ads

Senin, 31 Mei 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 05

“Aha, ternyata dia itu,” sahut Ju-ki. “Sungguh tidak kecil nyali orang ini, apa mungkin dia berani cari gara-gara ke pulaumu Tho-hoa-to?”

“Sesudah aku tukar pikiran dengan Yong-ji, dia bilang kalau hanya Peng-tianglo seorang diri saja, tak mungkin dia berani main gila, tentu di belakangnya masih ada orang lain lagi yang menjadi tulang punggungnya,” ujar Kwe Ceng.

“Tetapi dengan ilmu kepandaian Yong-ji sekarang ini, ditambah keadaan pulau yang diatur sedemikian itu, jika ada orang berani coba main gila ke sana, maka sesungguhnya orang itu sudah bosan hidup, urusan ini kau justru boleh tak usah kuatir,” kata Khu Ju-ki.

Kwe Ceng mengangguk setuju. Demikianlah sambil ber-cakap-cakap kemudian mereka tiba kembali di depan Tiong-yang-kiong yang sudah runtuh. Pada waktu itu hari sudah terang, para imam sedang sibuk bekerja membersihkan reruntuhan puing, ada pula yang sedang tebang kayu untuk membangun tempat meneduh darurat. Kemudian Khu Ju-ki mengumpulkan semua Tosu, dia memperkenalkan Kwe Ceng kepada mereka.

“Ini adalah murid Ong-sute, Thio Ci-keng,” demikian Khu Ju-ki memperkenalkan kepada Kwe Ceng imam berjenggot panjang yang pernah memimpin Pak-tau-tin di bawah gunung buat merintangi dirinya itu. “Tentang kepandaian, di antara murid angkatan ketiga dia terhitung yang paling tinggi, maka boleh suruh dia saja yang memberi pelajaran pada Ko-ji.”

Kwe Ceng sudah pernah bergebrak dengan Thio Ci-keng, dia tahu ilmu silatnya memang betul hebat, maka dalam hati dia amat girang, segera dia perintahkan Yo Ko menjalankan penghormatan mengangkat guru pada Thio Ci-keng. Habis itu Kwe Ceng tinggal beberapa hari lagi di Cong-lam-san, ia pun pesan wanti-wanti pada Yo Ko agar belajar dengan giat, kemudian dia mohon diri untuk kembali ke Tho-hoa-to.

Bila teringat oleh Khu Ju-ki pada waktu memberi pelajaran silat kepada Yo Khong (ayah Yo Ko) dahuIu, dia membiarkan Yo Khong tinggal di istana kerajaan Kim dengan segala kemewahan dan kejayaan hidupnya hingga membuat suatu kesalahan yang maha besar, maka ia pikir sekali ini kepada Yo Ko harus dilakukan pengawasan yang keras dan diberikan pelajaran se-baik-baik-nya agar anak ini tidak sampai terjerumus menuju jalan yang sama dengan mendiang ayahnya.

Karena itu, dia lantas panggil menghadap Yo Ko, dengan kata-kata pedas dan suara bengis dia memberi petuah harus turut ajaran guru, tidak boleh malas dan teledor sedikit pun. Untuk tinggal di Cong-lam-san saja sebenarnya Yo Ko sudah merasa tak betah, apa lagi kini kena didamperat habis-habisan, sudah tentu sukar dijelaskan perasaannya. Dengan menahan melelehnya air mata dia mengiakan saja, akan tetapi begitu Khu Ju-ki pergi, tak tertahan lagi ia lantas menangis sedih.

“Kenapa? Apa Co-su-ya salah mengatai kau?” tiba-tiba saja dari belakang seseorang menegur.

Yo Ko kaget, lekas ia usap air matanya dan menoleh. Orang yang berdiri di belakangnya ternyata Suhunya sendiri, Thio Ci-keng. Maka lekas tangannya dia luruskan dan menjawab dengan hormat:

“Bukan!”

“Kalau begitu, kenapa kau menangis?” tanya Thio Ci-keng.

“Tecu terkenang Kwe-pepek, maka hati menjadi sedih,” sahut Yo Ko.

Tadi terang-terangan Thio Ci-keng mendengar paman gurunya, Khu Ju-ki, dengan suara bengis memberi pesan pada Yo Ko, tetapi sekarang anak ini justru pakai alasan terkenang pada Kwe Ceng, tentu saja di dalam hati dia semakin kurang senang, pikirnya: “Anak sekecil ini tabiatnya sudah demikian licin, kalau tidak diberi hukuman yang berat, nanti kalau sudah besar mana bisa dibina lagi?”

Oleh karena itu, dengan menarik muka ia lantas membentak: “Hm, terhadap Suhu sendiri, kau berani berdusta?”

Karena Yo Ko telah menyaksikan sendiri para imam Coan-cin-kau ini kena dihajar hingga tunggang-langgang oleh Kwe Ceng, ia lihat pula Khu Ju-ki dan lain-lain kena dilabrak hingga kerepotan oleh Hotu dan Darba serta begundalnya, semua itu berkat bantuan Kwe Ceng baru mereka bisa terhindar dari bahaya, maka dalam hati dia sudah yakin bahwa ilmu silat para imam ini biasa saja dan tidak ada yang dapat dikagumi. Terhadap Khu Ju-ki saja dia tidak kagum, apa lagi terhadap Thio Ci-keng?

Memang hal ini merupakan kesalahan Kwe Ceng yang sudah berbuat teledor. Dia tidak menjelaskan dulu pada Yo Ko bahwa Coan-cin-kau adalah sumber asli ilmu silat, dahulu ilmu silat Ong Tiong-yang sudah diakui nomor satu di muka bumi ini, tiada satu jago pun dari golongan lain yang mampu melawannya. Sedangkan Kwe Ceng dapat mengalahkan para imam itu, soalnya karena imam-imam itu belum terlatih sampai di puncaknya, se-kaIi-kali bukan ilmu silat Cona-cin-kau yang tak berguna. Oleh karena kekurangan penjelasan dari Kwe Ceng inilah hingga mengakibatkan peristiwa-peristiwa yang banyak terjadi di kemudian hari.

Begitulah, ketika Yo Ko melihat gurunya marah, dalam hati dia berpikir: “Aku mengangkat guru padamu sesungguhnya karena terpaksa, sekali pun kelak aku bisa belajar sepandai kau, apa gunanya kalau cuma sepandai itu saja? Untuk apa sekarang kau berlagak galak?”

Karena pikiran yang memandang hina orang ini, maka Yo Ko telah berpaling ke samping, ia tidak menjawab Thio Ci-keng tadi.

Tentu saja Ci-keng menjadi marah! “Aku tanya kau, mengapa kau tidak menjawab?” dia membentak pula dengan suara yang lebih keras.

“Suhu ingin aku menjawab apa, segera akan kujawab apa,” demikian sahut Yo Ko dengan bandel.

Mendengar kata-kata yang ketus ini, amarah Thio Ci-peng tidak bisa ditahan lagi, tangannya terus menampar.

“Plak!” seketika pipi Yo Ko merah bengap.

Yo Ko menjerit dan menangis, mendadak ia angkat kaki terus berlari pergi. Akan tetapi dengan cepat Ci-keng dapat menjambretnya. “Hendak kemana kau?” tanyanya.

“Lepaskan aku! Aku tidak sudi belajar silat padamu lagi!” teriak Yo Ko.

Tentu saja Ci-keng bertambah panas hatinya. “Anak haram, kau bilang apa?” bentaknya.

Namun Yo Ko sudah pepet, ia menjadi nekat. “lmam busuk, imam anjing, kau boleh memukul mati aku saja!” demikian segera ia balas mencaci maki.

Pada jaman feodal dahulu, hubungan antara guru dan murid dipandang penting sekali. Di kalangan Bu-lim atau dunia persilatan, hubungan guru dan murid dipandang seperti ayah dan anak saja, sekali pun sang guru hendak menghukum mati muridnya, yang menjadi murid pun tidak berani membantah. Kini Yo Ko sebaliknya berani mencaci maki gurunya, sungguh ini suatu perbuatan murtad yang terkutuk yang selamanya jarang terlihat dan terdengar. Karena itu, dalam marahnya muka Ci-keng menjadi merah padam, dia angkat tangannya hendak menempeleng lagi.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong Yo Ko melompat maju terus merangkul lengannya yang terangkat itu, bahkan bocah ini pentang mulutnya menggigit sini sana hingga akhirnya jari Thio Ci-keng kena digigit dengan kencang.

Kiranya semenjak Yo Ko mendapat ajaran rahasia ilmu silat dari Auyang Hong, meski dia berlatih tidak teratur, tapi soal Iwekang sedikit banyak dia sudah punya landasan. Dalam keadaan marah itu Thio Ci-keng menganggap Yo Ko hanya satu anak kecil, maka sedikit pun dia tidak berjaga-jaga sehingga kena dirangkul dan dicokot, dia ternyata tak sanggup melepaskan gigitan Yo Ko meski dia sudah kipat-kipatkan lengannya.

Justru jari tangan adalah anggota badan orang yang paling lemah, sakitnya paling susah ditahan. Dalam kesakitannya Ci-keng segera mengangkat sebelah tangan yang Iain terus menggebuk pundak Yo Ko dengan keras.

“Kau cari mampus? Hayo, lepas!” ia membentak lagi.

Akan tetapi Yo Ko dilahirkan dengan watak yang keras dan tidak kenal apa artinya takut, apa lagi kini dia dalam keadaan murka dan nekad, sekali pun di bawah ancaman senjata belum tentu dia mau melepaskan begitu saja. Namun karena pundaknya digebuk hingga terasa kesakitan, gigitannya semakin tambah kuat, maka terdengarlah suara “kletak”, tulang jari kena digigit patah.

Dalam keadaan demikian Thio Ci-keng tidak bisa berpikir panjang, ia ayun tinjunya terus mengetok dengan gemas ke atas batok kepala Yo Ko, dipentangnya jari telunjuk tangan kanannya, barulah bisa ditarik keluar dari mulut kecil yang masih terkatup kencang itu.

Maka tampaklah tangannya berlumuran darah, tulang jarinya patah, meski dia bisa gunakan obat luka untuk menyambung tulang jari, tetapi sejak itu jarinya tidak bertenaga lagi, dengan sendirinya ilmu silatnya lantas banyak terhalang. Dalam sengitnya, tak tahan lagi Ci-keng segera tambahi pula beberapa kali tendangan ke tubuh Yo Ko yang sudah menggeletak di tanah.

Ci-keng lalu merobek sedikit kain baju untuk membalut luka jarinya, waktu dia memeriksa sekelilingnya, untung tiada orang lain. Ia pikir kalau kejadian ini sampai dilihat orang luar dan disiarkan ke kalangan Kangouw, pasti dia akan kehilangan muka. Lalu dia ambil satu ember air dingin dan disiram ke muka Yo Ko. Tetapi setelah sadar, kembali Yo Ko menyeruduk maju lagi sambil menghantam kalang-kabut bagai banteng ketaton.

“Binatang, apa kau betul-betul tak ingin hidup lagi?” bentak Thio Ci-keng sambil menjamberet dada Yo Ko.

Akan tetapi Yo Ko tetap tidak mau menyerah. “Kau bangsat, imam anjing, imam busuk, kau sendiri yang binatang!” balasnya memaki.

Karena tidak tahan marahnya oleh caci-maki balasan ini, kembali Thio Ci-keng mengayun tangannya memberikan sekali tamparan lagi. Sekarang dia sudah ber-jaga-jaga, kalau Yo Ko berani balas menghantam tentu takkan bisa mendekatinya, maka dalam sekejap saja Yo Ko telah ditendang beberapa kali hingga jungkir-balik dan jatuh-bangun.

Dalam keadaan demikian, apa bila Thio Ci-keng mau melukai Yo Ko, sebenarnya dengan gampang saja bisa dia lakukan, namun apa pun juga anak ini adalah muridnya sendiri, jika dia menggunakan pukulan berat, kemudian kalau ditanya para paman guru dan Suhu-nya, cara bagaimana harus menjawabnya?

Sebaliknya Yo Ko masih saja menggeluti orang dengan ngawur dan nekat meski tubuhnya beberapa kali kena digenjot Ci-keng, rasanya juga tidak kepalang sakitnya, tetapi sedikit pun dia pantang mundur.

Akhirnya Thio Ci-keng menjadi kewalahan sendiri. Meski ia masih pukul dan tendang Yo Ko yang terus menyeruduk secara membabi-buta, tetapi dalam hati tidak kepalang menyesalnya. Ia lihat bocah ini meski pun tubuhnya sudah babak-belur, tetapi makin lama malah semakin berani sampai akhirnya, karena tiada jalan lain, ia tutuk Hiat-to di bahu Yo Ko sehingga membuatnya tidak berkutik lagi. Tubuh Yo Ko menggeletak di tanah, namun di antara sinar matanya jelas kelihatan penuh mengandung rasa murka.

“Kau murid murtad, sekarang kau menyerah tidak?” kata Thio Ci-keng.

Akan tetapi Yo Ko hanya menjawab dengan mata melotot, sedikit pun dia tidak unjuk rasa takluk. Ci-keng duduk di atas sepotong batu, napasnya empas-empis. Jika dia bertanding dengan jagoan tinggi, meski berlangsung satu jam atau tiga perempat jam, sekali-kali tidak akan memburu, kini kaki-tangannya tidak capek, tetapi dalam hati luar biasa marahnya hingga dia tak bisa berdiri.

Demikianlah guru dan murid ini saling mendelik berhadapan. Seketika Ci-keng menjadi kehabisan akal, ia tidak tahu cara bagaimana supaya mendapatkan jalan yang baik untuk membereskan perkara anak binal ini. Selagi ia merasa kesal, tiba-tiba terdengar suara genta ditabuh keras. Ia kenal itu adalah tanda panggilan Ciangkau mereka, Ma Giok, yang sedang mengumpulkan semua anak murid Coan-cin-kau. Keruan Ci-keng terkejut.

“Jika kau tidak bandel lagi, aku bebaskan kau,” katanya pada Yo Ko. Habis ini dia lantas menotok pula buat lancarkan jalan darah orang.

Siapa tahu, begitu Yo Ko melompat bangun, segera ia hendak menyeruduk maju lagi.

“Aku sudah tidak pukul kau, mau apa lagi?” dengan marah Ci-keng membentak.

“Selanjutnya kau pukul aku tidak?” tanya Yo Ko.

Sementara suara genta tadi terdengar ditabuh makin riuh, Ci-keng tidak berani ayal, maka terpaksa ia menjawab:

“Jika kau berlaku baik, kenapa aku harus pukul kau?”

”Baiklah kalau begitu, Suhu,” kata Yo Ko. “Kau tidak pukul aku, aku lantas panggil kau Suhu, tetapi sekali kau pukul aku, selamanya tidak akan aku mau mengaku kau sebagai guru Iagi.”

Ci-keng tersenyum getir oleh kepala batu si bocah ini. “Ciangkau memanggil semua anak murid, mari lekas kau ikut ke sana,” katanya kemudian.

Tetapi demi melihat baju Yo Ko sudah robek dan kumal, mukanya pun babak belur, Ci-keng kuatir kalau ditanya orang, maka dia bersihkan tubuh Yo Ko, habis ini ia tarik tangan bocah ini terus berlari ke depan Tiong-yang-kiong yang sudah runtuh itu.

Sementara itu para imam Coan-cin-kau telah mendirikan belasan buah rumah atap alang-alang di tempat bekas Tiong-yang-kiong. Ketika Ci-keng dan Yo Ko sampai di sana, para imam yang lain sudah berbaris berdiri di sana dengan teratur, sedang Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bertiga kelihatan duduk menghadap keluar. Kemudian Ma Giok menepuk tangan sekali, seketika keadaan menjadi sunyi senyap, para imam tak berani berisik lagi.

“Kita telah menerima berita dari Tiang-seng Cinjin dan Jing-ceng Sanjin yang dikirim dari Soasay, katanya urusan di sana amat sulit diselesaikan, maka Tiang-jun Cinjin dan Giok-yang Cinjin (Khu Ju-ki dan Ong Ju-it) berdua hari ini juga akan berangkat membantu ke sana, untuk itu perlu membawa serta sepuluh anak murid,” demikianlah dengan suara lantang Ma Giok berpidato.

Karena pengumuman ini, para imam banyak yang saling pandang, ada yang terkejut dan heran, ada pula yang murka.


PERTANDINGAN ANTAR MURID

Kemudian dengan suara keras Khu Ju-ki lantas menyebutkan nama sepuluh anak murid Coan-cin-kau, ia pesan:

“Lekas menyiapkan apa yang perlu, supaya besok pagi bisa ikut berangkat. Yang lain bolehlah bubar sekarang!”

Sesudah itu maka suara berisik segera terdengar lagi, para imam itu membicarakan tentang urusan penting yang ternyata ada hubungannya dengan Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu.

Tengah mereka saling berunding, Khu Ju-ki sendiri sudah mendekati Thio Ci-keng lantas berkata padanya:

“Sebenarnya aku hendak bawa serta kau, tetapi karena kuatir pelajaran Ko-ji terhalang, maka sekali ini tidak perlu kau ikut pergi!”

Habis ini sekilas tampak olehnya muka Yo Ko babak-belur dan matang-biru, tentu saja dia kaget sekali.

“He, kenapa kau? Dengan siapa kau berkelahi?” tanyanya cepat.

Keruan Thio Ci-keng kerupekan, ia gugup sekali, kuatir kalau-kalau Yo Ko menceritakan apa yang terjadi dengan terus terang, tentu paman gurunya ini akan mendamperat habis-habisan, maka lekas ia mengedipi mata memberi tanda pada Yo Ko agar jangan bilang.

Akan tetapi Yo Ko sudah mengambil keputusannya sendiri. Pada waktu melihat Ci-keng kerupekan, ia pura-pura tidak tahu, dia sengaja bicara dengan tidak jelas dan tidak menjawab pertanyaan orang. Dengan sendirinya Khu Ju-ki menjadi marah.

“Siapakah yang berani pukul kau sedemikian rupa? Hayo katakan, sebenarnya siapa yang salah? Lekas bilang!” bentak Ju-ki lagi.

Mendengar suara Khu Ju-ki yang makin bengis ini, dalam hati Ci-keng semakin ketakutan pula.

“Bukan berkelahi, tetapi Tecu sendiri jatuh kesandung dan tergelincir ke jurang,” sahut Yo Ko kemudian.

Sudah tentu Khu Ju-ki tidak gampang percaya. “Kau bohong, tanpa sebab kenapa bisa jatuh kesandung?” desaknya lagi.

“Tadi Co-su-ya mengajar Tecu agar belajar giat...”

“Ya, kenapa?” sela Khu Ju-ki.

“Dan sesudah Co-su-ya pergi, Tecu pikir memang benar apa yang Co-su-ya ajarkan itu,” demikian Yo Ko menyambung, “maka selanjutnya Tecu pasti akan giat belajar agar lekas maju, dengan begitu tidak mengecewakan harapan Co-su-ya.”

Dengar obrolan Yo Ko ini, lambat laun air muka Khu Ju-ki berubah tenang kembali, ia pun bersuara sekali lagi tanda membenarkan.

“Tetapi siapa duga mendadak datang seekor anjing gila,” demikian sambung Yo Ko lagi, “tiba-tiba anjing gila itu menubruk ke arah Tecu sambil mencakar dan menggigit serabutan, Tecu lalu balas menendang dan menghantam untuk mengusir anjing gila itu, tetapi makin lama anjing gila itu semakin ganas. Karena Tecu takut kena digigit, maka terpaksa angkat langkah seribu, dan karena kurang hati-hati, Tecu tergelincir ke jurang. Syukur Suhu keburu datang sehingga aku dapat ditolongnya.”

Atas keterangan ini Khu Ju-ki masih setengah percaya dan separoh sangsi, dia mencoba memandang Thio Ci-keng, maksudnya bertanya apa yang dituturkan Yo Ko itu betul atau tidak? Dalam hati tidak kepalang marahnya Thio Ci-keng, ia sedang membatin: “Bagus, kau anak busuk berani mencaci maki aku sebagai anjing gila?”

Akan tetapi karena keadaan terdesak ia tak berani menyangkal pembohongan Yo Ko tadi, maka terpaksa ia mengangguk dan menjawab:

“Ya, memang Tecu yang menolongnya.”

Karena kepastian ini barulah Khu Ju-ki mau percaya. “Sesudah aku berangkat, kau harus ajarkan ilmu dasar dari aliran kita kepadanya dengan sesungguh hati, tiap sepuluh hari Ma-supek akan mengadakan pemeriksaan ulang untuk memberi petunjuk pada bagian-bagian yang penting,” demikian ia memberi pesan pula sebelum melangkah pergi.

Dalam hati Ci-keng sebenarnya seribu kali tidak rela, tapi kata-kata sang paman gurunya ini, mana ia berani membantah, terpaksa ia mengangguk mengiakan. Sebaliknya Yo Ko merasa sangat senang karena berhasil memaksa gurunya menyerah dengan mengaku diri sendiri sebagai anjing gila, maka apa yang dikatakan Khu Ju-ki tadi boleh dikatakan tiada yang dia dengar.

Begitu Khu Ju-ki bertindak pergi beberapa puluh langkah, Thio Ci-keng tak bisa menahan api amarahnya yang membara, maka tanpa pikir segera tangannya diangkat terus hendak menghantam batok kepala Yo Ko.

“Khu-suco!” cepat Yo Ko memanggil Khu Ju-ki sebelum tangan orang sempat mampir di kepalanya.

Mendengar teriakan ini, Khu Ju-ki menoleh dengan bingung. “Apa apa?” tanyanya.

Dalam pada itu tangan Ci-keng masih terangkat ke atas, karena menolehnya sang paman guru, tak berani ia menabok terus, keruan lagaknya menjadi kikuk dan serba salah, maka dia pun terpaksa pura-pura meng-garuk rambut di pelipisnya. Sedang Yo Ko lantas berlari kepada Khu Ju-ki, katanya.

“Co-su-ya, nanti kalau kau pergi, karena tidak ada yang melindungi aku, banyak Supek dan susiok di sini akan menggebuki aku.”

Tentu saja pengaduan ini bikin Khu Ju-ki menarik muka. “Ngaco belo, mana bisa terjadi begitu?!” bentaknya.

Meski di luar dia bersikap bengis, akan tetapi dalam hati sebenarnya Khu Ju-ki orangnya welas-asih. Tiba-tiba ia jadi teringat Yo Ko memang sudah piatu dan harus dikasihani, maka segera ia pesan lagi dengan suara keras:

“Ci-keng, kau harus menjaga bocah ini dengan baik, jika terjadi apa-apa atas dirinya, sekembaliku hanya kau yang kumintai pertanggungan jawab.”

Terpaksa kembali Ci-keng menyanggupi lagi. Begitulah, petang harinya sehabis bersantap malam, dengan perasaan masih kebat-kebit karena kuatir dihajar gurunya lagi, Yo Ko datang ke ruangan tempat sang Suhu. Sesudah berhadapan dengan Ci-keng, ia memanggil dengan tangan lurus ke bawah:

“Suhu!”

Tatkala itu adalah waktunya mengajarkan ilmu silat. Thio Ci-keng sedang duduk semadi di pembaringannya, semenjak tadi ia sudah ber-pikir: “Anak ini begini nakal, kalau kini tidak dikendalikan dengan baik, kelak kalau ilmu silatnya sudah tinggi, siapa lagi yang sanggup mempengaruhi dia? Akan tetapi Khu-supek dan Suhu justru perintahkan aku mengajarkan ilmu silat padanya, jika aku tidak mengajarkan, hal ini tak boleh jadi pula.”

Begitulah lama ia berpikir dan masih belum mengambil suatu keputusan. Ketika melihat datangnya Yo Ko yang seperti takut-takut, namun sinar matanya mengerling terang, wajahnya seperti ketawa tetapi tidak ketawa, keruan lagak Yo Ko ini semakin bikin marah.

“Ah, ada satu akal,” tiba-tiba tergerak pikirannya, “sementara ini sedikit pun dia belum paham akan ilmu kepandaian golongan sendiri, asal aku melulu mengajarkan dia istilah-istilahnya tapi caranya berlatih sedikit pun tidak kukatakan padanya, dengan demikian meski beratus kali dia ingat akan istilah ilmu Iwekang yang aku ajarkan juga tidak ada gunanya. Kalau Suhu dan para Supek menanyakan, aku boleh pakai alasan bahwa dia sendiri yang tidak mau giat belajar.”

Begitulah, setelah mengambil ketetapan ini, dengan tersenyum dan suara halus ia lantas memanggil:

“Ko-ji, maju sini!”

“Kau akan pukul aku tidak?” tanya Yo Ko ragu-ragu.

“Aku akan ajarkan ilmu padamu, untuk apa pukul kau?” sahut Ci-keng.

Melihat sikap orang yang berubah ramah tamah ini, sama sekali tidak Yo Ko duga. Maka dengan perlahan ia melangkah maju, hanya dalam hati ia tetap waspada dan ber-jaga-jaga akan segala kemungkinan, ia kuatir kalau orang pakai tipu muslihat. Sudah tentu kelakuan bocah ini dapat dilihat Thio Ci-keng, namun ia pura-pura tidak tahu.

“llmu kepandain Coan-cin-kau kita harus dilatih mulai dari dalam sampai keluar, sungguh berbeda sekali dengan ilmu Gwa-keh yang melatihnya justru dari luar ke dalam,” demikian kemudian ia berkata, “Dan kini aku akan mengajarkan intisari ilmu kita padamu, kau harus meng-ingat-ingatnya dengan baik.”

Habis ini dia lantas uraikan istilah kunci berlatih Iwekang dari Coan-cin-kau pada Yo Ko. Dasar kecerdasan Yo Ko memang melebihi orang biasa, meski pun hanya mendengarkan sekali saja namun dia sudah bisa ingat betul. Dia juga berpikir sendiri: “Suhu terang benci dan marah padaku, mana mungkin dia ajarkan aku ilmu kepandaian sejati? Jangan-jangan dia sengaja ajarkan aku dengan segala istilah-istilah palsu yang tak berguna?”

Oleh karena itulah, lewat tak lama, ia pura-pura lupa apa yang diajarkan kepadanya tadi, ia meminta petunjuk lagi pada Thio Ci-keng. Namun Ci-keng dapat mengulangi lagi sama seperti semula. Besoknya, ketika Yo Ko pura-pura tanya lagi, ia dengar Ci-keng menguraikan lagi tetap sama dengan yang kemarin, barulah dia mau percaya ajarannya bukanlah palsu, sebab kalau palsu atau bikinan belaka, be-runtun menyebut tiga kali pasti tiap kata atau istilahnya takkan sama.

Begitulah, berturut-turut sudah lewat sepuluh hari, selama itu Ci-keng hanya mengajarkan istilah kosong saja kepada Yo Ko, tetapi cara atau praktek belajarnya sama sekali tidak diajarkannya.

Pada hari ke sepuluh Ci-keng membawa Yo Ko pergi menemui Ma Giok dan melaporkan bahwa dia sudah mengajarkan bocah itu dengan dasar-dasar ilmu silatnya bahkan dia suruh Yo Ko membaca diluar kepala di hadapan Ciangkau Co-su-ya. Melihat Yo Ko betul-betul membaca diluar kepala dengan tepat, satu huruf saja tiada yang salah, keruan Ma Giok menjadi senang, berulang kali ia puji anak ini memang pintar. Ma Giok adalah seorang imam berilmu dan tidak suka berpikir ke arah yang jelek, dengan sendirinya dia tidak menyangka akan tipu muslihat Thio Ci-keng.

Demikianlah, sang tempo berlalu dengan cepat, sekejap mata saja beberapa bulan sudah berlalu. Selama ini boleh dikatakan Yo Ko sudah kenyang menghapal istilah-istilah Iwekang yang diajarkan Thio Ci-keng, akan tetapi prakteknya sedikit pun belum pernah diajarkan, maka soal ilmu silat hakekatnya dia masih sama saja seperti semula naik gunung.

Tetapi Yo Ko pintar luar biasa, mana bisa dia tidak tahu bahwa kepandainya terhalang? Hanya dalam belasan hari saja dia lantas tahu bahwa gurunya sengaja mempermainkan dirinya, tetapi kalau orang tidak mau memberi pelajaran, ia pun tidak berdaya, terpaksa ia harus menunggu kembalinya Khu Ju-ki untuk melaporkan padanya. Tetapi menunggu sampai sekian lama, belum juga Khu Ju-ki kembali. Meski usia Yo Ko masih kecil, tapi dia pintar membawa diri, kalau dalam hati rasa bencinya terhadap Suhu semakin hebat dan semakin menjadi-jadi, sebaliknya diluar dia justru tambah menghormat dan menurut.

Diam-diam Thio Ci-keng menjadi senang melihat tipu muslihatnya berhasil, katanya di dalam hati: “Hm, kau berani membangkang terhadap guru, lihat saja, akhirnya siapa yang rugi?”

Sementara itu tibalah waktunya akhir tahun. Menurut kebiasaan Coan-cin-kau yang turun temurun semenjak Ong Tiong-yang, tiap tahun, tiga hari sebelum tahun baru, para anak murid harus mengikuti pertandingan besar di mana mereka akan menunjukkan ilmu silat yang mereka latih, dengan tujuan untuk mengetahui sampai di mana kemajuan masing-masing. Dan karena temponya sudah dekat, maka para anak murid Coan-cin-kau itu tampak sibuk sekali berlatih diri siang dan malam.

Hari ini adalah sepuluh hari sebelum tibanya hari pertandingan, para anak murid Coan-cin-kau biasanya membagi diri dalam kelompok kecil untuk saling latih, ini disebut ‘repetisi’, Begitu pula hari ini Thio Ci-keng dan Cui Ci-hong serta kawan-kawannya yang menjadi murid Ong Ju-it telah berkumpul di suatu lapangan sebelah timur untuk berlatih.

Karena Ong Ju-it sedang tidak berada di rumah, dengan sendirinya urusan diserahkan di bawah pimpinan murid yang tertua, ialah Thio Ci-keng. Di sebelah sana terlihat anak-anak murid angkatan ke empat sedang sibuk sendiri, ada yang berlatih ilmu pukulan, ada yang main senjata, ada yang mempertunjukkan Iwekang mereka, ada pula yang melepaskan Am-gi atau senjata rahasia, semuanya diunjukkan di hadapan Thio Ci-keng untuk diberi penilaian siapa di antaranya yang paling bagus.

Apa yang disebut anak murid angkatan ke empat adalah seangkatan dengan Yo Ko. Oleh karena Coan-cin-kau didirikan oleh Ong Tiong-yang, maka dia adalah cikal-bakalnya. Ada pun Ma Giok bertujuh yang disebut Coan-cin-chit-cu itu adalah muridnya Ong Tiong-yang, mereka disebut anak murid angkatan ke dua. Thio Ci-keng, In Ci-peng, Cui Ci-hong dan Yo Khong, mendiang ayah Yo Ko, mereka adalah murid Coan-cin-chit-cu, maka disebut angkatan ke tiga. Akhirnya tingkatannya Yo Ko inilah yang disebut angkatan ke empat.

Oleh karena Yo Ko paling terakhir masuk perguruan, maka dia menduduki tempat yang paling belakang. Apa bila dia menyaksikan para imam kecil yang umurnya sebaya dengan dirinya itu semua pandai pukulan dan paham silat, masing-masing mempunyai kemahirannya sendiri, dalam hati kecilnya bukan merasa kagum dan iri, sebaliknya dia justru merasa dendam dan sakit hati.

Di lain pihak Ci-keng dapat melihat wajah Yo Ko yang mengunjuk rasa penasaran, maka dia sengaja hendak membuat malu anak ini di hadapan orang banyak. Ia menanti setelah selesai pertandingan dua imam kecil, lalu dengan suara keras ia memanggil nama Yo Ko. Begitu mendengar dirinya disebut, Yo Ko menjadi tertegun. “Sedikit pun kau tidak ajarkan ilmu silat padaku, untuk apa kau panggil aku maju ke depan?” demikian ia pikir.

Akan tetapi Thio Ci-keng telah mengulangi teriakannya kembali: “Ko-ji, kau dengar tidak? Hayo lekas maju!”

Terpaksa Yo Ko tampil ke muka, ia membungkuk badan memberi hormat sambil berkata:

“Tecu Yo Ko menghadap Suhu disini!”

“Umurnya tak seberapa tua dari pada kau, bolehlah kau bertanding dengan dia,” demikian Ci-keng menunjuk salah satu imam kecil yang menang dalam pertandingan tadi.

“Tecu sama sekali tidak bisa silat, mana sanggup bertanding dengan Suheng?” sahut Yo Ko.

Thio Ci-keng menjadi marah. “Sudah setengah tahun aku mengajar padamu, kenapa kau bilang tidak bisa silat? Lalu apa yang kau lakukan selama setengah tahun ini?” demikian ia mendamperat.

Yo Ko tak bisa menjawab dan menunduk.

“Kau sendiri yang malas, tidak mau giat belajar, dengan sendirinya kau ketinggalan jauh,” demikian kata Ci-keng pula. “Sekarang aku ingin tanya kau apa yang sudah kuajarkan dan kau harus menjawab.”

Habis ini berulang kali ia menyebut empat istilah yang pernah dia ajarkan kepada Yo Ko, dengan sendirinya semua dijawab Yo Ko dengan tepat.

“Nah, bagus, sedikit pun tak salah, maka bolehlah kau pergunakan intisari keempat istilah itu untuk turun kalangan dan bergebrak dengan Suheng-mu,” dengan tersenyum Ci-keng berkata.

Kembali Yo Ko tercengang, “Tecu tidak bisa,” jawabnya lagi.

Dalam hati Thio Ci-keng menjadi girang melihat kelakuan Yo Ko yang serba susah itu, tapi pada wajahnya sebaliknya dia sengaja unjukkan rasa marah.

“Kau sudah apalkan istilah-istilah penting tadi tetapi kau tidak mau berlatih, sekarang kau pakai alasan segala, hayo, lekas turun kalangan!” bentaknya lagi.

Para imam mendengar sendiri Yo Ko mengapalkan istilah-istilah pelajaran di luar kepala tanpa sedikit pun yang salah, tapi kini tidak berani maju ke tengah kalangan, maka di antaranya sama menyangka anak ini merasa jeri. Di antara mereka ada yang berhati baik kemudian menganjurkan maju saja, sebaliknya banyak pula yang tidak suka kepadanya lantas pada bergirang, bahkan diam-diam mentertawai.

Mendengar banyak suara yang mendesak dan menganjurkannya, sebaliknya banyak pula yang bersuara menyindir, akhirnya api amarah membakar. Segera Yo Ko tekadkan hati, ia pikir biarlah aku adu jiwa saja hari ini. Karenanya segera dia melompat ke tengah kalangan, begitu berhadapan, tanpa bicara lagi dia ayunkan kedua tangannya, ke atas dan ke bawah, lantas menghantam kalang-kabut mengarah kepala imam kecil tadi.

Melihat datangnya Yo Ko ke tengah kalangan, pertama tidak menjalankan penghormatan seperti lazimnya, pula tidak menurut peraturan perguruan yang harus merendah diri minta petunjuk kepada pihak lawan, diam-diam imam kecil itu sudah merasa heran, apa lagi kini melihat Yo Ko menghantam dan menyerangnya dengan membabi-buta seperti orang gila, keruan ia terkejut, terpaksa dia main mundur terus-menerus.

Di lain pihak Yo Ko sudah tidak menghiraukan mati-hidup sendiri lagi, ia sudah nekat, tiba-tiba ia menerjang maju. Kembali imam kecil itu dipaksa harus mundur beberapa tindak, namun segera dia melihat bagian bawah Yo Ko tidak terjaga. Tanpa ayal lagi segera dia miringkan tubuh ke samping lantas ayunkan sebelah kakinya, dengan gerak tipu ‘hong-sau-lok-yap’ atau angin santer menyapu daun rontok dengan cepat ia menyerampang kaki Yo Ko.

Karena tidak menyangka, keruan Yo Ko tidak mampu berdiri tegak lagi, dia terpelanting jatuh hingga hidungnya mengeluarkan kecap, mukanya pun babak-belur. Melihat jatuhnya Yo Ko amat mengenaskan dan lucu, tidak sedikit imam yang menonton mentertawakannya. Akan tetapi Yo Ko betul-betul bandel. Begitu ia merangkak bangun, tanpa mengusap darah di hidungnya yang mengucur, dengan kepala menunduk segera ia seruduk lagi imam kecil tadi.

Nampak datangnya orang cukup hebat, lekas-lekas imam kecil itu mengegos. Tapi diluar dugaan, tipu serangan Yo Ko ini sama sekali tidak menurut aturan, tahu-tahu dia pentang kedua tangan terus merangkul, karenanya kaki kiri lawannya kena dipegangnya.

Akan tetapi imam cilik itu pun tidak lemah, segera dia angkat telapak tangan kanan terus menggenjot pundak Yo Ko. Tipu ini disebut ‘Thian-sin-he-hoan’ atau malaikat langit turun ke bumi, ini adalah tipu serangan yang tepat untuk menghalau musuh bila bagian bawah sendiri terserang.

Tetapi Yo Ko sama sekali tidak pernah belajar silat dalam praktek, baik di Tho-hoa-to mau pun di Cong-lam-san, maka tipu serangan yang dilontarkan pihak lawan sama sekali tidak dia kenal, keruan tidak ampun lantas terdengar suara “plak” yang keras, pundaknya kena dihantam mentah-mentah hingga terasa sakit.

Meski pun sudah berulang kali ia digebuk orang, namun Yo Ko bukannya mundur teratur, sebaliknya makin kalah menjadi makin kalap, maka kembali dia gunakan kepalanya untuk menyeruduk lagi. Sekali kena ditumbuk perutnya, segera imam cilik itu jatuh terjengkang, bahkan segera Yo Ko menunggang di atas tubuhnya. Kesempatan ini telah dipergunakan Yo Ko untuk ayunkan bogemnya dan menjotos kepala orang dengan gemas.

Tapi imam kecil itu tidak mandah dijotos, dalam kalahnya dia coba berusaha memperoleh kemenangan, mendadak ia pakai sikutnya untuk menyodok dada Yo Ko, dan selagi Yo Ko meringis kesakitan, cepat ia meronta melepaskan diri terus melompat bangun, berbareng pula ia baliki tangannya untuk mendorong. Karena Yo Ko tidak ber-jaga-jaga, maka kembali ia kena dibanting jatuh dengan berat.

“Syukur Yo-sute suka mengalah,” demikian imam cilik itu berkata sambil membungkuk.

Ini merupakan adat-istiadat Coan-cin-kau apa bila mengakhiri suatu pertandingan. Menurut biasa, jika salah satu di antara saudara seperguruan itu sudah menang atau kalah, segera kedua pihak harus berhenti semua.

Siapa tahu Yo Ko ternyata tidak kenal aturan. Seperti kerbau gila saja kembali ia menyeruduk dengan nekat, dan hanya dua-tiga kali gebrakan kembali dia mencium tanah. Namun semangat tempur Yo Ko yang tidak kenal menyerah ini harus dipuji. Makin dihajar, semakin berani pula, bahkan ia pun menggerakkan kaki tangannya semakin cepat untuk melawan.

“Yo Ko, sudah terang kau kalah, masih hendak bertanding apa lagi?!” demikian Ci-keng berteriak padanya.

Tetapi mana Yo Ko mau gubris. Dia masih terus menendang, menyepak, tangannya juga memukul dan menggebuk serabutan, sedikit pun dia pantang mundur. Semula para imam sama merasa geli juga oleh kelakuan bocah ini, di dalam hati mereka berpikir: “Dalam ilmu silat Coan-cin-kau mana ada cara main seruduk seperti ini?”

Tetapi kemudian sesudah menyaksikan Yo Ko makin kalap, mereka menjadi kuatir akan terjadi bencana, maka be-ramai-ramai mereka berseru:

“Sudahlah, sudahlah, sesama saudara seperguruan jangan jadi sungguhan!”

Namun Yo Ko masih tidak mau berhenti. Sesudah berlangsung lagi beberapa saat, akhirnya imam cilik itu menjadi keder sendiri, sekarang dia hanya main berkelit dan menghindar saja dan tak berani berdekatan dengan Yo Ko lagi.

Kata pribahasa: ‘seorang adu jiwa, seribu orang tidak bisa melawan’. Begitu juga dengan keadaan Yo Ko yang sedang mengamuk. Apa lagi selama setengah tahun ini dia sudah kenyang segala hinaan di atas Cong-lam-san, kini ia justru hendak melampiaskan semua sakit hatinya itu, sedang soal mati-hidup dirinya sendiri sudah tak terpikir olehnya.

Karena itulah, sungguh pun ilmu silat imam cilik itu jauh menang, namun dia tak memiliki semangat bertempur seperti Yo Ko, sehingga akhirnya ia menjadi pecah nyali. Kini ia tak berani melayani Yo Ko lagi melainkan terus berlari mengitari kalangan dan diuber oleh Yo Ko dari belakang.

“lmam busuk, imam maling, enak saja kau pukul orang, sesudah gebuki aku sekarang kau hendak lari?” demikian dari belakang Yo Ko terus mencaci-maki.

Tentu saja caci-makinya yang tidak pandang bulu ini menyinggung pula orang Iain, sebab sembilan dari sepuluh orang yang menonton di samping itu justru adalah Tosu atau imam. Kini Yo Ko mencaci-maki semaunya, maka mereka menjadi dongkol dan geli.

“Bocah ini betul-betul harus dihajar!” demikian mereka membatin.

Dalam pada itu Yo Ko masih terus mengudak imam kecil tadi. Mungkin saking gugupnya karena diuber terus, akhirnya imam cilik itu berteriak minta toIong.

“Suhu, Suhu!” demikian ia menggembor dengan ketakutan.

Thio Ci-keng lantas bersuara, ia membentak agar Yo Ko berhenti, Tak tahunya, sedikit pun Yo Ko tidak menggubrisnya, ia masih mengejar imam cilik itu dengan nekat. Selagi keadaan tambah runyam, tiba-tiba terdengar suara geraman dari kalangan penonton, mendadak satu imam besar gemuk melompat keluar. Meski badan imam ini gendut tetapi gerak-geriknya ternyata sangat gesit, begitu dia melompat maju, dengan sekali jamberet segera belakang baju Yo Ko kena dia pegang terus diangkat, bahkan segera terdengar suara “plak-plak-pIak” tiga kali, kontan ia persen Yo Ko tiga kali tempelengan.

Pukulan itu ternyata sangat keras hingga seketika pipi Yo Ko merah bengkak, hampir saja Yo Ko jatuh semaput. Waktu ia mengawasi, kiranya orang ini adalah Ceng-kong yang memang dendam hati padanya.

Seperti yang diketahui, pada hari pertama Yo Ko naik gunung, pernah Ceng-kong hampir terbakar hidup-hidup karena diselomoti bocah ini, sebab itulah Ceng-kong sering dicemooh dan dibuat buah tertawaan saudara-saudara seperguruannya, katanya orang tua kalah dengan bocah cilik. Oleh sebab itu juga selalu Ceng-kong dendam atas kejadian itu. Sekarang ia menyaksikan Yo Ko membikin gara-gara lagi, tentu saja ia gunakan kesempatan itu untuk melampiaskan sakit hatinya.

Buat Yo Ko sendiri memang dia sudah tidak pikirkan lagi jiwa dirinya sendiri, kini demi mengenali Ceng-kong, ia lebih yakin dirinya pasti tidak bakal diampuni pula, cuma ia kena dicekal kuduknya, ingin meronta buat melepaskan diri pun tidak mampu lagi.

Dalam pada itu, sambil tertawa mengejek kembali Ceng-kong menambahi Yo Ko dengan tiga kali tamparan lagi.

“Kau tidak tunduk pada kata-kata Suhu, berarti kau adalah murid murtad perguruan kita, maka siapa saja boleh menghajar kau!” demikian Ceng-kong membentak, sesudah itu dia mengangkat tangannya dan akan menghajar Yo Ko lagi.

Di antara penonton di samping itu terdapat adik seperguruan Thio Ci-keng yang bernama Cui Ci-kong. Pribadi Ci-kong lebih jujur dan suka membela keadilan, Tadi dia melihat cara bertanding Yo Ko, semua gerak serangannya sedikit pun tiada miripnya dengan ilmu silat ajaran perguruan sendiri, pula ia cukup kenal jiwa sang Suheng Thio Ci-keng yang sempit, ia kuatir jangan-jangan dalam hal ini terdapat soal lain, maka kini demi nampak Ceng-kong menghajar Yo Ko dengan pukulan-pukulan yang kejam tanpa kenal ampun, ia pun menjadi kuatir kalau bocah ini terluka parah.

“Berhenti, Ceng-kong!” cepat ia membentak menghentikan tindakan murid keponakannya itu.

Sesungguhnya Ceng-kong belum puas dengan tempelengannya tadi, namun sang Susiok sudah membentak, maka mau tak mau ia harus melepaskan Yo Ko.

“Susiok tidak tahu bahwa bocah ini luar biasa lincahnya, kalau tidak diberi hajaran yang setimpal mana bisa tata-tertib perkumpulan kita dipertahankan lagi?” demikian Ceng-kong masih kurang terima.

Tetapi Cui Ci-hong tidak gubris padanya. Dia mendekati Yo Ko, dia lihat kedua belah pipi anak ini sudah bengkak semua dan matang-biru, hidung serta mulutnya berlepotan darah pula, wajahnya sangat harus dikasihani. Karena itu dengan suara halus ia menghibur dan bertanya:

“Yo Ko, Suhu mengajarkan kepandaian kepadamu, kenapa kau tidak melatihnya dengan giat, sebaliknya kau berkelahi dengan para Suheng secara ngawur?”

“Hm, Suhu apa? Hakikatnya sedikit pun dia tidak mengajarkan kepandaian padaku,” sahut Yo Ko dengan gemas.

“Dengan jelas tadi kudengar kau menghapalkan istilah-istilah pelajaran di luar kepala, sedikit pun kau tidak salah mengapalkan,” ujar Cui Ci-hong.

“Aku toh bukannya hendak menempuh ujian, untuk apa menghapalkan segala bacaan itu?” sahut Yo Ko.

Mendongkol tercampur geli Cui Ci-hong mendengar jawaban ini. Dia pura-pura marah, namun maksud sesungguhnya hendak menjajal apa betul Yo Ko sama sekali tidak mengerti ilmu silat perguruannya sendiri. Oleh karenanya segera ia tarik muka dan membentak:

“Bicara dengan orang tua, mengapa kurang ajar?” Habis berkata, se-konyong2 ia angkat sebelah tangannya mendorong ke pundak Yo Ko.

Cui Ci-hong ini terhitung salah satu jago angkatan ketiga dari Coan-cin-kau yang setingkat dengan In Ci-peng dan Thio Ci-keng. Meski kepandaiannya masih di bawah kedua orang tersebut, tapi sudah cukup pula untuk malang melintang di kalangan Kangouw. Maka bisa dimengerti tenaga dorongannya pada Yo Ko ini sudah dia keluarkan dengan tepat sekali, telah cukup untuk menjatuhkan lawannya.

Kalau orang yang didorong tidak paham ilmu silat, pasti terjengkang, tetapi kalau mengerti silat dari cabang lain, besar kemungkinan akan kumpul tenaga buat bertahan supaya tubuh tidak terdoyong ke belakang. Hanya orang yang belajar silat Coan-cin-kau saja yang bisa hindarkan dorongan ini dengan gaya mendoyong ke belakang.

Diluar dugaan, Ci-hong merasakan dorongannya percuma saja, sebab Yo Ko telah sedikit miringkan pundaknya, sehingga tenaga mendorongnya sebagian besar mengenai tempat kosong. Yo Ko hanya ter-huyung mundur beberapa langkah saja, akan tetapi tak sampai terjatuh.

Keruan Ci-hong terkejut dan curiga pula. Batinnya dalam hati: “Dengan tenaga mengelak tadi seharusnya dia memiliki latihan sekitar sepuluh tahun dari ilmu silat aliran perguruan sendiri. Benar-benar aneh, umurnya masih begini muda, pula baru setengah tahun masuk perguruan, mana bisa dia memiliki keuletan yang begini dalam? Dengan kemampuannya ini, tadi waktu bertanding seharusnya dia tidak perlu ngawur main seruduk sini dan terjang sana, apa mungkin di dalamnya terdapat sesuatu tipu muslihat?”

Nyata dia tidak tahu bahwa di dalamnya memang banyak sebab yang dia sendiri tidak mengetahuinya. Dulu Ma Giok pernah mengajarkan Iwekang Coan-cin-kau kepada Kwe Ceng, dan Kwe Ceng sudah mengajarkan sedikit dasar kepandaian itu kepada Cin Lam-khim ibu Yo Ko.

Waktu Yo Ko berumur beberapa tahun, ibunya lantas mengajarkan cara-cara semadi melatih Iwekang yang dia peroleh dari Kwe Ceng. Oleh sebab itulah, dalam perkelahian Yo Ko tadi sama sekali dia tidak mengerti tipu serangan silat, sebaliknya soal Iwekang dia malah mempunyai dasar kekuatan sepuluh tahun lamanya. Cui Ci-hong tidak tahu hal ini, sudah tentu dia terheran-heran.


GADIS JELITA BERBAJU PUTIH

Di lain pihak, Yo Ko yang kena didorong tadi merasakan dadanya menjadi sesak, hampir tak bisa bernapas, ia sangka Ci-hong juga bermaksud menghajarnya. Dalam keadaan memang sudah mata gelap, sekali pun waktu itu Khu Ju-ki datang sendiri juga dia pantang mundur, apa lagi hanya seorang Cui Ci-hong. Oleh karena itu segera ia menyeruduk lagi ke arah perut orang.

Akan tetapi Cui Ci-hong tidak mau meladeni anak kecil ini. Dia tersenyum oleh kenekatan orang sambil mengegos buat hindarkan serudukan itu. Ia sengaja mau tahu kepandaian apa yang dimiliki Yo Ko, maka ia berkata pula:

“Ceng-kong, coba kau adu beberapa jurus dengan Yo-sute, tetapi enteng saja kalau turun tangan, jangan pukul terlalu keras!”

Tentu saja Ceng-kong sangat senang. Memang dia meng-harap ada perintah demikian ini, maka tanpa berkata lagi segera ia melompat ke depan Yo Ko. Tiba-tiba ia ulur tangan kiri pura-pura memukul, ketika Yo Ko berkelit ke kanan, mendadak tangan kanannya menggablok cepat dan keras. Keruan tanpa ampun lagi lantas terdengar suara “bluk”, dan dada Yo Ko tepat kena dihantam.

Pukulan itu cukup berat, kalau bukannya Yo Ko mempunyai kekuatan Iwekang belasan tahun lamanya, pasti dia akan muntah darah oleh genjotan itu. Walau pun demikian, tidak urung Yo Ko merasakan dadanya sakit tidak kepalang dan mukanya pucat seperti kertas. Nampak sekali pukulannya tidak membikin lawan ciliknya terguling, diam-diam Ceng-kong merasa heran juga, maka menyusul kepalan kanan diayunkan pula, sekali ini dia menjotos ke muka Yo Ko.

Dengan sendirinya Yo Ko segera mengangkat tangan hendak menangkis. Cuma sayang, maksudnya memang hendak menangkis, tapi sama sekali ia tidak paham gerak tipu silat buat menangkis, maka kembali dia dimakan mentah-mentah oleh Ceng-kong. Dengan sengaja ia kesampingkan jotosannya ini, tapi cepat ia menjojoh dengan kepalan kiri, maka terdengar suara “plak” dibarengi dengan suara jeritan tertahan Yo Ko, nyata hantaman dengan tepat kena di perutnya.

Saking sakitnya sampai Yo Ko menungging sambil memegang perutnya dan meringis. Di luar dugaan, begitu bocah ini menjengking ke bawah, tanpa sungkan-sungkan lagi Ceng-kong tambahi serangan lain pula, ia angkat telapak tangannya terus memotong ke kuduk orang. Dengan serangan yang mengarah tempat berbahaya ini, Ceng-kong menaksir Yo Ko pasti akan kelenger seketika, dengan begitu ia telah berhasil membalas sakit hati tempo hari.

Siapa tahu Yo Ko betul-betul anak perkasa, jiwa gagah berani Engkong-nya, Yo Tiat-sim, telah diwariskan semua kepadanya. Bocah ini sama sekali tak menyerah, hantaman tadi hanya membuat dia terhuyung sedikit saja namun tetap belum jatuh, hanya kepalanya dirasakan pusing dan berat, tenaga pun habis tanpa bisa membalas lagi.

Nampak keadaan bocah ini sudah payah, kini Ci-hong baru mau percaya bahwa Yo Ko memang betul-betul tidak paham ilmu silat, karenanya dengan cepat dia berteriak mencegah:

“Berhenti, Ceng-kong!”

“Nah, sekarang kau takluk padaku tidak?!” demikian bentak Ceng-kong pada Yo Ko.

Diluar dugaan, Yo Ko masih tetap berkepala batu. “lmam busuk, imam bangsat, siapa yang sudi takluk padamu? Ada kalanya kau pasti akan kubunuh!” teriak Yo Ko dengan penuh dendam.

Keruan tidak kepalang marahnya Ceng-kong karena caci-maki ini, secara susul menyusul dia kirim kedua kepalan pula dan tepat mengenai batang hidung Yo Ko. Memang kepala Yo Ko sudah puyeng dan berat oleh pukulan-pukulan tadi, kini pandangannya menjadi gelap hingga matanya ber-kunang-kunang, ia terhuyung hendak jatuh. Tapi entah dari mana, mendadak di seluruh badannya seakan-akan mengalir hawa panas yang timbul dari pusarnya, sementara dia melihat jotosan ketiga kali Ceng-kong sudah datang mengarah mukanya pula.

Dalam keadaan kepepet, secara otomatis ia segera berjongkok, mulutnya mengeluarkan suara “kok” sekali, berbareng kedua telapak tangannya disodok ke depan hingga dengan tepat mengenai perut Ceng-kong.

Sungguh hebat sekali pukulan ini, tahu-tahu sesosok tubuh segede kerbau telah mencelat pergi sejauh beberapa tombak. Sambil mengeluarkan suara gedebuk disusul dengan debu pasir yang berhamburan, dengan tubuh kaku Ceng-kong lantas menggeletak telentang di atas tanah tanpa bisa berkutik lagi.

Tadi waktu para imam menyaksikan Ceng-kong menghajar Yo Ko yang jauh lebih kecil itu, mereka sama mengunjuk rasa tidak-adil. Orang yang lebih tinggi tingkatannya, kecuali Thio Ci-keng saja yang memang masih dendam pada Yo Ko, yang lain be-ramai-ramai sudah bersuara mencegah.

Tapi siapa tahu dalam keadaan mendadak itu tiba-tiba Ceng-kong bisa dipukul Yo Ko hingga mencelat begitu jauh untuk kemudian menggeletak dengan kaku tanpa bisa berkutik lagi. Semua orang ternganga heran, kemudian mereka be-ramai-ramai maju memeriksa keadaan Ceng-kong.

Namun bagi Yo Ko, sama sekali ia pun tidak mengira hantamannya itu dapat membawa hasil yang begitu hebat. Ha-mo-kang yang dia lontarkan tadi, pertama kalinya pernah dia binasakan seorang anak murid Kay-pang di Tho-hoa-to tempo hari, dan kini sekali pukul Ceng-kong kena dijatuhkan lagi hingga mencelat.

“Haya, celaka, mati, sudah mati orangnya!”

“Wah, napasnya sudah putus, tentu jerohannya remuk!”

“Celaka, lekas lapor Ciang-kau Cosu!”

Demikian Yo Ko mendengar suara teriakan kalang kabut para imam yang terkejut itu. Dia pikir sekali ini dirinya benar-benar telah membuat onar lagi, karena itu, dalam bingungnya tanpa pikir panjang lagi segera ia angkat langkah seribu. Ia lari pergi tanpa arah tujuan.

Di lain pihak para imam itu sedang ribut oleh keadaan Ceng-kong yang belum diketahui mati atau hidup, maka kaburnya Yo Ko ternyata tiada seorang pun yang memperhatikan. Setelah Thio Ci-keng periksa keadaan luka Ceng-kong yang parah, sembilan dari sepuluh bagian terang tiada harapan buat hidup lagi, ia menjadi kaget bercampur marah.

“Yo Ko, Yo Ko! Di mana kau? Ilmu siluman apa yang kau pelajari itu?” demikian segera ia ber-teriak-teriak.

Meski ilmu silat Ci-keng tidak tergolong lemah, tetapi selamanya dia tinggal di Tiong-yang-kiong, maka pengalamannya kurang luas. Ha-mo-kang yang digunakan Yo Ko itu ternyata tidak dikenalnya. Begitulah dia telah ber-teriak-teriak memanggil beberapa kali, tapi sama sekali tidak terdengar Yo Ko menjawab. Waktu para imam itu mencarinya, bayangan Yo Ko sudah tidak nampak lagi.

Alangkah murka Thio Ci-keng, segera ia memberi perintah mengejar ke segenap jurusan. Dia pikir Cong-lam-san yang luasnya beberapa puluh li itu seluruhnya di bawah pengaruh Tiong-yang-kiong, maka bocah sekecil itu mampu lari ke mana?

Bercerita tentang Yo Ko, ketika dengan gugup ia melarikan diri, sama sekali ia tidak pilih arah. Secara ngawur ia berlari secepat mungkin dan yang dipilih ialah hutan belukar yang lebat. Tidak lama ia berlari, dari belakang terdengar olehnya orang berteriak riuh ramai, semua penjuru ada orang sedang berteriak namanya:

“Yo Ko, Yo Ko! Hayo lekas keluar, ke mana kau hendak lari?”

Karena teriakan itu hati Yo Ko menjadi semakin gugup sehingga larinya pun semakin tidak genah. Tiba-tiba ia melihat ada bayangan orang berkelebat di depannya, nyata ada satu Tosu sudah mergoki dia dan menyergap. Lekas Yo Ko putar tubuh berlari ke arah lain, akan tetapi celaka baginya, di sana sudah menghadang pula imam yang lain.

“Nah, ini dia! Disini orangnya, di sini!” demikian imam itu ber-teriak-teriak.

Dengan kalap Yo Ko menerjang dengan kepala menunduk, akan tetapi Tosu tadi sudah siap memapaki dia, dengan tangan terpentang segera imam itu pun menubruk maju. Namun kali ini Yo Ko sudah siap siaga. Se-konyong-konyong ia berjongkok, kembali ia keluarkan ilmu weduk katak buat menyerang orang, lalu dengan sekali sengkelit, tubuh imam itu dia lemparkan ke belakang.

Meski imam itu tidak sampai terluka parah, tetapi dia terbanting jatuh hampir kelengar dan seluruh badannya babak-belur. Imam-imam yang lainnya menjadi jeri demi melihat gerak serangan Yo Ko yang lihay dan ganas. Mereka tak berani sembarangan maju lagi, hanya berdiri di tempat yang agak jauh sambil ber-teriak-teriak memanggil kawan.

Beruntun Yo Ko berhasil menangkan dua imam dengan Ha-mo-kang atau ilmu weduk katak, rasa takutnya menjadi banyak berkurang, akan tetapi kakinya toh tidak pernah berhenti, ia masih terus berlari ke depan dengan cepat. Sesudah ber-Iari-lari, akhirnya para imam tadi sudah jauh ditinggalkan olehnya, maka diam-diam ia merasa girang. Di luar dugaan, sekonyong-konyong dari belakang satu pohon besar melompat keluar seorang imam setengah umur yang mukanya putih tampan dan segera menghadang di depannya.

Pada waktu Yo Ko mengawasi, ia kenal imam ini adalah In Ci-peng, murid Khu Ju-hi yang tertua, kedudukannya terhitung paling tinggi di antara anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga. Oleh karenanya lekas ia membelok ke kiri hendak kabur lagi. Tidak tahunya gerak tubuh ln Ci-peng luar biasa cepatnya, sekali ia mengulur tangan, seketika baju dada Yo Ko kena dijamberetnya.

“Marilah, ikut padaku!” dengan tersenyum In Ci-peng berkata.

Namun Yo Ko tidak menyerah begitu saja, kembali dia gunakan ilmu Ha-mo-kang, kedua telapak tangannya dengan cepat dipukulkan ke depan.

In Ci-peng menjadi terkejut. Ia tahu akan lihaynya pukulan ini, maka lekas ia mendahului orang. Belum sempat tenaga pukulan Yo Ko dilontarkan, dengan kencang dua tangannya lebih dahulu mencengkeram pergelangan Yo Ko, dengan terpaksa Ha-mo-kang yang hendak dilontarkan itu dia tolak kembali.

Harus diketahui bahwa sesungguhnya Ha-mo-kang adalah ilmu kelas wahid dalam dunia persilatan, cuma sayang Yo Ko belum banyak mempelajarinya dan waktunya pun belum lama, maka dengan sendirinya ia bukanlah tandingan murid Coan-cin-kau angkatan ketiga yang tangguh ini. Oleh karena tangannya dipegang orang, dalam gugupnya Yo Ko berjingkrak-jingkrak, dan selagi ia hendak mencaci maki, mendadak terdengar Ci-peng menghela napas, kemudian Yo Ko pun dilepaskan.

“Sudahlah, lekas kau lari saja, biarlah aku melindungi kau disini,” demikian ia berkata pula. “Kalau kau kena ditangkap kembali oleh gurumu, maka jiwamu yang kecil ini pasti takkan terampunkan lagi.”

Ternyata tadi waktu Yo Ko bertanding dengan imam cilik, tatkala itu In Ci-peng tidak ikut menyaksikan, tetapi kemudian anak muridnya telah melapor kepadanya apa yang terjadi setelah Ceng-kong kena dihantam oleh ilmu weduk katak Yo Ko. Maka ia pun lekas menyusul datang hendak mencari tahu bagaimana kelanjutannya. Kini setelah berhadapan dengan Yo Ko dan melihat mulut anak ini pecah, juga hidungnya bengkak mukanya penuh berlepotan darah, ia menduga bocah ini tentu sudah mengalami hajaran yang kejam pula.

Ci-peng memang cukup kenal watak Ci-keng yang keras, orangnya tak berbudi, ia sendiri tidak akur dengan Ci-keng, lebih-lebih kalau teringat olehnya ayah Yo Ko yang masih terhitung saudara seguru dengan dirinya, tiba-tiba hatinya menjadi lemah. Dia tidak tega kalau sampai Yo Ko ditawan kembali oleh Ci-keng, maka dia sengaja melepaskan anak ini.

Sebaliknya Yo Ko menjadi heran ketika mendengar orang mau melepaskan dirinya begitu saja. Sesaat itu dia jadi bingung. Ini dapat dimengerti karena beberapa tahun ini dia telah kenyang merasakan segala hinaan, terhadap siapa saja tiada seorang pun yang dapat dia percayai. Karena itu dia kuatir Ci-peng sengaja melepaskan dirinya untuk kemudian ditangkap lagi, maka tanpa menoleh segera Yo Ko lari ke depan, sementara sayup-sayup ia mendengar di belakang sana In Ci-peng sedang cekcok mulut dengan orang.

Ber-lari dalam jarak panjang ini sebenarnya sangat payah bagi Yo Ko. Syukur ia memiliki kekuatan dasar Iwekang belasan tahun Iamanya, maka dia pun masih sanggup bertahan dengan seluruh tenaganya. Kemudian ia memilih jalan lain. Kini ia lari menyusur semak dan berbelak-belok di antara batu pegunungan yang tak teratur. Sementara cuaca telah mulai gelap, seluruh tubuhnya terasa lemas, hampir saja ia jatuh terkulai saking letihnya, napasnya juga sudah kempas-kempis.

Sesudah duduk sejenak, selagi Yo Ko hendak berdiri buat melanjutkan buronnya, tiba-tiba ia mendengar di belakangnya ada suara orang mendengus. Keruan saja Yo Ko kaget. Dengan cepat ia menoleh, tapi ia menjadi tambah kaget hingga jantungnya se-akan melocat keluar dari mulut. Kiranya di belakangnya sudah berdiri satu imam dengan mata mendelik dan alis berkerut tegak serta berjenggot panjang, siapa dia kalau bukan Thio Ci-keng yang pernah dia angkat menjadi guru.

Sesaat itu kedua orang ini menjadi saling pandang dengan mata mendelik marah, untuk beberapa detik itu mereka sama-sama tidak bergerak sedikit pun. Akan tetapi se-konyong-konyong Yo Ko berteriak sekali, berbareng ia putar tubuh terus lari.

Sudah tentu Thio Ci-keng tidak membiarkan anak ini lari begitu saja, dia menyerobot maju terus mencengkeram tengkuk orang. Tahu akan ancaman bahaya ini, tiba-tiba Yo Ko mendak lalu menubruk ke depan, dengan cepat ia meraup sepotong batu terus ditimpukkan ke belakang.

Karena serangan mendadak yang tidak masuk teori ilmu silat ini, maka terpaksa Ci-keng cepat mengegos menghindarkan diri, setelah itu ia mengudak lagi terlebih cepat sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat.

Dalam keadaan demikian Yo Ko sudah tidak menghiraukan akibatnya lagi. Setelah berlari kesetanan beberapa langkah pula, tiba-tiba di depannya adalah tebing yang curam. Dia tidak pusingkan di bawah sana apakah jurang yang dalam atau sungai yang berbahaya, tanpa pikir lagi ia ceburkan diri ke bawah, seketika ia pun tidak tahu apa-apa lagi.

Sesudah dekat, Ci-keng coba melongok ke bawah tebing yang curam itu. Ia melihat tubuh Yo Ko menggelinding ke bawah mengikuti tanah miring yang menghijau dengan rumputnya yang lebat, kemudian lantas menghilang dalam semak di bawah pohon yang rindang. Ci-keng sendiri tidak berani ikut melompat ke bawah begitu saja, maka ia segera mencari jalan lain. Ia memutar ke tanah miring itu, kemudian mengikuti bekas yang tergilas oleh tubuh Yo Ko yang menggelinding itu dan mencari ke dalam hutan di bawah sana.

Tetapi hutan itu makin dimasuki ternyata semakin lebat hingga akhirnya sedikit pun sinar matahari tidak tampak. Saat itu ia sudah menempuh sejauh beberapa tombak ke dalam hutan, ketika mendadak ia teringat bahwa daerah itu adalah ‘kuburan kuno’ di mana kakek gurunya, Tiong-yang Cosu pernah menetap. Ia lalu teringat bahwa di dalam Coan-cin-kau mereka selamanya terdapat peraturan keras yang melarang siapa pun untuk mendatangi daerah kuburan ini. Akan tetapi bila Yo Ko harus dilepaskan saja, inilah Ci-keng tidak rela.

“Yo Ko, Yo Ko, lekas keluar!” segera ia ber-teriak-teriak.

Meski ia ulangi beberapa kali teriakannya, tetapi sama sekali tiada jawaban yang terdengar. Ia menjadi murka, dengan tabahkan hati ia melangkah maju lagi beberapa tindak. Dalam keadaan remang tiba-tiba terlihat olehnya di atas tanah sana berdiri satu pilar batu, waktu ia tegasi sambil berjongkok, maka terbacalah olehnya apa yang tertulis di atas batu itu, yaitu yang berarti: ‘Orang luar berhenti disini’.

Tulisan yang melarang orang maju lebih jauh ini membikin Ci-keng menjadi ragu-ragu. Ia bingung apa maju terus atau tidak? Karena itu segera ia berteriak lagi:

“Hayo keluar, Yo Ko! Kau bangsat cilik ini, kalau nanti tertangkap pasti kuhajar mampus kau!”

Baru habis ia menggembor, sekonyong-konyong dari dalam hutan terdengar suara aneh riuh mendengung, menyusul itu segerombolan bayangan kelabu tiba-tiba datang berkelebat, serombongan tawon putih menyambar keluar di antara daun pepohonan.

Tentu saja Ci-keng sangat terkejut, lekas dia kebutkan lengan bajunya dengan maksud mengusir kawanan tawon itu. Dia mempunyai tenaga dalam yang kuat, dengan sendirinya tenaga kebutan lengan bajunya itu pun tidak kecil. Di luar dugaan, baru saja ia mengebas beberapa kali, mendadak kawanan tawon itu terpencar menjadi dua barisan, yang satu menyambar dari depan dan yang lain menyergap dari belakang. Keruan Ci-keng semakin kaget, sedikit pun ia tak berani ayal lagi, segera ia putar lengan bajunya buat melindungi seluruh tubuhnya.

Siapa tahu, kawanan tawon putih ini ternyata sangat pintar. Beberapa kali mereka gagal menyerang, segera dari dua barisan mereka terpencar menjadi empat barisan, dari empat jurusan mereka lantas mengepung. Dalam keadaan demikian Ci-keng tak berani bertahan lebih lama lagi, sambil ayun lengan bajunya untuk melindungi kepala dan mukanya, segera ia putar tubuh dan angkat langkah seribu. Akan tetapi kawanan tawon itu tidak membiarkan sasarannya kabur begitu saja. Dengan mengeluarkan suara “ngung-ngung” yang riuh, segera mereka menguber.

Walau pun terbangnya tidak terlampau cepat namun tawon putih ini menguber terus tiada hentinya, kemana Ci-keng lari, ke sana mereka mengudak, Ci-keng lari ke timur, mereka ikut ke timur, lari ke barat, mereka ngintil ke barat sehingga akhirnya Ci-keng kewalahan sendiri. Ketika lengan bajunya sedikit terlambat mengebut, secepat kilat dua ekor tawon putih sudah menerobos masuk melalui lowongan itu dan mengantup sekali di pipi kanannya.

Luar biasa sakitnya sengatan itu hingga Ci-keng meringis. Oleh karena itu cara mengebas lengan bajunya menjadi kacau dan asal kena saja.

“Hari ini jiwaku pasti melayang!” demikian ia pikir, sebab ia sangka rombongan tawon itu segera pasti akan merubung kepala dan mukanya lagi.

Tak tahunya dugaannya ternyata meleset, sekali sengat saja kawanan tawon itu rupanya merasa sudah cukup. Agaknya mereka tidak mau membuang banyak tenaga, sesudah bisa tawon mulai bekerja hingga Ci-keng berkelejotan kesakitan di tanah rumput, segera kawanan tawon itu mundur teratur ke dalam hutan.

Kembali pada Yo Ko tadi, setelah dia tergelinding masuk ke dalam hutan dalam keadaan pingsan, entah berapa lama sudah lewat, ketika tiba-tiba terasa tubuhnya kesakitan seperti ditusuk sesuatu. Saking sakitnya ia membuka mata, maka tampaklah tawon putih yang tidak terhitung banyaknya sedang beterbangan mengitari tubuhnya, kupingnya se-akan pekak oleh suara “ngung-ngung” yang berisik dari kawanan tawon itu. Betapa pun Yo Ko memang masih kecil. Sesudah menderita sehari penuh dengan segala siksaan, akhirnya ia tidak sanggup bertahan lagi, kembali ia jatuh pingsan lagi.

Lewat lama sekali, mendadak mulutnya terasa dicekoki semacam cairan yang dingin segar dan harum pula, per-lahan-lahan mengalir masuk tenggorokannya. Dalam keadaan masih setengah sadar ia merasa cairan itu enak sekali, maka per-lahan ia coba membuka mata.

Tetapi dia menjadi begitu kaget ketika terlihat di depannya berdiri seorang nenek berwajah jelek keriput seperti kulit ayam yang penuh borok. Saking kagetnya hampir saja Yo Ko jatuh semaput lagi.

Sementara itu manusia bermuka jelek itu sudah pentang mulut Yo Ko lalu mencekokinya dengan cairan manis tadi. Cairan manis ini adalah madu tawon yang diperoleh dari rombongan tawon putih, yang khasiatnya sangat mujarab menyembuhkan segala macam racun. Maka kalau buat menyembuhkan antupan tawon itu sendiri, sudah tentu lebih mujarab lagi.

Karena itulah Yo Ko merasakan tubuhnya menjadi segar bugar dan ia pun tahu manusia jelek itu tidak bermaksud jahat, maka ia tersenyum sebagai tanda berterima kasih.

Manusia jelek itu pun balas bersenyum, lapi karena senyumannya ini, mulutnya bergerak, otot daging di mukanya ikut terkerut, mukanya yang sudah jelek seketika bertambah lebih jelek sehingga sukar dilukiskan. Kembali Yo Ko terkejut, tetapi aneh, ia merasa dibalik muka orang yang jelek tersembunyi perasaan yang welas-asih. Kalau dibandingkan sikap dingin para imam di Cong-lam-san itu, ia merasa sikap nenek jelek ini membuat dirinya lebih hangat.

“Popoh, jangan kau biarkan Suhu datang menangkap aku,” demikian kemudian ia berkata.

Mendengar bocah ini menyebut dirinya sebagai Popoh atau nenek, wanita tua bermuka jelek itu tampak sangat senang.

“Siapakah Suhu-mu, nak?” tanyanya kemudian.

Mendengar suara pertanyaan yang penuh simpatik ini, Yo Ko menjadi terharu. Perasaan halusnya memang gampang terguncang, sekarang mendengar kata-kata lemah lembut, seketika ia tak sanggup menjawab, malahan ia menangis tersedu-sedu.

Dengan perlahan wanita tua itu pegang tangan Yo Ko. Ia tidak menghiburnya, melainkan membiarkan Yo Ko menangis sepuasnya, wajahnya tetap tersenyum sambil memandang bocah ini dengan kepala miring, di antara sinar matanya penuh mengandung rasa kasih sayang.

“Sudah baikkah kau?” tanya nenek ini kemudian dengan suara halus sesudah Yo Ko puas menangis.

Watak Yo Ko memang suka pada kehalusan dan tidak doyan kekerasan. Kalau orang lain menghantam dia, menghina dia, sekali-kali tidak nanti dia mencucurkan air mata barang setetes pun di hadapan orang. Tapi kini didengarnya suara si wanita tua yang lemah lembut dan penuh simpatik, hatinya semakin terharu kembali ia menangis lagi.

“Sudahlah, anak baik, jangan menangis, jangan menangis! Sebentar lagi tubuhmu takkan sakit lagi,” sambil menghibur, wanita tua jelek itu lantas keluarkan sapu tangannya mengusap air mata Yo Ko. Tetapi semakin dia menghibur, tangis Yo Ko malah semakin keras dan bertambah sedih, oleh karenanya berbalik si nenek merasa kelabakan, bingung tidak tahu apa yang harus diperbuatnya lebih lanjut.

“Sun-popoh, kenapa kau bikin anak orang menangis begitu rupa?” tiba-tiba terdengar suara orang bertanya, suara halus merdu di luar kerai.

Ketika Yo Ko mengangkat kepalanya memandang, dia melihat sebuah tangan halus putih bersih sedang menyingkap kerai, menyusul masuklah seorang gadis jelita.

Gadis ini mengenakan baju putih mulus terbuat dari sutera halus dengan gaya yang amat menarik. Usianya belum ada dua puluhan tahun, kecuali rambutnya yang kelihatan hitam, selebihnya serba putih pada seluruh badannya. Wajahnya ayu luar biasa, tetapi pada kulit dagingnya tak nampak warna darah sedikit pun, lapat-lapat membawa semacam perbawa yang aneh seperti dewi kayangan saja yang tidak mengenyam daharan keduniawian.

Mendengar orang mengatakan dia menangis, dengan muka merah segera Yo Ko berhenti menangis. Ia menunduk malu, tetapi segera ia melirik lagi pada gadis jelita itu. Ia melihat orang sedang memandang juga padanya, maka cepat ia menunduk kembali.

“Aku sudah kewalahan, engkau saja yang menghiburnya,” demikian terdengar Sun-popoh berkata dengan ketawa.

Gadis jelita itu lalu mendekati pembaringan. Ia lihat luka di jidatnya bekas diantup tawon putih, ia ulur tangannya buat meraba dengan maksud ingin mengetahui apakah Yo Ko demam atau tidak. Begitu tangannya menempel di jidat Yo Ko, tanpa terasa anak ini jadi menggigil, ternyata tangan gadis itu dingin bagai es.

“Tidak apa-apa, tadi kau sudah minum madu tawon, sebentar lagi tentu kau akan sembuh kembali,” demikian kata gadis itu. “Kau bernama siapa, nak?”

Yo Ko tidak lantas menjawab, ia pandang orang dengan mendongak. Pada saat sinar matanya bentrok dengan sinar mata si gadis, dalam hatinya tiba-tiba timbul semacam perasaan aneh yang sukar diucapkan, ia merasa gadis ini luar biasa cantiknya, luar biasa ayunya, tetapi di balik kecantikan itu si gadis tidak mengunjuk perasaan sedikit pun.

Yo Ko menjadi bingung, ia tidak tahu orang sedang marah atau lagi senang, sedang sedih atau girang, maka tanpa terasa ia merasa heran. Ia membatin, gadis ini sebenarnya manusiakah? Setankah atau sebangsa malaikat dewata? Saat ia mendengar suara orang yang nyaring halus itu seperti tidak mengandung perasaan sedikit pun, seketika Yo Ko tak dapat menjawab pertanyaan orang.

“lni adalah Liong-cici, dia adalah tuan rumah di sini, apa yang dia tanyakan hendaklah kau jawab!” demikian terdengar Sun-popoh berkata padanya dengan tertawa.

Kiranya gadis jelita berbaju putih mulus ini memang bukan lain dari pada Siao-liong-li yang menjadi tuan rumah ‘kuburan orang hidup’ (artinya orang hidup tinggal dalam kuburan se-akan sudah mati). Sun-popoh ini adalah pelayan yang dulu mendampingi gurunya Siao-liong-li, tapi semenjak sang guru wafat, dalam kuburan hanya tinggal mereka berdua saja yang hidup berdampingan.

Hari itu mereka mendengar suara mengaungnya tawon putih, mereka pun tahu tentu ada orang melanggar tapal batas tanah kuburan di hutan itu, maka Sun-popoh langsung keluar untuk memeriksanya. Di sana dia dapatkan Yo Ko sudah jatuh pingsan, maka dialah yang telah menolong jiwanya.

Menurut peraturan kuburan kuno itu, sebenarnya orang luar siapa pun tidak diperbolehkan masuk barang setengah langkah pun. Apa lagi laki-laki, hal ini lebih-lebih merupakan pantangan besar. Akan tetapi karena usia Yo Ko masih kecil, lagi pula seluruh badannya terlihat babak-belur bekas luka, meski wajah Sun-popoh amat jelek dan kelihatan bengis, namun hatinya sebenarnya sangat welas-asih, maka dia turun tangan menolong Yo Ko dengan melanggar kebiasaannya.

Demikianlah, sesudah mendapat penjelasan dari Sun-popoh dengan cepat Yo Ko lantas melompat bangun, dia turun dari pembaringan dan berlutut menjura pada Sun-popoh dan Siao-liong-li.

“Tecu Yo Ko dengan ini memberi hormat pada Sun-popoh dan Liong-kokoh,” demikian ia memperkenalkan diri sambil panggil orang sebagai nenek dan bibi.

Keruan Sun-popoh kegirangan dan tertawa lebar, lekas ia membangunkan si bocah,

“hh, kiranya kau bernama Yo Ko. Sudahlah, jangan pakai adat-istiadat segala,” demikian ia berkata.

Hal ini memang pantas, karena sudah beberapa puluh tahun Sun-popoh tinggal di dalam kuburan, selama itu pula tidak pernah bergaul dengan orang luar, kini demi nampak wajah Yo Ko cakap, cekatan dan pintar pula, dalam hati dia menjadi luar biasa menyukainya. Sebaliknya Siao-liong-li ternyata tetap bersikap dingin saja, dia hanya mengangguk sekali, habis ini dia mengambil tempat duduk pada sebuah kursi di tepi ranjang.

“Cara bagaimanakah kau bisa sampai di sini? Dan kenapa terluka? Orang jahat siapakah yang telah menghajar kau sedemikian rupa?” demikian Sun-popoh bertanya lagi. Di mulut ia bertanya, tapi sebelum orang menjawab ia sudah sibuk mengambil makanan dan suruh Yo Ko makan.

Sesudah makan sedikit kue, Yo Ko menceritakan nasib dan asal usul dirinya, dia menceritakan seluruhnya dari awal sampai akhir. Memang Yo Ko pandai bicara, maka ceritanya menjadi sangat menarik, ditambah lagi ia baru saja dihajar orang, dengan sendirinya lagu kata-kata-nya menjadi semakin bernapsu.

Sun-popoh berulang-ulang menghela napas karena terharu oleh nasib bocah ini, malahan kadang ia menimbrung dengan beberapa kata pendapatnya, tapi semua kata yang dia lontarkan ternyata selalu bernada membela Yo Ko, sebentar ia cela Oey Yong yang suka pilih kasih mengeloni puterinya sendiri, sebentar lagi dia memaki Thio Ci-keng yang berpikiran sempit dan tak berbudi dan tega menghajar anak kecil.

Hanya Siao-liong-li masih tetap tidak unjuk sesuatu pendapatnya, ia masih duduk dengan tenang saja, cuma di waktu Yo Ko bercerita pernah bertemu dengan Li Bok-chiu, ia saling pandang beberapa kali dengan Sun-popoh.

“O, anakku yang harus dikasihani!” demikian berulang-ulang Sun-popoh menyebut sambil merangkul Yo Ko sesudah bocah ini selesai menutur.

Sebaliknya Siao-liong-li per-lahan berdiri dan tidak pedulikan keadaan kedua orang yang saling rangkul itu.

“Sudahlah, lukanya sudah tidak berbahaya lagi. Sun-popoh, sekarang kau boleh antar dia pergi!” tiba-tiba ia berkata.

Tentu saja Sun-popoh kaget, begitu pula Yo Ko tercengang. “Tidak, aku tidak mau kembali ke sana, mati pun aku tidak mau kembali kesana!” teriak Yo Ko.

“Kohnio (nona), jika anak ini kembali lagi ke Tiong-yang-kiong pasti akan dihajar lagi oleh gurunya,” kata Sun-popoh membujuk Siao-liong-li.

“Tidak, kau antar dia kembali ke sana, katakan kepada gurunya agar jangan bikin susah anak ini,” sahut Siao-liong-li.

“Ai, ini adalah urusan dalam orang lain, mana bisa kita ikut campur,” ujar Sun-popoh.

“Kau boleh antarkan sebotol Giok-hong-cio (madu tawon putih) dan bicara padanya, tidak mungkin imam tua itu tidak menurut,” kata Siao-liong-li lagi.

Kata-kata Siao-liong-li ini diucapkan dengan suara halus, tapi sebagai majikannya, dengan sendirinya mengandung semacam perbawa yang sukar dibantah. Karena itu Sun-popoh menghela napas, ia cukup kenal tabiat Siao-liong-li yang kukuh, percuma saja meski banyak bicara. Ia tatap Yo Ko pula dengan penuh rasa kasih sayang.

TERBENTUR PERATURAN HOAT-SU-JIN-BONG

Di luar dugaan, se-konyong-konyong Yo Ko melompat maju memberi hormat kepada mereka berdua.

“Terima kasih pada Popoh dan Kokoh yang sudah menyembuhkan lukaku, sekarang aku mohon diri saja,” demikian ia berkata.

“Ke mana kau hendak pergi?” dengan cepat Sun-popoh tanya.

Yo Ko menjadi tertegun oleh pertanyaan ini, karena sebelumnya memang dia tidak tahu akan menuju kemana,

“Dunia masih cukup luas, kemana saja aku bisa pergi,” jawabnya kemudian.

Ia berkata dengan suara ketus, akan tetapi di antara matanya jelas kelihatan mengunjuk perasaan sedih.

“Adik cilik, bukannya aku tidak mau terima kau menginap di sini, tapi sesungguhnya di sini ada peraturan keras yang melarang orang luar datang kemari, jadi hendaklah kau jangan menyesal,” demikian Siao-liong-li berkata padanya.

“Kokoh jangan bilang begitu, kelak kita berjumpa lagi,” sahut Yo Ko dengan lantang.

Walau pun dia berkata menirukan lagak orang tua, tetapi karena suaranya masih kekanak-kanakan maka kedengarannya amat lucu. Sun-popoh merasa geli juga sekaligus kasihan, ia lihat mata anak itu basah tetapi sedapat mungkin bertahan jangan sampai butiran air mata menetes.

“Sudahlah, Kohnio, kini sudah jauh malam, kenapa tidak biarkan dia berangkat besok pagi saja,” segera ia membujuk Siao-liong-li lagi.

Tetapi percuma saja, apa yang telah diputuskan Siao-liong-li, siapa pun tak mungkin bisa membatalkan maksudnya, maka ia gelengkan kepala.

“Popoh, apa kau sudah lupa dengan peraturan yang ditetapkan Suhu dahulu?” demikian ia peringatkan Sun-popoh.

Karena itu Sun-popoh menjadi tak berdaya. Ia lalu berdiri, dengan suara rendah ia berkata pada Yo Ko:

“Mari, nak, akan kuberi sesuatu mainan padamu.”

Di luar dugaan, tiba-tiba Yo Ko menyusut air matanya, dengan kepala menunduk supaya tangisnya tidak terlihat orang, ia lantas berlari keluar.

“Tidak, aku tak mau, aku pun tidak perlu kau antar,” serunya.

Akan tetapi, baru saja dia berlari sampai ambang pintu, tiba-tiba terdengar suara teriakan orang yang berkumandang dari luar, suara itu sangat keras dan berkata:

“Anak murid Coan-cin-kau, In Ci-peng, atas perintah Suhu mohon bertemu Liong-kohnio.”

“Di luar ada orang mencari kau, jangan kau keluar dulu,” lekas Sun-popoh menahan Yo Ko.

Seketika muka Yo Ko menjadi pucat, dia terkejut tercampur marah, saking terguncang perasaannya hingga tubuhnya gemetar.

“Sun-popoh, pergilah kau bicara pada mereka,” kata Siao-liong-li.

“Baiklah,” sahut Sun-popoh sesudah berpikir sejenak, dia berpaling dan berkata kepada Yo Ko: “Kau tinggal dulu di sini, biar aku bicara dengan mereka.”

Siapa tahu adat Yo Ko justru tidak kenal apa artinya takut, lebih-lebih ia tidak mau tunduk pada kekerasan, maka dengan suara lantang ia menjawab:

“Popoh, tidak usah urus diriku lagi. Berani berbuat berani bertanggung jawab, biar aku sendiri yang menghadapi mereka. Aku telah terlanjur membunuh orang, biar aku ganti dengan jiwaku agar dibunuh mereka.”

Habis berkata dengan langkah lebar ia lantas berjalan keluar. Akan tetapi kuburan kuno yang sebenarnya lebih tepat dikatakan istana di bawah tanah itu luar biasa besar dan luasnya. Dahulu ketika Ong Tiong-yang berlatih silat dan bertapa juga dilakukan di sini, kemudian ketika ditempati oleh bekas kekasihnya bahkan keadaan di dalam kuburan telah banyak ditambah dan diperindah sehingga keadaan jalan-jalan di dalamnya luar biasa ruwet perubahannya, apa bila bukan orang yang sudah kenal benar jalan di dalamnya, pasti akan kesasar untuk selamanya tidak dapat keluar Iagi.

Karena itulah dengan cepat Sun-popoh menyusul. Dia pegang tangan Yo Ko dan digandeng. Setelah menyusur hutan rindang hanya sekejap saja mereka sudah sampai di tanah lapang di depan hutan sana. Di bawah cahaya bulan yang terang, tampaklah di sana sudah berdiri enam atau tujuh orang imam berjajar, kecuali itu ada pula empat imam pekerja yang menggotong Thio Ci-keng serta Ceng-kong yang terluka parah.

Dengan munculnya Yo Ko, seketika para imam itu menjadi berbisik, mereka saling bicara dengan suara perlahan sambil melangkah maju beberapa tindak secara serentak. Sementara itu, tanpa menunggu orang membuka suara, segera Yo Ko melepaskan gandengan Sun-popoh terus berlari maju ke depan.

“lni aku berada disini, hendak disembelih atau mau dikorek boleh terserah sesukamu!” Dia memapaki para imam itu dengan suara keras.

Tentu saja sikap Yo Ko ini sama sekali di luar dugaan imam-imam Coan-cin-kau, sama sekali tidak disangka bahwa bocah sekecil ini memiliki watak yang begitu keras dan berani mati. Tetapi di antara imam-imam itu segera ada satu yang maju, dengan sekali tarik, tahu-tahu Yo Ko kena diseret.

“Hm, aku toh tidak bakal lari, apa yang kau kuatirkan?” dengan kepala batu Yo Ko masih menjengek.

Tentu saja imam itu tidak mau menerima ejekan itu. Ia adalah murid Thio Ci-keng, ia telah menyaksikan keadaan gurunya yang diantup tawon dan belum diketahui bakal mati atau hidup, dan semua itu adalah gara-gara Yo Ko, dengan sendirinya dia sangat benci pada bocah ini. Dan kini mendengar orang malah mengejek, dengan gemas ia angkat kepalan terus memukul. Ia hantam batok kepala Yo Ko.

Sebenarnya Sun-popoh bermaksud bicara secara baik-baik dengan para imam itu, tetapi mendadak secara paksa Yo Ko diseret kesana. Melihat ini saja ia merasa tidak tega, apa lagi tiba-tiba ia menyaksikan Yo Ko dihajar pula, tentu saja api amarahnya lantas membakar. Tanpa ayal lagi dia lantas menyerobot maju, begitu sekali saja lengan bajunya mengebut, tangan imam yang memegang Yo Ko itu sudah kena disabet.

Karena serangan ini, seketika imam itu merasakan tangannya sakit pedas bagaikan kena dipukul oleh ruyung baja saja, mau-tidak-mau dia harus melepaskan Yo Ko, dan selagi dia hendak bertanya, tahu-tahu Sun-popoh menyambar tubuh Yo Ko terus diangkat, tanpa bicara wanita tua ini putar tubuh lantas berjalan pergi. Sudah tentu imam yang lain tidak membiarkan orang pergi begitu saja, segera tiga imam yang lain mengudak maju.

“Lepaskan bocah itu!” teriak mereka.

“Kalian mau apa?” sahut Sun-popoh menoleh dengan tertawa dingin.

In Ci-peng terhitung paling tahu adat di antara para imam itu, ia mengerti manusia yang tinggal di dalam kuburan kuno itu rapat sekali hubungannya dengan perguruannya, maka ia tidak berani berlaku gegabah, lekas ia membentak mencegah kawan-kawannya:

“Lekas mundur, jangan kurang ajar kepada orang tua,” demikian katanya. Sesudah ini dia sendiri maju memberi hormat kepada Sun-popoh, ia perkenalkan diri: “Tecu In Ci-peng memberi hormat kepada Cianpwe.”

“Lalu kalian mau apa?” tanya Sun-popoh pula.

“Anak ini adalah murid Coan-cin-kau kami, mohon cianpwe suka menyerahkan dia,” sahut Ci-peng.

“Hm, serahkan dia? Enak saja kau membuka mulut,” damperat Sun-popoh dengan suara bengis, “Di depanku saja kalian berani menghajar dia begini kejam, apa lagi nanti kalau sudah berada di rumah, entah bagaimana kalian akan menyiksa dia. Kini kau ingin aku melepaskan dia, maka aku bilang tidak bisa! Sekali tidak, seribu kali tetap tidak!”

“Tapi anak ini terlalu nakal dan berani pada guru. cianpwe tentu tahu dalam Bu-lim orang paling menghormat kepada orang tua, maka kalau kami menghukum padanya, agaknya pantas juga,” kata Ci-peng dengan menahan marah.

“Hm, berani kepada guru apa segala, itu hanya ocehan sepihak belaka,” kata Sun-popoh lagi dengan marah, kemudian dia tuding Ceng-kong yang rebah di tempat usungan itu dan menyambung lagi: “Bocah ini bertanding dengan imam sebesar itu, memangnya seperti itu peraturan Coan-cin-kau kalian? Sesungguhnya bocah ini tidak mau maju, tetapi kalian memaksa dia turun kalangan, dan kalau sudah saling gebrak, dengan sendirinya ada yang menang dan ada yang kalah. Apa bila imam gemuk itu sendiri yang tidak becus lalu kena dihantam, kenapa harus salahkan orang lain?”

Wajah Sun-popoh memang sudah jelek karena marah, kulit mukanya menjadi merah padam, keruan rupanya semakin menakutkan. Sementara itu ber-turut-turut sudah datang lagi belasan imam yang lain, mereka pada berdiri di belakang In Ci-peng dan sedang bisik-bisik membicarakan wanita tua bermuka jelek yang tak mereka kenal ini.

“Tentang siapa yang benar dan salah di dalam pertandingan itu, tentu akan kami laporkan kepada Ciangkau Cosu kami untuk diambil keputusan,” demikian sahut Ci-peng lagi. “Maka harapIah Locianpwe kembalikan anak itu.”

Waktu itu Yo Ko masih merangkul dalam pondongan Sun-popoh, ia bisik-bisik pada orang tua itu buat menghasut:

“Popoh jangan mau percaya, tipu musIihat imam ini banyak sekali, jangan kau kena diakali.”

Mendengar Yo Ko berlaku begitu aleman dan ber-ulang memanggil Popoh atau nenek kepadanya, Sun-popoh menjadi girang sekali, dalam hati ia telah ambil keputusan yang pasti, ialah tidak akan menyerahkan Yo Ko kepada In Ci-peng. Oleh karenanya, dengan suara keras ia lantas berteriak pula:

“Kau inginkan anak ini, lalu apa yang hendak kalian perbuat atas dirinya?”

“Tecu mempunyai hubungan saudara seperguruan dengan ayah anak ini, pasti tidak bakal membikin susah anak kawan yang telah meninggal, harap Locianpwe jangan kuatir,” sahut Ci-peng.

“Hm, dengan apa aku harus percaya padamu?” jengek Sun-popoh. “Aku tak biasa banyak bicara dengan orang luar, maaf saja aku tak bisa tinggal lebih lama di sini.” Habis berkata dia lalu angkat kaki hendak kembali ke dalam hutan.

Tatkala itu Thio Ci-keng sedang digotong orang, lukanya yang diantup tawon terasa jarem dan gatal luar biasa, tapi pikirannya cukup terang dalam segala hal. Ia mendengar Ci-peng adu mulut dengan Sun-popoh sekian lamanya, ia menjadi marah. Pada waktu Sun-popoh hendak melangkah pergi, tiba-tiba ia melompat bangun dari usungan terus menghadang di depan Sun-popoh.

“Dia adalah muridku, apa aku hendak menghajar dia atau hendak memaki dia, semuanya terserah padaku. Kau tidak perbolehkan guru menghajar murid, apakah di dunia persilatan terdapat peraturan semacam ini?” demikian ia membentak.

Melihat kepala orang bengkak satu kali lipat dari pada biasanya, pula dari lagu suaranya, maka tahulah Sun-popoh pasti imam ini adalah guru Yo Ko. Atas teguran itu, seketika ia menjadi tak bisa menjawab. Oleh karena sudah tak ada alasan, terpaksa ia menjawab secara membandel:

“Ya, justru aku tidak perkenankan kau menghajar dia, kau mau apa?”

“Anak ini pernah apa dengan kau? Berdasarkan apa kau ikut campur tangan?” bentak Ci-keng pula dengan murka.

Kembali Sun-popoh tertegun oleh pertanyaan ini. Namun dia semakin bandel lagi, maka tanpa pikir dia menjawab dengan suara keras:

“Dia sudah bukan anak murid Coan-cin-kau, tahu? Anak ini sudah mengangkat nona Siao-liong-li sebagai guru, maka baik atau jelek akan dirinya, di bumi ini hanya Siao-liong-li seorang saja yang boleh mengurusnya, Nah, kalau kalian tahu gelagat, lekas enyah dan jangan coba ikut campur urusan ini.”

Kata-kata ini ternyata sangat mengejutkan para imam itu sehingga seketika mereka menjadi gempar. Kiranya menurut peraturan Bu-lim atau dunia persilatan, sebelum mendapat perkenan dari guru asalnya, siapa saja dilarang mengangkat guru lagi kepada orang lain. Jika hal itu dilakukan maka itu berarti penghianatan yang maha besar dan pasti tidak bisa diampuni oleh sesama orang-orang dunia persilatan. Oleh karena itu, biar pun ketemu guru yang kepandaiannya berlipat ganda lebih tinggi dari guru yang pertama juga tak boleh sesukanya memanjat ke atas lebih tinggi.

Kini Sun-popoh didebat oleh Thio Ci-keng sehingga tidak bisa menjawab, pula ia memang tidak pernah berhubungan dengan tokoh-tokoh kalangan persilatan, dengan sendirinya ia tidak kenal semua aturan itu. Tadi ia hanya buka mulut sekenanya, tak tahunya kata-katanya itu justru melanggar pantangan besar persilatan. Keruan saja para imam Coan-cin-kau menjadi marah. Ci-keng sendiri waktu itu lagi kesakitan hebat dan luar biasa rasa gatalnya, ia sudah tak tahan lagi, ia merasa adu jiwa saja malah lebih enak. Oleh karena itu dengan kertak gigi menahan sakit segera ia bertanya:

“Yo Ko, apa hal itu memang betul?”

Yo Ko masih kecil usianya, dengan sendirinya ia tidak kenal segala peraturan Kangouw. Dia lihat Sun-popoh terus membela dirinya dan ribut mulut dengan gurunya, tentu saja apa yang dikatakan orang tua ini segera ia perkuat.

“Ya, memang betul, kau mau apa? Kau imam busuk sudah memukul aku sedemikian rupa, untuk apa aku mengaku kau sebagai Suhu lagi? Memang aku sudah mengangkat Sun-popoh sebagai guru, juga sudah menyembah Liong-kokoh sebagai Suhu,” demikian dengan suara keras ia menjawab.

Bukan buatan marah Ci-keng hingga dadanya hampir-hampir meledak. Tanpa pikir lagi se-konyong-konyong ia melompat maju, berbareng kedua tangannya mencengkeram ke tubuh Yo Ko.

Sudah tentu Sun-popoh tak tinggal diam. “lmam liar, apa kau cari mampus?” damperatnya segera, sebelah tangannya berbareng menangkis.

Thio Ci-keng adalah jago kelas satu di antara anak murid Coan-cin-kau angkatan ke tiga. Jika soal ilmu silat ia masih di atas In Ci-peng, biar pun tubuhnya luka parah, akan tetapi pukulannya tadi ternyata sangat hebat. Begitulah, maka tangan kedua belah pihak saling bentur, seketika mereka merasa kesemutan sehingga keduanya tergetar mundur beberapa tindak.

“Hm, imam liar, boleh juga kau,” jengek Sun-popoh sesudah kenal kepandaian orang.

Di lain pihak, sekali menyerang tidak kena, serangan kedua lantas menyusul, kembali Ci-keng hendak menjamberet lagi.

Sekali ini Sun-popoh tak berani pandang enteng lawannya. Ia mengegos ke samping, kemudian sekonyong-konyong sebelah kakinya tanpa kelihatan bergerak dan tahu-tahu sudah melayang menendang. Dikatakan tidak kelihatan oleh karena itu adalah ‘kun-lay-tui’ atau kaki tersembunyi di dalam Kun (gaun panjang), yaitu kain yang dia pakai hingga menutupi seluruh kakinya.

Sebagai jago Coan-cin-kau angkatan ke tiga, tentu saja Ci-keng tidak gampang diserang. Ketika mendadak mendengar menyambarnya angin, segera ia bermaksud menghindarkan diri. Tapi tanpa tersangka, tiba-tiba lukanya yang diantup tawon itu luar biasa gatalnya, tanpa dapat menahan lagi dia menjerit sambil pegang kepalanya terus berjongkok, keruan tidak ampun lagi, justru pada waktu ia menjerit dan berjongkok, kaki Sun-popoh yang melayang itu dengan tepat mengenai iganya. Karena tendangan keras ini Ci-keng sampai mencelat ke udara, tapi meski pun demikian, selagi terapung di udara dia masih men-jerit-jerit saking gatalnya.

In Ci-peng menjadi kaget oleh kejadian itu, lekas ia melayang ke atas menangkap tubuh Ci-keng agar tidak terbanting, kemudian ia turunkan tubuh sang Suheng dengan perlahan. Sesudah itu ia lantas memberi tanda pada imam-imam lain buat mengepung maju, maka seketika itu terpasanglah barisan bintang ‘Pak-tau-tin’ yang maha lihay dari Coan-cin-kau.

Sun-popoh tidak kenal akan jaringan barisan lawan, maka sesudah menangkis beberapa kali rangsekan musuh, segera ia mengerti kelihayannya, ditambah lagi sebelah tangannya harus membopong Yo Ko, dia hanya dapat melayani musuh dengan sebelah tangan saja, maka hanya belasan gebrak saja dia sudah kewalahan sehingga berulang-ulang terancam bahaya. Oleh karena tiada jalan lain, terpaksa Sun-popoh letakkan Yo Ko ke bawah, lalu dengan kedua tangannya ia papaki lawan. Tapi tiba-tiba terdengar suitan dari barisan Pak-tau-tin lawan, menyusul ada dua imam menyerobot maju hendak menangkap Yo Ko.

Sun-popoh menjadi kaget, diam-diam ia mengeluh.Barisan bintang lawan ini sulit dipatahkan, dirinya terang tak ungkulan buat melawan. Karena itu, di samping kakinya dipergunakan menendang kedua imam yang hendak menawan Yo Ko, berbareng pula dari mulutnya mendadak mengeluarkan suara mendengung.

Suara “ngung-ngung” itu mula-mula hanya perlahan saja, karena itu para imam tidak menaruh perhatian, namun lama kelamaan suara mendengungnya menjadi keras, lambat laun para imam itu merasa tidak enak sekali oleh suara itu, semakin lama semakin susah menahan hingga akhirnya banyak yang mendekap kuping dengan tangan, sebab itu daya serangan mereka ikut terpengaruh dan menjadi kendur.

Di antara imam-imam itu hanya In Ci-peng seorang yang selalu berlaku waspada dalam menghadapi Sun-popoh. Ia cukup kenal kepandaian cianpwe yang tinggal dalam kuburan kuno itu, yang satu tingkatan dengan kakek gurunya, Tiong-yang Cosu, dengan sendirinya orang keturunannya pasti bukan kaum lemah. Maka semenjak mendengar suara “ngung-ngung” yang tercetus dari mulut Sun popoh, Ci-keng menyangka orang sedang menggunakan ilmu gaib sebangsa hipnotis, maka ia telah pusatkan seluruh semangatnya dan menanti segala kemungkinan.

Tanpa terduga, meski sudah lama suara “ngung-ngung” itu terdengar, walau pun semakin keras juga, tetapi perasaan mau pun semangatnya sama sekali tak menjadi goyah. Tentu saja dia merasa heran. Selagi dia merasa aneh, mendadak dia ingat pula akan sesuatu, tanpa tertahan luar biasa terkejutnya. Karena itu segera ia hendak perintahkan kawannya lekas mundur, akan tetapi sudah terlambat. Dari jauh terdengar berkumandang suara “ngung-ngung” yang riuh dan keras dari pada suara mendengung yang keluar dari mulut Sun-popoh.

“Celaka, lekas kita lari!” seru Ci-peng cepat.

Tentu saja imam yang lain menjadi heran, mereka tertegun oleh teriakan Ci-peng, dalam hati mereka tidak habis mengerti, sebab sudah terang mereka berada di atas angin, mengapa tiba-tiba Ci-peng ber-teriak dan takut pada wanita tua yang jelek ini?

Sementara itu, se-konyong-konyong segumpal bayangan kelabu berkelebat, serombongan tawon putih menyambar keluar dari hutan terus menubruk ke atas kepala para imam. Karena telah menyaksikan penderitaan Ci-keng yang disengat tawon, para imam itu takut bukan buatan demi nampak kawanan tawon putih yang datang menyambar itu. Serentak mereka memutar tubuh lari terbirit-birit. Dengan cepat kawanan tawon putih itu pun mengejar.

Melihat larinya musuh dan tahu bahwa para imam itu tidak bakal sanggup melepaskan diri dari antupan tawonnya, Sun-popoh bergelak ketawa senang. Tanpa terduga, mendadak tampil ke depan satu imam tua di antara para imam yang lari kesetanan itu. Tangan imam tua itu membawa dua obor yang coraknya amat aneh, tiba-tiba obor itu diayun ke depan, seketika obor itu menyala lebih hebat dan dari ujung api obor yang membakar itu mengepulkan asap yang sangat tebal.

Oleh karena asap tebal ini seketika barisan tawon putih itu menjadi kacau. Dengan cepat pula mereka terbang kembali. Sun-popoh terkejut sekali oleh perubahan hebat dan cepat ini. Waktu ia mengamat-amati imam tua itu, ia lihat rambut orang sudah putih, begitu pula alisnya, raut mukanya lonjong, melihat rupanya tentulah jago tinggi dari Coan-cin-kau.

“Hai, siapakah kau imam tua ini? Mengapa kau berani menghalau tawonku?” segera Sun-popoh membentak.

“Aku bernama Hek Tay-thong, terimalah hormatku, Popoh!” imam tua itu menyahut sambil tertawa.

Walau pun Sun-popoh selamanya tidak pernah bergaul di kalangan Bu-lim, akan tetapi karena letak Tiong-yang-kiong hanya berdampingan saja dengan tempat kediamannya, maka ia pun kenal nama Hek Tay-thong yang termasuk satu di antara tujuh murid utama Ong Tiong-yang, cikal bakal Coan-cin-kau.

Karenanya ia menjadi kaget demi mendengar nama orang. Ia pikir imam semacam In Ci-peng saja ilmu silatnya tidak lemah, maka sudah tentu imam tua ini lebih susah dilawan. Sementara itu hidungnya mencium pula bau sumpek dari asap tebal yang terhembus dari obor hingga terasa ingin muntah, pula kawanan tawon sudah tidak bisa diandalkan lagi sebagai bantuan. Melihat gelagat jelek, diam-diam ia mencari jalan buat mundur teratur.

“Eh, Khu Ju-ki, Ong Ju-it, kalian ikut datang juga? Hayolah maju sekalian, aku Sun-popoh tidak merasa gentar!” demikian tiba-tiba ia berkata dengan tertawa sambil menuding ke belakang Hek Tay-thong.

Tentu saja Hek Tay-thong tertegun, “He, kenapa kedua Suheng Khu dan Ong telah datang juga?” demikian ia membatin.

Di luar dugaan, ketika ia menoleh, mana ada bayangan Khu Ju-ki dan Ong Ju-it? Waktu ia berpaling kembali, orang yang berhadapan dengannya tadi sudah menghilang, yang terdengar hanya suara bergelak ketawa panjang yang berkumandang dari tengah hutan, nyata Sun-popoh dan Yo Ko sudah pergi jauh dengan jalan mengakali dirinya.

“Kita harus kejar atau tidak? Hek-susiok,” tanya In Ci-peng.

Hek Tay-thong menggelengkan kepala, “Tidak usah,” sahutnya kemudian, “Cosuya sudah menentukan peraturan keras yang melarang kita masuk ke hutan itu, mari kita kembali untuk berunding.”

Sementara itu dengan menggandeng Yo Ko, Sun-popoh sudah berada kembali di dalam kuburan kuno. Setelah mengalami peristiwa tadi, hubungan keduanya bertambah erat. Dalam hatinya Yo Ko masih kuatir kalau Siao-liong-li tetap tidak mau menerima dia untuk tinggal bersama.

“Jangan kuatir, pasti akan kumintakan agar ia suka menerima kau,” ujar Sun-popoh untuk membesarkan hati anak itu.

Yo Ko lantas disuruh menunggu dan mengaso dahulu di kamar depan, ia sendiri lalu pergi bicara dengan Siao-liong-li. Akan tetapi lama sekali ditunggu masih belum nampak Sun-popoh kembali, keruan Yo Ko menjadi tambah kuatir dan tak sabar.

“Terang bibi Siao-liong-li tidak mau terima aku disini, sekali pun Sun-popoh bisa memaksa padanya agar suka menerima, tetapi hidupku di sini selanjutnya jadi tidak menarik lagi,” demikian Yo Ko pikir. Dan sesudah ia pikir lagi berulang-ulang, akhirnya ia ambil keputusan dan diam-diam berjalan keluar sendiri.

Namun baru saja ia melangkah keluar kamar, tiba-tiba Sun-popoh telah kembali dengan ter-gesa-gesa.

“Kau hendak ke mana?” tanya orang tua itu.

“Popoh,” jawab Yo Ko dengan suara lesu, “biarlah aku pergi saja, kelak kalau aku sudah besar, nanti aku datang lagi menyambangi engkau.”

“Tidak, jangan kau pergi sendiri,” kata Sun-popoh cepat, “biar aku mengantarmu ke tempat lain, agar orang tak bisa menghina kau lagi.”

Mendengar kata-kata ini, tahulah Yo Ko bahwa Siao-liong-li ternyata benar-benar tidak mau menerima dirinya tinggal di situ. Karenanya hatinya menjadi sedih.

“Sudahlah, tidak perlu lagi,” sahutnya kemudian dengan kepala menunduk. “Memang aku adalah anak nakal, kemana saja pasti tidak ada orang yang mau terima diriku. Sudahlah, jangan Popoh repotkan diri lagi.”

Sun-popoh ini berwatak keras lurus. Tadi ia telah berdebat setengah harian dengan Siao-liong-li urusan penerimaan Yo Ko. Karena Siao-liong-li tetap berkeras tak mau menerima, hati orang tua ini menjadi amat mendongkol, dan sekarang melihat lagi Yo Ko yang harus dikasihani, seketika darah panasnya menjadi bergolak.

“Tidak, nak, orang lain tidak suka padamu, tetapi Popoh justru menyukai kau,” demikian katanya penuh rasa sayang, “Marilah kau ikut, tidak peduli ke mana saja, selalu Popoh akan berada di sampingmu.”

Tentu saja Yo Ko sangat girang, cepat-cepat ia gandeng tangan orang tua itu, lalu mereka berdua keluar lagi dari pintu kuburan. Dalam marahnya Sun-popoh ternyata tidak membekal barang-barang lain mau pun pakaian lagi, dan ketika dia merogoh sakunya, tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah botol kecil. Dia menjadi teringat botol ini berisi madu tawon yang tadinya dimaksudkan akan diberikan kepada Thio Ci-keng.

Terpikir pula olehnya bahwa meski pun imam itu jahat, tetapi dosanya masih belum perlu harus sampai mati, apa bila madu tawon ini tidak diminum, tentu luka antupan tawon yang dideritanya itu sukar sembuh kembali. Karena pikiran ini, dengan tangan kiri memondong Yo Ko, lalu berangkatlah dia menuju ke Tiong-yang-kiong.

Tatkala itu sebagian Tiong-yang-kiong sudah diperbaiki. Walau pun hanya sebagian kecil saja yang pulih dan jauh sekali kalau dibandingkan dengan kemegahan yang dulu, namun sedikitnya sudah ada rumah genting dan kamar papan.

Sementara itu demi mengetahui dirinya dibawa Sun-popoh ke Tiong-yang-kiong, Yo Ko menjadi kaget.

“He, Popoh, untuk apa lagi kau ke sana?” tanyanya cepat dengan suara perlahan.

“Mengantar obat untuk gurumu,” sahut Sun-popoh.

Sementara itu Tiong-yang-kiong yang dituju sudah berada di hadapan mereka. Sesudah dekat, segera Sun-popoh melompat ke atas pagar tembok, dari sini ia hendak melompat turun ke pelataran bagian dalam. Tetapi sebelum ia melompat turun, mendadak suasana gelap dan sunyi itu digemparkan oleh bunyi genta yang keras dan ramai sekali, menyusul dari jauh mau pun dekat hanya terdengar suara suitan belaka.

Dengan kejadian mendadak ini, insaflah Sun-popoh kalau dirinya telah terjebak dalam kepungan musuh. Sungguh pun ilmu silatnya tinggi dan nyalinya besar, namun tak urung ia merasa jeri juga.

Harus diketahui bahwa Coan-cin-kau adalah sebuah aliran persilatan terbesar di kalangan Bu-lim. Penjagaan yang dilakukan di tempat mereka ini biasanya amat keras, terlebih lagi beberapa hari belakangan ini selalu ada orang datang mencari setori, maka sudah tentu penjagaan semakin diperkuat dan di mana pun terdapat orang.

Kini ada orang melompati pagar tembok, seketika genta dibunyikan sebagai tanda bahaya. Dengan tanda ini bukan saja semua anak murid Coan-cin-kau yang berada di dalam istana langsung keluar memapak musuh dalam berbagai kelompok, bahkan tidak sedikit pula para imam yang menyebar jauh keluar, pertama untuk mengepung musuh yang berani menyerbu tempat mereka, kedua untuk merintangi bala bantuan musuh yang datang belakangan.

Demikianlah, demi nampak suasana yang berobah menjadi hebat ini, mau tidak mau Sun-popoh merasa kebat-kebit juga.

“Hai, Thio Ci-keng, lekaslah kau keluar, aku ingin bicara dengan kau,” demikian dia lantas berteriak.

Akan tetapi Ci-keng sendiri tidak muncul, sebaliknya dari pendopo tengah sana mendadak keluar satu imam setengah umur.

“Malam buta cianpwe berani masuk ke kuil kami, sebenarnya apakah maksud tujuan?” segera imam itu menegur.

“lni buat Thio Ci-keng, obat penawar racun sengatan tawon,” sahut Sun-popoh, Berbareng ini ia lemparkan botol madu tawon pada orang.

Imam itu ulur tangannya menyambut botol kecil yang dilemparkan, namun ia setengah percaya setengah sangsi. “Buat apa ia berlaku begini baik hati, tadi sudah melukai orang, sekarang berbalik mengantarkan obat?” demikian ia berpikir.

“Obat apakah ini?” kemudian ia bertanya dengan suara keras.

“Tak perlu tanya, asal kau minumkan dia seluruh isinya, tentu kau akan lihat khasiatnya,” sahut Sun-popoh.

“Tetapi dari mana aku bisa tahu kau bermaksud baik atau bertujuan jahat, dan bagaimana pula aku tahu bahwa ini betul-betul obat penawan racun atau malah racun, Thio-suheng sudah kau aniaya begitu rupa, kenapa sekarang kau berbalik berbaik hati hendak menolongnya?” kata imam itu dengan suara bernada curiga.

Dasar watak Sun-popoh memang tulus, mendengar orang mencurigai maksud baiknya, bahkan kata-katanya tidak enak didengar, keruan api amarahnya tidak bisa ditahan lagi, Tiba-tiba ia letakkan Yo Ko ke bawah, kemudian dengan sekali lompat ia mendekati orang, begitu tangannya meraih secepat kilat botol madu tawon tadi telah direbutnya kembali.

“Buka mulutmu!” tiba-tiba ia berkata pada Yo Ko sambil mencopot tutup botol.

Yo Ko menjadi bingung oleh perintah orang yang mendadak ini, tetapi ia menurut juga dan mengangakan mulutnya. Waktu Sun-popoh membalik botol madu tawon itu, maka tertuanglah seluruh isi botol itu ke tenggorokan Yo Ko.

“Nah, enak bukan, mendingan dari pada dicurigai orang sebagai racun,” demikian katanya mencemooh imam itu. “Ko-ji, mari kita pergi!”

Lalu dengan menarik tangan Yo Ko segera ia mendekati pinggir pagar tembok.

SENJATA SELENDANG SUTRA

Rupanya imam tadi dari merasa malu berubah menjadi marah, diam-diam ia pun menyesalkan dirinya yang seharusnya jangan banyak curiga. Kini tampaknya obat yang diantar orang ternyata memang betul-betul obat pemunah, kalau Thio Ci-keng tidak tertolong oleh obat yang jitu, mungkin sukar untuk bertahan sampai besok.

Oleh karena kekuatirannya itu, segera ia melompat ke atas dan mencegat di depan orang sambil pentangkan kedua tangannya,

“Locianpwe, kenapa kau harus marah-marah padaku, aku tadi hanya berkata main-main saja, tapi kau anggap sungguhan,” demikian ia coba membujuk. “Jika memang betul obat penawar, maka mohonlah engkau suka berikan sekarang.”

Akan tetapi Sun-popoh sudah terlanjur menjadi sengit, ia benci pada lidah orang yang tak bertulang, putar balik tidak menentu, maka ia menjawab dengan tertawa dingin.

“Sayang obat tadi hanya ada sebotol saja, ingin lebih banyak sudah tak ada lagi. Hitung-hitung nyawa Thio Ci-keng melayang di tanganmu sendiri,” demikian kata Sun-popoh, berbareng dia membalikkan sebelah tangannya terus menambahi orang dengan sekali tempelengan sambil membentak: “Kau tidak menghormati kaum Cianpwe, kau inilah yang harus dihajar adat!”

Gerakan pukulan ini begitu aneh dan cepat pula, ternyata imam itu tidak mampu berkelit, maka terdengarlah suara “plak” yang keras, dengan tepat sebelah pipinya kena ditampar.

Melihat kawan mereka dihantam, dua imam lain yang menjaga di samping pintu menjadi marah.

“Seumpama betul kau termasuk kaum Cianpwe, mana boleh kau berlaku tidak se-mena-mena di Tiong-yang-kiong!” bentak mereka berbareng, sesudah itu, yang satu memukul dengan tangan kiri dan yang lain dengan tangan kanan, bersama mereka menyerang dari samping.

Sun-popoh sudah pernah kenal lihaynya Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau, maka ia tak berani terlibat dalam pertempuran dengan mereka. Apa lagi kini dirinya sudah masuk ke ‘sarang harimau’, tentu saja ia lebih perlu pakai perhitungan. Maka dengan sekali loncat segera ia melompat ke atas tembok yang lebih tinggi. Tampaknya di atas tembok sana tiada seorang pun. Tapi siapa duga, baru saja ia hendak menancapkan kaki di atas sana, mendadak dari sebelah luar seorang lain meloncat naik memapakinya.

“Turunlah!” bentak orang itu sambil kedua telapak tangannya mendorong dari depan.

Waktu itu Sun-popoh sedang terapung di udara, maka terpaksa dengan tangan kanan ia balas dorongan, karenanya satu tangan saling bentur dengan dua tangan, masing-masing sama tergetar mundur dan turun ke bawah pada kedua sisi tembok. Nampak penyatron terjatuh kembali, segera ada enam atau tujuh imam mengerubut maju. Dengan teriakan ramai mereka mendesak Sun-popoh sampai di pojok dinding.

Para imam ini adalah jago pilihan murid Coan-cin-kau angkatan ke tiga. Agaknya mereka memang sengaja dipilih untuk menjaga pendopo besar kuil mereka, maka dalam sekejap saja, secara bergantian bagaikan ombak saja secara bergelombang mereka merangsak maju beberapa kali.

Sun-popoh terpepet di pojok tembok. Ia bermaksud menarik Yo Ko lalu menerjang keluar, akan tetapi barisan yang telah dipasang kuat oleh para imam itu tetap menahan dia pada tempatnya. Sudah beberapa kali Sun-popoh berusaha menerjang lagi, namun selalu dapat didesak mundur kembali.

Sebenarnya kalau Sun-popoh seorang diri saja, maka kepandaian para imam ini se-kali-kali tidak akan bisa merintanginya, cuma sekarang ia juga harus membagi perhatiannya untuk melindungi Yo Ko, maka ilmu kepandaiannya menjadi tak bisa dikeluarkan seluruhnya.

Sesudah belasan jurus lagi, Thio Ci-kong, adik seperguruan Thio Ci-keng yang ditugaskan mengepalai penjagaan pendopo depan, ketika mengetahui lawan sudah tak berdaya lagi, segera ia memberi perintah menyalakan api lilin. Sejenak kemudian tampaklah belasan lilin raksasa sudah menyala terang di seluruh ruang pendopo itu, muka Sun-popoh yang tersorot api lilin itu tampak pucat seram, mukanya yang memang jelek kini kelihatannya lebih menakutkan lagi.

“Jaga rapat dan berhenti dulu menyerang,” tiba-tiba Thio Ci-kong berseru.

Karena itu, ketujuh imam yang mengerubuti Sun-popoh tadi segera melompat mundur ke belakang, tetapi mereka masih bersiap dan menjaga di tempat masing-masing dengan kuat.

Sesudah kepungan musuh menjadi kendur, Sun-popoh menarik napas lega. “Hm, nama Coan-cin-kau yang amat disegani di seluruh jagat nyata bukan omong kosong belaka,” demikian dia masih mengejek “Coba, belasan orang muda kuat secara bersama-sama mengerubuti seorang nenek yang loyo serta seorang anak kecil, hm, hm, sungguh lihay, sungguh hebat!”

Muka Thio Ci-kong menjadi merah oleh ejekan orang. “Kami tidak pandang apa kau orang tua atau dia anak kecil,” demikian ia coba menjawab, “kami hanya ingin menangkap penyatron yang berani terobos di Tiong-yang-kiong kami, baik kau nenek-nenek atau pun laki-laki sejati, kalau sudah berani masuk ke sini dengan tubuh tegak, maka sedikitnya harus keluar dengan tubuh membungkuk.”

“Hm, apa artinya tubuh membungkuk?” sahut Sun-popoh dengan tertawa dingin, “Apa kau maksudkan nenekmu yang tua ini harus merangkak keluar dari sini, ya bukan?”

Tadi Ci-kong sempat merasakan tempelengan orang tua ini yang sampai sekarang masih terasa sakit, sudah tentu dia tidak mau selesai dengan begitu saja.

“Jika kau ingin pergi bebas, itu pun tidak sukar, asal kau mau menuruti tiga syarat kami,” demikian katanya kemudian, “Pertama, kau telah melepaskan tawon hingga mencelakai Thio-suheng, maka obat penawarnya tadi harus kau tinggalkan. Kedua, bocah ini adalah murid Coan-cin-kau, jika tidak mendapat ijin Cosuya, mana boleh dia melepaskan diri dari ikatan perguruan secara gampang, maka dia harus kau tinggalkan juga di sini. Dan ketiga, kau telah berani menerobos masuk Tiong-yang-kiong, maka kau harus menjura di depan pemujaan Tiong-yang Cosu untuk minta maaf.”

“Ha-ha-haa,” tiba-tiba Sun-popoh menjawab dengan gelak-ketawanya, “Memang sudah sejak dulu aku katakan kepada Siao-liong-li kami bahwa para imam Coan-cin-kau tidak ada satu pun yang berguna, nah, buktinya apa sekarang, kapan perkataan nenekmu pernah salah? Baiklah, segera aku berlutut dan menjura minta maaf padamu.”

Sambil berkata, betul juga ia lantas membungkuk hendak berlutut. Tindakan orang tua ini justru sama sekali tak diduga Thio Ci-kong sebelumnya, karena itu ia menjadi tertegun, sementara ia melihat Sun-popoh betul-betul telah bertekuk lutut dan pada saat itu juga sekonyong-konyong berkelebatlah sinar mengkilap, tahu-tahu sebuah Am-gi atau senjata rahasia menyambar ke arahnya.

“Hayaaa!” teriak Ci-kong saking kaget.

Lekas juga ia hendak berkelit, akan tetapi menyambarnya Am-gi itu ternyata secepat kilat, tanpa ampun lagi tepat menancap di pundak kirinya. Kiranya itu adalah sebuah anak panah kecil yang dipasang pada punggung di dalam baju, asal orangnya menundukkan kepala, maka anak panah itu lantas menjeplak kemudian menyambar keluar dengan cepat hingga sukar untuk menghindarinya.

Untung Sun-popoh tiada maksud hendak mengarah jiwanya, maka orang tua itu sengaja bikin menceng tempat yang dia incar, ia tidak arahkan tenggorokan melainkan menancap di pundak lawan.

Melihat Ci-kong kena senjata, para imam yang lain menjadi kaget tercampur marah, segera mereka membentak lalu serentak menghunus senjata. Semua imam Coan-cin-kau biasanya memakai senjata pedang, oleh karena itu sesaat di seluruh pelataran hanya tertampak sinar pedang belaka yang kemilauan.

Tapi Sun-popoh hanya berdiri dengan tenang saja sambil bersenyum dingin. Dalam hati ia insaf juga bahwa urusan hari ini tentu akan runyam, tapi dasar wataknya memang keras, seperti jahe saja, makin tua semakin pedas, maka tak akan ia sudi menyerah pada orang.

“Kau takut tidak, nak?” tiba-tiba ia berpaling menanya Yo Ko.

Melihat pedang para imam yang begitu banyak, diam-diam Yo Ko sedang berpikir: “Jika Kwe-pepek yang berada di sini, meski imam-imam busuk ini lebih banyak lagi, tidak akan aku takut Tapi kini hanya mengandalkan kepandaian Sun-popoh saja, terang kami berdua tak akan bisa meloloskan diri.”

Maka waktu ditanya Sun-popoh, dengan suara keras ia lantas menjawab: “Popoh, biarkan mereka membunuh diriku saja. Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan engkau, lekas engkau pergi saja dari sini.”

Mendengar kata-kata anak yang kepala batu ini, pula selalu memikirkan keselamatan dirinya, keruan Sun-popoh semakin sayang dan kasihan pada Yo Ko.

“Tidak, biarlah Popoh ikut bersama kau mati di sini, supaya para imam busuk ini puas,” demikian jawabnya dengan suara lantang.

Habis ini, mendadak ia membentak sekali: “Kena!”

Se-konyong-konyong dia ulur tangannya, pergelangan tangan dua imam segera kena dicekalnya. Pada saat ia menekuk dan memuntir tangan orang, tahu-tahu kedua pedang imam itu sudah berpindah tangan, telah kena direbut Sun-popoh.

“Kau berani tidak melabrak imam-imam busuk ini, nak?” tanya Sun-popoh sambil memberikan sebatang pedang rampasannya itu kepada Yo Ko.

“Sudah tentu aku tidak takut,” sahut Yo Ko. “Cuma sayang di sini tak ada orang luar yang menyaksikan kejadian ini.”

“Orang luar apa?” tanya Sun-popoh tak mengerti.

“Bukankah nama Coan-cin-kau tidak ada bandingannya di seluruh jagat ini?” kata Yo Ko. “Bukankah sangat sayang kalau tiada orang luar yang menyiarkan cara mereka menghina dan mengeroyok seorang nenek dan satu anak kecil seperti sekarang ini?”

Nyata meski usia Yo Ko masih sangat muda, tetapi ia sangat cerdik. Tadi ia mendengar Sun-popoh adu mulut dengan Thio Ci-kong, segera ia paham di mana letaknya titik berat perdebatan mereka, maka dengan sengaja ia mengolok-olok nama baik Coan-cin-kau.

Suaranya memang nyaring dan melengking sebagaimana suara anak-anak, maka kata-kata-nya tadi semuanya dapat didengar para imam yang berada dipendopo itu hingga ada sebagian besar merasa malu diri oleh sindiran itu. Mereka pikir apa bila harus mengeroyok seorang nenek dan seorang anak, sesungguhnya hal ini memang tidak patut.

“Biar aku pergi melaporkan kepada Ciangkau Cosu (guru besar pejabat ketua) dan minta petunjuknya,” segera terdengar ada di antara mereka yang berbisik-bisik.

Akan tetapi Thio Ci-kong ternyata berpikir lain. Ia sudah terluka oleh Am-gi di pundaknya, ketika anak panah hendak dia cabut, barulah dapat diketahui bahwa ujung anak panah itu ternyata berujung pancing yang membalik, kalau sudah nancap, semakin hendak dicabut semakin terasa sakit. Karenanya dia menjadi kuatir kalau anak panah itu berbisa. Dia pikir kalau tidak menawan wanita tua ini dulu dan menggeledah obat pemunahnya, mungkin jiwanya bisa melayang.

“Tidak, tangkap dia dulu, kemudian baru lapor Ciangkau Cosu dan minta keputusannya,” begitulah dengan cepat ia mencegah, Lalu dengan suara keras ia membentak lagi: “Hayo, para Sute, maju bersama dan tawan dia!”

Akibat pikiran Thio Ci-kong yang sesat inilah, kelak telah menimbulkan banyak peristiwa-peristiwa. Tatkala itu Ma Giok sendiri sedang bertapa di sebuah gubuk yang didirikan di atas bukit di belakang Tiong-yang-kiong yang jauhnya belasan li, sebab itu semua urusan keagamaan sudah diserahkan pada In Ci-peng. Apa bila Ma Giok sendiri tahu Sun-popoh menerjang masuk istana mereka itu, tentu ia selesaikan urusan itu dengan kata halus dan mencegah anak muridnya berbuat kurang hormat pada orang tua.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar