KAKEK BERPAKAIAN ANEH
Zaman pemerintahan Song-li-cong pada dinasti Song, di daerah Oh-ciu, daerah Kanglam, ada sebuah kota kecil, namanya Leng-oh-tin.
Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat. Di sungai kecil pinggir kota kecil itu lima gadis cilik berada di sebuah perahu kecil sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu mereka untuk memetik biji teratai.
Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat. Di sungai kecil pinggir kota kecil itu lima gadis cilik berada di sebuah perahu kecil sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu mereka untuk memetik biji teratai.
Di antara kelima gadis cilik itu usia tiga orang kurang lebih lima belasan, dua orang lagi hanya berusia delapan atau sembilan tahun saja. Kedua dara cilik itu adalah saudara misan, Piauci (kakak misan) bernama Thia Eng, sedangkan Piaumoay (adik misan) she Liok bernama Bu-siang, umur keduanya hanya selisih setengah tahun saja, namun Thia Eng lebih pendiam dan lemah lembut, sebaliknya Liok Bu-siang sangat lincah, perangai keduanya sama sekali berbeda.
Tiga gadis yang lebih tua-an masih terus saja bernyanyi sambil tetap mendayung perahu menyusuri semak daun teratai itu.
“Ehh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!” seru Thia Eng sambil menuding orang yang sedang duduk di bawah pohon tepi sungai sana.
Orang yang dimaksud berambut kusut masai tetapi kaku, kumis serta jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, tetapi rambut mau pun jenggot dan kumisnya masih hitam mengkilap. Mesti usianya belum begitu lanjut, akan tetapi mukanya penuh keriput dan cekung sehingga nampak seperti kakek berusia 70-80 tahun.
Yang sangat aneh dan lucu adalah pakaiannya. Bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya terbuat dari satin dan masih baru, malahan bagian bawah bersulamkan kupu-kupu yang berwarna warni.
Tangan kanannya memegang sebuah kelentungan (kelontong) mainan kanak-kanak, tiada hentinya di putar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan seperti orang kehilangan ingatan.
“Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?” kata Liok Bu-siang.
“He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah,” ujar Thia Eng.
“Kalau dia marah akan tambah menarik,” kata Liok Bu-siang sambil menjumput sebuah ubi teratai terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.
Jarak antara perahu kecil dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, namun biar pun usianya masih kecil ternyata tenaga Bu-siang tidak lemah. Lemparannya pun sangat jitu, ubi teratai itu menyambar ke muka si kakek aneh
“Jangan, Piaumoay!” Thia Eng berseru mencegah namun sudah terlambat, ubi teratai itu sudah terlanjur menyambar ke sana.
Akan tetapi keajaiban segera terjadi. Tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai tergigit olehnya. Dia pun tidak menggunakan tangan, hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai dimakannya dengan lahap.
Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apa lagi kulitnya juga tidak dikupas, tetapi kakek aneh itu sama sekali tidak ambil pusing, Melihat cara makan orang aneh itu, ketiga gadis yang agak besaran menjadi geli dan mengikik tertawa.
Liok Bu-siang juga merasa senang, serunya: “Ini makan satu lagi!” Segera dia lemparkan pula sebuah ubi teratai kepada si kakek
Waktu itu separuh dari pada umbi teratai yang pertama masih belum habis termakan dan tergigit di mulutnya. Tiba-tiba kakek itu memapak ubi teratai kedua yang dilemparkan Bu-siang dengan ubi teratai yang tergigit di mulutnya itu, sedikit mencungkit, ubi teratai kedua lantas mencelat ke atas, jatuhnya ke bawah dan tepat hinggap di atas kepalanya. Rambut si kakek semrawut kaku sehingga ubi teratai itu dapat tertahan di atas kepalanya tanpa bergoyang sedikit pun. Serentak kelima gadis cilik itu bersorak gembira.
“Ini masih ada!“ seru Bu siang lagi, kembali melemparkan sebuah ubi teratai
Lagi-lagi kakek aneh itu mencungkit dengan ubi teratai yang ada di mulutnya seperti tadi dan kembali ubi teratai itu mencelat ke atas lalu jatuh persis menumpuk di atas ubi teratai yang duluan.
Melihat permainan akrobat itu, kelima gadis bertambah senang, tangan Liok Bu-siang juga bekerja berulang-ulang, dalam sekejap saja di atas kepala kakek aneh itu sudah bersusun belasan ubi teratai sehingga tingginya hampir satu meter. Setelah ubi teratai pertama tadi habis termakan, si kakek sedikit miringkan kepalanya dan ubi teratai yang paling atas tiba-tiba menggelinding ke bawah, tepat jatuh di mulut si kakek. Sebentar saja ubi teratai ini pun dimakan habis, kemudian ubi teratai yang lainnya menggelinding jatuh lalu dimakan lagi. Dalam waktu singkat saja ubi teratai yang tersunggi di atas kepalanya hanya tersisa dua saja.
Senang dan heran Liok Bu-siang serta Thia Eng melihat permainan kakek aneh itu, maka segera mereka mendayung perahunya ke tepian dan mendarat.
Thia Eng berhati welas asih dan berbudi halus, dia mendekati si kakek dan menarik-narik bajunya serta berkata:
“Empek (paman) tua, caramu makan begitu tidak enak!”
Kemudian dia mengambil sebuah ubi teratai, kulitnya dikupas, bijinya dibuang, sumbu ubi yang pahit juga diambilnya, dan akhirnya diberikan kepada kakek aneh itu.
Kakek itu pun tidak menolak. Ubi teratai dimakannya dan terasa lebih gurih dan enak dari pada yang tadi. Tiba-tiba saja ia menyeringai kepada Thia Eng dan manggut-manggut. Aneh juga, kedua ubi teratai yang masih bersusun di atas kepalanya cuma bergoyang sedikit saja dan tidak jatuh.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara mengkuiknya anjing kecil di seberang sungai sana terseling suara teriakan dan bentakan anak-anak kecil yang riuh ramai.
Waktu Thia Eng menoleh ke sana, tampak seekor anjing kecil budukan sambil mencawat ekornya tengah berlari-lari ketakutan melalui jembatan kecil, di belakang anjing budukan mengejar tujuh atau delapan anak-anak nakal, ada yang memegang bambu, ada pula yang menyambit dengan batu disertai suara bentakan.
Anjing kecil itu memang sudah jelek karena kulitnya budukan, kini dihajar pula sehingga babak belur oleh kawanan anak nakal itu, tentu saja keadaannya bertambah konyol.
Biasanya Thia Eng merasa kasihan kepada anjing kecil ini dan sering memberi sisa makanan. Rupanya anjing kecil itu melihat Thia Eng dari kejauhan, maka dengan mati-matian ia lari menghampiri, lalu sembunyi di belakang Thia Eng.
Ketika kawanan anak nakal yang mengejar itu tiba dan hendak menghajar anjing kecil itu, cepat Thia Eng mencegahnya sambil berseru:
“He, jangan memukulnya, jangan memukulnya!”
“Anak perempuan, minggir! Bukan urusanmu!” damprat seorang anak yang paling nakal, berbareng tangannya mendorong tubuh Thia Eng.
Tetapi dengan sedikit mengegos saja Thia Eng dapat menghindar. Melihat anak nakal itu kurang ajar, Bu-siang yang berdiri di sebelah Piauci langsung menjegal dengan sebelah kakinya sambil menahan perlahan bahu anak itu. Tanpa ampun anak nakal itu jatuh tersungkur mencium tanah, bahkan dua gigi depan copot semuanya, saking kesakitan anak itu pun menjerit menangis.
Bu-siang bertepuk senang, sedangkan Thia Eng merasa kasihan. Ia membangunkan anak itu lantas menghiburnya:
“Jangan menangis! Apakah sakit?” Melihat mulut anak itu penuh darah, ia menjadi gugup dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap darahnya.
Tapi anak nakal itu mendorongnya sambil memaki: “Tidak perlu kau mengusap. Kau budak busuk yang tidak punya ayah ibu!”
Kuatir dihajar lagi oleh Bu-siang, anak nakal itu berlari menyingkir sambil mencaci maki. Setelah agak jauh ia terus menjemput batu kecil dan menyambiti kawanan gadis itu.
Dengan gesit Thia Eng dan Bu-siang bisa menghindari. Akan tetapi ketiga gadis yang agak besaran tidak bisa ilmu silat, mereka menjadi kesakitan tertimpuk oleh batu-batu kecil itu. Beberapa potong batu itu pun mengenai badan si kakek aneh, tetapi orang tua itu tidak menjadi gusar, juga tidak menghindar seperti tidak berasa apa-apa.
Melihat itu, kawanan anak nakal itu menjadi heran dan merasa tertarik. Segera mereka mengambil batu dan ikut menyambit kakek itu lagi. Semua batu tepat mengenai badan si kakek, bahkan ada beberapa batu yang mengenai kepalanya, akan tetapi kakek aneh itu tetap makan ubi tanpa mengacuhkan batu-batu itu.
“Hei, jangan lempar batu! Jangan lempar lagi!” Thia Eng berteriak, namun sia-sia.
Begitu potongan ubi terakhir telah memasuki mulutnya, kakek itu lantas berdiri, mulutnya menyeringai, lalu dengan gerakan cepat sekali kedua tangannya menangkap tubuh Thia Eng dan Bu-siang yang kemudian dipanggulnya pada bahu kanan dan kiri.
Belum sempat berkata apa pun, segera Thia Eng dan Bu-siang merasa seakan tubuhnya dibawa terbang dengan pesat meninggalkan tempat itu, juga meninggalkan kawanan anak nakal dan tiga orang gadis yang hanya dapat berdiri melongo.
Mula-mula kedua anak dara itu masih dapat melihat permukaan tanah dan pohon-pohon yang seolah berkelebatan, tetapi lama kelamaan pandang mata mereka menjadi kabur, dan akhirnya terpejam setelah mata mereka perih tertimpa angin yang terasa seperti jarum menusuk.
Keduanya baru berani membuka mata setelah merasa kakek itu berhenti ‘terbang’, akan tetapi baru saja mata terpentang, “bluk”, tubuh mereka jatuh di atas tanah.
Muka Thia Eng sudah berubah pucat pasi, sebaliknya wajah Bu-siang tampak merah padam, Waktu mereka memandang sekelilingnya, tempat itu adalah tanah pekuburan. Kedua anak dara itu belum pernah mendatangi tempat sesunyi itu, mau tidak mau hati mereka menjadi berdebar.
“Kongkong (kakek)”, kata Thia Eng dengan lemah lembut, “kami ingin pulang, tidak mau lagi bermain dengan kau.”
Tapi kakek aneh itu menatapnya dengan tajam tanpa menjawab. Melihat sinar mata si kakek memancarkan semacam perasaan sedih dan memilukan, biar pun masih kecil dan tidak paham akan seluk-beluk kehidupan manusia, tapi secara naluri timbul rasa simpatiknya terhadap orang tua ini, katanya kemudian dengan halus:
“Apa bila engkau tidak punya teman bermain, besok saja engkau datang ke tepi sungai sana, nanti akan aku kupaskan ubi teratai lagi untukmu.”
Tiba-tiba kakek aneh itu menghela napas kemudian berkata: “Ya, sudah 40 tahun, selama 40 tahun ini tiada orang menemani aku bermain.” Sampai di sini mendadak sorot matanya berubah menjadi beringas, tanyanya dengan suara bengis: “Di mana Ho Wan-kun? Kau pernah apa dengan Ho Wan-kun?”
Thia Eng menjadi takut melihat perubahan sikap kakek aneh itu, jawabnya dengan suara gemetar:
“Aku... aku...”
Mendadak si kakek mencengkeram lengannya, lantas menggoyang-goyangkan tubuhnya beberapa kali sambil bertanya lagi dengan suara parau:
“Mana Ho Wan-kun?”
Hampir saja Thia Eng menangis, air matanya berlinang di dalam kelopak matanya, tapi tidak sampai menetes.
“Hayo menangis! Menangis!” mendadak kakek aneh itu menghardik sambil mengertak gigi “Mengapa tidak menangis? Hm, beginilah kau pada 40 tahun yang lalu, Kau mengatakan menikah dengan dia secara terpaksa, tetapi mengapa kau tidak mau minggat bersamaku? Ya, kau anggap aku miskin, anggap aku berwajah jelek. Jika benar kau berduka mengapa kau tidak menangis?”
Dengan gemas si kakek memandang Thia Eng, tapi aneh juga, meski ketakutan, namun air mata Thia Eng tetap tidak menetes, Ketika kakek itu menyuruhnya menangis sambil menggentak-gentak tubuhnya, Thia Eng bahkan menggigit bibir dan berkata di dalam hati:
“Tidak, aku pasti tidak menangis!”
“Hm, jadi kau tidak mau meneteskan setetes air mata bagiku? Setetes air mata saja kau tidak sudi? Lantas untuk apa aku hidup lagi?” mendadak kakek itu melepaskan Thia Eng, lalu dengan setengah berjongkok ia membenturkan kepalanya ke batu nisan yang berada di sampingnya,
Batu nisan itu terbuat dari batu hijau dan tertanam kuat di dalam tanah. Karena benturan keras itu, batu nisan mencelat keluar dari tanah dan jatuh agak jauh dengan mengeluarkan suara keras, sedang si kakek juga lantas menggeletak pingsan,
“Lekas lari, Piauci!” seru Bu-siang. Segera dia menarik tangan Thia Eng dan mengajaknya kabur.
Thia Eng ikut berlari beberapa langkah, tetapi ketika menoleh dan melihat kepala si kakek mengucurkan darah, ia menjadi tidak tega, katanya:
“Jangan-jangan paman tua itu sudah terbentur mati, mari kita memeriksanya.”
“Kalau mati kan jadi setan?” ujar Bu-siang.
Thia Eng terkejut, ia takut si kakek akan menjadi setan, ia pun takut kalau si kakek tiba-tiba siuman kemudian mencengkeramnya lagi sambil mengucapkan perkataan yang sama sekali tidak dipahami apa maksudnya. Akan tetapi dia pun tidak tega dan merasa kasihan melihat muka si kakek penuh darah, ia coba menghibur dirinya sendiri: “Tidak, kakek aneh itu bukan setan, aku tidak takut, ia pun takkan mencengkeram aku lagi.”
Segera ia lepaskan pegangan tangan Bu-siang dan mendekati si kakek sambil berseru: “Kong-kong, apakah kau kesakitan?”
Terdengar orang aneh itu merintih satu kali, tapi tidak menjawab. Thia Eng menjadi sedikit tabah. Dia keluarkan sapu tangan untuk menutupi luka si kakek. Tetapi luka itu agaknya cukup hebat, hanya sekejap saja sapu tangan Thia Eng sudah basah kuyup oleh darah yang terus mengucur keluar. Dia berpikir sejenak, kemudian tiba-tiba ia merobek ujung bajunya sendiri untuk menggantikan sapu tangan yang penuh darah.
“He, kalau pulang nanti tentu kau akan dimarahi ayah,” ujar Bu-siang.
“Betapa pun juga tetap akan dimarahi, biar saja,” kata Thia Eng. Dia tekan luka si kakek sehingga darah tidak merembes lagi.
Selang tak lama, perlahan-lahan kakek itu membuka matanya. Melihat Thia Eng duduk di sampingnya, katanya sambil menghela napas:
“Buat apa kau menolong aku? Lebih baik aku mati saja.”
Thia Eng gembira melihat si kakek sudah siuman, dengan suara lembut ia pun bertanya: “Kepalamu sakit tidak?”
“Kepala tidak sakit, hati yang sakit,” jawab si kakek dengan suara pedih.
Thia Eng menjadi heran. Sungguh aneh, luka pada kepala separah itu katanya tidak sakit, tapi malah hatinya yang dikatakan sakit. Dia pun tidak bertanya lagi, kembali dia merobek sepotong kain bajunya untuk membalut lukanya.
Si kakek menghela napas lagi kemudian bangkit, katanya: “Kau tak mau bertemu lagi dengan aku, apakah kita akan berpisah dengan begini saja? Satu titik air mata saja tidak mau kau teteskan bagiku?”
Mendengar suara sedemikian memilukan, sedemikian berduka, dilihatnya pula wajah si kakek yang jelek itu penuh darah, tetapi sorot matanya memancarkan perasaan memohon dengan sangat, tanpa terasa hati Thia Eng menjadi terharu dan turut berduka, air matanya pun bercucuran tanpa tertahankan, bahkan tanpa kuasa dia terus merangkul si kakek, tiba-tiba ia merasa orang tua aneh ini seperti orang yang paling dekat dan paling rapat dengan dirinya.
Menyaksikan mereka tanpa sebab saling rangkul dan menangis dengan lucu itu, Liok Bu-siang menjadi geli, tak tertahan ia tertawa terbahak-bahak
Mendengar suara tertawanya, mendadak orang aneh itu melepaskan Thia Eng, ia berlari ke depan Bu-siang dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia menengadah dan berkata dengan gegetun:
“Ya, kau sering kasihan kepadaku, tetapi juga selalu mengejek aku, kau sudah menyiksa diriku sedemikian rupa.”
Habis menggumam, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia memandang Bu-siang lagi dengan teliti, lalu memandang Thia Eng, kemudian berkata:
“Tidak, tidak... kau bukan dia, kau masih kecil. Pernah apa Ho Wan-kun dengan kalian? Mengapa kalian sedemikian mirip dia?”
Usia Thia Eng dan Bu-siang memang sebaya, tetapi gerak-gerik mereka dan sifat masing-masing boleh dikatakan berlawanan sama sekali, bahkan wajah mereka pun tidak sama. Raut muka Thia Eng berbentuk bulat telur, kulit badannya putih mulus, sedangkan muka Bu-siang berbentuk daun sirih, kulitnya hitam manis, meski usianya lebih muda setengah tahun, tapi perawakannya ramping semampai sehingga malah lebih tinggi dari pada sang Piauci.
Karena merasa bingung atas kata-kata si kakek, Bu-siang lantas menanggapi: “Aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan, cuma aku dan Piauci sama sekali tidak mirip, mana bisa menyerupai seseorang?”
Kakek itu mengamat-amati lagi kedua anak dara itu, mendadak ia mengetok kepalanya sendiri dan berkata:
“Ya, aku benar-benar goblok. Kau she Liok bukan?”
“Ya, dari mana kau tahu?” jawab Bu-siang.
Orang tua itu tidak menjawab, malah ia bertanya lagi: “Kakekmu bernama Liok Tian-goan bukan?”
“Benar,” jawab Bu-siang sambil mengangguk
Untuk sejenak kakek itu termenung, sekonyong-konyong dia pegang bahu Thia Eng terus diangkat tinggi-tinggi ke atas, katanya dengan suara halus:
“Anak dara yang baik, kau she apa? Cara bagaimana kau memanggil Liok Tian-goan?”
Kini Thia Eng tidak punya rasa takut lagi, jawabnya: “Aku she Thia, Gwakong (kakek luar) she Liok, ibuku juga she Liok.”
“Ya, ya, kini tahulah aku. Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun melahirkan seorang putera dan seorang puteri,” kata orang aneh itu. Lalu ia tuding Bu-siang dan melanjutkan: “Puteranya adalah ayah-mu.” Kemudian dia menurunkan Thia Eng dan berkata sambil menudingnya: “Dan puterinya ialah ibumu, Pantas kalian berdua menyerupai Ho Wan-kun hanya separo-separo, yang satu pendiam, yang lain nakal, yang satu welas asih, yang lain kejam.”
Thia Eng tidak tahu bahwa nenek-luarnya bernama Ho Wan-kun, juga Bu-siang tak kenal nama neneknya, hanya di dalam hati samar-samar ia merasakan si kakek aneh ini pasti mempunyai hubungan yang erat dengan leluhurnya. Dengan melenggong mereka memandangi kakek aneh itu.
“Mana Gwakongmu? Maukah kau membawa aku menemuinya?” kata si kakek pula.
“Gwakong sudah tidak ada lagi,” jawab Thia Eng.
“Tidak ada lagi? Mengapa tidak ada, kami sudah berjanji akan bertemu besok lusa,” tukas kakek itu dengan melengak.
“Sudah beberapa bulan Gwakong meninggal dunia,” jawab Thia Eng. “Lihatlah, bukankah kami berkabung semua?”
Benar juga. Si kakek melihat pada kuncir rambut dua anak dara itu sama terikat oleh pita putih sebagai tanda berkabung, seketika hati si kakek menjadi limbung, dia menggumam sendiri:
“Dia telah paksa aku memakai celana wanita selama 40 tahun dan kini dia tinggal pergi begitu saja? Hm, hmm..., ketekunan belajarku selama 40 tahun ini jadi sia-sia.”
Habis berkata mendadak dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya berkumandang hingga jauh dan penuh mengandung perasaan sesal dan penasaran yang tak terhingga.
Sementara itu hari telah menjelang magrib, suasana sudah remang-remang. Kini Liok Bu-siang menjadi rada takut, ia tarik lengan baju sang Piauci lantas berkata:
“Piauci, marilah kita pulang saja!”
Mendadak si kakek berkata pula: “Jika begitu tentu Wan-kun juga sangat berduka dan kesepian, “Ehh, anak dara yang baik, bawalah aku menemui nenek-luarmu.”
“Tidak ada, nenek-luar juga sudah tidak ada,” jawab Thia Eng.
“Apa katamu?” mendadak kakek itu melonjak tinggi sekali sambil berteriak menggeledek: “Di mana nenek-luarmu?”
Muka Thia Eng menjadi pucat, jawabnya dengan gemetar: “Nenek juga tidak... tidak ada, nenek dan kakek meninggal ber... bersama, Kongkong, janganlah kau menakuti aku, ak... aku takut!”
“Dia sudah mati? Jadi dia sudah mati!” mendadak kakek aneh itu memukul-mukul dada sendiri “Tidak, tidak! Dia belum bertemu dengan aku dan mohon diri padaku, dia tak boleh mati. Dia telah berjanji padaku pasti akan bertemu sekali lagi.”
Kakek itu berteriak-teriak sambil berjingkrak seperti orang gila. Tiba-tiba sebelah kakinya menyapu, “krak”, sebatang pohon kecil tersapu patah menjadi dua. Memang kakek ini sudah angin-anginan, sekarang dia mengamuk, tampaknya menjadi tambah gila dan amat menakutkan.
Thia Eng menggandeng tangan Bu-siang dan menyingkir jauh ke sana, mereka ketakutan dan tak berani mendekat.
Si kakek mendadak merangkul sebatang pohon Liu dan digoyang-goyangkan sekuatnya, Tetapi pohon Liu itu cukup besar sehingga si kakek tidak mampu membetotnya keluar, ia menjadi murka dan berteriak:
“Kau sendiri sudah berjanji, apakah kau sudah lupa? Kau mengatakan akan bertemu lagi dengan aku!”
Dia berteriak semakin keras, akhirnya suaranya menjadi parau dan masih terus berusaha membetot keluar pohon Liu tadi. Mendadak ia berjongkok kemudian mengerahkan segenap tenaganya sambil membentak:
“Keluar!”
Namun pohon Liu itu tetap sukar terbetot keluar, sebaliknya tertarik oleh tenaga si kakek yang maha kuat, pohon itu menjadi patah bagian tengah. Sambil merangkul patahan pohon Liu kakek itu termangu sejenak, tiba-tiba ia bergumam pula:
“Dia sudah meninggal, sudah meninggal!”
Ketika dia ayun potongan pohon itu terus dilemparkan, bagaikan payung raksasa saja pohon Liu itu terlempar jauh dan jatuh ke tanah. Sejenak kemudian air muka si kakek tampak berubah menjadi tenang, dengan ramah dia mendekati Thia Eng berdua dan berkata dengan tersenyum:
“Kongkong sudah menakuti kalian ya? Di manakah kuburan kakek dan nenekmu? bawalah aku ke sana.”
Bu-siang meremas tangan sang Piauci, maksudnya supaya Thia Eng jangan memberi-tahu, tetapi dalam hati Thia Eng merasa sangat kasihan kepada kakek aneh itu. Tanpa pikir ia terus menuding pada dua pohon besar di kejauhan sambil berkata:
“Itu, berada di bawah kedua pohon itu!”
Mendadak kakek itu mengempit lagi kedua anak dara itu dan dibawa lari ke arah pohon yang ditunjuk. Dia lari lurus ke depan tanpa peduli rintangan apa pun, kalau terhalang oleh sungai kecil, sekali lompat saja lantas dilintasinya. Biasanya Liok Bu-siang sangat kagum terhadap Ginkang ayah-ibunya ketika mengikuti latihan, tetapi kini kecepatan berlari si kakek dengan mengempit dua anak dara ternyata jauh lebih hebat dari pada ayah-ibu Bu-siang.
Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di bawah kedua pohon besar tadi. Kakek aneh ini melepaskan Thia Eng berdua, lalu berlari ke depan kuburan. Tertampak dua kuburan berjajar, pada tiap kuburan terdapat sebuah batu nisan dengan pahatan huruf-huruf yang diberi cat kuning yang kelihatan masih baru. Rumput di atas kuburan juga masih jarang-jarang, suatu tanda kedua kuburan itu memang belum lama didirikan.
Air mata si kakek berlinang-linang sambil memandang kedua batu nisan kuburan, jelas terbaca tulisan di atas batu-batu nisan itu menyebut kuburan Liok Tian-goan dan isterinya: Ho Wan-kun.
Sampai sekian lamanya kakek itu hanya berdiri terpaku di depan kuburan. Mendadak pandangannya terasa kabur, dua batu nisan seperti berubah menjadi dua sosok bayangan manusia, yang satu adalah gadis jelita yang sedang tersenyum manis dan yang lainnya adalah pemuda tampan romantis.
Dengan mata mendelik si kakek mendadak membentak: “Bagus, celana wanita ini aku kembalikan kepadamu!”
Berbareng ia melangkah maju, sebelah tangannya menghantam dada pemuda itu.
“Plak”, bubuk batu lantas bertaburan ketika pukulannya mengenai batu nisan, sedangkan bayangan pemuda telah lenyap.
“Mau lari ke mana?!” bentak pula si kakek, tangan Iain lantas menghantam sekalian.
“Plak-plak!” batu nisan itu sampai rompal sebagian, betapa hebat tenaga pukulan si kakek. Semakin memukul semakin mengamuk, tenaga pukulannya semakin hebat, sampai pukulan ke sembilan, kedua tangannya menghantam sekaligus.
“Blang!” batu nisan itu patah menjadi dua.
Sambil terbahak-bahak dia berteriak: “Nah, kau sudah mampus sekarang, untuk apa lagi aku memakai celana perempuan?”
Sesudah itu ia lantas merobek-robek celana wanita bersulam kupu-kupu yang dipakainya hingga hancur, lantas dilemparkan ke atas kuburan. Maka tampaklah celana pendek dari kain belacu yang dipakainya di bagian dalam.
Selagi tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba saja suara tertawanya berhenti, setelah tertegun sejenak, segera ia berteriak lagi:
“Harus kulihat mukamu, harus kulihat mukamu!”
Ketika kedua tangannya menjojoh, serentak sepuluh jarinya menancap ke dalam kuburan Ho Wan-kun, waktu ia tarik kembali tangannya, dua gumpal tanah ikut tergali keluar. Begitulah kedua tangan si kakek terus bekerja dengan cepat laksana cangkul saja, tanah bergumpal-gumpal tergali sehingga sebentar lagi peti mati pasti akan kelihatan.
Thia Eng dan Bu-siang menjadi ketakutan, tanpa terasa mereka terus putar tubuh dan lari bersama. Karena asyik menggali kuburan, kakek aneh itu tidak memperhatikan kaburnya kedua anak dara itu.
Setelah berlari-lari dan membelok ke sana ke sini beberapa kali dan tidak nampak dikejar si kakek barulah kedua anak dara itu merasa lega. Mereka tidak mengenal jalanan di situ, maka terpaksa bertanya kepada orang kampung, karena itulah sampai hari sudah gelap baru mereka tiba kembali di rumah.
“Wah, celaka, celaka! Ayah, ibu, lekas kemari ada orang yang menggali kuburan nenek!” begitulah Bu-siang berteriak sambil berlari menerobos ke dalam rumah.
Setiba di ruangan tamu, dilihatnya sang ayah sedang bicara dengan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Ayah Bu-siang bernama Liok Lip-ting, baik Iwekang mau pun Gwakang sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, hanya saja sejak kecil kedua orang tua mengawasinya dengan sangat ketat dan melarang berkecimpung di dunia Kangouw, maka namanya sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan sungguh pun ilmu silatnya tergolong kelas tinggi.
Pada hari itu dia sedang duduk iseng di ruang tamu dan mengenangkan ayah-bunda yang telah wafat. Tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di luar, tiga penunggang kuda berhenti di halaman luar dan seorang di antaranya lantas berseru:
“Wanpwe mohon bertemu dengan Liok-locianpwe!”
Di daerah Kanglam pada umumnya orang jarang naik kuda karena jalanan sangat sempit, banyak sungai dan kali yang bersimpang siur, maka hati Liok Lip-ting tergerak ketika mendengar suara ringkik kuda tadi. Demi mendengar suara seruan, cepat dia memapak keluar. Dilihatnya tiga lelaki baju hijau dengan penuh debu sudah berdiri di luar pintu. Melihat Liok Lip-ting, ketiga orang itu lantas memberi hormat dan berkata:
“Kami datang dari jauh dan mohon bertemu dengan Liok-locianpwe.”
Mata Liok Lip-ting menjadi merah, jawabnya: “Sungguh menyesal, ayah sudah wafat tiga bulan yang lalu. Mohon tanya nama tuan-tuan yang terhormat.”
Semenjak berhadapan tadi sikap ketiga orang itu sudah kelihatan gelisah dan kuatir, demi mendengar jawaban Liok Lip-ting, air muka mereka seketika menjadi pucat seperti mayat dan saling pandang dengan melenggong,
Lalu Liok Lip-ting bertanya lagi: “Entah ada keperluan apakah Tuan-tuan ingin bertemu dengan ayah?”
Ketiga orang itu tetap tidak menjawab, salah seorang di antaranya menghela napas dan menggumam:
“Sudahlah, biarlah kita terima nasib saja!”
Mereka lantas memberi hormat pula kepada Liok Lip-ting, lalu hendak mencemplak kuda masing-masing. Namun seorang di antaranya tiba-tiba berkata:
“Liok-locianpwe ternyata sudah wafat, biarlah kita memberi hormat di depan layonnya.”
Liok Lip-ting menyatakan terima kasih dan menganggap tidak perlu maksud orang itu, tapi ketiga orang itu memohon dengan sangat sehingga terpaksa Liok Lip-ting menyilakan mereka masuk.
Lebih dulu ketiga orang itu mengebut debu di atas tubuh agar bersih, lalu ikut Liok Lip-ting ke ruangan belakang untuk memberi hormat di depan abu layon Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun, isterinya. Seperti lazimnya, Liok Lip-ting berlutut di samping meja sembahyang itu untuk membalas hormat.
Selesai menjalankan penghormatan, waktu ketiga orang itu berbangkit, tanpa tertahankan lagi mereka menangis dengan sedih. Karena tangisan mereka ini, Liok Lip-ting menjadi berduka juga, maka ia pun menangis keras-keras. Yang bertubuh gemuk pendek di antara ketiga orang itu berkata kepada kawannya yang mengucurkan air mata:
“Cu-hiante, marilah kita mohon diri kepada tuan rumah!”
Orang she Cu itu mengusap air matanya. Dia memberi hormat kepada Liok Lip-ting dan lantas mohon diri. Melihat gerak-gerik ketiga orang itu amat tangkas dan gesit, jelas memiliki ilmu silat yang lumayan. Entah mengapa mereka datang terburu-buru dan berangkat pula tergesa-gesa. Tapi Liok Lip-ting tidak enak untuk bertanya, maka terpaksa ia mengantar keberangkatan mereka.
Tiga gadis yang lebih tua-an masih terus saja bernyanyi sambil tetap mendayung perahu menyusuri semak daun teratai itu.
“Ehh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!” seru Thia Eng sambil menuding orang yang sedang duduk di bawah pohon tepi sungai sana.
Orang yang dimaksud berambut kusut masai tetapi kaku, kumis serta jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, tetapi rambut mau pun jenggot dan kumisnya masih hitam mengkilap. Mesti usianya belum begitu lanjut, akan tetapi mukanya penuh keriput dan cekung sehingga nampak seperti kakek berusia 70-80 tahun.
Yang sangat aneh dan lucu adalah pakaiannya. Bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya terbuat dari satin dan masih baru, malahan bagian bawah bersulamkan kupu-kupu yang berwarna warni.
Tangan kanannya memegang sebuah kelentungan (kelontong) mainan kanak-kanak, tiada hentinya di putar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan seperti orang kehilangan ingatan.
“Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?” kata Liok Bu-siang.
“He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah,” ujar Thia Eng.
“Kalau dia marah akan tambah menarik,” kata Liok Bu-siang sambil menjumput sebuah ubi teratai terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.
Jarak antara perahu kecil dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, namun biar pun usianya masih kecil ternyata tenaga Bu-siang tidak lemah. Lemparannya pun sangat jitu, ubi teratai itu menyambar ke muka si kakek aneh
“Jangan, Piaumoay!” Thia Eng berseru mencegah namun sudah terlambat, ubi teratai itu sudah terlanjur menyambar ke sana.
Akan tetapi keajaiban segera terjadi. Tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai tergigit olehnya. Dia pun tidak menggunakan tangan, hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai dimakannya dengan lahap.
Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apa lagi kulitnya juga tidak dikupas, tetapi kakek aneh itu sama sekali tidak ambil pusing, Melihat cara makan orang aneh itu, ketiga gadis yang agak besaran menjadi geli dan mengikik tertawa.
Liok Bu-siang juga merasa senang, serunya: “Ini makan satu lagi!” Segera dia lemparkan pula sebuah ubi teratai kepada si kakek
Waktu itu separuh dari pada umbi teratai yang pertama masih belum habis termakan dan tergigit di mulutnya. Tiba-tiba kakek itu memapak ubi teratai kedua yang dilemparkan Bu-siang dengan ubi teratai yang tergigit di mulutnya itu, sedikit mencungkit, ubi teratai kedua lantas mencelat ke atas, jatuhnya ke bawah dan tepat hinggap di atas kepalanya. Rambut si kakek semrawut kaku sehingga ubi teratai itu dapat tertahan di atas kepalanya tanpa bergoyang sedikit pun. Serentak kelima gadis cilik itu bersorak gembira.
“Ini masih ada!“ seru Bu siang lagi, kembali melemparkan sebuah ubi teratai
Lagi-lagi kakek aneh itu mencungkit dengan ubi teratai yang ada di mulutnya seperti tadi dan kembali ubi teratai itu mencelat ke atas lalu jatuh persis menumpuk di atas ubi teratai yang duluan.
Melihat permainan akrobat itu, kelima gadis bertambah senang, tangan Liok Bu-siang juga bekerja berulang-ulang, dalam sekejap saja di atas kepala kakek aneh itu sudah bersusun belasan ubi teratai sehingga tingginya hampir satu meter. Setelah ubi teratai pertama tadi habis termakan, si kakek sedikit miringkan kepalanya dan ubi teratai yang paling atas tiba-tiba menggelinding ke bawah, tepat jatuh di mulut si kakek. Sebentar saja ubi teratai ini pun dimakan habis, kemudian ubi teratai yang lainnya menggelinding jatuh lalu dimakan lagi. Dalam waktu singkat saja ubi teratai yang tersunggi di atas kepalanya hanya tersisa dua saja.
Senang dan heran Liok Bu-siang serta Thia Eng melihat permainan kakek aneh itu, maka segera mereka mendayung perahunya ke tepian dan mendarat.
Thia Eng berhati welas asih dan berbudi halus, dia mendekati si kakek dan menarik-narik bajunya serta berkata:
“Empek (paman) tua, caramu makan begitu tidak enak!”
Kemudian dia mengambil sebuah ubi teratai, kulitnya dikupas, bijinya dibuang, sumbu ubi yang pahit juga diambilnya, dan akhirnya diberikan kepada kakek aneh itu.
Kakek itu pun tidak menolak. Ubi teratai dimakannya dan terasa lebih gurih dan enak dari pada yang tadi. Tiba-tiba saja ia menyeringai kepada Thia Eng dan manggut-manggut. Aneh juga, kedua ubi teratai yang masih bersusun di atas kepalanya cuma bergoyang sedikit saja dan tidak jatuh.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara mengkuiknya anjing kecil di seberang sungai sana terseling suara teriakan dan bentakan anak-anak kecil yang riuh ramai.
Waktu Thia Eng menoleh ke sana, tampak seekor anjing kecil budukan sambil mencawat ekornya tengah berlari-lari ketakutan melalui jembatan kecil, di belakang anjing budukan mengejar tujuh atau delapan anak-anak nakal, ada yang memegang bambu, ada pula yang menyambit dengan batu disertai suara bentakan.
Anjing kecil itu memang sudah jelek karena kulitnya budukan, kini dihajar pula sehingga babak belur oleh kawanan anak nakal itu, tentu saja keadaannya bertambah konyol.
Biasanya Thia Eng merasa kasihan kepada anjing kecil ini dan sering memberi sisa makanan. Rupanya anjing kecil itu melihat Thia Eng dari kejauhan, maka dengan mati-matian ia lari menghampiri, lalu sembunyi di belakang Thia Eng.
Ketika kawanan anak nakal yang mengejar itu tiba dan hendak menghajar anjing kecil itu, cepat Thia Eng mencegahnya sambil berseru:
“He, jangan memukulnya, jangan memukulnya!”
“Anak perempuan, minggir! Bukan urusanmu!” damprat seorang anak yang paling nakal, berbareng tangannya mendorong tubuh Thia Eng.
Tetapi dengan sedikit mengegos saja Thia Eng dapat menghindar. Melihat anak nakal itu kurang ajar, Bu-siang yang berdiri di sebelah Piauci langsung menjegal dengan sebelah kakinya sambil menahan perlahan bahu anak itu. Tanpa ampun anak nakal itu jatuh tersungkur mencium tanah, bahkan dua gigi depan copot semuanya, saking kesakitan anak itu pun menjerit menangis.
Bu-siang bertepuk senang, sedangkan Thia Eng merasa kasihan. Ia membangunkan anak itu lantas menghiburnya:
“Jangan menangis! Apakah sakit?” Melihat mulut anak itu penuh darah, ia menjadi gugup dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap darahnya.
Tapi anak nakal itu mendorongnya sambil memaki: “Tidak perlu kau mengusap. Kau budak busuk yang tidak punya ayah ibu!”
Kuatir dihajar lagi oleh Bu-siang, anak nakal itu berlari menyingkir sambil mencaci maki. Setelah agak jauh ia terus menjemput batu kecil dan menyambiti kawanan gadis itu.
Dengan gesit Thia Eng dan Bu-siang bisa menghindari. Akan tetapi ketiga gadis yang agak besaran tidak bisa ilmu silat, mereka menjadi kesakitan tertimpuk oleh batu-batu kecil itu. Beberapa potong batu itu pun mengenai badan si kakek aneh, tetapi orang tua itu tidak menjadi gusar, juga tidak menghindar seperti tidak berasa apa-apa.
Melihat itu, kawanan anak nakal itu menjadi heran dan merasa tertarik. Segera mereka mengambil batu dan ikut menyambit kakek itu lagi. Semua batu tepat mengenai badan si kakek, bahkan ada beberapa batu yang mengenai kepalanya, akan tetapi kakek aneh itu tetap makan ubi tanpa mengacuhkan batu-batu itu.
“Hei, jangan lempar batu! Jangan lempar lagi!” Thia Eng berteriak, namun sia-sia.
Begitu potongan ubi terakhir telah memasuki mulutnya, kakek itu lantas berdiri, mulutnya menyeringai, lalu dengan gerakan cepat sekali kedua tangannya menangkap tubuh Thia Eng dan Bu-siang yang kemudian dipanggulnya pada bahu kanan dan kiri.
Belum sempat berkata apa pun, segera Thia Eng dan Bu-siang merasa seakan tubuhnya dibawa terbang dengan pesat meninggalkan tempat itu, juga meninggalkan kawanan anak nakal dan tiga orang gadis yang hanya dapat berdiri melongo.
Mula-mula kedua anak dara itu masih dapat melihat permukaan tanah dan pohon-pohon yang seolah berkelebatan, tetapi lama kelamaan pandang mata mereka menjadi kabur, dan akhirnya terpejam setelah mata mereka perih tertimpa angin yang terasa seperti jarum menusuk.
Keduanya baru berani membuka mata setelah merasa kakek itu berhenti ‘terbang’, akan tetapi baru saja mata terpentang, “bluk”, tubuh mereka jatuh di atas tanah.
Muka Thia Eng sudah berubah pucat pasi, sebaliknya wajah Bu-siang tampak merah padam, Waktu mereka memandang sekelilingnya, tempat itu adalah tanah pekuburan. Kedua anak dara itu belum pernah mendatangi tempat sesunyi itu, mau tidak mau hati mereka menjadi berdebar.
“Kongkong (kakek)”, kata Thia Eng dengan lemah lembut, “kami ingin pulang, tidak mau lagi bermain dengan kau.”
Tapi kakek aneh itu menatapnya dengan tajam tanpa menjawab. Melihat sinar mata si kakek memancarkan semacam perasaan sedih dan memilukan, biar pun masih kecil dan tidak paham akan seluk-beluk kehidupan manusia, tapi secara naluri timbul rasa simpatiknya terhadap orang tua ini, katanya kemudian dengan halus:
“Apa bila engkau tidak punya teman bermain, besok saja engkau datang ke tepi sungai sana, nanti akan aku kupaskan ubi teratai lagi untukmu.”
Tiba-tiba kakek aneh itu menghela napas kemudian berkata: “Ya, sudah 40 tahun, selama 40 tahun ini tiada orang menemani aku bermain.” Sampai di sini mendadak sorot matanya berubah menjadi beringas, tanyanya dengan suara bengis: “Di mana Ho Wan-kun? Kau pernah apa dengan Ho Wan-kun?”
Thia Eng menjadi takut melihat perubahan sikap kakek aneh itu, jawabnya dengan suara gemetar:
“Aku... aku...”
Mendadak si kakek mencengkeram lengannya, lantas menggoyang-goyangkan tubuhnya beberapa kali sambil bertanya lagi dengan suara parau:
“Mana Ho Wan-kun?”
Hampir saja Thia Eng menangis, air matanya berlinang di dalam kelopak matanya, tapi tidak sampai menetes.
“Hayo menangis! Menangis!” mendadak kakek aneh itu menghardik sambil mengertak gigi “Mengapa tidak menangis? Hm, beginilah kau pada 40 tahun yang lalu, Kau mengatakan menikah dengan dia secara terpaksa, tetapi mengapa kau tidak mau minggat bersamaku? Ya, kau anggap aku miskin, anggap aku berwajah jelek. Jika benar kau berduka mengapa kau tidak menangis?”
Dengan gemas si kakek memandang Thia Eng, tapi aneh juga, meski ketakutan, namun air mata Thia Eng tetap tidak menetes, Ketika kakek itu menyuruhnya menangis sambil menggentak-gentak tubuhnya, Thia Eng bahkan menggigit bibir dan berkata di dalam hati:
“Tidak, aku pasti tidak menangis!”
“Hm, jadi kau tidak mau meneteskan setetes air mata bagiku? Setetes air mata saja kau tidak sudi? Lantas untuk apa aku hidup lagi?” mendadak kakek itu melepaskan Thia Eng, lalu dengan setengah berjongkok ia membenturkan kepalanya ke batu nisan yang berada di sampingnya,
Batu nisan itu terbuat dari batu hijau dan tertanam kuat di dalam tanah. Karena benturan keras itu, batu nisan mencelat keluar dari tanah dan jatuh agak jauh dengan mengeluarkan suara keras, sedang si kakek juga lantas menggeletak pingsan,
“Lekas lari, Piauci!” seru Bu-siang. Segera dia menarik tangan Thia Eng dan mengajaknya kabur.
Thia Eng ikut berlari beberapa langkah, tetapi ketika menoleh dan melihat kepala si kakek mengucurkan darah, ia menjadi tidak tega, katanya:
“Jangan-jangan paman tua itu sudah terbentur mati, mari kita memeriksanya.”
“Kalau mati kan jadi setan?” ujar Bu-siang.
Thia Eng terkejut, ia takut si kakek akan menjadi setan, ia pun takut kalau si kakek tiba-tiba siuman kemudian mencengkeramnya lagi sambil mengucapkan perkataan yang sama sekali tidak dipahami apa maksudnya. Akan tetapi dia pun tidak tega dan merasa kasihan melihat muka si kakek penuh darah, ia coba menghibur dirinya sendiri: “Tidak, kakek aneh itu bukan setan, aku tidak takut, ia pun takkan mencengkeram aku lagi.”
Segera ia lepaskan pegangan tangan Bu-siang dan mendekati si kakek sambil berseru: “Kong-kong, apakah kau kesakitan?”
Terdengar orang aneh itu merintih satu kali, tapi tidak menjawab. Thia Eng menjadi sedikit tabah. Dia keluarkan sapu tangan untuk menutupi luka si kakek. Tetapi luka itu agaknya cukup hebat, hanya sekejap saja sapu tangan Thia Eng sudah basah kuyup oleh darah yang terus mengucur keluar. Dia berpikir sejenak, kemudian tiba-tiba ia merobek ujung bajunya sendiri untuk menggantikan sapu tangan yang penuh darah.
“He, kalau pulang nanti tentu kau akan dimarahi ayah,” ujar Bu-siang.
“Betapa pun juga tetap akan dimarahi, biar saja,” kata Thia Eng. Dia tekan luka si kakek sehingga darah tidak merembes lagi.
Selang tak lama, perlahan-lahan kakek itu membuka matanya. Melihat Thia Eng duduk di sampingnya, katanya sambil menghela napas:
“Buat apa kau menolong aku? Lebih baik aku mati saja.”
Thia Eng gembira melihat si kakek sudah siuman, dengan suara lembut ia pun bertanya: “Kepalamu sakit tidak?”
“Kepala tidak sakit, hati yang sakit,” jawab si kakek dengan suara pedih.
Thia Eng menjadi heran. Sungguh aneh, luka pada kepala separah itu katanya tidak sakit, tapi malah hatinya yang dikatakan sakit. Dia pun tidak bertanya lagi, kembali dia merobek sepotong kain bajunya untuk membalut lukanya.
Si kakek menghela napas lagi kemudian bangkit, katanya: “Kau tak mau bertemu lagi dengan aku, apakah kita akan berpisah dengan begini saja? Satu titik air mata saja tidak mau kau teteskan bagiku?”
Mendengar suara sedemikian memilukan, sedemikian berduka, dilihatnya pula wajah si kakek yang jelek itu penuh darah, tetapi sorot matanya memancarkan perasaan memohon dengan sangat, tanpa terasa hati Thia Eng menjadi terharu dan turut berduka, air matanya pun bercucuran tanpa tertahankan, bahkan tanpa kuasa dia terus merangkul si kakek, tiba-tiba ia merasa orang tua aneh ini seperti orang yang paling dekat dan paling rapat dengan dirinya.
Menyaksikan mereka tanpa sebab saling rangkul dan menangis dengan lucu itu, Liok Bu-siang menjadi geli, tak tertahan ia tertawa terbahak-bahak
Mendengar suara tertawanya, mendadak orang aneh itu melepaskan Thia Eng, ia berlari ke depan Bu-siang dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia menengadah dan berkata dengan gegetun:
“Ya, kau sering kasihan kepadaku, tetapi juga selalu mengejek aku, kau sudah menyiksa diriku sedemikian rupa.”
Habis menggumam, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia memandang Bu-siang lagi dengan teliti, lalu memandang Thia Eng, kemudian berkata:
“Tidak, tidak... kau bukan dia, kau masih kecil. Pernah apa Ho Wan-kun dengan kalian? Mengapa kalian sedemikian mirip dia?”
Usia Thia Eng dan Bu-siang memang sebaya, tetapi gerak-gerik mereka dan sifat masing-masing boleh dikatakan berlawanan sama sekali, bahkan wajah mereka pun tidak sama. Raut muka Thia Eng berbentuk bulat telur, kulit badannya putih mulus, sedangkan muka Bu-siang berbentuk daun sirih, kulitnya hitam manis, meski usianya lebih muda setengah tahun, tapi perawakannya ramping semampai sehingga malah lebih tinggi dari pada sang Piauci.
Karena merasa bingung atas kata-kata si kakek, Bu-siang lantas menanggapi: “Aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan, cuma aku dan Piauci sama sekali tidak mirip, mana bisa menyerupai seseorang?”
Kakek itu mengamat-amati lagi kedua anak dara itu, mendadak ia mengetok kepalanya sendiri dan berkata:
“Ya, aku benar-benar goblok. Kau she Liok bukan?”
“Ya, dari mana kau tahu?” jawab Bu-siang.
Orang tua itu tidak menjawab, malah ia bertanya lagi: “Kakekmu bernama Liok Tian-goan bukan?”
“Benar,” jawab Bu-siang sambil mengangguk
Untuk sejenak kakek itu termenung, sekonyong-konyong dia pegang bahu Thia Eng terus diangkat tinggi-tinggi ke atas, katanya dengan suara halus:
“Anak dara yang baik, kau she apa? Cara bagaimana kau memanggil Liok Tian-goan?”
Kini Thia Eng tidak punya rasa takut lagi, jawabnya: “Aku she Thia, Gwakong (kakek luar) she Liok, ibuku juga she Liok.”
“Ya, ya, kini tahulah aku. Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun melahirkan seorang putera dan seorang puteri,” kata orang aneh itu. Lalu ia tuding Bu-siang dan melanjutkan: “Puteranya adalah ayah-mu.” Kemudian dia menurunkan Thia Eng dan berkata sambil menudingnya: “Dan puterinya ialah ibumu, Pantas kalian berdua menyerupai Ho Wan-kun hanya separo-separo, yang satu pendiam, yang lain nakal, yang satu welas asih, yang lain kejam.”
Thia Eng tidak tahu bahwa nenek-luarnya bernama Ho Wan-kun, juga Bu-siang tak kenal nama neneknya, hanya di dalam hati samar-samar ia merasakan si kakek aneh ini pasti mempunyai hubungan yang erat dengan leluhurnya. Dengan melenggong mereka memandangi kakek aneh itu.
“Mana Gwakongmu? Maukah kau membawa aku menemuinya?” kata si kakek pula.
“Gwakong sudah tidak ada lagi,” jawab Thia Eng.
“Tidak ada lagi? Mengapa tidak ada, kami sudah berjanji akan bertemu besok lusa,” tukas kakek itu dengan melengak.
“Sudah beberapa bulan Gwakong meninggal dunia,” jawab Thia Eng. “Lihatlah, bukankah kami berkabung semua?”
Benar juga. Si kakek melihat pada kuncir rambut dua anak dara itu sama terikat oleh pita putih sebagai tanda berkabung, seketika hati si kakek menjadi limbung, dia menggumam sendiri:
“Dia telah paksa aku memakai celana wanita selama 40 tahun dan kini dia tinggal pergi begitu saja? Hm, hmm..., ketekunan belajarku selama 40 tahun ini jadi sia-sia.”
Habis berkata mendadak dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya berkumandang hingga jauh dan penuh mengandung perasaan sesal dan penasaran yang tak terhingga.
Sementara itu hari telah menjelang magrib, suasana sudah remang-remang. Kini Liok Bu-siang menjadi rada takut, ia tarik lengan baju sang Piauci lantas berkata:
“Piauci, marilah kita pulang saja!”
Mendadak si kakek berkata pula: “Jika begitu tentu Wan-kun juga sangat berduka dan kesepian, “Ehh, anak dara yang baik, bawalah aku menemui nenek-luarmu.”
“Tidak ada, nenek-luar juga sudah tidak ada,” jawab Thia Eng.
“Apa katamu?” mendadak kakek itu melonjak tinggi sekali sambil berteriak menggeledek: “Di mana nenek-luarmu?”
Muka Thia Eng menjadi pucat, jawabnya dengan gemetar: “Nenek juga tidak... tidak ada, nenek dan kakek meninggal ber... bersama, Kongkong, janganlah kau menakuti aku, ak... aku takut!”
“Dia sudah mati? Jadi dia sudah mati!” mendadak kakek aneh itu memukul-mukul dada sendiri “Tidak, tidak! Dia belum bertemu dengan aku dan mohon diri padaku, dia tak boleh mati. Dia telah berjanji padaku pasti akan bertemu sekali lagi.”
Kakek itu berteriak-teriak sambil berjingkrak seperti orang gila. Tiba-tiba sebelah kakinya menyapu, “krak”, sebatang pohon kecil tersapu patah menjadi dua. Memang kakek ini sudah angin-anginan, sekarang dia mengamuk, tampaknya menjadi tambah gila dan amat menakutkan.
Thia Eng menggandeng tangan Bu-siang dan menyingkir jauh ke sana, mereka ketakutan dan tak berani mendekat.
Si kakek mendadak merangkul sebatang pohon Liu dan digoyang-goyangkan sekuatnya, Tetapi pohon Liu itu cukup besar sehingga si kakek tidak mampu membetotnya keluar, ia menjadi murka dan berteriak:
“Kau sendiri sudah berjanji, apakah kau sudah lupa? Kau mengatakan akan bertemu lagi dengan aku!”
Dia berteriak semakin keras, akhirnya suaranya menjadi parau dan masih terus berusaha membetot keluar pohon Liu tadi. Mendadak ia berjongkok kemudian mengerahkan segenap tenaganya sambil membentak:
“Keluar!”
Namun pohon Liu itu tetap sukar terbetot keluar, sebaliknya tertarik oleh tenaga si kakek yang maha kuat, pohon itu menjadi patah bagian tengah. Sambil merangkul patahan pohon Liu kakek itu termangu sejenak, tiba-tiba ia bergumam pula:
“Dia sudah meninggal, sudah meninggal!”
Ketika dia ayun potongan pohon itu terus dilemparkan, bagaikan payung raksasa saja pohon Liu itu terlempar jauh dan jatuh ke tanah. Sejenak kemudian air muka si kakek tampak berubah menjadi tenang, dengan ramah dia mendekati Thia Eng berdua dan berkata dengan tersenyum:
“Kongkong sudah menakuti kalian ya? Di manakah kuburan kakek dan nenekmu? bawalah aku ke sana.”
Bu-siang meremas tangan sang Piauci, maksudnya supaya Thia Eng jangan memberi-tahu, tetapi dalam hati Thia Eng merasa sangat kasihan kepada kakek aneh itu. Tanpa pikir ia terus menuding pada dua pohon besar di kejauhan sambil berkata:
“Itu, berada di bawah kedua pohon itu!”
Mendadak kakek itu mengempit lagi kedua anak dara itu dan dibawa lari ke arah pohon yang ditunjuk. Dia lari lurus ke depan tanpa peduli rintangan apa pun, kalau terhalang oleh sungai kecil, sekali lompat saja lantas dilintasinya. Biasanya Liok Bu-siang sangat kagum terhadap Ginkang ayah-ibunya ketika mengikuti latihan, tetapi kini kecepatan berlari si kakek dengan mengempit dua anak dara ternyata jauh lebih hebat dari pada ayah-ibu Bu-siang.
Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di bawah kedua pohon besar tadi. Kakek aneh ini melepaskan Thia Eng berdua, lalu berlari ke depan kuburan. Tertampak dua kuburan berjajar, pada tiap kuburan terdapat sebuah batu nisan dengan pahatan huruf-huruf yang diberi cat kuning yang kelihatan masih baru. Rumput di atas kuburan juga masih jarang-jarang, suatu tanda kedua kuburan itu memang belum lama didirikan.
Air mata si kakek berlinang-linang sambil memandang kedua batu nisan kuburan, jelas terbaca tulisan di atas batu-batu nisan itu menyebut kuburan Liok Tian-goan dan isterinya: Ho Wan-kun.
Sampai sekian lamanya kakek itu hanya berdiri terpaku di depan kuburan. Mendadak pandangannya terasa kabur, dua batu nisan seperti berubah menjadi dua sosok bayangan manusia, yang satu adalah gadis jelita yang sedang tersenyum manis dan yang lainnya adalah pemuda tampan romantis.
Dengan mata mendelik si kakek mendadak membentak: “Bagus, celana wanita ini aku kembalikan kepadamu!”
Berbareng ia melangkah maju, sebelah tangannya menghantam dada pemuda itu.
“Plak”, bubuk batu lantas bertaburan ketika pukulannya mengenai batu nisan, sedangkan bayangan pemuda telah lenyap.
“Mau lari ke mana?!” bentak pula si kakek, tangan Iain lantas menghantam sekalian.
“Plak-plak!” batu nisan itu sampai rompal sebagian, betapa hebat tenaga pukulan si kakek. Semakin memukul semakin mengamuk, tenaga pukulannya semakin hebat, sampai pukulan ke sembilan, kedua tangannya menghantam sekaligus.
“Blang!” batu nisan itu patah menjadi dua.
Sambil terbahak-bahak dia berteriak: “Nah, kau sudah mampus sekarang, untuk apa lagi aku memakai celana perempuan?”
Sesudah itu ia lantas merobek-robek celana wanita bersulam kupu-kupu yang dipakainya hingga hancur, lantas dilemparkan ke atas kuburan. Maka tampaklah celana pendek dari kain belacu yang dipakainya di bagian dalam.
Selagi tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba saja suara tertawanya berhenti, setelah tertegun sejenak, segera ia berteriak lagi:
“Harus kulihat mukamu, harus kulihat mukamu!”
Ketika kedua tangannya menjojoh, serentak sepuluh jarinya menancap ke dalam kuburan Ho Wan-kun, waktu ia tarik kembali tangannya, dua gumpal tanah ikut tergali keluar. Begitulah kedua tangan si kakek terus bekerja dengan cepat laksana cangkul saja, tanah bergumpal-gumpal tergali sehingga sebentar lagi peti mati pasti akan kelihatan.
Thia Eng dan Bu-siang menjadi ketakutan, tanpa terasa mereka terus putar tubuh dan lari bersama. Karena asyik menggali kuburan, kakek aneh itu tidak memperhatikan kaburnya kedua anak dara itu.
Setelah berlari-lari dan membelok ke sana ke sini beberapa kali dan tidak nampak dikejar si kakek barulah kedua anak dara itu merasa lega. Mereka tidak mengenal jalanan di situ, maka terpaksa bertanya kepada orang kampung, karena itulah sampai hari sudah gelap baru mereka tiba kembali di rumah.
“Wah, celaka, celaka! Ayah, ibu, lekas kemari ada orang yang menggali kuburan nenek!” begitulah Bu-siang berteriak sambil berlari menerobos ke dalam rumah.
Setiba di ruangan tamu, dilihatnya sang ayah sedang bicara dengan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Ayah Bu-siang bernama Liok Lip-ting, baik Iwekang mau pun Gwakang sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, hanya saja sejak kecil kedua orang tua mengawasinya dengan sangat ketat dan melarang berkecimpung di dunia Kangouw, maka namanya sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan sungguh pun ilmu silatnya tergolong kelas tinggi.
Pada hari itu dia sedang duduk iseng di ruang tamu dan mengenangkan ayah-bunda yang telah wafat. Tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di luar, tiga penunggang kuda berhenti di halaman luar dan seorang di antaranya lantas berseru:
“Wanpwe mohon bertemu dengan Liok-locianpwe!”
Di daerah Kanglam pada umumnya orang jarang naik kuda karena jalanan sangat sempit, banyak sungai dan kali yang bersimpang siur, maka hati Liok Lip-ting tergerak ketika mendengar suara ringkik kuda tadi. Demi mendengar suara seruan, cepat dia memapak keluar. Dilihatnya tiga lelaki baju hijau dengan penuh debu sudah berdiri di luar pintu. Melihat Liok Lip-ting, ketiga orang itu lantas memberi hormat dan berkata:
“Kami datang dari jauh dan mohon bertemu dengan Liok-locianpwe.”
Mata Liok Lip-ting menjadi merah, jawabnya: “Sungguh menyesal, ayah sudah wafat tiga bulan yang lalu. Mohon tanya nama tuan-tuan yang terhormat.”
Semenjak berhadapan tadi sikap ketiga orang itu sudah kelihatan gelisah dan kuatir, demi mendengar jawaban Liok Lip-ting, air muka mereka seketika menjadi pucat seperti mayat dan saling pandang dengan melenggong,
Lalu Liok Lip-ting bertanya lagi: “Entah ada keperluan apakah Tuan-tuan ingin bertemu dengan ayah?”
Ketiga orang itu tetap tidak menjawab, salah seorang di antaranya menghela napas dan menggumam:
“Sudahlah, biarlah kita terima nasib saja!”
Mereka lantas memberi hormat pula kepada Liok Lip-ting, lalu hendak mencemplak kuda masing-masing. Namun seorang di antaranya tiba-tiba berkata:
“Liok-locianpwe ternyata sudah wafat, biarlah kita memberi hormat di depan layonnya.”
Liok Lip-ting menyatakan terima kasih dan menganggap tidak perlu maksud orang itu, tapi ketiga orang itu memohon dengan sangat sehingga terpaksa Liok Lip-ting menyilakan mereka masuk.
Lebih dulu ketiga orang itu mengebut debu di atas tubuh agar bersih, lalu ikut Liok Lip-ting ke ruangan belakang untuk memberi hormat di depan abu layon Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun, isterinya. Seperti lazimnya, Liok Lip-ting berlutut di samping meja sembahyang itu untuk membalas hormat.
Selesai menjalankan penghormatan, waktu ketiga orang itu berbangkit, tanpa tertahankan lagi mereka menangis dengan sedih. Karena tangisan mereka ini, Liok Lip-ting menjadi berduka juga, maka ia pun menangis keras-keras. Yang bertubuh gemuk pendek di antara ketiga orang itu berkata kepada kawannya yang mengucurkan air mata:
“Cu-hiante, marilah kita mohon diri kepada tuan rumah!”
Orang she Cu itu mengusap air matanya. Dia memberi hormat kepada Liok Lip-ting dan lantas mohon diri. Melihat gerak-gerik ketiga orang itu amat tangkas dan gesit, jelas memiliki ilmu silat yang lumayan. Entah mengapa mereka datang terburu-buru dan berangkat pula tergesa-gesa. Tapi Liok Lip-ting tidak enak untuk bertanya, maka terpaksa ia mengantar keberangkatan mereka.
SEMBILAN CAP TAPAK DARAH
CATATAN :
TO-KOH = wanita yang menjadi imam (pendeta) agama To (Tao)
TOKOH = orang penting atau orang yang tinggi tingkatannya
Setiba di luar, ketiga orang itu memberi salam perpisahan, lalu mencemplak ke atas kuda masing-masing. Ketika orang she Cu itu naik ke atas kudanya, lengan bajunya agak tergulung sedikit sehingga tampak sebagian lengannya berwarna merah hangus.
Liok Lip-ting terkejut bukan main. Dilihatnya kedua orang di bagian depan telah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda. Tentu saja kedua ekor kuda itu lalu berjingkrak kaget dan meringkik. Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh.
“Apakah Cu-heng ini terkenal Jik-lian-sin-ciang?” tanya Liok Lip-ting.
Mendengar disebutnya ‘Jik-lian-sin-ciang’ (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat, serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya kemudian menyembah, kata mereka:
“Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami.”
“Ahh, jangan sungkan,” jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan tiga orang itu. “Silakan masuk ke dalam untuk bicara lagi.”
Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itu pula Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak. Dia tidak mendengar jelas apa yang diteriakkan anak perempuannya, tetapi ia lantas membentaknya:
“Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa? Lekas masuk sana!”
Tapi Bu-siang lantas berteriak pula: “Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek!”
Barulah Liok Lip-ting terkejut, serentak dia melonjak bangun dan membentak: “Apa katamu? Ngaco-belo!”
“Memang betul, paman,” pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk.
Liok Lip-ting tahu anak perempuannya sendiri amat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi. Dengan terputus-putus dan tidak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi. Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera dia sambar golok yang tergantung di dinding. Dia minta maaf kepada ketiga tamunya, kemudian berlari menuju makam ayah-bundanya. Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana,
Setibanya di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting, hampir saja ia jatuh pingsan, Ternyata makam ayah-ibunya telah dibongkar orang, malah kedua rangka peti mati juga sudah terbuka, jenazah di dalam peti mati lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.
Sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas bangsat pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang sangat hebat. Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi pantek dan dipaku sehingga amat kuat, tetapi orang itu mampu membongkarnya dengan tangan kosong saja, maka betapa hebat ilmu silatnya sungguh sukar diukur.
Tidak keruan rasa hati Liok Lip-ting, sedih, marah, terkejut, sangsi, tetapi tadi dia tidak mendengarkan cerita Bu-siang secara jelas sehingga tak diketahui bangsat pencuri mayat ini ada permusuhan kesumat apa dengan ayah-bundanya sehingga sesudah kedua orang tua itu meninggal masih dirasakan perlu merusak kuburannya serta memusnahkan mayatnya.
Sejenak dia terlongong di depan kuburan. Segera dia mengejar, tapi hanya beberapa langkah, ia ragu2. Ia memeriksa tapak kaki di sekitar kuburan, tetapi jejak yang dicarinya tak diketemukan. Ia bertambah heran, pikirnya: “Seorang diri dia membawa jenazah ayah bunda-ku, betapa pun tinggi Ginkang-nya pasti meninggalkan tapak kaki.”
Biasanya dia cukup cermat, namun mengalami kejadian yang tidak terduga ini, pikirannya kacau balau, tidak sempat lagi ia memeriksa dengan teliti, segera ia lari mengejar mengikuti jalan raya. Ketiga tamu tadi kuatir akan keselamatannya, mereka pun mengintil dengan kencang. Begitu Liok Lip-ting mengerahkan Ginkang, larinya secepat kuda membedal, mana dapat ketiga orang itu menyusulnya? Sekejap saja sudah kehilangan bayangannya!
Liok Lip-ting berlari memutar beberapa kali, cuaca pun sudah gelap, terpaksa dia kembali ke kuburan, dilihatnya ketiga tamu itu berdiri menunggu di pinggir kuburan. Liok Lip-ting berlutut di depan kuburan, dia memeluk peti mati ibunya lantas menangis.
Setelah orang puas menangis, barulah ketiga laki-laki itu maju membujuk: “Liok-ya, harap tenangkan hati dan berpikir dengan jernih. Mungkin kami bisa memberi sedikit keterangan latar belakang kejadian ini.”
Melotot kedua mata Liok Lip-ting, teriaknya: “Siapa bangsat keparat itu?! Di mana dia?! Lekas katakan!”
Kata salah seorang itu: “Cukup panjang cerita ini, tak perlu Liok-ya gugup, marilah pulang dulu nanti kita rundingkan persoalan ini.”
Liok Lip-ting anggap omongan orang memang benar, katanya: “Aku terlalu gugup sampai berlaku kurang hormat.”
“Ah, kenapa Liok-ya berkata demikian,” sahut ketiga tamu itu.
Maka mereka kembali ke rumah Liok Lip-ting. Sesudah menghaturkan teh kepada tamu-tamunya, tanpa sempat tanya nama para tamunya, Liok Lip-ting lantas masuk ke dalam hendak memberi-tahukan isterinya. Tidak tahunya sang isteri sudah mendapat laporan Bu-siang lalu keluar mengejar bangsat itu dan hingga sekarang belum kembali. Bertambah pula kekuatiran Liok Lip-ting, terpaksa ia kembali ke ruang tamu dan bicara dengan ketiga tamunya.
Ketiga tamunya lantas memperkenalkan diri, kiranya mereka adalah para Piausu An-wan Piaukiok dari Ki-lam di Soatang, seorang she Liong, she So dan she Cu.
Mendengar mereka hanyalah sekawanan Piausu, seketika berubah dingin sikap Liok Lip-ting, hatinya kurang senang, katanya:
“Selamanya aku tidak pernah berhubungan dengan Piausu, hari ini kalian kemari, entah ada keperluan apa?”
Ketiga orang itu saling pandang kemudian serentak berlutut, serunya: “Harap Liok-ya suka menolong jiwa kami!”
Liok Lip-ting sudah bisa meraba beberapa bagian, katanya tawar: “Berdirilah kalian, Entah cara bagaimana Cu-ya sampai terkena Jit-lian-sin-ciang?”
Liong-piausu dan So-piausu berkata berbareng: “Kami berdua pun terkena juga.”
Sembari berdiri mereka menyingkap lengan baju, tampak keempat lengan mereka berwarna merah darah dan mengerikan.
Liok Lip-ting terkejut, katanya ragu2: “Tiga orang semua kena? Siapakah yang menyerang kalian? Dari mana pula kalian mendapat tahu ayahku bisa menolong?”
“Tujuh hari yang lalu kami bertiga membawa sejumlah barang kawalan menuju Hok-kian-wat Yangciu. Di jalan hawa amat panas, kami berteduh di sebuah gardu minum di pinggir jalan. Kami bersyukur sepanjang jalan ini tidak terjadi apa-apa, agaknya barang kawalan akan tiba di tempat tujuan dengan selamat,” demikian tutur Liong-piausu.
“Pada saat itulah dari jalan raya sana berlari mendatangi seekor keledai berbulu loreng dengan langkah cepat. Penunggangnya seorang To-koh (wanita pendeta agama To) setengah umur berjubah kuning. Ia turun dari keledai dan masuk ke dalam gardu pula. Cu-hiante memang masih muda, suka iseng. Melihat orang berparas elok, ia lalu cengar-cengir dan main mata.
To-koh itu pun balas tersenyum manis. Cu-hiante kira orang ada maksud, segera dia menghampiri dan meraba pakaian orang, katanya tertawa: ‘Seorang diri menempuh perjalanan, apa tidak takut kalau diculik perampok dan dijadikan isteri muda?’ To-koh itu tertawa, ujarnya: ‘Aku tidak takut perampok, hanya takut pada Piausu.’ Sembari bicara ia pun menepuk ringan di pundaknya. Mendadak Cu-hiante seperti kesetrom, seluruh badan bergetar hebat, gigi berkerutukan.
Sudah tentu aku dan So-hiante sangat terkejut. Lekas aku memburu maju memayang Cu-hiante, sementara So-hiante segera menjambret si To-koh dan bentaknya: ‘Kau gunakan ilmu sihir apa?‘. To-koh itu hanya tersenyum saja, ia menepuk pula sekali di pundak kami berdua, dan seketika seluruh badan terasa panas seperti dipanggang, panasnya sukar tertahan, namun sekejap lain terasa seperti jatuh ke dalam sumur es, tak tertahan seluruh badan menggigil kedinginan. Para Piaukiok yang lain mana berani maju?
Si To-koh tertawa, ujarnya: ‘Kepandaian sebegini saja berani mengibarkan bendera Piaukiok, huh, bikin malu saja, sungguh besar nyali kalian, Kalau tidak kupandang muka kalian yang tebal, pastilah kupersen beberapa kali tamparan lagi’. Kupikir sekali tepuk saja sudah tak tertahankan, apa lagi ditambah beberapa kali pukulan lagi, tentulah jiwa kami melayang.
To-koh itu tertawa pula: ‘Kalian mau tunduk tidak padaku? Masih berani main gila di jalan raya?’ Lekas aku menyahut: ‘Kami menyerah! Tidak berani lagi!’. Si To-koh lalu mengetuk sekali belakang leherku dengan gagang kebutan, seketika rasa dingin di badanku hilang, namun masih terasa kaku dan gatal, tetapi sudah tentu jauh lebih mending dari pada semula.
Lekas aku menjura: ‘Kami punya mata tetapi lamur sehingga berbuat salah kepada Sian-koh. Harap Sian-koh tidak pikirkan lagi kesalahan kami ini dan sukalah memberi ampun kepada kedua saudaraku.’
To-koh itu tersenyum: ‘Dulu guruku hanya mengajarkan cara memukul orang, tak pernah mendidik aku cara menolong orang. Tadi kalian telah merasakan sekali tepukanku, kalau badan kalian kuat, rasanya dapat bertahan sepuluh malam. Apa bila hawa merah sudah merembes sampai ke dada, tibalah saatnya kalian pulang ke neraka.’ lalu ia pun tertawa cekikikan, dengan kebutnya ia bersihkan kotoran pada jubahnya terus keluar dan cemplak keledainya pergi.
Sudah tentu kejutku bukan kepalang. Tanpa menghiraukan pamor segala, lekas aku memburu maju dan berlutut di depannya serta berteriak memohon: ‘Harap Sian-koh bermurah hati, sudilah memberi ampun dan menolong jiwa kami!’...”
Mendengar sampai di sini Liok Lip-ting mengerutkan kening. Liong-piausu tahu perbuatannya terlalu rendah dan hina, segera ia menambahkan:
“Liok-ya, kami datang untuk mohon pertolonganmu, maka apa yang terjadi waktu itu harus kami ceritakan, sedikit pun kami tidak merahasiakannya kepadamu.”
“O, ya, teruskan ceritamu,” ujar Liok Lip-ting.
Tutur Liong-piausu lebih lanjut: “To-koh itu hanya tersenyum saja, sesaat kemudian berkata: ‘Baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu. Ia sudi menolong tidak terserah pada keberuntunganmu sendiri. Nah, lekas kalian pergi ke Ling-ok-tin di Oh-ciu dan mintalah pertolongan kepada Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Di dunia ini hanya dia seorang yang bisa mengobati luka-luka ini. Katakan pula kepadanya, dalam waktu dekat aku pun akan menemui dia.’...”
Tersentak hati Liok Lip-ting, teriaknya kaget: “Apakah orang yang mencuri jenazah ayah bundaku itu ada sangkut pautnya dengan persoalan ini? Ini... wah... sulit!”
“Begitulah Cayhe berpikir,” kata Liong-piausu “Sesudah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon kepadanya, tetapi dia lantas menukas: ‘Perjalanan ke Oh-ciu cukup jauh, apa kalian hendak membuang-buang waktu?’ Tanpa terlihat dia angkat kakinya, entah bagaimana tahu2 badannya sudah melayang ke punggung keledainya. Cepat sekali keledai itu mencongklang pergi, dikejar pun tak keburu lagi. Aku melongo sekian lama, kulihat So dan Cu-hiante masih gemetar, terpaksa kupayang mereka ke atas kereta.
Begitu tiba di kota segera kupanggil tabib terpandai, tetapi para tabib itu mana sanggup mengobati? Waktu kami buka baju, pada pundak kami ada tapak tangan merah darah yang menyolok sekali. Sampai besok paginya, rasa dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar.
Aku ingat pesan si To-koh, bila hawa merah ini merembes sampai ke dada dan ujung jari, jiwa kami bertiga tak tertolong lagi, maka kami tidak pedulikan lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, namun siapa tahu Liok-loenghiong ternyata sudah wafat. Memang Cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata-kata si To-koh, tak tahunya Liok-ya telah mendapat ajaran warisan leluhur, engkaulah yang menjadi harapan sebagai tuan penolong jiwa kami.”
Dasar banyak pengalaman dan pandai bicara, belum Liok Lip-ting memberi jawaban, dia sudah menyebut orang sebagai tuan penolong jiwa mereka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak.
Liok Lip-ting tersenyum, katanya: “Sejak kecil aku mendapat didikan keluarga, tetapi tidak berani berkelana di dunia Kangouw, maka jika kalian tidak kenal namaku yang rendah, ini pun tak perlu dibuat heran.”
Lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati. Perlahan ia angkat kepala, mendadak ia melonjak dan berteriak kaget:
“Apa itu?!”
Di bawah cahaya pelita, jelas sekali kelihatan pada bagian atas dinding tembok putih itu berderet sembilan tapak tangan darah.
Mereka berempat terlongong mengawasi sembilan tapak tangan merah itu, hingga sesaat lamanya tidak mampu bicara seperti orang tersihir dan linglung. Para Piausu dari An-wan Piaukiok tidak tahu asal-usul tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta mereka merasa ke sembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang.
Ketiga Piausu ini tadinya mengira orang sudi memberi pertolongan, tetapi sekarang mendengar tuan rumah mengusir mereka secara halus, maka mereka menjadi gugup dan bingung. Kata mereka serempak sambil berdiri:
“Liok-ya... Liok-ya... engkau....” perasaan gelisah dan cemas membuat mereka tak kuasa meneruskan kata-katanya.
Liok Lip-ting mengerut kening. Tiba-tiba ia masuk ke kamar dan mengeluarkan dua puluh tujuh batang jarum emas, setiap batang panjangnya sembilan inci. Tanpa menyuruh orang membuka pakaian, langsung dia tusukkan kedua puluh tujuh jarum itu pada badan ketiga Piausu, setiap orang sembilan batang. Gerak-geriknya sungguh cekatan, setiap tusukan jarum langsung menancap di Hiat-to penting dalam badan.
Belum lagi ketiga Piausu tahu apa yang terjadi tahu2 kedua puluh tujuh batang jarum itu telah menancap di badan mereka. Kejadiannya memang aneh, meski jarum2 itu menusuk masuk tujuh-delapan inci ke dalam badan mereka, tetapi karena semua Hiat-to itu sudah mati rasa, maka sedikit pun tidak terasakan sakit.
“Lekaslah kalian cari tempat yang sepi dan sembunyi atau menetaplah di rumah petani, tiga hari lagi boleh kemari. Bila jiwaku masih hidup, nanti aku memberi pengobatan lebih lanjut.”
Ketiga Piauthau itu amat kaget tanyanya: “Liok-ya bakal menghadapi bencana apa?”
Liok Lip-ting tidak sabar untuk bicara lebih banyak lagi sahutnya: “Kalian terkena Jik-sin-ciang, sebetulnya racun bakal menyerang dalam sepuluh hari dan kalian akan meninggal. Tapi kini aku sudah menusuk dengan jarum emas, kadar racun akan tertahan sementara, hawa merah itu tidak akan menjalar. Tiga hari lagi biar kuberi pertolongan lebih lanjut dan pasti tidak akan terlambat.”
“Kalau tiga hari lagi Liok-ya mengalami sesuatu, lalu bagaimana?” tanya Cu-piau-thau.
Sepasang mata Liok Lip-ting mendelik, jengeknya: “Kecuali aku tidak ada orang Iain yang mampu mengobati luka-luka Jik-lian-sin-ciang. Apa bila aku mati biarlah kalian mengiringi aku.”
Liong dan So masih berkukuh hendak mohon pengobatan selekasnya, tetapi Liok Lip-ting telah berkata pula:
“Kalian masih tunggu apa lagi? Orang yang mencari perkara denganku bukan lain adalah To-koh itu, sebentar lagi dia akan tiba di sini.”
Seketika ciut nyali ketiga piausu itu dan mereka tak berani tanya lagi, cepat mereka pamit dan mohon diri. Liok Lip-ting tidak mengantar tamu2nya, ia duduk di kursi sambil mengawasi ke sembilan tapak tangan di atas dinding itu. Entah berapa lama dia terlongong mengawasi tapak2 tangan itu, tiba-tiba dilihatnya A Kin jongos berlari masuk ter-gesa2 dan melapor
“Siauya, di luar datang seorang tamu.”
“Katakan aku tidak di rumah,” ujar Liok Lip-ting.
“Siauya, Toanio (nyonya) itu mengatakan tidak mencari kau, tetapi dia sedang menempuh perjalanan dan mohon menginap satu malam saja di sini,” kata si A Kin.
“Apa?! Jadi dia perempuan?” teriak Lip-ting kaget.
“Benar, Toanio itu malah membawa dua anak, mungil dan elok sekali.”
Mendengar tamu perempuan membawa anak, barulah Liok Lip-ting merasa lega, tanyanya menegas:
“Dia bukan seorang To-koh?”
“Bukan,” sahut A Kin menggeleng, “Pakaiannya bersih, kelihatannya dari keluarga baik-baik.”
“Baik, bawalah masuk ke kamar tamu, siapkan makanan dan sediakan ala kadarnya,” A Kin mengiakan sambil mengundurkan diri.
Liok Lip-ting berdiri. Baru saja dia hendak ke dalam, ternyata Liok-toanio sudah berada di luar ruangan. Katanya segera sambil mengerutkan alis:
“Lip-ting, dua bocah itu harus kita sembunyikan.”
“Kedua bocah itu pun masuk hitungan,” kata Liok Lip-ting sambil menuding tapak tangan di atas dinding, “Iblis itu sudah memberikan tanda darah ini, biar sampai ke ujung langit pun kau tidak akan lolos dari kekejamannya.”
Dengan termangu Liok-toanio mengamati ke sembilan tapak tangan darah di dinding itu, tapak-tapak tangan itu se-olah2 semakin besar, semakin merah dan se-akan2 menubruk ke arahnya. Tanpa terasa dia menjerit kaget dan memegangi sandaran kursi, katanya:
“Kenapa ada sembilan tapak tangan? Keluarga kita kan hanya tujuh orang saja?”
Sehabis berkata kaki dan tangannya terasa lemas tak bertenaga, dengan terlongong dia awasi suaminya, hampir saja dia mengucurkan air mata.
Lekas Liok Lip-ting memegang lengannya dan berkata: “Isteriku, bencana sudah di depan mata, takut pun tidak ada gunanya. Dua tapak teratas ditujukan kepada ayah dan ibu, dua di bawahnya terang untuk kita berdua. Dua lagi di baris ketiga ditujukan kepada Bu-siang dan Thia Eng, tiga yang lainnya adalah A Kin dan dua pelayan lain. He-he-he, inilah yang dinamakan banjir darah dalam keluarga, ayam dan anjing tidak ketinggalan.”
Bergidik Liok-toanio dibuatnya mendengar kata2 suaminya, “Ayah dan ibu?” dia menegas tak mengerti.
“Aku pun tidak tahu ada permusuhan apa antara gembong iblis ini dengan ayah dan ibu. Ayah bunda sudah lama wafat, dia suruh orang membongkar kuburan dan mengeluarkan jenazah mereka, mungkin setiap orang harus menerima satu kali pukulan baru dianggap selesai membalas sakit hati.”
“Kau kira orang gila itu adalah utusannya?”
“Sudah tentu.”
Baru mereka bicara dilihatnya A Kin berlari masuk dengan ber-sungut2, katanya: “Siauya, pintu besar kita entah kenapa tidak bisa dibuka, seperti terpantek dari luar.”
Berubah air muka Liok Lip-ting berdua, segera mereka memburu keluar. Tertampak daun pintu yang bercat hitam itu masih tertutup rapat. Kedua tangan Liok Lip-ting terus menangkap gelang tembaga pintu dan lantas ditariknya ke belakang. Terdengarlah suara berkereyot, daun pintu hanya bergoyang sedikit, namun tidak dapat dibuka.
Liok-hujin memberi isyarat, segera ia melompat ke atas tembok. Di luar sunyi senyap tak nampak bayangan manusia. Sambil melintangkan pedang ia melompat turun keluar pintu, seketika alisnya berdiri, makinya: “Terlalu menghina orang!”
Ternyata daun pintu itu sudah terpantek oleh dua batang besi panjang yang dipaku di atas daun pintu. Di atas batang besi itu tergantung secarik kain yang berlepotan darah hingga kelihatannya amat mengerikan.
Waktu itu Liok Lip-ting pun sudah menyusul keluar. Melihat palang besi dan kain belacu (tanda duka cita) itu, ia tahu musuh semakin mendesak, dalam dua jam mendatang pasti gembong iblis itu akan menurunkan tangan jahatnya. Ia tertegun sebentar, rasa gusarnya mulai menipis, katanya:
“Niocu (isteriku), jika seluruh keluarga Liok kita hari ini harus mati bersama, biarlah kita mati tanpa merendahkan pamor ayah bunda.”
Liok-toanio manggut2, saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokannya. Mereka melompati tembok kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke belakang. Tiba2 terdengar suara di atas tembok sebelah timur, agaknya di atas sana ada orang.
Liok-Lip-ting memburu ke depan menghadang di depan isterinya. Waktu ia angkat kepala, dilihatnya di atas tembok sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya dikuncir dua menegang, bocah itu sedang memetik kembang di atas pohon. Lalu terdengar orang berteriak di sebelah bawah:
“Awas, jangan sampai terjatuh!”
Kiranya Thia Eng, Liok Bu-siang dan seorang anak laki-laki lain sedang menunggu di kaki tembok sana. Liok Lip-ting berpikir: “Kedua bocah ini minta menginap di rumahku, kenapa begini nakal?”
Anak laki-laki di atas tembok itu sedang memetik sekuntum bunga. Liok Bu-siang segera berteriak:
“Nah, berikan padaku, berikan kepadaku!”
Anak laki-laki itu tertawa, dia melempar bunga itu ke arah Thia Eng. Lekas Thia Eng menangkapnya, lalu diangsurkan kepada sang Piau-moay. Tapi Liok Bu-siang naik pitam, ia meraih kembang itu terus dibanting dan di-injak2.
Melihat keempat bocah ini bermain dengan riang gembira, sedikit pun tidak tahu bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Liok Lip-ting suami istri menghela napas, mereka masuk ke dalam kamar.
“Piaumoay, kenapa kau marah?” bujuk Thia Eng.
Liok Bu-siang merengut, katanya: “Aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik!”
Sekali kaki kanannya menutul tanah, badannya melejit ke atas lalu dia meraih akar rotan yang merambat di atas tembok. Sekali meminjam tenaga, seketika badannya melambung ke atas lagi beberapa kaki lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon.
Anak laki-laki di atas tembok itu bersorak gembira, teriaknya: “Lekas kemari!”
Kedua tangan Liok Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk ke atas tembok. Dinilai dari Ginkang-nya, apa yang dilakukan Bu-siang tadi boleh dikata amat berbahaya. Namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki-laki yang melempar bunga kepada Piau-cinya tadi. Memang sifat pembawaan anak perempuan ini suka menangnya sendiri, maka tanpa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat di udara.
Anak laki2 itu menjadi kaget, teriaknya memperingatkan: “Awas! Hati-hati!” segera dia ulurkan tangan hendak menangkap tangan Bu-siang.
Kalau dia tidak mengulurkan tangan, sebetulnya Liok Bu-siang bisa saja mencapai pagar tembok, tapi ketika melihat anak laki2 itu hendak menarik dirinya, segera ia menghardik:
“Minggir!” badannya menyingkir ke samping hendak menghindari tarikan tangan orang.
Kepandaian jumpalitan di udara adalah ilmu Ginkang tingkat tinggi. Walau pun dia pernah melihat ayah bundanya memainkannya, dia sendiri belum pernah mempelajarinya. Dengan sedikit berkisar, jari2-nya sudah tidak dapat meraih tembok, di tengah teriakan kagetnya, badannya langsung jatuh ke bawah.
Melihat Bu-siang jatuh, anak laki-laki yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan mengulurkan tangan memeluk badannya. Tetapi tembok itu setinggi beberapa tombak, meski badan Bu-siang kecil, tenaga luncuran setinggi itu jelas amat berat. Meski pun anak laki2 itu berhasil memeluk pinggangnya, tak tertahankan keduanya terbanting jatuh dengan keras. Terdengar suara “krak”, tulang kaki kiri Liok Bu-siang patah, demikian pula jidat anak laki-laki itu kebentur batu runcing, darah mengucur keluar,
Thia Eng dan anak laki2 di atas tembok itu memburu maju untuk menolong. Anak laki2 itu merangkak bangun sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput. Sambil memeluk Piaumoay-nya Thia Eng segera berteriak:
“lh-tio, Ah-i (paman, bibi), lekas datang!”
Mendengar teriakan, Liok-toanio segera memburu keluar. Tapi tiba-tiba terasa di atas kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih kepalanya. Sebat sekali Liok-toanio berkelit ke samping, dilihatnya yang dilempar ke arahnya itu ternyata mayat seseorang.
Tanpa sempat membawa goloknya segera ia melompat ke wuwungan rumah. Belum lagi dia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak mukanya. Ketika Liok-toanio membungkukkan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi lemas sehingga tidak kuasa berdiri tegak. Kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.
Kebetulan Liok Lip-ting sedang memburu keluar. Melihat Liok-toanio terjungkal jatuh dari atas, segera ia lompat ke depan dengan ilmu Ginkang yang dia yakinkan selama berpuluh tahun. Biar pun jaraknya masih tiga tombak jauhnya, akan tetapi sekali lompat tubuhnya melesat seperti anak panah, telapak tangannya sempat menyanggah punggung istrinya, Karena tenaga sanggahan ini badan Liok-toanio terlempar naik, di waktu meluncur turun, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas tanah.
Tanpa sempat menanyakan keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa-apa, segera ia melompat ke atas rumah, lalu matanya menjelajahi sekelilingnya. Tertampak bulan sabit tergantung tinggi di cakrawala, angin menghembus sepoi2, namun tak nampak bayangan seorang pun.
Liok Lip-ting segera kembangkan Ginkang. Dalam sekejap saja ia telah meronda keadaan rumahnya satu keliling, namun tidak menemukan apa-apa. Segera ia melompat turun ke bawah pelataran dan masuk ke dalam rumah.
Liok Lip-ting terkejut bukan main. Dilihatnya kedua orang di bagian depan telah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda. Tentu saja kedua ekor kuda itu lalu berjingkrak kaget dan meringkik. Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh.
“Apakah Cu-heng ini terkenal Jik-lian-sin-ciang?” tanya Liok Lip-ting.
Mendengar disebutnya ‘Jik-lian-sin-ciang’ (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat, serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya kemudian menyembah, kata mereka:
“Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami.”
“Ahh, jangan sungkan,” jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan tiga orang itu. “Silakan masuk ke dalam untuk bicara lagi.”
Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itu pula Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak. Dia tidak mendengar jelas apa yang diteriakkan anak perempuannya, tetapi ia lantas membentaknya:
“Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa? Lekas masuk sana!”
Tapi Bu-siang lantas berteriak pula: “Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek!”
Barulah Liok Lip-ting terkejut, serentak dia melonjak bangun dan membentak: “Apa katamu? Ngaco-belo!”
“Memang betul, paman,” pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk.
Liok Lip-ting tahu anak perempuannya sendiri amat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi. Dengan terputus-putus dan tidak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi. Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera dia sambar golok yang tergantung di dinding. Dia minta maaf kepada ketiga tamunya, kemudian berlari menuju makam ayah-bundanya. Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana,
Setibanya di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting, hampir saja ia jatuh pingsan, Ternyata makam ayah-ibunya telah dibongkar orang, malah kedua rangka peti mati juga sudah terbuka, jenazah di dalam peti mati lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.
Sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas bangsat pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang sangat hebat. Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi pantek dan dipaku sehingga amat kuat, tetapi orang itu mampu membongkarnya dengan tangan kosong saja, maka betapa hebat ilmu silatnya sungguh sukar diukur.
Tidak keruan rasa hati Liok Lip-ting, sedih, marah, terkejut, sangsi, tetapi tadi dia tidak mendengarkan cerita Bu-siang secara jelas sehingga tak diketahui bangsat pencuri mayat ini ada permusuhan kesumat apa dengan ayah-bundanya sehingga sesudah kedua orang tua itu meninggal masih dirasakan perlu merusak kuburannya serta memusnahkan mayatnya.
Sejenak dia terlongong di depan kuburan. Segera dia mengejar, tapi hanya beberapa langkah, ia ragu2. Ia memeriksa tapak kaki di sekitar kuburan, tetapi jejak yang dicarinya tak diketemukan. Ia bertambah heran, pikirnya: “Seorang diri dia membawa jenazah ayah bunda-ku, betapa pun tinggi Ginkang-nya pasti meninggalkan tapak kaki.”
Biasanya dia cukup cermat, namun mengalami kejadian yang tidak terduga ini, pikirannya kacau balau, tidak sempat lagi ia memeriksa dengan teliti, segera ia lari mengejar mengikuti jalan raya. Ketiga tamu tadi kuatir akan keselamatannya, mereka pun mengintil dengan kencang. Begitu Liok Lip-ting mengerahkan Ginkang, larinya secepat kuda membedal, mana dapat ketiga orang itu menyusulnya? Sekejap saja sudah kehilangan bayangannya!
Liok Lip-ting berlari memutar beberapa kali, cuaca pun sudah gelap, terpaksa dia kembali ke kuburan, dilihatnya ketiga tamu itu berdiri menunggu di pinggir kuburan. Liok Lip-ting berlutut di depan kuburan, dia memeluk peti mati ibunya lantas menangis.
Setelah orang puas menangis, barulah ketiga laki-laki itu maju membujuk: “Liok-ya, harap tenangkan hati dan berpikir dengan jernih. Mungkin kami bisa memberi sedikit keterangan latar belakang kejadian ini.”
Melotot kedua mata Liok Lip-ting, teriaknya: “Siapa bangsat keparat itu?! Di mana dia?! Lekas katakan!”
Kata salah seorang itu: “Cukup panjang cerita ini, tak perlu Liok-ya gugup, marilah pulang dulu nanti kita rundingkan persoalan ini.”
Liok Lip-ting anggap omongan orang memang benar, katanya: “Aku terlalu gugup sampai berlaku kurang hormat.”
“Ah, kenapa Liok-ya berkata demikian,” sahut ketiga tamu itu.
Maka mereka kembali ke rumah Liok Lip-ting. Sesudah menghaturkan teh kepada tamu-tamunya, tanpa sempat tanya nama para tamunya, Liok Lip-ting lantas masuk ke dalam hendak memberi-tahukan isterinya. Tidak tahunya sang isteri sudah mendapat laporan Bu-siang lalu keluar mengejar bangsat itu dan hingga sekarang belum kembali. Bertambah pula kekuatiran Liok Lip-ting, terpaksa ia kembali ke ruang tamu dan bicara dengan ketiga tamunya.
Ketiga tamunya lantas memperkenalkan diri, kiranya mereka adalah para Piausu An-wan Piaukiok dari Ki-lam di Soatang, seorang she Liong, she So dan she Cu.
Mendengar mereka hanyalah sekawanan Piausu, seketika berubah dingin sikap Liok Lip-ting, hatinya kurang senang, katanya:
“Selamanya aku tidak pernah berhubungan dengan Piausu, hari ini kalian kemari, entah ada keperluan apa?”
Ketiga orang itu saling pandang kemudian serentak berlutut, serunya: “Harap Liok-ya suka menolong jiwa kami!”
Liok Lip-ting sudah bisa meraba beberapa bagian, katanya tawar: “Berdirilah kalian, Entah cara bagaimana Cu-ya sampai terkena Jit-lian-sin-ciang?”
Liong-piausu dan So-piausu berkata berbareng: “Kami berdua pun terkena juga.”
Sembari berdiri mereka menyingkap lengan baju, tampak keempat lengan mereka berwarna merah darah dan mengerikan.
Liok Lip-ting terkejut, katanya ragu2: “Tiga orang semua kena? Siapakah yang menyerang kalian? Dari mana pula kalian mendapat tahu ayahku bisa menolong?”
“Tujuh hari yang lalu kami bertiga membawa sejumlah barang kawalan menuju Hok-kian-wat Yangciu. Di jalan hawa amat panas, kami berteduh di sebuah gardu minum di pinggir jalan. Kami bersyukur sepanjang jalan ini tidak terjadi apa-apa, agaknya barang kawalan akan tiba di tempat tujuan dengan selamat,” demikian tutur Liong-piausu.
“Pada saat itulah dari jalan raya sana berlari mendatangi seekor keledai berbulu loreng dengan langkah cepat. Penunggangnya seorang To-koh (wanita pendeta agama To) setengah umur berjubah kuning. Ia turun dari keledai dan masuk ke dalam gardu pula. Cu-hiante memang masih muda, suka iseng. Melihat orang berparas elok, ia lalu cengar-cengir dan main mata.
To-koh itu pun balas tersenyum manis. Cu-hiante kira orang ada maksud, segera dia menghampiri dan meraba pakaian orang, katanya tertawa: ‘Seorang diri menempuh perjalanan, apa tidak takut kalau diculik perampok dan dijadikan isteri muda?’ To-koh itu tertawa, ujarnya: ‘Aku tidak takut perampok, hanya takut pada Piausu.’ Sembari bicara ia pun menepuk ringan di pundaknya. Mendadak Cu-hiante seperti kesetrom, seluruh badan bergetar hebat, gigi berkerutukan.
Sudah tentu aku dan So-hiante sangat terkejut. Lekas aku memburu maju memayang Cu-hiante, sementara So-hiante segera menjambret si To-koh dan bentaknya: ‘Kau gunakan ilmu sihir apa?‘. To-koh itu hanya tersenyum saja, ia menepuk pula sekali di pundak kami berdua, dan seketika seluruh badan terasa panas seperti dipanggang, panasnya sukar tertahan, namun sekejap lain terasa seperti jatuh ke dalam sumur es, tak tertahan seluruh badan menggigil kedinginan. Para Piaukiok yang lain mana berani maju?
Si To-koh tertawa, ujarnya: ‘Kepandaian sebegini saja berani mengibarkan bendera Piaukiok, huh, bikin malu saja, sungguh besar nyali kalian, Kalau tidak kupandang muka kalian yang tebal, pastilah kupersen beberapa kali tamparan lagi’. Kupikir sekali tepuk saja sudah tak tertahankan, apa lagi ditambah beberapa kali pukulan lagi, tentulah jiwa kami melayang.
To-koh itu tertawa pula: ‘Kalian mau tunduk tidak padaku? Masih berani main gila di jalan raya?’ Lekas aku menyahut: ‘Kami menyerah! Tidak berani lagi!’. Si To-koh lalu mengetuk sekali belakang leherku dengan gagang kebutan, seketika rasa dingin di badanku hilang, namun masih terasa kaku dan gatal, tetapi sudah tentu jauh lebih mending dari pada semula.
Lekas aku menjura: ‘Kami punya mata tetapi lamur sehingga berbuat salah kepada Sian-koh. Harap Sian-koh tidak pikirkan lagi kesalahan kami ini dan sukalah memberi ampun kepada kedua saudaraku.’
To-koh itu tersenyum: ‘Dulu guruku hanya mengajarkan cara memukul orang, tak pernah mendidik aku cara menolong orang. Tadi kalian telah merasakan sekali tepukanku, kalau badan kalian kuat, rasanya dapat bertahan sepuluh malam. Apa bila hawa merah sudah merembes sampai ke dada, tibalah saatnya kalian pulang ke neraka.’ lalu ia pun tertawa cekikikan, dengan kebutnya ia bersihkan kotoran pada jubahnya terus keluar dan cemplak keledainya pergi.
Sudah tentu kejutku bukan kepalang. Tanpa menghiraukan pamor segala, lekas aku memburu maju dan berlutut di depannya serta berteriak memohon: ‘Harap Sian-koh bermurah hati, sudilah memberi ampun dan menolong jiwa kami!’...”
Mendengar sampai di sini Liok Lip-ting mengerutkan kening. Liong-piausu tahu perbuatannya terlalu rendah dan hina, segera ia menambahkan:
“Liok-ya, kami datang untuk mohon pertolonganmu, maka apa yang terjadi waktu itu harus kami ceritakan, sedikit pun kami tidak merahasiakannya kepadamu.”
“O, ya, teruskan ceritamu,” ujar Liok Lip-ting.
Tutur Liong-piausu lebih lanjut: “To-koh itu hanya tersenyum saja, sesaat kemudian berkata: ‘Baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu. Ia sudi menolong tidak terserah pada keberuntunganmu sendiri. Nah, lekas kalian pergi ke Ling-ok-tin di Oh-ciu dan mintalah pertolongan kepada Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Di dunia ini hanya dia seorang yang bisa mengobati luka-luka ini. Katakan pula kepadanya, dalam waktu dekat aku pun akan menemui dia.’...”
Tersentak hati Liok Lip-ting, teriaknya kaget: “Apakah orang yang mencuri jenazah ayah bundaku itu ada sangkut pautnya dengan persoalan ini? Ini... wah... sulit!”
“Begitulah Cayhe berpikir,” kata Liong-piausu “Sesudah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon kepadanya, tetapi dia lantas menukas: ‘Perjalanan ke Oh-ciu cukup jauh, apa kalian hendak membuang-buang waktu?’ Tanpa terlihat dia angkat kakinya, entah bagaimana tahu2 badannya sudah melayang ke punggung keledainya. Cepat sekali keledai itu mencongklang pergi, dikejar pun tak keburu lagi. Aku melongo sekian lama, kulihat So dan Cu-hiante masih gemetar, terpaksa kupayang mereka ke atas kereta.
Begitu tiba di kota segera kupanggil tabib terpandai, tetapi para tabib itu mana sanggup mengobati? Waktu kami buka baju, pada pundak kami ada tapak tangan merah darah yang menyolok sekali. Sampai besok paginya, rasa dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar.
Aku ingat pesan si To-koh, bila hawa merah ini merembes sampai ke dada dan ujung jari, jiwa kami bertiga tak tertolong lagi, maka kami tidak pedulikan lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, namun siapa tahu Liok-loenghiong ternyata sudah wafat. Memang Cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata-kata si To-koh, tak tahunya Liok-ya telah mendapat ajaran warisan leluhur, engkaulah yang menjadi harapan sebagai tuan penolong jiwa kami.”
Dasar banyak pengalaman dan pandai bicara, belum Liok Lip-ting memberi jawaban, dia sudah menyebut orang sebagai tuan penolong jiwa mereka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak.
Liok Lip-ting tersenyum, katanya: “Sejak kecil aku mendapat didikan keluarga, tetapi tidak berani berkelana di dunia Kangouw, maka jika kalian tidak kenal namaku yang rendah, ini pun tak perlu dibuat heran.”
Lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati. Perlahan ia angkat kepala, mendadak ia melonjak dan berteriak kaget:
“Apa itu?!”
Di bawah cahaya pelita, jelas sekali kelihatan pada bagian atas dinding tembok putih itu berderet sembilan tapak tangan darah.
Mereka berempat terlongong mengawasi sembilan tapak tangan merah itu, hingga sesaat lamanya tidak mampu bicara seperti orang tersihir dan linglung. Para Piausu dari An-wan Piaukiok tidak tahu asal-usul tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta mereka merasa ke sembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang.
Ketiga Piausu ini tadinya mengira orang sudi memberi pertolongan, tetapi sekarang mendengar tuan rumah mengusir mereka secara halus, maka mereka menjadi gugup dan bingung. Kata mereka serempak sambil berdiri:
“Liok-ya... Liok-ya... engkau....” perasaan gelisah dan cemas membuat mereka tak kuasa meneruskan kata-katanya.
Liok Lip-ting mengerut kening. Tiba-tiba ia masuk ke kamar dan mengeluarkan dua puluh tujuh batang jarum emas, setiap batang panjangnya sembilan inci. Tanpa menyuruh orang membuka pakaian, langsung dia tusukkan kedua puluh tujuh jarum itu pada badan ketiga Piausu, setiap orang sembilan batang. Gerak-geriknya sungguh cekatan, setiap tusukan jarum langsung menancap di Hiat-to penting dalam badan.
Belum lagi ketiga Piausu tahu apa yang terjadi tahu2 kedua puluh tujuh batang jarum itu telah menancap di badan mereka. Kejadiannya memang aneh, meski jarum2 itu menusuk masuk tujuh-delapan inci ke dalam badan mereka, tetapi karena semua Hiat-to itu sudah mati rasa, maka sedikit pun tidak terasakan sakit.
“Lekaslah kalian cari tempat yang sepi dan sembunyi atau menetaplah di rumah petani, tiga hari lagi boleh kemari. Bila jiwaku masih hidup, nanti aku memberi pengobatan lebih lanjut.”
Ketiga Piauthau itu amat kaget tanyanya: “Liok-ya bakal menghadapi bencana apa?”
Liok Lip-ting tidak sabar untuk bicara lebih banyak lagi sahutnya: “Kalian terkena Jik-sin-ciang, sebetulnya racun bakal menyerang dalam sepuluh hari dan kalian akan meninggal. Tapi kini aku sudah menusuk dengan jarum emas, kadar racun akan tertahan sementara, hawa merah itu tidak akan menjalar. Tiga hari lagi biar kuberi pertolongan lebih lanjut dan pasti tidak akan terlambat.”
“Kalau tiga hari lagi Liok-ya mengalami sesuatu, lalu bagaimana?” tanya Cu-piau-thau.
Sepasang mata Liok Lip-ting mendelik, jengeknya: “Kecuali aku tidak ada orang Iain yang mampu mengobati luka-luka Jik-lian-sin-ciang. Apa bila aku mati biarlah kalian mengiringi aku.”
Liong dan So masih berkukuh hendak mohon pengobatan selekasnya, tetapi Liok Lip-ting telah berkata pula:
“Kalian masih tunggu apa lagi? Orang yang mencari perkara denganku bukan lain adalah To-koh itu, sebentar lagi dia akan tiba di sini.”
Seketika ciut nyali ketiga piausu itu dan mereka tak berani tanya lagi, cepat mereka pamit dan mohon diri. Liok Lip-ting tidak mengantar tamu2nya, ia duduk di kursi sambil mengawasi ke sembilan tapak tangan di atas dinding itu. Entah berapa lama dia terlongong mengawasi tapak2 tangan itu, tiba-tiba dilihatnya A Kin jongos berlari masuk ter-gesa2 dan melapor
“Siauya, di luar datang seorang tamu.”
“Katakan aku tidak di rumah,” ujar Liok Lip-ting.
“Siauya, Toanio (nyonya) itu mengatakan tidak mencari kau, tetapi dia sedang menempuh perjalanan dan mohon menginap satu malam saja di sini,” kata si A Kin.
“Apa?! Jadi dia perempuan?” teriak Lip-ting kaget.
“Benar, Toanio itu malah membawa dua anak, mungil dan elok sekali.”
Mendengar tamu perempuan membawa anak, barulah Liok Lip-ting merasa lega, tanyanya menegas:
“Dia bukan seorang To-koh?”
“Bukan,” sahut A Kin menggeleng, “Pakaiannya bersih, kelihatannya dari keluarga baik-baik.”
“Baik, bawalah masuk ke kamar tamu, siapkan makanan dan sediakan ala kadarnya,” A Kin mengiakan sambil mengundurkan diri.
Liok Lip-ting berdiri. Baru saja dia hendak ke dalam, ternyata Liok-toanio sudah berada di luar ruangan. Katanya segera sambil mengerutkan alis:
“Lip-ting, dua bocah itu harus kita sembunyikan.”
“Kedua bocah itu pun masuk hitungan,” kata Liok Lip-ting sambil menuding tapak tangan di atas dinding, “Iblis itu sudah memberikan tanda darah ini, biar sampai ke ujung langit pun kau tidak akan lolos dari kekejamannya.”
Dengan termangu Liok-toanio mengamati ke sembilan tapak tangan darah di dinding itu, tapak-tapak tangan itu se-olah2 semakin besar, semakin merah dan se-akan2 menubruk ke arahnya. Tanpa terasa dia menjerit kaget dan memegangi sandaran kursi, katanya:
“Kenapa ada sembilan tapak tangan? Keluarga kita kan hanya tujuh orang saja?”
Sehabis berkata kaki dan tangannya terasa lemas tak bertenaga, dengan terlongong dia awasi suaminya, hampir saja dia mengucurkan air mata.
Lekas Liok Lip-ting memegang lengannya dan berkata: “Isteriku, bencana sudah di depan mata, takut pun tidak ada gunanya. Dua tapak teratas ditujukan kepada ayah dan ibu, dua di bawahnya terang untuk kita berdua. Dua lagi di baris ketiga ditujukan kepada Bu-siang dan Thia Eng, tiga yang lainnya adalah A Kin dan dua pelayan lain. He-he-he, inilah yang dinamakan banjir darah dalam keluarga, ayam dan anjing tidak ketinggalan.”
Bergidik Liok-toanio dibuatnya mendengar kata2 suaminya, “Ayah dan ibu?” dia menegas tak mengerti.
“Aku pun tidak tahu ada permusuhan apa antara gembong iblis ini dengan ayah dan ibu. Ayah bunda sudah lama wafat, dia suruh orang membongkar kuburan dan mengeluarkan jenazah mereka, mungkin setiap orang harus menerima satu kali pukulan baru dianggap selesai membalas sakit hati.”
“Kau kira orang gila itu adalah utusannya?”
“Sudah tentu.”
Baru mereka bicara dilihatnya A Kin berlari masuk dengan ber-sungut2, katanya: “Siauya, pintu besar kita entah kenapa tidak bisa dibuka, seperti terpantek dari luar.”
Berubah air muka Liok Lip-ting berdua, segera mereka memburu keluar. Tertampak daun pintu yang bercat hitam itu masih tertutup rapat. Kedua tangan Liok Lip-ting terus menangkap gelang tembaga pintu dan lantas ditariknya ke belakang. Terdengarlah suara berkereyot, daun pintu hanya bergoyang sedikit, namun tidak dapat dibuka.
Liok-hujin memberi isyarat, segera ia melompat ke atas tembok. Di luar sunyi senyap tak nampak bayangan manusia. Sambil melintangkan pedang ia melompat turun keluar pintu, seketika alisnya berdiri, makinya: “Terlalu menghina orang!”
Ternyata daun pintu itu sudah terpantek oleh dua batang besi panjang yang dipaku di atas daun pintu. Di atas batang besi itu tergantung secarik kain yang berlepotan darah hingga kelihatannya amat mengerikan.
Waktu itu Liok Lip-ting pun sudah menyusul keluar. Melihat palang besi dan kain belacu (tanda duka cita) itu, ia tahu musuh semakin mendesak, dalam dua jam mendatang pasti gembong iblis itu akan menurunkan tangan jahatnya. Ia tertegun sebentar, rasa gusarnya mulai menipis, katanya:
“Niocu (isteriku), jika seluruh keluarga Liok kita hari ini harus mati bersama, biarlah kita mati tanpa merendahkan pamor ayah bunda.”
Liok-toanio manggut2, saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokannya. Mereka melompati tembok kembali ke dalam rumah, langsung menuju ke belakang. Tiba2 terdengar suara di atas tembok sebelah timur, agaknya di atas sana ada orang.
Liok-Lip-ting memburu ke depan menghadang di depan isterinya. Waktu ia angkat kepala, dilihatnya di atas tembok sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya dikuncir dua menegang, bocah itu sedang memetik kembang di atas pohon. Lalu terdengar orang berteriak di sebelah bawah:
“Awas, jangan sampai terjatuh!”
Kiranya Thia Eng, Liok Bu-siang dan seorang anak laki-laki lain sedang menunggu di kaki tembok sana. Liok Lip-ting berpikir: “Kedua bocah ini minta menginap di rumahku, kenapa begini nakal?”
Anak laki-laki di atas tembok itu sedang memetik sekuntum bunga. Liok Bu-siang segera berteriak:
“Nah, berikan padaku, berikan kepadaku!”
Anak laki-laki itu tertawa, dia melempar bunga itu ke arah Thia Eng. Lekas Thia Eng menangkapnya, lalu diangsurkan kepada sang Piau-moay. Tapi Liok Bu-siang naik pitam, ia meraih kembang itu terus dibanting dan di-injak2.
Melihat keempat bocah ini bermain dengan riang gembira, sedikit pun tidak tahu bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Liok Lip-ting suami istri menghela napas, mereka masuk ke dalam kamar.
“Piaumoay, kenapa kau marah?” bujuk Thia Eng.
Liok Bu-siang merengut, katanya: “Aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik!”
Sekali kaki kanannya menutul tanah, badannya melejit ke atas lalu dia meraih akar rotan yang merambat di atas tembok. Sekali meminjam tenaga, seketika badannya melambung ke atas lagi beberapa kaki lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon.
Anak laki-laki di atas tembok itu bersorak gembira, teriaknya: “Lekas kemari!”
Kedua tangan Liok Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk ke atas tembok. Dinilai dari Ginkang-nya, apa yang dilakukan Bu-siang tadi boleh dikata amat berbahaya. Namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki-laki yang melempar bunga kepada Piau-cinya tadi. Memang sifat pembawaan anak perempuan ini suka menangnya sendiri, maka tanpa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat di udara.
Anak laki2 itu menjadi kaget, teriaknya memperingatkan: “Awas! Hati-hati!” segera dia ulurkan tangan hendak menangkap tangan Bu-siang.
Kalau dia tidak mengulurkan tangan, sebetulnya Liok Bu-siang bisa saja mencapai pagar tembok, tapi ketika melihat anak laki2 itu hendak menarik dirinya, segera ia menghardik:
“Minggir!” badannya menyingkir ke samping hendak menghindari tarikan tangan orang.
Kepandaian jumpalitan di udara adalah ilmu Ginkang tingkat tinggi. Walau pun dia pernah melihat ayah bundanya memainkannya, dia sendiri belum pernah mempelajarinya. Dengan sedikit berkisar, jari2-nya sudah tidak dapat meraih tembok, di tengah teriakan kagetnya, badannya langsung jatuh ke bawah.
Melihat Bu-siang jatuh, anak laki-laki yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan mengulurkan tangan memeluk badannya. Tetapi tembok itu setinggi beberapa tombak, meski badan Bu-siang kecil, tenaga luncuran setinggi itu jelas amat berat. Meski pun anak laki2 itu berhasil memeluk pinggangnya, tak tertahankan keduanya terbanting jatuh dengan keras. Terdengar suara “krak”, tulang kaki kiri Liok Bu-siang patah, demikian pula jidat anak laki-laki itu kebentur batu runcing, darah mengucur keluar,
Thia Eng dan anak laki2 di atas tembok itu memburu maju untuk menolong. Anak laki2 itu merangkak bangun sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput. Sambil memeluk Piaumoay-nya Thia Eng segera berteriak:
“lh-tio, Ah-i (paman, bibi), lekas datang!”
Mendengar teriakan, Liok-toanio segera memburu keluar. Tapi tiba-tiba terasa di atas kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih kepalanya. Sebat sekali Liok-toanio berkelit ke samping, dilihatnya yang dilempar ke arahnya itu ternyata mayat seseorang.
Tanpa sempat membawa goloknya segera ia melompat ke wuwungan rumah. Belum lagi dia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak mukanya. Ketika Liok-toanio membungkukkan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi lemas sehingga tidak kuasa berdiri tegak. Kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.
Kebetulan Liok Lip-ting sedang memburu keluar. Melihat Liok-toanio terjungkal jatuh dari atas, segera ia lompat ke depan dengan ilmu Ginkang yang dia yakinkan selama berpuluh tahun. Biar pun jaraknya masih tiga tombak jauhnya, akan tetapi sekali lompat tubuhnya melesat seperti anak panah, telapak tangannya sempat menyanggah punggung istrinya, Karena tenaga sanggahan ini badan Liok-toanio terlempar naik, di waktu meluncur turun, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas tanah.
Tanpa sempat menanyakan keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa-apa, segera ia melompat ke atas rumah, lalu matanya menjelajahi sekelilingnya. Tertampak bulan sabit tergantung tinggi di cakrawala, angin menghembus sepoi2, namun tak nampak bayangan seorang pun.
Liok Lip-ting segera kembangkan Ginkang. Dalam sekejap saja ia telah meronda keadaan rumahnya satu keliling, namun tidak menemukan apa-apa. Segera ia melompat turun ke bawah pelataran dan masuk ke dalam rumah.
MUSUH KARENA DENDAM ASMARA
Di situ terlihat seorang nyonya setengah baya sedang membopong Liok Bu-siang dan anak laki-laki tadi masuk ke ruang tengah. Tanpa menghiraukan kucuran darah anak laki-laki, si nyonya berusaha menyambung dulu tulang kaki Liok Bu-siang yang patah.
Liok Lip-ting semula menyangka puterinya telah dicelakai orang, kini melihat hanya tulang kaki yang patah, hatinya rada lega, bertanya kepada istrinya:
“Kau tidak apa-apa bukan?”
Liok-toanio menggeleng kepala. Dia sobek lengan bajunya untuk membalut jidat anak laki-laki yang terluka itu. Ia ingin memeriksa luka kaki puterinya, tak terduga baru saja melangkah, kaki sendiri terasa linu lemas, tanpa kuasa ia jatuh terduduk.
Nyonya setengah baya itu menotok Hiat-to Pek-hay-hiat dan Hwi-tiong-hiat di kedua paha Liok Bu-siang untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangannya menekan pada kedua sisi tulang yang patah untuk menyambungnya.
Melihat gerak-gerik orang yang sangat cekatan, ilmu totoknya terang tingkat tinggi, makin curigalah Liok Lip-ting, serunya:
“Siapakah Toanio ini? Ada petunjuk apa berkunjung ke sini?”
Seluruh perhatian nyonya itu tumplek untuk menyambung tulang kaki Liok Bu-siang yang patah, sedikit pun tidak menghiraukan pertanyaannya. Diam-diam Liok Lip-ting perhatikan tangan kiri orang yang memegangi kaki puterinya, sementara tangan kanan diangkat dan diputar setengah lingkaran terus menotok turun pelan-pelan. Inilah gerakan It-yang-ci yang menurut cerita ayahnya merupakan kepandaian khas musuh besarnya, maka tanpa ragu2 lagi kedua telapak tangan Liok Lip-ting terus menghantam ke punggung orang.
Mendengar deru angin dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menotok Pek-hay-hiat Liok Bu-siang, telapak tangan lain menepuk balik ke belakang menangkis pukulan Liok Lip-ting. Kontan Liok Lip-ting merasakan tenaga dahsyat mendorong ke arah dirinya, seketika dada terasa sesak, tanpa kuasa ia tergentak mundur dua langkah.
Karena menggunakan telapak tangan kiri, maka si nyonya tak dapat memegangi sebelah kaki Liok Bu-siang sehingga telunjuk jarinya yang menotok turun itu turut tergetar miring. Tulang kaki Liok Bu-siang yang patah kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh pingsan lagi.
Pada saat itulah dari atas genteng terdengar suara tertawa, serunya: “Aku hanya membunuh sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar harap segera keluar!”
Pada saat Liok Lip-ting angkat kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang To-koh, di bawah sinar bulan yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, dan di punggungnya terselip sepasang pedang. Liok Lip-ting cepat berseru lantang:
“Aku inilah Liok Lip-ting, apa Toyu datang dari Jik-lian-to?”
Si To-koh mendengus: “Baik sekali jika kau sudah tahu, lekas kau bunuh isteri dan puteri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu turun tangan!”
Sikapnya congkak, kata2-nya pedas, sedikit pun tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah. Meski Liok Lip-ting tidak pernah angkat nama di kalangan Kangouw, betapa pun juga dia keturunan seorang pendekar besar, mana mandah dihina di hadapan orang luar, segera ia memburu keluar dan melompat ke atas seraya membentak:
“Biar kau kenal dulu kelihayanku!”
Sikap si To-koh acuh tak acuh. Di saat kedua kaki Liok Lip-ting sudah hampir menginjak genteng, badan masih terapung di udara, mendadak kedua pedangnya bergerak laksana bianglala, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah mengurung seluruh badannya.
Serangan sepasang pedang ini amat lihay dan hebat sekali. Meski ilmu silat Liok Lip-ting amat tinggi, betapa pun dia kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, tahu2 hawa pedang musuh yang dingin itu sudah menyambar lehernya. Dalam keadaan begitu jelas dia tidak akan mampu menangkis atau menyelamatkan diri, terpaksa dia pejamkan mata menunggu ajal.
“Trangg…!”
Tiba-tiba seseorang telah menangkis pedang yang menyerang lehernya itu, waktu Lip-ting membuka mata, dia melihat nyonya setengah baya tadi sedang menempur si To-koh dengan bersenjatakan sebatang pedang panjang.
Nyonya itu berpakaian warna abu2, sementara si To-koh muda mengenakan jubah kuning. Tampak bayangan abu-abu dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diselingi sambaran sinar kemilau yang berhawa dingin. Demikian sengit pertempuran itu, namun tidak terdengar suara benturan kedua senjata mereka.
Betapa pun juga Liok Lip-ting keturunan keluarga persilatan, meski pun gerak-gerik kedua orang yang bertempur itu sangat cepat, setiap jurus dan tipu serangan kedua pihak dapat diikutinya dengan jelas.
Tampak To-koh itu menyerang dan menjaga diri dengan rapat, ganti-berganti dia mainkan ilmu pedangnya yang amat hebat. Sebaliknya si Nyonya melayaninya dengan tenang dan mantap, setiap kesempatan pasti tidak disia-siakan untuk segera melancarkan serangan yang mematikan.
“Tringg…!”
Tiba-tiba terdengar suara, dua pedang beradu, pedang di tangan kiri si To-koh mencelat terbang ke udara. Sebat sekali dia melompat mundur dan keluar dari arena pertempuran, mukanya yang putih halus bersemu merah, matanya mendelik gusar, bentaknya:
“Aku mendapat perintah guru untuk membunuh habis keluarga Liok, apa sangkut pautnya dengan kau?”
Nyonya itu menjengek dingin: “Kalau gurumu berani dan punya kepandaian, seharusnya dia mencari Liok Tian-goan sendiri. Sekarang dia telah mati, tapi gurumu tidak tahu malu mencari perkara kepada keturunannya!”
Si To-koh kebutkan lengan bajunya, tiga batang jarum langsung menyambar, dua batang menyambar si nyonya, ada pun jarum ketiga menyerang Liok Lip-ting yang berdiri di pekarangan. Serangan mendadak dan cepat lagi. Lekas si nyonya ayunkan pedangnya menangkis, terdengar Liok Lip-ting menggerung gusar, dua jarinya dapat menjepit batang jarum yang menyerang tenggorokannya itu.
Si To-koh tersenyum dingin, dengan tangkas dia jumpalitan terus keluar. Tiba2 terdengar suitan panjang di kejauhan sana, kiranya dalam sekejap saja dia telah berlari puluhan tombak jauhnya.
Melihat Ginkang orang begitu hebat, nyonya itu pun rada tercengang, lekas dia melompat turun kembali ke dalam ruangan. Melihat Liok Lip-ting sedang memegang sebatang jarum, segera dia berseru:
“Lekas buang!”
Sekarang Liok Lip-ting tidak curiga lagi pada si nyonya, dia lemparkan jarum itu ke tanah. Cepat nyonya itu mengeluarkan seutas tali kain dari dalam bajunya terus mengikat pergelangan tangan Lip-ting dengan kencang.
Baru sekarang Liok Lip-ting dibuat kaget, serunya: “Jarum itu berbisa?”
“Ya, racun yang tiada bandingannya,” sahut nyonya itu, lalu dia keluarkan sebutir pil dan suruh Lip-ting menelannya.
Liok Lip-ting rasakan kedua jarinya sudah mati rasa, tak lama kemudian melepuh sebesar lebah. Lekas si nyonya bekerja mengirisnya dengan ujung pedang, segera mengalir keluar darah yang berwana hitam dan berbau busuk.
Sungguh Liok Lip-ting terkejut bukan kepalang, batinnya: “Jariku tidak lecet atau terluka, hanya tersentuh sedikit saja, tapi racun sudah bekerja sedemikian lihay. Kalau jariku kena tertusuk sedikit saja, jiwaku tentu sudah melayang!”
Baru sekarang nyonya itu sempat memayang Liok-toanio, lalu ia memeriksa luka-lukanya. Ternyata Hui-tiong-hiat di bagian lututnya masing2 terkena sambitan sebatang jarum, tapi jarum2 ini adalah jarum emas milik Liok Lip-ting yang biasanya untuk menolong orang.
Meski bencana belum berlalu, namun hati Liok Lip-ting rada bersyukur. Untuk sementara keluarganya masih dalam keadaan selamat. Waktu ia berpaling melihat ketiga mayat tadi, berkobar pula amarahnya di samping bergetar hatinya.
Ternyata tiga mayat itu tak lain dan tak bukan adalah Liong, So dan Cu-piauthau dari An-wan Piaukiok. Waktu ia periksa luka mereka bertiga, dilihatnya jarum2 yang dia gunakan kini sudah berpindah tempat. Semula tusukan jarumnya untuk menghilangkan rasa sakit, kini menusuk pada Hiat-to yang mematikan.
Cukup sebatang saja sudah sangat menderita, apa lagi tertusuk sembilan batang! Cuma tusukan jarum pada badan Liong-piauthau rada meleset, maka jiwanya belum melayang, sorot matanya memancarkan rasa belas kasihan, se-olah2 mohon pertolongan pada Liok Lip-ting.
Liok Lip-ting tidak tega, tapi melihat luka2-nya, meski ada obat dewa sekali pun tak akan dapat menolong jiwanya. Katanya sambil menghela napas:
“Liong-piauthau, berangkatlah dengan tenang.”
Liong-piauthau menarik napas panjang, dia angkat badan bagian atas, katanya tersendat:
“Liok... Liok-ya, aku tiada harapan lagi, lekaslah kau lari. Iblis itu berkata, di kolong langit ini hanya Liok Tian-goan yang boleh mengobati aku, putera tunggalnya pun tidak boleh... kau lekas lari, sebentar dia akan tiba!”
Beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara lirih hampir tidak terdengar, dalam sekejap lain ia pun sudah menutup mata dan berhenti bernapas. Nyonya itu mendengus gusar:
“Hm, iblis keparat! Iblis keparat!”
Liok Lip-ting menjura serta bertanya: “Aku punya mata tapi tak bisa melihat, mohon tanya siapa she dan nama Toanio?”
“Suamiku she Bu,” sahut nyonya itu.
“Kiranya tepat dugaanku. Melihat kepandaian It-yang-ci Toanio tadi, sudah lantas kuduga pastilah anak murid It-teng Taysu dari Tayli di Hun-lam. Silahkan Toanio masuk ke dalam menikmati secangkir teh.”
Maka mereka lantas masuk ke dalam rumah. Liok Lip-ting membopong Bu-siang. Melihat mukanya pucat, namun sedapatnya menahan sakit, tidak menangis dan tidak mengeluh, timbul rasa kasih sayang Lip-ting yang tak terhingga kepada puteri tunggalnya ini.
Bu Sam-nio, nyonya tadi, berkata: “Begitu murid iblis itu pergi, gembong iblis itu segera akan datang sendiri. Liok-ya, bukan aku pandang rendah dirimu, tetapi kalau cuma tenaga kalian berdua suami isteri, meski ditambah aku seorang juga bukan tandingan iblis ganas itu. Kukira lari pun tak akan berguna, maka terpaksa kita pasrah nasib, biarlah kita tunggu kedatangannya di sini saja.”
Liok-toanio bertanya: “Sebetulnya orang macam apakah gembong iblis itu? Ada dendam permusuhan apa pula dengan keluarga kita?”
Bu Sam-nio melirik kepada Liok Lip-ting, katanya kemudian: “Memangnya Liok-ya belum pernah menjelaskan kepadamu?”
“Katanya persoalan menyangkut mertuaku yang telah meninggal. Sebagai putera yang berbakti, tidak enak membicarakan persoalan ayah bundanya. Dia sendiri pun tidak begitu jelas akan seluk-beluk persoalan ini,” tutur Liok-toanio.
“Di situlah soalnya,” ujar Bu Sam-nio menghela napas, “Aku orang luar, tak ada halangan jika kuterangkan. Mertuamu Liok Tian-goan, Liok-loenghiong, pada waktu mudanya adalah pemuda ganteng. Dia disebut pemuda romantis nomor satu di kalangan Bu-lim. Gembong iblis Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu...”
Mendengar nama Li Bok-chiu disebut, Liok Lip-ting seketika merinding seperti dipagut ular berbisa. Bu Sam-nio melihat perubahan air muka orang, katanya lebih lanjut:
“Sekarang kaum persilatan bila menyinggung nama Jik-lian-sian-ci pasti langsung gemetar ketakutan, tapi puluhan tahun yang lampau dia adalah gadis rupawan yang halus budi dan lemah lembut. Mungkin memang sudah takdir, begitu bertemu dengan mertuamu, hatinya lantas jatuh cinta. Tapi belakangan, setelah mengalami berbagai rintangan, perubahan dan pertikaian, akhirnya mertuamu itu menikah dengan Ho Wan-kun, yaitu mertua perempuan sekarang. Bicara tentang mertua perempuanmu, mau tidak mau aku harus menyinggung suamiku juga. Soal ini cukup memalukan bila dituturkan, tapi keadaan hari ini sudah amat mendesak, terpaksa aku tidak perlu menyimpan rahasia lagi.”
Sejak kecil Liok Lip-ting sudah mendengar penuturan ayah bundanya bahwa selama hidup mereka mempunyai dua musuh besar yang paling tangguh. Seorang adalah Jik-lian-sian-cu, seorang lain adalah Bu Sam-thong, salah seorang murid kesayangan It-teng Taysu dari negeri Tayli di Hun-lam. Semula It-teng Taysu adalah raja negeri Tayli, akan tetapi ia meninggalkan takhta dan mencukur rambut menjadi Hwesio, lalu menerima empat murid, satu di antaranya ialah Bu Sam-thong!
Pada waktu mudanya Bu Sam Thong menjabat pangkat yang tinggi di negeri Tayli. Cuma bagaimana Liok Tian-goan suami isteri sampai bisa mengikat permusuhan dengan dia tak pernah dituturkan kepada puteranya. Maka sewaktu melihat Bu Sam-nio menggunakan It-yang-ci menyambung tulang kaki puterinya yang patah tadi, tentu saja Liok Lip-ting kaget dan curiga. Tak nyana Bu Sam-nio malah membantu menghalau murid Jik Lian-sian-cu dan menolong jiwanya, hal ini sungguh di luar dugaannya.
Bu Sam-nio mengelus pundak anak laki-laki yang terluka jidatnya itu, matanya mendelong mengawasi api lilin:
“Suamiku dan mertuamu sejak kecil bertentangan, hubungan mereka sangat intim, meski sifat2 mereka tidak cocok namun suamiku amat mencintainya. Siapa tahu akhirnya dia menikah dengan mertuamu. Saking gusar suamiku lantas minggat jauh ke Tayli, menjabat panglima pemimpin tentara, menjadi anak buah Toan-hongya. Pernah suamiku bertemu dengan mertuamu, lantas terjadilah perang tanding yang seru. Suamiku memang berangasan dan terlalu mengumbar nafsu karena patah hati. Akhirnya dia bukan tandingan mertuamu, sejak itu tindak tanduknya agak sinting, baik sahabat karibnya atau aku sendiri tak dapat menyadarkan dia, Dulu dia pernah berjanji dengan mertuamu bahwa lima belas tahun kemudian akan bertanding lagi, siapa tahu kedatangannya kali ini, kedua mertuamu sudah meninggal.”
Liok Lip-ting amat gusar, serunya sambil menggablok meja: “Kalau dia punya kepandaian, mengapa tidak datang sejak dulu, kini setelah tahu ayahku sudah almarhum baru meluruk datang dan menculik jenazahnya, terhitung perbuatan orang gagah macam apa?”
“Omelan Liok-ya memang benar,” ujar Bu Sam-nio. “Suamiku memang sudah kehilangan kesadarannya, tingkah laku dan tutur katanya sudah tidak genah lagi. Hari ini sengaja aku membawa kedua anakku ini kemari, bukan lain adalah hendak mencegah perbuatannya yang tidak karuan. Di dunia sekarang ini, mungkin hanya aku seorang saja yang rada ditakutinya.”
Sampai di sini segera ia berkata kepada dua puteranya: ”Lekas menyembah kepada Liok-ya dan Liok-toanio.”
Kedua anak laki2 itu segera berlutut dan menyembah. Liok-toanio cepat membimbingnya bangun dan menanyakan nama mereka. Yang jidatnya terluka bernama Bu Tun-ji, usianya dua belas tahun, adiknya bernama Bu Siu-bun, satu tahun lebih muda.
“Sungguh tak nyana suamiku tidak kunjung tiba, malah Jik-lian-sian-pu keburu membuat perkara di rumahmu... ai,” demikian kata Bu Sam-nio lebih lanjut, “Dua pihak sama2 tidak dapat melupakan cinta masa lalu, cuma yang satu lelaki dan yang lain perempuan.”
Baru saja dia bicara sampai di sini, mendadak di atas rumah ada orang berteriak: “Anak Ji, anak Bun, ayo keluar!”
Suara ini datangnya tiba-tiba, sedikit pun tidak terdengar suara langkah di atas genteng, mendadak suaranya berkumandang di tengah malam buta, maka keruan Liok Lip-ting suami istri sangat kaget. Mereka tahu Bu Sam-thong telah tiba, Thia Eng dan Liok Bu-siang pun kenal suara si orang gila yang mereka temui siang tadi.
Tampak sesosok bayangan berkelebat. Bu Sam-thong melompat turun, seorang satu tangan, ia angkat kedua puteranya terus lari secepat angin, sebentar saja ia sudah tiba di hutan pohon Liu. Tiba-tiba ia menurunkan Bu Siu-bun, dengan hanya membawa Bu Tun-ji bayangannya lantas lenyap dalam sekejap mata, putera kecilnya dia tinggal begitu saja di hutan itu.
Bu Siu-bun berteriak2: “Ayah…! Ayah…!”
Tapi Bu Sam-thong sudah menghilang, terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan:
“Kau tunggu di situ, sebentar aku kembali menjemput kau.”
Bu Siu-bun tahu tindak tanduk ayahnya rada sinting, maka dia tidak heran. Tetapi seorang diri berada dalam hutan yang gelap, hatinya rada takut, namun jika teringat sebentar lagi sang ayah akan kembali, maka dengan termenung ia duduk saja di bawah pohon.
Duduk punya duduk, teringat olehnya akan kata-kata ibunya bahwa ada musuh lihay yang hendak menuntut balas, dan belum tentu sang ibu bisa menandingi lawan. Meski usianya masih kecil, tapi Siu-bun sudah tahu berkuatir akan keselamatan ibunya. Setelah menanti sekian lama dan sang ayah tidak kunjung datang juga, akhirnya dia bergumam sendiri: “Biar aku pulang mencari ibu saja!” lalu ia menggeremet dan meraba-raba menuju ke arah datangnya tadi.
Bocah kecil berada di hutan seorang diri, apa lagi malam sangat pekat, mana bisa menentukan arah dan tujuan? Semakin jalan ia justru menuju ke arah hutan belukar yang makin dalam. Akhirnya sampailah dia di sebuah lekukan gunung, di bawah adalah selokan setinggi tujuh delapan tombak, selayang pandang sekelilingnya tampak hitam melulu. Saking gugup dan ketakutan Bu Siu-bun lantas berteriak:
“Ayah, ayah...! Ibu, ibu...!”
Terdengar gema suaranya berkumandang di lembah pegunungan. Di saat hatinya cemas dan gundah itulah tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang memualkan disusul hembusan angin kencang. Di tengah kegelapan tampak dua titik sinar seperti pelita minyak bergerak ke arahnya.
Bu Siu-bun heran. Mendadak didengarnya suara gerengan yang keras, kedua titik terang seperti sinar pelita itu memburu cepat ke arahnya. Sungguh kaget bukan kepalang, teriaknya:
“Harimau!”
Tanpa banyak pikir segera dia melompat ke atas menangkap dahan pohon terus merayap naik dengan mengerahkan segenap tenaganya. Terasa pantatnya se-o!ah2 kena terpukul oleh sesuatu, segera kaki tangan bekerja sekuat tenaga merambat ke puncak pohon.
Didengarnya binatang buas itu menggerung2 sambil berputar2 mengitari pohon. Melihat binatang itu tidak dapat naik ke atas pohon, barulah hati Siu-bun sedikit lega. Tiba2 terasa pantatnya pedas dan perih, waktu ia merabanya, ternyata celananya telah robek tercakar kaki harimau, dasar bocah nakal, segera teringat olehnya akan cerita ibunya bahwa harimau tidak bisa naik pohon, maka sambil menuding ke bawah ia lantas memaki kalang kabut:
“Harimau keparat, harimau brengsek, harimau busuk!”
Mendengar suara manusia, harimau itu menggerung semakin keras. Begitulah satu sama lain bertahan di atas dan berputar di bawah pohon, meski Bu Siu-bun sangat mengantuk dan letih, mana dia berani tidur? Sebentar lagi hari akan terang tanah, maka pandangan keadaan sekelilingnya mulai jelas.
Semula dia tidak berani langsung mengawasi harimau di bawahnya, namun akhirnya dia membesarkan nyali menunduk ke bawah. Saking terkejutnya hampir saja dia terjungkal jatuh dari atas pohon. Ternyata harimau loreng di bawah itu kira-kira sebesar anak sapi, duduk menengadah sambil menyeringai buas, matanya menatap dengan penuh nafsu, mulutnya melelehkan liur kental.
Memang harimau itu sedang sangat kelaparan. Menunggu semalam suntuk tanpa dapat mencaplok mangsa di depan mata, maka rasa laparnya makin menambah kebuasannya. Mendadak dia menggerung sekeras-kerasnya terus menerjang ke atas. Lompatan ini satu tombak lebih tingginya, cakar depannya berhasil mencapai batang pohon sehingga sesaat lamanya badannya tergantung di tengah udara. Harimau ini cukup besar dan rada gemuk, berat badannya tak kurang dari dua ratus kati, sudah tentu batang pohon itu tak kuat menahan berat badannya.
“Pletak!”
Sekali membal dahan pohon itu patah dan jatuh ke bawah. Bu Siu-bun ikut terpental dan terjungkal ke bawah. Sejak kecil dia dididik ilmu silat oleh ayah bundanya, maka waktu meluncur ke bawah dia bisa kendalikan badan lantas menggelinding ke samping, sedikit pun tidak terluka. Begitu merangkak bangun segera dia lari sipat kuping. Tanpa hiraukan rasa sakitnya, harimau itu segera mengejar dengan kencang.
Walau Bu Siu-bun sudah punya dasar latihan Ginkang, tetapi usianya masih kecil, lagi pula kakinya pendek, maka langkahnya tidak bisa cepat dan jauh, mana bisa menandingi kecepatan lari seekor harimau.
Terpaksa dia lari berputar-putar mengitari pohon. Dia bermain petak umpet dengan pengejarnya, Kalau lari lurus harimau itu memang sangat cepat dan gesit, tetapi untuk putar-putar dan main menyelinap kian kemari gerak geriknya menjadi lamban. Maka gerungannya makin keras, ia menubruk membabi buta, debu pasir dan dedaunan beterbangan.
Melihat harimau itu tidak bisa berbuat apa2 terhadap dirinya, Bu Siu-bun menjadi senang. Sambil memaki kalang kabut dia berlari lagi berputar mengelilingi pohon dan batu. Saking senangnya sehingga kurang ber-hati2 dan menginjak sebutir batu bundar, kontan ia tergelincir dan jatuh, Tanpa ayal harimau itu lantas menubruk ke arahnya. Bu Siu-bun berteriak:
“Ibu, ibu…!”
Sekonyong-konyong dua gulung bayangan hitam meluncur dari angkasa menubruk ke arah dirinya, tahu2 harimau itu terangkat naik ke udara, menyusul badan sendiripun ikut terapung ke angkasa.
Kaget dan takut pula Bu Siu-bun. Waktu dia membuka mata, pohon di bawah tampak menjadi kecil, dirinya sedang terbang di-awang2. Waktu dia menengadah ternyata seekor burung besar mencengkeram punggung bajunya sedang terbang dengan pentang sayap yang lebar.
Semula hatinya amat takut, tetapi tak lama kemudian dia merasa burung raksasa itu tidak bermaksud jahat. Tiba-tiba didengarnya gerungan keras di sebelah belakang. Ia berpaling, tampak harimau besar itu dicengkeram oleh seekor burung raksasa lainnya dan dibawa terbang juga, kakinya mencak-mencak sambil menggerung keras, cakar burung raksasa itu mencengkeram kuduk dan pangkal ekornya hingga tergantung di udara.
Sekali mengembangkan kedua sayap, burung raksasa di belakang itu terbang lebih tinggi memasuki awan, lalu tiba2 cengkeraman kedua cakarnya dilepaskan. Kontan harimau itu meluncur jatuh ke bawah dari ketinggian ratusan tombak dan akhirnya terbanting hancur lebur.
Melihat adegan yang sangat mengerikan ini, seketika Bu Siu-bun berteriak kaget, teringat olehnya: “Kalau burung besar ini pun melepaskan diriku, mustahil aku tidak akan hancur lebur?” Karena takut cepat ia memeluk ujung kaki burung besar itu.
Se-konyong2 terdengar lengking suitan panjang di bawah, suaranya nyaring dan merdu, terang suitan dari mulut perempuan. Kedua ekor burung besar itu perlahan terbang turun, lalu meletakkan Bu Siu-bun di atas tanah.
Gesit sekali Siu-bun melompat bangun. Tampak sekelilingnya pohon Liu melulu, bumi seperti ditabur bunga yang mekar beraneka warna, sungguh suatu tempat yang indah dan permai. Dari balik pohon berlenggang keluar seorang anak perempuan, sekilas dia melirik kepada Bu Siu-bun, lalu dia tepuk2 kedua paha burung besar tadi, katanya:
“Tiau-ji elok, Tiau-ji bagus!”
Bu Siu-bun membatin: “Kiranya kedua burung ini bernama ‘Tiau-ji’ (rajawali).”
Dilihatnya kedua burung itu berdiri gagah dan angker, jauh lebih besar dan tinggi dari pada anak perempuan itu. Usia Bu Siu-bun masih kecil, belum paham berterima kasih, katanya sambil mendekat anak perempuan itu:
“Apakah kedua ekor Tiau-ji ini peliharaanmu?”
Anak perempuan itu mencibirkan bibir, sikapnya memandang hina, jengeknya: “Aku tidak kenal kau, tidak sudi bermain dengan kau!”
Bu Siu-bun tak peduli akan sikap kasar orang, ia mengulur tangan mengelus kaki burung besar itu. Mendadak anak perempuan itu bersiul ringan, sayap burung besar itu langsung terpentang dan menyapu dengan ringan, kontan Bu Siu-bun tersabet sehingga jumpalitan dan terguling di tanah, kemudian kedua ekor burung itu segera terbang rendah menubruk ke arah mayat harimau tadi dan mulai berpesta pora.
Cepat Bu Siu-bun melompat bangun lantas mengawasi kedua rajawali itu, hatinya sangat tertarik, katanya:
“Sepasang burung ini amat bagus, mau mendengarkan perintahmu, jika pulang nanti biar aku pun minta ayah menangkapnya sepasang untukku!”
Anak perempuan itu mendengus: “Hm, memangnya ayahmu mampu menangkapnya?”
Sesudah berulang-ulang menghadapi sikap yang kurang simpatik, kini barulah Bu Siu-bun sempat mengamati anak perempuan di hadapannya ini. Anak ini mengenakan pakaian yang sangat mewah, lehernya mengenakan kalung mutiara sebesar kelengkeng, kulit mukanya halus putih seperti air susu, biji matanya jeli, mulutnya kecil mungil.
Sepasang biji mata anak perempuan itu pun sedang mengawasi seluruh badan Bu Siu-bun, tanyanya:
“Siapa namamu? Mengapa keluar bermain seorang diri, tidak takut digigit harimau?”
“Aku bernama Bu Siu-bun, sedang menunggu ayahku. Dan siapa namamu?”
Anak perempuan itu mencibirkan bibir, katanya: “Aku tidak bermain dengan anak liar!” lalu dia putar badan tinggal pergi.
Bu Siu-bun tertegun, “Aku bukan anak liar!” teriaknya sambil mengintil,
Melihat usia anak perempuan itu dua-tiga tahun lebih muda, badan rendah kaki pendek, ia pikir untuk mengejar tentu tidak sukar, tapi siapa tahu, baru saja ia kembangkan ginkang, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya anak perempuan itu sudah lari tujuh-delapan tombak jauhnya, sehingga dirinya ketinggalan jauh di belakang.
Setelah lari beberapa langkah lagi, tiba-tiba anak perempuan itu berhenti. Katanya sambil berpaling:
”Hm, kau mampu mengejarku?”
Sambil berlari Bu Siu-bun menyahut: “Tentu bisa!”
Anak perempuan itu putar badan terus lari kencang lagi, tiba-tiba ia menyelinap ke depan dan bersembunyi di belakang pohon. Tidak lama kemudian Bu Siu-bun sudah menyusul, sesudah dekat, tiba2 kaki kiri anak dara itu diulur keluar menjegal kaki orang.
Bu Siu-bun tidak berjaga-jaga, kontan badannya doyong ke depan. Cepat ia gunakan cara mengendalikan keseimbangan badan, tapi tahu-tahu kaki kanan anak perempuan itu telah mendepak sekali lagi pada pantatnya. Tanpa ampun Bu Siu-bun jatuh terjungkal sehingga hidungnya menerjang sepotong batu runcing. Darah segera membasahi pakaiannya.
Melihat darah bercucuran, anak perempuan itu menjadi gugup juga. Tiba-tiba didengarnya orang membentak di belakangnya:
“Hu-ji, kau nakal lagi dan menganiaya orang ya?”
Anak perempuan itu tak berpaling, sahutnya: “Siapa bilang? Dia jatuh sendiri, peduli amat dengan aku? Jangan kau sembarangan lapor kepada ayah lho!”
Bu Siu-bun meraba hidung, sebetulnya tidak sakit, namun melihat dua tangan berlepotan darah, hatinya gugup juga. Mendengar anak perempuan itu bicara dengan orang, segera ia angkat kepala. Dilihatnya seorang kakek pincang dan bertongkat, rambut sudah jarang2 dan jenggot pun sudah ubanan, badannya kurus kerempeng, namun semangatnya masih menyala-nyala. Terdengar orang tua itu mendengus:
“Jangan kau sangka mataku buta tidak bisa melihat, apa yang terjadi dapat kudengar dengan jelas. Kau budak kecil ini sekarang sudah begini nakal, kelak kalau sudah besar pasti lebih nakal lagi.”
Anak perempuan itu maju menghampiri serta menarik lengan si kakek, katanya memohon dan merengek:
“Kongkong, jangan kau katakan kepada ayah ya? Hidungnya keluar darah, lekas kau mengobatinya!”
Kakek pincang itu maju setapak, sekali raih dia tangkap lengan Bu-siau-bun, lalu memijat beberapa kali di Bun-hiang-hiat di samping hidungnva, hanya sekali urut dan usap, darah kontan berhenti mengalir. Terasa oleh Bu Siu-bun jari2 tangan orang seperti jepitan besi mencengkeram lengannya, hatinya menjadi takut, ia meronta, tetapi sedikit pun tak dapat bergeming.
Perlahan tangannya ditarik lalu diputar. Dia lancarkan Siau-kim-na-jiu-hiat yang diajarkan oleh ibunya, telapak tangannya ikut berputar setengah lingkaran, terus melintir dari dalam untuk melepaskan pegangan si kakek.
Kakek itu tidak menduga dan berjaga-jaga, sungguh tak nyana bocah sekecil ini ternyata membekal ilmu silat selincah itu. Karena gerakan ronta membalik itu, pegangannya terlepas. Sambil bersuara heran tangannya menyambar lagi menangkap tangan orang. Bu Siu-bun kerahkan sepenuh tenaganya berusaha membebaskan diri, namun pegangan orang tak bergeming lagi.
“Adik kecil, jangan takut,” kata kakek itu, “Aku tidak melukai kau, kau she apa?”
“Aku she Bu,” jawab Siu-bun.
Kakek itu menengadah seperti mengingat-ingat sesuatu, lalu katanya menegas: “She Bu? Ayahmu murid It-teng Taysu bukan?”
Bu Siu-bun berjingkrak girang, “Ya, apa kau kenal Hong-ya kami? Kau pernah melihatnya tidak? Aku sendiri tidak pernah melihatnya.”
“Di manakah ayah bundamu? Mengapa kau kelayapan seorang diri di sini?” kata si kakek sambil melepaskan tangannya.
Bu Siu-bun mewek-mewek ingin menangis teringat pada kejadian semalam dan terkenang kepada ayah ibunya.
Anak perempuan itu lantas mengolok-olok: “Cis, tidak tahu malu, sudah besar masih suka menangis.”
Bu Siu-bun tegakkan kepala dan berkata: “Hm, siapa bilang aku menangis.”
Lalu dia ceritakan bahwa ibunya sedang menunggu kedatangan musuh di Liok-keh-cheng. Ayah entah pergi kemana membawa kakaknya, lantas dirinya kepergok harimau buas itu. Karena gugup dan pikiran tidak tenang, ceritanya putar balik tak teratur, namun kakek itu dapat memahami sebagian besar, tanyanya:
“Tahukah kau siapa musuh yang di tunggu ayah bundamu?”
“Sepertinya bernama Jik-lian-coa apa, pakai Chiu apa lagi,” tutur Siu-bun.
Kakek itu menengadah pula, mulutnya menggumam: “Jik-lian-coa apa?” lalu mendadak ia ketuk tongkat besinya di atas tanah, teriaknya keras: “Pastilah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu adanya!”
“Betul, betul!” Bu Siu-bun bersorak gembira, “Memang Jik-lian-sian-cu.”
Karena tebakan si kakek yang tepat itu, maka ia kegirangan, tapi si kakek ternyata amat tegang, katanya:
“Kalian berdua boleh bermain di sini, setapak pun jangan meninggalkan tempat ini, biar kutengok kesana!”
“Kongkong, aku ikut kau!” rengek anak perempuan tadi.
Kakek itu menjadi gugup: “Ai, ai, tidak boleh! Iblis perempuan itu sangat jahat, aku sendiri bukan tandingannya. Soalnya tahu teman baik sedang menghadapi bahaya, terpaksa aku harus menyusul kesana, Kalian harus menurut kataku.” Habis berkata segera dia berlalu dengan langkah terincang-incut.
Meski pincang, tapi dengan bantuan tongkat besi segera ia kembangkan Ginkang, larinya amat cepat, tidak kalah dari pada tokoh2 silat kelas tinggi.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Liok Lip-ting semula menyangka puterinya telah dicelakai orang, kini melihat hanya tulang kaki yang patah, hatinya rada lega, bertanya kepada istrinya:
“Kau tidak apa-apa bukan?”
Liok-toanio menggeleng kepala. Dia sobek lengan bajunya untuk membalut jidat anak laki-laki yang terluka itu. Ia ingin memeriksa luka kaki puterinya, tak terduga baru saja melangkah, kaki sendiri terasa linu lemas, tanpa kuasa ia jatuh terduduk.
Nyonya setengah baya itu menotok Hiat-to Pek-hay-hiat dan Hwi-tiong-hiat di kedua paha Liok Bu-siang untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangannya menekan pada kedua sisi tulang yang patah untuk menyambungnya.
Melihat gerak-gerik orang yang sangat cekatan, ilmu totoknya terang tingkat tinggi, makin curigalah Liok Lip-ting, serunya:
“Siapakah Toanio ini? Ada petunjuk apa berkunjung ke sini?”
Seluruh perhatian nyonya itu tumplek untuk menyambung tulang kaki Liok Bu-siang yang patah, sedikit pun tidak menghiraukan pertanyaannya. Diam-diam Liok Lip-ting perhatikan tangan kiri orang yang memegangi kaki puterinya, sementara tangan kanan diangkat dan diputar setengah lingkaran terus menotok turun pelan-pelan. Inilah gerakan It-yang-ci yang menurut cerita ayahnya merupakan kepandaian khas musuh besarnya, maka tanpa ragu2 lagi kedua telapak tangan Liok Lip-ting terus menghantam ke punggung orang.
Mendengar deru angin dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menotok Pek-hay-hiat Liok Bu-siang, telapak tangan lain menepuk balik ke belakang menangkis pukulan Liok Lip-ting. Kontan Liok Lip-ting merasakan tenaga dahsyat mendorong ke arah dirinya, seketika dada terasa sesak, tanpa kuasa ia tergentak mundur dua langkah.
Karena menggunakan telapak tangan kiri, maka si nyonya tak dapat memegangi sebelah kaki Liok Bu-siang sehingga telunjuk jarinya yang menotok turun itu turut tergetar miring. Tulang kaki Liok Bu-siang yang patah kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh pingsan lagi.
Pada saat itulah dari atas genteng terdengar suara tertawa, serunya: “Aku hanya membunuh sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar harap segera keluar!”
Pada saat Liok Lip-ting angkat kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang To-koh, di bawah sinar bulan yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, dan di punggungnya terselip sepasang pedang. Liok Lip-ting cepat berseru lantang:
“Aku inilah Liok Lip-ting, apa Toyu datang dari Jik-lian-to?”
Si To-koh mendengus: “Baik sekali jika kau sudah tahu, lekas kau bunuh isteri dan puteri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu turun tangan!”
Sikapnya congkak, kata2-nya pedas, sedikit pun tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah. Meski Liok Lip-ting tidak pernah angkat nama di kalangan Kangouw, betapa pun juga dia keturunan seorang pendekar besar, mana mandah dihina di hadapan orang luar, segera ia memburu keluar dan melompat ke atas seraya membentak:
“Biar kau kenal dulu kelihayanku!”
Sikap si To-koh acuh tak acuh. Di saat kedua kaki Liok Lip-ting sudah hampir menginjak genteng, badan masih terapung di udara, mendadak kedua pedangnya bergerak laksana bianglala, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah mengurung seluruh badannya.
Serangan sepasang pedang ini amat lihay dan hebat sekali. Meski ilmu silat Liok Lip-ting amat tinggi, betapa pun dia kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, tahu2 hawa pedang musuh yang dingin itu sudah menyambar lehernya. Dalam keadaan begitu jelas dia tidak akan mampu menangkis atau menyelamatkan diri, terpaksa dia pejamkan mata menunggu ajal.
“Trangg…!”
Tiba-tiba seseorang telah menangkis pedang yang menyerang lehernya itu, waktu Lip-ting membuka mata, dia melihat nyonya setengah baya tadi sedang menempur si To-koh dengan bersenjatakan sebatang pedang panjang.
Nyonya itu berpakaian warna abu2, sementara si To-koh muda mengenakan jubah kuning. Tampak bayangan abu-abu dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diselingi sambaran sinar kemilau yang berhawa dingin. Demikian sengit pertempuran itu, namun tidak terdengar suara benturan kedua senjata mereka.
Betapa pun juga Liok Lip-ting keturunan keluarga persilatan, meski pun gerak-gerik kedua orang yang bertempur itu sangat cepat, setiap jurus dan tipu serangan kedua pihak dapat diikutinya dengan jelas.
Tampak To-koh itu menyerang dan menjaga diri dengan rapat, ganti-berganti dia mainkan ilmu pedangnya yang amat hebat. Sebaliknya si Nyonya melayaninya dengan tenang dan mantap, setiap kesempatan pasti tidak disia-siakan untuk segera melancarkan serangan yang mematikan.
“Tringg…!”
Tiba-tiba terdengar suara, dua pedang beradu, pedang di tangan kiri si To-koh mencelat terbang ke udara. Sebat sekali dia melompat mundur dan keluar dari arena pertempuran, mukanya yang putih halus bersemu merah, matanya mendelik gusar, bentaknya:
“Aku mendapat perintah guru untuk membunuh habis keluarga Liok, apa sangkut pautnya dengan kau?”
Nyonya itu menjengek dingin: “Kalau gurumu berani dan punya kepandaian, seharusnya dia mencari Liok Tian-goan sendiri. Sekarang dia telah mati, tapi gurumu tidak tahu malu mencari perkara kepada keturunannya!”
Si To-koh kebutkan lengan bajunya, tiga batang jarum langsung menyambar, dua batang menyambar si nyonya, ada pun jarum ketiga menyerang Liok Lip-ting yang berdiri di pekarangan. Serangan mendadak dan cepat lagi. Lekas si nyonya ayunkan pedangnya menangkis, terdengar Liok Lip-ting menggerung gusar, dua jarinya dapat menjepit batang jarum yang menyerang tenggorokannya itu.
Si To-koh tersenyum dingin, dengan tangkas dia jumpalitan terus keluar. Tiba2 terdengar suitan panjang di kejauhan sana, kiranya dalam sekejap saja dia telah berlari puluhan tombak jauhnya.
Melihat Ginkang orang begitu hebat, nyonya itu pun rada tercengang, lekas dia melompat turun kembali ke dalam ruangan. Melihat Liok Lip-ting sedang memegang sebatang jarum, segera dia berseru:
“Lekas buang!”
Sekarang Liok Lip-ting tidak curiga lagi pada si nyonya, dia lemparkan jarum itu ke tanah. Cepat nyonya itu mengeluarkan seutas tali kain dari dalam bajunya terus mengikat pergelangan tangan Lip-ting dengan kencang.
Baru sekarang Liok Lip-ting dibuat kaget, serunya: “Jarum itu berbisa?”
“Ya, racun yang tiada bandingannya,” sahut nyonya itu, lalu dia keluarkan sebutir pil dan suruh Lip-ting menelannya.
Liok Lip-ting rasakan kedua jarinya sudah mati rasa, tak lama kemudian melepuh sebesar lebah. Lekas si nyonya bekerja mengirisnya dengan ujung pedang, segera mengalir keluar darah yang berwana hitam dan berbau busuk.
Sungguh Liok Lip-ting terkejut bukan kepalang, batinnya: “Jariku tidak lecet atau terluka, hanya tersentuh sedikit saja, tapi racun sudah bekerja sedemikian lihay. Kalau jariku kena tertusuk sedikit saja, jiwaku tentu sudah melayang!”
Baru sekarang nyonya itu sempat memayang Liok-toanio, lalu ia memeriksa luka-lukanya. Ternyata Hui-tiong-hiat di bagian lututnya masing2 terkena sambitan sebatang jarum, tapi jarum2 ini adalah jarum emas milik Liok Lip-ting yang biasanya untuk menolong orang.
Meski bencana belum berlalu, namun hati Liok Lip-ting rada bersyukur. Untuk sementara keluarganya masih dalam keadaan selamat. Waktu ia berpaling melihat ketiga mayat tadi, berkobar pula amarahnya di samping bergetar hatinya.
Ternyata tiga mayat itu tak lain dan tak bukan adalah Liong, So dan Cu-piauthau dari An-wan Piaukiok. Waktu ia periksa luka mereka bertiga, dilihatnya jarum2 yang dia gunakan kini sudah berpindah tempat. Semula tusukan jarumnya untuk menghilangkan rasa sakit, kini menusuk pada Hiat-to yang mematikan.
Cukup sebatang saja sudah sangat menderita, apa lagi tertusuk sembilan batang! Cuma tusukan jarum pada badan Liong-piauthau rada meleset, maka jiwanya belum melayang, sorot matanya memancarkan rasa belas kasihan, se-olah2 mohon pertolongan pada Liok Lip-ting.
Liok Lip-ting tidak tega, tapi melihat luka2-nya, meski ada obat dewa sekali pun tak akan dapat menolong jiwanya. Katanya sambil menghela napas:
“Liong-piauthau, berangkatlah dengan tenang.”
Liong-piauthau menarik napas panjang, dia angkat badan bagian atas, katanya tersendat:
“Liok... Liok-ya, aku tiada harapan lagi, lekaslah kau lari. Iblis itu berkata, di kolong langit ini hanya Liok Tian-goan yang boleh mengobati aku, putera tunggalnya pun tidak boleh... kau lekas lari, sebentar dia akan tiba!”
Beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara lirih hampir tidak terdengar, dalam sekejap lain ia pun sudah menutup mata dan berhenti bernapas. Nyonya itu mendengus gusar:
“Hm, iblis keparat! Iblis keparat!”
Liok Lip-ting menjura serta bertanya: “Aku punya mata tapi tak bisa melihat, mohon tanya siapa she dan nama Toanio?”
“Suamiku she Bu,” sahut nyonya itu.
“Kiranya tepat dugaanku. Melihat kepandaian It-yang-ci Toanio tadi, sudah lantas kuduga pastilah anak murid It-teng Taysu dari Tayli di Hun-lam. Silahkan Toanio masuk ke dalam menikmati secangkir teh.”
Maka mereka lantas masuk ke dalam rumah. Liok Lip-ting membopong Bu-siang. Melihat mukanya pucat, namun sedapatnya menahan sakit, tidak menangis dan tidak mengeluh, timbul rasa kasih sayang Lip-ting yang tak terhingga kepada puteri tunggalnya ini.
Bu Sam-nio, nyonya tadi, berkata: “Begitu murid iblis itu pergi, gembong iblis itu segera akan datang sendiri. Liok-ya, bukan aku pandang rendah dirimu, tetapi kalau cuma tenaga kalian berdua suami isteri, meski ditambah aku seorang juga bukan tandingan iblis ganas itu. Kukira lari pun tak akan berguna, maka terpaksa kita pasrah nasib, biarlah kita tunggu kedatangannya di sini saja.”
Liok-toanio bertanya: “Sebetulnya orang macam apakah gembong iblis itu? Ada dendam permusuhan apa pula dengan keluarga kita?”
Bu Sam-nio melirik kepada Liok Lip-ting, katanya kemudian: “Memangnya Liok-ya belum pernah menjelaskan kepadamu?”
“Katanya persoalan menyangkut mertuaku yang telah meninggal. Sebagai putera yang berbakti, tidak enak membicarakan persoalan ayah bundanya. Dia sendiri pun tidak begitu jelas akan seluk-beluk persoalan ini,” tutur Liok-toanio.
“Di situlah soalnya,” ujar Bu Sam-nio menghela napas, “Aku orang luar, tak ada halangan jika kuterangkan. Mertuamu Liok Tian-goan, Liok-loenghiong, pada waktu mudanya adalah pemuda ganteng. Dia disebut pemuda romantis nomor satu di kalangan Bu-lim. Gembong iblis Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu...”
Mendengar nama Li Bok-chiu disebut, Liok Lip-ting seketika merinding seperti dipagut ular berbisa. Bu Sam-nio melihat perubahan air muka orang, katanya lebih lanjut:
“Sekarang kaum persilatan bila menyinggung nama Jik-lian-sian-ci pasti langsung gemetar ketakutan, tapi puluhan tahun yang lampau dia adalah gadis rupawan yang halus budi dan lemah lembut. Mungkin memang sudah takdir, begitu bertemu dengan mertuamu, hatinya lantas jatuh cinta. Tapi belakangan, setelah mengalami berbagai rintangan, perubahan dan pertikaian, akhirnya mertuamu itu menikah dengan Ho Wan-kun, yaitu mertua perempuan sekarang. Bicara tentang mertua perempuanmu, mau tidak mau aku harus menyinggung suamiku juga. Soal ini cukup memalukan bila dituturkan, tapi keadaan hari ini sudah amat mendesak, terpaksa aku tidak perlu menyimpan rahasia lagi.”
Sejak kecil Liok Lip-ting sudah mendengar penuturan ayah bundanya bahwa selama hidup mereka mempunyai dua musuh besar yang paling tangguh. Seorang adalah Jik-lian-sian-cu, seorang lain adalah Bu Sam-thong, salah seorang murid kesayangan It-teng Taysu dari negeri Tayli di Hun-lam. Semula It-teng Taysu adalah raja negeri Tayli, akan tetapi ia meninggalkan takhta dan mencukur rambut menjadi Hwesio, lalu menerima empat murid, satu di antaranya ialah Bu Sam-thong!
Pada waktu mudanya Bu Sam Thong menjabat pangkat yang tinggi di negeri Tayli. Cuma bagaimana Liok Tian-goan suami isteri sampai bisa mengikat permusuhan dengan dia tak pernah dituturkan kepada puteranya. Maka sewaktu melihat Bu Sam-nio menggunakan It-yang-ci menyambung tulang kaki puterinya yang patah tadi, tentu saja Liok Lip-ting kaget dan curiga. Tak nyana Bu Sam-nio malah membantu menghalau murid Jik Lian-sian-cu dan menolong jiwanya, hal ini sungguh di luar dugaannya.
Bu Sam-nio mengelus pundak anak laki-laki yang terluka jidatnya itu, matanya mendelong mengawasi api lilin:
“Suamiku dan mertuamu sejak kecil bertentangan, hubungan mereka sangat intim, meski sifat2 mereka tidak cocok namun suamiku amat mencintainya. Siapa tahu akhirnya dia menikah dengan mertuamu. Saking gusar suamiku lantas minggat jauh ke Tayli, menjabat panglima pemimpin tentara, menjadi anak buah Toan-hongya. Pernah suamiku bertemu dengan mertuamu, lantas terjadilah perang tanding yang seru. Suamiku memang berangasan dan terlalu mengumbar nafsu karena patah hati. Akhirnya dia bukan tandingan mertuamu, sejak itu tindak tanduknya agak sinting, baik sahabat karibnya atau aku sendiri tak dapat menyadarkan dia, Dulu dia pernah berjanji dengan mertuamu bahwa lima belas tahun kemudian akan bertanding lagi, siapa tahu kedatangannya kali ini, kedua mertuamu sudah meninggal.”
Liok Lip-ting amat gusar, serunya sambil menggablok meja: “Kalau dia punya kepandaian, mengapa tidak datang sejak dulu, kini setelah tahu ayahku sudah almarhum baru meluruk datang dan menculik jenazahnya, terhitung perbuatan orang gagah macam apa?”
“Omelan Liok-ya memang benar,” ujar Bu Sam-nio. “Suamiku memang sudah kehilangan kesadarannya, tingkah laku dan tutur katanya sudah tidak genah lagi. Hari ini sengaja aku membawa kedua anakku ini kemari, bukan lain adalah hendak mencegah perbuatannya yang tidak karuan. Di dunia sekarang ini, mungkin hanya aku seorang saja yang rada ditakutinya.”
Sampai di sini segera ia berkata kepada dua puteranya: ”Lekas menyembah kepada Liok-ya dan Liok-toanio.”
Kedua anak laki2 itu segera berlutut dan menyembah. Liok-toanio cepat membimbingnya bangun dan menanyakan nama mereka. Yang jidatnya terluka bernama Bu Tun-ji, usianya dua belas tahun, adiknya bernama Bu Siu-bun, satu tahun lebih muda.
“Sungguh tak nyana suamiku tidak kunjung tiba, malah Jik-lian-sian-pu keburu membuat perkara di rumahmu... ai,” demikian kata Bu Sam-nio lebih lanjut, “Dua pihak sama2 tidak dapat melupakan cinta masa lalu, cuma yang satu lelaki dan yang lain perempuan.”
Baru saja dia bicara sampai di sini, mendadak di atas rumah ada orang berteriak: “Anak Ji, anak Bun, ayo keluar!”
Suara ini datangnya tiba-tiba, sedikit pun tidak terdengar suara langkah di atas genteng, mendadak suaranya berkumandang di tengah malam buta, maka keruan Liok Lip-ting suami istri sangat kaget. Mereka tahu Bu Sam-thong telah tiba, Thia Eng dan Liok Bu-siang pun kenal suara si orang gila yang mereka temui siang tadi.
Tampak sesosok bayangan berkelebat. Bu Sam-thong melompat turun, seorang satu tangan, ia angkat kedua puteranya terus lari secepat angin, sebentar saja ia sudah tiba di hutan pohon Liu. Tiba-tiba ia menurunkan Bu Siu-bun, dengan hanya membawa Bu Tun-ji bayangannya lantas lenyap dalam sekejap mata, putera kecilnya dia tinggal begitu saja di hutan itu.
Bu Siu-bun berteriak2: “Ayah…! Ayah…!”
Tapi Bu Sam-thong sudah menghilang, terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan:
“Kau tunggu di situ, sebentar aku kembali menjemput kau.”
Bu Siu-bun tahu tindak tanduk ayahnya rada sinting, maka dia tidak heran. Tetapi seorang diri berada dalam hutan yang gelap, hatinya rada takut, namun jika teringat sebentar lagi sang ayah akan kembali, maka dengan termenung ia duduk saja di bawah pohon.
Duduk punya duduk, teringat olehnya akan kata-kata ibunya bahwa ada musuh lihay yang hendak menuntut balas, dan belum tentu sang ibu bisa menandingi lawan. Meski usianya masih kecil, tapi Siu-bun sudah tahu berkuatir akan keselamatan ibunya. Setelah menanti sekian lama dan sang ayah tidak kunjung datang juga, akhirnya dia bergumam sendiri: “Biar aku pulang mencari ibu saja!” lalu ia menggeremet dan meraba-raba menuju ke arah datangnya tadi.
Bocah kecil berada di hutan seorang diri, apa lagi malam sangat pekat, mana bisa menentukan arah dan tujuan? Semakin jalan ia justru menuju ke arah hutan belukar yang makin dalam. Akhirnya sampailah dia di sebuah lekukan gunung, di bawah adalah selokan setinggi tujuh delapan tombak, selayang pandang sekelilingnya tampak hitam melulu. Saking gugup dan ketakutan Bu Siu-bun lantas berteriak:
“Ayah, ayah...! Ibu, ibu...!”
Terdengar gema suaranya berkumandang di lembah pegunungan. Di saat hatinya cemas dan gundah itulah tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang memualkan disusul hembusan angin kencang. Di tengah kegelapan tampak dua titik sinar seperti pelita minyak bergerak ke arahnya.
Bu Siu-bun heran. Mendadak didengarnya suara gerengan yang keras, kedua titik terang seperti sinar pelita itu memburu cepat ke arahnya. Sungguh kaget bukan kepalang, teriaknya:
“Harimau!”
Tanpa banyak pikir segera dia melompat ke atas menangkap dahan pohon terus merayap naik dengan mengerahkan segenap tenaganya. Terasa pantatnya se-o!ah2 kena terpukul oleh sesuatu, segera kaki tangan bekerja sekuat tenaga merambat ke puncak pohon.
Didengarnya binatang buas itu menggerung2 sambil berputar2 mengitari pohon. Melihat binatang itu tidak dapat naik ke atas pohon, barulah hati Siu-bun sedikit lega. Tiba2 terasa pantatnya pedas dan perih, waktu ia merabanya, ternyata celananya telah robek tercakar kaki harimau, dasar bocah nakal, segera teringat olehnya akan cerita ibunya bahwa harimau tidak bisa naik pohon, maka sambil menuding ke bawah ia lantas memaki kalang kabut:
“Harimau keparat, harimau brengsek, harimau busuk!”
Mendengar suara manusia, harimau itu menggerung semakin keras. Begitulah satu sama lain bertahan di atas dan berputar di bawah pohon, meski Bu Siu-bun sangat mengantuk dan letih, mana dia berani tidur? Sebentar lagi hari akan terang tanah, maka pandangan keadaan sekelilingnya mulai jelas.
Semula dia tidak berani langsung mengawasi harimau di bawahnya, namun akhirnya dia membesarkan nyali menunduk ke bawah. Saking terkejutnya hampir saja dia terjungkal jatuh dari atas pohon. Ternyata harimau loreng di bawah itu kira-kira sebesar anak sapi, duduk menengadah sambil menyeringai buas, matanya menatap dengan penuh nafsu, mulutnya melelehkan liur kental.
Memang harimau itu sedang sangat kelaparan. Menunggu semalam suntuk tanpa dapat mencaplok mangsa di depan mata, maka rasa laparnya makin menambah kebuasannya. Mendadak dia menggerung sekeras-kerasnya terus menerjang ke atas. Lompatan ini satu tombak lebih tingginya, cakar depannya berhasil mencapai batang pohon sehingga sesaat lamanya badannya tergantung di tengah udara. Harimau ini cukup besar dan rada gemuk, berat badannya tak kurang dari dua ratus kati, sudah tentu batang pohon itu tak kuat menahan berat badannya.
“Pletak!”
Sekali membal dahan pohon itu patah dan jatuh ke bawah. Bu Siu-bun ikut terpental dan terjungkal ke bawah. Sejak kecil dia dididik ilmu silat oleh ayah bundanya, maka waktu meluncur ke bawah dia bisa kendalikan badan lantas menggelinding ke samping, sedikit pun tidak terluka. Begitu merangkak bangun segera dia lari sipat kuping. Tanpa hiraukan rasa sakitnya, harimau itu segera mengejar dengan kencang.
Walau Bu Siu-bun sudah punya dasar latihan Ginkang, tetapi usianya masih kecil, lagi pula kakinya pendek, maka langkahnya tidak bisa cepat dan jauh, mana bisa menandingi kecepatan lari seekor harimau.
Terpaksa dia lari berputar-putar mengitari pohon. Dia bermain petak umpet dengan pengejarnya, Kalau lari lurus harimau itu memang sangat cepat dan gesit, tetapi untuk putar-putar dan main menyelinap kian kemari gerak geriknya menjadi lamban. Maka gerungannya makin keras, ia menubruk membabi buta, debu pasir dan dedaunan beterbangan.
Melihat harimau itu tidak bisa berbuat apa2 terhadap dirinya, Bu Siu-bun menjadi senang. Sambil memaki kalang kabut dia berlari lagi berputar mengelilingi pohon dan batu. Saking senangnya sehingga kurang ber-hati2 dan menginjak sebutir batu bundar, kontan ia tergelincir dan jatuh, Tanpa ayal harimau itu lantas menubruk ke arahnya. Bu Siu-bun berteriak:
“Ibu, ibu…!”
Sekonyong-konyong dua gulung bayangan hitam meluncur dari angkasa menubruk ke arah dirinya, tahu2 harimau itu terangkat naik ke udara, menyusul badan sendiripun ikut terapung ke angkasa.
Kaget dan takut pula Bu Siu-bun. Waktu dia membuka mata, pohon di bawah tampak menjadi kecil, dirinya sedang terbang di-awang2. Waktu dia menengadah ternyata seekor burung besar mencengkeram punggung bajunya sedang terbang dengan pentang sayap yang lebar.
Semula hatinya amat takut, tetapi tak lama kemudian dia merasa burung raksasa itu tidak bermaksud jahat. Tiba-tiba didengarnya gerungan keras di sebelah belakang. Ia berpaling, tampak harimau besar itu dicengkeram oleh seekor burung raksasa lainnya dan dibawa terbang juga, kakinya mencak-mencak sambil menggerung keras, cakar burung raksasa itu mencengkeram kuduk dan pangkal ekornya hingga tergantung di udara.
Sekali mengembangkan kedua sayap, burung raksasa di belakang itu terbang lebih tinggi memasuki awan, lalu tiba2 cengkeraman kedua cakarnya dilepaskan. Kontan harimau itu meluncur jatuh ke bawah dari ketinggian ratusan tombak dan akhirnya terbanting hancur lebur.
Melihat adegan yang sangat mengerikan ini, seketika Bu Siu-bun berteriak kaget, teringat olehnya: “Kalau burung besar ini pun melepaskan diriku, mustahil aku tidak akan hancur lebur?” Karena takut cepat ia memeluk ujung kaki burung besar itu.
Se-konyong2 terdengar lengking suitan panjang di bawah, suaranya nyaring dan merdu, terang suitan dari mulut perempuan. Kedua ekor burung besar itu perlahan terbang turun, lalu meletakkan Bu Siu-bun di atas tanah.
Gesit sekali Siu-bun melompat bangun. Tampak sekelilingnya pohon Liu melulu, bumi seperti ditabur bunga yang mekar beraneka warna, sungguh suatu tempat yang indah dan permai. Dari balik pohon berlenggang keluar seorang anak perempuan, sekilas dia melirik kepada Bu Siu-bun, lalu dia tepuk2 kedua paha burung besar tadi, katanya:
“Tiau-ji elok, Tiau-ji bagus!”
Bu Siu-bun membatin: “Kiranya kedua burung ini bernama ‘Tiau-ji’ (rajawali).”
Dilihatnya kedua burung itu berdiri gagah dan angker, jauh lebih besar dan tinggi dari pada anak perempuan itu. Usia Bu Siu-bun masih kecil, belum paham berterima kasih, katanya sambil mendekat anak perempuan itu:
“Apakah kedua ekor Tiau-ji ini peliharaanmu?”
Anak perempuan itu mencibirkan bibir, sikapnya memandang hina, jengeknya: “Aku tidak kenal kau, tidak sudi bermain dengan kau!”
Bu Siu-bun tak peduli akan sikap kasar orang, ia mengulur tangan mengelus kaki burung besar itu. Mendadak anak perempuan itu bersiul ringan, sayap burung besar itu langsung terpentang dan menyapu dengan ringan, kontan Bu Siu-bun tersabet sehingga jumpalitan dan terguling di tanah, kemudian kedua ekor burung itu segera terbang rendah menubruk ke arah mayat harimau tadi dan mulai berpesta pora.
Cepat Bu Siu-bun melompat bangun lantas mengawasi kedua rajawali itu, hatinya sangat tertarik, katanya:
“Sepasang burung ini amat bagus, mau mendengarkan perintahmu, jika pulang nanti biar aku pun minta ayah menangkapnya sepasang untukku!”
Anak perempuan itu mendengus: “Hm, memangnya ayahmu mampu menangkapnya?”
Sesudah berulang-ulang menghadapi sikap yang kurang simpatik, kini barulah Bu Siu-bun sempat mengamati anak perempuan di hadapannya ini. Anak ini mengenakan pakaian yang sangat mewah, lehernya mengenakan kalung mutiara sebesar kelengkeng, kulit mukanya halus putih seperti air susu, biji matanya jeli, mulutnya kecil mungil.
Sepasang biji mata anak perempuan itu pun sedang mengawasi seluruh badan Bu Siu-bun, tanyanya:
“Siapa namamu? Mengapa keluar bermain seorang diri, tidak takut digigit harimau?”
“Aku bernama Bu Siu-bun, sedang menunggu ayahku. Dan siapa namamu?”
Anak perempuan itu mencibirkan bibir, katanya: “Aku tidak bermain dengan anak liar!” lalu dia putar badan tinggal pergi.
Bu Siu-bun tertegun, “Aku bukan anak liar!” teriaknya sambil mengintil,
Melihat usia anak perempuan itu dua-tiga tahun lebih muda, badan rendah kaki pendek, ia pikir untuk mengejar tentu tidak sukar, tapi siapa tahu, baru saja ia kembangkan ginkang, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya anak perempuan itu sudah lari tujuh-delapan tombak jauhnya, sehingga dirinya ketinggalan jauh di belakang.
Setelah lari beberapa langkah lagi, tiba-tiba anak perempuan itu berhenti. Katanya sambil berpaling:
”Hm, kau mampu mengejarku?”
Sambil berlari Bu Siu-bun menyahut: “Tentu bisa!”
3. TOKOH JUBAH PUTIH YANG CANTIK
Anak perempuan itu putar badan terus lari kencang lagi, tiba-tiba ia menyelinap ke depan dan bersembunyi di belakang pohon. Tidak lama kemudian Bu Siu-bun sudah menyusul, sesudah dekat, tiba2 kaki kiri anak dara itu diulur keluar menjegal kaki orang.
Bu Siu-bun tidak berjaga-jaga, kontan badannya doyong ke depan. Cepat ia gunakan cara mengendalikan keseimbangan badan, tapi tahu-tahu kaki kanan anak perempuan itu telah mendepak sekali lagi pada pantatnya. Tanpa ampun Bu Siu-bun jatuh terjungkal sehingga hidungnya menerjang sepotong batu runcing. Darah segera membasahi pakaiannya.
Melihat darah bercucuran, anak perempuan itu menjadi gugup juga. Tiba-tiba didengarnya orang membentak di belakangnya:
“Hu-ji, kau nakal lagi dan menganiaya orang ya?”
Anak perempuan itu tak berpaling, sahutnya: “Siapa bilang? Dia jatuh sendiri, peduli amat dengan aku? Jangan kau sembarangan lapor kepada ayah lho!”
Bu Siu-bun meraba hidung, sebetulnya tidak sakit, namun melihat dua tangan berlepotan darah, hatinya gugup juga. Mendengar anak perempuan itu bicara dengan orang, segera ia angkat kepala. Dilihatnya seorang kakek pincang dan bertongkat, rambut sudah jarang2 dan jenggot pun sudah ubanan, badannya kurus kerempeng, namun semangatnya masih menyala-nyala. Terdengar orang tua itu mendengus:
“Jangan kau sangka mataku buta tidak bisa melihat, apa yang terjadi dapat kudengar dengan jelas. Kau budak kecil ini sekarang sudah begini nakal, kelak kalau sudah besar pasti lebih nakal lagi.”
Anak perempuan itu maju menghampiri serta menarik lengan si kakek, katanya memohon dan merengek:
“Kongkong, jangan kau katakan kepada ayah ya? Hidungnya keluar darah, lekas kau mengobatinya!”
Kakek pincang itu maju setapak, sekali raih dia tangkap lengan Bu-siau-bun, lalu memijat beberapa kali di Bun-hiang-hiat di samping hidungnva, hanya sekali urut dan usap, darah kontan berhenti mengalir. Terasa oleh Bu Siu-bun jari2 tangan orang seperti jepitan besi mencengkeram lengannya, hatinya menjadi takut, ia meronta, tetapi sedikit pun tak dapat bergeming.
Perlahan tangannya ditarik lalu diputar. Dia lancarkan Siau-kim-na-jiu-hiat yang diajarkan oleh ibunya, telapak tangannya ikut berputar setengah lingkaran, terus melintir dari dalam untuk melepaskan pegangan si kakek.
Kakek itu tidak menduga dan berjaga-jaga, sungguh tak nyana bocah sekecil ini ternyata membekal ilmu silat selincah itu. Karena gerakan ronta membalik itu, pegangannya terlepas. Sambil bersuara heran tangannya menyambar lagi menangkap tangan orang. Bu Siu-bun kerahkan sepenuh tenaganya berusaha membebaskan diri, namun pegangan orang tak bergeming lagi.
“Adik kecil, jangan takut,” kata kakek itu, “Aku tidak melukai kau, kau she apa?”
“Aku she Bu,” jawab Siu-bun.
Kakek itu menengadah seperti mengingat-ingat sesuatu, lalu katanya menegas: “She Bu? Ayahmu murid It-teng Taysu bukan?”
Bu Siu-bun berjingkrak girang, “Ya, apa kau kenal Hong-ya kami? Kau pernah melihatnya tidak? Aku sendiri tidak pernah melihatnya.”
“Di manakah ayah bundamu? Mengapa kau kelayapan seorang diri di sini?” kata si kakek sambil melepaskan tangannya.
Bu Siu-bun mewek-mewek ingin menangis teringat pada kejadian semalam dan terkenang kepada ayah ibunya.
Anak perempuan itu lantas mengolok-olok: “Cis, tidak tahu malu, sudah besar masih suka menangis.”
Bu Siu-bun tegakkan kepala dan berkata: “Hm, siapa bilang aku menangis.”
Lalu dia ceritakan bahwa ibunya sedang menunggu kedatangan musuh di Liok-keh-cheng. Ayah entah pergi kemana membawa kakaknya, lantas dirinya kepergok harimau buas itu. Karena gugup dan pikiran tidak tenang, ceritanya putar balik tak teratur, namun kakek itu dapat memahami sebagian besar, tanyanya:
“Tahukah kau siapa musuh yang di tunggu ayah bundamu?”
“Sepertinya bernama Jik-lian-coa apa, pakai Chiu apa lagi,” tutur Siu-bun.
Kakek itu menengadah pula, mulutnya menggumam: “Jik-lian-coa apa?” lalu mendadak ia ketuk tongkat besinya di atas tanah, teriaknya keras: “Pastilah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu adanya!”
“Betul, betul!” Bu Siu-bun bersorak gembira, “Memang Jik-lian-sian-cu.”
Karena tebakan si kakek yang tepat itu, maka ia kegirangan, tapi si kakek ternyata amat tegang, katanya:
“Kalian berdua boleh bermain di sini, setapak pun jangan meninggalkan tempat ini, biar kutengok kesana!”
“Kongkong, aku ikut kau!” rengek anak perempuan tadi.
Kakek itu menjadi gugup: “Ai, ai, tidak boleh! Iblis perempuan itu sangat jahat, aku sendiri bukan tandingannya. Soalnya tahu teman baik sedang menghadapi bahaya, terpaksa aku harus menyusul kesana, Kalian harus menurut kataku.” Habis berkata segera dia berlalu dengan langkah terincang-incut.
Meski pincang, tapi dengan bantuan tongkat besi segera ia kembangkan Ginkang, larinya amat cepat, tidak kalah dari pada tokoh2 silat kelas tinggi.




































Tidak ada komentar:
Posting Komentar