Ketika itu Jenderal Han sudah berusia lanjut dan bersama istrinya, Nio Hong Giok, ia tinggal menyendiri di tepi See Ouw. Dia telah terbangun semangatnya menyaksikan kitab Gak Hui itu, hingga ia menghunus pedang dan membacok meja. Ia menghela napas. Untuk memperingati sahabat kekalnya itu, Gak Hui, ia lantas mengumpulkan pelbagai karyanya Gak Bu Bok, dijadikan sebuah buku, kemudian dia kasihkan pada Siangkoan Kiam Lam, yang dinasehati untuk mencoba mewujudkan cita-cita Gak Hui mengusir bangsa asing, guna membangun pula negara sendiri.
Kiam Lam menerima semua itu. Ia juga bisa berpikir, maka ia ingat, tidak mungkin Gak Hui menulis kitab perangnya itu untuk dibawa ke kubur, tentulah itu untuk diwariskan kepada seseorang, hanya saking kerasnya penjagaan Cin Kwee, kitab tersebut tak sempat disampaikan. Pula mungkin, karena sesuatu sebab, orang yang harus menerima kitab tidak keburu sampai di kota raja. Kalau ini benar, ada kemungkinan orang itu datang ke istana dan menubruk tempat kosong disebabkan kitab itu sudah tercuri. Karena ini, ia lantas membikin petanya gunung Tiat Ciang San berikut keterangan singkat bunyinya; "Kitab warisan Gak Bu Bok adanya di Tiat Ciang San, di puncak Tiong Cie Hong, di lereng yang kedua."
Jenderal Han khawatir orang tidak mengerti petunjuk singkat itu, ia menambahkan dengan sayirnya Gak Bu Bok sendiri. Jenderal Han juga percaya bahwa orang yang bakal menerima warisan itu, jikalau bukan murid Gak Bu Bok sendiri, tentulah salah seorang bawahannya.
Ketika Siangkoan Kiam Lam telah pulang ke Tiat Ciang San, ia mengumpulkan pencinta negara, ia mengajak mereka bergerak. Tapi pemerintah Song jeri kepada negara Kim, bukan saja gerakan mulia itu tidak ditunjang bahkan ditindas, dalam hal mana, bangsa Kim pun membantu. Maka gagallah usaha Siangkoan Kiam Lam, ia mati di atas puncak Tiat Ciang Hong karena luka-lukanya. Bukunya itu bagian belakang, tulisannya tidak karuan, mungkin ditulis sesudah dia terluka. Yang paling hebat ialah setelah belasan lembarnya dirobek-robek Cin Lam Kim.
"Tidak disangka Siangkoan Pangcu seorang pencinta negara," kata Kwee Ceng masgul, hingga ia menghela napas. "Sampai pada ajalnya, dia masih memegang erat- erat buku ini. Aku tadinya menduga dia sama dengan Khiu Cian Jin si pengkhianat, mulanya aku memandang rendah kepadanya. Kalau tahu begini, tentulah aku sudah menghunjuk hormatku kepada tulang-belulangnya itu."
Tidak lama dari itu, cuaca mulai gelap, maka tukang perahu meminggirkan perahu dan menambatkannya, hendak ia masak nasi dan menyembelih ayam, untuk mempersiapkan makanan.
Oey Yong dan Kwee Ceng khawatir nanti diracuni, dengan alasan si tukang perahu tidak resik, mereka membawa daging ayam dan sayurannya ke darat, ke rumah seorang desa, untuk tolong dimatangi, untuk mereka bersantap di sana.
Tukang perahu mendongkol, tetapi karena dia gagu, tidak bisa bilang apa-apa kecuali nampak sinar mata dan romannya yang muram. Habis bersantap, sepasang muda-mudi itu masih berangin di bawah pohon di depan rumah si orang kampung.
"Entah apa yang ditulis dalam beberapa lembar halaman yang dirobek enci Cin itu," berkata si nona. "Di dalam dunia ini cuma Khiu Cian Lie dan Yo Kang yang pernah membaca itu tetapi mereka dua-duanya telah mati."
"Khiu Cian Lie cuma mengambil buku ini, tidak bukunya Gak Bu Bok, kenapakah?" tanya Kwee Ceng
"Mungkin itu disebabkan dia mendapat dengar suara kita. Dan baru ambil jilid ini, dia tidak berani mengambil jilid lainnya. Mungkin beberapa lembar yang tersobek itu penting isinya. Bukankah si tua bangka sangat memperhatikan itu?"
"Hanya heran tentang Siangkoan Pangcu itu. Dia lari ke puncak. Kenapa tentara negeri tidak mengejarnya terus?"
"Ini pun aneh. Rupanya cuma setelah melihat isi sobekan baru duduknya hal akan dapat dimengerti……" kata si nona, yang mendadak tertawa. "Kalau enci Cin tidak merobeknya dan kejadian dia pergi kepada Wanyen Lieh, waktu itu pasti bakal ada pertunjukan yang bagus sekali……" Ia berhenti pula, atau kembali ia berkata, berseru; "Bagus!"
"Apakah itu?" Kwee Ceng menanya.
"Kita menyerahkan buku ini kepada Wanyen Lieh," menerangkan si nona. "Dengan begitu, dia pasti akan mengirim orang ke Tiat Ciang San mencari buku warisan Gak Bu Bok itu. Bukankah Tiong Cie Hong tempat keramat Tiat Ciang Pang? Mana Khiu Cian Jin suka membiarkan tempat sucinya diganggu? Maka pasti sekali mereka bakal saling bunuh di antara kawan sendiri! Tidakkah ini bagus?"
"Ya, itu benar bagus!" Kwee Ceng kata sambil bertepuk tangan.
"Aku tidak sangka sekali Suko Kiok Leng Hong telah mendirikan jasa besar sekali!" kata Oey Yong yang pun girang.
Kwee Ceng tidak mengerti. "Bagaimana?" ia tanya. "Kitab Gak Bu Bok disimpan di gua tepi Cui Han Tong di dalam istana," berkata si nona. "Karena Siangkoan Kiam Lam telah mencurinya dari sana, tentu gambarnya telah ditaruh di tempat buku itu. Benar bukan?"
"Benar."
"Kiok Suko telah diusir dari Tho Hoa To tetapi ia tidak melupakan budi gurunya. Ia tahu ayah gemar akan tulisan, gambar dan barang lainnya asal barang kuno, ia rupanya ketahui semua itu ada terdapat banyak di dalam istana, maka tanpa menghiraukan bahaya, ia nyelundup ke istana dan berhasil mencuri banyak gambar, tulisan dan lainnya……"
"Benar, benar!" Kwee Ceng bilang. "Sukomu itu telah mencuri semua itu berikut gambar peta rahasia, lalu semuanya dia simpan di kamar rahasia di Gu¬kee-cun, untuk dia nanti menghadiahkan kepada ayahmu, maka apa lacur, dia kena disusul rombongan siewi dan kena dibinasakan. Maka itu ketika Wanyen Lieh pergi ke istana, ia kebogehan, sudah buku Gak Hui tidak ada, petanya juga hilang. Ah, kalau tahu begitu, selama di gua itu tidak usah kita mati-matian merintangi mereka, hingga aku tidak nanti sampai dilukai si bisa bangkotan dan kau tidak usah bersusah hati tujuh hari tujuh malam ……"
"Soalnya tidak dapat dipandang dari sudutmu itu," membantah si nona. "Jikalau kau tidak beristirahat di kamar rahasia, mana kita bisa dapatkan gambar peta itu? Juga mana……" Ia berdiam. Ia menjadi ingat pertemuannya sama putri Gochin Baki. Maka ia jadi masgul. Selang sesaat, ia kata pula: "Entah bagaimana dengan ayahku sekarang……?" Ia memandang rembulan sisir. "Segera bakal tiba Pee-gwee Tiong Ciu," katanya. "Setelah pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin, apakah kau bakal kembali ke gurun pasir di Mongolia?"
"Tidak. Lebih dulu aku membunuh Wanyen Lieh, guna membalaskan sakit hati ayahku dan paman Yo."
"Setelah itu?" tanya si nona, matanya tetap mengawasi si Putri Malam.
"Masih banyak urusan lainnya! Suhu mesti diobati dulu hingga sembuh. Pula Ciu Toako mesti dicari, untuk menyuruh dia pergi ke rawa lumpur hitam kepada Eng Kouw ……" "Setelah semua itu beres, kau toh akhirnya kembali ke Mongolia?"
Kwee Ceng tidak bisa menyahut, tak tahu ia mesti membilang apa.
"Ah, aku tolol!" kata si nona tiba-tiba. "Perlu apa aku memikirkan semua itu? Justru ada kesempatan baik, satu hari lebih lama kita berkumpul, satu hari terlebih baik! Mari kita kembali ke perahu, kita permainkan si gagu palsu itu……"
Kwee Ceng menurut. Keduanya berjalan pulang. Tiba di perahu, tukang perahu dan dua pembantunya sudah tidur.
"Pergi kau tidur, aku nanti berjaga-jaga," Kwee Ceng membisiki si nona.
Oey Yong merasakan kesehatannya belum pulih semua, maka itu ia letakkan kepalanya di paha si anak muda. Dengan perlahan ia pulas.
Kwee Ceng tidak mau membikin tukang perahu curiga, meskipun ia tidak menginginkan, ia terpaksa merebahkan diri, hanya diam-diam ia menghapal ajaran It Teng Taysu bagian dari Kiu Im Cin-keng yang memakai bahasa Sansekerta. Ia menghapal terus sekitar satu jam, akhirnya ia menjadi gembira. Tidak saja ia tidak merasa kantuk, ia bahkan menjadi segar. Hanya tengah ia bergirang itu, ia mendengar Oey Yong mengigau perlahan:
"Engko Ceng, jangan kau menikah sama putri Mongolia itu, aku sendiri yang hendak menikah denganmu." Ia melengak. Kembali ia mendengar suara si nona: "Bukan bukan, aku salah omong. Aku tidak meminta apa-apa dari kau, aku tahu kau suka aku, itu saja sudah cukup."
"Yong-jie, Yong-jie," kata si anak muda terdengar.
Oey Yong tidak menyahut, hanya napasnya perlahan. Pemuda itu bingung. Ia mencintai si nona, ia merasa kasihan. Ia mengawasi wajah orang yang tidur nyenyak di pahanya. Paras si nona itu putih tersinarkan cahaya rembulan, karena kesehatannya belum pulih, kulit mukanya belum kembali bersemu dadu. Ia mengawasi dengan menjublak.
"Dia tentulah bermimpi dan dalam mimpinya ia mengingat peruntungan kita berdua," pikir anak muda ini. "Aku tidak boleh melihat dia dari sikapnya sehari-¬hari saja, yang bergembira, seperti orang tidak pernah berduka, sebenarnya di dalam hatinya, ia masgul. Ah, akulah yang membikin dia mengalami kesulitan ini. Coba hari itu kita tidak bertemu di Thio-kee-kauw, bukankah itu baik untuknya?"
Selagi yang satu bermimpi atau mengigau dan yang lain mengawasinya dengan pikiran bimbang, tiba-¬tiba di permukaan air terdengar suara pengayuh bekerja, lalu terlihat sebuah perahu mendatangi dari sebelah hulu. Kwee Ceng menjadi heran.
"Air sungai ini sangat deras dan berbahaya, siapa begitu bernyali besar berani menjalankan perahu malam-malam?" pikirnya. Karena ini, ingin ia melihat. Ketika ia hendak mengangkat kepala, mendadak ia mengurungkan. Tiba-tiba ia mendengar tiga kali tepukan tangan perlahan dari perahunya. Diwaktu sunyi seperti itu, suara tepukan tangan itu nyata terdengarnya. Setelah itu terdengar suara layar dibenahkan.
Tidak usah lama Kwee Ceng menanti akan mendapatkan perahu itu di pinggirkan dan dikasih nempel sama perahunya, maka dengan perlahan ia menepuk-nepuk tubuh Oey Yong untuk mengasih bangun. Hampir di waktu itu, tubuh perahu bergoyang sedikit.
Pemuda itu segera mengintai. Ia masih sempat melihat satu orang, dalam rupa bayangan, berlompat ke perahu yang baru sampai itu. Orang itu ialah si tukang perahu yang berlagak gagu.
"Kau tunggu di sini, aku mau pergi melihat," Kwee Ceng berbisik pada kawannya.
Oey Yong yang telah bangun, mengangguk. Dengan cepat Kwee Ceng pergi ke kepala perahu. Ia melihat perahu tetangga itu masih bergoyang, ia lantas lompat ke situ. Dengan membarengi bergoyangnya perahu ia membikin penghuni perahu tidak curiga. Dengan lantas ia mengintai. Maka terlihat olehnya tiga orang dengan pakaian hitam semua, seragamnya kaum Tiat Ciang Pang. Pula ia mengenali satu di antaranya, yang tubuhnya tinggi besar, ialah Kiauw Thay yang pernah dipecundangi Oey Yong.
Pemuda ini sangat gesit, maka ia seperti mendahului si tukang perahu. Sesudah mengintai, baru tukang perahu itu tiba di dalam gubuk. Segera dia ditanya Kiauw Thay:
“Apa kedua binatang cilik itu ada di sini?"
"Ya," menyahut si tukang perahu yang sekarang bisa bicara.
"Apakah mereka bercuriga?" Kiauw Thay menanya lagi.
"Nampaknya tidak. Cuma mereka tidak sudi dahar dari aku tidak dapat bekerja."
"Hm! Biarlah mereka mengantar jiwa di Chee-liong¬tha! Lusa tengah hari perahu kamu tiba di Chee-liong¬tha, terpisah satu lie dari muara itu, ada dusun Chee¬liong-cip. Di sana kau singgah kami nanti menantikan kamu untuk membantu."
"Ya," si tukang perahu menyahut pula.
"Dua binatang cilik itu lihay, kau mesti berhati-bati," Kiauw Thay memesan. "Kalau kau berhasil, pangcu bakal menghadiahkan kepadamu. Sekarang pergi kau balik ke perahumu dengan ambil jalan dari dalam air, supaya perahumu itu tidak bergoyang, agar mereka tidak curiga."
"Apakah Kiauw Cee-cu tidak ada titah lainnya?"
"Tidak!" menyahut Kiauw Thay seraya mengibaskan tangannya.
Tukang perahu itu lantas keluar dari gubuk perahu. Ia pergi ke belakang, di sana ia turun ke dalam air, untuk berenang ke perahunya sendiri.
Kwee Ceng berlaku cepat, ia mendahului kembali ke perahunya. Ia membisiki Oey Yong apa yang ia lihat dan dengar.
"Hm!" kata si nona perlahan. "Di tempat It Teng Taysu, air jauh terlebih deras, kita tidak takut, apalagi segala Chee-liong-tha? Mari tidur!" Karena mengetahui rencananya orang jahat, muda-¬mudi ini jadi lega hatinya.
Di hari ketiga pagi, ketika tukang perahu hendak mengangkat jangkar, untuk mulai berangkat lagi, Oey Yong berkata padanya:
"Tunggu sebentar! Lebih dulu kau mendaratkan kuda kami jangan kalau nanti perahu karam di Chee-liong-tha, dia nanti mengantarkan jiwanya!"
Tukang perahu itu berlagak pilon. Oey Yong tidak memperdulikannya, bersama Kwee Ceng ia menuntun kudanya mendarat.
"Yong-jie, sebaiknya kita jangan bergurau sama mereka," kata Kwee Ceng perlahan. "Dari sini kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda saja."
"Kenapa begitu?" menanya si nona.
"Tiat Ciang Pang bangsa manusia rendah, buat apa melayani mereka? Kita diam-diam saja."
"Apa dengan diam-diam saja kita aman?" tanya si nona.
Pemuda itu berdiam. Oey Yong mengendorkan les kuda, tangannya menunjuk ke jalanan di sebelah utara. Kuda itu mengerti. Sudah sering dia berpisah dari majikannya, senantiasa mereka dapat bertemu lagi. Maka dia lari ke arah utara di mana sebentar kemudian dia lenyap.
"Mari kita kembali ke perahu," kata si nona, menepuk tangan.
"Kesehatanmu belum pulih, perlu apa kau menempuh bahaya?" Kwee Ceng berkata lagi.
"Kita terpaksa," sahut nona itu. Ia berjalan balik, ia turun ke perahunya.
Kwee Ceng mengiringi kawannya itu. Putri Oey Yok Su tertawa, dia berkata gembira; “Engko tolol, kita bersama, biar kita mengalami banyak yang aneh-aneh, kalau kemudian kita berpisah, bukankah jadi banyak yang dapat direnungkan? Bukankah itu bagus?"
Perahu berlayar sampai nampak sungai makin berbahaya. Di kiri kanan hanya nampak gunung atau tebing. Kwee Ceng dan Oey Yong pergi ke kepala perahu, mereka melihat segalanya, maka insyaflah mereka akan bahayanya perjalanan ini. Untuk dapat maju melawan air, perahu mesti ditarik orang. Di situ ada beberapa perahu lainnya. Perahu besar membutuhkan beberapa kuli, sedang perahu kecil, perlu delapan atau sembilan orang. Kuli-kuli penarik itu telanjang dadanya dan kepalanya dilibat sabuk putih, sambil menarik mereka mengasih dengar suara bareng dan sama. Perahu yang berlayar milir hanyut pesat sekali.
Sepasang muda-mudi ini menduga mereka bakal segera mendekati Chee-liong-tha. Hari pun makin lama makin siang.
"Yong-jie," kata Kwee Ceng perlahan, "Aku tidak menyangka sungai Goan Kang mempunyai bagian yang airnya begini deras dan berbahaya. Mungkin bagian deras ini panjang sekali. Kalau perahu terbalik sedang kau masih belum segar, tidakkah itu berbahaya?"
"Habis bagaimana?"
"Kita bunuh saja tukang perahu itu lantas kita ke minggir dan mendarat."
Si nona menggeleng kepala. "Itu tidak menarik hati!" katanya.
"Memangnya sekarang waktunya main-main?"
"Aku justru menggemari ini!" si nona tertawa.
Pemuda itu berdiam, ia mengawasi ke depan dan ke kiri kanan. Ia lantas berpikir. Berjalan lagi sekian lama, waktu sudah mendekati tengah hari. Setelah melintasi sebuah pengkolan, Kwee Ceng melihat di depan di pinggiran sungai, ada beberapa puluh rumah, yang tinggi dan rendah bergantung sama letaknya tanah pegunungan. Di situ, air jadi semakin deras. Ketika sebentar kemudian perahu tiba di dekat kumpulan rumah-rumah itu, di tepi sungai terlihat beberapa puluh orang seperti lagi menantikan.
Si tukang perahu lantas melemparkan dua lembar dadung ke darat, dimana disambut beberapa puluh orang itu dan lantas dililitkan ke sebuah pelatok besar. Dengan ditarik, perahu itu sampai di tempat yang cetek.
Tidak lama tiba lagi sebuah perahu yang ditarik kira-kira tigapuluh kuli, perahu itu dikasih berlabuh di situ, sedang di sebelah depan telah berlabuh kira-kira duapuluh perahu lainnya. Lantas ada seorang di daratan yang berkata nyaring:
"Tadi malam keluar ular naga, air di gunung banjir, air sungai ini jadi sangat deras, maka sambil menanti air surut, mari semua beristirahat di sini!"
"Numpang tanya, toako, tempat ini apa namanya?" tanya Oey Yong pada seorang di sampingnya.
"Chee-liong-cip," orang yang ditanya menjawab.
Nona itu mengangguk, diam-diam ia memperhatikan tukang perahunya. Dia berbicara dengan gerakan tangan sama seseorang di darat, orang itu bertubuh besar dan kekar. Dia menyerahkan satu bungkusan pada orang itu. Kemudian, mendadak orang itu mengeluarkan kapak dengan apa dia membabat putus dadung penambat perahu, terus dia mengangkat jangkar, terus dia mendorong perahu. Maka sekejap saja, dengan tubuh miring perahu itu hanyut terbawa air.
Si tukang perahu yang memegang kemudi, mengawasi ke muka air. Dua pembantunya yang masing-masing memegang galah kejen, romannya bersiap-siap melindungi si tukang perahu. Mungkin mereka khawatir kedua pemumpangnya menyerang tukang kemudi itu.
Kwee Ceng terkejut, ia mengawasi air yang deras. Setiap waktu perahu itu dapat membentur wadas. Itu artinya terbalik dan karam.
"Yong-jie, rampas kemudi!" ia berteriak. Ia pun hendak lari ke buntut perahu.
Dua orang yang memegang galah itu mendengar suara si anak muda, mereka bersiap. Ketika mereka mengangkat galahnya, kejennya bergemerlap di cahaya matahari. Itulah tandanya kejen itu tajam sekali.
"Perlahan!" tiba-tiba Oey Yong berseru.
"Bagaimana?" si pemuda tanya.
"Kau melupakan burung kita……" si nona berbisik. "Kalau sebentar perahu karam, kita naiki mereka untuk terbang pergi. Aku mau lihat apa mereka bisa bikin……"
Kwee Ceng baru sadar. "Pantas Yong-jie tidak takut, kiranya ia telah siap sedia tipu dayanya," pikirnya. Ia lantas menggapai kepada dua ekor burungnya, untuk disuruh berdiam di samping mereka.
Si tukang perahu tidak tahu kenapa anak muda itu batal bergerak, diam-diam ia bergirang. Ia mau percaya mereka kena dibikin jeri oleh arus yang sangat deras itu.
Segera terdengar suara dari serombongan kuli penarik perahu, lalu terlihat orang-orangnya, yang lagi menarik sebuah perahu dengan gubuk hitam, yang mengibarkan bendera hitam juga. Ketika si tukang perabu melihat perahu itu, dia lantas mengangkat kapaknya kemudian dia mengapak putus kemudinya, kemudian dia pergi ke pinggir kiri. Terang dia bersiap akan lompat ke perahu yang lagi mendatangi itu.
Kwee Ceng melihat aksinya tukang perahu itu. "Naik!" ia kata seraya menekan punggung si rajawali betina.
"Jangan kesusu!" berkata Oey Yong. "Engko Ceng, kau hajar perahu itu dengan jangkar!"
Kwee Ceng mengerti maksudnya nona itu, ia bersiap. Tanpa kemudi, perahu hanyut makin pesat, sebentar saja, kedua perahu datang semakin dekat. Perahu yang ditarik mudik itu digeser, supaya tidak sampai diterjang perahu yang hanyut. Tukang-tukang menarik perahu agaknya kaget, mereka pada berteriak.
Kwee Ceng menanti saatnya, segera ia melemparkan jangkarnya keras sekali. Ia mengarah pelatok yang dipakai mengikat dadung penarik. Karena perahu pun ditarik keras, maka lemparan jangkar jadi semakin hebat. Begitu terkena, pelatok itu patah, dadungnya terlepas. Selagi tukang-tukang menariknya jatuh ngusruk, perahunya sendiri lantas terbawa air, hanyut keras sekali. Orang banyak pada berteriak kaget. Si tukang perahu kaget sekali.
"Tolong! Tolong!" dia berteriak-teriak saking takut.
"Hai, orang gagu bisa bicara!" kata Oey Yong tertawa. "Ini keanehan di kolong langit!"
Kwee Ceng sendiri mengawasi perahu yang hanyut itu, tangannya masih memegangi jangkar yang satunya. Tukang kemudi dari perahu itu lihay, di air deras dia masih mencoba memutar kepala perahu, agar jangan buntutnya yang laju di muka seperti semula. Tepat pada saatnya, si anak muda melemparkan jangkar ke kepala perahu. Si tukang perahu gagu tetiron kaget bukan main.
Di saat yang sangat berbahaya itu, dari dalam perahu mendadak lompat keluar satu orang, yang bersenjatakan galah kejen dengan apa dia menyambut, menyontek jangkar Kwee Ceng. Dia bertenaga besar tetapi galahnya tidak cukup kuat, galah itu patah, karena itu, tujuan jangkar jadi berkisar. Begitulah jangkar dan patahan galah jatuh ke air. Orang kuat itu berdiri tegar di perahunya, dia mengenakan baju pendek warna kuning, dia berambut putih romannya gagah. Dialah Khiu Cian Jin ketua Tiat Ciang Pang.
Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi kagum sekali hingga mereka tercengang. Justru itu, tanpa ketahuan, tubuh perahu telah membentur wadas. Keras goncangan benturan itu muda-mudi itu kena terdampar ke pintu gubuk. Mereka kaget, terutama sebab air segera merendam mata kaki mereka. Tidak ada kesempatan lagi untuk naik ke punggung burung.
"Mari!"
Kwee Ceng berseru seraya dia berlompat ke arah Khiu Cian Jin. Dia sengaja hendak menubruk ketua Tiat Ciang Pang itu, sebab kalau dia lompat ke lain bagian dari perahu, sebelum tiba, dia bisa dipapaki serangan. Itu sangat berbahaya.
Khiu Cian Jin melihat orang berlompat ke arahnya, rupanya dia dapat menerka maksud orang, karena ia tengah memegang galahnya, dengan itu ia lantas memapak.
Kwee Ceng melihat penyambutan itu, dia kaget. Khiu Cian Jin melontarkan galahnya, yang menjurus ke dada si anak muda. Ia rupanya menganggap, lebih baik menyerang sambil menimpuk daripada menanti orang tiba di perahunya. Dalam saat sangat berbahaya untuk si anak muda, tiba-tiba terlihat sinar hijau menyambar galah kejen. Karenanya, lenyaplah ancaman bahaya itu. Itulah Oey Yong, yang berlompat menyusul kawannya, yang dengan tongkatnya menangkis galah.
Setelah itu, begitu menginjak perahu, si nona segera menyerang pangcu dari Tiat Ciang San, hingga dia menjadi gelagapan, hampir dia kena ditotok.
Khiu Cian Jin mengenal baik lihaynya tongkat si nona, maka selagi Kwee Ceng baru menaruh kaki, ia mundur kepada anak muda itu, yang ia sapu. Dengan begitu ia berkelit sambil menyerang. Selagi Kwee Ceng berkelit, ia menyusuli dengan dua serangan saling susul dengan kedua tangannya.
Lihay serangan jago dari Tiat Ciang San ini. Itulah pukulan dari Tiat Ciang Kang-hu, atau ilmu silat Tangan Besi, yang kaum Tiat Ciang Pang andalkan selama mereka menjagoi, bahkan di tangan orang she Khiu ini, jurusnya telah diubah dan ditambah hingga menjadi semakin lihay. Dibanding sama Hang Liong Sip-pat Ciang, ilmu itu kalah keras tetapi menang halus.
Begitu dua orang itu bergerak di atas perahu. Perahu sewaan Kwee Ceng telah patah pinggang dan karam, si gagu dan dua kawannya kecebur air dan terbawa arus, sia-sia mereka berenang, mereka terbenam di dalam air menggolak bagaikan pusar air.
Perahu Khiu Cian Jin sendiri, meskipun hanyut keras, masih dapat dipertahankan, karena ada orang Tiat Ciang Pang yang lantas mengendalikannya.
Di atasan perahu, terbang mengikuti, adalah kedua burung rajawali serta hiat-niauw, ketika burung itu saban-saban mengasih dengar suaranya. Sampai waktu itu, Oey Yong pun turut berkelahi. Lebih dulu ia mengundurkan beberapa orang Tiat Ciang Pang, yang merintanginya, setelah itu ia dekati Kwee Ceng, guna mengepung Khiu Cian Jin. Karena sama-sama lihay, kedua pihak berkelahi dengan rasa risih.
Selagi bertempur, Oey Yong melihat golok berkelebat di dalam gubuk perahu. Itulah seseorang yang tengah membacok. Ia tidak tahu apa yang dibacok itu tetapi ia curiga, maka lantas menimpuk dengan jarumnya. Pembacok itu kena lengannya, bacokannya tak dapat diteruskan, goloknya justru mengenai pahanya sendiri sampai dia menjerit. Si nona menyusul seraya berlompat masuk ke dalam gubuk. Ia menendang terjungkal orang itu, yang sudah tidak berdaya, lalu dia melihat seorang rebah tidak berkutik di lantai perahu sebab kaki tangannya dibelenggu. Ia tidak usah mengawasi lama akan mengenali Sin-soan¬cu Eng Kouw, hingga ia menjadi heran. Sama sekali tidak disangka, di sini mereka dapat menemui nyonya itu, bahkan dalam keadaan tidak berdaya. Tanpa ayal lagi, ia memungut golok orang tadi kemudian memutuskan tambang yang mengikat tangan si nyonya.
Begitu tangannya bebas, tangan kiri Eng Kouw merampas golok di tangan si nona, selagi Oey Yong heran, dia sudah lantas membacok mampus orang Tiat Ciang Pang itu, yang tadi hendak membinasakannya. Habis itu baru ia memutuskan tali belenggu kakinya, sedang musuhnya roboh celentang, hingga Oey Yong mengenali, dialah Kiauw Thay. Maka ia kata di dalam hatinya, "Kau sangat jahat, pantas kau mampus!"
"Meski kau telah menolong aku, jangan harap aku akan membalas budi!" kata Eng Kouw pada si nona.
"Siapa mengharap pembalasan budimu?" kata si nona tertawa. "Kau telah menolongku, maka ini satu kali, aku menolong kau. Dengan begini, kita menjadi tidak saling berhutang!"
Sembari berkata begitu, Oey Yong pergi ke luar, untuk membantu lagi kepada Kwee Ceng.
Khiu Cian Jin benar-benar lihay, dia dapat bertahan, hanya segera ia menjadi kaget ketika kupingnya mendengar beberapa teriakan beruntun serta suara tubuh tercebur ke air. Sebab Eng Kouw, dalam gusarnya, sudah menghajar semua orang Tiat Ciang Pang yang berada di dalam kendaraan air itu, membikin mereka kecemplung ke air deras. Hingga tidak perduli yang pandai berenang, orang-orang jahat itu jangan harap lolos dari bahaya mampus kelelap!
Khiu Cian Jin digelarkan "Tiat Ciang Sui-sing¬piauw", atau si Tangan besi yang mengambang di muka air itu bukan berarti dia dapat berjalan di muka air seperti mengambang, itu diartikan lihaynya ilmu meringankan tubuh, jangan kata di air deras demikian, sekalipun di air telaga yang tenang, tidak dapat dia jalan ngambang. Maka itu sekarang, hatinya tidak tenang. Ia berkelahi sambil mundur. Kewalahan melayani Kwee Ceng yang dibantu Oey Yong. Untuk mencegah si nona menyerang ia dari belakang, ia berdiri membelakangi air. Secara begini ia mencoba bertahan.
Oey Yong berkelahi sambil memperhatikan lawannya yang tangguh ini. Sering ia melihat jago itu melirik ke kiri kanan. Ia menduga tentu orang mengharap-harap datangnya perahu lain, bantuan untuk pihaknya. Maka ia juga turut memasang mata. Ia pikir, "Biar dia jago, dia bakal dikepung bertiga. Kalau kita gagal, sebenarnya kita ialah kantung-kantung nasi ……"
Eng Kouw di lain pihak telah berhasil menyapu semua orang Tiat Ciang Pang. Ia membiarkan hanya satu orang, si tukang pengemudi. Ia melihat bagaimana dua muda-mudi itu belum bisa berbuat apa-apa terhadap Khiu Cian Jin, maka akhirnya ia menghampiri mereka.
"Nona kecil, kau minggirlah!" ia kata kepada Oey Yong - ia tertawa dingin. "Mari, kasihkan aku yang maju!"
Oey Yong tidak puas sekali. Terang orang memandang rendah. Tapi ia cerdik, ia lantas berpikir. Terus ia mendesak ketua Tiat Ciang Pang itu.
Khiu Cian Jin bisa menduga si nona tentulah mau mundur mentaati kata-kata si nyonya, meski ia mengerti, ia toh tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri, karena si nona mendesak, Kwee Ceng tetap menyerang. Oey Yong bukan sekedar mundur, ketika ia mundur, menarik tangan baju kawannya seraya berkata;
"Biarkan dia maju sendiri!"
Kwee Ceng heran tetapi ia mundur seraya membela diri. Eng Kouw tidak memperdulikan sikap si nona, ia hanya menghadapi Khiu Cian Jin, dengan tertawa dingin, dia berkata;
"Khiu Pangcu, di dunia kangouw, namamu terdengar cukup nyaring, maka aku heran perbuatanmu yang hina dina! Selagi aku tidur di rumah penginapan, tengah aku tidak tahu apa-¬apa, mengapa kau menggunakan hio pulas dan dengan caramu itu kau membekuk aku? Bagus perbuatanmu itu ya?"
"Kau telah dibekuk oleh orang sebawahanku, buat apa kau masih banyak bacot?" Khiu Cian Jin membalas. "Jikalau aku yang turun tangan sendiri, hanya dengan sepasang tangan kosongku, sepuluh Sin Soan Cu pun dapat aku membekuknya!"
Eng Kouw tetap bersikap dingin. "Di dalam hal apa aku bersalah dari kamu kaum Tiat Ciang Pang?" ia tanya.
"Dua binatang cilik ini lancang memasuki Tiat Ciang Hong, tempat kami yang suci," kata Khiu Cian Jin, "Kenapa kau menerima mereka di rawa lumpur hitam? Dengan baik-baik aku minta mereka diserahkan padaku, kenapa kau melindungi mereka dengan mendustaiku? Apakah kau sangka Khiu Cian Jin boleh dibuat permainan?"
"Oh, kiranya gara-gara dua binatang cilik ini!" katanya. "Kalau kau mempunyai kepandaian, pergi punya banyak waktu akan campur tahu segala urusan tetek bengek begini!"
Lauw Kui-hui lantas mengundurkan diri, ia duduk bersila di lantai perahu, sikapnya sangat tenang. Ia maju jadi si penonton harimau bertarung, menyaksikan orang roboh dua-duanya!
Sikap nyonya ini mengherankan Kwee Ceng dan Oey Yong dan Khiu Cian Jin. Itulah mereka tidak sangka.
Eng Kouw turun gunung dengan pikiran kacau. Ia mendongkol dan berduka, tidak dapat ia gampang-¬gampang melampiaskan itu. Ia mendongkol sebab gagal membunuh It Teng Taysu. Tidak tega ia melihat sikap tenang dari pendeta itu. Ia bersedih kalau membayangkan kematian anaknya yang malang. Ketika ia mondok di penginapan, ia berlaku alpa, ia kena diasapi orang Tiat Ciang Pang dan kena ditangkap karenanya. Dalam keadaan biasa, tidak mungkin ia kena dibekuk secara demikian. Ia juga tidak menyangka, dalam bahaya, ditolong Oey Yong. Ia tetap mendongkol, maka itu, ia membiarkan muda-mudi itu dan Khiu Cian Jim mampus bersama……
Oey Yong berpikir cepat: "Baik, kami akan melayani dulu Khiu Cian Jin, habis itu baru kami nanti mengasih lihat sesuatu padamu!" Ia lantas mengedipkan mata kepada Kwee Ceng, terus menerjang lagi Khiu Cian Jin. Aksinya ini segera ditiru si anak muda. Begitulah bertiga mereka bergebrak lagi.
Eng Kouw menonton, dengan asyik. Ia melihat, meski ketua Tiat Ciang Pang itu lihay, dia sukar bisa cepat-cepat merebut kemenangan. Ia bahkan melihat ketua itu mundur. Ia percaya, jago dari Tiat Ciang San ini akhirnya bakal mampus atau terluka……
Kwee Ceng pun melihat sikap lawannya itu, ia menduga orang lagi mencari akal. Dilain pihak ia berkhawatir untuk Oey Yong, yang baru sembuh dan tidak selayaknya mengeluarkan banyak tenaga. Maka akhirnya ia kata;
"Yong-jie, sebaiknya kau beristirahat sebentar kemudian maju lagi!"
Nona itu menurut. "Baik," sahutnya seraya ia mundur. Ia tertawa.
Eng Kouw mengiri menyaksikan eratnya hubungan si pemuda dengan si pemudi, terutama perhatian si pemuda itu, hingga ia berpikir: "Dalam hidupku, kapan pernah ada orang berbuat begini macam terhadapku?" tiba-tiba dari mengiri, ia menjadi cemburu, hatinya menjadi panas. Mendadak ia berlompat bangun dan berkata dengan nyaring:
"Dua lawan satu, apa itu namanya? Mari, kita berempat menjadi dua rombongan, satu!" Ia lantas mengeluarkan dua batang bambu, tanpa menanti jawaban orang, Ia berlompat menyerang nona Oey.
Oey Yong menjadi mendongkol sekali. "Perempuan gila yang lenyap hatinya!" ia mendamprat. "Tidak heran Loo Boan Tong tidak mencintaimu!"
Tapi ini cuma menambah kemurkaan Eng Kouw, yang menyerang makin hebat. Oey Yong menjadi repot. Ia boleh lihay ilmunya Tah Kauw Pang-hoat tetapi ia kalah tenaga dalam, ia juga belum pulih kesehatannya, maka terpaksa ia menutup diri. Lebih sulit lagi, perahu itu bergerak keras tak hentinya disebabkan derasnya arus.
Kwee Ceng sendiri tetap melayani Khiu Cian Jin, ia tidak bisa merebut kemenangan tetapi ia pun tidak kalah.
Ketua Tiat Ciang Pang menjadi heran tidak ¬karuan Eng Kouw membantu padanya. Tentu saja, perubahan sikap si nyonya membuatnya girang. Dengan begitu dia jadi seperti tambah semangat, terus ia menyerang hebat. Ketika Kwee Ceng menyerang dengan jurus "Melihat naga di sawah," ia berkelit, selanjutnya segera ia membalas menyerang, dengan dua tangannya berbareng: Tangan kanan dengan kejennya tangan kiri tangan kosong.
Kwee Ceng tidak takut, ia menangkis dengan dua tangan juga. Maka tangan mereka bentrok. Lantas mereka sama-sama menyerukan. "Hm!" dan tubuh mereka mundur masing-masing tiga tindak. Khiu Cian Jin menahan diri dengan memegang tiang kemudi, dan kaki kiri Kwee Ceng terserimpat dadung, hampir dia terguling. Guna menjaga diri agar tidak diserbu, ia meneruskan lompat jumpalitan.
Khiu Cian Jin menganggap inilah saatnya yang baik, dia tertawa nyaring dan lama, lantas dia maju, guna menyerang.
Eng Kouw tengah mendesak Oey Yong sampai si nona bernapas sengal-sengal dan peluhnya mengucur tatkala dia mendengar tertawanya ketua Tiat Ciang Pang, dia kaget hingga mukanya beruhah, hingga lupa dia menarik pulang senjatanya yang kiri. Oey Yong melihat lowongan, lantas menyerang ke dada, menotok jalan darah sin-kie. Eng Kouw tidak menghiraukan itu, dengan tubuh terhuyung, dia menubruk ke arah Khiu Cian Jin sambil mulutnya berseru:
"Kiranya kau!"
Ketua Tiat Ciang Pang terkejut, apapula ia melihat muka bengis dari nyonya itu yang mulutnya dipentang, kedua tangannya dibuka. Si nyonya seperti mau menubruk buat menggigit atau menggerogoti orang.
"Kau mau apa?" berseru Cian Jin dalam herannya. Ia juga lompat ke samping.
Eng Kouw gagal sama tubrukannya yang pertama itu, dengan mulut bungkam, ia menubruk lagi. Ia seperti kalap. Kali ini ia mengajukan kepalanya, untuk menyeruduk.
Cian Jin berkhawatir. Ia merasa, celaka kalau ia kena dipeluk perempuan yang telah seperti kalap itu. Ia juga berkhawatir melihat Kwee Ceng merangsak. Maka untuk menolong diri, kembali ia berlompat minggir.
Oey Yong segera menarik tangan Kwee Ceng, buat diajak berdiam di satu pinggiran. Dari situ mereka mengawasi Eng Kouw. Mereka pun heran dan berkhawatir. Nyonya itu kalap seperti orang gila. Terus dia main tubruk, mulutnya senantiasa berseru, giginya dipertontonkan. Terang dia ingin memeluk Cian Jin untuk digerogoti……
Jago Tiat Ciang Pang itu menjadi kewalahan, ia selalu main berkelit. Beberapa kali tangannya kena terjambret cakar, hingga tangannya berdarah¬darah. Dalam khawatirnya, beberapa kali ia berseru;
"Pembalasan, pembalasan! Apakah aku mesti terbinasa di tangan perempuan gila ini?!"
Eng Kouw mengulangi tubrukannya, sampai Khiu Cian Jin berada di dekat si tukang kemudi. Sekarang si nyonya matanya menjadi merah. Rupanya ia tahu, lawannya sangat lihay, sukar ia berhasil menubruk. Mendadak ia menyerang si tukang kemudi, hingga orang menjerit dan terjungkal ke air, menyusul mana, ia menendang tiang kemudi sampai tiang itu patah! Segera karena tak terkendalikan, perahu itu goncang keras, hanyutnya kacau.
Oey Yong kaget hingga mengeluh. Kalapnya Eng Kouw bisa membikin mereka kecebur air, mungkin bakal mati…… Ia tidak tahu kenapa nyonya itu menjadi kalap mendadak. Karena itu ia mainkan mulutnya, guna memanggil burungnya.
Justru itu perahu melintang, segera membentur wadas, nyaring suaranya. Sebagai akibatnya, kepala peranu bocor.
Khiu Cian Jin kaget, ia menginsyafi bahaya, maka ia pun menjadi nekat, tetapi ia bukan menempur si nyonya kalap, ia hanya mengenjot tubuhnya, untuk berlompat ke darat. Ia tidak sampai di tepian, ia kecebur, tenggelam ke dalam air. Tapi ia sadar, ia mencoba memegangi batu wadas, dengan berpegangan terus, ia melapai ke pinggiran. Ia telah kena menenggak air, toh ia tiba juga di pinggiran di mana ia merayap naik ke darat, lalu dengan pakaian kuyup ia duduk beristirahat, matanya mengawasi ke perahu yang hanyut jauh, hingga nampak seperti satu titik hitam. Ia bergidik kalau ingat kalapnya Eng Kouw.
"Binatang ke mana kau hendak lari?" demikian si nyonya mendamprat melihat musuhnya berlompat ke air. Ia juga ingin berlompat atau sang air lekas sekali membikin perahu terpisah jauh dari ketua Tiat Ciang Pang itu.
Kwee Ceng menaruh belas kasihan, ia menjambak punggung si nyonya, untuk mencegah dia terjun, tetapi nyonya itu menyampok ke belakang. Maka "Plok!" muka si anak muda kena dihajar, sampai ia merasakan pipinya panas dan sakit, ia berdiri menjublak.
Oey Yong pun heran, tetapi burungnya sudah datang. maka ia memanggil: "Engko Ceng, mari! Jangan layani perempuan gila itu! Mari kita pergi!"
Kwee Ceng menoleh kepada si nona, kemudian ia berpaling pula kepada Eng Kouw. Ketika itu air sudah merendam kaki mereka. Mendadak nyonya itu menekap mukanya dan menangis menggerung-¬gerung.
"Anak. anak!" dia sesambatan.
"Lekas, lekas!" Oey Yong memanggil engko Cengnya.
Tapi Kwee Ceng bersangsi. Pemuda ini ingat pesan It Teng Taysu untuk menjaga dan melindungi Eng Kouw. Maka ia teriaki kawannya itu:
"Yong-jie lekas kau naik burung dan mendarat! Sebentar kau suruh dia terbang pula ke mari menyambut aku!"
"Sudah tidak keburu!" Oey Yong kata, hatinya cemas.
"Lekas kau pergi!" Kwee Ceng mendesak. "Kita tidak dapat menyia-nyiakan pesan It Teng Taysu!"
Mendengar penyahutan si anak muda, Oey Yong turut bersangsi. Ia pun ingat pesan si pendeta dan ingat pertolongan orang kepadanya., Tengah ia berdiam, mendadak tubuhnya bergoyang keras dan kupingnya mendengar suara nyaring. Nyata perahu mereka telah membentur batu besar, hingga air segera menerobos masuk ke dalam perahu, badan perahu juga melesak ke dalam air.
"Lekas lompat ke wadas!" Oey Yong berteriak.
Kwee Ceng pun mengerti bahaya, ia mengangguk. Ia segera menghampiri Eng Kouw untuk memegang padanya. Kali ini si nyonya berdiam bagaikan orang linglung, dipegangi Kwee Ceng, dia tidak meronta, cuma matanya bengong mengawasi permukaan air.
"Mari!" berseru Kwee Ceng, yang dengan tangan kanannya mengempit tubuh si nyonya dan berlompat. Oey Yong turut berlompat.
Mereka berhasil menginjak batu wadas yang besar, hanya pakaian mereka telah basah kecipratan air. Ketika mereka menoleh, mendapatkan perahu mereka sudah karam di pinggir wadas.
Oey Yong berdiri diam, melihat air, ia seperti kabur matanya. Itulah pengalaman sangat hebat untuknya, meskipun ia sebenarnya pandai berenang.
Burung rajawali terbang berputaran di atasan mereka, burung itu tidak mau turun menghampiri meski berulang-ulang Kwee Ceng memanggil. Terang binatang itu takut air.
Kemudian Oey Yong memandang juga kelilingan. Ia melihat sebuah pohon yangliu di tepian sebelah kiri, terpisahnya dari mereka kira-kira sepuluh tombak. Ia lantas dapat akal.
"Engko Ceng, kau pegang tanganku," ia kata.
Kwee Ceng tidak tahu orang hendak berbuat apa, ia pegang tangan kiri si nona. Mendadak Oey Yong terjun ke air, terus dia selulup.
Pemuda itu kaget, ia lekas-lekas membungkuk dengan tangannya diulur panjang-panjang, sedang kedua kakinya dicantel di batu wadas. Dengan tangan kanan ia terus memegangi tangan si nona.
Oey Yong selulup untuk mengambil dadung layar, ia bawa kembali ke wadas. Ia menarik dadung hingga panjang duapuluh tombak lebih, ia mengutungi itu, kemudian memanggil burungnya, disuruh menclok di pundak kiri dan kanan.
Kwee Ceng membantu memegangi burung itu, yang sudah besar dan berat tubuhnya, ia khawatir si nona tak kuat memundaki kedua binatang piaraannya itu.
Oey Yong mengikat dadung ke kaki burung yang jantan, ia menunjuk ke pohon yangliu, untuk menitahkan burungnya terbang ke pohon itu. Burung itu mengerti, dia terbang ke pohon, setelah terbang memutari, ia terbang balik.
"Eh, aku menyuruh kau melibat dadung ini pada pohon!" kata Oey Yong.
Burung itu tidak dapat dikasih mengerti, maka nona ini masgul. "Hayo coba!" kata Oey Yong kemudian. Ia memberi contoh.
Burung rajawali itu terbang lagi, ia mesti terbang hingga delapan kali, baru dadung dapat dilibat di pohon. Baru sekarang si nona girang. Kwee Ceng pun girang, sebab ia mengerti kawannya itu. Ujung yang lain dari dadung lantas diikat di wadas.
"Nah, Yong-jie, kau mendarat lebih dulu!" kata si pemuda selesai mengikat.
"Tidak," menyahut nona itu. "Aku akan menanti kau. Biar dia naik lebih dulu."
Eng Kouw mengawasi muda-mudi itu, ia terus menutup mulutnya. Tapi sekarang ia sudah tenang, ia mengerti maksud orang, maka tanpa bilang apapun, ia berpegangan pada dadung, untuk melapai naik, hingga di lain saat telah tiba di darat.
"Di masa aku kecil, inilah permainanku yang menarik hati," kata Oey Yong. "Kwee Toaya, aku hendak memberikan pertunjukan, harap kau mengasih hadiah biar banyak!"
Setelah berkata begitu, si nona menyambar dadung, untuk berdiri di atas dadung, habis itu, dia berlari-lari menyeberang melintasi air deras itu, tiba di pohon, untuk turun ke tanah!
Kwee Ceng belum pernah meyakinkan ilmu jalan di atas tambang, ia tidak berani mencoba-coba, khawatir terpeleset dan jatuh ke air, dari itu ia mencontoh Eng Kouw, ia berpegangan pada dadung itu dan melapai. Sambil bergelantungan, ia mengawasi ke darat. Beberapa tombak lagi ia akan tiba di pohon, mendadak mendengar seruan Oey Yong:
"Eh, kau hendak pergi ke mana?" Ia terkejut. Itulah seruan kaget.
Seruan itu disebabkan Eng Kouw berjalan seorang diri, meninggalkan mereka berdua. Kwee Ceng khawatir nyonya itu belum sadar betul, itu berbahaya. Maka ia lekas-lekas melapai, belum sampai di cabang pohon, ia sudah lompat turun.
"Lihat, dia pergi seorang diri!" kata Oey Yong, tangannya menunjuk.
Kwee Ceng mengawasi, hingga ia menampak Eng Kouw berlari-lari di tanah pegunungan, yang jalanannya banyak batunya dan sukar. Orang sudah pergi jauh, sulit untuk menyandaknya.
"Dia pergi seorang diri, pikiran dia was-was, ini berbahaya," kata Kwee Ceng. "Mari kita susul." Ia berkhawatir, begitu juga Oey Yong.
"Mari!" menyahut si nona setuju. Hanya ketika ia mengangkat kaki, untuk berlompat, mendadak ia roboh sendiri, jatuhnya duduk, kepalanya digoyang beberapa kali.
Kwee Ceng mengerti nona itu lemas sebab barusan dia memakai terlalu banyak tenaga.
"Kau duduk di sini," ia kata. "Nanti aku yang menyusul sendiri. Aku akan segera kembali."
Pemuda itu lari keras, tapi ketika ia tiba di tikungan ketiga, ia bingung. Di situ Eng Kouw tak terlihat, setahu dia mengambil jalanan yang mana. Tempat itu sunyi, rumputnya tinggi, hari pun sudah mendekati magrib. Oleh karena mengkhawatirkan Oey Yong terpaksa ia lari balik.
Kesudahannya, satu malam mereka berdiam di tepi kali itu dengan menahan lapar. Pagi-pagi mereka sudah berjalan mengikuti tepian di mana ada sebuah jalanan kecil. Mereka mau mencari kuda dan burung api mereka, guna bersama-sama mencari jalan besar. Sesudah jalan setengah harian, mereka dapat mencari sebuah rumah makan. Lantas mereka singgah. Mereka membeli tiga ekor ayam, yang seekor dimatangi, untuk dimakan berdua, yang dua ekor untuk sepasang rajawali. Dua ekor burung itu makan sambil menclok di atas pohon kayu besar.
Burung yang jantan baru makan separuh ayam ketika dia bersuara nyaring dan panjang, lantas makanannya dilemparkan, terus dia terbang ke utara. Yang betina pun terbang tinggi, setelah dia juga mengasih dengar suaranya, dia menyusul pula ke utara.
"Kelihatannya burung kita bergusar," kata Kwee Ceng. "Mereka melihat apakah?"
"Marilah kita lihat!" kata Oey Yong, yang terus melemparkan sepotong perak.
Lantas mereka lari ke jalan besar, di sana mereka melihat burung terbang berputaran, lalu menukik ke bawah, lalu naik lagi, seterusnya terbang berputaran lagi.
"Mereka bertemu musuh!" kata Kwee Ceng. "Mari!"
Pemuda itu lantas lari, si nona mengikuti. Kira-kira tiga lie, mereka menampak di depan sekumpulan rumah seperti dusun yang ramai, di atas itu kedua burung mereka masih terbang berputaran, agaknya mereka kehilangan sasaran yang mereka cari. Sampai di luar dusun, Oey Yong memanggil turun kedua burungnya, akan tetapi burung itu tetap berputaran, masih saja mereka mencari sesuatu.
"Entah dengan siapa mereka bermusuhan hebat……" kata Kwee Ceng heran.
Lewat sekian lama lagi barulah kedua burung itu turun. Lantas ternyata kaki kiri yang jantan berdarah, di situ ada bekas bacokan golok, syukur kakinya tidak tertebas kutung. Pantas dia agaknya mendongkol.
Muda-mudi itu kaget. Sebelah kaki burung yang jantan mencengkeram barang hitam, setelah diperiksa, itulah kulit kepala orang, yang masih ada rambutnya, yang masih ada darahnya. Sembari memeriksa kulit kepala orang, Kwee Ceng berpikir.
"Burung ini dipelihara semenjak kecil, dia baik sekali," katanya. "Aku tahu mereka belum pernah melukai orang tanpa sebab. Kenapa sekarang mereka berkelahi sama orang?"
"Mesti ada yang aneh," kata Oey Yong. "Mari kita cari orang yang kepalanya kehilangan kulitnya ini……"
Maka mereka mampir di dusun itu, untuk bermalam. Tapi dusun besar, banyak rumah dan penduduknya. Mereka membuat penyelidikan sampai sore tanpa ada hasil. Besoknya pagi, mereka mendapatkan kedua burung membawa pulang kuda mereka. Hiat-niauw tidak ada beserta.
"Mari kita cari," kata Oey Yong, yang mengajak kembali. Ia sangat sayang burungnya itu.
Tapi Kwee Ceng berkhawatir untuk Ang Cit Kong, yang terluka dan entah ada di mana, sedang hari Pee-gwee Tiong Ciu bakal lekas datang, mereka mesti menghadiri pibu di Yan Ie Lauw di Kee-hin. Ia kata, perlu mereka lekas pergi ke timur.
Oey Yong dapat dikasih mengerti, ia suka turut. Demikian dengan naik kuda merah, mereka berangkat. Mereka melarikan kuda keras dan burung mereka mengiringi dari udara. Oey Yong senang sekali, di sepanjang jalan banyak omong dan tertawa, gemar ia bergurau. Ia jauh lebih gembira daripada yang sudah-sudah. Bahkan di waktu singgah, sampai jauh malam, ia masih tidak mau tidur, sedang kawannya, yang khawatir terlalu letih, menganjurkan ia beristirahat. Ada kalanya, sampai jauh malam, sambil bersila di atas pembaringan, ada saja yang ia omongi sama si anak muda.
Pada suatu hari tibalah mereka di tempat perbatasan sebelah selatan antara dua propinsi Ciat¬kang dan Kang-souw, di sini mereka mengasih kuda lari satu harian hingga singgah di sebuah penginapan. Oey Yong pinjam sebuah rantang rotan dari pelayan, hendak ia berbelanja di pasar.
"Kau sudah letih, kita dahar sembarangan saja di sini," Kwee Ceng mencegah.
"Aku hendak masak untukmu," berkata si nona. "Apakah kau tidak sudi makan masakanku?"
"Tentu aku suka hanya aku menghendaki kau lebih banyak beristirahat," kata si anak muda. "Nanti, kalau kau sudah sehat betul, masih ada waktu untuk kau masak untukku."
"Sampai aku sudah sehat betul ……" mengulangi si nona. "Waktu itu……" Ia telah bertindak di ambang pintu, baru sebelah kakinya, ia berhenti.
Kwee Ceng tidak tahu orang bilang apa, tetapi ia menurunkannya dari lengan si nona. Ia berkata;
"Ya, sampai kita sudah dapat mencari suhu, baru kau masak, nanti kita dahar bersama-sama……"
Oey Yong berdiam sekian lama, lalu ia kembali ke dalam, untuk merebahkan diri di atas pembaringan. Ia terus berdiam, rupanya ia kepulasan…… Kemudian, datang saatnya bersantap. Pelayan telah menyajikan makanan. Si pemuda membangunkan si pemudi, untuk diajak berdahar. Nona itu bangun seraya berlompat turun. Ia tertawa.
"Engko Ceng, kita tidak dahar ini," ia kata. "Mari turut aku!"
Pemuda itu menurut, ia mengikuti. Mereka pergi ke pasar. Oey Yong pergi ke sebuah rumah besar yang temboknya putih dan pintunya hitam. Dia mutar ke belakang. Di sini dia lompat naik ke tembok, ke pekarangan dalam. Si pemuda tidak mengerti tetapi ia mengikuti terus.
Oey Yong berjalan hingga ke ruang depan di mana ada api terang-terang, sebab tuan rumah tengah membikin pesta.
"Semua minggir!" berkata si nona sembari tertawa. Ia maju ke depan.
Semua orang di medan pesta itu heran. Ada tigapuluh orang lebih yang terbagi atas tiga meja. Mereka itu saling mengawasi. Mereka heran mendapat orang satu nona muda dan cantik.
Oey Yong menghampiri satu tetamu yang gemuk, ia menjambak dan mengangkat tubuh orang, kakinya menggaet, maka robohlah si terokmok itu.
"Apa kamu masih tidak mau menyingkir?" ia tanya, sambil tertawa.
Orang menjadi heran berbareng takut, mereka itu lantas jadi kacau.
"Mana orang? Mana orang?" tuan rumah berteriak teriak. Dia heran, kaget dan berkhawatir dan mendongkol juga.
Segera terdengar suara berisik, di situ muncul dua guru silat beserta belasan pengikutnya. Mereka itu membawa golok dan toya.
Oey Yong tidak takut, bahkan dia tertawa terus. Ketika menyambut kedua guru silat itu, sebentar saja ia dapat merobohkan mereka, terus ia menyerbu, merampas senjata belasan pengikut itu, hingga ruang pesta jadi sangat kacau.
Tuan rumah jadi takut, dia hendak lari, tetapi dia dicekuk si nona, jenggotnya ditarik, lehernya diancam dengan golok. Dalam takutnya dia menekuk lutut, dengan suara gemetaran dan tidak lancar dia kata:
"Lie-tay-ong…… oh, nona…… kau ingin uang, nanti aku sediakan, asal kau ampuni jiwaku……"
"Siapa menghendaki uangmu?" kata Oey Yong tertawa. "Mari temani aku minum!"
Tuan rumah itu ditarik jenggotnya, ia ketakutan, iadiam saja.
"Mari duduk," kata si nona, yang juga menarik tangan Kwee Ceng. Ia mengajaknya duduk di meja bersama tuan rumah itu. "Kamu juga duduk!" ia kata pada orang banyak, yang berkumpul di pojokan, bingung dan khawatir. "Eh, kenapa kamu tidak mau duduk?" Ia lantas menancap golok di meja, golok itu berkilauan.
Semua tetamu itu ketakutan, dengan saling desak, mereka berebut maju, hingga kursi pada terlanggar terbalik.
"Kamu toh bukan bocah-bocah umur tiga tahun!" si nona menegur. "Apa kamu tidak dapat duduk dengan rapi?"
Semua tetamu itu takut, mereka lantas berlaku tenang. Oey Yong minum araknya dengan gembira.
"Perlu apa kau membikin pesta?" ia tanya tuan rumah. "Apakah kau kematian anggota keluargamu?"
"Sebenarnya aku tambah anak," kata tuan rumah. Sekarang tak terlalu takut lagi. “Hari ini adalah hari ulang tahun satu bulan anakku dan aku mengundang sahabat dan tetangga-tetanggaku……"
"Bagus!" kata si nona tertawa. "Coba kau bawa keluar anakmu itu!"
Tuan rumah kaget, mukanya pucat. Ia takut anaknya dibunuh. Dengan membelalak, ia mengawasi pisau yang masih nancap di meja. Tapi karena takut, ia terpaksa menyuruh orang membawa keluar anaknya.
Oey Yong menggendong bayi itu, ia mengawasi muka orang. Ia pun memandang muka tuan rumah.
"Tidak mirip-miripnya," katanya. "Jangan-jangan ini bukan anakmu sendiri."
Tuan rumah itu likat berbareng berkhawatir, kedua tangannya bergemetaran. Semua tetamu merasa lucu tetapi tidak ada yang berani tertawa.
Oey Yong mengeluarkan sepotong uang emas beratnya kira-kira lima tail, ia serahkan itu kepada si babu pengasuh berikut bayinya seraya berkata:
"Ini tidak berarti, hitung saja sebagai tanda mata dari nenek luarnya."
Semua orang merasa heran dan lucu. Dia orang luar dan menyebut dirinya nenek luar sedang dialah satu nona remaja. Tuan rumah nampaknya girang.
"Mari! Aku beri kau selamat satu mangkok!" kata Oey Yong. Dan ia mengambil satu mangkok besar, ia isikan arak, ia tolak itu ke depan tuan rumahnya.
"Aku tidak kuat minum, maaf," kata tuan rumah.
Mendadak si nona mengasih lihat roman bengis, tangannya pun menyambar jenggot. "Kau minum atau tidak?" dia tanya keras.
Tuan rumah ketakutan, terpaksa ia menenggak arak itu.
"Nah, ini baru bagus!" kata si nona. "Mari, sekarang kita main teka-teki!"
Semua orang takut, maka apa yang si nona inginkan, lantas kejadian. Tapi mereka bangsa saudagar atau hartawan, tidak ada yang pandai main teka-teki, si nona jadi sebal.
"Sudahlah!" katanya.
Sementara itu tuan rumah roboh menggabruk. Dia tidak kuat minum tetapi mesti minum banyak arak…… Si nona tertawa, ia dahar, Kwee Ceng menemaninya. Akhirnya terdengar tanda jam satu malam, si nona mengajak kawannya pulang, tuan rumah dan tetamunya dibiarkan dalam bingung……
"Bagus tidak, engko Ceng?" Oey Yong tanya setibanya di pondokan.
"Ah, tidak karu-karuan kau membikin orang ketakutan," kata si anak muda.
"Sekarang ini aku mencari kesenangan untukku, aku tidak perduli orang lain ketakutan," kata si nona.
Pemuda itu heran. Kata-kata itu mesti mengandung arti tetapi ia tidak sanggup menangkapnya.
"Aku hendak pergi jalan-jalan, kau turut tidak?" kemudian Oey Yong tanya.
"Di waktu begini mau pergi ke mana lagi?" tanya si pemuda heran.
"Aku ketarik sama bayi tadi. Ingin aku memain dengannya, sesudah beberapa hari, baru aku akan mengembalikannya……"
"Eh, mana bisa……" kata Kwee Ceng heran.
Tapi si nona tertawa, dia pergi keluar, dia melompat tembok pekarangan. Kwee Ceng menyusul, ia menarik tangan orang.
"Yong-jie, kau sudah main-main lama, apakah itu masih belum cukup?" tanyanya.
"Belum cukup," si nona menyahut. "Mari kau temani aku, kita main-main sampai puas benar. Lewat beberapa hari lagi bukankah kau bakal meninggalkan aku, kau akan pergi mengawini putri Gochin Baki? Tentu dia bakal tidak mengijinkan kau bertemu sama aku lagi…… Kau tahu, waktunya aku berada bersama kau, lewat satu hari berarti kurang satu hari, maka itu satu hari waktu itu ingin aku bikin menjadi seperti dua hari, seperti tiga hari, ya seperti empat hari! Engko Ceng, hari kita sudah tidak banyak lagi, maka malam juga aku tidak mau tidur, aku mau terus pasang omong dengan kau! Mengertikah kau sekarang? Bukankah kau tidak bakal mencegah aku lagi atau menasihati aku untuk beristirahat?"
Kwee Ceng bengong. Baru sekarang ia mengerti perubahan sikap nona ini - sikap yang luar biasa. Si nona jadi tak ingin berpisah darinya. Waktu yang pendek hendak dibikin panjang dengan pertemuan lama, tak siang tak malam…… Ia memegang erat tangan nona itu, ia merasa kasihan, ia mencinta.
"Yong-jie, otakku memang tumpul," katanya. "Sebegitu jauh aku tidak mengerti maksudmu. Aku…… aku……" Ia berdiam tak dapat ia berkata terus. Ia tidak tahu mesti mengatakan apa.
Oey Yong bersenyum. "Dulu ayah mengajarkan aku membaca banyak syair, mengenai kedukaan dan penasaran," katanya. "Aku kira itu disebabkan ayah berduka karena mengingat ibuku yang telah meninggal dunia, baru sekarang aku ketahui, hidup di dunia ini, orang benar banyak lelakonnya, sebentar girang, sebentar bersusah hati……"
Malam itu bulan sisir, udara terang, hawa pun adem. Angin meniup halus. Kwee Ceng jadi berpikir. Ia tidak menyangka si nona mencintainya sedemikian rupa. Sekarang ia mengerti akan kelakuan luar biasa nona itu selama beberapa hari belakangan ini.
"Bagaimana kalau kita berpisah nanti?" pikirnya. "Yong-jie cuma ditemani ayahnya, apa tidak kesepian ia berdiam seorang diri di Tho Hoa To? Dan bagaimana lagi nanti, kalau ayahnya telah menutup mata? Tidakkah ia akan ditemani hanya hamba-hamba gagu? Mana dia bisa merasa senang?"
Mengingat begitu, hati pemuda ini menjadi kecil. Ia pegangi keras tangan si nona, ia menatap mukanya.
"Yong-jie," katanya, "Biar langit ambruk, aku akan menemani kau di Tho Hoa To!"
Tubuh si nona bergemetar, ia mengangkat kepalanya. "Apa katamu?" ia tanya.
"Aku tidak memperdulikan lagi Jenghiz Khan atau Gochin Baki," menyahut si anak muda. "Seumur hidupku, aku akan menemani kau saja!"
"Ah ……" kata si nona dan ia nyelundup ke dadanya si anak muda.
Kwee Ceng merangkul.
Sekarang ia merasa hatinya lega. "Bagaimana dengan ibumu?" si nona tanya selang sesaat.
"Aku akan pergi menyambutnya untuk diajak ke Tho hoa To," sahut si anak muda.
"Apakah kau tidak takut pada Jebe, gurumu dan Tuli serta sekalian saudaranya, semua pangeran itu?"
"Mereka semua baik terhadapku tetapi aku tidak dapat memecah dua hatiku……"
"Bagaimana dengan keenam gurumu dari Kanglam serta Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya lagi?"
"Pasti mereka bakal gusar tetapi perlahan-lahan saja aku akan minta maaf mereka. Yong-jie, kau tidak mau berpisah dari aku, aku juga tidak mau berpisah dari kau."
"Aku punya akal," berkata si nona tiba-tiba. "Kita bersembunyi di Tho Hoa To, untuk selamanya kita jangan berlalu dari situ. Ayah pandai mengatur hingga pulau itu tertutup untuk orang lain, taruh kata mereka dapat mendatangi tetapi tidak akan mereka dapat mencari kau……"
Kwee Ceng menganggap akal itu tidak sempurna, ia hendak mengutarakan pikirannya mendadak ia memasang kuping. Ia mendengar tindakan kaki di tempat belasan tombak, tindakan dari dua orang yang biasa berjalan malam, datangnya dari selatan, tujuannya utara. Ia pun dapat mendengar perkataan satu di antaranya:
"Loo Boan Tong telah kena terjebak Pheng Toako, kita jangan takuti dia lagi! Mari lekas!"
Juga Oey Yong mendengar sama seperti si anak muda. Keduanya tidak berniat memikir apapun, ingin mereka menyenangkan hati, tetapi disebutnya nama Loo Boan Tong membuat mereka berjingkrak berbareng, dengan serentak mereka lari menyusul dua orang itu.
Orang-orang yang belum dikenal itu berlari-lari tanpa mengetahui mereka lagi dikuntit. Mereka lari terus hingga lima enam lie di belakang dusun itu. Waktu mereka membelok ke sebuah tikungan, dari sebelah depan lantas terdengar suara yang berisik sekali serta cacian.
Dengan mempercepat larinya, Kwee Ceng dan Oey Yong lantas sampai di tempat tujuan. Mereka menjadi terkejut dan heran. Mereka telah melihat Ciu Pek Thong lagi duduk bersila di tanah, tubuhnya tak bergerak, entah dia masih hidup atau sudah mati. Dan di depannya, duduk bercokol juga, ada seorang pertapa sebagaimana dia kenali dari jubahnya. Dialah Leng Tie Siangjin si pendeta bangsa Tibet.
Disamping Ciu Pek Thong ada sebuah gua gunung yang mulutnya kecil, yang muat tubuh satu orang dengan orang itu mesti masuk sambil membungkuk. Di luar gua ada enam orang, mereka yang suaranya berisik itu, mereka berani membuka mulut tetapi takut masuk ke dalam gua, seperti juga di dalam situ ada suatu makhluk yang dapat mencelakai orang.
Kwee Ceng khawatir Ciu Pek Thong telah menjadi korbannya si Pheng Toako, sebagaimana tadi ia mendengar perkataannya orang, karena itu hendak ia lantas maju mendekati. Oey Yong melihat sikap kawannya, ia mencegah sambil menarik tubuh orang.
"Sabar," kata si nona. "Mari kita memeriksa dulu dengan teliti."
Kwee Ceng dapat dicegah maka berdua mereka menyembunyikan diri. Dengan begitu mereka jadi bisa melihat tegas rombongan orang itu, yang kebanyakan adalah kenalan-kenalan lama, Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, Kwie-bu Liong Ong See Thong Thian, Cian-ciu Jin-touw Pheng Lian Houw dan Sam-tauw¬kauw Hauw Thong Hay. Dua lagi ialah si orang tukang jalan malam yang tadi, mereka ini tidak dikenal.
Oey Yong merasa semua orang itu bukan tandingan dia serta Kwee Ceng. Dua orang baru itu juga tidak usah dikhawatirkan. Tapi ia masih melihat ke sekitarnya. Di situ tidak ada orang lain. Maka ia kisiki kawannya;
"Dengan kepandaian Loo Boan Tong, beberapa orang ini pastilah tidak bisa berbuat sesuatu atas dirinya, maka itu, menurut sangkaanku, mesti di sini ada See Tok Auwyang Hong. Entah dia bersembunyi di mana……"
Si nona lantas hendak mencari tahu ketika ia mendengar suara tak sedap dari Pheng Lian Houw.
"Binatang, jikalau kau tetap tidak keluar, aku nanti ukup kau dengan asap!"
Dari dalam gua, ke dalam itu ancaman Lian Houw diberikan, terdengar jawaban yang berat dan angker:
"Kau mempunyai kepandaian baru apa, kau keluarkan saja!"
Kwee Ceng terkejut. Ia mengenal suara gurunya yang nomor satu, yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Terbangkan Langit. Sekarang ia tidak ingat lagi kepada Auwyang Hong, lantas ia berseru:
"Suhu, muridmu datang!" Suaranya itu disusul sama lompatannya yang pesat, hingga ia muncul sambil berbareng mencekuk punggung Hauw Thong Hay, tubuh siapa lantas dilemparkan!
Munculnya si anak muda membuat pihak Thong Hay menjadi kaget. Pheng Lian Houw berdua See Thong Thian lantas maju menerjang, sedang Nio Cu Ong pergi ke belakang orang, untuk membokong.
Kwa Tin Ok di dalam gua pun turut bekerja. Ia rupanya melihat perbuatan si orang she Nio, ia lantas menyerang dengan sebatang tokleng atau lengkak beracun. Cu Ong terkejut, dia berkelit sambil tunduk, tidak urung kondenya kena tersambar hingga beberapa juir rambutnya putus. Ia kaget bukan main. Ia tahu senjatanya Tin Ok itu beracun, sebagaimana dulu hari hampir saja Pheng Lian Houw terbinasa karenanya.
Maka ia berlompat ke samping seraya meraba kepalanya. Ia berlega hati ketika mendapat kenyataan kulitnya tidak terluka. Ia lantas mengeluarkan senjata rahasianya, paku Touw-kut¬jiam, terus ia jalan mutar ke kiri gua, maksudnya untuk menyerang ke dalam gua secara diam-diam, guna membokong musuh yang ada di dalam. Ia baru menggerakkan tangannya ketika merasakan lengannya kaku, pakunya lantas saja jatuh dengan menerbitkan suara nyaring. Tengah ia bingung, ia mendengar suara tertawanya seorang nona yang terus berkata:
"Lekas berlutut! Kau akan merasakan tongkat lagi!"
Nio Cu Ong berpaling. Ia melihat Oey Yong dengan tongkat di tangan, berdiri sambil tertawa haha-hihi. Ia kaget berbareng girang. Pikirnya: "Kiranya tongkat Ang Cit Kong jatuh di tangannya?" Dengan segera ia mengerjakan dua tangannya berbareng: Tangan kiri melayang ke pundak si nona, tangan kanan menyambar ke tongkat, yang ia hendak rampas.
Dengan lincah, Oey Yong berkelit dari sambaran tangan kirinya. Ia tidak menarik tongkatnya, ia sengaja memberinya ketika hingga ujung tongkat itu kena dipegang perampasnya. Cu Ong girang bukan main. Lantas menarik dengan keras, di dalam hatinya dia berkata;
"Jikalau dia tidak melepaskan maka tubuhnya bakal ketarik bersama."
Benar saja tongkat itu kena ketarik, tetapi cuma sedetik, cekalannya lolos sendirinya. Sebab selagi ia menarik dan si nona mengikuti, mendadak nona itu mendorong dengan kaget, hingga terlepaslah cekalannya. Tengah ia terkejut, tahu-tahu tongkat itu sudah berbalik, melayang ke kepalanya. Ia kaget melihat tongkat itu berkelebat. Dasar ia lihay, lantas menjatuhkan diri, berguling jauh satu tombak. Ketika ia sudah berdiri lagi, ia nampak si nona berdiri diam mengawasi dengan bersenyum.
"Kau tahu apa namanya jurus ini?" si nona tanya, tertawa. "Kau telah kena aku kemplang satu kali, kau tahu kau telah berubah menjadi apa?"
Dulu pernah Nio Cu Ong merasa lihaynya tongkat itu, dia dibuat Ang Cit Kong "mati dan hidup pula", maka juga meski sang waktu telah lama lewat, dia masih ingat itu dan merasa jeri, sekarang dia merasakannya lagi, meski tidak hebat, toh hatinya terkesiap, dia menjadi jeri. Justru itu dia melihat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw tengah terdesak hebat, mereka itu cuma dapat membela diri, dia lantas berseru dan memutar tubuh, untuk mengangkat kaki.
See Thong Thian kena disikut Kwee Ceng, dia terhuyung tiga tindak. Meneruskan serangannya, tangan kiri si anak muda melayang kepada Pheng Lian Houw. Dia ini tidak berani menangkis, dia berkelit. Tapi dia kalah gesit, tangan kanan anak muda itu kena menyambar lengannya, yang terus dicekal keras. Dia bertubuh kate dan kecil, dengan gampang tubuhnya kena diangkat, hingga kedua kakinya seperti bergelantungan di udara……
Sambil mengangkat tubuh orang Kwee Ceng mengepal tangan kirinya, siap meninju dada orang tawanannya ini. Lian Houw melihat itu, dalam takutnya dia berseru menanya:
"Hari ini bulan kedelapan tanggal berapa?"
"Apa kau bilang?" tanya si anak muda tercengang.
"Kau memegang kepercayaan atau tidak?" Lian Houw tanya. "Apakah kata-kata seorang laki-laki tak masuk hitungan?"
"Apa kau bilang?" Sambil menegasi, Kwee Ceng masih mengangkat tubuh orang.
"Bukankah janji kami ialah Pee-gwee Cap-gouw," kata Lian Houw. "Bukankah janji pertandingan kita di Yan Ie Lauw di Kee-hin pada tanggal limabelas bulan delapan? Dan tempat ini bukannya kota Kee-hin dan sekarang bukan hari Tiong Ciu! Bagaimana dapat kau mencelakai aku?"
Kwee Ceng pikir perkataan orang itu benar juga, ia hendak melepaskan tetapi mendadak ia ingat sesuatu.
"Kamu bikin apa atas diri Toako Ciu Pek Thong?" ia tanya.
"Dia sekarang lagi bertaruh sama Leng Tie Siangjin," menyahut Lian Houw. "Mereka bertaruh, siapa bergerak paling dulu, dialah yang kalah! Urusan dia tidak ada hubungannya sama aku!"
Kwee Ceng mengawasi dua orang yang duduk di tanah itu, pikirnya, "Kiranya begitu?" Lantas ia menanya keras; "Toasuhu, adakah kau baik?"
Itulah pertanyaan untuk Kwa Tin Ok, gurunya yang nomor satu. "Hm!" jawab Hui Thian Pian-hok dari dalam gua. Sampai di situ, pemuda ini lantas melepaskan cekalannya sambil ia terus menolak dada orang. "Pergilah!" ia mengusir.
Pheng Lian Houw tidak roboh, karena ia terus berlompat. Ketika kedua kakinya telah menginjak tanah, ia berpaling ke arah kedua kawannya, See Thong Thian dan Nio Cu Ong, maka ia mendapatkan mereka itu sudah pergi jauh. "Celaka, manusia tidak ingat persahabatan!" ia mencaci di dalam hatinya. Lantas ia memberi hormat kepada Kwee Ceng seraya membilang:
"Nanti tujuh hari kemudian, kita mengadu kepandaian pula di Yan Ie Lauw untuk memastikan kalah menang!" Setelah beraksi begitu ia memutar tubuhnya, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Ia lantas mengangkat kaki!
Waktu itu Oey Yong telah menghampiri Ciu Pek Thong dan Leng Tie Siangjin. Dua orang itu saling mengawasi dengan matanya masing-masing terbuka lebar, tidak ada yang mengedip atau menoleh. Ia lantas ingat perkataan dua orang yang berjalan malam itu bahwa Pek Thong telah kena ditipu Lian Houw, sekarang ia membuktikan itu. Pasti, karena jeri kepada Pek Thong, jago tua itu telah dipancing kemurkaannya diadu dengan Leng Tie Siangjin, dengan cara main diam-diam. Dengan cara begitu juga, Pek Thong jadi dibikin tidak dapat berkutik, hingga mereka itu leluasa mengepung Kwa Tin Ok.
Pek Thong gemar bergurau, ia pun polos, gampang saja dia kena diperdaya, maka meski di sampingnya orang bertempur hebat dan mengacau, dia tidak mengambil mumat, dia terus mengadu diam dengan Leng Tie, si pendeta dari Tibet. Dia berduduk tegar, maksudnya yang utama ialah mengalahkan Leng Tie.
"Loo Boan Tong, aku datang!" kata Oey Yong.
Pek Thong mendengar itu, tetapi dia takut kalah, dia berdiam saja. "Dengan bertaruh begini kamu menyia-nyiakan waktu," kata si nona. "Satu jam lagi juga, belum tentu kamu ada yang menang atau kalah! Mana menarik hati? Begini saja! Aku yang menjadi wasitnya! Aku akan mengitik kamu, mengitiknya sama, lantas aku mau lihat, siapa yang tertawa paling dulu. Siapa yang tertawa, dialah yang kalah!"
Sebenarnya Pek Thong sudah habis sabar, bahwa ia toh tetap berdiam saja, ia penasaran kalau ia sampai kalah, sekarang mendengar usulnya si nona, ia akur. Tapi ia tidak mau mengasih tanda persetujuannya, sebab kalau ia menepi atau bergerak ia kalah.
Oey Yong tidak menanti jawaban, ia mendekati mereka, memernahkan diri di antara mereka, lalu mementang kedua tangannya, dengan berbareng ia menotok ke jalan darah siauw-yauw-hiat mereka, ialah urat tertawa. Ia tahu Pek Thong menang unggul dari Leng Tie, ia tidak berlaku curang. Kesudahan totokannya itu membuatnya heran. Pek Thong memang tetap bercokol, tetapi anehnya, Leng Tie pun berdiam saja, pendeta itu seperti tidak merasakan apa-apa dia seperti tidak menggubrisnya godaan itu.
"Heran pendeta ini," pikir si nona. "Nyata dia lihay ilmunya menutup jalan darahnya. Jikalau aku, tentulah aku sudah tertawa terpingkal-pingkal……" Ia penasaran, maka ia menotok lagi, kali ini dengan lebih keras.
Ciu Pek Thong mengumpulkan tenaga dalamnya, ia menentang totokan Oey Yong. Segera ia menjadi heran. Ia mendapat kenyataan tenaga si nona menjadi besar sekali. Ia melawan terus, bertahan, tetapi ia kewalahan. Akhirnya, ia melepaskan perlawanannya, sambil berlompat bangun, ia tertawa berkakakan. Kemudian ia kata;
“Eh, eh pendeta, kau hebat! Baiklah, Loo Boan Tong menyerah kalah!!"
Oey Yong menyesal. Ia tidak menyangka Pek Thong begitu gampang saja mengaku kalah. Pikirnya, "Kalau tahu begini, aku tidak mengganggu dia, aku hanya mengeraskan totokanku kepada si pendeta." Maka ia lantas menghadapi Leng Tie dan berkata; "Kau sudah menang, nonamu tidak menginginkan jiwamu! Lekas mabur!"
Leng Tie tidak menyahut, dia tetap duduk. "He, siapa kesudian menonton macam tololmu ini?" membentak si nona seraya tangannya menolak. "Kau berpura-pura mampus?"
Oey Yong menolak dengan perlahan, tetapi tubuh si pendeta yang besar dan gemuk itu roboh terguling dengan tiba-tiba, robohnya dengan tangan dan kakinya tidak bergerak, seperti tadi dia bersila. Si nona terkejut, juga Kwee Ceng dan Pek Thong.
"Apakah ini disebabkan ilmunya menutup jalan darah?" tanya Oey Yong. "Apa ilmunya itu belum sempurna, maka ia gagal bertahan dan menjadi kaku terus-terusan dan mati sendirinya. Ia lantas menaruh tangannya di depan hidung pendeta itu, ia merasakan hawa tarikan napas yang biasa, ia menjadi heran mendongkol dan lucu.
"Loo Boan Tong, kau terpedayakan, kau tidak tahu!" ia kata sambil tertawa pada Pek Thong. "Sungguh manusia tolol!"
"Apa kau bilang?" tanya si orang tua, matanya dipentang lebar.
Si nona tertawa. "Kau bebaskan dulu dia dari totokan jalan darah, baru kita bicara lagi!" sahutnya.
Si tua jenaka itu melengak, tetapi ia membungkuk kepada Leng Tie Siangjin tubuh siapa ia lantas raba-¬raba, usap sana dan usap sini, ia juga menepuk¬-nepuk, dengan begitu ia menjadi mendapat kenyataan, si pendeta telah ditotok seluruh jalan darahnya. Ia lantas berjingkrak dan berseru;
"Tidak, tidak, ini tidak masuk hitungan!"
"Tidak masuk hitungan apa?" Oey Yong menegasi.
"Dia ini dipermainkan konconya," kata Loo Boan Tong. "Sesudah dia duduk tadi, konconya totok dia hingga dia jadi duduk tegak tanpa bisa berkutik. Dengan begitu, meski kita bertaruh sampai tiga hari lagi dan tiga malam, dia pasti tidak bakal kalah!" Ia berbalik lagi pada si pendeta, yang rebah melengkung di tanah, ia kata; "Mari, mari! Mari kita mulai mengadu lagi!"
Sementara itu, hati Kwee Ceng menjadi lega. Ia melihat orang tidak kurang suatu apapun, bahkan sehat sekali. Maka ia tidak sudi mendengar ocehan orang lebih lama. Ia ingat kepada gurunya. Dari itu ia lantas lari ke dalam gua.
Pek Thong sendiri lantas menolong Leng Tie Siangjin, yang ditotok bebas, sembari menolong, masih ia mengoceh tak hentinya.
"Mari, mari kita bertaruh pula!"
"Mana guruku?" Oey Yong tanya dingin kepada orang tua berandalan itu. "Kau buang ke mana guruku?"
Ditanya begitu, Pek Thong terkejut hingga dia berteriak, lantas lari ngiprit ke arah gua, hingga hampir saja dia saling tabrak sama Kwee Ceng, yang keluar dari dalam gua sambil mempepayang gurunya.
Tiba di luar anak muda ini berdiri menjublak. Ia melihat Kwa Tin Ok, gurunya yang paling tua itu, melibat kepala dengan sabuk putih, bajunya baju putih juga.
"Suhu, apakah kau sedang berkabung?" akhirnya ia menanya heran. "Jie-suhu dan yang lainnya mana?"
Tin Ok tidak menyahut, hanya ia mengangkat kepalanya memandang langit. Dengan lantas ia mengucurkan air mata. Kwee Ceng heran dan kaget, sampai ia tidak berani lantas mengulangi pertanyaannya.
Ketika itu Pek Thong sudah muncul pula dari dalam gua, ia mempepayang satu orang yang tangannya yang kiri mencekal cupu-cupu arak, tangan kanan memegang daging ayam sebelah potong, sedang mulutnya menggigit satu paha ayam juga. Dialah Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong. Oey Yong dan Kwee Ceng menjadi girang sekali.
"Suhu!" mereka memanggil.
Justru itu Kwa Tin Ok, dengan romannya yang bengis, menghajar nona Oey dengan tongkat besinya.
Oey Yong sedang bergirang sekali, ia tidak menyangka bakal diserang. Itulah jurus dari Hok Mo Thung-hoat yaitu ilmu tongkat Menaklukkan Iblis, yang Tin Ok sengaja menciptakannya di gurun pasir, untuk melawan Bwee Tiauw Hong. Sebaliknya Kwee Ceng melihat itu. Bukan main kagetnya murid ini. Tidak ada waktu lagi untuk mencegah dengan mulut, terpaksa si anak muda mengulur tangan kirinya, menyampok tongkat itu, sedang dengan tangan kanannya, ia menyambar ujungnya, guna membikin tongkat itu tidak jatuh. Dalam kesusu, ia menggunakan tenaga besar. Inilah hebat untuk Kwa Tin Ok. Dia tersampok dan tertarik, dia tidak dapat mempertahankan diri, tongkatnya terlepas, tubuhnya terpelanting jatuh! Kembali Kwee Ceng menjadi kaget.
"Suhu!" ia berseru seraya menubruk, guna mengasih bangun gurunya.
Mulut Kwa Tin Ok mengeluarkan darah, sebab dua buah giginya copot, sedang mukanya bengkak akibat jatuh.
"Untuk kau!" katanya ketika ia mengambil kedua buah giginya itu dan menyerahkannya kepada muridnya. Tangannya berlepotan darah.
Kwee Ceng menjatuhkan diri di depan gurunya. "Teecu salah, suhu," ia kata. "Silahkan suhu menghukum ……"
"Untukmu!" kata pula si guru, tangannya tetap dilonjorkan.
"Suhu ……" murid itu berkata lagi sambil menangis.
Ciu Pek Thong menyaksikan kejadian itu, ia anggap lucu, maka ia tertawa dan berkata; “Semenjak dulu adalah guru yang menghajar murid tetapi hari ini murid menghajar guru! Bagus-bagus!" Ia tidak memperdulikan lagi bahwa ia justru membikin hati Tin Ok menjadi makin panas. Karena sang murid tidak mau menerima giginya, Tin Ok lantas menelan!
"Bagus, bagus!" kembali Pek Thong berseru dan bertepuk tangan.
Oey Yong bingung. Ia tidak tahu kenapa Tin Ok hendak membinasakan dirinya. Ia mendekati Cit Kong tangan siapa ia cekal.
"Biar bagaimanapun juga teecu tidak berani melawan suhu," kata Kwee Ceng mengangguk-angguk. "Barusan teecu kesalahan tangan, maka itu harap suhu menghukum aku……"
"Suhu! Suhu!" membentak sang guru. "Siapa gurumu? Kau mempunyai pemilik dari Tho Hoa To sebagai mertuamu, perlu apa lagi kau dengan gurumu? Kanglam Cit Koay cetek kepandaiannya, mana tepat dia menjadi gurunya Kwee Toaya?"
Kwee Ceng semakin menyesal, ia mengangguk¬-angguk pula. Hebat sekali kemurkaan gurunya hingga Oey Yok Su disebut-sebut sebagai mertuanya dan ia pun disindir "toaya" atau "tuan besar".
Ang Cit Kong tidak dapat mengawasi saja. "Kwa Tayhiap," ia berkata, "Di antara guru dan murid, keterlepasan tangan adalah hal yang umum, oleh karena itu, aku harap kau maafkan muridmu ini. Barusan anak Ceng menggunakan jurus dari ilmu silat ajaranku si pengemis tua, akulah yang bersalah, di sini aku minta maaf kepadamu."
Pengemis itu benar-benar menjura kepada jago Kanglam itu. Mendengar Cit Kong berkata demikian, Pek Thong pikir ia pun baik berbicara. Maka ia berkata kepada Hoe Thian Pian-hok:
"Kwa Tayhiap di antara guru dan murid keterlepasan tangan adalah yang umum sekali, karena sambaran saudara Kwee barusan kepada tongkatmu adalah sambaran ajaranku, di sini aku si Loo Boan Tong mohon maaf padamu." Dan ia pun menjura dalam.
Dalam murkanya, Tin Ok menganggap orang mengejek, ia bukan saja mendongkol pada si tua yang doyan bergurau ini, ia juga menganggap Ang Cit Kong mau main gila terhadapnya, maka itu dengan sengit ia berkata;
"Kamu Tong Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kamu semua sangat mengandalkan kepandaian, kamu menganggap dapat malang melintang di kolong langit ini, akan tetapi di mataku, perbuatan kamu semua banyak yang tak pantas, maka akhirnya nanti mesti buruk adanya!"
Pek Thong heran. "Eh, apakah salahnya Lam Tee hingga kau membawa-bawa dia?" ia tanya.
Oey Yong melihat suasana buruk sekali, kalau ia diam saja, si tua bangka berandalan ini bisa mengacau hebat, karena dalam murkanya itu, Tin Ok mesti dibikin sabar dan bukannya dikocok, maka itu ia lantas menyelak. Ia berkata;
"Loo Boan Tong, burung wanyoh mau terbang berpasangan datang mencari kau, apakah kau tidak mau lekas-lekas pergi melihat dia?"
Pek Thong kaget hingga ia lompat berjingkrak. "Apa?" ia menanya.
"Dia ingin bersama kau di musim dingin di tempat yang tersembunyi mandi baju merah……" kata pula si nona.
Pek Thong menjadi terlebih kaget lagi. "Di mana? Di mana?" ia tanya berulang-ulang.
"Di sana!" sahut Oey Yong, tangannya menunjuk ke arah selatan. "Di sana! Lekas kau pergi cari dia!"
"Untuk selama-lamanya aku tidak akan menemui dia lagi!" berseru Pek Thong. "Nona yang baik, apapun kau boleh menitahkan kepadaku asal kau jangan membilang dia bahwa aku berada di sini……!" Belum berhenti suaranya, dia sudah lari ke utara.
"Kau ingat perkataanmu ini ialah janjimu!" kata Oey Yong.
"Kalau Loo Boan Tong sudah mengatakan, dia tidak nanti menyesal!" kata Pek Thong dari jauh, lalu dia lenyap dari pandangan mata si nona.
Maksud Oey Yong memperdayakan si tua jenaka itu pergi mencari Eng Kouw, siapa tahu, Pek Thong takut bertemu sama nyonya itu, dia bahkan kabur. Tapi biar bagaimana, orang toh telah menyingkir, maka lega juga hati nona ini.
Kwee Ceng masih berlutut di depan gurunya, ia masih minta diberi hukuman. Sambil menangis ia berkata pula:
"Buat guna teecu, suhu bertujuh telah pergi jauh ke gurun di utara, tempat yang bersengsara, maka itu biarpun tubuh teecu hancur lebur, sukar untuk teecu membalas budi suhu semua. Tanganku ini bersalah, baiklah teecu tidak menginginkannya pula!"
Dengan tangan kanannya, si anak muda mencabut pedang, dengan itu ia menebas tangannya yang kiri, tetapi Kwa Tin Ok menangkis dengan tongkatnya, hingga kedua senjata bentrok keras, lelatu api muncrat, tangan si guru dirasakan sakit. Itulah bukti muridnya benar-benar mau mengutungi tangannya. Maka lantas ia berkata:
"Baiklah! Sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu!"
"Titahkan saja, suhu, teecu tidak akan membantah," Kwee Ceng bilang.
"Jika kau menampik, lain kali jangan kau bertemu lagi!" kata si guru. "Biarlah hubungan kita putus bagaikan ditebas!"
"Teecu akan melakukan itu dengan sungguh-¬sungguh," kata Kwee Ceng, "Kalau tidak sampai mati baru teecu berhenti."
Tin Ok membanting tongkatnya ke tanah. "Kau kutungi kepalanya Oey Lao Shia serta kepala gadisnya!" ia bilang keras.
Bukan main kagetnya Kwee Ceng. Itu titah sangat hebat, yang ia tidak sangka. "Suhu!" serunya. "Suhu……!"
"Bagaimana?" tanya si suhu bengis.
"Entah kenapa Oey Lao Shia bersalah kepada suhu?"
"Hm! Hm!" mengejek si guru. "Aku mengharap Thian memberikan kesempatan sejenak saja untuk aku bisa melihat, asal aku bisa melihat mukamu binatang cilik yang bong in pwee gie!" Dia mengangkat pula tongkatnya, niat menyerang.
Bukan main sedihnya Kwee Ceng, dikatakan bong it pwee gie - tidak mengenal budi. Ia melihat tongkat mengancam. Ia tidak berkisar, tidak berkelit. Oey Yong terkejut, apa lagi ketika ia mendapatkan si pemuda diam saja.
"Menolong dulu, itulah perlu!" pikirnya. Maka ia menggerakkan tongkatnya, dengan jurus "Anjing jahat menghadang jalanan".
Tongkat Tin Ok tidak mengenai sasaran. Bukan main mendongkolnya ketua Kanglam Cit Koay ini. Tangkisan si nona membuatnya terhuyung, meski ia tidak jatuh. Dua kali ia menumbuk dadanya sendiri, lantas dia lari ke arah utara.
"Suhu! Suhu!" Kwee Ceng berteriak-teriak memanggil.
"Apakah Kwee Toaya menghendaki jiwa tuaku?" guru itu bertanya.
Kwee Ceng tercengang. Ia tidak berani mencegah pula. Ia menundukkan kepala. Maka ia cuma bisa mendengar suara tongkat besi mengenai tanah atau batu, makin lama makin jauh, makin jauh, makin samar, lalu lenyap. Ia ingat budinya guru itu ia menjatuhkan diri di tanah dan menangis menggerung-gerung. Sambil menuntun tangan Oey Yong, Cit Kong menghampiri muridnya.
"Kwa Tayhiap dan Oey Lao Shia mempunyai tabiatnya sendiri-sendiri yang sangat luar biasa." ia berkata, "Entah ada terjadi perselisihan hebat apa di antara mereka. Sekarang kau jangan bersusah hati, kau serahkan urusan padaku, nanti aku si pengemis tua yang membereskan, supaya mereka menjadi akur lagi."
Kwee Ceng berhenti menangis, ia bangun. "Suhu, tahukah suhu apa sebabnya itu?" ia tanya.
Cit Kong menggeleng kepala, tetapi ia berkata; "Loo Boan Tong telah kena orang perdayakan. Dia bertaruh mengadu diam maka kejadianlah dia diam tak berkutik. Memang kawan manusia jahat itu hendak membikin celaka padaku, kebetulan gurumu itu sampai, dia melindungiku, dia mengajak aku bersembunyi ke dalam gua. Dengan mengandalkan pada beracun gurumu, orang jahat tidak berani memasuki gua. Maka kita dapat bertahan sekian lama. Gurumu seorang mulia hati, melindungi aku dengan membahayakan dirinya sendiri."
Pengemis itu berhenti bicara, dia mencegluk araknya dua kali, menggerogoti paha ayam, terus ia telan, kemudian menyeka mulutnya. Habis itu, baru ia berkata lagi:
“Pertempuran barusan hebat sekali. Celaka untukku, karena kepandaianku telah ludas, aku tidak dapat turun tangan untuk membantu. Aku bertemu gurumu tetapi tidak sempat bicara dengannya. Aku percaya kegusarannya barusan pasti bukan karena kau keterlepasan tangan. Dia seorang berbudi dan jauh pandangannya, tidak mungkin berlaku cupat pikiran. Beberapa hari lagi tiba waktu perjanjian Pee-gwee Cap-gouw, maka sesudah pertandingan di Yan Ie Law nanti aku menjadi orang pertengahan akan mengakuri mereka."
Kwee Ceng mengucap terima kasih. "Kepandaian kalian berdua sangat pesat anak-¬anak," Cit Kong berkata pula tertawa. "Kwa Tayhiap seorang Rimba Persilatan yang kenamaan tetapi setelah kamu turun tangan, dia jatuh pamornya. Sebenarnya bagaimanakah halnya dengan kamu?"
Kwee Ceng berduka dan malu, ia tidak dapat bicara, maka Oey Yong yang menutur hal perjalanan mereka berdua semenjak berpisah di istana kaisar.
Cit Kong memuji dan berseru mendengar Yo Kang membinasakan Auwyang Kongcu. Ketika ia mendengan Yo Kang menipu Lou Tiangloo sekalian, ia mencaci anak muda itu sebagai anak jadah. Kemudian ia melongo mendengar halnya It Teng Taysu menolong nona Oey sampai pada lelakonya Sin Soan Cu Eng Kouw yang penasaran dan mendendam hebat. Akhirnya ia berseru kaget mengetahui Eng Kouw muncul di Chee-liong-tha di mana nyonya itu seperti hilang ingatan.
"Suhu, apakah suhu kenal Eng Kouw?" Oey Yong tanya.
"Tidak, aku tidak kenal dia," menyahut guru itu, "Hanya waktu Toan Hongya masuk menjadi pendeta, aku berada di sisinya. Dia telah mengirim surat padaku di Utara, dia mengundang aku datang ke Selatan. Aku lantas datang karena aku percaya tanpa urusan penting tidak mungkin dia mengundangku. Aku datang karena sekalian aku ingin mencoba pula makanan Inlam yang lezat, bahkan aku berangkat dengan cepat. Waktu aku bertemu Toan Hongya, dia lesu sekali, sangat beda waktu pertemuan di Hoa San di mana dia gagah bagaikan naga dan harimau. Aku heran sekali.
Besoknya dia mengajak aku berunding tentang ilmu silat maksudnya untuk mewariskan padaku dua macam kepandaian. Sian Thian Kan dan It Yang Cie. Kembali aku menjadi heran. Sian Thian Kang dari Toan Hongya bersama Hang liong Sip-pat Ciang dari aku, Kap Moa Kang dari Auwyang Hong dan Pek Khong Ciang dari Oey Lao Shia, sama tersohornya, sama tangguhnya, maka setelah dia memperoleh It Yang Cie dari Ong Tiong Yang, dia pasti bakal jadi jago nomor satu di kolong langit ini dalam pertempuran yang kedua di Hoa San. Tidak nyana sekarang dia mau mewariskan dua rupa kepandaian itu padaku, ia beralasan merundingkan ilmu silat. Kenapa dia tidak mau mempelajari Hang Liong Sip-pat Ciang dari aku? Mesti ada sebabnya. Hal itu aku telah memikirkannya. Kemudian setelah diam-diam aku berbicara dengan empat muridnya, baru aku ketahui sebab aneh itu. Kiranya, habis mewariskan kepandaiannya padaku, dia hendak membunuh diri……"
"Suhu," berkata Oey Yong, "Toan Hongya itu khawatir, setelah dia mati, It Yang Cie tidak ada yang mewariskan dan itu artinya tidak ada orang yang dapat menguasai lagi Auwyang Hong."
"Benar, aku pun telah melihat hal itu. Karena itu juga, aku bilang aku tidak suka mempelajari dua rupa kepandaiannya itu. Setelah aku menampik, dia baru menutur maksud hatinya. Dia berkata keempat muridnya, biarpun mereka jujur dan setia, tetapi karena perhatian mereka ditumpleki pada urusan pemerintah, tidak akan mereka memperoleh kemajuan. Dia berkata pula, tidak apa aku tidak menyukai Sian Thian Kang tetapi It Yang Cie sangat perlu. Dia bilang, apabila It Yang Cie terbawa ke kubur olehnya tanpa ada yang mewarisi, dia malu bertemu Ong Tiong Yang Cinjin di dunia baka. Aku masih membandel tidak mau menerima warisannya. Aku pikir, dengan membandel artinya jiwanya dapat ditolong."
"Kejadian itu sungguh aneh," kata Oey Yong. "Semenjak dulu adalah umum, seorang mau belajar dan minta diajari dan orang menolak mengajari, akan tetapi kali ini, orang tidak mau belajar tapi ia justru dibujuk, dipaksa!"
"Oleh karena aku tetap menolak," Cit Kong bercerita lebih jauh, "Toan Hongya habis daya, lantas dia masuk menjadi pendeta, mencukur rambutnya, aku hadir dan mendampingi dia. Kejadian itu belasan tahun yang lalu. Ah, bagus, bagus sekarang urusan bisa diselesaikan secara begini."
"Suhu," kemudian Oey Yong berkata pula. "Urusan kami sudah beres, sekarang tentang suhu sendiri."
"Urusanku sendiri!" kata si orang tua. "Di istana aku telah makan segala macam masakan lezat……" dan tak hentinya ia menyebut namanya pelbagai sayur sambil lidahnya menjilati bibirnya.
"Kenapa Loo Boan Tong tidak berhasil mencari suhu?"
"Sebab karena koki raja sering kehilangan banyak sayurnya, dapur istana jadi kacau! Semua orang bilang di dapur istana muncul dewa rase, lantas mereka memasang hio memujaku. Kemudian terdengar oleh pimpinan siewi, dia mengirim delapan siewi untuk menjaga dapur, untuk menangkap dewa rase. Aku jadi sulit, sedang Loo Boan Tong tidak datang-datang. Terpaksa aku pergi bersembunyi di tempat yang sepi. Tempat itu ruang Gok Lek Hoa-tong. Di sana ada ditanam banyak pohon bwee. Itulah tempat raja menggadangi bunga bwee di musim dingin, saat itu musim panas, tidak ada satu setanpun kecuali beberapa orang kebiri tua tukang nyapu. Senang aku tinggal di situ.
Di mana saja di dalam istana, orang bisa makan, seratus pengemis tinggalpun tidak bakal kelaparan. Baru belasan hari aku hidup senang lalu datang gegobrak, mulanya Loo Boan Tong yang menangis seperti setan mengulun, anjing membaung kemudian kucing mengeong, istanapun jadi kacau, lalu beberapa orang berteriak-teriak: 'Ang Cit Kong Looya-cu! Ang Cit Kong Looyacu!' Aku mengingat, aku mengenali mereka adalah rombongan Pheng Lian Houw, See Thong Thian dan Nio Cu Ong……"
"Mau apa mereka mencari suhu?" tanya Oey Yong heran.
"Akupun heran. Aku hendak menyingkir, tetapi Loo Boan Tong berhasil mempergoki aku. Dia sangat girang, dia peluk aku, dia memuji-muji kepada Thian. Kemudian dia menitahkan Nio Cu Ong semua berjalan di belakang……"
Kembali Oey Yong heran. "Kenapa Nio Cu Ong semua dapat diperintah Loo Boan Tong?"
"Ketika itu aku pun sangat heran. Aku melihat mereka sangat takut kepada Loo Boan Tong, apa yang diperintahkan, mereka lantas kerjakan, tidak berani membantah. Demikian mereka diberi tugas mengiringi, Loo Boan Tong menggendong aku sampai di Gu-kee-cun, untuk mencari kalian berdua. Di tengah jalan dia menjelaskan padaku bahwa dia bingung tidak dapat mencariku, malah bertemu Nio Cu Ong semua. Dia hajar mereka, dia suruh mereka membantu mencari di segala tempat. Mereka mengatakan sia-sia belaka mencari di istana sedang istana sangat luas dan lebar."
Oey Yong tertawa. "Loo Boan Tong lihay sekali, dia dapat membikin Nio Cu Ong semua tunduk. Kenapa kawanan iblis itu tidak melarikan diri saja?"
Cit Kong pun tertawa. "Loo Boan Tong mempunyai akalnya sendiri. Dia berkata telah membuat obat pel yang dicampur kotorannya, dia suruh mereka makan satu orang tiga butir, setelah itu dia membilang, obat itu ada racunnya dan akan bekerja setelah lewat empatpuluh sembilan hari, bahwa obat pemunahnya cuma ia sendiri yang dapat membikinnya. Mereka jadi ketakutan, mungkin mereka sangsi, tetapi akhirnya percaya juga. Begitulah mereka jadi dapat diperintah segala macam.”
Kwee Ceng lagi berduka tetapi mendengar cerita sang guru, ia tertawa juga.
"Sampai di Gu-kee-cun, kalian tidak dapat dicari," Ang Cit Kong meneruskan keterangannya, "Loo Boan Tong memaksa mereka mencari terus. Kemarin malam mereka pulang dengan lesu, mereka gagal, dari Loo Boan Tong mencaci-maki, terus diancam, apabila besok mereka gagal lagi, akan dikasih makan lagi obat kotorannya itu. Ia menyebut-nyebut air kencing. Mendengar itu, timbul kecurigaan mereka. Mereka percaya bahwa mereka lagi dipermainkan, bahwa sebenarnya mereka bukan dikasih makan racun. Lantas mereka memancing. Dalam gusarnya, Loo Boan Tong tanpa sadar membuka rahasianya sendiri. Aku menjadi berkhawatir. Mereka itu bangsa licik, aku pikir lebih baik mereka disingkirkan saja, supaya mereka tidak menjadi bahaya di belakang hari.
Mereka itu benar-benar lihay dan merasa bahaya mengancam, mereka mendahului turun tangan. Begitulah Pheng Lian Houw menggunakan kecerdikannya, dia mau adu Loo Boan Tong dengan Leng Tie Siangjin. Tidak dapat aku mencegah lagi. Untuk menolong diri, aku menyingkir. Kebetulan sekali di luar dusun aku bertemu Kwa Tayhiap. Dia melindungi aku menyingkir kemari, kemudian dia pergi kepada Loo Boan Tong, maka Loo Boan Tong pun datang ke mari, hanya di sini, setelah dikocok Lian Houw, dia mengadu kepandaian duduk diam sama si pendeta."
Oey Yong mendongkol juga merasa lucu. "Jikalau tidak terjadi perkara kebetulan, suhu, jiwamu bisa hilang di tangan Loo Boan Tong," katanya. "Untung kebetulan sekali engko Ceng dan aku mendengar lewatnya dua kawan mereka."
"Jiwaku memang sudah tidak berharga, diantarkan di tangan siapa pun sama saja." kata sang guru.
"Suhu, ketika itu kita pulang dari pulau Beng Hee To……" kata si nona.
"Bukan Beng Hee To hanya pulau menggencet setan!" kata sang guru pula.
"Baiklah, pulau menggencet setan," kata sang murid. "Sekarang ini benar-benar Auwyang Kongcu telah menjadi setan! Ketika itu di atas getek kita menolong paman Auwyang Hong dan keponakannya, aku mendengar si bisa bangkotan mengatakan bahwa di kolong langit ini cuma ada satu orang yang dapat menyembuhkan suhu, hanya dia sangat gagah dan lihay, dia tidak bisa dipaksa menolong sedang suhu tidak sudi menolong diri dengan merugikan orang lain, suhu tidak mau minta pertolongan orang itu. Suhu juga tidak mau membilang nama orang. Sekarang kami tahu siapa orang itu, bukan lain daripada Toan Hongya atau It Teng Taysu sekarang ini."
Ang Cit Kong menghela napas. "Jikalau dia menggunakan It Yang Cie menyalurkan jalan darahku, memang dia dapat menyemhuhkan aku," ia berkata, "Hanya karena dia menolong aku, dia bakal menggunakan tenaga dalamnya berlebihan, setelah itu tujuh tahun atau sedikitnya lima tahun, dia tidak dapat memulihkan tenaga dalamnya. Mungkin hatinya tawar dan dia tidak menghiraukan lagi urusan pertemuan yang kedua di gunung Hoa San, tetapi dengan usianya enam atau tujuhpuluh tahun, berapa lama lagi dia bisa hidup? Maka itu, mana bisa aku si pengemis tua membuka mulut mohon pertolongannya?"
Mendengar itu, Kwee Ceng berjingkrak. "Suhu, mari aku yang mengobati!" ia berkata. "Aku telah mempelajari It Yang Cie! Lebih baik sekarang juga digua ini aku menyalurkan semua jalan darahmu?"
Ang Cit Kong menggeleng kepala. "Tahukah kau kenapa It Teng Taysu mengajari It Yang Cie padamu?" ia bertanya.
Ini Kwee Ceng tidak pernah memikirkannya, maka itu mendengar pertanyaan gurunya, ia lantas mengerti, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.
"Ah, It Teng Taysu hendak mencari kematiannya!" ia berseru. "Kalau begitu akulah yang membikin celaka!"
"Ketika dia mengobati Yong-jie, jikalau dia tidak melihat kau diam-diam mempelajari ilmunya, waktu Eng Kouw mencari dia, mustahil dia berani pasang tubuhnya untuk dibunuh nyonya itu?" kata pula guru ini. "Untuk mengobati aku, tidak menjadi soal, tetapi bagaimana kalau dalam waktu lima atau tujuh tahun si bisa bangkotan datang membikin celaka padamu? Bagaimana kau nanti melayani dia? Bolehkah kau menyia-nyiakan pengorbanan It Teng Taysu?"
"Jikalau suhu sudah sembuh, suhu dapat melayani si bisa bangkotan itu," berkata sang murid.
Cit Kong lagi-lagi menggeleng kepala. "Sukar untuk lukaku ini dapat disembuhkan dalam waktu yang cepat," ia berkata. "Sebaliknya hari pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin sudah sampai bulu alis. Maka itu tentang sakitku ini dan pengobatannya, baik kita bicarakan lain kali saja."
Oey Yong tertawa mendengar orang berebut omong, yang satu memaksa mau mengobati, yang lain menolak. Ia berkata;
"Sudahlah, jangan kamu berebut mulut! Untuk menyalurkan jalan darah dan meluruskan nadi, aku mengerti!"
"Apa katamu!" Cit Kong menanya heran.
Si nona bersenyum, ia menyahut: "Bahasa aneh yang engko Ceng ingat di dalam hatinya telah disalin jelas kepada kami, sekarang aku pikir-pikir, ilmu itu dapat dipakai menolong suhu." Untuk menguatkan keterangannya, ia menjelaskan penjelasan dari It Teng Taysu.
"Bagus, bagus!" kata Cit Kong girang. "Aku lihat kau memang dapat menolong, cuma untuk itu dibutuhkan waktu sedikitnya setengah sampai satu tahun."
"Suhu," kata Oey Yong kemudian. "Di dalam pertemuan di Yan Ie Lauw, pihak sana pasti bakal mengundang Auwyang Hong, benar Loo Boan Tong tidak bakal kalah tetapi dia berandalan, dia suka mengacau, aku khawatir nanti timbul keonaran, maka aku pikir sebaiknya kita pergi ke Tho Hoa To untuk mengundang ayahku. Dengan begitu barulah kita akan merasa pasti akan kemenangan kita!"
"Kau benar," berkata Cit Kong. "Biar aku yang pergi dulu ke Kee-hin dan kamu berdua pergi ke Tho Hoa To."
"Baiklah kita pergi bersama dulu ke Kee-bin," kata Kwee Ceng. Ia berkhawatir untuk gurunya itu.
"Tidak usah, biar aku pergi sendiri," kata guru itu. "Aku akan menunggang kudamu. Umpama kata ada orang jahat, aku dapat mengaburkannya. Siapa dapat menyusul aku?" Ia lantas lompat naik ke punggung kuda, di mana ia menenggak araknya. Ketika ia menjepit kedua kakinya, kuda itu berpekik menghadap Kwee Ceng, terus dia kabur ke arah utara.
Pemuda itu mengawasi gurunya sampai lenyap dari pandangan matanya, lantas dia mengingat sikap Kwa Tin Ok, gurunya yang ke satu itu dari pihak Kanglam Cit Koay, ia menjadi sangat berduka.
Oey Yong tahu orang bersusah hati, ia tidak membujuk, ia terus menyewa perahu, untuk mengajak orang menaikinya, guna berangkat ke Tho Hoa To. Di dalam perjalanan ini, mereka tidak mengalami sesuatu, maka mereka tiba dengan tidak kurang suatu apapun. Setelah mendarat dan membayar sewa perahu, baru ia berkata kepada kawannya;
"Engko Ceng aku hendak memohon sesuatu kepadamu, kau suka meluluskan atau tidak?"
"Kau sebutkan dulu, aku mendengarnya," menyahut si anak muda, "Jangan nanti soal yang aku tidak dapat melakukannya."
Oey Yong tertawa. "Aku bukan minta kau memotong kepala ke enam gurumu!" katanya.
Pemuda itu tidak puas. "Perlu apa kau menimbulkan urusan itu, Yong-jie!" ia tanya.
"Kenapa aku tidak menimbulkannya?" si nona balik menanya. "Mungkin kau dapat melupakan itu, aku tidak! Biarpun aku baik dengan kau tetapi aku tidak suka kepalaku dipotong olehmu……"
Anak muda itu menarik napas panjang. "Sungguh aku tidak mengerti kenapa toasuhu demikian gusar ……" katanya.
"Toasuhu ketahui baik sekali kaulah orang yang aku cintai. Biar aku mesti mati seribu atau selaksa kali, tidak akan aku sudi melukai kau biar bagaimana kecilpun."
Oey Yong bersyukur. Ia menarik tangan si anak muda, ia menyenderkan tubuhnya ke tubuhnya.
"Engko Ceng, apakah kau anggap Tho Hoa To ini bagus?" ia tanya. Ia menunjuk ke barisan pohon yangliu di tepi air. Perlahan suaranya.
"Mirip tempat dewa-dewi," Kwee Ceng menyabut.
Si nona menarik napas. "Ingin aku tinggal hidup di sini, tidak sudi aku di bunuh kau……" bilangnya.
Kwee Ceng mengusap-usap rambut nona itu. "Anak tolol! Mana bisa aku membunuh kau……"
"Bagaimana kalau kau didesak enam gurumu, ibumu dan sekalian sahabatmu? Kau turun tangan juga atau tidak?"
"Biar semua orang di seluruh jagat memusuhi kau, aku tetap akan melindungimu!" berkata si anak muda.
Oey Yong memegang keras tangan orang. "Untukku, kau suka mengorbankan segalanya?" ia bertanya.
Kwee Ceng berdiam, agaknya ia bersangsi. Oey Yong mengangkat kepalanya, mengawasi mata orang. Sinar mata itu menunjukkan roman kedukaan atau ragu.
"Yong-jie," kata si anak muda kemudian. "Aku telah bilang padamu aku suka berdiam di Tho Hoa To untuk menemani kau seumur hidupku, ketika aku mengatakan itu, aku telah mengambil keputusan."
"Bagus!" si nona berseru. "Mulai hari ini, kau tidak akan meninggalkan pulau ini!"
Kwee Ceng heran. "Mulai hari ini?" dia bertanya.
"Ya, mulai hari ini!" berkata si nona. "Aku akan minta ayah pergi ke Yan Ie Lauw untuk membantu pihakmu, aku bersama ayah nanti pergi membunuh Wanyen Lieh guna membalaskan sakit hatimu, habis itu aku bersama ayah pergi ke Mongolia menyambut ibumu! Bahkan, aku akan minta ayah menemui keenam gurumu memohon maaf untukmu. Aku hendak membikin supaya hatimu lega dan tidak ada apa-apa lagi yang harus dipikirkan!"
Kwee Ceng heran. Aneh sekali sikap nona ini. "Yong-jie, apa yang aku bilang, semua itu kata-¬kataku," ia bilang. "Kau baiklah bertetap hati."
Si nona menghela napas. "Urusan di dunia ini banyak yang sukar dibilang pasti," ia berkata. "Ketika dulu kau menerima baik perjodohan putri Mongolia, kau pernah ingat bahwa hari ini kau bakal menyangkal dia. Juga aku sendiri, aku pikir dapat melakukan segala kesesukaku. Sekarang baru aku tahu…… Ah, apa yang kita pikir baik, Thian justru pikir sebaliknya." Kedua matanya si nona menjadi merah, lekas-lekas ia tunduk.
Kwee Ceng pun berdiam, pikirannya bekerja. Ingin ia menemani Oey Yong seumur hidup di pulau Tho Ho To ini, tetapi berat meninggalkan semua urusan di dunia, itu tidak sempurna. Hanya kenapa ia tidak dapat menyebutnya.
"Aku bukannya tidak percaya kau dan hendak memaksa berdiam di sini," si nona berkata pula sesaat kemudian, perlahan, "Hanya…… hanya…… Di hatiku, aku sangat takut……" Ia lantas mendekam di pundak anak muda itu, ia menangis.
Kwee Ceng bengong, ia tidak sangka juga heran. "Kau takut apa, Yong-jie?" ia tanya.
Si nona tidak menjawab, hanya menangis terus. Kwee Ceng menjadi semakin heran. Semenjak mengenal si nona, biar bagaimana hehat pengalaman mereka, belum pernah si nona menangis, dia lebih banyak tertawa, tetapi sekarang, sepulangnya ke pulau ini? Kampung halamannya. Apakah yang takutkan? Bukankah justru bakal segera bertemu ayahnya?
"Apakah kau mengkhawatirkan keselamatan ayahmu?" akhirnya ia bertanya.
Oey Yong menggoyangkan kepala.
"Apakah kau takut, aku meninggalkan Tho Hoa To, lantas aku tidak kembali?"
Oey Yong menggeleng kepala lagi. Dan ini dilakukan terus meski si anak muda menanya hingga empat atau lima kali. Maka berdiamlah mereka sekian lama.
"Engko Ceng," kata si nona kemudian seraya mengangkat kepala mengawasi si anak muda. "Aku takut tetapi tidak dapat mengatakan apa sebabnya …… Kalau aku ingat sikap dan roman gurumu waktu hendak membinasakan aku, aku jadi bingung sekali. Aku khawatir, satu saat kau mendengar perintah gurumu untuk membunuhku…… Maka aku minta kau jangan meninggalkan lagi pulau ini. Kau berjanjilah!"
Kwee Ceng tertawa. "Aku kira urusan besar, tak tahunya urusan begini!" katanya. "Ingatkah kau kejadian dulu di Pakhia ketika keenam guruku mengatakan kau siluman? Ketika itu aku ikut kau pergi, lalu akhirnya tidak terjadi apa-apa. Memang roman keenam guruku bengis tetapi hati mereka baik, maka kalau nanti kau sudah mengenal baik, mereka tentulah akan menyukaimu …… Jiesuhu lihay ilmunya merogoh saku orang, nanti kau boleh belajar padanya. Tentang Citsuhu, ia sangat halus dan sabar……"
Tapi si nona memotong: "Dengan begitu, artinya kau mau meninggalkan pulau ini?"
"Kita meninggalkannya bersama-sama," berkata si anak muda. "Kita sama-sama pergi ke Mongolia menyambut ibuku. Kita bersama-sama membunuh Wanyen Lieh. Lalu bersama-sama juga kita pulang! Bukankah itu bagus?"
Si nona melongo. "Kalau begitu, tidak dapat selamanya kita pulang bersama dan tidak dapat juga selamanya berada bersama," katanya selang sesaat.
Kwee Ceng menjadi heran. "Kenapa begitu?" ia tanya.
"Aku tidak tahu," si nona menggeleng kepala. "Jikalau aku melihat roman toasuhumu, aku dapat menerka sesuatu. Untuk dia, tidak cukup mengutungi kepalaku saja! Dia membenci aku sampai di tulang-tulangnya!"
Kwee Ceng melihat orang bicara sungguh-¬sungguh, nona itu sangat berduka. Ia jadi memikir. Tanpa merasa, ia pun berkhawatir. Ia ingat pula sikap gurunya yang kesatu yang sangat bengis.
"Dia biasa pandai berpikir," katanya di dalam hati, "Kalau sekarang aku tidak turuti dia dan kemudian kekhawatirannya berbukti bagaimana nanti jadinya?" Ia jadi sangat berduka. Tapi ia pun dapat mengambil putusannya. Maka ia berkata:
"Baiklah, aku tidak akan berlalu dari sini!"
Mendengar itu, Oey Yong bengong mengawasi si pemuda, air matanya meleleh dari kedua belah pipinya.
"Yong-jie, kau menghendaki apa lagi?" tanya si pemuda perlahan.
"Aku menghendaki apa lagi?" menyahut si nona. "Aku tidak menghendaki apapun." Lantas sepasang alisnya yang bagus bergerak, dia tertawa. Ia berkata lagi: "Kalau aku menghendaki apa-¬apa, Thian juga tidak bakal meluluskannya!"
Saking gembiranya, di situ dia menari-nari, tangan bajunya yang panjang berseliweran, gelang emasnya berkilauan. Kadang-kadang ia menyambar-¬nyambar pohon bunga dengan bunganya berwarna merah, putih kuning dan ungu, hingga dia mirip seekor kupu-kupu Tiba-tiba ia berlompat naik ke atas pohon, ke pohon yang lain, kembali lagi. Dalam kegembiraannya ia bersilat dengan Yan Siang Hui dan Lok Eng Ciang.
Menyaksikan si nona, Kwee Ceng seperti ngelamun: "Dulu ibu mendongeng bahwa di laut Tang Hay ada sebuah gunung dewa, bahwa di atas gunung itu ada sejumlah dewi. Mustahilkah di dunia ada gunung dewi yang lebih indah daripada pulau Tho Hoa To ini? Mungkinkah benar ada dewi yang melebihi cantiknya Yong-jie?" Ia tersadar ketika mendadak Oey Yong berseru seraya melompat turun, tangannya menggapai seraya dia lari ke depan, nerobos di antara rimba.
Kwee Ceng menyusul. Ia pun khawatir nanti kesasar. Oey Yong lari berliku-liku kemudian berbenti dengan mendadak.
"Apa itu?" tanyanya seraya menunjuk ke depan di mana ada benda bertumpuk.
Kwee Ceng mendahului maju. Itu adalah seekor kuda yang lagi rebah. Bahkan ia mengenali kudanya Han Po Kie, samsuhu atau gurunya yang ke tiga. Ia mengulur tangan memegang perut kuda. Dingin rasanya. Terang kuda telah mati lama. Berbareng heran, Kwee Ceng berduka. Kuda ini pernah turut pergi ke gurun pasir dan dengannya Kwee Ceng kenal sejak ia masih kecil.
"Boleh dibilang ini kuda luar biasa dan kuat, kenapa dia mati di sini?" si anak muda berpikir. "Tentu sekali samsuhu sangat berduka……"
Mengawasi lebih jauh, Kwee Ceng memperhatikan, kuda itu bukan mati rebah melonjor hanya keempat kakinya tertekuk meringkuk. Ia terkejut. Ia lantas ingat kudanya Gochin Baki, yang binasa dihajar Oey Yok Su. Kuda putri itu mati melingkar, mirip dengan kuda ini. Maka dengan tangan kirinya ia mengangkat leher kuda dan dengan tangan kanannya meraba dua kaki depan. Betapa kagetnya, ia mendapatkan tulang-tulang kuda remuk. Ia lantas meraba punggung kuda. Tulang punggung itu juga patah! Ketika ia mengangkat tangannya, ia melihat tangannya berlepotan darah - darah yang sudah berubah menjadi hitam tetapi bau amisnya masih ada. Mungkin sudah tiga empat hari matinya kuda.
Oleh karena penasaran, Kwee Ceng membalikkan tubuh binatang itu, untuk memeriksa. Ia tidak mendapatkan luka luar. Saking heran, ia duduk menjatuhkan diri di tanah, hatinya bekerja: "Mungkinkah ini darah samsuhu? Habis dimana adanya guruku?"
Sekian lama Oey Yong berdiam di samping menyaksikan kelakuan Kwee Ceng, ia pun heran, tetapi ia dapat menenangkan diri. Maka kemudian ia berkata;
"Kau jangan gelisah. Mari kita memeriksa dengan perlahan-lahan……"
Nona ini maju, mementang kedua tangannya membiak pohon-pohon bunga, sembari jalan ia memperhatikan tanah. Kwee Ceng mengikuti, ia juga mengawasi ke tanah, maka terlihat olehnya titik-titik ceceran darah. Saking ketarik dan tegang hatinya, ia sampai lupa jalan yang sesat, ia mendahului si nona, dari perlahan, ia menjadi membuka tindakan lebar. Tidak heran kalau beberapa kali ia kesasar.
Oey Yong berlaku teliti, ia berjalan hingga di gombolan rumput, di pinggir batu karang. Di situ tanda darah sebentar kedapatan sebentar lenyap. Ia memeriksa dan melihat tapak serta bulu kuda.
Tanpa mengenal capai, mereka berjalan terus hingga beberapa lie, sampai di depan sekumpulan pohon bunga dan pepohonan lain di mana ada sebuah kuburan. Melihat itu Oey Yong lari menghampiri.
Ketika dia pertama kali datang ke Tho Hoa To, Kwee Ceng pernah melihat kuburan itu, ia masih mengenalinya. Itu kuburan dari ibunya si nona. Hanya kali ini, kuburan itu tidak utuh seperti dulu. Batu nisannya telah roboh. Ia maju mengangkat. Ia membaca tulisan batu peringatan itu. Ibunya Oey Yong adalah orang she Phang. Terang tulisan itu adalah tuli Oey Yok Su - tulisannya bagus dan tegak.
Oey Yong melihat pintu pekuburan telah terpentang lebar-lebar. Ia merasa pasti bahwa di pulaunya sudah terjadi sesuatu. Tadi pun ketika dari atas pohon ia melihat melingkarnya kuda, hatinya sudah bercekat. Ia tidak lantas bertindak masuk. Lebih dulu memasang mata ke sekitar kuburan. Di kiri kuburan, rumput hijaunya bekas diinjak-injak. Di muka pintu terlihat bekas-bekas senjata beradu. Ia memasang kuping. Ia tidak mendengar apapun. Maka dengan membungkuk, ia masuk.
Kwee Ceng berkhawatir, ia mengikuti masuk. Begitu berada di dalam, muda-mudi ini merasa tegang. Lebih-lebih si pemuda. Bukankah itu kuburan ibunya? Tembok pada gugur atau gugus, bekas terhajar senjata tajam akibat suatu pertempuran dahsyat.
Oey Yong memungut sesuatu ketika mulai bertindak masuk. Kwee Ceng mengenali itulah batang timbangan atau dacin, yang menjadi senjata gurunya keenam, Coan Kim boat. Timbangan itu terbuat dari besi, ukurannya sebesar lengan, tetapi toh orang dapat mematahkannya menjadi dua. Maka berdua mereka saling mengawasi, mulut mereka bungkam, mereka seperti tidak berani membuka mulut. Mereka tahu, cuma ada beberapa gelintir orang yang tenaganya kuat istimewa dan untuk di Tho Hoa To, orang itu hanyalah Oey Yok Su……
Kwee Ceng menyambut dari tangan Oey Yong potongan dacin itu, ia lantas mencari potongan yang lainnya, sembari mencari ia merasakan hatinya tertindih berat sekali. Ia sangsi, ingin ia mencari dapat, ingin ia tidak dapat mencarinya……
Lebih jauh ke dalam, kuburan itu bertambah suram. Kwee Ceng membungkuk, tangannya meraba-raba ke tanah. Mendadak tangannya membentur sesuatu yang keras, ternyata batu timbangan, batu ini dapat dipakai Kim Hoat sebagai senjata rahasia untuk menimpuk. Hatinya berdebar. Ia masukkan gandulan itu ke sakunya, ia maju lebih jauh.
Seketika terkesiap hatinya, Kwee Ceng meraba benda yang dingin tetapi lunak. Ia meraba-¬raba. Akhirnya ia kaget hingga berlompat bangun, ia kena pegang muka orang. Saat melompat, justru – duk ……! Kepalanya membentur langit-langit. Tapi disaat seperti itu, ia melupakan nyerinya. Maka lantas mengeluarkan bahan apinya dan menyalakan. Begitu dapat melihat, ia menjerit, kemudian roboh pingsan! Api di tangannya tidak padam, dengan cahaya api, Oey Yong bisa melihat tegas.
Coan Kim Hoat rebah terlentang menjadi mayat, kedua matanya terbuka besar. Di dadanya menancap potongan yang lain dari dacinnya. Maka sekarang duduknya hal telah menjadi terang.
Oey Yong kaget tetapi ia mencoba menentramkan diri. Dari tangan Kwee Ceng ia mengambil api, dengan itu ia mengasapi hidungnya si anak muda, untuk menyadarkan orang pingsan.
Tidak lama, anak muda itu berbangkis dua kali, lantas ia sadar. Ia membuka matanya mengawasi si pemudi. Kemudian bangun berdiri. Tanpa bilang apapun, ia masuk lebih jauh. Oey Yong mengikuti.
Di ruang dalam, yang merupakan liang kubur asli, nampak kacau. Meja sembahyang pecah ujungnya. Pikulan besi dari Lam Hie Jin nancap di lantai. Di pinggir kiri kamar, rebah melintang tubuh satu orang, ikat kepalanya robek, sepatunya copot. Dengan melihat dari punggung saja sudah dapat dikenali dialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay.
Dengan tindakan perlahan, Kwee Ceng menghampiri. Ia membalikkan tubuh jiesuhu, gurunya yang nomor dua. Ia melihat bibir yang tersenyum, tapi sudah dingin, seperti dingin seluruh tubuhnya. Maka anehlah senyuman Kanglam Cit Koay yang kedua ini.
"Jiesuhu, teecu Kwee Ceng datang!" kata si anak muda perlahan. Setelah itu dengan berhati-hati, ia mengangkat tubuh gurunya, kemudian - tingtang! Ia mendengar suara barang jatuh saling susul dari sakunya banyak barang permata, seperti batu kumala, yang berserakan di lantai.
Oey Yong menjumput beberapa potong barang permata itu, untuk diteliti. Segera ia melemparkannya pula, dengan dingin, ia berkata:
"Ini permata mulia yang dikumpulkan ayahku yang disengaja dipakai untuk menemani ibuku!"
Kwee Ceng terkejut. Ia menoleh kepada kekasihnya. Ia menjadi lebih kaget lagi. Di samping suara dingin dan tak sedap dari nona itu, ia melihat sinar mata yang mencorong tajam dan bengis, dari mata yang merah bagaikan darah.
"Apakah kau maksudkan guruku datang ke mari mencuri permata ini?" ia menanya perlahan.
Mata si pemudi menatap akan tetapi dia tidak dapat mundur, dia bahkan mengawasi, hanya sekarang sinarnya berubah. Itulah sinar mata dari putus asa, dari kedukaan.
"Guruku yang kedua seorang laki-laki sejati," kata Kwee Ceng. "Mana mungkin dia mencuri harta ayahmu? Lebih-lebih tak mungkin dia mencuri barang permata di kuburan ibumu ini!"
Oey Yong mendengar nada orang, dari gusar menjadi berduka. Memang juga pikiran Kwee Ceng berubah dengan perlahan-lahan. Ia menyangka si nona menuduh gurunya, seorang ksatria, ia menjadi tidak senang, ia menjadi gusar. Segera setelah itu, ia memikir kenyataan. Bukankah gurunya itu terkenal si tangan lihay, yang sangat pandai mencopet? Bukankah semua permata itu meluruk dari saku gurunya? Bukankah mereka berada di dalam liang kubur di mana harta itu disimpan? Tapi, benarkah gurunya datang ke situ untuk mencuri? Bukankah gurunya laki-laki sejati? Ia menyangsikan gurunya berbuat demikian busuk dan hina. Maka ia menduga sesuatu yang diluar dugaannya. Dalam kesangsian itu, antara kegusaran, kedukaan dan keragu-raguan ia mengepal keras tangannya hingga terdengar suara meretek.
Oey Yong masih mengawasi lalu ia berkata dengan perlahan. "Ketika itu aku melihat air muka gurumu yang nomor satu, aku merasa aneh sekali, aku lantas seperti dapat firasat bahwa di antara kita berdua sulit berakhir dengan baik, yang membahagiakan. Jikalau kau hendak membunuhku, sekarang kau boleh turun tangan. Ibuku ada di sini, maka kau tolong saja mengubur aku di sisinya. Setelah selesai kau mengubur aku, kau lekas angkat kaki dari sini, jangan sampai kau bertemu dengan ayahku……"
Kwee Ceng tidak menyahut, ia mondar-¬mandir, tindakannya lebar dan cepat, napasnya pun memburu.
Oey Yong berdiam. Ia mengawasi gambar lukisan ibunya. Ia melihat sesuatu di situ, ia lantas menghampiri. Nyata itulah dua senjata rahasia yang nancap. Ia menurunkannya. Kwee Ceng melihat senjata itu, ia mengenali tok¬leng, atau lengkak rahasia, dari Kwa Tin Ok.
Oey Yong terus berdiam, tangannya menyingkap toh-wie di belakang meja sembahyang. Di situ ada pernahnya peti mati ibunya. Ketika ia menghampiri, mendadak ia menghela napas panjang. Di belakang peti mati ibunya rebah dua mayat dari kakak beradik, atau engko dan adik. Han Po Kie dan Han Siauw Eng. Siauw Eng itu terang telah membunuh diri, sebab tangannya masih memegang gagang pedang. Tubuh Po Kie sendiri menindih peti mati. Hanya yang hebat, batok kepalanya meninggalkan liang bekas lima jari.
Kwee Ceng telah melihat kedua mayat itu. Ia sekarang bisa berlaku tenang. Ia memondong turun tubuh gurunya yang ketiga itu, seorang diri ia berkata:
"Aku melihat sendiri kematian Bwee Tiauw Hong. Di kolong langit ini, orang yang pandai Kiu Im Pek-kut Jiauw, siapa lagi kecuali Oey Yok Su?" Ia mengambil pedang Siauw Eng, terus ia bertindak keluar, ketika ia melewati Oey Yong, ia tidak berpaling lagi pada si nona.
Nona Oey merasa hatinya dingin secara tiba-tiba. ia terdiam. Saat itu, ruangan menjadi gelap, sebab apinya padam. Ia kaget, hatinya berdebaran. Itulah kuburan yang ia kenal baik, tetapi di situ sekarang rebah empat mayat dalam caranya yang berlainan, yang mengerikan, maka ia lantas lari keluar. Satu kali ia terpeleset, hampir roboh. Setibanya di luar baru ia ingat bahwa ia kesandung tubuh Coan Kim Hoat. Sekarang ia melihat batu nisan yang roboh. Ia hendak menutup pintu kuburan ketika ia ingat satu hal. Ia lantas berkata pada dirinya sendiri: "Kalau ayah yang membunuh keempat anggota Kanglam Cit Koay ini, kenapa pintu ini tidak dikunci? Ayah sangat mencintai ibu, biarpun ia sangat kesusu, tidak mungkin membiarkan pintu tinggal terpentang?" Maka ia menjadi ragu-ragu. Ia menjadi ingat pula: "Cara bagaimana ayah dapat membiarkan mayat keempat orang ini menemani ibu? Tidak mungkin! Mungkinkah ayah sendiri yang nampak sesuatu yang tidak dinyana?"
Lantas Oey Yong membetulkan batu nisan itu, ia mengunci pintunya, dengan mendorong batu nisan ke kanan tiga kali dan ke kiri tiga kali juga, habis itu ia lari ke arah rumahnya. Ia dapat menyusul Kwee Ceng meskipun si anak muda telah keluar lebih dulu beberapa puluh tindak. Anak muda itu berputaran karena kesasar. Kapan dia melihat si nona, dia lantas mengikuti. Mereka berjalan tanpa membuka suara, mereka melintasi pengempang, sampai di rumah peranti bersemedi dari Oey Yok Su. Hanya sekarang rumah itu roboh tidak karuan, di bagian depan terlihat tiang-tiang dan penglari yang patah.
Oey Yong kaget sampai ia menjerit-jerit. "Ayah! Ayah!" Dia lari ke dalam rumahnya. Di situ kursi meja pada terbalik dan segala perabot tulis, buku semua berserakan di lantai. Di situ tidak ada sekalipun bayangan Oey Yok Su.
Nona ini berotak tajam, dia cerdas dan lekas berpikir, tetapi kali ini pikirannya kacau. Ia memegang meja tulis ayahnya, tubuhnya bergoyang-goyang mau jatuh. Sampai sekian lama, baru ia bisa menetapkan hati. Ia lari ke samping, ke kamar budak-budaknya yang gagu, sia-sia belaka ia mencari, tidak dapat menemukan seorang budakpun. Di dapur sunyi senyap. Rupanya, meski orang tidak mati, semua telah pergi entah ke mana. Rupanya di pulau, kecuali mereka berdua, tidak ada orang lain lagi……
Dengan tindakan perlahan Oey Yong menuju ke kamar tulis, di sana Kwee Ceng berdiri menjublak, matanya mengawasi lerus ke depan.
"Engko Ceng, lekas kau menangis!" berkata si nona. "Kau menangis dulu, baru kita bicara!"
Kwee Ceng tidak menyahut, hanya dengan mata mendelik ia mengawasi si nona. Ia sangat mencintai keenam gurunya, sekarang ia mendapat pukulan begini hebat, kedukaannya sampai di puncaknya hingga tak dapat ia menangis.
Oey Yong kaget. "Engko Ceng!" katanya. Cuma sebegitu ia bisa bilang, lantas berdiam.
Keduanya berdiri saling mengawasi. Akhirnya si anak muda ngoceh seorang diri "Tidak dapat aku membunuh Yong-jie, tidak dapat aku membunuh Yong-jie!"
Oey Yong lantas berkata: "Gurumu telah mati, kau menangislah!"
"Tidak, aku tidak menangis!" kata Kwee Ceng seorang diri.
Kembali keduanya berdiam. Sunyi kamar tulis itu. Cuma di kejauhan terdengar samar-samar suara berdeburnya gelombang.
Oey Yong berpikir keras, ia mengingat segalanya, tetapi tetap ia berdiam.
"Aku mesti mengubur dulu guru-guruku……" Kemudian terdengar Kwee Ceng mengoceh lagi.
"Benar, semua guru mesti dikubur lebih dulu!" menimpali Oey Yong. Bahkan ia mendahului berjalan kembali ke kuburan ibunya.
Tanpa bersuara, Kwee Ceng mengikuti, selagi si nona hendak mendorong batu nisan, mendadak ia lompat melewati, terus menendang batu nisan. Ia menggunakan tenaga besar tetapi batu besar dan berat, ia tidak dapat menggempur roboh, sebaliknya, kakinya berdarah, hanya ia tidak merasakan itu. Bagaikan kalap, ia menyerang kalang kabutan dengan pedangnya: menikam dan menebas, dan tangan kirinya juga menghajar, hingga batu gugur dan gugusannya terbang berhamburan. Pedangnya tak tahan, pedang itu patah. Ia menjadi panas, maka ia terus menyerang dengan tangannya. Kali ini ia berhasil membikin batu patah, hingga terlihat sebatang besi. Ia pegang besi itu, ia menggoyang-goyang keras. Dengan satu suara nyaring, besi itu membuat pintu kuburan terbuka sendiri. Ia melengak, ia berkata seorang diri;
"Kecuali Oey Yok Su, siapa dapat membikin pintu rahasia ini dan siapa dapat memancing semua guruku masuk ke dalam kuburan hantu ini?" Lalu dia berdongak dan berseru nyaring, terus ia melemparkan pedang buntungnya, untuk lari masuk ke dalam kuburan itu!
Oey Yong mengawasi pedang buntung dan batu nisan yang patah, yang terkena darah si anak muda, ia bengong, hatinya bekerja. Ia melihat kebencian hebat dari Kwee Ceng. Ia berpikir; "Jikalau dia melampiaskan hawa marahnya dengan merusak peti ibuku, lebih dulu aku akan membunuh diri dengan membenturkan kepalaku ke peti……" Lantas ia hendak menyusul pemuda itu ketika melihat Kwee Ceng berjalan keluar dengan memondong tubuh Coan Kim Hoat, setelah meletakkan tubuh itu, dia masuk lagi, akan mengambil mayat Cu Cong. Perbuatan itu dilanjutkan kepada mayat Han Po Kie dan Han Siauw Eng.
Dengan mata mendelong, Oey Yong mengawasi si anak muda pada air muka siapa kentara sekali cintanya kepada guru-gurunya. Hatinya menjadi dingin. Ia berkata dalam hati: "Nyatalah dia mencintai gurunya melebihi cintanya kepadaku. Ah, mesti aku cari ayahku, mesti aku cari ayahku……"
Kwee Ceng membawa mayat keempat gurunya ke dalam rimba, terpisah dari kuburan ibunya Oey Yong beberapa ratus tindak, di situ barulah menggali lobang. Ia menggali dengan patahan pedang, hebat ia menggunakan tenaganya. Sekian lama bekerja, mendadak pedangnya bersuara keras - pedang itu patah!
Justru itu ia merasakan dadanya sesak, hawa panas naik, ketika ia mementang mulut, ia muntahkan darah segar hingga dua kali, tetapi ia bekerja terus, dengan kedua tangannya membongkar tanah,
Melihat demikian, Oey Yong lari mengambil dua buah sekop peranti bujang gagunya, yang satu ia kasihkan pada si anak muda, yang lain ia pakai sendiri, membantu menyingkirkan tanah.
Kwee Ceng merampas sekop di tangan si nona, ia patahkan itu kemudian dengan sekop yang satunya bekerja sendiri, ia menggali terus.
Oey Yong tahu artinya perbuatan pemuda itu, hatinya sakit, tetapi ia tidak menangis, ia lantas duduk mengawasi saja.
Kwee Ceng bekerja luar biasa. Ia berhasil menggali dua buah liang besar dan satu kecil. Ke lubang yang kecil ia pondong tubuh Siauw Eng, diletakkan dengan hati-hati. Ia lantas berlutut, paykui beberapa kali. Ia mengawasi muka guru wanita itu, guru yang ketujuh, sesudah itu baru ia menguruknya. Setelah itu mengangkat tubuh Cu Cong dimasukkan ke dalam liang kubur yang besar. Mendadak ia berpikir: "Permata mulia kotor dari Oey Yok Su mendapat menemani jiesuhu?" Maka itu, ia merogoh saku gurunya, mengeluarkan sisa batu permatanya. Paling akhir ia menarik keluar sehelai kertas putih, yang ada suratnya. Ia membeber itu dan membaca:
"Yang rendah dari Kanglam, Kwa Tin Ok, Cu Cong, Han Po Kie, Lam Hie Jin, Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng, dengan ini menghaturkan beritahu kepada cianpwe pemilik Tho Hoa To bahwa mereka telah mendengar kabar bahwa Coan Cin Cit Cu, dengan tidak menaksir tenaganya sendiri, hendak melakukan sesuatu terhadap Tho Hoa To. Mengenai itu, menyesal kami tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengakurkannya, hanya mengingat bahwa cianpwee adalah pantarannya Ong Tiong Yang Cinjin, kami memikir mana dapat cianpwee malayani anak-anak muda. Di jaman dulu Lin Siang Jie telah mengalah terhadap Liam Po, peristiwa itu menjadi buah tutur berupa pujian. Karena siapa gagah, dadanya lapang bagaikan lautan, dia tentu tidak menghiraukan segala perbuatan antara ayam dan kutu. Kalau nanti kejadian Coan Cin Cit Cu datang ke Tho Hoa To, untuk nengakui kesalahannya sendiri, pastilah semua orang gagah di kolong langit ini akan mengagumi kepribadian cianpwee. Tidakkah itu bagus?"
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
Kiam Lam menerima semua itu. Ia juga bisa berpikir, maka ia ingat, tidak mungkin Gak Hui menulis kitab perangnya itu untuk dibawa ke kubur, tentulah itu untuk diwariskan kepada seseorang, hanya saking kerasnya penjagaan Cin Kwee, kitab tersebut tak sempat disampaikan. Pula mungkin, karena sesuatu sebab, orang yang harus menerima kitab tidak keburu sampai di kota raja. Kalau ini benar, ada kemungkinan orang itu datang ke istana dan menubruk tempat kosong disebabkan kitab itu sudah tercuri. Karena ini, ia lantas membikin petanya gunung Tiat Ciang San berikut keterangan singkat bunyinya; "Kitab warisan Gak Bu Bok adanya di Tiat Ciang San, di puncak Tiong Cie Hong, di lereng yang kedua."
Jenderal Han khawatir orang tidak mengerti petunjuk singkat itu, ia menambahkan dengan sayirnya Gak Bu Bok sendiri. Jenderal Han juga percaya bahwa orang yang bakal menerima warisan itu, jikalau bukan murid Gak Bu Bok sendiri, tentulah salah seorang bawahannya.
Ketika Siangkoan Kiam Lam telah pulang ke Tiat Ciang San, ia mengumpulkan pencinta negara, ia mengajak mereka bergerak. Tapi pemerintah Song jeri kepada negara Kim, bukan saja gerakan mulia itu tidak ditunjang bahkan ditindas, dalam hal mana, bangsa Kim pun membantu. Maka gagallah usaha Siangkoan Kiam Lam, ia mati di atas puncak Tiat Ciang Hong karena luka-lukanya. Bukunya itu bagian belakang, tulisannya tidak karuan, mungkin ditulis sesudah dia terluka. Yang paling hebat ialah setelah belasan lembarnya dirobek-robek Cin Lam Kim.
"Tidak disangka Siangkoan Pangcu seorang pencinta negara," kata Kwee Ceng masgul, hingga ia menghela napas. "Sampai pada ajalnya, dia masih memegang erat- erat buku ini. Aku tadinya menduga dia sama dengan Khiu Cian Jin si pengkhianat, mulanya aku memandang rendah kepadanya. Kalau tahu begini, tentulah aku sudah menghunjuk hormatku kepada tulang-belulangnya itu."
Tidak lama dari itu, cuaca mulai gelap, maka tukang perahu meminggirkan perahu dan menambatkannya, hendak ia masak nasi dan menyembelih ayam, untuk mempersiapkan makanan.
Oey Yong dan Kwee Ceng khawatir nanti diracuni, dengan alasan si tukang perahu tidak resik, mereka membawa daging ayam dan sayurannya ke darat, ke rumah seorang desa, untuk tolong dimatangi, untuk mereka bersantap di sana.
Tukang perahu mendongkol, tetapi karena dia gagu, tidak bisa bilang apa-apa kecuali nampak sinar mata dan romannya yang muram. Habis bersantap, sepasang muda-mudi itu masih berangin di bawah pohon di depan rumah si orang kampung.
"Entah apa yang ditulis dalam beberapa lembar halaman yang dirobek enci Cin itu," berkata si nona. "Di dalam dunia ini cuma Khiu Cian Lie dan Yo Kang yang pernah membaca itu tetapi mereka dua-duanya telah mati."
"Khiu Cian Lie cuma mengambil buku ini, tidak bukunya Gak Bu Bok, kenapakah?" tanya Kwee Ceng
"Mungkin itu disebabkan dia mendapat dengar suara kita. Dan baru ambil jilid ini, dia tidak berani mengambil jilid lainnya. Mungkin beberapa lembar yang tersobek itu penting isinya. Bukankah si tua bangka sangat memperhatikan itu?"
"Hanya heran tentang Siangkoan Pangcu itu. Dia lari ke puncak. Kenapa tentara negeri tidak mengejarnya terus?"
"Ini pun aneh. Rupanya cuma setelah melihat isi sobekan baru duduknya hal akan dapat dimengerti……" kata si nona, yang mendadak tertawa. "Kalau enci Cin tidak merobeknya dan kejadian dia pergi kepada Wanyen Lieh, waktu itu pasti bakal ada pertunjukan yang bagus sekali……" Ia berhenti pula, atau kembali ia berkata, berseru; "Bagus!"
"Apakah itu?" Kwee Ceng menanya.
"Kita menyerahkan buku ini kepada Wanyen Lieh," menerangkan si nona. "Dengan begitu, dia pasti akan mengirim orang ke Tiat Ciang San mencari buku warisan Gak Bu Bok itu. Bukankah Tiong Cie Hong tempat keramat Tiat Ciang Pang? Mana Khiu Cian Jin suka membiarkan tempat sucinya diganggu? Maka pasti sekali mereka bakal saling bunuh di antara kawan sendiri! Tidakkah ini bagus?"
"Ya, itu benar bagus!" Kwee Ceng kata sambil bertepuk tangan.
"Aku tidak sangka sekali Suko Kiok Leng Hong telah mendirikan jasa besar sekali!" kata Oey Yong yang pun girang.
Kwee Ceng tidak mengerti. "Bagaimana?" ia tanya. "Kitab Gak Bu Bok disimpan di gua tepi Cui Han Tong di dalam istana," berkata si nona. "Karena Siangkoan Kiam Lam telah mencurinya dari sana, tentu gambarnya telah ditaruh di tempat buku itu. Benar bukan?"
"Benar."
"Kiok Suko telah diusir dari Tho Hoa To tetapi ia tidak melupakan budi gurunya. Ia tahu ayah gemar akan tulisan, gambar dan barang lainnya asal barang kuno, ia rupanya ketahui semua itu ada terdapat banyak di dalam istana, maka tanpa menghiraukan bahaya, ia nyelundup ke istana dan berhasil mencuri banyak gambar, tulisan dan lainnya……"
"Benar, benar!" Kwee Ceng bilang. "Sukomu itu telah mencuri semua itu berikut gambar peta rahasia, lalu semuanya dia simpan di kamar rahasia di Gu¬kee-cun, untuk dia nanti menghadiahkan kepada ayahmu, maka apa lacur, dia kena disusul rombongan siewi dan kena dibinasakan. Maka itu ketika Wanyen Lieh pergi ke istana, ia kebogehan, sudah buku Gak Hui tidak ada, petanya juga hilang. Ah, kalau tahu begitu, selama di gua itu tidak usah kita mati-matian merintangi mereka, hingga aku tidak nanti sampai dilukai si bisa bangkotan dan kau tidak usah bersusah hati tujuh hari tujuh malam ……"
"Soalnya tidak dapat dipandang dari sudutmu itu," membantah si nona. "Jikalau kau tidak beristirahat di kamar rahasia, mana kita bisa dapatkan gambar peta itu? Juga mana……" Ia berdiam. Ia menjadi ingat pertemuannya sama putri Gochin Baki. Maka ia jadi masgul. Selang sesaat, ia kata pula: "Entah bagaimana dengan ayahku sekarang……?" Ia memandang rembulan sisir. "Segera bakal tiba Pee-gwee Tiong Ciu," katanya. "Setelah pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin, apakah kau bakal kembali ke gurun pasir di Mongolia?"
"Tidak. Lebih dulu aku membunuh Wanyen Lieh, guna membalaskan sakit hati ayahku dan paman Yo."
"Setelah itu?" tanya si nona, matanya tetap mengawasi si Putri Malam.
"Masih banyak urusan lainnya! Suhu mesti diobati dulu hingga sembuh. Pula Ciu Toako mesti dicari, untuk menyuruh dia pergi ke rawa lumpur hitam kepada Eng Kouw ……" "Setelah semua itu beres, kau toh akhirnya kembali ke Mongolia?"
Kwee Ceng tidak bisa menyahut, tak tahu ia mesti membilang apa.
"Ah, aku tolol!" kata si nona tiba-tiba. "Perlu apa aku memikirkan semua itu? Justru ada kesempatan baik, satu hari lebih lama kita berkumpul, satu hari terlebih baik! Mari kita kembali ke perahu, kita permainkan si gagu palsu itu……"
Kwee Ceng menurut. Keduanya berjalan pulang. Tiba di perahu, tukang perahu dan dua pembantunya sudah tidur.
"Pergi kau tidur, aku nanti berjaga-jaga," Kwee Ceng membisiki si nona.
Oey Yong merasakan kesehatannya belum pulih semua, maka itu ia letakkan kepalanya di paha si anak muda. Dengan perlahan ia pulas.
Kwee Ceng tidak mau membikin tukang perahu curiga, meskipun ia tidak menginginkan, ia terpaksa merebahkan diri, hanya diam-diam ia menghapal ajaran It Teng Taysu bagian dari Kiu Im Cin-keng yang memakai bahasa Sansekerta. Ia menghapal terus sekitar satu jam, akhirnya ia menjadi gembira. Tidak saja ia tidak merasa kantuk, ia bahkan menjadi segar. Hanya tengah ia bergirang itu, ia mendengar Oey Yong mengigau perlahan:
"Engko Ceng, jangan kau menikah sama putri Mongolia itu, aku sendiri yang hendak menikah denganmu." Ia melengak. Kembali ia mendengar suara si nona: "Bukan bukan, aku salah omong. Aku tidak meminta apa-apa dari kau, aku tahu kau suka aku, itu saja sudah cukup."
"Yong-jie, Yong-jie," kata si anak muda terdengar.
Oey Yong tidak menyahut, hanya napasnya perlahan. Pemuda itu bingung. Ia mencintai si nona, ia merasa kasihan. Ia mengawasi wajah orang yang tidur nyenyak di pahanya. Paras si nona itu putih tersinarkan cahaya rembulan, karena kesehatannya belum pulih, kulit mukanya belum kembali bersemu dadu. Ia mengawasi dengan menjublak.
"Dia tentulah bermimpi dan dalam mimpinya ia mengingat peruntungan kita berdua," pikir anak muda ini. "Aku tidak boleh melihat dia dari sikapnya sehari-¬hari saja, yang bergembira, seperti orang tidak pernah berduka, sebenarnya di dalam hatinya, ia masgul. Ah, akulah yang membikin dia mengalami kesulitan ini. Coba hari itu kita tidak bertemu di Thio-kee-kauw, bukankah itu baik untuknya?"
Selagi yang satu bermimpi atau mengigau dan yang lain mengawasinya dengan pikiran bimbang, tiba-¬tiba di permukaan air terdengar suara pengayuh bekerja, lalu terlihat sebuah perahu mendatangi dari sebelah hulu. Kwee Ceng menjadi heran.
"Air sungai ini sangat deras dan berbahaya, siapa begitu bernyali besar berani menjalankan perahu malam-malam?" pikirnya. Karena ini, ingin ia melihat. Ketika ia hendak mengangkat kepala, mendadak ia mengurungkan. Tiba-tiba ia mendengar tiga kali tepukan tangan perlahan dari perahunya. Diwaktu sunyi seperti itu, suara tepukan tangan itu nyata terdengarnya. Setelah itu terdengar suara layar dibenahkan.
Tidak usah lama Kwee Ceng menanti akan mendapatkan perahu itu di pinggirkan dan dikasih nempel sama perahunya, maka dengan perlahan ia menepuk-nepuk tubuh Oey Yong untuk mengasih bangun. Hampir di waktu itu, tubuh perahu bergoyang sedikit.
Pemuda itu segera mengintai. Ia masih sempat melihat satu orang, dalam rupa bayangan, berlompat ke perahu yang baru sampai itu. Orang itu ialah si tukang perahu yang berlagak gagu.
"Kau tunggu di sini, aku mau pergi melihat," Kwee Ceng berbisik pada kawannya.
Oey Yong yang telah bangun, mengangguk. Dengan cepat Kwee Ceng pergi ke kepala perahu. Ia melihat perahu tetangga itu masih bergoyang, ia lantas lompat ke situ. Dengan membarengi bergoyangnya perahu ia membikin penghuni perahu tidak curiga. Dengan lantas ia mengintai. Maka terlihat olehnya tiga orang dengan pakaian hitam semua, seragamnya kaum Tiat Ciang Pang. Pula ia mengenali satu di antaranya, yang tubuhnya tinggi besar, ialah Kiauw Thay yang pernah dipecundangi Oey Yong.
Pemuda ini sangat gesit, maka ia seperti mendahului si tukang perahu. Sesudah mengintai, baru tukang perahu itu tiba di dalam gubuk. Segera dia ditanya Kiauw Thay:
“Apa kedua binatang cilik itu ada di sini?"
"Ya," menyahut si tukang perahu yang sekarang bisa bicara.
"Apakah mereka bercuriga?" Kiauw Thay menanya lagi.
"Nampaknya tidak. Cuma mereka tidak sudi dahar dari aku tidak dapat bekerja."
"Hm! Biarlah mereka mengantar jiwa di Chee-liong¬tha! Lusa tengah hari perahu kamu tiba di Chee-liong¬tha, terpisah satu lie dari muara itu, ada dusun Chee¬liong-cip. Di sana kau singgah kami nanti menantikan kamu untuk membantu."
"Ya," si tukang perahu menyahut pula.
"Dua binatang cilik itu lihay, kau mesti berhati-bati," Kiauw Thay memesan. "Kalau kau berhasil, pangcu bakal menghadiahkan kepadamu. Sekarang pergi kau balik ke perahumu dengan ambil jalan dari dalam air, supaya perahumu itu tidak bergoyang, agar mereka tidak curiga."
"Apakah Kiauw Cee-cu tidak ada titah lainnya?"
"Tidak!" menyahut Kiauw Thay seraya mengibaskan tangannya.
Tukang perahu itu lantas keluar dari gubuk perahu. Ia pergi ke belakang, di sana ia turun ke dalam air, untuk berenang ke perahunya sendiri.
Kwee Ceng berlaku cepat, ia mendahului kembali ke perahunya. Ia membisiki Oey Yong apa yang ia lihat dan dengar.
"Hm!" kata si nona perlahan. "Di tempat It Teng Taysu, air jauh terlebih deras, kita tidak takut, apalagi segala Chee-liong-tha? Mari tidur!" Karena mengetahui rencananya orang jahat, muda-¬mudi ini jadi lega hatinya.
Di hari ketiga pagi, ketika tukang perahu hendak mengangkat jangkar, untuk mulai berangkat lagi, Oey Yong berkata padanya:
"Tunggu sebentar! Lebih dulu kau mendaratkan kuda kami jangan kalau nanti perahu karam di Chee-liong-tha, dia nanti mengantarkan jiwanya!"
Tukang perahu itu berlagak pilon. Oey Yong tidak memperdulikannya, bersama Kwee Ceng ia menuntun kudanya mendarat.
"Yong-jie, sebaiknya kita jangan bergurau sama mereka," kata Kwee Ceng perlahan. "Dari sini kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda saja."
"Kenapa begitu?" menanya si nona.
"Tiat Ciang Pang bangsa manusia rendah, buat apa melayani mereka? Kita diam-diam saja."
"Apa dengan diam-diam saja kita aman?" tanya si nona.
Pemuda itu berdiam. Oey Yong mengendorkan les kuda, tangannya menunjuk ke jalanan di sebelah utara. Kuda itu mengerti. Sudah sering dia berpisah dari majikannya, senantiasa mereka dapat bertemu lagi. Maka dia lari ke arah utara di mana sebentar kemudian dia lenyap.
"Mari kita kembali ke perahu," kata si nona, menepuk tangan.
"Kesehatanmu belum pulih, perlu apa kau menempuh bahaya?" Kwee Ceng berkata lagi.
"Kita terpaksa," sahut nona itu. Ia berjalan balik, ia turun ke perahunya.
Kwee Ceng mengiringi kawannya itu. Putri Oey Yok Su tertawa, dia berkata gembira; “Engko tolol, kita bersama, biar kita mengalami banyak yang aneh-aneh, kalau kemudian kita berpisah, bukankah jadi banyak yang dapat direnungkan? Bukankah itu bagus?"
Perahu berlayar sampai nampak sungai makin berbahaya. Di kiri kanan hanya nampak gunung atau tebing. Kwee Ceng dan Oey Yong pergi ke kepala perahu, mereka melihat segalanya, maka insyaflah mereka akan bahayanya perjalanan ini. Untuk dapat maju melawan air, perahu mesti ditarik orang. Di situ ada beberapa perahu lainnya. Perahu besar membutuhkan beberapa kuli, sedang perahu kecil, perlu delapan atau sembilan orang. Kuli-kuli penarik itu telanjang dadanya dan kepalanya dilibat sabuk putih, sambil menarik mereka mengasih dengar suara bareng dan sama. Perahu yang berlayar milir hanyut pesat sekali.
Sepasang muda-mudi ini menduga mereka bakal segera mendekati Chee-liong-tha. Hari pun makin lama makin siang.
"Yong-jie," kata Kwee Ceng perlahan, "Aku tidak menyangka sungai Goan Kang mempunyai bagian yang airnya begini deras dan berbahaya. Mungkin bagian deras ini panjang sekali. Kalau perahu terbalik sedang kau masih belum segar, tidakkah itu berbahaya?"
"Habis bagaimana?"
"Kita bunuh saja tukang perahu itu lantas kita ke minggir dan mendarat."
Si nona menggeleng kepala. "Itu tidak menarik hati!" katanya.
"Memangnya sekarang waktunya main-main?"
"Aku justru menggemari ini!" si nona tertawa.
Pemuda itu berdiam, ia mengawasi ke depan dan ke kiri kanan. Ia lantas berpikir. Berjalan lagi sekian lama, waktu sudah mendekati tengah hari. Setelah melintasi sebuah pengkolan, Kwee Ceng melihat di depan di pinggiran sungai, ada beberapa puluh rumah, yang tinggi dan rendah bergantung sama letaknya tanah pegunungan. Di situ, air jadi semakin deras. Ketika sebentar kemudian perahu tiba di dekat kumpulan rumah-rumah itu, di tepi sungai terlihat beberapa puluh orang seperti lagi menantikan.
Si tukang perahu lantas melemparkan dua lembar dadung ke darat, dimana disambut beberapa puluh orang itu dan lantas dililitkan ke sebuah pelatok besar. Dengan ditarik, perahu itu sampai di tempat yang cetek.
Tidak lama tiba lagi sebuah perahu yang ditarik kira-kira tigapuluh kuli, perahu itu dikasih berlabuh di situ, sedang di sebelah depan telah berlabuh kira-kira duapuluh perahu lainnya. Lantas ada seorang di daratan yang berkata nyaring:
"Tadi malam keluar ular naga, air di gunung banjir, air sungai ini jadi sangat deras, maka sambil menanti air surut, mari semua beristirahat di sini!"
"Numpang tanya, toako, tempat ini apa namanya?" tanya Oey Yong pada seorang di sampingnya.
"Chee-liong-cip," orang yang ditanya menjawab.
Nona itu mengangguk, diam-diam ia memperhatikan tukang perahunya. Dia berbicara dengan gerakan tangan sama seseorang di darat, orang itu bertubuh besar dan kekar. Dia menyerahkan satu bungkusan pada orang itu. Kemudian, mendadak orang itu mengeluarkan kapak dengan apa dia membabat putus dadung penambat perahu, terus dia mengangkat jangkar, terus dia mendorong perahu. Maka sekejap saja, dengan tubuh miring perahu itu hanyut terbawa air.
Si tukang perahu yang memegang kemudi, mengawasi ke muka air. Dua pembantunya yang masing-masing memegang galah kejen, romannya bersiap-siap melindungi si tukang perahu. Mungkin mereka khawatir kedua pemumpangnya menyerang tukang kemudi itu.
Kwee Ceng terkejut, ia mengawasi air yang deras. Setiap waktu perahu itu dapat membentur wadas. Itu artinya terbalik dan karam.
"Yong-jie, rampas kemudi!" ia berteriak. Ia pun hendak lari ke buntut perahu.
Dua orang yang memegang galah itu mendengar suara si anak muda, mereka bersiap. Ketika mereka mengangkat galahnya, kejennya bergemerlap di cahaya matahari. Itulah tandanya kejen itu tajam sekali.
"Perlahan!" tiba-tiba Oey Yong berseru.
"Bagaimana?" si pemuda tanya.
"Kau melupakan burung kita……" si nona berbisik. "Kalau sebentar perahu karam, kita naiki mereka untuk terbang pergi. Aku mau lihat apa mereka bisa bikin……"
Kwee Ceng baru sadar. "Pantas Yong-jie tidak takut, kiranya ia telah siap sedia tipu dayanya," pikirnya. Ia lantas menggapai kepada dua ekor burungnya, untuk disuruh berdiam di samping mereka.
Si tukang perahu tidak tahu kenapa anak muda itu batal bergerak, diam-diam ia bergirang. Ia mau percaya mereka kena dibikin jeri oleh arus yang sangat deras itu.
Segera terdengar suara dari serombongan kuli penarik perahu, lalu terlihat orang-orangnya, yang lagi menarik sebuah perahu dengan gubuk hitam, yang mengibarkan bendera hitam juga. Ketika si tukang perabu melihat perahu itu, dia lantas mengangkat kapaknya kemudian dia mengapak putus kemudinya, kemudian dia pergi ke pinggir kiri. Terang dia bersiap akan lompat ke perahu yang lagi mendatangi itu.
Kwee Ceng melihat aksinya tukang perahu itu. "Naik!" ia kata seraya menekan punggung si rajawali betina.
"Jangan kesusu!" berkata Oey Yong. "Engko Ceng, kau hajar perahu itu dengan jangkar!"
Kwee Ceng mengerti maksudnya nona itu, ia bersiap. Tanpa kemudi, perahu hanyut makin pesat, sebentar saja, kedua perahu datang semakin dekat. Perahu yang ditarik mudik itu digeser, supaya tidak sampai diterjang perahu yang hanyut. Tukang-tukang menarik perahu agaknya kaget, mereka pada berteriak.
Kwee Ceng menanti saatnya, segera ia melemparkan jangkarnya keras sekali. Ia mengarah pelatok yang dipakai mengikat dadung penarik. Karena perahu pun ditarik keras, maka lemparan jangkar jadi semakin hebat. Begitu terkena, pelatok itu patah, dadungnya terlepas. Selagi tukang-tukang menariknya jatuh ngusruk, perahunya sendiri lantas terbawa air, hanyut keras sekali. Orang banyak pada berteriak kaget. Si tukang perahu kaget sekali.
"Tolong! Tolong!" dia berteriak-teriak saking takut.
"Hai, orang gagu bisa bicara!" kata Oey Yong tertawa. "Ini keanehan di kolong langit!"
Kwee Ceng sendiri mengawasi perahu yang hanyut itu, tangannya masih memegangi jangkar yang satunya. Tukang kemudi dari perahu itu lihay, di air deras dia masih mencoba memutar kepala perahu, agar jangan buntutnya yang laju di muka seperti semula. Tepat pada saatnya, si anak muda melemparkan jangkar ke kepala perahu. Si tukang perahu gagu tetiron kaget bukan main.
Di saat yang sangat berbahaya itu, dari dalam perahu mendadak lompat keluar satu orang, yang bersenjatakan galah kejen dengan apa dia menyambut, menyontek jangkar Kwee Ceng. Dia bertenaga besar tetapi galahnya tidak cukup kuat, galah itu patah, karena itu, tujuan jangkar jadi berkisar. Begitulah jangkar dan patahan galah jatuh ke air. Orang kuat itu berdiri tegar di perahunya, dia mengenakan baju pendek warna kuning, dia berambut putih romannya gagah. Dialah Khiu Cian Jin ketua Tiat Ciang Pang.
Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi kagum sekali hingga mereka tercengang. Justru itu, tanpa ketahuan, tubuh perahu telah membentur wadas. Keras goncangan benturan itu muda-mudi itu kena terdampar ke pintu gubuk. Mereka kaget, terutama sebab air segera merendam mata kaki mereka. Tidak ada kesempatan lagi untuk naik ke punggung burung.
"Mari!"
Kwee Ceng berseru seraya dia berlompat ke arah Khiu Cian Jin. Dia sengaja hendak menubruk ketua Tiat Ciang Pang itu, sebab kalau dia lompat ke lain bagian dari perahu, sebelum tiba, dia bisa dipapaki serangan. Itu sangat berbahaya.
Khiu Cian Jin melihat orang berlompat ke arahnya, rupanya dia dapat menerka maksud orang, karena ia tengah memegang galahnya, dengan itu ia lantas memapak.
Kwee Ceng melihat penyambutan itu, dia kaget. Khiu Cian Jin melontarkan galahnya, yang menjurus ke dada si anak muda. Ia rupanya menganggap, lebih baik menyerang sambil menimpuk daripada menanti orang tiba di perahunya. Dalam saat sangat berbahaya untuk si anak muda, tiba-tiba terlihat sinar hijau menyambar galah kejen. Karenanya, lenyaplah ancaman bahaya itu. Itulah Oey Yong, yang berlompat menyusul kawannya, yang dengan tongkatnya menangkis galah.
Setelah itu, begitu menginjak perahu, si nona segera menyerang pangcu dari Tiat Ciang San, hingga dia menjadi gelagapan, hampir dia kena ditotok.
Khiu Cian Jin mengenal baik lihaynya tongkat si nona, maka selagi Kwee Ceng baru menaruh kaki, ia mundur kepada anak muda itu, yang ia sapu. Dengan begitu ia berkelit sambil menyerang. Selagi Kwee Ceng berkelit, ia menyusuli dengan dua serangan saling susul dengan kedua tangannya.
Lihay serangan jago dari Tiat Ciang San ini. Itulah pukulan dari Tiat Ciang Kang-hu, atau ilmu silat Tangan Besi, yang kaum Tiat Ciang Pang andalkan selama mereka menjagoi, bahkan di tangan orang she Khiu ini, jurusnya telah diubah dan ditambah hingga menjadi semakin lihay. Dibanding sama Hang Liong Sip-pat Ciang, ilmu itu kalah keras tetapi menang halus.
Begitu dua orang itu bergerak di atas perahu. Perahu sewaan Kwee Ceng telah patah pinggang dan karam, si gagu dan dua kawannya kecebur air dan terbawa arus, sia-sia mereka berenang, mereka terbenam di dalam air menggolak bagaikan pusar air.
Perahu Khiu Cian Jin sendiri, meskipun hanyut keras, masih dapat dipertahankan, karena ada orang Tiat Ciang Pang yang lantas mengendalikannya.
Di atasan perahu, terbang mengikuti, adalah kedua burung rajawali serta hiat-niauw, ketika burung itu saban-saban mengasih dengar suaranya. Sampai waktu itu, Oey Yong pun turut berkelahi. Lebih dulu ia mengundurkan beberapa orang Tiat Ciang Pang, yang merintanginya, setelah itu ia dekati Kwee Ceng, guna mengepung Khiu Cian Jin. Karena sama-sama lihay, kedua pihak berkelahi dengan rasa risih.
Selagi bertempur, Oey Yong melihat golok berkelebat di dalam gubuk perahu. Itulah seseorang yang tengah membacok. Ia tidak tahu apa yang dibacok itu tetapi ia curiga, maka lantas menimpuk dengan jarumnya. Pembacok itu kena lengannya, bacokannya tak dapat diteruskan, goloknya justru mengenai pahanya sendiri sampai dia menjerit. Si nona menyusul seraya berlompat masuk ke dalam gubuk. Ia menendang terjungkal orang itu, yang sudah tidak berdaya, lalu dia melihat seorang rebah tidak berkutik di lantai perahu sebab kaki tangannya dibelenggu. Ia tidak usah mengawasi lama akan mengenali Sin-soan¬cu Eng Kouw, hingga ia menjadi heran. Sama sekali tidak disangka, di sini mereka dapat menemui nyonya itu, bahkan dalam keadaan tidak berdaya. Tanpa ayal lagi, ia memungut golok orang tadi kemudian memutuskan tambang yang mengikat tangan si nyonya.
Begitu tangannya bebas, tangan kiri Eng Kouw merampas golok di tangan si nona, selagi Oey Yong heran, dia sudah lantas membacok mampus orang Tiat Ciang Pang itu, yang tadi hendak membinasakannya. Habis itu baru ia memutuskan tali belenggu kakinya, sedang musuhnya roboh celentang, hingga Oey Yong mengenali, dialah Kiauw Thay. Maka ia kata di dalam hatinya, "Kau sangat jahat, pantas kau mampus!"
"Meski kau telah menolong aku, jangan harap aku akan membalas budi!" kata Eng Kouw pada si nona.
"Siapa mengharap pembalasan budimu?" kata si nona tertawa. "Kau telah menolongku, maka ini satu kali, aku menolong kau. Dengan begini, kita menjadi tidak saling berhutang!"
Sembari berkata begitu, Oey Yong pergi ke luar, untuk membantu lagi kepada Kwee Ceng.
Khiu Cian Jin benar-benar lihay, dia dapat bertahan, hanya segera ia menjadi kaget ketika kupingnya mendengar beberapa teriakan beruntun serta suara tubuh tercebur ke air. Sebab Eng Kouw, dalam gusarnya, sudah menghajar semua orang Tiat Ciang Pang yang berada di dalam kendaraan air itu, membikin mereka kecemplung ke air deras. Hingga tidak perduli yang pandai berenang, orang-orang jahat itu jangan harap lolos dari bahaya mampus kelelap!
Khiu Cian Jin digelarkan "Tiat Ciang Sui-sing¬piauw", atau si Tangan besi yang mengambang di muka air itu bukan berarti dia dapat berjalan di muka air seperti mengambang, itu diartikan lihaynya ilmu meringankan tubuh, jangan kata di air deras demikian, sekalipun di air telaga yang tenang, tidak dapat dia jalan ngambang. Maka itu sekarang, hatinya tidak tenang. Ia berkelahi sambil mundur. Kewalahan melayani Kwee Ceng yang dibantu Oey Yong. Untuk mencegah si nona menyerang ia dari belakang, ia berdiri membelakangi air. Secara begini ia mencoba bertahan.
Oey Yong berkelahi sambil memperhatikan lawannya yang tangguh ini. Sering ia melihat jago itu melirik ke kiri kanan. Ia menduga tentu orang mengharap-harap datangnya perahu lain, bantuan untuk pihaknya. Maka ia juga turut memasang mata. Ia pikir, "Biar dia jago, dia bakal dikepung bertiga. Kalau kita gagal, sebenarnya kita ialah kantung-kantung nasi ……"
Eng Kouw di lain pihak telah berhasil menyapu semua orang Tiat Ciang Pang. Ia membiarkan hanya satu orang, si tukang pengemudi. Ia melihat bagaimana dua muda-mudi itu belum bisa berbuat apa-apa terhadap Khiu Cian Jin, maka akhirnya ia menghampiri mereka.
"Nona kecil, kau minggirlah!" ia kata kepada Oey Yong - ia tertawa dingin. "Mari, kasihkan aku yang maju!"
Oey Yong tidak puas sekali. Terang orang memandang rendah. Tapi ia cerdik, ia lantas berpikir. Terus ia mendesak ketua Tiat Ciang Pang itu.
Khiu Cian Jin bisa menduga si nona tentulah mau mundur mentaati kata-kata si nyonya, meski ia mengerti, ia toh tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri, karena si nona mendesak, Kwee Ceng tetap menyerang. Oey Yong bukan sekedar mundur, ketika ia mundur, menarik tangan baju kawannya seraya berkata;
"Biarkan dia maju sendiri!"
Kwee Ceng heran tetapi ia mundur seraya membela diri. Eng Kouw tidak memperdulikan sikap si nona, ia hanya menghadapi Khiu Cian Jin, dengan tertawa dingin, dia berkata;
"Khiu Pangcu, di dunia kangouw, namamu terdengar cukup nyaring, maka aku heran perbuatanmu yang hina dina! Selagi aku tidur di rumah penginapan, tengah aku tidak tahu apa-¬apa, mengapa kau menggunakan hio pulas dan dengan caramu itu kau membekuk aku? Bagus perbuatanmu itu ya?"
"Kau telah dibekuk oleh orang sebawahanku, buat apa kau masih banyak bacot?" Khiu Cian Jin membalas. "Jikalau aku yang turun tangan sendiri, hanya dengan sepasang tangan kosongku, sepuluh Sin Soan Cu pun dapat aku membekuknya!"
Eng Kouw tetap bersikap dingin. "Di dalam hal apa aku bersalah dari kamu kaum Tiat Ciang Pang?" ia tanya.
"Dua binatang cilik ini lancang memasuki Tiat Ciang Hong, tempat kami yang suci," kata Khiu Cian Jin, "Kenapa kau menerima mereka di rawa lumpur hitam? Dengan baik-baik aku minta mereka diserahkan padaku, kenapa kau melindungi mereka dengan mendustaiku? Apakah kau sangka Khiu Cian Jin boleh dibuat permainan?"
"Oh, kiranya gara-gara dua binatang cilik ini!" katanya. "Kalau kau mempunyai kepandaian, pergi punya banyak waktu akan campur tahu segala urusan tetek bengek begini!"
Lauw Kui-hui lantas mengundurkan diri, ia duduk bersila di lantai perahu, sikapnya sangat tenang. Ia maju jadi si penonton harimau bertarung, menyaksikan orang roboh dua-duanya!
Sikap nyonya ini mengherankan Kwee Ceng dan Oey Yong dan Khiu Cian Jin. Itulah mereka tidak sangka.
Eng Kouw turun gunung dengan pikiran kacau. Ia mendongkol dan berduka, tidak dapat ia gampang-¬gampang melampiaskan itu. Ia mendongkol sebab gagal membunuh It Teng Taysu. Tidak tega ia melihat sikap tenang dari pendeta itu. Ia bersedih kalau membayangkan kematian anaknya yang malang. Ketika ia mondok di penginapan, ia berlaku alpa, ia kena diasapi orang Tiat Ciang Pang dan kena ditangkap karenanya. Dalam keadaan biasa, tidak mungkin ia kena dibekuk secara demikian. Ia juga tidak menyangka, dalam bahaya, ditolong Oey Yong. Ia tetap mendongkol, maka itu, ia membiarkan muda-mudi itu dan Khiu Cian Jim mampus bersama……
Oey Yong berpikir cepat: "Baik, kami akan melayani dulu Khiu Cian Jin, habis itu baru kami nanti mengasih lihat sesuatu padamu!" Ia lantas mengedipkan mata kepada Kwee Ceng, terus menerjang lagi Khiu Cian Jin. Aksinya ini segera ditiru si anak muda. Begitulah bertiga mereka bergebrak lagi.
Eng Kouw menonton, dengan asyik. Ia melihat, meski ketua Tiat Ciang Pang itu lihay, dia sukar bisa cepat-cepat merebut kemenangan. Ia bahkan melihat ketua itu mundur. Ia percaya, jago dari Tiat Ciang San ini akhirnya bakal mampus atau terluka……
Kwee Ceng pun melihat sikap lawannya itu, ia menduga orang lagi mencari akal. Dilain pihak ia berkhawatir untuk Oey Yong, yang baru sembuh dan tidak selayaknya mengeluarkan banyak tenaga. Maka akhirnya ia kata;
"Yong-jie, sebaiknya kau beristirahat sebentar kemudian maju lagi!"
Nona itu menurut. "Baik," sahutnya seraya ia mundur. Ia tertawa.
Eng Kouw mengiri menyaksikan eratnya hubungan si pemuda dengan si pemudi, terutama perhatian si pemuda itu, hingga ia berpikir: "Dalam hidupku, kapan pernah ada orang berbuat begini macam terhadapku?" tiba-tiba dari mengiri, ia menjadi cemburu, hatinya menjadi panas. Mendadak ia berlompat bangun dan berkata dengan nyaring:
"Dua lawan satu, apa itu namanya? Mari, kita berempat menjadi dua rombongan, satu!" Ia lantas mengeluarkan dua batang bambu, tanpa menanti jawaban orang, Ia berlompat menyerang nona Oey.
Oey Yong menjadi mendongkol sekali. "Perempuan gila yang lenyap hatinya!" ia mendamprat. "Tidak heran Loo Boan Tong tidak mencintaimu!"
Tapi ini cuma menambah kemurkaan Eng Kouw, yang menyerang makin hebat. Oey Yong menjadi repot. Ia boleh lihay ilmunya Tah Kauw Pang-hoat tetapi ia kalah tenaga dalam, ia juga belum pulih kesehatannya, maka terpaksa ia menutup diri. Lebih sulit lagi, perahu itu bergerak keras tak hentinya disebabkan derasnya arus.
Kwee Ceng sendiri tetap melayani Khiu Cian Jin, ia tidak bisa merebut kemenangan tetapi ia pun tidak kalah.
Ketua Tiat Ciang Pang menjadi heran tidak ¬karuan Eng Kouw membantu padanya. Tentu saja, perubahan sikap si nyonya membuatnya girang. Dengan begitu dia jadi seperti tambah semangat, terus ia menyerang hebat. Ketika Kwee Ceng menyerang dengan jurus "Melihat naga di sawah," ia berkelit, selanjutnya segera ia membalas menyerang, dengan dua tangannya berbareng: Tangan kanan dengan kejennya tangan kiri tangan kosong.
Kwee Ceng tidak takut, ia menangkis dengan dua tangan juga. Maka tangan mereka bentrok. Lantas mereka sama-sama menyerukan. "Hm!" dan tubuh mereka mundur masing-masing tiga tindak. Khiu Cian Jin menahan diri dengan memegang tiang kemudi, dan kaki kiri Kwee Ceng terserimpat dadung, hampir dia terguling. Guna menjaga diri agar tidak diserbu, ia meneruskan lompat jumpalitan.
Khiu Cian Jin menganggap inilah saatnya yang baik, dia tertawa nyaring dan lama, lantas dia maju, guna menyerang.
Eng Kouw tengah mendesak Oey Yong sampai si nona bernapas sengal-sengal dan peluhnya mengucur tatkala dia mendengar tertawanya ketua Tiat Ciang Pang, dia kaget hingga mukanya beruhah, hingga lupa dia menarik pulang senjatanya yang kiri. Oey Yong melihat lowongan, lantas menyerang ke dada, menotok jalan darah sin-kie. Eng Kouw tidak menghiraukan itu, dengan tubuh terhuyung, dia menubruk ke arah Khiu Cian Jin sambil mulutnya berseru:
"Kiranya kau!"
Ketua Tiat Ciang Pang terkejut, apapula ia melihat muka bengis dari nyonya itu yang mulutnya dipentang, kedua tangannya dibuka. Si nyonya seperti mau menubruk buat menggigit atau menggerogoti orang.
"Kau mau apa?" berseru Cian Jin dalam herannya. Ia juga lompat ke samping.
Eng Kouw gagal sama tubrukannya yang pertama itu, dengan mulut bungkam, ia menubruk lagi. Ia seperti kalap. Kali ini ia mengajukan kepalanya, untuk menyeruduk.
Cian Jin berkhawatir. Ia merasa, celaka kalau ia kena dipeluk perempuan yang telah seperti kalap itu. Ia juga berkhawatir melihat Kwee Ceng merangsak. Maka untuk menolong diri, kembali ia berlompat minggir.
Oey Yong segera menarik tangan Kwee Ceng, buat diajak berdiam di satu pinggiran. Dari situ mereka mengawasi Eng Kouw. Mereka pun heran dan berkhawatir. Nyonya itu kalap seperti orang gila. Terus dia main tubruk, mulutnya senantiasa berseru, giginya dipertontonkan. Terang dia ingin memeluk Cian Jin untuk digerogoti……
Jago Tiat Ciang Pang itu menjadi kewalahan, ia selalu main berkelit. Beberapa kali tangannya kena terjambret cakar, hingga tangannya berdarah¬darah. Dalam khawatirnya, beberapa kali ia berseru;
"Pembalasan, pembalasan! Apakah aku mesti terbinasa di tangan perempuan gila ini?!"
Eng Kouw mengulangi tubrukannya, sampai Khiu Cian Jin berada di dekat si tukang kemudi. Sekarang si nyonya matanya menjadi merah. Rupanya ia tahu, lawannya sangat lihay, sukar ia berhasil menubruk. Mendadak ia menyerang si tukang kemudi, hingga orang menjerit dan terjungkal ke air, menyusul mana, ia menendang tiang kemudi sampai tiang itu patah! Segera karena tak terkendalikan, perahu itu goncang keras, hanyutnya kacau.
Oey Yong kaget hingga mengeluh. Kalapnya Eng Kouw bisa membikin mereka kecebur air, mungkin bakal mati…… Ia tidak tahu kenapa nyonya itu menjadi kalap mendadak. Karena itu ia mainkan mulutnya, guna memanggil burungnya.
Justru itu perahu melintang, segera membentur wadas, nyaring suaranya. Sebagai akibatnya, kepala peranu bocor.
Khiu Cian Jin kaget, ia menginsyafi bahaya, maka ia pun menjadi nekat, tetapi ia bukan menempur si nyonya kalap, ia hanya mengenjot tubuhnya, untuk berlompat ke darat. Ia tidak sampai di tepian, ia kecebur, tenggelam ke dalam air. Tapi ia sadar, ia mencoba memegangi batu wadas, dengan berpegangan terus, ia melapai ke pinggiran. Ia telah kena menenggak air, toh ia tiba juga di pinggiran di mana ia merayap naik ke darat, lalu dengan pakaian kuyup ia duduk beristirahat, matanya mengawasi ke perahu yang hanyut jauh, hingga nampak seperti satu titik hitam. Ia bergidik kalau ingat kalapnya Eng Kouw.
"Binatang ke mana kau hendak lari?" demikian si nyonya mendamprat melihat musuhnya berlompat ke air. Ia juga ingin berlompat atau sang air lekas sekali membikin perahu terpisah jauh dari ketua Tiat Ciang Pang itu.
Kwee Ceng menaruh belas kasihan, ia menjambak punggung si nyonya, untuk mencegah dia terjun, tetapi nyonya itu menyampok ke belakang. Maka "Plok!" muka si anak muda kena dihajar, sampai ia merasakan pipinya panas dan sakit, ia berdiri menjublak.
Oey Yong pun heran, tetapi burungnya sudah datang. maka ia memanggil: "Engko Ceng, mari! Jangan layani perempuan gila itu! Mari kita pergi!"
Kwee Ceng menoleh kepada si nona, kemudian ia berpaling pula kepada Eng Kouw. Ketika itu air sudah merendam kaki mereka. Mendadak nyonya itu menekap mukanya dan menangis menggerung-¬gerung.
"Anak. anak!" dia sesambatan.
"Lekas, lekas!" Oey Yong memanggil engko Cengnya.
Tapi Kwee Ceng bersangsi. Pemuda ini ingat pesan It Teng Taysu untuk menjaga dan melindungi Eng Kouw. Maka ia teriaki kawannya itu:
"Yong-jie lekas kau naik burung dan mendarat! Sebentar kau suruh dia terbang pula ke mari menyambut aku!"
"Sudah tidak keburu!" Oey Yong kata, hatinya cemas.
"Lekas kau pergi!" Kwee Ceng mendesak. "Kita tidak dapat menyia-nyiakan pesan It Teng Taysu!"
Mendengar penyahutan si anak muda, Oey Yong turut bersangsi. Ia pun ingat pesan si pendeta dan ingat pertolongan orang kepadanya., Tengah ia berdiam, mendadak tubuhnya bergoyang keras dan kupingnya mendengar suara nyaring. Nyata perahu mereka telah membentur batu besar, hingga air segera menerobos masuk ke dalam perahu, badan perahu juga melesak ke dalam air.
"Lekas lompat ke wadas!" Oey Yong berteriak.
Kwee Ceng pun mengerti bahaya, ia mengangguk. Ia segera menghampiri Eng Kouw untuk memegang padanya. Kali ini si nyonya berdiam bagaikan orang linglung, dipegangi Kwee Ceng, dia tidak meronta, cuma matanya bengong mengawasi permukaan air.
"Mari!" berseru Kwee Ceng, yang dengan tangan kanannya mengempit tubuh si nyonya dan berlompat. Oey Yong turut berlompat.
Mereka berhasil menginjak batu wadas yang besar, hanya pakaian mereka telah basah kecipratan air. Ketika mereka menoleh, mendapatkan perahu mereka sudah karam di pinggir wadas.
Oey Yong berdiri diam, melihat air, ia seperti kabur matanya. Itulah pengalaman sangat hebat untuknya, meskipun ia sebenarnya pandai berenang.
Burung rajawali terbang berputaran di atasan mereka, burung itu tidak mau turun menghampiri meski berulang-ulang Kwee Ceng memanggil. Terang binatang itu takut air.
Kemudian Oey Yong memandang juga kelilingan. Ia melihat sebuah pohon yangliu di tepian sebelah kiri, terpisahnya dari mereka kira-kira sepuluh tombak. Ia lantas dapat akal.
"Engko Ceng, kau pegang tanganku," ia kata.
Kwee Ceng tidak tahu orang hendak berbuat apa, ia pegang tangan kiri si nona. Mendadak Oey Yong terjun ke air, terus dia selulup.
Pemuda itu kaget, ia lekas-lekas membungkuk dengan tangannya diulur panjang-panjang, sedang kedua kakinya dicantel di batu wadas. Dengan tangan kanan ia terus memegangi tangan si nona.
Oey Yong selulup untuk mengambil dadung layar, ia bawa kembali ke wadas. Ia menarik dadung hingga panjang duapuluh tombak lebih, ia mengutungi itu, kemudian memanggil burungnya, disuruh menclok di pundak kiri dan kanan.
Kwee Ceng membantu memegangi burung itu, yang sudah besar dan berat tubuhnya, ia khawatir si nona tak kuat memundaki kedua binatang piaraannya itu.
Oey Yong mengikat dadung ke kaki burung yang jantan, ia menunjuk ke pohon yangliu, untuk menitahkan burungnya terbang ke pohon itu. Burung itu mengerti, dia terbang ke pohon, setelah terbang memutari, ia terbang balik.
"Eh, aku menyuruh kau melibat dadung ini pada pohon!" kata Oey Yong.
Burung itu tidak dapat dikasih mengerti, maka nona ini masgul. "Hayo coba!" kata Oey Yong kemudian. Ia memberi contoh.
Burung rajawali itu terbang lagi, ia mesti terbang hingga delapan kali, baru dadung dapat dilibat di pohon. Baru sekarang si nona girang. Kwee Ceng pun girang, sebab ia mengerti kawannya itu. Ujung yang lain dari dadung lantas diikat di wadas.
"Nah, Yong-jie, kau mendarat lebih dulu!" kata si pemuda selesai mengikat.
"Tidak," menyahut nona itu. "Aku akan menanti kau. Biar dia naik lebih dulu."
Eng Kouw mengawasi muda-mudi itu, ia terus menutup mulutnya. Tapi sekarang ia sudah tenang, ia mengerti maksud orang, maka tanpa bilang apapun, ia berpegangan pada dadung, untuk melapai naik, hingga di lain saat telah tiba di darat.
"Di masa aku kecil, inilah permainanku yang menarik hati," kata Oey Yong. "Kwee Toaya, aku hendak memberikan pertunjukan, harap kau mengasih hadiah biar banyak!"
Setelah berkata begitu, si nona menyambar dadung, untuk berdiri di atas dadung, habis itu, dia berlari-lari menyeberang melintasi air deras itu, tiba di pohon, untuk turun ke tanah!
Kwee Ceng belum pernah meyakinkan ilmu jalan di atas tambang, ia tidak berani mencoba-coba, khawatir terpeleset dan jatuh ke air, dari itu ia mencontoh Eng Kouw, ia berpegangan pada dadung itu dan melapai. Sambil bergelantungan, ia mengawasi ke darat. Beberapa tombak lagi ia akan tiba di pohon, mendadak mendengar seruan Oey Yong:
"Eh, kau hendak pergi ke mana?" Ia terkejut. Itulah seruan kaget.
Seruan itu disebabkan Eng Kouw berjalan seorang diri, meninggalkan mereka berdua. Kwee Ceng khawatir nyonya itu belum sadar betul, itu berbahaya. Maka ia lekas-lekas melapai, belum sampai di cabang pohon, ia sudah lompat turun.
"Lihat, dia pergi seorang diri!" kata Oey Yong, tangannya menunjuk.
Kwee Ceng mengawasi, hingga ia menampak Eng Kouw berlari-lari di tanah pegunungan, yang jalanannya banyak batunya dan sukar. Orang sudah pergi jauh, sulit untuk menyandaknya.
"Dia pergi seorang diri, pikiran dia was-was, ini berbahaya," kata Kwee Ceng. "Mari kita susul." Ia berkhawatir, begitu juga Oey Yong.
"Mari!" menyahut si nona setuju. Hanya ketika ia mengangkat kaki, untuk berlompat, mendadak ia roboh sendiri, jatuhnya duduk, kepalanya digoyang beberapa kali.
Kwee Ceng mengerti nona itu lemas sebab barusan dia memakai terlalu banyak tenaga.
"Kau duduk di sini," ia kata. "Nanti aku yang menyusul sendiri. Aku akan segera kembali."
Pemuda itu lari keras, tapi ketika ia tiba di tikungan ketiga, ia bingung. Di situ Eng Kouw tak terlihat, setahu dia mengambil jalanan yang mana. Tempat itu sunyi, rumputnya tinggi, hari pun sudah mendekati magrib. Oleh karena mengkhawatirkan Oey Yong terpaksa ia lari balik.
Kesudahannya, satu malam mereka berdiam di tepi kali itu dengan menahan lapar. Pagi-pagi mereka sudah berjalan mengikuti tepian di mana ada sebuah jalanan kecil. Mereka mau mencari kuda dan burung api mereka, guna bersama-sama mencari jalan besar. Sesudah jalan setengah harian, mereka dapat mencari sebuah rumah makan. Lantas mereka singgah. Mereka membeli tiga ekor ayam, yang seekor dimatangi, untuk dimakan berdua, yang dua ekor untuk sepasang rajawali. Dua ekor burung itu makan sambil menclok di atas pohon kayu besar.
Burung yang jantan baru makan separuh ayam ketika dia bersuara nyaring dan panjang, lantas makanannya dilemparkan, terus dia terbang ke utara. Yang betina pun terbang tinggi, setelah dia juga mengasih dengar suaranya, dia menyusul pula ke utara.
"Kelihatannya burung kita bergusar," kata Kwee Ceng. "Mereka melihat apakah?"
"Marilah kita lihat!" kata Oey Yong, yang terus melemparkan sepotong perak.
Lantas mereka lari ke jalan besar, di sana mereka melihat burung terbang berputaran, lalu menukik ke bawah, lalu naik lagi, seterusnya terbang berputaran lagi.
"Mereka bertemu musuh!" kata Kwee Ceng. "Mari!"
Pemuda itu lantas lari, si nona mengikuti. Kira-kira tiga lie, mereka menampak di depan sekumpulan rumah seperti dusun yang ramai, di atas itu kedua burung mereka masih terbang berputaran, agaknya mereka kehilangan sasaran yang mereka cari. Sampai di luar dusun, Oey Yong memanggil turun kedua burungnya, akan tetapi burung itu tetap berputaran, masih saja mereka mencari sesuatu.
"Entah dengan siapa mereka bermusuhan hebat……" kata Kwee Ceng heran.
Lewat sekian lama lagi barulah kedua burung itu turun. Lantas ternyata kaki kiri yang jantan berdarah, di situ ada bekas bacokan golok, syukur kakinya tidak tertebas kutung. Pantas dia agaknya mendongkol.
Muda-mudi itu kaget. Sebelah kaki burung yang jantan mencengkeram barang hitam, setelah diperiksa, itulah kulit kepala orang, yang masih ada rambutnya, yang masih ada darahnya. Sembari memeriksa kulit kepala orang, Kwee Ceng berpikir.
"Burung ini dipelihara semenjak kecil, dia baik sekali," katanya. "Aku tahu mereka belum pernah melukai orang tanpa sebab. Kenapa sekarang mereka berkelahi sama orang?"
"Mesti ada yang aneh," kata Oey Yong. "Mari kita cari orang yang kepalanya kehilangan kulitnya ini……"
Maka mereka mampir di dusun itu, untuk bermalam. Tapi dusun besar, banyak rumah dan penduduknya. Mereka membuat penyelidikan sampai sore tanpa ada hasil. Besoknya pagi, mereka mendapatkan kedua burung membawa pulang kuda mereka. Hiat-niauw tidak ada beserta.
"Mari kita cari," kata Oey Yong, yang mengajak kembali. Ia sangat sayang burungnya itu.
Tapi Kwee Ceng berkhawatir untuk Ang Cit Kong, yang terluka dan entah ada di mana, sedang hari Pee-gwee Tiong Ciu bakal lekas datang, mereka mesti menghadiri pibu di Yan Ie Lauw di Kee-hin. Ia kata, perlu mereka lekas pergi ke timur.
Oey Yong dapat dikasih mengerti, ia suka turut. Demikian dengan naik kuda merah, mereka berangkat. Mereka melarikan kuda keras dan burung mereka mengiringi dari udara. Oey Yong senang sekali, di sepanjang jalan banyak omong dan tertawa, gemar ia bergurau. Ia jauh lebih gembira daripada yang sudah-sudah. Bahkan di waktu singgah, sampai jauh malam, ia masih tidak mau tidur, sedang kawannya, yang khawatir terlalu letih, menganjurkan ia beristirahat. Ada kalanya, sampai jauh malam, sambil bersila di atas pembaringan, ada saja yang ia omongi sama si anak muda.
Pada suatu hari tibalah mereka di tempat perbatasan sebelah selatan antara dua propinsi Ciat¬kang dan Kang-souw, di sini mereka mengasih kuda lari satu harian hingga singgah di sebuah penginapan. Oey Yong pinjam sebuah rantang rotan dari pelayan, hendak ia berbelanja di pasar.
"Kau sudah letih, kita dahar sembarangan saja di sini," Kwee Ceng mencegah.
"Aku hendak masak untukmu," berkata si nona. "Apakah kau tidak sudi makan masakanku?"
"Tentu aku suka hanya aku menghendaki kau lebih banyak beristirahat," kata si anak muda. "Nanti, kalau kau sudah sehat betul, masih ada waktu untuk kau masak untukku."
"Sampai aku sudah sehat betul ……" mengulangi si nona. "Waktu itu……" Ia telah bertindak di ambang pintu, baru sebelah kakinya, ia berhenti.
Kwee Ceng tidak tahu orang bilang apa, tetapi ia menurunkannya dari lengan si nona. Ia berkata;
"Ya, sampai kita sudah dapat mencari suhu, baru kau masak, nanti kita dahar bersama-sama……"
Oey Yong berdiam sekian lama, lalu ia kembali ke dalam, untuk merebahkan diri di atas pembaringan. Ia terus berdiam, rupanya ia kepulasan…… Kemudian, datang saatnya bersantap. Pelayan telah menyajikan makanan. Si pemuda membangunkan si pemudi, untuk diajak berdahar. Nona itu bangun seraya berlompat turun. Ia tertawa.
"Engko Ceng, kita tidak dahar ini," ia kata. "Mari turut aku!"
Pemuda itu menurut, ia mengikuti. Mereka pergi ke pasar. Oey Yong pergi ke sebuah rumah besar yang temboknya putih dan pintunya hitam. Dia mutar ke belakang. Di sini dia lompat naik ke tembok, ke pekarangan dalam. Si pemuda tidak mengerti tetapi ia mengikuti terus.
Oey Yong berjalan hingga ke ruang depan di mana ada api terang-terang, sebab tuan rumah tengah membikin pesta.
"Semua minggir!" berkata si nona sembari tertawa. Ia maju ke depan.
Semua orang di medan pesta itu heran. Ada tigapuluh orang lebih yang terbagi atas tiga meja. Mereka itu saling mengawasi. Mereka heran mendapat orang satu nona muda dan cantik.
Oey Yong menghampiri satu tetamu yang gemuk, ia menjambak dan mengangkat tubuh orang, kakinya menggaet, maka robohlah si terokmok itu.
"Apa kamu masih tidak mau menyingkir?" ia tanya, sambil tertawa.
Orang menjadi heran berbareng takut, mereka itu lantas jadi kacau.
"Mana orang? Mana orang?" tuan rumah berteriak teriak. Dia heran, kaget dan berkhawatir dan mendongkol juga.
Segera terdengar suara berisik, di situ muncul dua guru silat beserta belasan pengikutnya. Mereka itu membawa golok dan toya.
Oey Yong tidak takut, bahkan dia tertawa terus. Ketika menyambut kedua guru silat itu, sebentar saja ia dapat merobohkan mereka, terus ia menyerbu, merampas senjata belasan pengikut itu, hingga ruang pesta jadi sangat kacau.
Tuan rumah jadi takut, dia hendak lari, tetapi dia dicekuk si nona, jenggotnya ditarik, lehernya diancam dengan golok. Dalam takutnya dia menekuk lutut, dengan suara gemetaran dan tidak lancar dia kata:
"Lie-tay-ong…… oh, nona…… kau ingin uang, nanti aku sediakan, asal kau ampuni jiwaku……"
"Siapa menghendaki uangmu?" kata Oey Yong tertawa. "Mari temani aku minum!"
Tuan rumah itu ditarik jenggotnya, ia ketakutan, iadiam saja.
"Mari duduk," kata si nona, yang juga menarik tangan Kwee Ceng. Ia mengajaknya duduk di meja bersama tuan rumah itu. "Kamu juga duduk!" ia kata pada orang banyak, yang berkumpul di pojokan, bingung dan khawatir. "Eh, kenapa kamu tidak mau duduk?" Ia lantas menancap golok di meja, golok itu berkilauan.
Semua tetamu itu ketakutan, dengan saling desak, mereka berebut maju, hingga kursi pada terlanggar terbalik.
"Kamu toh bukan bocah-bocah umur tiga tahun!" si nona menegur. "Apa kamu tidak dapat duduk dengan rapi?"
Semua tetamu itu takut, mereka lantas berlaku tenang. Oey Yong minum araknya dengan gembira.
"Perlu apa kau membikin pesta?" ia tanya tuan rumah. "Apakah kau kematian anggota keluargamu?"
"Sebenarnya aku tambah anak," kata tuan rumah. Sekarang tak terlalu takut lagi. “Hari ini adalah hari ulang tahun satu bulan anakku dan aku mengundang sahabat dan tetangga-tetanggaku……"
"Bagus!" kata si nona tertawa. "Coba kau bawa keluar anakmu itu!"
Tuan rumah kaget, mukanya pucat. Ia takut anaknya dibunuh. Dengan membelalak, ia mengawasi pisau yang masih nancap di meja. Tapi karena takut, ia terpaksa menyuruh orang membawa keluar anaknya.
Oey Yong menggendong bayi itu, ia mengawasi muka orang. Ia pun memandang muka tuan rumah.
"Tidak mirip-miripnya," katanya. "Jangan-jangan ini bukan anakmu sendiri."
Tuan rumah itu likat berbareng berkhawatir, kedua tangannya bergemetaran. Semua tetamu merasa lucu tetapi tidak ada yang berani tertawa.
Oey Yong mengeluarkan sepotong uang emas beratnya kira-kira lima tail, ia serahkan itu kepada si babu pengasuh berikut bayinya seraya berkata:
"Ini tidak berarti, hitung saja sebagai tanda mata dari nenek luarnya."
Semua orang merasa heran dan lucu. Dia orang luar dan menyebut dirinya nenek luar sedang dialah satu nona remaja. Tuan rumah nampaknya girang.
"Mari! Aku beri kau selamat satu mangkok!" kata Oey Yong. Dan ia mengambil satu mangkok besar, ia isikan arak, ia tolak itu ke depan tuan rumahnya.
"Aku tidak kuat minum, maaf," kata tuan rumah.
Mendadak si nona mengasih lihat roman bengis, tangannya pun menyambar jenggot. "Kau minum atau tidak?" dia tanya keras.
Tuan rumah ketakutan, terpaksa ia menenggak arak itu.
"Nah, ini baru bagus!" kata si nona. "Mari, sekarang kita main teka-teki!"
Semua orang takut, maka apa yang si nona inginkan, lantas kejadian. Tapi mereka bangsa saudagar atau hartawan, tidak ada yang pandai main teka-teki, si nona jadi sebal.
"Sudahlah!" katanya.
Sementara itu tuan rumah roboh menggabruk. Dia tidak kuat minum tetapi mesti minum banyak arak…… Si nona tertawa, ia dahar, Kwee Ceng menemaninya. Akhirnya terdengar tanda jam satu malam, si nona mengajak kawannya pulang, tuan rumah dan tetamunya dibiarkan dalam bingung……
"Bagus tidak, engko Ceng?" Oey Yong tanya setibanya di pondokan.
"Ah, tidak karu-karuan kau membikin orang ketakutan," kata si anak muda.
"Sekarang ini aku mencari kesenangan untukku, aku tidak perduli orang lain ketakutan," kata si nona.
Pemuda itu heran. Kata-kata itu mesti mengandung arti tetapi ia tidak sanggup menangkapnya.
"Aku hendak pergi jalan-jalan, kau turut tidak?" kemudian Oey Yong tanya.
"Di waktu begini mau pergi ke mana lagi?" tanya si pemuda heran.
"Aku ketarik sama bayi tadi. Ingin aku memain dengannya, sesudah beberapa hari, baru aku akan mengembalikannya……"
"Eh, mana bisa……" kata Kwee Ceng heran.
Tapi si nona tertawa, dia pergi keluar, dia melompat tembok pekarangan. Kwee Ceng menyusul, ia menarik tangan orang.
"Yong-jie, kau sudah main-main lama, apakah itu masih belum cukup?" tanyanya.
"Belum cukup," si nona menyahut. "Mari kau temani aku, kita main-main sampai puas benar. Lewat beberapa hari lagi bukankah kau bakal meninggalkan aku, kau akan pergi mengawini putri Gochin Baki? Tentu dia bakal tidak mengijinkan kau bertemu sama aku lagi…… Kau tahu, waktunya aku berada bersama kau, lewat satu hari berarti kurang satu hari, maka itu satu hari waktu itu ingin aku bikin menjadi seperti dua hari, seperti tiga hari, ya seperti empat hari! Engko Ceng, hari kita sudah tidak banyak lagi, maka malam juga aku tidak mau tidur, aku mau terus pasang omong dengan kau! Mengertikah kau sekarang? Bukankah kau tidak bakal mencegah aku lagi atau menasihati aku untuk beristirahat?"
Kwee Ceng bengong. Baru sekarang ia mengerti perubahan sikap nona ini - sikap yang luar biasa. Si nona jadi tak ingin berpisah darinya. Waktu yang pendek hendak dibikin panjang dengan pertemuan lama, tak siang tak malam…… Ia memegang erat tangan nona itu, ia merasa kasihan, ia mencinta.
"Yong-jie, otakku memang tumpul," katanya. "Sebegitu jauh aku tidak mengerti maksudmu. Aku…… aku……" Ia berdiam tak dapat ia berkata terus. Ia tidak tahu mesti mengatakan apa.
Oey Yong bersenyum. "Dulu ayah mengajarkan aku membaca banyak syair, mengenai kedukaan dan penasaran," katanya. "Aku kira itu disebabkan ayah berduka karena mengingat ibuku yang telah meninggal dunia, baru sekarang aku ketahui, hidup di dunia ini, orang benar banyak lelakonnya, sebentar girang, sebentar bersusah hati……"
Malam itu bulan sisir, udara terang, hawa pun adem. Angin meniup halus. Kwee Ceng jadi berpikir. Ia tidak menyangka si nona mencintainya sedemikian rupa. Sekarang ia mengerti akan kelakuan luar biasa nona itu selama beberapa hari belakangan ini.
"Bagaimana kalau kita berpisah nanti?" pikirnya. "Yong-jie cuma ditemani ayahnya, apa tidak kesepian ia berdiam seorang diri di Tho Hoa To? Dan bagaimana lagi nanti, kalau ayahnya telah menutup mata? Tidakkah ia akan ditemani hanya hamba-hamba gagu? Mana dia bisa merasa senang?"
Mengingat begitu, hati pemuda ini menjadi kecil. Ia pegangi keras tangan si nona, ia menatap mukanya.
"Yong-jie," katanya, "Biar langit ambruk, aku akan menemani kau di Tho Hoa To!"
Tubuh si nona bergemetar, ia mengangkat kepalanya. "Apa katamu?" ia tanya.
"Aku tidak memperdulikan lagi Jenghiz Khan atau Gochin Baki," menyahut si anak muda. "Seumur hidupku, aku akan menemani kau saja!"
"Ah ……" kata si nona dan ia nyelundup ke dadanya si anak muda.
Kwee Ceng merangkul.
Sekarang ia merasa hatinya lega. "Bagaimana dengan ibumu?" si nona tanya selang sesaat.
"Aku akan pergi menyambutnya untuk diajak ke Tho hoa To," sahut si anak muda.
"Apakah kau tidak takut pada Jebe, gurumu dan Tuli serta sekalian saudaranya, semua pangeran itu?"
"Mereka semua baik terhadapku tetapi aku tidak dapat memecah dua hatiku……"
"Bagaimana dengan keenam gurumu dari Kanglam serta Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya lagi?"
"Pasti mereka bakal gusar tetapi perlahan-lahan saja aku akan minta maaf mereka. Yong-jie, kau tidak mau berpisah dari aku, aku juga tidak mau berpisah dari kau."
"Aku punya akal," berkata si nona tiba-tiba. "Kita bersembunyi di Tho Hoa To, untuk selamanya kita jangan berlalu dari situ. Ayah pandai mengatur hingga pulau itu tertutup untuk orang lain, taruh kata mereka dapat mendatangi tetapi tidak akan mereka dapat mencari kau……"
Kwee Ceng menganggap akal itu tidak sempurna, ia hendak mengutarakan pikirannya mendadak ia memasang kuping. Ia mendengar tindakan kaki di tempat belasan tombak, tindakan dari dua orang yang biasa berjalan malam, datangnya dari selatan, tujuannya utara. Ia pun dapat mendengar perkataan satu di antaranya:
"Loo Boan Tong telah kena terjebak Pheng Toako, kita jangan takuti dia lagi! Mari lekas!"
Juga Oey Yong mendengar sama seperti si anak muda. Keduanya tidak berniat memikir apapun, ingin mereka menyenangkan hati, tetapi disebutnya nama Loo Boan Tong membuat mereka berjingkrak berbareng, dengan serentak mereka lari menyusul dua orang itu.
Orang-orang yang belum dikenal itu berlari-lari tanpa mengetahui mereka lagi dikuntit. Mereka lari terus hingga lima enam lie di belakang dusun itu. Waktu mereka membelok ke sebuah tikungan, dari sebelah depan lantas terdengar suara yang berisik sekali serta cacian.
Dengan mempercepat larinya, Kwee Ceng dan Oey Yong lantas sampai di tempat tujuan. Mereka menjadi terkejut dan heran. Mereka telah melihat Ciu Pek Thong lagi duduk bersila di tanah, tubuhnya tak bergerak, entah dia masih hidup atau sudah mati. Dan di depannya, duduk bercokol juga, ada seorang pertapa sebagaimana dia kenali dari jubahnya. Dialah Leng Tie Siangjin si pendeta bangsa Tibet.
Disamping Ciu Pek Thong ada sebuah gua gunung yang mulutnya kecil, yang muat tubuh satu orang dengan orang itu mesti masuk sambil membungkuk. Di luar gua ada enam orang, mereka yang suaranya berisik itu, mereka berani membuka mulut tetapi takut masuk ke dalam gua, seperti juga di dalam situ ada suatu makhluk yang dapat mencelakai orang.
Kwee Ceng khawatir Ciu Pek Thong telah menjadi korbannya si Pheng Toako, sebagaimana tadi ia mendengar perkataannya orang, karena itu hendak ia lantas maju mendekati. Oey Yong melihat sikap kawannya, ia mencegah sambil menarik tubuh orang.
"Sabar," kata si nona. "Mari kita memeriksa dulu dengan teliti."
Kwee Ceng dapat dicegah maka berdua mereka menyembunyikan diri. Dengan begitu mereka jadi bisa melihat tegas rombongan orang itu, yang kebanyakan adalah kenalan-kenalan lama, Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, Kwie-bu Liong Ong See Thong Thian, Cian-ciu Jin-touw Pheng Lian Houw dan Sam-tauw¬kauw Hauw Thong Hay. Dua lagi ialah si orang tukang jalan malam yang tadi, mereka ini tidak dikenal.
Oey Yong merasa semua orang itu bukan tandingan dia serta Kwee Ceng. Dua orang baru itu juga tidak usah dikhawatirkan. Tapi ia masih melihat ke sekitarnya. Di situ tidak ada orang lain. Maka ia kisiki kawannya;
"Dengan kepandaian Loo Boan Tong, beberapa orang ini pastilah tidak bisa berbuat sesuatu atas dirinya, maka itu, menurut sangkaanku, mesti di sini ada See Tok Auwyang Hong. Entah dia bersembunyi di mana……"
Si nona lantas hendak mencari tahu ketika ia mendengar suara tak sedap dari Pheng Lian Houw.
"Binatang, jikalau kau tetap tidak keluar, aku nanti ukup kau dengan asap!"
Dari dalam gua, ke dalam itu ancaman Lian Houw diberikan, terdengar jawaban yang berat dan angker:
"Kau mempunyai kepandaian baru apa, kau keluarkan saja!"
Kwee Ceng terkejut. Ia mengenal suara gurunya yang nomor satu, yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Terbangkan Langit. Sekarang ia tidak ingat lagi kepada Auwyang Hong, lantas ia berseru:
"Suhu, muridmu datang!" Suaranya itu disusul sama lompatannya yang pesat, hingga ia muncul sambil berbareng mencekuk punggung Hauw Thong Hay, tubuh siapa lantas dilemparkan!
Munculnya si anak muda membuat pihak Thong Hay menjadi kaget. Pheng Lian Houw berdua See Thong Thian lantas maju menerjang, sedang Nio Cu Ong pergi ke belakang orang, untuk membokong.
Kwa Tin Ok di dalam gua pun turut bekerja. Ia rupanya melihat perbuatan si orang she Nio, ia lantas menyerang dengan sebatang tokleng atau lengkak beracun. Cu Ong terkejut, dia berkelit sambil tunduk, tidak urung kondenya kena tersambar hingga beberapa juir rambutnya putus. Ia kaget bukan main. Ia tahu senjatanya Tin Ok itu beracun, sebagaimana dulu hari hampir saja Pheng Lian Houw terbinasa karenanya.
Maka ia berlompat ke samping seraya meraba kepalanya. Ia berlega hati ketika mendapat kenyataan kulitnya tidak terluka. Ia lantas mengeluarkan senjata rahasianya, paku Touw-kut¬jiam, terus ia jalan mutar ke kiri gua, maksudnya untuk menyerang ke dalam gua secara diam-diam, guna membokong musuh yang ada di dalam. Ia baru menggerakkan tangannya ketika merasakan lengannya kaku, pakunya lantas saja jatuh dengan menerbitkan suara nyaring. Tengah ia bingung, ia mendengar suara tertawanya seorang nona yang terus berkata:
"Lekas berlutut! Kau akan merasakan tongkat lagi!"
Nio Cu Ong berpaling. Ia melihat Oey Yong dengan tongkat di tangan, berdiri sambil tertawa haha-hihi. Ia kaget berbareng girang. Pikirnya: "Kiranya tongkat Ang Cit Kong jatuh di tangannya?" Dengan segera ia mengerjakan dua tangannya berbareng: Tangan kiri melayang ke pundak si nona, tangan kanan menyambar ke tongkat, yang ia hendak rampas.
Dengan lincah, Oey Yong berkelit dari sambaran tangan kirinya. Ia tidak menarik tongkatnya, ia sengaja memberinya ketika hingga ujung tongkat itu kena dipegang perampasnya. Cu Ong girang bukan main. Lantas menarik dengan keras, di dalam hatinya dia berkata;
"Jikalau dia tidak melepaskan maka tubuhnya bakal ketarik bersama."
Benar saja tongkat itu kena ketarik, tetapi cuma sedetik, cekalannya lolos sendirinya. Sebab selagi ia menarik dan si nona mengikuti, mendadak nona itu mendorong dengan kaget, hingga terlepaslah cekalannya. Tengah ia terkejut, tahu-tahu tongkat itu sudah berbalik, melayang ke kepalanya. Ia kaget melihat tongkat itu berkelebat. Dasar ia lihay, lantas menjatuhkan diri, berguling jauh satu tombak. Ketika ia sudah berdiri lagi, ia nampak si nona berdiri diam mengawasi dengan bersenyum.
"Kau tahu apa namanya jurus ini?" si nona tanya, tertawa. "Kau telah kena aku kemplang satu kali, kau tahu kau telah berubah menjadi apa?"
Dulu pernah Nio Cu Ong merasa lihaynya tongkat itu, dia dibuat Ang Cit Kong "mati dan hidup pula", maka juga meski sang waktu telah lama lewat, dia masih ingat itu dan merasa jeri, sekarang dia merasakannya lagi, meski tidak hebat, toh hatinya terkesiap, dia menjadi jeri. Justru itu dia melihat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw tengah terdesak hebat, mereka itu cuma dapat membela diri, dia lantas berseru dan memutar tubuh, untuk mengangkat kaki.
See Thong Thian kena disikut Kwee Ceng, dia terhuyung tiga tindak. Meneruskan serangannya, tangan kiri si anak muda melayang kepada Pheng Lian Houw. Dia ini tidak berani menangkis, dia berkelit. Tapi dia kalah gesit, tangan kanan anak muda itu kena menyambar lengannya, yang terus dicekal keras. Dia bertubuh kate dan kecil, dengan gampang tubuhnya kena diangkat, hingga kedua kakinya seperti bergelantungan di udara……
Sambil mengangkat tubuh orang Kwee Ceng mengepal tangan kirinya, siap meninju dada orang tawanannya ini. Lian Houw melihat itu, dalam takutnya dia berseru menanya:
"Hari ini bulan kedelapan tanggal berapa?"
"Apa kau bilang?" tanya si anak muda tercengang.
"Kau memegang kepercayaan atau tidak?" Lian Houw tanya. "Apakah kata-kata seorang laki-laki tak masuk hitungan?"
"Apa kau bilang?" Sambil menegasi, Kwee Ceng masih mengangkat tubuh orang.
"Bukankah janji kami ialah Pee-gwee Cap-gouw," kata Lian Houw. "Bukankah janji pertandingan kita di Yan Ie Lauw di Kee-hin pada tanggal limabelas bulan delapan? Dan tempat ini bukannya kota Kee-hin dan sekarang bukan hari Tiong Ciu! Bagaimana dapat kau mencelakai aku?"
Kwee Ceng pikir perkataan orang itu benar juga, ia hendak melepaskan tetapi mendadak ia ingat sesuatu.
"Kamu bikin apa atas diri Toako Ciu Pek Thong?" ia tanya.
"Dia sekarang lagi bertaruh sama Leng Tie Siangjin," menyahut Lian Houw. "Mereka bertaruh, siapa bergerak paling dulu, dialah yang kalah! Urusan dia tidak ada hubungannya sama aku!"
Kwee Ceng mengawasi dua orang yang duduk di tanah itu, pikirnya, "Kiranya begitu?" Lantas ia menanya keras; "Toasuhu, adakah kau baik?"
Itulah pertanyaan untuk Kwa Tin Ok, gurunya yang nomor satu. "Hm!" jawab Hui Thian Pian-hok dari dalam gua. Sampai di situ, pemuda ini lantas melepaskan cekalannya sambil ia terus menolak dada orang. "Pergilah!" ia mengusir.
Pheng Lian Houw tidak roboh, karena ia terus berlompat. Ketika kedua kakinya telah menginjak tanah, ia berpaling ke arah kedua kawannya, See Thong Thian dan Nio Cu Ong, maka ia mendapatkan mereka itu sudah pergi jauh. "Celaka, manusia tidak ingat persahabatan!" ia mencaci di dalam hatinya. Lantas ia memberi hormat kepada Kwee Ceng seraya membilang:
"Nanti tujuh hari kemudian, kita mengadu kepandaian pula di Yan Ie Lauw untuk memastikan kalah menang!" Setelah beraksi begitu ia memutar tubuhnya, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Ia lantas mengangkat kaki!
Waktu itu Oey Yong telah menghampiri Ciu Pek Thong dan Leng Tie Siangjin. Dua orang itu saling mengawasi dengan matanya masing-masing terbuka lebar, tidak ada yang mengedip atau menoleh. Ia lantas ingat perkataan dua orang yang berjalan malam itu bahwa Pek Thong telah kena ditipu Lian Houw, sekarang ia membuktikan itu. Pasti, karena jeri kepada Pek Thong, jago tua itu telah dipancing kemurkaannya diadu dengan Leng Tie Siangjin, dengan cara main diam-diam. Dengan cara begitu juga, Pek Thong jadi dibikin tidak dapat berkutik, hingga mereka itu leluasa mengepung Kwa Tin Ok.
Pek Thong gemar bergurau, ia pun polos, gampang saja dia kena diperdaya, maka meski di sampingnya orang bertempur hebat dan mengacau, dia tidak mengambil mumat, dia terus mengadu diam dengan Leng Tie, si pendeta dari Tibet. Dia berduduk tegar, maksudnya yang utama ialah mengalahkan Leng Tie.
"Loo Boan Tong, aku datang!" kata Oey Yong.
Pek Thong mendengar itu, tetapi dia takut kalah, dia berdiam saja. "Dengan bertaruh begini kamu menyia-nyiakan waktu," kata si nona. "Satu jam lagi juga, belum tentu kamu ada yang menang atau kalah! Mana menarik hati? Begini saja! Aku yang menjadi wasitnya! Aku akan mengitik kamu, mengitiknya sama, lantas aku mau lihat, siapa yang tertawa paling dulu. Siapa yang tertawa, dialah yang kalah!"
Sebenarnya Pek Thong sudah habis sabar, bahwa ia toh tetap berdiam saja, ia penasaran kalau ia sampai kalah, sekarang mendengar usulnya si nona, ia akur. Tapi ia tidak mau mengasih tanda persetujuannya, sebab kalau ia menepi atau bergerak ia kalah.
Oey Yong tidak menanti jawaban, ia mendekati mereka, memernahkan diri di antara mereka, lalu mementang kedua tangannya, dengan berbareng ia menotok ke jalan darah siauw-yauw-hiat mereka, ialah urat tertawa. Ia tahu Pek Thong menang unggul dari Leng Tie, ia tidak berlaku curang. Kesudahan totokannya itu membuatnya heran. Pek Thong memang tetap bercokol, tetapi anehnya, Leng Tie pun berdiam saja, pendeta itu seperti tidak merasakan apa-apa dia seperti tidak menggubrisnya godaan itu.
"Heran pendeta ini," pikir si nona. "Nyata dia lihay ilmunya menutup jalan darahnya. Jikalau aku, tentulah aku sudah tertawa terpingkal-pingkal……" Ia penasaran, maka ia menotok lagi, kali ini dengan lebih keras.
Ciu Pek Thong mengumpulkan tenaga dalamnya, ia menentang totokan Oey Yong. Segera ia menjadi heran. Ia mendapat kenyataan tenaga si nona menjadi besar sekali. Ia melawan terus, bertahan, tetapi ia kewalahan. Akhirnya, ia melepaskan perlawanannya, sambil berlompat bangun, ia tertawa berkakakan. Kemudian ia kata;
“Eh, eh pendeta, kau hebat! Baiklah, Loo Boan Tong menyerah kalah!!"
Oey Yong menyesal. Ia tidak menyangka Pek Thong begitu gampang saja mengaku kalah. Pikirnya, "Kalau tahu begini, aku tidak mengganggu dia, aku hanya mengeraskan totokanku kepada si pendeta." Maka ia lantas menghadapi Leng Tie dan berkata; "Kau sudah menang, nonamu tidak menginginkan jiwamu! Lekas mabur!"
Leng Tie tidak menyahut, dia tetap duduk. "He, siapa kesudian menonton macam tololmu ini?" membentak si nona seraya tangannya menolak. "Kau berpura-pura mampus?"
Oey Yong menolak dengan perlahan, tetapi tubuh si pendeta yang besar dan gemuk itu roboh terguling dengan tiba-tiba, robohnya dengan tangan dan kakinya tidak bergerak, seperti tadi dia bersila. Si nona terkejut, juga Kwee Ceng dan Pek Thong.
"Apakah ini disebabkan ilmunya menutup jalan darah?" tanya Oey Yong. "Apa ilmunya itu belum sempurna, maka ia gagal bertahan dan menjadi kaku terus-terusan dan mati sendirinya. Ia lantas menaruh tangannya di depan hidung pendeta itu, ia merasakan hawa tarikan napas yang biasa, ia menjadi heran mendongkol dan lucu.
"Loo Boan Tong, kau terpedayakan, kau tidak tahu!" ia kata sambil tertawa pada Pek Thong. "Sungguh manusia tolol!"
"Apa kau bilang?" tanya si orang tua, matanya dipentang lebar.
Si nona tertawa. "Kau bebaskan dulu dia dari totokan jalan darah, baru kita bicara lagi!" sahutnya.
Si tua jenaka itu melengak, tetapi ia membungkuk kepada Leng Tie Siangjin tubuh siapa ia lantas raba-¬raba, usap sana dan usap sini, ia juga menepuk¬-nepuk, dengan begitu ia menjadi mendapat kenyataan, si pendeta telah ditotok seluruh jalan darahnya. Ia lantas berjingkrak dan berseru;
"Tidak, tidak, ini tidak masuk hitungan!"
"Tidak masuk hitungan apa?" Oey Yong menegasi.
"Dia ini dipermainkan konconya," kata Loo Boan Tong. "Sesudah dia duduk tadi, konconya totok dia hingga dia jadi duduk tegak tanpa bisa berkutik. Dengan begitu, meski kita bertaruh sampai tiga hari lagi dan tiga malam, dia pasti tidak bakal kalah!" Ia berbalik lagi pada si pendeta, yang rebah melengkung di tanah, ia kata; "Mari, mari! Mari kita mulai mengadu lagi!"
Sementara itu, hati Kwee Ceng menjadi lega. Ia melihat orang tidak kurang suatu apapun, bahkan sehat sekali. Maka ia tidak sudi mendengar ocehan orang lebih lama. Ia ingat kepada gurunya. Dari itu ia lantas lari ke dalam gua.
Pek Thong sendiri lantas menolong Leng Tie Siangjin, yang ditotok bebas, sembari menolong, masih ia mengoceh tak hentinya.
"Mari, mari kita bertaruh pula!"
"Mana guruku?" Oey Yong tanya dingin kepada orang tua berandalan itu. "Kau buang ke mana guruku?"
Ditanya begitu, Pek Thong terkejut hingga dia berteriak, lantas lari ngiprit ke arah gua, hingga hampir saja dia saling tabrak sama Kwee Ceng, yang keluar dari dalam gua sambil mempepayang gurunya.
Tiba di luar anak muda ini berdiri menjublak. Ia melihat Kwa Tin Ok, gurunya yang paling tua itu, melibat kepala dengan sabuk putih, bajunya baju putih juga.
"Suhu, apakah kau sedang berkabung?" akhirnya ia menanya heran. "Jie-suhu dan yang lainnya mana?"
Tin Ok tidak menyahut, hanya ia mengangkat kepalanya memandang langit. Dengan lantas ia mengucurkan air mata. Kwee Ceng heran dan kaget, sampai ia tidak berani lantas mengulangi pertanyaannya.
Ketika itu Pek Thong sudah muncul pula dari dalam gua, ia mempepayang satu orang yang tangannya yang kiri mencekal cupu-cupu arak, tangan kanan memegang daging ayam sebelah potong, sedang mulutnya menggigit satu paha ayam juga. Dialah Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong. Oey Yong dan Kwee Ceng menjadi girang sekali.
"Suhu!" mereka memanggil.
Justru itu Kwa Tin Ok, dengan romannya yang bengis, menghajar nona Oey dengan tongkat besinya.
Oey Yong sedang bergirang sekali, ia tidak menyangka bakal diserang. Itulah jurus dari Hok Mo Thung-hoat yaitu ilmu tongkat Menaklukkan Iblis, yang Tin Ok sengaja menciptakannya di gurun pasir, untuk melawan Bwee Tiauw Hong. Sebaliknya Kwee Ceng melihat itu. Bukan main kagetnya murid ini. Tidak ada waktu lagi untuk mencegah dengan mulut, terpaksa si anak muda mengulur tangan kirinya, menyampok tongkat itu, sedang dengan tangan kanannya, ia menyambar ujungnya, guna membikin tongkat itu tidak jatuh. Dalam kesusu, ia menggunakan tenaga besar. Inilah hebat untuk Kwa Tin Ok. Dia tersampok dan tertarik, dia tidak dapat mempertahankan diri, tongkatnya terlepas, tubuhnya terpelanting jatuh! Kembali Kwee Ceng menjadi kaget.
"Suhu!" ia berseru seraya menubruk, guna mengasih bangun gurunya.
Mulut Kwa Tin Ok mengeluarkan darah, sebab dua buah giginya copot, sedang mukanya bengkak akibat jatuh.
"Untuk kau!" katanya ketika ia mengambil kedua buah giginya itu dan menyerahkannya kepada muridnya. Tangannya berlepotan darah.
Kwee Ceng menjatuhkan diri di depan gurunya. "Teecu salah, suhu," ia kata. "Silahkan suhu menghukum ……"
"Untukmu!" kata pula si guru, tangannya tetap dilonjorkan.
"Suhu ……" murid itu berkata lagi sambil menangis.
Ciu Pek Thong menyaksikan kejadian itu, ia anggap lucu, maka ia tertawa dan berkata; “Semenjak dulu adalah guru yang menghajar murid tetapi hari ini murid menghajar guru! Bagus-bagus!" Ia tidak memperdulikan lagi bahwa ia justru membikin hati Tin Ok menjadi makin panas. Karena sang murid tidak mau menerima giginya, Tin Ok lantas menelan!
"Bagus, bagus!" kembali Pek Thong berseru dan bertepuk tangan.
Oey Yong bingung. Ia tidak tahu kenapa Tin Ok hendak membinasakan dirinya. Ia mendekati Cit Kong tangan siapa ia cekal.
"Biar bagaimanapun juga teecu tidak berani melawan suhu," kata Kwee Ceng mengangguk-angguk. "Barusan teecu kesalahan tangan, maka itu harap suhu menghukum aku……"
"Suhu! Suhu!" membentak sang guru. "Siapa gurumu? Kau mempunyai pemilik dari Tho Hoa To sebagai mertuamu, perlu apa lagi kau dengan gurumu? Kanglam Cit Koay cetek kepandaiannya, mana tepat dia menjadi gurunya Kwee Toaya?"
Kwee Ceng semakin menyesal, ia mengangguk¬-angguk pula. Hebat sekali kemurkaan gurunya hingga Oey Yok Su disebut-sebut sebagai mertuanya dan ia pun disindir "toaya" atau "tuan besar".
Ang Cit Kong tidak dapat mengawasi saja. "Kwa Tayhiap," ia berkata, "Di antara guru dan murid, keterlepasan tangan adalah hal yang umum, oleh karena itu, aku harap kau maafkan muridmu ini. Barusan anak Ceng menggunakan jurus dari ilmu silat ajaranku si pengemis tua, akulah yang bersalah, di sini aku minta maaf kepadamu."
Pengemis itu benar-benar menjura kepada jago Kanglam itu. Mendengar Cit Kong berkata demikian, Pek Thong pikir ia pun baik berbicara. Maka ia berkata kepada Hoe Thian Pian-hok:
"Kwa Tayhiap di antara guru dan murid keterlepasan tangan adalah yang umum sekali, karena sambaran saudara Kwee barusan kepada tongkatmu adalah sambaran ajaranku, di sini aku si Loo Boan Tong mohon maaf padamu." Dan ia pun menjura dalam.
Dalam murkanya, Tin Ok menganggap orang mengejek, ia bukan saja mendongkol pada si tua yang doyan bergurau ini, ia juga menganggap Ang Cit Kong mau main gila terhadapnya, maka itu dengan sengit ia berkata;
"Kamu Tong Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kamu semua sangat mengandalkan kepandaian, kamu menganggap dapat malang melintang di kolong langit ini, akan tetapi di mataku, perbuatan kamu semua banyak yang tak pantas, maka akhirnya nanti mesti buruk adanya!"
Pek Thong heran. "Eh, apakah salahnya Lam Tee hingga kau membawa-bawa dia?" ia tanya.
Oey Yong melihat suasana buruk sekali, kalau ia diam saja, si tua bangka berandalan ini bisa mengacau hebat, karena dalam murkanya itu, Tin Ok mesti dibikin sabar dan bukannya dikocok, maka itu ia lantas menyelak. Ia berkata;
"Loo Boan Tong, burung wanyoh mau terbang berpasangan datang mencari kau, apakah kau tidak mau lekas-lekas pergi melihat dia?"
Pek Thong kaget hingga ia lompat berjingkrak. "Apa?" ia menanya.
"Dia ingin bersama kau di musim dingin di tempat yang tersembunyi mandi baju merah……" kata pula si nona.
Pek Thong menjadi terlebih kaget lagi. "Di mana? Di mana?" ia tanya berulang-ulang.
"Di sana!" sahut Oey Yong, tangannya menunjuk ke arah selatan. "Di sana! Lekas kau pergi cari dia!"
"Untuk selama-lamanya aku tidak akan menemui dia lagi!" berseru Pek Thong. "Nona yang baik, apapun kau boleh menitahkan kepadaku asal kau jangan membilang dia bahwa aku berada di sini……!" Belum berhenti suaranya, dia sudah lari ke utara.
"Kau ingat perkataanmu ini ialah janjimu!" kata Oey Yong.
"Kalau Loo Boan Tong sudah mengatakan, dia tidak nanti menyesal!" kata Pek Thong dari jauh, lalu dia lenyap dari pandangan mata si nona.
Maksud Oey Yong memperdayakan si tua jenaka itu pergi mencari Eng Kouw, siapa tahu, Pek Thong takut bertemu sama nyonya itu, dia bahkan kabur. Tapi biar bagaimana, orang toh telah menyingkir, maka lega juga hati nona ini.
Kwee Ceng masih berlutut di depan gurunya, ia masih minta diberi hukuman. Sambil menangis ia berkata pula:
"Buat guna teecu, suhu bertujuh telah pergi jauh ke gurun di utara, tempat yang bersengsara, maka itu biarpun tubuh teecu hancur lebur, sukar untuk teecu membalas budi suhu semua. Tanganku ini bersalah, baiklah teecu tidak menginginkannya pula!"
Dengan tangan kanannya, si anak muda mencabut pedang, dengan itu ia menebas tangannya yang kiri, tetapi Kwa Tin Ok menangkis dengan tongkatnya, hingga kedua senjata bentrok keras, lelatu api muncrat, tangan si guru dirasakan sakit. Itulah bukti muridnya benar-benar mau mengutungi tangannya. Maka lantas ia berkata:
"Baiklah! Sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu!"
"Titahkan saja, suhu, teecu tidak akan membantah," Kwee Ceng bilang.
"Jika kau menampik, lain kali jangan kau bertemu lagi!" kata si guru. "Biarlah hubungan kita putus bagaikan ditebas!"
"Teecu akan melakukan itu dengan sungguh-¬sungguh," kata Kwee Ceng, "Kalau tidak sampai mati baru teecu berhenti."
Tin Ok membanting tongkatnya ke tanah. "Kau kutungi kepalanya Oey Lao Shia serta kepala gadisnya!" ia bilang keras.
Bukan main kagetnya Kwee Ceng. Itu titah sangat hebat, yang ia tidak sangka. "Suhu!" serunya. "Suhu……!"
"Bagaimana?" tanya si suhu bengis.
"Entah kenapa Oey Lao Shia bersalah kepada suhu?"
"Hm! Hm!" mengejek si guru. "Aku mengharap Thian memberikan kesempatan sejenak saja untuk aku bisa melihat, asal aku bisa melihat mukamu binatang cilik yang bong in pwee gie!" Dia mengangkat pula tongkatnya, niat menyerang.
Bukan main sedihnya Kwee Ceng, dikatakan bong it pwee gie - tidak mengenal budi. Ia melihat tongkat mengancam. Ia tidak berkisar, tidak berkelit. Oey Yong terkejut, apa lagi ketika ia mendapatkan si pemuda diam saja.
"Menolong dulu, itulah perlu!" pikirnya. Maka ia menggerakkan tongkatnya, dengan jurus "Anjing jahat menghadang jalanan".
Tongkat Tin Ok tidak mengenai sasaran. Bukan main mendongkolnya ketua Kanglam Cit Koay ini. Tangkisan si nona membuatnya terhuyung, meski ia tidak jatuh. Dua kali ia menumbuk dadanya sendiri, lantas dia lari ke arah utara.
"Suhu! Suhu!" Kwee Ceng berteriak-teriak memanggil.
"Apakah Kwee Toaya menghendaki jiwa tuaku?" guru itu bertanya.
Kwee Ceng tercengang. Ia tidak berani mencegah pula. Ia menundukkan kepala. Maka ia cuma bisa mendengar suara tongkat besi mengenai tanah atau batu, makin lama makin jauh, makin jauh, makin samar, lalu lenyap. Ia ingat budinya guru itu ia menjatuhkan diri di tanah dan menangis menggerung-gerung. Sambil menuntun tangan Oey Yong, Cit Kong menghampiri muridnya.
"Kwa Tayhiap dan Oey Lao Shia mempunyai tabiatnya sendiri-sendiri yang sangat luar biasa." ia berkata, "Entah ada terjadi perselisihan hebat apa di antara mereka. Sekarang kau jangan bersusah hati, kau serahkan urusan padaku, nanti aku si pengemis tua yang membereskan, supaya mereka menjadi akur lagi."
Kwee Ceng berhenti menangis, ia bangun. "Suhu, tahukah suhu apa sebabnya itu?" ia tanya.
Cit Kong menggeleng kepala, tetapi ia berkata; "Loo Boan Tong telah kena orang perdayakan. Dia bertaruh mengadu diam maka kejadianlah dia diam tak berkutik. Memang kawan manusia jahat itu hendak membikin celaka padaku, kebetulan gurumu itu sampai, dia melindungiku, dia mengajak aku bersembunyi ke dalam gua. Dengan mengandalkan pada beracun gurumu, orang jahat tidak berani memasuki gua. Maka kita dapat bertahan sekian lama. Gurumu seorang mulia hati, melindungi aku dengan membahayakan dirinya sendiri."
Pengemis itu berhenti bicara, dia mencegluk araknya dua kali, menggerogoti paha ayam, terus ia telan, kemudian menyeka mulutnya. Habis itu, baru ia berkata lagi:
“Pertempuran barusan hebat sekali. Celaka untukku, karena kepandaianku telah ludas, aku tidak dapat turun tangan untuk membantu. Aku bertemu gurumu tetapi tidak sempat bicara dengannya. Aku percaya kegusarannya barusan pasti bukan karena kau keterlepasan tangan. Dia seorang berbudi dan jauh pandangannya, tidak mungkin berlaku cupat pikiran. Beberapa hari lagi tiba waktu perjanjian Pee-gwee Cap-gouw, maka sesudah pertandingan di Yan Ie Law nanti aku menjadi orang pertengahan akan mengakuri mereka."
Kwee Ceng mengucap terima kasih. "Kepandaian kalian berdua sangat pesat anak-¬anak," Cit Kong berkata pula tertawa. "Kwa Tayhiap seorang Rimba Persilatan yang kenamaan tetapi setelah kamu turun tangan, dia jatuh pamornya. Sebenarnya bagaimanakah halnya dengan kamu?"
Kwee Ceng berduka dan malu, ia tidak dapat bicara, maka Oey Yong yang menutur hal perjalanan mereka berdua semenjak berpisah di istana kaisar.
Cit Kong memuji dan berseru mendengar Yo Kang membinasakan Auwyang Kongcu. Ketika ia mendengan Yo Kang menipu Lou Tiangloo sekalian, ia mencaci anak muda itu sebagai anak jadah. Kemudian ia melongo mendengar halnya It Teng Taysu menolong nona Oey sampai pada lelakonya Sin Soan Cu Eng Kouw yang penasaran dan mendendam hebat. Akhirnya ia berseru kaget mengetahui Eng Kouw muncul di Chee-liong-tha di mana nyonya itu seperti hilang ingatan.
"Suhu, apakah suhu kenal Eng Kouw?" Oey Yong tanya.
"Tidak, aku tidak kenal dia," menyahut guru itu, "Hanya waktu Toan Hongya masuk menjadi pendeta, aku berada di sisinya. Dia telah mengirim surat padaku di Utara, dia mengundang aku datang ke Selatan. Aku lantas datang karena aku percaya tanpa urusan penting tidak mungkin dia mengundangku. Aku datang karena sekalian aku ingin mencoba pula makanan Inlam yang lezat, bahkan aku berangkat dengan cepat. Waktu aku bertemu Toan Hongya, dia lesu sekali, sangat beda waktu pertemuan di Hoa San di mana dia gagah bagaikan naga dan harimau. Aku heran sekali.
Besoknya dia mengajak aku berunding tentang ilmu silat maksudnya untuk mewariskan padaku dua macam kepandaian. Sian Thian Kan dan It Yang Cie. Kembali aku menjadi heran. Sian Thian Kang dari Toan Hongya bersama Hang liong Sip-pat Ciang dari aku, Kap Moa Kang dari Auwyang Hong dan Pek Khong Ciang dari Oey Lao Shia, sama tersohornya, sama tangguhnya, maka setelah dia memperoleh It Yang Cie dari Ong Tiong Yang, dia pasti bakal jadi jago nomor satu di kolong langit ini dalam pertempuran yang kedua di Hoa San. Tidak nyana sekarang dia mau mewariskan dua rupa kepandaian itu padaku, ia beralasan merundingkan ilmu silat. Kenapa dia tidak mau mempelajari Hang Liong Sip-pat Ciang dari aku? Mesti ada sebabnya. Hal itu aku telah memikirkannya. Kemudian setelah diam-diam aku berbicara dengan empat muridnya, baru aku ketahui sebab aneh itu. Kiranya, habis mewariskan kepandaiannya padaku, dia hendak membunuh diri……"
"Suhu," berkata Oey Yong, "Toan Hongya itu khawatir, setelah dia mati, It Yang Cie tidak ada yang mewariskan dan itu artinya tidak ada orang yang dapat menguasai lagi Auwyang Hong."
"Benar, aku pun telah melihat hal itu. Karena itu juga, aku bilang aku tidak suka mempelajari dua rupa kepandaiannya itu. Setelah aku menampik, dia baru menutur maksud hatinya. Dia berkata keempat muridnya, biarpun mereka jujur dan setia, tetapi karena perhatian mereka ditumpleki pada urusan pemerintah, tidak akan mereka memperoleh kemajuan. Dia berkata pula, tidak apa aku tidak menyukai Sian Thian Kang tetapi It Yang Cie sangat perlu. Dia bilang, apabila It Yang Cie terbawa ke kubur olehnya tanpa ada yang mewarisi, dia malu bertemu Ong Tiong Yang Cinjin di dunia baka. Aku masih membandel tidak mau menerima warisannya. Aku pikir, dengan membandel artinya jiwanya dapat ditolong."
"Kejadian itu sungguh aneh," kata Oey Yong. "Semenjak dulu adalah umum, seorang mau belajar dan minta diajari dan orang menolak mengajari, akan tetapi kali ini, orang tidak mau belajar tapi ia justru dibujuk, dipaksa!"
"Oleh karena aku tetap menolak," Cit Kong bercerita lebih jauh, "Toan Hongya habis daya, lantas dia masuk menjadi pendeta, mencukur rambutnya, aku hadir dan mendampingi dia. Kejadian itu belasan tahun yang lalu. Ah, bagus, bagus sekarang urusan bisa diselesaikan secara begini."
"Suhu," kemudian Oey Yong berkata pula. "Urusan kami sudah beres, sekarang tentang suhu sendiri."
"Urusanku sendiri!" kata si orang tua. "Di istana aku telah makan segala macam masakan lezat……" dan tak hentinya ia menyebut namanya pelbagai sayur sambil lidahnya menjilati bibirnya.
"Kenapa Loo Boan Tong tidak berhasil mencari suhu?"
"Sebab karena koki raja sering kehilangan banyak sayurnya, dapur istana jadi kacau! Semua orang bilang di dapur istana muncul dewa rase, lantas mereka memasang hio memujaku. Kemudian terdengar oleh pimpinan siewi, dia mengirim delapan siewi untuk menjaga dapur, untuk menangkap dewa rase. Aku jadi sulit, sedang Loo Boan Tong tidak datang-datang. Terpaksa aku pergi bersembunyi di tempat yang sepi. Tempat itu ruang Gok Lek Hoa-tong. Di sana ada ditanam banyak pohon bwee. Itulah tempat raja menggadangi bunga bwee di musim dingin, saat itu musim panas, tidak ada satu setanpun kecuali beberapa orang kebiri tua tukang nyapu. Senang aku tinggal di situ.
Di mana saja di dalam istana, orang bisa makan, seratus pengemis tinggalpun tidak bakal kelaparan. Baru belasan hari aku hidup senang lalu datang gegobrak, mulanya Loo Boan Tong yang menangis seperti setan mengulun, anjing membaung kemudian kucing mengeong, istanapun jadi kacau, lalu beberapa orang berteriak-teriak: 'Ang Cit Kong Looya-cu! Ang Cit Kong Looyacu!' Aku mengingat, aku mengenali mereka adalah rombongan Pheng Lian Houw, See Thong Thian dan Nio Cu Ong……"
"Mau apa mereka mencari suhu?" tanya Oey Yong heran.
"Akupun heran. Aku hendak menyingkir, tetapi Loo Boan Tong berhasil mempergoki aku. Dia sangat girang, dia peluk aku, dia memuji-muji kepada Thian. Kemudian dia menitahkan Nio Cu Ong semua berjalan di belakang……"
Kembali Oey Yong heran. "Kenapa Nio Cu Ong semua dapat diperintah Loo Boan Tong?"
"Ketika itu aku pun sangat heran. Aku melihat mereka sangat takut kepada Loo Boan Tong, apa yang diperintahkan, mereka lantas kerjakan, tidak berani membantah. Demikian mereka diberi tugas mengiringi, Loo Boan Tong menggendong aku sampai di Gu-kee-cun, untuk mencari kalian berdua. Di tengah jalan dia menjelaskan padaku bahwa dia bingung tidak dapat mencariku, malah bertemu Nio Cu Ong semua. Dia hajar mereka, dia suruh mereka membantu mencari di segala tempat. Mereka mengatakan sia-sia belaka mencari di istana sedang istana sangat luas dan lebar."
Oey Yong tertawa. "Loo Boan Tong lihay sekali, dia dapat membikin Nio Cu Ong semua tunduk. Kenapa kawanan iblis itu tidak melarikan diri saja?"
Cit Kong pun tertawa. "Loo Boan Tong mempunyai akalnya sendiri. Dia berkata telah membuat obat pel yang dicampur kotorannya, dia suruh mereka makan satu orang tiga butir, setelah itu dia membilang, obat itu ada racunnya dan akan bekerja setelah lewat empatpuluh sembilan hari, bahwa obat pemunahnya cuma ia sendiri yang dapat membikinnya. Mereka jadi ketakutan, mungkin mereka sangsi, tetapi akhirnya percaya juga. Begitulah mereka jadi dapat diperintah segala macam.”
Kwee Ceng lagi berduka tetapi mendengar cerita sang guru, ia tertawa juga.
"Sampai di Gu-kee-cun, kalian tidak dapat dicari," Ang Cit Kong meneruskan keterangannya, "Loo Boan Tong memaksa mereka mencari terus. Kemarin malam mereka pulang dengan lesu, mereka gagal, dari Loo Boan Tong mencaci-maki, terus diancam, apabila besok mereka gagal lagi, akan dikasih makan lagi obat kotorannya itu. Ia menyebut-nyebut air kencing. Mendengar itu, timbul kecurigaan mereka. Mereka percaya bahwa mereka lagi dipermainkan, bahwa sebenarnya mereka bukan dikasih makan racun. Lantas mereka memancing. Dalam gusarnya, Loo Boan Tong tanpa sadar membuka rahasianya sendiri. Aku menjadi berkhawatir. Mereka itu bangsa licik, aku pikir lebih baik mereka disingkirkan saja, supaya mereka tidak menjadi bahaya di belakang hari.
Mereka itu benar-benar lihay dan merasa bahaya mengancam, mereka mendahului turun tangan. Begitulah Pheng Lian Houw menggunakan kecerdikannya, dia mau adu Loo Boan Tong dengan Leng Tie Siangjin. Tidak dapat aku mencegah lagi. Untuk menolong diri, aku menyingkir. Kebetulan sekali di luar dusun aku bertemu Kwa Tayhiap. Dia melindungi aku menyingkir kemari, kemudian dia pergi kepada Loo Boan Tong, maka Loo Boan Tong pun datang ke mari, hanya di sini, setelah dikocok Lian Houw, dia mengadu kepandaian duduk diam sama si pendeta."
Oey Yong mendongkol juga merasa lucu. "Jikalau tidak terjadi perkara kebetulan, suhu, jiwamu bisa hilang di tangan Loo Boan Tong," katanya. "Untung kebetulan sekali engko Ceng dan aku mendengar lewatnya dua kawan mereka."
"Jiwaku memang sudah tidak berharga, diantarkan di tangan siapa pun sama saja." kata sang guru.
"Suhu, ketika itu kita pulang dari pulau Beng Hee To……" kata si nona.
"Bukan Beng Hee To hanya pulau menggencet setan!" kata sang guru pula.
"Baiklah, pulau menggencet setan," kata sang murid. "Sekarang ini benar-benar Auwyang Kongcu telah menjadi setan! Ketika itu di atas getek kita menolong paman Auwyang Hong dan keponakannya, aku mendengar si bisa bangkotan mengatakan bahwa di kolong langit ini cuma ada satu orang yang dapat menyembuhkan suhu, hanya dia sangat gagah dan lihay, dia tidak bisa dipaksa menolong sedang suhu tidak sudi menolong diri dengan merugikan orang lain, suhu tidak mau minta pertolongan orang itu. Suhu juga tidak mau membilang nama orang. Sekarang kami tahu siapa orang itu, bukan lain daripada Toan Hongya atau It Teng Taysu sekarang ini."
Ang Cit Kong menghela napas. "Jikalau dia menggunakan It Yang Cie menyalurkan jalan darahku, memang dia dapat menyemhuhkan aku," ia berkata, "Hanya karena dia menolong aku, dia bakal menggunakan tenaga dalamnya berlebihan, setelah itu tujuh tahun atau sedikitnya lima tahun, dia tidak dapat memulihkan tenaga dalamnya. Mungkin hatinya tawar dan dia tidak menghiraukan lagi urusan pertemuan yang kedua di gunung Hoa San, tetapi dengan usianya enam atau tujuhpuluh tahun, berapa lama lagi dia bisa hidup? Maka itu, mana bisa aku si pengemis tua membuka mulut mohon pertolongannya?"
Mendengar itu, Kwee Ceng berjingkrak. "Suhu, mari aku yang mengobati!" ia berkata. "Aku telah mempelajari It Yang Cie! Lebih baik sekarang juga digua ini aku menyalurkan semua jalan darahmu?"
Ang Cit Kong menggeleng kepala. "Tahukah kau kenapa It Teng Taysu mengajari It Yang Cie padamu?" ia bertanya.
Ini Kwee Ceng tidak pernah memikirkannya, maka itu mendengar pertanyaan gurunya, ia lantas mengerti, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.
"Ah, It Teng Taysu hendak mencari kematiannya!" ia berseru. "Kalau begitu akulah yang membikin celaka!"
"Ketika dia mengobati Yong-jie, jikalau dia tidak melihat kau diam-diam mempelajari ilmunya, waktu Eng Kouw mencari dia, mustahil dia berani pasang tubuhnya untuk dibunuh nyonya itu?" kata pula guru ini. "Untuk mengobati aku, tidak menjadi soal, tetapi bagaimana kalau dalam waktu lima atau tujuh tahun si bisa bangkotan datang membikin celaka padamu? Bagaimana kau nanti melayani dia? Bolehkah kau menyia-nyiakan pengorbanan It Teng Taysu?"
"Jikalau suhu sudah sembuh, suhu dapat melayani si bisa bangkotan itu," berkata sang murid.
Cit Kong lagi-lagi menggeleng kepala. "Sukar untuk lukaku ini dapat disembuhkan dalam waktu yang cepat," ia berkata. "Sebaliknya hari pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin sudah sampai bulu alis. Maka itu tentang sakitku ini dan pengobatannya, baik kita bicarakan lain kali saja."
Oey Yong tertawa mendengar orang berebut omong, yang satu memaksa mau mengobati, yang lain menolak. Ia berkata;
"Sudahlah, jangan kamu berebut mulut! Untuk menyalurkan jalan darah dan meluruskan nadi, aku mengerti!"
"Apa katamu!" Cit Kong menanya heran.
Si nona bersenyum, ia menyahut: "Bahasa aneh yang engko Ceng ingat di dalam hatinya telah disalin jelas kepada kami, sekarang aku pikir-pikir, ilmu itu dapat dipakai menolong suhu." Untuk menguatkan keterangannya, ia menjelaskan penjelasan dari It Teng Taysu.
"Bagus, bagus!" kata Cit Kong girang. "Aku lihat kau memang dapat menolong, cuma untuk itu dibutuhkan waktu sedikitnya setengah sampai satu tahun."
"Suhu," kata Oey Yong kemudian. "Di dalam pertemuan di Yan Ie Lauw, pihak sana pasti bakal mengundang Auwyang Hong, benar Loo Boan Tong tidak bakal kalah tetapi dia berandalan, dia suka mengacau, aku khawatir nanti timbul keonaran, maka aku pikir sebaiknya kita pergi ke Tho Hoa To untuk mengundang ayahku. Dengan begitu barulah kita akan merasa pasti akan kemenangan kita!"
"Kau benar," berkata Cit Kong. "Biar aku yang pergi dulu ke Kee-hin dan kamu berdua pergi ke Tho Hoa To."
"Baiklah kita pergi bersama dulu ke Kee-bin," kata Kwee Ceng. Ia berkhawatir untuk gurunya itu.
"Tidak usah, biar aku pergi sendiri," kata guru itu. "Aku akan menunggang kudamu. Umpama kata ada orang jahat, aku dapat mengaburkannya. Siapa dapat menyusul aku?" Ia lantas lompat naik ke punggung kuda, di mana ia menenggak araknya. Ketika ia menjepit kedua kakinya, kuda itu berpekik menghadap Kwee Ceng, terus dia kabur ke arah utara.
Pemuda itu mengawasi gurunya sampai lenyap dari pandangan matanya, lantas dia mengingat sikap Kwa Tin Ok, gurunya yang ke satu itu dari pihak Kanglam Cit Koay, ia menjadi sangat berduka.
Oey Yong tahu orang bersusah hati, ia tidak membujuk, ia terus menyewa perahu, untuk mengajak orang menaikinya, guna berangkat ke Tho Hoa To. Di dalam perjalanan ini, mereka tidak mengalami sesuatu, maka mereka tiba dengan tidak kurang suatu apapun. Setelah mendarat dan membayar sewa perahu, baru ia berkata kepada kawannya;
"Engko Ceng aku hendak memohon sesuatu kepadamu, kau suka meluluskan atau tidak?"
"Kau sebutkan dulu, aku mendengarnya," menyahut si anak muda, "Jangan nanti soal yang aku tidak dapat melakukannya."
Oey Yong tertawa. "Aku bukan minta kau memotong kepala ke enam gurumu!" katanya.
Pemuda itu tidak puas. "Perlu apa kau menimbulkan urusan itu, Yong-jie!" ia tanya.
"Kenapa aku tidak menimbulkannya?" si nona balik menanya. "Mungkin kau dapat melupakan itu, aku tidak! Biarpun aku baik dengan kau tetapi aku tidak suka kepalaku dipotong olehmu……"
Anak muda itu menarik napas panjang. "Sungguh aku tidak mengerti kenapa toasuhu demikian gusar ……" katanya.
"Toasuhu ketahui baik sekali kaulah orang yang aku cintai. Biar aku mesti mati seribu atau selaksa kali, tidak akan aku sudi melukai kau biar bagaimana kecilpun."
Oey Yong bersyukur. Ia menarik tangan si anak muda, ia menyenderkan tubuhnya ke tubuhnya.
"Engko Ceng, apakah kau anggap Tho Hoa To ini bagus?" ia tanya. Ia menunjuk ke barisan pohon yangliu di tepi air. Perlahan suaranya.
"Mirip tempat dewa-dewi," Kwee Ceng menyabut.
Si nona menarik napas. "Ingin aku tinggal hidup di sini, tidak sudi aku di bunuh kau……" bilangnya.
Kwee Ceng mengusap-usap rambut nona itu. "Anak tolol! Mana bisa aku membunuh kau……"
"Bagaimana kalau kau didesak enam gurumu, ibumu dan sekalian sahabatmu? Kau turun tangan juga atau tidak?"
"Biar semua orang di seluruh jagat memusuhi kau, aku tetap akan melindungimu!" berkata si anak muda.
Oey Yong memegang keras tangan orang. "Untukku, kau suka mengorbankan segalanya?" ia bertanya.
Kwee Ceng berdiam, agaknya ia bersangsi. Oey Yong mengangkat kepalanya, mengawasi mata orang. Sinar mata itu menunjukkan roman kedukaan atau ragu.
"Yong-jie," kata si anak muda kemudian. "Aku telah bilang padamu aku suka berdiam di Tho Hoa To untuk menemani kau seumur hidupku, ketika aku mengatakan itu, aku telah mengambil keputusan."
"Bagus!" si nona berseru. "Mulai hari ini, kau tidak akan meninggalkan pulau ini!"
Kwee Ceng heran. "Mulai hari ini?" dia bertanya.
"Ya, mulai hari ini!" berkata si nona. "Aku akan minta ayah pergi ke Yan Ie Lauw untuk membantu pihakmu, aku bersama ayah nanti pergi membunuh Wanyen Lieh guna membalaskan sakit hatimu, habis itu aku bersama ayah pergi ke Mongolia menyambut ibumu! Bahkan, aku akan minta ayah menemui keenam gurumu memohon maaf untukmu. Aku hendak membikin supaya hatimu lega dan tidak ada apa-apa lagi yang harus dipikirkan!"
Kwee Ceng heran. Aneh sekali sikap nona ini. "Yong-jie, apa yang aku bilang, semua itu kata-¬kataku," ia bilang. "Kau baiklah bertetap hati."
Si nona menghela napas. "Urusan di dunia ini banyak yang sukar dibilang pasti," ia berkata. "Ketika dulu kau menerima baik perjodohan putri Mongolia, kau pernah ingat bahwa hari ini kau bakal menyangkal dia. Juga aku sendiri, aku pikir dapat melakukan segala kesesukaku. Sekarang baru aku tahu…… Ah, apa yang kita pikir baik, Thian justru pikir sebaliknya." Kedua matanya si nona menjadi merah, lekas-lekas ia tunduk.
Kwee Ceng pun berdiam, pikirannya bekerja. Ingin ia menemani Oey Yong seumur hidup di pulau Tho Ho To ini, tetapi berat meninggalkan semua urusan di dunia, itu tidak sempurna. Hanya kenapa ia tidak dapat menyebutnya.
"Aku bukannya tidak percaya kau dan hendak memaksa berdiam di sini," si nona berkata pula sesaat kemudian, perlahan, "Hanya…… hanya…… Di hatiku, aku sangat takut……" Ia lantas mendekam di pundak anak muda itu, ia menangis.
Kwee Ceng bengong, ia tidak sangka juga heran. "Kau takut apa, Yong-jie?" ia tanya.
Si nona tidak menjawab, hanya menangis terus. Kwee Ceng menjadi semakin heran. Semenjak mengenal si nona, biar bagaimana hehat pengalaman mereka, belum pernah si nona menangis, dia lebih banyak tertawa, tetapi sekarang, sepulangnya ke pulau ini? Kampung halamannya. Apakah yang takutkan? Bukankah justru bakal segera bertemu ayahnya?
"Apakah kau mengkhawatirkan keselamatan ayahmu?" akhirnya ia bertanya.
Oey Yong menggoyangkan kepala.
"Apakah kau takut, aku meninggalkan Tho Hoa To, lantas aku tidak kembali?"
Oey Yong menggeleng kepala lagi. Dan ini dilakukan terus meski si anak muda menanya hingga empat atau lima kali. Maka berdiamlah mereka sekian lama.
"Engko Ceng," kata si nona kemudian seraya mengangkat kepala mengawasi si anak muda. "Aku takut tetapi tidak dapat mengatakan apa sebabnya …… Kalau aku ingat sikap dan roman gurumu waktu hendak membinasakan aku, aku jadi bingung sekali. Aku khawatir, satu saat kau mendengar perintah gurumu untuk membunuhku…… Maka aku minta kau jangan meninggalkan lagi pulau ini. Kau berjanjilah!"
Kwee Ceng tertawa. "Aku kira urusan besar, tak tahunya urusan begini!" katanya. "Ingatkah kau kejadian dulu di Pakhia ketika keenam guruku mengatakan kau siluman? Ketika itu aku ikut kau pergi, lalu akhirnya tidak terjadi apa-apa. Memang roman keenam guruku bengis tetapi hati mereka baik, maka kalau nanti kau sudah mengenal baik, mereka tentulah akan menyukaimu …… Jiesuhu lihay ilmunya merogoh saku orang, nanti kau boleh belajar padanya. Tentang Citsuhu, ia sangat halus dan sabar……"
Tapi si nona memotong: "Dengan begitu, artinya kau mau meninggalkan pulau ini?"
"Kita meninggalkannya bersama-sama," berkata si anak muda. "Kita sama-sama pergi ke Mongolia menyambut ibuku. Kita bersama-sama membunuh Wanyen Lieh. Lalu bersama-sama juga kita pulang! Bukankah itu bagus?"
Si nona melongo. "Kalau begitu, tidak dapat selamanya kita pulang bersama dan tidak dapat juga selamanya berada bersama," katanya selang sesaat.
Kwee Ceng menjadi heran. "Kenapa begitu?" ia tanya.
"Aku tidak tahu," si nona menggeleng kepala. "Jikalau aku melihat roman toasuhumu, aku dapat menerka sesuatu. Untuk dia, tidak cukup mengutungi kepalaku saja! Dia membenci aku sampai di tulang-tulangnya!"
Kwee Ceng melihat orang bicara sungguh-¬sungguh, nona itu sangat berduka. Ia jadi memikir. Tanpa merasa, ia pun berkhawatir. Ia ingat pula sikap gurunya yang kesatu yang sangat bengis.
"Dia biasa pandai berpikir," katanya di dalam hati, "Kalau sekarang aku tidak turuti dia dan kemudian kekhawatirannya berbukti bagaimana nanti jadinya?" Ia jadi sangat berduka. Tapi ia pun dapat mengambil putusannya. Maka ia berkata:
"Baiklah, aku tidak akan berlalu dari sini!"
Mendengar itu, Oey Yong bengong mengawasi si pemuda, air matanya meleleh dari kedua belah pipinya.
"Yong-jie, kau menghendaki apa lagi?" tanya si pemuda perlahan.
"Aku menghendaki apa lagi?" menyahut si nona. "Aku tidak menghendaki apapun." Lantas sepasang alisnya yang bagus bergerak, dia tertawa. Ia berkata lagi: "Kalau aku menghendaki apa-¬apa, Thian juga tidak bakal meluluskannya!"
Saking gembiranya, di situ dia menari-nari, tangan bajunya yang panjang berseliweran, gelang emasnya berkilauan. Kadang-kadang ia menyambar-¬nyambar pohon bunga dengan bunganya berwarna merah, putih kuning dan ungu, hingga dia mirip seekor kupu-kupu Tiba-tiba ia berlompat naik ke atas pohon, ke pohon yang lain, kembali lagi. Dalam kegembiraannya ia bersilat dengan Yan Siang Hui dan Lok Eng Ciang.
Menyaksikan si nona, Kwee Ceng seperti ngelamun: "Dulu ibu mendongeng bahwa di laut Tang Hay ada sebuah gunung dewa, bahwa di atas gunung itu ada sejumlah dewi. Mustahilkah di dunia ada gunung dewi yang lebih indah daripada pulau Tho Hoa To ini? Mungkinkah benar ada dewi yang melebihi cantiknya Yong-jie?" Ia tersadar ketika mendadak Oey Yong berseru seraya melompat turun, tangannya menggapai seraya dia lari ke depan, nerobos di antara rimba.
Kwee Ceng menyusul. Ia pun khawatir nanti kesasar. Oey Yong lari berliku-liku kemudian berbenti dengan mendadak.
"Apa itu?" tanyanya seraya menunjuk ke depan di mana ada benda bertumpuk.
Kwee Ceng mendahului maju. Itu adalah seekor kuda yang lagi rebah. Bahkan ia mengenali kudanya Han Po Kie, samsuhu atau gurunya yang ke tiga. Ia mengulur tangan memegang perut kuda. Dingin rasanya. Terang kuda telah mati lama. Berbareng heran, Kwee Ceng berduka. Kuda ini pernah turut pergi ke gurun pasir dan dengannya Kwee Ceng kenal sejak ia masih kecil.
"Boleh dibilang ini kuda luar biasa dan kuat, kenapa dia mati di sini?" si anak muda berpikir. "Tentu sekali samsuhu sangat berduka……"
Mengawasi lebih jauh, Kwee Ceng memperhatikan, kuda itu bukan mati rebah melonjor hanya keempat kakinya tertekuk meringkuk. Ia terkejut. Ia lantas ingat kudanya Gochin Baki, yang binasa dihajar Oey Yok Su. Kuda putri itu mati melingkar, mirip dengan kuda ini. Maka dengan tangan kirinya ia mengangkat leher kuda dan dengan tangan kanannya meraba dua kaki depan. Betapa kagetnya, ia mendapatkan tulang-tulang kuda remuk. Ia lantas meraba punggung kuda. Tulang punggung itu juga patah! Ketika ia mengangkat tangannya, ia melihat tangannya berlepotan darah - darah yang sudah berubah menjadi hitam tetapi bau amisnya masih ada. Mungkin sudah tiga empat hari matinya kuda.
Oleh karena penasaran, Kwee Ceng membalikkan tubuh binatang itu, untuk memeriksa. Ia tidak mendapatkan luka luar. Saking heran, ia duduk menjatuhkan diri di tanah, hatinya bekerja: "Mungkinkah ini darah samsuhu? Habis dimana adanya guruku?"
Sekian lama Oey Yong berdiam di samping menyaksikan kelakuan Kwee Ceng, ia pun heran, tetapi ia dapat menenangkan diri. Maka kemudian ia berkata;
"Kau jangan gelisah. Mari kita memeriksa dengan perlahan-lahan……"
Nona ini maju, mementang kedua tangannya membiak pohon-pohon bunga, sembari jalan ia memperhatikan tanah. Kwee Ceng mengikuti, ia juga mengawasi ke tanah, maka terlihat olehnya titik-titik ceceran darah. Saking ketarik dan tegang hatinya, ia sampai lupa jalan yang sesat, ia mendahului si nona, dari perlahan, ia menjadi membuka tindakan lebar. Tidak heran kalau beberapa kali ia kesasar.
Oey Yong berlaku teliti, ia berjalan hingga di gombolan rumput, di pinggir batu karang. Di situ tanda darah sebentar kedapatan sebentar lenyap. Ia memeriksa dan melihat tapak serta bulu kuda.
Tanpa mengenal capai, mereka berjalan terus hingga beberapa lie, sampai di depan sekumpulan pohon bunga dan pepohonan lain di mana ada sebuah kuburan. Melihat itu Oey Yong lari menghampiri.
Ketika dia pertama kali datang ke Tho Hoa To, Kwee Ceng pernah melihat kuburan itu, ia masih mengenalinya. Itu kuburan dari ibunya si nona. Hanya kali ini, kuburan itu tidak utuh seperti dulu. Batu nisannya telah roboh. Ia maju mengangkat. Ia membaca tulisan batu peringatan itu. Ibunya Oey Yong adalah orang she Phang. Terang tulisan itu adalah tuli Oey Yok Su - tulisannya bagus dan tegak.
Oey Yong melihat pintu pekuburan telah terpentang lebar-lebar. Ia merasa pasti bahwa di pulaunya sudah terjadi sesuatu. Tadi pun ketika dari atas pohon ia melihat melingkarnya kuda, hatinya sudah bercekat. Ia tidak lantas bertindak masuk. Lebih dulu memasang mata ke sekitar kuburan. Di kiri kuburan, rumput hijaunya bekas diinjak-injak. Di muka pintu terlihat bekas-bekas senjata beradu. Ia memasang kuping. Ia tidak mendengar apapun. Maka dengan membungkuk, ia masuk.
Kwee Ceng berkhawatir, ia mengikuti masuk. Begitu berada di dalam, muda-mudi ini merasa tegang. Lebih-lebih si pemuda. Bukankah itu kuburan ibunya? Tembok pada gugur atau gugus, bekas terhajar senjata tajam akibat suatu pertempuran dahsyat.
Oey Yong memungut sesuatu ketika mulai bertindak masuk. Kwee Ceng mengenali itulah batang timbangan atau dacin, yang menjadi senjata gurunya keenam, Coan Kim boat. Timbangan itu terbuat dari besi, ukurannya sebesar lengan, tetapi toh orang dapat mematahkannya menjadi dua. Maka berdua mereka saling mengawasi, mulut mereka bungkam, mereka seperti tidak berani membuka mulut. Mereka tahu, cuma ada beberapa gelintir orang yang tenaganya kuat istimewa dan untuk di Tho Hoa To, orang itu hanyalah Oey Yok Su……
Kwee Ceng menyambut dari tangan Oey Yong potongan dacin itu, ia lantas mencari potongan yang lainnya, sembari mencari ia merasakan hatinya tertindih berat sekali. Ia sangsi, ingin ia mencari dapat, ingin ia tidak dapat mencarinya……
Lebih jauh ke dalam, kuburan itu bertambah suram. Kwee Ceng membungkuk, tangannya meraba-raba ke tanah. Mendadak tangannya membentur sesuatu yang keras, ternyata batu timbangan, batu ini dapat dipakai Kim Hoat sebagai senjata rahasia untuk menimpuk. Hatinya berdebar. Ia masukkan gandulan itu ke sakunya, ia maju lebih jauh.
Seketika terkesiap hatinya, Kwee Ceng meraba benda yang dingin tetapi lunak. Ia meraba-¬raba. Akhirnya ia kaget hingga berlompat bangun, ia kena pegang muka orang. Saat melompat, justru – duk ……! Kepalanya membentur langit-langit. Tapi disaat seperti itu, ia melupakan nyerinya. Maka lantas mengeluarkan bahan apinya dan menyalakan. Begitu dapat melihat, ia menjerit, kemudian roboh pingsan! Api di tangannya tidak padam, dengan cahaya api, Oey Yong bisa melihat tegas.
Coan Kim Hoat rebah terlentang menjadi mayat, kedua matanya terbuka besar. Di dadanya menancap potongan yang lain dari dacinnya. Maka sekarang duduknya hal telah menjadi terang.
Oey Yong kaget tetapi ia mencoba menentramkan diri. Dari tangan Kwee Ceng ia mengambil api, dengan itu ia mengasapi hidungnya si anak muda, untuk menyadarkan orang pingsan.
Tidak lama, anak muda itu berbangkis dua kali, lantas ia sadar. Ia membuka matanya mengawasi si pemudi. Kemudian bangun berdiri. Tanpa bilang apapun, ia masuk lebih jauh. Oey Yong mengikuti.
Di ruang dalam, yang merupakan liang kubur asli, nampak kacau. Meja sembahyang pecah ujungnya. Pikulan besi dari Lam Hie Jin nancap di lantai. Di pinggir kiri kamar, rebah melintang tubuh satu orang, ikat kepalanya robek, sepatunya copot. Dengan melihat dari punggung saja sudah dapat dikenali dialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay.
Dengan tindakan perlahan, Kwee Ceng menghampiri. Ia membalikkan tubuh jiesuhu, gurunya yang nomor dua. Ia melihat bibir yang tersenyum, tapi sudah dingin, seperti dingin seluruh tubuhnya. Maka anehlah senyuman Kanglam Cit Koay yang kedua ini.
"Jiesuhu, teecu Kwee Ceng datang!" kata si anak muda perlahan. Setelah itu dengan berhati-hati, ia mengangkat tubuh gurunya, kemudian - tingtang! Ia mendengar suara barang jatuh saling susul dari sakunya banyak barang permata, seperti batu kumala, yang berserakan di lantai.
Oey Yong menjumput beberapa potong barang permata itu, untuk diteliti. Segera ia melemparkannya pula, dengan dingin, ia berkata:
"Ini permata mulia yang dikumpulkan ayahku yang disengaja dipakai untuk menemani ibuku!"
Kwee Ceng terkejut. Ia menoleh kepada kekasihnya. Ia menjadi lebih kaget lagi. Di samping suara dingin dan tak sedap dari nona itu, ia melihat sinar mata yang mencorong tajam dan bengis, dari mata yang merah bagaikan darah.
"Apakah kau maksudkan guruku datang ke mari mencuri permata ini?" ia menanya perlahan.
Mata si pemudi menatap akan tetapi dia tidak dapat mundur, dia bahkan mengawasi, hanya sekarang sinarnya berubah. Itulah sinar mata dari putus asa, dari kedukaan.
"Guruku yang kedua seorang laki-laki sejati," kata Kwee Ceng. "Mana mungkin dia mencuri harta ayahmu? Lebih-lebih tak mungkin dia mencuri barang permata di kuburan ibumu ini!"
Oey Yong mendengar nada orang, dari gusar menjadi berduka. Memang juga pikiran Kwee Ceng berubah dengan perlahan-lahan. Ia menyangka si nona menuduh gurunya, seorang ksatria, ia menjadi tidak senang, ia menjadi gusar. Segera setelah itu, ia memikir kenyataan. Bukankah gurunya itu terkenal si tangan lihay, yang sangat pandai mencopet? Bukankah semua permata itu meluruk dari saku gurunya? Bukankah mereka berada di dalam liang kubur di mana harta itu disimpan? Tapi, benarkah gurunya datang ke situ untuk mencuri? Bukankah gurunya laki-laki sejati? Ia menyangsikan gurunya berbuat demikian busuk dan hina. Maka ia menduga sesuatu yang diluar dugaannya. Dalam kesangsian itu, antara kegusaran, kedukaan dan keragu-raguan ia mengepal keras tangannya hingga terdengar suara meretek.
Oey Yong masih mengawasi lalu ia berkata dengan perlahan. "Ketika itu aku melihat air muka gurumu yang nomor satu, aku merasa aneh sekali, aku lantas seperti dapat firasat bahwa di antara kita berdua sulit berakhir dengan baik, yang membahagiakan. Jikalau kau hendak membunuhku, sekarang kau boleh turun tangan. Ibuku ada di sini, maka kau tolong saja mengubur aku di sisinya. Setelah selesai kau mengubur aku, kau lekas angkat kaki dari sini, jangan sampai kau bertemu dengan ayahku……"
Kwee Ceng tidak menyahut, ia mondar-¬mandir, tindakannya lebar dan cepat, napasnya pun memburu.
Oey Yong berdiam. Ia mengawasi gambar lukisan ibunya. Ia melihat sesuatu di situ, ia lantas menghampiri. Nyata itulah dua senjata rahasia yang nancap. Ia menurunkannya. Kwee Ceng melihat senjata itu, ia mengenali tok¬leng, atau lengkak rahasia, dari Kwa Tin Ok.
Oey Yong terus berdiam, tangannya menyingkap toh-wie di belakang meja sembahyang. Di situ ada pernahnya peti mati ibunya. Ketika ia menghampiri, mendadak ia menghela napas panjang. Di belakang peti mati ibunya rebah dua mayat dari kakak beradik, atau engko dan adik. Han Po Kie dan Han Siauw Eng. Siauw Eng itu terang telah membunuh diri, sebab tangannya masih memegang gagang pedang. Tubuh Po Kie sendiri menindih peti mati. Hanya yang hebat, batok kepalanya meninggalkan liang bekas lima jari.
Kwee Ceng telah melihat kedua mayat itu. Ia sekarang bisa berlaku tenang. Ia memondong turun tubuh gurunya yang ketiga itu, seorang diri ia berkata:
"Aku melihat sendiri kematian Bwee Tiauw Hong. Di kolong langit ini, orang yang pandai Kiu Im Pek-kut Jiauw, siapa lagi kecuali Oey Yok Su?" Ia mengambil pedang Siauw Eng, terus ia bertindak keluar, ketika ia melewati Oey Yong, ia tidak berpaling lagi pada si nona.
Nona Oey merasa hatinya dingin secara tiba-tiba. ia terdiam. Saat itu, ruangan menjadi gelap, sebab apinya padam. Ia kaget, hatinya berdebaran. Itulah kuburan yang ia kenal baik, tetapi di situ sekarang rebah empat mayat dalam caranya yang berlainan, yang mengerikan, maka ia lantas lari keluar. Satu kali ia terpeleset, hampir roboh. Setibanya di luar baru ia ingat bahwa ia kesandung tubuh Coan Kim Hoat. Sekarang ia melihat batu nisan yang roboh. Ia hendak menutup pintu kuburan ketika ia ingat satu hal. Ia lantas berkata pada dirinya sendiri: "Kalau ayah yang membunuh keempat anggota Kanglam Cit Koay ini, kenapa pintu ini tidak dikunci? Ayah sangat mencintai ibu, biarpun ia sangat kesusu, tidak mungkin membiarkan pintu tinggal terpentang?" Maka ia menjadi ragu-ragu. Ia menjadi ingat pula: "Cara bagaimana ayah dapat membiarkan mayat keempat orang ini menemani ibu? Tidak mungkin! Mungkinkah ayah sendiri yang nampak sesuatu yang tidak dinyana?"
Lantas Oey Yong membetulkan batu nisan itu, ia mengunci pintunya, dengan mendorong batu nisan ke kanan tiga kali dan ke kiri tiga kali juga, habis itu ia lari ke arah rumahnya. Ia dapat menyusul Kwee Ceng meskipun si anak muda telah keluar lebih dulu beberapa puluh tindak. Anak muda itu berputaran karena kesasar. Kapan dia melihat si nona, dia lantas mengikuti. Mereka berjalan tanpa membuka suara, mereka melintasi pengempang, sampai di rumah peranti bersemedi dari Oey Yok Su. Hanya sekarang rumah itu roboh tidak karuan, di bagian depan terlihat tiang-tiang dan penglari yang patah.
Oey Yong kaget sampai ia menjerit-jerit. "Ayah! Ayah!" Dia lari ke dalam rumahnya. Di situ kursi meja pada terbalik dan segala perabot tulis, buku semua berserakan di lantai. Di situ tidak ada sekalipun bayangan Oey Yok Su.
Nona ini berotak tajam, dia cerdas dan lekas berpikir, tetapi kali ini pikirannya kacau. Ia memegang meja tulis ayahnya, tubuhnya bergoyang-goyang mau jatuh. Sampai sekian lama, baru ia bisa menetapkan hati. Ia lari ke samping, ke kamar budak-budaknya yang gagu, sia-sia belaka ia mencari, tidak dapat menemukan seorang budakpun. Di dapur sunyi senyap. Rupanya, meski orang tidak mati, semua telah pergi entah ke mana. Rupanya di pulau, kecuali mereka berdua, tidak ada orang lain lagi……
Dengan tindakan perlahan Oey Yong menuju ke kamar tulis, di sana Kwee Ceng berdiri menjublak, matanya mengawasi lerus ke depan.
"Engko Ceng, lekas kau menangis!" berkata si nona. "Kau menangis dulu, baru kita bicara!"
Kwee Ceng tidak menyahut, hanya dengan mata mendelik ia mengawasi si nona. Ia sangat mencintai keenam gurunya, sekarang ia mendapat pukulan begini hebat, kedukaannya sampai di puncaknya hingga tak dapat ia menangis.
Oey Yong kaget. "Engko Ceng!" katanya. Cuma sebegitu ia bisa bilang, lantas berdiam.
Keduanya berdiri saling mengawasi. Akhirnya si anak muda ngoceh seorang diri "Tidak dapat aku membunuh Yong-jie, tidak dapat aku membunuh Yong-jie!"
Oey Yong lantas berkata: "Gurumu telah mati, kau menangislah!"
"Tidak, aku tidak menangis!" kata Kwee Ceng seorang diri.
Kembali keduanya berdiam. Sunyi kamar tulis itu. Cuma di kejauhan terdengar samar-samar suara berdeburnya gelombang.
Oey Yong berpikir keras, ia mengingat segalanya, tetapi tetap ia berdiam.
"Aku mesti mengubur dulu guru-guruku……" Kemudian terdengar Kwee Ceng mengoceh lagi.
"Benar, semua guru mesti dikubur lebih dulu!" menimpali Oey Yong. Bahkan ia mendahului berjalan kembali ke kuburan ibunya.
Tanpa bersuara, Kwee Ceng mengikuti, selagi si nona hendak mendorong batu nisan, mendadak ia lompat melewati, terus menendang batu nisan. Ia menggunakan tenaga besar tetapi batu besar dan berat, ia tidak dapat menggempur roboh, sebaliknya, kakinya berdarah, hanya ia tidak merasakan itu. Bagaikan kalap, ia menyerang kalang kabutan dengan pedangnya: menikam dan menebas, dan tangan kirinya juga menghajar, hingga batu gugur dan gugusannya terbang berhamburan. Pedangnya tak tahan, pedang itu patah. Ia menjadi panas, maka ia terus menyerang dengan tangannya. Kali ini ia berhasil membikin batu patah, hingga terlihat sebatang besi. Ia pegang besi itu, ia menggoyang-goyang keras. Dengan satu suara nyaring, besi itu membuat pintu kuburan terbuka sendiri. Ia melengak, ia berkata seorang diri;
"Kecuali Oey Yok Su, siapa dapat membikin pintu rahasia ini dan siapa dapat memancing semua guruku masuk ke dalam kuburan hantu ini?" Lalu dia berdongak dan berseru nyaring, terus ia melemparkan pedang buntungnya, untuk lari masuk ke dalam kuburan itu!
Oey Yong mengawasi pedang buntung dan batu nisan yang patah, yang terkena darah si anak muda, ia bengong, hatinya bekerja. Ia melihat kebencian hebat dari Kwee Ceng. Ia berpikir; "Jikalau dia melampiaskan hawa marahnya dengan merusak peti ibuku, lebih dulu aku akan membunuh diri dengan membenturkan kepalaku ke peti……" Lantas ia hendak menyusul pemuda itu ketika melihat Kwee Ceng berjalan keluar dengan memondong tubuh Coan Kim Hoat, setelah meletakkan tubuh itu, dia masuk lagi, akan mengambil mayat Cu Cong. Perbuatan itu dilanjutkan kepada mayat Han Po Kie dan Han Siauw Eng.
Dengan mata mendelong, Oey Yong mengawasi si anak muda pada air muka siapa kentara sekali cintanya kepada guru-gurunya. Hatinya menjadi dingin. Ia berkata dalam hati: "Nyatalah dia mencintai gurunya melebihi cintanya kepadaku. Ah, mesti aku cari ayahku, mesti aku cari ayahku……"
Kwee Ceng membawa mayat keempat gurunya ke dalam rimba, terpisah dari kuburan ibunya Oey Yong beberapa ratus tindak, di situ barulah menggali lobang. Ia menggali dengan patahan pedang, hebat ia menggunakan tenaganya. Sekian lama bekerja, mendadak pedangnya bersuara keras - pedang itu patah!
Justru itu ia merasakan dadanya sesak, hawa panas naik, ketika ia mementang mulut, ia muntahkan darah segar hingga dua kali, tetapi ia bekerja terus, dengan kedua tangannya membongkar tanah,
Melihat demikian, Oey Yong lari mengambil dua buah sekop peranti bujang gagunya, yang satu ia kasihkan pada si anak muda, yang lain ia pakai sendiri, membantu menyingkirkan tanah.
Kwee Ceng merampas sekop di tangan si nona, ia patahkan itu kemudian dengan sekop yang satunya bekerja sendiri, ia menggali terus.
Oey Yong tahu artinya perbuatan pemuda itu, hatinya sakit, tetapi ia tidak menangis, ia lantas duduk mengawasi saja.
Kwee Ceng bekerja luar biasa. Ia berhasil menggali dua buah liang besar dan satu kecil. Ke lubang yang kecil ia pondong tubuh Siauw Eng, diletakkan dengan hati-hati. Ia lantas berlutut, paykui beberapa kali. Ia mengawasi muka guru wanita itu, guru yang ketujuh, sesudah itu baru ia menguruknya. Setelah itu mengangkat tubuh Cu Cong dimasukkan ke dalam liang kubur yang besar. Mendadak ia berpikir: "Permata mulia kotor dari Oey Yok Su mendapat menemani jiesuhu?" Maka itu, ia merogoh saku gurunya, mengeluarkan sisa batu permatanya. Paling akhir ia menarik keluar sehelai kertas putih, yang ada suratnya. Ia membeber itu dan membaca:
"Yang rendah dari Kanglam, Kwa Tin Ok, Cu Cong, Han Po Kie, Lam Hie Jin, Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng, dengan ini menghaturkan beritahu kepada cianpwe pemilik Tho Hoa To bahwa mereka telah mendengar kabar bahwa Coan Cin Cit Cu, dengan tidak menaksir tenaganya sendiri, hendak melakukan sesuatu terhadap Tho Hoa To. Mengenai itu, menyesal kami tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengakurkannya, hanya mengingat bahwa cianpwee adalah pantarannya Ong Tiong Yang Cinjin, kami memikir mana dapat cianpwee malayani anak-anak muda. Di jaman dulu Lin Siang Jie telah mengalah terhadap Liam Po, peristiwa itu menjadi buah tutur berupa pujian. Karena siapa gagah, dadanya lapang bagaikan lautan, dia tentu tidak menghiraukan segala perbuatan antara ayam dan kutu. Kalau nanti kejadian Coan Cin Cit Cu datang ke Tho Hoa To, untuk nengakui kesalahannya sendiri, pastilah semua orang gagah di kolong langit ini akan mengagumi kepribadian cianpwee. Tidakkah itu bagus?"


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar