Kwee Ceng menurut, lantas mengajak imam itu mengundurkan diri. Di luar istana ia segera disambut Oey Yong serta ketiga tianglo bersama semua anggota Kay Pang. Mereka datang dengan menunggang kuda. Si nona lantas mengajukan kudanya sambil menanya dengan tertawa:
"Tidak apa-apakah?"
Kwee Ceng menyahut sambil tertawa juga: "Untung totiang datang"
Oey Yong memberi hormat kepada Tiang Cun cu, lalu kepada Kwee Ceng ia menambahkan:
"Aku khawatir khan yang agung gusar dan nanti membunuh kau, maka kami datang ke mari untuk menolong. Apakah kata jenghiz Khan? Apakah dia menerima baik penampikan jodohmu itu?"
Ditanya begitu, Kwee Ceng berdiam. Ia ragu-ragu. "Aku tidak melakukan penolakan," katanya akhirnya. Tidak bisa ia berdiam terus.
Oey Yong tercengang. "Kenapa?" tanyanya selang sejenak.
"Jangan gusar, Yong-jie. Sebabnya….."
Baru pemuda ini mengatakan demikian, sana terlihat putri Gochin lari keluar dari istana, dia memanggil-manggil keras:
"Engko Ceng Engko Ceng"
Melihat putri itu, Oey Yong terkejut. Lantas ia melompat turun dari kudanya, untuk menyingkir ke samping. Kwee Ceng hendak memberi penjelasan kepada kekasihnya tapi Gochin Baki sudah menarik tangannya sambil berkata dengan bernafsu:
"Kau tentu tidak menyangka aku bakal datang ke mari, bukan? Kau telah melihat aku, kau girang atau tidak?"
Si anak muda mengangguk. terus ia menoleh ke samping, tetapi ia tidak melihat Oey Yong
Putri Gochin, yang hanya memikirkan Kwee Ceng, juga tidak melihat nona Oey. Ia tetap memegang tangan si anak muda, ia tanya ini dan itu, tidak perduli di situ ada banyak orang.
Kwee Ceng mengeluh dalam hati. Ia berpikir: "Tentu Yong-jie menganggap karena aku bertemu adik Gochin, aku menjadi tidak sudi menampik perjodohanku dengannya" Karena ini, apa yang si putri bilang, ia hampir tidak mendengarnya. Akhirnya Gochin melihat orang melengak saja, ia heran, ia tidak puas.
"Eh, kau kenapakah?" tanyanya. "Dari jauh-jauh aku datang menjenguk kau, kau tidak memperdulikan orang"
"Adikku, aku mengingat satu hal," berkata si anak muda. " Hendak aku melihat dulu itu, sebentar aku kembali untuk bicara denganmu"
Pemuda ini memesan serdadu pengiringnya, untuk melayani Khu Cie Kie, lantas ia lari ke kemahnya. Begitu tiba, serdadu pengiringnya memberi laporan
"Nona Oey baru saja pulang, dia mengambil gambar, terus pergi dari pintu kota timur."
Kaget pemuda itu. "Gambar apakah?" ia tanya.
"Gambar yang Huma sering pandang."
Kembali Kwee ceng kaget. Lantas ia mendapat pikiran: "Dia membawa pergi gambar itu, terang dia telah memutuskan segalanya denganku Tidak bisa lain, aku mesti menyusul dia ke Selatan"
Dengan cepat pemuda ini menulis surat untuk Khu cie Kie, lalu ia kabur dengan kuda merahnya keluar dari kota.
Kuda itu kuat dan cepat larinya, tetapi Kwee ceng masih tidak puas, ia mencambuki, maka sebentar saja ia telah melalui beberapa puluh lie. Di sini pun ia menyaksikan mayat orang dan bangkai kuda masih berserakan- Di tempat luas beberapa puluh lie, salju melulu yang nampak. Ia memperhatikan tapak kaki kuda, ia kabur ke timur. Lega sedikit hatinya. Ia berpikir "Kudaku kuat lari tanpa tandingan, sebentar lagi aku tentu dapat menyusul Yong-jie. Aku akan mengajak dia menyambut ibuku, untuk bersama-sama pulang ke Selatan - Adik Gochin boleh sesalkan aku tetapi apa boleh buat"
Belasan lie lagi, Kwee ceng melihat arah tapak kaki kuda menjurus ke utara, hanya di samping itu ada tapak kaki orang. Ia menjadi heran. Tapak kaki itu juga luar biasa, jarak di antara kaki kiri dengan kaki kanan kira-kira lima kaki. Tindakan demikian lebar, tetapi tapaknya, bekas injakannya, enteng sekali melesaknya salju hanya beberapa dim. Teranglah sudah, sebelum melesak ke dalam salju, kaki itu sudah lantas diangkat pula. Kapan pemuda ini ingat kepada kepandaian enteng tubuh, ia terkejut. Ia tahu, untuk di tempat ini, kecuali Auwyang Hong, tidak ada orang lain yang mempunyai kepandaian demikian lihay. Maka itu, mungkinkah See Tok telah mengejar oey Yong?
Mengingat itu, meskipun diwaktu salju dingin begitu, tubuh si anak muda mengeluarkan peluh. Ia kaget dan berkhawatir bukan main- Itu artinya oey Yong terancam bahaya. Si kuda merah seperti mengerti kekhawatiran majikannya, tanpa dikeprak lagi, ia lari mengikuti tapak kuda dan tapak orang itu, yang terus berdampingan.
Lewat pula beberapa lie, kembali terjadi keanehan pada tapak kaki manusia itu. tujuannya telah berubah-¬ubah. sebentar tapak itu belok ke barat, sebentar mengkol ke selatan. Terputar-putar. Tidak ada yang tujuannya lempang. Tapi Kwee Ceng berpikir "Pastilah Yong-jie mengetahui Auwyang Hong mengejar, dia sengaja berjalan berputaran begini rupa. Di salju ini, tapak kaki terlihat tegas, tentulah Auwyang Hong melihatnya dan dapat mengejar terus."
Lagi-lagi belasan lie lewat. Di sini kedapatan banyak tapak kaki manusia, yang arahnya bertentangan. Melihat itu, terpaksa Kwee Ceng lompat turun dari kudanya, guna meneliti. Ia mendapat tahu, yang mana tapak lebih dulu, yang mana yang belakangan, atau yang mana yang di depan, yang mana yang di belakang. Ia pun mengawasi itu dari jauh. Tiba-tiba ia ingat, "Yong-jie bertindak menuruti ajaran kitab Gak Buk Bok. Ia mengguna i Pat Tin Touw, barisan rahasianya Cukat Liang, untuk mengacaukan arahnya Auwyang Hong, supaya See Tok jalan terputar-putar hingga dia tidal dapat keluar dari kurungan tin ini, supaya dia pergi serintasan lantas dia berjalan kembali"
Kwee Ceng lompat naik ke atas kudanya. sekarang ia girang berbareng masgul. Girang sebab ia percaya Auwyang Hong tidak bakal dapat mengejar si nona. Dan berduka, sebab kacaunya tindakan kaki, dia juga tidak dapat mengikuti jejak nona itu. Karena ini ia maju lebih jauh dengan tidak mengikuti jejak kaki hanya garis dari barisan rahasia Pat Tin Touw itu. Lebih dulu ia menuju ke timur selatan, lalu ke timur langsung. Tidak lama, ia melihat pula tapak kaki. lalu ia pun melihat di kejauhan, di antara salju dan langit, yang seperti menempel, ada petaan seperti bayangan manusia. Ia lantas mengaburkan kudanya, guna menyusul orang itu.
Lantas Kwee Ceng mengenal Auwyang Hong, siapa pun telah melihat kepadanya, bahkan dia segera memanggil-manggil:
"Lekas, lekas Nona Oey terjeblos ke dalam embal"
la kaget sekali, ia kaburkan kudanya. Ketika beberapa puluh tombak lagi mendekati See Tok, ia merasakan kaki kudanya menginjak bukan tanah keras hanya embal yang ketutupan salju. Kuda merah juga merasakan menginjak sesuatu yang empuk. dia mempercepat tindakannya.
Sekarang, setelah datang lebih dekat pada Auwyang Hong, Kwee Ceng melihat kelakuan orang yang luar biasa. See Tok lagi jalan mengitari sebuah pohon kecil, cepat tindakannya, dia tidak mau berhenti sejenakpun.
"Apa yang dia perbuat?" tanya si anak muda kepada dirinya sendiri Ia menahan kudanya, niatnya hendak menanya siBisa dari Barat itu, mendadak kudanya lari terus, lalu kembali. Sekarang ia baru mengerti. Kudanya berada di embal, kalau dia berdiam, dapat terpendam, Kakinya bakal melesak masuk ke dalam lumpur. Ia pun menjadi kaget. Sekelebatan otaknya berpikiri "Apakah Yong-jie kejeblos ke dalam embal ini?" Lantas dia menanya:
"Mana nona oey?"
Auwyang Hong berlari-lari terus, tapi ia menyahut: "Aku mengikuti tapak kudanya dan tapak kakinya sendiri, sampai di sini, dia lenyap Kau lihat" Ia menunjuk ke arah pohon
Kwee Ceng melarikan kudanya lewat, ia memandang ke atas pohon yang ditunjuk. Ia melihat tergantungnya gelang rambut dari emas. Tepat selagi lewat di bawahan pohon, ia menyambar itu. Ia mengenal baik gelang rambutnya oey Yong. Karena ini, ia memutar kudanya, untuk menuju ke timur. Baru lari sekitar satu lie, ia melihat benda berkilau di atas salju. Tanpa turun dari kudanya, sambil membungkuk dalam, ia menjumput itu selagi kudanya lewat. Sekarang ia mengenal bunga mutiara yang si nona biasa pakai. Hatinya menjadi tidak karuan rasa, Saking bingungnya.
"Yong-jie, Yong-jie" ia memanggil-¬manggil. "Yong-jie, kau di mana?" Tidak ada jawaban sama sekali.
Memandang jauh ke depan, Kwee Ceng melihat segalanya putih, tidak ada setitikpun yang hitam yang bergerak-gerak. Ia berkhawatir, ia penasaran. Ia lari terus lagi beberapa lie. Kali ini di sebelah kirinya, melihat sepotong baju bulu - baju bulu si nona. Kembali ia kaget. Baju itu dipandang sangat berharga oleh oey Yong dan biasanya tak pernah terpisah darinya, Sekarang baju itu berada di tengah jalan, bukankah itu alamat dari bencana? Kwee Ceng menyuruh kudanya lari mengitari baju itu, ia berseru
"Yong-jie."
Di situ tidak ada gunung atau lembah, suara keras itu tidak mendatangkan kumandang. Hampir anak muda itu menangis. selagi ia tidak berdaya, Auwyang Hong datang menyusul.
"Mari kasih aku mengasoh di atas kuda," berkata see Tok. "Mari kita sama-sama mencari nona oey"
Tapi Kwee Ceng gusar, ia membentak: "Kalau bukan kau yang mengejar-ngejar, mana bisa dia lari ke daerah embal ini?" Ia menjepit perut kudanya, hingga kuda merah itu berlompat.
Auwyang Hong menjadi gusar sekali, dia berlompat, baru tiga kali, dia sudah datang dekat, tangannya menyambar ekor kuda. Kwee Ceng kaget. Ia tidak menduga orang demikian gesit. segera ia menyabet ke belakang dengan jurusnya "sin liong pa bwee", atau "Naga sakti menggoyang ekor".
Kedua tangan beradu dengan keras. Kebetulan mereka sama-sama menggunakan tenaga penuh. Tubuh Kwee Ceng terpental, hingga ia mencelat dari atas kudanya. Syukur kudanya maju terus. Dengan tangan kiri, ia menjambret pelana kuda, ia menarik. maka sedetik kemudian, ia sudah bercokol lagi di punggung kuda.
Auwyang Hong sebaliknya mundur dua tindak. karena tolakan Kwee Ceng keras dan dia mesti memasang kuda-kuda, untuk mempertahankan diri, Kakinya melesak di embal. Kaki kirinya masuk ke lumpur sebatas dengkul, dia kaget tidak terkira. Dia tahu betul, asal menggunakan tenaga, dia bakal melesak semakin dalam, Kaki kanannya akan melesak juga. Karena ini dengan cepat dia merebahkan tubuhnya, kaki kanannya menendang ke udara. Berbareng dengan itu, dia mengangkat kaki kirinya, untuk dipakai menendang. Maka dengan lumpur bercipratan, kaki kirinya bebas dari dalam lumpur. setelah itu dia berlompat bangun.
"Yong-jie Yong-jie."
Ia mendengar Kwee Ceng memanggil-manggil pula. Lantas dia melihat pemuda itu, bersama kudanya, sudah meninggalkan pergi lebih dari satu lie jauhnya. Dia menduga orang sudah keluar dari daerah embal melihat larinya kuda yang mantap sekali. Dia mendongkol dan menyesal. Terpaksa dia lari mengikuti jejak kuda merah itu.Tetapi betapa kagetnya, dia merasakan kakinya menginjak dasar yang semakin lunak.
Rupanya dia bukan mendekati tepian hanya berada semakin tengah di embal itu. Dalam khawatir dan menyesalnya, dia jadi membenci si anak muda, yang berulang kali membuatnya malu, apalagi belakang ini, dia mesti bertelanjang dengan ditonton puluhan ribu serdadu. Lantas, dengan ilmunya enteng tubuh yang paling mahir, dia berlari mengejar anak muda itu.
Kwee Ceng tengah melarikan kudanya tatkala ia menoleh ke belakang. Tahu-tahu Auwyang Hong sudah berada dekat beberapa tombak. Ia lantas mengeprak kudanya, hingga kuda itu terkejut dan berlompat lari. Hingga kuda dan orang, menjadi berkejar-kejaran
"Yong-jie" si anak muda terus memanggil-manggil. Sementara itu, belasan lie telah dilalui.
Kwee Ceng bergelisah ketika melihat cuaca mulai gelap. Di waktu hari terang, Oey Yong susah dicari, apalagi setelah datang sang malam. syukur untuknya, kudanya lihay sekali, mendapat tahu dia menginjak salju yang longgar dia lari semakin keras, mirip terbang.
Auwyang Hong mengejar terus tetapi dia ketinggalan semakin jauh. Dia menjadi letih, larinya kendor. Tapi juga si kuda merah cape, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, bulunya menjadi mengkilap dan cahaya merahnya bertambah marong, nampak tegas di antara warna putih dari salju di sekitarnya, mirip dengan sekuntum bunga cherri.
Akhirnya ketika langit telah menjadi gelap. kuda merah pun sudah keluar dari daerah embal yang luas itu. Auwyang Hong ketinggalan jauh entah di mana. Hanya, meski ia bebas dari see Tok. Kwee Ceng tidak bebas dari kekhawatiran atas nasib Oey Yong. Di mana adanya si nona? Dia kependamkah di embal? Kalau benar, mana ada pertolongan lagi?
Anak muda ini mencoba menguasai dirinya. Ia turun dari kuda, untuk beristirahat, guna menentramkan hati, agar ia bisa menggunakan pikirannya. Ia mengusap-¬usap punggung kuda, katanya
"Kudaku yang baik, hari ini kau jangan takut sengsara, sebentar kau maju sekali lagi, ya"
Tidak lama ia beristirahat, melompat lagi ke punggung kudanya. Tali les ditarik membikin kuda itu berbalik ke embal, mencari Oey Yong di daerah lumpur. Kuda itu agaknya jerih, setelah dipaksa, baru dia lari. Keras larinya.
Sekonyong-konyong Kwee Ceng mendengar jeritan Auwyang Hong
"Tolong Tolong" See Tok menjerit berulang-ulang.
Dia ternyata terbelesak di dalam embal, sampai sebatas dada, kedua tangannya diangkat tinggi ke atas, digerak-gerakkan seperti lagi menjambret sesuatu. Kalau tubuhnya masuk terus ke dalam lumpur, sampai di mulutnya, melewati hidung, maka habislah dia
Kwee Ceng hampir lompat turun dari kudanya menyaksikan bahaya yang mengancam See Tok. Ia membayangkan, jangan-jangan Oey Yong pun bernasib serupa.
"Tolong" Auwyang Hong berteriak pula. "Lekas"
"Kau telah membunuh guruku Kau pun mencelakai nona oey" Kwee Ceng seraya menggertak gigi. "Kau ingin aku menolong mu? Jangan harap"
"Ingatlah janji kita" kata Auwyang Hong. "Tiga kali kau mesti memberi ampun padaku Dan ini yang ketiga kalinya. Apakah kau tidak mau memegang kepercayaanmu?"
Kwee Ceng mengucurkan air mata. "Nona Oey sudah tidak ada di dunia, apakah gunanya perjanjian kita?" katanya berduka.
Auwyang Hong menjadi sangat mendongkol, ia mencaci kalang kabutan. Kwee Ceng tidak memperdulikan, ia larikan kudanya. Baru belasan tombak. mendadak mendengar jeritan yang menyayat hati, lantas hatinya menjadi lemah. Ia menghela napas. Terpaksa ia memutar balik kudanya. Ia melihat See Tok sudah melesak sebatas leher.
"Suka aku menolong kau," katanya pada jago dari See Hek itu "Hanya kudaku ini, kalau kita menaikinya berdua, muatannya menjadi berat, aku khawatir dia pun akan kebelesak di embal"
"Kau gunakan tambang untuk menarik aku," Auwyang Hong mengasih pikiran.
Kwee Ceng tidak membekal tambang tetapi ia mengingat baju panjangnya, maka ia meloloskan itu, dengan memegang keras satu ujungnya, ia melemparkan itu.
Auwyang Hong menjambret dengan tangannya. Begitu dia dapat memegang, kuda merah dikasih lari keras, maka dia lantas kena tercabut dari dalam embal, terus dia diseret lari kuda itu ke arah timur. Belum lama, tibalah dia di tempat yang selamat.
Kwee Ceng mau mencari oey Yong, pikirannya selalu berada pada si nona, dari itu ia kabur terus bersama kudanya, hingga See Tok juga turut terbawa-bawa. Maka, dia memasang diri terlentang, dia membiarkan tubuhnya di bawa kabur di atas salju itu. Ketika ini dipakai dia untuk meluruskan jalan napasnya. selama apa yang terjadi itu, sang waktu lewat dengan cepat.
Kwee Ceng telah melintasi wilayah embal. Ia mendapatkan lagi tapak kuda dan tapak orang. Itu tempat darimana oey Yong datang, hanya sekarang, si nona tetap tidak ada. Ia lompat turun dari kudanya, ia bengong mengawasi tapak kaki itu
Dalam keadaan berduka dan berkhawatir itu, Kwee Ceng lupa kepada musuhnya. ia berdiri diam dengan tangan kiri memegangi les dan tangan kanan mencekal baju bulu Oey Yong. Setelah mengawasi tapak kaki, terus ia memandang jauh ke depan. ia baru terkejut ketika merasa benturan perlahan pada pundaknya. Hendak ia memutar tubuh, tahu-tahu tangan Auwyang Hong telah mengancam intay¬hiat, jalan darah di punggungnya, hingga ia tidak berdaya lagi. Inilah cara ketika ia pun mencekuk si bisa bangkotan ketika dia baru keluar dari liang perangkap. Auwyang Hong mengasih dengar tertawanya yang dingin¬
"Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah" kata si anak muda, yang hatinya sudah tawar. "Kita memang tidak membuat perjanjian aku menghendaki diberi ampun olehmu"
See Tok melengak. Dia memang berniat menyiksa pemuda ini, untuk menghina padanya, habis itu dia hendak mengambil jiwa orang. Di luar dugaan, si pemuda justru meminta kematiannya. "Si tolol ini sangat mencintai budak celaka itu, kalau aku binasakan dia maka tercapailah cita-citanya mencari kematian," ia berpikir. "Karena budak celaka itu sudah mampus, tentang artinya kitab Kiu Im Cin¬keng sekarang aku bergantung hanya kepada dia ini"
Karena ini, ia lantas mengangkat tubuh si anak muda, dibawa naik ke atas kuda, lalu kuda itu ia kasih lari ke selatan di mana ada sebuah lembah.
Selagi melewati sebuah kampung, Auwyang Hong masuk ke situ. Ia berniat singgah. Di situ berserakan banyak mayat. Hawa udara sangat dingin tidak membikin mayat-mayat itu rusak. bahkan segalanya tidak berubah, maka semua mayat terlihat tegas seperti waktu baru matinya - dipandang menggiriskan, sebab tubuhnya tidak sempurna lagi. Mereka semua korban kekejaman tentara Mongolia.
Beberapa kali Auwyang Hong memanggil, ia tidak mendengar penyahutan dari orang kampung, yang ada hanya suara beberapa puluh ekor kerbau dan kambing yang saling sahutan. Mengetahui ada binatang itu, ia senang juga. Kwee Ceng dibawa ke dalam rumah batu. Ia berkata:
"Kau sekarang tertawan olehku. tidak ada niatku membunuh kau, umpama kata kau dapat melawan aku, kau merdeka untuk pergi."
Kemudian ia menangkap seekor kambing, untuk disembelih dan dijadikan penangsal perutnya yang kosong. Kwee Ceng mendelu melihat sikap orang yang sangat bangga akan dirinya sendiri itu. see Tok sangat puas dengan kemenangannya itu. Dari mendelu, ia menjadi gusar sekali. Kemudian Auwyang Hong melemparkan sepotong paha kambing.
"Kau dahar biar kenyang, sebelum kita bertempur," katanya mengejek.
"Kalau kau mau bertempur, marilah" Kwee Ceng menjawab gusar. "Buat apa menanti sampai gegares kenyang" ia lantas berlompat maju dan menyerang
See Tok menekuk kedua kakinya, untuk menongkrong, dari mulutnya keluar dua kali suara kerak-kerok. Ia telah lantas menggunakan ilmu silat Kedoknya, membalas menyerang. Maka itu, di situ mereka lantas bertarung.
Setelah bertempur lebih dari seratus jurus, Kwee Ceng terdesak. Ia masih kalah dalam hal tenaga dalam. Begitu ia dirangsak satu tindak dan kemcungannya ditinju. Ia kaget dan tidak berdaya, maka ia menanti kebinasaan. Auwyang Hong tidak meneruskan hajarannya, dia hanya tertawa.
"Hari ini sampai di sini saja" dia berkata, "Pergi kau melatih ilmu silatmu dari kitab Kiu Im Cin-keng, besok aku akan melayani lagi padamu"
"Pui" menghina si anak muda, yang lantas pergi duduk di bangku. ia menjumput paha kambing, untuk dimakan. sembari makan, ia berpikiri "Dia hendak mempelajari ilmu silat dari kitab, kalau aku berlatih, dia akan menonton. Tidak, aku tidak boleh kena diakali Ah, ya, tadi serangannya ke kempunganku itu, bagaimana harus aku menangkis atau mengelakkannya? "
Ia lantas berpikir. Ia ingat, belum pernah ia mempelajari sesuatu jurus yang dapat memecahkan serangan lawan. Ada juga di dalam kitab, bagian "Hui Sie Keng", ialah ilmu "Kapas Terbang". Ilmu itu, kalau dapat diyakinkan, akan membikin tenaga di kempungan bisa menghindarkan serangan¬
"Biar aku mempelajari dalam hati, dia hendak menelan juga tidak mampu," pikirnya pula. Maka lekas-lekas ia menghabisi daging kambingnya, terus ia duduk bersila, belajar sambil bersemedhi.
Dengan begitu ia bisa memusatkan pikirannya. Menghapal kitab. Setelah mengerti "It kin toan kut pian", ia sudah mendapati inti ilmu silat, dan sesudah mendapatkan pengajaran dari It Teng Taysu, ia telah memperoleh kemajuan terlebih jauh, maka itu, tidaklah sukar meyakinkan "Hui Sie Keng". Belum dua jam, ia sudah berhasil. Ia lantas melirik kepada Auwyang Hong, yang lagi bersemedhi.
"Awas" ia berseru. Ia bangun, lantas ia lompat menerjang, sebelah tangannya melayang.
Auwyang Hong telah siap sedia. Ia menangkis. Tadi ia berhasil dengan tinjunya ke kempungan, maka selang tidak lama, setelah melihat lowongan, ia mengulangi serangannya itu. Hanya sekarang ia menjadi heran - Tinjunya melejit lewat, seperti mengenai sesuatu yang licin, tubuhnya sendiri sedikit terjerunuk ke depan-Justru itu, tangan kiri Kwee Ceng terbang ke lehernya.
"Bagus" pikirnya. Ia kaget dan girang. Ia menjerunuki tubuhnya terus ke depan, dengan begitu ia bebas dari serangan si anak muda. Setelah itu ia membalik diri, berkata: "Bagus ilmumu ini. Adakah dari dalam kitab? Apakah namanya?"
"Seecat iet-wi, ayboat kek-ji," sahut Kwee Ceng.
See Tok melengak. Ia tidak mengerti. Tapi segera ia ingat akan penyebutan lafal bahasa sansekerta. Maka ia pikir. "Baik aku melayani dia dengan akal." Karena ini, ia lantas melayani lebih jauh pemuda itu.
Semenjak itu, sebulan lebih keduanya berdiam di rumah batu. Kalau yang satu ingin mencangkok ilmu silat dari Kiu Im Cin-keng, yang lain hendak menuntut balas. Saban-saban Kwee Ceng kena dibikin tidak berdaya, ia tidak dihajar atau dibinasakan, maka terus saban-saban ia meyakinkan cara baru, untuk menandingi setiap pukulan dahsyat dari See Tok. Selama itu, terus mereka dahar daging kambing, sampai binatang itu hampir habis.
Lama-lama, Kwee Ceng sendiri mendapat kemajuan, sedangkan Auwyang Hong sebaliknya cuma dapat berlatih, tidak dapat ilmu dari Kiu Im Cin¬keng yang diharap-harap itu. Dia malah menjadi bingung. Apa yang dia lihat dari Kwee Ceng, tidak cocok sama bunyinya kitab yang dia suruh si pemuda menuliskan untuknya selama mereka berdiam di dalam perahu dulu itu. Karena ini, lama-lama jago dari See Hek ini berkhawatir juga. Dia berpikir "Secara begini, selagi aku sendiri tidak mendapatkan artinya kitab, bisa-bisa aku bukan tandingan dia lagi" Dia menjadi jeri sendiri.
Selama beberapa hari, dengan cara berlatih di otak. Kwee Ceng mulai mempelajari ilmu silat bersenjata. Ia menggunakan pedang pendeknya dengan pedang kayu. Dengan itu ia melayani tongkat ular See Tok.
Sekarang Auwyang Hong memakai tongkat kayu tanpa dibantu ularnya yang istimewa. Ketika dulu menempur Ang cit Kong, tongkatnya terlempar lenyap di laut. Kemudian dia membikin tongkat baja, dia melilitkan ular di ujung tongkatnya, tetapi tongkat ini lenyap di kurungan es selama dia digencet es oleh Lou Yoe Kiak. Meski hanya tongkat kayu dan tanpa ular, ilmu silatnva tak berubah, tongkatnya tetap lihay. Beberapa kali pedang kayu si anak muda dibikin mental. Coba tongkat itu ada ularnya, pasti lihaynya bertambah.
Selama itu, kuping mereka mendengar suara terompet, kuda dan tentara, dari tentara Jenghiz Khan yang berangkat kembali ke timur, yang mana berjalan beberapa hari lamanya. Semua itu tidak dihiraukan dua orang yang lagi bertarung ini. Adalah pada suatu malam, ketika pasukan Mongolia sudah pergi semua, baru mereka merasakan kesunyian.
"Malam ini tetap aku tidak bakal dapat mengalahkan kau tetapi juga tongkatmu tidak akan dapat berbuat banyak atas pedangku," kata Kwee Ceng di dalam hatinya selagi ia berdiri siap. dengan pedang di tangannya. Ia baru dapat memikir satu jurus yang baru dan hendak mencobanya, ia menanti lawannya menyerang lebih dulu. Mereka belum mulai bertempur tatkala mendadak mendengar bentakan di atas genting:
"Jahanam, kau hendak lari ke mana?" Itulah suaranya Ciu Pek Thong.
Kwee Ceng dan Auwyang Hong terbengong. Sama-sama mereka memikirkan "Kenapa dia datang begitu-jauh ke Barat ini?" Mereka baru mau membuka mulut terdengar tindakan kaki, dari dua orang, yang satu di depan, yang lain di belakang, datang mendekati ke rumah batu ini. Inilah mungkin disebabkan - selagi lain-lain rumah kosong, di sini nampak cahaya api. Dengan sebat see Tok mengebut dan apinya padam. Justru itu daun pintu tertolak hingga bersuara dan seseorang lari masuk.
Didengar dari tindakan kakinya yang enteng, orang yang dikejar Pek Thong itu tak usah kalah ilmunya enteng tubuh dari Loo Boan Tong. Maka heranlah See Tok hingga ia berkata di dalam hatinya: "Dia dapat lari puluhan ribu lie tanpa terbekuk Loo Boan Tong, dia lihay. orang dengan kepandaian seperti dia, sekarang ini tinggal Oey Yok su dan Ang cit Kong. Ini hebat untukku si bisa bangkotan"
Dalam gelap terdengar suara orang berlompat naik ke atas penglari di mana dia terus berduduk. terdengar tertawanya ciu Pek Thong, yang berkata:
"Kau main petak umpet dengan LooBoan Tong, aku senang sekali sekarang jangan kau molos lagi"
Setelah itu terdengar si tua tukang guyon itu menutup pintu dan mengangkat sebuah batu besar guna dipakai menunjang belakang pintu, kemudian berkata:
"Eh, bangsat bau, kau berada di mana?" Dia pun bertindak dengan tangannya meraba¬raba, seperti lagi mencari sesuatu.
Kwee Ceng yang telah lama berdiam di tempat gelap, dapat melihat samar-samar lagak kakak angkat, hendak ia menunjukkan bahwa orang ada di atas penglari, akan tetapi sebelum ia membuka mulut, mendadak Ciu Pek Thong berlompat sambil tertawa, dia menyambar kepada orang yang lagi sembunyi itu. Rupanya dia telah tahu di mana orang berdiam dan berlagak mencari, untuk bersiap berlompat naik.
Orang yang dipanggil jahanam itu benar-benar lihay. Tidak menanti sampai kena dicekuk, ia mendahului menyingkir dengan lompat jumpalitan turun, hingga sesaat kemudian sudah berjongkok di pojok rumah.
Pek Thong agaknya jeri juga terhadap sijahanam ini, ia berlaku hati-hati. sebelum mencari, ia memasang kuping dan matanya. Sebagai orang lihay, ia tahu, kecuali ia sendiri, di situ ada suara bernapas dari tiga orang. Ia heran kenapa orang berdiam saja. Mungkin orang kaget dan takut? Ketika tadi ia mendatangi rumah batu ini, menduga mesti ada penghuninya dan dibuktikan padamnya api serta sekarang suara bernapas. Akhirnya ia berkata:
"Tuan rumah, jangan takut Aku datang ke mari untuk membekuk maling cilik, setelah dia terbekuk, aku akan segera pergi dari sini."
Habis berkata, LooBoan Tong memasang kuping. Ia mendengar suara bernapas yang semakin perlahan. Suara bernapas itu datangnya dari tiga penjuru, timur, barat dan selatan - Ia terkejut tetapi segera berseru:
"Hm, jahanam, kiranya di sini kau menyembunyikan kawanmu" Ia tidak mendengar jawaban.
Kwee Ceng juga berdiam saja. Ia tahu, ciu Pek Thong menghadapi lawan tangguh, Pek Thong tentulah tidak bisa membantu dirinya. Ia pikir lebih baik menanti kesempatan.
Habis mementang mulut, Pek Thong bertindak perlahan ke pintu, dari mulutnya keluar ocehan.
“Jangan-jangan LooBoan Tong tidak bakal berhasil membekuk orang dan sebaliknya kena dicekuk." la bertindak terus.
Waktu itu dari kejauhan terdengar suara seruan ramai dibarengi tindakan kaki kuda yang riuh, rupanya dari satu pasukan tentara yang besar. Suara itu mendekat.
Mendadak terdengar suara Ciu Pek Thong: "Bantuanmu makin lama makin banyak, nah, sudahlah, LooBoanTong minta maaf saja, tidak dapat menemani kau lebih lama lagi"
Dia lantas memegang batu besar penunjang pintu, agaknya dia hendak menyingkirkan guna membuka pintu, guna angkat kaki. Akan tetapi, setelah batu itu terangkat kedua tangannya, mendadak dia melemparkan ke arah tempat sembunyinya orang yang dia kejar-kejar itu. Pintu itu menghadap ke selatan dan orang itu berada di utara.
Auwyang Hong dapat mendengar segalanya. Ia berpikir. "Dia menyerang, dengan begitu bagian kanannya menjadi tidak terlindung, baiklah aku hajar dirinya, kalau dia sudah mampus, maka berkuranglah bencana untukku di belakang hari, dan kalau nanti terjadi rapat yang kedua di Hoa san, musuhku juga lenyap satu" Begitu berpikir, begitu ia menongkrong, sebelah tangannya diajukan - Ia menyerang dengan Kap Moa Kang, ilmu Kedoknya. Dia berada di barat, dari barat dia menyerang ke timur.
Kwee Ceng sementara itu tidak berdiam saja. Ia memasang matanya ke segala penjuru, terutama terhadap See Tok. Seperti juga si Bisa dari Barat, ia biasa dengan tempat gelap. Ketika ia melihat sepak terjang Auwyang Hong. Bokongan itu berbahaya untuk Pek Thong. Tidak ayal lagi, dengan jurus "Hang Liong yu hui", ia menyerang ke arah manusia licik itu.
Di pihak orang yang dikejar-kejar Pek Thong itu, dia pun tidak berpeluk tangan, ketika dia mendapat tahu datangnya serangan, dia memasang kuda-kuda, terus kedua tangannya dipakai menyambut sambil menolak pergi batu besar itu. Karena ini dengan berbareng empat orang sama-sama mengeluarkan tenaganya.
Dengan suara nyaring, batu besar jatuh ke ¬tengah ruangan. Di situ ada sebuah meja, maka ringsaklah meja itu, suaranya berisik menulikan telinga.
Mendengar itu, Kwee Ceng girang, dia tertawa. sebenarnya dia tertawa nyaring sekali tetapi suaranya lenyap di antara seruan riuh pasukan tentara yang mendekat, yang sudah mulai memasuki dusun. Sekarang Kwee Ceng dapat mendengar lebih nyata. Itulah dua buah pasukan yang lagi bertempur.
Rupanya tadi orang main kejar-kejaran. Itu pula pasukan Khoresmia, yang kalah perang, yang kabur sambil dikejar tentara Mongolia. Mungkin tentara shah Muhammad hendak mempertahankan diri di dusun ini tepapi mereka tersusul. Demikian, suara anak panah pun terdengar swang-swing tak hentinya, disusul sama bentrokan pelbagai senjata lainnya.
Mendadak Pek Thong melihat orang menerobos masuk. Ia menyambar, mencekuk orang itu, terus melemparkannya keluar. Habis itu ia mengangkat batu, dipakai mengganjal lagi pintu itu, yang ia telah lantas menutup rapat kembali.
Sampai waktu itu Auwyang Hong, yang gagal dengan bokongannya karena dirintangi Kwee Ceng, mengasih dengar suaranya. Rupanya menyangka ia telah terpergoki. Ia tanya:
"LooBean Tong, tahukah kau aku siapa?"
Pek Thong tidak segera mengenali suara orang, sebaliknya, dengan sebelah tangan menjaga diri, tangan lain menyerang ke arah darimana suara datang. ia lantas mendapat perlawanan. Mulanya tangannya ditangkis untuk ditangkap. terus ia diserang. Ia kaget sekali ketika menangkis.
"Ha, bisa bangkotan, kau di sini?" tanyanya heran.
Untuk memperbaiki diri, ia menggeser tubuh ke kiri. Justru itu, orang yang bersembunyi di utara mendadak menghajar ke punggungnya. Ia lihay, sambil tangan kanannya menyerang See Tok, tangan kirinya menangkis ke belakang. Ia menganggap inilah kesempatan yang baik mencoba ilmu silat yang ia ciptakan di Tho Hoa To, ialah ilmu kedua tangannya berkelahi masing-masing, yang tadinya ia belum peroleh kesempatan mengujinya. Akan tetapi tangkisannya ke belakang telah ditalangi Kwee Ceng. si anak muda berlompat maju, tangan kanannya menangkis tangan kakak angkat itu, tangan kirinya menangkis serangan si lawan yang belum dikenal.
Berbareng sama bentrokan tangan ketiga orang itu, dua seruan terdengar berbareng. "saudara Kwee" demikian LooBoan Tong, si tua tukang berguyon
"Kiu Cian jin" berteriak Kwee Ceng.
Sudah tentu suara itu membuat Auwyang Hong heran, karena di sini ia dapat bertemu sama LaoBoan Tong serta ketua Tiat Ciang Pang.
Ketika terjadi pertandingan di Yan ie Lauw itu, lantaran takut ular berbisa, Pek Thong telah menyembunyikan dirinya di wuwungan lauteng, dengan begitu, ia bebas dari panah tentara negeri dan selamat juga dari pagutan ular. Ia berdiam terus di situ sampai kabut buyar dan orang semua bubaran- Habis itu, ia berkeliaran saja. Lewat beberapa bulan, ia bertemu dengan seorang anggota Kay Pang, yang memberikan sepucuk surat kepadanya. Itulah suratnya oey Yong, yang menagih janji padanya.
Ia pernah menjanjikan si nona, apa saja yang dia minta, ia tidak bakal tolak. Sekarang Oey Yong minta ia pergi membinasakan Kiu Cian Jin. Si nona menulis juga, kalau "tugas" ini rampung, maka Lauw Kui-hui atau Eng Kouw, tidak bakal mencari lagi dirinya. Ia menerima baik permintaan si nona. Ia pikir, Kiu Cian Jin toh jahat sudah bersekongkol sama bangsa Kim, sebagai pengkhianat, pantas dia dibinasakan - Maka seorang diri ia pergi ke Tiat Ciang Hong. Mulanya, mereka berimbang, sesudah Pek Thong menggunakan kedua tangannya menuruti caranya masing-masing, Kiu Cian Jin keteter, dia kabur, lantas dikejar - Sebetulnya Cian Jin heran kenapa Pek Thong memusuhinya, pernah ia minta keterangan, tapi Pek Thong tidak dapat memberikannya.
Begitu mereka berkejar-kejaran, sebentar kecandak dan bertempur, sebentar Cian Jin lari pula. Sampai akhirnya tibalah mereka di rumah batu di mana justru berada Auwyang Hong dan Kwee Ceng. Kiu Cian Jin lari ke Barat ini dengan pengharapan LooBoan Tong tidak kuat menahan hawa dingin, sedang Pek Thong tidak perduli, ia cuma tahu mengejar terus.
Sampai di situ, Kwee Ceng dan Ciu Pek Thong mengetahui baik, siapa dua orang yang berada bersama mereka di dalam rumah batu itu. Auwyang Hong juga mengetahui mereka bertiga dan bahwa Kiu Cian Jin musuhnya Pek Thong. Sebaliknya Kiu Cian Jin cuma mengenali Pek Thong dan Auwyang Hong, ia masih ragu-ragu untuk Kwee ceng.
Kiu Cian Jin, ciu Pek Thong dan Auwyang Hong adalah orang-orang lihay yang sebanding kepandaiannya, tetapi Kwee Ceng setelah melayani see Tok sekian lama, pesat kemajuannya, hingga ia jadi berimbang sama mereka. Hanya sekarang mereka merasakan rintangan dari ruang yang gelap dan suara sangat berisik di luar.
Kwee Ceng bebal tetapi sekarang ia dapat berpikiri "Baik aku merintangi See Tok biar Ciu Toako membinasakan Kiu Cian Jin, kemudian berdua mengepung si Bisa dari Barat ini." ia lantas mengambil putusannya.
Ia juga bisa berkelahi dengan dua tangannya seperti Pek Thong, maka sekarang ia menggunakan ilmu silat yang istimewa itu. Dengan tangan kanan ia menyerang ke dada, dengan tangan kiri menyambut satu serangan. Tapi ketika tangannya bentrok. la terkejut. Ia mengenal bentrok sama tangannya Pek Thong, Ia lantas lompat, ingin menarik tangannya toako itu. Mendadak Pek Thong bergerak mendahului, tangan kirinya ditarik kembali tangan kanannya menyerang. Inilah ia tidak sangka, maka tahu-tahu ia terhajar pundaknya. Ia merasa sakit dan kaget sekali.
"Ah, saudara yang baik, kau hendak menguji aku?" kata Pek Thong. "Hati-hatilah" Dan dia menyerang lagi dengan tangan kirinya.
Sekarang ini Kwee Ceng telah bersedia, ia berhasil menangkis. Selagi Pek Thong dan Kwee Ceng bertempur, Auwyang Hong juga bergebrak sama Kiu Cian jin - Cian Jin lantas berpikir: "Kita tidak bermusuh satu sama lain tetapi di Hoa san nanti, kita bakal bentrok, maka kalau sekarang aku dapat menghajar dia, pasti itulah baik," Maka itu ia menyerang dengan hebat. Hanya, baru beberapa jurus, ia dan seeTok mendapat pikiran yang serupa. Itu disebabkan mereka mendapat kenyataan Pek Thong bertempur sama Kwee Ceng. Mereka berpikir. "Pek Thong ini tidak karuan lagaknya, kenapa sekarang aku tidak memberi rasa padanya?" Maka itu, keduanya lantas menanti kesempatan yang baik,
Setelah belasan jurus, Pek Thong mendapat tahu kemajuan Kwee Ceng. Ia girang sekali, ia heran juga. Ia bertanya:
"Eh, saudara yang baik, darimana kau peroleh kepandaianmu?" suara di luar berisik sekali, Kwee Ceng tidak mendengar, ia tidak menjawab. Pek Thong menjadi gusar. Ia tidak ingat suara berisik itu.
"Baik" katanya. "Kau tidak mau memberitahu aku. Kau main gila, ya"
Justru itu datang serangan berbareng dari Kiu Cian Jin dan Auwyang Hong, ia lantas lompat berkelit, terus berkata kepada si anak muda.
"Baiklah, aku membiarkan kau sendiri melawan mereka"
Benar-¬benar, ia tidak melawan kedua penyerangnya. Ia digantikan Kwee Ceng, yang hendak membelai padanya. Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin, yang mendapat tahu Ciu Pek Thong mundur, lantas menyerang Kwee Ceng.
Anak muda ini menjadi bingung. Tadi ia heran atas serangan Pek Thong. Sekarang menghadapi dua musuh tangguh. Satu Auwyang Hong saja sudah hebat. Tapi ia terpaksa harus berkelahi. Maka ia berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Sesudah bertempur sekian lama, Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin menjadi heran. Menurut mereka, siapa saja di antara mereka berdua, pasti akan dapat mengalahkan Kwee Ceng, siapa tahu sekarang mereka kesulitan. Ke mana mereka menyerang, si anak muda selalu dapat melayani. Akhirnya, mereka menjadi kewalahan.
Ciu Pek Thong beristirahat di atas penglari. Ia tahu berapa lama Kwee Ceng telah menempur dua musuh yang tangguh itu. Ia pikir, ia perlu lekas turun, untuk membantu, kalau tidak adik angkatnya itu bisa susah. Lantas ia turun dengan diam-diam, bertindak berindap-indap ke belakang Auwyang Hong. Di dalam gelap itu, ia sengaja menutup kedua matanya. Hanya tangannya yang diajukan ke depan, guna menjambret. Kebetulan ia melanggar punggung Auwyang Hong, yang lagi nongkrong guna menyerang Kwee Ceng dengan ilmu Kedoknya.
See Tok terkejut, segera menyerang ke belakang. Kwee Ceng mendapatkan tidak ada serangan, ia menendang Kiu Cian Jin, habis itu ia berlompat mundur ke pojok. Kebetulan untuknya, Pek Thong datang pada waktunya yang tepat, kalau tidak ia bisa celaka di tangan si Bisa dari Barat. Ia sudah bernapas memburu. Tapi ia tidak bisa beristirahat lama, segera harus menghadapi lagi ketua dari Tiat Ciang Pay, sedang ciu Pek Thong menyambut Auwyang Hong. Mereka saling ganti lawan. Yang lucu adalah kalau Pek Thong bertempur pula sama adik angkatnya itu seperti tadi. Di dalam gelap. sukar mereka lekas saling mengenali.
Pek Thong gembira sekali dengan ini pertempuran kacau. satu kali, selagi melayani Kwee Ceng, ia berkata kepada anak muda ini.
"Tangan kita masing-masing seperti melayani dua musuh, sekarang aku hendak mencoba, kau melayani empat tangan - Kau anggap mereka berdua hanya satu orang"
Kwee Ceng tidak mendengar apa yang orang bilang hanya ia lantas merasa seperti dikepung tiga orang. Tentu saja berbahaya. Maka ia lebih sering berkelit.
"Jangan takut, jangan takut," kata Pek Thong, yang ketahui orang lebih banyak menolong diri daripada membalas menyerang. “Jangan takut, kalau ada bahaya, aku yang bantu kau"
LooBoan Tong boleh mengatakan demikian, tetapi mereka berada di tempat gelap dia bisa terlambat, maka itu, Kwee Ceng menjadi letih pula, sedang begitu ia merasakan tangan kedua lawannya semakin berat. Ia telah memikir untuk lompat naik ke penglari, untuk beristirahat siapa tahu Pek Thong mendesak kepadanya. Ia kaget dan mendongkol, akhirnya ia berkata nyaring:
"Ciu Toako, manusia tolol, perlu apa kau mengganggu aku?"
Percuma anak muda ini mengasih dengar suaranya, suara itu tak terdengar Pek Thong. Di luar, suara pertempuran sangat berisik. Ia lantas mundur. Tiba-tiba kakinya terpeleset, hampir roboh. Di saat itu datanglah serangan Kiu Cian Jin - Sambil terhuyung, ia memungut batu yang ia injak itu, ia angkat tinggi kedadanya, guna dipakai melindungi tubuhnya. Maka serangan Cian Jin mengenai batu itu.
Menyusul itu datang serangan Auwyang Hong, yang menuju ke kirinya. Ia menggunakan terus batunya. Kali ini sambil menangkis, ia melemparkan batu keras sekali ke atas. Kesudahannya, membikin wuwungan bolong, hingga di sana nampak sedikit cahaya terang dan bintang-bintang di langit.
Pek Thong gusar melihat cahaya terang itu. Ia membentak "Sekarang segalanya tampak nyata. Mana menggembirakan?"
Kwee Ceng merasa sangat letih. la tidak memperdulikan teguran itu, bahkan ia lompat tinggi sekali, noblos di wuwungan yang bolong. Auwyang Hong berlompat naik, untuk menyusul.
"Jangan pergi Jangan pergi" Pek Thong berseru-¬seru. “Temani aku bermain-main" Dan ia berlompat juga, menyambar kaki see Tok. Auwyang Hong kaget, ia menendang. Kakinya bebas, tetapi karena itu, ia tidak dapat naik terus, ia mesti turun lagi.
Kiu Cian Jin melihat keadaan orang, tanpa menanti si Bisa dari Barat menginjak lantai, dia berlompat menendang ke dada, karena itu Auwyang Hong harus membikin mengkerat dadanya, sambil menolong diri, ia juga menotok ke kaki si penyerang. Karena ini, keduanya jadi bertarung lagi.
Sekarang dengan adanya cahaya terang, orang bertempur dengan satu sama lain bisa saling melihat. Hanya ketika itu, di luar, suara berisik semakin berkurang. Ciu Pek Thong menjadi lenyap kegembiraannya, ia mendongkol, karena uring-uringan, ia menyerang Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin, menyerang dengan hebat sekali.
Kwee Ceng dilain pihak lari terus hingga ke luar dusun. Ia menyaksikan sisa kedua pihak tentara yang terluka dan terbinasa, ia pun mendengar rintihan datang dari sana sini. Ia tidak memperdulikan mereka, ia hanya mencari satu tempat sunyi di mana segera merebahkan diri, untuk beristirahat. Ia sangat letih, ia merasakan otot-otot dan buku-buku tulangnya ngilu dan nyeri. Tanpa merasa ia tidur pulas.
Lama anak muda ini tidur, ketika besoknya pagi ia bangun, dengan kaget ia berlompat bangun. Ia merasa mukanya di usap-usap sesuatu. Ketika ia berlompat, berbareng mendengar meringkiknya kuda, betapa girangnya melihat kuda merahnya, yang datang padanya dan menjilati mukanya. Ia menjadi girang sekali ia merangkul leher binatang itu.
Ketika si anak muda dikurung Auwyang Hong, kuda itu diumbar saja, dia dapat hidup sendiri. Waktu terjadi pertempuran tentara Kim dan tentara Mongolia, dia menyingkir jauh, setelah kedua pihak tentara pergi, dia mencari majikannya.
Dengan menuntun kudanya, Kwee Ceng berjalan perlahan-lahan kembali ke dusun. sekarang termelihat tegas sisa pertempuran, mayat serdadu dan bangkai kuda, berserakan di sisi pelbagai senjata. Masih ada serdadu yang terluka, yang merintih. Ia terharu sekali. Terpaksa ia tidak menghiraukan segalanya, ia langsung kembali ke rumah batu. Sebelum masuk memasang kuping dulu, lalu mengintai dari sela-sela pintu, setelah tidak mendengar apa-apa dan tidak melihat sesuatu, perlahan ia menolak daun pintu, untuk bertindak masuk. Tidak ada orang di situ, entah ke mana perginya ciu Pek Thong, Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin bertiga. Untuk sejenak. la berdiri menjublak. Kemudian keluar, untuk naik kudanya, berangkat ke arah timur. Ia melarikan binatang tunggangannya itu. Tidak lama ia berhasil menyusul pasukan perang jenghiz Khan¬.
Waktu itu Khoresmia telah terpukul hebat, pelbagai kotanya pecah atau diserbu rusak. Angkatan perangnya hancur luluh, bahkan rajanya, shah Muhammad ed-Din, kabur entah ke mana. Tapi shah itu, atas titahnya Jenghiz Khan, dicari terus oleh subotai dan Jebe, yang menyusul ke arah Barat.
Jenghiz Khan sendiri berangkat pulang dengan membawa kemenangan. subotai berdua telah mengejar sampai di sebelah barat Moskwa, dekat kota Kiev, di tepi sungai Dnieper, di mana mereka telah melabrak beberapa puluh ribu jiwa serdadu Russia dan Kimchak. Dimana pun mereka menghukum hertog dari Kiev serta sebelas pangeran dengan jalan melindas mereka dengan kereta. Ini dia yang dinamakan "Perang Kalka". Demikian padang rumput Russia mengeluh di bawah injakan kaki kuda Mongolia.
Jenghiz Khan masgul dan cemas karena hilangnya Kwee Ceng di samarkand, sekarang ia melihat si anak muda kembali, hatinya girang. Pula tak dapat dikatakan girangnya putri GochinBaki.
Khu Cie Kie tetap turut di dalam angkatan perang yang pulang ke timur, saban-saban ia membujuk pendekar Mongolia untuk mencintai rakyat dan mencoba mengurangi pembunuhan. Jenghiz Khan sangat tidak menyetujui sikap imam ini tetapi karena ia tahu orang berilmu, ia tidak mau terlalu menentang nasihat itu. Dengan begitu, kata-katanya imam dari Coan cin Kauw ini telah menolong banyak sekali jiwa orang. Di dalam kitab Yuan shih - j asanya Khu Cie Kie tercatat jelas.
Untuk pemerintah "dunia", Cie Kie menasihati janganlah orang gemar membunuh. Ditanya tentang cara memerintah, ia menganjurkan menghormati Thian dan mencintai rakyat.
Mengenai pertanyaan ilmu umur panjang, ia menasihati untuk membersihkan hati dan mengurangi segala nafsu keinginan. Karena ini, ia disebut sin-sian atau dewa dan Jenghiz Khan menganjurkan putra-¬putranya mencontoh imam ini. Ketika kemudian Mongolia menyerang negara Kim, kembali Khu Cie Kie berhasil menolong banyak jiwa manusia. Untuk pulang dari Khoresmia ke negerinya Jenghiz Khan memerlukan banyak waktu.
Ketika akhirnya ia tiba di negaranya, ia membuat pesta besar. Terus ia memelihara tentaranya. Lewat lagi beberapa bulan, timbullah keinginan pendekar ini maju pula ke selatan, guna menyerang bangsa Kim. Untuk itu ia segera mengadakan rapat.
Dalam rapat ini, Kwee Ceng menutup mulut. Semenjak pulang, ia senantiasa berduka, sering seorang diri ia pesiar di tanah datar atau dipadang rumput, dengan menunggang kuda merahnya sambil membawa kedua burungnya. Ada kalanya selama bicara, ia berdiam terbengong saja. Semua ini disebabkan ia terlalu keras memikirkan Oey Yong yang lenyap. Putri Gochin membujuknya, ia tidak mengambil perduli, ia seperti tidak mendengar. Orang tahu ia bersusah hati, sampai tidak ada yang menyebut-nyebut urusan jodohnya. Demikian di hari rapat itu, selagi lain orang bicara banyak ia berdiam saja.
Habis rapat, Jenghiz Khan menitahkan semua panglimanya mengundurkan diri. seorang diri ia berdiam di atas bukit, otaknya bekerja. Besoknya pagi ia mengasih titah untuk angkatan perangnya maju ke tiga jurusan, untuk menyerang negeri Kim.
Tatkala itu Juji bersama subotai masih ada di Barat lagi mengurus negara-negara taklukannya, maka sekarang pasukan kesatu dikepalai oleh ogotai, putra nomor tiga pasukan kedua diserahkan di bawah pimpinan Tuli, putra nomor empat. Kwee Ceng dapat tugas pula, untuk memimpin pasukan ketiga.
Jenghiz Khan memanggil berkumpul ketiga kepala perangnya itu, ketika ia mau bicara, ia menitahkan semua pengiringnya mengundurkan diri Lantas ia berkata
"Pasukan perang Kim dipusatkan diTongkwan - Kota itu sukar dipukul pecah karena letaknya di selatan nempel pegunungan dan di utara berbatas dengan sungai besar. pikiran dari pelbagai perwira pun tidak ada yang akur satu sama lain - Kalau kita maju dari depan, gerakan kita tentu bakal meminta waktu yang lama. Maka aku pikir, jalan yang paling sempurna ialah kalau kita bangsa Mongolia berserikat sama kerajaan song. Aku pikir baiklah kita meminjam jalan dari negara song, kita maju dari Tong - ciu dan Teng - ciu untuk menuju langsung ke ibukota Kim, Tay- liang."
Mendengar itu, ogotai, Tuli dan Kwee Ceng berlompat untuk saling rangkul, buat bersama-sama berteriak:
"Bagus"
Jenghiz Khan memandang Kwee Ceng sambil bersenyum. "Kau pandai mengatur tentara, aku senang denganmu," kata pendekar ini. "sekarang aku hendak tanya kau, setelah Tay - liang kena dipukul pecah, bagaimana?"
Kwee Ceng menggeleng kepala. "Tidak menyerang Tay- liang," sahutnya.
Ogotai dan Tuli menjadi heran - Terang barusan ayah mereka menyebut menyerang ibukota Kim. Kenapa sekarang Kwee Ceng bilang demikian? Maka keduanya mengawasi dengan melongo.
Jenghiz Khan sebaliknya tetap bersenyum. "Kalau tidak menyerang Tay - liang, bagaimana?" dia tanya pula.
Kwee Ceng menjawab tenang: "Sudah tidak menyerang, bukan berarti juga tidak menyerang, ¬menyerang tetapi tidak menyerang, tidak menyerang tetapi menyerang"
Kedua pangeran itu menjadi heran bukan main. Jenghiz Khan tertawa, ia berkata pada si anak muda
"Menyerang tetapi tidak menyerang, tidak menyerang tetapi menyerang. Bagus kata-kata itu. Nah, kau menjelaskanlah kepada semua kakakmu."
Kwee Ceng mengangguk. la berkata: "Aku dapat menerka siasat perang dari Khan yang agung. Kita berpura-pura menyerang ibukota Kim, untuk membasmi musuh di kaki tembok kota. Tay-liang ialah kota tempat kediaman raja Kim, tetapi di sana tentaranya tidak banyak. Jikalau kita pergi ke sana, pasti raja Kim bakal segera mengirim pasukan dari Tong - kwan untuk menolong. Tong¬kwan terpisah jauh dari Tay - liang kalau tentara dikirim cepat, tentara akan keburu lelah di tengah jalan, umpama kata tentara itu dapat tiba tepat, mereka tentu tidak kuat berperang, dari itu tentara kita yang besar tinggal melabrak saja. Kita pasti menang. Kalau bala bantuan musuh dapat dipukul hancur, kota Tay-liang bakal jatuh tanpa diserang lagi. Sebaliknya kalau langsung kita menyerang Tay-liang, itu sulit, kita pun bisa digencet musuh dari depan dan belakang."
Jenghiz Khan bertepuk tangan sambil tertawa lebar. "Bagus Bagus" pujinya.
Lantas raja ini mengeluarkan sehelai peta bumi, ia membeber di atas meja. Menampak itu, semua ketiga panglima itu heran bukan main.
Peta itu ialah peta bumi sekitar kota Tay - liang, di situ terlukis garis dua pasukan tentara - pasukan Mongolia dan musuh. Di situ pun tercatat jelas siasat guna menyerang musuh, buat menghajar bala bantuan dari Tong-kwan selagi bala bantuan itu baru tiba dan masih letih. Jadi cocoklah dengan pikiran Kwee Ceng barusan. Kota Tay-liang mau diserang, toh tidak diserang - kota itu tidak diserang, toh bakal dirampas.
Ogotai dan Tuli sating memandang, mereka memandang ayahnya, lalu memandang Kwee Ceng. Pada wajah mereka terlukis nyata keheranan dan kekaguman. Jenghiz Khan berkata pula:
"Dengan penyerangan kita ke selatan kali ini, sudah pasti negara Kim bakal kena dipukul pecah. Di sini ada tiga buah surat tertutup, kamu bawalah seorang satu. Kalau nanti kota Tay - liang sudah dipukul pecah, kamu berkumpul di istana Kim-loan-thian raja Kim, di sana kamu membuka berbareng, lalu kamu bertindak menurut apa yang tertera di situ."
Sembari berkata, khan agung merogoh sakunya mengeluarkan surat tertutup atau kim-long atau " kantong sulam", ia menyerahkannya seorang satu. Kwee Ceng melihat surat itu tertutup dan tersegel, laknya dicap dengan cap khan sendiri
"Sebelum kalian memasuki kota Tay-liang, jangan lancang membuka surat tertutup ini, "Jenghiz Khan memesan. "Maka itu, sebelum kalian membuka, mesti kamu mengasih lihat satu sama lain, untuk diperiksa dulu ada atau tidak tanda rusaknya."
Ketiga panglima itu menjura seraya berjanji akan mentaati pesan itu
"Kau biasanya lambat, kenapa sekarang kau cerdas dan sebat?" kemudian khan menanya Kwee ceng.
Pemuda ini tidak mau berdusta, ia mengaku telah membaca kitab Gak Hui. Jenghiz Khan lantas menanyakan hal ikhwal Gak Hui dan sianak muda menuturkan Gak Hui telah melabrak bangsa Kim di Cu-sian-tin, hingga Gak Hui dipangil "Gak Yaya" alias "Kakek Gak", sampai timbul sebutan, "Menggoncang gunung gampang, menggoncang tentara Gak Hui sukar."
Mendengar itu, khan membungkam, ia jalan mondar-mandir di kemahnya sambil menggendong tangan, kemudian ia menghela napas dan mengatakannya:
"Menyesal aku tidak terlahir seratus tahun lalu supaya aku bisa bersahabat sama pendekar itu. Sekarang ini di dunia siapakah dapat menjadi tandinganku?"
Untuk sejenak, hati raja ini menjadi tawar sendiri karena menyesalnya Kwee Ceng sendiri, sekeluarnya dari kemah, sudah lantas menuju langsung ke kemah ibunya. saking repot sama tugasnya, sudah beberapa hari ia tidak dapat kesempatan menjenguk orang tuanya. Besok ia mau berangkat perang ke selatan, guna membalas sakit hati negara, jadi hari itu perlulah ia menemani ibunya.
Ketika sampai di kemah, ia mendapat sebuah kemah kosong, segalanya sudah dibawa pergi. Cuma seorang serdadu tua yang menjaga di situ. Atas pertanyaan, serdadu itu memberitahukan bahwa atas perintah khan agung, ibunya sudah pindah ke lain kemah. Setelah menanya jelas, ia pergi terus ke kemah yang disebutkan. Ia mendapatkan sebuah kemah besar, yang beberapa lipat lebih besar dari kemah yang lama. Dan begitu menyingkap pintu, ia terbengong. Di situ terlihat banyak barang berharga yang gemerlapan, yang tentara Mongolia dapat merampas dari musuh. Putri Gochin juga berada di situ tengah menemani ibunya, yang lagi menutur hal ikhwal ia sendiri di waktu masih kecil. Menampak si anak muda, putri itu bangkit menyambut sambil bersenyum.
"ibu" Kwee Ceng memanggil. "Dari mana semua ini?"
"Khan agung membilang selama berperang di Barat, kau berjasa besar, maka semua ini hadiah untukmu," sahut sang ibu. "sebenarnya kita sudah terlalu biasa dengan penghidupan kecil, semua ini tidak ada gunanya untuk kita"
Di kemah itu tambah delapan budak. untuk merawat Lie Peng. Semua budak-budak asal rampasan, maka bisa dimengerti kalau mereka dari kalangan bangsawan.
Ketiganya lantas duduk memasang omong. Tidak lama, putri Gochin mengundurkan diri Ia tahu, anak itu tentu mau bicara banyak sama ibunya, ia tidak mau mengganggu. Hanya, lama ia menantikan di luar, ia tidak melihat si anak muda keluar.
"Anak Ceng," berkata Lie Peng. "Putri menantikan kau di luar, pergilah bicara sama dia."
Kwee Ceng menyahut “ya”, tetapi ia tidak bergerak dari tempat duduknya.
Lie Peng menghela napas, ia berkata "Sudah dua puluh tahun kita tinggal di Utara ini, meski benar khan agung sangat memperhatikan kita, tapi aku ingin sekali pulang, maka itu semoga kau berhasil memusnahkan negara Kim, supaya kita berdua bisa lekas kembali ke kampung halaman. Kita tinggal tetap di Gu-kee-cun, di tempat kediaman lama dari ayahmu. Kau bukan seorang yang kemaruk harta dunia dan keagungan, jadi tak usahlah kau datang lagi ke sini. Hanya urusan putri sulit"
“TENTANG perjodohanku " kata Kwee Ceng, "aku pernah membicarakannya dengan Putri. Kalau Yongji mati, aku takkan menikah untuk selamanya."
Li Peng menghela napas lagi. "Mungkin Putri sendiri mau mengerti, tapi bagaimana dengan Khan Agung? Aku khawatir...”
"Kenapa Khan Agung?"
"Beberapa hari ini Khan luar biasa baik padaku. Lihatlah hadiah ini, emas, perak, dan permata. Memang benar katanya hadiah ini untuk jasamu berperang di Barat, tapi aku sudah dua puluh tahun tinggal di sini, kurasa aku telah mengenal baik sifatnya. Aku yakin ada alasan lain!"
"Ibu, menurut Ibu apa alasan itu?"
"Aku wanita, pendapatku tidak luhur," sahut sang ibu. "Tapi setelah aku melihat dan memikirkan semua ini, mungkin Khan hendak memaksa kita melakukan sesuatu...."
“Tentu dia menghendaki aku menikah dengan putrinya," kata Kwee Ceng.
"Menikah itu urusan baik," kata sang ibu lagi. "Khan tidak tahu kau tak setuju dengan pernikahan itu, dia tak bisa memaksakannya. Tapi, menurut penglihatanku, kau mengepalai sepasukan tentara besar, kau pun berperang ke Selatan, maka aku khawatir Khan mencurigai kau akan mendapat pikiran untuk memberontak..."
Kwee Ceng menggeleng. "Aku tidak mempunyai minat untuk kekayaan dan keagungan, Khan tahu hal ini dengan baik," katanya. "Buat apa aku memberontak?"
"Kalau begitu, aku ingat satu cara." kata Li Peng. "Mungkin ini dapat dipakai untuk mengetahui apa yang dipikirkan Khan. Pergilah kau melaporkan pada Khan, bilang aku kangen pada kampung halaman, aku ingin pulang bersamamu. Coba dengar apa katanya."
Kwee Ceng girang mendengar pikiran ibunya itu. "Oh, Ibu, mengapa Ibu tidak mengatakannya dari siang-siang?" katanya. "Kita pulang bersama, betapa senangnya! Pasti Khan Agung akan memperkenankannya." Pemuda ini lantas keluar dari kemah. Ia tidak melihat Gochin. Mungkin karena menanti terlalu lama, putri itu habis sabar dan berlalu dengan kecewa. Ia lantas menuju markas besar. Ia pergi sekian lama, ketika kembali pada ibunya, ia menunduk lesu.
"Khan tidak memperkenankannya, bukan?" Li Peng bertanya,
"Anakmu tidak mengerti. Ibu " sahut Kwee Ceng. "Apa perlunya Khan menghendaki Ibu tetap berdiam di sini?"
Sang ibu diam.
"Khan bilang," Kwee Ceng menjelaskan, "Sesudah Negara Kim dihancurkan, barulah kita bisa berangkat pulang. Katanya waktu itu kita akan pulang dengan kehormatan besar. Aku bilang Ibu sangat kangen dan ingin lekas pulang, lantas Khan tampaknya gusar. Dia menggeleng dan tetap menolak."
"Apa lagi kata Khan padamu?"
Kwee Ceng memberitahu bahwa dalam rapat tentara, ia diberi tugas serta dibekali dengan kim-long.
"Ah." desah sang ibu masygul, "kalau suhu keduamu dan Yongji berada di sini, mereka pasti dapat menerka maksud Khan. Aku merasa tidak enak memikirkan ini, tapi entah apa sebabnya, aku tak tahu...." Kwee Ceng mengeluarkan kim-long-nya, mempermainkan dengan tangannya. "Ketika Khan menyerahkan ini, kulihat air mukanya beda sekali," katanya. "Maka aku khawatir jangan-¬jangan sikapnya berhubungan dengan surat rahasia ini."
Li Peng mengambil kim-long itu, mengawasinya dengan teliti, kemudian menyuruh para pelayannya menyingkir.
"Kita buka dan lihat saja," katanya kemudian.
Kwee Ceng terkejut. "Tidak bisa!" katanya. "Surat ini dicap. Kalau membukanya berarti akan mendapat hukuman mati...."
Li Peng tertawa. "Kau tahu kepandaian menyulam dari kota Lim-an sangat tersohor di seluruh negara?" katanya. "Ibumu ini orang Lim-an. Sedari kecil aku telah mempelajari kepandaian itu. Tanpa merusak, aku dapat membuka kantong bersulam ini dan aku dapat menjahitnya kembali seperti semula."
Kwee Ceng percaya pada ibunya, ia jadi girang sekali. Li Peng lantas mengambil jarum halus, dengan itu ia mulai membuka sulaman kantong wasiat. Pekerjaannya rapi. Surat itu lantas dibeber untuk dibaca bersama. Segera keduanya tersentak, tubuh mereka langsung terasa dingin tidak keruan. Surat itu berisi titah rahasia Jenghis Khan untuk Ogotai, Tuli, dan Kwee Ceng. Begitu mereka dapat mengalahkan bangsa Kim, mereka harus maju ke Selatan secepat kilat menyerang kota Lim-an dan memusnahkan Kerajaan Song, supaya Mongolia dapat mempersatukan dunia. Dalam perintah rahasia itu ada tambahan: Kalau Kwee Ceng berhasil berjasa besar, ia harus diangkat jadi raja muda dan dihadiahi besar-besaran; tapi kalau hatinya berubah, Ogotai dan Tuli diperintahkan untuk segera menjatuhkan hukuman mati, ibunyapun harus ikut dihukum picis.
"Ibu," kata Kwee Ceng setelah diam sekian lama, "Iika Ibu tadi tidak membuka kim-long ini, jiwa kita berdua tentulah celaka. Kita adalah orang Song, mana bisa kita menjual negara kita sendiri?”
"Sekarang bagaimana?" Li Peng bertanya.
"Ah, Ibu, biarlah kita tanggung penderitaan ini," kata sang anak masygul. "Sekarang juga kita lari pulang ke Selatan."
"Baik!" sahut ibunya. "Pergilah kau bersiap-siap. Jagalah supaya rahasia ini jangan terbongkar."
Kwee Ceng mengangguk. Ia kembali ke kemahnya untuk berbenah seperlunya. Selain kuda merahnya, ia akan membawa tiga ekor kuda lain. Bagaimanapun, setelah berdiam belasan tahun di gurun pasir ini, ia merasa sedikit berat untuk meninggalkannya. Sebagai kepala perang, Kwee Ceng dapat bergerak dengan leluasa. Juga ketika itu, rombongan Lou Yu Kiak sudah tidak ada bersamanya, mereka sudah pulang lebih dulu ke Selatan.
Semua hadiah dari Khan ia tinggalkan. Paling akhir ia membuka seragamnya, dengan pakaian biasa, ia kembali ke kemah ibunya. Begitu menyingkap tenda, ia terkesiap. Ibunya tidak ada, yang ada hanya dua bungkusan yang menggeletak di tanah.
"Ibu!" panggilnya. Tidak ada jawaban, la khawatir dan curiga.
Ketika hendak keluar, tenda tersingkap dari luar, lantas cahaya api terlihat terang benderang. Chilaun dengan seribu serdadu sudah mengurung tenda itu.
"Khan Agung memanggil-menghadap!" demikian ia mendengar.
Kwee Ceng kaget dan bingung. Ia mesti segera mengambil keputusan. Kalau ia mau menggunakan kekerasan, Chilaun tidak bakal dapat merintanginya. Tapi ibunya telah ditawan, mana bisa ia kabur seorang diri? Akhirnya ia menyerah, membiarkan Chilaun menggiringnya ke markas besar. Di kemah Khan, telah berkumpul barisan pengiring Khan yang terdiri atas dua ribu jiwa. Mereka orang-¬orang Mongolia pilihan, semua bersenjatakan tombak panjang dan menjaga rapat. Kwee Ceng berjalan masuk dengan langkah lebar.
Jenghis Khan terlihat bengis sekali. Ia menggebrak meja. "Kuperlakukan kau dengan baik sekali, dari kecil kau kurawat hingga besar, putriku juga kuserahkan padamu!" bentaknya. "Eh, bangsat kecil, kenapa kau berani memberontak terhadapku?"
Kwee Ceng melihat kim-long yang dibuka ibunya ada di atas meja, maka tahulah ia bahwa jiwanya sudah sukar ditolong lagi. Ia menjadi berani. Ia mendongakkan kepalanya.
"Aku rakyat Kerajaan Song, mana bisa aku tunduk pada titahmu?" katanya gagah. "Mana bisa aku menyerang negaraku sendiri?"
Jenghis Khan bertambah gusar melihat sikap melawan pemuda itu. "Seret dia keluar! Hukum mati dia!" titahnya.
Kwee Ceng tidak dapat melawan. Ia telah dibelenggu kuat sekali dan delapan algojo mendampinginya. Tapi ia tetap tidak takut. Ia berkata nyaring,
"Kau telah berserikat dengan Kerajaan Song untuk memukul bangsa Kim, di tengah jalan kau mengingkari janjimu. Apakah itu perbuatan pendekar?”
Jenghis Khan makin gusar. Ia mendepak meja. "Sesudah Negara Kim hancur, selesai sudah perjanjianku dengan pihak Song!" katanya "Kalau kemudian aku menyerang Selatan, mana bisa dibilang melanggar janji? Lekas hukum mati dia!"
Banyak panglima mengenal baik Kwee Ceng, tetapi saat itu tidak ada yang berani buka suara. Khan sedang marah besar. Kwee Ceng tidak bilang apa-apa lagi, dengan langkah lebar ia berjalan keluar. Segera terlihat Tuli berlari mendatanginya dari padang rumput.
"Tahan! Tahan!'' teriaknya berulang-ulang. Ia bertelanjang dada dan cuma mengenakan celana kulit. Jelas ia baru terbangun dari tidurnya. Ia langsung memasuki kemah ayahnya dan berseru, "Ayah, Kwee Ceng besar jasanya, dia juga pernah menolong jiwaku, biarpun berdosa, jangan hukum mati dia!"
Jenghis Khan terpengaruh kata-kata putranya itu. "Bawa dia kembali!" ia memberikan perintah.
Kwee Ceng lantas dibawa kembali. "Kau memberatkan Kerajaan Song, apa ada untungnya?" Khan bertanya. "Kau pernah bicara tentang Gak Hui. Dia begitu setia dan berjasa, tapi akhirnya dia dihukum mati juga! Lebih baik kau membantuku merobohkan Kerajaan Song, aku berjanji padamu, setelah berhasil akan mengangkatmu menjadi raja Song!"
"Aku bukannya berontak terhadapmu!" Kwee Ceng menyahut. "Tapi kalau kau menghendaki aku menjual negara untuk kehidupan mewah dan agung, biar tubuhku dicincang, tak dapat aku menerima baik permintaanmu ini!"
"Bawa ibunya kemari!" perintah Jenghis Khan.
Lantas dua serdadu menggiring Li Peng keluar dari kemah belakang.
"Ibu!" Kwee Ceng memanggil, la mendekati ibunya, tapi dihalangi dua serdadu. Ia lantas bertanya dalam hati, "Urusanku ini cuma Ibu dan aku yang tahu. Siapa yang membocorkannya?"
Jenghis Khan tidak memberinya kesempatan untuk berpikir, katanya, "Jika kau menerima baik kata-¬kataku, kalian berdua ibu dan anak akan hidup agung dan berbahagia. Jika tidak, lebih dulu aku akan membunuh ibumu! Itu artinya kau yang membunuh ibumu, dan kau menjadi anak put-hauw"
Kaget Kwee Ceng mendengar perkataan Khan, terutama kata put-hauw tidak berbakti. Ia menunduk.
"Anda," kata Tuli, "Dari kecil tinggal di Mongolia, kau tak ada bedanya dari bangsa Mongolia. Sebaliknya pembesar-pembesar Kerajaan Song sombong sekali, mereka bersekongkol juga dengan bangsa Kim, bahkan mereka telah membunuh ayahmu dan membikin ibumu tak punya tempat untuk pulang. Kalau tidak ada ayahku, dapatkah kau hidup seperti sekarang ini? Kita sudah seperti saudara, tak dapat aku membiarkanmu menjadi anak tak berbakti. Maka kuminta sukalah kau memikirkannya lagi baik-baik."
Kwee Ceng menoleh pada ibunya. Sebenarnya ia ingin menerima baik nasihat Tuli itu, tetapi ia segera ingat akan ajaran ibunya. Ia juga ingat dan tahu betul nasib negara-negara di Barat yang ditaklukkan Mongolia, akhirnya rakyat mereka hidup sengsara. Maka ia diam terus.
Dengan matanya yang tajam, Jenghis Khan mengawasi anak muda itu. Ia menantikan jawaban. Seluruh kemah menjadi sangat sunyi,
"Aku..." kata Kwee Ceng. Ia telah maju selangkah, lantas berhenti lagi, tidak melanjutkan kata-katanya.
"Khan yang Agung," mendadak Li Peng berkata, "aku khawatir anak ini kurang mengerti. Bagaimana kalau kucoba membujuk dan menasihatinya?"
Jenghis Khan girang sekali. "Bagus!" katanya. "Nasihati dia!"
Li Peng mendekati anaknya, menarik lengan pemuda itu. lalu membawanya ke salah satu sudut kemah. Di sana mereka berdua duduk. Karena sikap rajanya sudah mulai sabar, algojo tidak menghalangi Kwee Ceng. Li Peng memeluk putranya.
"Dua puluh tahun lalu di Gu-kee-cun. Lim-an, aku telah mengandungmu, Nak," katanya pelan. "Suatu hari ketika turun hujan salju lebat, Khu Ci Kee, Khu Tootiang, berkenalan dengan ayahmu. Dia memberikan dua bilah belati, yang satu untuk ayahmu, yang lain untuk Paman Yo...."
Sembari bicara, sang ibu mengeluarkan belati itu dari saku anaknya. Ia menunjuk ukiran dua huruf yang berbunyi "Kwee Ceng" pada belati itu, lalu melanjutkan,
"Khu Tootiang telah memberi nama Ceng padamu dan Kang pada anak Paman Yo. Tahukah kau apa artinya?"
"Khu Tootiang menghendaki aku tidak melupakan peristiwa Ceng Kong yang memalukan," sahut sang anak.
"Benar, Anak Paman Yo itu mengakui musuh sebagai ayah, maka runtuhlah nama dan tubuhnya. Tentang anak itu, tak usahlah disebut-sebut lagi. Tapi kasihan Paman Yo yang gagah itu, kehormatannya dirusak anaknya sendiri...." la menghela napas, tapi lalu melanjutkan, "Dulu aku menahan malu dan menderita, tapi aku tetap terus merawat dan membesarkanmu. Tahukah kau, untuk apa perbuatanku itu? Mustahil aku hendak memelihara pengkhianat penjual negara hingga ayahmu di alam baka menjadi malu dan menderita!"
"Ibu!" kata Kwee Ceng, lantas ia menangis.
Li Peng bicara dalam bahasa Tionghoa, Jenghis Khan semua tidak mengerti, tetapi mereka melihat air mata si anak muda, maka mereka menduga si nyonya takut mati dan telah berhasil membujuk anaknya. Diam-diam mereka girang.
"Ada orang berkata, 'Hidup manusia hanya seratus tahun, waktu itu lewat dalam sekejap,'" Li Peng berkata lagi. Ia memang wanita, tetapi ia wanita sejati. "Maka. apalah artinya hidup atau mati? Selama hidup manusia, yang diharap adalah jangan melakukan sesuatu yang membuatnya terhina! Kalau orang lain menyia-nyiakan kita, biarlah, tak usah kita ingat kejahatannya. Ingatlah perkataanku ini!" la menatap wajah anaknya, air mukanya sabar sekali. Kemudian ia menambahkan, "Nak, jagalah dirimu baik-¬baik...!" Perkataan ini disusul dengan bekerjanya belati itu memutuskan dadung belenggu putranya. Setelah itu ia memutar tubuhnya untuk menikam dadanya sendiri.
Kwee Ceng menyingkirkan dadung belenggunya, menyambar ibunya, tetapi sudah kasip. Belati itu sudah menancap di dada, terbenam sebatas gagangnya.
Jenghis Khan melihat itu, ia kaget tidak terkira. "Tangkap!" ia menitahkan.
Kedelapan algojo itu tidak berani melukai huma mereka. Setelah melemparkan senjata masing-¬masing, barulah mereka berlompatan menubruk Kwee Ceng.
Kwee Ceng sangat bersedih. Dengan hati terluka ia memeluk tubuh ibunya. Begitu melihat orang-orang itu menyerbunya, sambil memondong ibunya, ia menyambut dengan sapuan kaki. Dua algojo tersepak. kaki mereka patah. Salah satu algojo disodok dengan sikut kirinya, tepat mengenai dada, hingga algojo itu roboh dengan tulang iga patah juga.
Menampak begitu, beberapa perwira terkejut, lantas maju. Kwee Ceng melompat ke belakang tenda, tangan kirinya membetot, maka separo kemah emas Jenghis Khan roboh menutupi semua perwira. Dalam kekacauan itu, ia berlari dengan membawa kabur ibunya. Segera terdengar bunyi trompet riuh, para perwira berlarian ke kuda masing-masing, menaikinya, lantas mengejar pemuda itu.
"Ibu!" panggil Kwee Ceng sambil menangis. Ia tidak mendapat jawaban.
Ketika memeriksa hidung ibunya, ia tidak lagi merasakan embusan napas. Ibunya sudah berpulang ke alam lain menyusul arwah ayahnya. Bukan main mencelosnya hati Kwee Ceng. Namun ia sedang terancam bahaya. Dalam kegelapan, ia berlari terus menyingkir dari bahaya. Kupingnya mendengar orang bergerak di empat penjuru, matanya melihat obor menyala. Ia kabur tanpa memilih jalan lagi. Ia bingung, dengan memondong ibunya, mana bisa melawan demikian banyak orang? Kalau menunggang kuda merahnya, ia mempunyai harapan. Tetapi sekarang ia Cuma berjalan kaki.
Pemuda ini berhenti menangis. Tanpa bersuara ia berlari terus. Ia ingin lekas-lekas tiba di gunung, di sana ia bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mendaki lereng. Asalkan ia dapat merayap naik, bebaslah ia. Di atas gunung, ia dapat diam sementara waktu.
Sekonyong-konyong di depannya muncul sepasukan serdadu yang dipimpin panglima bermuka merah dan berkumis putih. Di bawah sinar api, panglima itu tampak sangat berwibawa. Kwee Ceng mengenali salah satu panglima andalan Jenghis Khan, Chilaun. Panglima itu memegat dan membacok si pemuda. Kwee Ceng berkelit membebaskan diri. Setelah itu, bukannya berlari kembali, ia justru melompat menerjang pasukan Mongolia itu. Semua serdadu kaget hingga berseru.
Kwee Ceng menyambar seorang serdadu berpangkat siphu-tio yang menghalang di depannya. Selagi membetot kaki orang, kaki kanan Kwee Ceng menjejak tanah untuk melompat, maka tubuhnya mencelat naik ke punggung kuda serdadu itu. Begitu meletakkan tubuh ibunya, Kwee Ceng menolak, serdadu itu terguling jatuh. Sebelumnya Kwee Ceng sempat merampas tombak. Sekarang ia bergerak dengan cepat dan hebat. Ia membuka jalan, merobohkan setiap serdadu di depan atau di sampingnya. Ia berhasil kabur, maka Chilaun dan barisannya mengejar pemuda itu.
Dengan cara ini, Kwee Ceng tidak jadi menuju gunung, melainkan ke arah bertentangan, semakin menjauh dari gunung. Namun ia masih berpikir akan langsung menuju Selatan atau mampir ke gunung. Sementara itu Borchu pun menyusul dengan barisannya.
Jenghis Khan gusar luar biasa, tetapi ia masih ingat untuk menitahkan menangkap hidup-hidup Kwee Ceng. Para serdadunya menyusul untuk mengurung pemuda itu. Bahkan ada pasukan berkuda yang mendahului ke Selatan untuk mencegat.
Kwee Ceng bertindak nekat, la berhasil menerobos pasukan Borchu. Sekarang pakaian dan kudanya telah berlepotan darah. Ia meraba tubuh ibunya, terasa dingin. Ia sedih bukan main, tetapi ia menguatkan hati. Dilarikan kudanya ke Selatan. Ia berhasil meninggalkan semua pengejarnya jauh di belakang, namun sementara itu hari sudah mulai terang, sang fajar telah menyingsing. Ia masih berada di daerah musuh, bahkan di pusatnya...
Masih ada ribuan li untuk sampai di Tionggoan. Bisakah ia seorang diri, dengan membawa-bawa jenazah ibunya, meloloskan diri?
Tengah berlari. Kwee Ceng melihat debu mengepul di depannya. Itu pasti pasukan berkuda. Ia memutar kudanya untuk kabur ke timur. Mendadak kaki depan kuda itu tertekuk, binatang itu tidak dapat bangun lagi.
Dalam keadaan seperti itu, pemuda ini tidak mau menyerah. Ia memondong tubuh ibunya, sambil mencekal keras tombak, la maju untuk menyerbu pasukan itu. Tiba-tiba ia terkejut. Sebatang anak panah menyambar, tepat mengenai ujung tombaknya. Ia merasakan getaran akibat bentrokan itu. Celaka untuknya, ujung tombak itu patah. Menyusul sebatang anak panah lain menyambar ke dadanya. Ia melemparkan tombaknya, menangkap anak panah itu. Ketika mengamati anak panah, ia melengak. Ujung anak panah yang tajam itu tidak ada. Ia tidak bisa diam saja. Ia mendongak memandang ke depan.
Terlihat olehnya perwira yang mengepalai pasukan berkuda di depan itu menahan barisannya. Sang perwira maju menghampiri seorang diri. Kwee Ceng mengenali Jebe, jago panah yang menjadi gurunya dalam ilmu memanah.
"Guru, apakah Guru hendak menangkapku?" tanya Kwee Ceng.
"Ya," sahut Jebe.
Kwee Ceng berpikir cepat, "Kelihatannya aku tak bakalan bisa lolos. Daripada ditangkap orang lain, biarlah aku menyerahkan diri pada guruku ini." Maka ia lantas berkata,
"Baiklah! Tapi aku mau menguburkan ibuku dulu!" Ia melihat ke sekitarnya.
Di kirinya ada bukit kecil. Ia membawa jenazah ibunya ke sana. Dengan tombak buntungnya ia menggali tanah. Setelah berhasil membuat liang, ia meletakkan tubuh ibunya di situ, la tidak tega mencabut belati di dada ibunya. Ia lantas berlutut untuk paykui, kemudian menguruk liang itu. Ia sedih bukan main mengingat budi serta kesengsaraan ibunya, sampai-sampai tidak sanggup menangis lagi.
Jebe melompat turun dari kudanya. Ia paykui empat kali di depan kuburan Li Peng, kemudian menyerahkan kantong anak panah, busur, dan tombaknya kepada si pemuda. Terakhir ia menyerahkan kudanya sendiri, tali lesnya dijejalkan ke tangan si murid. Ia berkata,
"Pergilah! Mungkin kita tak bakal bertemu lagi...."
Kwee Ceng tercengang. "Guru!" katanya.
"Dulu kau bersedia berkorban menolongku " kata Jebe. "Apakah kau sangka aku bukan laki-laki hingga aku pun tak bisa berkorban menolongmu?"
"Tapi, Guru, kau melanggar titah Khan, kau bisa terancam bahaya...."
"Aku telah berperang ke timur dan ke barat. jasaku bukannya sedikit," kata Jebe. "Maka kalau Khan mempersalahkanku, paling juga aku dirangket, kepalaku tak bakal dipenggal. Maka lekaslah kau pergi!"
Kwee Ceng masih ragu-ragu.
"Aku khawatir pasukanku tidak mentaati perintah, maka yang kubawa ini bekas pasukanmu yang berperang di Barat." Jebe menambahkan. "Tanyailah mereka, apakah mereka serakah akan jasa dan akan menawanmu...."
Kwee Ceng menuntun kuda menghampiri pasukan itu. Serentak semua serdadu turun dari kuda mereka, lantas berlutut di tanah. Mereka berkata,
"Kami mengantar Ciangkun pulang ke Selatan!"
Kwee Ceng mengawasi. Mereka memang bekas pasukannya yang pernah menantang bahaya bersamanya, maka ia menjadi sangat terharu, la berkata,
"Aku bersalah pada Khan yang Agung. Berat hukumanku. Sekarang kalian melepaskan aku, jika Khan Agung tahu hal ini, besar risiko yang harus kalian pikul..."
"Ciangkun baik sekali pada kami, budi itu sebesar gunung, kami tak berani melupakannya." sahut semua serdadu.
Pemuda itu menghela napas, lantas menjura kepada mereka. Sesudah itu dengan memegang tombak ia melompat naik ke kudanya. Tepat saat akan melarikan kudanya, ia melihat debu mengepul di depannya. Kembali sepasukan serdadu berkuda mendatanginya, la terkejut, demikian juga Jebe.
“Aku telah bersalah melepaskan Kwee Ceng, kalau aku melawan pasukan ini, terang aku memberontak," pikir Jebe. Tapi ia tidak mengubah putusannya, ia berkata pada si anak muda, "Anak Ceng, lekas lari!"
Hampir berbareng dengan itu, terdengar teriakan para serdadu yang baru datang, "Jangan ganggu Huma! Jangan ganggu Huma!"
Sekarang terlihat jelas ternyata pasukan itu membawa bendera Pangeran Keempat, malahan seorang penunggang kuda segera bergegas menghampiri di antara pasukan itu. Orang itu adalah Tuli yang sedang menunggang kuda merah Kwee Ceng, tidak heran kalau ia datang cepat sekali. Begitu tiba di depan Kwee Ceng, pangeran itu melompat turun dari kudanya.
"Anda, apakah kau tak terluka?" demikian pertanyaannya yang pertama.
"Tidak," jawab Kwee Ceng. "Guru Jebe hendak menawan dan membawaku menghadap Kha Khan!" Sengaja Kwee Ceng bicara begitu untuk mencegah gurunya dicurigai.
Tuli melirik Jebe. lalu berkata pada Kwee Ceng, "Anda, naiklah ke kuda merahmu ini dan lekaslah pergi!" Ia meletakkan bungkusan di atas kuda merah itu dan menambahkan, "Ini uang emas seribu tail. Di belakang hari kita akan bertemu lagi!"
Kwee Ceng mengerti, ia lantas melompat naik ke kuda merahnya. Ia berkata kepada saudara angkatnya itu,
"Tolong sampaikan pada Adik Gochin agar dia merawat diri baik-baik! Biarlah dia menikah dengan orang lain, jangan memikirkan diriku lagi...."
Tuli menghela napas. "Selamanya Adik Gochin tak mau menikah dengan orang lain," ia berkata. "Kurasa dia bakal pergi ke Selatan untuk mencarimu. Kalau itu sampai terjadi, aku nanti mengatur orang untuk mengantarkannya."
"Jangan, jangan mencariku," kata Kwee Ceng. "Jangan kata di dalam negara yang luas sulit mencariku, umpama kita akhirnya dapat bertemu, cuma akan menambah keruwetan!"
Tuli diam, Kwee Ceng diam juga. "Jalanlah, akan kuantar kau serintasan!" kata si pangeran kemudian.
Kwee Ceng menurut, ia menyuruh kudanya berjalan. Tuli naik kuda yang lain, mereka berjalan berendeng.
"Anda," kata Kwee Ceng setelah mereka berjalan sekitar tiga puluh li. "Silakan kau kembali. Ada yang bilang, meski mengantar sampai seribu li, akhirnya mesti berpisah juga."
"Aku akan mengantarmu serintasan lagi," kata Tuli.
Maka berjalanlah mereka sampai sepuluh li lebih. Di sini keduanya turun dari kuda masing-masing untuk saling menjura, kemudian sama-sama mengucurkan air mata, mereka berpisahan. Tuli mengawasi Kwee Ceng hingga tampak kecil sekali lalu lenyap, barulah ia memutar kudanya untuk kembali. Ia masygul bukan main.
Kwee Ceng melarikan kudanya selama beberap hari, akhirnya ia keluar dari daerah yang berbahaya. Sekarang ia langsung menuju Selatan. Di sepanjang jalan, ia menyaksikan bekas-bekas peperangan, terutama rumah-rumah rusak dan tulang-tulang berserakan. Pemandangan yang menggiriskan. Ia sedih sekali.
Akhirnya sampai juga Kwee Ceng di Tionggoan. Ia merasa dirinya seperti orang asing, sebab tidak tahu mesti pergi ke mana. la tidak mempunyai rumah dan sanak saudara. Dalam setahun, ia kehilangan ibunya. Oey Yong, dan guru-gurunya, la ingat Auwyang Hong dan timbul niatnya untuk membalaskan dendam Oey Yong, tetapi begitu ingat keadaan yang menyedihkan sekali di Khoresm, hatinya menjadi tawar, la berhasil membalaskan sakit hati ayahnya, namun demikian banyak jiwa manusia yang melayang dalam keadaan memilukan. la jadi sangsi, jangan-jangan balas dendam itu bukan cara yang tepat untuknya.
"Seumur hidup aku belajar ilmu silat, sekarang beginilah kepandaianku," ia berpikir. "Tapi aku tak bisa membela kekasihku dan ibuku, maka apa gunanya aku belajar silat? Tujuan hidupku adalah jadi orang baik-baik, bagaimana sekarang? Siapa yang memperoleh kesenangan karenanya? Ibu dan Yongji binasa gara-gara aku.... Karena aku, seumur hidup Adik Gochin takkan senang... Ya, banyak orang yang telah kubikin celaka...."
Ia berhenti berpikir sebentar, terus melamun lagi. "Wanyen Lieh dan Raja Khoresm memang orang-¬orang busuk, tapi bagaimana dengan Jenghis Khan? Dia membunuh Wanyen Lieh, dia orang baik. Dia telah memelihara ibuku dan aku selama dua puluh tahun, tapi dia menitahkanku untuk menyerang Pemerintah Song, dan sekarang dia memaksakan kematian ibuku. Dengan Yo Kang aku saling mengangkat saudara, tapi hatinya tidak lurus. Adik Liam Cu orang baik, mengapa dia mencintai Yo Kang mati-matian? Anda Tuli baik sekali padaku, kalau nanti dia menyerang ke Selatan, haruskah aku menghadapinya di medan perang untuk bertempur hidup-mati? Tidak, tidak! Setiap orang punya ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan susah payah merawatnya hingga besar, maka mana bisa aku membunuh anak orang hingga ibunya bakal jadi susah?"
Ia diam, berpikir lagi. "Belajar silat adalah untuk menghajar orang, membunuh orang...," ia melamun lebih jauh. "Kelihatannya hidupku selama dua puluh tahun salah semuanya. Dengan rajin dan susah payah aku belajar silat, akhirnya cuma untuk mencelakai orang.... Kalau tahu begini, lebih baik aku tak mengerti silat sama sekali! Tapi kalau tak belajar silat, aku mesti mengerjakan apa? Sebenarnya untuk apa aku hidup di dunia? Setelah beberapa puluh tahun nanti, bagaimana lagi? Bukankah lebih baik mati siang-¬siang? Kalau aku hidup terus, bukankah akan lebih banyak keruwetan? Tapi kalau aku mati siang-siang, untuk apa ibuku melahirkan aku? Kenapa Ibu mesti bercapek lelah merawatku hingga besar?"
Semakin lama pikirannya menjadi semakin ruwet. Selama beberapa hari Kwee Ceng merasa tidak karuan, makan tidak bernafsu, tidur pun kurang. la mondar-mandir di tegalan, memikirkan semua pertanyaannya itu.
"Ibuku dan semua guruku mengajariku supaya memegang kepercayaan," kemudian ia berpikir lagi. "Sekarang timbul urusan Yongji. Aku sangat mencintainya. Tapi di sana ada putri Jenghis Khan. Dapatkah aku menolak putri itu? Kesudahannya perjodohanku itu menyebabkan kematian ibuku dan Yongji, dan karenanya Khan yang Agung, Tuli, dan Adik Gochin jadi bersusah hati.... Ketujuh guruku dari Kanglam dan Suhu Ang adalah orang-orang gagah dan mulia hatinya, tapi tak ada satu pun yang selamat. Sebaliknya Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin jahat, kenapa mereka hidup merdeka dan senang? Sebenarnya di dunia ini ada hukum Thian atau tidak...?"
Suatu hari tibalah anak muda ini di sebuah dusun di kota Cee-Iam, Shoatang. la singgah di rumah makan, la duduk seorang diri menenggak arak, pikirannya pepat. Ketika ia baru minum tiga cawan, mendadak seorang laki-laki menghampirinya, sambil menuding dan mendamprat.
"Hai, Tartar bangsat, kau telah memusnahkan rumahku dan membinasakan keluargaku, sekarang aku hendak mengadu jiwa denganmu!"
Kata-kata itu disusul dengan tinjunya. Kwee Ceng terkejut, heran. Langsung ia menangkis sambil menangkap, ketika ia menarik pelan saja, orang itu jatuh ngusruk. Jelas orang itu tidak mengerti ilmu silat. Kepalanya mengenai lantai dan darahnya mengucur.
"Saudara, apakah kau salah lihat orang?" tanyanya seraya menolong orang itu bangun, la merasa tidak enak hati tanpa sengaja melukai. Orang itu gusar sekali.
"Tartar bangsat! Tartar bangsat!" cacinya berulang-ulang.
Dari luar rumah makan lantas menerobos masuk belasan orang. Tanpa banyak omong mereka menyerbu Kwee Ceng. Tentu saja anak muda ini menjadi repot. Ia main berkelit, karena tidak mau melukai orang lain. Tapi ia repot, sebab serangan makin seru, sedangkan ruangan sempit. Tiba-tiba dari balik pintu terdengar suara nyaring,
“Anak Ceng, kau bikin apa di sini?"
Kwee Ceng lantas menoleh, untuk melihat orang yang menegurnya, la mendapati imam dengan kumis putih panjang, romannya suci dan berwibawa. Ia mengenali Khu Ci Kee, maka ia girang bukan main.
"Tootiang!" jawabnya. "Tak keruan orang-orang ini mengepungku!"
Khu Ci Kee lantas masuk, mendorong setiap orang, kemudian menarik tangan si anak muda, mengajaknya berlalu. Mereka disusul oleh banyak orang yang gusar, tapi setibanya di luar, setelah Kwee Ceng memanggil kuda merahnya, dengan cepat mereka menghilang. Setelah mereka tinggal berdua, Kwee Ceng mengulangi keterangan bahwa ia dikeroyok tanpa sebab.
Khu Ci Kee tertawa. "Kau berdandan sebagai orang Mongolia, maka mereka salah menyangkamu," katanya.
Di wilayah Provinsi Shoatang ini, orang Mongolia telah bertempur hebat dengan orang Kim. Penduduk Shoatang sangat menderita karena bangsa Kim, maka mereka membantu bangsa Mongol. Siapa tahu, ternyata bangsa Mongol sama kejamnya dengan bangsa Kim. Setelah bangsa Kim dikalahkan, mereka pun menindas rakyat. Maka rakyat sangat gusar dan benci. Sudah biasa terjadi, apabila ada pasukan tentara Mongolia lewat dan salah satu serdadu atau opsirnya tertinggal, orang itu lantas dibunuh rakyat.
"Kenapa kau membiarkan dirimu ditinju dan ditendangi?" tanya Ci Kee kemudian. "Lihat, kau jadi tak keruan, tubuhmu bengkak dan bengep...."
Kwee Ceng menghela napas. "Aku tak berniat melayani mereka," sahutnya sedih. Ia lantas menceritakan tentang ibunya yang seperti dipaksa bunuh diri oleh Jenghis Khan.dan bahwa selama ini pikirannya kacau.
Khu Ci Kee terkejut. "Kalau Jenghis Khan bemiat menyerang Kerajaan Song, mari kita lekas berangkat ke Selatan," katanya. "Pemerintah mesti diberi kisikan supaya siap sedia menyambut musuh!"
"Apa gunanya?" tanya si pemuda sambil menggelengkan kepala. "Kesudahannya kedua pihak bakal berperang hingga mayat-mayat bakal bertumpuk setinggi gunung, rumah rakyat akan musnah, dan nyawa rakyat akan lenyap...."
"Kalau Kerajaan Song dimusnahkan bangsa Mongol, rakyat bakal lebih menderita," Tiang Cun Cu memberi pengertian. "Penderitaan itu tiada taranya."
"Tootiang," kata si anak muda, "Ada banyak soal yang tak kumengerti, tolong Tootiang jelaskan."
Khu Ci Kee menggandeng anak muda itu, mengajaknya ke bawah pohon, lalu mereka duduk bersama.
"Bicaralah!" katanya.
Kwee Ceng mengutarakan keruwetan dalam hatinya. Kemudian menghela napas dan menambahkan,
"Sekarang aku memutuskan tak berniat bentrok dengan siapa pun. Aku menyesal tak dapat melupakan ilmu silatku. Tadipun tanpa sengaja aku melukai orang itu hingga berdarah...."
"Anak Ceng, pandanganmu salah," kata Tiang Cun Cu sambil menggeleng. "Beberapa puluh tahun lalu ketika muncul kitab mestika Kiu Im Cin Keng, orang-¬orang gagah kacau, memperebutkannya dengan saling bunuh, sampai kemudian ada keputusan dalam rapat di Gunung Hoa San, tempat orang melakukan pertempuran terakhir. Di sana guruku, Ong Tiong Yang, telah keluar sebagai pemenang, berhasil mendapatkan kitab itu. Mulanya guruku juga berpikir akan memusnahkan kitab itu, tapi kemudian mengubah niatnya. Dia ingat bahwa air dapat membuat perahu berlayar, tapi juga dapat mengaramkannya. Keberuntungan dan bencana tergantung pada masing-masing orang. Maka ia mempertahankan dan menyimpan kitab itu. Kepandaian manusia, sipil maupun militer, tentara kuat, serta senjata tajam, semuanya bisa membuat manusia beruntung, tapi juga bisa membikin manusia celaka. Kau tahu, asal orang berniat baik, makin gagah dia makin baik. Karena itu, mengapa kau ingin melupakan ilmu silatmu?"
Kwee Ceng berpikir. Ia berkata, "Tootiang benar, tapi... sekarang kaum kangouw rata-rata menyebut Sesat Timur, Racun Barat, Raja Selatan, dan Pengemis Utara sebagai orang-orang yang paling gagah. Untuk menyamai kepandaian mereka, sukar bukan buatan. Tapi lihatlah, apa gunanya kepandaian mereka itu? Kulihat tak ada faedahnya bagi manusia."
Ditanya begitu, Khu Ci Kee melengak. Selang sejenak, ia berkata, "Oey Yok Su aneh, pasti ada sebabnya yang tak dapat dilampiaskan. Dia sekarang berbuat sesuka hatinya, tak pernah me¬mikirkan orang lain, maka aku tak mau mengambil perbuatannya sebagai teladan. Auwyang Hong jahat, dia tak usah dibicarakan lagi. Toan Hongya baik hati, kalau tetap menjadi raja, dia bisa berbuat banyak untuk rakyat. Sayang karena satu urusan kecil, hatinya jadi tawar hingga sekarang dia bersembunyi. Lain halnya dengan Ang Cit Kong. Dia tetap bekerja untuk orang banyak, padanya aku kagum dan takluk sekali. Akan segera tiba saatnya pertemuan di Hoa San. Meski ada orang yang dapat melebihi kegagahannya. Aku percaya orang banyak bakal mengangkat dia jadi orang nomor satu di Rimba Persilatan."
Mendengar disebutnya pertemuan orang gagah di Gunung Hoa San, Kwee Ceng lantas ingat gurunya.
"Apakah luka guruku sudah sembuh?" tanyanya. "Benarkah guruku bakal turut ambil bagian dalam pertemuan di Hoa San itu?"
"Sejak aku kembali dari Barat, belum pernah aku bertemu dengan Ketua Ang," sahut Ci Kee. "Tapi aku percaya, bagaimanapun dia tentu bakal pergi ke Hoa San. Sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Hoa San, bagaimana kalau kau turut aku pergi ke sana untuk melihat-lihat?"
Kwee Ceng menggeleng. Hatinya telah tawar dan kepalanya pusing kalau ingat soal pergulatan itu. Ia menjawab,
"Maaf, Tootiang, aku tak bisa turut Tootiang pergi ke sana."
"Habis kau hendak pergi ke mana?"
"Aku tidak tahu. Aku pergi ke mana saja kakiku melangkah...."
Imam itu sedih. Menurut penglihatannya, pemuda itu seperti baru sembuh dari sakit berat. Ia mencoba membujuknya, tetapi anak muda itu tetap meng¬goyangkan kepala. Ia berpikir, Kwee Ceng biasanya menuruti kata-kata Ang Cit Kong, ada baiknya kalau pemuda ini mau pergi ke Hoa San untuk bertemu dengan gurunya. Bagaimana ia mesti membujuknya?
"Anak Ceng," katanya kemudian. "Kau ingin melupakan ilmu silatmu, untuk itu ada jalan," katanya kemudian.
"Benarkah itu, Tootiang?" Mendadak pemuda ini tertarik.
"Ya," sahut Ci Kee. "Ada seseorang yang di luar tahunya telah meyakini ilmu yang mahir dari Kiu lm Cm Keng, kemudian dia merasa pelajaran itu menyalahi janji, dia menyia-nyiakan pesan seseorang, maka dia ingin melupakan ilmu itu.
“Dia lalu mencoba sebisa-bisanya. Kalau kau hendak mencontohnya, kau mesti mencari dia untuk minta diajari."
Kwee Ceng melompat bangun. "Benar!" katanya. "Orang itu Kakak Ciu Pek Thong!"
Mendadak muka pemuda ini memerah, la likat sendiri, ingat bahwa Ciu Pek Thong adalah paman guru Ci Kee dan ia memanggilnya "Kakak" saja.
Khu Ci Kee dapat menerka penyebab jengahnya pemuda itu. la tersenyum dan berkata.
"Paman Guru Ciu memang biasanya tidak membedakan derajat, maka kau dapat memanggil sesukamu."
"Sekarang dia ada di mana?"
"Dia bakal menghadiri pertemuan Hoa San. Dia tentu akan pergi ke sana."
"Baiklah, aku akan ikut Tootiang” kata Kwee Ceng akhirnya.
Ci Kee puas, ia lantas mengajak anak muda itu berangkat. Mereka berjalan bersama. Di dusun pertama, Kwee Ceng membelikan si imam seekor kuda, untuk mempercepat perjalanan mereka. Tujuan mereka adalah Barat. Suatu hari, tibalah mereka di kaki Gunung Hoa San di sebelah selatan. Mereka lantas singgah di perhentian San-sun-teng. Di samping tempat itu tumbuh dua belas batang pohon rotan yang dinamakan "rotan naga", karena batang¬nya panjang dan berbentuk mirip naga.
"Hoa San merupakan gunung suci bagi kami kaum Too Kauw," kata Khu Ci Kee. "Menurut cerita, dua belas batang pohon rotan ini dulunya ditanam oleh Hi I Sianseng Tan Pok Loocouw."
"Tan Pok Loocouw? Bukankah dia dewa yang tidur selama genap setahun tanpa bangun sama sekali?"
"Tan Pok Loocouw lahir di akhir zaman Tong. Sepanjang lima pemerintahan, setiap kali men¬dengar penguasa kerajaan berganti, selalu dia tidak puas, maka dia mengunci pintu rumahnya, terus tidur. Orang bilang dia tidur setahun suntuk tanpa bangun. Yang benar ialah, karena jengkel meng¬ingat nasib rakyat, dia tak suka memunculkan diri. Yang terakhir, ketika mendengar Song Thay-couw naik takhta, dia baru dapat tertawa lebar dan mengatakan bahwa mulai saat itu negara bakal aman sentosa."
"Kalau Tan Pok Loocouw lahir di zaman se¬karang, dia pasti bakal tidur lagi berbulan-bulan dan bertahun-tahun!" kata Kwee Ceng.
Khu Ci Kee menghela napas. "Bangsa Mongol menjagoi wilayah Utara, me¬reka hendak menerjang ke Selatan. Sebaliknya Raja Song dan menteri-menterinya bangsa dogol semua, maka negara bakal kacau," katanya. "Kita adalah laki-laki, meski tahu kita tak bakal bisa apa-apa, kita perlu bangun untuk melawannya. Sebab aku pun tak setuju dengan sikap Tan Pok Loocouw yang main mengunci pintu dan tidur saja."
Sampai di situ mereka menghentikan pembicara¬an, menitipkan kuda di kaki gunung, lantas mendaki. Mereka melintasi Toh-hoa-peng, Hi I Ap, dan See-bong-peng. Makin tinggi jalanan ma¬kin sukar. Setibanya di See-hian-bun, mereka naik dengan berpegangan pada rantai besi. Bagi mereka, perjalanan memanjat itu tidak sulit. Kira-kira tujuh li kemudian, tibalah mereka di Ceng-peng, Tanah Datar Hijau. Lalu mereka menemukan batu-batu yang berdiri tajam, di sebelah utaranya ada sebuah batu yang memegat jalan.
"Inilah batu yang diberi nama Hwee-sim-cio," kata Ci Kee.
Pelancong yang tiba di sini dapat balik kembali. Hwee-sim-cio berarti Hati Berbalik Pulang. Maju lebih jauh adalah tempat-tempat yang ber¬nama Cian-cio-kiap dan Pek-cio-kiap, celah yang lebarnya tidak ada setengah kaki, hingga orang mesti berjalan miring.
Kwee Ceng langsung ingat, "Kalau ada musuh memegat dan menyerang di sini, orang yang sangat lihai pun sukar melawan...." Baru saja ia berpikir begitu, dari depan terdengar bentakan,
"Khu Ci Kee, di Yan I Lauw kami telah mengampuni jiwamu, apa perlunya kau sekarang mendaki Gunung Hoa San ini?"
Khu Ci Kee mendengar suara itu, dengan segera ia mempercepat langkahnya, hingga sampai di sam¬ping gua. Ia mengangkat kepala melihat ke depan. Di sana, yang merupakan ujung jalan terakhir, terlihat lima orang, yaitu See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Lama Leng Ti, Nio Cu Ong, dan Hauw Thong Hay, yang memegat jalan. Melihat mereka itu, ia heran. Ia menyangka akan menemui Auwyang Hong, Kiu Cian Jin, Ciu Pek Thong, dan Ang Cit Kong, tidak tahunya, di sini ada rombongan pengkhianat itu. Tentu saja ia mengerti bahaya yang mengancam, sebab ia dan Kwee Ceng di tempat yang letaknya buruk. Begitu ter¬desak, mereka berdua bakalan terjerumus ke dalam jurang. Karena itu. ia menghunus pedangnya, lantas mendului melompat maju. Ia menyerang Hauw Thong Hay, bukan saja karena orang itu yang terlemah, tapi karena ia yang jaraknya paling dekat.
Thong Hay menangkis serangan, la lantas di¬bantu Pheng Lian Houw dan Lama Leng Ti yang menggencet musuh dengan senjata masing-masing, poankoan-pit dan cecer, bermaksud mendesak Khu Ci Kee sampai terjatuh ke jurang.
Khu Ci Kee tahu apa yang mesti diperbuat. Setelah menikam Thong Hay, ia menjejak dengan kedua kakinya untuk melompat tinggi melewati kepala Hauw Thong Hay. Selain bebas dari gencet¬an, ia pun tiba di tempat yang lega. Senjata Leng Ti dan Lian Houw mengenai batu, hingga lelatu bepercikan.
Selama di Tiat Ciang Bio, See Thong Thian telah kehilangan sebelah tangannya, namun ia tetap gagah. Menampak adik seperguruannya gagal me¬megat Khu Ci Kee. Ia melompat maju guna membantu. Tapi, karena lihainya Tiang Cun Cu, yang merampas kedudukan, ia juga bisa dilewati. Ia lantas mengejar, disusul oleh Lian Houw.
Ci Kee tidak lari terus, ia melawan dua musuh¬nya, yang segera dibantu Lama Leng Ti, hingga ia jadi dikepung tiga orang.
Selama pertempuran itu berjalan, Kwee Ceng tidak membantu Khu Ci Kee, padahal sepantasnya ia turun tangan di pihak imam itu. Hatinya tawar, ia jemu dengan pertarungan. Bukan saja ia tidak sudi membantu, melihat pun tidak. Untuk naik terus, ia mengambil jalan lain, dengan ber¬pegangan pada oyot rotan. Toh ia terganggu satu pertanyaan yang berkutat dalam hatinya, "Bantu atau jangan? Bantu atau jangan...?” "Bagaimana kalau Khu Tootiang mereka binasa¬kan? Bukankah itu salahku? Kalau aku membantu dan mereka mati, perbuatanku itu benar atau sa¬lah?" Pikirannya terus-menerus terganggu, sedang¬kan ia tidak menunda jalannya, hingga kupingnya tidak mendengar lagi bunyi senjata beradu. Seka¬rang ia berhenti menyender pada batu. Ia bengong.
Tiba-tiba ada bunyi di sampingnya, di belakang pohon cemara. Ia segera menoleh. Ia melihat se¬orang bermuka merah dan berambut putih, Nio Cu Ong. Orang ini tahu Kwee Ceng lihai, ia takut, maka ia bersembunyi. Namun Kwee Ceng tidak peduli, ia terus merenung, mulutnya kemak-kemik.
Nio Cu Ong heran. Ia menduga si pemuda tidak melihatnya. "Aneh kelakuan bocah ini," pikirnya. "Baiklah kucoba-coba." Ia tidak berani mendekat, ia me¬mungut batu, lalu menimpukkannya ke punggung si pemuda.
Mendengar bunyi sambaran angin, Kwee Ceng berkelit, tapi ia masih diam saja. Som Siam Lao Koay merasa lega. Ia meng¬hampiri beberapa langkah.
"Menghajar orang adalah perbuatan yang sangat busuk, itu tidak pantas." katanya.
"Oh. kau pun berpikir demikian?" tanya si anak muda "Sungguh aku ingin dapat melupakan ilmu silatku...."
Mata Nio Cu Ong bersinar tajam. Kebenciannya jadi bertambah begitu ia ingat pemuda ini telah mengisap darah ularnya. Ia mendekati Kwee Ceng dari belakang, tapi berkata pelan,
"Aku juga sedang berpikir untuk melupakan ilmu silatku. Bagaimana kalau aku membantumu?"
Kwee Ceng jujur, pikirannya sedang bimbang, ia lupa akan kelicikan orang. "Baik," jawabnya. "Bagaimana caranya?"
"Aku tahu caranya," jawab Cu Ong, lalu men¬dadak mencekuk dua jalan darah thian-cu di leher belakang dan sin-tong di punggung Kwee Ceng.
Kwee Ceng terkejut, tubuhnya langsung terasa kaku, ia tidak dapat bergerak. Cu Ong memegang kuat-kuat, kemudian meng¬gigit leher pemuda itu untuk mengisap darahnya. la mau ganti menyedot darah pemuda itu. Bukankah ular yang sudah dipeliharanya susah-susah menjadi korban si pemuda?
Kwee Ceng sangat kesakitan, sampai kedua mata¬nya kabur. la berontak, tapi dua jalan darahnya telah ditekan, tenaganya habis, la melihat roman Cu Ong yang sangat bengis dan menakutkan, la merasa se¬makin sakit, sebab gigitan orang itu keras. Bukankah ia akan binasa kalau tenggorokannya putus? Dalam kagetnya, mendadak ia berontak lagi. Kali ini ia menggunakan tipu yang didapatnya dari Kin Toan Kut Piant dan tenaganya juga terkerah pada kedua jalan darah yang ditekan itu.
Nio Cu Ong sedang menekan ketika ia merasa ada tenaga menolak yang keras, lantas telapak tangannya sakit, tekanannya pun terus meleset, seperti berada di tempat licin.
Kwee Ceng menunduk, lalu tenaganya di ping¬gang bekerja. Begitu anak muda ini membungkuk, tubuh Cu Ong terangkat, lalu terlempar dari punggung si anak muda. Ia menjerit ngeri, karena tubuhnya terlempar ke arah jurang. Menyusul itu dari dalam jurang terdengar jeritan yang lebih hebat lagi, menyayat hati, berkumandang ke segala penjuru lembah, membuat bulu roma berdiri.
Kwee Ceng menjublek karena kejadian itu. Ia mengusap-usap lehernya yang luka tergigit, lalu sadar bahwa dengan ilmu silatnya ia kembali telah membunuh. Pikirnya, "Kalau aku tak membunuh¬nya, dia akan membunuhku. Kalau dengan mem-bunuhnya aku berbuat tak pantas, lalu bagaimana dengan dia yang hendak membunuhku, perbuat¬annya pantas atau tidak?" Ia melongok ke jurang yang sangat dalam. Ia tidak melihat apa pun, maka tak tahulah ia, di bagian mana Nio Cu Ong terjatuh.... Sambil duduk di batu, Kwee Ceng membalut lukanya.
Selang sekian lama, mendadak terdengar bunyi seperti langkah kaki, namun kadang-kadang ter¬putus. Segera terlihat seorang aneh muncul dari tikungan. Ia terkejut tapi mengawasi. Orang itu berkelakuan aneh, berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kedua tangannya diulurkan lem¬peng ke samping tubuhnya. Karena jalannya ber¬lompatan, terdengar bunyi luar biasa dari batok kepala yang membentur bebatuan gunung. Kemudi¬an ia lebih heran lagi. Setelah mengawasi, ia mendapati orang itu adalah si Racun Barat Auwyang Hong.
Kwee Ceng baru saja diperdaya orang. Ia men¬duga Racun Barat pun sedang pasang siasat, maka ia lantas mundur dua langkah. Ia pasang mata sambil siaga. Auwyang Hong aneh. Ia melompat naik ke batu, tidak ambil mumet pada si anak muda. Dia berdiri tegar dengan kepalanya seperti mayat hidup.
"Paman Auwyang, kau sedang apa?" akhirnya Kwee Ceng bertanya.
Si Racun Barat tetap tidak memedulikannya, ia seperti tidak mendengar pertanyaan pemuda itu. Kwee Ceng mundur lagi beberapa langkah supaya berdiri agak jauh. Ia memasang tangan kiri di dadanya, sebab khawatir jago dari Barat itu menyerang mendadak. Tetapi Auwyang Hong tetap berdiri dengan cara aneh itu, dan Kwee Ceng terus memperhatikan.
Selang sesaat, karena penasaran dan ingin tahu, Kwee Ceng mengawasi muka orang tua itu sambil membungkuk dan menempelkan kepalanya ke tanah. Ia melihat lewat selangkangannya dengan mementangkan kedua kakinya. Baru sekarang ia melihat dengan tegas. Kepala Auwyang Hong bermandikan peluh, mukanya meringis.
Kwee Ceng menduga orang itu tentu sedang melatih suatu ilmu. Ia pun lantas melihat Racun Barat mementang kedua tangan, tubuhnya di¬tekuk sedikit hingga mirip keong besar. Tangannya digerakkan, makin lama makin cepat.
Ilmu itu aneh, pantas Auwyang Hong berlatih di tempat sepi. Kalau keliru cara mempelajarinya, barangkali ilmu ini bakal membuat orang sesat dan membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Namun aneh, kenapa yang dipilihnya justru Gunung Hoa San ini, tempat pertemuan? Bukankah di sini bakal segera berkumpul banyak orang? Kenapa ia seperti tidak menjaga diri? Tidakkah dalam keadaan seperti ini Racun Barat gampang di¬bokong? Mungkin orang yang tidak mengerti ilmu silat pun dapat dengan gampang merobohkannya....
Tiba-tiba pemuda ini ingat sakit hatinya. Meng¬apa ia tidak mau menuntut balas? Bukankah ini kesempatan baik? Namun karena baru saja membinasakan Nio Cu Ong, ia jadi sangsi. Ia tidak lantas turun tangan.
Auwyang Hong tetap tidak memedulikan si anak muda. Setelah berlatih sekian lama, kembali ter¬dengar bunyi nyaring kepalanya. Ia kembali ke tempat dari mana tadi ia muncul. Bukan main herannya Kwee Ceng. Ia menjadi ingin tahu, maka diam-diam ia melangkah mengikuti.
Auwyang Hong berjalan dengan kepala tetapi tidak kalah cepat dari orang yang berjalan biasa dengan kaki. Yang lebih heran lagi. ia juga dapat mendaki gunung, makin lama makin tinggi.
Kwee Ceng mengikuti terus sampai di depan gua. Di situ ia berhenti, bersembunyi di balik batu besar. Tepat di depan gua Auwyang Hong berhenti. Mendadak ia berkata bengis,
"Haphouvvbun-poat¬eng sengji-kit-kin, si-kouw-ji! Tidak, tak tepat penjelasanmu ini! Tak sempurna aku melatihnya."
Kwee Ceng terkejut. Itu bunyi kitab Kit Im Cin Keng palsu yang ditulisnya selama di atas perahu di tengah laut ketika ia dipaksa si Racun Barat. Dengan siapa si Bisa Bangkotan sedang bicara?
Lantas dari dalam gua terdengar jawaban seorang wanita. "Latihanmu belum sempurna, pasti kau tak mem¬peroleh hasil," demikian suara nona itu. "Kapan aku salah membacakannya?"
Kwee Ceng terkejut berbareng girang, ia hampir berteriak. Itu suara Oey Yong, yang dipikirkannya siang-malam! Jadi. mungkinkah nona itu tak binasa di gurun pasir? Apakah ia tengah bermimpi? Atau, apakah ia salah mendengar atau salah mengenal?
"Aku berlatih menurut penjelasanmu, tak mung¬kin salah!" kata Auwyang Hong. "Sekarang aku merasakan otot jim-wi dan yang-wi-ku tak tersalur dengan betul."
"Aku sudah bilang, latihannya masih kurang," si nona pun berkeras. "Kalau kau paksakan. percuma saja."
Sekarang Kwee Ceng mendengar jelas sekali. Tidak salah, itulah Oey Yong, Yongji-nya. Saking girangnya, tubuhnya terhuyung, hampir ia pingsan. Ia menguatkan hati, maka luka di lehernya pecah hingga berdarah, merembesi balutannya. Tapi ia seperti tidak merasakannya.
Auwyang Hong terdengar berkata lagi, suaranya menyatakan ia gusar sekali. "Besok tengah hari tepat adalah saat pertemuan berlangsung, mana dapat aku berlatih asal-asalan!" katanya bengis. "Lekas terjemahkan se¬luruh isi kitab itu, jangan coba-coba main gila!"
Sekarang Kwee Ceng mengerti betul bahwa orang itu sedang mempelajari Kiu Im Cin Keng. Ia akan memakai ilmu itu untuk mengadu kepandaian dalam pertemuan, supaya menjadi orang kosen nomor satu. Pantas Racun Barat gelisah.
Dari dalam terdengar tawa Oey Yong. "Kau telah berjanji pada Kakak Ceng-ku, dia sudah mengampuni jiwamu sampai tiga kali," kata si nona. "Karena itu, kau tak dapat memaksaku, kau mesti menyerah, menanti sampai hatiku senang untuk mengajarimu...."
Kwee Ceng senang mendengar gadis itu me¬nyebutnya Kakak Ceng-ku. Ia nyaris tidak dapat mengendalikan diri lagi, hampir ia melompat sambil berseru dan berlari menghampiri si nona manis.
Auwyang Hong tertawa dingin. "Waktunya sudah mendesak, meskipun ada, janji itu sekarang mesti ditangguhkan!" katanya sengit. Lantas ia menggerakkan tubuhnya, dalam sekejap ia telah berdiri dengan kakinya. Terus ia melangkah lebar-lebar ke gua itu.
"Tak tahu malu!" seru Oey Yong. "Tidak, aku tak mau mengajarimu!"
Auwyang Hong kembali memperdengarkan tawa dinginnya lagi hingga beberapa kali. "Aku mau lihat, kau mengajariku atau tidak!" katanya, kali ini perlahan.
MENDADAK terdengar jeritan Oey Yong, disusul bunyi robeknya baju. Di saat seperti itu, Kwee Ceng lupa akan ke¬ruwetan persoalannya sendiri, yaitu pantas atau tidak ia menggunakan ilmu silatnya untuk melawan. Ia berteriak,
"Yongji, aku akan membantumu!"
Ia lantas melompat berlari ke dalam gua. Tepat saat itu ia melihat Auwyang Hong memegang tongkat si nona dengan tangan kirinya, tangan kanannya akan dipakai untuk mencekuk lengan kiri nona itu. Untuk mengatasi itu Oey Yong menggunakan jurus Menyontek Anjing Buduk. Dengan menolak dan terus menarik, ia dapat meloloskan tongkatnya, hingga berbareng dengan itu tangan kirinya pun terbebas.
"Bagus!" Auwyang Hong memuji.
Ia hendak menyerang lagi ketika mendengar suara Kwee Ceng dari luar gua. Mendadak mukanya memerah. Bukankah ia telah memberikan janjinya? Mana dapat ia menyangkal janji itu? Ia berbuat begini pun karena terpaksa. Ia malu pada dirinya sendiri. Maka langsung ia mengundurkan diri dengan berkelit melompat keluar gua, menutupi mukanya dengan lengan baju¬nya. Dalam sekelebatan saja, ia telah menyingkir ke luar gua dan lenyap.
Kwee Ceng tidak peduli orang itu kabur. Ia lari menghampiri Oey Yong, langsung mencekal keras kedua tangan si nona.
"Yongji!" serunya. "Kau bikin aku hampir mati memikirkanmu!"
Begitu kencang debar hatinya, hingga tubuhnya bergetar. Oey Yong melepaskan tangannya.
"Kau siapa?" tanyanya dingin. "Mau apa kau me¬megangiku ?”
Pemuda itu tercengang. "Aku Kwee Ceng," sahutnya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku tak kenal kau!" kata si nona seraya terus melangkah keluar.
Kwee Ceng menyusul mendului, lalu berulang-¬ulang menjura. "Yongji!" panggilnya. "Yongji, dengarkan aku...!"
"Hm! Apa kau kira kau dapat menyebut nama Yongji?" kata si nona. "Kau siapa?"
Kwee Ceng celangap, tidak dapat mengeluarkan suara. Nona itu mengawasi, maka sekarang ia melihat muka si pemuda yang pucat dan kucel, tubuhnya pun agak kurus. Sesaat timbul rasa kasihannya, rasa tidak tega. Tapi begitu ingat berulang kali ia telah disia-siakan, hatinya jadi panas lagi.
"Fuih!" Ia meludah, lalu melangkah cepat.
Kwee Ceng cemas, ia menyambar ujung baju si nona dan menariknya. "Dengarkan dulu perkataanku...!" katanya.
"Bicaralah!"
"Di embal pasir aku menemukan gelang rambut dan bajumu, kusangka kau...."
"Kau ingin aku mendengarkan perkataanmu, se¬karang aku sudah mendengarkannya!" potong si nona. Ia menarik lepas bajunya, terus berjalan.
Kembali Kwee Ceng bengong, pikirannya bi¬ngung. Ia tidak pandai bicara, maka tidak tahu mesti mengatakan apa. Ia khawatir si nona nanti lenyap lagi, maka ia lantas mengikuti.
Oey Yong berjalan terus dengan pikiran kusut. Ia pulang dari Barat dengan hati tawar. Di Tionggoan, ia sebatang kara. Ia ingin pulang ke Pulau Persik untuk mencari ayahnya. Apa lacur, tiba di Shoatang ia menderita sakit berat. Celaka¬nya, tidak ada orang yang merawatnya. Selagi rebah di pembaringan, ia sakit hati teringat sikap Kwee Ceng yang ia anggap tipis budi pekertinya. Kalau ingat nasibnya yang buruk, ia menyesal telah dilahirkan di dunia. Syukurlah, ia dapat sem¬buh dari sakit, tapi belum bebas dari penderitaan. Di Shoatang Selatan ia bersampokan dengan Auwyang Hong yang memaksanya turut pergi ke Hoa San. Ia dipaksa untuk menjelaskan isi kitab Kiu Im Cin Keng. Kalau tidak ada si pemuda, entah apa yang akan diperbuat Auwyang Hong pada dirinya. Dengan sedih ia berjalan terus.
Kwee Ceng terus mengintil. Kalau si nona berjalan cepat, ia pun mempercepat langkahnya. Kalau si nona pelan, ia ikut pelan. Sesudah berjalan sekian lama, mendadak si nona menoleh ke belakang.
"Mau apa kau mengikutiku ?” tegurnya sinis.
"Aku akan mengikutimu selamanya...," sahut si pemuda. "Seumur hidup aku tak mau berpisah darimu...."
Oey Yong tertawa dingin. "Kau menantu Jenghis Khan! Buat apa kau mengikuti budak melarat?"
"Jenghis Khan menyebabkan kematian ibuku, mana dapat aku menjadi menantunya?" Kwee Ceng menjawab.
Muka si nona memerah. "Bagus!" serunya. "Kukira kau masih ingat sedikit padaku, rupanya kau telah didepak Jenghis Khan! Setelah tak dapat menjadi huma, kau sekarang mencariku si budak melarat! Apa kau sangka aku manusia hina-dina yang dapat kau hina sesukamu ?”
Si nona lantas menangis, air matanya bercucuran. Kwee Ceng terharu, tetapi ia bingung. Apa yang mesti diperbuatnya? Apa yang mesti dikatakannya...?
"Yongji...," katanya kemudian, selagi nona itu sesenggukan. "Aku ada di sini, jika kau hendak membunuhku, silahkan, terserah padamu...."
"Buat apa aku membunuhmu?" tanya si nona, suaranya pilu. "Anggap saja perkenalan kita sia-sia belaka.... Kumohon, janganlah kau mengikutiku...."
Muka Kwee Ceng bertambah pucat. "Apa yang harus kulakukan supaya kau percaya padaku?" tanyanya.
"Sekarang kau baik denganku," kata si nona. "Kalau besok kau bertemu dengan Adik Gochinmu, kembali kau akan melupakanku, kau bakal menyia-nyiakanku.... Sekarang ini. asal kau mati di depanku, baru aku percaya padamu..-"
Darah Kwee Ceng meluap, ia mengangguk. Kemudian ia memutar tubuhnya dan melangkah ke jurang. Kebetulan saat itu ia berada di tepi Sia Sin Gay, Jurang Mengorbankan Diri. Kalau ia terjun di situ, pastilah tubuhnya hancur lebur.
Oey Yong tahu hati pemuda itu keras, ia melompat menyusul, tangannya terulur menyambar punggung si pemuda. Ia menarik keras, tubuhnya mencelat, maka sekejap kemudian justru dialah yang berada di tepi jurang. Ia mencucurkan air mata. hatinya tegang.
"Bagus ya, sedikit pun kau tak kasihan padaku!" katanya. "Aku baru mengeluarkan sepatah kata karena panas hatiku, kau langsung tak mau melewatkannya! Aku bilang padamu, jangan marahi aku, cukup asal kau jangan bertemu lagi denganku..." Muka Oey Yong pucat, tubuhnya gemetar.
"Yongji, kemarilah," kata Kwee Ceng. Tadi mau bunuh diri, sekarang ia khawatir si nona yang akan terjun.
Oey Yong mendengar suara pemuda itu bergetar. Ia tahu si pemuda masih mencintainya, ia sangat sedih. Sembari menangis, ia berkata,
"Aku tahu kau pura-pura saja berkata begini. Ketika aku sakit di Shoatang, tak seorang pun memedulikanku.... Apakah waktu itu kau datang menjengukku? Aku dikekang Auwyang Hong, aku tak dapat meloloskan diri, apakah kau datang menolongku? Ibuku tak menyayangiku, dia pergi mati sendiri saja. Ayah pun tak menghendakiku, dia tak mencariku.... Apalagi kau, lebih-lebih tak menginginkanku! Di dunia ini, tak seorang pun menyayangiku, mengasihaniku...." Ia menangis terus, sambil membanting-banting kaki.
Kwee Ceng diam. Ia masih tidak tahu mesti bilang apa. [a bisa merasakan panasnya hati si nona. Ia cuma bisa mengawasi. Sunyi di antara mereka, cuma terdengar embusan sang angin.
Rupanya si nona merasa kedinginan, tubuhnya menggigil. Kwee Ceng membuka baju luarnya, berniat mengerobongi tubuh nona itu. Selagi ia akan melakukannya, mendadak ada bentakan dari ujung jurang,
"Siapa yang nyalinya begitu besar berani menghina Nona Oey-ku?"
Kwee Ceng girang sekali. Ia langsung mendongak, melihat seorang tua dengan rambut pendek dan kumis putih, dialah Ciu Pek Thong si Bocah Tua Nakal.
"Kakak Ciu!" panggil Kwee Ceng.
Oey Yong pun memperdengarkan suaranya dengan agak mendongkol. "Eh. Bocah Tua Nakal! Aku menitahkanmu untuk membunuh Kiu Cian Jin! Mana kepalanya?"
Ciu Pek Thong menghampiri mereka, ia tidak menjawab, hanya tertawa haha-hihi. "Nona Oey, siapa yang mengganggumu?" ia bertanya. "Nanti Bocah Tua Nakal membikinmu puas!"
"Siapa lagi kalau bukan dia!" sahut si nona seraya menunjuk Kwee Ceng.
Untuk menyenangkan si nona, si Bocah Tua Nakal bertindak sejadinya saja. Tahu-tahu Kwee Ceng telah digaploknya dua kali hingga kelabakan. Kwee Ceng sama sekali tidak menyangka. Karena itu, bengaplah pipi kiri dan kanannya. Ketika baru dihajar, matanya juga berkunang-kunang.
"Nona Oey, cukupkah?" tanya Bocah Tua Nakal. "Jika belum cukup, nanti kuhajar lagi dia."
Menampak muka si pemuda merah dan bengap, di pipinya tampak bekas tapak tangan dengan lima jari, kedongkolan Oey Yong mereda, lantas timbul rasa kasihannya. Ia berbalik jadi mendongkol kepada si tua tukang guyon itu.
"Aku marah sendiri, tak ada hubungannya denganmu!" ia tegur orang tua itu. "Kenapa kau lancang memukulnya? Kuperintahkan kau membunuh Kiu Cian Jin, mengapa kau tak dengar perintahku?'
Pek Thong menjulurkan lidahnya panjang-panjang. Ia tidak dapat menjawab. Ketika itu, jauh di belakang jurang, terdengar bunyi beradunya senjata. Pek Thong mendengarnya, ia segera mendapat akal.
"Pastilah si tua bangka Kiu sudah datang, aku akan mendatanginya!" katanya seraya terus memutar tubuh untuk lari ke belakang jurang itu.
Tentu saja Bocah Tua Nakal bukan mau mencari Kiu Cian Jin, bahkan sebaliknya ia jeri dengan ketua Tiat Ciang Pang itu. Di antara kedua jago ini, keadaan seperti jungkir balik.
Di rumah batu, tempat Kwee Ceng dan Auwyang Hong berlalu saling susul, Pek Thong dan Cian Jin bertempur tidak lama. Cian Jin bisa lolos dan kabur, ia dikejar Pek Thong, ke mana pun lari ia disusul, hingga akhirnya ia mendongkol berbareng putus asa. Ia berpikir, ia toh jago dan ketua partai, mengapa sekarang ia begini sial menghadapi Ciu Pek Thong yang lihai itu? la merasa sangat terhina. Karena putus asa, ia menjadi nekat. Daripada kena bekuk, lebih baik ia bunuh diri. Kebetulan ia melihat seekor ular berbisa di sela batu, ia me¬nangkap ular itu. la berniat memagutkan ular itu ke dirinya sendiri. Dengan memegangi ular itu, ia berkala pada Ciu Pek Thong,
"Eh, Pek Thong, bangsat, lihat ini!"
Sebenarnya Cian Jin hendak menempelkan mulut ular itu ke lengannya, tapi mendadak Ciu Pek Thong menjerit, lalu memutar tubuhnya dan lari kabur. Cian Jin menjadi heran. Namun sejenak kemudian ia lantas dapat menduga, tentulah Bocah Tua Nakal takut ular. Maka ia sekarang berbesar hati, ia membatalkan niatnya bunuh diri, lantas mengejar si tua bangka berandalan itu. Lebih dari itu ia menangkap seekor ular lain, hingga tangan kiri dan kanannya masing-masing mencekal binatang berbisa itu. Sembari mengejar, ia berteriak-¬teriak mengancam musuhnya.
Pek Thong ketakutan, ia lari ngacir. Kiu Cian Jin mempunyai julukan Sui-siang¬piauw, yang berarti larinya sangat pesat. Seandainya tidak jeri, ia tentu sudah dapat menangkap Pek Thong. Maka mereka cuma main kejar-kejaran. Dari siang mereka berlari-lari sampai hari gelap, setelah itu barulah Pek Thong bisa lolos. Dalam hati Cian Jin tertawa. Ia mengejar hanya untuk menggertak. Sekarang ia pun bebas dari ancaman si tua berandalan itu.
Oey Yong melihat orang tua itu pergi, ia melirik Kwee Ceng. Ia menghela napas lantas menunduk.
"Yongji!" panggil Kwee Ceng.
Nona itu menyahut lirih. Kwee Ceng hendak berbicara tetapi tidak tahu mesti mengatakan apa, ia berdiri diam. Karena si nona pun terus membungkam, keduanya berdiri bagaikan patung, tubuh mereka disampoki angin. Tidak lama kemudian Oey Yong bangkis akibat terlalu banyak kena angin.
Kwee Ceng ingat bajunya, ia lantas menghampiri untuk menutupi tubuh si nona dengan bajunya. Tadi ia diganggu oleh Ciu Pek Thong, sekarang tidak ada rintangan lagi. Oey Yong diam saja, menunduk terus. Dalam kesunyian itu. kuping mereka mendengar tawa nyaring Ciu Pek Thong yang terus berseru memuji,
"Bagus! Bagus”
Mendadak si nona mengulurkan tangannya, mencekal tangan Kwee Ceng seraya berkata pelan.
"Kakak Ceng, ayo kita lihat!"
Kwee Ceng mengikuti. Ia tidak bisa menyahut. Kali ini saking girangnya ia mencucurkan air mata. Dengan ujung bajunya Oey Yong mengusap air mata si pemuda.
"Di mukamu ada air mata dan bekas tapak tangan. Kalau orang tak tahu, dia bisa menyangka akulah yang menamparmu...."
Dengan tertawanya si nona, berarti mereka berdua sudah akur lagi. Dengan bergandengan mereka lari melintasi jurang, pergi ke tempat asal datangnya tawa Ciu Pek Thong. Di sana mereka melihat banyak orang dengan sikap yang aneh-aneh.
Pek Thong terlihat girang bukan main. Ia me¬megangi perutnya sambil terbungkuk-bungkuk. Ia tertawa puas sekali. Di dekatnya tampak Khu Ci Kee berdiri diam dengan pedang di tangan. Di antara mereka masih ada empat orang lagi, See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Lama Leng Ti, dan Hauw Thong Hay. Sikap keempat orang itu luar biasa. Mereka memegang senjata, ada yang sedang menyerang, ada yang sedang berkelit atau mundur. Sikap tubuh mereka tetap begitu, sebab mereka tidak dapat bergerak bagaikan patung. Sebab mereka korban totokan si Bocah Tua Nakal yang kekanak-kanakan.
"Waktu itu aku membuat obat pulung dari lumpur tubuhku," kata Ciu Pek Thong kepada See Thong Thian berempat. "Aku menitahkan kalian untuk menelannya. Kemudian kalian kawanan bang¬sat cerdik juga, kalian tahu itu bukan obat penawar racun, lantas kalian tak mau dengar kata-kata kakekmu ini. Hm! Bagaimana sekarang.”
Pek Thong mengatakan demikian sebab meski berhasil membekuk mereka, ia tidak tahu bagaimana harus menghukum mereka. Tapi begitu melihat Oey Yong dan Kwee Ceng, ia lantas mendapat pikiran. Katanya,
"Nona, empat bangsat bau ini kuserahkan padamu!"
"Apa gunanya mereka buatku?" tanya si nona. "Kau main gila, ya? Kau tak mau membunuh tapi juga tak mau melepaskan mereka! Kau telah me¬nangkap mereka tapi tak berdaya mengurus! Lekas kau panggil aku kakak yang baik tiga kali, nanti kau kuajari..!"
Pek Thong tidak mau banyak pikir, ia juga tidak peduli dengan segalanya, maka tanpa sangsi sedikit pun ia memanggil
"Kakak yang baik!" tiga kali. Bahkan ditambah dengan menjura dalam-dalam.
Oey Yong tersenyum. "Geledah dia!" kata si nona seraya menunjuk Pheng Lian Houw.
Pek Thong menurut. Dari tubuh Lian Houw ia mendapatkan cincin dengan jarum beracun dan dua peles kay-yok, obat pemunah racun. Kata si nona,
"Dia pernah menusuk Ma Giok, kemenakan seperguruanmu dengan jarumnya ini. Sekarang tusuklah dia .beberapa kali, juga ketiga kawannya!"
Lian Houw semua mendengar perkataan si nona, mereka kaget dan takut bukan main, tetapi mereka masih tertotok, tidak dapat lari ataupun meronta. Maka mereka mesti merasakan sakitnya ditusuk Pek Thong beberapa kali.
"Obatnya ada di tanganmu," kata si nona lagi kepada Bocah Tua Nakal. "Sekarang kau dapat menitahkan mereka untuk melakukan apa pun yang kau kehendaki. Coba lihat mereka berani mem¬bangkang atau tidak!"
Pek Thong girang. Ia lantas mengasah otak. Ia tidak usah membuang waktu untuk mendapatkan akal. Ia membuat obat lagi dari kotoran, namun kali ini kotoran itu dicampur dengan kay-yok, dipulung menjadi butiran-butiran kecil, kemudian diserahkan¬nya kepada Khu Ci Kee sambil berkata,
"Sekarang kau giring kawanan bangsat bau ini ke Kuil Tiong Yang Kiong di Ciong Lam San. Penjarakan mereka selama dua puluh tahun. Jika selama dalam perjalanan mereka menurut kata-katamu, beri mereka masing-¬masing sebutir pil mustajabku ini. Tapi kalau sebaliknya, biarkan saja, biar mereka tahu rasa! Mereka berbuat, mereka mesti bertanggung jawab, jangan sekali-kali kasihan pada mereka!"
Khu Ci Kee menerima obat itu sambil menjura. Ia menghaturkan terima kasih seraya memberikan janjinya. Oey Yong tertawa dan berkata pada Pek Thong,
"Bocah Tua Nakal, kata-katamu ini tepat sekali, sangat pantas! Tak kusangka, baru setahun kita tak bertemu kau telah maju begini pesat!"
Pek Thong puas sekali, ia tertawa senang. Se¬sudah itu ia membebaskan totokan keempat orang itu. Katanya pada mereka,
"Sekarang kalian mesti pergi ke Tiong Yang Kiong, tinggallah di sana baik-baik selama dua puluh tahun. Jika kalian benar-benar hendak bertobat, di belakang hari kalian masih dapat menjadi orang baik. Tapi jika kalian masih tetap jahat... hm! Hm! Perlu kalian ketahui, kami para imam dari Coan Cin Kauw bukan orang yang dapat dibuat permainan, kami ahli membetot otot tanpa mengerutkan alis! Maka, empat bangsat bau. berhati-hatilah kalian!"
Lian Houw berempat tidak berani banyak omong, mereka cuma mengangguk. Khu Ci Kee menahan tawa melihat sikap paman gurunya yang lucu itu. la kembali menjura, lantas menggiring pergi keempat tawanannya turun gu¬nung, untuk pulang ke gunungnya sendiri.
"Eh, Bocah Tua Nakal," kata Oey Yong tertawa. "Sejak kapan kau belajar mendidik orang? Kata-¬katamu yang bagian depan masuk akal, tapi yang belakangan lantas jadi tak keruan...."
Pek Thong tidak menjawab, ia hanya tertawa sambil melengak. Saat itu ia melihat sinar putih berkelebat di puncak kiri, lalu lenyap, la yakin itu sinar senjata tajam.
"Eh, apa itu?" tanyanya heran.
Oey Yong dan Kwee Ceng mengangkat kepala, tapi sinar itu sudah lenyap. Pek Thong takut Oey Yong akan menanyakan Kiu Cian Jin lagi, maka ia lantas menggunakan alasan.
"Biar kulihat!" katanya. Terus ia lari pergi.
Oey Yong berdua Kwee Ceng membiarkan orang tua itu pergi, sebab banyak yang hendak mereka bicarakan. Mereka mencari tempat untuk duduk, lalu saling menuturkan pengalaman masing-masing dan saling mengutarakan isi hati. Sampai matahari sudah turun ke barat, mereka masih belum berhenti pasang omong.
Kwee Ceng berbekal ransum kering. Ia mengeluarkannya untuk mereka santap bersama-sama. Sembari makan, Oey Yong berkata,
"Bangsat tua Auwyang Hong memaksaku menjelaskan isi Kiu lm Citi Keng. Bukankah kitab tulisanmu yang kau berikan padanya kacau-balau? Nah, aku pun tak keruan menjelaskannya! Tapi dia percaya, maka dia bersengsara selama beberapa bulan ini untuk mempelajari ilmu itu. Kubilang dia mesti berlatih terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas, dia menurut. Dia sungguh hebat, dapat membuat jalan darahnya tersalur secara bertentangan, yaitu jalan darah im-wu yang-wi. im-kiauw dan yang-kiauw. Entah bagaimana andai kata dia membalik semua jalan darahnya."
Kwee Ceng tertawa. "Pantas aku melihat dia jalan meloncat-loncat dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kiranya dia sedang kau permainkan!" katanya. Memang sulit untuk berlatih dengan cara demikian.
Oey Yong tersenyum. "Kau datang kemari, apa kau juga hendak turut berebut gelar orang gagah nomor satu di kolong langit?" tanyanya.
"Ah, Yongji, kau menggodaku," sahut si pemuda. "Aku datang ke gunung ini buat mencari Kakak Ciu supaya diajari ilmu untuk melenyapkan ilmu silatku...." Kwee Ceng lantas menjelaskan alasan mengapa ia sampai mendapat pikiran demikian.
Oey Yong memiringkan kepalanya, berpikir. "Ya, melupakan itu pun baik juga," katanya kemudian. "Memang, semakin kita pandai, pikiran kita semakin tak tenang. Lebih baik seperti waktu masih kecil, kita tak bisa segala-galanya, tak ada yang kita pikirkan, tak ada yang menyusahkan kita...."
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
"Tidak apa-apakah?"
Kwee Ceng menyahut sambil tertawa juga: "Untung totiang datang"
Oey Yong memberi hormat kepada Tiang Cun cu, lalu kepada Kwee Ceng ia menambahkan:
"Aku khawatir khan yang agung gusar dan nanti membunuh kau, maka kami datang ke mari untuk menolong. Apakah kata jenghiz Khan? Apakah dia menerima baik penampikan jodohmu itu?"
Ditanya begitu, Kwee Ceng berdiam. Ia ragu-ragu. "Aku tidak melakukan penolakan," katanya akhirnya. Tidak bisa ia berdiam terus.
Oey Yong tercengang. "Kenapa?" tanyanya selang sejenak.
"Jangan gusar, Yong-jie. Sebabnya….."
Baru pemuda ini mengatakan demikian, sana terlihat putri Gochin lari keluar dari istana, dia memanggil-manggil keras:
"Engko Ceng Engko Ceng"
Melihat putri itu, Oey Yong terkejut. Lantas ia melompat turun dari kudanya, untuk menyingkir ke samping. Kwee Ceng hendak memberi penjelasan kepada kekasihnya tapi Gochin Baki sudah menarik tangannya sambil berkata dengan bernafsu:
"Kau tentu tidak menyangka aku bakal datang ke mari, bukan? Kau telah melihat aku, kau girang atau tidak?"
Si anak muda mengangguk. terus ia menoleh ke samping, tetapi ia tidak melihat Oey Yong
Putri Gochin, yang hanya memikirkan Kwee Ceng, juga tidak melihat nona Oey. Ia tetap memegang tangan si anak muda, ia tanya ini dan itu, tidak perduli di situ ada banyak orang.
Kwee Ceng mengeluh dalam hati. Ia berpikir: "Tentu Yong-jie menganggap karena aku bertemu adik Gochin, aku menjadi tidak sudi menampik perjodohanku dengannya" Karena ini, apa yang si putri bilang, ia hampir tidak mendengarnya. Akhirnya Gochin melihat orang melengak saja, ia heran, ia tidak puas.
"Eh, kau kenapakah?" tanyanya. "Dari jauh-jauh aku datang menjenguk kau, kau tidak memperdulikan orang"
"Adikku, aku mengingat satu hal," berkata si anak muda. " Hendak aku melihat dulu itu, sebentar aku kembali untuk bicara denganmu"
Pemuda ini memesan serdadu pengiringnya, untuk melayani Khu Cie Kie, lantas ia lari ke kemahnya. Begitu tiba, serdadu pengiringnya memberi laporan
"Nona Oey baru saja pulang, dia mengambil gambar, terus pergi dari pintu kota timur."
Kaget pemuda itu. "Gambar apakah?" ia tanya.
"Gambar yang Huma sering pandang."
Kembali Kwee ceng kaget. Lantas ia mendapat pikiran: "Dia membawa pergi gambar itu, terang dia telah memutuskan segalanya denganku Tidak bisa lain, aku mesti menyusul dia ke Selatan"
Dengan cepat pemuda ini menulis surat untuk Khu cie Kie, lalu ia kabur dengan kuda merahnya keluar dari kota.
Kuda itu kuat dan cepat larinya, tetapi Kwee ceng masih tidak puas, ia mencambuki, maka sebentar saja ia telah melalui beberapa puluh lie. Di sini pun ia menyaksikan mayat orang dan bangkai kuda masih berserakan- Di tempat luas beberapa puluh lie, salju melulu yang nampak. Ia memperhatikan tapak kaki kuda, ia kabur ke timur. Lega sedikit hatinya. Ia berpikir "Kudaku kuat lari tanpa tandingan, sebentar lagi aku tentu dapat menyusul Yong-jie. Aku akan mengajak dia menyambut ibuku, untuk bersama-sama pulang ke Selatan - Adik Gochin boleh sesalkan aku tetapi apa boleh buat"
Belasan lie lagi, Kwee ceng melihat arah tapak kaki kuda menjurus ke utara, hanya di samping itu ada tapak kaki orang. Ia menjadi heran. Tapak kaki itu juga luar biasa, jarak di antara kaki kiri dengan kaki kanan kira-kira lima kaki. Tindakan demikian lebar, tetapi tapaknya, bekas injakannya, enteng sekali melesaknya salju hanya beberapa dim. Teranglah sudah, sebelum melesak ke dalam salju, kaki itu sudah lantas diangkat pula. Kapan pemuda ini ingat kepada kepandaian enteng tubuh, ia terkejut. Ia tahu, untuk di tempat ini, kecuali Auwyang Hong, tidak ada orang lain yang mempunyai kepandaian demikian lihay. Maka itu, mungkinkah See Tok telah mengejar oey Yong?
Mengingat itu, meskipun diwaktu salju dingin begitu, tubuh si anak muda mengeluarkan peluh. Ia kaget dan berkhawatir bukan main- Itu artinya oey Yong terancam bahaya. Si kuda merah seperti mengerti kekhawatiran majikannya, tanpa dikeprak lagi, ia lari mengikuti tapak kuda dan tapak orang itu, yang terus berdampingan.
Lewat pula beberapa lie, kembali terjadi keanehan pada tapak kaki manusia itu. tujuannya telah berubah-¬ubah. sebentar tapak itu belok ke barat, sebentar mengkol ke selatan. Terputar-putar. Tidak ada yang tujuannya lempang. Tapi Kwee Ceng berpikir "Pastilah Yong-jie mengetahui Auwyang Hong mengejar, dia sengaja berjalan berputaran begini rupa. Di salju ini, tapak kaki terlihat tegas, tentulah Auwyang Hong melihatnya dan dapat mengejar terus."
Lagi-lagi belasan lie lewat. Di sini kedapatan banyak tapak kaki manusia, yang arahnya bertentangan. Melihat itu, terpaksa Kwee Ceng lompat turun dari kudanya, guna meneliti. Ia mendapat tahu, yang mana tapak lebih dulu, yang mana yang belakangan, atau yang mana yang di depan, yang mana yang di belakang. Ia pun mengawasi itu dari jauh. Tiba-tiba ia ingat, "Yong-jie bertindak menuruti ajaran kitab Gak Buk Bok. Ia mengguna i Pat Tin Touw, barisan rahasianya Cukat Liang, untuk mengacaukan arahnya Auwyang Hong, supaya See Tok jalan terputar-putar hingga dia tidal dapat keluar dari kurungan tin ini, supaya dia pergi serintasan lantas dia berjalan kembali"
Kwee Ceng lompat naik ke atas kudanya. sekarang ia girang berbareng masgul. Girang sebab ia percaya Auwyang Hong tidak bakal dapat mengejar si nona. Dan berduka, sebab kacaunya tindakan kaki, dia juga tidak dapat mengikuti jejak nona itu. Karena ini ia maju lebih jauh dengan tidak mengikuti jejak kaki hanya garis dari barisan rahasia Pat Tin Touw itu. Lebih dulu ia menuju ke timur selatan, lalu ke timur langsung. Tidak lama, ia melihat pula tapak kaki. lalu ia pun melihat di kejauhan, di antara salju dan langit, yang seperti menempel, ada petaan seperti bayangan manusia. Ia lantas mengaburkan kudanya, guna menyusul orang itu.
Lantas Kwee Ceng mengenal Auwyang Hong, siapa pun telah melihat kepadanya, bahkan dia segera memanggil-manggil:
"Lekas, lekas Nona Oey terjeblos ke dalam embal"
la kaget sekali, ia kaburkan kudanya. Ketika beberapa puluh tombak lagi mendekati See Tok, ia merasakan kaki kudanya menginjak bukan tanah keras hanya embal yang ketutupan salju. Kuda merah juga merasakan menginjak sesuatu yang empuk. dia mempercepat tindakannya.
Sekarang, setelah datang lebih dekat pada Auwyang Hong, Kwee Ceng melihat kelakuan orang yang luar biasa. See Tok lagi jalan mengitari sebuah pohon kecil, cepat tindakannya, dia tidak mau berhenti sejenakpun.
"Apa yang dia perbuat?" tanya si anak muda kepada dirinya sendiri Ia menahan kudanya, niatnya hendak menanya siBisa dari Barat itu, mendadak kudanya lari terus, lalu kembali. Sekarang ia baru mengerti. Kudanya berada di embal, kalau dia berdiam, dapat terpendam, Kakinya bakal melesak masuk ke dalam lumpur. Ia pun menjadi kaget. Sekelebatan otaknya berpikiri "Apakah Yong-jie kejeblos ke dalam embal ini?" Lantas dia menanya:
"Mana nona oey?"
Auwyang Hong berlari-lari terus, tapi ia menyahut: "Aku mengikuti tapak kudanya dan tapak kakinya sendiri, sampai di sini, dia lenyap Kau lihat" Ia menunjuk ke arah pohon
Kwee Ceng melarikan kudanya lewat, ia memandang ke atas pohon yang ditunjuk. Ia melihat tergantungnya gelang rambut dari emas. Tepat selagi lewat di bawahan pohon, ia menyambar itu. Ia mengenal baik gelang rambutnya oey Yong. Karena ini, ia memutar kudanya, untuk menuju ke timur. Baru lari sekitar satu lie, ia melihat benda berkilau di atas salju. Tanpa turun dari kudanya, sambil membungkuk dalam, ia menjumput itu selagi kudanya lewat. Sekarang ia mengenal bunga mutiara yang si nona biasa pakai. Hatinya menjadi tidak karuan rasa, Saking bingungnya.
"Yong-jie, Yong-jie" ia memanggil-¬manggil. "Yong-jie, kau di mana?" Tidak ada jawaban sama sekali.
Memandang jauh ke depan, Kwee Ceng melihat segalanya putih, tidak ada setitikpun yang hitam yang bergerak-gerak. Ia berkhawatir, ia penasaran. Ia lari terus lagi beberapa lie. Kali ini di sebelah kirinya, melihat sepotong baju bulu - baju bulu si nona. Kembali ia kaget. Baju itu dipandang sangat berharga oleh oey Yong dan biasanya tak pernah terpisah darinya, Sekarang baju itu berada di tengah jalan, bukankah itu alamat dari bencana? Kwee Ceng menyuruh kudanya lari mengitari baju itu, ia berseru
"Yong-jie."
Di situ tidak ada gunung atau lembah, suara keras itu tidak mendatangkan kumandang. Hampir anak muda itu menangis. selagi ia tidak berdaya, Auwyang Hong datang menyusul.
"Mari kasih aku mengasoh di atas kuda," berkata see Tok. "Mari kita sama-sama mencari nona oey"
Tapi Kwee Ceng gusar, ia membentak: "Kalau bukan kau yang mengejar-ngejar, mana bisa dia lari ke daerah embal ini?" Ia menjepit perut kudanya, hingga kuda merah itu berlompat.
Auwyang Hong menjadi gusar sekali, dia berlompat, baru tiga kali, dia sudah datang dekat, tangannya menyambar ekor kuda. Kwee Ceng kaget. Ia tidak menduga orang demikian gesit. segera ia menyabet ke belakang dengan jurusnya "sin liong pa bwee", atau "Naga sakti menggoyang ekor".
Kedua tangan beradu dengan keras. Kebetulan mereka sama-sama menggunakan tenaga penuh. Tubuh Kwee Ceng terpental, hingga ia mencelat dari atas kudanya. Syukur kudanya maju terus. Dengan tangan kiri, ia menjambret pelana kuda, ia menarik. maka sedetik kemudian, ia sudah bercokol lagi di punggung kuda.
Auwyang Hong sebaliknya mundur dua tindak. karena tolakan Kwee Ceng keras dan dia mesti memasang kuda-kuda, untuk mempertahankan diri, Kakinya melesak di embal. Kaki kirinya masuk ke lumpur sebatas dengkul, dia kaget tidak terkira. Dia tahu betul, asal menggunakan tenaga, dia bakal melesak semakin dalam, Kaki kanannya akan melesak juga. Karena ini dengan cepat dia merebahkan tubuhnya, kaki kanannya menendang ke udara. Berbareng dengan itu, dia mengangkat kaki kirinya, untuk dipakai menendang. Maka dengan lumpur bercipratan, kaki kirinya bebas dari dalam lumpur. setelah itu dia berlompat bangun.
"Yong-jie Yong-jie."
Ia mendengar Kwee Ceng memanggil-manggil pula. Lantas dia melihat pemuda itu, bersama kudanya, sudah meninggalkan pergi lebih dari satu lie jauhnya. Dia menduga orang sudah keluar dari daerah embal melihat larinya kuda yang mantap sekali. Dia mendongkol dan menyesal. Terpaksa dia lari mengikuti jejak kuda merah itu.Tetapi betapa kagetnya, dia merasakan kakinya menginjak dasar yang semakin lunak.
Rupanya dia bukan mendekati tepian hanya berada semakin tengah di embal itu. Dalam khawatir dan menyesalnya, dia jadi membenci si anak muda, yang berulang kali membuatnya malu, apalagi belakang ini, dia mesti bertelanjang dengan ditonton puluhan ribu serdadu. Lantas, dengan ilmunya enteng tubuh yang paling mahir, dia berlari mengejar anak muda itu.
Kwee Ceng tengah melarikan kudanya tatkala ia menoleh ke belakang. Tahu-tahu Auwyang Hong sudah berada dekat beberapa tombak. Ia lantas mengeprak kudanya, hingga kuda itu terkejut dan berlompat lari. Hingga kuda dan orang, menjadi berkejar-kejaran
"Yong-jie" si anak muda terus memanggil-manggil. Sementara itu, belasan lie telah dilalui.
Kwee Ceng bergelisah ketika melihat cuaca mulai gelap. Di waktu hari terang, Oey Yong susah dicari, apalagi setelah datang sang malam. syukur untuknya, kudanya lihay sekali, mendapat tahu dia menginjak salju yang longgar dia lari semakin keras, mirip terbang.
Auwyang Hong mengejar terus tetapi dia ketinggalan semakin jauh. Dia menjadi letih, larinya kendor. Tapi juga si kuda merah cape, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, bulunya menjadi mengkilap dan cahaya merahnya bertambah marong, nampak tegas di antara warna putih dari salju di sekitarnya, mirip dengan sekuntum bunga cherri.
Akhirnya ketika langit telah menjadi gelap. kuda merah pun sudah keluar dari daerah embal yang luas itu. Auwyang Hong ketinggalan jauh entah di mana. Hanya, meski ia bebas dari see Tok. Kwee Ceng tidak bebas dari kekhawatiran atas nasib Oey Yong. Di mana adanya si nona? Dia kependamkah di embal? Kalau benar, mana ada pertolongan lagi?
Anak muda ini mencoba menguasai dirinya. Ia turun dari kuda, untuk beristirahat, guna menentramkan hati, agar ia bisa menggunakan pikirannya. Ia mengusap-¬usap punggung kuda, katanya
"Kudaku yang baik, hari ini kau jangan takut sengsara, sebentar kau maju sekali lagi, ya"
Tidak lama ia beristirahat, melompat lagi ke punggung kudanya. Tali les ditarik membikin kuda itu berbalik ke embal, mencari Oey Yong di daerah lumpur. Kuda itu agaknya jerih, setelah dipaksa, baru dia lari. Keras larinya.
Sekonyong-konyong Kwee Ceng mendengar jeritan Auwyang Hong
"Tolong Tolong" See Tok menjerit berulang-ulang.
Dia ternyata terbelesak di dalam embal, sampai sebatas dada, kedua tangannya diangkat tinggi ke atas, digerak-gerakkan seperti lagi menjambret sesuatu. Kalau tubuhnya masuk terus ke dalam lumpur, sampai di mulutnya, melewati hidung, maka habislah dia
Kwee Ceng hampir lompat turun dari kudanya menyaksikan bahaya yang mengancam See Tok. Ia membayangkan, jangan-jangan Oey Yong pun bernasib serupa.
"Tolong" Auwyang Hong berteriak pula. "Lekas"
"Kau telah membunuh guruku Kau pun mencelakai nona oey" Kwee Ceng seraya menggertak gigi. "Kau ingin aku menolong mu? Jangan harap"
"Ingatlah janji kita" kata Auwyang Hong. "Tiga kali kau mesti memberi ampun padaku Dan ini yang ketiga kalinya. Apakah kau tidak mau memegang kepercayaanmu?"
Kwee Ceng mengucurkan air mata. "Nona Oey sudah tidak ada di dunia, apakah gunanya perjanjian kita?" katanya berduka.
Auwyang Hong menjadi sangat mendongkol, ia mencaci kalang kabutan. Kwee Ceng tidak memperdulikan, ia larikan kudanya. Baru belasan tombak. mendadak mendengar jeritan yang menyayat hati, lantas hatinya menjadi lemah. Ia menghela napas. Terpaksa ia memutar balik kudanya. Ia melihat See Tok sudah melesak sebatas leher.
"Suka aku menolong kau," katanya pada jago dari See Hek itu "Hanya kudaku ini, kalau kita menaikinya berdua, muatannya menjadi berat, aku khawatir dia pun akan kebelesak di embal"
"Kau gunakan tambang untuk menarik aku," Auwyang Hong mengasih pikiran.
Kwee Ceng tidak membekal tambang tetapi ia mengingat baju panjangnya, maka ia meloloskan itu, dengan memegang keras satu ujungnya, ia melemparkan itu.
Auwyang Hong menjambret dengan tangannya. Begitu dia dapat memegang, kuda merah dikasih lari keras, maka dia lantas kena tercabut dari dalam embal, terus dia diseret lari kuda itu ke arah timur. Belum lama, tibalah dia di tempat yang selamat.
Kwee Ceng mau mencari oey Yong, pikirannya selalu berada pada si nona, dari itu ia kabur terus bersama kudanya, hingga See Tok juga turut terbawa-bawa. Maka, dia memasang diri terlentang, dia membiarkan tubuhnya di bawa kabur di atas salju itu. Ketika ini dipakai dia untuk meluruskan jalan napasnya. selama apa yang terjadi itu, sang waktu lewat dengan cepat.
Kwee Ceng telah melintasi wilayah embal. Ia mendapatkan lagi tapak kuda dan tapak orang. Itu tempat darimana oey Yong datang, hanya sekarang, si nona tetap tidak ada. Ia lompat turun dari kudanya, ia bengong mengawasi tapak kaki itu
Dalam keadaan berduka dan berkhawatir itu, Kwee Ceng lupa kepada musuhnya. ia berdiri diam dengan tangan kiri memegangi les dan tangan kanan mencekal baju bulu Oey Yong. Setelah mengawasi tapak kaki, terus ia memandang jauh ke depan. ia baru terkejut ketika merasa benturan perlahan pada pundaknya. Hendak ia memutar tubuh, tahu-tahu tangan Auwyang Hong telah mengancam intay¬hiat, jalan darah di punggungnya, hingga ia tidak berdaya lagi. Inilah cara ketika ia pun mencekuk si bisa bangkotan ketika dia baru keluar dari liang perangkap. Auwyang Hong mengasih dengar tertawanya yang dingin¬
"Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah" kata si anak muda, yang hatinya sudah tawar. "Kita memang tidak membuat perjanjian aku menghendaki diberi ampun olehmu"
See Tok melengak. Dia memang berniat menyiksa pemuda ini, untuk menghina padanya, habis itu dia hendak mengambil jiwa orang. Di luar dugaan, si pemuda justru meminta kematiannya. "Si tolol ini sangat mencintai budak celaka itu, kalau aku binasakan dia maka tercapailah cita-citanya mencari kematian," ia berpikir. "Karena budak celaka itu sudah mampus, tentang artinya kitab Kiu Im Cin¬keng sekarang aku bergantung hanya kepada dia ini"
Karena ini, ia lantas mengangkat tubuh si anak muda, dibawa naik ke atas kuda, lalu kuda itu ia kasih lari ke selatan di mana ada sebuah lembah.
Selagi melewati sebuah kampung, Auwyang Hong masuk ke situ. Ia berniat singgah. Di situ berserakan banyak mayat. Hawa udara sangat dingin tidak membikin mayat-mayat itu rusak. bahkan segalanya tidak berubah, maka semua mayat terlihat tegas seperti waktu baru matinya - dipandang menggiriskan, sebab tubuhnya tidak sempurna lagi. Mereka semua korban kekejaman tentara Mongolia.
Beberapa kali Auwyang Hong memanggil, ia tidak mendengar penyahutan dari orang kampung, yang ada hanya suara beberapa puluh ekor kerbau dan kambing yang saling sahutan. Mengetahui ada binatang itu, ia senang juga. Kwee Ceng dibawa ke dalam rumah batu. Ia berkata:
"Kau sekarang tertawan olehku. tidak ada niatku membunuh kau, umpama kata kau dapat melawan aku, kau merdeka untuk pergi."
Kemudian ia menangkap seekor kambing, untuk disembelih dan dijadikan penangsal perutnya yang kosong. Kwee Ceng mendelu melihat sikap orang yang sangat bangga akan dirinya sendiri itu. see Tok sangat puas dengan kemenangannya itu. Dari mendelu, ia menjadi gusar sekali. Kemudian Auwyang Hong melemparkan sepotong paha kambing.
"Kau dahar biar kenyang, sebelum kita bertempur," katanya mengejek.
"Kalau kau mau bertempur, marilah" Kwee Ceng menjawab gusar. "Buat apa menanti sampai gegares kenyang" ia lantas berlompat maju dan menyerang
See Tok menekuk kedua kakinya, untuk menongkrong, dari mulutnya keluar dua kali suara kerak-kerok. Ia telah lantas menggunakan ilmu silat Kedoknya, membalas menyerang. Maka itu, di situ mereka lantas bertarung.
Setelah bertempur lebih dari seratus jurus, Kwee Ceng terdesak. Ia masih kalah dalam hal tenaga dalam. Begitu ia dirangsak satu tindak dan kemcungannya ditinju. Ia kaget dan tidak berdaya, maka ia menanti kebinasaan. Auwyang Hong tidak meneruskan hajarannya, dia hanya tertawa.
"Hari ini sampai di sini saja" dia berkata, "Pergi kau melatih ilmu silatmu dari kitab Kiu Im Cin-keng, besok aku akan melayani lagi padamu"
"Pui" menghina si anak muda, yang lantas pergi duduk di bangku. ia menjumput paha kambing, untuk dimakan. sembari makan, ia berpikiri "Dia hendak mempelajari ilmu silat dari kitab, kalau aku berlatih, dia akan menonton. Tidak, aku tidak boleh kena diakali Ah, ya, tadi serangannya ke kempunganku itu, bagaimana harus aku menangkis atau mengelakkannya? "
Ia lantas berpikir. Ia ingat, belum pernah ia mempelajari sesuatu jurus yang dapat memecahkan serangan lawan. Ada juga di dalam kitab, bagian "Hui Sie Keng", ialah ilmu "Kapas Terbang". Ilmu itu, kalau dapat diyakinkan, akan membikin tenaga di kempungan bisa menghindarkan serangan¬
"Biar aku mempelajari dalam hati, dia hendak menelan juga tidak mampu," pikirnya pula. Maka lekas-lekas ia menghabisi daging kambingnya, terus ia duduk bersila, belajar sambil bersemedhi.
Dengan begitu ia bisa memusatkan pikirannya. Menghapal kitab. Setelah mengerti "It kin toan kut pian", ia sudah mendapati inti ilmu silat, dan sesudah mendapatkan pengajaran dari It Teng Taysu, ia telah memperoleh kemajuan terlebih jauh, maka itu, tidaklah sukar meyakinkan "Hui Sie Keng". Belum dua jam, ia sudah berhasil. Ia lantas melirik kepada Auwyang Hong, yang lagi bersemedhi.
"Awas" ia berseru. Ia bangun, lantas ia lompat menerjang, sebelah tangannya melayang.
Auwyang Hong telah siap sedia. Ia menangkis. Tadi ia berhasil dengan tinjunya ke kempungan, maka selang tidak lama, setelah melihat lowongan, ia mengulangi serangannya itu. Hanya sekarang ia menjadi heran - Tinjunya melejit lewat, seperti mengenai sesuatu yang licin, tubuhnya sendiri sedikit terjerunuk ke depan-Justru itu, tangan kiri Kwee Ceng terbang ke lehernya.
"Bagus" pikirnya. Ia kaget dan girang. Ia menjerunuki tubuhnya terus ke depan, dengan begitu ia bebas dari serangan si anak muda. Setelah itu ia membalik diri, berkata: "Bagus ilmumu ini. Adakah dari dalam kitab? Apakah namanya?"
"Seecat iet-wi, ayboat kek-ji," sahut Kwee Ceng.
See Tok melengak. Ia tidak mengerti. Tapi segera ia ingat akan penyebutan lafal bahasa sansekerta. Maka ia pikir. "Baik aku melayani dia dengan akal." Karena ini, ia lantas melayani lebih jauh pemuda itu.
Semenjak itu, sebulan lebih keduanya berdiam di rumah batu. Kalau yang satu ingin mencangkok ilmu silat dari Kiu Im Cin-keng, yang lain hendak menuntut balas. Saban-saban Kwee Ceng kena dibikin tidak berdaya, ia tidak dihajar atau dibinasakan, maka terus saban-saban ia meyakinkan cara baru, untuk menandingi setiap pukulan dahsyat dari See Tok. Selama itu, terus mereka dahar daging kambing, sampai binatang itu hampir habis.
Lama-lama, Kwee Ceng sendiri mendapat kemajuan, sedangkan Auwyang Hong sebaliknya cuma dapat berlatih, tidak dapat ilmu dari Kiu Im Cin¬keng yang diharap-harap itu. Dia malah menjadi bingung. Apa yang dia lihat dari Kwee Ceng, tidak cocok sama bunyinya kitab yang dia suruh si pemuda menuliskan untuknya selama mereka berdiam di dalam perahu dulu itu. Karena ini, lama-lama jago dari See Hek ini berkhawatir juga. Dia berpikir "Secara begini, selagi aku sendiri tidak mendapatkan artinya kitab, bisa-bisa aku bukan tandingan dia lagi" Dia menjadi jeri sendiri.
Selama beberapa hari, dengan cara berlatih di otak. Kwee Ceng mulai mempelajari ilmu silat bersenjata. Ia menggunakan pedang pendeknya dengan pedang kayu. Dengan itu ia melayani tongkat ular See Tok.
Sekarang Auwyang Hong memakai tongkat kayu tanpa dibantu ularnya yang istimewa. Ketika dulu menempur Ang cit Kong, tongkatnya terlempar lenyap di laut. Kemudian dia membikin tongkat baja, dia melilitkan ular di ujung tongkatnya, tetapi tongkat ini lenyap di kurungan es selama dia digencet es oleh Lou Yoe Kiak. Meski hanya tongkat kayu dan tanpa ular, ilmu silatnva tak berubah, tongkatnya tetap lihay. Beberapa kali pedang kayu si anak muda dibikin mental. Coba tongkat itu ada ularnya, pasti lihaynya bertambah.
Selama itu, kuping mereka mendengar suara terompet, kuda dan tentara, dari tentara Jenghiz Khan yang berangkat kembali ke timur, yang mana berjalan beberapa hari lamanya. Semua itu tidak dihiraukan dua orang yang lagi bertarung ini. Adalah pada suatu malam, ketika pasukan Mongolia sudah pergi semua, baru mereka merasakan kesunyian.
"Malam ini tetap aku tidak bakal dapat mengalahkan kau tetapi juga tongkatmu tidak akan dapat berbuat banyak atas pedangku," kata Kwee Ceng di dalam hatinya selagi ia berdiri siap. dengan pedang di tangannya. Ia baru dapat memikir satu jurus yang baru dan hendak mencobanya, ia menanti lawannya menyerang lebih dulu. Mereka belum mulai bertempur tatkala mendadak mendengar bentakan di atas genting:
"Jahanam, kau hendak lari ke mana?" Itulah suaranya Ciu Pek Thong.
Kwee Ceng dan Auwyang Hong terbengong. Sama-sama mereka memikirkan "Kenapa dia datang begitu-jauh ke Barat ini?" Mereka baru mau membuka mulut terdengar tindakan kaki, dari dua orang, yang satu di depan, yang lain di belakang, datang mendekati ke rumah batu ini. Inilah mungkin disebabkan - selagi lain-lain rumah kosong, di sini nampak cahaya api. Dengan sebat see Tok mengebut dan apinya padam. Justru itu daun pintu tertolak hingga bersuara dan seseorang lari masuk.
Didengar dari tindakan kakinya yang enteng, orang yang dikejar Pek Thong itu tak usah kalah ilmunya enteng tubuh dari Loo Boan Tong. Maka heranlah See Tok hingga ia berkata di dalam hatinya: "Dia dapat lari puluhan ribu lie tanpa terbekuk Loo Boan Tong, dia lihay. orang dengan kepandaian seperti dia, sekarang ini tinggal Oey Yok su dan Ang cit Kong. Ini hebat untukku si bisa bangkotan"
Dalam gelap terdengar suara orang berlompat naik ke atas penglari di mana dia terus berduduk. terdengar tertawanya ciu Pek Thong, yang berkata:
"Kau main petak umpet dengan LooBoan Tong, aku senang sekali sekarang jangan kau molos lagi"
Setelah itu terdengar si tua tukang guyon itu menutup pintu dan mengangkat sebuah batu besar guna dipakai menunjang belakang pintu, kemudian berkata:
"Eh, bangsat bau, kau berada di mana?" Dia pun bertindak dengan tangannya meraba¬raba, seperti lagi mencari sesuatu.
Kwee Ceng yang telah lama berdiam di tempat gelap, dapat melihat samar-samar lagak kakak angkat, hendak ia menunjukkan bahwa orang ada di atas penglari, akan tetapi sebelum ia membuka mulut, mendadak Ciu Pek Thong berlompat sambil tertawa, dia menyambar kepada orang yang lagi sembunyi itu. Rupanya dia telah tahu di mana orang berdiam dan berlagak mencari, untuk bersiap berlompat naik.
Orang yang dipanggil jahanam itu benar-benar lihay. Tidak menanti sampai kena dicekuk, ia mendahului menyingkir dengan lompat jumpalitan turun, hingga sesaat kemudian sudah berjongkok di pojok rumah.
Pek Thong agaknya jeri juga terhadap sijahanam ini, ia berlaku hati-hati. sebelum mencari, ia memasang kuping dan matanya. Sebagai orang lihay, ia tahu, kecuali ia sendiri, di situ ada suara bernapas dari tiga orang. Ia heran kenapa orang berdiam saja. Mungkin orang kaget dan takut? Ketika tadi ia mendatangi rumah batu ini, menduga mesti ada penghuninya dan dibuktikan padamnya api serta sekarang suara bernapas. Akhirnya ia berkata:
"Tuan rumah, jangan takut Aku datang ke mari untuk membekuk maling cilik, setelah dia terbekuk, aku akan segera pergi dari sini."
Habis berkata, LooBoan Tong memasang kuping. Ia mendengar suara bernapas yang semakin perlahan. Suara bernapas itu datangnya dari tiga penjuru, timur, barat dan selatan - Ia terkejut tetapi segera berseru:
"Hm, jahanam, kiranya di sini kau menyembunyikan kawanmu" Ia tidak mendengar jawaban.
Kwee Ceng juga berdiam saja. Ia tahu, ciu Pek Thong menghadapi lawan tangguh, Pek Thong tentulah tidak bisa membantu dirinya. Ia pikir lebih baik menanti kesempatan.
Habis mementang mulut, Pek Thong bertindak perlahan ke pintu, dari mulutnya keluar ocehan.
“Jangan-jangan LooBoan Tong tidak bakal berhasil membekuk orang dan sebaliknya kena dicekuk." la bertindak terus.
Waktu itu dari kejauhan terdengar suara seruan ramai dibarengi tindakan kaki kuda yang riuh, rupanya dari satu pasukan tentara yang besar. Suara itu mendekat.
Mendadak terdengar suara Ciu Pek Thong: "Bantuanmu makin lama makin banyak, nah, sudahlah, LooBoanTong minta maaf saja, tidak dapat menemani kau lebih lama lagi"
Dia lantas memegang batu besar penunjang pintu, agaknya dia hendak menyingkirkan guna membuka pintu, guna angkat kaki. Akan tetapi, setelah batu itu terangkat kedua tangannya, mendadak dia melemparkan ke arah tempat sembunyinya orang yang dia kejar-kejar itu. Pintu itu menghadap ke selatan dan orang itu berada di utara.
Auwyang Hong dapat mendengar segalanya. Ia berpikir. "Dia menyerang, dengan begitu bagian kanannya menjadi tidak terlindung, baiklah aku hajar dirinya, kalau dia sudah mampus, maka berkuranglah bencana untukku di belakang hari, dan kalau nanti terjadi rapat yang kedua di Hoa san, musuhku juga lenyap satu" Begitu berpikir, begitu ia menongkrong, sebelah tangannya diajukan - Ia menyerang dengan Kap Moa Kang, ilmu Kedoknya. Dia berada di barat, dari barat dia menyerang ke timur.
Kwee Ceng sementara itu tidak berdiam saja. Ia memasang matanya ke segala penjuru, terutama terhadap See Tok. Seperti juga si Bisa dari Barat, ia biasa dengan tempat gelap. Ketika ia melihat sepak terjang Auwyang Hong. Bokongan itu berbahaya untuk Pek Thong. Tidak ayal lagi, dengan jurus "Hang Liong yu hui", ia menyerang ke arah manusia licik itu.
Di pihak orang yang dikejar-kejar Pek Thong itu, dia pun tidak berpeluk tangan, ketika dia mendapat tahu datangnya serangan, dia memasang kuda-kuda, terus kedua tangannya dipakai menyambut sambil menolak pergi batu besar itu. Karena ini dengan berbareng empat orang sama-sama mengeluarkan tenaganya.
Dengan suara nyaring, batu besar jatuh ke ¬tengah ruangan. Di situ ada sebuah meja, maka ringsaklah meja itu, suaranya berisik menulikan telinga.
Mendengar itu, Kwee Ceng girang, dia tertawa. sebenarnya dia tertawa nyaring sekali tetapi suaranya lenyap di antara seruan riuh pasukan tentara yang mendekat, yang sudah mulai memasuki dusun. Sekarang Kwee Ceng dapat mendengar lebih nyata. Itulah dua buah pasukan yang lagi bertempur.
Rupanya tadi orang main kejar-kejaran. Itu pula pasukan Khoresmia, yang kalah perang, yang kabur sambil dikejar tentara Mongolia. Mungkin tentara shah Muhammad hendak mempertahankan diri di dusun ini tepapi mereka tersusul. Demikian, suara anak panah pun terdengar swang-swing tak hentinya, disusul sama bentrokan pelbagai senjata lainnya.
Mendadak Pek Thong melihat orang menerobos masuk. Ia menyambar, mencekuk orang itu, terus melemparkannya keluar. Habis itu ia mengangkat batu, dipakai mengganjal lagi pintu itu, yang ia telah lantas menutup rapat kembali.
Sampai waktu itu Auwyang Hong, yang gagal dengan bokongannya karena dirintangi Kwee Ceng, mengasih dengar suaranya. Rupanya menyangka ia telah terpergoki. Ia tanya:
"LooBean Tong, tahukah kau aku siapa?"
Pek Thong tidak segera mengenali suara orang, sebaliknya, dengan sebelah tangan menjaga diri, tangan lain menyerang ke arah darimana suara datang. ia lantas mendapat perlawanan. Mulanya tangannya ditangkis untuk ditangkap. terus ia diserang. Ia kaget sekali ketika menangkis.
"Ha, bisa bangkotan, kau di sini?" tanyanya heran.
Untuk memperbaiki diri, ia menggeser tubuh ke kiri. Justru itu, orang yang bersembunyi di utara mendadak menghajar ke punggungnya. Ia lihay, sambil tangan kanannya menyerang See Tok, tangan kirinya menangkis ke belakang. Ia menganggap inilah kesempatan yang baik mencoba ilmu silat yang ia ciptakan di Tho Hoa To, ialah ilmu kedua tangannya berkelahi masing-masing, yang tadinya ia belum peroleh kesempatan mengujinya. Akan tetapi tangkisannya ke belakang telah ditalangi Kwee Ceng. si anak muda berlompat maju, tangan kanannya menangkis tangan kakak angkat itu, tangan kirinya menangkis serangan si lawan yang belum dikenal.
Berbareng sama bentrokan tangan ketiga orang itu, dua seruan terdengar berbareng. "saudara Kwee" demikian LooBoan Tong, si tua tukang berguyon
"Kiu Cian jin" berteriak Kwee Ceng.
Sudah tentu suara itu membuat Auwyang Hong heran, karena di sini ia dapat bertemu sama LaoBoan Tong serta ketua Tiat Ciang Pang.
Ketika terjadi pertandingan di Yan ie Lauw itu, lantaran takut ular berbisa, Pek Thong telah menyembunyikan dirinya di wuwungan lauteng, dengan begitu, ia bebas dari panah tentara negeri dan selamat juga dari pagutan ular. Ia berdiam terus di situ sampai kabut buyar dan orang semua bubaran- Habis itu, ia berkeliaran saja. Lewat beberapa bulan, ia bertemu dengan seorang anggota Kay Pang, yang memberikan sepucuk surat kepadanya. Itulah suratnya oey Yong, yang menagih janji padanya.
Ia pernah menjanjikan si nona, apa saja yang dia minta, ia tidak bakal tolak. Sekarang Oey Yong minta ia pergi membinasakan Kiu Cian Jin. Si nona menulis juga, kalau "tugas" ini rampung, maka Lauw Kui-hui atau Eng Kouw, tidak bakal mencari lagi dirinya. Ia menerima baik permintaan si nona. Ia pikir, Kiu Cian Jin toh jahat sudah bersekongkol sama bangsa Kim, sebagai pengkhianat, pantas dia dibinasakan - Maka seorang diri ia pergi ke Tiat Ciang Hong. Mulanya, mereka berimbang, sesudah Pek Thong menggunakan kedua tangannya menuruti caranya masing-masing, Kiu Cian Jin keteter, dia kabur, lantas dikejar - Sebetulnya Cian Jin heran kenapa Pek Thong memusuhinya, pernah ia minta keterangan, tapi Pek Thong tidak dapat memberikannya.
Begitu mereka berkejar-kejaran, sebentar kecandak dan bertempur, sebentar Cian Jin lari pula. Sampai akhirnya tibalah mereka di rumah batu di mana justru berada Auwyang Hong dan Kwee Ceng. Kiu Cian Jin lari ke Barat ini dengan pengharapan LooBoan Tong tidak kuat menahan hawa dingin, sedang Pek Thong tidak perduli, ia cuma tahu mengejar terus.
Sampai di situ, Kwee Ceng dan Ciu Pek Thong mengetahui baik, siapa dua orang yang berada bersama mereka di dalam rumah batu itu. Auwyang Hong juga mengetahui mereka bertiga dan bahwa Kiu Cian Jin musuhnya Pek Thong. Sebaliknya Kiu Cian Jin cuma mengenali Pek Thong dan Auwyang Hong, ia masih ragu-ragu untuk Kwee ceng.
Kiu Cian Jin, ciu Pek Thong dan Auwyang Hong adalah orang-orang lihay yang sebanding kepandaiannya, tetapi Kwee Ceng setelah melayani see Tok sekian lama, pesat kemajuannya, hingga ia jadi berimbang sama mereka. Hanya sekarang mereka merasakan rintangan dari ruang yang gelap dan suara sangat berisik di luar.
Kwee Ceng bebal tetapi sekarang ia dapat berpikiri "Baik aku merintangi See Tok biar Ciu Toako membinasakan Kiu Cian Jin, kemudian berdua mengepung si Bisa dari Barat ini." ia lantas mengambil putusannya.
Ia juga bisa berkelahi dengan dua tangannya seperti Pek Thong, maka sekarang ia menggunakan ilmu silat yang istimewa itu. Dengan tangan kanan ia menyerang ke dada, dengan tangan kiri menyambut satu serangan. Tapi ketika tangannya bentrok. la terkejut. Ia mengenal bentrok sama tangannya Pek Thong, Ia lantas lompat, ingin menarik tangannya toako itu. Mendadak Pek Thong bergerak mendahului, tangan kirinya ditarik kembali tangan kanannya menyerang. Inilah ia tidak sangka, maka tahu-tahu ia terhajar pundaknya. Ia merasa sakit dan kaget sekali.
"Ah, saudara yang baik, kau hendak menguji aku?" kata Pek Thong. "Hati-hatilah" Dan dia menyerang lagi dengan tangan kirinya.
Sekarang ini Kwee Ceng telah bersedia, ia berhasil menangkis. Selagi Pek Thong dan Kwee Ceng bertempur, Auwyang Hong juga bergebrak sama Kiu Cian jin - Cian Jin lantas berpikir: "Kita tidak bermusuh satu sama lain tetapi di Hoa san nanti, kita bakal bentrok, maka kalau sekarang aku dapat menghajar dia, pasti itulah baik," Maka itu ia menyerang dengan hebat. Hanya, baru beberapa jurus, ia dan seeTok mendapat pikiran yang serupa. Itu disebabkan mereka mendapat kenyataan Pek Thong bertempur sama Kwee Ceng. Mereka berpikir. "Pek Thong ini tidak karuan lagaknya, kenapa sekarang aku tidak memberi rasa padanya?" Maka itu, keduanya lantas menanti kesempatan yang baik,
Setelah belasan jurus, Pek Thong mendapat tahu kemajuan Kwee Ceng. Ia girang sekali, ia heran juga. Ia bertanya:
"Eh, saudara yang baik, darimana kau peroleh kepandaianmu?" suara di luar berisik sekali, Kwee Ceng tidak mendengar, ia tidak menjawab. Pek Thong menjadi gusar. Ia tidak ingat suara berisik itu.
"Baik" katanya. "Kau tidak mau memberitahu aku. Kau main gila, ya"
Justru itu datang serangan berbareng dari Kiu Cian Jin dan Auwyang Hong, ia lantas lompat berkelit, terus berkata kepada si anak muda.
"Baiklah, aku membiarkan kau sendiri melawan mereka"
Benar-¬benar, ia tidak melawan kedua penyerangnya. Ia digantikan Kwee Ceng, yang hendak membelai padanya. Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin, yang mendapat tahu Ciu Pek Thong mundur, lantas menyerang Kwee Ceng.
Anak muda ini menjadi bingung. Tadi ia heran atas serangan Pek Thong. Sekarang menghadapi dua musuh tangguh. Satu Auwyang Hong saja sudah hebat. Tapi ia terpaksa harus berkelahi. Maka ia berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Sesudah bertempur sekian lama, Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin menjadi heran. Menurut mereka, siapa saja di antara mereka berdua, pasti akan dapat mengalahkan Kwee Ceng, siapa tahu sekarang mereka kesulitan. Ke mana mereka menyerang, si anak muda selalu dapat melayani. Akhirnya, mereka menjadi kewalahan.
Ciu Pek Thong beristirahat di atas penglari. Ia tahu berapa lama Kwee Ceng telah menempur dua musuh yang tangguh itu. Ia pikir, ia perlu lekas turun, untuk membantu, kalau tidak adik angkatnya itu bisa susah. Lantas ia turun dengan diam-diam, bertindak berindap-indap ke belakang Auwyang Hong. Di dalam gelap itu, ia sengaja menutup kedua matanya. Hanya tangannya yang diajukan ke depan, guna menjambret. Kebetulan ia melanggar punggung Auwyang Hong, yang lagi nongkrong guna menyerang Kwee Ceng dengan ilmu Kedoknya.
See Tok terkejut, segera menyerang ke belakang. Kwee Ceng mendapatkan tidak ada serangan, ia menendang Kiu Cian Jin, habis itu ia berlompat mundur ke pojok. Kebetulan untuknya, Pek Thong datang pada waktunya yang tepat, kalau tidak ia bisa celaka di tangan si Bisa dari Barat. Ia sudah bernapas memburu. Tapi ia tidak bisa beristirahat lama, segera harus menghadapi lagi ketua dari Tiat Ciang Pay, sedang ciu Pek Thong menyambut Auwyang Hong. Mereka saling ganti lawan. Yang lucu adalah kalau Pek Thong bertempur pula sama adik angkatnya itu seperti tadi. Di dalam gelap. sukar mereka lekas saling mengenali.
Pek Thong gembira sekali dengan ini pertempuran kacau. satu kali, selagi melayani Kwee Ceng, ia berkata kepada anak muda ini.
"Tangan kita masing-masing seperti melayani dua musuh, sekarang aku hendak mencoba, kau melayani empat tangan - Kau anggap mereka berdua hanya satu orang"
Kwee Ceng tidak mendengar apa yang orang bilang hanya ia lantas merasa seperti dikepung tiga orang. Tentu saja berbahaya. Maka ia lebih sering berkelit.
"Jangan takut, jangan takut," kata Pek Thong, yang ketahui orang lebih banyak menolong diri daripada membalas menyerang. “Jangan takut, kalau ada bahaya, aku yang bantu kau"
LooBoan Tong boleh mengatakan demikian, tetapi mereka berada di tempat gelap dia bisa terlambat, maka itu, Kwee Ceng menjadi letih pula, sedang begitu ia merasakan tangan kedua lawannya semakin berat. Ia telah memikir untuk lompat naik ke penglari, untuk beristirahat siapa tahu Pek Thong mendesak kepadanya. Ia kaget dan mendongkol, akhirnya ia berkata nyaring:
"Ciu Toako, manusia tolol, perlu apa kau mengganggu aku?"
Percuma anak muda ini mengasih dengar suaranya, suara itu tak terdengar Pek Thong. Di luar, suara pertempuran sangat berisik. Ia lantas mundur. Tiba-tiba kakinya terpeleset, hampir roboh. Di saat itu datanglah serangan Kiu Cian Jin - Sambil terhuyung, ia memungut batu yang ia injak itu, ia angkat tinggi kedadanya, guna dipakai melindungi tubuhnya. Maka serangan Cian Jin mengenai batu itu.
Menyusul itu datang serangan Auwyang Hong, yang menuju ke kirinya. Ia menggunakan terus batunya. Kali ini sambil menangkis, ia melemparkan batu keras sekali ke atas. Kesudahannya, membikin wuwungan bolong, hingga di sana nampak sedikit cahaya terang dan bintang-bintang di langit.
Pek Thong gusar melihat cahaya terang itu. Ia membentak "Sekarang segalanya tampak nyata. Mana menggembirakan?"
Kwee Ceng merasa sangat letih. la tidak memperdulikan teguran itu, bahkan ia lompat tinggi sekali, noblos di wuwungan yang bolong. Auwyang Hong berlompat naik, untuk menyusul.
"Jangan pergi Jangan pergi" Pek Thong berseru-¬seru. “Temani aku bermain-main" Dan ia berlompat juga, menyambar kaki see Tok. Auwyang Hong kaget, ia menendang. Kakinya bebas, tetapi karena itu, ia tidak dapat naik terus, ia mesti turun lagi.
Kiu Cian Jin melihat keadaan orang, tanpa menanti si Bisa dari Barat menginjak lantai, dia berlompat menendang ke dada, karena itu Auwyang Hong harus membikin mengkerat dadanya, sambil menolong diri, ia juga menotok ke kaki si penyerang. Karena ini, keduanya jadi bertarung lagi.
Sekarang dengan adanya cahaya terang, orang bertempur dengan satu sama lain bisa saling melihat. Hanya ketika itu, di luar, suara berisik semakin berkurang. Ciu Pek Thong menjadi lenyap kegembiraannya, ia mendongkol, karena uring-uringan, ia menyerang Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin, menyerang dengan hebat sekali.
Kwee Ceng dilain pihak lari terus hingga ke luar dusun. Ia menyaksikan sisa kedua pihak tentara yang terluka dan terbinasa, ia pun mendengar rintihan datang dari sana sini. Ia tidak memperdulikan mereka, ia hanya mencari satu tempat sunyi di mana segera merebahkan diri, untuk beristirahat. Ia sangat letih, ia merasakan otot-otot dan buku-buku tulangnya ngilu dan nyeri. Tanpa merasa ia tidur pulas.
Lama anak muda ini tidur, ketika besoknya pagi ia bangun, dengan kaget ia berlompat bangun. Ia merasa mukanya di usap-usap sesuatu. Ketika ia berlompat, berbareng mendengar meringkiknya kuda, betapa girangnya melihat kuda merahnya, yang datang padanya dan menjilati mukanya. Ia menjadi girang sekali ia merangkul leher binatang itu.
Ketika si anak muda dikurung Auwyang Hong, kuda itu diumbar saja, dia dapat hidup sendiri. Waktu terjadi pertempuran tentara Kim dan tentara Mongolia, dia menyingkir jauh, setelah kedua pihak tentara pergi, dia mencari majikannya.
Dengan menuntun kudanya, Kwee Ceng berjalan perlahan-lahan kembali ke dusun. sekarang termelihat tegas sisa pertempuran, mayat serdadu dan bangkai kuda, berserakan di sisi pelbagai senjata. Masih ada serdadu yang terluka, yang merintih. Ia terharu sekali. Terpaksa ia tidak menghiraukan segalanya, ia langsung kembali ke rumah batu. Sebelum masuk memasang kuping dulu, lalu mengintai dari sela-sela pintu, setelah tidak mendengar apa-apa dan tidak melihat sesuatu, perlahan ia menolak daun pintu, untuk bertindak masuk. Tidak ada orang di situ, entah ke mana perginya ciu Pek Thong, Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin bertiga. Untuk sejenak. la berdiri menjublak. Kemudian keluar, untuk naik kudanya, berangkat ke arah timur. Ia melarikan binatang tunggangannya itu. Tidak lama ia berhasil menyusul pasukan perang jenghiz Khan¬.
Waktu itu Khoresmia telah terpukul hebat, pelbagai kotanya pecah atau diserbu rusak. Angkatan perangnya hancur luluh, bahkan rajanya, shah Muhammad ed-Din, kabur entah ke mana. Tapi shah itu, atas titahnya Jenghiz Khan, dicari terus oleh subotai dan Jebe, yang menyusul ke arah Barat.
Jenghiz Khan sendiri berangkat pulang dengan membawa kemenangan. subotai berdua telah mengejar sampai di sebelah barat Moskwa, dekat kota Kiev, di tepi sungai Dnieper, di mana mereka telah melabrak beberapa puluh ribu jiwa serdadu Russia dan Kimchak. Dimana pun mereka menghukum hertog dari Kiev serta sebelas pangeran dengan jalan melindas mereka dengan kereta. Ini dia yang dinamakan "Perang Kalka". Demikian padang rumput Russia mengeluh di bawah injakan kaki kuda Mongolia.
Jenghiz Khan masgul dan cemas karena hilangnya Kwee Ceng di samarkand, sekarang ia melihat si anak muda kembali, hatinya girang. Pula tak dapat dikatakan girangnya putri GochinBaki.
Khu Cie Kie tetap turut di dalam angkatan perang yang pulang ke timur, saban-saban ia membujuk pendekar Mongolia untuk mencintai rakyat dan mencoba mengurangi pembunuhan. Jenghiz Khan sangat tidak menyetujui sikap imam ini tetapi karena ia tahu orang berilmu, ia tidak mau terlalu menentang nasihat itu. Dengan begitu, kata-katanya imam dari Coan cin Kauw ini telah menolong banyak sekali jiwa orang. Di dalam kitab Yuan shih - j asanya Khu Cie Kie tercatat jelas.
Untuk pemerintah "dunia", Cie Kie menasihati janganlah orang gemar membunuh. Ditanya tentang cara memerintah, ia menganjurkan menghormati Thian dan mencintai rakyat.
Mengenai pertanyaan ilmu umur panjang, ia menasihati untuk membersihkan hati dan mengurangi segala nafsu keinginan. Karena ini, ia disebut sin-sian atau dewa dan Jenghiz Khan menganjurkan putra-¬putranya mencontoh imam ini. Ketika kemudian Mongolia menyerang negara Kim, kembali Khu Cie Kie berhasil menolong banyak jiwa manusia. Untuk pulang dari Khoresmia ke negerinya Jenghiz Khan memerlukan banyak waktu.
Ketika akhirnya ia tiba di negaranya, ia membuat pesta besar. Terus ia memelihara tentaranya. Lewat lagi beberapa bulan, timbullah keinginan pendekar ini maju pula ke selatan, guna menyerang bangsa Kim. Untuk itu ia segera mengadakan rapat.
Dalam rapat ini, Kwee Ceng menutup mulut. Semenjak pulang, ia senantiasa berduka, sering seorang diri ia pesiar di tanah datar atau dipadang rumput, dengan menunggang kuda merahnya sambil membawa kedua burungnya. Ada kalanya selama bicara, ia berdiam terbengong saja. Semua ini disebabkan ia terlalu keras memikirkan Oey Yong yang lenyap. Putri Gochin membujuknya, ia tidak mengambil perduli, ia seperti tidak mendengar. Orang tahu ia bersusah hati, sampai tidak ada yang menyebut-nyebut urusan jodohnya. Demikian di hari rapat itu, selagi lain orang bicara banyak ia berdiam saja.
Habis rapat, Jenghiz Khan menitahkan semua panglimanya mengundurkan diri. seorang diri ia berdiam di atas bukit, otaknya bekerja. Besoknya pagi ia mengasih titah untuk angkatan perangnya maju ke tiga jurusan, untuk menyerang negeri Kim.
Tatkala itu Juji bersama subotai masih ada di Barat lagi mengurus negara-negara taklukannya, maka sekarang pasukan kesatu dikepalai oleh ogotai, putra nomor tiga pasukan kedua diserahkan di bawah pimpinan Tuli, putra nomor empat. Kwee Ceng dapat tugas pula, untuk memimpin pasukan ketiga.
Jenghiz Khan memanggil berkumpul ketiga kepala perangnya itu, ketika ia mau bicara, ia menitahkan semua pengiringnya mengundurkan diri Lantas ia berkata
"Pasukan perang Kim dipusatkan diTongkwan - Kota itu sukar dipukul pecah karena letaknya di selatan nempel pegunungan dan di utara berbatas dengan sungai besar. pikiran dari pelbagai perwira pun tidak ada yang akur satu sama lain - Kalau kita maju dari depan, gerakan kita tentu bakal meminta waktu yang lama. Maka aku pikir, jalan yang paling sempurna ialah kalau kita bangsa Mongolia berserikat sama kerajaan song. Aku pikir baiklah kita meminjam jalan dari negara song, kita maju dari Tong - ciu dan Teng - ciu untuk menuju langsung ke ibukota Kim, Tay- liang."
Mendengar itu, ogotai, Tuli dan Kwee Ceng berlompat untuk saling rangkul, buat bersama-sama berteriak:
"Bagus"
Jenghiz Khan memandang Kwee Ceng sambil bersenyum. "Kau pandai mengatur tentara, aku senang denganmu," kata pendekar ini. "sekarang aku hendak tanya kau, setelah Tay - liang kena dipukul pecah, bagaimana?"
Kwee Ceng menggeleng kepala. "Tidak menyerang Tay- liang," sahutnya.
Ogotai dan Tuli menjadi heran - Terang barusan ayah mereka menyebut menyerang ibukota Kim. Kenapa sekarang Kwee Ceng bilang demikian? Maka keduanya mengawasi dengan melongo.
Jenghiz Khan sebaliknya tetap bersenyum. "Kalau tidak menyerang Tay - liang, bagaimana?" dia tanya pula.
Kwee Ceng menjawab tenang: "Sudah tidak menyerang, bukan berarti juga tidak menyerang, ¬menyerang tetapi tidak menyerang, tidak menyerang tetapi menyerang"
Kedua pangeran itu menjadi heran bukan main. Jenghiz Khan tertawa, ia berkata pada si anak muda
"Menyerang tetapi tidak menyerang, tidak menyerang tetapi menyerang. Bagus kata-kata itu. Nah, kau menjelaskanlah kepada semua kakakmu."
Kwee Ceng mengangguk. la berkata: "Aku dapat menerka siasat perang dari Khan yang agung. Kita berpura-pura menyerang ibukota Kim, untuk membasmi musuh di kaki tembok kota. Tay-liang ialah kota tempat kediaman raja Kim, tetapi di sana tentaranya tidak banyak. Jikalau kita pergi ke sana, pasti raja Kim bakal segera mengirim pasukan dari Tong - kwan untuk menolong. Tong¬kwan terpisah jauh dari Tay - liang kalau tentara dikirim cepat, tentara akan keburu lelah di tengah jalan, umpama kata tentara itu dapat tiba tepat, mereka tentu tidak kuat berperang, dari itu tentara kita yang besar tinggal melabrak saja. Kita pasti menang. Kalau bala bantuan musuh dapat dipukul hancur, kota Tay-liang bakal jatuh tanpa diserang lagi. Sebaliknya kalau langsung kita menyerang Tay-liang, itu sulit, kita pun bisa digencet musuh dari depan dan belakang."
Jenghiz Khan bertepuk tangan sambil tertawa lebar. "Bagus Bagus" pujinya.
Lantas raja ini mengeluarkan sehelai peta bumi, ia membeber di atas meja. Menampak itu, semua ketiga panglima itu heran bukan main.
Peta itu ialah peta bumi sekitar kota Tay - liang, di situ terlukis garis dua pasukan tentara - pasukan Mongolia dan musuh. Di situ pun tercatat jelas siasat guna menyerang musuh, buat menghajar bala bantuan dari Tong-kwan selagi bala bantuan itu baru tiba dan masih letih. Jadi cocoklah dengan pikiran Kwee Ceng barusan. Kota Tay-liang mau diserang, toh tidak diserang - kota itu tidak diserang, toh bakal dirampas.
Ogotai dan Tuli sating memandang, mereka memandang ayahnya, lalu memandang Kwee Ceng. Pada wajah mereka terlukis nyata keheranan dan kekaguman. Jenghiz Khan berkata pula:
"Dengan penyerangan kita ke selatan kali ini, sudah pasti negara Kim bakal kena dipukul pecah. Di sini ada tiga buah surat tertutup, kamu bawalah seorang satu. Kalau nanti kota Tay - liang sudah dipukul pecah, kamu berkumpul di istana Kim-loan-thian raja Kim, di sana kamu membuka berbareng, lalu kamu bertindak menurut apa yang tertera di situ."
Sembari berkata, khan agung merogoh sakunya mengeluarkan surat tertutup atau kim-long atau " kantong sulam", ia menyerahkannya seorang satu. Kwee Ceng melihat surat itu tertutup dan tersegel, laknya dicap dengan cap khan sendiri
"Sebelum kalian memasuki kota Tay-liang, jangan lancang membuka surat tertutup ini, "Jenghiz Khan memesan. "Maka itu, sebelum kalian membuka, mesti kamu mengasih lihat satu sama lain, untuk diperiksa dulu ada atau tidak tanda rusaknya."
Ketiga panglima itu menjura seraya berjanji akan mentaati pesan itu
"Kau biasanya lambat, kenapa sekarang kau cerdas dan sebat?" kemudian khan menanya Kwee ceng.
Pemuda ini tidak mau berdusta, ia mengaku telah membaca kitab Gak Hui. Jenghiz Khan lantas menanyakan hal ikhwal Gak Hui dan sianak muda menuturkan Gak Hui telah melabrak bangsa Kim di Cu-sian-tin, hingga Gak Hui dipangil "Gak Yaya" alias "Kakek Gak", sampai timbul sebutan, "Menggoncang gunung gampang, menggoncang tentara Gak Hui sukar."
Mendengar itu, khan membungkam, ia jalan mondar-mandir di kemahnya sambil menggendong tangan, kemudian ia menghela napas dan mengatakannya:
"Menyesal aku tidak terlahir seratus tahun lalu supaya aku bisa bersahabat sama pendekar itu. Sekarang ini di dunia siapakah dapat menjadi tandinganku?"
Untuk sejenak, hati raja ini menjadi tawar sendiri karena menyesalnya Kwee Ceng sendiri, sekeluarnya dari kemah, sudah lantas menuju langsung ke kemah ibunya. saking repot sama tugasnya, sudah beberapa hari ia tidak dapat kesempatan menjenguk orang tuanya. Besok ia mau berangkat perang ke selatan, guna membalas sakit hati negara, jadi hari itu perlulah ia menemani ibunya.
Ketika sampai di kemah, ia mendapat sebuah kemah kosong, segalanya sudah dibawa pergi. Cuma seorang serdadu tua yang menjaga di situ. Atas pertanyaan, serdadu itu memberitahukan bahwa atas perintah khan agung, ibunya sudah pindah ke lain kemah. Setelah menanya jelas, ia pergi terus ke kemah yang disebutkan. Ia mendapatkan sebuah kemah besar, yang beberapa lipat lebih besar dari kemah yang lama. Dan begitu menyingkap pintu, ia terbengong. Di situ terlihat banyak barang berharga yang gemerlapan, yang tentara Mongolia dapat merampas dari musuh. Putri Gochin juga berada di situ tengah menemani ibunya, yang lagi menutur hal ikhwal ia sendiri di waktu masih kecil. Menampak si anak muda, putri itu bangkit menyambut sambil bersenyum.
"ibu" Kwee Ceng memanggil. "Dari mana semua ini?"
"Khan agung membilang selama berperang di Barat, kau berjasa besar, maka semua ini hadiah untukmu," sahut sang ibu. "sebenarnya kita sudah terlalu biasa dengan penghidupan kecil, semua ini tidak ada gunanya untuk kita"
Di kemah itu tambah delapan budak. untuk merawat Lie Peng. Semua budak-budak asal rampasan, maka bisa dimengerti kalau mereka dari kalangan bangsawan.
Ketiganya lantas duduk memasang omong. Tidak lama, putri Gochin mengundurkan diri Ia tahu, anak itu tentu mau bicara banyak sama ibunya, ia tidak mau mengganggu. Hanya, lama ia menantikan di luar, ia tidak melihat si anak muda keluar.
"Anak Ceng," berkata Lie Peng. "Putri menantikan kau di luar, pergilah bicara sama dia."
Kwee Ceng menyahut “ya”, tetapi ia tidak bergerak dari tempat duduknya.
Lie Peng menghela napas, ia berkata "Sudah dua puluh tahun kita tinggal di Utara ini, meski benar khan agung sangat memperhatikan kita, tapi aku ingin sekali pulang, maka itu semoga kau berhasil memusnahkan negara Kim, supaya kita berdua bisa lekas kembali ke kampung halaman. Kita tinggal tetap di Gu-kee-cun, di tempat kediaman lama dari ayahmu. Kau bukan seorang yang kemaruk harta dunia dan keagungan, jadi tak usahlah kau datang lagi ke sini. Hanya urusan putri sulit"
“TENTANG perjodohanku " kata Kwee Ceng, "aku pernah membicarakannya dengan Putri. Kalau Yongji mati, aku takkan menikah untuk selamanya."
Li Peng menghela napas lagi. "Mungkin Putri sendiri mau mengerti, tapi bagaimana dengan Khan Agung? Aku khawatir...”
"Kenapa Khan Agung?"
"Beberapa hari ini Khan luar biasa baik padaku. Lihatlah hadiah ini, emas, perak, dan permata. Memang benar katanya hadiah ini untuk jasamu berperang di Barat, tapi aku sudah dua puluh tahun tinggal di sini, kurasa aku telah mengenal baik sifatnya. Aku yakin ada alasan lain!"
"Ibu, menurut Ibu apa alasan itu?"
"Aku wanita, pendapatku tidak luhur," sahut sang ibu. "Tapi setelah aku melihat dan memikirkan semua ini, mungkin Khan hendak memaksa kita melakukan sesuatu...."
“Tentu dia menghendaki aku menikah dengan putrinya," kata Kwee Ceng.
"Menikah itu urusan baik," kata sang ibu lagi. "Khan tidak tahu kau tak setuju dengan pernikahan itu, dia tak bisa memaksakannya. Tapi, menurut penglihatanku, kau mengepalai sepasukan tentara besar, kau pun berperang ke Selatan, maka aku khawatir Khan mencurigai kau akan mendapat pikiran untuk memberontak..."
Kwee Ceng menggeleng. "Aku tidak mempunyai minat untuk kekayaan dan keagungan, Khan tahu hal ini dengan baik," katanya. "Buat apa aku memberontak?"
"Kalau begitu, aku ingat satu cara." kata Li Peng. "Mungkin ini dapat dipakai untuk mengetahui apa yang dipikirkan Khan. Pergilah kau melaporkan pada Khan, bilang aku kangen pada kampung halaman, aku ingin pulang bersamamu. Coba dengar apa katanya."
Kwee Ceng girang mendengar pikiran ibunya itu. "Oh, Ibu, mengapa Ibu tidak mengatakannya dari siang-siang?" katanya. "Kita pulang bersama, betapa senangnya! Pasti Khan Agung akan memperkenankannya." Pemuda ini lantas keluar dari kemah. Ia tidak melihat Gochin. Mungkin karena menanti terlalu lama, putri itu habis sabar dan berlalu dengan kecewa. Ia lantas menuju markas besar. Ia pergi sekian lama, ketika kembali pada ibunya, ia menunduk lesu.
"Khan tidak memperkenankannya, bukan?" Li Peng bertanya,
"Anakmu tidak mengerti. Ibu " sahut Kwee Ceng. "Apa perlunya Khan menghendaki Ibu tetap berdiam di sini?"
Sang ibu diam.
"Khan bilang," Kwee Ceng menjelaskan, "Sesudah Negara Kim dihancurkan, barulah kita bisa berangkat pulang. Katanya waktu itu kita akan pulang dengan kehormatan besar. Aku bilang Ibu sangat kangen dan ingin lekas pulang, lantas Khan tampaknya gusar. Dia menggeleng dan tetap menolak."
"Apa lagi kata Khan padamu?"
Kwee Ceng memberitahu bahwa dalam rapat tentara, ia diberi tugas serta dibekali dengan kim-long.
"Ah." desah sang ibu masygul, "kalau suhu keduamu dan Yongji berada di sini, mereka pasti dapat menerka maksud Khan. Aku merasa tidak enak memikirkan ini, tapi entah apa sebabnya, aku tak tahu...." Kwee Ceng mengeluarkan kim-long-nya, mempermainkan dengan tangannya. "Ketika Khan menyerahkan ini, kulihat air mukanya beda sekali," katanya. "Maka aku khawatir jangan-¬jangan sikapnya berhubungan dengan surat rahasia ini."
Li Peng mengambil kim-long itu, mengawasinya dengan teliti, kemudian menyuruh para pelayannya menyingkir.
"Kita buka dan lihat saja," katanya kemudian.
Kwee Ceng terkejut. "Tidak bisa!" katanya. "Surat ini dicap. Kalau membukanya berarti akan mendapat hukuman mati...."
Li Peng tertawa. "Kau tahu kepandaian menyulam dari kota Lim-an sangat tersohor di seluruh negara?" katanya. "Ibumu ini orang Lim-an. Sedari kecil aku telah mempelajari kepandaian itu. Tanpa merusak, aku dapat membuka kantong bersulam ini dan aku dapat menjahitnya kembali seperti semula."
Kwee Ceng percaya pada ibunya, ia jadi girang sekali. Li Peng lantas mengambil jarum halus, dengan itu ia mulai membuka sulaman kantong wasiat. Pekerjaannya rapi. Surat itu lantas dibeber untuk dibaca bersama. Segera keduanya tersentak, tubuh mereka langsung terasa dingin tidak keruan. Surat itu berisi titah rahasia Jenghis Khan untuk Ogotai, Tuli, dan Kwee Ceng. Begitu mereka dapat mengalahkan bangsa Kim, mereka harus maju ke Selatan secepat kilat menyerang kota Lim-an dan memusnahkan Kerajaan Song, supaya Mongolia dapat mempersatukan dunia. Dalam perintah rahasia itu ada tambahan: Kalau Kwee Ceng berhasil berjasa besar, ia harus diangkat jadi raja muda dan dihadiahi besar-besaran; tapi kalau hatinya berubah, Ogotai dan Tuli diperintahkan untuk segera menjatuhkan hukuman mati, ibunyapun harus ikut dihukum picis.
"Ibu," kata Kwee Ceng setelah diam sekian lama, "Iika Ibu tadi tidak membuka kim-long ini, jiwa kita berdua tentulah celaka. Kita adalah orang Song, mana bisa kita menjual negara kita sendiri?”
"Sekarang bagaimana?" Li Peng bertanya.
"Ah, Ibu, biarlah kita tanggung penderitaan ini," kata sang anak masygul. "Sekarang juga kita lari pulang ke Selatan."
"Baik!" sahut ibunya. "Pergilah kau bersiap-siap. Jagalah supaya rahasia ini jangan terbongkar."
Kwee Ceng mengangguk. Ia kembali ke kemahnya untuk berbenah seperlunya. Selain kuda merahnya, ia akan membawa tiga ekor kuda lain. Bagaimanapun, setelah berdiam belasan tahun di gurun pasir ini, ia merasa sedikit berat untuk meninggalkannya. Sebagai kepala perang, Kwee Ceng dapat bergerak dengan leluasa. Juga ketika itu, rombongan Lou Yu Kiak sudah tidak ada bersamanya, mereka sudah pulang lebih dulu ke Selatan.
Semua hadiah dari Khan ia tinggalkan. Paling akhir ia membuka seragamnya, dengan pakaian biasa, ia kembali ke kemah ibunya. Begitu menyingkap tenda, ia terkesiap. Ibunya tidak ada, yang ada hanya dua bungkusan yang menggeletak di tanah.
"Ibu!" panggilnya. Tidak ada jawaban, la khawatir dan curiga.
Ketika hendak keluar, tenda tersingkap dari luar, lantas cahaya api terlihat terang benderang. Chilaun dengan seribu serdadu sudah mengurung tenda itu.
"Khan Agung memanggil-menghadap!" demikian ia mendengar.
Kwee Ceng kaget dan bingung. Ia mesti segera mengambil keputusan. Kalau ia mau menggunakan kekerasan, Chilaun tidak bakal dapat merintanginya. Tapi ibunya telah ditawan, mana bisa ia kabur seorang diri? Akhirnya ia menyerah, membiarkan Chilaun menggiringnya ke markas besar. Di kemah Khan, telah berkumpul barisan pengiring Khan yang terdiri atas dua ribu jiwa. Mereka orang-¬orang Mongolia pilihan, semua bersenjatakan tombak panjang dan menjaga rapat. Kwee Ceng berjalan masuk dengan langkah lebar.
Jenghis Khan terlihat bengis sekali. Ia menggebrak meja. "Kuperlakukan kau dengan baik sekali, dari kecil kau kurawat hingga besar, putriku juga kuserahkan padamu!" bentaknya. "Eh, bangsat kecil, kenapa kau berani memberontak terhadapku?"
Kwee Ceng melihat kim-long yang dibuka ibunya ada di atas meja, maka tahulah ia bahwa jiwanya sudah sukar ditolong lagi. Ia menjadi berani. Ia mendongakkan kepalanya.
"Aku rakyat Kerajaan Song, mana bisa aku tunduk pada titahmu?" katanya gagah. "Mana bisa aku menyerang negaraku sendiri?"
Jenghis Khan bertambah gusar melihat sikap melawan pemuda itu. "Seret dia keluar! Hukum mati dia!" titahnya.
Kwee Ceng tidak dapat melawan. Ia telah dibelenggu kuat sekali dan delapan algojo mendampinginya. Tapi ia tetap tidak takut. Ia berkata nyaring,
"Kau telah berserikat dengan Kerajaan Song untuk memukul bangsa Kim, di tengah jalan kau mengingkari janjimu. Apakah itu perbuatan pendekar?”
Jenghis Khan makin gusar. Ia mendepak meja. "Sesudah Negara Kim hancur, selesai sudah perjanjianku dengan pihak Song!" katanya "Kalau kemudian aku menyerang Selatan, mana bisa dibilang melanggar janji? Lekas hukum mati dia!"
Banyak panglima mengenal baik Kwee Ceng, tetapi saat itu tidak ada yang berani buka suara. Khan sedang marah besar. Kwee Ceng tidak bilang apa-apa lagi, dengan langkah lebar ia berjalan keluar. Segera terlihat Tuli berlari mendatanginya dari padang rumput.
"Tahan! Tahan!'' teriaknya berulang-ulang. Ia bertelanjang dada dan cuma mengenakan celana kulit. Jelas ia baru terbangun dari tidurnya. Ia langsung memasuki kemah ayahnya dan berseru, "Ayah, Kwee Ceng besar jasanya, dia juga pernah menolong jiwaku, biarpun berdosa, jangan hukum mati dia!"
Jenghis Khan terpengaruh kata-kata putranya itu. "Bawa dia kembali!" ia memberikan perintah.
Kwee Ceng lantas dibawa kembali. "Kau memberatkan Kerajaan Song, apa ada untungnya?" Khan bertanya. "Kau pernah bicara tentang Gak Hui. Dia begitu setia dan berjasa, tapi akhirnya dia dihukum mati juga! Lebih baik kau membantuku merobohkan Kerajaan Song, aku berjanji padamu, setelah berhasil akan mengangkatmu menjadi raja Song!"
"Aku bukannya berontak terhadapmu!" Kwee Ceng menyahut. "Tapi kalau kau menghendaki aku menjual negara untuk kehidupan mewah dan agung, biar tubuhku dicincang, tak dapat aku menerima baik permintaanmu ini!"
"Bawa ibunya kemari!" perintah Jenghis Khan.
Lantas dua serdadu menggiring Li Peng keluar dari kemah belakang.
"Ibu!" Kwee Ceng memanggil, la mendekati ibunya, tapi dihalangi dua serdadu. Ia lantas bertanya dalam hati, "Urusanku ini cuma Ibu dan aku yang tahu. Siapa yang membocorkannya?"
Jenghis Khan tidak memberinya kesempatan untuk berpikir, katanya, "Jika kau menerima baik kata-¬kataku, kalian berdua ibu dan anak akan hidup agung dan berbahagia. Jika tidak, lebih dulu aku akan membunuh ibumu! Itu artinya kau yang membunuh ibumu, dan kau menjadi anak put-hauw"
Kaget Kwee Ceng mendengar perkataan Khan, terutama kata put-hauw tidak berbakti. Ia menunduk.
"Anda," kata Tuli, "Dari kecil tinggal di Mongolia, kau tak ada bedanya dari bangsa Mongolia. Sebaliknya pembesar-pembesar Kerajaan Song sombong sekali, mereka bersekongkol juga dengan bangsa Kim, bahkan mereka telah membunuh ayahmu dan membikin ibumu tak punya tempat untuk pulang. Kalau tidak ada ayahku, dapatkah kau hidup seperti sekarang ini? Kita sudah seperti saudara, tak dapat aku membiarkanmu menjadi anak tak berbakti. Maka kuminta sukalah kau memikirkannya lagi baik-baik."
Kwee Ceng menoleh pada ibunya. Sebenarnya ia ingin menerima baik nasihat Tuli itu, tetapi ia segera ingat akan ajaran ibunya. Ia juga ingat dan tahu betul nasib negara-negara di Barat yang ditaklukkan Mongolia, akhirnya rakyat mereka hidup sengsara. Maka ia diam terus.
Dengan matanya yang tajam, Jenghis Khan mengawasi anak muda itu. Ia menantikan jawaban. Seluruh kemah menjadi sangat sunyi,
"Aku..." kata Kwee Ceng. Ia telah maju selangkah, lantas berhenti lagi, tidak melanjutkan kata-katanya.
"Khan yang Agung," mendadak Li Peng berkata, "aku khawatir anak ini kurang mengerti. Bagaimana kalau kucoba membujuk dan menasihatinya?"
Jenghis Khan girang sekali. "Bagus!" katanya. "Nasihati dia!"
Li Peng mendekati anaknya, menarik lengan pemuda itu. lalu membawanya ke salah satu sudut kemah. Di sana mereka berdua duduk. Karena sikap rajanya sudah mulai sabar, algojo tidak menghalangi Kwee Ceng. Li Peng memeluk putranya.
"Dua puluh tahun lalu di Gu-kee-cun. Lim-an, aku telah mengandungmu, Nak," katanya pelan. "Suatu hari ketika turun hujan salju lebat, Khu Ci Kee, Khu Tootiang, berkenalan dengan ayahmu. Dia memberikan dua bilah belati, yang satu untuk ayahmu, yang lain untuk Paman Yo...."
Sembari bicara, sang ibu mengeluarkan belati itu dari saku anaknya. Ia menunjuk ukiran dua huruf yang berbunyi "Kwee Ceng" pada belati itu, lalu melanjutkan,
"Khu Tootiang telah memberi nama Ceng padamu dan Kang pada anak Paman Yo. Tahukah kau apa artinya?"
"Khu Tootiang menghendaki aku tidak melupakan peristiwa Ceng Kong yang memalukan," sahut sang anak.
"Benar, Anak Paman Yo itu mengakui musuh sebagai ayah, maka runtuhlah nama dan tubuhnya. Tentang anak itu, tak usahlah disebut-sebut lagi. Tapi kasihan Paman Yo yang gagah itu, kehormatannya dirusak anaknya sendiri...." la menghela napas, tapi lalu melanjutkan, "Dulu aku menahan malu dan menderita, tapi aku tetap terus merawat dan membesarkanmu. Tahukah kau, untuk apa perbuatanku itu? Mustahil aku hendak memelihara pengkhianat penjual negara hingga ayahmu di alam baka menjadi malu dan menderita!"
"Ibu!" kata Kwee Ceng, lantas ia menangis.
Li Peng bicara dalam bahasa Tionghoa, Jenghis Khan semua tidak mengerti, tetapi mereka melihat air mata si anak muda, maka mereka menduga si nyonya takut mati dan telah berhasil membujuk anaknya. Diam-diam mereka girang.
"Ada orang berkata, 'Hidup manusia hanya seratus tahun, waktu itu lewat dalam sekejap,'" Li Peng berkata lagi. Ia memang wanita, tetapi ia wanita sejati. "Maka. apalah artinya hidup atau mati? Selama hidup manusia, yang diharap adalah jangan melakukan sesuatu yang membuatnya terhina! Kalau orang lain menyia-nyiakan kita, biarlah, tak usah kita ingat kejahatannya. Ingatlah perkataanku ini!" la menatap wajah anaknya, air mukanya sabar sekali. Kemudian ia menambahkan, "Nak, jagalah dirimu baik-¬baik...!" Perkataan ini disusul dengan bekerjanya belati itu memutuskan dadung belenggu putranya. Setelah itu ia memutar tubuhnya untuk menikam dadanya sendiri.
Kwee Ceng menyingkirkan dadung belenggunya, menyambar ibunya, tetapi sudah kasip. Belati itu sudah menancap di dada, terbenam sebatas gagangnya.
Jenghis Khan melihat itu, ia kaget tidak terkira. "Tangkap!" ia menitahkan.
Kedelapan algojo itu tidak berani melukai huma mereka. Setelah melemparkan senjata masing-¬masing, barulah mereka berlompatan menubruk Kwee Ceng.
Kwee Ceng sangat bersedih. Dengan hati terluka ia memeluk tubuh ibunya. Begitu melihat orang-orang itu menyerbunya, sambil memondong ibunya, ia menyambut dengan sapuan kaki. Dua algojo tersepak. kaki mereka patah. Salah satu algojo disodok dengan sikut kirinya, tepat mengenai dada, hingga algojo itu roboh dengan tulang iga patah juga.
Menampak begitu, beberapa perwira terkejut, lantas maju. Kwee Ceng melompat ke belakang tenda, tangan kirinya membetot, maka separo kemah emas Jenghis Khan roboh menutupi semua perwira. Dalam kekacauan itu, ia berlari dengan membawa kabur ibunya. Segera terdengar bunyi trompet riuh, para perwira berlarian ke kuda masing-masing, menaikinya, lantas mengejar pemuda itu.
"Ibu!" panggil Kwee Ceng sambil menangis. Ia tidak mendapat jawaban.
Ketika memeriksa hidung ibunya, ia tidak lagi merasakan embusan napas. Ibunya sudah berpulang ke alam lain menyusul arwah ayahnya. Bukan main mencelosnya hati Kwee Ceng. Namun ia sedang terancam bahaya. Dalam kegelapan, ia berlari terus menyingkir dari bahaya. Kupingnya mendengar orang bergerak di empat penjuru, matanya melihat obor menyala. Ia kabur tanpa memilih jalan lagi. Ia bingung, dengan memondong ibunya, mana bisa melawan demikian banyak orang? Kalau menunggang kuda merahnya, ia mempunyai harapan. Tetapi sekarang ia Cuma berjalan kaki.
Pemuda ini berhenti menangis. Tanpa bersuara ia berlari terus. Ia ingin lekas-lekas tiba di gunung, di sana ia bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mendaki lereng. Asalkan ia dapat merayap naik, bebaslah ia. Di atas gunung, ia dapat diam sementara waktu.
Sekonyong-konyong di depannya muncul sepasukan serdadu yang dipimpin panglima bermuka merah dan berkumis putih. Di bawah sinar api, panglima itu tampak sangat berwibawa. Kwee Ceng mengenali salah satu panglima andalan Jenghis Khan, Chilaun. Panglima itu memegat dan membacok si pemuda. Kwee Ceng berkelit membebaskan diri. Setelah itu, bukannya berlari kembali, ia justru melompat menerjang pasukan Mongolia itu. Semua serdadu kaget hingga berseru.
Kwee Ceng menyambar seorang serdadu berpangkat siphu-tio yang menghalang di depannya. Selagi membetot kaki orang, kaki kanan Kwee Ceng menjejak tanah untuk melompat, maka tubuhnya mencelat naik ke punggung kuda serdadu itu. Begitu meletakkan tubuh ibunya, Kwee Ceng menolak, serdadu itu terguling jatuh. Sebelumnya Kwee Ceng sempat merampas tombak. Sekarang ia bergerak dengan cepat dan hebat. Ia membuka jalan, merobohkan setiap serdadu di depan atau di sampingnya. Ia berhasil kabur, maka Chilaun dan barisannya mengejar pemuda itu.
Dengan cara ini, Kwee Ceng tidak jadi menuju gunung, melainkan ke arah bertentangan, semakin menjauh dari gunung. Namun ia masih berpikir akan langsung menuju Selatan atau mampir ke gunung. Sementara itu Borchu pun menyusul dengan barisannya.
Jenghis Khan gusar luar biasa, tetapi ia masih ingat untuk menitahkan menangkap hidup-hidup Kwee Ceng. Para serdadunya menyusul untuk mengurung pemuda itu. Bahkan ada pasukan berkuda yang mendahului ke Selatan untuk mencegat.
Kwee Ceng bertindak nekat, la berhasil menerobos pasukan Borchu. Sekarang pakaian dan kudanya telah berlepotan darah. Ia meraba tubuh ibunya, terasa dingin. Ia sedih bukan main, tetapi ia menguatkan hati. Dilarikan kudanya ke Selatan. Ia berhasil meninggalkan semua pengejarnya jauh di belakang, namun sementara itu hari sudah mulai terang, sang fajar telah menyingsing. Ia masih berada di daerah musuh, bahkan di pusatnya...
Masih ada ribuan li untuk sampai di Tionggoan. Bisakah ia seorang diri, dengan membawa-bawa jenazah ibunya, meloloskan diri?
Tengah berlari. Kwee Ceng melihat debu mengepul di depannya. Itu pasti pasukan berkuda. Ia memutar kudanya untuk kabur ke timur. Mendadak kaki depan kuda itu tertekuk, binatang itu tidak dapat bangun lagi.
Dalam keadaan seperti itu, pemuda ini tidak mau menyerah. Ia memondong tubuh ibunya, sambil mencekal keras tombak, la maju untuk menyerbu pasukan itu. Tiba-tiba ia terkejut. Sebatang anak panah menyambar, tepat mengenai ujung tombaknya. Ia merasakan getaran akibat bentrokan itu. Celaka untuknya, ujung tombak itu patah. Menyusul sebatang anak panah lain menyambar ke dadanya. Ia melemparkan tombaknya, menangkap anak panah itu. Ketika mengamati anak panah, ia melengak. Ujung anak panah yang tajam itu tidak ada. Ia tidak bisa diam saja. Ia mendongak memandang ke depan.
Terlihat olehnya perwira yang mengepalai pasukan berkuda di depan itu menahan barisannya. Sang perwira maju menghampiri seorang diri. Kwee Ceng mengenali Jebe, jago panah yang menjadi gurunya dalam ilmu memanah.
"Guru, apakah Guru hendak menangkapku?" tanya Kwee Ceng.
"Ya," sahut Jebe.
Kwee Ceng berpikir cepat, "Kelihatannya aku tak bakalan bisa lolos. Daripada ditangkap orang lain, biarlah aku menyerahkan diri pada guruku ini." Maka ia lantas berkata,
"Baiklah! Tapi aku mau menguburkan ibuku dulu!" Ia melihat ke sekitarnya.
Di kirinya ada bukit kecil. Ia membawa jenazah ibunya ke sana. Dengan tombak buntungnya ia menggali tanah. Setelah berhasil membuat liang, ia meletakkan tubuh ibunya di situ, la tidak tega mencabut belati di dada ibunya. Ia lantas berlutut untuk paykui, kemudian menguruk liang itu. Ia sedih bukan main mengingat budi serta kesengsaraan ibunya, sampai-sampai tidak sanggup menangis lagi.
Jebe melompat turun dari kudanya. Ia paykui empat kali di depan kuburan Li Peng, kemudian menyerahkan kantong anak panah, busur, dan tombaknya kepada si pemuda. Terakhir ia menyerahkan kudanya sendiri, tali lesnya dijejalkan ke tangan si murid. Ia berkata,
"Pergilah! Mungkin kita tak bakal bertemu lagi...."
Kwee Ceng tercengang. "Guru!" katanya.
"Dulu kau bersedia berkorban menolongku " kata Jebe. "Apakah kau sangka aku bukan laki-laki hingga aku pun tak bisa berkorban menolongmu?"
"Tapi, Guru, kau melanggar titah Khan, kau bisa terancam bahaya...."
"Aku telah berperang ke timur dan ke barat. jasaku bukannya sedikit," kata Jebe. "Maka kalau Khan mempersalahkanku, paling juga aku dirangket, kepalaku tak bakal dipenggal. Maka lekaslah kau pergi!"
Kwee Ceng masih ragu-ragu.
"Aku khawatir pasukanku tidak mentaati perintah, maka yang kubawa ini bekas pasukanmu yang berperang di Barat." Jebe menambahkan. "Tanyailah mereka, apakah mereka serakah akan jasa dan akan menawanmu...."
Kwee Ceng menuntun kuda menghampiri pasukan itu. Serentak semua serdadu turun dari kuda mereka, lantas berlutut di tanah. Mereka berkata,
"Kami mengantar Ciangkun pulang ke Selatan!"
Kwee Ceng mengawasi. Mereka memang bekas pasukannya yang pernah menantang bahaya bersamanya, maka ia menjadi sangat terharu, la berkata,
"Aku bersalah pada Khan yang Agung. Berat hukumanku. Sekarang kalian melepaskan aku, jika Khan Agung tahu hal ini, besar risiko yang harus kalian pikul..."
"Ciangkun baik sekali pada kami, budi itu sebesar gunung, kami tak berani melupakannya." sahut semua serdadu.
Pemuda itu menghela napas, lantas menjura kepada mereka. Sesudah itu dengan memegang tombak ia melompat naik ke kudanya. Tepat saat akan melarikan kudanya, ia melihat debu mengepul di depannya. Kembali sepasukan serdadu berkuda mendatanginya, la terkejut, demikian juga Jebe.
“Aku telah bersalah melepaskan Kwee Ceng, kalau aku melawan pasukan ini, terang aku memberontak," pikir Jebe. Tapi ia tidak mengubah putusannya, ia berkata pada si anak muda, "Anak Ceng, lekas lari!"
Hampir berbareng dengan itu, terdengar teriakan para serdadu yang baru datang, "Jangan ganggu Huma! Jangan ganggu Huma!"
Sekarang terlihat jelas ternyata pasukan itu membawa bendera Pangeran Keempat, malahan seorang penunggang kuda segera bergegas menghampiri di antara pasukan itu. Orang itu adalah Tuli yang sedang menunggang kuda merah Kwee Ceng, tidak heran kalau ia datang cepat sekali. Begitu tiba di depan Kwee Ceng, pangeran itu melompat turun dari kudanya.
"Anda, apakah kau tak terluka?" demikian pertanyaannya yang pertama.
"Tidak," jawab Kwee Ceng. "Guru Jebe hendak menawan dan membawaku menghadap Kha Khan!" Sengaja Kwee Ceng bicara begitu untuk mencegah gurunya dicurigai.
Tuli melirik Jebe. lalu berkata pada Kwee Ceng, "Anda, naiklah ke kuda merahmu ini dan lekaslah pergi!" Ia meletakkan bungkusan di atas kuda merah itu dan menambahkan, "Ini uang emas seribu tail. Di belakang hari kita akan bertemu lagi!"
Kwee Ceng mengerti, ia lantas melompat naik ke kuda merahnya. Ia berkata kepada saudara angkatnya itu,
"Tolong sampaikan pada Adik Gochin agar dia merawat diri baik-baik! Biarlah dia menikah dengan orang lain, jangan memikirkan diriku lagi...."
Tuli menghela napas. "Selamanya Adik Gochin tak mau menikah dengan orang lain," ia berkata. "Kurasa dia bakal pergi ke Selatan untuk mencarimu. Kalau itu sampai terjadi, aku nanti mengatur orang untuk mengantarkannya."
"Jangan, jangan mencariku," kata Kwee Ceng. "Jangan kata di dalam negara yang luas sulit mencariku, umpama kita akhirnya dapat bertemu, cuma akan menambah keruwetan!"
Tuli diam, Kwee Ceng diam juga. "Jalanlah, akan kuantar kau serintasan!" kata si pangeran kemudian.
Kwee Ceng menurut, ia menyuruh kudanya berjalan. Tuli naik kuda yang lain, mereka berjalan berendeng.
"Anda," kata Kwee Ceng setelah mereka berjalan sekitar tiga puluh li. "Silakan kau kembali. Ada yang bilang, meski mengantar sampai seribu li, akhirnya mesti berpisah juga."
"Aku akan mengantarmu serintasan lagi," kata Tuli.
Maka berjalanlah mereka sampai sepuluh li lebih. Di sini keduanya turun dari kuda masing-masing untuk saling menjura, kemudian sama-sama mengucurkan air mata, mereka berpisahan. Tuli mengawasi Kwee Ceng hingga tampak kecil sekali lalu lenyap, barulah ia memutar kudanya untuk kembali. Ia masygul bukan main.
Kwee Ceng melarikan kudanya selama beberap hari, akhirnya ia keluar dari daerah yang berbahaya. Sekarang ia langsung menuju Selatan. Di sepanjang jalan, ia menyaksikan bekas-bekas peperangan, terutama rumah-rumah rusak dan tulang-tulang berserakan. Pemandangan yang menggiriskan. Ia sedih sekali.
Akhirnya sampai juga Kwee Ceng di Tionggoan. Ia merasa dirinya seperti orang asing, sebab tidak tahu mesti pergi ke mana. la tidak mempunyai rumah dan sanak saudara. Dalam setahun, ia kehilangan ibunya. Oey Yong, dan guru-gurunya, la ingat Auwyang Hong dan timbul niatnya untuk membalaskan dendam Oey Yong, tetapi begitu ingat keadaan yang menyedihkan sekali di Khoresm, hatinya menjadi tawar, la berhasil membalaskan sakit hati ayahnya, namun demikian banyak jiwa manusia yang melayang dalam keadaan memilukan. la jadi sangsi, jangan-jangan balas dendam itu bukan cara yang tepat untuknya.
"Seumur hidup aku belajar ilmu silat, sekarang beginilah kepandaianku," ia berpikir. "Tapi aku tak bisa membela kekasihku dan ibuku, maka apa gunanya aku belajar silat? Tujuan hidupku adalah jadi orang baik-baik, bagaimana sekarang? Siapa yang memperoleh kesenangan karenanya? Ibu dan Yongji binasa gara-gara aku.... Karena aku, seumur hidup Adik Gochin takkan senang... Ya, banyak orang yang telah kubikin celaka...."
Ia berhenti berpikir sebentar, terus melamun lagi. "Wanyen Lieh dan Raja Khoresm memang orang-¬orang busuk, tapi bagaimana dengan Jenghis Khan? Dia membunuh Wanyen Lieh, dia orang baik. Dia telah memelihara ibuku dan aku selama dua puluh tahun, tapi dia menitahkanku untuk menyerang Pemerintah Song, dan sekarang dia memaksakan kematian ibuku. Dengan Yo Kang aku saling mengangkat saudara, tapi hatinya tidak lurus. Adik Liam Cu orang baik, mengapa dia mencintai Yo Kang mati-matian? Anda Tuli baik sekali padaku, kalau nanti dia menyerang ke Selatan, haruskah aku menghadapinya di medan perang untuk bertempur hidup-mati? Tidak, tidak! Setiap orang punya ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan susah payah merawatnya hingga besar, maka mana bisa aku membunuh anak orang hingga ibunya bakal jadi susah?"
Ia diam, berpikir lagi. "Belajar silat adalah untuk menghajar orang, membunuh orang...," ia melamun lebih jauh. "Kelihatannya hidupku selama dua puluh tahun salah semuanya. Dengan rajin dan susah payah aku belajar silat, akhirnya cuma untuk mencelakai orang.... Kalau tahu begini, lebih baik aku tak mengerti silat sama sekali! Tapi kalau tak belajar silat, aku mesti mengerjakan apa? Sebenarnya untuk apa aku hidup di dunia? Setelah beberapa puluh tahun nanti, bagaimana lagi? Bukankah lebih baik mati siang-¬siang? Kalau aku hidup terus, bukankah akan lebih banyak keruwetan? Tapi kalau aku mati siang-siang, untuk apa ibuku melahirkan aku? Kenapa Ibu mesti bercapek lelah merawatku hingga besar?"
Semakin lama pikirannya menjadi semakin ruwet. Selama beberapa hari Kwee Ceng merasa tidak karuan, makan tidak bernafsu, tidur pun kurang. la mondar-mandir di tegalan, memikirkan semua pertanyaannya itu.
"Ibuku dan semua guruku mengajariku supaya memegang kepercayaan," kemudian ia berpikir lagi. "Sekarang timbul urusan Yongji. Aku sangat mencintainya. Tapi di sana ada putri Jenghis Khan. Dapatkah aku menolak putri itu? Kesudahannya perjodohanku itu menyebabkan kematian ibuku dan Yongji, dan karenanya Khan yang Agung, Tuli, dan Adik Gochin jadi bersusah hati.... Ketujuh guruku dari Kanglam dan Suhu Ang adalah orang-orang gagah dan mulia hatinya, tapi tak ada satu pun yang selamat. Sebaliknya Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin jahat, kenapa mereka hidup merdeka dan senang? Sebenarnya di dunia ini ada hukum Thian atau tidak...?"
Suatu hari tibalah anak muda ini di sebuah dusun di kota Cee-Iam, Shoatang. la singgah di rumah makan, la duduk seorang diri menenggak arak, pikirannya pepat. Ketika ia baru minum tiga cawan, mendadak seorang laki-laki menghampirinya, sambil menuding dan mendamprat.
"Hai, Tartar bangsat, kau telah memusnahkan rumahku dan membinasakan keluargaku, sekarang aku hendak mengadu jiwa denganmu!"
Kata-kata itu disusul dengan tinjunya. Kwee Ceng terkejut, heran. Langsung ia menangkis sambil menangkap, ketika ia menarik pelan saja, orang itu jatuh ngusruk. Jelas orang itu tidak mengerti ilmu silat. Kepalanya mengenai lantai dan darahnya mengucur.
"Saudara, apakah kau salah lihat orang?" tanyanya seraya menolong orang itu bangun, la merasa tidak enak hati tanpa sengaja melukai. Orang itu gusar sekali.
"Tartar bangsat! Tartar bangsat!" cacinya berulang-ulang.
Dari luar rumah makan lantas menerobos masuk belasan orang. Tanpa banyak omong mereka menyerbu Kwee Ceng. Tentu saja anak muda ini menjadi repot. Ia main berkelit, karena tidak mau melukai orang lain. Tapi ia repot, sebab serangan makin seru, sedangkan ruangan sempit. Tiba-tiba dari balik pintu terdengar suara nyaring,
“Anak Ceng, kau bikin apa di sini?"
Kwee Ceng lantas menoleh, untuk melihat orang yang menegurnya, la mendapati imam dengan kumis putih panjang, romannya suci dan berwibawa. Ia mengenali Khu Ci Kee, maka ia girang bukan main.
"Tootiang!" jawabnya. "Tak keruan orang-orang ini mengepungku!"
Khu Ci Kee lantas masuk, mendorong setiap orang, kemudian menarik tangan si anak muda, mengajaknya berlalu. Mereka disusul oleh banyak orang yang gusar, tapi setibanya di luar, setelah Kwee Ceng memanggil kuda merahnya, dengan cepat mereka menghilang. Setelah mereka tinggal berdua, Kwee Ceng mengulangi keterangan bahwa ia dikeroyok tanpa sebab.
Khu Ci Kee tertawa. "Kau berdandan sebagai orang Mongolia, maka mereka salah menyangkamu," katanya.
Di wilayah Provinsi Shoatang ini, orang Mongolia telah bertempur hebat dengan orang Kim. Penduduk Shoatang sangat menderita karena bangsa Kim, maka mereka membantu bangsa Mongol. Siapa tahu, ternyata bangsa Mongol sama kejamnya dengan bangsa Kim. Setelah bangsa Kim dikalahkan, mereka pun menindas rakyat. Maka rakyat sangat gusar dan benci. Sudah biasa terjadi, apabila ada pasukan tentara Mongolia lewat dan salah satu serdadu atau opsirnya tertinggal, orang itu lantas dibunuh rakyat.
"Kenapa kau membiarkan dirimu ditinju dan ditendangi?" tanya Ci Kee kemudian. "Lihat, kau jadi tak keruan, tubuhmu bengkak dan bengep...."
Kwee Ceng menghela napas. "Aku tak berniat melayani mereka," sahutnya sedih. Ia lantas menceritakan tentang ibunya yang seperti dipaksa bunuh diri oleh Jenghis Khan.dan bahwa selama ini pikirannya kacau.
Khu Ci Kee terkejut. "Kalau Jenghis Khan bemiat menyerang Kerajaan Song, mari kita lekas berangkat ke Selatan," katanya. "Pemerintah mesti diberi kisikan supaya siap sedia menyambut musuh!"
"Apa gunanya?" tanya si pemuda sambil menggelengkan kepala. "Kesudahannya kedua pihak bakal berperang hingga mayat-mayat bakal bertumpuk setinggi gunung, rumah rakyat akan musnah, dan nyawa rakyat akan lenyap...."
"Kalau Kerajaan Song dimusnahkan bangsa Mongol, rakyat bakal lebih menderita," Tiang Cun Cu memberi pengertian. "Penderitaan itu tiada taranya."
"Tootiang," kata si anak muda, "Ada banyak soal yang tak kumengerti, tolong Tootiang jelaskan."
Khu Ci Kee menggandeng anak muda itu, mengajaknya ke bawah pohon, lalu mereka duduk bersama.
"Bicaralah!" katanya.
Kwee Ceng mengutarakan keruwetan dalam hatinya. Kemudian menghela napas dan menambahkan,
"Sekarang aku memutuskan tak berniat bentrok dengan siapa pun. Aku menyesal tak dapat melupakan ilmu silatku. Tadipun tanpa sengaja aku melukai orang itu hingga berdarah...."
"Anak Ceng, pandanganmu salah," kata Tiang Cun Cu sambil menggeleng. "Beberapa puluh tahun lalu ketika muncul kitab mestika Kiu Im Cin Keng, orang-¬orang gagah kacau, memperebutkannya dengan saling bunuh, sampai kemudian ada keputusan dalam rapat di Gunung Hoa San, tempat orang melakukan pertempuran terakhir. Di sana guruku, Ong Tiong Yang, telah keluar sebagai pemenang, berhasil mendapatkan kitab itu. Mulanya guruku juga berpikir akan memusnahkan kitab itu, tapi kemudian mengubah niatnya. Dia ingat bahwa air dapat membuat perahu berlayar, tapi juga dapat mengaramkannya. Keberuntungan dan bencana tergantung pada masing-masing orang. Maka ia mempertahankan dan menyimpan kitab itu. Kepandaian manusia, sipil maupun militer, tentara kuat, serta senjata tajam, semuanya bisa membuat manusia beruntung, tapi juga bisa membikin manusia celaka. Kau tahu, asal orang berniat baik, makin gagah dia makin baik. Karena itu, mengapa kau ingin melupakan ilmu silatmu?"
Kwee Ceng berpikir. Ia berkata, "Tootiang benar, tapi... sekarang kaum kangouw rata-rata menyebut Sesat Timur, Racun Barat, Raja Selatan, dan Pengemis Utara sebagai orang-orang yang paling gagah. Untuk menyamai kepandaian mereka, sukar bukan buatan. Tapi lihatlah, apa gunanya kepandaian mereka itu? Kulihat tak ada faedahnya bagi manusia."
Ditanya begitu, Khu Ci Kee melengak. Selang sejenak, ia berkata, "Oey Yok Su aneh, pasti ada sebabnya yang tak dapat dilampiaskan. Dia sekarang berbuat sesuka hatinya, tak pernah me¬mikirkan orang lain, maka aku tak mau mengambil perbuatannya sebagai teladan. Auwyang Hong jahat, dia tak usah dibicarakan lagi. Toan Hongya baik hati, kalau tetap menjadi raja, dia bisa berbuat banyak untuk rakyat. Sayang karena satu urusan kecil, hatinya jadi tawar hingga sekarang dia bersembunyi. Lain halnya dengan Ang Cit Kong. Dia tetap bekerja untuk orang banyak, padanya aku kagum dan takluk sekali. Akan segera tiba saatnya pertemuan di Hoa San. Meski ada orang yang dapat melebihi kegagahannya. Aku percaya orang banyak bakal mengangkat dia jadi orang nomor satu di Rimba Persilatan."
Mendengar disebutnya pertemuan orang gagah di Gunung Hoa San, Kwee Ceng lantas ingat gurunya.
"Apakah luka guruku sudah sembuh?" tanyanya. "Benarkah guruku bakal turut ambil bagian dalam pertemuan di Hoa San itu?"
"Sejak aku kembali dari Barat, belum pernah aku bertemu dengan Ketua Ang," sahut Ci Kee. "Tapi aku percaya, bagaimanapun dia tentu bakal pergi ke Hoa San. Sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Hoa San, bagaimana kalau kau turut aku pergi ke sana untuk melihat-lihat?"
Kwee Ceng menggeleng. Hatinya telah tawar dan kepalanya pusing kalau ingat soal pergulatan itu. Ia menjawab,
"Maaf, Tootiang, aku tak bisa turut Tootiang pergi ke sana."
"Habis kau hendak pergi ke mana?"
"Aku tidak tahu. Aku pergi ke mana saja kakiku melangkah...."
Imam itu sedih. Menurut penglihatannya, pemuda itu seperti baru sembuh dari sakit berat. Ia mencoba membujuknya, tetapi anak muda itu tetap meng¬goyangkan kepala. Ia berpikir, Kwee Ceng biasanya menuruti kata-kata Ang Cit Kong, ada baiknya kalau pemuda ini mau pergi ke Hoa San untuk bertemu dengan gurunya. Bagaimana ia mesti membujuknya?
"Anak Ceng," katanya kemudian. "Kau ingin melupakan ilmu silatmu, untuk itu ada jalan," katanya kemudian.
"Benarkah itu, Tootiang?" Mendadak pemuda ini tertarik.
"Ya," sahut Ci Kee. "Ada seseorang yang di luar tahunya telah meyakini ilmu yang mahir dari Kiu lm Cm Keng, kemudian dia merasa pelajaran itu menyalahi janji, dia menyia-nyiakan pesan seseorang, maka dia ingin melupakan ilmu itu.
“Dia lalu mencoba sebisa-bisanya. Kalau kau hendak mencontohnya, kau mesti mencari dia untuk minta diajari."
Kwee Ceng melompat bangun. "Benar!" katanya. "Orang itu Kakak Ciu Pek Thong!"
Mendadak muka pemuda ini memerah, la likat sendiri, ingat bahwa Ciu Pek Thong adalah paman guru Ci Kee dan ia memanggilnya "Kakak" saja.
Khu Ci Kee dapat menerka penyebab jengahnya pemuda itu. la tersenyum dan berkata.
"Paman Guru Ciu memang biasanya tidak membedakan derajat, maka kau dapat memanggil sesukamu."
"Sekarang dia ada di mana?"
"Dia bakal menghadiri pertemuan Hoa San. Dia tentu akan pergi ke sana."
"Baiklah, aku akan ikut Tootiang” kata Kwee Ceng akhirnya.
Ci Kee puas, ia lantas mengajak anak muda itu berangkat. Mereka berjalan bersama. Di dusun pertama, Kwee Ceng membelikan si imam seekor kuda, untuk mempercepat perjalanan mereka. Tujuan mereka adalah Barat. Suatu hari, tibalah mereka di kaki Gunung Hoa San di sebelah selatan. Mereka lantas singgah di perhentian San-sun-teng. Di samping tempat itu tumbuh dua belas batang pohon rotan yang dinamakan "rotan naga", karena batang¬nya panjang dan berbentuk mirip naga.
"Hoa San merupakan gunung suci bagi kami kaum Too Kauw," kata Khu Ci Kee. "Menurut cerita, dua belas batang pohon rotan ini dulunya ditanam oleh Hi I Sianseng Tan Pok Loocouw."
"Tan Pok Loocouw? Bukankah dia dewa yang tidur selama genap setahun tanpa bangun sama sekali?"
"Tan Pok Loocouw lahir di akhir zaman Tong. Sepanjang lima pemerintahan, setiap kali men¬dengar penguasa kerajaan berganti, selalu dia tidak puas, maka dia mengunci pintu rumahnya, terus tidur. Orang bilang dia tidur setahun suntuk tanpa bangun. Yang benar ialah, karena jengkel meng¬ingat nasib rakyat, dia tak suka memunculkan diri. Yang terakhir, ketika mendengar Song Thay-couw naik takhta, dia baru dapat tertawa lebar dan mengatakan bahwa mulai saat itu negara bakal aman sentosa."
"Kalau Tan Pok Loocouw lahir di zaman se¬karang, dia pasti bakal tidur lagi berbulan-bulan dan bertahun-tahun!" kata Kwee Ceng.
Khu Ci Kee menghela napas. "Bangsa Mongol menjagoi wilayah Utara, me¬reka hendak menerjang ke Selatan. Sebaliknya Raja Song dan menteri-menterinya bangsa dogol semua, maka negara bakal kacau," katanya. "Kita adalah laki-laki, meski tahu kita tak bakal bisa apa-apa, kita perlu bangun untuk melawannya. Sebab aku pun tak setuju dengan sikap Tan Pok Loocouw yang main mengunci pintu dan tidur saja."
Sampai di situ mereka menghentikan pembicara¬an, menitipkan kuda di kaki gunung, lantas mendaki. Mereka melintasi Toh-hoa-peng, Hi I Ap, dan See-bong-peng. Makin tinggi jalanan ma¬kin sukar. Setibanya di See-hian-bun, mereka naik dengan berpegangan pada rantai besi. Bagi mereka, perjalanan memanjat itu tidak sulit. Kira-kira tujuh li kemudian, tibalah mereka di Ceng-peng, Tanah Datar Hijau. Lalu mereka menemukan batu-batu yang berdiri tajam, di sebelah utaranya ada sebuah batu yang memegat jalan.
"Inilah batu yang diberi nama Hwee-sim-cio," kata Ci Kee.
Pelancong yang tiba di sini dapat balik kembali. Hwee-sim-cio berarti Hati Berbalik Pulang. Maju lebih jauh adalah tempat-tempat yang ber¬nama Cian-cio-kiap dan Pek-cio-kiap, celah yang lebarnya tidak ada setengah kaki, hingga orang mesti berjalan miring.
Kwee Ceng langsung ingat, "Kalau ada musuh memegat dan menyerang di sini, orang yang sangat lihai pun sukar melawan...." Baru saja ia berpikir begitu, dari depan terdengar bentakan,
"Khu Ci Kee, di Yan I Lauw kami telah mengampuni jiwamu, apa perlunya kau sekarang mendaki Gunung Hoa San ini?"
Khu Ci Kee mendengar suara itu, dengan segera ia mempercepat langkahnya, hingga sampai di sam¬ping gua. Ia mengangkat kepala melihat ke depan. Di sana, yang merupakan ujung jalan terakhir, terlihat lima orang, yaitu See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Lama Leng Ti, Nio Cu Ong, dan Hauw Thong Hay, yang memegat jalan. Melihat mereka itu, ia heran. Ia menyangka akan menemui Auwyang Hong, Kiu Cian Jin, Ciu Pek Thong, dan Ang Cit Kong, tidak tahunya, di sini ada rombongan pengkhianat itu. Tentu saja ia mengerti bahaya yang mengancam, sebab ia dan Kwee Ceng di tempat yang letaknya buruk. Begitu ter¬desak, mereka berdua bakalan terjerumus ke dalam jurang. Karena itu. ia menghunus pedangnya, lantas mendului melompat maju. Ia menyerang Hauw Thong Hay, bukan saja karena orang itu yang terlemah, tapi karena ia yang jaraknya paling dekat.
Thong Hay menangkis serangan, la lantas di¬bantu Pheng Lian Houw dan Lama Leng Ti yang menggencet musuh dengan senjata masing-masing, poankoan-pit dan cecer, bermaksud mendesak Khu Ci Kee sampai terjatuh ke jurang.
Khu Ci Kee tahu apa yang mesti diperbuat. Setelah menikam Thong Hay, ia menjejak dengan kedua kakinya untuk melompat tinggi melewati kepala Hauw Thong Hay. Selain bebas dari gencet¬an, ia pun tiba di tempat yang lega. Senjata Leng Ti dan Lian Houw mengenai batu, hingga lelatu bepercikan.
Selama di Tiat Ciang Bio, See Thong Thian telah kehilangan sebelah tangannya, namun ia tetap gagah. Menampak adik seperguruannya gagal me¬megat Khu Ci Kee. Ia melompat maju guna membantu. Tapi, karena lihainya Tiang Cun Cu, yang merampas kedudukan, ia juga bisa dilewati. Ia lantas mengejar, disusul oleh Lian Houw.
Ci Kee tidak lari terus, ia melawan dua musuh¬nya, yang segera dibantu Lama Leng Ti, hingga ia jadi dikepung tiga orang.
Selama pertempuran itu berjalan, Kwee Ceng tidak membantu Khu Ci Kee, padahal sepantasnya ia turun tangan di pihak imam itu. Hatinya tawar, ia jemu dengan pertarungan. Bukan saja ia tidak sudi membantu, melihat pun tidak. Untuk naik terus, ia mengambil jalan lain, dengan ber¬pegangan pada oyot rotan. Toh ia terganggu satu pertanyaan yang berkutat dalam hatinya, "Bantu atau jangan? Bantu atau jangan...?” "Bagaimana kalau Khu Tootiang mereka binasa¬kan? Bukankah itu salahku? Kalau aku membantu dan mereka mati, perbuatanku itu benar atau sa¬lah?" Pikirannya terus-menerus terganggu, sedang¬kan ia tidak menunda jalannya, hingga kupingnya tidak mendengar lagi bunyi senjata beradu. Seka¬rang ia berhenti menyender pada batu. Ia bengong.
Tiba-tiba ada bunyi di sampingnya, di belakang pohon cemara. Ia segera menoleh. Ia melihat se¬orang bermuka merah dan berambut putih, Nio Cu Ong. Orang ini tahu Kwee Ceng lihai, ia takut, maka ia bersembunyi. Namun Kwee Ceng tidak peduli, ia terus merenung, mulutnya kemak-kemik.
Nio Cu Ong heran. Ia menduga si pemuda tidak melihatnya. "Aneh kelakuan bocah ini," pikirnya. "Baiklah kucoba-coba." Ia tidak berani mendekat, ia me¬mungut batu, lalu menimpukkannya ke punggung si pemuda.
Mendengar bunyi sambaran angin, Kwee Ceng berkelit, tapi ia masih diam saja. Som Siam Lao Koay merasa lega. Ia meng¬hampiri beberapa langkah.
"Menghajar orang adalah perbuatan yang sangat busuk, itu tidak pantas." katanya.
"Oh. kau pun berpikir demikian?" tanya si anak muda "Sungguh aku ingin dapat melupakan ilmu silatku...."
Mata Nio Cu Ong bersinar tajam. Kebenciannya jadi bertambah begitu ia ingat pemuda ini telah mengisap darah ularnya. Ia mendekati Kwee Ceng dari belakang, tapi berkata pelan,
"Aku juga sedang berpikir untuk melupakan ilmu silatku. Bagaimana kalau aku membantumu?"
Kwee Ceng jujur, pikirannya sedang bimbang, ia lupa akan kelicikan orang. "Baik," jawabnya. "Bagaimana caranya?"
"Aku tahu caranya," jawab Cu Ong, lalu men¬dadak mencekuk dua jalan darah thian-cu di leher belakang dan sin-tong di punggung Kwee Ceng.
Kwee Ceng terkejut, tubuhnya langsung terasa kaku, ia tidak dapat bergerak. Cu Ong memegang kuat-kuat, kemudian meng¬gigit leher pemuda itu untuk mengisap darahnya. la mau ganti menyedot darah pemuda itu. Bukankah ular yang sudah dipeliharanya susah-susah menjadi korban si pemuda?
Kwee Ceng sangat kesakitan, sampai kedua mata¬nya kabur. la berontak, tapi dua jalan darahnya telah ditekan, tenaganya habis, la melihat roman Cu Ong yang sangat bengis dan menakutkan, la merasa se¬makin sakit, sebab gigitan orang itu keras. Bukankah ia akan binasa kalau tenggorokannya putus? Dalam kagetnya, mendadak ia berontak lagi. Kali ini ia menggunakan tipu yang didapatnya dari Kin Toan Kut Piant dan tenaganya juga terkerah pada kedua jalan darah yang ditekan itu.
Nio Cu Ong sedang menekan ketika ia merasa ada tenaga menolak yang keras, lantas telapak tangannya sakit, tekanannya pun terus meleset, seperti berada di tempat licin.
Kwee Ceng menunduk, lalu tenaganya di ping¬gang bekerja. Begitu anak muda ini membungkuk, tubuh Cu Ong terangkat, lalu terlempar dari punggung si anak muda. Ia menjerit ngeri, karena tubuhnya terlempar ke arah jurang. Menyusul itu dari dalam jurang terdengar jeritan yang lebih hebat lagi, menyayat hati, berkumandang ke segala penjuru lembah, membuat bulu roma berdiri.
Kwee Ceng menjublek karena kejadian itu. Ia mengusap-usap lehernya yang luka tergigit, lalu sadar bahwa dengan ilmu silatnya ia kembali telah membunuh. Pikirnya, "Kalau aku tak membunuh¬nya, dia akan membunuhku. Kalau dengan mem-bunuhnya aku berbuat tak pantas, lalu bagaimana dengan dia yang hendak membunuhku, perbuat¬annya pantas atau tidak?" Ia melongok ke jurang yang sangat dalam. Ia tidak melihat apa pun, maka tak tahulah ia, di bagian mana Nio Cu Ong terjatuh.... Sambil duduk di batu, Kwee Ceng membalut lukanya.
Selang sekian lama, mendadak terdengar bunyi seperti langkah kaki, namun kadang-kadang ter¬putus. Segera terlihat seorang aneh muncul dari tikungan. Ia terkejut tapi mengawasi. Orang itu berkelakuan aneh, berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kedua tangannya diulurkan lem¬peng ke samping tubuhnya. Karena jalannya ber¬lompatan, terdengar bunyi luar biasa dari batok kepala yang membentur bebatuan gunung. Kemudi¬an ia lebih heran lagi. Setelah mengawasi, ia mendapati orang itu adalah si Racun Barat Auwyang Hong.
Kwee Ceng baru saja diperdaya orang. Ia men¬duga Racun Barat pun sedang pasang siasat, maka ia lantas mundur dua langkah. Ia pasang mata sambil siaga. Auwyang Hong aneh. Ia melompat naik ke batu, tidak ambil mumet pada si anak muda. Dia berdiri tegar dengan kepalanya seperti mayat hidup.
"Paman Auwyang, kau sedang apa?" akhirnya Kwee Ceng bertanya.
Si Racun Barat tetap tidak memedulikannya, ia seperti tidak mendengar pertanyaan pemuda itu. Kwee Ceng mundur lagi beberapa langkah supaya berdiri agak jauh. Ia memasang tangan kiri di dadanya, sebab khawatir jago dari Barat itu menyerang mendadak. Tetapi Auwyang Hong tetap berdiri dengan cara aneh itu, dan Kwee Ceng terus memperhatikan.
Selang sesaat, karena penasaran dan ingin tahu, Kwee Ceng mengawasi muka orang tua itu sambil membungkuk dan menempelkan kepalanya ke tanah. Ia melihat lewat selangkangannya dengan mementangkan kedua kakinya. Baru sekarang ia melihat dengan tegas. Kepala Auwyang Hong bermandikan peluh, mukanya meringis.
Kwee Ceng menduga orang itu tentu sedang melatih suatu ilmu. Ia pun lantas melihat Racun Barat mementang kedua tangan, tubuhnya di¬tekuk sedikit hingga mirip keong besar. Tangannya digerakkan, makin lama makin cepat.
Ilmu itu aneh, pantas Auwyang Hong berlatih di tempat sepi. Kalau keliru cara mempelajarinya, barangkali ilmu ini bakal membuat orang sesat dan membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Namun aneh, kenapa yang dipilihnya justru Gunung Hoa San ini, tempat pertemuan? Bukankah di sini bakal segera berkumpul banyak orang? Kenapa ia seperti tidak menjaga diri? Tidakkah dalam keadaan seperti ini Racun Barat gampang di¬bokong? Mungkin orang yang tidak mengerti ilmu silat pun dapat dengan gampang merobohkannya....
Tiba-tiba pemuda ini ingat sakit hatinya. Meng¬apa ia tidak mau menuntut balas? Bukankah ini kesempatan baik? Namun karena baru saja membinasakan Nio Cu Ong, ia jadi sangsi. Ia tidak lantas turun tangan.
Auwyang Hong tetap tidak memedulikan si anak muda. Setelah berlatih sekian lama, kembali ter¬dengar bunyi nyaring kepalanya. Ia kembali ke tempat dari mana tadi ia muncul. Bukan main herannya Kwee Ceng. Ia menjadi ingin tahu, maka diam-diam ia melangkah mengikuti.
Auwyang Hong berjalan dengan kepala tetapi tidak kalah cepat dari orang yang berjalan biasa dengan kaki. Yang lebih heran lagi. ia juga dapat mendaki gunung, makin lama makin tinggi.
Kwee Ceng mengikuti terus sampai di depan gua. Di situ ia berhenti, bersembunyi di balik batu besar. Tepat di depan gua Auwyang Hong berhenti. Mendadak ia berkata bengis,
"Haphouvvbun-poat¬eng sengji-kit-kin, si-kouw-ji! Tidak, tak tepat penjelasanmu ini! Tak sempurna aku melatihnya."
Kwee Ceng terkejut. Itu bunyi kitab Kit Im Cin Keng palsu yang ditulisnya selama di atas perahu di tengah laut ketika ia dipaksa si Racun Barat. Dengan siapa si Bisa Bangkotan sedang bicara?
Lantas dari dalam gua terdengar jawaban seorang wanita. "Latihanmu belum sempurna, pasti kau tak mem¬peroleh hasil," demikian suara nona itu. "Kapan aku salah membacakannya?"
Kwee Ceng terkejut berbareng girang, ia hampir berteriak. Itu suara Oey Yong, yang dipikirkannya siang-malam! Jadi. mungkinkah nona itu tak binasa di gurun pasir? Apakah ia tengah bermimpi? Atau, apakah ia salah mendengar atau salah mengenal?
"Aku berlatih menurut penjelasanmu, tak mung¬kin salah!" kata Auwyang Hong. "Sekarang aku merasakan otot jim-wi dan yang-wi-ku tak tersalur dengan betul."
"Aku sudah bilang, latihannya masih kurang," si nona pun berkeras. "Kalau kau paksakan. percuma saja."
Sekarang Kwee Ceng mendengar jelas sekali. Tidak salah, itulah Oey Yong, Yongji-nya. Saking girangnya, tubuhnya terhuyung, hampir ia pingsan. Ia menguatkan hati, maka luka di lehernya pecah hingga berdarah, merembesi balutannya. Tapi ia seperti tidak merasakannya.
Auwyang Hong terdengar berkata lagi, suaranya menyatakan ia gusar sekali. "Besok tengah hari tepat adalah saat pertemuan berlangsung, mana dapat aku berlatih asal-asalan!" katanya bengis. "Lekas terjemahkan se¬luruh isi kitab itu, jangan coba-coba main gila!"
Sekarang Kwee Ceng mengerti betul bahwa orang itu sedang mempelajari Kiu Im Cin Keng. Ia akan memakai ilmu itu untuk mengadu kepandaian dalam pertemuan, supaya menjadi orang kosen nomor satu. Pantas Racun Barat gelisah.
Dari dalam terdengar tawa Oey Yong. "Kau telah berjanji pada Kakak Ceng-ku, dia sudah mengampuni jiwamu sampai tiga kali," kata si nona. "Karena itu, kau tak dapat memaksaku, kau mesti menyerah, menanti sampai hatiku senang untuk mengajarimu...."
Kwee Ceng senang mendengar gadis itu me¬nyebutnya Kakak Ceng-ku. Ia nyaris tidak dapat mengendalikan diri lagi, hampir ia melompat sambil berseru dan berlari menghampiri si nona manis.
Auwyang Hong tertawa dingin. "Waktunya sudah mendesak, meskipun ada, janji itu sekarang mesti ditangguhkan!" katanya sengit. Lantas ia menggerakkan tubuhnya, dalam sekejap ia telah berdiri dengan kakinya. Terus ia melangkah lebar-lebar ke gua itu.
"Tak tahu malu!" seru Oey Yong. "Tidak, aku tak mau mengajarimu!"
Auwyang Hong kembali memperdengarkan tawa dinginnya lagi hingga beberapa kali. "Aku mau lihat, kau mengajariku atau tidak!" katanya, kali ini perlahan.
MENDADAK terdengar jeritan Oey Yong, disusul bunyi robeknya baju. Di saat seperti itu, Kwee Ceng lupa akan ke¬ruwetan persoalannya sendiri, yaitu pantas atau tidak ia menggunakan ilmu silatnya untuk melawan. Ia berteriak,
"Yongji, aku akan membantumu!"
Ia lantas melompat berlari ke dalam gua. Tepat saat itu ia melihat Auwyang Hong memegang tongkat si nona dengan tangan kirinya, tangan kanannya akan dipakai untuk mencekuk lengan kiri nona itu. Untuk mengatasi itu Oey Yong menggunakan jurus Menyontek Anjing Buduk. Dengan menolak dan terus menarik, ia dapat meloloskan tongkatnya, hingga berbareng dengan itu tangan kirinya pun terbebas.
"Bagus!" Auwyang Hong memuji.
Ia hendak menyerang lagi ketika mendengar suara Kwee Ceng dari luar gua. Mendadak mukanya memerah. Bukankah ia telah memberikan janjinya? Mana dapat ia menyangkal janji itu? Ia berbuat begini pun karena terpaksa. Ia malu pada dirinya sendiri. Maka langsung ia mengundurkan diri dengan berkelit melompat keluar gua, menutupi mukanya dengan lengan baju¬nya. Dalam sekelebatan saja, ia telah menyingkir ke luar gua dan lenyap.
Kwee Ceng tidak peduli orang itu kabur. Ia lari menghampiri Oey Yong, langsung mencekal keras kedua tangan si nona.
"Yongji!" serunya. "Kau bikin aku hampir mati memikirkanmu!"
Begitu kencang debar hatinya, hingga tubuhnya bergetar. Oey Yong melepaskan tangannya.
"Kau siapa?" tanyanya dingin. "Mau apa kau me¬megangiku ?”
Pemuda itu tercengang. "Aku Kwee Ceng," sahutnya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku tak kenal kau!" kata si nona seraya terus melangkah keluar.
Kwee Ceng menyusul mendului, lalu berulang-¬ulang menjura. "Yongji!" panggilnya. "Yongji, dengarkan aku...!"
"Hm! Apa kau kira kau dapat menyebut nama Yongji?" kata si nona. "Kau siapa?"
Kwee Ceng celangap, tidak dapat mengeluarkan suara. Nona itu mengawasi, maka sekarang ia melihat muka si pemuda yang pucat dan kucel, tubuhnya pun agak kurus. Sesaat timbul rasa kasihannya, rasa tidak tega. Tapi begitu ingat berulang kali ia telah disia-siakan, hatinya jadi panas lagi.
"Fuih!" Ia meludah, lalu melangkah cepat.
Kwee Ceng cemas, ia menyambar ujung baju si nona dan menariknya. "Dengarkan dulu perkataanku...!" katanya.
"Bicaralah!"
"Di embal pasir aku menemukan gelang rambut dan bajumu, kusangka kau...."
"Kau ingin aku mendengarkan perkataanmu, se¬karang aku sudah mendengarkannya!" potong si nona. Ia menarik lepas bajunya, terus berjalan.
Kembali Kwee Ceng bengong, pikirannya bi¬ngung. Ia tidak pandai bicara, maka tidak tahu mesti mengatakan apa. Ia khawatir si nona nanti lenyap lagi, maka ia lantas mengikuti.
Oey Yong berjalan terus dengan pikiran kusut. Ia pulang dari Barat dengan hati tawar. Di Tionggoan, ia sebatang kara. Ia ingin pulang ke Pulau Persik untuk mencari ayahnya. Apa lacur, tiba di Shoatang ia menderita sakit berat. Celaka¬nya, tidak ada orang yang merawatnya. Selagi rebah di pembaringan, ia sakit hati teringat sikap Kwee Ceng yang ia anggap tipis budi pekertinya. Kalau ingat nasibnya yang buruk, ia menyesal telah dilahirkan di dunia. Syukurlah, ia dapat sem¬buh dari sakit, tapi belum bebas dari penderitaan. Di Shoatang Selatan ia bersampokan dengan Auwyang Hong yang memaksanya turut pergi ke Hoa San. Ia dipaksa untuk menjelaskan isi kitab Kiu Im Cin Keng. Kalau tidak ada si pemuda, entah apa yang akan diperbuat Auwyang Hong pada dirinya. Dengan sedih ia berjalan terus.
Kwee Ceng terus mengintil. Kalau si nona berjalan cepat, ia pun mempercepat langkahnya. Kalau si nona pelan, ia ikut pelan. Sesudah berjalan sekian lama, mendadak si nona menoleh ke belakang.
"Mau apa kau mengikutiku ?” tegurnya sinis.
"Aku akan mengikutimu selamanya...," sahut si pemuda. "Seumur hidup aku tak mau berpisah darimu...."
Oey Yong tertawa dingin. "Kau menantu Jenghis Khan! Buat apa kau mengikuti budak melarat?"
"Jenghis Khan menyebabkan kematian ibuku, mana dapat aku menjadi menantunya?" Kwee Ceng menjawab.
Muka si nona memerah. "Bagus!" serunya. "Kukira kau masih ingat sedikit padaku, rupanya kau telah didepak Jenghis Khan! Setelah tak dapat menjadi huma, kau sekarang mencariku si budak melarat! Apa kau sangka aku manusia hina-dina yang dapat kau hina sesukamu ?”
Si nona lantas menangis, air matanya bercucuran. Kwee Ceng terharu, tetapi ia bingung. Apa yang mesti diperbuatnya? Apa yang mesti dikatakannya...?
"Yongji...," katanya kemudian, selagi nona itu sesenggukan. "Aku ada di sini, jika kau hendak membunuhku, silahkan, terserah padamu...."
"Buat apa aku membunuhmu?" tanya si nona, suaranya pilu. "Anggap saja perkenalan kita sia-sia belaka.... Kumohon, janganlah kau mengikutiku...."
Muka Kwee Ceng bertambah pucat. "Apa yang harus kulakukan supaya kau percaya padaku?" tanyanya.
"Sekarang kau baik denganku," kata si nona. "Kalau besok kau bertemu dengan Adik Gochinmu, kembali kau akan melupakanku, kau bakal menyia-nyiakanku.... Sekarang ini. asal kau mati di depanku, baru aku percaya padamu..-"
Darah Kwee Ceng meluap, ia mengangguk. Kemudian ia memutar tubuhnya dan melangkah ke jurang. Kebetulan saat itu ia berada di tepi Sia Sin Gay, Jurang Mengorbankan Diri. Kalau ia terjun di situ, pastilah tubuhnya hancur lebur.
Oey Yong tahu hati pemuda itu keras, ia melompat menyusul, tangannya terulur menyambar punggung si pemuda. Ia menarik keras, tubuhnya mencelat, maka sekejap kemudian justru dialah yang berada di tepi jurang. Ia mencucurkan air mata. hatinya tegang.
"Bagus ya, sedikit pun kau tak kasihan padaku!" katanya. "Aku baru mengeluarkan sepatah kata karena panas hatiku, kau langsung tak mau melewatkannya! Aku bilang padamu, jangan marahi aku, cukup asal kau jangan bertemu lagi denganku..." Muka Oey Yong pucat, tubuhnya gemetar.
"Yongji, kemarilah," kata Kwee Ceng. Tadi mau bunuh diri, sekarang ia khawatir si nona yang akan terjun.
Oey Yong mendengar suara pemuda itu bergetar. Ia tahu si pemuda masih mencintainya, ia sangat sedih. Sembari menangis, ia berkata,
"Aku tahu kau pura-pura saja berkata begini. Ketika aku sakit di Shoatang, tak seorang pun memedulikanku.... Apakah waktu itu kau datang menjengukku? Aku dikekang Auwyang Hong, aku tak dapat meloloskan diri, apakah kau datang menolongku? Ibuku tak menyayangiku, dia pergi mati sendiri saja. Ayah pun tak menghendakiku, dia tak mencariku.... Apalagi kau, lebih-lebih tak menginginkanku! Di dunia ini, tak seorang pun menyayangiku, mengasihaniku...." Ia menangis terus, sambil membanting-banting kaki.
Kwee Ceng diam. Ia masih tidak tahu mesti bilang apa. [a bisa merasakan panasnya hati si nona. Ia cuma bisa mengawasi. Sunyi di antara mereka, cuma terdengar embusan sang angin.
Rupanya si nona merasa kedinginan, tubuhnya menggigil. Kwee Ceng membuka baju luarnya, berniat mengerobongi tubuh nona itu. Selagi ia akan melakukannya, mendadak ada bentakan dari ujung jurang,
"Siapa yang nyalinya begitu besar berani menghina Nona Oey-ku?"
Kwee Ceng girang sekali. Ia langsung mendongak, melihat seorang tua dengan rambut pendek dan kumis putih, dialah Ciu Pek Thong si Bocah Tua Nakal.
"Kakak Ciu!" panggil Kwee Ceng.
Oey Yong pun memperdengarkan suaranya dengan agak mendongkol. "Eh. Bocah Tua Nakal! Aku menitahkanmu untuk membunuh Kiu Cian Jin! Mana kepalanya?"
Ciu Pek Thong menghampiri mereka, ia tidak menjawab, hanya tertawa haha-hihi. "Nona Oey, siapa yang mengganggumu?" ia bertanya. "Nanti Bocah Tua Nakal membikinmu puas!"
"Siapa lagi kalau bukan dia!" sahut si nona seraya menunjuk Kwee Ceng.
Untuk menyenangkan si nona, si Bocah Tua Nakal bertindak sejadinya saja. Tahu-tahu Kwee Ceng telah digaploknya dua kali hingga kelabakan. Kwee Ceng sama sekali tidak menyangka. Karena itu, bengaplah pipi kiri dan kanannya. Ketika baru dihajar, matanya juga berkunang-kunang.
"Nona Oey, cukupkah?" tanya Bocah Tua Nakal. "Jika belum cukup, nanti kuhajar lagi dia."
Menampak muka si pemuda merah dan bengap, di pipinya tampak bekas tapak tangan dengan lima jari, kedongkolan Oey Yong mereda, lantas timbul rasa kasihannya. Ia berbalik jadi mendongkol kepada si tua tukang guyon itu.
"Aku marah sendiri, tak ada hubungannya denganmu!" ia tegur orang tua itu. "Kenapa kau lancang memukulnya? Kuperintahkan kau membunuh Kiu Cian Jin, mengapa kau tak dengar perintahku?'
Pek Thong menjulurkan lidahnya panjang-panjang. Ia tidak dapat menjawab. Ketika itu, jauh di belakang jurang, terdengar bunyi beradunya senjata. Pek Thong mendengarnya, ia segera mendapat akal.
"Pastilah si tua bangka Kiu sudah datang, aku akan mendatanginya!" katanya seraya terus memutar tubuh untuk lari ke belakang jurang itu.
Tentu saja Bocah Tua Nakal bukan mau mencari Kiu Cian Jin, bahkan sebaliknya ia jeri dengan ketua Tiat Ciang Pang itu. Di antara kedua jago ini, keadaan seperti jungkir balik.
Di rumah batu, tempat Kwee Ceng dan Auwyang Hong berlalu saling susul, Pek Thong dan Cian Jin bertempur tidak lama. Cian Jin bisa lolos dan kabur, ia dikejar Pek Thong, ke mana pun lari ia disusul, hingga akhirnya ia mendongkol berbareng putus asa. Ia berpikir, ia toh jago dan ketua partai, mengapa sekarang ia begini sial menghadapi Ciu Pek Thong yang lihai itu? la merasa sangat terhina. Karena putus asa, ia menjadi nekat. Daripada kena bekuk, lebih baik ia bunuh diri. Kebetulan ia melihat seekor ular berbisa di sela batu, ia me¬nangkap ular itu. la berniat memagutkan ular itu ke dirinya sendiri. Dengan memegangi ular itu, ia berkala pada Ciu Pek Thong,
"Eh, Pek Thong, bangsat, lihat ini!"
Sebenarnya Cian Jin hendak menempelkan mulut ular itu ke lengannya, tapi mendadak Ciu Pek Thong menjerit, lalu memutar tubuhnya dan lari kabur. Cian Jin menjadi heran. Namun sejenak kemudian ia lantas dapat menduga, tentulah Bocah Tua Nakal takut ular. Maka ia sekarang berbesar hati, ia membatalkan niatnya bunuh diri, lantas mengejar si tua bangka berandalan itu. Lebih dari itu ia menangkap seekor ular lain, hingga tangan kiri dan kanannya masing-masing mencekal binatang berbisa itu. Sembari mengejar, ia berteriak-¬teriak mengancam musuhnya.
Pek Thong ketakutan, ia lari ngacir. Kiu Cian Jin mempunyai julukan Sui-siang¬piauw, yang berarti larinya sangat pesat. Seandainya tidak jeri, ia tentu sudah dapat menangkap Pek Thong. Maka mereka cuma main kejar-kejaran. Dari siang mereka berlari-lari sampai hari gelap, setelah itu barulah Pek Thong bisa lolos. Dalam hati Cian Jin tertawa. Ia mengejar hanya untuk menggertak. Sekarang ia pun bebas dari ancaman si tua berandalan itu.
Oey Yong melihat orang tua itu pergi, ia melirik Kwee Ceng. Ia menghela napas lantas menunduk.
"Yongji!" panggil Kwee Ceng.
Nona itu menyahut lirih. Kwee Ceng hendak berbicara tetapi tidak tahu mesti mengatakan apa, ia berdiri diam. Karena si nona pun terus membungkam, keduanya berdiri bagaikan patung, tubuh mereka disampoki angin. Tidak lama kemudian Oey Yong bangkis akibat terlalu banyak kena angin.
Kwee Ceng ingat bajunya, ia lantas menghampiri untuk menutupi tubuh si nona dengan bajunya. Tadi ia diganggu oleh Ciu Pek Thong, sekarang tidak ada rintangan lagi. Oey Yong diam saja, menunduk terus. Dalam kesunyian itu. kuping mereka mendengar tawa nyaring Ciu Pek Thong yang terus berseru memuji,
"Bagus! Bagus”
Mendadak si nona mengulurkan tangannya, mencekal tangan Kwee Ceng seraya berkata pelan.
"Kakak Ceng, ayo kita lihat!"
Kwee Ceng mengikuti. Ia tidak bisa menyahut. Kali ini saking girangnya ia mencucurkan air mata. Dengan ujung bajunya Oey Yong mengusap air mata si pemuda.
"Di mukamu ada air mata dan bekas tapak tangan. Kalau orang tak tahu, dia bisa menyangka akulah yang menamparmu...."
Dengan tertawanya si nona, berarti mereka berdua sudah akur lagi. Dengan bergandengan mereka lari melintasi jurang, pergi ke tempat asal datangnya tawa Ciu Pek Thong. Di sana mereka melihat banyak orang dengan sikap yang aneh-aneh.
Pek Thong terlihat girang bukan main. Ia me¬megangi perutnya sambil terbungkuk-bungkuk. Ia tertawa puas sekali. Di dekatnya tampak Khu Ci Kee berdiri diam dengan pedang di tangan. Di antara mereka masih ada empat orang lagi, See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Lama Leng Ti, dan Hauw Thong Hay. Sikap keempat orang itu luar biasa. Mereka memegang senjata, ada yang sedang menyerang, ada yang sedang berkelit atau mundur. Sikap tubuh mereka tetap begitu, sebab mereka tidak dapat bergerak bagaikan patung. Sebab mereka korban totokan si Bocah Tua Nakal yang kekanak-kanakan.
"Waktu itu aku membuat obat pulung dari lumpur tubuhku," kata Ciu Pek Thong kepada See Thong Thian berempat. "Aku menitahkan kalian untuk menelannya. Kemudian kalian kawanan bang¬sat cerdik juga, kalian tahu itu bukan obat penawar racun, lantas kalian tak mau dengar kata-kata kakekmu ini. Hm! Bagaimana sekarang.”
Pek Thong mengatakan demikian sebab meski berhasil membekuk mereka, ia tidak tahu bagaimana harus menghukum mereka. Tapi begitu melihat Oey Yong dan Kwee Ceng, ia lantas mendapat pikiran. Katanya,
"Nona, empat bangsat bau ini kuserahkan padamu!"
"Apa gunanya mereka buatku?" tanya si nona. "Kau main gila, ya? Kau tak mau membunuh tapi juga tak mau melepaskan mereka! Kau telah me¬nangkap mereka tapi tak berdaya mengurus! Lekas kau panggil aku kakak yang baik tiga kali, nanti kau kuajari..!"
Pek Thong tidak mau banyak pikir, ia juga tidak peduli dengan segalanya, maka tanpa sangsi sedikit pun ia memanggil
"Kakak yang baik!" tiga kali. Bahkan ditambah dengan menjura dalam-dalam.
Oey Yong tersenyum. "Geledah dia!" kata si nona seraya menunjuk Pheng Lian Houw.
Pek Thong menurut. Dari tubuh Lian Houw ia mendapatkan cincin dengan jarum beracun dan dua peles kay-yok, obat pemunah racun. Kata si nona,
"Dia pernah menusuk Ma Giok, kemenakan seperguruanmu dengan jarumnya ini. Sekarang tusuklah dia .beberapa kali, juga ketiga kawannya!"
Lian Houw semua mendengar perkataan si nona, mereka kaget dan takut bukan main, tetapi mereka masih tertotok, tidak dapat lari ataupun meronta. Maka mereka mesti merasakan sakitnya ditusuk Pek Thong beberapa kali.
"Obatnya ada di tanganmu," kata si nona lagi kepada Bocah Tua Nakal. "Sekarang kau dapat menitahkan mereka untuk melakukan apa pun yang kau kehendaki. Coba lihat mereka berani mem¬bangkang atau tidak!"
Pek Thong girang. Ia lantas mengasah otak. Ia tidak usah membuang waktu untuk mendapatkan akal. Ia membuat obat lagi dari kotoran, namun kali ini kotoran itu dicampur dengan kay-yok, dipulung menjadi butiran-butiran kecil, kemudian diserahkan¬nya kepada Khu Ci Kee sambil berkata,
"Sekarang kau giring kawanan bangsat bau ini ke Kuil Tiong Yang Kiong di Ciong Lam San. Penjarakan mereka selama dua puluh tahun. Jika selama dalam perjalanan mereka menurut kata-katamu, beri mereka masing-¬masing sebutir pil mustajabku ini. Tapi kalau sebaliknya, biarkan saja, biar mereka tahu rasa! Mereka berbuat, mereka mesti bertanggung jawab, jangan sekali-kali kasihan pada mereka!"
Khu Ci Kee menerima obat itu sambil menjura. Ia menghaturkan terima kasih seraya memberikan janjinya. Oey Yong tertawa dan berkata pada Pek Thong,
"Bocah Tua Nakal, kata-katamu ini tepat sekali, sangat pantas! Tak kusangka, baru setahun kita tak bertemu kau telah maju begini pesat!"
Pek Thong puas sekali, ia tertawa senang. Se¬sudah itu ia membebaskan totokan keempat orang itu. Katanya pada mereka,
"Sekarang kalian mesti pergi ke Tiong Yang Kiong, tinggallah di sana baik-baik selama dua puluh tahun. Jika kalian benar-benar hendak bertobat, di belakang hari kalian masih dapat menjadi orang baik. Tapi jika kalian masih tetap jahat... hm! Hm! Perlu kalian ketahui, kami para imam dari Coan Cin Kauw bukan orang yang dapat dibuat permainan, kami ahli membetot otot tanpa mengerutkan alis! Maka, empat bangsat bau. berhati-hatilah kalian!"
Lian Houw berempat tidak berani banyak omong, mereka cuma mengangguk. Khu Ci Kee menahan tawa melihat sikap paman gurunya yang lucu itu. la kembali menjura, lantas menggiring pergi keempat tawanannya turun gu¬nung, untuk pulang ke gunungnya sendiri.
"Eh, Bocah Tua Nakal," kata Oey Yong tertawa. "Sejak kapan kau belajar mendidik orang? Kata-¬katamu yang bagian depan masuk akal, tapi yang belakangan lantas jadi tak keruan...."
Pek Thong tidak menjawab, ia hanya tertawa sambil melengak. Saat itu ia melihat sinar putih berkelebat di puncak kiri, lalu lenyap, la yakin itu sinar senjata tajam.
"Eh, apa itu?" tanyanya heran.
Oey Yong dan Kwee Ceng mengangkat kepala, tapi sinar itu sudah lenyap. Pek Thong takut Oey Yong akan menanyakan Kiu Cian Jin lagi, maka ia lantas menggunakan alasan.
"Biar kulihat!" katanya. Terus ia lari pergi.
Oey Yong berdua Kwee Ceng membiarkan orang tua itu pergi, sebab banyak yang hendak mereka bicarakan. Mereka mencari tempat untuk duduk, lalu saling menuturkan pengalaman masing-masing dan saling mengutarakan isi hati. Sampai matahari sudah turun ke barat, mereka masih belum berhenti pasang omong.
Kwee Ceng berbekal ransum kering. Ia mengeluarkannya untuk mereka santap bersama-sama. Sembari makan, Oey Yong berkata,
"Bangsat tua Auwyang Hong memaksaku menjelaskan isi Kiu lm Citi Keng. Bukankah kitab tulisanmu yang kau berikan padanya kacau-balau? Nah, aku pun tak keruan menjelaskannya! Tapi dia percaya, maka dia bersengsara selama beberapa bulan ini untuk mempelajari ilmu itu. Kubilang dia mesti berlatih terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas, dia menurut. Dia sungguh hebat, dapat membuat jalan darahnya tersalur secara bertentangan, yaitu jalan darah im-wu yang-wi. im-kiauw dan yang-kiauw. Entah bagaimana andai kata dia membalik semua jalan darahnya."
Kwee Ceng tertawa. "Pantas aku melihat dia jalan meloncat-loncat dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kiranya dia sedang kau permainkan!" katanya. Memang sulit untuk berlatih dengan cara demikian.
Oey Yong tersenyum. "Kau datang kemari, apa kau juga hendak turut berebut gelar orang gagah nomor satu di kolong langit?" tanyanya.
"Ah, Yongji, kau menggodaku," sahut si pemuda. "Aku datang ke gunung ini buat mencari Kakak Ciu supaya diajari ilmu untuk melenyapkan ilmu silatku...." Kwee Ceng lantas menjelaskan alasan mengapa ia sampai mendapat pikiran demikian.
Oey Yong memiringkan kepalanya, berpikir. "Ya, melupakan itu pun baik juga," katanya kemudian. "Memang, semakin kita pandai, pikiran kita semakin tak tenang. Lebih baik seperti waktu masih kecil, kita tak bisa segala-galanya, tak ada yang kita pikirkan, tak ada yang menyusahkan kita...."


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar