ads

Kamis, 13 Mei 2021

Sin Tiauw Hiap Lu Jilid 03

SAMA-SAMA TERLUKA PARAH

Selama itu Kwa Tin-ok sudah pernah datang sekali mencari Yo Ko. Ia me-raba-raba dan tidak mendapatkan anak muda ini di atas ranjangnya, Kwa Tin-ok menjadi kuatir sekali. Tetapi tatkala untuk kedua kalinya ia datang mencari Yo Ko lagi, ia mendapatkan pemuda ini sudah ada di situ. Selagi ia hendak bertanya tadi kemana tiba-tiba saja ia dengar di atas wuwungan rumah ada suara mendesirnya angin.

Meski mata Kwa Tin-ok buta, namun daya pendengarannya luar biasa tajam. Dia tahu ada dua orang ‘ya-heng-jin’ (orang jalan di waktu malam) yang berilmu silat sangat tinggi lewat di atas rumah, Untuk menjaga segala kemungkinan, orang tua ini lekas-lekas membopong Kwe Hu, sedang senjata tongkatnya segera ia siapkan dan berjaga di dekat jendela, ia kuatir kalau-kalau kedua tamu malam itu kembali lagi.

Betul saja, sejenak kemudian suara mendesirnya angin kembali kedengaran lagi dari jauh mendekat, begitu cepatnya hingga sekejap saja sudah sampai di atas rumah hotel, lalu ia dengar di antaranya lagi berkata:

“Yong-ji, kau kira siapakah dia tadi?”

“Melihat bentuk tubuh dan gerakannya, agaknya dia...” demikian sahut seorang lain.

Mendengar suara percakapan ini, Kwa Tin-ok tahu itulah Kwe Ceng dan Oey Yong suami isteri. Karena itu ia merasa lega, segera ia membuka pintu agar kedua orang itu masuk.

“Baik-kaikkah di sini, Suhu?” segera Oey Yong tanya Kwa Tin-ok begitu melangkah masuk.

“Ya, tiada terjadi apa-apa,” sahut Kwa Tin-ok.

“Aneh, apa mungkin kita telah salah lihat?” kata Oey Yong kepada sang suami.

“Tidak, tidak mungkin bisa, orang ini sembilan bagian pasti dia,” sahut Kwe Ceng sambil menggeleng kepala.

“Dia? Dia siapa?” Tin-ok ikut bertanya.

Lekas Oey Yong me-narik-narik lengan baju Kwe Ceng dengan maksud agar suaminya jangan mengatakan, akan tetapi tidak bisa. Menghormatnya Kwe Ceng terhadap gurunya yang banyak menanam budi, tidak berani ia berdusta meski barang sedikit saja, maka ia lantas menerangkan:

“Dia Auwyang Hong!”

Justru seumur hidupnya paling takut pada orang ini keruan seketika air muka Kwa Tin-ok berubah hebat.

“Auwyang Hong?” ia menegas dengan suara tertahan.

“Betul!”

“Dia belum mampus?”

“Tadi ketika kami baru kembali memetik obat-obatan, di samping rumah kami melihat berkelebatnya bayangan orang, gerak tubuhnya sangat cepat lagi aneh, pada waktu kami mengejarnya, sayang tak tertampak bayangannya lagi. Cuma kelihatannya sangat mirip Auwyang Hong,” demikian Kwe Ceng ceritakan.

Kwa Tin-ok mengerti muridnya ini sangat jujur dan suka terus terang, semakin menanjak umurnya semakin tulus, kalau dia bilang Auwyang Hong, maka pasti bukan orang lain lagi.

Sementara itu karena kuatirkan diri Yo Ko, Kwe Ceng langsung memeriksa ke tempat tidurnya dengan membawa lilin. Dia melihat air muka pemuda ini merah segar, napasnya teratur dengan baik, tidurnya nyenyak, maka ia menjadi girang sekali oleh keadaan bocah ini.

“Dia sudah baik, Yong-ji!” saking girangnya ia teriaki isteri.

Padahal waktu itu Yo Ko hanya pura-pura tidur saja, ia pejamkan matanya buat mencuri dengar percakapan ketiga orang. Ketika lapat-lapat mendengar ayah angkatnya, yakni orang aneh itu bernama Auw-yang Hong, sedang ketiga orang ini amat jeri padanya, tentu saja dalam hati kecilnya diam-diam ia merasa bangga dan senang.

Dalam pada itu Oey Yong menjadi ter-heran-heran melihat keadaan Yo Ko. Terang ia melihat hawa racun di lengannya menjalar terus ke atas, sesudah lewat beberapa jam ini semestinya bertambah hitam bengkak dan merembes lebih luas, siapa tahu hawa berbisa itu sebaliknya malah menghilang, sungguh kejadian yang sukar dimengerti.

Setelah keluar bersama sang suami sekian lamanya, namun rumput obat-obatan yang dia cari tetap belum lengkap, terpaksa seadanya ia gilasi dan racik beberapa macam bahan obat, air perasannya lalu ia minumkan pada Yo Ko. Besok paginya, Kwa Tin-ok bersama Kwe Ceng dan Oey Yong melanjutkan perjalanan bersama dua anak kecil, mereka ambil keputusan buat pulang ke Tho-hoa-to dahulu untuk menyembuhkan lukanya Yo Ko.

Malamnya terpaksa mereka harus menginap lagi di hotel. Kwa Tin-ok tinggal satu kamar dengan Yo Ko, sedangkan suami isteri Kwe Ceng dan Oey Yong sekamar dengan puteri mereka.

Tengah malam ketika sedang enak-enaknya mereka tidur, mendadak terdengar suara “krak” yang keras di atas rumah, menyusul terdengar suara teriakan dari kamar sebelah, rupanya ada orang merusak daun jendela dan melompat keluar.

Cepat Kwe Ceng dan Oey Yong melompat bangun. Melalui jendela mereka lihat di atas rumah sudah ada dua orang yang sedang bergebrak dengan sengit. Baru saja bisa lihat jelas bentuk tubuh kedua orang itu, tiba-tiba saja terdengar suara “plak” dan berbareng itu satu di antaranya sudah menjerit terus terbanting ke bawah dalam keadaan lumpuh, kaki tangannya kelihatan kaku dan menjulai ke bawah dengan lurus.

Menurut kebiasaan, orang yang berilmu silat tinggi, sekali pun tergelincir jatuh dari tempat tinggi secara tiiba-tiba pasti akan menekuk badan dan menarik kaki, dengan demikian waktu sampai di tanah tidak bakal terluka berat. Akan tetapi orang itu sudah lebih dulu dihantam semaput di atas rumah, maka dengan terbantingnya ini tulangnya pasti akan patah malah kepalanya mungkin akan remuk.

Pada detik yang berbahaya itu, tiba-tiba dari jendela kamar sebelah melayang keluar seorang wanita, orang ini adalah Oey Yong, ia hendak menangkap tubuh orang. Namun ia masih kalah cepat, sebab Kwe Ceng sudah menyerobot di depannya dan dengan enteng sekali ia tarik tengkuk orang pada waktu hampir membentur tanah, terus diangkat ke atas dan kemudian dia turunkan perlahan, habis ini sekali ia enjot kakinya, segera melompat ke atas rumah.

Tapi sekali ini ia yang ketinggalan. Ia lihat sang isteri sudah saling gebrak dengan serunya melawan satu orang, Lawannya berperawakan jangkung dan berjenggot pendek, kakinya di atas dan kepalanya di bawah, hidungnya besar, matanya celong, siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutan mereka yang telah selama belasan tahun tak bertemu, Se-tok Auwyang Hong, Si racun dari Barat.

(Se-tok atau Si racun dari Barat adalah julukan Auwyang Hong satu di antara lima tokoh silat kelas wahid pada jamannya. Empat rekannya - yang juga menjadi musuhnya – masing-masing adalah: Tong-sia Oey Yok-su, Si Latah dari Timur (dia adalah ayah Oey Yong), Lam-te Toan-hongya, Si Raja dari Selatan, Pak-kay Ang Tjhit-kong Si Pengemis dari Utara, Tiong Sin Thong Si langit di Tengah. Urut2an nama mereka berlima disebut: Tong-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay, Tiong-kian-khun).

Begitulah tadi Oey Yong yang sudah banyak maju kepandaiannya, dalam belasan jurus itu tipu-tipu pukulannya ternyata sukar diraba, karena itu, sedikit pun Auwyang Hong tidak lebih unggul.

“Aha, Auwyang-sianseng, baik-baik kah selama ini?” demikian Kwe Ceng menyapa setelah tancapkan kaki di atas wuwungan rumah.

“Apa kau bilang? Kau panggil aku apa?” tanya Auwyang Hong tiba-tiba.

Begitulah mukanya mengunjuk rasa bingung, maka terhadap serangan Oey Yong ia hanya menangkis saja tanpa balas menyerang, sedang dalam hati dia sedang meingat-ingat nama yang diucapkan Kwe Ceng tadi, samar-samar ia merasa ‘Auwyang’ seperti punya hubungan erat dengan dirinya.

Karena pertanyaan tadi, maka Kwe Ceng bermaksud menjelaskan. Namun betapa pintarnya Oey Yong. Ketika melihat penyakit otak miring orang belum sembuh, lekas-lekas ia mencegah, Malahan ia sengaja berseru:

“Kau bernama Tio-Ci-Sun-Li, Ciu-Go-Tan-Ong!”

Auwyang Hong tampak terkejut dan semakin bingung. “Apa?” ia mengulangi. “Aku bernama Tio-Ci-Sun-Li dan Ciu-Go-Tan-Ong?”

“Ya, betul, namamu adalah Pang-The-Cu-Wi dan Cio-Sim-Ham-Yang,” sahut Oey Yong mengacau.

Apa yang diucapkan Oey Yong itu semuanya adalah She atau nama keluarga umum. Dasar pikiran Auwyang Hong memang belum waras, dan sekarang sekaligus Oey Yong melontarkan balasan she yang dikatakan adalah namanya, keruan pikiran Auwyang Hong menjadi semakin ruwet dan otaknya tambah butek.

Berlainan sekali dengan sang isteri, Kwe Ceng adalah orang yang baik budi dan jujur. Dia menjadi kasihan melihat keadaan Auwyang Hong yang hilang ingatan dan linglung itu.

“Sudahlah, lekaslah kau pergi saja, selanjutnya paling baik kita jangan bertemu lagi untuk selamanya,” katanya kemudian.

“He, siapa kau dan siapa aku?” demikian Auwyang Hong masih bertanya.

“Kau adalah Si Racun Tua yang telah membinasakan lima saudaraku!” mendadak suara bentakan menjawabnya dari belakang.

Belum lenyap suara bentakan itu, sebuah tongkat besi menyambar, itu adalah senjatanya Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok.

Tetapi pada saat itu juga terdengar pula seruan Kwe Ceng: “Awas, Suhu!”

Akan tetapi sudah terlambat, kemplangan tongkat Kwa Tin-ok tepat mengenai punggung Auwyang Hong, tetapi yang terdengar hanya “buk” sekali, tahu-tahu tongkatnya malah membalik, saking keras tenaga baliknya Tin-ok tidak tahan memegangnya, maka baik tongkat mau pun orangnya terperosot jatuh dari wuwungan rumah.

Luar biasa kerasnya hantaman tadi, apa lagi tongkat itu mempunyai bobot beberapa puluh kati, ditambah lagi goncangan yang membalik, maka tongkat itu menyusup masuk ke bawah untuk kemudian dengan tepat menghantam di atas ranjang tamu hotel. Tamu itu sebenarnya sedang terombang-ambing di sorga impian, siapa tahu ketiban malang mendadak, sial baginya, tulang kakinya tertindih patah oleh tongkat yang tidak ringan itu, saking sakitnya ia men-jerit-jerit minta tolong!

Dalam pada itu Kwe Ceng tahu meski gurunya terbanting jatuh ke bawah tentu tidak bakal berhalangan. Ia hanya kuatir kalau-kalau kesempatan itu digunakan Auwyang Hong untuk menguber dan menghantam, maka kejadiannya pasti akan luar biasa hebatnya. Karena itu tanpa pikir lagi segera ia berteriak:

“Awas pukulan!”

Berbareng itu tangan kanan ia putar sekali terus didorong lurus ke depan. Ini adalah satu di antara tipu pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang yang disebut ‘Kong-liong-yu-hwe’ atau Naga pembawa sesal, ilmu pukulan ‘Hang-liong-sip-pat-ciang’ (delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga) ini adalah ajaran guru Kwe Ceng yang lain, yakni Pak-kay Ang Tjhit-kong, pemimpin besar dari Kay-pang atau persatuan kaum jembel.

Selama ini tipu pukulan ‘Kong-liong-yu-hwe’ ini dia latih dengan giat, masih lagi ditambah kegiatan latihan selama belasan tahun, maka tekanan pukulan ini boleh dikata sudah sampai di puncak yang paling sempurna.

Pada mulanya dia dorong ke depan tampak seperti seenaknya saja dan enteng sekali, akan tetapi bila menemukan tenaga rintangan, maka dalam sekejap saja be-runtun bisa bertambah dengan tiga belas tenaga susulan yang satu lebih kuat dari pada yang lainnya secara ber-tumpuk-tumpuk, sungguh tiada sesuatu yang tidak bisa dihancurkan dan tiada lawan yang tidak bisa dirobohkan.

Puncak kesempurnaan tipu pukulan ini dipelajari dan ditemukan dari kitab ilmu silat Kiu-im-cin-keng, suatu kitab yang selamanya dibuat sasaran perebutan di antara lima tokoh tersebut di atas, sekali pun Ang Tjhit-kong dahulu, kalau cuma tipu pukulan ‘Kong-liong-yu-hwe’ ini saja juga tidak selihay seperti Kwe Ceng sekarang ini.

Dalam pada itu baru saja Auwyang Hong berhasil membikin Kwa Tin-ok terpental, segera terasa olehnya ada sambaran angin yang datang dari muka, meski pun tenaga sambaran angin itu tak begitu keras, tapi pernapasannya toh sesak hingga susah bernapas. Sebagai seorang jago kelas satu, ia tahu keadaan berbahaya, maka lekas ia sedikit berjongkok, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan sambil mulutnya mengeluarkan suara “kok”. Ini adalah ilmu ‘Ha-mo-kang’, ilmu weduk kodok yang menjadi kebanggaan seumur hidupnya.

Oleh karena itu, saling beradunya tiga telapak tangan tidak dapat dihindarkan lagi, namun tubuh kedua orang hanya tergetar saja dan tidak sampai ada yang terguling. Akan tetapi Kwe Ceng tidak berhenti sampai di situ saja, dengan cepat ia tambah tenaga pukulannya yang susul-menyusul dan satu lebih kuat dari pada yang sebelumnya seperti gelombang ombak yang ber-gulung-gulung ke pantai.

Sebaliknya dari mulut Auwyang Hong pun tiada hentinya terdengar suara “kok-kok-kok” yang keras, tubuhnya kelihatan ber-goyang-goyang, agaknya setiap saat bisa terbanting roboh oleh daya tekanan Kwe Ceng.

Akan tetapi sungguh aneh, semakin kuat dan semakin bertambah daya tekanan tenaga pukulan Kwe Ceng, maka tenaga tangkisan yang membalik dari Auwyang Hong juga ikut bertambah menurut kebutuhan.

Sudah belasan tahun mereka berdua tidak saling ukur tenaga, kini bertemu kembali di daerah Kanglam, dengan sendirinya masing-masing ingin menjajal sampai di mana kemajuan pihak lain.

Dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di Hoa-san, Kwe Ceng masih bukan tandingan Auwyang Hong, akan tetapi sesudah sekian lama berpisah dan kemajuannya sangat pesat, ilmu silat Kwe Ceng boleh dikatakan telah sampai taraf yang paling masak.

Meski begitu, Auwyang Hong yang berlatih ilmu dari kitab ‘Kiu-im-cin-keng’ secara terbalik (peristiwa diakali Ang Tjhit-kong sehingga Auwyang Hong tertipu dan mempelajari Kiu-im cin-keng secara terbalik dituturkan dalam cerita Sia Tiauw Enghiong), dengan sendirinya juga ada kemajuan tertentu, yang satu betul dan yang lain terbalik, akhirnya tetap yang betul menangkan yang terbalik, maka dengan saling labraknya sekarang, Kwe Ceng telah mampu melawan orang dengan sama kuat.

Supaya tahu bahwa atap rumah di daerah utara jauh berlainan dengan daerah selatan. Oleh karena harus menahan salju di musim dingin, maka atap rumah daerah utara dibuat dengan sangat kuat dan kokoh, tetapi di daerah aliran sungai Hoay karena genteng yang disusun secara tindih-menindih, maka atap yang enteng tetapi praktis.

Auwyang Hong saling ukur tenaga, mereka harus salurkan tenaga pada kedua kaki agar bisa berdiri dengan kokoh. Tapi di luar dugaan, selang beberapa lama terdengarlah suara “kreyat-kreyot” di bawah kaki mereka, menyusul terdengar suara “kraaak” yang keras, tahu-tahu beberapa usuk rumah patah hingga anjlok ke bawah, atap rumah itu berlubang sehingga kedua orang yang saling adu tenaga itu kejeblos ke bawah.

Oey Yong kaget sekali dengan kejadian ini, lekas ia menyusul turun melalui lubang atap rumah itu, namun segera terlihat olehnya kedua orang itu masih tetap tangan beradu tangan, sedang kaki mereka menginjak beberapa usuk yang patah, sebaliknya usuk-usuk itu justru menindih di atas badan seorang tamu hotel penghuni kamar yang ketiban mala petaka itu. Mungkin saking kaget dan saking sakitnya oleh ‘rejeki tiban’ itu, tamu hotel yang sial itu jatuh pingsan.

Kwe Ceng tidak sampai hati membikin celaka orang lain yang tidak berdosa, akan tetapi Auwyang Hong tak pernah pusingkan mati hidup orang lain. Kekuatan mereka sebetulnya seimbang, tapi sekarang Kwe Ceng harus pikirkan orang yang ketindih itu dan tidak tega menambahi tenaga injakannya sehingga tenaga yang sedang beradu itu tidak mendapat tempat sandaran yang kuat, maka lambat laun ia mulai terdesak.

Melihat tubuh sang suami rada mendoyong ke belakang, meski pun hanya mundur sedikit saja, Oey Yong sudah tahu Kwe Ceng bakal kecundang.

“He, Thio-sam Li-si, Tio-ngo Ong-liok, awas pukulan!” demikian ia lalu berteriak, menyusul tampaknya ia ayun sebelah tangannya menabok ke pundak Auwyang Hong.

Meski pukulannya tampak sangat enteng, tapi justru ini adalah pukulan lihay dari ilmu pukulan ‘Lok-eng-cio-hoat’. Apa bila sampai kena digebuk, maka tenaga pukulannya akan terus meresap sampai ke bagian dalam tubuh, sekali pun jago silat kelas berat seperti Auwyang Hong pasti juga akan terluka parah.

Akan tetapi Auwyang Hong bukan Se-tok kalau gampang dipukul. Semula ia memang terkejut sejenak ketika mendengar orang menyebut namanya yang aneh dan tidak keruan itu, tetapi demi mendadak nampak pukulan orang tiba, secepat kilat ia dorong tangannya sekuat tenaga, ia desak tenaga tangan Kwe Ceng dahulu, habis ini ia putar tangannya dan berhasil mencengkeram pundak Oey Yong, ia kumpulkan tenaga dalam pada ujung jarinya untuk merobek kulit daging lawan.

Cengkeraman maut ini sekaligus membikin tiga orang terkejut berbareng, yakni Auwyang Hong, Kwe Ceng dan Oey Yong. Auwyang Hong segera merasakan ujung jarinya tidak kepalang sakitnya, kiranya ia telah menjambret duri lancip ‘kutang berduri landak’ yang dipakai Oey Yong di bagian dalam. Tetapi karena tenaga jarinya kuat luar biasa, sekali jambret tak kurang duri landak yang terbuat dari anyaman benang-benang emas dan tak mempan senjata itu telah kena terobek sepotong.

Pada waktu itu juga tenaga pukulan Kwe Ceng sudah datang lagi setelah didorong oleh Auwyang Hong tadi, dengan sendirinya Auwyang Hong kembali menyambut dengan telapak tangannya, maka terdengarlah suara “plak” yang keras, kedua orang sama-sama mundur dengan cepat, menyusul nampaklah debu pasir berhamburan, dinding roboh dan rumah ambruk.

Kiranya beradunya tangan kedua orang tadi benar2 keras lawan keras dengan sepenuh tenaga sehingga kedua pihak sama-sama tersentak mundur, namun mundurnya mereka telah membobol dinding tembok sampai keluar, sebab itulah setengah dari atap rumah itu ambruk sambil menerbitkan suara gemuruh.

Oey Yong sendiri yang pundaknya kena dijambret meski belum sampai terluka, tetapi tak urung ia pun terkejut sekali, dalam seribu kerepotannya syukur ia masih sempat melayang keluar dari rumah yang roboh separoh itu.

Setibanya di luar, terlihat olehnya jarak antara Auwyang Hong dan Kwe Ceng tidak lebih hanya setengah tombak saja, mereka sama-sama berdiri tegak tanpa bergerak, terang mereka sudah terluka dalam semua.

Oey Yong tak pikirkan untuk menyerang musuh lagi lebih dulu, ia mendekati sang suami untuk melindunginya. Dalam pada itu dia melihat kedua orang ini sama-sama pejamkan mata sedang menjalankan pernapasan: kemudian terdengar suara batuk dua kali, tanpa berjanji kedua orang itu sama muntahkan darah segar berbareng.

“Haha, sungguh hebat, sungguh hebat!” teriak Auwyang Hong. Sesudah itu, disertai gelak-tawa yang keras memanjang, dia segera bertindak pergi dan sekejap saja sudah menghilang tanpa bekas.

Sementara itu berhubung terjadinya onar ini dan karena tetamu yang ketimpa malang tadi, di hotel menjadi geger dan ribut.

Oey Yong tahu tempat ini tidak bisa ditinggali terus, maka ia lantas gendong Kwe Hu, lalu kepada Tin-ok dia berkata:

“Suhu, harap kau payang engkoh Ceng, marilah kita berangkat saja!”

Sesudah tidak lama mereka berjalan, tiba-tiba Oey Yong teringat pada Yo Ko. Dia tidak tahu anak ini telah kabur ke mana, karena kuatirkan luka yang diderita suaminya, urusan lain terpaka dikesampingkannya dahulu.

Pikiran Kwe Ceng pun masih cukup terang, lantaran pernapasannya kena tekanan tenaga pukulan Auwyang Hong, maka ia merasa sesak dan susah buka mulut. Setelah atur napas sambil menggemblok di atas pundak Kwa Tin-ok, sesudah jalan tujuh atau delapan li akhirnya semua urat nadinya berjalan lancar kembali.

“Sudah baik, Suhu,” katanya kemudian.

“Sudah tiada apa-apa?” tanya Kwa Tin-ok sambil melepaskannya.

“Ya, tidak apa-apa,” sahut Kwe Ceng, “Sungguh lihay sekali!”

Dalam pada itu terlihat puterinya yang semalam suntuk tak tidur, mungkin saking letihnya kini sedang tertidur nyenyak di atas pundak sang ibu, hatinya menjadi terkesiap dan ingat sesuatu.

“He, di manakah Ko-ji?” ia tanya cepat.

Meski Kwa Tin-ok mengerti adanya anak muda itu, tapi dia belum tahu siapa namanya, maka pertanyaan Kwe Ceng ini membuatnya bingung tak bisa menjawab.

“Jangan kuatir. kita cari tempat dulu untuk mengaso, sesudah itu barulah kita pergi mencarinya lagi,” sahut Oey Yong.

Sementara itu fajar telah menyingsing, pemandangan sekitar jalan telah kelihatan secara remang-remang.

“Lukaku tak berhalangan, marilah kita pergi mencarinya,” ujar Kwe Ceng.

“Anak ini luar biasa cerdiknya, tak perlu kau kuatir baginya,” jawab Oey Yong mengkerut kening.

Baru berkata sampai di sini, se-konyong-konyong tampak olehnya di belakang tembok bobrok di pinggir jalan sana ada bayangan orang berkelebat dengan cepat, hanya melongok terus mengkeret lagi.

Mana bisa Oey Yong dikelabui, gerak tubuhnya pun cepat luar biasa, dengan gesitnya ia melompat ke sana terus menjambret siapa lagi dia kalau bukan si Yo Ko yang mereka bicarakan itu. Meski sudah konangan, bocah ini hanya tertawa haha-hihi saja.

“Kalian baru sampai, bibi? Sudah lama aku me... menunggu di sini.”

Nampak kelakuan anak muda ini, hati Oey Yong lantas merasa curiga, maka sekenanya ia menjawab:

“Ya,, marilah kau ikut berangkat!”

Yo Ko ketawa terus ikut di belakang mereka.

“Ke mana kau telah pergi?” tiba2 Kwe Hu bertanya.

“Aku pergi mencari jangkerik, wah, senang sekali,” sahut Yo Ko.

“Apanya yang menyenangkan?” ujar Kwe Hu.

“Hm, siapa bilang tidak menyenangkan?” Yo Ko menjengek. “Ada seekor jangkerik besar sudah tarung melawan tiga jengkerik kecil, kemudian datang dua jangkerik kecil lain membantu kawannya, pertandingan menjadi lima jangkerik kecil melawan satu jangkerik besar. Yang besar ini melompat kian kemari, yang di sini diselentik dengan kakinya, yang di sana digigit mulutnya.”

Menutur sampai di sini, tiba-tiba Yo Ko berhenti, ia tidak melanjutkan lagi. Di lain pihak Kwe Hu rupanya menjadi tertarik oleh cerita itu ia ternganga,

“Lalu, bagaimana?” tanpa tertahan ia tanya ketika orang tidak melanjutkan ceritanya.

“Tadi kau bilang tidak menyenangkan, kenapa sekarang kau tanya?” sahut Yo Ko.

Jawaban ini membuat Kwe Hu menjadi marah, segera dia berpaling ke jurusan lain dan tidak menggubris Yo Ko lagi. Siapa tahu hati mudanya Oey Yong ternyata belum hilang sama sekali, ketika mendengar cerita Yo Ko itu cukup tegang dan menarik, pula Yo Ko memang pandai bicara, maka dia pun tak tahan dan lantas tanya:

“Coba terangkan kepada bibi, akhirnya mana yang menang?”

Yo Ko ketawa oleh pertanyaan orang. Dengan gampang dan secara diplomatis dia lantas menjawab:

“Pada saat yang sangat menarik itulah kalian keburu datang sehingga semua jangkerik itu lari.”

Melihat lagak anak ini, Oey Yong tahu dia sengaja jual mahal, dia pikir anak ini memang pandai dan banyak akal, dari kejadian kecil ini saja kelihatan jelas hal ini. Tengah bicara, sementara mereka sudah sampai di suatu desa.

Meski Kwe Ceng terluka dalam, tapi ia masih gagah dan bisa bergerak leluasa, maka ia telah mohon bertemu dengan tuan rumah pada satu gedung besar. Tuan rumah itu ternyata sangat simpatik dan suka menerima tamu, ketika mendengar ada orang luka dan sakit, lekas ia perintahkan centingnya menyediakan kamar tamu. Setelah makan, Kwe Ceng lalu duduk bersila di pembaringan buat merawat lukanya.

Melihat pernapasan sang suami teratur dan semangatnya pun segar, Oey Yong tahu sudah tidak ada bahaya lagi. Waktu ia lepaskan baju luar dan diperiksa, ia melihat kutang lemas berduri landak yang dia pakai pada lapis dalam itu terobek sebagian persis di atas pundaknya, sungguh sayang sekali dan terasa kaget pula.

Kutang wasiat ini adalah pusaka Tho-hoa-to yang menjadi pusaka ayahnya. Benda ini sudah beberapa kali menolong jiwanya dari ancaman maut, tidak terduga hari ini bisa rusak ditangan Auwyang Hong.

Sambil duduk menjaga di samping suaminya, Oey Yong mengingat-ingat kelakuan Yo Ko semenjak bertemu, Entah mengapa ia selalu merasa anak ini masih kecil usianya, tetapi banyak sekali terdapat hal aneh pada diri anak itu yang sukar dimengerti.

Teringat olehnya pada waktu Bu Sam-thong terjungkal ke bawah oleh hantaman Auwyang Hong, kalau tidak salah ia melihat Yo Ko berdiri menonton di sebelah samping, kemudian ketika dirinya suami isteri tengah bergebrak melawan Auwyang Hong, tampak juga Yo Ko masih berdiri di atas atap rumah, begitu juga pada waktu Kwe Ceng dan Auwyang Hong terjeblos ke bawah, bocah itu pun masih berdiri di tempatnya. Kenapa anak ini punya nyali begitu besar? Mengapa dia tidak takut? Dan kenapa Auwyang Hong pun tidak mencelakai dia? Paling akhir setelah Kwe Ceng dan Auwyang Hong menderita luka, dalam keadaan ribut anak itu mendadak menghilang untuk kemudian muncul lagi di tengah jalan.

Oey Yong biasa berpikir teliti, ia pikir tidak perlu menanyakan dia sekarang, seterusnya gerak-geriknya diawasi saja. Demikianlah, siang hari telah lalu, dan petangnya sesudah bersantap mereka pergi mengaso.

Yo Ko tidur sekamar dengan Kwa Tin-ok. Sampai tengah malam, diam-diam ia bangun, membuka pintu kamar dan ngeluyur keluar. Waktu ia menoleh, Kwa Tin-ok sedang menggeros nyenyak. Maka dengan berindap-indap ia mendekati pagar tembok, ia panjat ke atas satu pohon, dari sini melompat ke atas pagar tembok dan kemudian merosot turun keluar dengan perlahan.

Mencium bau manusia, dua ekor anjing di luar pagar menyalak, Tetapi Yo Ko sudah siap sedia, dari bajunya dikeluarkan dua potong tulang daging yang dia sengaja simpan pada siang harinya, dia lemparkan pada anjing-anjing itu. Mendapat tulang daging, anjing-anjing itu lupa akan manusianya dan segera berhenti menyalak untuk menggerogoti tulang-tulang itu.

Setelah pilih jurusannya, kemudian Yo Ko menuju ke arah barat-daya. Setelah beberapa li ia tempuh, maka sampailah dia pada sebuah kelenteng bobrok. Dia dorong pintu kelenteng itu dan masuk ke dalam.

“Ayah!” demikian ia lantas memanggil.

Maka terdengarlah suara sahutan yang berat dari dalam, yang dikenalinya sebagai suara Auwyang Hong. Girang sekali Yo Ko. Dia mendekatinya, dia lihat Auwyang Hong rebah di atas beberapa kasuran bundar di depan patung pemujaan, keadaannya loyo dan napasnya lemah. Kiranya keadaan luka yang diderita Auwyang Hong serupa dengan Kwe Ceng, cuma Kwe Ceng masih muda dan kuat, sebaliknya dia sudah lanjut usia, dengan sendirinya daya tahannya jauh kalah dari pada Kwe Ceng.

“Makanlah ini, ayah,” sementara Yo Ko telah berkata lagi sambil mengeluarkan beberapa bakpau dan diserahkan pada Auwyang Hong.

Memang Auwyang Hong sudah lapar sehari suntuk. Ia hendak keluar, tapi kuatir kepergok musuh, maka sepanjang hari sembunyi di dalam kelenteng bobrok ini dengan kelaparan. Kini sesudah beberapa bakpau ia jejalkan ke dalam perutnya, segera semangatnya terbangkit kembali.

“Di manakah mereka berada kini?” ia tanya.

Maka berceritalah Yo Ko apa yang diketahuinya….. Ketika Yo Ko bermalam di hotel bersama Kwe Ceng, tengah malam kembali Auwyang Hong datang menjenguknya. Tak terduga malam itu Bu Sam-thong yang sedang terluka oleh pukulan Li Bok-chiu kebetulan menginap di hotel yang sama. Oleh karena bekerjanya racun di tubuhnya akibat pukulan Li Bok-chiu itu, semalam suntuk dia kelabakan tidak bisa tidur. Ketika mendadak mendengar di atas rumah ada suara keresekan, Bu Sam-thong menyangka Li Bok-chiu telah menyusul datang, maka tanpa menghiraukan luka yang sudah dideritanya, dia segera lompat ke atas rumah untuk menghadapi musuh.

Di luar dugaan, musuh baru itu tidak datang, tapi sebaliknya yang dihadapi adalah musuh kawakan. Dahulu Auwyang Hong hendak menghancurkan ilmu silat Toan-hongya, untuk itu dia pernah sengaja melukai Bu Sam-thong dengan pukulan yang berbisa. Kini demi berhadapan lagi, musuh yang sudah lama ditunggu ini membikin mata Bu Sam-thong merah berapi, tanpa pikir lagi segera dia melabrak maju.



TEMPAT PERSEMBUNYIAN TERAMAN

Dengan sendirinya sekali-kali Bu Sam-thong bukan tandingan Auwyang Hong, maka baru bergebrak belasan jurus saja dia sudah kena dihantam sekali hingga terjungkal ke bawah rumah.

Waktu Auwyang Hong datang ke hotel Yo Ko memang sudah bangun, tatkala ayah angkatnya ber-turut-turut bergebrak dengan Bu Sam-thong dan suami isteri Kwe Ceng dan Oey Yong, selama itu Yo Ko berdiri menonton di samping.

Kemudian setelah Auwyang Hong dan Kwe Ceng sama-sama terluka dan ada orang yang memperhatikan dirinya, maka diam-diam dia menyusul Auwyang Hong. Mula-mula Auwyang Hong berjalan amat cepat, Yo Ko tak mampu menyandaknya, tetapi sesudah lukanya bekerja sehingga melangkah saja terasa susah, maka dapatlah Yo Ko menyusul dan memayangnya ke kelenteng bobrok.

Walau pun umur Yo Ko masih kecil, tetapi ternyata dia paham segala hal. Dia tahu kalau dirinya tidak kembali tentu Oey Yong, Kwa Tin-ok dan lainnya akan mencari, dan jika terjadi begini tentu akan membahayakan jiwa Auwyang Hong yang terluka parah, maka lebih dulu ia menunggu orang di tepi jalan dan akhirnya bertemu lagi dengan Kwe Ceng, kemudian tengah malam ia datang lagi menjenguk ayah angkatnya.

Begitulah setelah mendengar penuturan Yo Ko baru Auwyang Hong merasa lega. Tetapi bila teringat olehnya Kwa Tin-ok tidak berhasil dia binasakan pada siang tadi, kembali dia menjadi kuatir.

“Orang she Kwe itu telah merasakan pukulanku, dalam tujuh hari dia tak akan bisa sembuh,” demikian katanya kemudian, “lsterinya harus melayani suaminya, tentu tak akan berani sembarang tinggal pergi, maka kini kita hanya kuatirkan si buta she Kwa seorang saja. Apa bila malam ini dia tidak datang, pasti besok dia akan mencari kesini, sungguh sayang sedikit pun aku tak bertenaga. Ai, aku sudah membunuh lima saudara angkatnya, kalau kini aku mati di tangannya rasanya juga... juga...” Berkata sampai disini, ia lantas ter-batuk-batuk.

Sementara itu Yo Ko duduk di lantai dengan tangan menunjang janggut, sekejap saja timbul macam-macam pikiran. Ia lihat Auwyang Hong rebah dengan kedua tangan digunakan sebagai bantal, meski rebah dengan melintang tetapi kedua kaki orang tua ini masih tetap pasang kuda-kuda seperti biasanya kalau berlatih ilmu Ha-mo-kang, jadi kuda-kudanya mirip kodok saja.

“Ah, aku ada akal,” tiba-tiba Yo Ko berpikir, “biar aku taruh beberapa macam benda tajam di atas lantai, kalau si buta itu masuk begitu saja, biar dia rasakan sedikit luka.”

Karena pikiran ini, segera ia turunkan empat buah Cektay, yakni tempat menancapkan lilin yang biasa dipakai di meja sembahyang. Ia buang sisa lilinnya, ia pasang cektay di mulut pintu secara berjajar dengan bagian yang lancip tajam menghadap ke atas, sesudah ini ia tutup pintu kelenteng dengan setengah rapat, lalu ia angkat sebuah Hio-lo (tempat abu) yang terbuat dari besi, ia manjat ke atas dan memasang Hio-lo itu di atas daun pintu yang setengah rapat itu.

Kemudian Yo Ko memeriksa sekitarnya lagi. Ia ingin mendapatkan jebakan lain yang bisa dipasang untuk memperdaya orang, tetapi tiada yang dapat lagi kecuali di atas ruangan kelenteng bagian timur dan barat tergantung sebuah genta raksasa. Begitu besar genta itu hingga sedikitnya lebih dari dua ribu kati beratnya dan tidak cukup dirangkul oleh tiga orang sejajar. Di atas genta masing-masing terdapat satu gantolan besi yang amat besar pula dan terikat kencang di atas kerangka kayu yang terbuat dari balok-balok besar. Kelenteng ini rupanya sudah sangat tua dan bobrok, tetapi kedua genta raksasa ini masih dalam keadaan baik karena pembikinannya sangat kokoh dan kuat.

“Kalau si buta she Kwa itu benar-benar masuk ke sini, aku akan manjat ke atas kerangka genta itu, tanggung dia tidak akan bisa ketemukan aku,” demikian Yo Ko berkata dalam hati.

Waktu Yo Ko hendak pergi ke bagian belakang untuk mencari sesuatu alat senjata yang cocok baginya, tiba-tiba dari jalan besar di luar terdengar berkumandang suara “tak-tek-tak-tek” yang diterbitkan oleh ketokan tongkat besi.

Air muka Yo Ko seketika berubah. Ia tahu Kwa Tin-ok betul-betul datang, maka cepat ia sirapkan api lilin. Namun segera ia ingat perbuatannya ini hanya berlebihan saja, ia pikir: “Mata si buta itu tak bisa melihat, jadi sebenarnya tidak perlu aku padamkan lilin.”

Dalam pada itu suara “tak-tek” tadi sudah makin dekat. Mendadak Auwyang Hong bangkit duduk, dia hendak mengumpulkan seluruh tenaga yang masih ada di tangan kanannya, dia hendak mendahului musuh dengan sekali pukul membinasakannya.

Yo Ko sendiri juga ber-debar-debar. Dia pegang Cektay itu dengan bagian lancip menghadap keluar, ia berjaga di samping Auwyang Hong dan siap melawan musuh. Memang sama sekali tidak salah, suara “tak-tek” tadi adalah suara tongkat Kwa Tia-ok yang meng-ketok-ketok tanah bila berjalan.

Meski mata Tin-ok buta, akan tetapi orangnya luar biasa cerdiknya. Ia menduga sesudah Auwyang Hong terluka, pasti akan sembunyi di sekitar tempat ini, maka sebelum makan malam, di tempat mondoknya dia sudah mencari tahu dengan jelas bahwa di sekitar sini hanya terdapat sebuah kelenteng kuno yang bobrok, kecuali ini hanya rumah penduduk melulu, maka ia sudah menaksir sembilan bagian pasti Auwyang Hong sembunyi di kelenteng.

Bila teringat olehnya bahwa lima saudara angkatnya semua dibinasakan Auwyang Hong secara keji di pulau Tho-hoa, dan kini ada kesempatan bagus untuk menuntut balas, tentu saja tidak akan dia lewatkan begitu saja. Maka sesudah tengah malam, dengan perlahan kemudian ia me-manggil2:

“Ko-ji, Ko-ji!”

Tapi ia tidak memperoleh jawaban. Ia sangka tentu anak ini sedang nyenyak tidur, maka ia tidak mendekatinya lagi buat diperiksa, melainkan terus keluar rumah pondok dengan melompati pagar tembok. Kedua anjing tadi masih menggerogoti tulang yang dilempar Yo Ko, maka munculnya Kwa Tin-ok tidak digonggong, hanya terdengar suara geraman saja beberapa kali untuk kemudian menggeragoti tulang lagi.

Perlahan-lahan akhirnya Kwa Tin-ok sampai juga di depan kelenteng itu. Ketika ia pasang kuping, betul saja di ruangan dalam terdengar ada suara bernapasnva orang.

“Hayo, Auwyang Hong, Si buta she Kwa sudah berada di sini, kalau kau memang jantan, lekas keluar!” segera ia berteriak menantang.

Sambil berkata, ia ketok tongkatnya ke tanah dengan keras. Akan tetapi Auwyang Hong tidak menyahut. Ia kuatir tenaga yang telah dikumpulkan sejak tadi gembos, maka tak berani ia buka suara.

Setelah berteriak-teriak beberapa kali lagi dan tetap tiada jawaban, akhirnya Kwa Tin-ok menjadi tidak sabar, begitu ia angkat tongkatnya, segera ia dorong pintu kelenteng terus melangkah masuk.

Tanpa disangka, tiba-tiba saja terasa olehnya ada sambaran angin yang berat, semacam benda antap tahu-tahu menghantam dari atas kepalanya, berbareng itu pula kaki kirinya yang melangkah masuk tepat menginjak pada tancapan lilin yang tajam hingga sol sepatunya tembus, telapak kakinya seketika kesakitan.

Karena matanya buta, sesaat Kwa Tin-ok tidak mengerti apa yang terjadi. Dia hanya lekas ayun tongkatnya ke atas, maka terdengarlah suara “trang” yang keras dan nyaring memekakkan telinga, Hio-lo yang jatuh dari atas itu kena dihantamnya sehingga terpental, menyusul ia jatuhkan diri agar kakinya tidak sampai tertancap tembus oleh benda tajam tadi.

Tidak di duga bahwa di samping lainnya masih terdapat beberapa Cektay pula yang sama tajamnya, keruan segera pundaknya terasa sakit, sebuah tancapan lilin telah menusuk tubuhnya. Ketika ia pegang Cektay itu kemudian dicabut keluar, maka mengucurlah darah membasahi pakaiannya.

Ia tak berani ceroboh lagi, ia pasang kuping dan bisa mendengar suara bernapasnya Auwyang Hong, maka setindak demi setindak ia maju perlahan, sekitar tiga kaki di depan orang, segera ia angkat tongkatnya ke atas.

“Ayo, Lo-ok-but (Si binatang tua berbisa), sekarang apa yang hendak kau katakan lagi?!” bentak Tin-ok.

Sementara itu Auwyang Hong sudah kumpulkan seluruh tenaga yang ada dan dipusatkan di telapak tangan kanannya. Dia tunggu bila tongkat Hui-thian-pian-hok benar-benar mengemplang, maka sekaligus dia akan menghantamnya, dengan demikian supaya binasa ber-sama-sama.

Begitu!ah karena sama-sama tidak mau menyerang lebih dulu, mereka berdua menjadi berdiri berhadapan saja dan sama-sama tidak bergerak. Kemudian dengan telinga Tin-ok yang tajam, akhirnya ia dengar suara napas orang yang berat dan sesak, tiba-tiba terkilas suara dan wajah kelima saudara angkatnya: Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin dan Han Siau-eng, yang menjadi korban Auwyang Hong, yang se-olah-olah muncul dan be-ramai-ramai sedang menganjurkan kepadanya agar cepat turun tangan.

Oleh karena itu, tidak bisa tahan lagi, dengan sekali geraman yang keras, dengan gerak tipu ‘Cin-ong-pian-sek’ (raja Cin merangket batu), Tin-ok ayun tongkatnya menggepruk kepala orang.

Namun Auwyang Hong masih keburu berkelit, dan selagi dia hendak lontarkan hantaman balasan, tetapi apa daya? Keinginan ada, tenaga kurang. Baru tangannya terangkat napasnya sudah tidak dapat menyambung lagi, keruan dia menjadi lemas hingga ngusruk jatuh. Terdengarlah suara “bang” yang amat keras dibarengi dengan muncratnya lelatu api, ujung tongkat Kwa Tin-ok telah menghancurkan beberapa ubin hingga hancur.

Kwa Tin-ok tidak memberi kelonggaran bagi lawannya, sekali serang tidak kena, serangan kedua segera menyusul, kini tongkatnya menyerampang dari samping. Jika dalam keadaan biasa, serangan Kwa Tin-ok ini cukup Auwyang Hong sambut dengan sedikit senggol saja pasti akan bikin tongkat terpental dari cekalan atau paling tidak dapat pula menghindar dengan melompat ke atas. Tapi sekarang seluruh badan Auwyang Hong lemas linu, tenaga sedikit pun tak bisa dikeluarkan, terpaksa untuk kedua kalinya ia harus robohkan diri dengan menggelinding ke samping.

Dalam pada itu dengan cepat Kwa Tin-ok sudah mainkan ilmu tongkat ‘Hang-mo-tiang-hoat’ (ilmu tongkat penakluk iblis). Ia menyerang dengan hebat, satu serangan lebih cepat dari serangan yang lain. Sebaliknya gerak-gerik Auwyang Hong semakin lama semakin lamban dan kaku, hingga akhirnya mau tak mau ia kena digebuk sekali di pundak kirinya.

Menyaksikan pertarungan ini, hati Yo Ko menjadi ber-debar-debar. Maksud hati ingin maju membantu sang ayah angkat, tetapi apa daya, dia maklum ilmu silatnya terlalu cetek dan tidak tahan sekali digebuk musuh, bila mana berani ikut maju, maka tiada bagian lain kecuali antar nyawa belaka. Tetapi ia saksikan tongkat Kwa Tin-ok susul menyusul kena menghantam di atas badan Auwyang Hong, maka ia menjadi ngeri pula.

Agaknya memang sudah nasib Auwyang Hong yang harus mengalami ajaran ini. Untung ia bukan jago silat sembarangan, ia punya tenaga dalam yang terlatih tinggi sekali. Meski pun dalam keadaan tak mampu membalas, tapi ia masih mampu mematahkan serangan orang, tiap tenaga gebukan yang Kwa Tin-ok lontarkan selalu dia singkirkan ke samping, meski tubuhnya kena dihajar hingga babak-belur, tetapi jerohannya tiada yang terluka.

Diam-diam Kwa Tin-ok menjadi heran, di dalam hati dia berpikir: ‘Lo-tok-but’ atau Si binatang tua berbisa (julukan Auwyang Hoag) ini sungguh bukan main lihaynya, setiap hantaman tongkatnya ternyata seperti mengenai kasur saja, hanya mengeluarkan suara ”bluk” yang keras, tetapi Auwyang Hong seperti tidak berasa saja. Ia pikir kalau tidak hantam bagian kepalanya, meski seribu kali gebuk lagi belum tentu bisa mampuskan dia. Tidak ayal lagi Kwa Tin-ok lantas ayunkan tongkatnya semakin cepat, kini yang dia incar hanya kepala orang.

Mula-mula Auwyang Hong masih bisa mengkeret kepalanya untuk menghindar beberapa kali serangan, tetapi sekejap kemudian ia sudah terkurung rapat di bawah sambaran angin tongkat musuh yang selalu berkisar di tepi telinganya saja. Keruan ia mengeluh. Ia paham kalau sampai kepalanya kena dikemplang maka dapat dipastikan dia akan mati seketika.

Sementara itu ia melihat tongkat Kwa Tin-ok telah mengemplang kembali. Dalam keadaan kepepet terpaksa Auwyang Hong harus mengambil risiko dan adu untung. Dia bukannya menghindarkan diri lagi, tetapi sebaliknya mendadak dia menubruk maju, dengan kencang dia berhasil menjambret dada orang.

Tentu saja tidak kepalang kaget Kwa Tin-ok, dalam gugupnya ia sempat gunakan gagang tongkatnya menyodok ke punggung orang., Tentu saja hantaman ini tak bisa dihindarkan Auwyang Hong. Terdengar suara tertahan, Auwyang Hong terkena hantaman itu mentah-mentah, luar biasa sakit punggungnya hingga hampir ia pingsan.

Sebaliknya Kwa Tin-ok menyangka hantamannya itu tidak berguna sama sekali dan tidak mampu melukai lawan lagi, seketika ia menjadi habis akal, terpaksa dengan tangan kiri ia menjambret lawan.

Harus diketahui bahwa sebelah kaki Kwa Tin-ok memang pincang. Ia bisa menubruk dan menyerang karena bantuan imbangan tongkatnya. Kini karena tubuhnya kena dirangkul orang, maka setelah sekali dua kali gebrak, akhirnya tak sanggup lagi ia berdiri tegak dan jatuh terguling.

Tapi Auwyang Hong belum mau lepaskan jambretan di dadanya, bahkan dengan sebelah tangan yang lain ia hendak merangkul pinggang Kwa Tin-ok, akan tetapi tiba-tiba dia merasa tangannya menyentuh sesuatu benda keras, tidak ayal lagi ia cabut dengan cepat, waktu dia tegasi, kiranya adalah sebilah belati tajam.

Belati ini adalah senjata peninggalan Thio A Seng, salah satu saudara angkat Kwa Tin-ok, namanya ‘To-gu-to” atau belati jagal sapi. Meski namanya belati jagal, tetapi sebenarnya tidak pernah dibuat menyembelih sapi. Belati ini luar biasa tajamnya. Karena Thio A Seng tewas di tangan Tan Lip-hong di daerah Mongol dahulu, belati ini lantas jatuh ke tangan Kwa Tin-ok dan selalu dibawanya seperti selalu berdampingan dengan saudara angkatnya yang sudah tewas itu.

Mengetahui belati ini sudah kena direbut Auwyang Hong dan justru mereka sedang dalam pergulatan secara mati-matian, keruan dia terkejut, lekas dia ayun kepalan kiri menjotos sebelum tikaman Auwyang sampai. Karena jototan ini Auwyang Hong terpelanting jatuh, menyusul tongkat Kwa Tin-ok segera menghantam pula. Jotosan yang tepat mengenai pelipisnya itu membikin Auwyang Hong merasa matanya ber-kunang-kunang. Lekas ia ayun tangannya, ia timpukkan belati itu kepada musuh.

Kwa Tin-ok masih keburu berkelit, maka terdengarlah suara “Trang” yang nyaring, kiranya belati itu dengan tepat mengenai genta raksasa yang berada di tengah ruangan kelenteng. Meski sambitan Auwyang Hong tidak membawa tenaga keras, namun saking tajamnya belati itu sehingga menancap masuk setengah senti pada dinding genta itu, dan gagang belati sampai ber-goyang-goyang tiada hentinya.

Waktu itu kebetulan Yo Ko berdiri di samping genta, belati itu menyambar lewat sehingga hampir saja pipinya keserempet. Dalam kagetnya lekas anak muda ini memanjat ke atas kerangka genta dengan cepat.

Di pihak lain, tiba2 Auwyang Hong mendapat akal. Ia lalu mengitar ke belakang genta yang tergantung itu. Pada saat suara genta yang menggema masih belum lenyap, Kwa Tin-ok hendak mendengarkan di mana Auwyang Hong bernapas, maka dia sedang mendengarkan secara teliti dengan miringkan kepala dan pasang kuping. Di bawah sorotan cahaya rembulan, tampak rambut orang tua yang kusut ini sedang mendengarkan sambil menunjang tongkat, sikapnya sangat menakutkan.

Yo Ko memiliki otak yang sangat tajam dan sesaat ia sudah dapat mengetahui sebab musababnya. Maka sekuatnya ia cabut belati jagal sapi yang menancap tadi, lalu ia tabuh sekali lagi genta itu dengan keras, maka terdengarlah suara “trang” yang sangat nyaring hingga suara pernapasan mereka berdua, Yo Ko dan Auwyang Hong, jadi tertutup hilang.

Ketika mendadak mendengar suara genta lagi, dengan cepat Kwa Tin-ok menubruk maju, namun Auwyang Hong sudah memutar lagi ke belakang genta. Ketika Kwa Tin-ok memukul dengan tongkatnya, tongkat itu mengenai genta sehingga kembali suara “trang” yang lebih keras menggema sampai memekakkan telinga.

Suara keras yang susul-menyusul itu membikin anak telinga Yo Ko seakan-akan hendak pecah, maka sesaat ia pun tak mendengar suara lain. Dalam pada itu Kwa Tin-ok telah mengamuk, dengan ayunkan tongkatnya ia hantam genta terus-menerus sehingga suara genta semakin keras.

Melihat perbuatan orang, Auwyang Hong pikir tidak menguntungkan dirinya. Apa bila Kwa Tin-ok mengetok genta terus, meski Kwe Ceng menderita luka, tapi dikuatirkan Oey Yong akan menyusul datang buat membantunya. Oleh karenanya, pada saat suara genta sedang berbunyi hebat itu, secara berindap-indap perlahan ia bermaksud mengeluyur pergi melalui pintu belakang.

Siapa sangka telinga Kwa Tin-ok memang tajam sekali, walau pun dalam menggemanya suara genta, masih bisa juga ia membedakan suara yang lain. Begitu ia mendengar suara menggeser tindakan Auwyang Hong, ia pura-pura tidak tahu, ia masih mengayun tongkatnya menabuh genta, ia menanti orang sudah bertindak pergi beberapa tindak dan sudah agak jauh meninggalkan genta, barulah mendadak ia melompat maju, ia ayun tongkatnya terus mengemplang kepala orang.

Meski Auwyang Hong sudah kehilangan daya tahannya, tapi selama hidupnya entah telah mengalami berapa banyak badai dan tipu-menipu di waktu bertempur, dengan sendirinya ia telah ber-jaga-jaga. Maka begitu melihat tubuh orang bergerak, segera ia tahu maksud Kwa Tin-ok. Belum sampai tongkat orang mengemplang, lebih dulu ia sudah sembunyi kembali di belakang genta.

Keruan Kwa Tin-ok menjadi marah, “Biar pun aku tidak bisa pukul mampus kau, pasti juga aku akan bikin kau mati letih!” demikian teriaknya murka. Habis ini dengan mengitar genta segera ia mengudak.

Nampak dua orang itu berkejaran mengitari genta. Yo Ko insaf apa bila waktu ber-Iarut-larut, pasti Auwyang Hong akan kehabisan tenaga, sedang keadaan sudah sangat berbahaya. Tiba-tiba ia mendapat satu akal, dari atas kerangka genta ia gerakkan kedua tangannya untuk memberi isyarat.

Waktu itu Auwyang Hong sedang mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghindari udakan musuh, maka ia belum lihat kode orang. Setelah mengitar dua kalangan lagi baru kemudian dia melihat bayangan Yo Ko di lantai yang lagi memberikan tanda supaya dia menyingkir. Semula ia tidak mengerti apa maksud anak muda ini, tetapi ia pikir kalau Yo Ko berani suruh aku menyingkir tentu ada maksud tujuannya, maka dengan menghadapi bahaya ia lantas bertindak keluar.

Sementara itu Kwa Tin-ok telah berhenti dan diam tak bergerak untuk mem-bedakan ke jurusan mana perginya musuh. Saat itu juga diam-diam Yo Ko mencopot sepatunya, lalu dia lemparkan ke bagian belakang ruangan, maka terdengarlah suara “blak-bluk” dua kali, suara jatuhnya benda di lantai.

Tentu saja Kwa Tin-ok terheran-heran dan menjadi bingung. Sudah terang ia dengar Auwyang Hong jalan menuju ke pintu depan, tapi mengapa di bagian belakang ada suara orang lagi. Dan justru pada saat yang meragukan itu, Yo Ko cepat angkat belatinya terus memotong tali gantolan yang menggantung genta raksasa itu.

Gantolan genta itu sebenarnya cukup kuat, meski belatinya amat tajam sekali potong tidak akan bisa terputus, tetapi karena beratnya genta yang tergantung, hanya setengah saja tali gantolan itu terpotong sudah tidak dapat menahan bobot genta lagi. Dengan membawa sambaran angin santer, tanpa ampun lagi genta itu lantas menutup ke atas kepala Kwa Tin-ok yang tepat berdiri di bawahnya.

Hebat sekali daya menurunnya genta ini sehingga sewaktu Kwa Tin-ok mendengar suara angin sudah tak keburu buat melompat pergi. Dalam seribu kerepotannya mendadak dia tegakkan tongkatnya, maka terdengarlah suara “trang” dan dengan persis genta itu menindih di atas tongkat. Karena tangkisan ini maka Tin-ok mendapat kesempatan dia berhasil meloncat keluar dari bawah genta. Apa bila lompatannya ini sedikit kasip saja dapat dipastikan tubuhnya akan tertindih genta hingga hancur. Dalam pada itu lantas terdengar suara “dung... gerubyak... bruk… klontang” secara susul menyusul.

Tongkat tadi telah patah menjadi dua, genta pun telah menggelinding ke samping lantas menyeruduk bokong Kwa Tin-ok hingga tubuh orang cacat ini terlempar keluar dari pintu kelenteng, malah masih terguling beberapa kali, darah mengucur pula dari hidungnya dan batok kepalanya benjut.

Kasihan Kwa Tin-ok yang matanya tak bisa melihat, ia tidak tahu kenapa dan sebab apa kejadian yang mendadak itu, ia kuatir jangan-jangan dalam kelenteng itu terdapat pula makhluk aneh lain yang mengacau. Maka sesudah merangkak bangun, dengan ter-pincang-pincang lekas dia bertindak pergi.

Menyaksikan kejadian ini, mau tak mau hati Auwyang Hong terkesiap juga, ber-ulang-ulang ia mengatakan:

“Sayang!”

“Baiklah, sekarang si buta ini tak berani datang lagi, ayah,” demikian kata Yo Ko dengan senang sesudah merangkak turun dari atas kerangka genta. Di luar dugaan, Auwyang Hong masih geleng-geleng kepala saja.

“Orang ini setinggi gunung dendamnya padaku, asal dia masih dapat bernapas, pasti dia akan datang mencari aku lagi,” katanya kemudian.

“Kalau begitu lekas kita berangkat pergi,” ujar Yo Ko.

“Percuma,” sahut Auwyang Hong sambil geleng kepala, “Lukaku terlalu parah, tidak bisa jauh kita lari.”

“Lantas bagaimana baiknya?” kata Yo Ko menjadi kuatir.

“Ada satu akal,” sahut Auwyang Hong sesudah berpikir “Kau potong putus lagi gantolan genta yang lain, biar aku tertutup di dalamnya.”

“Dan cara bagaimana ayah akan keluar?” tanya Yo Ko.

“Aku akan sekap diriku selama tujuh hari di bawah genta, setelah tenaga asliku pulih, aku sendiri sanggup keluar dengan membuka genta,” kata Auwyang Hong, “Dalam tujuh hari ini, sekali pun si buta itu datang mencari aku lagi, tidak mungkin mampu membuka genta sebesar ini kalau hanya dengan sedikit kepandaiannya itu.”

Yo Ko pikir baik juga akal itu, tetapi ia masih ragu. Ia tanya lagi apa betul Auwyang Hong sanggup membuka genta buat keluar sendiri. Sesudah yakin benar barulah ia memanjat lagi ke atas buat melakukan apa yang diminta Auwyang Hong.

“Kau boleh ikut pergi saja dengan manusia she Kwe itu, kelak aku akan mencari kau ke sana,” demikian Auwyang Hong berpesan.

Yo Ko mengiyakan pesan itu. Dan sesudah Auwyang Hong duduk tepat di bawah genta, lalu ia potong gantolan genta hingga Auwyang Hong tertutup rapat di dalamnya. Dari luar Yo Ko memanggil beberapa kali, namun dia tidak mendapat sahutan. Dia tahu di dalam genta tidak dengar suara dari luar, maka ia lantas ber-kemas buat pergi. Tetapi sebelum itu, tiba-tiba lahir pula satu akalnya. Dia pergi ke ruang belakang dan mendapatkan sebuah mangkok rusak serta sebuah sikat bobrok. Dia isi penuh mangkok itu dengan air jernih. Setelah mangkok ditaruh di lantai, kemudian ia sendiri berjungkir sambil tangan kiri dimasukkan ke dalam mangkok yang berisi air itu.

Kiranya ia sudah melakukan ilmu menolak hawa berbisa dalam tubuhnya menurut ajaran Auwyang Hong, dia desak keluar beberapa tetes darah beracun dari tangannya. Ilmu ini sangat memakan tenaga, sedang Yo Ko baru mempelajari dasar-dasar nya saja. Meski pun dapat juga ia desak keluar beberapa tetes darah hitam, tidak urung ia mandi keringat.

Kemudian dengan sikat yang tersedia itu ia celupkan untuk semir sekitar genta. Ia pikir kalau paderi-paderi kelenteng ini kembali atau si buta she Kwa itu berani datang lagi dan bermaksud menyongkel genta ini, begitu tubuh mereka menyentuh, pasti mereka akan merasakan jahatnya racun ini.

Selesai ia atur jebakannya, dengan langkah lebar Yo Ko lantas pulang ke pondoknya. Pada waktu melintasi pagar tembok untuk masuk kamar, dalam hati ia rada kuatir kalau-kalau kepergok Kwa Tin-ok. Siapa tahu sesudah dia masuk kamar, Kwa Tin-ok malah belum kembali, ini sama sekali di luar dugaannya. Setelah rebah di pembaringan, Yo Ko hanya gulang-guling saja tak bisa tidur, keadaan ini berlangsung terus sampai hari terang, baru kemudian ia mendengar ada suara ketokan pintu kamar dengan pentung.

Dengan cepat Yo Ko melompat bangun membuka pintu, maka tampaklah olehnya dengan mencekal sebatang pentung kayu, muka Kwa Tin-ok pucat lesu, begitu orang buta ini melangkah masuk segera terbanting jatuh di lantai. Demi nampak kedua tangan Tin-ok berwarna hitam, Yo Ko tahu jebakan beracun yang dia pasang di genta itu telah kena sasarannya, maka diam-diam ia merasa girang, tetapi ia pura-pura kaget dan ber-teriak-teriak:

“Kwa-kongkong, kenapakah kau?”

Begitu mendengar suara teriakan Yo Ko, Kwe Ceng dan Oey Yong cepat-cepat datang memeriksa. Setelah tahu Kwa Tin-ok menggeletak di lantai, keruan mereka terkejut. Waktu itu Kwe Ceng sudah bisa bebas bergerak, hanya tenaganya yang masih kurang, maka Oey Yong yang mendukung Tin-ok ke tempat tidurnya.

“Toa-suhu, Toa-suhu, kenapakah kau?” demikian ber-ulang-ulang ia tanya.

Tetapi Tin-ok hanya menggeleng kepala saja, ia tidak menjawab juga tidak menerangkan. Sesudah Oey Yong melihat bengkak hitam pada telapak orang tua itu, maka tahulah dia apa yang telah terjadi.

“Kurang ajar, kembali perbuatan itu perempuan hina dina she Li lagi Ceng-koko, biar aku pergi melabraknya,” katanya dengan gemas. Dia menyangka itu adalah perbuatan Li Bok-chiu. Habis berkata, setelah bikin ringkas pakaiannya, segera Oey Yong melangkah keluar.

“Bukan perempuan itu!” tiba2 Tin-ok berseru.

Tentu saja Oey Yong heran, ia berhenti dan menoleh. “Bukan dia? Lalu siapa lagi?” tanyanya tak mengerti.

Akan tetapi Kwa Tin-ok tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia merasa malu karena tak mampu melayani seorang yang boleh dikata sudah tak punya tenaga, bahkan dirinya sendiri kena dikibuli sehingga harus pulang menderita luka, sungguh boleh dikatakan terlalu tak becus. Karena itu, menuruti wataknya yang keras kepala, maka ia bungkam saja.

Di lain pihak Kwe Ceng dan Oey Yong cukup kenal tabiat orang tua ini, kalau mau bilang, sejak tadi ia sendiri sudah menutur, kalau dia sudah tak mau cerita, makin ditanya hanya akan makin menambah kegusarannya. Baiknya luka yang keracunan hanya kulit tangan saja dan tidak lihay. Meski pun orangnya pingsat sesaat, tetapi kelak tidak menjadi halangan.

Sementara itu Oey Yong sudah mengambil keputusan di dalam hati. Kwe Ceng dan Kwa Tin-ok sudah terluka, sedang kekejian Li Bok-chiu susah diukur. Terpaksa dia angkut dulu dua orang luka itu dan antar pulang dahulu kedua bocah ini ke Tho-hoa-to, kemudian dia sendiri akan mencari Li Bok-chiu lagi dan melabraknya!

PERTIKAIAN BOCAH

Sesudah mengaso setengah hari, sorenya mereka sewa sebuah perahu kecil untuk berlayar ke muara laut. Menjelang magrib, perahu membuang sauh dan tukang perahunya hendak menanak nasi.

Karena di dalam perahu itu Yo Ko masih tetap tak menggubris padanya, Kwe Hu menjadi dongkol dan melengos pula, ia bersandar di jendela perahu untuk memandang ke daratan. Tiba-tiba ia lihat di bawah pohon Liu yang rindang sana ada dua anak kecil sedang menangis dengan sedih sekali, tampaknya kedua anak ini adalah Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua saudara. Rupanya Kwe Hu lebih cocok dengan kedua bocah ini, maka segera ia berseru menegur:

“Hai, apa yang kalian lakukan di situ?”

“Kami sedang menangis, tidakkah kau melihat?” sahut Bu Siu-bun sesudah berpaling dan mengenali Kwe Hu.

“Sebab apakah? Kalian telah dihajar ibumu, bukan?” tanya Kwe Hu lagi.

“Tidak, ibu telah mati!” sahut Siu-bun menangis mengguguk.

Jawaban ini membikin Oey Yong ikut terkejut. Dengan cepat dia melompat ke-gili-gili. Betul saja ia melihat kedua bocah itu menangis dengan sedih sambil meratapi mayat ibu mereka. Waktu Oey Yong memeriksa, dia melihat muka Bu-sam-nio hitam hangus, tampaknya sudah lama putus napasnya. Terang mukanya yang kena ditowel Li Bok-chiu tempo hari dengan Jik-lian-sin-ciang, meski bisa tahan beberapa hari, akhirnya mati juga karena bekerjanya racun. Kemudian Oey Yong bertanya di mana beradanya Bu Sam-thong.

“Entahlah, tak tahu ke mana ayah pergi,” sahut Bu Tun-si masih menangis.

“Begitu melihat ibu rneninggal, pikiran ayah mendadak linglung lagi,” demikian Bu Siu-bun menambahkan, “Meski kami memanggil dia, tapi sama sekali dia tidak menggubris.” Habis menutur, kembali bocah ini menangis terguguk lagi.

“Kalian tentu sudah lapar bukan?” tanya Oey Yong.

Kedua saudara Bu ini mengangguk. Maka Oey Yong lantas perintahkan tukang perahu membawa kedua bocah ini ke perahu dan diberi makan, ia sendiri lantas pergi ke kota yang terdekat untuk membeli sebuah peti mati buat Bu-samnio. Karena hari telah petang, besok paginya baru dicarikan sebidang tanah untuk menguburnya.

Meski masih bocah, tetapi kedua saudara she Bu itu menangis sesambatan sambil meng-gabruk-gabruk peti mati ibunya, sungguh rasanya mereka ingin ikut mangkat sekalian.

Saking harunya Kwe Ceng, Oey Yong dan Kwa Tin-ok ikut mengucurkan air mata. Yo Ko yang berperasaan halus dan gampang tergoncang, meski sedikit pun dia tiada hubungan dengan Bu-samnio, melihat orang pada mengalirkan air mata, tanpa tahan ia pun ikut menangis meng-gerung-gerung.

Hanya Kwe Hu seorang saja yang tidak ikut menangis. Kesatu karena anak ini memang belum kenal adat kehidupan, dan kedua, dia memang mempunyai hati yang keras, maka dia hanya duduk di samping bermain sendiri dengan sapu tangannya.

“Yong-ji,” kata Kwe Ceng kemudian kepada sang isteri sesudah puas menangis, “Marilah kita bawa serta kedua anak ini ke Tho-hoa-to, cuma selanjutnya kau harus lebih banyak perhatian buat merawatnya.”

Oey Yong mengangguk tanda setuju, lalu mereka menghibur kedua saudara Bu itu dan Yo Ko agar berhenti menangis. Setelah itu lantas melanjutkan perahunya sampai di laut, dari sini mereka ganti perahu yang besaran untuk berlayar ke arah Timur, menuju ke Tho-hoa-to atau pulau bunga Tho.

Kalau sekarang Kwe Ceng dan Oey Yong mau pelihara anak-anak piatu, ini adalah karena kebaikan mereka. Siapa tahu berkumpulnya empat bocah ini di satu tempat, kelak menimbulkan mala-petaka yang sukar diakhiri.

Begitulah rombongan mereka akhirnya sampai di Tho-hoa-to dengan selamat. Waktu masih di atas perahu Kwe Ceng telah menyembuhkan dirinya dengan lwekang, maka lukanya sebagian besar sudah sembuh, kini dirawat pula beberapa hari di atas pulau, maka keadaannya sudah pulih kembali seperti sedia kala.

Ketika suami isteri ini percakapkan Auwyang Hong yang sudah belasan tahun tak berjumpa, bukan saja tidak nampak loyo dan mundur ilmu silatnya, bahkan melebihi masa yang lalu, maka mereka menjadi heran dan ber-ulang-ulang menghela napas.

Berbicara tentang asal-usul diri Yo Ko, segera Kwe Ceng keluar melihat bocah itu. Ia lihat anak muda ini sedang bermain dengan puteri kesayangannya dan lagi mencari jangkerik di semak-semak. Dia panggil anak muda itu dan diajak ke dalam kamar, ia tanya semua kejadian yang lalu.

Kiranya selama itu Yo Ko hidup berdampingan dengan ibunya, Cin Lam-khim dan tinggal di kaki bukit Tiang-nia di propinsi Kangsay. Hingga lewat belasan tahun lamanya mereka hidup dari menangkap ular. Selama itu perlahan-lahan Yo Ko tumbuh besar, ibunya Cin Lam-khim, telah menurunkan dasar-dasar Iwekang yang dahulu diperolehnya dari Kwe Ceng.

Dasar Yo Ko memang sangat pintar dan otaknya encer, serta banyak pula tipu akalnya, maka ketika dia berumur tujuh atau delapan tahun, kepandaiannya menangkap ular sudah melampaui sang ibu. Pernah dia dengar cerita ibunya bahwa di jagat ini ada orang yang dapat mengerahkan ular hingga berwujut barisan, dalam hatinya diam-diam dia sangat kagum dan tertarik, maka pada waktu senggang ia suka tangkap beberapa ekor ular hijau untuk memain dan dipelihara, lama kelamaan dia paham betul watak ular, bila dia bersuit sekali, kawanan ular lantas menurut perintah dan berbaris sendiri.

Perlu diterangkan bahwa Auwyang Hong yang berjuluk Se-tok diperoleh dari keahliannya memelihara segala macam binatang berbisa terutama ular-ular yang berbisa jahat. Ia tinggal di gunung Pek-to-san (gunung Onta putih) di daerah barat dan memelihara banyak lelaki tukang angon ular, tetapi cara angon ular kaum Pek-to-san ini adalah ilmu turun temurun, sedangkan Yo Ko mendapatkan kepandaian ini dari bakatnya sendiri, meski pun caranya berlainan, tetapi dasarnya sebenarnya sama.

Belakangan akibat kurang hati-hati ibu Yo Ko telah dipagut oleh semacam ular aneh, obat pemunah racun yang selalu dibawanya ternyata tak mempan mengobati pagutan itu hingga mengakibatkan kematiannya.

Sesudah itu Yo Ko menjadi sebatang-kara, seorang diri dia ter-lunta-lunta di Kangouw, kawan satu-satunya yang selalu berdampingan dengan dia boleh dikatakan melulu burung merah yang bercucuk panjang itu, siapa duga hari itu kebentur Li Bok-chiu hingga burung merah itu terbinasa ditangannya.

Hendaklah diketahui bahwa burung merah bercucuk panjang itu dahulunya adalah piaraan Oey Yong, kini demi mendengar burung itu terbinasa, ber-ulang-ulang Kwe Ceng menyatakan sayang, rasa gemasnya pada Li Bok-chiu menjadi bertambah.

Kemudian dia tanya Yo Ko pula di mana anak ini berada ketika Bu Sam-thong bergebrak dengan Auwyang Hong, dan tanya pula apa Yo Ko kenal dengan Auwyang Hong. Tapi Yo Ko sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu tanda, bahkan dia balik bertanya siapakah Auwyang Hong? Ini adalah akalnya Yo Ko yang sengaja mendahului bertanya supaya urusan ini bisa dia cuci bersih.

Tak terduga, Oey Yong adalah wanita terpandai dan tercerdik di jagat ini. Dengan usia Yo Ko yang masih muda, meski pun air mukanya tidak unjuk sesuatu tanda, tapi hendak mengelabui Oey Yong, tidak gampang baginya.

“Baiklah, boleh kau pergi bermain dengan kedua saudara Bu,” kata Oey Yong kemudian, tidak ingin bertanya lebih lanjut.

Jika di antara Oey Yong dan Yo Ko diam-diam adu kecerdasan, maka Kwe Ceng yang berpembawaan sederhana otaknya sama sekali tidak mengetahuinya. Ia tunggu sesudah Yo Ko keluar, barulah ia berkata pada sang isteri.

“Yong-ji,” demikian katanya, “Sudah lama aku punya satu janji di dalam hati, tentunya kau mengetahui, kini berkat kemurahan Thian bisa bertemu dengan anak Ko, maka janji hatiku dapatlah terlaksana.”

Hendaklah diketahui bahwa mendiang ayah Kwe Ceng, Kwe Siau-thian, adalah saudara angkat Engkongnya Yo Ko yang bernama Yo Tiat-sim. Di waktu isteri kedua keluarga ini sama-sama duduk perut, mereka berdua telah saling berjanji bahwa bila kelak yang dilahirkan adalah laki-laki semua, maka mereka harus menjadi saudara angkat, begitu pula jika sama-sama perempuan. Tetapi kalau satu laki-laki dan yang lain perempuan maka mereka harus menjadi suami-isteri.

Belakangan yang dilahirkan ternyata adalah laki-laki semua, yakni Kwe Ceng dan Yo Khong, ayah Yo Ko, maka mereka mentaati sumpah itu dan bersaudara angkat. Tetapi karena Yo Khong telah khianat dan mengaku musuh sebagai ayah hingga nasibnya berakhir dengan mengenaskan. Ia tewas secara menyedihkan di sebuah kelenteng di kota Ka-hin.

Mengingat akan hubungan orang tua itulah, maka Kwe Ceng tidak pernah melupakannya. Kini ia berkata, dan segera Oey Yong tahu akan maksud suaminya.

“Tidak, aku tidak setuju,” demikian ia menjawab dengan menggeleng kepala.

Keruan Kwe Ceng menjadi heran. “Kenapa?” tanyanya.

“Mana boleh anak Hu dapatkan jodoh bocah seperti dia ini,” sahut Oey Yong.

“Meski kelakuan ayahnya tidak baik, tetapi mengingat keluarga Kwe kita dengan keluarga Yo yang turun temurun berhubungan dengan baik, asalkan kita mengajar dia dengan baik, menurut pendapatku, kalau melihat tampangnya yang cakap dan tindak-tanduknya yang cerdik, kelak bukan tidak mungkin akan di atas orang lain,” ujar Kwe Ceng.

“Ya, justru aku kuatir dia terlalu pintar,” kata Oey Yong lagi.

“He, aneh, bukankah kau sendiri sangat pintar, kenapa kau malah mencela orang pintar?” sahut Kwe Ceng.

“Tapi aku justru lebih menyukai engkoh yang tolol seperti kau ini,” kata Oey Yong tertawa.

“Tetapi kalau anak Hu sudah besar, belum tentu serupa dengan kau,” ujar Kwe Ceng ikut tertawa, “Kukira dia tidak menyukai seorang anak tolol. Lagi pula, orang tolol seperti aku, di jagat ini agaknya sukar dicari keduanya lagi.”

“Waduh, tidak malu!” demikian Oey Yong meng-olok-olok.

Begitulah, sesudah bersenda-gurau lalu Kwe Ceng mengulangi lagi pada maksudnya tadi.

“Ayahku pernah meninggalkan pesan, begitu pula sebelum mangkat paman Yo Tiat-sim juga pernah berpesan wanti-wanti kepadaku, maka sekarang kalau aku tidak pandang anak Ko seperti anak sendiri, mana bisa aku menghadapi ayah dan paman Yo di alam baka?”

Sehabis berkata Kwe Ceng menghela napas panjang yang penuh mengandung rasa haru dan menyesal.

“Baiknya kedua bocah itu masih kecil, urusan ini pun tidak perlu buru-buru diselesaikan,” ujar Oey Yong kemudian dengan suara lunak, “Kelak apa bila betul kelakuan Ko-ji tidak jelek, bagaimana kau suka boleh diputuskan sendiri.”

Mendengar jawaban ini, tiba2 Kwe Ceng berdiri dan membungkuk memberi hormat pada sang isteri,

“Terima kasih kalau Niocu (isteriku) sudah setuju, sungguh tak terhingga rasa syukurku,” demikian ia berkata.

“Aku tidak bilang setuju,” tiba2 Oey Yong menjawab dengan sungguh-sungguh. “Tetapi aku bilang harus melihat dahulu bagaimana kelakuan anak itu kelak.”

Saat itu Kwe Ceng masih membungkuk dan belum tegak kembali, pada waktu mendengar jawaban isterinya ia melongo. Tapi menyusul segera ia bilang lagi:

“Ayahnya berubah menjadi busuk karena sejak kecil ia dibesarkan di keraton negeri Kim, tetapi sekarang Ko-ji tinggal di pulau kita, tak mungkin ia berubah menjadi jelek, janganlah kau kuatir.”

Maka tertawalah Oey Yong, segera ia alihkan pembicaraan ke urusan lain.

Kembali pada diri Yo Ko yang tadi sedang mencari jangkerik bersama Kwe Hu. Tatkala kedua bocah ini mulai berkenalan memang terjadi perselisihan paham, akan tetapi dasar watak kanak-kanak, lewat beberapa hari saja perselisihan paham itu sudah terlupa semua maka sesudah Yo Ko dipanggil Kwe Ceng, sekembalinya dia lantas mencari Kwe Hu lagi.

Tapi pada waktu hampir sampai di-semak-semak tadi, ia mendengar suara tertawa ngikik yang ramai, kiranya kedua saudara Bu sedang berjongkok dan lagi bongkar batu dan singkap rumput mencari jengkerik juga.

Setelah Yo Ko mendekat, ia lihat tangan Bu Tun-si memegangi sebuah bumbung bambu, sedang Kwe Hu membawa sebuah belanga, Bu Siu-bun sendiri sedang membongkar dan membalik batu. Dalam pada itu, tiba-tiba seekor jangkerik besar meloncat keluar dari tempat sembunyinya, lekas-lekas Siu-bun menubruk dan menangkapnya, maka bersoraklah dia kegirangan.

“Berikan padaku! Berikan padaku!” demikian Kwe Hu ber-teriak-teriak.

“Baiklah, buat kau,” kata Siu-bun sambil membuka tutup belanga yang dipegang Kwe Hu dan memasukkannya ke dalam.

Ia lihat jangkerik yang baru ditangkap itu kepalanya bundar besar, kakinya panjang kuat, tubuhnya bulat dan gagah sekali.

“Ha, jangkerik ini pasti jagoan yang tak ada tandingannya.” demikian Bu Siu-bun berkata, “Yo-koko, semua jangkerikmu pasti tidak bisa menangkan dia.”

Tentu saja Yo Ko tak mau mengalah, segera ia pilih satu di antara jangkerik tangkapannya yang paling besar dan paling berangasan untuk diadu. Akan tetapi baru sekali gebrak saja, jangkerik Yo Ko kena digigit jangkrik besar tadi pada bagian tengah pinggangnya terus dilempar keluar dari belanga, atas kemenangan ini jangkerik itu lantas berbunyi “krik-krik” dengan senang sekali.

“Hura, aku punya yang menang,” demikian Kwe Hu kegirangan sambil bertepuk tangan.

“Jangan senang dulu, ini masih ada yang lain,” kata Yo Ko. Lalu ia ajukan jagonya yang lain lagi.

Di luar dugaan, meski beruntun tiga kali ia tukar jangkeriknya, selalu dikalahkan jangkerik orang, bahkan jagonya yang ketiga malahan kena digigit jangkerik musuh yang besar itu hingga terkutung menjadi dua.

Dengan sendirinya Yo Ko merasa kehilangan muka. “Sudahlah, tidak mau lagi!” katanya terus bertindak pergi.

Pada saat itu juga, tiba-tiba di antara semak-semak di belakang sana terdengar ada suara “krok-krok” yang aneh.

“Ha, ada satu lagi,” seru Bu Tun-si.

Habis ini ia lantas singkap rumput yang lebat itu, di luar dugaan mendadak dia mencelat mundur sambil berteriak kaget:

“He ular, ada ular!”

Mendengar kata “ular”, Yo Ko yang sudah melangkah pergi seketika berhenti, bahkan dia putar kembali untuk melihatnya, Betul saja dia lihat di situ ada seekor ular belang-bonteng yang jelas kelihatan jenis ular berbisa, sedang melelet lidah dan tegakkan kepala sambil menyembur, hanya badannya yang masih meringkuk di antara semaksemak rumput.

Sejak kecil Yo Ko sudah tergolong ahli tangkap ular, sudah tentu ia tidak pandang sebelah mata pada binatang ini. Segera ia maju dan begitu ulur tangannya, seketika leher ular dia tangkap terus dibanting ke atas batu dengan kuat. Tanpa ampun lagi ular itu terbanting mati. Diluar dugaan, tempat di mana ular tadi meringkuk ternyata ada lagi seekor jangkrik hitam kecil, bentuknya aneh dan jelek, tetapi sedang geraki sayapnya dan mengeluarkan suara “krik-krik” yang nyaring.

“Nah, tangkaplah setan hitam kecil itu saja, Yo-koko,” dengan tertawa Kwe Hu mengejek Yo Ko yang kalah beberapa kali tadi.

Watak Yo Ko justru paling tidak senang kalau dihina orang. “Baik, tangkap ya tangkap,” sahutnya ketus.

Segera jangkerik hitam kecil itu ditangkapnya lantas dilepaskan ke dalam belanga yang dipegang Kwe Hu. Sungguh aneh bin ajaib! Begitu melihat jangkrik hitam kecil ini, jangkrik besar tadi seketika mengunjuk rasa jeri, bahkan terus mundur-mundur dan hendak lari. Tetapi Kwe Hu dan kedua saudara Bu masih ber-teriak-teriak untuk membangkitkan semangat jagonya.

Sementara itu jangkrik hitam kecil sudah melompat maju dengan tegang leher, sebaliknya jangkrik yang besar ternyata tidak berani menyambut tantangan itu dan berniat melompat keluar dari tempurung. Tak tersangka gerak-gerik jangkrik hitam ternyata sebat dan aneh luar biasa. Dia melompat maju dan gigit ekor jangkrik besar tadi, dengan kuat dia gigit, tahu-tahu jangkrik besar itu berkelejetan beberapa kali terus terbalik dan mati.

Kiranya di antara para jangkrik itu terdapat semacam jangkrik yang suka tinggal bersama dengan binatang berbisa lain, kalau tinggal bersama kelabang disebut ‘’jangkrik kelabang’, kalau tinggal bersama ular disebut ‘jangkrik ular’. Oleh karenanya tubuh mereka terjalar hawa berbisa dari binatang yang tinggal bersamanya, maka jenis biasa tidak sanggup melawannya. Jangkrik yang ditangkap Yo Ko tadi justru adalah seekor jangkrik ular.

Di lain pihak, sesudah Kwe Hu melihat jangkrik besarnya mati, ia menjadi kurang senang. “Yo-koko, setan hitam kecil milikmu ini berikan padaku saja,” katanya kemudian sesudah berpikir.

“Berikan padamu sebenarnya tidak menjadi soal, tetapi mengapa kau memaki dia sebagai setan hitam kecil?” sahut Yo Ko.

Kwe Hu menjadi jengkel oleh jawaban ini. “Tak mau beri ya sudah, siapa kepingin?” katanya dengan mulut menjengkit, berbareng itu dia tuang belanganya dan banting jangkrik hitam kecil itu ke tanah, bahkan dia injak pula dengan kakinya sehingga perut binatang kecil itu mecotot.

Melihat jangkriknya diinjak mati, Yo Ko kaget bercampur marah. Perasaan halus pemuda ini paling gampang tertusuk, seketika itu dia naik darah hingga mukanya merah padam, tanpa pikir lagi ia baliki telapak tangannya terus menampar pipi Kwe Hu.

Pukulan ini cukup keras sehingga Kwe Hu merasa pipinya panas pedas. Dia terlongong sesaat dan belum lagi mengambil keputusan apakah harus menangis atau tidak, tiba-tiba dia mendengar Bu Siu-bun sudah mendamperat.

“Kau berani pukul orang?!” bentak anak itu, Berbareng ia lantas menjotos ke dada Yo Ko.

Karena terlahir dalam keluarga jago silat, lagi pula sejak kecil ia sudah peroleh ajaran dari ibunya sendiri, maka ilmu silat Siu-bun sudah memiliki dasar-dasar yang kuat, jotosannya tadi dengan tepat kena sasaran. Dengan sendirinya Yo Ko menjadi marah, kontan ia balas meninju, tetapi Siu-bun sempat berkelit hingga pukulannya luput.

Yo Ko masih penasaran, ia mengudak maju terus menubruk dan menghantam pula. Diluar dugaan, se-konyong-konyong Bu Tun-si ulur kakinya menjegal hingga Yo Ko mencium tanah, ia jatuh ngusruk ke depan.

Kesempatan ini segera digunakan kedua saudara Bu itu dengan baik. Cepat Bu Siu-hun menunggangi tubuh Yo Ko, Bu Tun-si pun ikut maju dan menahan bokongnya dengan kencang, menyusul empat kepalan mereka menghujani tubuh Yo Ko dengan gebukan-gebukan.

Sungguh pun usia Yo Ko lebih tua dari kedua saudara Bu, tetapi karena satu melawan dua, pula Siu-hun dan Tun-si sudah pernah berlatih silat sebaliknya Yo Ko hanya belajar sedikit dasar lwekang saja dari ibunya dan belum terlatih sempurna, dengan sendirinya dia bukan tandingan kedua lawan ciliknya. Namun demikian dia tidak menyerah mentah-mentah, dia kertak gigi menahan sakit pukulan orang, sedikit pun dia tidak merintih.

“Lekas minta ampun, kami lepaskan kau,” kata Bu Tun-si.

“Kentut!” sahut Yo Ko dengan marah

Karena itu, susul-menyusul Bu Siu-hun menggebuk lagi dua kali di punggungnya. Melihat kedua saudara Bu itu membela dirinya dan menghajar Yo Ko, Kwe Hu merasa senang sekali.

Siu-bun dan Tun-si juga cukup cerdik, mereka tahu kalau menghantam orang di bagian kepala atau muka tentu akan meninggalkan bekas babak-belur, nanti kalau dilihat Kwe Ceng dan Oey Yong pasti akan didamperat, karena itu kepalan dan kaki mereka selalu mengarah di atas badan Yo Ko.

Dalam pada itu, melihat makin hebat gebukan yang menghujani Yo Ko, akhirnya Kwe Hu sendiri rada takut dan merasa ngeri, tapi bila mana ia meraba pipi sendiri yang masih terasa sakit pedas, segera ia merasa belum puas dengan hajaran itu.

“Hantam dia, hantam yang keras!” demikian dia ber-teriak-teriak.

Mendengar seruan Kwe Hu, benar juga Tun-si dan Siu-bun lalu kerjakan kepalan mereka semakin cepat dan menjotos lebih ganas lagi. Sudah tentu seruan Kwe Hu tadi didengar juga oleh Yo Ko yang kena ditindih di atas tanah.

“Kau sungguh kejam, kelak aku Yo Ko pasti membalas sakit hati ini,” demikian katanya dalam hati.

Akan tetapi segera ia merasakan pinggang, punggung dan bagian bokong tidak kepalang sakitnya, perlahan2 ia mulai tidak tahan. Harus diketahui meski kecil, tetapi sejak kecil kedua saudara Bu sudah berlatih silat, kalau mereka menjotos, meski orang tua sekali pun tidak akan tahan, kalau bukan Yo Ko yang sudah mempunyai dasar-dasar lwekang tentu sejak tadi ia sudah semaput.

Dalam keadaan terpaksa Yo Ko mengertak gigi menahan sakit sekuatnya. Tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap, kedua tangannya meraba dan me-raup-raup serabutan di atas tanah, mendadak sebelah tangannya menyentuh sesuatu benda yang licin dingin. Seketika pikirannya tergerak, ia tahu itu adalah bangkai ular berbisa tadi yang dia banting mati, maka tanpa ayal lagi segera ia cekal terus disabetkan ke belakang.

Begitu melihat ular yang sudah mati dengan kulitnya yang belang-bonteng, kedua saudara Bu menjadi kaget dan menjerit ngeri. Kesempatan ini segera digunakan Yo Ko dengan baik, sekali membalik ia sudah berdiri lagi, menyusul ia putar tinjunya terus manghantam, tepat sekali hidung Bu Tun-si kena dia genjot hingga keluar kecapnya, Habis ini segera Yo Ko angkat kaki dan lari ke belakang pulau. Sudah tentu kedua saudara Bu menjadi marah, segera mereka mengudak.

Kwe Hu memang suka dengan keonaran, ia pun ingin tahu lanjutannya, maka ia menyusul dari belakang, bahkan tiada hentinya ia ber-teriak-teriak:

“Tangkap, tangkap dia!”

Setelah ber-lari-lari, ketika Yo Ko menoleh, ia melihat muka Tun-si penuh darah, baju di bagian dada lebih nyata lagi dengan bekas darah yang mengucur, hingga mukanya kelihatan sangat beringas sekali.

Yo Ko insaf kalau sampai dirinya kena ditangkap kedua saudara Bu lagi, maka pukulan yang bakal dia terima pasti akan jauh lebih lihay dari pada tadi, oleh karena itu dia berlari semakin cepat, dia lari menuju tebing gunung dan memanjat ke atas.

Sesungguhnya meski hidung Bu Tun-si kena di-jotos, tetapi tidak begitu sakit, cuma demi melihat darah mengucur, dia menjadi panik dan marah, maka dia menguber semakin kencang.

Makin lama semakin tinggi Yo Ko memanjat ke atas, tetapi sedikit pun kedua saudara Bu belum mau berhenti mengejar. Sedang Kwe Hu sesudah sampai di tengah tebing gunung lantas berhenti, dari sini ia mengikuti orang udak-udakkan dengan mendongak saja.

Sementara itu Yo Ko telah sampai di tempat buntu, di hadapannya adalah tebing curam dan tidak ada jalan lagi buat lari terus. Pemuda ini mempunyai kecenderungan pikiran yang nekat, dalam keadaan kepepet ia berpikir: “Hm, sekali pun aku harus mati terjun ke dalam jurang, tidak akan aku rela ditangkap kedua bocah itu untuk dihina mentah-mentah.”

Karena pikiran itulah maka ia lantas putar balik kemudian membentak: “Hayo berhenti, jika berani mengejar setapak lagi, segera aku terjun ke bawah!”

Gertakan ini membikin Bu Tun-si rada terkejut juga, anak ini tertegun sejenak, berlainan dengan adiknya, Bu Siu-bun, bocah ini malah menantang.

“Hm, kalau mau terjun lekas terjun saja, siapa kena kau gertak?” demikian dia mengejek, sambil berkata ia mendesak maju lagi beberapa tindak.

Melihat ini seketika Yo Ko naik darah dan timbul pikiran pendek, mendadak ia berjongkok hendak terjun ke dalam jurang. Syukur sebelum itu sekilas terlihat olehnya di samping ada sebuah batu yang besar dan letaknya miring.

Dalam keadaan marah, Yo Ko sudah tidak memikirkan akibatnya. Segera dia dorong batu besar itu yang memang kelihatan miring, betul juga ia merasakan batu besar ini ber-goyang-goyang. Segera ia melompat mundur ke belakang batu, lalu sekuatnya ia dorong, maka terdengarlah suara gemuruh hebat memecah angkasa, batu besar itu menggelinding ke bawah bukit dengan kecepatan luar biasa.

Di lain pihak kedua saudara Bu menyadari juga gelagat jelek. Demi melihat Yo Ko hendak mendorong batu, muka mereka menjadi pucat, segera akan menyingkir akan tetapi terlambat. Dengan mata terbelalak mereka lihat pasir berhamburan dari atas kepala, seketika mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Dalam detik yang sangat berbahaya itu, mendadak mereka merasa punggung se-akan-akan ditarik, tahu-tahu tubuh mereka mumbul ke udara, menyusul terdengarlah suara kaokan burung rajawali. Tubuh mereka sudah dibawa terbang melintasi bukit.

Kiranya sepasang burung rajawali itu sedang terbang bermain di udara, menggelindingnya batu besar tadi telah dilihat mereka, syukur dengan cepat kedua burung ini masih sempat menolong jiwa Tun-si dan Siu-bun.

Sementara itu dengan menerbitkan suara gemuruh keras batu besar tadi telah menerjang banyak pepohonan, akhirnya menggelinding masuk ke laut.

Oey Yong juga mendengar suara kaokan rajawali yang menandakan rasa kuatir tadi, disusul dengan suara gemuruh yang aneh, maka lekas berlari keluar dari rumah. Tampak olehnya debu pasir berhamburan, puterinya kelihatan bersembunyi di semak-semak pinggir gunung, dalam takutnya sampai anak perempuan ini tidak sanggup mengeluarkan suara tangisan.

Dalam pada itu sepasang burung rajawali yang mencengkeram kedua saudara Bu dengan perlahan kemudian turun ke hadapan Oey Yong sambil tegang leher dan pentang sayap, kedua burung ini seperti unjuk jasa di hadapan sang majikan.

Dengan aleman Kwe Hu menjatuhkan diri dalam pangkuan sang ibu, lalu menangis ter-sedu-sedu. Sesudah menangis sejenak, kemudian baru ia ceritakan bagaimana ia dipukul Yo Ko. Ia ceritakan juga bagaimana kedua saudara Bu membela dirinya dan Yo Ko mendorong batu besar itu hendak menggilas mati kedua bocah itu.

Demikianlah ia tumplekkan semua kesalahan pada Yo Ko, tetapi ia sendiri menginjak mati jangkerik orang dan cara bagaimana kedua saudara Bu itu memukul Yo Ko, semua dia tutup dan tidak dituturkan. Sehabis mendengar, Oey Yong kelihatan termangu-mangu, ia tidak bersuara.

Dalam pada itu Kwe Ceng sudah menyusul datang, waktu dia lihat muka serta baju Tun-si berlepotan darah, ia menjadi kaget. Ia tanya sebab-musababnya, dalam hati ia pun merasa marah. Tetapi ia kuatir pula terjadi sesuatu atas diri Yo Ko, maka lekas ia lari ke atas bukit mencarinya.

Akan tetapi meski pun dia sudah mencari kian kemari, dari depan sampai belakang bukit ternyata sama sekali tidak nampak bayangan bocah itu.

“Ko-ji, Ko-ji!” ia berteriak, Namun tetap tidak ada suara sahutan.

Teriakannya ini ia lakukan dengan keras dan di atas bukit, dalam lingkaran seluas belasan li pasti suaranya akan terdengar, tetapi aneh, Yo Ko tidak kelihatan. Sesudah menunggu lagi dan tetap masih belum berhasil, Kwe Ceng menjadi makin kuatir. Segera dia dayung sebuah perahu kecil mengelilingi pulau untuk mencari, namun sampai petang masih belum juga diketemukan jejak Yo Ko.

TAMU TAK DIUNDANG

Kiranya setelah mendorong batu pegunungan yang besar itu dan menyaksikan kedua rajawali berhasil menolong kedua saudara Bu, dari jauh Yo Ko melihat pula Oey Yong keluar dari rumah. Dia tahu sekali ini dirinya pasti akan didamperat habis-habisan, oleh karena itu dia lantas sembunyi di sela-sela batu cadas yang besar dan tak berani keluar. Dia dengar juga suara panggilan Kwe Ceng, namun dia tak berani menyahut.

Begitulah dengan menahan lapar Yo Ko bersembunyi. Ia tidak berani sembarang bergerak, ia lihat cuaca mulai remang-remang, akhirnya menjadi gelap. Selang tidak lama kemudian, kerlipan bintang-bintang di langit diiringi hembusan angin laut yang silir semilir. Yo Ko merasakan badannya rada menggigil.

Dia keluar dari tempat sembunyinya dan memandang ke bawah. Dia melihat rumah yang terbangun bagus di bawah sana sudah ada sinar lampu, dan dia membayangkan saat itu tentu Kwe Ceng dan Oey Yong suami isteri, Kwe Hu dan kedua saudara Bu sedang mengitari meja dan bersantap, terbayang pula olehnya di atas meja yang penuh dengan lauk-pauk, daging ayam, itik dan lain-lain yang enak-enak, tanpa terasa ia menelan liur beberapa kali.

Akan tetapi segera terpikir pula olehnya pasti mereka sedang mencaci maki habis-habisan padanya. Teringat akan ini, tanpa tertahan Yo Ko meluap juga amarahnya. Bocah berusia sekecil dia ini, di malam gelap yang diselingi tiupan angin laut berdiri di atas bukit karang, dalam hatinya yang dipikir adalah nasibnya yang selalu dihina orang saja, maka terasalah olehnya se-akan-akan setiap manusia di bumi ini semuanya memandang rendah. Perasaannya seketika bergolak, ia merasakan getirnya seorang anak piatu dan sesalkan akan nasib sendiri.

Padahal apa yang Yo Ko bayangkan ini sebetulnya salah sama sekali. Justru karena tidak ditemukan Yo Ko, Kwe Ceng tidak bisa bersantap dengan hati tenteram. Nampak suaminya merasa kesal, Oey Yong tahu percuma saja meski dia menghiburnya, maka ia pun tidak jadi makan, melainkan terus kawani sang suami duduk terdiam saja menghadapi meja. Begitulah suami-isteri itu tidak bisa tidur semalaman. Besok paginya, belum terang tanah kedua orang sudah lantas keluar mencari Yo Ko lagi.

Di lain pihak, sesudah Yo Ko menderita lapar sehari semalam, besoknya pagi-pagi sekali bocah ini sudah tak tahan lagi. Ia mengeluyur turun, di tepi sungai ia berhasil menangkap beberapa ekor Swike atau kodok hijau, ia beset kulitnya dan mengumpulkan kayu kering. Dia bermaksud hendak makan kodok panggang, ia sudah biasa bergelandangan maka cara makan sedemikian ini sudah biasa dilakukannya.

Tetapi karena kuatir asap apinya dilihat Kwe Ceng, maka ia membakar kayu kering itu dalam sebuah gua. Selesai paha kodok yang dia panggang, segera ia sirapkan api terus menggerogoti kodok itu dengan lahap, mungkin saking laparnya, dia merasakan lezat dan nikmat sekali Swike panggang itu.

Selagi ia mengunyah daging kodoknya dengan penuh cita rasa, tiba-tiba ia dengar ada suara kresekan di luar gua dan disusul dengan suara yang mendesis, ia kenal itu adalah suara merayap dan menyemburnya sebangsa ular.

Sambil masih menggerogoti paha kodoknya, segera Yo Ko jalan ke mulut gua. Dan betul saja, di sana dia melihat ada seekor katak sedang menghadapi seekor ular kembang yang panjangnya hampir tiga kaki, kedua binatang itu sedang saling pandang tanpa bergerak.

Selang tak lama, mendadak ular kembang itu melonjak terus terjang katak itu. Tapi katak itu sudah siap sedia, tiba-tiba terdengar suara “kok-kok” dua kali, katak ini mangap mulutnya dan menyemburkan uap yang tipis, berbareng ini tubuhnya berkelit sedikit untuk hindarkan tubrukan ular.

Karena kena uap berbisa yang disemburkan katak, ular kembang lantas berjumpalitan terus jatuh terjungkal ke tanah, sesudah itu segera ular ini melingkar sambil tegak kepala menghadapi lawannya.

Yo Ko jadi tertarik oleh pertarungan katak melawan ular ini. Ia pikir tubuh katak kasar dan berat, lagi pula tak punya gigi, akan tetapi ternyata berani bertarung melawan seekor ular yang tidak terbilang kecil itu, sungguh harus dibuat heran.

Ia lihat kedua binatang itu masih saling gebrak dengan ramainya, tiap kali ular kembang itu menyerang dan menubruk, pasti si katak ada jalan buat balas menyerang. Kalau yang menyerang aneka macam gaya perubahannya, maka yang bertahan pun banyak sekali tipu akalnya untuk menjaga diri. Meski gigi ular kembang itu sangat tajam, namun tetap tak dapat mengalahkan si katak.

Tidak lama kemudian, karena ber-ulang-ulang kena disembur uap berbisa si katak, gerak-gerik ular kembang mulai lamban dan kaku, makin lama malah semakin terdesak di bawah angin, sampai akhirnya rupanya insaf bukan tandingan lawannya lagi, mendadak ular itu putar tubuh terus menyelinap masuk ke dalam semak. Tapi katak itu ternyata tidak membiarkan musuhnya lari begitu saja. Sambil mengeluarkan suara “kok-kok-kok”, segera ia menguber.

Melihat gerak-gerik katak itu dan mendengar suaranya, hati Yo Ko tergerak. Dia merasa meski pun gerak-gerik katak ini sangat aneh, tetapi tanpa terasa dirinya seperti lebih suka padanya, apa sebabnya, ia sendiri tidak mengerti. Waktu duduk kembali di dalam gua, ia pun mendengar suara panggilan Kwe Ceng.

“Hm, kau memanggil aku keluar untuk kemudian menghajarku, kalau aku mau keluar kan tolol!” demikian ia membatin.

Begitulah malamnya ia tidur di gua sambil terduduk. Dalam keadaan layap-layap tiba-tiba dia melihat Auwyang Hong masuk ke dalam gua dan berkata:

“Marilah anakku, biar aku ajar kau berlatih ilmu!”

Yo Ko menjadi girang, ia ikut keluar gua, di sana ia lihat Auwyang Hong lantas berjongkok sambil bersuara “kok-kok” beberapa kali, lalu sepasang telapak tangannya mendorong ke depan.

Entah mengapa Yo Ko merasakan seluruh tubuhnya luar biasa gesitnya. Ia tiru cara-cara orang dan berlatih, terasa olehnya tiap pukulan dan tendangannya tak ada satu pun yang keIiru. Hingga suatu saat tiba2 Auwyang Hong memukulnya, karena tidak keburu berkelit “plak”, ubun-ubun kepalanya kena diketok hingga terasa sakit tak kepalang, saking tak tahannya sampai ia menjerit dan melonjak.

Akan tetapi kembali terdengar suara “plok”, kepalanya kena diketok lagi. Dalam kagetnya Yo Ko menjadi sadar dan... busyet, kiranya hanya mimpi belaka. Waktu ia raba kepalanya, ternyata sudah benjol benjut akibat benturan pada dinding gua. Ia menarik napas panjang dan keluar gua, ia lihat keadaan sunyi senyap, cakrawala yang membentang lebar di atas seakan-akan berlapiskan layar hitam, hanya beberapa bintik bintang yang berkelap-kelip sekedar penghias alam.

Yo Ko mencoba merenungkan apa yang diajarkan Auwyang Hong dalam mimpi tadi, namun sedikit pun dia tak ingat lagi, tatkala ia coba berjongkok sambil mulutnya menirukan suara “kok-kok” beberapa kali. Ia bermaksud menggunakan Ha-mo-kang yang diperolehnya dari Auwyang Hong di dekat kota Ling-oh-tin tempo hari untuk dipraktekkan sekarang, namun bagaimana pun juga dia meng-ingat tetap tidak dapat disalurkan melalui tangan atau kakinya. Seorang diri ia berdiri di puncak bukit sambil memandangi lautan yang begitu luas, terasa kekosongan hatinya semakin menjadi hampa.

Tiba-tiba dari arah lautan sana sayup-sayup terdengar suara teriakan orang yang keras panjang sedang memanggil-manggilnya: “Ko-ji, Ko-ji!”

Mendengar suara panggilan yang penuh daya tarik ini, tanpa kuasa lagi Yo Ko berlari-lari turun ke bawah gunung.

“Aku berada disini, aku berada disini!” demikian ia berseru menjawab.

Walau pun suara anak ini tak begitu keras, tetapi Kwe Ceng sudah dapat mendengarnya, maka lekas-lekas perahunya didayung menuju ke tempat Yo Ko berada. Setelah berjarak beberapa tombak saja dari pesisir, dengan sekali lompat segera Kwe Ceng meninggalkan perahunya. Maka tampaklah di bawah cahaya bintang yang remang-remang dua sosok bayangan orang per-lahan-lahan makin mendekat, dengan kencang kemudian Kwe Ceng berangkul Yo Ko dalam pangkuannya.

“Marilah lekas pulang bersantap,” demikianlah kata-kata yang tercetus dari mulut Kwe Ceng, Saking terharunya sampai suaranya rada serak dan gemetar.

Begitulah, sesudah kedua orang berada kembali dalam rumah, segera Oey Yong siapkan nasi hangat dan lauk-pauk untuk Yo Ko, terhadap kejadian yang telah lalu, sepatah-kata pun tidak di-ungkit-ungkit.

Besok paginya, keempat anak: Yo Ko, Kwe Hu serta kedua saudara Bu, Tun-si dan Siu-bun, oleh Kwe Ceng sudah dikumpulkan di ruangan besar, lalu Kwa Tin-ok diundang hadir pula, kemudian keempat anak itu disuruh menjura di hadapan abu pemujaan Kanglam-lak-koay (enam orang kosen dari Kanglam) yang sudah di alam baka.

“Toa-suhu,” demikian Kwe Ceng berkata kepada Kwa Tin-ok, “hari ini Tecu (anak murid) mohon ijin Suhu agar diperbolehkan menerima empat cucu muridmu ini.”

“Bagus, bagus sekali,” sahut Kwa Tin-ok girang. “Nah, terimalah ucapan selamatku ini!”

Yo Ko bersama Tun-si dan Siu-bun lantas menjura pada Kwa Tin-ok, setelah itu barulah memberi hormat kepada Kwe Ceng dan Oey Yong sebagai upacara pengangkatan guru.

“Apa aku pun harus menjura, ibu?” dengan tertawa Kwe Hu bertanya.

“Sudah tentu,” sahut Oey Yong.

Karena itu dengan tertawa haha-hihi anak nakal ini pun menyembah kepada ketiga orang tua itu.

“Mulai hari ini kalian berempat adalah saudara seperguruan,” demikian Kwe Ceng memberi petuah dengan sikap sungguh-sungguh dan kereng, “oIeh karena itu seterusnya kalian harus saling hormat-menghormati dan cinta-mencintai, ada kesulitan sama-sama dipikul. Jika kalian berempat berani berkelahi lagi, pasti tidak akan kuampuni.” Habis berkata ia pandang pula sekejap pada Yo Ko.

“Tentu saja kau mengeloni anakmu sendiri,” demikian Yo Ko membatin di hatinya, “Biarlah selanjutnya aku tidak akan sentuh dia lagi.”

MenyusuI sebagai kakek gurunya, Kwa Tin-ok ikut menjelaskan juga peraturan perguruan yang sudah umum, yakni tidak boleh menganiaya orang yang lebih lemah, tidak boleh membantu yang jahat sehingga semakin jahat, tidak boleh mencelakai orang yang tidak berdosa dan lain sebagainya.

“llmu silat yang aku pelajari terlalu banyak macamnya,” demikian Kwe Ceng berkata lagi, “kecuali dasar yang kudapat dari Kanglam-chit-koay (tujuh orang aneh dari Kanglam, Lak-koay tersebut di atas telah wafat, ditambah Kwa Tin-ok), ilmu Iwekang dari Coan-cin-pay serta ilmu silat ketiga aliran persilatan terbesar dari Tang-Lam-Pak (Timur-Selatan-Utara, maksudnya, dari Tang-sia, Lam-te dan Pak-kay, tentang ini diceritakan tersendiri dalam kisah Sia Tiauw Enghiong), semuanya meski pun hanya sedikit tetapi kacang jangan lupa akan kulitnya, sebagai orang jangan lupa akan asalnya, biarlah hari ini aku ajarkan kalian kepandaian asal dari Kwa-suco (kakek guru she Kwa, maksudnya Kwa Tin-ok).”

Dan baru saja ia hendak uraikan titik-titik pokok ajarannya, tiba-tiba Oey Yong melihat Yo Ko sedang menunduk dengan terkesima, pada wajah anak ini ada semacam tanda aneh yang sulit diucapkan, tanpa terasa ia jadi ingat pada berbagai kejadian yang menimbulkan kecurigaan tempo hari.

“Meski ayahnya bukan aku yang membunuhnya, tapi boleh dikatakan juga mati di tanganku, jangan-jangan piara macan mendatangkan bencana hingga menjadi bibit mala petaka yang besar,” demikian pikir Oey Yong. Setelah putar otak sejenak, segera ia mendapatkan suatu jalan.

“Seorang diri mengajar empat anak, tentu terlalu berat bagimu. Biarlah aku yang mengajar Ko-ji,” katanya kemudian.

“Bagus, bagus sekali usulmu!” seru Kwa Tin-ok sambil tertawa sebelum Kwe Ceng sempat menjawab, “Dan kalian suami isteri boleh berlomba, lihat saja murid siapa kelak yang terpandai.”

Mendengar usul isterinya, dalam hati Kwe Ceng girang juga. Ia tahu kepintaran Oey Yong beratus kali di atas dirinya, cara mengajarnya pasti jauh lebih baik dari pada dirinya, maka ber-ulang ia pun menyatakan bagus dan akur.

“Tetapi kita harus menetapkan satu syarat,” demikian Oey Yong kemukakan pendapatnya lagi, “Sekali-kali tak boleh kau mengajarkan Ko-ji, sebaliknya aku pun tak boleh mengajar mereka bertiga. Pula di antara keempat anak ini pun tak boleh saling belajar, sebab kalau ilmu yang dilatihnya bercampur aduk, hanya ada jeleknya dan tiada faedahnya.”

“Ya, sudah tentu.” sahut Kwe Ceng setuju lagi.

“Nah, Ko-ji, ikutlah denganku,” kata Oey Yong.

Memang Yo Ko sedang benci pada Kwe Hu serta kedua saudara Bu itu, kini mendengar keinginan Oey Yong bahwa dirinya tidak akan berlatih setempat dengan mereka, ini justru cocok dengan pikirannya, maka ia lantas ikut Oey Yong masuk ke dalam.

Di luar dugaannya, Oey Yong tidak membawanya ke lapangan berlatih silat melainkan dibawa ke kamar baca. Di sini Oey Yong mengambil sebuah kitab dari rak buku kemudian berkata padanya:

“Gurumu mempunyai tujuh orang Suhu yang dijuluki Kanglam-chit-koay, Toasuhu adalah Kwa-kongkong itu, Jisuhu (guru kedua) bernama Cu Jong dan berjuluk Biau-jiu-su-seng (si sastrawan bertangan sakti), maka kini lebih dulu aku ingin ajarkan kepandaian Cu-suco.”

Sembari berkata dia lantas buka kitab yang dia ambil dari rak tadi. Dengan suara lantang segera dia membacanya. Dalam hati Yo Ko menjadi heran, namun ia tak berani banyak bertanya, terpaksa ia ikut membaca dan belajar menulis, Begitulah be-runtun selama beberapa hari ia hanya diajar membaca oleh Oey Yong dan selamanya tidak pernah menyinggung tentang ilmu silat.

Suatu hari, sehabis belajar, seorang diri Yo Ko ber-jalan-jalan iseng ke atas gunung. Tiba-tiba ia teringat pada ayah angkatnya Auyang Hong yang tidak diketahui berada di mana kini. Teringat pada sang ayah angkat tak tahan lagi ia lantas berjumpalitan dan menjungkir tubuh, ia menirukan cara yang dulu pernah dipelajarinya, tubuhnya yang berjungkir itu segera berputar cepat.

Setelah berputar-putar dengan berjungkir, kemudian ia ikuti petunjuk yang pernah diterimanya dari Auwyang Hong untuk menjalankan jalan darah secara terbalik, terasa olehnya makin berputar semakin lancar. Kemudian pada saat ia melompat bangun, mendadak ia berseru “kok” sekali berbareng kedua telapak tangannya dipukulkan ke depan, habis ini ia merasa seluruh badan menjadi segar dan enak sekali, segera pula mengeluarkan keringat hingga membasahi sekujur badan. Nyata ia tidak tahu bahwa dengan latihannya ini tenaga dalamnya sudah maju jauh sekali.

Hendaklah diketahui bahwa ilmu yang diciptakan Auwyang Hong yang khas itu meski pun bukan tergolong ilmu yang baik, tetapi justru merupakan semacam ilmu kepandaian yang lihay luar biasa. Pula pembawaan Yo Ko memang berotak encer dan mudah menerima, apa yang dia pelajari dalam tempo yang singkat meski cuma sedikit, namun tanpa terasa dan diluar tahu ia sudah menuju ke aliran ilmu silat Pak-to-san (gunung Onta putih).

Sejak itulah setiap hari Yo Ko belajar sekolah dengan Oey Yong, dan kalau pagi atau petangnya ada kesempatan segera ia pergi ke tempat sunyi di kaki bukit untuk melatih diri. Sebenarnya bukan maksud ingin melatih diri agar bisa menjadi seorang kosen yang disegani, tetapi entah mengapa, tiap kali sehabis berlatih, selalu dirasakannya luar biasa enak dan segar badannya. Demikianlah secara diam-diam Yo Ko melatih ilmu sendiri, Kwe Ceng dan Oey Yong sedikit pun ternyata tidak tahu.

Maka tiada sebulan, kitab ‘Lun-gi’ (salah satu kitab ajaran Nabi Khongcu) yang Oey Yong jadikan mata pelajaran untuk Yo Ko sudah selesai semua, Begitu apal isi kitab tersebut, sampai Yo Ko sanggup membaca di luar kepala, cuma isi dan arti kitab yang diajarkan itu, sama sekali ia anti, tidak setuju, maka sering kali ia sengaja kemukakan bantahan2.

Padahal Oey Yong sendiri pun seribu kali tidak sepaham dengan segala isi kitab yang diajarkan Khong-hucu itu, ia sendiri sesungguhnya juga jemu, hanya lapat-lapat perasaannya punya firasat: “Kalau anak ini diberi pelajaran ilmu silat, kelak pasti akan menjadi bibit bencana saja, lebih baik kalau diajarkan ilmu sastra, biar dia kenyang dengan teori isi kitab saja, buat dia dan buat orang lain mungkin malah ada baiknya.”

Dengan ketetapan itulah, dengan maksud baik Oey Yong mengajar Yo Ko sekolah. Maka sehabis kitab ‘Lun-gi’ lantas disusul dengan kitab ‘Beng-cu’. Karenanya, beberapa bulan sudah lewat, tetapi selama itu tidak pernah Oey Yong berbicara sepatah kata pun tentang ilmu silat.

Yo Ko cukup tahu diri juga, melihat orang tidak omong, ia pun tidak mau bertanya, hanya hidup di pulau ini dirasakan semakin hampa, ia tahu pula meski pun Kwe Ceng menerima dirinya sebagai murid, tapi ilmu silat pasti tidak akan diajarkan padanya.

Sedang kini saja ia bukan tandingan Bu Tun-si dan Bu Siu-bun, apa lagi setahun atau dua tahun lagi jika mereka mendapat pelajaran silat dari Kwe Ceng. Bila mereka berkelahi lagi pasti ia akan mampus di tangan mereka. Karena pikiran inilah ia ambil keputusan, apa bila ada kesempatan segera ia akan berdaya-upaya buat meninggalkan pulau.

Pada satu sore hari, sehabis Yo Ko belajar membaca, seorang diri ia ber-jalan-jalan iseng di tepi laut. Sambil memandangi ombak laut yang men-dampar berdeburan, dalam hati ia berpikir entah kapan baru bisa melepaskan diri dari kurungan ini. Bila terlihat olehnya burung laut yang terbang kian kemari, ia menjadi terharu dan kagum sekali akan kebebasan burung-burung yang tak terbatas itu.

Tengah ia termenung, tiba-tiba mendengar di balik hutan pohon Tho sana ada suara berkesiurnya angin. Ia menjadi tertarik, diam-diam ia memutar ke sebelah sana dan mengintip, maka tampaklah olehnya Kwe Ceng sedang memberi pelajaran silat pada kedua saudara Bu di sebuah tanah lapang. Ia lihat Kwe Ceng sedang memberi petunjuk-petunjuk sambil kaki-tangannya memberi contoh dan menyuruh ketiga saudara Bu itu menirukannya.

Bagi Yo Ko yang cerdas, hanya sekali lihat saja dia sudah tahu di mana letak intisari jurus tipuan ini, tetapi bagi Bu Tun-si dan Bu Siu-bun, walau sudah belajar berulang kali, masih belum juga paham.

Kwe Ceng sendiri memang juga berotak puntuI, pada waktu kecilnya ia sendiri sudah merasakan pahit-getirnya belajar, maka kini sedikit pun dia tidak merasa jemu dan masih terus memberi dengan petunjuk penuh kesabaran.

“Hm, jika Kwe-pepek mau ajarkan padaku, tidak akan aku segoblok mereka,” kata Yo Ko dalam hati sambil menghela napas diam-diam. Oleh karena kesal hati, dia lantas kembali ke kamarnya untuk tidur.

Petangnya sehabis bersantap dan setelah mengulangi pelajaran kitabnya, terasa olehnya luar biasa isengnya, maka ia pergi ke tepi laut lagi. Di sana ia menirukan gerak-gerik ilmu silat yang dimainkan Kwe Ceng siang tadi. Namun tipu silat yang cuma dua tiga gerakan ini, sesudah dimainkan berulang-ulang, akhirnya merasa bosan juga.

Tiba-tiba hatinya tergerak, “Mulai besok, secara diam-diam aku akan mengintip dan mencuri belajar ilmu silatnya, siapa yang melarang aku?” demikian ia pikir.

Oleh karenanya, rasa dongkolnya yang tertahan sekian lama segera menjadi lapang, dengan berpeluk dengkul ia lalu duduk bersandar batu karang di tepi laut, akhirnya tertidur.

Entah sudah berapa lama ia tenggelam dalam alam impiannya ketika tiba-tiba dikagetkan bunyi suara rantai besi yang gemerincing. Pada waktu mengintai dari belakang batu karang itu, kiranya di tepi laut sana telah bertambah dengan sebuah perahu layar, suara gemerincing rantai tadi ternyata disebabkan perahu layar itu membuang sauh buat berlabuh.

Tidak berapa lama, dari perahu itu muncul dua orang melompat ke daratan, gerak tubuh mereka ternyata cepat dan sebat luar biasa. Setelah berada di daratan, mula-mula kedua orang itu mendekam dan melongak-longok ke sekeliling, kemudian perlahan-lahan mereka merayap maju ke tengah pulau.

Melihat kelakuan kedua orang ini terang tidak mengandung maksud baik, Yo Ko berpikir: “Jalanan di pulau ini belak-belok dan lika-liku, kalian hanya mengantar kematian belaka.”

Oleh karena itu, ia mengkeretkan tubuhnya supaya tidak dilihat kedua orang itu, ia tidak berani bergerak, sementara itu kedua orang tadi sudah merayap semakin jauh. Ketika pandangannya mengikuti bayangan kedua orang itu, mendadak ia lihat sesuatu di tempat jauh, tanpa tertahan ia terkejut.

Kiranya di bawah satu pohon Liu ada sesosok bayangan orang berbaju putih. Tubuhnya yang kecil dengan berjungkir sedang memutar dengan cepat, dengan cara sebagaimana biasanya kalau dirinya berlatih ilmu ajaran Auwyang Hong. Melihat bentuk tubuh orang berjungkiran itu jelas bukan lain lagi dari pada Kwe Hu adanya.

Tentu saja Yo Ko terheran-heran melihat kelakuan dara cilik itu, “Apa Kwe-pepek juga mengajarkan ilmu kepandaian semacam ini?” demikian ia ber-tanya-tanya dalam hati. Tetapi segera dia mengerti: “Aha, tentu pada waktu aku sedang berlatih telah dapat dilihat dia dan sekarang dia menirukan caraku untuk main-main.”

Sementara itu, kedua sosok bayangan tadi sudah makin dekat dengan Kwe Hu. Mungkin saking asyiknya berputar kayun dengan tubuhnya, sama sekali Kwe Hu tidak berasa kalau ada orang lain mendekatinya. Sesaat kemudian tiba-tiba kedua orang itu melompat maju, tubuh anak perempuan ini terus dirangkul, seorang mendekap mulut yang mungil itu dengan tangannya, sedang yang satu lagi mengeluarkan seutas tali kemudian meringkus seluruh badan Kwe Hu, bahkan mulutnya disumbat dengan sepotong sapu tangan.

Perbuatan kedua orang itu ternyata cepat dan berhasil dengan baik, hanya sekejap saja mereka sudah meletakkan Kwe Hu yang tak bisa berkutiik itu ke dalam semak-semak, habis itu mereka melanjutkan merayap ke depan.

Menyakksikan kejadian aneh ini, mulut Yo Ko ternganga, hatinya pun berdebar-debar dan kuatir pula, ia tidak tahu apa maunya kedua pendatang itu. Mata Yo Ko cukup tajam, meski dalam keadaan gelap dia masih bisa melihat jelas gerak-gerik kedua orang tadi. Ia melihat sesudah merangkak-rangkak maju lagi, setelah hampir sampai di jalan masuk perkampungan, rupanya mereka mengerti juga lihaynya Tho-hoa-to yang sudah diatur oleh Oey Yok-su, maka mereka tidak berani maju lagi.

Mereka lantas mengeluarkan sehelai kertas putih, seseorang meng-gambar di atas kertas itu dengan menggunakan alat tulis. Jika melihat kelakuan mereka, rupanya mereka sedang mencuri melukis peta keadaan pulau ini untuk digunakan kelak ketika melakukan penyerbuan.

“Kalau sekarang juga aku berteriak, sebelum Kwe-pepek sempat keluar tentu aku sudah dibunuh mereka lebih dulu,” demikian diam-diam Yo Ko membikin perhitungan dalam hati.

Mendadak pikirannya tergerak, tiba-tiba ia ambil suatu keputusan yang luar biasa beraninya, “Ya, biar diam-diam aku masuk ke dalam perahu mereka, jika beruntung tidak ketahuan, tentu aku akan berhasil melarikan diri dari pulau ini,” demikian ia berpikir.

Setelah mengambil keputusan ini, ia pun tidak pusing apakah perbuatannya ini berbahaya atau tidak, segera ia me-rayap mendekati perahu yang berlabuh itu. Setelah dekat, selagi ia hendak merayap ke atas perahu, tiba-tiba terdengar suara “krak” dari dalam perahu, menyusul papan geladak perahu itu terbuka, lalu muncul satu orang melompat ke pesisir.

Tidak kepalang kaget Yo Ko oleh munculnya orang yang sekonyong-konyong ini, lekas ia mendekam ke bawah lagi. Sementara kedua orang yang duluan tadi rupanya sudah mendengar juga, yang seorang memondong Kwe Hu, satunya lagi lantas kembali ke perahu hendak memeriksa apa yang terjadi.

Akan tetapi orang yang muncul belakangan ini telah sembunyi di belakang gundukan pasir tepi laut, ia tidak memapaki dua orang yang duluan, nyata mereka bukan kawan. Waktu itu Yo Ko berada di belakang orang, maka ia dapat menyaksikan semua dengan terang, makin lihat ia semakin heran.

Dia melihat yang memondong Kwe Hu telah kembali ke dalam perahu, sedang kawannya menengok sekelilingnya dan mendekati gundukan pasir tadi. Tetapi orang yang sembunyi itu masih belum bergerak, ia menanti ketika orang sudah dekat, se-konyong-konyong ia melompat keluar, di antara berkelebatnya sinar putih, sekali serang saja ia telah tancapkan belatinya di atas dada orang. Tidak ampun lagi tanpa bersuara sedikit pun, orang yang diserang itu roboh terguling.

Mendengar suara gedebukan akibat jatuhnya tubuh itu, orang yang berada di atas perahu tadi rupanya menjadi curiga.

“Lo-toa, ada apa?” ia coba tanya sang kawan.

Lekas penyerang tadi mencabut belatinya, ia sembunyi lagi di belakang gundukan pasir dan menjawab dengan suara yang ditahan dan di-bikin-bikin:

“Aneh, aneh!”

Mendengar suara yang samar-samar, tetapi sekian lama tidak melihat kawannya kembali, orang di dalam perahu menjadi khawatir, dengan langkah lebar segera ia menuju gundukan pasir tadi.

Melihat orang meninggalkan perahu, Yo Ko pikir jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini, maka dengan cepat ia merayap ke tepi perahu. Ia berniat mengangkat sauh untuk kemudian menjalankan perahunya. Dan pada saat itu juga terdengar olehnya suara jeritan ngeri, nyata belati si pembunuh tadi telah makan korban lagi.

Sementara itu Yo Ko sedang mengangkat rantai jangkar, tetapi sebelum jangkar kena ditarik, rantai besi itu mengeluarkan suara gemerincing lebih dahulu. Karenanya ia tahu gelagat jelek, segera ia hendak melarikan diri, akan tetapi sudah terlambat, ia lihat si pembunuh tadi dengan mulut menggigit belati yang masih meteskan darah telah melompat ke atas perahu.

Di bawah cahaya rembulan Yo Ko dapat melihat pakaian orang yang compang-camping, mukanya penuh noda darah, rupanya beringas menakutkan. Keruan Yo Ko menjadi kelabakan bingung. Dalam keadaan begini otomatis ia berjongkok, mulutnya bersuara “kak-kok” dua kali, kedua telapak tangannya mendadak didorong ke depan.

Tatkala itu kaki orang belum sempat mendarat di atas perahu. Karena serangan Ha-mo-kang ini dilakukan dalam keadaan masih terapung di udara, orang itu mendadak jatuh terjengkang ke belakang lantas terbanting masuk laut, sedikit pun tidak berkutik lagi.

Melihat akibat serangan ini, Yo Ko malah berbalik terkesima, ia terpaku di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“He, Ha-mo-kang ini kau dapat belajar dari mana? Dan mana Auwyang Hong?” tiba-tiba terdengar suara teriakan Oey Yong dari jauh.

Ketika Yo Ko mengangkat kepalanya, terlihat bagaikan terbang cepatnya Kwe Ceng dan Oey Yong menghampiri. Agaknya karena mendengar suara-suara yang mencurigakan dan kehilangan Kwe Hu, maka mereka lekas mencarinya.

Sementara itu saking ketakutannya, semangat Yo Ko belum pulih, lebih-lebih ia tidak mengerti Ha-mo-kang yang biasa dilatihnya untuk main-main belaka ternyata bisa begini lihay, karena itulah ia masih ter-mangu-mangu dan tidak menjawab seruan Oey Yong tadi.

Waktu kemudian Kwe Ceng menarik dan memeriksa orang yang kecemplung ke laut, tiba-tiba ia berseru kaget:

“Yong-ji, ini kawan dari Kay-pang (kaum pengemis).”

Pada dada orang itu terdapat noda darah, napasnya sudah lama putus. Oey Yong menjadi marah bercampur kaget ketika nampak keadaan luka orang itu. Dengan sekali cengkeram dia pegang lengan Yo Ko lantas bertanya dengan suara bengis:

“Hayo, katakan!”

Cengkeraman Oey Yong ini dirasakan sakit sekali pada lengan Yo Ko, tetapi ia mengertak gigi dengan kencang, ia menahan sakit dan tetap tutup mulut tanpa menjawab.


MENINGGALKAN THO-HOA-TO

Ketika Kwe Ceng menoleh, tampak olehnya di belakang gundukan pasir menggeletak dua orang Iagi. Lekas ia melompat ke sana memeriksanya, ia dapatkan pula peta yang digambar kedua orang itu.

“He, Yong-ji, lekas sini!” serunya pada sang isteri.

Segera Oey Yong melepaskan Yo Ko dan mendekati Kwe Ceng, di belakang gundukan pasir mereka berembuk dengan suara perlahan sampai lama. Kejadian ini sudah diketahui Kwa Tin-ok juga, orang ini pun menyusul, maka mereka lantas berunding bertiga. Sesudah bicara agak lama, kemudian Kwe Ceng lebih dahulu melepaskan puterinya dari ringkusan musuh tadi, lalu ia berkata pada Yo Ko:

“Ko-ji, kau kurang cocok tinggal di pulau ini, biar aku antar kau ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-sam, dan di sana kau bisa belajar silat di bawah petunjuk Tiang-jim-cu Khu-cinjin dari Coan-cin-kau.”

Keputusan yang diambil Kwe Ceng secara tiba-tiba ini, seketika membuat Yo Ko menjadi bingung se-akan kehilangan sesuatu, maka ia hanya mengangguk perlahan saja. Besok paginya, sesudah membekal perlengkapan seperlunya kemudian mohon diri pada Oey Yong serta Kwe Hu dan kedua saudara Bu, maka berangkatlah Kwe Ceng bersama Yo Ko. Mereka berlayar menuju pantai timur daerah Ciatkang.

Sesudah mendarat, Kwe Ceng membeli dua ekor kuda kemudian melanjutkan perjalanan ke utara bersama Yo Ko. Selamanya belum pernah Yo Ko menunggang kuda, tetapi karena Iwekang yang dia latih sudah ada dasarnya, maka setelah berlari beberapa hari sudah cukup pandai dan dapat menguasai binatang tunggangannya, Bahkan karena hati-mudanya, setiap hari dia malah melarikan kudanya di depan Kwe Ceng.

Setelah berapa hari, sesudah menyeberangi Hong-ho (Huangho, sungai Kuning), mereka memasuki daerah Siamsay. Tatkala itu negeri Kim (Chin) sudah dibasmi oleh bangsa Mongol (Jengis Khan bersama putera-puteranya), maka di utara Hong-ho boleh dikatakan merupakan dunianya bangsa Mongol.

Di masa mudanya Kwe Ceng sendiri pernah menjabat sebagai panglima pasukan Mongol (dia pernah diangkat menjadi menantu Temujin yang kemudian terkenal sebagai Jengis Khan). Dia kuatir kalau-kalau kesamplok dengan bekas bawahannya dan mungkin akan mendatangkan kesulitan, dia lantas tukarkan kuda mereka dengan keledai yang kurus dan jelek, dia ganti pakaian pula dengan baju yang terbuat dari kain kasar, dia menyamar seperti orang desa atau kaum petani saja.

Berlainan dengan Yo Ko yang berhati muda. Sesungguhnya ia seribu kali tidak sudi memakai baju yang berbau kampungan seperti Kwe Ceng, namun selamanya dia tak berani membantah kata-kata sang paman, maka terpaksa ia mengenakan baju kasar, kepalanya dibelebat pula dengan ikat kain biru dan menunggang keledai yang kurus jelek.

Justru keledai yang ia tunggangi ini buruk pula wataknya, sudah jalannya lambat, berulang kali masih ngambek lagi, maka sepanjang jalan selalu Yo Ko cekcok saja dengan binatang tunggangannya ini.

Hari itu mereka telah sampai di daerah Hoan-joan, tempat ini indah permai pemandangan alamnya. Karena hatinya mendongkol, sejak meninggalkan Tho-hoa-to hingga selama ini Yo Ko tidak pernah menyebut lagi tentang pulau bunga Tho. Tapi melihat keindahan alam semesta yang menarik ini, kini tanpa tertahan ia membuka suara.

“Kwe-pepek, tempat ini hampir mirip dengan Tho-hoa-to kita,” demikian dia bilang kepada Kwe Ceng.

Hati Kwe Ceng memang luhur dan berbudi, mendengar anak ini bilang “Tho-hoa-to kita”, tanpa terasa ia jadi terharu.

“Ko-ji,” sahutnya kemudian, “Cong-lam-san sudah tidak jauh lagi dari sini, ilmu silat Coan-cin-kau adalah ilmu kepandaian yang terkemuka di bumi ini, selanjutnya kau harus belajar baik-baik. Beberapa tahun lagi aku akan datang lagi menjemput kau pulang ke Tho-hoa-to.”

Mendengar kata-kata terakhir ini, cepat Yo Ko melengos. “Tidak, selama hidupku ini tidak akan kembali lagi ke Tho-hoa-to,” katanya kemudian.

Sama sekali diluar dugaan Kwe Ceng bahwa anak semuda Yo Ko ini bisa mengucapkan kata-kata yang begitu ketus dan tegas, maka dia tertegun, seketika tiada kata-kata lain yang bisa dia ucapkan.

“Apa kau marah pada Kwe-pekbo (bibi)?” tanyanya kemudian.

“Mana Tit-ji (keponakan) berani?” sahut Yo Ko. “Malahan Tit-ji selalu membikin Kwe-pekbo marah.” jawaban yang tajam ini bikin Kwe Ceng bungkam, memang dia tidak pandai bicara, maka ia tidak menyambung lagi.

Perjalanan selanjutnya mulai menanjak. Pada waktu lohor mereka sudah sampai di suatu kelenteng di atas bukit. Saat Kwe Ceng mendongak, ia lihat papan nama yang tergantung di atas pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar ‘GU THAU SI’ atau kelenteng kepala kerbau.

Mereka tambat keledai pada pohon di luar kelenteng, mereka masuk untuk minta sedekah sekedar untuk mengisi perut. Di dalam kelenteng ternyata ada tujuh-delapan paderi. Melihat dandanan Kwe Ceng yang sederhana dan kotor, mereka mengunjuk sikap dingin, maka sedekah yang diberikan hanya dua mangkok bubur dingin serta beberapa potong kue.

Namun Kwe Ceng menerima saja sedekah makanan seperti itu. Bersama Yo Ko mereka lantas duduk di atas bangku batu di bawah pohon cemara untuk makan. Pada saat lain, ketika Kwe Ceng berpaling tiba-tiba ia lihat ada pilar batu di belakang pohon yang sebagian besar tertutup oleh rumput alang-alang yang lebat, samar-samar nampak dua huruf ‘TIANG JUN’ pada pilar batu itu.

Kwe Ceng tergerak hatinya oleh tulisan itu. Dia mendekati dan memeriksanya lebih jelas dengan menyingkap rumput alang-alang yang menutupi batu itu, kemudian baru dia ketahui di permukaan batu itu terukir sebuah syair gubahan Tiang-jun-cu Khu Ju-ki, salah satu tokoh terkemuka angkatan kedua dari Coan-cin-kau yang hendak didatanginya.

Syair itu menyesalkan kehancuran negara yang terjatuh ke tangan bangsa lain, Karenanya Kwe Ceng terbayang kembali pada kejadian di gurun Mongol belasan tahun yang lalu. Ia terharu, sambil meraba pilar batu itu ia ter-mangu-mangu saja. Ketika teringat tak lama lagi bisa bertemu dengan Khu Ju-ki maka hatinya rada terhibur dan bergirang.

“Kwe-pepek, apakah maksud syair di atas batu ini?” demikian Yo Ko tanya.

“lni adalah syair buah karya kau punya Khu-cosu (kakek guru), Murid kesayangan Khu-cosu dahulu adalah mendiang ayahmu,” sahut Kwe Ceng sambil menjelaskan sekedarnya arti yang terkandung pada syair itu. “Mengingat ayahmu, tentu Khu-cosu akan melayani kau baik-baik, maka kau harus belajar dengan giat pula agar kelak besar gunanya untuk nusa dan bangsa.”

“Kwe-pepek, maukah kau beri-tahukan satu hal padaku?” tiba-tiba Yo Ko berkata pula.

“Hal apa?” tanya Kwe Ceng.

“Cara bagaimana meningggalnya ayahku?” kata Yo Ko.

Muka Kwe Ceng berubah seketika oleh pertanyaan ini, teringat olehnya peristiwa di kelenteng Thi-cio-bio di Kahin di mana Yo Khong - yaitu ayah Yo Ko - telah tewas, maka tubuhnya gemetar sedikit dan ia tidak menjawab.

“Siapakah sebenarnya yang menewaskan ayah?” tanya Yo Ko lagi.

Tetapi Kwe Ceng tetap tidak menjawab.

“Kau dengan Kwe-pekbo yang menewaskan dia, ya bukan?” seru Yo Ko tiba-tiba dengan bernapsu.

Kwe Ceng menjadi marah, ia mengangkat tangannya lalu menggablok sekerasnya sambil membentak:

“Tutup mulut, siapa yang suruh kau sembarang omong?!”

Tenaga dalam Kwe Ceng sekarang entah sudah betapa lihaynya, maka gablokan dalam keadaan marah itu seketika membikin pilar batu yang kena digebuk itu berantakan, batu kerikil pun berhamburan.

Kelihatan sang paman naik darah, Yo Ko jadi mengkeret. “Ya, Tit-ji mengaku salah, selanjutnya tak berani sembarangan omong lagi, harap paman jangan marah,” lekas ia minta maaf dengan kepala menunduk.

Sesungguhnya Kwe Ceng sangat sayang kepada anak ini. Kini demi mendengar dia mau mengaku salah, segera amarahnya lenyap. Dan selagi dia hendak menghibur Yo Ko agar jangan takut, tiba-tiba terdengar di belakang ada suara tindakan kaki yang perlahan, waktu ia menoleh, dilihatnya ada dua To-su (imam penganut Tao-isme) setengah umur berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan gablokannya di pilar batu tadi, tentu perbuatannya tadi telah dilihat oleh kedua imam ini. Sesudah saling pandang sekejap, cepat kedua To-su itu keluar meninggalkan kelenteng itu.

Tindakan dua imam yang cepat dan gesit itu dapat dilihat Kwe Ceng dengan jelas, terang ilmu silat kedua orang itu tidak lemah. Kwe Ceng pikir letak Tiong-yang-kiong dari gunung Cong-lam-san tidak jauh dari kelenteng di mana dia berada sekarang, maka ia menduga dua imam ini pasti orang dari Tiong-yang-kiong. Kalau melihat umur keduanya sudah kira-kira empat puluhan, maka besar kemungkinan mereka adalah anak murid Coan-cin-chit-cu (tujuh tokoh dari Coan-cin-kau), itu aliran persilatan yang paling terkemuka dan disegani di kalangan Bu-lim.

Memang sudah lama sekali Kwe Ceng tinggal di Tho-hoa-to tanpa saling memberi kabar dengan Ma Giok bertujuh, (Ma Giok adalah orang pertama dari Coan-cin-chit-cu), karena itu anak murid Coan-cin-kau hampir tidak dikenal seluruhnya. Ia hanya tahu bahwa paling belakang ini penganut Coan-cin-kau semakin banyak dan maju dengan pesat.

Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ju-it cu, banyak menerima anak murid yang berbakat maka nama Coan-cin-kau di kalangan Bu-lim makin lama semakin cemerlang, tak ada satu pun orang kalangan Kangouw yang tidak menaruh hormat bila menyebut nama Coan-cin-kau.

Begitulah, karena Kwe Ceng pikir dirinya toh akan naik ke atas gunung untuk menemui Khu Ju-ki, Khu-cin-jin (cinjin adalah sebutan pada imam Taoisme yang berilmu), maka ia merasa kebetulan bisa berjalan bersama dengan kedua imam tadi. Karenanya segera ia percepat langkahnya berlari keluar kelenteng. Ia melihat kedua imam tadi dengan langkah secepat terbang sudah berlari sejauh beberapa puluh tombak, sama sekali mereka tidak menoleh lagi.

“Hai, kedua Toheng (saudara yang berilmu) yang di depan harap berhentilah dahulu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan,” demikian Kwe Ceng teriaki mereka.

Suara Kwe Ceng memang lantang, apa lagi tenaga dalamnya sangat hebat, maka sekali menggembor suaranya se-akan-akan menggetar lembah gunung.

Kedua imam itu rada terkejut mendengar suara ini, tetapi bukannya berhenti, sebaliknya mereka berlari lebih cepat.

“Eh, apa kedua orang ini tuIi?” demikian pikir Kwe Ceng.

Sekali dia tutul kakinya, tiba-tiba melayang ke depan, hanya beberapa kali naik-turun saja ia sudah mendahului di depan kedua imam itu.

“Baik-baik kah kedua To-heng,” Kwe Ceng menyapa sambil bersoja (memberi hormat dengan mengepal kedua tangan) dan membungkuk pula.

Nampak gerak tubuh yang begini cepat, kedua imam itu kaget. Ketika melihat Kwe Ceng membungkuk memberi hormat, mereka mengira orang akan menyerang dengan tenaga dalam, maka dengan cepat pula mereka berkelit ke kanan dan kiri.

“Apa yang kau lakukan?!” demikian mereka membentak berbareng.

“Apa kalian adalah To-heng dari Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san?” tanya Kwe Ceng.

“Kalau ya mau apa?” sahut salah satu imam dengan menarik muka.

“Cayhe (aku yang rendah) adalah kenalan lama Tiang-jun-cinjin Khu-totiang, dan maksud kedatanganku justru ingin ke atas gunung buat menemuinya, maka diharap Toheng suka menunjukkan jalan,” kata Kwe Ceng pula.

“Kalau kau berani pergi sana sendiri! Hayo menyingkir!” sahut imam satunya yang pendek gemuk. Habis ini mendadak sebelah tangannya menyapu dari samping.

Serangan ini luar biasa cepatnya dan terpaksa Kwe Ceng berkelit ke kanan. Di luar dugaan, imam satunya yang kurus segera menyerang pula, berbareng ia memukul dari sebelah kanan. Dengan demikian Kwe Ceng jadi tergencet di tengah.

Kedua serangan yang dilontarkan ini disebut ‘Tay-kwan-bun-sik’ atau gerakan menutup pintu, yaitu tipu serangan yang lihay dari Coan-cin-pay, dengan sendirinya Kwe Ceng bisa mengetahuinya, cuma yang dia tidak mengerti ialah mengapa kedua imam ini mendadak menyerangnya dengan tipu yang mematikan, inilah yang bikin dia bingung.

Sebab itu dia tidak patahkan serangan mereka, juga tidak menghindar, maka terdengarlah suara “plak-plok” yang keras, kedua telapak tangan imam itu kena menghantam di bawah bahunya, tetapi rasanya seperti menghantam karung kosong saja. Dengan menerima gebukan ini, segera Kwe Ceng dapat mengukur tinggi rendahnya ilmu silat lawan. Ia pikir kalau bicara tentang kepandaian, kedua imam ini memang betul adalah anak murid Coan-cin-chit-cu dan masih terhitung seangkatan dengan dirinya.

Tadi dia sudah mengumpulkan tenaga untuk menahan pukulan kedua orang itu. Dia bisa menggunakan tenaga dalamnya dengan tepat sekali, dia bikin diri sendiri sedikit pun tidak terluka juga tidak sakit, sebaliknya dia pentalkan kembali tenaga pukulan lawan sehingga tangan kedua imam itu terasa sakit dan bengkak.

Keruan kedua imam itu terkejut tidak kepalang, sebab dengan keuletan silat mereka yang sudah dilatihnya lebih dua puluh tahun, ternyata pukulan mereka tadi hanya seperti kena tempat kosong saja. Maka mereka tidak berani ayal lagi, sekali teriak mereka langsung menerjang bersama, dua pasang kaki mereka segera menyambar mengarah dada Kwe Ceng.

Pembawaan Kwe Ceng memang sabar dan peramah, tidak gampang dia naik darah atau menjadi marah. Melihat kedua imam ini seruduk sini dan terjang sana tanpa sebab, diam-diam ia menjadi heran, “Coan-cin-chit-cu semuanya adalah imam berilmu, mengapa anak murid mereka bisa bersikap kasar?” demikian ia membatin.

Sementara itu tendangan orang secara berantai dengan lihay sudah dekat tubuhnya, tapi Kwe Ceng masih tetap tidak bergerak seperti tak menggubris, Maka terdengarlah segera “plak-plok, plak-plok” berulang sampai belasan kali, di dadanya bertambah debu kotoran bekas kaki.

Kalau Kwe Ceng tetap anggap sepi saja, sebaliknya kedua imam itu entah berlipat berapa kali ngerinya dari pada tadi demi melihat tendangan mereka tidak membuat orang goyah sedikit pun, bahkan tendangan mereka sama saja seperti mengenai karung pasir.

“Orang ini sebenarnya manusia atau setan? Meski tingkatan guru dan paman-paman guru tidak mempunyai kepandaian setinggi ini?” demikian mereka berpikir dengan jeri.

Waktu mereka mengamati orang, terlihat Kwe Ceng yang bermata besar, alisnya tebal, mukanya kotor penuh debu, pakaiannya terbikin dari kain kasar, serupa saja seperti orang udik, sedikit pun tidak nampak sifat-sifat istimewa, keruan mereka menjadi kesima tanpa bisa bersuara.

Di lain pihak, Yo Ko yang menyaksikan pamannya digebuk dan ditendang kedua imam itu, sedangkan Kwe Ceng sama sekali tidak membalas, diamdiam ia menjadi marah.

“Hai, kalian imam busuk kenapa memukuli pamanku?” segera ia membentak.

“Ko-ji, tutup mulut,” cepat Kwe Ceng mencegah anak ini mencaci maki lebih ianjut, “Lekas kemari dan memberi hormat kepada Totiang ini.”

Mendengar kata-kata Kwe Ceng ini, Yo Ko tercengang dan penasaran. “Kwe-pepek sungguh aneh, masa takut pada mereka?” pikirnya.

Sementara itu kedua imam tadi agaknya belum kapok. Sesudah saling pandang sekejap, mendadak mereka lolos pedang, dengan cepat mereka menyerang, imam yang pendek menusuk ke bagian bawah Kwe Ceng dengan tipu ‘tam-hai-to-liong’ atau menjelajahi laut membunuh naga, sedang imam yang kurus membacok kaki Yo Ko dengan gerakan ‘King-hong-sau-yap’ atau angin lesus menyapu daun.

Sebenarnya Kwe Ceng masih pandang enteng serangan orang ini, tetapi demi melihat Yo Ko yang tidak berdosa ikut diserang juga dengan tipu yang cukup keji, mau tidak mau hatinya jadi dongkol juga, “Anak ini tiada permusuhan dengan kalian, mengapa harus diserang dengan tipu yang ganas ini? Dengan bacokanmu ini apa kakinya takkan menjadi buntung?” demikian ia pikir dengan gemas.

Karena itu segera ia tolong dulu Yo Ko yang terancam. Ia mengegos tubuh sedikit ke samping, berbareng ini dengan gerak tipu ‘sun-cui-tui-du’ atau menurut arus air menyurung perahu, dengan tangan kiri ia tempel batang pedang imam pendek yang menyerangnya, lalu dengan perlahan ia dorong ke kiri. Dengan demikian imam pendek itu tak mampu memegang kencang senjatanya sehingga memutar balik, pedang yang membalik ini saling beradu dengan pedang kawannya sendiri, si-imam kurus, maka terdengarlah suara “trang” yang nyaring. Dengan demikian tanpa ditangkis pun tipu serangan imam kurus itu sudah kena digagalkan temannya sendiri.

Tentu saja kedua imam itu merasakan tangannya kaku kesemutan. Kembali mereka memandang Kwe Ceng dengan mata melotot, dalam hati mereka lagi-lagi tidak kepalang terkejutnya, tetapi juga kagum atas kepandaian orang ini. Meski demikian, mereka masih penasaran, dengan berteriak kembali mereka merangsak maju.

Melihat gerak serangan orang, diam-diam Kwe Ceng berpikir: “Kepandaian kalian ini sungguh pun terhitung Kiam-hoat yang hebat tetapi kalian hanya berdua, lagi pula latihanmu belum matang, apa gunanya kalian pamer di hadapanku?”

Tapi karena kuatir Yo Ko akan keserempet senjata mereka, maka sambil menghindarkan sabetan pedang lawan, segera ia menyambar tubuh Yo Ko.

“Cayhe adalah kenalan lama Khu-cinjIn, hendaklah kalian jangan bergurau lagi,” seru Kwe Ceng.

Akan tetapi kedua imam itu ternyata tidak kenal aturan. “Kau bilang kenal Ma-cinjin juga percuma,” kata imam yang kurus.

“Ya, memang Ma-cinjin pernah juga mengajarkan kepandaian kepada Cayhe,” sahut Kwe Ceng.

Imam yang kate tadi wataknya paling berangasan. Segera ia mendamperat lagi. “Bangsat, jangan kau asal ngoceh, jangan-jangan nanti kau bilang Tiong-yang Cosu kami juga pernah ajarkan kepandaian padamu?” teriaknya murka, Menyusul ini, dengan sekali tusuk, ujung pedangnya mengarah dada Kwe Ceng.

Kwe Ceng yang berpikiran sederhana jadi tidak habis mengerti. Sudah terang kedua imam ini adalah anak murid Coan-cin-kau, tetapi mengapa dia dianggap sebagai musuh besar saja?

Tetapi karena Kwe Ceng memang berbudi luhur, lagi pula ia pikir Yo Ko bakal belajar silat di Tiong-yang-kiong, maka sedapat mungkin jangan sampai menyakiti hati imam-imam ini, oleh karenanya terus menerus dia hanya berkelit saja atas serangan lawan dan tidak pernah balas menyerang.

Oleh karena tipu serangan mereka tetap tidak mampu mengenai sasaran, akhirnya kedua imam tadi menjadi kewalahan sendiri. Mereka menjadi gelisah, mereka insaf ilmu silat Kwe Ceng jauh di atas mereka, kalau hendak melukainya jelas tidak gampang, maka mereka lantas ganti siasat, tiba-tiba mereka ubah Kiam-hoat yang dimainkan tadi, be-runtun beberapa kali sasaran tusukan mereka dialihkan kepada diri Yo Ko.

Melihat kekurang-ajaran orang, sungguh pun Kwe Ceng orang sabar, akhirnya rada naik darah juga. Sementara itu dia melihat imam yang kate sedang menusuk dengan gerakan yang cukup ganas, mendadak Kwe Ceng ulur tangan kanannya, dengan dua jarinya menjepit senjata orang, dia sodok batang hidung lawan dengan sikutnya.

Ketika senjata dijepit jari orang, imam pendek itu menarik sekuatnya, tapi tidak berhasil, sebaliknya tahu-tahu sikut orang menyodok tiba. Ia insaf kalau sampai mukanya dicium sikut orang, kalau tidak mampus sedikitnya akan luka parah juga, oleh karena itu terpaksa ia lepaskan senjatanya dan melompat mundur.

Kepandaian Kwe Ceng pada waktu ini boleh dikatakan sudah taraf yang tiada taranya. Ia bisa berbuat semaunya, setiap kali tangannya bergerak atau kakinya melayang tentu kena sasaran dengan tepat dan hebat, maka ketika dengan perlahan ia menyentil dengan kedua jarinya, dengan mengeluarkan suara “creng” yang nyaring, tiba-tiba pedang yang dia rampas tadi menegak dan mental ke atas.

Sementara itu imam yang kurus sedang mengayunkan pedangnya menusuk ke leher Yo Ko, karena itu ujung pedangnya sudah kena ditumbuk oleh pedang yang disentil oleh Kwe Ceng ini, demikian keras benturan itu hingga si imam kurus merasakan tangannya panas pedas, tubuhnya pun ikut tergetar, maka dia pun terpaksa melepaskan senjatanya terus melompat mundur.

“Maling cabul ini memang sangat lihay, lekas lari!” seru kedua imam itu berbareng.

Baru kini mereka merasa kapok, segera mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu.

Mendengar cacian orang, semula Kwe Ceng tertegun sejenak, namun segera dia menjadi marah. Selama hidupnya memang sering ia dimaki orang seperti ‘tolol’, ‘goblok’, ‘bangsat’, ‘jahanam’, dan macam-macam lagi, tetapi ‘maling cabul’ selamanya belum pernah orang memaki padanya.

Dalam marahnya, ia pun tidak turunkan Yo Ko lagi, sambil menggendong anak ini segera ia mengudak dengan langkah cepat. Sesudah menyusul sampai di belakang kedua imam itu, begitu kakinya menutul, segera tubuhnya melayang lewat di atas kepala kedua To-su atau imam itu dan dalam keadaan masih terapung di udara segera ia membentak:

“He, tadi kalian memaki apa padaku?!”

Kedua imam itu terperanjat luar biasa. Begitu melihat kelihayan orang, walau pun dalam hati imam pendek itu merasa jeri, namun mulutnya ternyata belum mau kalah, dia masih berani balas membentak.

“Bukankah kau ingin memiliki perempuan hina she Liong? Lalu untuk apa kau datang ke Cong-lam-san?” demikian damperatnya.

Meski keras di mulut, tapi kuatir kalau Kwe Ceng menghajarnya, maka tanpa terasa dia malah mundur ke belakang.

Mendengar damperatan orang yang tak keruan juntrungnya ini, seketika Kwe Ceng hanya melongo, “Aku ingin memiliki perempuan hina she Liong? Siapakah perempuan she Liong itu? Kenapa aku ingin memiliki dia?” demikian serentetan pertanyaan timbul dalam hatinya hingga dia bingung sendiri.

Melihat orang termangu-mangu seperti orang linglung, kedua imam itu berpikir kesempatan bagus janganlah disia-siakan. Maka, sesudah saling memberi tanda, segera mereka menyerobot lewat di samping Kwe Ceng dengan langkah cepat terus lari ke atas gunung. Melihat Kwe Ceng masih ter-mangu-mangu, Yo Ko lantas meronta turun dengan perlahan dari gendongannya.

“Kwe-pepek, kedua imam busuk itu sudah lari,” kata Yo Ko.

Karena itu Kwe Ceng mengiakan sekali seperti orang baru sadar dari mimpi. “Tadi mereka bilang aku ingin memiliki perempuan she Liong, siapakah dia itu?” kata Kwe Ceng kemudian dengan masih bingung.

“Tit-ji pun tidak tahu,” sahut Yo Ko. “Tetapi melihat kedua imam itu tanpa membedakan merah atau putih lantas menyerang kita, agaknya mereka salah alamat.”

“Ya, ya, tentu begitu,” ujar Kwe Ceng dengan ketawa geli sendiri, “Kenapa aku tidak pikir sampai disitu, Marilah kita naik ke atas gunung!”

Waktu Yo Ko mengambil kedua pedang yang ditinggalkan kedua imam tadi, Kwe Ceng melihat pada batang pedang masing-masing terukir tiga huruf kecil ‘TIONG JANG KIONG’.

Mereka lantas mendaki ke atas gunung. Setelah lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di puncak ‘Bo-cu-giam’ atau puncak ibu gendong anak. Sesuai dengan namanya, puncak ini menonjol seperti seorang wanita yang sedang membopong seorang anak. Di puncak ini mereka duduk mengaso.

“Apa kau letih, Ko-ji?” tanya Kwe Ceng.

Yo Ko tersenyum. “Tidak,” sahutnya kemudian dengan geleng kepala.

“Baiklah kalau begitu, mari kita naik ke atas lagi,” kata Kwe Ceng.

Maka mereka lantas melanjutkan lagi perjalanan. Tidak berapa lama, tampak di depan terdapat sebuah batu cadas yang sangat besar dengan corak yang seram, batu cadas raksasa ini setengah menggelantung di udara bagai seorang nenek yang sedang membungkuk melongok ke bawah. Saking seramnya hati Yo Ko terasa agak takut.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar