetahuinya, sudah tentu hal ini sangat baik sekali.”
Kemudian satu demi satu Yo Ko memberi-tahukan pula secara lebih jelas dari apa yang pernah dia pelajari dari Thio Ci-keng. Apa yang diajarkan Thio Ci-keng kepada Yo Ko tempo hari itu memang betul-betul adalah istilah pelajaran dasar Iwekang Coan-cin-kau yang paling tinggi, soalnya hanya karena Yo Ko sengaja tidak diberi pelajaran cara bagaimana mempraktekkannya.
Sekarang setelah diselami secara mendalam oleh Siao-Iiong-li, tentu saja segera menjadi terang dan semua kesulitan dapat ditembus, ditambah lagi Iwekang yang dulu Cin Lam-khim ajarkan pada Yo Ko memang juga Iwekang asli ajaran Ma Giok dari Coan-cin-kau. Dengan digabungnya dua dasar ini, keruan tidak berapa lama beberapa bulan Siao-liong-li dan Yo Ko sudah berhasil mempelajari seluruh intisari ilmu silat yang ditinggalkan Ong Tiong-yang di atas langit-langit kamar batu itu.
Pada suatu hari, sesudah kedua orang selesai berlatih ilmu pedang di dalam kamar batu itu, dengan menghela napas Siao-liong-li berkata:
“SemuIa aku pandang rendah ilmu silat Coan-cin-kau, kuanggap apa yang disebut sebagai ilmu silat asli dunia persilatan toh tidak lebih hanya sekian saja, akan tetapi hari ini barulah aku mengerti bahwa ilmu silat mereka sesungguhnya terlalu dalam untuk dimengerti dan tak ada habisnya untuk dipelajari. Ko-ji, meski sekarang kau sudah paham semua rahasia ilmu ini, tetapi untuk dapat mencapai tingkatan yang sempurna sehingga dapat dipergunakan sesuka hati, untuk ini entah harus sampai tahun kapan?”
Akan tetapi Yo Ko se-akan anak banteng yang baru lahir dan tak kenal apa artinya takut, segera dia menjawab:
“Ya, sungguh pun ilmu silat Coan-cin-kau sangat bagus, tetapi ilmu yang ditinggalkan Cosu-popoh itu dengan sendirinya ada jalan untuk menangkan dia.”
“Ya, maka mulai besok kita harus melatih Giok-li-sim-keng,” ujar Siao-liong-li.
Hari berikutnya, Siao-liong-li mengajak Yo Ko ke dalam kamar batu yang kedua. Mereka melatih diri pula dengan menuruti petunjuk ukiran yang terdapat di atas kamar itu, sekali ini mereka sudah lebih gampang melatihnya dari pada saat pertama, sebab ilmu silat yang diciptakan Lim Tiao-eng untuk mematahkan ilmu silat Ong Tiong-yang ini berinti ilmu silatnya sendiri, hanya di bagian yang dipandang perlu telah ditambah hingga lebih bagus dan lebih sempurna.
Maka dalam beberapa bulan saja mereka berdua telah berhasil melatih Gwa-kang (bagian luar) dari ‘Giok-li-sim-keng’ dengan baik. Pada waktu latihan, kalau Yo Ko menggunakan Kiam-hoat dari Coan-cin-kau, maka Siao-liong-li lantas memakai Giok-li-kiam-hoat untuk mematahkannya, sebaliknya, kalau Siao-liong-li memainkan Coan-cin-kiam-hoat, maka Yo Ko yang mengeluarkan kepandaian Giok-li-kiam-hoat untuk mengatasinya.
Nyata sekali kalau Giok-li-kiam-hoat (ilmu pedang gadis ayu) memang sengaja diciptakan untuk mengalahkan Coan-cin-kiam-hoat. Setiap gerakan dan setiap tipu serangan Coan-cin-kiam-hoat selalu dapat dipatahkan dengan tepat sekali sehingga tak mampu berkutik, meski Coan-cin-kiam-hoat bisa berubah dan berganti gerakan bagaimana pun juga, tetapi selalu tak dapat melepaskan diri dari kurungan lingkaran Giok-li-kiam-hoat.
Oleh karena Gwakang yang dilatih mereka sudah jadi, langkah selanjutnya lantas berlatih Iwekang (ilmu bagian dalam). Sebenarnya Iwekang Coan-cin-kau amat luas dan bagus sekali, jika ingin menangkannya dengan menciptakan Iwekang baru sebetulnya bukan sebuah soal gampang. Akan tetapi Lim Tiao-eng ternyata pintar luar biasa, nyata ia bisa mencari jalan lain untuk menembus kesulitan itu, ia telah kumpulkan ilmu silat berbagai aliran lainnya untuk mengungkulinya, Meski pun ilmu silat yang dia ciptakan ini sukar sekali untuk dilatih, tetapi kalau sampai berhasil mempelajari, maka dengan mudah menangkan Iwekang Coan-cin-kau.
Untuk mempelajarinya, Siao-Iiong-li mendongak memahami lukisan dan tulisan penjelasan yang terukir di atas langit-langit kamar batu itu. Lama sekali ia berdiam diri tanpa buka suara, dengan tekun ia membacanya sampai beberapa hari, tetapi akhirnya.
“Apa ilmu kepandaian ini demikian sukar dilatih, Kokoh?” tanya Yo Ko demi nampak sikap sang guru.
“Ya,” sahut Siao-liong-li. “Dulu pernah kudengar dari Suhu bahwa Giok-li-sim-keng harus dilatih oleh dua orang secara bersama-sama, semula kukira bisa melatihnya bersama kau, siapa tahu ternyata tidak dapat.”
Tentu saja Yo Ko menjadi cemas oleh keterangan ini. “Sebab apa, Kokoh?” tanyanya cepat.
“Jika kau wanita, itulah soal lain lagi,” sahut Siao-liong-li.
“Apa bedanya untuk itu?” kata Yo Ko. “Laki-laki atau perempuan yang melatihnya, bukankah sama saja?”
“Tidak, sama sekali Iain,” sahut Siao-liong-li sambil menggelengkan kepala, “Tidakkah kau lihat, bagaimana corak gambar yang terukir di atas itu?”
Waktu Yo Ko mengangkat kepalanya dan memandang dengan penuh perhatian menurut arah yang ditunjuk Siao-liong-li, maka tampaklah olehnya dipojok langit-langit kamar itu ada ukiran gambar bentuk manusia, rupanya seperti potongan kaum wanita, tetapi gambar itu semuanya telanjang bulat, terukir tanpa memakai baju selembar pun, Gambar-gambar wanita itu seluruhnya ada beberapa puluh, gerak-gerik serta gayanya berlainan semua, akan tetapi semuanya juga dalam keadaan telanjang.
Melihat gambar-gambar itu, segera pikiran Yo Ko tergerak, ia pun segera mengerti akan maksudnya.
“Oh, jadi pada waktu berlatih Iwekang Giok-li-sim-keng ini orang tidak boleh berpakaian, begitukah, Kokoh?” katanya kemudian.
“Ya, betul,” sahut Siao-liong-li. “Di dalam kitab pelajaran ini sudah dikatakan dengan jelas bahwa sewaktu berlatih Iwekang maka seluruh badan orang yang berlatih menjadi panas dan beruap, karena itu harus dipilih suatu tempat terbuka yang luas dan sepi tanpa orang lain, dengan begitu barulah bisa berlatih dengan melepas baju supaya hawa panas badan bisa buyar keluar tanpa tertahan di dalam. Jika tidak, tentu hawa panas itu akan tertimbun di dalam badan dan sedikitnya akan membuat orang sakit berat atau mungkin nyawanya akan melayang pula.”
“Jika begitu, marilah kita melatihnya tanpa pakai baju,” sahut Yo Ko tanpa pikir.
Muka Siao-liong-li menjadi merah oleh kata-kata ini. “Tetapi akhirnya kedua orang yang latihan harus saling membantu satu sama lain dengan hawa murni badannya masing-masing. Kau dan aku berlainan jenis, jika harus berhadapan tanpa pakaian, lalu apa jadinya?” sahut Siao-liong-li.
Tatkala itu umur Yo Ko telah menginjak enam belas, biar pun perawakannya tinggi besar, urusan laki dan perempuan apa lagi soal cinta segala sama sekali ia tidak paham, sedikitpun belum tahu. Hanya lapat-lapat ia merasa sang guru ini cantik luar biasa, setiap kali melihat dia dengan sendirinya timbul semacam rasa suka dalam batinnya. Dia pikir kalau berhadapan dengan melepas pakaian, agaknya memang tidak baik, tetapi sebab apa tidak baik, inilah dia sendiri tidak dapat menjawab.
Sebaliknya Siao-liong-li sejak kecil sudah hidup di dalam kuburan kuno ini, maka terhadap segala urusan keduniawian boleh dikatakan lebih tak mengerti dari pada Yo Ko. Tahun ini dia sudah berusia 22 tahun, tetapi karena giat berlatih dan tekun belajar, maka segala cita rasa manusia umumnya ternyata telah terlatih hingga lenyap sama sekali.
Meski guru dan murid berdua, mereka boleh dikatakan merupakan pasangan gadis cantik dan pemuda tampan, tetapi siang malam berhadapan, yang satu dingin dan yang lain jujur polos, sedikit pun mereka tak pernah berbuat sesuatu yang melanggar susila. Kini meski berbicara tentang telanjang bulat untuk melatih silat, mereka pun merasakan itu hanya suatu soal sulit saja dan sama sekali tiada pikiran lain yang menyimpang.
“Sudahlah, asal Iwekang ini dapat kita latih lebih masak, kiranya sudah cukup juga untuk mengalahkan para imam kolot Coan-cin-kau itu. Tentang Iwekang yang sulit ini tak perlu kita mempelajarinya,” ujar Siao-liong-li.
Karena pendapat gurunya ini, Yo Ko mengiyakan juga, urusan ini pun tidak dia pikirkan lagi.
Hari itu, sesudah Yo Ko latihan, ia keluar untuk berburu sebangsa kijang dan kelinci untuk rangsum. Setelah mendapat seekor menjangan kecil kemudian ia meng-uber lagi seekor kelinci. Siapa tahu kelinci ini ternyata licin luar biasa, binatang ini lari ke sini dan loncat ke sana, meski Ginkang atau ilmu entengkan tubuh Yo Ko kini sudah hebat, namun seketika ternyata tak mampu menyandaknya.
Karena uber-uberan ini, hati kanak-kanak Yo Ko menjadi timbul. Ia tak ingin melukai kelinci itu dengan Am-gi atau senjata rahasia, pula ia tidak mau menangkapnya dengan paksa pakai Kim-na-jiu-hoat (ilmu menawan dan menangkap), tapi ia malah berlomba Ginkang dengan binatang kecil itu. Ia ingin bikin kelinci itu kehabisan tenaga sehingga akhirnya berhenti tak sanggup lari lagi.
BegituIah, maka satu manusia dan satu kelinci terus udak-udakan dan semakin lama semakin jauh hingga melintasi sebuah lereng bukit. Kelinci itu tiba-tiba memutar beberapa kali lalu menyelusup masuk semak bunga merah yang tumbuh sangat lebat di sana.
Semak bunga merah itu terbentang seluas beberapa tombak jauhnya dan tumbuh lebat dan rapat sekali, baunya pun wangi semerbak. Ketika Yo Ko kemudian memutar melewati semak bunga ini, nyata kelinci itu sudah menghilang tanpa bekas Iagi.
Sebaliknya Yo Ko melihat semak-semak bunga ini bagaikan sebuah pintu angin raksasa saja yang membentang Iebar, bunganya tumbuh merah dengan tangkai segar menghijau, sungguh indah sekali, begitu lebat tumbuhnya bunga itu hingga mirip sebuah panggung alam. Sesaat itu pikiran Yo Ko jadi tergerak, lekas-lekas ia kembali dan mengajak Siao-liong-li datang lagi buat melihat semak bunga itu.
“Aku tak suka bunga, jika kau suka, bolehlah kau bermain-main sendiri di sini,” demikian dengan dingin Siao-liong-li berkata.
“Bukan itu maksudku, Kokoh,” sahut Yo Ko menjelaskan keinginannya, ”tempat ini justru adalah sebuah tempat bagus untuk kita gunakan, siapa pun tidak bisa melihatnya, Di waktu kau berlatih aku menjaga engkau, kalau aku yang berlatih, engkau yang melindungi aku, bukankah itu sangat bagus?”
Memang pada waktu berlatih Iwekang yang paling hebat, orang yang berlatih harus tekun memusatkan segala pikirannya, terhadap segala kejadian di luar tidak boleh memandang dan tidak boleh melihat, kalau ada serangan dari pihak luar, sekali pun tempat yang tidak berarti juga sukar menangkisnya dan pasti akan celaka, juga ilmu yang dilatihnya gagal semua. Begitu lihay akibatnya, maka perlu ada orang lain yang menjaganya di samping.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Ilmu silat Hek Tay-thong sudah terlatih sampai tingkatan yang bisa dilakukan sekehendak hatinya, maka gerakan ke samping ketika tubuhnya mendoyong itu tidak sulit baginya. Karena gerakan ini rupanya tidak tersangka juga oleh Siao-liong-li, maka terdengarlah suara “ting” satu kali, bola emasnya ternyata benar telah mengetok tanah.
Dengan bola emasnya ini, biasanya Siao-liong-li dapat mengetok Hiat-to orang secara be-runtun dan susul-menyusul dengan jitu sekali. Sekarang melihat Hek Tay-thong sanggup meluputkan diri di waktu terancam bahaya, mau tidak mau dalam hati Siao-liong-li memuji ketangkasan imam Coan-cin-kau yang hebat ini.
Ketika Hek Tay-thong bisa berdiri tegak lagi, tampaklah mukanya berubah kecut. Di antara para imam yang menyaksikan gebrakan tadi, semuanya segera menjadi geger. Para imam itu jika bukan anak murid Hek Tay-thong tentulah murid-murid keponakannya, terhadap ilmu silatnya biasanya boleh dikata kagum tidak terhingga, namun demi melihat caranya menghindari serangan orang, meski belum sampai terluka, tetapi jelas mengelak dengan ter-gopoh-gopoh, terang sedang dalam keadaan terdesak hebat. Dengan kuatir segera ada empat imam lain mengayunkan pedang mereka untuk merintangi Siao-liong-li.
“Ya, sejak tadi seharusnya kalian gunakan senjatamu!” terdengar Siao-liong-li menyambut.
Kemudian, begitu kedua tangannya bergerak, tahu-tahu kedua ujung selendang suteranya seperti ular perak saja me-lingkar-lingkar ke depan dan terdengarlah bunyi suara “ting-ting” dua kali, bahkan menyusul berbunyi pula dua kali, tahu-tahu tempat ‘tay-yan-hiat’ di pergelangan tangan keempat imam itu kena ditotok semua oleh bola emas, senjata mereka pun berjatuhan ke tanah hingga menerbitkan suara gemerincing yang nyaring.
Karena serangan serentak yang langsung mematahkan semua tusukan empat imam itu, keruan imam yang lain menjadi jeri dan ternganga, tidak ada lagi yang berani coba-coba ikut turun tangan.
Semula Hek Tay-thong menyangka Siao-liong-li tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, siapa tahu, hanya satu kali gebrakan saja dirinya sudah hampir kecundang. Tanpa terasa timbul juga rasa marahnya, segera dari tangan salah seorang anak muridnya ia ambil sebatang pedang, ia hendak tempur orang lagi dengan senjata.
“llmu kepandaian Nona ternyata betul-betul hebat, nyata Pinto (imam miskin, sebutan diri sendiri kaum Tosu) sudah berlaku kurang hormat dan salah duga, Baiklah, mari sekarang biar Pinto minta petunjuk beberapa gebrakan yang hebat,” demikian ia berkata.
Siao-liong-li tidak menjawab melainkan hanya meng-angguk-angguk, kemudian kembali terdengar “ting-ting” dua kali, selendang suteranya tiba-tiba menyambar dari kiri ke kanan. Kalau diurut menurut tingkatan, sebenarnya Hek Tay-thong masih lebih tinggi satu tingkat dari pada Siao-liong-li, maka waktu mulai bergebrak seharusnya Siao-liong-li menghormati kaum yang lebih tua dan mengalah dulu diserang tiga kali.
Akan tetapi kesemua ini ternyata tidak dihiraukan olehnya, begitu maju malah dia lantas menyerang lebih dulu dengan tipu yang mematikan, segala peraturan Bu-lim atau dunia persilatan dianggap sepi saja.
“Meski ilmu silat gadis ini mempunyai titik kelihayan tersendiri, tetapi dia tidak paham apa-apa tentang etika kangouw, terang ia kurang berpengalaman dalam pertempuran, meski kepandaiannya tinggi, tidak akan melebihi aku,” demikian Hek Tay-thong berpikir.
Karena itu segera pedangnya bergerak, dia keluarkan Kiam-hoat dari Coan-cin-pay yang tiada bandingannya itu, dia layani sambaran selendang sutera putih Siao-liong-li dengan sama cepat dan sama lihaynya.
Imam-imam yang lain menonton di samping dengan penuh perhatian. Di bawah sinar lilin yang ber-goyang, kelihatanlah satu gadis jelita berbaju putih sedang menempur seorang imam tua dengan jubah kelabu, yang satu cantik molek, yang lain tua ubanan, dan terlihat pertarungan mereka makin lama makin seru.
Kalau soal Kiam-hoat, karena Hek Tay-thong sudah melatih ilmu pedang selama puluhan tahun, sebenarnya di dalam Coan-cin-kau dia terhitung jago nomor tiga atau empat, tetapi kini sudah beberapa puluh jurus saling gebrak dengan Siao-liong-li, sedikit pun ternyata dia tidak bisa memperoleh keunggulan.
Siao-liong-li memainkan selendang suteranya, begitu cepat dan hidup seperti naga sakti, pula bola emas yang terikat pada ujung selendang itu tiada hentinya mengeluarkan suara “ting-ting” yang nyaring, suara ini lebih mengacaukan perasaan lawan.
Sesudah lama masih belum dapat mengalahkan orang, meski Hek Tay-thong sendiri juga belum tentu bisa kalah, tapi bila teringat dirinya sudah terkenal sebagai jago terkemuka di kalangan Bu-lim, jika harus bergebrak dua-tiga ratus jurus dengan gadis jelita ini, sungguh pun akhirnya menang toh pasti kehilangan pamor juga. Oleh karena itu ia menjadi gopoh, begitu Kiam-hoatnya berubah, ia malah menyerang terlebih lambat.
Aneh bahwa tiap gerak serangannya jauh lebih lambat, tetapi sebaliknya daya tekanan pedangnya justru bertambah beberapa kali lipat lebih kuat. Kalau tadi pedangnya selalu harus menghindari gubetan selendang sutera orang, tetapi sekarang sesudah daya tekanannya bertambah, dia malah berbalik mengincar untuk menebas bola emas di ujung selendang itu.
Setelah beberapa jurus lagi, tiba-tiba terdengar suara “cring” yang keras, bola emas Siao-liong-li saling bentur dengan pedang. Tetapi Hek Tay-thong lebih ulet dan lebih kuat, maka pedangnya membikin bola emas Siao-liong-li mendal ke atas lantas terpental balik mengarah muka Siao-liong-li sendiri.
Sudah tentu kesempatan baik ini tidak dilewatkan oleh Hek Tay-thong. Berbareng ia kirim serangan yang lain, dengan diiringi sorak sorai gembira para imam yang menonton, ujung pedangnya menerobos di antara kain selendang lawan terus mengarah pergelangan tangan Siao-liong-li.
Dengan serangan ini Hek Tay-thong merasa yakin sedikitnya lawan akan membuang kain selendangnya kalau pergelangan tangannya tidak mau tertusuk pedang. Siapa duga Siao-liong-li justru tidak menghindari serangan itu, hanya tangannya membalik lalu dengan sekali tangkap dia malah pegang senjata orang, menyusul ini lantas terdengar suara “pletak”, ternyata pedang Hek Tay-thong telah patah menjadi dua.
Sungguh hebat sekali kejadian ini hingga semua imam menjerit kaget, dengan cepat pula Hek Tay-thong melompat mundur ke belakang sambil masih terus memegangi sepotong pedangnya. Ia berdiri terkesima. Kiranya sarung tangan yang dipakai Siao-liong-li itu terbuat dari benang emas putih yang paling halus namun amat ulet, walau pun tipis dan lemas, akan tetapi tidak mempan oleh senjata-senjata biasa, sekali pun golok pusaka atau pedang tajam, sukar untuk menembusnya.
Sudah tentu hal ini tidak diketahui Hek Tay-thong. Dia menjadi bingung karena mendadak orang berani menangkap senjatanya, kemudian dengan tenaga tekukan yang tepat sudah mematahkan pedangnya. Dalam keadaan kecundang sedemikian ini, dengan wajah pucat Hek Tay-thong sampai tidak dapat berpikir bahwa pada sarung tangan itulah terletak khasiat segala ketangkasan Siao-liong-li, dia malah mengira gadis ini betul-betul sudah dapat berlatih semacam ilmu kebal dan tak mempan segala macam senjata.
“Bagus, bagus, baik Pinto mengaku kalah!” demikian katanya kemudian dengan suara ter-putus-putus. “Nah, nona, bolehlah kau membawa pergi anak ini.”
“Ha, setelah kau mencelakai Sun-popoh, lalu bicara seenaknya, sekali ngaku kalah lantas anggap beres begini saja?” Siao-liong-li mengejek.
“Ha-ha-ha, memang betul katamu, aku ini betuI-betul sudah pikun!” kata Hek Tay-thong sambil mendongak.
Kemudian ia angkat pedangnya yang sudah patah itu terus menggorok ke lehernya sendiri dengan maksud membunuh diri. Akan tetapi sebelum pedang menempel lehernya, tiba-tiba terdengar suara “creng” yang sangat nyaring, tangannya tergetar keras, dari luar pagar tembok mendadak menyambar sebuah mata uang hingga pedangnya terbentur jatuh.
Dengan tenaga Hek Tay-thong yang sangat kuat, bukanlah soal gampang orang hendak memukul jatuh senjatanya dengan sesuatu benda. Dalam terkejutnya itu, segera pula Hek Tay-thong tahu siapa yang telah datang. Ia mengenal tenaga sambitan mata uang itu.
“Khu-suheng, aku yang tak becus ini telah mencemarkan nama baik golongan kita, maka terserah padamu saja!” serunya kemudian sambil memandang ke arah datangnya mata uang tadi.
“Hek-sute, kalah-menang adalah soal biasa. Kalau sekali mengalami kekalahan lalu mesti menggorok leher sendiri, maka suheng-mu ini biar pun punya delapan belas kepala tentu semuanya sudah habis tergorok,” demikian terdengar orang menjawab dari luar kelenteng dengan tertawa.
Ketika suara itu berhenti segera pula orangnya sudah muncul, dengan pedang terhunus Khu Ju-ki sudah melompat masuk melintasi pagar tembok itu. Watak Khu Ju-ki paling suka blak-blakan, maka begitu datang segera pedangnya menusuk ke lengan kiri Siao-liong-li sambil berseru:
“Tiang-jun-cu Khu Ju-ki minta petunjuk pada tetangga terhormat kita.”
“Ha, kau imam tua ini terhitung suka terus terang juga,” sahut Siao-liong-li.
Berbareng itu, tangan kirinya menjulur, kembali ia dapat menangkap pula pedang Khu Ju-ki yang menusuk itu.
“Awas, Suheng!” teriak Hek Tay-thong kuatir karena pengalamannya tadi.
Akan tetapi sudah terlambat. Ketika Siao-liong-li gunakan tenaga menekan, Khu Ju-ki pun salurkan tenaga ke batang pedangnya, karena itu terjadilah tenaga lawan tenaga, keras lawan keras, maka terdengarlah suara “krak”, kembali pedang patah menjadi dua, tetapi tangan Siao-Iiong-li tidak urung tergetar hingga pegal linu, dada pun terasa rada sakit.
Cukup dengan sekali gebrakan ini saja Siao-liong-li sudah tahu bahwa kepandaian Khu Ju-ki masih jauh di atas Hek Tay-thong, sedang ilmu kepandaian sendiri ‘Giok-li-cin-keng’ masih belum sempurna, terang tidak ada harapan buat menang. Maka tanpa pikir lagi ia buang pedang patah yang direbutnya itu, lalu dengan cepat ia kempit mayat Sun-popoh dan tangan lain pondong Yo Ko. Begitu kedua kakinya menutul, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, dengan enteng sekali seperti daun saja ia melayang keluar dari pagar tembok.
Mendadak nampak Ginkang (ilmu entengi tubuh) orang yang hebat luar biasa ini, Khu Ju-ki dan Hek Tay-thong hanya saling pandang saja dengan terperanjat. Khu Ju-ki dan Hek Tay-thong sudah saling gebrak dengan Siao-liong-li tadi, mereka bisa ukur ilmu silat Siao-liong-li yang meski tinggi, tapi belum pasti bisa menangkan mereka, namun ilmu entengi tubuh yang barusan dilihatnya itu sungguh belum pernah mereka saksikan selama ini.
“Sudahlah, sudahlah!” kata Hek Tay-thong sambil menghela napas penuh menyesal.
“Hek-sute, percuma saja kau berlatih diri dalam agama selama sekian tahun, tapi sedikit kecundang saja kau lantas putus asa,” ujar Khu Ju-ki. “Harus kau ketahui bahwa saudara-saudara kita yang dikirim ke Soasay sekali ini, sama juga sudah mengalami kekalahan habis-habisan.”
“Hah, kenapa? Lalu ada yang terluka tidak?” tanya Hek Tay-thong kaget oleh berita sang Suheng.
“Cerita ini terlalu panjang, marilah kita menemui Ma-suheng dahulu,” sahut Khu Ju-ki.
Kiranya, sesudah melukai beberapa orang di daerah Oh-ciu, Kanglam, Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu mengerti terlalu banyak onar yang dia lakukan, maka ia telah menyingkir jauh ke daerah Soasay buat menghindari percekcokan. Akan tetapi angkara murkanya ternyata tak menjadi padam, di sana kembali ia mencelakai beberapa orang gagah dari Bu-lim.
Keruan akhirnya membuat marah kalangan umum hingga pemimpin Bu-lim setempat menyebarkan undangan mengajak kawan segolongan untuk mengeroyok Li Bok-chiu. Di antara yang diundang itu terdapat pula Coan-cin-kau.
Tatkala itu Ma Giok telah berunding dengan Khu Ju-ki. Mereka berpendapat meski Li Bok-chiu banyak melakukan kejahatan, tapi mengingat hubungan kakek gurunya dan gurunya sendiri, Tiong-yang Cinjin yang sangat erat, sedapat mungkin percecokan itu dibikin akur saja dan memberi jalan hidup baru kepada Li Bok-chiu untuk hari depan.
Oleh karena itu Lau Ju-hian dan Sun Put-ji lantas dikirim dahulu ke utara. Tapi siapa tahu Li Bok-chiu ternyata tidak mau mengenal kebaikan orang bahkan terus saling gebrak, dan akhirnya Lau Ju-hian dan Sun Put-ji berdua terkalahkan di bawah tangannya.
Belakangan Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, dua jago utama Coan-cin-pay ini menyusul memberi bantuan. Tetapi Li Bok-chiu ternyata sangat licin. Dia insaf seorang diri sukar berlawanan dengan jago-jago begitu banyak, maka dia menggunakan kata-kata pancingan kepada Khu Ju-ki dan Ong Ju-it dan akhirnya menetapkan peraturan satu lawan satu pada hari yang telah ditentukan.
Hari pertama yang turun bertanding adalah Sun Put-ji. Tapi secara diam-diam Li Bok-chiu telah menggunakan tipu keji, ia telah melukai tokoh wanita Coan-cin-kau itu dengan jarum berbisa yang sangat jahat. Setelah itu ia sendiri malah mengunjungi rumah orang untuk memberikan obat penawar racunnya, maka dalam keadaan demikian tidak bisa tidak Khu Ju-ki harus menerimanya.
Dan dengan begitu pula imam-imam Coan-cin-kau boleh dikatakan telah menerima budi orang, menurut peraturan Kangouw mereka lalu tidak boleh bermusuhan lagi dengan Li Bok-chiu, tentu saja mereka hanya saling pandang dan tertawa getir belaka terus pulang ke Cong-lam-san.
Syukur Khu Ju-ki buru-buru pulang lebih dahulu dan tidak mengiringi Ong Ju-it pesiar ke Thay-heng-san, karenanya pada saat yang sangat tepat sudah berhasil menolong jiwa Hek Tay-thong.
Kembali bercerita mengenai Siao-Iiong-li, sesudah memondong Yo Ko dan tangan lainnya merangkul mayat Sun-popoh, kembalilah mereka ke Hoat-su-jin-bong atau kuburan kuno. Sesudah Yo Ko diturunkan, mayat Sun-popoh lalu direbahkan pada dipan yang biasanya digunakan untuk tidur, sedang Siao-liong-li sendiri dengan bertopang dagu duduk di kursi sambil ter-menung-menung. Sebaliknya Yo Ko masih menggemblok di atas jenazah Sun-popoh dan masih menangis terguguk-guguk.
“Orang sudah mati, untuk apa kau tangisi?” kata Siao-liong-li tiba-tiba sesudah agak lama Yo Ko tersedu-sedan, “Hari ini kau menangisi dia, kelak kalau kau sendiri mati, entah siapa yang akan menangisi kau?”
Yo Ko tercengang oleh kata-kata Siao-liong-Ii yang terlalu menusuk perasaan ini. Tapi bila dipikir lebih jauh, terasa ada betulnya juga. Karenanya dia menjadi makin berduka, tanpa tertahan lagi dia menangis ter-gerung-gerung.
Hati Siao-liong-li sama sekali tidak tergerak oleh tangisan anak itu. Dengan sikap dingin saja ia menyaksikan Yo Ko menangis, mukanya sedikit pun tidak memberi sesuatu tanda perasaan.
“Marilah kita kuburkan mayatnya, ikutlah padaku!” katanya kemudian sesudah agak lama. Kemudian ia angkat mayat Sun-popoh dan menuju sebelah barat.
Lekas Yo Ko mengusap air matanya dengan baju, cepat ia ikut di belakang orang. Di dalam kuburan itu tiada sinar terang sedikit pun, maka terpaksa Yo Ko harus pentang matanya selebar mungkin, dengan begitu barulah lapat-lapat dia dapat melihat bayangan baju Siao-liong-li yang putih.
Sesudah berjalan me-Iingkar-lingkar, belok sana dan tikung sini, akhirnya Siao-liong-li membuka sebuah pintu batu yang kelihatannya amat berat, kemudian mereka pun masuk ke dalam sebuah kamar batu yang sangat luas. Di sini Siao-liong-li mengeluarkan ketikan api dan menyalakan pelita minyak di atas meja batu.
Setelah kini ada sinar terang, segera Yo Ko memandang keadaan kamar besar ini, tetapi mau tidak mau ia rada bergidik oleh suasana yang seram. Ia melihat ruangan yang begini besar ternyata kosong belaka tiada isi Iain kecuali beberapa buah peti mati dari batu yang tergeletak berjajar di tengah ruangan. Waktu Yo Ko memperhatikan, ia melihat dua peti mati di antaranya tertutup rapat, sedang tiga peti lainnya tutupnya hanya dirapatkan separoh saja, dipandang dari jauh dalam peti kelihatan gelap, tidak diketahui di dalamnya ada mayat atau tidak.
“Cosu-popoh (kakek guru) tidur di dalam sini,” kata Siao-liong-li sambil menuding peti mati yang pertama, lalu ia tuding peti mati kedua dan sambung lagi: “Dan Suhu tidur di sini.”
Waktu Yo Ko lihat jari si nona menuding peti mati yang ketiga, hatinya langsung menjadi ber-debar-debar. Ia tidak tahu Siao-liong-li bakal bilang siapa yang tidur di situ, tetapi ia melihat tutup peti itu belum dirapatkan, kalau di dalamnya sudah ada isinya, bukankah itu sangat menakutkan?
“Dan Sun-popoh tidur di sini,” demikian ia dengar Siao-liong-li menyambung lagi.
Karena kata-kata inilah baru Yo Ko tahu bahwa peti mati itu memang kosong, maka ia merasa lega. Tapi bila ia lihat di samping sana masih ada dua peti mati lagi yang kosong, tanpa terasa ia menjadi heran dan ingin mengetahui.
“Dan kedua peti yang itu, Liong-kokoh?” tanyanya kemudian.
“Yang satu buat Suci (kakak seperguruan perempuan) Li Bok-chiu dan yang lain buat aku sendiri,” sahut Siao-liong-li.
Karena jawaban ini, seketika Yo Ko terkesima. “Apakah Li Bok-chiu Kokoh akan kembali ke sini?” tanyanya.
“Kalau guruku sudah mengatur begini, akhirnya dia pasti akan kembali,” kata Siao-liong-li. “Tapi sekarang ternyata masih kurang satu peti lagi, sebab guruku tidak pernah menduga kau akan datang ke sini.”
Keruan Yo Ko kaget oleh kata-kata ini. “Tidak, aku tidak perlu!” sahutnya cepat.
“Aku sudah berjanji kepada Sun-popoh untuk menjaga kau seumur hidup. Kalau aku tidak meninggalkan tempat ini, dengan sendirinya kau pun tetap disini,” ujar Siao-liong-li.
Mendengar si nona berbicara soal mati-hidup orang seperti soal biasa saja, akhirnya Yo Ko juga tidak takut lagi.
“Seumpama kau tidak perbolehkan aku keluar, tapi kalau kau sudah mati, bukankah aku dapat keluar sendiri?” sahutnya kemudian.
“Kalau aku sudah bilang akan menjaga kau seumur hidup, sudah tentu aku tak akan mati lebih dulu dari pada kau,” kata Siao-liong-li.
Keruan Yo Ko heran, “Mana bisa?” ia debat. “Bukankah umurmu lebih tua dari padaku?”
“Ya, tapi sebelum aku mati pasti aku bunuh kau lebih dulu,” kata Siao-liong-li.
Tetapi meski usia Yo Ko masih kecil, nyata ia tidak kurang akal. “Itu kan belum tentu bisa, aku punya kaki, memangnya aku tak bisa lari?” demikian ia berpikir.
Begitulah si Yo Ko ini, belum dia angkat guru pada Siao-liong-li, tetapi diam-diam ia sudah adu kepintaran dengan orang. Sementara itu Siao-liong-li sudah mendekati peti mati yang ketiga, ia dorong tutup peti ke belakang, ia angkat jenazah Sun-popoh dan hendak dimasukkan ke dalam peti.
Tiba-tiba Yo Ko ingat pesan Sun-popoh pada saat yang terakhir bahwa: “Baju kapas yang kupakai ini hendaklah kau simpan baik2, di...” Tetapi sebelum habis dikatakan orang tua itu sudah keburu putus napasnya.
Kalau orang tua itu minta dirinya menyimpan baik-baik baju kapas itu, mengingat perkenalan mereka yang baik, apa bila disimpan sebagai tanda mata untuk hari kelak, sesungguhnya pantas juga.
“Kokoh, baju kapas Popoh itu ditinggalkan untukku saja,” serunya segera sambil kakinya menyerobot maju.
Sebenarnya Siao-liong-li tidak suka pada sifat insaniah yang menjemukan. Ia lihat watak Yo Ko yang suka bergirang, marah, menangis dan tertawa segala, meski belum ada satu hari berkenalan dengan Sun-popoh, tapi bocah ini sudah merasa begitu berat ditinggalkan orang tua itu, segera Siao-liong-li merasa muak. Karena itu, atas permintaannya tadi, dia mengerutkan kening, namun tidak urung ia copot baju kapas itu dari badan Sun-popoh lantas dilemparkan kepada Yo Ko.
Sesudah Yo Ko menerima baju kapas itu, karena terharunya kembali dia mewek-mewek hendak menangis lagi. Tetapi Siao-liong-li telah melototinya, lalu ia masukkan mayat Sun-popoh ke dalam peti, ia tarik penutup petinya, maka terdengarlah suara yang keras, tutup peti mati itu telah menutup dengan rapat sekali. Karena merasa sebal kalau Yo Ko menangis lagi, maka tanpa pandang sedikit pun pada bocah ini segera Siao-liong-li mengajak:
“Mari keluar!”
Berbareng itu ia kebaskan lengan bajunya, maka empat pelita minyak di dalam kamar itu sekaligus tersirap, keadaan seketika menjadi gelap guIita, Oleh karena kuatir jika dirinya akan dikurung di kamar peti mati itu, lekas-lekas Yo Ko membawa baju kapas Sun-popoh terus ikut keluar.
Tinggal di dalam kuburan kuno yang bagaikan istana di bawah tanah itu, hakikatnya tidak diketahui dan tidak dapat membedakan siang atau malam. Tetapi sesudah sibuk setengah harian, kedua orang sudah merasa letih, maka Siao-liong-li suruh Yo Ko tidur di kamar Sun-popoh saja.
Sejak kecil Yo Ko luntang-luntung di kalangan Kangouw seorang diri, sering dia harus menginap di kelenteng bobrok dalam hutan yang amat sunyi, maka nyalinya sebenarnya sudah terlatih sangat berani. Tetapi aneh, sejak melihat peti mati batu tadi dan sekarang diharuskan tidur sendirian, entah mengapa ia menjadi merasa takut tak terhingga. Oleh karena itu, meski Siao-liong-li sudah mengulangi kata-katanya menyuruh dia pergi tidur, dia masih tetap menjublek saja.
“Kau dengar tidak perkataanku? Apa kau tuli?” bentak Siao-liong-li menjadi gemas.
“Aku takut,” sahut Yo Ko.
“Takut apa?” tanya Siao-liong-li.
“Entah, tapi aku tak berani tidur sendirian,” kata Yo Ko.
Melihat wajah anak ini memang takut, dan di dalam hati Siao-liong-li berpikir bahwa umur anak ini masih kecil, maka tidaklah perlu harus menaati peraturan pemisahan antara laki-laki dan wanita, Karenanya dengan menghela napas kemudian ia berkata:
“Baiklah, kau tidur sekamar dengan aku.”
Lalu ia bawa Yo Ko ke kamar tidurnya sendiri. Siao-liong-li sudah biasa hidup dalam kegelapan, selamanya dia tidak perlu menyalakan pelita atau lilin, tetapi sekarang spesial ia menyulut satu lilin untuk Yo Ko.
Waktu melihat wajah Siao-liong-li yang begitu cantik ayu tak ada bandingannya, pula baju yang ia pakai putih bersih seperti salju tanpa debu sedikit pun, semula Yo Ko menyangka kamar si gadis ini tentunya teratur dengan indah sekali. Tak terduga, begitu ia memasuki kamar orang, seketika ia merasa amat kecewa. Kiranya kamar Siao-liong-li kosong melompong tanpa sesuatu pajangan, serupa saja keadaannya dengan kamar peti mati tadi.
Di dalam kamar hanya terdapat satu lonjor batu hijau yang digunakan sebagai ranjang, di atas ranjang ini tergelar selembar tikar dan terdapat pula selapis kain sutera putih yang rupanya dipakai sebagai selimut. Kecuali itu tiada sesuatu benda lain yang dilihatnya.
“Entah aku harus tidur di mana? Mungkin dia akan suruh aku tidur di lantai,” demikian Yo Ko membatin.
“Kau tidur saja di ranjangku,” tiba-tiba ia dengar Siao-liong-li berkata padanya.
“Itu tidak baik, biar aku tidur di lantai saja,” sahut Yo Ko.
Tak terduga, tiba-tiba Siao-liong-li menarik muka atas jawabannya itu. “Kurang ajar, berani kau mernbangkang?” damperatnya.. “Aku adalah gurumu, apa yang aku katakan kau harus menurut, tahu? Kau berani berkelahi melawan gurumu dari Coan-cin-kau, hal itu masa bodoh. Tetapi ini lain, kalau kau berani membangkang perintahku segera juga kucabut nyawamu!”
“Tidak perlu kau demikian galak, akan kuturut saja semua perkataanmu,” demikian Yo Ko menyahut.
“Berani kau adu mulut?” bentak Siao-liong-li.
Namun Yo Ko memang anak bandel. Ia lihat wajah Siao-liong-li sangat cantik dan usianya masih muda, sedikit pun tidak mirip seorang ‘Suhu’, karenanya ia melelet-lelet lidah atas bentakan tadi, habis ini ia diam saja.
Sudah tentu kelakuannya ini dapat dilihat Siao-liong-li. “Kenapa kau melelet lidah? Kau tak terima bukan?” damperatnya lagi.
Sekali ini Yo Ko tak berani menjawab, ia copot sepatunya terus naik ke atas ranjang buat tidur. Tetapi baru saja ia merebah, mendadak terasa olehnya hawa sedingin es yang merasuk tulang, saking kagetnya sampai ia meloncat turun dengan kaki telanjang. Nampak kelakuan Yo Ko yang lucu ini, sungguh pun Siao-liong-li tidak pernah mengunjuk sesuatu tanda perasaannya, tidak urung hampir saja ia mengeluarkan suara tertawa geli.
“Ada apa?” ia coba tegur dengan menahan gelinya.
Namun Yo Ko memang terlalu cerdik, sekilas saja dia sudah melihat ada tanda-tanda tertawa pada wajah Siao-liong-li. Oleh karenanya dia tidak menjadi takut oleh teguran itu, bahkan dia tertawa sendiri.
“Di atas ranjang ini ada yang aneh, agaknya engkau sengaja mempermainkan aku,” demikian jawabnya.
“Siapa mempermainkan kau. Memang beginilah ranjang ini, lekas kau naik lagi dan tidur,” kata Siao-liong-li dengan sungguh-sungguh. Habis ini ia sengaja ambil kemoceng (bulu ayam) dari belakang pintu, dengan alat ini dia lantas mengancam:
“lni kalau kau berani merosot turun lagi, rasakan nanti, sepuluh kali sabetanku!”
Sekali lompat, dengan entengnya Siao-liong-li telah merebahkan diri di atas tali kecil yang dianggapnya seperti ranjang empuk. Sudah tentu tak terbilang kagum Yo Ko saat melihat kepandaian yang luar biasa ini.
MENGANGKAT GURU KE TIGA
Melihat si gadis berlaku sungguh-sungguh, terpaksa Yo Ko segera naik ke atas ranjang batu dan tidur lagi. Kali ini Siao-liong-Ii sengaja menyingkirkan baju kapas tinggalan Sun-popoh, ia pindahkan ke tempat yang tak dapat dijamah tangan Yo Ko. Sebaliknya karena pengalaman tadi, sekali ini Yo Ko tidak kaget lagi, dia rebah di atas ranjang batu yang dingin itu.
Namun ranjang itu sama saja seperti balok es yang maha dingin, semakin tidur rasanya semakin dingin, sampai akhirnya saking tak tahan lagi seluruh tubuh Yo Ko jadi gemetar, ia menggigil kedinginan hingga kedua baris giginya gemerutuk. Tidak lama kemudian hawa dingin ranjang batu itu semakin men-jadi serasa meresap ke dalam tulang sungsum, sungguh ia tak tahan lebih lama lagi.
Ketika Yo Ko melirik Siao-liong-li, dia lihat wajah nona itu mengunjuk senyum tetapi bukan senyum, terhadap penderitaannya itu se-akan merasa senang dan bersyukur. Diam-diam Yo Ko mendongkol, tetapi dia masih berusaha melawan rasa dingin yang menembus keluar dari ranjang batu itu dengan sepenuh tenaganya.
Sementara ia melihat Siao-liong-li telah keluarkan seutas tali. Salah satu ujung tali dia ikat pada sebuah paku yang menancap di dinding sebelah timur, lalu tali ini ditarik dan ujung lainnya diikat kencang pada paku yang berada di dinding sebelah barat. Tali yang dipasang ini kira-kira setinggi manusia. Dengan sekali lompatan enteng Siao-liong-li sudah rebah di atas tali itu yang dianggapnya sebagai ranjang saja. Bahkan berbareng lompatannya tadi, sekali ayun tangannya, dengan angin pukulannya ia sirapkan api lilin. Sungguh tidak terbilang kagumnya Yo Ko oleh kepandaian orang yang luar biasa itu.
“Kokoh, maukah besok kau ajarkan kepandaian seperti itu kepadaku?” dalam kegelapan ia coba tanya si nona.
“Hm, terhitung apa kepandaian macam ini?” jengek Siao-liong-li. “Asal kau belajar dengan baik, masih banyak lagi kepandaian yang jauh lebih lihay yang akan kuajarkan padamu.”
Meski tabiat Yo Ko nakal, namun perasaannya sangat terguncang demi mendengar Siao-liong-li dengan sungguh-sungguh akan mengajarkan kepandaian padanya. Tanpa terasa ia menjadi tunduk dengan sepenuh hati, seluruh perasaan mengkalnya tadi segera dia lemparkan ke-awang-awang, dalam rasa terima kasihnya itu, saking terharunya ia mengucurkan air mata.
“Kokoh, kau begini baik terhadapku, tapi tadi aku malah benci padamu,” demikian katanya dengan suara berat.
“ltu tak perlu dibuat heran,” sahut Siao-liong-Ii, “Aku telah mengusir kau, sudah tentu kau benci padaku.”
“Tapi soalnya bukan itu,” kata Yo Ko, “Semula aku mengira kau sama saja seperti guruku yang lalu, hanya mengajarkan segala kepandaian yang tak berguna.”
Mendengar bocah itu berkata sambil menggigil kedinginan, tiba-tiba Siao-liong-li bertanya:
“Dinginkah kau?”
“Ya, dingin sekali,” sahut Yo Ko, “Di bawah ranjang ini ada sesuatu yang aneh, mengapa begini hebat rasa dinginnya?”
“Kau suka tidur di situ tidak?” tanya Siao-liong-li pula.
“Aku... aku tidak suka,” sahut Yo Ko ragu-ragu.
“Huhh, kau tidak suka?” jengek Siao-liong-li, “Ketahuilah bahwa entah ada berapa banyak tokoh-tokoh Bu-lim di seluruh jagat ini yang justru ingin meniduri ranjang ini, tetapi cita-citanya tak pernah kesampaian.”
“Aneh, bukankah itu berarti mencari siksaan belaka?” ujar Yo Ko heran.
“Hm, siksaan?” jengek Siao-liong-Ii, “Kiranya aku sayang dan kasihan padamu, tetapi kau malah anggap tersiksa, sungguh tidak kenal kebaikan orang.”
Mendengar lagu suara si nona agaknya memang tidak bermaksud jelek dengan menyuruh dirinya tidur di atas ranjang dingin ini, maka Yo Ko lantas memohon dengan suara lunak.
“Kokoh yang baik, apakah faedahnya ranjang dingin ini? Maukah kau terangkan padaku?”
“Apa bila mulai sekarang kau tidur di atas ranjang ini, faedahnya pasti akan kau ketahui kelak,” sahut Siao-liong-li. “Nah, sekarang pejamkan matamu dan tak boleh bicara Iagi.”
Dalam kegelapan itu lalu terdengar suara gemerisik yang perlahan sekali dari baju sutera yang dipakainya, agaknya Siao-liong-li sudah membalik tubuh. Sungguh sukar dimengerti, padahal hanya tidur di atas seutas tali yang terapung di udara, tetapi bisa membalik tubuh sesukanya.
Karena kata-kata yang terakhir tadi bernada kereng, maka Yo Ko tidak berani bertanya lagi, betul juga ia lantas pejamkan mata untuk tidur. Tapi hawa dingin yang berhembus keluar dari bagian bawah terus-menerus menyerang, mana bisa ia puIas. Lama kelamaan, tak sangguplah Yo Ko bertahan lagi.
“Kokoh, aku tidak tahan lagi,” dengan suara perlahan ia memanggil.
Namun suara pernapasan Siao-Iiong-li lapat terdengar, agaknya si nona sudah tertidur. Kembali Yo Ko memanggil dua kali lagi dengan perlahan dan tetap tiada jawaban.
“Biarlah aku turun ke bawah sebentar, tentu dia takkan tahu,” demikian ia pikir.
Maka dengan perlahan-lahan dia merosot turun ke pinggir ranjang, dia berlaku hati-hati sekali dengan menahan napas agar tidak mengeluarkan suara. Siapa tahu baru saja kakinya menginjak lantai, se-konyong-konyong terdengar suara gemerisik yang sangat perlahan, tahu-tahu Siao-liong-li sudah melompat turun dari atas talinya, sekali cekal tangan kiri Yo Ko telah dipegangnya terus ditelikung ke belakang, bahkan ia digusur ke atas tanah.
Karena tindakan tiba-tiba ini, Yo Ko menjerit kaget tetapi sehabis ini ia lantas bungkam dalam segala bahasa. Sementara itu Siao-liong-li telah angkat kemocengnya, dengan keras ia sabet pantat Yo Ko.
Yo Ko tahu percuma saja meski pun minta ampun, oleh karena itu dengan mengertak gigi kencang dia menahan rasa sakit sabetan kemoceng. Lima sabetan yang pertama luar biasa sakitnya, tapi pada sabetan ke enam kalinya, Siao-liong-li turunkan tangannya dengan enteng saja, sampai dua kali yang terakhir, kuatir Yo Ko tak tahan gebukannya, ia memukul terlebih perlahan lagi. Sesudah genap menyabet sepuluh kali, Siao-liong-li lantas menjambret tubuh Yo Ko dan dilemparkan lagi ke atas ranjang batu.
“Awas! Apa bila kau berani turun lagi, segera kau rasakan pula kemoceng ini!” bentaknya mengancam.
Tanpa bersuara Yo Ko rebah di atas ranjang batu itu. Ia mendengar Siao-liong-li telah kembalikan kemocengnya ke belakang pintu tadi, lalu melompat kembali ke atas tali buat tidur. Siao-liong-li menyangka Yo Ko tentu akan menangis dan bikin ribut lagi oleh hajarannya itu. Tapi tanpa terduga, sepatah kata pun anak muda itu tak bersuara, ini benar-benar tak pernah disangkanya.
“Ko-ji, kenapa kau diam saja?” tanyanya kemudian.
“Tidak ada yang perlu kukatakan, sekali engkau bilang pukul, tentu aku akan dipukul juga, percuma saja meski aku minta ampun,” sahut Yo Ko.
“Hm, tetapi dalam hatimu kau tentu mencaci maki,” kata Siao-liong-li.
“Tidak, aku takkan mencaci-maki kau, betapa pun engkau masih jauh lebih baik dari pada guruku yang dahulu,” kata Yo Ko.
“Sebab apa?” Siao-liong-li menjadi heran.
“Ya, sebab meski engkau memukul aku, tapi dalam hatimu kau tetap sayang dan kasihan padaku, makin pukul makin perlahan, engkau kuatir kalau aku kesakitan,” kata Yo Ko.
Wajah Siao-liong-li rada merah karena isi hatinya dengan jitu kena dikatai, syukur dalam kegelapan sehingga tidak sampai dilihat Yo Ko.
“Cis, siapa sayang padamu. Kalau lain kali kau tak menurut kata lagi, tentu akan kupukul terlebih keras,” omelnya kemudian.
Mendengar lagu suara orang sudah berubah menjadi halus, Yo Ko jadi mendapat hati. “Lebih keras engkau memukul, tetap aku suka,” demikian katanya dengan cengar-cengir.
“Cis, agaknya tulangmu memang gatal, kalau sehari tidak merasakan gebukan, tentu kau tidak bisa tidur nyenyak,” omel Siao-liong-li pula.
“ltu pun harus me-Iihat-lihat dulu siapa yang memukulku,” kata Yo Ko. “Jika orang yang suka padaku menghajar diriku, sedikit pun aku pasti tak akan dendam, mungkin malah merasa senang, sebab dia hajar aku karena ingin aku berbuat baik, Tetapi kalau orang yang benci diriku, sekali pun dia hanya memaki sekata atau mendeliki mata padaku, kelak kalau aku sudah dewasa, satu persatu pasti akan kucari mereka buat bikin perhitungan.”
“Coba katakan, siapa yang benci kau dan siapa lagi yang suka kepadamu?” tanya Siao-liong-li.
“ltu sudah kuingat baik-baik di dalam hati,” kata Yo Ko. “Tentang orang yang benci padaku boleh tidak perlu disebut, tapi orang-orang yang sayang padaku adalah ibuku yang sudah meninggal, ayah angkatku Auwyang Hong, paman Kwe Ceng dan ada lagi Sun-popoh dan engkau.”
“Hmm, jangan harap aku akan sayang padamu,” sahut Siao-liong-li dengan tertawa dingin. “Aku hanya menurut pesan Sun-popoh, dia minta agar aku menjaga kau, maka aku lantas menjaga kau, selama hidupmu ini jangan kau harapkan aku akan berbaik hati padamu.”
Memang Yo Ko sedang kedinginan, demi mendengar kata-kata orang ini, sama saja ia telah ditambahi dengan siraman seember air dingin.
“Kokoh, aku ini kurang baik apanya? Kenapa engkau begini benci padaku?” tanya Yo Ko menahan rasa mendongkolnya.
“Kau baik atau tidak, peduli apa dengan aku?” sahut Siao-Iing-li dingin, “Akan tetapi aku pun tidak benci kau. Selama hidup ini aku tinggal di dalam kuburan ini, aku tak suka pada siapa pun dan tak benci pada siapa pun!”
“Selama hidup tinggal di sini? Itu kan tidak menarik,” kata Yo Ko. “Kokoh, pernah tidak kau keluar.”
“Selamanya aku belum pernah turun dari Cong-lam-san,” sahut Siao-liong-li. “Di luar sana paling banyak juga cuma ada gunung ada pohon, ada matahari ada rembulan, lalu apanya yang menarik?”
“Ai, kalau begitu hidupmu ini benar-benar sia-sia saja,” kata Yo Ko menepuk tangan, “Jika hidup di kota, di sana ada bermacam ragam benda yang aneh, itulah baru menyenangkan dan menarik.”
Habis ini ia lantas ceritakan semua pengalamannya dan apa saja yang pernah dilihatnya selama ia ter-Iunta-lunta sejak kecil. Dasar si Yo Ko memang pandai bicara, apa lagi sengaja dia bumbu-bumbui, dia tambahi kecap, tambahi merica, tambahi minyak, keruan ceritanya menjadi lebih aneh dan menarik dengan aneka macam ragamnya.
Meski pun Siao-liong-li telah berumur 20 tahun, tetapi selamanya belum pernah turun dari Cong-lam-san barang selangkah pun, maka apa saja yang dibualkan Yo Ko, semuanya ia percaya penuh, malahan sampai akhirnya, tak tertahan dia telah menghela napas.
“Kokoh, akan kubawa kau pergi pesiar, mau tidak?” kata Yo Ko akhirnya.
Di luar dugaan, Siao-liong-li menjadi marah oleh ajakan ini. “Ngaco-belo,” damperatnya, “Cosu-popoh telah meninggalkan pesan bahwa barang siapa yang pernah tinggal di dalam ‘Hoat-su-jin-bong’ ini maka dia tidak boleh turun dari Cong-lam-san meski selangkah pun.”
“Ha, apakah aku pun tak boleh turun gunung?” tanya Yo Ko kaget oleh keterangan orang.
“Sudah tentu,” sahut Siao-liong-li.
Tetapi Yo Ko tidak menjadi gugup, sebab dalam hati ia telah berpikir: “Satu pulau terpencil seperti Tho-hoa-to saja bisa aku tinggalkan, apa lagi kalau hanya sekian kuburan kuno ini, mana bisa mengurung selama hidupku.”
Begitulah selama mereka bicara, sesaat itu pula Yo Ko telah melupakan rasa dingin yang menggigilkan tadi, tapi sejenak saja percakapan mereka berhenti, maka seluruh tubuhnya segera terasa gemetar lagi.
“Kokoh, ampuni diriku, aku tak mau tidur di atas ranjang ini lagi,” demikian ia memohon.
“Dalam perkelahianmu dengan guru Coan-cin-kau, sepatah kata saja kau tidak sudi minta ampun, kenapa sekarang begini tak berguna?” sahut Siao-liong-li.
“ltu soal lain,” kata Yo Ko sambil tertawa, “Siapa yang tidak baik terhadap diriku, meski aku mati dipukul pun tidak akan aku sudi minta ampun kepadanya. Tetapi siapa yang baik padaku, meski aku harus mati untuknya juga aku rela, apa lagi hanya minta ampun.”
“Cis, tak malu, siapa baik padamu?” jengek Siao-liong-li.
Sejak kecil Siao-liong-li dibesarkan oleh gurunya dan Sun-popoh, selama dua puluh tahun itu hanya kedua orang tua itu saja yang berdampingan dengan dia. Biar pun kedua orang tua itu sangat baik padanya, tetapi gurunya mengharuskan dia berlatih ‘Giok-li-sim-keng’ (ilmu gadis suci), maka sejak kecil dia sudah diajarkan membuang segala cita-rasa. Asal terlihat Siao-liong-li mengunjuk sedikit perasaan saja, segera gurunya mendamperat.
Sedangkan Sun-popoh walau pun cukup simpatik, namun ia juga tak berani menghalangi pelajaran Siao-liong-li sehingga oleh karena itu tabiatnya yang aneh dan menyendiri tanpa emosi itu sudah terpelihara sejak kecil. Kini dengan kedatangan Yo Ko, anak ini justru berhati panas bagaikan api, usianya masih kecil pula, baik tutur katanya mau pun tindak-tanduknya sudah tentu berbeda seluruhnya dari pada kedua nenek-nenek.
Sebenarnya Siao-liong-li juga tahu apa yang dituturkan Yo Ko itu jelas menyalahi ajaran gurunya, namun tidak urung ia ikut bercerita dengan asyik sekali hingga lupa daratan. Siao-liong-li menerima Yo Ko sebenarnya hanya untuk memenuhi permintaan Sun-popoh saja, tapi kemudian Yo Ko selalu bilang dia sangat baik padanya, maka dengan sendirinya lambat laun ia pun merasa memang benar ia memperlakukan anak ini dengan amat baik.
Demikianlah, karena lagu bicaranya Siao-liong-li sudah berubah halus, maka Yo Ko makin mendapat hati.
“Wah, dingin, Kokoh, dingin sekali. Aku tak tahan lagi!” akhirnya ia berani ber-teriak-teriak.
Padahal sekali pun kedinginan sebenarnya belum perlu ber-teriak-teriak minta tolong dan bikin geger segala.
“Jangan ribut, biar kuceritakan kepadamu mengenai asal-usul ranjang batu ini,” kata Siao-liong-li kemudian.
“Baiklah,” sahut Yo Ko girang. “Nah, Kokoh aku tidak berteriak lagi, mulailah bercerita!”
“Tadi kukatakan tidak sedikit tokoh Bu-lim di jagat ini ingin tidur di atat ranjang batu ini, hal ini bukan untuk mendustai kau,” demikian Siao-liong-li menutur, “Harus diketahui bahwa ranjang ini dibikin dari batu pualam dingin purbakala, alat pembantu utama bagi orang yang ingin berlatih Iwekang yang tinggi.”
“lni bukan batu biasa?” tanya Yo Ko heran.
“Katanya kau sudah banyak berpengalaman dan pernah melihat benda yang aneh-aneh, tetapi pernahkah kau melihat batu sedingin ini?” sahut Siao-liong-li. “Hendaklah diketahui batu ini adalah hasil jerih-payah Cosu-popoh selama tujuh tahun berada di kutub utara yang paling dingin, disana batu pualam dingin ini dia gali dari bawah es yang tebalnya ratusan tombak, Siapa yang berlatih Iwekang dengan tidur di atas ranjang batu pualam ini, maka setahun saja sama dengan berlatih sepuluh tahun secara biasa.”
“He, begini besar faedahnya?” seru Yo Ko kegirangan.
“Ya,” kata Siao-liong-li. “Ketika mula-mula tidur di atasnya memang terasa dingin tak tertahan, tapi asal kau kumpulkan seluruh tenaga untuk melawannya, lama kelamaan akan menjadi biasa, sekali pun di waktu tidur. Itu berarti tidak pernah berhenti berlatih diri. Sebab orang biasa kalau berlatih ilmu, sekali pun orang yang paling giat dan rajin, setiap hari pasti ada beberapa jam perlu buat tidur. Dan kau harus tahu, melatih ilmu yang menjalankan napas dan darah dalam tubuh sama sekali berlawanan dari pada ilmu biasa. Jika sampai tertidur maka jalan darah itu akan berputar seperti biasa dan ini sebaliknya membikin semua yang dilatihnya di waktu siang hari menjadi percuma. Tapi kalau orangnya tidur di atas ranjang ini, bukan saja hasil yang dilatih pada siang harinya tidak percuma, bahkan Iwekang-nya akan bertambah menjadi lebih kuat.”
Mendengar penjelasan ini, saking senangnya Yo Ko berseru: “Kokoh, sungguh baik sekali engkau padaku. Dengan tidur di ranjang ini, sekarang aku tidak akan takut lagi pada kedua saudara Bu dan Kwe Hu, biar pun Thio Ci-keng dari Cian-cin-kau yang telah Iama berlatih itu, kelak aku pasti dapat melebihinya,” demikian katanya.
“Tapi Cosu-popoh telah menetapkan peraturan bahwa orang yang sudah tinggal di kuburan ini harus tekun berlatih diri dengan tenang dan sabar, menghapus segala napsu berlomba dengan orang luar,” kata Siao-liong-li dengan dingin.
Yo Ko menjadi gugup oleh kata-kata ini. “Mereka begitu menghina, juga telah menewaskan Sun-popoh, apakah begitu saja kita anggap beres?” katanya penasaran.
“Setiap manusia akhirnya toh mesti mati. Sekali pun Sun-popoh tidak mati di tangan Hek Tay-thong, lewat beberapa tahun lagi ia pun akan mati sendiri,” ujar Siao-liong-li. “Apa bedanya hidup lebih lama beberapa tahun atau mati lebih cepat beberapa tahun? Kata balas dendam, untuk selanjutnya tak boleh kau sebut lagi di hadapanku.”
Yo Ko merasa kata-kata Siao-liong-li ini ada benarnya juga, tetapi ia pun merasa ada tempat-tempat yang tidak tepat, hanya saat itu dia tidak mendapatkan kata-kata yang tepat untuk mendebatnya.
Ketika itu juga hawa dingin terasa menyerang lebih hebat lagi. Tiba-tiba Yo Ko teringat pada apa yang dikatakan Siao-liong-li tadi, ia berpikir: “Mengapa aku tidak mencobanya dengan Iwekang ajaran ayah angkat?”
Segera tubuhnya menegak ke atas, ia menjungkir dengan kepala di bawah, ia keluarkan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Auwyang Hong. Tak lama kemudian terasalah semacam hawa hangat mengalir melalui seluruh tubuhnya, segera perasaan dingin tadi banyak berkurang. Waktu dia me-mutar tiga kali, tiba-tiba tubuhnya malah terasa panas dibakar, sedikit pun tidak kedinginan lagi, bahkan setelah dia rebah kembali di atas ranjang batu itu terasa segar dan sangat enak, ketika matanya dipejamkan akhirnya ia tertidur dengan nyenyak.
Tetapi sesudah tertidur kira-kira setengah jam, setelah hawa hangat tubuhnya buyar, kembali ia terjaga dari tidurnya oleh karena hawa dingin telah menyerang kembali. Maka segera ia menjungkir lagi mengeluarkan ilmu ajaran Auwyang Hong.
Dan begitulah seterusnya, tidur sebentar kemudian sadar dan tidur lagi. Ia ribut sendiri semalam suntuk, tetapi paginya sesudah bangun, bukannya dia merasa letih, sebaliknya ia malah penuh semangat, suatu tanda bahwa ilmu menjungkirnya itu khasiatnya memang hebat.
Waktu Siao-liong-li meraba jidat anak ini, merasa suhu badan orang biasa saja, keruan ia menjadi heran bukan kepalang, maka dengan sabar ia tanya Yo Ko ilmu apa yang pernah dipelajarinya dahuIu.
Sedikit pun Yo Ko tidak membohong. Ia menerangkan seluruhnya, dia ceritakan Iwekang yang dahulu dipelajarinya dari ibu kandungnya sendiri serta Ha-mo-kang yang diterimanya dari Auwyang Hong.
Diam-diam Siao-liong-li ber-pikir. Ia merasa kedua macam Iwekang yang diuraikan Yo Ko itu sama sekali tidak sejurus dan berlainan, terang pula berbeda sekali dengan Iwekang-nya sendiri. la pikir meski apa yang Yo Ko pahami itu hanya sedikit dasar penuntun saja, akan tetapi dengan ini saja bisa dibayangkan bahwa kedua ilmu Iwekang yang dipelajarinya itu justru luar biasa bagusnya, sebenarnya tidak di bawah Iwekang dari pada perguruannya sendiri.
BegituIah, setelah ter-menung sejenak, Siao-liong-li lalu membatin lagi: “Kiranya anak ini sudah mempunyai dasar Iwekang yang kuat, soalnya tidak dipergunakan secara baik dan tepat. Sebab itu sekarang tak perlu ter-buru-buru mengajarkan dia Iwekang dari perguruanku.”
Paginya, sesudah mereka sarapan, berkatalah Siao-liong-li kepada Yo Ko: “Ko-ji, ada satu soal yang harus kau pikirkan sendiri dengan masak. Jika kau sungguh-sungguh ingin mengangkat guru kepadaku, maka seumur hidup ini kau harus tunduk pada kata-kataku, tapi jika kau tidak mengangkat guru padaku, aku pun tidak menurunkan ilmu kepandaian padamu, kelak bila kau mampu menangkan aku, maka dengan ilmu silatmu itu boleh kau terjang keluar Hoat-su-jin-bong ini.”
“Sudah tentu aku ingin mengangkat kau sebagai guru,” sahut Yo Ko tanpa berpikir sedikit pun “Sekali pun kau tidak mengajarkan kepandaian padaku juga pasti aku akan menuruti segala perkataanmu.”
Keruan Siao-liong-li heran oleh jawaban ini. “Sebab apa?” tanyanya.
“Kokoh, di dalam hati engkau sangat baik terhadapku, memang kau kira aku tidak tahu?” sahut Yo Ko.
“Baik tidak aku terhadapmu selanjutnya tidak boleh dipakai membacot,” kata Siao-liong-li dengan menarik muka, “Baiklah, jika kau angkat guru padaku, mari kita pergi ke ruangan belakang menjalankan upacara.”
Maka ikutlah Yo Ko ke ruangan belakang. Di ruangan ini Yo Ko melihat keadaannya juga kosong belaka tanpa sesuatu pajangan, hanya saja di antara kedua belah dinding timur dan barat tampak tergantung dua lukisan.
Lukisan yang tergantung di dinding sebelah barat menggambarkan dua gadis jelita. Yang satu usianya 25-26 tahun sedang bersolek menghadapi cermin, ada pun gadis yang lain berumur 14-15 tahun, dari dandanannya jelas adalah seorang dayang atau pelayan, tangannya terlihat memegang sebuah baskom sedang melayani junjungannya yang lagi bersolek itu.
Kedua gadis ini semuanya berwajah cantik molek, yang berumur lebih tua itu alisnya lentik panjang sampai mendekati pelipis, di antara sorot matanya lapat-lapat membawa perbawa yang agung dan kereng.
Tanpa terasa Yo Ko memandang beberapa kali lebih banyak kepada gadis ini, dalam hati se-akan-akan dengan sendirinya timbul semacam perasaan hormat kepadanya.
“lni adalah Cosu-popoh (nenek guru), hayo lekaslah kau menjura,” demikian Siao-liong-li lantas berkata padanya sambil menunjuk gambar gadis yang tua-an.
“Dia ini Cosu-popoh?” tanya Yo Ko dengan heran, “Kenapa usianya begini muda?”
“Waktu membikin lukisan ini dia masih muda, kemudian tentunya tidak muda lagi,” sahut Siao-liong-li.
Jawaban ini diulangi Yo Ko di dalam hati, tiba-tiba dia merasakan semacam kesunyian yang memilukan, maka dengan tercengang dia memandang lukisan itu, tanpa tertahan air matanya meleleh.
Sudah tentu Siao-liong-li tidak tahu isi hati bocah ini. Kembali dia menuding gambar gadis yang berdandan sebagai pelayan itu lantas berkata pula:
“lni adalah Suhu-ku. Nah, lekas kau menjura.”
Pada waktu Yo Ko mengamat-amati lukisan ini, ia lihat gadis jelita yang dimaksud ini masih bodoh pelonco, wajahnya bersifat kanak-kanak, siapa tahu telah menjadi gurunya Siao-liong-li. Akan tetapi tanpa ragu lalu ia berlutut terus menjura.
Menunggu sesudah Yo Ko berdiri kembali kemudian Siao-liong-li tuding lagi pada lukisan yang tergantung di dinding sebelah timur sambil berkata:
“Sekarang ludahi sekali pada Tojin itu!”
Waktu Yo Ko menegasi, dia lihat lukisan itu memang menggambarkan seorang Tojin atau imam yang berperawakan jangkung, pada pinggangnya tergantung sebatang pedang dan jari telunjuk kanannya sedang menuding ke jurusan timur-laut, hanya saja gambar Tojin ini dalam keadaan mungkur, karena itulah maka wajah imam ini tidak jelas. Tentu saja Yo Ko sangat heran.
“Siapa dia? Kenapa harus meludahinya?” tanyanya kemudian.
“Dia adalah Kaucu (ketua agama) Coan-cin-kau, Ong Tiong-yang,” tutur Siao-liong-Ii. “Kita memiliki satu peraturan, apa bila sudah menyembah pada Cosu-popoh, kemudian harus meludahi dia.”
Dalam hati kecilnya Yo Ko memang sudah dendam dan benci terhadap orang-orang Coan-cin-kau. Setelah diberi penjelasan itu, tanpa pikir lagi segera ia meludahi lukisan itu dan tepat mengenal punggung gambarnya Ong Tiong-yang.
“Kokoh, apakah Cosu-popoh kita sangat benci kepada Ong Tiong-yang?” tanya Yo Ko.
“Ya,” jawab Siao-liong-li.
“Kalau begitu kenapa gambar ini tidak dibakar saja, sebaliknya malah digantung di sini?” ujar Yo Ko.
“Soal itu aku tidak tahu. Aku hanya dengar dari Suhu dan Sun-popoh bahwa kaum laki-laki di jagat ini tidak ada satu pun yang baik,” demikian sahut Siao-liong-li. Sesudah ini suaranya seketika berubah menjadi bengis dan membentak: “Kelak bila mana kau sudah besar dan berani melakukan perbuatan jahat, hm, lihat saja apa aku akan mengampuni kau?”
“Sudah tentu kau akan mengampuni aku,” tiba-tiba Yo Ko menjawab.
Keruan Siao-Iiong-li tertegun seketika. Dengan kata-kata terakhirnya tadi sebetulnya ia hanya bermaksud hendak me-nakut-nakuti dan sebagai peringatan saja, tidak terduga ternyata Yo Ko berani menjawab. Dalam tertegunnya, Siao-liong-Ii malah menjadi bingung dan kehabisan akal.
“Lekas menyembah guru!” akhirnya ia membentak lagi.
“Kepada guru sudah tentu aku akan menyembah,” sahut Yo Ko lagi, “Cuma engkau harus berjanji dulu satu hal padaku, kalau tidak, aku tidak mau menyembah.”
“Kurang ajar anak ini,” diam-diam Siao-liong-li menggerutu dalam hati. “Selamanya hanya guru yang minta murid harus berjanji, mana ada aturan bahwa murid malah meminta janji dari sang guru?”
Akan tetapi dasar sifatnya memang sabar dan pendiam, maka ia pun tidak menjadi marah.
“Soal apa? Boleh coba kau katakan,” sahutnya kemudian.
“Begini,” kata Yo Ko, “di hatiku sudah terang kuanggap engkau sebagai Suhu. Aku menghormati kau dan menjunjung kau, apa yang kau katakan tentu kuturut, tetapi dalam sebutan aku tidak panggil engkau sebagai Suhu melainkan tetap panggil engkau Kokoh (bibi) saja.”
Permintaan ini kembali membikin Siao-liong-li tercengang. “Sebab apa?” tanyanya kemudian.
“Ya, sebab sudah dua kali aku mengangkat Suhu, tapi mereka perlakukan aku tidak baik, sampai di waktu mimpi saja aku akan mengutuki Suhu,” demikian Yo Ko menutur. “Oleh sebab itu lebih baik kupanggil kau Kokoh saja, agar bila aku mengutuki Suhu engkau tidak ikut tersangkut.”
Tanpa tertahan Siao-liong-Ii tertawa geli oleh keterangan Yo Ko ini. Ia merasa walau pun kelakuan anak ini terlalu aneh dan nakal, tapi cara berpikirnya menarik juga.
“Baiklah, aku terima permintaanmu,” janjinya kemudian.
Yo Ko lantas berlutut, dengan sangat hormat ia menyembah delapan kali pada Siao-liong-li. Lalu Yo Ko mengucapkan janji pula:
“Tecu (anak murid) Yo Ko hari ini mengangkat Siao-liong-li Kokoh sebagai guru, sejak kini dan selamanya Yo Ko akan dengar kata Kokoh, jika Kokoh ada kesulitan dan menghadapi bahaya, Yo Ko akan mati-matian membela Kokoh tanpa hiraukan jiwa sendiri, jika ada orang jahat berani menghina Kokoh, Yo Ko pasti akan membunuh orang jahat itu.”
Sungguh lucu sekali sumpah setia Yo Ko ini. Padahal saat itu ilmu silat Siao-liong-Ii entah berapa puluh kali lebih tinggi dari pada Yo Ko, tapi Yo Ko anggap orang adalah gadis jelita yang lemah lembut, maka timbul sikap perkasa sebagai seorang jantan sejati yang wajib melindungi wanita lemah, hingga akhirnya semakin lama ucapannya semakin gagah dan bersemangat.
Meski lagu suara Yo Ko masih berbau kanak-kanak, akan tetapi kata-kata yang diucapkannya dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat, mau tak mau membikin hati Siao-liong-Ii rada terguncang juga. BegituIah, sesudah Yo Ko menjura, kemudian ia berdiri kembali di hadapan orang dengan muka ber-seri tanda gembira.
“Apa yang membuat kau jadi begini girang?” tanya Siao-Iiong-li. “Kepandaianku toh belum tentu bisa menangkan imam-imam tua dari Coan-cin-kau itu, lebih tidak mungkin bisa di atas kau punya Kwe-pepek.”
“PeduIi apa meski kepandaian mereka lebih tinggi,” sahut Yo Ko spontan, “yang penting engkau mau mengajarkan ilmu kepandaian padaku dengan sungguh-sungguh.”
Siao-liong-li menghela napas mendengar jawaban orang. “Padahal apa gunanya biar pun sudah belajar ilmu silat?” ujarnya, “Cuma, dari pada iseng menganggur di dalam kuburan sunyi ini, baiklah aku akan ajarkan padamu, sekarang kau tunggu dulu disini, biar aku keluar sebentar.”
Mendengar dirinya akan ditinggal pergi, se-konyong-konyong Yo Ko menjadi takut karena harus tinggal sendirian di dalam kuburan.
“Kokoh, aku ikut keluar saja,” demikian katanya cepat.
Akan tetapi Siao-liong-Ii segera pelototi padanya. “Baru saja kau berjanji akan menurut perkataanku untuk selamanya, tapi hari pertama kau sudah membangkang,” damperatnya.
“Tetapi aku... aku takut,” sahut Yo Ko.
“Laki-laki jantan sejati, takut apa?” damperat Siao-liong-li pula, “Tadi kau masih bilang akan membela diriku dan membunuh orang jahat segala!”
“Baiklah, kalau begitu lekasan engkau kembali ya!” kata Yo Ko sesudah berpikir.
“ltu pun tidak bisa ditentukan, bagaimana jika seketika sukar menangkapnya?” ujar Siao-Iiong-li.
Yo Ko menjadi heran oleh jawaban ini. “Menangkap apa, Kokoh?” tanyanya.
Namun Siao-liong-Ii tak menjawab, dia terus bertindak pergi sendiri.
DARI BOCAH MENJADI REMAJA
Dengan keluarnya Siao-liong-Ii, keadaan di dalam kuburan menjadi sepi senyap. Sementara itu Yo Ko masih me-nerka dalam hati kata-kata Siao-liong-li tadi yang bilang hendak pergi menangkap sesuatu. Ia tidak tahu siapakah yang hendak ditangkapnya, tapi mengingat Siao-liong-li tidak pernah turun selangkah pun dari Cong-km-san, Yo Ko yakin tentu sasaran yang ditangkapnya adalah imam Coan-cin-kau, hanya tidak diketahui imam mana yang akan ditangkapnya dan guna apa menangkapnya?”
BegituIah Yo Ko berpikir serabutan sendirian, tanpa terasa ia pun telah melangkah keluar ruangan besar kuburan itu dan menuju ke arah barat melalui satu lorong, akan tetapi baru belasan tindak dilalui, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap gulita. Karena kuatir kalau dia akan kesasar, Yo Ko pun balik kembali, dengan per-lahan merembet dinding. Siapa tahu meski telah beberapa puluh tindak ia berjalan masih belum juga dilihatnya sinar pelita di ruangan besar tadi.
Dalam gelisah dan takutnya, Yo Ko tambah cepat melangkah ke depan, akan tetapi ia jadi kesasar lebih jauh lagi. Memang ia sudah salah jalan, dalam keadaan gugup semakin salah pula. Makin jalan makin cepat, beberapa kali dia kebentur sini dan tertumbuk sana, dalam kegelapan dia merasa jalan lorong itu bersimpang-cabang belaka sehingga tak bisa lagi dia kembali ke ruangan besar di depan tadi.
“Kokoh, Kokoh! Lekas tolong!” saking kuatirnya ia ber-teriak.
Akan tetapi suara gemborannya segera berkumandang balik di antara lorong kuburan itu hingga membisingkan telinga. Namun Yo Ko tidak putus asa, ia maju terus mencari jalan keluarnya, kemudian tiba-tiba saja terasa tanah di mana dia injak ternyata basah becek, kiranya dirinya sudah tidak berada di lorong kuburan lagi melainkan berada di jalan lembah pegunungan yang bertembusan dengan lorong kuburan di bawah tanah.
Keruan Yo Ko semakin ketakutan. “Jika aku kesasar di dalam kuburan, bagaimana pun Kokoh pasti dapat mencari kembali,” demikian pikirnya. “Kini aku sudah sampai disini, jika tidak bisa menemukan aku, tentu dia mengira aku melarikan diri, dan tentu dia akan berduka sekali.”
Oleh karena itu, sesudah me-raba-raba mendapatkan sebuah batu, lalu ia bersedakap tangan dan berduduk di atas batu itu sambil ter-menung. Lama sekali ia duduk termangu-mangu, tiba-tiba ia dengar suara sayup-sayup orang sedang memanggilnya.
“Ko-ji...! Ko-ji...!”
Yo Ko dapat mengenali suara orang, tentu saja ia sangat girang, maka tanpa ayal lagi ia melompat bangun dan balas berteriak:
“Aku ada di sini, Kokoh!”
Akan tetapi suara panggilan “Ko-ji, Ko-ji” itu bukannya makin mendekat, sebaliknya malah semakin menjauh. Keruan saja Yo Ko sangat cemas, lekas-lekas ia pentang mulut dan berteiak lebih keras:
“Aku ada di siniiiiiii...!”
Namun sejenak kemudian ia tidak mendengar suara panggilan lagi, tentu saja ia menjadi kesal dan putus asa. Tanpa terduga, mendadak ia merasakan daun kupingnya menjadi “nyes” dingin, tahu-tahu kupingnya dijewer orang terus diangkat. Dalam kagetnya hampir saja Yo Ko menjerit, akan tetapi segera ia menjadi girang sekali.
“He, Kokoh, kau! Kenapa sedikit pun aku tidak merasa,” demikian teriaknya kemudian.
“Apa yang kau lakukan di sini?” omel Siao-liong-li.
“Aku kesasar,” sahut Yo Ko.
Siao-liong-li tidak menanya lebih jauh, ia tarik tangan Yo Ko dan diajak kembali. Meski pun dalam keadaan gelap gulita, namun Siao-liong-li ternyata bisa berjalan dengan cepat dan belak-belok seperti jalan di siang hari saja.
“Kokoh, kenapa engkau dapat melihat dengan terang?” tanya Yo Ko kagum.
“Seumur hidupku dibesarkan dalam kegelapan, dengan sendirinya aku tidak memerlukan sinar terang,” sahut Siao-liong-li.
Tidak berapa lama, kembali Siao-liong-li membawa Yo Ko sampai di ruang besar semula.
“Kokoh,” kata Yo Ko sambil tarik napas panjang, “sungguh, tadi aku merasa kuatir sekali.”
“Kuatir apa? Toh pasti aku akan menemukan kau,” sahut Siao-liong-li.
“Bukan kuatirkan soal ini,” kata Yo Ko pula, “tapi aku kuatir engkau akan menyangka aku melarikan diri hingga merasa berduka dalam hati.”
“Jika kau lari, janjiku pada Sun-popoh lantas batal pula, apanya yang perlu dibuat duka?” sahut Siao-liong-li.
Nyata watak kedua orang ini sama sekali terbalik, apa bila Yo Ko berpikir dengan penuh perasaan hangat, sebaliknya Siao-liong-li berhati dingin bagaikan es.
“Apa engkau telah berhasil menangkapnya, Kokoh?” tanya Yo Ko lebih jauh.
“Sudah,” jawab Siao-liong-li.
“Kenapa engkau menangkap dia?” tanya Yo Ko lagi.
“Bukankah buat membantu kau melatih silat?” sahut Siao-liong-li, “Sini, ikut padaku.”
Mendengar jawaban ini, seketika Yo Ko menjadi girang. “Eh, kiranya dia pergi menangkap imam Coan-cin-kau untuk dibuat untuI (mangsa latihan) bagiku,” begitu pikirnya. Keruan ia sangat tertarik, maka tanpa berkata lagi dia ikut di belakang Siao-liong-li.
Setelah memutar beberapa kali kemudian Siao-liong-li membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar batu. Yang aneh jalan di kamar batu ini ternyata sangat kecil dan sempit, dua orang berada di dalamnya saja sukar memutar tubuh, pula langit-langit kamar sangat rendah, hampir Siao-liong-li menyundul langit-langit kamar itu apa bila mengangkat tangannya.
Dalam pada itu Yo Ko juga heran, sebab tiada satu imam Coan-cin-kau yang terdapat di dalam kamar.
“Di manakah Tosu yang engkau tangkap itu?” begitulah ia lantas tanya.
“Tosu apa?” berbalik Siao-long-li balas tanya.
“Bukankah tadi engkau bilang hendak pergi menangkap orang buat membantu aku latihan silat?” sahut Yo Ko.
“Siapa bilang orang?” kata Siao-liong-li. “Tetapi ini, di sini.”
Habis ini ia berjongkok lantas menarik sebuah kantong kain dari pojok kamar. Setelah tali pengikat kantong dilepas, kantong itu dia kebas beberapa kali, maka terbang keluarlah tiga ekor burung gereja. Luar biasa herannya Yo Ko setelah mengetahui isi kantong itu. “Eh, kiranya Kokoh keluar tadi untuk menangkap burung gereja,” demikian ia membatin.
“Nah, sekarang coba kau tangkap ketiga burung gereja itu, tetapi tak boleh kau membikin rontok bulunya atau melukai cakarnya,” demikian Siao-liong-li berpesan padanya.
Yo Ko menjadi senang oleh permainan ini. “Bagus!” serunya gembira, dan begitu menubruk maju segera ia hendak menangkap salah satu burung gereja itu.
Akan tetapi burung gereja itu ternyata sangat gesit, meski Yo Ko sudah tubruk sini dan sambar sana, tetap tidak dapat menyenggol sedikit pun, apa lagi hendak menangkapnya. Akhirnya napas Yo Ko sendiri yang ter-engah dan berkeringat.
“Cara kau menangkapnya salah, Harus begini, lihat ini kuajarkan kau caranya,” kata Siao-liong-Ii.
Habis itu dia lantas memberi beberapa petunjuk caranya meloncat ke atas dan menubruk ke bawah, cara menangkap dan mencekal dengan cepat. Yo Ko memang sangat pintar. Ia tahu dengan melalui cara menangkap burung gereja itu sebenarnya Siao-liong-li lagi mengajarkan semacam ilmu silat yang tinggi padanya, maka ia memperhatikan sepenuhnya semua pelajaran itu dan diingatnya dengan baik.
Dengan main tubruk dan sambar tanpa teratur, nyatalah bahwa Yo Ko kewalahan sendiri untuk menangkap ketiga ekor burung gereja itu. Cara yang diajarkan Siao-liong-li kepadanya itu sudah bisa dipahaminya, hanya seketika belum dapat dia pergunakan. Namun Siao-liong-li tak peduli lebih jauh, ia membiarkan Yo Ko sibuk sendiri di dalam kamar itu, sedang dia sendiri lantas keluar sesudah merapatkan pintunya.
Hari pertama itu nyata Yo Ko belum sanggup menangkap burung gereja itu meski hanya seekor saja. Setelah bersantap malam, dia melatih Iwekang-nya lagi di atas ranjang batu pualam dingin. Esok paginya kembali ia mengudak burung gereja lagi, cara melompatnya ternyata sudah bertambah tinggi, gerak tangannya pun jauh lebih cepat.
Demikianlah seterusnya, sampai hari ke lima akhirnya berhasil juga ia menangkap seekor burung gereja. Luar biasa girang Yo Ko, cepat ia mencari Siao-liong-li dan melaporkan kemajuannya. Siapa tahu, bukannya Siao-liong-li memuji atas hasilnya itu, sebaliknya ia bersikap dingin saja menerima laporan itu, bahkan ia menyindir:
“Huh, apa gunanya kalau hanya seekor? Engkau harus menangkap tiga ekor sekaligus!”
Yo Ko tak berani menjawab, dalam hati ia berpikir: “Kalau sudah bisa menangkap seekor, menangkap lagi dua ekor apa susahnya?”
Tak tersangka prakteknya ternyata tidak begitu gampang sebagaimana dia kira, beruntun-runtun dua hari seekor saja tak mampu ditangkapnya lagi. Tiga burung gereja itu sudah payah karena terus menerus di-uber oleh Yo Ko, sehingga akhirnya Siao-liong-li melepaskannya setelah dilolohi sedikit makanan. Kemudian gadis ini menangkap lagi tiga ekor yang baru yang masih segar dan kuat untuk melatih Yo Ko. Dan pada hari ke delapan barulah Yo Ko mampu menangkap sekaligus ketiga burung gereja itu.
“Cukuplah sekarang, mari kita pergi ke Tiong-yang-kiong,” kata Siao-Iiong-li.
Tentu saja Yo Ko rada terperanjat oleh ajakan ini. “Untuk apa ke sana?” tanyanya heran.
Akan tetapi Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaannya. Ia menarik tangan bocah itu terus diajak menuju Tiong-yang-kiong. Selama itu meski hanya selisih delapan hari saja, namun keadaan Yo Ko ternyata sudah berlainan, kini tindakannya kuat dan langkahnya sangat enteng, jelas sekali lebih tangkas dari pada sebelumnya.
“Thio Ci-keng! Hayo lekas keluar!” seru Siao-liong-li setelah sampai di depan Tiong-yang-kiong kaum Coan-cin-kau itu.
Tadi sebelum mereka berdua sampai di depan istana ini, terlebih dahulu sudah ada imam Coan-cin-kau yang melaporkan kedatangan mereka, sebab itu baru saja Siao-liong-li berteriak, segera dari dalam istana itu membanjir keluar beberapa puluh orang Tosu atau imam, di antaranya dua imam cilik yang memayang Thio Ci-keng. Wajah Ci-keng tampak pucat lesu, kedua matanya cekung, kelihatannya tak sanggup berdiri sendiri.
Sementara itu para imam bisa mengenali Siao-liong-li berdua, mereka semua memegang senjata dan memandang dengan mata melotot marah. Siao-liong-li lantas keluarkan sebuah botol putih dari bajunya.
“Ini adalah air madu untuk menyembuhkan racun antupan tawon, ambil dan berikan pada Thio Ci-keng,” katanya dengan suara keras sambil menyerahkan botol itu kepada Yo Ko.
Waktu melihat Thio Ci-keng, sebenarnya rasa benci dan dendam kepada imam ini masih belum hilang dari hati Yo Ko. Hanya karena di hadapan orang banyak, rasanya tidak enak membantah maksud Siao-liong-li itu. Maka dengan langkah lebar terpaksa dia membawa botol madu tawon itu, kemudian ditaruh di depan Thio Ci-keng.
Pada waktu para imam Coan-cin-kau mendengar bahwa Siao-liong-li datang lagi, mereka menyangka gadis ini tentu akan mencari gara-gara dan membuat onar, untuk membalas sakit hatinya Sun-popoh, maka di samping mereka siap berjaga, di lain pihak segera dilaporkan kepada Ma Giok dan Khu ju-ki yang tingkatannya lebih tua.
Tanpa terduga-duga bahwa kedatangan Siao-liong-li ini ternyata sama sekali tidak bersifat permusuhan melainkan malah mengutarakan madu tawon penawar racun, keruan mereka menjadi heran, dalam bingungnya sampai mereka tidak bisa menyambut perkataan Siao-liong-li tadi. Sementara itu, setelah Yo Ko menaruh botol madu tawon didepan orang, ia pandang sekejap pula kepada Thio Ci-keng dengan sorot mata yang penuh menghina dan merasa jijik, habis ini ia putar tubuh terus melangkah kembali.
Slkap Yo Ko ini agaknya dapat dilihat dengan jelas oleh Ceng-kong yang berada di antara kawanan imam itu juga, ia tak bisa menahan amarahnya lagi.
“Anak celaka, sesudah mengkhianati perguruan, sekarang kau hendak pergi begitu saja?” demikian segera ia membentak sambil memburu maju hendak menawan Yo Ko.
“Ko-ji, hari ini jangan membalas serangannya,” tiba-tiba Siao-liong-li berpesan pada Yo Ko.
Sementara itu Yo Ko mendengar dari arah belakangnya ada suara tindakan orang dengan cepat, menyusul mana terdengar pula suara angin pukulan menyambar, nyata ada orang yang hendak menjamberet punggungnya. Karenanya tanpa pikir segera dia merendahkan tubuh ke bawah, lalu mendadak dia meloncat ke samping.
Walau pun baru delapan hari Yo Ko berlatih menangkap burung gereja di dalam Hoat-su-jin-bong atau kuburan orang hidup itu dan tidur di atas ranjang batu pualam dingin delapan malam pula, biar pun Siao-liong-li hanya mengajarkan sedikit caranya menangkap burung, tapi semua itu justru adalah intisari dari kunci dasar latihan Ginkang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi dari Ko-bong-pay (aliran kuburan kuno), maka kepandaiannya sekarang sudah jauh berbeda dari pada waktu bertanding dengan imam Coan-cin-kau dahulu.
BegituIah, maka dengan tepat sekali, pada waktu tangan Ceng-kong hampir menempel ke punggungnya, mendadak dia melompat pergi, bahkan berbareng itu sekalian dia tarik kain baju orang. Karena memang Ceng-kong luput menubruk orang dan tubuhnya mendoyong ke depan, dan kini ditambah oleh tarikan Yo Ko, keruan ia tak sanggup berdiri tegak lagi, tanpa ampun ia jatuh tersungkur dengan antap sekali. Ketika Ceng-kong bisa merangkak bangun, sementara itu Yo Ko sudah berdiri di samping Siao-liong-li.
Dalam gusarnya Ceng-kong berteriak murka terus hendak menyeruduk maju lagi. Syukur pada saat itu mendadak dari rombongan imam itu sudah maju satu orang yang secepat kilat menghadang di hadapan Ceng-kong sambil menarik tangannya dan diseret kembali ke tempat berdiri mereka semula.
Seketika Ceng-kong merasakan setengah tubuhnya menjadi kaku kesemutan. Pada saat dia mendongak, kiranya yang menariknya adalah Susiok atau paman gurunya, In Ci-peng. Karena itu kata-kata makian yang sebenarnya sudah siap dia lontarkan, seketika itu juga dia telan kembali.
“Banyak terima kasih atas pemberian obat nona tadi,” demikianlah In Ci-peng membuka suara sambil membungkuk memberi hormat.
Sebaliknya Siao-liong-li ternyata tidak membalas hormat orang, dia pun tidak menjawab, Dia gandeng tangan Yo Ko diajak kembali:
“Mari Ko-ji, kita pulang!”
“Liong-kohnio,” tiba-tiba In Ci-peng berseru lagi, “Yo Ko ini adalah anak murid Coan-cin-kau kami, tetapi secara paksa kau telah menerimanya. Sebenarnya cara bagaimana urusan ini harus diselesaikan?”
Siao-liong-li tertegun oleh teguran ini dan tak bisa menjawab. “Aku tidak senang mendengarkan ocehan orang,” katanya akhirnya.
Habis ini, tanpa menghiraukan orang Iain ia menarik tangan Yo Ko dan masuk kembali ke dalam rimba dengan langkah cepat. Di lain pihak In Ci-peng dengan para imam Coan-cin-kau jadi terkesima, mereka hanya saling pandang saja dengan bingung.
“Ko-ji, kepandaianmu memang nyata sudah ada kemajuan,” demikian kata Siao-liong-li kepada Yo Ko sesudah berada di dalam kuburan kuno itu, “cuma caranya kau menghajar imam gemuk tadi itu sebaliknya salah besar.”
“lmam gendut itu pernah hajar aku se-mena-mena, sayang tadi aku belum sempat membalas dia dengan hajaran yang setimpal,” sahut Yo Ko. “Dan mengapa Kokoh bilang aku salah menghajarnya?”
“Maksudku bukan tidak boleh menghajar dia, tetapi caramu menghajarnya itu yang salah,” ujar Siao-liong-li “Seharusnya jangan kau tarik dia hingga jatuh tersungkur ke depan, tapi seharusnya tidak pakai tarikan dan biar dia jatuh terjengkang sendirinya ke belakang.”
Yo Ko menjadi girang mendengar penuturan ini. “Ha, menarik sekali hal ini. Hayo, Kokoh, ajarkan caranya!” serunya cepat.
“Nah, anggap aku ini Ko-ji dan kau adalah imam gendut busuk itu, coba kau tangkap aku,” demikian kata Siao-liong-li puIa. Habis berkata, segera dia mulai melangkah perlahan ke depan.
Yo Ko menurut, dengan tertawa dia ulur tangannya untuk memegang tubuh orang. Akan tetapi punggung Siao-liong-li seperti bermata saja, biar pun Yo Ko menubruk dan meraup bagaimana pun juga, tetap tak dapat menyenggol baju orang, kalau Yo Ko berlari cepat, Siao-liong-li segera lari lebih cepat, dan kalau Yo Ko lambat, Siao-liong-li pun ikut lambat, jarak mereka selalu berselisih kira-kira satu kaki jauhnya.
“Ha-ha, Kokoh, awas sekali ini!” dengan tertawa Yo Ko berseru, mendadak dia menubruk maju dengan gerak cepat, dan Siao-liong-li ternyata tidak menghindarinya.
Tentu saja Yo Ko girang, ia yakin kedua tangannya pasti segera akan dapat merangkul leher orang. Siapa sangka, baru saja kedua tangannya dipentang dan hampir merangkul, se-konyong-konyong Siao-liong-li mencelat ke belakang hingga terlepas dari rangkulannya.
Karena menangkap angin, dengan cepat pula Yo Ko mendongak dan hendak menjambret, Akan tetapi dia baru saja menubruk ke depan lalu mendadak menekuk ke belakang sambil mendongak, karena terlampau besar menggunakan tenaga, maka Yo Ko tidak bisa berdiri tegak lagi, ia jatuh terjengkang ke belakang hingga tulang punggung terasa sakit sekali.
“Caramu ini sangat bagus, Kokoh,” teriak Yo Ko girang sesudah merangkak bangun, “Dan kenapa engkau bisa begini cepat?”
“Jika kau berlatih menangkap burung gereja setahun lagi, tentu kau akan jadi begini juga,” sahut Siao-liong-li.
“He, bukankah aku sudah bisa menangkapnya?” ujar Yo Ko.
“Hm, apakah itu dapat dianggap?” Siao-liong-li menjengek, “Apa kau sangka ilmu silat Ko-bong-pay kita ini begitu gampang kau pelajari?”
Karena dampratan ini, Yo Ko tak berani bicara lebih jauh.
“Sini ikut denganku,” kata Siao-liong-li kemudian. Lalu ia bawa Yo Ko pergi ke satu kamar batu yang lain. Kamar batu yang sekarang ini ternyata dua kali lebih besar dan luas dari pada yang dulu waktu mula-mula Yo Ko belajar menangkap burung. Di dalam kamar ini telah tersedia lagi enam ekor burung gereja.
Kalau tempatnya bertambah luas, dengan sendirinya untuk menangkap burung gereja itu menjadi jauh lebih sulit. Tetapi Yo Ko tidak perlu kuatir karena Siao-liong-li telah memberi petunjuk beberapa kepandaian lagi, yaitu caranya meloncat tinggi dan melompat jauh dari ilmu entengkan tubuh dan ilmu cara menangkap dan menawan. Dengan demikian, setelah lewat delapan atau sembilan hari lagi, sekaligus Yo Ko sudah sanggup menangkap enam burung gereja itu.
Selanjutnya kamar latihannya lantas bertambah besar dan makin luas lagi, jumlah burung gereja yang harus ditangkapnya bertambah banyak pula, akhirnya dia harus menangkap 9×9 = 81 burung gereja di ruangan tengah yang amat besar. Untung ranjang batu pualam dingin yang dipakai Yo Ko untuk tidur itu ternyata amat besar khasiatnya untuk membantu latihan Iwekang. Hanya dalam tempo tiga bulan saja, 81 ekor burung gereja itu sekaligus dapat Yo Ko tangkap semua.
Tentu saja Siao-liong-li sangat girang melihat kemajuan Yo Ko yang begitu pesat. “Dan sekarang kita harus menangkapnya di luar kuburan,” demikian katanya kemudian.
Selama tiga bulan itu Yo Ko terkurung di dalam kuburan, ia sudah bosan dan kesal juga. Kini mendengar akan latihan di luar kuburan, keruan ia menjadi sangat senang dan mukanya ber-seri-seri.
“Apanya yang perlu digirangkan?” ujar Siao-liong-li dingin, “justru ilmu kepandaian ini sulit sekali melatihnya. Di antara 81 burung gereja ini seekor saja tidak boleh lolos.”
Begitulah dengan membawa kantong kain yang penuh berisi 81 ekor burung gereja ia ajak Yo Ko keluar kuburan kuno itu. Tatkala itu adalah bulan tiga dan terhitung permulaan musim semi, oleh karena itu alam semesta di luar kuburan itu boleh dikatakan menghijau permai dan hawa sejuk diselingi hembusan harum bunga yang semerbak.
Ketika mendadak Siao-liong-li mengebaskan kantong yang dibawanya, maka terbanglah ke-81 ekot burung gereja itu, tapi pada saat burung itu hendak kabur, tiba-tiba kedua tangan Siao-liong-li yang putih halus itu bergerak, dari sana dia tarik ke sini dan dari sana ditepuk pula, tahu-tahu dua ekor burung gereja yang hampir kabur itu dapat ditolaknya kembali.
Begitu mendapat kebebasan, dengan sendirinya ke-81 ekor burung gereja itu segera ingin terbang pergi. Tetapi aneh bukan main, ketika Siao-liong-li keluarkan Ciang-hoat atau ilmu pukulan tangan kosong, di sana dia menolak dan di sini dia mengebas, ke-81 ekor burung gereja itu ternyata terhimpit semua di depan dadanya dalam jarak tiga kaki, satu pun tak ada yang sanggup kabur.
Terlihat Siao-liong-li menggerakkan kedua tangannya seakan-akan sedang menari, kedua tangan seperti berubah menjadi 81 tangan saja. Bagaimana pun ke-81 ekor burung gereja menubruk sana dan menerobos sini namun tetap tidak mampu kabur keluar dari lingkaran kedua tangan Siao-liong-li. Nampak keajaiban ini Yo Ko hanya ternganga belaka. Dalam kagumnya ia pun bergirang pula. Pada waktu tenangkan diri ia berpikir: “Ah, yang sedang Kokoh ajarkan kepadaku ini adalah ciang-hoat hebat tiada bandingannya, aku harus mengingatnya dengan baik.”
Karena itu segera dia pusatkan perhatiannya untuk mengikuti gerak-gerik Siao-liong-li, dia ingat dengan baik cara bagaimana orang ulur tangan buat menahan dan cara bagaimana membaliki tangan buat meraup. Meski pun cara Siao-liong-li menggerakkan tangan sangat cepat dan aneh, tetapi tiap gerakan dan tiap jurus cukup jelas dan teratur. Setelah mengikuti agak lama, meski Yo Ko masih belum paham di mana letak keajaiban Ciang-hoat orang, namun sedikitnya ia tidak bingung lagi seperti tadi.
Sementara itu sudah lama Siao-liong-li menari ketika tiba-tiba kedua tangannya mengebas lagi sekali, lalu ia luruskan tangannya ke belakang. Karena terlepas dari kekangan tenaga tangan Siao-liong-li, segera burung-burung gereja itu bercuitan hendak terbang kabur pula.
Tapi di luar dugaan, mendadak Siao-liong-li mengebas lagi dengan kedua lengan bajunya yang membawa sambaran angin santer, karena itu ke-81 ekor burung itu seketika terjatuh lagi ke atas tanah dengan suara cuitan yang ramai. Lewat agak lama kemudian barulah burung-burung gereja itu bisa pentangkan sayap dan terbang pergi satu demi satu.
Sungguh luar biasa girangnya Yo Ko oleh pertunjukan kepandaian yang hebat itu. Ia tarik baju Siao-liong-li sambil berkata:
“Kokoh, kukira sekali pun Kwe-pepek juga tak akan bisa seperti engkau tadi.”
“Ciang-hoat yang kuperlihatkan tadi disebut ‘Thian-lo-te-bang-sik’ (gaya jaring langit dan jala bumi), adalah ilmu kepandaian pengantar dari Ko-bong-pay kita,” sahut Siao-liong-li menerangkan. “Maka kau harus belajar dengan baik.”
Lalu Siao-liong-li mengajarkan belasan jurus Ciang-hoat itu dan semuanya dipelajari Yo Ko dengan baik. Lewat belasan hari kemudian, ternyata Yo Ko sudah bisa mempelajari ‘Thian-lo-te-bang-sik’ yang meliputi 108 jurus itu dengan baik dan apal sekali. Oleh karena itu, Siao-Iiong-Ii lantas pergi menangkap seekor burung gereja dan menyuruh Yo Ko mencoba merintangi kaburnya burung ini dengan Ciang-hoat yang baru dipelajarinya.
Tentu saja dengan senang hati Yo Ko melakukan perintah itu, Mula-mula dia hanya sanggup menahan dua-tiga kali lantas burung gereja itu sudah menerobos lolos di bawah telapak tangannya. Tetapi Siao-liong-li selalu mendampingi dia, hanya sekali ulurkan tangannya, segera burung gereja itu dapat ditolak kembali.
Maka Yo Ko lalu melanjutkan permainan Ciang-hoat-nya lagi, tapi lantaran gerak-geriknya masih kurang cepat, pula kurang tepat mengepas waktunya, maka hanya beberapa kali gerakan kembali burung gereja itu lolos lagi.
Begitulah, setiap hari Yo Ko meneruskan latihannya tanpa kenal lelah. Sang waktu lewat dengan cepat, hari berganti bulan dan bulan berganti bulan puIa, tanpa terasa perawakan Yo Ko sudah tambah tinggi, suaranya yang kekanak-kanakan dulu sudah berubah besar pula seperti orang dewasa umumnya, perlahan dia sudah berubah menjadi pemuda yang tampan, berlainan dari pada waktu dia masuk ke dalam kuburan kuno ini.
Berkat bakat pembawaan Yo Ko, lagi pula Siao-liong-li sudah mengajar dengan sepenuh tenaga, maka selewatnya musim rontok, ilmu pukulan gaya ‘jaring langit dan jala bumi’ itu telah berhasil dilatihnya.
Kini bila ia permainkan Ciang-hoat ini, sekaligus ia sudah sanggup menahan ke-81 burung gereja tanpa bisa lolos, kalau terkadang terlolos juga satu ekor, itu boleh dikatakan hanya penyakit kecil saja dari Ciang-hoat yang baru dia pelajari itu.
“Ko-ji,” kata Siao-liong-Ii pada suatu hari, “Ciang-hoat yang telah kau latih ini, di kalangan kangouw sudah jarang lagi ada tandingannya, maka kapan berjumpa pula dengan imam gendut itu, boleh kau banting dia beberapa kali lagi yang keras.”
“Tetapi jika bergebrak dengan Thio Ci-keng, bagaimana?” tanya Yo Ko.
Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaan itu, sebab di dalam hati ia lagi berpikir: “Ya, Thio Ci-keng itu adalah jago terkemuka dari anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, kalau hanya dengan kepandaian Ko-ji sekarang, memang betul masih belum bisa mengalahkan dia.”
Melihat Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaannya, Yo Ko langsung tahu juga apa yang sedang dipikirkan orang.
“Tak bisa menangkan dia juga tidak mengapa, lewat beberapa tahun lagi tentu aku dapat menangkan dia,” demikian ia kata, “Kokoh, bukankah ilmu silat Ko-bong-pay kita memang jauh lebih lihay dari ilmu silat Coan-cin-kau?”
“Apa yang kau katakan tadi, di jagat ini mungkin hanya kita berdua saja yang percaya,” sahut Siao-liong-Ii sambil menengadah memandang langit. “Tempo hari pada waktu aku bergebrak dengan imam she Khu dari Coan-cin-kau itu, rasa-rasanya kalau soal ilmu silat memang aku belum bisa menangkan dia, tapi ini tidak berarti Ko-bong-pay kita tidak bisa menandingi Coan-cin-kau, melainkan karena aku masih belum berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang paling hebat dari Ko-bong-pay kita.”
Sebenarnya Yo Ko kuatir kalau Siao-liong-li tidak dapat menangkan Khu Ju-ki. Sekarang mendengar kata-kata itu, ia bergirang dan merasa mantap.
“llmu kepandaian apakah itu, Kokoh?” cepat ia bertanya, “Apa susah melatihnya? Kenapa engkau tidak mulai melatihnya?”
“Biarlah kututurkan satu cerita pendek dahulu, supaya kau mengetahui asal usul golongan Ko-bong-pay kita ini,” sahut Siao-liong-li. “Sebelum engkau menyembah aku sebagai guru, bukankah kau ingat pernah menjura pada Cosu-popoh? Dia itu she Lim, namanya Tiao-eng.
Pada, kira-kira 60-70 tahun yang talu, di kalangan Kangouw terkenal dengan kata-kata ‘di selatan ada Lim dan di utara ada Ong, tetapi Im (negatip, perempuan) menangkan Yang (positip, laki-laki). Apa yang dikatakan Lim di selatan itu ialah Cosu-popoh, dia berasal dari Kwisay, dan Ong di utara bukan lain ialah Ong Tiong-yang dari Soa-tang.
Waktu itu di kalangan Bu-lim ilmu silat mereka berdua terhitung paling tinggi. Sebenarnya kepandaian mereka boleh dikatakan sembabat dan sukarlah dibedakan mana yang lebih tinggi, tapi belakangan karena Ong Tiong-yang sibuk dengan gerakan membela tanah air untuk melawan pasukan Kim, dia repot siang dan malam, sebaliknya Cosu-popoh dapat berlatih silat lebih tekun, maka akhirnya dia jadi lebih tinggi setingkat dari pada Ong Tiong-yang, oleh karena itu orang bilang Im lebih unggul dari Yang.”
“Kemudian pergerakan Ong Tiong-yang ternyata gagal, maka dengan perasaan menyesal dia lantas mengasingkan diri di dalam Hoat-su-jin-bong ini, saking iseng setiap hari, waktu senggang itu dia lewatkan buat berlatih silat dan mempelajari segala ilmu sakti, sebaliknya waktu itu Cosu-popoh malah menjelajahi Kangouw untuk melakukan berbagai perbuatan yang terpuji. Oleh karena itu, sampai Ong Tiong-yang untuk kedua kalinya turun gunung, kembali ilmu Cosu-popoh tak lebih unggul dari padanya.
Dan paling akhir kedua orang entah soal apa terjadi percekcokan sehingga saling gebrak dan bertaruhan. Ternyata akhirnya Ong Tiong-yang kalah sehingga kuburan kuno ini pun diserahkan pada Cosu-popoh. Mari sini, biar kubawa kau pergi melihat bekas-bekas yang ditinggalkan kedua Locianpwe itu.”
Sesungguhnya kuburan kuno itu seluruhnya dibangun dari batu dan entah dibangun sejak kapan, Tetapi kamar yang ditunjukkan Siao-liong-li pada Yo Ko sekarang ternyata sangat aneh bentuknya, sebelah depan sempit bagian belakang lebar, sedangkan sebelah timur bundar, sebaliknya di sebelah barat berbentuk lencip sehingga berwujud segi tiga.
GIOK-LI-SIM-KENG (Ilmu Suci si Gadis Ayu)
“Kenapa kamar ini dibikin sedemikian rupa Kokoh?” saking herannya Yo Ko bertanya.
“Kamar ini merupakan tempat Ong Tiong-yang mempelajari ilmu silat,” sahut Siao-Iiong-li, “bagian depan yang sempit dibuat latihan pukulan telapakan, dan yang lebar di belakang buat latihan pukulan kepalan, yang bundar di sebelah timur buat mempelajari ilmu pedang dan bagian barat yang lancip itu buat latihan senjata rahasia.”
Sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar aneh ini, Yo Ko menjadi heran luar biasa, sama sekali dia tidak paham kegunaannya.
“ltu intisari ilmu silat Ong Tiong-yang semuanya berada di situ,” tiba2 Siao-liong-li berkata sambil menuding ke atas.
Waktu Yo Ko mendongak, ia lihat langit-langit kamar yang terbuat dari papan batu itu ternyata penuh terukir goresan dan tanda rahasia yang beraneka macamnya. Coretan itu semuanya digores dengan senjata tajam, ada yang dalam dan ada yang cetek secara tidak teratur. Yo Ko tidak tahu apa maksudnya.
Sementara itu Siao-liong-li sudah mendekati dinding sebelah timur. Ia mendorong tembok yang mendekuk setengah bundar itu, dan dengan perlahan sebuah batu menggeser, lalu tampak sebuah pintu rnembentang. Dengan membawa lilin Siao-liong-li mengajak Yo Ko masuk ke situ.
Kiranya di dalam sana kembali ada sebuah kamar batu dan kamar ini ternyata mirip sekali dengan kamar yang duluan, cuma tiap tempatnya berlawanan, kalau yang duluan sempit di depan dan bagian belakang luas, maka kamar yang kedua ini terbalik menjadi depan luas dan belakang sempit, begitu pula bagian barat bundar dan ujung timur lancip. Waktu Yo Ko mendongak, ia melihat di atas langit-langit kamar juga penuh terukir tanda-tanda rahasia yang aneh.
“lni adalah rahasia ilmu kepandaian Cosu-popoh,” demikian Siao-liong-li berkata padanya, “Dulu meski beliau menangkan kuburan ini, tetapi boleh dikatakan berkat tipu akal belaka, kalau soal ilmu silat sebenarnya belum bisa menandingi Ong Tiong-yang. Tetapi sesudah Cosu-popoh berdiam di dalam kuburan kuno ini, ia telah mempelajari dan menyelami ilmu silat yang ditinggalkan Ong Tiong-yang di atas langit-langit kamar sebelah tadi, akhirnya beliau bahkan berhasil menciptakan tipu-tipu cara mematahkan ilmu silat Ong Tiong-yang, Dan tipu-tipu yang dia ciptakan itu semuanya telah ditulis di atas itu.”
“Bagus kalau begitu, Kokoh,” teriak Yo Ko girang, “Pikir saja, sekali pun kepandaian Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bisa lebih tinggi lagi juga tidak mungkin melebihi Ong Tiong-yang yang menjadi guru mereka. Kini kalau kau telah mempelajari ilmu silat tinggalan Cosu-popoh ini, bukankah dengan sendirinya akan menangkan para imam Coan-cin-kau itu.”
“Kata-katamu memang tidak salah, hanya sayang tiada orang Iain yang bisa membantu aku,” sahut Siao-Iiong-li.
“Aku bantu kau,” seru Yo Ko tiba-tiba dengan membusungkan dada.
Di luar dugaan, Siao-liong-li menyambut kata-katanya itu dengan mata melotot. “Tetapi sayang kepandaianmu belum cukup,” sahutnya kemudian dengan dingin.
Muka Yo Ko menjadi merah karena malu.
“llmu silat ciptaan Cosu-popoh itu disebut Giok-li-sim-keng (ilmu suci si gadis ayu). Untuk melatihnya harus dilakukan oleh dua orang berbareng dengan saling bantu membantu,” demikian kata Siao-liong-li lebih lanjut. “Dahulu Cosu-popoh telah melatih ilmu ini bersama dengan guruku.”
Mendengar penjelasan ini, dari rasa malu tadi Yo Ko berubah menjadi girang. “Ha, kalau begitu, aku adalah muridmu, tentu bisa juga berlatih bersama engkau,” serunya cepat.
Karena kata-kata ini, Siao-liong-li termangu sejenak. “Baiklah, boleh juga kita mencobanya,” akhirnya ia berkata, “Langkah pertama, lebih dulu kau harus latih ilmu silat perguruan kita sendiri, langkah kedua baru kau mempelajari ilmu kepandaian Coan-cin-kau dan langkah penghabisan barulah kita melatih Giok-li-sim-keng yang diciptakan untuk mengalahkan ilmu silat Coan-cin-kau itu.”
BegituIah, maka sejak hari itu Siao-liong-li lalu mengajarkan semua ilmu kepandaian Ko-bong-pay kepada Yo Ko, baik mengenai Kun-hoat dan Ciang-hoat (ilmu pukulan telapak tangan) mau pun memakai senjata tajam dan senjata rahasia. Selang setahun kemudian, semua ilmu kepandaian itu sudah diperoleh Yo Ko. Walau pun latihannya masih belum cukup masak, namun berkat bantuan ranjang batu pualam dingin, kemajuannya ternyata sangat pesat sekali.
ilmu silat Ko-bong-pay atau aliran kuburan kuno ini asal-usulnya diciptakan oleh seorang wanita, yakni kakek guru Siao-liong-Ii yang menjadi kekasih Ong Tiong-yang, sedangkan guru dan murid mereka tiga turunan juga wanita semua, dengan sendirinya ilmu silat yang diciptakan itu gerak-geriknya rada halus dan lincah bagai kaum wanita.
Karena sifat Yo Ko memang suka sekali bergerak, maka semua tipu silat Ko-bong-pay ini malah menjadi sangat cocok dengan tabiatnya. Sementara usia Siao-liong-Ii semakin bertambah, makin lama wajahnya ternyata semakin cantik. Tahun ini umur Yo Ko sudah menginjak enam belas, anak ini ternyata mempunyai perawakan tinggi, kalau berdiri sudah setinggi gurunya. Walau pun demikian, Siao-liong-Ii masih tetap menganggap Yo Ko sebagai bocah saja, sama sekali mereka tidak pusingkan soal perbedaan laki-perempuan.
Di lain pihak, semakin lama Yo Ko tinggal bersama Suhu-nya, semakin menaruh hormat juga kepadanya. Selama dua tahun itu, ternyata belum pernah dia membantah sesuatu perintah sang guru. Bocah ini ternyata pandai memahami kemauan orang, baru saja Siao-liong-li inginkan Yo Ko melakukan sesuatu, belum sampai diutarakan tahu-tahu Yo Ko sudah mendahului mengerjakannya dengan baik.
Hanya saja sifat Siao-liong-li yang amat dingin laksana es masih tetap seperti sedia kala. Terhadap apa saja yang dikatakan Yo Ko masih selalu ia sambut dengan dingin, bahkan kadang kala menyindir, sedikit pun ia tidak mengunjuk rasa kasih sayang. Tetapi karena sudah biasa, lambat laun Yo Ko tidak memikirkan pula sikap sang guru ini.
Pada suatu hari, berkatalah Siao-liong-li kepada Yo Ko: “Ko-ji, kini ilmu lo-bong-pay kita sendiri sudah kau pelajari semua, maka mulai besok bolehlah kita mulai berlatih ilmu silat Coan-cin-kau.”
Karena itu, besoknya mereka lantas mendatangi kamar batu yang berbentuk aneh dengan ukiran-ukiran aneka macam di atas langit-langit. Dengan menurutkan tanda yang terukir ini mereka mulai berlatih.
Kiranya tanda ukiran itu dahulu digores oleh Ong Tiong-yang dengan meloncat ke atas dengan ujung pedang. Dan karena Lim Tiao-eng adalah bekas kekasih Ong Tiong-yang, maka ia cukup paham intisari ilmu silat orang, sesudah diselaminya mendalam, kemudian dia turunkan kepada dayang kepercayaannya dan dayang ini akhirnya mengajar kepada Siao-liong-li, dan kini Siao-Iiong-Ii mengajarkan pula rahasia silat itu kepada Yo Ko.
Sesudah Yo Ko berlatih beberapa hari, karena memang sudah memiliki landasan yang bagus, maka banyak bagian penting yang begitu diberi petunjuk segera dapat dia terima, maka kemajuannya sangat cepat. Akan tetapi sesudah belasan hari, keadaan mendadak berubah lain, be-runtun beberapa hari Yo Ko ternyata tidak memperoleh kemajuan kalau tak mau dikatakan malah mundur. Semakin ia latih, semakin keliru dan nyasar.
Siao-liong-li lantas membantu muridnya ini memecahkan kesulitan itu, tapi dia sendiri juga tidak tahu di mana letak gangguan itu. Dasar Yo Ko ingin lekas pandai, keruan ia menjadi gopoh sehingga sering uring-uring-an sendiri.
“Tak perlu kau uring-uring-an,” demikian kata Siao-liong-li padanya, “soal ini sebenarnya tidak sulit, asal kita pergi menangkap seorang imam Coan-cin-kau dan paksa dia mengajarkan kunci rahasia penuntun ilmu silat mereka, bukankah urusan ini lantas beres? Nah, marilah kita pergi ke sana!”
Kata-kata Siao-liong-li menyadarkan Yo Ko. Tiba-tiba teringat olehnya dahulu Thio Ci-keng pernah ajarkan istilah-istilah penuntun dasar ilmu silat Coan-cin-kau itu. Maka dengan segera ia mengapalkannya kepada Siao-liong-li. Siao-liong-li sangat memperhatikan istilah yang diucapkan Yo Ko ini, dengan cermat dia menyelami intisari istilah-istilah itu.
“Ya, memang tepat itulah yang kita inginkan,” katanya kemudian setelah berpikir. “Dahulu pada waktu aku belajar ilmu silat Coan-cin-kau ini dengan mendiang guruku, sesampainya setengah jalan tiba-tiba saja sukar untuk maju setindak lagi, saat mana Cosu-popoh telah meninggal maka tiada orang yang bisa kami mintai petunjuk. Walau pun kami tahu juga soalnya karena belum mengetahui rahasia penuntun dasarnya, tetapi kami tidak berdaya pula, justru karena mendiang guruku orangnya amat alim. Pernah kukatakan hendak pergi mencuri dengar rahasia ilmu Coan-cin-kau itu, tetapi aku malah didamperat habis-habisan olehnya. Syukurlah sekarang kau sendiri malah sudah mengetahuinya, sudah tentu hal ini sangat baik sekali.”
Kemudian satu demi satu Yo Ko memberi-tahukan pula secara lebih jelas dari apa yang pernah dia pelajari dari Thio Ci-keng. Apa yang diajarkan Thio Ci-keng kepada Yo Ko tempo hari itu memang betul-betul adalah istilah pelajaran dasar Iwekang Coan-cin-kau yang paling tinggi, soalnya hanya karena Yo Ko sengaja tidak diberi pelajaran cara bagaimana mempraktekkannya.
Sekarang setelah diselami secara mendalam oleh Siao-Iiong-li, tentu saja segera menjadi terang dan semua kesulitan dapat ditembus, ditambah lagi Iwekang yang dulu Cin Lam-khim ajarkan pada Yo Ko memang juga Iwekang asli ajaran Ma Giok dari Coan-cin-kau. Dengan digabungnya dua dasar ini, keruan tidak berapa lama beberapa bulan Siao-liong-li dan Yo Ko sudah berhasil mempelajari seluruh intisari ilmu silat yang ditinggalkan Ong Tiong-yang di atas langit-langit kamar batu itu.
Pada suatu hari, sesudah kedua orang selesai berlatih ilmu pedang di dalam kamar batu itu, dengan menghela napas Siao-liong-li berkata:
“SemuIa aku pandang rendah ilmu silat Coan-cin-kau, kuanggap apa yang disebut sebagai ilmu silat asli dunia persilatan toh tidak lebih hanya sekian saja, akan tetapi hari ini barulah aku mengerti bahwa ilmu silat mereka sesungguhnya terlalu dalam untuk dimengerti dan tak ada habisnya untuk dipelajari. Ko-ji, meski sekarang kau sudah paham semua rahasia ilmu ini, tetapi untuk dapat mencapai tingkatan yang sempurna sehingga dapat dipergunakan sesuka hati, untuk ini entah harus sampai tahun kapan?”
Akan tetapi Yo Ko se-akan anak banteng yang baru lahir dan tak kenal apa artinya takut, segera dia menjawab:
“Ya, sungguh pun ilmu silat Coan-cin-kau sangat bagus, tetapi ilmu yang ditinggalkan Cosu-popoh itu dengan sendirinya ada jalan untuk menangkan dia.”
“Ya, maka mulai besok kita harus melatih Giok-li-sim-keng,” ujar Siao-liong-li.
Hari berikutnya, Siao-liong-li mengajak Yo Ko ke dalam kamar batu yang kedua. Mereka melatih diri pula dengan menuruti petunjuk ukiran yang terdapat di atas kamar itu, sekali ini mereka sudah lebih gampang melatihnya dari pada saat pertama, sebab ilmu silat yang diciptakan Lim Tiao-eng untuk mematahkan ilmu silat Ong Tiong-yang ini berinti ilmu silatnya sendiri, hanya di bagian yang dipandang perlu telah ditambah hingga lebih bagus dan lebih sempurna.
Maka dalam beberapa bulan saja mereka berdua telah berhasil melatih Gwa-kang (bagian luar) dari ‘Giok-li-sim-keng’ dengan baik. Pada waktu latihan, kalau Yo Ko menggunakan Kiam-hoat dari Coan-cin-kau, maka Siao-liong-li lantas memakai Giok-li-kiam-hoat untuk mematahkannya, sebaliknya, kalau Siao-liong-li memainkan Coan-cin-kiam-hoat, maka Yo Ko yang mengeluarkan kepandaian Giok-li-kiam-hoat untuk mengatasinya.
Nyata sekali kalau Giok-li-kiam-hoat (ilmu pedang gadis ayu) memang sengaja diciptakan untuk mengalahkan Coan-cin-kiam-hoat. Setiap gerakan dan setiap tipu serangan Coan-cin-kiam-hoat selalu dapat dipatahkan dengan tepat sekali sehingga tak mampu berkutik, meski Coan-cin-kiam-hoat bisa berubah dan berganti gerakan bagaimana pun juga, tetapi selalu tak dapat melepaskan diri dari kurungan lingkaran Giok-li-kiam-hoat.
Oleh karena Gwakang yang dilatih mereka sudah jadi, langkah selanjutnya lantas berlatih Iwekang (ilmu bagian dalam). Sebenarnya Iwekang Coan-cin-kau amat luas dan bagus sekali, jika ingin menangkannya dengan menciptakan Iwekang baru sebetulnya bukan sebuah soal gampang. Akan tetapi Lim Tiao-eng ternyata pintar luar biasa, nyata ia bisa mencari jalan lain untuk menembus kesulitan itu, ia telah kumpulkan ilmu silat berbagai aliran lainnya untuk mengungkulinya, Meski pun ilmu silat yang dia ciptakan ini sukar sekali untuk dilatih, tetapi kalau sampai berhasil mempelajari, maka dengan mudah menangkan Iwekang Coan-cin-kau.
Untuk mempelajarinya, Siao-Iiong-li mendongak memahami lukisan dan tulisan penjelasan yang terukir di atas langit-langit kamar batu itu. Lama sekali ia berdiam diri tanpa buka suara, dengan tekun ia membacanya sampai beberapa hari, tetapi akhirnya.
“Apa ilmu kepandaian ini demikian sukar dilatih, Kokoh?” tanya Yo Ko demi nampak sikap sang guru.
“Ya,” sahut Siao-liong-li. “Dulu pernah kudengar dari Suhu bahwa Giok-li-sim-keng harus dilatih oleh dua orang secara bersama-sama, semula kukira bisa melatihnya bersama kau, siapa tahu ternyata tidak dapat.”
Tentu saja Yo Ko menjadi cemas oleh keterangan ini. “Sebab apa, Kokoh?” tanyanya cepat.
“Jika kau wanita, itulah soal lain lagi,” sahut Siao-liong-li.
“Apa bedanya untuk itu?” kata Yo Ko. “Laki-laki atau perempuan yang melatihnya, bukankah sama saja?”
“Tidak, sama sekali Iain,” sahut Siao-liong-li sambil menggelengkan kepala, “Tidakkah kau lihat, bagaimana corak gambar yang terukir di atas itu?”
Waktu Yo Ko mengangkat kepalanya dan memandang dengan penuh perhatian menurut arah yang ditunjuk Siao-liong-li, maka tampaklah olehnya dipojok langit-langit kamar itu ada ukiran gambar bentuk manusia, rupanya seperti potongan kaum wanita, tetapi gambar itu semuanya telanjang bulat, terukir tanpa memakai baju selembar pun, Gambar-gambar wanita itu seluruhnya ada beberapa puluh, gerak-gerik serta gayanya berlainan semua, akan tetapi semuanya juga dalam keadaan telanjang.
Melihat gambar-gambar itu, segera pikiran Yo Ko tergerak, ia pun segera mengerti akan maksudnya.
“Oh, jadi pada waktu berlatih Iwekang Giok-li-sim-keng ini orang tidak boleh berpakaian, begitukah, Kokoh?” katanya kemudian.
“Ya, betul,” sahut Siao-liong-li. “Di dalam kitab pelajaran ini sudah dikatakan dengan jelas bahwa sewaktu berlatih Iwekang maka seluruh badan orang yang berlatih menjadi panas dan beruap, karena itu harus dipilih suatu tempat terbuka yang luas dan sepi tanpa orang lain, dengan begitu barulah bisa berlatih dengan melepas baju supaya hawa panas badan bisa buyar keluar tanpa tertahan di dalam. Jika tidak, tentu hawa panas itu akan tertimbun di dalam badan dan sedikitnya akan membuat orang sakit berat atau mungkin nyawanya akan melayang pula.”
“Jika begitu, marilah kita melatihnya tanpa pakai baju,” sahut Yo Ko tanpa pikir.
Muka Siao-liong-li menjadi merah oleh kata-kata ini. “Tetapi akhirnya kedua orang yang latihan harus saling membantu satu sama lain dengan hawa murni badannya masing-masing. Kau dan aku berlainan jenis, jika harus berhadapan tanpa pakaian, lalu apa jadinya?” sahut Siao-liong-li.
Tatkala itu umur Yo Ko telah menginjak enam belas, biar pun perawakannya tinggi besar, urusan laki dan perempuan apa lagi soal cinta segala sama sekali ia tidak paham, sedikitpun belum tahu. Hanya lapat-lapat ia merasa sang guru ini cantik luar biasa, setiap kali melihat dia dengan sendirinya timbul semacam rasa suka dalam batinnya. Dia pikir kalau berhadapan dengan melepas pakaian, agaknya memang tidak baik, tetapi sebab apa tidak baik, inilah dia sendiri tidak dapat menjawab.
Sebaliknya Siao-liong-li sejak kecil sudah hidup di dalam kuburan kuno ini, maka terhadap segala urusan keduniawian boleh dikatakan lebih tak mengerti dari pada Yo Ko. Tahun ini dia sudah berusia 22 tahun, tetapi karena giat berlatih dan tekun belajar, maka segala cita rasa manusia umumnya ternyata telah terlatih hingga lenyap sama sekali.
Meski guru dan murid berdua, mereka boleh dikatakan merupakan pasangan gadis cantik dan pemuda tampan, tetapi siang malam berhadapan, yang satu dingin dan yang lain jujur polos, sedikit pun mereka tak pernah berbuat sesuatu yang melanggar susila. Kini meski berbicara tentang telanjang bulat untuk melatih silat, mereka pun merasakan itu hanya suatu soal sulit saja dan sama sekali tiada pikiran lain yang menyimpang.
“Sudahlah, asal Iwekang ini dapat kita latih lebih masak, kiranya sudah cukup juga untuk mengalahkan para imam kolot Coan-cin-kau itu. Tentang Iwekang yang sulit ini tak perlu kita mempelajarinya,” ujar Siao-liong-li.
Karena pendapat gurunya ini, Yo Ko mengiyakan juga, urusan ini pun tidak dia pikirkan lagi.
Hari itu, sesudah Yo Ko latihan, ia keluar untuk berburu sebangsa kijang dan kelinci untuk rangsum. Setelah mendapat seekor menjangan kecil kemudian ia meng-uber lagi seekor kelinci. Siapa tahu kelinci ini ternyata licin luar biasa, binatang ini lari ke sini dan loncat ke sana, meski Ginkang atau ilmu entengkan tubuh Yo Ko kini sudah hebat, namun seketika ternyata tak mampu menyandaknya.
Karena uber-uberan ini, hati kanak-kanak Yo Ko menjadi timbul. Ia tak ingin melukai kelinci itu dengan Am-gi atau senjata rahasia, pula ia tidak mau menangkapnya dengan paksa pakai Kim-na-jiu-hoat (ilmu menawan dan menangkap), tapi ia malah berlomba Ginkang dengan binatang kecil itu. Ia ingin bikin kelinci itu kehabisan tenaga sehingga akhirnya berhenti tak sanggup lari lagi.
BegituIah, maka satu manusia dan satu kelinci terus udak-udakan dan semakin lama semakin jauh hingga melintasi sebuah lereng bukit. Kelinci itu tiba-tiba memutar beberapa kali lalu menyelusup masuk semak bunga merah yang tumbuh sangat lebat di sana.
Semak bunga merah itu terbentang seluas beberapa tombak jauhnya dan tumbuh lebat dan rapat sekali, baunya pun wangi semerbak. Ketika Yo Ko kemudian memutar melewati semak bunga ini, nyata kelinci itu sudah menghilang tanpa bekas Iagi.
Sebaliknya Yo Ko melihat semak-semak bunga ini bagaikan sebuah pintu angin raksasa saja yang membentang Iebar, bunganya tumbuh merah dengan tangkai segar menghijau, sungguh indah sekali, begitu lebat tumbuhnya bunga itu hingga mirip sebuah panggung alam. Sesaat itu pikiran Yo Ko jadi tergerak, lekas-lekas ia kembali dan mengajak Siao-liong-li datang lagi buat melihat semak bunga itu.
“Aku tak suka bunga, jika kau suka, bolehlah kau bermain-main sendiri di sini,” demikian dengan dingin Siao-liong-li berkata.
“Bukan itu maksudku, Kokoh,” sahut Yo Ko menjelaskan keinginannya, ”tempat ini justru adalah sebuah tempat bagus untuk kita gunakan, siapa pun tidak bisa melihatnya, Di waktu kau berlatih aku menjaga engkau, kalau aku yang berlatih, engkau yang melindungi aku, bukankah itu sangat bagus?”
Memang pada waktu berlatih Iwekang yang paling hebat, orang yang berlatih harus tekun memusatkan segala pikirannya, terhadap segala kejadian di luar tidak boleh memandang dan tidak boleh melihat, kalau ada serangan dari pihak luar, sekali pun tempat yang tidak berarti juga sukar menangkisnya dan pasti akan celaka, juga ilmu yang dilatihnya gagal semua. Begitu lihay akibatnya, maka perlu ada orang lain yang menjaganya di samping.





































Tidak ada komentar:
Posting Komentar