ads

Selasa, 02 Maret 2021

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 025

"Aku jatuh sakit hingga setengah tahun lebih," kata It Teng kemudian, "Setelah sembuh, aku tidak suka memikirkan lagi urusan itu. Kemudian lewat dua tahun lebih, pada suatu malam, selagi aku bersemedhi di dalam kamar, mendadak Lauw Kui-hui datang, dia menyingkap gorden dan nerobos masuk, Thaykam dan dua siewi yang menjaga di luar pintu mencegah, tetapi mereka kena dihajar. Ketika aku menoleh, aku melihat kui-hui menggendong anaknya. Aku mendapatkan dia bermuka pucat, lantas dia bertekuk lutut di depanku dan menangis menggerung-gerung, sambil mengangguk-angguk, dia kata:

“Aku mohon belas kasihan hongya, supaya anak ini dikasih ampun."

"Aku bangkit, melihat anak itu. Dia bermuka merah, napasnya memburu. Ketika aku menggendong dan memeriksa, aku mendapatkan tulang iganya patah lima biji. Kui-hui masih menangis, ia kata: 'Hongya aku bersalah, aku harus mati, tetapi aku mohon anak ini diberi ampun.' Aku tanya, anak itu kenapa. Dia mengangguk-angguk terus, dia tidak menjawab hanya tetap mohon aku mengampuni anaknya itu. 'Mohon hongya mengampuni dia,' katanya ketika aku menanya pula, hingga aku menjadi heran sekali. 'Kalau hongya menghendaki kematianku, aku tidak penasaran hanya ini anak, ini anak……"

"'Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?!' Aku tanya pula. Sebenarnya kenapa anak ini terluka?"

"Kui-hui mengangkat kepala, ia mengawasi aku. 'Apakah bukan hongya yang menitahkan siewi menghajar mati anak ini?' Dia tanya. Aku menjadi heran. Mesti ada apa-apa pada kejadian itu. 'Jadi dia dilukai oleh siewi?' Aku tanya. 'Budak yang mana yang begitu bernyali besar?' Dia terkejut. 'Oh, jadi bukan hongya yang menitahkan? Kalau begitu, anak ini bakal ketolongan……!' Habis berkata begitu dia pingsan."

"Aku heran sekali, aku pun merasa kasihan melihat keadaan kui-hui itu. Aku mengangkat dia bangun, direbahkan di pembaringan. Selang sekian lama, baru dia sadar. Dia lantas menangis, sembari menuturkan duduknya kejadian. Katanya, dia lagi menepuk-nepuk anaknya untuk ditidurkan, mendadak dari luar jendela berlompat masuk satu orang, ialah satu siewi yang mukanya bertopeng, anaknya lantas dirampas dan diangkat, dihajar punggungnya. Kui-hui kaget, dia mencegah. Siewi itu menolak kui-hui, sekali lagi dia menghajar anak itu, kemudian dia tertawa dan berlompat pergi. Kui-hui tidak mengejar, pertama siewi itu kosen sekali, kedua dia menyangka siewi itu diperintah olehku. Itulah sebabnya kui-hui lantas membawa anaknya datang padaku, untuk minta ampun. Aku menjadi semakin heran. Aku memeriksa teliti anak itu, aku tidak mendapat tahu dia terlukakan pukulan ilmu silat apa. Aku mendapatkan ada otot anak itu yang putus. Aku lantas pergi ke kamar kui-hui, untuk melakukan pemeriksaan, sebab aku percaya si penjahat bukan sembarang orang. Kemudian di atas genteng aku melihat tapak kaki. Aku lantas kata pada kui-hui: 'Penjahat itu lihay sekali, terutama ilmu meringankan tubuhnya. Di negeri Tali ini, kecuali aku, tidak ada orang yang kedua yang lihay seperti dia.' Kui-hui menjadi kaget, ia berkata; 'Mustahilkah dia? Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?' Berkata begitu, mukanya menjadi pucat seperti muka mayat."

Oey Yong terkejut. "Tidak mungkin Loo Boan Tong berbuat demikian……" katanya perlahan.

"Ketika itu aku justru menduga pada Ciu Suheng," berkata It Teng Taysu, "Kecuali dia, tidak ada orang yang segagah dia. Aku pun menduga, mungkin dia berbuat begitu sebab dia tidak sudi mempunyai anak itu, yang bakal membikin dia malu. Ketika kui-hui mendengar dugaanku itu, ia malu dan cemas, ia kaget. Mendadak ia kata: 'Tidak, pasti bukan dia! Suara tertawanya lain.' Aku berkata: 'Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin kau kurang jelas?' Tapi ia berkeras, ia kata: 'Suara tertawanya orang itu aku akan ingat buat selama-¬lamanya, meski aku menjadi setan, tidak akan aku lupa! Bukan, bukan dia!'"

Mendengar itu, semua orang menggigil tanpa merasa. Kwee Ceng dan Oey Yong lantas membayangi roman Eng Kouw ketika si nyonya menggertak gigi.

"Mendengar perkataan kui-hui, aku jadi percaya," It Teng bercerita lagi. "Hanya aku tidak bisa menerka si penjahat. Dia begitu kosen, kenapa dia hendak membinasakan seorang anak kecil? Aku sampai menduga-duga kepada murid-muridnya Cinjin seperti Ma Giok, Khu Cie Kee dan lainnya. Mungkin mereka hendak melindungi nama baik partai mereka maka mereka melakukan perjalanan jauh guna melakukan pembunuhan itu……"

Kwee Ceng hendak membuka mulutnya tapi diurungkan. Ia tidak seberani Oey Yong, yang tak takut memotong pembicaraan orang suci itu.

"Kau hendak bilang apa?" It Teng Taysu menanya ketika melihat orang batal bicara.

"Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya itu adalah orang-orang suci dan gagah, tidak mungkin mereka melakukan perbuatan serendah itu," Kwee Ceng bilang.

"Ong Cie It itu pernah aku menemuinya di Hoa San, dia memang seorang laki-laki," kata It Teng, "Tentang yang lainnya, aku tidak tahu. Memang, kalau benar mereka, dengan satu hajaran saja dapat membinasakan anak itu, maka kenapa mereka menghajar hanya setengah mati?"

Sembari bicara, pendeta ini berpikir. Sudah belasan tahun, ia masih belum dapat memecahkan keragu-raguannya. Ruang itu menjadi sunyi sekali.

"Baiklah, nanti aku menuturkan terus," katanya kemudian.

Tiba-tiba Oey Yong berlompat. "Tidak salah lagi, dia pasti Auwyang Hong!" katanya.

"Belakangan aku juga pernah menduga dia," kata It Teng, "Hanya kemudian aku berpikir juga, mustahil dia yang berada jauh di wilayah Barat, sedang dia juga bertubuh tinggi dan besar. Menurut kui-hui, si orang jahat terlebih kate dan kecil dari kebanyakan orang."

"Benar-benar heran," kata si nona.

"Ketika itu aku sangsi memikirkan anak itu," It Teng berkata pula. "Dia terluka tak lebih hebat daripada lukamu, nona, hanya dia masih kecil sekali, tubuhnya sangat lemah, maka untuk mengobati dia, aku mesti mengorbankan tenaga dalamku. Aku jadi bersangsi sebab aku tahu, di dalam rapat yang kedua di gunung Hoa San nanti, pasti aku tidak dapat turut mengambil bagian. Beberapa kali aku hendak menampik, aku gagal. Aku gagal. Aku kasihan melihat Kui-hui, yang menangis saja. Ah, benarlah kata Ong Cinjin bahwa kitab itu bisa mendatangkan kegaduhan dan mencelakai banyak orang. Buktinya aku sendiri, karena memikirkan kitab itu, aku menjadi lain dari biasanya. Lama aku berpikir, baru aku mengambil keputusan untuk mengobati anak itu. Selama aku berpikir itu, aku merasa akulah seorang hina dina mirip dengan binatang. Aku pun masih tidak dapat mengubah kelakuanku meskipun aku sudah mengambil keputusan, aku menganggapnya menolong lantaran tidak bisa menolak permohonan dari Lauw Kui-hui."

"Supee, aku membilang kau sangat mencinta dia, sedikit pun kau tidak salah," berkata Oey Yong.

It Teng seperti tidak mendengar perkataan si nona, dia berkata terus: "Ketika Kui-hui mendengar jawabanku, dia girang sampai pingsan. Lehih dulu aku uruti dia, untuk menyadarkannya, baru aku menolongi anaknya itu. Aku menguruti bocah itu dengan Sian Thian Kang. Ketika aku membuka otonya, aku terkejut. Oto itu memakai sulaman sepasang burung wanyoh serta syairnya itu. Oto itu terbuat dari sapu tangan yang Ciu Suheng dulu hari melemparkan kepadanya. Selagi aku terbengong, kui-hui rupanya melihat sikapku. Maka ia mengertak gigi, mengeluarkan pisau belati, ia tujukan ke dadanya. Ia kata, 'Hongya, aku tidak ingin hidup pula di dunia, maka aku memohon belas kasihanmu, kau tolonglah anak ini. Aku menukar dia dengan jiwaku, nanti di lain dunia, aku akan menjadi anjing dan kuda guna membalas budimu.' Lantas ia menikam dadanya."

Semua orang terkejut, meski mereka tahu Lauw Kui-hui toh masih hidup. Itulah sebab hebatnya suasana yang diciptakan penuturannya It Teng Taysu. Pendeta ini bercerita terus, tapi sekarang ia seperti berbicara seorang diri. Ia berkata:

"Segera aku mencegah perbuatan Kui-hui dengan merampas pisau belatinya. Aku berlaku cepat tetapi toh dadanya tergores juga sedikit hingga dia mengucurkan darah. Karena aku khawatir dia nanti mencoba membunuh diri lagi, aku totok jalan darah di tangan dan kakinya hingga dia tidak dapat bergerak. Habis membalut lukanya, aku kasih duduk di kursi, untuk beristirahat. Dia tidak bilang apa-apa, dia cuma mengawasi aku, matanya menunjukkan kedukaan yang sangat. Aku pun berdiam saja. Maka di situ Cuma terdengar suara napasnya si anak kecil, napas yang mendesak. Mendengar napas bocah itu, aku jadi ingat kejadian yang telah berlalu. Aku ingat bagaimana mulanya dia masuk ke istana, bagaimana aku mengajari dia silat. Aku menyayangi dirinya dan dia selalu menghormati aku, dia agak jeri, dengan teliti dia merawat aku, belum pernah dia membantah, hanya bahwa dia tidak pernah mencintai aku, ini aku tidak tahu, baru aku menginsyafinya setelah datang hari itu yang dia jatuh hati kepada CiuSuheng. Demikian sifatnya kalau seorang wanita mencintai seorang pria. Dia bengong mengawasi sapu tangannya, dia bengong mengawasi Ciu Suheng berlalu untuk selamanya. Sinar matanya membuat aku tidak tentram tidur dan tidak bernapsu dahar. Sekarang aku melihat pula sinar matanya itu, sekarang disaat dari hancurnya hatinya pula. Cuma sekarang bukan untuk kekasihnya, hanya untuk anaknya." It Teng berdiam sejenak. "Seorang laki-laki diperhina demikian, tidak dapat apapula aku seorang raja! Maka itu, mengingat demikian, hatiku menjadi panas. Dengan tiba-tiba aku menendang bangku gadis di depanku hingga bangku itu rusak. Ketika kemudian aku menoleh pada kui-hui, aku terkejut, aku melengak. 'Eh, rambut…… rambutmu itu kenapa?' Aku tanya dia. Dia seperti tidak mendengar perkataanku, dia terus mengawasi anaknya. Dulu-dulu aku tidak mengerti orang mempunyai sinar mata demikian, sekarang baru aku menginsyafinya. Berapa besar dia harus dikasihani. Dia rupanya telah mengerti yang aku tidak sudi menolong anaknya, maka selama dia masih hidup, ingin dia memandang anaknya itu, makin lama makin baik. Aku mengambil kaca, aku bawa itu kepadanya. 'Lihat rambutmu,' aku kata padanya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, dia seperti menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedang dia sebenarnya baru berumur sembilan belas tahun. Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal, penasaran, putus harapan, mendadak ramhutnya berubah menjadi uban!"

"Dia tidak memperhatikan sedikit juga roman atau rambutnya itu. Dia menyangka aku pakai kaca untuk menghalangi dia mengawasi anaknya. Dia berkata padaku, 'Angkat kaca itu.' Dia bicara tegas sekali, dia seperti lupa akulah raja junjungannya. Aku menjadi heran. Aku tahu dia biasanya sangat menyayangi paras mukanya. Aku menyingkirkan kaca, maka terus dia mengawasi anaknya. Ah, kalau dia ada seribu arwahnya, tentulah dia serahkan semua itu kepada anaknya, asal anaknya itu hidup. Aku mengerti bagaimana perasaannya itu. Dia ingin mati untuk anaknya itu."

Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Di dalam hatinya, mereka saling mengatakan: "Kalau aku pun menampak kesukaran seperti itu, apakah kau juga dapat mengawasi aku demikian rupa?" Tanpa merasa mereka saling menyodorkan tangan, untuk saling memegang erat-erat, hati mereka berdenyutan, tubuh mereka dirasai hangat.

"Sebenarnya aku merasa tidak tega," It Teng kemudian melanjutkan ceritanya, "Aku berniat menolong anak itu, apa mau dikata sapu tangan itu tetap berada di dadanya. Itulah sulaman sepasang burung wanyoh, yang saling menyenderkan leher mereka. Kepala burung itu putih. Itulah lambang untuk hidup bersama hingga di hari tua. Maka kenapakah, sebelum tua tetapi rambut sudah putih terlebih dulu? Maka melihat rambut putihnya itu, dengan sendirinya aku mengeluarkan keringat dingin. Mendadak hatiku menjadi keras hati. Aku kata padanya: 'Baiklah, kamu boleh menjadi tua bersama, biarlah aku bersia-sia sendiri di istana sunyi ini tetap sebagai kaisar! Dialah anak kamu berdua, kenapa aku mesti mengorbankan diri untuk menolong menghidupi dia?' Dia memandang aku. Itulah pandangannya yang terakhir. Pada mata itu tampak sinar kedukaan, penasaran, permusuhan. Semenjak itu, dia tidak pernah melihat aku lagi. Sebaliknya aku, tidak dapat melupakan sinar mata itu. Dia berkata dingin. 'Kau lepaskan aku, aku hendak menggendong anakku!' Perkataannya itu mirip firman, membuat orang susah membantahnya. Maka aku membebaskan dia dari totokan. Dia menggendong anaknya. Anak itu pasti terluka parah hingga tidak dapat menangis, mukanya bersinar gelap, matanya mengawasi ibunya, mungkin ia minta ditolong. Aku sendiri sejenak itu, tidak mempunyai rasa kasihan sedikitpun. Aku hanya melihat, rambut hitamnya berubah menjadi putih. Mungkin itu perasaan belaka. Lalu aku mendengar dia berkata halus pada anaknya: 'Anak, ibumu tidak mempunyai kepandaian untuk menolong kau, ibumu tidak dapat membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka, anak kau tidurlah biar nyenyak…… Tidur, anak tidur, untuk selama-lamanya jangan kau sadar lagi!' Aku mendengar dia bernyanyi perlahan, menyanyikan lagu mengeloni anak tidur. Sedap nyanyiannya itu…… Ya, begini, nah kau dengarlah!"

Orang heran. Si pendeta mengatakan demikian tetapi di situ tidak ada terdengar suara nyanyian. Mereka saling mengawasi, mereka terkejut.

"Suhu!" kata si pelajar. "Kau telah bicara terlalu banyak, kau lelah, baiklah kau beristirahat."

It Teng seperti tidak mendengar. Dia berkata pula: "Anak itu bersenyum. Hanya sejenak, saking sakitnya, dia bergelisah. Lantas ibunya berkata pula padanya halus sekali: 'Jantung hatiku, kau tidurlah, nanti lenyap semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak sakit lagi……' Sekonyong-konyong terdengar suara menublas dan pisau belati telah nancap di dadanya!"

Oey Yong kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya memeluk lengan Kwee Ceng. Si pelajar berempat pun kaget tidak terhingga, muka mereka menjadi pucat. Hebat penuturan It Teng itu, yang sebaliknya berbicara terus:

"Aku kaget, aku terhuyung, terus aku jatuh ke lantai. Dalam keadaan lapat-lapat aku tidak tahu memikir apa. Aku banya ingat dia bangkit dengan perlahan-lahan, dengan perlahan dia berkata: 'Akhirnya akan ada satu hari yang aku, dengan pisau belatiku ini, nanti menumblas ulu hatimu.' Dia menunjuk pada gelang kumala di tangannya, dia berkata pula: 'Inilah gelang yang di hari aku masuk ke istana kau memberikan kepadaku. Kau tunggu saja, di hari itu gelang kumala ini aku kembalikan padamu, maka hari itu juga pisau belati ini akan turut datang.'"

Sambil berkata begitu, It Teng putar gelang itu di jari tangannya. Ia bersenyum. "Inilah gelang kumala itu," katanya. "Aku telah menantikan belasan tahun hari ini tibalah harinya itu!"

"Supee, dia membunuh sendiri anaknya, ada apa sangkutannya dengan kau?" Oey Yong tanya. "Pula dia telah mencelakai kau dengan racun, maka meskipun ada permusuhan dahulu, bukankah itu sudah impas? Biarlah, sebentar di kaki gunung, akan kami menyuruh dia pergi, supaya dia jangan datang mengganggu pula……"

Tepat selagi si nona berkata, satu kacung hweeshio datang masuk. "Suhu," katanya, "Dari kaki gunung ada lagi yang mengantarkan ini……"

Dengan kedua tangannya, kacung itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil. It Teng menyambut, untuk terus dibuka. Betapa kagetnya semua orang, hingga mereka berseru, itulah sehelai oto bersulamkan burung wanyoh, sulaman burungnya hidup sekali, cuma suteranya sudah berubah kuning. Di antara kedua ekor burung itu ada satu liang bekas tusukan pisau, di samping liang ada bagian yang hitam, sisa darah.

It Teng meletakkan oto itu di lantai, ia bengong mengawasi. Sekian lama ia berdiam, romannya berduka, lalu dia berkata:

"Inilah sulaman burung wanyoh yang mau terbang berpasangan. Hm, mau terbang berpasangan, tetapi akhirnya menjadi impian belaka. Dia menggendong anaknya, dia berlompat keluar jendela, sembari berlalu dia tertawa keras dan lama. Setibanya di luar, dia lompat naik ke atas genting, sekejap saja dia lenyap. Aku menjadi tidak dahar dan tidak minum, tiga hari tiga malam aku memikirkannya. Akhirnya aku sadar, maka itu, aku mewariskan mahkota kepada anakku yang sulung, aku sendiri lantas masuk menjadi pendeta."

Dia menunjuk empat muridnya, akan menambahkan: "Mereka ini lama telah mengikutiku, mereka tidak suka berpisahan, maka mereka turut aku pergi ke Inlam Barat, ke kuil Liong Coan Sie. Mulanya selama tiga tahun pertama, mereka membantu putraku memerintah. Mereka membantu dengan bergiliran. Kemudian, setelah putraku mengerti tugasnya, dan justru telah terjadi peristiwa di Tay Soat San di mana Auwyang Hong melukai muridku ini, kita lantas pindah ke mari. Sejak itu kita tidak kembali ke Tali. Hatiku keras, aku tidak suka menolong anak itu, maka itu selanjutnya, sampai belasan tahun hingga sekarang ini, siang dan malam, aku merasa hatiku tidak tenang. Aku memikir untuk lebih banyak menolong orang, guna menebus dosaku yang besar itu. Mereka ini tidak mengetahui kesengsaraan hatiku, mereka selalu mencegah. Ah, taruh kata aku dapat menolong selaksa jiwa, anak itu toh tetap mati. Kalau bukan aku membayarnya dengan jiwaku sendiri, mana dosa itu dapat ditebus? Maka setiap hari aku menanti-nanti kabar dari Eng Kouw, menanti dia membawa pisau belatinya untuk menumblas dadaku. Aku tadinya berkhawatir dia tak keburu datang, nanti aku mati terlebih dulu, kalau begitu, hebat untukku. Tapi bagus, sekarang temponya telah tiba, harapanku bakal terkabul. Ah, sebenarnya, buat apa dia menaruh racun di dalam obat Kiu Hoa Giok Louw Wan? Kalau aku tahu, dia bakal segera datang, tak usah suteeku menolong aku menyingkirkan racun itu."

Tapi Oey Yong tidak senang. "Perempuan itu jahat!" ia kata sengit. "Rupanya dia telah ketahui tempat kediaman supee ini, karena khawatir tidak bisa melawan, dia menantikan saatnya yang baik, maka kebetulan sekali aku terluka Khiu Cian Jin, dia sambar ketika ini dia pakai aku sebagai perkakas. Pantas dia menunjukkan aku tempat supee. Dia rupanya memikir untuk lebih dulu membikin habis tenaga supee, baru dia mau turun tangan sendiri. Aku menyesal diriku kena dipermainkan dia! Supee, kenapa gambarnya Auwyang Hong bisa berada di tangannya? Ada apa hubungan dia dengan gambar itu?"

It Teng mengambil sebuah kitab dari atas mejanya dan membalik lembarannya. Ia berkata.

"Gambar ini mempunyai lelakon seperti ini. Di sebuah kota di India ada seorang raja yang sujud. Pada suatu hari seekor burung dara terbang kepadanya meminta perlindungan. Burung dara itu dikejar seekor elang. Burung ini meminta burung dara itu, katanya, kalau tidak, dia bakal mati kelaparan. Sulit untuk raja itu, sebab menolong yang satu berarti mencelakai yang lain. Maka akhirnya ia mengambil pisau dan memotong dagingnya sendiri. Si burung elang meminta daging raja yang sama beratnya seperti burung dara itu, maka daging itu ditimbang. Kenyataannya burung dara itu berat luar biasa, daging raja tidak cukup kendati ia sudah memotong seluruh anggota tubuhnya. Ketika raja menimbangkan tubuhnya juga, maka bergoyanglah bumi, langit bergembira, bidadari-¬bidadari menyebar bunga, harumlah semua jalan, maka naga langit dan setan-setan yang berada di udara pada menghela napas dan berkata: 'Siancay, siancay. Kegagahan seperti ini, sungguh belum pernah ada!'"

Itulah dongeng tetapi demikian rupa It Teng menuturnya, semua orang jadi tergerak hatinya.

"Sekarang aku mengerti, supee," berkata Oey Yong. "Dia khawatir supee tidak suka menolong mengobatiku, dia sengaja menunjukkan gambar itu untuk membikin hati supee tertarik."

"Benar begitu," kata It Teng bersenyum. "Ketika dulu itu dia meninggalkan Tali, tentu hatinya gusar dan penasaran, tentu dia mencari orang gagah, entah bagaimana, dia bertemu Auwyang Hong. Pasti Auwyang Hong mengetahui maksud orang maka ia menolong melukis gambar itu. Kitab ini tersiar luas di Wilayah Barat dan Auwyang Hong adalah orang sana, tentu dia mengetahuinya dengan baik."

"Sungguh jahat!" kata Oey Yong sengit. "Si bisa bangkotan menggunakan Eng Kouw dan Eng Kouw menggunakan aku, ini akal jahat meminjam golok membunuh lain orang!"

"Jangan kau gusar," berkata It Teng menghela napas. "Umpama kata dia tidak bertemu sama kau, mesti dia akan melukai orang, yang dia menyuruhnya datang ke mari meminta aku menolongnya. Cuma, siapa tidak mempunyai kepandaian, tidak dapat dia datang ke mari. Sudah lama Auwyang Hong melukis gambar ini, maka itu rencananya pasti telah diatur semenjak sepuluh tahun yang lampau. Bukankah ini pun semacam jodoh?"

"Benar, supee. Tapi ia masih mempunyai satu maksud lain, yang lebih penting daripada urusan dengan supee ini."

It Teng heran. "Apakah itu?" ia tanya.

"Loo Boan Tong kena dikurung ayahku di Tho Hoa To, dia hendak pergi menolong," si nona menerangkan. Ia menerangkan bagaimana Eng Kouw mencoba mempelajari Kie-bun-sut, supaya bisa memasuki Tho Hoa To. Kemudian ia menambahkan; "Kemudian Eng Kouw ketahui, ia belajar lagi seratus tahun juga tidak mungkin dapat melawan ayahku, maka ketika melihat aku terluka, lantas ia……"

Mendengar itu It Teng tertawa panjang, lalu berbangkit. "Sudah, sudah!" katanya. "Segala apa terjadi secara kebetulan, maka sekarang tentulah dia puas!" Ia berpaling kepada empat muridnya, untuk memerintah: "Pergi kamu menyambut dengan baik Lauw Kui¬hui! Eh, bukan! Kamu menyambut Eng Kouw, kau ajak dia datang kemari. Sedikitpun kamu tidak boleh berlaku tidak hormat kepadanya."

Tanpa berjanji, keempat murid itu menekuk lutut mendekam akan menangis menggerung-gerung. "Suhu!" kata mereka.

It Teng Taysu menghela napas. Ia berkata: "Kamu telah mengikutiku banyak tahun, mungkinkah kamu masih belum tahu hati gurumu?" Ia menoleh kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengatakan; "Aku hendak meminta sesuatu kepada kamu."

"Titahkan saja, supee," menyahut si anak muda.

"Bagus!" kata pendeta itu, "Sekarang pergilah kamu turun gunung. Seumurku, aku banyak berhutang kepada Eng Kouw, maka kalau di belakang hari dia menemui sesuatu bahaya, aku minta dengan memandang aku si pendeta tua, haraplah kamu membantu dia sungguh-sungguh. Seandainya kamu dapat menjodohkan dia dengan Ciu Suheng, aku akan lebih-lebih lagi bersyukur."

Dua muda-mudi itu tercengang, mereka saling mengawasi. Bukankah Eng Kouw datang untuk menuntut balas? Dengan perbuatannya ini, bukan saja It Teng menutup pintu bagi siapa yang hendak menuntut balas, dia membalas kejahatan dengan kebaikan.

Menampak dua orang itu berdiam, It Teng bertanya; "Apakah permintaanku si pendeta tua ini sulit untuk kamu menjawabnya?"

Oey Yong masih bersangsi tetapi ia menjawab: "Kalau supee minta begitu, baiklah, kami menerima baik." Ia lantas menarik ujung baju Kwee Ceng, diajak sama-sama memberi hormat, guna meminta diri.

"Kamu tak usah bertemu muka sama Eng Kouw," It Teng berkata lagi. "Maka pergilah kamu turun gunung dari belakang."

Oey Yong menyahuti, ia tarik Kwee Ceng untuk diajak pergi. Keempat muridnya melihat wajah si nona tenang saja, diam-diam mereka mencaci nona itu tidak berbudi, sebab mereka anggap nona itu tidak memikirkan keselamatan orang yang telah menolongi dia.

Kwee Ceng mengikuti tanpa bicara. Ia tidak percaya Oey Yong demikian tidak berbudi. Ia percaya si nona punya maksud lain. Ketika mereka sampai di mulut pintu, si nona lantas berbisik padanya, kemudian ia mengangguk-angguk, terus ia bertindak kembali, tindakannya perlahan.

It Teng berkata pada pemuda itu; "Kau jujur dan setia, di belakang hari kau pasti akan berhasil melakukan sesuatu yang besar. Maka itu, urusan Eng Kouw pun aku serahkan padamu."

Kwee Ceng menyahuti baik, akan tetapi berbareng dengan itu, mendadak dengan kecepatannya yang luar biasa, ia menyambar lengan si pendeta bangsa India di sisi It Teng Taysu, menyusul tangan kiri menotok dua jalan darah hoa-kay dan thian-cu, hingga si pendeta tak dapat berkutik dalam detik itu juga.

Kejadian ini membikin si pelajar berempat menjadi sangat kaget dan heran. "He, kau bikin apa?" mereka menegur.

Tindakan Kwee Ceng belum selesai. Ia tidak memberikan penyahutan kepada empat orang itu, sebaliknya tangan kirinya lantas menyambar ke pundak It Teng Taysu. Menampak sambaran itu, It Teng menggerakkan tangan kanannya, gesit luar biasa, ia menyambut tangan kiri si anak muda, untuk ditangkap.

Kwee Ceng menjadi kaget dan heran. Ia tidak menyangka pendeta itu masih bisa menghindarkan diri dari sambarannya. Itulah kepandaian dahsyat, yang ia baru pernah menyaksikannya. Hanya ia mendapat kenyataan, ketika kedua tangan saling membentur, tenaga si pendeta lemah sekali, maka ia lantas memutar tangannya untuk membalas menangkap. Berbareng dengan itu, tangan kanannya Kwee Ceng menggunai jurus "Naga sakti menggoyang ekor", guna memukul mundur si pengail dan si tukang kayu, yang menyerang dari samping. Sebab kedua murid pendeta itu, dalam kagetnya, lantas menerjang, untuk menolong guru mereka. Mereka ini cuma bisa maju satu kali saja, lantas mereka dibikin tidak berdaya. Si anak muda meneruskan menotok dua jalan darah mereka, hong-bwee dan ceng-ciok.

Ketika itu Oey Yong juga sudah turun tangan. Dengan tongkatnya ia mendesak mundur si petani sampai di muka pintu.

Si pelajar menjadi kelabakan. "Berhenti, berhenti!" ia berseru berulang-ulang. "Mari kita bicara dulu!"

Si petani menjadi seperti kalap, dia berkelahi nekat sekali, hendak dia merangsak, akan tetapi dia dirintangi tongkat kaum Pengemis, selalu kena dipaksa mundur lagi.

Kwee Ceng sekarang menerjang keluar dari kamar suci, dia paksa memukul mundur si pengail, si tukang kayu dan si pelajar juga, hingga mereka ini terpaksa mundur setindak demi setindak.

Oey Yong dalam melayani si petani telah menotok ke arah alis lawannya. Petani itu terkejut, dia berteriak, terpaksa berkelit sambil berlenggak berlompat juga.

"Bagus!" berseru si nona selagi orang mundur, lalu dengan cepat ia menutup pintu. Sekarang ia tertawa haha-hihi dan mengatakan: "Tuan-tuan, tahan, hendak aku bicara!"

Si tukang kayu dan si tukang pancing telah menangkis serangan Kwee Ceng, mereka merasakan tangan sakit, mereka terhuyung mundur beberapa tindak, meski begitu, ketika si anak muda maju, mereka pun maju pula dengan berbareng, guna melawan terus. Dalam keadaan seperti itu, mereka tidak kenal takut.

Kwee Ceng telah mendengar suara kawannya, ia berhenti melayani terlebih jauh, cepat-cepat ia menarik pulang tangannya, sembari memberi hormat, ia berkata;

"Maaf! Maaf!"

Keempat murid It Teng menjadi heran dan melengak karenanya. Oey Yong segera berkata;

"Kami telah menerima budi guru kalian, budi yang besar sekali, sekarang guru kalian berada dalam bahaya cara bagaimana kami bisa berpeluk tangan menonton saja? Maafkan perbuatan kami ini untuk memberi pertolongan."

Si pelajar menjura. "Musuh majikan kami adalah majikan kami juga," ia berkata. "Di antara kita orang ada tingkat tinggi dan rendah, karena itu, kalau majikan kami yang wanita datang ke mari, kami tidak berani turun tangan terhadapnya. Juga guru kami, karena kematiannya sang putra selama belasan tahun, tidak tentram hatinya, maka itu kalau sebentar Lauw Kui-hui datang, jangan kata memangnya telah lenyap kepandaiannya, walaupun ia masih gagah, ia tentu bakal mandah dibunuh Lauw Kui-hui. Maka hal itu sangat menyulitkan kami, kami tidak berdaya. Dari itu nona, jikalau kamu bisa menunjukkan jalan keluar kepada kami, meski tubuh kami hancur lebur, tidak nanti kami melupakan budimu yang besar itu."

Melihat orang bicara demikian sungguh-sungguh, Oey Yong tidak mau bergurau lagi. "Kami mulanya mengharap bantuan si orang India yang menjadi paman guru kalian," ia berkata, "Kami tidak menyangka, dia sebenarnya tidak mengerti ilmu silat, karena itu sekarang aku mesti menukar siasat. Tindakan ini luar biasabesar bahayanya. Seandainya kita berhasil, di belakang hari tidak bakal ada ancaman bahaya lagi, Eng Kouw sangat licin, kepandaiannya juga tinggi, dari itu aku masih berkhawatir. Aku bodoh, aku tidak dapat memikir jalan lain lagi……"

Si pelajar berempat mengawasi. "Ingin kami mendengar keterangan nona," kata si pelajar.

Oey Yong menggerakkan alisnya yang bagus, terus ia memberi keterangan, mendengar ini, keempat murid It Teng saling mengawasi, hingga sekian lama mereka tidak dapat membuka suara.

Ketika lohor tiba, dengan perlahan-lahan, sang Batara Surya turun ke belakang gunung. Tinggal angin gunung, yang masih meniup-niup, membuat bergoyang-goyang pepohonan di depan kuil. Juga daun-daun kering di pengempang mengasih dengar suaranya yang halus. Tinggallah sinar layung, yang membuatnya puncak gunung berbayang, rebah bagaikan raksasa……

Si tukang pancing berempat duduk bersila di ujung jembatan batu, mata mereka diarahkan ke ujung lain dari jembatan. Hati mereka tidak tentram. Lama mereka menanti, sampai sang magrib tiba. Beberapa ekor gagak terbang dengan suaranya yang berisik, terbang pergi ke selat gunung.

Masih di ujung jembatan sana tak nampak siapapun. "Mudah-mudahan Lauw Kui-hui mengubah pikirannya," berkata si tukang pancing dalam hatinya. "Di dalam hal ini, suhu tidak dapat dipersalahkan. Biarlah dia tak datang untuk selama-¬lamanya……"

"Lauw Kui-hui sangat cerdik, tentu ia sekarang lagi memikirkan akal muslihatnya," si tukang kayu berpikir lain.

Si petani adalah yang paling tak sabaran. "Biarlah dia datang lebih siang, supaya urusan pun beres lebih siang!" pikirnya. "Biar bahaya menjemput, baik atau jahat, biar lekas ada keputusan! Dikatakan datang, dia tidak datang, apa itu tidak membikin orang gelisah?"

Si pelajar sebaliknya berpikir; "Makin lambat dia datang, makin berbahaya ancaman bencananya. Sebenarnya soal sulit sekali……"

Sebetulnya pelajar ini pintar dan pandai berpikir, belasan tahun dia menjadi perdana menteri negara Tali, pernah dia menghadapi banyak perkara besar dan peperangan, tetapi belum pernah dia menghadapi saat tegang seperti ini. Maka dia jadi berpikir keras, apalagi ketika itu, cuaca semakin gelap, di tempat jauh di sana, tak nampak sesuatupun, kecuali suara yang menyeramkan dari si burung malam, si kokok beluk atau burung hantu. Tidak heran kalau kemudian dia ingat kepada dongeng semasa kecil. "Si kucing malam bersembunyi di tempat gelap, dia mencuri alisnya beberapa orang, alis yang dapat dia menghitungnya dengan tepat, maka umur dia itu tak menanti sampai fajar……"

Dengan si kucing malam dimaksudkan si burung hantu. Dan cerita itu dongeng belaka, akan tetapi karena teringatnya di waktu sore, dalam suasana seperti ini, mau tidak mau, bulu romanya. Hebat pengaruhnya suara si burung hantu itu……

"Mungkinkah suhu tidak bakal lobos dari takdirnya, dan ia mesti mati di tangan seorang wanita?" si pelajar berpikir.

"Nah, dia datang!" mendadak terdengar suara si tukang kayu, suaranya perlahan dan bergemetar.

Benar saja, di atas jembatan, terlihat berkelebatnya tubuh manusia. Tiba di bagian liang atau ceglokan, dengan pesat bayangan itu berlompat. Dia begitu gesit hingga si pelajar berempat menjadi heran, mereka berpikir: "Ketika dia belajar silat pada suhu, kita sudah mewariskan kepandaian suhu, kenapa sekarang dia menjadi lebih lihay daripadaku? Selama belasan tahun ini, di mana ia meyakinkan ilmu silatnya?"

Selagi orang itu mendekat bagaikan bayangan, si pelajar berempat lantas bangun untuk berdiri, segera mereka memecah diri ke kedua sisi.

Cepat sekali orang itu telah tiba. Dia mengenakan pakaian hitam, cuaca pun gelap, tetapi dia dapat lantas dikenal. Memang dialah Lauw Kui-hui, selir yang dicintai Toan Hongya. Maka lantas mereka itu memberi hormat sambil mengucapkan:

"Siauwjin menghadap Nio-nio!"

Mereka menyebut diri: "siauwjin", hamba yang rendah dan memanggil nyonya itu dengan Nio-nio, sebutan mulia untuk seorang permaisuri.

"Hm!" Eng Kouw mengasih dengar suaranya, matanya menyapu empat orang itu.

"Apakah Nio-nio itu?" katanya bengis. "Lauw kui-hui sudah lama mati! Aku Eng Kouw. Hai, yang mulia Perdana Menteri, yang mulia Jenderal Besar, yang mulia Laksamana dan Pemimpin dari Pasukan Gielimkun, kiranya kamu semua ada di sini! Aku menyangka Sri Baginda benar-benar sudah melupakan dunia, dia menjadi pendeta, siapa tahu justru bersembunyi di sini, dia tetap masih menjadi kaisar yang berbahagia!"

Hati empat orang itu berdenyutan. Suara kui-hui sangat tak enak terdengarnya. "Sekarang ini Sri baginda bukan lagi seperti dulu," berkata si pelajar, si bekas perdana menteri yang mulia itu, "Kalau Nio-nio melihat padanya, pasti Nio-nio tidak bakal mengenalinya."

"Hai, masih kamu menyebut Nio-nio!" membentak Eng Kouw, "Apakah kamu hendak mengejek aku? Apa perlunya kamu hendak memberi hormat padaku sampai aku mati?"

Keempat orang itu saling melirik, lantas mereka bangun berdiri. "Hambamu yang rendah mengharap kesehatan Nio¬nio," kata mereka.

Eng Kouw mengangkat tangannya. "Hongya menitahkan kamu memegatku, perlu apa ini segala macam adat istiadat?" katanya. "Jikalau kamu hendak turun tangan, lekas kamu menggerakkan tangan! Kamu raja dan menteri telah mencelakai berapa banyak rakyat negeri, maka terhadap aku, seorang wanita, perlu apa kamu masih berpura-pura?"

"Raja kami mencintai rakyatnya seperti dia mencintai anaknya sendiri," berkata si pelajar, "Dia sangat bijaksana dan mulia hatinya, jangan kata mencelakai orang yang tidak bersalah, sekalipun seorang penjahat besar, dia masih menyayanginya! Mustahil Nio-nio tidak ketahui itu?"

Muka Eng Kouw menjadi merah. "Beranikah kamu main gila terhadapku?" dia menanya bengis.

"Hambamu tidak berani……"

"Kamu menyebut hambamu, sebenarnya di antara kita mana ada lagi raja dan menteri?" kata Eng Kouw. "Sekarang aku hendak menemui Toan Tie Hin, kamu hendak memberi jalan atau tidak?"

Toan Tie Hin adalah nama Toan Hongya alias It Teng Taysu. Si pelajar berempat mengetahui itu tetapi mereka tidak pernah berani menyebut itu, maka itu terkesiap hati mereka mendengar Eng Kouw menyebut seenaknya saja.

Si petani yang asalnya adalah komandan Gielimkun, pasukan raja, menjadi habis sabar. Dia kata dengan keras;

"Siapa satu hari pernah menjadi raja, dia agung seumur hidupnya, maka mengapa kau mengucap kata-kata tidak karuan?"

Eng Kouw tertawa panjang, tanpa membilang apapun, ia berlompat maju. Keempat orang itu mengulur tangan, untuk memegat. Mereka pikir: "Meskipun dia libay, mustahil kita tidak dapat merintanginya? Biar kita melanggar titah Sri Baginda, karena terpaksa, kita tidak bisa berbuat lain……"

Eng Kouw tidak menggunakan kedua tangannya, baik untuk mendorong atau untuk meninju, dia maju terus, akan membenturkan tubuhnya kepada mereka!

Si tukang kayu terkejut. Tentu saja ia tidak berani membiarkan tubuhnya ditubruk, itu artinya mereka saling membentur. Maka ia berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, menyambar ke pundak si nyonya, bekas junjungannya itu. Ia menyambar dengan cepat, juga menggunakan tenaga, akan tetapi ketika tangannya mengenai sasaran, ia heran. Ia menjambak sesuatu yang lunak dan licin, ia gagal mencekuk si nyonya. Justru itu si petani dan tukang pancing, sambil berseru, menyerang dari kiri dan kanan!

Eng Kouw tidak menangkis, ia hanya berkelit. Ia mendak, lalu molos bagaikan ular licin di bawah tangan kedua penyerangnya. Berbareng dengan itu, si tukang pancing mendapat cium bau yang harum sekali, ia terkejut, lekas-lekas menggeser incarannya, khawatir nanti mengenai tubuh nyonya itu.

"Bagaimana he?" membentak si petani, gusar. Dengan sepuluh jarinya yang kuat, ia menyambar ke pinggang selir raja itu.

"Jangan kurang ajar!" membentak si tukang kayu.

Si petani tidak menghiraukan bentakan itu, ia meluncurkan terus tangannya, hingga mengenai sasaran, hanya untuk herannya, ia membentur sesuatu yang licin, hingga ia tidak dapat mencengkeram!

Demikian dengan ilmu lindungnya, Eng Kouw meloloskan diri dari rintangan tiga bekas menterinya, maka sekarang tahulah ia mereka tidak dapat mencegah. Karena ini, ia lantas membalas, sebelah tangannya melayang kepada si petani.

Melihat demikian, si pelajar menyerang dengan totokan, ke lengan bekas selir itu, tetapi ini junjungan wanita tidak memperdulikannya, bahkan dia juga mengeluarkan jari tangannya, memapaki totokan itu, hingga tangan mereka bentrok seketika. Bukan main kagetnya si pelajar, hingga dia berseru. Bentrokan itu membikin dia merasa sangat sakit, tubuhnya pun lantas roboh terbanting.

Si tukang kayu dan si tukang pancing berlompat, menolong kawannya. Si petani dengan kepalannya, menyerang Lauw Kui¬hui, untuk merintangi nyonya itu nanti menyusuli serangannya kepada kawannya yang roboh itu. Tangannya ini keras bagaikan besi.

Eng Kouw hendak menguji kepandaian yang ia ciptakan sendiri selama hidup menyendiri di rawa lumpur hitam, ia tidak menyingkir dari serangan itu. Sikapnya ini membikin kaget penyerangnya. Karena si petani pikir, kalau ia mengenakan sasarannya, tentulah hancur lebur batok kepala kui-hui itu. Ia lantas menarik pulang, tetapi dengan begitu kepalannya mengarah juga hidung Eng Kouw!

Nyonya itu berkelit dengan cepat, kepala lewat di depan hidungnya, mengenakan pipi si nyonya. Justru ia terkejut, tangannya dapat kena ditangkap. Ia kaget dan berontak, lantas ia merasakan tangannya sakit, sebab tangan itu kena dibikin patah! Ia mengertak gigi, tanpa menghiraukan tangan patah, dengan tangan kanannya, ia segera menotok ke ceglokan sikut.

Si pelajar berempat telah mendapat pelajaran baik dari guru mereka, meski belum mereka mewariskan ilmu silat It Yang Cie, buat di dunia kangouw, sudah jarang tandingan, maka mereka tidak menyangka sama Eng Kouw seperti membentur batu. Tentu saja, saking keras niatnya menuntut balas, si nyonya pun mempelajari senjata rahasia berupa jarum emas. Ia mengambil dasar dari gerakan menyulam. Telunjuk kanannya dipakai gelang seperti cincin emas, pada cincin itu ada tiga batang jarum beracun. Demikian sambil tertawa dingin, ia menyambut si petani.

Bagaikan orang yang menusukkan diri pada jarum, demikian si petani. Begitu tangannya ketusuk, ia menjerit, tubuhnya roboh seperti si pelajar tadi!

"Hm, paduka congkoan!" Eng Kouw tertawa dingin. Ia lantas nerobos maju.

"Nio-nio, tahan!" berseru si tukang pancing.

Eng Kouw memutar tubuhnya. "Kau mau apa?" ia menanya dingin.

Sekarang si nyonya sudah tiba di depan pengempang. Pengempang itu dipisahkan dengan rumah suci dengan sebuah jembatan batu yang kecil dan ia sudah berada di kepala jembatan. Ia mengawasi dengan roman dan sinar mata bengis, di dalam gelap, sinar matanya itu nampak nyata. Maka terkejutlah si tukang pancing melihat sinar mata itu, hingga ia tidak berani menerjang.

"Yang mulia perdana menteri dan yang mulia congkoan berdua telah terkena jarumku. Cit Ciat Ciam, maka di kolong langit ini sudah tidak ada orang yang dapat menolong!" kata Eng Kouw dingin. Habis berkata begitu, ia memutar tubuhnya, tanpa menanti jawaban, ia berjalan maju, perlahan tindakannya, tidak berpaling pula. Nyata ia tidak khawatir orang akan menyerang dengan membokong.

Jembatan batu yang kecil itu cuma seperjalanan kira-kira duapuluh tindak, ketika si nyonya hampir sampai di ujung penghabisan, di sana dari tempat yang gelap muncul satu orang, muncul secara tiba-tiba, hanya dia segera memberi hormat seraya berkata:

“Adakah cianpwee baik-baik saja?"

Eng Kouw terkejut. Ia berkata di dalam hatinya: "Ini orang muncul secara tiba-tiba begini! Kenapa aku tidak mengetahui dari siang-siang? Jikalau dia menurunkan tangan jahat, pastilah aku telah terbinasa atau sedikitnya terluka……"

Maka ia lantas mengawasi. Ia melihat seorang dengan tubuh tinggi dan dada lebar, alisnya gompiok, matanya besar. Ia pun lantas mengenal Kwee Ceng, si anak muda yang ia berikan petunjuk untuk datang ke gunung ini.

"Apakah lukanya si nona kecil sudah sembuh?" ia menanya.

"Terima kasih untuk petunjuk cianpwee," menyahut si anak muda sambil menjura. "Luka sumoay syukur telah diobati sembuh oleh It Teng Taysu."

"Hm! Kenapa dia tidak datang sendiri menghaturkan terima kasih padaku?" Eng Kouw tanya, sembari berkata, ia bertindak maju.

Kwee Ceng berdiri di ujung jembatan, ia tahu orang hendak menerobos tak perduli ia bakal terbentur.

"Cianpwee, silahkan kembali!" ia berkata cepat.

Eng Kouw tidak menghiraukannya, ia maju terus. Bahkan dengan menggunakan Nie-ciu-kang, ilmu silat "Lindung", ia nerobos ke samping kiri si anak muda.

Kwee Ceng pernah menempur nyonya ini di rawa lumpur hitam, di rumah si nyonya, ia tidak menyangka orang selicin demikian, dalam heran dan kagetnya, ia berlompat, lantas menyerang dengan tangan kirinya, dilancarkan ke belakang. Ia telah menggunakan ilmu silat Kong Beng Kun ajaran Ciu Pek Thong.

Eng Kouw sudah melewati si anak muda ketika ia terkejut atas berkesiurnya angin kepalan, halus tetapi keras. Untuk menolong diri seharusnya ia mundur pula, akan tetapi ia telah berkeputusan pasti, untuknya maju terus tidak ada mundur, maka juga, ia tahu apa yang ia mesti lakukan.

"Hati-hati!" Kwee Ceng berteriak. Mendadak ia merasakan ada tubuh wanita yang halus menubruk lengannya, selagi ia kaget, kakinya telah kena digaet si nyonya, hingga tidak ampun lagi, keduanya jatuh ke arah pengempang.

Selagi tubuhnya belum jatuh ke air, tangan kiri Eng Kouw dilewatkan di bawah ketiak kanan Kwee Ceng, diangkat ke atas, ke belakang leher, terus ke pundak kiri si anak muda, untuk dipakai mencekek tenggorokan anak muda itu, untuk itu ia menggunakan dua jerijinya jempol dan tengah. Inilah ilmu silat "Siauw-kim-na" atau "Tangkapan kecil" jurus "Memencet tenggorokan menutup napas". Kalau orang kena terpencet, ia bisa lantas putus napasnya.

Kwee Ceng merasakan gerakan tangan orang, ia terperanjat. Ia tahu terancam bahaya. Lantas ia membela diri. Ia juga menggerakkan tangan kanannya ke arah leher si nyonya, hanya bukan mengarah tenggorokan hanya belakang leher, sebab ia menggunakan tipu serupa untuk bagian belakang, sedang Eng Kouw untuk bagian depan.

Eng Kouw lantas merasa akan gerakan pihak lawan. Ia pun tahu lihaynya pencetan itu, maka ia berdaya untuk menghindarinya.

Jembatan itu tidak tinggi, jaraknya ke muka air dekat sekali, meski begitu, sebelum tubuh dua orang itu tercebur, mereka sudah saling menyerang dan membela diri. Akhirnya, "Byur!" keduanya jatuh ke air!

Empang itu dalamnya kira-kira dua kaki, di situ ada lumpurnya, maka setelah berada di dalam pengempang, keduanya kerendam air sebatas dada. Eng Kouw licik sekali. Dengan tangan kiri ia merogoh ke dalam air, mengambil lumpur, dengan itu ia lantas menghajar muka si anak muda. Kwee Ceng terkejut, ia berkelit.

Dalam bergerak di lumpur, adalah keistimewaan si nyonya. Sudah belasan tahun ia berlatih di rawa lumpur, maka tubuhnya dapat bergerak dengan lincah sekali, mirip dengan lindung. Kalau di darat dia licin, di air terlebih lagi. Ini juga sebabnya ia berhasil menubruk si anak muda, mereka kecebur bersama. Ia percaya, dengan bertempur di air, ia dapat melewati anak muda ini.

Di dalam air, Kwee Ceng kalah gesit. Rugi untuknya, ia juga tidak berani menyerang melukai nyonya itu. Karena ia cuma bertujuan merintangi si nyonya. Maka lekas juga ia terdesak. Berulang-ulang ia diserang dengan lumpur, hingga ia selalu mesti main berkelit. Akhirnya ia gelagapan, ketika ada juga lumpur yang menimpa mukanya sebelum sempat berkelit, ia cuma bisa menutup matanya. Sambil membela diri dengan sebelah tangan, tangan yang lain ia singkirkan tanah basah itu. Ia telah diajari Kanglam Liok Koay, kalau terkena senjata rahasia, jangan sekali-sekali kehilangan ketabahan, kalau kita gugup atau bingung, musuh leluasa mengulangi serangannya. Maka, ia membela diri sambil menyerang beruntun tiga kali.

Eng Kouw pintar menyingkir dari setiap serangan, ia berlompat naik ke darat, dari itu ketika kemudian Kwee Ceng sudah bisa membuka matanya, ia tengah lari menuju ke dalam kuil. Di dalam hatinya ia kata: "Sungguh hebat! Kalau tidak ada pengempang, tidak akan aku dapat mengundurkan bocah tolol itu. Rupanya Thian besertaku, supaya aku berhasil menuntut balas……"

Segera ia sampai di depan pintu. Ia mengajukan sebelah tangannya, menolak daun pintu.

"Blak!" demikian suara nyaring dan pintu terbuka dengan gampang. Ia menjadi terkejut bahkan heran. Tentu saja ia berkhawatir nanti ada musuh bersembunyi, maka ia tidak lantas maju terus untuk masuk, ia hanya berdiri diam sambil memasang mata.

Kuil itu sunyi senyap. Karena itu baru ia bertindak masuk. Di pendopo ada api pelita, menyorotkan roman agung dari patung sang Buddha yang dipuja di situ. Ia lantas berlutut memberi hormat, ia memuji agar dibantu melaksanakan pembalasan. Tengah memuji, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa perlahan dan geli di sebelah belakangnya. Ia terkejut. Segera ia bersiap membela diri, tangan kirinya menyampok ke belakang, dengan tangan kanan ia menekan tikar untuk berlompat bangun sambil memutar tubuh.

"Bagus!" ia mendengar pula satu suara, kali ini pujian untuk lompatannya yang lincah. Ia mengenal suara seorang nona. Ketika ia sudah mengawasi ¬karena ia pun tidak diserang - segera ia melihat tegas siapa nona itu, ialah Oey Yong!

Nona Oey mengenakan baju hijau ikat pinggang merah, gelang rambutnya yang terbuat dari emas berkeredep berkilauan. Pada wajahnya yang cantik terlihat senyuman manis. Sedang tangannya mencekal Lek-tiok-thung, tongkat keramat dari Kay Pang, Partai Pengemis.

"Eng Kouw, lebih dahulu aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih untuk pertolonganmu!" si nona lantas berkata.

Tapi si nyonya terus terang: "Aku memberi petunjuk kepadamu untuk datang berobat kemari, maksudku yang utama bukan untuk menolong kau, hanya untuk mencelakai orang. Buat apa kau mengucap terima kasih padaku?"

Nona Oey menghela napas. "Di dunia ini, budi dan permusuhan sangat sukar dijelaskan," katanya. "Ayahku di Tho Hoa To telah memenjarakan Loo Boan Tong Ciu Pek Thong limabelas tahun lamanya sampai akhirnya, dia tetap tidak sanggup menolongi jiwa ibuku……"

Mendengar disebutnya nama Pek Thong, tubuh Eng Kouw bergidik. "Ada apakah hubungan antara ibumu dan Ciu Peng Thong?" ia menanya bengis.

Oey Yong cerdik sekali. Segera ia menduga, Eng Kouw tentu mencurigai ada hubungan asmara di antara ibunya dan Loo Boan Tong. Nada suara nyonya ini tegas menyatakan itu. Tapi ini pun bukti bahwa setelah berselang belasan tahun, kui-hui ini masih tidak melupakan Pek Thong, bahkan dia menjadi cemburu terhadap orang lain. Tapi orang menanyakan tentang ibunya. Ia lantas tunduk dan air matanya mengucur turun.

"Ibuku telah dibikin letih Ciu Pek Thong hingga ia meninggal dunia," sahutnya.

Eng Kouw bertambah curiga. Ia mengawasi tajam nona di depannya, hingga ia melihat kulit muka orang yang putih dan halus, matanya yang indah dan alis bagus bagaikan dilukis. Ia merasa, meskipun dulu, semasa ia muda dan sedang cantiknya, tidak dapat melawan nona ini. Maka kalau dia ini sama dengan ibunya, sama cantiknya, siapa berani tanggung Ciu Pek Thong tidak jatuh hati terhadap ibu si nona ini? Maka ia mengerutkan alis.

Oey Yong berkata lagi: "Jangan kau memikir yang tidak-tidak! Ibuku bagaikan bidadari, sedang Ciu Pek Thong itu buruk bagaikan kerbau nakal! Kecuali orang yang matanya tanpa biji, tidak ada yang menaruh hati pada si nakal itu!"

Eng Kouw tahu ia dimaki berdepan, tetapi toh kata-¬kata si nona melenyapkan kecurigaannya, maka berbareng dengan itu, lenyap juga kecemburuannya. Tapi ia mempunyai tabiatnya sendiri, ia tetap berlaku dingin. Ia berkata:

"Karena ada orang yang mencintai Kwee Ceng yang tolol seperti babi, mesti ada orang yang mencintai juga orang yang buruk dan nakal seperti kerbau! Kenapa ibumu itu dibikin mati letih oleh Loo Boan Tong?"

"Kau mencaci sukoku, aku tidak suka bicara denganmu!" sahut Oey Yong, yang menunjukkan tak senang hatinya. Ia lantas memutar tubuh, dengan lagaknya orang bergusar.

"Baiklah," kata Eng Kouw cepat. "Lain kali aku tidak mengatakan dia lagi."

Oey Yong menghentikan tindakannya, ia memutar tubuh. "Loo Boan Tong juga bukan sengaja membikin mati ibuku," ia berkata, "Adalah ibuku yang tidak beruntung, yang telah meninggal dunia disebabkan gara-gara dia. Karena murkanya di satu saat, ayahku telah mengurung dia di Tho Hoa To. Akhirnya, sia-sia saja tidak ada hasilnya dan ayah menjadi menyesal karenanya. Ada dibilang, penasaran ada sebabnya, utang ada piutangnya. Ada sebabnya utang piutangnya. Siapa membinasakan orang yang kau cintai, kau harus cari di ujung langit atau di pangkal laut, untuk membalaskan sakit hati, tetapi memindahkan hawa amarah kepada lain orang, apa perlunya itu?"

Mendengar itu Eng Kouw berdiri menjublak. Ia seperti merasa kepalanya dikemplang dengan tongkat.

"Maka itu ayahku telah memerdekakan Loo Boan Tong……" Oey Yong berkata pula.

Eng Kouw terkejut. "Jadi aku tidak perlu menolong lagi?" tanyanya. Agaknya dia lantas lega hatinya.

Semenjak meninggalkan Tali, Eng Kouw sudah lantas pergi mencari Ciu Pek Thong. Untuk beberapa tahun, sia-sia belaka usahanya. Kemudian dari mulut Hek Hong Siang Sat, dengan tidak disengaja, mendengar halnya Pek Thong dikurung Oey Yok Su di Tho Hoa To, tentang sebabnya, ia tidak berhasil memperoleh keterangan. Ia girang berbareng berduka mendapat kabar halnya Pek Thong itu. Ia girang sebab ia sekarang tahu di mana adanya si kekasih, hanya ia berduka sebab sulit untuk pergi menemui dan menolong dia. Ia pernah mencoba memasuki Tho Hoa To. Di situ, jangan kata menolong orang, ia sendiri bersengsara tiga hari tiga malam, hampir ia mati kelaparan. Setelah lolos dari Tho Hoa To, barulah ia berdiam di rawa lumpur hitamnya itu, untuk meyakinkan ilmu gaib, maksudnya supaya dapat memasuki Tho Hoa To. Sekarang, mendapat tahu Pek Thong sudah bebas, rupa-rupa perasaan memenuhi otaknya.

"Loo Boan Tong paling mendengar kata terhadapku," kata pula Oey Yong, sekarang sambil tertawa manis. "Apapun yang aku bilang, belum pernah dia berani bantah. Jikalau kau ingin menemui dia, mari ikut aku turun gunung, aku nanti menolong kamu merangkap jodoh. Dengan begitu aku jadi bisa membalas budimu sudah menolong aku."

Perkataan itu membikin muka Eng Kouw menjadi merah dan hatinya berdebaran. Oey Yong mengawasi nyonya itu, hatinya lega. Ia percaya bakal berhasil membujuk si nyonya, hingga bahaya menjadi lenyap untuk It Teng Taysu. Tengah ia mengharap jawaban orang, tiba-tiba ia melihat nyonya itu menepuk tangan keras, lantas romannya berubah menjadi bengis dan dia berkata dengan bengis:

"Eh, budak masih berambut kuning, dapatkah kau membikin dia mendengar kata terhadapmu? Apakah yang kau andalkan? Apakah kecantikanmu! Hm! Aku tidak melepas budi padamu, aku tidak mengharapkan pembalasan budimu! Sekarang lekas kau membuka jalan, jangan kau ayal-¬ayalan! Jangan kau nanti mengatakan aku tidak mengenal kasihan!"

Oey Yong tidak takut, dia bahkan tertawa. "Ah, ah! Kau hendak membunuh aku?" tanyanya.

"Membunuh kau, apa boleh buat?" kata Eng Kouw dingin. "Lain orang jeri terhadap Oey Lao Shia, aku tidak! Aku tidak takut bumi atau langit!"

Oey Yong terus tertawa. "Tidak apa kau membunuh aku!" katanya. "Habis siapa nanti menolong kau memecahkan teka-tekiku baru-baru ini?"

Eng Kouw lantas diingatkan teka-teki si nona. Memang semenjak kepergiannya Oey Yong, ia tidak berhasil memecahkan teka-teki itu, sia-sia belaka ia menghitungnya. Untuk dapat menolong Ciu Pek Thong, ia mengasah otak, ia bekerja keras memikirkan, sampai ada kalanya ia lupa dahar dan lupa tidur. Sekarang, mendengar suara si nona, timbullah kesangsiannya.

"Kau jangan bunuh aku, nanti aku mengajari kau," kata Oey Yong. Ia lantas mengambil pelita di depan patung, ia pindahkan ke lantai. Ia juga mengambil sepasang jarum emas, kemudian mencoret-coret di atas batu.

Eng Kouw menjadi tertarik, tanpa merasa ia mengawasi. Ia menjadi kagum sekali untuk kepintaran si nona.

"Tapi, apa perlunya, dia melayani aku bicara secara begini?" kemudian ia pikir. "Apakah dia bukan hendak mengulur waktu?"

Diam-diam ia memandang ke dalam. Ia menduga It Teng Taysu berdiam di ruang belakang. Tentu saja ia tidak sudi diakali seorang bocah. Maka tanpa berkata apa-apa, ia bertindak ke dalam. Ketika sudah melewati hud-tian, ia melihat sinar api yang guram. Ia menjadi jeri. Tidakkah ia bersendirian saja?

"Toan Tie Hin!" ia lantas memanggil, suaranya keras. "Sebenarnya kau mau menemui aku atau tidak? Kenapa kau menyembunyikan diri di tempat yang gelap? Adakah perbuatanmu perbuatan seorang laki-laki?"

Oey Yong mengikuti nyonya itu. Mendengar suara orang, ia tertawa dan berkata: "Eng Kouw, apakah kau mencela tempat ini kurang penerangan? It Teng Supee justru takut lampu terlalu banyak hingga kalau dipasang semuanya kau nanti menjadi kaget. Ia justru menitahkan api dipadamkan……"

"Hm!" si nyonya menyahut. "Akulah manusia yang ditakdirkan mesti mampus masuk ke neraka, mustahil aku takut segala gunung golok dan kuali minyak?"

Si nona bertepuk tangan. "Bagus sekali!" ia berseru. "Aku justru hendak main-¬main di gunung golok denganmu!" Ia lantas menyalakan api dan menyulut ke lantai.

Eng Kouw terkejut. Di sisi kaki si nona ada minyaknya. Ia mengawasi tajam. Ia bukan melihat pelita hanya satu cangkir teh yang isi minyaknya setengah, yang direndamkan sumbu. Di samping itu ada menancap sepasang bambu kecil yang diraut tajam, panjangnya kira-kirs satu kaki. Tanpa henti-henti, si nona bertindak, setiap bertindak, ia menyulut, dan di samping setiap cangkir, ada bambu lancip yang serupa. Ketika telah selesai si nona menyulut, Eng Kouw menghitung, jumlahnya seratus tigabelas batang juga. Ia heran.

"Kalau dibilang ini adalah panggung Bwee-hoa-chung," ia pikir, "Pelatuknya mesti tujuhpuluh dua atau seratus delapan. Tapi ini seratus tigabelas. Apakah artinya ini? Ini juga bukannya keletakan penjuru pat-kwa! Dengan ujung pelatuk begini tajam, di mana orang dapat menaruh kaki? Ah, dia tentulah memakai sepatu dasar besi……" Maka ia lantas memikir: "Dia sudah bersiap sedia, aku tentu kalah, maka baik aku berlagak pilon, aku terus melewati ini!"

Ia lantas bertindak. Tapi cangkir dan pelatuk dipasang rapat, sukar untuk berjalan, maka ia menendang roboh lima enam batang. Sembari berbuat begini, ia kata:

"Permainan setan apa ini? Nyonya besarmu tidak mempunyai kesempatan akan menemani kau main-main!"

"Eh, eh, jangan!" berteriak Oey Yong. "Jangan! Jangan!"

Eng Kouw tidak memperdulikan, ia menendang terus. Si nona agaknya menjadi habis sabar.

"Baiklah!" dia mengancam. "Kau tidak mau pakai aturan, maka hendak aku memadamkan api! Hati-¬hatilah kau melihatnya, kau perhatikanlah kedudukannya setiap pelatuk bambu tajam itu!"

Eng Kouw kaget. "Mereka di sini tentu telah mengingat baik letak semua pelatuk bambu ini," ia pikir, "Kalau mereka mengepung, aku bisa terbinasa di sini. Baiklah aku lekas mengangkat kaki!"

Karena memikir demikian, si nyonya mengempos semangatnya, untuk menendang dengan terlebih gencar lagi.

"Kau main gila! Kau tidak tahu malu!" berseru Oey Yong, terus berlompat maju, untuk menghalangi dengan tongkatnya, hingga diantara sinar api, cahaya hijau tongkat itu berkelebatan.

Eng Kouw tidak memandang mata kepada seorang bocah, segera ia menghajar dengan tangan kirinya, berniat membikin patah tongkat keramat itu, akan tetapi segera ia kecewa. Si nona mengasih lihat ilmu silat tongkat Tah Kauw Pang-hoat bagian "hong" atau "menutup". Dengan ini ia tidak menyerang, hanya memutar tongkatnya bagaikan tembok penghadang. Kalau lawan tidak maju, tongkat itu tidak berbahaya, tetapi asal lawan maju satu tingkat saja, ia bisa merasakan bagiannya.

Begitulah ketika satu kali Eng Kouw menyerang, mendadak ia merasakan tangannya sakit dan kaku. Ia berlaku cepat menarik pulang tangannya tetapi tongkat mendahului menghajar belakang telapak tangannya. Baru sekarang ia kaget berbareng gusar sekali, tetapi sebagai seorang yang dapat berpikir ia tidak menjadi kalap. Sebaliknya, ia menguasai diri menurut menutup diri, guna melihat dahulu ilmu silat nona itu.

"Dulu aku menyaksikan Hek Hong Siang Sat memang lihay," pikir bekas kui-hui ini. "Tetapi mereka itu tidak heran karena mereka berumur kira-¬kira empatpuluh tahun. Kenapa sekarang ini bocah lihay sekali? Rupanya Oey Yok Su telah mewariskan ke pandaiannya kepada anak tunggalnya yang ia sangat sayangi……"

Tentu saja bekas nyonya agung ini tidak tahu halnya ilmu silat kaum Kay Pang serta tongkat keramatnya itu. Kalau Oey Yong bersilat dengan Tah Kauw Pang-hoat meskipun Oey Yok Su sendiri, tidak akan gampang dapat merobohkannya.

Selagi orang menutup diri, Oey Yong juga tetap menutup diri, ia tetap menghadang, guna mencegah nyonya itu nerobos ke dalam kuil. Di lain pihak setiap kali ia bertindak, berbareng ia menendang, ia membuatnya padam setiap pelita cangkir itu, untuk membikin mati semuanya seratus tigabelas buah. Ia menggunakan ujung sepatunya, ia membikin tidak ada cangkir yang pecah ketendang, sedang muncratnya minyak pun sedikit. Dalam hal menendang ini, ia menggunakan ilmu silat Tho Hoa To yang dinamakan "Tendangan Menyapu Daun".

Eng Kouw berkelahi sambil memasang mata. Ia percaya si nona belum pulih kesehatannya, maka ia pikir, baiklah ia menyerang di bawah, supaya nona itu lekas letih, agar dalam waktu beberapa puluh jurus saja, akan memperoleh kemenangan. Akan tetapi perkembangan terlebih jauh membuat ia berkhawatir. Sebab si nona terus main menendang api hingga padam.

Dengan cepat di tiga penjuru ruang sudah gelap, tinggal di ujung timur laut, hingga sinar api menjadi seperti berkelak-kelik. Ke arah ini si nona mendesak guna melangsungkan usahanya memadamkan semuanya.

"Ini berbahaya," Eng Kouw mengeluh. "Celaka kalau api padam semua. Mana bisa aku bertindak dengan leluasa? Di sembarang waktu aku bisa kena injak pelatuk bambu yang tajam ini……"

"Kau ingat baik-baik keletakkannya pelatuk bambu!” Oey Yong mengasih dengar suaranya dalam kegelapan setelah api padam semua. "Mari kita bertarung selama tigapuluh jurus! Asal kau dapat tidak melukakan aku, aku akan memberi ijin kau masuk menemui It Teng Taysu!"

"Tetapi kau curang," kata Eng Kouw. "Pelatuk ini dipasang olehmu sendiri, entah untuk beberapa hari dan beberapa malam kau telah melatih dirimu. Aku sendiri baru melihatnya sekejapan, mana bisa aku mengingat semua?"

Oey Yong biasa menang sendiri, ia percaya kepada kekuatan memikirkannya. "Itu tidak susah!" katanya tertawa. "Kau nyalakan pelita, kau boleh tancap pelatuk itu sesukamu, setelah rapi, api baru dipadamkan pula, habis itu baru kita bertempur lagi."

Eng Kouw tahu, ini bukan lagi mengadu ilmu meringankan tubuh hanya mengadu otak, mengadu berpikir. Ia berkata dalam hati, si nona demikian licin, apa boleh dia melayaninya? Bukankah sakit hatinya belum terbalas? Tapi ia pun cerdik, ia lantas mendapat pikiran.

"Baiklah, aku si nyonya tua menemani kau main-main!" katanya. Ia lantas mengeluarkan apinya menyulut semua pelita itu.

"Kenapa kau menyebut dirimu nyonya tua?" berkata Oey Yong tertawa. "Melihat romanmu yang cantik bagaikan kumala, kau lebih menang daripada nona-nona lainnya yang berumur enambelas tahun! Pantaslah dulu Toan Hongya menjadi tergila¬-gila kepadamu!"

Eng Kouw tengah mencapai pelatuk ketika ia mendengar perkataan si nona, ia menjadi melengak. Ia lantas tertawa dingin dan menyahut:

"Dia tergila-gila padaku? Hm! Selama tiga tahun aku masuk ke dalam istananya berapa kalikah dia pernah memperhatikan aku?"

"Eh, heran!" berkata si nona, "Bukankah dia telah mengajari silat padamu?"

"Apakah mengajari silat berarti diperhatikan?"

"Aku mengerti sekarang! Toan Hongya hendak memahamkan ilmu Sian Thian Kang, It Yang Cie, dia jadi tidak terlalu rapat denganmu……"

"Hm! Kau tahu apa?" kata bekas kui-hui itu. "Kalau begitu, kenapa dia dapat juga putra mahkota?"

Oey Yong memiringkan kepalanya, nampaknya ia berpikir. "Putra mahkota dilahirkan lebih dulu, ketika itu Toan Hongya belum mempelajari Sian Thian Kang," katanya sesaat kemudian.

Eng Kouw mengasih dengar suara, "Hm!" lalu membungkam, terus ia mengatur pelatuk baru. Oey Yong sendiri diam-diam memperhatikan pengaturan itu, karena ia tahu, pertarungan yang bakal datang berarti bahaya untuk jiwanya.

"Toan Hongya tidak mau menolong anakmu, itu karena dia mencintai kau," katanya pula kemudian.

"Karena dia mencintai aku?" Eng Kouw tanya. Lagu suaranya menandakan ia mendongkol sekali, ia sangat membenci.

"Dia cemburu terhadap Loo Boan Tong! Kalau dia tidak mencintai kau, kenapa dia cemburu?"

Kembali Eng Kouw berdiam. Dulu ia tidak pernah ingat hal ini. Memang beralasan, karena cintanya, raja Tali itu menjadi cemburu.

"Maka itu, turut penglihatanku, baiknya kau pulang saja," kata lagi si nona.

"Kecuali kau mampu menghalangi aku!" bilang si nyonya dingin. Kembali hatinya panas.

"Baiklah!" berkata si nona. "Kalau kau tetap hendak mengadu kepandaian, aku suka menemani kau! Jikalau kau mampu nerobos, aku tidak akan menghalang lagi! Bagaimana kalau kau tidak sanggup?"

"Selanjutnya aku tidak akan mendaki gunung ini!" menyahut si nyonya. "Aku menghendaki kau menemaniku satu tahun, janji itu pun aku suka menghapuskannya!"

Oey Yong menepuk tangan. "Bagus!" ia berseru. "Memang hebat aku berdiam di rawa lumpur hitam selama satu tahun! Siapa sanggup?"

Selama itu, Eng Kouw telah menancap kira-kira enampuluh batang. Mendadak ia memadamkan pelitanya.

"Yang lain-lainnya biarlah tetap sebagaimana adanya!" katanya. Mendadak saja ia menerjang si nona dengan lima jari tangan terbuka.

Oey Yong melihat diserang secara demikian, ia berkelit. Ia lantas membalas menyerang, menekan ke pundak nyonya itu.

Eng Kouw tidak menangkis, ia bertindak maju terus, tindakannya lebar, saban-saban terdengar kakinya menginjak pelatuk, memperdengarkan suara, sebab semua pelatuk telah terpatahkan. Maka leluasa sekali dia bertindak terus. Sekejab saja si nona sadar.

"Ha, aku terpedayakan!" katanya. "Teranglah tadi, selagi menukar pelatuk, dia mematahkan setiap pelatu……"

Tentu saja, ia menjadi menyesal sekali. Eng Kouw segera sampai di belakang, terus ia menolak pintu, maka di dalam kamar ia melihat seorang pendeta lagi duduk bersila di tengah-tengah. Pendeta itu sudah tua, kumisnya ubanan dan panjang turun ke dadanya, sedang leher jubahnya sampai ke pipi. Ia sedang bersemedhi. Di sampingnya, ditemani keempat muridnya, beberapa pendeta tua lainnya serta beberapa kacung.

Kapan si pelajar melihat si nyonya datang, ia bertindak ke depan si pendeta tua sambil merangkap kedua tangannya.

"Suhu, Lauw Nio-nio datang berkunjung!" memberi tahu.

Si pendeta tua mengangguk perlahan, ia tidak menyahut. Dalam ruang itu cuma ada sebuah pelita, maka bisa dimengerti, di situ setiap muka orang tak nampak tegas.

Eng Kouw memang tahu Toan Hongya sudah mensucikan diri, hanya ia tidak menyangka, baru sepuhuh tahun tidak bertemu, kaisar yang begitu gagah dan pintar itu, sekarang telah menjadi pendeta begini tua dan lemah, ia pun lantas mengingat perkataan Oey Yong tadi perihal pendeta tua ini. Tanpa merasa, hatinya menjadi lemah, gagang goloknya tidak lagi dipegang erat-erat. Ketika ia melihat ke bawah, mendapatkan oto sulamnya dilekatkan di depan pendeta itu, di atas oto itu ada gelang kumaha - itu gelang yang dulu Toan Hongya menghadiahkannya.

Sekejap seperti terkilas segalanya, di depan matanya bagaikan berbayang saat baru masuk ke istana, belajar silat, bertemu Ciu Pek Thong hingga mereka memain api asmara, lalu melahirkan anak dan anaknya terbinasa. Yang hebat ketika ia ingat wajah anaknya yang menderita sakit karena lukanya yang hebat, bagaimana anak itu beroman minta tolong tetapi pertolongan gagal dan anak itu seperti menyesali ibunya……

Mendadak Eng Kouw menyerang Toan Hongya, goloknya nancap di dada, melesak sampai sebatas gagangnya. Ia tahu kaisar itu lihay, ia percaya tikamannya tidak bakal lantas merampas jiwa, maka ia merasakan sesuatu yang aneh waktu goloknya menebas, ia lekas menarik pulang, guna mengulangi dengan tikaman yang kedua kali. Hanya di luar sangkaannya, goloknya itu seperti nancap keras. Ketika itu si pelajar berempat menjerit, semua berlompat maju.

Sepuluh tahun lebih Eng Kouw telah mehatih diri, dan tikamannya ini ia mengulanginya entah berapa ribu, atau berapa puhuh ribu kali. Ia tahu, Toan Hongya mesti telah menjaga diri baik-baik, maka ia juga bersiap sempurna. Maka ketika ia akhirnya dapat mencabut goloknya dengan tangan kanan, tangan kirinya dipakai melindungi diri. Dengan cepat ia berlompat mundur ke pintu. Di sini ia masih sempat menoheh ke belakang, dengan begitu ia bisa melihat Toan Hongya memegang dadanya, rupanya dia merasakan kesakitan yang amat sangat.

Karena ia telah membalas sakit hati, lantas ingat kebaikan raja itu, ia menghela napas, terus ia memutar tubuhnya, untuk ngeloyor pergi. Tapi ketika ia baru memutar tubuh, mendadak ia menjadi kaget sekali, sampai ia menjerit keras dan bulu romanya bangun berdiri. Di ambang pintu, ia melihat seorang pendeta lagi berdiri dengan kedua tangan dirangkap di depan dada. Kebetulan sekali, sinar api menuju ke mukanya pendeta itu, suatu muka yang penuh dengan sorot cinta kasih. Yang mengagetkan ialah si pendeta Toan Hongya adanya!

"Mungkinkah aku salah membunuh orang?" begitu berkelebat pikiran di otaknya. Maka lantas menoleh ke belakang, kepada orang yang baru ia tikam.

Ketika itu terlihat si pendeta bangkit berdiri perlahan-lahan, terus membuka jubah sucinya, sedang tangan kirinya meraba ke mukanya, untuk menarik lepas kumis jenggotnya. Maka kagetlah ia. Si pendeta palsu itu adalah Kwee Ceng! Kembali ia mengeluarkan jeritan.

Eng Kouw tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan Oey Yong, yang telah mengatur tipu dayanya itu dengan bekerja sama si anak muda. Kwee Ceng menotok It Teng Taysu untuk dapat menggantikan dia. Kalau It Teng Taysu diajak berdamai dulu, mungkin dia menolak. Si pendeta India ditotok karena disangkanya lihay, tidak tahunya ia tidak punya guna. Selanjutnya nona Oey bersiap terlebih jauh. Selagi ia menungkuli Eng Kouw main pelita, Kwee Ceng dibantu si pelajar berempat pergi menyamarkan diri. Sebab habis kecemplung di pengempang, anak muda ini tidak mengejar nyonya itu hanya pergi ke dalam untuk siap sedia. Untuk ini Kwee Ceng berkorban rambutnya, yang dicukur habis, sedang untuk kumis jenggotnya, dipakai kumisnya It Teng Taysu, kumis siapa pun dicukur.

Sebenarnya keempat murid itu merasa tidak enak mempermainkan guru mereka, tetapi mengingat pengorbanan Kwee Ceng serta usaha Oey Yong guna menolong guru mereka, terpaksa mereka menurut. Kalau lain orang yang menyamar jadi It Teng, ada kemungkinan dia tertikam mati oleh Eng Kouw yang lihay itu. Sekalipun Kwee Ceng yang dapat menjepit goloknya si nyonya, saking hebatnya tikaman, ujung golok toh melukai juga kulit dan sedikit dagingnya, syukur tidak berbahaya. Kalau Kwee Ceng memakai baju lapisnya Oey Yong, ia bisa lobos dari ancaman bencana, tetapi baju itu tidak dipakai sebab dikhawatirkan si nyonya jadi curiga.

Selagi akal itu berjalan demikian baik, sekonyong-¬konyong It Teng Taysu muncul. Ini tidak cuma membikin kaget kepada Eng Kouw tetapi juga Oey Yong semua.

It Teng itu, meskipun terluka tenaga dalamnya, ilmu silatnya sendiri tidak lenyap semua, sedang Kwee Ceng, diwaktu menotok dia, sudah menotok di jalan darah yang tidak akan mengakibatkan kecelakaan. Ia telah dipernahkan di kamar sebelah. Di sini ia dengan perlahan-lahan menyalurkan tenaganya, ia berhasil membebaskan diri dari totokan, maka itu ia lantas keluar. Kebetulan sekali, ia berpapasan dengan Eng Kouw.

Muka nyonya itu menjadi sangat pucat saking kaget dan berkhawatir. Ia lantas merasa bahwa ia tidak bakal lolos lagi dari kepungan.

"Kembalikan golok kepadanya!" berkata It Teng pada Kwee Ceng.

Pemuda itu mendengar suara yang berpengaruh, tanpa bersangsi pula, ia melemparkan golok di tangannya kepada Eng Kouw.

Si nyonya menyambut senjatanya itu, lalu ia mengawasi orang banyak terutama It Teng, untuk melihat apa akan orang perbuat atas dirinya. Ia menduga mungkin ia bakal disiksa…… It Teng membuka jubahnya dengan perlahan, terus ia membuka baju dalamnya.

"Jangan ganggu dia," berkata ia, "Biarkan dia turun gunung dengan baik. Nah sekarang, kau tikamlah aku!" ia meneruskan kepada si selir. "Memang sudah lama aku menantikanmu!"

Suara itu perlahan dan sabar, tetapi mendengar itu, Eng Kouw merasa seperti mendengar guntur, ia berdiri tercengang, golok terlepas jatuh dengan sendirinya. Begitu ia sadar, ia menutupi mukanya, ia lari ke luar dari kuil. Mulanya masih terdengar tindakan kakinya, lalu lenyap.

Semua orang saling mengawasi, mereka pun tercengang semua berdiam. Hanya selang sesaat, di situ terdengar dua kali suara menggabruk, lalu terlihat si tukang pancing dan si petani roboh terguling. Karena mereka telah menjadi korban jarum beracun dari Eng Kouw. Tadinya mereka masih dapat bertahan, sekarang setelah mendapatkan guru mereka selamat, saking girang, habis tenaga perlawanannya, mereka roboh dengan sendirinya. Si pelajar kaget.

"Lekas undang paman guru!" katanya.

Belum berhenti suara si pelajar ini, Oey Yong telah muncul bersama si pendeta India, maka pendeta itu lantas dapat bekerja menolong dua keponakan muridnya, selain dikasih obat makan, jeriji tangan mereka pun dibelek, untuk mengeluarkan darahnya yang sudah kecampuran racun. Habis bekerja, ia berkata-kata sendiri bagaikan memuji.

Itulah kata-kata dalam bahasa Sansekerta. It Teng ketahui bahasa itu, ia lega hatinya. Sebab si sutee, adik seperguruan mengatakan lukanya dua orang itu tidak berbahaya untuk jiwanya, mereka harus beristirahat dua bulan nanti mereka sembuh betul.

Ketika itu Kwee Ceng sudah menukar pakaiannya dan lukanya pun telah dibalut, ia berlutut di depan It Teng untuk minta maaf. It Teng mengangkat bangun tubuh pemuda itu.

"Kau berkorban untuk menolong aku, akulah yang berhutang budi," katanya. "Semua ini karena salahku." Ia menoleh kepada si pendeta India, untuk menjelaskan pertolongan anak muda itu.

Pendeta itu kembali mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sansekerta. Mendengar itu, Kwee Ceng heran.

"Aku kenal ini," katanya, dan ia terus menghapal lanjutan kata-kata itu, menurut ajaran Ciu Pek Thong.

It Teng dan si pendeta India menjadi heran pemuda ini mengerti bahasa asing. "Bagaimana ini?" menanya Toan Hongya pada anak muda itu.

Kwee Ceng jujur, ia lantas menutur bahwa ia mengerti bahasa itu. Mendengar keterangan ini, It Teng menghela napas.

"Tatmo Couwsu memang orang India, tetapi di waktu menulis Kiu Im Cin-Keng, ia memakai bahasa Tionghoa," katanya, "Cuma di bagian-bagian pokok, ia tetap menggunakan bahasa Sansekerta. Kitab itu memang sangat sukar dimengerti, sukar juga dihapalnya."

Kemudian pendeta itu menitahkan keempat muridnya dan yang lain-lain keluar dari kamar, habis itu ia menjalin, ia memberi penjelasan pada Kwee Ceng dan Oey Yong tentang bunyi Kiu Im Cin-keng seperti dihapalkan Kwee Ceng barusan.

It Teng dapat memberi penjelasan sempurna, Oey Yong lantas mengerti, sedang Kwee Ceng si bebal, mengerti enam sampai tujuh bagian.

Kemudian berkatalah It Teng Taysu: "Aku telah terluka hebat, aku mesti beristirahat lima tahun, baru kesehatanku akan pulih, tetapi dengan memperoleh warisan Tatmo Couwsu ini, aku rasa tak usah sampai tiga bulan, akan sembuh seanteronya."

Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi girang sekali. Sejak itu, muda mudi ini lantas berdiam di atas gunung, menemani It Teng Taysu. Si pendeta telah mewariskan kepandaian It Yang Cie, Sian Thian Kang dan penjelasan lebih jauh dari Kiu Im Cin-keng, sedang mereka berbareng menjaga pendeta ini lantaran dikhawatirkan Eng Kouw nanti berbalik pikiran dan datang lagi untuk menuntut balas, selagi masih sakit, tentu It Teng tidak dapat membela diri.

Dihari kedelapan, selagi Oey Yong dan Kwee Ceng berlatih di luar kuil, mereka mendengar suara burung berbunyi di udara, suaranya nyaring tapi nadanya sedih, lalu segera terlihat burungnya mendatangi dari arah timur.

"Bagus, Kim-wawa sampai!" berseru si pemudi seraya bertepuk tangan.

Segera juga kedua burung rajawali sampai dan turun. Romannya lesu. Muda mudi ini heran, mereka lantas memeriksa. Di dada kiri rajawali betina ada menancap sepasang panah pendek, dan di kaki rajawali jantan ada sepotong juiran cita hijau. Kim-wawa sebaliknya tidak ada. Oey Yong mengenali, juiran itu adalah juiran baju ayahnya. Ia menjadi kaget. Pasti kedua burung itu telah sampai di Tho Hoa To. Mungkin Tho Hoa To kedatangan musuh tangguh maka ayahnya tidak sempat melayani dalam urusan ikan emas itu. Heran adalah terpanahnya burung itu. Musuh mestinya lihay. Celakanya, kedua burung tidak dapat berbicara. Oleh karena berkhawatir Oey Yong lantas mengajak Kwee Ceng menemui Thian Tek, untuk berpamitan. Kepada pendeta itu dituturkan sebabnya niat kepergian mereka. It Teng tidak dapat menahan kedua tetamunya ini.

Si pengail dan petani lagi sakit, mereka rebah di pembaringan, maka si pelajar dan si tukang kayu yang mengantarkan turun gunung. Di kaki gunung si nona mendapatkan kuda dan burungnya. Di situ, kedua pihak berpamitan.

Perjalanan ini dilakukan Oey Yong dengan gembira. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan ayahnya, ia tahu lihay dan pintar, umpama musuh tangguh sekalipun, pasti ayahnya dapat mempertahankan diri.

"Semenjak kita berkenalan, entah berapa kali kita menghadapi ancaman bahaya," katanya. "Dan selamanya, di dalam bahaya, kita memperoleh kebaikan. Lihatlah kali ini. Aku terhajar Khiu Cian Jin, akhirnya aku memperoleh It Yang Cie dan Kiu Im Sin Kang."

"Aku rela tidak mengerti ilmu silat asal kau selamat tidak kurang suatu apapun," kata Kwee Ceng.

Senang hati si nona, ia girang bukan main. Tapi ia tertawa dan berkata: "Ah, ah, untuk mengambil hati, jangan kau omong seenaknya saja! Tanpa mengerti ilmu silat, tentu kau telah orang dihajar mati! Jangan kata Auwyang Hong dan See Thong Thian semua, walaupun satu anggota saja dari Tiat Ciang Pang, dia bisa membacok kutung lehermu!"

"Biar bagaimanapun, aku tidak akan mengijinkan kau terluka lagi!" kata si anak muda. "Kali ini lukamu hebat sekali, melihatnya saja hatiku tidak kuat…… Di Lim-an aku terluka, aku merasa tidak apa-apa."

"Kalau begitu, kau tidak punya hati!" kata si nona tertawa.

Kwee Ceng heran. "Kenapa begitu?" ia tanya.

"Kau terluka, kau tidak merasa, tetapi bagaiman dengan aku?" kata si nona.

Si anak muda diam, lalu dia tertawa lama. Ia menjepit perut kuda, maka kudanya lantas kabur.

Tengah hari mereka tiba di kecamatan Tho-goan. Oey Yong belum pulih kesehatannya, disebabkan menunggang kuda terlalu lama, ia merasa letih, kedua pipinya menjadi merah, napasnya pun kurang lurus jalannya, maka Kwee Ceng ajak ia mampir di rumah makan Pie Cin Lauw.

Sembari dahar Kwee Ceng minta pelayan tolong memanggil tukang perahu, yang perahunya hendak di sewa untuk menyeberang ke Hankauw.

"Kalau tuan menumpang, tuan bisa menghemat sewaan perahu," kata pelayan itu. "Kalau tuan memborong sendiri, sewanya mahal……"

Oey Yong tidak senang si pelayan banyak bicara. Ia mengasih lihat roman gusar, ia melemparkan uang perak lima tail.

"Cukup tidak?" ia tanya.

"Cukup, cukup!" kata si pelayan, yang lantas ngeloyor pergi.

Kwee Ceng tidak mau si nona minum arak, khawatir arak mengganggu kesehatannya, dari itu ia pun tidak minum. Tengah mereka bersantap, pelayan kembali bersama seorang tukang perahu, katanya dia minta uang sewa empat tail enam chie, dapat nasi tanpa lauk pauk. Oey Yong akur, tanpa banyak bicara, ia menyerahkan uang lima tail itu.

Tukang perahu menerima uang, ia memberi hormat sambil menunjuk mulutnya, suaranya tidak karuan. Ternyata dia gagu. Kedua tangannya lantas digunakan sebagai gantinya.

Oey Yong mengerti pembicaraan dengan tangan itu, ia melayani, kemudian tukang perahu itu berlalu dengan kegirangan.

"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Kwee Ceng.

"Kata dia, habis bersantap kita berangkat. Aku menyuruh dia membeli beberapa ekor ayam beberapa kati daging, uangnya sebentar kita ganti."

Pemuda itu menghela napas. "Kalau dia bertemu aku, tak tahu aku mesti bikin apa……" katanya. Kemudian ia ingat Ang Cit Kong. Inilah disebabkan hidangan lezat yang dimakannya itu. Ia kata: "Entah suhu ada di mana dan bagaimana dengan lukanya……"

Selagi Oey Yong mau menyahut, ia mendengar tindakan kaki di tangga lauwteng, lantas ia melihat naiknya dua too-kauw, imam wanita. Mereka menutupi muka hingga tinggal matanya yang terlihat. Mereka mengambil meja di pojok, kepada pelayan, yang satunya bicara perlahan. Oey Yong merasa ia seperti kenal dua imam itu tetapi ia tidak ingat betul. Kwee Ceng melihat kawannya memperhatikan orang, ia menoleh, justru imam yang satu lagi mengawasinya. Dia itu lantas melengos.

"Engko Ceng, imam itu tergerak hatinya!" kata Oey Yong perlahan sambil tertawa. "Dia tentu mengatakan kau tampan sekali……"

"Aku jatuh sakit hingga setengah tahun lebih," kata It Teng kemudian, "Setelah sembuh, aku tidak suka memikirkan lagi urusan itu. Kemudian lewat dua tahun lebih, pada suatu malam, selagi aku bersemedhi di dalam kamar, mendadak Lauw Kui-hui datang, dia menyingkap gorden dan nerobos masuk, Thaykam dan dua siewi yang menjaga di luar pintu mencegah, tetapi mereka kena dihajar. Ketika aku menoleh, aku melihat kui-hui menggendong anaknya. Aku mendapatkan dia bermuka pucat, lantas dia bertekuk lutut di depanku dan menangis menggerung-gerung, sambil mengangguk-angguk, dia kata:

“Aku mohon belas kasihan hongya, supaya anak ini dikasih ampun."

"Aku bangkit, melihat anak itu. Dia bermuka merah, napasnya memburu. Ketika aku menggendong dan memeriksa, aku mendapatkan tulang iganya patah lima biji. Kui-hui masih menangis, ia kata: 'Hongya aku bersalah, aku harus mati, tetapi aku mohon anak ini diberi ampun.' Aku tanya, anak itu kenapa. Dia mengangguk-angguk terus, dia tidak menjawab hanya tetap mohon aku mengampuni anaknya itu. 'Mohon hongya mengampuni dia,' katanya ketika aku menanya pula, hingga aku menjadi heran sekali. 'Kalau hongya menghendaki kematianku, aku tidak penasaran hanya ini anak, ini anak……"

"'Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?!' Aku tanya pula. Sebenarnya kenapa anak ini terluka?"

"Kui-hui mengangkat kepala, ia mengawasi aku. 'Apakah bukan hongya yang menitahkan siewi menghajar mati anak ini?' Dia tanya. Aku menjadi heran. Mesti ada apa-apa pada kejadian itu. 'Jadi dia dilukai oleh siewi?' Aku tanya. 'Budak yang mana yang begitu bernyali besar?' Dia terkejut. 'Oh, jadi bukan hongya yang menitahkan? Kalau begitu, anak ini bakal ketolongan……!' Habis berkata begitu dia pingsan."

"Aku heran sekali, aku pun merasa kasihan melihat keadaan kui-hui itu. Aku mengangkat dia bangun, direbahkan di pembaringan. Selang sekian lama, baru dia sadar. Dia lantas menangis, sembari menuturkan duduknya kejadian. Katanya, dia lagi menepuk-nepuk anaknya untuk ditidurkan, mendadak dari luar jendela berlompat masuk satu orang, ialah satu siewi yang mukanya bertopeng, anaknya lantas dirampas dan diangkat, dihajar punggungnya. Kui-hui kaget, dia mencegah. Siewi itu menolak kui-hui, sekali lagi dia menghajar anak itu, kemudian dia tertawa dan berlompat pergi. Kui-hui tidak mengejar, pertama siewi itu kosen sekali, kedua dia menyangka siewi itu diperintah olehku. Itulah sebabnya kui-hui lantas membawa anaknya datang padaku, untuk minta ampun. Aku menjadi semakin heran. Aku memeriksa teliti anak itu, aku tidak mendapat tahu dia terlukakan pukulan ilmu silat apa. Aku mendapatkan ada otot anak itu yang putus. Aku lantas pergi ke kamar kui-hui, untuk melakukan pemeriksaan, sebab aku percaya si penjahat bukan sembarang orang. Kemudian di atas genteng aku melihat tapak kaki. Aku lantas kata pada kui-hui: 'Penjahat itu lihay sekali, terutama ilmu meringankan tubuhnya. Di negeri Tali ini, kecuali aku, tidak ada orang yang kedua yang lihay seperti dia.' Kui-hui menjadi kaget, ia berkata; 'Mustahilkah dia? Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?' Berkata begitu, mukanya menjadi pucat seperti muka mayat."

Oey Yong terkejut. "Tidak mungkin Loo Boan Tong berbuat demikian……" katanya perlahan.

"Ketika itu aku justru menduga pada Ciu Suheng," berkata It Teng Taysu, "Kecuali dia, tidak ada orang yang segagah dia. Aku pun menduga, mungkin dia berbuat begitu sebab dia tidak sudi mempunyai anak itu, yang bakal membikin dia malu. Ketika kui-hui mendengar dugaanku itu, ia malu dan cemas, ia kaget. Mendadak ia kata: 'Tidak, pasti bukan dia! Suara tertawanya lain.' Aku berkata: 'Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin kau kurang jelas?' Tapi ia berkeras, ia kata: 'Suara tertawanya orang itu aku akan ingat buat selama-¬lamanya, meski aku menjadi setan, tidak akan aku lupa! Bukan, bukan dia!'"

Mendengar itu, semua orang menggigil tanpa merasa. Kwee Ceng dan Oey Yong lantas membayangi roman Eng Kouw ketika si nyonya menggertak gigi.

"Mendengar perkataan kui-hui, aku jadi percaya," It Teng bercerita lagi. "Hanya aku tidak bisa menerka si penjahat. Dia begitu kosen, kenapa dia hendak membinasakan seorang anak kecil? Aku sampai menduga-duga kepada murid-muridnya Cinjin seperti Ma Giok, Khu Cie Kee dan lainnya. Mungkin mereka hendak melindungi nama baik partai mereka maka mereka melakukan perjalanan jauh guna melakukan pembunuhan itu……"

Kwee Ceng hendak membuka mulutnya tapi diurungkan. Ia tidak seberani Oey Yong, yang tak takut memotong pembicaraan orang suci itu.

"Kau hendak bilang apa?" It Teng Taysu menanya ketika melihat orang batal bicara.

"Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya itu adalah orang-orang suci dan gagah, tidak mungkin mereka melakukan perbuatan serendah itu," Kwee Ceng bilang.

"Ong Cie It itu pernah aku menemuinya di Hoa San, dia memang seorang laki-laki," kata It Teng, "Tentang yang lainnya, aku tidak tahu. Memang, kalau benar mereka, dengan satu hajaran saja dapat membinasakan anak itu, maka kenapa mereka menghajar hanya setengah mati?"

Sembari bicara, pendeta ini berpikir. Sudah belasan tahun, ia masih belum dapat memecahkan keragu-raguannya. Ruang itu menjadi sunyi sekali.

"Baiklah, nanti aku menuturkan terus," katanya kemudian.

Tiba-tiba Oey Yong berlompat. "Tidak salah lagi, dia pasti Auwyang Hong!" katanya.

"Belakangan aku juga pernah menduga dia," kata It Teng, "Hanya kemudian aku berpikir juga, mustahil dia yang berada jauh di wilayah Barat, sedang dia juga bertubuh tinggi dan besar. Menurut kui-hui, si orang jahat terlebih kate dan kecil dari kebanyakan orang."

"Benar-benar heran," kata si nona.

"Ketika itu aku sangsi memikirkan anak itu," It Teng berkata pula. "Dia terluka tak lebih hebat daripada lukamu, nona, hanya dia masih kecil sekali, tubuhnya sangat lemah, maka untuk mengobati dia, aku mesti mengorbankan tenaga dalamku. Aku jadi bersangsi sebab aku tahu, di dalam rapat yang kedua di gunung Hoa San nanti, pasti aku tidak dapat turut mengambil bagian. Beberapa kali aku hendak menampik, aku gagal. Aku gagal. Aku kasihan melihat Kui-hui, yang menangis saja. Ah, benarlah kata Ong Cinjin bahwa kitab itu bisa mendatangkan kegaduhan dan mencelakai banyak orang. Buktinya aku sendiri, karena memikirkan kitab itu, aku menjadi lain dari biasanya. Lama aku berpikir, baru aku mengambil keputusan untuk mengobati anak itu. Selama aku berpikir itu, aku merasa akulah seorang hina dina mirip dengan binatang. Aku pun masih tidak dapat mengubah kelakuanku meskipun aku sudah mengambil keputusan, aku menganggapnya menolong lantaran tidak bisa menolak permohonan dari Lauw Kui-hui."

"Supee, aku membilang kau sangat mencinta dia, sedikit pun kau tidak salah," berkata Oey Yong.

It Teng seperti tidak mendengar perkataan si nona, dia berkata terus: "Ketika Kui-hui mendengar jawabanku, dia girang sampai pingsan. Lehih dulu aku uruti dia, untuk menyadarkannya, baru aku menolongi anaknya itu. Aku menguruti bocah itu dengan Sian Thian Kang. Ketika aku membuka otonya, aku terkejut. Oto itu memakai sulaman sepasang burung wanyoh serta syairnya itu. Oto itu terbuat dari sapu tangan yang Ciu Suheng dulu hari melemparkan kepadanya. Selagi aku terbengong, kui-hui rupanya melihat sikapku. Maka ia mengertak gigi, mengeluarkan pisau belati, ia tujukan ke dadanya. Ia kata, 'Hongya, aku tidak ingin hidup pula di dunia, maka aku memohon belas kasihanmu, kau tolonglah anak ini. Aku menukar dia dengan jiwaku, nanti di lain dunia, aku akan menjadi anjing dan kuda guna membalas budimu.' Lantas ia menikam dadanya."

Semua orang terkejut, meski mereka tahu Lauw Kui-hui toh masih hidup. Itulah sebab hebatnya suasana yang diciptakan penuturannya It Teng Taysu. Pendeta ini bercerita terus, tapi sekarang ia seperti berbicara seorang diri. Ia berkata:

"Segera aku mencegah perbuatan Kui-hui dengan merampas pisau belatinya. Aku berlaku cepat tetapi toh dadanya tergores juga sedikit hingga dia mengucurkan darah. Karena aku khawatir dia nanti mencoba membunuh diri lagi, aku totok jalan darah di tangan dan kakinya hingga dia tidak dapat bergerak. Habis membalut lukanya, aku kasih duduk di kursi, untuk beristirahat. Dia tidak bilang apa-apa, dia cuma mengawasi aku, matanya menunjukkan kedukaan yang sangat. Aku pun berdiam saja. Maka di situ Cuma terdengar suara napasnya si anak kecil, napas yang mendesak. Mendengar napas bocah itu, aku jadi ingat kejadian yang telah berlalu. Aku ingat bagaimana mulanya dia masuk ke istana, bagaimana aku mengajari dia silat. Aku menyayangi dirinya dan dia selalu menghormati aku, dia agak jeri, dengan teliti dia merawat aku, belum pernah dia membantah, hanya bahwa dia tidak pernah mencintai aku, ini aku tidak tahu, baru aku menginsyafinya setelah datang hari itu yang dia jatuh hati kepada CiuSuheng. Demikian sifatnya kalau seorang wanita mencintai seorang pria. Dia bengong mengawasi sapu tangannya, dia bengong mengawasi Ciu Suheng berlalu untuk selamanya. Sinar matanya membuat aku tidak tentram tidur dan tidak bernapsu dahar. Sekarang aku melihat pula sinar matanya itu, sekarang disaat dari hancurnya hatinya pula. Cuma sekarang bukan untuk kekasihnya, hanya untuk anaknya."

It Teng berdiam sejenak. "Seorang laki-laki diperhina demikian, tidak dapat apapula aku seorang raja! Maka itu, mengingat demikian, hatiku menjadi panas. Dengan tiba-tiba aku menendang bangku gadis di depanku hingga bangku itu rusak. Ketika kemudian aku menoleh pada kui-hui, aku terkejut, aku melengak. 'Eh, rambut…… rambutmu itu kenapa?' Aku tanya dia. Dia seperti tidak mendengar perkataanku, dia terus mengawasi anaknya. Dulu-dulu aku tidak mengerti orang mempunyai sinar mata demikian, sekarang baru aku menginsyafinya. Berapa besar dia harus dikasihani. Dia rupanya telah mengerti yang aku tidak sudi menolong anaknya, maka selama dia masih hidup, ingin dia memandang anaknya itu, makin lama makin baik. Aku mengambil kaca, aku bawa itu kepadanya. 'Lihat rambutmu,' aku kata padanya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, dia seperti menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedang dia sebenarnya baru berumur sembilan belas tahun. Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal, penasaran, putus harapan, mendadak ramhutnya berubah menjadi uban!"

"Dia tidak memperhatikan sedikit juga roman atau rambutnya itu. Dia menyangka aku pakai kaca untuk menghalangi dia mengawasi anaknya. Dia berkata padaku, 'Angkat kaca itu.' Dia bicara tegas sekali, dia seperti lupa akulah raja junjungannya. Aku menjadi heran. Aku tahu dia biasanya sangat menyayangi paras mukanya. Aku menyingkirkan kaca, maka terus dia mengawasi anaknya. Ah, kalau dia ada seribu arwahnya, tentulah dia serahkan semua itu kepada anaknya, asal anaknya itu hidup. Aku mengerti bagaimana perasaannya itu. Dia ingin mati untuk anaknya itu."

Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Di dalam hatinya, mereka saling mengatakan: "Kalau aku pun menampak kesukaran seperti itu, apakah kau juga dapat mengawasi aku demikian rupa?" Tanpa merasa mereka saling menyodorkan tangan, untuk saling memegang erat-erat, hati mereka berdenyutan, tubuh mereka dirasai hangat.

"Sebenarnya aku merasa tidak tega," It Teng kemudian melanjutkan ceritanya, "Aku berniat menolong anak itu, apa mau dikata sapu tangan itu tetap berada di dadanya. Itulah sulaman sepasang burung wanyoh, yang saling menyenderkan leher mereka. Kepala burung itu putih. Itulah lambang untuk hidup bersama hingga di hari tua. Maka kenapakah, sebelum tua tetapi rambut sudah putih terlebih dulu? Maka melihat rambut putihnya itu, dengan sendirinya aku mengeluarkan keringat dingin. Mendadak hatiku menjadi keras hati. Aku kata padanya: 'Baiklah, kamu boleh menjadi tua bersama, biarlah aku bersia-sia sendiri di istana sunyi ini tetap sebagai kaisar! Dialah anak kamu berdua, kenapa aku mesti mengorbankan diri untuk menolong menghidupi dia?' Dia memandang aku. Itulah pandangannya yang terakhir. Pada mata itu tampak sinar kedukaan, penasaran, permusuhan. Semenjak itu, dia tidak pernah melihat aku lagi. Sebaliknya aku, tidak dapat melupakan sinar mata itu. Dia berkata dingin. 'Kau lepaskan aku, aku hendak menggendong anakku!' Perkataannya itu mirip firman, membuat orang susah membantahnya. Maka aku membebaskan dia dari totokan. Dia menggendong anaknya. Anak itu pasti terluka parah hingga tidak dapat menangis, mukanya bersinar gelap, matanya mengawasi ibunya, mungkin ia minta ditolong. Aku sendiri sejenak itu, tidak mempunyai rasa kasihan sedikitpun. Aku hanya melihat, rambut hitamnya berubah menjadi putih. Mungkin itu perasaan belaka. Lalu aku mendengar dia berkata halus pada anaknya: 'Anak, ibumu tidak mempunyai kepandaian untuk menolong kau, ibumu tidak dapat membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka, anak kau tidurlah biar nyenyak…… Tidur, anak tidur, untuk selama-lamanya jangan kau sadar lagi!' Aku mendengar dia bernyanyi perlahan, menyanyikan lagu mengeloni anak tidur. Sedap nyanyiannya itu…… Ya, begini, nah kau dengarlah!"

Orang heran. Si pendeta mengatakan demikian tetapi di situ tidak ada terdengar suara nyanyian. Mereka saling mengawasi, mereka terkejut.

"Suhu!" kata si pelajar. "Kau telah bicara terlalu banyak, kau lelah, baiklah kau beristirahat."

It Teng seperti tidak mendengar. Dia berkata pula: "Anak itu bersenyum. Hanya sejenak, saking sakitnya, dia bergelisah. Lantas ibunya berkata pula padanya halus sekali: 'Jantung hatiku, kau tidurlah, nanti lenyap semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak sakit lagi……' Sekonyong-konyong terdengar suara menublas dan pisau belati telah nancap di dadanya!"

Oey Yong kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya memeluk lengan Kwee Ceng. Si pelajar berempat pun kaget tidak terhingga, muka mereka menjadi pucat. Hebat penuturan It Teng itu, yang sebaliknya berbicara terus:

"Aku kaget, aku terhuyung, terus aku jatuh ke lantai. Dalam keadaan lapat-lapat aku tidak tahu memikir apa. Aku banya ingat dia bangkit dengan perlahan-lahan, dengan perlahan dia berkata: 'Akhirnya akan ada satu hari yang aku, dengan pisau belatiku ini, nanti menumblas ulu hatimu.' Dia menunjuk pada gelang kumala di tangannya, dia berkata pula: 'Inilah gelang yang di hari aku masuk ke istana kau memberikan kepadaku. Kau tunggu saja, di hari itu gelang kumala ini aku kembalikan padamu, maka hari itu juga pisau belati ini akan turut datang.'"

Sambil berkata begitu, It Teng putar gelang itu di jari tangannya. Ia bersenyum. "Inilah gelang kumala itu," katanya. "Aku telah menantikan belasan tahun hari ini tibalah harinya itu!"

"Supee, dia membunuh sendiri anaknya, ada apa sangkutannya dengan kau?" Oey Yong tanya. "Pula dia telah mencelakai kau dengan racun, maka meskipun ada permusuhan dahulu, bukankah itu sudah impas? Biarlah, sebentar di kaki gunung, akan kami menyuruh dia pergi, supaya dia jangan datang mengganggu pula……"

Tepat selagi si nona berkata, satu kacung hweeshio datang masuk. "Suhu," katanya, "Dari kaki gunung ada lagi yang mengantarkan ini……"

Dengan kedua tangannya, kacung itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil. It Teng menyambut, untuk terus dibuka. Betapa kagetnya semua orang, hingga mereka berseru, itulah sehelai oto bersulamkan burung wanyoh, sulaman burungnya hidup sekali, cuma suteranya sudah berubah kuning. Di antara kedua ekor burung itu ada satu liang bekas tusukan pisau, di samping liang ada bagian yang hitam, sisa darah.

It Teng meletakkan oto itu di lantai, ia bengong mengawasi. Sekian lama ia berdiam, romannya berduka, lalu dia berkata:

"Inilah sulaman burung wanyoh yang mau terbang berpasangan. Hm, mau terbang berpasangan, tetapi akhirnya menjadi impian belaka. Dia menggendong anaknya, dia berlompat keluar jendela, sembari berlalu dia tertawa keras dan lama. Setibanya di luar, dia lompat naik ke atas genting, sekejap saja dia lenyap. Aku menjadi tidak dahar dan tidak minum, tiga hari tiga malam aku memikirkannya. Akhirnya aku sadar, maka itu, aku mewariskan mahkota kepada anakku yang sulung, aku sendiri lantas masuk menjadi pendeta."

Dia menunjuk empat muridnya, akan menambahkan: "Mereka ini lama telah mengikutiku, mereka tidak suka berpisahan, maka mereka turut aku pergi ke Inlam Barat, ke kuil Liong Coan Sie. Mulanya selama tiga tahun pertama, mereka membantu putraku memerintah. Mereka membantu dengan bergiliran. Kemudian, setelah putraku mengerti tugasnya, dan justru telah terjadi peristiwa di Tay Soat San di mana Auwyang Hong melukai muridku ini, kita lantas pindah ke mari. Sejak itu kita tidak kembali ke Tali. Hatiku keras, aku tidak suka menolong anak itu, maka itu selanjutnya, sampai belasan tahun hingga sekarang ini, siang dan malam, aku merasa hatiku tidak tenang. Aku memikir untuk lebih banyak menolong orang, guna menebus dosaku yang besar itu. Mereka ini tidak mengetahui kesengsaraan hatiku, mereka selalu mencegah. Ah, taruh kata aku dapat menolong selaksa jiwa, anak itu toh tetap mati. Kalau bukan aku membayarnya dengan jiwaku sendiri, mana dosa itu dapat ditebus? Maka setiap hari aku menanti-nanti kabar dari Eng Kouw, menanti dia membawa pisau belatinya untuk menumblas dadaku. Aku tadinya berkhawatir dia tak keburu datang, nanti aku mati terlebih dulu, kalau begitu, hebat untukku. Tapi bagus, sekarang temponya telah tiba, harapanku bakal terkabul. Ah, sebenarnya, buat apa dia menaruh racun di dalam obat Kiu Hoa Giok Louw Wan? Kalau aku tahu, dia bakal segera datang, tak usah suteeku menolong aku menyingkirkan racun itu."

Tapi Oey Yong tidak senang. "Perempuan itu jahat!" ia kata sengit. "Rupanya dia telah ketahui tempat kediaman supee ini, karena khawatir tidak bisa melawan, dia menantikan saatnya yang baik, maka kebetulan sekali aku terluka Khiu Cian Jin, dia sambar ketika ini dia pakai aku sebagai perkakas. Pantas dia menunjukkan aku tempat supee. Dia rupanya memikir untuk lebih dulu membikin habis tenaga supee, baru dia mau turun tangan sendiri. Aku menyesal diriku kena dipermainkan dia! Supee, kenapa gambarnya Auwyang Hong bisa berada di tangannya? Ada apa hubungan dia dengan gambar itu?"

It Teng mengambil sebuah kitab dari atas mejanya dan membalik lembarannya. Ia berkata.

"Gambar ini mempunyai lelakon seperti ini. Di sebuah kota di India ada seorang raja yang sujud. Pada suatu hari seekor burung dara terbang kepadanya meminta perlindungan. Burung dara itu dikejar seekor elang. Burung ini meminta burung dara itu, katanya, kalau tidak, dia bakal mati kelaparan. Sulit untuk raja itu, sebab menolong yang satu berarti mencelakai yang lain. Maka akhirnya ia mengambil pisau dan memotong dagingnya sendiri. Si burung elang meminta daging raja yang sama beratnya seperti burung dara itu, maka daging itu ditimbang. Kenyataannya burung dara itu berat luar biasa, daging raja tidak cukup kendati ia sudah memotong seluruh anggota tubuhnya. Ketika raja menimbangkan tubuhnya juga, maka bergoyanglah bumi, langit bergembira, bidadari-¬bidadari menyebar bunga, harumlah semua jalan, maka naga langit dan setan-setan yang berada di udara pada menghela napas dan berkata: 'Siancay, siancay. Kegagahan seperti ini, sungguh belum pernah ada!'"

Itulah dongeng tetapi demikian rupa It Teng menuturnya, semua orang jadi tergerak hatinya.

"Sekarang aku mengerti, supee," berkata Oey Yong. "Dia khawatir supee tidak suka menolong mengobatiku, dia sengaja menunjukkan gambar itu untuk membikin hati supee tertarik."

"Benar begitu," kata It Teng bersenyum. "Ketika dulu itu dia meninggalkan Tali, tentu hatinya gusar dan penasaran, tentu dia mencari orang gagah, entah bagaimana, dia bertemu Auwyang Hong. Pasti Auwyang Hong mengetahui maksud orang maka ia menolong melukis gambar itu. Kitab ini tersiar luas di Wilayah Barat dan Auwyang Hong adalah orang sana, tentu dia mengetahuinya dengan baik."

"Sungguh jahat!" kata Oey Yong sengit. "Si bisa bangkotan menggunakan Eng Kouw dan Eng Kouw menggunakan aku, ini akal jahat meminjam golok membunuh lain orang!"

"Jangan kau gusar," berkata It Teng menghela napas. "Umpama kata dia tidak bertemu sama kau, mesti dia akan melukai orang, yang dia menyuruhnya datang ke mari meminta aku menolongnya. Cuma, siapa tidak mempunyai kepandaian, tidak dapat dia datang ke mari. Sudah lama Auwyang Hong melukis gambar ini, maka itu rencananya pasti telah diatur semenjak sepuluh tahun yang lampau. Bukankah ini pun semacam jodoh?"

"Benar, supee. Tapi ia masih mempunyai satu maksud lain, yang lebih penting daripada urusan dengan supee ini."

It Teng heran. "Apakah itu?" ia tanya.

"Loo Boan Tong kena dikurung ayahku di Tho Hoa To, dia hendak pergi menolong," si nona menerangkan. Ia menerangkan bagaimana Eng Kouw mencoba mempelajari Kie-bun-sut, supaya bisa memasuki Tho Hoa To. Kemudian ia menambahkan; "Kemudian Eng Kouw ketahui, ia belajar lagi seratus tahun juga tidak mungkin dapat melawan ayahku, maka ketika melihat aku terluka, lantas ia……"

Mendengar itu It Teng tertawa panjang, lalu berbangkit. "Sudah, sudah!" katanya. "Segala apa terjadi secara kebetulan, maka sekarang tentulah dia puas!" Ia berpaling kepada empat muridnya, untuk memerintah: "Pergi kamu menyambut dengan baik Lauw Kui¬hui! Eh, bukan! Kamu menyambut Eng Kouw, kau ajak dia datang kemari. Sedikitpun kamu tidak boleh berlaku tidak hormat kepadanya."

Tanpa berjanji, keempat murid itu menekuk lutut mendekam akan menangis menggerung-gerung. "Suhu!" kata mereka.

It Teng Taysu menghela napas. Ia berkata: "Kamu telah mengikutiku banyak tahun, mungkinkah kamu masih belum tahu hati gurumu?" Ia menoleh kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengatakan; "Aku hendak meminta sesuatu kepada kamu."

"Titahkan saja, supee," menyahut si anak muda.

"Bagus!" kata pendeta itu, "Sekarang pergilah kamu turun gunung. Seumurku, aku banyak berhutang kepada Eng Kouw, maka kalau di belakang hari dia menemui sesuatu bahaya, aku minta dengan memandang aku si pendeta tua, haraplah kamu membantu dia sungguh-sungguh. Seandainya kamu dapat menjodohkan dia dengan Ciu Suheng, aku akan lebih-lebih lagi bersyukur."

Dua muda-mudi itu tercengang, mereka saling mengawasi. Bukankah Eng Kouw datang untuk menuntut balas? Dengan perbuatannya ini, bukan saja It Teng menutup pintu bagi siapa yang hendak menuntut balas, dia membalas kejahatan dengan kebaikan.

Menampak dua orang itu berdiam, It Teng bertanya; "Apakah permintaanku si pendeta tua ini sulit untuk kamu menjawabnya?"

Oey Yong masih bersangsi tetapi ia menjawab: "Kalau supee minta begitu, baiklah, kami menerima baik." Ia lantas menarik ujung baju Kwee Ceng, diajak sama-sama memberi hormat, guna meminta diri.

"Kamu tak usah bertemu muka sama Eng Kouw," It Teng berkata lagi. "Maka pergilah kamu turun gunung dari belakang."

Oey Yong menyahuti, ia tarik Kwee Ceng untuk diajak pergi. Keempat muridnya melihat wajah si nona tenang saja, diam-diam mereka mencaci nona itu tidak berbudi, sebab mereka anggap nona itu tidak memikirkan keselamatan orang yang telah menolongi dia.

Kwee Ceng mengikuti tanpa bicara. Ia tidak percaya Oey Yong demikian tidak berbudi. Ia percaya si nona punya maksud lain. Ketika mereka sampai di mulut pintu, si nona lantas berbisik padanya, kemudian ia mengangguk-angguk, terus ia bertindak kembali, tindakannya perlahan.

It Teng berkata pada pemuda itu; "Kau jujur dan setia, di belakang hari kau pasti akan berhasil melakukan sesuatu yang besar. Maka itu, urusan Eng Kouw pun aku serahkan padamu."

Kwee Ceng menyahuti baik, akan tetapi berbareng dengan itu, mendadak dengan kecepatannya yang luar biasa, ia menyambar lengan si pendeta bangsa India di sisi It Teng Taysu, menyusul tangan kiri menotok dua jalan darah hoa-kay dan thian-cu, hingga si pendeta tak dapat berkutik dalam detik itu juga.

Kejadian ini membikin si pelajar berempat menjadi sangat kaget dan heran. "He, kau bikin apa?" mereka menegur.

Tindakan Kwee Ceng belum selesai. Ia tidak memberikan penyahutan kepada empat orang itu, sebaliknya tangan kirinya lantas menyambar ke pundak It Teng Taysu. Menampak sambaran itu, It Teng menggerakkan tangan kanannya, gesit luar biasa, ia menyambut tangan kiri si anak muda, untuk ditangkap.

Kwee Ceng menjadi kaget dan heran. Ia tidak menyangka pendeta itu masih bisa menghindarkan diri dari sambarannya. Itulah kepandaian dahsyat, yang ia baru pernah menyaksikannya. Hanya ia mendapat kenyataan, ketika kedua tangan saling membentur, tenaga si pendeta lemah sekali, maka ia lantas memutar tangannya untuk membalas menangkap. Berbareng dengan itu, tangan kanannya Kwee Ceng menggunai jurus "Naga sakti menggoyang ekor", guna memukul mundur si pengail dan si tukang kayu, yang menyerang dari samping. Sebab kedua murid pendeta itu, dalam kagetnya, lantas menerjang, untuk menolong guru mereka. Mereka ini cuma bisa maju satu kali saja, lantas mereka dibikin tidak berdaya. Si anak muda meneruskan menotok dua jalan darah mereka, hong-bwee dan ceng-ciok.

Ketika itu Oey Yong juga sudah turun tangan. Dengan tongkatnya ia mendesak mundur si petani sampai di muka pintu.

Si pelajar menjadi kelabakan. "Berhenti, berhenti!" ia berseru berulang-ulang. "Mari kita bicara dulu!"

Si petani menjadi seperti kalap, dia berkelahi nekat sekali, hendak dia merangsak, akan tetapi dia dirintangi tongkat kaum Pengemis, selalu kena dipaksa mundur lagi.

Kwee Ceng sekarang menerjang keluar dari kamar suci, dia paksa memukul mundur si pengail, si tukang kayu dan si pelajar juga, hingga mereka ini terpaksa mundur setindak demi setindak.

Oey Yong dalam melayani si petani telah menotok ke arah alis lawannya. Petani itu terkejut, dia berteriak, terpaksa berkelit sambil berlenggak berlompat juga.

"Bagus!" berseru si nona selagi orang mundur, lalu dengan cepat ia menutup pintu. Sekarang ia tertawa haha-hihi dan mengatakan: "Tuan-tuan, tahan, hendak aku bicara!"

Si tukang kayu dan si tukang pancing telah menangkis serangan Kwee Ceng, mereka merasakan tangan sakit, mereka terhuyung mundur beberapa tindak, meski begitu, ketika si anak muda maju, mereka pun maju pula dengan berbareng, guna melawan terus. Dalam keadaan seperti itu, mereka tidak kenal takut.

Kwee Ceng telah mendengar suara kawannya, ia berhenti melayani terlebih jauh, cepat-cepat ia menarik pulang tangannya, sembari memberi hormat, ia berkata;

"Maaf! Maaf!"

Keempat murid It Teng menjadi heran dan melengak karenanya. Oey Yong segera berkata;

"Kami telah menerima budi guru kalian, budi yang besar sekali, sekarang guru kalian berada dalam bahaya cara bagaimana kami bisa berpeluk tangan menonton saja? Maafkan perbuatan kami ini untuk memberi pertolongan."

Si pelajar menjura. "Musuh majikan kami adalah majikan kami juga," ia berkata. "Di antara kita orang ada tingkat tinggi dan rendah, karena itu, kalau majikan kami yang wanita datang ke mari, kami tidak berani turun tangan terhadapnya. Juga guru kami, karena kematiannya sang putra selama belasan tahun, tidak tentram hatinya, maka itu kalau sebentar Lauw Kui-hui datang, jangan kata memangnya telah lenyap kepandaiannya, walaupun ia masih gagah, ia tentu bakal mandah dibunuh Lauw Kui-hui. Maka hal itu sangat menyulitkan kami, kami tidak berdaya. Dari itu nona, jikalau kamu bisa menunjukkan jalan keluar kepada kami, meski tubuh kami hancur lebur, tidak nanti kami melupakan budimu yang besar itu."

Melihat orang bicara demikian sungguh-sungguh, Oey Yong tidak mau bergurau lagi. "Kami mulanya mengharap bantuan si orang India yang menjadi paman guru kalian," ia berkata, "Kami tidak menyangka, dia sebenarnya tidak mengerti ilmu silat, karena itu sekarang aku mesti menukar siasat. Tindakan ini luar biasabesar bahayanya. Seandainya kita berhasil, di belakang hari tidak bakal ada ancaman bahaya lagi, Eng Kouw sangat licin, kepandaiannya juga tinggi, dari itu aku masih berkhawatir. Aku bodoh, aku tidak dapat memikir jalan lain lagi……"

Si pelajar berempat mengawasi. "Ingin kami mendengar keterangan nona," kata si pelajar.

Oey Yong menggerakkan alisnya yang bagus, terus ia memberi keterangan, mendengar ini, keempat murid It Teng saling mengawasi, hingga sekian lama mereka tidak dapat membuka suara.

"Hus, jangan ngaco!" kata si anak muda. "Mereka orang suci……"

Masih si nona tertawa. "Kalau kau tidak percaya, lihat saja nanti!" katanya.

Habis bersantap, mereka turun dari lauwteng. Si nona bercuriga, ia menoleh ke arah kedua too-kouw itu, kebetulan yang satu lagi menyingkap tutup mukanya, maka melihat muka orang, hampir ia berseru heran. Si too-kouw menggoyangkan tangan, lekas-lekas dia menutup mukanya, untuk terus tunduk dan dahar. Kejadian itu cepat sekali, Kwee Ceng tidak melihatnya.

Di pintu rumah makan, tukang perahu sudah menantikan. Oey Yong memberi tanda bahwa ia hendak belanja sebentar. Tukang perahu mengangguk, ia menunjuk ke pinggir kali dimana ada perahunya. Si nona mengangguk, lantas ia berjalan terus bersama Kwee Ceng. Mereka melihat tukang perahu berdiri menantikan. Di sebuah jalan di sebelah timur, dari mana rumah makan tak nampak lagi, Oey Yong berhenti, matanya mengawasi ke rumah makan.

Tidak lama kedua too-kouw tadi nampak keluar. Mereka mengawasi kuda merah dan burung rajawali. Terang mereka lagi mencari orang. Setelah itu mereka bertindak ke barat.

"Mari," berkata si nona, yang terus menarik ujung baju si pemuda.

Kwee Ceng heran tetapi ia ikut tanpa bicara. Kota Tho-goan tidak besar, tak lama mereka sudah keluar dari pintu timur. Dari situ si nona menuju ke selatan, melewati pintu, lalu mengambil jurusan barat.

"Kita menguntit kedua too-kouw itu?" Kwee Ceng tanya akhirnya. "Ah, jangan kau main-main denganku!"

"Main-main apa?" berkata si nona tertawa. "Too¬kouw demikian cantik, seperti bidadari! Menyesal kalau kau tidak mengikuti dia!"

Si anak muda menghentikan tindakannya. "Yong-jie, kalau kau menyebut lagi, aku akan marah!" katanya.

"Ah, ah, aku tidak takut!" kata si nona. "Coba kau marah, aku lihat!"

Si pemuda kalah desak, ia lantas mengikuti pula. Kira-kira lima enam lie, di sana terlihat kedua imam wanita duduk di bawah pohon kayu di tepi jalan. Ketika mereka menampak si muda-mudi, mereka berbangkit dan berjalan pergi ke jalan kecil yang menuju ke lembah. Oey Yong menarik tangan pemudanya, untuk diajak pergi ke jalan kecil itu.

"Yong-jie!" kata si anak muda. "Kalau kau tetap bergurau, nanti aku pondong kau untuk dibawa balik!"

Si nona tidak memperdulikan. "Aku letih, pergilah kau mengikuti sendiri!" katanya.

Pemuda itu lantas berjongkok. "Mari aku gendong kau!" katanya. Ia kata tidak ingin ia nanti terbit onar pula. Agaknya ia sangat memperhatikan si nona.

Oey Yong tertawa. "Nanti aku singkap sapu tangan penutup mukanya untuk kau lihat!" katanya. Dan ia mempercepat tindakannya, menyusul ke dua too-kouw itu. Ia lari.

Kedua imam wanita itu berhenti jalan, bahkan mereka menantikan. Begitu sampai, Oey Yong menubruk too-kouw yang lebih jangkung, tangannya membuka tutup muka orang.

"Yong-jie, jangan!" Kwee Ceng berseru selagi ia menyusul. Tapi sudah kasep. Ketika ia melihat muka si too-kouw, ia berdiri menjublak. Too-kouw itu bermuka sedih, air matanya mengembang. Dialah Bok Liam Cu, si nona yang baru-¬baru ini mengikuti Yo Kang pergi ke barat.

"Enci Bok, kau kenapa?" tanya Oey Yong sambil merangkul.

"Apakah Yo Kang kembali menghinamu?"

Liam Cu tunduk, ia tidak menyahut. Kwee Ceng menghampiri. "Sie-moay," ia memanggil.

Nona itu yang dipanggil adik - sie-moay - menyahuti dengan perlahan. Oey Yong menarik tangan nona itu, untuk diajak duduk di bawah pohon di tepi kali kecil di dekat mereka.

"Enci, bagaimana caranya dia menghina kau?" ia menanya pula. "Mari kita cari dia untuk membuat perhitungan! Juga aku dan engko Ceng telah dipermainkan dia, hampir jiwa kita melayang di tangannya!"

Liam Cu tidak lantas menyahut, hanya ia menggapai kepada kawannya. "Adik, mari!" ia memanggil.

Karena memperhatikan Liam Cu, Oey Yong dan Kwee Ceng melupakan too-kouw yang satunya lagi. Baru sekarang mereka menoleh dan memandang. Kebetulan too-kouw itu lagi mengawasi si anak muda, hingga sinar mata mereka bentrok. Too-kouw itu menghampiri, ia pun menyingkirkan tutup mukanya, terus ia menjura kepada si anak muda seraya berkata:

"Inkong, baik?"

Kwee Ceng heran sekali. Nona itu ialah Cin Lam Kim. Pantas dia memanggil ingkong, tuan penolong. Ia lekas membalas hormat. Ia sekarang melihat tegas, di rambut dan di kuping si nona ada bunga kecil warna putih dan pakaian dalamnya dari kain kasar, tanda berkabung.

"Mana kakekmu?" ia tanya. "Apa ia baik.”

Nona itu tidak lantas menjawab, ia hanya menangis. Itu tanda kakeknya telah menutup mata. Liam Cu berbangkit, ia menarik tangan Nona Cin, untuk diajak duduk bertiga, hingga tubuh mereka berbayang di permukaan air.

Kwee Ceng duduk terpisah dari mereka, ia duduk di atas sebuah batu, pikirannya bekerja. Ia heran dengan pertemuan sama kedua nona ini. Kenapa mereka dandan sebagai imam dan di rumah makan tidak mau menegur? Kenapa si empeh Cin meninggal dunia?

Oey Yong melihat kedua nona itu tengah berduka, ia tidak menanyakan mereka, hanya ia memegangi tangan mereka masing-masing dengan erat.

"Adik, Kwee Sieko," kata Liam Cu kemudian, "Perahu yang kamu sewa adalah perahunya orang Tiat Ciang Pang dan mereka sudah mengatur daya untuk mencelakai kamu."

Oey Yong dan Kwee Ceng kaget. Mereka tidak menyangka. "Kau maksudkan perahunya si gagu itu?" akhirnya mereka tanya.

"Benar. Tapi dia bukannya gagu, dia berpura-pura. Bahkan dia orang lihay dari Tiat Ciang Pang. Karena suaranya keras, rupanya dia khawatir kamu bercuriga mendengar suara itu, ia pakai akal."

"Kalau kau tidak omong, enci, benar-benar aku tidak tahu," kata Oey Yong. Ia benar-benar kaget sekali.

Kwee Ceng lantas naik ke atas pohon, memeriksa sekelilingannya. Di situ cuma ada dua tiga orang petani. Maka ia berkata dalam hati. "Kalau Oey Yong tidak mengambil jalan mutar, pasti ada orang Tiat Ciang Pang yang menguntit."

Liam Cu menghela napas. Ia berkata pula, perlahan: "Urusanku dengan Yo Kang, kamu telah tahu, hanya kemudian diwaktu membawa jenazah ayah dan ibu angkatku ke Selatan, aku bertemu pula dengannya di Gu-kee-cun di Lim-an……"

"Hal itu kami sudah ketahui, enci," kata Oey Yong. "Kami pun melihat dia membinasakan Auwyang Kongcu……"

Liam Cu heran, matanya dibuka lebar. Ia tak dapat mempercayai. Oey Yong tahu orang sangsi, maka ia memberikan keterangan bahwa waktu itu ia berdua Kwee Ceng ada di kamar rahasia lagi beristirahat. Ia pun menceritakan halnya Yo Kang mengaku jadi pangcu dari Kay Pang, cuma ia menuturkan itu secara singkat, sebab ia lebih ingin mengetahui hal ikhwal nona ini.

"Dia jahat, pasti dia tidak bakal dapat pembalasan baik!" kata Liam Cu sengit. "Maka aku cuma bisa menyesalkan diri yang mataku tidak ada bijinya. Rupanya sudah takdir, nasibku bertemu dengannya."

Oey Yong mengeluarkan sapu tangannya, menyusuti air mata nona itu. Liam Cu sangat berduka, sampai sekian lama, baru dapat ia berkata pula. Dengan tangan kanannya, nona Bok menggenggam erat tangan Oey Yong, tangan kirinya ia mengusap-usap belakang tangan nona itu. Dengan matanya, ia mengawasi rontoknya bunga ke permukaan air.

"Melihat dia membunuh Auwyang Kongcu, aku menduga dia telah merubah perbuatannya yang sudah-sudah," demikian ia melanjutkan. "Aku lebih girang lagi melihat dia disambut kedua orang lihay dari Kay Pang, yang memperlakukan dia hormat sekali. Begitulah aku turut dia sampai di Gakciu di mana pihak Kay Pang mengadakan rapat besarnya di gunung Kun San. Lebih dulu daripada itu, diam-diam dia memberitahukan aku bahwa Ang Pangcu telah meninggalkan pesan agar ia menjadi pengganti pangcu. Aku heran dan girang, tetapi aku sangsi, hanya melihat semua orang Kay Pang begitu menghormati dia, kesangsianku lenyap. Aku bukan orang Kay Pang, tidak dapat aku menghadiri rapat, maka itu aku menanti di dalam kota.

Aku pikir, dengan menjadi pangcu dari Kay Pang, pasti dia bakal bekerja untuk negara dan rakyat, pasti besar usahanya. Aku percaya juga, dia bakal menumpas musuhku, guna membalaskan sakit hati ayah dan ibu angkatku. Malam itu aku berpikir keras hingga aku tidak dapat tidur pulas. Di waktu fajar selagi aku mulai lelah dan tidur layap-layap, mendadak dia pulang dengan jalan lompat masuk dari jendela. Aku kaget, aku kira dia mau main gila pula. Ketika aku hendak menegur, dia mendahului berbisik. 'Adik, urusan gagal, mari kita lekas menyingkir!' Aku lantas tanya dia apa yang terjadi, dia menjawab; 'Di dalam Kay Pang ada pemberontak. Golongan Baju Kotor dan Baju Bersih bentrok karena urusan mengangkat pangcu, mereka bertempur, sudah ada banyak orang yang binasa.' Aku kaget dan heran, aku menanya bagaimana duduknya. Ia menjawab: 'Karena yang terbinasa begitu banyak, aku mengundurkan diriku sendiri, aku tidak mau jadi pangcu lagi.'

Aku pikir, tindakan itu benar. Ia menerangkan pula, 'Tapi pihak Pakaian Bersih tidak mau melepaskan aku syukur aku dibantu Khiu Pangcu dari Tiat Ciang Pang, dengan begitu bisa juga aku meloloskan diri dan berlalu dari Kun San. Sekarang ini mari kita pergi ke Tiat Ciang San untuk menyingkir sementara waktu.' Aku tidak tahu Tiat Ciang Pay itu rombongan baik atau jahat, aku turut padanya.

Setibanya di Tiat Ciang San, baru aku melihat gerak-¬gerik Khiu Pangcu aneh, rupanya mereka adalah dari kaum sesat. Karena itu aku usulkan dia mencari Tiang Cun Cu Khu Cie Kie, supaya imam itu mengundang orang-orang gagah, membantu pihak Kay Pang mengadakan tata tertib partainya, supaya bisa dipilih satu pangcu yang tepat. Aku kata, dia tidak dapat pergi dengan begitu saja, dia mesti ingat budinya Ang Pangcu serta menjalani baik-baik pesannya. Tapi dia aneh, dia bukan bicara dari hal Kay Pang, dia justru menimbulkan urusan pernikahan. Kita jadi bentrok. Aku telah memberi teguran padanya."

"Bagaimana kemudian?" Oey Yong tanya selagi si nona berhenti sebentar.

"Besoknya aku menyesal atas percederaan kemarin itu," kata Lim Cu melanjutkan. "Dia benar tidak memperhatikan lagi urusan Kay Pang, tetapi dengan menimbulkan soal pernikahan, itu tandanya dia mencintai aku. Aku merasa telah menegur keras, pantas dia menjadi tidak senang. Hanya malam itu, hatiku jadi bertambah tidak tenang. Aku menyalakan api, aku menulis surat padanya untuk meminta maaf. Aku bawa surat itu ke kamarnya, untuk meletakkannya di bawah jendela. Selagi aku mau mengasih masuk surat itu di sela-sela jendelanya mendadak aku mendengar dia lagi bicara, entah sama siapa. Mulanya aku tidak berniat mendengar pembicaraan mereka, aku hendak menaruh surat itu dan lantas pergi. Tapi aku jadi tertarik sebab aku mengenal suara orang itu. Dia mencoba bicara perlahan, toh aku dapat mendengarnya dengan nyata."

"'Siauw-ongya', demikian aku dengar 'Pikiran wanita memang pasti. Kalau nona Bok tidak mau menurut, kau jangan terlalu banyak pikiran. Pikirannya itu mungkin buat sewaktu-waktu saja. Khiu Pangcu khawatir kau berduka, ia mengirimkan barang ini untuk kau melegakan hati.' Aku heran. Entah barang apa itu yang Khiu Pangcu hendak memberikannya. Maka ingin aku melihatnya."

Mendengar itu, Oey Yong pun heran dan turut ingin mengetahui. Bahkan la sayangi selagi di Tiat Ciang San ia tidak dapat melihatnya, kalau tidak, tentulah ia sudah merampasnya?!

Liam Cu meneruskan pula ceritanya: "Dia membilang terima kasih. Dia kata tidak berduka dan tak usah pangcu mengirimkan sesuatu kepadanya. Tapi orang itu tertawa dan berkata; 'Ongya lihat dulu, aku tanggung ongya girang!' Dia menepuk tangannya perlahan, dua kali. Tanda itu disusul sama datangnya dua orang yang menggotong sebuah keranjang besar. Aku lantas mengintai. Orang tadi menghampiri keranjang itu dan membuka tutupnya.

Oey Yong memotong; "Aku tahu isinya keranjang itu, kalau bukan ular berbisa tentulah kodok. Pernah aku melihat itu!"

Cin Lam Kim sebegitu jauh berdiam saja, dia tidak campur bicara, air mukanya juga tidak berubah, tapi kali ini dia mengawasi nona Oey.

"Adik, kau salah menerka!" kata Liam Cu. "Di dalam keranjang besar itu ada satu orang, ialah adik Cin ini!"

Oey Yong dan Kwee Ceng mengasih dengar suara kaget perlahan. Baru sekarang nona Cin itu berbicara, matanya memandang ke kali, sikapnya tenang sekali. Ia berkata;

"Semenjak inkong dan nona Oey pergi, bersama kakek aku tetap menuntut penghidupan sebagai penangkap ular. Kami selalu ingat kepada inkong, tak habisnya kami membicarakan meskipun inkong tinggal di rumah kami cuma satu hari dua malam. Dengan begitu, hidup kami tidak kesepian. Sampai pada suatu hari, selagi aku menangkap ular, aku kedatangan tiga orang yang berpakaian hitam semua. Tidak karuan rupa, mereka tertawa terhadapku. Aku curiga, lantas aku lari pulang. Mereka mengikuti. Belum aku tiba di rumah, mereka telah berhasil menyusul dan aku lantas dipegang. Aku ketakutan dan menjerit minta tolong. Kakek keluar, dia mau menolong. Lantas kakek dibunuh mereka."

Kwee Ceng gusar sekali hingga ia menumbuk pahanya.

"Dulu ada inkong yang menolong, kali ini ada siapa?" si nona melanjutkan. "Begitu aku dibawa ke gunung Tiat Ciang San. Setibanya di puncak, baru aku tahu mereka juga telah menawan beberapa puluh orang lain yang hidupnya sebagai tukang menangkap ular. Khiu Pangcu mau menangkap banyak ular, untuk dipakai melatih semacam ilmu."

Oey Yong mengangguk. "Aku tahu itu," katanya.

Lam Kim seperti tidak mendegar perkataan si nona, ia bicara terus: "Tiat Ciang Pang menitahkan aku menangkap ular. Sampai sebegitu jauh, aku tidak diganggu, bahkan dia menitahkan aku mengusir kodok hijau untuk berkelahi dengan kodok besar dan juga mengusir ular untuk memakani kodok besar itu. Hanya di dalam beberapa hari, tahulah aku apa sebabnya aksi mereka itu. Ialah mereka memperhatikan cara semua binatang itu berkelahi, lalu mereka melatih diri dengan mencontoh perkelahian kodok hijau dan ular."

Mendengar sampai di situ, Oey Yong berlompat bangun. "Engko Ceng!" katanya, "Juga Khiu Cian Jin lagi mengharap-harap Kiu Im Cin-keng!"

Kwee Ceng tidak mengerti. "Bagaimana?" dia tanya.

"Dia lagi memahamkan ilmu silat Kap Moa Kang dari See Tok. Kalau nanti datang waktu pertemuan yang kedua kali di gunung Hoa San, dia mau menjadi jago nomor satu di kolong langit ini."

Baru sekarang Kwee Ceng mengerti.

"Biar mereka berdua bertempur mati hidup, itu baru bagus," kata Oey Yong. "Engko Ceng, coba bilang, di antara mereka berdua, siapa yang lebih lihay?"

Kwee Ceng berpikir. Lantas ia menggoyang kepala. "Aku tidak tahu, mereka sama lihaynya."

"Ya, biarlah," kata pula si nona. Ia berpaling kepada Lam Kim, untuk menanya: "Enci, bagaimana kejadiannya maka kau dimasukkan ke dalam keranjang?"

"Aku telah menjadi budaknya, jangan kata baru dimasukkan ke dalam keranjang, disuruh mendaki gunung golok atau masuk ke dalam kuali panas, semua terserah kepadanya ……" sahut nona Cin masgul.

Oey Yong tidak puas dengan jawaban itu, tetapi mengingat orang lagi bersusah hati, ia tidak bilang apapun.

"Aku hampir menjerit melihat adik Cin muncul dari dalam keranjang," kata Liam Cu, yang melanjutkan penuturannya. "Dia pun kaget. Bandit Tiat Ciang Pang itu berkata sambil tertawa kepada Yo Kang: 'Siauw¬ongya, permainan ini tak ada kecelaannya, bukan?' Yo Kang menggoyang-goyang tangannya. 'Jangan-¬jangan!' katanya, 'Lekas bawa dia pergi! Kalau nona Bok ketahui ini, bisa onar ……' Mendengar suaranya itu, aku menyangka dia benar berlaku baik padaku. Tapi si bandit membujuk: 'Nona Bok mana tahu? Kalau ongya suka, beberapa hari lagi, apabila ongya turun gunung, dengan cara diam-diam kami nanti mengantarkan dia ke istana, tapi jika ongya sudah bosan, biarkan saja dia disini. Semua akan dilakukan hingga iblis pun tidak tahu.' Lantas dia pegang adik Cin, untuk ditarik keluar dari keranjang, dia kata: 'Baik-baik kau melayani siauw¬ongya. Ini tugas bagus untukmu!'

Setelah itu dia suruh dua orangnya berlalu dengan membawa keranjang itu, dia sendiri turut berlalu sesudah memberi hormat pada Yo Kang. Ketika dia pergi, dia sekalian menutup pintu. Setelah berada sendirian, Yo Kang mengambil gunting, buat menggunting sumbu lilin, hingga apinya jadi lebih terang, dia bisa memandang kecantikan adik Cin. Sembari tertawa dia menghampiri, menarik tangan orang. Dia menanya nama dan umur adik Cin. Adik Cin tidak menyahut. Lantas ia dipeluk dan mukanya dicium, sembari tertawa dia kata; 'Harum sungguh harum!'

Menyaksikan itu, bukan main panas hatiku, mataku seperti kabur, hingga aku tidak melihat apa yang dia lakukan terlebih jauh, sampai aku mendapatkan adik Cin memegang sepasang cagak kecil, dua cagaknya diarahkan ke dadanya sendiri. Ia mengancam: 'Memang aku sudah tidak mengharap lagi jiwaku, asal kau langgar pula tubuhku, aku akan bunuh diri di depanmu!' Aku puji adik Cin. Aku berharap Yo Kang mundur. Dugaanku meleset. Acuh tak acuh, Yo Kang memutuskan dua buah kancing bajunya, dengan itu dia menyentil dua kali. Dengan satu kancing dia membikin jatuh cagak di tangan adik Cin yang lain dia menotok urat gagu orang. Sampai di situ, habis sabarku, maka aku mendobrak jendela dan berlompat masuk ke dalam kamar. Dia tercengang tapi lantas dia tertawa.

"Adikku, kebetulan kau datang!" kata dia padaku.

Entah kenapa melihat dia tertawa, hawa marahku lenyap separuhnya. Ketika kemudian dia membujuk, aku jadi bimbang, tidak tahu aku mesti berbuat apa. Adalah ketika itu, adik Oey, kau memanggil aku."

"Ketika itu aku juga tidak menyangka kau berada di atas gunung Tiat Ciang San," kata Oey Yong.

"Ketika enci bertempur sama Khiu Pangcu," kata Liam Cu, "Aku pergi ke luar, niatku untuk membantu, tetapi entah ke mana perginya enci semua. Kembali hatiku menjadi jeri. Diam-diam aku kembali ke kamar, aku mengintai di jendela. Samar-samar aku melihat dia memeluk adik Cin. Tiba-tiba saja aku muntah darah, lantas aku berseru: 'Baiklah, putus kita sampai di sini! Untuk selama-lamanya aku tidak akan melihat pula padamu!' Tanpa menanti jawaban, aku lari turun gunung.

Keadaan sangat kacau waktu itu. Aku melihat dengan membawa obor orang-orang Tiat Ciang Pang meluruk ke puncak Tiong Cie Hong. Dengan begitu, aku turun gunung tanpa rintangan. Hatiku menjadi tawar, niatku ialah untuk mati saja. Aku bertemu sebuah bangunan yang gelap, aku langsung masuk ke dalamnya. Itu adalah sebuah kelenteng. Di tembok kiri aku melihat gambar lukisan seorang imam yang bersenjatakan sepasang pedang panjang, sikapnya gagah, di samping itu ada tulisan tiga huruf, bunyinya Wa Sie Jin, artinya orang mati yang hidup. Aku tidak tahu artinya kata-kata itu, hanya aku berpikir, kalau aku mati, siapa akan membalas sakit hati ayah dan ibu angkatku? Maka itu, aku lantas berdiam di situ, aku di terima menjadi murid tookouw tua dari kelenteng tersebut. Besoknya aku merasakan tubuhku panas, lalu aku lupa akan diriku. Lewat beberapa hari, aku tersadar, aku mendapatkan adik Cin ini ada di depan pembaringanku, lagi merawatku. Ia pun telah berdandan sebagai tookouw."

Oey Yong hendak menanya Lam Kim, bagaimana caranya dia lobos dari Tiat Ciang San, akan tetapi karena khawatir nanti dapat jawaban kurang tepat seperti tadi, ia membatalkan niatnya. Sebaliknya nona itu mengawasi Kwee Ceng, sikapnya seperti juga nona Oey, agaknya ingin ia memperoleh keterangan. Ia lantas berkata:

"Orang she Yo itu telah digaplok beberapa kali oleh enci Bok, dia menjublak saja. Ketika dia mendengar suara berisik dari sakunya dia mengeluarkan pedang pendek, yang ia selipkan di pinggangnya, terus dia memadamkan api. Dia mendekatiku, dia mengusap-usap mukaku, setelah itu dia tertawa dan lompat keluar jendela. Kira-kira satu jam, suara berisik menjadi berkurang, rupanya orang telah pada memburu turun gunung.

Sebenarnya itulah saatnya aku melarikan diri, apa celaka si orang she Yo telah mengikatku, hingga aku mesti rebah di samping pembaringan tanpa berdaya. Masih aku mendengar suara berisik, yang makin lama makin jauh dan akhirnya sirap. Selagi keadaan sunyi itu, si orang she Yo kembali dengan jalan melompati jendela seperti tadi. Lantas dia duduk di kursinya, dari bayangannya aku melihat dia menunjang janggut, dia duduk terpekur. Kemudian aku mendengar dia mengoceh sendirian, katanya: 'Bocah she Kwee itu berani mendaki gunung, mestinya di belakang dia ada orang yang pandai yang menyusul. Maka inilah bukan tempat yang bagus! Buat apa aku berdiam lama-lama di sini?'"

"Manusia hina!" kata Oey Yong sengit.

Lam Kim menyambung: "Kemudian dia menepuk meja, dia kata: 'Hm! Kau tidak sudi bertemu pula denganku selamanya …… Perduli apa? Asal usahaku berhasil, kekayaan dan kemuliaanku bakal tidak ada batasnya, waktu itu di dalam keratonku tentu telah berkumpul tiga ribu selir dan dayang! Mana aku kekurangan si cantik manis?"

"Dasar bangsat!" mendamprat Kwee Ceng yang mendongkol sekali.

Lam Kim terkejut mendapatkan tuan penolongnya begitu gusar. Ia tidak tahu, dari kata-katanya Yo Kang itu, terang sudah orang she Yo itu hendak menjual negara, untuk keuntungan dirinya sendiri.

"Kau menghendaki aku bicara terus?" si nona menegasi.

"Kalau kau letih, kau beristirahatlah dulu," sahut si pemuda.

Nona Cin mengawasi pula, air mukanya berubah, toh ia bersikap tenang. "Letih, itulah tidak," katanya. "Hanya aku mengalami kemalangan dan malu, susah aku mengatakannya ……"

"Kalau begitu, tidak usah kau bercerita. Mari kita omong dari lainnya hal."

"Tidak. Sebenarnya aku mesti menuturkan semua supaya kau tahu."

"Nah, nanti aku pergi ke sana, kau boleh bicara sama enci Bok dan Oey," berkata si pemuda yang lantas berbangkit, untuk bertindak pergi. Ia menduga tentulah Yo Kang sudah main gila terhadap nona ini, sehingga dia likat untuk menuturkan pengalamannya.

Tetapi Lam Kim berkata. "Jikalau kau pergi, sampai mati juga aku tidak akan menuturkan. Selama dua hari ini, enci Bok berlaku baik sekali padaku, meski begitu, aku tidak mau bercerita kepadanya……"

Kwee Ceng memandang Oey Yong, nona itu mengedipkan mata, menganjurkan ia berduduk, maka urung ia mengangkat kaki, bahkan ia duduk pula di tempatnya.

Lam Kim menghela napas. Ia nampak lega hatinya. Lantas ia mulai bercerita pula: “Telah tetap keputusan orang she Yo itu. Dia lantas berbenah. Untuk itu dia menyalakan api. Ketika dia melihat aku di tepi pembaringan, dia terperanjat. Dia menyangka bahwa aku sudah kabur. Dia membawa ciaktay, untuk menyuluhi mukaku. Lantas dia tertawa dan berkata 'Hm! Karena kau, aku kehilangan dia! Sekarang kau pikirlah. Jikalau kau suka menurut aku, akan ajak kau turun gunung. Kalau tidak, boleh tetap rebah di sini, supaya orang-orang Tiat Ciang Pang perlakukan apa mereka suka. Aku menjadi bingung, aku bersangsi. Berdiam di gunung, akibatnya tentu berbahaya, tetapi dengan turut dia, juga entah bagaimana akhirnya. Melihat aku berdiam saja, dia tertawa nyaring. Mendadak timbul nafsu binatangnya, dia lantas merusak diriku ……"

Tiga orang itu berdiam, cuma Bok Liam Cu berdiam sambil mengucurkan air mata. Itu bukti Yo Kang main gila terhadapnya. Ia tahu Yo Kang busuk tetapi tidaklah disangka dia hina begitu rupa. Ia pernah mengasih ampun, tetapi sekarang?

Lam Kim tenang luar biasa. Dia bercerita seperti juga dirinya tidak ada sangkutnya dengan cerita itu. Dia berkata;

"Karena aku telah ternoda, aku lantas mengambil keputusan. Aku ikut dia turun gunung. Aku telah berpikir, aku mesti menuntut balas, setelah itu aku hendak menghabiskan jiwaku. Gunung Tiat Ciang San itu sangat berhahaya, dengan susah payah dia membantu aku turun. Sampai fajar muncul, kita masih ada di tengah gunung. Dia malu bertemu orang Tiat Ciang Pang, dia mengambil jalan dari belakang gunung. Dia sengaja memilih tempat yang tidak ada jalannya. Dengan begitu, sering dia merayap pada pohon rotan. Maka perjalanan jadi semakin lama. Lereng gunung pun makin berbahaya. Di sana ada jurang yang dalam sekali, aku melihatnya hingga kakiku lemas. Tiba di tempat tinggi, kaki tanganku bergemetaran. Dia tertawa. 'Aku nanti gendong kau, asal kau jangan bergerak! Nanti kita berdua habis ……' Lantas dia jongkok di depanku. Aku pikir inilah kesempatan yang paling baik untukku, untuk mati bersama. Aku lantas mendekam di punggungnya, kedua tanganku memeluk erat lehernya. Selagi dia hendak berbangkit, dengan kakiku, aku menjejak keras batu besar di sisiku. Dia kaget. dia menjerit keras. Kita berdua jatuh."

Bok Liam Cu kaget hingga ia berkaok. Tapi segera ia ingat kejahatan Yo Kang, lantas ia mengertak gigi. ia menguatkan hati.

"Aku merasakan tubuhku melayang," Lam Kim meneruskan.

"Aku girang. Kalau tubuhku hancur lebur, dia tentu bakal hancur lebur juga. Mendadak aku merasakan gentakan hebat, mataku kabur, hatiku memukul. Aku menduga habislah aku. Tapi segera aku mendengar Yo Kang tertawa terbahak. Ketika aku membuka mata, aku melihat tangan kanannya merangkul cabang pohon cemara, yang tumbuh di lereng itu. Tubuh kita berdua bergelantungan di cabang, yang telah menolong jiwanya. Tapi dia tidak sadar bahwa aku hendak membikin celaka padanya. Dia menyangka aku ketakutan dan tak dapat berdiri betul. Dia puas sekali kami ketolongan.

Sembari tertawa dia berkata: 'Jikalau bukan siauw-ongya lihay ilmu silatnya, apa kira jiwa kecilmu masih ada?' Pohon itu terpisah dari tanah cuma tujuh atau delapan tombak. Dia lantas merayap ke pohon. Dia kata pula: "Sekarang kita turun dulu ke lembah, di sana baru kita mencari jalan keluar.' Di dalam lembah itu ada hanya rumput-rumput yang sudah busuk dan tulang-tulang binatang. Dengan satu tulang paha, dia membuka jalan, sembari jalan dia bicara tertawa-tawa padaku.

Aku takut dia curiga, nanti sukar aku turun tangan, terpaksa aku melayani dia bicara. Tidak lama, dia berteriak sambil lompat mundur. Dia menggunakan tulangnya membiak rumput tebal di mana tadi dia menaruh kaki. Di situ dia mendapatkan satu mayat, yang mengenakan baju kuning. Muka mayat rusak hingga tak dapat dilihat lagi, cuma kumis dan jenggotnya yang putih bertitikan darah segar. Rupanya belum lama dia jatuh mati di situ."

"Si tua bangka Khiu Cian Lie telah mampus, toh masih ada orang yang melihat cecongornya!" kata Oey Yong.

"Yo Kang memeriksa tubuh mayat itu," berkata pula Lam Kim. "Banyak barang yang didapatkan, seperti cincin, pedang pendek dan batu bata. 'Kiranya tua bangka ini mati di sini,' dia kata. Sembari berkata begitu, dia menarik keluar sejilid buku ……"

"Mungkin itu buku sulapnya," kata Oey Yong.

Seperti yang tidak mendengar perkataan si nona, Lam Kim bercerita terus: "Si orang she Yo itu membuka dan memeriksa buku itu, kelihatannya dia ketarik hatinya, dia membalik-balik terus lembaran dengan romannya girang. Kemudian dia simpan buku itu di dalam sakunya. Habis itu kami berjalan terus. Satu hari kami berada di dalam selat, sampai magrib baru kami tiba di mulut selat. Kami mencari rumah seorang petani untuk menumpang bermalam. Dia suruh aku mengaku sebagai istrinya, katanya agar orang jangan curiga. Habis bersantap malam, dia menyalakan api, dia membuka buku yang tadi, untuk diperiksa lagi. Aku melihat dia menggerakkan tangan dan kakinya, seperti lagi bersilat.

Rupanya buku itu adalah buku pelajaran silat. Aku menyender di pembaringan letih dan berduka, rasanya malas aku bergerak. Mendadak aku mendengar dua kali suara kodok di luar jendela. Aku tahu betul, itulah suara kodok hijau dicekuk ular berbisa. Dengan tiba-tiba aku mendapat pikiran. Aku ingat kakekku yang telah mati, ia tentu telah berkumpul bersama ayah ibuku, sekalian pamanku dan yang lainnya di dunia baka. Aku sebaliknya, di dalam dunia ini hidup sebatang kara, hidup menderita, sengsara dan ternoda, bahkan mau mati juga sukar.

Karena mendapat ingat itu, aku kata pada orang she Yo itu: 'Siauw-ongya, aku hendak keluar sebentar.' Dia tertawa. 'Baik,' katanya. 'Asal jangan kau memikir untuk kabur, sebab dalam sekejap, pasti aku dapat menyusul kau!' Aku menjawab; 'Aku lari? Lari ke mana?' Ia tertawa pula dan kata: 'Itu betul. Dengan tidak memikir lari, kaulah anak yang manis!' Sekeluarnya dari kamar, aku pergi ke belakang. Aku berdiri sebentar. Aku mendengar suara si ular lagi menelan mangsanya. Diam-diam aku menghampiri ular itu, aku tangkap ekornya, terus aku menekuk dia, lalu aku membungkusnya dengan sapu tangan. Lantas aku kembali ke dalam. Senang dia melihat aku kembali begitu cepat. Dia tertawa dan mengangguk-angguk.

Kembali dia membaca bukunya. Kemudian dia berkata; 'Pergi kau tidur lebih dulu, sebentar aku temani kau.' Di dalam hatiku, aku damprat dia: 'Orang jahat, hari ini Thian menyuruhnya aku membalas sakit hatiku!"'

Mendengar sampai di situ, Oey Yong lantas ketahui apa cara membalas sakit hati nona Cin ini. Liam Cu juga dapat menduga samar-samar, maka teganglah hatinya. Cuma Kwee Ceng yang masih belum mengerti.

"Aku mengebut pembaringan mengusir nyamuk, terus aku menurunkan kelambu," Lam Kim menyambungi pula. "Sembari merebahkan diri, aku membuka sapu tanganku, mengeluarkan ular. Aku menekannya, supaya dia tidak berkutik-kutik. Dengan tangan kiriku, dengan kipas, aku menutup tubuh ular. Kemudian aku menanti. Aku mesti menahan napas. Sampai lama dia belum naik ke pembaringan, dia seperti melupakan aku. Hatiku berdenyutan. Aku khawatir gagal. Minyak pelita menjadi semakin kurang, cahayanya pun menjadi guram, akhirnya api padam. Barulah waktu itu aku mendengar dia tertawa dan berkata: 'Haha, aku harus mati! Lantaran membaca buku saja, aku sampai melupakan si manis! Mustikaku, jangan kau sesalkan aku ……' Aku tidak menyahuti, malah aku berlagak pulas dengan mengasih dengar suara menggeros perlahan. Tetapi kupingku kupasang.

Aku mendengar dia menutup buku, yang di kasih masuk ke dalam sakunya. Aku mendengar dia membuka baju luarnya. Aku mendengar juga dia naik di pembaringan dan membuka sepatunya. Ketika itu hawa sangat panas, dia meloloskan semua pakaiannya. Ketika dia memelukku, aku masih terus berpura-pura pulas, adalah tangan kiriku dengan perlahan-lahan menyingkirkan kipas, lalu tangan kananku membawa kepala ular ke dadanya. Dengan kukuku, aku mencubit ular itu, membikinnya kesakitan dan kaget, karena mana dia lantas menggigit dada si jahat. Dia kaget, dia berteriak: 'Apa?' Terus dia berlompat turun dari pembaringan. Sekarang dia merasakan ular masih menggigit dadanya, dia menariknya hingga terlepas, tetapi gigi ular itu copot dan nancap di dadanya."

Liam Cu kaget hingga ia berjingkrak bangun, matanya mengawasi nona Cin. Ia ini bercerita sampai di bagian sangat tegang itu tetapi romannya, suaranya juga, tenang- tenang saja. Menampak demikian, nona Bok ini kagum sekali.

"Dia lantas berteriak-teriak: 'Ular! Ular!"' Lam Kim masih meneruskan dengan sabar sekali. "Ketika itu aku masih belum memikir lantas mati, aku hendak menyaksikan dia tersiksa, habis itu baru aku mau pergi ke dunia baka menjenguk kakek dan ayah bundaku, maka aku pun berpura-pura kaget dan berteriak-teriak: 'Apa? Ular? Mana? Mana?' Dia menyahut: 'Aku digigit ular!' Aku menanya pula: 'Mana ularnya? Lekas pasang api! Lekas!' Benar-benar dia menyalakan api. Aku melihat empat liang kecil dan hitam-hitam di dadanya, diam-diam aku girang. Lantas aku kata padanya: 'Kau rebah saja, jangan bergerak, nanti aku pergi mencari daun obat-obatan.'

Tuan rumah pun bangun dengan kaget. Dia kata: 'Memang di sini ada ular berbisa, hanya heran dia bisa naik ke pembaringan ……' Aku lantas bawa pelita dan pergi ke luar, untuk mencari daun obat-obatan. Yang aku cari bukan daun obat pemunah bisa ular, sebaliknya obat yang bisa membikin racun ular itu bekerja semakin berbahaya……"

Ketika si. nona bercerita sampai di situ, sebelah tangan Liam Cu melayang ke mukanya, hingga sebelah pipinya menjadi merah dan bengkak.

Oey Yong lantas menyambar tangan nona Bok. "Enci, bukankah binatang itu harus mendapatkan bagiannya?" ia menegur.

Liam Cu berdiam, kepalanya pusing. Ia berdiam dengan mata mendelong. Lam Kim telah di tempiling ia tidak menggubrisnya, ia masih melanjutkan ceritanya:

"Daun obat itu tidak dapat dicari dalam waktu sebentaran, aku pun tidak terus mencarinya. Dia telah digigit ular beracun, dia tidak dapat bertahan enam jam, maka aku mencabut rumput sembarangan, aku mamah itu, dengan itu aku beborehkan dia. Dadanya itu telah bengkak dan bergaris hitam. Beberapa kali sudah dia pingsan. Aku duduk di sisinya berpura-pura menangis. Mulanya aku berpura-pura, akhirnya aku menangis benaran. Aku ingat akan nasibku, aku jadi sangat bersedih. Satu kali dia sadar dia mengawasi aku dengan tajam. Rupanya dia menyangka akulah yang sengaja menggigitkan ular itu kepadanya. Setelah melihat aku menangis, kecurigaannya lenyap. ia menghela napas dan berkata; Akhirnya toh ada juga seorang yang mengucurkan air mata untukku……'

Dari tengah malam sampai fajar, tiga kali dia pingsan lantas kedinginan, tubuhnya menggigil. Dia rupanya menduga jiwanya tidak bakal ketolongan lagi, dia berkata padaku: 'Aku mau minta tolong padamu, kalau beres dan berhasil, kau akan mendapat pembalasan baik sekali.' Aku menjawab, 'Aku tidak mengharapkan hadiah. Kau sebutkan saja. Dia menyuruh aku mengambil buku dari sakunya, dia kata: 'Kalau aku sudah mati, kau ambil pedang pendekku, bersama buku ini, kau mengantarkannya ke istana Pangeran Chao Wang dari negara Kim, kau harus menyerahkannya sendiri ke tangan pangeran itu. Bilang bahwa surat wasiat Gak Bu Bok berada dalam buku ini."

Mendengar itu Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi hati mereka sama bertanya:

"Kenapa buku Khiu Cian Lie itu ada hubungannya sama bukunya Gak Hui?"

"Dengan tenaganya yang hampir habis, dia melanjutkan pesannya padaku," Lam Kim melanjutkan tanpa memperhatikan sikap orang-orang di dekatnya itu. "Dia kata: 'Kau beritahu kepada Chao Wang bahwa dengan mulutku sendiri aku menjanjikan kau supaya diangkat menjadi permaisuri. Dengan begitu, maka kau bakal hidup senang dan mulia tak ada taranya.' Aku mengangguk tanpa membilang suatu apa. Dia tertawa sedih dan menanya: 'Kenapa kau tidak menghaturkan terima kasih padaku?' Aku tetap tidak menyahut. Aku telah memikir, sesudah dia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya, hendak aku membikin hancur kitab itu di depan matanya, supaya di saat kematiannya tidak saja dia tersiksa lahir tetapi juga bathinnya ……"

"Kau! Kau!" membentak Liam Cu bengis. "Kenapa kau begitu kejam? Benar dia berbuat tak pantas kepadamu tetapi itu disebabkan dia menyukai kecantikanmu?!"

Oey Yong berduka, "Sayang, sayang……" katanya perlahan.

"Sayang?" kata Lam Kim. Baru sekarang ia memperhatikan suara orang. "Manusia begitu jahat tetapi kematiannya masih di sayangkan?"

Nona ini keliru mengerti. Oey Yong menjawab: "Aku bukan menyayangi dia, aku menyayangi bukunya itu ……"

Nona Cin tidak meladeni pula, ia hanya melanjutkan: "Di waktu fajar, manusia jahat itu berteriak-teriak minta air. Aku menuangkan air ke dalam sebuah mangkok dan meletakkan mangkok itu di tepi pembaringan. 'Ini air', kataku. Dia mengulur tangannya, untuk mengambil mangkok itu. Aku menggesernya sedikit jauh. Dia tidak dapat mengambil, maka dia memaksakan diri untuk bangun, untuk berduduk. Nyata tenaganya tidak mengijinkannya. 'Tolong, tolong kasihkan aku……" dia minta. 'Kau ambil sendiri,' kataku. Dia mengeluarkan seluruh tenaganya, tangannya dilonjorkan. Dia berhasil mengambil mangkok air itu. Nampaknya dia girang sekali.

Akan tetapi tangannya kaku, tidak dapat ditekuk, ketika dia memaksa menekuknya, prang! Maka mangkok itu terlepas dan jatuh pecah di tanah. Aku tahu bahwa dia telah habis tenaganya, maka aku ambil bukunya, aku bawa ke depannya seraya berkata: 'Bukankah kau menghendaki buku ini aku membawanya ke istana Chao Wang? Baiklah, kau lihat!' Aku merobeknya selembar, lembaran itu aku merobek-robeknya pula. Dia nampak kaget. 'Kau …… kau ……" katanya. Terang dia kaget dan gusar.

Aku hendak menyiksa dia. Habis merobek selembar, aku merobek selembar lainnya. Dia gusar hingga dia pingsan. Aku menanti sampai dia sadar, lalu aku merobek pula. Demikian sampai aku merobek beberapa lembar, dia lantas merapatkan matanya, tidak suka dia melihatnya lebih jauh. Meski dia tidak melihat, kupingnya dapat mendengar, kupingnya itu masih mendengar terus. Demikian dia mendengar suara robekan kertas……"

Seorang diri Lam Kim berbicara, tiga orang mendengarkan. Tiga orang ini masing-masing kesannya. Mereka seperti dapat membayangkan romannya Yo Kang di atas pembaringan, selagi nona Cin merobeki kertasnya.

"Tiba-tiba aku melihat perubahan pada air mukanya," nona Cin melanjutkan. "Dia seperti lagi memasang kuping, memperhatikan sesuatu. Aku berhenti merobek kertas. Aku juga memasang kupingku. Segera aku mendengar suara bicaranya beberapa orang serta tindakan kaki, mulanya jauh. Di saat kematiannya, binatang itu masih licik sekali. Dia berpura-pura tidak mendengar suara itu. 'Air, air, kasih aku air ……' katanya. Aku mendengar suara orang datang semakin dekat, datang sampai di luar rumah. Lantas aku mendengar cacian: 'Binatang perempuan! Pastilah dua binatang cilik itu diambil. Sin Soan Cu!' Lantas terdengar suara seorang lain: "Menurut aku, baiklah perempuan hina itu dibakar mampus berikut binatang cilik itu!' Lagi seorang berkata: 'Tidak dapat kita berbuat demikian. Kalau dia tidak terbakar mati? Binatang itu lihay, dia bisa menjadi biang penyakit untuk kaum kita Tiat Ciang Pang.'

Mendengar mereka adalah orang-orang Tiat Ciang Pang, aku kaget. Aku takut mereka masuk dan menolong orang she Yo itu. Tiat Ciang Pang memelihara banyak ular berbisa, mereka pasti bisa mengobati racun bisa ular. Lantas aku menjumput pecahan mangkok. Aku sudah memikir, kalau mereka masuk ke dalam, hendak aku membinasakan dulu si orang she Yo, setelah itu baru aku membunuh diri. Aku takut dia membuka mulut, maka dengan bajunya aku membungkus kepalanya dan mulutnya aku sumbat dengan hancuran kertas.

Entah bagaimana, orang-orang Tiat Ciang Pang itu lewat terus, tidak ada seorangpun yang mampir dan masuk ke dalam rumah. Setelah merasa orang sudah pergi jauh, aku membuka bungkusan kepalanya. Aku berniat mengulangi menyobek lembaran buku itu. Tiba-¬tiba aku mendengar suara pintu pekarangan ditolak. Aku heran. Aku tahu di situ sudah tidak ada orang lain. Suami istri petani pemilik rumah itu, sudah pergi ke sawahnya. Aku pergi ke pintu dan mengintai. Aku melihat delapan orang datang sambil berpegangan tangan, perlahan jalannya, tangan mereka mencekal masing-masing sepasang galah, yang mereka ketruk-¬ketrukkan ke tanah. Nyatalah mereka semua orang-orang buta dan pakaian mereka dekil, tetapi masih terlihat tegas, asalnya pakaian itu ialah putih."

"Itulah budak-budak si bisa bangkotan," kata Oey Yong perlahan.

Lam Kim menoleh kepada Kwee Ceng dan berkata: "Baru-baru ini ketika inkong dan aku berada di rimba, selagi inkong hendak menangkap hiat¬niauw, aku melihat sendiri budak-budak jahat itu dipatuki burung api itu, maka aku lantas mengenali mereka. Lantas aku pakai baju panjang menutup muka si bangsat. Lalu aku mendengar seorang budak jahat itu berkata, "Ngamal, ngamal …… bagilah sayur dan nasi dingin pada orang-orang buta ……' Aku tidak berani bersuara, aku diam saja. Si buta itu berkata pula, dia mengemis nasi. Aku tetap tidak menjawab. Beberapa kali permintaannya itu diulangi. Akhirnya aku dengar, 'Di sini tidak ada orang lain, mari kita mencari ke lain tempat.

Tadinya mereka itu pada berduduk, lantas mereka pada bangun berdiri. Aku khawatir mereka masuk ke dalam, maka aku lantas batuk-batuk, terus aku membuka pintu. Aku tanya mereka itu siapa. Nampaknya mereka itu kaget. Yang satu lantas berkata, 'Nona, sukalah berlaku baik, tolong kau membagi makanan untuk kami.' Yang lainnya mengeluarkan sepotong perak dari sakunya seraya berkata; 'Kita membeli dengan uang……' Aku lantas mempersilahkan mereka duduk, kataku, nanti aku masak nasi untuk mereka.

Aku ingin mereka lekas-lekas pergi. Aku lantas pergi ke dapur, masak nasi, menggorengi sayur. Demikian mereka duduk berdahar. Habis mereka bersantap, disaat mau pergi, mendadak si orang she Yo berteriak. Aku lari ke dalam. Aku melihat dia mencoba berduduk, tangannya menuding aku, dengan roman ketakutan, dia berteriak pula; 'Auwyang Kongcu! Auwyang Kongcu!' Aku kaget hingga aku mencelat. Aku tidak tahu siapa itu Auwyang Kongcu. Aku berkhawatir sekali, aku takut orang-orang buta itu mendengar suaranya. Maka aku pungut bajunya, membungkus kepalanya lagi. Di luar dugaanku, dia menjadi kuat sekali, dia berontak hingga aku terjatuh. Sekali lagi dia mengasih dengar suaranya; 'Auwyang Kongcu, kau, kau ampuni aku …… kau ampuni aku ……'"

Oey Yong, Kwee Ceng dan Bok Liam Cu melihat tegas Yo Kang membunuh Auwyang Kongcu, mereka mengerti ketakutan Yo Kang dalam keadaan was¬wasnya itu, meski begitu, mereka merasakan punggung mereka dingin. Mereka merasa ngeri. Bahkan nona Oey, meskipun dia gagah, dia berlompat kepada Kwee Ceng, untuk duduk menyenderkan tubuhnya.

Lam Kim melihat eratnya hubungan muda-mud itu, sakit ia merasakan hatinya. Tapi ia meneruskan: 'Begitu orang she Yo itu menyebut-nyebut Auwyang Kongcu, budak-budak buta itu pada nerobos ke dalam, mulut mereka bertanya berulang-ulang: 'Kongcu! Kongcu'! Kau di mana?' Aku menjadi kaget. Tahulah aku, mereka itu bujang dan majikan. Aku merasa bakal gagal. Dalam takutku, aku lantas lari. Entah kenapa, waktu itu aku tak lagi ingin mati. Aku takut nanti ditangkap mereka, aku bisa disiksa, maka aku kabur terus.

Bagaikan ada malaikat yang menunjukkan aku lari sampai di kuilnya enci Bok, justru enci Bok lagi sakit berat, tubuhnya sangat panas. Aku lantas merawat sebisanya. Malam itu aku berpikir keras, akhirnya, aku minta too-kouw tua itu menerima aku sebagai muridnya. Dua hari kemudian baru panas tubuhnya enci Bok berkurang dan ia sadar ……"

"Kemudian bagaimana?" Liam Cu memotong cerita nona itu.

"Bagimana? Tentu saja dia mati!" menyahut Lam Kim.

"Nanti, nanti aku lihat ……!" Sambil berkata begitu, Liam Cu berlompat bangun, terus dia lari.

"Enci! Enci!" Oey Yong memanggil.

Liam Cu tidak mendengar, dia lari terus, hingga sebentar saja dia lenyap di sebuah pengkolan. Oey Yong bertiga tahu Liam Cu tidak dapat melupakan Yo Kang, tidak perduli orang she Yo itu terbukti kejahatannya. Mereka menghela napas. Setelah berdiam sekian lama, Lam Kim berbangkit.

"Inkong," katanya perlahan pada Kwee Ceng, "Aku telah menutur segalanya, maka bersyukurlah kepada Thian, aku dapat dipertemukan pula dengan inkong." Ia merogoh ke sakunya, mengeluarkan sejilid buku yang sudah rusak, ia menyerahkan pada si anak muda seraya menambahkan: "Buku ini telah aku robek belasan lembar, aku tidak tahu ini sebenarnya buku apa, tetapi orang she Yo itu menganggapnya sebagai mustika, maka mungkin ada faedahnya. Coba inkong periksa."

Kwee Ceng menyambut buku itu, tanpa memeriksa lagi, ia masukkan ke dalam sakunya.

"Sekarang kau berniat pergi ke mana?" ia menanya. Ia lebih memerlukan nasibnya nona yang sangat malang ini.

"Aku telah bertemu sama inkong, untukku, ke mana aku pergi, sama saja," menyahut nona Cin. "Kelihatannya Tiat Ciang Pang bermaksud tidak baik kepada inkong maka itu aku harap inkong berdua berhati-hati."

"Kenapa kau ketahui tukang perahu itu orang Tiat Ciang Pang?" Oey Yong tanya.

"Sebab dialah orang yang memasuki aku ke dalam keranjang dan menyerahkan aku pada si orang she Yo itu."

"Oh ……" kata nona Oey yang lantas telah mengetahuinya bagaimana ia harus mengambil sikap kepada si tukang perahu.

"Setelah enci Bok sembuh, kita berdamai untuk melakukan perjalanan bersama," Lam Kim masih berkata lebih jauh. "Demikian tadi di rumah makan, kami melihat inkong berdua serta tukang perahu. Dasar Thian tidak mengijinkan orang jahat dapat berbuat sesukanya, kami telah dibuatnya memergoki dia."

Habis mengucap, si nona memberi hormat kepada Oey Yong, terus ia berlutut pada Kwee Ceng seraya berkata;

"Sekarang perkenankan aku meminta diri. Semoga inkong panjang umur dan beruntung!"

Kwee Ceng mengasih bangun nona itu, hatinya pepat, Tidak tahu ia mesti membilang apa.

"Enci Cin," berkata Oey Yong, "Kau sudah tidak punya rumah, sebaiknya kau turut kami pergi ke Kanglam."

Lam Kim menggeleng kepala. "Aku berniat balik ke hutannya kakekku," katanya.

"Kau tinggal sebatang kara, mana dapat?" Oey Yong kata.

"Seumurku, aku memang bersendirian saja ……"

Oey Yong berpaling kepada Kwee Ceng, ia membungkam. Lam Kim menoleh kepada si anak muda, habis itu ia memutar tubuh, untuk bertindak pergi. Pemuda itu masih menjublak sampai ia ingat sesuatu.

"Nona, tunggu dulu!" ia memanggil.

Nona itu menghentikan tindakannya, ia tidak memutar tubuhnya. "Nona, kalau kau ketemu lagi orang jahat, bagaimana?" Kwee Ceng tanya, nona itu tunduk, ia menyahut dengan perlahan: "Aku sebatang kara dan lemah, aku cuma akan menerima nasib saja……"

"Mari aku ajarkan kau serupa ilmu," berkata Kwee Ceng, "Jikalau kau rajin mempelajarinya, aku percaya lain kali kau bisa melawan sedikitnya lima orang."

Nona itu berpikir sebentar, lalu ia memberikan penyahutannya: "Baiklah kalau inkong menitahkan, nanti aku mempelajarinya."

Kwee Ceng heran melihat orang tidak bergembira karenanya. Ia lantas mengajari nona itu ilmu yang ia dapatkan dari Tan Yang Cu Ma Giok selama di gurun pasir. Itulah ilmu tenaga dalam, Lwee Kang Sim-hoat yang terdiri dari sepuluh jurus. Lam Kim berotak cerdas, ia memperhatikan pengajaran itu. Tidak lama, ia telah dapat mengingat baik-baik.

"Setelah dipelajari sungguh-sungguh nanti baru nampak kefaedahannya pelajaran ini," Kwee Ceng memberi keterangan. "Kau tidak mengerti ilmu silat, tetapi dengan meninju dan menendang kalang kabutan, kau dapat juga melukai orang."

Nona itu berdiam, lalu ia meminta diri pula dan pergi dalam kesunyian. Setelah orang pergi jauh, Oey Yong berkata kepada kawannya:

"Aku memberi selamat padamu telah mendapat seorang murid!"

"Mana dapat dibilang dia muridku," kata si anak muda. "Aku cuma mengharap dia tidak nanti diperhina lagi orang jahat."

"Itulah sukar dibilang," kata Oey Yong. "Sekalipun orang sepandai kau, kau masih dipermainkan orang jahat……."

Kwee Ceng menghela napas. "Di jaman kacau seperti ini, manusia kalah dengan anjing," ia bilang. "Apa mau di kata……?"

"Sekarang, mari kita mampusi anjing gagu itu!" berkata si anak muda.

"Anjing gagu yang tadi," sahut si nona, yang lantas menggerak-gerakkan tangannya seraya mengasih dengar suara ah-aha-uh-uh.

Melihat itu Kwee Ceng tertawa. "Jadi kita tetap menaiki perahunya si gagu palsu itu?" ia menegaskan.

"Pasti kita akan memakai perahunya," menyahut si nona. "Bangsat tua Khiu Cian Jin telah melukai hebat padaku, hendak aku membalas terhadapnya, umpama kata aku tidak sanggup melayani dia, puas juga sedikit hatiku apabila aku bisa menyingkirkan beberapa pengikutnya."

Keduanya lantas kembali ke rumah makan. Di sana si tukang perahu yang gagu lagi tangal-tongol, mengharapkan kedatangan orang. Ia menjadi girang sekali ketika menampak kembalinya si muda-mudi.

Dengan berlagak pilon, Kwee Ceng berdua pergi ke perahu orang Tiat Ciang Pang itu. Mereka melihat sebuah perahu sedang, tidak besar dan tidak kecil, dan gubuknya hitam. Itulah perahu pengangkutan yang paling banyak digunakan di sungai Goan Kang. Di atas perahu ada dua orang, yang masih muda, yang lagi mencuci lantai.

Begitu keduanya turun ke perahu, tukang perahu itu melepaskan tambatannya dan menolak perahu ke tengah sungai di mana layar lantas dipasang. Kebetulan sekali angin Selatan meniup keras, perahu laju cepat mengikuti aliran sungai.

Ketika Kwee Ceng memikirkan kebinasaan Yo Kang serta nasibnya Liam Cu dan Lam Kim, ia sangat berduka. Sambil menyenderkan tubuhnya, ia tunduk diam, matanya memandang jauh ke depan.

"Engko Ceng," berkata Oey Yong tiba-tiba. "Coba kau kasih lihat buku nona Cin itu? Entah ada hubungan apa di antara buku dan buku wasiatnya Gak Bu Bok……"

Anak muda itu seperti baru sadar. "Hampir aku lupa!" katanya. Ia terus mengeluarkan bukunya, diserahkan pada si nona.

Oey Yong menyambut, lantas membalik beberapa lembaran. "Oh, kiranya begini!" katanya agak terperanjat. "Engko Ceng, mari lihat!"

Kwee Ceng bangkit menghampiri, ia duduk di samping si nona melihat buku itu. Ketika itu sudah magrib, sinar layung memain di permukaan air. Sinar itu, yang menyorot berbalik dari air, mengenakan juga mukanya si nona, baju dan buku di tangannya itu.

Sepasang muda-mudi itu besar hatinya, walaupun mereka berada di kendaraan air musuh, mereka tidak takut. Dengan asyik mereka memperhatikan buku pemberian nona Cin itu.

Buku itu adalah buah tangan Siangkoan Kiam Lam, pangcu yang ke-23 dari Tiat Ciang Pang. Di situ Kiam Lam mencatat mengenai sepak terjang partainya. Dialah salah seorang punggawa jenderal Han See Tiong. Ketika Gak Hui terbinasakan dorna Cin Kwee dan Jenderal Han dipecat, dia pun berhenti. Banyak orang sebawahan dan serdadunya, yang turut mengundurkan diri dan hidup bertani. Tapi dia benci kawanan dorna, yang menguasai pemerintahan, maka dia mengajak serombongan bawahannya, yang menyetujui cita-citanya untuk menaruh kaki di wilayah Kheng-siang, bekerja sebagai berandal.

Hanya kemudian, mereka masuk dalam kalangan Tiat Ciang Pang, malah ketika pangcu yang tua menutup mata, dia menyambut penggantinya. Mulanya Tiat Ciang Pang adalah perkumpulan biasa saja akan tetapi setelah dipimpin dia, sifatnya berubah dan menjadi kuat. Dia berhasil mengumpulkan kawan orang-orang gagah di Ouwlam dan Ouwpak, hingga kedudukannya tangguh seimbang dengan kedudukan Kay Pang di Utara.

Tidak pernah Kiam Lam melupakan negara dan musuh negaranya, untuk membangunnya pula, sering dia mengirim mata-mata ke Lim-an. Ia mengharap kesempatan baik guna bergerak. Kemudian Kaisar Kho Cong mengundurkan diri dari takhta kerajaan, yang ia serahkan kepada Kaisar Hauw cong, ia sendiri merasa senang menjadi Thay sianghong.

Kaisar Hauw Gong ingat kesetiaannya Gak Hui, ia menitahkan memindahkan kuburan dari tepi jembatan Cong An Kio ke tepian See Ouw, Telaga Barat, di mana pun dibangun rumah abunya, sedang pakaian dan semua barang lainnya dari Gak Bu Bok disimpan di istana. Malamnya dari siangnya jenazah dipindahkan, bekas orang-orangnya Gak Hui datang dengan diam-diam untuk bersembahyang.

Mata-mata Tiat Ciang Pang di Lim-an mengetahui hal itu dan mendengar juga bahwa di antara warisan Gak Bu Bok ada sejilid kitab tentang ilmu perang, maka hal itu diwartakan ke Tiat Ciang San. Kiam Lam lantas bekerja. Ia mengajak sejumlah orangnya yang pandai, mereka berangkat ke kota raja. Pada suatu malam mereka memasuki istana dan berhasil mencuri kitab Gak Hui itu, yang mana malam itu juga dibawa dan diserahkan kepada Han See Tiong.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar