Sementara itu, tiba-tiba terdengar beberapa kali suitan kecil, lalu dari belakang batu besar melompat keluar empat Tosu atau imam, di tangan mereka masing-masing terhunus pedang dan menghadang di tengah jalan, tetapi semuanya bungkam saja.
“Cayhe adalah Kwe Ceng dari Tho-hoa-to dan ingin naik ke atas gunung untuk menjumpai Khu-cin-jin,” demikian kata Kwe Ceng sambil maju memberi hormat.
Untuk sementara tiada satu pun dari empat imam itu yang menjawab. Kemudian satu di antaranya yang berperawakan jangkung lantas melangkah maju.
“Hmm, Kwe-tayhiap namanya dikenal di seluruh jagat, menantu Oey-locianpwe dari Tho-hoa-to, mana bisa dia begini tak kenal malu seperti kau ini, lekaslah kau enyah turun gunung saja.” demikian kata imam itu dengan tertawa dingin.
“Aneh, dalam hal apakah aku tidak kenal malu?” demikian Kwe Ceng membatin. Namun dia coba sabarkan diri, lantas berkata lagi:
“Cayhe betul-betul Kwe Ceng adanya, harap kalian memberi jalan, soal ini tentu akan menjadi jelas kalau sudah berhadapan dengan Khu-cin-jin.”
Namun imam jangkung ini masih tidak mau mengerti, bahkan ia membentak. “Hmm, kau berani main gila dan pamer kepandaian ke Cong-lam-san, mungkin kau sudah bosan hidup,” damperatnya. “Hm, kalau kau tidak diberi sedikit rasa, mungkin kau menyangka semua imam yang tinggal di Tiong-yang-kiong adalah manusia-manusia tak berguna semua.”
Ia mendamperat orang dengan kata-kata yang juga menyindir kedua imam pendek dan kurus tadi. Sesudah berkata, segera ia melangkah maju, pedangnya bergerak dengan tipu hun-hoa-hud-liu atau memetik bunga mengebut pohon Liu, tiba-tiba menusuk pinggang Kwe Ceng. Melihat orang tanpa sebab dan tanpa alasan terus menyerang, diam-diam Kwe Ceng merasa aneh.
“Sudah belasan tahun aku tidak berkecimpung di kalangan Kangouw, semua peraturan rupanya sudah berubah?” demikian ia heran. Berbareng pula ia menghindar tusukan tadi, ia pikir berkelit saja dahulu untuk kemudian ajak orang bicara baik-baik.
Di luar dugaan, ketiga imam lainnya segera mengerubut maju, mereka kepung Kwe Ceng dan Yo Ko di tengah-tengah.
“Apakah yang Si-wi (tuan berempat) inginkan? Cara bagaimana mau percaya bahwa Cayhe betul2 adalah Kwe Ceng?” seru Kwe Ceng sebelum membalas serangan orang.
“Kecuali kalau kau mampu merebut pedang di tanganku ini!” bentak imam jangkung tadi. Sambil berkata, kembali dia menusuk, sekali ini mengarah dada Kwe Ceng, cara menyerangnya seenaknya saja se-akan-akan tidak pandang sebelah mata pada lawannya. Tentu saja akhirnya Kwe Ceng marah juga, “Untuk merebut pedangmu, apa susahnya?” demikian ia pikir.
Sementara itu pedang orang telah menusuk sampai di depan dadanya, cepat Kwe Ceng papaki senjata musuh dengan sekali jentikan jarinya. Sungguh hebat sekali tenaga jarinya, dengan mengeluarkan suara “creng” yang nyaring, tiba-tiba imam jangkung itu merasakan genggamannya terguncang, pedangnya mencelat ke udara. Dalam kaget dan gugupnya lekas ia melompat keluar dari kalangan pertempuran.
Di lain pihak, tidak sampai menunggu pedangnya jatuh ke bawah, terdengar suara nyaring tiga kali, susul menyusul Kwe Ceng menjentik, maka pedang ketiga Imam yang lain senasib sama, semua kena disentil terbang ke angkasa.
“Bagus!” teriak Yo Ko kegirangan oleh kepandaian sang paman ini. “Nah, sekarang kalian mau bercaya tidak?” demikian ia tegur para imam itu.
Sebenarnya setiap Kwe Ceng bergebrak selalu memberi kelonggaran dan berlaku murah hati pada pihak lawan, tetapi kini karena marah pada imam jangkung yang menyerang dengan kiam-hoat yang sifatnya rendah, maka ia unjuk tenaga sentilan jari yang lihay.
Ilmu kepandaian menjentik dengan jari ini sesunguhnya adalah kepandaian tunggal yang sangat dirahasiakan oleh Oey Yok-su, ayah Oey Yong. Namun Kwe Ceng sudah tinggal beberapa tahun di Tho-hoa-to bersama bapak mertuanya, maka ia sudah mewarisi seluruh kepandaiannya, ditambah pula tenaga Kwe Ceng yang telah terlatih sedemikian tingginya, sudah tentu tenaga sentilannya bukan main hebatnya. Sebaliknya meski pedang sudah terpental dari tangan mereka, keempat imam tadi masih belum tahu pihak lawan menggunakan ilmu silat apa.
“Cayhe adalah Kwe Ceng dari Tho-hoa-to dan ingin naik ke atas gunung untuk menjumpai Khu-cin-jin,” demikian kata Kwe Ceng sambil maju memberi hormat.
Untuk sementara tiada satu pun dari empat imam itu yang menjawab. Kemudian satu di antaranya yang berperawakan jangkung lantas melangkah maju.
“Hmm, Kwe-tayhiap namanya dikenal di seluruh jagat, menantu Oey-locianpwe dari Tho-hoa-to, mana bisa dia begini tak kenal malu seperti kau ini, lekaslah kau enyah turun gunung saja.” demikian kata imam itu dengan tertawa dingin.
“Aneh, dalam hal apakah aku tidak kenal malu?” demikian Kwe Ceng membatin. Namun dia coba sabarkan diri, lantas berkata lagi:
“Cayhe betul-betul Kwe Ceng adanya, harap kalian memberi jalan, soal ini tentu akan menjadi jelas kalau sudah berhadapan dengan Khu-cin-jin.”
Namun imam jangkung ini masih tidak mau mengerti, bahkan ia membentak. “Hmm, kau berani main gila dan pamer kepandaian ke Cong-lam-san, mungkin kau sudah bosan hidup,” damperatnya. “Hm, kalau kau tidak diberi sedikit rasa, mungkin kau menyangka semua imam yang tinggal di Tiong-yang-kiong adalah manusia-manusia tak berguna semua.”
Ia mendamperat orang dengan kata-kata yang juga menyindir kedua imam pendek dan kurus tadi. Sesudah berkata, segera ia melangkah maju, pedangnya bergerak dengan tipu hun-hoa-hud-liu atau memetik bunga mengebut pohon Liu, tiba-tiba menusuk pinggang Kwe Ceng. Melihat orang tanpa sebab dan tanpa alasan terus menyerang, diam-diam Kwe Ceng merasa aneh.
“Sudah belasan tahun aku tidak berkecimpung di kalangan Kangouw, semua peraturan rupanya sudah berubah?” demikian ia heran. Berbareng pula ia menghindar tusukan tadi, ia pikir berkelit saja dahulu untuk kemudian ajak orang bicara baik-baik.
Di luar dugaan, ketiga imam lainnya segera mengerubut maju, mereka kepung Kwe Ceng dan Yo Ko di tengah-tengah.
“Apakah yang Si-wi (tuan berempat) inginkan? Cara bagaimana mau percaya bahwa Cayhe betul2 adalah Kwe Ceng?” seru Kwe Ceng sebelum membalas serangan orang.
“Kecuali kalau kau mampu merebut pedang di tanganku ini!” bentak imam jangkung tadi. Sambil berkata, kembali dia menusuk, sekali ini mengarah dada Kwe Ceng, cara menyerangnya seenaknya saja se-akan-akan tidak pandang sebelah mata pada lawannya. Tentu saja akhirnya Kwe Ceng marah juga, “Untuk merebut pedangmu, apa susahnya?” demikian ia pikir.
Sementara itu pedang orang telah menusuk sampai di depan dadanya, cepat Kwe Ceng papaki senjata musuh dengan sekali jentikan jarinya. Sungguh hebat sekali tenaga jarinya, dengan mengeluarkan suara “creng” yang nyaring, tiba-tiba imam jangkung itu merasakan genggamannya terguncang, pedangnya mencelat ke udara. Dalam kaget dan gugupnya lekas ia melompat keluar dari kalangan pertempuran.
Di lain pihak, tidak sampai menunggu pedangnya jatuh ke bawah, terdengar suara nyaring tiga kali, susul menyusul Kwe Ceng menjentik, maka pedang ketiga Imam yang lain senasib sama, semua kena disentil terbang ke angkasa.
“Bagus!” teriak Yo Ko kegirangan oleh kepandaian sang paman ini. “Nah, sekarang kalian mau bercaya tidak?” demikian ia tegur para imam itu.
Sebenarnya setiap Kwe Ceng bergebrak selalu memberi kelonggaran dan berlaku murah hati pada pihak lawan, tetapi kini karena marah pada imam jangkung yang menyerang dengan kiam-hoat yang sifatnya rendah, maka ia unjuk tenaga sentilan jari yang lihay.
Ilmu kepandaian menjentik dengan jari ini sesunguhnya adalah kepandaian tunggal yang sangat dirahasiakan oleh Oey Yok-su, ayah Oey Yong. Namun Kwe Ceng sudah tinggal beberapa tahun di Tho-hoa-to bersama bapak mertuanya, maka ia sudah mewarisi seluruh kepandaiannya, ditambah pula tenaga Kwe Ceng yang telah terlatih sedemikian tingginya, sudah tentu tenaga sentilannya bukan main hebatnya. Sebaliknya meski pedang sudah terpental dari tangan mereka, keempat imam tadi masih belum tahu pihak lawan menggunakan ilmu silat apa.
MENEMBUS BARISAN BINTANG-BINTANG
“Maling cabul ini bisa main ilmu sihir, hayo lekas lari,” seru imam jangkung ketika melihat gelagat jelek, dia mendahului angkat kaki dan disusul oleh tiga kawannya, dalam sekejap saja mereka sudah menghilang di balik batu cadas.
Tadi Kwe Ceng dimaki orang dengan kata-kata ‘maling cabul’, kini ditambahi lagi dituduh ‘bisa main ilmu sihir’, keruan ia merasa mendongkol dan terhina sekali. Watak Kwe Ceng memang jujur dan polos, semakin tidak mengerti, semakin ingin jelas semua hal-ikhwalnya.
“Ko-ji, beberapa pedang ini letakkan di atas batu dengan baik,” katanya pada Yo Ko.
Yo Ko menurut, ia ambil keempat pedang yang ditinggal lari, bersama dua pedang yang duluan tadi ia taruh di atas batu. Dalam hati mudanya sungguh tidak habis kagumnya terhadap ilmu kepandaian sang paman, mulutnya sebenarnya sudah berulang-ulang tercetus kata2: “Kwe-pepek, aku tidak ingin belajar silat pada imam busuk itu, tetapi ingin belajar padamu saja.”
Akan tetapi bila teringat pada kejadian di Tho-hoa-to yang sudah dialaminya, akhirnya dia telan kembali kata-kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan itu. Begitulah mereka melanjutkan lagi, setelah membelok dua kali, tiba-tiba tanah di depan kelihatan rada lapang, akan tetapi segera terdengar suara nyaring beradunya senjata sebagai isyarat, menyusul dari hutan di samping jalan lantas keluar tujuh orang imam dengan pedang terhunus. Melihat munculnya ketujuh imam ini dengan mengambil kedudukan di kiri empat orang dan di kanan tiga orang, segera Kwe Ceng kenal ini adalah ‘Thian-keng-pak-tau-tin’ atau barisan ilmu bintang yang sengaja dipasang, dalam hati ia terperanjat.
“Kalau harus menggempur barisan ini, agaknya rada sulit juga,” demikian ia membatin.
Oleh karena itu dia tidak berani gegabah, dengan suara perlahan dia pesan Yo Ko: “Kau sembunyilah di belakang batu besar sana, lebih jauh lebih baik, supaya perhatianku tidak terbagi dalam pertempuran ini.”
Yo Ko mengangguk, tetapi anak ini memang cerdik, tidak sudi ia unjuk lemah di hadapan para imam, maka ia berlagak lepas kolor celana sambil berkata:
“Kwe-pepek, aku pergi kencing dahulu!” sambil berkata ia putar tubuh dan lari ke belakang sebuah batu besar.
Diam-diam dalam hati Kwe Ceng bersyukur melihat kepintaran dan kecerdasan anak ini, ia mengharap hendaklah anak ini bisa menuju jalan yang benar dan jangan tersesat lagi seperti ayahnya. Ketika ia menoleh, di bawah sinar bulan yang remang-remang ia melihat ketujuh imam itu, enam yang berada di depan seperti memelihara jenggot, usia mereka pun sudah tak muda lagi, sedangkan orang ketujuh berperawakan kecil, agaknya seperti seorang To-koh atau imam wanita.
Melihat barisan ini segera Kwe Ceng paham bahwa mereka sudah menirukan cara Coan-cin-chit-cu dahulu, di antara Coan-cin-chit-cu itu memang terdapat seorang imam wanita, yakni Jing-ceng Sanjin Sun Put-ji, kini kedudukannya juga dipegang oleh seorang imam wanita.
“Apa gunanya aku terlibat dalam pertempuran dengan mereka, lebih baik cepat-cepat naik ke atas menemui Khu-cinjin lantas menjelaskan kesalahan pahaman ini,” tiba-tiba pikiran Kwe Ceng tergerak.
Karenanya, begitu bergerak, segera dia mendahului menyerobot ke sebelah kiri, dia rebut kedudukan bintang ‘Pak-kek’ (kutub utara). Melihat orang mendadak lari ke sebelah kiri, cepat imam yang menduduki tempat bintang ‘Thian-koan’ (kekuasaan langit) berteriak dengan suara tertahan. Dia kerahkan barisan bintang-bintangnya terus memutar ke kiri dengan tujuan hendak kepung Kwe Ceng di tengah.
Siapa duga, begitu ketujuh imam ini bergerak, Kwe Ceng lantas ikut bergerak juga, selalu mendahului pihak lawan untuk menduduki tempatnya. Dan begitulah seterusnya sampai beberapa kali meski para imam itu ber-ganti-ganti dengan beberapa tipu gerakan, tetapi selalu didahului Kwe Ceng, sehingga mereka kewalahan dan serba salah.
Hendaklah diketahui bahwa ‘Thian-keng-pak-tau-tin’ ini merupakan ilmu kepandaian tertinggi dari kaum Coan-cin-kau, barisan yang teratur rapi dan dilakukan tujuh orang, sekali pun lawannya beratus atau beribu orang dapat pula ditahan.
Akan tetapi dihadapan Kwe Ceng, barisan bintang yang hebat ini ternyata tiada gunanya, sebab Kwe Ceng sudah paham akan ilmu barisan bintang ini, apa lagi ketujuh imam ini hanya anak murid Coan-cin-kau angkatan muda. Jika barisan ini dipasang dengan Coan-cin-chit-cu, mungkin Kwe Ceng tidak gampang merebut tempat kedudukan sesukanya.
Oleh karenanya, meski barisan para imam itu sudah ber-ubah beberapa kali gerak tipu, sebenarnya sekali pukul Kwe Ceng bisa bikin kocar-kacir barisan lawan, namun dia sengaja membodoh dan pura-pura tak mengerti, dengan ke-tolol-tololan sengaja berdiri menjublek di tempatnya, hanya kalau barisan orang itu bergerak, maka segera ia ikut menggeser.
Begitulah sampai lama sekali, walau pun si imam yang menjadi poros barisan bintang sudah beberapa kali bergerak dengan cepat, namun tetap tidak berhasil mengepung Kwe Ceng. Dalam terkejutnya imam itu menjadi marah, dia tidak mau menyerah mentah-mentah, segera putar barisannya dengan cepat.
Melihat pertarungan yang ramai, yang paling senang adalah Yo Ko. Ia melihat ketujuh imam itu seperti orang gila saja berIari-lari cepat mengitari Kwe Ceng, sebaliknya dengan tenang saja Kwe Ceng melangkah beberapa tindak ke kiri atau ke kanan, ke timur atau ke barat menurut keadaan musuh. Sejak semula sampai akhir ketujuh imam itu ternyata tak berani sembarang menyerang dengan senjata mereka, makin menonton semakin ketarik hingga saking senangnya Yo Ko bertepuk tangan.
Sementara itu tiba-tiba terdengar Kwe Ceng berseru: “Maaf!”
Mendadak dia menyerobot cepat dua langkah ke kiri. Sekarang barisan bintang berbalik di bawah pengaruh gerakannya, maka Kwe Ceng cepat menyerobot. Apa bila tujuh imam itu tidak ikut menggeser ke arah yang sama, tentu mereka harus menghadapi bahaya yang dapat mengancam jiwa. Oleh karena itu terpaksa ketujuh imam ini harus mengikuti gerak arah Kwe Ceng.
Dengan begitu maka tujuh imam ini sudah terjeblos dalam keadaan tak dapat melepaskan diri lagi, kemana pun Kwe Ceng pergi, ketujuh orang ikut ke sana, Kwe Ceng cepat, para imam pun cepat dan kalau lambat mereka turut lambat.
Di antara ketujuh imam ini rupanya kepandaian To-koh atau imam wanita itu yang paling cetek. Setelah dibawa putar belasan kali oleh Kwe Ceng, ia sudah merasa kepalanya pusing dan napas ter-sengal-sengal, tampaknya segera akan terbanting jatuh. Tetapi ia pun insaf, jika barisan bintang kehilangan seorang saja, maka seketika akan menjadi pincang dan daya pertahanan mereka akan segera runtuh. Dalam keadaan terpaksa ia hanya bisa mengertak gigi bertahan sekuatnya.
Walau pun usia Kwe Ceng boleh dibilang tidak muda lagi, tapi semenjak ia tirakat di Tho-hoa-to bersama isterinya Oey Yong, paling akhir ini sudah jarang bergaul dengan dunia luar, selama itu pula hati kanak-kanak-nya ternyata belum hilang. Kini melihat ketujuh imam itu dapat dipancing hingga berlari-larian, ia menjadi senang dan timbul kembali hati mudanya.
“Hari ini tanpa sebab tanpa alasan kalian mendamperat padaku, kalian mencaci aku sebagai maling cabul, menuduh aku menggunakan ilmu sihir, kini kalau aku tidak betul-betul unjuk sedikit ilmu sihir kepada kalian, mungkin kalian sangka aku boleh dihina begitu saja,” demikian ia pikir.
Oleh karena itu ia lantas berteriak pada Yo Ko: “Lihat Ko-Ji, saksikan ilmu sihir yang aku keluarkan ini!” Mendadak dengan sekali loncat, ia melompat ke atas batu cadas.
Ketujuh imam itu kini sudah berada di bawah pengaruh Kwe Ceng, maka begitu dia loncat ke atas batu, kalau ketujuh imam ini tidak ikut meloncat, segera titik kelemahan barisan mereka akan terlihat. Karena itu di antara mereka ada beberapa imam yang menjadi ragu-ragu, namun imam yang menduduki tempat Thian-koan atau pemimpinnya, dengan sekali bersuit segera ia pimpin barisannya melompat ke atas.
Di luar dugaan, belum sampai mereka menancapkan kaki di atas, se-konyong-konyong Kwe Ceng melompat turun lagi, lantas ganti tempat yang lain. Keruan terpaksa para imam itu memburu dan meniru. Demikianlah seterusnya terjadi uber-uberan, sampai akhirnya tiba-tiba Kwe Ceng meloncat ke atas puncak pohon.
“Sungguh celaka, entah dari mana munculnya iblis semacam dia ini, pamor Coan-cin-kau hari ini pasti akan runtuh seluruhnya,” demikian diam-diam para imam itu mengeluh.
Sekali pun di dalam hati mereka berpikir, tetapi kaki mereka tidak berani berhenti, masing-masing mencari dahan pohon yang bisa dibuat singgah dan terus ikut meloncat ke atas.
“Lebih baik di bawah saja!”
Kwe Ceng menggoda dengan ketawa dan betul saja dia lantas lompat turun lagi, bahkan berbareng dia ulur tangan hendak menjambret kaki imam yang menduduki tempat Khay-yang.
Sesungguhnya letak kelihayan Pak-tau-tin atau barisan bintang itu adalah karena dapat bahu-membahu dengan kerja sama yang sangat rapat. Kini Kwe Ceng menyerang satu tempat, otomatis dua imam yang menduduki tempat serangkaian terpaksa melompat turun buat membantu dan karena turunnya yang dua ini, mau tidak mau imam yang lain ikut turun pula dan dengan demikian seluruh barisan menjadi terpengaruh.
Yang paling senang karena pertarungan ramai ini adalah Yo Ko. Dia terpesona dalam girang tercampur kejut, Katanya dalam hati: “Bila mana pada suatu hari aku dapat belajar hingga sehebat kepandaian Kwe-pepek, sekali pun seumur hidupku harus menderita aku rela.”
Akan tetapi lantas terpikir pula: “Namun seumur hidupku ini mana bisa belajar kepandaian setinggi ini kecuali si budak Kwe Hu dan kedua saudara Bu yang beruntung, Hm, sudah jelas ia (maksudnya Kwe Ceng) tahu kepandaian orang Coan-cin-kau jauh di bawahnya, tapi ia justru sengaja kirim aku belajar silat pada imam-imam busuk ini.”
Begitulah makin dipikir Yo Ko semakin dongkol hingga ia berpaling ke jurusan lain, ia tidak mau melihat Kwe Ceng mempermainkan ketujuh imam tadi. Akan tetapi sifat anak-anak mana bisa tahan lama, tidak berapa lama dia menjadi kepingin tahu apa jadinya dengan imam-imam yang digoda itu, maka tak tahan lagi ia berpaling kembali untuk menyaksikan pertempuran ramai dan lucu.
Sementara itu, sesudah puas mempermainkan para imam, diam-diam Kwe Ceng berpikir: “Setelah begini tentunya mereka percaya bahwa aku betul-betul Kwe Ceng, jadi orang hendaklah jangan keterlaluan harus jaga kebaikan di hadapan Khu-cin-jin nanti.”
Sementara itu ia sedang menggoda ketujuh imam tadi hingga ia pun putar kayun dengan kencang. Mendadak dia berdiri diam sambil Kiongciu serta berkata:
“Tujuh To-heng, maaf, sekarang silahkan menunjukkan jalan.”
Di luar dugaan, imam yang menduduki tempat Thian-koan dan menjadi pemimpin tadi ternyata berwatak sangat keras. Karena melihat ilmu silat lawannya semakin kuat, ia jadi semakin yakin orang pasti tidak bermaksud baik terhadap perguruan mereka, maka meski menghadapi musuh setangguh ini, sama sekali ia pantang mundur.
“Hmm, maling cabul,” demikian segera ia menjawab dengan suara lantang, “Coan-cin-kau paling benci pada segala perbuatan kejahatan, maka se-kali-kali jangan kau harap bisa melakukan perbuatan yang tidak tahu malu di Cong-lam-san!”
Kwe Ceng bingung oleh damperatan yang tak keruan juntrungannya ini, “Apa perbuatanku yang tidak kenal malu?” demikian ia tanya.
“Hmm, pura-pura bodoh.” jengek imam Thian-koan itu. “Melihat kepandaianmu yang tinggi, tentunya kau bukan sebangsa manusia yang suka berbuat kotor, aku nasehati kau, lekas kau turun kembali sana!”
Meski imam ini masih mendamperat, tetapi di balik kata-kata yang diucapkan ini dia telah unjuk juga rasa kagumnya terhadap ilmu kepandaian Kwe Ceng.
“Jauh-jauh Cayhe sengaja datang dari selatan dan ingin bertemu Khu-cinjin untuk sesuatu keperluan, sebelum bertemu mana bisa aku kembali turun gunung?” demikian jawab Kwe Ceng.
Mendengar jawaban ini, air muka imam Thian-koan itu berubah hebat. “Hmm, jadi kau ingin bertemu dengan Khu-cinjin? Baiklah, coba katakan, sebenarnya ada urusan apa?” tanyanya dengan dingin.
“Semenjak kecil Cayhe menerima budi besar dari Ma-cinjin dan Khu-cinjin, karena sudah belasan tahun tidak bertemu, maka aku menjadi kangen sekali,” sahut Kwe Ceng.
Namun jawaban ini ternyata makin menambah sikap permusuhan dari imam itu. Kiranya soal ‘budi’ dan ‘dendam’ dalam kalangan Kangouw paling diutamakan, sering kali karena soal sakit hati, di mulut dia bilang datang balas budi padahal yang benar maksudnya hendak membalas dendam. Imam Thian-koan itu suka memegang teguh pandangannya sendiri, maka kata-kata Kwe Ceng yang diucapkan dengan setulus hati justru diterima kebalikannya.
“Jangan-jangan guruku Giok-yang Cinjin juga kau katakan ada budi padamu,” demikian ia menjengek lagi.
Karena kata-kata ini Kwe Ceng jadi ingat pada masa yang silam, masa mudanya dengan peristiwa yang terjadi di istana Thio-ong-hu, di mana Giok-yang-cu (atau Giok-yang Cinjin) Ong Ju-it tanpa pikirkan bahaya sudah menandingi gerombolan musuh yang jauh lebih banyak untuk menolong dirinya, atas kejadian itu memang tidak sedikit budi yang dia terima dari Ong Ju-it. Oleh sebab ini tanpa ragu-ragu lagi ia lantas menjawab:
“O, kiranya To-heng adalah murid Giok-yang Cinjin. Memang betul juga Ong-cinjin ada budi terhadap Cayhe, bila dia juga berada di atas gunung, sudah tentu akan lebih baik lagi.”
Di luar dugaan, tujuh imam ini malah menjadi marah, dengan suara bentakan yang murka senjata mereka langsung menyambar, dengan cepat menyerang tujuh tempat di tubuh Kwe Ceng secara serentak.
Akan tetapi mana bisa Kwe Ceng diserang secara gampang. Dengan sedikit mengegos ia sudah melangkah ke samping, kembali duduki tempat bintang Pak-kek atau kutub utara yang menjadi kelemahan barisan para imam itu.
“He, mari bicara dahulu,” demikian dia teriaki imam-imam Coan-cin-kau ini, “Cayhe Kwe Ceng sama sekali tidak mengandung maksud jahat, dengan cara bagaimana kalian mau percaya bahwa aku benar-benar Kwe Ceng adanya?”
“Kau sudah merebut enam pedang anak murid Coan-cin-kau, mengapa tidak sekalian merampas lagi tujuh pedang kami?” sahut imam Thian-coan.
Sementara itu imam yang menduduki tempat Thian-koan yang semenjak tadi sebetulnya tutup mulut saja, kini mendadak ikut menyela dengan suara yang pecah.
“Maling cabul anjing, rupanya kau hendak pamer kepandaian di hadapan sundel kecil keluarga Liong itu? Hm, apa kau kira Coan-cin-kau gampang kau hina?” demikian ia mencaci maki.
Keruan Kwe Ceng menjadi marah. “Apa kau bilang?” sahutnya dengan muka merah. “Nona keluarga Liong? Siapa dia? Aku Kwe Ceng selamanya tidak pernah kenal dia.”
“Ha-ha, jika kau berani, kenapa kau tidak memaki dia sebagai perempuan busuk, sebagai sundel cilik!” kata imam Thian-koan pula dengan bergelak tawa.
Mendengar orang mengumbar kata-kata kotor, Kwe Ceng menjadi tertegun. Dasarnya dia memang jujur dan patuh pula adat peraturan, dia pikir wanita she Liong yang disebut itu entah orang macam apakah, mana boleh tanpa sebab dan alasan aku mencaci makinya. Karena pikiran ini, ia lantas menjawab:
“Kenapa aku harus memaki dia?”
“Ha-ha-ha!” beberapa imam itu tertawa berbareng “Nah, bukankah kau sudah mengaku sendiri?”
Dasar Kwe Ceng memang tak pandai menggunakan otak, kini orang secara serampangan memaksakan tuduhan padanya, semakin lama dia merasa semakin ruwet. Ia hanya pikir dengan paksa terjang saja ke Tiong-yang-kiong untuk menemui Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, tentu segala urusan akan menjadi beres.
“Kini Cayhe akan naik ke atas, jika kalian merintangi lagi, jangan kalian menyesali Cayhe tidak segan-segan,” dengan dingin ia memberi peringatan.
Tapi ketujuh imam itu tiba-tiba melangkah maju setindak dengan senjata siap sedia. “Jangan kau pakai ilmu sihir, kita boleh coba ukur kepandaian dalam ilmu sejati,” dengan suara keras imam Thian-soan tadi menantang.
Kwe Ceng hanya tertawa, segera ia mengambil satu keputusan, maka ia lalu menjawab:
“Aku justru hendak unjuk sedikit ilmu sihir pada kalian, tanpa tanganku menyentuh senjata kalian sedikit pun aku, sanggup merampas ketujuh pedang kalian.”
Ketujuh imam itu saling pandang, dari wajah mereka tampak perasaan tidak percaya. “Bagus, kami akan coba-coba ilmu kepandaianmu dalam hal tendangan,” seru salah satu imam.
“Aku pun tidak perlu menggunakan kaki,” sahut Kwe Ceng, “Pendek kata tidak akan aku menyenggoI barang sedikit pun senjata mau pun anggota badan kalian, tapi senjata kalian akan kurampas. Apa bila sampai tersentuh, anggap saja aku kalah dan segera aku turun gunung untuk selamanya tidak akan naik ke sini lagi.”
Mendengar orang membuka mulut besar, ketujuh imam itu menjadi marah. Tanpa menanti lagi, begitu imam Thian-koan menggerakkan pedangnya, segera ia bawa barisannya mengerubut maju.
Tapi dengan kepala menunduk Kwe Ceng lantas menerjang dengan cepat. Ia menduduki titik bintang Pak-kek lagi kemudian dengan langkah cepat mengarah ke kiri, ia menyerang sayap kiri barisan para imam.
Imam Thian-koan yang menjadi pemimpin barisan kenal lihaynya orang, maka lekas dia bawa barisannya memutar ke kanan, dengan maksud supaya dapat berhadapan dengan Kwe Ceng dan supaya kelemahan barisannya tidak kentara.
Diluar dugaan, sekali Kwe Ceng mengincar sayap kiri, tetap dia serang bagian kiri dan tidak putar balik. Meski kadang-kadang cepat dan kadang lambat, tetap ia berlari mengincar bagian kiri, oleh karena dia bisa menduduki tempat bintang Pak-kek dengan kukuh. Mau tidak mau ketujuh imam itu harus ikut memutar ke kiri juga.
Begitulah makin lari semakin cepat pula Kwe Ceng menguber, sampai akhirnya kecepatan larinya boleh dikatakan melebihi kuda, makin lama semakin luas pula tempat yang dibuat berputaran sehingga berupa satu lingkaran selebar belasan tombak.
Tetapi ketujuh imam ini tergolong tidak lemah juga. Meski mereka dipaksa berada dalam kedudukan yang terbalik dipengaruhi orang, tapi barisan mereka sedikit pun belum kacau. Mereka bertujuh masih menduduki tempatnya masing-masing dengan kuat dan mantap, hanya tubuh mereka saja yang tidak bisa dikuasai lagi masih terus ikut lari terbawa oleh Kwe Ceng.
Diam-diam Kwe Ceng harus puji juga keuletan tujuh imam Coan-cin-kau ini, maka langkahnya tak pernah dia kendurkan, tiba-tiba dia malah pergiat kakinya hingga berlari memutar sepertii roda angin saja.
Mula-mula ketujuh imam itu masih bisa paksakan diri ikut berlari terus, tetapi lama kelamaan Ginkang atau ilmu entengkan tubuh imam-imam itu lantas tertampak. Imam Thian-koan paling tinggi Ginkang-nya, ia lari paling depan dan disusul dengan imam yang menduduki tempat Thian-ki dan Thian-heng, sedang imam yang lain per-lahan-lahan menjadi ketinggalan hingga barisan mereka lambat laun makin renggang, Tentu saja mereka terperanjat, pikir mereka: “Jika musuh mau menggempur barisan kita pada saat ini mungkin barisan bintang ini tidak bisa dipertahankan lagi.”
Walau pun mereka sudah tahu bakal celaka, namun karena sudah terlanjur, mereka tidak pikirkan hal lain lagi, hanya bisa berbuat sepenuh tenaga dan keluarkan seluruh kepandaian untuk lari lebih cepat mengikuti Kwe Ceng yang masih terus berputar.
Sebagai contoh dapat dilukiskan, umpama kita ikat sepotong batu dengan seutas tali kemudian kita putar secepat mungkin, di waktu batu berputar kencang dan mendadak kita lepaskan, maka batu itu pasti akan mencelat jauh bersama tali pengikatnya.
Sama halnya sekarang dengan ketujuh imam itu. Mereka sudah dipengaruhi Kwe Ceng yang makin putar semakin cepat sampai pedang mereka terangkat di atas kepala, makin cepat mereka berlari, makin tidak kuat memegang pedang mereka seakan-akan ada satu tenaga maha besar yang menariknya dan hendak merebut pedang dari tangan mereka.
“Lepas!” se-konyong-konyong terdengar Kwe Ceng membentak. Berbareng ia meloncat cepat ke kiri.
Oleh karena tidak men-duga akan kejadian ini, ketika imam-imam itu mendadak melihat Kwe Ceng meloncat ke atas, terpaksa mereka harus turut melompat ke atas juga. Dan aneh, entah mengapa ketujuh pedang yang mereka pegang semuanya tidak mampu mereka pertahankan lagi, seluruhnya terlepas dari cekalan, lalu seperti tujuh ular perak saja ketujuh pedang itu menyamber ke dalam hutan yang berjarak belasan tombak jauhnya.
Sementara itu mendadak pula Kwe Ceng sudah berdiri tegak, dengan ketawa kemudian ia berpaling. Sebaliknya wajah ke tujuh imam itu menjadi pucat seperti mayat, mereka berdiri terpaku di tempatnya, hanya masing-masing tetap menduduki tempat barisannya, barisan mereka sama sekali belum menjadi kacau. Melihat keadaan ini diam-diam Kwe Ceng memuji atas kegigihan imam-imam ini.
Sementara imam Thian-koat tadi tiba-tiba bersuit satu kali, menyusul semuanya lantas mundur ke belakang batu-batu cadas dan menghilang.
“Ko-ji, marilah sekarang kita naik gunung,” teriak Kwe Ceng.
Tapi meski sudah dua kali ia memanggil, belum juga ada sahutan dari Yo Ko, waktu ia coba mencari namun bayangan Yo Ko sudah tidak tampak lagi, yang dia ketemukan hanya sebuah sepatu kecil yang ketinggalan di semak di belakang pohon.
Tentu saja Kwe Ceng terkejut. Ia mengerti ada orang lain yang mengintai di samping dan telah menculik si Yo Ko. Akan tetapi bila dia pikir para imam tadi hanya salah paham saja terhadap dirinya, lagi pula Coan-cing-kau selamanya suka bantu yang lemah dan berantas kejahatan, tidak mungkin anak kecil dibikin susah oleh mereka, maka dia tidak menjadi kuatir lagi. Dengan kumpulkan tenaganya, segera ia berlari cepat mendaki ke atas.
Sudah belasan tahun Kwe Ceng tirakat di Thoa-hoa-to, meski pun setiap hari ia tetap berlatih diri, akan tetapi sudah sekian lamanya belum pernah ia bergebrak dengan orang, karena itu kadang-kadang dia merasa kesepian. Kini kebetulan bisa bergebrak seru dengan para imam, maka diam-diam ia merasa cukup puas.
Sementara jalanan pegunungan semakin sulit ditempuh, tak berapa lama, bahkan awan hitam menutup raut sang dewi malam, mendadak udara pegunungan cerah menjadi gelap guIita, Karena keadaan ini, Kwe Ceng menjadi ragu, ia pikir: “Tempat ini aku belum apal, jangan-jangan para To-heng itu main tipu muslihat, betapa pun aku harus waspada.”
Karenanya ia lantas lambatkan langkahnya, ia berjalan perlahan saja. Sesudah maju lagi, tiba-tiba awan hitam tadi terpencar di tiup angit, rembulan memancarkan sinarnya dengan terang benderang, dan ia mendengar di balik gunung sana sayup-sayup ada suara napas orang yang hampir ratusan banyaknya. Meski pun suara napas itu amat perlahan, tetapi karena jumlah orangnya banyak, maka Kwe Ceng dapat mengetahuinya. Tapi ia tidak menjadi gentar. Setelah kencangkan ikat pinggangnya, segera ia melanjutkan perjalanan, dan sesudah melintasi satu lereng gunung, tiba-tiba ia menjadi kaget.
Kiranya di depannya terdapat satu lapangan yang amat luas dengan sekelilingnya dikitari gunung-gunung, keadaannya amat angker dan bagus sekali. Di bawah gunung di mana terdapat lapangan luas itu terdapat pula satu kolam besar, karena sorotan cahaya bulan, maka air kolam menjadi berkelap-kelip kemilauan. Di depan kolam besar itu nampak ratusan imam yang berdiri berpencaran. Para imam ini semuanya memakai kopiah kuning dan jubah kelabu, tangan mereka menghunus pedang, sinar pedang yang gemerlapan menyilaukan mata.
Ketika Kwe Ceng mengawasi kiranya para imam itu tiap-tiap tujuh orang tergabung menjadi satu kelompok sehingga seluruhnya ada empat belas barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin. Tiap-tiap tujuh Pak-tau-tin kecil ini terbentuk pula menjadi sebuah Pak-tau-tin yang besar, sungguh hebat sekali keadaan barisan bintang raksasa ini, karena itu diam-diam Kwe Ceng berkuatir.
Sementara itu tiba-tiba terdengar satu imam dalam barisan raksasa itu bersuit, habis ini ke-98 imam itu dengan cepat terpencar, ada yang di depan ada yang di belakang, sekaligus berubahlah barisan bintang mereka dan segera Kwe Ceng terkurung di-tengah-tengah. Tiap-tiap imam siap sedia dengan pedang terhunus, mereka memandang dengan mata yang tak berkedip dan semuanya bungkam.
“Dengan hati tulus Cayhe mohon bertemu Khu-cinjin, maka harap para To-heng jangan merintangi,” segera Kwe Ceng menyapa dengan memberi hormat.
“llmu kepandaianmu cukup hebat, mengapa kau tidak tahu harga diri dan mau berkomplot dengan kaum siluman? Hendaklah kau cepat-cepat insaf bahwa selamanya wanita suka menyesatkan orang. Sayang kalau puluhan tahun latihan kepandaianmu hanya dibuang dalam sekejap saja!” demikianlah imam berjenggot panjang dalam barisan itu menjawab.
Nada suaranya rendah, tetapi setiap kata diucapkannya dengan jelas, suatu tanda tenaga dalamnya sudah kuat sekali, lagu kata-katanya juga sungguh-sungguh nyata ia menasihati orang dengan setulus hati.
Sudah tentu Kwe Ceng merasa geli dan mendongkol. Pikirnya di dalam hati: “Para imam hidung kerbau ini entah anggap aku ini manusia macam apa? Coba kalau Yong-ji berada di sampingku, pasti tidak akan terjadi kesalah pahaman seperti sekarang ini.”
Oleh karena itu dia lantas menyahut: “Siluman apa dan wanita apa yang kau maksudkan? Sungguh Cayhe sama sekali tidak tahu-menahu. Kalau Cayhe bertemu dulu dengan Khu-cinjin, tentu segalanya akan menjadi terang.”
“Kau bisa bertemu beliau kalau mampu memboboIkan Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau kami ini,” kata imam berjenggot panjang tadi.
“Cayhe hanya seorang diri, ilmu kepandaianku terlalu rendah, mana berani melawan ilmu mukjijat kalian? Harap saja anak yang aku bawa itu dibebaskan dan silakan memberi kesempatan kepadaku buat menemui Khu-cin-jin,” sahut Kwe Ceng.
“Hm, kau masih coba berlagak dan putar lidah? Di depan Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san ini mana boleh kau maling cabul ini berbuat tidak semena-mena?” mendadak imam jenggot panjang membentak. Habis ini pedangnya memutar ke atas dengan membawa sambaran angin yang santer hingga menerbitkan suara ngaungan yang bergema.
Karena inilah imam yang lain serentak gerakan senjata, sekaligus 98 batang pedang berputar kian kemari sehingga menerbitkan angin yang keras, sinar pedang yang berpantulan tersusun seperti satu jaringan sinar perak. Diam-diam Kwe Ceng mengeluh oleh susunan barisan bintang ini, ia pikir dengan seorang diri mana mungkin bisa menandingi lawan yang begitu banyak?
Sementara itu sebelum dia dapat mengambil keputusan, ke-98 imam itu sudah merubung maju dari dua belah sisi, sinar pedang mereka menyambar rapat hingga boleh dikatakan lalat saja sukar menerobos.
“Hayo, senjata apa yang akan kau pakai, lekas keluarkan!” terdengar si imam jenggot panjang membentak.
“Rupanya barisan Pak-tau-tin mereka tak gampang dipecahkan, tapi jika hendak membuat aku celaka, rasanya mereka juga tidak akan mampu. Biarlah aku melihat cara bagaimana permainan barisan ini,” demikian Kwe Ceng membatin.
Maka dengan se-konyong-konyong ia memutar pergi, ia berlari menduduki tempat di ujung barat-daya, berbareng keluarkan tipu pukulan ‘ciam-liong-bat-yong’ atau naga selulup jangan digunakan, satu tipu pukulan yang lihay dari ilmu pukulan ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ (ilmu pukulan penakluk naga) yang meliputi delapan belas jurus. Sekali tangannya diulur lalu ditarik pula terus mendadak didorong lagi ke samping.
Tadi Kwe Ceng dimaki orang dengan kata-kata ‘maling cabul’, kini ditambahi lagi dituduh ‘bisa main ilmu sihir’, keruan ia merasa mendongkol dan terhina sekali. Watak Kwe Ceng memang jujur dan polos, semakin tidak mengerti, semakin ingin jelas semua hal-ikhwalnya.
“Ko-ji, beberapa pedang ini letakkan di atas batu dengan baik,” katanya pada Yo Ko.
Yo Ko menurut, ia ambil keempat pedang yang ditinggal lari, bersama dua pedang yang duluan tadi ia taruh di atas batu. Dalam hati mudanya sungguh tidak habis kagumnya terhadap ilmu kepandaian sang paman, mulutnya sebenarnya sudah berulang-ulang tercetus kata2: “Kwe-pepek, aku tidak ingin belajar silat pada imam busuk itu, tetapi ingin belajar padamu saja.”
Akan tetapi bila teringat pada kejadian di Tho-hoa-to yang sudah dialaminya, akhirnya dia telan kembali kata-kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan itu. Begitulah mereka melanjutkan lagi, setelah membelok dua kali, tiba-tiba tanah di depan kelihatan rada lapang, akan tetapi segera terdengar suara nyaring beradunya senjata sebagai isyarat, menyusul dari hutan di samping jalan lantas keluar tujuh orang imam dengan pedang terhunus. Melihat munculnya ketujuh imam ini dengan mengambil kedudukan di kiri empat orang dan di kanan tiga orang, segera Kwe Ceng kenal ini adalah ‘Thian-keng-pak-tau-tin’ atau barisan ilmu bintang yang sengaja dipasang, dalam hati ia terperanjat.
“Kalau harus menggempur barisan ini, agaknya rada sulit juga,” demikian ia membatin.
Oleh karena itu dia tidak berani gegabah, dengan suara perlahan dia pesan Yo Ko: “Kau sembunyilah di belakang batu besar sana, lebih jauh lebih baik, supaya perhatianku tidak terbagi dalam pertempuran ini.”
Yo Ko mengangguk, tetapi anak ini memang cerdik, tidak sudi ia unjuk lemah di hadapan para imam, maka ia berlagak lepas kolor celana sambil berkata:
“Kwe-pepek, aku pergi kencing dahulu!” sambil berkata ia putar tubuh dan lari ke belakang sebuah batu besar.
Diam-diam dalam hati Kwe Ceng bersyukur melihat kepintaran dan kecerdasan anak ini, ia mengharap hendaklah anak ini bisa menuju jalan yang benar dan jangan tersesat lagi seperti ayahnya. Ketika ia menoleh, di bawah sinar bulan yang remang-remang ia melihat ketujuh imam itu, enam yang berada di depan seperti memelihara jenggot, usia mereka pun sudah tak muda lagi, sedangkan orang ketujuh berperawakan kecil, agaknya seperti seorang To-koh atau imam wanita.
Melihat barisan ini segera Kwe Ceng paham bahwa mereka sudah menirukan cara Coan-cin-chit-cu dahulu, di antara Coan-cin-chit-cu itu memang terdapat seorang imam wanita, yakni Jing-ceng Sanjin Sun Put-ji, kini kedudukannya juga dipegang oleh seorang imam wanita.
“Apa gunanya aku terlibat dalam pertempuran dengan mereka, lebih baik cepat-cepat naik ke atas menemui Khu-cinjin lantas menjelaskan kesalahan pahaman ini,” tiba-tiba pikiran Kwe Ceng tergerak.
Karenanya, begitu bergerak, segera dia mendahului menyerobot ke sebelah kiri, dia rebut kedudukan bintang ‘Pak-kek’ (kutub utara). Melihat orang mendadak lari ke sebelah kiri, cepat imam yang menduduki tempat bintang ‘Thian-koan’ (kekuasaan langit) berteriak dengan suara tertahan. Dia kerahkan barisan bintang-bintangnya terus memutar ke kiri dengan tujuan hendak kepung Kwe Ceng di tengah.
Siapa duga, begitu ketujuh imam ini bergerak, Kwe Ceng lantas ikut bergerak juga, selalu mendahului pihak lawan untuk menduduki tempatnya. Dan begitulah seterusnya sampai beberapa kali meski para imam itu ber-ganti-ganti dengan beberapa tipu gerakan, tetapi selalu didahului Kwe Ceng, sehingga mereka kewalahan dan serba salah.
Hendaklah diketahui bahwa ‘Thian-keng-pak-tau-tin’ ini merupakan ilmu kepandaian tertinggi dari kaum Coan-cin-kau, barisan yang teratur rapi dan dilakukan tujuh orang, sekali pun lawannya beratus atau beribu orang dapat pula ditahan.
Akan tetapi dihadapan Kwe Ceng, barisan bintang yang hebat ini ternyata tiada gunanya, sebab Kwe Ceng sudah paham akan ilmu barisan bintang ini, apa lagi ketujuh imam ini hanya anak murid Coan-cin-kau angkatan muda. Jika barisan ini dipasang dengan Coan-cin-chit-cu, mungkin Kwe Ceng tidak gampang merebut tempat kedudukan sesukanya.
Oleh karenanya, meski barisan para imam itu sudah ber-ubah beberapa kali gerak tipu, sebenarnya sekali pukul Kwe Ceng bisa bikin kocar-kacir barisan lawan, namun dia sengaja membodoh dan pura-pura tak mengerti, dengan ke-tolol-tololan sengaja berdiri menjublek di tempatnya, hanya kalau barisan orang itu bergerak, maka segera ia ikut menggeser.
Begitulah sampai lama sekali, walau pun si imam yang menjadi poros barisan bintang sudah beberapa kali bergerak dengan cepat, namun tetap tidak berhasil mengepung Kwe Ceng. Dalam terkejutnya imam itu menjadi marah, dia tidak mau menyerah mentah-mentah, segera putar barisannya dengan cepat.
Melihat pertarungan yang ramai, yang paling senang adalah Yo Ko. Ia melihat ketujuh imam itu seperti orang gila saja berIari-lari cepat mengitari Kwe Ceng, sebaliknya dengan tenang saja Kwe Ceng melangkah beberapa tindak ke kiri atau ke kanan, ke timur atau ke barat menurut keadaan musuh. Sejak semula sampai akhir ketujuh imam itu ternyata tak berani sembarang menyerang dengan senjata mereka, makin menonton semakin ketarik hingga saking senangnya Yo Ko bertepuk tangan.
Sementara itu tiba-tiba terdengar Kwe Ceng berseru: “Maaf!”
Mendadak dia menyerobot cepat dua langkah ke kiri. Sekarang barisan bintang berbalik di bawah pengaruh gerakannya, maka Kwe Ceng cepat menyerobot. Apa bila tujuh imam itu tidak ikut menggeser ke arah yang sama, tentu mereka harus menghadapi bahaya yang dapat mengancam jiwa. Oleh karena itu terpaksa ketujuh imam ini harus mengikuti gerak arah Kwe Ceng.
Dengan begitu maka tujuh imam ini sudah terjeblos dalam keadaan tak dapat melepaskan diri lagi, kemana pun Kwe Ceng pergi, ketujuh orang ikut ke sana, Kwe Ceng cepat, para imam pun cepat dan kalau lambat mereka turut lambat.
Di antara ketujuh imam ini rupanya kepandaian To-koh atau imam wanita itu yang paling cetek. Setelah dibawa putar belasan kali oleh Kwe Ceng, ia sudah merasa kepalanya pusing dan napas ter-sengal-sengal, tampaknya segera akan terbanting jatuh. Tetapi ia pun insaf, jika barisan bintang kehilangan seorang saja, maka seketika akan menjadi pincang dan daya pertahanan mereka akan segera runtuh. Dalam keadaan terpaksa ia hanya bisa mengertak gigi bertahan sekuatnya.
Walau pun usia Kwe Ceng boleh dibilang tidak muda lagi, tapi semenjak ia tirakat di Tho-hoa-to bersama isterinya Oey Yong, paling akhir ini sudah jarang bergaul dengan dunia luar, selama itu pula hati kanak-kanak-nya ternyata belum hilang. Kini melihat ketujuh imam itu dapat dipancing hingga berlari-larian, ia menjadi senang dan timbul kembali hati mudanya.
“Hari ini tanpa sebab tanpa alasan kalian mendamperat padaku, kalian mencaci aku sebagai maling cabul, menuduh aku menggunakan ilmu sihir, kini kalau aku tidak betul-betul unjuk sedikit ilmu sihir kepada kalian, mungkin kalian sangka aku boleh dihina begitu saja,” demikian ia pikir.
Oleh karena itu ia lantas berteriak pada Yo Ko: “Lihat Ko-Ji, saksikan ilmu sihir yang aku keluarkan ini!” Mendadak dengan sekali loncat, ia melompat ke atas batu cadas.
Ketujuh imam itu kini sudah berada di bawah pengaruh Kwe Ceng, maka begitu dia loncat ke atas batu, kalau ketujuh imam ini tidak ikut meloncat, segera titik kelemahan barisan mereka akan terlihat. Karena itu di antara mereka ada beberapa imam yang menjadi ragu-ragu, namun imam yang menduduki tempat Thian-koan atau pemimpinnya, dengan sekali bersuit segera ia pimpin barisannya melompat ke atas.
Di luar dugaan, belum sampai mereka menancapkan kaki di atas, se-konyong-konyong Kwe Ceng melompat turun lagi, lantas ganti tempat yang lain. Keruan terpaksa para imam itu memburu dan meniru. Demikianlah seterusnya terjadi uber-uberan, sampai akhirnya tiba-tiba Kwe Ceng meloncat ke atas puncak pohon.
“Sungguh celaka, entah dari mana munculnya iblis semacam dia ini, pamor Coan-cin-kau hari ini pasti akan runtuh seluruhnya,” demikian diam-diam para imam itu mengeluh.
Sekali pun di dalam hati mereka berpikir, tetapi kaki mereka tidak berani berhenti, masing-masing mencari dahan pohon yang bisa dibuat singgah dan terus ikut meloncat ke atas.
“Lebih baik di bawah saja!”
Kwe Ceng menggoda dengan ketawa dan betul saja dia lantas lompat turun lagi, bahkan berbareng dia ulur tangan hendak menjambret kaki imam yang menduduki tempat Khay-yang.
Sesungguhnya letak kelihayan Pak-tau-tin atau barisan bintang itu adalah karena dapat bahu-membahu dengan kerja sama yang sangat rapat. Kini Kwe Ceng menyerang satu tempat, otomatis dua imam yang menduduki tempat serangkaian terpaksa melompat turun buat membantu dan karena turunnya yang dua ini, mau tidak mau imam yang lain ikut turun pula dan dengan demikian seluruh barisan menjadi terpengaruh.
Yang paling senang karena pertarungan ramai ini adalah Yo Ko. Dia terpesona dalam girang tercampur kejut, Katanya dalam hati: “Bila mana pada suatu hari aku dapat belajar hingga sehebat kepandaian Kwe-pepek, sekali pun seumur hidupku harus menderita aku rela.”
Akan tetapi lantas terpikir pula: “Namun seumur hidupku ini mana bisa belajar kepandaian setinggi ini kecuali si budak Kwe Hu dan kedua saudara Bu yang beruntung, Hm, sudah jelas ia (maksudnya Kwe Ceng) tahu kepandaian orang Coan-cin-kau jauh di bawahnya, tapi ia justru sengaja kirim aku belajar silat pada imam-imam busuk ini.”
Begitulah makin dipikir Yo Ko semakin dongkol hingga ia berpaling ke jurusan lain, ia tidak mau melihat Kwe Ceng mempermainkan ketujuh imam tadi. Akan tetapi sifat anak-anak mana bisa tahan lama, tidak berapa lama dia menjadi kepingin tahu apa jadinya dengan imam-imam yang digoda itu, maka tak tahan lagi ia berpaling kembali untuk menyaksikan pertempuran ramai dan lucu.
Sementara itu, sesudah puas mempermainkan para imam, diam-diam Kwe Ceng berpikir: “Setelah begini tentunya mereka percaya bahwa aku betul-betul Kwe Ceng, jadi orang hendaklah jangan keterlaluan harus jaga kebaikan di hadapan Khu-cin-jin nanti.”
Sementara itu ia sedang menggoda ketujuh imam tadi hingga ia pun putar kayun dengan kencang. Mendadak dia berdiri diam sambil Kiongciu serta berkata:
“Tujuh To-heng, maaf, sekarang silahkan menunjukkan jalan.”
Di luar dugaan, imam yang menduduki tempat Thian-koan dan menjadi pemimpin tadi ternyata berwatak sangat keras. Karena melihat ilmu silat lawannya semakin kuat, ia jadi semakin yakin orang pasti tidak bermaksud baik terhadap perguruan mereka, maka meski menghadapi musuh setangguh ini, sama sekali ia pantang mundur.
“Hmm, maling cabul,” demikian segera ia menjawab dengan suara lantang, “Coan-cin-kau paling benci pada segala perbuatan kejahatan, maka se-kali-kali jangan kau harap bisa melakukan perbuatan yang tidak tahu malu di Cong-lam-san!”
Kwe Ceng bingung oleh damperatan yang tak keruan juntrungannya ini, “Apa perbuatanku yang tidak kenal malu?” demikian ia tanya.
“Hmm, pura-pura bodoh.” jengek imam Thian-koan itu. “Melihat kepandaianmu yang tinggi, tentunya kau bukan sebangsa manusia yang suka berbuat kotor, aku nasehati kau, lekas kau turun kembali sana!”
Meski imam ini masih mendamperat, tetapi di balik kata-kata yang diucapkan ini dia telah unjuk juga rasa kagumnya terhadap ilmu kepandaian Kwe Ceng.
“Jauh-jauh Cayhe sengaja datang dari selatan dan ingin bertemu Khu-cinjin untuk sesuatu keperluan, sebelum bertemu mana bisa aku kembali turun gunung?” demikian jawab Kwe Ceng.
Mendengar jawaban ini, air muka imam Thian-koan itu berubah hebat. “Hmm, jadi kau ingin bertemu dengan Khu-cinjin? Baiklah, coba katakan, sebenarnya ada urusan apa?” tanyanya dengan dingin.
“Semenjak kecil Cayhe menerima budi besar dari Ma-cinjin dan Khu-cinjin, karena sudah belasan tahun tidak bertemu, maka aku menjadi kangen sekali,” sahut Kwe Ceng.
Namun jawaban ini ternyata makin menambah sikap permusuhan dari imam itu. Kiranya soal ‘budi’ dan ‘dendam’ dalam kalangan Kangouw paling diutamakan, sering kali karena soal sakit hati, di mulut dia bilang datang balas budi padahal yang benar maksudnya hendak membalas dendam. Imam Thian-koan itu suka memegang teguh pandangannya sendiri, maka kata-kata Kwe Ceng yang diucapkan dengan setulus hati justru diterima kebalikannya.
“Jangan-jangan guruku Giok-yang Cinjin juga kau katakan ada budi padamu,” demikian ia menjengek lagi.
Karena kata-kata ini Kwe Ceng jadi ingat pada masa yang silam, masa mudanya dengan peristiwa yang terjadi di istana Thio-ong-hu, di mana Giok-yang-cu (atau Giok-yang Cinjin) Ong Ju-it tanpa pikirkan bahaya sudah menandingi gerombolan musuh yang jauh lebih banyak untuk menolong dirinya, atas kejadian itu memang tidak sedikit budi yang dia terima dari Ong Ju-it. Oleh sebab ini tanpa ragu-ragu lagi ia lantas menjawab:
“O, kiranya To-heng adalah murid Giok-yang Cinjin. Memang betul juga Ong-cinjin ada budi terhadap Cayhe, bila dia juga berada di atas gunung, sudah tentu akan lebih baik lagi.”
Di luar dugaan, tujuh imam ini malah menjadi marah, dengan suara bentakan yang murka senjata mereka langsung menyambar, dengan cepat menyerang tujuh tempat di tubuh Kwe Ceng secara serentak.
Akan tetapi mana bisa Kwe Ceng diserang secara gampang. Dengan sedikit mengegos ia sudah melangkah ke samping, kembali duduki tempat bintang Pak-kek atau kutub utara yang menjadi kelemahan barisan para imam itu.
“He, mari bicara dahulu,” demikian dia teriaki imam-imam Coan-cin-kau ini, “Cayhe Kwe Ceng sama sekali tidak mengandung maksud jahat, dengan cara bagaimana kalian mau percaya bahwa aku benar-benar Kwe Ceng adanya?”
“Kau sudah merebut enam pedang anak murid Coan-cin-kau, mengapa tidak sekalian merampas lagi tujuh pedang kami?” sahut imam Thian-coan.
Sementara itu imam yang menduduki tempat Thian-koan yang semenjak tadi sebetulnya tutup mulut saja, kini mendadak ikut menyela dengan suara yang pecah.
“Maling cabul anjing, rupanya kau hendak pamer kepandaian di hadapan sundel kecil keluarga Liong itu? Hm, apa kau kira Coan-cin-kau gampang kau hina?” demikian ia mencaci maki.
Keruan Kwe Ceng menjadi marah. “Apa kau bilang?” sahutnya dengan muka merah. “Nona keluarga Liong? Siapa dia? Aku Kwe Ceng selamanya tidak pernah kenal dia.”
“Ha-ha, jika kau berani, kenapa kau tidak memaki dia sebagai perempuan busuk, sebagai sundel cilik!” kata imam Thian-koan pula dengan bergelak tawa.
Mendengar orang mengumbar kata-kata kotor, Kwe Ceng menjadi tertegun. Dasarnya dia memang jujur dan patuh pula adat peraturan, dia pikir wanita she Liong yang disebut itu entah orang macam apakah, mana boleh tanpa sebab dan alasan aku mencaci makinya. Karena pikiran ini, ia lantas menjawab:
“Kenapa aku harus memaki dia?”
“Ha-ha-ha!” beberapa imam itu tertawa berbareng “Nah, bukankah kau sudah mengaku sendiri?”
Dasar Kwe Ceng memang tak pandai menggunakan otak, kini orang secara serampangan memaksakan tuduhan padanya, semakin lama dia merasa semakin ruwet. Ia hanya pikir dengan paksa terjang saja ke Tiong-yang-kiong untuk menemui Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, tentu segala urusan akan menjadi beres.
“Kini Cayhe akan naik ke atas, jika kalian merintangi lagi, jangan kalian menyesali Cayhe tidak segan-segan,” dengan dingin ia memberi peringatan.
Tapi ketujuh imam itu tiba-tiba melangkah maju setindak dengan senjata siap sedia. “Jangan kau pakai ilmu sihir, kita boleh coba ukur kepandaian dalam ilmu sejati,” dengan suara keras imam Thian-soan tadi menantang.
Kwe Ceng hanya tertawa, segera ia mengambil satu keputusan, maka ia lalu menjawab:
“Aku justru hendak unjuk sedikit ilmu sihir pada kalian, tanpa tanganku menyentuh senjata kalian sedikit pun aku, sanggup merampas ketujuh pedang kalian.”
Ketujuh imam itu saling pandang, dari wajah mereka tampak perasaan tidak percaya. “Bagus, kami akan coba-coba ilmu kepandaianmu dalam hal tendangan,” seru salah satu imam.
“Aku pun tidak perlu menggunakan kaki,” sahut Kwe Ceng, “Pendek kata tidak akan aku menyenggoI barang sedikit pun senjata mau pun anggota badan kalian, tapi senjata kalian akan kurampas. Apa bila sampai tersentuh, anggap saja aku kalah dan segera aku turun gunung untuk selamanya tidak akan naik ke sini lagi.”
Mendengar orang membuka mulut besar, ketujuh imam itu menjadi marah. Tanpa menanti lagi, begitu imam Thian-koan menggerakkan pedangnya, segera ia bawa barisannya mengerubut maju.
Tapi dengan kepala menunduk Kwe Ceng lantas menerjang dengan cepat. Ia menduduki titik bintang Pak-kek lagi kemudian dengan langkah cepat mengarah ke kiri, ia menyerang sayap kiri barisan para imam.
Imam Thian-koan yang menjadi pemimpin barisan kenal lihaynya orang, maka lekas dia bawa barisannya memutar ke kanan, dengan maksud supaya dapat berhadapan dengan Kwe Ceng dan supaya kelemahan barisannya tidak kentara.
Diluar dugaan, sekali Kwe Ceng mengincar sayap kiri, tetap dia serang bagian kiri dan tidak putar balik. Meski kadang-kadang cepat dan kadang lambat, tetap ia berlari mengincar bagian kiri, oleh karena dia bisa menduduki tempat bintang Pak-kek dengan kukuh. Mau tidak mau ketujuh imam itu harus ikut memutar ke kiri juga.
Begitulah makin lari semakin cepat pula Kwe Ceng menguber, sampai akhirnya kecepatan larinya boleh dikatakan melebihi kuda, makin lama semakin luas pula tempat yang dibuat berputaran sehingga berupa satu lingkaran selebar belasan tombak.
Tetapi ketujuh imam ini tergolong tidak lemah juga. Meski mereka dipaksa berada dalam kedudukan yang terbalik dipengaruhi orang, tapi barisan mereka sedikit pun belum kacau. Mereka bertujuh masih menduduki tempatnya masing-masing dengan kuat dan mantap, hanya tubuh mereka saja yang tidak bisa dikuasai lagi masih terus ikut lari terbawa oleh Kwe Ceng.
Diam-diam Kwe Ceng harus puji juga keuletan tujuh imam Coan-cin-kau ini, maka langkahnya tak pernah dia kendurkan, tiba-tiba dia malah pergiat kakinya hingga berlari memutar sepertii roda angin saja.
Mula-mula ketujuh imam itu masih bisa paksakan diri ikut berlari terus, tetapi lama kelamaan Ginkang atau ilmu entengkan tubuh imam-imam itu lantas tertampak. Imam Thian-koan paling tinggi Ginkang-nya, ia lari paling depan dan disusul dengan imam yang menduduki tempat Thian-ki dan Thian-heng, sedang imam yang lain per-lahan-lahan menjadi ketinggalan hingga barisan mereka lambat laun makin renggang, Tentu saja mereka terperanjat, pikir mereka: “Jika musuh mau menggempur barisan kita pada saat ini mungkin barisan bintang ini tidak bisa dipertahankan lagi.”
Walau pun mereka sudah tahu bakal celaka, namun karena sudah terlanjur, mereka tidak pikirkan hal lain lagi, hanya bisa berbuat sepenuh tenaga dan keluarkan seluruh kepandaian untuk lari lebih cepat mengikuti Kwe Ceng yang masih terus berputar.
Sebagai contoh dapat dilukiskan, umpama kita ikat sepotong batu dengan seutas tali kemudian kita putar secepat mungkin, di waktu batu berputar kencang dan mendadak kita lepaskan, maka batu itu pasti akan mencelat jauh bersama tali pengikatnya.
Sama halnya sekarang dengan ketujuh imam itu. Mereka sudah dipengaruhi Kwe Ceng yang makin putar semakin cepat sampai pedang mereka terangkat di atas kepala, makin cepat mereka berlari, makin tidak kuat memegang pedang mereka seakan-akan ada satu tenaga maha besar yang menariknya dan hendak merebut pedang dari tangan mereka.
“Lepas!” se-konyong-konyong terdengar Kwe Ceng membentak. Berbareng ia meloncat cepat ke kiri.
Oleh karena tidak men-duga akan kejadian ini, ketika imam-imam itu mendadak melihat Kwe Ceng meloncat ke atas, terpaksa mereka harus turut melompat ke atas juga. Dan aneh, entah mengapa ketujuh pedang yang mereka pegang semuanya tidak mampu mereka pertahankan lagi, seluruhnya terlepas dari cekalan, lalu seperti tujuh ular perak saja ketujuh pedang itu menyamber ke dalam hutan yang berjarak belasan tombak jauhnya.
Sementara itu mendadak pula Kwe Ceng sudah berdiri tegak, dengan ketawa kemudian ia berpaling. Sebaliknya wajah ke tujuh imam itu menjadi pucat seperti mayat, mereka berdiri terpaku di tempatnya, hanya masing-masing tetap menduduki tempat barisannya, barisan mereka sama sekali belum menjadi kacau. Melihat keadaan ini diam-diam Kwe Ceng memuji atas kegigihan imam-imam ini.
Sementara imam Thian-koat tadi tiba-tiba bersuit satu kali, menyusul semuanya lantas mundur ke belakang batu-batu cadas dan menghilang.
“Ko-ji, marilah sekarang kita naik gunung,” teriak Kwe Ceng.
Tapi meski sudah dua kali ia memanggil, belum juga ada sahutan dari Yo Ko, waktu ia coba mencari namun bayangan Yo Ko sudah tidak tampak lagi, yang dia ketemukan hanya sebuah sepatu kecil yang ketinggalan di semak di belakang pohon.
Tentu saja Kwe Ceng terkejut. Ia mengerti ada orang lain yang mengintai di samping dan telah menculik si Yo Ko. Akan tetapi bila dia pikir para imam tadi hanya salah paham saja terhadap dirinya, lagi pula Coan-cing-kau selamanya suka bantu yang lemah dan berantas kejahatan, tidak mungkin anak kecil dibikin susah oleh mereka, maka dia tidak menjadi kuatir lagi. Dengan kumpulkan tenaganya, segera ia berlari cepat mendaki ke atas.
Sudah belasan tahun Kwe Ceng tirakat di Thoa-hoa-to, meski pun setiap hari ia tetap berlatih diri, akan tetapi sudah sekian lamanya belum pernah ia bergebrak dengan orang, karena itu kadang-kadang dia merasa kesepian. Kini kebetulan bisa bergebrak seru dengan para imam, maka diam-diam ia merasa cukup puas.
Sementara jalanan pegunungan semakin sulit ditempuh, tak berapa lama, bahkan awan hitam menutup raut sang dewi malam, mendadak udara pegunungan cerah menjadi gelap guIita, Karena keadaan ini, Kwe Ceng menjadi ragu, ia pikir: “Tempat ini aku belum apal, jangan-jangan para To-heng itu main tipu muslihat, betapa pun aku harus waspada.”
Karenanya ia lantas lambatkan langkahnya, ia berjalan perlahan saja. Sesudah maju lagi, tiba-tiba awan hitam tadi terpencar di tiup angit, rembulan memancarkan sinarnya dengan terang benderang, dan ia mendengar di balik gunung sana sayup-sayup ada suara napas orang yang hampir ratusan banyaknya. Meski pun suara napas itu amat perlahan, tetapi karena jumlah orangnya banyak, maka Kwe Ceng dapat mengetahuinya. Tapi ia tidak menjadi gentar. Setelah kencangkan ikat pinggangnya, segera ia melanjutkan perjalanan, dan sesudah melintasi satu lereng gunung, tiba-tiba ia menjadi kaget.
Kiranya di depannya terdapat satu lapangan yang amat luas dengan sekelilingnya dikitari gunung-gunung, keadaannya amat angker dan bagus sekali. Di bawah gunung di mana terdapat lapangan luas itu terdapat pula satu kolam besar, karena sorotan cahaya bulan, maka air kolam menjadi berkelap-kelip kemilauan. Di depan kolam besar itu nampak ratusan imam yang berdiri berpencaran. Para imam ini semuanya memakai kopiah kuning dan jubah kelabu, tangan mereka menghunus pedang, sinar pedang yang gemerlapan menyilaukan mata.
Ketika Kwe Ceng mengawasi kiranya para imam itu tiap-tiap tujuh orang tergabung menjadi satu kelompok sehingga seluruhnya ada empat belas barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin. Tiap-tiap tujuh Pak-tau-tin kecil ini terbentuk pula menjadi sebuah Pak-tau-tin yang besar, sungguh hebat sekali keadaan barisan bintang raksasa ini, karena itu diam-diam Kwe Ceng berkuatir.
Sementara itu tiba-tiba terdengar satu imam dalam barisan raksasa itu bersuit, habis ini ke-98 imam itu dengan cepat terpencar, ada yang di depan ada yang di belakang, sekaligus berubahlah barisan bintang mereka dan segera Kwe Ceng terkurung di-tengah-tengah. Tiap-tiap imam siap sedia dengan pedang terhunus, mereka memandang dengan mata yang tak berkedip dan semuanya bungkam.
“Dengan hati tulus Cayhe mohon bertemu Khu-cinjin, maka harap para To-heng jangan merintangi,” segera Kwe Ceng menyapa dengan memberi hormat.
“llmu kepandaianmu cukup hebat, mengapa kau tidak tahu harga diri dan mau berkomplot dengan kaum siluman? Hendaklah kau cepat-cepat insaf bahwa selamanya wanita suka menyesatkan orang. Sayang kalau puluhan tahun latihan kepandaianmu hanya dibuang dalam sekejap saja!” demikianlah imam berjenggot panjang dalam barisan itu menjawab.
Nada suaranya rendah, tetapi setiap kata diucapkannya dengan jelas, suatu tanda tenaga dalamnya sudah kuat sekali, lagu kata-katanya juga sungguh-sungguh nyata ia menasihati orang dengan setulus hati.
Sudah tentu Kwe Ceng merasa geli dan mendongkol. Pikirnya di dalam hati: “Para imam hidung kerbau ini entah anggap aku ini manusia macam apa? Coba kalau Yong-ji berada di sampingku, pasti tidak akan terjadi kesalah pahaman seperti sekarang ini.”
Oleh karena itu dia lantas menyahut: “Siluman apa dan wanita apa yang kau maksudkan? Sungguh Cayhe sama sekali tidak tahu-menahu. Kalau Cayhe bertemu dulu dengan Khu-cinjin, tentu segalanya akan menjadi terang.”
“Kau bisa bertemu beliau kalau mampu memboboIkan Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau kami ini,” kata imam berjenggot panjang tadi.
“Cayhe hanya seorang diri, ilmu kepandaianku terlalu rendah, mana berani melawan ilmu mukjijat kalian? Harap saja anak yang aku bawa itu dibebaskan dan silakan memberi kesempatan kepadaku buat menemui Khu-cin-jin,” sahut Kwe Ceng.
“Hm, kau masih coba berlagak dan putar lidah? Di depan Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san ini mana boleh kau maling cabul ini berbuat tidak semena-mena?” mendadak imam jenggot panjang membentak. Habis ini pedangnya memutar ke atas dengan membawa sambaran angin yang santer hingga menerbitkan suara ngaungan yang bergema.
Karena inilah imam yang lain serentak gerakan senjata, sekaligus 98 batang pedang berputar kian kemari sehingga menerbitkan angin yang keras, sinar pedang yang berpantulan tersusun seperti satu jaringan sinar perak. Diam-diam Kwe Ceng mengeluh oleh susunan barisan bintang ini, ia pikir dengan seorang diri mana mungkin bisa menandingi lawan yang begitu banyak?
Sementara itu sebelum dia dapat mengambil keputusan, ke-98 imam itu sudah merubung maju dari dua belah sisi, sinar pedang mereka menyambar rapat hingga boleh dikatakan lalat saja sukar menerobos.
“Hayo, senjata apa yang akan kau pakai, lekas keluarkan!” terdengar si imam jenggot panjang membentak.
“Rupanya barisan Pak-tau-tin mereka tak gampang dipecahkan, tapi jika hendak membuat aku celaka, rasanya mereka juga tidak akan mampu. Biarlah aku melihat cara bagaimana permainan barisan ini,” demikian Kwe Ceng membatin.
Maka dengan se-konyong-konyong ia memutar pergi, ia berlari menduduki tempat di ujung barat-daya, berbareng keluarkan tipu pukulan ‘ciam-liong-bat-yong’ atau naga selulup jangan digunakan, satu tipu pukulan yang lihay dari ilmu pukulan ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ (ilmu pukulan penakluk naga) yang meliputi delapan belas jurus. Sekali tangannya diulur lalu ditarik pula terus mendadak didorong lagi ke samping.
TIONG-YANG-KIONG MEMBARA
Karena serangan ini, tujuh imam muda yang menjaga barisan ujung barat-daya lekas-lekas pindahkan pedang mereka ke tangan kiri, lalu sambil bergandengan tangan mereka ulur telapak tangan kanan untuk menyambut pukulan Kwe Ceng. Tidak tahunya ilmu pukulan ini sudah dilatih Kwe Ceng sedemikian rupa sehingga di atas puncaknya kesempurnaan, tenaga dorongannya luar biasa kerasnya dan yang paling lihay justru terletak pada tenaga tarikan kembalinya.
Oleh karena itu, ketika sepenuh tenaga ketujuh imam itu menahan dorongannya, di luar dugaan menyusul satu kekuatan yang maha besar malah menarik kembali ke depan, keruan ketujuh imam muda ini tidak bisa tancap kaki lebih kuat lagi, tanpa kuasa mereka terbanting jatuh. Meski pun segera mereka bisa melompat bangun, tetapi tak urung muka mereka kotor penuh debu hingga mereka merasa malu.
Nampak betapa lihaynya Kwe Ceng, sekali turun tangan tujuh anak muridnya sudah kena dibanting roboh, tentu saja imam jenggot panjang tadi sangat terkejut. Segera dia bersuit panjang, dia gerakkan ke-14 Pak-tau-tin mereka dan bergandeng menjadi satu secara ber-deret-deret.
Dalam keadaan demikian, sekali pun tenaga pukulan Kwe Ceng berlipat ganda tidak mungkin sanggup mendorong ke-98 imam ini. Maka ia tak berani menyerang secara keras lawan keras lagi, segera dia keluarkan Ginkang atau ilmu enteng tubuh, dia menerobos ke sana kemari di antara barisan orang, ia pikir mencari lubang dahulu untuk kemudian baru turun tangan mematahkan barisan.
Sesudah lari sini dan lompat sana, ia sengaja memancing barisan musuh supaya berubah tempat, namun segera ia tahu kalau hanya kekuatan seorang diri saja sungguh sulit mematahkan barisan bintang ini. Sementara itu garis kepungan semakin lama semakin ciut, sehingga Kwe Ceng merasa hendak berkelit atau hindarkan diri makin lama semakin sulit.
Karenanya diam2 Kwe Ceng berusaha cara bagaimana untuk menerjang keluar kepungan musuh. Ketika mendadak dia mendongak, dia lihat jauh di Iamping gunung sebelah kanan sana berdiri satu kuil yang sangat megah, dia taksir tentu itulah Tiong-yang-kiong. Ia lihat kuil itu jauhnya kira-kira belasan li. Ia memperhitungkan suara teriakannya masih bisa mencapai istana itu, maka diam-diam ia kumpulkan seluruh tenaga dalamnya, sesudah siap, mendadak ia berseru keras:
“Tecu (anak murid) Kwe Ceng mohon bertemu! Tecu Kwe Ceng mohon bertemu!”
Begitu keras suara teriakan hingga seperti bunyi guntur di siang hari sampai kuping para imam itu terasa pekak, bahkan tergetar sampai kepala pusing dan mata kabur, seketika daya serangan mereka menjadi kendor.
“Awas, jangan sampai kena dikibuli maling cabul ini,” lekas-lekas imam jenggot panjang memberi semangat pada kawan-kawannya.
Kwe Ceng menjadi marah mendengar orang berulang kali memaki dirinya, ia pikir: “Barisan bintang-bintang ini berada di bawah pimpinannya, asal aku hantam roboh orang ini, ular tanpa kepala, tentu barisan ini tidak sulit lagi dihancurkan.”
Karena itu segera ia buka serangan lagi, mengincar si imam jenggot panjang. Di luar dugaannya, keistimewaan barisan bintang ini justru adalah memancing musuh menggempur pucuk pimpinan, dengan demikian barisan dalam kelompok kecil lainnya segera mengepung dari kedua sayap, bila mana terjadi begini berarti musuh telah terjebak ke dalam jaring-jaring mereka.
Syukur Kwe Ceng bukan sembarang orang. Baru beberapa langkah dia menguber imam jenggot panjang, segera ia merasa gelagat tidak menguntungkan, tiba-tiba ia merasakan daya tekanan dari belakang bertambah hebat, begitu pula dari kedua sayap mengerubut maju secara ber-bondong-bondong. Satu kali dia hendak belok ke kanan, tetapi dua barisan kecil dari depan telah menyerang berbareng dengan 14 pedang. Tempat yang di arah ke-14 pedang para imam ini ternyata tepat dan bagus sehingga Kwe Ceng hendak berkelit pun tak bisa, hendak mengegos pun tak sempat.
Namun begitu menghadapi bahaya demikian, dalam hati Kwe Ceng bukannya menjadi takut, sebaliknya hawa amarahnya semakin memuncak, pikirnya dalam hati: “Sekali pun kalian dakwa aku sebagai maling cabul segala, tapi sebagai orang beragama seharusnya berwelas-asih, kenapa tiap seranganmu begini keji? Apa kalian memang sengaja hendak melenyapkan jiwaku?”
Mendadak dia meloncat ke samping, berbareng sebelah kaki melayang, sekali tendang dia bikin satu imam muda terpental, sedang tangan kiri diulur untuk merebut pedang orang. Dengan senjata rampasan ini ia tangkis tujuh pedang yang sementara itu sudah menyerang lagi dari sebelah kanan. Maka terdengarlah suara nyaring beradunya senjata, tahu-tahu ketujuh pedang musuh sudah terkutung semua, sebaliknya pedang yang Kwe Ceng pegang masih baik-baik saja tanpa rusak.
Hendaklah diketahui bahwa pedang yang dirampas Kwe Ceng itu tiada bedanya dengan pedang para imam yang terkutung dan bukannya lebih tajam, soalnya karena tenaga dalamnya sengaja dia salurkan ke ujung pedang, lantas sekaligus bikin tujuh pedang musuh tergetar putus. Mungkin saking kaget oleh ketangkasan Kwe Ceng ini hingga muka ketujuh imam tadi jadi pucat dan mulut tenganga.
Nampak barisan kawannya bobol, lekas dari samping dua barisan kecil merubung maju melindungi barisan yang duluan. Diam-diam Kwe Ceng ingin mencoba lagi kekuatannya sendiri demi nampak 14 imam kedua kelompok barisan pendatang ini tangan bergandeng tangan, tenaga 14 orang telah tergabung menjadi satu. Maka ia sengaja ayunkan pedang rampasannya dan sekali tempel, senjata ke-14 imam itu segera melengket pada pedang Kwe Ceng.
“Awas!” tiba2 Kwe Ceng berseru, berbareng tangannya sedikit diangkat, maka terdengar suara “krak” yang riuh, ternyata ada dua belas batang pedang para imam yang patah. Masih dua batang lagi telah mencelat terbang ke udara.
Tentu saja imam-imam itu terperanjat luar biasa, lekas mereka melompat mundur. Biar pun senjata para imam itu sekaligus kena dipatahkan dan dilempar pergi, namun Kwe Ceng tidak merasa puas seluruhnya, pikirnya: “Nyata kepandaianku masih belum sampai pada tingkatan yang paling tinggi, maka dua pedang tadi masih belum bisa kubikin patah sekalian.”
Sementara itu para imam telah bertambah waspada, cara mereka menyerang pun lebih berhati-hati, tapi semakin kencang pula kepungan mereka. Sebaliknya karena belum bisa membikin patah semua pedang tadi, Kwe Ceng merasa barisan musuh dijaga lebih kuat, dalam hati dia menjadi ragu. Dia pikir jangan sampai diriku akhirnya kecundang, urusan jangan sampai terlambat, lebih baik turun tangan lebih dulu.
Habis ini dengan sedikit mendakkan tubuh, mendadak Kwe Ceng meloncat ke sudut timur laut. Dengan tindakan ini dia tahu kedua kelompok barisan kecil dari jurusan barat-daya pasti akan berputar maju, namun dia sudah siap. Meski hanya sebatang pedang yang dia pegang, akan tetapi dalam sekejap saja ia sudah menusuk empat belas kali, 14 titik putih gemerdep menyambar berbareng, tiap-tiap tusukannya tepat mengenai ‘yang-kok-hiat’ di pergelangan tangan ke-14 imam itu.
Meski cara menggerakkan tangan Kwe Ceng tidak keras, tapi tahu-tahu para imam itu sudah rasakan tangan mereka tak bertenaga lagi, ke 14 pedang mereka pun terjatuh ke tanah. Luar biasa terkejutnya para imam. Sambil ter-sipu mereka melompat mundur dan ketika pergelangan tangan mereka periksa, nyata ‘Yong-kok-hiat’ yang kena ditutul tadi sedikit tanda merah, namun setetes darah pun tidak mengucur keluar.
Sungguh hebat serangan Kwe Ceng. Dia gunakan ujung pedang yang tajam itu untuk menusuk Hiat-to, tapi sedikit pun tidak bikin lecet kulit daging, sungguh suatu kepandaian yang luar biasa. Keruan para imam itu terperanjat. Dalam hati mereka bisa membayangkan juga apa bila Kwe Ceng mau menebas putus tangan mereka tadi sebenarnya bukan urusan sulit.
Kini sudah ada 5 kali 7 atau 35 pedang yang telah terlepas dari cekalan. Imam yang berjenggot panjang semakin marah. Dia tahu Kwe Ceng masih belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tapi untuk menjaga agar pamor Coan-cin-kau tidak merosot, berulang kali ia memberi perintah lagi, ia persempit lingkaran barisannya. Ia pikir dengan kepungan 98 imam, secara desak-mendesak saja akan dapat menggencet mampus lawannya.
Sebaliknya hati Kwe Ceng menjadi gemas juga, batinnya: “Para To-heng ini sungguh tidak kenal baik dan jelek, agaknya terpaksa aku harus hajar mereka supaya kapok.”
Tanpa ayal lagi segera ia mulai membuka serangan baru, dengan Ginkang yang lihay ia menyusur kesana dan memutar kemari, hanya sekejap saja barisan bintang para imam itu sudah tampak rada kacau.
Melihat gelagat jelek, imam jenggot panjang lekas-lekas memberi perintah agar para kambratnya berlaku tenang dan tetap jaga rapat kedudukan barisan mereka. Ia insyaf apa bila Kwe Ceng sampai ikut berlari, maka akhirnya barisan mereka pasti akan kocar-kacir dipatahkan. Tetapi demi mereka berdiri tenang tak bergerak, Kwe Ceng sendiri gagal usahanya.
“To-heng ini (maksudnya imam jenggot panjang) sangat paham akan rahasia barisannya, nyata dengan cepat dia bisa mengambil tindakan,” demikian diam-diam Kwe Ceng membatin. “Biarlah aku berteriak beberapa kali lagi, coba ada suara sahutan dari Khu-totiang atau tidak.”
Selagi ia mendongak hendak buka mulut, sekilas tertampak olehnya pada pojok kuil yang megah di atas gunung sana lapat-lapat ada berkelebatnya cahaya putih, agaknya seperti ada orang sedang bertempur dengan senjata tajam, hanya sayang karena jaraknya terlalu jauh, maka gerak tubuh orangnya tidak jelas, lebih-lebih suara beradunya senjata tidak bisa kedengaran. Hati Kwe Ceng tergerak “Siapakah yang bernyali begitu besar, berani mengacau Tiong-yang-kiong? Rupanya kejadian malam ini ada sesuatu yang mencurigakan.”
Karena itu, ia ingin lekas memburu ke kuil di atas gunung untuk melihat apa yang terjadi, cuma para imam masih terus merintanginya dengan mati-matian. Akhirnya Kwe Ceng menjadi tidak sabar, tiba-tiba tangan kirinya memukul dengan gerak tipu ‘kian-liong-cay-thian’ (melihat naga di sawah), sedang tangan kanan dengan tipu pukulan ‘kong-liong-yu-hwe’ (naga pembawa sial), sekali serang ia keluarkan ilmu kepandaiannya hantam kanan-kiri dengan kedua tangannya.
Karena serangan kanan-kiri ini, maka barisan bintang raksasa itu terpaksa membagi 49 orang buat menahan serangan dari kiri dan 49 orang lainnya menahan hantaman dari sebelah kanan.
Diluar dugaan, belum penuh gerak serangan Kwe Ceng tadi dilontarkan, di tengah jalan tiba-tiba berubah, gerak tipu ‘kian-liong-cay-thian’ mendadak berubah menjadi ‘’kong-liong-yu-hwe’ dan sekaligus Kwe Ceng gerakkan kedua tangannya dengan tipu pukulan Kian-liong-cay-thian dan Kong-liong-yu-hwe ke kanan dan kiri lalu diputar balik secara berlawanan.
Seungguhnya ilmu pukulan dari kanan-kiri ini, kedua tangan sekaligus mengeluarkan tipu serangan yang berlainan, bahkan di tengah jalan tipu serangan itu bisa berubah, sungguh orang tidak pernah mendengar atau menyaksikannya (dari mana Kwe Ceng memperoleh ajaran ilmu pukulan kanan-kiri dengan serangan yang berlainan, diceritakan dalam kisah Sia Tiauw Enghiong).
Padahal barisan Pak-tau-tin besar sebelah kiri sedang keluarkan tenaga untuk menahan tipu ‘kian-liong-cay-thian’ dan barisan sebelah kanan menangkis tipu ‘kong-liong-yu-hwe’, karena perubahan yang terbalik ini, maka tertampaklah bayangan Kwe Ceng berkelebat, tahu-tahu dia telah meloncat keluar dari celah himpitan kedua barisan besar itu, sebaliknya ke-49 imam itu karena tidak pernah menyangka akan tindakan lawan, keruan lantas terdengar suara gedebukan yang ramai, kedua barisan itu sudah saling tumbuk dan saling seruduk, banyak pedang yang patah dan tangan terluka, ada pula yang muka babak belur dan hidung mancur, beberapa puluh orang telah menderita luka semua.
Meski imam berjenggot panjang sempat hindarkan diri lebih cepat, namun tidak urung dia ikut kelabakan juga. Saking gemasnya, segera dia kerahkan seluruh barisannya terus mengudak. Akan tetapi amarahnya ini justru sudah melanggar pantangan ilmu silat dari golongan Coan-cin-kau yang mengutamakan ketenangan. Sementara itu Kwe Ceng berlari cepat di depan dan dari belakang ke-98 imam itu mengudak dengan kencang.
Tatkala sampai di tepi sebuah kolam besar, Kwe Ceng melihat di depan hanya air belaka, akan tetapi dia tidak kurang akal, mendadak dia lemparkan pedang rampasannya lurus ke permukaan air.
Meski pun pedang ini terbuat dari baja, namun kekuatan yang Kwe Ceng gunakan begitu tepat, maka batang pedang ini beberapa kali me-loncat terapung di atas air. Kesempatan inilah yang digunakan Kwe Ceng dengan baik, ia melayang ke tengah kolam, dengan kaki kanan ia tutul perlahan di atas batang pedang. Pada saat pedang itu tenggelam ke dalam kolam, Kwe Ceng sudah meminjam tenaga tutulan tadi untuk melompat sampai di seberang.
Sebaliknya para imam itu yang sial. Mereka sedang mengudak dengan kencangnya dan tak keburu mengerem, maka terdengarlah suara “plang-plung” yang ramai beberapa puluh kali, nyata ada 40 hingga 50 orang yang telah kecemplung ke dalam kolam. Sedang beberapa puluh yang di belakang menginjak punggung imam-imam yang depan, karena inilah mereka bisa berhenti di tepi kolam.
Sedang karena imam-imam yang kecemplung tadi tidak bisa berenang, banyak yang megap-megap dan berteriak-teriak minta tolong. Imam-imam lainnya yang bisa berenang cepat memberi pertolongan, maka dengan sendirinya tidak sempat buat menguber Kwe Ceng lagi.
Pada waktu para imam ini tunggang langgang, tiba-tiba Kwe Ceng dengar suara genta yang ditabuh keras berkumandang dari Tiong-yang-kiong, itu istana kaum Coan-cin-kau. Suara genta itu dibunyikan secara titir, keras dan kerap, agaknya tanda bahaya.
Waktu itu Kwe Ceng baru lepaskan diri dari rintangan para imam dan lagi berlari menuju Tiong-yang-kiong secepatnya. Ketika ia dengar suara genta rada aneh, ia telah merandek dan mendongak, maka terlihatlah olehnya di belakang kuil suci itu ada sinar api yang ber-kobar menjulang tinggi. Tentu saja Kwe Ceng kaget, pikirnya: “Kiranya hari ini memang benar ada orang hendak menggempur Coan-cin-kau, aku harus lekas-lekas pergi menolongnya.” Sementara itu ia mendengar suara teriakan para imam tadi telah menyusul dari belakang.
Kini Kwe Ceng baru mengerti tentunya imam-imam ini sudah salah sangka dirinya adalah musuh. Kuil mereka sedang terancam bahaya, sudah tentu mereka lebih kalap dan hendak adu jiwa dengan dirinya. Namun ia pun tidak urus mereka lagi melainkan dengan cepat lari terus ke atas.
Dengan Ginkang atau ilmu entengi tubuh yang Kwe Ceng dapat belajar juga dari Coan-cin-kau, yakni ajaran Ma Giok, maka tidak sampai waktu satu tanakan nasi ia sudah tiba di depan Tiong-yang-kiong. Ia melihat api telah berkobar dan menjalar hebat, akan tetapi aneh, ratusan To-su atau imam dari Coan-cin-kau yang masing-masing memiliki ilmu silat tinggi itu ternyata tiada satu pun yang keluar buat memadamkan api.
Diam-diam Kwe Ceng merasa kuatir. Waktu dia mengamati lagi, kiranya api menjalar dari bagian belakang istana yang megah itu, terbukti bagian depannya masih utuh. Cepat ia melintasi pagar tembok yang tinggi dan melompat masuk pelataran depan kuil, maka terlihatlah olehnya di pendopo sana sudah ber-jubel-jubel orang yang sedang saling hantam dengan mati-matian.
Waktu Kwe Ceng menegasi pula, dia melihat ada 49 orang imam berjubah kuning yang tersusun menjadi tujuh barisan Pak-tau-tin sedang menandingi serangan 60 atau 70 orang musuh. Para musuh pendatang itu ada yang tinggi ada yang pendek, gemuk atau kurus, seketika tak dapat dilihat dengan terang. Hanya kepandaian silat serta golongan para pendatang ini berlainan, ada yang memakai senjata dan ada yang menggunakan tangan kosong. Mereka terus merangsek dengan sepenuh tenaga.
Sebenarnya ilmu silat para penyerang ini tidak lemah, pula jumlahnya lebih banyak, maka para imam Coan-cin-kau sudah mulai terdesak. Hanya saja lawan mereka menyerang dan menghantam secara perseorangan, sebaliknya ketujuh barisan bintang para imam dapat bahu-membahu dan bantu membantu, mereka menjaga diri dengan sangat rapat, Meski para musuh sangat lihay namun tak mampu mendesak para imam barang selangkah pun.
Melihat pertarungan besar-besaran ini, Kwe Ceng menjadi heran, Selagi ia hendak membentak dan bertanya, tiba-tiba ia mendengar di istana kuil itu ada suara sambaran angin yang men-deru-deru, kiranya di dalam sana masih ada rombongan lain lagi yang tengah bertempur. Dari angin pukulan yang kedengaran itu, agaknya orang yang bergebrak di dalam istana itu ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari pada para penyerang yang berada di luar.
Lekas Kwe Ceng memburu maju, ia mengegos dan menerobos masuk, ia berkelit ke kiri terus menyusup ke kanan, tahu-tahu ia telah menyelip masuk melalui Pak-tau-tin para imam, Tentu saja imam-imam Coan-cin-kau sangat kaget, berbareng mereka saling memperingatkan kawannya, tapi karena tekanan musuh dari luar terlalu hebat, maka mereka tidak sanggup membagi sebagian untuk mengudak Kwe Ceng.
Di dalam istana sebenarnya terang benderang oleh belasan lilin yang besar, tatkala itu api yang berkobar dari ruangan belakang sudah menjalar ke depan, dari pancaran sinar api yang berkobar itu bercampurkan asap tebal yang menghembus terbawa angin, sinar lilin di dalam ruangan hanya kelihatan remang-remang saja.
Sementara Kwe Ceng melihat di dalam istana itu ber-deret tujuh imam duduk sila di atas kasuran yang bundar, telapak tangan kiri mereka saling menempel, hanya tangan kanan mereka yang dikeluarkan untuk menahan kepungan belasan orang musuh.
Begitu datang Kwe Ceng tidak periksa pihak musuh, melainkan terus pandang dulu pada ketujuh imam Coan-cin-kau. Ia lihat di antara tujuh orang itu yang tiga sudah berumur dan empat lainnya masih muda, yang tua itu masing-masing ialah Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, sedangkan di antara empat imam yang muda hanya seorang saja yang dia kenal, yakni In Ci-peng, murid Khu Ju-ki.
Ketujuh imam ini pun memasang barisan Pak-tau-tin, mereka berduduk saja tanpa bergerak. Di antara tujuh imam ini ada satu di antaranya yang kepalanya menunduk dan sedikit membungkuk hingga mukanya tidak tampak jelas. Demi melihat Ma Giok bertujuh berada dalam keadaan terancam, seketika darah Kwe Ceng jadi panas. Dia pun tidak peduli lagi siapa dan dari mana adanya musuh, dengan sekali bentakan yang menggeledek segera ia mendamperat:
“Kawanan bangsat yang kurang ajar, berani kalian main gila di Tiong-yang-kiong?”
Berbareng itu kedua tangan mengulur, sekaligus dia dapat mencengkeram punggung dua orang musuh. Selagi dia bermaksud membanting sasaran pertama, tak terduga kedua orang ini ternyata tergolong jagoan tinggi, walau pun punggung mereka kena dijamberet, namun kedua kaki mereka ternyata masih terpaku di lantai dan tidak kena dibanting. Tentu saja Kwe Ceng kaget sekali, pikirnya: “Dari manakah mendadak bisa datang lawan keras begini banyak? Pantas kalau Coan-cin-kau hari ini harus menderita kekalahan.”
Sambil berpikir ia pun lantas kerjakan serangan lain, mendadak kendurkan jamberetan-nya tadi, menyusul kakinya melayang, ia serampang kaki kedua orang lawannya. Pada waktu itu pula kedua lawannya sedang mengeluarkan kepandaian ‘Cian-kin-tui’ atau tindihan seberat ribuan kati, yakni semacam ilmu yang bikin tubuhnya menjadi berat untuk melawan tarikan pwe Ceng, sama sekali tidak mereka duga bahwa Kwe Ceng dapat mengubah serangannya secepat itu. Tanpa ampun lagi mereka kena diserampang hingga tubuh mereka mencelat keluar pintu.
Tentu saja pihak penyerang terkejut tatkala mengetahui pihak lawan kedatangan bala bantuan. Akan tetapi karena mereka merasa yakin pasti akan berada di pihak pemenang, maka datangnya Kwe Ceng tidak mereka perhatikan. Hanya ada dua orang yang segera maju dan membentak:
“Siapa kau?!”
Namun Kwe Ceng tidak menggubris. Tanpa berkata dia sambut kedua orang ini dengan gablokan kedua telapak tangannya secara susul-menyusul. Sungguh tak pernah diduga oleh kedua orang itu, sebelum mereka mendekat mendadak tenaga pukulan Kwe Ceng sudah membikin mereka tergetar hingga tak bisa berdiri tegak. Tanpa ampun lagi terdengarlah dua kali suara “bluk”, punggung mereka tertumpuk pada dinding tembok dengan keras hingga darah segar muncrat keluar dari mulut mereka.
Melihat empat kawan mereka roboh beruntun, keruan para musuh lainnya segera menjadi jeri, seketika tiada lagi yang berani maju buat mencegat. Di lain pihak, Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it segera mengenali Kwe Ceng. Dalam hati mereka menjadi girang luar biasa.
“Orang ini datang, Coan-cin-kau kami tidak perlu kuatir lagi!” demikian kata mereka dalam hati.
Sementara Kwe Ceng sama sekali tidak memandang sebelah mata pada para musuhnya, bahkan ia lantas berlutut di hadapan Ma Giok memberi hormat tanpa gubris musuh-musuh yang lain.
“Tecu Kwe Ceng memberi hormati,” demikian ia berkata.
Tatkala itu rambut alis Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sudah putih karena usia. Mereka hanya memanggut sambil bersenyum dan angkat tangan buat balas hormat.
“Awas, Kwe-heng!” tiba-tiba In Ci-peng berseru memperingatkan Kwe Ceng.
Sementara itu, Kwe Ceng sudah merasa di belakang kepalanya ada mendesisnya angin, ia tahu ada musuh melakukan pembokongan, tetapi dia pun tidak menoleh atau berpaling. Dengan tangan menahan lantai, tubuhnya terangkat ke atas dan di waktu turunnya, kedua lututnya dengan tepat menindih di atas punggung kedua pembokong ini. Dengan demikian Kwe Ceng masih tetap berlutut, hanya saja di bawah lututnya sudah bertambah dengan dua orang pengganjel.
Ternyata dengan secara tepat dan hebat sekali Kwe Ceng sudah menggunakan lututnya menumbuk jalan darah penyerang gelap tadi, keruan dengan lemas kedua orang itu terkulai ke lantai dan dipakai sebagai kasur pengganjel Kwe Ceng.
Ma Giok tersenyum melihat kejadian ini, katanya: “Bangunlah, Ceng-ji, belasan tahun tak berjumpa, rupanya kepandaianmu sudah jauh lebih maju!”
“Cara bagaimana harus selesaikan beberapa orang ini, harap Totiang memberi petunjuk,” kata Kwe Ceng sambil berdiri.
Tetapi sebelum Ma Giok menjawab, tiba-tiba Kwe Ceng mendengar di belakangnya ada dua orang secara berbareng bersuara tertawa “haha”. Suara tertawaan ini sangat aneh sekali, kalau yang satu tajam menusuk telinga, adalah yang lain sebaliknya nyaring menarik. Cepat Kwe Ceng menoleh, maka tampaklah olehnya di belakangnya sudah berdiri dua orang.
Kedua orang ini yang satu adalah paderi Tibet yang berjubah merah, kepalanya memakai kopiah berlapis emas, wajahnya kurus. Sedangkan yang satu lagi memakai baju kuning, tangan mencekal sebuah kipas lempit, angkuh dan tampan, nyata sekali seorang putera bangsawan. Kedua orang ini berdiri dengan sikap yang tenang dan tidak banyak bicara, terang sekali mereka adalah dua musuh tangguh, sama sekali berbeda dengan para musuh yang lain. Karena itu Kwe Ceng tak berani pandang enteng kedua musuh ini, dengan membungkuk badan ia lantas memberi hormat.
“Siapakah kalian berdua? Ada keperluan apakah datang ke sini?” demikian ia menegur.
“Dan kau sendiri siapa? Untuk apa kau datang kemari?” sambil tertawa putera bangsawan tadi balas bertanya.
“Cayhe (aku yang rendah) she Kwe bernama Ceng, adalah murid beberapa guru yang berada di sini ini,” sahut Kwe Ceng tetap dengan ramah.
“Sungguh tidak nyana dalam Coan-cin-kau ternyata masih ada tokoh seperti kau ini,” ujar si putera bangsawan tertawa.
Meski umur putera bangsawan itu belum ada tiga puluhan, akan tetapi cara mengucapkan kata-katanya ternyata berlagak seperti orang tua saja, seperti tak pandang sebelah mata pada Kwe Ceng.
Sebenarnya Kwe Ceng hendak terangkan bahwa dirinya bukan anak murid Coan-cin-kau, tetapi karena kata-kata orang yang pandang rendah padanya, mau tak mau rada panas juga hatinya. Memang ia pun tak pandai bicara, maka ia tidak ingin banyak omong, ia hanya menjawab singkat saja:
“Kalian berdua ada permusuhan apa dengan Coan-cin-kau? Mengapa perlu mengerahkan kekuatan begini banyak dan membakar kuil ini?”
“Siapakah kau ini? Berdasarkan apa kau berani ikut campur urusan?” sahut Kui-kong-cu (putera bangsawan) ketawa.
“Aku justru ingin ikut campur,” sahut Kwe Ceng ketus.
Sementara itu berkobarnya api semakin hebat dari kini sudah menjalar lebih dekat lagi, tampaknya tidak lama lagi kuil Tiong-yang-kiong itu akan terbakar menjadi tumpukan puing. Tiba-tiba putera bangsawan itu menggerakkan kipas lempitnya, dikembangkan terus ditutup lagi, maka sekilas tampaklah pada kertas kipasnya yang putih itu terlukis setangkai bunga Bo-tan yang indah.
“Akulah yang membawa kawan-kawan ini kemari,” kemudian dia berkata dengan ketawa sambil melangkah maju, “asalkan kau mampu menerima tiga puluh gebrakan dariku, segera aku mengampuni kawanan imam hidung kerbau ini!”
Mendengar kata-kata orang yang sombong ini, Kwe Ceng pun sungkan bicara lebih banyak lagi, tiba-tiba ia ulur tangan kanannya, sekali bergerak dia pegang kipas lempit orang terus ditarik dengan keras. Dengan tarikan ini, kalau putera bangsawan itu tidak melepaskan kipasnya, maka seluruh tubuhnya pasti akan ikut terseret.
Diluar dugaan, begitu Kwe Ceng membetot, badan Kui-kong-cu itu hanya sempoyongan sedikit saja, sedang kipasnya masih belum terlepas dari cekalannya. Tentu saja Kwe Ceng amat terkejut, pikirnya: “Orang ini masih begini muda namun sudah sanggup menahan tenaga tarikanku tadi, di jagat ini ternyata masih ada orang pandai seperti dia, kenapa selamanya aku belum pernah mendengarnya?”
Oleh karena pikiran itu, segera pula dia menambah tenaga tarikannya terus menjambret lagi sambil membentak:
“Lepas!”
Se-konyong-konyong muka putera bangsawan itu bersemu guram, akan tetapi hanya sekilas saja lantas lenyap lagi, mukanya kembali sudah putih bersih pula. Kwe Ceng mengerti orang sedang menahan tenaga tarikannya dengan Iwekang yang tinggi, jika pada saat ini juga dia tambah tenaga tarikannya, asal muka orang tiga kali mengunjuk semu guram, maka dapat dipastikan jerohannya (isi perut) akan terluka parah.
Akan tetapi hati Kwe Ceng memang berbudi. Dia pikir orang ini bisa berlatih diri sampai tingkatan sedemikian, sesungguhnya bukan soal gampang, maka dia tidak ingin melukai orang dengan tenaga berat. Dia tersenyum dan mendadak lepaskan tangannya. Meski Kwe Ceng telah membuka tangannya, tapi nyatanya kipas lempit itu masih terletak di telapak tangannya, lagi pula tenaga Kui-kong-cu yang membetot kembali masih tetap besar. Tapi aneh, tenaga telapak tangan Kwe Ceng ternyata telah dia salurkan dari kipas ke tangan lawan.
Meski putera bangsawan itu sudah berusaha merebut dengan sekuat tenaga, toh tenaga menariknya selalu dipatahkan Kwe Ceng. Dengan demikian kedua belah pihak menjadi bertahan, tidak maju dan tidak mundur. Sungguh pun putera bangsawan itu sudah mengeluarkan seluruh kemahirannya, tapi satu senti pun belum sanggup dia tarik ke pihaknya. Maka insaflah dia bahwa ilmu silat lawan masih jauh di atasnya, dan karena ingin memberi muka padanya, maka lawan tidak rebut kipasnya. Mengingat hal ini, segera ia lepaskan tangannya terus melompat pergi, mukanya menjadi merah malu.
Oleh karena itu, ketika sepenuh tenaga ketujuh imam itu menahan dorongannya, di luar dugaan menyusul satu kekuatan yang maha besar malah menarik kembali ke depan, keruan ketujuh imam muda ini tidak bisa tancap kaki lebih kuat lagi, tanpa kuasa mereka terbanting jatuh. Meski pun segera mereka bisa melompat bangun, tetapi tak urung muka mereka kotor penuh debu hingga mereka merasa malu.
Nampak betapa lihaynya Kwe Ceng, sekali turun tangan tujuh anak muridnya sudah kena dibanting roboh, tentu saja imam jenggot panjang tadi sangat terkejut. Segera dia bersuit panjang, dia gerakkan ke-14 Pak-tau-tin mereka dan bergandeng menjadi satu secara ber-deret-deret.
Dalam keadaan demikian, sekali pun tenaga pukulan Kwe Ceng berlipat ganda tidak mungkin sanggup mendorong ke-98 imam ini. Maka ia tak berani menyerang secara keras lawan keras lagi, segera dia keluarkan Ginkang atau ilmu enteng tubuh, dia menerobos ke sana kemari di antara barisan orang, ia pikir mencari lubang dahulu untuk kemudian baru turun tangan mematahkan barisan.
Sesudah lari sini dan lompat sana, ia sengaja memancing barisan musuh supaya berubah tempat, namun segera ia tahu kalau hanya kekuatan seorang diri saja sungguh sulit mematahkan barisan bintang ini. Sementara itu garis kepungan semakin lama semakin ciut, sehingga Kwe Ceng merasa hendak berkelit atau hindarkan diri makin lama semakin sulit.
Karenanya diam2 Kwe Ceng berusaha cara bagaimana untuk menerjang keluar kepungan musuh. Ketika mendadak dia mendongak, dia lihat jauh di Iamping gunung sebelah kanan sana berdiri satu kuil yang sangat megah, dia taksir tentu itulah Tiong-yang-kiong. Ia lihat kuil itu jauhnya kira-kira belasan li. Ia memperhitungkan suara teriakannya masih bisa mencapai istana itu, maka diam-diam ia kumpulkan seluruh tenaga dalamnya, sesudah siap, mendadak ia berseru keras:
“Tecu (anak murid) Kwe Ceng mohon bertemu! Tecu Kwe Ceng mohon bertemu!”
Begitu keras suara teriakan hingga seperti bunyi guntur di siang hari sampai kuping para imam itu terasa pekak, bahkan tergetar sampai kepala pusing dan mata kabur, seketika daya serangan mereka menjadi kendor.
“Awas, jangan sampai kena dikibuli maling cabul ini,” lekas-lekas imam jenggot panjang memberi semangat pada kawan-kawannya.
Kwe Ceng menjadi marah mendengar orang berulang kali memaki dirinya, ia pikir: “Barisan bintang-bintang ini berada di bawah pimpinannya, asal aku hantam roboh orang ini, ular tanpa kepala, tentu barisan ini tidak sulit lagi dihancurkan.”
Karena itu segera ia buka serangan lagi, mengincar si imam jenggot panjang. Di luar dugaannya, keistimewaan barisan bintang ini justru adalah memancing musuh menggempur pucuk pimpinan, dengan demikian barisan dalam kelompok kecil lainnya segera mengepung dari kedua sayap, bila mana terjadi begini berarti musuh telah terjebak ke dalam jaring-jaring mereka.
Syukur Kwe Ceng bukan sembarang orang. Baru beberapa langkah dia menguber imam jenggot panjang, segera ia merasa gelagat tidak menguntungkan, tiba-tiba ia merasakan daya tekanan dari belakang bertambah hebat, begitu pula dari kedua sayap mengerubut maju secara ber-bondong-bondong. Satu kali dia hendak belok ke kanan, tetapi dua barisan kecil dari depan telah menyerang berbareng dengan 14 pedang. Tempat yang di arah ke-14 pedang para imam ini ternyata tepat dan bagus sehingga Kwe Ceng hendak berkelit pun tak bisa, hendak mengegos pun tak sempat.
Namun begitu menghadapi bahaya demikian, dalam hati Kwe Ceng bukannya menjadi takut, sebaliknya hawa amarahnya semakin memuncak, pikirnya dalam hati: “Sekali pun kalian dakwa aku sebagai maling cabul segala, tapi sebagai orang beragama seharusnya berwelas-asih, kenapa tiap seranganmu begini keji? Apa kalian memang sengaja hendak melenyapkan jiwaku?”
Mendadak dia meloncat ke samping, berbareng sebelah kaki melayang, sekali tendang dia bikin satu imam muda terpental, sedang tangan kiri diulur untuk merebut pedang orang. Dengan senjata rampasan ini ia tangkis tujuh pedang yang sementara itu sudah menyerang lagi dari sebelah kanan. Maka terdengarlah suara nyaring beradunya senjata, tahu-tahu ketujuh pedang musuh sudah terkutung semua, sebaliknya pedang yang Kwe Ceng pegang masih baik-baik saja tanpa rusak.
Hendaklah diketahui bahwa pedang yang dirampas Kwe Ceng itu tiada bedanya dengan pedang para imam yang terkutung dan bukannya lebih tajam, soalnya karena tenaga dalamnya sengaja dia salurkan ke ujung pedang, lantas sekaligus bikin tujuh pedang musuh tergetar putus. Mungkin saking kaget oleh ketangkasan Kwe Ceng ini hingga muka ketujuh imam tadi jadi pucat dan mulut tenganga.
Nampak barisan kawannya bobol, lekas dari samping dua barisan kecil merubung maju melindungi barisan yang duluan. Diam-diam Kwe Ceng ingin mencoba lagi kekuatannya sendiri demi nampak 14 imam kedua kelompok barisan pendatang ini tangan bergandeng tangan, tenaga 14 orang telah tergabung menjadi satu. Maka ia sengaja ayunkan pedang rampasannya dan sekali tempel, senjata ke-14 imam itu segera melengket pada pedang Kwe Ceng.
“Awas!” tiba2 Kwe Ceng berseru, berbareng tangannya sedikit diangkat, maka terdengar suara “krak” yang riuh, ternyata ada dua belas batang pedang para imam yang patah. Masih dua batang lagi telah mencelat terbang ke udara.
Tentu saja imam-imam itu terperanjat luar biasa, lekas mereka melompat mundur. Biar pun senjata para imam itu sekaligus kena dipatahkan dan dilempar pergi, namun Kwe Ceng tidak merasa puas seluruhnya, pikirnya: “Nyata kepandaianku masih belum sampai pada tingkatan yang paling tinggi, maka dua pedang tadi masih belum bisa kubikin patah sekalian.”
Sementara itu para imam telah bertambah waspada, cara mereka menyerang pun lebih berhati-hati, tapi semakin kencang pula kepungan mereka. Sebaliknya karena belum bisa membikin patah semua pedang tadi, Kwe Ceng merasa barisan musuh dijaga lebih kuat, dalam hati dia menjadi ragu. Dia pikir jangan sampai diriku akhirnya kecundang, urusan jangan sampai terlambat, lebih baik turun tangan lebih dulu.
Habis ini dengan sedikit mendakkan tubuh, mendadak Kwe Ceng meloncat ke sudut timur laut. Dengan tindakan ini dia tahu kedua kelompok barisan kecil dari jurusan barat-daya pasti akan berputar maju, namun dia sudah siap. Meski hanya sebatang pedang yang dia pegang, akan tetapi dalam sekejap saja ia sudah menusuk empat belas kali, 14 titik putih gemerdep menyambar berbareng, tiap-tiap tusukannya tepat mengenai ‘yang-kok-hiat’ di pergelangan tangan ke-14 imam itu.
Meski cara menggerakkan tangan Kwe Ceng tidak keras, tapi tahu-tahu para imam itu sudah rasakan tangan mereka tak bertenaga lagi, ke 14 pedang mereka pun terjatuh ke tanah. Luar biasa terkejutnya para imam. Sambil ter-sipu mereka melompat mundur dan ketika pergelangan tangan mereka periksa, nyata ‘Yong-kok-hiat’ yang kena ditutul tadi sedikit tanda merah, namun setetes darah pun tidak mengucur keluar.
Sungguh hebat serangan Kwe Ceng. Dia gunakan ujung pedang yang tajam itu untuk menusuk Hiat-to, tapi sedikit pun tidak bikin lecet kulit daging, sungguh suatu kepandaian yang luar biasa. Keruan para imam itu terperanjat. Dalam hati mereka bisa membayangkan juga apa bila Kwe Ceng mau menebas putus tangan mereka tadi sebenarnya bukan urusan sulit.
Kini sudah ada 5 kali 7 atau 35 pedang yang telah terlepas dari cekalan. Imam yang berjenggot panjang semakin marah. Dia tahu Kwe Ceng masih belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tapi untuk menjaga agar pamor Coan-cin-kau tidak merosot, berulang kali ia memberi perintah lagi, ia persempit lingkaran barisannya. Ia pikir dengan kepungan 98 imam, secara desak-mendesak saja akan dapat menggencet mampus lawannya.
Sebaliknya hati Kwe Ceng menjadi gemas juga, batinnya: “Para To-heng ini sungguh tidak kenal baik dan jelek, agaknya terpaksa aku harus hajar mereka supaya kapok.”
Tanpa ayal lagi segera ia mulai membuka serangan baru, dengan Ginkang yang lihay ia menyusur kesana dan memutar kemari, hanya sekejap saja barisan bintang para imam itu sudah tampak rada kacau.
Melihat gelagat jelek, imam jenggot panjang lekas-lekas memberi perintah agar para kambratnya berlaku tenang dan tetap jaga rapat kedudukan barisan mereka. Ia insyaf apa bila Kwe Ceng sampai ikut berlari, maka akhirnya barisan mereka pasti akan kocar-kacir dipatahkan. Tetapi demi mereka berdiri tenang tak bergerak, Kwe Ceng sendiri gagal usahanya.
“To-heng ini (maksudnya imam jenggot panjang) sangat paham akan rahasia barisannya, nyata dengan cepat dia bisa mengambil tindakan,” demikian diam-diam Kwe Ceng membatin. “Biarlah aku berteriak beberapa kali lagi, coba ada suara sahutan dari Khu-totiang atau tidak.”
Selagi ia mendongak hendak buka mulut, sekilas tertampak olehnya pada pojok kuil yang megah di atas gunung sana lapat-lapat ada berkelebatnya cahaya putih, agaknya seperti ada orang sedang bertempur dengan senjata tajam, hanya sayang karena jaraknya terlalu jauh, maka gerak tubuh orangnya tidak jelas, lebih-lebih suara beradunya senjata tidak bisa kedengaran. Hati Kwe Ceng tergerak “Siapakah yang bernyali begitu besar, berani mengacau Tiong-yang-kiong? Rupanya kejadian malam ini ada sesuatu yang mencurigakan.”
Karena itu, ia ingin lekas memburu ke kuil di atas gunung untuk melihat apa yang terjadi, cuma para imam masih terus merintanginya dengan mati-matian. Akhirnya Kwe Ceng menjadi tidak sabar, tiba-tiba tangan kirinya memukul dengan gerak tipu ‘kian-liong-cay-thian’ (melihat naga di sawah), sedang tangan kanan dengan tipu pukulan ‘kong-liong-yu-hwe’ (naga pembawa sial), sekali serang ia keluarkan ilmu kepandaiannya hantam kanan-kiri dengan kedua tangannya.
Karena serangan kanan-kiri ini, maka barisan bintang raksasa itu terpaksa membagi 49 orang buat menahan serangan dari kiri dan 49 orang lainnya menahan hantaman dari sebelah kanan.
Diluar dugaan, belum penuh gerak serangan Kwe Ceng tadi dilontarkan, di tengah jalan tiba-tiba berubah, gerak tipu ‘kian-liong-cay-thian’ mendadak berubah menjadi ‘’kong-liong-yu-hwe’ dan sekaligus Kwe Ceng gerakkan kedua tangannya dengan tipu pukulan Kian-liong-cay-thian dan Kong-liong-yu-hwe ke kanan dan kiri lalu diputar balik secara berlawanan.
Seungguhnya ilmu pukulan dari kanan-kiri ini, kedua tangan sekaligus mengeluarkan tipu serangan yang berlainan, bahkan di tengah jalan tipu serangan itu bisa berubah, sungguh orang tidak pernah mendengar atau menyaksikannya (dari mana Kwe Ceng memperoleh ajaran ilmu pukulan kanan-kiri dengan serangan yang berlainan, diceritakan dalam kisah Sia Tiauw Enghiong).
Padahal barisan Pak-tau-tin besar sebelah kiri sedang keluarkan tenaga untuk menahan tipu ‘kian-liong-cay-thian’ dan barisan sebelah kanan menangkis tipu ‘kong-liong-yu-hwe’, karena perubahan yang terbalik ini, maka tertampaklah bayangan Kwe Ceng berkelebat, tahu-tahu dia telah meloncat keluar dari celah himpitan kedua barisan besar itu, sebaliknya ke-49 imam itu karena tidak pernah menyangka akan tindakan lawan, keruan lantas terdengar suara gedebukan yang ramai, kedua barisan itu sudah saling tumbuk dan saling seruduk, banyak pedang yang patah dan tangan terluka, ada pula yang muka babak belur dan hidung mancur, beberapa puluh orang telah menderita luka semua.
Meski imam berjenggot panjang sempat hindarkan diri lebih cepat, namun tidak urung dia ikut kelabakan juga. Saking gemasnya, segera dia kerahkan seluruh barisannya terus mengudak. Akan tetapi amarahnya ini justru sudah melanggar pantangan ilmu silat dari golongan Coan-cin-kau yang mengutamakan ketenangan. Sementara itu Kwe Ceng berlari cepat di depan dan dari belakang ke-98 imam itu mengudak dengan kencang.
Tatkala sampai di tepi sebuah kolam besar, Kwe Ceng melihat di depan hanya air belaka, akan tetapi dia tidak kurang akal, mendadak dia lemparkan pedang rampasannya lurus ke permukaan air.
Meski pun pedang ini terbuat dari baja, namun kekuatan yang Kwe Ceng gunakan begitu tepat, maka batang pedang ini beberapa kali me-loncat terapung di atas air. Kesempatan inilah yang digunakan Kwe Ceng dengan baik, ia melayang ke tengah kolam, dengan kaki kanan ia tutul perlahan di atas batang pedang. Pada saat pedang itu tenggelam ke dalam kolam, Kwe Ceng sudah meminjam tenaga tutulan tadi untuk melompat sampai di seberang.
Sebaliknya para imam itu yang sial. Mereka sedang mengudak dengan kencangnya dan tak keburu mengerem, maka terdengarlah suara “plang-plung” yang ramai beberapa puluh kali, nyata ada 40 hingga 50 orang yang telah kecemplung ke dalam kolam. Sedang beberapa puluh yang di belakang menginjak punggung imam-imam yang depan, karena inilah mereka bisa berhenti di tepi kolam.
Sedang karena imam-imam yang kecemplung tadi tidak bisa berenang, banyak yang megap-megap dan berteriak-teriak minta tolong. Imam-imam lainnya yang bisa berenang cepat memberi pertolongan, maka dengan sendirinya tidak sempat buat menguber Kwe Ceng lagi.
Pada waktu para imam ini tunggang langgang, tiba-tiba Kwe Ceng dengar suara genta yang ditabuh keras berkumandang dari Tiong-yang-kiong, itu istana kaum Coan-cin-kau. Suara genta itu dibunyikan secara titir, keras dan kerap, agaknya tanda bahaya.
Waktu itu Kwe Ceng baru lepaskan diri dari rintangan para imam dan lagi berlari menuju Tiong-yang-kiong secepatnya. Ketika ia dengar suara genta rada aneh, ia telah merandek dan mendongak, maka terlihatlah olehnya di belakang kuil suci itu ada sinar api yang ber-kobar menjulang tinggi. Tentu saja Kwe Ceng kaget, pikirnya: “Kiranya hari ini memang benar ada orang hendak menggempur Coan-cin-kau, aku harus lekas-lekas pergi menolongnya.” Sementara itu ia mendengar suara teriakan para imam tadi telah menyusul dari belakang.
Kini Kwe Ceng baru mengerti tentunya imam-imam ini sudah salah sangka dirinya adalah musuh. Kuil mereka sedang terancam bahaya, sudah tentu mereka lebih kalap dan hendak adu jiwa dengan dirinya. Namun ia pun tidak urus mereka lagi melainkan dengan cepat lari terus ke atas.
Dengan Ginkang atau ilmu entengi tubuh yang Kwe Ceng dapat belajar juga dari Coan-cin-kau, yakni ajaran Ma Giok, maka tidak sampai waktu satu tanakan nasi ia sudah tiba di depan Tiong-yang-kiong. Ia melihat api telah berkobar dan menjalar hebat, akan tetapi aneh, ratusan To-su atau imam dari Coan-cin-kau yang masing-masing memiliki ilmu silat tinggi itu ternyata tiada satu pun yang keluar buat memadamkan api.
Diam-diam Kwe Ceng merasa kuatir. Waktu dia mengamati lagi, kiranya api menjalar dari bagian belakang istana yang megah itu, terbukti bagian depannya masih utuh. Cepat ia melintasi pagar tembok yang tinggi dan melompat masuk pelataran depan kuil, maka terlihatlah olehnya di pendopo sana sudah ber-jubel-jubel orang yang sedang saling hantam dengan mati-matian.
Waktu Kwe Ceng menegasi pula, dia melihat ada 49 orang imam berjubah kuning yang tersusun menjadi tujuh barisan Pak-tau-tin sedang menandingi serangan 60 atau 70 orang musuh. Para musuh pendatang itu ada yang tinggi ada yang pendek, gemuk atau kurus, seketika tak dapat dilihat dengan terang. Hanya kepandaian silat serta golongan para pendatang ini berlainan, ada yang memakai senjata dan ada yang menggunakan tangan kosong. Mereka terus merangsek dengan sepenuh tenaga.
Sebenarnya ilmu silat para penyerang ini tidak lemah, pula jumlahnya lebih banyak, maka para imam Coan-cin-kau sudah mulai terdesak. Hanya saja lawan mereka menyerang dan menghantam secara perseorangan, sebaliknya ketujuh barisan bintang para imam dapat bahu-membahu dan bantu membantu, mereka menjaga diri dengan sangat rapat, Meski para musuh sangat lihay namun tak mampu mendesak para imam barang selangkah pun.
Melihat pertarungan besar-besaran ini, Kwe Ceng menjadi heran, Selagi ia hendak membentak dan bertanya, tiba-tiba ia mendengar di istana kuil itu ada suara sambaran angin yang men-deru-deru, kiranya di dalam sana masih ada rombongan lain lagi yang tengah bertempur. Dari angin pukulan yang kedengaran itu, agaknya orang yang bergebrak di dalam istana itu ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari pada para penyerang yang berada di luar.
Lekas Kwe Ceng memburu maju, ia mengegos dan menerobos masuk, ia berkelit ke kiri terus menyusup ke kanan, tahu-tahu ia telah menyelip masuk melalui Pak-tau-tin para imam, Tentu saja imam-imam Coan-cin-kau sangat kaget, berbareng mereka saling memperingatkan kawannya, tapi karena tekanan musuh dari luar terlalu hebat, maka mereka tidak sanggup membagi sebagian untuk mengudak Kwe Ceng.
Di dalam istana sebenarnya terang benderang oleh belasan lilin yang besar, tatkala itu api yang berkobar dari ruangan belakang sudah menjalar ke depan, dari pancaran sinar api yang berkobar itu bercampurkan asap tebal yang menghembus terbawa angin, sinar lilin di dalam ruangan hanya kelihatan remang-remang saja.
Sementara Kwe Ceng melihat di dalam istana itu ber-deret tujuh imam duduk sila di atas kasuran yang bundar, telapak tangan kiri mereka saling menempel, hanya tangan kanan mereka yang dikeluarkan untuk menahan kepungan belasan orang musuh.
Begitu datang Kwe Ceng tidak periksa pihak musuh, melainkan terus pandang dulu pada ketujuh imam Coan-cin-kau. Ia lihat di antara tujuh orang itu yang tiga sudah berumur dan empat lainnya masih muda, yang tua itu masing-masing ialah Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, sedangkan di antara empat imam yang muda hanya seorang saja yang dia kenal, yakni In Ci-peng, murid Khu Ju-ki.
Ketujuh imam ini pun memasang barisan Pak-tau-tin, mereka berduduk saja tanpa bergerak. Di antara tujuh imam ini ada satu di antaranya yang kepalanya menunduk dan sedikit membungkuk hingga mukanya tidak tampak jelas. Demi melihat Ma Giok bertujuh berada dalam keadaan terancam, seketika darah Kwe Ceng jadi panas. Dia pun tidak peduli lagi siapa dan dari mana adanya musuh, dengan sekali bentakan yang menggeledek segera ia mendamperat:
“Kawanan bangsat yang kurang ajar, berani kalian main gila di Tiong-yang-kiong?”
Berbareng itu kedua tangan mengulur, sekaligus dia dapat mencengkeram punggung dua orang musuh. Selagi dia bermaksud membanting sasaran pertama, tak terduga kedua orang ini ternyata tergolong jagoan tinggi, walau pun punggung mereka kena dijamberet, namun kedua kaki mereka ternyata masih terpaku di lantai dan tidak kena dibanting. Tentu saja Kwe Ceng kaget sekali, pikirnya: “Dari manakah mendadak bisa datang lawan keras begini banyak? Pantas kalau Coan-cin-kau hari ini harus menderita kekalahan.”
Sambil berpikir ia pun lantas kerjakan serangan lain, mendadak kendurkan jamberetan-nya tadi, menyusul kakinya melayang, ia serampang kaki kedua orang lawannya. Pada waktu itu pula kedua lawannya sedang mengeluarkan kepandaian ‘Cian-kin-tui’ atau tindihan seberat ribuan kati, yakni semacam ilmu yang bikin tubuhnya menjadi berat untuk melawan tarikan pwe Ceng, sama sekali tidak mereka duga bahwa Kwe Ceng dapat mengubah serangannya secepat itu. Tanpa ampun lagi mereka kena diserampang hingga tubuh mereka mencelat keluar pintu.
Tentu saja pihak penyerang terkejut tatkala mengetahui pihak lawan kedatangan bala bantuan. Akan tetapi karena mereka merasa yakin pasti akan berada di pihak pemenang, maka datangnya Kwe Ceng tidak mereka perhatikan. Hanya ada dua orang yang segera maju dan membentak:
“Siapa kau?!”
Namun Kwe Ceng tidak menggubris. Tanpa berkata dia sambut kedua orang ini dengan gablokan kedua telapak tangannya secara susul-menyusul. Sungguh tak pernah diduga oleh kedua orang itu, sebelum mereka mendekat mendadak tenaga pukulan Kwe Ceng sudah membikin mereka tergetar hingga tak bisa berdiri tegak. Tanpa ampun lagi terdengarlah dua kali suara “bluk”, punggung mereka tertumpuk pada dinding tembok dengan keras hingga darah segar muncrat keluar dari mulut mereka.
Melihat empat kawan mereka roboh beruntun, keruan para musuh lainnya segera menjadi jeri, seketika tiada lagi yang berani maju buat mencegat. Di lain pihak, Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it segera mengenali Kwe Ceng. Dalam hati mereka menjadi girang luar biasa.
“Orang ini datang, Coan-cin-kau kami tidak perlu kuatir lagi!” demikian kata mereka dalam hati.
Sementara Kwe Ceng sama sekali tidak memandang sebelah mata pada para musuhnya, bahkan ia lantas berlutut di hadapan Ma Giok memberi hormat tanpa gubris musuh-musuh yang lain.
“Tecu Kwe Ceng memberi hormati,” demikian ia berkata.
Tatkala itu rambut alis Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sudah putih karena usia. Mereka hanya memanggut sambil bersenyum dan angkat tangan buat balas hormat.
“Awas, Kwe-heng!” tiba-tiba In Ci-peng berseru memperingatkan Kwe Ceng.
Sementara itu, Kwe Ceng sudah merasa di belakang kepalanya ada mendesisnya angin, ia tahu ada musuh melakukan pembokongan, tetapi dia pun tidak menoleh atau berpaling. Dengan tangan menahan lantai, tubuhnya terangkat ke atas dan di waktu turunnya, kedua lututnya dengan tepat menindih di atas punggung kedua pembokong ini. Dengan demikian Kwe Ceng masih tetap berlutut, hanya saja di bawah lututnya sudah bertambah dengan dua orang pengganjel.
Ternyata dengan secara tepat dan hebat sekali Kwe Ceng sudah menggunakan lututnya menumbuk jalan darah penyerang gelap tadi, keruan dengan lemas kedua orang itu terkulai ke lantai dan dipakai sebagai kasur pengganjel Kwe Ceng.
Ma Giok tersenyum melihat kejadian ini, katanya: “Bangunlah, Ceng-ji, belasan tahun tak berjumpa, rupanya kepandaianmu sudah jauh lebih maju!”
“Cara bagaimana harus selesaikan beberapa orang ini, harap Totiang memberi petunjuk,” kata Kwe Ceng sambil berdiri.
Tetapi sebelum Ma Giok menjawab, tiba-tiba Kwe Ceng mendengar di belakangnya ada dua orang secara berbareng bersuara tertawa “haha”. Suara tertawaan ini sangat aneh sekali, kalau yang satu tajam menusuk telinga, adalah yang lain sebaliknya nyaring menarik. Cepat Kwe Ceng menoleh, maka tampaklah olehnya di belakangnya sudah berdiri dua orang.
Kedua orang ini yang satu adalah paderi Tibet yang berjubah merah, kepalanya memakai kopiah berlapis emas, wajahnya kurus. Sedangkan yang satu lagi memakai baju kuning, tangan mencekal sebuah kipas lempit, angkuh dan tampan, nyata sekali seorang putera bangsawan. Kedua orang ini berdiri dengan sikap yang tenang dan tidak banyak bicara, terang sekali mereka adalah dua musuh tangguh, sama sekali berbeda dengan para musuh yang lain. Karena itu Kwe Ceng tak berani pandang enteng kedua musuh ini, dengan membungkuk badan ia lantas memberi hormat.
“Siapakah kalian berdua? Ada keperluan apakah datang ke sini?” demikian ia menegur.
“Dan kau sendiri siapa? Untuk apa kau datang kemari?” sambil tertawa putera bangsawan tadi balas bertanya.
“Cayhe (aku yang rendah) she Kwe bernama Ceng, adalah murid beberapa guru yang berada di sini ini,” sahut Kwe Ceng tetap dengan ramah.
“Sungguh tidak nyana dalam Coan-cin-kau ternyata masih ada tokoh seperti kau ini,” ujar si putera bangsawan tertawa.
Meski umur putera bangsawan itu belum ada tiga puluhan, akan tetapi cara mengucapkan kata-katanya ternyata berlagak seperti orang tua saja, seperti tak pandang sebelah mata pada Kwe Ceng.
Sebenarnya Kwe Ceng hendak terangkan bahwa dirinya bukan anak murid Coan-cin-kau, tetapi karena kata-kata orang yang pandang rendah padanya, mau tak mau rada panas juga hatinya. Memang ia pun tak pandai bicara, maka ia tidak ingin banyak omong, ia hanya menjawab singkat saja:
“Kalian berdua ada permusuhan apa dengan Coan-cin-kau? Mengapa perlu mengerahkan kekuatan begini banyak dan membakar kuil ini?”
“Siapakah kau ini? Berdasarkan apa kau berani ikut campur urusan?” sahut Kui-kong-cu (putera bangsawan) ketawa.
“Aku justru ingin ikut campur,” sahut Kwe Ceng ketus.
Sementara itu berkobarnya api semakin hebat dari kini sudah menjalar lebih dekat lagi, tampaknya tidak lama lagi kuil Tiong-yang-kiong itu akan terbakar menjadi tumpukan puing. Tiba-tiba putera bangsawan itu menggerakkan kipas lempitnya, dikembangkan terus ditutup lagi, maka sekilas tampaklah pada kertas kipasnya yang putih itu terlukis setangkai bunga Bo-tan yang indah.
“Akulah yang membawa kawan-kawan ini kemari,” kemudian dia berkata dengan ketawa sambil melangkah maju, “asalkan kau mampu menerima tiga puluh gebrakan dariku, segera aku mengampuni kawanan imam hidung kerbau ini!”
Mendengar kata-kata orang yang sombong ini, Kwe Ceng pun sungkan bicara lebih banyak lagi, tiba-tiba ia ulur tangan kanannya, sekali bergerak dia pegang kipas lempit orang terus ditarik dengan keras. Dengan tarikan ini, kalau putera bangsawan itu tidak melepaskan kipasnya, maka seluruh tubuhnya pasti akan ikut terseret.
Diluar dugaan, begitu Kwe Ceng membetot, badan Kui-kong-cu itu hanya sempoyongan sedikit saja, sedang kipasnya masih belum terlepas dari cekalannya. Tentu saja Kwe Ceng amat terkejut, pikirnya: “Orang ini masih begini muda namun sudah sanggup menahan tenaga tarikanku tadi, di jagat ini ternyata masih ada orang pandai seperti dia, kenapa selamanya aku belum pernah mendengarnya?”
Oleh karena pikiran itu, segera pula dia menambah tenaga tarikannya terus menjambret lagi sambil membentak:
“Lepas!”
Se-konyong-konyong muka putera bangsawan itu bersemu guram, akan tetapi hanya sekilas saja lantas lenyap lagi, mukanya kembali sudah putih bersih pula. Kwe Ceng mengerti orang sedang menahan tenaga tarikannya dengan Iwekang yang tinggi, jika pada saat ini juga dia tambah tenaga tarikannya, asal muka orang tiga kali mengunjuk semu guram, maka dapat dipastikan jerohannya (isi perut) akan terluka parah.
Akan tetapi hati Kwe Ceng memang berbudi. Dia pikir orang ini bisa berlatih diri sampai tingkatan sedemikian, sesungguhnya bukan soal gampang, maka dia tidak ingin melukai orang dengan tenaga berat. Dia tersenyum dan mendadak lepaskan tangannya. Meski Kwe Ceng telah membuka tangannya, tapi nyatanya kipas lempit itu masih terletak di telapak tangannya, lagi pula tenaga Kui-kong-cu yang membetot kembali masih tetap besar. Tapi aneh, tenaga telapak tangan Kwe Ceng ternyata telah dia salurkan dari kipas ke tangan lawan.
Meski putera bangsawan itu sudah berusaha merebut dengan sekuat tenaga, toh tenaga menariknya selalu dipatahkan Kwe Ceng. Dengan demikian kedua belah pihak menjadi bertahan, tidak maju dan tidak mundur. Sungguh pun putera bangsawan itu sudah mengeluarkan seluruh kemahirannya, tapi satu senti pun belum sanggup dia tarik ke pihaknya. Maka insaflah dia bahwa ilmu silat lawan masih jauh di atasnya, dan karena ingin memberi muka padanya, maka lawan tidak rebut kipasnya. Mengingat hal ini, segera ia lepaskan tangannya terus melompat pergi, mukanya menjadi merah malu.
MASA MUDA ONG TIONG-YANG
“Mohon tanya she dan nama tuan yang terhormat,” kata Kui-kong-cu itu kemudian sambil membungkukkan badan.
“Ah, nama Cayhe tiada harganya disebut, cuma Ma-cinjin, Khu-cinjin dan Ong-cinjin yang berada di sini ini memang semuanya adalah guru Cayhe yang berbudi,” sahut Kwe Ceng.
Karena jawaban ini, Kui-kong-cu itu setengah percaya setengah sangsi. Ia pikir pihaknya tadi sudah menggempur Coan-cin-chit-to (tujuh imam Coan-cin-kau) dan yang tertampak lihay hanya barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin mereka, apa bila bergebrak satu lawan satu, maka tiada satu pun dari Tosu-tosu itu yang mampu menandingi dirinya, tapi mengapa anak muridnya malah bisa begini lihay? Dalam sangsinya kembali ia mengamat-amati Kwe Ceng lagi, sudah tentu yang tertampak olehnya, Kwe Ceng memakai baju dari kain kasar yang tidak ada bedanya dengan petani biasa saja.
Dan selagi ia hendak membuka mulut mengucapkan beberapa kata-kata halus untuk kemudian membawa begundalnya segera mundur teratur, tiba-tiba dari luar terdengar suara mengaungnya tabuhan khim (kecapi). Suara khim ini sangat lembut tetapi merdu, karena itu setiap orang yang mendengar tergetar hatinya.
Mendengar suara tabuhan khim itu, air muka Kui-kong-cu kelihatan rada berubah. “llmu silatmu sungguh mengejutkan orang, aku merasa sangat kagum. Sepuluh tahun lagi aku akan datang kembali minta petunjuk. Karena masih ada urusan lain yang belum selesai, baiklah sekarang juga aku mohon diri,” demikian katanya pada Kwe Ceng. Habis berkata, kembali ia memberi hormat pula.
“Sepuluh tahun kemudian tentu aku akan tunggu kau di sini,” sahut Kwe Ceng membalas hormat orang.
Sementara itu putera bangsawan telah memutar tubuh dan berjalan keluar, tetapi baru sampai depan pintu, tiba-tiba dia menoleh dan berkata pula:
“Urusanku dengan Coan-cin-kau hari ini aku terima mengaku kalah, hanya kuharap To-yu (kawan dalam agama) dari Coan-cin-kau janganlah ikut campur lagi atas urusan pribadiku.”
Menurut peraturan Kangouw, bila seseorang telah mengaku kalah dan terima menyerah, pula sudah menentukan harinya untuk kemudian adu kepandaian lagi, maka sebelum tiba hari yang dijanjikan, meski pun saling kepergok lagi di tengah jalan, sekali-kali tidak boleh saling labrak dahulu. Oleh karena itulah, maka Kwe Ceng lantas menjawab:
“Ya, sudah tentu.”
Maka tersenyumlah Kui-hong-cu itu, segera ia hendak melangkah pergi pula. Di luar dugaan, mendadak Khu Ju-ki telah menyentaknya dengan suara keras:
“Tak perlu sampai sepuluh tahun aku Khu Ju-ki pasti pergi mencari kau.”
Mendengar suara bentakan yang kuat hingga anak telinga tergetar se-akan pecah, hati putera bangsawan itu menjadi keder, ia ragu apa orang tadi belum mengeluarkan seluruh kepandaian untuk melawannya? Karenanya ia tak berani tinggal lebih lama lagi, segera ia bertindak pergi dengan cepat. Sesudah memandang Kwe Ceng sekejap dengan mata melotot, paderi Tibet itu pun ikut pergi bersama kawan-kawannya yang lain.
Kwe Ceng lihat kawanan musuh ini berwajah lain dari biasanya, hidung mereka besar dan berewokan, rambut keriting serta mata dekuk, tampaknya seperti bukan orang dari negeri sendiri, maka dalam hati ia tak habis mengerti dan menaruh curiga. Sementara ia dengar suara saling adunya senjata dan suara bentakan di ruangan depan sudah mulai berhenti, ia tahu tentu musuh sudah mundur pergi.
Sementara itu ia lihat Ma Giok bertujuh sudah pada berdiri, di samping itu terdapat pula satu orang yang menggeletak terlentang di atas lantai. Ketika Kwe Ceng maju melihatnya, dia kenal Kong-ling-cu Hek Tay-thong, satu di antara Coan-cin-chit-cu atau tujuh tokoh dari Coan-cin-kau. Kiranya meski Ma Giok dan lainnya terancam oleh bahaya api, tetapi mereka tetap duduk tenang tanpa bergerak, sebabnya karena ingin melindungi kawan yang terluka ini.
Waktu Kwe Ceng memeriksanya, dia melihat muka Hek Tay-thong pucat laksana kertas, napasnya lemah dan matanya tertutup rapat, terang sekali menderita luka berat. Ketika Kwe Ceng membuka jubahnya, dia menjadi lebih terkejut lagi, dia melihat di dada imam itu terdapat bekas lima jari tangan dengan terang sekali, warna bekas jari ini matang biru dan mendekuk ke dalam daging.
“Di kalangan Bu-lim belum pernah kudengar ada yang memiliki ilmu kepandaian semacam ini. Apa karena belasan tahun aku terasing di Tho-hoa-to lalu semua kejadian di bumi ini sudah berubah jauh?” demikian pikirnya.
Maka segera dia berjongkok dan mengeluarkan ilmu It-yang-ci atau totokan jari sakti, berulang dua kali dia totok bagian bawah bahu Hek Tay-thong. Dua kali totokan ini meski tidak bisa menyembuhkan luka dan menghilangkan racun pada luka Hek Tay-thong, namun dalam dua belas jam keadaan luka boleh dipercaya tidak bakal meluas dan memburuk.
Sementara itu api berkobar semakin hebat dan sukar ditolong lagi, lekas Khu Ju-ki mengangkat Hek Tay-thong.
“Hayo, lekas keluar!” demikian ajaknya cepat.
“He, di manakah anak yang aku bawa? Siapakah yang menahan dia? Jangan sampai dia dimakan api!” tanya Kwe Ceng tiba-tiba.
Tadi Khu Ju-ki dan kawan-kawannya sedang melawan musuh dengan seluruh perhatian, dengan sendirinya dia tidak tahu seluk-beluk urusan Yo Ko yang dibawa kemari. Mereka menjadi bingung.
“Anak? Anak siapa? Di mana dia?” demikian tanya mereka berbareng.
Dan sebelum Kwe Ceng menjawab, di antara sinar api yang berkobar-kobar itu tiba-tiba ada berkelebatnya bayangan orang, sesosok tubuh yang kecil tahu-tahu telah melompat turun dari atas belandar rumah.
“Aku berada di sini, Kwe-pepek,” demikianlah seru anak kecil itu dengan ketawa. Siapa lagi dia kalau bukan Yo Ko?
Tentu saja Kwe Ceng terkejut bercampur girang. “Mengapa kau bisa bersembunyi di atas belandar rumah?” lekas ia tanya.
“Tadi, waktu aku dengan ketujuh imam busuk itu...”
“Hus, jangan kurang ajar kau!” bentak Kwe Ceng memotong sebelum Yo Ko meneruskan “Hayo, lekas memberi hormat kepada para Co-su-ya (kakek guru).”
Karena bentakan itu Yo Ko meleletkan lidahnya. Dia tak berani membantah, segera dia berlutut ke hadapan Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bertiga untuk menjura. Ketika sampai gilirannya harus menjura kepada In Ci-peng, Yo Ko melihat orang itu masih muda, maka lebih dulu ia berpaling dan bertanya kepada Kwe Ceng:
“Kwe-pepek, apakah dia Co-su-ya juga? Agaknya tidak perlu lagi aku menjura, ya?”
“Dia ini In-supek (paman guru), lekas menjura,” sahut Kwe Ceng.
Terpaksa Yo Ko harus menjura lagi, sungguh pun dalam hati seribu kali tidak sudi. Habis ini, Kwe Ceng melihat Yo Ko lantas berdiri dan tidak menjura pula pada tiga imam setengah umur yang lain, maka kembali ia membentak:
“Ko-ji, kenapa kurang ajar? Hayo, menjura lagi!”
“Kalau harus menunggu aku selesai menjura, mungkin tak keburu lagi, nanti jangan Kwe-pepek salahkan aku,” dengan tertawa Yo Ko menjawab.
Kwe Ceng sudah kenal anak ini. Kelakuannya sangat aneh dan nakal, banyak pula tipu akalnya, Maka ia lantas bertanya:
“Soal apa yang tak keburu lagi?”
“ltu, di sana ada satu paman To-su diringkus orang di dalam kamar, apa bila tidak segera ditolong, mungkin akan terbakar mati oleh api,” sahut Yo Ko.
“Kamar yang mana? Lekas katakan!” tanya Kwe Ceng dengan cepat.
“Eeeh, nanti dulu, coba aku ingat-ingat dulu, ai, mengapa aku jadi lupa,” demikian Yo Ko menjawab dengan ketawa.
Tentu saja In Ci-peng menjadi gemas. Dia melotot sekejap pada Yo Ko, kemudian dengan langkah cepat ia berlari ke kamar sebelah timur. Ia dobrak pintu kamar, tapi tiada seorang pun. Kembali ia berlari ke kamar murid angkatan ketiga yang biasa untuk berlatih.
Ketika ia tendang terpentang pintu kamar ini, ternyata seluruh kamar telah penuh dengan asap yang tebal, remang-remang kelihatan satu imam yang teringkus di tiang ranjang, mulutnya menganga dan sedang ber-teriak-teriak minta tolong dengan suara yang serak, mungkin saking lamanya ia men-jerit-jerit.
Melihat keadaan sudah amat mendesak, cepat In Ci-peng mencabut pedangnya, dengan sekali tebas, ia potong tali pengikat dan membebaskan imam itu dari ancaman maut.
Sementara itu Khu Ju-ki, Kwe Ceng, Yo Ko dan lainnya telah selamatkan diri keluar kuil, mereka sudah berdiri di atas tanah tanjakan dan sedang menyaksikan mengamuknya jago merah yang menjilat-jilat semakin hebat. Oleh karena di atas gunung memang tidak gampang didapatkan air yang cukup, maka tanpa berdaya mereka menyaksikan kuil yang megah itu lambat laun ambruk untuk akhirnya menjadi tumpukan puing belaka.
Watak Khu Ju-ki sangat keras dan berangasan, sekarang menyaksikan kuil mereka yang bersejarah ini ditelan mentah-mentah oleh api, dia mengutuk tidak habisnya pada musuh.
Selagi Kwe Ceng hendak tanya siapakah sebenarnya musuh yang datang itu dan kenapa turun tangan secara keji begini, tiba-tiba ia melihat sebelah tangan In Ci-peng mengempit satu imam sedang menerobos keluar di antara gumpalan asap yang tebal. Karena kepelepekan oleh asap tebal, imam yang dikempit In Ci-peng masih ter-batuk-batul hingga kedua matanya mengucurkan air mata, tapi demi nampak Yo Ko, dadanya hampir meledak saking gusarnya, tanpa pikir lagi segera ia ulur tangan terus menubruk bocah itu.
Namun perbuatan orang hanya diganda tertawa oleh Yo Ko. Ketika imam itu menubruk tiba, dengan cepat ia sembunyi ke belakang Kwe Ceng. Rupanya imam itu belum kenal siapa adanya Kwe Ceng, maka dia telah mendorong dada Kwe Ceng dengan maksud kesampingkan orang supaya lebih leluasa menangkap Yo Ko. Siapa duga dorongannya laksana kena dinding saja, sedikit pun Kwe Ceng tidak bergerak. Karena itu, sesaat imam itu menjadi kesima, tetapi segera dia tuding Yo Ko dan mencaci maki:
“Anak jadah, berani kau pedayai To-ya (tuan imam), hampir aku terbakar mampus karena perbuatanmu!” demikian teriaknya murka.
“Ceng-kong, apa yang kau katakan?” tiba-tiba Ong Ju-it membentaknya dari samping.
Ternyata Tosu atau imam yang kena ‘dikerjai’ Yo Ko ini adalah cucu-murid Ong Ju-it dan bernama Ceng-kong. Tadi ia beruntung bisa diselamatkan dari elmaut atas pertolongan In Ci-peng. Dalam sengitnya begitu nampak Yo Ko segera ia menubruk maju untuk mengadu jiwa, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa para paman guru dan kakek gurunya juga berada di situ. Kini mendadak dibentak Ong Ju-it, baru dia ingat telah berlaku kurang sopan, keruan ia berkeringat dingin saking takutnya.
“Ya, Tecu patut mampus,” katanya kemudian dengan tangan lurus ke bawah.
“Ada urusan apakah sebenarnya? Katakan!” bentak Ong Ju-it lagi.
“Semuanya karena Tecu sendiri yang tak becus, harap Cosuya memberi ampun,” sahut Ceng-kong.
Karena jawaban yang lain dari pada yang ditanya, Ong Ju-it mengerutkan kening. “Memangnya siapa yang bilang kau becus? Aku hanya bertanya, sebenarnya ada urusan apakah?” ulangi Ong Ju-it.
“Tadi Tecu diperintah oleh Thio Ci-goan-Susiok agar menjaga di belakang, kemudian Thio-susiok membawa anak... anak...”
Sebenarnya Ceng-kong hendak mengatakan “anak jadah,” untung ia lantas ingat sedang berhadapan dengan Cosuya, maka ia tidak berani keluarkan kata-kata kotor, lekas dia ganti: “anak... anak kecil ini dan diserahkan padaku. Ia bilang anak ini ikut naik gunung bersama musuh tapi dapat ditawan Thio-susiok, maka aku diperintahkan untuk mengawasinya agar jangan sampai anak ini melarikan diri. Oleh karena itu Tecu lalu membawanya ke dalam kamar latihan di sebelah timur. Siapa duga, duduk tidak lama mendadak anak... anak kecil ini memakai tipu muslihat, katanya ingin kencing dan minta aku lepaskan tali yang meringkus tangannya, Tecu tak mau diakali, maka dengan tanganku sendiri kubukakan celananya biar kencing. Siapa tahu bocah ini memang berhati jahat, habis kencing hingga membuat sebagian lantai basah kuyup, waktu aku mengikat celananya lagi, mendadak ia mendorong aku dengan keras.”
Bercerita sampai di sini, tiba-tiba saja terdengar Yo Ko ketawa ngikik, keruan Ceng-kong menjadi marah.
“Anak... anak apa yang kau tertawakan?” damperatnya dengan gemas.
Tetapi Yo Ko malah mengangkat kepala melihat ke atas, tanpa memandang ia menjawab:
“Aku tertawa sendiri, peduli apa dengan kau?”
Sudah tentu Ceng-kong tidak menyerah mentah-mentah, ia hendak adu mulut dengan bocah ini kalau saja Ong Ju-it tidak membentaknya.
“Tak perlu kau ribut-ribut dengan anak kecil, lekas teruskan ceritamu!” kata Ong Ju-it.
“Ya, ya,” sahut Ceng-kong ketakutan, “Engkau tak tahu, Cosuya, anak ini licin luar biasa. Sesudah aku didorong hingga jatuh telentang di atas lantai yang basah kuyup dengan air kencingnya, dan selagi aku hendak melompat bangun buat persen dia beberapa kali tamparan, mendadak dengan cengar-cengir dia malah mendekati aku dan berkata: “Wah, To-ya, aku telah bikin kotor pakaianmu!”
Mendengar cara Ceng-kong menirukan suara perkataan Yo Ko yang masih kanak-kanak kedengaran lucu sekali, semua orang diam-diam merasa amat geli. Hanya Ong Ju-it yang mengkerut kening lagi, di dalam hati ia damperat habis-habisan cucu-muridnya yang bikin malu di depan orang banyak ini.
“Mendengar kata-kata-nya itu, aku mengira dorongan padaku tadi karena tidak disengaja, maka aku tidak menyalahkan dia lebih jauh,” demikian Ceng-kong melanjutkan ceritanya, “Sementara itu ia mendekati aku, tampaknya seperti hendak bantu membangunkan aku, tetapi kedua tangannya terikat, maka tidak bisa berbuat apa-apa. Tak tahunya mendadak dia lantas melompat dan mencemplak ke atas tubuhku, dia menunggangi aku yang masih telentang, bahkan mulutnya terus ditempelkan ke leherku dan menggigit tenggorokanku.”
Bercerita sampai di sini, tanpa terasa Ceng-kong meraba-raba lehernya, agaknya masih terasa sakit oleh bekas gigitan tadi.
“Dengan sendirinya aku jadi terperanjat,” sambungnya lagi, “aku berusaha membalikkan tubuh buat banting dia, siapa duga, ia menggigit lebih kencang, kalau sekali lagi dia gigit mungkin jalan pernapasanku bisa putus, Karena terpaksa, aku tak berani berkutik, dengan jalan halus aku lantas memohon: ‘Sudahlah, tentu kau ingin aku lepaskan tali pengikatmu, bukan?’. Dia mengangguk-angguk atas pertanyaanku ini, sebaliknya aku masih ragu-ragu, maka kembali dia perkeras lagi gigitannya, saking sakitnya sampai aku ber-teriak-teriak.
Pikirku pada saat itu: “Biarlah aku lepaskan talinya, asal dia tidak menggigit lagi, masakah dengan satu anak kecil saja aku kalah?” Maka aku lantas lepaskan tali pengikatnya. Tak terduga, begitu tangannya merdeka, segera ia cabut pedangku terus menodong ulu hatiku dan mengancam, bahkan senjata berbalik makan tuan, dia malah menggunakan tali yang mengikat dia tadi untuk meringkus diriku pada tiang ranjang, dia mengiris sepotong kain bajuku pula lantas menyumbat mulutku. Belakangan kuil kita terbakar, hendak lari aku tak dapat, ingin berteriak juga tak bisa, kalau bukan In-susiok tadi yang menolong, tentu Tecu sudah terbakar hidup-hidup karena anak kecil ini?” Habis bercerita, dengan mata melotot ia memandang Yo Ko dengan murka.
Setelah mendengar penuturannya, semua orang sebentar memandang Yo Ko, di saat lain memandang Ceng-kong, yang satu tubuhnya kurus kecil, sedangkan yang satunya lagi berperawakan tinggi besar, tetapi yang gede kena dikibuli hingga tak berdaya. Saking gelinya, semua orang tertawa terbahak-bahak.
Ceng-kong menjadi bingung, ia cakar-cakar kuping dan garuk-garuk kepala dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Ceng-ji,” kata Ma Giok kemudian dengan tertawa, “apakah ini puteramu? Tampaknya dia telah lengkap menurunkan tabiat sang ibu, oleh karena itu begini nakal dan cerdik.”
“Bukan,” sahut Kwe Ceng, “dia adalah putera tinggalan dalam perut dari adik angkatku, Yo Khong.”
Ketika tiba-tiba mendengar nama Yo Khong disebut, hati Khu Ju-ki terkesiap, Kemudian ia mencoba mengamat-amati Yo Ko, betul juga ia lihat wajah bocah ini rada mirip dengan Yo Khong.
Antara Khu Ju-ki dan Yo Khong terdapat hubungan guru dan murid. Meski kemudian Yo Khong berkelakuan kurang baik, tamak kedudukan dan serakah akan kemewahan, terima mengaku musuh sebagai bapak, tetapi bila Khu Ju-ki teringat semua itu, selalu ia merasa dirinya kurang sempurna mendidik anak muridnya hingga akibatnya Yo Khong menjadi tersesat, maka sering kali dalam hati ia merasa menyesal. Sekarang demi mendengar Yo Khong mempunyai keturunan tentu saja ia sangat girang, lekas ia bertanya lebih jelas.
Begitulah, tanpa menghiraukan Tiong-yang-kiong mereka telah habis ditelan api, Ma Giok dan Khu Ju-ki sebaliknya mendengarkan penuturan Kwe Ceng tentang diri Yo Ko dengan penuh perhatian.
“Ceng-ji, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini boleh dikatakan tingkat kepandaianmu sudah jauh di atas tingkatan kami, kenapa tidak kau sendiri yang mengajar dia?” demikian kata Khu Ju-ki kemudian setelah mendengar bahwa Kwe Ceng sengaja membawa Yo Ko ke Cong-lam-san buat belajar silat.
“Soal ini akan kuterangkan kelak,” sahut Kwe Ceng, “Hanya kedatangan Tecu sekarang telah banyak bikin ribut para To-heng, inilah yang bikin hatiku tidak enak sekali.”
Kemudian ia lantas menuturkan pula tentang kesalah pahaman sewaktu ia naik gunung tadi sehingga saling gebrak dengan para imam yang memasang jaring-jaring Pak-tau-tin buat mencegatnya.
Mendengar cerita ini, seketika Khu Ju-ki menjadi marah. “Sungguh tak berguna, Ci-keng memimpin barisan luar, kenapa tidak bisa membedakan kawan atau lawan?” katanya, “Memang aku merasa heran kenapa barisan yang kita pasang begitu kuat di luar itu bisa begitu cepat dibobol musuh hingga menerjang ke atas gunung, kita diserang dalam keadaan belum siap. Hmm, kiranya dia telah kerahkan Pak-tau-tin yang dia pimpin untuk merintangi kedatanganmu.” Semakin berkata, tampak Khu Ju-ki semakin menjadi marah.
“Mungkin itu disebabkan salah paham,” ujar Kwe Ceng, “ketika berada di bawah gunung, tanpa sengaja Tecu telah tepuk hancur batu pilar yang terukir syair buah tangan Totiang, mungkin inilah yang menimbulkan salah paham.”
Mendengar keterangan ini, air muka Khu Ju-ki berubah menjadi tenang kembali. “Oh, kiranya begitu, kalau demikian tidak bisa menyalahkan mereka,” ujarnya. “Memang begitu kebetulan, sebab musuh yang hendak menyerang Tiong-yang-kiong kita hari ini justru diketahui memakai tanda serangan dengan menepuk pilar batu yang kau katakan itu.”
“Siapakah sebenarnya orang-orang yang datang tadi? Kenapa nyali mereka bisa begitu besar?” tanya Kwe Ceng.
“Cerita ini terlalu panjang, Ceng-ji,” sahut Khu Ju-ki dengan menghela napas, “lni, biar aku tunjukkan sesuatu benda dulu padamu.”
Habis ini ia lantas berjalan menuju ke belakang gunung.
“Ko-ji, kau tinggal di sini, jangan sembarang pergi,” pesan Kwe Ceng pada Yo Ko, lalu ia ikut di belakang Kho Ju-ki.
Agak lama mereka menanjak, akhirnya mereka sampai di atas satu puncak yang tinggi. Khu Ju-ki membawa Kwe Ceng menuju belakang satu batu pegunungan yang besar.
“Di sini juga terukir tulisan-tulisan,” katanya.
Pada saat itu hari telah magrib, di belakang batu besar ini terlebih gelap lagi. Ketika Kwe Ceng meraba batu yang diunjuk, betul juga ia rasakan di atas batu itu terukir tulisan. Dia meraba lagi tiap2 huruf, akhirnya tahulah dia, kiranya itu adalah sebaris syair.
Oleh karena dia meraba huruf2 itu menuruti goresan yang terukir di atas batu, mendadak Kwe Ceng terkejut, terasa olehnya bahwa goresan tulisan itu persis cocok dengan jari tangannya, seperti orang itu menulis di batu ini dengan jari tangan saja.
“Ditulis dengan tangan?” tanpa tertahan ia berseru.
“Ya, kejadian ini kalau diceritakan memang terlalu mengejutkan orang, tapi memang betul ditulis dengan jari tangan!” kata Khu Ju-ki.
“Mana bisa? Apa di dunia ini terdapat dewa?” kata Kwe Ceng ragu-ragu.
“Orang yang menulis ini bukan saja ilmu silatnya amat tinggi tiada bandingannya, bahkan banyak tipu akalnya, meski bukan dewa, namun terhitung seorang luar biasa yang sukar diketemukan,” sahut Khu Ju-ki.
Tentu saja Kwe Ceng menjadi sangat kagum. “Siapakah dia? Dapatkah lotiang memperkenalkannya kepada Tecu?” tanyanya cepat.
“Aku sendiri belum pernah melihat orangnya,” sahut Ju-ki. “Duduklah kau, biar kuceritakan sebab musababnya sehingga terjadi peristiwa seperti hari ini.”
Kwe Ceng menurut, ia duduk di atas batu itu.
“Apakah kau paham arti bunyi syair ini?” Khu Ju-ki bertanya.
Waktu itu usia Kwe Ceng sudah menginjak setengah umur, tetapi lagu suara pertanyaan Khu Ju-ki masih tetap seperti belasan tahun yang silam sewaktu Kwe Ceng masih muda. Akan tetapi Kwe Ceng sedikit pun tidak pikirkan hal ini, ia tetap menjawab dengan sangat menghormat.
“Yang bagian depan Tecu masih paham, tapi bagian belakang yang menguraikan urusan pribadi Tiong-yang Cosu, itulah Tecu tidak begitu mengerti,” demikian sahutnya.
“Tahukah kau orang macam apakah Tiong-yang Cosu itu?” tanya Khu Ju-ki lagi.
Kwe Ceng jadi tercengang mendengar orang mendadak bertanya tentang diri Ong Tiong-yang, cikal-bakal dari Coan-cin-kau itu.
“Tiong-yang Cosu adalah ‘Khay-san-pi-co’ (cikal-bakal) Coan-cin-kau. Dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam, ilmu silatnya diakui nomor satu di jagad ini,” sahutnya kemudian.
“Itu memang tidak salah, tetapi waktu mudanya?” tanya Ju-ki pula.
“ltulah aku tidak tahu,” sahut Kwe Ceng sambil menggoyang kepala.
“Nah, tahukah kau bahwa asalnya Tiong-yang Cosu bukan imam?” kata Khu Ju-ki. “Pada waktu mudanya dia sangat benci terhadap tentara Kim yang menjajah tanah air kita dan membunuhi rakyat kita. Pernah dia kerahkan pasukan suka rela untuk melawan pasukan Kim hingga terjadi suatu pergerakan yang menggemparkan. Belakangan karena pasukan Kim terlalu kuat, beberapa kali ia mengalami kekalahan hingga banyak panglimanya tewas dan prajuritnya hancur, saking menyesalnya kemudian dia menjadi To-su (imam). Saat itu ia menyebut dirinya sebagai ‘Hoat-su-jin’ (orang mati yang masih hidup), selama beberapa tahun secara terus-menerus dia menetap di dalam satu kuburan kuno di atas gunung ini, selangkah pun tak pernah ia keluar dari pintu kuburan itu, maksud kiasannya ialah, meski orangnya masih hidup namun tiada bedanya seperti orang yang sudah mati, ia tidak sudi hidup berdampingan di tanah air sendiri dengan musuh bangsa Kim.”
“O, kiranya begitu,” ujar Kwe Ceng.
“Kejadian itu berlangsung sampai beberapa tahun,” Ju-ki melanjutkan pula, “tidak sedikit sobat-handai mendiang guruku itu telah datang mencari padanya, banyak yang minta dia keluar dari kuburan untuk membuat gerakan yang lebih hebat lagi, Akan tetapi mendiang guruku rupanya sudah putus asa dan patah hati, ia pun merasa tiada muka buat bertemu dengan bekas kawan-kawannya di kalangan Kangouw, maka ia tetap tak mau keluar dari kuburan.
Keadaan demikian itu berlangsung sampai delapan tahun, kemudian dia kedatangan seorang lawan yang dianggapnya paling kuat. Musuh ini sudah mencaci-makinya dengan segala kata yang mencemoohkan dan menghina di luar kuburan, berturut-turut musuh itu memancing selama tujuh hari tujuh malam. Agaknya Sian-su (mendiang guruku) menjadi tidak tahan, ia keluar dari kuburan buat bergebrak dengan musuh tadi.
Tanpa terduga, begitu dia keluar, segera orang itu menyambut padanya dengan bergelak ketawa:
“Ha-ha-ha, akhirnya kau keluar juga, maka tak perlu lagi kau kembali ke dalam!”
Karena itu Sian-su sadar bahwa dirinya telah kena tertipu, tetapi maksud tujuan orang itu adalah baik, yaitu sayang terhadap kepandaian Siau-su yang begitu bagus namun harus terpendam lenyap di dalam kubur. Oleh karenanya dia sengaja memakai kata-kata yang pedas untuk memancingnya keluar dari kuburan.
Setelah mengalami kejadian itu, kedua orang itu dari lawan berubah menjadi kawan dan dengan bahu-membahu pergi mengembara di dunia Kangouw lagi.
“Siapakah gerangan cianpwe (orang angkatan tua) itu?” tanya Kwe Ceng dengan kagum. “Apa dia satu di antara Tong-sia, Se-tok, Lam-te atau Pak-kay?”
“Bukan,” jawab Khu Ju-ki. “Kalau soal ilmu silat, orang ini masih berada di atas keempat tokoh besar itu, cuma karena ia adalah wanita, biasanya tidak suka unjuk diri di kalangan umum, maka orang luar jarang yang tahu akan dia, namanya pun tidak tersohor.”
“Ah, kiranya dia seorang wanita, itulah lebih hebat lagi,” ujar Kwe Ceng rada kaget.
“Ya, sebenarnya cianpwe ini menaruh hati terhadap Sian-su. Ia sudah menyerahkan diri untuk mengikat perjodohan dengan Sian-su,” tutur Ju-ki lagi “Tetapi Sian-su mengatakan bahwa musuh belum dihancurkan, mana boleh berumah tangga, Oleh karena itu terhadap asmara yang dilontarkan Cianpwe itu ia hanya berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu saja.
Tidak tahunya cianpwe itu juga berambekan besar dan tinggi hati. Ia menyangka Sian-su telah pandang rendah padanya, ia menjadi gusar sekali. Kedua orang yang tadinya lawan dan sudah berubah menjadi kawan itu, oleh karena cinta berbalik menjadi sakit hati lagi, mereka kemudian berjanji untuk bertanding di atas Cong lam-san ini untuk menentukan siapa yang lebih unggul.”
“ltu sebenarnya tidak perlu,” kata Kwe Ceng.
“Memang!” ujar Khu Ju-ki. “Sian-su pun tahu akan maksud baik orang, maka sepanjang jalan ia selalu mengalah. Tetapi siapa tahu cianpwe itu ternyata berwatak aneh, ia bilang: ‘Semakin kau mengalah, semakin nyata kau pandang rendah padaku’. Karena tiada jalan lain, terpaksa Sian-su bergebrak dengan dia. Mereka lalu bertempur hingga beberapa ribu jurus, selama itu Sian-su tidak keluarkan tipu serangan yang mematikan.
Tak tahunya cianpwe itu malah menjadi marah, katanya: ‘Baik, memang kau tidak berniat bertarung dengan aku, kau anggap aku ini orang macam apa?’. Tetapi kata Sian-su: ‘Dari pada bertanding secara kasar, tidakkah lebih baik jika bertanding secara halus?’. Jawab orang itu: ‘Begitu pun boleh, kalau aku kalah, selamanya tidak akan kutemui kau lagi, dengan demikian biar kau merasa tenang dan senang’.
Tetapi Sian-su balas bertanya: ‘Dan jika kau yang menang, lalu apa yang kau inginkan?’. Karena pertanyaan guruku itu, cianpwe wanita itu menjadi merah mukanya, dia menjadi gelagapan tidak dapat menjawab. Akhirnya dengan kertak gigi dia menjawab: ‘Kalau aku menang, kau punya kuburan Hoat-su-jin-bong ini harus diserahkan untuk aku tinggal’.
Syarat ini membuat Sian-su menjadi serba susah. Harus diketahui sekali tinggal dia telah delapan tahun mendiami kuburan kuno itu, tak sedikit tinggalan karya jerih-payahnya, kini jika begitu saja direbut orang, inilah yang sangat dia sayangkan. Tapi Sian-su membatin, kepandaiannya masih sedikit lebih tinggi dari pada orang, ia pikir terpaksa harus kalahkan dia supaya kelak tidak banyak rewel dan digoda tiada habisnya, maka ia lantas bertanya cara bagaimana akan bertanding.
‘Hari ini kita sudah letih, biarlah besok malam kita tentukan siapa yang menang atau kalah’, demikian sahut Cianpwe itu….”
“Besok malamnya, kembali kedua orang bersua lagi di sini. Kata orang itu: ‘Sebelum kita bertanding, kita harus sama2 bersumpah dahulu’. Jawab guruku: ‘Bersumpah apa lagi?’
‘Begini’, kata cianpwe itu, ‘jika kau bisa mengalahkan aku, segera juga aku bunuh diri di sini, dengan begitu pasti tidak akan bertemu dengan kau lagi, sebaliknya kalau aku yang menang, kau harus sucikan diri, terserah kau mau menjadi Hwesio atau menjadi Tosu. Tapi tidak peduli jadi Hwesio atau Tosu, kau harus mendirikan kuil di atas gunung ini dan mengawani aku selama sepuluh tahun’.
Dalam hati mendiang guruku mengerti bahwa dengan syarat itu, dirinya disuruh menjadi Hwesio atau Tosu, itu berarti selama hidupnya diharuskan tidak beristeri
‘Tetapi buat apa aku harus menangkan kau hingga memaksa kau bunuh diri? Dan kalau aku harus mengawani kau sepuluh tahun di atas gunung ini, hal ini pun sulit’, demikianlah pikir guruku. Oleh karenanya ia menjadi ragu tidak bisa menjawab”
“Ah, nama Cayhe tiada harganya disebut, cuma Ma-cinjin, Khu-cinjin dan Ong-cinjin yang berada di sini ini memang semuanya adalah guru Cayhe yang berbudi,” sahut Kwe Ceng.
Karena jawaban ini, Kui-kong-cu itu setengah percaya setengah sangsi. Ia pikir pihaknya tadi sudah menggempur Coan-cin-chit-to (tujuh imam Coan-cin-kau) dan yang tertampak lihay hanya barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin mereka, apa bila bergebrak satu lawan satu, maka tiada satu pun dari Tosu-tosu itu yang mampu menandingi dirinya, tapi mengapa anak muridnya malah bisa begini lihay? Dalam sangsinya kembali ia mengamat-amati Kwe Ceng lagi, sudah tentu yang tertampak olehnya, Kwe Ceng memakai baju dari kain kasar yang tidak ada bedanya dengan petani biasa saja.
Dan selagi ia hendak membuka mulut mengucapkan beberapa kata-kata halus untuk kemudian membawa begundalnya segera mundur teratur, tiba-tiba dari luar terdengar suara mengaungnya tabuhan khim (kecapi). Suara khim ini sangat lembut tetapi merdu, karena itu setiap orang yang mendengar tergetar hatinya.
Mendengar suara tabuhan khim itu, air muka Kui-kong-cu kelihatan rada berubah. “llmu silatmu sungguh mengejutkan orang, aku merasa sangat kagum. Sepuluh tahun lagi aku akan datang kembali minta petunjuk. Karena masih ada urusan lain yang belum selesai, baiklah sekarang juga aku mohon diri,” demikian katanya pada Kwe Ceng. Habis berkata, kembali ia memberi hormat pula.
“Sepuluh tahun kemudian tentu aku akan tunggu kau di sini,” sahut Kwe Ceng membalas hormat orang.
Sementara itu putera bangsawan telah memutar tubuh dan berjalan keluar, tetapi baru sampai depan pintu, tiba-tiba dia menoleh dan berkata pula:
“Urusanku dengan Coan-cin-kau hari ini aku terima mengaku kalah, hanya kuharap To-yu (kawan dalam agama) dari Coan-cin-kau janganlah ikut campur lagi atas urusan pribadiku.”
Menurut peraturan Kangouw, bila seseorang telah mengaku kalah dan terima menyerah, pula sudah menentukan harinya untuk kemudian adu kepandaian lagi, maka sebelum tiba hari yang dijanjikan, meski pun saling kepergok lagi di tengah jalan, sekali-kali tidak boleh saling labrak dahulu. Oleh karena itulah, maka Kwe Ceng lantas menjawab:
“Ya, sudah tentu.”
Maka tersenyumlah Kui-hong-cu itu, segera ia hendak melangkah pergi pula. Di luar dugaan, mendadak Khu Ju-ki telah menyentaknya dengan suara keras:
“Tak perlu sampai sepuluh tahun aku Khu Ju-ki pasti pergi mencari kau.”
Mendengar suara bentakan yang kuat hingga anak telinga tergetar se-akan pecah, hati putera bangsawan itu menjadi keder, ia ragu apa orang tadi belum mengeluarkan seluruh kepandaian untuk melawannya? Karenanya ia tak berani tinggal lebih lama lagi, segera ia bertindak pergi dengan cepat. Sesudah memandang Kwe Ceng sekejap dengan mata melotot, paderi Tibet itu pun ikut pergi bersama kawan-kawannya yang lain.
Kwe Ceng lihat kawanan musuh ini berwajah lain dari biasanya, hidung mereka besar dan berewokan, rambut keriting serta mata dekuk, tampaknya seperti bukan orang dari negeri sendiri, maka dalam hati ia tak habis mengerti dan menaruh curiga. Sementara ia dengar suara saling adunya senjata dan suara bentakan di ruangan depan sudah mulai berhenti, ia tahu tentu musuh sudah mundur pergi.
Sementara itu ia lihat Ma Giok bertujuh sudah pada berdiri, di samping itu terdapat pula satu orang yang menggeletak terlentang di atas lantai. Ketika Kwe Ceng maju melihatnya, dia kenal Kong-ling-cu Hek Tay-thong, satu di antara Coan-cin-chit-cu atau tujuh tokoh dari Coan-cin-kau. Kiranya meski Ma Giok dan lainnya terancam oleh bahaya api, tetapi mereka tetap duduk tenang tanpa bergerak, sebabnya karena ingin melindungi kawan yang terluka ini.
Waktu Kwe Ceng memeriksanya, dia melihat muka Hek Tay-thong pucat laksana kertas, napasnya lemah dan matanya tertutup rapat, terang sekali menderita luka berat. Ketika Kwe Ceng membuka jubahnya, dia menjadi lebih terkejut lagi, dia melihat di dada imam itu terdapat bekas lima jari tangan dengan terang sekali, warna bekas jari ini matang biru dan mendekuk ke dalam daging.
“Di kalangan Bu-lim belum pernah kudengar ada yang memiliki ilmu kepandaian semacam ini. Apa karena belasan tahun aku terasing di Tho-hoa-to lalu semua kejadian di bumi ini sudah berubah jauh?” demikian pikirnya.
Maka segera dia berjongkok dan mengeluarkan ilmu It-yang-ci atau totokan jari sakti, berulang dua kali dia totok bagian bawah bahu Hek Tay-thong. Dua kali totokan ini meski tidak bisa menyembuhkan luka dan menghilangkan racun pada luka Hek Tay-thong, namun dalam dua belas jam keadaan luka boleh dipercaya tidak bakal meluas dan memburuk.
Sementara itu api berkobar semakin hebat dan sukar ditolong lagi, lekas Khu Ju-ki mengangkat Hek Tay-thong.
“Hayo, lekas keluar!” demikian ajaknya cepat.
“He, di manakah anak yang aku bawa? Siapakah yang menahan dia? Jangan sampai dia dimakan api!” tanya Kwe Ceng tiba-tiba.
Tadi Khu Ju-ki dan kawan-kawannya sedang melawan musuh dengan seluruh perhatian, dengan sendirinya dia tidak tahu seluk-beluk urusan Yo Ko yang dibawa kemari. Mereka menjadi bingung.
“Anak? Anak siapa? Di mana dia?” demikian tanya mereka berbareng.
Dan sebelum Kwe Ceng menjawab, di antara sinar api yang berkobar-kobar itu tiba-tiba ada berkelebatnya bayangan orang, sesosok tubuh yang kecil tahu-tahu telah melompat turun dari atas belandar rumah.
“Aku berada di sini, Kwe-pepek,” demikianlah seru anak kecil itu dengan ketawa. Siapa lagi dia kalau bukan Yo Ko?
Tentu saja Kwe Ceng terkejut bercampur girang. “Mengapa kau bisa bersembunyi di atas belandar rumah?” lekas ia tanya.
“Tadi, waktu aku dengan ketujuh imam busuk itu...”
“Hus, jangan kurang ajar kau!” bentak Kwe Ceng memotong sebelum Yo Ko meneruskan “Hayo, lekas memberi hormat kepada para Co-su-ya (kakek guru).”
Karena bentakan itu Yo Ko meleletkan lidahnya. Dia tak berani membantah, segera dia berlutut ke hadapan Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bertiga untuk menjura. Ketika sampai gilirannya harus menjura kepada In Ci-peng, Yo Ko melihat orang itu masih muda, maka lebih dulu ia berpaling dan bertanya kepada Kwe Ceng:
“Kwe-pepek, apakah dia Co-su-ya juga? Agaknya tidak perlu lagi aku menjura, ya?”
“Dia ini In-supek (paman guru), lekas menjura,” sahut Kwe Ceng.
Terpaksa Yo Ko harus menjura lagi, sungguh pun dalam hati seribu kali tidak sudi. Habis ini, Kwe Ceng melihat Yo Ko lantas berdiri dan tidak menjura pula pada tiga imam setengah umur yang lain, maka kembali ia membentak:
“Ko-ji, kenapa kurang ajar? Hayo, menjura lagi!”
“Kalau harus menunggu aku selesai menjura, mungkin tak keburu lagi, nanti jangan Kwe-pepek salahkan aku,” dengan tertawa Yo Ko menjawab.
Kwe Ceng sudah kenal anak ini. Kelakuannya sangat aneh dan nakal, banyak pula tipu akalnya, Maka ia lantas bertanya:
“Soal apa yang tak keburu lagi?”
“ltu, di sana ada satu paman To-su diringkus orang di dalam kamar, apa bila tidak segera ditolong, mungkin akan terbakar mati oleh api,” sahut Yo Ko.
“Kamar yang mana? Lekas katakan!” tanya Kwe Ceng dengan cepat.
“Eeeh, nanti dulu, coba aku ingat-ingat dulu, ai, mengapa aku jadi lupa,” demikian Yo Ko menjawab dengan ketawa.
Tentu saja In Ci-peng menjadi gemas. Dia melotot sekejap pada Yo Ko, kemudian dengan langkah cepat ia berlari ke kamar sebelah timur. Ia dobrak pintu kamar, tapi tiada seorang pun. Kembali ia berlari ke kamar murid angkatan ketiga yang biasa untuk berlatih.
Ketika ia tendang terpentang pintu kamar ini, ternyata seluruh kamar telah penuh dengan asap yang tebal, remang-remang kelihatan satu imam yang teringkus di tiang ranjang, mulutnya menganga dan sedang ber-teriak-teriak minta tolong dengan suara yang serak, mungkin saking lamanya ia men-jerit-jerit.
Melihat keadaan sudah amat mendesak, cepat In Ci-peng mencabut pedangnya, dengan sekali tebas, ia potong tali pengikat dan membebaskan imam itu dari ancaman maut.
Sementara itu Khu Ju-ki, Kwe Ceng, Yo Ko dan lainnya telah selamatkan diri keluar kuil, mereka sudah berdiri di atas tanah tanjakan dan sedang menyaksikan mengamuknya jago merah yang menjilat-jilat semakin hebat. Oleh karena di atas gunung memang tidak gampang didapatkan air yang cukup, maka tanpa berdaya mereka menyaksikan kuil yang megah itu lambat laun ambruk untuk akhirnya menjadi tumpukan puing belaka.
Watak Khu Ju-ki sangat keras dan berangasan, sekarang menyaksikan kuil mereka yang bersejarah ini ditelan mentah-mentah oleh api, dia mengutuk tidak habisnya pada musuh.
Selagi Kwe Ceng hendak tanya siapakah sebenarnya musuh yang datang itu dan kenapa turun tangan secara keji begini, tiba-tiba ia melihat sebelah tangan In Ci-peng mengempit satu imam sedang menerobos keluar di antara gumpalan asap yang tebal. Karena kepelepekan oleh asap tebal, imam yang dikempit In Ci-peng masih ter-batuk-batul hingga kedua matanya mengucurkan air mata, tapi demi nampak Yo Ko, dadanya hampir meledak saking gusarnya, tanpa pikir lagi segera ia ulur tangan terus menubruk bocah itu.
Namun perbuatan orang hanya diganda tertawa oleh Yo Ko. Ketika imam itu menubruk tiba, dengan cepat ia sembunyi ke belakang Kwe Ceng. Rupanya imam itu belum kenal siapa adanya Kwe Ceng, maka dia telah mendorong dada Kwe Ceng dengan maksud kesampingkan orang supaya lebih leluasa menangkap Yo Ko. Siapa duga dorongannya laksana kena dinding saja, sedikit pun Kwe Ceng tidak bergerak. Karena itu, sesaat imam itu menjadi kesima, tetapi segera dia tuding Yo Ko dan mencaci maki:
“Anak jadah, berani kau pedayai To-ya (tuan imam), hampir aku terbakar mampus karena perbuatanmu!” demikian teriaknya murka.
“Ceng-kong, apa yang kau katakan?” tiba-tiba Ong Ju-it membentaknya dari samping.
Ternyata Tosu atau imam yang kena ‘dikerjai’ Yo Ko ini adalah cucu-murid Ong Ju-it dan bernama Ceng-kong. Tadi ia beruntung bisa diselamatkan dari elmaut atas pertolongan In Ci-peng. Dalam sengitnya begitu nampak Yo Ko segera ia menubruk maju untuk mengadu jiwa, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa para paman guru dan kakek gurunya juga berada di situ. Kini mendadak dibentak Ong Ju-it, baru dia ingat telah berlaku kurang sopan, keruan ia berkeringat dingin saking takutnya.
“Ya, Tecu patut mampus,” katanya kemudian dengan tangan lurus ke bawah.
“Ada urusan apakah sebenarnya? Katakan!” bentak Ong Ju-it lagi.
“Semuanya karena Tecu sendiri yang tak becus, harap Cosuya memberi ampun,” sahut Ceng-kong.
Karena jawaban yang lain dari pada yang ditanya, Ong Ju-it mengerutkan kening. “Memangnya siapa yang bilang kau becus? Aku hanya bertanya, sebenarnya ada urusan apakah?” ulangi Ong Ju-it.
“Tadi Tecu diperintah oleh Thio Ci-goan-Susiok agar menjaga di belakang, kemudian Thio-susiok membawa anak... anak...”
Sebenarnya Ceng-kong hendak mengatakan “anak jadah,” untung ia lantas ingat sedang berhadapan dengan Cosuya, maka ia tidak berani keluarkan kata-kata kotor, lekas dia ganti: “anak... anak kecil ini dan diserahkan padaku. Ia bilang anak ini ikut naik gunung bersama musuh tapi dapat ditawan Thio-susiok, maka aku diperintahkan untuk mengawasinya agar jangan sampai anak ini melarikan diri. Oleh karena itu Tecu lalu membawanya ke dalam kamar latihan di sebelah timur. Siapa duga, duduk tidak lama mendadak anak... anak kecil ini memakai tipu muslihat, katanya ingin kencing dan minta aku lepaskan tali yang meringkus tangannya, Tecu tak mau diakali, maka dengan tanganku sendiri kubukakan celananya biar kencing. Siapa tahu bocah ini memang berhati jahat, habis kencing hingga membuat sebagian lantai basah kuyup, waktu aku mengikat celananya lagi, mendadak ia mendorong aku dengan keras.”
Bercerita sampai di sini, tiba-tiba saja terdengar Yo Ko ketawa ngikik, keruan Ceng-kong menjadi marah.
“Anak... anak apa yang kau tertawakan?” damperatnya dengan gemas.
Tetapi Yo Ko malah mengangkat kepala melihat ke atas, tanpa memandang ia menjawab:
“Aku tertawa sendiri, peduli apa dengan kau?”
Sudah tentu Ceng-kong tidak menyerah mentah-mentah, ia hendak adu mulut dengan bocah ini kalau saja Ong Ju-it tidak membentaknya.
“Tak perlu kau ribut-ribut dengan anak kecil, lekas teruskan ceritamu!” kata Ong Ju-it.
“Ya, ya,” sahut Ceng-kong ketakutan, “Engkau tak tahu, Cosuya, anak ini licin luar biasa. Sesudah aku didorong hingga jatuh telentang di atas lantai yang basah kuyup dengan air kencingnya, dan selagi aku hendak melompat bangun buat persen dia beberapa kali tamparan, mendadak dengan cengar-cengir dia malah mendekati aku dan berkata: “Wah, To-ya, aku telah bikin kotor pakaianmu!”
Mendengar cara Ceng-kong menirukan suara perkataan Yo Ko yang masih kanak-kanak kedengaran lucu sekali, semua orang diam-diam merasa amat geli. Hanya Ong Ju-it yang mengkerut kening lagi, di dalam hati ia damperat habis-habisan cucu-muridnya yang bikin malu di depan orang banyak ini.
“Mendengar kata-kata-nya itu, aku mengira dorongan padaku tadi karena tidak disengaja, maka aku tidak menyalahkan dia lebih jauh,” demikian Ceng-kong melanjutkan ceritanya, “Sementara itu ia mendekati aku, tampaknya seperti hendak bantu membangunkan aku, tetapi kedua tangannya terikat, maka tidak bisa berbuat apa-apa. Tak tahunya mendadak dia lantas melompat dan mencemplak ke atas tubuhku, dia menunggangi aku yang masih telentang, bahkan mulutnya terus ditempelkan ke leherku dan menggigit tenggorokanku.”
Bercerita sampai di sini, tanpa terasa Ceng-kong meraba-raba lehernya, agaknya masih terasa sakit oleh bekas gigitan tadi.
“Dengan sendirinya aku jadi terperanjat,” sambungnya lagi, “aku berusaha membalikkan tubuh buat banting dia, siapa duga, ia menggigit lebih kencang, kalau sekali lagi dia gigit mungkin jalan pernapasanku bisa putus, Karena terpaksa, aku tak berani berkutik, dengan jalan halus aku lantas memohon: ‘Sudahlah, tentu kau ingin aku lepaskan tali pengikatmu, bukan?’. Dia mengangguk-angguk atas pertanyaanku ini, sebaliknya aku masih ragu-ragu, maka kembali dia perkeras lagi gigitannya, saking sakitnya sampai aku ber-teriak-teriak.
Pikirku pada saat itu: “Biarlah aku lepaskan talinya, asal dia tidak menggigit lagi, masakah dengan satu anak kecil saja aku kalah?” Maka aku lantas lepaskan tali pengikatnya. Tak terduga, begitu tangannya merdeka, segera ia cabut pedangku terus menodong ulu hatiku dan mengancam, bahkan senjata berbalik makan tuan, dia malah menggunakan tali yang mengikat dia tadi untuk meringkus diriku pada tiang ranjang, dia mengiris sepotong kain bajuku pula lantas menyumbat mulutku. Belakangan kuil kita terbakar, hendak lari aku tak dapat, ingin berteriak juga tak bisa, kalau bukan In-susiok tadi yang menolong, tentu Tecu sudah terbakar hidup-hidup karena anak kecil ini?” Habis bercerita, dengan mata melotot ia memandang Yo Ko dengan murka.
Setelah mendengar penuturannya, semua orang sebentar memandang Yo Ko, di saat lain memandang Ceng-kong, yang satu tubuhnya kurus kecil, sedangkan yang satunya lagi berperawakan tinggi besar, tetapi yang gede kena dikibuli hingga tak berdaya. Saking gelinya, semua orang tertawa terbahak-bahak.
Ceng-kong menjadi bingung, ia cakar-cakar kuping dan garuk-garuk kepala dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
“Ceng-ji,” kata Ma Giok kemudian dengan tertawa, “apakah ini puteramu? Tampaknya dia telah lengkap menurunkan tabiat sang ibu, oleh karena itu begini nakal dan cerdik.”
“Bukan,” sahut Kwe Ceng, “dia adalah putera tinggalan dalam perut dari adik angkatku, Yo Khong.”
Ketika tiba-tiba mendengar nama Yo Khong disebut, hati Khu Ju-ki terkesiap, Kemudian ia mencoba mengamat-amati Yo Ko, betul juga ia lihat wajah bocah ini rada mirip dengan Yo Khong.
Antara Khu Ju-ki dan Yo Khong terdapat hubungan guru dan murid. Meski kemudian Yo Khong berkelakuan kurang baik, tamak kedudukan dan serakah akan kemewahan, terima mengaku musuh sebagai bapak, tetapi bila Khu Ju-ki teringat semua itu, selalu ia merasa dirinya kurang sempurna mendidik anak muridnya hingga akibatnya Yo Khong menjadi tersesat, maka sering kali dalam hati ia merasa menyesal. Sekarang demi mendengar Yo Khong mempunyai keturunan tentu saja ia sangat girang, lekas ia bertanya lebih jelas.
Begitulah, tanpa menghiraukan Tiong-yang-kiong mereka telah habis ditelan api, Ma Giok dan Khu Ju-ki sebaliknya mendengarkan penuturan Kwe Ceng tentang diri Yo Ko dengan penuh perhatian.
“Ceng-ji, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini boleh dikatakan tingkat kepandaianmu sudah jauh di atas tingkatan kami, kenapa tidak kau sendiri yang mengajar dia?” demikian kata Khu Ju-ki kemudian setelah mendengar bahwa Kwe Ceng sengaja membawa Yo Ko ke Cong-lam-san buat belajar silat.
“Soal ini akan kuterangkan kelak,” sahut Kwe Ceng, “Hanya kedatangan Tecu sekarang telah banyak bikin ribut para To-heng, inilah yang bikin hatiku tidak enak sekali.”
Kemudian ia lantas menuturkan pula tentang kesalah pahaman sewaktu ia naik gunung tadi sehingga saling gebrak dengan para imam yang memasang jaring-jaring Pak-tau-tin buat mencegatnya.
Mendengar cerita ini, seketika Khu Ju-ki menjadi marah. “Sungguh tak berguna, Ci-keng memimpin barisan luar, kenapa tidak bisa membedakan kawan atau lawan?” katanya, “Memang aku merasa heran kenapa barisan yang kita pasang begitu kuat di luar itu bisa begitu cepat dibobol musuh hingga menerjang ke atas gunung, kita diserang dalam keadaan belum siap. Hmm, kiranya dia telah kerahkan Pak-tau-tin yang dia pimpin untuk merintangi kedatanganmu.” Semakin berkata, tampak Khu Ju-ki semakin menjadi marah.
“Mungkin itu disebabkan salah paham,” ujar Kwe Ceng, “ketika berada di bawah gunung, tanpa sengaja Tecu telah tepuk hancur batu pilar yang terukir syair buah tangan Totiang, mungkin inilah yang menimbulkan salah paham.”
Mendengar keterangan ini, air muka Khu Ju-ki berubah menjadi tenang kembali. “Oh, kiranya begitu, kalau demikian tidak bisa menyalahkan mereka,” ujarnya. “Memang begitu kebetulan, sebab musuh yang hendak menyerang Tiong-yang-kiong kita hari ini justru diketahui memakai tanda serangan dengan menepuk pilar batu yang kau katakan itu.”
“Siapakah sebenarnya orang-orang yang datang tadi? Kenapa nyali mereka bisa begitu besar?” tanya Kwe Ceng.
“Cerita ini terlalu panjang, Ceng-ji,” sahut Khu Ju-ki dengan menghela napas, “lni, biar aku tunjukkan sesuatu benda dulu padamu.”
Habis ini ia lantas berjalan menuju ke belakang gunung.
“Ko-ji, kau tinggal di sini, jangan sembarang pergi,” pesan Kwe Ceng pada Yo Ko, lalu ia ikut di belakang Kho Ju-ki.
Agak lama mereka menanjak, akhirnya mereka sampai di atas satu puncak yang tinggi. Khu Ju-ki membawa Kwe Ceng menuju belakang satu batu pegunungan yang besar.
“Di sini juga terukir tulisan-tulisan,” katanya.
Pada saat itu hari telah magrib, di belakang batu besar ini terlebih gelap lagi. Ketika Kwe Ceng meraba batu yang diunjuk, betul juga ia rasakan di atas batu itu terukir tulisan. Dia meraba lagi tiap2 huruf, akhirnya tahulah dia, kiranya itu adalah sebaris syair.
Oleh karena dia meraba huruf2 itu menuruti goresan yang terukir di atas batu, mendadak Kwe Ceng terkejut, terasa olehnya bahwa goresan tulisan itu persis cocok dengan jari tangannya, seperti orang itu menulis di batu ini dengan jari tangan saja.
“Ditulis dengan tangan?” tanpa tertahan ia berseru.
“Ya, kejadian ini kalau diceritakan memang terlalu mengejutkan orang, tapi memang betul ditulis dengan jari tangan!” kata Khu Ju-ki.
“Mana bisa? Apa di dunia ini terdapat dewa?” kata Kwe Ceng ragu-ragu.
“Orang yang menulis ini bukan saja ilmu silatnya amat tinggi tiada bandingannya, bahkan banyak tipu akalnya, meski bukan dewa, namun terhitung seorang luar biasa yang sukar diketemukan,” sahut Khu Ju-ki.
Tentu saja Kwe Ceng menjadi sangat kagum. “Siapakah dia? Dapatkah lotiang memperkenalkannya kepada Tecu?” tanyanya cepat.
“Aku sendiri belum pernah melihat orangnya,” sahut Ju-ki. “Duduklah kau, biar kuceritakan sebab musababnya sehingga terjadi peristiwa seperti hari ini.”
Kwe Ceng menurut, ia duduk di atas batu itu.
“Apakah kau paham arti bunyi syair ini?” Khu Ju-ki bertanya.
Waktu itu usia Kwe Ceng sudah menginjak setengah umur, tetapi lagu suara pertanyaan Khu Ju-ki masih tetap seperti belasan tahun yang silam sewaktu Kwe Ceng masih muda. Akan tetapi Kwe Ceng sedikit pun tidak pikirkan hal ini, ia tetap menjawab dengan sangat menghormat.
“Yang bagian depan Tecu masih paham, tapi bagian belakang yang menguraikan urusan pribadi Tiong-yang Cosu, itulah Tecu tidak begitu mengerti,” demikian sahutnya.
“Tahukah kau orang macam apakah Tiong-yang Cosu itu?” tanya Khu Ju-ki lagi.
Kwe Ceng jadi tercengang mendengar orang mendadak bertanya tentang diri Ong Tiong-yang, cikal-bakal dari Coan-cin-kau itu.
“Tiong-yang Cosu adalah ‘Khay-san-pi-co’ (cikal-bakal) Coan-cin-kau. Dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam, ilmu silatnya diakui nomor satu di jagad ini,” sahutnya kemudian.
“Itu memang tidak salah, tetapi waktu mudanya?” tanya Ju-ki pula.
“ltulah aku tidak tahu,” sahut Kwe Ceng sambil menggoyang kepala.
“Nah, tahukah kau bahwa asalnya Tiong-yang Cosu bukan imam?” kata Khu Ju-ki. “Pada waktu mudanya dia sangat benci terhadap tentara Kim yang menjajah tanah air kita dan membunuhi rakyat kita. Pernah dia kerahkan pasukan suka rela untuk melawan pasukan Kim hingga terjadi suatu pergerakan yang menggemparkan. Belakangan karena pasukan Kim terlalu kuat, beberapa kali ia mengalami kekalahan hingga banyak panglimanya tewas dan prajuritnya hancur, saking menyesalnya kemudian dia menjadi To-su (imam). Saat itu ia menyebut dirinya sebagai ‘Hoat-su-jin’ (orang mati yang masih hidup), selama beberapa tahun secara terus-menerus dia menetap di dalam satu kuburan kuno di atas gunung ini, selangkah pun tak pernah ia keluar dari pintu kuburan itu, maksud kiasannya ialah, meski orangnya masih hidup namun tiada bedanya seperti orang yang sudah mati, ia tidak sudi hidup berdampingan di tanah air sendiri dengan musuh bangsa Kim.”
“O, kiranya begitu,” ujar Kwe Ceng.
“Kejadian itu berlangsung sampai beberapa tahun,” Ju-ki melanjutkan pula, “tidak sedikit sobat-handai mendiang guruku itu telah datang mencari padanya, banyak yang minta dia keluar dari kuburan untuk membuat gerakan yang lebih hebat lagi, Akan tetapi mendiang guruku rupanya sudah putus asa dan patah hati, ia pun merasa tiada muka buat bertemu dengan bekas kawan-kawannya di kalangan Kangouw, maka ia tetap tak mau keluar dari kuburan.
Keadaan demikian itu berlangsung sampai delapan tahun, kemudian dia kedatangan seorang lawan yang dianggapnya paling kuat. Musuh ini sudah mencaci-makinya dengan segala kata yang mencemoohkan dan menghina di luar kuburan, berturut-turut musuh itu memancing selama tujuh hari tujuh malam. Agaknya Sian-su (mendiang guruku) menjadi tidak tahan, ia keluar dari kuburan buat bergebrak dengan musuh tadi.
Tanpa terduga, begitu dia keluar, segera orang itu menyambut padanya dengan bergelak ketawa:
“Ha-ha-ha, akhirnya kau keluar juga, maka tak perlu lagi kau kembali ke dalam!”
Karena itu Sian-su sadar bahwa dirinya telah kena tertipu, tetapi maksud tujuan orang itu adalah baik, yaitu sayang terhadap kepandaian Siau-su yang begitu bagus namun harus terpendam lenyap di dalam kubur. Oleh karenanya dia sengaja memakai kata-kata yang pedas untuk memancingnya keluar dari kuburan.
Setelah mengalami kejadian itu, kedua orang itu dari lawan berubah menjadi kawan dan dengan bahu-membahu pergi mengembara di dunia Kangouw lagi.
“Siapakah gerangan cianpwe (orang angkatan tua) itu?” tanya Kwe Ceng dengan kagum. “Apa dia satu di antara Tong-sia, Se-tok, Lam-te atau Pak-kay?”
“Bukan,” jawab Khu Ju-ki. “Kalau soal ilmu silat, orang ini masih berada di atas keempat tokoh besar itu, cuma karena ia adalah wanita, biasanya tidak suka unjuk diri di kalangan umum, maka orang luar jarang yang tahu akan dia, namanya pun tidak tersohor.”
“Ah, kiranya dia seorang wanita, itulah lebih hebat lagi,” ujar Kwe Ceng rada kaget.
“Ya, sebenarnya cianpwe ini menaruh hati terhadap Sian-su. Ia sudah menyerahkan diri untuk mengikat perjodohan dengan Sian-su,” tutur Ju-ki lagi “Tetapi Sian-su mengatakan bahwa musuh belum dihancurkan, mana boleh berumah tangga, Oleh karena itu terhadap asmara yang dilontarkan Cianpwe itu ia hanya berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu saja.
Tidak tahunya cianpwe itu juga berambekan besar dan tinggi hati. Ia menyangka Sian-su telah pandang rendah padanya, ia menjadi gusar sekali. Kedua orang yang tadinya lawan dan sudah berubah menjadi kawan itu, oleh karena cinta berbalik menjadi sakit hati lagi, mereka kemudian berjanji untuk bertanding di atas Cong lam-san ini untuk menentukan siapa yang lebih unggul.”
“ltu sebenarnya tidak perlu,” kata Kwe Ceng.
“Memang!” ujar Khu Ju-ki. “Sian-su pun tahu akan maksud baik orang, maka sepanjang jalan ia selalu mengalah. Tetapi siapa tahu cianpwe itu ternyata berwatak aneh, ia bilang: ‘Semakin kau mengalah, semakin nyata kau pandang rendah padaku’. Karena tiada jalan lain, terpaksa Sian-su bergebrak dengan dia. Mereka lalu bertempur hingga beberapa ribu jurus, selama itu Sian-su tidak keluarkan tipu serangan yang mematikan.
Tak tahunya cianpwe itu malah menjadi marah, katanya: ‘Baik, memang kau tidak berniat bertarung dengan aku, kau anggap aku ini orang macam apa?’. Tetapi kata Sian-su: ‘Dari pada bertanding secara kasar, tidakkah lebih baik jika bertanding secara halus?’. Jawab orang itu: ‘Begitu pun boleh, kalau aku kalah, selamanya tidak akan kutemui kau lagi, dengan demikian biar kau merasa tenang dan senang’.
Tetapi Sian-su balas bertanya: ‘Dan jika kau yang menang, lalu apa yang kau inginkan?’. Karena pertanyaan guruku itu, cianpwe wanita itu menjadi merah mukanya, dia menjadi gelagapan tidak dapat menjawab. Akhirnya dengan kertak gigi dia menjawab: ‘Kalau aku menang, kau punya kuburan Hoat-su-jin-bong ini harus diserahkan untuk aku tinggal’.
Syarat ini membuat Sian-su menjadi serba susah. Harus diketahui sekali tinggal dia telah delapan tahun mendiami kuburan kuno itu, tak sedikit tinggalan karya jerih-payahnya, kini jika begitu saja direbut orang, inilah yang sangat dia sayangkan. Tapi Sian-su membatin, kepandaiannya masih sedikit lebih tinggi dari pada orang, ia pikir terpaksa harus kalahkan dia supaya kelak tidak banyak rewel dan digoda tiada habisnya, maka ia lantas bertanya cara bagaimana akan bertanding.
‘Hari ini kita sudah letih, biarlah besok malam kita tentukan siapa yang menang atau kalah’, demikian sahut Cianpwe itu….”
“Besok malamnya, kembali kedua orang bersua lagi di sini. Kata orang itu: ‘Sebelum kita bertanding, kita harus sama2 bersumpah dahulu’. Jawab guruku: ‘Bersumpah apa lagi?’
‘Begini’, kata cianpwe itu, ‘jika kau bisa mengalahkan aku, segera juga aku bunuh diri di sini, dengan begitu pasti tidak akan bertemu dengan kau lagi, sebaliknya kalau aku yang menang, kau harus sucikan diri, terserah kau mau menjadi Hwesio atau menjadi Tosu. Tapi tidak peduli jadi Hwesio atau Tosu, kau harus mendirikan kuil di atas gunung ini dan mengawani aku selama sepuluh tahun’.
Dalam hati mendiang guruku mengerti bahwa dengan syarat itu, dirinya disuruh menjadi Hwesio atau Tosu, itu berarti selama hidupnya diharuskan tidak beristeri
‘Tetapi buat apa aku harus menangkan kau hingga memaksa kau bunuh diri? Dan kalau aku harus mengawani kau sepuluh tahun di atas gunung ini, hal ini pun sulit’, demikianlah pikir guruku. Oleh karenanya ia menjadi ragu tidak bisa menjawab”
KISAH DIBALIK KUBURAN KUNO
“Kemudian cianpwe itu lantas berkata pula: ‘Pertandingan secara halus yang kita lakukan ini sangat mudah. Begini, kau gunakan jari tanganmu untuk mengukir beberapa tulisan di atas batu ini, demikian pula aku pun mengukir beberapa huruf, lalu kita lihat tulisan siapa yang lebih baik, itulah dia yang menang’. Mendengar cara pertandingan ini, Sian-su menjadi tercengang, katanya: ‘Menulis di atas batu dengan jari tangan?’
‘Ya, itu namanya bertanding ilmu tenaga jari, kita boleh melihat siapa yang mengukir lebih dalam’. Namun Sian-su geleng2 kepala saja, jawabnya kemudian: ‘Aku toh bukan dewa, mana sanggup aku mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan?’
‘Tetapi kalau aku bisa, apa kau mau mengaku kalah?’ tanya orang itu. Di dalam keadaan demikian Sian-su jadi dipojokkan pada keadaan yang serba susah, maju salah, mundur pun keliru. Tetapi kemudian ia pikir di jagad ini pasti tak mungkin ada orang yang sanggup mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan, kebetulan urusan ini dapat diselesaikan sampai disini, dengan demikian pertandingan ini dapat dianggap tidak pernah ada, maka ia lantas berkata:
‘Jika kau bisa, sudah tentu aku lantas ngaku kalah. Tetapi kalau kau pun tak bisa, kita boleh anggap seri, tak ada yang menang dan tiada yang kalah, selanjutnya kita pun tidak perlu bertanding lagi’.
Karena itu tiba2 orang itu tertawa dengan rasa pedih: ‘Bagus, jika begitu sudah pasti kau akan jadi Tosu’, demikian katanya sambil dengan tangan kirinya me-raba2 sejenak di atas batu, habis ini ia ulur jari telunjuk tangan kanan terus menggores di atas batu itu.
Sian-su menjadi ternganga ketika menyaksikan debu batu itu bertebaran, betul saja orang telah menulis sehuruf demi sehuruf, dalam kagetnya sampai dia tidak sanggup bicara lagi, Dan tulisan yang terukir dengan tangan itu bukan lain adalah bagian depan dari syair ini.
Tentu saja Sian-su menjadi lesu dan terima kalah, dia tidak bisa bicara lagi. Besoknya dia lantas sucikan diri menjadi Tosu, juga mendirikan sebuah kuil kecil di dekat kuburan itu, dan itu adalah Tiong-yang-kiong yang asli.”
Kwe Ceng jadi terheran-heran oleh cerita itu, waktu ia merabanya lebih terang, betul saja memang tulisan di atas batu itu bukan ditatah, juga bukan ukiran, melainkan benar-benar digores jari tangan.
“Kalau begitu, ilmu kepandaian cianpwe itu dalam hal tenaga jari sungguh-sungguh sangat mengejutkan orang,” katanya kemudian.
Karena ucapannya ini, Khu Ju-ki mendongak dan ketawa terbahak-bahak.
“Ceng-ji, peristiwa ini bisa mengelabui mendiang guruku, menipu aku, dan juga menipu kau, akan tetapi jika waktu itu isterimu berada di sini, pasti tidak bisa mengelabui matanya,” demikian katanya.
Kwe Ceng menjadi lebih heran sehingga kedua matanya terpentang lebar. “Apa? Apa dalam hal ini terdapat sesuatu yang tidak beres?” tanyanya.
“Sudah tentu, hal itu tak perlu dikatakan lagi,” sahut Khu Ju-ki. “Sekarang coba kau pikir, pada jaman ini, kalau soal tenaga jari, siapa jago nomor satu?”
“Toan-hongya, It-teng Taysu punya It-yang-ci,” kata Kwe Ceng.
“Nah, dengan tenaga jari It-teng Taysu saja, sekali pun di atas kayu, belum tentu sanggup menulis sesuka hati, apa lagi di atas batu? Apa lagi orang lain?” ujar Khu Ju-ki, “Karena itu setelah Sian-su menjadi imam, terhadap kejadian itu ia masih terus berbikir tidak mengerti. Belakangan dia berjumpa dengan bapak mertuamu, Oey Yok-su Cianpwe, secara tak langsung guruku menyinggung kejadian itu. Setelah Oey-tocu berpikir sebentar, kemudian bergelak tawa, katanya: ‘Kepandaian itu aku pun bisa. Cuma sekarang aku belum melatihnya, sebulan lagi pasti aku datang kembali kesini’. Habis berkata, dengan tawa terbahak dia lantas mohon diri dari guruku.” Khu Ju-ki menghela napas, kemudian melanjutkan lagi.
“Benar saja sebulan kemudian Oey-tocu datang lagi, lalu bersama Sian-su mereka datang ke sini memeriksa batu ini. Sebetulnya syair yang ditulis cianpwe wanita itu tadinya masih belum selesai, baru bagian depan yang maksudnya menghendaki Sian-su tirakat saja meniru Thio Liang di jaman ahala Han. Sesudah Oey-tocu pakai tangan kiri meraba rada lama di atas batu, kemudian dia mengulur tangan kanan terus menulis di atas batu, dia menyambung syair cianpwe wanita yang masih belum selesai itu yang artinya menghormat dan memuji diri guruku.
Melihat jari tangan mertuamu bisa menulis di atas batu, sama halnya seperti yang dilakukan cianpwe wanita itu, Sian-su menjadi heran dan terkejut, pikirnya dalam hati: ilmu silat Oey Yok-su jelas masih kalah setingkat di bawahku, tetapi kenapa dia pun memiliki tenaga jari begini lihay?
Begitulah untuk sesaat itu guruku merasa tidak habis mengerti. Mendadak ia pun ulurkan jari tangannya menutul ke atas batu itu, sungguh aneh, batu itu ternyata lantas berlubang oleh tusukan jarinya. Tempatnya di sini, coba kau boleh merabanya.”
Khu Ju-ki tarik tangan Kwe Ceng ke tepi batu itu, Ketika Kwe Ceng meraba dan dapatkan satu lubang kecil, dia masukkan jari telunjuknya. Betul saja, seperti cetakan persis dapat dimasuki jarinya.
Tetapi Kwe Ceng masih sangsi, jangan-jangan batu cadas ini memang lunak dan berlainan dengan batu umumnya, maka ia gunakan tenaga jarinya dan dikorek dengan keras, namun yang dia rasakan kesakitan belaka, sebaliknya batu itu sedikit pun tidak bergerak. Khu Ju-ki tertawa berbahak-bahak.
“Kau tak mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik kejadian ini,” demikian katanya kemudian. “Sebelum tangan cianpwe wanita itu menulis di atas batu, lebih dulu telah meraba agak lama di atas batu dengan sebelah tangannya yang lain. Tangan yang dipakai buat meraba-raba itu menggenggam ‘Hoa-sek-tan’ (obat pelebur batu), dia bikin permukaan batu itu menjadi lunak dan dalam waktu sekitar setengah jam, permukaan batu tidak akan mengeras kembali. Rahasia ini rupanya dapat dipecahkan oleh Oey-tocu, ia bilang sebulan buat melatih kepandaian itu kepada guruku, sebenarnya ia turun gunung untuk mengumpulkan obat buat bikin ‘Hoa-sek-tan’, baru ia datang lagi dan menirukan cara orang menulis di atas batu.”
Kwe Ceng menjadi kagum sekali atas kecerdasan bapak mertuanya. Tiba-tiba ia ingat orang tua itu telah lama tinggalkan Tho-hoa-to, ia menjadi rindu. Khu Ju-ki tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Kwe Ceng, maka ia menyambung lagi ceritanya.
“Ketika mula-mula Sian-su menjadi Tosu, sebenarnya perasaannya sangat tertekan, akan tetapi sesudah banyak membaca kitab ajaran To (Tao), akhirnya ia pandai dan menginsafi segalanya di dunia ini tergantung jodoh dan tidak, maka dia pun mempelajari ilmu agama kita lebih mendalam lagi untuk lebih mengembangkannya.
Kalau dipikir, jika bukan gara-gara pancingan cianpwe wanita itu, mungkin di jagat ini tidak bakal terdapat Coan-cin-kau, aku Khu Ju-ki tentu pula tidak bisa seperti hari ini dan apalagi kau Kwe Ceng tidak diketahui akan berada di mana.”
Kwe Ceng angguk-angguk membenarkan ucapan itu. “Entah cara bagaimana harus menyebut nama Licianpwe (wanita tingkatan tua) itu. Apa kini dia masih hidup?” tanyanya kemudian.
“Kecuali guruku sendiri, di jagat ini tak ada orang lain yang tahu nama aslinya, sedang Sian-su pun tidak pernah katakan pada orang,” sahut Ju-ki. “Cianpwe itu meninggal jauh sebelum terjadi Hoa-san-lun-kiam yang pertama kali, kalau tidak, dengan ilmu silatnya yang tinggi serta wataknya yang tinggi hati, mana mungkin dia tidak ikut serta dalam pertandingan Hoa-san itu.”
“Dan entah dia meninggalkan keturunan atau tidak?” ujar Kwe Ceng.
Khu Ju-ki menghela napas panjang. “Persoalannya justru terletak di sini,” katanya kemudian, “Seumur hidup Locianpwe tak pernah menerima murid, ia hanya mempunyai satu dayang yang selalu mendampingi dan melayani segala keperluannya. Kedua orang ini tinggal bersama di kuburan kuno, selama belasan tahun tidak pernah melangkah keluar dan seluruh ilmu silat Locianpwe itu pun diturunkan kepada dayangnya, Dayangnya ini tak pernah injakkan kaki di kalangan Kangouw, di kalangan Bu-lim pun jarang yang kenal dia, tetapi malah mempunyai dua orang murid, yang besar she Li, mungkin kau pernah mendengar namanya, di kalangan Kangouw orang menyebut Jik-lian Sian-cu Li Bok-chiu.”
“Ahh, kiranya dia ini,” seru Kwe Ceng mendadak. “Perempuan ini keji bukan main, kiranya berasal dari sini.”
“Kau pernah ketemu dia?” tanya Khu Ju-ki.
“Ya, beberapa bulan yang lalu pernah bergebrak satu kali dengannya di daerah Kanglam, ilmu silatnya sangat hebat,” sahut Kwe Ceng.
“Dan kau melukai dia?” tanya Ju-ki lagi.
“Tidak,” jawab Kwe Ceng menggoyang kepala. “Justru dialah yang turun tangan keji dan membunuh beberapa orang sekaligus, kelakuannya terlalu ganas dan keji, kalau dibandingkan dengan Tang-si (Si mayat tembaga) Bwe Ciau-hong dulu, mungkin melebihi jahatnya.”
“Hm, lebih baik kalau kau tidak melukainya, kalau tidak, tentu akan banyak menimbulkan kesulitan saja,” ujar Khu Ju-ki. “Dan dia punya Sumoay she Liong...”
“Ha, kiranya wanita she Liong itu?” potong Kwe Ceng dengan terkesiap.
Mendengar lagu suara Kwe Ceng ini, air muka Khu Ju-ki rada berubah juga. “Kenapa? Apa kau pernah lihat dia? Apa telah terjadi sesuatu?” tanyanya cepat.
“Tidak, Tecu belum pernah bertemu dia,” sahut Kwe Ceng demi nampak wajah Khu Ju-ki rada aneh, “Cuma waktu aku naik gunung tadi, para To-yu di sini berulang memaki aku maling cabul, pula bilang kedatanganku ini disebabkan wanita she Liong itu, aku menjadi bingung.”
Khu Ju-ki bergelak setelah tahu duduknya perkara, tetapi segera ia menghela napas. “Ya, rupa-rupanya Tiong-yang-kiong harus mengalami bencana seperti hari ini,” katanya kemudian. “Kalau bukan kejadian yang menimbulkan salah paham itu, bukan saja Pak-tau-tin besar yang berjaga di luar pasti sanggup menahan kedatangan kawanan penyatron itu, bahkan kau pun dapat lebih cepat sampai di atas gunung, dan tentu Hek-sute tidak sampai kena dilukai musuh.”
Melihat air muka Kwe Ceng mengunjuk rasa bingung, Khu Ju-ki cepat-cepat menerangkan lagi.
“Hari ini adalah ulang tahun ke-20 dari si nona she Liong itu,” demikian katanya.
“Oh, ulang tahunnya yang ke-20?” mengulang Kwe Ceng. Akan tetapi ulang tahun ke-20 seorang wanita kenapa bisa menimbulkan mala petaka bagi Coan-cin-kau, dalam hatinya masih tetap tidak mengerti barang sedikit pun.”
“Gadis she Liong bernama siapa orang luar tak ada yang tahu, cuma kawanan pendatang itu pada menyebut dia Siao-liong-li (gadis cilik she Liong), maka kita pun boleh menyebutnya dengan nama ini,” sambung Khu Ju-ki. “Pada suatu malam dua puluh tahun yang lalu, di luar Tiong-yang-kiong kita tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi, tentu saja para kawan dalam istana merasa heran. Ketika mereka pergi melihatnya, kiranya di luar pintu terdapat satu buntalan yang membungkus satu orok dan terletak di lantai.”
“Sudah tentu para kawan menjadi kebingungan karena semua orang yang tinggal di Tiong-yang-kiong ini adalah imam, semua laki-laki, mana bisa memelihara orok. Akan tetapi, sebagai imam yang berdasarkan welas-asih tidak bisa tinggal diam. Selagi serba susah, tiba-tiba dari belakang gunung muncul seorang wanita setengah umur, sesudah menyapa lalu dia bilang: ‘Bayi ini sungguh kasihan, biarlah aku yang memeliharanya!’
Ketika itu kami tidak berada di istana, maka para kawan menjadi girang mendengar wanita itu suka menerima orok itu tanpa syarat, segera orok itu diserahkan padanya. Belakangan setelah Ma-suheng dan aku pulang, mereka lalu menceritakan kejadian itu dan menjelaskan rupa serta dandanan wanita setengah umur itu, maka tahulah kami dia ialah dayang yang tinggal di kuburan itu. Dia pernah beberapa kali melihat kami dari Coan-cin-chit-cu, cuma selamanya tidak pernah bicara.
Meski kedua keluarga boleh dibilang tetangga dekat, tapi akibat persengketaan orang tua maka seperti tidak kenal saja, selamanya tidak pernah saling berhubungan. Dan setelah kami dengar cerita itu, kami pun tidak perhatikan urusan itu lagi.
Belakangan setelah muridnya, si Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu turun gunung, orang ini berhati kejam, ilmu silatnya sangat tinggi, dunia Kangouw morat-marit oleh perbuatannya yang menggemparkan. Telah beberapa kali Coan-cin-kau mengadakan sidang dan bermaksud memberi hajaran, namun selalu teringat pada wanita tua dalam kuburan hingga selama itu belum pernah turun tangan. Kami lantas tulis surat yang panjang lebar dan ramah, lalu dikirim ke kuburan. Akan tetapi surat itu seperti batu tenggelam ke dalam laut, selamanya tak pernah menerima balasan, sebaliknya kelakuan Li Bok-chiu masih tetap dibiarkan, sedikit pun tidak mengurusnya.
Kira-kira lewat sepuluh tahun, tiba-tiba di luar kuburan itu kami lihat dipasang kain putih di antara semak yang tumbuh lebat, kami tahu To-yu (kawan se-agama) itu telah meninggal, maka kami berenam (tatkala itu Coan-cin-chit-cu kehilangan Tam Ju-toan yang tewas di tangan Auwyang Hong, diceritakan dalam kisah Sia Tiauw Enghiong) lantas melayat ke kuburan itu. Baru selesai kami menjalankan penghormatan tiba-tiba di dalam semak-semak lebat itu keluar gadis cilik yang umurnya antara sepuluh tahun, dia membalas hormat kami dan menyatakan terima kasih. Katanya pula:
‘Sewaktu Suhu hendak mangkat, beliau telah pesan Tecu menyampaikan kepada para Totiang bahwa orang itu (maksudnya Li Bok-chiu) yang banyak melakukan kejahatan, Suhu sendiri ada jalan buat hajar dia, maka diharap kalian tak perlu kuatir.'
Habis berkata ia lalu putar tubuh dan masuk kembali ke dalam kuburan. Sebenarnya kami masih ingin bertanya lebih jauh, akan tetapi tak keburu. Sian-su sendiri pernah meninggalkan pesan bahwa siapa saja dilarang melangkah barang selangkah pun ke pintu kuburan itu. Hanya saja di hati kami merasa sangat heran, sebab To-yu itu sudah mati, lalu cara apa lagi yang dia tinggalkan untuk menghajar muridnya?
Kami melihat gadis cilik itu sebatang-kara dan harus dikasihani, maka kami lalu berdaya-upaya membantunya, kami mengirim sedikit makanan, tetapi aneh, selalu ditolaknya kembali.
Tampaknya watak dara cilik ini juga aneh serupa dengan Cosu (kakek guru) dan Suhu-nya. Belakangan karena kami banyak urusan dan jarang tinggal di rumah, kabar berita nona kecil ini sedikit sekali terdengar lagi.
Dan entah mengapa, Li Bok-chiu pun menghilang dari kalangan Kangouw dan tidak cari gara-gara lagi. Kami mengira To-yu memang benar-benar mempunyai akal bagus yang bikin takut muridnya, maka kami sangat kagum padanya.
Lalu kembali lewat beberapa tahun lagi, dan itulah kejadian tiga tahun yang lalu. Tatkala itu aku dan Ong-sute (Ong Ju-it) ada urusan pergi ke daerah barat. Di sana kami tinggal di rumah seorang pendekar terkemuka dan mendengar sebuah kabar yang amat mengejutkan. Katanya tiga tahun lagi, semua kaum setan iblis dan golongan agama liar akan berkumpul di Cong-lam-san untuk melakukan sesuatu.
Cong-lam-san adalah pangkalan Coan-cin-kau. Apa bila mereka berani naik ke sini tentu tujuannya hendak menyatroni agama kita, mana boleh kita tidak berjaga-jaga? Tapi aku dan Ong-sute masih kuatir kabar itu tidak benar, maka kami selidiki melalui pihak ketiga, dan ternyata hal itu bukan bikinan belaka melainkan memang sungguh-sungguh.
Cuma maksud tujuan mereka ke Cong-lam-san ternyata bukan hendak menyatroni agama kita, melainkan mengandung maksud tertentu terhadap Siao-liong-Ii yang tinggal di kuburan kuno itu.”
Kwe Ceng menjadi heran oleh cerita ini. “Dia hanya dara cilik yang selamanya tidak pernah keluar pintu, mengapa para penyatron itu bisa ikut permusuhan dan dendam padanya?” tanyanya dengan tidak mengerti.
“Memang apa sebab musabab yang sebenarnya di belakang layar itu, kita hanyalah orang luar, maka tak begitu jelas,” sahut Khu Ju-ki. “Tapi dasar Ong-sute paling suka cari tahu, dia menyelidiki ke mana-mana, akhirnya diketahui bahwa peristiwa itu sengaja diusik dan dikobarkan oleh suci (kakak seperguruan perempuan) Siao-liong-li sendiri.”
“Ha, Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu?” sela Kwe Ceng heran.
“Ya, tidak salah,” kata Khu Ju-ki. “Katanya sesudah Suhu mereka mengajarkan ilmu silat beberapa tahun kepada Li Bok-chiu, kemudian dapat dilihatnya bahwa jiwa perempuan itu ternyata tidak baik, maka dengan alasan sudah tamat belajar, Li Bok-chiu disuruh turun gunung.
Waktu gurunya masih hidup, meski Li Bok-chiu sudah banyak melakukan kejahatan, namun masih rada jeri, tapi setelah gurunya mati, dia pakai kedok hendak melayat buat menyerbu ke dalam kuburan. Dia berniat mengusir sang Sumoay dan mengangkangi semua benda mestika yang tersimpan di dalamnya.
Tak tahunya, di dalam kuburan itu banyak terpasang alat-alat rahasia jebakan yang aneh dan bagus. Meski Li Bok-chiu cukup lihay, namun sesudah banting tulang akhirnya dia bisa menembus dua lapis pintu kuburan, di depan pintu lapisan ketiga dia melihat ada sepucuk surat tinggalan Suhu padanya.
Kiranya guru sebelumnya sudah menduga akan kedatangannya, Maka dalam surat wasiat itu tertulis bahwa pada tahun ini, bulan dan hari itu adalah genap ulang tahun ke-20 Sumoay-nya, pada saat itu Sumoay-nya akan turun gunung untuk mencari ayah-bunda kandungnya, maka bila bersua di kalangan Kangouw, hendaklah dia mengingat hubungan seperguruan dan suka memberi bantuan dan perlindungan.
Dalam surat wasiat itu dipesan pula agar dia suka perbaiki kelakuannya yang jahat, kalau tidak, akhirnya akan menelan akibat perbuatannya sendiri.
Tak terduga, bukannya Li Bok-chiu insaf, bahkan ia sangat marah oleh isi surat sang guru. Segera ia menyerbu masuk ke pintu lapisan ke tiga, tapi di sini ia terjebak oleh jarum berbisa yang memang sebelumnya sudah dipasang gurunya. Kalau bukan Siao-liong-li memberi obat dan menyembuhkan lukanya mungkin seketika itu juga jiwanya sudah melayang.
Karena itu ia baru kenal lihaynya kuburan itu, terpaksa ia keluar kembali kemudian turun gunung. Tetapi kalau hanya begitu saja, mana dia terima? Belakangan kembali beberapa kali menyerbu kuburan, tetapi selalu menderita kecelakaan, bahkan terakhir kalinya malah bergebrak dengan Sumoay-nya. Tatkala itu usia Siao-liong-li baru 16 atau 17 tahun, akan tetapi ilmu silatnya ternyata sudah jauh di atas kakak seperguruannya. Kalau bukan sengaja dia bermurah hati, mungkin bukan masalah sulit untuk melayangkan jiwa Li Bok-chiu”
“Peristiwa itu mungkin disebabkan berita yang tersebar di kalangan Kangouw itu kurang benar,” Kwe Ceng memotong cerita orang.
“Kenapa kau tahu?” tanya Ju-ki.
“Tecu sendiri sudah pernah mengetahui kepandaian Li Bok-chiu,” sahut Kwe Ceng. “llmu silat perempuan ini sesungguhnya ada bagian unggulnya tersendiri. Kalau umur Siao-liong-li belum ada 20 tahun, betapa bagus lagi ilmu silatnya kukira susah juga buat menangkan dia.”
“Cerita itu Ong-sute dengar dari salah seorang kawannya dari Kay-pang, soal Siao-liang-li mengalahkan Li Bok-chiu, apa itu benar atau tidak, karena waktu itu tiada orang ketiga yang melihatnya, tentu tiada seorang pun yang tahu dengan pasti, cuma di kalangan Kangouw tersiar cerita itu,” ujar Khu Ju-ki.
“Karena itulah hati Li Bok-chiu makin dendam, ia tahu Suhu-nya pilih kasih dan menurunkan ilmu silat yang lebih lihay pada sang Sumoay. Maka ia sengaja menyiarkan kabar bahwa tahun, bulan dan hari itu, Siao-liong-li dari kuburan ‘Hoat-su-jin-bong’ akan mengadakan sayembara memilih jodoh.
Bahkan dia tambahi bahwa siapa saja yang bisa menangkan Siao-liong-li, bukan saja Siao-liong-li akan menyerahkan dirinya, bahkan semua harta mestika dalam kuburan, kitab-kitab ilmu silat dan macam-macam lagi akan dihadiahkan seluruhnya.
Para penyatron itu sesungguhnya tidak mengetahui siapa dan macam apakah Siao-liong-li, tetapi Li Bok-chiu sengaja bikin propaganda, katanya dia punya sumoay jauh lebih cantik dari padanya. Seperti kau sendiri sudah lihat, kecantikan Jik-lian-sian-cu itu jarang ada bandingannya di kalangan Bu-lim, sekali pun puteri bangsawan atau gadis hartawan tak bisa menandinginya.”
Mendengar orang memuji kecantikan Li Bok-chiu, di dalam hati diam-diam Kwe Ceng berkata: “Begitu saja mengapa harus heran? Aku punya Yong-ji saja sudah beratus kali lebih ayu dari padanya.”
Padahal ini hanya pendapat pribadi Kwe Ceng yang tentu saja memuji isterinya sendiri. Memang, apa bila bicara mengenai kecantikan, keluwesan Oey Yong jauh lebih unggul, tetapi kalau soal gaya, Li Bok-chiu lebih menarik.
“Dan justru memang tidak sedikit manusia serong di kalangan Kangouw yang terpikat kecantikan Li Bok-chiu, cuma, kesatu karena usianya sudah tidak muda lagi, dan kedua, tangannya yang gapah dan tak kenal ampun. Karena itu tidak sembarang orang berani ‘menaksir’ padanya,” demikian sambung Khu Ju-ki.
“Dan kini mendengar bahwa Li Bok-chiu memiliki Sumoay yang maha cantik, malah secara terang-terangan mengadakan sayembara mencari jodoh, keruan saja, siapa pun pingin mencoba peruntungan?”
Sampai disini, mengertilah Kwe Ceng akan duduk perkara sebenarnya. “O, jadi para pendatang ini hendak meminang?” katanya kemudian, “Pantas saja para To-heng di sini mencaci maki padaku sebagai maling cabul segala.”
Ju-ki ketawa terhahak oleh penuturan Kwe Ceng ini. “Begitulah, maka sesudah aku dan Ong-sute mendapat berita itu, kami pikir meski Siao-liong-li dengan kami hanya sekedar kenal saja, akan tetapi hubungan tetangga dekat, pula pergaulan orang tua kedua belah pihak pun lain dari pada yang lain. Laginya para siluman dan maling cabul itu jika betul-betul berani mengeluruk kesini, berarti sama sekali tidak pandang sebelah mata kepada Coan-cin-kau, apakah kami bisa biarkan begitu saja orang malang-melintang di atas gunung Cong-lam-san kita? Oleh sebab itu lantas kami undang semua jago Coan-cin-kau dari berbagai angkatan, sepuluh hari sebelumnya kami sudah berkumpul di Tiong-yang-kiong.
Selain kami giat berlatih Pak-tau-tin-hoat, kami mengirim surat pula kepada Siao-liong-li di dalam kuburan untuk memperingatkan dia agar berjaga-jaga. Siapa duga surat kami tetap seperti batu tenggelam di samudera raya saja, Siao-liong-li sama sekali tidak menggubris kemauan baik kami.”
“Jangan-jangan dia sudah tiada,” ujar Kwe Ceng.
“Tidak, setiap hari kami memandangnya dari jauh di atas gunung, masih tetap kami lihat ada asap dapur yang mengepul keluar dari kuburan,” sahut Khu Ju-ki. “Kau boleh lihat itu, di sebelah sana itu!” sembari berkata ia tunjukkan dengan jarinya ke arah barat.
Waktu Kwe Ceng memandang, ia lihat sebelah barat gunung lebat dan rindang, tanah seluas belasan li yang tampak hanya hutan belaka, ia pun tidak tahu di mana letak ‘Hoat-su-jin-bong’ yang dimaksud.
“Dan setelah kami berunding, kami mengambil keputusan akan mewakili Siao-liong-li menghadapi musuh,” kata Khu Ju-ki lagi. “Lima hari sebelumnya kami kirim orang pergi mencari berita. Para penyelidik sudah kembali semua dan benar saja diperoleh kabar bahwa tak sedikit kawanan penjahat yang bernyali besar hendak naik Cong-lam-san untuk ikut sayembara dan melamar Siao-liong-li.
Tapi ada pula beberapa di antaranya yang keder kepada Tiong-yang-kiong yang letaknya berdekatan. Mereka ini mundur teratur, tapi selebihnya karena mendapat dukungan dua orang pentolan besar, mereka ambil kepastian naik ke sini.
Mereka telah berjanji berkumpul di kuil di bawah gunung itu dan memakai tanda tepukan tangan pada pilar batu. Dan karena tanpa sengaja kau menepuk pilar batu, lagi pula kau unjuk kepandaianmu yang cukup mengejutkan, pantas kalau para cucu muridku menjadi geger dan salah sangka padamu.
Dan tentang kedua pentolan iblis itu, kalau dibicarakan memang cukup besar juga nama mereka, cuma selama ini mereka tidak menginjakkan kaki ke daerah Tionggoan. Kau pun telah belasan tahun menetap di Tho-hoa-to, maka kau tidak mengenal mereka. Putera bangsawan tadi adalah Pangeran dari Mongol, katanya masih anak-cucu keturunan lurus Jengis Khan. Selamanya dia tinggal di tanah barat, entah mendapat ajaran dari pendekar mana, meski pun umurnya masih muda namun sudah berhasil meyakinkan ilmu silat yang tinggi dan mengejutkan.
Orang menyebutnya Pangeran Hotu. Kau pernah tinggal lama di tanah gurun itu, lagi pula pergaulanmu dengan para bangsawan Mongol amat dekat, apa kau ingat akan asal-usul orang ini?”
“Pangeran Hotu, pangeran Hotu?” demikian Kwe Ceng komat-kamit mengulangi beberapa kali nama itu.
Ia pun mengenangkan kembali wajah putera bangsawan yang cakap itu, tapi sama sekali dia tidak ingat anak keturunan siapakah dia ini. Ia hanya merasa sikap putera bangsawan ini memang agung, di antara mata-alisnya mengunjuk sikap yang angker berwibawa. Ia cukup kenal dengan Jengis Khan dan keempat puteranya, rupa keempat putera Jengis Khan itu sama sekali tiada yang sama dengan Pangeran Hotu ini.
“Ya, mungkin dia hanya sengaja menaikkan harga diri saja dan membual”, kata Khu Ju-ki pula, “Tapi permulaan tahun ini, begitu ia datang di daerah Tionggoan, sekaligus ia telah melukai Ho-lam-sam-hiong (tiga jagoan dari Holam), belakangan di Kamsiok seorang diri dia bunuh pula Langciu-chit-pa (tujuh buaya darat dari Langciu), karena itu namanya seketika terpandang tinggi dan berkumandang, tetapi kami sama sekali tidak menduga bahwa dia justru bisa ikut dalam urusan Siao-liong-li ini.
“Sedang tokoh yang satunya lagi adalah paderi Tibet, ia adalah Ciangkau (penjabat ketua agama) dari sekte Bitcong di Tibet, namanya Darba. Ia memang sudah lama terkenal dan kalau dihitung tingkatannya masih sama dengan aku. Dia adalah seorang Hwesio, dengan sendirinya tujuan kedatangannya bukan buat melamar Siao-liong-li, maka maksudnya kalau bukan hendak memamerkan kepandaian dan menggemilangkan namanya, tentu dia mengincar harta mestika yang tersimpan di dalam kuburan milik mendiang guruku, bukan mustahil tujuannya meliputi kedua-duanya tadi.
Sedangkan para penyatron yang lain, karena tampilnya kedua orang tadi, mereka tidak ada pikiran buat melamar, mereka pikir asal bisa ikut menyerbu ke atas gunung dan membongkar kuburan kuno, sedikit banyak tentu mereka bisa membagi rejeki, karena ituIah hari ini yang naik ke Cong-lam-san ternyata berjumlah ratusan orang banyaknya. Sebenarnya Pak-tau-tin yang kami pasang itu masih mampu menahan seluruh penyatron kelas rendahan itu di bawah gunung. Sekali pun tak bisa menangkap hidup-hidup, tapi sedikitnya mereka tidak akan mampu mendekati Tiong-yang-kiong.
Tapi rupanya Coan-cin-kau kita memang harus mengalami mala petaka ini hingga terjadi salah paham atas dirimu, ya, apa yang perlu dikatakan lagi?”
Kwe Ceng menjadi amat menyesal. Ia ingin mengucapkan beberapa kata yang bersifat mohon maaf, tetapi dengan tertawa Khu Ju-ki mencegahnya.
“Tak perlu kau menyesal. Benda yang musnah itu hanya barang di luar tubuh, jiwa raga sendiri saja tidak perlu dibuat sayang, mengapa harus urus lagi benda di luar tubuh?” katanya pula, “Kau sudah latih Iwekang selama belasan tahun, apakah sedikit pengertian ini saja kau belum paham?”
Kwe Ceng tersenyum, ia mengiakan kata-kata orang.
‘Ya, itu namanya bertanding ilmu tenaga jari, kita boleh melihat siapa yang mengukir lebih dalam’. Namun Sian-su geleng2 kepala saja, jawabnya kemudian: ‘Aku toh bukan dewa, mana sanggup aku mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan?’
‘Tetapi kalau aku bisa, apa kau mau mengaku kalah?’ tanya orang itu. Di dalam keadaan demikian Sian-su jadi dipojokkan pada keadaan yang serba susah, maju salah, mundur pun keliru. Tetapi kemudian ia pikir di jagad ini pasti tak mungkin ada orang yang sanggup mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan, kebetulan urusan ini dapat diselesaikan sampai disini, dengan demikian pertandingan ini dapat dianggap tidak pernah ada, maka ia lantas berkata:
‘Jika kau bisa, sudah tentu aku lantas ngaku kalah. Tetapi kalau kau pun tak bisa, kita boleh anggap seri, tak ada yang menang dan tiada yang kalah, selanjutnya kita pun tidak perlu bertanding lagi’.
Karena itu tiba2 orang itu tertawa dengan rasa pedih: ‘Bagus, jika begitu sudah pasti kau akan jadi Tosu’, demikian katanya sambil dengan tangan kirinya me-raba2 sejenak di atas batu, habis ini ia ulur jari telunjuk tangan kanan terus menggores di atas batu itu.
Sian-su menjadi ternganga ketika menyaksikan debu batu itu bertebaran, betul saja orang telah menulis sehuruf demi sehuruf, dalam kagetnya sampai dia tidak sanggup bicara lagi, Dan tulisan yang terukir dengan tangan itu bukan lain adalah bagian depan dari syair ini.
Tentu saja Sian-su menjadi lesu dan terima kalah, dia tidak bisa bicara lagi. Besoknya dia lantas sucikan diri menjadi Tosu, juga mendirikan sebuah kuil kecil di dekat kuburan itu, dan itu adalah Tiong-yang-kiong yang asli.”
Kwe Ceng jadi terheran-heran oleh cerita itu, waktu ia merabanya lebih terang, betul saja memang tulisan di atas batu itu bukan ditatah, juga bukan ukiran, melainkan benar-benar digores jari tangan.
“Kalau begitu, ilmu kepandaian cianpwe itu dalam hal tenaga jari sungguh-sungguh sangat mengejutkan orang,” katanya kemudian.
Karena ucapannya ini, Khu Ju-ki mendongak dan ketawa terbahak-bahak.
“Ceng-ji, peristiwa ini bisa mengelabui mendiang guruku, menipu aku, dan juga menipu kau, akan tetapi jika waktu itu isterimu berada di sini, pasti tidak bisa mengelabui matanya,” demikian katanya.
Kwe Ceng menjadi lebih heran sehingga kedua matanya terpentang lebar. “Apa? Apa dalam hal ini terdapat sesuatu yang tidak beres?” tanyanya.
“Sudah tentu, hal itu tak perlu dikatakan lagi,” sahut Khu Ju-ki. “Sekarang coba kau pikir, pada jaman ini, kalau soal tenaga jari, siapa jago nomor satu?”
“Toan-hongya, It-teng Taysu punya It-yang-ci,” kata Kwe Ceng.
“Nah, dengan tenaga jari It-teng Taysu saja, sekali pun di atas kayu, belum tentu sanggup menulis sesuka hati, apa lagi di atas batu? Apa lagi orang lain?” ujar Khu Ju-ki, “Karena itu setelah Sian-su menjadi imam, terhadap kejadian itu ia masih terus berbikir tidak mengerti. Belakangan dia berjumpa dengan bapak mertuamu, Oey Yok-su Cianpwe, secara tak langsung guruku menyinggung kejadian itu. Setelah Oey-tocu berpikir sebentar, kemudian bergelak tawa, katanya: ‘Kepandaian itu aku pun bisa. Cuma sekarang aku belum melatihnya, sebulan lagi pasti aku datang kembali kesini’. Habis berkata, dengan tawa terbahak dia lantas mohon diri dari guruku.” Khu Ju-ki menghela napas, kemudian melanjutkan lagi.
“Benar saja sebulan kemudian Oey-tocu datang lagi, lalu bersama Sian-su mereka datang ke sini memeriksa batu ini. Sebetulnya syair yang ditulis cianpwe wanita itu tadinya masih belum selesai, baru bagian depan yang maksudnya menghendaki Sian-su tirakat saja meniru Thio Liang di jaman ahala Han. Sesudah Oey-tocu pakai tangan kiri meraba rada lama di atas batu, kemudian dia mengulur tangan kanan terus menulis di atas batu, dia menyambung syair cianpwe wanita yang masih belum selesai itu yang artinya menghormat dan memuji diri guruku.
Melihat jari tangan mertuamu bisa menulis di atas batu, sama halnya seperti yang dilakukan cianpwe wanita itu, Sian-su menjadi heran dan terkejut, pikirnya dalam hati: ilmu silat Oey Yok-su jelas masih kalah setingkat di bawahku, tetapi kenapa dia pun memiliki tenaga jari begini lihay?
Begitulah untuk sesaat itu guruku merasa tidak habis mengerti. Mendadak ia pun ulurkan jari tangannya menutul ke atas batu itu, sungguh aneh, batu itu ternyata lantas berlubang oleh tusukan jarinya. Tempatnya di sini, coba kau boleh merabanya.”
Khu Ju-ki tarik tangan Kwe Ceng ke tepi batu itu, Ketika Kwe Ceng meraba dan dapatkan satu lubang kecil, dia masukkan jari telunjuknya. Betul saja, seperti cetakan persis dapat dimasuki jarinya.
Tetapi Kwe Ceng masih sangsi, jangan-jangan batu cadas ini memang lunak dan berlainan dengan batu umumnya, maka ia gunakan tenaga jarinya dan dikorek dengan keras, namun yang dia rasakan kesakitan belaka, sebaliknya batu itu sedikit pun tidak bergerak. Khu Ju-ki tertawa berbahak-bahak.
“Kau tak mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik kejadian ini,” demikian katanya kemudian. “Sebelum tangan cianpwe wanita itu menulis di atas batu, lebih dulu telah meraba agak lama di atas batu dengan sebelah tangannya yang lain. Tangan yang dipakai buat meraba-raba itu menggenggam ‘Hoa-sek-tan’ (obat pelebur batu), dia bikin permukaan batu itu menjadi lunak dan dalam waktu sekitar setengah jam, permukaan batu tidak akan mengeras kembali. Rahasia ini rupanya dapat dipecahkan oleh Oey-tocu, ia bilang sebulan buat melatih kepandaian itu kepada guruku, sebenarnya ia turun gunung untuk mengumpulkan obat buat bikin ‘Hoa-sek-tan’, baru ia datang lagi dan menirukan cara orang menulis di atas batu.”
Kwe Ceng menjadi kagum sekali atas kecerdasan bapak mertuanya. Tiba-tiba ia ingat orang tua itu telah lama tinggalkan Tho-hoa-to, ia menjadi rindu. Khu Ju-ki tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Kwe Ceng, maka ia menyambung lagi ceritanya.
“Ketika mula-mula Sian-su menjadi Tosu, sebenarnya perasaannya sangat tertekan, akan tetapi sesudah banyak membaca kitab ajaran To (Tao), akhirnya ia pandai dan menginsafi segalanya di dunia ini tergantung jodoh dan tidak, maka dia pun mempelajari ilmu agama kita lebih mendalam lagi untuk lebih mengembangkannya.
Kalau dipikir, jika bukan gara-gara pancingan cianpwe wanita itu, mungkin di jagat ini tidak bakal terdapat Coan-cin-kau, aku Khu Ju-ki tentu pula tidak bisa seperti hari ini dan apalagi kau Kwe Ceng tidak diketahui akan berada di mana.”
Kwe Ceng angguk-angguk membenarkan ucapan itu. “Entah cara bagaimana harus menyebut nama Licianpwe (wanita tingkatan tua) itu. Apa kini dia masih hidup?” tanyanya kemudian.
“Kecuali guruku sendiri, di jagat ini tak ada orang lain yang tahu nama aslinya, sedang Sian-su pun tidak pernah katakan pada orang,” sahut Ju-ki. “Cianpwe itu meninggal jauh sebelum terjadi Hoa-san-lun-kiam yang pertama kali, kalau tidak, dengan ilmu silatnya yang tinggi serta wataknya yang tinggi hati, mana mungkin dia tidak ikut serta dalam pertandingan Hoa-san itu.”
“Dan entah dia meninggalkan keturunan atau tidak?” ujar Kwe Ceng.
Khu Ju-ki menghela napas panjang. “Persoalannya justru terletak di sini,” katanya kemudian, “Seumur hidup Locianpwe tak pernah menerima murid, ia hanya mempunyai satu dayang yang selalu mendampingi dan melayani segala keperluannya. Kedua orang ini tinggal bersama di kuburan kuno, selama belasan tahun tidak pernah melangkah keluar dan seluruh ilmu silat Locianpwe itu pun diturunkan kepada dayangnya, Dayangnya ini tak pernah injakkan kaki di kalangan Kangouw, di kalangan Bu-lim pun jarang yang kenal dia, tetapi malah mempunyai dua orang murid, yang besar she Li, mungkin kau pernah mendengar namanya, di kalangan Kangouw orang menyebut Jik-lian Sian-cu Li Bok-chiu.”
“Ahh, kiranya dia ini,” seru Kwe Ceng mendadak. “Perempuan ini keji bukan main, kiranya berasal dari sini.”
“Kau pernah ketemu dia?” tanya Khu Ju-ki.
“Ya, beberapa bulan yang lalu pernah bergebrak satu kali dengannya di daerah Kanglam, ilmu silatnya sangat hebat,” sahut Kwe Ceng.
“Dan kau melukai dia?” tanya Ju-ki lagi.
“Tidak,” jawab Kwe Ceng menggoyang kepala. “Justru dialah yang turun tangan keji dan membunuh beberapa orang sekaligus, kelakuannya terlalu ganas dan keji, kalau dibandingkan dengan Tang-si (Si mayat tembaga) Bwe Ciau-hong dulu, mungkin melebihi jahatnya.”
“Hm, lebih baik kalau kau tidak melukainya, kalau tidak, tentu akan banyak menimbulkan kesulitan saja,” ujar Khu Ju-ki. “Dan dia punya Sumoay she Liong...”
“Ha, kiranya wanita she Liong itu?” potong Kwe Ceng dengan terkesiap.
Mendengar lagu suara Kwe Ceng ini, air muka Khu Ju-ki rada berubah juga. “Kenapa? Apa kau pernah lihat dia? Apa telah terjadi sesuatu?” tanyanya cepat.
“Tidak, Tecu belum pernah bertemu dia,” sahut Kwe Ceng demi nampak wajah Khu Ju-ki rada aneh, “Cuma waktu aku naik gunung tadi, para To-yu di sini berulang memaki aku maling cabul, pula bilang kedatanganku ini disebabkan wanita she Liong itu, aku menjadi bingung.”
Khu Ju-ki bergelak setelah tahu duduknya perkara, tetapi segera ia menghela napas. “Ya, rupa-rupanya Tiong-yang-kiong harus mengalami bencana seperti hari ini,” katanya kemudian. “Kalau bukan kejadian yang menimbulkan salah paham itu, bukan saja Pak-tau-tin besar yang berjaga di luar pasti sanggup menahan kedatangan kawanan penyatron itu, bahkan kau pun dapat lebih cepat sampai di atas gunung, dan tentu Hek-sute tidak sampai kena dilukai musuh.”
Melihat air muka Kwe Ceng mengunjuk rasa bingung, Khu Ju-ki cepat-cepat menerangkan lagi.
“Hari ini adalah ulang tahun ke-20 dari si nona she Liong itu,” demikian katanya.
“Oh, ulang tahunnya yang ke-20?” mengulang Kwe Ceng. Akan tetapi ulang tahun ke-20 seorang wanita kenapa bisa menimbulkan mala petaka bagi Coan-cin-kau, dalam hatinya masih tetap tidak mengerti barang sedikit pun.”
“Gadis she Liong bernama siapa orang luar tak ada yang tahu, cuma kawanan pendatang itu pada menyebut dia Siao-liong-li (gadis cilik she Liong), maka kita pun boleh menyebutnya dengan nama ini,” sambung Khu Ju-ki. “Pada suatu malam dua puluh tahun yang lalu, di luar Tiong-yang-kiong kita tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi, tentu saja para kawan dalam istana merasa heran. Ketika mereka pergi melihatnya, kiranya di luar pintu terdapat satu buntalan yang membungkus satu orok dan terletak di lantai.”
“Sudah tentu para kawan menjadi kebingungan karena semua orang yang tinggal di Tiong-yang-kiong ini adalah imam, semua laki-laki, mana bisa memelihara orok. Akan tetapi, sebagai imam yang berdasarkan welas-asih tidak bisa tinggal diam. Selagi serba susah, tiba-tiba dari belakang gunung muncul seorang wanita setengah umur, sesudah menyapa lalu dia bilang: ‘Bayi ini sungguh kasihan, biarlah aku yang memeliharanya!’
Ketika itu kami tidak berada di istana, maka para kawan menjadi girang mendengar wanita itu suka menerima orok itu tanpa syarat, segera orok itu diserahkan padanya. Belakangan setelah Ma-suheng dan aku pulang, mereka lalu menceritakan kejadian itu dan menjelaskan rupa serta dandanan wanita setengah umur itu, maka tahulah kami dia ialah dayang yang tinggal di kuburan itu. Dia pernah beberapa kali melihat kami dari Coan-cin-chit-cu, cuma selamanya tidak pernah bicara.
Meski kedua keluarga boleh dibilang tetangga dekat, tapi akibat persengketaan orang tua maka seperti tidak kenal saja, selamanya tidak pernah saling berhubungan. Dan setelah kami dengar cerita itu, kami pun tidak perhatikan urusan itu lagi.
Belakangan setelah muridnya, si Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu turun gunung, orang ini berhati kejam, ilmu silatnya sangat tinggi, dunia Kangouw morat-marit oleh perbuatannya yang menggemparkan. Telah beberapa kali Coan-cin-kau mengadakan sidang dan bermaksud memberi hajaran, namun selalu teringat pada wanita tua dalam kuburan hingga selama itu belum pernah turun tangan. Kami lantas tulis surat yang panjang lebar dan ramah, lalu dikirim ke kuburan. Akan tetapi surat itu seperti batu tenggelam ke dalam laut, selamanya tak pernah menerima balasan, sebaliknya kelakuan Li Bok-chiu masih tetap dibiarkan, sedikit pun tidak mengurusnya.
Kira-kira lewat sepuluh tahun, tiba-tiba di luar kuburan itu kami lihat dipasang kain putih di antara semak yang tumbuh lebat, kami tahu To-yu (kawan se-agama) itu telah meninggal, maka kami berenam (tatkala itu Coan-cin-chit-cu kehilangan Tam Ju-toan yang tewas di tangan Auwyang Hong, diceritakan dalam kisah Sia Tiauw Enghiong) lantas melayat ke kuburan itu. Baru selesai kami menjalankan penghormatan tiba-tiba di dalam semak-semak lebat itu keluar gadis cilik yang umurnya antara sepuluh tahun, dia membalas hormat kami dan menyatakan terima kasih. Katanya pula:
‘Sewaktu Suhu hendak mangkat, beliau telah pesan Tecu menyampaikan kepada para Totiang bahwa orang itu (maksudnya Li Bok-chiu) yang banyak melakukan kejahatan, Suhu sendiri ada jalan buat hajar dia, maka diharap kalian tak perlu kuatir.'
Habis berkata ia lalu putar tubuh dan masuk kembali ke dalam kuburan. Sebenarnya kami masih ingin bertanya lebih jauh, akan tetapi tak keburu. Sian-su sendiri pernah meninggalkan pesan bahwa siapa saja dilarang melangkah barang selangkah pun ke pintu kuburan itu. Hanya saja di hati kami merasa sangat heran, sebab To-yu itu sudah mati, lalu cara apa lagi yang dia tinggalkan untuk menghajar muridnya?
Kami melihat gadis cilik itu sebatang-kara dan harus dikasihani, maka kami lalu berdaya-upaya membantunya, kami mengirim sedikit makanan, tetapi aneh, selalu ditolaknya kembali.
Tampaknya watak dara cilik ini juga aneh serupa dengan Cosu (kakek guru) dan Suhu-nya. Belakangan karena kami banyak urusan dan jarang tinggal di rumah, kabar berita nona kecil ini sedikit sekali terdengar lagi.
Dan entah mengapa, Li Bok-chiu pun menghilang dari kalangan Kangouw dan tidak cari gara-gara lagi. Kami mengira To-yu memang benar-benar mempunyai akal bagus yang bikin takut muridnya, maka kami sangat kagum padanya.
Lalu kembali lewat beberapa tahun lagi, dan itulah kejadian tiga tahun yang lalu. Tatkala itu aku dan Ong-sute (Ong Ju-it) ada urusan pergi ke daerah barat. Di sana kami tinggal di rumah seorang pendekar terkemuka dan mendengar sebuah kabar yang amat mengejutkan. Katanya tiga tahun lagi, semua kaum setan iblis dan golongan agama liar akan berkumpul di Cong-lam-san untuk melakukan sesuatu.
Cong-lam-san adalah pangkalan Coan-cin-kau. Apa bila mereka berani naik ke sini tentu tujuannya hendak menyatroni agama kita, mana boleh kita tidak berjaga-jaga? Tapi aku dan Ong-sute masih kuatir kabar itu tidak benar, maka kami selidiki melalui pihak ketiga, dan ternyata hal itu bukan bikinan belaka melainkan memang sungguh-sungguh.
Cuma maksud tujuan mereka ke Cong-lam-san ternyata bukan hendak menyatroni agama kita, melainkan mengandung maksud tertentu terhadap Siao-liong-Ii yang tinggal di kuburan kuno itu.”
Kwe Ceng menjadi heran oleh cerita ini. “Dia hanya dara cilik yang selamanya tidak pernah keluar pintu, mengapa para penyatron itu bisa ikut permusuhan dan dendam padanya?” tanyanya dengan tidak mengerti.
“Memang apa sebab musabab yang sebenarnya di belakang layar itu, kita hanyalah orang luar, maka tak begitu jelas,” sahut Khu Ju-ki. “Tapi dasar Ong-sute paling suka cari tahu, dia menyelidiki ke mana-mana, akhirnya diketahui bahwa peristiwa itu sengaja diusik dan dikobarkan oleh suci (kakak seperguruan perempuan) Siao-liong-li sendiri.”
“Ha, Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu?” sela Kwe Ceng heran.
“Ya, tidak salah,” kata Khu Ju-ki. “Katanya sesudah Suhu mereka mengajarkan ilmu silat beberapa tahun kepada Li Bok-chiu, kemudian dapat dilihatnya bahwa jiwa perempuan itu ternyata tidak baik, maka dengan alasan sudah tamat belajar, Li Bok-chiu disuruh turun gunung.
Waktu gurunya masih hidup, meski Li Bok-chiu sudah banyak melakukan kejahatan, namun masih rada jeri, tapi setelah gurunya mati, dia pakai kedok hendak melayat buat menyerbu ke dalam kuburan. Dia berniat mengusir sang Sumoay dan mengangkangi semua benda mestika yang tersimpan di dalamnya.
Tak tahunya, di dalam kuburan itu banyak terpasang alat-alat rahasia jebakan yang aneh dan bagus. Meski Li Bok-chiu cukup lihay, namun sesudah banting tulang akhirnya dia bisa menembus dua lapis pintu kuburan, di depan pintu lapisan ketiga dia melihat ada sepucuk surat tinggalan Suhu padanya.
Kiranya guru sebelumnya sudah menduga akan kedatangannya, Maka dalam surat wasiat itu tertulis bahwa pada tahun ini, bulan dan hari itu adalah genap ulang tahun ke-20 Sumoay-nya, pada saat itu Sumoay-nya akan turun gunung untuk mencari ayah-bunda kandungnya, maka bila bersua di kalangan Kangouw, hendaklah dia mengingat hubungan seperguruan dan suka memberi bantuan dan perlindungan.
Dalam surat wasiat itu dipesan pula agar dia suka perbaiki kelakuannya yang jahat, kalau tidak, akhirnya akan menelan akibat perbuatannya sendiri.
Tak terduga, bukannya Li Bok-chiu insaf, bahkan ia sangat marah oleh isi surat sang guru. Segera ia menyerbu masuk ke pintu lapisan ke tiga, tapi di sini ia terjebak oleh jarum berbisa yang memang sebelumnya sudah dipasang gurunya. Kalau bukan Siao-liong-li memberi obat dan menyembuhkan lukanya mungkin seketika itu juga jiwanya sudah melayang.
Karena itu ia baru kenal lihaynya kuburan itu, terpaksa ia keluar kembali kemudian turun gunung. Tetapi kalau hanya begitu saja, mana dia terima? Belakangan kembali beberapa kali menyerbu kuburan, tetapi selalu menderita kecelakaan, bahkan terakhir kalinya malah bergebrak dengan Sumoay-nya. Tatkala itu usia Siao-liong-li baru 16 atau 17 tahun, akan tetapi ilmu silatnya ternyata sudah jauh di atas kakak seperguruannya. Kalau bukan sengaja dia bermurah hati, mungkin bukan masalah sulit untuk melayangkan jiwa Li Bok-chiu”
“Peristiwa itu mungkin disebabkan berita yang tersebar di kalangan Kangouw itu kurang benar,” Kwe Ceng memotong cerita orang.
“Kenapa kau tahu?” tanya Ju-ki.
“Tecu sendiri sudah pernah mengetahui kepandaian Li Bok-chiu,” sahut Kwe Ceng. “llmu silat perempuan ini sesungguhnya ada bagian unggulnya tersendiri. Kalau umur Siao-liong-li belum ada 20 tahun, betapa bagus lagi ilmu silatnya kukira susah juga buat menangkan dia.”
“Cerita itu Ong-sute dengar dari salah seorang kawannya dari Kay-pang, soal Siao-liang-li mengalahkan Li Bok-chiu, apa itu benar atau tidak, karena waktu itu tiada orang ketiga yang melihatnya, tentu tiada seorang pun yang tahu dengan pasti, cuma di kalangan Kangouw tersiar cerita itu,” ujar Khu Ju-ki.
“Karena itulah hati Li Bok-chiu makin dendam, ia tahu Suhu-nya pilih kasih dan menurunkan ilmu silat yang lebih lihay pada sang Sumoay. Maka ia sengaja menyiarkan kabar bahwa tahun, bulan dan hari itu, Siao-liong-li dari kuburan ‘Hoat-su-jin-bong’ akan mengadakan sayembara memilih jodoh.
Bahkan dia tambahi bahwa siapa saja yang bisa menangkan Siao-liong-li, bukan saja Siao-liong-li akan menyerahkan dirinya, bahkan semua harta mestika dalam kuburan, kitab-kitab ilmu silat dan macam-macam lagi akan dihadiahkan seluruhnya.
Para penyatron itu sesungguhnya tidak mengetahui siapa dan macam apakah Siao-liong-li, tetapi Li Bok-chiu sengaja bikin propaganda, katanya dia punya sumoay jauh lebih cantik dari padanya. Seperti kau sendiri sudah lihat, kecantikan Jik-lian-sian-cu itu jarang ada bandingannya di kalangan Bu-lim, sekali pun puteri bangsawan atau gadis hartawan tak bisa menandinginya.”
Mendengar orang memuji kecantikan Li Bok-chiu, di dalam hati diam-diam Kwe Ceng berkata: “Begitu saja mengapa harus heran? Aku punya Yong-ji saja sudah beratus kali lebih ayu dari padanya.”
Padahal ini hanya pendapat pribadi Kwe Ceng yang tentu saja memuji isterinya sendiri. Memang, apa bila bicara mengenai kecantikan, keluwesan Oey Yong jauh lebih unggul, tetapi kalau soal gaya, Li Bok-chiu lebih menarik.
“Dan justru memang tidak sedikit manusia serong di kalangan Kangouw yang terpikat kecantikan Li Bok-chiu, cuma, kesatu karena usianya sudah tidak muda lagi, dan kedua, tangannya yang gapah dan tak kenal ampun. Karena itu tidak sembarang orang berani ‘menaksir’ padanya,” demikian sambung Khu Ju-ki.
“Dan kini mendengar bahwa Li Bok-chiu memiliki Sumoay yang maha cantik, malah secara terang-terangan mengadakan sayembara mencari jodoh, keruan saja, siapa pun pingin mencoba peruntungan?”
Sampai disini, mengertilah Kwe Ceng akan duduk perkara sebenarnya. “O, jadi para pendatang ini hendak meminang?” katanya kemudian, “Pantas saja para To-heng di sini mencaci maki padaku sebagai maling cabul segala.”
Ju-ki ketawa terhahak oleh penuturan Kwe Ceng ini. “Begitulah, maka sesudah aku dan Ong-sute mendapat berita itu, kami pikir meski Siao-liong-li dengan kami hanya sekedar kenal saja, akan tetapi hubungan tetangga dekat, pula pergaulan orang tua kedua belah pihak pun lain dari pada yang lain. Laginya para siluman dan maling cabul itu jika betul-betul berani mengeluruk kesini, berarti sama sekali tidak pandang sebelah mata kepada Coan-cin-kau, apakah kami bisa biarkan begitu saja orang malang-melintang di atas gunung Cong-lam-san kita? Oleh sebab itu lantas kami undang semua jago Coan-cin-kau dari berbagai angkatan, sepuluh hari sebelumnya kami sudah berkumpul di Tiong-yang-kiong.
Selain kami giat berlatih Pak-tau-tin-hoat, kami mengirim surat pula kepada Siao-liong-li di dalam kuburan untuk memperingatkan dia agar berjaga-jaga. Siapa duga surat kami tetap seperti batu tenggelam di samudera raya saja, Siao-liong-li sama sekali tidak menggubris kemauan baik kami.”
“Jangan-jangan dia sudah tiada,” ujar Kwe Ceng.
“Tidak, setiap hari kami memandangnya dari jauh di atas gunung, masih tetap kami lihat ada asap dapur yang mengepul keluar dari kuburan,” sahut Khu Ju-ki. “Kau boleh lihat itu, di sebelah sana itu!” sembari berkata ia tunjukkan dengan jarinya ke arah barat.
Waktu Kwe Ceng memandang, ia lihat sebelah barat gunung lebat dan rindang, tanah seluas belasan li yang tampak hanya hutan belaka, ia pun tidak tahu di mana letak ‘Hoat-su-jin-bong’ yang dimaksud.
“Dan setelah kami berunding, kami mengambil keputusan akan mewakili Siao-liong-li menghadapi musuh,” kata Khu Ju-ki lagi. “Lima hari sebelumnya kami kirim orang pergi mencari berita. Para penyelidik sudah kembali semua dan benar saja diperoleh kabar bahwa tak sedikit kawanan penjahat yang bernyali besar hendak naik Cong-lam-san untuk ikut sayembara dan melamar Siao-liong-li.
Tapi ada pula beberapa di antaranya yang keder kepada Tiong-yang-kiong yang letaknya berdekatan. Mereka ini mundur teratur, tapi selebihnya karena mendapat dukungan dua orang pentolan besar, mereka ambil kepastian naik ke sini.
Mereka telah berjanji berkumpul di kuil di bawah gunung itu dan memakai tanda tepukan tangan pada pilar batu. Dan karena tanpa sengaja kau menepuk pilar batu, lagi pula kau unjuk kepandaianmu yang cukup mengejutkan, pantas kalau para cucu muridku menjadi geger dan salah sangka padamu.
Dan tentang kedua pentolan iblis itu, kalau dibicarakan memang cukup besar juga nama mereka, cuma selama ini mereka tidak menginjakkan kaki ke daerah Tionggoan. Kau pun telah belasan tahun menetap di Tho-hoa-to, maka kau tidak mengenal mereka. Putera bangsawan tadi adalah Pangeran dari Mongol, katanya masih anak-cucu keturunan lurus Jengis Khan. Selamanya dia tinggal di tanah barat, entah mendapat ajaran dari pendekar mana, meski pun umurnya masih muda namun sudah berhasil meyakinkan ilmu silat yang tinggi dan mengejutkan.
Orang menyebutnya Pangeran Hotu. Kau pernah tinggal lama di tanah gurun itu, lagi pula pergaulanmu dengan para bangsawan Mongol amat dekat, apa kau ingat akan asal-usul orang ini?”
“Pangeran Hotu, pangeran Hotu?” demikian Kwe Ceng komat-kamit mengulangi beberapa kali nama itu.
Ia pun mengenangkan kembali wajah putera bangsawan yang cakap itu, tapi sama sekali dia tidak ingat anak keturunan siapakah dia ini. Ia hanya merasa sikap putera bangsawan ini memang agung, di antara mata-alisnya mengunjuk sikap yang angker berwibawa. Ia cukup kenal dengan Jengis Khan dan keempat puteranya, rupa keempat putera Jengis Khan itu sama sekali tiada yang sama dengan Pangeran Hotu ini.
“Ya, mungkin dia hanya sengaja menaikkan harga diri saja dan membual”, kata Khu Ju-ki pula, “Tapi permulaan tahun ini, begitu ia datang di daerah Tionggoan, sekaligus ia telah melukai Ho-lam-sam-hiong (tiga jagoan dari Holam), belakangan di Kamsiok seorang diri dia bunuh pula Langciu-chit-pa (tujuh buaya darat dari Langciu), karena itu namanya seketika terpandang tinggi dan berkumandang, tetapi kami sama sekali tidak menduga bahwa dia justru bisa ikut dalam urusan Siao-liong-li ini.
“Sedang tokoh yang satunya lagi adalah paderi Tibet, ia adalah Ciangkau (penjabat ketua agama) dari sekte Bitcong di Tibet, namanya Darba. Ia memang sudah lama terkenal dan kalau dihitung tingkatannya masih sama dengan aku. Dia adalah seorang Hwesio, dengan sendirinya tujuan kedatangannya bukan buat melamar Siao-liong-li, maka maksudnya kalau bukan hendak memamerkan kepandaian dan menggemilangkan namanya, tentu dia mengincar harta mestika yang tersimpan di dalam kuburan milik mendiang guruku, bukan mustahil tujuannya meliputi kedua-duanya tadi.
Sedangkan para penyatron yang lain, karena tampilnya kedua orang tadi, mereka tidak ada pikiran buat melamar, mereka pikir asal bisa ikut menyerbu ke atas gunung dan membongkar kuburan kuno, sedikit banyak tentu mereka bisa membagi rejeki, karena ituIah hari ini yang naik ke Cong-lam-san ternyata berjumlah ratusan orang banyaknya. Sebenarnya Pak-tau-tin yang kami pasang itu masih mampu menahan seluruh penyatron kelas rendahan itu di bawah gunung. Sekali pun tak bisa menangkap hidup-hidup, tapi sedikitnya mereka tidak akan mampu mendekati Tiong-yang-kiong.
Tapi rupanya Coan-cin-kau kita memang harus mengalami mala petaka ini hingga terjadi salah paham atas dirimu, ya, apa yang perlu dikatakan lagi?”
Kwe Ceng menjadi amat menyesal. Ia ingin mengucapkan beberapa kata yang bersifat mohon maaf, tetapi dengan tertawa Khu Ju-ki mencegahnya.
“Tak perlu kau menyesal. Benda yang musnah itu hanya barang di luar tubuh, jiwa raga sendiri saja tidak perlu dibuat sayang, mengapa harus urus lagi benda di luar tubuh?” katanya pula, “Kau sudah latih Iwekang selama belasan tahun, apakah sedikit pengertian ini saja kau belum paham?”
Kwe Ceng tersenyum, ia mengiakan kata-kata orang.
PASUKAN TAWON PUTIH
“Begitulah, selagi kau dikerubuti Pak-tau-tin dengan segenap kekuatannya, pada lain pihak kedua pentolan iblis itu berkesempatan membawa begundalnya menyerbu hingga ke depan Tiong-yang-kiong. Begitu datang mereka lantas mengobarkan api. Ketika Hek-sute mendahului maju melabrak pangeran Hotu, rupanya dia terlampau pandang enteng pihak musuh, pula ilmu silat Hotu memang berlainan dari pada orang biasa dan sangat aneh, karena sedikit lengah, Hek-sute kena sekali pukulannya di dada.
Dengan sendirinya kami lekas-lekas pasang barisan bintang untuk melindunginya. Akan tetapi karena kekurangan tenaga Hek-sute, sedangkan anak murid yang menggantikan tempatnya masih selisih terlalu jauh kepandaiannya, maka daya tekanan barisan kita sulit dikerahkan seluruhnya. Coba, kalau kau tidak datang tepat pada waktunya, mungkin hari ini Coan-cin-kau sudah dihancurkan orang.
Sekarang kalau diingat lagi, bila kau tidak ke sini, sungguh pun para penyatron tingkat rendahan pun tidak mampu naik ke atas, tetapi untuk menahan Pangeran Hotu dan Darba berdua jelas juga tidak bisa. Kedua orang ini kalau bahu-membahu menempur Pak-tau-tin kita, walau pun kami belum pasti dikalahkan, tapi sukar juga memperoleh kemenangan.”
Bercerita sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara bunyi “hauuuuh hauuuh hauuuuuh” di jurusan barat, mendadak ada orang membunyikan tanduk. Suara tiupan tanduk itu begitu seram, sayup-sayup seperti mengandung maksud bunuh membunuh dan seperti sebuah tantangan yang ditujukan kepada seseorang.
“Binatang, binatang!” mendadak Khu Ju-ki memaki dengan marah, Sambil memandang ke rimba di sebelah barat gunung, ia berkata pula pada Kwe Ceng: “Ceng-ji, bangsat itu telah membuat perjanjian sepuluh tahun dengan kau, lalu dia mengira dalam sepuluh tahun ini dapat berbuat sewenang-wenang sesukanya, dengan begitu supaya kau tidak bebas ikut campur urusannya, tetapi di bumi ini mana ada persoalan yang begini mudah. Mari kita ke sana!”
“Apakah itu ulah pangeran Hotu?” tanya Kwe Ceng.
“Siapa lagi kalau bukan dia,” sahut Ju-ki. “Dia justru sedang menantang Siao-liong-li!”
Sembari berkata dia pun bertindak cepat turun gunung, Tanpa ayal lagi segera Kwe Ceng menyusul di belakangnya. Sesudah beberapa li mereka tempuh, terdengarlah oleh mereka suara bunyi tanduk tadi disebul semakin keras, di antara suara “hu-hu” itu bahkan masih terseling pula suara “ting-ting-ting” yang terdengar nyaring dari bunyi keleningan. Suara keleningan ini menunjukkan tanda bahwa itu paderi Tibet Darba pun sudah ikut turun tangan.
Khu Ju-ki menjadi marah oleh kelakuan kedua orang itu. “Hm, dua jago terkemuka sama-sama menghina seorang gadis cilik, sungguh tidak tahu malu,” demikian damperatnya pula.
Sambil berkata kakinya pun tidak pernah kendor, ia berlari semakin cepat, maka sekejap kemudian mereka sudah sampai pada pinggang gunung, Dari sini setelah membelok satu tebing lagi, maka tampaklah oleh Kwe Ceng di depan sana tumbuh sebuah hutan, di luar hutan itu berdiri beberapa puluh orang yang beraneka macam potongannya, ada yang tinggi, besar, pendek atau gemuk, tapi jelas kelihatan mereka bukan lain adalah kawanan penyatron yang menyerbu Tiong-yang-kiong tadi.
Karena itu Khu Ju-ki dan Kwe Ceng tidak lantas unjukkan diri, mereka bersembunyi dulu di belakang dinding batu untuk melihat gelagat.
Sementara tampak Pangeran Hotu bersama Darba berdiri sejajar, yang satu meniup tanduk sedangkan yang lain menabuh keleningan, suaranya teratur dan sahut menyahut, maksudnya memancing keluar Siao-liong-li yang mereka inginkan. Meski sudah lama mereka ribut sendiri di dalam hutan itu, tetapi masih tetap sunyi tiada suara yang membalas.
Karena itu Hotu meletakkan alat tiupnya, lantas dengan suara lantang dia berteriak: Aku Pangeran Hotu dari Mongol, dengan hormat aku menghaturkan selamat berulang tahun kepada Siao-liong-li!”
Baru habis ia berkata, tiba-tiba dari dalam hutan bergema tiga kali suara “creng-creng-creng”, mungkin itulah jawaban Siao-liong-li, yaitu dengan menabuh Khim (semacam alat musik kecapi).
Pangeran Hotu menjadi senang karena dirinya digubris, maka dia lantas buka suara lagi:
“Menurut kabar, nona Liong telah sesumbar hendak mengadakan sayembara pada hari ini untuk memilih jodoh, karena itu aku yang bodoh sengaja datang meminta petunjuk, harap nona Liong tidak segan-segan memberi tuntunan!”
Di luar dugaan, mendadak suara Khim tadi berbunyi keras dan nadanya tinggi sekali, agaknya tanda marah. Meski para penyatron itu tidak paham tentang seni suara, namun mendengar suara Khim yang bunyinya lain itu, mereka pun tahu bahwa itu adalah tanda sedang mengusir tetamu.
Akan tetapi Hotu ternyata belum mau sudah, dengan ketawa dia pentang mulut lagi: “Keluargaku cukup mampu, wajahku pun tidak jelek, lamaranku ini rasanya sama sekali tidak merendahkan dirimu. Nona Liong sendiri adalah gadis pendekar di jaman ini, kiranya engkau pun tidak perlu kikuk.”
Dan baru saja ia selesai bicara, mendadak suara Khim berubah menjadi santer dan cepat, lapat-lapat seperti mengandung arti mendamperat. Begitu hebatnya suara tabuhan Khim itu sehingga bagi yang mendengarkan terasa sangat tidak enak sekali. Beberapa orang di antara kawanan penyatron itu sampai menutup kuping tak berani mendengarkan lagi.
Karena itu Hotu pandang sekejap pada Darba. Paderi Tibet itu meng-angguk-angguk, maka Hotu lantas berseru lagi:
“Apa bila nona sudah tidak mau unjuk diri, terpaksa aku mengundang secara kekerasan.”
Habis berkata, sekali ia memberi tanda kepada para begundalnya, segera ia mendahului masuk ke hutan lebat itu dengan langkah lebar, tindakannya ini segera diikuti kawan-kawannya secara beramai-ramai. Dalam hati mereka berpikir: “Sampai Coan-cin-kau yang terhitung golongan paling lihay di kalangan Bu-lim saja tak sanggup menahan kami, apa lagi hanya seorang Siao-liong-li, apa yang bisa dia perbuat?”
Karena kuatir didahului kawan yang lain, mereka jadi saling berebut di depan supaya bisa lebih cepat mendapat bagian rejeki harta mestika di dalam kuburan kuno itu. Melihat musuh telah bertindak, lekas Khu Ju-ki melompat keluar dari tempat sembunyinya dan berseru:
“Hai, tempat ini adalah tempat keramat mendiang guruku Tiong-yang Cinjin, lekas kalian mundur kembali!”
Mendengar suara teriakan ini, semua orang rada terkesiap juga, akan tetapi langkah mereka tetap tidak pernah berhenti, mereka masih terus menyerbu ke dalam hutan.
“Ceng-ji, hayo turun tangan saja!” ajak Khu Ju-ki pada Kwe Ceng, dia menjadi marah akan perbuatan kawanan bandit itu.
Tetapi baru saja mereka akan menyusul masuk ke dalam hutan yang lebat itu, mendadak terdengar suara teriakan dan jeritan para penyatron itu, tahu-tahu mereka berlari kembali seperti kesetanan. Keruan Khu Ju-ki dan Kwe Ceng ter-heran-heran.
Sementara itu terlihat beberapa puluh orang telah berlari keluar seperti terbang cepatnya, mati-matian menyusul Hotu dan Darba yang juga sedang berlari keluar dengan langkah lebar. Keadaan mereka yang amat menyedihkan itu, dibanding sewaktu mereka digempur mundur dari Tiong-yang-kiong oleh Kwe Ceng tadi entah berapa kali lipat lebih hebat.
Khu Ju-ki dan Kwe Ceng menjadi bingung, mereka heran dengan ilmu kepandaian apakah Siao-liong-Ii mampu mengusir kawanan penyatron ini? Tetapi pikiran mereka itu hanya timbul sekilas saja, sebab tiba-tiba terdengar suara “ngaung-ngaung-ngaung” yang riuh ramai. Suara mendengung ini tadinya masih jauh, tapi sebentar saja sudah mendekat. Di bawah cahaya rembulan yang remang tertampak segumpal benda abu-abu, entah binatang apa dengan cepat terbang keluar dari dalam hutan dan mengudak di atas kepala para penyerbu. Kwe Ceng menjadi heran oleh kejadian ini.
“Apakah itu?” tanyanya.
Akan tetapi Khu Ju-ki sendiri tidak tahu, dia geleng kepala tidak menjawab, dengan mata tidak berkedip ia terus pandang ke depan. Ia lihat di antara petualang-petualang itu ada beberapa yang lambat larinya, kepala mereka segera disambar gerombolan binatang tadi, sesudah itu beberapa petualang ini seketika jatuh terguling, mereka menjerit-jerit sambil mendekap kepala, tampaknya rasa sakitnya sukar ditahan.
“He, tawon, kenapa warna putih?” seru Kwe Ceng terkejut sesudah kemudian mengenali binatang terbang itu.
Selagi ia berkata, gerombolan tawon putih itu kembali membikin terguling beberapa orang lagi dengan antupannya. Dalam sekejap saja di rimba raya itu terdapat belasan orang yang bergelimpangan sambil men-jerit-jerit kesakitan dengan suara yang mengerikan.
“Aneh, diantup tawon, seumpama memang sakit, seharusnya tidak sampai begitu jahat. Apakah mungkin antupan tawon putih ini luar biasa lihaynya?” demikian Kwe Ceng ber-tanya dalam hati.
Dalam pada itu dia melihat bayangan abu-abu tadi masih menyambar kian kemari, seperti sesosok asap tebal saja yang menyembur dengan cepat, gerombolan tawon putih itu tiba-tiba menyambar dari depan Khu Ju-ki. Melihat datangnya gerombolan tawon putih ini demikian ganas dan hebat, agaknya sukar ditahan, maka Kwe Ceng berpikir hendak menyingkir. Namun tidak demikian dengan Khu Ju-ki. Tiba-tiba imam Coan-cin-kau ini mengumpulkan napasnya, sekali pentang mulut dia terus meniup dengan sekuatnya.
Gerombolan tawon itu sesungguhnya sangat cepat terbangnya. Ketika mendadak terasa tiupan angin yang keras memapak dari depan, keruan daya serbuan mereka tertahan, dan pada saat Khu Ju-ki untuk kedua kalinya menyebul lagi, kembali angin santer menyarnbar pula.
Dengan sendirinya kami lekas-lekas pasang barisan bintang untuk melindunginya. Akan tetapi karena kekurangan tenaga Hek-sute, sedangkan anak murid yang menggantikan tempatnya masih selisih terlalu jauh kepandaiannya, maka daya tekanan barisan kita sulit dikerahkan seluruhnya. Coba, kalau kau tidak datang tepat pada waktunya, mungkin hari ini Coan-cin-kau sudah dihancurkan orang.
Sekarang kalau diingat lagi, bila kau tidak ke sini, sungguh pun para penyatron tingkat rendahan pun tidak mampu naik ke atas, tetapi untuk menahan Pangeran Hotu dan Darba berdua jelas juga tidak bisa. Kedua orang ini kalau bahu-membahu menempur Pak-tau-tin kita, walau pun kami belum pasti dikalahkan, tapi sukar juga memperoleh kemenangan.”
Bercerita sampai di sini, tiba-tiba terdengar suara bunyi “hauuuuh hauuuh hauuuuuh” di jurusan barat, mendadak ada orang membunyikan tanduk. Suara tiupan tanduk itu begitu seram, sayup-sayup seperti mengandung maksud bunuh membunuh dan seperti sebuah tantangan yang ditujukan kepada seseorang.
“Binatang, binatang!” mendadak Khu Ju-ki memaki dengan marah, Sambil memandang ke rimba di sebelah barat gunung, ia berkata pula pada Kwe Ceng: “Ceng-ji, bangsat itu telah membuat perjanjian sepuluh tahun dengan kau, lalu dia mengira dalam sepuluh tahun ini dapat berbuat sewenang-wenang sesukanya, dengan begitu supaya kau tidak bebas ikut campur urusannya, tetapi di bumi ini mana ada persoalan yang begini mudah. Mari kita ke sana!”
“Apakah itu ulah pangeran Hotu?” tanya Kwe Ceng.
“Siapa lagi kalau bukan dia,” sahut Ju-ki. “Dia justru sedang menantang Siao-liong-li!”
Sembari berkata dia pun bertindak cepat turun gunung, Tanpa ayal lagi segera Kwe Ceng menyusul di belakangnya. Sesudah beberapa li mereka tempuh, terdengarlah oleh mereka suara bunyi tanduk tadi disebul semakin keras, di antara suara “hu-hu” itu bahkan masih terseling pula suara “ting-ting-ting” yang terdengar nyaring dari bunyi keleningan. Suara keleningan ini menunjukkan tanda bahwa itu paderi Tibet Darba pun sudah ikut turun tangan.
Khu Ju-ki menjadi marah oleh kelakuan kedua orang itu. “Hm, dua jago terkemuka sama-sama menghina seorang gadis cilik, sungguh tidak tahu malu,” demikian damperatnya pula.
Sambil berkata kakinya pun tidak pernah kendor, ia berlari semakin cepat, maka sekejap kemudian mereka sudah sampai pada pinggang gunung, Dari sini setelah membelok satu tebing lagi, maka tampaklah oleh Kwe Ceng di depan sana tumbuh sebuah hutan, di luar hutan itu berdiri beberapa puluh orang yang beraneka macam potongannya, ada yang tinggi, besar, pendek atau gemuk, tapi jelas kelihatan mereka bukan lain adalah kawanan penyatron yang menyerbu Tiong-yang-kiong tadi.
Karena itu Khu Ju-ki dan Kwe Ceng tidak lantas unjukkan diri, mereka bersembunyi dulu di belakang dinding batu untuk melihat gelagat.
Sementara tampak Pangeran Hotu bersama Darba berdiri sejajar, yang satu meniup tanduk sedangkan yang lain menabuh keleningan, suaranya teratur dan sahut menyahut, maksudnya memancing keluar Siao-liong-li yang mereka inginkan. Meski sudah lama mereka ribut sendiri di dalam hutan itu, tetapi masih tetap sunyi tiada suara yang membalas.
Karena itu Hotu meletakkan alat tiupnya, lantas dengan suara lantang dia berteriak: Aku Pangeran Hotu dari Mongol, dengan hormat aku menghaturkan selamat berulang tahun kepada Siao-liong-li!”
Baru habis ia berkata, tiba-tiba dari dalam hutan bergema tiga kali suara “creng-creng-creng”, mungkin itulah jawaban Siao-liong-li, yaitu dengan menabuh Khim (semacam alat musik kecapi).
Pangeran Hotu menjadi senang karena dirinya digubris, maka dia lantas buka suara lagi:
“Menurut kabar, nona Liong telah sesumbar hendak mengadakan sayembara pada hari ini untuk memilih jodoh, karena itu aku yang bodoh sengaja datang meminta petunjuk, harap nona Liong tidak segan-segan memberi tuntunan!”
Di luar dugaan, mendadak suara Khim tadi berbunyi keras dan nadanya tinggi sekali, agaknya tanda marah. Meski para penyatron itu tidak paham tentang seni suara, namun mendengar suara Khim yang bunyinya lain itu, mereka pun tahu bahwa itu adalah tanda sedang mengusir tetamu.
Akan tetapi Hotu ternyata belum mau sudah, dengan ketawa dia pentang mulut lagi: “Keluargaku cukup mampu, wajahku pun tidak jelek, lamaranku ini rasanya sama sekali tidak merendahkan dirimu. Nona Liong sendiri adalah gadis pendekar di jaman ini, kiranya engkau pun tidak perlu kikuk.”
Dan baru saja ia selesai bicara, mendadak suara Khim berubah menjadi santer dan cepat, lapat-lapat seperti mengandung arti mendamperat. Begitu hebatnya suara tabuhan Khim itu sehingga bagi yang mendengarkan terasa sangat tidak enak sekali. Beberapa orang di antara kawanan penyatron itu sampai menutup kuping tak berani mendengarkan lagi.
Karena itu Hotu pandang sekejap pada Darba. Paderi Tibet itu meng-angguk-angguk, maka Hotu lantas berseru lagi:
“Apa bila nona sudah tidak mau unjuk diri, terpaksa aku mengundang secara kekerasan.”
Habis berkata, sekali ia memberi tanda kepada para begundalnya, segera ia mendahului masuk ke hutan lebat itu dengan langkah lebar, tindakannya ini segera diikuti kawan-kawannya secara beramai-ramai. Dalam hati mereka berpikir: “Sampai Coan-cin-kau yang terhitung golongan paling lihay di kalangan Bu-lim saja tak sanggup menahan kami, apa lagi hanya seorang Siao-liong-li, apa yang bisa dia perbuat?”
Karena kuatir didahului kawan yang lain, mereka jadi saling berebut di depan supaya bisa lebih cepat mendapat bagian rejeki harta mestika di dalam kuburan kuno itu. Melihat musuh telah bertindak, lekas Khu Ju-ki melompat keluar dari tempat sembunyinya dan berseru:
“Hai, tempat ini adalah tempat keramat mendiang guruku Tiong-yang Cinjin, lekas kalian mundur kembali!”
Mendengar suara teriakan ini, semua orang rada terkesiap juga, akan tetapi langkah mereka tetap tidak pernah berhenti, mereka masih terus menyerbu ke dalam hutan.
“Ceng-ji, hayo turun tangan saja!” ajak Khu Ju-ki pada Kwe Ceng, dia menjadi marah akan perbuatan kawanan bandit itu.
Tetapi baru saja mereka akan menyusul masuk ke dalam hutan yang lebat itu, mendadak terdengar suara teriakan dan jeritan para penyatron itu, tahu-tahu mereka berlari kembali seperti kesetanan. Keruan Khu Ju-ki dan Kwe Ceng ter-heran-heran.
Sementara itu terlihat beberapa puluh orang telah berlari keluar seperti terbang cepatnya, mati-matian menyusul Hotu dan Darba yang juga sedang berlari keluar dengan langkah lebar. Keadaan mereka yang amat menyedihkan itu, dibanding sewaktu mereka digempur mundur dari Tiong-yang-kiong oleh Kwe Ceng tadi entah berapa kali lipat lebih hebat.
Khu Ju-ki dan Kwe Ceng menjadi bingung, mereka heran dengan ilmu kepandaian apakah Siao-liong-Ii mampu mengusir kawanan penyatron ini? Tetapi pikiran mereka itu hanya timbul sekilas saja, sebab tiba-tiba terdengar suara “ngaung-ngaung-ngaung” yang riuh ramai. Suara mendengung ini tadinya masih jauh, tapi sebentar saja sudah mendekat. Di bawah cahaya rembulan yang remang tertampak segumpal benda abu-abu, entah binatang apa dengan cepat terbang keluar dari dalam hutan dan mengudak di atas kepala para penyerbu. Kwe Ceng menjadi heran oleh kejadian ini.
“Apakah itu?” tanyanya.
Akan tetapi Khu Ju-ki sendiri tidak tahu, dia geleng kepala tidak menjawab, dengan mata tidak berkedip ia terus pandang ke depan. Ia lihat di antara petualang-petualang itu ada beberapa yang lambat larinya, kepala mereka segera disambar gerombolan binatang tadi, sesudah itu beberapa petualang ini seketika jatuh terguling, mereka menjerit-jerit sambil mendekap kepala, tampaknya rasa sakitnya sukar ditahan.
“He, tawon, kenapa warna putih?” seru Kwe Ceng terkejut sesudah kemudian mengenali binatang terbang itu.
Selagi ia berkata, gerombolan tawon putih itu kembali membikin terguling beberapa orang lagi dengan antupannya. Dalam sekejap saja di rimba raya itu terdapat belasan orang yang bergelimpangan sambil men-jerit-jerit kesakitan dengan suara yang mengerikan.
“Aneh, diantup tawon, seumpama memang sakit, seharusnya tidak sampai begitu jahat. Apakah mungkin antupan tawon putih ini luar biasa lihaynya?” demikian Kwe Ceng ber-tanya dalam hati.
Dalam pada itu dia melihat bayangan abu-abu tadi masih menyambar kian kemari, seperti sesosok asap tebal saja yang menyembur dengan cepat, gerombolan tawon putih itu tiba-tiba menyambar dari depan Khu Ju-ki. Melihat datangnya gerombolan tawon putih ini demikian ganas dan hebat, agaknya sukar ditahan, maka Kwe Ceng berpikir hendak menyingkir. Namun tidak demikian dengan Khu Ju-ki. Tiba-tiba imam Coan-cin-kau ini mengumpulkan napasnya, sekali pentang mulut dia terus meniup dengan sekuatnya.
Gerombolan tawon itu sesungguhnya sangat cepat terbangnya. Ketika mendadak terasa tiupan angin yang keras memapak dari depan, keruan daya serbuan mereka tertahan, dan pada saat Khu Ju-ki untuk kedua kalinya menyebul lagi, kembali angin santer menyarnbar pula.
Kwe Ceng dapat mengikuti cara itu dengan baik, maka ia pun cepat-cepat meniru dengan menyebulkan hawanya secara keras dan ia gabungkan kekuatan angin tiupannya dengan tiupan Khu Ju-ki. Keruan saja kekuatan angin ini menjadi sangat kuat, rombongan tawon putih jadi tak tahan hingga beberapa ratus tawon yang paling depan terpaksa menggeser arah dan menyambar lewat di samping kedua orang ini terus mengudak Hotu dan Darba Iagi.
Belasan petualang yang bergelimpangan di tanah semakin ngeri jeritan mereka, saking menderitanya sampai mereka me-ratap dan me-rintih, berteriak bapak dan memanggil ibu, malahan ada yang minta ampun,
“Kami berbuat salah, mohon dewi Siao-liong-li suka ampuni jiwa kami!” demikian mereka memohon.
Kwe Ceng menjadi heran oleh kelakuan para petualang ini, “Orang2 ini tergolong manusia-manusia yang tidak kenal takut di kalangan Kangouw, sekali pun sebelah lengan atau sebelah kaki mereka ditebas kutung belum tentu mereka merintih kesakitan dan meminta ampun, mengapa antup tawon sekecil ini saja ternyata begini lihay?” demikian ia pikir.
Sementara itu dia dengar suara tabuhan Khim berkumandang lagi dari dalam rimba raya itu, menyusul mana dari pucuk pohon yang rindang itu tampak mengepul keluar asap putih tipis, segera Khu Ju-ki dan Kwe Ceng mencium bau wangi bunga yang sedap sekali.
Selang tidak lama kemudian, suara “ngung-ngung-ngung” tadi dari jauh kembali mendekat lagi. Demi mencium bau wangi itu, rombongan tawon putih ini sudah terbang kembali ke dalam rimba. Kiranya Siao-liong-li sudah sengaja membakar dupa untuk menarik kembali pasukan tawonnya.
Meski sudah dua puluh tahun Khu Ju-ki menjadi tetangga Siao-liong-li, namun selamanya tidak pernah mengetahui bahwa gadis jelita ini ternyata memiliki kepandaian begini tinggi. Dia menjadi kagum dan tertarik.
“Kalau sebelumnya tahu tetangga cantik kita ini begini besar kesaktiannya, Coan-cin-kau kita tentunya tidak perlu banyak urusan lagi,” demikian ia berkata.
Ucapan ini sebenarnya dia tujukan kepada Kwe Ceng, suaranya tidak keras. Tetapi aneh, Siao-liong-li yang berada dalam rimba itu seperti mengetahui maksudnya, tiba-tiba suara Khim tadi telah berubah menjadi lunak dan merdu yang mengandung maksud pernyataan terima kasih.
“Ha-ha-ha, hendaklah nona jangan pakai adat istiadat lagi,” kata Khu Ju-ki dengan suara lantang sambil bergelak tawa. ”Khu Ju-ki bersama anak murid Kwe Ceng, dengan hormat mengucapkan selamat atas ulang tahun nona.”
Atas ucapan ini, tiba-tiba suara Khim berbunyi “creng-creng” dua kali lagi, lantas berhenti, suara lenyap, keadaan pun kembali sunyi. Sementara itu, mendengar jeritan dan teriakan orang-orang yang bergelimpangan di tanah, hati Kwe Ceng menjadi kasihan.
“Totiang, cara bagaimana kita bisa menolong orang-orang ini?” ia coba tanya Khu Ju-ki.
“ltu tidak perlu,” sahut Ju-ki. “Liong-kohnio (nona Liong) tentu bisa membereskannya sendiri. Mari kita pergi saja.”
Begitulah, maka mereka lantas kembali, di sepanjang jalan Kwe Ceng menceritakan pula secara ringkas tentang diri Yo Ko. Mendengar kisah derita bocah yang mengharukan itu, Khu Ju-ki menghela napas panjang.
“Memangnya patriot seperti pamanmu Yo Tiat-sim itu, mana boleh terputus keturunan?” demikian katanya kemudian, “Tetapi kau tak usah kuatir, pasti aku akan lakukan sepenuh tenagaku untuk mendidik anak itu dengan baik.”
Tentu saja Kwe Ceng sangat girang oleh kesanggupan itu, di tengah jalan juga ia lantas menjura menghaturkan terima kasihnya.
“Tadi kau cerita bahwa ada orang yang menyelundup ke Tho-hoa-to untuk membuat peta rahasia, juga terdapat anak murid Kay-pang yang tersangkut di dalamnya, sebetulnya ada urusan apakah?” kemudian Khu Ju-ki bertanya lagi.
“Totiang mungkin masih ingat di Kay-pang itu terdapat seorang murid murtad yang disebut Peng-tianglo?” kata Kwe Ceng.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Belasan petualang yang bergelimpangan di tanah semakin ngeri jeritan mereka, saking menderitanya sampai mereka me-ratap dan me-rintih, berteriak bapak dan memanggil ibu, malahan ada yang minta ampun,
“Kami berbuat salah, mohon dewi Siao-liong-li suka ampuni jiwa kami!” demikian mereka memohon.
Kwe Ceng menjadi heran oleh kelakuan para petualang ini, “Orang2 ini tergolong manusia-manusia yang tidak kenal takut di kalangan Kangouw, sekali pun sebelah lengan atau sebelah kaki mereka ditebas kutung belum tentu mereka merintih kesakitan dan meminta ampun, mengapa antup tawon sekecil ini saja ternyata begini lihay?” demikian ia pikir.
Sementara itu dia dengar suara tabuhan Khim berkumandang lagi dari dalam rimba raya itu, menyusul mana dari pucuk pohon yang rindang itu tampak mengepul keluar asap putih tipis, segera Khu Ju-ki dan Kwe Ceng mencium bau wangi bunga yang sedap sekali.
Selang tidak lama kemudian, suara “ngung-ngung-ngung” tadi dari jauh kembali mendekat lagi. Demi mencium bau wangi itu, rombongan tawon putih ini sudah terbang kembali ke dalam rimba. Kiranya Siao-liong-li sudah sengaja membakar dupa untuk menarik kembali pasukan tawonnya.
Meski sudah dua puluh tahun Khu Ju-ki menjadi tetangga Siao-liong-li, namun selamanya tidak pernah mengetahui bahwa gadis jelita ini ternyata memiliki kepandaian begini tinggi. Dia menjadi kagum dan tertarik.
“Kalau sebelumnya tahu tetangga cantik kita ini begini besar kesaktiannya, Coan-cin-kau kita tentunya tidak perlu banyak urusan lagi,” demikian ia berkata.
Ucapan ini sebenarnya dia tujukan kepada Kwe Ceng, suaranya tidak keras. Tetapi aneh, Siao-liong-li yang berada dalam rimba itu seperti mengetahui maksudnya, tiba-tiba suara Khim tadi telah berubah menjadi lunak dan merdu yang mengandung maksud pernyataan terima kasih.
“Ha-ha-ha, hendaklah nona jangan pakai adat istiadat lagi,” kata Khu Ju-ki dengan suara lantang sambil bergelak tawa. ”Khu Ju-ki bersama anak murid Kwe Ceng, dengan hormat mengucapkan selamat atas ulang tahun nona.”
Atas ucapan ini, tiba-tiba suara Khim berbunyi “creng-creng” dua kali lagi, lantas berhenti, suara lenyap, keadaan pun kembali sunyi. Sementara itu, mendengar jeritan dan teriakan orang-orang yang bergelimpangan di tanah, hati Kwe Ceng menjadi kasihan.
“Totiang, cara bagaimana kita bisa menolong orang-orang ini?” ia coba tanya Khu Ju-ki.
“ltu tidak perlu,” sahut Ju-ki. “Liong-kohnio (nona Liong) tentu bisa membereskannya sendiri. Mari kita pergi saja.”
Begitulah, maka mereka lantas kembali, di sepanjang jalan Kwe Ceng menceritakan pula secara ringkas tentang diri Yo Ko. Mendengar kisah derita bocah yang mengharukan itu, Khu Ju-ki menghela napas panjang.
“Memangnya patriot seperti pamanmu Yo Tiat-sim itu, mana boleh terputus keturunan?” demikian katanya kemudian, “Tetapi kau tak usah kuatir, pasti aku akan lakukan sepenuh tenagaku untuk mendidik anak itu dengan baik.”
Tentu saja Kwe Ceng sangat girang oleh kesanggupan itu, di tengah jalan juga ia lantas menjura menghaturkan terima kasihnya.
“Tadi kau cerita bahwa ada orang yang menyelundup ke Tho-hoa-to untuk membuat peta rahasia, juga terdapat anak murid Kay-pang yang tersangkut di dalamnya, sebetulnya ada urusan apakah?” kemudian Khu Ju-ki bertanya lagi.
“Totiang mungkin masih ingat di Kay-pang itu terdapat seorang murid murtad yang disebut Peng-tianglo?” kata Kwe Ceng.



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar