ads

Jumat, 19 Februari 2021

Pendekar Pemanah Rajawali Jilid 024

"Yong-jie, ah…" berkata si anak muda, masgul: "Jangan menyebut-nyebut tentang mati atau hidup, bisakah?"

Si nona tertawa, dengan perlahan ia meniup pundak orang.

"Eh, jangan main-main!" kata Kwee Ceng, yang merasakan pundaknya panas dan gatal, "Awas, nanti tanganku terlepas, kita jatuh mati berdua…"

"Bagus!" berseru si nona. "Nah, kali ini bukanlah aku yang menyebut-nyebut hidup atau mati!"

Saking kewalahan, pemuda itu cuma bisa tertawa. Lewat sekian lama, setelah melapai terus dengan tetap rajinnya, tibalah muda-mudi ini di bongkot rotan, ialah puncak gunung, yang merupakan sebuah tanah datar. Hanya belum sempat Kwee Ceng menurunkan tubuh Oey Yong, keduanya terkejut mendadak mendengar suara berisik seperti batu besar jatuh di susul jeritan kerbau berulang-ulang, di susul lagi sama bentakan satu orang.

"Heran, mengapa di atas gunung begini ada kerbau?" kata si anak muda, lantas lari ke arah darimana suara datang. Ia tidak sempat menurunkan Oey Yong, yang berkata:

“Bukankah ada si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar? Nah, kalau ada si petani mesti ada kerbaunya!"

Segera mereka mendengar lagi suara kerbau, sekarang mereka lantas melihat binatang itu, yang tengah mengangkat kepalanya, keletakannya luar biasa sekali, tubuhnya terlentang di atas batu karang besar, keempat kakinya meronta-ronta tanpa dapat bangun, sedang batunya bergoyang-goyang. Di bawah batu itu dengan memasang kuda-kuda, satu orang mengangkat terbuka kedua tangannya, dipakai menampah batu itu berikut kerbaunya. Yang lebih hebat, orang itu berdiri di tempat di mana tidak ada tempat mundur lagi. Kalau tangan orang itu tak kuat menahan, kerbau dan batu mesti jatuh, orang itu ketimpa atau jatuh bersama kerbau itu, atau sedikitnya orang itu bakal patah tangan dan kakinya. Rupanya kerbau itu lagi makan rumput, dia terpeleset dan jatuh di batu itu, lalu orang itu mencoba menolong dengan kesudahannya mereka sama-sama terancam bahaya.

Melihat keadaan manusia dan kerbau itu, Oey Yong tertawa. Katanya: "Tadi orang baru menyanyikan lagu San Po Yang, sekarang ini lagu San Po GU!"

Lagu yang dinyanyikan si tukang kayu tadi lagu "San Po Yang" atau "Kambing di atas lereng", dan si nona menyebutnya "San Po Gu", ia menukar "Kambing" dengan "kerbau" (Gu)

Di atas puncak itu ada sawah lebar belasan bauw yang tengah ditanami. DI pinggir sawah ada sebuah pacul. Orang yang menahan batu berikut kerbau itu bertubuh telanjang dan kakinya melesak di lumpur sebatas dengkul.

Sembari mengawasi, Oey Yong pikir kerbau itu beratnya di atas dua ratus kati dan berat batunya tak berjauhan, maka bisalah dimengerti kuatnya orang itu, yang ia duga mestilah si petani yang dimaksudkan dalam suratnya Eng Kouw.

Kwee Ceng sudah lantas mengasih turun si nona, hendak membantu orang itu.

"Tahan, jangan kesusu!" si nona mencegah.

Tapi si anak muda itu murah hati, dia terus lari, tiba di samping si petani, ia berjongkok, sambil memasang kuda-kudanya, dia mengangkat kedua tangannya guna membantu menahan batu seraya dia berkata pada orang itu:

"Aku nanti menahan batu ini, kau tolong singkirkan dulu kerbaunya!"

Orang itu menurut, akan tetapi ia melepaskan dulu sebelah tangannya, yang kanan, tangan kirinya menahan terus, rupanya ia khawatir si pemuda tak kuat. Tapi anak muda itu bukan cuma menahan, ia mengangkat batu itu hingga terangkat sedikit, hingga tangan si petani terlepas dari batu.

Ketika melihat orang cukup kuat, ia lantas molos keluar, untuk lompat naik ke sebelah atas, dari sana barulah ia menarik kerbaunya, hanya lebih dulu daripada itu, ia mengawasi si anak muda yang datangnya tiba-tiba sekali. Segera ia menjadi heran. Ia melihat seorang bocah umur tujuh atau delapanbelas tahun. Yang aneh, orang itu menahan batu berikut kerbau tanpa terlihat menggunakan banyak tenaga. Ia menjadi heran dan curiga, sebab ia merasa diri sendiri sangat kuat. Ia melihat ke bawah, nampak Oey Yong, seorang bocah lain, bahkan ia mendapatkan nona itu lesu, seorang yang lagi sakit.

"Sahabat, untuk urusan apakah kau datang ke mari?" ia tanya, herannya bertambah.

"Aku mau memohon bertemu sama gurumu, Tuan," Kwee Ceng menyahut terus-terang.

"Untuk urusan apakah?" orang itu menanya pula.

Kwee Ceng melengak, ia belum menyahut, terdengarlah suara Oey Yong: "Kau singkirkan dulu kerbau itu, nanti kau menanya perlahan-lahan, tak bakal terlambat! Kalau dia keterlepasan tangan, apakah bukan kerbau dan manusia akan jatuh bersama?"

Dalam herannya, si petani berpikir: "Dua orang ini datang untuk suhu mengobati mereka, maksud mereka baik, hanya heran kenapa kedua suheng di sebelah bawah tidak melepaskan panah nyaringnya? Kalau mereka datang dengan membolos, terang mereka mestinya lihay. Kalau dugaanku ini benar, baiklah aku gunakan kesempatan selagi dia tidak dapat meloloskan diri, aku tanya dulu dia biar terang…" Maka ia menanya:

"Apakah kamu datang untuk minta diobati?"

Kwee Ceng mengangguk. Ia pikir, sudah terlanjur omong sebenarnya, baiklah ia berterus-terang saja.

Melihat orang mengangguk, paras si petani berubah. "Nanti aku tanya dulu!" katanya. Dengan gerakan yang nampaknya enteng sekali, ia berlompat turun.

"Eh!" Kwee Ceng memanggil, "Kau bantu aku menurunkan dulu batu besar ini!"

"Sebentar saja aku kembali!" berkata si petani tertawa.

Melihat kelakuan orang, Oey Yong sudah dapat menerka maksudnya. Dia mau membikin Kwee Ceng lelah, setelah itu dengan gampang dia nanti mengusir mereka berdua. Karena menduga begini, ia menyesal lagi sakit hingga ia tidak dapat membantu engko Ceng-nya itu. Tentu saja ia bingung sekali, sebab tak tahu, berapa lama si petani bakal pergi!

"Eh, paman, mari!" ia memanggil. Ia bingung berbareng mendongkol pula.

Petani itu berhenti, ia tertawa dan berkata: "Dia bertenaga besar, buat satu jam atau tiga perempat, tidak apa, kau jangan takut!"

Jawaban ini membuat si nona gusar. "Dengan baik hati engko Ceng menolongmu, kau sebaliknya hendak menyiksa," pikirnya. "Apakah kau kira sedikit waku satu jam atau seperempat itu? Baiklah, kau perlu diberi sedikit pengajaran…" Demikian lantas ia mendapat pikiran, maka ia kata pula pada petani itu.

"Paman, bukankah kau hendak menanyakan gurumu dulu? Itu pantas. Tapi di sini ada sepucuk surat, dari guruku, Ang Cit Kong, untuk dihanturkan kepada gurumu, maka tolong kau bawa sekalian."

Mendengar disebutnya nama Ang Cit Kong, petani itu mengasih dengar suara terkejut. "Oh, kiranya nona murid Kiu Cie Sin Kay?" katanya. Terus ia menghampir, untuk mengambil surat yang dimaksudkan itu.

Dengan ayal-ayalan Oey Yong membuka kantung di punggungnya, ia beraksi mau mengeluarkan surat, tetapi ia terlebih dahulu mengambil baju lapisnya, sembari berbuat begitu, ia menoleh kepada Kwee Ceng. Mendadak ia memperlihatkan roman kaget, ia pun berteriak:

"Oh, oh, celaka! Tangannya itu bakal nowah! Paman, kau tolongilah dia!"

Petani itu tercengang sebentar, lalu ia tertawa. "Tidak apa-apa," katanya. "Mana suratmu?"

"Kau tolongi," kata Oey Yong pula. "Kau tidak tahu, sukoku itu lagi meyakinkan ilmu silat Pek-khong-ciang, kemarin tangannya direndam dalam air obat, belum habis latihannya, kalau dia menggunakan tenaga terlalu lama, tangannya bisa terluka…"

Oey Yong tahu dari ayahnya tentang bagaimana Pek-khong-ciang, Tangan Memukul Udara, harus dipelajari, maka itu, ia hendak mengakali di petani ini. Si petani tidak paham ilmu Pek-khong-ciang, sebagai murid lihay, ia pernah mendengar dari gurunya, maka mendengar perkataan si nona, ia jadi berpikir: "Kalau tanpa sebab aku mencelakakan murid Kiu Cie Sin Kay, bukan saja suhu bakal menegur aku, hatiku sendiri pun tidak enak. Sekarang ini dia datang dengan maksud baik. Hanya aku menyangsikan si nona kecil ini, dia omong benar atau dia lagi menggunakan akal liciknya untuk menipu aku agar membebaskan kawannya itu…"

Oey Yong melihat orang bersangsi, ia angkat baju lapisnya dan berkata pula: "Ini baju lapis joan-wie-kah dari Tho Hoa To, yang tak mempan senjata, tolong paman mengerebongkan di pundaknya, kalau sudah dikerebongi, biarlah batu itu diletakkan pula di pundaknya, dengan begitu, dia tidak dapat pergi, dia pun tak usah terluka. Bukankah itu bagus untuk kedua belah pihak?"

Si petani juga pernah mendengar tentang baju lapis itu, ia tetap ragu-ragu ketika ia menyambut baju itu.

Oey Yong senantiasa mengawasi orang, ia melihat orang tetap bersangsi, maka ia berkata pula:

"Guruku telah mengajari aku tidak boleh berdusta terhadap orang lain, mana berani aku membohongi kau, Paman? Jikalau paman tidak percaya, kau cobalah bacok beberapa kali baju lapisku ini!"

Si petani mengawasi si nona, ia mau percaya orang jujur. Ia berpikir pula: "Kiu Cie Sin Kay itu orang tua dan terhormat, kata-katanya bagaikan emas atau kumala, guruku pun sangat menghargainya, sedang nona ini macamnya bukan tukang mendusta…" Karena berpikir demikian, ia lantas mencabut golok pendek di pinggangnya, terus membacok baju lapis itu, sampai beberapa kali. Benar ia mendapat kepastian, baju itu tidak rusak. Sekarang ia baru percaya benar.

"Baiklah!" katanya kemudian, "Nanti aku mengerebongkannya!"

Petani itu tidak menyangka sama sekali, walaupun roman Oey Yong sangat polos dan kekanak-¬kanakan, otaknya sangat tajam, dibatok kepalanya banyak akal. Maka ia menghampiri Kwee Ceng, ia meletakkan baju itu di lengan si anak muda, siap untuk dikerebongi, setelah itu ia memegang batu, untuk diangkat. Sembari berbuat begitu, ia kata:

"Kau lepaskan tanganmu, kau pakai pundakmu untuk menahan batu!"

Dengan menyender pada batu, Oey Yong mengawasi petani itu tajam-tajam, begitu ia melihat orang mengangkat batu, mendadak ia memanggil Kwee Ceng:

"Engko Ceng, Hui liong cay thian!"

Kwee Ceng mendengar itu, ia mengerti maksud si nona. "Hui liong cay thian" ialah salah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang berarti "aga terbang di langit". Itu pun artinya, ia harus terbang. Maka begitu merasakan tindihan kendor, ia menarik tangan kanannya, tangan kiri ia loloskan di bawah tangan kanannya, lalu kakinya menjejak, tubuhnya melesat ke samping Oey Yong! Bukan main sebatnya ia bergerak dengan jurus "Hui liong cay thian" itu.

"Kurang ajar" maki si petani begitu ia ketahui bahwa ia sudah kena ditipu mentah-mentah. Sebab dalam sekejab itu, sekarang ia mesti berdiri diam menahan pula batu serta kerbaunya itu!

"Engko Ceng, mari kita pergi!" kata Oey Yong. Ia memperlihatkan roman sangat puas, sembari menoleh kepada si petani, ia berkata: "Paman, tenagamu sangat besar, kau dapat menahan batu itu untuk satu jam atau tiga perempat, tidak akan terjadi bahaya apa¬apa, kau jangan khawatir….!"

"Hai, budak cilik!" maki si petani. "Secara begini kau akali si orang tua! Kau bilang Kiu Cie Sin Kay dapat dipercaya, tapi dengan begitu kau meruntuhkan nama baiknya, kau bocah licik!"

Oey Yong tidak gusar, ia bahkan tertawa. "Apakah yang runtuh?" ia berkata. "Memang guruku membilangi aku bahwa aku tidak boleh berdusta akan tetapi ayahku mengatakan memperdayakan orang bukanlah suatu perkara hebat! Karena aku suka mendengar perkataan ayahku, jadi guruku tidak dapat berbuat apa-apa atas diriku!"

"Siapa ayahmu?" tanya si petani mendongkol sekali.

"Eh, bukankah aku telah memberikan kau kesempatan untuk menguji baju lapisku itu?" si nona membalikkan.

"Ah, biar mampus, biar mampus!" mengutuk petani itu. "Hai, kiranya kau budak setan, kau adalah anak setan perempuan dari Oey Lao Shia! Ah, kenapa aku begini tolol?!"

"Memang!" kata pula Oey Yong, tertawa. "Kata-kata guruku memang berat bagaikan gunung, dia belum pernah mendusta, adalah sukar untuk mempelajarinya, sedang aku juga tidak berani mempelajarinya! Menurut aku, peljaran ayahkulah yang tepat!"

Lagi-lagi si nona tertawa, lalu ia menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi. Mereka mengikuti jalanan, untuk ke depan. Kwee Ceng girang dan heran. Ia tidak mengerti kenapa Oey Yong mengakali si petani, hingga petani itu sendiri yang memapah pula batu serta kerbaunya.

Tak lama sampailah mereka di ujung jalan. Di depan mereka melintang sebuah jembatan bagaikan penglari batu, lebarnya kira-kira setengah kaki, kedua ujungnya duduk di antara kedua puncak, karena ada kabut atau awan, ujungnya yang lain tak nampak. Kalau batu itu terletak di tanah, kecil pun tak berarti, sekarang itulah sebuah jembatan, di bawahnya ada jurang yang dalam, sungguh berbahaya. Dengan melihat saja ke bawah, hati sudah ngeri.

"Sungguh pandai sekali Toan Hongya menyembunyikan diri," kata Oey Yong menghela napas.

"Umpama ada seorang bermusuh hebat, kalau musuh itu dapat mencari sampai di sini, mungkin sakit hatinya akan berkurang separuh…."

"Kenapa si tukang pancing mengatakan bahwa Toan Hongya sudah mati?" tanya Kwee Ceng. "Perkataannya itu membuat hatiku tidak tentram…."

"Ya, memang mengherankan," sahut si nona. "Melihat romannya, dia tidak berbohong. Dia juga mengatakan guru kita melihat sendiri kematian Toan Hongya…"

"Ah, sudahlah!" kata Kwee Ceng akhirnya. "Sudah sampai di sini, tidak bisa lain, kita mesti jalan terus…!" Ia lantas berjongkok, untuk menggendong Oey Yong di punggungnya, setelah itu ia berjalan cepat di jembatan batu. Ia menggunakan ilmu meringankan tubuh "Keng-kang Tee-ciong-sut"

Sebenarnya jembatan batu itu tidak rata dan juga licin sekali, siapa jalan disitu, semakin perlahan, semakin banyak kemungkinan terpeleset dan jatuh, maka Kwee Ceng sebaliknya berjalan seperti berlari. Hanya ketika sudah melalui kira-kira delapan tombak, Oey Yong lantas teriak:

"Awas, di depan itu putus!"

Kwee Ceng pun melihat itu, ia tidak berpikir untuk mencari tahu, kenapa bisa terjadi begitu, ia hanya menjejak, mengenjot tubuh, maka dilain saat ia sudah berlompat ke seberang.

Oey Yong tidak menghiraukan lagi kematian, ia cuma merasa perbuatan si anak muda sangat berbahaya. Selewat dari situ, ia tertawa. Ia kata:

"Engko Ceng, terbangmu masih tetap kalah dengan si rajawali!"

Nyatanya jalanan terputus itu, tetapi ada sambungannya pula, bukan hanya ada satu itu, sebaliknya bahkan ada tujuh rintasan, tetapi ketujuh-¬tujuhnya dapat dilewati Kwee Ceng, maka dilain saat tibalah mereka di ujung jembatan yang terakhir, yang terputusnya agak lebar. Habis itu barulah tampak sebidang tanah datar. Di situ terdengar suara orang membaca kitab.

Kwee Ceng menghentikan tindakannya. Ia mengawasi bagian yang terputus itu, yang lebarnya beberapa tombak lebih. Tepat di atas tanah itu, yang ceglok, di situ ada seseorang yang berdandan sebagai pelajar duduk bersila, tangannya memegang buku, mulutnya membaca. Surat bacaan tadi keluar dari mulut dia ini. Di belakangnya ada sebuah lagi jalan yang putus dan ceglok.

"Sukar…" si anak muda mengeluh. "Tidak sukar aku melompat ceglokan ini hanya di situ bercokol si pelajar ini! Mana dapat aku melompati dia? Kalau tidak, di sini tidak ada jalan lain… Di mana aku mesti menaruh kakiku?" Terpaksa ia berkata: "Paman aku yang muda mohon bertemu dengan gurumu, maka itu, tolong paman memimpin aku menemuinya."

Pelajar itu tidak menyahut, mungkin dia tidak mendengar, sebab dia lagi asyik sekali membaca kitabnya, sambil kepalanya digoyang-goyangkan. Sekali lagi Kwee Ceng mengajaknya bicara, suaranya dikeraskan, tetapi masih si pelajar diam saja.

"Yong-jie, bagaimana?" akhirnya Kwee Ceng tanya pada kawannya.

Oey Yong tidak lantas menjawab. Ia memperhatikan tempat di mana si pelajar dudukl. Di situ mereka tidak bisa bertempur, sebab salah satu atau dua-duanya tentu akan celaka. Pula, taruh kata mereka menang, kemenangan itu tidak ada artinya. Bukankah mereka datang untuk memohon sesuatu? Mana dapat mereka mencelakakan orang? Maka atas pertanyaan Kwee Ceng, ia mengerutkan alisnya. Dari apa yang ia dengar, si pelajar lagi membaca kitab Loen Gie, terang dan lancar suaranya.

"Untuk membikin dia membuka mulutnya, tidak ada lain jalan daripada membuat hatinya panas." Kemudian nona ini membuka berpikir. Maka berkatalah ia mengejek: "Biarpun Loen Gie dibaca beribu kali putar balik, kalau tak mengerti maksud Guru Besar Khong Coe tentang peribudi besar toh percuma!"

Pelajar itu tampak terkejut, ia mengangkat kepalanya. "Apakah itu peribudi besar?" tanyanya. "Aku mohon pengajaran."

Oey Yong memandang pelajar itu, usianya limapuluh lebih, yang kepalanya ditutup dengan kopiah sabuk Siauw-yauw-kin, tangannya memegang kipas dan jenggotnya panjang. Dia benar mirip seorang pelajar.

"Apakah kau tahu ada berapa banyak murid Khong Coe?" ia menanya, suaranya tetap dingin, tertawanya mengejek.

"Apakah sukarnya?" jawab pelajar itu dengan tertawa. "Murid Khong Coe ada tiga ribu orang dan yang paling pandai tujuhpuluh dua!"

"Dari tujuhpuluh dua murid itu, orangnya ada yang tua dan ada yang muda," kata si nona. "Tahukah kau, berapa yang tua dan berapa yang muda?"

Pelajar itu tercengang. Di dalam kitab Loen Gie hal itu tak dibicarakan, dan di kitab-kitab lain pun tidak dicatat.

"Aku mengatakan kau tidak mengerti bunyinya kitab, apakah aku salah?" tanya Oey Yong disengaja. "Tadi aku mendengar kau membaca, yang dewasa lima enam orang dan yang bocah enam tujuh orang. Bukankah lima kali enam menjadi tigapuluh orang? Bukankah enam kali tujuh menjadi empatpuluh dua? Jadi yang muda itu empatpuluh dua orang? Bukankah kalau kedua jumlah itu dijumlah lagi. semuanya jadi berjumlah tujuhpuluh dua? Hm! Kau belajar tetapi tanpa berpikir, hm, sungguh celaka!"

Pelajar itu tahu orang merebut alasan dengan dipaksakan, tanpa merasa, ia tertawa. Meskipun demikian, ia kagum akan kecerdikan si nona.

"Nona kecil, kau sungguh pandai!" katanya. "Aku kagum kepadamu! Kamu hendak mencari guruku, untuk urusan apakah?"

Oey Yong berpikir dengan cepat: "Jikalau terang-terangan aku memberitahu, bahwa aku hendak minta diobati, pasti dia menggunakan segala macam cara untuk menghalang-halangi. Tapi pertanyaan ini juga tidak dapat tidak dijawab. Baiklah, dia membaca kitab Loen Gie, baik kejejal dia dengan ujar-ujar Khong Coe juga!" Maka ia tertawa dan menyambut:

"Nabi itu tidak dapat aku menemuinya, maka dapat menemui kuncu juga bolehlah! Jikalau ada sahabat yang datang dari tempat yang jauh, bukankah itu menggirangkan?"

Pelajar itu mendongak, ia tertawa lebar. "Bagus, bagus!" katanya. "Sekarang aku hendak mengajukan tiga pertanyaan padamu, jikalau kau dapat menjawabnya, aku akan membawa kau kepada guruku, jikalau ada satu saja kau tidak mampu menjawabnya, maka persilahkan kamu berdua pulang kembali!"

"Ah, hebat, hebat!" Oey Yong mengeluh. "Aku tidak pernah membaca banyak kitab, jikalau pertanyaanmu sulit, sungguh aku tidak dapat menjawabnya…"

"Tidak sukar, tidak sukar!" si pelajar tertawa. "Di sini ada sebuah syair, yang melukiskan tentang diriku, untukmu cukup kau menjawabnya dengan empat huruf. Kau coba saja!"

"Baik!" si nona menjawab. "Jadi ini tebak-¬tebakan! Teka-teki itu menarik hati! Silahkan kau menyebutnya!"

Si pelajar mengurut kumisnya, ia membaca; "Enam kitab telah lama pernah di dada, satu pedang sepuluh tahun digosok di tangan…"

"Aha!" memuji Oey Yong sambil mengulur lidah, "Ini namanya Bun Bu Coan Cay! Sungguh hebat!" Ia memotong untuk memuji orang pandai dua-dua dalam ilmu surat (bun) dan silat (bu)

Si pelajar tertawa, ia melanjutkan: "Di atas bunga Heng ada satu batang melintang, karena khawatir rahasia langit nanti bocor janganlah membuka Mulut. Satu titik bertumpuk-tumpuk besar bagaikan gantang, menutupi Setengah pembaringan hingga tak nampak apa-apa. Habis itu lalu menanti menggantung kopiah untuk pulang. Tahukah tuan asal-usul diriku ini?"

Oey Yong segera berpikir. Ia lantas memegang pokok pertanyaan itu: "Habis itu lalu menanti menggantung kopiah untuk pulang. Tahukah tuan asal ¬usul diriku ini?"

+ "Kalau melihat romannya, dulu ia mesti seorang menteri di dalam pemerintahan Toan Hongya," demikian pikirnya. "Kemudian ia menggantung kopiahnya, dia meninggalkan pemerintahan, mengundurkan diri untuk tinggal semyembunyi di gunung atau rimba. Apakah sukarnya teka-teki ini?" Maka ia lantas menjawab:

"Huruf Enam itu kalau di bawahnya ditambah satu satu huruf Satu ditambah lagi huruf Sepuluh, itu jadinya huruf Sin. Huruf Heng itu kalau di atasnya ditambah Satu huruf yang melintang dan dibuang huruf Mulut dibawahnya, maka jadilah huruf Bie. Setengah Pembaringan itu kalau ditukar dengan huruf Besar dengan huruf besar itu ditambah Satu titik di atasnya, itulah huruf Cong. Kalau huruf Habis itu di buang kopiahnya, ialah atasannya, maka jadilah dia huruf Goan. Jadi semua itu bunyinya ialah Sin Bie Conggoan! Maaf, maaf, kiranya aku berhadapan sama yang mulia Sin-bie Conggoan!"

Pelajar itu terbengong. Ia mengganggap teka-¬tekinya sulit. Atau taruh kata orang dapat menjawabnya, mesti lewat dulu sekian lama, tidak sedemikian cepat. Dua orang itu berada di jembatan tunggal, meski si pemuda lihay, tidak nanti ia sanggup menggendong orang berdiam lama-lama di situ, ia menyangka mereka bakal tahu diri dan mundur dengan sendirinya. Siapa sangka, Oey Yong telah menjawabnya cepat luar biasa, seperti tanpa mikir lagi. Oleh karena ini, karena si nona cerdas luar biasa, ia lalu memikir untuk mengajukan pertanyaan yang sukar. Ia lantas memandang ke sekitarnya. Di pinggiran gunung menampak sekumpulan semacam pohon palem, yang daunnya bergoyang-goyang mengikuti tiupan angin, bagaikan kebutan kipas. Sebagai seorang conggoan- tamatan tertinggi dari Hanlim Academy - ia lantas mendapat pikiran. Maka ia menggoyang-goyangkan kipasnya, terus ia berkata:

"Aku ada mempunyai sebuah syair bagian atasnya, aku minta nona suka tolong menyambungi bagian bawahnya."

Oey Yong meleletkan lidahnya. "Oh, inilah yang dinamakan twie dan twie ini tak demikian menarik hati seperti teka-teki!" katanya. "Tapi baiklah, silahkan kau menyebutkannya!"

Pelajar itu menunjuk dengan kipasnya ke kumpulan pohon palem, ia membacakan syairnya, atau lian, yang dikatakan bagian atasnya:

"Sang angin meniup-niup pohon palem, bagaikan seribu tangan menggoyang-goyang sang kipas."

Syair itu di satu pihak menggambarkan pemandangan alam - ialah yang pohon, di lain pihak menunjukkan juga hal dirinya si pelajar - ialah kipasnya, maka Oey Yong lantas berpikir: "Tidak dapat aku menjawab dia dengan hanya menunjuk serupa benda, mesti juga ada arti yang merangkap di dalamnya." Ia lantas memandang ke sekitarnya, hingga ia melihat di depannya, di tanah datar, sebuah bangunan sebagai kuil atau biara, di depan mana ada sebuah pengempang teratai. Ketika itu bulan ke tujuh hampir habis, daun teratai sudah kering kebih dari separuhnya. Lalu ia tertawa dan berkata:

“Jawabanku untuk menyambungi sudah ada hanya aku khawatir berbuat salah terhadap kau, paman, jadi tidak leluasa aku mengatakannya…."

"Tidak apa, kau sebut saja!" menyahut si pelajar.

"Jangan kau gusar, paman…"

"Tentu sekali tidak."

Oey Yong menunjuk kepada kopiah siauw-yauw-kin di kepala pelajar itu. "Baiklah!" katanya. "Sambunganku bagian bawah dari syairmu itu ialah: 'Diantara daun teratai separuh kering, satu memedi kaki tunggal memakai siauw¬yauw-kin."

Mendengar itu, si pelajar tertawa terbahak-bahak. "Bagus, bagus!" ia memuji. "Bukan saja jawabannya sangat tepat juga itu dijawabnya cepat sekali."

Kwee Ceng mengawasi ke daun-daun teratai di pengempang itu, ia melihat ada selembar daun hampir kering yang duduknya begitu rupa hingga mirip dengan satu setan satu kaki yang memakai kopiah siauw¬yauw-kin! Maka ia juga tertawa.

"Hus, hus, jangan tertawa!" kata si nona pada kawannya. "Tungkulan kau tertawa, kakimu bisa terpeleset, nanti kita berdualah yang bakal menjadi si setan-setan yang tidak memakai kopiah siauw-yauw¬kin itu!"

Si pelajar sendiri sementara itu tengah berpkir. "Dia tidak dapat dirobohkan dengan twie yang umum saja, dia mesti menyaksikan yang sangat sukar." Lalu ia ingat halnya di masa bersekolah, gurunya pernah memberikan ia twie yang sudah puluhan tahun belum pernah ada lain orang yang dapat menimpalinya. Ia hendak mencoba ini. Ia kata:

“Sekarang aku mempunyai satu lian lagi, aku minta nona kecil menimpalinya. Inilah Kim Sek pie pee, delapan raja besar semua serupa kepalanya."

Mendengar itu tanpa merasa Oey Yong tercengang. Kim sek pie pee itu, ialah alat-alat tetabuhan semacam gitar, memang semua empat-empat hurufnya berkepala dengan huruf-huruf Ong = Raja di atasnya. Inilah benar-benar syair atau lian yang sulit untuk ditempeli (twie).

Si pelajar mengawasi orang, senang hatinya menampak si nona menghadapi kesulitan. Ia lantas berkata:

"Lian bagian atas ini memangnya sukar, aku sendiri tidak dapat menimpelinya dengan pasti, hanya karena kita sudah omong terlebih dahulu, umpama kata nona tidak dapat menempalinya, seperti janji kita, silahkan kamu kembali saja!"

Justru orang "mengusir" Oey Yong mendapat pikiran. Ia tertawa. "Untuk menimpali itu, tidaklah sukar!" katanya. "Hanya aku merasa kurang enak di hati menyebutkan itu. Tadi saja aku telah berbuat salah terhadap paman, sedang sekarang aku bakal menyinggung berbareng kamu berempat si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan palajar."

Pelajar ini tidak mempercayai orang. "Untuk menimpali saja sudah sukar sekali, apapula dengan sekaligus mengenai empat orang," pikirnya. "Benarkah itu?" Lalu ia membilang: "Asal kau dapat menimpali dengan tepat, bergurau sedikit tidak apa!”

Si nona tertawa. "Kalau paman bilang begitu, baiklah, lebih dulu aku minta maaf!" katanya. "Sambungannya lian paman itu ialah: Ci Bie Bong Liang, empat setan cilik dengan masing-masing ususnya!"

Cie bie bong liang itu ialah setan hutan, setan gunung, setan tukang makan batok kepala orang dan peri, semua empat huruf berpokok dengan huruf Kwie = Setan. Mendengar itu, si pelajar terperanjat, lekas-lekas ia berbangkit untuk menjura dalam seraya tangannya dikibaskan.

"Aku menyerah, Nona," katanya.

Oey Yong pun lekas-lekas memberi hormat. "Jikalau bukan paman beramai sangat bersungguh-sungguh menghalang-halangi kami berdua mendaki gunung, sebenarnya juga lian paman ini sangat sukar untuk dijawab!"

"Hm!" si pelajar bersuara seraya ia lantas minggir. "Silahkan!" katanya. Ia memutar tubuh dan berlompat dari tempat menghadangnya.

Kwee Ceng mendengar pembicaraan orang dengan perhatian, ia sebenarnya khawatir Oey Yong gagal, maka bukan main girangnya mengetahui si nona menang, segera ia berlompat, mulanya di tempat bekas si pelajar, lalu terus ke rintangan lainnya yang paling belakang.

Melihat orang menggendong tetapi gerakannya demikian hebat, si pelajar menghela napas dan di dalam hatinya ia berkata:

"Aku bangga atas kepandaianku ilmu surat dan ilmu silat, sekarang ternyata, dalam ilmu surat aku tak seperti si nona, dalam ilmu silat tak ada seperti si pemuda, sungguh aku mesti malu…" Ketika ia melirik kepada si nona, nyata sekali nona itu sangat girang akan kemenangannya, rupanya ia memikir telah merobohkan satu conggoan. Maka ia pikir, "Baiklah aku ganggu dia, supaya ia jangan terlalu girang." Maka ia lantas berkata: "Nona, meskipun ilmu suratmu lihay, tetapi di dalam halnya prilaku, kau ada cacatnya."

Oey Yong tertawa. "Di dalam hal ini aku minta petunjukmu," ia bilang.

"Bukankah di dalam kitab Beng Coe ada bilang, yang dibilang adat-istiadat ialah pria dan wanita tak dapat saling bersentuh tangan?" katanya si pelajar. "Sekarang lihat sendiri, Nona adalah seorang gadis dan dengan engko kecil ini, kamu bukanlah suami-istri, maka kenapa nona membiarkan ia menggendong? Beng Hoe-coe membilang, cuma kalau sang ipar perempuan kelelap maka sang ipar lelaki dapat menolongnya. Nona ini tidak kelelap, Nona pun bukan iparnya engko kecil ini, kenapa dia menggendong Nona? Itulah sangat besar melanggar adat-istiadat."

Mendengar sindiran atau ejekan ini Oey Yong berpikir: "Hm! Engko Ceng toh sangat baik denganku. Memang dialah bukan suamiku, suko Liok Seng Hong membilang demikian, sekarang ini conggoan membilang demikian juga…" Ia tidak suka mengalah, maka sambil mainkan mulutnya, ia berkata: "Beng Hoe Coe itu memang paling suka mengaco-belo! Dapatkah kau percaya kata-katanya?"

Mendengar demikian, si pelajar menjadi gusar. ia tidak senang Beng Hoe Coe dikatakan mengaco-belo.

"Beng Hoe Coe seorang nabi, seorang rasul, mengapa kata-katanya tak dapat dipercaya?" dia tanya keras.

Oey Yong kata tertawa, bagaikan bersenandung, ia kata: "Seorang pengemis mana mempunyai dua istri? Seorang tetangga mana mempunyai demikian banyak ayam? Di jaman itu masih ada kaisar dari kerajaan Ciu, kenapa orang mesti omong banyak dengan raja¬-raja Gui dan Cee?"

Mendengar kata-kata si nona, pelajar itu berdiri menjublak. Ia mengetahui baik sekali kata-kata nona ini. Apa yang disebutkan Oey Yong adalah syair karya ayahnya sendiri. Oey Yok Su pintar akan tetapi tabiatnya aneh, maka itu, sering ia membuat syair dengan apa ia mengejek Khong Coe dan Beng Coe. Kalau bukan begitu, dialah bukan Tong Shia si Sesat dari Timur.

Beng Coe itu pernah bercerita dari halnya seorang dari negeri Cee mempunyai seorang istri serta seorang gundik, toh untuk hidupnya, ia pergi mengemis sisa sayur dan nasi dingin, dan halnya seorang yang setiap hari mencuri seekor ayam tetangganya. Dua cerita itu disyairkan dengan maksud akan dipakai menipu orang. Tentang yang lainnya: jaman itu ialah jaman perang antara negara (Cian Kok), itu masih ada raja dari kerajaan Ciu, maka itu Tong Shia menanya, kenapa Beng Cu bukannya menunjang raja Ciu, dia hanya pergi kepada raja muda Liang Hui Hong dan Cee Soan Ong kepada siapa Beng Cu meminta pangkat? Tong Shia menganggapnya itu bertentangan sama prilakunya seorang nabi atau rasul.

Pelajar ini berpikir: "Si orang negeri Cee dan si tetangga itu cuma cerita, cuma cerita, perumpamaan saja, hanya yang mengenai Beng Coe itu, mungkin Beng Coe sendiri di alam baka sukar menjawab…" Ia melirik pula si nona, ia berpikir lagi: "Dia masih begini muda, kenapa dia begini cerdik?"

Meski apa yang ia pikir itu, si pelajar membungkam. Ia hanya memimpin dua muda-mudi itu. Ketika melewati pengempang, ia memandang kepada daun teratai yang tadi disebutkan si nona, kemudian ia melirik kepada si nona. Oey Yong tertawa dan melengos! Tidak lama sampailah mereka di kuil, si pelajar mengundang kedua tetamunya masuk ke kamar sebelah timur, di mana lantas ada kacung pendeta yang menyuguhkan teh.

"Jiewi, harap tunggu sebentar, aku hendak mengabarkan guruku," kata si pelajar.

"Eh, tunggu dulu," berkata Kwee Ceng. "Itu paman petani, di lereng gunung tengah menahan batu yang ada kerbaunya, dia tidak dapat meloloskan diri, aebaiknya paman pergi menolong dia."

Mendengar ini, si pelajar kaget. Hingga tanpa bilang apa-apa lagi, dia lantas lari keluar.

"Nah, lekaslah buka itu kantung yang kuning!" kata Oey Yong kepada kawannya.

"Ah," kata si pemuda, "Kalau kau tidak menyebutnya, pasti aku lupa." Ia lantas mengeluarkan kantung kuning, untuk memerika isinya. Kertas putih tanpa huruf, hanya ada gambar, yang meggambarkan seorang India yang menjadi raja, dengan pisau raja itu telah memotongi dagingnya hingga tak ada tubuhnya yang utuh, sedang darahnya berhamburan. Di depan raja ini ada sebuah dacin, alat peranti menimbang: di ujung yang satu ada seekor burung dara putih dan di sebelah yang lain dagingnya itu. Daging lebih banyak, burung dara lebih kecil, tetapi buktinya, burung dara lebih berat. Di samping dacin ada seekor burung elang, yang romannya sangat bengis. Sekian lama Oey Yong mengawasi gambar itu, ia tidak mengerti maksudnya.

Kwee Ceng pun tidak tahu apa artinya, karena si nona diam saja, ia turut berdiam. Maka ia gulung gambar itu, untuk dipegangi dengan digenggam. Tidak lama terdengar tindakan kaki yang berat dan berisik, lalu nampak si petani datang dengan dipegangi si pelajar, romannya sangat gusar. Rupanya ia mendongkol sebab kena diakali hingga ia seperti tersiksa. Dia terus dibawa masuk ke dalam kuil. Selang tak lama, muncullah satu kacung pendeta. Dia memberi hormat dengan merangkap kedua tangan. Ia menanya.

"Jiewi datang dari tempat yang jauh, entah ada urusan apa?"

"Kami sengaja datang untuk mohon menghadap Toan Hongya," Kwee Ceng menyahut. "Kami minta tolong agar kedatangan kami disampaikan."

Pendeta itu merangkap kedua tangannya. "Toan Hongya sudah lama tak ada lagi di dunia ini, maka sayang sekali, jiewi telah bercapai lelah tanpa ada hasilnya. Silahkan dahar dulu, sebentar nanti siauw-ceng mengantarkan turun gunung."

Kwee Ceng berdiam, karena ia kecele sekali mendapat jawaban itu. Tidak demikian dengan Oey Yong, yang telah melihat kuil itu dan sekarang si pendeta cilik ini. Ia menduga sesuatu. Ia mengambil gambar dari tangannya Kwee Ceng, ia kata:

"Aku telah mendapat luka parah, sengaja aku datang ke mari untuk minta gurumu suka menolong, dari itu sehelai kertas ini tolong kau menyampaikannya kepada gurumu itu."

Kacung itu menerima, ia tidak berani membuka gambar itu, hanya setelah memberi hormat, ia masuk ke dalam. Tapi tidak lama ia keluar pula, sembari menurunkan alisnya, memberi hormat, ia berkata:

"Silahkan jiewi masuk."

Itulah undangan, maka Kwee Ceng menjadi girang sekali. Ia lantas pegangi Oey Yong, diajak mengikuti kacung itu.

Kuil itu kecil tetapi dalam. Kwee Ceng berdua Oey Yong jalan di satu jalanan batu hijau yang lecil melewati sebuah tempat di mana ada ditanam banyak pohon bambu, yang daunnya lebat, keadaannya sunyi dan tenang, hingga siapa berada di situ, tentunya terpengaruh suasana kesucian. Di dalam rimba bambu itu terlihat sebuah rumah batu terdiri dari tiga ruang. Si kacung pendeta lantas membuka pintu, mempersilahkan kedua tetamunya masuk ke dalam. Ia berdiri di pinggiran dengan sikapnya yang sangat menghormat.

Kwee Ceng girang. Ia bersenyum kepada pendeta itu, sebagai tanda terima kasihnya. Bersama Oey Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam.

Di atas meja kecil ada pedupaan dari kayu garu. Di kedua sampingnya duduk masing-masing seorang hweeshio atau pendeta. Yang satu mukanya hitam, hidungnya mancung, matanya dalam. Dialah seorang India. Yang lain bajunya kasar, mempunyai alis putih yang panjang, ujung alisnya meroyot turun di ujung matanya. Wajah pendeta ini nampak murah hati, benar sinar matanya rada guram, mungkin tercampur kedukaan, tetapi umumnya dia halus dan agung. Si pelajar dan si petani berdiri di belakang pendeta alis panjang ini.

Oey Yong bertindak tanpa sangsi lagi. Ia menarik tangan Kwee Ceng, menghampiri pendeta itu, sambil membungkuk ia berkata:

"Teecu Kwee Ceng bersama Oey Yong menghadap Supee."

Kwee Ceng terkejut mendengar nona itu memanggil supee atau paman guru, meski begitu tanpa bersangsi lagi dia menekuk kedua kakinya mengangguk sampai empat kali.

Pendeta alis panjang itu bersenyum, ia bangun berdiri, tangannya diulur mengasih bangun mereka. Ia pun tertawa dan berkata:

"Saudara Cit telah mendapatkan murid yang baik sekali dan saudara Yok mendapatkan anak yang manis! Menurut katanya mereka ini…" ia menunjuk kepada si petani dan si pelajar, "Lihay ilmu surat dan ilmu silat kalian berdua, jauh melebihi murid-muridku yang bodoh ini. Haha, sungguh kamu berdua harus diberi selamat!"

Mendengar suara itu, Kwee Ceng merasa pasti orang adalah Toan Hongya, maka ia heran kenapa seorang raja boleh berubah menjadi hweeshio dan heran juga bahwa Toan Hongya dikatakan sudah mati, toh orangnya masih hidup segar-bugar. Pula ia heran Oey Yong lantas mengetahui pendeta ini adalah Toan Hongya sendiri.

Lalu terdengar si pendeta nanya Oey Yong: "Apakah ayahmu dan gurumu mu baik-baik semua? Ketika dulu hari kita berapat di gunung Hoa San di mana kita merundingkan ilmu pedang bersama, ayahmu masih sebatang kara, siapa sangka baru berpisah dua puluh tahun, dia telah mendapatkan satu anak perempuan yang cantik dan pintar! Apakah kau ini mempunyai saudara tua dan muda, enci atau adik? Dan kakek luarmu itu, dia orang gagah yang manakah?"

Ditanya begitu, mata Oey Yong menjadi merah. "Ibuku cuma melahirkan aku seorang," sahutnya. "Ibu pun telah meninggal siang-siang. Siapa itu kakek luarku, aku tidak tahu…"

"Oh," kata pendeta itu, yang dengan perlahan menepuk pundak orang, sebagai tanda menghibur. "Aku telah bersemadhi tiga hari tiga malam, baru saja aku pulang. Apakah kamu sudah lama menungguku?"

Oey Yong berpikir: "Dilihat dari sikapnya ini, dia sangat menyukai kami. Maka mungkin di sepanjang jalan tadi, yang menyulitkan kami adalah bisanya muridnya itu…" Karena itu, ia lekas menyahut: "Teecu juga baru tiba. Syukur beberapa paman telah mempersulit di tengah jalan, kalau tidak, tentulah kami sudah tiba semenjak tadi-tadi, hingga dengan supee tengah bersemadhi mungkin tibanya kami akan sia-sia belaka."

Mendengar itu, si pendeta tertawa riang. "Mereka itu sangat khawatir aku bertemu orang luar," katanya. "Sebenarnya, kalian bukannya orang luar? Ah, anak, muridmu tajam sekali, dasar turunan! Baiklah kamu ketahui, Toan Hongya sudah tidak ada lagi di dunia ini, sekarang aku dipanggil It Teng Hweesio. Gurumu tahu ketika aku mulai menganut agama, ia menyaksikannya, ayahmu mungkin belum mengetahuinya."

Baru sekarang menjadi terang bagi Kwee Ceng. Toan Hongya telah menjadi Hweeshio, dia memakai nama It Teng, pantas dia dikatakan sudah menutup mata. Memang siapa menyucikan diri, dia bagaikan menjelma pula. "Suhu mengetahui tentang supee ini, kalau suhu menyuruh ke amri, tidak akan menyebut Toan Hongya, hanya It Teng Taysu." Maka itu, benar-benar Oey Yong cerdik sekali, ia lantas dapat menerka!

"Memang ayah tidak tahu," berkata Oey Yong.

"Benar," It Teng pun bilang sambil tertawa. "Tentang gurumu, mulutnya lebih banyak yang masuk, sedikit yang keluar, yang dimakan banyak, yang dibicarakan sedikit, maka urusanku si pendeta tua tentulah dia tak suka bicarakan sama orang lain. Kamu datang dari tempat jauh, kamu sudah dahar atau belum? Ah…." Mendadak pendeta ini terkejut, lalu ia menarik tangan Oey Yong ke depan pintu di mana ia mengawasi dengan tajam, di sinar matahari. Di sini dia nampak seperti kaget.

Kwee Ceng benar tak gelap pikirannya tetapi tahulah ia bahwa It Teng Taysu tentu telah mendapat lihat sakitnya Oey Yong, maka itu, hatinya jadi sangat pedih, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan pendeta itu, berulang-ulang ia mengangguk. It Teng meluncurkan sebelah tangannya, mengangkat bangun bocah itu.

Kwee Ceng merasakan tenaga besar membentur tangannya, ia tidak berani menentang, ia lantas mengikuti, maka ia berbangkit dengan perlahan-lahan. Sembari bangun, ia berkata:

"Teecu mohon supee suka menolongi jiwa sumoy…"

It Teng mengangkat si anak muda dengan dua maksud, mengasih bangun benar-benar, yang lain guna mencoba tenaga dalam bocah. Umpama Kwee Ceng melawan, tidak akan ia membikin orang terluka atau terpelanting, dalam hal ini, ia pandai mengendalikan tenaganya. Sebaliknya, meskipun Kwee Ceng mengikuti, ia merasa bahwa anak muda ini juga pandai mengendalikan tenaganya, maka ia menjadi kagum.

"Saudara Cit mendapat murid yang bagus sekali," pikirnya. "Pantas murid-muridku kalah…"

Sementara itu, habis orang berkata, Kwee Ceng kaget sekali. Mendadak ia merasa tubuhnya kena tertarik hingga maju satu tindak, ketika ia mencoba menahan diri, mukanya menjadi merah tahu benar lihaynya pendeta tua ini. Sebenarnya ia menduga It Teng sudah berhenti menguji, ia mengendorkan diri seperti wajar, tidak tahunya, ia diuji terus. Sekarang ia menginsyafi benar lihaynya Tong Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay.

It Teng dapat melihat sinar mata anak muda, ia heran dan kagum, ia menepuk perlahan pundak orang, sembari tertawa ia kata:

"Anak, kau telah mempunyai kepandaian, sungguh ini sukar didapat."

Dilan pihak, pendeta ini masih belum melepaskan tangannya yang satu lagi yang memegang tangan Oey Yong, maka ia lantas menoleh kepada si nona. Hanya kali ini ia tidak tertawa hanya bersenyum, cuma dengan sungguh-sungguh perlahan sekali, ia bilang:

"Anak, jangan kau takut, kau tetapkan hati." Lalu ia menuntun nona itu, untuk dikasih duduk.

Oey Yong sangat bersyukur. Seumurnya belum pernah merasa orang perlakukan ia begini manis dan halus, tidak juga ayahnya yang aneh itu. Ayahnya menyayangi, tetapi sikap mereka berdua mirip sahabat erat, tidak pernah si ayah menunjuk tegas cinta kasihnya seorang ayah sebagaimana umumnya. Maka itu, tanpa merasa, ia menangis.

"Jangan menangis, anak yang baik, jangan menangis," It Teng menghibur. "Tubuhmu sakit, bukan? Nanti supeemu mengobati hingga sembuh."

Semakin halus pendeta berbicara, semakin sedih hati si nona, hingga ia menangis tersedu-sedu tak henti.

Kwee Ceng girang mendengar It Teng memberi janjinya itu, tetapi kebetulan ia mengangkat kepalanya dan melihat si petani dan si pelajar, ia terkejut. Dua orang itu memandangnya dengan wajah bermuram durja tanda dari kemurkaan. Ia berpikir: "Kami bisa masuk sampai di sini, semua itu mengandalkan kecerdikan Oey Yong, yang pandai menggunakan tipu daya, tidak heran, selagi It Teng Taysu begini baik, kenapa keempat muridnya menggunakan segala jalan untuk menghalang-halangi kami?" Pemuda ini baru berhenti berpikir ketika ia mendengar It Teng menanya Oey Yong. Katanya:

"Anak, bagaimana caranya kau terluka, dan bagaimana jalannya hingga kau dapat masuk ke mari, coba kau tuturkan pada supeemu."

Oey Yong memberi keterangan bagaimana ia dilukai Khiu Cian Jin, mulanya ia tidak tahu ada yang tulen dan ada yang palsu, karena kesangsiannya itu, ia mandah saja dirinya dihajar.

Mendengar disebutnya nama Khiu Cian Jin, It Teng Taysu itu mengerutkan alis, hanya sejenak, lalu ia dapat tersenyum lagi, tenang seperti biasa.

Oey Yong si cerdik bicara sambil diam-diam memperhatikan pendeta ini, maka air muka orang tidak lolos dari pandangan matanya yang tajam. Begitu saat ia menutur sampai di bagian bertemu Eng Kouw di rimba rahasia dan rawa lumpur hitam, ia juga mendapatkan si pendeta berubah lagi romannya, si pendeta seperti tengah mengenang peristiwa lama. Karena ini, ia menunda penuturannya.

"Kemudian bagaimana?" tanya It Teng, yang menghela napas.

"Kemudian kami sampai di kaki gunung," melanjuti Oey Yong yang terus menceritakan bagaimana mereka dipersulit si tukang pancing, tukang kayu, yang memberi mereka lewat dengan gampang, sebaliknya, mengenai tiga yang lain, ia sengaja menambah¬nambahkan hingga si petani dan pelajar mendongkol bukan buatan.

"Yong-jie, jangan omong sembarangan," beberapa kali Kwee Ceng campur bicara. "Paman-paman itu tak sedemikian galaknya…."

Oey Yong berani bicara begitu rupa, karena ia tahu, di depan gurunya, mereka tidak akan berani berbuat sesuatu. Ia memang sengaja hendak mengocok isi perut mereka.

"Anak-anak itu benar perbuatannya kurang bagus terhadap anak-anak kecil," kata It Teng kemudian. "Biarlah sebentar aku menyuruh mereka menghanturkan maaf kepada kalian."

Oey Yong melirik dua murid itu, selagi ia bercerita terus sampai memasuki kuil ini, akhirnya ia tambahkan.

"Begitulah teecu lantas memberikan gambar itu untuk supee periksa. Sedari waktu itu, mereka tidak berani menghadang kami lagi."

It Teng nampaknya heran. "Eh, gambar apakah itu?" ia tanya.

"Itu adalah gambar burung elang, burung dara dan daging yang dipotong," menyahut si nona.

"Kau serahkan itu pada siapa?" It Teng tanya lagi.

Belum lagi Oey Yong menyahut, si pelajar telah merogoh sakunya dan mengeluarkan gambar itu.

"Gambar ada pada teecu, suhu," ia berkata. "Tadi suhu belum selesai bersemadhi, teecu tidak berani lantas menyerahkannya."

It Teng menyambut gambar itu. "Lihatlah!" katanya. "Jikalau kau tidak menyebutkannya, mana aku bisa melihat ini?" Ia membuka gambar itu perlahan-lahan, terus ia lihat. Cuma sekelebatan, lantas tertawa dan kata:

"Kiranya orang khawatir aku tidak suka menolong kau, maka ia menggunakan gambar ini untuk membangkitkan kemendongkolanku, agar hatiku menjadi panas. Tidakkah dengan begitu ia jadi memandang enteng sekali kepadaku si pendeta tua?"

Oey Yong tidak menjawab, ia hanya melirik si petani dan pelajar, hingga ia kembali melihat muka orang suram, agaknya hati mereka cemas dan tetap mendongkol. Ia menjadi heran sekali. Ia tanya dirinya sendiri: "Kenapa mereka tak senang mendengar It Teng Taysu berniat mengobatiku? Kenapa mereka seperti menghendaki kematianku? Adakah disebabkan obatnya ada obat dewa?" Ia mengawasi pula si pendeta yang lagi memperhatikan gambar, bahkan dibawa ke terangnya matahari, diperiksa dengan teliti. Dia bukannya membaca hanya memperhatikan kertasnya. Beberapa kali kertas itu disentil-sentil, dan air muka di pendeta nampak ragu-ragu.

"Adakah lukisan ini lukisannya Eng Kouw sendiri?" ia menanya.

"Benar."

Pendeta itu berdiam sejenak. "Kau melihatnya dengan matamu sendiri?"

Pertanyaan ini aneh, maka Oey Yong mengingat-¬ingat kejadian hari itu. Ia menjawab: “Di waktu Eng Kouw menulis, ia membelakangi kami berdua, aku cuma melihat ia menggoyangkan pit, entah dia menulis surat atau melukis gambar."

"Kau membilang masih ada dua kantung surat lainnya. Mana, kasih aku melihatnya."

Kwee Ceng menyerahkan dua lembar surat wasiat itu. It Teng mengawasi sekian lama, lalu air mukanya berubah.

"Benarlah!" katanya kemudian. Ia menyerahkan surat itu pada si nona seraya berkata: "Saudara Yok itu seorang pelukis pandai, kau putrinya, kau tentu mengerti segalanya. Kau lihat ketiga surat itu, ada yang berlainan?"

Oey Yong menyambut dan memeriksa. "Ini dua kertas giokpoan yang biasa," ia berkata. "Dan gambar ini memakai kertas ciu-song."

It Teng mengangguk. "Mengenai lukisan, akulah si orang diluar kalangan," katanya pula. "Coba kau bilang aku pandanganmu tentang gambar ini”.

Oey Yong meneliti. "Supee pura-pura menjadi orang di luar kalangan!" katanya tertawa. "Sebenarnya supee telah melihatnya, ini bukan gambar lukisan Eng Kouw sendiri!"

Kembali berubah air mukanya It Teng. "Jadi benar ini bukan lukisan Eng Kouw sendiri?" katanya. "Aku melihat dari jalan pikirannya, bukan dari gambarnya."

Oey Yong menarik tangan orang. "Mari lihat huruf-hurufnya kedua surat ini," ia berkata. "Bagaimana halus tekukannya dan indah. Huruf-huruf di dalam gambar sebaliknya kaku! Ah, ini lukisan seorang laki-laki! Memang, mestinya dia seorang pria, hanya sayangnya dia tidak mempunyai minat menggambar, lukisannya tak ada harganya. Tetapi tulisan ini, karena ia menggunakan tenaga, telah menembus ke belakang kertas… Air bak ini juga mestinya telah lama sekali, jangan-jangan lebih tua dari usianya…"

It Teng Taysu menghela napas. Ia menunjuk sebuah kitab di atas meja, ia menyuruh si pelajar mengambilnya.

Oey Yong membaca judulnya kitab, maka ia kata di dalam hatinya; "Dia mau bicara tentang kitab suci denganku, mana aku mengerti…." Itulah sebuah kitab suci dan pula cetakan tua.

It Teng membuka lembaran kitab, lalu di samping itu ia meletakkan gambar dari Eng Kouw.

"Kau lihat!" katanya.

"Eh, kertasnya sama!" kata Oey Yong heran.

Pendeta itu mengangguk. Kwee Ceng tidak mengerti, sambil berbisik ia tanya si nona, kertas apanya yang sama.

"Kau lihat sendiri dan bandingkanlah," kata Oey Yong. "Bukankah kertas gambar dan kitab ini sama saja?"

Si anak muda mengawasi teliti dan memegang juga kedua kertas, yang tebal dan licinnya sama saja.

"Benar sama. Habis bagaimana?" ia tanya.

Si nona tidak menjawab, ia hanya memandang It Teng, untuk memperoleh jawaban. "Kitab ini dibawa oleh adik seperguruanku dari Wilayah Barat," berkata pendeta itu alias Toan Hongya.

Semenjak semula, Kwee Ceng dan Oey Yong tidak memperhatikan si pendeta bangsa India ini, baru sekarang mereka menoleh dan mengawasi. Pendeta itu tetap duduk bersila, tidak bergerak atau menoleh, tidak memperdulikan orang bicara asyik di dekatnya.

"Kitab ini juga terbuat dari kertas buatan Wilayah Barat, demikian juga kertas gambar ini," kemudian It Teng berkata pula. "Pernahkah kau mendengar nama gunung Pek To San di Wilayah Barat?"

Pek To San ialah gunung Unta Putih. "Gunungnya See Tok Auwyang Hong?" tanya Oey Yong terkejut.

"Tidak salah," menyahut si pendeta perlahan. "Gambar ini pun dilukis oleh Auwyang Hong.

Oey Yong dan Kwee Ceng kaget sampai mereka bungkam.

It Teng Taysu bersenyum. "Auwyang Kongcu itu seorang yang pandai berpikir dan jauh pendengarannya," katanya.

"Supee, aku tidak tahu kalau gambar ini dilukis oleh si bisa bangkotan itu!" kata Oey Yong. "Kalau begitu dia bermaksud tidak baik tentu…."

It Teng bersenyum, tetapi kemudian ia melihat parasnya si nona, yang merah, suatu tanda nona ini lagi menahan sakit, ia mengulur tangannya memegang pundak orang.

"Baiklah belakangan saja kita bicara lebih jauh. Sekarang yang penting ialah mengobatimu," katanya. Lalu ia mengajak si nona pergi ke kamar samping.

Belum lagi mereka memasuki kamar, si pelajar dan si petani, yang saling melirik, sudah mendahului melompat ke pintu kamar untuk menghalangi di situ. Keduanya lantas berlutut dan berkata:

"Suhu, biarlah teecu saja yang mengobati nona ini."

It Teng menggeleng kepala. "Apakah pelajaranmu telah cukup?" ia bertanya. "Apakah kau sanggup mengobati hingga sembuh?"

"Teecu akan mencoba sebisa-bisanya," menyahut kedua murid itu.

Si pendeta lantas mengasih lihat roman sungguh¬-sungguh. "Apakah nyawa manusia dapat dicoba-coba?" ia kata nyaring.

"Dua orang ini datang ke mari atas petunjuk orang jahat," kata si pelajar, "Mereka pasti tidak mengandung maksud baik. Walaupun suhu bermaksud baik hendak menolong orang tetapi tidak dapat suhu kena diperdaya akal jahat!"

It Teng menghela napas. "Apakah yang setiap hari aku mengajarkan kamu?" ia tanya perlahan-lahan. "Baiklah kau bawa gambar ini dan pergilah lihat-lihat." Guru ini menyerahkan gambar Auwyang Hong itu.

Si petani mengangguk dalam. "Suhu, gambar ini dilukis See Tok," katanya. "Ini adalah akal busuk dari Auwyang Hong…." Kelihatannya murid ini gelisah sekali, sampai air matanya turun mengalir.

Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi dengan bingung. Mereka tidak menyangka, kenapa tindakan It Teng Taysu mengobati adaapa demikian rupa sangkut pautnya. Apakah yang menyebabkan sikapnya kedua murid itu?

"Bangun, bangun," kata It Teng perlahan. "Jangan kamu menyebabkan hati tetamu kita menjadi tidak tenang."

Suara itu sabar akan tetapi nadanya putusan mutlak. Kedua murid itu rupanya mengerti, terpaksa mereka berdiam, mereka berbangkit untuk berdiri di pinggiran, kepala mereka tunduk.

It Teng Taysu mengajak Oey Yong masuk. "Kau juga masuk!" ia memanggil Kwee ceng, yang berdiri diam.

Pemuda itu bertindak masuk. Setelah itu, It Teng menarik turun sero bambu, terus menyulut sebatang hio, untuk ditancapkan di tempat abu di atas meja. Kamar itu berperabot kecuali sebuah meja bambu itu cuma dengan tiga buah tempat duduk dari tikar. Oey Yong diperintah duduk di tikar yang tengah. Kepada Kwee Ceng ia memesan:

"Kau jaga hio itu, kalau sudah terbakar habis, beritahu aku."

Pemuda itu menyahuti, "Ya!"

Lantas It Teng duduk di tikar di samping si nona, matanya memandang ke sero, segera ia memesan pula kepada si anak muda;

"Kau jaga pintu juga, jangan ijinkan orang lain masuk ke mari - tidak peduli adik seperguruanku atau murid-muridku, kau jangan kasih masuk!"

Kwee ceng heran tetapi ia berikan janjinya. Habis itu It Teng merapatkan kedua matanya. Tak lama, ia melek lagi, ia berkata kepada si pemuda:

"Jikalau mereka sampai menggunakan kekerasan, kau lawan! Ingat, di sini ada bergantung jiwa sumoymu!"

Kwee Ceng mengangguk, ia jadi semakin heran, hatinya pun tegang. It Teng lalu berkata kepada Oey Yong:

"Kau kendorkan seluruh tubuhmu, tidak peduli ada rasa nyeri atau gatal bagaimanapun hebatnya, jangan kau membuat perlawanan!"

Si nona tertawa ketika ia menyahut: "Aku menganggap diriku sudah mati…!"

Mau tidak mau, It Teng pun tertawa. "Anak yang baik, kau benar-benar pintar!" ia memuji. Ia lantas menutup lagi matanya memusatkan pikiran. Ketika hio sudah terbakar kira-kira satu dim, mendadak ia berlompat bangun, tangan kirinya diangkat, diletakkan di dadanya, tangan kanan, dengan jari telunjuknya, diarahkan, ditotokkan ke jalan darah pek-hwee-hiat di embun-embunan Oey Yong.

Ketika ditotok itu, tanpa merasa, Oey Yong berjingkrak sendirinya, terus ia merasa dari embun-¬embunnya keluar hawa panas.

Habis menotok, It Teng menarik pulang tangannya, hanya belum lewat sejenak, kembali ia sudah menotok, sekarang di jalan darah houw-teng-hiat di belakang jalan darah pek-hwee-hiat itu, terpisahnya cuma satu dim. Setelah itu, dengan saling susul ia menotok terus pelbagai jalan darah lainnya, seperti kiang-kian-hiat, laohu-hiat, honghu-hiat, ah-bun-hiat, taytwie-hiat, totoo-hiat dan lainnya, maka ketika hio terbakar baru setengah batang, dia sudah menotok tigapuluh jalan darah.

Kwee Ceng menjauh, maka itu ia bisa menyaksikan cara menotok dari It Teng, hingga ia melihat tegas kelihayan si pendeta. Sesuatu gerakan beda satu dari lain. Ilmu totok semacam itu, ia belum dapat dari Kanglam Liok Koay, bahkan di dalam kitab bagian ilmu totok dari Kiu Im Cin-keng, tidak ada dicatat juga. Menyaksikan itu, ia kagum hingga mulutnya terbentang dan matanya hampir kabur. Selama itu ia tidak ingat It Teng lagi menggunakan seluruh tenaga dalamnya guna menyalurkan semua jalan darah dan nadi Oey Yong.

Habis menotok, It Teng duduk untuk beristirahat. Sesudah itu, Kwee Ceng menyulut sebatang hio yang lain, ia mulai bekerja pula. Kali ini dia menotok duapuluh lima jalan darah yang disebut bagian nadi dim-meh. Pula kali ini, totokan dilakukan dengan kesebatan, gerakannya bagaikan sesapung menyambar-nyambar air, ia seperti menahan napas. Yang hebat, semua totokan itu tidak pernah gagal.

"Sungguh hebat, di kolong langit ini ada kepandaian seperti ini," kata Kwee Ceng di dalam hatinya saking kagum.

Kemudian It Teng Taysu menotok pula empatbelas jalan darah yang disebut im-wie-meh. Juga totokan itu dilakukan dengan lain cara, dengan gerak-gerik kaki "jalan naga" dan "tindakannya harimau", hingga sikapnya nampak sangat angker, hingga dimatanya Kwee Ceng, dia bukan lagi seorang pendeta suci dan alim, hanya seorang raja dari berlaksa rakyat negeri. Sekali ini It Teng tidak beristirahat lagi, ia meneruskan menotok tigapuluh dua jalan darah dari yang-wie-meh. Totokan ini dari jarak sedikit jauh. Umpama ketika ia menotok jalan darah hongtie-hiat di leher si nona, ia berlompatan dari jarak setombak, habis itu terus ia lompat mundur lagi, demikian seterusnya.

Menampak cara menotok itu, Kwee Ceng kata di dalam hatinya: "Kalau kita lagi bertempur sama musuh yang tangguh, apabila bertempur dengan rapat berbahaya, bolehlah kita pakai cara jauh ini. Dengan begitu, sambil menyerang untuk merebut kemenangan, kita juga dapat membela diri dengan sempurna."

Demikian, sembari menonton, anak muda ini mengingat baik-baik setiap totokan itu, bagaimana sikapnya, dari bersiap sampai menotok dan sampai sesudahnya, untuk mulai dengan lain-lain totokan lagi. Diam-diam ia juga mengutuk dirinya, yang dikatakan bebal sekali, yang gampang lupa, hingga ada yang baru dilihat lalu tak teringat lagi.

Setelah menukar lagi dua batang hio, It Teng sudah selesai menotok dua bagian jalan darah im-kiauw dan yang-kiauw. Ketika Kwee Ceng melihat totokan pada jalan darah kie-kut-hiat, mendadak ia ingat:

"Ah, totokan ini ada termuat di dalam Kiu Im Cin-keng! Dasar aku yang tolol, aku tidak dapat menangkap maksudnya!"

Sekarang ia melihat gerak-gerak It Teng sama dengan petunjuk-petunjuk dalam kitab Kiu Im Cin-keng. Hal ini menggampangkan ia mengingat-ingat, hingga ia mengingat baik tempo It Teng menotok jalan darah ciong-meh.

Paling belakang It Teng Taysu hendak menotok jalan darah tay-meh. Untuk itu, ia mesti jalan ke belakang Oey Yong. Pertama kali ia menotok ciangbun-hiat, sedang semuanya ada delapan jalan darah. Sekarang nampak gerakan si pendeta sangat lambat, agaknya ia bergerak sukar sekali, sedang napasnya sudah memburu dan tubuhnya terhuyung, bagaikan ia tak kuat berdiri lebih lama lagi.

Kwee Ceng melihat semua itu, ia terkejut apapula kapan ia menampak peluh membasahi jidatnya pendeta, mengucur di alisnya yang putih dan panjang itu. Ia ingin maju menolongi tetapi ia khawatir mengganggu. Tempo ia mengawasi Oey Yong, si nona telah bermandikan keringat, pakaiannya basah. Dia pun mengerutkan alis dan menutup mulut rapat-rapat, rupanya ia melawan rasa nyeri yang hebat.

Selagi anak muda ini terbengong, mendadak ia mendengar suara di sebelah belakang, ialah dari tersingkapnya sero bambu, suara mana disusul sama panggilan nyaring:

“Suhu!"

Disusul lagi sama masuknya orang yang berseru itu. Belum ia ingat itu, ia segera menyerang ke belakang, dengan salah satu totokannya It Teng barusan. Ia menyerang saling susul dengan cepat sekali hingga empat kali. Sebagai kesudahan dari itu, ia mendengar suara robohnya beberapa orang. Sekarang barulah ia menoleh ke belakang, tepat di saat satu orang, ialah si pelajar, berlomnpat ke belakang, hingga ia bebas dari totokan. Yang roboh ialah si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani bertiga, mereka terus rebah di lantai. Ia bengong mengawasi mereka, sebab tak dipikirnya untuk menyerang mereka itu. Ketika ia memandang si pelajar, dia lagi mengawasinya dengan bengis, satu tanda orang sangat gusar.

"Habis sudah!" berseru si pelajar dalam murkanya. "Apalagi yang hendak dicegah?"

Kwee Ceng menoleh, maka ia melihat It Teng Taysu lagi duduk bersila di atas tempat duduknya, mukanya pucat sekali, bajunya basah dengan peluh, sedang Oey Yong telah roboh dengan tubuh tak bergerak, entah dia sudah meninggal atau masih hidup. Maka dalam kagetnya, ia lompat menubruk, guna mengasih bangun. Paling dulu hidungnya mendapat cium bau amis.

Muka nona itu pucat bercampur sinar biru, tak ada cahaya dari darahnya, hanya sinar hitam yang samar-samar sudah lenyap semua. Kwee Ceng mendengar napas orang di hidung, jalan napas itu berat sekali. Tapi dengan mendapat dengar suara napas itu, ia merasa lega sedikit.

Ketika itu si pelajar sudah menolong menotok bebas si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani, bersama-sama merubungi guru mereka, semua membungkam, roman mereka diliputi kedukaan dan kegelisahan.

Kwee Ceng tidak memperhatikan mereka, ia terus menungggui si nona, muka siapa ia awasi. Maka hatinya menjadi bertambah lega ketika dengan perlahan-lahan ia mendapatkan paras nona itu berubah pula sedikit dadu. Hanya paras dadu itu, lama-lama berubah terus, lalu merah, habis mana kedua pipi nona itu terasa panas begitu pun dahinya, panasnya seperti api ketika dahi itu diraba.

Lagi beberapa saat, butir-butir peluh yang besar turun dari jidatnya si nona lalu kembali parasnya berubah, dari merah menjadi putih. Kejadian ini terulang sampai tiga kali, tiga kali juga peluh keluar banyak sekali. Akhirnya, Oey Yong mengeluarkan suara kaget dan kedua matanya dibuka, terus ia menanya:

"Engko Ceng, mana dapur? Mana es?"

Bukan kepalang girangnya Kwee Ceng mendengar orang dapat berbicara. "Apa dapur?” ia bertanya. "Apa es?"

Si nona melihat ke seputarnya, ia menggeleng kepala. Akhirnya ia tertawa. "Ah, aku bermimpi hebat sekali!" katanya. "Aku bermimpikan Auwyang Hong, Auwyang Kongcu dan Khiu Cian Jin. Mereka itu menjebloskan aku ke dalam dapur, untuk dipanggang, lalu mereka mengambil es, dengan apa aku dibikin dingin, setelah tubuhku dingin, dia membakar pula… Ah, sungguh menakutkan! Eh, bagaimana dengan It Teng Taysu?"

It Teng membuka matanya, ia tertawa. "Lukamu sudah sembuh," katanya. "Sekarang kau perlu beristirahat satu atau dua hari. Jangan sembarang bergerak, supaya kau nanti sembuh seluruhnya."

"Seluruh tubuhku rasanya tidak bertenaga sama sekali," berkata si nona, "Sampai jari tanganpun malas digerakkan…"

Ketika itu si petani mendelik pada si nona, dia agaknya sangat gusar. Oey Yong melihat itu, ia tidak mengambil mumat. Ia hanya kata kepada paman gurunya itu.

"Supee tentulah sangat lelah sebab untuk mengobati aku, supee telah mengeluarkan banyak tenaga. Aku mempunya obat Kiu-hoa Giok-louw-wan buatan ayah, apa supee mau memakannya beberapa biji?"

"Bagus!" kata It Teng gembira. "Aku tidak menyangka kau membawa obat mujarab buatan ayahmu itu. Itulah obat untuk menambah tenaga. Ketika kita merundingkan ilmu pedang di Hoa San, tempo semuanya sudah sangat letih, ayahmu membaginya kepada kami beramai, habis makan itu, kita semua menjadi segar sekali."

Oey Yong lantas mengeluarkan kantong obatnya, untuk diserahkan pada si paman guru.

Si petani lari ke dapur, mengambil semangkok air, sedang si pelajar mengeluarkan obat itu, semuanya dikeluarkannya obat itu, lalu semuanya dikasihkan pada gurunya.

"Tidak begini banyak!" berkata It Teng tertawa. "Obat ini sangat sukar dibuatnya. Cukup kita minta separuhnya saja."

"Tetapi suhu!" berkata si pelajar, yang romannya cemas, "Meski obat di dalam dunia digotong semua ke mari, itu masih belum cukup!"

Pendeta itu tidak tega menampik, maka ia lantas menelan beberapa puluh butir, yang ia bantu dengan air beberapa ceglukan. Kemudian ia berkata kepada Kwee Ceng:

"Kau pergi pimpin sumoymu ini untuk beristirahat dua hari, setelah itu kamu pergi turun gunung, tak usah kamu menemuiku lagi. Eh, ada satu urusan yang aku hendak minta dari kamu….."

Kwee Ceng lantas menjatuhkan diri berlutut seraya mengangguk empat kali hingga kepalanya membentur lantai. Oey Yong pun turut menjura, sambil berkata perlahan:

“Supee telah menolong jiwaku, budimu ini tidak akan keponakanmu berani melupakannya."

It Teng tertawa. "Lebih baik dilupakan, supaya tak usah diingat-ingat lagi," katanya, seraya ia terus menoleh kepada Kwee Ceng, untuk memberi pesannya: "Kamu telah naik ke gunung ini, hal itu segala kejadian di sini, jangan kamu omongkan kepada orang lain, juga tak usah kau menyebutkan kepada gurumu."

Kwee Ceng tercengang. Ia justru lagi memikirkan bagaimana harus membawa gurunya datang ke mari guna minta pertolongan paman guru ini.

It Teng tertawa. Ia berkata pula: "Kamu juga lain kali tak usah datang lagi ke mari, kami semua hendak pindah."

"Pindah?" tanya si anak muda heran. "Pindah ke mana, supee?"

It Teng tersenyum, ia tidak menjawab. "Ah, engko tolol," kata Oey Yong tertawa. "Karena tempat supee ini telah ketahuan oleh kita maka supee mau pindah. Mana supee dapat memberi keterangan padamu?"

Meski ia berkata begitu, nona ini sebenarnya berduka sekali. Itu adalah gara-garanya dia maka si supee mau pindah meninggalkan tempat kediamannya yang bagus ini. Mana bisa ia melupakan budi yang sangat besar itu? Mengingat begini, ia mengawasi empat murid orang, yang telah berkumpul semua. Ia ingin berkata-kata kepada mereka itu. Hanya belum lagi ia membuka mulutnya, mendadak paras It Teng menjadi pucat, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dari tempat duduknya!

Keempat murid itu tersentak kaget begitu juga Kwee Ceng. Bersama-sama mereka berlompat menubruk. Mereka melihat daging di mukanya pendeta itu bergerak-gerak, tandanya dia lagi melawan rasa nyeri yang hebat. Mereka menjadi bingung sekali, tak tahu mereka bagaimana harus menolongnya. Semua lantas berdiri diam di pinggiran.

Tidak lama, It Teng bersenyum. "Anak, adakah obatmu ini buatan ayahmu sendiri?" ia tanya Oey Yong.

"Bukan, supee. Ini buatan suko Liok Seng Hong, tetapi ia membuatnya menurut surat obat ayah."

"Pernahkah kau mendengar dari ayahmu, kalau obat ini dimakan terlalu banyak dapat berbalik menjadi bahaya?" si pendeta menanya pula, suaranya sabar.

Oey Yong terkejut. "Mungkinkah ada yang tidak benar pada obatku ini?" pikirnya. Ia lekas menyahut: "Ayah pernah membilang, semakin banyak dimakan semakin baik, hanya sebab pembuatannya sukar, ayah sendiri tidak berani memakan banyak-banyak."

It Teng berdiam, agaknya ia berpikir. Kemudian ia menggeleng kepala. "Ayahmu itu sangat cerdik dan pandangannya sangat jauh," katanya, "Ia sangat sukar diterka hatinya hingga aku pun tidak dapat membilang apa-apa tentangnya. Mungkinkah ia hendak menghukum Liok Suhengmu maka dia diberikan surat obat yang dipalsukan? Atau mungkinkah Liok Suhengmu itu bermusuh dengan kau maka di dalam obatnya itu dicampuri beberapa biji yang ada racunnya?"

Mendengar disebutnya racun, semua orang terkejut. "Suhu, apakah suhu telah keracunan?" si pelajar tanya.

"Syukur di sini ada paman gurumu, maka biarnya racun yang lebih dahsyat lagi tidak akan membikin orang mati," sahut sang guru.

Muka keempat murid itu lantas berubah, segera mereka menoleh kepada Oey Yomg dan berkata dengan bengis:

"Guru kami bermaksud baik menolong kau, cara bagaimana kau begini besar hati berani meracuninya?"

Segera mereka itu mengurung, agaknya mereka mau menerjang. Kwee Ceng menjadi bingung sekali. Ia tidak nyana akan perkembangan semacam ini. Oey Yong pun bingung tetapi segera ia berpikir sesuatu memgenai obat itu, hingga ia menduga, tentu ada hubungannya dengan perbuatan Eng Kouw di rumahnya di rawa lumpur hitam itu. Bukan obat itu telah dibawa si nyonya ke lain kamar, untuk diperiksa, dan sampai sekian lama baru nyonya itu membawanya pula ke luar untuk diserahkan kembali kepadanya?

"Supee, aku mengerti sekarang!" katanya. Sebab segera ia dapat menerka. "Ini perbuatan Eng Kouw!"

"Benarkah Eng Kouw?" It Teng bertanya.

"Ya," sahut si nona, dan ia tuturkan apa yang terjadi di rumah Eng Kouw, hingga sekarang ia menjadi curiga. "Dia pun telah memesan wanti-wanti supaya aku sendiri jangan makan obat ini. Tentu teranglah sudah sebab ia mencampuri racun di dalamnya."

"Hm!" mengejek si petani. "Dia perlakukan kau baik sekali dan maka itu ia khawatir membuatnya kau mampus!"

Nona ini sangat berduka yang paman gurunya terkena racun, maka itu ia tidak memikir untuk mengadu lidah dengan murid orang, bahkan dengan perlahan ia berkata:

"Sebenarnya dia bukan berkhawatir membikin aku mati, hanya dia khawatir, kalau aku memakannya, supee nanti tidak kena dia racuni……"

"Dosa, dosa," berkata It Teng, yang menghela napas. Lantas sikapnya menjadi sangat tenang. Ia berkata perlahan kepada muda mudi itu: "Ini adalah nasib dan dengan kamu berdua tidak ada hubungannya. Juga Eng Kouw sendiri, ini adalah karma. Sekarang pergi kamu beristirahat beberapa hari, habis itu baik-baik saja kamu turun gunung. Benar aku telah terluka tetapi adik seperguruanku pandai sekali mengobati racun, maka kamu tidak usah berkhawatir." Pendeta ini lantas menutup rapat matanya, ia tidak berkata-kata lagi.

Berdua muda mudi itu membungkuk, untuk pamitan. Mereka melihat It Teng bersenyum, tangannya dikibaskan, maka mereka tidak berani berdiam lebih lama lagi di situ, dengan perlahan mereka memutar tubuh dan mengundurkan diri. Si kacung menantikan mereka di luar kamar, lantas diajak ke sebuah kamar di ruang belakang, kamar mana tidak ada perabotannya kecuali dua pembaringan bambu. Tidak lama, di situ muncul dua orang pendeta tua dengan barang makanan sayur.

"Silahkan dahar," mereka mengundang.

"Apakah taysu baik?" tanya Oey Yong. Ia senantiasa memikirkan paman gurunya itu.

"Siauwceng tidak tahu," sahut satu pendeta, suaranya tajam. Ia lantas memberi hormat, untuk segera mengundurkan diri.

"Mendengar suara mereka, aku mengira wanita," kata Kwee Ceng.

"Mereka thaykam," berkata Oey Yong. "Tentu mereka itu telah merawat taysu semenjak taysu masih menjadi raja."

Kwee Ceng heran. Karena masing-masing berpikir, tidak ada nafsu dahar. Terus mereka berdiam di dalam kamar yang sunyi itu, cuma kadang-kadang saja berkesiur suara angin lewat, membuatnya daun-daun bambu bersuara perlahan.

"Yong-jie, kepandaian taysu hebat sekali," kemudian si pemuda berkata.

"Begitu?" kata si pemudi perlahan dan singkat.

"Guru kita," kata pula Kwee Ceng, "Dan ayahmu juga Ciu Toako, Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin, walaupun mereka semua lihay tidak akan mereka dapat melawan It Teng Supee……"

"Coba bilang, di antara mereka berenam, siapa yang pantas mendapat sebutan jago nomor satu di kolong langit ini?"

Kwee Ceng berpikir. "Sebenarnya sesuatunya dari mereka mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri," sahutnya sesaat kemudian, "Dari itu tidak dapat dibilang siapa di antaranya yang paling lihay……"

"Di dalam halnya bun bu coan cay?" si nona menanya pula, tentang kepandaian orang dua-dua di dalam ilmu surat dan ilmu silat.

"Di dalam hal itu, tentulah ayahmu," menyahut si anak muda.

Oey Yong girang, inilah kentara dari romannya. Hanya sebentar, ia lalu menghela napas.

"Maka itu inilah anehnya!" katanya.

"Apakah yang aneh?" tanya Kwee Ceng cepat. Ia heran.

"Taysu begini lihay, keempat muridnya lihay juga," kata Oey Yong, "Tetapi kenapa mereka hidup bersembunyi di tempat sunyi begini? Kenapa asal mendengar ada orang datang, mereka nampak takut seperti juga bencana besar bakal mengancam mereka? Di antara keenam jago, cuma See Tok dan Khiu Cian Jin yang mungkin menjadi musuhnya, tetapi mereka itu berdua berkenamaan, apa mungkin mereka akan datang berdua untuk mengepung taysu?"

"Tetapi, Yong-jie," kata Kwee Ceng. "Biarnya See Tok dan Khiu Cian Jin datang bersama, sekarang kita tidak usah takuti mereka."

"Bagaimana itu?"

Kwee Ceng nampaknya likat, agaknya ia tak enak hati untuk menjawab.

"Eh, kenapakah kau nampaknya sulit bicara?" si nona menegur.

"Kepandaian It Teng Taysu pasti tidak ada di bawahan See Tok," kata si anak muda kemudian, "Atau sedikitnya, mereka berimbang. Menurut penglihatanku, ilmu menotok jalan darah dari taysu mungkin ada cara untuk meruntuhkan Kap Moa Kang dari See Tok itu……"

"Bagaimana dengan Khiu Cian Jin?" Oey Yong tanya pula, "Apakah si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar, bukannya tandingan dia seorang?"

"Benar. Selama di puncak Tiat Ciang Hong, di gunung Kun San, di telaga Tong Teng, pernah aku melayani Khiu Cian Jin. Kalau kita bertempur seratus jurus, mungkin aku dapat melawan seri, tetapi lebih daripada seratus jurus, belum tentu aku dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika tadi aku menyaksikan Taysu menotok kau……"

Mendadak Oey Yong menjadi girang, ia memotong: "Kalau begitu kau telah dapat mempelajari kepandaian Taysu! Dengan begitu bukankah kau bakal dapat mengalahkan Khiu Tiat Ciang?"

"Kau tahu sendiri otakku puntul," berkata si anak muda, "Dan ilmu totok ini sangat dalam, mana bisa aku lantas berhasil memahamkannya? Hanya benar aku telah mendapatkan beberapa jurus. Aku pikir, untuk segera mengalahkan Khiu Cian Jin, itulah sukar, tetapi buat bertahan sampai satu jam atau tiga perempat, mungkin aku sanggup……"

Oey Yong lantas menghela napas. "Dan kau pun melupakan satu hal," katanya masgul.

"Apakah itu?"

"Sekarang ini Taysu terkena racun dan entah sampai kapan ia bakal sembuh……"

Kwee Ceng berdiam, lantas ia menjadi sengit. "Kenapa si nenek, Eng Kouw demikian kejam?" katanya mengeluh. Ia baru berkata begitu, ia ingat sesuatu, hingga ia berseru: "Ah, celaka!"

Oey Yong kaget. "Apa?" dia menanya.

"Kau telah berjanji dengan Eng Kouw!" si pemuda memberi ingat. "Setelah kau sembuh, kau mesti menemani dia satu tahun, bukan? Nah, habis bagaimana? Apakah janji itu mesti ditepati atau tidak?"

"Kau sendiri?"

"Jikalau kita tidak dapat petunjuknya, tidak dapat kita mencari It Teng Taysu. Waktu itu pastilah lukamu…… Ah, tak dapatlah dikatakan……"

"Kenapa tak dapat dikatakan? Bilang saja terus ¬terang. jiwaku tidak dapat ditotong lagi! Kaulah satu laki-laki maka kau tentunya ingin menepati janji, bukan?"

Si nona lantas menjadi berduka. Ia ingat Kwee Ceng pun tidak suka melanggar janji perjodohannya dengan putri Gochin Baki dari Mongolia. Air mukanya menjadi guram.

Mengenai sifat wanita ini, Kwee Ceng asing, maka itu selagi Oey Yong berduka dan hendak menangis, ia tidak sadar. Maka ia berkata;

"Dia bilang ayahmu lihay seratus kali daripadanya, seandainya kau mengajari dia, dia bilang tak bakal dapat menyamai kulit atau bulu ayahmu. Dia telah mengetahui itu, apa perlunya dia masih menghendaki kau menemani dia?"

Oey Yong menutup mukanya, ia tidak menyahut. Pemuda itu masih tidak sadar, ia mengulangi pertanyaannya.

"Eh, tolol, benarkah kau tidak mengerti?" akhirnya tanya si nona gusar.

Kwee Ceng heran orang gusar tidak karu-karuan. "Ya, Yong-jie, aku memang dasarnya tolol," ia mengaku. "Maka itu juga aku minta kau suka memberi keterangan."

Oey Yong menyesal telah mengeluarkan perkataan keras, sekarang ia mendengar suara orang lemah lembut, orang yang telah mengaku ketololannya, ia menjadi sangat berduka, tak dapat tertahan lagi, ia menangis dalam rangkulan pemuda itu.

Masih Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengusut¬-ngusut punggung orang seraya menghibur.

Oey Yong menarik ujung baju orang, menyusut air matanya. "Engko Ceng, aku yang salah," katanya. Mendadak ia tertawa. "Lain kali aku tidak bakal memaki lagi kepadamu……"

"Memang aku tolol, apakah halangannya untuk kau mengatakannya?" kata si tolol, tetap polos.

Nona itu menghela napas. "Ya, kau memang baik, akulah yang buruk," katanya kemudian. "Mari aku menjelaskan padamu. Eng Kouw itu bermusuh sama ayahku, dia mencari ilmu kepandaian untuk menyatroni Tho Hoa To, guna menuntut balas, tetapi dia telah mendapat kenyataan, dalam ilmu silat kalah dari kau, maka karena putus asa, dia mengubah siasatnya. Dia sekarang hendak menjadikan aku sebagai manusia tanggungan, supaya ayahku datang menolong aku. Dengan akal ini, dia jadi menang di atas angin, dia menjadi dapat jalan untuk mencelakai ayahku."

Baru sekarang si tolol mengerti, maka ia menepuk pahanya. "Oh, benar begitu! Kalau demikian adanya, janji itu tidak dapat ditepati!" ia berkata.

"Kenapa tidak?" tanya Oey Yong, "Harus ditepati."

"Eh?" si anak muda heran.

"Eng Kouw itu sangat lihay," berkata si nona, menerangkan. "Lihat saja bagaimana ia mencampuri racun di dalam obat Kiu-hoa Giok Louw Wan yang mencelakai It Teng Taysu. Maka jika dia tidak disingkirkan, bakal jadi ancaman bencana untuk ayahku. Dia ingin aku menemani dia, aku akan menemaninya. Sekarang aku telah bersiap sedia, tidak akan kena diakali lagi. Aku percaya, tidak perduli dia bakal menggunakan tipu apapun, aku merasa pasti bakal dapat memecahkannya!"

"Tetapi, itu sama artinya kau menemani seekor harimau betina……" kata si anak muda masgul.

Oey Yong hendak berkata lagi ketika kupingnya mendengar suara berisik dari sebelah depan, dari kamar sucinya It Teng Taysu. Itulah beberapa kali suara kaget atau seruan. Kwee Ceng pun mendengar, maka keduanya saling mengawasi. Selagi mereka memasang kuping, suara berisik itu lantas lenyap.

"Entah bagaimana dengan taysu?" kata si pemuda.

Si pemudi menggeleng kepala. "Nah, kau daharlah lantas tidur," kata Kwee Ceng kemudian.

Oey Yong masih menggeleng kepala. Tetapi mendadak: "Ada orang datang!" katanya.

Benar juga lantas terdengar tindakan kaki beberapa orang, di antaranya ada yang berkata dengan suara sengit:

"Budak itu banyak akal, sebaiknya mampusi dulu!"

Itu suara si petani. Maka Kwee Ceng berdua terkejut.

"Jangan sembarang," terdengar suara si tukang kayu. "Kita menanya jelas dulu."

"Apa yang mau ditanyakan lagi?" kata si petani. "Sudah terang dua bangsat cilik itu disuruh musuh suhu datang kemari! Kita bunuh yang satu, biarkan yang satu lagi, untuk menanyakan keterangannya. Cukup kita memeriksa si tolol!"

Selagi mereka bicara, mereka sudah sampai di depan pintu kamar. Nyata mereka tidak takut suara mereka dapat didengar orang. Kwee Ceng mengerti ancaman bahaya, tanpa bersangsi lagi dengan pukulan "Hang liong yu hui", ia menghajar tembok di belakangnya, hingga dengan suara sangat berisik tembok itu gempur, membuat sebuah liang. Setelah itu, dengan membungkuk, ia menggendong si nona, terus lompat melewati liang itu.

Di sana terlihat si petani, yang sangat gesit, sebelah tangannya diulur, guna menyambar kaki kiri si anak muda.

Oey Yong tidak berdiam saja, ia melihat sambaran itu, maka dengan tangan kirinya mengibas ke belakang, mengebut jalan darah yang tie-hiat dari si petani. Itulah ilmu kebutan, atau totokan, warisan ayahnya yang disebut "Lan-hoa Hut-hiat Ciu", atau Bunga Anggrek Mengebut Jalan Darah. Ilmu ini tidak selihay ilmu totok It Teng tetapi toh berbahaya untuk lawan.

Si petani kaget, lekas-lekas ia menarik pulang sambaranmya, ia membaliki itu, untuk menangkis, tetapi gerakan ini memperlambat gerakannya, maka Kwee Ceng berhasil berlompat lewat, berlari terus dengan melompati tembok belakang. Di sini ia baru lari beberapa tindak, ia menjerit sendirinya, berkeluh kesah. Di depannya ada tumbuh pohon duri setinggi orang, lebat dan banyak durinya, hingga tak dapat dilewati orang. Ketika ia menoleh, menampak mendatanginya empat orang si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar. Mereka lantas berdiri menghadang.

"Taysu menitahkan kami turun gunung, tuan-tuan telah mendengarnya sendiri," berkata Kwee Ceng, "Kenapa sekarang kamu menghalangi kami?"

Si pengail mendelik matanya. "Guru kami sangat baik hati, dia pemurah, dengan mengorbankan diri dia menolong kamu, kenapa sekarang kamu……" kata dia, suaranya mengguntur.

Muda mudi itu terkejut.

"Dia mengorbankan diri?" tanya mereka berbareng. "Bagaimana itu…..?"

"Fui……!" berseru si pengail dan petani.

Si pelajar tertawa dingin, dia berkata: "Lukamu, nona telah ditolong diobati oleh guruku dengan dengan mengorbankan dirinya! Mustahil kau benar-benar tidak ketahui itu?"

"Dengan sebenarnya, aku tidak tahu," menyahut Oey Yong. "Tolong kau menjelaskan."

Pelajar itu mengawasi. Ia melihat roman orang benar seperti tidak lagi mendusta, maka ia berpaling kepada si tukang kayu. Dia ini mengangguk. Lantas ia berkata:

"Nona, kau telah mendapat luka yang sangat berbahaya, untuk menyembuhkannya kau mesti dapat penyaluran pada pelbagai jalan darah dan nadimu. Untuk itu dibutuhkan ilmu It Yang Cie Siang-thian Kanghu. Ilmu itu, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang Cinjin, kauwcu dari Coan Cin Pay, cuma guru kami satu orang yang mengerti. Meski begitu, kalau ilmu itu dipakai mengobati orang, dia sendiri mesti turut mendapat penyakit sebagai akibatnya, sebab dia mesti menggunakan terlalu banyak tenaga terutama tenaga dalamnya. Untuk lima tahun, habislah semua kepandaian silatnya……"

Oey Yong kaget hingga ia mengeluarkan seruan tertahan. Ia menyesal dan malu sekali.

"Selama tempo lima tahun itu, untuk memulihkan diri, mesti berlatih dan bersemedhi setiap hari, siang dan malam, kalau dia salah berlatih, maka dia bakal nampak kegagalan dan kepandaiamnya itu tidak akan pulih kembali. Orang yang menjadi korbam begitu, entengnya dia bercacad seumur hidup, hebatnya dia lantas mati. Guruku begitu murah hati menolong kau, kenapa kau begini jahat, kebaikan dibalas dengan kejahatan?"

Mendadak Oey Yong melepaskan diri dari Kwee Ceng, lantas ia berlutut ke arah kamarnya It Teng Taysu, empat kali ia mengangguk, sembari menangis ia berkata:

“Supee, sungguh keponakanmu tidak menyangka begini besar kau telah melepas budi menolong jiwaku……"

Menyaksikan kelakuan si nona, roman si pengail berempat nampak sedikit sabar. "Ayahmu menitahkan kau menjalankan akal ini mencelakai guru kami, benar-benar kau sendiri tidak tahu?" tanya si tukang pancing.

Ditanya begitu, Oey Yong menjadi gusar. "Mana dapat ayahku mencelakai supee?" katanya keras. "Ayahku itu orang macam apa? Mana dapat ayahku berlaku demikian hina dina?"

Si tukang pancing menjura. "Jikalau ini bukan titah ayahmu, nona, harap kau memberi maaf atas kelancanganku ini," ia berkata.

"Hm!" berkata si nona. "Jikalau perkataanmu barusan dapat didengar ayahku, tidak perduli kau muridnya supee, kau pasti bakal diberi rasa sedikit!"

"Hm," berkata si pengail, "Ayahmu digelarkan Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka kami pikir, apa yang dapat diperbuat See Tok, si Bisa dari Barat, tentulah dapat dilakukan juga ayahmu. Sekarang ini rupanya soal lain."

"Mana dapat ayahku dibanding dengan See Tok?" berkata si nona. "Auwyang Hong si bangsat tua itu, apa yang dapat dia lakukan! Apakah yang dia telah perbuat?"

"Baik," si pelajar dating menengahi. "Sekarang sudah jelas, mari kita kembali ke dalam untuk bicara lebih jauh."

Maka berenam mereka masuk ke kamar, untuk terus berduduk, akan tetapi empat orang itu duduk demikian rupa, hingga dengan sendirinya mereka seperti memegat jalan keluar kedua muda-mudi itu. Oey Yong mengetahui itu, ia bersenyum, ia tidak mau membuka rahasia orang.

"Apakah kamu tahu tentang urusan Kiu Im Cin¬keng?" si pelajar mulai bicara.

"Aku ketahui itu. Apakah ada sangkutannya supee dengan kitab itu?"

"Ketika diadakan pertemuan pertama di Hoa San, soalnya ialah perebutan kitab Kiu Im Cin-keng itu," berkata si pelajar. "Ketika itu Coan Cin Kauwcu adalah yang terlihay, kitab itu telah jatuh di tangannya. Bahwa semua orang takluk kepada kauwcu itu, itulah bukan soal lagi. Tiong Yang Cinjin sangat mengagumi ilmu Sian Thian Kang dari guru kami, maka juga di tahun kedua bersama-sama adik seperguruannya dia datang mengunjungi guru kami di Tali, ketika itu mereka berbicara banyak tentang ilmu silat itu."

"Adik seperguruan Tiong Yang Cinjin?" tanya Oey Yong. "Itu Loo Boan Tong Ciu Pek Thong!"

"Benar," sahut si pelajar. "Nona masih begini muda tetapi banyak sekali orang yang nona kenal……"

"Ah, jangan kau memuji aku," berkata si nona.

"Paman Ciu itu sangat jenaka, tetapi kami tidak tahu bahwa dia dipanggil Loo Boan Tong si bocah tua bangkotan yang nakal. Ketika itu guru kami masih belum mensucikan diri."

"Oh, kalau begitu ketika supee masih menjadi kaisar!" kata Oey Yong.

"Benar. Coan Cin Kauwcu (Dewi-KZ) itu bersama adik seperguruannya tinggal di istana belasan hari, selama itu kami berempat senantiasa mendampinginya. Guru kami telah menjelaskan segalanya mengenai Sian Thian Kang itu, hingga Tiong Yang Cinjin menjadi sangat girang, maka ia pun lantas mengajari ilmu silat It Yang Cie yang menjadi ilmu silatnya yang paling istimewa. Kami mendengar semua pembicaraan akan tetapi pelajaran kami masih sangat rendah dan kami pun tumpul sekali, tak dapat kami mengajari itu."

"Habis bagaimana dengan Loo Boan Tong?" Oey Yong tanya. "Kepandaiannya Loo Boan Tong tidak cetek."

"Paman Ciu itu seorang gemar bergerak, tak suka dia berdiam, setiap hari dia berputaran saja di seluruh istana. Dia pergi ke timur dan ke barat, ke segala tempat sampai dia tidak pandang-pandang lagi keraton di mana permaisuri dan selir-selir bertinggal. Semua orang kebiri dan dayang mendapat tahu dialah tetamu agung kami, tidak ada di antaranya yang berani melarang."

Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang dan bersenyum. Mereka tahu baik sifatnya engko atau kakak angkat. Cuma di dalam hatinya, mereka kata: "Itu dia sifatnya Loo Boan Tong!"

"Ketika Tiong Yang meminta diri," si pelajar melanjutkan, "Dia berkata kepada guru kami: 'Selama yang belakangan ini penyakitku yang lama kembali kumat, maka mungkin aku tidak bakal berdiam lama lagi di dalam dunia ini, karena sekarang sudah ada ahli waris dari It Yang Cie, jadi di dunia ada orang yang dapat menindih padanya, bolehlah tak usah dikhawatirkan yang dia nanti berani malang melintang bermain gila.' Baru setelah itu guru kami mengetahui maksud utama kenapa Tiong Yang Cinjin melakoni perjalanan demikian jauh datang ke Tali mengunjungi guru kami, maksudnya untuk mewariskan kepandaiannya itu, agar setelah ia menutup mata nanti, ada orang yang dapat mengekang Auwyang Hong. Lima-limanya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong adalah orang-orang yang namanya sama termashurnya, kalau Tiong Yang Cinjin membilang terus terang dia dating untuk memberi pelajaran, dia khawatir guru kami merasa dirinya dipandang enteng, dari itu lebih dulu dia minta pelajaran Sian Thian Kang, kemudian baru dia membalas mengajari It Yang Cie. Itulah artinya pertukaran. Guru kami mengetahui maksud baik dari Tiong Yang Cinjin, ia menjadi bersyukur, ia mengagumi kauwcu itu. Ia lantas memahamkan itu dengan sungguh-sungguh. Kemudian di negara Tali itu telah terjadi suatu hal yang malang, hati guru kami menjadi tawar, maka itu ia pergi mencukur rambutnya dan masuk menjadi hweeshio."

Mendengar itu, Oey Yong berpikir; "Toan Hongya tidak mau menjadi kaisar, dia lebih suka menjadi pendeta, mestinya kejadian malang itu sangat melukai hatinya. Karena muridnya ini tidak mau menjelaskan, tidak dapat aku minta keterangan atas kejadian itu……" Ia memandang kepada kawannya. Ia melihat Kwee Ceng seperti hendak membuka mulut, untuk menanya, ia lekas mencegah dengan kedipan matanya. Kwee Ceng mengerti kedipan itu, ia menunda membuka mulutnya.

Air muka si pelajar nampak guram. Rupanya ia teringat akan peristiwa dulu. Ia berdiam beberapa saat baru ia berbicara lagi.

"Setahu bagaimana, kemudian hal guru kami mempelajari It Yang Cie itu telah bocor," katanya. "Pada suatu hari, suhengku……" ia menunjuk pada si petani "……telah menerima titah suhu, untuk pergi mencari daun obat-obatan. Suhengku telah pergi ke gunung Tay Soat San di barat Inlam, di sana orang telah melukainya dengan ilmu silat Kap Moa Kang."

"Pastilah penyerang itu si Bisa bangkotan!" berkata Oey Yong.

"Siapa lagi kalau bukan dia?" berkata si petani gusar. "Mulanya seorang muda yang tidak karu-karuan telah mencari stori denganku, dia membilangnya Tay Soat San itu miliknya dan dia melarang siapapun mencari daun obat di situ. Aku telah menerima pengajaran suhu, aku berlaku sabar, tapi justru aku mengalah, si anak muda semakin mendesak, dia menyuruh aku mengangguk tigaratus kali kepadanya, baru dia mau mengijinkan aku turun gunung. Karena habis sabarku, aku menempur dia. Pemuda itu lihay benar, sekian lama kita bertempur, tetap seri. Waktu itu mendadak muncullah si tua berbisa itu, tanpa banyak omong, dia menghajar aku hingga terluka parah, setelah itu si anak muda menggendong aku, mengantar aku pulang sampai di luar kuil Liong Coan Sie di mana suhu berdiam."

"Kalau begitu sudah ada orang yang mewakili kau membalas sakit hatimu," berkata si nona. "Pemuda itu Auwyang Kongcu sudah ada yang membunuhnya."

"Ah, dia telah mati?" kata si petani gusar. "Siapakah yang membunuhnya?"

"Eh, heran!" kata Oey Yong. "Ada orang lain membunuh musuhmu, kau masih gusar?"

"Musuhku mesti aku yang membalas sendiri!" sahut si petani.

"Sayang kau tidak dapat membalasnya……" kata si nona menghela napas.

"Sebenarnya siapakah yang membunuhnya?"

"Dia juga seorang busuk. Kepandaiannya kalah dari Auwyang Kongcu tetapi dia menggunakan akal."

"Bagus!" berkata si pelajar. "Nona, tahukah kau maksudnya Auwyang Hong melukai suhengku ini?"

"Tidak sukar untuk menerka itu," menyahut Oey Yong. "Dengan kepandaiannya See Tok, dengan dua kali turun tangan, dia dapat membinasakan suhengmu, tetapi dia cuma melukai parah, lalu dia mengantarnya pulang ke depan pintu rumah gurumu. Maksudnya agar gurumu menghabiskan tenaga dalamnya mengobati suhengmu itu. Barusan kau bilang, supee mesti membuang tempo lima tahun untuk memulihkan kepandaiannya, maka berarti, kalau nanti diadakan rapat yang kedua di gunung Hoa San, pasti gurumu tak keburu turut mengambil bagian."

Pelajar itu menghela napas. "Nona sungguh cerdik, tetapi kali ini nona cuma dapat menerka separuhnya," ia berkata. "Kejahatan Auwyang Hong itu sukar diterka dari bermula. Justru di saat suhu mengobati suhengku, saat kesegaran suhu belum kembali, dia datang melakukan penyerangan, maksudnya untuk membikin mati ……"

"It Teng Supee demikian murah hati, apakah benar dia menyebabkan permusuhan dengan Auwyang Hong?" Kwee Ceng menanya. Anak muda ini heran.

"Engko kecil, pertanyaanmu ini tidak tepat," menyahut si pelajar. "Pertama-tama, si orang murah hati itu justru musuh dari si orang jahat. Si orang jahat tak suka hidup bersama di dunia dengan orang baik hati. Kedua, kalau Auwyang Hong hendak mencelakai orang, dia tentu tidak sudi memperhatikan orang itu bermusuhan dengannya. Karena dia ketahui ilmu silat It Yang Cie dari suhu adalah penumpas dari ilmu silatnya, maka dia dapat menggunakan seratus atau seribu akal keji untuk membinasakan guru kami."

Kwee Ceng mengerti, ia mengangguk beberapa kali. "Habis, apakah supee telah kena dia bikin celaka?" ia menanya pula.

"Setelah suhu melihat lukanya suheng, suhu dapat menerka maksudnya Auwyang Hong," si pelajar menerangkan pula. "Malam itu juga suhu pindah tempat, dan Auwyang Hong tidak berdaya mencari. Karena tahu Auwyang Hong tidak bakal berhenti sampai di situ, kami mencari tempat-tempat sampai kami mendapatkan tempat suci ini. Setelah suhu pulih kesehatannya, kami berempat mengusulkan suhu pergi mencari See Tok di Pek To San, guna membuat perhitungan dengannya, akan tetapi suhu berpendirian, kalau dapat mengalah baiklah dia mengalah terus dan kami dilarang pergi menerbitkan gara-gara. Demikianlah untuk belasan tahun kami tinggal dengan aman di tempat ini. Siapa tahu sekarang kamu berdua datang kemari! Kami cuma tahu kamu murid- murid Kiu Cie Sin Kay, kami menduga kamu tidak bermaksud jahat, maka itu kami merintanginya setengah hati, coba kami berbuat nekat, tidak akan kami membiarkan kamu masuk ke kuil kami. Sungguh di luar dugaan, toh akhirnya guru terkena juga tangan jahat kamu……"

Setelah berkata begitu, mendadak muka si pelajar menjadi bengis lagi, bahkan sambil berbangkit bangun, ia menghunus pedangnya, yang berkilau berkeredepan. Melihat demikian, si pengail, si tukang kayu dan si petani, turut berbangkit juga sambil menghunus senjata mereka, lantas mereka mengambil sikap mengurung.

"Ketika aku datang mencari supee untuk minta diobati, aku tidak tahu bahwa pengobatan itu bakal menghabiskan kepandaiannya selama lima tahun," berkata Oey Yong. "Bahwa obatku ada racunnya, itu juga aku tidak tahu, itu perbuatan orang lain. Supee telah melepas budi padaku, meskipun kami tidak punya hati, tidak akan kami membalas kebaikannya dengan kejahatan."

"Kalau begitu," menegur si tukang pancing, "Kenapa selagi kesehatan guru belum pulih dan dia pun terkena racun, kamu mengajak musuh mendaki gunung ini?"

Ditanya begitu, Oey Yong dan Kwee Ceng kaget bukan alang kepalang. "Tidak sama sekali!" mereka menyangkal.

"Masih menyangkal!" membentak si tukang pancing. "Begitu suhu terkena racun, kita lantas menerima gelang kumala dari pihak musuh. Kalau memangnya kamu tidak bersekongkol mana bisa terjadi peristiwa begini kebetulan?"

"Gelang kumala apa itu?" Oey Yong tanya. Ia benar tidak mengerti.

"Hm, masih berlagak piton!" si tukang pancing mengejek. Mendadak ia menggerakkan kedua tangannya, maka kedua pengayuhnya lantas menghajar muda mudi di depannya.

Kwee Ceng duduk berendeng sama Oey Yong, begitu melihat datangnya pengayuh, ia berlompat bangun, kedua tangannya bergerak, tangan kanan menyambar satu pengayuh, untuk segera dirampas, tangan yang lain menangkap pengayuh yang kedua, yang terus ia gentak.

Si tukang pancing kaget dan tangannya kesakitan, pengayuhnya terpaksa dilepaskan. Selagi begitu, Kwee Ceng meneruskan menangkis garunya si petani, hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya muncrat berhamburan. Setelah itu, lekas-lekas ia mengangsurkan, menyerahkan pulang pengayuhnya si tukang pancing, hingga dia ini heran dan tercengang, tetapi cuma sebentar, setelah menyambut itu, berbareng bersama kampaknya si tukang kayu, dia menyerang lagi.

Kwee Ceng sementara itu berlaku sangat cepat, begitu ia mundur, begitu ia menolak, si pelajar mengenal ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, segera meneriaki kedua saudara seperguruannya:

"Lekas mundur!"

Si tukang pancing dan si tukang kayu adalah murid-¬murid guru yang lihay, mereka menginsyafi bahaya dengan cepat mereka menarik pulang senjata sambil mengundurkan diri. Tapi biar bagaimanapun mereka cepat, masih kalah gesit, mereka tidak dihajar hanya senjata mereka disambar, untuk dirampas lagi!

"Sambut ini!" berkata Kwee Ceng, yang kembali mengembalikan senjata orang, sekarang pengayuh dan garu!

"Bagus!" si pelajar memuji sambil menikam dengan pedangnya ke iga kanan.

Melihat datangnya tikaman, Kwee Ceng terperanjat. Sekarang terbukti, dari keempat murid orang itu, adalah si pelajar ini, yang gerak-geriknya halus, justru yang ilmu silatnya paling lihay. Maka ia tidak mau berlaku alpa. Untuk dapat melindungi Oey Yong, yang tidak boleh mengeluarkan banyak tenaga, ia membela diri dengan gerakan menurut barisan Thian Kong Pak-tauw-tin dari Coan Cin Cit Cu. Mula-mula ia hanya mengurung diri, kemudian perlahan-lahan ia memperlebar kurungannya, maka keempat lawan itu terpaksa mundur dengan sendirinya, sampai mereka terdesak ke tembok. Disaat ini, asal ia mau turun tangan, dapat si anak muda melukai mereka itu, atau salah satu di antaranya.

Selama itu, Kwee Ceng mempertahankan diri, antaranya ia tidak menambah tenaganya. Dengan begini ia membuat mereka dua pihak tidak kalah dan tidak menang.

Si pelajar agaknya penasaran, mendadak ia mengubah ilmu pedangnya. Kali ini pedangnya mengasih dengar sambaran angin mengaung. Ia menyerang ke empat penjuru, setiap kali dengan enam tusukan atau sabetan beruntun. Itulah ilmu pedang Ay Lao Kiam Hoat dari Ay Lao San di Inlam, yang semuanya terdiri dari tigapuluh enam jurus. Tapi terhadap si anak muda, ilmu pedang itu tidak mempan. Tenang-tenang seperti biasa, dengan tangan kanan pemuda ini melayani pedang, dengan tangan kirinya ia menghalau setiap senjata si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani.

Disaat datangnya tusukan pedang yang ketigapuluh enam, Kwee Ceng menyambut dengan sentilan jari tengah. Itulah ilmu silat Tan Cie Sin Thong dari Oey Yok Su, ilmu silat yang tak ada keduanya, sebagaimana terbukti ketika dengan Ciu Pek Thong main-main menyentil batu, sedang selama di Kwie-in¬chung, dia telah memberi petunjuk kepada Bwee Tiauw Hong, sementara Kwee Ceng telah melihatnya di Gu-kee-cun, Lim-an, selama Tong Shia melayani Coan Cin Cit Cu. Memang ia belum mencapai kemahiran seperti Oey Yok Su tetapi ketika pedang si pelajar kena tersentil, pedang itu berbunyi nyaring dan mental. Si pelajar merasa tangannya sakit sampai hampir terlepas cekalannya.

"Tahan!" pelajar itu berseru sambil melompat mundur.

Si tukang pancing sudah lantas menurut, semuanya mengundurkan diri, tetapi mereka sudah terdesak ke tembok, tidak ada ruang lagi untuk mundur, maka itu, si tukang pancing mundur ke pintu, si petani lompat di liang tembok yang gempur, sedang si tukang kayu, terus menyelipkan kapaknya di pinggang, bukan hanya menyingkir sambil tertawa dia berkata:

"Aku telah bilang kedua tetamu kita ini tidak mengandung maksud jahat tetapi kamu tidak percaya!" Ia berbicara sama ketiga saudara seperguruannya.

Si pelajar menyimpan pedangnya, ia menjura kepada Kwee Ceng. "Kau baik hati, kau suka mengalah, engko kecil," katanya. "Terima kasih!"

Kwee Ceng lekas-lekas bangkit membalas hormat. Hanya kata-kata si tukang kayu, membuatnyaheran, ia berkata dalam hati: "Kami memang tidak mengandung maksud buruk, mengapa mereka berempat tidak percaya? Kenapa baru sekarang mereka percaya?"

Oey Yong melihat paras kawannya, ia tahu apa yang orang pikir, maka ia membisik. "Jikalau kau memikir buruk, kau tentunya telah melukai mereka. Sekarang ini, sekalipun It Teng Supee bukanlah tandinganmu."

Kwee Ceng pikir itu benar ia mengangguk. Si pelajar berempat telah berkumpul lagi di kamar.

"Sebenarnya siapa musuh dari It Teng Supee?" Oey Yong tanya. "Apa itu yang disebut gelang kumala?"

"Menyesal," menyahut si pelajar. "Bukannya kami tidak suka menjelaskan hanya sebenarnya kami sendiri tidak tahu duduknya perkara. Apa yang kami tahu ialah suhu dan orang itu mempunyai kepentingan."

Oey Yong masih mau menanya ketika si petani berlompat bangun seraya berkata keras:

"Ah, ini berbahaya!"

"Bahaya apa?" tanya si tukang pancing.

Si petani menunjuk si pelajar, ia menyahut: "Suhu sedang kehabisan tenaga, sekarang dia menutur macam-macam, kalau kedua tetamu kita ini bermaksud tidak baik, kita sendiri tidak sanggup mencegahnya, apakah kau kira suhu masih dapat ditolong?"

Mendengar kekhawatiran itu, si tukang kayu berkata: "Paduka conggoan pandai berpikir, mustahil hal ini dia tidak dapat memikirkannya? Kalau begitu, mana bisa dia menjadi perdana menteri dari negara Tali? Sebenarnya dia ketahui dari siang-siang bahwa kita bukan tandingannya tetapi dia toh bertindak juga, itulah ke satu untuk mencoba kepandaian kedua tetamu kita ini dan kedua untuk membikinnya kau percaya habis!"

Si pelajar bersenyum. Si petani dan si tukang pancing mendelik kepada saudaranya, mereka kagum, separuhnya lagi menyesal. Ketika itu terdengar tindakan kaki orang, lalu muncul seorang kacung pendeta, yang lantas memberi hormat seraya berkata:

“Suhu menitahkan suheng berempat mengantarkan tetamu pulang."

Atas itu semua orang berbangkit. Tapi Kwee Ceng segera berkata: "Supee lagi menghadapi musuh, mana dapat kita lantas berlalu dari sini? Bukankah siauwtee tidak tahu diri tetapi ingin aku bekerja sama suheng berempat untuk mengusir musuh dulu."

Si tukang pancing berempat saling melirik, mereka memperlihatkan roman girang. "Nanti aku pergi dulu menanyakan suhu," kata si pelajar, yang lantas berlalu, diikuti ketiga saudaranya. Tidak lama mereka kembali, kali ini lenyap roman mereka yang gembira. Si pelajar lantas berkata: "Suhu mengucap terima kasih atas kebaikan jiewi, tetapi suhu membilang juga, segalanya biarkan terserah karma, biar orang berbuat sendiri-sendiri, dari itu orang luar tidak dapat campur tangan."

Tapi Oey Yong memikir lain. "Engko Ceng, mari kita bicara sendiri sama supee!" katanya.

Kwee Ceng menurut. Ketika mereka sampai di kamar It Teng Taysu, pintu kamar dikunci, percuma mereka mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil, tidak ada suara jawaban. Sebenarnya pintu itu bisa digempur tetapi mereka tidak berani berbuat demikian.

"Suhu tidak dapat menemui kalian lagi, jiewi," berkata si tukang kayu, yang air mukanya guram. "Karena gunung itu tinggi dan air panjang, baiklah lain kali kita bertemu lagi."

Oey Yong belum bilang apa-apa, ketika Kwee Ceng mendapat satu pikiran, maka ia lantas berkata dengan nyaring:

"Yongjie, mari kita pergi! Bukankah supee tidak sudi menemui kita? Nanti di bawah gunung, supee mengasih ijin atau tidak, ketika kita ketemu orang dan orang itu banyak rewel, kita hajar saja!"

Si nona yang cerdik lantas dapat menerka maksud engko Cengnya itu, ia pun menyahut dengan nyaring:

"Kau benar, engko Ceng! Andai kata musuh supee sangat lihay dan kita mati di tangannya, kita puas, hitung-hitung kita sudah membalas budi supee!"

Suara keduanya pasti terdengar sampai di dalam, maka ketika si muda mudi baru jalan beberapa tindak, mendadak daun pintu dipentang, lalu terdengar suara tajam seorang pendeta tua:

"Taysu mengundang jiewi!"

Kwee Ceng girang sekali, bersama Oey Yong jalan berendeng masuk ke dalam kamar It Teng Taysu. Di sana si pendeta, bersama si pendeta dari India, masih duduk bersila. Mereka lantas menghampiri, memberi hormat sambil berlutut. Ketika kemudian mereka mengangkat kepala, mendapatkan It Teng Taysu bermuka pucat kuning, beda daripada waktu semula mereka melihatnya. Mereka jadi bersyukur berbareng berduka, hingga mereka tidak tahu mesti bilang apa.

It Teng Taysu bersenyum. "Semua masuk!" ia kata kepada empat muridnya, yang menanti di depan pintu. "Aku hendak bicara."

Si pelajar berempat menghampiri, lebih dulu mereka memberi hormat kepada guru mereka, juga kepada si pendeta India. Dia ini cuma mengangguk, lantas dia tunduk dan berdiam, kembali tidak memperdulikan semua orang.

It Teng Taysu mengawasi asap yang bergulung naik, tangannya membuat main sebuah gelang kumala. Oey Yong melihat itu, katanya dalam hatinya; "Terang itu adalah gelang perempuan, entah apa maksudnya musuh supee mengirimkan ini?"

Untuk beberapa detik, semua orang berdiam, kemudian baru terdengar It Teng Taysu menghela napas dan mengatakan:

"Setiap hari dahar nasi, tetapi pernahkah memakan sebutir beras?" Ia lantas menoleh kepada si muda-mudi, untuk melanjutkan: "Kamu berdua mulia hati, aku si pendeta tua menerima itu dengan baik, Mengenai urusan ini, jikalau aku tidak menjelaskan, aku khawatir murid-murid atau sahabat¬-sahabat dari kedua pihak nanti menerbitkan gelombang yang tak diinginkan. Itu bukan kehendakku. Tahukah kamu siapa sebenarnya aku ini?"

"Supee adalah kaisar dari Tali di Inlam," menyahut Oey Yong. "Supee adalah satu-satunya kaisar di Selatan yang kesohor sekali, siapakah yang tidak tahu?"

It Teng bersenyum. "Kaisar palsu, pendeta palsu juga," ia berkata. "Kau, nona kecil, kau pun palsu……"

Oey Yong tidak menginsyafi filsafat si pendeta, ia mengawasi saja. It Teng berkata lagi, dengan perlahan:

"Negara Tali kami, semenjak Sri Baginda Sin Seng Bun Bu Tee Thaycouw membangun pemerintahan, di tahun Teng-yoe, itu adalah lebih dulu duapuluh tiga tahun dari berdirinya kerajaan Song oleh Song Thay-couw Tio Kong In. Setelah tujuh turunan, kerajaan diturunkan kepada Baginda Peng Gie. Setelah empat tahun memerintah, Baginda Peng Gie mengundurkan diri dari kerajaan dan masuk menjadi pendeta. Tahta diserahkan pada keponakannya ialah Baginda Seng Tek. Kemudian tahta diturunkan terus kepada Baginda-bagina Hin Cong Hauw Tek, Poo Teng, Hian Cong Soan Jin serta ayahku, Keng Cong Ceng Kong. Semua Baginda itu telah menjadi pendeta juga. Dari Thay-couw sampai padaku, delapanbelas turunan, tujuh raja yang mensucikan diri."

Si tukang pancing berempat adalah orang Tali, mereka semua tahu hal ikhwalnya raja-raja mereka, cuma Kwee Ceng berdua Oey Yong yang heran, hingga mereka mau memikir, apa mungkin menjadi pendeta lebih senang daripada menjadi raja……

It Teng Taysu melanjutkan keterangannya: "Kamu keluarga Toan kami, dengan berkah kebijaksanaan leluhur kami, telah berhasil menjadi sebuah keluarga kaisar di sebuah negara kecil di Selatan. Semua mereka merasa tanggung jawab itu besar, maka hati mereka tidak tenang, tidak berani mereka melakukan apa-apa yang melewati batas. Biar begitu, siapa menjadi raja, bukankah dia dapat dahar tanpa meluku, dapat berpakai tanpa menenun? Bukankah kalau keluar dia naik kereta, dan kalau pulang memasuki istana? Bukankah semua itu asalnya dari keringat rakyat? Oleh karena itu semua, disaat usianya lanjut, mereka menginsyafi capai lelah rakyatnya itu, mereka merasa menyesal, maka akhirnya mereka menjadi pendeta……"

Selagi mengucap begitu, pendeta ini memandang ke luar, mulutnya memperlihatkan senyuman, tetapi pada alisnya, nampak roman kedukaan. Maka itu, entahlah dia bergirang atau berduka.

Enam orang itu mendengar dengan terus berdiam. It Teng Taysu mengangkat gelang kumalanya, ia masukkan ke dalam jari telunjuk dari tangannya, ia putar beberapa kali. Kemudian meneruskan:

"Aku sendiri, aku bukannya mengikuti kebiasaan leluhurku. Tentang aku, sebab-sebabnya ada sangkut pautnya dengan urusan rapat ilmu pedang di gunung Hoa San, ketika lima jago saling berebutan kitab. Ketika tahun itu Tiong Yang Ong Cinjin dari Coan Cin Kauw memperoleh kitab, di lain tahunnya dia datang sendiri ke Tali, dia mewariskan ilmu silat It Yang Cie padaku. Setengah tahun dia berdiam di dalam istanaku, merundingkan tentang ilmu silat. Kita cocok sekali satu dengan lain, adik seperguruannya, Ciu Pek Thong. Dia ini ternyata tidak betah duduk diam saja, dia lantas pergi putar kayun di seluruh istana. Diluar dugaan, dia telah menerbitkan peristiwa."

Mendengar itu, Oey Yong membatin dalam hatinya: "Kalau Loo Boan Tong tidak menerbitkan gara-gara itu baru namanya heran!"

It Teng Taysu menghela napas. "Sebenarnya biang peristiwa adalah pada diriku sendiri," ia berkata pula. "Aku adalah raja kecil, kerajaanku tidak dapat disamakan dengan kerajaan Song, meski begitu, aku mempunyai sedikit permaisuri dan selir. Ya, inilah dosa. Aku gemar ilmu silat, jarang mendekati perempuan, bahkan permaisuri, aku menemuinya beberapa hari sekali, maka itu bisa dimengerti, mana ada tempo akan menemui segala selir?"

Berkata sampai di situ, It Teng memandang keempat muridnya. "Kamu tidak mengetahui tentang ini, sekarang biarlah kamu mendapat tahu juga," ia menambahkan.

Mendengar ini, Oey Yong kata di dalam hatinya: "Benar-benar mereka tidak tahu, mereka jadinya tidak mendustai aku."

"Sekalian selirku melihat aku setiap hari berlatih silat, di antaranya ada yang ketarik hati dan minta diajarkan." It Teng mulai pula. "Aku suka mengajari mereka. Aku pikir, pelajaran itu ada baiknya, untuk mereka menjadi bertambah sehat dan panjang umur. Di antaranya adalah Lauw Kui-hui, yang bakatnya paling baik. Selir ini, begitu diajari, begitu dia bisa. Dia masih muda, rajin belajar, dia memperoleh kemajuan pesat. Dasar mau terjadi urusan. Pada suatu hari dia tengah berlatih di taman dia terlihat Ciu Suheng. Ciu Suheng gemar silat, dia polos, tidak menghiraukan perbedaan antara pria dan wanita, begitu melihat Lauw Kui-hui, dia mengajaknya main-¬main. Tentu saja Lauw Kui-hui bukanlah tandingannya……"

Oey Yong terkejut. "Tentulah Loo Boan Tong tidak mengenal dan dia melukai kui-hui……" katanya perlahan.

"Melukai, itu tidak," It Teng memberitahu. "Baru dua tiga jurus, dia telah menotok hingga kui-hui roboh, lantas dia menanya, kui-hui takluk atau tidak. Pasti sekali Lauw Kui-hui menyerah kalah. Ciu Suheng puas sekali, setelah menotok bebas kepada kui-hui, ia lantas bicara banyak tentang ilmu totok. Memang kui-hui sangat ketarik sama kepandaian itu, padaku ia telah minta diajari berulang-ulang. Coba kamu pikir, ilmu kepandaian semacam itu mana dapat diturunkan kepada kui-hui? Sekarang ada kesempatan, ia lantas minta Ciu Suheng mengajarinya."

"Kalau begitu, niscaya Loo Boan Tong puas sekali," kata si nona.

"Apakah kau kenal Ciu Suheng?" It Teng tanya.

"Kami sahabat-sahabat erat!" si nona menyahut tertawa. "Dia pernah tinggal sepuluh tahun di Tho Hoa To, belum pernah dia pergi satu tindak juga!"

"Dia dapat berdiam begitu lama sedang sifat dia tak suka diam?"

"Sebab dia dipenjarakan ayah!" sahut si nona tertawa. "Baru yang belakangan ini dia dimerdekakan!"

It Teng mengangguk. "Begitu?" katanya. "Apa sekarang dia baik?"

"Dia baik hanya tabiatnya makin tua makin jadi!"

It Teng bersenyum. Kembali ia meneruskan: "Sebenarnya ilmu totok itu tidak dapat diajari kecuali ayah dengan gadisnya, ibu dengan putranya dan suami istri. Biasanya guru lelaki tidak menurunkan kepada murid perempuan dan guru perempuan tidak kepada murid laki-lakinya……"

"Kenapa begitu supee?"

"Itulah sebab lam lie siu siu put cin," menjawab It Teng.

"Pria dan wanita, tidak dapat bersentuh tangan. Coba pikir tanpa meraba jalan darah di seluruh tubuh, mana bisa ilmu itu diajari sempurna?"

"Bukankah supee telah menotok sekujur tubuhku?" si nona tanya.

Si pengail dan petani sebal nona ini main potong cerita, mereka mengawasi nona itu dengan mata mendelik. Oey Yong melihat itu, ia balik mendeliki mereka, bahkan dia menegur:

"Kenapa? Tak dapatkah aku bertanya?"

It Teng bersenyum. "Dapat, dapat!" katanya lekas. "Kaulah satu bocah, jiwamu pun sangat perlu ditolong, kau mesti dipandang dari jurusan lain."

"Baiklah. Bagaimana selanjutnya?"

"Selanjutnya yang satu mengajari, yang lain mempelajari," It Teng melanjutkan ceritanya. "Ciu Suheng sedang gagahnya, Lauw Kui-hui sedang mudanya, tubuh mereka beradu tak hentinya, hari ketemu hari, tanpa merasa, hati mereka berubah, hingga akhirnya mereka mengacau sampai tidak dapat diurus lagi……"

Oey Yong mau menanya atau mendadak ia mendapat menahan hatinya. Ia pun segera mendengar kelanjutan cerita:

"Lantas ada orang yang memberi laporan padaku. Sebenarnya aku mendongkol, tetapi aku masih memandang Ong Cinjin, aku berpura-pura pilon. Adalah belakangan, hal itu dapat diketahui juga oleh Ong Cinjin."

"Urusan apakah sampai tak dapat diurus lagi?" tanya Oey Yong akhirnya. Ia polos, tidak menyangka jelek.

It Teng beragu-ragu sedikit. Rupanya sulit ia mencari kata-kata. "Mereka itu bukan suami istri tetapi kenyataannya mereka mirip suami istri," sahutnya kemudian.

"Ah, aku tahu sekarang!" berkata si nona. "Loo Boan Tong dan Lauw Kui-hui itu kemudian melahirkan anak?"

"bukan," berkata It Teng. "Mereka baru berkenalan kira-kira sepuluh hari, mana bisa mereka mendapat anak? Ketika Ong Cinjin mendapat tahu itu, dia ringkus Ciu Suheng dan dihadapkan kepadaku, dia menyerahkannya untuk aku memberi hukuman. Kami kaum persilatan, menghargai kehormatan dan persahabatan lebih tinggi daripada urusan perempuan, maka aku lantas membebaskan Ciu Suheng, aku memanggil Lauw Kui-hui, di situ aku menitahkan mereka menjadi suami istri. Ciu Suheng menampik, dia mengatakan dia tidak tahu bahwa itu perbuatan salah, bahwa kalau ia tahu itu perbuatan tidak bagus, meski dibunuh juga tidak akan dia melakukannya. Dia keras menolak menikah dengan Lauw Kui-bui. Ong Cinjin menjadi masgul sekali. Dia kata kalau dia memang tidak tahu Ciu Suheng itu manusia tolol dan tak tahu selatan, tentulah dia sudah membunuhnya."

Oey Yong mengulur lidahnya keluar. "Sungguh hebat Loo Boan Tong, dia menghadapi bahaya!" katanya.

"Penampikannya itu membuat aku mendongkol," berkata It Teng, yang meneruskan ceritanya. "Dengan tandas aku berkata padanya: 'Ciu suheng, dengan ikhlas aku menyerahkan kui-hui padamu! Apakah kau menyangka aku mengandung maksud lain? Bukankah semenjak dulu ada dibilang, saudara ialah tangan dan kaki dan istri itu pakaian? Apakah artinya seorang perempuan?"

"Eh, eh, supee, kau memandang enteng wanita!" Oey Yong memotong. "Kata-kata supee mirip sama ngaco belo!"

Si petani menjadi gusar. "Tak dapatkah kau tidak memotong?" dia bertanya bengis.

"Supee omong tidak tepat, itulah mesti dibantah!" berkata si nona membela.

Keempat murid itu melongo. Bagaimana mereka menghormati guru, maka bagaimana "kurang ajarnya" bocah wanita ini.

It Teng sabar luar biasa, dia tidak menggusari si nona. Dia meneruskan perkataannya: "Mendengar perkataanku itu, Ciu Suheng menggeleng kepala. Maka aku menjadi bertambah gusar. Aku berkata padanya: 'Jikalau kau mencintai dia, kenapa sekarang kau menampik? Jikalau kau memang tidak mencintai, kenapa kau lakukan perbuatanmu itu? Negeriku memang negeri kecil, tetapi tidak akan aku mengijinkan kau menghina kami!' Mendengar itu, Ciu Suheng menjublak sekian lama, akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut di depanku, mengangguk beberapa kali lalu berkata; 'Toan Hongya, aku salah! Aku pergi sekarang!' Aku tidak menyangka akan putusannya ini, aku tercengang karenanya. Dia lantas mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra dari sakunya, dia berikan itu kepada Lauw Kui-hui seraya berkata: 'Ini aku pulangkan padamu!' Kui-hui tahu orang bersusah hati, ia tertawa sedih. Ia tidak menyambuti sapu tangan itu, maka sapu tangan itu jatuh di dekat kakiku. Ciu Suheng tidak bilang apa-apa lagi, dia terus berlalu. Sejak itu sudah berselang sepuluh tahun lebih, tentang dia aku tidak mendengar apa-apa lagi. Ong Cinjin menghaturkan maaf berulang-ulang kepadaku, habis itu ia pun berlalu, sampai kemudian aku mendengar ia telah meninggal dunia. Ia berhati mulia tidak ada tandingannya, sayang……"

"Di dalam ilmu silat, mungkin Ong Cinjin lebih lihay daripada kau, supee," berkata si nona. "Tetapi bicara tentang hati mulia, dia tidak bisa melawan supee sendiri. Habis bagaimana dengan sapu tangan sulam itu?"

Si pelajar berempat tidak puas si nona mengingat selalu sapu tangan itu. Tapi guru mereka berbicara terus:

"Aku melihat Lauw Kui-hui menjublak saja, seperti yang ditinggalkan arwahnya, aku jadi mendongkol. Aku menjumput sapu tangan itu. Di situ aku menampak sulaman sepasang burung wanyoh main di air. Hm, tidak salah lagi, itulah barang Lauw Kui-hui untuk kekasihnya. Aku tertawa dingin. Lantas aku membalik sapu tangan itu. Kiranya di situ ada sebaris syairnya……"

Oey Yong sangat tertarik hingga ia lantas menanya: "Apakah itu berbunyi…… 'Empat buah perkakas tenun…… maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan……"

Si petani habis sabar, dia membentak: "Kami sendiri tidak tahu, bagaimana kau ketahui itu? Ha, kau ngaco saja, kau main potong tak hentinya!"

Tetapi It Teng sendiri tidak gusar, ia menghela napas. "Benar begitu," sahutnya. "Kau juga ketahui itu?"

Mendengar suara guru mereka, keempat murid itu tercengang. Kwee Ceng berlompat seraya berseru:

"Aku ingat sekarang! Ketika malam itu Oey Tocu meniup seruling, Ciu Toako tak kuat menahan hatinya, kemudian aku mendengar dia membacakan syairnya itu. Ialah: 'Empat buah perkakas tenun……
maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan……
sayang, belum lagi tua, tetapi kepala sudah putih……
Gelombang musim semi, rumput hijau, dimusim dingin,
di tempat tersembunyi, saling berhadapan baju merah……"

Ia menepuk paha kanannya, ia kata pula: "Tidak salah! Ketika itu aku heran sekali. Di dalam segalanya, Ciu Toako lebih menang daripada aku tetapi saat itu aku tidak terganggu seruling Oey Tocu, ia sendiri kelabakan, tak kuat mempertahankan diri, tidak tahunya dia dapat mengingat peristiwa lama itu hingga pemusatan pikirannya menjadi kacau. Pantaslah dia mencaci perempuan! Kau tahu, Yong-jie, dia sampai menasihati aku untuk jangan baik dengan kau……"

"Hm, Loo Boan Tong!" kata si nona mendongkol. "Lihat kalau nanti aku bertemu dengannya, akan aku jewer kupingnya!" Mendadak ia tertawa dan menambahkan: "Ketika di Lim-an aku telah menggoda dia, aku mengatakan tidak ada wanita yang akan sudi menikah padanya, agaknya dia mendongkol, rupanya itu pun disebabkan peristiwa itu."

"Maka ketika aku mendengar Eng Kouw membacakan itu, aku seperti telah pernah mendengarnya," kata pula Kwee Ceng, "Hanya waktu itu, biar bagaimana aku memikirkannya, tidak juga ingat. Eh, Yong-jie, mengapa Eng Kouw pun mengetahui syair itu?"

Ditanya begitu, si nona menghela napas. "Karena Eng Kouw ialah Kui-hui," sahutnya.

Di antara si tukang pancing berempat, adalah si pelajar yang sudah menduga lima atau enam bagian, maka juga tiga yang lainnya menjadi heran, semua mengawasi gurunya.

"Kau sangat pintar, Nona," kata It Teng Taysu dengan perlahan, "Tidak kecewa kau menjadi putri saudara Yok. Lauw Kui-hui itu mempunyai nama kecil, Eng. Aku pun mulanya tidak mengetahui. Waktu itu aku telah melemparkan sapu tangan kepadanya, lantas aku tidak melihat lagi dirinya. Karena aku berduka sekali, aku tidak memperdulikan lagi urusan negara, aku menungkuli diri dengan setiap hari melatih ilmu silat."

"Supee, waktu itu di hatimu kau sangat mencinta dia," kata Oey Yong. "Tapi kau tidak mengetahui. Kalau tidak, mana mungkin kau menjadi tidak gembira……"

"Nona!" berkata si pelajar berempat. Mereka ini tidak senang nona ini berani bicara demikian macam terhadap guru mereka.

"Apa? Apakah aku salah omong?" Oey Yong balik menanya. "Supee, salahkah aku?"

Air muka It Teng Taysu suram. Ia berkata: "Selama itu lebih dari setengah tahun tidak pernah aku panggil Lauw Kui-hui datang menghadap, akan tetapi di dalam impian, sering aku bertemu dengannya. Demikian pada suatu malam, habis memimpikan dia, tidak dapat aku melawan niat hatiku, aku mengambil putusan untuk melihatnya. Aku tidak memberitahukan niatku kepada thaykam atau dayang, aku pergi sendirian dengan diam-diam. Aku ingin menyaksikan apa yang dia kerjakan. Ketika aku tiba di wuwungan kamarnya, aku mendengar suara anak kecil menangis keluar dari kamarnya. Ah……! Malam itu salju turun banyak dan angin pun dingin sekali, tetapi di atas genting itu aku berdiri lama sekali, sampai fajar, barulah aku turun dan kembali ke kamarku. Habis itu aku sakit berat."

Oey Yong heran. Seorang raja, dan di tengah malam buta rata, untuk selirnya, telah menyiksa diri secara begitu.

Sekarang barulah keempat murid itu ketahui kenapa guru mereka - ketika itu ialah junjungan mereka - yang tubuhnya demikian tangguh, mendapat sakit berat.

"Lauw Kui-hui telah mendapat anak, tidakkah itu bagus?" Oey Yong tanya pula. "Supee, kenapa kau tidak menjadi gembira?"

"Anak tolol, anak itu anaknya Ciu Suheng."

"Ciu Suheng pun telah pergi sedari siang-siang, apakah dia telah datang pula secara diam-diam menemui kui-hui?"

"Tidak. Apakah kau belum pernah dengar orang menyebutnya kandungan sepuluh bulan?"

Si nona itu agaknya sadar. "Ah, aku mengerti sekarang!" katanya. "Pasti anak itu terlahir mirip Loo Boan Tong, kupingnya lebar dan hidungnya mancung, kalau tidak, mana kau ketahui dialah anaknya Loo Boan Tong!"

"bukan begitu. Sudah satu tahun lebih aku tidak mendekati kui-hui, maka anak itu pasti bukan anakku."

Oey Yong berdiam, urusan itu gelap untuknya.

OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar