TO-KO JELITA BERHATI KEJI
Tatkala itu hari sudah terang, para petani sudah bekerja di sawah, dengan riang gembira sedang menuai padi sambil berdendang. Kakek itu berlari bagai terbang tanpa hiraukan suasana gembira kaum tani yang bekerja keras, sekejap saja dia sudah tiba di depan Liok-keh-cheng.
Kedua matanya memang buta, akan tetapi daya pendengarannya amat tajam. Jaraknya masih kira2 satu li, namun dari kejauhan dia sudah mendengar suara bentrokan senjata keras, suara orang sedang bertempur dengan sengit.
Ia tidak kenal keluarga Bu atau keluarga Liok dan tiada hubungan, ia pun tahu ilmu silatnya bukan tandingan Jik-lian-sian-cu, maka kedatangan dirinya ini mungkin hanya mengantar jiwa belaka, tapi selama hidupnya selalu membantu kaum lemah demi kebenaran dan keadilan, selamanya ia tidak menghiraukan keselamatan diri sendiri.
Karena langkah kakinya dipercepat sewaktu tiba di depan perkampungan didengarnya di atas genteng ada empat orang sedang bertempur dengan seru. Sebelah kanan satu orang melawan tiga orang, tapi agaknya ketiga orang itu justru terdesak di bawah angin.
Ternyata sesudah Bu Sam-thong membawa pergi Tun-ji dan Siu-bun, Liok Lip-ting suami isteri semakin cemas dan heran, mereka tidak tahu apa maksud orang gila itu, sebaliknya Bu Sam-nio menjadi senang, katanya tertawa:
“Selamanya suamiku bertindak angin2an, kali ini ternyata bisa tahu kasih sayang dan dapat melihat bahaya.”
Liok-toanio mohon keterangan, tetapi Bu Sam-nio hanya tersenyum saja, katanya: “Nanti kau akan tahu sendiri.”
Waktu itu sudah larut malam, Liok Bu-siang sudah tertidur di pangkuan ayahnya, Thia Eng pun sudah mengantuk dan tidak kuasa membuka matanya lagi. Liok-toanio berdiri hendak membawa kedua anak itu masuk kamar, namun segera Bu Sam-nio berseru mencegah:
“Tunggulah sebentar lagi.”
Benar juga. Tak lama kemudian terdengar suara di atas genteng: “Lemparkan ke atas!”
Itulah suara Bu Sam-thong. Pergi datangnya ternyata tidak berbekas, Liok Lip-ting suami istri sebelumnya tidak tahu sama sekali. Segera Bu Sam-nio bopong Thia Eng keluar lantas dilemparkan ke atas. Bu Sam-thong ulurkan tangan meraihnya. Baru saja Liok Lip-ting berdua kaget dan ingin bertanya, Bu Sam-nio sudah melemparkan Liok Bu-siang ke atas pula. Keruan Liok Lip-ting kuatir, serunya:
“Apa yang kau lakukan?”
Segera ia melompat ke atas genteng, namun sekelilingnya sunyi sepi, bayangan Bu Sam-thong dan kedua anak perempuan itu sudah tidak nampak. Baru saja Liok Lip-ting hendak mengejar, dari bawah Bu Sam-nio berteriak:
“Liok-ya tidak perlu mengejar, dia bermaksud baik.”
Liok Lip-ting ragu-ragu, segera ia turun ke pelataran. Tanyanya kuatir: “Maksud baik apa?”
Liok-toanio sudah maklum lebih dulu, katanya: “Bu-samya kuatir iblis perempuan itu turun tangan keji terhadap anak-anak, maka sebelumnya hendak disembunyikan di tempat rahasia!”
Baru sekarang Liok Lip-ting sadar, ber-kali2 ia mengiakan, namun teringat Bu Sam-thong juga mencuri jenazah ayah bundanya, hatinya berkuatir pula. Bu Sam-nio tertawa, ujarnya:
“Biasanya suamiku tidak suka anak perempuan, tapi entah kenapa kali ini dia mau melindungi kedua puterimu, benar-benar di luar dugaanku, Waktu dia membawa pergi anak Ji dan anak Bun tadi, beberapa kali ia melirik kepada putri2mu, sikapnya amat prihatin, betul juga dia kembali membawa mereka. Aih, semoga sejak kini wataknya berubah, tidak linglung lagi.” Dia pun menghela napas, lalu katanya lebih lanjut: “Silahkan kalian pergi istirahat. Iblis itu sangat membanggakan kepandaian sendiri, selama ini tidak mau menyergap musuh di waktu malam, sebelum terang tanah pasti dia tak akan datang.”
Semula Liok Lip-ting suami isteri memang sangat menguatirkan keselamatan puteri serta keponakannya. Kini setelah kekuatiran itu tidak lagi membebani benak mereka, rasa takut pun hilang, timbul keberanian mereka untuk menghadapi musuh. Mereka telah membekal senjata masing2, semua duduk bersimpuh di ruang besar itu, bertiga dengan Bu Sam-nio mulai semadi menghimpun tenaga.
Sang waktu berjalan cepat, tidak lama fajar pun menyingsing. Biasanya waktu seperti itu, suasana diramaikan oleh kokok ayam dan gonggongan anjing, namun sekarang keadaan sepi nyenyak.
Di tengah kesunyian pagi itulah tiba-tiba terdengar suara “blang” yang menggetarkan hati. Entah diterjang apa pintu besar itu tiba2 terbuka dan semplak pecah. Pintu besar itu telah dipantek dengan dua batang besi, menurut kebiasaan A Kin, si jongos, setiap malam pintu itu dipalang pula dengan batang kayu.
Akan tetapi sekarang palang besi dan kayu luar dalam itu sama putus, tahu-tahu seorang To-koh setengah baya mengenakan jubah putih mulus melangkah masuk. Dia bukan lain adalah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu! Saat itu A Kin sedang menyapu di pelataran. Segera ia membentak: “Siapa itu?!”
Cepat Liok Lip-ting berteriak: “A Kin, lekas menyingkir!”
Tetapi terlambat. Sekali kebut di tangan Li Bok-chiu terayun, seperti pula kematian anjing, babi dan yang lain, tanpa bersuara kepala A Kin terpukul remuk dan melayanglah jiwanya tanpa bersuara.
Liok Lip-ting segera menjinjing golok dan menerjang keluar terus membacok. Li Bok-chiu miringkan tubuh berkelit terus melesat lewat di sampingnya, lalu sekali kebutnya bergerak lagi, dua pelayan perempuan seketika tersabet mati, lalu tanyanya dengan tertawa:
“Di mana kedua bocah itu?”
Melihat musuh bertindak begitu ganas, meski sadar bukan tandingan lawan, tetapi dengan sengit Liok Lip-ting berdua tetap merangsak dengan senjata masing2. Li Bok-chiu sudah angkat kebut hendak memukul, tapi tiba-tiba dilihatnya Bu Sam-nio berdiri di samping. Ia tersenyum manis, katanya:
“O, masih ada orang luar di sini, terpaksa aku bunuh kalian di luar rumah saja,” suaranya merdu, gerak geriknya genit.
Tak terlihat bagaimana ia bergerak, tahu2 badannya mengapung ke atas genteng, segera mengejar juga ke atas, Belum lagi mereka berdiri tegak, kebut Li Bok-chiu telah menyapu datang sehingga senjata mereka terpental balik.
Agaknya ia sengaja hendak permainkan ketiga lawannya. Dalam puluhan jurus ia tidak pernah melancarkan serangan mematikan, cuma mendesak ketiga lawannya berputar2 seperti layaknya kucing sedang mempermainkan tikus. Keruan Liok Lip-ting bertiga mandi keringat dan gusar pula dibuatnya.
“Mau bunuh lekas bunuh saja!” damprat Liok Lip-ting.
Tiba-tiba Li Bok-chiu bersiul nyaring panjang. Ia melayang turun ke tanah langsung menubruk ke arah seorang kakek pincang bertongkat besi yang berdiri di pinggir kali. Di mana kebut Li Bo chiu bergerak, tahu2 kebutnya membelit ke leher si kakek pincang dan buta itu. Jurus serangan ini dilancarkan di saat kakinya belum menyentuh tanah, namun kebutnya bagai ular hidup tahu2 sudah menyerang tempat mematikan di badan lawan.
Walau kakek tua itu buta, tapi kupingnya dengan jelas mendengar serangan musuh yang lihay ini. Lekas tongkatnya terangkat dan mendadak menutul ke depan, ia balas menjojoh pergelangan tangan kanan musuh. Tongkat besi merupakan senjata berat, umumnya piranti yang digunakan untuk menyapu, menggebuk, mengemplang atau menggencet. Tetapi kakek tua ini justru menjojoh dengan gaya seperti pedang menusuk, dan tongkat seberat itu ternyata dapat ia mainkan dengan ringan dan lincah seperti pedang.
Lekas Li Bok-chiu sedikit gentakkan kebutnya, ujung kebut memutar balik untuk membelit ujung tongkat terus ditarik dan disendal sambil membentak:
“Lepas tangan!”
Jurus ini merupakan ilmu meminjam tenaga lawan untuk memukul lawan, ujung kebutnya meminjam tenaga jojohan tongkat tadi serta ditarik dan disendal. Maka seketika itu pula si kakek merasakan seluruh lengannya tergetar hebat sehingga hampir saja ia tak kuasa memegang tongkatnya.
Dalam keadaan yang gawat itu, lekas ia melompat miring mengikuti tarikan orang, dengan begitu barulah ia berhasil memunahkan daya tarikan kebutan lawan. Diam2 ia terkejut dan berkata dalam hati: “Gembong iblis ini ternyata tidak bernama kosong.”
Tadi Li Bok-chiu telah menyerukan “lepas tangan”, tetapi ia tidak berhasil merebut tongkat besi lawan, hal ini benar2 di luar dugaannya, pikirnya: “Siapa kakek pincang yang punya kepandaian selihay ini?”
Sekilas dilihatnya biji mata orang memutih, kiranya seorang buta, maka barulah dia sadar dan teringat. Teriaknya:
“Kau ini Tin-ok?”
Kakek pincang buta ini memang orang tertua Kang-lam-chit-koay (tujuh manusia aneh dari Kanglam) Hwi-thian-pian-kok (si kelelawar) Kwa Tin-ok adanya.
Seperti diketahui, sejak Hoa-san-lun-kiam pertandingan ilmu pedang di Hoa-san dulu, Kwe Ceng dan Oey Yong kemudian menikah setelah mendapat restu Oey Yok-su, lalu mereka mengasingkan diri di pulau Tho-hoa-to.
Sifat Oey Yok-su memang lain dari pada yang lain, suka menyepi tidak suka keramaian. Sesudah beberapa bulan berkumpul bersama puteri dan menantunya, lama kelamaan ia menjadi bosan dan tidak kerasan tinggal di rumah, lalu secara diam-diam ia meninggalkan Tho-hoa-to. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat, katanya ia hendak mencari tempat lain yang sepi dan nyaman.
Oey Yong kenal baik watak ayahnya, meski hati merasa berat, namun apa boleh buat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semula dia mengira dalam beberapa bulan Oey Yok-su pasti akan pulang atau paling tidak mengirim kabar, tak tahunya seka!i berpisah tahunan sudah lewat, namun Oey Yong tidak pernah mendapat kabar berita sang ayah.
Karena kangen kepada ayahnya, Oey Yong mengajak suaminya, Kwe Cerig, keluar untuk mencarinya. Selama beberapa bulan mereka berkelana di dunia Kangouw, hingga mereka terpaksa pulang ke Tho-hoa-to, sebab waktu itu Oey Yong ternyata sedang hamil.
Perangai Oey Yong biasanya jahil dan suka aneh2, hampir tak suka ketentraman barang sekejap pun. Karena sedang hamil segala sesuatunya dirasakan serba repot dan kurang leluasa, hatinya menjadi kesal dan risau. Dalam keadaan itu dia menjadi uring-uringan, dia anggap biang keladi yang membikin susah padanya itu ialah Kwe Ceng.
Perempuan yang sedang hamil memang sering bersifat kasar dan suka marah. Meski pun Oey Yong amat mencintai Kwe Ceng, ada kalanya dia sengaja mencari kesalahan orang dan mengajak bertengkar. Dasar Kwe Ceng berwatak polos dan lugu, bila mana sang istri sedang marah tanpa alasan, paling2 ia hanya tertawa-tawa saja tanpa menghiraukannya.
Tanpa terasa sepuluh bulan telah berselang. Akhirnya Oey Yong melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Kwe Hu. Waktu hamil hatinya kurang senang, maka setelah melahirkan dia amat kasih sayang kepada puterinya, selalu dimanjakan. Belum lagi genap satu tahun puterinya ini sudah teramat nakal.
Ada kalanya Kwe Ceng merasa anaknya keterlaluan lalu dia memarahinya, namun Oey Yong segera membela dan melindunginya. Lama kelamaan sang puteri semakin menjadi nakal.
Pada waktu Kwe Hu berusia tiga tahun, Oey Yong mulai mengajarkan ilmu silat padanya, Karena itu celakalah binatang piaraan di Tho-hoa-to, kalau bukan bulunya digunduli, tentu ekornya dicabuti. Tho-hoa-to yang biasanya aman tenteram dan damai itu lama kelamaan menjadi tempat jagal binatang.
Hari berganti bulan dan tanpa terasa beberapa tahun sudah berselang pula. Pada suatu hari mereka kedatangan seorang tamu, dia bukan lain adalah guru Kwe Ceng, Kwa Tin-ok adanya.
Setelah menetap beberapa tahun di kampung halamannya di Kang-lam, di mana dulu ada Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin, Thio Ah-seng, Coan Kim-hoat dan Han Siau-eng, mereka bertujuh biasa malang melintang ke mana saja, akan tetapi sekarang tinggal Kwa Tin-ok seorang, apa lagi usia semakin lanjut, maka lama kelamaan dia merasa kesepian. Hari itu dia teringat akan muridnya suami istri. Segera dia jual segala harta miliknya buat ongkos menuju ke Tho-hoa-to.
Kedatangan sang guru sudah tentu membuat Kwe Ceng dan Oey Yong sangat senang, maka mereka menahan beliau supaya menetap saja di pulau itu, betapa pun mereka tidak mengijinkan Tin-ok meninggalkan mereka lagi. Di sana Kwa Tin-ok menganggur tak punya pekerjaan, maka ia menjadi teman bermain Kwe Hu yang paling setia, satu tua satu anak, ternyata mereka dapat bergaul rukun dan menjadi sahabat kental.
Hari itu Oey Yong merasa kangen kepada sang ayah, maka esok harinya ia meninggalkan pulau bersama Kwe Ceng untuk mencari ayahnya. Sebelum berangkat ia sudah berpesan kepada Kwa Tin-ok untuk tinggal di rumah saja menemani puterinya.
Siapa tahu meski pun usia Kwe Hu masih kecil tetapi dia telah mewarisi watak pemberani dan tidak takut tingginya langit dan tebalnya bumi. Setelah ayah bundanya pergi, segera ia merengek2 kepada Kwa Tin-ok agar mengajaknya keluar untuk mencari kakeknya, Oey Yok-su. Keruan Kwa Tin-ok kaget, ia goyang tangan dan berteriak:
“Tidak boleh jadi! Tidak boleh jadi...!”
Kalau ada ayah bundanya Kwe Hu tak akan berani mengumbar adat. Setelah ayah ibunya pergi, tiada yang perlu dia takuti lagi. Segera ia lari ke pinggir laut lalu terjun ke dalam air, teriaknya:
“Baiklah Kwa-kongkong, biar aku berenang saja ke sana sendiri!”
Kwa Tik-ok tidak bisa berenang. Mendengar deburan ombak yang besar itu, dia menjadi gugup sendiri, kuatir Kwe Hu ketimpa malang, lekas ia berteriak:
“Kembali, lekas kembali! Dari sini ke daratan sana ratusan li jauhnya, mana bisa kau berenang ke sana?”
“Aku tidak peduli. Kalau aku mati tenggelam, kaulah penyebabnya!” seru Kwe Hu.
Saking gugupnya Kwa Tin-ok garuk-garuk kepala tak berdaya, terpaksa teriaknya pula: “Lekas kau naik sini, marilah berunding dulu.”
“Kalau kau berjanji mau bawa aku pergi mencari Gwakong, baru aku mau naik ke atas.”
Kwa Tin-ok kewalahan, terpaksa ia berkata: “Baiklah, kululusi permintaanmu.”
Kwe Hu menirukan cara-cata orang dewasa, serunya: “Seorang Kuncu (laki2 sejati) hanya sepatah kata!”
Tanpa terasa Kwa Tin-ok segera menyambung: “Kuda lari sekali pecut!”
Sebagai seorang kawakan Kangouw yang pernah malang melintang puluhan tahun, sekali Kwa Tin-ok mengeluarkan janjinya, selama hidup tak akan menyesal. Dulu dia pernah bertaruh dengan Khu Ju-ki, hingga selama delapan belas tahun menyekap diri di padang pasir yang berhawa panas dingin itu, tidak lain juga hanya untuk memenuhi janji kedua kalimat yang diucapkannya itu.
Begitulah Kwe Hu lantas naik ke daratan, sebaliknya Kwa Tin-ok berulang kali menghela napas, terpaksa mereka berkemas dan menunggang kedua ekor rajawali terbang ke barat menuju ke daratan besar.
Hari itu mereka tiba di kabupaten Ouwciu. Kwa Tin-ok lalu mengajak Kwe Hu bermalam di rumah seorang petani. Maklum sudah tua, dia gampang capai sehingga tidurnya teramat nyenyak.
Di luar tahunya pagi-pagi benar Kwe Hu telah membawa kedua ekor rajawalinya keluyuran di luar. Memang kebetulan juga, secara tak terduga ia berhasil menolong Bu Siu-bun dari terkaman harimau buas.
Demikianlah, setelah beberapa gebrakan melawan Li Bok-chiu, tahulah Kwa Tin-ok bahwa dirinya bukan tandingan orang, segera dia kembangkan ilmu permainan tongkat, Hok-mo-tiang-hoat, dengan rapat mempertahankan diri.
Diam2 Li Bok-chiu memuji dalam hati: “Tua bangka ini dikenal sebagai pentolan Kang-lam chit-koay, kiranya tidak bernama kosong. Biar pun matanya buta kakinya pincang, sudah tua dan tenaga lemah lagi, namun masih kuat melawan puluhan jurus seranganku.” Didengarnya Liok Lip-ting dan isterinya ber-kaok2 sedang memburu datang bersama Bu Sam-nio, diam2 dia berkeputusan: “Kabarnya tua bangka ini guru Kwe Ceng, Kwe-tayhiap, jangan sampai aku melukainya. Apa bila Kwe Ceng suami isteri sampai mencari perkara padaku, tentu akan serba menyulitkan, biarlah hari ini aku memberi kelonggaran kepadanya.”
Segera kebutnya digerakkan, mendadak tegak kaku seperti ujung sebuah tombak terus didorong menusuk ke dada Kwa Tin-ok. Meski kebut itu terdiri dan benda2 lemas, namun dengan Iwekang-nya yang hebat, daya tusukan ini sungguh luar biasa.
Lekas Kwa Tin-ok ketukkan tongkat besinya ke tanah, tubuhnya lantas tertolak mundur ke belakang beberapa langkah. Li Bok-chiu maju setapak, agaknya seperti hendak mengejar dan menyerang, siapa tahu se-konyong2 badannya mendorong ke belakang, pinggangnya lemas gemulai se-olah2 tidak bertulang, tahu2 pundaknya hanya terpaut satu dua kaki di depan Bu Sam-nio.
Keruan Bu Sam-nio kaget. Lekas lancarkan ilmu It-yang-ci, menotok ke jidat orang. Tetapi sayang ilmunya belum mencapai tingkat tinggi, gerak geriknya kurang cekatan dan cepat, begitu pinggang Li Bok-chiu meliuk, se-olah2 setangkai bunga teratai yang tertiup angin, tahu-tahu ia sudah menggeliat ke samping, bahkan “plak”, tahu2 perut Liok-toanio terkena sekali gablokannya.
Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah termasyhur dan menggetarkan jago-jago persilatan, kontan Liok-toanio roboh terguling. Liok Lip-ting tidak lagi menghiraukan keselamatan jiwanya, goloknya segera ia timpukan ke arah Li Bok-chiu, berbareng pentangkan kedua tangannya menubruk maju hendak memeluk pinggang orang untuk mengadu jiwa.
Sebagai perawan suci bersih karena patah hati, perangai Li Bok-chiu berubah sadis dan tidak kenal kasihan lagi, terutama dia amat membenci hubungan asmara muda mudi. Kini melihat Liok Lip-ting hendak memeluk badannya, terlihat raut mukanya lapat2 rada mirip ayahnya di waktu muda dulu, rasa bencinya lantas makin berkobar. Setelah ia pukul jatuh golok orang dengan kebutnya, sekali ayun pula, “sret”, telak sekali kebutnya memukul batok kepala Liok Lip-ting.
Sungguh kasihan Liok Lip-ting yang membekal ilmu silat warisan keluarga yang tinggi. Selama hidup tidak pernah menanam permusuhan dengan orang lain, tak nyana hari ini dia terjungkal habis-habisan.
Beruntun Li Bok-chiu melukai Liok Lip-ting suami istri, kejadian berlangsung dalam waktu yang amat pendek. Kwa Tin-ok dan Bu Sam-nio berusaha menolong, namun terlambat, keduanya sudah terguling oleh sambaran kebutan Li Bok-chiu, serunya:
“Di mana kedua bocah perempuan itu?”
Tanpa menunggu jawaban bayangan Li Bok-chiu sudah berkelebat, langsung melesat ke dalarn perkampungan dan dalam sekejap saja sudah periksa setiap pelosok rumah, namun tidak kelihatan bayangan Thia Eng dan Liok Bu-siang. Dari tungku di dapur dia mengambil api terus menyulutnya di gudang kayu bakar, tak lama kemudian sudah berlari keluar pula, katanya dengan tersenyum:
“Dengan Tho-hoa-to dan It-teng Taysu aku tidak bermusuhan. Kalian silakan pergi saja!”
Kwa Tin-ok dan Bu Sam-nio terhitung golongan pendekar, kini mereka menyaksikan orang mengganas tanpa dapat berbuat banyak, keruan mereka marah bukan kepalang, sebatang tongkat dan sebilah pedang serempak menubruk maju pula.
Li Bok-chiu bergerak lincah seperti kupu2 menari, ia cepat miringkan badan menghindari sambaran tongkat besi, sementara kebutannya sudah terayun membelit pedang Bu Sam-nio, tenaga dalam tersalur melalui ujung kebutnya, sekali tarik dan dorong, terdengar “pletak!”, pedang itu patah menjadi dua potong, ujung pedang melesat ke arah Bu Sam-nio, sementara gagang pedang menyamber ke muka Kwa Tin-ok.
Bahwa pedangnya terkebut lawan, Bu Sam-nio sudah sangat kaget. Di luar dugaan orang mampu mematahkan pedangnya dengan kebut yang lemas saja untuk menyerang dirinya pula.
Kutungan pedang itu melesat cepat. Lekas ia menundukkan kepala untuk berkelit, kepala terasa dingin dan silir, ujung pedang menyambar lewat setelah memotong sebagian gelungan rambutnya.
Di lain pihak, begitu mendengar sambaran angin keras, ujung tongkat Kwa Tin-ok segera disapukan ke depan untuk menyampuk gagang pedang itu ke samping. Didengarnya Bu Sam-nio menjerit kaget dan ketakutan, maka lekas dia putar tongkatnya hingga menderu kencang dan merangsak maju.
Sebetulnya tangan kirinya sudah menggenggam senjata rahasia, tetapi dia tahu Ping-pok-ciam milik Jik-lian-sian-cu sangat ganas dan keji, lagi pula matanya tidak bisa melihat, jangan2 malah memancing orang mengeluarkan jarumnya yang berbisa itu, sudah tentu dirinya tidak akan mampu melawan. Oleh karena itu meski situasi sangat gawat, dia tidak berani sembarangan menimpukkan senjata rahasianya.
Sejak mula Li Bok-chiu selalu memberi kelonggaran kepadanya, pikirnya: “Jika aku tidak unjuk kelihaianku yang sejati, tua bangka ini tentu tidak tahu kalau aku sengaja mengalah kepadanya.”
Ujung kebutnya segera membelit ujung tongkat orang. Maka Kwa Tin-ok kontan merasa segulung tenaga hebat membetot tongkatnya. Lekas dia kerahkan tenaga menarik balik, tapi siapa tahu baru saja tenaganya tersalur ke ujung tongkat, mendadak kekuatan betotan kebut musuh sirna tanpa bekas dan seketika dia merasakan kaki tangan menjadi lemas se-olah2 kosong melompong tak kuasa mengerahkan tenaga lagi.
Dengan sedikit menggerakkan tangan kirinya Li Bok-chiu menyendal tongkat kakek itu ke samping, telapak tangannya hanya satu dua dim saja di depan dada Kwa Tin-ok, katanya tertawa:
“Kwa-loyacu, Jik-lian-sin-ciang sudah terusap di depan dadamu!”
Dada Kwa Tin-ok terbuka lebar dan tidak mampu menangkis atau membela diri, namun ia lantas memaki dengan gusar:
“Perempuan keparat, tepukkan saja ke dadaku, mengapa kau malah cerewet?”
Melihat gelagat yang jelek ini Bu Sam-nio kaget dan memburu hendak menolong. Tangkas sekali Li Bok-chiu sudah melejit ke udara, saat badannya masih terapung di udara, telapak tangannya sempat mengusap sekali di muka Bu Sam-nio. Katanya tertawa:
“Kau berani mengggebah muridku, nyalimu cukup besar juga!”
Habis berkata dia tertawa cekikikan, sekali lompat badannya melayang jauh dan sekejap saja sudah tidak kelihatan lagi.
Terasa oleh Bu Sam-nio jari orang yang meraba mukanya sedemikian halus dan licin, kulit mukanya terasa dingin nyaman, lalu dilihatnya bayangan orang berkelebat ke dalam hutan dan menghilang, Hanya beberapa jurus saja ia melabraknya, namun gebrakan yang berlangsung tadi boleh dikata berbahaya sekali. Dia telah kerahkan seluruh kekuatannya, akhirnya roboh dan tak mampu bergerak.
Tadi pun Kwa Tin-ok merasa dadanya seperti ditindih batu besar ribuan kati, napas sesak terasa mual. Segera ia menarik napas dalam2 beberapa kali, barulah pernapasannya bisa lancar kembali.
Dengan susah payah Bu Sam-nio merangkak bangun. Didengarnya suara gemuruh dan angin menderu, hawa terasa sangat panas, ternyata Liok-keh-ceng sudah tertelan jago merah yang membara. Dengan Kwa Tin-ok mereka mengangkat tubuh Liok Lip-ting suami isteri, tampak kedua orang itu sudah kempas kempis, terang tinggal menunggu ajal saja, pikirnya:
“Jika memindahkan mereka, tentu ajalnya akan tiba lebih cepat, namun tak mungkin pula kubiarkan mereka di sini, bagaimana baiknya?”
Di saat serba susah itulah tiba2 dari jauh terdengar seseorang berteriak: “Niocu, apa kau selamat?” Itulah suara Bu Sam-thong.
Girang dan dongkol pula Bu Sam-nio. Pikirnya, kau si gila ini entah berbuat apa saja dan sekarang baru datang. Dilihatnya pakaian sang suami sudah robek dan penuh tambalan, sedang berlari cepat mendatangi sambil ber-kaok2. Selamanya Bu Sam-nio belum pernah menghadapi sikap suaminya yang begitu mesra, hatinya menjadi senang, sahutnya lantang:
“Aku di sini!”
Cepat sekali Bu Sam-thong meluncur tiba, dia meraih badan Liok Lip-ting berdua terus dibawa pergi sambil berteriak:
“Lekas ikut aku!”
Kwa Tin-ok belum saling memperkenalkan diri, namun ia yakin orang adalah sekaum dari golongan pendekar, maka segera dia mengikuti jejak orang, sekaligus mereka lari sejauh beberapa li. Bu Sam-thong menjinjing dua orang dan Kwa Tin-ok berjalan pincang dengan menggunakan tongkat, namun malah Bu Sam-nio yang ketinggalan paling jauh.
Bu Sam-thong menyusup ke timur dan berputar ke barat, akhirnya dia bawa kedua orang itu memasuki sebuah gua di sebuah lekukan gunung. Begitu masuk ke dalam gua, Bu Sam-nio melihat Tun-ji dan Siu-bun, kedua puteranya selamat tak kurang apa pun, dia merasa lega, Dilihatnya kedua puteranya sedang bermain batu di tanah bersama Liok Bu-siang dan Thia Eng.
Di ujung sana berdiri seorang gadis cilik lain yang berpakaian mewah, Usianya lebih kecil dari Liok dan Thia, namun sikap serta tindak tanduknya kelihatan sombong, dia tidak sudi bermain dengan mereka berempat, Dia bukan lain adalah puteri kesayangan Kwe Ceng dan Oey Yong, Kwe Hu adanya.
Melihat Kwa Tin-ok ikut datang, segera Kwe Hu berteriak: “Kwa-kongkong, kedua burung entah pergi kemana, tidak kelihatan bayangannya, sudah kupanggil berulang kali juga tidak mau kembali!”
Sementara itu Thia Eng dan Liok Bu-siang langsung memeluk badan Liok-toanio dan Liok Lip-ting serta menangis sambil menjerit2. Mendengar jerit tangis dua anak perempuan ini, seketika Kwa Tin-ok teringat akan kata2 Li Bok-chiu, serunya kuatir:
“Wah, sungguh celaka! Kita memancing setan masuk pintu, sebentar lagi iblis laknat itu pasti menyusul kemari!”
“Bagaimana bisa?” tanya Bu Sam-nio bingung.
“Gembong iblis itu hendak mencabut nyawa kedua bocah dari keluarga Liok ini, tetapi dia tidak tahu di mana mereka berada.”
Seketika Bu Sam-nio tersadar, ujarnya: “Ya, benar, dia sengaja tidak melukai kami, tetapi mengintil di belakang kita secara diam2.”
Bu Sam-thong menjadi marah, teriaknya: “Setan keparat itu berani mengganas, biar aku yang menempurnya.”
Batok kepala Liok Lip-ting sudah remuk, namun ada satu hal yang belum dia selesaikan maka dia bertahan sampai sekarang, dengan suara lemah katanya kepada Thia Eng:
“Ah-Eng, ambillah sapu... sapu.... sapu tangan di dalam bajuku.”
Thia Eng menyeka air matanya, lalu merogoh keluar sehelai sapu tangan sutera dari baju sang paman. Sapu tangan ini terbuat dari sutera putih, pada tiap ujungnya tersulam bunga merah. Bentuk dan warna bunga itu sangat aneh lain dari bunga biasanya, kelihatan indah menyolok tetapi menyeramkan pula, selintas pandang membuat berdiri bulu kuduk orang.
Kata Liok Lip-ting: “Ah-Eng, ikatlah sapu tangan ini di lehermu,?”
Thia Eng tidak tahu maksudnya, tetapi pamannya berpesan wanti2, maka ia mengangguk serta mengiakan. Saking kesakitan Liok-toanio sudah jatuh pingsan berulang kali, namun begitu mendengar suara suaminya, segera dia membuka mata, katanya:
“Kenapa tidak kau berikan kepada anak Siang? Berikan kepada Siang-ji!”
“Tidak!” sahut Liok Lip-ting tegas, “Mana boleh aku mengingkari pesan ayah bundanya?”
“Kau... kau sungguh kejam, puterimu sendiri tak kau hiraukan lagi keselamatannya?” mata Liok-toanio memutih, suaranyapun serak dan jatuh semaput lagi.
Liok Bu-siang tidak tahu soal apa yang dipertengkarkan ayah bundanya, sambil menangis ia berteriak:
“lbu...! Ayah...!”
“Niocu!” ujar Liok Lip-ting dengan suara lembut: “Kau amat sayang kepada Siang-ji, maka biarlah dia ikut berangkat bersama kita.”
Sebetulnya sapu tangan sutera putih bersulam bunga merah itu adalah pemberian Li Bok-chiu kepada Liok Tian-goan pada masa mudanya sebagai tanda mengikat janji. Menjelang ajal, Liok Tian-goan tahu dosa-dosa mereka suami isteri bertumpuk dan banyak musuh, anak cucunya kelak pasti akan terlibat banyak urusan, maka dia lalu wariskan sapu tangan itu kepada puteranya.
Dengan wanti-wanti dia berpesan, bila Bu Sam-thong meluruk datang menuntut balas, kalau bisa menghindari adalah baik, kalau tidak bolehlah dilawan sekuat tenaga dan rasanya jiwa tidak akan melayang Cuma-cuma. Tapi kalau Li Bok-chiu yang datang, orang ini amat keji dan ganas, ilmu silatnya juga tinggi, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah mengalungkan sapu tangan sutera putih itu di leher. Kalau ingat akan asmara pada masa mudanya, mungkin si iblis itu tidak tega turun tangan.
Kedua matanya memang buta, akan tetapi daya pendengarannya amat tajam. Jaraknya masih kira2 satu li, namun dari kejauhan dia sudah mendengar suara bentrokan senjata keras, suara orang sedang bertempur dengan sengit.
Ia tidak kenal keluarga Bu atau keluarga Liok dan tiada hubungan, ia pun tahu ilmu silatnya bukan tandingan Jik-lian-sian-cu, maka kedatangan dirinya ini mungkin hanya mengantar jiwa belaka, tapi selama hidupnya selalu membantu kaum lemah demi kebenaran dan keadilan, selamanya ia tidak menghiraukan keselamatan diri sendiri.
Karena langkah kakinya dipercepat sewaktu tiba di depan perkampungan didengarnya di atas genteng ada empat orang sedang bertempur dengan seru. Sebelah kanan satu orang melawan tiga orang, tapi agaknya ketiga orang itu justru terdesak di bawah angin.
Ternyata sesudah Bu Sam-thong membawa pergi Tun-ji dan Siu-bun, Liok Lip-ting suami isteri semakin cemas dan heran, mereka tidak tahu apa maksud orang gila itu, sebaliknya Bu Sam-nio menjadi senang, katanya tertawa:
“Selamanya suamiku bertindak angin2an, kali ini ternyata bisa tahu kasih sayang dan dapat melihat bahaya.”
Liok-toanio mohon keterangan, tetapi Bu Sam-nio hanya tersenyum saja, katanya: “Nanti kau akan tahu sendiri.”
Waktu itu sudah larut malam, Liok Bu-siang sudah tertidur di pangkuan ayahnya, Thia Eng pun sudah mengantuk dan tidak kuasa membuka matanya lagi. Liok-toanio berdiri hendak membawa kedua anak itu masuk kamar, namun segera Bu Sam-nio berseru mencegah:
“Tunggulah sebentar lagi.”
Benar juga. Tak lama kemudian terdengar suara di atas genteng: “Lemparkan ke atas!”
Itulah suara Bu Sam-thong. Pergi datangnya ternyata tidak berbekas, Liok Lip-ting suami istri sebelumnya tidak tahu sama sekali. Segera Bu Sam-nio bopong Thia Eng keluar lantas dilemparkan ke atas. Bu Sam-thong ulurkan tangan meraihnya. Baru saja Liok Lip-ting berdua kaget dan ingin bertanya, Bu Sam-nio sudah melemparkan Liok Bu-siang ke atas pula. Keruan Liok Lip-ting kuatir, serunya:
“Apa yang kau lakukan?”
Segera ia melompat ke atas genteng, namun sekelilingnya sunyi sepi, bayangan Bu Sam-thong dan kedua anak perempuan itu sudah tidak nampak. Baru saja Liok Lip-ting hendak mengejar, dari bawah Bu Sam-nio berteriak:
“Liok-ya tidak perlu mengejar, dia bermaksud baik.”
Liok Lip-ting ragu-ragu, segera ia turun ke pelataran. Tanyanya kuatir: “Maksud baik apa?”
Liok-toanio sudah maklum lebih dulu, katanya: “Bu-samya kuatir iblis perempuan itu turun tangan keji terhadap anak-anak, maka sebelumnya hendak disembunyikan di tempat rahasia!”
Baru sekarang Liok Lip-ting sadar, ber-kali2 ia mengiakan, namun teringat Bu Sam-thong juga mencuri jenazah ayah bundanya, hatinya berkuatir pula. Bu Sam-nio tertawa, ujarnya:
“Biasanya suamiku tidak suka anak perempuan, tapi entah kenapa kali ini dia mau melindungi kedua puterimu, benar-benar di luar dugaanku, Waktu dia membawa pergi anak Ji dan anak Bun tadi, beberapa kali ia melirik kepada putri2mu, sikapnya amat prihatin, betul juga dia kembali membawa mereka. Aih, semoga sejak kini wataknya berubah, tidak linglung lagi.” Dia pun menghela napas, lalu katanya lebih lanjut: “Silahkan kalian pergi istirahat. Iblis itu sangat membanggakan kepandaian sendiri, selama ini tidak mau menyergap musuh di waktu malam, sebelum terang tanah pasti dia tak akan datang.”
Semula Liok Lip-ting suami isteri memang sangat menguatirkan keselamatan puteri serta keponakannya. Kini setelah kekuatiran itu tidak lagi membebani benak mereka, rasa takut pun hilang, timbul keberanian mereka untuk menghadapi musuh. Mereka telah membekal senjata masing2, semua duduk bersimpuh di ruang besar itu, bertiga dengan Bu Sam-nio mulai semadi menghimpun tenaga.
Sang waktu berjalan cepat, tidak lama fajar pun menyingsing. Biasanya waktu seperti itu, suasana diramaikan oleh kokok ayam dan gonggongan anjing, namun sekarang keadaan sepi nyenyak.
Di tengah kesunyian pagi itulah tiba-tiba terdengar suara “blang” yang menggetarkan hati. Entah diterjang apa pintu besar itu tiba2 terbuka dan semplak pecah. Pintu besar itu telah dipantek dengan dua batang besi, menurut kebiasaan A Kin, si jongos, setiap malam pintu itu dipalang pula dengan batang kayu.
Akan tetapi sekarang palang besi dan kayu luar dalam itu sama putus, tahu-tahu seorang To-koh setengah baya mengenakan jubah putih mulus melangkah masuk. Dia bukan lain adalah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu! Saat itu A Kin sedang menyapu di pelataran. Segera ia membentak: “Siapa itu?!”
Cepat Liok Lip-ting berteriak: “A Kin, lekas menyingkir!”
Tetapi terlambat. Sekali kebut di tangan Li Bok-chiu terayun, seperti pula kematian anjing, babi dan yang lain, tanpa bersuara kepala A Kin terpukul remuk dan melayanglah jiwanya tanpa bersuara.
Liok Lip-ting segera menjinjing golok dan menerjang keluar terus membacok. Li Bok-chiu miringkan tubuh berkelit terus melesat lewat di sampingnya, lalu sekali kebutnya bergerak lagi, dua pelayan perempuan seketika tersabet mati, lalu tanyanya dengan tertawa:
“Di mana kedua bocah itu?”
Melihat musuh bertindak begitu ganas, meski sadar bukan tandingan lawan, tetapi dengan sengit Liok Lip-ting berdua tetap merangsak dengan senjata masing2. Li Bok-chiu sudah angkat kebut hendak memukul, tapi tiba-tiba dilihatnya Bu Sam-nio berdiri di samping. Ia tersenyum manis, katanya:
“O, masih ada orang luar di sini, terpaksa aku bunuh kalian di luar rumah saja,” suaranya merdu, gerak geriknya genit.
Tak terlihat bagaimana ia bergerak, tahu2 badannya mengapung ke atas genteng, segera mengejar juga ke atas, Belum lagi mereka berdiri tegak, kebut Li Bok-chiu telah menyapu datang sehingga senjata mereka terpental balik.
Agaknya ia sengaja hendak permainkan ketiga lawannya. Dalam puluhan jurus ia tidak pernah melancarkan serangan mematikan, cuma mendesak ketiga lawannya berputar2 seperti layaknya kucing sedang mempermainkan tikus. Keruan Liok Lip-ting bertiga mandi keringat dan gusar pula dibuatnya.
“Mau bunuh lekas bunuh saja!” damprat Liok Lip-ting.
Tiba-tiba Li Bok-chiu bersiul nyaring panjang. Ia melayang turun ke tanah langsung menubruk ke arah seorang kakek pincang bertongkat besi yang berdiri di pinggir kali. Di mana kebut Li Bo chiu bergerak, tahu2 kebutnya membelit ke leher si kakek pincang dan buta itu. Jurus serangan ini dilancarkan di saat kakinya belum menyentuh tanah, namun kebutnya bagai ular hidup tahu2 sudah menyerang tempat mematikan di badan lawan.
Walau kakek tua itu buta, tapi kupingnya dengan jelas mendengar serangan musuh yang lihay ini. Lekas tongkatnya terangkat dan mendadak menutul ke depan, ia balas menjojoh pergelangan tangan kanan musuh. Tongkat besi merupakan senjata berat, umumnya piranti yang digunakan untuk menyapu, menggebuk, mengemplang atau menggencet. Tetapi kakek tua ini justru menjojoh dengan gaya seperti pedang menusuk, dan tongkat seberat itu ternyata dapat ia mainkan dengan ringan dan lincah seperti pedang.
Lekas Li Bok-chiu sedikit gentakkan kebutnya, ujung kebut memutar balik untuk membelit ujung tongkat terus ditarik dan disendal sambil membentak:
“Lepas tangan!”
Jurus ini merupakan ilmu meminjam tenaga lawan untuk memukul lawan, ujung kebutnya meminjam tenaga jojohan tongkat tadi serta ditarik dan disendal. Maka seketika itu pula si kakek merasakan seluruh lengannya tergetar hebat sehingga hampir saja ia tak kuasa memegang tongkatnya.
Dalam keadaan yang gawat itu, lekas ia melompat miring mengikuti tarikan orang, dengan begitu barulah ia berhasil memunahkan daya tarikan kebutan lawan. Diam2 ia terkejut dan berkata dalam hati: “Gembong iblis ini ternyata tidak bernama kosong.”
Tadi Li Bok-chiu telah menyerukan “lepas tangan”, tetapi ia tidak berhasil merebut tongkat besi lawan, hal ini benar2 di luar dugaannya, pikirnya: “Siapa kakek pincang yang punya kepandaian selihay ini?”
Sekilas dilihatnya biji mata orang memutih, kiranya seorang buta, maka barulah dia sadar dan teringat. Teriaknya:
“Kau ini Tin-ok?”
Kakek pincang buta ini memang orang tertua Kang-lam-chit-koay (tujuh manusia aneh dari Kanglam) Hwi-thian-pian-kok (si kelelawar) Kwa Tin-ok adanya.
Seperti diketahui, sejak Hoa-san-lun-kiam pertandingan ilmu pedang di Hoa-san dulu, Kwe Ceng dan Oey Yong kemudian menikah setelah mendapat restu Oey Yok-su, lalu mereka mengasingkan diri di pulau Tho-hoa-to.
Sifat Oey Yok-su memang lain dari pada yang lain, suka menyepi tidak suka keramaian. Sesudah beberapa bulan berkumpul bersama puteri dan menantunya, lama kelamaan ia menjadi bosan dan tidak kerasan tinggal di rumah, lalu secara diam-diam ia meninggalkan Tho-hoa-to. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat, katanya ia hendak mencari tempat lain yang sepi dan nyaman.
Oey Yong kenal baik watak ayahnya, meski hati merasa berat, namun apa boleh buat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semula dia mengira dalam beberapa bulan Oey Yok-su pasti akan pulang atau paling tidak mengirim kabar, tak tahunya seka!i berpisah tahunan sudah lewat, namun Oey Yong tidak pernah mendapat kabar berita sang ayah.
Karena kangen kepada ayahnya, Oey Yong mengajak suaminya, Kwe Cerig, keluar untuk mencarinya. Selama beberapa bulan mereka berkelana di dunia Kangouw, hingga mereka terpaksa pulang ke Tho-hoa-to, sebab waktu itu Oey Yong ternyata sedang hamil.
Perangai Oey Yong biasanya jahil dan suka aneh2, hampir tak suka ketentraman barang sekejap pun. Karena sedang hamil segala sesuatunya dirasakan serba repot dan kurang leluasa, hatinya menjadi kesal dan risau. Dalam keadaan itu dia menjadi uring-uringan, dia anggap biang keladi yang membikin susah padanya itu ialah Kwe Ceng.
Perempuan yang sedang hamil memang sering bersifat kasar dan suka marah. Meski pun Oey Yong amat mencintai Kwe Ceng, ada kalanya dia sengaja mencari kesalahan orang dan mengajak bertengkar. Dasar Kwe Ceng berwatak polos dan lugu, bila mana sang istri sedang marah tanpa alasan, paling2 ia hanya tertawa-tawa saja tanpa menghiraukannya.
Tanpa terasa sepuluh bulan telah berselang. Akhirnya Oey Yong melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Kwe Hu. Waktu hamil hatinya kurang senang, maka setelah melahirkan dia amat kasih sayang kepada puterinya, selalu dimanjakan. Belum lagi genap satu tahun puterinya ini sudah teramat nakal.
Ada kalanya Kwe Ceng merasa anaknya keterlaluan lalu dia memarahinya, namun Oey Yong segera membela dan melindunginya. Lama kelamaan sang puteri semakin menjadi nakal.
Pada waktu Kwe Hu berusia tiga tahun, Oey Yong mulai mengajarkan ilmu silat padanya, Karena itu celakalah binatang piaraan di Tho-hoa-to, kalau bukan bulunya digunduli, tentu ekornya dicabuti. Tho-hoa-to yang biasanya aman tenteram dan damai itu lama kelamaan menjadi tempat jagal binatang.
Hari berganti bulan dan tanpa terasa beberapa tahun sudah berselang pula. Pada suatu hari mereka kedatangan seorang tamu, dia bukan lain adalah guru Kwe Ceng, Kwa Tin-ok adanya.
Setelah menetap beberapa tahun di kampung halamannya di Kang-lam, di mana dulu ada Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin, Thio Ah-seng, Coan Kim-hoat dan Han Siau-eng, mereka bertujuh biasa malang melintang ke mana saja, akan tetapi sekarang tinggal Kwa Tin-ok seorang, apa lagi usia semakin lanjut, maka lama kelamaan dia merasa kesepian. Hari itu dia teringat akan muridnya suami istri. Segera dia jual segala harta miliknya buat ongkos menuju ke Tho-hoa-to.
Kedatangan sang guru sudah tentu membuat Kwe Ceng dan Oey Yong sangat senang, maka mereka menahan beliau supaya menetap saja di pulau itu, betapa pun mereka tidak mengijinkan Tin-ok meninggalkan mereka lagi. Di sana Kwa Tin-ok menganggur tak punya pekerjaan, maka ia menjadi teman bermain Kwe Hu yang paling setia, satu tua satu anak, ternyata mereka dapat bergaul rukun dan menjadi sahabat kental.
Hari itu Oey Yong merasa kangen kepada sang ayah, maka esok harinya ia meninggalkan pulau bersama Kwe Ceng untuk mencari ayahnya. Sebelum berangkat ia sudah berpesan kepada Kwa Tin-ok untuk tinggal di rumah saja menemani puterinya.
Siapa tahu meski pun usia Kwe Hu masih kecil tetapi dia telah mewarisi watak pemberani dan tidak takut tingginya langit dan tebalnya bumi. Setelah ayah bundanya pergi, segera ia merengek2 kepada Kwa Tin-ok agar mengajaknya keluar untuk mencari kakeknya, Oey Yok-su. Keruan Kwa Tin-ok kaget, ia goyang tangan dan berteriak:
“Tidak boleh jadi! Tidak boleh jadi...!”
Kalau ada ayah bundanya Kwe Hu tak akan berani mengumbar adat. Setelah ayah ibunya pergi, tiada yang perlu dia takuti lagi. Segera ia lari ke pinggir laut lalu terjun ke dalam air, teriaknya:
“Baiklah Kwa-kongkong, biar aku berenang saja ke sana sendiri!”
Kwa Tik-ok tidak bisa berenang. Mendengar deburan ombak yang besar itu, dia menjadi gugup sendiri, kuatir Kwe Hu ketimpa malang, lekas ia berteriak:
“Kembali, lekas kembali! Dari sini ke daratan sana ratusan li jauhnya, mana bisa kau berenang ke sana?”
“Aku tidak peduli. Kalau aku mati tenggelam, kaulah penyebabnya!” seru Kwe Hu.
Saking gugupnya Kwa Tin-ok garuk-garuk kepala tak berdaya, terpaksa teriaknya pula: “Lekas kau naik sini, marilah berunding dulu.”
“Kalau kau berjanji mau bawa aku pergi mencari Gwakong, baru aku mau naik ke atas.”
Kwa Tin-ok kewalahan, terpaksa ia berkata: “Baiklah, kululusi permintaanmu.”
Kwe Hu menirukan cara-cata orang dewasa, serunya: “Seorang Kuncu (laki2 sejati) hanya sepatah kata!”
Tanpa terasa Kwa Tin-ok segera menyambung: “Kuda lari sekali pecut!”
Sebagai seorang kawakan Kangouw yang pernah malang melintang puluhan tahun, sekali Kwa Tin-ok mengeluarkan janjinya, selama hidup tak akan menyesal. Dulu dia pernah bertaruh dengan Khu Ju-ki, hingga selama delapan belas tahun menyekap diri di padang pasir yang berhawa panas dingin itu, tidak lain juga hanya untuk memenuhi janji kedua kalimat yang diucapkannya itu.
Begitulah Kwe Hu lantas naik ke daratan, sebaliknya Kwa Tin-ok berulang kali menghela napas, terpaksa mereka berkemas dan menunggang kedua ekor rajawali terbang ke barat menuju ke daratan besar.
Hari itu mereka tiba di kabupaten Ouwciu. Kwa Tin-ok lalu mengajak Kwe Hu bermalam di rumah seorang petani. Maklum sudah tua, dia gampang capai sehingga tidurnya teramat nyenyak.
Di luar tahunya pagi-pagi benar Kwe Hu telah membawa kedua ekor rajawalinya keluyuran di luar. Memang kebetulan juga, secara tak terduga ia berhasil menolong Bu Siu-bun dari terkaman harimau buas.
Demikianlah, setelah beberapa gebrakan melawan Li Bok-chiu, tahulah Kwa Tin-ok bahwa dirinya bukan tandingan orang, segera dia kembangkan ilmu permainan tongkat, Hok-mo-tiang-hoat, dengan rapat mempertahankan diri.
Diam2 Li Bok-chiu memuji dalam hati: “Tua bangka ini dikenal sebagai pentolan Kang-lam chit-koay, kiranya tidak bernama kosong. Biar pun matanya buta kakinya pincang, sudah tua dan tenaga lemah lagi, namun masih kuat melawan puluhan jurus seranganku.” Didengarnya Liok Lip-ting dan isterinya ber-kaok2 sedang memburu datang bersama Bu Sam-nio, diam2 dia berkeputusan: “Kabarnya tua bangka ini guru Kwe Ceng, Kwe-tayhiap, jangan sampai aku melukainya. Apa bila Kwe Ceng suami isteri sampai mencari perkara padaku, tentu akan serba menyulitkan, biarlah hari ini aku memberi kelonggaran kepadanya.”
Segera kebutnya digerakkan, mendadak tegak kaku seperti ujung sebuah tombak terus didorong menusuk ke dada Kwa Tin-ok. Meski kebut itu terdiri dan benda2 lemas, namun dengan Iwekang-nya yang hebat, daya tusukan ini sungguh luar biasa.
Lekas Kwa Tin-ok ketukkan tongkat besinya ke tanah, tubuhnya lantas tertolak mundur ke belakang beberapa langkah. Li Bok-chiu maju setapak, agaknya seperti hendak mengejar dan menyerang, siapa tahu se-konyong2 badannya mendorong ke belakang, pinggangnya lemas gemulai se-olah2 tidak bertulang, tahu2 pundaknya hanya terpaut satu dua kaki di depan Bu Sam-nio.
Keruan Bu Sam-nio kaget. Lekas lancarkan ilmu It-yang-ci, menotok ke jidat orang. Tetapi sayang ilmunya belum mencapai tingkat tinggi, gerak geriknya kurang cekatan dan cepat, begitu pinggang Li Bok-chiu meliuk, se-olah2 setangkai bunga teratai yang tertiup angin, tahu-tahu ia sudah menggeliat ke samping, bahkan “plak”, tahu2 perut Liok-toanio terkena sekali gablokannya.
Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah termasyhur dan menggetarkan jago-jago persilatan, kontan Liok-toanio roboh terguling. Liok Lip-ting tidak lagi menghiraukan keselamatan jiwanya, goloknya segera ia timpukan ke arah Li Bok-chiu, berbareng pentangkan kedua tangannya menubruk maju hendak memeluk pinggang orang untuk mengadu jiwa.
Sebagai perawan suci bersih karena patah hati, perangai Li Bok-chiu berubah sadis dan tidak kenal kasihan lagi, terutama dia amat membenci hubungan asmara muda mudi. Kini melihat Liok Lip-ting hendak memeluk badannya, terlihat raut mukanya lapat2 rada mirip ayahnya di waktu muda dulu, rasa bencinya lantas makin berkobar. Setelah ia pukul jatuh golok orang dengan kebutnya, sekali ayun pula, “sret”, telak sekali kebutnya memukul batok kepala Liok Lip-ting.
Sungguh kasihan Liok Lip-ting yang membekal ilmu silat warisan keluarga yang tinggi. Selama hidup tidak pernah menanam permusuhan dengan orang lain, tak nyana hari ini dia terjungkal habis-habisan.
Beruntun Li Bok-chiu melukai Liok Lip-ting suami istri, kejadian berlangsung dalam waktu yang amat pendek. Kwa Tin-ok dan Bu Sam-nio berusaha menolong, namun terlambat, keduanya sudah terguling oleh sambaran kebutan Li Bok-chiu, serunya:
“Di mana kedua bocah perempuan itu?”
Tanpa menunggu jawaban bayangan Li Bok-chiu sudah berkelebat, langsung melesat ke dalarn perkampungan dan dalam sekejap saja sudah periksa setiap pelosok rumah, namun tidak kelihatan bayangan Thia Eng dan Liok Bu-siang. Dari tungku di dapur dia mengambil api terus menyulutnya di gudang kayu bakar, tak lama kemudian sudah berlari keluar pula, katanya dengan tersenyum:
“Dengan Tho-hoa-to dan It-teng Taysu aku tidak bermusuhan. Kalian silakan pergi saja!”
Kwa Tin-ok dan Bu Sam-nio terhitung golongan pendekar, kini mereka menyaksikan orang mengganas tanpa dapat berbuat banyak, keruan mereka marah bukan kepalang, sebatang tongkat dan sebilah pedang serempak menubruk maju pula.
Li Bok-chiu bergerak lincah seperti kupu2 menari, ia cepat miringkan badan menghindari sambaran tongkat besi, sementara kebutannya sudah terayun membelit pedang Bu Sam-nio, tenaga dalam tersalur melalui ujung kebutnya, sekali tarik dan dorong, terdengar “pletak!”, pedang itu patah menjadi dua potong, ujung pedang melesat ke arah Bu Sam-nio, sementara gagang pedang menyamber ke muka Kwa Tin-ok.
Bahwa pedangnya terkebut lawan, Bu Sam-nio sudah sangat kaget. Di luar dugaan orang mampu mematahkan pedangnya dengan kebut yang lemas saja untuk menyerang dirinya pula.
Kutungan pedang itu melesat cepat. Lekas ia menundukkan kepala untuk berkelit, kepala terasa dingin dan silir, ujung pedang menyambar lewat setelah memotong sebagian gelungan rambutnya.
Di lain pihak, begitu mendengar sambaran angin keras, ujung tongkat Kwa Tin-ok segera disapukan ke depan untuk menyampuk gagang pedang itu ke samping. Didengarnya Bu Sam-nio menjerit kaget dan ketakutan, maka lekas dia putar tongkatnya hingga menderu kencang dan merangsak maju.
Sebetulnya tangan kirinya sudah menggenggam senjata rahasia, tetapi dia tahu Ping-pok-ciam milik Jik-lian-sian-cu sangat ganas dan keji, lagi pula matanya tidak bisa melihat, jangan2 malah memancing orang mengeluarkan jarumnya yang berbisa itu, sudah tentu dirinya tidak akan mampu melawan. Oleh karena itu meski situasi sangat gawat, dia tidak berani sembarangan menimpukkan senjata rahasianya.
Sejak mula Li Bok-chiu selalu memberi kelonggaran kepadanya, pikirnya: “Jika aku tidak unjuk kelihaianku yang sejati, tua bangka ini tentu tidak tahu kalau aku sengaja mengalah kepadanya.”
Ujung kebutnya segera membelit ujung tongkat orang. Maka Kwa Tin-ok kontan merasa segulung tenaga hebat membetot tongkatnya. Lekas dia kerahkan tenaga menarik balik, tapi siapa tahu baru saja tenaganya tersalur ke ujung tongkat, mendadak kekuatan betotan kebut musuh sirna tanpa bekas dan seketika dia merasakan kaki tangan menjadi lemas se-olah2 kosong melompong tak kuasa mengerahkan tenaga lagi.
Dengan sedikit menggerakkan tangan kirinya Li Bok-chiu menyendal tongkat kakek itu ke samping, telapak tangannya hanya satu dua dim saja di depan dada Kwa Tin-ok, katanya tertawa:
“Kwa-loyacu, Jik-lian-sin-ciang sudah terusap di depan dadamu!”
Dada Kwa Tin-ok terbuka lebar dan tidak mampu menangkis atau membela diri, namun ia lantas memaki dengan gusar:
“Perempuan keparat, tepukkan saja ke dadaku, mengapa kau malah cerewet?”
Melihat gelagat yang jelek ini Bu Sam-nio kaget dan memburu hendak menolong. Tangkas sekali Li Bok-chiu sudah melejit ke udara, saat badannya masih terapung di udara, telapak tangannya sempat mengusap sekali di muka Bu Sam-nio. Katanya tertawa:
“Kau berani mengggebah muridku, nyalimu cukup besar juga!”
Habis berkata dia tertawa cekikikan, sekali lompat badannya melayang jauh dan sekejap saja sudah tidak kelihatan lagi.
Terasa oleh Bu Sam-nio jari orang yang meraba mukanya sedemikian halus dan licin, kulit mukanya terasa dingin nyaman, lalu dilihatnya bayangan orang berkelebat ke dalam hutan dan menghilang, Hanya beberapa jurus saja ia melabraknya, namun gebrakan yang berlangsung tadi boleh dikata berbahaya sekali. Dia telah kerahkan seluruh kekuatannya, akhirnya roboh dan tak mampu bergerak.
Tadi pun Kwa Tin-ok merasa dadanya seperti ditindih batu besar ribuan kati, napas sesak terasa mual. Segera ia menarik napas dalam2 beberapa kali, barulah pernapasannya bisa lancar kembali.
Dengan susah payah Bu Sam-nio merangkak bangun. Didengarnya suara gemuruh dan angin menderu, hawa terasa sangat panas, ternyata Liok-keh-ceng sudah tertelan jago merah yang membara. Dengan Kwa Tin-ok mereka mengangkat tubuh Liok Lip-ting suami isteri, tampak kedua orang itu sudah kempas kempis, terang tinggal menunggu ajal saja, pikirnya:
“Jika memindahkan mereka, tentu ajalnya akan tiba lebih cepat, namun tak mungkin pula kubiarkan mereka di sini, bagaimana baiknya?”
Di saat serba susah itulah tiba2 dari jauh terdengar seseorang berteriak: “Niocu, apa kau selamat?” Itulah suara Bu Sam-thong.
Girang dan dongkol pula Bu Sam-nio. Pikirnya, kau si gila ini entah berbuat apa saja dan sekarang baru datang. Dilihatnya pakaian sang suami sudah robek dan penuh tambalan, sedang berlari cepat mendatangi sambil ber-kaok2. Selamanya Bu Sam-nio belum pernah menghadapi sikap suaminya yang begitu mesra, hatinya menjadi senang, sahutnya lantang:
“Aku di sini!”
Cepat sekali Bu Sam-thong meluncur tiba, dia meraih badan Liok Lip-ting berdua terus dibawa pergi sambil berteriak:
“Lekas ikut aku!”
Kwa Tin-ok belum saling memperkenalkan diri, namun ia yakin orang adalah sekaum dari golongan pendekar, maka segera dia mengikuti jejak orang, sekaligus mereka lari sejauh beberapa li. Bu Sam-thong menjinjing dua orang dan Kwa Tin-ok berjalan pincang dengan menggunakan tongkat, namun malah Bu Sam-nio yang ketinggalan paling jauh.
Bu Sam-thong menyusup ke timur dan berputar ke barat, akhirnya dia bawa kedua orang itu memasuki sebuah gua di sebuah lekukan gunung. Begitu masuk ke dalam gua, Bu Sam-nio melihat Tun-ji dan Siu-bun, kedua puteranya selamat tak kurang apa pun, dia merasa lega, Dilihatnya kedua puteranya sedang bermain batu di tanah bersama Liok Bu-siang dan Thia Eng.
Di ujung sana berdiri seorang gadis cilik lain yang berpakaian mewah, Usianya lebih kecil dari Liok dan Thia, namun sikap serta tindak tanduknya kelihatan sombong, dia tidak sudi bermain dengan mereka berempat, Dia bukan lain adalah puteri kesayangan Kwe Ceng dan Oey Yong, Kwe Hu adanya.
Melihat Kwa Tin-ok ikut datang, segera Kwe Hu berteriak: “Kwa-kongkong, kedua burung entah pergi kemana, tidak kelihatan bayangannya, sudah kupanggil berulang kali juga tidak mau kembali!”
Sementara itu Thia Eng dan Liok Bu-siang langsung memeluk badan Liok-toanio dan Liok Lip-ting serta menangis sambil menjerit2. Mendengar jerit tangis dua anak perempuan ini, seketika Kwa Tin-ok teringat akan kata2 Li Bok-chiu, serunya kuatir:
“Wah, sungguh celaka! Kita memancing setan masuk pintu, sebentar lagi iblis laknat itu pasti menyusul kemari!”
“Bagaimana bisa?” tanya Bu Sam-nio bingung.
“Gembong iblis itu hendak mencabut nyawa kedua bocah dari keluarga Liok ini, tetapi dia tidak tahu di mana mereka berada.”
Seketika Bu Sam-nio tersadar, ujarnya: “Ya, benar, dia sengaja tidak melukai kami, tetapi mengintil di belakang kita secara diam2.”
Bu Sam-thong menjadi marah, teriaknya: “Setan keparat itu berani mengganas, biar aku yang menempurnya.”
Batok kepala Liok Lip-ting sudah remuk, namun ada satu hal yang belum dia selesaikan maka dia bertahan sampai sekarang, dengan suara lemah katanya kepada Thia Eng:
“Ah-Eng, ambillah sapu... sapu.... sapu tangan di dalam bajuku.”
Thia Eng menyeka air matanya, lalu merogoh keluar sehelai sapu tangan sutera dari baju sang paman. Sapu tangan ini terbuat dari sutera putih, pada tiap ujungnya tersulam bunga merah. Bentuk dan warna bunga itu sangat aneh lain dari bunga biasanya, kelihatan indah menyolok tetapi menyeramkan pula, selintas pandang membuat berdiri bulu kuduk orang.
Kata Liok Lip-ting: “Ah-Eng, ikatlah sapu tangan ini di lehermu,?”
Thia Eng tidak tahu maksudnya, tetapi pamannya berpesan wanti2, maka ia mengangguk serta mengiakan. Saking kesakitan Liok-toanio sudah jatuh pingsan berulang kali, namun begitu mendengar suara suaminya, segera dia membuka mata, katanya:
“Kenapa tidak kau berikan kepada anak Siang? Berikan kepada Siang-ji!”
“Tidak!” sahut Liok Lip-ting tegas, “Mana boleh aku mengingkari pesan ayah bundanya?”
“Kau... kau sungguh kejam, puterimu sendiri tak kau hiraukan lagi keselamatannya?” mata Liok-toanio memutih, suaranyapun serak dan jatuh semaput lagi.
Liok Bu-siang tidak tahu soal apa yang dipertengkarkan ayah bundanya, sambil menangis ia berteriak:
“lbu...! Ayah...!”
“Niocu!” ujar Liok Lip-ting dengan suara lembut: “Kau amat sayang kepada Siang-ji, maka biarlah dia ikut berangkat bersama kita.”
Sebetulnya sapu tangan sutera putih bersulam bunga merah itu adalah pemberian Li Bok-chiu kepada Liok Tian-goan pada masa mudanya sebagai tanda mengikat janji. Menjelang ajal, Liok Tian-goan tahu dosa-dosa mereka suami isteri bertumpuk dan banyak musuh, anak cucunya kelak pasti akan terlibat banyak urusan, maka dia lalu wariskan sapu tangan itu kepada puteranya.
Dengan wanti-wanti dia berpesan, bila Bu Sam-thong meluruk datang menuntut balas, kalau bisa menghindari adalah baik, kalau tidak bolehlah dilawan sekuat tenaga dan rasanya jiwa tidak akan melayang Cuma-cuma. Tapi kalau Li Bok-chiu yang datang, orang ini amat keji dan ganas, ilmu silatnya juga tinggi, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri ialah mengalungkan sapu tangan sutera putih itu di leher. Kalau ingat akan asmara pada masa mudanya, mungkin si iblis itu tidak tega turun tangan.
BOCAH PENGGEMBALA ULAR
Tapi Liok Lip-ting sendiri tinggi hati, meski menjelang ajal ia tak mau unjuk sapu tangan itu.
Thia Eng ialah puteri saudara perempuan Liok Lip-ting yang dititipkan padanya. Biasanya ia bersikap keras kepada keponakan ini, sering ia memarahinya dan mendidiknya dengan keras. Akan tetapi urusan sudah berlarut sedemikian jauh, malah dia berikan sapu tangan penyelamat itu kepada Thia Eng.
Betapa pun Liok-toanio berjiwa lebih sempit, kasih sayangnya kepada puteri sendiri lebih besar. Melihat sang suami tidak pedulikan keselamatan jiwa puteri sendiri, saking dongkol dan gusar, kontan ia jatuh semaput lagi.
Karena soal sapu tangan bibi dan pamannya sampai bertengkar, maka Thia Eng segera mengangsurkan sapu tangan itu kepada Piaumoay-nya, katanya:
“Bibi bilang untuk kau, nah, terimalah!”
Tapi Liok Lip-ting segera membentak: “Siang-ji, jangan kau terima!”
Bu Sam-nio tahu dalam hal ini pasti ada latar belakang yang dirahasiakan, maka segera ia tampil bicara:
“Bagaimana kalau sapu tangan ini disobek menjadi dua potong? Satu orang separoh, boleh tidak?”
Liok Lip-ting hendak bicara, namun keadaannya sudah payah bukan main, mana bisa dia mengeluarkan suara, terpaksa dia hanya mengangguk saja. Bu Sam-nio segera minta sapu tangan itu. “Bret,” ia sobek menjadi dua dan dibagikan kepada Liok Bu-siang dan Thia Eng.
Bu Sam-thong berdiri di mulut gua. Ia mendengar jerit tangis di dalam, tetapi tidak tahu apa yang terjadi. Segera ia berpaling, entah mengapa dilihatnya separuh muka isterinya berwarna hitam separuh yang lain putih halus seperti salju, keruan ia kaget dan kuatir, katanya sambil menuding muka sang isteri:
“Ke... kenapa begini?”
“Kenapa?” tanya Bu Sam-nio sambil meraba mukanya.
Hatinya mencelos. Terasa kulit mukanya seperti kaku dan mati rasa, seketika dia teringat akan rabaan tangan Li Bok-chiu pada mukanya tadi. Apakah tangan halus dan lembut itu menggunakan racun dalam rabaannya tadi?
Baru saja Bu Sam-thong hendak bertanya pula, mendadak terdengar seseorang tertawa di luar gua, katanya:
“Kedua bocah perempuan itu di sini bukan? Peduli mati atau hidup, lekas lempar keluar!” suaranya nyaring seperti kelintingan.
Bu Sam-thong segera melompat keluar gua, dilihatnya Li Bok-chiu sedang berdiri di luar gua, seketika hatinya tergetar: “Puluhan tahun tidak bertemu, kenapa dia masih sedemikian cantik?”
Tapi dilihatnya kebut di tangan Li Bok-chiu bergoyang gontai, sikapnya adem-ayem saja, pandang matanya tajam, kedua pipinya bersemu merah, bagi orang yang tidak kenal iblis yang suka mengganas ini, pasti mengira dia ini adalah putri hartawan yang sengaja menjadi To-koh (pendeta wanita agama Tao).
Begitu melihat kebut, barulah Bu Sam-thong ingat bahwa dirinya tidak membekal senjata, kalau balik mengambil ia kuatir orang akan menerjang masuk dan melukai Thia Eng atau Liok Bu-siang. Sekilas dilihatnya di pinggir gua tumbuh sebatang pohon, segera ia rangkul dengan kedua tangan serta menghardik keras:
“Naik!” Waktu ia kerahkan tenaga, pohon itu seketika kena dicabut sampai akar-akarnya.
Li Bok-chiu tersenyum genit: “Besar amat tenagamu!”
Bu Sam-thong segera melintangkan batang pohon itu, katanya: “Nona Li, puluhan tahun tidak bertemu, kau baik-baik saja?”
Dahulu ia biasa panggil nona Li, kini meski pun orang sudah menjadi pendeta To, namun ia tidak mengubah panggilannya. Selama dua puluhan tahun terakhir ini Li Bok-chiu tidak pernah mendengar orang memanggil dirinya dengan sebutan “nona Li”, seketika tergerak hatinya dan terbayang olehnya akan kehidupan manis mesra masa mudanya dahulu.
Namun pada kilas lain ia pun berpikir: sebetulnya aku dapat hidup rukun sampai hari tua bersama pujaan hatiku, tapi siapa tahu di dunia ini muncul seorang yang bernama Ho Wan-kun yang membuat aku malu dan kehilangan pamor, sehingga aku hidup menderita sampai hari tua. Segera rasa manis mesra yang menggejolak tadi seketika tersapu bersih, perasaan berubah menjadi benci dan dendam.
Seperti halnya Li Bok-chiu, Bu Sam-thong juga orang yang patah hati dalam gelanggang asmara, maka bolehlah dikatakan mereka mengalami penderitaan dan siksaan batin yang sama.
Sekitar sepuluh tahun yang silam Bu Sam-thong pernah melihat seorang diri Li Bok-chiu membantai puluhan Piausu dari Ho-si Piaukiok secara kejam tanpa berperi-kemanusiaan. Bila dibayangkan sampai sekarang masih terasa seram.
Para Piausu itu sesungguhnya tiada salah dan tiada dosa kepadanya, mereka pun tiada sangkut pautnya dengan Ho Wan-kun, soalnya hanya karena mereka pun she Ho. Di kala kepedihan hati tidak terlampiaskan, dia meluruk ke Ho-si Piau kiok serta membunuh habis semua penghuninya.
Sekarang dilihat pula oleh Bu Sam-thong raut muka perempuan ini sebentar mengunjuk kelembutan hatinya, namun pada lain saat berubah bengis dan menyeringai dingin. Diam2 dia sangat menguatirkan keselamatan kedua anak perempuan Liok dan Thia itu.
Berkata Li Bok-chiu: “Di atas dinding sudah kuberikan tanda sembilan telapak tangan, aku tidak akan berhenti sebelum membinasakan sembilan orang, Nah, Bu-samko, silahkan kau menyingkir!”
“Orang-orang yang kau musuhi sudah mati semua, putera dan bininya pun telah kau lukai, cucu perempuannya yang masih kecil itu, harap kau ampuni saja!” kata Bu Sam-thong.
Li Bok-chiu menggeleng sambil tersenyum, katanya: “Bu-samko, silakan kau minggir.”
Bu Sam-thong pegang batang pohon itu lebih kencang, teriaknya: “Nona Li, kau memang terlalu kejam, Ho Wan-kun….”
Begitu mendengar nama itu seketika berubah air muka Li Bok-chiu, katanya: “Aku sudah bersumpah, barang siapa di hadapanku menyinggung nama orang itu maka kalau bukan aku yang mati pasti dialah yang mampus. Nah, Bu-samko, kau sendiri yang salah, jangan kau menyalahkan aku.” Kebutnya segera mengebas ke atas kepala Bu Sam-thong.
Jangan pandang kebutnya itu kecil pendek, namun kebasannya ini cepat dan keras sekali, rambut kepala Bu Sam-thong yang awut2an itu seketika seperti diterpa angin ribut.
Li Bok-chiu tahu orang adalah murid kesayangan It-teng Taysu, biar pun tindak tanduknya ling-lung tapi ilmu silatnya mempunyai keistimewaan sendiri, maka sekali turun tangan segera ia lancarkan serangan maut yang mematikan. Cepat Bu Sam-thong angkat batang pohon itu dan mendadak terulur maju terus menyapu dengan keras.
Melihat sapuan keras dan lihay ini, badan Li Bok-chiu berkelebat melayang mengikuti deru angin. Sebelum daya kekuatan sapuan pohon itu melanda tiba, dia sudah melompat ke depan terus menyerang ke muka lawan.
Hebat memang kepandaian Bu Sam-thong, tidaklah sia-sia Toan-hongya menggemblengnya selama puluhan tahun. Melihat orang merangsak maju, tangan kanan segera terangkat, jari tengahnya terjulur menotok jidat orang. It-yang-ci yang dia lancarkan ini tidak bisa dibandingkan dengan permainan isterinya tadi. Kelihatan gerak tangannya tidak begitu cepat dan hebat, namun serba rumit dijajagi atau diraba perubahannya, aneh dan ajaib.
Tapi badan Li Bok-chiu mendadak mencelat mundur beberapa tombak jauhnya. Melihat orang bergerak segesit kera selincah kupu-kupu menyelusuri kembang, datang pergi seenteng asap, dalam sekejap saja merangsak maju dan mundur beberapa kali, mau tak mau Bu Sam-thong sangat kagum dan tergetar.
Segera ia kerahkan tenaga dan mengabitkan dahan pohon itu dengan hebatnya, serentak ia desak lawan mundur hingga puluhan tombak jauhnya. Tapi sedikit ada peluang, Li Bok-chiu segera menyelinap maju secepat kilat, untung It-yang-ci amat lihay, kalau tidak tentu sejak tadi dia sudah terkapar roboh.
Meski demikian, betapa pun juga bobot dahan pohon itu terlalu berat, diputar sedemikian kencangnya maka lama-kelamaan dia pun merasa letih dan kehabisan tenaga, sebaliknya Li Bok-chiu bergerak semakin gesit dan mendesak semakin dekat.
Mendadak bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Li Bok-chiu sudah melompat ke pucuk pohon sembari mengayun kebutnya menyerang ke bawah dari tengah udara. Bu Sam-thong terkejut, lekas ia memutar balik batang pohon terus dihantamkan ke tanah. Sambil tertawa Li Bok-chiu berlari maju melalui dahan pohon, dan segera Bu Sam-thong memapak dengan tutukan jarinya. Namun sekali menggeliat gemulai, badan lawan tahu2 sudah menyurut mundur ke pucuk pohon pula.
Begitulah beruntun selama puluhan jurus, bagaimana pun Bu Sam-thong kerahkan tenaga menggentak pohon atau menyapukannya dengan hebat menghantam batang pohon yang lain untuk menjatuhkan orang, namun Li Bok-chiu seperti lengket dengan dahan pohon di tangannya itu, malah setiap kali kalau gerakan dahan pohon lamban dia lantas menyerang maju dengan serangan ganas.
Lama kelamaan Bu Sam-thong merasa payah juga. Meski badan orang tidak terlalu besar dan berat, paling tidak menambah beban di atas dahan pohon besar itu. Dengan berdiri di pucuk pohon, dahan pohon itu tidak akan mampu mengenai dia, bahkan sebaliknya orang lebih leluasa menyerang dirinya, terang dirinya dalam posisi yang terdesak.
Inysaf akan kedudukan yang berbahaya ini, bila dirinya sedikit lengah, jiwa sendiri tidak menjadi soal, tetapi semua penghuni gua baik tua dan muda bakal menjadi mangsa keganasannya. Segera ia ayunkan batang pohon itu lebih kencang, ia berusaha menjatuhkan orang dari dahan pohon di tangannya. Tepat pada saat itulah tiba-tiba dari belakang didengarnya seruan nyaring yang disusul dua bayangan abu2 menubruk turun dari atas.
Waktu Bu Sam-thong angkat kepala, dilihatnya dua ekor rajawali menukik turun laksana meteor jatuh menyerang ke arah Li Bok-chiu dari kanan kiri. Melihat luncuran dua burung raksasa yang pesat dan dahsyat ini, cepat Li Bok-chiu menjungkir ke bawah dengan kaki kiri tetap menggantol dahan pohon. Karena tak berhasil mengenai musuh, kedua rajawali itu terbang lagi ke udara. Baru saja Bu Sam-thong keheranan, tiba-tiba saja didengarnya suara anak perempuan di belakangnya:
“Tiau-ji, ayo turun gigit perempuan jahat itu!”
Kedua ekor burung rajawali itu amat cerdik dan tahu kata-kata orang. Seekor dari kiri ke kanan dan yang lain dari kanan ke kiri, empat cakar besinya serentak mencengkeram ke bawah pohon.
Li Bok-chiu pernah pula mendengar bahwa Kwe Ceng dan Oey Yong dari Tho-hoa-to memelihara sepasang burung rajawali sakti. Menghadapi serangan kedua burung sakti ini, terhadap rajawali itu sendiri ia tidak takut, namun ia jeri bila Kwe Ceng suami isteri berada tidak jauh dari situ, hal itu tentu akan membawa kesulitan dan menggagalkan urusannya. Dengan gerakan gemulai segera ia berkelit beberapa kali, tiba2 ia ayun kebutnya.
“Plok!” ia berhasil menyabet sayap kiri rajawali jantan, saking kesakitan rajawali itu lantas berpekik dan beberapa tangkai bulunya rontok berhamburan di udara.
Melihat burung rajawalinya cidera, Kwe Hu berteriak kembali: “Tiau-ji, jangan takut, gigit perempuan galak itu.”
Sekilas Li Bok-chiu melirik. Dia melihat anak perempuan itu berkulit halus bagaikan salju, cantik molek dan menawan hati, maka hatinya tergerak: “Semenjak lama kudengar bahwa Kwe-hujin adalah perempuan tercantik nomor satu di antara angkatan muda, memangnya anak perempuan ini adalah puterinya?” Karena menggunakan pikiran ini maka gerak gerik kaki tangannya menjadi sedikit lamban,
Walau pun mendapat bantuan sepasang rajawali namun Bu Sam-thong masih tidak kuasa merobohkan lawannya, keruan hatinya semakin gelisah, Se-konyong2 pohon itu ia lempar ke tengah udara bersama orangnya. Agaknya Li Bok-chiu tidak menduga akan perbuatannya ini, maka tanpa kuasa badannya ikut terlempar beberapa tombak tingginya di udara.
Seperti diketahui, tenaga sakti Bu Sam-thong memang amat mengejutkan. Dahulu waktu Kwe Ceng dan Oey Yong hendak minta bertemu dengan It-teng Taysu, di tepi jurang dia mengangkat sebongkah batu besar yang di atasnya rebah pula seekor sapi jantan yang besar, dan dia kuat bertahan hampir setengah jam lebih.
Kepandaian silat Li Bok-chiu memang tinggi namun karena dilempar sekuat itu, dia tidak kuasa menyingkirkan diri lagi. Melihat dia melambung ke udara, kedua rajawali itu segera menukik turun pula seraya mematuk. Kalau di atas tanah datar kedua rajawali ini tidak dapat mengapakan dirinya, sekarang Li Bok-chiu terapung di tengah udara dan tiada tempat untuk pengerahan tenaga, mana kuat melawan terjangan kedua rajawali yang hebat ini!
Dalam gugupnya kebut terayun untuk melindungi mukanya, berbareng dengan itu lengan bajunya mengebas, sekaligus ia timpuk tiga batang jarum Peng-pok-gin-ciam. Dua batang menerjang kedua rajawali dan sebatang ke arah dada Bu Sam-thong. Tiga batang senjata rahasia ia timpukan sekaligus ke tiga arah sasaran yang berlainan dengan tepat, sungguh lihay sekali.
Kedua rajawali itu rupanya tahu kelihaian jarum musuh, cepat pentang sayap melambung tinggi lagi ke udara, tapi jarum perak itu menyamber teramat cepat.
“Sret! Sret!” jarum menyerempet lewat sela-sela cakar kaki dan mengelupas sedikit sisik kulitnya.
Ketika Bu Sam-thong tiba2 melihat sinar perak berkelebat, lekas dia jatuhkan diri, namun jarum perak itu masih juga mengenai paha kirinya. Sebat sekali dia hendak berdiri lagi, siapa tahu kaki kirinya itu ternyata tidak mau menurut perintah lagi, lututnya tertekuk dan berlutut dengan tangan menyanggah tanah.
Dia segera kerahkan tenaga murni, tetapi baru saja hendak merangkak bangun, rasa kaku dengan cepat telah menjalar. Sekejap saja kedua kakinya sudah mati rasa, kontan ia jatuh tengkurap, kedua tangan masih bertahan dan meronta hendak berdiri, akan tetapi akhirnya ia rebah tak bergerak lagi.
Karena pahanya tersambit jarum berbisa, Bu Sam-thong rebah tengkurap tidak sanggup bangun lagi, sementara Li Bok-chiu sedang sibuk dikerubuti dua ekor rajawali dan seekor burung merah kecil berparuh panjang.
“Tiau-ji, Tiau-ji!” teriak Kwe Hu keras, “Lekas kemari!”
Namun kedua ekor rajawali itu ternyata terbang entah kemana dan tidak mau mendengar teriakannya lagi
“Adik cilik”, tegur Li Bok-chiu tersenyum, “apa kau she Kwe?”
Melihat orang bicara manis budi, Kwe Hu pun tertawa, sahutnya: “Ya, aku she Kwe. Kau she apa?”
“Mari sini, kuajak kau bermain,” perlahan Li Bok-chiu menghampiri hendak menggandeng tangannya.
Dengan mengetuk tongkatnya Kwa Tin-ok sudah cepat menerjang keluar dari gua lantas menghadang di depan Kwe Hu, teriaknya:
“Hu-ji, lekas masuk!”
“Memangnya kau takut kalau aku bakal menelannya bulat-bulat?” ujar Li Bok-chiu tertawa cekikikan. Kaki kirinya sedikit mencungkit tongkat besi berbareng tangan kiri meraih menangkap ujung tongkat.
Kwa Tin-ok lekas menyendal serta menariknya, tapi ia tidak berhasil melepaskan cekalan orang, teriaknya:
“Hu-ji, lekas lari!”
Kwe Hu malah bersungut dan berkata, “Bibi ini hendak bermain dengan aku.” Ia tidak lari malah hendak menarik tangan Li Bok-chiu.
Kwa Tin-ok kaget, selagi kehabisan akal, tiba2 terdengar suara pekik kedua rajawali yang telah terbang balik.
“Tiau-ji, lekas ke sini!” Kwe Hu berseru.
Tiba-tiba nampak sinar merah berkelebat, seekor burung kecil warna merah yang berparuh panjang mendadak menubruk langsung ke arah kepala Li Bok-chiu dari sela-sela kedua burung rajawali.
Keruan Li Bok-chiu terkejut, lekas kebutnya menyambar tapi burung merah itu melayang pergi datang dengan cepat, tiba-tiba badannya mundur tiga kaki ke udara meluputkan diri dari kebutan. Tapi secepat itu pula dia sudah menerjang maju lagi, gerak geriknya tidak kalah dari pada tokoh kosen dunia persilatan. Kaget dan senang pula Li Bok-chiu, katanya sambil tertawa:
“Burung kecil ini tampaknya menyenangkan juga!”
Tiba-tiba didengarnya suara desiran aneh yang berkumandang dari belakang gunung, entah dari mana berbondong2 merayap keluar ular hijau yang jumlahnya tak terhitung. Seorang anak lelaki berbaju hijau sedang mendatangi sambil berdendang dengan bertepuk tangan. Ular-ular itu mengiringi nyanyiannya, sebaris demi sebaris sangat teratur merubung ke arah Li Bok-chiu.
Anak lelaki berusia 14-15 tahun itu lalu duduk di tanah untuk menonton burung merah tadi menempur sengit Li Bok-chiu. Burung merah kecil itu sangat gesit dan tangkas, maju mundur bagai kilat, meski sabetan kebut Li Bok-chiu sangat kencang, namun lawan kecil ini selalu dapat lolos. Ketika Li Bok-chiu melihat anak itu bermuka cakap, bibir merah, gigi putih, tampan dan menyenangkan, serta merta timbul rasa kasih sayangnya. Melihat orang menggusur ular menghadang di depannya, ia berpikir:
“Kabarnya di Pek-tho-san daerah Se-ek benua barat ada seorang Bu-lim Cianpwe tokoh persilatan tua bernama Auwyang Hong yang pandai menguasai ular untuk menyerang musuh, mungkinkah pemuda ini punya hubungan erat dengannya?”
Semula dia berniat melancarkan serangan ganas untuk membinasakan burung merah itu, tapi berpikir sampai di situ, ia jadi ragu dan membatalkan niatnya semula.
Harus diketahui Li Bok-chiu adalah seorang yang licik dan banyak tipu dayanya, sebelum bertindak ia selalu memikirkan lebih dulu secara seksama, kalau dirinya tidak terdesak kalah, dia tidak akan segera menurunkan tangan jahat. pikirnya: “Mengapa hari ini begini kebetulan? It-teng Taysu, Pek-tho-san dan Tho-hoa-to masing-masing ada orangnya yang kumpul di sini, memangnya sebelum ini mereka sudah berjanji untuk bersatu menghadapi aku? Biarlah kucari tahu dulu keadaan yang sebenarnya.”
Sambil mengibaskan kebutnya, Li Bok-chiu bertanya: “Adik cilik, siapa namamu? Apa kau datang dari Pek-tho-san?”
Melihat orang bicara dengan lemah-lembut, pemuda itu berdiri, sahutnya dengan tertawa:
“Aku she Yo, Pek-tho-san apa yang kau maksudkan?”
Melihat orang sedang tidak bersiap, se-konyong2 burung merah tadi menyergap lagi serta mematuk dengan paruhnya yang runcing panjang. Sebat sekali Li Bok-chiu ulur tangan kiri terus meraih. Gerak-gerik burung merah kecil itu sangat cepat dan tangkas, namun gerak tangan Li Bok-chiu lebih cepat lagi, tahu-tahu burung merah itu tergenggam.
Keruan pemuda itu kaget, teriaknya: “Hai, jangan kau melukainya!”
“Baik, nih kukembalikan padamu!” sahut Li Bok-chiu sambil membuka telapak tangannya.
Begitu mendapat kebebasan burung merah itu segera pentang sayap hendak terbang, tapi baru saja sayapnya terbentang, Li Bok-chiu kerahkan lwekang melalui telapak tangannya, sehingga burung merah itu seakan-akan melengket pada tangannya. Meski pun beberapa kali burung kecil itu menggelepar-geleparkan sayapnya, tetap tidak mampu terbang lolos dari telapak tangannya.
Maklumlah, Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah mencapai puncaknya, maka tenaga yang dikerahkan pada telapak tangannya bisa digunakan sesuka hati. Dalam sekejap saja ia bisa mengubah kekuatan pukulan telapak tangan beberapa kali, sekali serang pukulan itu dapat menimbulkan gelombang kekuatan yang menderu hebat, tenaga dipusatkan di tengah-tengah telapak tangan, sementara jarinya bisa mengendon sehingga orang yang terkena pukulannya tidak mampu mengerahkan tenaga untuk melawan.
Bagi jago yang berilmu silat tinggi, apa bila badannya terkena pukulan, secara reflek akan mengerahkan tenaga melawan, baik menangkis mau pun mematahkan. Akan tetapi ilmu pukulan Li Bok-chiu ini lain dari pada yang lain, sekali pukul di dalamnya terkandung bermacam kekuatan yang dahsyat, oleh karena itu ia amat tenar dan ditakuti karena ilmu pukulan Jik-lian-sin-ciang ini. Siapa yang tidak akan kuncup nyalinya bila mendengar atau melihat ilmu pukulan ini. Begitulah burung merah tadi masih terus kerupukan di tengah telapak tangan Li Bok-chiu dan tidak mampu terbang meloloskan diri.
Bu Sam-nio dan lainnya juga terkurung oleh barisan ular yang banyak itu, mereka pun kaget dan terheran pula. Melihat burung merah itu tidak mampu lepas dari telapak tangan orang, mereka pun kuatir akan keselamatannya, akan tetapi karena takut digigit ular-ular berbisa, setapak pun mereka tidak berani bergerak.
Melihat suaminya terkapar di tanah tanpa bergerak, entah mati atau masih hidup, betapa pun mereka sudah menjadi suami isteri sekian puluh tahun lamanya, Bu Sam-nio merasa amat prihatin akan keadaan suaminya, segera ia berseru memanggil:
“Samko, bagaimana kau?”
Bu Sam-thorig mengerang, punggungnya terangkat beberapa kali, tapi tetap tidak mampu menegakkan badan.
Kwe Hu tampak celingukan kian kemari. Ketika tidak melihat bayangan kedua burungnya, segera ia berteriak:
“Tiau-ji, Tiau-ji, lekas kembali!”
Setelah menunggu cukup lama dan tidak melihat apa-apa, maka Li Bok-chiu sudah bertekad: “Seumpama Kwe Ceng suami isteri dan Auwyang Hong berada di sekitar sini, tapi kalau aku segera turun tangan, masakah mereka sempat berbuat apa-apa terhadapku?” Maka dengan tersenyum kecil dia melangkah ke depan.
“Eh, jangan bergerak!” teriak anak muda tadi. “Awas digigit ular!”
Tetapi dilihatnya di mana kaki Li Bok-chiu beranjak ke depan, entah kenapa kawanan ular itu menyurut mundur seperti amat takut kepadanya, saling desak dan menyingkir ke pinggir. Tiba2 Li Bok-chiu melompat lewat di samping si pemuda terus menerjang ke dalam gua.
Bu Sam-nio ayun pedangnya seraya membentak: “Keluar!”
Tangan kiri Li Bok-chiu masih memegang burung kecil dan tangan kanan menyongsong tajamnya pedang terus menepuk.
Keruan Bu Sam-nio heran, “Memangnya tanganmu terbuat dari baja?”
Tapi siapa tahu jari-jari orang ternyata bergerak selincah ular hidup, tahu-tahu sudah mencomot batang pedang terus digentak ke depan, ujung pedang malah membalik memotong ke jidat Bu Sam-nio sendiri. Perubahan ini terjadi dalam waktu yang amat cepat.
“Sret!” belum sempat ia berkelit pedangnya sendiri sudah membacok jidatnya.
“Maaf!” ujar Li Bok-chiu sambil tertawa.
Burung di tangan kirinya segera dilepaskan, kedua tangannya segera menjinjing Thia Eng dan Liok Bu-siang, begitu kakinya sedikit menutul, tubuhnya mencelat keluar gua. Dalam kesibukannya itu ia sempat pula menendang tongkat besi Kwa Tin-ok yang datang menyerampang dan menimpuk sebatang Ping-pok-ciam ke kuncir Kwe Hu.
Mendengar jeritan kedua anak dara Thia dan Liok, tahu bahwa keadaan sangat gawat, si pemuda segera bangun dan menubruk maju memeluk Li Bok-chiu sambil teriak:
“Hai, hai, lekas lepaskan!”
Tangan Li Bok-chiu yang masing-masing menjinjing satu orang, lagi pula ia tidak menduga si pemuda bakal memeluk pinggangnya, maka tahu-tahu ia merasa bawah ketiaknya sudah dijepit sepasang tangan kecil. Seketika hatinya terkesiap, entah mengapa seketika seluruh badannya menjadi lemas lunglai. Supaya Thia dan Liok kedua anak perempuan itu tidak tergigit ular, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus melemparkan mereka beberapa tombak jauhnya, lalu dengan cepat sekali tangannya membalik mencengkeram punggung si pemuda.
Memang usia Li Bok-chiu sudah mencapai lima puluhan tahun, namun dia masih seorang perawan suci. Semasa mudanya bergaul dan main asmara dengan Liok Tian-goan, namun keduanya memegang teguh adat istiadat, maka selama hidupnya belum pernah dia bersentuhan tubuh dengan laki-laki mana pun. Banyak laki2 dari kalangan Kangouw yang terpikat akan kecantikannya, tapi sekali orang menampakkan nafsu jahat atau tingkah laku yang tak sopan, maka jiwa orang itu pasti melayang di bawah Jik-lian-sin-ciangnya.
Walau pemuda ini baru berusia belasan, betapa pun badannya sudah mengeluarkan bau kelelakian yang merangsang dan memabukkan. Se-konyong2 Li Bok-chiu menghadapi keadaan ini, maka seketika ia terkesima dan luluh hatinya. Begitu mencengkeram punggung si pemuda sebetulnya ia sudah kerahkan tenaga hendak menghancurkan isi perut orang untuk mencabut nyawanya, siapa tahu tenaganya ternyata tak kuasa dikerahkan. Selama hidupnya hal semacam ini belum pernah dia alami, keruan tak terkatakan rasa kejut dan herannya.
Pada saat itulah burung merah itu tahu2 menubruk mematuk matanya yang sebelah kiri. Sedikit pun Li Bok-chiu tidak menyangka, tahu-tahu sebelah matanya terasa seperti ditusuk sesuatu benda dan sakitnya luar biasa, ternyata biji matanya sudah dipatuk buta oleh burung merah itu. Keruan murkanya tidak kepalang. Dia ayun tangannya secepat kilat, pukulan ini dilandasi kekuatan Iwekang-nya selama hidup ini
“Plok!” Burung kecil itu seketika terpental jatuh dengan leher putus sayap kutung.
Cepat sekali tangan kanan Li Bok-chiu mengangkat si pemuda lalu memaki: “Keparat cilik, kau ingin mampus ya!”
Segera ia putar badan pemuda itu dengan kaki di atas dan kepala di bawah, ia hendak benturkan kepala orang pada batu gunung agar mampus. Meski dalam bahaya, tetapi si pemuda sedikit pun tidak gugup atau takut, malah katanya sambil tertawa:
“Kokoh (bibi), jangan kau puntir kakiku hingga kesakitan!”
Suaranya demikian lembut dan aleman, sorot matanya halus mesra dan membuat orang yang menghadapinya luluh dan kuncup amarahnya, apa pun yang diminta rasanya sulit untuk menolaknya. Sekilas Li Bok-chiu melenggong. Belum lagi hatinya mengambil keputusan, didengarnya pekik sepasang rajawali dari angkasa, kedua rajawali itu sedang terbang mendatangi dari kejauhan, tahu-tahu menukik serta menyerangnya pula.
Mata kirinya sudah buta, rasa marah dan penasaran ini belum sempat terlampiaskan. Segera ia kebutkan lengan baju kirinya, dua batang Ping-pok-ciam memapak kedua rajawali itu.
Senjata rahasianya ini amat ganas dan berbisa. Dua rajawali ini tadi telah merasakan kelihayannya, maka mereka lekas pentang sayap melambung lagi ke atas. Tetapi jarum2 perak itu menyambar dengan kecepatan luar biasa, meski kedua rajawali terbang sangat cepat, luncuran dua batang jarum perak lebih cepat lagi. Saking kaget dan ketakutan kedua rajawali sampai bersuit nyaring, tampaknya jiwa mereka bakal takkan tertolong lagi, kedua rajawali yang gagah perkasa ini bakal melayang oleh jarum berbisa itu.
Mendadak terdengar suara mendering keras, sesuatu benda meluncur amat kencang dari kejauhan memecah angkasa. Sungguh cepat sekali kedatangan benda kecil ini, baru saja kuping mendengar dering luncurannya, dalam sekejap saja telah melayang tiba dan tahu-tahu membentur jatuh kedua batang jarum berbisa itu.
Datangnya senjata rahasia ini sungguh amat mengejutkan. Meski Li Bok-chiu seorang kejam, tak urung ia pun terperanjat. Segera dia melompat ke depan sambil melemparkan si pemuda untuk menjemput benda itu, kiranya hanya sebutir batu kerikil biasa. Pikirnya: “Orang yang menimpukkan batu kerikil ini ilmu silatnya pasti tinggi luar biasa. Kini mataku sudah cidera, biarlah aku menghindarinya saja.”
Serta merta ia bergerak menuruti jalan pikirannya, telapak tangannya segera menepuk punggung Thia Eng, tujuannya hendak membinasakan Thia Eng dan Liok Bu-siang sesuai tanda peringatan sembilan tapak tangan berdarah yang ditinggalkan di dinding rumah Liok Lip-ting.
Akan tetapi pada waktu telapak tangannya hampir menyentuh punggung Thia Eng, sekilas mata kanan yang masih jeli itu tiba-tiba melihat leher anak dara itu terikat selembar sapu tangan bersulam bunga merah indah yang dia kenal adalah buah tangan sendiri yang dulu dia berikan kepada kekasihnya sebagai tanda mata.
Thia Eng ialah puteri saudara perempuan Liok Lip-ting yang dititipkan padanya. Biasanya ia bersikap keras kepada keponakan ini, sering ia memarahinya dan mendidiknya dengan keras. Akan tetapi urusan sudah berlarut sedemikian jauh, malah dia berikan sapu tangan penyelamat itu kepada Thia Eng.
Betapa pun Liok-toanio berjiwa lebih sempit, kasih sayangnya kepada puteri sendiri lebih besar. Melihat sang suami tidak pedulikan keselamatan jiwa puteri sendiri, saking dongkol dan gusar, kontan ia jatuh semaput lagi.
Karena soal sapu tangan bibi dan pamannya sampai bertengkar, maka Thia Eng segera mengangsurkan sapu tangan itu kepada Piaumoay-nya, katanya:
“Bibi bilang untuk kau, nah, terimalah!”
Tapi Liok Lip-ting segera membentak: “Siang-ji, jangan kau terima!”
Bu Sam-nio tahu dalam hal ini pasti ada latar belakang yang dirahasiakan, maka segera ia tampil bicara:
“Bagaimana kalau sapu tangan ini disobek menjadi dua potong? Satu orang separoh, boleh tidak?”
Liok Lip-ting hendak bicara, namun keadaannya sudah payah bukan main, mana bisa dia mengeluarkan suara, terpaksa dia hanya mengangguk saja. Bu Sam-nio segera minta sapu tangan itu. “Bret,” ia sobek menjadi dua dan dibagikan kepada Liok Bu-siang dan Thia Eng.
Bu Sam-thong berdiri di mulut gua. Ia mendengar jerit tangis di dalam, tetapi tidak tahu apa yang terjadi. Segera ia berpaling, entah mengapa dilihatnya separuh muka isterinya berwarna hitam separuh yang lain putih halus seperti salju, keruan ia kaget dan kuatir, katanya sambil menuding muka sang isteri:
“Ke... kenapa begini?”
“Kenapa?” tanya Bu Sam-nio sambil meraba mukanya.
Hatinya mencelos. Terasa kulit mukanya seperti kaku dan mati rasa, seketika dia teringat akan rabaan tangan Li Bok-chiu pada mukanya tadi. Apakah tangan halus dan lembut itu menggunakan racun dalam rabaannya tadi?
Baru saja Bu Sam-thong hendak bertanya pula, mendadak terdengar seseorang tertawa di luar gua, katanya:
“Kedua bocah perempuan itu di sini bukan? Peduli mati atau hidup, lekas lempar keluar!” suaranya nyaring seperti kelintingan.
Bu Sam-thong segera melompat keluar gua, dilihatnya Li Bok-chiu sedang berdiri di luar gua, seketika hatinya tergetar: “Puluhan tahun tidak bertemu, kenapa dia masih sedemikian cantik?”
Tapi dilihatnya kebut di tangan Li Bok-chiu bergoyang gontai, sikapnya adem-ayem saja, pandang matanya tajam, kedua pipinya bersemu merah, bagi orang yang tidak kenal iblis yang suka mengganas ini, pasti mengira dia ini adalah putri hartawan yang sengaja menjadi To-koh (pendeta wanita agama Tao).
Begitu melihat kebut, barulah Bu Sam-thong ingat bahwa dirinya tidak membekal senjata, kalau balik mengambil ia kuatir orang akan menerjang masuk dan melukai Thia Eng atau Liok Bu-siang. Sekilas dilihatnya di pinggir gua tumbuh sebatang pohon, segera ia rangkul dengan kedua tangan serta menghardik keras:
“Naik!” Waktu ia kerahkan tenaga, pohon itu seketika kena dicabut sampai akar-akarnya.
Li Bok-chiu tersenyum genit: “Besar amat tenagamu!”
Bu Sam-thong segera melintangkan batang pohon itu, katanya: “Nona Li, puluhan tahun tidak bertemu, kau baik-baik saja?”
Dahulu ia biasa panggil nona Li, kini meski pun orang sudah menjadi pendeta To, namun ia tidak mengubah panggilannya. Selama dua puluhan tahun terakhir ini Li Bok-chiu tidak pernah mendengar orang memanggil dirinya dengan sebutan “nona Li”, seketika tergerak hatinya dan terbayang olehnya akan kehidupan manis mesra masa mudanya dahulu.
Namun pada kilas lain ia pun berpikir: sebetulnya aku dapat hidup rukun sampai hari tua bersama pujaan hatiku, tapi siapa tahu di dunia ini muncul seorang yang bernama Ho Wan-kun yang membuat aku malu dan kehilangan pamor, sehingga aku hidup menderita sampai hari tua. Segera rasa manis mesra yang menggejolak tadi seketika tersapu bersih, perasaan berubah menjadi benci dan dendam.
Seperti halnya Li Bok-chiu, Bu Sam-thong juga orang yang patah hati dalam gelanggang asmara, maka bolehlah dikatakan mereka mengalami penderitaan dan siksaan batin yang sama.
Sekitar sepuluh tahun yang silam Bu Sam-thong pernah melihat seorang diri Li Bok-chiu membantai puluhan Piausu dari Ho-si Piaukiok secara kejam tanpa berperi-kemanusiaan. Bila dibayangkan sampai sekarang masih terasa seram.
Para Piausu itu sesungguhnya tiada salah dan tiada dosa kepadanya, mereka pun tiada sangkut pautnya dengan Ho Wan-kun, soalnya hanya karena mereka pun she Ho. Di kala kepedihan hati tidak terlampiaskan, dia meluruk ke Ho-si Piau kiok serta membunuh habis semua penghuninya.
Sekarang dilihat pula oleh Bu Sam-thong raut muka perempuan ini sebentar mengunjuk kelembutan hatinya, namun pada lain saat berubah bengis dan menyeringai dingin. Diam2 dia sangat menguatirkan keselamatan kedua anak perempuan Liok dan Thia itu.
Berkata Li Bok-chiu: “Di atas dinding sudah kuberikan tanda sembilan telapak tangan, aku tidak akan berhenti sebelum membinasakan sembilan orang, Nah, Bu-samko, silahkan kau menyingkir!”
“Orang-orang yang kau musuhi sudah mati semua, putera dan bininya pun telah kau lukai, cucu perempuannya yang masih kecil itu, harap kau ampuni saja!” kata Bu Sam-thong.
Li Bok-chiu menggeleng sambil tersenyum, katanya: “Bu-samko, silakan kau minggir.”
Bu Sam-thong pegang batang pohon itu lebih kencang, teriaknya: “Nona Li, kau memang terlalu kejam, Ho Wan-kun….”
Begitu mendengar nama itu seketika berubah air muka Li Bok-chiu, katanya: “Aku sudah bersumpah, barang siapa di hadapanku menyinggung nama orang itu maka kalau bukan aku yang mati pasti dialah yang mampus. Nah, Bu-samko, kau sendiri yang salah, jangan kau menyalahkan aku.” Kebutnya segera mengebas ke atas kepala Bu Sam-thong.
Jangan pandang kebutnya itu kecil pendek, namun kebasannya ini cepat dan keras sekali, rambut kepala Bu Sam-thong yang awut2an itu seketika seperti diterpa angin ribut.
Li Bok-chiu tahu orang adalah murid kesayangan It-teng Taysu, biar pun tindak tanduknya ling-lung tapi ilmu silatnya mempunyai keistimewaan sendiri, maka sekali turun tangan segera ia lancarkan serangan maut yang mematikan. Cepat Bu Sam-thong angkat batang pohon itu dan mendadak terulur maju terus menyapu dengan keras.
Melihat sapuan keras dan lihay ini, badan Li Bok-chiu berkelebat melayang mengikuti deru angin. Sebelum daya kekuatan sapuan pohon itu melanda tiba, dia sudah melompat ke depan terus menyerang ke muka lawan.
Hebat memang kepandaian Bu Sam-thong, tidaklah sia-sia Toan-hongya menggemblengnya selama puluhan tahun. Melihat orang merangsak maju, tangan kanan segera terangkat, jari tengahnya terjulur menotok jidat orang. It-yang-ci yang dia lancarkan ini tidak bisa dibandingkan dengan permainan isterinya tadi. Kelihatan gerak tangannya tidak begitu cepat dan hebat, namun serba rumit dijajagi atau diraba perubahannya, aneh dan ajaib.
Tapi badan Li Bok-chiu mendadak mencelat mundur beberapa tombak jauhnya. Melihat orang bergerak segesit kera selincah kupu-kupu menyelusuri kembang, datang pergi seenteng asap, dalam sekejap saja merangsak maju dan mundur beberapa kali, mau tak mau Bu Sam-thong sangat kagum dan tergetar.
Segera ia kerahkan tenaga dan mengabitkan dahan pohon itu dengan hebatnya, serentak ia desak lawan mundur hingga puluhan tombak jauhnya. Tapi sedikit ada peluang, Li Bok-chiu segera menyelinap maju secepat kilat, untung It-yang-ci amat lihay, kalau tidak tentu sejak tadi dia sudah terkapar roboh.
Meski demikian, betapa pun juga bobot dahan pohon itu terlalu berat, diputar sedemikian kencangnya maka lama-kelamaan dia pun merasa letih dan kehabisan tenaga, sebaliknya Li Bok-chiu bergerak semakin gesit dan mendesak semakin dekat.
Mendadak bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Li Bok-chiu sudah melompat ke pucuk pohon sembari mengayun kebutnya menyerang ke bawah dari tengah udara. Bu Sam-thong terkejut, lekas ia memutar balik batang pohon terus dihantamkan ke tanah. Sambil tertawa Li Bok-chiu berlari maju melalui dahan pohon, dan segera Bu Sam-thong memapak dengan tutukan jarinya. Namun sekali menggeliat gemulai, badan lawan tahu2 sudah menyurut mundur ke pucuk pohon pula.
Begitulah beruntun selama puluhan jurus, bagaimana pun Bu Sam-thong kerahkan tenaga menggentak pohon atau menyapukannya dengan hebat menghantam batang pohon yang lain untuk menjatuhkan orang, namun Li Bok-chiu seperti lengket dengan dahan pohon di tangannya itu, malah setiap kali kalau gerakan dahan pohon lamban dia lantas menyerang maju dengan serangan ganas.
Lama kelamaan Bu Sam-thong merasa payah juga. Meski badan orang tidak terlalu besar dan berat, paling tidak menambah beban di atas dahan pohon besar itu. Dengan berdiri di pucuk pohon, dahan pohon itu tidak akan mampu mengenai dia, bahkan sebaliknya orang lebih leluasa menyerang dirinya, terang dirinya dalam posisi yang terdesak.
Inysaf akan kedudukan yang berbahaya ini, bila dirinya sedikit lengah, jiwa sendiri tidak menjadi soal, tetapi semua penghuni gua baik tua dan muda bakal menjadi mangsa keganasannya. Segera ia ayunkan batang pohon itu lebih kencang, ia berusaha menjatuhkan orang dari dahan pohon di tangannya. Tepat pada saat itulah tiba-tiba dari belakang didengarnya seruan nyaring yang disusul dua bayangan abu2 menubruk turun dari atas.
Waktu Bu Sam-thong angkat kepala, dilihatnya dua ekor rajawali menukik turun laksana meteor jatuh menyerang ke arah Li Bok-chiu dari kanan kiri. Melihat luncuran dua burung raksasa yang pesat dan dahsyat ini, cepat Li Bok-chiu menjungkir ke bawah dengan kaki kiri tetap menggantol dahan pohon. Karena tak berhasil mengenai musuh, kedua rajawali itu terbang lagi ke udara. Baru saja Bu Sam-thong keheranan, tiba-tiba saja didengarnya suara anak perempuan di belakangnya:
“Tiau-ji, ayo turun gigit perempuan jahat itu!”
Kedua ekor burung rajawali itu amat cerdik dan tahu kata-kata orang. Seekor dari kiri ke kanan dan yang lain dari kanan ke kiri, empat cakar besinya serentak mencengkeram ke bawah pohon.
Li Bok-chiu pernah pula mendengar bahwa Kwe Ceng dan Oey Yong dari Tho-hoa-to memelihara sepasang burung rajawali sakti. Menghadapi serangan kedua burung sakti ini, terhadap rajawali itu sendiri ia tidak takut, namun ia jeri bila Kwe Ceng suami isteri berada tidak jauh dari situ, hal itu tentu akan membawa kesulitan dan menggagalkan urusannya. Dengan gerakan gemulai segera ia berkelit beberapa kali, tiba2 ia ayun kebutnya.
“Plok!” ia berhasil menyabet sayap kiri rajawali jantan, saking kesakitan rajawali itu lantas berpekik dan beberapa tangkai bulunya rontok berhamburan di udara.
Melihat burung rajawalinya cidera, Kwe Hu berteriak kembali: “Tiau-ji, jangan takut, gigit perempuan galak itu.”
Sekilas Li Bok-chiu melirik. Dia melihat anak perempuan itu berkulit halus bagaikan salju, cantik molek dan menawan hati, maka hatinya tergerak: “Semenjak lama kudengar bahwa Kwe-hujin adalah perempuan tercantik nomor satu di antara angkatan muda, memangnya anak perempuan ini adalah puterinya?” Karena menggunakan pikiran ini maka gerak gerik kaki tangannya menjadi sedikit lamban,
Walau pun mendapat bantuan sepasang rajawali namun Bu Sam-thong masih tidak kuasa merobohkan lawannya, keruan hatinya semakin gelisah, Se-konyong2 pohon itu ia lempar ke tengah udara bersama orangnya. Agaknya Li Bok-chiu tidak menduga akan perbuatannya ini, maka tanpa kuasa badannya ikut terlempar beberapa tombak tingginya di udara.
Seperti diketahui, tenaga sakti Bu Sam-thong memang amat mengejutkan. Dahulu waktu Kwe Ceng dan Oey Yong hendak minta bertemu dengan It-teng Taysu, di tepi jurang dia mengangkat sebongkah batu besar yang di atasnya rebah pula seekor sapi jantan yang besar, dan dia kuat bertahan hampir setengah jam lebih.
Kepandaian silat Li Bok-chiu memang tinggi namun karena dilempar sekuat itu, dia tidak kuasa menyingkirkan diri lagi. Melihat dia melambung ke udara, kedua rajawali itu segera menukik turun pula seraya mematuk. Kalau di atas tanah datar kedua rajawali ini tidak dapat mengapakan dirinya, sekarang Li Bok-chiu terapung di tengah udara dan tiada tempat untuk pengerahan tenaga, mana kuat melawan terjangan kedua rajawali yang hebat ini!
Dalam gugupnya kebut terayun untuk melindungi mukanya, berbareng dengan itu lengan bajunya mengebas, sekaligus ia timpuk tiga batang jarum Peng-pok-gin-ciam. Dua batang menerjang kedua rajawali dan sebatang ke arah dada Bu Sam-thong. Tiga batang senjata rahasia ia timpukan sekaligus ke tiga arah sasaran yang berlainan dengan tepat, sungguh lihay sekali.
Kedua rajawali itu rupanya tahu kelihaian jarum musuh, cepat pentang sayap melambung tinggi lagi ke udara, tapi jarum perak itu menyamber teramat cepat.
“Sret! Sret!” jarum menyerempet lewat sela-sela cakar kaki dan mengelupas sedikit sisik kulitnya.
Ketika Bu Sam-thong tiba2 melihat sinar perak berkelebat, lekas dia jatuhkan diri, namun jarum perak itu masih juga mengenai paha kirinya. Sebat sekali dia hendak berdiri lagi, siapa tahu kaki kirinya itu ternyata tidak mau menurut perintah lagi, lututnya tertekuk dan berlutut dengan tangan menyanggah tanah.
Dia segera kerahkan tenaga murni, tetapi baru saja hendak merangkak bangun, rasa kaku dengan cepat telah menjalar. Sekejap saja kedua kakinya sudah mati rasa, kontan ia jatuh tengkurap, kedua tangan masih bertahan dan meronta hendak berdiri, akan tetapi akhirnya ia rebah tak bergerak lagi.
Karena pahanya tersambit jarum berbisa, Bu Sam-thong rebah tengkurap tidak sanggup bangun lagi, sementara Li Bok-chiu sedang sibuk dikerubuti dua ekor rajawali dan seekor burung merah kecil berparuh panjang.
“Tiau-ji, Tiau-ji!” teriak Kwe Hu keras, “Lekas kemari!”
Namun kedua ekor rajawali itu ternyata terbang entah kemana dan tidak mau mendengar teriakannya lagi
“Adik cilik”, tegur Li Bok-chiu tersenyum, “apa kau she Kwe?”
Melihat orang bicara manis budi, Kwe Hu pun tertawa, sahutnya: “Ya, aku she Kwe. Kau she apa?”
“Mari sini, kuajak kau bermain,” perlahan Li Bok-chiu menghampiri hendak menggandeng tangannya.
Dengan mengetuk tongkatnya Kwa Tin-ok sudah cepat menerjang keluar dari gua lantas menghadang di depan Kwe Hu, teriaknya:
“Hu-ji, lekas masuk!”
“Memangnya kau takut kalau aku bakal menelannya bulat-bulat?” ujar Li Bok-chiu tertawa cekikikan. Kaki kirinya sedikit mencungkit tongkat besi berbareng tangan kiri meraih menangkap ujung tongkat.
Kwa Tin-ok lekas menyendal serta menariknya, tapi ia tidak berhasil melepaskan cekalan orang, teriaknya:
“Hu-ji, lekas lari!”
Kwe Hu malah bersungut dan berkata, “Bibi ini hendak bermain dengan aku.” Ia tidak lari malah hendak menarik tangan Li Bok-chiu.
Kwa Tin-ok kaget, selagi kehabisan akal, tiba2 terdengar suara pekik kedua rajawali yang telah terbang balik.
“Tiau-ji, lekas ke sini!” Kwe Hu berseru.
Tiba-tiba nampak sinar merah berkelebat, seekor burung kecil warna merah yang berparuh panjang mendadak menubruk langsung ke arah kepala Li Bok-chiu dari sela-sela kedua burung rajawali.
Keruan Li Bok-chiu terkejut, lekas kebutnya menyambar tapi burung merah itu melayang pergi datang dengan cepat, tiba-tiba badannya mundur tiga kaki ke udara meluputkan diri dari kebutan. Tapi secepat itu pula dia sudah menerjang maju lagi, gerak geriknya tidak kalah dari pada tokoh kosen dunia persilatan. Kaget dan senang pula Li Bok-chiu, katanya sambil tertawa:
“Burung kecil ini tampaknya menyenangkan juga!”
Tiba-tiba didengarnya suara desiran aneh yang berkumandang dari belakang gunung, entah dari mana berbondong2 merayap keluar ular hijau yang jumlahnya tak terhitung. Seorang anak lelaki berbaju hijau sedang mendatangi sambil berdendang dengan bertepuk tangan. Ular-ular itu mengiringi nyanyiannya, sebaris demi sebaris sangat teratur merubung ke arah Li Bok-chiu.
Anak lelaki berusia 14-15 tahun itu lalu duduk di tanah untuk menonton burung merah tadi menempur sengit Li Bok-chiu. Burung merah kecil itu sangat gesit dan tangkas, maju mundur bagai kilat, meski sabetan kebut Li Bok-chiu sangat kencang, namun lawan kecil ini selalu dapat lolos. Ketika Li Bok-chiu melihat anak itu bermuka cakap, bibir merah, gigi putih, tampan dan menyenangkan, serta merta timbul rasa kasih sayangnya. Melihat orang menggusur ular menghadang di depannya, ia berpikir:
“Kabarnya di Pek-tho-san daerah Se-ek benua barat ada seorang Bu-lim Cianpwe tokoh persilatan tua bernama Auwyang Hong yang pandai menguasai ular untuk menyerang musuh, mungkinkah pemuda ini punya hubungan erat dengannya?”
Semula dia berniat melancarkan serangan ganas untuk membinasakan burung merah itu, tapi berpikir sampai di situ, ia jadi ragu dan membatalkan niatnya semula.
Harus diketahui Li Bok-chiu adalah seorang yang licik dan banyak tipu dayanya, sebelum bertindak ia selalu memikirkan lebih dulu secara seksama, kalau dirinya tidak terdesak kalah, dia tidak akan segera menurunkan tangan jahat. pikirnya: “Mengapa hari ini begini kebetulan? It-teng Taysu, Pek-tho-san dan Tho-hoa-to masing-masing ada orangnya yang kumpul di sini, memangnya sebelum ini mereka sudah berjanji untuk bersatu menghadapi aku? Biarlah kucari tahu dulu keadaan yang sebenarnya.”
Sambil mengibaskan kebutnya, Li Bok-chiu bertanya: “Adik cilik, siapa namamu? Apa kau datang dari Pek-tho-san?”
Melihat orang bicara dengan lemah-lembut, pemuda itu berdiri, sahutnya dengan tertawa:
“Aku she Yo, Pek-tho-san apa yang kau maksudkan?”
Melihat orang sedang tidak bersiap, se-konyong2 burung merah tadi menyergap lagi serta mematuk dengan paruhnya yang runcing panjang. Sebat sekali Li Bok-chiu ulur tangan kiri terus meraih. Gerak-gerik burung merah kecil itu sangat cepat dan tangkas, namun gerak tangan Li Bok-chiu lebih cepat lagi, tahu-tahu burung merah itu tergenggam.
Keruan pemuda itu kaget, teriaknya: “Hai, jangan kau melukainya!”
“Baik, nih kukembalikan padamu!” sahut Li Bok-chiu sambil membuka telapak tangannya.
Begitu mendapat kebebasan burung merah itu segera pentang sayap hendak terbang, tapi baru saja sayapnya terbentang, Li Bok-chiu kerahkan lwekang melalui telapak tangannya, sehingga burung merah itu seakan-akan melengket pada tangannya. Meski pun beberapa kali burung kecil itu menggelepar-geleparkan sayapnya, tetap tidak mampu terbang lolos dari telapak tangannya.
Maklumlah, Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah mencapai puncaknya, maka tenaga yang dikerahkan pada telapak tangannya bisa digunakan sesuka hati. Dalam sekejap saja ia bisa mengubah kekuatan pukulan telapak tangan beberapa kali, sekali serang pukulan itu dapat menimbulkan gelombang kekuatan yang menderu hebat, tenaga dipusatkan di tengah-tengah telapak tangan, sementara jarinya bisa mengendon sehingga orang yang terkena pukulannya tidak mampu mengerahkan tenaga untuk melawan.
Bagi jago yang berilmu silat tinggi, apa bila badannya terkena pukulan, secara reflek akan mengerahkan tenaga melawan, baik menangkis mau pun mematahkan. Akan tetapi ilmu pukulan Li Bok-chiu ini lain dari pada yang lain, sekali pukul di dalamnya terkandung bermacam kekuatan yang dahsyat, oleh karena itu ia amat tenar dan ditakuti karena ilmu pukulan Jik-lian-sin-ciang ini. Siapa yang tidak akan kuncup nyalinya bila mendengar atau melihat ilmu pukulan ini. Begitulah burung merah tadi masih terus kerupukan di tengah telapak tangan Li Bok-chiu dan tidak mampu terbang meloloskan diri.
Bu Sam-nio dan lainnya juga terkurung oleh barisan ular yang banyak itu, mereka pun kaget dan terheran pula. Melihat burung merah itu tidak mampu lepas dari telapak tangan orang, mereka pun kuatir akan keselamatannya, akan tetapi karena takut digigit ular-ular berbisa, setapak pun mereka tidak berani bergerak.
Melihat suaminya terkapar di tanah tanpa bergerak, entah mati atau masih hidup, betapa pun mereka sudah menjadi suami isteri sekian puluh tahun lamanya, Bu Sam-nio merasa amat prihatin akan keadaan suaminya, segera ia berseru memanggil:
“Samko, bagaimana kau?”
Bu Sam-thorig mengerang, punggungnya terangkat beberapa kali, tapi tetap tidak mampu menegakkan badan.
Kwe Hu tampak celingukan kian kemari. Ketika tidak melihat bayangan kedua burungnya, segera ia berteriak:
“Tiau-ji, Tiau-ji, lekas kembali!”
Setelah menunggu cukup lama dan tidak melihat apa-apa, maka Li Bok-chiu sudah bertekad: “Seumpama Kwe Ceng suami isteri dan Auwyang Hong berada di sekitar sini, tapi kalau aku segera turun tangan, masakah mereka sempat berbuat apa-apa terhadapku?” Maka dengan tersenyum kecil dia melangkah ke depan.
“Eh, jangan bergerak!” teriak anak muda tadi. “Awas digigit ular!”
Tetapi dilihatnya di mana kaki Li Bok-chiu beranjak ke depan, entah kenapa kawanan ular itu menyurut mundur seperti amat takut kepadanya, saling desak dan menyingkir ke pinggir. Tiba2 Li Bok-chiu melompat lewat di samping si pemuda terus menerjang ke dalam gua.
Bu Sam-nio ayun pedangnya seraya membentak: “Keluar!”
Tangan kiri Li Bok-chiu masih memegang burung kecil dan tangan kanan menyongsong tajamnya pedang terus menepuk.
Keruan Bu Sam-nio heran, “Memangnya tanganmu terbuat dari baja?”
Tapi siapa tahu jari-jari orang ternyata bergerak selincah ular hidup, tahu-tahu sudah mencomot batang pedang terus digentak ke depan, ujung pedang malah membalik memotong ke jidat Bu Sam-nio sendiri. Perubahan ini terjadi dalam waktu yang amat cepat.
“Sret!” belum sempat ia berkelit pedangnya sendiri sudah membacok jidatnya.
“Maaf!” ujar Li Bok-chiu sambil tertawa.
Burung di tangan kirinya segera dilepaskan, kedua tangannya segera menjinjing Thia Eng dan Liok Bu-siang, begitu kakinya sedikit menutul, tubuhnya mencelat keluar gua. Dalam kesibukannya itu ia sempat pula menendang tongkat besi Kwa Tin-ok yang datang menyerampang dan menimpuk sebatang Ping-pok-ciam ke kuncir Kwe Hu.
Mendengar jeritan kedua anak dara Thia dan Liok, tahu bahwa keadaan sangat gawat, si pemuda segera bangun dan menubruk maju memeluk Li Bok-chiu sambil teriak:
“Hai, hai, lekas lepaskan!”
Tangan Li Bok-chiu yang masing-masing menjinjing satu orang, lagi pula ia tidak menduga si pemuda bakal memeluk pinggangnya, maka tahu-tahu ia merasa bawah ketiaknya sudah dijepit sepasang tangan kecil. Seketika hatinya terkesiap, entah mengapa seketika seluruh badannya menjadi lemas lunglai. Supaya Thia dan Liok kedua anak perempuan itu tidak tergigit ular, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus melemparkan mereka beberapa tombak jauhnya, lalu dengan cepat sekali tangannya membalik mencengkeram punggung si pemuda.
Memang usia Li Bok-chiu sudah mencapai lima puluhan tahun, namun dia masih seorang perawan suci. Semasa mudanya bergaul dan main asmara dengan Liok Tian-goan, namun keduanya memegang teguh adat istiadat, maka selama hidupnya belum pernah dia bersentuhan tubuh dengan laki-laki mana pun. Banyak laki2 dari kalangan Kangouw yang terpikat akan kecantikannya, tapi sekali orang menampakkan nafsu jahat atau tingkah laku yang tak sopan, maka jiwa orang itu pasti melayang di bawah Jik-lian-sin-ciangnya.
Walau pemuda ini baru berusia belasan, betapa pun badannya sudah mengeluarkan bau kelelakian yang merangsang dan memabukkan. Se-konyong2 Li Bok-chiu menghadapi keadaan ini, maka seketika ia terkesima dan luluh hatinya. Begitu mencengkeram punggung si pemuda sebetulnya ia sudah kerahkan tenaga hendak menghancurkan isi perut orang untuk mencabut nyawanya, siapa tahu tenaganya ternyata tak kuasa dikerahkan. Selama hidupnya hal semacam ini belum pernah dia alami, keruan tak terkatakan rasa kejut dan herannya.
Pada saat itulah burung merah itu tahu2 menubruk mematuk matanya yang sebelah kiri. Sedikit pun Li Bok-chiu tidak menyangka, tahu-tahu sebelah matanya terasa seperti ditusuk sesuatu benda dan sakitnya luar biasa, ternyata biji matanya sudah dipatuk buta oleh burung merah itu. Keruan murkanya tidak kepalang. Dia ayun tangannya secepat kilat, pukulan ini dilandasi kekuatan Iwekang-nya selama hidup ini
“Plok!” Burung kecil itu seketika terpental jatuh dengan leher putus sayap kutung.
Cepat sekali tangan kanan Li Bok-chiu mengangkat si pemuda lalu memaki: “Keparat cilik, kau ingin mampus ya!”
Segera ia putar badan pemuda itu dengan kaki di atas dan kepala di bawah, ia hendak benturkan kepala orang pada batu gunung agar mampus. Meski dalam bahaya, tetapi si pemuda sedikit pun tidak gugup atau takut, malah katanya sambil tertawa:
“Kokoh (bibi), jangan kau puntir kakiku hingga kesakitan!”
Suaranya demikian lembut dan aleman, sorot matanya halus mesra dan membuat orang yang menghadapinya luluh dan kuncup amarahnya, apa pun yang diminta rasanya sulit untuk menolaknya. Sekilas Li Bok-chiu melenggong. Belum lagi hatinya mengambil keputusan, didengarnya pekik sepasang rajawali dari angkasa, kedua rajawali itu sedang terbang mendatangi dari kejauhan, tahu-tahu menukik serta menyerangnya pula.
Mata kirinya sudah buta, rasa marah dan penasaran ini belum sempat terlampiaskan. Segera ia kebutkan lengan baju kirinya, dua batang Ping-pok-ciam memapak kedua rajawali itu.
Senjata rahasianya ini amat ganas dan berbisa. Dua rajawali ini tadi telah merasakan kelihayannya, maka mereka lekas pentang sayap melambung lagi ke atas. Tetapi jarum2 perak itu menyambar dengan kecepatan luar biasa, meski kedua rajawali terbang sangat cepat, luncuran dua batang jarum perak lebih cepat lagi. Saking kaget dan ketakutan kedua rajawali sampai bersuit nyaring, tampaknya jiwa mereka bakal takkan tertolong lagi, kedua rajawali yang gagah perkasa ini bakal melayang oleh jarum berbisa itu.
Mendadak terdengar suara mendering keras, sesuatu benda meluncur amat kencang dari kejauhan memecah angkasa. Sungguh cepat sekali kedatangan benda kecil ini, baru saja kuping mendengar dering luncurannya, dalam sekejap saja telah melayang tiba dan tahu-tahu membentur jatuh kedua batang jarum berbisa itu.
Datangnya senjata rahasia ini sungguh amat mengejutkan. Meski Li Bok-chiu seorang kejam, tak urung ia pun terperanjat. Segera dia melompat ke depan sambil melemparkan si pemuda untuk menjemput benda itu, kiranya hanya sebutir batu kerikil biasa. Pikirnya: “Orang yang menimpukkan batu kerikil ini ilmu silatnya pasti tinggi luar biasa. Kini mataku sudah cidera, biarlah aku menghindarinya saja.”
Serta merta ia bergerak menuruti jalan pikirannya, telapak tangannya segera menepuk punggung Thia Eng, tujuannya hendak membinasakan Thia Eng dan Liok Bu-siang sesuai tanda peringatan sembilan tapak tangan berdarah yang ditinggalkan di dinding rumah Liok Lip-ting.
Akan tetapi pada waktu telapak tangannya hampir menyentuh punggung Thia Eng, sekilas mata kanan yang masih jeli itu tiba-tiba melihat leher anak dara itu terikat selembar sapu tangan bersulam bunga merah indah yang dia kenal adalah buah tangan sendiri yang dulu dia berikan kepada kekasihnya sebagai tanda mata.
DUA TOKOH KOSEN YANG ANEH
Karena ini seketika ia merandek, tenaga gablokannya tadi dengan cepat ia tarik kembali, segala cumbu-rayu dimasa silam sekilas terbayang kembali olehnya. Melihat sapu tangan sulaman ini ia pun lantas tahu maksud kemauan Liok Tian-goan, pikirnya dalam hati:
“Walau pun ia telah menikah dengan perempuan hina she Ho itu, namun di dalam hatinya ternyata ia tidak pernah melupakan diriku, terbukti sapu tangan ini masih dia simpan baik-baik, karena itu ia mohon agar aku mengampuni keturunannya, lantas aku harus mengampuni atau tidak?”
Demikianlah sesaat ia menjadi ragu-ragu sehingga tidak bisa mengambil keputusan. Sejenak kemudian ia putuskan akan bunuh dulu Liok Bu-siang saja. Maka kebutnya segera ia angkat hendak menyabet gadis cilik itu, tetapi di bawah cahaya matahari yang terang, lagi-lagi tertampak olehnya pada leher gadis ini berkalung selembar sapu tangan bersulam yang sama.
“Ehh…!” Li Bok-chiu bersuara heran, pikirnya pula: “Mana mungkin ada dua sapu tangan yang sama? Satu di antaranya pasti palsu.”
Oleh karena itu kebutnya yang menghantam tadi dia ubah menjadi membelit dan dengan tepat leher Liok Bu-siang sudah kena dililit oleh ekor kebut. Anak dara ini terus dia seret ke dekatnya.
Akan tetapi pada saat itu juga suara mendesing tadi kembali menggema dan sebutir batu lagi-lagi menyambar dari belakang mengarah punggungnya. Li Bok-chiu lekas baliki kebutnya untuk menyampok batu yang cepat sekali datangnya ini, tangkisannya sangat jitu, dengan tepat batu itu kena disampok pergi, namun demikian Li Bok-chiu merasakan telapak tangannya sakit pedas.
Batu sekecil itu ternyata membawa tenaga yang begitu kuat, maka betapa hebat ilmu silat penyambit batu itu dapat dibayangkan. Keruan Li Bok-chiu tidak berani tinggal lebih lama lagi, dia sambar Liok Bu-siang terus dikempit, dia keluarkan ginkang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi, secepat terbang dalam sekejap saja dia sudah menghilang kabur.
Nampak Piaumoay atau adik misannya digondol orang, tentu saja Thia Eng menjadi ribut.
“Piaumoay…! Piaumoay…!” demikian dia berteriak-teriak sambil menyusul dari belakang dengan kencang.
Akan tetapi dengan kecepatan berlari Li Bok-chiu, mana sanggup Thia Eng menyusulnya? Namun sejak kecil gadis ini sudah memiliki kemauan keras, dengan kertak gigi dia masih terus mengudak.
Di daerah Kanglam terdapat banyak sungai. Belum lama Thia Eng mengudak, dia sudah terhalang oleh sebuah sungai kecil hingga tak berdaya buat maju lagi, Tetapi dara ini tidak putus asa, sambil jalan menyusut gili-gili sungai, mulutnya masih memanggil terus. Pada sebuah jembatan kecil di sebelah kiri sana, se-konyong-konyong berkelebat bayangan putih dan tiba-tiba satu orang mendatangi dari seberang. Thia Eng tercengang karena tahu-tahu Li Bok-chiu sudah berdiri di hadapannya, akan tetapi Liok Bu-siang sudah tak kelihatan di bawah kempitannya. Di dalam hati Thia Eng sangat ketakutan, tetapi ia lantas ingat lagi pada Liok Bu-siang, maka dengan tabahkan hati ia tanya:
“Di mana adik-misanku?”
Sekilas Li Bok-chiu melihat raut muka Thia Eng yang sangat mirip dengan mendiang Ho Wan-kun yang menjadi lawan asmaranya, maka rasa bencinya seketika timbul dan panas hatinya membakar, tanpa pikir lagi ia angkat kebutnya, menyabet ke kepala si nona.
Dengan ilmu silatnya yang begitu tinggi saja orang seperti Liok Lip-ting masih tak mampu menangkis tipu serangan Li Bok-chiu yang sangat lihay ini, apa lagi hanya gadis sekecil Thia Eng? Maka agaknya senjata kebut itu dengan segera akan membikin kepala berikut dada anak dara itu hancur lebur.
Di luar dugaan, baru saja Li Bok-chiu mengayunkan kebutnya, mendadak terasa tarikannya menjadi kencang, ujung kebutnya se-akan-akan kena dibetot oleh sesuatu dan tak mampu diayunkan ke depan. Tidak kepalang kejutnya! Ia hendak menoleh buat melihat, tapi tahu-tahu tubuhnya terapung ke atas terus melompat beberapa tombak ke belakang, habis ini baru turun kembali. Sungguh bukan buatan kejut Li Bok-chiu oleh kejadian ini! Lekas ia memutar tubuh, tetapi dia menjadi melongo karena di belakangnya kosong melompong tanpa sesuatu yang dia dapatkan.
Li Bok-chiu sudah biasa menghadapi lawan tangguh, tahu gelagat kurang menguntungkan dirinya. Ia lalu putar kebutnya hingga berwujut satu lingkaran secepat roda angin, dengan demikian dalam jarak lima kaki musuh sukar memperdayainya, setelah ini baru dia berani memutar tubuh lagi. Maka tampaklah olehnya di samping si dara cilik Thia Eng kini sudah berdiri seorang aneh yang berjubah hijau, perawakannya tinggi kurus, air mukanya kaku tanpa mengunjuk sesuatu perasaan, seperti manusia tapi lebih memper mayat pula hingga membikin orang yang melihatnya akan timbul semacam rasa jemu dan muak.
Li Bok-chiu tidak kenal orang aneh ini. Ia pikir ilmu silat orang jauh di atas dirinya, tapi ia justru tak ingat dalam kalangan Bu-lim ada tokoh siapakah yang begini lihay dan bermuka seperti dia ini. Selagi ia hendak menegur, tiba-tiba ia mendengar orang itu sudah buka suara!
“Orang ini terlalu kejam, nak. Hayo, kau pukul dia!” demikian orang itu berkata pada Thia Eng.
Sudah tentu Thia Eng tidak berani menghantam Li Bok-chiu seperti apa yang diajarkan itu.
“Aku tak berani,” ia menjawab dengan mengkeret.
“Kenapa takut? Hantam saja dia,” kata orang itu lagi.
Akan tetapi Thia Eng masih tetap tak berani. Akhirnya orang itu jadi tak sabar, mendadak ia pegang tengkuk Thia Eng terus dilemparkan ke tubuh Li Bok-chiu.
Kini Li Bok-chiu tidak berani lagi menghantam anak dara ini dengan kebutnya. Dia ulurkan tangan kirinya untuk menyambut datangnya tubuh kecil itu, namun baru saja tangannya hampir menyentuh pinggang Thia Eng, se-konyong2 terdengar suara mendesir, sikutnya terasa linu pegal sehingga seketika tangannya tak kuat diangkat.
Keruan dengan tepat kepala Thia Eng lantas menumbuk dadanya, malah berbareng itu pula gadis ini menambahi dengan sekali tamparan keras hingga mengeluarkan suara “plak” pada pipinya.
Seumur hidup Li Bok-chiu belum pernah dihina sedemikian rupa, tentu saja ia sangat marah, secepat kilat kebutnya memutar terus menyabet kepala dara cilik itu. Akan tetapi kembali terdengar sambaran angin, tangkai kebutnya kena dibentur sesuatu benda kecil sehingga hampir terlepas dari cekalannya.
Kiranya orang aneh tadi telah menggunakan pula sebutir batu kecil yang disentilkan dengan jari dan tepat mengenai gagang kebutnya. Sementara itu Thia Eng teringat Li Bok-chiu telah membunuh A Kin dan pelayan wanita di rumahnya, juga nasib paman dan bibinya sampai kini belum diketahui, tiba-tiba rasa takutnya berubah menjadi dendam dan murka, tanpa ayal lagi susul menyusul ia kerjakan kedua tangannya yang kecil dengan cepat, beruntun ia persen pipi Li Bok-chiu dengan empat kali tempelengan.
Percuma Li Bok-chiu selama ini malang-melintang di seluruh jagat, tapi kini telah digenjot anak dara ini sesuka hati tanpa bisa membalas sedikit pun! Li Bok-chiu pandai berpikir juga pintar menyimpan perasaan hatinya. Ia mengerti keadaan tidak menguntungkan dirinya, maka ia pun tidak mau tinggal lebih lama. Tiba-tiba ia tertawa ngikik, lantas putar tubuh hendak kabur. Baru beberapa langkah, sekonyong-konyong dia kebaskan lengan bajunya ke belakang beberapa kali, berbareng itu terlihat sinar perak yang kemilauan, belasan jarum ‘Peng-pek-gin-ciam’ telah menyambar orang aneh berjubah hijau tadi.
Cara Li Bok-chiu melepaskan Am-gi atau senjata gelapnya, tidak memutar tubuh dulu, juga tanpa menoleh, akan tetapi setiap jarumnya dengan tepat mengarah tempat-tempat yang berbahaya pada tubuh orang aneh itu.
Orang itu sama sekali tidak menduga akan serangan ini, ia pun tidak menyangka senjata rahasia Li Bok-chiu bisa begini keji dan lihay, maka terpaksa dia enjot kakinya dan secepat kilat melompat mundur. Datangnya jarum perak luar biasa cepatnya, namun cara melompat mundurnya ternyata lebih cepat lagi, pula sekali lompat dia telah mundur sejauh beberapa tombak. Dengan mengeluarkan suara gemerisik, jarum-jarum perak tadi jatuh semua di depan orang itu.
Li Bok-chiu sendiri sudah mengetahui bahwa serangannya tidak bakal berhasil. Dengan menghamburkan belasan jarum ini tujuannya hanya untuk mendesak orang menyingkir saja. Karena itu, ketika ia dengar suara lompatan orang di belakang, kembali ia kebaskan lengan bajunya lagi, dua jarum perak yang lain menyusul dia arahkan ke ulu hati Thia Eng.
Sudah dipastikan Li Bok-chiu bahwa dua jarumnya ini tak akan meleset dari sasaran, tetapi karena takut orang aneh berjubah hijau itu menubruk maju dan menghajarnya, maka tanpa menoleh lagi buat melihat hasil serangannya itu, segera ia ‘tancap gas’ terus lari pergi dengan cepat, hanya sekejap saja ia sudah menyeberangi jembatan kemudian menghilang di antara hutan yang lebat.
Sementara itu, karena serangan mendadak tadi orang berbaju hijau lantas berseru kaget. Ketika ia maju dan membangunkan Thia Eng, ia lihat dua jarum perak yang rada panjang menancap pada dada anak dara itu. Tanpa terasa air muka orang aneh ini berubah. Setelah ter-mangu-mangu sejenak, segera ia pondong Thia Eng terus lari cepat menuju ke arah barat.
Kembali kepada Kwa Tin-ok dan lain-lain. Mereka menjadi jeri oleh ketangkasan Li Bok-chiu yang pergi-datang cepat luar biasa itu. Hanya si anak muda tadi ternyata bernyali sangat besar.
“Biar aku pergi menolong kedua Moaymoay!” demikian serunya. Sambil berkata dia terus mengejar pergi mengikuti arahnya Li Bok-chiu tadi.
Anak muda ini sama sekali tidak kenal jalanan. Setelah beberapa kali belok sini dan putar sana, akhirnya kesasar, maka terpaksa ia harus berhenti untuk bertanya kepada orang di pinggir jalan. Meski begitu, sesudah jalan terus secara ngawur tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada suara teriakan Thia Eng yang me-manggil2:
“Piaumoay, Piaumoay!”
Kedengarannya suara itu berada tidak jauh, tanpa ayal lagi segera ia percepat langkahnya mengudak ke depan. Sungguh pun anak muda ini baru sekali ini bertemu dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang, akan tetapi dalam hati mudanya tanpa terasa sudah timbul perasaan suka pada mereka. Sudah terang ia tahu betapa lihaynya Li Bok-chiu, namun ia tetap menguber terus tanpa memikirkan risikonya sendiri.
Setelah ber-lari-lari tak lama menurut arah datangnya suara tadi, ia taksir seharusnya sudah sampai di tempat suara Thia Eng, akan tetapi aneh sekali, meski ia menengok sana-sini, bayangan kedua anak dara itu sama sekali tidak tampak. Ketika tanpa sengaja ia berpaling, tiba-tiba melihat di atas tanah berserakan belasan buah jarum perak yang mengeluarkan sinar mengkilap, tiap-tiap jarum panjangnya kira-kira setengah dim, pada batang jarumnya samar-samar tampak terukir kembangan yang amat bagus dan menarik.
Karena itu dia jemput sebuah jarum kemudian digenggam pada tangan kirinya. Tetapi mendadak dia mendapatkan sesuatu yang aneh. Dia melihat di samping jarum-jarum perak yang berserakan itu ada seekor kelabang besar yang sudah mati dengan perut terbalik. Ia jadi lebih tertarik oleh kejadian ini. Tatkala ia menunduk dan periksa lebih teliti, ia lihat pula di atas tanah itu terdapat banyak sekali binatang sebangsa semut, jangkrik, tawon, belalang dan lainnya, semuanya sudah mati. Tentu saja anak muda ini merasa heran. Waktu dia menyingkap semak-semak rumput di bagian lain, keadaannya tampak sama saja, di sekitar tempat yang terdapat jarum perak itu banyak kutu-kutu dan serangga-serangga yang mati.
Namun setelah dia menjauh beberapa tindak, di sana serangga-serangga kedapatan masih hidup segar. Dan ketika ia gunakan jarum yang dia pegang untuk menyentuh serangga-serngga itu, luar biasa cepatnya, hanya sejenak saja segera binatang-binatang kecil itu mati kaku. Beberapa kali ia coba dengan beberapa jenis binatang kecil, keadaannya serupa saja.
Akhirnya anak muda ini menjadi girang sekali. Ia pikir kalau jarum perak ini dijadikan alat perangkap nyamuk dan lalat, hasilnya tentu akan sangat memuaskan. Di luar dugaan, sesaat kemudian mendadak dia merasa tangan kirinya sendiri telah kaku dan kejang, gerak-geriknya tidak leluasa. Dasar anak muda ini memang punya kecerdasan otak yang luar biasa, se-konyong-konyong dia terkejut dan sadar: “He, jarum perak ini mengandung racun yang jahat luar biasa, sangat berbahaya bila aku memegangnya!”
Karena itu cepat ia buang semua jarum itu. Segera ia lihat telapak tangannya sudah berubah menjadi hitam semua, lebih-lebih tangan sebelah kiri, begitu hitam sehingga seperti kena tinta. Saking takutnya hampir saja ia menangis, tangannya di-gosok-gosokkan ke pahanya dengan kuat, namun perlahan-lahan ia merasa tangannya mulai kaku kesemutan lalu naik ke bagian lengan, bahkan tangan kiri sudah pegal sampai ke siku. Sejak kecil anak muda ini sudah biasa berkawan dengan ular berbisa, ia tahu bahaya orang terkena racun, karena itu akhirnya ia menangis sedih.
“Nah, sudah tahu lihaynya bukan, nak?” tiba-tiba di belakangnya ada suara teguran orang.
Suara orang ini nyaring, tetapi pecah dan sangat menusuk telinga, datangnya mendadak sehingga se-akan-akan timbul dari bawah tanah saja. Maka dengan cepat si anak muda putar tubuh ke belakang. Tetapi segera ia kaget hingga ternganga, karena apa yang dia lihat ialah seorang yang berdiri di belakangnya, tetapi cara ‘berdiri’ orang ini sungguh aneh bin ajaib, bukannya dia berdiri dengan kaki, tetapi dengan kepalanya, jadi kepala yang menyanggah tubuhnya, sedang kedua kakinya rapat tegak ke atas. Dalam kagetnya anak muda itu melompat mundur beberapa tindak.
“Kau... kau ini siapa...?” serunya kemudian dengan tak lancar.
Tetapi aneh, entah cara bagaimana gerakannya tahu2 orang itu telah enjot tubuhnya maju tiga kaki dan dengan tepat turun di depan si anak muda.
“Aku... aku ini siapa...? Ha, kalau aku tahu siapa aku ini tentu akan baik sekali,” demikian sahutnya.
Keruan anak muda itu semakin ketakutan oleh kelakuan orang, tanpa pikir lagi segera ia angkat kaki dan lari kesetanan cepatnya. Namun dia dengar di belakangnya selalu diikuti dengan suara “tok-tok-tok” yang keras dan ketika ia menoleh, tanpa terasa arwahnya hampir terbang dari raga saking kagetnya.
Kiranya orang itu mempergunakan kepala sebagai kaki, dengan menjungkir tubuhnya me-lompat-lompat dengan kecepatan yang tiada bandingannya, jarak terjauhnya selalu tak lebih dari beberapa kaki saja di belakangnya. Tentu saja ia berlari semakin kencang dan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar menderunya angin, tahu-tahu orang aneh itu sudah melompat lewat di atas kepalanya lantas turun di hadapannya.
“Mak...!” dalam takutnya anak muda itu sampai berteriak memanggil ibunya
Segera ia putar tubuh hendak lari ke jurusan lain, tapi percuma saja, tidak peduli kemana ia berlari, orang aneh itu selalu dengan kecepatan luar biasa tahu-tahu sudah melompat lewat dan turun di depannya. Percuma saja ia mempunyai sepasang kaki, sebab ternyata tidak bisa lebih cepat dari pada orang yang berlari pakai kepala. Kemudian ia mendapat akal. Ia sengaja berputar dan ber-ganti-ganti beberapa arah, ia tunggu orang aneh itu makin dekat, lalu mendadak ia ulur tangan hendak mendorong orang. Tapi tak terduga lengannya ternyata sudah kaku dan tidak mau turut perintah lagi. Keringatnya gemerobyos, ia menjadi bingung dan kehabisan akal, akhirnya ia merasakan kedua kakinya menjadi lemas dan ia pun jatuh terduduk.
“Semakin kau lari kian kemari, racun di tubuhmu semakin cepat kerjanya,” demikian ia dengar orang aneh itu berkata.
Seperti orang yang dapat rejeki dan mendadak menjadi pintar sendiri, segera anak muda itu bertekuk lutut di depan orang sambil berseru:
“Mohon Lo-kongkong (kakek) menolong jiwaku!”
Tetapi di luar dugaan, orang aneh itu hanya geleng2 kepala. “Susah ditolong, susah ditolong!” demikian ia menjawab.
Karena menggunakan kepala untuk menahan tubuhnya, maka sekali menggeleng kepala, otomatis tubuhnya ikut menggeleng juga hingga bergoncang.
“Kepandaianmu begini tinggi, kau pasti bisa menolongku,” kata anak muda itu pula.
Rupanya kata-kata pujian ini membikin orang aneh itu menjadi senang sekali. Karena itu ia pun tersenyum.
“Dari mana kau tahu kepandaianku tinggi?” ia tanya.
Mendengar lagu suara orang sudah berubah menjadi halus dan tampaknya pujiannya membawa hasil segera anak muda itu mengikuti arah angin, lekas ia tambahi pula pujian-pujiannya.
“Ya, kenapa tidak tahu! Dengan jungkir-balik begini saja bisa berlari secepat ini, di kolong langit terang tiada orang kedua lagi yang bisa melebihi kau.”
Kata pujian terakhir ini sesungguhnya terlalu berlebihan dan diucapkan semaunya saja, siapa sangka kata-kata “di kolong langit ini tiada orang kedua lagi yang melebihi kau” dengan tepat justru kena betul di lubuk hati orang aneh itu. Maka terdengarlah suara ketawanya yang ter-bahak-bahak.
“Baliki tubuhmu, biar aku pandang kau,” demikian ia berteriak kemudian.
Anak muda itu berpikir: “Betul juga, aku berdiri tegak dan orang ini berjungkir-balik, memang benar tidak bisa terang melihatnya, dia tidak mau berdiri cara biasa, tiada jalan lain kecuali aku yang harus ikut menjungkir.”
Tanpa berkata lagi dia lantas menjungkir tubuhnya, dia sanggah tubuhnya dengan kepala, tangan kanannya yang masih punya daya-rasa dia gunakan pula buat menahan. Sementara setelah orang aneh itu mengamat-amati dia beberapa lama, wajahnya tampak mengunjuk ragu dan sedang pikir-pikir.
Kini setelah anak muda itu ikut menjungkir, maka pun bisa melihat jelas muka orang, ia melihat orang aneh ini berhidung besar, matanya mendelong dalam, mukanya penuh bulu, berbeda sekali dengan manusia biasa, ia dengar pula orang itu kemat-kemit bergumam sendiri, ia tidak paham bahasa aneh apa yang diucapkan itu karena sukar didengar.
“Kongkong yang baik, tolonglah diriku,” demikian ia memohon pula.
Di pihak lain, demi melihat anak muda ini bermuka cakap, cara bicaranya pun membawa semacam daya tarik yang sukar ditolak orang, hati orang aneh itu menjadi girang.
“Baik, tidak susah buat tolong kau, tetapi kau harus terima suatu permintaanku,” sahutnya kemudian.
“Apa yang kau katakan pasti akan kuturut,” kata si anak muda, “Permintaan apakah yang harus kupenuhi, katakanlah, Kongkong!”
“Ha-ha, justru aku ingin kau terima permintaanku itu,” sahut orang aneh itu sambil tertawa lebar. “kau harus menurut segala apa yang kukatakan.”
Mendengar syarat ini, mau tidak mau anak muda ini berpikir, ia menjadi ragu-ragu. “Harus menurut semua apa yang dikatakannya? Kalau dia suruh aku menjadi anjing dan makan kotoran, apa harus aku turuti juga?”
Dalam pada itu, melihat anak ini ragu2, orang aneh itu menjadi gusar. “Baiklah, biar kau mati saja!” teriaknya segera.
Setelah itu sekali lehernya mengkeret dan menonjol lagi, tiba-tiba tubuhnya telah mencelat pergi sejauh beberapa kaki. Karena kuatir ditinggal pergi orang, dan untuk mengubernya dan mohon pertolongan tidak mungkin ia menirukan cara jalan dengan berjungkir, maka dengan cepat anak muda itu berjumpalitan dan berdiri kembali, segera pula ia angkat kaki memburu.
“Kongkong! Kongkong...!” ia ber-teriak2, “baiklah, aku berjanji apa saja yang kau katakan, pasti akan kuturuti semua.”
Mendengar syaratnya diterima, mendadak orang aneh itu berhenti dan putar balik, “Baik, tetapi kau harus bersumpah dahulu,” katanya.
Tatkala itu si anak muda merasa kaku dan pegal di tangannya telah naik sampai di pundak. Ia insyaf apa bila rasa kaku itu sampai merembes hingga di dada, maka jiwanya pasti akan melayang. Karena itu terpaksa ia menurut dan bersumpah.
“Baiklah, aku bersumpah, apa bila Kongkong menolong jiwaku dan membersihkan semua racun di tubuhku, pasti aku akan menurut semua kata-katamu. Jika aku membantah, biarlah racun jahat itu balik kembali pada tubuhku.”
Pembawaan anak muda ini memang licin, maka sewaktu ia mengucapkan sumpahnya, di dalam hati ia berpikir: “Asal selanjutnya aku tidak pernah menyentuh jarum perak itu lagi, cara bagaimana racun itu bisa balik kembali di tubuhku? Entah orang aneh ini mau terima tidak sumpahku ini?”
Ketika ia lirik orang, ternyata muka orang aneh itu mengunjuk rasa senang, suatu tanda merasa puas atas sumpahnya tadi. Kemudian tampak ia manggut-manggut, habis ini mendadak ia berjumpalitan bangun, lengan anak muda itu dia pegang dan dengan kuat ia pijat-pijat dan di-urut-urut beberapa kali.
“Bagus, bagus, kau adalah anak baik,” demikian ia berkata.
Karena dipijat dan diurut itu, segera si anak muda merasa lengannya menjadi berkurang rasa pegal kakunya.
“Kongkong, pijatlah beberapa kali lagi!” pintanya pula.
Tiba-tiba orang aneh itu mengkerut kening demi mendengar panggilannya ini. “Jangan kau panggil aku Kongkong (kakek), tetapi harus panggil ayah!” demikian ia membetulkan.
“Tidak, ayahku sudah mati, aku tak punya ayah,” sahut si anak muda.
Jawaban ini membikin orang aneh itu menjadi marah: “Kurang ajar, baru pertama kali aku berkata kau sudah membantah, guna apa lagi punya anak semacam kau ini?!” bentaknya segera.
“O, kiranya dia hendak terima aku sebagai anak,” pikir anak muda itu.
Oleh karena sejak kecil ia tidak punya bapak, maka ia amat iri apa bila melihat anak lain mendapat kasih sayang ayah. Dia menjadi pingin mempunyai ayah pula, namun melihat kelakuan orang aneh yang berlainan dengan orang biasa ini dan seperti orang gila, maka kini berbalik ia tidak sudi mengaku ayah padanya.
“Kau tak mau panggil aku sebagai ayah?!” bentak orang aneh itu lagi. “Baiklah! Hm, orang lain hendak panggil ayah padaku, belum tentu aku mau terima.”
Tetapi anak muda itu masih tetap tidak mau memanggil, bahkan kini mulutnya menjengkit tanda mencemoohkan, ia pun tidak gubris kata-lata orang lagi, hanya di dalam hati ia sedang berpikir cara bagaimana supaya dapat mengakali orang agar mau menyembuhkan racun di badannya.
Sementara itu terdengar orang aneh itu komat-kamit entah apa yang dikatakan, berbareng bertindak pergi pula dengan cepat. Keruan si anak muda menjadi gugup.
“Ayah, ayah!” terpaksa ia berseru memanggil. “Hendak kemana, ayah?”
Mendengar panggilan ini, orang aneh itu lalu tertawa senang: “Ha-ha-ha, anakku sayang, marilah kuajarkan kau cara melenyapkan hawa racun di dalam tubuhmu.”
Dengan cepat anak muda itu mendekati.
“Racun yang kena dirimu itu adalah racun jarum Peng-pek-gin-ciam milik Li Bok-chiu. Di jagat ini hanya dua orang saja yang mampu menyembuhkannya,” demikian kata si orang aneh pula, “”Yang pertama ialah seorang Hwesio tua, tetapi untuk menolong kau ia harus mengorbankan jerih-payah latihannya selama beberapa tahun. Dan yang seorang lainnya ialah ayahmu ini.”
Lalu ia ajarkan kunci ilmu penyembuhannya secara lisan. Anak muda itu disuruh menurut ajarannya untuk mengatur napas. Cara ini adalah cara bernapas yang terbalik dan harus dilakukan dengan tubuh terbalik pula, yakni dengan berjungkir kepala di bawah dan kaki di atas, supaya hawa dan darah berjalan bertentangan arah, dengan demikian hawa racun itu lantas terdesak kembali dan keluar dari tempat masuk semula.
Tetapi karena baru belajar dan mulai berlatih, setiap hari hanya sedikit saja racun itu bisa didesak keluar, sedikitnya harus lebih sebulan baru semua hawa berbisa itu bisa dikuras. Setelah orang aneh itu ajarkan cara-cara melakukannya, si anak muda ternyata sangat pintar, sekali tunjuk saja ia sudah paham, begitu dengar sudah teringat baik-baik. Oleh karena itu ia lantas kerjakan menurut cara yang diajarkan itu. Betul juga, rasa kaku dan pegal tadi lambat laun mulai berkurang. Ia atur jalan napasnya sejenak pula, akhirnya dari ujung jari kedua tangannya mengucurkan beberapa tetes air hitam.
“Nah, cukuplah sudah, hari ini tidak perlu berlatih lagi, biarlah besok kuajarkan cara baru padamu,“ ujar orang aneh itu dengan girang demi nampak menetesnya air hitam. “Marilah, sekarang kita pergi!”
“Pergi ke mana?” tanya anak itu dengan bingung.
“Kau adalah anakku, kemana saja sang ayah pergi, dengan sendirinya kau ikut ke sana,” sahut si orang aneh.
Sebelum anak itu menjawab, pada saat itu pula mendadak terdengar beberapa kali suara mencicitnya burung, menyusul sepasang burung rajawali yang melayang lewat di angkasa dan disusul pula dengan suara seruan orang yang nyaring-keras, yang sayup-sayup berkumandang dari jauh. Seketika air muka orang aneh itu berubah demi mendadak mendengar suara tadi.
“Tidak, aku tidak mau bertemu dengan dia, tidak mau bertemu dia!” sekonyong-konyong ia berteriak, berbareng itu ia pun melangkah pergi dengan cepat.
Langkahnya demikian cepat sehingga dalam beberapa tindak saja orang aneh itu sudah menghilang di balik lereng gunung sana.
Keruan si anak muda tadi yang kelabakan. “Ayah, ayah!” ia ber-teriak-teriak sambil menguber.
Tetapi baru saja ia melewati satu pohon Yang-liu besar, tiba-tiba ia mendengar sambaran angin dari belakang, begitu keras angin itu hingga kulit kepalanya terasa sakit, menyusul pandangannya menjadi gelap seakan-akan tertutup selapis awan tebal. Kiranya kedua burung rajawali tadi telah melayang dari belakang dan turun di depannya. Pada saat yang sama dari belakang pohon muncul seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua rajawali itu segera hinggap di pundak kedua orang itu sambil bercuat-cuit seperti sedang melaporkan sesuatu.
Laki-laki itu bermata besar dan beralis tebal, dadanya lebar dan punggungnya tegak, usianya antara 34-35 tahun, di atas bibirnya terpelihara kumis tebal dan wajahnya sedikit pun tidak menunjukkan perasaannya. Sedang yang wanita usianya 30 tahunan. Meski pun sudah setengah umur, tapi di antara alis matanya masih jelas kelihatan sifat aleman yang menarik dan nampak seperti masih polos. Dengan tangannya ia tengah mengelus sayap burung rajawali dengan rasa sayang.
“Menurut pendapatmu, anak ini mirip siapa?” tiba-tiba saja wanita itu berkata kepada lelaki di sampingnya sesudah mengamat-amati si anak beberapa kali.
Akan tetapi lelaki itu ternyata tidak menjawab, sebaliknya ia malah berkata ke jurusan lain;
“Mengapa Tiau-ji (si rajawali) bisa berada di sini? Jangan-jangan di atas pulau telah terjadi sesuatu?”
Kiranya kedua orang ini ialah Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri. Mereka telah keluar pulau buat mencari Oey Yok-su, tetapi meski pun mereka sudah jelajahi antero kota-kota di daerah Kanglam, belum juga mereka ketemukan jejak ayah dan ayah mertua mereka itu.
Oey Yong kenal watak ayahnya yang suka pada keindahan alam daerah Kanglam. Bila mana orang tua ini sampai mencari tempat tirakat lain, maka bisa dipastikan tidak akan melintasi utara sungai Tiangkang dan tentu pula tidak lebih selatan dari Sian-he-nia. Kebetulan hari itu mereka berdua sampai di kota kecil Ling-oh dari kabupaten Oh-ciu-hu. Di sini tiba-tiba mereka melihat ada mengepulnya asap dan berkobarnya api yang meninggi ke langit. Mereka dengar pula orang kampung pada berteriak.
“He, Liok-keh-ceng kebakaran!”
Mendengar nama pedesaan yang disebut itu, hati Kwe Ceng jadi tertarik, ia ingat bahwa di daerah Ling-oh ini terdapat seorang Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Meski selama ini belum pernah bertemu, tetapi sudah lama ia kagumi nama orang yang tersohor. Ketika ia menanyakan, betul juga apa yang dikatakan orang udik tadi adalah rumah kediaman Liok Tian-goan.
Mereka berdua buru-buru menuju ke tempat kebakaran. Setibanya di sana, perumahan yang terbakar itu sudah menjadi puing, hanya di antara sisa gundukan api terdapat beberapa mayat yang sudah hangus dengan bau yang sangit busuk.
“Engkoh Ceng, kukira dalam kejadian ini terdapat sesuatu yang aneh,” demikian kata Oey Yong pada sang suami.
“Kenapa?” tanya Kwe Ceng.
“Ya, ingat saja Liok Tian-goan adalah seorang Enghiong yang namanya gilang-gemilang. kabarnya sang isteri Ho Wan-kun juga seorang pendekar wanita pada jaman ini, apa bila hanya kebakaran biasa saja, mustahil tiada seorang pun di antara keluarganya yang bisa menyelamatkan diri. Aku menduga tentu musuhnya yang tangguh telah datang menuntut balas padanya!” demikian pendapat Oey Yong.
Kwe Ceng pikir betul juga pendapat isterinya ini. Ia adalah golongan manusia yang berbudi luhur dan suka menolong, meski sekarang usianya sudah menanjak, pengalamannya pun banyak bertambah, tetapi hatinya yang bajik dan mulia itu sedikit pun tidak berkurang dari pada waktu mudanya. Oleh karenanya segera ia menyatakan akur.
“Betul pendapatmu itu. Marilah kita periksa, coba lihat siapakah musuhnya, kenapa turun tangan secara begini keji?”
Mereka berdua kemudian mengitari perkampungan yang terbakar itu, namun sedikit pun tiada tanda-tanda mencurigakan yang mereka dapat. Tetapi mata Oey Yong yang jeli tiba-tiba tertarik pada sesuatu, lalu sekonyong-konyong ia berteriak sambil menuding pada dinding rumah yang tinggal separuh itu.
“Lihat, apakah itu?” serunya.
Kwe Ceng memandang ke arah yang ditunjuk dan tampaklah di atas dinding itu terdapat bekas lima cap tangan. Karena baru saja tergarang asap, maka cap tangan itu kelihatan bertambah seram.
Seperti diketahui, cap tangan yang berada di dinding itu semuanya ada sembilan buah, namun karena dinding temboknya sudah ambruk separoh, maka yang masih ketinggalan hanya lima buah.
Kwe Ceng kaget ketika mengenali tanda telapak tangan itu. “Jik-lian Sian-cu!” tanpa terasa ia menyebut nama orang.
“Ya, benar dia,” sahut Oey Yong, “Sudah lama kita mendengar bahwa Jik-lian Sian-cu Li Bok-Chiu dari Hunlam memiliki ilmu silat yang maha hebat, caranya pun sangat keji tiada taranya dan tidak kalah dengan Se-tok Auyang Hong dahulu. Kalau dia berani menginjak Kanglam sini, kita boleh coba ukur tenaga padanya.”
“Ya, tetapi iblis ini sangat ulet dan tidak gampang dilawan,” sahut Kwe Ceng memanggut. “Paling baik kalau kita bisa ketemukan Gakhu (mertua).”
“He, semakin berumur, nyalimu jadi semakin kecil!” goda Oey Yong dengan tertawa.
“Memang,” sahut Kwe Ceng. ”Kalau ingat dahulu, betapa tanpa mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi kita berani naik ke Hoa-san untuk berebut gelar jago silat nomor satu di kolong langit, jika seperti aku sekarang ini, sekali pun aku digotong kesana dengan joli delapan orang, pasti aku tidak berani pergi.”
“Huuh! Harus digotong pakai joli segala?” goda sang isteri.
Begitulah, sambil besenda-gurau tapi mereka diam-diam berlaku waspada, mereka terus memeriksa, akhirnya di pinggir sebuah kolam mereka melihat dua buah jarum Peng-pek-gin-ciam yang beracun. Ujung sebuah jarum di antaranya terendam air, oleh karena itu beberapa ratus ikan piaraan yang berada di dalam kolam itu semua mati dengan perut terbalik ke atas, suatu tanda betapa jahat racun yang terdapat pada jarum itu.
Oey Yong meleletkan lidahnya. Dari buntalannya ia lantas keluarkan sepotong baju, ia lempit beberapa kali, dengan dialingi kain baju ini ia jemput jarum perak itu, ia bungkus baik-baik dan dimasukkan ke dalam kantong rangselnya.
Habis ini mereka berdua tak bicara lagi melainkan mempercepat memeriksa dan mencari jejak. Akhirnya di belakang pohon Liu tadi mereka dapatkan sepasang burung rajawali dan ketemu pula si anak tanggung itu. Dari rajawali yang menclok di atas pundak mereka, tiba2 Oey Yong mencium bau yang aneh, sesudah berapa kali ia sedot, segera dadanya menjadi sesak dan rasanya menjadi mual.
Kwe Ceng pun mencium bau busuk itu, bau yang seperti datang dari tempat yang sangat dekat dengan hidungnya. Waktu ia men-cari-cari dari mana datangnya bau busuk itu, tiba-tiba ia melihat kaki kedua burungnya terdapat luka lecet dan ketika ia dekatkan hidungnya, betul saja bau busuk itu datangnya dari luka ini.
Suami-isteri ini terkejut, lekas mereka periksa luka burung-burung itu dengan teliti. Meski luka itu sebenarnya hanya lecet kulit saja, tetapi sudah menimbulkan bengkak, pula sebagian kulit daging kakinya sudah mulai busuk.
“Luka apakah ini, mengapa begini lihay?” demikian Kwe Ceng berpikir sambil menunduk Tiba-tiba pula ia lihat tangan kiri si anak muda tadi telah berubah menjadi hitam semua, keruan ia kaget pula.
“Kau pun terkena racun ini?” serunya kuatir.
Dengan cepat Oey Yong mendekati anak muda itu. Dia angkat tangannya dan diperiksa, habis ini cepat ia gulung lengan bajunya, ia keluarkan sebuah pisau kecil. Dengan senjata ini ia sayat tangan orang sebelah bawah, lantas dengan kuat ia pencet agar darah yang berbisa mengalir keluar.
Akan tetapi ia menjadi heran sekali ketika melihat darah yang menetes keluar dari tangan anak muda itu ternyata berwarna merah segar, padahal telapak tangannya je!as-jelas sudah berubah hitam seluruhnya, tapi kenapa darah yang mengucur keluar tidak beracun? Nyata dia tidak tahu bahwa sesudah si anak muda mendapatkan ilmu ajaib ajaran orang aneh yang suka menjungkir itu, sekarang darah berbisa dalam tubuhnya sudah didesak ke ujung jari dan untuk sementara tidak akan menjalar. Sesudah ragu2 sejenak, kemudian Oey Yong keluarkan sebutir pil ‘Kiu-hoa-giok-lo-wan’, obat pil yang terbuat dari sari sembilan macam bunga-bunga-an.
“Kunyah dan telan ini,” katanya sambil memberikan pil itu pada si anak
Anak muda itu tidak menolak, ia terima pemberian pil itu terus masukkan ke dalam mulut, rasanya manis dan harum. Lalu Oey Yong keluarkan pula empat pil dan dibagikan kepada kedua burung rajawalinya yang terluka itu.
Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Kwe Ceng bersiul panjang. Suara siulan ini berkumandang jauh sekali, begitu keras suaranya hingga menggema lembah pegunungan sampai dahan pohon Liu yang menjulur ikut tergoncang. Belum lenyap suara siulan pertama, menyusul Kwe Ceng menggembor dengan suaranya yang amat keras, begitu hebat suara teriakan itu susul menyusul hingga membikin seluruh lembah gunung penuh dengan suara sahut-menyahut yang menggelegar.
Karena teriakan ini sama sekali di luar dugaan, si anak muda tadi dibikin kaget sehingga tanpa tertahan air mukanya berubah hebat karena belum pernah mendengar suara yang luar biasa ini.
Sebaliknya Oey Yong mengerti maksud dan tujuan sang suami. Ia tahu dengan suara itu suaminya bermaksud menantang tanding kepada Li Bok-chiu. Ketika pekikan ketiga sang suami dilontarkan, segera pula ia kumpulkan tenaga dan menyusul dengan teriakannya.
Bila suara pekikan Kwe Ceng agak rendah tetapi kuat, maka suara Oey Yong sebaliknya tinggi tetapi nyaring sekali. Perpaduan suara yang hebat ini makin lama semakin jauh dan semakin keras, saling susul menyusul tiada putusnya, seakan-akan satu sama lain tidak ingin ketinggalan.
Kiranya Kwe Ceng dan Oey Yong telah berlatih diri di Tho-hoa-to dengan giat, kini tenaga dalam mereka telah sampai di puncak kesempurnaan, dengan suara pekikan yang berkumandang jauh ini, orang yang berada dalam jarak belasan li sama terkejut dan ter-heran-heran tidak mengerti suara aneh ini datang dari mana.
Sementara itu suara pekikan hebat ini telah didengar oleh beberapa orang tertentu. Demi mendengarnya, orang aneh yang suka berjungkir balik itu telah ‘tancap gas’ mempercepat larinya.
Sebaliknya orang aneh berjubah hijau yang memondong Thia Eng segera tertawa waktu mendengar suara itu
“Ha-ha ha ha….., mereka datang juga, aku harus menyingkir jauh supaya tidak banyak rewel.”
Dalam pada itu Li Bok-chiu sambil mengempit Liok Bu-siang sedang lari dengan cepatnya. Ketika mendadak mendengar suara siulan pertama, sekonyong-konyong dia berhenti, dia ayun kebutnya dan memutar tubuh.
“Hm, nama Kwe-tayhiap telah menggoncangkan Bu-lim, aku justru ingin membuktikannya apakah namanya bukan bikinan belaka,” demikian katanya dengan ketawa dingin.
Tetapi tiba-tiba pula di antara suara pekikan panjang tadi diselingi pula dengan suara siulan nyaring yang menimpali suara yang duluan hingga menambah keangkeran suara-suara itu.
Hati Li Bok-chiu langsung menjadi jeri. Teringat olehnya bahwa Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri selama berkelana selalu berdampingan dan bahu-membahu, sebaliknya dia hanya sebatang-kara. Seketika perasaannya menjadi hampa dan putus asa, ia menghela napas panjang, habis ini dengan mencengkeram punggung Liok Bu-siang terus bertindak pergi.
Pada saat itu pula Bu-sam-nio tengah memayang sang suami yang terluka dan membawa kedua puteranya pergi jauh setelah berpisah dengan Kwa Tin-ok. Sesudah mengalami pertarungan sengit tadi, kuatir kalau Li Bok-chiu balik kembali untuk mencelakai Kwe Hu, maka lekas Kwa Tin-ok membawa lari dara cilik ini dengan maksud mencari tempat untuk bersembunyi, tetapi dia keburu mendengar suara siulan Kwe Ceng dan Oey Yong yang keras itu, maka hatinya menjadi girang.
“He, ayah, ibu!” Kwe Hu berseru juga ketika mengenali suara orang tuanya.
Habis ini segera ia angkat kaki terus lari menuju ke arah datangnya suara, Tetapi tiba-tiba ia berpikir pula: “Aku sudah ngeluyur keluar, tentu nanti akan didamperat ayah, bagaimana baiknya ini?” Dalam bingungnya ia tarik-tarik lengan baju Kwa Tin-ok, ia coba membujuk orang tua ini:
“Kongkong, nanti kalau bertemu dengan ayah, katakanlah kau yang bawa aku keluar buat bermain, ya?” demikian ia memohon.
“Tidak, aku tak mau berbohong untuk kau!” sahut Kwa Tin-ok dengan menggeleng kepala.
Tetapi Kwe Hu tidak kurang akal, tiba-tiba ia meloncat dan merangkul leher si orang tua, dengan kata-kata halus ia membujuk lagi:
“Kongkong, sekali ini sayanglah padaku, untuk seterusnya aku tak akan nakal lagi.”
Namun masih tetap Kwa Tin-ok geleng-geleng kepala.
“Baiklah, jika begitu biar aku minggat pergi,” teriak Kwe Hu tiba-tiba sambil lompat turun dari rangkulannya. “Selamanya aku tidak akan menjumpai kau lagi, juga tidak akan menemui ayah-bunda.”
Mendengar kata-kata ini, Tin-ok menjadi kaget dan kuatir. Ia kenal watak dara cilik ini berani berkata berani berbuat pula, sedangkan dirinya buta, kalau sampai si kecil ini pergi maka susah lagi untuk mencarinya.
“Baik, baik, kululuskan keinginanmu,” terpaksa ia menyerah.
Kwe Hu ketawa senang dengan kemenangannya ini. “Memang aku sudah tahu kau bakal meluluskan, tidak mungkin kau tega membiarkan aku diomeli ayah dan ibu,” kata si nakal ini.
Maka dua sejoli, satu tua dan satu bocah ini kemudian berlari ke tempat beradanya Kwe Ceng dan isteri. Sesudah dekat, dengan serta-merta Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibunya dengan laku aleman.
“Bu, Kongkong yang membawa aku ke sini mencari kalian, engkau tentu senang bukan?” demikian si nakal ini berkata pada sang ibu.
Akan tetapi kepintaran Oey Yong tiada bandingannya, sebab itu hanya sedikit permainan sandiwara sang puteri ini mana bisa mengelabuinya. Cuma bisa bertemu anaknya di sini, sesungguhnya dia memang senang juga, maka ia hanya tertawa saja, lalu bersama sang suami mereka menjalankan penghormatan pada Kwa Tin-ok dan tanyakan kesehatan si orang tua.
Kwe Hu masih kuatir kalau disemprot ayahnya, maka sesudah menyapa sekali, lantas ia tarik tangan si anak muda tadi menyingkir pergi.
“Pergilah kau memetik bunga, buatkanlah mahkota bunga untukku,” demikian pintanya.
Pemuda itu tidak menolak, ia ikut pergi bersama. Perawakan Kwe Hu ternyata jauh lebih pendek, tingginya hanya sedada orang, maka dengan mudah saja ia bisa melihat telapak tangan pemuda itu yang hitam. Mendadak sontak ia kipatkan tangan orang yang tadinya dia gandeng.
“Hiiii, tanganmu kotor, aku tidak mau bermain dengan kau,” demikian ia meng-olok-olok.
Watak pemuda itu ternyata tidak gampang mengalah, ia pun tinggi hati, maka kontan ia jawab dengan ketus:
“Siapa pingin bermain dengan kau?” Habis berkata dengan langkah lebar ia lantas bertindak pergi sendiri
“Eh, eh, saudara cilik, jangan pergi dulu, sisa racun di dalam tubuhmu masih belum hilang seluruhnya, kalau sampai kambuh pasti akan luar biasa lihaynya,” seru Kwe Ceng ketika melihat si anak muda ini hendak pergi.
Anak itu paling benci kalau orang katai dia jelek, oleh karena itu olok=olok Kwe Hu tadi sudah menusuk perasaannya, maka dengan tegang leher ia masih jalan terus tanpa menggubris teriakan Kwe Ceng.
Tabiat Kwe Ceng memang welas-asih, maka buru-buru ia menguber. “Cara bagaimanakah kau terkena racun?” demikian ia bertanya pula, “Marilah kami sembuhkan kau dulu.”
“Aku toh tidak kenal kau, peduli apa dengan kau?” sahut anak muda itu dengan ketusnya. Berbareng itu dia percepat langkahnya dan bermaksud menerobos lewat di samping Kwe Ceng.
Sekilas Kwe Ceng dapat melihat wajah si anak muda yang menunjukkan rasa marah ini, di antara mata-alisnya tertampak sangat mirip seseorang, tiba-tiba hatinya tergerak.
“Ehh, saudara cilik, kau she apa?” segera ia tanya.
Namun pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya ia memelototi orang, lalu tubuhnya sedikit miring dengan maksud hendak menerobos lewat, Di luar dugaan secepat kilat Kwe Ceng sudah mencekal sebelah tangannya. Dalam kagetnya si anak muda itu pun menjadi marah, ia me-ronta-ronta beberapa kali, setelah tak berhasil mendadak ia angkat tangan kirinya terus menggenjot perut Kwe Ceng.
Kwe Ceng tidak urus pukulan ini. Dia membiarkan perutnya kena dihantam dengan mulut tersenyum saja. Ketika anak muda itu bermaksud menghantam lagi, tahu-tahu kepalannya ambles di-tengah perut orang, meski dia tarik-tarik bagaimana pun tetap tak bisa melepaskan diri. Dia tidak putus asa, masih terus ia tarik-tarik, saking keras ia keluarkan tenaga hingga mukanya merah padam, tetapi tangannya seperti melengket saja di perut Kwe Ceng, sebaliknya ia rasakan lengan sendiri kesakitan karena di-betot-betot.
“Nah, beri-tahu kepadaku kau she apa dan segera kulepaskan kau,” dengan tertawa Kwe Ceng tanya lagi.
Akan tetapi si anak muda memang amat kepala batu. Ia pikir tidak mau omong, kalau mau, akan kusebutkan she palsu dan nama bikinan saja, oleh karenanya dia lantas menjawab:
“Aku she Cin dan bernama Coa-ji, si anak ular. Lekas lepaskan aku.”
Di lain pihak, demi mendengar nama orang ini Kwe Ceng merasa kecewa sekali. Ia lantas kendorkan tenaga perutnya yang menyedot kepalan pemuda itu. Setelah tangannya terlepas, pemuda itu pandang Kwe Ceng dengan luar biasa kagumnya atas kepandaian orang tadi.
Di sebelah situ Kwe Hu sedang asyik menceritakan pengalaman selama berpisah dengan ibunya. Akhirnya dia ceritakan tentang bagaimana sepasang rajawalinya berkelahi dengan seorang wanita jahat, kemudian datang seekor burung merah kecil yang telah membantu rajawali-rajawalinya.
Mendengar “burung merah kecil” itu, Oey Yong jadi ketarik sekali. “Apakah Koko (kakak) kecil ini yang membawa burung merah kecil itu datang?“ dia tanya dengan cepat.
“Ya,” sahut Kwe Hu, “Burung merah kecil itu menotol biji wanita jahat itu hingga buta, tapi sayang burung itu pun kena digaplok mati oleh dia.”
Mendengar penuturan ini, Oey Yong tidak ragu-ragu lagi, segera dia melompat maju dan memegang pundak si anak muda tadi dengan kedua tangannya, dengan tajam ia pandang orang.
“Kau she Yo bernama Ko, ibumu yang she Cin, ya bukan?” demikian ia menegas sekata demi sekata.
Pemuda ini memang benar she Yo dan bernama Ko. Ketika tiba-tiba saja nama aslinya disebut Oey Yong, darah di dalam rongga dadanya menaik ke atas hingga hawa racun di tangannya se-konyong-konyong menjalar kembali. Ia merasa kepala puyeng dan pikiran menjadi butek, akhirnya jatuh pingsan.
Dalam kejutnya lekas Oey Yong memegang tubuh orang supaya tidak sampai roboh. “Dia... dia kiranya putera adikku Yo Khong,” kata Kwe Ceng terkejut bercampur girang.
Sementara itu kelihatan Oey Yong mengkerut alis. Ia lihat racun menjalar terlalu hebat di tubuh Yo Ko dan ia kuatir, karena sesungguhnya ia sendiri tidak punya sesuatu pegangan untuk menyembuhkan orang.
“Marilah kita cari tempat pondokan dulu, kemudian kita cari pula beberapa racikan obat,” ajaknya kemudian dengan suara terharu.
Kwe Ceng lantas pondong Yo Ko, lalu bersama Kwa Tm-ok, Oey Yong dan si nakal Kwe Hu serta membawa pula sepasang burung Tiau mereka mencari hotel di kota. Bahan obat yang mereka perlukan ternyata sukar dicari, biar pun sudah dikumpulkan akhirnya masih kurang juga empat macam. Melihat keadaan Yo Ko yang masih tak sadar, Kwe Ceng merasa sedih dan kuatir sekali, sampai Oey Yong beberapa kali memanggilnya ternyata tidak didengarnya.
Oey Yong cukup mengerti perasaan hati sang suami waktu itu. Sejak terbinasanya Yo Khong (tentang lelakon Kwe Ceng, Oey Yong dan hubungannya dengan Yo Khong telah diceritakan tersendiri) pikirannya selalu sedih dan menyesal, maka dengan sendirinya kini luar biasa girangnya demi bisa ketemukan anak keturunan saudara angkatnya itu, tetapi anak ini justru terkena racun dan belum bisa diketahui bakal mati atau hidup.
“Ceng-koko, marilah kita coba keluar mencari pelengkapnya obat,” ia mengajak.
Kwe Ceng sendiri mengerti juga sifat Oey Yong. Dia tahu bila ada sedikit harapan dapat mengobati, pasti sang isteri sudah menghibur padanya. Kini nampak wajah isterinya amat prihatin, maka hatinya makin tak tenteram. Segera ia pesan Kwe Hu jangan sembarangan ngeloyor pergi, lalu mereka suami-isteri keluar buat mencari obat2an.
Dalam pingsannya Yo Ko masih terus tertidur, meski hari sudah gelap belum juga sadar. Beberapa kali Kwa Tin-ok masuk kamar memeriksanya, akan tetapi orang tua ini pun tak berdaya. Ia pun kuatir kalau si nakal Kwe Hu ngeluyur pergi, maka tiada hentinya ia bujuk dara cilik ini lekas tidur.
Entah sudah lewat berapa lama, dalam keadaan remang-remang tiba-tiba Yo Ko merasa ada orang me-mijat-mijat dan mengurut dadanya, perlahan pikirannya jernih kembali. Waktu ia membuka mata, terlihat dalam kegelapan ada berkelebat bayangan entah apa meloncat keluar jendela dengan cepat.
Meski rasanya masih lemas, Yo Ko paksakan diri buat berdiri. Dia coba melongok keluar jendela, dan tampaklah olehnya di atas emper rumah berdiri satu orang dengan kepala menjungkir di bawah, siapa lagi kalau bukan orang aneh yang siang tadi menerima dirinya sebagai anak angkat itu.
Kepala orang aneh yang menyanggah badannya itu ternyata separohnya menempel di luar emper, tubuhnya yang tegak terbalik ke atas itu kelihatan ber-goyang-goyang, tampaknya setiap waktu bisa terbanting jatuh ke bawah.
“He, kau!” seru Yo Ko kaget tercampur girang.
“Kenapa tidak panggil ayah?” tegur orang aneh itu.
Karenanya Yo Ko lantas memanggil: “Ayah!” akan tetapi lagu suara panggilannya sangat dipaksakan.
Namun orang aneh itu sudah kegirangan. “Naiklah sini,” katanya.
Yo Ko menurut. Dia lalu merangkak ke ambang jendela untuk kemudian meloncat ke atas payon. Akan tetapi karena badannya masih lemah, tenaganya menjadi tak cukup, maka sebelum tangannya memegang emper rumah dia pun sudah terjungkal ke bawah. Dalam kagetnya ia berteriak.
Orang aneh itu tadinya berjungkir di atas payon, tetapi begitu nampak Yo Ko terjungkal, mendadak tubuhnya roboh ke bawah laksana batang kayu yang terbanting saja, hanya kepalanya masih tetap melekat di atas emper rumah. Dengan demikian secepat kilat tangannya berhasil menjambret punggung Yo Ko, habis ini tubuhnya kembali menegak lagi ke atas, dengan enteng saja Yo Ko diletakkannya di atas payon.
Dan selagi ia hendak bicara, tiba-tiba terdengar di kamar sebelah barat ada suara orang meniup memadamkan api. Ia tahu jejaknya telah diketahui orang, maka tanpa ayal lagi ia pondong Yo Ko dan melangkah pergi dengan cepat, hanya sekejap saja beberapa deretan rumah penduduk sudah ia lintasi.
Waktu itu Kwa Tin-ok melompat ke atas rumah, tapi di sekelilingnya sudah sepi nyenyak.
Setelah Yo Ko dibawa sampai pada sebuah tempat sunyi di luar kota, orang aneh itu baru menurunkannya.
“Coba kau gunakan cara yang pernah kuajarkan padamu itu, hawa berbisa dipaksa keluar lagi sedikit,” demikian ia memberi petunjuk pada Yo Ko.
Pemuda ini menurut, maka tidak berapa lama, dari ujung jarinya menetes keluar beberapa titik darah hitam, berbareng rasa sesak di dadanya pun menjadi lega.
“Sungguh kau ini anak pintar, sekali tunjuk lantas paham, jauh lebih cerdas dibandingkan almarhum putera kandungku dulu,” kata orang aneh itu. Teringat pada puteranya sendiri itu, tiba-tiba ia meratap: “O, anakku, anakku…”
Air matanya berlinang juga karena terkenang puteranya sendiri yang sudah mati, ia elus-elus kepala Yo Ko sambil menghela napas perlahan.
Yo Ko sendiri sejak belum lahir sudah ditinggal bapaknya, ibu pun tewas oleh pagutan ular berbisa di kala ia baru berumur lima tahun, dan selama 8-9 tahun ini dia luntang-lantung sebatang kara di Kangouw, di mana-mana dihina orang sehingga tabiatnya menjadi eksentrik, benci pada sesama manusia serta cemburu pada keadaan sekitarnya, Kini meski orang aneh ini belum pernah kenal dia, namun ternyata demikian baik terhadap dirinya, ini boleh dikatakan belum pernah terjadi selama hidupnya.
Karena darah keturunan ayah-bundanya, maka watak Yo Ko luar biasa pula anehnya. Bila mana dia sudah baik pada seseorang, maka dia bela mati-matian tanpa pikirkan jiwa sendiri. Sebaliknya jika ada orang lain menghina dan memandang rendah padanya, maka selama hidup akan dia ingat terus dan dendam, dia pasti berusaha dengan segala daya-upaya untuk menuntut balas.
Kini si orang aneh itu mengunjuk rasa kasih sayang murni padanya, hati pemuda ini luar biasa terharunya sehingga dia melompat terus merangkul leher orang sambil berulang kali memanggil,
“Ayah, ayah!”
Sejak Yo Ko berumur 2-3 tahun dia sudah berharap mempunyai seorang ayah yang akan cinta dan melindunginya. Bahkan dalam mimpi kadang-kadang mendadak muncul seorang ayah yang gagah perkasa yang dia cintai, tetapi begitu terjaga dari tidurnya, ayah khayalan itu langsung hilang lagi tak berbekas, oleh karenanya sering kali ia suka menangis sendirian dengan sedih. Kini harapan yang sudah lama ia impikan itu tiba-tiba terwujud, dua kali panggilan tadi keluar dari lubuk hatinya yang penuh cinta kasih seorang anak kepada bapaknya.
Kalau hati Yo Ko terharu sekali, maka dalam hati orang aneh itu ternyata jauh lebih girang dari pada Yo Ko. Waktu mereka mula bertemu di mana Yo Ko dipaksa memanggil ayah, di dalam hati anak muda itu sesungguhnya seribu kali tidak sudi, tetapi kini dua hati telah kontak seperti ayah dan anak kandung.
“Oh, anak baik, anak manis, coba panggil ayah sekali lagi!” demikian kata orang aneh itu dengan bergelak ketawa.
Betul juga Yo Ko lantas memanggil ayah, bukan hanya satu kali, malahan dia panggil lagi dua kali, lalu ia menggelendot di badan orang dengan laku yang aleman.
“Aha, anak baik, marilah kuajarkan kau ilmu silatku yang paling aku banggakan selama hidup ini,” dengan tertawa orang aneh itu berkata pula.
Sambil berkata lantas ia berjongkok, dari mulutnya terdengar suara “kuk-kuk-kuk” tiga kali, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh yang keras, setengah tembok pagar yang berada di depannya ambruk seketika sehingga debu dan batu berhamburan. Nampak orang memiliki ilmu silat selihay ini, girang sekali hati Yo Ko.
“Ayah, ilmu apakah itu, dapatkah aku mempelajarinya?” dengan cepat ia tanya.
“Ini namanya Ha-mo-kang (ilmu weduk kodok),” sahut orang itu, “Asal kau mau berlatih dengan giat, tentu kau dapat mempelajarinya.”
“Setelah aku pandai, apakah tiada orang lain lagi yang berani menganiaya diriku?” tanya Yo Ko lagi.
“Tentu saja,” sahut orang aneh itu sambil menarik alis “Siapakah yang berani menghina puteraku, biar kupatahkan tulangnya dan kubeset kulitnya.”
Kiranya orang aneh yang sangat kosen ini bernama Auwyang Hong yang namanya telah disinggung di bagian atas tadi. Sejak Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di atas Hoa-san (salah satu gunung yang tersohor di daerah propinsi Siamsay), Auwyang Hong kena diakali oleh Oey Yong hingga otaknya rada miring. Selama belasan tahun ini ia luntang-lantung di daerah sunyi, yang selalu dia pikirkan adalah: “Siapakah aku ini sebenarnya?”
Tetapi tahun-tahun terakhir ini, sesudah dia berlatih Kiu-im-cin-keng, maka Iwekang-nya banyak kemajuan, otaknya juga lebih terang, walau pun kelakuannya masih tetap tidak beres dan suka gila-gilaan. Tetapi banyak kejadian lama perlahan-lahan satu persatu mulai dia ingat, cuma saja tentang “siapakah dirinya sendiri” inilah yang tetap belum dia ingat.
Tentang Hoa-san-lun-kian serta mengapa Auwyang Hong bisa diakali Oey Yong hingga menjadi gila dan sebab apa dia berlatih ilmu Kiu-im-cin-keng secara terbalik, bacalah cerita Sia Tiauw Eng Hiong.
Begitulah, maka Auwyang Hong lantas mengajarkan Yo Ko dasar2 permulaan ilmu Ha-mo-kang. Hendaklah diketahui bahwa Ha-mo-kang yang menjadi ilmu kebanggaan Auwyang Hong ini terhitung ilmu silat kelas satu di dunia persilatan. Dahulu meski putera kandungnya sendiri belum pernah Auwyang Hong mengajarkan, tetapi kini karena guncangan perasaannya, tanpa pikir lagi diajarkannya pada anak angkatnya yang baru dia terima ini.
Ha-mo kang ini amat sulit dan dalam sekali. Yo Ko sendiri masih belum punya landasan, meski dia coba baik-baik semua apa yang diuraikan Auwyang Hong, tetapi sama sekali ia tidak paham akan arti yang terkandung dalam rahasia ilmu yang dia terima itu.
Oleh karena itu, sesudah hampir setengah hari Auwyang Hong mengajar, ia lihat Yo Ko masih ngawur saja kalau ditanya, sama sekali belum paham dasar yang diajarkannya, akhirnya Auwyang Hong menjadi keki dan dalam dongkolnya ia hendak menampar anak muda itu. Namun sebelum tangannya menyentuh pipi orang, di bawah cahaya sang dewi malam ia lihat muka Yo Ko yang putih bersih dengan matanya yang jeli menarik itu, ia menjadi tidak tega menghajarnya.
“Sudahlah, kau tentu sudah letih, pulang saja sekarang, besok aku mengajarkan kau lagi,” katanya kemudian dengan menghela napas.
Tak tahunya, sejak Yo Ko dikatai Kwe Hu bahwa tangannya kotor, terhadap anak dara itu sudah timbul rasa benci di dalam hatinya, maka demi mendengar dirinya disuruh kembali kepada Kwe Ceng, ia menjadi sedih.
“Tidak, ayah, aku ikut kau saja, aku tak mau pulang ke sana,” katanya.
Siapa dirinya sendiri hingga sekarang Auwyang Hong masih belum jelas, tapi mengenai urusan umum pikirannya sudah cukup terang dan jernih, maka atas permintaan Yo Ko dia menjawab:
“Jangan. Otakku masih rada kurang beres, aku kuatir kau nanti ikut menderita. Kau pulang saja dahulu, nanti kalau aku sudah dapat bikin terang sesuatu soal barulah kita berkumpul untuk selamanya.”
Kata-kata Auwyang Hong yang penuh kasih sayang ini meresap sekali ke lubuk hati Yo Ko, boleh dikatakan sejak ibunya mangkat belum pernah ia mengenyam rasa simpatik seperti sekarang ini, maka dengan cepat ia merangkul orang.
“Kalau begitu harap lekas kau datang menjemput aku, ayah,” katanya.
“Jangan kuatir, nak, sementara diam-diam senantiasa akan kuikuti kau, kemana pun kau pergi pasti aku mengetahuinya,” sahut Auwyang Hong manggut-manggut. Kemudian ia membopong Yo Ko lagi dan diantar pulang ke hotel.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Karena ini seketika ia merandek, tenaga gablokannya tadi dengan cepat ia tarik kembali, segala cumbu-rayu dimasa silam sekilas terbayang kembali olehnya. Melihat sapu tangan sulaman ini ia pun lantas tahu maksud kemauan Liok Tian-goan, pikirnya dalam hati:
“Walau pun ia telah menikah dengan perempuan hina she Ho itu, namun di dalam hatinya ternyata ia tidak pernah melupakan diriku, terbukti sapu tangan ini masih dia simpan baik-baik, karena itu ia mohon agar aku mengampuni keturunannya, lantas aku harus mengampuni atau tidak?”
Demikianlah sesaat ia menjadi ragu-ragu sehingga tidak bisa mengambil keputusan. Sejenak kemudian ia putuskan akan bunuh dulu Liok Bu-siang saja. Maka kebutnya segera ia angkat hendak menyabet gadis cilik itu, tetapi di bawah cahaya matahari yang terang, lagi-lagi tertampak olehnya pada leher gadis ini berkalung selembar sapu tangan bersulam yang sama.
“Ehh…!” Li Bok-chiu bersuara heran, pikirnya pula: “Mana mungkin ada dua sapu tangan yang sama? Satu di antaranya pasti palsu.”
Oleh karena itu kebutnya yang menghantam tadi dia ubah menjadi membelit dan dengan tepat leher Liok Bu-siang sudah kena dililit oleh ekor kebut. Anak dara ini terus dia seret ke dekatnya.
Akan tetapi pada saat itu juga suara mendesing tadi kembali menggema dan sebutir batu lagi-lagi menyambar dari belakang mengarah punggungnya. Li Bok-chiu lekas baliki kebutnya untuk menyampok batu yang cepat sekali datangnya ini, tangkisannya sangat jitu, dengan tepat batu itu kena disampok pergi, namun demikian Li Bok-chiu merasakan telapak tangannya sakit pedas.
Batu sekecil itu ternyata membawa tenaga yang begitu kuat, maka betapa hebat ilmu silat penyambit batu itu dapat dibayangkan. Keruan Li Bok-chiu tidak berani tinggal lebih lama lagi, dia sambar Liok Bu-siang terus dikempit, dia keluarkan ginkang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi, secepat terbang dalam sekejap saja dia sudah menghilang kabur.
Nampak Piaumoay atau adik misannya digondol orang, tentu saja Thia Eng menjadi ribut.
“Piaumoay…! Piaumoay…!” demikian dia berteriak-teriak sambil menyusul dari belakang dengan kencang.
Akan tetapi dengan kecepatan berlari Li Bok-chiu, mana sanggup Thia Eng menyusulnya? Namun sejak kecil gadis ini sudah memiliki kemauan keras, dengan kertak gigi dia masih terus mengudak.
Di daerah Kanglam terdapat banyak sungai. Belum lama Thia Eng mengudak, dia sudah terhalang oleh sebuah sungai kecil hingga tak berdaya buat maju lagi, Tetapi dara ini tidak putus asa, sambil jalan menyusut gili-gili sungai, mulutnya masih memanggil terus. Pada sebuah jembatan kecil di sebelah kiri sana, se-konyong-konyong berkelebat bayangan putih dan tiba-tiba satu orang mendatangi dari seberang. Thia Eng tercengang karena tahu-tahu Li Bok-chiu sudah berdiri di hadapannya, akan tetapi Liok Bu-siang sudah tak kelihatan di bawah kempitannya. Di dalam hati Thia Eng sangat ketakutan, tetapi ia lantas ingat lagi pada Liok Bu-siang, maka dengan tabahkan hati ia tanya:
“Di mana adik-misanku?”
Sekilas Li Bok-chiu melihat raut muka Thia Eng yang sangat mirip dengan mendiang Ho Wan-kun yang menjadi lawan asmaranya, maka rasa bencinya seketika timbul dan panas hatinya membakar, tanpa pikir lagi ia angkat kebutnya, menyabet ke kepala si nona.
Dengan ilmu silatnya yang begitu tinggi saja orang seperti Liok Lip-ting masih tak mampu menangkis tipu serangan Li Bok-chiu yang sangat lihay ini, apa lagi hanya gadis sekecil Thia Eng? Maka agaknya senjata kebut itu dengan segera akan membikin kepala berikut dada anak dara itu hancur lebur.
Di luar dugaan, baru saja Li Bok-chiu mengayunkan kebutnya, mendadak terasa tarikannya menjadi kencang, ujung kebutnya se-akan-akan kena dibetot oleh sesuatu dan tak mampu diayunkan ke depan. Tidak kepalang kejutnya! Ia hendak menoleh buat melihat, tapi tahu-tahu tubuhnya terapung ke atas terus melompat beberapa tombak ke belakang, habis ini baru turun kembali. Sungguh bukan buatan kejut Li Bok-chiu oleh kejadian ini! Lekas ia memutar tubuh, tetapi dia menjadi melongo karena di belakangnya kosong melompong tanpa sesuatu yang dia dapatkan.
Li Bok-chiu sudah biasa menghadapi lawan tangguh, tahu gelagat kurang menguntungkan dirinya. Ia lalu putar kebutnya hingga berwujut satu lingkaran secepat roda angin, dengan demikian dalam jarak lima kaki musuh sukar memperdayainya, setelah ini baru dia berani memutar tubuh lagi. Maka tampaklah olehnya di samping si dara cilik Thia Eng kini sudah berdiri seorang aneh yang berjubah hijau, perawakannya tinggi kurus, air mukanya kaku tanpa mengunjuk sesuatu perasaan, seperti manusia tapi lebih memper mayat pula hingga membikin orang yang melihatnya akan timbul semacam rasa jemu dan muak.
Li Bok-chiu tidak kenal orang aneh ini. Ia pikir ilmu silat orang jauh di atas dirinya, tapi ia justru tak ingat dalam kalangan Bu-lim ada tokoh siapakah yang begini lihay dan bermuka seperti dia ini. Selagi ia hendak menegur, tiba-tiba ia mendengar orang itu sudah buka suara!
“Orang ini terlalu kejam, nak. Hayo, kau pukul dia!” demikian orang itu berkata pada Thia Eng.
Sudah tentu Thia Eng tidak berani menghantam Li Bok-chiu seperti apa yang diajarkan itu.
“Aku tak berani,” ia menjawab dengan mengkeret.
“Kenapa takut? Hantam saja dia,” kata orang itu lagi.
Akan tetapi Thia Eng masih tetap tak berani. Akhirnya orang itu jadi tak sabar, mendadak ia pegang tengkuk Thia Eng terus dilemparkan ke tubuh Li Bok-chiu.
Kini Li Bok-chiu tidak berani lagi menghantam anak dara ini dengan kebutnya. Dia ulurkan tangan kirinya untuk menyambut datangnya tubuh kecil itu, namun baru saja tangannya hampir menyentuh pinggang Thia Eng, se-konyong2 terdengar suara mendesir, sikutnya terasa linu pegal sehingga seketika tangannya tak kuat diangkat.
Keruan dengan tepat kepala Thia Eng lantas menumbuk dadanya, malah berbareng itu pula gadis ini menambahi dengan sekali tamparan keras hingga mengeluarkan suara “plak” pada pipinya.
Seumur hidup Li Bok-chiu belum pernah dihina sedemikian rupa, tentu saja ia sangat marah, secepat kilat kebutnya memutar terus menyabet kepala dara cilik itu. Akan tetapi kembali terdengar sambaran angin, tangkai kebutnya kena dibentur sesuatu benda kecil sehingga hampir terlepas dari cekalannya.
Kiranya orang aneh tadi telah menggunakan pula sebutir batu kecil yang disentilkan dengan jari dan tepat mengenai gagang kebutnya. Sementara itu Thia Eng teringat Li Bok-chiu telah membunuh A Kin dan pelayan wanita di rumahnya, juga nasib paman dan bibinya sampai kini belum diketahui, tiba-tiba rasa takutnya berubah menjadi dendam dan murka, tanpa ayal lagi susul menyusul ia kerjakan kedua tangannya yang kecil dengan cepat, beruntun ia persen pipi Li Bok-chiu dengan empat kali tempelengan.
Percuma Li Bok-chiu selama ini malang-melintang di seluruh jagat, tapi kini telah digenjot anak dara ini sesuka hati tanpa bisa membalas sedikit pun! Li Bok-chiu pandai berpikir juga pintar menyimpan perasaan hatinya. Ia mengerti keadaan tidak menguntungkan dirinya, maka ia pun tidak mau tinggal lebih lama. Tiba-tiba ia tertawa ngikik, lantas putar tubuh hendak kabur. Baru beberapa langkah, sekonyong-konyong dia kebaskan lengan bajunya ke belakang beberapa kali, berbareng itu terlihat sinar perak yang kemilauan, belasan jarum ‘Peng-pek-gin-ciam’ telah menyambar orang aneh berjubah hijau tadi.
Cara Li Bok-chiu melepaskan Am-gi atau senjata gelapnya, tidak memutar tubuh dulu, juga tanpa menoleh, akan tetapi setiap jarumnya dengan tepat mengarah tempat-tempat yang berbahaya pada tubuh orang aneh itu.
Orang itu sama sekali tidak menduga akan serangan ini, ia pun tidak menyangka senjata rahasia Li Bok-chiu bisa begini keji dan lihay, maka terpaksa dia enjot kakinya dan secepat kilat melompat mundur. Datangnya jarum perak luar biasa cepatnya, namun cara melompat mundurnya ternyata lebih cepat lagi, pula sekali lompat dia telah mundur sejauh beberapa tombak. Dengan mengeluarkan suara gemerisik, jarum-jarum perak tadi jatuh semua di depan orang itu.
Li Bok-chiu sendiri sudah mengetahui bahwa serangannya tidak bakal berhasil. Dengan menghamburkan belasan jarum ini tujuannya hanya untuk mendesak orang menyingkir saja. Karena itu, ketika ia dengar suara lompatan orang di belakang, kembali ia kebaskan lengan bajunya lagi, dua jarum perak yang lain menyusul dia arahkan ke ulu hati Thia Eng.
Sudah dipastikan Li Bok-chiu bahwa dua jarumnya ini tak akan meleset dari sasaran, tetapi karena takut orang aneh berjubah hijau itu menubruk maju dan menghajarnya, maka tanpa menoleh lagi buat melihat hasil serangannya itu, segera ia ‘tancap gas’ terus lari pergi dengan cepat, hanya sekejap saja ia sudah menyeberangi jembatan kemudian menghilang di antara hutan yang lebat.
Sementara itu, karena serangan mendadak tadi orang berbaju hijau lantas berseru kaget. Ketika ia maju dan membangunkan Thia Eng, ia lihat dua jarum perak yang rada panjang menancap pada dada anak dara itu. Tanpa terasa air muka orang aneh ini berubah. Setelah ter-mangu-mangu sejenak, segera ia pondong Thia Eng terus lari cepat menuju ke arah barat.
Kembali kepada Kwa Tin-ok dan lain-lain. Mereka menjadi jeri oleh ketangkasan Li Bok-chiu yang pergi-datang cepat luar biasa itu. Hanya si anak muda tadi ternyata bernyali sangat besar.
“Biar aku pergi menolong kedua Moaymoay!” demikian serunya. Sambil berkata dia terus mengejar pergi mengikuti arahnya Li Bok-chiu tadi.
Anak muda ini sama sekali tidak kenal jalanan. Setelah beberapa kali belok sini dan putar sana, akhirnya kesasar, maka terpaksa ia harus berhenti untuk bertanya kepada orang di pinggir jalan. Meski begitu, sesudah jalan terus secara ngawur tiba-tiba dari kejauhan terdengar ada suara teriakan Thia Eng yang me-manggil2:
“Piaumoay, Piaumoay!”
Kedengarannya suara itu berada tidak jauh, tanpa ayal lagi segera ia percepat langkahnya mengudak ke depan. Sungguh pun anak muda ini baru sekali ini bertemu dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang, akan tetapi dalam hati mudanya tanpa terasa sudah timbul perasaan suka pada mereka. Sudah terang ia tahu betapa lihaynya Li Bok-chiu, namun ia tetap menguber terus tanpa memikirkan risikonya sendiri.
Setelah ber-lari-lari tak lama menurut arah datangnya suara tadi, ia taksir seharusnya sudah sampai di tempat suara Thia Eng, akan tetapi aneh sekali, meski ia menengok sana-sini, bayangan kedua anak dara itu sama sekali tidak tampak. Ketika tanpa sengaja ia berpaling, tiba-tiba melihat di atas tanah berserakan belasan buah jarum perak yang mengeluarkan sinar mengkilap, tiap-tiap jarum panjangnya kira-kira setengah dim, pada batang jarumnya samar-samar tampak terukir kembangan yang amat bagus dan menarik.
Karena itu dia jemput sebuah jarum kemudian digenggam pada tangan kirinya. Tetapi mendadak dia mendapatkan sesuatu yang aneh. Dia melihat di samping jarum-jarum perak yang berserakan itu ada seekor kelabang besar yang sudah mati dengan perut terbalik. Ia jadi lebih tertarik oleh kejadian ini. Tatkala ia menunduk dan periksa lebih teliti, ia lihat pula di atas tanah itu terdapat banyak sekali binatang sebangsa semut, jangkrik, tawon, belalang dan lainnya, semuanya sudah mati. Tentu saja anak muda ini merasa heran. Waktu dia menyingkap semak-semak rumput di bagian lain, keadaannya tampak sama saja, di sekitar tempat yang terdapat jarum perak itu banyak kutu-kutu dan serangga-serangga yang mati.
Namun setelah dia menjauh beberapa tindak, di sana serangga-serangga kedapatan masih hidup segar. Dan ketika ia gunakan jarum yang dia pegang untuk menyentuh serangga-serngga itu, luar biasa cepatnya, hanya sejenak saja segera binatang-binatang kecil itu mati kaku. Beberapa kali ia coba dengan beberapa jenis binatang kecil, keadaannya serupa saja.
Akhirnya anak muda ini menjadi girang sekali. Ia pikir kalau jarum perak ini dijadikan alat perangkap nyamuk dan lalat, hasilnya tentu akan sangat memuaskan. Di luar dugaan, sesaat kemudian mendadak dia merasa tangan kirinya sendiri telah kaku dan kejang, gerak-geriknya tidak leluasa. Dasar anak muda ini memang punya kecerdasan otak yang luar biasa, se-konyong-konyong dia terkejut dan sadar: “He, jarum perak ini mengandung racun yang jahat luar biasa, sangat berbahaya bila aku memegangnya!”
Karena itu cepat ia buang semua jarum itu. Segera ia lihat telapak tangannya sudah berubah menjadi hitam semua, lebih-lebih tangan sebelah kiri, begitu hitam sehingga seperti kena tinta. Saking takutnya hampir saja ia menangis, tangannya di-gosok-gosokkan ke pahanya dengan kuat, namun perlahan-lahan ia merasa tangannya mulai kaku kesemutan lalu naik ke bagian lengan, bahkan tangan kiri sudah pegal sampai ke siku. Sejak kecil anak muda ini sudah biasa berkawan dengan ular berbisa, ia tahu bahaya orang terkena racun, karena itu akhirnya ia menangis sedih.
“Nah, sudah tahu lihaynya bukan, nak?” tiba-tiba di belakangnya ada suara teguran orang.
Suara orang ini nyaring, tetapi pecah dan sangat menusuk telinga, datangnya mendadak sehingga se-akan-akan timbul dari bawah tanah saja. Maka dengan cepat si anak muda putar tubuh ke belakang. Tetapi segera ia kaget hingga ternganga, karena apa yang dia lihat ialah seorang yang berdiri di belakangnya, tetapi cara ‘berdiri’ orang ini sungguh aneh bin ajaib, bukannya dia berdiri dengan kaki, tetapi dengan kepalanya, jadi kepala yang menyanggah tubuhnya, sedang kedua kakinya rapat tegak ke atas. Dalam kagetnya anak muda itu melompat mundur beberapa tindak.
“Kau... kau ini siapa...?” serunya kemudian dengan tak lancar.
Tetapi aneh, entah cara bagaimana gerakannya tahu2 orang itu telah enjot tubuhnya maju tiga kaki dan dengan tepat turun di depan si anak muda.
“Aku... aku ini siapa...? Ha, kalau aku tahu siapa aku ini tentu akan baik sekali,” demikian sahutnya.
Keruan anak muda itu semakin ketakutan oleh kelakuan orang, tanpa pikir lagi segera ia angkat kaki dan lari kesetanan cepatnya. Namun dia dengar di belakangnya selalu diikuti dengan suara “tok-tok-tok” yang keras dan ketika ia menoleh, tanpa terasa arwahnya hampir terbang dari raga saking kagetnya.
Kiranya orang itu mempergunakan kepala sebagai kaki, dengan menjungkir tubuhnya me-lompat-lompat dengan kecepatan yang tiada bandingannya, jarak terjauhnya selalu tak lebih dari beberapa kaki saja di belakangnya. Tentu saja ia berlari semakin kencang dan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar menderunya angin, tahu-tahu orang aneh itu sudah melompat lewat di atas kepalanya lantas turun di hadapannya.
“Mak...!” dalam takutnya anak muda itu sampai berteriak memanggil ibunya
Segera ia putar tubuh hendak lari ke jurusan lain, tapi percuma saja, tidak peduli kemana ia berlari, orang aneh itu selalu dengan kecepatan luar biasa tahu-tahu sudah melompat lewat dan turun di depannya. Percuma saja ia mempunyai sepasang kaki, sebab ternyata tidak bisa lebih cepat dari pada orang yang berlari pakai kepala. Kemudian ia mendapat akal. Ia sengaja berputar dan ber-ganti-ganti beberapa arah, ia tunggu orang aneh itu makin dekat, lalu mendadak ia ulur tangan hendak mendorong orang. Tapi tak terduga lengannya ternyata sudah kaku dan tidak mau turut perintah lagi. Keringatnya gemerobyos, ia menjadi bingung dan kehabisan akal, akhirnya ia merasakan kedua kakinya menjadi lemas dan ia pun jatuh terduduk.
“Semakin kau lari kian kemari, racun di tubuhmu semakin cepat kerjanya,” demikian ia dengar orang aneh itu berkata.
Seperti orang yang dapat rejeki dan mendadak menjadi pintar sendiri, segera anak muda itu bertekuk lutut di depan orang sambil berseru:
“Mohon Lo-kongkong (kakek) menolong jiwaku!”
Tetapi di luar dugaan, orang aneh itu hanya geleng2 kepala. “Susah ditolong, susah ditolong!” demikian ia menjawab.
Karena menggunakan kepala untuk menahan tubuhnya, maka sekali menggeleng kepala, otomatis tubuhnya ikut menggeleng juga hingga bergoncang.
“Kepandaianmu begini tinggi, kau pasti bisa menolongku,” kata anak muda itu pula.
Rupanya kata-kata pujian ini membikin orang aneh itu menjadi senang sekali. Karena itu ia pun tersenyum.
“Dari mana kau tahu kepandaianku tinggi?” ia tanya.
Mendengar lagu suara orang sudah berubah menjadi halus dan tampaknya pujiannya membawa hasil segera anak muda itu mengikuti arah angin, lekas ia tambahi pula pujian-pujiannya.
“Ya, kenapa tidak tahu! Dengan jungkir-balik begini saja bisa berlari secepat ini, di kolong langit terang tiada orang kedua lagi yang bisa melebihi kau.”
Kata pujian terakhir ini sesungguhnya terlalu berlebihan dan diucapkan semaunya saja, siapa sangka kata-kata “di kolong langit ini tiada orang kedua lagi yang melebihi kau” dengan tepat justru kena betul di lubuk hati orang aneh itu. Maka terdengarlah suara ketawanya yang ter-bahak-bahak.
“Baliki tubuhmu, biar aku pandang kau,” demikian ia berteriak kemudian.
Anak muda itu berpikir: “Betul juga, aku berdiri tegak dan orang ini berjungkir-balik, memang benar tidak bisa terang melihatnya, dia tidak mau berdiri cara biasa, tiada jalan lain kecuali aku yang harus ikut menjungkir.”
Tanpa berkata lagi dia lantas menjungkir tubuhnya, dia sanggah tubuhnya dengan kepala, tangan kanannya yang masih punya daya-rasa dia gunakan pula buat menahan. Sementara setelah orang aneh itu mengamat-amati dia beberapa lama, wajahnya tampak mengunjuk ragu dan sedang pikir-pikir.
Kini setelah anak muda itu ikut menjungkir, maka pun bisa melihat jelas muka orang, ia melihat orang aneh ini berhidung besar, matanya mendelong dalam, mukanya penuh bulu, berbeda sekali dengan manusia biasa, ia dengar pula orang itu kemat-kemit bergumam sendiri, ia tidak paham bahasa aneh apa yang diucapkan itu karena sukar didengar.
“Kongkong yang baik, tolonglah diriku,” demikian ia memohon pula.
Di pihak lain, demi melihat anak muda ini bermuka cakap, cara bicaranya pun membawa semacam daya tarik yang sukar ditolak orang, hati orang aneh itu menjadi girang.
“Baik, tidak susah buat tolong kau, tetapi kau harus terima suatu permintaanku,” sahutnya kemudian.
“Apa yang kau katakan pasti akan kuturut,” kata si anak muda, “Permintaan apakah yang harus kupenuhi, katakanlah, Kongkong!”
“Ha-ha, justru aku ingin kau terima permintaanku itu,” sahut orang aneh itu sambil tertawa lebar. “kau harus menurut segala apa yang kukatakan.”
Mendengar syarat ini, mau tidak mau anak muda ini berpikir, ia menjadi ragu-ragu. “Harus menurut semua apa yang dikatakannya? Kalau dia suruh aku menjadi anjing dan makan kotoran, apa harus aku turuti juga?”
Dalam pada itu, melihat anak ini ragu2, orang aneh itu menjadi gusar. “Baiklah, biar kau mati saja!” teriaknya segera.
Setelah itu sekali lehernya mengkeret dan menonjol lagi, tiba-tiba tubuhnya telah mencelat pergi sejauh beberapa kaki. Karena kuatir ditinggal pergi orang, dan untuk mengubernya dan mohon pertolongan tidak mungkin ia menirukan cara jalan dengan berjungkir, maka dengan cepat anak muda itu berjumpalitan dan berdiri kembali, segera pula ia angkat kaki memburu.
“Kongkong! Kongkong...!” ia ber-teriak2, “baiklah, aku berjanji apa saja yang kau katakan, pasti akan kuturuti semua.”
Mendengar syaratnya diterima, mendadak orang aneh itu berhenti dan putar balik, “Baik, tetapi kau harus bersumpah dahulu,” katanya.
Tatkala itu si anak muda merasa kaku dan pegal di tangannya telah naik sampai di pundak. Ia insyaf apa bila rasa kaku itu sampai merembes hingga di dada, maka jiwanya pasti akan melayang. Karena itu terpaksa ia menurut dan bersumpah.
“Baiklah, aku bersumpah, apa bila Kongkong menolong jiwaku dan membersihkan semua racun di tubuhku, pasti aku akan menurut semua kata-katamu. Jika aku membantah, biarlah racun jahat itu balik kembali pada tubuhku.”
Pembawaan anak muda ini memang licin, maka sewaktu ia mengucapkan sumpahnya, di dalam hati ia berpikir: “Asal selanjutnya aku tidak pernah menyentuh jarum perak itu lagi, cara bagaimana racun itu bisa balik kembali di tubuhku? Entah orang aneh ini mau terima tidak sumpahku ini?”
Ketika ia lirik orang, ternyata muka orang aneh itu mengunjuk rasa senang, suatu tanda merasa puas atas sumpahnya tadi. Kemudian tampak ia manggut-manggut, habis ini mendadak ia berjumpalitan bangun, lengan anak muda itu dia pegang dan dengan kuat ia pijat-pijat dan di-urut-urut beberapa kali.
“Bagus, bagus, kau adalah anak baik,” demikian ia berkata.
Karena dipijat dan diurut itu, segera si anak muda merasa lengannya menjadi berkurang rasa pegal kakunya.
“Kongkong, pijatlah beberapa kali lagi!” pintanya pula.
Tiba-tiba orang aneh itu mengkerut kening demi mendengar panggilannya ini. “Jangan kau panggil aku Kongkong (kakek), tetapi harus panggil ayah!” demikian ia membetulkan.
“Tidak, ayahku sudah mati, aku tak punya ayah,” sahut si anak muda.
Jawaban ini membikin orang aneh itu menjadi marah: “Kurang ajar, baru pertama kali aku berkata kau sudah membantah, guna apa lagi punya anak semacam kau ini?!” bentaknya segera.
“O, kiranya dia hendak terima aku sebagai anak,” pikir anak muda itu.
Oleh karena sejak kecil ia tidak punya bapak, maka ia amat iri apa bila melihat anak lain mendapat kasih sayang ayah. Dia menjadi pingin mempunyai ayah pula, namun melihat kelakuan orang aneh yang berlainan dengan orang biasa ini dan seperti orang gila, maka kini berbalik ia tidak sudi mengaku ayah padanya.
“Kau tak mau panggil aku sebagai ayah?!” bentak orang aneh itu lagi. “Baiklah! Hm, orang lain hendak panggil ayah padaku, belum tentu aku mau terima.”
Tetapi anak muda itu masih tetap tidak mau memanggil, bahkan kini mulutnya menjengkit tanda mencemoohkan, ia pun tidak gubris kata-lata orang lagi, hanya di dalam hati ia sedang berpikir cara bagaimana supaya dapat mengakali orang agar mau menyembuhkan racun di badannya.
Sementara itu terdengar orang aneh itu komat-kamit entah apa yang dikatakan, berbareng bertindak pergi pula dengan cepat. Keruan si anak muda menjadi gugup.
“Ayah, ayah!” terpaksa ia berseru memanggil. “Hendak kemana, ayah?”
Mendengar panggilan ini, orang aneh itu lalu tertawa senang: “Ha-ha-ha, anakku sayang, marilah kuajarkan kau cara melenyapkan hawa racun di dalam tubuhmu.”
Dengan cepat anak muda itu mendekati.
“Racun yang kena dirimu itu adalah racun jarum Peng-pek-gin-ciam milik Li Bok-chiu. Di jagat ini hanya dua orang saja yang mampu menyembuhkannya,” demikian kata si orang aneh pula, “”Yang pertama ialah seorang Hwesio tua, tetapi untuk menolong kau ia harus mengorbankan jerih-payah latihannya selama beberapa tahun. Dan yang seorang lainnya ialah ayahmu ini.”
Lalu ia ajarkan kunci ilmu penyembuhannya secara lisan. Anak muda itu disuruh menurut ajarannya untuk mengatur napas. Cara ini adalah cara bernapas yang terbalik dan harus dilakukan dengan tubuh terbalik pula, yakni dengan berjungkir kepala di bawah dan kaki di atas, supaya hawa dan darah berjalan bertentangan arah, dengan demikian hawa racun itu lantas terdesak kembali dan keluar dari tempat masuk semula.
Tetapi karena baru belajar dan mulai berlatih, setiap hari hanya sedikit saja racun itu bisa didesak keluar, sedikitnya harus lebih sebulan baru semua hawa berbisa itu bisa dikuras. Setelah orang aneh itu ajarkan cara-cara melakukannya, si anak muda ternyata sangat pintar, sekali tunjuk saja ia sudah paham, begitu dengar sudah teringat baik-baik. Oleh karena itu ia lantas kerjakan menurut cara yang diajarkan itu. Betul juga, rasa kaku dan pegal tadi lambat laun mulai berkurang. Ia atur jalan napasnya sejenak pula, akhirnya dari ujung jari kedua tangannya mengucurkan beberapa tetes air hitam.
“Nah, cukuplah sudah, hari ini tidak perlu berlatih lagi, biarlah besok kuajarkan cara baru padamu,“ ujar orang aneh itu dengan girang demi nampak menetesnya air hitam. “Marilah, sekarang kita pergi!”
“Pergi ke mana?” tanya anak itu dengan bingung.
“Kau adalah anakku, kemana saja sang ayah pergi, dengan sendirinya kau ikut ke sana,” sahut si orang aneh.
Sebelum anak itu menjawab, pada saat itu pula mendadak terdengar beberapa kali suara mencicitnya burung, menyusul sepasang burung rajawali yang melayang lewat di angkasa dan disusul pula dengan suara seruan orang yang nyaring-keras, yang sayup-sayup berkumandang dari jauh. Seketika air muka orang aneh itu berubah demi mendadak mendengar suara tadi.
“Tidak, aku tidak mau bertemu dengan dia, tidak mau bertemu dia!” sekonyong-konyong ia berteriak, berbareng itu ia pun melangkah pergi dengan cepat.
Langkahnya demikian cepat sehingga dalam beberapa tindak saja orang aneh itu sudah menghilang di balik lereng gunung sana.
Keruan si anak muda tadi yang kelabakan. “Ayah, ayah!” ia ber-teriak-teriak sambil menguber.
Tetapi baru saja ia melewati satu pohon Yang-liu besar, tiba-tiba ia mendengar sambaran angin dari belakang, begitu keras angin itu hingga kulit kepalanya terasa sakit, menyusul pandangannya menjadi gelap seakan-akan tertutup selapis awan tebal. Kiranya kedua burung rajawali tadi telah melayang dari belakang dan turun di depannya. Pada saat yang sama dari belakang pohon muncul seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua rajawali itu segera hinggap di pundak kedua orang itu sambil bercuat-cuit seperti sedang melaporkan sesuatu.
Laki-laki itu bermata besar dan beralis tebal, dadanya lebar dan punggungnya tegak, usianya antara 34-35 tahun, di atas bibirnya terpelihara kumis tebal dan wajahnya sedikit pun tidak menunjukkan perasaannya. Sedang yang wanita usianya 30 tahunan. Meski pun sudah setengah umur, tapi di antara alis matanya masih jelas kelihatan sifat aleman yang menarik dan nampak seperti masih polos. Dengan tangannya ia tengah mengelus sayap burung rajawali dengan rasa sayang.
“Menurut pendapatmu, anak ini mirip siapa?” tiba-tiba saja wanita itu berkata kepada lelaki di sampingnya sesudah mengamat-amati si anak beberapa kali.
Akan tetapi lelaki itu ternyata tidak menjawab, sebaliknya ia malah berkata ke jurusan lain;
“Mengapa Tiau-ji (si rajawali) bisa berada di sini? Jangan-jangan di atas pulau telah terjadi sesuatu?”
Kiranya kedua orang ini ialah Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri. Mereka telah keluar pulau buat mencari Oey Yok-su, tetapi meski pun mereka sudah jelajahi antero kota-kota di daerah Kanglam, belum juga mereka ketemukan jejak ayah dan ayah mertua mereka itu.
Oey Yong kenal watak ayahnya yang suka pada keindahan alam daerah Kanglam. Bila mana orang tua ini sampai mencari tempat tirakat lain, maka bisa dipastikan tidak akan melintasi utara sungai Tiangkang dan tentu pula tidak lebih selatan dari Sian-he-nia. Kebetulan hari itu mereka berdua sampai di kota kecil Ling-oh dari kabupaten Oh-ciu-hu. Di sini tiba-tiba mereka melihat ada mengepulnya asap dan berkobarnya api yang meninggi ke langit. Mereka dengar pula orang kampung pada berteriak.
“He, Liok-keh-ceng kebakaran!”
Mendengar nama pedesaan yang disebut itu, hati Kwe Ceng jadi tertarik, ia ingat bahwa di daerah Ling-oh ini terdapat seorang Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Meski selama ini belum pernah bertemu, tetapi sudah lama ia kagumi nama orang yang tersohor. Ketika ia menanyakan, betul juga apa yang dikatakan orang udik tadi adalah rumah kediaman Liok Tian-goan.
BELAJAR HA-MO-KANG
Mereka berdua buru-buru menuju ke tempat kebakaran. Setibanya di sana, perumahan yang terbakar itu sudah menjadi puing, hanya di antara sisa gundukan api terdapat beberapa mayat yang sudah hangus dengan bau yang sangit busuk.
“Engkoh Ceng, kukira dalam kejadian ini terdapat sesuatu yang aneh,” demikian kata Oey Yong pada sang suami.
“Kenapa?” tanya Kwe Ceng.
“Ya, ingat saja Liok Tian-goan adalah seorang Enghiong yang namanya gilang-gemilang. kabarnya sang isteri Ho Wan-kun juga seorang pendekar wanita pada jaman ini, apa bila hanya kebakaran biasa saja, mustahil tiada seorang pun di antara keluarganya yang bisa menyelamatkan diri. Aku menduga tentu musuhnya yang tangguh telah datang menuntut balas padanya!” demikian pendapat Oey Yong.
Kwe Ceng pikir betul juga pendapat isterinya ini. Ia adalah golongan manusia yang berbudi luhur dan suka menolong, meski sekarang usianya sudah menanjak, pengalamannya pun banyak bertambah, tetapi hatinya yang bajik dan mulia itu sedikit pun tidak berkurang dari pada waktu mudanya. Oleh karenanya segera ia menyatakan akur.
“Betul pendapatmu itu. Marilah kita periksa, coba lihat siapakah musuhnya, kenapa turun tangan secara begini keji?”
Mereka berdua kemudian mengitari perkampungan yang terbakar itu, namun sedikit pun tiada tanda-tanda mencurigakan yang mereka dapat. Tetapi mata Oey Yong yang jeli tiba-tiba tertarik pada sesuatu, lalu sekonyong-konyong ia berteriak sambil menuding pada dinding rumah yang tinggal separuh itu.
“Lihat, apakah itu?” serunya.
Kwe Ceng memandang ke arah yang ditunjuk dan tampaklah di atas dinding itu terdapat bekas lima cap tangan. Karena baru saja tergarang asap, maka cap tangan itu kelihatan bertambah seram.
Seperti diketahui, cap tangan yang berada di dinding itu semuanya ada sembilan buah, namun karena dinding temboknya sudah ambruk separoh, maka yang masih ketinggalan hanya lima buah.
Kwe Ceng kaget ketika mengenali tanda telapak tangan itu. “Jik-lian Sian-cu!” tanpa terasa ia menyebut nama orang.
“Ya, benar dia,” sahut Oey Yong, “Sudah lama kita mendengar bahwa Jik-lian Sian-cu Li Bok-Chiu dari Hunlam memiliki ilmu silat yang maha hebat, caranya pun sangat keji tiada taranya dan tidak kalah dengan Se-tok Auyang Hong dahulu. Kalau dia berani menginjak Kanglam sini, kita boleh coba ukur tenaga padanya.”
“Ya, tetapi iblis ini sangat ulet dan tidak gampang dilawan,” sahut Kwe Ceng memanggut. “Paling baik kalau kita bisa ketemukan Gakhu (mertua).”
“He, semakin berumur, nyalimu jadi semakin kecil!” goda Oey Yong dengan tertawa.
“Memang,” sahut Kwe Ceng. ”Kalau ingat dahulu, betapa tanpa mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi kita berani naik ke Hoa-san untuk berebut gelar jago silat nomor satu di kolong langit, jika seperti aku sekarang ini, sekali pun aku digotong kesana dengan joli delapan orang, pasti aku tidak berani pergi.”
“Huuh! Harus digotong pakai joli segala?” goda sang isteri.
Begitulah, sambil besenda-gurau tapi mereka diam-diam berlaku waspada, mereka terus memeriksa, akhirnya di pinggir sebuah kolam mereka melihat dua buah jarum Peng-pek-gin-ciam yang beracun. Ujung sebuah jarum di antaranya terendam air, oleh karena itu beberapa ratus ikan piaraan yang berada di dalam kolam itu semua mati dengan perut terbalik ke atas, suatu tanda betapa jahat racun yang terdapat pada jarum itu.
Oey Yong meleletkan lidahnya. Dari buntalannya ia lantas keluarkan sepotong baju, ia lempit beberapa kali, dengan dialingi kain baju ini ia jemput jarum perak itu, ia bungkus baik-baik dan dimasukkan ke dalam kantong rangselnya.
Habis ini mereka berdua tak bicara lagi melainkan mempercepat memeriksa dan mencari jejak. Akhirnya di belakang pohon Liu tadi mereka dapatkan sepasang burung rajawali dan ketemu pula si anak tanggung itu. Dari rajawali yang menclok di atas pundak mereka, tiba2 Oey Yong mencium bau yang aneh, sesudah berapa kali ia sedot, segera dadanya menjadi sesak dan rasanya menjadi mual.
Kwe Ceng pun mencium bau busuk itu, bau yang seperti datang dari tempat yang sangat dekat dengan hidungnya. Waktu ia men-cari-cari dari mana datangnya bau busuk itu, tiba-tiba ia melihat kaki kedua burungnya terdapat luka lecet dan ketika ia dekatkan hidungnya, betul saja bau busuk itu datangnya dari luka ini.
Suami-isteri ini terkejut, lekas mereka periksa luka burung-burung itu dengan teliti. Meski luka itu sebenarnya hanya lecet kulit saja, tetapi sudah menimbulkan bengkak, pula sebagian kulit daging kakinya sudah mulai busuk.
“Luka apakah ini, mengapa begini lihay?” demikian Kwe Ceng berpikir sambil menunduk Tiba-tiba pula ia lihat tangan kiri si anak muda tadi telah berubah menjadi hitam semua, keruan ia kaget pula.
“Kau pun terkena racun ini?” serunya kuatir.
Dengan cepat Oey Yong mendekati anak muda itu. Dia angkat tangannya dan diperiksa, habis ini cepat ia gulung lengan bajunya, ia keluarkan sebuah pisau kecil. Dengan senjata ini ia sayat tangan orang sebelah bawah, lantas dengan kuat ia pencet agar darah yang berbisa mengalir keluar.
Akan tetapi ia menjadi heran sekali ketika melihat darah yang menetes keluar dari tangan anak muda itu ternyata berwarna merah segar, padahal telapak tangannya je!as-jelas sudah berubah hitam seluruhnya, tapi kenapa darah yang mengucur keluar tidak beracun? Nyata dia tidak tahu bahwa sesudah si anak muda mendapatkan ilmu ajaib ajaran orang aneh yang suka menjungkir itu, sekarang darah berbisa dalam tubuhnya sudah didesak ke ujung jari dan untuk sementara tidak akan menjalar. Sesudah ragu2 sejenak, kemudian Oey Yong keluarkan sebutir pil ‘Kiu-hoa-giok-lo-wan’, obat pil yang terbuat dari sari sembilan macam bunga-bunga-an.
“Kunyah dan telan ini,” katanya sambil memberikan pil itu pada si anak
Anak muda itu tidak menolak, ia terima pemberian pil itu terus masukkan ke dalam mulut, rasanya manis dan harum. Lalu Oey Yong keluarkan pula empat pil dan dibagikan kepada kedua burung rajawalinya yang terluka itu.
Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Kwe Ceng bersiul panjang. Suara siulan ini berkumandang jauh sekali, begitu keras suaranya hingga menggema lembah pegunungan sampai dahan pohon Liu yang menjulur ikut tergoncang. Belum lenyap suara siulan pertama, menyusul Kwe Ceng menggembor dengan suaranya yang amat keras, begitu hebat suara teriakan itu susul menyusul hingga membikin seluruh lembah gunung penuh dengan suara sahut-menyahut yang menggelegar.
Karena teriakan ini sama sekali di luar dugaan, si anak muda tadi dibikin kaget sehingga tanpa tertahan air mukanya berubah hebat karena belum pernah mendengar suara yang luar biasa ini.
Sebaliknya Oey Yong mengerti maksud dan tujuan sang suami. Ia tahu dengan suara itu suaminya bermaksud menantang tanding kepada Li Bok-chiu. Ketika pekikan ketiga sang suami dilontarkan, segera pula ia kumpulkan tenaga dan menyusul dengan teriakannya.
Bila suara pekikan Kwe Ceng agak rendah tetapi kuat, maka suara Oey Yong sebaliknya tinggi tetapi nyaring sekali. Perpaduan suara yang hebat ini makin lama semakin jauh dan semakin keras, saling susul menyusul tiada putusnya, seakan-akan satu sama lain tidak ingin ketinggalan.
Kiranya Kwe Ceng dan Oey Yong telah berlatih diri di Tho-hoa-to dengan giat, kini tenaga dalam mereka telah sampai di puncak kesempurnaan, dengan suara pekikan yang berkumandang jauh ini, orang yang berada dalam jarak belasan li sama terkejut dan ter-heran-heran tidak mengerti suara aneh ini datang dari mana.
Sementara itu suara pekikan hebat ini telah didengar oleh beberapa orang tertentu. Demi mendengarnya, orang aneh yang suka berjungkir balik itu telah ‘tancap gas’ mempercepat larinya.
Sebaliknya orang aneh berjubah hijau yang memondong Thia Eng segera tertawa waktu mendengar suara itu
“Ha-ha ha ha….., mereka datang juga, aku harus menyingkir jauh supaya tidak banyak rewel.”
Dalam pada itu Li Bok-chiu sambil mengempit Liok Bu-siang sedang lari dengan cepatnya. Ketika mendadak mendengar suara siulan pertama, sekonyong-konyong dia berhenti, dia ayun kebutnya dan memutar tubuh.
“Hm, nama Kwe-tayhiap telah menggoncangkan Bu-lim, aku justru ingin membuktikannya apakah namanya bukan bikinan belaka,” demikian katanya dengan ketawa dingin.
Tetapi tiba-tiba pula di antara suara pekikan panjang tadi diselingi pula dengan suara siulan nyaring yang menimpali suara yang duluan hingga menambah keangkeran suara-suara itu.
Hati Li Bok-chiu langsung menjadi jeri. Teringat olehnya bahwa Kwe Ceng dan Oey Yong suami-isteri selama berkelana selalu berdampingan dan bahu-membahu, sebaliknya dia hanya sebatang-kara. Seketika perasaannya menjadi hampa dan putus asa, ia menghela napas panjang, habis ini dengan mencengkeram punggung Liok Bu-siang terus bertindak pergi.
Pada saat itu pula Bu-sam-nio tengah memayang sang suami yang terluka dan membawa kedua puteranya pergi jauh setelah berpisah dengan Kwa Tin-ok. Sesudah mengalami pertarungan sengit tadi, kuatir kalau Li Bok-chiu balik kembali untuk mencelakai Kwe Hu, maka lekas Kwa Tin-ok membawa lari dara cilik ini dengan maksud mencari tempat untuk bersembunyi, tetapi dia keburu mendengar suara siulan Kwe Ceng dan Oey Yong yang keras itu, maka hatinya menjadi girang.
“He, ayah, ibu!” Kwe Hu berseru juga ketika mengenali suara orang tuanya.
Habis ini segera ia angkat kaki terus lari menuju ke arah datangnya suara, Tetapi tiba-tiba ia berpikir pula: “Aku sudah ngeluyur keluar, tentu nanti akan didamperat ayah, bagaimana baiknya ini?” Dalam bingungnya ia tarik-tarik lengan baju Kwa Tin-ok, ia coba membujuk orang tua ini:
“Kongkong, nanti kalau bertemu dengan ayah, katakanlah kau yang bawa aku keluar buat bermain, ya?” demikian ia memohon.
“Tidak, aku tak mau berbohong untuk kau!” sahut Kwa Tin-ok dengan menggeleng kepala.
Tetapi Kwe Hu tidak kurang akal, tiba-tiba ia meloncat dan merangkul leher si orang tua, dengan kata-kata halus ia membujuk lagi:
“Kongkong, sekali ini sayanglah padaku, untuk seterusnya aku tak akan nakal lagi.”
Namun masih tetap Kwa Tin-ok geleng-geleng kepala.
“Baiklah, jika begitu biar aku minggat pergi,” teriak Kwe Hu tiba-tiba sambil lompat turun dari rangkulannya. “Selamanya aku tidak akan menjumpai kau lagi, juga tidak akan menemui ayah-bunda.”
Mendengar kata-kata ini, Tin-ok menjadi kaget dan kuatir. Ia kenal watak dara cilik ini berani berkata berani berbuat pula, sedangkan dirinya buta, kalau sampai si kecil ini pergi maka susah lagi untuk mencarinya.
“Baik, baik, kululuskan keinginanmu,” terpaksa ia menyerah.
Kwe Hu ketawa senang dengan kemenangannya ini. “Memang aku sudah tahu kau bakal meluluskan, tidak mungkin kau tega membiarkan aku diomeli ayah dan ibu,” kata si nakal ini.
Maka dua sejoli, satu tua dan satu bocah ini kemudian berlari ke tempat beradanya Kwe Ceng dan isteri. Sesudah dekat, dengan serta-merta Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibunya dengan laku aleman.
“Bu, Kongkong yang membawa aku ke sini mencari kalian, engkau tentu senang bukan?” demikian si nakal ini berkata pada sang ibu.
Akan tetapi kepintaran Oey Yong tiada bandingannya, sebab itu hanya sedikit permainan sandiwara sang puteri ini mana bisa mengelabuinya. Cuma bisa bertemu anaknya di sini, sesungguhnya dia memang senang juga, maka ia hanya tertawa saja, lalu bersama sang suami mereka menjalankan penghormatan pada Kwa Tin-ok dan tanyakan kesehatan si orang tua.
Kwe Hu masih kuatir kalau disemprot ayahnya, maka sesudah menyapa sekali, lantas ia tarik tangan si anak muda tadi menyingkir pergi.
“Pergilah kau memetik bunga, buatkanlah mahkota bunga untukku,” demikian pintanya.
Pemuda itu tidak menolak, ia ikut pergi bersama. Perawakan Kwe Hu ternyata jauh lebih pendek, tingginya hanya sedada orang, maka dengan mudah saja ia bisa melihat telapak tangan pemuda itu yang hitam. Mendadak sontak ia kipatkan tangan orang yang tadinya dia gandeng.
“Hiiii, tanganmu kotor, aku tidak mau bermain dengan kau,” demikian ia meng-olok-olok.
Watak pemuda itu ternyata tidak gampang mengalah, ia pun tinggi hati, maka kontan ia jawab dengan ketus:
“Siapa pingin bermain dengan kau?” Habis berkata dengan langkah lebar ia lantas bertindak pergi sendiri
“Eh, eh, saudara cilik, jangan pergi dulu, sisa racun di dalam tubuhmu masih belum hilang seluruhnya, kalau sampai kambuh pasti akan luar biasa lihaynya,” seru Kwe Ceng ketika melihat si anak muda ini hendak pergi.
Anak itu paling benci kalau orang katai dia jelek, oleh karena itu olok=olok Kwe Hu tadi sudah menusuk perasaannya, maka dengan tegang leher ia masih jalan terus tanpa menggubris teriakan Kwe Ceng.
Tabiat Kwe Ceng memang welas-asih, maka buru-buru ia menguber. “Cara bagaimanakah kau terkena racun?” demikian ia bertanya pula, “Marilah kami sembuhkan kau dulu.”
“Aku toh tidak kenal kau, peduli apa dengan kau?” sahut anak muda itu dengan ketusnya. Berbareng itu dia percepat langkahnya dan bermaksud menerobos lewat di samping Kwe Ceng.
Sekilas Kwe Ceng dapat melihat wajah si anak muda yang menunjukkan rasa marah ini, di antara mata-alisnya tertampak sangat mirip seseorang, tiba-tiba hatinya tergerak.
“Ehh, saudara cilik, kau she apa?” segera ia tanya.
Namun pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya ia memelototi orang, lalu tubuhnya sedikit miring dengan maksud hendak menerobos lewat, Di luar dugaan secepat kilat Kwe Ceng sudah mencekal sebelah tangannya. Dalam kagetnya si anak muda itu pun menjadi marah, ia me-ronta-ronta beberapa kali, setelah tak berhasil mendadak ia angkat tangan kirinya terus menggenjot perut Kwe Ceng.
Kwe Ceng tidak urus pukulan ini. Dia membiarkan perutnya kena dihantam dengan mulut tersenyum saja. Ketika anak muda itu bermaksud menghantam lagi, tahu-tahu kepalannya ambles di-tengah perut orang, meski dia tarik-tarik bagaimana pun tetap tak bisa melepaskan diri. Dia tidak putus asa, masih terus ia tarik-tarik, saking keras ia keluarkan tenaga hingga mukanya merah padam, tetapi tangannya seperti melengket saja di perut Kwe Ceng, sebaliknya ia rasakan lengan sendiri kesakitan karena di-betot-betot.
“Nah, beri-tahu kepadaku kau she apa dan segera kulepaskan kau,” dengan tertawa Kwe Ceng tanya lagi.
Akan tetapi si anak muda memang amat kepala batu. Ia pikir tidak mau omong, kalau mau, akan kusebutkan she palsu dan nama bikinan saja, oleh karenanya dia lantas menjawab:
“Aku she Cin dan bernama Coa-ji, si anak ular. Lekas lepaskan aku.”
Di lain pihak, demi mendengar nama orang ini Kwe Ceng merasa kecewa sekali. Ia lantas kendorkan tenaga perutnya yang menyedot kepalan pemuda itu. Setelah tangannya terlepas, pemuda itu pandang Kwe Ceng dengan luar biasa kagumnya atas kepandaian orang tadi.
Di sebelah situ Kwe Hu sedang asyik menceritakan pengalaman selama berpisah dengan ibunya. Akhirnya dia ceritakan tentang bagaimana sepasang rajawalinya berkelahi dengan seorang wanita jahat, kemudian datang seekor burung merah kecil yang telah membantu rajawali-rajawalinya.
Mendengar “burung merah kecil” itu, Oey Yong jadi ketarik sekali. “Apakah Koko (kakak) kecil ini yang membawa burung merah kecil itu datang?“ dia tanya dengan cepat.
“Ya,” sahut Kwe Hu, “Burung merah kecil itu menotol biji wanita jahat itu hingga buta, tapi sayang burung itu pun kena digaplok mati oleh dia.”
Mendengar penuturan ini, Oey Yong tidak ragu-ragu lagi, segera dia melompat maju dan memegang pundak si anak muda tadi dengan kedua tangannya, dengan tajam ia pandang orang.
“Kau she Yo bernama Ko, ibumu yang she Cin, ya bukan?” demikian ia menegas sekata demi sekata.
Pemuda ini memang benar she Yo dan bernama Ko. Ketika tiba-tiba saja nama aslinya disebut Oey Yong, darah di dalam rongga dadanya menaik ke atas hingga hawa racun di tangannya se-konyong-konyong menjalar kembali. Ia merasa kepala puyeng dan pikiran menjadi butek, akhirnya jatuh pingsan.
Dalam kejutnya lekas Oey Yong memegang tubuh orang supaya tidak sampai roboh. “Dia... dia kiranya putera adikku Yo Khong,” kata Kwe Ceng terkejut bercampur girang.
Sementara itu kelihatan Oey Yong mengkerut alis. Ia lihat racun menjalar terlalu hebat di tubuh Yo Ko dan ia kuatir, karena sesungguhnya ia sendiri tidak punya sesuatu pegangan untuk menyembuhkan orang.
“Marilah kita cari tempat pondokan dulu, kemudian kita cari pula beberapa racikan obat,” ajaknya kemudian dengan suara terharu.
Kwe Ceng lantas pondong Yo Ko, lalu bersama Kwa Tm-ok, Oey Yong dan si nakal Kwe Hu serta membawa pula sepasang burung Tiau mereka mencari hotel di kota. Bahan obat yang mereka perlukan ternyata sukar dicari, biar pun sudah dikumpulkan akhirnya masih kurang juga empat macam. Melihat keadaan Yo Ko yang masih tak sadar, Kwe Ceng merasa sedih dan kuatir sekali, sampai Oey Yong beberapa kali memanggilnya ternyata tidak didengarnya.
Oey Yong cukup mengerti perasaan hati sang suami waktu itu. Sejak terbinasanya Yo Khong (tentang lelakon Kwe Ceng, Oey Yong dan hubungannya dengan Yo Khong telah diceritakan tersendiri) pikirannya selalu sedih dan menyesal, maka dengan sendirinya kini luar biasa girangnya demi bisa ketemukan anak keturunan saudara angkatnya itu, tetapi anak ini justru terkena racun dan belum bisa diketahui bakal mati atau hidup.
“Ceng-koko, marilah kita coba keluar mencari pelengkapnya obat,” ia mengajak.
Kwe Ceng sendiri mengerti juga sifat Oey Yong. Dia tahu bila ada sedikit harapan dapat mengobati, pasti sang isteri sudah menghibur padanya. Kini nampak wajah isterinya amat prihatin, maka hatinya makin tak tenteram. Segera ia pesan Kwe Hu jangan sembarangan ngeloyor pergi, lalu mereka suami-isteri keluar buat mencari obat2an.
Dalam pingsannya Yo Ko masih terus tertidur, meski hari sudah gelap belum juga sadar. Beberapa kali Kwa Tin-ok masuk kamar memeriksanya, akan tetapi orang tua ini pun tak berdaya. Ia pun kuatir kalau si nakal Kwe Hu ngeluyur pergi, maka tiada hentinya ia bujuk dara cilik ini lekas tidur.
Entah sudah lewat berapa lama, dalam keadaan remang-remang tiba-tiba Yo Ko merasa ada orang me-mijat-mijat dan mengurut dadanya, perlahan pikirannya jernih kembali. Waktu ia membuka mata, terlihat dalam kegelapan ada berkelebat bayangan entah apa meloncat keluar jendela dengan cepat.
Meski rasanya masih lemas, Yo Ko paksakan diri buat berdiri. Dia coba melongok keluar jendela, dan tampaklah olehnya di atas emper rumah berdiri satu orang dengan kepala menjungkir di bawah, siapa lagi kalau bukan orang aneh yang siang tadi menerima dirinya sebagai anak angkat itu.
Kepala orang aneh yang menyanggah badannya itu ternyata separohnya menempel di luar emper, tubuhnya yang tegak terbalik ke atas itu kelihatan ber-goyang-goyang, tampaknya setiap waktu bisa terbanting jatuh ke bawah.
“He, kau!” seru Yo Ko kaget tercampur girang.
“Kenapa tidak panggil ayah?” tegur orang aneh itu.
Karenanya Yo Ko lantas memanggil: “Ayah!” akan tetapi lagu suara panggilannya sangat dipaksakan.
Namun orang aneh itu sudah kegirangan. “Naiklah sini,” katanya.
Yo Ko menurut. Dia lalu merangkak ke ambang jendela untuk kemudian meloncat ke atas payon. Akan tetapi karena badannya masih lemah, tenaganya menjadi tak cukup, maka sebelum tangannya memegang emper rumah dia pun sudah terjungkal ke bawah. Dalam kagetnya ia berteriak.
Orang aneh itu tadinya berjungkir di atas payon, tetapi begitu nampak Yo Ko terjungkal, mendadak tubuhnya roboh ke bawah laksana batang kayu yang terbanting saja, hanya kepalanya masih tetap melekat di atas emper rumah. Dengan demikian secepat kilat tangannya berhasil menjambret punggung Yo Ko, habis ini tubuhnya kembali menegak lagi ke atas, dengan enteng saja Yo Ko diletakkannya di atas payon.
Dan selagi ia hendak bicara, tiba-tiba terdengar di kamar sebelah barat ada suara orang meniup memadamkan api. Ia tahu jejaknya telah diketahui orang, maka tanpa ayal lagi ia pondong Yo Ko dan melangkah pergi dengan cepat, hanya sekejap saja beberapa deretan rumah penduduk sudah ia lintasi.
Waktu itu Kwa Tin-ok melompat ke atas rumah, tapi di sekelilingnya sudah sepi nyenyak.
Setelah Yo Ko dibawa sampai pada sebuah tempat sunyi di luar kota, orang aneh itu baru menurunkannya.
“Coba kau gunakan cara yang pernah kuajarkan padamu itu, hawa berbisa dipaksa keluar lagi sedikit,” demikian ia memberi petunjuk pada Yo Ko.
Pemuda ini menurut, maka tidak berapa lama, dari ujung jarinya menetes keluar beberapa titik darah hitam, berbareng rasa sesak di dadanya pun menjadi lega.
“Sungguh kau ini anak pintar, sekali tunjuk lantas paham, jauh lebih cerdas dibandingkan almarhum putera kandungku dulu,” kata orang aneh itu. Teringat pada puteranya sendiri itu, tiba-tiba ia meratap: “O, anakku, anakku…”
Air matanya berlinang juga karena terkenang puteranya sendiri yang sudah mati, ia elus-elus kepala Yo Ko sambil menghela napas perlahan.
Yo Ko sendiri sejak belum lahir sudah ditinggal bapaknya, ibu pun tewas oleh pagutan ular berbisa di kala ia baru berumur lima tahun, dan selama 8-9 tahun ini dia luntang-lantung sebatang kara di Kangouw, di mana-mana dihina orang sehingga tabiatnya menjadi eksentrik, benci pada sesama manusia serta cemburu pada keadaan sekitarnya, Kini meski orang aneh ini belum pernah kenal dia, namun ternyata demikian baik terhadap dirinya, ini boleh dikatakan belum pernah terjadi selama hidupnya.
Karena darah keturunan ayah-bundanya, maka watak Yo Ko luar biasa pula anehnya. Bila mana dia sudah baik pada seseorang, maka dia bela mati-matian tanpa pikirkan jiwa sendiri. Sebaliknya jika ada orang lain menghina dan memandang rendah padanya, maka selama hidup akan dia ingat terus dan dendam, dia pasti berusaha dengan segala daya-upaya untuk menuntut balas.
Kini si orang aneh itu mengunjuk rasa kasih sayang murni padanya, hati pemuda ini luar biasa terharunya sehingga dia melompat terus merangkul leher orang sambil berulang kali memanggil,
“Ayah, ayah!”
Sejak Yo Ko berumur 2-3 tahun dia sudah berharap mempunyai seorang ayah yang akan cinta dan melindunginya. Bahkan dalam mimpi kadang-kadang mendadak muncul seorang ayah yang gagah perkasa yang dia cintai, tetapi begitu terjaga dari tidurnya, ayah khayalan itu langsung hilang lagi tak berbekas, oleh karenanya sering kali ia suka menangis sendirian dengan sedih. Kini harapan yang sudah lama ia impikan itu tiba-tiba terwujud, dua kali panggilan tadi keluar dari lubuk hatinya yang penuh cinta kasih seorang anak kepada bapaknya.
Kalau hati Yo Ko terharu sekali, maka dalam hati orang aneh itu ternyata jauh lebih girang dari pada Yo Ko. Waktu mereka mula bertemu di mana Yo Ko dipaksa memanggil ayah, di dalam hati anak muda itu sesungguhnya seribu kali tidak sudi, tetapi kini dua hati telah kontak seperti ayah dan anak kandung.
“Oh, anak baik, anak manis, coba panggil ayah sekali lagi!” demikian kata orang aneh itu dengan bergelak ketawa.
Betul juga Yo Ko lantas memanggil ayah, bukan hanya satu kali, malahan dia panggil lagi dua kali, lalu ia menggelendot di badan orang dengan laku yang aleman.
“Aha, anak baik, marilah kuajarkan kau ilmu silatku yang paling aku banggakan selama hidup ini,” dengan tertawa orang aneh itu berkata pula.
Sambil berkata lantas ia berjongkok, dari mulutnya terdengar suara “kuk-kuk-kuk” tiga kali, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh yang keras, setengah tembok pagar yang berada di depannya ambruk seketika sehingga debu dan batu berhamburan. Nampak orang memiliki ilmu silat selihay ini, girang sekali hati Yo Ko.
“Ayah, ilmu apakah itu, dapatkah aku mempelajarinya?” dengan cepat ia tanya.
“Ini namanya Ha-mo-kang (ilmu weduk kodok),” sahut orang itu, “Asal kau mau berlatih dengan giat, tentu kau dapat mempelajarinya.”
“Setelah aku pandai, apakah tiada orang lain lagi yang berani menganiaya diriku?” tanya Yo Ko lagi.
“Tentu saja,” sahut orang aneh itu sambil menarik alis “Siapakah yang berani menghina puteraku, biar kupatahkan tulangnya dan kubeset kulitnya.”
Kiranya orang aneh yang sangat kosen ini bernama Auwyang Hong yang namanya telah disinggung di bagian atas tadi. Sejak Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di atas Hoa-san (salah satu gunung yang tersohor di daerah propinsi Siamsay), Auwyang Hong kena diakali oleh Oey Yong hingga otaknya rada miring. Selama belasan tahun ini ia luntang-lantung di daerah sunyi, yang selalu dia pikirkan adalah: “Siapakah aku ini sebenarnya?”
Tetapi tahun-tahun terakhir ini, sesudah dia berlatih Kiu-im-cin-keng, maka Iwekang-nya banyak kemajuan, otaknya juga lebih terang, walau pun kelakuannya masih tetap tidak beres dan suka gila-gilaan. Tetapi banyak kejadian lama perlahan-lahan satu persatu mulai dia ingat, cuma saja tentang “siapakah dirinya sendiri” inilah yang tetap belum dia ingat.
Tentang Hoa-san-lun-kian serta mengapa Auwyang Hong bisa diakali Oey Yong hingga menjadi gila dan sebab apa dia berlatih ilmu Kiu-im-cin-keng secara terbalik, bacalah cerita Sia Tiauw Eng Hiong.
Begitulah, maka Auwyang Hong lantas mengajarkan Yo Ko dasar2 permulaan ilmu Ha-mo-kang. Hendaklah diketahui bahwa Ha-mo-kang yang menjadi ilmu kebanggaan Auwyang Hong ini terhitung ilmu silat kelas satu di dunia persilatan. Dahulu meski putera kandungnya sendiri belum pernah Auwyang Hong mengajarkan, tetapi kini karena guncangan perasaannya, tanpa pikir lagi diajarkannya pada anak angkatnya yang baru dia terima ini.
Ha-mo kang ini amat sulit dan dalam sekali. Yo Ko sendiri masih belum punya landasan, meski dia coba baik-baik semua apa yang diuraikan Auwyang Hong, tetapi sama sekali ia tidak paham akan arti yang terkandung dalam rahasia ilmu yang dia terima itu.
Oleh karena itu, sesudah hampir setengah hari Auwyang Hong mengajar, ia lihat Yo Ko masih ngawur saja kalau ditanya, sama sekali belum paham dasar yang diajarkannya, akhirnya Auwyang Hong menjadi keki dan dalam dongkolnya ia hendak menampar anak muda itu. Namun sebelum tangannya menyentuh pipi orang, di bawah cahaya sang dewi malam ia lihat muka Yo Ko yang putih bersih dengan matanya yang jeli menarik itu, ia menjadi tidak tega menghajarnya.
“Sudahlah, kau tentu sudah letih, pulang saja sekarang, besok aku mengajarkan kau lagi,” katanya kemudian dengan menghela napas.
Tak tahunya, sejak Yo Ko dikatai Kwe Hu bahwa tangannya kotor, terhadap anak dara itu sudah timbul rasa benci di dalam hatinya, maka demi mendengar dirinya disuruh kembali kepada Kwe Ceng, ia menjadi sedih.
“Tidak, ayah, aku ikut kau saja, aku tak mau pulang ke sana,” katanya.
Siapa dirinya sendiri hingga sekarang Auwyang Hong masih belum jelas, tapi mengenai urusan umum pikirannya sudah cukup terang dan jernih, maka atas permintaan Yo Ko dia menjawab:
“Jangan. Otakku masih rada kurang beres, aku kuatir kau nanti ikut menderita. Kau pulang saja dahulu, nanti kalau aku sudah dapat bikin terang sesuatu soal barulah kita berkumpul untuk selamanya.”
Kata-kata Auwyang Hong yang penuh kasih sayang ini meresap sekali ke lubuk hati Yo Ko, boleh dikatakan sejak ibunya mangkat belum pernah ia mengenyam rasa simpatik seperti sekarang ini, maka dengan cepat ia merangkul orang.
“Kalau begitu harap lekas kau datang menjemput aku, ayah,” katanya.
“Jangan kuatir, nak, sementara diam-diam senantiasa akan kuikuti kau, kemana pun kau pergi pasti aku mengetahuinya,” sahut Auwyang Hong manggut-manggut. Kemudian ia membopong Yo Ko lagi dan diantar pulang ke hotel.



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar