"Kakimu sakit, apa kau kira aku tidak tahu?" kata si nona.
"Apa sih lapar atau tidak lapar? Sengaja aku hendak membikin kau merasai sakit, baru aku akan mengobatimu"
Tin ok gusar, ia menjeblok dengan mangkuk labunya. si nona tertawa dingin, satu serdadu sebaliknya menjerit kesakitan, sebab ia bisa berkelit dan si serdadu tidak.
"Buat apa menjerit-jerit" kata si nona.
"Kau tahu, Kwa Tayhiap membagi sayur labu padamu. Kau tidak tahu terima kasih Lekas bikin bersih"
Serdadu itu takut, ia lapar dan kesakitan, ia lantas bekerja memunguti, ia dahar itu. Ia kesakitan karena mukanya yang kena sayur panas itu. Tin Ok mendongkol bukan main, ia mendongkol dan bergusar tanpa dapat melampiaskannya. Ia duduk separuh menyender, mukanya menyeringai. Ia berniat mencabut anak panah di kakinya, tapi tidak berani. Ia khawatir nanti darahnya menyembur dan ia sukar menyumbatnya. Memang celaka kalau si nona tidak menolong membalut lukanya. Dengan terpaksa, ia menutup mulut.
"Lekas ambil air dingin" menitah si nona bengis. "Lekas"
Perintah itu dibarengi sama tamparan nyaring ke muka serdadu. Tin Ok mendengar itu, ia pikir. "Hebat ini siluman perempuan. Kalau dia tidak bicara, tidak apa asal dia membuka mulutnya, tentulah orang bercelaka"
"Ambil pisau" memerintah pula si nona. "Kau potong ujung bajunya Kwa Tayhiap di dekat lukanya itu" Perintah itu dilakukan satu serdadu.
"Orang she Kwa, kalau benar laki-laki, jangan kau menjerit kesakitan" kata si nona. "Jangan kau membikin nonamu mendongkol, nanti dia tidak mau memperdulikan lagi dirimu"
"Memangnya siapa yang kesudian kau memperdulikannya?" kata Tin Ok sengit. "Lekas kau pergi jauh-jauh" Tapi belum ia bicara habis, mendadak ia merasakan pahanya sangat sakit. Orang telah memegang gagang panah, bukan panah itu dicabut hanya ditusukkan sakit dan kaget, sebelah tangannya melayang. Sekali lagi ia merasakan sakit, kali ini pada tangannya, sebab pada tangannya itu dibelesaki anak panah.
Oey Yong mencabut anak panah dan menyerahkan itu pada siterluka. "Jikalau kau bergerak lagi satu kali, aku akan gaplok dirimu" terdengar pula suara si nona.
Tin ok sangat mendongkol tetapi ia berdiam. Ia tahu, si nona berbuat apa yang dia katakan. Sekarang ini ia bukan tandingan nona itu. Sungguh hina kalau ia sampai digaploki oey Yong. Dengan muka merah padam, ia menutup mulut. Ia mendengar orang membeset beberapa kali pada potongan bajunya, ia merasa lukanya dibalut keras sekali, guna mencegah keluarnya darah. Habis itu ia merasakan dingin. Si nona lagi mencuci lukanya. Ia menjadi heran. "Kalau dia mau bikin aku celaka, kenapa dia menolong? Kalau dia mau mendongi aku Hm Hm Ayah dan anaknya ini, siluman-siluman dari Tho Hoa To, benarkah mereka suka mendongi aku? Boleh jadi dia lagi menggunakan akal jahatnya"
Dilain saat, oey Yong sudah selesai mengobati. Tin ok segera merasakan sakitnya berkurang sebagian besar. Ia tidak tahu oey Yong telah memakai obat siauw Hoan Tan dari Tho Hoa To, obat mustajab nomor satu untuk luka-luka. Setelah itu, ia merasakan lapar, perutnya berbunyi keruyukan.
"Aku kira laparmu palsu, kiranya lapar tulen" kata si nona mengejek, tertawanya dingin. "Baiklah, mari kita berangkat"
Ia bukan mengasih makanan, ia mengajak pergi. Pula ia telah mengayun tangannya, maka kedua serdadu tukang gotong itu kembali merasa sakitnya tongkat dari Partai Pengemis. Mereka ini menggotong lagi orang yang luka itu, yang mereka diperintah memanggilnya "toaya" atau "tuan besar".
Kali ini orang berjalan kira-kira empat puluh lie, sang magrib telah datang, burung-burung gagak pada berbunyi berisik sekali. Entah ada berapa ribu gagak di situ.
Tin ok kenal baik kota Kee-hin, maka tahulah ia telah dibawa ke dekat Tiat ciang Bio, kuil di mana dipuja Tiat Ciang ong Gan ciang si Tombak Besi, panglima perang yang kesohor di jaman Ngo Tay. Di samping kuil itu ada sebuah menara besar, yang sudah semenjak lama menjadi sarang gagak. Penduduk menyangka burung itu burung malaikat, mereka tidak berani mengganggu, maka makin lama burung hitam itu makin banyak.
"Ah, hari sudah gelap. di mana di sini kita mencari pondokan?" berkata si nona.
Tin ok lantas berpikir: "Kalau kita menumpang di rumah penduduk. ada kemungkinan rahasia nanti bocor dan tentara negeri bisa datang untuk melakukan penangkapan" Karena ini, ia menyahut:
"Di sebelah depan, tidak terlalu jauh, ada sebuah kuil tua lainnya."
Si nona tidak menjawab, hanya ia berkata bengis: "Apakah bagusnya burung gagak untuk dipandang? Memangnya kamu belum pernah melihat? Lekas jalan" Kedua serdadu lantas berjalan lagi, kesakitan, ketakutan dan lelah sekali.
Tidak lama sampailah mereka di Tiat Ciang Bio. Kwa Tin ok mendengar oey Yong menolak pintu. Segera hidung mereka tersampok bau kotoran gagak. Itulah tanda kuil sudah lama kosong dan tidak terurus. Ia tadinya menduda nona itu bakal menggerutu karena kuil kotor, tidak tahunya si nona tidak memperdulikannya. Ia lantas mendengar kedua serdadu diperintah menyapu kotoran dan kemudian masak air.
Oey Yong sendiri mengganti obat si jago Kang Lam, habis itu baru dia sendiri pergi mencuci muka dan kaki. Tin ok merebahkan diri di ujung meja. Belum lama, terdengarlah suara si nona:
"Perlu apa kamu memandangi kakiku? Memangnya kakiku dipertontonkan kepada kamu? Awas, aku nanti korek biji matamu" Kedua serdadu itu ketakutan, mereka menjatuhkan diri dan mengangguk-angguk hingga jidatnya nyaring mengenai lantai.
"Bilang, perlu apa kamu mengawasi aku mencuci kaki?" si nona bertanya lagi.
"Maafkan, nona," kata satu serdadu sambil mengangguk lagi. "sebenarnya hambamu melihat kaki nona bagus sekali"
"Celaka betul," pikir Tin ok. "Mereka masih main gila Entah mereka bakal dikeset kulitnya dan dibetot otot-ototnya atau tidak oleh si nona"
Tapi oey Yong tertawa, katanya: "Macam tolol sebagai kamu masih mengetahui apa yang bagus dan apa yang tidak? Hm"
Dan satu serdadu jumpalitan, karena dihajar tongkat si nona. Setelah itu kedua serdadu itu pergi bersembunyi di belakang. Tin ok diam saja, ia ingin ketahui apa bakal terjadi pula.
Oey Yong berjalan mondar mandir, kemudian terdengar ia mengoceh seorang diri: "Ong Tiat Ciang gagah luar biasa, akhirnya ia toh kepala terpisah dari tubuhnya. Apakah artinya seorang enghiong? Apakah artinya seorang hoohan? Ah, tombak besinya ini tentulah tombak karatan"
Di masa mudanya, sebelum matanya buta, Tin ok bersama Han Po Kie dan yang lainnya pernah main di kuil Ong Gan ciang ini, meski mereka masih kecil, mereka pernah bergantian mencoba mengangkat tombak besi itu, maka mendengar perkataannya nona itu, ia menyahut:
"sudah pasti tombak itu tombak besi, bukan tombak palsu"
"Ah" berkata si nona, yang terus mengangkat tombak itu. "Beratnya tombak ini kira-kira tiga puluh kati. Aku telah membikin tongkatmu hilang, aku belum sempat menggantinya, karena besok kita bakal berpisah, untuk pergi masing-masing, sebab kau tidak mempunyai senjata, baiklah kau ambil tombak ini untuk dipakai sebagai gantinya tongkat."
Tanpa menanti persetujuan oey Yong pergi membikin patah ujung tombak yang tajam, lalu ia menyerahkan tombak yang tinggal gagangnya itu, yang menjadi semacam toya atau tongkat.
Tin ok berduka ketika mendengar si nona bilang besok mereka bakal berpisah. Sekarang ia sebatang kara. Pula aneh, setelah berkumpul seharian sama si nona, sekarang merasa berat untuk berpisahan. Ia memegangi tombak itu, yang antap beratnya, ia merasa senjata itu cocok untuknya. Ia pun berpikir "la memberikan senjata kepadaku, nyata ia tidak bermaksud jahat."
Lalu ia mendengar si nona berkata kepadanya: "Ini obat siauw Hoan Tan bikinan ayahku. obat ini ada faedahnya untuk lukamu. Kau membenci kami ayah dan anak. terserah kepadamu untuk memakainya atau tidak"
Tin ok merasakan tangannya dijejalkan sebuah bungkusan, ia menyambut itu dan memasukkannya perlahan-lahan ke dalam saku. la tidak dapat membilang apapun. Ia mengharap si nona masih berkata-kata, tapi apa yang ia dengar hanya ini:
"Nah, sekarang tidurlah" Lalu sunyi segalanya.
Jago Kanglam ini merebahkan diri, tombaknya diletakkan di sisinya. Tidak bisa ia lantas tidur pulas. Ada saja pikiran yang menyandinginya. Ia mendengar suara gagak yang berisik, namun makin lama makin reda, lalu sunyi segalanya. Mengenai si nona, ia merasa orang tidak tidur hanya duduk terus, duduk tanpa berkutik. Adalah kemudian, terdengar nona itu mengatakan seorang diri, suaranya perlahan, bersenandung. Dia membacakan syairnya Eng Kouw, yang Tin ok tidak mengerti maksudnya. Hanya jago Kanglam ini merasa suara orang sedih, hingga ia menjadi terharu.
Tidak lama dari itu barulah si nona bergerak. rupanya dia merebahkan diri Kemudian, suara napasnya menjadi perlahan lalu berhenti.
Tin ok meraba tombak di sisinya. Kesunyian membuatnya ia berpikir. Di depan matanya lantas bagaikan berpeta Cu Cong lagi membaca kitab bututnya dan Han Po Kie dan coan Kim Hoat seperti lagi menarik-narik kumis patung malaikat. Ia merasakan seperti bermimpi bersama Lam Hie Jin dan Thio A seng tengah saling menarik tombak besi itu, sedang siauw Eng - baru berumur empat atau lima tahun, dua kuncirnya ngacir, selagi dia tertawa haha-hihi, kuncirnya itu memain dengan benang merahnya. Hanya sekejap. segalanya menjadi gelap.
Lenyap segala pertanyaan itu sebaliknya timbullah hawa amarahnya, muncul kebencian yang hebat terhadap si nona. Maka ia berbangkit, sambil membawa tombaknya, ia berindap-indap mendekati si nona. Ia mendengar suara napas yang enteng, bukti bahwa nona itu lagi tidur nyenyak.
"Jikalau aku hajar dia, akan mati tanpa merasa," pikirnya jago ini, yang pikirannya seperti waswas itu. "Tanpa bersikap begini, karena Oey Lao shia sangat kosen, mana bisa aku menuntut balas? Anaknya ini lagi tidur, ini kesempatan yang baik pemberian Thian. Biarlah Tong shia merasakan enaknya kematian anak" Cuma sebentar ia berpikir begitu, ia ingat pula: "Anak ini pernah menolong jiwaku, dapatkah aku membalas kebaikan dengan kejahatan? Ah, biarlah Habis membunuh dia, aku pun membunuh diri di sampingnya, guna membalas budinya"
Cuma bersangsi sebentar, Tin ok segera mengangkat tombaknya. la telah pikir pula: "Aku Kwa Tin ok. seumurku aku jujur dan pemurah, selama beberapa puluh tahun hidupku, tidak pernah aku melakukan apa-apa yang tidak pantas. sekarang aku dapat kembali ke kampung halamanku, meski mati, tidak ada yang dibuat sesalan lagi"
Tepat saat ia mengerahkan tenaga, mendadak mendengar suara tertawa nyaring dari kejauhan, suara itu menyeramkan, membangunkan bulu roma.
Oey Yong terbangun, ia terus berlompat. Maka kagetlah ia menyaksikan Kwa Tin ok lagi mengancam dengan tombaknya Ong Gan cian itu Tapi ia berteriak.
"Auwyang Hong"
Tin ok kecele. Tidak dapat ia meneruskan serangannya itu. la pun segera mendengar suara bicaranya beberapa orang, yang terus mendatangi ke arah kuil. setelah itu, ia mendengar tindakan kaki, mungkin dari tiga sampai empatpuluh orang, terdengarnya di depan dan belakang kuil, di kedua samping.
Setelah mendengar sekian lama, Tin ok berkata dengan perlahan: "Terang mereka datang kemari karena mendapat dengar suara burung gagak. Mari kita sembunyi"
oey Yong setuju, Tin ok menuntun tangan orang untuk diajak pergi ke belakang tapi di pintu pendopo bagian belakang itu, ia mengutuk kedua serdadu tadi. Pintu itu dikunci mereka. sedang begitu, di depan terdengar suara pintu ditolak, Jadi untuk mereka, tidak ada waktu untuk pergi keluar.
"Mari kita bersembunyi di belakang patung," katanya.
Oey Yong menurut. la pun tidak melihat tempat sembunyi lain. Baru mereka memernahkan diri Tin ok mencium bau belerang, maka tahulah ia orang menyalakan api.
"Paduka yang mulia Chao Wang," lalu terdengar suara Auwyang Hong. "Kali ini dalam pertempuran di Yan le Lauw kita tidak memperoleh hasil tetapi kesudahannya kita telah memberi hajaran semangatnya musuh"
Chao Wang atau Wanyen Lieh, tertawa. "Dalam segala hal aku mengandalkan sianseng," ia berkata. "Begitu juga di lain hari, dalam urusan mengambil kitab di Tiat Ciang Pang, aku mengharap sangat bantuan sianseng."
"ltu pasti" kata Auwyang Hong. "sebenarnya, kalau bukan paduka yang mulia telah mengalami bahaya besar ini, siapa menyangka kitab Gak Bu Bok itu adanya di puncak Tiat Ciang Hong?"
"Beberapa budak sianseng telah menolong jiwa anakku, aku berterima kasih sekali," berkata pula Chao Wang si pangeran Kim. "Aku telah kirim mereka ke kota raja, di sana mereka dirawat seumur hidupnya."
"ltu semua menandakan kebaikan paduka yang mulia," kata Auwyang Hong tertawa.
"Khiu Pang cu telah menjadi gusar dan pulang ke gunungnya," kemudian Wanyen Lieh berkata pula, "Di sana pasti dia bakal melakukan penjagaan kuat sekali, maka itu sianseng ada mempunyai akal apa untuk mendapatkan kitabnya Gak Hui itu?"
"Paduka yang mulia mempunyai banyak orang pandai, apakah artinya satu partai Tiat Ciang Pang?" berkata see Tok. "Biarpun Khiu Cian Jin lihay, Auwyang Hong merasa sanggup untuk melayani dia" la lantas tertawa kering.
Lalu terdengar suara Nio Cu ong, Pheng Lian Houw, see Thong Thian dan lainnya, yang mengumpak-umpak see Tok, sebaliknya Khiu Cian Jin tidak dipandang mata sama sekali.
Setelah itu terdengar suara seorang muda: "Tuan-tuan, kata-katamu tidak tepat. Khiu Pangcu lihay sekali, aku telah melihatnya dengan mataku sendiri Aku percaya, selain Auwyang sianseng, tidak ada yang sanggup menandingi dia."
Tin ok mengenal suaranya Yo Kang, hatinya panas sekali. Perkataan Yo Kang itu membikin Nio Cu ong semua kecele dan malu.
"Khiu Cian Jin si tua bangka seperti ampas, sekalipun Kwee Ceng bocah dia tidak dapat mengalahkannya" tiba-tiba terdengar suara Leng Tie siangjin. " Kepandaian dia itu biasa saja"
Mendengar itu, Auwyang Hong tertawa dingin. "Kalau begitu, dapatkah sianjin mengalahkan Kwee Ceng?" ia bertanya.
Diam-diam orang tertawa. Mereka ingat peristiwa di Ci Han Tong di istana di mana Leng Tie siangjin telah dibikin terlempar dari dalam air tumpah.
"Bukan aku memandang rendah kepada siangjin," berkata pula Auwyang Hong. "orang dengan kepandaian seperti kau, meski kau belajar lagi sepuluh tahun, belum tentu kau dapat menjadi tandingan Khiu Pangcu. Nama Tiat Ciang sui¬siang-pauw menggetarkan dua propinsi Lian ouw, hingga aku sekalipun, tidak berani memandang enteng terhadapnya" sekali lagi see Tok tertawa kering.
Leng Tie siangjin mendongkol bukan main, ia malu, akan tetapi ia tidak berani membuka mulut guna melawan bicara. Mukanya menjadi merah.
Kwa Tin ok mendengar orang bicara, ia menahan napas. Ia mengenal semua orang tangguh itu. Kalau tadi ia ingin mati bersama oey Yong, sekarang sebaliknya ia khawatir dirinya dan si nona nanti terbinasakan.
Habis itu terdengar hamba-hambanya Wanyen Lieh mengatur tatakan untuk Wanyen Lieh bersama Yo Kang dan Auwyang Hong beristirahat.
"Auwyang sianseng," terdengar suara Yo Kang. "Dalam buku siangkoan Kiam Lam, boanpwee melihat ada catatan tentang ilmu untuk memecahkan pukulan Tangan Besi."
Auwyang Hong girang mendengar keterangan itu hingga ia berlompat bangun sambil menegasi:
"Benarkah itu?"
"Boanpwee tidak berani mendusta," kata Yo Kang, yang menyebut diri "boanpwee", yang terlebih muda. "Hanya sayang, bagian pelajaran itu termuat di dalam halaman-halaman yang justru kena dirobek-robek si perempuan hina dina"
Auwyang Hong menyesal sekali. Ia tidak takut Khiu Cian Jin tetapi kepandaian orang itu ia malui. Maka sayang ilmu memecahkan ilmu silat Tangan Besi telah lenyap dan musnah.
"Boanpwee telah membaca, bunyinya masih boanpwee ingat samar-samar," berkata pula Yo Kang, "Sayang kepandaianku tidak berarti dan aku tidak dapat menyelami catatan itu. Di dalam hal ini boanpwee mengharap petunjuk sianseng."
Mendengar ini, timbul harapannya see Tok. "Bagus, bagus" serunya. Hanya sejenak, ia terus menghela napas. Kemudian ia berkata: "Keponakanku telah terbinasa di tangan Oey Yok su dan orang-orang Coan Cin Pay, dengan begitu Pek To san menjadi tidak ada ahli warisnya lagi. Aku pikir baiklah aku ambil kau sebagai muridku."
Yo Kang girang bukan main. Inilah justru harapannya. Tidak ayal lagi, ia berlutut di hadapan see Tok, untuk paykui.
Tin ok menyesal dan mendongkol bukan main. "Dia turunan baik-baik, mengapa sekarang dia mengakui musuh sebagai ayahnya?" pikirnya. "sudah begitu, mengapa dia juga mengangkat orang jahat sebagai gurunya? Dia tenggelam semakin dalam, mungkin tidak ada harapan untuk ia berbalik pikir."
Melihat putranya mengangkat guru, Wanyen Lieh berkata: "Di sini di tanah asing tidak dapat disediakan hadiah untuk upacara mengangkat guru ini, baiklah ditunda sampai lain hari."
Auwyang Hong tertawa dan berkata. "Tentang barang permata, di Pek To San telah tersedia cukup, Auwyang Hong cuma mengharap bakat baik dari anak ini, supaya dia menjadi ahli warisku yang berarti."
"Sianseng, maaf," berkata Wanyen Lieh.
Nio Cu ong beramai lantas memberi selamat kepada Auwyang Hong, Yo Kang dan pangeran Kim. yang pertama karena mendapat murid, yang kedua karena mendapat guru, dan yang ketiga karena putranya mendapat guru pandai.
"Tengah ramai mereka memberi selamat, mereka mendengar seorang berkata-kata nyaring: "Sa Kouw sudah lapar sa Kouw sudah lapar sekali Kenapa aku tidak diberi makan?"
Kwa Tin ok mendengar suara itu yang ia mengenalinya, ia menjadi heran. "Kenapa anak itu berada bersama Wanyen Lieh dan Auwyang Hong?" pikirnya.
"Benar" terdengar suara Yo Kang, yang tertawa. "Lekas cari makanan untuk si nona, jangan bikin ia kelaparan hingga nanti sakit"
Tidak lama setelah suara pangeran muda itu, sa Kouw terdengar sudah mulai memakan apa-apa sembari makan maka terdengar pula suaranya.
"Saudara yang baik, kau bilang hendak mengajak aku pulang, kau minta aku selalu mendengar perkataanmu, tetapi kenapa sampai sekarang aku masih belum sampai di rumahku?"
"Besok kita akan sampai di rumahmu," kata Yo Kang. "Sekarang kau dahar biar kenyang dan lantas tidur baik-baik,"
Sa Kouw berdiam, hanya sebentar. "Saudara yang baik," katanya pula, "suara apa itu di atas menara?"
"Kalau bukan burung tentulah tikus," sahut si pangeran muda.
"Aku takut," kata si nona tolol.
"Ah, nona tolol, takut apa?" Yo Kang berkata tertawa.
"Aku takut setan" sahut si nona.
"Di sini banyak orang, mana setan berani datang ke mari?" bilang pangeran muda itu.
Tin ok mendengar nyata, suara Yo Kang sedikit menggetar dan tertawanya pun tidak wajar.
"Aku takut setannya si kate dan gemuk itu," berkata si nona pula.
"Hus, jangan ngaco belo" kata Yo Kang, kembali tertawa.
"Apa sih si kate gemuk? Buat apa kau menyebut nyebut"
"Hm, jangan kau kira tidak tahu" berkata sa Kouw "si kate gemuk itu mati di kuburan nenekku maka arwah nenek bisa mengusir dia pergi dari pekuburan, untuk melarang dia tinggal di kuburan, setelah diusir, dia nanti pergi mencari kau"
"Tutup mulut" Yo Kang membentak. " Kalau kau terus banyak bacot, nanti aku panggil kakekmu, biar dia nanti membawa kau kembali ke Tho Hoa To" Ancaman itu rupanya memakan, sa Kouw lantas menutup mulutnya.
"Hai, kau menginjak kakiku" tiba-tiba see Thong Thian membentak. Rupanya si tolol, karena takutnya kepada setan, telah menggerakkan kakinya.
Tin ok segera berpikir. la percaya dengan si kate gemuk itu tentulah dimaksudkan Han Pe Kie, saudaranya yang nomor tiga. Saudara itu terbinasa di Tho Hoa To, terang dia dibunuh Oey Yok su, maka kenapa setannya hendak mencari Yo Kang? la heran.
Sa Kouw memang tolol tetapi kata-katanya itu mesti ada sebabnya, itu bukan ocehan belaka. Karena di situ ada banyak musuh, biarnya ia hendak menanyakan si nona tolol, tidak dapat ia melakukannya. Lalu ia ingat kata-kata Oey Yok su selama di Yan le Lauw bahwa dia adalah manusia macam apa dan bagaimana dia bisa sependapat dengan mereka.
"Oey Yok su tidak mau membunuhku, maka bagaimana dia dapat membunuh kelima saudaraku? Kalau bukan oey Yok su yang membunuhnya, kenapa adik yang nomor empat membilang dia melihat sendiri Oey Yok su membunuh saudaraku yang nomor dua dan nomor tujuh?"
Tengah ia berpikir, Tin ok merasa oey Yong menarik tangan kirinya dan di telapak tangannya lantas mencoret beberapa huruf, mulanya huruf "kiu" = minta, lalu yang lain: "satu hal." la lantas membalas dengan menuliskan pertanyaan: "urusan apa itu?" oey Yong menulis pula: "Membilangi ayahku siapa membunuh aku."
Mengetahui pertanyaan itu, Tin ok melengak. la tidak mengerti maksud si nona. sedangkan ia berpikir, Ia merasakan angin bergerak di sisinya, lalu oey Yong lompat keluar dari tempat sembunyi, sambil tertawa, nona itu berkata
"Auwyang Peehu, kau baik?"
Mendengar suara orang, Nio Cu ong semua terkejut, dengan serentak mereka menghunus senjata masing-masing, lantas mengambil sikap mengurung. Di antaranya ada yang berseru:
"siapa kau?"
Oey Yong tidak takut, ia bahkan tertawa terus. "Ayahku menitahkan menanti Auwyang Peehu di sini" katanya keras.
"Perlu apa kamu membikin banyak berisik tidak karuan?" Auwyang Hong tertawa.
"Bagaimana ayahmu ketahui aku bakal tiba di sini?" ia menanya.
"Ayahku mengerti ilmu bintang dan meramalkan tidak ada apa-apa yang ia tidak tahu," menyahut si nona. "Asal dia menghitung-hitung menuruti ilmu hitung Bun ong Kwa lantas dia tahu segalanya."
Auwyang Hong tidak menanyakan lagi, meski ia hanya percaya satu bagian dari perkataan si nona dan tidak mempercayainya yang sembilan bagian. See Thong Thian sendiri berlaku cerdik. Ia sudah lantas pergi ke luar kuil, kekelilingan, memeriksa, habis itu, ia masuk kembali dengan hati lega. Ia tidak mendapatkan kawan si nona. Sesudah menyimpan senjata masing-masing, orang merubungi Wanyen Lieh.
Oey Yong menghampiri tempat duduk. untuk bersila di situ. "Auwyang Peehu, kau membikin ayahku bersengsara" katanya, tertawa.
Auwyang Hong tidak menyahut. Ia tahu bocah ini lihay mulutnya, kalau ia salah omong, di depan orang banyak bisa mendapat malu. Maka ia menantikan perkataan lebih jauh dari si nona.
"Auwyang Peehu," berkata pula oey Yong. "Ayahku telah terkurung imam-imam dari Coan cin Kauw di dusun Sinteng-tin di Siauw Hong Lay, jikalau kau tidak menolong, dia sukar meloloskan dirinya."
See Tok bersenyum. "Mana bisa jadi" katanya.
"Enak sekali kau bicara, Auwyang Peehu" berkata pula si nona. "Seorang laki-laki, dia berbuat, dia bertanggung jawab. Terang-terang kaulah yang membinasakan Tam cie Hian, si imam dari Coan cin Kauw, entah kenapa sekarang kawanan imam telah menggerembengi ayahku. Sudah begitu muncul juga Loo Boan Tong ciu Pek Thong, yang mengacau. Ayahku tidak mau mengaku atau menyangkal semua itu, maka juga, habis bagaimana?"
Dalam hatinya, Auwyang Hong girang. Tapi ia kata, "Ayahmu lihay sekali, apa yang mereka bisa bikin itu beberapa bulu campur aduk?"
Sengaja See Tok menyebut imam-imam dari coan cin Kauw itu sebagai "bulu campur aduk".
"Tetapi ayahku juga bukan menghendaki kau datang sendiri untuk membantu padanya," berkata pula si nona, "Hanya ayah menyuruhku menyampaikan kepada kau bahwa setelah ia memikirkan susah payah selama tujuh hari dan tujuh malam, ia telah berhasil dengan pemahamannya. Ini mengenai sebuah kata-kata"
"Apakah itu?" Auwyang I Hong tanya.
Oey Yong menyahut. Ia membacakan serintasan kata-kata Sansekerta. Kwa Tin ok dan Wanyen Lieh serta rombongannya tidak mengerti ucapan si nona itu, sebaliknya Auwyang Hong menjadi terkejut.
"Benarkah Oey Yok su berhasil memahamkan bagian terakhir dari Kiu Im Cin-keng" pikirnya. Tapi karena ia seorang berpengalaman, ia tidak mengasih kentara akan kagetnya itu. Ia malah berlagak tenang.
"Bocah cilik, kau gemar mendustai orang" katanya. "Kau ngaco belo, siapakah yang mengerti?"
"Ayahku telah berhasil menyalin semuanya, aku melihatnya sendiri," kata Oey Yong. "siapa mendustai kau?"
Auwyang Hong tergoncang ketenangan hatinya. Ia tahu Oey Yok su sangat cerdas. Memang orang yang dapat memahami Kiu Im Cin-keng cuma si sesat dari Timur itu, tidak ada orang lain lagi.
"Kalau begitu, hendak aku memberi selamat kepada ayahmu" katanya. Ia tetap berlaku tenang.
Oey Yong bisa menduga kesangsian orang. Ia berkata pula, "Aku telah melihat terjemahan itu, sekarang aku masih mengingatnya. Tidak ada halangannya untuk aku membacakan mengasih kau dengar" Benar-¬benar ia membacakan: "Kalau tubuh bergerak, kalau tubuh berat seperti ketindihan barang, atau kalau tubuh enteng seperti hendak terbang, atau tubuh terikat, atau panas atau dingin, atau girang atau bergelisah, atau kaget, atau sangat girang dan mabuk. semua itu harus disalurkan menurut ilmu yang di bawah ini, guna memperoleh ketenangan dan menjadi sempurna"
Auwyang Hong sangat tertarik. Memang ilmu itu mesti didapat secara tenang, kalau tidak, orang bisa tersesat dan menghadapi akibat yang membahayakan. Ia tidak tahu si nona menyebutkan terjemahannya It Teng Taysu jadi Kiu Im Cin-keng yang tulen, ia hanya percaya itu sebab ia menganggap masuk di akal.
"Habis bagaimana sadurannya?" ia bertanya.
"Bagaimana bawahnya itu aku lupa," berkata si nona.
Auwyang Hong bersangsi. Ia tahu nona ini sangat cerdik, tidak mungkin dia lupa. Ia mau percaya orang mendustainya. Maka ia memikirkan, kenapa si nona menyebut-nyebut bunyinya kitab itu.
"Ayah menyuruh menanya kau, Auwyang Peehu," kata Oey Yong pula. "Kau menghendaki lima ribu huruf atau tiga ribu?"
"Coba kau menjelaskan dulu," menjawab see Tok.
"Jikalau kau suka membantu ayah hingga kamu berdua bersama memusnahkan Coan Cin Kauw, maka semua lima ribu huruf dari Kiu Im Cin-keng akan aku baca habis untuk kau mendengarkannya."
Auwyang Hong bersenyum. "Jikalau aku tidak suka membantu ayahmu?"
"Maka ayah mau minta kau tolong membalaskan sakit hatinya saja. setelah kau membinasakan Coan cin Liok Cu beserta Ciu Pek Thong, akan aku membacakan yang tiga ribu huruf itu."
See Tok tertawa. "Sebenarnya perhubungan ayahmu denganku tidak erat, mengapa sekarang dia begini menghargaiku?" ia bertanya.
"Ayah membilang, pertama-tama, yang membinasakan keponakanmu itu ialah muridnya Coan Cin cit Cu, maka ayah pikir kau tentunya akan membalaskan sakit hatinya"
Yo Kang menggigil sendirinya mendengar perkataan si nona. Ialah muridnya Khu Cie Kie. Jadi si nona pasti maksudkan dia.
"Eh, saudara yang baik, kau kedinginan?" tanya sa Kouw kepada pangeran muda itu. Ia melihat tubuh orang bergemetaran. Yo Kang menyahut sembarangan saja.
"Kedua," berkata pula Oey Yong. "Setelah berhasil memahamkan kitab, ayah lantas bertempur sama kawanan imam itu, ia belum sempat menjelaskan semua. Kitab itu kitab aneh dan langka, mana dapat dibikin lenyap? sekarang cuma kau seorang yang tabiatnya mirip ayahku, maka ayah ingin mewariskannya padamu, nanti baru kau mengajari aku."
"Kata-kata ini dapat dipercaya," Auwyang Hong pikir. "Tanpa penjelasan, biar budak ini sangat cerdas, tidak nanti dia dapat menangkap artinya kitab itu." Tapi ia mengutarakan kesangsiannya. Ia berkata:
"Mana aku ketahui kau membacakan yang asli atau yang palsu?"
"Kwee Ceng si tolol telah mengasihkan kitab yang tertulis," berkata si nona, "Maka kalau kau mengakurkannya dengan apa yang aku bacakan, kau bakal mengetahui tulen atau palsunya."
"Kau benar juga. sekarang kau memberi kesempatan untuk aku beristirahat, besok aku nanti pergi menolong ayahmu," berkata Auwyang Hong.
Oey Yong tidak mau mengerti. "Menolong orang kesusahan seperti menolong orang kebakaran, bagaimana kau bisa menanti sampai besok?"
"Kalau begitu, nanti saja aku membalaskan sakit hati ayahmu? sama bukan?"
See Tok tertawa. Ia telah berpikir, di mana kitab sudah ada di tangannya, ia tinggal memaksa saja si nona memberikan penjelasan kepadanya, nanti ia akan mendapat mengerti sendiri. Bukankah bagus ia membiarkan Oey Yok su dan Coan Cin Kauw bertempur mati-matian?
Kwa Tin ok memasang kuping. Orang membicarakan melulu soal kitab, ia tidak mengerti. Ia pun heran untuk tulisan Oey Yong di telapak tangannya: "Bilangi ayahku siapa yang membunuh aku."
Lalu terdengar suara oey Yong pula: "Bagaimana kalau kau pergi besok pagi-pagi? Dapatkah?" si nona agak kewalahan.
"Tentu" see Tok tertawa. "Sekarang kau beristirahatlah"
Oey Yong menurut, akan tetapi ia mendekati sa Kouw. "Eh, sa Kouw ayahku membawa kau ke Tho Hoa To, kenapa sekarang kau ada di sini?" ia bertanya.
"Aku tidak suka berdiam di Tho Hoa To, aku hendak pulang ke rumah sendiri," menyahut si tolol.
"Bukankah ini saudara she Yo yang telah pergi ke Tho Hoa To dan lalu membawa kau pergi? Benar bukan?" oey Yong bertanya lagi.
"Benar. Dia benar-benar seorang baik hati"
Kwa Tin ok mendengar itu Ia heran. "Kapan Yo Kang pergi ke Tho Hoa To?" ia tanya dirinya sendiri.
"Habis, ke mana perginya ayahku?" Oey Yong bertanya.
Sa Kouw nampak kaget. "Jangan membilangi aku buron, ya?" katanya. "Kakek bakal menghajar aku."
"Aku tidak akan memberitahukan," kata oey Yong tertawa. "Cuma hendak aku menanya kau dan kau harus menjawabnya dengan baik."
"Kau jangan membilangi kakek. ya. Kakek hendak menangkap aku, buat dibawa pulang. Dia mau mengajari surat padaku."
"Tentu aku tidak memberitahukan" kata oey Yong tertawa pula. "Kau bilang kakek mau mengajari surat?"
"Benar. Hari itu di kamar tulis kakek mengajari aku menulis surat. Pula aku diberitahu bahwa ayahku orang she Kiok dan namanya entah apa Hong. Benar-¬benar aku sukar mengingatnya, lantas kakek gusar, dia mengatakan aku tolol hebat sekali. Aku memang juga dipanggil sa Kouw"
"Sa Kouw memang tolol," kata Oey Yong tertawa manis. "Ayah memaki kau, itu keliru" Sa Kouw senang mendengar perkataan nona ini. "Bagaimana kemudiannya?"
"Aku mengasih tahu niatku ingin pulang, kakek jadi semakin gusar, selagi begitu, satu budak gagu datang masuk. Ia bicara sama kakek, tangannya digerak-¬gerakkan. Kakek kata, 'Aku tidak mau menemui tetamu, suruh mereka pergi kembali' Budak itu mengundurkan diri, tapi sebentar lagi ia kembali sambil membawa sepotong kertas. Kemudian kakek melihat itu, ia lantas menitahkan aku ikut si gagu menyambut sekalian tetamunya. Aku melihat si kate gemuk itu, muak aku melihatnya. Aku mendelik terhadapnya, dia mendelik terhadapku."
Tin ok membayangkan halnya hari itu ia dan saudara-¬saudaranya berkunjung ke Tho Hoa To. Keterangan nona tolol ini cocok sama keadaan waktu itu. Mulanya mereka ditolak, setelah Cu Cong menulis surat, mereka diterima. Memang benar, Sa Kouw yang menyambut mereka. Hanya sekarang Han Po Kie telah tidak ada bersama ia, ia menjadi sedih.
"Apakah kakekmu menemui mereka?" oey Yong bertanya lagi.
"Kakek memerintah aku menemani mereka bersantap. Kakek sendiri mengundurkan diri. Aku tak senang melihat si kate gemuk itu, diam-diam aku meninggalkan mereka. Aku melihat kakek di belakang, lagi duduk di batu mengawasi laut. Aku pun turut memandangnya. Di sana nampak sebuah perahu layar lagi mendatangi. Yang duduk diperahu itu ialah bangsa imam."
Kwa Tin ok berpikir: "Hari itu kami mendengar kabar Coan cin Pay bakal menyatroni Tho Hoa To untuk menuntut balas, kami lantas mendahului datang guna mengasih kisikan, buat minta dia suka menyingkir untuk sementara waktu, supaya kami yang menemui pihak Coan cin Pay guna memberikan penjelasan, hanya di pulau itu kami tidak mendapatkan orang-orang coan Cin Kauw itu Kenapa sekarang sa Kouw membilang hal tibanya imam-imam yang naik perahu?"
"Bagaimana dengan kakek?"
"Kakek menggapaikan aku. Aku kaget. Aku mengira kakek tidak tahu aku meninggalkan tetamu. Aku takut menghampiri kakek. aku khawatir nanti dihajar. Kakek berkata, 'Aku tidak pukul dirimu kau ke mari.' Aku menghampiri. Kakek lantas membilangi aku dia mau pergi mancing dengan naik perahu, maka dia memesan kalau kawanan imam itu mendarat, aku mesti menyambut mereka, untuk mengajak mereka masuk dan bersantap bersama-sama rombongan si kate gemuk itu. Aku bilang bahwa akupun ingin pergi mancing. Lantas air mukanya kakek menjadi guram. Terpaksa aku diam saja."
"Kemudian lagi, bagaimana?"
"Kakek pergi ke belakang mengambil perahunya. Aku mendapat kenyataan, wajah semua imam itu tak sedap dipandang, pantas kakek tidak sudi menemui mereka."
"Benar, benar apa yang kau bilang. Kapan kembalinya kakek?"
"Apa, kembali? Dia tidak pulang lagi."
Tin ok terkejut hingga tubuhnya bergerak.
"Apakah kau tidak salah ingat? Kemudian lagi bagaimana?" oey Yong menanya, suaranya rada bergemetar.
"Selagi kakek hendak melayarkan perahunya untuk berangkat, mendadak datang sepasang burung besar. Itu sepasang burungmu. Kakek menggapai kepada kedua burung itu. Mereka terbang turun. Ada yang diikat di kaki burung, bagus barang itu. Aku teriaki kakek: "Kakek, kakek kasih aku" selagi mengucap itu, benar-benar sa Kouw berteriak-teriak.
"sudah, jangan omong saja" Yo Kang membentak. " orang mau tidur"
"Jangan perdulikan dia," berkata Oey Yong. "Kau omong terus."
"Aku akan bicara perlahan," kata si tolol. Dan ia benar memperlahankan suaranya. "Kakek tidak meladeni aku, dia menyobek ujung bajunya, dia ikat itu di kaki burung, yang dia lantas lepaskan pergi pula."
Oey Yong berpikiri "Ayah hendak menyingkir dari Coan Cin cit Cu, pantas dia tidak sempat mengambil ikan emas. Hanya panah di tubuh burungku yang jantan, siapakah yang memanahnya?" Maka ia lantas menanya:
"Siapakah yang memanah burung itu?"
"Memanah burung? Tidak." selagi mengatakan itu, si tolol melongo.
"Baik. Nah, kau cerita terus."
"Melihat bajunya robek. kakek menyuruh aku pulang untuk mengambil sepotong yang lain. Ketika kemudian aku kembali bersama baju, kakek sudah tidak ada. Perahu kawanan imam juga tidak nampak. Cuma baju robek itu ditinggalkan di tanah."
Oey Yong tidak menanya lagi, ia berdiam. "Ke mana perginya mereka?" katanya selang sekian lama.
"Aku melihatnya. Mulanya aku memanggil-manggil kakek. dia tidak menyahut. Lantas aku naik ke atas pohon, memandang ke laut. Aku melihat perahu kakek di depan perahu si imam. Perahu kakek kecil, perahu si imam besar. Perlahan-lahan kedua perahu itu tak terlihat lagi. Aku tidak sudi melihat si kate gemuk. aku terus berdiam di tepi laut main-¬main menendangi batu. Sampai hari sudah malam baru aku pulang dengan mengajak kakek serta saudara ini yang baik," Ia menunjuk Auwyang Hong dan Yo Kang.
"Jadi kakek ini, bukan kakek yang mengajari kau surat?" Oey Yong menegaskan.
Sa Kouw tertawa. "Ya, kakek ini baik sekali," sahutnya. "Dia tidak mau mengajari aku surat, dia bahkan membagi aku kue, Eh, kakek. kuemu masih ada atau tidak?"
"Ada" sahut Auwyang Hong sambil tertawa menyeringai. "Ini aku bagi pula padamu"
Hati Kwa Tin ok seperti melonjak. Kiranya hari itu Auwyang Hong berada di pulau Tho Hoa To. Saat itu sa Kouw menjerit keras, menyusul terdengar bentrokan tangan dua kali, tanda dari satu pertempuran, sebagaimana nampak tubuh orang berlompatan.
“Kau hendak membunuh dia untuk menutup mulutnya? Baiklah kau bunuh dulu diriku"
Auwyang Hong tertawa, dia berkata: "Urusan ini dapat dikilangi untuk orang luar, tidak ayahmu, maka perlu apa aku membunuh dia? Jikalau kau hendak menanyakannya, pergilah kau menanya sepuasnya"
Sa Kouw merintih-rintih kesakitan tidak dapat ia bicara. Entah ia telah ditotok jalan darah apanya oleh seeTok. siBisa dari Barat.
"Tidak usah aku menanyakan dia, telah dapat aku menduganya," kata oey Yong. "Aku cuma menghendaki dia mengucapkannya sendiri"
"Budak perempuan, kau sangat cerdik" kata Auwyang Hong tertawa. "Kenapa kau dapat menduga itu? Coba kau jelaskan."
"Ketika pertama kali aku melihat keadaan pulauku," menyahut si nona mengasih keterangan, "Aku juga menyangka adalah ayahku yang membinasakan Kang Lam Ngo Koay. Baru kemudian, setelah memikirkannya, aku mendapat anggapan lain. Coba kau pikir, cara bagaimana ayahku dapat membiarkan mayat semua orang busuk itu berada di kuburan untuk menemani ibuku? Lagi pula mana bisa jadi ayahku keluar dari kuburan tanpa mengunci lagi pintunya?"
Auwyang Hong menepuk pahanya. "Ah, benar, itu kealpaanku" serunya. "Anak Kang, benar bukan?"
Mendengar sampai di situ, Tin ok merasa hatinya mau meledak. Sekarang baru ia mengerti kiranya sejak siang-siang Oey Yong telah menduga si pembunuh adalah Auwyang Hong, si Bisa dari Barat yang kejam ini serta Yo Kang. si nona bermaksud baik, Ia sendiri yang menyangka keliru .Jadi nona ini barusan keluar dari tempatnya sembunyi melulu untuk membeber duduknya hal guna membersihkan ayahnya. Itu perbuatan berbahaya sekali. Ia menduga, suratnya si nona adalah untuk ia nanti memberitahukan ayahnya, Oey Yok su, tentang orang yang membunuh padanya andaikata nona itu menemui bencana. Maka ia jadi sangat berduka dan menyesal.
"Ah, nona, nona," ia mengeluh di dalam hatinya, "Bukankah cukup jikalau kau memberitahukan aku siapa pembunuh semua saudaraku itu? Kenapa kau bertindak begini rupa?" Kemudian ia ingat tabiatnya sendiri. Pikirnya lagi: "Aku Hui Thian Pian-hok, kenapa aku sangat sembrono? Kenapa aku berkukuh menuduh ayah dan putrinya? Memang, kalau ia memberi keterangan padaku, mana bisa aku gampang mempercayainya? Kwa Tin ok. oh Kwa Tin ok, kau pantas dihukum picis si buta yang busuk. Kau memaksa si nona kepada kebinasaannya "
Dalam sengitnya, Tin ok hendak menghajar dirinya sendiri. Baiklah ia lantas mendengar lagi suaranya Auwyang Hong, yang menanya si nona:
"Bagaimana caranya kau menduga padaku?"
"Tidaklah sukar menerkamu" menjawab si nona. "Menghajar mati kuda dan mematahkan dacin, itu perbuatan yang di jaman ini cuma dapat dilakukan beberapa gelintir manusia. Hanya mula-mula aku masih menduga orang lain. Ketika Lam Hie Jin hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dengan jari tangannya ia masih dapat mencoret beberapa huruf di tanah, 'Yang membunuh aku ialah' Huruf yang terakhir ini tidak keburu menuliskan lengkap. baru pada bagian sampingnya, yang merupakan huruf 'sip' yang berarti 'sepuluh'. Aku pikirkan huruf belum lengkap itu. she namamu tidak memakai permulaan huruf sip itu, maka aku menduga kepada Khiu Cian Jin"
Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak. "Hebat Lam Hie Jin" katanya. "Dia dapat menanti hingga tibamu"
"Aku melihat keadaan sewaktu dia mau mati itu, aku menduga dia terkena racun." Oey Yong berkata lagi. "Karena ini, aku menduga keras kepada orang she Khiu itu. Bukankah Tiat Ciang Pang memelihara banyak kodok dan ular berbisa?"
See Tok tertawa lagi. "Tiat Ciang Pang memelihara banyak binatang berbisa tetapi tidak ada yang luar biasa," ia berkata. "Ketika Lam Hie Jin mau mati, bukankah dari mulutnya keluar suara tetapi tanpa dapat bicara? Bukankah ia mati dengan wajah tertawa?"
"Benar sebenarnya dia terkena racun apa?"
Auwyang Hong tidak menjawab, hanya ia menanya lagi: "Bukankah tubuhnya meringkuk dan dia bergulingan di tanah, tenaganya besar luar biasa? Benar tidak?"
"Benar Bisa semacam itu, aku pikir, kecuali Tiat Ciang pang, lain orang tidak memilikinya"
Kata-kata yang terakhir ini adalah pancingan membangkitkan kemarahan. Auwyang Hong menginsyafi itu tetapi ia tidak dapat menahan meledaknya kemurkaan. Ia berseru dalam kemurkaannya itu:
"Orang menyebutnya aku si bisa bangkotan, apakah itu panggilan kosong belaka?" Ia mengetok lantai dengan tongkat ularnya. Ia berkata lagi dengan nyaring: "Itulah ular di tongkatku ini yang menggigitnya dan lidahnyalah yang dicatok. Karena itu, tubuh dia menjadi tidak meninggalkan bekas dan dia tidak dapat bicara"
Tin ok merasakan sesak dadanya hingga hampir ia pingsan. Oey Yong mendengar suara di belakang patung, ia dapat menduga, maka ia lantas batuk-batuk guna menyamarkan suara itu, kemudian ia berkata pula dengan sabar:
"Ketika itu kau telah berhasil membinasakan lima anggota dari Kanglam Cit Koay, yang lolos hanya Kwa Tin ok seorang, yang kedua matanya buta, maka itu menjadi tidak ketahuan siapa yang melakukan pembunuhan hebat itu"
Tin ok mendengar perkataan ini, ia mengerti kata-¬kata itu ditujukan kepadanya. Ia pikir "Ia mengisiki aku untuk jangan sembarang bergerak. supaya kita berdua tak usah mati secara gelap"
Auwyang Hong berkata sambil tertawa kering: "Apakah seorang buta dapat lolos dari tanganku? Hm Memang sengaja aku meloloskannya"
"Kau benar Kau membunuh yang lima, kau sengaja membikin dia percaya ayahkulah yang membunuh supaya dia mengoarkannya, supaya nanti semua orang gagah datang mengepung ayahku" Lagi-lagi Auwyang Hong tertawa.
"Itu bukan pikiranku tapi pikiran anak Kang, Benar bukan, anak?" Yo Kang menyahuti seperti tadi, sepintas lalu.
"Sungguh suatu pikiran yang bagus luar biasa" berkata Oey Yong. "Aku kagum sekali" Tentu saja pujian ejekan.
"Kita bicara balik lagi," kata Auwyang Hong. "Bagaimana maka kemudian kau dapat menduga aku?"
"Aku pikir Khiu Cian Jin itu pernah bertempur denganku di selatan Liang ouw. Dalam keadaan biasa, memang dapat dia mendahului aku tiba di Tho Hoa To, akan tetapi aku mempunyai kuda merahku, tidak mungkin dia dapat melawan kudaku. Lalu aku ingat suara Cu Cong. Di situ ia memesan untuk berjaga-¬jaga. Ia pun belum menulis lengkap. Huruf yang tidak lengkap itu dapat diteruskan menjadi 'Tong'. Dapat juga dijadikan 'see'. Maka, kalau bukan Tong shia tentulah see Tok. Selama di Tho Hoa To telah aku dapat memikir itu hanya aku belum dapat memastikannya sebab masih ada beberapa hal lainnya."
Auwyang Hong menghela napas. "Aku kira telah menjabit rapat sekali, tidak tahunya masih ada yang bolong," katanya. "si pelajar dekil itu sangat sebat, aku tidak melihat dia menulis surat."
"Dia digelarkan Biauw ciu sie-seng, si pelajar Tangan Lihay, pasti sekali dia menulis tanpa memberi kesempatan kau melihatnya. Aku telah memikirkan keras huruf 'sip' dari Lam Hie Jin itu Karena aku mendengar kabar yang ini saudara Yo telah terkena racun dan mati, sama sekali aku tidak pernah memikirkan dia."
Yo Kang heran. "Kenapa kau ketahui aku terkena racun dan mati?" ia tanya. "siapa yang memberitahukan itu padamu? "
"Banyak sekali hal-hal yang aku ketahui" menjawab si nona. "Hari itu aku berada sendirian di pulau Tho Hoa To, aku tidur tanpa merasa, aku sadar, aku tidur lagi, aku sadar lagi, masih aku tidak dapat menerka. Selama tidur itu, aku pun banyak mimpi, dan didalam mimpiku, aku melihat banyak orang. Akhirnya aku mimpi melihat enci Bok. Aku mimpikan dia di Pakhia di sana dia mengadu ilmu silat untuk merangkapi jodohnya. Mimpi sampai di situ aku sadar dengan kaget, hingga aku berlompat bangun waktu itu baru aku tahu si pembunuh itu ialah, kau"
Kata-kata itu cepat dan tajam, Yo Kang mengeluarkan peluh dingin tanpa ia merasa. Ia mencoba menentramkan diri dengan memaksa tertawa.
"Mustahilkah Bok Liam cu mengasih mimpi kepadamu?" katanya.
"Memang Tanpa impian itu, mana aku ingat kau" menjawab si nona. "Nah, mana sepatumu yang kecil mungil yang bertabur batu permata?"
Yo Kang kaget hingga ia melengak. "Bagaimana kau ketahui itu?" serunya. "Kembalikan Bok Liam cu yang mengasih impian padamu?"
"Buat apa menyebutkan itu lagi" si nona membaliki sambil tertawa dingin, "Ketika kau telah membunuh cu cong, kau masukkan barang-barang permata ibuku ke dalam saku korbanmu, supaya kalau orang luar melihatnya, mereka bisa menyangka dia telah dipergoki ayahku dan karenanya dia menerima kebinasaannya Ini tipu daya keji memang bagus sekali, hanya kau telah melupakan satu hal, yaitu gelaran cu cong, ialah Biauw ciu Sie-seng, si Pelajar Tangan lihay"
Auwyang Hong pintar sekali akan tetapi ia tidak dapat mengerti maksud perkataan nona itu.
"Kalau dia Biauw Ciu sie-seng, habis bagaimana?" tanyanya heran.
"Hm" menyahut nona itu. "saudara Yo cuma tahu menjejalkan permata ke saku orang, dia tidak tahu Cu Cong pun telah mengambil permata dari sakunya sendiri"
"Barang permata apakah itu?" tanya Auwyang Hong masih heran.
"Di dalam ilmu silat Cu Cong memang kalah daripada kau," oey Yong menerangkan, "Tetapi dia pun seorang lihay, di saat tarikan napasnya yang penghabisan, dia telah mengambil barang, dan dia genggam di tangannya. Tentu sekali kamu tidak dapat ketahui itu, tidak dari bermula hingga di akhirnya .Jika bukan karena adanya permata itu pastilah aku tidak menyangka yang paduka pangeran yang muda ini sudah mati tetapi hidup lagi dan bahkan berkunjung ke pulau Tho Hoa To"
"Sungguh menarik" Auwyang Hong tertawa. "sungguh lihay Biauw Ciu sie-seng. Dia telah kehilangan jiwanya tetapi dia dapat meninggalkan bukti. Kalau begitu, barang yang dia ambil itu mestinya sepatu yang kau sebutkan itu"
"Tidak salah Barang-barang permata ibuku yang disimpan di dalam kuburannya, aku telah melihatnya semenjak aku kecil, aku ingat dan mengenali semuanya, hanya ini sepatu mungil belum pernah aku melihatnya. Cu Cong menggenggam ini erat-erat, mesti ada sebabnya. Pula sepatu ini ada ukiran hurufnya, yang dasarnya huruf Pie yang di baliknya huruf Ciauw. Lama aku pikirkan artinya kedua huruf itu, tidak dapat aku jawabannya, maka ketika malam itu aku bermimpi, memimpikan enci Bok menjual silat di kota Pakhia dengan dia memancar bendera yang bersulamkan empat huruf Pie Bu Ciauw Cin, baru aku ingat dan sadar, baru aku mengerti Bukankah Pie Bu Ciauw Cin itu berarti mengadu silat untuk mengamproki jodoh? Bukankah kedua huruf Pie dan ciauw diambil dari empat huruf itu?"
Auwyang Hong tertawa bergelak. "Sepatu ini mempunyai riwayat asmara demikian bagus. Ha ha Ha ha"
see Tok tertawa berulang-ulang, agaknya dia sangat gembira, sebaliknya Kwa Tin ok, kemurkaannya tidak terkira-kirakan. Ia menjadi mendapat tahu semakin jelas nasib saudara-¬saudaranya, lelakon yang hebat dan menyedihkan sekali dipulau Tho Hoa To.. Ia hanya heran mengapa oey Yong dapat menerka demikian jitu.
Putri oey Yok su percaya Tin ok masih belum mengerti jelas, maka ia sengaja berkata laGI. Tapi sebab Tin ok lagi bersembunyi, ia menjelaskannya kepada Auwyang Hong, yang juga tentunya masih bingung. Ia berkata
"Ketika itu enci Bok mengadakan pertunjukan silat, buat mengadu kepandaian untuk mencari jodoh, maka paduka pangeran yang muda telah turun ke dalam gelanggang di mana ia telah memperlihatkan kepandaiannya. Aku berada di tempat itu, aku menyaksikan sendiri pertandingan itu. Akhirnya dalam pertempuran, paduka pangeran yang muda telah merampas sebelah sepatu enci Bok. Itu artinya, dalam pertandingan dialah yang menang. Hanya mengenai perjodoh, urusan menjadi ruwet sekali"
Mendengar keterangan Oey Yong sampai di situ, mereka yang hadir lantas pada berpikir sendiri. Ketika itu saksi-saksi terdiri dari Nio Cu ong dan see Thong Thian. Mereka menjadi teringat akan peristiwa yang telah lewat itu, yang ada hubungannya sama halnya Wanyen Lieh kematian istrinya dan Yo Kang menemui ayahnya.
Oey Yong tidak memperdulikan mereka yang lagi berpikir, ia melanjutkan keterangannya
"Sampai di sini, maka teranglah sudah duduknya perkara. Paduka pangeran yang muda dan enci Bok telah mengikat janji, tanda mata dari pertunangan mereka ialah sepasang sepatu enci Bok, sepatu kumala yang berukiran huruf-huruf Pie Bu Ciauw Cin. Sepatu yang sebelah memakai huruf-huruf Pie dan ciauw, dan yang sebelah lagi tentulah Bu dan cin. Paduka pangeran muda bukankah terkaanku ini tidak salah?" Yo Kang berdiam, tidak dapat ia berbicara.
"Setelah mengerti ini, yang lainnya tak sulit lagi," si nona masih meneruskan. "Han Po Kie terbinasa karena cengkeraman ilmu silat Kiu Im Pek kut Jiauw. Di dalam dunia ini, yang meyakinkan ilmu dahsyat itu cuma Hek Hong siang sat berdua, tetapi dua-duanya sudah mati maka orang luar pastilah lantas mengingat kepada guru mereka, yang mestinya pandai ilmu itu. Guru itu bukan lain daripada Oey Yok su ayahku siapa tahu semasa hidupnya Tiat sie Bwee Tiauw Hong, si Mayat Perunggu, telah mengambil seorang murid yang pandai. Tentang huruf sip yang ditulis Lam Hie Jin huruf tidak lengkap itu pasti diartikan huruf Yo, hanya sungguh aku tidak nyana Kwee Ceng si bocah dungu itu, dia memaksa membilangnya huruf Oey"
Waktu mengucapkan kata-katanya yang terakhir ini, nona itu muram mukanya, tanda ia sangat berduka. Auwyang Hong tertawa pula terbahak dan lama.
"Kalau begitu tidaklah heran Kwee Ceng si bocah itu selama di Yan Ie Lauw mengadu jiwa dengan ayahmu" katanya.
"Memang tipu daya keji kamu ini sangat bagus," kata Oey Yong. "Dan dia, dalam murka dan sedihnya, sukar dapat menerka. Aku juga mulanya menyangka kau telah menawan budak-budak gagu dan memaksa mereka menunjukkan jalan, tetapi hari ini barulah aku ketahui sebenarnya Sa Kouw adalah orang yang mengajak kalian masuk ke dalam. Dalam ini hal tentunya, ini engko Yo telah menjanjikan dia membawa pulang ke Gu-kee-cun. Sa Kouw sangat girang maka ia lantas menuruti saja kata-kata kamu. Sekarang aku mengerti, pasti kamu telah menyembunyikan diri dalam kuburan ibuku, lalu kamu menyuruh mengundang Kanglam Liok Koay datang ke situ. Pasti kamu memakai alasan ayahkulah yang mengundang mereka. Setelah Liok Koay masuk, terang sudah Auwyang Peehu yang menjaga pintu Mana Liok Koay dapat meloloskan diri lagi dari tangan beracun? Ini dia yang dinamakan akan menangkap pie di dalam keranjang." (pie = sejenis kura-kura).
Tin ok merasakan hatinya menggetar. Ia heran dan kagum sekali. Si nona bercerita seperti menyaksikan sendiri peristiwa hebat di liang kubur itu. Di dalam otaknya maka berbayangkan kejadian hari itu.
"Auwyang Peehu," berkata pula oey Yong. "Ketika di tepi laut, kau telah menemukan baju dan topeng ayahku, kau mengenakan itu untuk menyamarkan diri. Di dalam kuburan, cahaya memang remang-remang. Begitu bergebrak, beberapa orang dari Liok Koay telah terluka atau terbinasa. Dalam keadaan seperti itu, maka bisa mereka mengenali baik-baik siapa musuh mereka? Demikian sudah terjadi Lam Hie Jin mengatakan kepada Kwa Tin ok bahwa musuh mereka ialah ayahku. Yang benar ialah Cu Cong dan Coan Kim Hoat terbinasakan di tangan peehu, Han Po Kie dibunuh engko Yo. Dan Han Siauw Eng mati membunuh diri. Kwa Tin ok dan Lam Hie Jin telah mencoba melarikan diri. Mereka bertempur pula di kamar semedhi ayahku, di sana kamu sengaja melepaskan Tin ok satu orang. Ketika Lam Hie Jin mengetahui babwa si penjahat ialah si orang she Yo, ia telah menjadi korbannya racun hingga ia tidak sempat menyelesaikan suratnya."
Auwyang Hong menghela napas. "Eh, budak cilik, dugaanmu lihay sekali," ia berkata, memuji. "Sebenarnya kejadian ada hal yang sangat kebetulan. Itu dasar nasibnya Liok Koay Ketika aku bersama anak Kang pergi ke pulau Tho Hoa To, kami tidak tahu mereka berada juga di pulau itu."
"Nasib Itulah benar" berkata oey Yong. "Kang Lam Cit Koay tersohor namanya, itu disebabkan perbuatan-perbuatan mereka yang mulia. Bicara tentang ilmu silat, dia mana ada di pandangan mata peehu. Maka itu, kalau kamu berdua sampai bertindak demikian rupa, bercapai lelah secara demikian, mesti ada maksud tujuannya."
"Melihat kecerdikan kau, bocah, kau tentu tidak dapat dikelabui" kata Auwyang Hong tertawa.
"Nanti aku menerka," berkata oey Yong, "Kalau aku menerka keliru, harap peehu tidak buat kecil hati. Aku menduga pada permulaannya kamu datang ke Tho Hoa To, kamu mengharap-harap Coan Cin Cit Cu serta ayahku nanti bertarung hebat hingga keduanya terbinasa, supaya kau yang menjadi Pian Chong yang menikam harimau, agar dengan satu kali bergebrak saja, dapat kau memusnahkan Coan Cin Cit Cu dan Tho Hoa To. Sayang kamu datang terlambat satu tindak. ayahku bersama Coan Cin Cit Cu sudah berangkat meninggalkan pulau. Waktu itu engko Yo bicara sama sa Kouw, ia mendapat tahu kehadiran Liok Koay, maka lantas saja kamu berdua menunjukkan kepandaian kalian yang lihay, kamu membunuh lima di antaranya, kamu membuat segalanya seperti mereka terbinasakan ayahku. Kamu juga membunuh habis semua bujang gagu di situ, guna melenyapkan saksi-¬saksi. Dengan begitu bukankah kemudian akan terjadi Ang Cit Kong, Toan Hongya dan yang lainnya nanti membikin susah ayahku? Engko Yo ini cerdik, dia khawatir ayahku nanti keburu pulang lebih dulu dan ayahku mungkin akan melenyapkan segala bukti, maka itu ialah yang mengusulkan supaya Kwa Tin ok dibiarkan lari. Tin ok buta tetapi lidahnya tidak kurang suatu apapun, benar dia tidak dapat melihat, dia dapat ngoceh tidak karuan"
Tin ok menjadi bersedih, gusar dan malu sekali, ia menyesalkan kesembronoannya telah menduga yang tidak-tidak terhadap Oey Yoksu dan putrinya ini.
Auwyang Hong menghela napas. Ia berkata pula saking kagumnya: "Aku sangat mengagumi Oey Laoshia yang telah mempunyai anak dara begini cerdas dan pintar, setiap kata-katanya tepat mengenai ulu hatiku"
Oey Yong tidak bilang apa-apa atas kekaguman see Tok itu, ia hanya bilang: "sekarang ini Kwee Ceng telah kena tipu daya kalian, dia memusuhi aku dan ayah, dia sampai seperti tidak mau hidup bersama kami di dunia ini. Tapi biarkanlah dia. sekarang urusan di antara kita. Kalau besok kau menolong ayahku, apabila keponakanmu masih hidup, ah, pembicaraan dulu tentang perjodohan, tidakkah itu dapat ditimbulkan lagi? "
Auwyang Hong heran. "Mau apa dia menimbulkan urusan perjodohan itu?" pikirnya.
"Sa Kouw," menanya Oey Yong kepada si nona tolol tanpa ia menantikan perkataannya see Tok. "Ini saudara she Yo orang baik sekali, bukan?"
"Benar," menyahut si tolol itu. "Dia hendak membawa aku pulang ke rumahku. Aku tidak suka berdiam di pulau."
"Kau mau pulang, kau hendak bikin apa di rumah?" tanya putri Tong shia. "Di rumahmu itu telah ada orang yang mati, di sana ada setan"
"Oh, ya" berseru si tolol itu. "Benar sekali. Tidak. Aku tidak mau pulang"
"Kau tahu siapa yang membunuh orang yang mati di rumahmu itu?"
"Aku tahu, aku melihatnya sendiri, ialah ini saudara yang baik"
Menyusul perkataan Sa Kouw ini, terdengar dua kali suara nyaring, dari beradu dan jatuhnya dua rupa senjata rahasia, lalu oey Yong tertawa dan berkata
"Engko Yo, biarkanlah dia bicara terus. Kenapa kau menggunakan senjata rahasia untuk mengambil jiwanya?"
"Si tolol ini ngaco belo" berseru Yo Kang, yang barusan menyerang Sa Kouw. "Dia dapat menyebutkan segala omongan yang tidak-tidak"
"Sa Kouw bicara terus" berkata nona Oey kepada si tolol itu. "Kau bicaralah, kakek ini sangat suka mendengarkannya."
"Tidak aku tidak mau bicara," menyahut Sa Kouw. "saudara yang baik ini melarang aku bicara"
"Benar," berkata Yo Kang cepat. "Kau rebahkan dirimu dan tidurlah. Jikalau kau membuka mulut satu kali saja, nanti aku menyuruh setan makan dirimu"
Nona itu ketakutan, ia menyahut, "Ya," berulan-g¬ulang.
Kwa Tin ok mendengar suara seperti orang mengerebongi diri,
"Sa Kouw," berkata Oey Yong, yang tidak berputus asa, "Jikalau kau tidak suka bicara sama aku, untuk menghilangkan saat iseng ini, nanti aku menyuruh kakek membawa kau pergi"
"Tidak, aku tidak mau pergi" kata nona tolol itu.
"Kalau begitu, kau bicaralah. Ini saudaramu yang baik telah membunuh orang di rumahmu. Kau tahu, orang macam apakah yang dia bunuh itu?"
Semua orang menjadi heran. Tidak karu-karuan nona ini bicara dari hal pembunuhan. Akan tetapi Yo Kang, bulu romanya telah bangun berdiri semua. Ia lantas menyiapkan senjata rahasianya. Kalau Sa Kouw membuka rahasia, hingga Auwyang Hong menjadi bercuriga, ia hendak membinasakan si nona. Meski begitu, ia berkata dalam hatinya: "Ketika aku membinasakan Auwyang Kongcu, yang melihatnya cuma tiga orang yaitu Bok Liam Cu, Thia Yauw Kee dan Liok Koan Eng. Mungkinkah rahasiaku ini telah bocor?"
Kuil itu menjadi sunyi sekali. Orang tinggal menanti jawaban Sa Kouw. Kwa Tin ok bahkan menahan napas.
Lewat sekian lama, Sa Kouw tidak terdengar suaranya, hanya terdengar suara napas di hidungnya, tandanya ia sudah tidur. Yo Kang merasa hatinya lega, tetapi telapak tangannya basah, karena kekhawatirannya, disebabkan menggenggam terus senjata rahasia. Ia pikir "Kalau dia dikasih tinggal hidup terus, dia bisa jadi bahaya untukku, maka aku mesti mencari jalan untuk menyingkirkannya "
Pangeran ini melirik Auwyang Hong. Ia mendapatkan See Tok duduk dengan kedua matanya ditutup rapat, mukanya tertuju cahaya rembulan. Dia tenang sekali, dia seperti tidak menghiraukan apapun di sekitarnya.
Selama itu, orang mulai menyangka Oey Yong cuma mengoceh. Dengan Sa Kouw sudah tidur pulas, urusan tadi artinya telah beres. Maka kemudian mereka pada merebahkan diri atau menyender, untuk beristirahat. Di antaranya ada yang lantas meram melek.
Saat kesunyian menguasai kuil itu, mendadak orang dibikin terkejut dengan jeritannya sa Kouw:
"Jangan pelintir tanganku. Aduh. Aduh"
Oey Yong pun segera berteriak-teriak: "Setan setan setan yang kakinya bunting. Sa Kouw Kaulah yang membunuh pemuda yang ganteng, sekarang dia datang mencari kau" Di dalam kesunyian itu, seram suaranya si nona.
"Bukan. Bukan aku yang membunuhnya" menyangkal Sa Kouw dia berteriak-teriak. "Yang membunuhnya ialah saudara yang baik ini"
Belum habis suara si tolol, segera disusul suara bergedebuk dari jatuhnya benda yang berat. Itulah tubuh Yo Kang, yang roboh terguling. sebab dia telah berlompat, dengan tangannya yang hebat dia menyerang batok kepala si nona tolol, tapi oey Yong menghalangnya, dengan tongkat keramatnya, nona ini membuat orang jatuh terbanting
Sekejap itu, kalutlah keadaan. See Thong Thian beramai segera mengurung Oey Yong. Putrinya Oey Yoksu tidak menggubris sikap banyak orang itu, dia menunjuk ke pintu seraya berkata nyaring
"Kongcu yang berkaki buntung, mari masuk ke mari Sa Kouw ada di sini"
Sa Kouw memandang ke arah pintu, ia tidak melihat apapun. Ruang itu gelap. Tapi ia takut setan semenjak kecilnya, ia tetap ketakutan. Maka ia menarik tangan baju Oey Yong.
"Jangan cari aku" ia berkata kepada si setan yang ditunjukkan nona oey. "Yang membunuh ialah ini saudara yang baik, menggunakan tombak besi. Aku melihatnya dari belakang pintu dapur. Jangan cari aku"
Auwyang Hong mendengar itu semua, mendadak ia tertawa terbahak. Adalah di luar dugaannya keponakannya yang ia sayang sebagai mustika itu terbinasa di tangan Yo Kang. Ia percaya Sa Kouw sebab kalau lain orang mendusta, si tolol ini tidak mungkin. Ia berduka berbareng murka sekali. Dengan mata mendelik ia mengawasi pangeran itu dan berkata
"Siauw-ongya, keponakanku itu memang harus mati. Dia telah dibunuh, bagus, bagus"
Suara itu tajam, mengaung di telinga, bahkan kawanan burung gagak menjadi kaget, mereka lantas berbunyi gegaokan, terbang kelabakan. Yo Kang kaget dan jeri sekali. Ia pikir, habislah jiwanya. Ia melirik ke kiri dan kanan, untuk melihat jalan lolos.
Wanyen Lieh juga tidak terkecuali, dia takut bukan main. Ketika suara gagak mulai reda, dia berkata:
"Auwyang sianseng, nona ini tolol, dia mirip orang gila, kenapa sianseng percaya dia? Keponakanmu itu adalah orang undanganku, aku dan anakku sangat menghormatinya, mana bisa tidak ada sebab musabab anakku membunuh dia?"
Auwyang Hong tidak menyahut, hanya tubuhnya mencelat ke arah Sa Kouw, tangan kirinya mencekuk lengan nona tolol itu.
"Karena apa dia membunuh keponakanku?" tanyanya bengis. " Lekas bilang?" Sa Kouw kaget, dia ketakutan.
"Bukan aku yang membunuh dia. Jangan tangkap aku" Dan ia meronta sekuat-kuatnya. Tapi hebat cekalan see Tok, ia tidak dapat melepaskan diri saking takutnya, ia lantas menangis, berulang kali ia memanggil-manggil: "Ibu"
Auwyang Hong mengulangi pertanyaannya hingga beberapa kali, tetapi tidak memperoleh jawaban. saking takutnya, Sa Kouw berhenti menangis, dia mendelong memandang jago dari Barat itu.
"Jangan takut Sa Kouw," Oey Yong menghibur, suaranya halus. "Kakek ini hendak memberikan kue"
Nona ini tidak menolong si tolol seperti tadi ia menghajar Yo Kang sebab ia tahu Auwyang Hong tidak nanti, atau sedikitnya tidak bakal lantas membinasakan orang. Bahkan perkataannya itu menyadarkan See Tok. Ia tahu sekarang, makin ia bengis, makin susah si tolol membuka mulutnya. Maka ia merogoh sakunya, mengeluarkan bakpauw yang telah dikeringkan, ia jejalkan di tangan nona itu. Ia pun tertawa dan berkata:
"Benar Nah, kau makanlah kue ini"
Dasar tolol, Sa Kouw ambil kue itu. Ia bersenyum. Dengan cepat ia lupa akan kebengisan see Tok.
"Dulu itu si pemuda yang kakinya buntung memeluki seorang nona," kata Oey Yong tenang. "Kau lihat, nona itu cantik atau tidak?"
"Sangat cantik," menyahut Sa Kouw dengan wajar. Tidak dapat ia memikir yang ia lagi dilagui.
"Kemana perginya dia sekarang?" Si tolol tidak menjawab, ia hanya menanya: "Tahukah kau siapa nona itu?" Ia terus berlaku sabar dan wajar.
Si tolol agaknya gembira sekali, dia puas, hingga dia menepuk tangan "Aku tahu, dia istrinya ini saudara yang baik," sahutnya.
Mendengar itu, Auwyang Hong tidak bersangsi lagi. Ia memang tahu keponakannya sangat gemar pelesiran. Ia menduga, rupanya disebabkan main gila dengan Bok Liam Cu, Auwyang Kongcu menerima kebinasaannya. Ia hanya heran Yo Kang dapat membinasakan keponakannya yang ia tahu lihay, tidak perduli kakinya buntung. Bagaimana keponakannya itu dibunuh? Maka ia berpaling kepada si pangeran muda. Ia berkata dengan sabar:
"Dia berani kurang ajar terhadap siauw-onghui, dia harus mampus berlaksa kali" siauw¬onghui ialah istri siauw-ongya, pangeran muda.
"Bukan,,, bukan aku yang membunuhnya," Yo Kang menyangkal, suaranya tidak lancar.
"Habis siapa?"
Kali ini suara see Tok menjadi keras dan bengis secara tiba-tiba, kedua matanya pun bersinar tajam. Yo Kang ketakutan hingga kaki tangannya lemas. Ia yang biasanya berotak terang, sekarang mati daya, sampai tak bisa ia membuka mulut.
"Auwyang Peehu," Oey Yong berkata, "Jangan kau sesalkan siauw-ongya berlaku telengas, juga tak usah kau sesalkan keponakanmu yang sangat gemar pelesir itu, hanya kau harus persalahkan dirimu yang berkepandaian sangat lihay."
Auwyang Hong berpaling dengan cepat. Ia heran. " Kenapa?" tanyanya.
"Aku pun tak tahu kenapa. Hanya ketika aku sedang berada di Gu-kee-cun, di sana aku mendengar dua orang tengah berbicara. Mereka itu seorang pria dan seorang wanita, dan bicaranyapun di sebelah tembok. sungguh aku tidak mengerti."
See Tok kena dibikin bingung, ia berada dalam kegelapan. "Apa itu yang mereka bicarakan?"
"Nanti aku menyebutkannya setiap patah yang mereka bicarakan itu, tidak nanti aku menambahkan satu huruf juga. Tolong kau menjelaskannya nanti padaku. Aku tidak melihat mereka, aku tidak tahu, yang pria siapa yang wanita siapa. Aku hanya mendengar yang pria bilang: 'urusanku membunuh Auwyang Kongcu ini, apabila sampai teruwar di luaran, sungguh berbahaya.' Yang wanita kata 'seorang laki-¬laki, berani berbuat, berani bertanggung jawab. Jikalau kau takut, tidak seharusnya kemarin kau membunuh dia. Benar pamannya dia itu lihay tetapi kita tak bakal dapat dicari.'"
Auwyang Hong mengawasi. Ketika ia mendapatkan nona itu terus berdiam, ia menanya:
"Pembilangannya perempuan itu benar. Apa katanya pula si lelaki?"
Yo Kang mendengar pembicaraan itu, ia takut bukan main, terhadap oey Yong, ia sangat gusar. Kebetulan waktu itu sinar rembulan masuk ke dalam, diam-diam ia bergerak. dengan perlahan ia menghampiri ke belakang si nona. Ia menyingkir dari sinar rembulan.
Selagi berindap-indap. ia mendengar jawaban oey Yong: "Kata-katanya si lelaki itu membuat aku berpikir bahwa semua disebabkan kepandaian kau yang sangat lihay hingga kau membikin keponakanmu itu celaka. Lelaki itu berkata 'Adikku, sekarang ini aku ada memikir satu jalan. Pamannya itu sangat kosen, aku ingin mengangkat dia menjadi guru. sebenarnya sudah lama aku memikir begini, hanya di dalam kalangan dia ada aturan yang ditaati, ialah kepandaian diwariskan dalam satu generasi hanya kepada satu orang. Maka itu, kalau dia sudah mati baru pamannya dapat menerima aku sebagai murid"
Tidak usah Oey Yong menjelaskan lagi siapa pria itu, lagu suaranya pun sudah menerangkan. Dengan pandai ia meniru lagu suaranya Yo Kang, hidup sedari kecil di kota raja, ibunya, Pauw sek Yok. adalah orang Lim-an, sedang di dalam istana ada banyak orang Kim, maka, suaranya itu campur aduk antara lagu bicaranya orang selatan dan orang utara. Dengan demikian gampang sekali orang mengenalinya.
Auwyang Hong berulang kali mengasih dengar suara mengejek, "Hm" Lalu ia menoleh ke arah Yo Kang. Ia baru melihatnya si anak muda tidak ada di tempatnya ketika mendadak ia mendengar suara, "Buk" disusul teriakan kesakitan, lalu nampak Yo Kang dengan tangan kanannya mengucurkan darah dan mukanya pucat pias sebagaimana terlihat di cahayanya si Putri Malam.
Hebat Oey Yong membuka rahasia, maka pemuda she Yo itu tidak dapat menguasai hatinya. Ia hendak melampiaskan kemurkaannya, jalannya ialah membunuh nona she Oey itu. Maka setelah datang dekat si nona, ia berlompat seraya tangannya menyambar ke batok kepala nona itu, untuk dicengkeram dengan ilmu cengkeraman Kiu Im Pek¬kut Jiauw.
Oey Yong ketahui serangan gelap itu, ia berkelit, maka tangannya si anak muda tiba pada pundaknya. Dia mencengkeram kuat sekali, dalam sengitnya, ia menggunakan semua tenaganya, maka itu, justru ia mengenai baju lapis yang berduri, tangannya nancap di duri baju. Bukan main dia merasakan sakit, maka tak dapat dia tidak menjerit, setelah itu, dia mengasih turun tangannya, hampir dia pingsan menahan nyerinya.
Di tempat yang gelap itu, tidak ada orang yang melihat apa yang sudah terjadi, malah mereka tidak tahu juga, pemuda itu celaka di tangan si nona atau di tangan Auwyang Hong. oleh karena orang tidak tahu pasti dan mereka pun jeri terhadap See Tok. Semua berdiri diam sambil mengawasi saja.
Adalah Wanyen Lieh yang mengajukan diri untuk memegangi anaknya. "Anak Kang, kau kenapa?" ia tanya. "Apamu yang terluka?" Ia menghunus goloknya dan menyerahkan itu pada si anak. Ia berkhawatir Auwyang Hong membalaskan sakit hati keponakannya .
"Tidak apa-apa," menyahut Yo Kang, yang mencoba melawan rasa sakitnya. Ia pun menyambut golok dari ayahnya dan mendadak ia merasakan tangannya kaku, golok itu terlepas dan jatuh berisik di lantai. Ia lekas-lekas membungkuk untuk memungutnya. Tapi celaka, lengannya menjadi kaku, lengan itu tidak mau mengikuti lagi suara hatinya. Dalam kagetnya, dengan tangan kirinya ia memencet tangan kanannya, tetapi ia tidak merasakan apa-apa. Maka ia lantas mengawasi oey Yong.
"Bisa Bisa" serunya. "Kau menggunakan bisa melukaiku?"
Pheng Lian Houw semua menjadi bingung, meski begitu, mereka lantas mengambil keputusan. Biarpun Auwyang Hong lihay, di situ ada Wanyen Lieh si pangeran Kim yang berpengaruh, jadi biar bagaimana, perkaranya Auwyang Kongcu itu harus diselesaikan secara baik. Begitu melihat roman menakutkan dari Yo Kang, sebagian menghampiri pangeran muda itu, untuk menghibur, yang sebagian lagi mendekati Oey Yong, antaranya ada yang berseru:
"Lekas keluarkan obatmu untuk mengobati siauw-ongya"
Oey Yong berlaku tenang. "Baju lapisku tidak berbisa," ia berkata tawar, "Jangan kamu bergelisah tidak karuan. Di sini ada orang yang harus membunuh dia, tidak ada perlunya aku melukainya"
Ketika itu Yo Kang menjerit, "Aku…. aku tidak dapat bergerak"
Lalu terlihat dia menekuk kedua dengkulnya, tubuhnya turun dengan perlahan-lahan, sedang dari mulutnya terdengar suara tidak tegas. Mendengar jeritan dan suara orang, Oey Yong heran. Ia lantas mengawasi Auwyang Hong, paras siapa nampaknya terkejut. Ketika ia juga menoleh kepada Yo Kang, muka si anak muda tersungging senyuman, mulutnya terbuka seperti tertawa. Di antara sinar rembulan, wajah pemuda itu menjadi luar biasa sekali. Mendadak ia ingat.
"Inilah Auwyang Kongcu Peehu yang menurunkan tangan jahat, kau jangan sesalkan aku," ia berkata.
Auwyang Hong heran, ia berkata "Melihat dari rupanya, dia memang terkena racun ular di tongkatku, memang aku berniat memberi dia rasa, siapa tahu si budak cilik telah mewakiliku. Bagus, bagus sekali. Hanya ular berbisa itu cuma aku seorang yang mempunyai, entah dari mana si budak cilik mendapatkannya?"
"Aku mana mempunyai semacam ular?" kata Oey Yong. "Kaulah yang menggunakan racun itu. Mungkin kau sendiri tidak merasa"
"Benar-benar aneh" Seru see Tok.
"Auwyang Peehu," berkata si nona. "Aku ingat peristiwa dulu ketika kau dan Loo Boan Tong bertaruh. Kau telah memberi makan racun ularmu kepada seekor ikan cucut, setelah ikan itu mati, dagingnya dimakan ikan yang lain, ikan itu keracunan dan lantas mati. Demikian seterusnya, racunmu itu menular tidak putusnya. Benar bukan?"
Auwyang Hong tertawa. "Jikalau racunku bukan istimewa, tidakkah nama See Tok kosong belaka?" ia bilang puas.
"Benar" menyahut si nona. "Lam Hie Jin itu ikan cucut yang pertama"
Ketika itu Yo Kang telah menjadi seperti orang kalap. Dia bergulingan di lantai. Nio Cu ong mencoba memeluknya, tidak ada hasilnya. Auwyang Hong tidak dapat menangkap arti perkataan oey Yong.
"Coba kau memberi penjelasan" ia bilang.
"Bukankah kau telah menggigitkan ularmu kepada Lam Hie Jin?" berkata si nona. "Ketika itu aku bertemu dia di Tho Hoa To, dia telah memukulku satu kali. Tinjunya itu mengenai pundakku yang kiri. Dengan begitu, di duri baju lapisku lantas ketinggalan sisa bisanya. Barusan siauw-ongya menghajar aku, kebetulan dia kena mencengkeram baju lapisku, karena dia terluka, darah beracun itu masuk ke dalam darahnya. Hm Dialah ikan cucut yang ketiga"
Mendengar keterangan si nona, orang merasa bergidik sendiri. sungguh hehat bisanya Auwyang Hong. Yo Kang telah menerima pembalasannya sendiri, dia mau mencelakai orang lain, dia sendiri yang menjadi korban.
Mendengar sampai di situ, Wanyen Lieh menghampiri Auwyang Hong di depannya ia menekuk lutut.
"Auwyang sianseng," ia berkata, "Siauw-ong minta sukalah kau menolong jiwa putraku, nanti siauw¬ong tidak bakal melupakan budimu yang sangat besar ini."
Auwyang Hong tertawa lebar. "Jiwa anakmu ialah jiwa keponakanku bukan jiwanya" katanya. Ia lantas menyapu Pheng Lian Houw semua, muka siapa terang di sinar rembulan, terus ia berkata dengan suara dalam: "orang gagah yang mana yang tidak puas, baik lekas-lekas maju untuk bicara"
"Bisa Bisa" serunya. "Kau menggunakan bisa melukakan aku?"
Bukannya orang maju, orang justru mundur. Pula tidak ada yang berani membuka mulut. Selagi orang menjublak, mendadak Yo Kang berlompat bangun dan menghajar Nio Cu ong hingga pahlawan itu roboh. Wanyen Lieh lantas bangun berdiri.
"Lekas bawa siauw-ong ya ke Lim-an" ia memberi titah. "Mari kita mengundang tabib yang pandai untuk mengobatinya "
Auwyang Hong mendengar perkataan pangeran itu, sembari tertawa ia berkata "Racun si bisa bangkotan mana ada tabib di kolong langit ini yang sanggup mengobatinya? Lagi pula mana ada tabib pandai yang tidak menyayangi jiwa" dengan berani merusak usaha Wanyen Lieh tidak mau melayani bicara.
"Kamu masih tidak mau lekas-lekas menolong siauw-ongya?" bentaknya kepada semua pahlawannya.
Belum lagi Yo Kang dipegang, untuk dibawa pergi, dia sudah berlompat tinggi hingga hampir kepalanya sundul dengan penglari, ketika dia sudah turun pula, dia menuding pangeran Kim itu sambil berseru:
"Kau bukan ayahku sudah kau bikin celaka ibuku, sekarang kau bikin celaka juga aku"
"Siauw-ongya, sabar" See Thong Thian membujuk. Ia mendekati, untuk memegang kedua lengan pangeran itu.
Yo Kang lihay, dia mendahului menangkap lengan orang she see itu, lalu dia menggigit jempolnya. See Thong Thian menjerit karena sakit, dia menarik tangannya, terus dia melengak. Lantas dia merasakan tangannya kaku, hingga dia menjadi kaget tidak terkira. Oey Yong mengawasi jago itu, ia berkata dingin
"Inilah ikan cucut yang keempat"
Cian Ciu Jin-touw Pheng Lian Houw kaget sekali. Dia memang bersahabat paling rapat dengan See Thong Thian. Dia pula paling pandai menggunakan racun, maka dia tahu apa yang dia mesti lakukan. See Thong Thian itu sudah keracunan. Dengan sebat luar biasa, dia menghunus goloknya, dengan itu dia membabat kutung sebelah lengannya sahabatnya itu Hauw Thong Hay kaget bukan main. Ia tidak tahu maksud Lian Houw.
"Pheng Lian Houw, kau melukai sukoku" ia membentak. Ia lantas maju untuk menyerang.
Tapi Thong Thian, yang menahan sakitnya, berteriak: "Tolol Pheng Toako justru menolong aku" Thong Hay batal menyerang, ia melengak.
Yo Kang menjadi kalap. pikirannya waswas. Ia menyerang kalang kabutan, ia meninju, menendang dan menggigit juga. Orang telah melihat contoh dalam diri see Thong Thian,
Mereka semua ketakutan, mereka pada menyingkirkan diri, semua lari keluar, hingga kacaulah mereka. Burung-burung gagak dengan turut kaget lagi dan beterbangan dengan berisiknya. Maka di pekarangan yang kosong di depan kuil, terlihat bayangan mereka terbang serabutan, suara mereka saling sahut dengan teriakan-teriakannya Yo Kang
Wanyen Lieh juga turut pergi ke luar kuil, tapi ia masih menoleh dan memanggil: "Anak Kang Anak Kang"
Yo Kang mengucurkan air mata.
Wanyen Lieh girang, ia mementang kedua tangannya, untuk menyambut putranya. Maka berdua mereka saling merangkul.
"Anak. kau sudah mendingan?" tanya ayahnya.
Tapi di sinar rembulan, ia menampak wajah orang yang tidak wajar, yang matanya terbuka lebar, terang dia belum sadar, sedang giginya bercatrukan. Ia kaget ketika si anak mengangkat tangan kirinya, menghajar ke arahnya. Dalam kagetnya ia bukan lompat mundur atau lari, ia menjorokkan tubuh putranya itu. Pangeran muda itu kehabisan tenaga, dia roboh terguling, terus dia tidak merayap bangun.
Menampak demikian, hati Wanyen Lieh mencelos, tidak berani ia mengawasi lagi, lantas ia lari terus, di luar kuil, ia melompat naik ke atas kudanya, untuk dikasih kabur, maka ia segera diiringi sekalian pahlawannya. Lekas sekali, mereka telah lenyap berikut bayangan, mereka.
Auwyang Hong mengawasi tubuh Yo Kang. Pemuda itu lagi bergulingan. Oey Yong pun mengawasi. Maka mereka berdua punya pikiran masing-masing yang satu berduka berbareng gusar, yang lain terharu dan puas. Mereka sama-sama membungkam, sampai mendadak mereka mendengar suara berkeresek di atas genting.
"Mau apa kau mencuri mendengar?" menegur Auwyang Hong. "Turunlah"
Oey Yong kaget. Ia menyangka Kwa Tin ok yang naik ke genting. Ia lantas melihat satu bayangan orang berlompat turun, orang itu lari masuk.
"enci Bok" ia berseru. Ia lantas mengenali orang. "Enci kau datang"
Nona itu tidak menghiraukan panggilannya, ia lari terus pada Yo Kang, yang ia lantas angkat tubuhnya untuk dipondong.
"Kau masih kenali aku?" ia menanya halus.
Yo Kang menyahut, suaranya tidak karuan, terdengarnya cuma "Ho ho"
"Ah, kau tidak dapat melihat aku" kata Liam Cu. Ia memutar tubuh, untuk mendapat sinar rembulan, untuk si anak muda melihat mukanya. Ia tanya pula: "Kau kenali aku atau tidak?"
Yo Kang mendelong mengawasi nona itu. Selang sesaat, baru ia mengangguk. Liam Cu girang.
"Hidup di dunia sungguh sengsara" katanya perlahan. "Kau menderita, aku juga, Mari kita pergi, Maukah kau?"
Yo Kang mengangguk pula. Tapi mendadak dia berteriak. Liam cu duduk mendeprok. dia memeluk erat-erat.
Menyaksikan semua itu, Oey Yong menghela napas. Tapi lekas juga ia menjadi heran. Tubuh Liam Cu bergerak turun, menindih tubuh Yo Kang, kepalanya jatuh di pundak si anak muda. Habis itu, keduanya terlihat tidak bergerak lagi.
"enci Bok… enci Bok" ia memanggil-manggil, kaget.
Liam Cu tidak menyahut, ia seperti tidak mendengar, tubuhnya terus diam. Nona Oey bingung, ia segera menghampiri, dengan perlahan ia pegang pundak si nona, untuk diangkat, mendadak tubuh itu roboh ke belakang
Sekali lagi Oey Yong berteriak karena kagetnya. Hanya sekarang ia melihat di dada si nona menancap ujung tombak buntung, napas si nona sudah berhenti. Ketika ia memandang Yo Kang, dada itu pun bekas tertusuk tombak, darahnya mengalir keluar. Anak muda itupun sudah putus jiwanya.
Liam Cu tidak tega mengawasi Yo Kang tersiksa, maka ia memeluknya dengan memasang tombak pendek didada sianak muda, waktu ia memeluk kuat, ujung tombak melesak dalam, maka matilah kekasihnya itu, setelah mana, ia menikam dadanya sendiri dengan cara serupa. Dari itu keduanya pulang bersama ke lain dunia
Oey Yong mendekam di tubuh Liam Cu, ia menangis sedih. Ia bersedih untuk nasib buruk nona itu. Kemudian, kapan ia ingat peruntungannya sendiri, yang masih kusut, ia menangis semakin sedih.
Auwyang Hong terus mengawasi semenjak tadi, sampai kemudian ia berkata "Bagus matinya mereka, buat apa ditangisi lagi? Setengah malaman sudah orang mengacau, sekarang akan lekas terang tanah. Mari kita melihat ayahmu"
Si nona berhenti menangis. "Di saat ini mungkin ayahku sudah pulang ke Tho Hoa To, buat apa dilihat lagi?" bilangnya.
Auwyang Hong melengak, terus ia tertawa dingin. "Oh, budak, budak, kiranya kau menjual orang" katanya keras.
"Di bagian depan dari kata-kataku, memang aku mendustai kau," berkata oey Yong. "Ayahku orang macam apa, mustahil dia membiarkan dirinya dikurung imam-imam busuk dari Coan Cian Kauw? Jikalau aku tidak menyebut-nyebut Kiu Im Cin-keng, maka kau mau mengijinkan aku memeriksa Sa Kouw?"
Kwa Tin ok mendengar semua itu, ia kagum dan menyayangi Oey Yong. Ia sekarang mengharap- harap si nona mendapat akal untuk menyingkir dari hadapan manusia yang lihay dan berbahaya ini.
"Dalam kata-katamu ada terkandung tiga bagian kebenaran, kalau tidak, aku si bisa bangkotan tidak akan kena terpedayakan," kata Auwyang Hong. "Baiklah, sekarang kau menjelaskan salinan dari ayahmu itu, jangan ada satu hurufpun yang dilompati"
"Jikalau aku lupa, bagaimana?" oey Yong tanya.
"Paling baik kau mengingat- ingatnya. Kalau budak secantik kau ini kena dicatol ularku, itulah harus disayangi"
Oey Yong jeri juga. Ia telah menyaksikan hebatnya kebinasaan Yo Kang. Maka ia berpikir keras¬ "Taruh kata aku memberitahukan terjemahan It Teng Taysu, tidak akan dia gampang-gampang melepaskan aku. Bagaimana caranya aku harus menyingkir dari dia ini?"
Ia tidak dapat pikiran yang baik, maka ia anggap baiklah ia bersikap ayal-ayalan, untuk menang waktu.
"Jikalau aku melihat huruf sansekertanya, mungkin aku dapat menjelaskan semua," katanya kemudian. "Coba kau membacakan, nanti aku mencoba-coba."
"Siapa sanggup membaca di luar kepala bahasa asing itu?" kata Auwyang Hong. "Sudah, jangan kau main gila denganku"
Mendengar orang tidak dapat menghapal, oey Yong mendapat pikiran. Ia menganggap pastilah See Tok memandang kitabnya itu sebagai jiwanya.
"Baik," katanya, "Sekarang kau keluarkan kitabmu itu."
Auwyang, Hong menurut. Dari dalam sakunya, ia mengeluarkan satu bungkusan, yang ia buka. Bungkusan itu terdiri dari tiga lapis kertas minyak. Itu dia kitab yang ditulis Kwee Ceng.
"Hm" tertawa si nona di dalam hatinya. "Engko Ceng menulis ngaco, dia memandangnya sebagai mustika"
Auwyang Hong menyalakan api, untuk menulis sisa lilin. Ia lantas membaca. "Itu artinya mesti pandai melihat lalu membuatnya menjadi dua belas macam tarikan napas," oey Yong menjelaskan. See Tok girang. Ia membaca pula. "Setelah dapat menghindari diri dari pelbagai ancaman maka perlahan-lahan akan masuk kejalan kesempurnaan," si nona menjelaskan pula. Kembali see Tok membaca. si nona berpikir, lalu ia menggeleng kepala. "salah, kau salah membacanya" katanya.
Auwyang Hong membaca lagi tetapi si nona menggoyang pula kepalanya. "Tidak salah, begini tulisnya," kata see Tok. "Heran Kenapa aku tidak mengerti?"
Oey Yong bergelisah, ia mengawasi tajam. Ia ingin orang lekas-lekas ingat dan mengerti.
"Ah, mungkin Kwee Ceng si bocah salah menulisnya" kata si nona kemudian. "Mari aku lihat."
See Tok tidak takut orang main gila, ia menyerahkan kitabnya. Oey Yong menyambut dengan tangan kanan, tangan kirinya mengambil api, ia bersikap hendak menyuluhi, mendadak ia berlompat ke belakang hingga setombak lebih. Lilin dan kitab ia lantas dekati satu dengan lain.
"Auwyang Peehu, kitab ini kitab palsu" katanya mendadak. "Biar aku bakar saja"
Auwyang Hong kaget bukan main. "Eh, eh, kau kata apa?" katanya. "Lekas kembalikan padaku"
"Kau menghendaki kitab atau jiwaku?" si nona tanya.
"Jiwamu buat apa" bentak SeeTok. "Lekas kembalikan" Ia bersikap hendak berlompat maju, guna merampas.
Oey Yong tidak takut, ia malah membawa lebih dekat ke kitab. "Kau bergeraklah" katanya mengancam. "setiap kali kau bergerak. setiap kali aku membakar sehelai. Akhirnya kau akan menyesal seumur hidupmu"
Auwyang Hong kalah gertak. "Hm" ia mendongkol. "Kau letakkan kitab itu. Kau pergilah"
"Kau seorang guru besar tidak dapat kau menelan kata-katamu" kata si nona tertawa.
See Tok mengasih lihat roman bengis. "Aku bilang lekas kau letakkan kitab itu" katanya, suaranya dalam. "Kau pergilah"
Oey Yong percaya, sebagai orang kenamaan, biarpun kejam, See Tok akan pegang perkataannya itu, maka ia lantas meletakkan kitab dan lilin¬
"Auwyang Peehu, maaf," katanya tertawa. Ia memutar tubuh untuk pergi dengan membawa tongkatnya.
Auwyang Hong tidak berpaling lagi, mendadak ia menghajar ke belakang, kepada patung Ong Gan ciang, hingga patung itu pecah separuhnya dan roboh dengan berisik. Terus dia membentak:
"orang buta she Kwa, kau keluarlah"
Oey Yong kaget bukan kepalang. Ia tidak menyangka. Ia lekas menoleh. Kwa Tin ok tidak mau bersembunyi lebih lama, ia berlompat turun seraya memutar tombak di depannya.
Nona oey sadar. orang selihay See Tok tidak gampang diakali, pasti suara napas ketua Cit Koay itu telah terdengarnya, hanya semenjak tadi, si Bisa dari Barat berlagak pilon saja. Terpaksa ia kembali, ia berlompat ke samping Tin ok. bersiap untuk membelanya.
"Auwyang Peehu, aku tidak jadi pergi," katanya "Kau kasihlah dia pergi"
"Jangan, Yong-jie" berkata Tin ok. "Kau pergilah, kau cari anak Ceng. Kau menyuruh dia membalaskan sakit hati kami enam saudara"
Si nona menjadi berduka. "Kalau Kwee Ceng percaya aku, dia sudah mempercayainya dari siang-siang," ia kata masgul. "Kwa Tayhiap. jikalau kau tidak pergi, penasaran ayahku sukar dijelaskan, sukar dilenyapkan. Kau bilangi Kwee Ceng, aku tidak sesalkan dia dan minta dia jangan bersusah hati."
Tin ok seorang laki-laki, tidak sudi ia ditolong si nona mengorbankan diri, maka ia berkutat sama nona itu.
Auwyang Hong jadi babis sabar. "Eh, budak cilik" tegurnya. "Aku telah memberi ijin kau pergi, perlu apa kau masih banyak rewel?"
"Aku justru tidak mau pergi" si nona membelar. "Auwyang Peehu, baik kau usir pergi ini si buta yang menyebalkan, nanti aku melayani kau berunding. Asal jangan kau melukai dia"
Auwyang Hong berpikir: "Kau tidak mau pergi, itu lebih baik lagi. Apa sangkut pautnya dengan aku kalau si buta ini mampus atau hidup terus?" Maka ia bertindak maju, ia menjambak dada Tin ok.
Ketua cit Koay itu menggerakkan tombaknya untuk membela diri, tetapi ketika tombak bentrok sama tangan, toya itu terlepas dan tangannya kesemutan, dadanya juga sedikit sakit. Tombaknya mencelat ke atas, menembusi wuwungan. Terpaksa ia berlompat mundur. Akan tetapi belum lagi ia dapat menaruh kaki, tubuhnya sudah disambar See Tok dan diangkat. Ia seorang berpengalaman, ia tidak menjadi gugup atau takut, tangan kirinya diayun, hingga dua biji lengkak besi menyambar ke muka jago dari Wilayah Barat itu.
Auwyang Hong tidak menduga orang dapat bertindak demikian, terpaksa ia berkelit sambil melengak seraya tangannya melemparkan tubuh jago Kang Lam itu ke arah belakang.
Melihat itu, Oey Yong menjerit. Tubuh Tin ok terlempar mendahului lengkaknya, hingga dia terancam bahaya senjata rahasianya sendiri. Tapi si buta itu lihay sekali, dia mendengar suara angin, dia mengulur tangannya, menyambut lengkaknya itu, maka ia turun ke bawah dengan tidak kurang suatu apapun.
"Bagus" berseru Auwyang Hong memuji. "orang buta she Kwa, kau lihay. Nah, kau pergilah, aku beri ampun padamu"
Kwa Tin ok bersangsi, ia tidak lantas bertindak pergi. Oey Yong mengerti keragu-raguan orang, ia tertawa dan mengatakan
"Kwa Tayhiap. Auwyang Hong hendak mengangkat aku menjadi guru, dia mau belajar Kiu Im Cin-keng, maka kalau kau tidak mau pergi, apa kau juga hendak mengangkat aku menjadi gurumu?"
Tin ok masih berdiri diam. si nona boleh tertawa tetapi ia ketahui baik ancaman bahaya untuk nona itu.
Auwyang Hong memandang langit. "Langit sudah terang mari kita pergi" ia mengajak oey Yong. Ia menarik tangan si nona, untuk dituntun pergi. Cepat jalannya ke luar kuil.
"Kwa Tayhiap. kau ingat apa yang aku tulis di tanganmu" kata oey Yong sambil mengikuti See Tok.
Ketika ia mengakhiri pesannya itu, ia sudah terpisah belasan tombak. Tetapi Tin ok masih dapat mendengar. Hanya tertua Cit Koay ini heran, terus ia berdiri menjublak. Ia masih berdiri diam kendati orang sudah pergi jauh. Maka tak lama kemudian, riuhlah suara kawanan gagak yang beterbangan di udara.
Masih Tin ok berdiri diam sampai ia mendengar burung-burung itu terbang ke dalam kuil, untuk berebut makan mayat orang. Ia ingat Bok Liam Cu, ia merasa kasihan untuk nasib buruk nona itu, tidak pantas si nona menjadi umpan burung, maka ia lari ke dalam kuil, ia cari mayatnya, terus ia bawa keluar, ke belakang, di mana ia menggali lubang untuk menguburnya. setelah itu ia lompat naik ke atas genting, mencari tombak buntungnya.
"Ke mana aku mesti pergi?" tanyany kepada dirinya sendiri sambil berdiri bengong. Ia pun telah menjadi sebatang kara.
Sementara itu, banyak burung gagak mengasih dengar suaranya yang sedih, lalu bergantian mereka jatuh sendirinya dari udara dan mati. Mereka telah makan daging beracun dari Yo Kang dan mati karenanya.
Menduga kepada nasibnya burung-burung itu, Tin ok menghela napas, lalu ia bertindak ke utara. Dihari ketiga, selagi berjalan, ia mendengar suara burung rajawali, yang terbang di atasan kepalanya.
"Mungkin anak Ceng ada di sini," pikirnya. Maka lantas ia memanggil-manggil, "Anak Ceng… Anak Ceng"
Belum lama maka terdengarlah suara kuda lari mendatangi, lantas Kwee Ceng tiba bersama kuda merahnya. Dia girang sekali melihat gurunya yang terpisah dalam pertempuran kacau. Dia lompat turun dari kudanya, untuk merangkul gurunya seraya memanggil.
"suhu suhu"
Tapi Tin ok menggaplok muridnya dua kali, hingga si murid melengak, lekas-lekas dia melepaskan pelukannya. Tin ok masih mencoba menyerang dengan tangan kirinya dan tangan kanannya berulang-ulang dipakai menggaplok mukanya sendiri
Menampak demikian, Kwee Ceng kaget dan heran. "suhu" katanya. "Suhu, kau kenapa?"
"Sebab kau si tolol cilik dan aku si tolol bangkotan" menjawab guru itu keras.
Masih Tin ok memukuli muridnya dan dirinya sendiri. sampai muka mereka pada bengap. baru dia berhenti sendiri. setelah ini, dia mencaci kalang kabutan kepada muridnya itu.
"Suhu, kenapa?" tanya si murid, yang tetap bingung.
Sekarang ini Tin ok telah menjadi tenang, maka ia lantas menuturkan apa yang telah terjadi di kuil, terutama tentang penuturan oey Yong, yang membuka rahasia Yo Kang dan Auwyang Hong yang membinasakan Cu Cong dan lainnya. Mendengar keterangan itu, Kwee Ceng heran dan girang, malu dan berduka.
"Dengan begitu aku telah berlaku keliru terhadap Yong-jie," katanya, menyesal.
"Maka itu kau bilanglah," Tin ok menutup ceritanya, "Kita berdua harus mampus atau tidak?"
"Memang suhu," berkata si murid. "Suhu, sekarang mari kita lekas menolong Yong-jie" Kwee Ceng menganggap oey Yong berada dalam bahaya.
"Bagaimana dengan ayahnya?" Tin ok tanya.
"Oey Tocu membawa Ang Insu ke Tho Hoa To untuk berobat. suhu, ke mana kiranya Auwyang Hong membawa Yong-jie?"
Tin ok berdiam, nampaknya ia berpikir. "Jikalau Yong-jie tidak dapat lolos dari tangan Auwyang Hong, entah dia bakal tersiksa bagaimana" katanya. "Anak Ceng, pergilah kau tolong dia Aku sendiri hendak membunuh diri untuk menghaturkan terima kasih kepadanya.."
Kwee Ceng terkejut. "Suhu, janganlah memikir demikian" ia berkata. Ia berkhawatir karena ia tahu benar tabiat keras gurunya, yang biasa melakukan apa yang dikatakan. "Suhu, lebih baik pergi ke Tho Hoa To untuk mengasih kabar, kau minta Oey Tocu lekas menolong putrinya. Sebenarnya aku bukan lawan dari Auwyang Hong."
Kwa Tin ok bisa berpikir, maka ia menganggap perkataan muridnya benar adanya. Karena ini ia batal membunuh diri, lantas ia berangkat, guna pergi ke pulau Tho Hoa To.
Kwee Ceng merasa berat sekali berpisahan lagi, ia mengikuti.
"Kenapa kau masih belum mau pergi?" membentak sang guru, yang mendapat tahu dirinya diikuti. "Lekas pergi. Jikalau kau tidak dapat menolong Yong-jie, maka jiwamu akan aku ambil"
Kwee Ceng menghentikan tindakannya, ia mengawasi gurunya berjalan terus, sampai si guru lenyap dari pandangan matanya. Ia masih berdiam sekian lama, karena ia benar-benar bingung ke mana ia mesti mencari Oey Yong. Akhirnya sambil menunggang kuda dan mengajak burungnya, ia menuju ke arah Tiat Ciang Bio.
Hebat apa yang disaksikan di kuil Ong Gan ciang dan sekitarnya. Banyak sekali bangkai burung gagak bergeletakan, di luar dan di dalam, dan di dalam terlihat seperangkat tulang belulang manusia. Terang itulah sisa tubuhnya Yo Kang. Ia menjadi terharu meskipun ia tahu pemuda itu musuh dari guru-¬gurunya. Ia masih ingat persahabatannya dengan Yo Kang dan perhubungan di antara kedua pihak orang tua mereka. Maka ia pungut semua tulang itu, ia kubur di belakang kuil di sisi kuburan Bok Liam Cu. Ia memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk¬-angguk dan memuji: "saudara Yo, saudara Yo Jikalau kau masih ingat budiku ini mengubur tulang-tulangmu, kau harus memayungi aku hingga aku berhasil mencari Yong-jie, dengan begini dapatlah kau menebus segala dosamu selama hidupmu"
Habis memuji, Kwee ceng masih menjura empat kali kepada kuburan Yo Kang dan Bok Liam cu, baru ia keluar dari kuil, untuk mulai dengan perkataannya mencari Oey Yong. Di sepanjang jalan, di mana saja, ia menanya-nanya orang tentang nona itu dengan menunjukkan petaan roman dan potongan tubuhnya si nona serta Auwyang Hong. Ini pekerjaan sukar. Setengah tahun lamanya ia merantau. Ia telah minta keterangan pihak Kay Pang dan coan cin Kauw dan orang-orang yang ia kenal, ia tetap tidak memperoleh hasil. Ia bertabiat keras, ia tidak mau menyerah kalah, terus ia mencari. Selama itu pernah ia pergi ke Pakhia, dan dua kali ia mendatangi kota Pianliang, di sana pun ia tidak mendengar kabar halnya Wanyen Lieh.
Pada suatu hari pemuda ini tiba di propinsi Shoatang, kebetulan ia berada di satu daerah yang kosong, sebab di sepanjang jalan, dari sepuluh rumah, sembilan yang ditinggalkan pergi penghuninya. Dijalan besar banyak orang yang lagi berangkat mengungsi. Katanya tentara Mongolia dan Kim telah berperang, pihak Kim kalah dan tentaranya kabur buyar, sembari kabur mereka merampok dan memperkosa.
Tiga hari sudah Kwee ceng berjalan - ia menuju ke Utara - ia mendapat kenyataan daerah semakin kosong dan keadaannya semakin menyedihkan. Dengan begini ia menjadi semakin menyedihkan. Dengan begini ia menjadi menginsyafi bahaya perang itu yang sangat merusak. Terutama sangat mengganggu rakyat negeri.
Dihari ketiga anak muda kita tiba di sebuah dusun di lembah, di situ ia hendak singgah untuk mencari nasi dan air untuk kudanya, mendadak ia mendengar suara berisik dari kuda dan manusia, ketika ia menoleh ke arah dari mana suara itu datang, ia melihat tibanya beberapa serdadu Kim. Yang berjalan di muka adalah seorang punggawa di ujung tombak siapa ada tertusuk mayatnya seorang bayi, punggawa itu sendiri tertawa terbahak-bahak sedang barisannya mulai membakar dusun, yang penduduknya mereka usir keluar dari rumahnya, untuk diikat dan dibunuh mati, tak perduli tua dan muda, cuma wanita yang muda yang mereka belenggu untuk dibawa pergi.
Menyaksikan keganasan itu, Kwee Ceng menjadi naik darah. Ia mengajukan kudanya menghampiri punggawa itu. Paling dulu ia merampas tombak orang, habis itu tangan kirinya menyusul melayang. Punggawa itu tidak menyangka sama sekali, selagi ia kaget, tangan si anak muda sudah tiba kepada sasarannya, maka sebelum ia berdaya, ia roboh seketika, biji matanya sampai lompat ke luar, jiwanya terbang melayang. Semua serdadu Kim menjadi kaget dan gusar, dengan serempak mereka berseru-seru dan maju untuk mengepung si anak muda.
Kuda merah tidak takut dikendalikan majikannya. dia membawa tubuh majikannya ke manapun bergerak. Kwee Ceng pun gusar sekali, kecuali tombak di tangan kanannya, ia merampas sebatang golok besar, maka dengan kedua tangan ilmu silat pengajaran Ciu Pek Thong - ia melabrak tentara Kim. Ia menikam dan membacok dengan hebat.
Setelah melihat banyak kawannya yang roboh, serdadu Kim menjadi kuncup nyalinya. Mereka memang telah kehilangan pemimpin. Maka dengan berteriak-teriak mereka melarikan diri ke luar dusun.
Sementara itu dari sebelah depan terlihat muncul pasukan seratus lebih serdadu Mongolia, di depannya tampak bendera yang besar. Melihat itu tentara Kim yang jeri kepada tentara Mongolia, lantas lari balik, dengan terpaksa mereka menyerang Kwee Ceng, guna membuka jalan kabur.
Anak muda itu sangat membenci tentara Kim, ia lantas lari ke mulut lembah, di sana menghadang. Dengan cepat ia berhasil merobohkan belasan serdadu penunggang kuda, yang lari mendahului kawan-kawannya. Robohnya mereka membikin kawan-kawannya menjadi serba salah, mundur tidak bisa, maju tidak dapat.
Barisan Mongolia heran ada orang membantu pihaknya, dengan begitu mereka berhasil menumpas sisa tentara Kim. Mereka ingin tahu siapa pembantu yang merintangi jalan molosnya musuh. selagi pekhu-thio, yang mengepalai mau maju untuk mencari keterangan, tiba-tiba seorang siphu-thio berseru "Kim Too Huma" dan terus dia berlutut di tanah untuk memberi hormat.
Ketika pekhu-thio mengetahui orang adalah menantu dari junjungannya, ia pun melompat turun dari kudanya, guna memberikan hormat, setelah itu ia memberi perintah seorang serdadunya lekas memberi kabar kepada kepala perangnya.
Kwee Ceng tidak berdiam saja. Ia lantas menitahkan tentara Mongolia memadamkan api yang dilepaskan tentara Kim tadi untuk membakar dusun. Karena ini penduduk yang tertolong pada datang menghaturkan terima kasih.
Baru saja penduduk lega hatinya, segera mereka dibikin kaget pula dan ketakutan. Mereka tahu datangnya lagi satu pasukan besar sebagaimana suara kuda dan tentara membikin berisik di luar dusun. Dengan muka pucat mereka saling mengawasi.
Waktu itu lantas terlihat seorang penunggang kuda kabur ke dalam dusun, kudanya besar dan gagah. Dialah seorang panglima muda, yang lantas berseru:
"Yang namanya Kwee Ceng di mana?"
Ketika Kwee Ceng melihat panglima muda itu, ia girang sekali. "Anda Tuli" ia berseru.
Maka keduanya lantas lari saling menghampiri, terus mereka saling rangkul. Kedua burung rajawali mengenali Tuli, putranya jenghis Khan, keduanya terbang menghampiri, mengelus - elus panglima muda itu.
Tuli menitahkan seorang Cian-hu-thio mengejar terus tentara Kim, di lain pihak ia memerintahkan mendirikan tenda di mana bersama Kwee Ceng ia duduk berkumpul, bicara panjang lebar hal-hal semenjak mereka berpisah.
Tuli menceritakan urusan ketentaraan di utara, maka Kwee Ceng jadi tahu selama satu tahun lebih Jenghiz Khan tak hentinya berperang ke timur dan barat, hingga dia dapat merampas banyak daerah, keempat putranya yaitu Juji Jagatai, ogotai dan Tuli ini, telah membangun banyak jasa, demikian juga empat panglimanya yang kenamaan, Mukhali, Borehu, Boroul dan chilaun. Dan sekarang ini Tuli bersama Mukhali lagi memimpin angkatan perangnya menyerang negara Kim, dipropinsi shoa tang, beberapa kali tentara Kim kena dilabrak hingga kacau balau, hingga angkatan perangnya dipusatkan di kota Tongkwan di mana mereka mengunci pintu, tidak berani mereka melayani perang.
Baru beberapa hari berkumpul sama Tuli, ada perintah dari Jenghiz Khan di gurun utara. semua putra dan panglima dipanggil berkumpul di sana. Tuli dan Mukhali tidak berani menyangkal panggilan itu, setelah menyerahkan tentaranya kepada wakilnya, mereka lantas berangkat. Kwee Ceng ingat kepada ibunya, ia turut bersama. Dengan begitu ia jadi terus menemani Tuli.
Pada suatu hari tibalah mereka di tepi sungai onon, di sana memandang ke tegalan yang luas sekali terlihatlah tenda-tenda tentara yang sangat banyak jumlahnya, sedang suara meringkiknya kuda-kuda perang berisik sekali. Ujung-ujung tombak yang tajam bergemerlapan di antara cahaya matahari. Di antara puluhan ribu tenda itu ada sebuah yang besar luar biasa yang warnanya kuning, ujung tenda teratas terbuat dari pada emas. Di depan tenda besar itu dipancar sebuah bendera besar, bendera yang menjadi tanda kebesaran dari junjungan bangsa Mongolia. Dari situlah keluar titah Jenghiz Khan memanggil berkumpul semua putra dan kepala perangnya.
Berdiri di atas sebuah tumpukan pasir tinggi, Kwee Ceng memandang ke seluruh perkemahan. Ia merasakan keangkeran angkatan perang Mongolia, ia berdiam saja.
Tapi tak usah lama ia berdiam, dari arah markas kelihatan datangnya satu barisan berkuda yang kecil, yang menyambut Tuli dan Mukhali, maka dilain saat ia sudah mengikuti pangeran dan panglima itu menuju ke tenda besar. Setibanya mereka di dalam, pemuda ini terperanjat. Ternyata lain-lain kepala perang sudah berkumpul di situ.
Jenghiz Khan girang melihat tiga orang itu. Tuli bersama Mukhali segera memberikan laporannya, sedang Kwee Ceng memberi hormat sambil berlutut, kemudian ia menambahkan.
"Kha Khan menitahkan aku memotong batang leher Wanyen Lieh, untuk mengambil kepalanya, akan tetapi beberapa kali sudah aku menemui dia, saban-saban dia dapat meloloskan diri, dari itu aku mohon Kha Khan memberikan hukuman kepadaku"
Jenghiz Khan tertawa. Ia berkata: "Kalau burung elang sudah menjadi besar, suatu hari pastilah dia akan dapat menerkam si rase, maka itu kenapa aku mesti menghukum dirimu?"
Segera setelah itu, kepala bangsa Mongolia memulai dengan rapatnya untuk mengatur tindakan menyerang besar-besaran ke negara Kim. Kebanyakan panglima mengusulkan kerja sama dengan pemerintah song guna menggencet kota Tongkwan.
“Baiklah, begini kita mengambil keputusan," Jenghis Khan menyatakan setuju. Maka utusan segera dikirim ke selatan, ke kerajaan song.
Sampai sore baru rapat dibubarkan, Kwee Ceng keluar dari markas dalam cuaca remang-remang ia hendak mencari tenda ibunya. Tiba-tiba ia merasakan dua tangan halus menutupi matanya dan hidungnya dapat mencium bau harum. Ia melengak sejenak, lantas ia memanggil:
"Adik Gochin Baki" Ia pun memutar tubuhnya.
Putri Jenghiz Khan berdiri dengan wajah manis. Sekarang ia nampak lebih jangkung, romannya agung.
"Adik" Kwee Ceng memanggil pula.
Putri kegirangan ia menjadi terharu sendiri. "Ah, benar-benar kau kembali" katanya.
Menyaksikan kepolosan nona itu, hati Kwee Ceng tergerak. sampai tak tahu ia mesti mengucapkan apa. Keduanya berdiri diam, mata mereka saling mengawasi.
"Pergi kau menemui ibumu," katanya. "Kau pulang dengan masih hidup, maka kau terkalah, siapa yang lebih girang, aku atau ibumu"
"Pastilah ibu akan girang luar biasa," menyahut Kwee Ceng.
"Apakah aku pun tidak sangat bergirang?" tanya si nona.
Nona ini menunjukkan kepolosan bangsa Mongolia, yang selalu mengucapkan apa yang dia pikir. Mendengar itu, Kwee Ceng kembali merasa terharu. Lantas keduanya, sambil berpegang tangan, pergi ke tenda Lie Peng, maka tak usahlah dituturkan lagi bagaimana girangnya ibu dan anak
Lewat beberapa hari Jenghiz Khan panggil Kwee Ceng menghadap dan mengatakan "Tentang semua perbuatanmu, aku telah mendengar dari Tuli. Kau dapat memegang kepercayaanmu, anakku girang sekali. Kau tunggu beberapa hari lagi, nanti aku nikahkan kau dengan putriku."
Kwee Ceng kaget, ia ingat oey Yong. Pikirnya: "sampai sekarang ini masih belum ketahuan Yong-jie masih hidup atau sudah mati, mana bisa aku membelakangi dia menikahi orang lain?" Ia ingin menampik tetapi melihat roman angker dari Jenghiz Khan, ia gagal membuka mulut.
Jenghiz Khan tahu pemuda ini jujur, ia menyangka orang berdiam saking girangnya, maka dia lantas memberikan hadiah berupa uang emas seratus kati, kerbau lima ratus ekor dan kambing dua ratus ekor. Dia memerintahkan si anak muda menyiapkan sendiri segala keperluan nikahnya.
Gochin Baki adalah putri tunggal dan ia sangat disayang ayahnya, sedangkan waktu itu berkat pelbagai kemenanganJenghiz Khan, pelbagai suku bangsa Mongolia merasa senang, maka, berhubung sama pernikahan si putri, yang telah lantas diumumkan, dari sana sini segera datang pemberian selamat berikut rupa-rupa hadiah, barang permata tak terkecuali, hingga semua itu mesti ditempati dalam beberapa puluh tenda.
Gochin Baki girang bukan kepalang, akan tetapi Kwee Ceng sebaliknya murung, apalagi hari pernikahan semakin dekat. Lie Peng dapat melihat kedukaan dan kebingungan putranya, pada suatu malam ia menanyakan sebabnya. Kwee Ceng berlaku terus-terang dengan menutur hal pergaulannya dengan Oey Yong. Mengetahui hal putranya ini, nyonya Kwee berdiam.
"Ibu, anakmu menghadapi kesukaran ini, bagaimana baiknya?" Kwee Ceng tanya.
"Budi Khan sangat besar mana dapat disia-siakan?" kata sang ibu. "Halnya Yong-jie, anak ini walaupun aku belum pernah melihatnya, mesti dia manis sekali"
"Ibu, kalau umpama ayah menemui urusan begini, apa yang akan diperbuat?" Kwee Ceng tanya pula.
Ini pertanyaan luar biasa. Lie Peng melengak. Kemudian ia tunduk, memikirkan sifat suaminya, yang ia kenal baik sekali.
"Ayahmu lebih suka menderita daripada menyia-nyiakan orang lain," jawab ibu ini akhirnya.
Kwee Ceng bangkit, ia berkata dengan gagah: "Anak belum pernah bertemu sama ayah akan tetapi anak akan mencontoh siIatnya Jikalau Yong-jie selamat, anak akan memenuhi janji dan akan menikahi putri Cochin Baki, apabila Yong-jie terjadi sesuatu, anak tidak akan menikah seumur hidup,"
"Memang begitu mestinya," pikir sang ibu. "Tidak boleh keluarga Kwee dibikin putus turunan olehmu. Tapi anak ini kukuh seperti ayahnya, tidak ada gunanya" Maka ia tanya:
"Habis bagaimana kau hendak bicara sama Khan?"
"Aku akan bicara terus-terang," sahut sang anak.
Lie Peng adalah ibu bijaksana, ia bersedia mengiringi kehendak anaknya. "Baik," katanya. "Di sini kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi, nah pergi kau bicara sama Khan. Besok pagi kita berangkat ke selatan."
Kwee Ceng mengangguk. Ibu dan anak ini lantas berbenah membuntal bungkusan. Mereka cuma membekal pakaian seperlunya dan sejumlah uang, yang lainnya, yang menjadi hadiahnya Jenghiz Khan, mereka biarkan saja.
"Sekarang aku hendak pamitan dari putri Gochin Baki," kata Kwee Ceng.
Lie Peng bersangsi. "Mana dapat itu diberitahukan dia," katanya. "Baik kau pergi dengan diam-diam saja supaya dia tidak bersusah hati"
"Tidak. ibu, aku mesti bicara sama dia," kata Kwee Ceng pasti. Dan ia bertindak pergi.
Putri Gochin Baki berdiam bersama ibunya di sebuah kemah. Selama beberapa hari ia gembira sekali, ia repot menyiapkan segalanya untuk pernikahan, maka ia heran waktu mendengar Kwee Ceng di luar kemah memanggil dirinya. Ia pun likat ketika ia berkata
“Ibu"
Sang ibu tertawa dan berkata: "Beberapa hari lagi kamu bakal menikah, satu hari tidak bertemu pun tidak dapat Baiklah, kau pergilah menemui dia"
Gochin bersenyum, lantas ia pergi keluar. "Engko Ceng" katanya perlahan.
"Adik, aku ingin bicara sama kau," berkata Kwee Ceng, yang lantas mengajak si nona bertindak ke arah barat, terpisah jauh dari perkemahan. Di sana mereka duduk di atas rumput.
Gochin menyenderkan tubuhnya di tubuh si anak muda. "Engko Ceng, aku juga ingin bicara denganmu," katanya perlahan.
Kwee Ceng terperanjat. "Oh, kau pun telah mengetahuinya?" katanya. Ia lantas pikir: "Dia sudah tahu, ini lebih baik lagi, jadi aku tidak usah bicara banyak"
"Tahu apa?" kata si putri, ia heran. "Aku hanya hendak memberitahukan kau bahwa aku bukan anak dari Kha Khan"
"Apa kau bilang?" tanya Kwee Ceng, heran.
Gochin mengangkat kepalanya memandangi si Putri Malam yang baru mulai muncul. "Kalau nanti aku sudah menikah sama kau," berkata si putri perlahan, "Aku akan melupakan diriku bahwa akulah anak Jenghiz Khan, melainkan aku ialah istrinya Kwee Ceng, maka apabila kau hendak memukul aku atau memaki aku, kau boleh memukul dan memakinya, jangan karena kau pikir ayahku Khan yang agung, kau nanti merasa terhina."
Kwee Ceng terharu sekali. "Adikku, kau sangat baik," katanya, "Maka sayang sekali, aku tidak setimpal dijodohkan dengan kau"
"Kenapa tidak setimpal?" Gochin tanya. "Di kolong langit ini kaulah orang yang paling baik, kecuali ayah, tidak ada yang dapat menimpali kau. Keempat kakakku itu, mereka tidak ada separuh mu"
Kwee Ceng berdiam, tidak dapat membuka mulut, untuk memberitahukan bahwa besok, saat sang pagi datang, ia bakal meninggalkan Mongolia.
"Di dalam beberapa hari ini, aku girang sekali," Gochin berkata pula. "Ketika aku mendengar kabar kau mati, aku ingin lantas turut mati juga, syukur sekali Tuli telah merampas golok dari tanganku. Kalau tidak mana bisa sekarang aku menikah denganmu? Engko Ceng, jikalau aku tidak dapat menikah sama kau, benar-benar aku tidak suka hidup lagi."
Kwee Ceng berdiam. "Kalau Yong-jie, tidak bisa ia bicara begini padaku," pikirnya. "Keduanya, mereka baik sekali terhadapku" Ingat oey Yong, ia menghela napas.
"Eh, mengapa kau menarik napas?" Gochin heran.
"Tidak apa-apa" menyahut si anak muda bersangsi.
"Ah, kau tentu ingat kakakku yang nomor satu dan nomor dua," kata si putri. "Mereka memang tidak menyukai kau. Tapi di sana ada kakakku yang nomor tiga dan nomor empat, mereka baik sekali kepadamu. Baik kau jangan berduka, di depan ayah aku telah mengatakan bahwa kakak yang nomor satu dan nomor dua itu tidak baik, yang baik ialah kakak nomor tiga dan nomor empat."
Kwee Ceng heran. "Kenapa begitu?" ia tanya.
Gochin agaknya senang. "Aku telah mendengar ibu berkata bahwa sekarang usia ayah sudah lanjut dan ayah lagi memikir mengangkat putra mahkota. Coba kau terka, siapa yang bakal terpilih?"
"Pasti kakakmu yang paling tua Juji," menyahut Kwee Ceng. "Dia berusia paling tua dan jasanya pun besar."
Putri itu menggeleng kepala ia tertawa. "Kau menerka keliru," bilangnya. "Menurutku, kakak yang nomor tiga, atau kakak yang nomor empat."
Juji, putra sulung dari Jenghiz Khan, pintar dan pandai bekerja, putra nomor dua Jagatai, gagah dan pandai berperang. ogotai, putra nomor tiga, gemar minum dan berburu, hatinya lapang dan jujur. Dia menginsyafinya, yang bakal menggantikan ayahnya tentu Juji atau Jagatai, bahwa ia tidak mempunyai pengharapan, dari itu ia tidak turut itu kedua saling bersaing mengejar kedudukan Khan yang maha agung, karena ini, beberapa saudaranya, juga adiknya yang perempuan, baik sekali dengannya. Maka itu Kwee Ceng menyangsikan hanya dengan kata-kata Gochin Jenghiz Khan akan menukar putra mahkota pilihannya itu. Kesangsian ini ia utarakan pada putri itu.
"Aku juga tidak tahu pasti, aku menduga saja," kata Gochin, " Hanya andaikata benar salah satu kakakku yang nomor satu atau yang nomor dua menjadi Khan, kau jangan khawatir, jikalau mereka berani mengganggumu, aku akan mengadu jiwa dengan mereka" GochinBaki berani berkata begitu, sebab ia sangat disayang ayahnya hingga keempat saudaranya mengalah terhadapnya.
Kwee Ceng tahu putri ini bakal lakukan apa yang dikatakannya, ia bersenyum. "Tak usahlah kau sampai berbuat demikian," katanya.
"Itu yang diharap. umpama kata saudaraku itu memperlakukan kita berdua tidak selayaknya,. kita berangkat saja ke selatan"
"Aku justru hendak membilangi aku hendak pulang ke selatan" kata Kwee Ceng seketika.
Gochin heran hingga ia melengak. "Aku khawatir ayah dan ibuku tidak akan memberi ijin" katanya.
"Tapi aku akan pergi seorang diri"
"Ah, aku selalu mendengar perkataanmu," kata putri itu. "Kau bilang hendak pulang ke selatan, aku akan turut kau, jikalau ayah dan ibuku tidak mengijinkannya, kita pergi secara diam-diam"
Kwee Ceng tidak dapat menahan sabar lagi. Ia berlompat bangun. "Aku berdua ibuku yang akan pulang ke selatan" katanya.
Kembali Gochin Baki heran, hingga dia duduk menjublak, matanya mengawasi si pemuda, yang juga memandang kepadanya. Dia masih belum mengerti maksud orang.
"Adikku, maafkan aku, menyesal aku tidak dapat menikah denganmu," kata Kwee Ceng sesaat kemudian.
"Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan?" tanya si putri. "Apakah kau menyesal aku tidak membunuh diri? Benarkah itu?"
"Bukan, bukannya kau bersalah" kata Kwee Ceng. "Akupun tidak tahu siapa yang salah, hanya setelah aku pikir-pikir, yang salah itu ialah aku. Duduk perkaranya begini"
Pemuda ini lantas menuturkan hal persahabatannya sama oey Yong. Ketika ia menceritakan sampai di bagian Oey Yong ditawan Auwyang Hong dan ia telah mencarinya setengah tahun lebih dengan sia-sia, Gochin menepas air mata karena ia turut merasa kasihan atas nasib nona yang dianggap bernasib malang itu.
"Maka itu, adikku kau lupakanlah aku," kata Kwee Ceng. "Aku hendak mencari dia."
"Setelah kau berhasil mencari dia, kau akan datang menjenguk aku atau tidak?" menanya si nona bangsawan.
"Jikalau dia selamat, aku pasti akan kembali ke Utara ini," Kwee Ceng menyahut, "Waktu itu, jikalau kau tidak menyia-nyiakan aku dan tetap masih menginginkannya, aku akan menikah denganmu, aku tidak akan menyesal."
"Jangan kau bilang begitu," berkata si putri. "Kau tahu sendiri, aku ini untuk selama-lamanya ingin menikah sama kau. Nah, kau pergilah mencari dia. Kau cari dia, sepuluh tahun, dua puluh tahun, asal aku masih hidup, aku akan menantikan kau di padang rumput ini."
Kwee Ceng terharu bukan main. "Ya, sepuluh tahun, dua puluh tahun, akan aku cari dia," ia bilang. "sepuluh tahun, atau dua puluh tahun, aku pun akan selalu mengingat kau di sini, di padang rumput, lagi menantikan aku."
Gochin berlompat bangun, ia menyesapkan diri di dada si anak muda, ia menangis tersedu sedan. Kwee Ceng memeluk perlahan lahan, matanya pun merah.
Justru waktu itu, empat penunggang kuda lari mendatangi dari arah barat dan lewat di dekat sepasang muda-mudi ini, mereka langsung menuju ke kemah Jenghiz Khan. Ketika terpisah lagi beberapa puluh tombak dari kemah, kuda yang satu roboh terguling, tidak dapat bangun lagi. Itulah tanda latihannya yang sangat. Penunggang kudanya telah berlompat bangun, terus dia kabur ke dalam kemah.
Hanya sejenak saja, maka dari dalam kemah lari keluar sepuluh serdadu, mereka berdiri di empat penjuru kemah, untuk memperdengarkan suara terompetnya.
Itulah terompet tanda panggilan kilat untuk sekalian perwira. Kalau terompet itu dibunyikan, tidak perduli pangeran atau panglima yang tersayang, apabila Khan yang agung menghitung dengan tekukan sepuluh jarinya tetapi ada yang belum datang memenuhi panggilan, maka dia bakal segera dihukum potong kepala tanpa ampun lagi. Kwee ceng ketahui itu.
"Kha Khan menghimpun panglima perang" katanya.
Tanpa banyak bicara lagi, ia meninggalkan Gochin Baki untuk kabur pulang. Ia menggunakan ilmunya ringan tubuh. Dari segala penjuru, ia mendengar derap kaki kuda. Ketika ia tiba di kemah Jenghiz Khan justru baru menekuk jeriji tangannya yang ke lima. Waktu delapan jari tangan telah tertekuk. maka kumpullah semua putra dan panglimanya.
Jenghiz Khan sudah lantas berkata nyaring: "Adakah raja anjing itu mempunyai putra-putra yang begini gesit? Adakah dia mempunyai panglima-¬panglima perang yang begini gagah?"
"Tidak" menyahut sekalian pangeran dan panglima berbareng.
Jenghiz Khan menepuk dada. "Kalian lihat" katanya pula. Dia menunjuk. "Inilah perutusanku yang dikirim ke Khoresm. Apakah yang raja anjing telah perbuat atas budak-¬budakku yang setia?"
Semua orang berpaling ke arah yang ditunjuk junjungan mereka. Di situ ada beberapa orang Mongolia dengan muka bengkak dan matang biru dan kumisnya terbakar bersih. Kumis tanda keagungan dari seorang pahlawan Mongolia. Kalau kumis terbentur saja sudah satu penghinaan, sekarang terbakar habis. Maka semua panglima itu menjadi sangat gusar hingga mereka berseru-seru.
KHORESM atau KHIVA, Dahulu suatu negara dibawah pemerintahan seorang Khan, dan sekarang menjadi salah satu propinsi daripada negara bagian USBEKISTAN di UNI SOVIET.
"Khoresmia itu suatu negara besar di sebelah Barat kita," berkata pula Jenghiz Khan. "Oleh karena kita memusatkan perhatian dalam penyerangan kepada anjing Kim, terhadapnya kita suka mengalah .Juji, anakku, kau bilang, bagaimana sikapnya itu anjing Muhammad terhadap kita?"
Juji maju satu tindak. ia menyahut dengan nyaring: "Satu Tahun lalu ayah menitahkan anakmu menyerang bangsa Mergid yang harus mampus, anak pulang dengan kemenangan. Ketika itu Muhammad telah mengirim satu pasukan perangnya menggencet bangsa Mergid itu. Karena kedua pasukan telah bertemu satu sama lain. Anak lantas mengirim utusan untuk mengadakan perhubungan baik dengan membilang ayah suka bersahabat dengan Khoresm. Lantas Muhammad bilang: "Meskipun Jenghiz Khan tidak menitahkan kamu menyerang aku akan tetapi Tuhan memerintahkan aku menghajar kamu." Kita jadi bertempur dan kita menang, hanya pada waktu tengah malam, lantaran jumlah musuh lebih besar sepuluh lipat, diam-diam aku mengundurkan diri"
"Walaupun demikian, Kha Khan masih tetap berlaku baik terhadapnya," berkata Boroul. "Waktu kita mengirim kafilah perdagangan, semua barang kita dirampas Muhammad dan semua saudagarnya dibunuh mati, sekarang mengirim utusan untuk mengikat persahabatan, Muhammad telah mendengar ojokannya Wanyen Lieh si pangeran anjing dari negara Kim, dia membunuh utusan kita yang gagah dan menyerang pengiring-pengiring utusan itu, separuh pengiring dibinasakan dan separuhnya lagi dibakar kumisnya lalu diusir pulang"
Mendengar disebutnya nama Wanyen Lieh, Kwee Ceng ikut bicara. "Apakah Wanyen Lieh ada di Khoresm?" ia tanya.
"Anjing Kim itu berserikat sama Khoresm," berkata Jenghiz Khan, "Mereka hendak menggencet kita. Apakah kita takut?"
"Khan kita yang agung tak ada tandingannya di kolong langit ini" berseru para panglima. "Kha Khan, kau titahkan kita pergi menyerang Khoresm, nanti kita menggempur kota-kotanya, kita membakar rumah¬-rumahnya, kita membunuh habis rakyatnya laki-laki dan perempuan, kita rampas hewan mereka"
"Muhammad mesti dibekuk, Wanyen Lieh mesti dibekuk" Jenghiz Khan menambahkan.
"Ya" berseru para hadirin hingga api lilin di dalam kemah jadi berkelak- kelik,
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
"Apa sih lapar atau tidak lapar? Sengaja aku hendak membikin kau merasai sakit, baru aku akan mengobatimu"
Tin ok gusar, ia menjeblok dengan mangkuk labunya. si nona tertawa dingin, satu serdadu sebaliknya menjerit kesakitan, sebab ia bisa berkelit dan si serdadu tidak.
"Buat apa menjerit-jerit" kata si nona.
"Kau tahu, Kwa Tayhiap membagi sayur labu padamu. Kau tidak tahu terima kasih Lekas bikin bersih"
Serdadu itu takut, ia lapar dan kesakitan, ia lantas bekerja memunguti, ia dahar itu. Ia kesakitan karena mukanya yang kena sayur panas itu. Tin Ok mendongkol bukan main, ia mendongkol dan bergusar tanpa dapat melampiaskannya. Ia duduk separuh menyender, mukanya menyeringai. Ia berniat mencabut anak panah di kakinya, tapi tidak berani. Ia khawatir nanti darahnya menyembur dan ia sukar menyumbatnya. Memang celaka kalau si nona tidak menolong membalut lukanya. Dengan terpaksa, ia menutup mulut.
"Lekas ambil air dingin" menitah si nona bengis. "Lekas"
Perintah itu dibarengi sama tamparan nyaring ke muka serdadu. Tin Ok mendengar itu, ia pikir. "Hebat ini siluman perempuan. Kalau dia tidak bicara, tidak apa asal dia membuka mulutnya, tentulah orang bercelaka"
"Ambil pisau" memerintah pula si nona. "Kau potong ujung bajunya Kwa Tayhiap di dekat lukanya itu" Perintah itu dilakukan satu serdadu.
"Orang she Kwa, kalau benar laki-laki, jangan kau menjerit kesakitan" kata si nona. "Jangan kau membikin nonamu mendongkol, nanti dia tidak mau memperdulikan lagi dirimu"
"Memangnya siapa yang kesudian kau memperdulikannya?" kata Tin Ok sengit. "Lekas kau pergi jauh-jauh" Tapi belum ia bicara habis, mendadak ia merasakan pahanya sangat sakit. Orang telah memegang gagang panah, bukan panah itu dicabut hanya ditusukkan sakit dan kaget, sebelah tangannya melayang. Sekali lagi ia merasakan sakit, kali ini pada tangannya, sebab pada tangannya itu dibelesaki anak panah.
Oey Yong mencabut anak panah dan menyerahkan itu pada siterluka. "Jikalau kau bergerak lagi satu kali, aku akan gaplok dirimu" terdengar pula suara si nona.
Tin ok sangat mendongkol tetapi ia berdiam. Ia tahu, si nona berbuat apa yang dia katakan. Sekarang ini ia bukan tandingan nona itu. Sungguh hina kalau ia sampai digaploki oey Yong. Dengan muka merah padam, ia menutup mulut. Ia mendengar orang membeset beberapa kali pada potongan bajunya, ia merasa lukanya dibalut keras sekali, guna mencegah keluarnya darah. Habis itu ia merasakan dingin. Si nona lagi mencuci lukanya. Ia menjadi heran. "Kalau dia mau bikin aku celaka, kenapa dia menolong? Kalau dia mau mendongi aku Hm Hm Ayah dan anaknya ini, siluman-siluman dari Tho Hoa To, benarkah mereka suka mendongi aku? Boleh jadi dia lagi menggunakan akal jahatnya"
Dilain saat, oey Yong sudah selesai mengobati. Tin ok segera merasakan sakitnya berkurang sebagian besar. Ia tidak tahu oey Yong telah memakai obat siauw Hoan Tan dari Tho Hoa To, obat mustajab nomor satu untuk luka-luka. Setelah itu, ia merasakan lapar, perutnya berbunyi keruyukan.
"Aku kira laparmu palsu, kiranya lapar tulen" kata si nona mengejek, tertawanya dingin. "Baiklah, mari kita berangkat"
Ia bukan mengasih makanan, ia mengajak pergi. Pula ia telah mengayun tangannya, maka kedua serdadu tukang gotong itu kembali merasa sakitnya tongkat dari Partai Pengemis. Mereka ini menggotong lagi orang yang luka itu, yang mereka diperintah memanggilnya "toaya" atau "tuan besar".
Kali ini orang berjalan kira-kira empat puluh lie, sang magrib telah datang, burung-burung gagak pada berbunyi berisik sekali. Entah ada berapa ribu gagak di situ.
Tin ok kenal baik kota Kee-hin, maka tahulah ia telah dibawa ke dekat Tiat ciang Bio, kuil di mana dipuja Tiat Ciang ong Gan ciang si Tombak Besi, panglima perang yang kesohor di jaman Ngo Tay. Di samping kuil itu ada sebuah menara besar, yang sudah semenjak lama menjadi sarang gagak. Penduduk menyangka burung itu burung malaikat, mereka tidak berani mengganggu, maka makin lama burung hitam itu makin banyak.
"Ah, hari sudah gelap. di mana di sini kita mencari pondokan?" berkata si nona.
Tin ok lantas berpikir: "Kalau kita menumpang di rumah penduduk. ada kemungkinan rahasia nanti bocor dan tentara negeri bisa datang untuk melakukan penangkapan" Karena ini, ia menyahut:
"Di sebelah depan, tidak terlalu jauh, ada sebuah kuil tua lainnya."
Si nona tidak menjawab, hanya ia berkata bengis: "Apakah bagusnya burung gagak untuk dipandang? Memangnya kamu belum pernah melihat? Lekas jalan" Kedua serdadu lantas berjalan lagi, kesakitan, ketakutan dan lelah sekali.
Tidak lama sampailah mereka di Tiat Ciang Bio. Kwa Tin ok mendengar oey Yong menolak pintu. Segera hidung mereka tersampok bau kotoran gagak. Itulah tanda kuil sudah lama kosong dan tidak terurus. Ia tadinya menduda nona itu bakal menggerutu karena kuil kotor, tidak tahunya si nona tidak memperdulikannya. Ia lantas mendengar kedua serdadu diperintah menyapu kotoran dan kemudian masak air.
Oey Yong sendiri mengganti obat si jago Kang Lam, habis itu baru dia sendiri pergi mencuci muka dan kaki. Tin ok merebahkan diri di ujung meja. Belum lama, terdengarlah suara si nona:
"Perlu apa kamu memandangi kakiku? Memangnya kakiku dipertontonkan kepada kamu? Awas, aku nanti korek biji matamu" Kedua serdadu itu ketakutan, mereka menjatuhkan diri dan mengangguk-angguk hingga jidatnya nyaring mengenai lantai.
"Bilang, perlu apa kamu mengawasi aku mencuci kaki?" si nona bertanya lagi.
"Maafkan, nona," kata satu serdadu sambil mengangguk lagi. "sebenarnya hambamu melihat kaki nona bagus sekali"
"Celaka betul," pikir Tin ok. "Mereka masih main gila Entah mereka bakal dikeset kulitnya dan dibetot otot-ototnya atau tidak oleh si nona"
Tapi oey Yong tertawa, katanya: "Macam tolol sebagai kamu masih mengetahui apa yang bagus dan apa yang tidak? Hm"
Dan satu serdadu jumpalitan, karena dihajar tongkat si nona. Setelah itu kedua serdadu itu pergi bersembunyi di belakang. Tin ok diam saja, ia ingin ketahui apa bakal terjadi pula.
Oey Yong berjalan mondar mandir, kemudian terdengar ia mengoceh seorang diri: "Ong Tiat Ciang gagah luar biasa, akhirnya ia toh kepala terpisah dari tubuhnya. Apakah artinya seorang enghiong? Apakah artinya seorang hoohan? Ah, tombak besinya ini tentulah tombak karatan"
Di masa mudanya, sebelum matanya buta, Tin ok bersama Han Po Kie dan yang lainnya pernah main di kuil Ong Gan ciang ini, meski mereka masih kecil, mereka pernah bergantian mencoba mengangkat tombak besi itu, maka mendengar perkataannya nona itu, ia menyahut:
"sudah pasti tombak itu tombak besi, bukan tombak palsu"
"Ah" berkata si nona, yang terus mengangkat tombak itu. "Beratnya tombak ini kira-kira tiga puluh kati. Aku telah membikin tongkatmu hilang, aku belum sempat menggantinya, karena besok kita bakal berpisah, untuk pergi masing-masing, sebab kau tidak mempunyai senjata, baiklah kau ambil tombak ini untuk dipakai sebagai gantinya tongkat."
Tanpa menanti persetujuan oey Yong pergi membikin patah ujung tombak yang tajam, lalu ia menyerahkan tombak yang tinggal gagangnya itu, yang menjadi semacam toya atau tongkat.
Tin ok berduka ketika mendengar si nona bilang besok mereka bakal berpisah. Sekarang ia sebatang kara. Pula aneh, setelah berkumpul seharian sama si nona, sekarang merasa berat untuk berpisahan. Ia memegangi tombak itu, yang antap beratnya, ia merasa senjata itu cocok untuknya. Ia pun berpikir "la memberikan senjata kepadaku, nyata ia tidak bermaksud jahat."
Lalu ia mendengar si nona berkata kepadanya: "Ini obat siauw Hoan Tan bikinan ayahku. obat ini ada faedahnya untuk lukamu. Kau membenci kami ayah dan anak. terserah kepadamu untuk memakainya atau tidak"
Tin ok merasakan tangannya dijejalkan sebuah bungkusan, ia menyambut itu dan memasukkannya perlahan-lahan ke dalam saku. la tidak dapat membilang apapun. Ia mengharap si nona masih berkata-kata, tapi apa yang ia dengar hanya ini:
"Nah, sekarang tidurlah" Lalu sunyi segalanya.
Jago Kanglam ini merebahkan diri, tombaknya diletakkan di sisinya. Tidak bisa ia lantas tidur pulas. Ada saja pikiran yang menyandinginya. Ia mendengar suara gagak yang berisik, namun makin lama makin reda, lalu sunyi segalanya. Mengenai si nona, ia merasa orang tidak tidur hanya duduk terus, duduk tanpa berkutik. Adalah kemudian, terdengar nona itu mengatakan seorang diri, suaranya perlahan, bersenandung. Dia membacakan syairnya Eng Kouw, yang Tin ok tidak mengerti maksudnya. Hanya jago Kanglam ini merasa suara orang sedih, hingga ia menjadi terharu.
Tidak lama dari itu barulah si nona bergerak. rupanya dia merebahkan diri Kemudian, suara napasnya menjadi perlahan lalu berhenti.
Tin ok meraba tombak di sisinya. Kesunyian membuatnya ia berpikir. Di depan matanya lantas bagaikan berpeta Cu Cong lagi membaca kitab bututnya dan Han Po Kie dan coan Kim Hoat seperti lagi menarik-narik kumis patung malaikat. Ia merasakan seperti bermimpi bersama Lam Hie Jin dan Thio A seng tengah saling menarik tombak besi itu, sedang siauw Eng - baru berumur empat atau lima tahun, dua kuncirnya ngacir, selagi dia tertawa haha-hihi, kuncirnya itu memain dengan benang merahnya. Hanya sekejap. segalanya menjadi gelap.
Lenyap segala pertanyaan itu sebaliknya timbullah hawa amarahnya, muncul kebencian yang hebat terhadap si nona. Maka ia berbangkit, sambil membawa tombaknya, ia berindap-indap mendekati si nona. Ia mendengar suara napas yang enteng, bukti bahwa nona itu lagi tidur nyenyak.
"Jikalau aku hajar dia, akan mati tanpa merasa," pikirnya jago ini, yang pikirannya seperti waswas itu. "Tanpa bersikap begini, karena Oey Lao shia sangat kosen, mana bisa aku menuntut balas? Anaknya ini lagi tidur, ini kesempatan yang baik pemberian Thian. Biarlah Tong shia merasakan enaknya kematian anak" Cuma sebentar ia berpikir begitu, ia ingat pula: "Anak ini pernah menolong jiwaku, dapatkah aku membalas kebaikan dengan kejahatan? Ah, biarlah Habis membunuh dia, aku pun membunuh diri di sampingnya, guna membalas budinya"
Cuma bersangsi sebentar, Tin ok segera mengangkat tombaknya. la telah pikir pula: "Aku Kwa Tin ok. seumurku aku jujur dan pemurah, selama beberapa puluh tahun hidupku, tidak pernah aku melakukan apa-apa yang tidak pantas. sekarang aku dapat kembali ke kampung halamanku, meski mati, tidak ada yang dibuat sesalan lagi"
Tepat saat ia mengerahkan tenaga, mendadak mendengar suara tertawa nyaring dari kejauhan, suara itu menyeramkan, membangunkan bulu roma.
Oey Yong terbangun, ia terus berlompat. Maka kagetlah ia menyaksikan Kwa Tin ok lagi mengancam dengan tombaknya Ong Gan cian itu Tapi ia berteriak.
"Auwyang Hong"
Tin ok kecele. Tidak dapat ia meneruskan serangannya itu. la pun segera mendengar suara bicaranya beberapa orang, yang terus mendatangi ke arah kuil. setelah itu, ia mendengar tindakan kaki, mungkin dari tiga sampai empatpuluh orang, terdengarnya di depan dan belakang kuil, di kedua samping.
Setelah mendengar sekian lama, Tin ok berkata dengan perlahan: "Terang mereka datang kemari karena mendapat dengar suara burung gagak. Mari kita sembunyi"
oey Yong setuju, Tin ok menuntun tangan orang untuk diajak pergi ke belakang tapi di pintu pendopo bagian belakang itu, ia mengutuk kedua serdadu tadi. Pintu itu dikunci mereka. sedang begitu, di depan terdengar suara pintu ditolak, Jadi untuk mereka, tidak ada waktu untuk pergi keluar.
"Mari kita bersembunyi di belakang patung," katanya.
Oey Yong menurut. la pun tidak melihat tempat sembunyi lain. Baru mereka memernahkan diri Tin ok mencium bau belerang, maka tahulah ia orang menyalakan api.
"Paduka yang mulia Chao Wang," lalu terdengar suara Auwyang Hong. "Kali ini dalam pertempuran di Yan le Lauw kita tidak memperoleh hasil tetapi kesudahannya kita telah memberi hajaran semangatnya musuh"
Chao Wang atau Wanyen Lieh, tertawa. "Dalam segala hal aku mengandalkan sianseng," ia berkata. "Begitu juga di lain hari, dalam urusan mengambil kitab di Tiat Ciang Pang, aku mengharap sangat bantuan sianseng."
"ltu pasti" kata Auwyang Hong. "sebenarnya, kalau bukan paduka yang mulia telah mengalami bahaya besar ini, siapa menyangka kitab Gak Bu Bok itu adanya di puncak Tiat Ciang Hong?"
"Beberapa budak sianseng telah menolong jiwa anakku, aku berterima kasih sekali," berkata pula Chao Wang si pangeran Kim. "Aku telah kirim mereka ke kota raja, di sana mereka dirawat seumur hidupnya."
"ltu semua menandakan kebaikan paduka yang mulia," kata Auwyang Hong tertawa.
"Khiu Pang cu telah menjadi gusar dan pulang ke gunungnya," kemudian Wanyen Lieh berkata pula, "Di sana pasti dia bakal melakukan penjagaan kuat sekali, maka itu sianseng ada mempunyai akal apa untuk mendapatkan kitabnya Gak Hui itu?"
"Paduka yang mulia mempunyai banyak orang pandai, apakah artinya satu partai Tiat Ciang Pang?" berkata see Tok. "Biarpun Khiu Cian Jin lihay, Auwyang Hong merasa sanggup untuk melayani dia" la lantas tertawa kering.
Lalu terdengar suara Nio Cu ong, Pheng Lian Houw, see Thong Thian dan lainnya, yang mengumpak-umpak see Tok, sebaliknya Khiu Cian Jin tidak dipandang mata sama sekali.
Setelah itu terdengar suara seorang muda: "Tuan-tuan, kata-katamu tidak tepat. Khiu Pangcu lihay sekali, aku telah melihatnya dengan mataku sendiri Aku percaya, selain Auwyang sianseng, tidak ada yang sanggup menandingi dia."
Tin ok mengenal suaranya Yo Kang, hatinya panas sekali. Perkataan Yo Kang itu membikin Nio Cu ong semua kecele dan malu.
"Khiu Cian Jin si tua bangka seperti ampas, sekalipun Kwee Ceng bocah dia tidak dapat mengalahkannya" tiba-tiba terdengar suara Leng Tie siangjin. " Kepandaian dia itu biasa saja"
Mendengar itu, Auwyang Hong tertawa dingin. "Kalau begitu, dapatkah sianjin mengalahkan Kwee Ceng?" ia bertanya.
Diam-diam orang tertawa. Mereka ingat peristiwa di Ci Han Tong di istana di mana Leng Tie siangjin telah dibikin terlempar dari dalam air tumpah.
"Bukan aku memandang rendah kepada siangjin," berkata pula Auwyang Hong. "orang dengan kepandaian seperti kau, meski kau belajar lagi sepuluh tahun, belum tentu kau dapat menjadi tandingan Khiu Pangcu. Nama Tiat Ciang sui¬siang-pauw menggetarkan dua propinsi Lian ouw, hingga aku sekalipun, tidak berani memandang enteng terhadapnya" sekali lagi see Tok tertawa kering.
Leng Tie siangjin mendongkol bukan main, ia malu, akan tetapi ia tidak berani membuka mulut guna melawan bicara. Mukanya menjadi merah.
Kwa Tin ok mendengar orang bicara, ia menahan napas. Ia mengenal semua orang tangguh itu. Kalau tadi ia ingin mati bersama oey Yong, sekarang sebaliknya ia khawatir dirinya dan si nona nanti terbinasakan.
Habis itu terdengar hamba-hambanya Wanyen Lieh mengatur tatakan untuk Wanyen Lieh bersama Yo Kang dan Auwyang Hong beristirahat.
"Auwyang sianseng," terdengar suara Yo Kang. "Dalam buku siangkoan Kiam Lam, boanpwee melihat ada catatan tentang ilmu untuk memecahkan pukulan Tangan Besi."
Auwyang Hong girang mendengar keterangan itu hingga ia berlompat bangun sambil menegasi:
"Benarkah itu?"
"Boanpwee tidak berani mendusta," kata Yo Kang, yang menyebut diri "boanpwee", yang terlebih muda. "Hanya sayang, bagian pelajaran itu termuat di dalam halaman-halaman yang justru kena dirobek-robek si perempuan hina dina"
Auwyang Hong menyesal sekali. Ia tidak takut Khiu Cian Jin tetapi kepandaian orang itu ia malui. Maka sayang ilmu memecahkan ilmu silat Tangan Besi telah lenyap dan musnah.
"Boanpwee telah membaca, bunyinya masih boanpwee ingat samar-samar," berkata pula Yo Kang, "Sayang kepandaianku tidak berarti dan aku tidak dapat menyelami catatan itu. Di dalam hal ini boanpwee mengharap petunjuk sianseng."
Mendengar ini, timbul harapannya see Tok. "Bagus, bagus" serunya. Hanya sejenak, ia terus menghela napas. Kemudian ia berkata: "Keponakanku telah terbinasa di tangan Oey Yok su dan orang-orang Coan Cin Pay, dengan begitu Pek To san menjadi tidak ada ahli warisnya lagi. Aku pikir baiklah aku ambil kau sebagai muridku."
Yo Kang girang bukan main. Inilah justru harapannya. Tidak ayal lagi, ia berlutut di hadapan see Tok, untuk paykui.
Tin ok menyesal dan mendongkol bukan main. "Dia turunan baik-baik, mengapa sekarang dia mengakui musuh sebagai ayahnya?" pikirnya. "sudah begitu, mengapa dia juga mengangkat orang jahat sebagai gurunya? Dia tenggelam semakin dalam, mungkin tidak ada harapan untuk ia berbalik pikir."
Melihat putranya mengangkat guru, Wanyen Lieh berkata: "Di sini di tanah asing tidak dapat disediakan hadiah untuk upacara mengangkat guru ini, baiklah ditunda sampai lain hari."
Auwyang Hong tertawa dan berkata. "Tentang barang permata, di Pek To San telah tersedia cukup, Auwyang Hong cuma mengharap bakat baik dari anak ini, supaya dia menjadi ahli warisku yang berarti."
"Sianseng, maaf," berkata Wanyen Lieh.
Nio Cu ong beramai lantas memberi selamat kepada Auwyang Hong, Yo Kang dan pangeran Kim. yang pertama karena mendapat murid, yang kedua karena mendapat guru, dan yang ketiga karena putranya mendapat guru pandai.
"Tengah ramai mereka memberi selamat, mereka mendengar seorang berkata-kata nyaring: "Sa Kouw sudah lapar sa Kouw sudah lapar sekali Kenapa aku tidak diberi makan?"
Kwa Tin ok mendengar suara itu yang ia mengenalinya, ia menjadi heran. "Kenapa anak itu berada bersama Wanyen Lieh dan Auwyang Hong?" pikirnya.
"Benar" terdengar suara Yo Kang, yang tertawa. "Lekas cari makanan untuk si nona, jangan bikin ia kelaparan hingga nanti sakit"
Tidak lama setelah suara pangeran muda itu, sa Kouw terdengar sudah mulai memakan apa-apa sembari makan maka terdengar pula suaranya.
"Saudara yang baik, kau bilang hendak mengajak aku pulang, kau minta aku selalu mendengar perkataanmu, tetapi kenapa sampai sekarang aku masih belum sampai di rumahku?"
"Besok kita akan sampai di rumahmu," kata Yo Kang. "Sekarang kau dahar biar kenyang dan lantas tidur baik-baik,"
Sa Kouw berdiam, hanya sebentar. "Saudara yang baik," katanya pula, "suara apa itu di atas menara?"
"Kalau bukan burung tentulah tikus," sahut si pangeran muda.
"Aku takut," kata si nona tolol.
"Ah, nona tolol, takut apa?" Yo Kang berkata tertawa.
"Aku takut setan" sahut si nona.
"Di sini banyak orang, mana setan berani datang ke mari?" bilang pangeran muda itu.
Tin ok mendengar nyata, suara Yo Kang sedikit menggetar dan tertawanya pun tidak wajar.
"Aku takut setannya si kate dan gemuk itu," berkata si nona pula.
"Hus, jangan ngaco belo" kata Yo Kang, kembali tertawa.
"Apa sih si kate gemuk? Buat apa kau menyebut nyebut"
"Hm, jangan kau kira tidak tahu" berkata sa Kouw "si kate gemuk itu mati di kuburan nenekku maka arwah nenek bisa mengusir dia pergi dari pekuburan, untuk melarang dia tinggal di kuburan, setelah diusir, dia nanti pergi mencari kau"
"Tutup mulut" Yo Kang membentak. " Kalau kau terus banyak bacot, nanti aku panggil kakekmu, biar dia nanti membawa kau kembali ke Tho Hoa To" Ancaman itu rupanya memakan, sa Kouw lantas menutup mulutnya.
"Hai, kau menginjak kakiku" tiba-tiba see Thong Thian membentak. Rupanya si tolol, karena takutnya kepada setan, telah menggerakkan kakinya.
Tin ok segera berpikir. la percaya dengan si kate gemuk itu tentulah dimaksudkan Han Pe Kie, saudaranya yang nomor tiga. Saudara itu terbinasa di Tho Hoa To, terang dia dibunuh Oey Yok su, maka kenapa setannya hendak mencari Yo Kang? la heran.
Sa Kouw memang tolol tetapi kata-katanya itu mesti ada sebabnya, itu bukan ocehan belaka. Karena di situ ada banyak musuh, biarnya ia hendak menanyakan si nona tolol, tidak dapat ia melakukannya. Lalu ia ingat kata-kata Oey Yok su selama di Yan le Lauw bahwa dia adalah manusia macam apa dan bagaimana dia bisa sependapat dengan mereka.
"Oey Yok su tidak mau membunuhku, maka bagaimana dia dapat membunuh kelima saudaraku? Kalau bukan oey Yok su yang membunuhnya, kenapa adik yang nomor empat membilang dia melihat sendiri Oey Yok su membunuh saudaraku yang nomor dua dan nomor tujuh?"
Tengah ia berpikir, Tin ok merasa oey Yong menarik tangan kirinya dan di telapak tangannya lantas mencoret beberapa huruf, mulanya huruf "kiu" = minta, lalu yang lain: "satu hal." la lantas membalas dengan menuliskan pertanyaan: "urusan apa itu?" oey Yong menulis pula: "Membilangi ayahku siapa membunuh aku."
Mengetahui pertanyaan itu, Tin ok melengak. la tidak mengerti maksud si nona. sedangkan ia berpikir, Ia merasakan angin bergerak di sisinya, lalu oey Yong lompat keluar dari tempat sembunyi, sambil tertawa, nona itu berkata
"Auwyang Peehu, kau baik?"
Mendengar suara orang, Nio Cu ong semua terkejut, dengan serentak mereka menghunus senjata masing-masing, lantas mengambil sikap mengurung. Di antaranya ada yang berseru:
"siapa kau?"
Oey Yong tidak takut, ia bahkan tertawa terus. "Ayahku menitahkan menanti Auwyang Peehu di sini" katanya keras.
"Perlu apa kamu membikin banyak berisik tidak karuan?" Auwyang Hong tertawa.
"Bagaimana ayahmu ketahui aku bakal tiba di sini?" ia menanya.
"Ayahku mengerti ilmu bintang dan meramalkan tidak ada apa-apa yang ia tidak tahu," menyahut si nona. "Asal dia menghitung-hitung menuruti ilmu hitung Bun ong Kwa lantas dia tahu segalanya."
Auwyang Hong tidak menanyakan lagi, meski ia hanya percaya satu bagian dari perkataan si nona dan tidak mempercayainya yang sembilan bagian. See Thong Thian sendiri berlaku cerdik. Ia sudah lantas pergi ke luar kuil, kekelilingan, memeriksa, habis itu, ia masuk kembali dengan hati lega. Ia tidak mendapatkan kawan si nona. Sesudah menyimpan senjata masing-masing, orang merubungi Wanyen Lieh.
Oey Yong menghampiri tempat duduk. untuk bersila di situ. "Auwyang Peehu, kau membikin ayahku bersengsara" katanya, tertawa.
Auwyang Hong tidak menyahut. Ia tahu bocah ini lihay mulutnya, kalau ia salah omong, di depan orang banyak bisa mendapat malu. Maka ia menantikan perkataan lebih jauh dari si nona.
"Auwyang Peehu," berkata pula oey Yong. "Ayahku telah terkurung imam-imam dari Coan cin Kauw di dusun Sinteng-tin di Siauw Hong Lay, jikalau kau tidak menolong, dia sukar meloloskan dirinya."
See Tok bersenyum. "Mana bisa jadi" katanya.
"Enak sekali kau bicara, Auwyang Peehu" berkata pula si nona. "Seorang laki-laki, dia berbuat, dia bertanggung jawab. Terang-terang kaulah yang membinasakan Tam cie Hian, si imam dari Coan cin Kauw, entah kenapa sekarang kawanan imam telah menggerembengi ayahku. Sudah begitu muncul juga Loo Boan Tong ciu Pek Thong, yang mengacau. Ayahku tidak mau mengaku atau menyangkal semua itu, maka juga, habis bagaimana?"
Dalam hatinya, Auwyang Hong girang. Tapi ia kata, "Ayahmu lihay sekali, apa yang mereka bisa bikin itu beberapa bulu campur aduk?"
Sengaja See Tok menyebut imam-imam dari coan cin Kauw itu sebagai "bulu campur aduk".
"Tetapi ayahku juga bukan menghendaki kau datang sendiri untuk membantu padanya," berkata pula si nona, "Hanya ayah menyuruhku menyampaikan kepada kau bahwa setelah ia memikirkan susah payah selama tujuh hari dan tujuh malam, ia telah berhasil dengan pemahamannya. Ini mengenai sebuah kata-kata"
"Apakah itu?" Auwyang I Hong tanya.
Oey Yong menyahut. Ia membacakan serintasan kata-kata Sansekerta. Kwa Tin ok dan Wanyen Lieh serta rombongannya tidak mengerti ucapan si nona itu, sebaliknya Auwyang Hong menjadi terkejut.
"Benarkah Oey Yok su berhasil memahamkan bagian terakhir dari Kiu Im Cin-keng" pikirnya. Tapi karena ia seorang berpengalaman, ia tidak mengasih kentara akan kagetnya itu. Ia malah berlagak tenang.
"Bocah cilik, kau gemar mendustai orang" katanya. "Kau ngaco belo, siapakah yang mengerti?"
"Ayahku telah berhasil menyalin semuanya, aku melihatnya sendiri," kata Oey Yong. "siapa mendustai kau?"
Auwyang Hong tergoncang ketenangan hatinya. Ia tahu Oey Yok su sangat cerdas. Memang orang yang dapat memahami Kiu Im Cin-keng cuma si sesat dari Timur itu, tidak ada orang lain lagi.
"Kalau begitu, hendak aku memberi selamat kepada ayahmu" katanya. Ia tetap berlaku tenang.
Oey Yong bisa menduga kesangsian orang. Ia berkata pula, "Aku telah melihat terjemahan itu, sekarang aku masih mengingatnya. Tidak ada halangannya untuk aku membacakan mengasih kau dengar" Benar-¬benar ia membacakan: "Kalau tubuh bergerak, kalau tubuh berat seperti ketindihan barang, atau kalau tubuh enteng seperti hendak terbang, atau tubuh terikat, atau panas atau dingin, atau girang atau bergelisah, atau kaget, atau sangat girang dan mabuk. semua itu harus disalurkan menurut ilmu yang di bawah ini, guna memperoleh ketenangan dan menjadi sempurna"
Auwyang Hong sangat tertarik. Memang ilmu itu mesti didapat secara tenang, kalau tidak, orang bisa tersesat dan menghadapi akibat yang membahayakan. Ia tidak tahu si nona menyebutkan terjemahannya It Teng Taysu jadi Kiu Im Cin-keng yang tulen, ia hanya percaya itu sebab ia menganggap masuk di akal.
"Habis bagaimana sadurannya?" ia bertanya.
"Bagaimana bawahnya itu aku lupa," berkata si nona.
Auwyang Hong bersangsi. Ia tahu nona ini sangat cerdik, tidak mungkin dia lupa. Ia mau percaya orang mendustainya. Maka ia memikirkan, kenapa si nona menyebut-nyebut bunyinya kitab itu.
"Ayah menyuruh menanya kau, Auwyang Peehu," kata Oey Yong pula. "Kau menghendaki lima ribu huruf atau tiga ribu?"
"Coba kau menjelaskan dulu," menjawab see Tok.
"Jikalau kau suka membantu ayah hingga kamu berdua bersama memusnahkan Coan Cin Kauw, maka semua lima ribu huruf dari Kiu Im Cin-keng akan aku baca habis untuk kau mendengarkannya."
Auwyang Hong bersenyum. "Jikalau aku tidak suka membantu ayahmu?"
"Maka ayah mau minta kau tolong membalaskan sakit hatinya saja. setelah kau membinasakan Coan cin Liok Cu beserta Ciu Pek Thong, akan aku membacakan yang tiga ribu huruf itu."
See Tok tertawa. "Sebenarnya perhubungan ayahmu denganku tidak erat, mengapa sekarang dia begini menghargaiku?" ia bertanya.
"Ayah membilang, pertama-tama, yang membinasakan keponakanmu itu ialah muridnya Coan Cin cit Cu, maka ayah pikir kau tentunya akan membalaskan sakit hatinya"
Yo Kang menggigil sendirinya mendengar perkataan si nona. Ialah muridnya Khu Cie Kie. Jadi si nona pasti maksudkan dia.
"Eh, saudara yang baik, kau kedinginan?" tanya sa Kouw kepada pangeran muda itu. Ia melihat tubuh orang bergemetaran. Yo Kang menyahut sembarangan saja.
"Kedua," berkata pula Oey Yong. "Setelah berhasil memahamkan kitab, ayah lantas bertempur sama kawanan imam itu, ia belum sempat menjelaskan semua. Kitab itu kitab aneh dan langka, mana dapat dibikin lenyap? sekarang cuma kau seorang yang tabiatnya mirip ayahku, maka ayah ingin mewariskannya padamu, nanti baru kau mengajari aku."
"Kata-kata ini dapat dipercaya," Auwyang Hong pikir. "Tanpa penjelasan, biar budak ini sangat cerdas, tidak nanti dia dapat menangkap artinya kitab itu." Tapi ia mengutarakan kesangsiannya. Ia berkata:
"Mana aku ketahui kau membacakan yang asli atau yang palsu?"
"Kwee Ceng si tolol telah mengasihkan kitab yang tertulis," berkata si nona, "Maka kalau kau mengakurkannya dengan apa yang aku bacakan, kau bakal mengetahui tulen atau palsunya."
"Kau benar juga. sekarang kau memberi kesempatan untuk aku beristirahat, besok aku nanti pergi menolong ayahmu," berkata Auwyang Hong.
Oey Yong tidak mau mengerti. "Menolong orang kesusahan seperti menolong orang kebakaran, bagaimana kau bisa menanti sampai besok?"
"Kalau begitu, nanti saja aku membalaskan sakit hati ayahmu? sama bukan?"
See Tok tertawa. Ia telah berpikir, di mana kitab sudah ada di tangannya, ia tinggal memaksa saja si nona memberikan penjelasan kepadanya, nanti ia akan mendapat mengerti sendiri. Bukankah bagus ia membiarkan Oey Yok su dan Coan Cin Kauw bertempur mati-matian?
Kwa Tin ok memasang kuping. Orang membicarakan melulu soal kitab, ia tidak mengerti. Ia pun heran untuk tulisan Oey Yong di telapak tangannya: "Bilangi ayahku siapa yang membunuh aku."
Lalu terdengar suara oey Yong pula: "Bagaimana kalau kau pergi besok pagi-pagi? Dapatkah?" si nona agak kewalahan.
"Tentu" see Tok tertawa. "Sekarang kau beristirahatlah"
Oey Yong menurut, akan tetapi ia mendekati sa Kouw. "Eh, sa Kouw ayahku membawa kau ke Tho Hoa To, kenapa sekarang kau ada di sini?" ia bertanya.
"Aku tidak suka berdiam di Tho Hoa To, aku hendak pulang ke rumah sendiri," menyahut si tolol.
"Bukankah ini saudara she Yo yang telah pergi ke Tho Hoa To dan lalu membawa kau pergi? Benar bukan?" oey Yong bertanya lagi.
"Benar. Dia benar-benar seorang baik hati"
Kwa Tin ok mendengar itu Ia heran. "Kapan Yo Kang pergi ke Tho Hoa To?" ia tanya dirinya sendiri.
"Habis, ke mana perginya ayahku?" Oey Yong bertanya.
Sa Kouw nampak kaget. "Jangan membilangi aku buron, ya?" katanya. "Kakek bakal menghajar aku."
"Aku tidak akan memberitahukan," kata oey Yong tertawa. "Cuma hendak aku menanya kau dan kau harus menjawabnya dengan baik."
"Kau jangan membilangi kakek. ya. Kakek hendak menangkap aku, buat dibawa pulang. Dia mau mengajari surat padaku."
"Tentu aku tidak memberitahukan" kata oey Yong tertawa pula. "Kau bilang kakek mau mengajari surat?"
"Benar. Hari itu di kamar tulis kakek mengajari aku menulis surat. Pula aku diberitahu bahwa ayahku orang she Kiok dan namanya entah apa Hong. Benar-¬benar aku sukar mengingatnya, lantas kakek gusar, dia mengatakan aku tolol hebat sekali. Aku memang juga dipanggil sa Kouw"
"Sa Kouw memang tolol," kata Oey Yong tertawa manis. "Ayah memaki kau, itu keliru" Sa Kouw senang mendengar perkataan nona ini. "Bagaimana kemudiannya?"
"Aku mengasih tahu niatku ingin pulang, kakek jadi semakin gusar, selagi begitu, satu budak gagu datang masuk. Ia bicara sama kakek, tangannya digerak-¬gerakkan. Kakek kata, 'Aku tidak mau menemui tetamu, suruh mereka pergi kembali' Budak itu mengundurkan diri, tapi sebentar lagi ia kembali sambil membawa sepotong kertas. Kemudian kakek melihat itu, ia lantas menitahkan aku ikut si gagu menyambut sekalian tetamunya. Aku melihat si kate gemuk itu, muak aku melihatnya. Aku mendelik terhadapnya, dia mendelik terhadapku."
Tin ok membayangkan halnya hari itu ia dan saudara-¬saudaranya berkunjung ke Tho Hoa To. Keterangan nona tolol ini cocok sama keadaan waktu itu. Mulanya mereka ditolak, setelah Cu Cong menulis surat, mereka diterima. Memang benar, Sa Kouw yang menyambut mereka. Hanya sekarang Han Po Kie telah tidak ada bersama ia, ia menjadi sedih.
"Apakah kakekmu menemui mereka?" oey Yong bertanya lagi.
"Kakek memerintah aku menemani mereka bersantap. Kakek sendiri mengundurkan diri. Aku tak senang melihat si kate gemuk itu, diam-diam aku meninggalkan mereka. Aku melihat kakek di belakang, lagi duduk di batu mengawasi laut. Aku pun turut memandangnya. Di sana nampak sebuah perahu layar lagi mendatangi. Yang duduk diperahu itu ialah bangsa imam."
Kwa Tin ok berpikir: "Hari itu kami mendengar kabar Coan cin Pay bakal menyatroni Tho Hoa To untuk menuntut balas, kami lantas mendahului datang guna mengasih kisikan, buat minta dia suka menyingkir untuk sementara waktu, supaya kami yang menemui pihak Coan cin Pay guna memberikan penjelasan, hanya di pulau itu kami tidak mendapatkan orang-orang coan Cin Kauw itu Kenapa sekarang sa Kouw membilang hal tibanya imam-imam yang naik perahu?"
"Bagaimana dengan kakek?"
"Kakek menggapaikan aku. Aku kaget. Aku mengira kakek tidak tahu aku meninggalkan tetamu. Aku takut menghampiri kakek. aku khawatir nanti dihajar. Kakek berkata, 'Aku tidak pukul dirimu kau ke mari.' Aku menghampiri. Kakek lantas membilangi aku dia mau pergi mancing dengan naik perahu, maka dia memesan kalau kawanan imam itu mendarat, aku mesti menyambut mereka, untuk mengajak mereka masuk dan bersantap bersama-sama rombongan si kate gemuk itu. Aku bilang bahwa akupun ingin pergi mancing. Lantas air mukanya kakek menjadi guram. Terpaksa aku diam saja."
"Kemudian lagi, bagaimana?"
"Kakek pergi ke belakang mengambil perahunya. Aku mendapat kenyataan, wajah semua imam itu tak sedap dipandang, pantas kakek tidak sudi menemui mereka."
"Benar, benar apa yang kau bilang. Kapan kembalinya kakek?"
"Apa, kembali? Dia tidak pulang lagi."
Tin ok terkejut hingga tubuhnya bergerak.
"Apakah kau tidak salah ingat? Kemudian lagi bagaimana?" oey Yong menanya, suaranya rada bergemetar.
"Selagi kakek hendak melayarkan perahunya untuk berangkat, mendadak datang sepasang burung besar. Itu sepasang burungmu. Kakek menggapai kepada kedua burung itu. Mereka terbang turun. Ada yang diikat di kaki burung, bagus barang itu. Aku teriaki kakek: "Kakek, kakek kasih aku" selagi mengucap itu, benar-benar sa Kouw berteriak-teriak.
"sudah, jangan omong saja" Yo Kang membentak. " orang mau tidur"
"Jangan perdulikan dia," berkata Oey Yong. "Kau omong terus."
"Aku akan bicara perlahan," kata si tolol. Dan ia benar memperlahankan suaranya. "Kakek tidak meladeni aku, dia menyobek ujung bajunya, dia ikat itu di kaki burung, yang dia lantas lepaskan pergi pula."
Oey Yong berpikiri "Ayah hendak menyingkir dari Coan Cin cit Cu, pantas dia tidak sempat mengambil ikan emas. Hanya panah di tubuh burungku yang jantan, siapakah yang memanahnya?" Maka ia lantas menanya:
"Siapakah yang memanah burung itu?"
"Memanah burung? Tidak." selagi mengatakan itu, si tolol melongo.
"Baik. Nah, kau cerita terus."
"Melihat bajunya robek. kakek menyuruh aku pulang untuk mengambil sepotong yang lain. Ketika kemudian aku kembali bersama baju, kakek sudah tidak ada. Perahu kawanan imam juga tidak nampak. Cuma baju robek itu ditinggalkan di tanah."
Oey Yong tidak menanya lagi, ia berdiam. "Ke mana perginya mereka?" katanya selang sekian lama.
"Aku melihatnya. Mulanya aku memanggil-manggil kakek. dia tidak menyahut. Lantas aku naik ke atas pohon, memandang ke laut. Aku melihat perahu kakek di depan perahu si imam. Perahu kakek kecil, perahu si imam besar. Perlahan-lahan kedua perahu itu tak terlihat lagi. Aku tidak sudi melihat si kate gemuk. aku terus berdiam di tepi laut main-¬main menendangi batu. Sampai hari sudah malam baru aku pulang dengan mengajak kakek serta saudara ini yang baik," Ia menunjuk Auwyang Hong dan Yo Kang.
"Jadi kakek ini, bukan kakek yang mengajari kau surat?" Oey Yong menegaskan.
Sa Kouw tertawa. "Ya, kakek ini baik sekali," sahutnya. "Dia tidak mau mengajari aku surat, dia bahkan membagi aku kue, Eh, kakek. kuemu masih ada atau tidak?"
"Ada" sahut Auwyang Hong sambil tertawa menyeringai. "Ini aku bagi pula padamu"
Hati Kwa Tin ok seperti melonjak. Kiranya hari itu Auwyang Hong berada di pulau Tho Hoa To. Saat itu sa Kouw menjerit keras, menyusul terdengar bentrokan tangan dua kali, tanda dari satu pertempuran, sebagaimana nampak tubuh orang berlompatan.
“Kau hendak membunuh dia untuk menutup mulutnya? Baiklah kau bunuh dulu diriku"
Auwyang Hong tertawa, dia berkata: "Urusan ini dapat dikilangi untuk orang luar, tidak ayahmu, maka perlu apa aku membunuh dia? Jikalau kau hendak menanyakannya, pergilah kau menanya sepuasnya"
Sa Kouw merintih-rintih kesakitan tidak dapat ia bicara. Entah ia telah ditotok jalan darah apanya oleh seeTok. siBisa dari Barat.
"Tidak usah aku menanyakan dia, telah dapat aku menduganya," kata oey Yong. "Aku cuma menghendaki dia mengucapkannya sendiri"
"Budak perempuan, kau sangat cerdik" kata Auwyang Hong tertawa. "Kenapa kau dapat menduga itu? Coba kau jelaskan."
"Ketika pertama kali aku melihat keadaan pulauku," menyahut si nona mengasih keterangan, "Aku juga menyangka adalah ayahku yang membinasakan Kang Lam Ngo Koay. Baru kemudian, setelah memikirkannya, aku mendapat anggapan lain. Coba kau pikir, cara bagaimana ayahku dapat membiarkan mayat semua orang busuk itu berada di kuburan untuk menemani ibuku? Lagi pula mana bisa jadi ayahku keluar dari kuburan tanpa mengunci lagi pintunya?"
Auwyang Hong menepuk pahanya. "Ah, benar, itu kealpaanku" serunya. "Anak Kang, benar bukan?"
Mendengar sampai di situ, Tin ok merasa hatinya mau meledak. Sekarang baru ia mengerti kiranya sejak siang-siang Oey Yong telah menduga si pembunuh adalah Auwyang Hong, si Bisa dari Barat yang kejam ini serta Yo Kang. si nona bermaksud baik, Ia sendiri yang menyangka keliru .Jadi nona ini barusan keluar dari tempatnya sembunyi melulu untuk membeber duduknya hal guna membersihkan ayahnya. Itu perbuatan berbahaya sekali. Ia menduga, suratnya si nona adalah untuk ia nanti memberitahukan ayahnya, Oey Yok su, tentang orang yang membunuh padanya andaikata nona itu menemui bencana. Maka ia jadi sangat berduka dan menyesal.
"Ah, nona, nona," ia mengeluh di dalam hatinya, "Bukankah cukup jikalau kau memberitahukan aku siapa pembunuh semua saudaraku itu? Kenapa kau bertindak begini rupa?" Kemudian ia ingat tabiatnya sendiri. Pikirnya lagi: "Aku Hui Thian Pian-hok, kenapa aku sangat sembrono? Kenapa aku berkukuh menuduh ayah dan putrinya? Memang, kalau ia memberi keterangan padaku, mana bisa aku gampang mempercayainya? Kwa Tin ok. oh Kwa Tin ok, kau pantas dihukum picis si buta yang busuk. Kau memaksa si nona kepada kebinasaannya "
Dalam sengitnya, Tin ok hendak menghajar dirinya sendiri. Baiklah ia lantas mendengar lagi suaranya Auwyang Hong, yang menanya si nona:
"Bagaimana caranya kau menduga padaku?"
"Tidaklah sukar menerkamu" menjawab si nona. "Menghajar mati kuda dan mematahkan dacin, itu perbuatan yang di jaman ini cuma dapat dilakukan beberapa gelintir manusia. Hanya mula-mula aku masih menduga orang lain. Ketika Lam Hie Jin hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dengan jari tangannya ia masih dapat mencoret beberapa huruf di tanah, 'Yang membunuh aku ialah' Huruf yang terakhir ini tidak keburu menuliskan lengkap. baru pada bagian sampingnya, yang merupakan huruf 'sip' yang berarti 'sepuluh'. Aku pikirkan huruf belum lengkap itu. she namamu tidak memakai permulaan huruf sip itu, maka aku menduga kepada Khiu Cian Jin"
Auwyang Hong tertawa terbahak-bahak. "Hebat Lam Hie Jin" katanya. "Dia dapat menanti hingga tibamu"
"Aku melihat keadaan sewaktu dia mau mati itu, aku menduga dia terkena racun." Oey Yong berkata lagi. "Karena ini, aku menduga keras kepada orang she Khiu itu. Bukankah Tiat Ciang Pang memelihara banyak kodok dan ular berbisa?"
See Tok tertawa lagi. "Tiat Ciang Pang memelihara banyak binatang berbisa tetapi tidak ada yang luar biasa," ia berkata. "Ketika Lam Hie Jin mau mati, bukankah dari mulutnya keluar suara tetapi tanpa dapat bicara? Bukankah ia mati dengan wajah tertawa?"
"Benar sebenarnya dia terkena racun apa?"
Auwyang Hong tidak menjawab, hanya ia menanya lagi: "Bukankah tubuhnya meringkuk dan dia bergulingan di tanah, tenaganya besar luar biasa? Benar tidak?"
"Benar Bisa semacam itu, aku pikir, kecuali Tiat Ciang pang, lain orang tidak memilikinya"
Kata-kata yang terakhir ini adalah pancingan membangkitkan kemarahan. Auwyang Hong menginsyafi itu tetapi ia tidak dapat menahan meledaknya kemurkaan. Ia berseru dalam kemurkaannya itu:
"Orang menyebutnya aku si bisa bangkotan, apakah itu panggilan kosong belaka?" Ia mengetok lantai dengan tongkat ularnya. Ia berkata lagi dengan nyaring: "Itulah ular di tongkatku ini yang menggigitnya dan lidahnyalah yang dicatok. Karena itu, tubuh dia menjadi tidak meninggalkan bekas dan dia tidak dapat bicara"
Tin ok merasakan sesak dadanya hingga hampir ia pingsan. Oey Yong mendengar suara di belakang patung, ia dapat menduga, maka ia lantas batuk-batuk guna menyamarkan suara itu, kemudian ia berkata pula dengan sabar:
"Ketika itu kau telah berhasil membinasakan lima anggota dari Kanglam Cit Koay, yang lolos hanya Kwa Tin ok seorang, yang kedua matanya buta, maka itu menjadi tidak ketahuan siapa yang melakukan pembunuhan hebat itu"
Tin ok mendengar perkataan ini, ia mengerti kata-¬kata itu ditujukan kepadanya. Ia pikir "Ia mengisiki aku untuk jangan sembarang bergerak. supaya kita berdua tak usah mati secara gelap"
Auwyang Hong berkata sambil tertawa kering: "Apakah seorang buta dapat lolos dari tanganku? Hm Memang sengaja aku meloloskannya"
"Kau benar Kau membunuh yang lima, kau sengaja membikin dia percaya ayahkulah yang membunuh supaya dia mengoarkannya, supaya nanti semua orang gagah datang mengepung ayahku" Lagi-lagi Auwyang Hong tertawa.
"Itu bukan pikiranku tapi pikiran anak Kang, Benar bukan, anak?" Yo Kang menyahuti seperti tadi, sepintas lalu.
"Sungguh suatu pikiran yang bagus luar biasa" berkata Oey Yong. "Aku kagum sekali" Tentu saja pujian ejekan.
"Kita bicara balik lagi," kata Auwyang Hong. "Bagaimana maka kemudian kau dapat menduga aku?"
"Aku pikir Khiu Cian Jin itu pernah bertempur denganku di selatan Liang ouw. Dalam keadaan biasa, memang dapat dia mendahului aku tiba di Tho Hoa To, akan tetapi aku mempunyai kuda merahku, tidak mungkin dia dapat melawan kudaku. Lalu aku ingat suara Cu Cong. Di situ ia memesan untuk berjaga-¬jaga. Ia pun belum menulis lengkap. Huruf yang tidak lengkap itu dapat diteruskan menjadi 'Tong'. Dapat juga dijadikan 'see'. Maka, kalau bukan Tong shia tentulah see Tok. Selama di Tho Hoa To telah aku dapat memikir itu hanya aku belum dapat memastikannya sebab masih ada beberapa hal lainnya."
Auwyang Hong menghela napas. "Aku kira telah menjabit rapat sekali, tidak tahunya masih ada yang bolong," katanya. "si pelajar dekil itu sangat sebat, aku tidak melihat dia menulis surat."
"Dia digelarkan Biauw ciu sie-seng, si pelajar Tangan Lihay, pasti sekali dia menulis tanpa memberi kesempatan kau melihatnya. Aku telah memikirkan keras huruf 'sip' dari Lam Hie Jin itu Karena aku mendengar kabar yang ini saudara Yo telah terkena racun dan mati, sama sekali aku tidak pernah memikirkan dia."
Yo Kang heran. "Kenapa kau ketahui aku terkena racun dan mati?" ia tanya. "siapa yang memberitahukan itu padamu? "
"Banyak sekali hal-hal yang aku ketahui" menjawab si nona. "Hari itu aku berada sendirian di pulau Tho Hoa To, aku tidur tanpa merasa, aku sadar, aku tidur lagi, aku sadar lagi, masih aku tidak dapat menerka. Selama tidur itu, aku pun banyak mimpi, dan didalam mimpiku, aku melihat banyak orang. Akhirnya aku mimpi melihat enci Bok. Aku mimpikan dia di Pakhia di sana dia mengadu ilmu silat untuk merangkapi jodohnya. Mimpi sampai di situ aku sadar dengan kaget, hingga aku berlompat bangun waktu itu baru aku tahu si pembunuh itu ialah, kau"
Kata-kata itu cepat dan tajam, Yo Kang mengeluarkan peluh dingin tanpa ia merasa. Ia mencoba menentramkan diri dengan memaksa tertawa.
"Mustahilkah Bok Liam cu mengasih mimpi kepadamu?" katanya.
"Memang Tanpa impian itu, mana aku ingat kau" menjawab si nona. "Nah, mana sepatumu yang kecil mungil yang bertabur batu permata?"
Yo Kang kaget hingga ia melengak. "Bagaimana kau ketahui itu?" serunya. "Kembalikan Bok Liam cu yang mengasih impian padamu?"
"Buat apa menyebutkan itu lagi" si nona membaliki sambil tertawa dingin, "Ketika kau telah membunuh cu cong, kau masukkan barang-barang permata ibuku ke dalam saku korbanmu, supaya kalau orang luar melihatnya, mereka bisa menyangka dia telah dipergoki ayahku dan karenanya dia menerima kebinasaannya Ini tipu daya keji memang bagus sekali, hanya kau telah melupakan satu hal, yaitu gelaran cu cong, ialah Biauw ciu Sie-seng, si Pelajar Tangan lihay"
Auwyang Hong pintar sekali akan tetapi ia tidak dapat mengerti maksud perkataan nona itu.
"Kalau dia Biauw Ciu sie-seng, habis bagaimana?" tanyanya heran.
"Hm" menyahut nona itu. "saudara Yo cuma tahu menjejalkan permata ke saku orang, dia tidak tahu Cu Cong pun telah mengambil permata dari sakunya sendiri"
"Barang permata apakah itu?" tanya Auwyang Hong masih heran.
"Di dalam ilmu silat Cu Cong memang kalah daripada kau," oey Yong menerangkan, "Tetapi dia pun seorang lihay, di saat tarikan napasnya yang penghabisan, dia telah mengambil barang, dan dia genggam di tangannya. Tentu sekali kamu tidak dapat ketahui itu, tidak dari bermula hingga di akhirnya .Jika bukan karena adanya permata itu pastilah aku tidak menyangka yang paduka pangeran yang muda ini sudah mati tetapi hidup lagi dan bahkan berkunjung ke pulau Tho Hoa To"
"Sungguh menarik" Auwyang Hong tertawa. "sungguh lihay Biauw Ciu sie-seng. Dia telah kehilangan jiwanya tetapi dia dapat meninggalkan bukti. Kalau begitu, barang yang dia ambil itu mestinya sepatu yang kau sebutkan itu"
"Tidak salah Barang-barang permata ibuku yang disimpan di dalam kuburannya, aku telah melihatnya semenjak aku kecil, aku ingat dan mengenali semuanya, hanya ini sepatu mungil belum pernah aku melihatnya. Cu Cong menggenggam ini erat-erat, mesti ada sebabnya. Pula sepatu ini ada ukiran hurufnya, yang dasarnya huruf Pie yang di baliknya huruf Ciauw. Lama aku pikirkan artinya kedua huruf itu, tidak dapat aku jawabannya, maka ketika malam itu aku bermimpi, memimpikan enci Bok menjual silat di kota Pakhia dengan dia memancar bendera yang bersulamkan empat huruf Pie Bu Ciauw Cin, baru aku ingat dan sadar, baru aku mengerti Bukankah Pie Bu Ciauw Cin itu berarti mengadu silat untuk mengamproki jodoh? Bukankah kedua huruf Pie dan ciauw diambil dari empat huruf itu?"
Auwyang Hong tertawa bergelak. "Sepatu ini mempunyai riwayat asmara demikian bagus. Ha ha Ha ha"
see Tok tertawa berulang-ulang, agaknya dia sangat gembira, sebaliknya Kwa Tin ok, kemurkaannya tidak terkira-kirakan. Ia menjadi mendapat tahu semakin jelas nasib saudara-¬saudaranya, lelakon yang hebat dan menyedihkan sekali dipulau Tho Hoa To.. Ia hanya heran mengapa oey Yong dapat menerka demikian jitu.
Putri oey Yok su percaya Tin ok masih belum mengerti jelas, maka ia sengaja berkata laGI. Tapi sebab Tin ok lagi bersembunyi, ia menjelaskannya kepada Auwyang Hong, yang juga tentunya masih bingung. Ia berkata
"Ketika itu enci Bok mengadakan pertunjukan silat, buat mengadu kepandaian untuk mencari jodoh, maka paduka pangeran yang muda telah turun ke dalam gelanggang di mana ia telah memperlihatkan kepandaiannya. Aku berada di tempat itu, aku menyaksikan sendiri pertandingan itu. Akhirnya dalam pertempuran, paduka pangeran yang muda telah merampas sebelah sepatu enci Bok. Itu artinya, dalam pertandingan dialah yang menang. Hanya mengenai perjodoh, urusan menjadi ruwet sekali"
Mendengar keterangan Oey Yong sampai di situ, mereka yang hadir lantas pada berpikir sendiri. Ketika itu saksi-saksi terdiri dari Nio Cu ong dan see Thong Thian. Mereka menjadi teringat akan peristiwa yang telah lewat itu, yang ada hubungannya sama halnya Wanyen Lieh kematian istrinya dan Yo Kang menemui ayahnya.
Oey Yong tidak memperdulikan mereka yang lagi berpikir, ia melanjutkan keterangannya
"Sampai di sini, maka teranglah sudah duduknya perkara. Paduka pangeran yang muda dan enci Bok telah mengikat janji, tanda mata dari pertunangan mereka ialah sepasang sepatu enci Bok, sepatu kumala yang berukiran huruf-huruf Pie Bu Ciauw Cin. Sepatu yang sebelah memakai huruf-huruf Pie dan ciauw, dan yang sebelah lagi tentulah Bu dan cin. Paduka pangeran muda bukankah terkaanku ini tidak salah?" Yo Kang berdiam, tidak dapat ia berbicara.
"Setelah mengerti ini, yang lainnya tak sulit lagi," si nona masih meneruskan. "Han Po Kie terbinasa karena cengkeraman ilmu silat Kiu Im Pek kut Jiauw. Di dalam dunia ini, yang meyakinkan ilmu dahsyat itu cuma Hek Hong siang sat berdua, tetapi dua-duanya sudah mati maka orang luar pastilah lantas mengingat kepada guru mereka, yang mestinya pandai ilmu itu. Guru itu bukan lain daripada Oey Yok su ayahku siapa tahu semasa hidupnya Tiat sie Bwee Tiauw Hong, si Mayat Perunggu, telah mengambil seorang murid yang pandai. Tentang huruf sip yang ditulis Lam Hie Jin huruf tidak lengkap itu pasti diartikan huruf Yo, hanya sungguh aku tidak nyana Kwee Ceng si bocah dungu itu, dia memaksa membilangnya huruf Oey"
Waktu mengucapkan kata-katanya yang terakhir ini, nona itu muram mukanya, tanda ia sangat berduka. Auwyang Hong tertawa pula terbahak dan lama.
"Kalau begitu tidaklah heran Kwee Ceng si bocah itu selama di Yan Ie Lauw mengadu jiwa dengan ayahmu" katanya.
"Memang tipu daya keji kamu ini sangat bagus," kata Oey Yong. "Dan dia, dalam murka dan sedihnya, sukar dapat menerka. Aku juga mulanya menyangka kau telah menawan budak-budak gagu dan memaksa mereka menunjukkan jalan, tetapi hari ini barulah aku ketahui sebenarnya Sa Kouw adalah orang yang mengajak kalian masuk ke dalam. Dalam ini hal tentunya, ini engko Yo telah menjanjikan dia membawa pulang ke Gu-kee-cun. Sa Kouw sangat girang maka ia lantas menuruti saja kata-kata kamu. Sekarang aku mengerti, pasti kamu telah menyembunyikan diri dalam kuburan ibuku, lalu kamu menyuruh mengundang Kanglam Liok Koay datang ke situ. Pasti kamu memakai alasan ayahkulah yang mengundang mereka. Setelah Liok Koay masuk, terang sudah Auwyang Peehu yang menjaga pintu Mana Liok Koay dapat meloloskan diri lagi dari tangan beracun? Ini dia yang dinamakan akan menangkap pie di dalam keranjang." (pie = sejenis kura-kura).
Tin ok merasakan hatinya menggetar. Ia heran dan kagum sekali. Si nona bercerita seperti menyaksikan sendiri peristiwa hebat di liang kubur itu. Di dalam otaknya maka berbayangkan kejadian hari itu.
"Auwyang Peehu," berkata pula oey Yong. "Ketika di tepi laut, kau telah menemukan baju dan topeng ayahku, kau mengenakan itu untuk menyamarkan diri. Di dalam kuburan, cahaya memang remang-remang. Begitu bergebrak, beberapa orang dari Liok Koay telah terluka atau terbinasa. Dalam keadaan seperti itu, maka bisa mereka mengenali baik-baik siapa musuh mereka? Demikian sudah terjadi Lam Hie Jin mengatakan kepada Kwa Tin ok bahwa musuh mereka ialah ayahku. Yang benar ialah Cu Cong dan Coan Kim Hoat terbinasakan di tangan peehu, Han Po Kie dibunuh engko Yo. Dan Han Siauw Eng mati membunuh diri. Kwa Tin ok dan Lam Hie Jin telah mencoba melarikan diri. Mereka bertempur pula di kamar semedhi ayahku, di sana kamu sengaja melepaskan Tin ok satu orang. Ketika Lam Hie Jin mengetahui babwa si penjahat ialah si orang she Yo, ia telah menjadi korbannya racun hingga ia tidak sempat menyelesaikan suratnya."
Auwyang Hong menghela napas. "Eh, budak cilik, dugaanmu lihay sekali," ia berkata, memuji. "Sebenarnya kejadian ada hal yang sangat kebetulan. Itu dasar nasibnya Liok Koay Ketika aku bersama anak Kang pergi ke pulau Tho Hoa To, kami tidak tahu mereka berada juga di pulau itu."
"Nasib Itulah benar" berkata oey Yong. "Kang Lam Cit Koay tersohor namanya, itu disebabkan perbuatan-perbuatan mereka yang mulia. Bicara tentang ilmu silat, dia mana ada di pandangan mata peehu. Maka itu, kalau kamu berdua sampai bertindak demikian rupa, bercapai lelah secara demikian, mesti ada maksud tujuannya."
"Melihat kecerdikan kau, bocah, kau tentu tidak dapat dikelabui" kata Auwyang Hong tertawa.
"Nanti aku menerka," berkata oey Yong, "Kalau aku menerka keliru, harap peehu tidak buat kecil hati. Aku menduga pada permulaannya kamu datang ke Tho Hoa To, kamu mengharap-harap Coan Cin Cit Cu serta ayahku nanti bertarung hebat hingga keduanya terbinasa, supaya kau yang menjadi Pian Chong yang menikam harimau, agar dengan satu kali bergebrak saja, dapat kau memusnahkan Coan Cin Cit Cu dan Tho Hoa To. Sayang kamu datang terlambat satu tindak. ayahku bersama Coan Cin Cit Cu sudah berangkat meninggalkan pulau. Waktu itu engko Yo bicara sama sa Kouw, ia mendapat tahu kehadiran Liok Koay, maka lantas saja kamu berdua menunjukkan kepandaian kalian yang lihay, kamu membunuh lima di antaranya, kamu membuat segalanya seperti mereka terbinasakan ayahku. Kamu juga membunuh habis semua bujang gagu di situ, guna melenyapkan saksi-¬saksi. Dengan begitu bukankah kemudian akan terjadi Ang Cit Kong, Toan Hongya dan yang lainnya nanti membikin susah ayahku? Engko Yo ini cerdik, dia khawatir ayahku nanti keburu pulang lebih dulu dan ayahku mungkin akan melenyapkan segala bukti, maka itu ialah yang mengusulkan supaya Kwa Tin ok dibiarkan lari. Tin ok buta tetapi lidahnya tidak kurang suatu apapun, benar dia tidak dapat melihat, dia dapat ngoceh tidak karuan"
Tin ok menjadi bersedih, gusar dan malu sekali, ia menyesalkan kesembronoannya telah menduga yang tidak-tidak terhadap Oey Yoksu dan putrinya ini.
Auwyang Hong menghela napas. Ia berkata pula saking kagumnya: "Aku sangat mengagumi Oey Laoshia yang telah mempunyai anak dara begini cerdas dan pintar, setiap kata-katanya tepat mengenai ulu hatiku"
Oey Yong tidak bilang apa-apa atas kekaguman see Tok itu, ia hanya bilang: "sekarang ini Kwee Ceng telah kena tipu daya kalian, dia memusuhi aku dan ayah, dia sampai seperti tidak mau hidup bersama kami di dunia ini. Tapi biarkanlah dia. sekarang urusan di antara kita. Kalau besok kau menolong ayahku, apabila keponakanmu masih hidup, ah, pembicaraan dulu tentang perjodohan, tidakkah itu dapat ditimbulkan lagi? "
Auwyang Hong heran. "Mau apa dia menimbulkan urusan perjodohan itu?" pikirnya.
"Sa Kouw," menanya Oey Yong kepada si nona tolol tanpa ia menantikan perkataannya see Tok. "Ini saudara she Yo orang baik sekali, bukan?"
"Benar," menyahut si tolol itu. "Dia hendak membawa aku pulang ke rumahku. Aku tidak suka berdiam di pulau."
"Kau mau pulang, kau hendak bikin apa di rumah?" tanya putri Tong shia. "Di rumahmu itu telah ada orang yang mati, di sana ada setan"
"Oh, ya" berseru si tolol itu. "Benar sekali. Tidak. Aku tidak mau pulang"
"Kau tahu siapa yang membunuh orang yang mati di rumahmu itu?"
"Aku tahu, aku melihatnya sendiri, ialah ini saudara yang baik"
Menyusul perkataan Sa Kouw ini, terdengar dua kali suara nyaring, dari beradu dan jatuhnya dua rupa senjata rahasia, lalu oey Yong tertawa dan berkata
"Engko Yo, biarkanlah dia bicara terus. Kenapa kau menggunakan senjata rahasia untuk mengambil jiwanya?"
"Si tolol ini ngaco belo" berseru Yo Kang, yang barusan menyerang Sa Kouw. "Dia dapat menyebutkan segala omongan yang tidak-tidak"
"Sa Kouw bicara terus" berkata nona Oey kepada si tolol itu. "Kau bicaralah, kakek ini sangat suka mendengarkannya."
"Tidak aku tidak mau bicara," menyahut Sa Kouw. "saudara yang baik ini melarang aku bicara"
"Benar," berkata Yo Kang cepat. "Kau rebahkan dirimu dan tidurlah. Jikalau kau membuka mulut satu kali saja, nanti aku menyuruh setan makan dirimu"
Nona itu ketakutan, ia menyahut, "Ya," berulan-g¬ulang.
Kwa Tin ok mendengar suara seperti orang mengerebongi diri,
"Sa Kouw," berkata Oey Yong, yang tidak berputus asa, "Jikalau kau tidak suka bicara sama aku, untuk menghilangkan saat iseng ini, nanti aku menyuruh kakek membawa kau pergi"
"Tidak, aku tidak mau pergi" kata nona tolol itu.
"Kalau begitu, kau bicaralah. Ini saudaramu yang baik telah membunuh orang di rumahmu. Kau tahu, orang macam apakah yang dia bunuh itu?"
Semua orang menjadi heran. Tidak karu-karuan nona ini bicara dari hal pembunuhan. Akan tetapi Yo Kang, bulu romanya telah bangun berdiri semua. Ia lantas menyiapkan senjata rahasianya. Kalau Sa Kouw membuka rahasia, hingga Auwyang Hong menjadi bercuriga, ia hendak membinasakan si nona. Meski begitu, ia berkata dalam hatinya: "Ketika aku membinasakan Auwyang Kongcu, yang melihatnya cuma tiga orang yaitu Bok Liam Cu, Thia Yauw Kee dan Liok Koan Eng. Mungkinkah rahasiaku ini telah bocor?"
Kuil itu menjadi sunyi sekali. Orang tinggal menanti jawaban Sa Kouw. Kwa Tin ok bahkan menahan napas.
Lewat sekian lama, Sa Kouw tidak terdengar suaranya, hanya terdengar suara napas di hidungnya, tandanya ia sudah tidur. Yo Kang merasa hatinya lega, tetapi telapak tangannya basah, karena kekhawatirannya, disebabkan menggenggam terus senjata rahasia. Ia pikir "Kalau dia dikasih tinggal hidup terus, dia bisa jadi bahaya untukku, maka aku mesti mencari jalan untuk menyingkirkannya "
Pangeran ini melirik Auwyang Hong. Ia mendapatkan See Tok duduk dengan kedua matanya ditutup rapat, mukanya tertuju cahaya rembulan. Dia tenang sekali, dia seperti tidak menghiraukan apapun di sekitarnya.
Selama itu, orang mulai menyangka Oey Yong cuma mengoceh. Dengan Sa Kouw sudah tidur pulas, urusan tadi artinya telah beres. Maka kemudian mereka pada merebahkan diri atau menyender, untuk beristirahat. Di antaranya ada yang lantas meram melek.
Saat kesunyian menguasai kuil itu, mendadak orang dibikin terkejut dengan jeritannya sa Kouw:
"Jangan pelintir tanganku. Aduh. Aduh"
Oey Yong pun segera berteriak-teriak: "Setan setan setan yang kakinya bunting. Sa Kouw Kaulah yang membunuh pemuda yang ganteng, sekarang dia datang mencari kau" Di dalam kesunyian itu, seram suaranya si nona.
"Bukan. Bukan aku yang membunuhnya" menyangkal Sa Kouw dia berteriak-teriak. "Yang membunuhnya ialah saudara yang baik ini"
Belum habis suara si tolol, segera disusul suara bergedebuk dari jatuhnya benda yang berat. Itulah tubuh Yo Kang, yang roboh terguling. sebab dia telah berlompat, dengan tangannya yang hebat dia menyerang batok kepala si nona tolol, tapi oey Yong menghalangnya, dengan tongkat keramatnya, nona ini membuat orang jatuh terbanting
Sekejap itu, kalutlah keadaan. See Thong Thian beramai segera mengurung Oey Yong. Putrinya Oey Yoksu tidak menggubris sikap banyak orang itu, dia menunjuk ke pintu seraya berkata nyaring
"Kongcu yang berkaki buntung, mari masuk ke mari Sa Kouw ada di sini"
Sa Kouw memandang ke arah pintu, ia tidak melihat apapun. Ruang itu gelap. Tapi ia takut setan semenjak kecilnya, ia tetap ketakutan. Maka ia menarik tangan baju Oey Yong.
"Jangan cari aku" ia berkata kepada si setan yang ditunjukkan nona oey. "Yang membunuh ialah ini saudara yang baik, menggunakan tombak besi. Aku melihatnya dari belakang pintu dapur. Jangan cari aku"
Auwyang Hong mendengar itu semua, mendadak ia tertawa terbahak. Adalah di luar dugaannya keponakannya yang ia sayang sebagai mustika itu terbinasa di tangan Yo Kang. Ia percaya Sa Kouw sebab kalau lain orang mendusta, si tolol ini tidak mungkin. Ia berduka berbareng murka sekali. Dengan mata mendelik ia mengawasi pangeran itu dan berkata
"Siauw-ongya, keponakanku itu memang harus mati. Dia telah dibunuh, bagus, bagus"
Suara itu tajam, mengaung di telinga, bahkan kawanan burung gagak menjadi kaget, mereka lantas berbunyi gegaokan, terbang kelabakan. Yo Kang kaget dan jeri sekali. Ia pikir, habislah jiwanya. Ia melirik ke kiri dan kanan, untuk melihat jalan lolos.
Wanyen Lieh juga tidak terkecuali, dia takut bukan main. Ketika suara gagak mulai reda, dia berkata:
"Auwyang sianseng, nona ini tolol, dia mirip orang gila, kenapa sianseng percaya dia? Keponakanmu itu adalah orang undanganku, aku dan anakku sangat menghormatinya, mana bisa tidak ada sebab musabab anakku membunuh dia?"
Auwyang Hong tidak menyahut, hanya tubuhnya mencelat ke arah Sa Kouw, tangan kirinya mencekuk lengan nona tolol itu.
"Karena apa dia membunuh keponakanku?" tanyanya bengis. " Lekas bilang?" Sa Kouw kaget, dia ketakutan.
"Bukan aku yang membunuh dia. Jangan tangkap aku" Dan ia meronta sekuat-kuatnya. Tapi hebat cekalan see Tok, ia tidak dapat melepaskan diri saking takutnya, ia lantas menangis, berulang kali ia memanggil-manggil: "Ibu"
Auwyang Hong mengulangi pertanyaannya hingga beberapa kali, tetapi tidak memperoleh jawaban. saking takutnya, Sa Kouw berhenti menangis, dia mendelong memandang jago dari Barat itu.
"Jangan takut Sa Kouw," Oey Yong menghibur, suaranya halus. "Kakek ini hendak memberikan kue"
Nona ini tidak menolong si tolol seperti tadi ia menghajar Yo Kang sebab ia tahu Auwyang Hong tidak nanti, atau sedikitnya tidak bakal lantas membinasakan orang. Bahkan perkataannya itu menyadarkan See Tok. Ia tahu sekarang, makin ia bengis, makin susah si tolol membuka mulutnya. Maka ia merogoh sakunya, mengeluarkan bakpauw yang telah dikeringkan, ia jejalkan di tangan nona itu. Ia pun tertawa dan berkata:
"Benar Nah, kau makanlah kue ini"
Dasar tolol, Sa Kouw ambil kue itu. Ia bersenyum. Dengan cepat ia lupa akan kebengisan see Tok.
"Dulu itu si pemuda yang kakinya buntung memeluki seorang nona," kata Oey Yong tenang. "Kau lihat, nona itu cantik atau tidak?"
"Sangat cantik," menyahut Sa Kouw dengan wajar. Tidak dapat ia memikir yang ia lagi dilagui.
"Kemana perginya dia sekarang?" Si tolol tidak menjawab, ia hanya menanya: "Tahukah kau siapa nona itu?" Ia terus berlaku sabar dan wajar.
Si tolol agaknya gembira sekali, dia puas, hingga dia menepuk tangan "Aku tahu, dia istrinya ini saudara yang baik," sahutnya.
Mendengar itu, Auwyang Hong tidak bersangsi lagi. Ia memang tahu keponakannya sangat gemar pelesiran. Ia menduga, rupanya disebabkan main gila dengan Bok Liam Cu, Auwyang Kongcu menerima kebinasaannya. Ia hanya heran Yo Kang dapat membinasakan keponakannya yang ia tahu lihay, tidak perduli kakinya buntung. Bagaimana keponakannya itu dibunuh? Maka ia berpaling kepada si pangeran muda. Ia berkata dengan sabar:
"Dia berani kurang ajar terhadap siauw-onghui, dia harus mampus berlaksa kali" siauw¬onghui ialah istri siauw-ongya, pangeran muda.
"Bukan,,, bukan aku yang membunuhnya," Yo Kang menyangkal, suaranya tidak lancar.
"Habis siapa?"
Kali ini suara see Tok menjadi keras dan bengis secara tiba-tiba, kedua matanya pun bersinar tajam. Yo Kang ketakutan hingga kaki tangannya lemas. Ia yang biasanya berotak terang, sekarang mati daya, sampai tak bisa ia membuka mulut.
"Auwyang Peehu," Oey Yong berkata, "Jangan kau sesalkan siauw-ongya berlaku telengas, juga tak usah kau sesalkan keponakanmu yang sangat gemar pelesir itu, hanya kau harus persalahkan dirimu yang berkepandaian sangat lihay."
Auwyang Hong berpaling dengan cepat. Ia heran. " Kenapa?" tanyanya.
"Aku pun tak tahu kenapa. Hanya ketika aku sedang berada di Gu-kee-cun, di sana aku mendengar dua orang tengah berbicara. Mereka itu seorang pria dan seorang wanita, dan bicaranyapun di sebelah tembok. sungguh aku tidak mengerti."
See Tok kena dibikin bingung, ia berada dalam kegelapan. "Apa itu yang mereka bicarakan?"
"Nanti aku menyebutkannya setiap patah yang mereka bicarakan itu, tidak nanti aku menambahkan satu huruf juga. Tolong kau menjelaskannya nanti padaku. Aku tidak melihat mereka, aku tidak tahu, yang pria siapa yang wanita siapa. Aku hanya mendengar yang pria bilang: 'urusanku membunuh Auwyang Kongcu ini, apabila sampai teruwar di luaran, sungguh berbahaya.' Yang wanita kata 'seorang laki-¬laki, berani berbuat, berani bertanggung jawab. Jikalau kau takut, tidak seharusnya kemarin kau membunuh dia. Benar pamannya dia itu lihay tetapi kita tak bakal dapat dicari.'"
Auwyang Hong mengawasi. Ketika ia mendapatkan nona itu terus berdiam, ia menanya:
"Pembilangannya perempuan itu benar. Apa katanya pula si lelaki?"
Yo Kang mendengar pembicaraan itu, ia takut bukan main, terhadap oey Yong, ia sangat gusar. Kebetulan waktu itu sinar rembulan masuk ke dalam, diam-diam ia bergerak. dengan perlahan ia menghampiri ke belakang si nona. Ia menyingkir dari sinar rembulan.
Selagi berindap-indap. ia mendengar jawaban oey Yong: "Kata-katanya si lelaki itu membuat aku berpikir bahwa semua disebabkan kepandaian kau yang sangat lihay hingga kau membikin keponakanmu itu celaka. Lelaki itu berkata 'Adikku, sekarang ini aku ada memikir satu jalan. Pamannya itu sangat kosen, aku ingin mengangkat dia menjadi guru. sebenarnya sudah lama aku memikir begini, hanya di dalam kalangan dia ada aturan yang ditaati, ialah kepandaian diwariskan dalam satu generasi hanya kepada satu orang. Maka itu, kalau dia sudah mati baru pamannya dapat menerima aku sebagai murid"
Tidak usah Oey Yong menjelaskan lagi siapa pria itu, lagu suaranya pun sudah menerangkan. Dengan pandai ia meniru lagu suaranya Yo Kang, hidup sedari kecil di kota raja, ibunya, Pauw sek Yok. adalah orang Lim-an, sedang di dalam istana ada banyak orang Kim, maka, suaranya itu campur aduk antara lagu bicaranya orang selatan dan orang utara. Dengan demikian gampang sekali orang mengenalinya.
Auwyang Hong berulang kali mengasih dengar suara mengejek, "Hm" Lalu ia menoleh ke arah Yo Kang. Ia baru melihatnya si anak muda tidak ada di tempatnya ketika mendadak ia mendengar suara, "Buk" disusul teriakan kesakitan, lalu nampak Yo Kang dengan tangan kanannya mengucurkan darah dan mukanya pucat pias sebagaimana terlihat di cahayanya si Putri Malam.
Hebat Oey Yong membuka rahasia, maka pemuda she Yo itu tidak dapat menguasai hatinya. Ia hendak melampiaskan kemurkaannya, jalannya ialah membunuh nona she Oey itu. Maka setelah datang dekat si nona, ia berlompat seraya tangannya menyambar ke batok kepala nona itu, untuk dicengkeram dengan ilmu cengkeraman Kiu Im Pek¬kut Jiauw.
Oey Yong ketahui serangan gelap itu, ia berkelit, maka tangannya si anak muda tiba pada pundaknya. Dia mencengkeram kuat sekali, dalam sengitnya, ia menggunakan semua tenaganya, maka itu, justru ia mengenai baju lapis yang berduri, tangannya nancap di duri baju. Bukan main dia merasakan sakit, maka tak dapat dia tidak menjerit, setelah itu, dia mengasih turun tangannya, hampir dia pingsan menahan nyerinya.
Di tempat yang gelap itu, tidak ada orang yang melihat apa yang sudah terjadi, malah mereka tidak tahu juga, pemuda itu celaka di tangan si nona atau di tangan Auwyang Hong. oleh karena orang tidak tahu pasti dan mereka pun jeri terhadap See Tok. Semua berdiri diam sambil mengawasi saja.
Adalah Wanyen Lieh yang mengajukan diri untuk memegangi anaknya. "Anak Kang, kau kenapa?" ia tanya. "Apamu yang terluka?" Ia menghunus goloknya dan menyerahkan itu pada si anak. Ia berkhawatir Auwyang Hong membalaskan sakit hati keponakannya .
"Tidak apa-apa," menyahut Yo Kang, yang mencoba melawan rasa sakitnya. Ia pun menyambut golok dari ayahnya dan mendadak ia merasakan tangannya kaku, golok itu terlepas dan jatuh berisik di lantai. Ia lekas-lekas membungkuk untuk memungutnya. Tapi celaka, lengannya menjadi kaku, lengan itu tidak mau mengikuti lagi suara hatinya. Dalam kagetnya, dengan tangan kirinya ia memencet tangan kanannya, tetapi ia tidak merasakan apa-apa. Maka ia lantas mengawasi oey Yong.
"Bisa Bisa" serunya. "Kau menggunakan bisa melukaiku?"
Pheng Lian Houw semua menjadi bingung, meski begitu, mereka lantas mengambil keputusan. Biarpun Auwyang Hong lihay, di situ ada Wanyen Lieh si pangeran Kim yang berpengaruh, jadi biar bagaimana, perkaranya Auwyang Kongcu itu harus diselesaikan secara baik. Begitu melihat roman menakutkan dari Yo Kang, sebagian menghampiri pangeran muda itu, untuk menghibur, yang sebagian lagi mendekati Oey Yong, antaranya ada yang berseru:
"Lekas keluarkan obatmu untuk mengobati siauw-ongya"
Oey Yong berlaku tenang. "Baju lapisku tidak berbisa," ia berkata tawar, "Jangan kamu bergelisah tidak karuan. Di sini ada orang yang harus membunuh dia, tidak ada perlunya aku melukainya"
Ketika itu Yo Kang menjerit, "Aku…. aku tidak dapat bergerak"
Lalu terlihat dia menekuk kedua dengkulnya, tubuhnya turun dengan perlahan-lahan, sedang dari mulutnya terdengar suara tidak tegas. Mendengar jeritan dan suara orang, Oey Yong heran. Ia lantas mengawasi Auwyang Hong, paras siapa nampaknya terkejut. Ketika ia juga menoleh kepada Yo Kang, muka si anak muda tersungging senyuman, mulutnya terbuka seperti tertawa. Di antara sinar rembulan, wajah pemuda itu menjadi luar biasa sekali. Mendadak ia ingat.
"Inilah Auwyang Kongcu Peehu yang menurunkan tangan jahat, kau jangan sesalkan aku," ia berkata.
Auwyang Hong heran, ia berkata "Melihat dari rupanya, dia memang terkena racun ular di tongkatku, memang aku berniat memberi dia rasa, siapa tahu si budak cilik telah mewakiliku. Bagus, bagus sekali. Hanya ular berbisa itu cuma aku seorang yang mempunyai, entah dari mana si budak cilik mendapatkannya?"
"Aku mana mempunyai semacam ular?" kata Oey Yong. "Kaulah yang menggunakan racun itu. Mungkin kau sendiri tidak merasa"
"Benar-benar aneh" Seru see Tok.
"Auwyang Peehu," berkata si nona. "Aku ingat peristiwa dulu ketika kau dan Loo Boan Tong bertaruh. Kau telah memberi makan racun ularmu kepada seekor ikan cucut, setelah ikan itu mati, dagingnya dimakan ikan yang lain, ikan itu keracunan dan lantas mati. Demikian seterusnya, racunmu itu menular tidak putusnya. Benar bukan?"
Auwyang Hong tertawa. "Jikalau racunku bukan istimewa, tidakkah nama See Tok kosong belaka?" ia bilang puas.
"Benar" menyahut si nona. "Lam Hie Jin itu ikan cucut yang pertama"
Ketika itu Yo Kang telah menjadi seperti orang kalap. Dia bergulingan di lantai. Nio Cu ong mencoba memeluknya, tidak ada hasilnya. Auwyang Hong tidak dapat menangkap arti perkataan oey Yong.
"Coba kau memberi penjelasan" ia bilang.
"Bukankah kau telah menggigitkan ularmu kepada Lam Hie Jin?" berkata si nona. "Ketika itu aku bertemu dia di Tho Hoa To, dia telah memukulku satu kali. Tinjunya itu mengenai pundakku yang kiri. Dengan begitu, di duri baju lapisku lantas ketinggalan sisa bisanya. Barusan siauw-ongya menghajar aku, kebetulan dia kena mencengkeram baju lapisku, karena dia terluka, darah beracun itu masuk ke dalam darahnya. Hm Dialah ikan cucut yang ketiga"
Mendengar keterangan si nona, orang merasa bergidik sendiri. sungguh hehat bisanya Auwyang Hong. Yo Kang telah menerima pembalasannya sendiri, dia mau mencelakai orang lain, dia sendiri yang menjadi korban.
Mendengar sampai di situ, Wanyen Lieh menghampiri Auwyang Hong di depannya ia menekuk lutut.
"Auwyang sianseng," ia berkata, "Siauw-ong minta sukalah kau menolong jiwa putraku, nanti siauw¬ong tidak bakal melupakan budimu yang sangat besar ini."
Auwyang Hong tertawa lebar. "Jiwa anakmu ialah jiwa keponakanku bukan jiwanya" katanya. Ia lantas menyapu Pheng Lian Houw semua, muka siapa terang di sinar rembulan, terus ia berkata dengan suara dalam: "orang gagah yang mana yang tidak puas, baik lekas-lekas maju untuk bicara"
"Bisa Bisa" serunya. "Kau menggunakan bisa melukakan aku?"
Bukannya orang maju, orang justru mundur. Pula tidak ada yang berani membuka mulut. Selagi orang menjublak, mendadak Yo Kang berlompat bangun dan menghajar Nio Cu ong hingga pahlawan itu roboh. Wanyen Lieh lantas bangun berdiri.
"Lekas bawa siauw-ong ya ke Lim-an" ia memberi titah. "Mari kita mengundang tabib yang pandai untuk mengobatinya "
Auwyang Hong mendengar perkataan pangeran itu, sembari tertawa ia berkata "Racun si bisa bangkotan mana ada tabib di kolong langit ini yang sanggup mengobatinya? Lagi pula mana ada tabib pandai yang tidak menyayangi jiwa" dengan berani merusak usaha Wanyen Lieh tidak mau melayani bicara.
"Kamu masih tidak mau lekas-lekas menolong siauw-ongya?" bentaknya kepada semua pahlawannya.
Belum lagi Yo Kang dipegang, untuk dibawa pergi, dia sudah berlompat tinggi hingga hampir kepalanya sundul dengan penglari, ketika dia sudah turun pula, dia menuding pangeran Kim itu sambil berseru:
"Kau bukan ayahku sudah kau bikin celaka ibuku, sekarang kau bikin celaka juga aku"
"Siauw-ongya, sabar" See Thong Thian membujuk. Ia mendekati, untuk memegang kedua lengan pangeran itu.
Yo Kang lihay, dia mendahului menangkap lengan orang she see itu, lalu dia menggigit jempolnya. See Thong Thian menjerit karena sakit, dia menarik tangannya, terus dia melengak. Lantas dia merasakan tangannya kaku, hingga dia menjadi kaget tidak terkira. Oey Yong mengawasi jago itu, ia berkata dingin
"Inilah ikan cucut yang keempat"
Cian Ciu Jin-touw Pheng Lian Houw kaget sekali. Dia memang bersahabat paling rapat dengan See Thong Thian. Dia pula paling pandai menggunakan racun, maka dia tahu apa yang dia mesti lakukan. See Thong Thian itu sudah keracunan. Dengan sebat luar biasa, dia menghunus goloknya, dengan itu dia membabat kutung sebelah lengannya sahabatnya itu Hauw Thong Hay kaget bukan main. Ia tidak tahu maksud Lian Houw.
"Pheng Lian Houw, kau melukai sukoku" ia membentak. Ia lantas maju untuk menyerang.
Tapi Thong Thian, yang menahan sakitnya, berteriak: "Tolol Pheng Toako justru menolong aku" Thong Hay batal menyerang, ia melengak.
Yo Kang menjadi kalap. pikirannya waswas. Ia menyerang kalang kabutan, ia meninju, menendang dan menggigit juga. Orang telah melihat contoh dalam diri see Thong Thian,
Mereka semua ketakutan, mereka pada menyingkirkan diri, semua lari keluar, hingga kacaulah mereka. Burung-burung gagak dengan turut kaget lagi dan beterbangan dengan berisiknya. Maka di pekarangan yang kosong di depan kuil, terlihat bayangan mereka terbang serabutan, suara mereka saling sahut dengan teriakan-teriakannya Yo Kang
Wanyen Lieh juga turut pergi ke luar kuil, tapi ia masih menoleh dan memanggil: "Anak Kang Anak Kang"
Yo Kang mengucurkan air mata.
Wanyen Lieh girang, ia mementang kedua tangannya, untuk menyambut putranya. Maka berdua mereka saling merangkul.
"Anak. kau sudah mendingan?" tanya ayahnya.
Tapi di sinar rembulan, ia menampak wajah orang yang tidak wajar, yang matanya terbuka lebar, terang dia belum sadar, sedang giginya bercatrukan. Ia kaget ketika si anak mengangkat tangan kirinya, menghajar ke arahnya. Dalam kagetnya ia bukan lompat mundur atau lari, ia menjorokkan tubuh putranya itu. Pangeran muda itu kehabisan tenaga, dia roboh terguling, terus dia tidak merayap bangun.
Menampak demikian, hati Wanyen Lieh mencelos, tidak berani ia mengawasi lagi, lantas ia lari terus, di luar kuil, ia melompat naik ke atas kudanya, untuk dikasih kabur, maka ia segera diiringi sekalian pahlawannya. Lekas sekali, mereka telah lenyap berikut bayangan, mereka.
Auwyang Hong mengawasi tubuh Yo Kang. Pemuda itu lagi bergulingan. Oey Yong pun mengawasi. Maka mereka berdua punya pikiran masing-masing yang satu berduka berbareng gusar, yang lain terharu dan puas. Mereka sama-sama membungkam, sampai mendadak mereka mendengar suara berkeresek di atas genting.
"Mau apa kau mencuri mendengar?" menegur Auwyang Hong. "Turunlah"
Oey Yong kaget. Ia menyangka Kwa Tin ok yang naik ke genting. Ia lantas melihat satu bayangan orang berlompat turun, orang itu lari masuk.
"enci Bok" ia berseru. Ia lantas mengenali orang. "Enci kau datang"
Nona itu tidak menghiraukan panggilannya, ia lari terus pada Yo Kang, yang ia lantas angkat tubuhnya untuk dipondong.
"Kau masih kenali aku?" ia menanya halus.
Yo Kang menyahut, suaranya tidak karuan, terdengarnya cuma "Ho ho"
"Ah, kau tidak dapat melihat aku" kata Liam Cu. Ia memutar tubuh, untuk mendapat sinar rembulan, untuk si anak muda melihat mukanya. Ia tanya pula: "Kau kenali aku atau tidak?"
Yo Kang mendelong mengawasi nona itu. Selang sesaat, baru ia mengangguk. Liam Cu girang.
"Hidup di dunia sungguh sengsara" katanya perlahan. "Kau menderita, aku juga, Mari kita pergi, Maukah kau?"
Yo Kang mengangguk pula. Tapi mendadak dia berteriak. Liam cu duduk mendeprok. dia memeluk erat-erat.
Menyaksikan semua itu, Oey Yong menghela napas. Tapi lekas juga ia menjadi heran. Tubuh Liam Cu bergerak turun, menindih tubuh Yo Kang, kepalanya jatuh di pundak si anak muda. Habis itu, keduanya terlihat tidak bergerak lagi.
"enci Bok… enci Bok" ia memanggil-manggil, kaget.
Liam Cu tidak menyahut, ia seperti tidak mendengar, tubuhnya terus diam. Nona Oey bingung, ia segera menghampiri, dengan perlahan ia pegang pundak si nona, untuk diangkat, mendadak tubuh itu roboh ke belakang
Sekali lagi Oey Yong berteriak karena kagetnya. Hanya sekarang ia melihat di dada si nona menancap ujung tombak buntung, napas si nona sudah berhenti. Ketika ia memandang Yo Kang, dada itu pun bekas tertusuk tombak, darahnya mengalir keluar. Anak muda itupun sudah putus jiwanya.
Liam Cu tidak tega mengawasi Yo Kang tersiksa, maka ia memeluknya dengan memasang tombak pendek didada sianak muda, waktu ia memeluk kuat, ujung tombak melesak dalam, maka matilah kekasihnya itu, setelah mana, ia menikam dadanya sendiri dengan cara serupa. Dari itu keduanya pulang bersama ke lain dunia
Oey Yong mendekam di tubuh Liam Cu, ia menangis sedih. Ia bersedih untuk nasib buruk nona itu. Kemudian, kapan ia ingat peruntungannya sendiri, yang masih kusut, ia menangis semakin sedih.
Auwyang Hong terus mengawasi semenjak tadi, sampai kemudian ia berkata "Bagus matinya mereka, buat apa ditangisi lagi? Setengah malaman sudah orang mengacau, sekarang akan lekas terang tanah. Mari kita melihat ayahmu"
Si nona berhenti menangis. "Di saat ini mungkin ayahku sudah pulang ke Tho Hoa To, buat apa dilihat lagi?" bilangnya.
Auwyang Hong melengak, terus ia tertawa dingin. "Oh, budak, budak, kiranya kau menjual orang" katanya keras.
"Di bagian depan dari kata-kataku, memang aku mendustai kau," berkata oey Yong. "Ayahku orang macam apa, mustahil dia membiarkan dirinya dikurung imam-imam busuk dari Coan Cian Kauw? Jikalau aku tidak menyebut-nyebut Kiu Im Cin-keng, maka kau mau mengijinkan aku memeriksa Sa Kouw?"
Kwa Tin ok mendengar semua itu, ia kagum dan menyayangi Oey Yong. Ia sekarang mengharap- harap si nona mendapat akal untuk menyingkir dari hadapan manusia yang lihay dan berbahaya ini.
"Dalam kata-katamu ada terkandung tiga bagian kebenaran, kalau tidak, aku si bisa bangkotan tidak akan kena terpedayakan," kata Auwyang Hong. "Baiklah, sekarang kau menjelaskan salinan dari ayahmu itu, jangan ada satu hurufpun yang dilompati"
"Jikalau aku lupa, bagaimana?" oey Yong tanya.
"Paling baik kau mengingat- ingatnya. Kalau budak secantik kau ini kena dicatol ularku, itulah harus disayangi"
Oey Yong jeri juga. Ia telah menyaksikan hebatnya kebinasaan Yo Kang. Maka ia berpikir keras¬ "Taruh kata aku memberitahukan terjemahan It Teng Taysu, tidak akan dia gampang-gampang melepaskan aku. Bagaimana caranya aku harus menyingkir dari dia ini?"
Ia tidak dapat pikiran yang baik, maka ia anggap baiklah ia bersikap ayal-ayalan, untuk menang waktu.
"Jikalau aku melihat huruf sansekertanya, mungkin aku dapat menjelaskan semua," katanya kemudian. "Coba kau membacakan, nanti aku mencoba-coba."
"Siapa sanggup membaca di luar kepala bahasa asing itu?" kata Auwyang Hong. "Sudah, jangan kau main gila denganku"
Mendengar orang tidak dapat menghapal, oey Yong mendapat pikiran. Ia menganggap pastilah See Tok memandang kitabnya itu sebagai jiwanya.
"Baik," katanya, "Sekarang kau keluarkan kitabmu itu."
Auwyang, Hong menurut. Dari dalam sakunya, ia mengeluarkan satu bungkusan, yang ia buka. Bungkusan itu terdiri dari tiga lapis kertas minyak. Itu dia kitab yang ditulis Kwee Ceng.
"Hm" tertawa si nona di dalam hatinya. "Engko Ceng menulis ngaco, dia memandangnya sebagai mustika"
Auwyang Hong menyalakan api, untuk menulis sisa lilin. Ia lantas membaca. "Itu artinya mesti pandai melihat lalu membuatnya menjadi dua belas macam tarikan napas," oey Yong menjelaskan. See Tok girang. Ia membaca pula. "Setelah dapat menghindari diri dari pelbagai ancaman maka perlahan-lahan akan masuk kejalan kesempurnaan," si nona menjelaskan pula. Kembali see Tok membaca. si nona berpikir, lalu ia menggeleng kepala. "salah, kau salah membacanya" katanya.
Auwyang Hong membaca lagi tetapi si nona menggoyang pula kepalanya. "Tidak salah, begini tulisnya," kata see Tok. "Heran Kenapa aku tidak mengerti?"
Oey Yong bergelisah, ia mengawasi tajam. Ia ingin orang lekas-lekas ingat dan mengerti.
"Ah, mungkin Kwee Ceng si bocah salah menulisnya" kata si nona kemudian. "Mari aku lihat."
See Tok tidak takut orang main gila, ia menyerahkan kitabnya. Oey Yong menyambut dengan tangan kanan, tangan kirinya mengambil api, ia bersikap hendak menyuluhi, mendadak ia berlompat ke belakang hingga setombak lebih. Lilin dan kitab ia lantas dekati satu dengan lain.
"Auwyang Peehu, kitab ini kitab palsu" katanya mendadak. "Biar aku bakar saja"
Auwyang Hong kaget bukan main. "Eh, eh, kau kata apa?" katanya. "Lekas kembalikan padaku"
"Kau menghendaki kitab atau jiwaku?" si nona tanya.
"Jiwamu buat apa" bentak SeeTok. "Lekas kembalikan" Ia bersikap hendak berlompat maju, guna merampas.
Oey Yong tidak takut, ia malah membawa lebih dekat ke kitab. "Kau bergeraklah" katanya mengancam. "setiap kali kau bergerak. setiap kali aku membakar sehelai. Akhirnya kau akan menyesal seumur hidupmu"
Auwyang Hong kalah gertak. "Hm" ia mendongkol. "Kau letakkan kitab itu. Kau pergilah"
"Kau seorang guru besar tidak dapat kau menelan kata-katamu" kata si nona tertawa.
See Tok mengasih lihat roman bengis. "Aku bilang lekas kau letakkan kitab itu" katanya, suaranya dalam. "Kau pergilah"
Oey Yong percaya, sebagai orang kenamaan, biarpun kejam, See Tok akan pegang perkataannya itu, maka ia lantas meletakkan kitab dan lilin¬
"Auwyang Peehu, maaf," katanya tertawa. Ia memutar tubuh untuk pergi dengan membawa tongkatnya.
Auwyang Hong tidak berpaling lagi, mendadak ia menghajar ke belakang, kepada patung Ong Gan ciang, hingga patung itu pecah separuhnya dan roboh dengan berisik. Terus dia membentak:
"orang buta she Kwa, kau keluarlah"
Oey Yong kaget bukan kepalang. Ia tidak menyangka. Ia lekas menoleh. Kwa Tin ok tidak mau bersembunyi lebih lama, ia berlompat turun seraya memutar tombak di depannya.
Nona oey sadar. orang selihay See Tok tidak gampang diakali, pasti suara napas ketua Cit Koay itu telah terdengarnya, hanya semenjak tadi, si Bisa dari Barat berlagak pilon saja. Terpaksa ia kembali, ia berlompat ke samping Tin ok. bersiap untuk membelanya.
"Auwyang Peehu, aku tidak jadi pergi," katanya "Kau kasihlah dia pergi"
"Jangan, Yong-jie" berkata Tin ok. "Kau pergilah, kau cari anak Ceng. Kau menyuruh dia membalaskan sakit hati kami enam saudara"
Si nona menjadi berduka. "Kalau Kwee Ceng percaya aku, dia sudah mempercayainya dari siang-siang," ia kata masgul. "Kwa Tayhiap. jikalau kau tidak pergi, penasaran ayahku sukar dijelaskan, sukar dilenyapkan. Kau bilangi Kwee Ceng, aku tidak sesalkan dia dan minta dia jangan bersusah hati."
Tin ok seorang laki-laki, tidak sudi ia ditolong si nona mengorbankan diri, maka ia berkutat sama nona itu.
Auwyang Hong jadi babis sabar. "Eh, budak cilik" tegurnya. "Aku telah memberi ijin kau pergi, perlu apa kau masih banyak rewel?"
"Aku justru tidak mau pergi" si nona membelar. "Auwyang Peehu, baik kau usir pergi ini si buta yang menyebalkan, nanti aku melayani kau berunding. Asal jangan kau melukai dia"
Auwyang Hong berpikir: "Kau tidak mau pergi, itu lebih baik lagi. Apa sangkut pautnya dengan aku kalau si buta ini mampus atau hidup terus?" Maka ia bertindak maju, ia menjambak dada Tin ok.
Ketua cit Koay itu menggerakkan tombaknya untuk membela diri, tetapi ketika tombak bentrok sama tangan, toya itu terlepas dan tangannya kesemutan, dadanya juga sedikit sakit. Tombaknya mencelat ke atas, menembusi wuwungan. Terpaksa ia berlompat mundur. Akan tetapi belum lagi ia dapat menaruh kaki, tubuhnya sudah disambar See Tok dan diangkat. Ia seorang berpengalaman, ia tidak menjadi gugup atau takut, tangan kirinya diayun, hingga dua biji lengkak besi menyambar ke muka jago dari Wilayah Barat itu.
Auwyang Hong tidak menduga orang dapat bertindak demikian, terpaksa ia berkelit sambil melengak seraya tangannya melemparkan tubuh jago Kang Lam itu ke arah belakang.
Melihat itu, Oey Yong menjerit. Tubuh Tin ok terlempar mendahului lengkaknya, hingga dia terancam bahaya senjata rahasianya sendiri. Tapi si buta itu lihay sekali, dia mendengar suara angin, dia mengulur tangannya, menyambut lengkaknya itu, maka ia turun ke bawah dengan tidak kurang suatu apapun.
"Bagus" berseru Auwyang Hong memuji. "orang buta she Kwa, kau lihay. Nah, kau pergilah, aku beri ampun padamu"
Kwa Tin ok bersangsi, ia tidak lantas bertindak pergi. Oey Yong mengerti keragu-raguan orang, ia tertawa dan mengatakan
"Kwa Tayhiap. Auwyang Hong hendak mengangkat aku menjadi guru, dia mau belajar Kiu Im Cin-keng, maka kalau kau tidak mau pergi, apa kau juga hendak mengangkat aku menjadi gurumu?"
Tin ok masih berdiri diam. si nona boleh tertawa tetapi ia ketahui baik ancaman bahaya untuk nona itu.
Auwyang Hong memandang langit. "Langit sudah terang mari kita pergi" ia mengajak oey Yong. Ia menarik tangan si nona, untuk dituntun pergi. Cepat jalannya ke luar kuil.
"Kwa Tayhiap. kau ingat apa yang aku tulis di tanganmu" kata oey Yong sambil mengikuti See Tok.
Ketika ia mengakhiri pesannya itu, ia sudah terpisah belasan tombak. Tetapi Tin ok masih dapat mendengar. Hanya tertua Cit Koay ini heran, terus ia berdiri menjublak. Ia masih berdiri diam kendati orang sudah pergi jauh. Maka tak lama kemudian, riuhlah suara kawanan gagak yang beterbangan di udara.
Masih Tin ok berdiri diam sampai ia mendengar burung-burung itu terbang ke dalam kuil, untuk berebut makan mayat orang. Ia ingat Bok Liam Cu, ia merasa kasihan untuk nasib buruk nona itu, tidak pantas si nona menjadi umpan burung, maka ia lari ke dalam kuil, ia cari mayatnya, terus ia bawa keluar, ke belakang, di mana ia menggali lubang untuk menguburnya. setelah itu ia lompat naik ke atas genting, mencari tombak buntungnya.
"Ke mana aku mesti pergi?" tanyany kepada dirinya sendiri sambil berdiri bengong. Ia pun telah menjadi sebatang kara.
Sementara itu, banyak burung gagak mengasih dengar suaranya yang sedih, lalu bergantian mereka jatuh sendirinya dari udara dan mati. Mereka telah makan daging beracun dari Yo Kang dan mati karenanya.
Menduga kepada nasibnya burung-burung itu, Tin ok menghela napas, lalu ia bertindak ke utara. Dihari ketiga, selagi berjalan, ia mendengar suara burung rajawali, yang terbang di atasan kepalanya.
"Mungkin anak Ceng ada di sini," pikirnya. Maka lantas ia memanggil-manggil, "Anak Ceng… Anak Ceng"
Belum lama maka terdengarlah suara kuda lari mendatangi, lantas Kwee Ceng tiba bersama kuda merahnya. Dia girang sekali melihat gurunya yang terpisah dalam pertempuran kacau. Dia lompat turun dari kudanya, untuk merangkul gurunya seraya memanggil.
"suhu suhu"
Tapi Tin ok menggaplok muridnya dua kali, hingga si murid melengak, lekas-lekas dia melepaskan pelukannya. Tin ok masih mencoba menyerang dengan tangan kirinya dan tangan kanannya berulang-ulang dipakai menggaplok mukanya sendiri
Menampak demikian, Kwee Ceng kaget dan heran. "suhu" katanya. "Suhu, kau kenapa?"
"Sebab kau si tolol cilik dan aku si tolol bangkotan" menjawab guru itu keras.
Masih Tin ok memukuli muridnya dan dirinya sendiri. sampai muka mereka pada bengap. baru dia berhenti sendiri. setelah ini, dia mencaci kalang kabutan kepada muridnya itu.
"Suhu, kenapa?" tanya si murid, yang tetap bingung.
Sekarang ini Tin ok telah menjadi tenang, maka ia lantas menuturkan apa yang telah terjadi di kuil, terutama tentang penuturan oey Yong, yang membuka rahasia Yo Kang dan Auwyang Hong yang membinasakan Cu Cong dan lainnya. Mendengar keterangan itu, Kwee Ceng heran dan girang, malu dan berduka.
"Dengan begitu aku telah berlaku keliru terhadap Yong-jie," katanya, menyesal.
"Maka itu kau bilanglah," Tin ok menutup ceritanya, "Kita berdua harus mampus atau tidak?"
"Memang suhu," berkata si murid. "Suhu, sekarang mari kita lekas menolong Yong-jie" Kwee Ceng menganggap oey Yong berada dalam bahaya.
"Bagaimana dengan ayahnya?" Tin ok tanya.
"Oey Tocu membawa Ang Insu ke Tho Hoa To untuk berobat. suhu, ke mana kiranya Auwyang Hong membawa Yong-jie?"
Tin ok berdiam, nampaknya ia berpikir. "Jikalau Yong-jie tidak dapat lolos dari tangan Auwyang Hong, entah dia bakal tersiksa bagaimana" katanya. "Anak Ceng, pergilah kau tolong dia Aku sendiri hendak membunuh diri untuk menghaturkan terima kasih kepadanya.."
Kwee Ceng terkejut. "Suhu, janganlah memikir demikian" ia berkata. Ia berkhawatir karena ia tahu benar tabiat keras gurunya, yang biasa melakukan apa yang dikatakan. "Suhu, lebih baik pergi ke Tho Hoa To untuk mengasih kabar, kau minta Oey Tocu lekas menolong putrinya. Sebenarnya aku bukan lawan dari Auwyang Hong."
Kwa Tin ok bisa berpikir, maka ia menganggap perkataan muridnya benar adanya. Karena ini ia batal membunuh diri, lantas ia berangkat, guna pergi ke pulau Tho Hoa To.
Kwee Ceng merasa berat sekali berpisahan lagi, ia mengikuti.
"Kenapa kau masih belum mau pergi?" membentak sang guru, yang mendapat tahu dirinya diikuti. "Lekas pergi. Jikalau kau tidak dapat menolong Yong-jie, maka jiwamu akan aku ambil"
Kwee Ceng menghentikan tindakannya, ia mengawasi gurunya berjalan terus, sampai si guru lenyap dari pandangan matanya. Ia masih berdiam sekian lama, karena ia benar-benar bingung ke mana ia mesti mencari Oey Yong. Akhirnya sambil menunggang kuda dan mengajak burungnya, ia menuju ke arah Tiat Ciang Bio.
Hebat apa yang disaksikan di kuil Ong Gan ciang dan sekitarnya. Banyak sekali bangkai burung gagak bergeletakan, di luar dan di dalam, dan di dalam terlihat seperangkat tulang belulang manusia. Terang itulah sisa tubuhnya Yo Kang. Ia menjadi terharu meskipun ia tahu pemuda itu musuh dari guru-¬gurunya. Ia masih ingat persahabatannya dengan Yo Kang dan perhubungan di antara kedua pihak orang tua mereka. Maka ia pungut semua tulang itu, ia kubur di belakang kuil di sisi kuburan Bok Liam Cu. Ia memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk¬-angguk dan memuji: "saudara Yo, saudara Yo Jikalau kau masih ingat budiku ini mengubur tulang-tulangmu, kau harus memayungi aku hingga aku berhasil mencari Yong-jie, dengan begini dapatlah kau menebus segala dosamu selama hidupmu"
Habis memuji, Kwee ceng masih menjura empat kali kepada kuburan Yo Kang dan Bok Liam cu, baru ia keluar dari kuil, untuk mulai dengan perkataannya mencari Oey Yong. Di sepanjang jalan, di mana saja, ia menanya-nanya orang tentang nona itu dengan menunjukkan petaan roman dan potongan tubuhnya si nona serta Auwyang Hong. Ini pekerjaan sukar. Setengah tahun lamanya ia merantau. Ia telah minta keterangan pihak Kay Pang dan coan cin Kauw dan orang-orang yang ia kenal, ia tetap tidak memperoleh hasil. Ia bertabiat keras, ia tidak mau menyerah kalah, terus ia mencari. Selama itu pernah ia pergi ke Pakhia, dan dua kali ia mendatangi kota Pianliang, di sana pun ia tidak mendengar kabar halnya Wanyen Lieh.
Pada suatu hari pemuda ini tiba di propinsi Shoatang, kebetulan ia berada di satu daerah yang kosong, sebab di sepanjang jalan, dari sepuluh rumah, sembilan yang ditinggalkan pergi penghuninya. Dijalan besar banyak orang yang lagi berangkat mengungsi. Katanya tentara Mongolia dan Kim telah berperang, pihak Kim kalah dan tentaranya kabur buyar, sembari kabur mereka merampok dan memperkosa.
Tiga hari sudah Kwee ceng berjalan - ia menuju ke Utara - ia mendapat kenyataan daerah semakin kosong dan keadaannya semakin menyedihkan. Dengan begini ia menjadi semakin menyedihkan. Dengan begini ia menjadi menginsyafi bahaya perang itu yang sangat merusak. Terutama sangat mengganggu rakyat negeri.
Dihari ketiga anak muda kita tiba di sebuah dusun di lembah, di situ ia hendak singgah untuk mencari nasi dan air untuk kudanya, mendadak ia mendengar suara berisik dari kuda dan manusia, ketika ia menoleh ke arah dari mana suara itu datang, ia melihat tibanya beberapa serdadu Kim. Yang berjalan di muka adalah seorang punggawa di ujung tombak siapa ada tertusuk mayatnya seorang bayi, punggawa itu sendiri tertawa terbahak-bahak sedang barisannya mulai membakar dusun, yang penduduknya mereka usir keluar dari rumahnya, untuk diikat dan dibunuh mati, tak perduli tua dan muda, cuma wanita yang muda yang mereka belenggu untuk dibawa pergi.
Menyaksikan keganasan itu, Kwee Ceng menjadi naik darah. Ia mengajukan kudanya menghampiri punggawa itu. Paling dulu ia merampas tombak orang, habis itu tangan kirinya menyusul melayang. Punggawa itu tidak menyangka sama sekali, selagi ia kaget, tangan si anak muda sudah tiba kepada sasarannya, maka sebelum ia berdaya, ia roboh seketika, biji matanya sampai lompat ke luar, jiwanya terbang melayang. Semua serdadu Kim menjadi kaget dan gusar, dengan serempak mereka berseru-seru dan maju untuk mengepung si anak muda.
Kuda merah tidak takut dikendalikan majikannya. dia membawa tubuh majikannya ke manapun bergerak. Kwee Ceng pun gusar sekali, kecuali tombak di tangan kanannya, ia merampas sebatang golok besar, maka dengan kedua tangan ilmu silat pengajaran Ciu Pek Thong - ia melabrak tentara Kim. Ia menikam dan membacok dengan hebat.
Setelah melihat banyak kawannya yang roboh, serdadu Kim menjadi kuncup nyalinya. Mereka memang telah kehilangan pemimpin. Maka dengan berteriak-teriak mereka melarikan diri ke luar dusun.
Sementara itu dari sebelah depan terlihat muncul pasukan seratus lebih serdadu Mongolia, di depannya tampak bendera yang besar. Melihat itu tentara Kim yang jeri kepada tentara Mongolia, lantas lari balik, dengan terpaksa mereka menyerang Kwee Ceng, guna membuka jalan kabur.
Anak muda itu sangat membenci tentara Kim, ia lantas lari ke mulut lembah, di sana menghadang. Dengan cepat ia berhasil merobohkan belasan serdadu penunggang kuda, yang lari mendahului kawan-kawannya. Robohnya mereka membikin kawan-kawannya menjadi serba salah, mundur tidak bisa, maju tidak dapat.
Barisan Mongolia heran ada orang membantu pihaknya, dengan begitu mereka berhasil menumpas sisa tentara Kim. Mereka ingin tahu siapa pembantu yang merintangi jalan molosnya musuh. selagi pekhu-thio, yang mengepalai mau maju untuk mencari keterangan, tiba-tiba seorang siphu-thio berseru "Kim Too Huma" dan terus dia berlutut di tanah untuk memberi hormat.
Ketika pekhu-thio mengetahui orang adalah menantu dari junjungannya, ia pun melompat turun dari kudanya, guna memberikan hormat, setelah itu ia memberi perintah seorang serdadunya lekas memberi kabar kepada kepala perangnya.
Kwee Ceng tidak berdiam saja. Ia lantas menitahkan tentara Mongolia memadamkan api yang dilepaskan tentara Kim tadi untuk membakar dusun. Karena ini penduduk yang tertolong pada datang menghaturkan terima kasih.
Baru saja penduduk lega hatinya, segera mereka dibikin kaget pula dan ketakutan. Mereka tahu datangnya lagi satu pasukan besar sebagaimana suara kuda dan tentara membikin berisik di luar dusun. Dengan muka pucat mereka saling mengawasi.
Waktu itu lantas terlihat seorang penunggang kuda kabur ke dalam dusun, kudanya besar dan gagah. Dialah seorang panglima muda, yang lantas berseru:
"Yang namanya Kwee Ceng di mana?"
Ketika Kwee Ceng melihat panglima muda itu, ia girang sekali. "Anda Tuli" ia berseru.
Maka keduanya lantas lari saling menghampiri, terus mereka saling rangkul. Kedua burung rajawali mengenali Tuli, putranya jenghis Khan, keduanya terbang menghampiri, mengelus - elus panglima muda itu.
Tuli menitahkan seorang Cian-hu-thio mengejar terus tentara Kim, di lain pihak ia memerintahkan mendirikan tenda di mana bersama Kwee Ceng ia duduk berkumpul, bicara panjang lebar hal-hal semenjak mereka berpisah.
Tuli menceritakan urusan ketentaraan di utara, maka Kwee Ceng jadi tahu selama satu tahun lebih Jenghiz Khan tak hentinya berperang ke timur dan barat, hingga dia dapat merampas banyak daerah, keempat putranya yaitu Juji Jagatai, ogotai dan Tuli ini, telah membangun banyak jasa, demikian juga empat panglimanya yang kenamaan, Mukhali, Borehu, Boroul dan chilaun. Dan sekarang ini Tuli bersama Mukhali lagi memimpin angkatan perangnya menyerang negara Kim, dipropinsi shoa tang, beberapa kali tentara Kim kena dilabrak hingga kacau balau, hingga angkatan perangnya dipusatkan di kota Tongkwan di mana mereka mengunci pintu, tidak berani mereka melayani perang.
Baru beberapa hari berkumpul sama Tuli, ada perintah dari Jenghiz Khan di gurun utara. semua putra dan panglima dipanggil berkumpul di sana. Tuli dan Mukhali tidak berani menyangkal panggilan itu, setelah menyerahkan tentaranya kepada wakilnya, mereka lantas berangkat. Kwee Ceng ingat kepada ibunya, ia turut bersama. Dengan begitu ia jadi terus menemani Tuli.
Pada suatu hari tibalah mereka di tepi sungai onon, di sana memandang ke tegalan yang luas sekali terlihatlah tenda-tenda tentara yang sangat banyak jumlahnya, sedang suara meringkiknya kuda-kuda perang berisik sekali. Ujung-ujung tombak yang tajam bergemerlapan di antara cahaya matahari. Di antara puluhan ribu tenda itu ada sebuah yang besar luar biasa yang warnanya kuning, ujung tenda teratas terbuat dari pada emas. Di depan tenda besar itu dipancar sebuah bendera besar, bendera yang menjadi tanda kebesaran dari junjungan bangsa Mongolia. Dari situlah keluar titah Jenghiz Khan memanggil berkumpul semua putra dan kepala perangnya.
Berdiri di atas sebuah tumpukan pasir tinggi, Kwee Ceng memandang ke seluruh perkemahan. Ia merasakan keangkeran angkatan perang Mongolia, ia berdiam saja.
Tapi tak usah lama ia berdiam, dari arah markas kelihatan datangnya satu barisan berkuda yang kecil, yang menyambut Tuli dan Mukhali, maka dilain saat ia sudah mengikuti pangeran dan panglima itu menuju ke tenda besar. Setibanya mereka di dalam, pemuda ini terperanjat. Ternyata lain-lain kepala perang sudah berkumpul di situ.
Jenghiz Khan girang melihat tiga orang itu. Tuli bersama Mukhali segera memberikan laporannya, sedang Kwee Ceng memberi hormat sambil berlutut, kemudian ia menambahkan.
"Kha Khan menitahkan aku memotong batang leher Wanyen Lieh, untuk mengambil kepalanya, akan tetapi beberapa kali sudah aku menemui dia, saban-saban dia dapat meloloskan diri, dari itu aku mohon Kha Khan memberikan hukuman kepadaku"
Jenghiz Khan tertawa. Ia berkata: "Kalau burung elang sudah menjadi besar, suatu hari pastilah dia akan dapat menerkam si rase, maka itu kenapa aku mesti menghukum dirimu?"
Segera setelah itu, kepala bangsa Mongolia memulai dengan rapatnya untuk mengatur tindakan menyerang besar-besaran ke negara Kim. Kebanyakan panglima mengusulkan kerja sama dengan pemerintah song guna menggencet kota Tongkwan.
“Baiklah, begini kita mengambil keputusan," Jenghis Khan menyatakan setuju. Maka utusan segera dikirim ke selatan, ke kerajaan song.
Sampai sore baru rapat dibubarkan, Kwee Ceng keluar dari markas dalam cuaca remang-remang ia hendak mencari tenda ibunya. Tiba-tiba ia merasakan dua tangan halus menutupi matanya dan hidungnya dapat mencium bau harum. Ia melengak sejenak, lantas ia memanggil:
"Adik Gochin Baki" Ia pun memutar tubuhnya.
Putri Jenghiz Khan berdiri dengan wajah manis. Sekarang ia nampak lebih jangkung, romannya agung.
"Adik" Kwee Ceng memanggil pula.
Putri kegirangan ia menjadi terharu sendiri. "Ah, benar-benar kau kembali" katanya.
Menyaksikan kepolosan nona itu, hati Kwee Ceng tergerak. sampai tak tahu ia mesti mengucapkan apa. Keduanya berdiri diam, mata mereka saling mengawasi.
"Pergi kau menemui ibumu," katanya. "Kau pulang dengan masih hidup, maka kau terkalah, siapa yang lebih girang, aku atau ibumu"
"Pastilah ibu akan girang luar biasa," menyahut Kwee Ceng.
"Apakah aku pun tidak sangat bergirang?" tanya si nona.
Nona ini menunjukkan kepolosan bangsa Mongolia, yang selalu mengucapkan apa yang dia pikir. Mendengar itu, Kwee Ceng kembali merasa terharu. Lantas keduanya, sambil berpegang tangan, pergi ke tenda Lie Peng, maka tak usahlah dituturkan lagi bagaimana girangnya ibu dan anak
Lewat beberapa hari Jenghiz Khan panggil Kwee Ceng menghadap dan mengatakan "Tentang semua perbuatanmu, aku telah mendengar dari Tuli. Kau dapat memegang kepercayaanmu, anakku girang sekali. Kau tunggu beberapa hari lagi, nanti aku nikahkan kau dengan putriku."
Kwee Ceng kaget, ia ingat oey Yong. Pikirnya: "sampai sekarang ini masih belum ketahuan Yong-jie masih hidup atau sudah mati, mana bisa aku membelakangi dia menikahi orang lain?" Ia ingin menampik tetapi melihat roman angker dari Jenghiz Khan, ia gagal membuka mulut.
Jenghiz Khan tahu pemuda ini jujur, ia menyangka orang berdiam saking girangnya, maka dia lantas memberikan hadiah berupa uang emas seratus kati, kerbau lima ratus ekor dan kambing dua ratus ekor. Dia memerintahkan si anak muda menyiapkan sendiri segala keperluan nikahnya.
Gochin Baki adalah putri tunggal dan ia sangat disayang ayahnya, sedangkan waktu itu berkat pelbagai kemenanganJenghiz Khan, pelbagai suku bangsa Mongolia merasa senang, maka, berhubung sama pernikahan si putri, yang telah lantas diumumkan, dari sana sini segera datang pemberian selamat berikut rupa-rupa hadiah, barang permata tak terkecuali, hingga semua itu mesti ditempati dalam beberapa puluh tenda.
Gochin Baki girang bukan kepalang, akan tetapi Kwee Ceng sebaliknya murung, apalagi hari pernikahan semakin dekat. Lie Peng dapat melihat kedukaan dan kebingungan putranya, pada suatu malam ia menanyakan sebabnya. Kwee Ceng berlaku terus-terang dengan menutur hal pergaulannya dengan Oey Yong. Mengetahui hal putranya ini, nyonya Kwee berdiam.
"Ibu, anakmu menghadapi kesukaran ini, bagaimana baiknya?" Kwee Ceng tanya.
"Budi Khan sangat besar mana dapat disia-siakan?" kata sang ibu. "Halnya Yong-jie, anak ini walaupun aku belum pernah melihatnya, mesti dia manis sekali"
"Ibu, kalau umpama ayah menemui urusan begini, apa yang akan diperbuat?" Kwee Ceng tanya pula.
Ini pertanyaan luar biasa. Lie Peng melengak. Kemudian ia tunduk, memikirkan sifat suaminya, yang ia kenal baik sekali.
"Ayahmu lebih suka menderita daripada menyia-nyiakan orang lain," jawab ibu ini akhirnya.
Kwee Ceng bangkit, ia berkata dengan gagah: "Anak belum pernah bertemu sama ayah akan tetapi anak akan mencontoh siIatnya Jikalau Yong-jie selamat, anak akan memenuhi janji dan akan menikahi putri Cochin Baki, apabila Yong-jie terjadi sesuatu, anak tidak akan menikah seumur hidup,"
"Memang begitu mestinya," pikir sang ibu. "Tidak boleh keluarga Kwee dibikin putus turunan olehmu. Tapi anak ini kukuh seperti ayahnya, tidak ada gunanya" Maka ia tanya:
"Habis bagaimana kau hendak bicara sama Khan?"
"Aku akan bicara terus-terang," sahut sang anak.
Lie Peng adalah ibu bijaksana, ia bersedia mengiringi kehendak anaknya. "Baik," katanya. "Di sini kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi, nah pergi kau bicara sama Khan. Besok pagi kita berangkat ke selatan."
Kwee Ceng mengangguk. Ibu dan anak ini lantas berbenah membuntal bungkusan. Mereka cuma membekal pakaian seperlunya dan sejumlah uang, yang lainnya, yang menjadi hadiahnya Jenghiz Khan, mereka biarkan saja.
"Sekarang aku hendak pamitan dari putri Gochin Baki," kata Kwee Ceng.
Lie Peng bersangsi. "Mana dapat itu diberitahukan dia," katanya. "Baik kau pergi dengan diam-diam saja supaya dia tidak bersusah hati"
"Tidak. ibu, aku mesti bicara sama dia," kata Kwee Ceng pasti. Dan ia bertindak pergi.
Putri Gochin Baki berdiam bersama ibunya di sebuah kemah. Selama beberapa hari ia gembira sekali, ia repot menyiapkan segalanya untuk pernikahan, maka ia heran waktu mendengar Kwee Ceng di luar kemah memanggil dirinya. Ia pun likat ketika ia berkata
“Ibu"
Sang ibu tertawa dan berkata: "Beberapa hari lagi kamu bakal menikah, satu hari tidak bertemu pun tidak dapat Baiklah, kau pergilah menemui dia"
Gochin bersenyum, lantas ia pergi keluar. "Engko Ceng" katanya perlahan.
"Adik, aku ingin bicara sama kau," berkata Kwee Ceng, yang lantas mengajak si nona bertindak ke arah barat, terpisah jauh dari perkemahan. Di sana mereka duduk di atas rumput.
Gochin menyenderkan tubuhnya di tubuh si anak muda. "Engko Ceng, aku juga ingin bicara denganmu," katanya perlahan.
Kwee Ceng terperanjat. "Oh, kau pun telah mengetahuinya?" katanya. Ia lantas pikir: "Dia sudah tahu, ini lebih baik lagi, jadi aku tidak usah bicara banyak"
"Tahu apa?" kata si putri, ia heran. "Aku hanya hendak memberitahukan kau bahwa aku bukan anak dari Kha Khan"
"Apa kau bilang?" tanya Kwee Ceng, heran.
Gochin mengangkat kepalanya memandangi si Putri Malam yang baru mulai muncul. "Kalau nanti aku sudah menikah sama kau," berkata si putri perlahan, "Aku akan melupakan diriku bahwa akulah anak Jenghiz Khan, melainkan aku ialah istrinya Kwee Ceng, maka apabila kau hendak memukul aku atau memaki aku, kau boleh memukul dan memakinya, jangan karena kau pikir ayahku Khan yang agung, kau nanti merasa terhina."
Kwee Ceng terharu sekali. "Adikku, kau sangat baik," katanya, "Maka sayang sekali, aku tidak setimpal dijodohkan dengan kau"
"Kenapa tidak setimpal?" Gochin tanya. "Di kolong langit ini kaulah orang yang paling baik, kecuali ayah, tidak ada yang dapat menimpali kau. Keempat kakakku itu, mereka tidak ada separuh mu"
Kwee Ceng berdiam, tidak dapat membuka mulut, untuk memberitahukan bahwa besok, saat sang pagi datang, ia bakal meninggalkan Mongolia.
"Di dalam beberapa hari ini, aku girang sekali," Gochin berkata pula. "Ketika aku mendengar kabar kau mati, aku ingin lantas turut mati juga, syukur sekali Tuli telah merampas golok dari tanganku. Kalau tidak mana bisa sekarang aku menikah denganmu? Engko Ceng, jikalau aku tidak dapat menikah sama kau, benar-benar aku tidak suka hidup lagi."
Kwee Ceng berdiam. "Kalau Yong-jie, tidak bisa ia bicara begini padaku," pikirnya. "Keduanya, mereka baik sekali terhadapku" Ingat oey Yong, ia menghela napas.
"Eh, mengapa kau menarik napas?" Gochin heran.
"Tidak apa-apa" menyahut si anak muda bersangsi.
"Ah, kau tentu ingat kakakku yang nomor satu dan nomor dua," kata si putri. "Mereka memang tidak menyukai kau. Tapi di sana ada kakakku yang nomor tiga dan nomor empat, mereka baik sekali kepadamu. Baik kau jangan berduka, di depan ayah aku telah mengatakan bahwa kakak yang nomor satu dan nomor dua itu tidak baik, yang baik ialah kakak nomor tiga dan nomor empat."
Kwee Ceng heran. "Kenapa begitu?" ia tanya.
Gochin agaknya senang. "Aku telah mendengar ibu berkata bahwa sekarang usia ayah sudah lanjut dan ayah lagi memikir mengangkat putra mahkota. Coba kau terka, siapa yang bakal terpilih?"
"Pasti kakakmu yang paling tua Juji," menyahut Kwee Ceng. "Dia berusia paling tua dan jasanya pun besar."
Putri itu menggeleng kepala ia tertawa. "Kau menerka keliru," bilangnya. "Menurutku, kakak yang nomor tiga, atau kakak yang nomor empat."
Juji, putra sulung dari Jenghiz Khan, pintar dan pandai bekerja, putra nomor dua Jagatai, gagah dan pandai berperang. ogotai, putra nomor tiga, gemar minum dan berburu, hatinya lapang dan jujur. Dia menginsyafinya, yang bakal menggantikan ayahnya tentu Juji atau Jagatai, bahwa ia tidak mempunyai pengharapan, dari itu ia tidak turut itu kedua saling bersaing mengejar kedudukan Khan yang maha agung, karena ini, beberapa saudaranya, juga adiknya yang perempuan, baik sekali dengannya. Maka itu Kwee Ceng menyangsikan hanya dengan kata-kata Gochin Jenghiz Khan akan menukar putra mahkota pilihannya itu. Kesangsian ini ia utarakan pada putri itu.
"Aku juga tidak tahu pasti, aku menduga saja," kata Gochin, " Hanya andaikata benar salah satu kakakku yang nomor satu atau yang nomor dua menjadi Khan, kau jangan khawatir, jikalau mereka berani mengganggumu, aku akan mengadu jiwa dengan mereka" GochinBaki berani berkata begitu, sebab ia sangat disayang ayahnya hingga keempat saudaranya mengalah terhadapnya.
Kwee Ceng tahu putri ini bakal lakukan apa yang dikatakannya, ia bersenyum. "Tak usahlah kau sampai berbuat demikian," katanya.
"Itu yang diharap. umpama kata saudaraku itu memperlakukan kita berdua tidak selayaknya,. kita berangkat saja ke selatan"
"Aku justru hendak membilangi aku hendak pulang ke selatan" kata Kwee Ceng seketika.
Gochin heran hingga ia melengak. "Aku khawatir ayah dan ibuku tidak akan memberi ijin" katanya.
"Tapi aku akan pergi seorang diri"
"Ah, aku selalu mendengar perkataanmu," kata putri itu. "Kau bilang hendak pulang ke selatan, aku akan turut kau, jikalau ayah dan ibuku tidak mengijinkannya, kita pergi secara diam-diam"
Kwee Ceng tidak dapat menahan sabar lagi. Ia berlompat bangun. "Aku berdua ibuku yang akan pulang ke selatan" katanya.
Kembali Gochin Baki heran, hingga dia duduk menjublak, matanya mengawasi si pemuda, yang juga memandang kepadanya. Dia masih belum mengerti maksud orang.
"Adikku, maafkan aku, menyesal aku tidak dapat menikah denganmu," kata Kwee Ceng sesaat kemudian.
"Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan?" tanya si putri. "Apakah kau menyesal aku tidak membunuh diri? Benarkah itu?"
"Bukan, bukannya kau bersalah" kata Kwee Ceng. "Akupun tidak tahu siapa yang salah, hanya setelah aku pikir-pikir, yang salah itu ialah aku. Duduk perkaranya begini"
Pemuda ini lantas menuturkan hal persahabatannya sama oey Yong. Ketika ia menceritakan sampai di bagian Oey Yong ditawan Auwyang Hong dan ia telah mencarinya setengah tahun lebih dengan sia-sia, Gochin menepas air mata karena ia turut merasa kasihan atas nasib nona yang dianggap bernasib malang itu.
"Maka itu, adikku kau lupakanlah aku," kata Kwee Ceng. "Aku hendak mencari dia."
"Setelah kau berhasil mencari dia, kau akan datang menjenguk aku atau tidak?" menanya si nona bangsawan.
"Jikalau dia selamat, aku pasti akan kembali ke Utara ini," Kwee Ceng menyahut, "Waktu itu, jikalau kau tidak menyia-nyiakan aku dan tetap masih menginginkannya, aku akan menikah denganmu, aku tidak akan menyesal."
"Jangan kau bilang begitu," berkata si putri. "Kau tahu sendiri, aku ini untuk selama-lamanya ingin menikah sama kau. Nah, kau pergilah mencari dia. Kau cari dia, sepuluh tahun, dua puluh tahun, asal aku masih hidup, aku akan menantikan kau di padang rumput ini."
Kwee Ceng terharu bukan main. "Ya, sepuluh tahun, dua puluh tahun, akan aku cari dia," ia bilang. "sepuluh tahun, atau dua puluh tahun, aku pun akan selalu mengingat kau di sini, di padang rumput, lagi menantikan aku."
Gochin berlompat bangun, ia menyesapkan diri di dada si anak muda, ia menangis tersedu sedan. Kwee Ceng memeluk perlahan lahan, matanya pun merah.
Justru waktu itu, empat penunggang kuda lari mendatangi dari arah barat dan lewat di dekat sepasang muda-mudi ini, mereka langsung menuju ke kemah Jenghiz Khan. Ketika terpisah lagi beberapa puluh tombak dari kemah, kuda yang satu roboh terguling, tidak dapat bangun lagi. Itulah tanda latihannya yang sangat. Penunggang kudanya telah berlompat bangun, terus dia kabur ke dalam kemah.
Hanya sejenak saja, maka dari dalam kemah lari keluar sepuluh serdadu, mereka berdiri di empat penjuru kemah, untuk memperdengarkan suara terompetnya.
Itulah terompet tanda panggilan kilat untuk sekalian perwira. Kalau terompet itu dibunyikan, tidak perduli pangeran atau panglima yang tersayang, apabila Khan yang agung menghitung dengan tekukan sepuluh jarinya tetapi ada yang belum datang memenuhi panggilan, maka dia bakal segera dihukum potong kepala tanpa ampun lagi. Kwee ceng ketahui itu.
"Kha Khan menghimpun panglima perang" katanya.
Tanpa banyak bicara lagi, ia meninggalkan Gochin Baki untuk kabur pulang. Ia menggunakan ilmunya ringan tubuh. Dari segala penjuru, ia mendengar derap kaki kuda. Ketika ia tiba di kemah Jenghiz Khan justru baru menekuk jeriji tangannya yang ke lima. Waktu delapan jari tangan telah tertekuk. maka kumpullah semua putra dan panglimanya.
Jenghiz Khan sudah lantas berkata nyaring: "Adakah raja anjing itu mempunyai putra-putra yang begini gesit? Adakah dia mempunyai panglima-¬panglima perang yang begini gagah?"
"Tidak" menyahut sekalian pangeran dan panglima berbareng.
Jenghiz Khan menepuk dada. "Kalian lihat" katanya pula. Dia menunjuk. "Inilah perutusanku yang dikirim ke Khoresm. Apakah yang raja anjing telah perbuat atas budak-¬budakku yang setia?"
Semua orang berpaling ke arah yang ditunjuk junjungan mereka. Di situ ada beberapa orang Mongolia dengan muka bengkak dan matang biru dan kumisnya terbakar bersih. Kumis tanda keagungan dari seorang pahlawan Mongolia. Kalau kumis terbentur saja sudah satu penghinaan, sekarang terbakar habis. Maka semua panglima itu menjadi sangat gusar hingga mereka berseru-seru.
KHORESM atau KHIVA, Dahulu suatu negara dibawah pemerintahan seorang Khan, dan sekarang menjadi salah satu propinsi daripada negara bagian USBEKISTAN di UNI SOVIET.
"Khoresmia itu suatu negara besar di sebelah Barat kita," berkata pula Jenghiz Khan. "Oleh karena kita memusatkan perhatian dalam penyerangan kepada anjing Kim, terhadapnya kita suka mengalah .Juji, anakku, kau bilang, bagaimana sikapnya itu anjing Muhammad terhadap kita?"
Juji maju satu tindak. ia menyahut dengan nyaring: "Satu Tahun lalu ayah menitahkan anakmu menyerang bangsa Mergid yang harus mampus, anak pulang dengan kemenangan. Ketika itu Muhammad telah mengirim satu pasukan perangnya menggencet bangsa Mergid itu. Karena kedua pasukan telah bertemu satu sama lain. Anak lantas mengirim utusan untuk mengadakan perhubungan baik dengan membilang ayah suka bersahabat dengan Khoresm. Lantas Muhammad bilang: "Meskipun Jenghiz Khan tidak menitahkan kamu menyerang aku akan tetapi Tuhan memerintahkan aku menghajar kamu." Kita jadi bertempur dan kita menang, hanya pada waktu tengah malam, lantaran jumlah musuh lebih besar sepuluh lipat, diam-diam aku mengundurkan diri"
"Walaupun demikian, Kha Khan masih tetap berlaku baik terhadapnya," berkata Boroul. "Waktu kita mengirim kafilah perdagangan, semua barang kita dirampas Muhammad dan semua saudagarnya dibunuh mati, sekarang mengirim utusan untuk mengikat persahabatan, Muhammad telah mendengar ojokannya Wanyen Lieh si pangeran anjing dari negara Kim, dia membunuh utusan kita yang gagah dan menyerang pengiring-pengiring utusan itu, separuh pengiring dibinasakan dan separuhnya lagi dibakar kumisnya lalu diusir pulang"
Mendengar disebutnya nama Wanyen Lieh, Kwee Ceng ikut bicara. "Apakah Wanyen Lieh ada di Khoresm?" ia tanya.
"Anjing Kim itu berserikat sama Khoresm," berkata Jenghiz Khan, "Mereka hendak menggencet kita. Apakah kita takut?"
"Khan kita yang agung tak ada tandingannya di kolong langit ini" berseru para panglima. "Kha Khan, kau titahkan kita pergi menyerang Khoresm, nanti kita menggempur kota-kotanya, kita membakar rumah¬-rumahnya, kita membunuh habis rakyatnya laki-laki dan perempuan, kita rampas hewan mereka"
"Muhammad mesti dibekuk, Wanyen Lieh mesti dibekuk" Jenghiz Khan menambahkan.
"Ya" berseru para hadirin hingga api lilin di dalam kemah jadi berkelak- kelik,


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar